URUTAN WALI NIKAH, NIKAH DENGAN WALI HAKIM DAN NIKAHNYA ORANG BISU

URUTAN WALI NIKAH, NIKAH DENGAN WALI HAKIM DAN NIKAHNYA ORANG BISU

URUTAN WALI NIKAH

ISTERI

ADA MASALAH YANG PELIK SEBAGAIMANA BERIKUT :
Seumpama si A punya istri bernama NUR dan di karuniai dua orang anak yang bernama Hadi dan Qomariyah
KEMUDIAN si A dan NUR bercerai, kemudian A menikah lagi dengan HALIMAH dan mempunyai anak 4 Namanya ACHMAD, QODIR, ZAINAB, HINDUN.

Akhirnya kemudian si A MENINGGAL dunia? sedangkan anak dari istri keduanya yaitu HALIMAH mau menikah yaitu yang bernama ZAINAB. Kebetulan Walinya adalah Achmad (anak tertua dari si HALIMAH. Sedangkan ACHMAD sendiri berada di negara lain.

PERTANYAANYA adalah Bolehkah HADI anak dari NUR sebagai istri pertama menjadi wali Zainab?

JAWABAN

Urutan wali nikah adalah ayah, kakek (dari sisi ayah), saudara laki-laki sekandung,  saudara laki-laki seayah, anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung,  anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah, paman (saudara ayah sekandung) , paman (saudara ayah seayah), anak laki-laki paman sekandung lalu anak laki-laki paman seayah dan seterusnya

المفتاح في النكاح / 16-17(الولي  في النكاح واحق الأولياء بالتزويج)ا ولى اللأولياء واحقهم بالتزويج الأب ثم الجد ابو الأب وان علا ثم الأخ الشقيق ثم ثم الأخ لأب ثم ابن الأخ الشقيق ثم ابن الأخ لأب وان سفل ثم العم الشقيق ثم العم لأب ثم ابن العم الشقيق ثم ابن العم لأب وان سفل ثم عم الأب ثم ابنه وان سفل ثم عم الجد ثم ابنه وان سفل ثم عم ابي الجد ثم ابنه وان سفلوهكذا على هذه الترتيب في سائر العصبات، ويقد الشقيق منهم على من كان لأب، فاذا لم يوجد احد من عصبات النسب فالمعتق فعصبته ثم معتق المعتق ثم عصبته ثم الحاكم او نائبه

Jika seorang ayah telah meningal dunia, atau masih hidup tapi tidak memenuhi persyaratan seperti : beragama lain (bukan muslim) atau gila maka perwalian berpindah ke derajat dibawahnya  yaitu kakek, tapi jika kakek juga tidak ada maka berpindah ke saudara laki-laki sekandung dan seterusnya  sesuai urutan diatas

المفتاح في النكاح /18واما شروط الولي فمنها كونه مسلما ان كانت الزوجة مسلمة، وكونه بالغا عاقلا حرا رشيدا عقلا. فان اختل شرط من هذه الشروط فلا حق له في الولاية بل لمن بعده من الأولياء اي لمن يليه في الدرجة ان لم يوجد من يساويه

Dalam kasus di atas, yang berhak menjadi Wali nikah ialah HAKIM , bukan HADI
karena meskipun keberadaan ACHMAD di luar negeri namun ia di ketahui masih hidup sehingga yang berhak menjadi wali dalam pernikahan ZAINAB ialah hakim, hanya saja si hakim di anjurkan untuk meminta izin pada wali ab’ad , (saudaranya Ahmad “HADI”)

JELASNYA Selama ACHMAD di ketahui masih hidup maka wali nikah tidak berpindah pada HADI atau saudara laki laki lainnya, Terkecuali jika ACHMAD di ketahui telah meninggal maka perwalian berpindah pada HADI.

وإن غاب الولي مسافة القصر لا دونها زوجها قاضي بلدها) لا الأبعد ولا قاضي غير بلدها أمادون مسافة القصر فلا يزوج حتى يراجع الولي فيحضر أو يوكل كما لو كان مقيما – الى ان قال – (وكذا المفقود)الذي لا يعرف مكانه ولا موته ولا حياته يزوج عنه القاضي لتعذر نكاحها من جهته فأشبه ما إذا عضل (ما لم يحكم بموته)وإلا زوجها الأبعد(ولو لم تثبت) أي تقم بينة (بغيبة الولي وبالخروج عن النكاح والعدة) فإن القاضي يزوجها (لكن يستحب ذلك) أي إقامة البينة بذلك – الى انقال – فرع يستحب للقاضي عند غيبة) الولي (الأقرب) الغيبة المعتبرة (أن يأذن للأبعد) أن يزوج (أو يستأذنه) ليزوج(فإنزوجت) في غيبته (فبان الوليقريبا) من البلد عند العقد ولو بقوله كما يؤخذ منكلام نقله الزركشي عن فتاوى البغوي (لم ينعقد) نكاحها؛ لأن تزويج الحاكم لا يصح مع وجود الوليالخاص

Asnal Matholib : juz 3 hal.133

ولوغاب الأقرب إلى مرحلتين زوج السلطان ودونهما لا يزوج إلا بإذنه في الأصح وللمجبر التوكيل في التزويج بغير إذنها

Minhajut Tholibin : juz 1 hal. 207

يصح تزويج الحاكم من غاب وليها بعد البحث عنه هل هو بمسافة القصر أم لا ؟ فلو شك وتعذر الإذن لعدم العلم بمحله صح أيضاً ما لم يبن قريباً

Bughyatul Mustarsyidin : hal. 432

ولو) (غاب) الولي (الأقرب)نسبا، أو ولاء (إلى مرحلتين) ، أو أكثر ولم يحكم بموته وليس له وكيل حاضر في تزويج موليته (زوج السلطان) لاالأبعد وإن طالت غيبته وجهل محله وحياته لبقاء أهلية الغائب وأصل بقائه والأولى أن يأذن للأبعد، أو يستأذنه خروجامن الخلاف

Nihayatul Muhtaj : juz 6 hal. 241

KEMUDIAN BAGAIMNAKAH HUKUM MENIKAH MELALUI WALI HAKIM

Seumpama ada seorng perempuan(perawan) yang mau menikah, kebetulan dia ada di luar negara, sedangkan ayahnya ada di indonesia, tetapi oleh penghulunya langsung di akadi dengan wali hakim tanpa memberi tahu ayahnya yang ada di indonesia.

Apakah akad nikah seperti ini bisa di benarkan dalam pandangan islam?

Praktek pernikahan sebagaimana di atas itu sudah di anggap sah pernikahannya dalam madzhab Syafi’iyyah, karena pertimbangannya adalah apabila antara wali dan anak perempuannya terpisah sejauh jarak tempuh yang diperbolehkan untuk menqoshor sholat, maka wilayah nikah beralih pada hakim. Dan andai si hakim langsung menikahkan maka pernikahan tersebut sah, namun alahkah baiknya si hakim meminta izin pada wali si perempuan semata mata demi menghormati kebijakan ulama lain yang merekomendasikan perizinan dari hakim pada si wali.

ﻧﻬﺎﻳﺔ ﺍﻟﺰﻳﻦ ﻓﻲ ﺇﺭﺷﺎﺩ ﺍﻟﻤﺒﺘﺪﺋﻴﻦ 309 :

ﺛﻢ ﺑﻌﺪ ﻓﻘﺪ ﺍﻷﻭﻟﻴﺎﺀ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭﻳﻦ ﻗﺎﺽ ﻓﻴﺰﻭﺝ ﻣﻦ ﻫﻲ ﺣﺎﻟﺔ ﺍﻟﻌﻘﺪ ﻓﻲ ﻣﺤﻞ ﻭﻻﻳﺘﻪ ﻭﻻ ﻣﺨﺘﺎﺭﺓ ﺃﻭ ﺃﺫﻧﺖ ﻟﻪ ﻭﻫﻲ ﺧﺎﺭﺟﺔ ﻋﻦ ﻣﺤﻞ ﻭﻻﻳﺘﻪ ﺛﻢ ﻳﺰﻭﺟﻬﺎ ﺑﻌﺪ ﻋﻮﺩﻫﺎ ﻟﻪ ﻻ ﻗﺒﻞ ﻭﺻﻮﻟﻬﺎ ﻟﻪ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺑﻤﺤﻞ ﻭﻻﻳﺘﻪ ﻭﺍﻟﺰﻭﺝ ﺧﺎﺭﺟﻪ ﺑﺄﻥ ﻭﻛﻞ ﻓﻌﻘﺪ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﻣﻊ ﻭﻛﻴﻠﻪ ﺻﺢ ﻓﺎﻟﻌﺒﺮﺓ ﺑﺎﻟﻤﺮﺃﺓ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﻭﻋﻠﻢ ﺑﻤﺎ ﺫﻛﺮ ﺃﻧﻬﺎ ﻟﻮ ﺃﺫﻧﺖ ﻟﻪ ﺛﻢ ﺧﺮﺟﺖ ﻟﻐﻴﺮ ﻣﺤﻞ ﻭﻻﻳﺘﻪ ﺛﻢ ﻋﺎﺩﺕ ﺛﻢ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﺻﺢ ﻭﺗﺨﻠﻞ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ﻣﻨﻬﺎ ﺃﻭ ﻣﻨﻪ ﻏﻴﺮ ﻣﺒﻄﻞ ﻟﻺﺫﻥ ﻭﻭﻻﻳﺔ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﺗﺸﻤﻞ ﺑﻼﺩ ﻧﺎﺣﻴﺘﻪ ﻭﻗﺮﺍﻫﺎ ﻭﻣﺎ ﺑﻴﻨﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺴﺎﺗﻴﻦ ﻭﺍﻟﻤﺰﺍﺭﻉ ﻭﺍﻟﺒﺎﺩﻳﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻓﻴﺰﻭﺝ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﺑﻜﻒﺀ ﺑﺎﻟﻐﺔ ﻋﺪﻡ ﻭﻟﻴﻬﺎ ﺑﺄﻥ ﻟﻢ ﻳﻮﺟﺪ ﺍﻟﻮﻟﻲ ﺍﻟﺨﺎﺹ ﺑﻨﺴﺐ ﺃﻭ ﻭﻻﺀ ﺑﺎﻟﻤﺮﺓ.

ﺃﻭ ﻏﺎﺏ ﺃﻱ ﺍﻟﻮﻟﻲ ﺍﻷﻗﺮﺏ ﻧﺴﺒﺎ ﺃﻭ ﻭﻻﺀ ﻣﺮﺣﻠﺘﻴﻦ ﻭﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﻭﻛﻴﻞ ﺣﺎﺿﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺰﻭﻳﺞ ﻭﺇﻻ ﻗﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﺧﻼﻓﺎ ﺍﻟﺒﻠﻘﻴﻨﻲ ﻓﺈﺫﺍ ﺗﺒﻴﻦ ﻛﻮﻧﻪ ﺩﻭﻥ ﻣﺴﺎﻓﺔ ﺍﻟﻘﺼﺮ ﺣﺎﻟﺔ ﺍﻟﻌﻘﺪ ﺑﺒﻴﻨﺔ ﺃﻭ ﺑﺤﻠﻔﻪ ﻟﻢ ﻳﺼﺢ ﺗﺰﻭﻳﺞ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ .

ﺑﻐﻴﺔ ﺍﻟﻤﺴﺘﺮﺷﺪﻳﻦ ﻓﻲ ﺗﻠﺨﻴﺺ ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺑﻌﺾ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﻤﺘﺄﺧﺮﻳﻦ 203 :

ﻣﺴﺄﻟﺔ ﻱ : ﻏﺎﺏ ﻭﻟﻴﻬﺎ ﻣﺴﺎﻓﺔ ﺍﻟﻘﺼﺮ ﺍﻧﺘﻘﻠﺖ ﺍﻟﻮﻻﻳﺔ ﻟﻠﺤﺎﻛﻢ ﻻ ﻟﻸﺑﻌﺪ ﻓﻲ ﺍﻷﺻﺢ ، ﺛﻢ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺍﺳﺘﺌﺬﺍﻧﻪ ﺃﻭ ﺍﻹﺫﻥ ﻟﻪ ﺧﺮﻭﺟﺎً ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺨﻼﻑ ﺍﻟﻘﺎﺋﻞ ﺑﻪ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ، ﻓﻠﻮ ﺯﻭﺝ ﺍﻷﺑﻌﺪ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻮﻁﺀ ﺷﺒﻬﺔ ﻳﺜﺒﺖ ﺑﻪ ﻧﺴﺐ ﺍﻷﻭﻻﺩ ، ﻭﺗﺤﺮﻳﻢ ﺍﻟﻤﺼﺎﻫﺮﺓ ، ﻭﻣﻬﺮ ﺍﻟﻤﺜﻞ ﻟﻠﻤﻮﻃﻮﺀﺓ ﻭﺍﻟﻌﺪﺓ ، ﻷﺟﻞ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﻭﺍﻟﻠﻤﺲ ﻭﺍﻟﺨﻠﻮﺓ ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻟﻨﻘﺾ ، ﻭﻳﺠﺐ ﺍﻟﺘﻔﺮﻳﻖ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ، ﻭﻟﻮﺍﻃﺌﻬﺎ ﺍﻟﻌﻘﺪ ﺑﻬﺎ ﻓﻲ ﻋﺪﺗﻪ ﻭﻟﻬﺎ ﺍﻟﻤﺴﻤﻰ ﺣﻴﻨﺌﺬ

Hasyiah As sarqowi juz 2 hal. 230.

فإن عضل او سافر الى مرحلتبن او أحرم او أراد التزوج بموليته زوج السلطان نيابة عنه لبقائه على الولاية

LALU BAGAIMANAKAH NIKAHNYA ORANG YANG BUTA, TULI DAN BISU?
Ketika ada orang yang bisu, buta, tuli dan dia tidak bisa mendengar, lihat tulisan juga tidak bisa, mengucap qobul tidak bisa, bisanya cuma lewat rabaan, kemudian ketika akan menikah bagaimanakah hukumnya?

Kalau orang bisu saja maka jelas ada solusinya, begitupun orang buta saja juga ada solusinya dan sah menikah menurut qaul ashoh dengan persyaratan sebagaimana orang bisu. Tapi kalau tuli + buta + bisu bagaimana solusinya?

Orang terlahir dalam keadaan buta + tuli ini tidak mukallaf, yakni tidak terkena khithob hukum syari’at.

Inilah ibaroh bahwa orang buta , tuli dan bisu tidak mukallaf

ﻧﻬﺎﻳﺔ ﺍﻟﺰﻳﻦ : 9

ﻣﻜﻠﻒ ﺃﻱ ﺑﺎﻟﻎ ﻋﺎﻗﻞ ﺳﻠﻴﻢ ﺍﻟﺤﻮﺍﺱ ﺑﻠﻐﺘﻪ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﻓﻼ ﺗﺠﺐ ﻋﻠﻰ ﺻﺒﻲ ﻭﻻ ﻋﻠﻰ ﻣﺠﻨﻮﻥ ﻟﻢ ﻳﺘﻌﺪ ﺑﺴﺒﺐ ﺟﻨﻮﻧﻪ ﻛﻤﻦ ﻭﺛﺐ ﻭﺛﺒﺔ ﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﺑﻬﺎ ﺯﻭﺍﻝ ﻋﻘﻠﻪ ﻭﻻ ﻋﻠﻰ ﺳﻜﺮﺍﻥ ﺑﻐﻴﺮ ﻣﺆﺛﻢ ﻟﻌﺪﻡ ﺗﻜﻠﻴﻔﻬﻢ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺭﻓﻊ ﺍﻟﻘﻠﻢ ﻋﻦ ﺛﻼﺙ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺎﺋﻢ ﺣﺘﻰ ﻳﺴﺘﻴﻘﻆ ﻭﻋﻦ ﺍﻟﺼﺒﻲ ﺣﺘﻰ ﻳﻜﺒﺮ ﻭﻋﻦ ﺍﻟﻤﺠﻨﻮﻥ ﺣﺘﻰ ﻳﻌﻘﻞ ﺃﻭ ﻳﻔﻴﻖ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﻭﻣﻦ ﻧﺸﺄ ﺑﺸﺎﻫﻖ ﺟﺒﻞ ﻭﻟﻢ ﺗﺒﻠﻐﻪ ﺩﻋﻮﺓ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻏﻴﺮ ﻣﻜﻠﻒ ﺑﺸﻲﺀ

ﻭﻛﺬﺍ ﻣﻦ ﺧﻠﻖ ﺃﻋﻤﻰ ﺃﺻﻢ ﻓﺈﻧﻪ ﻏﻴﺮ ﻣﻜﻠﻒ ﺑﺸﻲﺀ ﺇﺫ ﻻ ﻃﺮﻳﻖ ﻟﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻧﺎﻃﻘﺎ ﻷﻥ ﺍﻟﻨﻄﻖ ﺑﻤﺠﺮﺩﻩ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻃﺮﻳﻘﺎ ﻟﻤﻌﺮﻓﺔ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﺸﺮﻋﻴﺔ ﺑﺨﻼﻑ ﻣﻦ ﻃﺮﺃ ﻋﻠﻴﻪ ﺫﻟﻚ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻤﻌﺮﻓﺔ ﻓﺈﻧﻪ ﻣﻜﻠﻒ

ﻭﻟﻮ ﺃﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﻟﻢ ﺗﺒﻠﻐﻪ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﻭﺟﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﻷﻧﻪ ﻣﻨﺰﻝ ﻣﻨﺰﻟﺔ ﻣﺴﻠﻢ ﻧﺸﺄ ﺑﻌﻴﺪﺍ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺑﺨﻼﻑ ﻣﻦ ﺧﻠﻖ ﺃﻋﻤﻰ ﺃﺻﻢ ﻓﺈﻧﻪ ﺇﻥ ﺯﺍﻝ ﻣﺎﻧﻌﻪ ﻻ ﻗﻀﺎﺀ ﻋﻠﻴﻪ ﻷﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻓﻴﻪ ﺃﻫﻠﻴﺔ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ
===========
Fokus :

ﻭﻛﺬﺍ ﻣﻦ ﺧﻠﻖ ﺃﻋﻤﻰ ﺃﺻﻢ ﻓﺈﻧﻪ ﻏﻴﺮ ﻣﻜﻠﻒ ﺑﺸﻲﺀ ﺇﺫ ﻻ ﻃﺮﻳﻖ ﻟﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻧﺎﻃﻘﺎ ﻷﻥ ﺍﻟﻨﻄﻖ ﺑﻤﺠﺮﺩﻩ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻃﺮﻳﻘﺎ ﻟﻤﻌﺮﻓﺔ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﺸﺮﻋﻴﺔ

Demikian juga orang yang tercipta dalam keadaan buta tuli, sungguh dia tidak tertuntut dengan apapun karena tidak ada jalan atau solusi baginya untuk mengerti hal itu (dakwah Islam) meskipun dia bisa bicara. Karena bisa bicara saja itu bukanlah jalan untuk mengetahui hukum hukum syari’at.

Seorang anak yang terlahir dalam keadaan buta dan tuli hukumnya seperti halnya orang gila.

WALIYYUL MAJNUUNI WA MAA ULCHIQO BIHI MIMMAA MARRO WA IN KAANA LAHU NAU’U TAMYIIZIN ABUN FA-ABUUHU FA-WASHIIHIMAA AU ACHADIHIMAA TSUMMAL CHAAKIMU TSUMMA SULACHAAUL MUSLIMIINA ‘INDA FAQDIHI AU JUURIHI.
FA YATASHORROFU FII MAALIHI BITARBIYATIHIM.
WA YUZAWWIJUHU GHOIRUL WASHIY MIMMAN DZUKIRO BI-DHUHUURIL CHAAJATI KA-TAWAQQOONIN AU KHIDMATIN.

Walinya majnun dan orang yang samakan dengannya, meskipun ia memiliki semacam sifat tamyiz adalah Bapaknya, lalu kakeknya, lalu orang yang diwasiati oleh keduanya atau salah satunya, lalu hakim, kemudian orang sholeh ketika hakim tidak ada atau menyimpang.
Maka, bagi para wali tersebut boleh menggunakan hartanya majnun guna biaya perawatannya, dan lain lain.

Dan boleh bagi selain orang yang diwasiati untuk menikahkan majnun bila dibutuhkan, seperti hasratnya pada wanita atau butuhnya orang yang merawatnya.

BUGHYATUL MUSTARSYIDIN hal.139-140

Kemudian ibaroh di bawah ini adalah Sebagai perbandingan saja, yaitu dari pendapat madzhab lain.
WA QOOLA AL-ABHARIYYU YUMNA’U AL-BAI’U LIMAN WULIDA A’MAA AU ‘AMIYA QOBLA TAMYIIZIL ALWAANI.
WAL-KHILAAFU FIIMAA YATAWAQQOFU ‘ALAA-R RU’YATI.
WA AMMAL MASYMUUMU KA-MISKIN, WAL MADZUUQU KA-‘ASALIN FA-LAA KHILAAFA FIIHI.
WA MACHALLUHU IN LAM YAKUN AL-A’MAA AKHROSA ASHOMMA. WA ILLAA MUNI’AT MU’AAMALATUHU WA MUNAAKACHATUHU ILLAA MIN WALIYYIHI-L MUJBIRI.

Syaikh Al Abhuriy menuturkan :

Tidak diperkenankan melakukan praktek jual beli bagi orang yang terlahir dalam keadaan buta atau buta sebelum bisa membedakan warna. Perbedaan ulama ini dalam jual beli yang tergantung adanya penglihatan. Sedang untuk barang yang cukup dibaui sepeti minyak misk, dan yang cukup dirasa seperti madu, maka tidak ada perbedaan antar ulama.
Hal ini apabila si Buta itu tidak juga BISU serta TULI. Kalau juga bisu dan tuli, maka baginya tidak diperbolehkan melakukan transaksi dan pernikahan kecuali oleh wali mujbirnya.

MINAHUL JALIL IX/452

WA AMMAA-L A’MAA-L ASHOMMU FA-LAA TAJUUZU SYAHAADATUHU FII SYAIIN WA LAA MU’AAMALATUHU KAL-MAJNUUNI.
WA INNAMAA YUWALLIY ‘ALAIHIMAA MAN YATAWALLAA AMROHUMAA BIL-MASHLACHATI

Orang Buta sekaligus Tuli tidak sah bersaksi dalam apapun, dan (tidak sah) aktifitas transaksinya sebagaimana orang gila.
Dan yang bisa memegang kendali atas keduanya hanya orang yang mempunyai hak kekuasaan mengurusi segala perkara dari keduanya dengan maslahat.

HASYIYAH ASH-SHOOWI ALA ASY-SYARCH ASH-SHOGHIR IX/388

Ini ibaroh yang lain :

ﺍﻟﺒﻬﺠﺔ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﺘﺤﻔﺔ :

ﻭَﻣِﻦْ ﺃﺻَﻢَّ ﺃﺑْﻜَﻢَ ﺍﻟْﻌُﻘُﻮﺩُ ** ﺟَﺎﺋِﺰَﺓٌ ﻭَﻳَﺸْﻬَﺪُ ﺍﻟﺸُّﻬُﻮﺩُ

ﻭﻣﻦ ﺃﺻﻢ ﺃﺑﻜﻢ ﺍﻟﻌﻘﻮﺩ: ﻣﻦ ﻧﻜﺎﺡ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻌﺎﻭﺿﺎﺕ ﻭﺍﻟﺘﺒﺮﻋﺎﺕ. ﺟﺎﺋﺰﺓ: ﻷﻧﻪ ﻳﺪﺭﻙ ﺍﻷﺷﻴﺎﺀ ﺑﺒﺼﺮﻩ، ﻭﻳﻔﻬﻢ ﻋﻨﻪ ﻣﺎ ﺃﺭﺍﺩ ﺑﺈﺷﺎﺭﺗﻪ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ: ﻭﻳﺸﻬﺪ ﺍﻟﺸﻬﻮﺩ: ﻋﻠﻴﻪ ﺑﺎﻹﻳﺠﺎﺏ ﻭﺍﻟﻘﺒﻮﻝ.

ﺑِﻤُﻘْﺘَﻀَﻰ ﺇﺷﺎﺭﺓٍ ﻗﺪ ﺃَﻓْﻬَﻤَﺖْ ** ﻣﻘْﺼُﻮﺩَﻩُ ﻭﺑﺮﺿﺎﻩُ ﺃَﻋْﻠَﻤَﺖْ

ﺑﺤﻴﺚ ﻻ ﻳﺸﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﻣﺮﺍﺩﻩ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ.

ﻓَﺈﻥْ ﻳَﻜُﻦْ ﻣَﻊْ ﺫَﺍﻙَ ﺃَﻋْﻤَﻰ ﺍﻣْﺘَﻨَﻌَﺎ ** ﻟِﻔَﻘْﺪِﻩِ ﺍﻹﻓْﻬَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟْﻔَﻬْﻢَ ﻣَﻌَﺎ

ﻓﺈﻥ ﻳﻜﻦ ﻣﻊ ﺫﺍﻙ: ﺍﻟﺼﻤﻢ ﻭﺍﻟﺒﻜﻢ. ﺃﻋﻤﻰ ﺍﻣﺘﻨﻌﺎ: ﺃﻱ ﺍﻟﻌﻘﺪ ﻣﻌﻪ ﻭﺍﻟﺸﻬﺎﺩﺓ ﻋﻠﻴﻪ. ﻟﻔﻘﺪﻩ ﺍﻷﻓﻬﺎﻡ: ﻟﻐﻴﺮﻩ. ﻭﺍﻟﻔﻬﻢ: ﻣﻨﻪ. ﻣﻌﺎ. ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻳﻌﻘﺪ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻭﻟﻴﻪ ﻭﻣﺜﻠﻪ ﻓﻲ ﻣﻨﻊ ﻣﻌﺎﻣﻠﺘﻪ ﺑﻨﻔﺴﻪ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺃﺻﻢ ﺃﻋﻤﻰ ﻟﻮﺟﻮﺩ ﺍﻟﻌﻠﺔ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭﺓ، ﻭﻓﻬﻢ ﻣﻨﻪ ﺃﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺃﺑﻜﻢ ﺃﻋﻤﻰ ﻭﻫﻮ ﻳﺴﻤﻊ ﺗﺠﻮﺯ ﻣﻌﺎﻣﻠﺘﻪ ﻷﻥ ﺍﻹﺷﺎﺭﺓ ﻣﻨﻪ ﻣﻤﻜﻨﺔ.

Tambahan ibaroh yang lain :

شرح المنهاج 3/ 298)

ولو خلق أعمى أصم أخرس فهو غير مكلف كمن لم تبلغه الدعوة

Seumpama ada orang yang tercipta dalam keadaan buta ,tuli dan bisu maka orang tersebut tidak mukallaf seperti halnya orang yang tidak pernah kemasukan dakwah

ورابعها سلامة احدى حواس السمع والبصر فلا تجب الصلاة على من خلق اصم اعمى ولو ناطقا فلا يجب عليه القضاء ان زال مانعه

Yang ke 4 dari syarat wajib sholat adalah selamatnya salah satu pendengaran dan penglihatan, maka tiada kewajiban sholat bagi orang yang tercipta dalam keadaan tuli sekaligus buta walaupun masih bisa bicara dan begitu juga tidak wajib qodlo’ baginya jika mani’nya (buta dan tulinya) sembuh

Kasyifatus saja hal. 51

Leave your comment here: