HUKUM ORAL SEKS SUAMI ISTERI DI ZAMAN NOW

HUKUM ORAL SEKS SUAMI ISTERI DI ZAMAN NOW

Bagi kebanyakan pasangan, seks oral (oral seks) biasanya dilakukan sebagai bagian dari pemanasan atau foreplay. Kaum lelaki banyak yang menyukai aktivitas ini sebab oral seks mampu membakar fantasi mereka dalam meraih kepuasan. Pria biasanya merasakan kenikmatan yang lebih tinggi dalam menerima maupun memberikan seks oral.

Namun bagaimana Islam menilai perbuatan seks semacam ini?

Mengenai hukum oral seks (jika yang dimaksud adalah mencium kemaluan pasangan saat berhubungan) diperselisihkan oleh para ulama. Ulama Hambali membolehkan mencium kemaluan istri sebelum jima’, namun dimakruhkan jika dilakukan setelah itu. Hal ini yang disebutkan dalam kitab Kasyful Qona’, salah satu buku fikih madzhab Hambali.

Dalam kitab fikih Syafi’i disebutkan,

تتمة يجوز للزوج كل تمتع منها بما سوى حلقة دبرها ولو بمص بظرها أو استمناء بيدها، لا بيده، وإن خاف الزنا، خلافا لاحمد، ولا افتضاض بأصبع.

(Sebuah Pelengkap) Seorang suami dibolehkan menikmati semua bagian tubuh istrinya, kecuali bagian duburnya (sodomi), boleh menikmati semua bagian tubuh istri ini sekalipun dengan cara menjilat kelamin pasangannya dan sekalipun mengeluarkan sperma oleh tangan pasangannya. Sedang mengeluarkan sperma oleh tangan sendiri hukumnya haram sekalipun khawatir terjerumus perzinaan, namun berbeda dengan Imam Ahmad. Juga diharamkan menembus keperawanan dengan jari-jari tangan suaminya. (Fathul-Mu’in Syekh Zaenduddin Al-Malaebari, Juz 3, hal. 388).

Jika kita memperhatikan perkataan para fuqoha (ahli fiqh) terdahulu maka kita dapati isyarat akan bolehnya praktek oral sex meskipun praktek tersebut merupakan perkara yg qobih (buruk). Unt menjelaskan hal ini mari kita renungkan poin2 berikut,

Pertama : Praktek kelainan2 seksual seperti menjimak istri melalui dubur, atau menjimak hewan telah tersebutkan oleh para fuqoha terdahulu dalam kitab2 fiqih mereka. Demikian pula praktek oral sex juga telah diisyaratkan dalam buku2 fiqih terdahulu, bahkan diisyaratkan oleh Imam As-Syafi’i. Beliau rahimahullah berkata :

وَلَوْ نَالَ من امْرَأَتِهِ ما دُونَ أَنْ يُغَيِّبَهُ في فَرْجِهَا ولم يُنْزِلْ لم يُوجِبْ ذلك غُسْلًا وَلَا نُوجِبُ الْغُسْلَ إلَّا أَنْ يُغَيِّبَهُ في الْفَرْجِ نَفْسِهِ أو الدُّبُرِ فَأَمَّا الْفَمُ أو غَيْرُ ذلك من جَسَدِهَا فَلَا يُوجِبُ غُسْلًا إذَا لم يُنْزِل

ْ

“Kalau seandainya sang suami menggauli istrinya tanpa memasukkan dzakarnya ke farji (kemaluan) istrinya dan ia tidak mengeluarkan air mani maka hal ini tidak mengharuskannya mandi (janabah). Dan kami tidak mewajibkan mandi janabah kecuali jika ia memasukan dzakarnya ke kemaluan istrinya atau duburnya., maka tidak mewajibkan mandi jika ia tidak mengeluarkan air mani” (Al-Umm 1/37)

Zhohirnya seakan-akan Imam Syafii menjelaskan bahwa jika seorang lelaki memasukan kemaluannya di mulut istrinya atau bagian tubuh yg lain (seperti diantara dua paha, atau dua payudara, atau dua belahan pantat) maka tidak mewajibkan mandi junub kecuali jika sang lelaki mengeluarkan mani. Hal ini berbeda jika ia memasukan dzakarnya ke vagina wanita atau duburnya, meskipun tidak sampai mengeluarkan mani maka tetap wajib unt mandi junub.

Namun kenyataannya kita tidak mendapati penjelasan fuqoha terdahulu yg panjang lebar tentang hukum oral sex.

Kedua : Para ulama sepakat akan bolehnya menyentuh kemaluan istri. Ibnu ‘Abidin Al-Hanafi berkata,

سَأَل أَبُو يُوسُفَ أَبَا حَنِيفَةَ عَنِ الرَّجُل يَمَسُّ فَرْجَ امْرَأَتِهِ وَهِيَ تَمَسُّ فَرْجَهُ لِيَتَحَرَّكَ عَلَيْهَا هَل تَرَى بِذَلِكَ بَأْسًا ؟ قَال : لاَ ، وَأَرْجُو أَنْ يَعْظُمَ الأَْجْر

ُ

“Abu Yusuf bertanya kepada Abu Hanifah –rahimahullah- tentang seseorang yg memegang kemaluan istrinya, dan sang istri yg menyentuh kemaluan suaminya agar tergerak syahwatnya kepada sang istri, maka apakah menurutmu bermasalah?. Abu Hanifah berkata, “Tidak mengapa, dan aku berharap besar pahalanya” (Haasyiat Ibni ‘Aabidiin 6/367, lihat juga Al-Bahr Ar-Raaiq syarh Kanz Ad-Daqoiq 8/220, Tabyiinul Haqo’iq 6/19)

Ketiga : Pernyataan sebagian fuqoha yg menunjukkan akan bolehnya mencium kemaluan (vagina) wanita. Hal ini sangat ditegaskan terutama di kalangan para ulama madzhab Hanbali, dimana mereka menjelaskan akan bolehnya seorang suami mencium kemaluan istrinya sebelum berjimak, akan tetapi hukumnya makruh setelah berjimak (lihat Kasyaaful Qinaa’ 5/16-17, Al-Inshof 8/27, Al-Iqna’ 3/240)

Keempat : Bahkan ada sebagian fuqohaa yg menyatakan bolehnya lebih dari sekedar mencium. Yaitu bahkan dibolehkan menjilat kemaluan sang istri.

Al-Hatthob rahimahullah berkata,

قَدْ رُوِيَ عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ قَال : لاَ بَأْسَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى الْفَرْجِ فِي حَال الْجِمَاعِ ، وَزَادَ فِي رِوَايَةٍ : وَيَلْحَسَهُ بِلِسَانِهِ ، وَهُوَ مُبَالَغَةٌ فِي الإِْبَاحَةِ ، وَلَيْسَ كَذَلِكَ عَلَى ظَاهِرِه

ِ

“Telah diriwayatkan dari Imam Malik –rahimahullah- bahwasanya ia berkata, “Tidak mengapa melihat kemaluan tatkala berjimak”. Dan dalam riwayat yg lain ada tambahan, “Ia menjilat kemaluan istrinya dengan lidahnya”.

Dan ini merupakan bentuk mubaalaghoh (sekedar penekanan) akan bolehnya, akan tetapi bukan pada dzhohirnya” (Mawaahibul Jaliil 5/23)

Al-Malibariy Al-Fananiy (dari kalangan ulama abad 10 hijriyah) dari madzhab As-Syafi’iyah berkata,

يَجُوزُ لِلزَّوْجِ كُل تَمَتُّعٍ مِنْهَا بِمَا سِوَى حَلْقَةِ دُبُرِهَا ، وَلَوْ بِمَصِّ بَظْرِهَا

“Boleh bagi seorang suami segala bentuk menikmati istrinya kecuali lingkaran dubur, bahkan meskipun mengisap kiltorisnya” (Fathul Mu’iin bi Syarh Qurrotil ‘Ain bi Muhimmatid diin, hal 482, terbitan Daar Ibnu Hazm, cetakan pertama tahun 1424 H-2004 H, Tahqiq : Bassaam Abdul Wahhaab Al-Jaabi)

Kelima : Saya belum menemukan dari kalangan fuqoha terdahulu yg mengharamkan mencium atau menjilat kemaluan pasangan. Adapun dua pendapat yg sy paparkan di awal jawaban ini adalah dalil-dalil yg disebutkan oleh para ahlul ilmu zaman sekarang. Diantara para ulama yg mengharamkan oral sex adalah Naashiruddin Al-Albani. Adapun diantara para ulama yg memandang oral sex adalah perbuatan yg buruk hanya saja hukumnya tidak sampai haram adalah Syaikh Al-Jibriin Al-Hambali.

Diperbolehkan bagi seorang suami unt bersenang-senang (istimta’) dengan istrinya dengan cara bagaimanapun selain dengan melakukan hubungan intim melalui dubur. Termasuk diperbolehkan bagi suami unt menjilat atau menghisap kelentit/klitoris (bidhr) istrinya, asalkan tidak dilakukan saat istri sedang haid. Namun tetap diusahakan agar tidak sampai menjilat madzi yg biasanya keluar saat istimta’, karena madzi hukumnya najis.

  1. Hasyiyah I’anatut Tholibin, Juz : 3 Hal : 387-388
  2. Al-Ghoyah Wat-Taqrib, Hal : 7
  3. Kifayatul Akhyar, Juz : 1 Hal : 66

Ibarot :

Hasyiyah I’anatut Tholibin, Juz : 3 Hal : 387-388

تتمة : يجوز للزوج كل تمتع منها بما سوى حلقة دبرها ولو بمص بظرها

………………….

قوله: تتمة) أي في بيان بعض آداب النكاح. وقد ذكرت معظمها قبيل مبحث الاركان (قوله: يجوز للزوج) ومثله المتسري (وقوله: كل تمتع منها) أي من زوجته: أي أو من أمته (قوله: بما سوى حلقة دبرها) أما التمتع بها بالوطئ فحرام: لما ورد أنه اللوطية الصغرى وأنه لا ينظر الله إلى فاعله وأنه ملعون (قوله: ولو بمص بظرها) أي ولو كان التمتع بمص بظرها فإنه جائز. قال في القاموس: البظر – بالضم – الهنة، وسط الشفرة العليا.اه

ويحرم بالحيض والنفاس ثمانية أشياء: الصلاة والصوم وقراءة القرآن ومس المصحف وحمله ودخول المسجد والطواف والوطء والاستمتاع بما بين السرة والركبة

ويدخل في قول الشيخ المذي لأنه خارج من أحد السبيلين وحجة نجاسته حديث علي رضي الله عنه في قوله :”كنت رجلا مذاء فاستحييت أن أسأل رسول الله صلى الله عليه وسلم فأمرت المقداد فسأله فقال يغسل ذكره ويتوضأ”. والمذي أبيض رقيق لزج يخرج بلا شهوة عند الملاعبة والنظر

Wallohu a’lam bis-Showab

  1. zentijany says:

    فصل : وليس على قاتل الزاني المحصن قصاص ولا دية ولا كفارة . وهذا ظاهر مذهب الشافعي .
    المغني أحمد بن قدامة

    [ Fasal ] Dan tidak ada qishos, diyat ataupun kifarat terhadap orang yang telah membunuh pezina muhson, ini adalah dzohirnya madzhab imam as syafi’i. [ Kitab Al-Mughniy – Ibnu Qudamah ]

Leave your comment here: