BERGARUK GARUK RIA DAN MENGUSIR NYAMUK KETIKA SHOLAT

BERGARUK GARUK RIA DAN MENGUSIR NYAMUK KETIKA SHOLAT

NYAMUK

                Sholat adalah ibadah yang paling penting dalam islam, bagaimana tidak penting, karena baik dan buruknya semua amaliyah manusia di tentukan oleh baik dan buruknya sholat. Bahkan sholat adalah munajat antara makhluk dan Tuhanya, dan di sampaikan dalam kitab Miftahun Njah karya syaikh Musthofa Rosyid bahwa ketika seseorang sedang sholat dan mengetahui siapa yang sedang bermunajat denganya maka orang itu tidak akan mau mengakhiri sholatnya.

الصلاه عماد الدين

“Sholat adalah saka gurunya agama”

Di indonesia, yang kebanyakan penduduknya adalah muslim, saat bulan romadlon seperti sekarang ini umat muslim akan berduyun duyun datang ke masjid atau musholla guna melaksanakan ibadah sholat, baik isya berjamaah ataupun tarowih. Masalah akan timbul ketika ritual ibadah sudah di mulai, di mana para nyamuk dengan semangatnya ikut nimbrung berebut mencari pahala apalagi di musim penghujan seperti ini.

Sehingga dari salah satu jamaah ada yang tidak kuat menahan gatal, maka menggaruklah jamaah itu dengan segenap kenikmatan tanpa mempedulikan apakah gerakannya sudah melebihi tiga gerakan yang membatalkan sholat.

Sehingga si jamaah tadi yang melakukan gerakan melebihi tiga kali dalam menggaruk kulitnya yang gatal menjadi bingung setelah selesai sholat, jangan jangan sholat saya tidak sah dan tidak di terima oleh yang maha kuasa, begitu dia berfikir. Karena kebingungan yang tak berujung, maka si jamaah tadi memutuskan untuk mengkonsultasikan apa yang di alaminya kepada Kyainya.

Akhirnya dengan mantap dia melangkahkan kakinya menuju rumah pak yai yang ada di samping masjid, sambil tidak lupa terlebih dahulu dia membeli gula teh dan jajanan yang di peruntukan untuk anak anak pak yainya, “mau ngrepotin yai, ya harus tahu diri” begitu pikirnya.

Assalamu’alaikum…

Wa’alaikum salam, Jawab sang kyai dari dalam sambil membukakan pintu, menyalami dan mempersilahkan masuk.

“Monggo monggo… duduk dulu ya…saya ke belakang dulu” begitu sambut pak yai dengan ramah

Setelah sekian menit menunggu, akhirnya pak yai keluar dengan senyum lebar, pakaian rapi dan wangi.

“Ada keperluan apa… kok tidak biasanya sampean mampir ke gubuk saya?” tanya pak yai dengan nada menghibur dan ramah

“Maaf yai…kedatangan saya ini, yang pertama adalah shilaturrohim, yang kedua… anu yai, e..e..” ahli jamaah menjawab sambil menyodorkan bungkusan plastik kresek yang di bawanya.(sambil malu malu)

“Oh ya, terima kasih terima kasih” jawab pak yai

“Saya sangat bahagia ada yang mau shilaturrohim, tapi kok repot repot segala” tambah yai sambil malu malu juga

Singkatnya, setelah basa basi dan air minum sudah di sajikan, si jamaah langsung mengutarakan maksud kedatanganya.

“Maaf yai, saya mau bertanya, tentang hukumnya orang yang sedang sholat garuk garuk sampai lebih dari tiga kali gerakan, apakah itu membatalkan sholat yai?”

“Oh iya dong…” jawab yai, “Tetapi jika garuk garuk itu di lakukan setelah menahan rasa gatal yang sudah tidak bisa di tahan lagi tanpa di garuk, maka tidak membatalkan sholat walau lebih dari tiga gerakan”, lanjut yai menjelaskan , “Sebagaimana di jelaskan di dalam kitab Tuhfah juz 2 halaman 155 dan kitab Syarqowi juz 1 halaman 220”.

“Nggih Yai” jawab si jamaah sambil berfikir, “lengkap dan mantap ada kitabnya juga”.

“Maaf lagi yai….” si jamaah melanjutkan, “kalau sedang sholat banyak nyamuk yang mengganggu kita, lalu kita menghalaunya sampai lebih dari tiga gerakan apakah juga tidak membatalkan sholat yai?”.

“Oh ya, hal itu tidak membatalkan sholat, karena gerakan di situ di hitung dlorurot”….

“Maaf yai, kitabnya belum di sebutkan”…

“Oh, sebentar sebentar, keterangan itu ada di kitab karyanya syaikh Abdurrohman bin Muhammad Ba ‘Alawi, namanya Bughyatul Musytarsidin, kalau halamanya berapa yah..e…? yai sedikit lupa sambil bangkit menuju almari kitab kitabnya yang dari pesantren dulu…agak lama membuka buka halaman, baru kemuadian tersenyum dan mengatakan

“Halaman 89 mas… ya 89 nih” sambil menyodorkan kitab ke si jamaah

“Saya tidak bisa baca yai, maklum tidak bawa kaca mata”. Jawab si jamaah dengan muka memerah malu,

Padahal paka yai hanya mau menunjukan halaman saja, tapi si jamaah sudah grogi duluan. Pak yai juga mengerti dan memaklumi akan keadaan jamaahnya sebagai orang awam.

“Saya seneng kalau ada temen temen kita yang mau bertanya tentang hukum hukum ketika sholat dan umumnya hukum islam, karena saya paham betul, bahwa saya kurang bisa memahami apa apa yang tidak di ketahui oleh orang per orang”. Pak yai menjelaskan

“Ketika saya di tanya dan tahu jawabanya maka akan saya beritahu, karena saya sifatnya hanya membacakan fatwanya para ulama salaf yang sudah ada di kitab kitab kuning ini, kalau saya tidak tahu, ya nanti saya tanyakan lagi ke guru guru saya” . Tambah pak yai

Sambil manggut manggut si jamaah menjawab : “Terimam kasih pak yai, mohon jangan jadi peng unek unek ketika para jamaah seperti saya ada yang mau bertanya”.

“Ya ya, tentu mas… saya justru senang, karena itu berarti para jamaah ada yang berpikiran maju dan suka ilmu, itu berpahala loh mas”? lanjut yai menerangkan dengan senyum yang lebar

“Maaf lagi yai, pak yai kan suaranya merdu, maaf yai, ketika membaca suratan dalam sholat apalagi kalau jum’at itu membuat kita para jamaah jadi terbuai, sehingga ada dari kita yang sedang sholat badanya bergoyang goyang yai,mungkin karena asyiknya menyimak ayat yang yai baca, apakah itu bisa membatalkan sholat yai?”.

“Ya tentu bisa membatalkan sholat, kalau gerakanya sampai lebih dari tiga gerakan, tapi kalau kurang dari tiga gerakan ya hanya makruh saja, nih, ada di kitab ini juga, halamanya 90, satu lembar dari halaman yang tadi”. Jelas pak yai sambil menunjukan halaman 90 di kitab itu.

”Apa masih boleh bertanya lagi yai?”

“Tentu, boleh boleh”, apa lagi yang mau di tanyakan?’

“Anu yai, saya sering menggerak gerakan tangan di saat sholat yai, contohnya, ketika I’tidal itu kedua tangan kanan dan kiri terayun ke belakang, hal itu penjelasanya bagaimana yai, jangan jangan ternyata bisa membatalkan sholat yai?”.

“Wah kebetulan mas, saya baru empat hari kemarin di tanyai masalah seperti itu dalam pengajian rutin, memang mas, hal itu sering tidak di perhatikan oleh orang yang sedang sholat, padahal gerakan terayun kedua tangan kanan dan kiri itu sudah di hitung dua gerakan mas, jadi kalau sampi kedua tangan terayun ke depan ke belakang berarti sudah empat gerakan, dan itu membatalkan sholat. Oleh karenanya lebih baik tangan setelah i’tidal di taruh seperti ketika belum melakukan ruku’ mas”.

“Oh, berarti sedakep lagi pak yai?” potong si jamaah

“Iya itu lebih baik, tapi kalau di taruh lurus di samping badan juga tidak apa apa asal jangan di ayun ayunkan mas”..

“Iya pak yai, tapi kitabnya belum yai, maaf banget, biar tambah mantep”

“Itu ada di kitab Fatawi Fiqhiyyah nya Imam Ibnu Hajar al Haitami juz 1 halaman 140 mas, tapi versi maktabah syamilah, soalnya saya tidak punya kitabnya, jadi pakai maktabah syamilah mas…”

“Maktabah syamilah sih kitab apa yai”

“Maktabah syamilah itu ya kumpulan kitab yang di tulis dalam satu cd atau kaset mas, jadi halamanya tidak sama dengan kitab yang asli”.

“Yang menulis itu siapa yai?”

“Yang menulis orang wahabi, jadi sebenarnya agak kurang mantap saya sendiri dalam menggunakanya, karena kita sama sama tahu bahwa orang wahabi itu suka mengurangi dan menambah huruf dalam masalah seperti itu”.

Obrolan terus berlanjut sampai satu jam ke depan dengan tambah semanga dan kadang di selingi dengan tawa yang renyah dan penuh kegembiraan, dan akhirnya si jamaah itupun pamit ke pak yai……

“Oh ya pak yai, terima kasih sekali pak yai”,

“ Iya sama sama”, jawab pak yai sambil membenarkan posisi pecinya yang sudah kelihatan tua umurnya

“Saya mau mohon pamit pak yai, ini sudah cukup malam, pak yai mungkin mau istirahat, semua kesalahan saya mohon di maafkan dan terima kasih atas semuanya pak yai”. Pamit si jamaah itu sambil menyalami dan mencium tangan pak yai..

“Assalamu’alaikum yai….”.

“wa’alaikum salam wa rohmah”. Jawab yai sambil melangkah mengantar ke depan pintu rumahnya. Setelah si jamaah jauh, baru pak yai masuk ke rumah dan menutup pintu. Dalam benak pak yai terbersit pikiran bahwa betapa besar Rohmat Alloh swt, dia teringat satu hadits yang di riwayatkan oleh Imam At Thobaroni bahwa :

“Barang siapa mengucapkan “Assalamu’alaikum, di tuliskan baginya sepuluh pahala, dan seseorang yang mengucapkan “Assalamu’alaikum wa rohmatulloh, di tuliskan baginya 20 pahala, dan seseorang yang mengucapkan “Assalamu’alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh, di tuliskan baginya 30 pahala”.

Dan juga hadits dari Imam At Thobaroni yang lain, yang menerangkan tentang pahala orang yang berkunjung ke saudara sesama mu’min. Bahwa Rosululloh saw bersabda :

“Barang siapa berziarah pada saudaranya sesama mu’min, maka dia berada di lautan rohmat sampai pulang”.

Sambil tersenyum dan mengucap syukur sang kyai pun masuk ke dalam rumahnya.

Leave your comment here: