MASYARAKAT JAHILIYAH DALAM BERTETANGGA DAN MENTOKOHKAN SESEORANG

MASYARAKAT JAHILIYAH DALAM BERTETANGGA DAN MENTOKOHKAN SESEORANG

MENJADIKAN SESEORANG SEBAGAI TOKOH

Sejarah itu bagaikan kaca sepion. Saat berkendara, kadang kita perlu melihat ke belakang sebelum menyalip kendaraan yang ada di depan. Begitulah perumpamaan sejarah. Kita perlu mempelajari masa lalu untuk bertolak menjadi pribadi atau komunitas yang lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana kemajuan yang dicapai kaum terdahulu, kita tiru dan sempurnakan. Apa yang membuat umat dan bangsa masa lalu runtuh, kita hindari agar tidak terjatuh di lubang yang sama.

Dalam remah-remah sejarah, ada nilai dan moral. Yang mengandung hikmah dan pelajaran. Demikian juga kehidupan masayarakat Arab pra Islam atau dikenal dengan masyarakat jahiliyah. Ada nilai dan moral yang bisa kita jadikan teladan. Berangkat dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. al-Bukhari dan selainnya).

Hadits ini menunjukkan adanya akhlak yang mulia di tengah masyarakat Arab. Tapi tidak sempurna. Apa artinya akhlak mulia itu tanpa peribadatan yang benar. Sehingga Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyempurnakan nilai-nilai yang ada di tengah-tengah mereka.

Di antara nilai terpuji di tengah masyarakat jahiliyah adalah cara mereka dalam menokohkan seseorang. Masyarakat jahiliyah mengangkat seseorang menjadi tokoh bukan dari apa yang mereka kumpulkan (al-jam’u), tapi dari apa yang mereka berikan (al-badzlu).

Kemuliaan Keluarga Nabi

Keluarga atau kabilah Nabi Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kabilah terpandang. Kakek ke-4 beliau, yakni Qushay, adalah orang yang mengembalikan pengurusan Ka’bah dan Kota Mekah kepada keturunan Nabi Ismail ‘alaihissalam. Setelah sebelumnya dikuasai oleh Kabilah Khuza’ah selama 300 tahun. Sebelum itu, Kabilah Quraisy hanyalah klan Arab yang tinggal di pinggiran Mekah. Mereka naik-turun gunung guna mencari air bersama unta mereka (Mubarakfury, 2005: 22).

Dengan kepemimpinannya Qushay menata Mekah kembali. Peranannya semakin mentereng tatkala ia menetapkan sejumlah pengaturan. Ia mengepalai Darun Nadwah (semacam majelis permusyawaratan Quraisy). Memegang panji perang. Qiyadah, yaitu memiliki kuasa atas perizinan penduduk Mekah yang hendak safar keluar Mekah. Hijabah yaitu mengurusi Ka’bah. Siqayah mengisi kolam-kolam air, dicampur dengan pemanis dari kurma dan kismis untuk minuman jamaah haji. Padahal pada masa itu belum ditemukan sumur zam-zam. Rifadah, menyediakan makanan untuk jamaah haji.

Dari pengaturan ini, orang-orang Arab luar Mekah tidak kebingungan tentang konsumsi mereka saat tiba di tanah suci untuk berhaji -haji adalah syariat Nabi Ibrahim-. Karena semua ada yang menanggungnya.

Jasa besar Qushay ini tak ayal membuatnya menjadi tokoh terhormat di tengah masyarakat jahiliyah. Orang-orang pun semakin menghargai dan menokohkan kabilahnya, Quraisy. Karena mereka mengabdikan diri dengan hijabah, siqayah, dan rifadah.

Berebut Mengabdi

Kepemimpinan yang hakiki adalah melayani. Mungkin ini terdengar seperti jargon kampanye. Karena realitanya sekarang, berbicara tentang kepemimpinan adalah berbicara tentang kekuasaan dan power. Orang bernafsu menjadi pemimpin agar menjadi seorang yang berkuasa dan mendapatkan harta. Di masa jahiliyah tidak melulu demikian. Kepemimpinan adalah untuk melayani. Dari melayani itulah mereka baru mendapatkan nama harum dan kemuliaan.

Setelah Qushay wafat, kepemimpinan Mekah dengan segala pengaturannya diserahkan kepada anaknya yang bernama Abdud Daar. Anak-anaknya yang lain, Abdu Manaf (kakek ke-3 Nabi), Abdul Uzza, dan Abdu Qushay, setia dan menghormati keputusan sang ayah. Sampai akhirnya ketika mereka semua wafat barulah terjadi perebutan kekuasaan antara anak-anak Abdu Manaf dan Abdud Daar. Kemudian dimusyawarahkan. Hasilnya, pembagian tugas dibagi. Bani Abdu Manaf dipercaya mengurusi konsumsi dan air. Sedangkan pemegang panji perang dan pengelolaan lembaga permusyawaratan tetap diserahkan ke Bani Abdud Daar (Lathif, 2014: 13-14).

Yang membuat kita heran, bagaimana masyarakat padang pasir yang hidup di tengah gurun gersang, sedikit air, berebut menjadi penyedia air untuk jamaah haji??! Ditambah lagi, 300 tahun sebelum Qushay berkuasa, sumur zamzam telah ditimbun oleh Kabilah Jurhum saat mereka diusir orang-orang Khuza’ah dari Mekah (Mubarakfury, 2005: 20). Zamzam baru diketemukan lagi di masa kakek ke-1 Nabi, Abdul Muthallib (Harun, 2003: 31). Terbayang di benak kita betapa sulitnya air pada saat itu. Tapi mereka berebut menjadi penyedia air. Ini menunjukkan, mereka rela bersusah payah mengorbankan harta, tenaga, dan waktu untuk melakukan pengabdian. Sehingga wajar mereka ditokohkan.

Sang Pembagi Roti

Kakek ke-2 Nabi Muhammad adalah Hasyim. Yang nama aslinya adalah Amr. Lalu mengapa ia dipanggil Hasyim. Karena dialah yang hasyama at-tsarid (membagi-bagi ats-tsarid) untuk jamaah haji. Tsarid adalah roti yang istimewa kala itu. Sebagaimana ungkapan Rasulullah ketika menggambarkan kedudukan istri tercinta beliau, Aisyah. Beliau bersabda,

فضل عائشة على النساء كفضل الثريد على سائر الطعام

“Keutamaan Aisyah dibanding semua wanita adalah semisal tsarid dibanding semua makanan.” (Sunan at-Turmudzi, Kitab al-Manaqib, 3887).

Kita tahu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya siapa orang yang paling beliau cintai. Beliau menjawab Aisyah. Lalu beliau mengumpamakan Aisyah itu seperti tsarid dibanding seluruh makanan. Ungkapan ini menunjukkan bukan Aisyah layaknya makanan, tapi menunjukkan istimewasanya Aisyah dibanding seluruh wanita. Dan istimewanya tsarid dibanding seluruh makanan kala itu. Artinya, roti yang dibagi-bagikan Hasyim untuk jamaah haji bukanlah makanan ala kadarnya, tapi makanan istimewa di zaman itu.

Kemudian gelaran Hasyim lebih dikenal ketimbang nama aslinya Amr. Menunjukkan betapa sering dan banyaknya ia membagi-bagi makanan tersebut. Ia ditokohkan karena jasanya. Meskipun ia seorang yang terkaya dari keturunan Abdu Manaf (Lathif: 2014: 14), tapi ia tidak digelari dengan kekayaannya (al-jam’u) melainkan dari pengabdian yang ia berikan (al-badzlu).

Kemuliaan Dalam Islam

Salah satu alasan Islam turun di tanah Arab adalah karena mereka memiliki karakter mulia. Sehingga mereka tidak butuh adaptasi yang lama untuk mengenal, memahami, dan menyebarkan Islam ke penjuru dunia. Islam tidak menokohkan seseorang dari apa yang ia kumpulkan (al-jam’u) tapi dari apa yang ia berikan (al-badzlu). Renungkanlah firman Allah Ta’ala ketika menyifati kemuliaan orang-orang Anshar:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” [Quran Al-Hasyr: 9].

Orang-orang Anshar lebih mengutamakan kebutuhan orang-orang Muhajirin yang baru saja hijrah daripada kebutuhan mereka sendiri (Tafsir Ibnu Katsir). Di situlah letak kemuliaan mereka. Bukankah ini al-badzlu?

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.” (Muttafaqun ‘alaih).

Bukankah ini al-badzlu?

Kemuliaan Dengan Kekayaan

Cerita tentang keluarga Rasulullah bukanlah satu-satunya. Banyak tokoh-tokoh kedermawanan masa jahiliyah seperti Hatim ath-Tha-i, Amr bin Luhai al-Khuza’i, Abdullah bin Jad’an, dll. Di zaman sekarang, orang-orang mendapatkan ketokohan dengan apa yang mereka kumpulkan. Majalah Forbes rutin mengumumkan nama-nama orang terkaya di dunia. Di antara mereka ada yang tidak banyak dikenal khalayak sebelumnya. Tiba-tiba mereka menjadi tenar dan mendapatkan tempat di hati manusia. Mereka tak dikenal dengan kedermawanan. Mereka dikenal karena kekayaan. Atau setidaknya mereka lebih dikenal dengan kekayaan dibanding kedermawanan.

Di ruang lingkup yang lebih kecil, di masyarakat sekitar kita. Orang-orang kaya begitu dihormati, padahal ia tidak memberi. Sampai-sampai orang-orang berlomba terlihat mapan dan kaya. Indah rasanya disebut sukses di usia muda. Sehingga sebagian yang belum mampu ingin terlihat mapan di hadapan teman sejawat. Membeli rumah, mobil, dan yang lainnya dengan kredit ribawi. Agar terlihat mapan dan kaya.

Cara pandang seperti ini terjadi dimana-mana, termasuk dunia Arab modern sekarang ini.

 

ADAB DALAM BERTETANGGA

Mungkin kita sudah terlanjur salah ajar. Sehingga terbentuklah kesalah-pahaman tentang kondisi masyarakat jahiliyah. Fragmen kehidupan jahiliyah yang disajikan kepada kita adalah tentang kebodohan, pembunuhan anak perempuan, perbudakan, dll. Tanpa ada babak lain. Dari penggambaran yang tidak utuh inilah pemahaman kita terbentuk. Kemudian nalar kita pun tertidur, kita tidak mempertanyakan mengapa Allah memilih tanah Arab dan bangsa Arab sebagai pionir menyebarkan misi rahmatan lil ‘alamin. Padahal Allah Ta’ala berfirman,

اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ

“Allah lebih mengetahui dimana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (QS. Al-An’am: 124).

Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah mengetahui dimana dia menempatkan misi kerasulan. Siapa yang paling pantas menerima risalah ini dari makhluknya.” (Tafsir al-Quran al-Azhim)

Kita ketahui, Allah menjadikan tanah Arab dan bangsa Arab sebagai pembawa risalah. Ditokohi oleh orang terbaik di antara mereka, Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن الله اصطفى كنانة من ولد إسماعيل و اصطفى قريشا من كنانة واصطفى من قريش بني هاشم واصطفاني من بني هاشم”.

“Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail. Memilih Quraisy dari keturunan Kinanah. Memilih Hasyim dari keturunan Quraisy. Dan memilihku dari Bani Hasyim.” (HR. Muslim 7/58 dan selainnya).

Allah pilih suku bangsa Arab (keturunan Ismail) dibanding suku bangsa lainnya di muka bumi ini. Kemudian memilih lagi yang terbaik dari yang terbaik di antara mereka, Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karakter dan akhlak mulia bangsa Arab telah diketahui banyak orang. Karakter tersebut ada yang merupakan pengaruh bangsa non Arab. Adapula yang merupakan kekhasan mereka sendiri. Di antara akhlak mulia Arab jahiliyah adalah menjaga pandangan dari aib tetangga dan menjaga kehormatan mereka. Saat para suami bersafar dan meninggalkan istri-istri mereka, tetangga-tetangga merekalah yang menyediakan kebutuhan. Walaupun demikian, mereka juga menjadi orang yang paling tidak ingin melihat aib tetangganya itu.

Perhatikanlah ucapan Hatim ath-Thai dalam syair yang ia gubah:

نــاري ونار الجار واحـد ### وإليه قبلـي تنزل القــــدر

مـا ضـرَّني جـار أُجـاوره ### أن لا يكـون لبابــه ستـــر

Apiku dan api tetanggaku adalah satu.

Aku menyediakan teko untuknya.

Tidaklaah merugikanku tetangga di sebelahku.

Tak seharusnya ada penutup di pintunya

Api kami adalah api yang satu. Artinya kami masak dari tungku yang sama. Artinya mereka saling bergantian memasakkan makanan. Hal ini menunjukkan keakraban dan kedekatan hidup bertetangga masyarakat jahiliyah kala itu. Sampai minumnya pun dari teko yang sama. Jika ada keperluan, mereka mudah terhubung, karena tidak ada penutup pintu antara rumah mereka. Betapa masyarakat Arab jahiliyah memiliki nilai-nilai yang tinggi dalam menghormati tetangga.

Hal itu, Hatim katakan saat tetangganya mukim bersama. Kalau suaminya keluar bersafar, ia mengatakan,

وما تشتكيني جارتي غير أنني ### إذ غاب عنها زوجها لا أزورها

سيبلغهــا خيــري ويرجع بعلها ### إليها ولم تسبل على ستـورهــا

Tetanggaku tidak mengeluhkanku.

Melainkan apabila suaminya pergi, aku tak lagi mengunjunginya.

Kebaikanku akan sampai padanya kala suaminya kembali padanya.

Aku tidak merusak tabir pembatasnya.

Masyarakat Arab dikenal memiliki kecemburuan yang tinggi. Dalam arti, mereka punya rasa memiliki yang kuat. Istri adalah milik suaminya. Karena itu, mereka tidak suka orang-orang bertemu istrinya tanpa seizinnya. Kebiasaan ini sesuai dengan nilai-nilai luhur yang diajarkan Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا

“Janganlah salah seorang di antara kalian berdua-duaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya.” (HR. Ahmad 1: 18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, para perowinya tsiqoh sesuai syarat Bukhari-Muslim).

Beda halnya dengan sebagian orang sekarang, terutama di era sosial media. Para istri menampakkan diri di hadapan orang lain, tapi suami mengganggap hal itu biasa. Istri memajang foto-fotonya di sosial media tanpa rasa bersalah terhadap suaminya. Mereka tampakkan penampilan menarik. Memamerkan rambut dan bagian tubuh lain yang merupakan aurat. Lebih dari itu, terkadang si istri foto-foto bersama laki-laki non mahram, tapi dianggap lumrah. Suami yang marah dianggap mengekang, kaku, kolot, dan over protectif.

Tidak hanya Hatim ath-Thai yang berujar demikian. Humaid bin Tsaur al-Hilali mengatakan,

وإني لعف عن زيارة جارتـي ### وإني لمشنوء إليَّ اعتيابها

إذا غاب عنها بعلها لم أكـن لها ### زُوَار ولم تنج علىَّ كلابها

وما أنا بالداري أحاديث بيتها ### ولا عالم من أي حوك ثيابها

Sungguh aku menjaga diri mengunjungi tetanggaku

Aku benar-benar tak suka melihat aibnya

Jika suaminya pergi aku tak akan bersamanya

….

Aku di rumahku tidak berbicara dengannya.

Sampai tak tahu keadaan pakaiannya.

Saat berkunjung ke rumah orang, Islam mengajarkan adab. Di antaranya berdiri di samping pintu bukan di depan pintu. Saat berdiri di depan pintu, bisa jadi kita melihat hal-hal di dalam rumah yang sebenarnya tidak ingin ditampakkan oleh pemilik rumah. Orang jahiliyah dulu menjaga diri dari aib tuan rumah ini. Jangan sampai mereka melihat yang tidak diinginkan tuan rumah.

Orang-orang jahiliyah menghormati wanita; istri-istri dan anak-anak gadis tetangga. Mereka tak mau menjumpainya di rumahnya tanpa izin dari walinya. Di zaman kita sekarang, kita saksikan tidak hanya menemui di rumahnya, bahkan laki-laki jalan bersama dengan perempuan di jalan-jalan. Keadaan ini sebenarnya lebih parah dari menemui perempuan di rumah. Tentu ini menjadi indikator kualitas kecemburuan para wali gadis di masa sekarang. Dan kualitas iffah (menjaga kehormatan diri) wanita di zaman sekarang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ . قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ

“Berhati-hatilah kalian masuk menemui wanita.” Lalu seorang laki-laki Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?” Beliau menjawab, “Hamwu (ipar) adalah maut.” (HR. Bukhari no. 5232 dan Muslim no. 2172).

Penutup:

Apa yang penulis sampaikan di atas adalah sisi lain dari kehidupan masyarakat jahiliyah. Tidak kita ragukan, sebagian di antara mereka juga terjebak dalam kerusakan dan pergaulan bebas. Kita mengenal ada nikah istibdha dan bentuk-bentuk pernikahan lainnya di masa jahiliyah. Tapi alangkah baiknya kalau kita melihat dari dua sisi. Sehingga kita tidak keliru dalam memahami kondisi sosial mereka.

Leave your comment here: