HUKUM BERQURBAN DENGAN UANG DAN BAGIAN TUBUH HEWAN QURBAN YANG HARAM DI MAKAN

HUKUM BERQURBAN DENGAN UANG DAN BAGIAN TUBUH HEWAN QURBAN YANG HARAM DI MAKAN

HUKUM BERQURBAN DENGAN UANG

Apakah qurban bisa digantikan dengan uang ?

JAWABAN :

 Qurban yang dalam bahasa Arab dikenal dengan udhkhiyah adalah nama atas binatang ternak yang disembelih dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian uang tidak bisa dikategorikan sebagai qurban. Binatang-binatang ternak yang dianggap cukup sebagai qurban adalah unta, sapi dan kambing.

Referensi :

الاضحية بضم الهمزة و كسرها مع تخفيف الياء و هي اسم لما يذبح او ينحر من النعم تقربا الى الله تعالى فى ايام النحر  الفقه على المذاهب الاربعة ١/٦٤٣

و لا يجزئ ) فى الاضحية ( الا الابل و البقر) الاهلية (و الغنم) لان التضحية بغيرها لم تنقل  بشرى الكريم ٢/١٢٥

Mendermakan uang itu lebih simpel dibanding mendermakan benda lain. Sehingga terkadang ada di antara kita melaksanakan kurban dengan membagikan uang seharga hewan kurban. Praktek seperti ini tidak sah sebagai kurban karena kurban adalah suatu bentuk ibadah yang dikhususkan dengan penyembelihan binatang ternak sebagaimana ditegaskan di dalam QS. Al-Hajj: 34

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ اْلأَنْعَامِ

Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang telah dirizkikan oleh Allah kepada mereka …… ” (Al-Hajj: 34)

Walaupun tidak sah sebagai kurban, tetapi tidaklah sia-sia dan tidaklah termasuk bid’ah meskipun secara implisit Rasulullah SAW tidak pernah melaksanakan, melegitimasi, dan mengakuinya.

Dalam logika atau nalar fikih uang yang dibagikan dengan niat kurban itu menjadi shadaqah atau sedekah. Adapun keutamaan sedekah mengenai beberapa nashnya sudah cukup jelas. Akan tetapi, betapa sayang bila kurban sebagai ibadah tahunan yang kita laksanakan itu tidak diterima sebagai kurban karena kita melaksanakannya dalam bentuk pembagian uang.

Bertolak dari ayat di atas, ulama Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah menyatakan, bahwa kurban adalah ibadah yang aspeknya adalah iraqah ad-dam (penyembelihan) yang berarti tidak boleh digantikan dengan benda lain termasuk dalam bentuk uang. Ulama’ Hanafiyyah yang membolehkan membayar dalam bentuk uang untuk zakat apa pun, ternyata secara tegas tidak membolehkannya untuk kurban.

Dalam hal ini, Muhammad ibn Abi Sahl As-Sarkhasiy (Wafat 490 H.) di dalam Al-Mabsuth; juz II, h.157 menyatakan, bahwa zakat bagi para mustahiq berdimensi kemaslahatan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehingga bolehlah diberikan berupa harganya. Sedangkan kurban adalah suatu ibadah dalam bentuk penyembelihan. Sehingga seandainya setelah dilakukan penyembelihan dan sebelum dibagikan, ternyata hewan qurban itu hilang atau dicuri orang misalnya, tetaplah ibadah kurban itu sah.

Lebih jauh ia menyatakan, bahwa penyembelihan kurban itu tidak dapat diukur dengan harga, dan mengandung makna atau esensi yang tidak dapat digambarkan kemuliaannya. Adapun penggalan kalimatnya sebagai berikut:

فَكَانَ اْلمُعْتَبَرُ فِي حَقِّهِمْ أَنَّهُ مَحَلٌّ صَالِحٌ لِكِفَايَتِهِمْ حَتَّى تُتَأَدَّى بِالْقِيْمَةِ بِخِلَافِ الهِدَايَا وَالضَّحَايَا فَإنَّ الْمُسْتَحِقُ فِيْهَا إرَاقَةَ الدَّمِ حَتَّى وَلَوْ هَلَكَ بَعْدَ الذَّبْحِ قَبْلَ نَظِيْرٍ بِهِ لَمْ يَلْزِمهُ شَيْءٌ وَإرَاقَةُ الدَّمِ لَيْسَ بِمُتَقَوِّمٍ وَلَا مَعْقُوْلٍ الْمَعْنَى

“Adapun apa yang diakui menjadi hak para mustahiq zakat adalah aspek kemaslahatan untuk memenuhi kebutuhan mereka, sehingga boleh diberikan berupa harganya. Hal ini berbeda dengan hadyu dan kurban yang esensinya adalah aliran darah (penyembelihan), sehingga seandainya setelah hewan kurban itu disembelih binasa sebelum dibagikan, maka tidak ada kewajiban sedikit pun yang dibebankan kepada orang yang kurban. Penyembelihan kurban itu tidak dapat diukur dengan harga, dan tidak dapat dirasionalkan makna kemuliaannya “.

Demikian pula hal yang senada dinyatakan oleh Zain ibn Ibrahim ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Bakr (926-970 H) di dalam Al-Bahr ar-Raiq, jilid II, h.238. Adapun sedikit kutipan kalimatnya sebagai berikut:

قَيَّدَ الْمُصَنِّفُ بِالزَّكَاةِ لِأَنَّهُ لَا يَجُوْزُ دَفْعُ الْقِيْمَةِ فِيْ الضَّحَايَا وَالْهَدَايَا وَالْعِتْقِ لِأنَّ مَعْنَى الْقُرْبَةِ إرَاقَةِ الدَّمِ وَذَلِكَ لَا يَتَقَوَّمُ

Penyusun Kanz ad-Daqaiq membatasi (pembahasan mengenai boleh memberikan berupa harga) dalam kewajiban zakat. Persoalannya, tidak boleh memberikan dalam bentuk harga atas kurban, hadyu dan memerdekakan budak karena esensi kurban adalah aliran darah (penyembelihan) yang tidak dapat diukur dengan harga.

Iuran Kurban Dibagikan Uang

Iuran kurban adalah dana yang dikeluarkan oleh beberapa orang untuk kurban, tetapi dana yang terkumpul tidak untuk membeli hewan kurban melainkan dibagikan dalam bentuk uang. Praktek ini sama dengan kurban berupa uang, dan secara jelas tidak sah sebagai kurban karena kurban harus dilaksanakan dalam bentuk penyembelihan hewan ternak, tetapi sah menjadi shadaqah bila para pembayar iuran ikhlas memberikannya.

Jika sebelum pembayaran itu telah dinyatakan untuk pembelian hewan kurban kemudian dibagikan dalam bentuk uang, maka wajib menanggung dan mengembalikan dana iuran itu kepada para pembayarnya karena menyalahi tujuan semestinya.

Apabila cara ini dimaksudkan untuk menggali sumber dana untuk kepentingan pribadi dengan dalih kurban, maka sungguh tidak mendidik, tidak layak dan tidak terpuji untuk dilakukan. Bahkan hal ini dapat dikategorikan sebagai bentuk tipu daya yang menodai kebenaran dan mencederai kejujuran. Hendaklah praktek seperti ini tidak terjadi di tengah masyarakat kita. Amin.

 

Menyembelih Kurban sebelum Shalat ‘Iedul Adha

Permasalahan

Bagaimana hukumnya menyembelih qurban sebelum shalat Idul Adha dengan meng-i’tikad-kan sebagai aqiqoh sedang malik-nya mengatakan qurban?

Jawaban

Menyembelih qurban oleh wakil yang meng-i’tikad-kan aqiqoh apabila dilakukan sesudahnya lewatnya kadar dua rokaat dan dua khotbah yang cepat sesudah terbitnya matahari pada hari qurban maka hukumnya sebagai berikut: Qurbanya mudhohi adalah sah, dan I’tikat wakil tidak mempengaruhi niat berqurban.

Kalau penyembelihannya dilakukan oleh wakil sebelum waktu tersebut, maka qurbannya mudlohi tidak sah, dan wakil dloman (mengganti). Adapun wakil yang mengi’tikadkan lain dari niat mudlohi, hukumnnya haram.

Dasar Pengambilan Dalil

Al-anwar, 11/378

الثالث الوقت وهو إذا طلعت الشمش يوم النحر ومضى قدر وكعتين وخطبتين خفيفتين إلى غروبها من ثالث ايام التشريق ليلا ونهارا ويكره فى اليل فان ذبح قبل الوقت او بعده لم يكن ضحية ولا يحصل ثوابها بل صدقة … انتهى

Yang ketiga adalah: waktu (penyembelihan qurban) yaitu ketika matahari telah terbit pada hari qurban dan telah melewati kira-kira dua rokaat dan dua khotbah ‘id yang ringan sampai terbenamnya matahari dihari tasyri’ yang ketiga ( tanggal 13 dzulhijjah ) baik siang ataupun malam dan makruh menyembelih qurban pada malam hari. Apabila disembelih sebelum waktunya atau setelahnya, maka tidak dinamakan qurban, dan tidak mendapatkan pahalanya qurban. Tetapi merupakan sodaqoh.

Kifayatu al-akhyar, I: 280

والوكيل أمين فيها لايضمن إلا بتقريط، الوكيل أمين فيما وكل فيه فلايضمن الموكل فيه إذا تلف إلا أن يفرط لأن الموكل استأمنه فيضمنه ينافى تأمينه كالمودع.

Wakil adalah orang yang dipercaya dalam amanat, ia tidak didenda kecuali ia mengabaikan (khianat). Wakil adalah orang dipercaya dalam sesuatu yang diwakilinya, maka ia tidak perlu mengganti terhadap kerugian yang diwakilkan ketika rusak, kecuali apabila ia mengabaikannya. Karena orang yang mewakilkan telah mempercayakan kepada wakil. maka wakil supaya mengganti kerugian apabila ia meniadakan sifat amanahnya (kepercayaan) seperti orang yang dititipi.

HUKUM MEMAKAN ALAT KELAMIN HEWAN QURBAN

Bagaimanakah hukumnya mengkonsumsi alat kelamin dari hewan qurban ?

JAWABAN :

Di kitab Bahrur Roiq, menurut madzhab Hanafiyah hukum memakan daging kelamin kambing (hewan qurban) adalah makruh (halal dan boleh dimakan, tapi dianjurkan tidak dikonsumsi), begitu juga menurut al khottoby dalam kitab al majmu’ hukumnya makruh. Keterangan yang sama dalam kitab sunan kubro, hukumnya makruh tanpa ada keharaman. Sedang di kitab Mawsu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah, dalam Madzhab Hanafi mengkonsumsi daging tersebut hukumnya Makruh Tanzih dan pendapat lain Makruh Tahrim.

Kitab Bahrur Roiq :

( كره من الشاة الحياء والخصية والغدة والمثانة والمرارة والدم المسفوح والذكر )

لما روى الأوزاعي عن واصل بن مجاهد قال { كره رسول الله صلى الله عليه وسلم من الشاة الذكر والأنثيين والقبل والغدة والمرارة والمثانة } قال أبو حنيفة الدم حرام وكره الستة وذلك لقوله تعالى { حرمت عليكم الميتة } وكره ما سواه ; لأنه مما تستخبثه النفس وتكرهه وهذا المعنى سبب الكراهة لقوله تعالى { ويحرم عليهم الخبائث } وروى ابن عمر رضي الله عنهما سئل عن القنفذ فتلا قوله تعالى { قل لا أجد فيما أوحي إلي محرما على طاعم يطعمه } الآية فقال شيخ عنده سمعت أبا هريرة يقول { ذكر القنفذ عند النبي صلى الله عليه وسلم فقال خبيث من الخبائث } .

Al Majmu’

( فصل )

عن مجاهد قال : { كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يكره من الشاة سبعا : الدم ، والمرار ، والذكر ، والأنثيين ، والحيا ، والغدة ، والمثانة ، وكان أعجب الشاة إليه مقدمها } رواه البيهقي هكذا مرسلا وهو ضعيف ، قال : وروي موصولا بذكر ابن عباس وهو حديث قال ولا يصح وصله قال الخطابي : الدم حرام بالإجماع وعامة المذكورات معه مكروهة غير محرمة .

Sunan Kubro :

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ ، ثنا عَلِيُّ بْنُ حَمْشَاذٍ ، أَخْبَرَنِي يَزِيدُ بْنُ الْهَيْثَمِ ، أَنَّ إِبْرَاهِيمَ بْنَ أَبِي اللَّيْثِ ، حَدَّثَهُمْ ثنا الأَشْجَعِيُّ ، عَنْ سُفْيَانَ ، عَنِ الأَوْزَاعِيِّ ، عَنْ وَاصِلِ بْنِ أَبِي جَمِيلٍ ، عَنْ مُجَاهِدٍ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” يَكْرَهُ مِنَ الشَّاةِ سَبْعًا : الدَّمَ ، وَالْمَرَارَ ، وَالذَّكَرَ ، وَالأُنْثَيَيْنِ ، وَالْحَيَا ، وَالْغُدَّةَ ، وَالْمَثَانَةَ ” ، قَالَ : وَكَانَ أَعْجَبَ الشَّاةِ إِلَيْهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُقَدِّمُهَا ” ، هَذَا مُنْقَطِعٌ ، وَرَوَاهُ عُمَرُ بْنُ مُوسَى بْنِ وَجِيهٍ وَهُوَ ضَعِيفٌ ، عَنْ وَاصِلِ بْنِ أَبِي جَمِيلٍ ، عَنْ مُجَاهِدٍ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ ” يَكْرَهُ أَكْلَ سَبْعٍ مِنَ الشَّاةِ ” ، فَذَكَرَ الْحَدِيثَ ، أَخْبَرَنَاهُ أَبُو سَعْدٍ الْمَالِينِيُّ ، أنبأ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَدِيٍّ ، ثنا وَقَّارُ بْنُ الْحُسَيْنِ الرَّقِّيُّ ، ثنا أَيُّوبُ الْوَزَّانُ ، ثنا فِهْرُ بْنُ بَشِيرٍ ، ثنا عُمَرُ بْنُ مُوسَى ، فَذَكَرَهُ مَوْصُولا ، وَلا يَصِحُّ وَصْلُهُ ، قَالَ أَبُو سُلَيْمَانَ الْخَطَّابِيُّ فِيمَا بَلَغَنِي عَنْهُ : ” الدَّمُ حَرَامٌ بِالإجْمَاعِ ، وَعَامَّةُ الْمَذْكُورَاتِ مَعَهُ مَكْرُوهَةٌ ، غَيْرُ مُحَرَّمَةٍ ” .

Mawsu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah :

الموسوعة الشاملة – الموسوعة الفقهية الكويتية

قال الحنفية : يحرم من أجزاء الحيوان سبعة : الدم المسفوح ، والذكر ، والأنثيان ، والقبل ( أي فرج الأنثى وهو المسمى بالحيا ) ، والغدة ، والمثانة ( وهي مجمع البول ) ، والمرارة ( وهي وعاء المرة الصفراء ، وتكون ملصقة بالكبد ) .

وهذه الحرمة في نظرهم لقوله عز شأنه : { ويحل لهم الطيبات ويحرم عليهم الخبائث } ، وهذه السبعة مما تستخبثه الطباع السليمة فكانت محرمة ، وقد دلت السنة على خبثها ، لما روى الأوزاعي عن واصل بن أبي جميلة عن مجاهد أنه قال : « كره رسول الله صلى الله عليه وسلم من الشاة : الذكر ، والأنثيين ، والقبل ، والغدة ، والمرارة ، والمثانة ، والدم » . والمراد كراهة التحريم قطعا ، بدليل أنه جمع بين الأشياء الستة وبين الدم في الكراهة ، والدم المسفوح محرم بنص القرآن .

77 – والمروي عن أبي حنيفة أنه قال : الدم حرام ، وأكره الستة . فأطلق وصف الحرام على الدم المسفوح ، وسمى ما سواه مكروها ، لأن الحرام المطلق ما ثبتت حرمته بدليل مقطوع به ، وحرمة الدم المسفوح قد ثبتت بدليل مقطوع به ، وهو قوله تعالى : { قل لا أجد فيما أوحي إلي محرما على طاعم يطعمه إلا أن يكون ميتة أو دما مسفوحا … } الآية ، وانعقد الإجماع أيضا على حرمته . فأما حرمة ما سواه من الأجزاء فلم تثبت بدليل مقطوع به بل بالاجتهاد ، أو بظاهر الكتاب العزيز المحتمل للتأويل ، وهو قوله تعالى : { ويحرم عليهم الخبائث } ، أو بالحديث السابق ذكره . لذلك فصل أبو حنيفة بينهما في الوصف فسمى الدم حراما ، والباقي مكروها . وقيل : إن الكراهة في الأجزاء الستة تنزيهية ، لكن الأوجه كما في ” الدر المختار ” أنها تحريمية .

Al Fiqhu Al-islamiy wa Adillatuhu :

الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي • الموقع الرسمي للمكتبة الشاملة

وروي عن مجاهد أنه قال: «كره رسول الله صلّى الله عليه وسلم من الشاة: الذكر، والأنثيين، والقبل، والغدة، والمرارة، والمثانة والدم» والمراد منه كراهة التحريم، بدليل أنه جمع بين الأشياء الستة وبين الدم، في الكراهة،

Menurut madzhab Hanafiy :

Ada 7 bagian hewan sembelihan yang HARAM dimakan, yaitu :

  1. Darah yg mengalir,
  2. Alat kelamin jantan,
  3. Testis (dua telur kelamin jantan),
  4. Alat kelamin betina,
  5. Kelenjar,
  6. Kantong kemih (tempat air kecing ),
  7. Empedu

Sisi keharaman 7 bagian hewan di atas dikarenakan dianggap jijik bagi orang yang berwatak waras. Dan menurut riwayat Imam Ibnu Habib dari madzhab Malikiy : Ada beberapa bagian hewan yang MAKRUH (tidak haram) dimakan ,yaitu :

  1. Testis,
  2. Tempat tumbuhnya rambut pada ekor,
  3. Kelenjar,
  4. Limpa,
  5. Segala macam urat,
  6. Empedu,
  7. Kedua buah pinggang,
  8. Kantong kemih,
  9. Kedua telinga hati

Selain dari bagian² hewan di atas yang tidak ada larangan khusus untuk dimakan maka BOLEH dimakan dan yang ada larangan memakannya (contoh kotorannya ) maka jelas HARAM dimakan .

Referensi :

.الموسوعة الفقهية الكويتية ٥ ص ١٥٢

حكم أجزاء الحيوان المذكى:

٧٥ – لا شك أن التذكية حينما تقع على الحيوان المأكول تقتضي إباحة أكله في الجملة، وقد يكون لبعض الأجزاء حكم خاص: فالدم المسفوح مثلا، حرام بالإجماع، وهو ما سال من الذبيحة، وما بقي بمكان الذبح، وما تسرب إلى داخل الحيوان من الحلقوم والمريء. وأما ما بقي في العروق واللحم والكبد والطحال والقلب فإنه حلال الأكل، حتى إنه لو طبخ اللحم فظهرت الحمرة في المرق لم ينجس ولم يحرم. وقد ذكر الحنفية وغيرهم أشياء تكره أو تحرم من الذبيحة. وفيما يلي تفصيل ما قالوه وما قاله غيرهم في ذلك:

٧٦ – قال الحنفية: (١) يحرم من أجزاء الحيوان سبعة: الدم المسفوح، والذكر، والأنثيان، والقبل (أي فرج الأنثى وهو المسمى بالحيا) ، والغدة، والمثانة (وهي مجمع البول) ، والمرارة (وهي وعاء المرة الصفراء، وتكون ملصقة بالكبد) .

وهذه الحرمة في نظرهم لقوله عز شأنه: {ويحل لهم الطيبات ويحرم عليهم الخبائث} ، (٢) وهذه السبعة مما تستخبثه الطباع السليمة فكانت محرمة، وقد دلت السنة على خبثها، لما روى الأوزاعي عن واصل بن أبي جميلة عن مجاهد أنه قال: كره رسول الله صلى الله عليه وسلم من الشاة: الذكر، والأنثيين، والقبل، والغدة، والمرارة، والمثانة، والدم. (٣)

والمراد كراهة التحريم قطعا، بدليل أنه جمع بين الأشياء الستة وبين الدم في الكراهة، والدم المسفوح محرم بنص القرآن.

٧٧ – والمروي عن أبي حنيفة أنه قال: الدم حرام، وأكره الستة. فأطلق وصف الحرام على الدم المسفوح، وسمى ما سواه مكروها، لأن الحرام المطلق ما ثبتت حرمته بدليل مقطوع به، وحرمة الدم المسفوح قد ثبتت بدليل مقطوع به، وهو قوله تعالى: {قل لا أجد فيما أوحي إلي محرما على طاعم يطعمه إلا أن يكون ميتة أو دما مسفوحا. . .} الآية، وانعقد الإجماع أيضا على حرمته. فأما حرمة ما سواه من الأجزاء فلم تثبت بدليل مقطوع به بل بالاجتهاد، أو بظاهر الكتاب العزيز المحتمل للتأويل، وهو قوله تعالى: {ويحرم عليهم الخبائث} ، أو بالحديث السابق ذكره. لذلك فصل أبو حنيفة بينهما في الوصف فسمى الدم حراما، والباقي مكروها.

وقيل: إن الكراهة في الأجزاء الستة تنزيهية، لكن الأوجه كما في ” الدر المختار ” أنها تحريمية. (١)

٧٨ – هذا، والدم المسفوح متفق على تحريمه كما مر.

وروى ابن حبيب من المالكية استثقال أكل عشرة – دون تحريم – الأنثيان والعسيب والغدة والطحال والعروق والمرارة والكليتان والمثانة وأذنا القلب. (٢)

٧٩ – والحنابلة قالوا بكراهة أكل الغدة وأذن القلب. أما الغدة فلأن النبي صلى الله عليه وسلم كره أكلها، روى ذلك عبد الله بن أحمد بن حنبل عن أبيه.

وأما أذن القلب فلأن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن أكلها، نقل ذلك أبو طالب الحنبلي. (١)

Menurut kita syafi’iyyah, Nomor 14, Limpa adalah halal.

المجموع شرح المهذب للنووي ٩/٦٩

يَحِلُّ أَكْلُ الْكَبِدِ وَالطِّحَالِ بِلَا خِلَافٍ لِلْحَدِيثِ الصَّحِيحِ السَّابِقِ (أُحِلَّ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالسَّمَكُ وَالْجَرَادُ وَالدَّمَانِ الْكَبِدُ وَالطِّحَالُ)

Menurut Syafiiyyah : Bungkusnya empedu hukumnya HALAL dan isinya / cairan empedunya HARAM karena najis.

فتاوى الرملي ١- ص ٧٢

(سئل) عن مرارة الحيوان المأكول المذكى هل هي طاهرة أم لا؟

(فأجاب) بأنها نجسة؛ لأنها مما يستحيل في الباطن كالدم؛ إذ هي ما في المرارة من المائع، وأما المرارة فطاهر؛ لأنها مأكولة لكونها من أجزاء الحيوان المأكول، وإن كان باطنها متنجسا

الفقه على المذاهب الأربعة ١- ص ١٠

(الشافعية قالوا: بنجاسة ماء المرارة المذكورة، وجلدتها متنجسة به، وتطهر بغسلها؛ كالكرش. فإن ما فيه نجس وهو نفسه متنجس به. ويطهر بغسله.

Menurut madzhab Syafiiy disebutkan juga : Semua bagian² hewan yang halal dagingnya disembelih hukumnya SUCI dan boleh dimanfaatkan, selama tidak bagian² hewan yang najis ( seperti darah, kotoran dan cairan isi empedu ).

البيان في مذهب الإمام الشافعي ١- ص ٨٠

[مسألة: حكم أجزاء الحيوان بالذكاة]

] : وإن ذبح حيوان يؤكل لحمه.. لم ينجس بالذبح شيء من أعضائه، وجاز الانتفاع بلحمه، وعظمه، وشعره، وعصبه، ما لم يكن عليه نجاسة، فإن رأى شعر حيوان مأكول اللحم، وعظمه، ولم يعلم أنه أخذ منه في حال حياته، أو بعد ذكاته، أو بعد موته.. قال في ” الفروع “: حكم بطهارته؛ لأن الأصل فيه الطهارة.

وإن ذبح حيوان لا يؤكل لحمه.. نجس بذبحه، كما ينجس بموته.

روضة الطالبين ١- ص ١٦

فرع    في المنفصل عن باطن الحيوان

هو قسمان: أحدهما: ليس له اجتماع، واستحالة في الباطن، وإنما يرشح رشحا. والثاني: يستحيل ويجتمع في الباطن ثم يخرج. فالأول، كاللعاب، والدمع، والعرق، والمخاط، فله حكم الحيوان المترشح منه، إن كان نجسا فنجس، وإلا، فطاهر. والثاني: كالدم، والبول، والعذرة، والروث، والقيء. وهذه كلها نجسة من جميع الحيوان، أي: مأكول اللحم وغيره. ولنا وجه: أن بول ما يؤكل لحمه وروثه طاهران. وهو

[أحد] قولي أبي سعيد الإصطخري من أصحابنا، واختاره الروياني وهو مذهب مالك وأحمد.

والمعروف من المذهب النجاسة. وهل يحكم بنجاسة هذه الفضلات من رسول الله – صلى الله عليه وسلم -؟ وجهان. قال الجمهور: نعم. وفي بول السمك، والجراد، ودمهما وروثهما، وروث ما ليس له نفس سائلة، والدم المتحلب من الكبد، والطحال، وجهان. الأصح: النجاسة.

وأما اللبن، فطاهر من مأكول اللحم بالإجماع، ونجس من الحيوان النجس، وطاهر من الآدمي على الصحيح، وقيل: نجس. ولكن يربى به الصبي للضرورة.

وأما غير الآدمي مما لا يؤكل، فلبنه نجس على الصحيح.

Leave your comment here: