TAFSIR SURAT AL-KAFIRUN DAN ALASAN KENAPA IMAM SHOLAT SERING MEMBACANYA

TAFSIR SURAT AL-KAFIRUN DAN ALASAN KENAPA IMAM SHOLAT SERING MEMBACANYA

Tafsir Surah Al-Kafirun

Surah al-Kafirun merupakan wahyu ke-18 yang diterima oleh Kanjeng Nabi Muhammad di Mekkah (Makiyyah). Ada ulama lain yang mengatakan bahwa surah al-Kafirun adalah wahyu yang ke-19. Nama lain dari surah al-Kafirun adalah al-Munaabadzah, al-Mu’abadah, Ikhlasul Ibadah, al-Musyaqsyaqah dan lainnya. Surah ini terdiri atas 6 ayat, 26 kata dan 74 huruf.

Ada peristiwa yang mengiringi turunnya surah ini sebagaimana tertulis dalam kitab Tafsir Marah Labid karya Syekh Nawawi Al-Bantani. Setelah Rasulullah menyampaikan ajaran Islam, beberapa tokoh musyrik merasa bahwa ajaran Muhammad mengancam ajaran mereka. Untuk itu, tokoh-tokohnya datang kepada Rasulullah. Mereka adalah al-Walid bin Mughirah, Ash bin Wail, Aswad bin Abdul Muthalib dan Umayyah bin Khalaf.

Mereka datang ke hadapan Rasulullah dan mengusulkan untuk berkomporomi dan berdamai di antara dua belah pihak. Mereka mengatakan:

“Hei Muhammad, bagaimana kalau beberapa waktu (selama setahun) engkau mengikuti agama kami. Sembahlah berhala dan tuhan-tuhan kami. Dan sebaliknya selama beberapa lama (setahun) kami akan mengikuti agamamu dan menyembah Tuhanmu. Kita menyembah tuhan-tuhan dengan bergantian. Kalau ajaranmu benar, maka kami bisa selamat. Begitu juga sebaliknya. Kalau ajaranmu yang benar, kami bisa selamat.”

Nabi Muhammad saw menolak dengan tegas tawaran ini sebab tidak mungkin Rasulullah menerima ajaran yang bertolak belakang dengan wahyu yang sudah diterima dari Allah. Tidak mungkin Rasulullah menyembah sesembahan orang kafir Mekkah. Untuk menjawab tawaran orang musyrik tersebut, turunlah surah al-Kafirun.

    Katakanlah, “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah men]adi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku.”

Di dalam Tafsir at-Thabari, disebutkan sebuah riwayat lain yang berasal dari Ibnu Abbas. Ibnu Abbas menyebutkan bahwa orang kafir Quraisy menjanjikan Rasulullah dengan harta agar beliau bisa menjadi orang yang paling kaya di negeri Mekkah. Selain itu juga beliau dijanjikan untuk menikah dengan wanita yang diinginkannya. Bahkan beliau dijanjikan akan diberi tahta kerajaan.

Mereka berkata, “Wahai Muhammad ini untukmu semua. Berhentilah untuk mencaci maki tuhan-tuhan kami. Jangan menyebut mereka dengan hal-hal yang buruk. Jika kamu tidak mau melakukannya, maka kami akan memaparkan satu permintaan yang lain, yang mana hal ini akan memberikan kebaikan kepada kita bersama,”

“Apa itu?” tanya Kanjeng Nabi.

Mereka menjawab, “Engkau sembah tuhan-tuhan kami Lata, `Uzza setahun dan kami sembah Tuhanmu selama setahun pula.” Lalu Nabi menjawab dengan surah Al-Kafirun.

Riwayat dari Ibnu Abbas ini merupakan atsar sahabat. Ibnu Abbas menjelaskan tentang Asbabun nuzul surah ini, sedangkan riwayat pertama yang bersumber dari Sa`id Mina adalah merupakan hadis. Hadis ini juga merupakan Asbabun nuzul tentang surah ini.

Inti dari kedua riwayat tersebut adalah bahwa orang kafir Qurays memberikan penawaran dengan mengajak Rasulullah agar Rasul mau menyembah Tuhan mereka. Akan tetapi semua ajakan dan bujukan kafir Qurays tidak mampu mempengaruhi ketegaran Rasul untuk tetap menyampaikan dakwah Islam.

Peristiwa kedatangan tokoh-tokoh kafir ini membuktikan bahwa sebenarnya tantangan dakwah Rasulullah bukan hanya berupa tantangan fisik. Kedatangan mereka sebenarnya ingin mengajak diskusi agar menemukan titik temu antar ajaran agar tidak terjadi perselisihan. Sehingga bisa dikatakan bahwa ini merupakan salah satu ujian intelektual kepada Rasulullah di hadapan umatnya.

Karena bimbingan Allah, Rasulullah bisa mengalahkan argumen tokoh-tokoh kafir yang mendatanginya. Untuk itu jika para ulama sekarang mendapatkan tantangan intelektual dalam dakwahnya, maka tantangan itu juga harus dijawab dengan jawaban yang cerdas pula.

Di dalam ayat yang pertama disebutkan “Katakanlah, Hai orang-orang yang kafir,” jika melihat asbabun nuzul surah ini, maka kata orang-orang kafir (al-kafirun) yang disebutkan adalah tokoh-tokoh yang mendatangi Kanjeng Nabi. Bukan semua orang kafir. Mengapa?

Sebab ayat berikutnya disebutkan aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Jika orang-orang kafir yang disebut di dalam surah ini adalah semua orang kafir baik yang ada sejak zaman Kanjeng Nabi sampai sekarang, maka ini tidak sesuai dengan kenyataan. Sebab ada beberapa orang kafir yang kemudian masuk Islam dan menyembah Allah.

Sedangkan tokoh-tokoh kafir yang mendatangi Rasulullah tidak akan beriman selama-lamanya. Buktinya mereka mati di dalam kekafiran.

Quraish Shihab menjelaskan bahwa Nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah untuk mengatakan kepada orang-orang yang membencinya untuk menjelaskan keyakinannya secara jelas dan konsisten kepada orang-orang kafir. Bahwa tidak ada kompromi dalam hal akidah dan beliau tidak akan menyembah dengan apa yang disembah oleh orang-orang kafir. Sampai kapan pun. Sebab orang-orang kafir menyembah berhala yang berbeda-beda tergantung tempat, situasi dan kondisi.

Ayat kedua dalam surah Al-Kafirun menyebutkan, “Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah.” Ayat ini merupakan penegasan bahwa di masa ini dan di sampai kapan pun Kanjeng Nabi tidak akan menyembah sesembahan orang-orang kafir yang mendatangi Nabi. Rasulullah juga  tidak akan menempuh dan tidak pula meniru cara penyembahan kepada patung-patung tersebut.

Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Maksudnya, kalian tidak usah mengikuti perintah-perintah Allah di dalam beribadah. Dua ayat ini sangat berhubungan dengan ajakan orang kafir agar Kanjeng Nabi Muhammad mau menyembah sesembahan pembesar kaum musyrik di satu waktu. Begitu pula sebaliknya.

Menurut Muhammad Abduh dalam tafsir Al-Manaar bahwa ayat kedua dan ketiga menegaskan tentang perbedaan subtansial mengenai al-ma’bud (yang disembah). Sedangkan ayat keempat dan kelima menegaskan tentang perbedaan subtansial mengenai ibadah yang dilakukan oleh masing-masing pemeluk agama. Dengan demikian, ma’bud antara orang musyrik dan orang Islam tidak sama, dan ibadah pun tidak sama.

Yang disembah oleh umat Islam adalah Tuhan Yang Maha Esa, Yang tidak ada tandingan atau perantara bagi-Nya; Yang Maha Agung sehingga mustahil Ia akan menampakkan diri-Nya dalam diri seseorang tertentu; Yang Maha Pelimpah karunia-Nya kepada siapa pun yang mengikhlaskan diri kepada-Nya; Yang dengan keperkasaan-Nya menghukum siapa pun yang memusuhi hamba-hamba-Nya: yang menyampaikan ajaran-ajaran-Nya dengan penuh ketulusan.

Sedangkan yang disembah oleh orang kafir Makkah berlawanan sifatnya secara diametral dengan Tuhan orang Islam. Demikian pula ibadah umat Islam benar-benar murni untuk Dia saja; sedangkan ibadah orang-orang kafir makkah bercampur dengan kemusyrikan, dan disertai dengan kelalaian akan Allah Swt., maka pada hakikatnya, ia dapat disebut ibadah.

Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.

Menurut Imam al-Qurthubi, perbedaan ayat ketiga dan kelima yang redaksinya persis sama (keduanya berbunyi: wa laa antum aabiduuna maa a’bud), bahwa sementara ulama membedakannya dengan memberi arti yang berbeda terhadap makna maa tersebut. Huruf maa antara lain berarti “apa yang”, dan ketika itu dalam istilah kebahasaan dinamai maa maushuulah dan bisa juga berfungsi mengubah kata yang ketika itu dinamai dengan masdariyah.

Menurut ulama, maa pada ayat ketiga (demikian pula pada ayat kedua) berarti “apa yang”, sehingga wa laa antum ‘aabiduuna maa a’bud berarti “kamu tidak akan menjadi penyembah apa yang yang sedang dan akan aku sembah.” Sedangkan, maa pada ayat kelima (demikian ayat keempat) adalah masdariyah, sehingga kedua ayat ini berbicara tentang cara beribadah: Aku tidak pernah menjadi penyembah dengan (cara) penyembahan kalian; kalian pun tidak akan menjadi penyembah-penyembah dengan cara penyembahanku.

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Kitab Marah Labid menyebutkan Rasulullah selain tidak akan menyembah berhala, beliau juga sebelumnya tidak pernah menyembah apa yang disembah oleh orang kafir. Begitu pula dengan tokoh-tokoh musyrik yang mendatangi Nabi. Sebelum Rasulullah menerima wahyu dan setelah menerima wahyu, mereka tetap menyembah sesembahannya.

Quraish Shihab mengatakan dalam ketiga ayat paling awal dari surah al-Kafirun disimpulkan bahwa Allah berpesan kepada Nabi-Nya, Muhammad Saw., untuk menolak secara tegas usul yang mereka ajukan sekarang tetapi juga menegaskan bahwa tidak mungkin ada titik temu antara Nabi Saw., dengan tokoh-tokoh tersebut. Karena, kekufuran sudah demikian mantap dan mendarah daging dalam jiwa mereka, serta kekerasan kepala mereka telah mencapai puncaknya sehingga tidak ada sedikit harapan atau kemungkinan, baik masa kini maupun masa mendatang, untuk bekerja sama dengan tokoh-tokoh tersebut.

Kemudian dilanjutkan dengan ayat keenam, Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku. At-Thabari (tahun 838-923 M/ 310 H) memberi penjelasan bahwa keseluruhan isi surah al-Kafirun ini dimaksudkan untuk menyembah Allah. Dan Ayat terakhir menjadi sikap tegas Rasulullah untuk mengatakan berbeda dengan mereka. Agama Rasulullah berbeda dengan ajaran orang Kafir. Biarkan itu berbeda tapi perlu dicampur adukkan. Syekh Nawawi menyebutkan bahwa lakum diinukum waliyadin ditafsirkan oleh ulama lain dengan lakum hisaabukum waly hisaaby. Artinya Kamu akan mendapatkan balasan dari apa yang kamu lakukan dan aku akan mendapatkan balasan atas apa yang aku kerjakan.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa surah ini menjadi kekuatan Nabi Saw., untuk menyatakan berlepas diri dari perbuatan yang dikerjakan oleh orang-orang musyrik dan perintah kepada umat muslim pula untuk selalu berbuat ikhlas kepada Allah. Tidak ada jalan untuk mengabdi kepada Allah kecuali dengan mengikuti risalah yang dibawa oleh Nabi Saw.

Diantara waktu yang dianjurkan untuk membaca surat ini adalah ketika ingin tidur, sebagaimana dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

“Bacalah ketika engkau hendak tidur: qul yaa ayyuhal kaafiruun, Kemudian tidurlah setelah engkau selesai membacanya. Sesungguhnya surat tersebut sebagai pelepas dari kesyirikan”. HR Ahmad 39/224 no: 23807.

Salah satu keutamaan dari surah ini adalah Kanjeng Nabi Muhammad biasa meruqyah dirinya dengan membaca surah ini. Seperti dijelaskan oleh at-Thabarani didalam Mu’jam al-Shaghir dari hadisnya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Bahwa Nabi Muhammad pernah mengatakan, “Semoga Allah melaknat kalajengking yang tidak membiarakan seseorang mengerjakan sholat tidak pula yang lainnya.” Kemudian beliau meminta diambilkan air dan garam, lalu beliau mengusapkan pada bekas sengatannya sambil membaca surah Al-Kafirun, surah Al-Falaq dan surah An-Naas.

 

Mengapa Imam Salat di Kampung Suka Baca Surah al-Kafirun?

Para imam di masjid-masjid kampung umumnya punya surat andalan sewaktu memimpin salat berjamaah: Magrib. Untuk rakaat pertama bacaannya surah al-Kafirun dan rakaat kedua bacaannya surah al-Ikhlas.

Kebiasaan membaca surah andalan ini ternyata bukan karena mereka tidak punya hapalan surat lain. Bahkan tak sedikit mereka yang hafal Alquran, tapi yang mereka baca hanya surat-surat itu. Kenapa mereka membaca dua surah itu?

Ada dua jawaban. Pertama, mengamalkan hadis Rasulullah: “Jika salah satu di antara kalian menjadi imam maka hendaknya meringankan bacaan dan gerakan karena dalam jamaahnya ada anak kecil, orang tua, orang yang memiliki keperluan. Namun jika salat sendirian maka lakukan sekuasa kalian” (Mutafaq alaihi). Membaca surah al-Kafirun dan al-Ikhlas bertujuan meringankan bacaan salat berjamaah.

Kedua, untuk merekonstruksi iman dan Islam. Seseorang ketika membaca surah al-Kafirun hakekatnya sedang melakukan evaluasi diri, bukan melaknat orang lain yang tak seakidah. Dari evaluasi diri ini diharapkan sifat-sifat tertutup, congkak, ingkar, dan lain-lain. yang menunjukkan sifat kufur (ingkar) dapat diperbaiki secara bertahap. Cara memperbaikinya dengan cara mengingatkan diri melalui bacaan surah al-Ikhlas.

    Bacaan surah al-Kafirun dan surah al-Ikhlas dapat diibaratkan seperti pembaruan sistem aplikasi seorang muslim. Imam spesialis bacaan surah al-Kafirun dan surah al-Ikhlas berperan sebagai aplikator yang bekerja memperbaiki perangkat khusus orang Islam yang tak berfungsi maksimal.

Apa perangkat khusus orang Islam itu?

“Islam” yang disebut dalam Alquran sebanyak delapan kali dalam arti agama identik dengan komunitas khusus. Yakni komunitas muslim yang memiliki perangkat dan sistem khusus pula yang dibangun lewat jejaring “salam” yang berarti penghormatan dan keselamatan.

Untuk membuktikan hal itu, perhatikan ayat-ayat berikut ini: Q.S. Yunus: 9-10, salam adalah penghormatan buat orang-orang yang saleh;

Alquran surah al-Ahzab ayat 56: salam merupakan bentuk penghormatan ummat kepada nabi yang dijunjungnya. Alquran surah an-Nuur ayat 61: salam adalah penghormatan antara seseorang kepada sahabatnya. Alquran surah an-Nuur ayat 27: salam merupakan penghormatan kepada tuan rumahnya. Dalam Alquran surah as-Shaffat: salam diulang beberapa kali sebagai penghormatan kepada para rasul.

Dengan demikian, perangkat Islam adalah model jejaring yang menginduksikan rasa hormat dan menyebarluarkan keselamatan kepada umat manusia.

Imam di masjid-masjid kampung spesialis bacaan surah al-Kafirun ketika membaca qul ya ayyuhal kafirun bukanlah bertujuan menyinggung non-muslim. Toh yang berjamaah semuanya orang Islam. Tetapi surah al-Kafirun selalu dibaca tiap rakaat pertama sekedar untuk mengingatkan; apa di antara yang salat sudah tertanam rasa hormat-menghormati?

Jika belum, imam di masjid kampung itu mengingatkan dengan bacaan surah al-Ikhlas, agar semua menyadari bahwa hidup tidak boleh egois. Manusia tidak bisa hidup sendiri sebab manusia bukan Tuhan.

Sebagai umat beragama manusia harus hormat kepada Tuhannya dan para rasul perantara-Nya. Sebagai makhluk sosial manusia harus saling menghormati antar sesama umat manusia.

Imam di mesjid kampung itu telah menggugah kesadaran kaumnya agar semua yang mengaku muslim dapat menjadi pribadi yang salim. Yaitu pribadi yang selalu melakukan penghematan kepada Tuhan dan siapa saja agar terajut rasa aman, nyaman, dan sentosa sesuai ajaran Islam rahmatan lil alamin.

Imam masjid di kampung berperan laksana orangtua yang mengajarkan kepada anak-anaknya: Ayooo Nak! Saliiim… (Salami orang-orang yang ditemui). Bukankah kita juga begitu ngajari anak-anak sewaktu ketemu orang?

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

Leave your comment here: