KISAH KHIDMAH MELAYANI SAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKY AL-HASANY

KISAH KHIDMAH MELAYANI SAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKY AL-HASANY

Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki adalah orang yang super sibuk dengan kegiatan mengajar, mendidik, berdakwah, menulis, bersosialasi dan menemui banyak tamu. Bagi orang seperti beliau, waktu semenitpun sangat berarti sehingga sayang sekali bila digunakan untuk hal sepele. Jangankan Abuya, saya sendiri ketika sibuk dan fokus menulis kadang tidak sempat untuk makan seperti biasa karena dapat merusak konsentrasi, apalagi ketika sedang memeras otak dan menulis cepat agar tidak keburu lupa, sementara perut sudah lapar sekali, maka sayapun makan disuapi oleh istri atau oleh santri.

Siapapun akan merasa senang untuk berkhidmah pada orang seperti Abuya, misalnya mengurus pakaian dan makanan beliau. Maka, ketika kami berkhidmah pada beliau, itu bukan karena beliau memerlukan kami, melainkan kamilah yang memerlukan beliau, karena dengan berkhidmah pada beliau berarti kami berpartisipasi dalam semua kegiatan beliau.

Saya memiliki dua pengalaman gagal khidmah yang akhirnya tidak dipakai oleh Abuya. Namun sebelum menceritakan gagal khidmah saya itu, saya akan menceritakan macam-macam khidmah terhadap Abuya, setidaknya yang saya ingat saja, angka yang akan saya sebutkan bukan untuk membatasi, melainkan sekedar untuk merunut ingatan saya saja.

Pertama adalah khidmah mengurus keperluan pribadi Abuya, seperti makan minum, obat-obatan, pakaian, parfum dan sebagainya. Termasuk parfum adalah membakar bukhur gahru untuk ruangan, pakaian dan air galon yang diminum Abuya. Abuya itu serba wangi. Di zaman saya, yang berkhidmah dalam hal ini diantaranya adalah Habib Abdillah Assegaf (Solo), Kiyai Marzuqi (Madura), Kiyai Mawardi Makmun (Karongan Sampang) dan Kiyai Hisyam Subhani (Jakarta).

Kedua adalah khidmah mengurus peralatan Abuya, seperti tape recorder dan kamera untuk merekam kegiatan majlis, studio editing dan copy kaset rekaman majlis, baik audio maupun video. Di zaman saya, yang berkhidmah dalam hal ini adalah Kiyai Kamal Mukhlis (Gresik), beliau bahkan terkadang menemani Abuya keluar negri untuk khidmah pendokumentasian. Ketika itu, saya yang sudah menguasai komputer hampir menawarkan diri ke Abuya untuk berkhidmah dalam pengetikan dan setting lay out kitab-kita beliau, karena pengetikan dan editing kitab-kitab Abuya selalu diserahkan pada orang luar. Ketika itu saya sendiri bahkan sudah memiliki mesin ketik elektrik untuk keperluan menulis saya sendiri, karena saya sudah mulai menulis sejak sebelum ke Makkah. Saya meminta pendapat beberapa teman senior untuk mengajukan niat saya itu pada Abuya dan mereka mendukung. Namun niat itu tidak kesampaian karena saya keburu pulang.

Ketiga adalah khidmah mengurus kendaraan Abuya, baik nyetirin Abuya sendiri maupun nyetirin keluarga beliau. Di zaman saya, “supir” yang biasa dipakai Abuya sendiri diantaranya adalah Habib Ali Al-Habsyi (Probolinggo) dan Kiyai Nur Kholiq (adik ipar Kiyai Ihya’ Ulumiddin Malang).

Keempat adalah mengurus keperluan rumah tangga keluarga Abuya, yang berkhidmah dalam hal ini adalah Habib Idrus Alaydrus (Bangil Pasuruan) yang hingga kini menetap di Rushifah. Beliau merangkap sebagai “wakil” Abuya didalam mengurus santri, termasuk mengajar di kelas. Beliau adalah orang yang paling diperlukan oleh Abuya untuk membantu mengurus keluarga Abuya dan santri, sehingga beliau tidak pulang hingga sekarang.

Kelima adalah khidmah mengurus properti yang ditempati Abuya, yaitu kompleks yang terdiri dari tiga bangunan mencakup villa tempat tinggal keluarga Abuya, gedung tempat khusus Abuya dan semua barang keperluan sehari-hari beliau, serta gedung yang mencakup aula majlis dan asrama santri. Properti yang besar ini perlu perawatan setiap hari dengan menyapu, mengepel dan sebagainya. Di zaman saya, yang berkhidmah mengurus semua itu adalah Habib Musthofa Al-Jufri (Sumenep Madura), beliau yang menunjuk dan mengkoodinator santri untuk tugas tertentu.

Keenam adalah khidmah menulis atau menjadi katib Abuya. Ada yang digunakan sebagai katib imla’ (menulis dengan dikte), untuk ini biasanya katib senior, namun -Alhamdulillah- saya langsung menjadi katib imla’ walupun saya masih baru, ketika itu saya berumur dua puluh tahun. Diantara katib Abuya di zaman saya adalah Kiyai Abdul Malik Salam (Malang), Habib Zain Hasan Baharun (Dalwa Pasuruan), Kiyai Zubair Barmawi (Surabaya), Kiyai Zaki Kholili (Probolinggo), Kiyai Mundziri (Jepara), Kiyai Faizin (Situbondo) dan Almarhum Kiyai Yasin Abdullah Aqib (Pasuruan).

Ketujuh adalah khidmah dengan menjadi qori’ dan munsyid Abuya, melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dan qasidah di majlis Abuya, baik majlis besar maupun majlis santai. Di zaman saya, yang berkhidmah dalam hal ini adalah Kiyai Sholihin (Malang), Kiyai Amin (Gresik), ada juga Kiyai Haris yang hanya sesekali menjadi qori’, beliau hafal Al-Qur’an dengan qira’ah sab’ah.

Kedelapan adalah khidmah megurus jamuan tamu dan jamaah majlis, temasuk membagi kurma, air minum dan kopi pada hadirin setiap majlis ba’da maghrib, saya sendiri bertugas dalam khidmah ini sebelum mulai fokus dengan khidmah menulis.

Kesembilan adalah khidmah dengan menjaga keamanan, termasuk menjaga pintu gerbang dan menyambut tamu. Saya sendiri memiliki jadwal tugas ini seminggu sekali setelah maghrib. Ketika itu salah satu pengajar kelas bernama Sayyid Ahmad Ar-Ruqaimi menitipkan kedua putra beliau yang masih SD pada saya, agar saya mengajari mereka baca Al-Qur’an dan menyimak pelajaran kelas mereka, sembari saya menjaga pintu gerbang setelah maghrib.

Kesepuluh adalah khidmah mengurus dapur, baik menjadi juru masak maupun pembantu, termasuk belanja ke pasar. Di zaman saya, ketua dapur adalah Kiyai Zubair Barmawi (Surabaya), jadi beliau merangkap tugas dapur dan katib, ketika itu beliau juga sudah mengarang kitab. Jadi jangan dikira orang yang memilih khidmah di dapur itu berarti tidak punya bakat dan kecerdasan intelektual. Sayyidina Ali bahkan mengurus sandal Rarasulullah SAW dan beliau dijuluki pintu kota ilmu. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya sendiri pernah khidmah di dapur beberapa bulan, sebelum saya disuruh fokus pada khidmah menulis. Diantara juru masak ketika itu adalah Kiyai Dawud Sholeh (Gondangledi Malang).

Kesebelas adalah khidmah mengurus gudang kitab-kitab karangan Abuya. Abuya memiliki gudang khusus untuk menyimpan kitab-kitab karya beliau, ada puluhan judul dan setiap judul biasanya dicetak lima ribu eksemplar dan kalau habis dicetak ulang. Kitab-kitab itu beliau bagikan cua-cuma pada tamu-tamu dari kalangan ulama’ dan pelajar, dikirim ke berbagai negara juga dengan cuma-cuma. Di zaman saya, secara umum, gudang kitab termasuk properti yang diurus oleh Habib Musthofa Al-Jufri, namun ada santri khusus bertugas merapikan kitab-kitab dan mengambilnya atas perintah Abuya. Abuya membuat paket-paket hadiah kitab, setiap paket ada namanya dan berisi kitab-kitab tertentu, yang berkhidmah dalam hal ini harus hafal nama paket dan isinya. Ketika itu, saya sendiri terkadang mengurus paket kitab itu. Seingat saya, yang sering mengurus kitab digudang diataranya Kiyai Mukhtar (Sampang) dan Almarhum Kiyai Syafi’i Fathullah (Bangkalan).

Keduabelas adalah khidmah memijat. Sebagai orang sibuk tapi banyak duduk, kesehatan Abuya perlu dijaga dengan banyak gerak, ketika beliau tidak memiliki waktu untuk olah raga maka gerakan badan beliau bisa dibantu dengan pijatan. Diperlukan tenaga yang kuat untuk memijat beberapa bagian badan beliau yang tinggi besar. Yang rutin, beliau dipijat menjelang tidur jam satu dini hari dan menjelang tidur jam tujuh pagi, beliau dipijat sampai ketiduran. Di zaman saya, yang berkhidmah dalam hal ini diantaranya Kiyai Malik Salam yang merangkap katib, Kiyai Masduqi (Lamongan) dan Kiyai Dawud Sholeh (Malang). Habib Zain Hasan Baharun juga sering memijat Abuya menjelang Abuya tidur, karena beliau termasuk santri yang sering diperlukan dan selalu didekat Abuya. Saya juga terkadang memijat Abuya bersama Habib Zain, yaitu setelah kami selesai menulis didekat Abuya dan beliau hendak istirahat pagi. Man Bini (Kiyai Ali Rahbini) juga mendapat jadwal memijat Abuya dua malam sekali. Kalau hanya pijatan ringan ketika beliau duduk santai, maka semua santri sering memijat Abuya, karena memijat beliau adalah bagian dari cara interaksi kami dengan beliau. Biasanya, Abuya sambil bertanya ini itu ketika dipijat, untuk membangun hubungan batin sebagi murobbi (pendidik).

Itulah jenis-jenis khidmah kepada Abuya yang saya ingat sampai saat ini, kalau ada lagi nanti akan saya susulkan.

Kembali pada gagal khidmah saya, bahwa saya gagal berkhidmah dalam dua hal, artinya saya tidak bisa melakukannya dengan baik dan akhirnya Abuya tidak menyuruh saya melakukan itu lagi.

Penulis: KH Ali Badri, Pasuruan, santri Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.

Leave your comment here: