MINYAK LINTAH UNTUK MEMPERBESAR MR.P

MINYAK LINTAH UNTUK MEMPERBESAR MR.P

Deskripsi

Ada mitos bahwa lintah yang jumlahnya empat puluh satu dan dimasukkan ke dalam botol kemudian dikubur dalam tanah selama empat puluh satu hari, akan berubah menjadi minyak yang khasiatnya untuk memperbesar Mr. P (dzakar).

Pertanyaan

Bagaimanakah hukum penggunaan minyak tersebut untuk membesarkan Mr. P?

Abstraksi

Lintah termasuk spesies binatang melata (hasyarat) yang tidak berbisa. Kendati ada sebagian hasyarat yang halal di makan, namun mayoritas ulama mengharamkan hampir semua macam dari spesies ini dengan berdasarkan ayat aL-Qur’an yang secara implisit memberikan ketentuan halal-haram makanan.

“Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS. aL-A’raff : 157)

Keharaman jenis binatang ini, memberikan konsekuensi mayyitah (bangkai) pada hasyarat yang telah mati, sehingga dihukumi najis. Dalam satu hadits, Nabi secara tersirat melarang kita berlumur (tadhommukh) najis tanpa ada hajat tertentu. Di sisi lain, program pembesaran Mr. P tersebut termasuk taghyir kholqillah (merubah ciptaan Allah) di mana hukum asalnya adalah haram. Namun hukum asal ini akan berubah ketika ada pertimbangan yang bisa ditolerir secara syara’. Di antara pertimbangan syar’i yang memperbolehkan taghyir kholqillah berkaitan dengan kasus ini adalah;

-Mu’asyaraoh bil ma’ruf dengan wujud memuaskan isteri di ranjang yang merupakan anjuran syara;

-Taghyir kholqillah yang dilarang —menurut satu versi— adalah yang bersifat permanen;

-Berlumuran dengan najis diperbolehkan jika ada hajat.

Memandang program pembesaran Mr. P pada dasarnya tidak merubah bentuk dasar Mr. P, melainkan hanya merubah sifatnya, dan ini secara urf bukan dikatakan taghyir kholqillah, maka hukumnya diperbolehkan, lebih-lebih jika ada tujuan untuk menghilangkan aib. Dan bahkan menjadi sunah jika bisa menjadikan hubungan pasutri semakin harmonis. Namun yang perlu diperhatikan, unsur kenajisan minyak lintah tersebut mewajibkan untuk dibasuh.

 

Referensi

1.Nail Al-Authar vol. VII hlm. 343

2.Qurroh Al-Ain hlm. 72

3.I’anah Ath-Thalibin vol. I hlm. 89-90 & 81

4.Aun Al-Ma’bud vol XI hlm. 171

5.Jami’ Al-Ahkam Al-Qur’an vol. II hlm. 124 & vol. V hlm. 393

Leave your comment here: