CERPEN : PELANGI DI BAWAH GERIMIS

CERPEN : PELANGI DI BAWAH GERIMIS

    poo            Reiha mempercepat langkahnya menuju ke suatu tempat. Dengan membawa sebuah kartu di tangannya. Ia memegangnya sangat erat supaya kartu itu tidak terbang ditiup angin. Jilbab ungunya menari-nari mengikuti suasana hatinya yang bahagia. Padahal awan gelap sedang mengiringi alur kakinya. Akhirnya Reiha berhenti di sebuah danau. Danau yang biasa dikunjungi orang-orang untuk bersantai atau sekadar jalan-jalan. Gadis berusia 22 tahun itu berjalan menuju tepi danau dan menjatuhkan pantatnya di sana. Dipandanginya panorama yang ada di sekitarnya.

“Assalammualaikum, Re.” Sapa seseorang.
“Waalaikummussalam.” Jawab Reiha.
“Bagaimana Kakakmu? Apa dia bahagia?” tanya lelaki itu mengawali pembicaraan.
“Tentu saja. Ini untukmu.” Kata Reiha seraya menyodorkan sebuah undangan.
Si pria memasukkan undangan itu ke dalam tas ranselnya.
“Apa Kak Ridwan cemburu?” tanya Reiha.
“Tidak, Re, lalu kapan kau akan menyusul Kakakmu?”

Reiha tahu, bahwa jawaban itu bohong. Ia tahu betul seberapa besar cinta lelaki yang ada di sebelahnya untuk Kakaknya. Reiha berdiri, “Secepatnya aku akan menyusul Kakakku. Tapi, aku harus menunggu lebih lama lagi…” Reiha menarik napas.

“Karena, seseorang itu harus siap lahir dan batin, membentengi hati dan pikirannya saat bertemu dengan Kakakku.”
Mata Reiha terasa panas. Sekali kedip, butiran itu jatuh melewati pipinya. Secepat kilat ia berusaha menyeka air matanya. Ridwan berdiri di hadapan Reiha. Reiha tak banyak bicara, seseorang yang ada di depannya tersenyum. Senyuman yang selalu meneduhkan. Tubuhnya lebih tinggi dari Reiha. Kumis tipis menghiasi wajahnya. Serta alis mata tebal dan hampir menyatu.

“Aku memang mencintai Kakakmu. Bahkan aku yakin, Kakakmu pun masih mencintaiku…”

Wanita berketurunan Jawa itu memalingkan mukanya. Mencoba menahan hatinya agar tidak roboh. “Tapi, takdir berkata lain, Re. Allah telah menuliskan jodoh di Lauhul Mahfudz. Kita sebagai manusia hanya bisa berencana.” Hujan mulai jatuh dan membasahi tubuh mereka. Orang-orang yang ada di danau itu berlari mencari tempat berteduh. Namun, tidak dengan Ridwan dan Reiha. Mereka tetap di antara hujan lebat. Membuat tangisan Reiha tak terlihat lagi.

“Ukhti, aku utarakan niat dalam hatiku, niat yang telah lama ku pendam dan aku ingin meminangmu di depan orangtuamu.” Ucapan itu ke luar dari mulut Ridwan. Ucapan yang selama ini ditunggu oleh Reiha. Lelaki yang berprofesi sebagai seorang akunting, tidak berani menyentuh Reiha. Mereka paham bahwa hal tersebut dilarang oleh agamanya. Reiha berlari meninggalkan Ridwan. “Reiha, tiga hari lagi aku akan melamarmu. Tepat saat pernikahan Kakakmu!” teriak Ridwan.
“Lakukan saja apapun yang ingin kau lakukan, Kak! Saat kau sudah yakin bahwa hatimu tak akan goyah ketika kau bertemu cinta pertamamu!” teriak Reiha sekencang-kencangnya.

Leave your comment here: