HAJI HANYA KARENA GELAR “HAJI” DAN ZAKAT ONLINE

HAJI HANYA KARENA GELAR “HAJI” DAN ZAKAT ONLINE

Menunaikan rangkaian ibadah dituntut agar tulus semata karena Allah. Maka dalam setiap lafadz niat ibadah diakhiri dengan lillahi ta’ala. Namun, merupakan hal yang sangat sulit menunaikan ibadah semata karena Allah, terutama kita yang termasuk hamba awam.

Sehingga, menunaikan ibadah sering kali karena terpaksa. Semisal ketika menunaikan shalat dan puasa, kita masih saja malas-masalan bahkan kadang bolong. Kadang sampai enggan untuk menunaikannya, semisal menunaikan zakat. Tidak sedikit dari kita yang masih sulit mengeluarkan zakat dari harta yang kita miliki yang sudah sampai pada batas pengeluaran zakat.

Namun, ada satu ibadah yang tidak karena terpaksa justru ibadah ini menjadi cita-cita, yaitu pelaksanaan ibadah haji. Sepertinya semua umat Islam ingin pergi melaksanaan haji. Ini terbukti dengan fakta antrian pelaksanaan haji. Saking antrinya, di sebagian daerah untuk melaksanakan haji harus menunggu puluhan tahun lamanya.

Namun demikian, meski haji termasuk ibadah yang dicita-citakan oleh umat Islam, masih belum tentu menunaikannya semata karena Allah. Ibadah yang seharusnya dilaksanakan dengan niat tulus karena Allah, ada sebagian -besar- orang melaksanakan haji karena alasan tertentu, bahkan ada yang hajinya sebagai modus belaka. Akibat dari itu, banyak pemahaman masyarakat yang keliru tentang haji yang dijadikan gelar.

Semisal gelar haji bagi sebagian orang dianggap sakral. Orang yang seperti ini biasanya merasa dirinya telah mendapatkan gelar mulia dari Allah. Akibatnya, dia sombong dan memamerkannya kepada masyarakat. Berbeda jika dia bergelar haji merasa ingin lebih baik. Karena malu pada gelar hajinya.

Ada juga yang menjadikan gelar haji sebagai pengangkat derajat social. Orang yang seperti ini biasanya menganggap bahwa gelar haji dapat menaikkan dirinya ke derajat yang tinggi di tengah-tengah masyarakat. Gampangnya untuk gengsi-gensian. Jika sudah bergelar haji sudah merasa lebih tinggi dari yang belum haji.

Ada juga gelar haji diajdikan tolak ukur kekayaan seseorang. Orang yang seperti ini melaksanakan haji untuk menunjukkan bahwa dirinya termasuk orang yang kaya. Rasanya tidak kaya jika belum melaksanakan haji. Atau ingin memamerkan kekayaan dengan naik haji.

Ada juga orang yang bergelar haji merasa ‘uwah’ ketika gelar hajinya dicantumkan. Hal ini dibuktikan oleh suatu kasus. Suatu ketika ada orang yang sudah melaksanakan haji diundang untuk mengahadiri suatu acara, ternyata dia tidak hadir hanya karena gelar hajinya tidak dicantumkan pada surat undangan acara itu. Berarti, gelar haji baginya meruapakan sesuatu yang membanggakan atau uwah. Atau yang seperti kita ketahui di masyaraat, ada orang yang telah melaksanakan haji ketika dia tidak dipanggil dengan gelar hajinya, dia merasa sakit hati, seolah hajinya tidak dihargai.

Ada juga orang yang melaksanakan haji untuk menepis kemunafikannya. Sepertinya tidak sedikit orang melaksanakan haji hanya untuk menepis kemunafikannya. Hal ini biasanya dilakukan oleh para koruptor untuk menepis anggapan orang-orang, sekiranya ada ungkapan begini: “Gak mungkinlah dia korupsi, dia kan sudah naik haji”. Ada juga orang ingin menepis kejelekannya di masyarakat, sehingga ada ungkapan: “Masa’ sich dia punya ilmu hitam, dia kan udah haji”.

Beribadah tidak karena Allah itu menyebabkan dua hal. Pertama, melaksanakannya menjadi karena terpaksa. Kedua, melaksanakannya karena ada tujuan lain. Dan, melaksanakan karena ada tujuan lain ada dua hal juga. Pertama, meskipun melaksanakannya bukan karena Allah, ada tujuan lain tapi baik. Kedua, selain tidak karena Allah, juga ada tujuan lain yang jelek. Paling tidak, ketika kita melaksnakan ibadah, kita tidak sampai termasuk pada yang terakhir tersebut.

Pada zaman yang serba canggih ini, banyak aktivitas masyarakat yang dilakukan secara instan, misalnya melalui internet. Dalam hal ini tidak hanya masalah muamalah yang dilakukan secara on line, tetapi juga masalah zakat yang memiliki sisi ubudiyah. Ada sebagian yang berpendapat bahwa pembayaran zakat via internet, ATM atau SMS di mana jika pihak lembaga zakat telah mencantumkan iklan atau pengumuman bahwa pembayaran zakat dapat dikirim melalui nomor rekening tertentu atau nomor SMS tertentu, maka pembayaran zakat seperti itu sah. Pembayaran zakat seperti ini diperbolehkan sebagaimana akad jual beli via internet. Sedangkan niat berzakat bisa dilakukan saat kita memasukkan ATM, mengklik internet, atau memencet tombol HP. Sedangkan pihak lembaga zakatnya nanti akan menyalurkan zakat tersebut kepada orang yang yang menerimanya sesuai aturan syariat yang berlaku.

Pertanyaan :

Bagaimana hukum pembayaran zakat via internet, ATM, atau SMS ?

Jawab :

Pembayaran zakat via internet, ATM dan SMS hukumnya sah, bila disertai niat saat atau setelah proses pengiriman (transfer) zakat pada pihak atau lembaga yang dimaksud

Catatan :

  1. Dalam masalah ini terjadi aqad wakalah yang shohihah bil mu’athoh

  1. Menurut Sebagian Ulama’ niat zakat boleh dilakukan saat transaksi dengan pihak BANK/Operator, meskipun belum terjadi proses pengiriman (transfer) zakat pada pihak atau lembaga yang dimaksud

Referensi :

  1. Asnal matholib juz 1 hal. 360

  1. Al Fiqhul islami juz 5 hal. 283

  1. Buhgyatul mustarsyidin hal. 100

  1. At Tarmasi juz 4 hal. 75-77

  1. Al Mausuatul fiqhiyyah juz 23 hal. 345

Leave your comment here: