ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF AL QUR’ANUL KARIM

ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF AL QUR’ANUL KARIM

Berbeda dengan kitab suci lainnya, Alquran memberikan apresiasi yang tinggi terhadap ilmu dan ulama. Dalam Perjanjian Lama, kitab suci yang diturunkan untuk komunitas dan waktu tertentu, perbincangan tentang ilmu belum mendapat tempat yang selayaknya, sebab ilmu dapat tumbuh dan berkembang dengan stabilitas ruhani, sosial dan dorongan spiritual untuk berkhidmat kepada manusia. Alih-alih mendukung perkembangan ilmu pengetahuan, yang terjadi justru pertentangan antara ilmu dan kitab suci. Pandangan ini dipengaruhi kitab suci yang menghilangkan sifat kemahatahuan dari Tuhan. Tuhan, seperti digambarkan dalam Kitab Kejadian 12 : 13, tidak memiliki kemampuan untuk sekadar membedakan hamba yang akan mendapat siksa dan yang tidak, sehingga meminta bangsa Israel untuk melulurkan darah di rumah mereka yang membedakannya dengan bangsa Mesir.

Tidak jauh berbeda tradisi dalam agama Kristen. Pertentangan antara akal dan agama begitu sengitnya dan memakan korban yang tidak sedikit. Galileo adalah salah satu contohnya. Pandangannya tentang perputaran bumi mengelilingi matahari, bukan sebaliknya seperti pandangan gereja, mengharuskannya menerima hukuman yang keji, dan baru pada tahun 1992 Vatikan membebaskannya dari hukuman kafir. Sikap tersebut sejalan dengan pandangan para penulis Perjanjian Baru terhadap alam raya yang menurut banyak ahli sangat tidak ilmiah. Karena itu, menurut Muhammad Asad, sangat keliru menisbatkan kemajuan yang dicapai dunia Kristen saat ini sebagai pengaruh dari kitab sucinya. Bahkan seperti ditengarai M. Abduh, seorang tokoh reformis Islam yang sempat berkelana di Eropa, barat yang Kristen maju karena para ilmuwan berhasil membatasi dominasi gerejawan dalam ruang publik, atau dengan kata lain maju karena meninggalkan ajaran agamanya.

Hal seperti di atas tidak terjadi dalam Islam. Kitab suci Alquran yang berfungsi sebagai hudan (petunjuk) memberikan berbagai kemungkinan bagi manusia untuk melakukan tugas sebagai khalifah Tuhan di muka bumi, termasuk dengan memberinya akal yang menghasilkan ilmu. Karena itu perbincangan tentang ilmu dan penghargaan terhadap ilmuwan (ulama) banyak ditemukan dalam paparannya.

Memang Alquran bukan buku ilmiah, tetapi tidak satu ayat pun di dalamnya yang menghambat perkembangan ilmu pengetahuan. Bahkan terdapat hampir 750 ayat yang bersinggungan, secara langsung atau tidak, dengan berbagai bidang keilmuan seperti kosmologi, kedokteran, geologi dan sebagainya. Selain itu juga terdapat sekian ayat yang merangsang manusia untuk berkarya dan beraktifitas ilmiah.

Ilmu dan Ulama dalam Alquran

Apresiasi Alquran terhadap ilmu tidak hanya tergambar dari penyebutan kata al-`ilm dan derivasinya yang mencapai 823 kali, tetapi terdapat sekian ungkapan yang bermuara pada kesamaan makna seperti al-`aql, al-fikr, al-nazhr, al-bashar, al-tadabbur, al-i`tibâr dan al-dzikr. Kata al-`ilm dan derivasinya, menurut pakar Alquran Raghib al-Ashfahani, bermakna pengetahuan akan hakikat sesuatu. Padanannya adalah al-ma`rifah. Kendati keduanya bermakna pengetahuan tetapi para pakar bahasa Arab menggunakan kata al-ma`rifah sebagai ungkapan untuk pengetahuan yang diperoleh melalui proses pemikiran dan perenungan terhadap gejala atau fenomena sesuatu yang dicermati. Karena itu dalam bahasa Arab pengetahuan Tuhan akan makhluk-Nya digambarkan dengan ungkapan `alima, bukan `arafa. Sebaliknya, pengetahuan manusia akan Tuhannya diungkapkan dengan kata `arafa karena diperoleh melalui perenungan terhadap tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Pengetahuan, apapun bentuknya, diperoleh melalui sebuah proses mencermati, membaca dan menganalisa yang dilakukan oleh akal, indera (al-bashar) dan kalbu (al-bashîrah). Proses ini biasa disebut dengan berfikir. Melalui dua unit wahyu yang pertama, lima ayat pertama surah al-‘alaq dan awal surah al-qalam, Alquran telah mengajak manusia untuk bergegas menghasilkan ilmu pengetahuan. Sebab hanya dengan ilmu pengetahuan manusia dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi dengan baik. Karena itu yang diajarkan pertama kali kepada Adam AS ketika turun ke bumi adalah pengetahuan tentang nama-nama benda (Q.,s. Al-Baqarah :   31).

Kedua unit wahyu pertama menekankan pentingnya membaca yang disimbolkan dengan kata iqra’ dan menulis yang disimbolkan dengan al-qalam (pena atau alat tulis lainnya). Keduanya menjadi simbol kemajuan peradaban manusia. Dengan membaca akan tercipta ilmu, dan dengan menulis proses transformasi ilmu dapat berjalan secara berkesinambungan.

Pada unit wahyu pertama, kata iqra’ yang mengandung arti membaca, mengumpulkan, menganalisa sehingga menjadi satu himpunan yang padu, tidak disebutkan objeknya. Sesuai dengan kaidah ilmu tafsir, redaksi seperti ini menunjukkan bahwa objeknya bersifat umum. Dari sini, Alquran tidak mengenal dikotomi ilmu pengetahuan ; ilmu agama dan umum, ilmu dunia dan akhirat. Dalam pandangannya ilmu mencakup segala macam pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam menunjang kelangsungan hidupnya, baik masa kini maupun masa depan; fisika atau metafisika. Kesan ini diperkuat dengan dikaitkannya perintah iqra’ dengan sifat rubûbiyah Tuhan yang maha mencipta, bismi rabbika alladzî khalaq.

Kata rabb yang sering diartikan Tuhan mengandung makna pemeliharaan dengan segala kelazimannya. Kaidah ilmu tafsir lain mengatakan, penyebutan suatu perintah yang disertai dengan suatu sifat menunjukkan keterkaitan perintah tersebut dengan sifat yang menyertainya. Dengan kata lain ayat pertama ini berpesan, “bacalah dengan nama Tuhan pemelihara yang telah mencipta, segala apa saja yang dapat memelihara kelangsungan hidupmu.” Dan jika kita merujuk kepada asal makna kata ism yang berarti tanda yang dapat mengenalkan identitas pemiliknya, maka dapat ditangkap kesan lain bahwa objek perintah iqra` pada ayat ini secara khusus tertuju pada tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang terbentang di alam luas ini.

Dari sini tidak berlebihan jika ada yang mengatakan sejak awal agama Islam telah bercirikan ilmiah dan rasional. Ciri tersebut sejalan dengan substansi ajaran Islam yang menuntut seseorang yang mengimaninya untuk terlebih dahulu memiliki ilmu pengetahuan.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Ketahuilah, sesungguhnya tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah” (Q.,s. Muhammad : 19).

Karena itu, tidak berlebihan jika Abbas Mahmud al-Aqqad, seorang cendekiawan terkemuka Mesir, mengatakan, berpikir dalam rangka mencari kebenaran merupakan bagian dari kewajiban Islam (al-tafkîr farîdhah islâmiyyah).

Kehidupan seorang Muslim harus selalu ditandai dengan peningkatan ilmu pengetahuan.

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Katakan, ‘Wahai Tuhanku tambahkanlah ilmu pengetahuanku’.” (Q.,s. Thaha : 114), demikian doa yang harus selalu dipanjatkan oleh seorang Muslim. Sebab pasti berbeda antara orang yang memiliki ilmu pengetahuan dengan yang tidak.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يعلمون

Katakan, tidaklah sama orang yang tahu dengan yang tidak tahu (Q.,s. Al-Zumar : 9).

Orang yang berilmu akan ditempatkan oleh Tuhan pada posisi yang terpuji dan amat termuliakan (Q.,s. Al-Mujadilah : 11). Sebaliknya, orang yang tidak menggunakan akal dan kalbunya untuk mendapatkan pengetahuan tentang kebenaran akan diturunkan derajatnya sampai pada tingkatan terendah, yaitu seperti binatang atau yang lebih hina darinya (Q.,s. Al-A`raf : 179).

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Q.,s. Al-Mujadilah : 11)

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Q.,s. Al-A`raf : 179)

Dengan ilmu manusia menjadi berbeda dengan makhluk lainnya. Al-Ghazali berkata, “Ilmulah yang membedakan manusia dari binatang. Dengan ilmu ia menjadi mulia, bukan dengan kekuatan fisiknya, sebab dari sisi ini onta jauh lebih kuat, dan bukan dengan kebesaran tubuhnya, sebab gajah pasti melebihinya, juga bukan dengan keberaniannya, sebab singa lebih berani darinya…. Manusia diciptakan hanya untuk ilmu”.

Sekali lagi, ketika berbicara ilmu pengetahuan Alquran tidak mengkhususkan pada ilmu tertentu, agama misalnya, tetapi mencakup segala bentuk pengetahuan yang dicapai manusia melalui upaya mencermati langit dan bumi beserta isinya.

أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ

Tidakkah kalian perhatikan dan cermati kerajaan langit dan bumi serta segala sesuatu yang diciptakan Allah (Q.,s. Al-A`râf : 185).

Berbeda dengan tradisi keilmuan di barat yang materialistis, Islam membimbing agar ilmu pengetahuan dapat mengantarkan manusia pada pemilik rahasia alam raya ini, bukan sekadar ilmu untuk ilmu. Tujuan akhirnya adalah :

وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى

Sesungguhnya kepada Tuhanmu segala sesuatu bermuara (Q.,s. Al-Najm : 42)

Dengan demikian, segala proses mencari ilmu pengetahuan, apapun jenisnya, selama untuk kemaslahatan manusia dan berakhir pada upaya menemukan Tuhan akan bernilai ibadah dan merupakan bagian dari hijrah kepada Allah Swt. Ilmu harus selalu dibimbang dengan iman, dan sebaliknya iman harus ditopang dengan ilmu.

Ilmu sebagai pijakan iman dan amal

Di muka telah diurai dalam Islam tidak dikenal pertentangan antara ilmu dan iman seperti yang terjadi di bumi Eropa pada abad pertengahan. Tidak satu pun ayat Alquran memperkenankan pertentangan itu terjadi. Bahkan keduanya berjalan secara beriringan. Karena itu keimanan yang benar harus dilandasi oleh bukti yang dicapai melalui proses pemikiran dan penghayatan, bukan sekadar ikut-ikutan atau sangkaan dan dugaan. Sekian ayat dalam Alquran menjelaskan kecaman terhadap mereka yang beriman dengan membebek kepada ajaran nenek moyang (Q.,s. Al-Ma`idah : 104), atau mengikuti ajaran berdasarkan dugaan yang belum tentu benar Q.,s. Al-Najm : 23).

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ ءَابَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ ءَابَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (Q.,s. Al-Ma`idah : 104)

إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَءَابَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى

Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. (Q.,s. Al-Najm : 23).

Tantangan Alquran kepada orang yang berseberangan dengan ajarannya jelas,

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Katakanlah, datangkanlah bukti-bukti kalian jika kalian merasa benar (Q.,s. Al-Baqarah : 111).

Alquran tidak pernah khawatir seruannya untuk menggunakan akal dan ilmu pengetahuan akan berdampak memprakporandakan bangunan keimanan. Sebab dalam pandangan Islam, hakekat keagamaan tidak akan bertentangan dengan hakekat yang dicapai ilmu pengetahuan. Dalam tradisi keilmuan Islam dikenal sebuah kaidah, “teks-teks keagamaan yang sahih tidak mungkin bertentangan dengan nalar yang jernih dan benar”. Jika secara lahir keduanya terkesan bertentangan pasti salah satunya ada yang keliru atau lemah.

Alquran berpandangan ilmu yang benar akan membawa kepada keimanan yang teguh. Sebaliknya, keimanan yang teguh akan menumbuhsuburkan lahan tempat ilmu tumbuh dan berkembang. Dalam sebuah ayat Allah berfirman ;

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ

Dan supaya mereka yang berilmu itu tahu bahwa Alquran itu benar berasal dari Allah sehingga mereka mengimaninya dan hati mereka menjadi tunduk kepada ajarannya. (Q.,s. Al-Hajj : 54)

Ada tiga hal yang saling berkaitan pada ayat di atas; ilmu (al-`ilm), iman (al-Îmân) dan ketundukan (al-Ikhbât). Ilmu diikuti tanpa jarak, sesuai dengan kata penghubung fa, dengan keimanan (liya`lamû fayu`minû), dan selanjutnya keimanan akan membuahkan gerakan hati yang terpancar melalui ketundukan dan kekhusyukan kepada Allah Swt. Karena itu, menurut Ibnu Mas`ud, ukuran sebuah ilmu bukan pada banyaknya, tetapi sejauh mana ilmu tersebut dapat mengantarkan kepada kekhusyukan (laysa al-`ilm bikatsrat al-riwâyati, innama al-`ilmu khasyyatullâh).

Pada ayat lain Allah menjelaskan, ““Sesungguhnya hanya hamba-hamba-Ku yang berilmulah yang dapat tunduk dan khusyuk kepada-Ku dengan baik”, demikian kurang lebih makna firman-Nya dalam surah Fâthir ayat 28. Dilihat dari kontek rangkaian penyebutannya, ayat ini didahului dengan penyebutan tanda-tanda kekuasaan Allah yang berupa turunnya hujan yang kemudian menghasilkan buah-buahan dengan berbagai warna dan rasa, gunung yang berwarna-warni dan perbedaan warna yang ada pada bintang dan manusia. Suatu hal yang mengisyaratkan tingginya nilai ilmu yang didasari atas pengamatan terhadap alam. Sungguh benar apa yang pernah dikatakan Albert Einstein: “Tiada ketenangan dan keindahan yang dapat dirasakan hati melebihi saat-saat ketika memperhatikan keindahan rahasia alam raya. Sekali pun rahasia itu tidak terungkap, tetapi di balik itu ada rahasia yang dirasa lebih indah lagi, melebihi segalanya, dan jauh di atas bayang-bayang akal kita. Menemukan rahasia dan merasakan keindahan ini tidak lain adalah esensi dari bentuk penghambaan.” Hal senada sebelumnya juga diungkapkan oleh al-Razi, seorang pakar tafsir Alquran kenamaan. Ia mengomentari ayat di atas dengan mengatakan, “Semakin dalam seseorang menyelami lautan ciptaan Tuhan semakin tahu ia akan kebesaran dan keagungan-Nya.”

Seorang yang berilmu benar tidak akan cepat merasa puas dan menyombongkan diri. Perhatikan kisah Dzul Qarnain yang diberi kekuatan oleh Allah Swt untuk menaklukkan musuh dan membangun bendungan yang maha dahsyat dengan ilmu yang dimilikinya. Selesai membangun ia berkata,

قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي

“Inilah bentuk kasih sayang dari Tuhanku” (Q.,s. Al-Kahf : 98).

Ilmu yang menghasilkan kebenaran dan keimanan dalam bahasa Alquran disebut al-hikmah. Pakar bahasa Alquran, Raghib al-Ashfahaniy, mengartikannya sebagai menemukan kebenaran melalui ilmu dan akal[14]. Ilmu hikmah inilah yang diajarkan Tuhan kepada para Nabi seperti Yahya AS (Q.,s. Maryam : 12), dan orang bijak seperti Luqman (Q.,s. Luqman : 12).

وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا

Dan barangsiapa diberi hikmah sesungguhnya ia telah diberikan kebaikan yang banyak, demikian firman Allah dalam Q.,s. Al-Baqarah : 269. Kebaikan itu tidak hanya ketika di dunia tetapi juga di akhirat kelak. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda : Innal jannata lil muhakkimîn. Hadis ini oleh sebagian ulama dipahami sebagai menjelaskan balasan surga bagi sebuah kaum yang diberi pilihan antara mati terbunuh dalam keadaan Islam atau keluar dari Islam (murtadd), lalu mereka memilih yang pertama. Tetapi ulama lain memahami balasan surga dalam hadis ini diperuntukkan bagi orang-orang yang diberi al-hikmah.

Al-hikmah dititipkan oleh Allah Swt dalam bentuk ayat-ayat-Nya yang bersifat tanzîliyyah (Alquran) dan kawniyyah (yang tersimpan di jadat raya). Seseorang dapat menemukannya dari mana dan di mana saja. Hikmah, seperti diumpamakan dalam sebuah hadis, seperti barang hilang yang dapat ditemukan oleh siapa dan di mana saja, termasuk dari musuh atau orang-orang yang berseberangan dengan kita. Seorang sufi besar, Ibu Arabi pernah berpesan, “Wahai para penuntut ilmu agama, jangan sampai Anda menolak sebuah wacana (ilmu kalam) dari seorang filosof lantaran dia tidak beragama. Itu sikap orang yang tidak berilmu, sebab tidak semua ucapan mereka keliru, apalagi jika tidak bertentangan dengan ajaran agama”. Agaknya, pandangan inilah yang mendasari sebagian kalangan yang berpendapat perlu berbijak dalam menyikapi karya-karya orientalis (non muslim) terutama produk ilmiah yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas ilmu, iman dan amal. Mungkinkah itu terjadi?

Kendati sejarah membuktikan bahwa kajian keislaman dan kearaban oleh orientalis tidak terlepaskan dari misi kristenisasi dan kolonialisasi, tetapi diakui ada sedikit kalangan yang melakukannya demi berkhidmat pada ilmu pengetahuan. Namun yang perlu dicermati, Islam menganut three in one ; satu kesatuan ilmu, iman dan amal. Tradisi keilmuan Islam dibangun atas dasar kesatuan tersebut. Karena itu pendidikan dan pengajaran Islam harus berujung pada mengenal Tuhan dan memupuk rasa penghambaan kepada Yang kuasa.

Ulama besar India, Wahiduddin Khan, mengkritik pedas sistem pendidikan Islam yang hanya mengkaji ilmu-ilmu keislaman sekadar memenuhi dahaga intelektual. Dalam bukunya Tajdîd `Ulûm al-Dîn (pembaruan ilmu-ilmu agama) ia mengatakan, lembaga-lembaga pendidikan Islam belum lagi meletakkan unsur khasyyah (kekhusyukan pada Tuhan) dan taqwa sebagai dasar pengajaran, tetapi baru sekadar mengajarkan disiplin ilmu. Maka yang dihasilkan hanyalah para ahli di bidang ilmu-ilmu keislaman, bukan seorang ulama yang tahu dan mengimani serta mengamalkan nilai-nilai agama sepenuhnya. Untuk itu perlu diteladani generasi pertama Islam yang teguh berpegang pada Alquran dan sunah. Wahiduddin mengusulkan agar pendidikan Islam tidak terfokus pada teori-teori teknis keilmuan, tetapi kembali kepada Alquran dan sunah.

Wahiduddin benar, tetapi mempertahankan khazanah turats Islam yang dibangun atas dasar pandangan hidup Islam adalah sebuah keniscayaan untuk mempertahankan identitas Islam di tengah gempuran globalisasi yang amat dahsyat. Kembali kepada Alquran dan sunnah adalah sebuah jargon yang perlu mendapat penjabaran lebih jauh; kayfa (bagaimana) dan limâdza (mengapa).

Bagaimana sosok ulama yang ideal, mari kita perhatikan ungkapan yang sering diklaim sebagai sabda Rasulullah Saw yang berbunyi :

Manusia akan berada dalam kehancuran kecuali mereka yang berilmu. Yang berilmu pun akan binasa kecuali yang mengamalkan ilmu. Dan yang mengamalkannya juga akan binasa kecuali mereka melakukannya dengan ikhlas.

Leave your comment here: