‘UZLAH(MENGASINGKAN DIRI) DI SAAT DUNIA SEPERTI SEKARANG INI

الباب الخامس والعشرون باب العزلة
صاحب العزلة يحتاج إلى عشرة أشياء :علم الحق و الباطل و الزهد واختيار الشدة و اغتنام الخلوة و السلامة و النظر في العواقب و أن يرى غيره أفضل منه و يعزل عن الناس شره ولا يفتر عن العمل فإن الفراغ بلاء ولا يعجب بما هو فيه و يخلو بيته من الفضول , و الفضول ما فضل عن يومك لأهل الإرادة و ما فضل عن وقتك لأهل المعرفة و يقطع ما يقطعه عن الله تعالى

Bab keduapuluh lima tentang Mengasingkan diri
Orang yang beruzlah / mengasingkan diri membutuhkan 10 hal, yaitu :

  1. mengetahui tentang hal yang benar dan yang bathil.
  2. bersikap zuhud.
  3. kecendrungan untuk memilih kekerasan hidup.
  4. upaya mengambil manfaat dari kesendirian dan keselamatan.
  5. perhatian terhadap berbagai akibat.
  6. mempunyai kesadaran bahwa orang lain lebih utama daripada dirinya.
  7. pengasingan diri dari kejahatan manusia.
  8. tidak putus dalam beramal karena menganggur itu sebuah bencana.
  9. tidak bangga diri dengan apa yang dimiliki.
  10. mengosongkan rumahnya dari segala bentuk berlebihan/fudhul.
    Fudhul adalah sesuatu yang melebihi kadar keperluanmu sehari-hari bagi ahil irodah, sesuatu yang melebihi kadar waktumu bagi ahlil ma’rifat dan sesuatu yang memutuskannya dari mengingat Allah.

قال رسول الله ( صلي الله عليه و سلم ) لحذيفة بن اليمان : ” كن حلس بيتك ” ( الحلس : بساط يبسط في البيت , و هو كناية عن وجوب لزوم الإنسان بيته إلا للضرورة ) .
و قال عيسى بن مريم ( عليه السلام ) : ” أملك لسانك و ليسعك بيتك و أنزل نفسك منزلة السبع الضاري و النار المحرقة , و قد كان الناس ورقاً بلا شوك فصاروا شوكا بلا ورق , و كانوا أدواء يستشفي بهم فصاروا داء لا دواء له

Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda kepada Hudzifah bin al yaman : “Jadilah engkau karpet di rumahmu”
(al halas/karpet adalah karpet yang dihamparkan di dalam rumah, ini adalah kinayah dari wajibnya seseorang utk menetap di dalam rumah kecuali jika keadaan darurat)
Isa bin Maryan -alaihis salaam- berkata : “kuasailah lidahmu, jadikanlah rumahmu sebagai pemberi keleluasaan bagimu, rendahkanlah dirimu pada posisi binatang buas dan api yang membakar, Manusia dulunya adalah daun tanpa duri dan sekarang menjadi duri tanpa daun, dulunya manusia adalah obat yang menyembuhkan da sekarang menjadi penyakit yang tidak ada obatnya.”

قيل لداود الطائي : مالك لا تخالط الناس ؟ فقال : كيف أخالط من يتبع عيوبي , كبير لا يعرف الخلق , و صغير لا يوقر , من استأنس بالله استوحش من غيره .
و قال الفضيل : إن استطعت أن تكون في موضع لا تعرف ولا تعرف فافعل .
و قال سليمان : همي من الدنيا أن ألبس عباءة و أكون بقرية ليس فيها أحد يعرفني ولا غذاء لي ولا عشاء

Dikatakan kepada Dawud At Tho’i : “mengapa engkau tidak bergaul dengan manusia ?” beliau berkata : “bagaimana saya akan bergaul dengan orang yang mengikuti aibku, orang tua tidak mengenal etika dan yang muda tidak mempunyai rasa hormat. barang siapa merasa nyaman bersama Allah maka ia tidak akan merasa nyaman kepada selain-Nya.”
Al Fudhail berkata : “jika engkau mampu berada di suatu tempat yang tidak engkau ketahui dan engkau tidak dikenal, maka lakukanlah”
Sulaiman berkata : “keinginanku di dunia memakai jubah dan berada di suatu tempat yang di sana tidak ada seorangpun mengenalku, tanpa makan siang dan tanpa makan malam.”

وقال رسول الله صلي الله عليه وسلم : ياءتي زمان المتمسك يومئذ بدينه كالقابض علي الجمر وله اجر خمسين منكم. وفي العزلة صيانة الجوارح وفراغ القلب وسقوط حقوق الخلق واغلاق ابواب الدنيا وكسر سلاح الشيطان وعمارة الاهر والباطن

Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : ” akan datang suatu zaman ketika orang yang berpegang teguh kepada agamanya bagaikan orang yang menggenggam bara api, dia meperoleh pahala limapuluh kali lebih besar daripada pahala yang kalian peroleh.” Dalam beruzlah anggota badan terpelihara, hati kosong dari selain Allah, hak-hak makhluk menjadi gugur, pintu-pintu keduniaan tertutup, senjata setan di hancurkan dan lahir dan bathuin dimakmurkan. Wallohu a’lam.

SALAH SATU ADAB YANG TIDAK BAIK ADALAH BERDIAM DIRI ATAS KEBAIKAN

Risalah Adabu Sulukil Murid

“تَتِمَّةٌ”
وَإِذا أَردتَ – أيُّها المُريدُ – مِن شَيخِكَ أَمراً أَو بَدا لَكَ أَن تَسأَلَهُ عَن شَيءٍ فَلا يَمنَعُكَ إِجلالُهُ وَالتَّأدُّبُ مَعَهُ عَن طَلَبِهِ مِنهُ وَسُؤَالِهِ عَنهُ، وَتَسأَلُهُ المَرَّةَ وَالمرَّتينِ وَالثَّلاثَ، فَلَيسَ السُّكوتُ عَنِ السُّؤاَلِ وَالطَّلبِ مِن حُسنِ الأَدَبِ، اللَّهُمَّ إِلاَّ أَن يُشيرَ عَليكَ الشَّيخُ بِالسِّكوتِ وَيَأمُرَكَ بِتَركِ السُّؤالِ، فَعِندَ ذَلكَ يَجِبُ عَليكَ اِمتِثالُهُ

“Penyempurnaan”
Wahai murid, apabila engkau menghendaki suatu hal dari tuan gurumu atau ada hal yang ingin engkau tanyakan pada tuan gurumu, maka jangan sampai keagungannya dan adabmu terhadapnya menghalangimu untuk mencari darinya dan bertanya padanya, tetapi bertanyalah kepadanya sekali, dua atau tiga kali, karena tidaklah diam dari bertanya dan mencari darinya itu merupakan adab yang baik, kecuali jika tuan gurumu memberimu isyarat untuk diam dan memerintahkanmu untuk tidak bertanya. Dengan demikan maka wajib bagimu menta’ati perintahnya.

وَإِذا مَنعَكَ الشَّيخُ عَن أَمرٍ أَو قَدَّمَ عَليكَ أَحداً فَإِيَّاكَ أَن تَتَّهِمَهُ، وَلْتَكُن مُعتَقِداً أَنَّهُ قَد فَعَلَ مَا هُوَ الأَنفَعُ وَالأَحسنُ لَكَ، وَإذا وَقَع مِنكَ ذَنبٌ وَوَجدَ (اى غضب) عَليكَ الشَّيخُ بِسَبَبِهِ فَبادِر بِالاِعتِذارِ إِليهِ مِن ذَنبِكَ حَتَّى يَرضَى عَنكَ

Ketika tuan guru melarangmu tentang suatu perkara atau mengajukan salah seorang dari padamu, maka janganlah sekali-kali engkau mencurigainya, tapi yakinlah bahwa tuan gurumu telah melakukan hal yang lebih bermanfa’at dan lebih baik bagimu. Dan ketika telah terjadi suatu dosa (kesalahan) darimu kemudian tuan gurumu marah kepadamu sebab dosa tersebut, maka segeralah engkau meminta ma’af kepadanya dari dosamu sehingga gurumu ridlo terhadapmu.

وَإِذا أَنكَرتَ قَلبَ الشَّيخِ عَليكَ كَأَن فَقَدتَ مِنهُ بِشراً كُنتَ تَأَلَفُهُ أَو نَحوَ ذَلكَ، فَحَدِّثهُ بِما وَقعَ لَكَ مِن تَخَوُّفِكَ تَغَـيُّرَ قَلبِهِ عَليكَ فَلـَعلَّهُ تَغَـيَّرَ عَليكَ لِشيءٍ أَحدَثتَهُ فَتَتُوبَ عَنهُ، أَو لَعَلَّ الذِّي تَوَهَّمتَهُ لَم يَكُن عِندَ الشَّيخِ وَأَلقاهُ الشَّيطانُ إِليكَ لِيَـسُوءَكَ بِهِ، فَإِذا عَرَفتَ أَنَّ الشَّيخَ رَاضٍ عَنكَ سَكَنَ قَلبُكَ بِخلافِ مَا إِذا لَم تُحَدِّثهُ وَسَكَتَّ بِمَعرِفةٍ منِكَ بِسلامةِ جِهَتِكَ

Ketika engkau mengingkari hati tuan gurumu terhadapmu, seperti ketika engkau merasa kehilangan rasa bahagia darinya, maka bersikaplah kepadanya dengan sikap yang ramah dan semacamnya, dan ceritakanlah kepadanya apa terjadi padamu yaitu rasa takutmu akan berubahnya hati tuan gurumu kepadamu, dengan harapan hati tuan gurumu dapat berubah terhadapmu karena sesuatu yang engkau ceritakan kepadanya dan ia bertaubat darinya. Atau bisa jadi kecurigaan yang engkau tuduhkan kepada tuan gurumu itu tidak benar adanya hanya saja itu merupakan ulah syaithan yang telah menjatuhkan (rasa curiga) kepadamu untuk menyusahkanmu. Jika engkau telah mengetahui bahwa tuan gurumu ridla keadamu, maka hatimu akan tenang, berbeda dengan jika engkau tidak menceritakan kepadanya dan memilih diam dengan pengetahuanmu dan dengan keselamatan dirimu.

وَإِذا رَأيتَ المُريدَ مُمتَـلِئاً بِتَعظِيمِ شَيخِهِ وَإِجلالِهِ مُجتَمِعاً بِظاهِرِهِ وَبَاطِنهِ عَلى اِعتِقادِهِ وَامتِثالِهِ وَالتَّأَدُّبِ بِآدابِهِ فَلا بُدَّ أَن يَرِثَ سِرَّهُ أَو شَيئاً مِنهُ إِن بَقِيَ بَعدَهُ

Dan ketika engkau melihat seorang murid dipenuhi dengan hormat dan memuliakan kepada tuan gurunya, berkumpul pada dzahir dan batinnya perihal keyakinannya dan kepatuhannya serta beradab dengan adab tuan gurunya, maka sudah pasti ia akan mewarisi sir (rahasia) tuan gurunya atau sesuatu yang masih tersisa dari tuan gurunya.

ETIKA KETIKA MAKAN DAN JENIS MAKANAN YANG TIDAK DI HISAB DI AKHIRAT

Makanan yang tidak dihisab adalah makanan untuk sahur, makanan untuk berbuka dan makanan yang disuguhkan untuk kawan. Menyuguhkan makanan untuk kawan terdapat keutamaan yang banyak.
Ja’far bin Muhamad -semoga Allah meridloi keduanya- berkata : “Jika kalian duduk bersama kawan-kawan pada makanan, maka berlama-lamalah duduknya karena di dalamnya terdapat waktu yang tidak dihisab bagi kalian dari umur-umur kalian”.

Al Hasan -semoga Allah merahmatinya- berkata : “Setiap nafkah yang diinfakkan seseorang untuk dirinya sendiri, untuk kedua ortunya dan untuk orang-orang di bawahnya semua itu dihisab, kecuali nafkah seseorang kepada kawannya dalam makanan, sesungguhnya Allah malu menanyakan hal itu “

Hadits dari Nabi shollallohu alaihi wasallam : “Malaikat senantiasa bersholawat kepada salah seorang di antara kalian selama suguhan makanan masih diletakkan di hadapannya hingga diangkat “

Diriwayatkan dari sebagian ulama’ khurosan bahwa beliau menyuguhkan makanan yang banyak sekali kepada kawannya, yang tidak akan mampu untuk menghabiskannya, dan beliau berkata : “Telah sampai kepadaku dari Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda : “Sesungguhnya para kawan ketika mengangkat tangan-tangan mereka dari makanan, maka orang yang memakan sisa dari makanan tsb tidak di hisab”. Jadi, aku suka memperbanyak suguhan kepada kalian adar aku bisa memakan sisa dari makanan tsb.

Dalam sebuah khobar : ” Seorang hamba tidaklah dihisab atas makanan yang dimakannya bersama kawannya”
Sebagian ulama’ dulu memperbanyak makan ketika bersama banyak orang karena hal itu, dan mempersdikit makan ketika sendirian.

Dalam sebuah khobar : “Tiga hal tidaklah dihisab atas seorang hamba, makanan sahur, makanan berbuka dan makanan yang dimakan bersama kawan “.
Kawan di situ adalah kawan yang sudah seperti/dianggap sebagai saudara, misalnya sahabat dekat.

Pada prinsipnya semua perbuatan manusia, semua rizqi yang Allah berikan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah walau kamitsli dzarroh (sebesar atom). Bahasa dalam ibarat di atas sebetulnya lebih ke Adab dan tashawuf, daripada bahasa hukum, sehingga lebih tepat sebagai dasar fadhai’ilul a’mal saja, karena merujuk pada beberapa ayat dan hadits tentang mizanul ‘amal tidak ada pengecualian dalam hisab. Wallohu a’lam.

Kitab Ihya’Ulumuddin (2/8-9) :
تَقْدِيمُ الطَّعَامِ إِلَى الْإِخْوَانِ فِيهِ فَضْلٌ كَثِيرٌ
قال جعفر بن محمد رضي الله عنهما إذا قعدتم مع الإخوان على المائدة فأطيلوا الجلوس فإنها ساعة لا تحسب عليكم من أعماركم وقال الحسن رحمه الله كل نفقة ينفقها الرجل على نفسه وأبويه فمن دونهم يحاسب عليها البتة إلا نفقة الرجل على إخوانه في الطعام فإن الله يستحي أن يسأل عن ذلك هذا مع ما ورد من الأخبار في الإطعام قال صلى الله عليه وسلم لا تزال الملائكة تصلي على أحدكم ما دامت مائدته موضوعة بين يديه حتى ترفع
وروي عن بعض علماء خراسان أنه كان يقدم إلى إخوانه طعاماً كثيراً لا يقدرون على أكل جميعه وكان يقول بلغنا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أنه قال إن الإخوان إذا رفعوا أيديهم عن الطعام لم يحاسب من أكل فضل ذلك فأنا أحب أن أستكثر مما أقدمه إليكم لنأكل فضل ذلك
وفي الخبر لا يحاسب العبد على ما يأكله مع إخوانه وكان بعضهم يكثر الأكل مع الجماعة لذلك ويقلل إذا أكل وحده وفي الخبر ثلاثة لا يحاسب عليها العبد أكلة السحور وما أفطر عليه وما أكل مع الإخوان

ADAB MAKAN

Dinukil dari catatan kaki kitab Fatawa Imam Nawawi

1 – ومن آداب الأكل أن يبدأ بـ “بسم الله” ويجهر به ليذكر الكبير، ويعلم الصغير، ويبعد الشيطان عن مشاركته
2 – وأن يأكل باليد اليمنى مخالفًا لأكل الشيطان، لأن الشيطان يأكل بشماله ويعطي بشماله ويأخذ بشماله
3 – وأن يصغر اللقمة كما أشار المصنف، ويُجيد مضغها، ولا يتناول الثانية حتى يبلع اللقمة الأولى؛ فإن ذلك من العجلة المذمومة
4 – وأن لا يذم الطعام، أو يمدحه، فإن الذم ازدراء للنعمة وكفران لها، والمدح دليل الحب له والتعلق به
5 – وأن يأكل مما يليه إلا الفاكهة، أو عند تنوع الطعام
6 – وأن لا يضع على الخبز إناءً أو كأسًا، إلا ما يأكله من أدم، ولا يمسح يده بالخبز
7 – وإذا سقطت لقمة فليأخذها وليُمط الأذى عنها ويأكلها ولا يدعها للشيطان
8 – ولا ينفخ في الطعام الحار؛ بل يصبر حتى يسهل أكله
9 – وأن لا يكثر الشرب أثناء الطعام إلا إذا غص، أو صدق عطشه، وهو مستحب في الطب
10 – وأن لا يأكل وحده لأنه دليل الشره فخير الطعام ما كثرت عليه الأيدي
11 – وأن ينوي بأكله التقوى على طاعة الله، ليثاب على ذلك، وليحذر قصد التلذذ فحسب فهو من شأن أهل الغفلة، المفتونين بشهوة البطن
12 – وأن لا يبتدىء بالطعام ومعه من يستحق التقديم من أستاذ ووالد، أو كِبَرِ سن
13 – وأن لا ينظر إلى أصحابه ويراقب أكلهم فيستحون بل يغض بصره عنهم
14 – وأن يؤثر غيره بأطايب الطعام فإن ذلك داع للمحبة والألفة
ومن أراد الاستزادة فليرجع إلى كتاب الإحياء للإمام الغزالي. اهـ

  1. Memulai makan dengan membaca basmallah secara keras agar mengingatkan orang dewasa dan mengajari anak kecil serta menjauhkan syetan dari ikut makan.
  2. Makan dengan tangan kanan bertujuan utk menyelisihi syetan,karena syetan itu makan dengan tangan kiri, memberi dengan tangan kiri dan mengambil dengan tangan kiri.
  3. Memperkecil suapan dan memperbagus kunyahan, serta tidak mengambil suapan kedua sebelum menelan suapan yg pertama karena ini termasuk ketergesa gesaan yang tercela.
  4. Tidak mencela dan tidak memuji makanan karena mencela makanan termasuk penghinaan terhadap nikmat dan kufur nikmat, sedangkan memuji makanan menunjukkan kecintaan dan ketergantungan kepadanya.
  5. Memakan yang ada di depannya saja kecuali buah2an, atau ketika makannya bermacam macam.
  6. Tidak meletakkan cawan atau gelas diatas roti kecuali lauk yg dimakannya, dan tidak mengusapkan tangannya pada roti.
  7. Ketika suapannya jatuh maka ambillah dan buang kotorannya, kemudian makanlah jangan ditinggalkan utk syetan.
  8. Jangan meniup makanan yg panas tetapi bersabarlah hingga mudah memakannya.
  9. Jangan memperbanyak minum ditengah2 makan kecuali ketika tersedak atau benar benar haus, ini dianjurkan dalam kedokteran.
  10. Jangan makan sendirian karena ini menunjukkan keserakahan, sebaik2 makanan adalah yang banyak tangannya.
  11. Niatnya makan adalah supaya kuat terhadap ketaatan kpd Allah agar mendapat pahala dari hal itu, berhati hatilah dari beniat meraih kenikmatan , maka cukuplah itu sebagai kelakuan orang2 yg lupa yg terfitnah oleh syahwatnya perut.
  12. Jangan memulai makan terlebih dahulu ketika bersamanya ada orang lain yg berhak untuk didahulukan misalnya guru, ortu atau orang yang umurnya lebih tua.
  13. Jangan melihat kepada temannya dan meneliti cara makannya karena bisa membuatnya malu, tetapi tutuplah penglihatanmu dari mereka.
  14. Mengalah kepada yg lainnya dengan makanan yang baik2 karena hal itu bisa menarik rasa kecintaan dan kenyamanan.

Jika ingin keterangan yang lebih banyak silahkan rujuk kitab Ihya’ Ulumuddin Karya Imam Al Gazzali.

wallohu a’lam.

MENGETAHUI PERBEDAAN ANTARA IBADAH DAN (TA’DZIM) ETIKA ATAU AKHLAQ

Banyak orang yang salah dalam memahami hakikat ta’dzim / penghormatan dan hakikat ibadah. Sehingga mereka mencampur diantara keduanya dan mengatakan bahwa segala bentuk ta’dzim adalah suatu ibadah atau pengabdian kepada orang yang dihormati. Maka, berdiri, mencium tangan, menghormati Nabi saw dengan menggunakan kata “Ya Sayyidana” dan “Ya Nabiyallah”, kesemuanya menurut mereka adalah suatu hal yang mendatangkan pada bentuk penyembahan pada selain Allah ta’ala. Sebenarnya, itu adalah suatu pemahaman yang sangat bodoh dan melebih-lebihkan yang tidak diridhoi Allah dan RasulNya serta suatu bentuk pemberatan yang sangat tidak disukai oleh syariat Islam.

Ketahuilah, Adam, manusia pertama dan hamba Allah pertama yang sholih dari jenis manusia. Allah telah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan terhadap ilmu yang ada padanya dan sebagai pemberitahu kepada para malaikat akan terpilihnya Adam diantara para makhlukNya. Allah ta’ala berfirman, (“Dan ketika Aku berkata kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kalian kepada Adam.’ Maka mereka bersujud kecuali iblis. Iblis berkata, ‘Apakah aku harus bersujud kepada makhluk yang dicipta dari tanah?’). Dalam ayat yang lain dijelaskan, (“Aku (: iblis) lebih baik dari dia (: Adam). Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah.”). dalam ayat yang lain, (“Kemudian kesemua malaikat bersujud kecuali iblis. Dia tidak mau bila termasuk diantara orang-orang yang bersujud.”).

Para malaikat menghormati / memuliakan makhluk yang dimuliakan Allah, sedangkan iblis sombong dan tidak mau bersujud kepada makhluk yang dicipta dari tanah. Iblis adalah makhluk pertama yang melakukan qiyas dalam urusan agama dengan pendapatnya sendiri dan berkata, “Aku lebih baik darinya.” Alasan yang dia pakai adalah iblis dicipta dari api sedangkan adam dicipta dari tanah, sehingga dia tidak mau memuliakannya dan tidak mau bersujud kepadanya.

Iblis adalah makhluk pertama yang sombong dan tidak mau memuliakan makhluk yang dimuliakan Allah, sehingga iblis tertolak dari rahmat Allah karena kesombongannya terhadap seorang hamba yang sholih. Itu adalah sebuah bentuk kesombongan terhadap Allah, karena bersujud sebenarnya adalah kepada Allah karena Dia telah memerintahkannya. Allah telah menjadikan sujud kepada Adam sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan kepada Adam dan Adam termasuk golongan yang meng-esakan Allah.

Diantara dalil yang menjelaskan tentang penghormatan kepada orang-orang sholih, antara lain, Allah berfirman dalam haknya Yusuf, (“Dan dia mendudukkan ayahnya diatas singgasana dan mereka bersujud kepadanya (: Yusuf)”, adalah sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan terhadap Yusuf dari saudara-saudaranya. Dimungkin bersujud diperbolehkan dalam syariat mereka, atau seperti sujudnya para malaikat kepada Adam sebagai bentuk pemuliaan, penghormatan dan bentuk kepatuhan terhadap perintah Allah sebagai bentuk tafsiran dari mimpi Yusuf, karena mimpi seorang nabi adalah wahyu.

Adapun nabi Muhammad saw, maka Allah berfirman, (“Sesungguhnya Aku telah mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira dan yang menakut-nakuti, supaya mereka beriman kepada Allah dan RasulNya dan mereka memuliakannya”). Allah berfirman, (“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendahului dihadapan Allah dan RasulNya”). Allah berfirman, (“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian meninggikan suara kalian diatas suara Nabi”). Allah juga berfirman, (“Janganlah kalian menjadikan panggilan kepada rasul diantara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada yang lainnya”). Allah telah melarang mendahului beliau dalam perkataan dan adab yang buruk adalah mendahului beliau dalam ucapan. Sahl ibn Abdillah berkata, “Janganlah kalian berkata sebelum beliau bersabda dan ketika beliau bersabda, maka dengarkanlah dan perhatikanlah.”

Para sahabat melarang dari mendahulukan dan tergesa-gesa mendatangi suatu urusan sebelum beliau mendatanginya dan tidaklah mereka memfatwakan suatu hal dari berperang atau urusan agama lainnya melainkan dengan perintah beliau dan mereka tidak berani mendahului beliau. Kemudian Allah menasehati dan menakut-nakuti mereka dengan berfirman, (“Bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha tahu”). Salma berkata, “Bertaqwalah kalian kepada Allah dalam menyia-nyiakan hak hakNya dan menelantarkan kemulianNya. Sesungguhnya Dia maha mendengar perkataan kalian dan maha mengetahui perbuatan kalian.”

Kemudian Allah melarang umat dari menaikkan suara diatas suara beliau, seperti sebagian dari mereka yang mengeraskan suaranya kepada yang lain. Abu Muhammad Makki berkata, “Artinya, janganlah kalian mendahului beliau dalam perkataan, mengeraskan suara ketika berbincang dan memanggil nama beliau seperti diantara kalian memanggil yang lainnya. Akan tetepi, muliakanlah beliau, agungkanlah dan panggillah beliau dengan panggilan yang mulia, seperti ‘Ya Rasulallah’ atau ‘Ya Nabiyallah’ seperti yang telah difirmankan Allah, (“Janganlah kalian menjadikan panggilan kepada Rasul diantara kalian seperti panggilan diantara kalian kepada yang lainnya.”)

Kemudian Allah menakut-nakuti mereka dengan terhapusnya amal mereka jika mereka melakukan itu semua. Ayat tersebut turun dalam jama’ah yang mendatangi Nabi saw lalu mereka menyeru beliau, “Ya Muhammad! Keluarlah dan temui kami.” Kemudian Allah menghina mereka dengan ‘bodoh’ dan mensifati mereka dengan ‘kebanyakan mereka adalah orang-orang yang tidak berakal.’

Amr ibn al ‘Ash berkata, “Tidak seorangpun yang lebih aku cintai dibandingkan Rasulullah dan tidaklah ada yang lebih mulia dibandingkan beliau. Tidaklah aku mampu memenuhi mataku ini dari beliau karena memuliakan beliau. Seandainya aku diminta untuk mensifati beliau, maka sudah tentu aku tidak akan mampu karena aku tidak pernah memenuhi mataku ini dengan melihat beliau.” (HR. Muslim dalam al-Shahih kitab iman bab islam menghancurkan agama sebelumnya)

At-Tirmidzi telah meriwayatkan dari Anas, Sesungguhmya Rasulullah saw suatu hari keluar menemui para sahabat muhajirin dan anshar dan pada saat itu mereka sedang duduk. Diantara mereka ada Abu Bakar dan Umar. Tidak seorangpun dari mereka yang mengangkat pandangannya kepada beliau melainkan Abu Bakar dan Umar, karena keduanya melihat beliau dan beliaupun melihat mereka berdua. Keduanya tersenyum kepada beliau dan beliaupun tersenyum kepada keduanya.”

Usamah ibn Syarik berkata, “Aku mendatangi Nabi saw dan para sahabat berada disekeliling beliau yang seakan-akan diatas kepala mereka terdapat burung. Mengenai sifat beliau, ketika beliau bersabda maka orang-orang yang duduk disitu akan menundukkan kepalanya yang seakan-akan ada burung diatas kepala mereka. Diantara penghormatan yang dilakukan para sahabat kepada beliau adalah tidaklah beliau berwudhu melainkan mereka akan memperebutkan air sisa wudhu beliau dan hampir-hampir saja mereka berkelahi untuk mendapatkannya. Tidaklah beliau meludah melainkanludah itu akan jatuh ditangan mereka lalu mereka menggosok-gosokkannya dimuka dan tubuh mereka. Tidaklah sehelai rambut beliau jatuh melainkan mereka akan berebut untuk mendapatkannya. Ketika beliau berkata-kata, maka mereka akan memelankan suara mereka ketika berada disamping beliau. Dan tidak pernah mereka menajamkan pandangannya kepada beliau.”

Ketika Usamah kembali ke Quraisy, dia berkata, “Wahai kaum Quraisy! Sesungguhnya aku telah mengunjungi Kisra di istananya, Qaishar di istananya dan Najasyi di istananya. Demi Allah, belum pernah aku melihat seorang rajanya kaum seperti Muhammad dimata para sahabatnya.”

Al Thabrani dan ibn Hibban dalam kitab shohinya telah meriwayatkan dari Usamah ibn Syarik, dia berkata, “Kami duduk disisi Nabi saw yang seakan-akan ada burung diatas kepala kami. Tidak ada orang diantara kami yang berkata kemudian orang-orang mendatangi beliau dan bertanya, ‘Diantara para hamba Allah, siapakah yang paling disukai Allah?’ beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya.” Seperti yang telah dijelaskan dalam al Targhib (juz 4 halaman 187).

Abu Ya’la dalam kitab shahihnya telah meriwayatkan dari al Barra’ ibn ‘Azib, dia berkata, “Suau hari aku sangat ingin bertanya kepada Rasulullah tentang suatu perkara, namun aku mengakhirkannya selama dua tahun karena kewibawaan yang beliau meliki.”

Al Baihaqi telah meriwayatkan dari al Zuhri, dia berkata, “Seorang sahabat anshor telah bercerita kepadaku, sesungguhnya Rasulullah saw ketika berwudhu atau berludah, maka para sahabat akan memperebutkan ludah beliau kemudian mereka mengusapkannya ke muka dan kulit mereka. Rasulullah saw bertanya, “Kenapa kalian melakukan itu?” mereka menjawab, “Kami mencari berkahmu.” Kemudia rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa ingin dicintai Allah dan RasulNya, maka benarkanlah hatids, penuhilah amanah dan jagan sakiti tetangga kalian.” Seperti yang dijelaskan dalam al Kanz (juz 8 halaman 228)

Kesimpulannya, terdapat dua perkara besar yang harus dikaji. Pertama, kewajiban memuliakan Nabi saw dan meninggikan derajat beliau melebihi makhluk yang lain. Kedua, mengesakan sifat ketuhanan berkeyakinan bahwa Allah adalah esa dalam dzat, sifat dan perbuatanNya. Barangsiapa memiliki keyakinan bahwa ada yang menyekutui Allah dalam dzat, sifat atau perbuatan, maka dia telah melakukan perbuatan syirik seperti orang-orang musyrik yang telah meyakini sifat Tuhan bagi berhala dan mereka menyembahnya. Dan barangsiapa yang merendahkan martabat Rasulullah maka dia telah melakukan kemaksiatan atau melakukan kekufuran.

Adapun orang yang berlebih-lebihan dalam memuliakan beliau dengan bentuk apapun dan tidak mensifati beliau dengan sifat-sifat Tuhan, maka dia telah benar dan telah menjaga dari sisi ketuhanan dan kerasulan. Itu adalah perkataan yang sangat pas, tidak lebih dan tidak kurang.

Ketika ditemukan dalam perkataan orang mukmin tentang penyandaran suatu hal kepada selain Allah, maka diwajibkan untuk membawanya pada majaz ‘aqli dan tidak ada jalan untuk mengkafirkannya, karena majaz ‘aqli juga digunakan dalam al Qur’an dan sunnah.

TUJUAN BERIBADAH KEPADA ALLOH SWT MENURUT IMAM GHOZALI ROHIMAHULLOH

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi atau populer dengan sebutan Imam al-Ghazali, dalam mukadimah karyanya, Kitab Minhajul ‘Abidin, mengawali dengan mengingatkan kepada kita tentang ibadah (baca: menghamba) kepada Allah Swt.

Pengingat atau renungan dari Imam al-Ghazali ini untuk menyadarkan kembali kepada kita tentang ibadah sebagai jalan menuju Allah, menuju ridla Allah dan surga Allah.

Hal ini menjadi sangat penting sekali, mengingat seluruh umat Islam melakukan ibadah sebagai wujud ketaatannya kepada Allah. Namun jangan sampai ibadah yang sudah dilakukan itu menjadi ibadah yang sia-sia, melakukan ibadah hanya karena keterpaksaan dari sebuah kewajiban tanpa memahami makna di dalam pelaksanaan ibadah itu sendiri.

Ibadah yang sia-sia tidak mengantarkan seorang hamba kepada keridlaan Allah dan surga Allah. Padahal tujuan dari ibadah tidak lain adalah ridla Allah dan surga Allah.

Menurut Imam al-Ghazali, ibadah adalah buah dari ilmu, faedah dari umur, hasil jerih payah hamba-hamba Allah yang kuat, barang berharga dari aulia’ Allah, jalan yang ditempuh oleh orang yang bertaqwa, imbalan bagi orang yang luhur, tujuan orang yang memiliki tujuan mulia, petanda orang yang mulia, perbuatan orang yang berani melakukan kebajikan, pilihan orang yang waspada, jalan kebahagian dan jalan menuju surga.

Dalam mendeskripsikan tentang ibadah di atas, Imam al-Ghazali juga mengajak untuk memahami tentang ibadah, sebagaimana dalam firman Allah:

وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

Artinya: “Dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku” (QS. Al-Anbiya’: 92)

إِنَّ هذَا كَانَ لَكُمْ جَزَاءً وَ كَانَ سَعْيُكُمْ مَشْكُوْرًا

Artinya: “Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)”. (QS. Al-Insan: 22).

Dari deskripsi ini dapat dipahami bahwa ibadah adalah wujud menghamba kepada Allah dengan melakukan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya, hingga kemudian Allah memberikan balasan atas usaha yang telah dilakukan oleh hamba berupa surga.

Tidak berhenti di situ saja, kemudian Imam al-Ghazali mengajak untuk berpikir dan menyadari tentang ibadah di atas, mulai dari awal hingga tujuan akhir, yakni surga yang itu sangat diharapkan oleh orang yang menjalankan ibadah.

Ternyata untuk menuju tujuan tersebut merupakan suatu perjalanan yang amat sulit, penuh lika-liku, halangan dan rintangan banyak sekali yang harus dilalui, cobaan yang selalu mengelilingi, berbagai macam musuh yang harus dihadapi, sedangkan orang yang mau diajak untuk ibadah agar sampai tujuan tersebut sedikit, bahkan orang yang mau menolong pun juga sedikit.

Dalam hal ini, Imam al-Ghazali tidak bermaksud menakut-nakuti, akan tetapi ini sebuah kenyataan yang perlu disadari dan dihadapi oleh orang mukmin. “Demikian keadaannya, dan ini wajib ditempuh meskipun memang terlihat menyulitkan, sebab ibadah nantinya sebagai jalan menuju surga”, kata Imam al-Ghazali.

Penjelasan Imam al-Ghazali ini bukan tanpa dasar, ini sebagaimana dalam hadits Nabi Muhammad Saw:

عَنْ اَنَس رضِيَ اللَّه عنْهُ قَال : قَال رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم حُفَّتِ اْلجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ رواه مسلم

Artinya: “Surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka dikelilingi dengan kesenangan-kesenangan.” (HR. Muslim)

أَلَا إِنَّ عَمَلَ الْجَنَّةِ حَزْنٌ بِرَبْوَةٍ – ثَلَاثًا – أَلَا إِنَّ عَمَلَ النَّارِ سَهْلٌ بِسَهْوَةٍ . رواه احمد

Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya amal surga itu bagaikan tanah licin yang ada di bukit —sebanyak tiga kali—. Ingatlah, sesungguhnya amal neraka itu bagaikan tanah yang mudah dilalui yang berada di tanah datar” (HR. Ahmad)

Bukan hanya keadaan jalan yang sangat terjal dan penuh rintangan untuk sampai tujuan ibadah, namun juga keadaan diri manusia itu sendiri pun harus disadari.

Imam al-Ghazali mengatakan “manusia adalah makhluk yang lemah, tantangan zaman sangat berat sekali, keadaan keberagamaan kita selalu berputar kadang lemah dan kadang kuat, kesempatan sedikit sedangkan kita selalu disibukkan dengan urusan dunia yang begitu banyak.

Umur kita hidup di dunia pendek, sedangkan Allah Yang Maha Mengetahui dan Teliti terhadap segala aktiftas yang kita jalani selama hidup di dunia. Kematian semakin dekat sedangkan perjalanan jauh yang harus ditempuh agar sampai tujuan, maka satu-satunya bekal adalah ketaatan, sebab waktu yang telah berlalu tidak akan kembali”.

“Beruntunglah dan berbahagialah orang-orang yang taat kepada Allah, dan sebaliknya rugilah dan celakalah orang-orang yang tidak mau taat kepada Allah Swt”, jelas Imam al-Ghazali.

Mengingat keadaan yang menyulitkan dan penuh resiko yang akan dihadapi dalam melakukan ibadah agar sampai tujuan, menurut Imam al-Ghazali jarang sekali orang yang mau menempuh perjalanan ini.

Di antara orang-orang yang mau menempuh perjalanan ini sedikit yang menjalankannya. Bahkan orang yang menjalankan ibadah dengan serius sangat sedikit, dan lebih sedikit lagi orang-orang yang mampu mencapai tujuan ibadah.

“Orang-orang yang berhasil inilah adalah umat yang mulia dan pilihan Allah untuk dapat ma’rifat dan mahabbah kepada Allah. Allah memelihara dan memberi taufik kepada mereka, dan dengan karunia-Nya, Allah mengantarkan mereka untuk sampai pada keridlaan dan surga-Nya”, kata Imam al-Ghazali.

Oleh karena itu, kita berdoa dan berharap kepada Allah, semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang beruntung dengan mendapatkan rahmat dari Allah

MENGETAHUI AKIBAT BERGAUL DAN DENGAN SIAPA ANDA DUDUK BERSAMA

Kitab Tanbihul Ghofilin

Orang- orang bijak berkata :

“Barang siapa sering duduk bersama 8 orang kelompok manusia, Allah akan menambahinya 8 perkara:

  1. Barangsiapa duduk bersama orang-orang kaya, Allah akan menambahi cinta kepada dunia dan semangat untuk mendapatkan dunia.
  2. Barangsiapa duduk bersama orang-orang miskin, Allah akan menambahi perasaan syukur dan ridho atas pemberian Allah.
  3. Barangsiapa duduk dengan para pemimpin/raja, Allah akan menambahi perasaan sombong dan kerasnya hati.
  4. Barangsiapa duduk dengan perempuan, Allah akan menambahi kebodohan, syahwat dan condong kepada akal perempuan.
  5. Barangsiapa duduk dengan anak-anak kecil, Allah akan menambahi lalai dan senda gurau.
  6. Barangsiapa duduk dengan orang-orang fasik, Allah akan menambahi berani berbuat dosa dan maksiat kemudian menunda-nunda taubat.
  7. Barangsiapa yang duduk dengan orang-orang soleh, Allah akan menambah perasaan cinta kepada amalan-amalan taat serta menjauhi hal-hal terlarang.
  8. Barangsiapa yang duduk dengan para ulama’, Allah akan menambahkan ilmu dan wara’”

قََالَ الْحُكَماءُ : مَنْ جَلَسَ مَعَ ثَمَانِيَةِ أَصْنَافٍ مِنَ النَّاسِ، زَادَهُ اللَّهُ ثَمَانِيَةَ أَشْيَاءَ
مَنْ جَلَسَ مَعَ الْأَغْنِيَاءِ، زَادَهُ اللَّهُ حُبَّ الدُّنْيَا وَالرَّغْبَةَ فِيهَا،
وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الْفُقَرَاءِ، زَادَهُ اللَّهُ الشُّكْرَ وَالرِّضَا بِقِسْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى،
وَمَنْ جَلَسَ مَعَ السُّلْطَانِ، زَادَهُ اللَّهُ الْكِبْرَ، وَقَسَاوَةَ الْقَلْبِ،
وَمَنْ جَلَسَ مَعَ النِّسَاءِ، زَادَهُ اللَّهُ الْجَهْلَ، وَالشَّهْوَةَ، وَالْمَيْلَ إِلَى عُقُولِهِنَّ،
وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الصِّبْيَانِ، زَادَهُ اللَّهُ اللَّهْوَ وَالْمِزَاحَ،
وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الْفُسَّاقِ، زَادَهُ اللَّهُ الْجُرْأَةَ عَلَى الذُّنُوبِ، وَالْمَعَاصِيَ وَالْإِقْدَامَ عَلَيْهَا، وَالتَّسْوِيفَ فِي التَّوْبَةِ،
وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الصَّالِحِينَ، زَادَهُ اللَّهُ الرَّغْبَةَ فِي الطَّاعَاتِ وَاجْتِنَابَ الْمَحَارِمَ،
وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الْعُلَمَاءِ، زَادَهُ اللَّهُ الْعِلْمَ وَالْوَرَعَ.
تنبيه الغافلين للسمرقندي

TENTANG HP YANG PERLU DI TAFAKURI

Ya ALLAH….,
Ampunilah dosa2 kami yang memiliki HP,

Karena kami :

Lebih banyak MENGISI PULSA daripada BERSEDEKAH …

Lebih banyak membaca SMS/WA/FB/BB daripada membaca AL-QURAN …

Lebih sering buka BLUETOOTH daripada BERLUTUT SUJUD …

Sering TELPON tapi jarang SILATURAHIM….

Mengisi pulsa 10 ribu tidak puas, tapi isi KOTAK AMAL 10 ribu merasa terlalu banyak …

Bila mendengar HP berbunyi langsung di RESPON, tapi saat ADZAN berkumandang malah diabaikan saja …

Ya Allah ampunilah kami,
Semoga HP yang kami miliki di Masa depan dapat lebih berguna sebagai sarana IBADAH kepada-Mu …

Amiin

CARA MEMPEROLEH PENYEMANGAT DALAM BERIBADAH KEPADA ALLOH SWT.

بسم الله الرحمن الرحيم

فصلٌ
Ketahuilah bahwa permulaan menempuh jalan menuju Allah (thariqah) adalah sebuah dorongan kuat yang diletakkan di dalam hati seorang hamba yang membuatnya gelisah, khawatir dan mendorongnya untuk mendatangi Allah dan (menuju) Akhirat, serta berpaling dari (kehidupan) dunia dan menjauhi perkara yang semua manusia sibuk dengannya seperti ikut andil dalam meramaikan dunia (bermegahan), menumpuk-numpuknya, menikmati kesenangan di dunia (sehingga lalai) dan tertipu dengan hiasan luarnya.
اِعلم أنّ أوّل الطريق باعثٌ قويّ يُقذف في قلب العبد يُزعجه ويُقْلقه ويَحثُّه على الإقبال على الله والدّارِ الآخرة، وعلى الإعراض عن الدُّنيا وعمّا الخَلْقُ مشغولون به مِن عَمارَتِها وجَمعِها والتَّمَتُّع بشهواتِها والاغتِرارِ بِزخَارِفها.

Dorongan ini adalah sebagian dari tentara Allah yang bersifat batin. Ia termasuk pemberian atau hadiah yakni berupa pertolongan dan tanda-tanda hidayah (memperoleh petunjuk). Sering kali dorongan seperti ini dibukakan pada hamba saat dalam kondisi takut, susah, suka ataupun rindu dan (juga) saat memandang Ahlullah[1] ta’ala atau dilihat oleh mereka. Dan kadang-kadang dorongan tersebut diperoleh tanpa sebab.
وهذا الباعِثُ مِن جنود الله الباطِنة، وهو مِن نَفحاتِ العِناية وأعلامِ الهِدايَة، وكثيراً ما يُفتَح بهِ على العبْدِ عِند التَخْويف والتّرغيب والتّشويق، وعِند النّظَرِ إلى أهل الله تعالى والنّظَرِ منهم، وقد يقعُ بِدون سببٍ

Menyingkap dan berupaya memperoleh pemberian-pemberian-Nya itu merupakan perbuatan yang diperintahkan dan disukai. Sedangkan menunggu dan meneliti saja tanpa ada upaya menyingkap dan tanpa membuka pintunya adalah sebuah kebodohan dan kedunguan. Bagaimana tidak seperti itu? Sementara Rasulullah –‘alaihi assholatu wassalam- telah bersabda: “Sesungguhnya Tuhan kalian memiliki banyak pemberian di hari-hari dalam tahun kalian. Ingatlah, cari dan temukanlah pemberian itu!”
والتّعرُّضُ للنَّفحات مأمورٌ به ومُرغَّبٌ فيه والانتِظار والاِرتِقاب بدون التَّعرُّض ولزوم الباب حُمقٌ وغَباوةٌ. كيف و قد قالَ عليه الصّلاةُ والسّلام: ” إنَّ لِرَبّكم في أيّام دهركُم نفحاتٍ ألاَ فتَعرّضوا لها”

Dan siapapun yang diistimewakan oleh Allah dengan dorongan yang mulia ini maka ketahuilah kadar dan ukurannya yang luhur. Yakinlah bahwa hal tersebut merupakan sebagian nikmat paling besar dari Allah yang tidak ternilai dan tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Oleh karena itu, (orang yang memperoleh dorongan tadi) hendaknya memperbanyak bersyukur kepada Allah ta’ala atas apapun yang Ia berikan dan prioritaskan kepada orang tersebut serta beryukur karena Allah telah mengistimewakannya daripada teman dan rekan-rekannya. Padahal berapa banyak orang islam yang telah mencapai umur 80 tahun bahkan lebih sementara itu ia belum menemukan dorongan ini dan (juga) tidak menempuh –mencarinya- satu haripun dari waktunya.
ومَن أكرَمه الله بهذا الباعِث الشَّريف فَليَعرِف قَدرَهُ المُنيف، وَلْيَعلَم أنّهُ مِن أعظَم نِعَم الله تعَالى عليه التي لا يُقدّرُ قَدرُها ولا يُبْلَغُ شُكرُها فَلْيُبالِغ في شُكر الله تعالى على ما منَحه وأوْلاهُ، وخصّه به مِن بين أشكالِه وأقرانِه فَكم مِن مُسلمٍ بلَغَ عُمرُه ثمانين سنَةً وأكثر لم يجد هذا الباعِث ولم يطْرُقْهُ يوماً مِن الدّهر

Keharusan bagi murid[2] berusaha dengan tekun dalam menguatkan, menjaga dan menurutinya -yakni dorongan ini-.
(Cara) menguatkannya adalah dengan dzikrullah (berdzikir dan ingat kepada Allah, memikirkan/merenungkan apa-apa yang ada di sisi Allah dan bergaul serta dekat pada Ahlullah.
(Cara) menjaga dan memeliharanya adalah dengan menjauhi duduk-duduk, berkumpul dengan orang yang terhalangi dari Allah dan melawan godaan-godaan syetan.
Dan (cara) menurutinya (yakni menuruti dan meng-iyakan dorongan yang sudah dijelaskan) yaitu dengan bergegas kembali menuju kepada Allah ta’ala, bersungguh-sungguh dalam mendatangi dan menuju Allah, tidak bermalas-malasan, menunda-nunda, mengkendurkan dan mengakhirkannya karena kesempatan telah datang kepadanya untuk itu bergegaslah menggunakannya. Dan (juga) pintu (menuju Allah melalui dorongan yang telah telah diberikan) telah dibukakan untuknya, untuk itu masuklah. Serta ia sudah diajak (oleh dorongan tadi) maka bergegaslah. Dan waspadalah dari “besok-besok” (menunda dengan alasan masih ada waktu) karena hal tersebut termasuk dari perbuatan syetan. Kerjakanlah, jangan menjadi kendur (lengah) dan jangan beralasan tidak sempat dan tidak pantas (belum layak).
وعلى المُريد أن يجتهد في تَقْويَته وحِفظِه وإجابَته -أعني هذا الباعِث-
فَتقوِيَته بالذّكر لله، والفِكر فيما عِند الله، والمُجالسة لأهل الله
وحِفظِه بالبُعد عَن مُجالسة المحجوبين والإعراضِ عَن وَسوَسة الشياطين
وإجابَتهِ بأن يُبادر بالإنابة إلى الله تعالى، ويَصْدُقَ في الإقبالِ على الله، ولا يَتَوَانى ولا يُسوِّف ولا يَتَباطَأ ولا يُؤَخِّر وقد أمكنَتْه الفُرصةُ فلْيَنتهِزها، وفُتِح له الباب فلْيَدخُل، ودَعاه الدّاعي فليُسرع، وَلْيحذَر مِن غدٍ بعد غدٍ فإنّ ذلك مِن عمَل الشّيطان، ولْيُقبل ولا يَتَثبّط ولا يتَعلَّل بِعَدم الفَراغ وعدم الصّلاحِيّة

Syaikh Abu Rabi’ rahimahullah telah berkata: “Berjalanlah menuju Allah dengan keadaan pincang dan lemah. Janganlah kalian menunggu sehat, karena menunggu sehat adalah wujud tunakarya (pengangguran yang tidak akan memperoleh apa-apa)”.
Dan Syaikh Ibnu ‘Athaillah telah berkata di kitab al Hikam: “menunda beramal (bekerja ataupun berkegiatan) sampai (menunggu) adanya kesempatan merupakan kebodohan jiwa”.
قال أبو الرّبيع رحِمه الله: سِيروا إلى الله عُرْجاً وَمَكَاسِير ولا تَنتَظروا الصِّحة فإنّ انتظار الصِّحة بَطالَةٌ
وقال ابنُ عطاءِ الله في الحِكم: إحالَتُك العَمَل على وُجود الفراغِ مِن رُعوناتِ النّفوس

وقال ابنُ عطاءِ الله في الحِكم: إحالَتُك العَمَل على وُجود الفراغِ مِن رُعوناتِ النّفوس

[1] Kata “ahlu” tidak diterjemahkan karena malahan akan menyempitkan makna, ahlu secara bahasa bisa berarti keluarga, pakar dan kelompok. Sehingga Ahlullah secara bahasa bermakna keluarga Allah, orang atau kelompok yang concern pada Allah. Jadi Ahlullah bisa jadi wali, orang-orang sholih, ulama ataupun kiyai.
[2] Istilah ini sudah dijelaskan pada ngaji yang pertama silahkan yang merujuk di sini.

CARA AGAR MURID MENDAPATKAN SIR ATAU RAHASIA DARI URU MURSYID

Ketika kau –wahai muriid- menginginkan dari syaikh-mu sesuatu hal atau kau memulai bertanya terlebih dahulu kepada beliau mengenai suatu perkara, maka jangan sampai keagungan beliau dan keharusan bertatakrama di hadapan beliau menghalangimu untuk meminta dan bertanya kepadanya. Tanyakanlah kepada beliau sekali, dua kali dan tiga kali. Diam tidak bertanya dan meminta kepada beliau bukanlah tatakrama yang baik. Kecuali syaikh memberi isyarat kepadamu untuk diam dan memerintahkanmu untuk tidak bertanya. Ketika dalam kondisi seperti itu maka wajib mematuhinya.
وَإِذا أَردتَ -أيُّها المُريدُ-مِن شَيخِكَ أَمراً أَو بَدا لَكَ أَن تَسأَلَهُ عَن شَيءٍ فَلا يَمنَعُكَ إِجلالهِ وَالتَّأدُّبُ مَعَهُ عَن طَلَبِهِ مِنهُ وَسُؤَالِهِ عَنهُ، وَتَسأَلُهُ المَرَّةَ وَالمرَّتينِ وَالثَّلاثَ، فَلَيسَ السُّكوتُ عَنِ السُّؤاَلِ وَالطَّلبِ مِن حُسنِ الأَدَبِ، اللَّهُمَّ إِلاَّ أَن يُشيرَ عَليكَ الشَّيخُ بِالسِّكوتِ وَيَأمُرَكَ بِتَركِ السُّؤالِ، فَعِندَ ذَلكَ يَجِبُ عَليكَ اِمتِثالُهُ.

Dan ketika syaikh mencegahmu dari suatu perkara atau mendahulukan seseorang daripada kau maka janganlah kau mencurigainya. Hendaknya kau meyakini bahwa beliau telah melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat dan lebih baik bagimu. Dan apabila kau melakukan suatu kesalahan (berbuat dosa) dan Si Syaikh merasa berat sebab kesalahan tersebut maka bergegaslah meminta maaf kepada beliau dari kesalahanmu sampai beliau lega (memberi ridha).
وَإِذا مَنعَكَ الشَّيخُ عَن أَمرٍ أَو قَدَّمَ عَليكَ أَحداً فَإِيَّاكَ أَن تَتَّهِمَهُ، وَلْتَكُن مُعتَقِداً أَنَّهُ قَد فَعَلَ مَا هُوَ الأَنفَعُ وَالأَحسنُ لَكَ، وَإذا وَقَع مِنكَ ذَنبٌ وَوَجدَ عَليكَ الشَّيخُ بِسَبَبِهِ فَبادِر بِالاِعتِذارِ إِليهِ مِن ذَنبِكَ حَتَّى يَرضَى عَنكَ.

Ketika kau menginkari hati Si syaikh kepadamu seperti kau tidak mendapati wajah beliau berseri-seri maka kau harus membuatnya senang atau yang lain sebagainya. Kemudian ceritakanlah apa yang terjadi padamu yakni kekhawatiranmu pada perubahan hati beliau kepadamu. Barangkali hati beliau berubah kepadamu karena suatu hal yang kau ceritakan kepadanya maka harus meminta maaf. Atau barangkali perkara yang kau curigai pada syaikh-mu itu tidak terjadi pada Si syaikh dan kau telah dijatuhkan oleh syetan supaya berbuat buruk kepada beliau. Untuk itu, ketika kau telah mengetahui bahwa si syaikh telah meridhaimu maka hatimu akan tenang, berbeda ketika kau tidak membicarakannya dan kau diam saja dengan sepengetahuanmu (persepsimu) saja yakni (merasa) kesalamatan ada dipihakmu.
وَإِذا أَنكَرتَ قَلبَ الشَّيخِ عَليكَ كَأَن فَقَدتَ مِنهُ بِشراً كُنتَ تَأَلَفُهُ أَو نَحوَ ذَلكَ، فَحَدِّثهُ بِما وَقعَ لَكَ مِن تَخَوُّفِكَ تَغَيُّرَ قَلبِهِ عَليكَ فَلَعلَّهُ تَغَيَّرَ عَليكَ لِشيءٍ أَحدَثتَهُ فَتَتُوبَ عَنهُ، أَو لَعَلَّ الذِّي تَوَهَّمتَهُ لَم يَكُن عِندَ الشَّيخِ وَأَلقاهُ الشَّيطانُ إِليكَ لِيَسُوءَكَ بِهِ، فَإِذا عَرَفتَ أَنَّ الشَّيخَ رَاضٍ عَنكَ سَكَنَ قَلبُكَ بِخلافِ مَا إِذا لَم تُحَدِّثهُ وَسَكَتَّ بِمَعرِفةٍ منِكَ بِسلامةِ جِهَتِكَ.

Ketika kau melihat seorang muriid dipenuhi dengan meng-agungkan dan memulyakan syaikh-nya yang terkumpul di lahir dan batinnya berdasakan keyakinan syaikh-nya, ketaaatan dan bertata karma dengan akhlak si syaikh maka pasti muriid tersebut akan mewarisi rahasia syaikh-nya atau akan memperoleh sebagian rahasia apabila si muriid masih hidup setelah syaikh-nya.
وَإِذا رَأيتَ المُريدَ ممُتَلِئاً بِتَعظِيمِ شَيخِهِ، وَإِجلالِهِ ، مُجتَمِعاً بِظاهِرِهِ وَبَاطِنهِ عَلى اِعتِقادِهِ، وَامتِثالِهِ ، وَالتَّأَدُّبِ بِآدابِهِ؛ فَلا بُدَّ أَن يَرِثَ سِرَّهُ ، أَو شَيئاً مِنهُ إِن بَقِيَ بَعدَهُ

Wallahu a’lam bishhawab…

BEBERAPA ADAB KETIKA ZIARAH DI MAKAM NABI MUHAMMAD SAW.

Meniziarahi kubur nabi saw merupakan keinginan setiap umat manusia, karena disamping kelebihan dan banyaknya fadhilah yang didapatkan juga akan melemahkan hati, mengingat beliau merupakan makhluk terbaik yang pernah Allah ciptakan.

Salah satu fadhilah yang ada pada kubur nabi adalah siapa yang berdoa pada kubur beliau tersebut maka akan diijabah oleh Allah swt. Disamping sunat berdoa dengan doa apa saja, saat menziarahi kubur nabi saw juga dianjurkan untuk melakukan dan membaca beberapa bacaan khusus, berikut rinciannya:

Masuk ke Mesjid Nabawi sambil membaca doa masuk mesjid

أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. اَلَّلهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوْبِي، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ. رَبِّ وَفِّقْنِي وَسَدِّدْنِي وَأَصْلِحْنِي. وَأَعِنِّي عَلَى مَا يُرْضِيْكَ عَنِّي وَمُنَّ عَلَيَّ بِحُسْنِ الْأَدَبِ فِي هَذِهِ الْحَضْرَةِ الشَّرِيْفَةِ.اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ.

Masuk ke Raudhah dan shalat 2 rakaat, rakaat pertama dibaca surat al-kafirun dan rakaat kedua surat al-ikhlash dan diniatkan sebagai shalat tahiyat masjid.

Kemudian masuk ke makam Nabi dari pihak kepala, sambil menunduk kan pandangan dan melihat ketanah dan merenungi keagungan Nabi kemudian membaca:

اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ. اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا حَبِيْبَ اللهِ. اَلصَّلَاةُ وَالسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا نَبِيَّ الرَّحْمَةِ. اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا بَشِيْرُ يَا نَذِيْرُ، يَا ظَاهِرُ يَا ظَهِيْرُ. اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا شَفِيْعَ الْمُذْنِبِيْنَ. اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مَنْ وَصَّفَهُ اللهُ تَعَالَى بِقَوْلِهِ: (وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ) اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الْأَنَامِ، وَمِصْبَاحَ الظَّلَامِ، وَرَسُوْلَ الْمَلَكِ العَلَّامِ، يَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِيْنَ، وَخَاتِمَ أَدْوَارَ النَّبِيِّيْنَ، يَا صَاحِبَ الْمُعْجِزَاتِ وَالْحُجَجِ الْقَاطِعَةِ، وَالْبَرَاهِيْنَ، يَا مَنْ أَتَانَا بِالدِّيْنِ الْقّيِّمِ الْمَتِيْنِ، وَبِالْمُعْجِزِ الْمُبِيْنِ، أَشْهَدُ أَنَّكَ بَلَغْتَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّيْتَ الْأَمَانَةَ، وَنَصَحْتَ اْلأُمَّةَ، وَكَشَفْتَ الْغُمَّةَ، وَجَاهَدْتَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، وَعَبَدْتَ رَبَّكَ حَتَّى أَتَاكَ الْيَقِيْنَ.اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا كَثِيْرَ الْأَنْوَارِ، يَا عَالِيَ الْمَنَارِ، أَنْتَ الَّذِي خُلِقَ كُلُّ شَئْ ٍمِنْ نُوْرِكَ، وَالَّلوْحُ وَالْقَلَمُ مِنْ نُوْرِ ظُهُوْرِكَ، وَنُوْرُ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ مِنْ نُوْرِكَ مُسْتَفَادُ، حَتَّى الْعَقْلُ الَّذِي يَهْتَدِيْ بِهِ سَائِرُ الْعِبَادِ. اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مَنِ انْشَقَّ لَهُ الْقَمَرُ، وَكَلَّمَهُ الْحَجَرُ، وَسَعَتْ إِلَى إِجَابَتِهِ الشَّجَرُ يَا نَبِيَّ اللهِ، يَا صَفْوَةَ اللهِ، يَا زَيْنَ مَلَكِ اللهِ، يَا نُوْرَ عَرْشِ اللهِ، يَا مَنْ تَحَقَّقَ بِعِلْمِ الْيَقِيْنِ، وَعَيْنِ الْيَقِيْنِ، وَحَقِّ الْيَقِيْنِ، فِي أَعْلَى مَرَاتِبِ التَّمْكِيْنِ .اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا صَاحِبِ الِّلوَاءِ الْمَعْقُوْدِ، وَالْحَوْضِ الْمَوْرُوْدِ، وَالشَّفَاعَةِ الْعُظْمَى فِي الْيَوْمِ الْمَشْهُوْدِ اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ وَعَلَى آلِكَ وَأَهْلِ بَيْتِكَ، وَأَزْوَاجِكَ وَذُرِّيَتِكَ وَأَصْحَابِكَ أَجْمَعِيْنَ. اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ وَعَلَى سَاِئِر الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَجَمِيْعِ عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ جَزَاكَ اللهُ يَا َرَسُوْلَ اللهِ أَفْضَلَ مَا جَزَى نَبِيًّا وَرَسُوْلاً عَنْ أُمَّتِهِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَيْكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ ذَاكِرٌ، وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ غَافِلٌ، أَفْضَلَ وَأَكْمَلَ وَأَطْيَبَ مَا صَلَّى عَلَى أَحَدٍ مِنَ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ.أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا َشِريْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّكَ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَخَيْرَتُهُ مِنْ خَلْقِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَغَتَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّيْتَ الْأَمَانَةَ.وَنَصَحْتَ الْأُمَّةَ. اَللَّهُمَّ وَآتِهِ الْفَضِيْلَةَ وَالْوَسِيْلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مًحْمُوْداً الَّذِي وَعَدْتَهُ، وَآتِهِ نِهَايَةً مَا يَنْبَغِيْ أَنْ يَسْأَلَهُ السَّائِلُوْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ.وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا ُمُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِك النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Kemudian bergeser sehasta ke sebelah kanan dan memberi salam kepada sayyidina Abu Bakar dan berkata:

اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا خَلِيْفَةَ رَسُوْلِ اللهِ، أَنْتَ الصِّدِّيْقُ الْأَكْبَرُ، وَالْعِلْمُ الْأَشْهَرُ، جَزَاكَ اللهُ عَنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – خَيْرًا، خُصُوْصًا يَوْمَ الْمُصِيْبَةِ وَالشِّدَّةِ، وَحِيْنَ قَاتَلْتَ أَهْلَ النِّفَاقِ وَالرِّدَّةِ، يَا مَنْ فَنَى ِفي مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ حَتَّى بَلَغَ أَقْصَى مَرَاتِبِ الْفَنَاءِ، يَا مَنْ أَنْزَلَ اللهُ فِي حَقِّكَ * (ثَانِي اْثنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي اْلغَارِ إِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَا)
أَسْتَوْدِعُكَ شَهَادَةً أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ صَاحِبَكَ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ، شَهَادَةً تُشْهِدُ لِي بِهَا عِنْدَ اللهِ (يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُوْنَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ)

Kemudian bergeser sehasta sebelah kanan dan memberi salam kepada sayyidina Umar dan berkata:

اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ، يَا سَيِّدِنَا عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، يَا نَاطِقًا بِالْحَقِّ وَالصَّوَابِ. اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا حَلِيْفَ الْمِحْرَابِ، اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مَنْ بِدِيْنِ اللهِ أَمْرٌ، يَا مَنْ قَالَ فِي حَقِّكَ سَيِّدُ الْبَشَرِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: لَوْ كَانَ بَعْدِيْ نَبِيٌّ لَكَانَ عُمَرَ. اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا شَدِيْدَ الْمُحَامَاةِ فِي دِيْنِ اللهِ وَالْغِيْرَةِ، يَا مَنْ قَالَ فِي حَقِّكَ هَذَا النَّبِيُّ الْكَرِيْمُ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: مَا سَلَكَ عُمَرُ فَجًّا إِلَّا سَلَكَ الشَّيْطَانُ فَجًّا غَيْرَهُ

Demikianlah beberapa amalan dan doa yang diamalkan saat berziarah kekubur Rasulullah saw, semoga bermanfaat. Wallahua’lam.

Referensi: Kitab ianah thalibin hal 312-314 Juz 2