DEMI MENGEMBALIKAN PENSIL, SUFI BESAR INI RELA BOLAK BALIK TURKMENISTAN-SIRIA

DEMI MENGEMBALIKAN PENSIL, SUFI BESAR INI RELA BOLAK BALIK TURKMENISTAN-SIRIA

Abdullah bin Mubarak (W. 797 M) suatu waktu pernah bolak-balik dari Merv (Kini, Turkmenistan) ke Syam (Damaskus) hanya sekadar untuk mengembalikan pena yang dipinjamnya. Berapa jarak yang ditempuh?

Jarak yang ditempuh untuk sekali perjalanannya adalah 2.922 kilometer, hampir setara tiga kali Anyer ke Panarukan. Bin Mubarak menempuhnya dengan jalan kaki,  dengan catatan waktu sekira 591 jam.

“Dari Ahmad b Fadhalah, saya mendengar al-Hasan bin ‘Arafah berkata, Ibnu Mubarak bercerita kepadaku, ‘Aku meminjam sebuah pena kepada seseorang di negeri Syam (Damaskus). Kemudian aku pergi ke sana untuk mengembalikan pena itu ke pemiliknya.

Sesampainya di Merv (tempat tinggal Abdullah bin Mubarak, kini masuk daerah Turkmenistan), ternyata pena tersebut masih ada di tanganku. Aku pun kembali lagi menuju Syam dan mengembalikan pena kepada sang pemiliknya’,” seperti termaktub dalam kitab Tarikh al-Baghdad karya Akhmad bin Ali bin Tsabit yang lebih dikenal dengan sebutan Khatib al-Baghdadi.

Siapa Abdullah bin Mubarak?

Abdullah bin Mubarak dilahirkan di kota Merv, wilayah Asia Tengah, pada tahun 118 H di masa khalifah Umayyah, Hisyah bin Abd Malik. Ia hidup hingga tahun 181 H.

Pujian terhadap sang Sufi ini juga datang dari ulama besar Sufyan at-Tsauri, pendiri mazhab Tsaur. Dikisahkan dari Imran bin Musa at-Thursusi bahwa ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Sufyan at-Tsauri dan mengajukan pertanyaan atas sebuah masalah yang ditimpanya. Sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan si penanya, Sufyan at-Tsauri balik bertanya, “Dari mana asalmu?”.

Ia menjawab, “Daerah Timur.”

Sufyan Al-Tsauri kembali bertanya, “Bukankah di sana ada ulama besar?”

Si penanya balik bertanya, “Siapakah nama ulama yang engkau maksud?”

Sufyan Al-Tsauri menjawab, “Abdullah bin Mubarak!”

Penanya kembali bertanya, “Apakah beliau ulama besarnya daerah Timur?”

Sufyan at-Tsauri menjawab, “Ya. Juga ulamanya bagi penduduk di wilayah Barat!”

Kembali kepada kisah bagaimana Abdullah bin Mubarak menempuh ribuan kilometer hanya untuk mengembalikan pena yang dipinjamnya, tentu ada teladan yang bisa kita petik dari kisah ini: sepele apa pun barang yang kita pinjam adalah milik si empunya yang wajib kita kembalikan.

Dan, ini yang berat, sejauh apa pun jarak yang harus kita tempuh, mestinya tidak menjadi alasan untuk tidak mengembalikan barang yang kita pinjami.

Leave your comment here: