ADAB ATAU AKHLAK TIDURNYA UMAT ISLAM

ADAB ATAU AKHLAK TIDURNYA UMAT ISLAM

Lima Adab Sebelum Tidur

Pada dasarnya, tidur merupakan aktivitas harian yang bersifat fitrah dan alami yang dialami oleh setiap makhluk, tak terkecuali manusia. Seluruh manusia pasti akan melewati keadaan terjaga dan tidur sepanjang harinya. Tidur merupakan kebutuhan pokok seperti halnya makan dan minum bagi setiap manusia.

Dalam kitab Bidayah al-Hidayah, Abu Hamid al-Ghazali membuat bab khusus tentang tata cara tidur, yang disebut dengan adab al-Naum. Setidaknya, ada lima hal yang perlu dilakukan dan dipersiapkan sebelum tidur sebagimana telah dicontohkan dan diperintahkan Nabi Saw.

Pertama; menutup pintu dan mematikan api dan lampu. Hal ini sebagaimana anjuran Nabi Saw dalam hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dari Jabir bin Abdillah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

أَطْفِئُوا اْلمَصَابِيْحَ بِاللَّيْلِ إِذِا رَقَدْتُمْ، وَأَغْلِقُواْ اْلأَبْوَابَ

“Matikanlah lampu-lampu di waktu malam jika kalian hendak tidur, tutuplah pintu-pintu”.

Kedua; bersuci dengan melakukan wudhu sebelum tidur. Terdapat beberapa riwayat hadis Nabi Saw yang menganjurkan wudhu sebelum tidur, di antaranya adalah hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim dari al-Barra’ bin ‘Azib, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ

“Apabila engkau hendak tidur, berwudhulah sebagaimana wudhu ketika hendak shalat.”

Wudhu dianjurkan bagi siapa pun yang ingin hendak tidur, siang maupun malam. Hal ini sebagaimana dikatakan al-Imam al-Nawawi, agar terhindar dari gangguan setan selama dalam kondisi tidur. Bahkan anjuran wudhu sebelum tidur ini berlaku pula bagi orang junub, meskipun dia tetap tidak boleh shalat dan membaca alquran dengan wudhu ini. Dalam sebuah hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar, dia bercerita bahwa bapaknya Sayyidina Umar bertanya kepada Nabi Saw;

أَيَرْقُدُ أَحَدُنَا وَهْوَ جُنُبٌ قَالَ « نَعَمْ إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْقُدْ وَهُوَ جُنُبٌ

“Apakah salah seorang di antara kami boleh tidur sedangkan ia dalam keadaan junub? Nabi Saw menjawab, “Iya, jika salah seorang di antara kalian junub, hendaklah ia berwudhu lalu tidur.”

Ketiga; mengibas tempat tidur dengan sarung atau benda lainnya. Hal ini berdasarkan hadis riwayat al-Imam Muslim dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْينَفْض فِرَاشَهُ بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ، فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِيْ مَا خَلْفَهُ عَلَيْهِ

“Apabila salah seorang dari kalian hendak barbaring di tempat tidurnya hendaklah ia kibas-kibas tempat tidurnya itu dengan sarungnya. Karena dia tidak tahu apa yang terjadi pada tempat tidurnya setelah ia tinggalkan sebelumnya.”

Tujuan mengibas tempat tidur adalah membersihkan barangkali ada kuman, kotoran atau lainnya yang bersarang di tempat tidur. Karena itu, dianjurkan mengibas tempat tidur tiga kali sambil membaca basmalah, untuk memastikan kuman atau kotoran tersebut hilang.

Keempat; melakukan shalat witir sebelum tidur. Al-Imam Ahmad meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah, dia bercerita;

أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَبِالْوِتْرِ قَبْلَ النَّوْمِ وَبِصَلَاةِ الضُّحَى فَإِنَّهَا صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ

“Kekasihku, Nabi Saw, mewasiatkan kepadaku untuk berpuasa tiga hari dari setiap bulan, shalat witir sebelum tidur, dan dari shalat Dhuha, maka sungguh itu adalah shalatnya awwabin (shalatnya orang-orang yang banyak taat kepada Allah).”

Anjuran shalat witir sebelum tidur ini terutama sangat ditekankan kepada orang yang tidak yakin akan bangun di akhir malam supaya lebih memberi jaminan tidak meninggalkan shalat witir akibat ketiduran.

Kelima; menulis wasiat sebelum tidur jika ada hal penting yang perlu diwasiatkan. Menurut al-Imam al-Ghazali dalam kitab Bidayah al-Hidayah, hasil wasiat yang sudah ditulis hendaknya disimpan di bawah bantal atau kasur tempat tidur. Dalam hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim, Nabi Saw bersabda;

مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُرِيْدُ أَنْ يُوْصِيَ فِيْهِ يَبِيْتُ لَيْلَتَيْنِ إِلاَّ وَوَصِيِّتُهُ مَكْتُوْبَةٌ عِنْدَهُ

“Tidak pantas bagi seorang muslim yang memiliki sesuatu yang ingin ia wasiatkan untuk melewati dua malamnya melainkan wasiatnya itu tertulis di sisinya.

Tiga Adab Saat Tidur

Dalam kitab Bidayah al-Hidayah, al-Imam al-Ghazali berkata bahwa keadaan tidur serupa dengan keaadan mati. Hanya saja bagi orang yang tidur, Allah mengembalikan jiwa atau ruh ke dalam jasad pada saat sudah terbangun. Sementara bagi orang mati, Allah menggenggam dan menahan jiwa atau ruh tersebut dan tidak mengembalikan kembali pada jasad.

Karena itu, Nabi Saw mengajarkan kepada kita beberapa adab pada saat tidur yang perlu diperhatikan kita semua sebagai umatnya. Hal ini agar ketika kematian menjemput secara tiba-tiba pada saat tidur, kita berada dalam keadaan kesucian hati dengan mengingat Allah. Setidaknya ada tiga adab yang diajarkan Nabi Saw pada saat tidur.

Pertama; tidur dengan berbaring pada rusuk sebelah kanan. Dalam hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim, Nabi Saw berkata kepada al-Barra’ bin Azib;

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَأْ وُضُوءَكَ للصَلاةِ، ثُمَّ اضْطَّجِعْ على شِقِّكَ الأَيْمَنِ

“Jika engkau akan menuju pembaringanmu (tempat tidurmu), maka berwudhulah seperti engkau berwudhu untuk menunaikan shalat, kemudian berbaringlah dirusukmu sebelah kanan.”

Sedangkan tidur dengan posisi tengkurap sangat dilarang oleh Nabi Saw. Dalam hadis riwayat Abu Daud dari Abu Dzar, dia berkata;

مَرَّ بِىَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَأَنَا مُضْطَجِعٌ عَلَى بَطْنِى فَرَكَضَنِى بِرِجْلِهِ وَقَالَ : يَا جُنَيْدِبُ إِنَّمَا هَذِهِ ضِجْعَةُ أَهْلِ النَّارِ.

“Nabi Saw lewat di hadapanku dan ketika itu aku sedang tidur tengkurap. Beliau menggerak-gerakkanku dengan kakinya. Beliau pun bersabda, ‘Wahai Junaidib, tidur seperti itu seperti berbaringnya penduduk neraka.”

Kedua; meletakkan tangan di bawah pipi kanan. Dalam hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dari Hudzaifah, dia berkata;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ مِنْ اللَّيْلِ وَضَعَ يَدَهُ تَحْتَ خَدِّهِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا وَإِذَا اسْتَيْقَظَ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Apabila Nabi Saw hendak tidur di malam hari, beliau meletakkan tangannya di bawah pipi, kemudian beliau mengucapkan: Bismika amutu wa ahya (Dengan nama-Mu aku mati dan aku hidup). Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: Al Hamdulillahilladzii ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).”

Ketiga; membaca doa dari Nabi Saw. Di antara doa dari Nabi Saw sebagai berikut;

اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ

“Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan aku hidup. Ya Allah, aku tundukkan wajahku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, karena rasa takut dan penuh harap kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari hukuman-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus.”

Do’a Sebelum Tidur

Membaca doa sebelum tidur merupakan adab yang diajarkan oleh Rasulullah Saw kepada kita, umatnya. Agar kita menutup segala aktifitas sehari-hari dengan menyebut nama Allah. Sehingga jika kita tidak bangun lagi maka kita akan meninggal dalam keadaan khusnul khatimah, karena meninggal setelah menyebutkan nama Allah Saw. Berikut ini doa yang beliau ajarkan:

باسمِكَ اللَّهُمَ أَحْيا وأمُوتُ

Bismika allahumma ahyaa wa amuut(u)

Artinya; Dengan nama-Mu ya Allah, aku hidup dan aku mati

(Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari)

Tiga Adab Bangun Tidur

Mengetahui adab-adab bangun tidur termasuk perkara penting dalam Islam. Bahkan al-Imam al-Ghazali meletakkan faslun fi adabil istiqadz minan naum, pasal mengenai adab-adab bangun tidur, pada urutan kedua setelah penjelasan mengenai materi ketaatan kepada Allah. Hal ini, menurut al-Imam al-Ghazali, karena kita tidak bisa melaksanakan perintah Allah dengan baik dan sempurna kecuali kita mengatur waktu beribadah sejak dari bangun tidur sampai ke tempat tidur kembali.

Selajutnya al-Imam al-Ghazali menasehati agar ketika tidur malam hendaknya bangun sebelum terbitnya fajar. Namun secara umum, setidaknya ada tiga adab yang perlu dilakukan sesaat setelah bangun tidur, baik tidur malam maupun siang.

Pertama, membaca doa bangun tidur dan memperbanyak dzikir.

Dianjurkan ketika bangun tidur dan belum beranjak dari tempat tidur untuk membaca doa berikut ini.

اَلْحَمْدُ لِلهِ الذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْه النُشُوْرُ

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami. Dan kepada-Nya lah tempat kembali”

Kemudian dilanjutkan membaca zikir, bersegera wudhu dan melaksanakan shalat sehingga tidak terus tenggelam dalam rasa malas dan kantuk, khususnya setelah bangun tidur malam. Ketika bangun tidur kemudian dilanjutkan dengan zikir, wudhu dan shalat, maka akan membuat seseorang semangat dan baik raga dan jiwanya. Hal ini sebagaimana hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

يَعقِدُ الشَّيطانُ عَلى قافيَةِ رأسِ أَحدِكُم إذا هوَ نام ثَلاثَ عُقدٍ، يَضرِبُ كلَّ عُقدةٍ مَكانَها: عليكَ ليلٌ طويلٌ فارقُدْ، فإنِ استَيقظَ فذَكَر اللهَ انحلَّت عُقدةٌ، فإن تَوضَّأ انحلَّت عُقدةٌ، فإن صلَّى انحلَّت عُقدُه كلُّها، فأَصبحَ نَشيطًا طيِّبَ النَّفسِ، وإلَّا أَصبحَ خَبيثَ النَّفسِ كَسلانَ

“Setan mengikat tengkuk kepala seseorang di antara kalian ketika sedang tidur dengan tiga ikatan. Pada setiap ikatannya ia mengatakan: “malammu masih panjang, teruslah tidur”. Maka jika orang tersebut bangun, kemudian ia berzikir kepada Allah, terbukalah satu ikatan. Kemudian jika ia berwudhu terbukalah satu ikatan lagi. Kemudian jika ia shalat maka terbukalah seluruh ikatan. Sehingga ia pun bangun dalam keadaan bersemangat dan baik jiwanya. Namun jika tidak melakukan demikian, maka ia biasanya akan bangun dalam keadaan buruk jiwanya dan malas.”

Kedua, mencuci tangan dan wajah.

Ketika bangun tidur dianjurkan untuk mencuci wajah dan tangan sebelum memasukkan tangan tersebut ke dalam bejana atau melakukan aktifitas lainnya. Dalam hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Nabi Nabi Saw bersabda:

إذا استيقظ أحدُكم من نومِهِ، فلا يَغْمِسْ يدَه في الإناءِ حتى يغسلَها ثلاثًا . فإنه لا يَدْرِي أين باتت يدُه

“Jika salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka jangan mencelupkan tangannya ke dalam bejana sebelum ia mencucinya tiga kali. Karena ia tidak mengetahui di mana letak tangannya semalam.”

Ketiga, membersihkan mulut dan gigi dengan siwak atau sikat gigi.

Anjuran ini karena ketika tidur bau mulut biasanya berubah, disebabkan uap dari perut yang naik. Dan dalam keadaan ini, dengan bersiwak atau sikat gigi akan menghilangkan bau yang tidak sedap di mulut. Dalam hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim, Huzdaifah ibn al-Yaman bercerita;

كان النبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم إذا قام مِن الليلِ يَشُوصُ فاه بالسواكِ

“Biasanya Nabi Saw jika bangun di malam hari beliau menggosok-gosok mulutnya dengan siwak.”

 

Do’a Bangun Tidur

Berdoa ketika telah bangun tidur merupakan adab yang dicontohkan Rasul Saw., sekaligus sebagai tanda syukur kepada Allah SWT. karena masih diberikan umur panjang untuk memperbanyak ibadah dan berbuat baik. Berikut doa tersebut:

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذي أحْيانا بَعْدَما أماتَنا وإلَيْهِ النشُورُ

Alhamdu lillahil ladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur(u)

Segala puji Allah yang telah menghidupkan kami sesudah kami mati (membangunkan dari tidur) dan hanya kepada-Nya kami kembali. (Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari)

Leave your comment here: