KASYAFA ADALAH TERBUKANYA HIJAB ANTARA MAKHLUK DAN TUHANYA

KASYAFA ADALAH TERBUKANYA HIJAB ANTARA MAKHLUK DAN TUHANYA

Kasyaf adalah terbukanya hijab atau tabir pemisah antara hamba dan Tuhan. Allah membukakan tabir bagi kekasih-Nya untuk melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui hal-hal gaib….

Tersebutlah syaikh Abdul Gani Harahap. Tokoh ini hidup jauh sebelum masa revolusi (diperkirakan sekitar 1818). Dia menjadi legenda di kampung halamannya, Baringin, Sipirok, Tapanuli Selatan. Dia juga dikenal sebagai penyebar agama Islam di Baringin. Waliyullah yang dicitrakan sebagai seorang yang gagah dengan kuda putihnya ini menyampaikan Islam hingga ke wilayah Tanjung Balai, Asahan. Tak mengherankan bila murid dan pengikutnya bertebaran di sepanjang Tapanuli hingga Asahan.

Cerita tentang kewaliannya pun mengisahkan, bahwa Syaikh Abdul Gani Harahap memiliki sejumlah karamah. Salah satunya yang hingga kini dikisahkan di kampung itu adalah kisah saat dia berpangkas. Di saat rambutnya yang baru setengah tercukur, dia mendadak mengucapkan, “Terbakar Makkah!”

Lalu, setelah menyuruh tukang pangkas menghentikan mencukur, Tuan Syekh seketika muksa. Beberapa jam kemudian, raganya kembali muncul di tempat pangkas rambut, untuk meneruskan cukurannya. Konon ketika hilang, Syekh Abdul Gani Harahap terbang ke Makkah untuk turut memadamkan api di sana. Dalam sekejap mata dia telah berada di Makkah.

Orang-orang yang beriman tak menampik terjadinya peristiwa yang di luar jangkauan nalar manusia itu, mengingat bahwa Allah adalah Dzat yang serba Maha. Tak seorang pun dapat mengukur kemahaan-Nya itu, termasuk dalam memberikan karunia kepada orang-orang pilihan-Nya.

Apa yang dialami Syekh Abdul Gani, dalam ajaran tasawuf, disebut kasyaf. Kasyaf adalah salah satu bentuk karamah yang dikaruniakan Allah kepada para kekasih­Nya. Kasyaf dapat diartikan terbuka, yakni terbukanya tabir pemisah antara hamba dan Tuhan. Kasyaf juga berarti Allah membukakan bagi seseorang untuk dapat melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui apa yang hendak bisa dilihat, didengar, dirasakan, dan diketahui oleh orang-orang biasa.

Bagi orang awam, apa yang dilakukan sang Syekh Abdul Gani adalah hal yang aneh dan misterius. Namun, apa yang diucapkannya, ternyata terbukti, dan diketahui belakangan hari. Makkah pada waktu itu memang pernah terbakar. Peristiwa yang tak masuk akal seperti ini pun, pernah terjadi pada diri sahabat Rasulullah SAW, Umar bin Khattab ra. Ketika itu, menjabat khalifah. Banyak sekali orang menjadi saksi mata. Pada waktu itu, Umar bin Khattab ra tengah melakukan.shalat. Ketika sedang berada di mimbar menyampaikan khutbahnya, tiba-tiba Umar berseru, “Hai, Sariah, hai tentaraku. itu, bukit itu, bukit itu!” Jamaah shalat Jumat geger. Ucapan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan isi khutbah yang disampaikan Umar. Beberapa  penilaian miring pun terucap dari mereka. Tetapi, Abdurrahman bin Auf salah seorang sahabat Umar yang paling akrab, tidak mau gegabah. Dia harus tahu betul, apa sebabnya Umar berbuat begitu. Maka, usai shalat, didatanginya Umar.

“Wahai Amirul mukminin, mengapa engkau berseru-seru di sela-sela khutbahmu seraya pandanganmu menatap ke kejauhan?” Tanyanya.

Umar dengan tenang menjelaskan, “Begini, sahabatku. Beberapa pekan yang lewat aku mengirimkan Sariah, pasukan tentara yang tidak kupimpin langsung, untuk membasmi kaum pengacau. Tatkala aku sedang berkhutbah, kulihat pasukan itu dikepung musuh dari segala penjuru. Kulihat pula satu-satunya benteng untuk mempertahankan diri adalah sebuah bukit di belakang mereka. Maka aku berteriak, “Bukit itu, bukit itu, bukit itu… ! ”

Setengah tidak percaya, Abdurrahman bin Auf mengerutkan kening, namun dia enggan untuk meneruskan pertanyaannya. Dia lebih memilih untuk mengundurkan diri dari hadapan Khalifah Umar, sebab dia belum bisa menilai, sejauh mana kebenaran ucapan Umar tadi.

Akhimya, bukti pun datang tanpa dimintanya. Yaitu, manakala Sariah yang dikirimkan Umar tersebut telah kembali ke Madinah. Wajah mereka berbinar-binar meskipun nyata sekali tanda-tanda kelelahan dan bekas luka-luka yang diderita oleh mereka. Tapi, mereka datang dengan membawa kemenangan. Komandan pasukan itu, pada hari berikutnya, bercerita kepada masyarakat Madinah tentang dahsyatnya peperangan yang mereka alami.

“Kami dikepung tentara musuh, tanpa harapan akan dapat meloloskan diri dengan selamat. Lawan secara beringas menghantam kami dari berbagai arah. Kami sudah luluh lantak. Kekuatan kami nyaris terkuras habis. Sampai tibalah saat shalat Jumat yang seharusnya kami kerjakan. Persis kala itu, kami mendengar sebuah seruan gaib yang tajam dan tegas,”Bukit itu, bukit itu, bukit itu!” Tiga kali seruan tersebut diulang-­ulang, hingga kami tahu maksudnya. Serta merta kami pun meluncur ke lereng bukit. Dan kami jadikan bukit itu sebagai pelindung di bagian belakang. Dengan demikian kami dapat menghadapi serangan tentara lawan dari satu arah, yakni arah depan. Itulah awal kejayaan kami.

Mendengar cerita ini Abdurrahman bin Auf mengangguk-anggukkan kepala dengan takjub. Dia berkata, “Biarlah Umar dengan kelakuannya yang terkadang menyalahi itu. Sebab, dia dapat melihat sesuatu yang indra kita tidak mampu melacaknya.”

Selain kisah Sayyidina Umar dan Syekh Abdul Gani, malah banyak lagi cerita tentang mukasyafah atau kasyaf Misalnya saja, kisah Abah Anom saat bertemu Khalifah Tarekat Naqsyabandiyah Haqqaniyah dari Amerika Serikat, Syekh Nadzim Haqqani.

Ketika itu, sekitar tiga tahun lalu, Syekh Nadzim Haqqani bertamu ke Suryalaya. Kunjungan itu dipandu oleh Ketua Dewan Tertinggi Jam’iyah Ahli Thariqah Al Mu`tabarah An-Nahdiliyah, Habib Luthfi bin Yahya Saat itu Syekh Nadzim mengaku mengenal.Abah Anom melalui ilham yang diperolehnya ketika memohon petunjuk kepada Allah SWT.

Katanya, di tengah kehidupan dunia yang carut marut seperti sekarang masih ada seseorang di Timur yang sangat ikhlas. Siapakah dia? Setelah dirunut, petunjuk itu mengarah kepada seorang ulama sepuh, yang kini usianya baru saja melewati 90 tahun (dalam hitungan kalender Masehi) atau mendekati 100 tahun menurut kalender Hijriah. Setelah pertemuan yang mengharukan itu, terjadilah peristiwa yang sarat dengan bahasa isyarat.

Syaikh Nadzim Haqqani mengeluarkan sebuah peluit kecil. Dia minta agar Abah Anom meniupnya.

“Priiit…!”

Setelah itu gantian Syaikh Nadzim Haqqani, mungkin sebagai makmum meniup pluit tersebut, “Priiiitt… !”

Tak seorang yang tahu apa makna isyarat itu. “Saya juga tidak tahu. Tapi mungkin maksudnya sebagai ikrar bersama untuk tetap teguh berjalan di atas kebenaran Allah,” kata Kyai Zaenal, yang bertindak sebagai penerjemah.

Dalam pertemuan itu juga muncul sebuah isyarat yang luar biasa, yakni ketika Syekh Nadzim Haqqani, dalam Bahasa Inggris, berkata, “Sesungguhnya kami tidaklah memerlukan penerjermah. Sebab apa yang saya kemukakan sesungguhnya sudah dimengerti oleh Abah Anom, karena sebelumnya kami.. sudah berkomunikasi secara spiritual. Biar pun Abah tertunduk seperti itu, sebenamya beliau tidak tidur, tapi dapat mendengarkan dengan baik.”

Kasyaf atau mukasyafah adalah buah dari zuhud. Zuhud membawa kita melintas alam syahadah, nyata, dan memasuki alam gaib. Dengan menggunakan istilah para sufi, zuhud mengantarkan kita pada alam mukasyafah. Namun, sesungguhnya kasyaf bukanlah tujuan para sufi. “ilmu” ini merupakan akibat dari kondisi psikologis para sufi yang amat mencintai Allah SWT. Menurut para sufi, kasyaf adalah karunia Allah sebagai pemberian kepada hamba-Nya, dia tidak bisa diperoleh lewat usaha dan latihan.

Bagi para waliyullah, hal-hal kasyaf sebenamya telah dijanjikan Allah seperti yang termaktub dalam hadits Qudsi, yang artinya, “Orang yang mendekatkan diri kepada-Ku, mengerjakan yang fardhu dan yang sunnah, sehingga Aku cinta kepada mereka dan Aku menjadi penglihatan mereka.”

Kasyaf Para wali Allah ini ada beberapa macam. Pertama, kasyaf mata. Mata dapat melihat alam mawaraulmaddah atau disebut juga alam gaib. Mata dapat melihat perkara-­perkara yang tidak dapat dilihat manusia biasa seperti malaikat, jin, dan setan. Kasyaf inilah yang menjadikan orang seperti Sayyidina Umar bin Khattab ra, dapat melihat apa yang sedang terjadi pada Sariahnya (Pasukan), dan Syaikh Abdul Gani Harahap yang dapat melihat Makkah terbakar.

Kedua, kasyaf telinga, yang disebut juga hatif. Seseorang yang dianugerahi kasyaf semacam ini dapat mendengar suara­-suara gaib, tetapi tidak melihat wujudnya. Misalnya, suara jin, malaikat,.atau sesama waliyullah. Suara.itu adakalanya membawa berita gembira, adakalanya sebaliknya. Tujuannya ialah, Allah hendak menghibur orang yang mendapatkannya. Kalau itu berita gembira, sang waliyullah akan gembira. Dan kalau berita duka, juga akan mengembirakannya, karena dia tahu terlebih dahulu, sehingga bisa menyiapkan diri dalam menghadapi ujian tersebut.

Ketika, kasyaf mulut. Allah memberi kelebihan seseorang dari ucapannya, Seperti doanya makbul, atau apa yang dia ucapkan akan terjadi. Dengan ucapannya itu, sang waliyullah berdakwah, mengajar, dan memberi nasihat. Dan dengan ucapannya pula, dia dapat mengubah hati seseorang. Karamah seperti ini biasanya dikaruniakan,. kepada pemimpin dan para juru dakwah.

Keempat kasyaf akal. Seorang waliyullah mendapat berbagai macam ilmu tanpa harus belajar, membaca, dan sebagainya, ilmu ini disebut juga ilmu laduni.

Kelima, kasyaf hati, dinamakan juga firasat. Inilah  “kasyaf” yang tertinggi di antara “kasyaf-kasyaf” yang disebutkan tadi. Biasanya dikaruniakan kepada pemimpin, itu pun tidak banyak, karena Allah mengaruniakan hanya kepada pemimpin yang sangat shalih, sabar dalam menanggung ujian yang begitu berat. Kasyaf hati ialah rasa hati atau gerakan hati yang tepat lagi benar. Dia juga dapat membaca hati atau pikiran seseorang.

Nabi bersabda, “Hendaklah kamu takut terhadap firasat orang mukmin, karena dia melihat dengan pandangan Allah.” Apa yang dimaksudkan dengan firasat oleh Rasulullah SAW ini adalah kasyaf hati.

  1. Iqbal maulana says:

    Bisa minta daftar pustakanya? Untuk bahan pengkajian saya lebih lanjut. Semoga direspon.terimkasih

    • zentijany says:

      Untuk tingkat pertama itu dianjurkan memakai kitab “Qutul Qulub”, karangan Abu Thalib Al-Makki, kitab “Risalah Al-Qusyairi”, karangan Abul Qasim Al-Qusyairi, lebih baik yang telah dikomentari oleh Zakaria Al-Ansari, begitu juga kitab “Al-Ghaniyah”, karangan Abdul Qadir Al-Jilani, kitab “Awariful Ma’arif”, oleh Umar Suhrawardi, Adabul Muridin” oleh Muhammad bin Habib Suhrawardi, “Mafatihul Fallah” oleh Ibn Atha’illah, “Futuhatul Ilahiyah” oleh Zakaria Al-Ansari, dan banyak lagi kitab-kitab lain karangan Sya’rani, Mabtuli, Qasim Al-Halabi, Ibn Umar, Al-Marsafi, Al-Qusyasyi, Al-Kurani, Al-Idrus, An-Naqsyabandi, Al-Haddad, Al-Bakri, mengenai thariqat, As-Samman Al- Madani, Abdur Rauf bin Ali Al-Jawi Al-Fansuri, yang bermacam- macam namanya dan bermacam-macam pula isinya, ada yang mengenai kejiwaan, ada yang mengenai akhlak, ada yang mengenai thariqat, ada yang mengenai khalwat, pelajaran dan mauizah dan sebagainya.

      Di antara kitab-kitab yang dianjurkan dipelajari oleh golongan Sufi tingkat selanjutnya kebanyakan mengenai ilmu thariqgat, mengenai suluk, mengenai zikir dan wirid, mengenai roh dan kehidupan wali-wali, mengenai zauq dan maqam ma’rifat, mengenai tahqiq dan lain-lain yang lebih pelik dan lebih sukar dari kitab-kitab untuk tingkat pertama. Misalnya Kitab “Sirrul Asrar”, karangan Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, “Kitab Hikam”, karangan Ibn Atha’illah As-Sakandari Asy-Syazili, yang dikomentari oleh Ibn Ibad, begitu juga komentar atas kitab itu yang diperbuat oleh Ahmad Al-Marzuku dan komentar karangan An-Nagsyabandi dan Ahmad Al-Qusyasyi serta banyak komentar-komentar lain yang tebal-tebal dan sulit-sulit, selanjutnya juga dipergunakan karangan Ibn Atha’illah itu, yang bernama “At-Tanwir fi Isgatid Tadbir” dan karangannya, yang bernama “Latha’iful Minan”, dengan segala syarah dan hasyiyahnya. Begitu juga dianjurkan mempergunakan kitab-kitab Hikam karangan Abi Madiyah, yang dikomentari oleh Ibn Allan, karangan Ibn Ruslan dengan komentar dari Syeikh Islam Zakaria Al-Ansari, yang bernama “Fathurrahman” dan dengan komentar Ahmad Ibn Allan, begitu juga dengan komentar An-Nablusi, selanjutnya kitab “Futuhul Ghaib”, karangan Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, kitab “Al-Kibrit” karangan Qutub Al-Idrus, kitab “AI-Masabir”, karangan Suhrawardi, begitu juga kitab “Al-Jawahir wal Bawasit”, karangan Syeikh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani, “Risalah Qawaninul Ahkam wal Asyrat ilas Sufiyah”, karangan Abul Mawahib Asy-Syazili, komentar “Qasidah”, karangan Ibn Allah, kitab “Mi’rajul Arwah”, karangan As-Saqqaf, kitab “Jawahirul Khams”, karangan Al-Ghaus, dengan syarah-syarahnya, kitab “Fusulut Tahiyah”, karangan Bafadhil, kitab “MiftahulMu’iyah fit Tharikah Nigsyabandiyah”, karangan Abdul Ghani An-Nablusi dengan beberapa komentar dan silsilah, ki- tab “Dhiya’us Syamsi alal Fathil Qudsi”, karangan Mustafa AI- Bakri, kitab “Asrarrul Ibadat”, karangan Syeikh Muhammad Samman, dan kitab-kitab yang lain karangan ulama Sufi ini dengan bermacam-macam syarahnya.

      Golongan golongan yang dianggap tingkat pengajarannya sudah sampai kepada ilmu hakikat, yang acap kali digelarkan dengan nama arifin, dianjurkan membaca kitab-kitab yang berisi ilmu laduni, ilmu ma’rifat terhadap Tuhan, ilmu yang sudah mencapai tingkat ainul ya- kin dan hakkul yakin, seperti kitab-kitab karangan Syeikh Muhyidin Ibn Arabi, seperti kitab “Fusulul Hikam”, dengan syarah An-Nablusi, dan dengan syarah Syeikh Ali Al-Muhayimi, selanjutnya kitab Ibn Arabi, yang bernama “Mawaqi’un Nujum” dan Fatuhatul Makkiyah” dengan komentar yang aneka warnanya. Begitu juga dianjurkan membaca kitab-kitab “Insanul Kamil”, karangan Syeikh Abdul Karim Al-Jairi, kitab “Sirrul Masun”, karangan Imam Ghazali, begitu juga kitabnya yang bernama “Misykatul Anwar” dan “AI-Maqsadul Aqsha”, dan kitab-kitab yang lain karangan Imam Ghazali mengenai masalah-masalah ilmu hakikat, sabar dan syukur, mahabban, mengenai tauhid, mengenai tawakkul dan lain-lainnya, yang meskipun sudah dibicarakan dalam kitab Ihya, tetapi diperluas dan diperdalam pembicaraannya dalam karangan-karangan yang tersendiri.

      Di antara kitab-kitab yang dianjurkan juga untuk golongan ini ialah kitab “Tuhfatul Mursalin”, yang membicarakan martabat tujuh, karangan Fadhullah Al-Hindi, dengan Syarah-syarahnya oleh Al-Kurdi, Al-Madani, yang membuat komentar bernama “Tahyatul Mas’alah”, begitu juga kitab yang bernama “Idhahul Maqsud”, mengenai ma’na wihdatul wujud, dan banyak lagi kitab kitab yang lain mengenai masalah cahaya suci karangan Sya’rani, mengenai kasyful hijab dan asrar, pembukaan hijab dan rahasia, mengenai masalah jin, mengenai cermin hakikat oleh Al-Qusyasyi, mengenai ruhul qudus oleh bermacam-macam wali, begitu juga kitab yang sangat dianjurkan, bernama “Jawahirul Haqa’iq, karangan Syeikh Syamsuddin bin Abdullah As-Samathrani, “Sumatra Aceh”, mengenai masalah wihdatul wujud, di antara kitab yang bernama “Idhahul Bayan fi tahqiqi masa’ilil A’yan”, karangan Abdur Rauf Al-Fansuri (dari Singkil Aceh, Sumatra), dan kitab-kitab lain yang sekian banyaknya mengenai ilmu hakikat, thariqat dan ma’rifat, yang tidak kita sebutkan

Leave your comment here: