JIWA DAN HATI DALAM AL QUR’ANUL KARIM

JIWA DAN HATI DALAM AL QUR’ANUL KARIM

JIWA

HATIImam Ibnul Qayyim mengatakan bahwa jiwa adalah satu bila dilihat dari sudut dzatnya, dan tiga bila dilihat dari sudut sifatnya. Di dalam Al-Qu’an yang mulia itu telah menjelaskan tentang jiwa dengan tiga sifat: yaitu muthma’innah, ammarah bis su’ dan lawwamah (yang suka mencela).

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Jiwa bila tenang karena Allah Subhaanahu wata’ala, tenteram karena berdzikir kepada-Nya, tunduk kepada-Nya, rindu kepada perjumpaan dengan-Nya, akrab dengan kedekatan-Nya, maka ia adalah jiwa yang muthma’innah. Ialah jiwa yang disebutkan Allah Subhaanahu wata’ala ketika seseorang wafat, sebagaimana dalam firman-Nya,

(يَـٰٓأَيَّتُہَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَٮِٕنَّةُ (٢٧) ٱرۡجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً۬ مَّرۡضِيَّةً۬ (٢٨

    “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (Al-Fajr: 27-28)

Muthma’innah

Menurut Imam Ibnul Qayyim hakikat muthma’innah adalah ketenangan dan kestabilan, yaitu jiwa yang merasa tenang kepada Tuhannya, taat kepada-Nya dan perintah-Nya, serta dzikir kepada-Nya dan tidak meras tenang kepada yang lain-Nya. Dengan demikian jiwa itu telah mencapai ketenangan dengan cinta-Nya, penghambaan dan berdzikir kepada-Nya. Ia juga tenteram dengan perintah-Nya, larangan-Nya dan janji-Nya.

Ia juga tenteram dengan pembenaran terhadap hakikat Asma’-asma’ dan sifat-sifat Allah Subhaanahu wata’ala. Ia juga tenteram dengan keridhaannya mengakui Allah Subhaanahu wata’ala sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Rasulullah.

Ia juga tenteram dengan Qadha’ dan Qadar-Nya. Ia juga tenteram dengan kecukupan, kelayakan, dan jaminan hidup dari-Nya. Ia juga tenteram dengan keyakinan bahwa Allah Subhaanahu wata’ala satu-satunya Rabbnya, Sesembahannya, Rajanya dan Pemilik segala urusan, dan tempat kembalinya. Dan bahwasanya tidak ada rasa “tidak butuh” kepada-Nya walaupun sekejap mata.”

Amarah Bis su’

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan tentang jiwa amarah bis su’ , jiwa ini bertentangan dengan jiwa muthma’innah. Jiwa amarah bis su’ yang memerintahkan pemiliknya kepada hawa nafsu berupa syahwat kesesatan dan mengikuti yang batil, jiwa seperti ini merupakan sumber kejelekan. Jika dituruti, maka jiwa ini akan menyeret seseorang pada perbuatan jelek dan segala perkara dibenci.

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Nafsu ammarah bis su’ dikatakan ‘ammarah’ dan bukan ‘amirah’ karena banyaknya perintah dari nafsu tersebut, dan bahwa nafsu yang demikian telah menjadi adat dan ciri khasnya, kecuali apabila Allah Subhaanahu wata’ala merahmatinya dan membuatnya menjadi suci yang menyuruh pemiliknya untuk berbuat baik, dan hal tersebut termasuk rahmat Allah bukan dari rahmat nafsu, karena ia sendiri pada hakikatnya menyuruh kepada keburukan. Karena nafsu pada asalnya diciptakan dalam keadaan bodoh dan sesat, kecuali yang mendapat rahmat Allah.

Lawwamah

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Kata lawwamah ini, ulama berbeda pendapat tentang sumber asal kata pokoknya, apakah ia berasal dari kata talawwum (kebimbangan), atau kata laum (tercela). Pernyataan salaf berkisar antara dua makna ini.

Sa’id bin Jubair berkata, ‘Aku bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Apakah nafsu lawwamah itu?’ Ibnu Abas menjawab, ‘Nafsu lawwamah adalah nafsu yang tercela.’

Mujahid berkata, ‘Nafsu lawwamah adalah nafsu yang menyesali segala yang terjadi di masa lalu dan mencela dirinya sendiri.’

Qatadah berkata, ‘Nafsu lawwamah adalah nafsu yang jahat.’

Ikrimah berkata, ‘Nafsu lawwamah adalah nafsu yang mencela atas perbuatan baik dan buruk.’

Atha’ dari Ibnu Abbas dia berkata, ‘Nafsu lawwamah adalah setiap nafsu yang mencela dirinya sendiri pada Hari Kiamat, yang mencela dirinya sendiri atas perbuatan baik karena tidak menambahkannya, dan mencela dirinya atas perbuatan buruk karena tidak kembali insaf dari keburukannya.’

Imam Ibnul Qayyim mengatakan bahwasanya jiwa kadangkala bersifat ammarah, kadangkala bersifat lawwamah, dan kadangkala bersifat muthma’innah. Bahkan dalam satu hari dan satu saat bisa terjadi yang ini dan itu. Dan yang menguasai adalah kondisinya yang paling dominan. Kondisi nafsu yang menjadi muthma’innah adalah merupakan sifat yang terpuji baginya. Dan kondisi nafsu menjadi ammarah bis su’ merupakan sifat yang tercela baginya. Nafsu itu kadangkala bersifat lawwamah yang terbagi menjadi terpuji dan tercela sesuai dengan sesuatu yang dicelanya.

HATI

Dalam suatu majelis Imam Ibnul Qayyim memaparkan macam-macam hati dalam Al-Quran. Dan secara garis besar tentang kedudukan dan urgensi terapi hati dalam al-Qur’an yang mulia di samping terapi jasmani. Beliau membagi hati menjadi tiga yaitu hati yang bersih, hati yang sakit, dan hati yang mati.

Allah Subhaanahu wata’ala telah menghimpun tiga macam hati ini dalam firman-Nya.

    “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasul pun dan tidak (pula) seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana, Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat, Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran Itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan Sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (QS: Al-Hajj: 52-54)

Dari penjelasan ayat-ayat al-Qur’an di atas bahwa Allah Subhaanahu wata’ala membagi hati dalam ayat-ayat di atas yang terdiri dari tiga macam: dua macam terjerumus ke dalam fitnah dan satu selamat darinya. Dua macam hati yang terjerumus ke dalam fitnah adalah hati yang sakit dan hati yang keras. Sedangkan hati yang selamat yaitu orang Mukmin, tunduk kepada Tuhannya, yang tenteram dan tunduk kepada-Nya, yang menyerahkan diri dan taat kepada-Nya.

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa hati dan anggota tubuh lainnya sangat diinginkan berada dalam kondisi yang sehat dan tidak memiliki penyakit apa pun, dapat menunaikan segala kewajiban yang diciptakan untuknya. Dan menyimpangnya hati dari istiqamah karena kering dan keras, serta tidak menunaikan fungsi yang dimaksudkan, adalah laksana tangan yang terpotong, dan lidah yang bisu karena disebabkan oleh penyakit atau cacat yang mencegahnya dari kesempurnaan perbuatan dan kebijakan yang tepat. Oleh karena itu, hati terbagi menjadi tiga macam ini. Hati yang sehat adalah hati yang tidak ada penghalang yang mencegahnya dari menerima kebenaran, mencintainya, mengutamakannya di atas pengetahuan sendiri, maka dia tepat dalam menyadari kebenaran, sempurna dalam ketundukan dan penerimaannya terhadap kebenaran. Sedangkan hati yang sakit adalah hati yang didominasi oleh penyakit yang membuatnya mati lagi keras, dan bila kesehatannya lebih dominan maka ia akan membuatnya sehat.

Hati yang Bersih

Hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari setiap syahwat yang menyimpang dari perintah dan larangan Allah Subhaanahu wata’ala, berpaling dari setiap syubhat yang melawan kabar dari-Nya sehingga hati tersebut selamat dari penghambaan terhadap selain Allah subhaanahu wata’ala dan selamat pula dari berhukum kepada selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dengan seperti ini hati akan memurnikan penghambaannya kepada Allah Subhaanahu wata’ala, segala keinginan, cinta, tawakkal, inabah, ketundukan, ketakutan, dan harapannya. Ia mengikhlaskan seluruh amalnya untuk Allah Subhaanahu wata’ala semata-mata. Apabila dia mencintai maka ia mencintai karena AllahSubhaanahu wata’ala semata-mata, dan bila dia membenci maka ia membenci karena Allah Subhaanahu wata’ala semata-mata, dan bila dia memberi maka ia memberi karena Allah Subhaanahu wata’ala semata-mata, dan bila dia menahan maka ia menahan karena Allah Subhaanahu wata’ala semata-mata. Dan hal itu saja tidak cukup, hingga ia benar-benar membebaskan diri dari sikap tunduk dan berhukum kepada selain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ia benar-benar mengikat hatinya bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berhukum atas kepercayaan dan keteladanan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam semata-mata.

Hati yang Sakit

Hati yang sakit adalah hati yang hidup tetapi memiliki penyakit. Karena hati tersebut terdiri dari dua materi, kadangkala yang satu lebih kuat dan kadangkala yang satunya lagi, dan mana yang paling dominan maka dialah yang paling kuat di antara dua materi tersebut.

Hati yang sakit ini di dalamnya juga terdapat rasa cinta kepada Allah Subhaanahu wata’ala, iman dan bertawakal kepada-Nya, serta ikhlas karena-Nya tetapi di dalam hati yang sakit juga terdapat kesenangan terhadap syahwat, mengutamakan dan selalu berambisi meraihnya, hasad, sombong, congkak, suka meninggikan diri dan melakukan kerusakan di muka bumi dan melakukan kerusakan dalam kepemimpinan.

Hati yang sakit itu teruji dengan dua godaan seruan. Satu seruan mengajaknya kepada Allah Subhaanahu wata’ala, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan kehidupan akhirat, sedangkan satu seruan lagi mengajaknya kepada kenikmatan sementara, dan ia merespon peluang yang paling dekat dengannya.

Hati yang Mati

Hati yang mati sendiri tidak mengenal terhadap Allah Subhaanahu wata’ala, tidak beribadah kepada-Nya dengan perintah-Nya, tidak mencintai dan meridhai-Nya. Bahkan ia menghamba kepada kesenangan dan syahwatnya. Walaupun di situ terdapat laknat dan murka Allah Subhaanahu wata’ala, maka dia sama sekali tidak peduli, bila dia telah meraih kesenangan syahwatnya, apakah Allah Subhaanahu wata’ala meridhai dan memurkai.

Hati yang mati menghamba kepada selain Allah Subhaanahu wata’ala dengan cinta, rasa takut, harap, ridha, murka, pengagungan, dan kerendahan. Apabila dia cinta, maka dia cinta karena hawa nafsunya, dan apabila dia memberi, maka dia memberi karena hawa nafsunya, dan apabila dia menahan, maka dia menahan karena hawa nafsunya.

Hati yang mati menjadikan hawa nafsu di hadapannya, syahwat sebagai pemimpinnya, kebodohan sebagai supir dan pengendaranya, dan kelalaian sebagai kendarannya. Dia hanya berfikir mencapai target-target dunianya, mabuk dalam hawa nafsu dan cinta kesenangan sementara. Dia diseru kepada Allah Subhaanahu wata’ala , dan kampung akhirat dari tempat yang jauh, namun dia tidak menjawab pemberi nasihat, mengikuti keinginan setan, dunia bisa memurkai dan membencinya. Syahwat nafsu membutakannya dari selain kebatilan.

Leave your comment here: