HUKUM BAGI ORANG YANG MENGUCAPKAN : NABI TIDAK ROHMATAN LIL ALAMIN

HUKUM BAGI ORANG YANG MENGUCAPKAN : NABI TIDAK ROHMATAN LIL ALAMIN

Jam’iyyah Musyawarah Riyadhotut Tholabah (JMRT), PP. Alfalah, Ploso, Kediri, menggelar acara Bahtsul Masail Kubro Antar pesantren Se-Jawa-Madura ke XX.

Hasil acara yang diselenggarakan pada tanggal 14-15 Februari 2018 itu dengan rincian sebagai berikut:

Deskripsi masalah:

Lagi-lagi, media sosial dihebohkan oleh seorang muballigh yang membuat blunder saat ceramah di acara Muktamar di salah satu ormas di Riau. Ia mengatakan bahwa “Nabi Muhammad tidak bisa mewujudkan rahmatan lil-‘alamin selama 40 tahun. Bahkan setelah turun wahyu selama 13 tahun, Nabi Muhammad juga tidak bisa mewujudkan rahmatan lil-‘alamin karena berada dibawah tekanan. Ditekan oleh orang-orang yang tidak senang kapada wahyu yang ia terima, maka rahmatan lil-‘alamin tidak terwujud diatas muka bumi Allah SWT.”

Ia juga berkata: “Kapan rahmatan lil-‘alamin itu dapat diwujudkan? Bukan dengan kenabian. Bukan dengan Al-Qur’an ditangan. Tapi, setelah tegaknya Khilafatin Nubuwwah.”

Dia mengatakan bahwa “tidak ada yang dapat mewujudkan rahmatan lil-‘alamin selain Khilafatin Nubuwwah, Khilafah ‘ala Minhajin-Nubuwwah (Sambil dijawab dengan teriakan takbir).”

“Jika seluruh umat tidak memperdulikan khilafah ini, maka dia sudah menyia-nyiakan pesan Nabi Muhammad SAW.,” ujarnya.

Dia menambahkan, “Dosa terbesar dalam umat ini bukanlah minum khamr. Karena dia akan mabuk untuk dirinya sendiri. Andai ada orang berzina, mungkin madlarat itu hanya untuk mereka berdua dan keluarganya. Tapi, ketika khilafah ini disia-siakan, maka tak terwujudnya rahmatan lil-‘alamin dirasakan oleh mulai dari sejak ikan lumba-lumba yang dipertontonkan ditengah anak-anak yang mestinya mendapatkan keadilan, sampai kepada anak yatim. Anak yang dalam fitroh, sampai ke alam semesta tidak mendapatkan rahmatan lil-‘alamin. Apa sebabnya? Karena tidak tegaknya khilafah (teriakan takbir),” jawabnya.

Perkataan yang digaris bawahi itulah yang menyebabkan kontra dikalangan netizen. Dan tak sedikit dari netizen yang menganggap muballigh tersebut telah menghina Nabi Muhammad SAW., dan bahkan apa yang disampaikan terkesan mendukung gerakan ormas tersebut.

Pertanyaan:

Apakah peryataan yang disampaikan oleh muballigh yang digaris bawahi dianggap menghina Nabi Muhammad SAW.?

Jawaban:

Konten/isi pernyataan muballigh tersebut, secara dhohir dianggap menghina Nabi. Hanya saja, jika muballigh tidak ada tujuan menghina, maka tidak sampai dihukumi kufur, tapi haram. Sebab, tidak sesuai dengan tafsir para ulama’.

Referensi:

  1. Fatawi Haditsiyah juz 1, hal. 161.
  2. Tafsir Rozi juz 11, hal. 80.
  3. Al-Fatawi Al-Kubro juz 4, hal. 236.
  4. Faidlul-Qodir juz 1, hal. 172.
  5. Al-Bahrul Madid juz 2, hal. 297.
  6. Al-Mausu’ah Quwaitiyah juz 7, hal. 99.

Mushohih:

Gus H. Ali saudi

  1. Su’ud abdillah
  2. Hadziqunnuha
  3. Sa’dullah

Perumus:

Gus H. Kanzul Fikri

Ust. Bisri Musthofa

Ust. Muhammad Anas

Ust. Shihabudin Sholeh

Ust. Ali Maghfur

Ust. A. Fadlil

Ust. M. Halimi

Ust. Fahrurrozi

Moderator:

  1. Alamur Rohman

Notulen:

Hadziqunnuha

  1. Iqbal

Leave your comment here: