HUKUM BERJAMAAH TETAPI MAKMUM DAN IMAM BERBEDA LANTAI

HUKUM BERJAMAAH TETAPI MAKMUM DAN IMAM BERBEDA LANTAI

   imagesMX              Pada dasarnya dalam shalat berjamaah, posisi imam adalah sebagai panutan bagi para makmumnya. Ketentuan ini diambil dari sabda Nabi SAW.:

جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوْا رواه الشيخان

“(Pada dasarnya) dijadikannya seorang imam itu hanya untuk dibuat panutan, maka apabila ia sudah takbir maka ikutlah takbir.”

                    Kata “panutan” tersebut memberikan sebuah kepahaman bahwa antara imam dan makmum harus berada dalam satu tempat (ijtima’ fi makanin wahid). Logikanya, seseorang tidak layak dikatakan sebagai panutan apabila antara dia dan para penganutnya berada dalam tempat yang berbeda. Ketentuan ini diperkuat oleh kenyataan bahwa Rasulullah SAW. selalu melaksanakan jamaah pada satu tempat. Persyaratan satu tempat ini, harus memenuhi standar sebagai berikut:

  1. Jika keduanya berada di luar masjid, maka dipilah. Pertama, apabila keduanya berada di tempat lapang, disyaratkan jarak keduanya tidak melebihi 300 dzira’ (±144 M). Kedua, jika keduanya atau salah satu dari keduanya berada di sebuah bangunan, maka syaratnya adalah antara keduanya tidak dipisah oleh jarak yang melebihi 300 dzira’ dan keduanya tidak dibatasi oleh penghalang yang mencegah lewat atau melihat imam. Jika ada penghalang, maka harus ada makmum (rabith) yang berada di tempat yang tembus menuju imam, sedangkan ia melihat imam atau sebagian shaf yang paling belakang. Persyaratan ini juga berlaku bila salah satunya berada di luar masjid, hanya saja jarak 300 dizra’ itu di mulai dari ujung masjid.
  2. Bila keduanya berada dalam satu masjid, maka jamaahnya tetap sah, meskipun jarak antara imam dan makmum jauh dan ada penghalang, atau keduanya berada di lokasi yang berbeda dalam sebuah bangunan masjid yang disekat-sekat seperti kamar-kamar, termasuk masjid yang bertingkat. Yang terpenting adalah ada jalan yang bisa digunakan lewat secara wajar menuju imam, seperti tangga meskipun berada diluar masjid.

Dengan demikian dapat jelas bahwa lantai atas masjid yang bertingkat apabila masih ada tangganya, meskipun berada di belakang dan di luar masjid, hukum jamaahnya sah. Walllahu A’lam, lihat I’anah at Thalibin.

 

Leave your comment here: