TAWAKAL ATAU PASRAH KEPADA ALLOH SWT.

ALLOH             Tawakal itu bertingkat-tingkat, yaitu: Pertama, tawakalnya orang awam seperti kita kebanyakan. Kedua, tawakalnya orang khawas yang sudah jauh anak tangganya ke atas. Dan yang ketiga, tawakalnya khawasul khawas, yaitu orang yang sudah mencapai pada tingkat puncak.

Namun demikian, tawakal juga sering disalahpahami oleh sebagian di antara kita, seolah-olah orang yang tawakal itu pasrah. Apakah maksud dari pasrah?

Terkadang orang menyangka bahwa makna tawakal itu meninggalkan usaha dengan badan, meninggalkan pengaturan dengan hati dan jatuh di atas bumi bagaikan daging di atas landasan tempat memotong daging. Lihatlah daging di atas dapur tempat pemotongan itu! Bukanlah seperti ini seharusnya seorang muslim bertawakal, yaitu seperti daging yang tergeletak, tak ada usaha sama sekali. Ini adalah sangkaan orang-orang yang bodoh.

Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali (dalam kitab Ihya Ulumuddin) memberikan klarifikasi terhadap kita, bahwa yang dimaksud dengan tawakal bukanlah seperti itu, bukanlah hanya dengan berdoa saja, yang pokoknya semua denyut jantungnya diserahkan kepada Tuhan. Bukanlah ini yang disebut tawakal. Malah dikatakan, bahwa hal seperti ini tak lain merupakan sangkaan orang-orang yang bodoh, karena yang demikian itu diharamkan oleh syari’ah kita. Sebaliknya, kita wajib untuk bergerak. Banyak sekali ayat-ayat Alquran yang membahas mengenai hal ini. Allah berfirman:

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (Q.S. At-Taubah: 105)

Kita tidak disuruh hanya berdiam diri saja. Malahan Allah bersumpah:

(1) Demi masa. (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, (3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. Al-‘Ashr: 1-3)

Jadi, jangan ada yang beranggapan bahwa semakin tinggi tingkat kepasrahan seseorang jika ia hanya berdoa saja, meninggalkan keramaian, menelantarkan anak cucu dan keluarga. Hal ini justru berdosa.

Rasulullah pernah menegur tiga komponen sahabatnya berkenaan dengan hal ini. Ketika itu ada yang menyatakan, “Ya Rasulullah, alhamdulillah, ibadahku sudah meningkat, tak pernah lagi melakukan hubungan suami-isteri. Semua itu kulakukan demi untuk berkonsentrasi penuh terhadap cintaku kepadamu lebih dari cintaku kepada istri. Cintaku tak boleh lagi berbagi selain kepadamu.”

Mendengar ini, Rasulullah setengah marah. Beliau pun berkata kepada orang itu, “Aku ini seorang rasul, tetapi juga mempunyai isteri dan anak. Haknya isteri ada pada kita, begitu juga haknya anak.”

Kemudian ada lagi yang datang, lalu menyatakan, “Ya Rasulullah, aku berbahagia, karena aku tak pernah lagi tidur malam. Waktu sepenuhnya aku gunakan untuk salat, serta puasa sepanjang hari.”

Mendengar ini, Rasulullah kemudian berkata, “Bukanlah begitu seharusnya, karena badan ini juga ada haknya.”

Sesungguhnya, pembekasan tawakal itu nampak dalam gerak-gerik seorang hamba. Bekas-bekas ketawakalan bisa dilihat jika orang tersebut berusaha dengan ikhtiarnya. Jadi, ikhtiar itu adalah usaha. Seseorang yang sakit wajib hukumnya untuk berobat. Kita tidak boleh berpasrah diri begitu saja ketika sakit. Orang yang mati dalam keadaan tidak berikhtiar, maka sama saja orang tersebut mati bunuh diri.

Ada kalanya usaha tersebut dilakukan untuk menarik manfaat, yaitu seperti bekerja. Jika kita bekerja di kantor misalkan yang itu ada gajinya, maka hal ini merupakan usaha (ikhtiar) untuk hidup. Kalau kita sudah memperoleh manfaat, kemudian kita pelihara manfaat itu, maka ini adalah bagian dari tawakal. Dalam hal ini harus pula diingat, bahwa kita jangan bersikap mubazir. Memelihara manfaat atau harta yang kita peroleh itu adalah dengan menyimpannya, sebagian kita simpan untuk keperluan darurat. Janganlah jika kita hari ini mendapatkan rezeki yang hari itu juga akan habis. Kita dianjurkan untuk menghemat.

Jika suatu waktu harta kita itu hilang, maka janganlah khawatir, karena kita sudah melakukan ikhtiar. Jika terjadi seperti ini, maka camkanlah di dalam hati, bahwa Tuhan pasti menyimpan sesuatu yang tidak berkah di dalam harta itu, sehingga Tuhan kemudian mengambilnya melalui orang lain. Janganlah bersedih jika suatu waktu kita mengalami kehilangan harta. Yakinlah, bahwa pasti ada sesuatu yang tidak bermanfaat seandainya harta itu tetap tinggal bersama kita. Tak usah meratapi barang yang hilang, sebab apa yang telah hilang itu belum tentu akan kembali.

Ikhtiar juga dilakukan untuk memelihara dari kemelaratan, yaitu seperti menolak orang-orang yang menyerang, menolak pencuri, ataupun menolak binatang buas. Dalam hal ini, kita tidak boleh berpasrah saja jika menghadapi hal-hal tersebut. Selain itu, ikhtiar juga dilakukan untuk menghindari dari penyakit, yaitu seperti meminum obat. Jika kita sakit, lalu kita kemudian tak mengobatinya, maka hal ini bukanlah tawakal, melainkan kita telah melakukan dosa.

Jadi, gerak-gerik hamba tidak terlepas dari empat hal:

Pertama, menarik kemanfaatan, yaitu seperti bekerja. Kita bertawakal, tapi kita juga bekerja. Menarik manfaat maksudnya kita berusaha yang dari usaha itu ada hasilnya. Hasilnya itu kita gunakan untuk hidup sejahtera, untuk membiayai anak-anak bersekolah, digunakan untuk menjadikan anak kita sebagai anak yang saleh.

Kedua, memelihara kemanfaatan, yaitu seperti menyimpan harta. Jika pada yang pertama tugas kita adalah mencari harta tersebut, maka yang kedua tugas kita adalah menyimpannya.

Ketiga, menolak kemelaratan. Kita tidak boleh menjadi orang yang melarat, juga menjaga dari ancaman luar. Maksudnya, jika kita sudah tahu bahwa pola hidup kita itu ujung-ujungnya akan melarat, maka hindarilah jalan itu, carilah jalan yang lain. Seandainya pun juga ada dua cabang yang itu tidak ada pilihan hidup, misalkan jika kita bertahan pada suatu pendirian maka kita akan mati kelaparan. Tapi kalau kita mengambil jalan yang lain yang itu hasilnya adalah haram, maka pilihlah yang haram itu, seandaikan memang sudah tak ada pilihan yang lain. Di dalam Alquran disebutkan, bahwa babi pun dibolehkan untuk dimakan jika dalam keadaan tak ada pilihan seperti ini. Tapi harus memang dalam keadaan yang betul-betul darurat, sehingga tak ada dosa kita melakukan itu. Darurat itu membolehkan yang tidak boleh.

Keempat, memotong kemelaratan. Misalkan, jika kita sedang sakit, maka kita harus memotong jangan sampai sakit tersebut terlalu lama. Jika flu tanpa diobati, biasanya flu tersebut baru sembuh setelah lima hari ataupun sepuluh hari. Tetapi dalam hal ini kita tahu kondisi diri kita. Biasanya jika kita meminum obat, maka flu tersebut akan begitu cepat sembuh, yaitu paling-paling hanya tiga hari. Jadi, kemelaratan tersebut harus dipotong. Jangan membiarkan diri kita begitu saja tanpa ada usaha mengobati. Memotong kemelaratan juga adalah untuk memberikan peluang kepda ibadah-ibadah yang lain. Jika kita sehat, tentunya banyak ibadah yang bisa kita lakukan, serta ibadah tersebut bisa kita lakukan secara khusyu’ dibandingkan jika kita berada dalam keadaan sakit.

Rasulullah bersabda:

Jika kamu bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sesungguhnya, niscaya Allah memberikan rezeki kepadamu sebagaimana Allah memberikan rezeki kepada burung yang keluar dari sarangnya pagi-pagi dengan perut lapar dan kembali pada sore harinya dengan perut kekenyangan setiap hari. Dan lenyaplah gunung-gunung penghalang dengan sebab doanya.

Tawakal yang benar adalah tawakal seperti yang disabdakan oleh Rasulullah itu. Siapa yang bekerja ataupun berikhtiar kemudian berdoa, maka inilah tawakal yang benar. Kalau hal ini konsisten dilakukan, betul-betul fokus kepada Allah dalam menyerahlan dirinya, maka Allah akan menjamin rezeki orang tersebut. Hal ini merupakan suatu mu’jizat, ada misteri di situ, yaitu misteri keikhlasan, misteri tawakal.

Jika kita telah melakukan pekerjaan secara baik dan maksimum, mungkin setelah itu ada perasaan takut dan khawatir. Janganlah takut terhadap atasan kita jika kita telah melakukan sesuatu itu dengan baik dan maksimum, yang penting kita bekerja (berikhtiar) secara baik menurut kemampuan kita. Dalam hal ini, perlu adanya ketenangan. Jangan memberi kesempatan keraguan itu muncul dalam batin kita. Inilah tawakal.

Kita mungkin pernah merasakan tidak percaya diri setelah melakukan sesuatu, padahal apa yang telah kita lakukan itu sudah cukup baik. Ada rasa takut dan bersalah, seakan-akan yang telah kita lakukan itu tidak maksimal. Orang yang selalu digelisahkan oleh keraguannya sendiri, maka itu bukanlah tawakal. Orang yang tawakal, maka dia akan percaya pada dirinya sendiri. Dia telah berikhtiar, selebihnya diserahkan kepada Allah.

Kalau memang standard atasannya melebihi dari apa yang dilakukannya, maka ia akan menyerahkan kepada Allah, sebab Allah hanya menciptakan kadarnya seperti itu. Hingga kita tetap bisa bersikap tenang ketika dimarahi. Kalau memang kita bisa bersikap seperti ini, maka di saat yang lain mungkin atasan kita itu akan meminta maaf kepada kita. Mungkin juga kita akan dicari, karena walaupun terdapat kekurangan pada pekerjaan kita itu, tetapi istiqamahnya ternyata yang dibutuhkan oleh atasan kita, daripada dibandingkan dengan yang lain, sempurna tetapi munafik.

Ini adalah hal yang sangat penting untuk kita semua. Tidak perlu memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang sangat sempurna menurut standardnya orang lain, apalagi hal itu di luar kemampuan kita. Misalkan, kita hanya S1, tetapi kemudian ditantang untuk melakukan sesuatu seperti yang dilakukan oleh orang yang sudah S3. Bukanlah tawakal namanya jika kita tetap memaksakan untuk melakukan sesuatu yang di luar kemampuan kita.

Tawakal itu jika kita bekerja sesuai dengan apa adanya yang ada pada diri kita, bukan bagaimana seharusnya yang diinginkan oleh atasan kita. Karena, kalau kita selalu terbayangi oleh standardnya atasan kita ataupun standardnya orang lain, maka kita pasti selalu takkan pernah percaya diri. Sebaik apapun pekerjaan kita, ternyata itu masih ada kurangnya, karena di atas langit masih ada langit lagi. Orang yang seperti ini adalah orang yang tidak berperasaan tawakal. Orang yang berperasaan tawakal adalah orang yang apapun terjadi, maka itulah dirinya. Tapi hal ini harus konsisten dilakukan.

Kalaupun ada persoalan, misalkan dimarahi ataupun dicela, pada saat-saat seperti ini kita perlu tuma’ninah sebentar. Endapkanlah sebentar, kemudian kita berdoa kepada Allah bahwa ikhtiar kita itu sudah cukup tetapi atasan kita masih menganggapnya kurang. Kita serahkan diri kita kepada Allah, laa hawlawala quwwata illa billah. Insya Allah nantinya akan ada kemu’jizatan (keajaiban). Namun persoalannya selama ini, bahwa kita jarang sekali mau bertuma’ninah setelah melakukan ikhtiar.

Kita sudah melakukan kerja yang maksimum, tetapi kita dimarahi, seolah-olah kita terpengaruh, bahwa memang kita yang salah. Padahal dengan seperti ini, berarti kita telah menafikan kerja maksimum yang telah kita lakukan menurut kemampuan kita. Wakafkanlah diri kita kepada Allah pada saat-saat ini. Ingatlah Allah sambil kita berpasrah di dalam hati. Yakinlah, bahwa nantinya pasti akan ada jawaban. Tidak akan ada orang yang jatuh jika ia telah berikhtiar dan berdoa lalu menyerahkan dirinya kepada Allah.

Ingatlah ada dua istilah, yaitu menyerahkan diri dan pasrah. Kita sudah berikhtiar melakukan yang secara maksimum sesuai dengan kemampuan kita. Kemudian setelah itu serahkanlah hasil kerja kita tersebut kepada Tuhan. Setelah itu barulah kita pasrah. Menyerahkan diri berbeda dengan pasrah. Pasrah adalah puncak dari semua usaha yang kita lakukan itu. Jadi, anak tangganya adalah ikhtiar (berusaha), sesudah itu tawakal (menyerahkan), sesudah itu barulah pasrah. Janganlah kita langsung pasrah tanpa melewati dua anak tangga di bawahnya, yaitu tak ada ikhtiar dan tawakal.

Ketika kita sedang menghadapi suatu problem, maka ingatlah Allah pada saat itu. Pada kondisi ini, baik itu atasan ataupun orang lain, apakah mereka mampu melawan Tuhan? Pada waktu itu, kita sudah berada di dalam genggaman Tuhan. Masih adakah kekuatan lain yang akan merampas kita yang sudah berada di dalam genggaman Tuhan? Jawabannya, tidak ada yang mampu merampas kita jika kita sudah berada di dalam genggaman Tuhan. Tapi ini harus dilakukan dengan haqqul yaqin, yaitu jangan setengah-setengah. Pada umumnya, pasrahnya kita itu setengah-setengah (tanggung).

Janganlah kita takut dipecat. Justru kalau kita takut, malahan mungkin akan dipecat. Dalam hal ini, jadilah seperti baja, yaitu istiqamah, sehingga si pemecat itu akan kalah. Kalau kita menyerahkan diri ini sepenuhnya kepada Allah, maka hukum alam (sunnatullah)nya yang berlaku adalah pasti Tuhan akan melindungi kita. Tapi kalau kita ragu, maka sama saja kita sudah bersikap syirik, yaitu pada satu sisi kita percaya Tuhan, tetapi pada sisi yang lain kita selalu dirundung rasa takut.

Berani membunuh keraguan, itulah yang dicari oleh orang banyak. Tapi sangat sedikit yang bisa mencapai pada tingkatan tersebut. Bagaimanakah membunuh keraguan? Caranya, kita harus haqqul yaqin.

Sebagian para ulama mengatakan, bahwa semua hamba itu berada dalam rezeki Allah. Akan tetapi sebagian dari mereka itu memakan dengan kehinaan, yaitu seperti meminta-minta. Maksudnya, karakter orang tersebut memang suka meminta-minta. Memang dahulunya ketika miskin kebiasaannya adalah meminta-minta. Tetapi ketika sudah kaya, kebiasaan meminta-minta itu masih ada. Ironisnya, kalau tempat ia meminta itu lebih rendah daripada dirinya sendiri.

Tidak pantas jika ada atasan yang meminta kepada bawahannya, melainkan dialah seharusnya yang memberi kepada bawahannya. Jika ada yang seperti ini, maka yakinlah, apa yang didapatnya itu tak ada keberkahannya. Sekalipun ia memiliki banyak harta, tetapi jika semuanya itu diperoleh dari meminta-minta, maka tak ada keberkahan di dalamnya.

Tangan yang di atas itu lebih baik daripada tangan yang di bawah. Meminta itu hanyalah kepada Allah, bukanlah kepada makhluk. Tidak usah menambah rezeki jika jalannya adalah dengan meminta-minta. Mintalah kepada Allah, hindarilah meminta kepada sesama manusia. Meminta yang dimaksud adalah potong kompas (jalan pintas). Orang yang menjadi tempat meminta-minta itu mendapatkan harta dengan bermandikan keringat, tetapi kita seenaknya saja meminta. Meminta tersebut bentuknya juga bermacam-macam: ada yang berbentuk proposal, dan berbagai macam bentuk lainnya. Apalagi kalau memang memintanya itu dilakukan di pinggir jalan, yaitu sengaja mendramatisir dirinya sebagai orang miskin, padahal ternyata dia bukanlah orang yang pantas untuk meminta-minta. Tak ada keberkahan yang didapatkan melalui cara seperti ini. Lebih baik kita hidup dalam kesederhanaan tetapi memiliki harga diri, dibandingkan hidup berkecukupan tetapi dengan cara menjual harga diri.

Sebagian dari mereka dengan jerih payah dan menunggu seperti para pedagang. Ini mungkin lebih baik, karena ada usahanya. Sebagian lagi dari mereka dengan membuka usaha seperti perajin (tukang), jadi lebih terprogram rutinitasnya, prediksi-prediksinya, dengan menggunakan sistem yang rapi, ada tenaga kerja (karyawan), bukan spontanitas dirinya sendiri yang mendapatkan keuntungan, tetapi ini sudah menggunakan sistem yang rapi. Dan sebagian dari mereka itu dengan kemuliaan, seperti para ahli tasawuf yang menyaksikan kepada Allah Yang Maha Mulia, kemudian mereka itu mengambil rezeki mereka dari kekuasaan-Nya, mereka tidak melihat perantaraannya.

Jadilah pedagang yang sufi. Kita boleh banyak memiliki cabang-cabang usaha, tetapi pada sisi lain kita juga harus dekat kepada Allah. Orang yang seperti ini membuat orang lain menjadi iri. Dunianya kaya, akhiratnya juga kaya. Orang yang diberi kemuliaan seperti ini harus lebih banyak bersyukur dibandingkan yang lain. Bersyukurnya tidak hanya sekedar tahmid. Kalau tahmid hanya sekedar mengucapkan Alhamdulillah, sedangkan bersyukur dilakukan dengan disertai tindakan nyata.

Bagaimanakah gaya sufi yang dimaksud? Yaitu menarik manfaat, misalkan memiliki perusahaan, memiliki cabang-cabang usaha yang banyak, pekerjaan di mana-mana, tetapi ia memelihara yang bermanfaat itu. Menyimpan harta dengan baik. Barang siapa yang memperoleh harta, baik itu yang merupakan warisan, ataupun memang hasil kerja dan jerih payahnya, atau dengan sebab apapun juga, maka yang harus dilakukan oleh orang tersebut adalah hanya mengambil sekedar kebutuhannya ketika itu.

Orang kaya yang sufistik seperti inilah modelnya. Ia makan apabila lapar. Jangan mentang-mentang kaya, lalu bersikap boros. Salah satu hikmah kita berpuasa adalah kita tidak lagi terlalu tergila-gila dengan jenis makanan apapun. Ia memakai pakaian jika ia telanjang. Kalau tidak ada lagi pakaiannya, barulah ia membeli yang baru. Dan ia membeli tempat tinggal yang sederhana. Bagi mereka, tidak perlu lagi rumah mewah. Dan jika ia memiliki kelebihan, maka akan dibaginya kepada yang membutuhkan. Besar ataupun kecil yang dibaginya itu tergantung dia, karena kondisi kehidupan kita juga harus dihitung. Ia tidak mengambilnya dan tidak pula menimbunnya.

Ingatlah, bahwa yang kita bawa ketika mati hanyalah kain kafan. Menurut Rasulullah, bahwa ada tiga hal yang akan menyertai ketika seseorang meninggal dunia. Tetapi yang paling dicintainya justru itulah yang paling pendek mengantarnya hingga ke kuburan. Yang paling kita cintai adalah istri atau suami kita. Secinta apapun seorang istri terhadap suaminya, atau seorang suami terhadap istrinya, dia tidak akan mau menemani pasangan hidupnya itu di dalam liang lahat.

Sesudah istri, anak, ataupun keluarga, barulah harta. Harta ini masih lumayan, karena masih mau menyertai kita dalam bentuk tujuh lapis kain kafan. Tapi yang paling sering kita benci, justru itulah yang paling lama mengawal kita, bahkan tanpa batas. Itulah yang disebut dengan amal. Jarang sekali amal yang dilakukan itu kita laksanakan dengan nikmat, melainkan lebih banyak membebani kita. Tetapi justru yang paling membebani kita inilah justru yang paling abadi menyertai kita.

Yang paling kita cintai paling hanya sampai di permukaan (atas) kuburan menyertai kita. Harta yang kita miliki paling hanya sampai di dalam kuburan (itupun hanya berbentuk kain kafan). Sedangkan amal yang kita lakukan akan selamanya menyertai kita, bahkan hingga di hari akhir, di padang mahsyar, bahkan hingga di dalam surga

 

HATI YANG MATI DAN OBATNYA

    ROS            Suatu hari, Imam Fath Al-Musili berkata kepada murid-muridnya, “Bukankah seorang pesakit jika tidak diberi makan, minum dan ubat selama tiga hari ia akan mati?” Murid-muridnya menjawab, ‘Ya..’

Guru yang bijak ini melanjutkan, “Begitu juga hati kita. Jika tidak diberikan ilmu dan hikmah selama tiga hari, ia akan mati.”

Setiap amalan bersumber daripada hati. Hati yang baik akan melahirkan perbuatan yang baik. Dan hati yang rosak hanya akan melahirkan perbuatan yang buruk.

Meskipun ia melakukan kebaikan, namun tersimpan niat buruk di sebaliknya. Oleh itu, hati sangat menentukan kualiti amalan seseorang.

Rasulullah SAW bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada seketul daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Dan apabila ia rosak, maka rosaklah seluruh jasad. Ketahuilah, daging itu adalah hati”. (riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Hati manusia sangat ajaib. Ia selalu berubah-ubah. Ia juga sangat mudah dipengaruhi oleh faktor-faktor luaran.

Apa-apa yang dilihat ataupun didengar dapat merubah suasana hati. Oleh yang demikian, seorang mukmin wajib selalu menjaga pancainderanya daripada maksiat agar terjaga kejernihan hati.

Sebagaimana tubuh badan, hati boleh sihat ataupun sakit. Tanda hati yang sihat adalah ia giat melakukan ibadat dan amalan kebajikan.

Setiap amalan ibadah dan zikir terasa nikmat untuk dikecapi. Sama seperti seseorang yang tengah sihat tubuhnya, ia akan nikmat menyantap makanan dan minuman.

Adapun tanda hati tengah sakit adalah ia tidak dapat merasakan manisnya ibadat. Ia tidak tahan berlama-lama dalam aktiviti ibadah.

Sebaliknya, ia sangat seronok melakukan maksiat. Seperti orang yang tengah sakit kulit, perkara yang paling nikmat adalah menggaruk gatalnya hingga melukai diri sendiri.

Imam Tabiin di Basrah yang bernama Hasan Al-Basri pernah mengajarkan teknik semak kesihatan hati.

Beliau berkata, “Rasakanlah kemanisan dalam tiga perkara: ketika melakukan solat, membaca al-Quran dan ketika berzikir. Jika engkau merasakannya, maka bergembiralah. Namun jika kau tidak merasakannya, maka ketahuilah bahawa pintu hatimu telah tertutup.”

Hati orang kebanyakan seperti kita tidak berapa sihat. Kita sedari ataupun tidak, pelbagai penyakit tersimpan di dalam hati kita seperti hasad dengki, dendam, tamak, kedekut, meragukan janji Allah dan lain-lain. Tingkatan sakit itu berbeza-beza. Ada yang masih ringan, ada juga yang sudah parah.

Oleh itu, kita perlu segera mengubati hati kita. Ubat hati adalah hikmah dan ilmu yang memperkenalkan tuhannya, hakikat dirinya dan tugasan yang mesti ia lakukan di dunia sebagai hamba Allah. Semua itu boleh didapatkan apabila kita bercampur dengan orang-orang yang “berhati sihat.”

Berkata Ibrahim Al-Khawas, “Ubat hati lima perkara: Membaca al-Quran sambil memahami maknanya, mengosongkan perut, solat malam, berdoa pada waktu fajar dan bergaul dengan orang-orang saleh.”

Jika kita tidak segera mengubati hati yang sakit, ia akan terus sakit. Suatu hari nanti, ia bahkan boleh mati. Orang yang mati hati lebih berbahaya daripada mati jasad. Sebab orang yang mati jasad boleh segera dikuburkan.

Namun orang yang mati hati akan menjadi sampah masyarakat. Ia sangat mengganggu kehidupan masyarakat, namun tidak boleh dibuang ataupun ditanam.

KOREKSI DIRI ATAU INTROSPEKSI DARI SIFAT YANG TERCELA

GENG               Bahwa sifat-sifat tercela yang terdapat pada diri manusia banyak sekali, itu diakui atau tidak, adapun di antara sifat- sifat tercela yang sering muncul di dalam hati manusia itu adalah sifat sombong, kagum terhadap diri sendiri, bohong, khianat, buruk sangkah, menghina, memfitnah, menertawakan, dengki, marah, bersikap keras, riya’ dan lalai bahkan masih banyak lagi yang lainnya.

Oleh karenanya, kewajiban bagi manusia itu sendiri untuk mengoreksi dirinya, agar jangan sampai sifat-sifat jahat tersebut bersarang di dalam hatinya, dan hendaklah berusaha dengan sekuat-kuatnya untuk menghilangkan sifat-sifat tercela tersebut.

Di dalam hal bergaul dengan manusia terkadang bisa menjengkelkan dan juga terkadang menyenangkan, oleh karenanya di dalam bergaul hendaklah kita pandai-pandai untuk mengoreksi diri atau menghindari setiap perbuatan yang dapat mengakibatkan sifat tercela.

Tobat kepada Allah SWT. itu erat sekali kaitannya dengan mengoreksi diri sendiri, sebab bagaimanapun baiknya seseorang pasti pernah melakukan suatu perbuatan yang salah, sedikit atau pun banyak, disengaja ataupun tidak, dan seketika itu jika ia telah ingat maka hendaklah ia segera bertaubat kepada Allah SWT. dan tidak mengulanginya lagi.

Terkadang memanglah tidak sama, apa yang kita kehendaki itu tidak dikehendaki oleh orang lain, dan apa yang dikehendaki oleh orang lain itu tidak sama dengan yang kita kehendaki, dan terkadang orang sering mengoreksi diri kita, mencela kita, serta mengungkit-ungkit akan kesalahan-kesalahan kita mungkin telah membuat diri kita menjadi jengkel dan marah

Di dalam menghadapi hal yang demikian itu … hamba Allah SWT. yang sholeh dan mukhlis tidaklah akan menyalahkan kepada orang lain. Dan hendaklah ia kembalikan segala-galanya itu kepada Allah SWT. sebagai Pemelihara alam semesta, Maha Adil, Maha Kuasa dan Maha Mengetahui segalanya dengan apa yang tidak diketahui oleh manusia.

Di dalam pergaulan sangatlah diperlukan suatu jiwa … asalkan tidak angkuh, tabah tetapi tidak menyalahkan, tegar dan selalu waspada.

Agar mengetahui akan kelemahan pada diri sendiri dan dengan berusaha untuk memperbaiki serta menambah …. perbuatan baik, maka mengoreksi diri itu sangat penting dari kita.

Sudah menjadi kebiasaan dari manusia, lupa mengontrol pada diri sendiri, namun kesalahan atau cela orang lain yang telah menjadi bahan pembicaraan setiap hari, sebagai mana pepatah mengatakan bahwa “Gajah di pelupuk mata tak kelihatan, semut di seberang lautan nampak di mata”.

Lebih baik menyakiti diri sendiri, sebab mengoreksi lebih baik daripada dikoreksi oleh orang lain sebab itu akan lebih menyakitkan lagi bahkan lebih pedih rasanya.

Untuk itu obat yang paling mujarab di dalam pergaulan itu adalah berusaha untuk memperbaiki diri serta menghidupkan kembali perasaan dan sikap beragama dalam diri kita

Dan dengan bertawakkal kepada Allah SWT. maka rasa sakit dan pedih itu dapatlah disembuhkan dengan sendiirinya kemudian dapat dipulihkan dengan ridlo untuk menerima semua yang datang dari Allah SWT..

Sebagaimana telah disebutkan di dalam surat Luqman ayal 17, yang berbunyi :

Artinya: ” …. Hendaklah kalian bersabar atas apa yang telah menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang sangat hebat”.

Terhadap hamba yang ahli di dalam beribadah. Allah SWT. tidak membiarkan perbuatan orang-orang dzalim menekan kepada mereka (hamba Allah SWT.), hanya saja Allah SW’T, ingin mengetahui berapa besar kesabaran dan ketabahan yang telah dimiliki oleh hamba-hamba-Nya. Apalagi suatu kesalahan atau kepedihan itu telah datang dari diri hamba itu sendiri.

Semua penderitaan yang dialami oleh manusia itu bukan karena Allah benci kepada hamba-Nya, melainkan Allah SWT. ingin agar hamba-hamba-Nya itu mengetahui akan kelemahan dirinya sendiri dan mengetahui akan keagungan serta kehebatan Allah SWT..

Dalam firman Allah SWT. memberikan suatu pengharapan, tertera di dalam surat Al-Baqarah ayat 177, yang artinya adalah sebagai berikut :

“Orang-orang yang sabar menghadapi kesempitan, kesedihan dan pada waktu perang. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya, dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”.

Allah SWT. ingin agar hamba-hamba-Nya yang sholeh tertempa jiwanya, maka Allah SWT. menganugerahkan hidup serta kelengkapan yang sangat dibutuhkan oleh manusia, sehingga imannya tidak menjadi luntur berhadapan dengan masalah- masalah dunia yang sangat menyulitkan bagi mereka.

Dalam hal ini Syekh Athaillah telah mengungkapkan pendapatnya yang berbunyi : “Allah SWT. memang sengaja mendatangkan ganggu, untukmu dari manusia, agar kamu tidak merasa tentera karena gangguan itu. Allah SWT. memang menghendaki agar kamu gelisah, agar kamu selalu ingat kepada Alla karena kegelisahan itu”.

Di dunia ini banyak yang menyakitkan manusia, dan semi peristiwa yang menimpa kepada manusia itu Allah SWT. telah mengetahui, di antara peristiwa itu adalah ada fitnah, kekejaman, musibah, kebakaran, sakit dan lain sebagainya yang telah menyedihkan kepada manusia serta juga ada caci maki dan kebencian.

Maka dengan gangguan tersebut manusia disibukkan apalagi kalau manusia sangat terikat dengan manusia yan lainnya, dan mereka telah menjadikan bahwa manusia itu tempat harapan dan tumpuhannya, dan mereka itu lebih bahaya bersandar kepada manusia daripada bersandar kepada Alla SWT..

Kadang-kadang manusia tidak sadar bahwa dekatnya dengan manusia lain malah menganggu perilakunya sendiri manusia itu bisa ikhlas dan jujur, juga bisa munafik dan membawa fitnah, jika engkau tidak terjaga oleh pertolongan Allah dan ibadahmu, maka sudah pasti engkau akan terjerumus ke dalam godaan dan fitnah manusia.

“Larimu dari kebaikan manusia, melebihi larimu menghadapi keburukan mereka”, (itulah menurut pendapat Syekh Ab Hasan Asy- Syadzili). Kebaikan-kebaikan orang itu langsung membahayakan hatimu sedangkan keburukan orang hanya mampu membahayakan jasmanimu. Sesungguhnya apabila ada musuh yang mendekatkan dirimu kepada Allah SWT., lebi baik daripada sahabat yang memutuskan dirimu dari Allah SWT.”.

Perlu diingat, bahwa bahaya yang menimpa jasmanimu itu lebih baik dan ringan daripada bahaya yang menimpa hatimu Dan adapun berterima kasih kepada orang yang berbuat baik kepada kita itu lebih utama disertai dengan pemberian yang seimbang, maka apabila belum sanggup untuk berbuat demikian, berdo’alah kebaikan atas mereka.

Dan masih banyak lagi jalan yang harus kita tempuh untuk mengoreksi pada diri kita sendiri,, agar kita mengetahui atas semua kesalahan yang pernah kita lakukan, untuk itulah kita harus mempunyai ilmu.

Oleh karena itu tanpa ilmu kita tidak dapat mengetahui celah kita sendiri, untuk itu kita harus lebih pandai-pandai di dalam menitih ilmu serta menitih hati, dari segi mana hati kita itu terkena penyakit, dan bila sudah terserang maka segeralah kita mencari obatnya, dan jangan sampai kita hanya menuruti hawa nafsu.

Sebab yang mengajak manusia untuk melakukan suatu perbuatan maksiat itu adalah bahwa nafsu, sebagaimana sesuai dengan firman Allah SWT. yang berbunyi sebagai berikut :

Artinya : “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaranTuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya” (QS. An-Naziat: 40 – 41).

 

INTROSPEKSI DIRI ATAU MUHASABATUN NAFSI

KOR

1    Menyalahkan orang lain untuk penderitaan kita? Niscaya ia akan menambah kita satu penderitaan lagi.

2     Jujur dengan kesalahan diri sendiri dan ubahlah. Inilah dua solusi terefektif bila penderitaan sedang datang. Intinya, koreksi, koreksi, dan koreksi. Selanjutnya perbaiki, perbaiki dan perbaiki. Insya Allah tidak ada penderitaan yang bakal lama-lama bersemayam didalam kehidupan kita.

3     Carilah penyebab kesusahan hidup, dari dalam diri kita sendiri. Dan carilah penyebab semua penderitaan yang kita rasakan, dari dalam diri kita sendiri. Penyebab yang paling banyak dan yang paling utama adalah biasanya justru dari kita sendiri.

4     Perbuatan buruk akan menuai keburukan. Sedang perbuatan baik pun akan menuai kebaikan. Hanya  kadang kita perlu membuka mata, dibagian kehidupan yang mana ia tumbuh menjadi buah.

5     Renungkanlah wahai hatiku…tidak ada satupun yang bisa meloloskan diri dari hukum sebab akibat

6     Renungkanlah wahai diriku…tidak ada satupun  manusia yang bisa lolos dari kejaran akibat buruk perbuatan buruk…

7     Jangan tertawa dulu, untuk siapa saja yang telah mengecewakan Allah dan menari-nari diatas penderitaan orang lain

8     Jangan dulu bertepuk dada, untuk anda  yang berada  diatas angin dan kemudian melupakan sesama

9     Boleh saja berteriak  kesenangan, ketika mempertontonkan keburukan dan memperlihatkan kemaksiatan

10     Tapi jangan menangis, ketika Allah perlihatkan akibat buruk dari kelakuan  buruk.

11     Apapun perbuatan buruk yang kita lakukan, hanya akan mengantarkan kita kepada kenestapaan yang mungkin berkepanjangan. Dan apapun  kejahatan yang kita kerjakan, hanya akan mengantarkan kita kepada penyesalan yang mungkin kita ratapi sepanjang sisa hidup.

12    Disetiap perbuatan baik, akan menghasilkan perbuatan baik. Disetiap perbuatan buruk akan menghasilkan keburukan. Hanya kita tidak tahu bagaimana bentuknya, hasilnya dan kembangnya….

13     Siapapun punya masa lalu. Masa lalu memang  jangan menjadi beban, tapi harus menjadi pengalaman dan pelajaran

14     Bila kita tidak mau mengakrabkan diri dengan al qur’an dan as sunnah dan tidak mau berpedoman pada  keduanya, boleh jadi kita bagaikan berjalan tanpa arah dan tujuan atau berjalan  dalam kegelapan tanpa pelita

15     Koreksi dir, jujur diri, dan perbaiki. Insya Allah, kehidupan  yang gelap akan kembali  terang.

16     Koreksi diri (muhasabah) adalah sepenting ikhtiar perbaikan diri itu sendiri. Sedangkan tidak ada yang dinamakan perbaikan, jika tidak tahu apa yang mesti  diperbaiki.

17     Ajak diri tuk mengoreksi…kenapa kesusahan demi kesusahan terjadi. Renungkan dibalik penyakit yang diderita, renungkan dibalik hutang yang menjerat, renungkan dibalik kebangkrutan….dan pahami pesan yang dibawa setiap derita yang dirasakan….

18    Bila penyebab semua kesulitan kita adalah kesalahan kita sendiri…bila penyebab dibanyak semua kesusahan kita adalah keburukan kita sendiri…dan bila penyebab dibanyak penderitaan kita adalah maksiat dan dosa kita sendiri.. maka ampunan Allah adalah awal jawaban segalanya, atau mungkin…malah jawaban bagi segalanya….”Berlomba-lombalah kamu kepada ampunan dari tuhanmu…” (QS. Al Hadid : 21), “Wahai hamba-hambaku sesungguhnya kamu berbuat dosa diwaktu malam dan siang hari, sedang Aku mengampuni semua dosa. Maka mintalah kamu ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosamu”(HQ,HR Abu Dzar Al Ghifari)

19     Rizki mudah dicari. Cari saja dulu pemberi rizki. Rizki gampang didapat yaitu dengan mendekati pemiliknya. Rizki yang didapat dengan melupakan Allah atau dengan tidak melibatkannya, adalah sesungguhnya bukan rizki, melainkan  bibit penderitaan dan kehampaan.”…………Allah sebaik-baik pemberi rizki………..”(QS. Al Jumu’ah:11)

20     Adakah kekuasaan yang kita miliki..?adakah  kekuatan yang kita miliki…?sejatinya kita tiada memiliki apapun kecuali yang Allah izinkan bagi kita untuk memilikinya.

21     Seberapa hebat kita dalam mencari kekayaan, hingga  berani melupakan sang pemilik perbendaharaan langit dan bumi…?

22     Tidak kan ada keuntungan bagi mereka yang tidak benar jalannya…dan sebenar-benarnya jalan adalah jalan Allah

23     Ketika hidup dihadapkan pada ujung kesusahan, hadapkan wajah hanya kepada Allah. Dan ketika hidup dihadapkan pada wajah  kesenangan, hadapkan juga wajah kepada Allah

24     Jodoh ditangan Allah. Bukan ditangan manusia. Lalu, mengapa kita tidak langsung meminta kepada-Nya…?

25     Buat sebanyak-banyaknya orang bahagia dengan kehadiran kita, maka kebahagiaan akan menjadi bagian dari kehidupan dari kehidupan kita. Dan buat saja satu orang menderita sebab kelakuan kita, maka kesusahan lantas akan menjadi pakaian kita.

26     Sekali-kali berfikir dan merasa sebagai orang yang diinjak…

27     Bayangkan sekali-kali andai kita yang dicubit….

28     Coba bercermin, dan tanyakan bagaimana kalau diri kita yang berposisi sebagai korban penipuan…?

29     Tempuhlah jalan kebaikan, untuk menghapus jalan-jalan keburukan yang sudah terjejak

30     Tidak ada keburukan dan tidak ada kesalahan yang berakibat buruk. Semuanya berakibat buruk. Hanya dengan kebaikan sajalah, akibat buruk tersebut akan diubah dan dikubur

31     Kebaikan dan keburukan akan selalu bertarung. Didunia ini, dialam kubur dan dinegeri terakhir. Bila salah satu dari keduanya yang menang, kita sudah sama mafhum apa kejadian yang bakal terjadi.

32     Ada 2 jenis hari yang pasti akan kita lewati, yaitu hari berbangkit dan hari perhitungan.

33     Buatlah sebanyak-banyaknya kebaikan. Kita tidak tahu sebesar apa  keburukan yang sudah kita lakukan.”Ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya ia akan menghapusnya…”(al hadist)

34     Sebenarnya kegagalan demi kegagalan itu adalah hal biasa. Kegagalan adalah awal dari kesuksesan, dan kegagalan adalah sebuah proses menuju keberhasilan. Hampir tidak ada orang yang sukses tanpa kegagalan sebagai pintu pertamanya. Tapi perenungan tetap perlu dikedepankan, sebab siapa tahu kegagalan yang terjadi adalah sebab borok didalam diri sendiri yang perlu diperbaiki tapi belum kunjung diperbaiki.

35     Kesusahan hidup didunia ini boleh jadi sebab utamanya adalah kita melanggar apa yang dilarang Allah, dan atau tidak menunaikan kewajiban kepadaNya. Seseorang boleh saja kaya, tapi bila kekayaan diraih bukan denga cara-cara yang diridhoiNya, maka ia akan kehilangan 2 hal yang terlalu berharga bila dibandingkan dengan kekayan sebesar dan sebanyak apapun. Dua hal tersebut adalah keberkahan dan ketenangan. Seseorang boleh jadi mulia dan terhormat, terkenal dan termasyur. Tapi  bila dalam cara-caranya meraih kemuliaan, kehormatan, kepopuleran, ia justru menjauhi Allah, maka umurnya tidak akan lama. Setelah itu..?kemuliaan dan kehormatannya akan berganti wujud dengan kehinaan, kepopulerannya berganti wujud dengan kenistaan. Na’udzubillah min dzalik.

36     Ketika seseorang berusaha, maka urusan Allah dalam memberikan hasilnya

37     Ketika seseorang melakukan suatu perbuatan dosa, maka menjadi  hak Allah membalasnya  dibagian mana yang Allah suka

38     Perbuatan buruk, buahnya buruk. Tidak ada pohon mangga yang berbuah cabe.

39     Menurut kita, kaya adalah mulia. Ini betul, asal kekayaan tersebut diraih dengan tidak membelakangi Allah. Kalau kekayaan diraih dengan melupakan Allah, maka bukan kemuliaan yang ada, melainkan justru kehinaan. Bahkan bukan Cuma dimata Allah, dimata manusia pun, akan menjadi hina bila kita meraih kekayaan dengan cara yang tidak benar. Contoh: kita sering mendengar,”he…si dia, kaya…Cuma sayang, boleh korupsi…”

40     Menurut kita memiliki kedudukan adalah mulia. Ini tidak salah, asal kedudukan tersebut diraih dengan cara-cara  yang tidak merendahkan  martabat diri. Apabila kedudukan diraih dengan menjadikan kepala orang sebagai injakan, atau dengan mengorbankan orang lain dan menempuh segala cara, maka kedudukan itu akan menjadikan ia hina

41    Cari kemuliaan dengan tidak melupakan pemilik kemuliaan itu sendiri, raih kemuliaan dengan melibatkan Allah, pemilik kemuliaan sejati.

 

SIKAP UMAT ISLAM KEPADA ULAMA DAN WALI ALLOH YANG BERKAROMAH

  nabi-muhammad           Belakangan ini, media-media non Ahlussunnah kerap memposting ejekan-ejekan terhadap para ulama sepuh, para wali dan para sufi yang mana menurut mereka mempercayai wali dan menjadi sufi itu akan membuat seseorang jauh dari sunnah. Sebagai ummat ahlusunnah waljamaah pantaskah kita bersikap seperti itu? sangat tidak pantas, sudah selayaknyalah kita percaya akan kewalian seseorang, tentang karomahnya dan sifat-sifat aneh darinya, sebagaimana keterangan dari Ibni Taymiyah:

ومن أصول أهل السنة : التصديق بكرامات الأولياء وما يجري الله على أيديهم من خوارق العادات في أنواع العلوم والمكاشفات وأنواع القدرة والتأثيرات ، كالمأثور عن سالف الأمم في سورة الكهف وغيرها ، وعن صدر هذه الأمة من الصحابة والتابعين وسائر قرون الأمة ، وهي موجودة فيها [ ص: 287 ] إلى يوم القيامة ) .

[ العقيدة الواسطية » شرح العقيدة الواسطية » أصول أهل السنة والجماعة الدين والإيمان قول وعمل » من أصول أهل السنة والجماعة التصديق بكرامات الأولياء]

“Termasuk prinsip ahlu as-Sunnah wa al-Jama’ah adalah membenarkan adanya karomah para wali dan kejadian-kejadian luar biasa yang Allah tunjukkan melalui mereka dalam berbagai bentuk ilmu dan mukasyafah, dalam berbagai jenis qudrat dan pengaruh, seperti yang diriwayatkan dari umat-umat terdahulu dalam (al Qur’an) Surat al-Kahfi dan selainnya, dan dari generasi awal umat ini, para sahabat, tabi’in, serta generasi-generasi umat yang lain. Karomah tetap akan ada di setiap umat sampai hari Kiamat.”
[Syarh Aqidatul Waasithiyah ]

Namun belakangan muncul kelompok yang mengingkari kewalian seseorang, karena menurut mereka kewalian dan karomah tidak bisa diketahui oleh umum, benarkah demikian? dalam majmu’ fatawa Ibnu Taymiyah mengatakan :

يقول شيخ الإسلام ابن تيمية: ومما ينبغي أنْ يُعرف أنّ الكرامات قد تكون بحسب الحاجة ، فإذا احتاج إليها الرجل لضعف الإيمان أو المحتاج إياه أتاه منها ما يقوي إيمانه ويسد حاجته ، ويكون من هو أكمل ولاية لله مستغنياً عن ذلك فلا يأتيه مثل ذلك لعلو درجته ، وغناه عنها لا لنقص ولايته ، ولهذا كانت هذه الأمور في التابعين أكثر منها في الصحابة بخلاف من يجري على يديه الخوارق لهدى الخلق وحاجتهم فهؤلاء أعظم درجة. (مجموع الفتاوى: ابن تيمية 11/283).

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah : ”“Dan di antara yang perlu diketahui adalah karomah ada kalanya bersesuaian dengan hajat seseorang. Apabila seseorang yang lemah imannya, atau orang yang sedang dalam keadaan memerlukan (terdesak), maka karomah pun ditampakkan di hadapannya dalam rangka agar keimanannya (terhadap kebenaran) bertambah kuat, dan keperluannya terpenuhi.
Manakala orang yang kewaliannya (ketaqwannya) terhadap Allah lebih sempurna, maka ia tidak diperlukan asbab ketinggian derajat. Oleh sebab itu, perkara-perkara ini berlaku ke atas para tabi’in lebih banyak berbanding di masa generasi sahabat. Berbeda dengan orang-orang yang diberi di hadapannya beberapa kemampuan tersebut, dengan tujuan sarana menuju hidayah kepada manusia dan untuk memenuhi keperluan mereka. Maka bagi mereka derajat yang agung.”

Kalau melihat ibarat diatas maka seorang wali benar-benar dapat menampakkan karomahnya, namun ada juga kelompok yang tetap mengingkari kewalian seseorang dikarenakan orang itu menyalahi aturan syariat, menurut hemat saya mereka tidak menyalahi syariat namun kita lah yang masih rendah ilmunya, sebagai orang yang masih rendah ilmu sungguh tidak pantas jika seuudzon terhadap wali Allah, dalam kitab Umdatussalik dijelaskan:

إذا سمعت كلمات من أهل التصوف والكمال ظاهرها ليس موافقا لشريعة الهدى من الضلال توفق فيها واسأل من الله العليم أن يعلمك مالم تعلم ولا تمل إلى الإنكار الموجب للنكال, لأن بعض كلماتهم مرموزة لاتفهم, وهي فى الحقيقة مطابقة لبطن من بطون القرأن الكريم وحديث النبي الرحيم. فهذا الطريق هوالأسلم القويم, والصراط المستقيم. .

“Apabila engkau mendengar beberapa ucapan dari ahli Tashawuf dan ahlul kamal yang mana secara zahir tidak sesuai dengan syariat Nabi yang menyatakan petunjuk dari segala kesesatan, maka bertawaquflah (berdiamlah/jangan berkomentar) engkau padanya dan bermohonlah (berserahlah) kepada Allah Yang Maha Mengetahui agar engkau di beri akan ilmu yang belum engkau mengetahuinya. Janganlah engkau cenderung mengingkarinya yang mengakibatkan memberi kesimpulan yang buruk. Karena sebagian dari pada kalimah atau perkataan mereka itu adalah isyarat yang tidak mudah difahami. Padahal hakikat-isinya itu sesuai dengan batinnya dari pada isi al Quran al Karim, dan haditsnya Nabi yang penyayang. Maka jalan ini lebih selamat sejahtera, dan jalan yang lurus.”

Itulah yang harus dipegang oleh kita sebagai orang awam terhadap waliyullah..

 

HATI HATI BERMAIN DENGAN ANJING, KARENA ITU KEBIASAAN SYAITAN

 AANJ               Salah satu hewan yang dihukumi najis mughalladhah adalah anjing. Cara menyucikan najis anjing adalah dengan menyamaknya, yaitu membasuh tujuh kali basuhan air, salah satunya telah dicampur dengan tanah yang suci. Tentang dalil dan cara menyucikan najis anjing bisa dibaca dalam tulisan kami sebelumnya cara menyucikan najis mughalladhah. Lalu apa hikmah dibalik Allah menghukumi anjing sebagai hewan bernajis? Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami pernah ditanyakan tentang hal ini, yang diikuti dengan pertanyaan tentang najiskan racun hewan berbisa seperti ular?. Berikut jawaban beliau;

وسئل – أمدنا الله من مدده – ما الحكمة في تنجس الكلب؟

وهل سم الحيات ونحوها نجس؟

فأجاب – أفاض الله علي من فيض مدده – الحكمة في تنجس الكلب التنفير مما كان يعتاده أهل الجاهلية من القبائح كمؤاكلة الكلاب، وزيادة إلفها ومخالطتها مع ما فيها من الدناءة والخسة المانعة لذوي المروآت وأرباب العقول من معاشرة من تحلى بهما ومن ثم حرم الجلوس على نحو جلد النمور والسباع لأن ذلك كان فعل المتكبرين من الجاهلية؛ فنهى الشارع عن التأسي بهم في ذلك فلما لم يكن في التأسي بهم هنا ما ليس فيه من الدناءة ثم كان ثم حرمة ونجاسة، وهنا حرمة فقط. وسم نحو الحيات نجس كما صرح به جمع متقدمون ومتأخرون والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب

Ditanyakan terhadap Ibnu Hajar Al-Haitami: Apakah hikmah dibalik Allah menghukumi Anjing sebagai hewan bernajis ?

dan Apakah racun ular dan hewan sejenisnya adalah najis ?

Beliau menjawab: Hikmah dibalik bernajisnya anjing adalah untuk menghindari apa yang telah menjadi kebiasaan jahiliyah yang melakukan perbuatan keji seperti makan anjing, dan bermain-main dengan anjing. Hal tersebut merupakan perbuatan keji dan hina dan kondisi tersebut sangat menentang dengan sikap orang yang memiliki muruah dan karisma untuk bergaul dengan orang-orang yang memiliki sikap tersebut, karena itu diharamkan duduk diatas kulit macan dan binatang buas lainnya., karena hal tersebut merupakan perbuatan orang takabbur, maka agama melarang mengikuti tingkah laku mereka.

Sedangkan racun ular dan umpanya adalah najis sebagaimana diterangkan oleh ulama Mutaqaddimun dan Mutaakhirun. Wallahu A’lam.

Fatawa Fiqhiyah Kubra Ibn Hajar al-Haitami, Jld. 1 hal 28. Cet. Dar Fikr tt

Kesimpulannya, hikmah Allah menghukumkan najisnya anjing adalah supaya umat muslim menjauhi bersentuhan dengan anjing yang bisa meruntuhkan muruah dan kehormatan seseorang.

Sedangkan hukum racun hewan berbisa seperti ular adalah najis.

MENYOLATI KORUPTOR DAN TERORIS MATI

kub           Aksi teror dan korupsi dengan segala bentuk dan motifnya menjadi kejahatan paling terkutuk setidaknya pada lima belas tahun terakhir di Indonesia. Bahkan orang-orang yang terlibat atau menikmati dua jenis kejahatan ini ikut juga melaknat perilaku teror dan perilaku koruptif yang dilakukan orang lain.

Aksi teror dan tindak kejahatan korupsi karenanya menjadi musuh masyarakat. Tidak heran saat aksi teror atau tindak kejahatan korupsi tercium oleh media, masyarakat mengumpat pelakunya dengan sebutan “Dajjal”.

Dampak kejahatan setingkat Dajjal ini bisa dilihat dan diraba langsung oleh pancaindra. Banyak sekali kerugian yang diderita oleh masyarakat akibat aksi teror dan tindakan korupsi.

Karena aksi teror, seorang istri menjadi janda, seorang suami menjadi duda, anak-anak menjadi yatim, orang-orang sehat menjadi cacat, aset-aset dan fasilitas umum menjadi rusak, orang-orang menjadi resah.

Sementara korupsi menurunkan derajat kemuliaan seseorang. Yang paling kentara, korupsi meruntuhkan keikhlasan. Mereka yang diamanahkan melayani masyarakat, justru merasa paling berjasa dan mengharapkan imbalan di luar gaji pokok. Layanan untuk masyarakat umum atau mewujudkan kepentingan umum bergeser menjadi layanan untuk kepentingan “pemborong”.

Atas dasar ini kejahatan teror dan perilaku busuk korupsi digolongkan sebagai dosa besar yang dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka. Khazanah ulama menyebutnya sebagai “kaba’ir” dosa besar yang mengundang laknat Allah beserta makhluk-Nya hingga ikan-ikan di dasar laut.

Terlebih lagi kejahatan teror. Kejahatan ini bisa juga masuk ke dalam kategori bid’ah dan zindik. Pasalnya pelaku teror kerap mengharamkan apa yang dihalalkan Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah seperti membunuh manusia dalam kondisi aman atau membunuh diri dengan meledakan bom di keramaian.

Aksi sweeping tempat-tempat hiburan atau rumah ibadah agama lain juga termasuk salah satu bentuk teror. Demikian juga aparat birokrasi yang menjadi centeng atas kepentingan-kepentingan perusahaan tertentu dengan mengintimidasi masyarakat demi kelancaran aktivitas perusahaan yang bersangkutan.

Tetapi segagah apa pun, teroris dan koruptor juga tetap mengalami kematian sebagaimana makhluk hidup pada umumnya. Lalu bagaimana kalau mereka wafat? Apakah umat Islam tetap diwajibkan untuk memandikan, mengafankan, menyembahyangkan, dan memakam jenazahnya? Ibnu Rusydi dalam Bidayatul Mujtahid menerangkan sebagai berikut.

وأجمع  أكثر أهل العلم على إجازة الصلاة على كل من قال لا إله إلا الله. وفي ذلك أثر أنه قال عليه الصلاة والسلام “صلوا على من قال ” لا إله إلا الله ” وسواء كان من أهل كبائر أو من أهل البدع، إلا أن مالكا كره لأهل الفضل الصلاة على أهل البدع، ولم ير أن يصلي الإمام على من قتله حدا. ومن العلماء من لم يجز الصلاة على أهل الكبائر ولا أهل البغي والبدع. وأما كراهية مالك الصلاة على أهل البدع فذلك لمكان الزجر والعقوبة لهم.

Mayoritas ulama sepakat membolehkan umat Islam untuk menyembahkan jenazah setiap orang yang mengucapkan “Lâ ilâha illallâh” baik jenazah itu pelaku dosa besar maupun ahli bid‘ah. Hanya saja Imam Malik memakruhkan orang-orang terpandang atau terkemuka untuk ikut menyembahyangkan jenazah ahli bid’ah. Tetapi Imam Malik tidak berpendapat perihal pemerintah menyembahyangkan jenazah mereka yang terkena hukuman mati (hudud). Bahkan sebagian ulama tidak memperbolehkan masyarakat menyembahyangkan jenazah pelaku dosa besar, pelaku zina, dan pelaku bid‘ah. Pilihan makruh oleh Imam Malik lebih pada kecaman dan sanksi (sosial) untuk mereka.

Dari keterangan di atas, Ibnu Rusydi mengisyaratkan bahwa ulama, para kiai, para ustadz, modin, amil, dan juga orang terpandang di sebuah masyarakat tidak perlu hadir menyembahyangkan jenazah teroris, pelaku sweeping, koruptor, mereka yang menyalahgunakan jabatan.

Cukup masyarakat awam yang menghadiri upacara sembahyang dan pemakaman jenazah mereka. Ini merupakan bentuk sanksi sosial dan kecaman keras atas kejahatan-kejahatan besar seperti teror, korupsi, sweeping yang sangat merusak kehidupan masyarakat secara umum.

 

Wallâhu a’lam.

 

AKHLAQ AL-QUR’AN UNTUK MEMBELA AL-QUR’AN

  AL Q           Sore itu Ujang mengobrol dengan Haji Yunus. Di meja beliau ada kitab Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali. Ujang lantas bertanya: “Banyak Ustad yang menekankan pentingnya kita ber-akhlak seperti akhlak Nabi Muhammad. Wak Haji, seperti apa sih akhlak Nabi kita itu?

Haji Yunus menarik sarungnya yang lusuh, lantas membuka Kitab Ihya di depannya, “Mari Ujang kita ngaji bersama untuk menjawab pertanyaanmu itu”. Haji Yunus membaca dan menerjemahkannya:

‎كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَثِيرَ الضَّرَاعَةِ وَالِابْتِهَالِ دَائِمَ السُّؤَالِ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى أَنْ يُزَيِّنَهُ بِمَحَاسِنِ الْآدَابِ وَمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ فَكَانَ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ اللَّهُمَّ حَسِّنْ خُلُقِي وَخَلْقِي وَيَقُولُ اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ فَاسْتَجَابَ اللَّهُ تَعَالَى دُعَاءَهُ وَفَاءً بِقَوْلِهِ عَزَّ وجل {ادعوني أستجب لكم} فأنزل عليه القرآن وأدبه به فكان خلقه القرآن

‎قال سعد بن هشام دخلت على عائشة رضي الله عنها وعن أبيها فسألتها عن أخلاق رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ أما تقرأ القرآن قلت بلى قالت كان خلق رسول الله صلى الله عليه وسلم الْقُرْآنَ

Nabi selalu memohon kepada Allah SWT supaya dihiasi dengan adab yang baik serta akhlak terpuji. Dalam do’anya, beliau membaca: Ya Allah, baguskanlan rupa dan akhlakku. Dan beliau juga berdoa: “Ya Allah, jauhkan aku dari akhlak yang munkar,” maka Allah mengabulkan doa beliau sesuai dengan firmanNya “Berdo’alah kepada-Ku niscaya Kuperkenankan (permintaan) kamu itu” (QS al-Mu’min: 60). Allah turunkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad dan dijadikan al-Qur’an itu bahan pengajaran adab, maka jadilah akhlak Nabi Muhammad itu (seperti isi) al-Qur’an.

Said bin Hisyam berkata, “Aku masuk menemui Siti Aisyah RA dan bertanya tentang akhlak Rasulullah Saw.”
Aisyah menjawab dan bertanya, “Apakah engkau membaca al-Qur’an?”
Aku menjawab, “Iya.”
Aisyah menjawab, “Akhlak Nabi SAW adalah al-Qur’an.”

**
Haji Yunus berkata: “Ujang, kalau akhlak Nabi itu al-Qur’an, maka mari kita simak sejumlah ayat al-Qur’an untuk memahami akhlak beliau SAW”. Haji Yunus meneruskan membaca kitab Ihya:

‎وَإِنَّمَا أَدَّبَهُ الْقُرْآنُ بِمِثْلِ قَوْلِهِ تَعَالَى {خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ} وَقَوْلِهِ {إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ} وَقَوْلِهِ {وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ من عزم الأمور} وقوله {ولمن صبر وغفر إن ذلك لمن عزم الأمور} وَقَوْلِهِ {فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ المحسنين} وقوله {وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لكم} وَقَوْلِهِ {ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بينك وبينه عداوة كأنه ولي حميم} وقوله {وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ المحسنين} وَقَوْلِهِ {اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بعضاً} ولما كسرت رباعيته وشج يوم أحد فجعل الدم يسيل على وجهه وهو يمسح الدم ويقول كيف يفلح قوم خضبوا وجه نبيهم بالدم وهو يدعوهم إلى ربهم فأنزل الله تعالى {ليس لك من الأمر شيء} تأديباً له على ذلك

Sungguh al-Qur’an mengajarkan Rasulullah SAW adab kesantunan sebagaimana dalam ayat, “Jadilah Engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS al-A’raf: 199)

Di lain ayat, Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.” (QS al-Nah,: 90)

Dan firman Allah, “Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS Luqman:17)

Begitu juga dengan ayat “orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan” (QS Asyura:43) dan “maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS al-Maidah:13). Kemudian, “dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (QS al-Nur:22).

Lanjut dengan ayat “Dan yang sanggup menahan marahnya, serta orang- orang yang mema’afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS Ali Imran:134) dan “jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain” (QS al-Hujurat:12).

Pada perang Uhud, gigi geraham Nabi patah sehingga darah mengucur keluar dan membasahi wajah beliau. Nabi berkata, “Bagaimana suatu kaum akan selamat jika mereka melumuri wajah Nabi mereka dengan darah, sedangkan Nabi mereka mengajak mereka kepada Tuhan” maka, Allah Swt menurunkan ayat, “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu.” (QS Ali Imran:128) Ayat-ayat ini bermakna membimbing Rasulullah SAW atas kejadian yang tengah dihadapinya.

**
Haji Yunus mulai berkaca-kaca matanya. Ujang terdiam menundukkan kepalanya. Haji Yunus meneruskan membaca kitab Ihya:

‎وَأَمْثَالُ هَذِهِ التَّأْدِيبَاتِ فِي الْقُرْآنِ لَا تُحْصَرُ وهو صلى الله عليه وسلم الْمَقْصُودُ الْأَوَّلُ بِالتَّأْدِيبِ وَالتَّهْذِيبِ ثُمَّ مِنْهُ يُشْرِقُ النُّورُ عَلَى كَافَّةِ الْخَلْقِ فَإِنَّهُ أُدِّبَ بِالْقُرْآنِ وَأَدَّبَ الْخَلْقَ بِهِ وَلِذَلِكَ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

ثُمَّ رغب الخلق في محاسن الأخلاق بما أوردناه في كتاب رياضة النفس وتهذيب الأخلاق فلا نعيده ثُمَّ لَمَّا أَكْمَلَ اللَّهُ تَعَالَى خُلُقَهُ أَثْنَى عَلَيْهِ فَقَالَ تَعَالَى {وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ}

Ayat yang senada seperti di atas, banyak dijumpai dalam al-Qur’an. Semuanya itu dimaksudkan mula-mula yaitu untuk membimbing dan mengarahkan Nabi Saw. Dengan itu, maka sinar pelajaran dari al-Qur’an dapat menyebar ke seluruh manusia.
Itulah sebabnya Rasulullah SAW bersabda: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia”. Setelah Allah menyempurnakan akhlak beliau, lalu Allah memujinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS al-Qalam:4).

**
Ujang mengangkat tangan, “Wak Haji, adakah contoh praktis dari akhlak Nabi SAW?”

“Iya, ada…” Haji Yunus kemudian lompat ke lembaran berikutnya.

‎لما أتى بسبايا طيء وقفت جارية في السبي فقالت يا محمد إن رأيت أن تخلي عني ولا تشمت بي أحياء العرب فإني بنت سيد قومي وإن أبي كان يحمي الذمار ويفك العاني ويشبع الجائع ويطعم الطعام ويفشي السلام ولم يرد طالب حاجة قط أنا ابنة حاتم الطائي

‎فقال صلى الله عليه وسلم يا جارية هذه صفة المؤمنين حقاً لو كان أبوك مسلماً لترحمنا عليه خلوا عنها فإن أباها كان يحب مكارم الأخلاق وإن الله يحب مكارم الأخلاق فقام أبو بردة بن نيار فقال يا رسول الله الله يحب مكارم الأخلاق فقال والذي نفسي بيده لا يدخل الجنة إلا حسن الأخلاق

Ketika didatangkan sekelompok tawanan Thayyi-in, di antara tawanan tersebut ada seorang gadis belia. Dia berkata, “Hai Muhammad, sudikah engkau membebaskan aku, dan tidak mengecewakan musuh-musuhmu serta tidak mempermalukan orang-orang Arab? Sesungguhnya, aku adalah putri seorang pemimpin di kaumku. Bapakku bertugas melindungi daerahku, membebaskan tawanan, memenuhi kebutuhan orang yang membutuhkan, memberi makan, menyebarkan salam dan tidak pernah mengusir seseorang yang datang kepadanya untuk suatu keperluan. Aku adalah putri dari Hatim al-Tha’i”

Rasulullah Saw berkata, “Wahai budak perempuan, yang kamu sebut adalah semuanya sifat orang-orang mu’min. Andaikata bapakmu seorang Muslim, niscaya kami akan mendoakan rahmat baginya.” Nabi lalu memerintahkan, “Bebaskan dia, sesungguhnya bapaknya menyenangi budi pekerti yang mulia.” Lalu bangun berdiri Abu Bardah bin Niar, seraya-berkata : “Wahai Rasulullah! Allah menyukai akhlaq yang mulia!”. Nabi Menjawab: “Demi Allah yang nyawaku dalam kekuatan-Nya! Tiada yang masuk surga kecuali orang yang bagus akhlaknya”

**
“Sampai di sini, mengertikah kamu, Ujang, bahwa Nabi pun memghormati akhlak non-Muslim dan menyanjungnya. Kita tentu malu sekarang kalau non-Muslim lebih banyak yang mengamalkan akhlak mulia ketimbang kita para pengikut Nabi Muhammad” tegas Haji Yunus. Beliau melanjutkan menerjemahkan:

‎عن معاذ بن جبل عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إِنَّ اللَّهَ حَفَّ الْإِسْلَامَ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَمَحَاسِنِ الْأَعْمَالِ وَمِنْ ذَلِكَ حُسْنُ الْمُعَاشَرَةِ وَكَرَمُ الصَّنِيعَةِ وَلِينُ الْجَانِبِ وَبَذْلُ الْمَعْرُوفِ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السلام وعيادة المريض المسلم براً كان أو فاجراً وتشييع جنازة المسلم وَحُسْنُ الْجِوَارِ لِمَنْ جَاوَرْتَ مُسْلِمًا كَانَ أَوْ كَافِرًا وَتَوْقِيرُ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَإِجَابَةُ الطَّعَامِ وَالدُّعَاءُ عَلَيْهِ وَالْعَفْوُ وَالْإِصْلَاحُ بَيْنَ النَّاسِ وَالْجُودُ والكرم والسماحة والابتداء بالسلام وكظم الغيظ والعفو عن الناس

Dari Muaz bin Jabal, Nabi Bersabda: “Sesungguhnya, Islam meliputi akhlak-akhlak yang terpuji dan perilaku yang baik.” Adapun contoh dari akhlak yang terpuji adalah pergaulan yang baik, perbuatan terpuji dan perkataan yang lemah lembut, melakukan perbuatan yang ma’ruf, memberi makan tamu, menyebarkan salam, menziarahi orang muslim yang sakit baik yang akhlaknya baik maupun yang buruk, mengantarkan jenazah Muslim, berlaku baik kepada tetangga baik yang Muslim maupun yang Kafir, memuliakan yang lebih tua, menghadiri undangan perjamuan makan dan mendo’akannya, suka memaafkan, senang mendamaikan, bersifat pemurah, mulia, toleran, memulai memberi salam, menahan amarah dan memberi maaf orang yang minta maaf.

**
Haji Yunus menghela nafas. “Masih panjang pembahasan contoh-contoh akhlak Nabi yang dijelaskan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya ini. Silakan dibaca sendiri. Tapi intinya kamu sudah paham belum?”

Ujang mengangguk: “intinya adalah akhlak Nabi itu al-Qur’an”

Haji Yunus berkata: “Benar! Maka kalau kita bertekad membela al-Qur’an maka kita harus membelanya lewat akhlak Nabi Muhammad yang digambarkan begitu indah dalam al-Qur’an. Tentu mengherankan kalau kita hendak membela al-Qur’an tapi dilakukan dengan cara yang jauh dari nilai-nilai akhlak yang terkandung dalam al-Qur’an dan terwujud dalam contoh budi pekerti Nabi Muhammad yang agung”

TIPS AGAR TIDAK SOMBONG DAN MERASA LEBIH HEBAT DARI ORANG LAIN

ILMUn               Cara memandang orang lain untuk menghindari perasaan sombong, ujub, dan merasa lebih baik. Ingat ! Ini cara memandang orang lain, bukan pandangan bagaimana seharusnya orang lain memandang kita, termuat di dalam Kitab Syarh Rotibul Haddad;

فاعتقادك في نفسك أنك خير من غيرك جهل محض ، بل ينبغي أن لا تنظر إلى أحد إلا ترى أنه خير منك وأن الفضل له على نفسك

Keyakinanmu terhadap dirimu sendiri bahwa kamu lebih baik daripada orang lain itu adalah murni sebuah kebodohan. Sebaiknya kamu tidak memandang terhadap orang lain kecuali kamu melihatnya lebih baik pada dirimu dan segala keutamaan baginya, tidak bagimu.

ﻓﺎﻥ رأيت ﺻﻐﻴﺮﺍ ﻗﻠﺖ : ﻫﺬﺍ ﻟﻢ ﻳﻌﺺ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻧﺎ ﻗﺪ ﻋﺼﻴﺖ ﻓﻼ ﺷﻚ ﺍﻧﻪ ﺧﻴﺮ ﻣﻨﻲ .

Jika kamu melihat anak kecil, maka ucapkanlah dalam hatimu, ” anak ini belum bermaksiat kepada Allah, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepadaNya. maka tidak diragukan lagi bahwa anak ini jauh lebih baik dariku ”.

ﻭﺍﻥ رأيت ﻛﺒﻴﺮﺍ ﻗﻠﺖ : ﻫﺬﺍ ﻗﺪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺒﻠﻰ ﻓﻼ ﺷﻚ ﺍﻧﻪ ﺧﻴﺮ ﻣﻨﻲ .

Jika kamu melihat orang tua, maka ucapkanlah dalam hatimu, “dia telah beribadah kepada Allah jauh lebih lama dariku, maka tidak diragukan lagi bahwa dia lebih baik dariku ”.

ﻭﺍﻥ رأيت ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻗﻠﺖ : ﻫﺬﺍ قد أﻋﻄﻲ ما لم أعط وبلغ ما لم أبلغ وعلم ما جهلت فكيف أكون مثله

Jika kamu melihat seorang yang berilmu, maka ucapkanlah dalam hatimu,” orang ini telah diberi ilmu yang mana saya belum diberi, orang ini telah menyampaikan ilmu apa yang belum saya sampaikan, dan ia telah mengetahui apa yang tidak saya ketahui, bagaimana mungkin saya sama dengannya? (apalagi saya lebih baik darinya?)”.

ﻭﺍﻥ رأيت ﺟﺎﻫﻼ ﻗﻠﺖ : ﻫﺬﺍ قد ﻋﺼﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺠﻬﻞ ﻭﺍﻧﺎ ﻋﺼﻴﺘﻪ ﺑﻌﻠﻢ فحجة الله علي آكد ﻭﻻ أﺩﺭﻱ ﺑﻤﺎ ﻳﺨﺘﻢ ﻟﻰ ﺍﻭ ﺑﻤﺎ ﻳﺨﺘﻢ ﻟﻪ .

Jika kamu melihat seorang yang bodoh, maka katakanlah dalam hatimu, ” orang ini bermaksiat kepada Allah kerana dia bodoh (tidak tahu), sedangkan aku bermaksiat kepadaNya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak .

ﻭﺍﻥ رأيت ﻛﺎﻓﺮﺍ ﻗﻠﺖ : ﻻ أﺩﺭﻱ ﻋﺴﻰ ﺍﻥ ﻳﺴﻠﻢ ﻓﻴﺨﺘﻢ ﻟﻪ ﺑﺨﻴﺮﺍﻟﻌﻤﻞ وينسل بإسلامه من ذنوبه كما تنسل الشعرة من العجين وأما أنا والعياذ بالله فعسى أن يضلني الله فأكفر ويختم لي بشر العمل فيكون غدا من المقربين وأنا من المبعدين .

Jika kamu melihat orang kafir, maka katakanlah dalma hatimu,” aku tidak tahu apa yang akan terjadi, bisa jadi dia memeluk islam, mengakhiri hidupnya dengan perbuatan baik, ia bebas dari dari dosa-dosanya. Sedangkan saya (wal ‘iyadzu billah) mungkin Allah akan memberikan aku jalan sesat, lalu aku kafir dan aku mengakhiri hidupku dengan perbuatan buruk, maka kelak ia (orang kafir yang telah masuk Islam) termasuk orang-orang yang dekat denganNya, sedangkan aku termasuk orang-orang yang jauh dariNya .”

Jika kita semua telah bisa memandang orang lain seperti apa yang termuat di atas, maka jangan lah sudah merasa tawadhu’, walaupun memang pandangan yang semacam di atas adalah supaya bisa tawadhu’, menghindari takabur. Jangan merasa sudah tawadhu’.

Syaikh Ibnu Atalhoillah As-sakandari dalam Hikamnya mengatakan ;

من أثبت لنفسه تواضعا فهو متكبر حقا

“Barang siapa telah menetapkan/menyatakan dirinya telah tawadhu’, maka ia adalah orang takabur yang sesungguhnya”

 

 

COPAS ATAU COPY PASTE DI DUNIA MAYA

COP          Anda merasakan betul berbagai kemudahan yang disediakan perangkat dunia maya sekarang ini, mulai dari saling mengirim pesan jarak jauh, mempublikasikan tulisan dan foto secara kilat, hingga bertatap wajah dengan orang-orang di lintas negara.

Kemudahan-kemudahan tersebut di satu sisi menggambarkan betapa gampangnya manusia masa kini belajar dan menjalin silaturahim tanpa kendala jarak. Namun di sisi lain bisa menjadi jebakan bagi para penggunanya untuk semakin ringan berbuat mubazir bahkan merusak. Dengan bahasa lain, medsos membuka kemudahan bagi berbuat baik tapi sekaligus juga berbuat buruk.

Salah satu pemandangan yang dihasilkan media sosial adalah banjirnya informasi hingga pada taraf yang amat liar. Informasi dengan mudah diterima seseorang lalu dibagikan kembali, diterima orang lain lalu didistribusikan lagi, dan seterusnya. Facebook, grup-grup Whatsapp, Twitter, Instagram, BBM, Line, atau sejenisnya pun disesaki pesan berantai yang entah benar atau salah, entah faktual atau bohong. Celakanya bila kabar itu ternyata salah/bohong dan ada pihak yang dirugikan.

Fenomena copy-paste atau pendistribusian berita seperti ini pernah disinggung oleh Imam Syafi’i, bapak ushul fiqih dalam ilmu-ilmu keislaman. Ia menyebut kegiatan menyebarkan informasi yang belum diketahui benar-tidaknya sebagai al-kadzib al-khafiy (kebohongan tak terlihat/samar). Sebagaimana tertuang dalam kitab Ar-Risâlah:

أن الكذب الذي نهاهم عنه هو الكذب الخفي، وذلك الحديث عمن لا يُعرفُ صدقُه

“Sesungguhnya kebohongan yang juga dilarang adalah kebohongan tak terlihat, yakni menceritakan kabar dari orang yang tak jelas kejujurannya.”

Dalam Irsyadul ‘Ibad ila Sabilir Rasyad, Abdul ‘Aziz al-Malibari yang juga mengutip perkataan Imam Syafi’i memaparkan redaksi kalimat secara lebih terang:

وَمِنْ الْكَذِبِ الْكَذِبُ الْخَفِيُّ ، وَهُوَ أَنْ يَرْوِيَ الْإِنْسَانُ خَبَرًا عَمَّنْ لَا يُعْرَفُ صِدْقُهُ مِنْ كَذِبِهِ

“Di antara jenis kebohongan adalah kebohongan yang samar. Yakni ketika seseorang menyebar informasi dari orang yang tak diketahui apakah ia bohong atau tidak.”

Imam Syafi’i menjelaskan hal itu saat mengomentari hadits hadditsû ‘annî walâ takdzibû ‘alayya (ceritakanlah dariku dan jangan berbohong atasku). Periwayatan hadits bagi Imam Syafi’i tak boleh main-main. Bisa kita analogikan, begitu pula dengan periwayatan atau penyebaran informasi di media sosial. Tak selayaknya seseorang asal copy-paste, retweet, regram, atau share informasi dari orang lain tanpa melakukan terlebih dahulu verifikasi dan klarifikasi (tabayyun).

Disebut “kebohongan samar” karena aktivitas tersebut dilakukan seperti tanpa kesalahan. Karena bukan produsen informasi, melainkan sekadar penyebar, seseorang merasa enjoy saja melakukan copy-paste, apalagi informasi tersebut belum tentu salah atau bohong. Padahal, justru di sinilah tantangan terberatnya. Karena belum jelas bohong atau salah, informasi tersebut juga sekaligus belum jelas kebenaran dan kejujurannya.

Di tengah keraguan semacam itu, pengguna media sosial wajib melakukan cek kebenaran. Jika tidak, pilihan terbaik adalah menyimpan informasi itu untuk diri sendiri, bila tidak ingin jatuh dalam tindakan haram al-kadzib al-khafiy. Kita juga mesti ingat bahwa dunia maya tidak sama dengan dunia imajiner atau khayalan. Media sosial sebagai salah satu unsur dari dunia maya memiliki dampak nyata bagi kehidupan manusia, entah merugikan atau menguntungkan.

Alhasil, jika penyebaran informasi yang meragukan saja bagi Imam Syafi’i masuk katergori bohong (samar), penyebaran informasi palsu (hoax) tentu lebih parah. Orang mesti memikirkan dengan cermat dan memeriksanya secara pasti setiap informasi yang ia peroleh sebelum buru-buru menyebarkannya. Itulah bentuk ikhtiar positif manusia sebelum kelak mempertanggungjawabkan apa pun yang muncul dari anggota badannya, termasuk jari-jarinya. Wallâhu a’lam.