KEMULIAAN YANG DI PEROLEH DI DUNIA DAN AKHIRAT OLEH ORANG YANG BERTAQWA

KEMULIAAN YANG DI PEROLEH  DI DUNIA DAN AKHIRAT OLEH ORANG YANG BERTAQWA

14 Kemuliaan Orang Takwa yang Diperoleh di dunia

Di balik perintah Allah selalu tersimpan banyak keutamaan, kemuliaan, rahasia, dan hikmah yang sangat mendalam. Demikian halnya perintah takwa yang tersebar dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Secara bahasa, takwa berarti ‘takut’, ‘waspada’, atau ‘hati-hati.’ Makna bahasa ini pula yang kemudian berkembang menjadi makna istilahnya, dimana takwa diartikan sebagai rasa takut, waspada, dan hati hati atas apa yang telah ditetapkan Allah, baik perintah maupun larangan. Tak heran bila takwa dipahami sebagai kepatuhan atau ketaatan terhadap perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Selanjutnya, al-Ghazali merinci ada 40 keutamaan yang didapatkan orang yang bertakwa: 20 di dunia dan 20 di akhirat. Berikut ini adalah 20 keutamaan orang takwa yang akan didapatkan di dunia, namun dipadatkan dan digabungkan menjadi 14 poin dengan beberapa penjelasan seperlunya.

Pertama, mendapat pujian Allah, janji pembalasan dan karunia-Nya. Bayangkan betapa gembiranya seseorang saat mendapat sanjungan dari makhluk dan nama baiknya disebut-sebut di hadapan khalayak. Lantas bagaimana jika mendapat sanjungan dari Dzat Yang Maha Kuasa. Salah satunya dalam ayat berikut, Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar, (QS. Ali ‘Imran [3]: 171-172).

Kedua, mendapat ucapan terima kasih dan penghormatan dari Allah. Penghormatan dari makhluk saja terkadang membuat seseorang terhormat, merasa bangga dan mulia, bagaimana jika penghormatan itu datang Dzat Yang Maha Mulia.

Ketiga, dicintai oleh Allah. Permintaan apa pun terhadap sang kekasih, pasti diberi. Terlebih jika kekasihnya adalah Dzat yang memiliki segalanya. Hal itu salah satunya diungkapkan dalam ayat berikut, Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa, (QS. at-Taubah [9]: 7).

Keempat, urusannya ditangani, diatur, dan diawasi langsung oleh Allah, sebagaimana ayat perintah takwa berikut ini, yang diakhiri dengan janji pengawasan-Nya, Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu, (QS. An-Nisa’ [4]: 1).

Kelima, dihilangkan kesulitannya, selalu diberi jalan keluar bagi masalahnya, dan diberi rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka, sebagaimana firman Allah, Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya, (Q.S. ath-Thalaq [65]: 2-3).

Keenam, selalu ditolong dan dilindungi Allah dari perbuatan orang-orang yang zalim dan berniat buruk.

Ketujuh, selalu merasa ditemani dan diberi ketenangan, sehingga tidak takut terhadap keadaan apa pun, tidak takut terhadap perubahan dan kesulitan apa pun.
Kedelapan, dianugerahi kemuliaan diri, tidak mau direndahkan atau dilalaikan oleh dunia dan para pemiliknya. Interaksinya dengan dunia hanya sebatas di tangan saja, tidak sampai ke dalam hati kecuali yang berkaitan dengan urusan akhirat. Dirinya sadar akan ayat yang menyatakan, Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka, (QS. Al-An‘am [6]: 32).

Kesembilan, selalu diberi kelapangan dan kekayaan hati. Sedangkan orang yang kaya hati lebih kaya dari orang yang kaya dunia. Hatinya selalu diliputi ketenangan, tidak kaget dengan ujian dan tipu daya makhluk, tidak sedih dengan kehilangan sesuatu, sebab hatinya yakin apa pun yang menimpa Allah berasal dari Allah, sedangkan Dia adalah Dzat yang dicintainya. Kesepuluh, hatinya selalu terang dengan cahaya, petunjuk, rahasia Allah, hikmah, dan ilmu, sebagaimana firman Allah, Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. QS. Al-Baqarah [2]: 282).

Kesebelas, dicintai, dihormati, bahkan disegani oleh makhluk, baik oleh orang alim maupun orang awam, baik orang yang baik maupun orang yang jahat. Pasalnya, Allah meletakkan keagungan, kecintaan, dan karismatik pada dirinya, sehingga membuat orang lain segan dan tak berani melakukan sesuatu yang tak pantas.

Kedua belas, diberikan keberkahan dalam hidupnya. Keberkahan sendiri berarti bertambahnya kebaikan terhadap kebaikan yang ada. Keberkahan dalam ilmu, usia, harta, dan keturunan, misalnya. Semakin banyak ilmunya, semakin banyak amalnya. Semakin banyak hartanya, semakin banyak sedekahnya. Dan seterusnya.

Ketiga belas, doanya mustajab dan pembicaraannya tajam. Tidaklah meminta sesuatu kecuali dikabulkan oleh Allah, tidaklah meminta satu pertolongan, kecuali akan ditolong. Tidaklah melontarkan satu sumpah, kecuali akan terjadi.

Keempat belas, dibukakannya kunci-kunci kekayaan langit dan bumi. Apa pun yang diinginkannya, terkabulkan. Ingin makanan tertentu, misalnya, niscaya Allah akan mengabulkannya, baik melalui perantara makhluk maupun perantara malaikat. Bahkan, hewan buas sekalipun tunduk kepadanya.

Dua keutamaan terakhir ini lebih sering disebut dengan “karamah”, artinya perkara luar biasa yang mengalir dari tangan orang-orang takwa, orang saleh, takut pada Allah, dan orang-orang yang dikasihi-Nya (wali). Sehingga bilamana perkara itu keluar dari selain orang takwa atau selain orang saleh, maka bukanlah karamah, melainkan khidzlan, istidraj, atau idhlal. (Minhajul ‘Abidin, hal. 104-105).

14 Kemuliaan Orang Takwa yang Diperoleh di Akhirat

Selain anugerah di dunia, orang bertakwa juga memperoleh sejumlah karunia di akhirat kelak. Kenikmatan yang terakhir ini lebih dibutuhkan dan lebih hakiki. Ada 14 kemuliaan yang akan diraih orang takwa di akhirat.

Pertama, diringankan dan dimudahkan Allah pada saat sakaratul maut. Sakaratul maut sendiri merupakan sesuatu yang ditakuti para nabi, sehingga mereka senantiasa berdoa agar diringankan saat melewati peristiwa berpisahnya ruh dan jasad itu. Satu riwayat mengatakan, sakitnya dicabut nyawa ibarat dicabutnya sebuah besi berduri dari dalam perut sekaligus. Namun, tidak demikian halnya untuk hamba yang bertakwa. Kembali digambarkan dalam hadis, bagi orang takwa yang saleh, rasanya kematian tak lebih seperti dicabutnya sehelai rambut dari adonan tepung, sedangkan menurut riwayat lain, seperti air minum yang diteguk oleh orang yang sedang kehausan.

Kedua, diberikan keteguhan dalam mempertahankan makrifat dan keimanan kepada Allah. Tanpa keteguhan dari Allah, setiap hamba akan merasakan ketakutan dan kegelisahan yang, bahkan tak jarang berujung kesedihan dan penyesalan yang tiada tara. Keteguhan itu sebagaimana dijanjikan Allah swt. dalam Al-Qur’an, Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, (Q.S. Ibrahim [14]: 27).

Ketiga, diberikan kabar gembira, keridaan, dan rasa aman aman oleh Allah, sebagaimana dalam firman-Nya, Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu, (QS. Fushilat [41]: 30). Artinya, tidak akan ada ketakutan bagi orang yang bertakwa atas apa yang akan dihadapi di akhirat dan apa yang telah diperbuat di dunia.

Keempat, diselamatkan dari pertanyaan dan fitnah kubur. Berbeda dengan orang-orang yang kufur, orang-orang yang takwa seperti diajari dan dituntun dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Sebagaimana dalam sejumlah riwayat, pertanyaan pertama adalah tentang Tuhan yang disembahnya semasa di dunia. Pertanyaan kedua tentang agama yang dipeluk. Pertanyaan ketiga tentang rasul yang diutus di tengah umat manusia. Dan pertanyaan yang keempat tentang kitab dan amal-amal lainnya semasa di dunia.

Kelima, dilapangkan di dalam kuburnya, diberikan cahaya penerang, dan ditempatkan dalam salah satu taman surga Allah hingga hari kebangkitan. Salah satu hadis menyebutkan, usai sang hamba menjawab pertanyaan Munkar-Nakir dengan baik, terdengarlah seruan, “Maka hamparkanlah sebuah taman dari surga untuknya. Berilah pakaian dari surga untuknya. Bukalah sebuah pintu ke surga untuknya. Maka datanglah aroma wangi dari surga kepadanya. Dan dilapangkanlah kuburannya sejauh mata memandang.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan yang lain).

Keenam, dimuliakan ruhnya oleh Allah. Menurut satu riwayat, sebagian ruh mereka ada yang disimpan di dalam perut burung-burung khadhir bersama ruh para hamba yang saleh lainnya dalam keadaaan senang gembira atas karunia Allah yang dilimpahkan kepada mereka.

Ketujuh, diselamatkan dari huru-hara Kiamat, dibangkitkan dan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan agung nan mulia, wajah yang bersinar dan berseri-seri, seraya mengenakan pakaian mahkota dan pakaian kebesaran dan dipersiapkan untuk menatap tuhan mereka. Hal ini sejalan dengan firman-Nya, Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat, (Q.S. al-Qiyamah [75]: 22-23).

Kedelapan, diberikan kitab catatan amal dari depan atau dari belakang. Sedangkan, diberikan kitab catatan amal dari arah kiri atau belakangnya merupakan pertanda celaka bagi yang penerimanya. Di antara cara meraih catatan amal dari sebelah kanan setelah berusaha beramal salah adalah memperbanyak berdoa:
اَللَّهُمَّ آتِنِي كِتَابِي بِيَمِيْنِي وَحَاسِبْنِي حِسَاباً يَسِيْراً
“Ya Allah, berikanlah kitab catatan amalku dari sebelah kanan, dan hisablah aku dengan hisaban yang ringan.”

Kesembilan, diringankan dalam hisab (penghitungan amal), bahkan sebagian di antara mereka diloloskan tanpa hisab. Di antara faktor yang menyebabkan lamanya hisaban adalah harta kekayaan. Diriwayatkan, Nabi Isa ‘alaihissalam sebagai nabi termiskin, masuk surganya lebih dahulu lima ratus tahun dibanding Nabi Sulaiman ‘alaihissalam sebagai nabi terkaya. Keterlambatan Nabi Sulaiman itu diceritakan oleh Allah sebagai pelajaran bagi umatnya dan umat-umat berikutnya.

Kesepuluh, diberatkan timbangan amalnya, bahkan sebagian di antara mereka diloloskan dari timbangan ini. Semoga saja kita termasuk hamba yang diloloskan dari timbangan amal, setidak-tidaknya diberatkan amal saat melewati timbangan ini. Kaitan dengan timbangan amal, Rasulullah saw. pernah mengajarkan dua kalimat yang dapat memberatkan timbangan amal kebaikan kita, yaitu: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Kesebelas, dihadirkan dalam telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan dipersilakan minum airnya, dimana tidak ada seorang pun yang meneguk air itu kecuali tidak akan merasa haus lagi selamanya.

Kedua belas, dimudahkan dan diselamatkan dalam melintasi jembatan al-Shirath. Sementara jembatan al-Shirath sendiri merupakan jembatan yang menghubungkan antara surga dan neraka. Siapa pun yang tergelincir akan terjatuh ke dalam neraka. Sesuai dengan amal masing-masing, manusia yang melintasi jembatan ini ada yang secepat kilat, ada yang seperti berlari, ada yang berjalan biasa, ada pula yang merangkak. Tak hanya itu, bagi orang yang celaka, tajamnya jembatan itu lebih dari mata pedang.

Ketiga belas, diberikan syafaat dari para nabi dan rasul. Sebagaimana diketahui, syafaat terbesar (uzhma) sekaligus syafaat pembuka adalah syafaat Rasulullah saw. Setelah itu, barulah hamba-hamba yang lain diberikan kesempatan untuk memberikan syafaat.

Keempat belas, diberi balasan yang besar, dimasukkan ke dalam surga kenikmatan yang abadi, dan meraih rida Allah, bahkan bisa berjumpa langsung dengan-Nya, dimana kenikmatannya sungguh tak terkira, tak terhingga, dan tak bisa digambarkan kata-kata. (Lihat: al-Ghazali, Minhajul ‘Abidin, hal. 104-105)

Leave your comment here: