WANITA MENYEMBELIH HEWAN QURBAN MENURUT 4 MADZHAB

WANITA MENYEMBELIH HEWAN QURBAN MENURUT 4 MADZHAB

Tidak ada dalil yang secara tegas melarang wanita untuk melakukan penyembelihan hewan. Artinya, apabila ada seorang wanita melakukannya, maka sembelihannya itu sah dan hukum daging sembelihannya halal. Tentu selama semua syarat-syarat penyembelihan terpenuhi.

Ada hadits yang menceritakan tentang seorang wanita menyembelih kambing dan Rasulullah SAW membolehkan makan dagingnya.

أَنَّ جَارِيَةً لِكَعْبِ بْنِ مَالِكٍ كَانَتْ تَرْعَى غَنَماً بِسَلْع فَأُصِيْبَتْ شَاةٌ مَنْهَا فَأَدْرَكَتْهَا فَذَبَحَتْهَا بِحَجَرٍ فَسَأَلَ النَّبِيَّ فَقَالَ كُلُوْهَا

Seorang budak wanita milik Ka’ab bin Malik menggembalakan kambing. Salah satunya ada yang terkena dan hampir mati maka dia mendapatkanya serta menyembelihnya. Orang bertanya kepada Nabi SAW dan beliau berkata,”Makanlah”. (HR. Bukhari)

أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَمَرَ نِسَاءَهُ أَنْ يَلِينَ ذَبْحَ هَدْيَهِنَّ

Rasulullah SAW memerintahkan para istri beliau untuk mendekati hewan hadyu sembelihan mereka.

Kalau kita telurusi satu persatu pendapat para ulama di tiap-tiap mazhab yang muktamad, maka kita akan menemukan bahwa umumnya mereka membolehkan wanita menyembelih hewan dan tidak menjadi masalah tentang kehalalan hewan itu untuk dimakan.

  1. Mazhab Al-Hanafiyah

Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani (w. 189 H) salah satu murid utama Al-Imam Abu Hanifah dan ulama besar dalam mazhab tersebut telah menuliskan di dalam kitabnya Asy-Syarhu Al-Kabir tentang petikan fatwa masalah ini :

قلت: أرأيت المرأة تذبح هل يؤكل ذبيحتها؟ قال: نعم، لا بأس بها. قلت: وهي عندك بمنزلة الرجل؟ قلت: وإن كان يهودية أو نصرانية؟ قال: نعم، لا بأس به.

Aku bertanya,”Bagaimana pendapat Anda tentang wanita yang menyembelih hewan, apakah boleh dimakan?”. Beliau menjawab,”Boleh dan tidak mengapa”. Aku bertanya lagi,”Apakah menurut Anda wanita itu seperti laki-laki meski dia wanita yahudi atau nasrani?”. Beliau menjawab,”Ya, tidak masalah dengan hal itu”.

  1. Mazhab Al-Malikiyah

Al-Abdari (w. 897 H) salah satu ulama besar dalam mazhab Al-Malikiyah di dalam kitabnya At-Taj wa Al-Iklil menuliskan pendapatnya tentang kebolehan wanita menyembelih hewan.

وكذلك ذبيحة المرأة تؤكل وإن ذبحت من غير ضرورة

Demikian juga dengan sembelihan wanita, maka boleh dimakan meski pun wanita itu menyembelihnya bukan karena darurat.

  1. Mazhab Asy-Syafi’iyah

Al-Mawardi (w. 450 H), salah satu ulama besar dalam mazhab Asy-Syafi’iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir tentang kebolehan wanita menyembelih hewan.

أما ذبح النساء فجائز ليس فيه كراهة كالرجال

Adapun hukum sembelihan wanita maka hukumnya boleh dan tidak ada karahah (kebencian) sebagaimana sembelihan laki-laki.

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama besar dalam mazhab Asy-Syafi’iyah juga membolehkan wanita untuk menyembelih hewan. Berikut ini petikan fatwa beliau di dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab :

تحل ذبيحة المرأة بلا خلاف

Dihalalkan sembelihan wanita tanpa ada perbedaan pendapat.

  1. Mazhab Al-Hanabilah

Ibnu Qudamah (w. 620 H) salah satu ulama dalam mazhab Al-Hanabilah juga membolehkan sembelihan wanita. Berikut petikan fatwa beliau mengutip Ibnul Mundzir dalam kitabnya Al-Mughni :

أجمع كل من نحفظ عنه من أهل العلم، على إباحة ذبيحة المرأة والصبي

Para ahli ilmu yang kami kenal telah bersepakat atas bolehnya sembelihan wanita dan anak-anak.

Namun demikian lepas dari kebolehannya, apabila seorang wanita takut melihat darah dan juga merasa ngeri atau jijik kalau melihat proses penyembelihan hewan, bahkan ada yang menjerit bahkan ada yang menutup mata, maka tidak boleh gegabah.

Sebab sikap seperti itu sedikit banyak akan ikut mempengaruhi proses penyembelihan, sehingga dikhawatirkan akan menggangu bahkan beresiko gagal penyembelihan. Bicara sah nya tentu sah-sah saja, tetapi perlu juga berhati-hati agar jangan sampai menimbulkan masalah.

Wallahu a’lam bishshawab,

Leave your comment here: