ARTI JIWA YANG TENANG(NAFSUL MUTHMAINNAH) MENURUT SHAHABAT DAN ULAMA

ARTI JIWA YANG TENANG(NAFSUL MUTHMAINNAH) MENURUT SHAHABAT DAN ULAMA

ARTI Jiwa YANG TENANG menurut beberapa pendapat SHAHABAT Nabi dan Ulama :

{يا أيتها النفس المطمئنة} قال الحسن ، أي : المؤمنة الموقنة. وقال مجاهد : الراضية بقضاء الله تعالى. وقال ابن عباس رضي الله تعالى عنهما بثواب الله تعالى. وقال ابن كيسان : …المخلصة. وقال ابن زيد : التي بشرت بالجنة عند الموت وعند البعث ويوم الجمع

(Hai jiwa yang tenang) arti menurut beberapa pandangan :

Hasan Basri : Yang mukmin dan yang punya keyakinan

Mujahid : Yang ridho dengan ketentuan Allah Ta’aalaa

Ibnu Abbas ra : Tenang dengan pahala Allah

Ibnu Kisan : Yang Ikhlas

Ibnu Zaid : Yang dibahagiakan dengan surga saat meninggal, dibangkitkan dan dikumpulkan.

Tafsir Siroj al Munir JUZ IV Hal. 391

{ يا أيتها النفس المطمئنة } على إرادة القول وهي التي اطمأنت بذكر الله فإن النفس تترقى في سلسلة الأسباب والمسببات إلى الواجب لذاته فتستفز دون معرفته وتستغني به عن غيره أو إلى الحق بحيث لا يريبها شك أو الأمنة التي لا يستفزها خوف ولا حزن وقد قرئ بهما سورة البلد

 (Hai jiwa yang tenang) Yakni yang merasa tenang dengan senantiasa dzikir pada Allah (mengingat Allah) yang dapat menghantarkannya naik derajat makrifat kepadaNya dan tidak membutuhkan selainNya atau menghantarkan pada kebenaran yang tiada sedikitpun keraguan didalamnya atau pada ketenangan yang tidak terusik oleh ketakutan dan kesedihan.

Tafsiir Baidhowy JUZ I Hal. 490

واسم هذه النفس الساكنة النفس المطمئنة التى ترجع إلى ربها راضية مرضية وهؤلاء هم الذين إليهم الإشارة بقوله صلى الله عليه و سلم سبق المفردون المستهترون بذكر الله تعالى وضع الذكر عنهم اوزارهم فوردوا القيامة خفافا // حديث سبق المفردون المستهترون بذكر الله الحديث أخرجه الترمذى من حديث أبى هريرة وحسنة وقد تقدم

Sebutan nafsu yang tenang ini adalah Nafsu Muthmainnah yang saat dikembalikan pada Tuhannya dalam keadaan ridho dan diridhoi

Mereka adalah orang-orang yang senantiasa dzikir pada Allah seperti yang dituturkan oleh Nabi shallallaahu alaihi wa sallam “Mendahului orang-orang yang tersendiri yang selalu mengikat nafsunya dengan dzikir pada Allah, dzikir mereka jadikan sebagai pakaian, maka saat mendatangi hari Qiyamat mereka dalam keadaan ringan-ringan” (HR Turmudzi)

Ihya ‘Ulumiddin IV/43.

وهذا يقال لها عند الاحتضار، وفي يوم القيامة أيضا، كما أن الملائكة يبشرون المؤمن عند احتضاره وعند قيامه من قبره، وكذلك هاهنا

“Perkataan ini disampaikan saat jiwa yang tenang tersebut kembali pada Tuhannya dan saat di hari Qiyamat, seperti halnya para malaikat yang memberikankebahagiaan pada para mukmin saat ia menghadap Tuhannya dan dibangkitkan dari kuburnya”

Tafsir Ibnu Katsir VIII/400

Leave your comment here: