MENGENDALIKAN EKONOMI KEMASYARAKATAN DENGAN TIGA AMALAN

MENGENDALIKAN EKONOMI KEMASYARAKATAN DENGAN TIGA AMALAN

Dalam bulan bulan ke depan nanti, walaupun panen padi tetapi masyarakat bawah merasakan beban kebutuhan hidup yang makin berat. Sejak kenaikan bahan bakar minyak bulan lalu, yang berdampak naiknya beaya transportasi, dan terutama naiknya harga sembako, membuat masyarakat harus mengeluarkan uang lebih banyak lagi dalam setiap harinya. Untuk makan keseharian dengan harga beras yang tinggi jadi terasa berat. Untuk merasakan daging (sapi) harganya demikian tinggi, sehingga kurang terjangkau masyarakat bawah. Apalagi jika puasa ramadlan tiba dan di tambah kebutuhan menjelang lebaran semakin banyak maka akan semakin berat.

Kenapa ini semua terjadi? Tingginya harga harga kebuuthan pokok karena Indonesia harus melakukan import barang-barang tersebut. Sektor peternakan dan pertanian kita tidak mampu menghasilkan produksi yang mampu memenuhi kebutuhan di Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut Indonesia harus import dari luar negeri. Dampak dari pasar bebas di Indonesia, membuat tingginya barang-barang kebutuhan sehari-hari tidak dapat dijangkau, bahkan pemerintah sendiri tidak bisa berperan banyak.

Pengaruh Sistem Kapitalisme

Disadari atau tidak, semua kondisi tersebut disebabkan oleh system ekonomi Indonesia yang berorientasi pada system kapitalisme, meski sering dipungkiri. Konsep ekonomi kerakyatan yang sering didisuksikan atau diseminarkan tidak bisa terealisasikan dalam praktek ekonomi kita. Sebagaimana kita ketahui, system perekonomian dunia lebih dipengaruhi konsep kapitalisme. Dan Indonesia, yang juga merupakan anggota dari WTO (World Trade Organisation) harus melakukan ratifikasi kebijakan-kebijakan WTO yang cenderung merugikan masyarakat ekonomi bawah.

Sistem kapitalisme dalam aktivitas perekonomian ditandai dengan konsep pasar bebas, investasi asing dan hutang luar negeri. Liberalisasi ekonomi dalam system kapitalisme ini menciptakan pengelompokan kelas ekonomi dalam masyarakat, yaitu kelompok pemilik modal (capital) atau konglomerat dan kaum pekerja, buruh dan masyarakat kecil. Investasi asing dalam suatu Negara tidak bisa dihindarkan yang mengakibatkan masuknya Perusahaan-perusahaan Multintional (MNC) yang selanjutnya menguasai  berbagai sektor aktivitas ekonomi. Demikian pula, untuk pembiayaan pembangunan nasional suatu Negara sangat bergantung dengan hutang luar negeri.

Krisis ekonomi global yang terjadi di Negara Industri maju seperti Eropa, Amerika Serikat dan Jepang akan berdampak pada kondisi ekonomi Indonesia. Krisis ekonomi global akan memperbesar deficit neraca pembayaran luar negeri Indonesia yang pada gilirannya menurunkan tingkat laju pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja. Defisit neraca berjalan itu harus ditutup dengan menggunakan cadangan devisa luar negeri. Kenaikan laju inflasipun tak terhindar. Akibatnya kian melemahnya kurs rupiah yang menaikkan harga barang import, kenaikan harga BBM dan kenaikan harga sembako tak terhindarkan lagi. Demikian seterusnya, system ekonomi kapitalisme telah memberikan dampak buruk perekonomian dan menyengsarakan masyarakat bawah.

 

Ekonomi Syariah sebagai Alternatif

Kita sebagai umat Islam sudah ada system ekonomi dengan konsep yang adil  yaitu sistem ekonomi yang diatur dan berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunah yang dikenal dengan system ekonomi syariah.  Sistem ekonomi syariah  harus mampu memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat, memberikan rasa adil, kebersamaan dan kekeluargaan serta mampu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap pelaku usaha. Sistem ekonomi syariah paling tidak memiliki tiga tujuan utama.

Pertama, menyediakan dan menciptakan peluang-peluang yang sama dan luas bagi semua orang untuk berperan serta dalam kegiatan-kegiatan ekonomi. Kedua, memberantas kemiskinan absolut dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar bagi semua individu dalam masyarakat. Dan Ketiga, mempertahankan stabilitas  ekonomi dan pertumbuhan, dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi.

Di Indonesia, upaya menerapkan sistem ekonomi syariah telah dimulai dengan memberikan alternatif perbankan dan lembaga keuangan syariah. Berdirinya Bank Muamalat Indonesia beberapa tahun yang lalu cukup menggemberikan. Tahun-tahun berikutnya diikuti berdirinya Lembaga Keuangan Syariah (LKS), BMT dan BPR Syariah memfasilitasi aktivitas keuangan secara Syariah sebagai penerapan ekonomi Islam. Saat ini telah banyak berdiri Bank Syariah yang menjadi alternatif masyarakat muslim melakukan transaksi keuangan secara syariah.

Dalam sektor produksi, distribusi dan pemasaran barang-barang kebutuhan pokok perlu adanya pemikiran untuk bisa dijalankan secara syariah pula sebagai bentuk penerapan ekonomi Islam, dengan landasan nilai-nilai tauhid, adil, jujur, amanah, syukur dan taqwa serta nilai islam lainnya.

 

Kemandirian Ekonomi Umat

Dengan menjalankan sistem ekonomi Islam, maka masyarakat muslim Indonesia bisa lebih mandiri, tidak bergantung kepada negara kapitalis barat. Kemandirian ekonomi Islam disini dengan merintis jaringan ekonomi Islam, yakni para pelaku ekonomi baik pengusaha, karyawan atau konsumen berbagai sektor produksi, distribusi, pemasaran, keuangan dan sumber daya manusia untuk saling bekerja sama dalam ikatan persaudaraan muslim dalam rangka menerapkan ekonomi syariah pada masyarakat muslim Indonesia.

Dalam upaya membangun kemandirian ekonomi umat, perlunya mengubah mindset atau pola pikir kaum muslimin dalam memandang agama Islam dengan nilai-nilai syariahnya.

Pertama, umat Islam harus meningkatkan dan menguatkan aqidahnya. Memperbaiki konsep tauhidnya, bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dengan makna bahwa untuk dapat mencapai kebahagian dan kesuksesan hanya dengan mengikuti system syariah Islam yang telah diatur oleh Allah, termasuk dalam aktivitas perekonomian.

Kedua, umat Islam harus meningkatkan amal ibadahnya dalam membangun hubungan kepada Allah swt, dengan melaksanakan sholatnya secara khusuk, tadarus Al-Qur’an, dzikir, serta amal ibadah yang lainnya, karena dengan amalan-amalan ini akan menguatkan mental sebagai seorang muslim dalam menghadapi situasi dan kondisi kehidupan termasuk dalam bidang ekonomi.

Ketiga, umat Islam harus membangun karakter islami dalam hubungan muamalah dengan sesama muslim untuk bekerja sama secara adil, amanah, jujur, kasih sayang dalam rangka untuk membangun jaringan (networking) ekonomi maupun non ekonomi dalam dunia Islam.

Jika ketiga hal ini bisa dijalankan umat Islam, maka membangun kemandirian ekonomi umat akan sangat dimungkinkan. Hal ini karena masyarakat Islam sesungguhnya memiliki potensi yang besar dalam masalah sumber daya ekonomi maupun sumber daya manusia, yang bisa disinergikan dalam membangun ekonomi umat.

(Wallahu a’lam Bishowab)

Leave your comment here: