BIOGRAFI ROSULULLOH SAW SEBAGI TELADAN UMAT ISLAM 2

BIOGRAFI ROSULULLOH SAW SEBAGI TELADAN UMAT ISLAM 2

 nabi-muhammad          Diantaranya adalah sebagaimana hal itu telah disebutkan Sayyiduna Al-Imam Al-Habib Abdullah bin ‘Alawiy Al-Haddad dalam kitab Beliau Sabilul Iddikar hal 22 – 26 dan juga disebutkan oleh Imam Abu Na’im Al-Ashfahaniy di kitabnya Dalailun Nubuwwah juz 1 hal 77 bahwa;

Sesungguhnya tatkala Nabi Musa AS membaca Kitab Suci Taurat, Beliau menemukan di dalamnya keutamaan-keutamaan umat Baginda Nabi Muhammad SAW, sehingga Beliau sangat kagum dan menginginkan sebagian dari keutamaan-keutamaan umat Baginda Nabi Muhammad SAW agar diberikan kepada umatnya dengan berkata;

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah membaca Kitab Suci Taurat dan aku temukan di dalamnya keutamaan-keutaman umat yang kelak dikumpulkan di padang mahsyar dalam keadaan bercahaya mukanya laksana bulan purnama dan anggota badannya berkemilauan memancarkan cahaya bekas wudlu dan sujud tatkala masih di dunia. Ya Allah, jadikanlah keutamaan itu untuk umatku”. Namun Allah SWT menjawab;

“Tidak Musa, sesungguhnya keutamaan itu hanya Aku khususkan bagi umat Kekasih-Ku Nabi Muhammad SAW”. Nabi Musa AS berkata lagi;

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah membaca Kitab Suci Taurat dan aku temukan keutamaan umat yang Engkau anugerahi ibadah sholat lima waktu dan Engkau bukakan pintu langit sehingga turun Rahmat (Belas Kasih Sayang)Mu kepada mereka pada saat mereka melakukannya sehingga para bidadari sorga rindu kepada mereka. Dan Engkau anugerahi pula mereka Bulan Suci Ramadlan sehingga mereka berpuasa sebulan penuh. Dan Engkau anugerahi pula mereka Firman-firman Suci-Mu (Kitab Suci Al-Qur’an) yang senantiasa terjaga/hafal di hati mereka. Dan Engkau anugerahi pula mereka ibadah haji ke Baitullah Ka’bah yang mana pahala haji mabrur adalah sorga-Mu, serta Engkau anugerahi pula mereka ibadah zakat dan sedekah yang Engkau lipat gandakan pahalanya sampai 700 kali. Ya Allah, jadikanlah keutamaan itu untuk umatku”. Namun, Allah SWT menjawab;

“Tidak Musa, sesungguhnya keutamaan itu hanya Aku khususkan bagi umat Kekasih-Ku Nabi Muhammad SAW”. Nabi Musa AS berkata lagi;

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah membaca Kitab Suci Taurat dan aku temukan keutamaan umat yang kelak tatkala Engkau bangkitkan di padang mahsyar, sepertiga dari mereka Engkau masukkan ke sorga tanpa hisab (pertanyaan/ pertanggungjawaban atas amal perbuatannya di dunia), yang sepertiga lagi Engkau masukkan ke sorga dengan hisab yang ringan, dan sepertiga lagi juga Engkau masukkan ke sorga setelah Engkau bersihkan mereka dari kotoran dosa. Ya Allah jadikanlah keutamaan itu untuk umatku”. Namun Allah SWT menjawab;

“Tidak Musa, sesungguhnya keutamaan itu hanya Aku khususkan bagi umat Kekasih-Ku Nabi Muhammad SAW”. Akhirnya Nabi Musa AS berkata lagi;

“Ya Allah, jika demikian, jadikanlah saja aku sebagai umat Kekasih-Mu Nabi Muhammad SAW”. Maka Allah SWT kemudian Berfirman kepada Nabi Musa AS;

يا موسى إني اصطفيتك على الناس برسالاتي وبكلامي فخذ ما آتيتك وكن من الشاكرين

Yang artinya kurang lebih;

“Hai Musa, sesungguhnya Aku telah memilihmu dari seluruh umat manusia (saat ini) untuk menjadi Rasul (utusan)Ku yang menyampaikan Firman Suci-Ku (kepada  hamba-hamba-Ku). Maka, laksanakanlah apa yang Aku tugaskan kepadamu. Dan hendaklah kamu senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah Aku limpahkan kepadamu”

 يا موسى أما علمت أن محمدا أكرم علي من جميع خلقي

Yang artinya kurang lebih;

“Hai Musa, sesungguhnya Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang paling Aku cintai dari seluruh makhluk-makhluk-Ku.”

وإني نظرت في قلوب عبادي فلم أجد قلبا أشد تواضعا من قلبك فلذلك اصطفيتك على الناس برسالاتي وبكلامي فمت على التوحيد وعلى حب محمد

Yang artinya kurang lebih;

“ Dan (saat ini) tidak Aku lihat dari seluruh hati hamba-hamba-Ku yang lebih tawadlu’ (merendahkan diri) dari hatimu. Maka, sebab itulah Aku pilih dirimu sebagai Rasul-Ku. Laksanakanlah semua perintahKu sampai kamu meninggal dalam keadaan meng-EsakanKu dan dalam keadaan cinta kepada Kekasih-Ku Nabi Muhammad SAW”.

          Maka, oleh sebab itulah, Nabi Musa AS senantiasa berdzikir/ menyebut-nyebut Baginda Nabi Muhammad SAW dan membanggakannya. Beliau selalu memuji-muji dan menceritakan keagungan dan kemuliaan Baginda Nabi Muhammad SAW kepada umatnya.

          Sampai ada sebuah riwayat yang kami dapatkan di kitab Hujjatullah ‘Alal ‘Alamin hal 124 Lis Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhaniy, bahwa sesungguhnya ada seseorang dari umatnya Nabi Musa AS yang senantiasa berbuat kemunkaran selama 200 tahun. Setelah dia meninggal, umat Bani Israil membuangnya di tempat sampah. Lantas Allah SWT Berfirman kepada Nabi Musa AS;

          “Wahai Musa (Nabi-Ku), uruslah jenazah hamba-Ku (yang terbuang di tempat sampah). Mandikan, kafani, sholati dan kuburkanlah dengan cara yang terhormat”

Nabi Musa AS kemudian berkata kepada Allah SWT; “Ya Allah Ya Robbi, sesungguhnya banyak sekali dari umatku (Bani Israil) yang telah menyaksikan prilakunya yang tidak terpuji selama 200 tahun, sehingga mereka membuangnya di tempat sampah…”

Allah SWT kemudian Berfirman kepada Nabi Musa AS;

          “Wahai Musa, memang benar apa yang disaksikan oleh umatmu (Bani Israil), akan tetapi, yang telah Aku ketahui (sendiri) bahwa sesungguhnya, di akhir hayatnya, dia setiap membuka Kitab Suci Taurat dan melihat nama kekasih-Ku (Nabi Muhammad SAW) dia sangat mengagumi dan mencintainya sampai-sampai dia mencium nama tersebut dan menaruhnya di kedua matanya, dengan senantiasa bersholawat kepadanya (Nabi Muhammad SAW). Oleh sebab itulah Aku (Allah SWT) telah mengampuni seluruh dosa-dosanya dan akan Aku masukkan dia ke sorga dengan memberinya istri 70 bidadari yang cantik jelita..”

          Maka, kecintaan Nabi Musa AS kepada Baginda Nabi Muhammad SAW semakin memuncak, sampai Beliau rindu ingin bertemu dengan Baginda Nabi Muhammad SAW.

          Begitu pula Allah SWT telah memerintahkan kepada Nabi Dawud AS untuk mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW dan senantiasa mengagungkannya, dan Allah SWT telah menetapkannya dalam Kitab Zabur yang telah diwahyukannya kepada Nabi Dawud AS yang menerangkan tentang kemuliaan kekasih-Nya (Nabi Muhammad SAW) beserta umatnya.

Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah Wan Nihayah Juz I hal 326;

قال الإمام ابن كثير في البداية والنهاية الجزء الأول ص 326 :

ذكر وهب بن منبه أن الله تعالى أوحى إلى داود في الزبور يا داود إنه سيأتي من بعدك نبي اسمه أحمد ومحمد صادقا سيدا لا أغضب عليه أبدا ولا يغضبني أبدا وقد غفرت له قبل أن يعصيني ما تقدم من ذنبه وما تأخر وأمته مرحومة أعطيتهم من النوافل مثل ما أعطيت الأنبياء وفرضت عليهم الفرائض التي افترضت على الأنبياء والرسل حتى ياتوني يوم القيامة ونورهم مثل نور الأنبياء

Yang artinya kurang lebih;

“Sesungguhnya Allah SWT Berfirman kepada Nabi Dawud AS; “Hai Dawud, sesungguhnya akan datang sesudahmu seorang Nabi Agung bernama Ahmad (di langit) dan Muhammad(di bumi). Dia adalah seorang Nabi yang jujur dan sebagai Tuan/Junjungan (bagi semua makhluk). Sungguh Aku (Allah SWT) tidak akan murka kepadanya selama-lamanya dan dia juga tidak akan pernah melakukan sesuatu yang membuat Aku murka. Sungguh akan Aku pelihara/jaga Dia dari segala dosa/kesalahan. Dan umatnya adalah umat yang Aku limpahkan Belas Kasih Sayang kepada mereka.  Aku anugerahkan kepada mereka amalan ibadah sunah dan wajib sebagaimana yang Aku anugerahkan kepada para Nabi dan Rasul. Dan kelak pada hari kiamat mereka akan datang menghadap kepadaKu dengan diliputi cahaya terang benderang sebagaimana cahayanya para Nabi”.

          Segala puji dan syukur hanya bagi Allah SWT semata, yang telah melimpahkan anugerah agung-Nya yang  tidak terbatas dengan menjadikan kita sebagai umat Baginda Nabi Muhammad SAW yang senantiasa meneladani prilakunya dan mengikuti jejak-jejaknya.

          Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa memuliakan dan mengagungkan Baginda Nabi Muhammad SAW sejak dahulu kala dengan menekankan kepada Nabi Adam AS dan semua para Nabi dan Rasul sesudahnya untuk benar-benar selalu memuliakan, mengagungkan dan mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW. Bahkan diriwayatkan di kitab Al-Haawi Lil Fatawi juz 2 hal 176 Lil Imam Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi yang menerangkan tentang rahasia yang terkandung dalam cincin Nabi Sulaiman AS;

قال الإمام جلال الدين عبد الرحمن السيوطي في الحاوي للفتاوي الجزء الثاني  ص 176 :

ورد عن عبادة بن الصامت وجابر بن عبد الله مرفوعا كان نقش خاتم سليمان بن داود لا إله إلا الله محمد رسول الله

Yang artinya kurang lebih;

“Imam Jalaluddin As-Suyuthi Rahimahullah berkata; Bahwa telah diriwayatkan dari shahabat ‘Ubadah bin Shamit dan shahabat Jabir bin Abdullah; sesungguhnya pada cincin Nabi Sulaiman AS tertulis kalimat Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur Rasuulullaah.”

          Dan demikian pula tersebutkan dalam Kitab Injil yang Allah SWT wahyukan kepada Nabi Isa AS untuk memberitahukan kepada seluruh umatnya agar mempersiapkan diri demi menyambut kekasih Allah SWT (Baginda Nabi Muhammad SAW) dengan beriman kepadanya dan menjadi pembela setianya. Sebagaimana yang  telah diriwayatkan Imam Jalaluddin As-Suyuthi di kitabnya Al-Hawi Lil Fatawi juz 2 hal 175 beliau berkata;

أخرج الحاكم عن ابن عباس قال أوحى الله إلى عيسى آمن بمحمد ومر من أدركه من أمتك أن يؤمنوا به فلولا محمد ما خلقت آدم ولا الجنة و لا النار

Yang artinya kurang lebih;

“Imam Hakim telah meriwayatkan dari shahabat Abdullah bin Abbas Radliyallaahu ‘Anhu, beliau  berkata; Bahwa sesungguhnya Allah SWT Berfirman kepada Nabi Isa AS dalam Kitab Injil; “Hai Isa, berimanlah kamu kepada Nabi Muhammad SAW, dan perintahlah umatmu yang bertemu dengannya (Nabi Muhammad SAW) agar beriman kepadanya (Nabi Muhammad SAW). Sebab, seandainya tidak ada Dia (Nabi Muhammad  SAW) maka Aku (Allah SWT) tidak akan menciptakan Adam, sorga dan neraka”.

          Segala puji bagi Allah SWT yang telah memuliakan dan melimpahkan Belas Kasih Sayang-Nya kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Dan banyak sekali dari kaum Yahudi dan Nashrani yang telah mendapati taufiq dan hidayah dari Allah SWT, berbondong-bondong datang ke kota Madinah  untuk menyambut kedatangan Nabi agung akhir zaman Baginda Rasulullah Muhammad SAW, sesuai dengan amanat yang telah mereka dapati dalam kitab Taurat dan Injil yang masih asli. Dan meraka lakukan itu semata-mata untuk beriman kepada Baginda Nabi Muhammad SAW dan menjadi pembela setianya. Diantaranya adalah Abdullah bin Salam, Ibnul Hayyaban, Taba’ Al-humairiy, Salman Al-Farisiy, dan lain-lain, sebagaimana hal itu disebutkan oleh Syekh Yusuf Bin Ismail An-Nabhaniy di Kitab Hujjatullah ‘Alal ‘Aalamin hal 133 – 166. Dan mulai dari situlah, maka umat Islam mendapati kemenangan demi kemenangan dalam menegakkan dan memperjuangkan ajaran-ajaran Baginda Nabi Muhammad SAW.

          Dan di sini kami ingin melanjutkan tentang riwayat  Nur Baginda Nabi Muhammad SAW, dimulai dari diletakkannya Nur Baginda Nabi Muhammad SAW di punggungnya Nabi Adam AS hingga lahirnya Baginda Nabi Muhammad SAW, dan tentang betapa agungnya penghormatan Nabi Adam AS kepada Nur Baginda Nabi Muhammad SAW.

          Sebagaimana telah kita ketahui bahwa Nabi Adam AS telah mendapati keistimewaan-keistimewan berkat Nur Baginda Nabi Muhammad SAW. Diantaranya disahkannya pernikahan Beliau dengan Ibu Hawwa’ dengan mahar mengucapkan sholawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Dan diterimanya taubat Beliau oleh Allah SWT berkat tawassul kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.

Oleh sebab itulah demi memuliakan Nur agung Baginda Nabi Muhammad SAW yang ada dalam dirinya, maka setiap Nabi Adam AS akan berhubungan dengan Ibu Hawwa’ maka Beliau bersuci terlebih dahulu, memakai wangi-wangian dan memerintahkan Ibu Hawwa’ untuk melakukan hal yang sedemikian rupa .

          Dan suatu saat Nur tersebut benar-benar telah pindah dalam diri Ibu Hawwa’, sehingga kecantikan Ibu Hawwa’ tambah bersinar luar biasa. Tidak lama kemudian Beliau melahirkan anak laki-laki dan diberinya nama Syits. Dan Nur tersebut telah pindah dalam diri Nabi Syits AS.

          Dengan adanya Nur yang terlihat oleh Nabi Adam AS di muka Nabi Syits, maka  Nabi Adam AS selalu memperhatikan  dan menjaga Nabi Syits AS, demi memuliakan dan mengagungkan Nur Nabi Muhammad SAW yang ada dalam diri Nabi Syits AS tersebut.

Setelah Nabi Syits AS dewasa dan Nabi Adam AS merasa telah dekat ajalnya untuk menghadap kepada Allah SWT, maka Beliau Nabi Adam AS memanggil putranya (Nabiyyullah Syits AS) dan memberikan wasiat/amanat  kepadanya; “

 “Wahai Anakku (Syits), Sesungguhnya Allah SWT telah mengambil perjanjian kepadamu untuk senantiasa menjaga “Nur Agung Nabi Muhammad SAW’, janganlah engkau letakkan kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya”.

Maka Nabi Syits AS menjaga teguh amanat tersebut dengan menikah dengan seorang wanita yang paling suci saat itu yang bernama Baidlo’. Dan setelah dianugerahi putra, maka Beliau Nabi Syits AS memberikan wasiat kepada putranya agar jangan meletakkan Nur Agung tersebut kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya. Demikian pula putranya melakukan hal yang sama hingga Nur Agung tersebut sampai pada Nabi Idris AS. Dan Nabi Idris AS juga melakukan hal yang sama, Beliau AS mewasiatkan kepada putranya agar jangan meletakkan Nur Agung tersebut kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya. Hingga sampailah Nur Agung tersebut pada Nabi Nuh AS.. Begitu  pula Nabi Nuh AS, Beliau juga melakukan hal yang sama. Beliau berwasiat kepada putra Beliau (Sam) untuk menjaga Nur tersebut, dan jangan diletakkan kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya. Dan Sayyidina Sam putra Nabi Nuh AS juga mewasiatkan kepada putranya sebagaimana wasiat tersebut di atas, hingga sampailah silsilah mata rantai Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW kepada Nabi Ibrahim AS.. Dan kemudian dari Nabi Ibrahim AS, Nur tersebut turun kepada Nabi Ismail AS.. Dan Nabi Ismail AS juga telah menjaga teguh Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW tersebut, Beliau telah mewasiatkan kepada putranya agar jangan meletakkan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya. Maka, wasiat tersebut senantiasa terpelihara secara berkesinambungan. Dan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW senantiasa berpindah dari seorang ayah yang suci nan agung, ke ibu yang paling suci nan mulia nasabnya,  dengan ikatan pernikahan islami yang diridloi Allah SWT. Hingga sampailah perjalanan Nur Agung tersebut kepada Sayyidina ‘Adnan. Dari Sayidina ‘Adnan ke Sayyidina Ma’ad. Dari Sayyidina Ma’ad ke Sayyidina Nizar.

Dan telah diriwayatkan dalam kitab Hujjatullah ‘Alal ‘Alamin hal 218 bahwa tatkala Sayyidina Nizar mengetahui bahwa dalam dirinya bersemayam Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW, maka Beliau Sayyidina Nizar  sangat bahagia sekali, sehingga beliau menyembelih hewan kurban yang sangat banyak untuk disedekahkan kepada umat pada masa itu. Dan begitu pula Sayyidina Nizar telah berwasiat kepada Sayyidina Mudlor (putranya). Dan Sayyidina  Mudlor juga berwasiat kepada putranya hingga sampailah Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW tersebut kepada Sayyidina Hasyim.

Sampai di sinilah akhirnya berkumandang kabar gembira di seluruh penjuru dunia, bahwa sudah dekat saat datangnya Nabi akhir zaman, Seorang Nabi yang diutus Allah SWT untuk seluruh umat manusia, seorang Nabi yang Agung nan mulia yang sempurna kepribadiannya dan agung budi pekertinya, yang sangat santun dan menyayangi umatnya dan yang paling dimuliakan dan disayangi Allah SWT, yakni Baginda Nabi Muhammad SAW. Maka berita tersebut telah menyebar ke seluruh penjuru dunia dan menggemparkan jagad. Hingga para ahli kitab dari kaum Yahudi dan Nashrani berebut ingin mendapati silsilah mata rantai Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW tersebut. Mereka berbondong-bondong mendatangi Sayyidina Hasyim dan berebut untuk menawarkan anak gadis mereka yang sangat cantik jelita agar dipersuntingnya. Namun Sayyidina Hasyim tidak menerima mereka semua karena teguh memegang amanat wasiat nenek moyangnya agar jangan meletakkan Nur Agung Baginda Nabi Besar Muhammad SAW kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya. Hingga sampailah berita tersebut ke Kaisar Romawi. Maka Kaisar tersebut mengutus delegasi untuk memanggil Sayyidina Hasyim dengan tujuan untuk dinikahkan dengan putrinya yang sangat cantik jelita. Tidak ada tujuan lain kecuali dia ingin mendapati Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW, karena data-data yang akurat dan otentik tentang Nur Nabi akhir zaman telah mereka ketahui dari ulama ahli kitab yahudi dan nashrani bahwa Nur Agung tersebut telah berada dalam diri dan kepribadian Sayyidina Hasyim. Akan tetapi Sayyidina Hasyim dengan tegas menolaknya dan berkata;

والذي فضلني على أهل الزمان لا أتزوج إلا بأطهر نساء العالمين

Yang artinya kurang lebih;

“Demi Allah, Dzat yang telah melimpahkan kemuliaan kepadaku melebihi seluruh penghuni alam semesta. Sungguh aku tidak akan menikah kecuali dengan seorang wanita yang paling suci nan mulia nasabnya (sebagaimana wasiat  nenek moyangku terdahulu)”

Maka, sesuai petunjuk amanat yang Beliau dapati, akhirnya Beliau menikah dengan seorang wanita yang paling suci nan mulia nasabnya pada masa itu. Dari pernikahan tersebut lahirlah Sayyidina Abdul Muthalib. Maka pindahlah Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidina Abdul Muthalib. Dan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW sangat terlihat bercahaya terang benderang dari dahi Sayyidina Abdul Muthalib. Dan bau harum semerbak senantiasa keluar menyebar dari diri beliau. Semua itu adalah berkat Nur Baginda Nabi Muhammad SAW.

          Dan sesungguhnya berkat Nur Baginda Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Abdul Muthalib senantiasa dikabulkan doanya oleh Allah SWT. Maka orang-orang Quraisy, setiap mereka ditimpa kemarau panjang (paceklik) mereka berduyun-duyun mendatangi Sayyidina Abdul Muthalib. Akhirnya dengan dipimpin Sayyidina Abdul Muthalib mereka naik ke gunung Tsabir. Disitulah mereka bermunajat memohon Belas Kasih Sayang Allah SWT agar melimpahkan hujan kepada mereka. Akhirnya Allah SWT mengabulkan permohonan mereka dengan menurunkan hujan yang deras berkat Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW yang berada pada diri Sayyidina Abdul Muthalib.

Beliau Sayyidina Abdul Muthalib juga sebagai hakim di kalangan kaum Quraisy. Keputusan-keputusan beliau sangat diterima dan dihormati oleh mereka. Setiap ada masalah, rujukan utama mereka adalah Sayyidina Abdul Muthalib agar memberikan petunjuk dan keputusan untuk menyelesaikan segala urusan mereka. Beliau juga dikenal sebagai pemuda yang tekun beribadah. Berulang kali Beliau senantiasa khalwat (menetap sendirian) di Gua Hira’. Di situ Beliau selalu bersyukur kepada Allah SWT yang telah menganugerahinya Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dalam dirinya dan Beliau juga selalu bermunajat kepada Allah SWT dan memuncakkan tafakkur tentang kemuliaan dan keagungan Dzat Pencipta alam semesta Allah Rabbul ‘Alamin. Beliau juga senantiasa beramar ma’ruf nahi munkar kepada kaumnya sesuai dengan ajaran Nabi Ibrahim AS.. Sehingga mereka senantiasa memuliakan dan mengagungkannya. Hingga suatu ketika Beliau Sayyidina Abdul Muthalib mendapati petunjuk dari Allah SWT (lewat mimpi) agar Beliau menikah dengan Sayyidatina Fatimah binti Amr seorang wanita yang paling suci nan mulia nasabnya pada masa itu. Dari pernikahan tersebut, maka  lahirlah Sayyidina Abdullah ayahanda Baginda Nabi Muhammad SAW.

Sebagaimana yang telah diterangkan di kitab Madarijush Shu’ud hal 10 bahwa sesungguhnya Sayyiduna Abdullah Ayahanda Baginda Nabi Muhammad SAW adalah sangat cepat perkembangannya. Dalam jangka waktu sehari sudah seperti bayi usia satu bulan. Dan dalam jangka sebulan sudah seperti bayi berusia setahun. Sehingga hal itu menakjubkan semua orang, baik yang ada di perkotaan ataupun di pelosok desa yang paling dalam. Setiap orang yang memandang kepada Beliau, selalu berdecak kagum melihat kemilau cahaya yang anggun berwibawa dari mukanya dan keajaiban-keajaiban yang melimpah kepada Beliau. Postur tubuhnya yang sempurna, ketampanan mukannya  yang mempesona, dan kesantunannya yang penuh wibawa, telah menjadikan para gadis terpikat hatinya. Laksana Nabi Yusuf AS pada zamannya dahulu yang digandrungi oleh semua wanita karena ketampanannya yang mempesona dan sempurna. Maka Beliau Sayyiduna Abdullah adalah seorang lelaki yang paling sempurna diri dan kepribadiannya pada masa itu. Sebagaimana dikatakan oleh Syeikh Ahmad Bin Zaini Dahlan di kitabnya As-Sirah An-Nabawiyyah juz 2 hal 42;

قال الشيخ أحمد بن زيني دحلان الحسني في السيرة النبوية الجزء الأول ص42 :

وكان أي عبد الله أحسن رجل في قريش خلقا وخلقا وكان نور النبي صلى الله عليه وسلم بينا في وجهه وكان أجملهم فشغفت به نساء قريش وكدن أن تذهل عقولهن

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa Sesunguhnya Sayyiduna Abdullah adalah insan yang paling sempurna diri dan pribadinya(pada masa itu). Dari muka Beliau nampak jelas berkemilau cahaya “Nur” Baginda Nabi Muhammad SAW. Dan tidak sedikit para wanita yang terpikat hatinya kepada Beliau”

          Dahsyatnya pesona dan kesempurnaan pribadi Sayyiduna Abdullah  ayahanda Baginda Nabi Muhammad SAW, bukan hanya terkenal di kalangan suku Quraisy saja. Bahkan para ulama ahli kitab di Syam Palestina juga mengakuinya. Sehingga setiap ada orang dari suku Quraisy bersinggah di tempat mereka, selalu diberi wasiat bahwa Nur yang ada pada diri Sayyiduna Abdullah, sesungguhnya adalah Nur Nabi akhir zaman, yakni Baginda Nabi Muhammad SAW. Tujuan utama dari wasiat tersebut adalah agar senantiasa dijaga Nur Baginda Nabi Muhammad SAW yang ada pada diri Sayyiduna Abdullah tersebut dan dilindungi dari orang-orang yang hasud dan orang-orang yang ingin mencelakakannya. Sebagaimana telah diterangkan oleh Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani di kitabnya Hujjatullah ‘Alal ‘Alamin hal 220 ;

قال الشيخ يوسف بن إسماعيل النبهاني في حجة الله على العالمين   ص 219 :

لم يبق حبر من أحبار الشام إلا علم بمولده ثم كان لا يقدم عليهم رجل من أهل الحرام إلا سألوه عن عبد الله كيف تركوه فيقول تركناه يتلألأ حسنا وجمالا وكمالا فتقول الأحبار يا معشر قريش إن ذلك النور ليس لعبد الله بن عبد المطلب وإنما هو لمحمد صلى الله عليه وسلم يخرج من ظهره في آخر الزمان يغير عبادة الأصنام

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa sesungguhnya para ulama ahli kitab di Syam (Palestina) telah mengetahui Nur Baginda Nabi Muhammad SAW pada diri Sayyiduna Abdullah. Setiap ada penduduk Makkah bersinggah di tempat mereka selalu diberi wasiat olehnya dengan berkata ;

……….Ketahuilah oleh kalian semua wahai kaum Quraisy, kemilau cahaya yang ada pada diri Abdullah sesungguhnya adalah Nur Nabi akhir Zaman Baginda Nabi Muhammad SAW yang akan datang membawa agama tauhid untuk meng-Esakan Allah Rabbul ‘Alamin”.

          Maka, tatkala Beliau Sayyiduna Abdullah genap berusia 18 tahun, Beliau diajak oleh ayahandanya (Sayyiduna Abdul Muthalib) untuk dinikahkan dengan Sayyidatuna Aminah binti Wahab seorang wanita yang paling suci dan paling mulia nasabnya pada saat itu. Namun di tengah perjalanan mereka berdua bertemu dengan serombongan wanita yang cantik jelita. Serentak semuanya berebutan untuk menawarkan dirinya kepada Sayyiduna Abdullah. Namun Sayyiduna Abdullah tidak bersedia, karena Beliau teguh memegang amanah untuk tidak menikah kecuali pada wanita yang paling suci dan mulia nasabnya. Dan bahkan ada juga seorang wanita ahli kitab yang bersedia untuk mempersembahkan 100 onta asal Sayyiduna Abdullah mau pada wanita tersebut. Tetapi dengan tegas Sayyiduna Abdullah tetap menolak semua ajakan dan tawaran tersebut. Beliau tetap teguh untuk menjaga kesucian dan kemuliaan yang ada pada dirinya, dan akhirnya Beliau menikah dengan Sayyidatuna Aminah binti Wahab, seorang gadis yang paling suci nan mulia nasabnya pada masa itu. Maka, pindahlah Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dari ayahanda tercinta Sayyiduna Abdullah ke dalam kandungan ibundanya tercinta Sayyidatuna Aminah Binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah.

BERSAMBUNG……..

Leave your comment here: