AMALAN MAULID DAN KITAB BANTAHAN YANG MEMBID’AHKAN MAULID NABI SAW.

AMALAN MAULID DAN KITAB BANTAHAN YANG MEMBID’AHKAN MAULID NABI SAW.

Amalan untuk Merayakan Maulid Nabi

Bulan Rabiul Awwal adalah salah satu bulan istimewa bagi umat Islam. Hal ini disebabkan karena bulan ini merupakan bulan dilahirkannya Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, bulan ini disebut juga dengan bulan maulud atau maulid (kelahiran).

Dalam rangka menyambut bulan maulid Nabi saw., sebagian besar umat muslim khususnya di Indonesia akan mengadakan perayaan dengan mengadakan pengajian atau cukup dengan pembacaan dibaan, berzanji dan shalawat kepada Nabi saw. Lalu apa saja amalan lain yang dianjurkan dilakukan di bulan maulid?

Imam Suyuthi di dalam kitabnya Husnul Muqshid Fi Amalil Maulid mengutip pendapat imam Ibnu Hajar terkait hal ini.

واما ما يعمل فيه فينبغي أن يقتصر فيه على ما يفهم الشكر لله تعالى من نحو ما تقدم ذكره من التلاوة والاطعام والصدقة وانشاد شيئ من المدائح النبوية والزهدية المحركة للقلوب الى فعل الخير والعمل للاخرة.

Adapun amalan yang dapat dilakukan di dalam maulid Nabi saw. maka disunnahkan melakukan sebatas amalan yang dapat dipahami sebagai rasa syukur kepada Allah swt. seperti contohnya sebagaimana telah disebutkan yakni membaca Al-Qur’an, memberikan makanan, shadaqah, dan menyanyikan pujian-pujian tentang kenabian dan kezuhudan yang dapat menggerakkan hati untuk melakukan kebaikan dan amalan untuk akhirat.

Dengan demikian, perayaan maulid yang notebenenya adalah ekspresi rasa syukur kita atas lahirnya Nabi Muhammad saw. dapat dirayakan dengan amalan kebaikan apapun. Bisa dengan khataman Al-Qur’an bersama-sama, mengadakan santunan anak yatim piatu dan dhuafa’, atau memberikan makanan untuk orang-orang, dan membaca syiiran shalawatan bersama-sama.

Imam Ibnu Hajar memberikan keterangan lanjutan bahwa mengekspresikan kegembiraan dalam merayakan maulid Nabi saw. itu boleh dan bisa dilakukan dengan hal-hal yang mubah dalam bentuk apapun. Namun jika ada hal yang diharamkan atau dimakruhkan, maka dilarang/tidak boleh.

Lebih lanjut, imam Suyuthi juga memberikan keterangannya bahwa imam Al-Baihaqi meriwayatkan hadis dari Anas bin Malik. Yakni Nabi saw. mengakikahi dirinya sendiri setelah masa kenabian, padahal beliau telah diakikahi oleh kakeknya di hari ketujuh setelah kelahirannya.

Hal ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi saw. tersebut sebagai wujud ekspresi syukur beliau kepada Allah yang telah menjadikannya sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Oleh karena itu, menurut imam Suyuthi disunnahkan juga bagi umat Islam untuk menampakkan rasa syukur atas kelahiran Nabi saw. dengan berkumpul bersama, memberikan makanan serta aktifitas-aktifitas yang dapat mendekatkan diri kepada Allah dan menampakkan keceriaan/kegembiraan atas kelahiran nabi saw.

 

Kitab Bantahan Imam Suyuthi Tentang Maulid itu Bid’ah

Imam Suyuthi adalah salah satu imam terkemuka pada abad 9-10 Hijriyyah. Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat alim dalam semua bidang ilmu keislaman. Mulai dari tafsir, ilmu tafsir, hadis, ilmu hadis, hingga fikih dan ushul fikih telah beliau kuasai. Bahkan beliau memiliki buah karya dari masing-masing ilmu tersebut.

Disamping itu, beliau juga memiliki karya yang ditulis untuk membantah ulama lain yang berbeda pendapat dengannya. Salah satunya adalah Husnul Muqshid Fi Amalil Maulid. Kitab ini membahas  tentang dalil disyariatkannya maulid Nabi saw. sekaligus sebagai bantahan terhadap kalangan yang membid’ah-bid’ahkan perayaan maulid Nabi saw.

Kitab yang berisi duapuluh satu halaman ini juga ditulisnya khusus untuk membantah kitab karya Syekh Tajuddin Umar bin Ali Al-Lakhami As-Sakandari yang lebih dikenal dengan Al-Fakihani. Ulama dari kalangan madzhab Maliki tersebut mengarang kitab Al-Maurid Fil Kalam Ala amalil Maulid.

Imam Al-Fakihani mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi saw. belum ia ketahui dalilnya sama sekali baik di dalam Al-Qur’an maupun sunnah. Imam Suyuthi melalui karyanya tersebut memberikan bantahannya dengan mengatakan bahwa tidak adanya pengetahuan (tidak tahu) itu bukan berarti selalu berimplikasi pada tidak adanya dalil.

Padahal Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani telah mengeluarkan hadis tentang dalil maulid Nabi saw. Hadis tersebut terdapat di dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Muslim yang berisi tentang Nabi saw. yang menanyai alasan orang Yahudi yang berpuasa di hari Asyura. Jawaban Yahudi adalah karena sebagai bentuk syukur atas ditenggelamkannya Firaun pada hari itu sehingga Nabi Musa a.s. pun selamat dari kejarannya.

Oleh karena itu, Nabi saw. juga menyuruh umatnya agar juga berpuasa di hari Asyura’ dan sekaligus hari tasu’a (hari kesembilan bulan Muharram) sebagai pembeda dengan kaum Yahudi. Hadis ini menjadi dalil bahwa bentuk syukur itu bisa dikarenakan atas anugrah Allah berupa diberikannya nikmat atau dihindarkan dari bencana. Selain itu hadis ini juga menjadi dalil bahwa bentuk syukur itu bisa diekspresikan dalam berbagai bentuk ibadah, bisa sujud, puasa, shadaqah dan membaca Al-Qur’an.

Sementara nikmat yang sangat besar yang patut kita syukuri adalah lahirnya Nabi Muhammad saw. Maka, orang yang tidak mau memperhatikan hal ini, pasti ia tidak akan memperdulikan perayaan maulid Nabi saw.

Selain itu, imam Al-Fakihani juga mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi saw. hanyalah dibuat-buat oleh orang-orang yang bodoh/dungu saja. Imam Suyuthi pun membantahnya bahwa ulama-ulama telah mengatakan dahulu raja-raja yang adil dan alim telah merayakan maulid Nabi saw. sebagai bentuk taqarrub kepada Allah. Bahkan acaranya pun dihadiri oleh ulama dan orang-orang shalih tanpa ada yang mengingkarinya. Hal ini pun telah diterangkan oleh imam Ibnu Dahiyyah di dalam karyanya bahwa ulama ridha dan mengakui peringatan maulid Nabi saw., mereka tidak ada yang mengingkarinya.

Pendapat Al-Fakihani berikutnya adalah bahwa perayaan maulid Nabi saw. tidak disunnahkan, karena pada hakikatnya hal yang disunnahkan adalah yang dituntut oleh syariat. Tanggapan Imam Suyuthi terkait ini adalah bahwa tuntutan syariat itu kadang berasal dari teks (Al-Qur’an dan hadis), kadang pula berupa qiyas. Oleh karena itu, jika tidak ada dalilnya di dalam Al-Qur’an dan hadis secara jelas, maka dalilnya adalah diqiyaskan kepada teks yang ada di dalam Al-Qur’an dan hadis (seperti argumen imam Ibnu Hajar di atas).

Selain kitab Husnul Muqsid fi Amalil Maulid berisi bantahan imam Suyuthi kepada imam Al-Fakihani, imam Suyuthi juga memaparkan argumen-argumen dan pendapat para ulama lain seputar disyariatkannya maulid.  Di antaranya ulama yang beliau kutip pendapatnya adalah imam Ibnu Hajar, Ibnul Jazari di dalam kitabnya Arfut ta’rif bil maulidis Syarif dan imam Syamsuddin Ad Dimasyqi di dalam kitabnya Maurids shadi fi maulidil hadi.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

Leave your comment here: