Jejak Prabu Hariang Kencana atau Mbah Panjalu

Jejak Prabu Hariang Kencana atau Mbah Panjalu

Sejarah penyebaran islam di Panjalu

Prabu Hariang Kencana atau Mbah Panjalu, berdasarkan kisah yang di ceritakan secara turun temurun dari juru kunci yang tidak lain adalah keturunan dari Prabu Hariang Kencana, bahwa penyebaran agama islam di daerah panjalu di  juru kunci

2013-09-26 12.32.28 2013-09-26 12.32.20

Foto Team Pecinta Jejak Waliyullah Tanah Jawa

Sejarah Syeh panjualu atau Syeh Ali bin Muhammad bin Umar Putra dari prabu Boros ngora atau syeh abdul iman. Prabu Boros Ngora atau syeh abdul iman diceritakan bahwa beliau adalah putra dari Prabu Cakra Dewa yang di tugaskan untuk mencari ilmu sejati yang nantinya akan di jadikan ageman kerajaan dan rakyat panjalu.

Secara singkat diceritakan, bahwa prabu boros ngora diberikan sebuah gayung yang berlubang oleh ayah handanya yaitu Prabu Cakra Dewa, yang harus di isi dengan air dan di bawa pulang ke panjalu dalam keadaan selamat atau tidak bocor. Beliau mencari ilmu tersebut diseantara pulau jawa, dan ternyata tidak ada yang berhasil, kemudian beliau menyebrangi pulau sumatra sampai ke Jazirah arab. Di sebuah padang pasir, beliau berteduh di bawah batu, merenung dan berfikir apakah ada ilmu semacam itu sambil melihat gayung yang penuh lubang yang harus diisi dengan air dan harus dibawa dengan selamat ke Panjalu. Kemudian datang seorang laki-laki tua yang membawa tongkat datang pada beliau dan mengajak ke rumahnya. Laki- laki itu berjalan, kemudian Prabu Boros ngora mau mengikuti dari belakang. Tapi kebetulan tongkatnya tertinggal dan tertancap di tanah. Prabu boros ngora bermaksud mengambil tongkat itu dengan tangan satu, tapi tongkat itu tidak tercabut. Kemudian beliau mengambil dengan tangan dua, tapi tidak tercabut juga. Kemudian beliau mengerahkan semua kesaktian yang dimilikinya untuk mencabut tongkat tersebut, tapi tidak tercabut juga. Si laki-laki tua itu menoleh kebelakang dan tersenyum, dan bahwa diceritakan beliau adalah saidina ali karramallahu wajhah

Prabu Boros Ngora belajar langsung dari saidina ali karramallahu wajhah tentang islam, sebagai buktinya beliau dikasih cindera mata berupa sorban haji beserta pedangnya saidina ali karramallahu wajhah. Di pedang tersebut beruliskan Pada pedang tersebut terdapat tulisan Arab “La Falla illa Ali Ya Ali Karomallohu Wajhahu (ininilah pedang milik Sayyidina Ali Karomallohu wajhahu) dan pedang itu di simpan di musium museum risang alit panjalu. Singkat cerita, Prabu Boros ngora juga di bawakan air zam-zam dengan menggunakan gayung berlubang tadi dan selamat sampai panjalu, dan di tumpahkan di danau yang kini mengelilingi makam
danau panjalu

kisah ini penulis dapatkan dari Juru kunci makom syeh panjalu.

2013-09-26 12.18.33 2013-09-26 12.19.34

Jika anda berniat untuk berziarah ke panjalu, Untuk Perjalanan menuju makam, kita harus menggunakan perahu, dan disana sudah banyak yang menediakan jasa untuk itu. Harga nya kisaran antara Rp 100.000 – Rp 150.000 tergantung negosiasi dengan mereka

Prasasti atau wejangan yang tertulis di depan makam syeh panjalu

Cerita langsung yang di tuturkan oleh Juru kunci Syeh Panjalu atau Prabu Boros Ngora

 

Perjalanan Rohani

Kalau kita tarik kesimpulan secara Logika memang tidak masuk akal. Jadi penyebaran islam yang dilakukan oleh para wali, yaitu sekitar tahun 1300an Masehi, sementara sayidana Ali Karomallahu wajhahu hidup disekitar tahun 700an Masehi. Tapi kalau kita melihat dengan kacamata iman, misalkan Siti Maryam yang melahirkan Nabi Isa As tanpa seorang bapak, kemudian Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Agung Muhammad SAW, maka hanya keimanan lah yang mempercayai hal itu.

Benar dan tidaknya Hanya Allah yang tahu, penulis hanya menuturkan berdasarkan sejarah dan tutur secara turun temurun

Leave your comment here: