TINGKATAN IBADAH DAN TAUBAT ANTARA ORANG YANG AWAM DAN LAINYA

TINGKATAN IBADAH DAN TAUBAT ANTARA ORANG YANG AWAM DAN LAINYA

TINGKATAN DALAM IBADAH

Tingkatan dalam PUASA :

• Puasa orang biasa, adalah menahan diri dari makan, minum dan hubungan biologis antara suami istri dalam jangka waktu tertentu.

• Puasa orang khususnya orang biasa, maksudnya adalah menahan diri dari hal yang diatas dengan disertai mencegah ucapan dan perbuatan dari hal-hal yang diharamkan

• Puasa orang khusus, adalah menahan diri dari melakukan segala sesuatu selain dzikir dan beribadah pada Allah Ta’aalaa.

• Puasa orang khususnya orang khusus, adalah menjaga diri dari selain Allah, tidak ada buka puasa baginya sampai datangnya hari kiamat, dan ini adalah maqam derajat yang tinggi. ( Fath al-Bari IV/109)

Tingkatan dalam SHALAT :

• Shalat orang biasa, adalah shalat kebanyakan orang pada umumnya dengan menjalankan perbuatan yang diawali takbiiratul ihram, diakhiri salam dengan disertai niat.

• Shalat orang khusus, adalah dengan meniadakan segala kehinaan yang terlintas dalam pikiran, keinginan-keinginan duniawi dalam shalatnya namun demikian diperkenankan baginya terlintasnya harapan-harapan yang bersifat ukhrawi seperti keinginan masuk dalam surga, aman dari siksa neraka.

• Shalat orang yang sangat khusus, adalah dengan khudurnya hati dan berpaling jauh-jauh dari segala hal selain Allah.

(Tafsir Ruh al-Ma’any XXIII/113)

Tingkatan dalam IKHLAS :

• Ikhlas orang biasa, dengan menepis keberadaan orang lain dalam tujuan ibadahnya disertai dengan tercapainya bagian dirinya baik berupa kebahagian dunia ataupun akhirat seperti berpengharapan diberikannya kesehatan, harta, rizki lapang, kemegahan serta bidadari-bidadari surga.

• Ikhlas orang khusus, disertai dengan tercapainya bagian dirinya baik berupa kebahagian dalam kehidupan akhirat bukan kebahagiaan dunia.

• Ikhlas orang yang sangat khusus, bila mampu menepis semua bagian dalam dirinya secara keseluruhan, ibadahnya semata-mata bentuk pengabdian, menyadari keberadaanya sebagai hamba yang mesti menjalani titah Tuhannya dengan suka cita dan selalu diliputi kerinduan yang mendalam pada Sang Kekasih. (Iiqaazh al-Himam Syarh Matan alHikam I/18)

Tingkatan dalam TAUBAT :

• Taubat orang biasa, dengan menyesali dosa yang telah terbuat, berkeinginan kuat untuk tidak mengulangi kembali, mengembalikan hak-hak orang lain bila memungkinkan dan berniat mengembalikannya bila tidak memungkinkan.

• Taubat orang khusus, dengan berhenti dari hal-hal yang dimakruhkan Allah, berhenti dari kejelekan yang terlintas dalam pikiran, berhenti dari kelesuan dalam menjalani ibadah dan berhenti dari menjalani ibadah yang tidak sempurna.

• Taubat orang yang sangat khusus, bukan karena kesalahan atau kekurangan yang telah terjalankan tapi karena kesalahan dan kekurangan yang selalu terasakan, dengan taubat ini kian tinggilah maqam dan derajatnya disisi Allah Ta’aalaa. (Tafsiir al-Aluusi II/10)

Kitab Syarah Misykatul Mashobih

قال العارفون : التعبد إما لنيل الثواب ، أو التخلص من العقاب ، وهي أنزل الدرجات ، وتسمى عبادة ؛ لأن معبوده في الحقيقة ذلك المطلوب ، بل نقل الفخر الرازي إجماع المتكلمين على عدم صحة عبادته .

أو للتشرف بخدمته تعالى والانتساب إليه ، وتسمى عبودية ، وهي أرفع من الأولى ، ولكنها ليست خالصة له ،

أو لوجهه تعالى وحده من غير ملاحظة شيء آخر ، وتسمى عبودة ، وهي أعلى المقامات وأرفع الحالات

Ulama’ ahli ma’rifat berkata :

“Beribadah ada kalanya bertujuan untuk mendapatkan pahala atau agar selamat dari siksa, ini adalah derajat ibadan terendah dan dinamakan IBADAH, karena sesungguhnya yang disembahnya secara hakekat adalah tujuan tersebut.Bahkan fakhrur rozi menukil ijma’nya ulama’ kalam bahwa ibadah seperti itu tidaklah sah.

Atau tujuan ibadah adalah agar meraih kemuliyaan dengan berkhidmat kepada Allah ta’ala dan bersandar kepada-Nya, dan ini dinamakan sebagai UBUDIYAH, derajat ini lebih tinggi daripada yang awal,tetapi masih belum murni untuk Allah.

Atau tujuan ibadahnya hanyalah untuk meraih ridho Allah semata tanpa melirik sesuatu lainnya,ini dinamakan UBUDAH,dan ini adalah maqom dan keadaan tertinggi.”

TINGKATAN KEIKHLASAN

Ada orang yang bertanya: Apakah boleh kita membaca waqiah dengan tujuan meraih dunia (kelancaran rizki)? Apakah hal ini tidak termasuk kategori Riya’.

Permasalahan seperti ini bisa saja menggangu pikiran para jamaah. Maka disini meluruskan mengenai definisi riya, ikhlas dan tingkatannya seperti berikut dan selanjutnya anda yang akan menjawab pertanyaan diatas dengan sendirinya.

Dalam Risalah Qusyairiyah disebutkan :

 وقال الفضيل بن عياض رحمه الله تعالى: (ترك العمل من أجل الناس رياء، والعمل

 من أجل الناس شرك، والإخلاص أن يعافيك الله منهما)

[“الرسالة القشيرية” ص95 ـ 96)

 Fudhail bin iyadl Rahimahullah berkata: Meninggalkan Amal karena manusia itu namanya riya’, beramal karena manusia itu namanya syirik dan Ikhlas adalah jika engkau dijauhkan oleh Allah dari keduanya.

Sedang Ibnu Ajibah Rahimahullah berkata ;

 الإخلاص على ثلاث درجات: إخلاص العوام والخواص وخواص الخواص.

 Ikhlas terdiri atas tiga tahapan:

 فإخلاص العوام: هو إخراج الخلق من معاملة الحق مع طلب الحظوظ الدنيوية والأخروية كحفظ البدن والمال وسعة الرزق والقصور والحور. (1)

 Ikhlas awam. yaitu, berbuat karena Allah semata, namun masih menginginkan bagian dunia dan akhirat, seperti kesehatan dan kekayaan –Rizki yang melimpah , juga kemegahan di surga serta bidadari;

 وإخلاص الخواص: طلب الحظوظ الأخروية دون الدنيوية. (2)

Ikhlas Khusus. yaitu, hanya menginginkan bagian akhirat tanpa memperdulikan bagiannya di dunia;

 وإخلاص خواص الخواص: إخراج الحظوظ بالكلية، فعبادتهم تحقيق العبودية والقيامُ بوظائف الربوبية محبة وشوقاً إلى رؤيته، (3)

Ikhlas khawasul khawas. yaitu, melepaskan seluruh keinginan atau bagian kesenangan serta balasan dunia dan akherat, persembahan mereka semata-mata hanya untuk merealisasikan ubudiyah sekaligus melaksanakan hak dan perintah Ke-Tuhanan (Rububiyah), karena cinta dan rindu untuk melihat Allah SWT.

 Dalam kitab minhajul abidin terdapat permasalahan yaitu: Banyak masyayikh yang mengamalkan surat waqiah sewaktu dilanda kesulitan (ayyamul usri), mereka membaca quran yang termasuk amalan akhirat tapi dengan menghendaki harta dunia, apakah tidak termasuk riya’? Imam ghazali menjawab bahwa tujuan mereka adalah dunia yang digunakan untuk kebaikan, mengajarkan ilmu, menolak ahli bid’ah, membela kebenaran, mengajak-ngajak manusia menuju ibadah, dan mempermudah ibadah.

 فَهَذِهِ كُلُّهَا إرَادَاتٌ مَحْمُودَةٌ لَا يَدْخُلُ شَيْءٌ مِنْهَا فِي بَابِ الرِّيَاءِ ؛ إذْ الْمَقْصُودُ مِنْهَا أَمْرُ الْآخِرَةِ بِالْحَقِيقَةِ

Ini semua adalah keinginan / tujuan yang terpuji yang tidak masuk kedalamnya sesuatupun dari unsur riya’. Karena harta dunia (yang dicari dari surat waqiah) hakikatnya adalah berorientasi akhirat. Hal ini berlandaskan pada hadits shohih; “innamal a’mal bin niyyaat ” yang dijabarkan dalam sebuah hadits :

 كم من عمل يتصور بصورة الدنيا فيصير من أعمال الآخرة بحسن النية, وكم من عمل يتصور بصور الآخرة فيصير من أعمال الدنيا بسوء النية

Betapa banyak amal yang berbentuk amal dunia tetapi menjadi amal akhirat karena baiknya niat dan betapa banyak amal yang berbentuk amal akhirat tetapi jadi amal dunia belaka karena jeleknya niat.

Leave your comment here: