UMAT MUSLIM MERAYAKAN MAULID NABI SAW DAN NASHRONY MERAYAKAN NATAL

UMAT MUSLIM MERAYAKAN MAULID NABI SAW DAN NASHRONY MERAYAKAN NATAL

   alam       “Yesus itu tuhan bukan nabi”, kata kawan saya orang Kristen. Walau saya membantahnya sampai pecat urat syaraf-pun mereka tetap akan berteriak, yesus itu tuhan. Tak bisa di pungkiri memang, yesus termasuk tokoh universal paling berjasa dalam menciptakan peradaban manusia, Thomas Carlyle menyebutnya sebagai tokoh ‘pencipta’ sejarah. teladan kemanusiaan yang sangat penting bagi kebudayaan Kristiani dan Islam. Al Quran memberikan sejumlah gelar kehormatan kepada ‘Isa As, diantaranya Rasul, nabi, al-Masih dan Putra Maryam. Kontras dengan Muhammad yang selalu di sebut Nabi, bukan Tuhan.

Guru ngaji saya dawuh “Nabi Isa itu di beri kemuliaan oleh Allah sampai-sampai kemuliaannya membawa fitnah dan malapetaka bagi umat manusia, dia disembah layaknya tuhan” sedangkan Nabi Muhammad saw, saat seorang sahabat datang dengan penuh penghormatan, dihampirinya nabi Muhammad dan dipeluknya lalu menjatuhkan diri ingin mencium kaki Nabi, maka nabi Muhammad melarangnya dengan berkata janganlah seorang manusia sujud kepada manusia lainnya, aku tidak mau diperlakukan seperti umat nasrani memperlakukan Isa’.

Terlepas dari fenomena itu, nabi Muhammad menganjurkan umatnya agar bergembira, menghormati dan menyayanginya dengan cara beragam, diantaranya merayakan hari kelahirannya. ”Siapa menghormati hari lahirku, tentu aku akan memberikan syafa’at kepadanya dihari Kiamat.” (Madarij As-shu’ud Syarah al-Barzanji, hlm 15)

Dalam versi lain Umar ra menegaskan: Siapa menghormati hari lahir Rosululloh sama artinya menghidupkan Islam.

Tradisi memperingati maulid Nabi Muhammad tidak hanya di hususkan umat islam saja, bahkan orang kafir-pun boleh ikut bergembira atas lahirnya sang Nabi terakhir ini.

Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran Muhammad, Abu Lahab (manusia yang dikemudian hari menjadi musuh bebuyutan Nabi) setelah mendengar kelaharian Muhammad, saking gembiranya ia langsung memerdekakan Tsuwaibah.

Beberapa ulama berkomentar atas peristiwa ini, bahkan Abu lahab sendiri meski dimasukan ke Neraka, setiap hari senin ia mendapat dispensasi hukuman dari tuhan, diringankan siksanya setiap hari senin, sebab pernah merasa gembira atas lahirnya Muhammad.

Suatu hari seorang sahabat bertanya “Wahai Rasulullah, bagaimanakah (terjadinya) Hari Kiamat?” Rasulullah balik bertanya “Apa yang sudah engkau persiapkan untuk Hari Kiamat?!” Orang itu menjawab, “Aku belum memiliki banyak persiapan amal, baik shalat, puasa dan zakat/sedekah. Tetapi, sungguh, aku mencintai ALLAH dan Rasul-Nya. Rasulullah SAW pun bersabda: “Engkau bersama yang engkau cintai.”

Sayangnya, masih ada saja fanatisme golongan sepihak yang menuduh bid’ah dlolalah terhadap tradisi maulid ini (pembahasan Bid’ah akan saya bahas dilain waktu), kawan saya, bila terus-menerus di bombardir pertanyaan masalah Bid’ah, ia balik bertanya. “Naik haji rukunnya itu ada bekal yang cukup, betul tidak? dulu waktu jaman Nabi, pakai pesawat tidak? Pakai Onta kan? Ya silahkan saja anda naik haji pakai onta, kalau naik pesawat itu Bid’ah dlolalah” dan saya tertawa mendengar celetukannya.

Ironis memang, meski banyak hadits dan dalil yang menganjurkan umat islam agar merayakan maulid, apresiasi ummat Islam terhadap tokoh ini teramat minim, bahkan dianggap sebagai sosok yang asing.

Fenomena ini sangat kontras dengan umat Kristen yang begitu gegap gempita merayakan hari lahirnya Yesus (NATAL). Mereka begitu kompak merayakannya di seluruh penjuru dunia.

Maulid kali ini bermakna berbeda, dimana saat umat islam merayakan maulid Nabi, ternyata pada tanggal 25 desember, umat Kristen merayakan pula Natal (maulid nabi Isa’).

Allah sepertinya sedang menunjukan kepada kita, wahai umat islam, meriah mana maulid Nabi Isa’ atau Nabi Muhammad?. Anda yang melarang bahkan mengharamkan tradisi maulid ini, bagi saya, anda sudah tidak tahu malu.

Wallahu a’lam.

Leave your comment here: