KONSEP IBNUL QOYYIM AL JAUZIYYAH DALAM MENATA HATI

KONSEP IBNUL QOYYIM AL JAUZIYYAH DALAM MENATA HATI

Menurut Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan min Mashayidis Syaitan, hati manusia terbagi menjadi tiga:

  1. Qalbun Salim (Hati yang selamat), dikatakan selamat karena ia bersih dari berbagai syahwat yang berseberangan dengan perintah dan larangan Allah swt, bersih dari berbagai syubhat yang menyelisihi berita-Nya dan bersih dari menghambakan diri kepada selain-Nya. Jadi, ia adalah hati yang selamat dari perbuatan syirik, hanya mengikhlaskan penghambaan kepada Allah swt semata, baik dalam kehendak, cinta, tawakal, inabah (Taubat), merendahkan diri, khasyyah (takut), dan raja’ (pengharapan).
  2. Qalbun Mayyit (hati yang mati), ia adalah hati yang kosong dari kehidupan dan tidak mengetahui Rabb-nya. Ia selalu menuruti keinginan nafsu dan kesenangan diri, menghambakan diri kepada selain-Nya dalam cinta, takut, rida, dan benci. Hawa nafsu membuatnya tuli dan buta. Hatinya telah ditutup rapat oleh Allah, kelak di akhirat, ia akan disiksa dengan seburuk-buruknya siksaan.
  3. Qalbun Maridh (hati yang sakit). Ia hidup tetapi sakit. Terdapat dua unsur yang saling tarik menarik di dalamnya. Ketika ia berhasil memenangkan pertarungan itu, maka dalam hatinya sedang ada rasa cinta kepada Allah swt, keimanan, keikhlasan, ketakwaan dan tawakkal kepada-Nya. Di dalam hati yang sakit juga ada kecintaan pada nafsu, cinta pada jabatan, membuat kerusakan di bumi, dengki, takabbur, bangga diri dsb. Allah swt menjelaskan ketiga jenis hati itu dalam firman-Nya:

 وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (52) لِّيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِّلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ(53) وَلِيَعْلَمَ  الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

**dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasulpun dan tidak (pula) seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. **agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat. **dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran Itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan Sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.

Dalam ayat ini Allah swt menginformasikan bahwa dua diantaranya terkena fitnah dan hanya satu yang selamat. Dua hati tersebut adalah hati yang berpenyakit dan hati yang keras (mati). Sedangkan yang selamat adalah hati orang mukmin yang tunduk dan patuh pada Rabb-Nya. Berkenaan dengan ini, Ibn Qudamah mengatakan bahwa Abu Bakar menjadi orang paling utama setelah Nabi saw bukan karena shalat dan ibadah lainnya, tetapi karena sesuatu dalam hatinya yakni kebersihan hati.

Berikut ini amalan dan tips yang bisa kita lakukan untuk membentuk Qalbun Salim menurut Ibnul Qayyim:

    Senantiasa berdoa kepada Allah swt agar diberikan hati yang bersih dan suci; diantara do’a yang diajarkan Rasulullah saw adalah:

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

“Ya Allah berilah sifat takwa kepada jiwaku dan bersihkanlah ia, Engkaulah sebaik-baiknya jiwa yang menyucikan, Engkaulah pelindung dan penguasanya”.

    Belajarlah pada Ulama sebab pemahaman ulama terhadap al-Quran dan Hadis lebih baik dari pada pemahaman orang awam, sebagaimana Firman Allah swt; “… bertanyalah pada ulama (ahl al-dzikr) jika kamu tidak mengetahui” (An-Nahl:43)

    Berkumpul dan bergaul dengan komunitas yang mengantarkan pada kebaikan, karena kebaikan akan menular. Malik Ibn Dinar rahimahullah berkata;

صاحب خيار الناس تنجو مسلما وصاحب شرار الناس يوما فتندما

“Bergaulah dengan orang-orang baik, niscaya engkau akan menjadi seorang yang selamat, (namun) cobalah sehari saja engkau bergaul dengan orang-orang yang buruk (hatinya), maka niscaya engkau akan menyesal selamanya”

    Perbanyak mengkaji dan memperdalam tazkiyatun nafs dengan melakukan dua hal. Pertama, mensucikan jiwa kita dari sifat-sifat yang buruk (takhalliy) dan kedua, menghiasinya dengan sifat-sifat yang baik dan terpuji (tahalliy).

    Menyibukkan diri dalam ketaatan dan tidak melakukan hal yang sia-sia dan kurang bermanfaat. sebagaimana disabdakan dalam hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan al-Tirmidzi:

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

“Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang yaitu meninggalkan hal yang tidak bermanfaat padanya”.

Leave your comment here: