HAKIKAT MAULID NABI SAW DAN BERDIRI MENGHORMATI NABI DI SAAT SRAKAL

HAKIKAT MAULID NABI SAW DAN BERDIRI MENGHORMATI NABI DI SAAT SRAKAL

Inilah Hakikat Maulid Menurut Para Ulama

Setiap bulan Rabiul Awal, umat Muslim di berbagai dunia selalu mengadakan peringatan maulid Nabi Saw. Ulama sepakat bahwa Nabi Saw. dilahirkan pada hari Senin bulan Rabiul Awal. Karena itu, mereka selalu memperingatinya setiap tahun pada bulan Rabiul Awal. Lantas apa hakikat maulid menurut mereka?

Setidaknya, ada tiga hakikat peringatan maulid menurut para ulama. Ini penting untuk diketahui bersama agar semua tahu maksud dan tujuan para ulama dan kaum Muslim mengadakan peringatan maulid Nabi Saw.

Pertama, untuk mengungkapkan rasa cinta kepada Nabi Saw. Para ulama dan kaum Muslim mengadakan maulid karena didorong kecintaan dan kerinduan kepada Nabi Saw. Ini salah satu cara yang mereka tempuh untuk mengungkapkan rasa cinta mereka kepada Nabi Saw. Dalam kitab I’anatut Thalibin disebutkan bahwa Imam Assirri Assaqathi mengatakan;

من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي (صلى الله عليه وسلم) فقد قصد روضة من رياض الجنة لانه ما قصد ذلك الموضع إلا لمحبة الرسول. وقد قال عليه السلام: من أحبني كان معي في الجنة

“Barangsiapa yang menghadiri tempat pembacaan maulid Nabi Saw, maka sungguh dia menghadiri salah taman dari taman-taman surga. Hal ini karena sesungguhnya tiada dia menghadiri tempat itu melainkan karena cintanya kepada Rasul. Dan Nabi Saw pernah bersabda, ‘Barangsiapa mencintaiku, maka dia akan bersamaku di dalam surga.’”

Kedua, untuk mengagungkan kemuliaan dan kedudukan Nabi Saw. Salah satu bentuk para ulama dan kaum Muslim mengagungkan kemuliaan dan kedudukan Nabi Saw. adalah dengan memperingati kelahirannya. Disebutkan dalam kitab I’anatut Thalibin bahwa Imam Junaid Albaghdadi pernah berkata;

من حضر مولد الرسول وعظم قدره فقد فاز بالايمان

“Barangsiapa menghadiri maulid Rasulullah Saw. dan mengagungkan kemuliaan dan kedudukannya, maka dia telah beruntung dengan keimanannya.”

Ketiga, untuk bersyukur dan menampakkan suka cita atas kelahiran Nabi Saw. Nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada kaum Muslim adalah kelahiran Nabi Saw. Karena itu, nikmat ini patut untuk disyukuri dan sambut dengan suka cita dengan memperingati kelahirannya. Dalam kitab Almadkhol, Imam Ibnul Hajj Al Maliki berkata;

فكان يجب أن نزداد يوم الاثنين الثاني عشر من ربيع الأول من العبادات والخير شكرا للمولى على ما أولانا من هذه النعم العظيمة وأعظمها ميلاد المصطفى صلى الله عليه وسلم. ومن تعظيمه صلى الله عليه وآله وسلم الفرح بليلة ولادته وقراءة المولد

“Menjadi sebuah kewajiban bagi kita untuk menambah ibadah dan kebaikan setiap hari Senin bulan Rabiul Awal karena sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas anugerah nikmat-nikmat besar ini kepada kita. Dan nikmay paling besar adalah kelahiran Nabi Saw. Dan salah satu cara mengagungkan Nabi Saw. adalah berbahagia di malam kelahirannya dan membaca maulid.”

Benarkah Nabi Hadir Ketika Acara Maulid?

Sebagian umat Muslim meyakini kehadiran Nabi Saw. ketika diadakan acara untuk memperingati kelahirannya. Karena itu, mereka berdiri saat pembacaan maulid untuk menghormati kehadiran Nabi Saw.

Kehadiran Nabi Saw. di tempat acara maulid dan tempat pembacaan salawat sangat dimungkinkan. Hal ini karena meskipun jasad Nabi Saw. sudah wafat dan dikubur di Madinah, namun ruhnya tetap hidup dan mengunjungi tempat yang beliau kehendaki, terutama tempat di mana salawat dan salam dibaca.

Bahkan menurut Imam Assuyuthi, sebagaimana dikutip dalam kitab Alajwibah Alghaliyah, Nabi Saw. masih hidup, baik jasad dan ruhnya dan bisa menghadiri tempat yang beliau kehendaki. Imam Assuyuthi berkata;

قد تحصل من مجموع الاحاديث ان النبي صلى الله عليه وسلم حي بجسده وروحه وانه يتصرف حيث شاء في اقطار الارض والملكوت وهو بهيبته التي كان عليها قبل وفاته، وانه يغيب عن الابصار كما غيبت الملائكة، فاذا اراد الله رفع الحجاب عمن اراد كرامته برؤيته رآه على هيئته

“Bisa diambil kesimpulan dari berbagai kumpulan hadis bahwa Nabi Saw. masih hidup secara jasad dan ruhnya. Beliau bisa menghadiri tempat yang dikehendaki di seluruh penjuru bumi dan langit. Beliau tetap memilik haibah atau kewibawaan seperti sebelum beliau wafat. Beliau tidak terlihat oleh mata sama seperti para malaikat.  Jika Allah berkehendak membuka tabir dari hamba yang dikehendaki-Nya, maka dia bisa melihat langsung Nabi Saw. dengan rupa dan bentuk sebagaimana adanya.”

Dalam kitab Anni’matul Kubra, Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dengan tegas mengatakan bahwa kehadiran Nabi Saw. di tempat acara maulid bukan perkara yang mustahil. Karena setiap salawat dan salam dibaca, maka Nabi Saw. selalu hadir, sebagaiman hadirnya ruh para nabi dan rasul ketika berkumpul bersama Nabi Saw. di Baitul Maquddas saat beliau melakukan Isra’ dan Mi’raj.  Imam Ibnu Hajar berkata;

فلا يبعد أن تحضر روحه المقدسة عليه الصلاة والسلام في كل مجلس يذكر فيه وإن كان في مواضع كثيرة وبلدان متباعدة وهو أمر مسلم عند أهل الذوق الصحيح الكرام

“Bukanlah sesuatu yang mustahil, ruh Nabi Saw. yang suci hadir di setiap tempat yang disebut namanya walaupun di tempat yang jauh dan berbeda-beda. Ini adalah sesuatu yang diterima oleh ahli dzauq yang benar dan yang mulia.”

Hukum Berdiri saat Membaca Maulid Al Barzanji

Di antara kitab yang selalu dibaca saat memperingati Maulid Nabi saw. adalah kitab yang dikenal dengan Maulid Al Barzanji. Kitab ini berupa syair dan prosa yang berisi riwayat, salawat, dan puji-pujian kepada Baginda Nabi saw. Kitab ini sangat populer di kalangan umat Muslim. Pada momentum puncak pembacaan maulid, yakni pada pembacaan syair “Asyraqal”, para peserta maulid dianjurkan untuk berdiri. Bagaimana hukum berdiri saat membaca Maulid Al Barzanji?

Berdiri saat membaca Maulid Al Barzanji termasuk perbuatan yang sangat dinilai baik oleh para ulama. Berdiri setiap membaca Maulid Al Barzanji merupakan tradisi para ulama dan kaum Muslim sejak dahulu hingga sekarang. Untuk menghormati dan mengagungkan Nabi saw. yang sedang diperingati, maka mereka terdorong untuk berdiri sebagai bentuk takzim dan penghormatan.

Dalam kitab I’anatut Thalibin, Syaikh Abu Bakr Syatha mengatakan dengan jelas bahwa berdiri saat memperingati Maulid Nabi saw. termasuk mustahsan atau perbuatan yang sangat baik. Beliau berkata;

جرت العادة أن الناس إذا سمعوا ذكر وضعه صلى الله عليه وسلم يقومون تعظيما له صلى الله عليه وسلم وهذا القيام مستحسن لما فيه من تعظيم النبي صلى الله عليه وسلم ، وقد فعل ذلك كثير من علماء الامة الذين يقتدى بهم

“Sudah menjadi tradisi bahwa ketika mendengar kelahiran Nabi Muhammad saw. disebut-sebut, orang-orang akan berdiri sebagai bentuk penghormatan bagi Nabi saw. Berdiri seperti itu merupakan perbuatan yang sangat baik (mustahsan) sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi saw. Banyak ulama panutan umat yang sudah melakukan hal itu (berdiri).”

Selain itu, dalam Islam terdapat anjuran untuk berdiri dalam rangka menghormati orang yang dihormati. Misalnya, berdiri untuk menghormati seorang ulama. Jika berdiri untuk menghormati seorang ulama dianjurkan, maka tentu berdiri untuk menghormati Nabi saw lebih sangat dianjurkan lagi. Disebutkan dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Sa’id Alkhudri, dia berkata;

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْأَنْصَارِ: قُوْمُوْا إلَى سَيِّدِكُمْ أوْ خَيْرِكُمْ

“Rasulullah saw. berkata kepada para sahabat Anshar, ‘Berdirilah kalian untuk tuan kalian atau orang yang paling baik di antara kalian.’”

Dalam kitab Al-Bayan wat Ta’rif fi Dzikri Maulidin Nabawi, Sayyid Muhammad bin Alawi AlMaliki menyatakan bahwa Imam Al Barzanji di dalam kitab maulidnya yang berbentuk prosa mengatakan, ‘Sebagian para imam hadis yang mulia itu menganggap baik (istihsan) berdiri ketika disebutkan sejarah Nabi saw. Betapa beruntung orang-orang yang mengagungkan Nabi saw dan menjadikan hal itu sebagai puncak tujuan hidupnya.’

Leave your comment here: