PENJELASAN AYAT AL QUR’AN TENTANG PERINTAH BERMUSYAWARAH

PENJELASAN AYAT AL QUR’AN TENTANG PERINTAH BERMUSYAWARAH

MUSY

            Demokrasi merupakan suatu paham yang didalamnya mengandung asas-asas musyawarah yang pernah dilakukan Rasulullah SAW semasa hidup beliau dan diperintahkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’anul-Karim. Indonesia juga merupakan negara demokrasi, akan tetapi demokrasi di Indonesia adalah demokrasi pancasila yang didasarkan pada sila-sila yang terdapat dalam pancasila tersebut.

            Seperti halnya ajaran islam demokrasi juga menjunjung nilai persatuan dan kesatuan, maka dari itu kita sebagai generasi bangsa indonesia haruslah tahu tentang demokrasi. Dalam Al-Qur’an ada beberapa ayat yang menerangkan tentang demokrasi, salah satunya yaitu QS Ali Imran: 159 QS An Nisa : 59 Dan QS Asy-Syura: 38.

  1. Surat Ali Imran Ayat 159

                                                                                        

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Al-Qurthubi menyebutkan dalam tafsirnya Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an bahwa, pembahasan ayat ini mencakup delapan perkara:

Pertama, Para ulama berkata, “Allah SWT memerintahkan kepada Nabi-Nya dengan perintah-perintah ini secara berangsur-angsur. Artinya, Allah SWT memerintahkan kepada beliau untuk memaafkan mereka atas kesalahan mereka terhadap beliau karena telah meninggalkan tanggung jawab yang diberikan beliau. Setelah mereka mendapatkan maaf, Allah SWT memerintahkan beliau untuk memintakan ampun atas kesalahan mereka terhadap Allah SWT. Setelah mereka mendapatkan hal ini, maka mereka pantas untuk diajak bermusyawarah dalam segala perkara.

(Syaikh Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, “Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an”, Jilid 4, h. 622.)

  1. Quraish Shihab dalam tafsirnya Al-Mishbahmengomentari ayat ini bahwa, pada ayat ini disebutkan tiga sifat dan sikap secara berurutan disebut dan diperintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk dilaksanakan sebelum bermusyawarah. Penyebutan ketiga hal itu, walaupun dari segi konteks turunnya ayat, mempunyai makna tersendiri yang berkaitan dengan Perang Uhud, namun dari segi pelaksanaan dan esensi musyawarah, ia menghiasi diri Nabi SAW dan setiap orang yang melakukan musyawarah. Setelah itu, disebutkan lagi satu sikap yang harus diambil setelah adanya hasil musyawarah dan bulatnya tekad.
  2. berlaku lemah-lembuttidak kasar, dan tidak berhati keras,
  3. memberi maaf, dan membuka lembaran baru, dan
  4. permohonan magfirahdan ampunan Ilahi.

(M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Vol. 2, h. 244-245).

Kedua, Ibnu ‘Athiyah berkata, “Musyawarah termasuk salah satu kaidah syariat dan penetapan hukum-hukum. barangsiapa yang tidak bermusyawarah dengan ulama, maka wajib diberhentikan. Tidak ada pertentangan tentang hal ini. Allah SWT memuji orang-orang yang beriman karena mereka suka bermusyawarah dengan firman-Nya, ‘Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka’. (QS. Asy-Syura (42): 38).

(Syaikh Imam Al-Qurthubi h. 622-623).

Ahmad Mustafa Al-Maragi dalam tafsirnya Al-Maragi menyebutkan bahwa, ada banyak manfaat musyawarah diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Melalui musyawarah dapat diketahui kadar akal, pemahaman, kadar kecintaan dan keikhlasan terhadap kemaslahatan umum.
  2. Kemampuan akal manusia itu bertingkat-tingkat, dan jalan berfikirnya pun berbeda-beda. Sebab kemungkinan ada di antara mereka mempunyai suatu kelebihan yang tidak dimiliki orang lain, para pembesar sekalipun.
  3. Semua pendapat di dalam musyawarah diuji kemampuannya. Setelah itu dipilih pendapat yang paling baik.
  4. Di dalam musyawarah akan tampak bertautnya hati untuk menyukseskan suatu upaya dan kesepakatan hati. Dalam hal itu memang sangat diperlukan untuk suksesnya masalah yang sedang dihadapi. Oleh sebab itu berjamaah lebih afdal di dalam shalat-shalat fardu. Shalat berjamaah lebih afdal dari pada sahalat sendiri, dengan perbedaan dua puluh tujuh derajat.

       (Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi, Juz IV, h. 197).

 

Ketiga, Firman Allah SWT, “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu” menunjukkan kebolehan ijtihad dalam semua perkara dan menentukan perkiraan bersama yang didasari dengan wahyu. Sebab, Allah SWT mengizinkan hal ini kepada Rasul-Nya.

(Syaikh Imam Al-Qurthubi h. 623).

Keempat, Tertera dalam tulisan Abu Daud, dari Abu Hurairah RA, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Orang yang diajak bermusyawarah adalah orang yang dapat dipercaya’.”

(Ibid. h. 625).

 

Kelima, Kriteria orang yang diajak bermusyawarah dalam masalah kehidupan di masyarakat adalah memiliki akal, pengalaman dan santun kepada orang yang mengajak bermusyawarah. (Ibid. h. 625-626).

Keenam, Dalam musyawarah pasti ada perbedaan pendapat. Maka, orang yang bernusyawarah harus memperhatikan perbedaan itu dan memperhatikan pendapat yang paling dekat dengan Kitbullah dan Sunnah, jika memungkinkan. Apabila Allah SWT telah menunjukkan kepada sesuatu yang Dia kehendaki maka hendaklah orang yang bermusyawarah menguatkan tekad untuk melaksanakannya sambil bertawakkal kepada-Nya, sebab inilah akhir ijtihad yang dikehendaki. Dengan ini pula Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya dalam ayat ini. (Ibid. h. 628).

Ketujuh, Firman Allah SWT, “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah.” Qatadah berkata, “Allah SWT memerintahkan kepada Nabi-Nya apabila telah membulatkan tekad atas suatu perkara agar melaksanakannya sambil bertawakal kepada Allah SWT,” bukan tawakal kepada musyawarah mereka. (Ibid. h. 628-629).

Kedelapan, Firman Allah SWT, “Maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (Ibid. h. 631).

 

  1. Surat An-Nisa’ Ayat 59

                

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Al-Qurthubi menyebutkan dalam tafsirnya Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an bahwa, pembahasan ayat ini mencakup tiga perkara:

Pertama, Ayat sebelumnya membahas prihal pemimpin, dan perintah bagi mereka untuk menunaikan amanat, begitu juga menetapkan hukum diantara manusia dengan adil. Ayat ini ditujukan untuk rakyat, pertama-tama diperintah untuk taat kepada Allah SWT yaitu dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, lalu taat kepada rasul-Nya dengan apa-apa yang diperintah dan dilarang, kemudian taat kepada ulil amri, sesuai pendapat mayoritas ulama, seperti Abu Hurairah, Ibnu Abbas dan selain mereka. (Syaikh Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, “Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an”, Jilid 5, h. 613-614.)

  1. Quraish Shihab dalam tafsirnya Al-Mishbahmenyebutkan pendapat ulama yang berbeda-beda tentang makna kata ulil amri. Dari segi bahasa, uliadalah bentuk jamak dari waliy yang berarti pemilik atau yang mengurus dan menguasai. Bentuk jamak dari kata tersebut menunjukkan bahwa mereka itu banyak, sedang kata al-amr adalah perintah atau urusan. Dengan demikian, ulil amri adalah orang-orang yang berwenang mengurus urusan kaum muslim. Mereka adalah orang-orang yang diandalkan dalam menangani persoalan-persoalan kemasyarakatan. Siapakah mereka? Ada yang berpendapat bahwa mereka adalah para penguasa/ pemerintah. Ada juga yang menyatakan bahwa mereka adalah ulama, dan pendapat ketiga menyatakan bahwa mereka adalah yang mewakili masyarakat dalam berbagai kelompok dan profesinya. Demikian uraian M. Quraish Shihab dalam tafsirnya Al-Mishbah. (M. Quraish Shihab h. 460-461).

Kedua, Firman-Nya, “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu” yaitu jika kalian berdebat dan berselisih seakan-akan setiap mereka mempertahankan hujjah mereka dan berpegang dengannya. “Tentang sesuatu” yaitu dari perkara agama kalian, “Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya)” yaitu kembalikan hukumnya kepada Al-Qur’an atau kepada Rasul-Nya dengan bertanya semasa beliau masih hidup atau meneliti sunnahnya setelah wafatnya SAW, ini merupakan pendapat Mujahid, Al-A’masy dan Qatadah, itu pendapat yang benar, barangsiapa yang tidak berpendapat seperti itu maka imannya kurang, sesuai firman-Nya, “Jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian”. (Syaikh Imam Al-Qurthubi h. 618-619).

Ahmad Mustafa Al-Maragi dalam tafsirnya Al-Maragi menyebutkan bahwa, dari sini dapat diketahui bahwa ayat ini menerangkan pokok-pokok agama di dalam pemerintahan Islam, yaitu:

  1. Pokok pertama ialah Al-Qur’anul Karim; mengamalkannya merupakan ketaatan kepada Allah SWT.
  2. Pokok kedua ialah Sunnah Rasulullah SAW, dan mengamalkannya merupakan ketaatan kepada Rasulullah SAW.
  3. Pokok ketiga ialah Ijma’ para ulil amri, ahlul-halli wal-‘aqdi yang dipercaya oleh umat.
  4. Pokok keempat ialah memeriksa masalah-masalah yang diperselisihkan pada kaidah-kaidah dan hukum-hukum umum yang diketahui di dalam Al-Kitab dan Sunnah.

(Ahmad Mustafa Al-Maragi, “Tafsir Al-Maragi”, Juz V, h. 117-118).

Ketiga, Firman-Nya, “Yang demikian itu lebih utama (bagimu)”, yaitu perbuatan kalian mengembalikan segala yang diperselisihkan kepada Al-Qur’an dan Sunnah lebih baik daripada berselisih, “Dan lebih baik akibatnya” yaitu tempat kembali. (Syaikh Imam Al-Qurthubi h. 622).

 

  1. Surat Asy-Syura Ayat 38

 

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.”

Untuk menafsirkan ayat ini, dikutipkan penafsiran Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim:

وقوله: { وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ } أي: اتبعوا رسله وأطاعوا أمره، واجتنبوا زجره، { وَأَقَامُوا الصَّلاةَ } وهي أعظم العبادات لله عز وجل، { وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ } أي: لا يبرمون أمرا حتى يتشاوروا فيه، ليتساعدوا بآرائهم في مثل الحروب وما جرى مجراها، كما قال تعالى: { وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ } [آل عمران: 159] ولهذا كان عليه  السلام، يشاورهم في الحروب ونحوها، ليطيب بذلك قلوبهم. وهكذا لما حضرت عمر بن الخطاب الوفاة حين طعن، جعل الأمر بعده شورى في ستة نفر، وهم: عثمان، وعلي، وطلحة، والزبير، وسعد، وعبد الرحمن بن عوف، رضي الله عنهم أجمعين، فاجتمع رأي الصحابة كلهم على تقديم عثمان عليهم، رضي الله عنهم، { وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ } وذلك بالإحسان إلى خلق الله، الأقرب إليهم منهم فالأقرب.

           KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Dalam surat Ali Imran ayat 159, Allah SWT memerintahkan kepada Nabi SAW untuk memaafkan mereka atas kesalahan mereka terhadap beliau karena telah meninggalkan tanggung jawab yang diberikan beliau. Setelah mereka mendapatkan maaf, Allah SWT memerintahkan beliau untuk memintakan ampun atas kesalahan mereka terhadap Allah SWT. Setelah mereka mendapatkan hal ini, maka mereka pantas untuk diajak bermusyawarah dalam segala perkara.
  2. Dalam surat An-Nisa’ ayat 59, Allah memerintahkan hambanya untuk taat kepada Allah SWT yaitu dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, lalu taat kepada rasul-Nya dengan apa-apa yang diperintah dan dilarang, kemudian taat kepada ulil amri. Kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya).
  3. Dalam surat Asy-Syura ayat 38, Allah SWT memberikan apresiasi kepada hambanya yang memutuskan urusan mereka dengan musyawarah.

               Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah merealisasikan musyawarah ini sebagai pengajaran bagi umatnya, dan sebagai peletakkan dasar pada pondasi ini, serta sebagai pengantar terhadap sunnahnya bermusyawarah diantara umat.
Dan telah disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih musyawarah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sahabat-sahabat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak perkara, diantaranya .

a. Musyawarahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sahabat beliau (pada hari peperangan Badar) untuk pergi menjumpai rombongan orang musyrik yang membawa barang-barang dagangan.
b. Musyawarahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sahabat beliau juga untuk menentukan posisi mereka (dalam perang Badar) hingga Al-Mundzir bin Amru memberi isyarat untuk maju di depan pasukan.
c. Musyawarahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sahabat beliau (pada hari peperangan Uhud), apakah kaum muslimin menanti musuh di Madinah atau keluar dari kota Madinah untuk menyongsong musuh, maka sebagian besar sahabat berpendapat untuk menyongsong musuh di luar kota Madinah, maka keluarlah mereka menyongsong musuh di luar Madinah.
d. Musyawarahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sahabat beliau (pada hari peperangan Khondak) untuk berdamai dengan pasukan musyrikin yang bergabung menyerang kaum muslimin dengan memberikan sepertiga buah-buahan di kota Madinah pada tahun itu juga, maka dua orang sahabat Nabi yaitu Sa’ad bin Muadz dan Sa’ad bin Ubadah menolak hal ini, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak melakukan perdamaian itu.
e. Musyawarahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sahabat beliau (pada hari perjanjian Hudaibiyyah) untuk menawan anak-anak kaum musyrikin, maka berkatalah Abu Bakar As-Shiddiq kepada beliau : “Sesungguhnya kita tidak datang untuk memerangi seorangpun, dan kita datang hanya untuk ber-umrah”. Maka Nabi pun menerima pendapat itu.
f. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Bakar dan Umar bin Khatthab : “Seandainya kalian bersepakat dalam suatu urusan niscaya aku tidak akan menyelesihi kalian berdua”.
g. Abu Hurairah berkata : “Tidaklah aku melihat seseorang yang lebih banyak bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan musyawarah pun juga terjadi diantara sahabat-sahabat Nabi, diantaranya perkataan Umar bin Khatthab Radhiyallahu ‘anhu : “Al-Khilafah adalah musyawarah diantara enam sahabat Nabi, pada saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, sedangkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan meridhai mereka’.

Ahli Syuura (Para Ahli Yang Diminta Pendapat Mereka Untuk Bermusyawarah)
Ahli syuura adalah “Ahlul halli wal aqdi” (mereka yang ahli dalam menyelesaikan permasalahan) atau orang-orang yang dipilih oleh Waliyul Amri (Kepala Negara) untuk bermusyawarah, ini secara umum, dan diantara mereka adalah.

1. Pemuka masyarakat yang mempunyai kedudukan, yang mana mereka dipercaya dalam keilmuan mereka dan pendapat-pendapat mereka, dari kelompok yang terbesar, dan dari kalangan ahli ilmu dan ahli politik syar’iyyah (politik yang sesuai dengna syari’at agama Islam), ahli dalam pemerintahan dan harta, yang mana mereka berkhidmat untuk masyarakat, mereka yang mempunyai pandangan yang tajam dan firasat yang benar.

2. Para ulama ahli fikih terkemuka yang memiliki kemampuan untuk menetapkan hukum-hukum pada suatu keadaan dan sesuai dengan dasar-dasar umum ajaran Islam, dan mereka berdiri diatas ruh syariat Islam dan jalan-jalannya.

Orang-orang yang terpercaya, ahli Al-Qur’an (ahli tentang kandungan dan maknanya) mereka itulah ulama : “Adalah pemimpin-pemimpin sesudah Nabi, mereka bermusyawarah dengan orang-orang yang terpercaya dari kalangan ahli ilmu dalam perkara-perkara yang mubah (diperbolehkan) agar mereka dapat mengambil hal yang paling mudah. Ahli Al-Qur’an (dari kalangan) para sahabat Nabi adalah orang-orang yang dijadikan ahli musyawarah oleh Umar bin Khatthab ra, baik mereka itu sudah lanjut usia maupun masih muda. Dan Umar bin Khatthab adalah orang yang selalu mentaati (hukum-hukum) Al-Qur’an.

Merupakan sesuatu yang sudah diketahui bersama, bahwa ahli musyawarah akan dihisab (dimintai pertanggungan jawab) didepan Allah dan manusia dalam pendapat-pendapat yang dikemukakan mereka. Oleh karena itu orang-orang yang amanahlah (berlaku amanat) yang dimintai pendapat.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
Artinya : Penasehat (orang yang dimintai pendapat) adalah orang yang amanah (dipercaya)” (HR, Tirmidzi no. 2823).

Maksudnya adalah Dipercaya dalam menetapkan hal-hal yang baik bagi manusia, dan orang-orang                      yang menjaga terhadap agama mereka”

3. Ahli hukum agama yang terkemuka, yang memiliki pengetahuan dalam kehidupan dan manusia, dan mereka mengarahkan untuk menyelesaikan problematika umat dengan hikmah dan teliti dalam naungan Al-Qur’an dan Sunnah, dan fikih para Salafush Shalih.

4. Para spesialis dalam pengetahuan tentang manusia, negeri-negeri, masyarakat, yang mana mereka membaca sejarah kuno dan kontemporer, dan mereka mengetahui manusia dengan perbedaan tingkatan-tingkatan dan agama mereka, dan mereka mengerti tentang negara, masyarakat dan tabiat-tabiatnya.

 

Leave your comment here: