MUHASABAH SETELAH MELAKUKAN AMAL YANG BERMANFAAT

MUHASABAH SETELAH MELAKUKAN AMAL YANG BERMANFAAT

Usaha Hamba Tidak Berpengaruh Tanpa Qudrah dan Iradah ALLAH

Dikalangan masyarakat kita saat ini bahwa ada sebahagian kalangan yang meyakini bahwa manusia memiliki otoritas mutlak untuk mengubah nasib mereka sendiri tanpa butuh kepada pertolongan allah SWT, atau mereka beranggapan bahwa qudrah dan iradah Allah tidak berlaku dalam penentuan nasib seseorang. Mereka menjadikan surat al-ra’du : 11 sebagai dalil yang memperkuat statemen mereka.

Nah, disini  memberikan sedikit jawaban yang mudah-mudahan bisa menjadi oase di tengah padang pasir bagi para pembaca sekalian.

Terkait dengan surat al-ra’du :11, yang berbunyi:

إنَّ الله لا يُغيِّر ما بقومٍ حتى يغيروا ما بأنفسهم

Artinya: “sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”. (Q.S. al-ra’du :11)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa maksud dari keadaan disini adalah nikmat. Artinya, allah tidak akan mencabut nikmat dari suatu kaum sehingga mereka mencabutnya sendiri dengan bermaksiat kepada allah SWT. Sebagaimana termaktub dalam kitab tafsir al-wajiz;

 إنَّ الله لا يُغيِّر ما بقومٍ حتى يغيروا ما بأنفسهم }لا يسلب قوماً نعمةً حتى يعملوا بمعاصيه

Artinya: {sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri}, (maksudnya) Allah tidak akan mencabut nikmat dari suatu kaum, sehingga mereka berbuat maksiat kepada allah.

Lebih lanjut, syeikh ibrahim al-laqqany di dalam kitab beliau, matan al-jauharah menegaskan bahwa “menurut pendapat Ahlu sunnah waljama’ah, manusia sebagai hamba Allah, diwajibkan untuk berusaha. Akan tetapi usaha seorang hamba tidak akan memberi efek apapun tanpa qudrah dan iradah allah SWT”.

Secara logika, seandainya kita meyakini bahwa usaha manusia itu menjadi sebab adanya hasil, maka sungguh tidak ada orang yang gagal di dunia ini. Namun pada kenyataannya, terlalu banyak orang yang berusaha dengan maksimal, akan tetapi mereka tidak memperoleh hasil yang maksimal atau bahkan ada pula yang tidak memperoleh hasil sama sekali.

Setelah Ber-amal, Sudahkan Engkau Muhasabah ?

Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin sebagai wejangan untuk umat Islam. Diantara untaian hikmah, beliau menerangkan bagi kita makna dari dari kehidupan dunia yang fana ini dan seterusnya kita beramal bukan hanya karena sekedar melepaskan diri dari suatu kewajiban akan tetapi amalan yang sempurna adalah yang bisa memperhambakan diri manusia bagi Allah SWT sang maha pencipta.

Muhasabah setelah beramal atau mengerjakan perintah Allah adalah sesuatu yang sangat urgen bagi penempuh jalan akhirat sedangkan makna muhasabah sendiri ialah mengira hasil dari suatu pekerjaan baik perbuatan dunia maupun akhirat. Para pedagang, penjahit, pelaut mengira untung-rugi pada setiap sore hari mereka, namun penempuh jalan akhirat mempunyai titipan berat dalam masalah ini, artinya manusia ini bukan hanya memperbanyak amalan akan tetapi harus juga menilai bagaimana kualitas amal bagi menempuh jalan akhirat kelak.

Imam Al Ghazali berkata :

اعلم ان العبد كما يكون له وقت في اوله النهار يشارط فيه نفسه على سبيل التوصية بالحق فينبعي ان يكون له في اخر النهار ساعة يطالب فيها النفس ويحاسبها على جميع حركاتها وسكناتها كما يفعل التجار في الدنيا مع الشركاء في اخر كل سنة او شهر او يوم حرصا منهم على الدنيا وحوفا من ان يفوتهم منها

Ketahuilah ! sesungguhnya manusia semestinya meninggalkan catatan wasiat pada setiap harinya maka kewajiban juga melalukan pengiraan terhadap sertiap gerak-gerik mereka, tidak bedanya dengan dengan pedangang yang mengira untung-rugi pada tiap tahun,bulan bahkan setiap hari.

ومعني المحاسبة مع الشريك ان ينظر في رأس المال وفي الربح والخسران ليتبين له الزيادة من النقصان فأن كان من فضل حاصل استوفاه وشكره وان كان من خسران طالبه بضمانه وكفله تداركه في المستقبل فكذالك رأس مال العبد في دينه الفرائض وربحه النوافل والفضائل وخسرانه المعاصي وموسم

Makna muhasabah para pedangan bersama dengan teman syarikatnya baik modalnya dan untung –rugi supaya mereka mengetahui hasil yang didapatkan, jika mendapat keuntungan supaya biasa meraih lebih dari itu namun jika rugi supaya bisa menempel kerugian tersebut. Seperti itu juga para hamba sebagai pemodal negeri akhirat, berkewajiban juga untuk melalukan perkiraan baik dan buruk karena jika baik maka kewajiban bersyukur karena karunia-NYA tetapi jika kurang baik maka segera dalam bertaubat.

ينبغي ان يحاسب نفسه على الانفاس وعلى معصية بالقلب والجوارح في كل ساعة ولو رمى العبد بكل معصية حجرا في داره لامتلأت داره في مدة يسيرة قريبة من عمره ولكنه يتساهل في حفظ المعاص والمعاصى والملكان يحفظان عليه ذالك (احصاه الله ونسوه

Kewajiban bagi setiap jiwa melakukana pehitungan tentang kejahatan yang pernah dilakukannya pada tiap-tiap saat. “jika seseorang melemparkan batu kerumahnya karena menghitung maksiat yang pernah ia kerjakan maka sungguh dalam waktu singkat batu akan memenuhi rumahnya karena banyak dan sering manusia ini dalam berbuat maksiat’’

Pada Akhirnya Imam Al Ghazali RMH berkomentar : ‘’Allah ta’ala serta para malaikat tidak pernah lupa menghitung perbuatan manusia walaupun manusia selalu lupa apa yang pernah ia kerjakan’’

Maka dengan nasehat dan untaian hikmah Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumiddin semoga Allah memberikan kita taufiq dan hidayah dalam melalukan jalan akhirat sehingga kita bukan hanya melalukan ibadah tetapi berkewajiban juga melakukan perhitungan amalan yang pernah kita lalukan, jika baik maka seyogianya bersyukur namun jika kurang baik supaya bisa diperbaiki pada hari-hari selanjutnya Amin. ..

Referensi : Kitab Ihya Ulumiddin Juz 4 hal.557-558

 

Pekerjaan yang Bermanfaat di Akhirat

عن ابي هريرة رضي الله عنه ان رسول الله صلي الله عليه و سلم قال اذا مات العبد انقتع عمله الا من ثلاث : صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعو له . رواه مسلم.

Sayyid Walid imam Malawi Abbas Al-maliki Al-husni, semoga Allah merahmatinya, dalam syarahannya terhadap hadis ini mengatakan kalau sebenarnya masalah terputusnya amalan seorang hamba ketika ia meninggal adalah urusan yang dhahir, karena orang mati tidak bisa beramal dan tidak pula ditaklif. Hanya saja, ada sebagian amalan orang yang sudah mati yang pernah dikerjakan semasa hidupnya akan terus mengalir pahalanya walau tidak dikerjakan lagi, karena demikianlah nabi membuat pengecualian dalam tiga perkara, pertama : Sedekah Jariyyah, maksudnya sedekah yang kekal manfaatnya dan tidak terputus bahkan sampai hari kiamat, seperti menggali sumur, wakaf mashaf, wasiat, membangun mesjid, balai pengajian dan lain sebgainya. Kedua: Ilmu yang bermanfaat, maksudnya ilmu syar’i yang dengan sebabnya mendapat nikmat yang berkepanjangan dan selamat dari pedihnya azab akhirat, ilmu syariat yang pernah dibagikan kepada orang lain. Termasuk pula kepada ilmu yang bermanfaat yaitu mengarang kitab atau mewakafkannya, karena maksud dari ilmu yang bermanfaat adalah Mutlak manfaat baik manfaat langsung atau sebab yang mendatangkan manfaat. Ketiga: Anak shalih yang selalu berdoa kepada dua ibu bapaknya, karena anak tersebut adalah hasil usaha dari dua ibu bapaknya, oleh karena demikian Allah memberikan karunia kepada dua ibu bapaknya berupa dituliskan kepada dua ibu bapaknya semua kebaikan yang pernah dikerjakan oleh anak shalih tersebut, dan bukan keburukan yang dikerjakan oleh anak tersebut.

Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa amalan yang tidak terputus pahalanya tidak terkusus kepada tiga perkara, karena Mafhum (pemahaman) yang dipahami dari bilangan tidak bisa dijadikan hujjah. Pada saat itu Nabi Saw mengetahui tiga perkara, kemudian Allah memberitau Nabi kalau perkara tersebut bukan hanya tiga, tapi lebih banyak. Seperti yang telah disebutkan dalam sebuah hadis yang merawi oleh ibnu majah dari Abi Hurairah, bahwa sesungguhnya Nabi Saw bersabda: “ Beberapa perkara yang layak didapatkan oleh seorang hamba dari amalan dan kebaikan sesudah matinya adalah ilmu yang bermanfaat bagi orang lain, anak shalih yang ditinggalkannya, mashaf yang diwariskan, mesjid yang dibangun, rumah bagi ibnu sabil, sungai yang disewanya, sedekah yang dikeluarkan pada masa sehat dan sakitnya dan tetap terhubung sesudah matinya”.

Ibnu Abi Izzi dalam kitab Syarah Aqidah Thahawiyyah mengatakan kalau dalam hadis dikhabarkan bahwa sesungguhnya amalan seseorang akan terputus ketika ia telah meninggal, amalan orang lain pada dasarnya adalah untuk dirinya sendiri, dan jika dia menghibahkan kepada orang lain termasuk kepada mayit, maka pahala itu akan sampai seperti pahala orang yang mengerjakannya, bukan yang sampai diri pahala tapi bagian lain yang sama dengan pahala dasarnya.

Pada sebagian kitab juga disebutkan kalau penyebutan anak yang shalih pada perkara yang ketiga itu adalah karena Ghalib (kebiasaan) yang akan berdoa kepada orang tua adalah anaknya, dengan demikian tidak menafikan kalau doa orang lain yang bukan anaknya juga akan sampai. Wallahua’lam.

Sumber : Manhajus Shalah fi Fahmin Nusus baina Nadhariyyah wa Tathbiki, Sayyid Walid imam Malawi Abbas Al-maliki Al-husni, khadim Ilmus Syarif fi baladil haram.

Leave your comment here: