MUTIARA HIKMAH DARI IMAM SYAFI’I RA DAN SYAIKH ABDUL QODIR AL JAILANY RA

MUTIARA HIKMAH DARI IMAM SYAFI’I RA DAN SYAIKH ABDUL QODIR AL JAILANY RA

MUTIARA HIKMAH SYEIKH ABDUL QADIR AL JAILANY

Ia bertutur:

Tiga hal mutlak bagi seorang Mukmin, dalam segala keadaan, yaitu:

(1) harus menjaga perintah-perintah Allah,

(2) harus menghindar dari segala yang haram,

(3) harus ridha dengan takdir Yang Maha Kuasa. Jadi seorang Mukmin, paling tidak, memiliki tiga hal ini. Berarti, ia harus memutuskan untuk ini, dan berbicara dengan diri sendiri tentang hal ini serta mengikat organ-organ tubuhnya dengan ini.

Ia bertutur :

Ikutilah (Sunnah Rasul) dengan penuh keimanan, jangan membuat bid’ah, patuhilah

selalu kepada Allah dan Rasul-Nya, jangan melanggar; junjung tinggilah tauhid

dan jangan menyekutukan Dia; sucikanlah Dia senantiasa dan jangan menisbatkan

sesuatu keburukan pun kepada-Nya. Pertahankan Kebenaran-Nya dan jangan ragu

sedikit pun. Bersabarlah selalu dan jangan menunjukkan ketidaksabaran.

Beristiqomahlah; berharaplah kepada-Nya, jangan kesal, tetapi bersabarlah.

Bekerjasamalah dalam ketaatan dan jangan berpecah-belah. Saling mencintailah

dan jangan saling mendendam. Jauhilah kejahatan dan jangan ternoda olehnya.

Percantiklah dirimu dengan ketaatan kepada Tuhanmu; jangan menjauh dari pintu-pintu

Tuhanmu; jangan berpaling dari-Nya. Segeralah bertaubat dan kembali kepada-Nya.

Jangan merasa jemu dalam memohon ampunan kepada Khaliqmu, baik siang maupun

malam; (jika kamu berlaku begini) niscaya rahmat dinampakkan kepadamu, maka

kamu bahagia, terjauhkan dari api neraka dan hidup bahagia di surga, bertemu

Allah, menikmati rahmat-Nya, bersama-sama bidadari di surga dan tinggal di

dalamnya untuk selamanya; mengendarai kuda-kuda putih, bersuka ria dengan

hurhur bermata putih dan aneka aroma, dan melodi-melodi hamba-hamba sahaya

wanita, dengan karunia-karunia lainnya; termuliakan bersama para nabi, para

shiddiq, para syahid, dan para shaleh di surga yang tinggi.

Ia bertutur:

Apabila seorang hamba Allah mengalami kesulitan hidup, maka pertama-tama ia

mencoba mengatasinya dengan upayanya sendiri. Bila gagal ia mencari pertolongan

kepada sesamanya, khususnya kepada raja, penguasa, hartawan; atau bila dia

sakit, kepada dokter. Bila hal ini pun gagal, maka ia berpaling kepada

Khaliqnya, Tuhan Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan berdo’a kepada-Nya dengan

kerendah-hatian dan pujian. Bila ia mampu mengatasinya sendiri, maka ia takkan

berpaling kepada sesamanya, demikian pula bila ia berhasil karena sesamanya,

maka ia takkan berpaling kepada sang Khaliq.

Kemudian bila tak juga memperoleh pertolongan dari Allah, maka dipasrahkannya

dirinya kepada Allah, dan terus demikian, mengemis, berdo’a merendah diri,

memuji, memohon dengan harap-harap cemas. Namun, Allah Yang Maha Besar dan Maha

Kuasa membiarkan ia letih dalam berdo’a dan tak mengabulkannya, hingga ia

sedemikian terkecewakan terhadap segala sarana duniawi. Maka kehendak-Nya

mewujud melaluinya, dan hamba Allah ini berlalu dari segala sarana duniawi,

segala aktivitas dan upaya duniawi, dan bertumpu pada ruhaninya.

Pada peringkat ini, tiada terlihat olehnya, selain kehendak Allah Yang Maha

Besar lagi Maha Kuasa, dan sampailah dia tentang Keesaan Allah, pada peringkat

haqqul yaqin (* tingkat keyakinan tertinggi yang diperoleh setelah menyaksikan

dengan mata kepala dan mata hati). Bahwa pada hakikatnya, tiada yang melakukan

segala sesuatu kecuali Allah; tak ada penggerak tak pula penghenti, selain Dia;

tak ada kebaikan, kejahatan, tak pula kerugian dan keuntungan, tiada faedah,

tiada memberi tiada pula menahan, tiada awal, tiada akhir, tak ada kehidupan

dan kematian, tiada kemuliaandan kehinaan, tak ada kelimpahan dan kemiskinan,

kecuali karena ALLAH.

Maka di hadapan Allah, ia bagai bayi di tangan perawat, bagai mayat dimandikan,

dan bagai bola di tongkat pemain polo, berputar dan bergulir dari keadaan ke

keadaan, dan ia merasa tak berdaya. Dengan demikian, ia lepas dari dirinya

sendiri, dan melebur dalam kehendak Allah. Maka tak dilihatnya kecuali Tuhannya

dan kehendak-Nya, tak didengar dan tak dipahaminya, kecuali Ia. Jika melihat

sesuatu, maka sesuatu itu adalah kehendak-Nya; bila ia mendengar atau

mengetahui sesuatu, maka ia mendengar firman-Nya, dan mengetahui lewat

ilmu-Nya. Maka terkaruniailah dia dengan karunia-Nya, dan beruntung lewat

kedekatan dengan-Nya, dan melalui kedekatan ini, ia menjadi mulia, ridha,

bahagia, dan puas dengan janji-Nya, dan bertumpu pada firman-Nya. Ia merasa

enggan dan menolak segala selain Allah, ia rindu dan senantiasa mengingat-Nya;

makin mantaplah keyakinannya pada-Nya, Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa. Ia

bertumpu pada-Nya, memperoleh petunjuk dari-Nya, berbusana nur ilmu-Nya, dan

termuliakan oleh ilmu-Nya. Yang didengar dan diingatnya adalah dari-Nya. Maka

segala syukur, puji, dan sembah tertuju kepada-Nya.

Ia bertutur:

Bila kamu abaikan ciptaan, maka:

“Semoga Allah merahmatimu,” Allah melepaskanmu dari kedirian,

“Semoga Allah merahmatimu,” Ia mematikan kehendakmu; “Semoga

Allah merahmatimu,” maka Allah mendapatkanmu dalam kehidupan (baru).

Kini kau terkaruniai kehidupan

abadi; diperkaya dengan kekayaan abadi; dikaruniai kemudahan dan kebahagiaan

nan abadi, dirahmati,dilimpahi ilmu yang tak kenal kejahilan; dilindungi dari

ketakutan; dimuliakan, hingga tak terhina lagi; senantiasa terdekatkan kepada

Allah, senantiasa termuliakan; senantiasa tersucikan; maka menjadilah kau

pemenuh segala harapan, dan ibaan pinta orang mewujud pada dirimu; hingga kau

sedemikian termuliakan, unik, dan tiada tara; tersembunyi dan terahasiakan.

Maka, kau menjadi pengganti para

Rasul, para Nabi dan para shiddiq. Kaulah puncak wilayat, dan para wali yang

masih hidup akan mengerumunimu. Segala kesulitan terpecahkan melaluimu, dan

sawah ladang terpaneni melalui do’amu; dan sirnalah melalui do’amu, segala

petaka yang menimpa orang-orang di desa terpencil pun, para penguasa dan yang

dikuasai, para pemimpin dan para pengikut, dan semua ciptaan. Dengan demikian

kau menjadi agen polisi (kalau boleh disebut begitu) bagi kota-kota dan

masyarakat.

Orang-orang bergegas-gegas

mendatangimu, membawa bingkisan dan hadiah, dan mengabdi kepadamu, dalam segala

kehidupan, dengan izin sang Pencipta segalanya. Lidah mereka senantiasa sibuk

dengan doa dan syukur bagimu, di manapun mereka berada. Tiada dua orang Mukmin

berselisih tentangmu. Duhai, yang terbaik di antara penghuni bumi, inilah rahmat Allah, dan Allahlah Pemilik

segala rahmat.

Ia bertutur:

Lenyaplah dari (pandangan) manusia, dengan perintah Allah, dan dari kedirian,

dengan perintah-Nya, hingga kau menjadi bahtera ilmu-Nya. Lenyapnya diri dari

manusia, ditandai oleh pemutusan diri sepenuhnya dari mereka, dan pembebasan

jiwa dari segala harapan mereka. Tanda lenyapnya diri dari segala nafsu ialah,

membuang segala upaya memperoleh sarana-sarana duniawi dan berhubungan dengan

mereka demi sesuatu manfaat, menghindarkan kemudharatan; dan tak bergerak demi

kepentingan pribadi, dan tak bergantung pada diri sendiri dalam hal-hal yang

berkenaan dengan dirimu, tak melindungi atau membantu diri, tetapi memasrahkan

semuanya hanya kepada Allah, karena Ia pemilik segalanya sejak awal hingga

akhirnya; sebagaimana kuasaNya, ketika kau masih disusui.

Hilangnya kemauanmu dengan kehendakNya, ditandai dengan katak-pernahan

menentukan diri, ketakbertujuan, ketakbutuhan, karena tak satu tujuan pun

termiliki, kecuali satu, yaitu Allah. Maka, kehendak Allah mewujud dalam

dirimu, sehingga kala kehendakNya beraksi, maka pasiflah organ-organ tubuh,

hati pun tenang, pikiran pun cerah, berserilah wajah dan ruhanimu, dan kau

atasi kebutuhan-kebutuhan bendawi berkat berhubungan dengan Pencipta segalanya.

Tangan Kekuasaan senantiasa menggerakkanmu, lidah Keabadian selalu menyeru

namamu, Tuhan Semesta alam mengajarmu, dan membusanaimu dengan nurNya dan

busana ruhani, dan mendapatkanmu sejajar dengan para ahli hikmah yang telah

mendahuluimu.

Sesudah ini, kau selalu berhasil menaklukkan diri, hingga tiada lagi pada

dirimu kedirian, bagai sebuah bejana yang hancur lebur, yang bersih dari air,

atau larutan. Dan kau terjauhkan dari segala gerak manusiawi, hingga ruhanimu

menolak segala sesuatu, kecuali kehendak Allah. Pada maqam ini, keajaiban dan

adialami akan ternisbahkan kepadamu. Hal-hal ini tampak seolah-olah darimu,

padahal sebenarnya dari Allah.

Maka kau diakui sebagai orang yang hatinya telah tertundukkan, dan kediriannya

telah musnah, maka kau diilhami oleh kehendak Ilahi dan dambaan-dambaan baru

dalam kemaujudan sehari-hari. Mengenai maqam ini, Nabi Suci saw, telah

bersabda: “Tiga hal yang kusenangi dari dunia – wewangian, wanita dan

shalat – yang pada mereka tersejukkan mataku.” Sungguh, hal-hal dinisbahkan

kepadanya, setelah hal-hal itu sirna darinya, sebagaimana telah kami

isyaratkan. Allah berfirman: “Aku bersama orang-orang yang patah hati demi

Aku.”

Allah Yang Maha Tinggi takkan besertamu, sampai kedirianmu sirna. Dan bila

kedirianmu telah sirna, dan kau abaikan segala sesuatu, kecuali Dia, maka Allah

menyegarbugarkan kamu, dan memberimu kekuatan baru, yang dengan itu, kau

berkehendak. Bila di dalam dirimu masih juga terdapat noda terkecil pun, maka

Allah meremukkanmu lagi, hingga kau senantiasa patah-hati. Dengan cara begini

Ia terus menciptakan kemauan baru di dalam dirimu, dan bila kedirian masih

maujud, maka Dia hancurkan lagi, sampai akhir hayat dan bertemu (liqa) dengan

Tuhan. Inilah makna firman Allah: ” Aku bersama orang-orang yang putus asa

demi Aku, ” Dan makna kata: “Kedirian masih maujud” ialah

kemasihkukuhan dan kemasih puasan dengan keinginan-keinginan barumu. Dalam

sebuah hadits qudsi, Allah berfirman kepada Nabi Suci saw: “Hamba-Ku yang

beriman senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku, dengan mengerjakan shalat-shalat

sunnah yang diutamakan, sehingga Aku mencintainya, dan apabila Aku telah

mencintainya, maka Aku menjadi telinganya, dengannya ia mendengar, dan menjadi

matanya, dengannya ia melihat, dan menjadi tangannya, dengannya ia bekerja, dan

menjadi kakinya, dengannya ia berjalan.” Tak dir agukan lagi, beginilah

keadaan fana.

Maka Dia menyelamatkanmu dari kejahatan makhluq-Nya, dan menenggelamkanmu ke

dalam samudra kebaikanNya; sehingga kau menjadi pusat kebaikan, sumber rahmat,

kebahagiaan, kenikmatan, kecerahan, kedamaian, dan kesentosaan. Maka fana

(penafian diri) menjadi tujuan akhir, dan sekaigus dasar perjalanan para wali. Para wali terdahulu, dari berbagai maqam, senantiasa

beralih, hingga akhir hayat mereka, dari kehendak pribadi kepada kehendak

Allah. Karena itulah mereka disebut badal (sebuah kata yang diturunkan dari

badala, yang berarti: berubah). Bagi pribadi-pribadi ini, menggabungkan

kehendak pribadi dengan kehendak Allah, adalah suatu dosa.

Bila mereka lalai, terbawa oleh tipuan perasaan dan ketakutan, maka Allah Yang

Maha Besar menolong mereka dengan kasih sayangNya, dengan mengingatkan mereka

sehingga mereka sadar dan berlindung kepada Tuhan, karena tak satu pun mutlak

bersih dari dosa kehendak, kecuali para malaikat. Para

malaikat senantiasa suci dalam kehendak, para Nabi senantiasa terbebas dari

kedirian, sedang para jin dan manusia yang dibebani pertanggung jawaban moral,

tak terlindungi. Tentu, para wali terlindung dari kedirian, dan para badal dari

kekotoran kehendak. Kendati mereka tak bisa dianggap terbebas dari dua

keburukan ini, karena mungkin bagi mereka berkecenderung kepada dua kelemahan

ini, tapi Allah melimpahi rahmatNya dan menyadarkan mereka.

Ia bertutur:

Keluarlah dari kedirian, jauhilah dia, dan pasarahkanlah segala sesuatu kepada

Allah, jadilah penjaga pintu hatimu, patuhilah senantiasa

perintah-perintah-Nya, hormatilah larangan-larangan-Nya, dengan menjauhkan

segala yang diharamkan-Nya. Jangan biarkan kedirianmu masuk ke dalam hatimu,

setelah keterbuanganmu. Mengusir kedirian dari hati, haruslah disertai

pertahanan terhadapnya, dan menolak pematuhan kepadanya dalam segala keadaan.

Mengizinkan ia masuk ke dalam hati, berarti rela mengabdi kepadanya, dan

berintim dengannya. Maka, jangan menghendaki segala yang bukan kehendak Allah.

Segala kehendak yang bukan kehendak Allah, adalah kedirian, yang adalah rimba

kejahilan, dan hal itu membinasakanmu, dan penyebab keterasingan dari-Nya.

Karena itu, jagalah perintah Allah, jauhilah larangan-Nya, berpasrahlah selalu

kepada-Nya dalam segala yang telah ditetapkan-Nya, dan jangan sekutukan Dia

dengan sesuatu pun. Jangan berkehendak diri, agar tak tergolong orang-orang

musyrik. Allah berfirman: “Barang siapa mengharap penjumpaan (liqa)

dengan Tuhannya, maka hendaklah mengerjakan amal saleh dan tidak

menyekutukanNya.” (QS 18.Al Kahfi: 110)

Kesyirikan tak hanya penyembahan berhala. Pemanjaan nafsu jasmani, dan

menyamakan segala yang ada di dunia dan akhirat dengan Allah, juga syirik.

Sebab selain Allah adalah bukan Tuhan. Bila kau tenggelamkan dalam sesuatu

selain Allah berarti kau menyekutukan-Nya. Oleh sebab itu, waspadalah, jangan

terlena. Maka dengan menyendiri, akan diperoleh keamanan. Jangan menganggap dan

mengklaim segala kemaujudan atau maqam-mu, berkat kau sendiri. Maka, bila kau

berkedudukan, atau dalam keadaan tertentu, jangan membicarakan hal itu kepada

orang lain. Sebab dalam perubahan nasib yang terjadi dari hari ke hari,

keagungan Allah mewujud, dan Allah mengantarai hamba-hambaNya dan hati-hati

mereka. Bisa-bisa yang kau percakapkan, sirna darimu, dan yang kau anggap

abadi, berubah, hingga kau termalukan di hadapan yang kau ajak bicara.

Simpanlah pengetahuan ini dalam lubuk hatimu, dan jangan perbincangkakn dengan

orang lain. Maka jika hal itu terus maujud, maka hal itu akan membawa kemajuan

dalam pengetahuan, nur, kesadaran dan pandangan. Allah berfirman: “Segala

yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan terlupakan, Kami datangkan yang lebih

baik daripadanya, atau yang sepertinya. Tidakkah kamu ketahui bahwa Allah Maha

Kuasa atas segala sesuatu.” (QS 2.Al Baqarah: 106)

Jangan menganggap Allah tak berdaya dalam sesuatu hal, jangan menganggap

ketetan-Nya tak sempurna, dan jangan sedikit pun ragu akan janji-Nya. Dalam hal

ini ada sebuah contoh luhur dalam Nabi Allah. Ayat-ayat dan surah-surah yang

diturunkan kepadanya, dan yang dipraktekkan, dikumandangkan di masjid-masjid,

dan termaktub di dalam kitab-kitab. Mengenai hikmah dan keadaan ruhani yang

dimilikinya, ia sering mengatakan bahwa hatinya sering tertutup awan, dan ia

berlindung kepada Allah tujuh puluh kali sehari. Diriwayatkan pula, bahwa dalam

sehari ia dibawa dari satu hal ke hal lain sebanyak seratus kali, sampai ia

berada pada maqam tertinggi dalam kedekatan dengan Allah. Ia diperintahkan

untuk meminta perlindungan kepada Allah, karena sebaik-baik seorang hamba yaitu

berlindung dan berpaling kepada Allah. Karena, dengan begini, ada pengakuan

akan dosa dan kesalahannya, dan inilah dua macam mutu yang terdapat pada

seorang hamba, dalam segala keadaan kehidupan, dan yang dimilikinya sebagai

pusaka dari Adam as., ‘bapak’ manusia, dan pilihan Allah.

Berkatalah Adam a.s.: “Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami

sendiri, dan jika Engkau tak mengampuni kami, dan merahmati kami, niscaya kami

akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. 7.Al-A’raaf: 23). Maka

turunlah kepadanya cahaya petunjuk dan pengetahuan tentang taubat, akibat dan

tentang hikmah di balik peristiwa ini, yang takkan terungkap tanpa ini; lalu

Allah berpaling kepada mereka dengan penuh kasih sayang, sehingga mereka bisa

bertaubat.

Dan Allah mengembalikannya ke hal semua, dan beradalah ia pada peringkat

wilayat yang lebih tinggi, dan ia dikaruniai maqam di dunia dan akhirat. Maka

menjadilah dunia ini tempat kehidupannya dan keturunannya, sedang akhirat

sebagai tempat kembali dan tempat peristirahatan abadi mereka. Maka, ikutilah

Nabi Muhammad Saw., kekasih dan pilihan Allah, dan nenek moyangnya, Adam,

pilihan-Nya – keduanya adalah kekasih Allah – dalam hal mengakui kesalahan dan

berlindung kepada-Nya dari dosa-dosa, dan dalam hal bertawadhu’ dalam segala

keadaan kehidupan.

KALAM HIKMAH DARI IMAM ASY-SYAFI’I

Beit ini adalah kata-kata hikmah dari Imam syafi’i , ada yang mengatakan qoul nya sayyidina Ali karromallahu wajhahu.

ويقول فى الاسفار خمس فوائد:

تغرب عن الاوطان فى طلب العلى *** وسافر ففى الاسفارخمس فوائد

تفرج هم واكتساب معيشــــــــــــه *** وعلم واداب وصحبه ماجــــــد

Dalam kesempatan lainnya Imam Syafi’I juga menulis :

تغرب عن الأوطان تكتسب العلا وسافر ففي الأسفار خمس فوائد

تفريج هـمٍّ واكتسـاب معيشـة وعلـم وآداب وصحبـة مـاجد

فان قيل فـي الأسفار ذل وشدة وقطع الفيافي وارتكاب الشدائـد

فموت الفتى خير له من حيـاته بدار هوان بين واش وحـاسـد

“ Tinggalkan negaramu, niscaya engkau akan menjadi mulia, dan pergilah, karena bepergian itu mempunyai lima faedah .

Menghibur dari kesedihan, mendapatkan pekerjaan, ilmu dan adab, serta bertemu dengan orang-orang baik.

Jika dikatakan bahwa bepergian itu mengandung kehinaan,dan kekerasan, dan harus mlewati jalan panjang, serta penuh dengan tantangan,

Maka bagi pemuda kematian lebih baik daripada hidup di kampung dengan para pembohong dan pendengki. “

Para ulama-pun melakukan perjalanan jauh untuk menuntut ilmu, sebagaimana yang dilakukan oleh Jabir bin Abdullah yang menempuh perjalanan selama dua bulan dari Madinah menuju Mesir, hanya mencari satu hadits. Begitu juga yang dilakukan imam Syafi’I sendiri, yang berpindah dari tempat kelahirannya Palestina menuju Mekkah, kemudian dilanjutkan ke Iraq, kemudian ke Yaman, dan akhirnya ke Mesir hingga wafat beliau.

تَغَرَّبْ عَنِ الأَوْطَانِ فِيْ طَلَبِ العُلَى =وسافِرْ ففي الأَسْفَارِ خَمْسُ فَوَائِـدِ

تَفَرُّجُ هَـمٍّ، واكتِسَـابُ مَعِيْشَـةٍ =وَعِلْمٌ ، وآدابٌ، وصُحْبَـةُ مَاجِـدِ

فإن قيلَ في الأَسفـارِ ذُلٌّ ومِحْنَـةٌ =وَقَطْعُ الفيافي وارتكـاب الشَّدائِـدِ

فَمَوْتُ الفتـى خيْـرٌ له مِنْ قِيامِـهِ =بِدَارِ هَـوَانٍ بيـن واشٍ وَحَاسِـدِ

عالم السفر جميل جداً

يمنح السفر الإنسان لحظة يبتعد فيها عن مجريات العمل ومتاعب الحياة اليومية،

فالسفر له فوائد يجنيها الشخص ، يضاف إلى ذلك زيادة التعرف على الناس والإطلاع على حضارات الدول وثقافات الشعوب ، والأحرى أن يتوجه المرء عند وصوله إلى أي دولة إلى أقرب مكتبة يسأل عن أهم إصدارات كتاب تلك الدولة ، وسيتعرف من خلالها على تلك الدولة وشعبها .

ويحاول أن يطوف أرجاءها قاصداً مؤسساتها السياحية التي تحتوي بين جنبات تاريخها وحضارتها

إن المواقف التي تستمر في الذاكرة بعد السفر هي كيف استطاع أن يستغل وقته خلال الإجازة وأن يعطي نفسه قدراً من الحرية في ربوع تلك الدولة وتلك الأماكن ، ويسجل تلك اللحظات بعدسته للرجوع إليها ، حيث إن المناظر تعيده إلي تلك اللحظات التي تعمل علي إسعاده وإشعاره بالراحة .

ومن المعلوم أن السياحة في الأرض والتأمل في عجائب الدنيا عند السفر مما يزيد العبد المؤمن معرفة بالله جل وعلا، ويقيناً بأن لهذا الكون رباً ومدبراً يستحق العبادة وحده دون ما سواه، قال تعالى: { وفي الأرض آيات للموقنين } ( الذاريات:20)،

ويعتبر السفر من جملة حاجات الإنسان التي جاءت الشريعة بتنظيمها، فينبغي لمن أراد السفر أن يحافظ على هدي النبي صلى الله عليه وسلم، الذي جاءت السنة ببيانه:-

فقد كانت أسفاره صلى الله عليه وسلم دائرة بين أربعة أسفار:

سفر لهجرته، وسفر للجهاد، وسفر للعمرة وسفر للحج.

وكان عليه الصلاة السلام قبل أن يخرج يودع أهله وأصحابه، فعن ابن عمر رضي الله عنهما قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يودعنا فيقول: ( أستودع الله دينك وأمانتك وخواتيم عملك ) رواه الترمذي ، وكان يوصيهم بتقوى الله في كل حين.

وكان صلى الله عليه وسلم يوصي أصحابه بالجماعة في السفر، وينهى عن الوحدة، فقال صلى الله عليه وسلم: ( لو يعلم الناس ما في الوحدة ما أعلم، ما سار راكب بليلٍ وحده ) رواه البخاري ، فعلى المسافر أن يصطحب معه رفيقاً يكون له عوناً على سفره، يرغبه في الخير ويبعده عن الشر، إن نسي ذكره، وإن تعب شد من أزره.

وكان صلى الله عليه وسلم يأمر أصحابه إذا خرجوا لسفر أن يجعلوا عليهم أميراً، حتى يكون رأيهم واحداً، ولا يقع بينهم الاختلاف، وكل ذلك حرصاً منه عليه الصلاة والسلام على لزوم الجماعة وتجنب أسباب الفرقة.

وكان يستحب – صلى الله عليه وسلم – الخروج يوم الخميس في أول النهار، فعن كعب بن مالك رضي الله عنه قال : ” لقلَّما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يخرج إذا خرج في سفر إلا يوم الخميس ” رواه البخاري ، وكان عليه السلام يدعو الله تبارك وتعالى أن يبارك لأمته في بكورها.

وشرع رسول الله صلى الله عليه وسلم جملة من الأذكار والأدعية للمسافر:-

منها أنه إذا ركب على دابته، واستقر عليها قال: ( الحمد لله، سبحان الذي سخر لنا هذا وما كنا له مقرنين وإنا الى ربنا لمنقلبون، ثم يقول: الحمد لله، الحمد لله، الحمد لله، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، سبحانك إني ظلمت نفسي، فاغفر لي إنه لا يغفر الذنوب إلا أنت ) رواه أبو داود ثم يقول: ( اللهم إنا نسألك في سفرنا هذا البر والتقوى، ومن العمل ما ترضى، اللهم هون علينا سفرنا هذا واطو عنا بعده، اللهم أنت الصاحب في السفر والخليفة في الأهل، اللهم إني أعوذ بك من وعثاء السفر، وكآبة المنظر، وسوء المنقلب، في المال والأهل ) رواه مسلم

ومما ورد عنه من الأذكار أثناء المسير أنه كان صلى الله عليه وسلم إذا علا شرفاً – وهو المكان المرتفع- كبَّر الله تعالى، وإذا هبط وادياً سبح الله تعالى، ففي حديث جابر الطويل في صفة حجة النبي صلى الله عليه وسلم ، قال: ( كنا إذا صعدنا كبرنا، وإذا نزلنا سبحنا ) رواه البخاري .

ومن جملة الأدعية في هذا الشأن، أنه صلى الله عليه وسلم إذا دخل قرية أو شارف على دخولها، قال:- ( اللهم رب السماوات السبع وما أظللن ورب الأرضين وما أقللن، ورب الشياطين وما أضللن، ورب الرياح وما ذرين، فإنا نسألك خير هذه القرية، وخير أهلها، ونعوذ بك من شرها، وشر أهلها، وشر ما فيها ) رواه النسائي ، وكان إذا نزل منزلاً قال: ( أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق ) رواه مسلم .

وكان إذا قضى حاجته من سفره، ورجع إلى أهله، ذكر دعاء السفر السابق، وزاد: ( آيبون تائبون عابدون لربنا حامدون ) رواه البخاري

وكان من هديه صلى الله عليه وسلم في السفر أخذه بما رخصه الله له، ومن ذلك قصر الصلاة الرباعية ركعتين، والفطر إذا شق عليه الصوم، والمسح على الخفين مدة ثلاث أيام بلياليهن، ولم يحفظ عنه أنه صلى في أسفاره السنن الرواتب، إلا سنة الفجر والوتر، فإنه لم يكن يدعهما في حضر ولا سفر.

ومن جملة ما نهى عنه – صلى الله عليه وسلم- في السفر: اصطحاب الكلب والجرس، وفي هذا جاء قوله صلى الله عليه وسلم: ( لا تصحب الملائكة رفقة فيها كلب ولا جرس ) رواه مسلم .

ومما نهى عنه عليه الصلاة والسلام سفر المرأة بدون محرم، لما يترتب عليه من حصول الفتنة والأذية لها، فقد قال – صلى الله عليه وسلم: ( لا تسافر امرأة إلا ومعها محرم ) رواه البخاري .

وكذلك نهى – صلى الله عليه وسلم – أن يطرق المسافر أهله ليلاً، ففي الحديث عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:- ( إذا طال أحدكم الغيبة ، فلا يطرق أهله ليلاً ) رواه البخاري ، وعنه أيضاً أنه قال: ( نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يطرق الرجل أهله ليلاً يتخونهم أو يطلب عثراتهم ) رواه البخاري .

فالزم هدي نبيك صلى الله عليه وسلم في حياتك كلها، تنعم بالسعادة في الدنيا والآخرة.

Leave your comment here: