AKHLAK ATAU ETIKA TERHADAP GURU DAN SESAMA MURID

Adab- adab terhadap guru:
1.Taat kepada guru kita dalam semua perkara kecuali perkara yang maksiat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.
2.Bertutur katalah dengan lemah lembut dan penuh rendah diri kepada guru kita.
3.Meminta izin kepada guru kita untuk bertanya atau pergi dari majlis.
4.Memberi salam kepada guru apabila berjumpa dan sentiasa hormat kepadanya.
5.Beri sepenuh tumpuan dalam pengajaran guru, duduk dengan sopan dan sentiasa dalam keadaan tenang.
6.Lakukan apa yang paling disegani oleh guru kita.
7.Hindari dari menyinggung perasaan guru pada saat berbicara.
8.Mendoakan keampunan dan kesejahteraan buat guru.
9.Selalu menziarahi mereka atau menziarahi maqam mereka setelah mereka meninggal dunia.
10.Mengambil berkah dengan mereka, doa mereka, bekas atau lebihan air atau makanan mereka.
Begitu juga dengan tempat mereka mengajar atau orang-orang yang akrab dengan mereka.

Sedangkan adab-adab terhadap sesama murid, banyak sekali diantaranya ialah sebagai berikut :
1. Mencintai kepada sesama murid sebagaimana mencintai dirinya sendiri.
2. Mendahului memberi salam, dilangsungkan berjabat tangan dan ditambah perkataan yang menyejukkan ketika berjumpa.
3. Bergaul dengan mereka dengan pergaulan yang baik, sopan dan menyenangkan.
4. Berbuat baik kepada mereka, sehingga tidak ada tanggapan bahwa dirinya merasa lebih dekat dengan Syaikh dan keluarganya, merasa lebih senior, dll.
5. Berusaha mendamaikan jika melihat, mengerti dan mengetahui teman seperguruan ada yang berbeda pendapat yang menyebabkan permusuhan.
6. Bertanya nama & alamat jika awal ketemu dengan sesama murid dan jangan lupa bertanya nama ayahnya.
7. Berkata jujur setiap berkata dengan sesama murid agar tidak timbul mengadu domba terhadap sesama.
8. Jangan sekali-kali menjatuhkan nama baik teman seperguruan, terutama jika teman lain sedang menerima ujian.
9. Memenuhi janji yang telah dijanjikan kepada temannya selama tidak menyebabkan melakukan maksiyat.
10. Mau menerima ‘udzur (alasan) teman seperguruan yang melakukan kesalahan sekalipun bohong.
11. Menjahui satron-satronan terhadap sesama murid dengan membuang wajah ketika bertemu lebih 3 hari 3 malam.
Rasulullah SAW bersabda :
“Tidak ada yang lebih baik yang diajarkan oleh orang tua kepada anaknya yang lebih utama daripada sopan santun.” (HR. Thabrani).

MAAFKANLAH ORANG LAIN AGAR JIWA KITA DI MENJADI TENANG

Dalam proses untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik, manusia tidak akan pernah luput dari yang dinamakan dengan kesalahan. Hal itu merupakan hal yang wajar, karena tidak akan ada manusia yang sempurna, luput dari kesalahan. Kita sebagai manusia juga harus bisa untuk memaafkan kesalahan orang lain yang berbuat salah kepada kita.

Alasan orang sulit memaafkan biasanya adalah karena hal tersebut sudah melukai hati yang paling dalam. Tetapi sebesar apapun kesalahan tersebut, kita sebagai manusia harus mampu untuk memaafkannya. Karena dengan begitu kita bisa terhindar dari bahaya tidak memaafkan, yaitu memusuhi orang lain. Caranya yaitu dengan menghancurkan rantai dendam dalam diri dan melangkah menuju ke kehidupan yang lebih baik.

Bahkan dalam agama islampun memaafkan adalah hal yang sangat dianjurkan, diterangkan dalam ayat al-qur’an dan hadits bahwa ketika manusia memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain. Allah akan memberikan kepadanya ketenangan jiwa dan kekuatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Inilah Kumpulan Hadits Memaafkan Kesalahan Orang Lain

  1. Hadits Memaafkan Kesalahan Orang Lain ke 1 :

“Tidak halal apabila seorang Muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Apabila telah lewat waktu tiga hari tersebut maka berbicaralah dengannya dan beri salam. Jika ia menjawab salam maka keduanya akan mendapat pahala dan jika ia tidak membalasnya maka sungguhlah dia kembali dengan membawa dosanya, sementara orang yang memberi salah akan keluar dari dosa.”(HR. Muslim)

  1. Hadits Memaafkan Kesalahan Orang Lain ke 2 :

“Pintu-pintu surga akan dibukakan pada hari Senin dan Kamis, lalu Allah akan memberi ampunan kepada siapapun yang tidak menyekutukan-Nya kecuali seorang laki-laki yang berpisah dengan saudaranya. Maka Allah berkata: tangguhkanlah kedua orang ini hingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini hingga ia berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini hingga mereka berdamai.” (HR. Muslim)

  1. Hadits Memaafkan Kesalahan Orang Lain ke 3 :

“Maukah aku ceritakan kepadamu mengenai sesuatu yang membuat Allah memualiakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab; tentu. Rasul pun bersabda; Kamu harus bersikap sabar kepada orang yang membencimu, kemudian memaafkan orang yang berbuat dzalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu dan juga menghubungi orang yang telah memutuskan silaturahmi denganmu.”(HR. Thabrani)

  1. Hadits Memaafkan Kesalahan Orang Lain ke 4 :

“Sungguh aku benar-benar tahu akan penghuni neraka yang keluar terakhir dan penghuni surga terakhir yang masuk kedalamnya, yaitu mereka yang keluar dari nerka dengan merangkak dan mendatangi surga, tapi terkhayal padanya bahwa surga itu penuh lalu ia kembali pada Allah(hingga berkali-kali) Allah berkata: Masuklah ke dalam surga karena sesungguhnya telah menjadi milikmu bagaikan dunia dan sepuluh kali kelipatannya atau sepuluh kali lipat dunia. Orang itu berkata; Apakah engkau mengejekku. Dikatakan bahwa itu adalah penghuni surga yang rendah kedudukannya.” (HR. Bukhari)

  1. Hadits Memaafkan Kesalahan Orang Lain ke 5 :

“Jika kamu membuat suatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan suatu kesalahan orang lain, maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (HR. Bukhari)

  1. Hadits Memaafkan Kesalahan Orang Lain ke 6 :

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah dan jika ada kebaikan sebesar zarrah, maka Allah akan melipatgandakan dan memberikan pahala yang besar di sisinya.” (HR. Bukhari)

Demikianlah berbagai kumpulan hadits memaafkan kesalahan orang lain dalam islam. Setelah kita membaca kumpulan hadits diatas semoga akan tersadar untuk bisa dan mampu memaafkan kesalahan orang lain. Amin

Kata Mutiara Islam Tentang syukur

Bersyukur itu jauh lebih mulia daripada mengeluh tanpa rasa senang sedikitpun.

Bersyukurlah kamu dengan setiap pemberian Allah. Karena tidak semua insan di dunia ini sadar terhadap apa yang ia peroleh.

Dan ingatlah tatkala Tuhanmu berjanji kepadamu: sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Aku akan menambah nikmat-Ku kepadamu. Dan jika kamu kufur nikmat maka sesungguhnya azab-Ku amatlah keras.

Bersyukurlah atas apa yang diberikan oleh Allah karena Allah selalu menguji kesabaran dan usaha umat-Nya.

Bersyukur membebaskan diri dari belenggu kecemasan atas kesalahan.

Hidup akan terasa lebih indah jika kita mau bersyukur.

Bersyukur menyebarkan keimanan dengan benih ikhlas terhadap qadha dan qadar-Nya.

Jika kita belum memiliki apa yang kita sukai, maka sukailah apa yang kita miliki saat ini. Karena itu adalah sebagian dari syukur kepada-Nya.

Bersyukur membuat apapun kondisi yang dihadapi adalah istimewa dihadapan-Nya ❤

Siapa yang tidak bersyukur dengan yang sedikit pasti tidak akan bersyukur dengan yang banyak.

Bersyukur menempa semangat untuk memberdayakan potensi yang telah diberikan oleh-Nya.

Selalu bersyukur untuk hari ini, esok hari, dan selanjutnya hingga ajal menjemput

Harus selalu bersyukur dan tidak berkeluh kesah. Dengan demikian perjalanan hidup baru bisa lancar tanpa hambatan.

Ya Allah, berilah aku kebahagiaan yang cukup untuk membuatku tersenyum. Kebahagiaan yang mampu membuat aku bersyukur kepada-Mu.

Kenapa kita selalu melihat ke atas, dan tidak pernah melihat ke bawah?. Kenapa saat kita susah kita menyalahkan Tuhan, tetapi ketika saat senang kita lupa pada Tuhan?. Kenapa kita selalu komplain, tapi tidak pernah bersyukur?. Jawabannya terdapat dalam hati.

Kadang-kadang kita selalu inginkan apa yang kita lihat orang lain dapatkan. Tapi, kita lupa bahwa kita sudah memiliki apa yang Allah berikan. Di balik kekurangan terdapat kelebihan. Maka bersyukurlah selalu.

Daripada mengeluh lebih baik bersyukur, karena dengan bersyukur dapat melapangkan dada.

Jadilah orang yang selalu bersyukur dalam kondisi apapun itu.

Bukan bahagia yang menjadikan kita bersyukur tetapi dengan bersyukur akan menjadikan hidup kita bahagia.

Syukuri setiap nikmat pemberian-Nya. Karena di balik kesyukuran terdapat pendidikan jiwa.

Kecemasan tidak akan menghasilkan apapun selain sebuah ketakutan. Hanyalah orang yang terus mengeluh yang tidak akan mengenal kata bersyukur di dalam hidupnya, karena disesaki dengan kesedihan.

 

MENGENAL KONSEP AKHLAK DALAM ISLAM

Akhlak merupakan salah satu dari pilar ajaran Islam yang memiliki kedudukan yang sangat penting. Akhlak merupakan buah yang dihasilkan dari proses menerapkan aqidah dan syariah/ibadah. Ibarat pohon, akhlak merupakan buah kesempurnaan dari pohon tersebut setelah akar dan batangnya kuat. Jadi, tidak mungkin akhlak ini akan terwujud pada diri seseorang jika dia tidak memiliki aqidah dan syariah yang baik. Akhir-akhir ini istilah akhlak lebih didominasi istilah karakter yang sebenarnya memiliki esensi yang sama, yakni sikap dan perilaku seseorang.
Nabi Muhammad saw. dalam salah satu sabdanya mengisyaratkan bahwa kehadirannya di muka bumi ini membawa misi pokok untuk menyempurnakan akhlak mulia di tengah-tengah masyarakat. Misi Nabi ini bukan misi yang sederhana, tetapi misi yang agung yang ternyata untuk merealisasikannya membutuhkan waktu yang cukup lama, yakni lebih dari 22 tahun. Nabi melakukannya mulai dengan pembenahan aqidah masyarakat Arab, kurang lebih 13 tahun, lalu Nabi mengajak untuk menerapkan syariah setelah aqidahnya mantap. Dengan kedua sarana inilah (aqidah dan syariah), Nabi dapat merealisasikan akhlak yang mulia di kalangan umat Islam pada waktu itu.
Tujuan dari kajian tentang akhlak ini adalah agar para mahasiswa memiliki pemahaman yang baik tentang akhlak Islam (moral knowing), ruang lingkupnya, dan pada akhirnya memiliki komitmen (moral feeling) untuk dapat menerapkan akhlak yang mulia dalam kehidupan sehari-hari (moral action). Dengan kajian ini diharapkan mahasiswa dapat memiliki sikap, moral, etika, dan karakter keagamaan yang baik yang dapat dijadikan bekal untuk mengamalkan ilmu yang ditekuninya di kehidupannya kelak di tengah masyarakat.

Pengertian Akhlak

Secara etimologi, istilah Akhlak berasal dari bentuk jamak khuluk yang berarti watak, tabiat, perangai dan budi pekerti. Imam al-Ghazali memberi batasan khuluk sebagai : “Khuluk adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong lahirnya perbuatan dengan mudah dan ringan tanpa pertimbangan dan pemikiran mendalam”. Dari pengertian ini, suatu perbuatan dapat disebut baik jika dalam melahirkan perbuatan-perbuatan baik itu dilakukan secara spontan dan tidak ada paksaan atau intervensi dari orang lain.

Ibnu Miskawaih dalam kitab Tahdzibul Akhlak menjelaskan bahwa “khuluk ialah keadaan gerak jiwa yang mendorong kearah melakukan perbuatan tanpa pertimbangan dan pemikiran”. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa gerak jiwa meliputi dua hal. Pertama, alamiah dan bertolak dari watak seperti adanya orang yang mudah marah hanya karena masalah sepele atau tertawa berlebihan karena mendengar berita yang tidak memprihatinkan. Kedua, keadaan jiwa yang tercipta melalui kebiasaan, atau latihan. Pada awalnya keadaan tersebut terjadi karena dipikirkan dan dipertimbangkan, namun pada tahapan selanjutnya keadaan tersebut menjadi satu karakter yang melekat tanpa dipertimbangkan dan dipikirkan masak-masak. Oleh karena itu, pendidikan akhlak sangat diperlukan untuk mengubah karakter manusia dari keburukan ke arah kebaikan.

Hubungan Antara Akidah Dengan Akhlak

Sesuai dengan pengertian di atas, akhlak merupakan manifestasi iman, Islam dan Ikhsan sebagai refleksi sifat dan jiwa yang secara spontan dan terpola pada diri seseorang sehingga melahirkan perilaku yang konsisten dan tidak tergantung pada pertimbangan berdasarkan keinginan tertentu. Semakin kuat dan mantap keimanan seseorang, semakin taat beribadah maka akan semakin baik pula akhlaknya. Dengan demikian, akhlak tidak dapat dipisahkan dengan ibadah dan tidak pula dapat dipisahkan dengan akidah karena kualitas akidah akan sangat berpengaruh pada kualitas ibadah yang kemudian juga akan sangat berpengaruh pada kualitas akhlak.

Akidah dalam ajaran Islam merupakan dasar bagi segala tindakan muslim agar tidak terjerumus kedalam perilaku-perilaku syirik. Syirik disebut sebagai kezaliman karena perbuatan itu menempatkan ibadah tidak pada tempatnya dan memberikannya kepada yang tidak berhak menerimanya. Oleh karena itu muslim yang baik akan menjaga segala ryang memiliki akidah yang benar, ia akan mampu mengimplementasikan tauhid itu dalam bentuk akhlak yang mulia (akhlakul karimah). Allah berfirman dalam surat Al-An’am (06) : 82 :
Artinya : Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
 
Orang yang mendapat petunjuk adalah mereka yang tahu bersyukur, sehingga perbuatan mereka senantiasa sesuai dengan petunjuk Allah. Inilah yang dimaksud dengan akhak mulia. Dengan demikain ada hubungan yang amat erat antara akidah dengant akhlak, bahkan keduanya tidak dapat dipisahkan.

Sumber Akhlak

Pembicaraan tentang Akhlak berkaitan dengan persoalan nilai baik dan buruk. Oleh karena itu ukuran yang menjadi dasar penilaian tersebut harus merujuk pada nilai-nilai agama Islam. Dengan demikian, ukuran baik buruknya suatu perbuatan harus merujuk pada norma-norma agama, bukan sekedar kesepakatan budaya. Kalau tidak demikian, norma-norma akan berubah seiring dengan perubahan budaya, sehingga sesuatu yang baik dan sesuai dengan agama bisa jadi suatu saat dianggap buruk pada saat bertentangan dengan budaya yang ada.

Dalam Islam, akhlak menjadi salah satu inti ajaran. Fenomena ini telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an surat al–Qalam (4) :
Artinya : “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Keseluruhan akhlak Rasulullah ini juga diungkapkan oleh Aisyah r.a. saat ditanya tentang akhlak Nabi. Saat itu Aisyah berkata : “Akhlak Nabi adalah Al Qur’an”. Demikian juga disebutkan dalam Al Qur’an surat Al Ahzab (33) : 21.
Artinya : Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Dengan demikian bagi umat Islam, untuk menunjuk siapa yang layak dicontoh tidak perlu sulit sulit, cukuplah berkiblat kepada akhlak yang ditampilkann oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis dinyatakan : “orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik budi pekertinya” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah). Dalam hadis yang lain yang diriwayatkan oleh at Turmudzi dari Jabir r.a., Rasulullah menyatakan : “Sungguh di antara yang paling aku cintai, dan yang paling dekat tempat duduknya dengan aku kelak pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya diantara kamu”.
Merujuk pada paparan di atas, sumber akhlak bagi setiap muslim jelas termuat dalam Al Qur’an dan hadis Nabi. Selain itu, sesuai dengan hakekat kemanusiaan yang dimilikinya, manusia memiliki hati nurani (qalbu) yang berfungsi sebagai pembeda antara perbuatan baik dan buruk. Hal tersebut sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada sahabat Wabishah tatkala beliau bertanya tentang kebaikan (al-birr) dan dosa (al-itsm) dalam dialog seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad sebagai berikut :
“Hai Wabishah, bertanyalah kepada hatimu sendiri, kebaikan adalah sesuatu yang jika kamu lakukan, jiwamu merasa tentram, sedang dosa adalah sesuatu yang jika kamu lakukan, jiwamu bergejolak dan hatimu pun berdebar debar meskipun orang banyak memberi tahu kepadamu (lain dari yang kamu rasakan).”
Berkaitan dengan hati nurani, muncul persoalan, dapatkah dijamin bahwa hati nurani selalu dominan dalam jiwa manusia sehingga suaranya selalu didengar, mengingat dalam diri manusia terdapat dua potensi yang selalu bertolak belakang yaitu potensi yang mengarah kepada kebaikan (taqwa) dan potensi yang mengarah pada keburukan (al-fujur), dimana kekuatan yang lebih menonjol tentunya menjadi dominan dalam mempengaruhi keputusan suatu persoalan.
Oleh karena itu, agar hati nurani seorang muslim selalu dalam kondisi kepada kebaikan, maka ia harus selalu disucikan. Seorang muslim perlu menjaga rutinitas dan kontinuitas ibadah, berusaha untuk selalu mendekatkan diri (taqarub) kepada Allah, membaca sejarah orang orang terdahulu serta selalu berusaha untuk saling menasehati dengan sesamanya.

Macam-macam Akhlakul Karimah

Dalam Al Qur’an dan hadis banyak dijelaskan bagaimana perilaku (akhlak) yang sesuai dengan aturan Islam. Seperti misalnya di dalam Al Qur’an surat Asy-Syams (91) : 7-10 yang berbunyi :
Artinya : “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
Ayat di atas menjelaskan bahwa barang siapa ingin mencapai kebahagiaan hidup, hendaknya dia mensucikan jiwanya dari sifat sifat tercela dan berusaha memiliki ketakwaan yang tinggi. Artinya, dia harus selalu berusaha meningkatkan ketakwaan dengan cara yang benar.
Ayat lain di dalam Al Qur’an mengajarkan kepada manusia untuk menahan hawa nafsunya, sebagaimana terdapat dalam surat an-Naazi’at (79) : 40-41 yang berbunyi :
Artinya : “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).”
 
Dalam Al Qur’an surat Ali Imron (3) : 200, Allah swt berfirman
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”
 
Ayat di atas mengajarkan kepada manusia untuk tetap tabah dan sabar dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan yang menimpa dirinya dalam kehidupannya.
Al Qur’an surat at-Taubah (09) : 119 mengajarkan kepada manusia untuk bertakwa dan jujur dalam setiap perbuatan.
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”
 
Jujur hendaknya tidak hanya kepada orang lain, tetapi juga terhadap diri sendiri. Salah satu perilaku jujur misalnya saat menjalani ujian semester. Sebagai seorang muslim, hendaklah mahasiswa tidak tergoda untuk berlaku curang dengan cara menyontek atau menekan dosen yang mengajar untuk memberi nilai yang diinginkannya, padahal tidak sesuai dengan kemampuan dirinya.
Dalam hal mencukupi kebutuhan hidupnya, Islam mengajarkan kepada umatnya untuk bekerja profesional sesuai dengan ilmu dan ketrampilan yang dimilikinya. Salah satu hadis yang diriwayatkan oleh imam Malik, Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Turmudzi dan Nasa’i dari Abu Hurairah yang menyatakan : “Sungguh, seandainya kamu mencari kayu seikat yang dibawa di atas punggung (untuk kemudian dijual) , lebih baik bagimu daripada minta minta kepada seseorang yang mungkin diberi atau ditolak.”
Hadis ini dengan tegas melarang umat Islam untuk menjadi pengemis, yang bekerja dengan mengandalkan belas kasihan orang lain.
Berkaitan dengan berbagai bentuk akhlakul karimah, Ibnu Miskawaih menunjukkan berbagai macam kebajikan sebagai berikut:
1. Kearifan
  • Pandai (al-dzaka), kecepatan dalam mengembangkan kesimpulan yang melahirkan pemahaman
  • Ingat (al-dzikru), kecepatan dan kemampuan berimajinasi
  • Berfikir (al-ta’aqqul), kemampuan untuk menyesuaikan antara ide dengan realitas
  • Kejernihan pikiran (shafau al-dzihni), kesiapan jiwa menyimpulkan hal yang dikehendaki.
  • Ketajaman dan kekuatan otak (jaudat al-dzihni), kemampuan jiwa untuk merenungkan masa lalu atau sejarah.
  • Kemampuan belajar dengan mudah (suhulat at-ta’allum), kekuatan dan ketajaman jiwa dalam memahami sesuatu.

2. Kesederhanaan
  • Rasa malu (al-haya’)
  • Tenang (al-da’at)
  • Sabar (as-shabru)
  • Dermawan (al-sakha’)
  • Integritas (al-hurriyah)
  • Puas (al-qana’ah)
  • Loyal (al-damatsah)
  • Berdisiplin diri (al-intizham)
  • Optimis atau berpengharapan baik (husn-al-huda)
  • Kelembutan (al-musalamah)
  • Anggun berwibawa (al-wiqar)
  • Wara’

3. Keberanian
  • Kebesaran jiwa
  • Tegar
  • Ulet
  • Tabah
  • Menguasai diri
  • Perkasa

4. Kedermawanan
  • Murah hati (al-karam)
  • Mementingkan orang lain (al-itsar)
  • Rela (al-nail)
  • Berbakti (al-muwasah)
  • Tangan terbuka (al-samahah)

5. Keadilan
  • Bersahabat
  • Bersemangat sosial (al-ulfah)
  • Silaturrahmi
  • Memberi imbalan (mukafa’ah)
  • Baik dalam bekerja sama (husn al-syarikah)
  • Kejelian dalam memutuskan persoalan (husn al-qadha)
  • Cinta (tawaddu)
  • Beribadah kepada Allah
  • Taqwa kepada Allah
Muhammad Iqbal menjelaskan bahwa untuk mencapai martabat manusia sempurna, manusia harus memiliki syarat syarat sebagai berikut:
  1. Isyqo Muhabbat, artinya kecintaan yang sangat mendalam kepada Allah yang akan melahirkan rasa kasih sayang terhadap makhluk-makhluk-Nya.
  2. Syaja’ah, artinya keberanian yang tertanam di dalam pribadi seseorang sehingga berani beramar ma’ruf nahi munkar.
  3. Faqr, artinya orang yang memiliki pendirian yang teguh dan perwira sehingga mempunyai rasa kemandirian yang tinggi, tidak suka tergantung kepada orang lain.
  4. Tasamuh (toleransi), artinya semangat tenggang rasa yang ditebarkan diantara sesama manusia sehingga mencegah terjadinya konflik yang berkepanjangan.
  5. Kasbi halal, artinya usaha-usaha yang sesuai dengan ketentuan agama (halal).
  6. Kreatif, artinya selalu mencari hal-hal barun untuk meingkatkan kualitas kehidupan.

Ancaman Akhlak Dalam Kehidupan Modern

Yusuf Qardhawi menyebutkan bahwa paling tidak ada tiga macam ancaman terhadap akhlak manusia dalam kehidupan modern dewasa ini, yaitu ananiyyah, madiyyah dan naf’iyyah.

Ananiyyah artinya individualisme, yaitu faham yang bertitik tolak dari sikap egoisme, mementingkan dirinya sendiri, sehingga mengorbankan orang lain demi kepentingannya sendiri. Orang orang yang berpendirian semacam ini tidak memiliki semangat ukhuwah Islamiyah, rasa persaudaraan dan toleransi (tasamuh) sehingga sulit untuk merasakan penderitaan orang lain. Padahal seseorang baru dikatakan berakhlak mulia tatkala ia memperhatikan nasib orang lain juga.
Madiyyah artinya sikap materialistik yang lahir dari kecintaan pada kehidupan duniawi yang berlebihan. Hal demikian dijelaskan oleh Allah dalam Al Qur’an surat Hud (11) : 15-16 yang berbunyi :
Artinya : “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan Sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan., Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang Telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang Telah mereka kerjakan.”
 
Naf’iyyah artinya pragmatis yaitu menilai sesuatu hanya berdasarkan pada aspek kegunaan semata. Ketiga ancaman terhadap akhlak mulia ini hanya akan dapat diatasi manakala manusia memiliki pondasi aqidah yang kuat dan senantiasa melakukan amal ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

MAKALAH MENGENAI AKHLAK DALAM ISLAM

  1. LATAR BELAKANG

Setiap manusia yang lahir di dunia ini, pasti membawa naluri yang mirip dengan hewan, letak perbedaannya karena naluri manusia disertai dengan akal. Sedangkan naluri hewan tidak demikian halnya. Oleh karena itu naluri manusia dapat menentukan tujuan yang dikehendakinya. Segala sesuatu itu dinilai baik atau buruknya, terpuji atau tercela, semata-mata karena syara’ (al-Qur’an dan Sunnah) hati nurani atau fitrah dalam bahasa al Qur’an memang dapat menjadi ukuran baik dan buruk karena manusia di ciptakan oleh Allah Swt memiliki fitrah bertauhid, mengakui keesaannya (QS. Ar-Rum: 30-30). Hati nurani manusia selalu mendambakan dan merindukan kebenaran, ingin mengikuti ajaran-ajaran Allah Swt. Namun fitrah manusia tidak selalu terjamin dapat berfungsi dengan baik karena pengaruh dari luar misalnya pengaruh pendidikan, lingkungan, pakaian dan juga pergaulan. Masyarakat yang hati nuraninya sudah tertutup dan akal fikiran sudah di kotori oleh sikap dan perilaku yang tidak terpuji. Namun bukan Cuma perilaku yang harus diperbaiki asupan dalam tubuhpun harus dijaga agar tetap halal. Karena itulah diperlukan adanya suatu jaminan dan kepastian akan kehalalan produk pangan yang dikonsumsi umat Islam.

  1. RUMUSAN MASALAH

Dalam kehidupan sehari-hari tentu banyak panorama-panorama dalam kehidupan sehari-hari dan yang terpenting adalah bagaimana kita hidup dalam bermasyarakat, saling menghargai dan saling menghormati di dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita di tuntut untuk bagaimana kita dapat hidup bersosialisasi. Tentunya di dalamnya itu banyak aturan dan etika yang harus kita jaga sebab kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain. Seperti berpakaian, kita tidak boleh berpakaian yang berlebihan, kita tetap menjaga etika dalam berpakaian, tidak boleh tampil sembrono, tampil yang berlebihan dan sebagainya. Selain dari pada itu, yang paling penting juga adalah akhlak, bagaimana kita menjaga akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kita dapat hidup tenang. Saling menghargai dan saling menghormati.

BAB II

PENGERTIAN AKHLAK dan RUANG LINGKUP AKHLAK

Makalah Akhlak

  1. PENGERTIAN AKHLAK

Secara etimologis akhlaq adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.

Kata akhlaknya yang berarti menciptakan seakan dengan kata khaliq (pencipta), makhaliq yang (diciptakan) dan khalq (penciptaan).

Kata di atas mengisyaratkan bahwa dalam akhlak tercakup pengertian terciptanya keterpaduan antara kehendak khaliq (Tuhan).

Secara terminologis (ishthilabah) ada beberapa definisi tentang akhlaq :

  1. Imam Al-Ghazali

Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

  1. Ibrahim Anis

Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan.

  1. Abdul Karim Zaidan

Akhlaq adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang depan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk.

Dari keterangan diatas. Jelaslah bagi kita bahwa akhlaq itu haruslah bersifat konstan, spontan, tidak temporer dan tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan serta dorongan dari luar. Sekalipun dari beberapa definisi di atas kata akhlak bersifat netral, belum merunjuk kepada baik dan buruk, tapi pada umumnya apabila disebut sendirian, tidak dirangkai dengan sifat tertentu, maka yang dimaksud adalah akhlak yang mulia. Misalnya, bila seseorang berlaku tidak sopan kita mengatakan padanya. “kamu tidak berakhlak”. Padahal tidak sopan itu adalah akhlaknya.

Sumber akhlak

Yang dimaksud dengan sumber akhlak atau yang menjadi ukuran baik dan buruk atau mulia dan tercela.

Dalam konsep akhlak segala sesuatu itu dinilai baik atau buruk, terpuji atau tercela semata-mata karya syara’ (Al-Quran dan Sunnah) menilainya demikian.

Apakah Islam menafikan peran hati nurani, akal dan pandangan masyarakat dalam menyimpulkan baik dan buruk.

Hati nurani atau fitrah dalam bahasa al-Qur’an memang menjadi ukuran baik dan buruk karena manusia diciptakan oleh Allah Swt. Memiliki fitrah bertauhid, mengakui keesaannya.

Demikian juga halnya dengan akal pikiran. Ia hanyalah salah satu kekuatan yang dimiliki manusia untuk mencari kebaikan dan keburukan.

Demikianlah bentang hati nurani dan akal pikiran. Bagaimana dengan pandangan masyarakat? Pandangan masyarakat juga bisa dijadikan ukuran baik dan buruk, tetapi sangat relatif, tergantung sejauh mana kesucian hati nurani masyarakat dan kebersihan pikiran mereka dapat terjaga.

Ruang Lingkup Akhlak

Muhammad Abdullah dias dalam bukunya dhuztur al ahlak fial-Islam membagi ruang lingkup akhlak menjadi lima bagian.

  1. Akhlak Pribadi (al-Fardiyah) terdiri dari : a. Kewajiban timbal balik orang tua dan akhlak, b. Kewajiban suami istri, c. kewajiban terhadap kerabat
  2. Akhlak bermasyarakat : terdiri dari (a) yang dilarang, (b) yang diperintahkan, (c) keadaan-keadaan adab.
  3. Akhlak bernegara: Terdiri dari a. Berhubung antara pemimpin dan rakyat, b. Hubungan luar negeri.

  1. Akhlak beragam yaitu kewajiban terhadap Allah SWT
  2. Akhlak pribadi = a. Yang diperintahkan, b. Yang dilarang, c. Yang dibolehkan.

Kedudukan dan Keistimewaan Akhlak dalam Islam

Dalam keseluruhan ajaran Islam akhlak menempati kedudukan yang istimewa dan sangat penting. Hal itu dapat dilihat dalam beberapa nomor berikut.

  1. Rasulullah SAW menempatkan penyempurnaan akhlak yang mulia sebagai risalah pokok Islam.
  2. Akhlak merupakan salah satu ajaran pokok agama Islam.

FUNGSI AKHLAK DALAM HAL MAKANAN, PAKAIAN & PERGAULAN DALAM ISLAM

  1. Fungsi Aqidah dalam Hal Makanan

  1. Waspadai makanan dan minuman di sekitar kita

  1. a) Makanan dan gaya hidup Modern

Dunia semakin modern banyak orang yang menyebutnya ERA TEKHNOLOGI. Manusia semakin mudah menggapai keinginan-keinginan dengan teknologi.

Dalam pandangan futurlog terkemuka asal Amerika Serikat. Era global yang serba teknologis seperti sekarang ini disebutnya sebagai “global lifestyle”.

Budaya global yang mengalami perkembangan amat dahsyat adalah = food, fashion dan fun (makanan, pakaian, dan hiburan).

Khusus pada budaya makanan dan minuman telah menjadi varian yang menonjol dalam lingkungan masyarakat kita.

  1. b) Konsumen muslim di tip uterus

Ada anggapan bahwa orang mayoritas muslim penduduk Indonesia. Maka masalah konsumsi pangan pasti terjamin kehalalannya.

Anggapan ini diistilahkan oleh Dr. Ir. Amir Aziz sebagai fallasi semu artinya, Jaminan tersebut ternyata tidak terjadi dengan sendirinya tanpa ada sistem dan peraturan yang mendukung keseimbangan mental kita menjadi keharusan agama.

   MENGAPA ALLAH MENGHARAMKAN SESUATU

Seorang khatib dengan memaparkan fakta-fakta di negeri kita. Menurutnya, negeri ini berantakan dan kacau bala dengan berbagai kerusuhan, huru hara etnis, agama dan ras, kericuhan politik, saling fitnah, dll, disebabkan oleh perilaku mungkar para pemimpinnya. Mereka membangun ketamakan kekuasaan melalui jalan menghalalkan segala cara dan mengembangkan “terorisme” mental dengan budaya KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) ironisnya, perilaku ini diikuti oleh sebagian besar pejabat Negara dan masyarakat umum lainnya.

   Dampak makanan haram

Secara substansi, setiap barang atau benda yang diharamkan oleh Allah pada dasarnya mempunyai kandungan hikmah dan manfaat. Namun, manusia tidak selalu mampu menelusuri kandungan hikmah dan manfaat apa yang menjadi ketentuan Allah, karena keterbatasan daya jangkau akalnya.

Keharaman khamar atau tidak selalu dapat kita temukan hikmah yang bersifat zhabir (nampaknya) saja. Dulu banyak orang berfikir bahwa haramnya khamar karena memabukkan yang bisa merusak kesehatan manusia.

Salah satu kaidah fikih menyebutkan sebuah ketentuan yang artinya janganlah kamu tanyakan apa yang ditetapkan oleh Allah.

   Fungsi akhlak dalam pakaian

Sebagai seorang muslim kita wajib menutup aurat kapan pun dimanapun kita berada. Jika kita hendak bepergian sebagai seorang muslimah tidak sepantasnya tidak memamerkan aurat kita di muka umum. Sebagai seorang muslimah sangatlah tidak wajar jika kita berjalan di tempat umum. Kita mempertontonkan segala bentuk tubuh kita, sangatlah tidak wajar dan tidak sepantasnya jika segala bentuk tubuh kita di lihat oleh yang bukan muhrim. Sebagai seorang muslimah patutlah kita merasa malu dan merasa berdosa jika kita tidak menutup aurat. Logikanya adalah jika kita hendak kemana-mana hendaknya menutup aurat dan menutup aurat itu adalah kewajiban bagi setiap muslimah.

Makalah Akhlak

Fungsi Akhlak dalam Pergaulan dalam Islam

Tindakan Manusia

Manusia itu dinilai oleh manusia lain dalam tindakannya. Kalau ‘tindakan’ ini di ambil seluas-luasnya, maka ada beberapa macam penilaian. Mungkin tindakan nilai sebagai sehat atau kurang sehat, misalnya perasaan, pencernaan, peredaran darah, yang menilai cara ilmiah hal-hal yang demikian itu dokter dan kalau kesehatan seseorang di anggap kurang, diusahakan obatnya, supaya kesehatan itu pulih kembali, penilaian di atas di sebut penilaian medis.

Adapula tindakan yang dinilai menurut indah-tidaknya. Orang mungkin indah tindakannya, indah (merdu) nyanyiannya, indah gerak-geriknya. Penilaian ini di sebut penilaian estetis untuk mengetahui mengapa sesuatu (pun tindakan) di sebut indah, tidaklah amat mudah, rupa-rupanya penentuan indah-tidaknya sesuatu itu amat terpengaruhi oleh rasa dan rasa manusia itu amat sukar tertentukan. Berbeda-beda dan tergantung dari banyak hal.

Tindakan mungkin juga dinilai sebagai baik atau lawannya, ialah buruk, kalau tindakan manusia dinilai atas baik-buruknya. Tindakan itu seakan-akan keluar dari manusia, dilakukan dengan sadar atas pilihan dengan satu perkataan: sengaja, faktor kesengajaan mutlak untuk penilaian baik-buruknya yang disebut penilaian etis atau normal.

Walaupun tidak mudah pula memberi penentuan tentang kesengajaan ini, yang terang indah bahwa ada pengetahuan (kesadaran) bahwa orang bertindak dan ada pilihan terhadap tindakan itu. Orang yang dalam tidurnya nyenyak mendengkur, takkan dikatakan bahwa ia mendengkur dengan sengaja. Ia tak tahu, bahwa ia lebih suka mendengkur! Begitu pula jika ada keadaan yang betul-betul memaksa, maka di situasi itu tidak disengaja, melainkan terpaksa misalnya jika seorang pengemudi mobil menabrak orang, karena orang ini sekonyong-konyong menyeberang jalan serta amat dekat dengan mobil itu sehingga tidak mungkin mengerem atau mengerak, maka ia dalam keadaan terpaksa. Situasinya tak memungkinkan memilih tindakan yang lebih pantas untuk dilakukannya. Tidak tidak mampu mengontol tindakannya, apalagi pergaulannya dengan sesama. Dalam bergaul itu, kita harus mampu membedakan antara mana yang pantas dan tidak pantas untuk kita temani.

Seperti dalam ajaran agama Islam tentang pergaulan, kita harus pintar-pintar memilih mana yang terbaik untuk kita karena semua dampak dari pergaulan akan kembali kepada yang menjalani pergaulan tersebut.

Pergaulan dapat dibedakan menjadi 2 :

Pergaulan Positif Yakni bergaul kepada orang-orang yang berhati mulia, dan selalu menjalankan perintah Allah, dan menjauhi segala larangannya, dan selalu membantu seseorang, dan tidak memiliki sifat sombong.

Pergaulan Negatif Yakni pergaulan yang dicekam oleh Allah karena tidak sejalan dengan ajaran Islam. Misalnya saja bergaul kepada orang-orang yang suka mabuk, judi, zina, dan tidak pernah menjalankan perintah dan apalagi menjalankan shalat 5 waktu.

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Akhlak tidak dapat dipisahkan oleh kehidupan sehari-hari karena akhlak berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari. Misalkan saja dalam pergaulan, tanpa akhlak pergaulan akan kacau, karean saling tidak menghargai dan saling meremehkan.

Kemudian akhlak juga berkaitan erat dalam makanan sehari-hari karena tanpa akhlak bisa saja orang yang lapar dengan tanpa fikir panjang langsung mengambil makanan orang tanpa mengetahui makanan itu telah diberikan atau tidak.

Dan yang terakhir aklak dalam berpakaian sehari-hari Adalah kewajiban yang mutlak yang harus di laksanakan oleh setiap muslimah yang beriman. Selain dari pada itu, kalau kita bepergian, lantas kita menutup aurat, kita terlepas dari segala fitnah.

MEMPERLAKUKAN SESAMA MUSLIM DENGAN HORMAT

Banyak orang yang terlalu bersemangat dalam menyampaikan agama sehingga tidak mempedulikan harga diri sesama muslim. Padahal, kehormatan seorang muslim sangat penting. Perhatikanlah sabda Nabi saw.:

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah menutupi (aibnya) di dunia dan akhirat. Dan Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya.” (Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah – At Targhib).

Dari Ibnu Abbas r.a., dari Nabi saw., beliau bersabda, “Barangsiapa menutupi aib saudaranya (muslim), maka Allah akan menutupi aibnya pada hari Kiamat, dan barangsiapa membuka aib saudaranya yang muslim, maka Allah pasti akan membuka aibnya, sehingga Allah mempermalukannya di rumahnya karena aibnya itu.” (Ibnu Majah – At Targhib).

Masih banyak hadits yang semakna dengan hadits di atas. Oleh sebab itu, para mubaligh hendaknya selalu menjaga kehormatan dan menutupi aib saudaranya. Sebuah hadits menyebutkan, “Barangsiapa tidak menolong saudaranya muslim ketika sedang dihina, maka Allah tidak akan mempedulikannya ketika ia sangat memerlukan bantuan-Nya.” Juga disebutkan, “Riba yang paling buruk ialah mencemarkan nama baik seorang muslim.”

Banyak riwayat yang menyatakan ancaman keras karena mencemarkan nama baik seorang muslim. Para mubaligh hendaknya berhati-hati dalam masalah ini. Cara menyampaikan nasihat yang benar adalah menasihati manusia secara tertutup untuk kesalahan yang dilakukan secara tersembunyi, dan menasihati secara terbuka untuk kesalahan yang dilakukan secara terang-terangan. Bagaimanapun juga, kehormatan seseorang tetap kita pedulikan sedapat mungkin. Jangan sampai karena rusaknya kebaikan, akhirnya dosa yang timbul. Dan agar nasihat itu tidak berakibat buruk, nasihat-nasihat itu harus disampaikan dengan cara yang baik, yang tidak akan membuat orang yang melakukannya merasa malu. Lebih jelasnya, sesuai dengan perintah Allah, bahwa yang bersalah tetap harus diperingatkan dengan tegas, tetapi jangan sekali-kali mengabaikan sopan santun dan adab yang baik.

Seorang mubaligh hendaknya menerapkan adab yang baik ketika menyampaikan ajaran agama kepada pendengarnya. Jika terjadi kemaksiatan, hendaklah ia menegur dengan kata-kata yang halus. Pernah seseorang memberi nasihat dengan kasar kepada khalifah Ma’mun Al-Rasyid, sehingga ia berkata, “Bersopan-santunlah dan gunakanlah adab terhadapku, karena Fir’aun lebih kejam daripadaku, sedangkan Musa dan Harun lebih baik daripadamu. Ketika mereka akan berdakwah kepada Fir’aun, Allah swt. berfirman kepada keduanya:

“Berkatalah kamu berdua kepadanya dengan lemah lembut agar ia mengikuti jalan yang benar atau agar ia takut kepada-Ku.” (Q.s. Thaha: 44).

Seorang pemuda datang kepada Nabi saw. dan berkata, “Izinkanlah aku berzina!” Mendengar itu, marahlah para sahabat, tetapi beliau bersabda kepada pemuda itu, “Kemarilah, apakah kamu suka jika orang lain berzina dengan ibumu?” Jawabnya, “Tidak!” Sabda beliau, “Orang lain pun tidak mau ibunya dizinahi. Apakah kamu suka jika orang lain berzina dengan anak perempuanmu?” Jawabnya, “Tidak!” Sabda beliau, “Orang lain pun tidak mau anak perempuannya dizinahi.”

Demikianlah Nabi saw. menanyakan hal yang sama mengenai saudara perempuannya, sepupunya, dan sebagainya. Lalu beliau meletakkan tangannya di atas dada pemuda itu dan berdoa, “Ya Allah, sucikan hatinya, ampunilah dosanya, dan lindungilah ia dari zina.” Para perawi berkata bahwa setelah kejadian tersebut, tidak ada perbuatan yang paling dibenci pemuda itu kecuali zina. Kesimpulannya, para mubaligh hendaknya selalu bersopan santun, menasihati secara halus, rendah hati, dan memperlakukan orang lain dengan cara yang kita sendiri senang jika diperlakukan demikian.

ADAB ATAU ETIKA DALAM BERDO’A YANG SESUAI SYARI’AT

Para Ulama menjelaskan tentang adab dan etika dalam berdoa agar dikabulkan, sebagaimana tuntutan dalam al-Qur‘ân dan Hadis.

Al-Baghawi rahimahullah berkata: “Ada etika dan syarat-syarat dalam berdoa yang merupakan sebab dikabulkannya doa. Barangsiapa memenuhinya, maka dia akan mendapatkan apa yang diminta dan barangsiapa mengabaikannya, dialah orang yang melampaui batas dalam berdoa; sehingga doanya tidak berhak dikabulkan”.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata “Kedua ayat berikut mencakup adab-adab berdoa dengan kedua jenisnya (doa ibadah dan doa permohonan);

Iaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ

” Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Janganlah kamu membuat kerosakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. [al-A‘raf/7:55-56]

Dan Ibnu Katsîr rahimahullah membawakan sejumlah hadits-hadits yang berkaitan dengan adab-adab tersebut iaitu:

  1. Mengangkat kedua tangan sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Salmân al-Fârisi Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ إِنَّ اللّهَ حَيِيٌ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

” Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha pemalu lagi Maha pemurah terhadap seorang hamba yang mengangkat kedua tangannya (berdoa), kemudian kedua tangannya kembali dengan kosong dan kehampaan (tidak dikabulkan).”

  1. Memulakan doa dengan pujian terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian Salawat dan Salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, selanjutnya bertawasul kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tawasul yang disyariatkan, seperti dengan bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan asma’ dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan amal shalih dan selainnya.

  1. Bersangka baik terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Diriwayatkan dalam sebuah hadis qudsi dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَقُولُ اللَّه عَزَّوَجَلَّ : يَقُولُ أَنَّا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِيْ وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِيْ

” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Aku (akan) sebagaimana hamba-Ku menyangka tentang-Ku, dan Aku akan bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku”

al-Qurthûbi rahimahullah berkata: ” maknanya adalah hamba itu menyangka dikabulkannya doa, diterimanya taubat, diberikan ampun melalui istighfâr, serta menyangka dibalas dengan pahala atas ibadah yang dilakukan sesuai syarat-syaratnya sebagai keyakinan akan kebenaran janji Allah Subhanahu wa Ta’ala.

  1. Menjauhi sikap tergesa-gesa mengharapkan terkabulnya doa; karena ketergesa-gesaan itu akan berakhir dengan sikap putus asa sehingga ia tidak lagi berdoa. Na‘ûdzubillâh.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُسْتَجَابُ لأَِحَدِكُم مَالَم يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَم يُتَجَبْ لِي

” Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahawa Rasulullah bersabda “ Akan dikabulkan (doa) seseorang di antara kalian selama dia tidak tergesa-gesa, iaitu dia berkata ‘aku telah berdoa namun belum dikabulkan bagiku’ “.

Dalam lafaz lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ لاَيَزَالُ يُستَجَابُ لِلعَبْدِ مَا لَم ْيَدْع ُبِإِثْم أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَالَمْ يَسْتَعْجِل قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الاِستِعْجَالُ قَالَ يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَم أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ

” Sentiasa akan dikabulkan (doa) seorang hamba selama tidak meminta sesuatu yang membawa dosa atau memutuskan tali kekeluargaan, selama dia tidak tergesa-gesa. Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah , apa yang dimaksud tergesa-gesa?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Dia berkata ‘aku telah berdoa, aku telah berdoa namun aku tidak pernah mendapatkan doaku dikabulkan’, kemudian ia berputus asa dan meninggalkan berdoa.

  1. Membersihkan jiwa raga dari berbagai kotoran dosa. Hati yang kotor dengan berbagai maksiat atau jiwa yang tidak bersih dari perkara haram akan menghalang terkabulnya doa.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيًّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَِ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّيسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَاأَيُّهَاالذِنيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَا كُمْ ثُمَّ دَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَارَبِّ يَارَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمََِشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامٌ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

” Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala baik dan tidak menerima melainkan yang baik. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum Mukminin dengan apa yang telah diperintahkannya kepada para rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai para rasul makanlah kalian dari yang baik dan beramal solehlah, sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman makanlah rizki yang baik dari apa yang diberikan kepada kalian…”.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seorang musafir yang berjalan jauh sehingga tidak terurus rambutnya, lusuh dan berdebu tubuhnya, dia mengangkat kedua tangannya ke arah langit seraya berdoa menyeru: “Wahai tuhanku, wahai tuhanku …”, namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi dari yang haram, bagaimana mungkin akan dikabulkan doanya?”.

  1. Yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha mengabulkan doa selama tidak ada sesuatu pun yang menghalangnya. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ادْعُوا اللَّهَ وَاَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِاْللإِجَاَبَةِ وَاعْلَمُواأَنَّ اللَّهَ لاَيَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

” Berdoalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kalian yakin (akan) dikabulkan, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa (seorang hamba) yang hatinya alpa serta lalai “.

Dalam hadis lain dari Abu Sa‘id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيْهَا إثْمٌ وَلاَقَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّأَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّ خِرَهَا لَهُ فِي الآخِرَةِ وَإِمَّا اَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا قَالُوا إِذًا نُكثِرُ قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ

” Tidaklah seorang Muslim berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebuah doa yang tidak ada dosa atau pemutusan ikatan kekeluargaan di dalamnya, melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberinya satu di antara tiga perkara; 1) boleh jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala segera mengabulkan doa tersebut, 2) atau menyimpan sebagai tabungan baginya di akhirat, 3) atau menyelamatkannya dari kejahatan yang setara dengan doa yang dipanjatkannya.” Para sahabat berkata : “Jika demikian, kami akan memperbanyak (doa).” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih banyak.”

Ibnu Katsîr rahimahullah berkata : “Yang dimaksud adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan doa seseorang, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak disibukkan dengan sesuatu apapun. Dia Subhanahu wa Ta’ala Maha mendengar doa. Dalam hal ini terdapat anjuran (memperbanyak) berdoa kerana tidak satu pun yang luput dari-Nya Subhanahu wa Ta’ala .”

Terutama pada saat kita tengah mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui ibadah puasa di bulan Ramadhan. Hendaknya kita mengambil kesempatan yang istimewa ini dengan memperbanyak doa bagi kebaikan kita di dunia dan akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَ ثٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَ تُهُمْ : الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَاْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ

” Ada tiga orang yang tidak ditolak doanya; seorang yang berpuasa sehingga berbuka, seorang pemimpin yang adil dan seorang yang dizalimi.

Marilah kita semua memperbanyak doa sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala murka terhadap yang orang yang tidak berdoa kepada-Nya sebagaimana firman-Nya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

” Dan tuhanmu berkata: “Berdoalah kepadaku, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari berdoa kepadaku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.”

Demikian pula dijelaskan dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ مَنْ لَم يَدْعُ اللَّه يَغْضَبْ عَلَيْه” yang artinya: “Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah Subhanahu wa Ta’ala marah terhadapnya”.

Ibnu al-Mubârak Radhiyallahu ‘anhu berkata :

الرّحْمَنُ إِذَا سُئِلُ أَعْطَى، وَالرَّحِيْمُ إِذَا لَمْ يُسْأَلْ يغْضَبُ

Ar-Rahmân (Allah Subhanahu wa Ta’ala) jika Dia diminta akan memberi, dan Ar-Rahîm (Allah Subhanahu wa Ta’ala) jika Dia tidak diminta akan marah.

MENGANGKAT TANGAN KE ATAS DI SAAT BERDO’A

Memang benar bahwa kita dianjurkan untuk mengangkat tangan saat berdoa. Rasulullah SAW sendiri mencontohkan umatnya dengan menengadahkan tangan ketika memohon kepada Allah SWT.

Adalah benar bahwa Allah tidak bertempat. Karena itu kita tidak mengatakan bahwa Allah ada di atas atau di arah tertentu. Allah SWT maha kaya sehingga Dia tidak membutuhkan tempat, tidak membutuhkan pencipta.

Lalu bagaimana dengan menengadahkan tangan saat berdoa? Pertama, menengadahkan tangan merupakan sunah Rasulullah SAW. Kedua, menengadahkan tangan ke atas hanya merupakan arah doa saja, sebagaimana Ka’bah sebagai arah sembahyang.

Ada baiknya kita melihat pandangan Imam Al-Ghazali perihal angkat tangan ke atas saat doa yang kami kutip dari Ihya Ulumiddin sebagai berikut.

فأما رفع الأيدي عند السؤال إلى جهة السماء فهو لأنها قبلة الدعاء وفيه أيضا إشارة إلى ما هو وصف للمدعو من الجلال والكبرياء تنبيها بقصد جهة العلو على صفة المجد والعلاء فإنه تعالى فوق كل موجود بالقهر والاستيلاء

Artinya, “Adapun perihal menengadahkan tangan kea rah langit saat berdoa, itu dikarenakan arah langit merupakan hanya qiblat doa. Hal ini juga mengisyaratkan sifat kebesaran dan keagungan Allah sebagai zat yang dimintakan pertolongan, mengarah ke atas mengingatkan kita pada kemuliaan dan ketinggian-Nya. Allah dengan kuasa dan kewenangan-Nya di atas segala yang ada,” (Lihat Imam Al-Ghazali, Ihya ulumiddin, 1939 M/1358 H, Mesir, Mustafa Al-Babi Al-Halabi wa Auladuh, juz 1, halaman 113).

Keterangan Imam Al-Ghazali di atas jelas mengatakan bahwa atas hanya kiblat doa sebagaimana Ka’bah kiblat sembahyang. Arah atas merupakan symbol ketinggian, kemuliaan, keluhuran, dan kebesaran zat Allah SWT.

INGATLAH BAHWA HIDUP KITA ADALAH MENUNGGU MATI

kyai            Kita adalah makhluk yang diciptakan oleh ALLOH yang asalnya tidak ada menjadi ada!

Asalnya tidak wujud menjadi wujud!

Asalnya lemah menjadi kuat!

Asalnya bodoh menjadi pandai!

Asalnya miskin tidak punya apa-apa diberi kekayaan!

Semua sebab karena DIA, tanpa dia kita tidak bisa apa-apa dan tanpa DIA kita juga bukan apa-apa!

Tapi fenomena yang terjadi pada saat ini, mayoritas umat manusia terjangkit dengan virus yang melupakan dengan TUHANNYA!

Seakan-akan semuanya datang dari dirinya!

Si alim dengan ilmunya DIAKU sehingga merasa dirinya paling mulya!

Si cendikia dengan pendidikan dan penelitiannya DIAKU sehingga merasa pandai!

Si kaya dengan kekayaannya DIAKU sehingga merasa dirinya merasa kaya!

Si ahli ibadah dengan ibadahnya DIAKU sehingga merasa dekat dengan TUHANNYA!

Lupa dibalik itu semua TANPA DIA, kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa!

Inilah fenomena yang terjadi pada saat ini!

Virus-virus ANANIYAH  (AKU) sudah menjangkit umat manusia!  yang akhirnya berakibat “PENGAKUANKU SEBAGAI TUHAN” muncul didalam dirinya!

Wahai saudaraku…!!!

Ingat…!!! Kita adalah makhluk yang diciptakan, tanpa DIA kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa!

Dalam sejarah, iblis turun dilempar dari surga karena merasa “AKU” lebih baik daripada adam!

Bagaimana dengan kita yang katanya ingin mati khusnul khotimah masuk surga akan tetapi masih ada penyakit AKU didalam jiwa???

Tentu jawabannya TIDAK MUNGKIN DAN TIDAK AKAN BISA!

KARENA SURGA STERIL DARI PENYAKIT AKU!

Walaupun kita ahli ibadah, ahli sujud, ahli baca al quran, ahli puasa, ahli mujahadah, ahli berjuang dalam menegakkan agama, akan tetapi didalam hati kita masih ada pengakuan, aku ahli ibadah, aku ahli sujud, aku ahli baca al quran, aku ahli puasa, aku ahli mujahadah, aku ahli berjuang SEHINGGA MERASA DEKAT DENGAN ALLOH DAN RASULNYA, JUSTRU SEMAKIN JAUH DAN TIDAK AKAN MASUK SURGA ORANG YANG ADA PENGAKUAN DIDALAM DIRINYA!

INGAT…!!!

KETIKA ADA HAMBA MERASA DEKAT DENGAN ALLOH DAN RASULNYA SESUNGGUHNYA IA JAUH DENGAN ALLOH DAN RASULNYA!

Karena dia merasa dekat, sedangkan merasa dekat sendiri merupakan bentuk pengakuan diri yang merupakan salah satu bibit kanker rohani yang sangat ganas yaitu Ananiyah (AKU) yang berujung kepada syirik dihadapan ALLOH!

Inilah fenomena syirik khofi (penyekutuan ALLOH secara samar – Pengakuanku Sebagai Tuhan) yang terjadi dikalangan umat masyarakat.

Yang mengakibatkan umat menjadi anarkis sebab merasa dirinya paling benar!

Umat menjadi jahat sebab merasa paling tinggi sehingga tidak mau dikalahkan!

Umat menjadi kejam sebab merasa paling benar sehingga tidak mau tersaingi!

Akibatnya ketika ia menjadi seorang pimpinan menjadi kejam karena tidak mau tersaingi!

Sehingga antar satu pimpinan dengan pimpinan lain tidak mau dikalahkan dan merasa paling benar sendiri!

INILAH AWAL HANCURNYA PERADABAN MANUSIA!

Maka kembalilah wahai saudaraku…

Kembali menjadi hamba, menyadari bahwa kita adalah hamba, dan hamba adalah ciptaan, dan ciptaan asalnya tidak ada!

Dan ketika hamba masuk dalam ruang ketiadaan melalui dalam frekuensi kehambaan, disitu ada partikel-partikel suci yang sangat halus siap menarik seorang hamba untuk masuk dalam wilayah suci KETUHANAN! wilayah netral tiada sekutu bagiNYA! Dan hanya dia yang wajib wujud (WAJIBATUL WUJUD), maka ketika hamba ada sedikit perasaan AKU, saat itu terlempar keluar dalam wilayahNya!

Maka ketika hamba masuk dalam wilayah suci KETUHANAN, hati otomatis menjadi bersih, otomatis jiwanya menjadi lemah lembut, menjadi penyejuk bagi jiwa yang gersang, penerang hati yang sedang gelap-gulita, karena hati yang lembut bagaikan tabung resonansi yang mampu menghasilkan cahaya.

Semakin lembut hati seseorang, maka semakin tinggi frekuensi resonansi kelembutan jiwanya, sehingga jiwa yang lembut itu akan menghasilkan cahaya dalam pandangan “cakrawala rohaninya” hingga menembus alam semesta, karena belaian yang lembut bisa membuat hati yang keras menjadi luluh.

Ternyata frekuensi hati seseorang yang teresonansi frekuensi hati yang absolut bisa merubah hati yang negatif menjadi positif, yang keras akan menjadi lunak, yang asalnya takabbur menjadi rendah diri.

“Berbahagialah orang–orang yang mempunyai kelembutan jiwa, ikhlas didalam setiap langkah perbuatan, mereka itulah adalah lampu– lampu petunjuk dimana suatu fitnah digambarkan bagaikan malam yang gelap gulita menjadi nampak terang bagi mereka” (HR. Baihaqi dan Abu Nu’aim dari Tsauban)

Ingat…!!!

Surga dunia adalah sedetik ingat kepada ALLOH!

Nerakanya dunia adalah sedetik lupa kepada ALLOH!

Ketika sedetik ingat kepada ALLOH, maka sedetik itu ia pingsan dihadapan ALLOH!

Pingsan dari kesombongan, pingsan dari bangga diri, pingsan dari perasaan mampu, pingsan dari perasaan lebih baik daripada yang lain, pingsan dari keaku-akuan (ANANIYAH), karena hanyalah kerendahan yang terbangun didalam jiwanya.

Saat terbangun kerendahan didalam dirinya maka mulialah ahklaq (budi pekertinya), karena dia sudah mengenal akan jati dirinya bahwa dia sesungguhnya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.

Dan ketika sedetik lupa kepada ALLOH, maka sedetik itu ia siuman dari kerendahan dan terbangunlah kesombongan!

Semoga kita semua dilindungi oleh ALLOH SWT, karena kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa!

Aamiin…

KASIH SAYANG ALLOH SWT DI BALIK MAKSIYAT KITA

ALLOH             Ingatlah hidup ini adalah sebuah perjalanan, dan perjalanan itu pasti ada tujuan dan tujuan utama perjalanan manusia ialah kembali kepada Sang Pencipta sehingga perjalanan kita dalam melaksanakan tugas hidup yang semakin lama semakin berat, semakin banyak rintangan, semakin besar ujian, semoga dilindungi dan dikasih sayangi bahkan diselamatkan oleh Allah SWT.

Sebab kalau kita melaksanakan kesalahan lahir, akan nampak dan diketahui orang dan suatu saat kita dihakimi dan dinyatakan salah tapi orang yang melakukan kesalahan lahir ini masih ada perasaan bersalah didalam hati oleh Allah diberi kesempatan kembali kepadaNYA.

Walaupun manusia sudah dicap sebagai tempat salah dan dosa bahkan sangat dholimdan sangat kufur tapi justru ini bentuk kasih sayang Allah kepada manusia, artinya manusia kalau sudah dikatan Allah sangat dholim dan sangat kufur itu harus ditancapkan didalam hati dan ini merupakan resep untuk mendapat kasih sayangnya Allah.

Maka tancapkanlah dihati kita ketika kita sholat, ketika kita mujahadah, katakan didalam hati kita “YAA ALLAH AKULAH YANG PALING DHOLIM DAN AKULAH MANUSIA YANG PALING KUFUR”, ini merupakan rahasia ayat Al Quran yang merupakan bentuk kasih sayang Allah.

Ternyata ketika ayat itu dimasukkan didalam hati sehingga si alim yang hafal kitab, dan si abid yang ahli ibadah, ketika tertancap “INNAL INSAANA LA DHOLUMUN KAFFAR”ini manusia tetap sebagai hamba, dan tidak lepas dari perasaan hamba karena sekali hati lepas dari perasaan hamba walaupun sedetik saat itulah iblis menguasi hati kita sehingga ditancapkan bendera aku didalam hati kita, ketika kita lepas dari perasaan dholim, perasaaan kufur, perasaan penuh dosa saat lepas satu detik saat itu hati dikuasai iblis, dia datang mengendap-endap kepada orang sholeh menunggu waktu kapan si sholeh, kapan orang-orang yang dekat dengan Allah lepas dari perasaan hamba, itu ditunggu dan tidak pernah berhenti!

KETIKA SI AHLI IBADAH DAN ORANG-ORANG YANG BENAR-BENAR MULIA MERASA BAIK SEDETIK, YA SAAT SEDETIK ITU BERSAMA IBLIS, TOLONG DIPERHATIKAN!

Maka perasaan rendah harus dilatih… dilatih… dan dilatih… dimanapun berada, perasaan dholim, rendah, kufur harus ditancapkan didalam hati karena ayat itu mengandung rahasia, artinya kalau kita menempati posisi perasaan rendah, kufur dan dholim merupakan sumber dan diharapkan oleh Allah akan menerima fadholNYA!

Karena fadholnya Allah diberikan kepada hati yang memiliki perasaan rendah “LIL KULU BI MUNKATSIROTI MUTAARIDHOTI LINAFAHATIL ILAAHIYYAH” hati yang merasa rendah, merasa dholim, merasa kufur tidak ada apa-apanya merasa penuh dosa dihadapan Allah, akan tetapi iblis sangat benci melihat hamba yang merasa dosa dan merasa rendah itu, oleh karena itu hikmah daripada kita melakukan dosa ternyata Allah memberikan kasih sayangnya sehingga membalik dosa-dosanya menjadi kebaikan.

Berapa hamba-hamba Allah yang dicintai itu asalnya adalah orang-orang yang bodoh? orang-orang yang sangat lemah dan orang-orang yang penuh dengan maksiat? orang-orang tiap hari ingkar kepada Allah?

Akan tetapi ketika datang hidayah sehingga menancap di hati maka orang itu dicintai oleh Allah walaupun asalnya orang itu rendah dan banyak dosa, orang itu penuh maksiat, dan orang itu lupa orang sehingga mengikuti syahwat nafsunya, akan tetapi orang itu diangkat oleh Allah menjadi kekasihNYA karena menancapnya ayat itu didalam jiwa!

MAKA WAHAI SAUDARAKU…

Tancapkan perasaan dholim itu karena sedetik perasaan itu terangkat ya sedetik itu iblis masuk kedalam hati kita, maka harus dilatih dan banyak menangis didunia ini, kalau tidak bisa menangis lahirnya ya hatinya harus menangis merasa rendah, banyaknya maksiat ini saya sumbernya!

Andaikan saya baik, doa saya pasti diterima dan orang-orang akan baik, harus dilatih itu jangan ada kesempatan merasa baik! merasa rendah, merasa dosa, merasa dholim, merasa diri kita tidak ada apa-apanya dan merasa kecil itu sumber pertolongan dan fadholnya Allah.

Maka latih… latih… perasaan itu, perasaan faqodholamtu abadaw warobbini, sebab Rasulullah tidak akan membimbing kalau si hamba belum benar-benar menyadari dan mengakui sungguh kami dholim selalu!

INI YANG HILANG DIHATINYA UMAT, SEHINGGA KITA HANYA BISA BERBICARA AKAN TETAPI TIDAK MENGETRAPKAN!

Walaupun mujahadah ditingkatkan, riyadhoh benar-benar ditingkatkan tapi apa jadinya semakin meningkat kita semakin merasa tepat, hancur sudah perasaan dholim selalu itu yang semestinya ada didalam hati kita! Inilah awal hilangnya rasa dholim dan kufur sehingga merasa pede dihadapan Allah!

Ingat…!!! sedikit kita merasa LILLAH BILLAH, seketika itu jauh dihadapan Allah (RUQYATUL QURBI.. BU’DUN)

PERHATIKAN kita tidak bisa NOL, itu adalah fadhol dari Allah, maka jangan sekali-kali pupuk rohani menuju kepada Allah “faqodholamtu abadaw warobbini” dan “Innal insana ladholumun kaffar” hilang, lebih-lebih di zaman ini harus kita tingkatkan.

Ingat zaman ini juga banyak penyakit, banyak orang yang tidak sakit tiba-tiba mati mendadak, banyak orang yang belum taubat tahu-tahu duduk dengan keluarga jatuh dan mati! kita bertanggung jawab dan masyarakat masih membutuhkan kita, walaupun kita ini miskin dan bodoh, justru bodoh miskin itu bawa itu sebagai komandan perjalanan menuju kepada Allah!

Katakan dihadapan Allah “Yaa Allah saya orang bodoh dan miskin, ahli maksiat, dan banyak dosa tidak pantas berjuang untuk kesadaran” itu jadikan menuju kepada Allah, akan tetapi jika perasaan itu sudah hilang jangan harap bisa bertemu dengan Allah untuk mengingat Allah pun sulit!

Masa kita mengingat Allah sambil bertolak pinggang?

Masa kita mengingat Allah dengan merasa suci?

Ini sunggguh terbalik, karena hakekat ingat kepada Allah harus merasa rendah! Karena yang kita ingat adalah SANG PENCIPTA, yang kita ingat adalah TUHAN YANG MAHA SUCI!

Masa dihadapan Allah kita syirik menyekutukan Allah dengan kebaikan kita bahkan dengan perasaan AKU yang disebut dengan ANANIYAH!

OLEH KARENA ITU WAHAI SAUDARAKU…

Latih… latih… perasaan rendah dengan perasaan dosa walaupun kita baik secara lahiriah tidak pernah maksiat, tapi bersujudlah dihadapannya katakan justru maksiat saya adalah merasa bangga dengan ibadah saya, merasa takabur sehingga banyak saudara-saudara kita mati belum taubat karena sebab saya Yaa Allah…. bahkan keluarga, ayah, ibu, anak belum kenal ilmu ini sebab karena saya dan itu harus terlatih!

Maka ingat saudara-saudaraku kitapun akan menyusul saudara-saudara kita yang sudah meninggal dunia, hidup kita hanya sekali dan sebentar lagi kita akan meninggalkan dunia yang fana’ tapi perjuangan rohani tidak boleh putus!

Akan tetapi siapa yang digadang dan diharap untuk meneruskan perjuangan rohani kalau pertama kali pondasinya perasaan dholim dan perasaan rendah-serendahnya tidak mampu, siapa yang akan meneruskan perjuangan yang agung ini?

Maka terjadi dimana-mana orang menolak ajaran suci “LILLAH BILLAH” sebab karena kita sendiri tidak bisa mencerminkan sifat dan sikap kasih sayang!

Maka tanamkan pupuk kesadaran kepada Allah, dan pupuk kesadaran ialah ketika kita merasa dholim, merasa rendah-serendahnya, merasa kufur, merasa penuh dosa jangan sampai hilang dihati kita!

Ingat satu detik hilang perasaan itu satu detik itu dimakan oleh iblis dan dibawa ke alam ananiyah saat itulah kita merasa aku!, maka terlempar dalam wilayah suci KETUHANAN, sehingga menjadi temannya iblis dan setan! Itu hanya satu detik apalagi sering, roh kita dikawal dengan iblis dan setan karena kita tidak bersih.

Alangkah sedihnya hidup ini yang hanya sekali ini, kita kembali berpulang kepada Allah melewati alam barzah dan alam ma’syar sedangkan posisi kita membawa perasaan aku dihadapan Tuhan!

Mari kita latih… latih perasaan rendah dan dholim ini karena itu pupuk kesadaran, kalau kesadaran itu sudah ada dihati otomatis hati kita ada perasaan NOL, tidak ada kemampuan apa-apa karena pandangan kita hanya satu Allah SWT sebagai kesadaran jiwa, INGAT itu adalah kesadaran jiwa!

Maka jadikan hidup yang hanya sekali ini benar-benar berarti menjadi seorang hamba mempunyai sifat rendah, banyak berlumuran dosa serta, serta tidak memiliki daya dan kekuatan melaikan “LAA HAULAA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH”, perasaan ini harus ditancap didalam jiwa nyawa keluar dari jasad.

LATIH… LATIH… LATIH PERASAAN RENDAH, HINA, DAN NOL SAMPAI MEREGANNYA NYAWA (AL WAJAL ILAL AJAL)