KEDAHSYATAN BENCANA KETIKA SAKARATUL MAUT ATAU NAZA’

KEDAHSYATAN BENCANA KETIKA SAKARATUL MAUT ATAU NAZA’

Dalam Kitab

إحياءُ علومِ الدين ٤ ص ٤٤٨ مكتبة دار احياء

فإن دواهي الموت ثلاث. الأول شدة النزع كما ذكرناه

Makna; Bencana-bencana besar dalam mengalami kematian ada tiga : yang pertama adalah dasyatnya pencabutan ruh. Seperti apa yang telah kami sebutkan.

Dalam kitab ihya karya Imam Alghozali diterangkan, ada tiga bencana besar yang akan kita hadapi ketika ajal menjemput.

Yang pertama adalah dasyatnya pencabutan ruh. Bencana-bencana ini blm ditambah bencana yg dibikin sendiri oleh orang-orang seperti sakitnya berpisah dari istri yang masih cantik, harta yang melimpah dll.

Untuk mengetahui pembahasan bencana dasyat yang pertama ini maka kita ke juz 4 halaman 445 dan memakan hampir 4 halaman.

واعلم أن شدة الألم في سكرات الموت لا يعرفها بالحقيقة إلا من ذاقها ومن لم يذقها فإنما يعرفها إلا بالقياس إلى الآلام التي أدركها وإما الاستدلال بأحوال الناس في النزع على شدة ما هم فيه

Makna; Ketahuilah olehmu : Sungguh dasyatnya kesakitan dalam sakarotul maut itu orang tidak bisa mengetahuinya secara nyata kecuali orang yang merasakannya (mengalaminya). Dan orang yang tidak merasakannya, maka dia tidak bisa mengetahuinya kecuali dengan qiyas kepada kesakitan-kesakitan yang dia bisa menyaksikannya. Dan adakalanya mengetahui dengan mengambil petunjuk pada keadaan-keadaan manusia ketika dalam naza’ (pencabutan ruh oleh malaikat) atas dasyatnya apa yang mereka sedang alami.

فأما القياس الذي يشهد له فهو أن كل عضو لا روح فيه فلا يحس بالألم فإذا كان فيه الروح فالمدرك للألم هو الروح فمهما أصاب العضو جرح أو حريق سرى الأثر إلى الروح فيقدر ما يسري إلى الروح يتألم والمؤلم يتفرق على اللحم والدم وسائر الأجزاء فلا يصيب الروح إلا بعض الألم فإن كان في الآلام ما يباشر نفس الروح ولا يلاقي غيره فما أعظم ذلك الألم وما أشده

Makna; Maka adapun qiyas yang bisa disaksikan darinya adalah bahwa sungguh setiap anggota badan yang tidak ada ruh di dalamnya maka tidak akan merasa sakit, Maka ketika ada ruh didalamnya (maka baru bisa merasakan sakit), maka yang merasakan sakit dia adalah RUH. Maka kala anggota tubuh terkena luka ataupun terbakar, maka dampaknya (sakitnya) akan menjalar kepada ruh. Maka seukuran apa yang menjalar kepada ruh, maka ruh mengalami / merasa sakit. Dan yang merasakan sakit terpisah-pisah kepada daging, darah, dan seluruh bagian tubuh. Maka tidaklah mengenai ruh kecuali hanya sebagian kesakitan. Maka jika yang mengalami kesakitan-kesakitan ini adalah yang langsung bersentuhan dengan diri ruh itu sendiri dan tidak mengenai yang lain maka betapa besarnya rasa kesakitan itu, dan betapa dasyatnya.

والنزع عبارة عن مؤلم نزل بنفس الروح فاستغرق جميع أجزائه حتى لم يبق جزء من أجزاء الروح المنتشر في أعماق البدن إلا وقد حل به الألم فلو أصابته شوكة فالألم الذي يجده إنما يجري في جزء من الروح يلاقي ذلك الموضع الذي أصابته الشوكة وإنما يعظم أثر الاحتراق لأن أجزاء النار تغوص في سائر أجزاء البدن فلا يبقى جزء من العضو المحترق ظاهرا وباطنا إلا وتصيبه النار فتحسه الأجزاء الروحانية المنتشرة في سائر أجزاء اللحم

Makna; Naza’ (pencabutan ruh) adalah tetembungan dari sesuatu yang menyakitkan yang turun pada pribadi ruh kemudian menenggelamkan seluruh bagian ruh, sehingga tidak tersisa satu bagianpun dari bagian-bagian ruh yang menjalar menyebar jauh dalam badan kecuali sungguh benar-benar kesakitan menempatinya.

Andai sebuah duri mengenai badan maka kesakitan yang menemuinya sungguh hanya berjalan pada satu bagian ruh yang bagian ruh tersebut terhubung pada tempat yang terkena duri.

Dan sungguh dampak terbakar (jika tubuh terbakar) menjadi besar karena sungguh bagian-bagian api menyelam masuk ke dalam semua bagian-bagian tubuh maka tidak tersisa satu bagianpun dari anggota badan -yang terbakar- baik dzohir dan bathin kecuali api mengenainya, maka bagian-bagian ruhaniyah yang tersebar diseluruh bagian-bagian daging merasakan kesakitan dari pembakaran api ini.

وأما الجراحة فإنما تصيب الموضع الذي مسه الحديد فقط فكان لذلك ألم الجرح دون ألم النار

Makna; Dan adapun terluka bedah (misal terbabat) maka sungguh hanya mengenai tempat yang besi mengenainya saja, maka derita sakit luka karenanya lebih rendah (ringan) dari terbakar api.

فألم النزع يهجم على نفس الروح ويستغرق جميع أجزائه فإنه المنزوع المجذوب من كل عرق من العروق وعصب من الأعصاب وجزء من الأجزاء ومفصل من المفاصل ومن أصل كل شعرة وبشرة من الفرق إلى القدم فلا تسأل عن كربة وألمه حتى قالوا إن الموت لا شد من ضرب بالسيف ونشر بالمناشير وقرض بالمقاريض لأن قطع البدن بالسيف إنما يؤلم لتعلقه بالروح فكيف إذا كان المتناول المباشر نفس الروح

Makna; Maka Sakit pedihnya naza’ (dicabutnya ruh) menyerbu Ruh itu sendiri dan menenggelamkan seluruh bagiannya maka sungguh Ruh dicabut ditarik dari setiap urat dari urat-urat nadi tubuh, Ruh ditarik dicabut dari setiap syaraf dari syaraf-syaraf tubuh dan dari setiap bagian dari bagian-bagian tubuh, dan dari setiap sambungan dari sambungan-sambungan tubuh, dan dari pangkal tiap rambut dan kulit dari belahan rambut sampai telapak kaki. Maka janganlah kamu bertanya tentang penderitaan dan kesakitannya.

Sehingga mereka (ulama) berkata : “Sungguh kematian itu LEBIH DASYAT DARIPADA DIPOTONG DENGAN PEDANG, LEBIH DASYAT DARI PADA DIGOROK-GOROK (dimutilasi) DENGAN BANYAK GERGAJI, lebih dasyat daripada digunting-gunting dengan banyak gunting. Karena sungguh terpotongnya badan oleh pedang itu sungguh hanya menyakiti karena badan (yang terpotong) tertaut dengan ruh, bagaimana ketika yang direnggut yang ditandangi langsung adalah Ruh itu sendiri?

وإنما يستغيث المضروب ويصيح لبقاء قوته في قلبه وفي لسانه وإنما انقطع صوت الميت وصياحه من شدة ألمه لأن الكرب قد بالغ فيه وتصاعد على قلبه وبلغ كل موضع منه فهد كل قوة وضعف كل جارحة فلم يترك له قوة الاستغاثة أما العقل فقد غشيه وشوشه وأما اللسان فقد أبكمه وأما الأطراف فقد ضعفها

Makna; Dan sesungguhnya orang yang ditebas masih mampu meminta tolong dan menjerit itu karena masih bertahan kekuatan di dalam hatinya dan di dalam lisannya. Dan sesungguhnya terputusnya suara orang yang sedang mengalami kematian dan terputus jeritannya (tidak menjerit-jerit berteriak-teriak) itu karena dari dasyatnya dia merakan sakit. Karena sungguh penderitaan benar-benar dia telah sampai puncak dalam penderitaan. Dan terus naik penderitaan itu pada hatinya dan sampai pada setiap tempat darinya. Maka dasyatnya penderitaan naza’ telah memusnahkan segala kekuatan dan melemahkan segala anggota badan, maka tidak tersisa baginya kekuatan untuk meminta tolong. Adapun akal, maka dasyatnya penderitaan naza’ telah benar-benar menghilangkan kesadarannya dan membingungkannya. Dan adapun lisan, maka dasyatnya penderitaan naza’ telah benar-benar membisukannya. Dan adapun anggota-anggota badan, maka dasyatnya penderitaan naza’ telah benar-benar melemahkannya.

ويود لو قدر على الاستراحة بالأنين والصياح والاستغاثة ولكنه لا يقدر على ذلك فإن بقيت فيه قوة سمعت له عند نزع الروح وجذبها خوارا وغرغرة من حلقه وصدره وقد تغير لونه واربد حتى كأنه ظهر منه التراب الذي هو أصل فطرته وقد جذب منه كل عرق على حياله فالألم منتشر في داخله وخارجه حتى ترتفع الحدقتان إلى أعالي أجفانه وتتقلص الشفتان ويتقلص اللسان إلى أصله وترتفع الأنثيان إلى أعالي موضعهما وتخضر أنامله

Makna; Dia (orang yg sedang naza’) ingin andai dia kuasa untuk beristirahat dengan jalan merintih, mengerang dan berteriak menjerit dan meminta tolong, akan tetapi dia tidak kuasa melakukan itu semua. Maka jika masih tersisa kekuatan padanya (orang yang sedang naza’), maka anda mendengar darinya -ketika dicabutnya ruh dan ditariknya ruh- suara lenguhan dan suara berkumur dari tenggorokan (ngorok ditenggorokannya) dan dadanya. Dan benar-benar telah berubah warna (kulit) nya dan berubah warna seperti debu, sehingga seperti sungguh muncul debu darinya. Debu yang adalah asal penciptaanya. Dan telah ditarik darinya semua urat dengan daya kekuatannya. Maka rasa sakitnya menyebar di bagian dalamnya dan luarnya sampai naik ke kedua bola matanya sampai kedua pelupuk atas kedua matanya dan menyusut kedua bibirnya dan lidahnya mengkerut keasalnya. Dan naik kedua testis (prejilan) nya ke bagian atas tempat keduanya. Dan jadi hijau (menghitam) ujung jari-jarinya.

فلا تسل عن بدن يجذب منه كل عرق من عروقه ولو كان المجذوب عرقا واحدا لكان ألمه عظيما فكيف والمجذوب نفس الروح المتألم لا من عرق واحد بل من جميع العروق ثم يموت كل عضو من أعضائه تدريجا فتبرد أولا قدماه ثم ساقاه ثم فخذاه ولكل عضو سكرة بعد سكرة وكربة بعد كربة حتى يبلغ بها إلى الحلقوم فعند ذلك ينقطع نظره عن الدنيا وأهلها ويغلق دونه باب التوبة وتحيط به الحسرة والندامة وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تقبل توبة العبد ما لم يغرغر

Makna; Maka jangan anda bertanya tentang badan yang ditarik dicabut darinya seluruh urat dari urat-urat badan. Dan andaikan yang ditarik dicabut hanya satu urat, maka sungguh rasa sakitnya sangat besar. Maka Bagaimana yang ditarik dicabut adalah ruh itu sendiri, yang menderita rasa sakit bukan hanya satu urat tapi semua/seluruh urat-urat tubuh. Kemudian matilah setiap anggota badan dari anggota-anggota badannya secara bertahap, maka menjadi dingin -pada permulaannya- kedua telapak kakinya kemudian kedua betisnya, kemudian kedua pahanya. Dan pada tiap anggota badan ini mengalami sekarat pati setelah sekarat pati, dan penderitaan setelah penderitaan, sehingga sampai sekarat pati ini ke tenggorokan. Maka ketika itu berlangsung maka terputuslah penglihatannya dari dunia dan ahlinya. Dan ditutup baginya pintu taubat , dan duka cita -kegagalan- dan penyesalan menyelimutinya. Dan telah bersabda Rosululloh saw : “Diterima taubat seorang hamba selagi hamba itu belum berkumur-kumur dalam tenggorokan (ngorok ditenggorokan karena sakarotul maut)”.

Masih melanjutkan dasyatnya dahiyah (bencana besar) yang pertama dalam sakarotul maut yaitu naza’ (dicabutnya ruh).

إحياءُ علومِ الدين ج ٤ ص ٤٤٦ – ٤٤٨ مكتبة دار احياء الكتب العربية

وقال مجاهد في قوله تعالى وليست التوبة للذين يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إني تبت الآن قال إذا عاين الرسل فعند ذلك تبدو له صفحة وجه ملك الموت فلا تسأل عن طعم مرارة الموت وكربه عند ترادف سكراته ولذلك كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول اللهم هون على محمد سكرات الموت

Makna; Dan telah berkata Mujahid mengenai firman Alloh Subhanahu Wata’ala QS Annisa 18 :

وَلَيْسَتِ ٱلتَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ حَتَّىٰٓ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ إِنِّى تُبْتُ ٱلْـَٔـٰنَ

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”.

Mujahid berkata : “Ketika dia (orang yang akan dicabut nyawanya) melihat langsung para utusan (yaitu malaikat maut) maka ketika itu jelaslah baginya luasnya wajah malaikat maut , maka jangan kamu bertanya perihal rasa pahitnya maut dan penderitaannya ketika bertubi-tubi (datang berturut-turut) sekarat pati”. Oleh karena demikian itulah Rosululloh ﷺ berdoa : ” Duhai Alloh mohon ringankanlah sekarat pati pada Muhammad”.

والناس إنما لا يستعيذون منه ولا يستعظمونه لجهلهم به فإن الأشياء قبل وقوعها إنما تدرك بنور النبوة والولاية ولذلك عظم خوف الأنبياء عليهم السلام والأولياء من الموت حتى قال عيسى عليه السلام يا معشر الحواريين ادعوا الله تعالى أن يهون على هذه السكرة يعني الموت فقد خفت الموت مخافة أوقفني خوفي من الموت على الموت

Makna; Dan manusia (awam) sungguh mereka tidak minta perlindungan dari sekarat pati dan mereka tidak menganggap dasyatnya sekarat pati, itu karena mereka bodoh tentang sekarat pati. Karena sungguh sesuatu yang blm terjadi bisa diketahui dengan nur kenabian dan kewalian, oleh karena itu besar kekuatiran para Nabi -‘alaihim assalam- dan kekuatiran para Wali Alloh dari perihal kematian ini. Sampai-sampai Nabi ‘Isa A.S berkata : “Hai ma’syarolhawariyyin (sekumpulan sahabat Nabi ‘isa as) berdoalah kalian pada Alloh ta’ala agar Alloh meringankan atasku sekarat yaitu sekarat pati. Karena benar-benar aku kuatir pada almaut dengan kuatir yang sungguh-sungguh. Kekuatiranku menghentikanku dari kematian ke kematian.

وروى أن نفرا من إسرائيل مروا بمقبرة فقال بعضهم لبعض لو دعوتم الله تعالى أن يخرج لكم من هذه المقبرة ميتا تسألونه فدعوا الله تعالى فإذا هم برجل قد قام وبين عينيه أثر السجود قد خرج من قبر من القبور فقال يا قوم ما أردتم مني لقد ذقت الموت منذ خمسين سنة ما سكنت مرارة الموت من قلبي

Makna: Dan diceritakan bahwa sungguh ada rombongan dari bani israil mereka melewati sebuah pekuburan. Maka berkata sebagian mereka kepada sebagian yang lain : ” Mbok yo kalian berdoa pada Alloh ta’ala agar Alloh mengeluarkan -untuk kalian dari kuburan ini- seorang mayyit agar kalian bisa menanyainya.”

Maka mereka berdoa pada Alloh ta’ala. Tiba-tiba di depan mereka telah berdiri seorang laki-laki dan di antara kedua matanya ada bekas sujud. Laki-laki ini keluar dari kubur dari kubur-kubur dipekuburan itu. Laki-laki yang keluar dari kubur berkata : “Hai kaum apa yang kalian inginkan dari ku? Sungguh benar-benar aku telah merasakan dicabutnya nyawa sejak lima puluh tahun (akan tetapi) tidak hilang rasa pahitnya kematian tersebut dari hatiku”.

وقالت عائشة رضي الله عنها لا أغبط أحد يهون عليه الموت بعد الذي رأيت من شدة مَوْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وروي أنه عليه السلام كان يقول اللهم إنك تأخذ الروح من بين العصب والقصب والأنامل اللهم فأعني على الموت وهونه علي (٣) وعن الحسن أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر الموت وغصته وألمه فقال هو قدر ثلثمائة ضربة بالسيف (٤) وسئل صلى الله عليه وسلم عن الموت وشدته فقال إن أهون الموت بمنزلة حسكة في صوف فهل تخرج الحسكة من الصوف إلا ومعها صوف (٥) ودخل صلى الله عليه وسلم على مريض ثم قال إني أعلم ما يلقى ما منه عرق إلا ويألم للموت على حدته

Makna; Telah berkata ‘Aisyah -semoga Alloh meridhoinya- : ” Saya tidak lagi menginginkan seperti oranglain yang diringankan atas dia pencabutan ruh setelah yang telah saya lihat yaitu dasyatnya kewafatan Rosululloh ﷺ “.

Diriwayatkan sungguh Nabi ﷺ beliau berdoa : ” Duhai Alloh, sungguh Engkau mengambil ruh dari otot-otot kecil / urat syaraf dan ruas-ruas dan dari ujung jari-jari, Duhai Alloh tolonglah saya untuk menghadapi kematian dan mohon ringankanlah kematian atas diri saya”.

Dan dari Hasan Sungguh Rosululloh ﷺ menyebutkan kematian dan kesusahannya dan kesakitannya maka Nabi ﷺ bersabda : “Itu seukuran tiga ratus tebasan dengan pedang”.

Dan Nabi ﷺ telah ditanya dari perihal kematian dan kedasyatannya, maka Nabi ﷺ bersabda : ” Sungguh YANG PALING RINGAN dari kematian itu seperti kayu penuh duri dalam bulu domba (wol), maka tidaklah kayu ini keluar dari bulu kecuali membawa serta bulu domba”.

Nabi ﷺ menjenguk orang sakit kemudian Nabi ﷺ bersabda : “Sungguh saya mengetahui apa yang dia alami. Tidak ada darinya satu uratpun kecuali merasakan sakit karena kematian atas tajamnya kematian”.

وكان علي كرم الله وجهه يحض على القتال ويقول إن لم تقتلوا تموتوا والذي نفسي بيده لألف ضربة بالسيف أهون علي من موت على فراش

Makna; Dan ‘Ali krw Merangsek dimedan peperangan sambil berkata : “Jika kalian tidak membunuh maka kalian terbunuh, dan demi Yang jiwaku di dalam kekuasaannya, sungguh seribu tebasan perang lebih ringan bagiku daripada mati diatas tempat tidur”.

وقال الأوزاعي بلغنا أن الميت يجد ألم الموت ما لم يبعث من قبره وقال شداد بن أوس الموت افظع هول في الدنيا والآخرة على المؤمن وهو أشد من نشر بالمناشير وقرض بالمقاريض وغلى في القدور ولو أن الميت نشر فأخبر أهل الدنيا بالموت ما انتفعوا بعيش ولا لذوا بنوم

Makna; Dan telah berkata Al-Auza’i : ” Telah sampai pada kami bahwa sungguh mayit merasakan derita sakitnya pati selagi belum dibangkitkan dari kuburnya”.

Dan telah berkata Syadad bin Aus : “Dicabutnya ruh adalah kengerian yang paling mengerikan di dunia dan akhirat atas orang mukmin. Itu lebih dasyat dari pada dipotong-potong dengan banyak gergaji dan dicincang dengan banyak gunting dan digodog (dimasak) dalam kendi-kendi”.

Dan andai sungguh ada mayyit yang bangkit kemudian mengabarkan kepada ahli dunya (orang yang masih hidup) tentang pedihnya kematian, maka mereka tidak akan mengambil manfaat dengan kehidupan dan tidak pula mereka merasakan enak tidur.

وعن زيد بن أسلم عن أبيه قال إذا بقي على المؤمن من درجاته شيء لم يبلغها بعمله شدد عليه الموت ليبلغ بسكرات الموت وكربه درجته في الجنة وإذا كان للكافر معروف لم يجز به هون عليه في الموت ليستكمل ثواب معروفه فيصير إلى النار

Makna; Dan dari Zaid bin Aslam dari bapaknya , beliau berkata : “Ketika masih tersisa atas seorang mukmin sedikit dari derajatnya yang dia tidak bisa mencapai dengan amal (sholihnya) maka diperberat atasnya sakitnya kematian agar tercapai derajatnya di surga dengan sebab sakarotul maut dan penderitaannya. Dan ketika ada kebaikan yang dilakukan oleh orang kafir yang belum terbalas maka diringankan atas dia dalam sakitnya kematian agar sempurna balasan kebaikannya (di dunia) maka masuklah dia (kelak) di neraka”.

(Note : Jadi kita tidak boleh buruk sangka, ada kalanya orang alim, banyak ibadah tapi menjelang wafat beliau sakit yang parah atau sangat menderita dalam kematiannya. Itu kemungkinan karena derajatnya tinggi di surga nanti, sedang amalnya belum mencukupi, sehingga dicukupi dengan penderitaan).

وعن بعضهم أنه كان يسأل كثيرا من المرضى كيف تجدون الموت فلما مرض قيل له فأنت كيف تجده فقال كأن السموات مطبقة على الأرض وكأن نفسي يخرج من ثقب إبرة

Makna; Dan dari sebagian ulama, sungguh beliau bertanya pada orang banyak -dari orang-orang yang sedang sakit- bagaimana mereka mengalami kematian. Maka tatkala beliau sakit ditanyakan padanya : ” bagaimana anda mengalaminya?”. Maka beliau menjawab : “Sungguh seakan tujuh langit den krungkebaken ingatase bumi (ditabrakkan dan ditutupkan ke bumi) dan sungguh seakan diri ini keluar dari lubang jarum”.

وقال صلى الله عليه وسلم موت الفجأة راحة للمؤمن وأسف على الفاجر

Makna; Dan telah bersabda Nabi ﷺ mati mendadak adalah kenyamanan/ketentraman bagi orang beriman dan prihatin (kesedihan yang mendalam) bagi orang yang fajir (banyak maksiyat).

وروى عن مكحول عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلم أنه قال لو أن شعرة من شعر الميت وضعت على أهل السموات والأرض لماتوا بإذن الله تعالى لأن في كل شعرة الموت ولا يقع الموت بشيء إلا مات

Makna; Diriwayatkan dari Makhul dari Nabi ﷺ sungguh beliau telah bersabda: ” Andaikan sungguh sehelai rambut dari rambutnya mayyit dijatuhkan diatas penghuni tujuh langit dan bumi maka tentu mereka akan mati dengan idzin Alloh ta’ala , karena sungguh dalam tiap helai rambut ada kematian. Dan tidaklah kematian menimpa sesuatu kecuali sesuatu itu (ikut) mati.

ويروى لو أن قطرة من ألم الموت وضعت على جبال الدنيا كلها لذابت

Makna; Dan diriwayatkan : ” Andai sungguh satu tetes saja dari sakitnya kematian diletakkan di atas seluruh gunung-gunung di dunia, niscaya lelehlah gunung-gunung itu semua”.

وروى إن إبراهيم عليه السلام لما مات قال الله تعالى له كيف وجدت الموت يا خليلي قال كسفود جعل في صوف رطب ثم جذب فقال أما إنا قد هونا عليك

Makna; Dan diriwayatkan Sungguh Nabi Ibrohim a.s manakala telah wafat maka Alloh Subhanahu Wata’ala bertanya padanya : “Bagaimana kamu menemui (mengalami) kematian hai kekasihku?”. Nabi Ibrohim a.s menjawab : ” Bagai besi yang untuk membakar daging (sujen sate) diletakkan pada bulu domba yang basah kemudian ditarik “. Maka Alloh berfirman : ” ingatlah, sungguh Kami telah benar-benar Kami ringankan kematian itu atasmu”.

وروى عن موسى عليه السلام أنه لما صارت روحه إلى الله تعالى قال له ربه يا موسى كيف وجدت الموت قال وجدت نفسي كالعصفور حين يقلى على المقلى لا يموت فيستريح ولا ينجو فيطير. وروى عنه أنه قال وجدت نفسي كشاة حية تسلخ بيد القصاب

Makna; Dan diriwayatkan dari Nabi Musa a.s Sungguh Musa a.s tatkala Ruhnya telah menghadap Alloh Subhanahu Wata’ala maka Alloh Subhanahu Wata’ala bertanya padanya : “Hai musa bagaimana anda mengalami kematian ? “. Musa a.s menjawab : ” Saya menemukan diri saya bagaikan ‘usfur (sejenis burung kutilang) ketika digoreng diatas penggorengan, yang tidak mati (yang andaikan mati) maka bisa beristirahat, dan tidak pula selamat (yang andaikan selamat) maka bisa terbang”.

Dan diriwayatkan dari beliau sungguh beliau (Musa a.s) menjawab : “Saya menemukan diri saya bagaikan kambing yang masih hidup yang dibeset-beset (dikuliti) di tangan para tukang jagal”.

وروي عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كان عنده قدح من ماء عند الموت فجعل يدخل يده في الماء ثم يمسح بها وجهه ويقول اللهم هون علي سكرات الموت وفاطمة رضي الله عنها تقول واكرباه لكربك يا أبتاه وهو يقول لا كرب على أبيك بعد اليوم

Makna; Dan diriwayatkan dari Nabi ﷺ sungguh Nabi ﷺ di sisinya ada bejana terisi air ketika dekat kewafatan, kemudian Nabi ﷺ memasukkan tangannya ke dalam air, kemudian beliau membasuh wajahnya dengan air seraya berdoa : ” Duhai Alloh mohon ringankan sekarat pati atasku.”

Sedang Fathimah r.a berkata : “Duh sedihnya (aku), karena penderitaan Engkau wahai Abahku”. Dan Nabi ﷺ menjawab: ” Tidak akan lagi ada penderitaan atas abahmu ini setelah hari ini”.

وقال عمر رضي الله عنه لكعب الأحبار يا كعب حدثنا عن الموت فقال نعم يا أمير المؤمنين إن الموت كغصن كثير الشوك أدخل في جوف رجل وأخذت كل شوكة بعرق ثم جذبه رجل شديد الجذب فأخذ ما أخذ وأبقى ما أبقى

Makna; Dan telah berkata Umar r.a pada Ka’ab Al-Ahbar : “Ya Ka’ab ceritakan pada kami perihal kematian”. Maka Ka’ab menjawab : ” Iya, ya Amirolmukminin , Sungguh kematian itu seperti cabang / dahan besar yang banyak sekali durinya, yang dimasukkan kedalam bagian dalam tubuh seorang laki laki dan setiap duri mendapatkan satu urat, kemudian seorang laki-laki lain menarik dahan penuh duri ini dengan tarikan yang sangat kuat, maka terambil apa yang terambil, dan tersisa apa yang tersisa (modal madil dedel duel).

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ العبد ليعالج كرب الموت وسكرات الموت وإن مفاصله ليسلم بعضها على بعض تقول عليك السلام تفارقني وأفارقك إلى يوم القيامة

Makna; Dan bersabda Nabi ﷺ : “Sungguh seorang hamba subgguh akan menghadapi penderitaan-penderitaan kematian dan sakarotulmaut dan sendi-sendinya sungguh sebagiannya akan mengucapkan salam pada sebagian lain dengan ucapannya : “keselamatan semoga atasmu (ucapan selamat tinggal) engkau berpisah dariku dan aku berpisah darimu sampai hari kiyamat”.

فهذه سكرات الموت على أولياء الله وأحبابه فما حالنا ونحن المنهمكون في المعاصي وتتوالى علينا مع سكرات الموت بقية الدواهي فإن دواهي الموت ثلاث

Makna; Maka inilah sakarotulmaut atas para Waliyulloh Subhanahu Wata’ala dan orang-orang yang dicintai oleh Alloh, maka bagaimana dengan kita, sedangkan kita adalah orang-orang yang tekun dalam bermaksiyat dan akan berturut-turut menimpa kita -beserta sakarotulmaut- bencana-bencana besar lainnya dalam kematian. Wallohu a’lam.

In Sya Alloh posting yang akan datang adalah lanjutannya, yaitu Addahiyah Assaniyah (Bencana Besar kedua dalam proses kematian). Sebagai harapan lubuk hati akan syafaat saya sertakan sholawat ini semoga abadi.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَاصَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَآلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Leave your comment here: