SEBUAH RENUANGAN : SEBENARNYA SIAPAKAH DIRI KITA

Siapakah orang yang sibuk?

Orang yang paling sibuk adalah orang yang tidak mengambil akan waktu solatnya

seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s.

Siapakah orang yang manis senyuman nya?

Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa musibah lalu dia berkata “Inna lillahi wainna illaihi rajiuun.”

Lalu sambil berkata, “Ya Rabbi Aku redha dengan ketentuanMu ini”, sambil mengukir senyuman.

Siapakah orang yang kaya?

Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.

Siapakah orang yang miskin?

Orang yang miskin adalah orang yang tidak puas dengan nikmat yang ada dan senantiasa menumpuk-numpukkan harta.

Siapakah orang yang rugi?

Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan.

Siapakah orang yang paling cantik?

Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?

Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan sejauh mata memandang.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?

Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan lalu kuburnya menghimpitnya.

Siapakah orang yang mempunyai akal?

Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.

INILAH ADAB TATAKRAMA KETIKA BERADA DI DALAM MAJLIS

( Kalam Al Habib Abdul Bari bin Syeikh Alaydrus )

Dalam suatu rauhah yang dihadiri oleh Al-Habib Abdul Bari’ bin Syeikh Alaydrus, seorang munsyid membacakan sebuah qosidah Al-Habib Abdulloh bin Alwi Alhaddad.

Setelah qosidah itu selesai dilantunkan, berkata Al-Habib Abdul Bari’ bin Syeikh Alaydrus :

” Jika ada seseorang yang asyik berbicara pada saat dilantunkan suatu qosidah yang digubah oleh Salaf, maka hal itu akan berarti dia merasa yakin bahwa dia punya omongan lebih baik dari kalam Salaf. Atau bisa berarti dia menolak kalam tersebut. Begitu juga jika seseorang asyik berbicara pada saat yang lain lagi membacakan Fatihah atau berdoa, maka hal itu menunjukkan sesungguhnya dia tidak mau mendapatkan pahala dari Fatihah atau doa yang dibacakan itu .”

Didalam hadits dikatakan :

” Jika ada seseorang asyik berbicara ketika yang lainnya sedang membaca Al-Qur’an, maka Alloh menyuruh seorang Malaikat dan Malaikat tersebut akan berkata kepada yang lagi asyik berbicara ;

‘ Diamlah wahai musuh Alloh ‘,

sampai ia tidak bicara lagi. Jika ia masih tetap berbicara, Malaikat tadi akan berkata kepadanya ;

‘ Diamlah wahai orang yang sungguh dibenci oleh Alloh ‘,

sampai ia berhenti berbicara. Jika ia masih juga tetap berbicara, Malaikat itu akan berkata kepadanya ;

‘ Diamlah wahai orang yang sungguh dilaknat oleh Alloh ‘. “

Kalam Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersesuaian dengan Al-Qur’an. Begitu juga dengan kalam Salaf bersesuaian mengikuti kalam Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam . Karena mereka tidaklah berbicara kecuali dengan ijin Robbani.

Begitulah ilmu tidak akan bisa didapatkan kecuali dengan adab maka beradablah kalian , beradablah . . .

[ diambil dari kitab Bahjatun Nufus fi kalam Al-Habib Abdul Bari’ bin Syeikh Alaydrus, disusun oleh Al-Habib Muhammad bin Saggaf bin Zain Al-Hadi, hal. 84-85 ]

SERINGKALI MERASA HEBAT “OVER CONFIDENT” DENGAN IBADAH KITA

Seperti berulang kali disampaikan oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), kita tidak boleh merasa paling benar, apalagi sembari menyalahkan orang lain. Sebab, Al-Qur’an telah mengajarkan pada kita untuk bersikap rendah hati, seperti yang tersirat dalam doa Nabi Adam dan Nabi Yunus: Rabbanâ dhalamnâ anfusanâ wa in lam taghfir lanâ wa tarhamnâ lanakûnannâ minal khâsirîn. Lâ ilâha illâ Anta subhânaka innî kuntu minadh dhâlimîn.

Surat Al-Fatihah yang kita baca setiap rakaat shalat bahkan juga memuat ayat yang meminta kita secara tersirat untuk senantiasa merasa belum benar. Ihdinash shirâthal mustaqîm (tunjukkanlah kami jalan yang lurus). Permohonan kita kepada Allah untuk ditunjukkan jalan yang lurus menunjukkan bahwa jalan yang kita tempuh selama ini masih mengandung kemungkinan tidak lurus, sehingga tak henti-hentinya kita memohon jalan yang lurus.

Pesan agar kita senantiasa rendah hati dan jangan merasa paling benar, ternyata juga terdapat dalam cerita yang dikisahkan Syihabuddin Al-Qalyubi dalam kitab An-Nawadir. Berikut ceritanya.

Dikisahkan seorang ahli ibadah (‘âbid) sedang melakukan shalat. Ketika ia sampai pada bacaan “iyyâka na‘budu” (hanya kepada-Mu kami menyembah), dalam hatinya ia membatin bahwa ia sudah benar-benar menjadi ahli ibadah yang sejati. Namun tiba-tiba ada suara gaib yang menyerunya.

“Engkau telah berbohong! Engkau sesungguhnya sedang menyembah makhluk.”

Mendengar suara gaib tersebut, seketika ia bertobat dan menjauh dari kehidupan manusia agar terhindar melakukan dosa.

Ia kemudian melakukan shalat lagi. Ketika sampai pada bacaan “iyyâka na‘budu” (hanya kepada-Mu kami menyembah), kembali ada suara gaib yang terdengar.

“Engkau telah berbohong!Yang engkau sembah sesungguhnya istrimu,” demikian bunyi suara gaib itu.

Ia kemudian menceraikan istrinya. Ia melakukan shalat lagi, dan ketika sampai pada bacaan “iyyâka na‘budu” (hanya kepada-Mu kami menyembah), lagi-lagi ada suara gaib yang menyerunya.

“Engkau berbohong! Engkau sesungguhnya menyembah hartamu.”

Mendengar seruan itu, ia kemudian mendermakan seluruh hartanya. Ia melakukan shalat lagi dan ketika sampai pada bacaan “iyyâka na‘budu” (hanya kepada-Mu kami menyembah), untuk ke sekian kalinya kembali terdengar suara gaib.

“Engkau berbohong! Yang sesungguhnya engkau sembah adalah pakaianmu.”

Saat itu juga ia mendermakan seluruh pakaian yang ia miliki kecuali pakaian yang ia kenakan. Ia kembali melakukan shalat, dan ketika sampai pada bacaan “iyyâka na‘budu” (hanya kepada-Mu kami menyembah), masih ada suara gaib yang terdengar. Namun kali ini suara gaib itu lain.

“Engkau benar, engkau telah menyembah-Ku. Engkau adalah seorang ahli ibadah sejati,” demikian akhirnya suara gaib itu berbunyi.

Kita tidak harus secara tekstual meniru apa yang dilakukan ahli ibadah dalam cerita tersebut dalam artian sampai menjauhi manusia, menceraikan istri, mendermakan seluruh harta dan pakaiannya. Sebab pesan yang ingin disampaikan bukan itu, tetapi pertama, kita tidak boleh merasa sudah menjadi orang yang benar seperti dibatinkan tokoh utama saat melakukan shalat.

Anggapan si ahli ibadah bahwa ia sudah benar-benar menjadi ahli ibadah ternyata dibantah berkali-kali oleh suara gaib.

Kedua, untuk menjadi ahli ibadah sejati, kita diminta melepaskan pikiran-pikiran duniawi saat melakukan ibadah. Manusia, istri, harta, dan pakaian adalah beberapa hal yang seringkali muncul dalam pikiran saat melakukan shalat. Maka, semua itu harus “dilepaskan”.

Wallahu a’lam bish shawab

ADAB ATAU ETIKA DI SAAT BERDO’A

KITAB MINHAJUL ‘ARIFIN KARYA IMAM AL GHOZALI

الباب العشرون  باب الدعاء

و احفظ آداب الدعاء , و انظر من تدعو و كيف تدعو و لماذا تدعو و لماذا تسأل , و الدعاء استجابة الكل منك للحق و إن لم تأت بشرط الدعاء فلا تشترط الإجابة. قال مالك بن دينار : أنتم تستبطئون المطر و أنا أستبطئ الحجر و لو يأمر الله سبحانه بالدعاء لوجب علينا أن ندعوه و لو لم يشترط لنا الإجابة لكنا إذا أخلصنا له الدعاء تفضل بالإجابة . فكيف و قد ضمن ذلك لمن أتى بشرط الدعاء قال الله تعالى { قل ما يعبأ بكم ربي لولا دعاؤكم } , و قوله تعالى { أدعوني أستجيب لكم } .

 

Bab kedua puluh tentang Do’a

Hendaklah engkau pelihara adab berdoa, perhatikanlah kepada siapa engkau tujukan doamu? Bagaimana caramu berdoa ? mengapa engkau berdoa ? untuk apa sebetulnya engkau memohon ? Doa adalah segenap permohonan jiwa dan ragamu kepada Al-haqq, apabila engkau tidak memenuhi syarat berdoa, tidak akan ada kepastian bahwa doamu akan di kabulkan.

Malik bin dinar berkata : ” kalian menganggap hujan turun lambat, sementara saya menganggap hujan batu turun lambat , kalaulah Allah tidak memerintahkan kita berdoa, adalah wajib bagi kita berdoa kepada-Nya. kalaulah Allah tidak menjanjikan terkabulnya doa kita, tetapi kita berdoa kepad-Nya dengan ikhlas, niscaya akan dikabulkan doa kita. apalagi Dia telah menjamin hal itu kepada orang yang memenuhi syarat berdoa.

Allah berfirman : ” katakanlah kepada orang musyrik, ‘ Tuhanku tidak akan menghiraukan kalian kecuali karena doa kalian” (QS:25:77)

“Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya akan aku kabulkan doa kalian.” (QS:40:60).

و سئل أبو يزيد البسطامى عن اسم الله الأعظم فقال : ( فرغ قلبك من غيره و ادعه بأي أسمائه شئت ) .

و قال يحي بن معاذ : ( اطلب صاحب الاسم ) .

و قال رسول الله ( صلي الله عليه ) : ” لا يستجيب الله الدعاء من قلب لاه فإذا أخلصت فأبشر بإحدى ثلاث :

إما أن يعجل لك ما سألت , و إما أن يدخر لك ما هو أعظم منه , و إما أن يصرف عنك من البلاء ما لو صبه عليك لهلكت , و ادع دعاء مستجير لا دعاء مشير ” .

Imam Abu Yazid al Bustami pernah di tanyai tentang nama Allah yang paling agung, beliau menjawab : ” kosongkanlah kalbumu dari selain-Nya, lalu berdoalah dengan menyebut nama-Nya yg mana saja yg engkau sukai.”

Yahya bin mu’adz berkata : ” mintalah kepada pemilik nama itu .”

Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : ” Allah tidak memperkenankan doa dari hati yang lalai, jika engkau mengikhlaskannya, maka bergembiralah dengan salah satu dari 3 hal berikut :

  1. disegerakan untukmu apa yang engkau minta.
  2. disimpan untukmu apa yang lebih besar daripada yang engkau minta.
  3. dipalingkan darimu bencana, yang apabila menimpamu pasti kamu binasa.

berdoalah dengan doa orang yang meminta perlindungan, bukan doa pemberi nasehat “

و روى عن رسول الله ( صلي الله عليه و سلم ) أنه قال : ” قال الله تبارك و تعالى من شغله ذكرى عن مسألتي أعطيته أفضل ما أعطي السائلين ” . و قال أبو الحسين الوراق : دعوت الله مرة فاستجاب دعائي , فنسيت الحاجة . فاحفظ حق الله عز وجل عليك في الدعاء ولا تشتغل بحظك فإنه أعلم بمصلحتك

Diriwayatkan dari Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: ” Allah berfirman ‘barang siap yang dzikirnya kepada-Ku menyebabkan ia lupa untuk memohon kepada-Ku, Aku akan memberinya sesuatu yang lebih besar daripada apa-apa yang Aku berikan kepada orang yang memohon kepada-Ku. “

Abul husain al warroq berkata : ” aku berdoa kepada Allah satu kali, Dia mengabulkan doaku sehingga aku lupa thd hajatku. “

Oleh karena itu, hendklah engku pelihara hak Allah azza wajalla atasmu ketika engkau berdoa, janganlah menyibukkan diri dengan meminta kebaikan bagi dirimu, sebab Dia maha mengetahui apa yang baik untukmu.”.

Wallohu a’lam.

AMALAN AGAR KITA SEMAKIN MANTAP DALAM BERSYARI’AT DAN BERTARIQAT

بسم الله الرحمن الرحيم

حمدا له أظهر في الوجود *** نور حقيقة النبي المحمود

وصل يا رب على محمد *** الفاتح الخاتم طه الأمجد

وناصر الحق وهادينا الى *** صراطك القويم نهج الفضلا

وآله بحق قدره الفخيم *** وجاه مقدار مقامه العظيم.

أما بعد:

Syekh Yusuf Bin Ismail An-Nabhaniy Rahimahullah dalam kitabnya Hadil Murid Ila Thuruqil Asanid halaman: 48 mengutip faidah doa agar mantap mengamalkan syariat dan thoriqoh dari kitab Sanad Syekh Abdul Karim as-Syarobatiy al-Halabiy:

Siapa saja yang ingin Allah Taala mantapkan dirinya dalam bersyariat dan berthoriqoh, hendaknya ia tulis doa di bawah ini di sebuah bejana kemudian dia hapus dengan menuangkan air ke bejana tersebut dan meminumnya. Doanya sebagai berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم فهمني علم الشريعة والطريقة واستعملني بها بحق سيدنا محمد صلى الله عليه واله وصحبه وسلم

Artinya: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang. Ya Allah, berikan aku pemahaman ilmu syariat dan thoriqoh dan berikan aku kekuatan untuk mengamalkannya dengan pangkat kemualian Nabi Muhammad semoga shalawat Allah selalu tercurah kepada beliau, para keluarga dan sahabatnya.

Syekh Abdul Karim as-Syarabatiy al-Halabiy berkata Mujarrabat ini terdapat dalam kitab sanad Guru kami Sayyid Ahmad al-Qodiriy dan beliau telah mengijazahkannya kepadaku.

Adapun sanad muttahsil (bersambung) kepada Syekh Abdul Karim as-Syarabatiy dari gurunya Sayyid Ahmad al-Qodiriy, al-Faqir riwayatkan:

الحاج رزقي ذو القرنين أصمت البتاوي عن الدكتور يوسف خطار محمد عن المحدث السيد عبد الله بن محمد بن الصديق الغماري الحسني عن الشيخ يوسف بن إسماعيل النبهاني عن الشيخ محمد أبي الخير عابدين عن الشيخ محمد بن عمر ابن عابدين عن الشيخ شاكر العقاد العمري عن الشيخ مصطفى الرحمتي عن الشيخ عن الشيخ عبد الكريم السراباتي الحلبي عن شيخه السيد احمد القادري رحمه الله .

Jika pada sanad di atas, antara al-Faqir dengan Syekh Yusuf An-Nabhaniy melalui 2 undak (perantara) yakni Syekh Yusuf Khotthor Muhammad dari Sayyid Abdullah Bin Muhamad Bin Shiddiq al-Ghumariy baru kemudian Syekh Yusuf Nabhaniy.

Al-Faqir juga mendapat ijazah muttahsil dengan as-Sanadul aliy (sanad tinggi) kepada Syekh Yusuf Ismail An-Nabhaniy hanya melalui satu perantara saja yakni dari Sayyid Abdurrahman Bin Abdul Hay al-Kattaniy dari Syekh Yusuf Bin Ismail an-Nabhaniy.

Doa di atas menggambarkan bahwa pengamalan thoriqoh kudu sejalan dengan syariat. Berthoriqoh tanpa mengamalkan syariat adalah kebathilan dan kerusakan yang sangat nyata laksana telur tanpa cangkangnya.

Syekh Zainuddin al-Malibariy menyatakan dalam kitab Hidayatul Adzkiya:

فشريعة كسفينة وطريقة *** كالبحر ثم حقيقة در غلا

Artinya: “Syariat tak ubahnya bagai perahu dan thoriqoh itu seperti laut yang menjadi medannya sedangkan Haqiqat merupakan mutiara yang sangat mahal berada di dasar laut.

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1439 H.

JEJAKISLAM.COM MENGUCAPKAN :

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1439 H.

SEMOGA KITA DI SUKSESKAN OLEH ALLOH SWT, UNTUK BERTAMBAH TAQWA, SEMAKIN BERTAMBAH SHOLEH ANAK ANAK KITA, SEMAKIN BERTAMBAH KEBAIKAN KITA. AMIN…..

HIKMAH DI BALIK AJARAN MAKAN DAN MINUMNYA ROSULULLOH SAW.

HIKMAH DI BALIK AJARAN MAKAN DAN MINUMNYA ROSULULLOH SAW.

  1. Berdoalah sebelum makan dan minum, agar makanan dan minuman kita mengandung berkah. “Bismillaahirrahmaanirrahiim, Allahumma baariklanaa fiimaa rozaqtanaa waqinaa adzaabannaar”.

 “Ya Allah berilah keberkahan dalam rizki (makanan) kami, dan selamatkanlah kami dari siksa neraka”.

  1. Makan dan minum sambil duduk , sebagaimana HR. Muslim dan Turmudzi dari Anas dan Qatadah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnyabeliau melarang seseorang minum sambil berdiri, Qotadah berkata: ”Bagaimana dengan makan?” beliau menjawab: “Itu lebih buruk lagi”. (HR. Muslim dan Turmidzi)

Bersabda Nabi SAW dari Abu Hurairah,“Jangan kalian minum sambil berdiri !Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan !” (HR. Muslim).

Hikmah yang diperoleh dari makan dan minum sambil duduk menurut Dr. Abdurrazaq Al-Kailani, b ahwa minum dan makan sambil duduk, lebih sehat, lebih selamat, dan lebih sopan, karena apa yang diminum  atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lembut. Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar, yang kemudian menyebabkan disfungsi pencernaan.

Dr. Ibrahim Al-Rawi  menegaskan bahwa manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna. Ini merupkan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat tepenting pada saat makan dan minum. Ketenangan ini bisa dihasilkan pada saat duduk, dimana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat.

Dr. Al-rawi menekankan bahwa makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus. Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf(Vagal Inhibition)yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak. Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus –menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung. Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa bebenturan dengan makanan atau minuman yang masuk. Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh spinchter.

 Spinchter adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Spinchter lebih seperti gate/gerbang/seal windpipe yang berkontraksi,(menutup) dan relaxing (membuka) dan jumlah otot ini ada sekitar 50 otot tersebar di berbagai saluran lubang manusia. Berfungsi sebagai otot yang membuka dan menutup, sekresi, controlling substance in & out, semua sesuai fitrah manusia. Contoh ketika minum, sphincter di tenggorokan akan menutup agar tidak masuk ke saluran udara dan paru-paru. saat menerima fluid yang asam akan menutup hingga tidak kelebihan acid dalam lambung, ketika saluran kemih penuh, membuka sehingga bisa keluar urin,dll. Jika kita minum berdiri air yang kita minum tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan disaluran ureter. Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter.

 Inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang berbahaya. Susah kencing itu penyebabnya. Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum. Adapun Rasulullah berdiri, maka itu dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, bukan merupakan kebiasaan. Ingat hanya sekali karena darurat!  Begitu pula makan sambil berjalan, sama sekali tidak sehat, tidak sopan, tidak etis dan tidak pernah dikenal dalam Islam.

  1. Ketika minum jangan sambil menghembuskan nafas dalam gelas, cangkir atau tempat minuman lainnya dan jangan meneguk air lebih dari 3 kali. Hikmah yang diperoleh adalah agar proses penyaringan oleh spinchter berjalan seimbang karena tidak melebihi kapasitas juga dapat menimbulkan spinchter berfungsi dengan baik dalam penyaringan.

  1. Makanlah dengan tiga jari (ibu jari, telunjuk dan jari tengah), sesuai yang diajarkan Rasul SAW: Dari Anas: “Bahwasanya Rasul SAW, sewaktu makan menggunakan tiga jari”.

  1. Usahakan makanan jangan sampai jatuh dan sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Ketika suapan seseorang dari kamu jatuh, hendaklah diambil, dibersihkan dari kotorannya, lalu dimakan, jangan dibiarkan syetan yang makan.

  1. Makanlah sampai habis, karena mungkin berkahnya ada pada yang Anda sisakan. Dan Beliau Rasulullah SAW, menyuruh membersihkan sisa makanan di piring dengan sabdanya: “Kalian tiada mengetahui secara pasti di mana letak berkah pada makanan” (HR. Muslim).
  2. Makanlah dengan menggunakan tangan kanan, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW yang artinya: Makanlah dengan tangan kanan, karena syetan makan/minum dengan tangan kiri (HR Bukhari),

  1. Jangan meniup makanan/minuman (HR Tirmidzi). Hikmah yang dipetik dari hal ini adalah: a. Mencegah penyebaran kuman (penyakit) ke makanan yang berasal dari mulut.Menjaga kesehatan gigi, karena berti tidak boleh makan terlalu panas atau terlalu dingin.
  2. Setelah selesai makan, baca doa “Alhamdulillahi lladzii ath’amanaa wasaqoonaa wa ja’alanaa minal muslimiin”. Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum dan menjadikanku muslim. Inilah cara makan terbaik. Bukankah Rasul adalah teladan terbaik?

PEMBAHASAN KEWAJIBAN ORANG TUA DAN ANAK YANG SHOLIH SERTA CARA BELAJAR AL-QUR’AN

   KEWAJIBAN ORANG TUA TERHADAP ANAK

  1.  Anak mempunyai hak untuk hidup.

Allah berfirman:

‘Janganlah kamu membunuh anak anakmu karena takut miskin. Kami akan memberikan rizqi kepadamu dan kepada mereka.’ ( QS. Al-An’am: 151)

  1. Menyusui

Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QS AI Baqarah: 233)

Al ‘Allamah Siddiq Hasan Khan berkata, “Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. Maksudnya, adalah jumlah waktu selama itu dihitung dari mulai hamil sampai disapih.”

  1. Memberi Nama yang Baik

Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya kewajiban orang tua dalam memenuhi hak anak itu ada tiga, yakni: pertama, memberi nama yang baik ketika lahir. Kedua, mendidiknya dengan al-Qur’an dan ketiga, mengawinkan ketika menginjak dewasa.”

Berkenaan dengan nama-nama yang bagus untuk anak, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian, maka perbaguslah nama kalian.” (HR.Abu Dawud)

  1. Mengaqiqahkan Anak

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Tiap tiap seorang anak tergadai dengan ‘aqiqahnya. Disembelih (‘aqiqah) itu buat dia pada hari yang ketujuhnya dan di cukur serta diberi nama dia.’ (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Imam yang empat dan dishahihkan oleh At Tirmidzy, hadits dari Samurah ).

  1. Mendidik anak

Pada suatu kesempatan, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab kehadiran seorang tamu lelaki yang mengadukan kenakalan anaknya, “Anakku ini sangat bandel.” tuturnya kesal. Amirul Mukminin berkata, “Hai Fulan, apakah kamu tidak takut kepada Allah karena berani melawan ayahmu dan tidak memenuhi hak ayahmu?” Anak yang pintar ini menyela. “Hai Amirul Mukminin, apakah orang tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak?” Umar ra menjawab, “Ada tiga, yakni: pertama, memilihkan ibu yang baik, jangan sampai kelak terhina akibat ibunya. Kedua, memilihkan nama yang baik. Ketiga, mendidik mereka dengan al-Qur’an.”

  1. Memberi makan dan keperluan lainnya

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Cukup berdosa orang yang menyia nyiakan ( tanggung jawab) memberi makan keluarganya.’ ( HR Abu Daud )./1100;247/33.

  1. Memberi rizqi yang ‘thayyib’.

Dari Abu Rafi’ r.a., telah berkata; Telah bersabda Rasulullah s.a.w. ‘Kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah mengajarinya tulis baca, mengajarinya berenang dan memanah, tidak memberinya rizqi kecuali rizqi yang baik.’ HR Al Hakim/Depag;51.

  1. Mendidik anak tentang agama.

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Tiap bayi dilahirkan dalam kadaan suci ( fithrah Islamy ) . Ayah dan Ibunyalah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nashrany, atau Majusyi. HR Bukhary.;1100;243/15.

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Barang siapa mempunyai dua anak perempuan dan dia asuh dengan baik maka mereka akan menyebabkannya masuk sorga. ( HR Al Bukhary )/ 1100; 244/20.

  1. Mendidik anak untuk sholat.
  2. menyediakan tempat tidur terpisah antara laki laki dan perempuan.

Islam mengejarkan ‘hijab’ sejak dini. Meskipun terhadap sesama Muhrim , Bila telah berusia tujuh tahun tempat tidur mereka harus dipisahkan.

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Suruhlah anak anakmu sholat bila berumur tujuh tahun dan gunakan pukulan jika mereka sudah berumur sepuluh tahun dan pisahlah tempat tidur mereka ( putra putri ).

  1. Mendidi anak tentang adab yang baik.
  2. Memberi pengajaran dengan pelajaran yang baik;

Berkata shahabat ‘AlI r.a.; ‘Ajarilah anak anakmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dengan zamanmu.’ (Depag;19).

  1. Memberi pengajaran Al Quran.

Rasulullah s.a.w. bersabda;’Sebaik baik kalian adalah barang siapa yang belajar Al Qur aan dan mengajarkannya’.

Nabi s.a.w. bersabda; ‘Ilmu itu ada tiga macam. Selainnya adalah sekedar tambahan. Adapun yang tiga macam itu ialah; Ilmu tentang ayat ayat ( Al Qur aan) yang muhkamat, ilmu tentang Sunnah Nabi, dan ilmu tentang pembagian warits. ( HR Ibnu Majah ).

  1. Memberikan pendidikan dan pengajaran baca tulis .

Dari Abu Rafi’ r.a., telah berkata; Telah bersabda Rasulullah s.a.w. ‘Kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah mengajarinya tulis baca, mengajarinya berenang dan memanah, tidak memberinya rizqi kecuali rizqi yang baik.’ HR Al Hakim/Depag;51.

  1. Memberikan perawatan dan pendidikan kesehatan.

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Jagalah kebersihan* dengan segala usaha yang mampu kamu lakukan. Sesungguhnya Allah Ta’ala menegakkan Islam diatas prinsip kebersihan. Dan tak akan masuk sorga kecuali orang yang memelihara kebersihan.’ ( HR At Thabarany )/Depag; 57.

  1. Memberikan pengajaran ketrampilan.

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Sebaik baik makanan adalah hasil usaha tangannya sendiri’.

Dalam sabdanya yang lain beliau mengatakan; ‘Mengapa tidak kau ajarkan padanya ( anak itu ) menenun sebagaimana dia telah diajarkan tulis baca?’ ( HR An- Nasai ) /Depag; 52

  1. Memberikan kepada anak tempat yang yang baik dalam hati orang tua.

Seorang datang kepada Nabi s.a.w. dan bertanya; ‘Ya Rasulullah, apakah hak anakku ini? Nabi s.a.w. menjawab;’ Kau memberinya nama yang baik, memberi adab yang baik dan memberinya kedudukan yang baik ( dalam hatimu ) . ( HR At Tuusy )./1100;243/16.

  1. Memberi kasih sayang.

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Bukanlah dari golongan kami yang tidak menyayangi yang lebih muda dan ( bukan dari golongan kami ) orang yang tidak menghormati yang lebih tua.’ ( HR At Tirmidzy ). Depag; 42

  1. Menikahkannya

 “Kawinkanlah anak-anak kamu (yang belum kawin) dan orang-orang yang sudah waktunya kawin dari hamba-hambamu yang laki-laki ataupun yang perempuan. Jika mereka itu orang-orang yang tidak mampu, maka Allah akan memberikan kekayaan kepada mereka dari anugerah-Nya.” (QS. An-Nur:32)

Rasulullah dalam hal ini bersabda, “Ada tiga perkara yang tidak boleh dilambatkan, yaitu: shalat, apabila tiba waktunya, jenazah apabila sudah datang dan ketiga, seorang perempuan apabila sudah memperoleh (jodohnya) yang cocok.” (HR. Tirmidzi)

  1. Mengarahkan anak

 “Sesungguhnya pemuda itu sedang tumbuh. Maka apabila dia lebih mengutamakan untuk duduk bersama orang-orang yang berilmu, hampir-hampir bisa dikata dia akan selamat. Namun bila dia cenderung pada selain mereka, hampir-hampir dia rusak binasa.” (Dinukil dari Lammud Durril Mantsur minal Qaulil Ma`tsur, bab Hukmus Salaf ‘alal Mar`i bi Qarinihi wa Mamsyahu no.517).

                                                              ANAK SHOLEH INVESTASI ORAG TUA

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)mereka” (An Nisa: 9).

Orangtua diharuskan khawatir meninggalkan (mewariskan) kepada anak cucunya dhu’afa (kelemahan) dalam beberapa hal di antaranya :

  1. Lemah harta kekayaan
  2. Lemah fisik.
  3. Lemah ilmu.
  4. Lemah Aqidah.

إِذَا مَاتَ بْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ، صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ.

Artinya: “Jika wafat anak cucu Adam, maka terputuslah amalan-amalannya kecuali tiga: Sadaqah jariah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang selalu mendoakannya.” (HR.Muslim)

                                                      ANAK SHOLEH DAN MENCINTAI AL QURAN

إنَّ هَذَا الْقُرْآَنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

        Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar

( Al Isra ; 9 )

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

Dari Aisyah ra. Beliau berkata : “Bahwasannya Rasulullah bersabda : orang yang pandai membaca al Qur’an akan beserta para malaikat yang mulia. Dan orang yang terbata-bata dalam membacanya dan sangat kesulitan maka baginya ada dua pahala.” ( HR. Bukhori, Muslim dan Abu Dawud )

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

Bacalah al qur’an, maka sesungguhnya dia akan menjadi syafa’at bagi para sahabatnya di hari kiamat (HR. Muslim)

“Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

“Barang siapa membaca satu huruf dari Alquran, maka ia akan memperoleh kebaikan. Kebaikan itu berlipat sepuluh kali. Aku tidak mengatakan, Alif Laam Miim satu huruf, akan tetapi, Alif adalah huruf, Lam huruf, dan Mim huruf.” (At Tirmidzi. Nomor:3075).

 “Didiklah anak-anakmu dengan tiga perkara: mencintai Nabimu; mencintai ahlul baitnya; dan memba Al-Qur’an karena orang-orang yang memelihara Al-Qur’an itu berada dalam lingkungan singasana Allah pada hari ketika tidak ada perlindungan selain dari pada perlindungan-Nya; mereka beserta para Nabi-Nya dan orang-orang suci”. (HR. Ath Thabrani).

Menanamkan rasa cinta anak terhadap Al-Qur’an pertama kali harus dilakukan di dalam keluarga, yaitu dengan metode keteladanan. Karena jika kita menginginkan anak mencintai Al-Qur’an, maka jadikanlah keluarga kita sebagai suri teladan yang baik dengan cara berinteraksi secara baik dengan Al-Qur’an.

Metode-metode yang bisa digunakan agar anak kita mencintai Al-Qur’an diantaranya adalah:

  1. Bercerita /mendongengkan kepada anak dengan kisah-kisah yang diambil dari Al-Qur’an.

Mempersiapkan cerita untuk anak dapat menjadikannya mencintai Allah Ta’ala dan Al-Qur’an Al-Karim, karena dengan mendongeng anak tidak hanya sekedar mendengarkan isi cerita yang kita sampaikan namun mereka juga menggunakan imajinasinya dalam menyimak cerita yang kita bawakan. Terbangunnya sebuah imajinasi dalam pikiran anak akan melekat hingga ke alam bawah sadarnya. apalagi jika anak kita sampai tertidur mendengar cerita kita.

Menurut sebuah penilitian si fakultas psikologi Canada (dikutip dari detik news) fase tidur manusia terbagi dalam 4 fase :

  1. Fase menjelang tidur. dalam fase ini biasanya kesadaran kita masih diatas 75%. dalam fase ini otak mampu merekan hal2 yang terjadi disekitar kita.
  2. Fase menjelang tidur lelap. Dalam fase ini kesadaran yang bekerja adalah dibawah 30% dan kesadaran alam bawah sadar mulai bekerja hingga 70%. ini adalah fase yang sangat baik untuk menasehati dan menanamkan apapun dalam diri anak. sebuah penelitian yang tercatan 80% anak nakal / hiperaktif menjadi lebih baik setelah mendapat terapi nasehat dalam fase ini. selama 1-2bulan. Dan tingkat kecerdasan anak meningkat hinga 60% setelah mendapat masukan positive (pujian, lagu2 yang menenangkan dan ungkapan cinta orang tua).
  3. Fase tidur lelap. Dalam fase ini kesadaran bawah sadar kita bekerja 100%. Mimpi berlangsung pada fase ini.
  4. Fase post-tidur lelap. fase ini hampir sama dengan fase kedua, hanya saja tingkat kemampuan merespon masukan dari luar lebih lemah dibandingkan fase kedua.

Fase yang baik bagi manusia untuk memeperbaiki kualitas psikologis adalah pada fase dua dan empat. Jika kita ingin menanamkan kecintaan anak terhadap Al-Qur’an dan mengembangkan kualitas psikis anak kita maka pergunakanlah kedua fase terbaik ini untuk hal tersebut.

Akan lebih bagus jika kisah-kisah dogeng bagi anak-anak kita diambil dari Al-Qur’an secara langsung, seperti kisah tentang tentara gajah yang menghancurkan Ka’bah, kisah perjalanan nabi Musa dan nabi Khidir, kisah Qarun, kisah nabi Sulaiman bersama ratu Bilqis dan burung Hud-hud, kisah tentang Ashabul Kahfi, dan lain-lain.

Sebelum kita mulai bercerita kita katakan pada anak, “Sekarang saatnya untuk menjelajahi kisah-kisah seru yang ada di Al-Qur’an.” Sehingga rasa cinta anak terhadap cerita-cerita itu dengan sendirinya akan terikat dengan rasa cintanya pada Al-Qur’an. Namun, dalam menyuguhkan cerita pada anak harus diperhatikan pemilihan waktu yang tepat, pemilihan bahasa yang cocok, dan kalimat yang terkesan, dan alur yang merangsang imajinasi mereka. Sehingga hal ini akan memberi pengaruh yang kuat pada jiwa dan akal anak.

  1. Sabar dalam menghadapi anak.

Misalnya ketika anak belum bersedia menghafal pada usia ini, maka kita harus menangguhkannya sampai anak benar-benar siap. Jangan pernah memaksakan kehendak, karena ini dapat memberikan trauma pada anak. Anak-anak yang mengalami trauma akan sulit untuk menerima apapun. Bahkan dapat mengakibatkan kebencian dalam hati mereka. Namun kita harus selalu memperdengarkan bacaan Al-Qur’an kepadanya.

  1. Menggunakan metode pemberian penghargaan untuk memotivasi anak.

Misalnya jika anak telah menyelesaikan satu surat kita ajak ia untuk jalan-jalan/rekreasi, atau dengan menggunakan lembaran prestasi/piagam penghargaan, sehingga anak akan semakin terdorong untuk mengahafal Al-Qur’an.

  1. Menggunakan semboyan untuk mengarahkan anak mencintai Al-Qur’an.

Misalnya : Saya mencintai Al-Qur’an, Al-Qur’an Kalamullah, Allah mencintai anak yang cinta Al-Qur’an, Saya suka menghafal Al-Qur’an.

  1. Menggunakan sarana menghafal yang inovatif.

Hal ini disesuaikan dengan kepribadian dan kecenderungan si anak (cara belajarnya), misalnya :

  • Bagi anak yang dapat berkonsentrasi dengan baik melalui pendengarannya, dapat menggunakan sarana berupa kaset, atau program penghafal Al-Qur’an digital, agar anak bisa mempergunakannya kapan saja, serta sering memperdengarkan kepadanya bacaan Al-Qur’an dengan lantunan yang merdu dan indah.
  • Bagi anak yang peka terhadap sentuhan, memberikannya Al-Qur’an yang cantik dan terlihat indah saat di bawanya, sehingga ia akan suka membacanya, karena ia ditulis dalam lembaran-lembaran yang indah dan rapi.
  • Bagi anak yang dapat dimasuki melalui celah visual, maka bisa mengajarkannya melalui video, komputer, layer proyektor, melalui papan tulis, dan lain-lain yang menarik perhatiannya.
  1. Memilih waktu yang tepat untuk menghafal Al-Qur’an.

Hal ini sangat penting, karena kita tidak boleh menganggap anak seperti alat yang dapat dimainkan kapan saja, serta melupakan kebutuhan anak itu sendiri. Karena ketika kita terlalu memaksa anak dan sering menekannya dapat menimbulkan kebencian di hati anak, disebabkan dia menanggung kesulitan yang lebih besar. Oleh karena itu, jika kita ingin menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an di hati anak, maka kita harus memilih waktu yang tepat untuk menghafal dan berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Adapun waktu yang dimaksud bukan saat seperti di bawah ini:

  • Setelah lama begadang, dan baru tidur sebentar,
  • Setelah melakukan aktivitas fisik yang cukup berat,
  • Setelah makan dan kenyang,
  • Waktu yang direncanakan anak untuk bermain,
  • Ketika anak dalam kondisi psikologi yang kurang baik,
  • Ketika terjadi hubungan tidak harmonis anatara orangtua dan anak, supaya anak tidak membenci Al-Qur’an disebabkan perselisihan dengan orangtuanya.

Kemudian hal terakhir yang tidak kalah penting agar anak mencintai Al-Qur’an adalah dengan membuat anak-anak kita mencintai kita, karena ketika kita mencintai Al-Qur’an, maka anak-anak pun akan mencintai Al-Qur’an, karena mereka mengikuti orang yang dicintai.

Adapun beberapa cara agar anak-anak kita semakin mencintai kita antara lain:

  • Senantiasa bergantung kepada Allah, selalu berdo’a kepada Allah untuk kebaikan anak-anak. Dengan demikian Allah akan memberikan taufikNya dan akan menyatukan hati kita dan anak-anak.
  • Bergaul dengan anak-anak sesuai dengan jenjang umurnya, yaitu sesuai dengan kaedah, “Perlakukan manusia menurut kadar akalnya.” Sehingga kita akan dengan mudah menembus hati anak-anak.
  • Dalam memberi pengarahan dan nasehat, hendaknya diterapkan metode beragam supaya anak tidak merasa jemu saat diberi pendidikan dan pengajaran.
  • Memberikan sangsi kepada anak dengan cara tidak memberikan bonus atau menundanya sampai waktu yang ditentukan adalah lebih baik daripada memberikan sangsi berupa sesuatu yang merendahkan diri anak. Tujuannya tidak lain supaya anak bisa menghormati dirinya sendiri sehingga dengan mudah ia akan menghormati kita.
  • Memahami skill dan hobi yang dimiliki anak-anak, supaya kita dapat memasukkan sesuatu pada anak dengan cara yang tepat.
  • Berusaha dengan sepenuh hati untuk bersahabat dengan anak-anak, selanjutnya memperlakukan mereka dengan bertolak pada dasar pendidikan, bukan dengan bertolak pada dasar bahwa kita lebih utama dari anak-anak, mengingat kita sudah memberi makan, minum, dan menyediakan tempat tinggal. Hal ini secara otomatis akan membuat mereka taat tanpa pernah membantah.
  • Membereskan hal-hal yang dapat menghalangi kebahagiaan dan ketenangan hubungan kita dengan anak-anak.
  • Mengungkapkan rasa cinta kepada anak, baik baik dengan lisan maupun perbuatan

CARA MUDAH MENGAJARKAN DAN MENGHAFAL AL-QUR’AN UNTUK ANAK-ANAK.

Suatu ketika Sufyan Tsauri ditanya, manakah yang engkau cintai orang yang berperang atau yang membaca Alquran? Ia berkata, membaca Alquran, karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya kepada orang lain”. Imam Abu Abdurrahman As-Sulami tetap mengajarkan Alquran selama empat puluh tahun di mesjid agung Kufah disebabkan karena ia telah mendengar hadis ini. Setiap kali ia meriwayatkan hadis ini, selalu berkata: “Inilah yang mendudukkan aku di kursi ini”.

Al Hafiz Ibnu Katsir dalam kitabnya Fadhail Quran halaman 126-127 berkata: [Maksud dari sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkan kepada orang lain” adalah, bahwa ini sifat-sifat orang-orang mukmin yang mengikuti dan meneladani para rasul. Mereka telah menyempurnakan diri sendiri dan menyempurnakan orang lain. Hal itu merupakan gabungan antara manfaat yang terbatas untuk diri mereka dan yang menular kepada orang lain.

Dari Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: Bacakan Alquran kepadaku. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, aku harus membacakan Alquran kepada baginda, sedangkan kepada bagidalah Alquran diturunkan? Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya aku senang bila mendengarkan dari orang selainku. Kemudian aku membaca surat An-Nisa’. Ketika sampai pada ayat yang berbunyi: {Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (umatmu).} Aku angkat kepalaku atau secara mendadak ada seseorang berada di sampingku. Dan ketika aku angkat kepalaku, aku melihat beliau mencucurkan air mata. (Sahih Muslim No: 1332)

Imam Nawawi berkata (Ada beberapa hal yang dapat dipetik dari hadis ini, di antaranya: sunat hukumnya mendengarkan bacaan Alquran, merenungi, dan menangis ketika mendengarnya, dan sunat hukumnya seseorang meminta kepada orang lain untuk membaca Al Quran agar dia mendengarkannya, dan cara ini lebih mantap untuk memahami dan mentadabburi Al Quran, dibandingkan dengan membaca sendiri).

Dari uraian diatas dapar kita pahami bahwa betapa pentingnya untuk mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an terutama kepada anak-anak. Dibawah ini ada beberapa fungsi mempelajari dan menajarkan serta mendorong kepada anak-anak untuk mempelajari Al-Qur’an diantaranya :

  • untuk mendapatkan ridho Allah
  • untuk mendapatkan ketenangan hidup.
  • karena Al Qur’an akan menjadi penolong (syafa’at) bagi para penghafalnya.
  • penghafal Al-Qur’an dapat memberikan syafaat bagi keluarganya
  • mendapatkan banyak kemuliaan dan pahala yang berlimpah

Prinsip-prinsip mengajarkan Al-Qur’an:

  • Tidak boleh memaksa anak ( kecuali dengan alasan, misalkan watak anak ‘pemalas’ )
  • Lakukan kegiatan dengan cara menyenangkan
  • Dimulai dari ayat-ayat yang mudah difahami
  • Keteladanan dan motivasi

Kunci keberhasilan mengajarkan anak untuk menghafal Al-Qur’an:

  • Suasana senang dan membahagiakan akan membantu anak untuk mengingat hafalannya dalam waktu yang lama, dengan demikian anak akan berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan perasaan cinta dan keterikatan terhadap Al-Qur’an.
  • Berulang dan kontinyu

Cara memelihara dan mengembangkan memori anak:

  • Ajari anak untuk fokus dan perhatian pada pendidiknya.
  • Faktor makanan adalah penentu untuk terpelihara kemampuan memori itu bekerja (zat-zat adiktif yang terdapat dalam makanan, perlahan tapi pasti akan merusak daya ingat anak-anak).
  • Memberi penjelasan pada anak-anak atas nilai-nilai yang terkandung dalam bacaan yang dihafalnya, maka memori akan bekerja lebih eksis.
  • Menghormati waktu bermain dan waktu istirahat anak.
  • Jauhkan unsur-unsur yang dapat mengancam psikologi anak-anak ; celaan dan tekanan.
  • Ciptakan motivasi-motivasi agar anak cenderung menyukai aktifitas menghafal

Waktu-waktu yang tepat untuk mengajarkan anak menghafal Al-Qur’an:

  • Tidak mengantuk
  • Tidak letih / kelelahan
  • Tidak kekenyangan atau sebaliknya, tidak sedang kelaparan
  • Tidak dalam keadaan capek belajar
  • Tidak sedang bermain
  • Tidak dalam keadaan sakit / bad mood

Yang perlu diperhatikan tentang bakat anak dalam menghafal:

  • Kenali bakat anak-anak dan hargai minat mereka.
  • Fahami keterbatasan daya ingat anak karena tiap anak itu beda kemampuannya
  • Kenali anak-anak yang memiliki kesulitan dalam belajar dan berinteraksi

TEKNIS PENGAJARAN

Bayi ( 0-2 tahun )

  • Bacakan Al-Qur’an dari surat Al-Fatihah
  • Tiap hari 4 kali waktu ( pagi, siang, sore, malam )
  • Tiap 1 waktu satu surat diulang 3x
  • Setelah hari ke-5 ganti surat An-Nas dengan metode yang sama
  • Tiap 1 waktu surat yang lain-lain diulang 1x 2.

Di atas 2 tahun

  • Metode sama dengan teknik pengajaran bayi. Jika kemampuan mengucapkan kurang, maka tambah waktu menghafalnya, misal dari 5 hari menjadi 7 hari.
  • Sering dengarkan murottal.

Di atas 4 tahun

  • Mulai atur konsentrasi dan waktu untuk menghafal serius
  • Ajari muroja’ah sendiri * Ajari mengahfal sendiri
  • Selalu dimotivasi supaya semangat selalu terjaga
  • Waktu menghafal 3-4x per hari

CARA MENJAGA HAFALAN

  • Mengulang-ulang secara teratur
  • Mendengarkan murottal
  • Mentadabburi dan menghayati makna
  • Menjauhi maksiat

SABAR DALAM AL QUR’AN DAN HAL HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANYA

180_B.TIF

Kesabaran (al-Sabr) sering diidentikkan dengan sikap pasrah, pasif dan nrimo, sehingga berkonotasi pada sikap negatif. Padahal, dalam tradisi tasawuf ia dijadikan sebagai salah satu maqam untuk meraih derajat puncak kesufian para pengembara ruhani.

Tingkat kesabaran seseorang dalam menghadapi hal-hal yang menyinggung perasaan berbeda-beda. Ada yang tersinggung sedikit saja sudah meluap, dan ada pula yang sekalipun menghadapi kesukaran ia tetap sabar berkat pikiran yang mantap dan kehalusan serta kebaikan perangainya.

Watak asli yang ada pada seseorang memang besar sekali peranannya adalah orang yang mudah marah atau tenang, apakah ia berfikiran keruh atau jernih dan sebagainya. Namun antara kepercayaan terhadap diri sendiri dan kesabaran dalam menghadapi kesalahan orang lain terdapat kaitan erat. Seorang manusia besar yang telah mencapai tingkat kessempurnaan ia akan tambah berlapang dada, bertambah besar pula kesabarannya.[1]

Tulisan ini berusaha mengungkap seputar Sabar, yang mencakup

Ø Hakikat dan Makna Sabar
Ø Esensi Sabar
Ø Keutamaan Sabar dan Urgensinya
Ø Jenis-jenis Sabar
Ø Derajat Kesabaran
Ø Waktu dan Rintangan Bersabar
Ø Tokoh Teladan Sabar
Ø Sabar dan Kaitannya dengan Iman
Ø Term-term yang identik dengan Sabar
Ø Relevansinya
Ø Kiat untuk Bersabar
Ø Kesabaran Rasanya Pahit, tetapi Akibatnya Manis bagaikan Madu; sebuah refleksi

Bentuk Pengungkapan Kata Bijak Sabar dalam Al-Quran

Untuk mengetahui gambaran yang jelas tentang bentuk isytiqaq kata sabar dalam Al-quran, maka dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1) Kata Sabar dalam Fiil Madhi

a. Sabara terulang sebanyak dua kali, yakni pada QS. al-Syu’ara’[42]: 43, dan al-Ahqaf [46]: 35.
b. Sabaru terulang sebanyak 15 kali, yaitu pada QS. al-An’am[6]: 34, al-A’raf[7]: 137, Hud [11]: 11, an-Nahl[16]: 42, 96, 110, al-Mu’minun[23]:111, al-Furqan[25]: 75, al-Ankabut[29]: 59, as-Sajadah[32]: 24, Fussilat[41]: 35, ar-Rad[13]: 22, al-Qasas[28]:54, al-Hujurat[49]: 5, dan al-Insan[76]:12.
c. Sabarna, terulang sebanyak dua kali, yaitu pada QS. Ibrahim[14]: 21 dan al-Furqan[25]:42
d. Sabartum, terulang sebanyak dua kali yaitu pada QS. ar-Rad[13]:24 dan an-Nahl[16]: 126.

2) Kata Sabar dalam Fiil Mudhari’

a. Tasbiru tertulis sekali dalam QS. al-Kahfi[18]: 68.
b. Tasbiru terulang sebanyak enam kali yaitu pada QS. at-Tur[52]: 16, al-Furqan[25]: 20, Ali-Imran[3]: 110, 125, 186 dan QS. an-Nisa’[4]: 25.
c. Nasbiranna tertulis sekali dalam QS. Ibrahim[4]: 12
d. Nasbiru tertulis sekali dalam QS. al-Baqarah[2]: 61.
e. Yasbiru tertulis sekali dalam QS. Yusuf[12]: 91.
f. Yasbiru tertulis sekali dalam QS. Fussilat[41]:24.

3) Kata Sabar dalam Isim Fa’il
a. As-Shabirun terulang sebanyak tiga kali yaitu dalam QS. al-Qasas[28]: 85, az-Zumar[39]: 10 dan al-Anfal[8]: 65.
b. As-Shabirin terulang sebanyak 15 kali yaitu dalam QS al-Anbiya’[21]:185, as-Saffat[37]:102, al-Baqarah[2]: 153, 155, 177, 249, Ali-Imran[3]: 17, 142, al-Anfal[8]: 46, 66, an-Nahl[16]: 126, al-Hajj[22]: 35, al-Ahzab[33]: 35 dan Muhammad[47]: 31.
c. Sabbar terulang sebanyak empat kali yaitu dalm QS. Ibrahim[14]: 5, Luqman[31]: 31, Saba’[34]: 19, dan al-Anfal[8]: 66
d. Shabiran tertulis sebanyak dua kali yatu dalam QS. Al-Kahfi[18]: 69 dan Sad[38]: 44.

4) Kata Sabar dalam Fiil Amr

a. Isbir terulang sebanyak sembilan belas kali yaitu dalam QS. Yunus[10]: 109, Hud[11]: 49, 115, ar-Rumr[20]: 60, Luqman[31]: 17, Sad[38]: 17, Gafir[40]: 55, 77, Qaf[50]:39, at-TA’raf[7]: 87, 128, Sad[38]: 6, at-Tur[52]: [52]: 48, al-Ma’arij[70]: 5, al-Mudatsir[74]: 7, an-Nahl[14]: 127, al-Kahfi[18]: 28, Taha[20]: 130, al-Ahqaf[46]: 35, al-Qalam[69]: 48, al-Muzammil[73]: 10 dan al-Ihsan[76]: 24..
a. Isbiru terulang sebanyak enam kali yaitu dalam QS. Al- 16, Ali Imran[3]: 200, dan al-Anfal[8]: 46.
b. Istabir terulang sebanyak tiga kali dalam QS. Maryam[19]: 65, Taha[20]: 132 dan al-Qamar[54]: 27.
c. Shabiru tertulis sekali dalam QS. Ali-Imran [3]: 200.

5) Kata Sabar dalam Isim Masdar (infinitif)

Tertulis dalam satu bentuk sebanyak 14 kali yaitu dalam QS. Yusuf [12]: 18, 83, al-Balad [90]: 17, al-‘Asr [103], al-Baqarah [2]: 45, 153, al-A’raf [17]: 126, al-Kahfi [18]: 67, 72, 75, 78, 82, al-Baqarah [2]: 250, an-Nahl [16]: 127.[2]

Sungguh Allah telah banyak berfirman dalam al Qur’an bahwa sabar merupakan suatu sifat yang utama untuk dimiliki oleh setiap manusia.

Makna dan Hakikat Mutiara Sabar 

Kata “sabar” diambil dari bahasa Arab صبر . Dalam pengertian istilahi, term tersebut dimaknai dengan mencegah dalam kesempitan, memelihara diri dari kehendak akal dan syara’ dan dari hal yang menuntut untuk memeliharanya. Bisa diartikan pula dengan menahan diri (nafsu) dari keluh kesah, meninggalkan keluhan atau pengaduan kepada selain Allah.[3]

Sabar adalah keadaan seseorang berlapang dada menerima apa yang terjadi (hal yang tidak diinginkan) adapun kalau hal itu tidak dapat dipungkiri serta percaya penuh bahwa semua itu dari Allah adapun Al-Ghazali mengartikan sabar lebih menitikberatkan pada sifat-sifat suatu perbuatan yang tidak baik (tidak pada suatu kejadian yang menimpa seseorang) yaitu dengan meninggalkan segala macam perbuatan yang diinginkan oleh nafsu atau syahwat, dan perbuatan yang tidak memberikan manfaat baik didunia dan diakhirat. [4]

Mencermati sabar dalam pandangan tasawuf maka sabar erat kaitannya dengan kesabaran dalam menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangannya serta dalam menerima segala cobaan yang ditimpakan. Tidak menunggu-nunggu datangnya pertolongan dari Tuhan. Dengan sabar ini para sufi sengaja dan menyiapkan diri bergelimang dengan berbagai macam cobaan, kesulitan dan derita dalam hidupnya dengan sikap sabar dengan tanpa adanya keluhan sedikitpun. Jadi, meskipun dalam banyak uraian tentang kesabaran mencerminkan sikap pasif dan pasrah, namun tidak selalu memberi pengertian bahwa sikap sikap tersebut terlebih dahulu tanpa didasari usaha dan upaya.[5] Anggapan tersebut jelas keliru. Sikap sabar tidak identik dengan sifat pasif, tetapi justru aktif.[6]

Sabar merupakan derajat utama pula bagi orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah (suluk). Semua kedudukan agama itu pada dasarnya dapat disusun menjadi tiga hal, yaitu ma’rifat, hal ihwal dan amal perbuatan. Ma’rifat adalah pokok yang dapat menimbulkan hal ihwal. Sehingga diibaratkan bahwa ma’rifat itu seperti pohon, hal ihwal itu dahannya dan amal perbuatan adalah buahnya. Oleh karena itu sabar hanya akan dapat dilakukan dengan sempurna jika seseorang telah menguasai ma’rifat.[7]

Dari beberapa makna tersebut diatas jelas bahwa sabar tidak identik dengan sikap lemah, menerima apa adanya atau menyerah, tetapi merupakan usaha tanpa mengenal lelah atau gigih yang menggambarkan kekuataan jiwa pelakunya sehingga mampu mengalahkan atau mengendalikan hawa nafsunya. Sabar juga bukan berarti mengedepankan seluruh keinginan sampai terlupakan di bawah sadar sehingga dapat menimbulkan kompleks-kompleks kejiwaan, tetapi pengendalian keinginan yang dapat menjadi hambatan bagi pencapaian sesuatu yang luhur( baik) dan mendorong jiwa sehingga pelakunya mencapai cita-cita yang didambakan. [8]

Esensi Kata Bijak Sabar dalam Kehidupan

Esensi sabar adalah keteguhan yang mendorong hidup beragama, dalam menghadapi dorongan hawa nafsu. Itu ialah karakteristik manusia yang terkomposisi dari unsur malaikat dan binatang. Binatang hanya dikuasai oleh dorongan-dorongan nafsu birahi, sedangkan para malaikat tidaklah dikuasai oleh hawa nafsu. Mereka semata-mata diarahkan pada kerinduan untuk menelusuri keindahan kehadirat ketuhanan dan dorongan kearah derajat kedekatan dengannya. Mereka bertasbih mensucikan Allah s.w.t. sepanjang siang dan malam tiada henti. Pada diri mereka tidak ada dorongan hawa nafsu.[9] Sementara pada diri manusia dan binatang cenderung mengikuti hawa nafsunya. Jika manusia dapat mengendalikan hawa nafsu, maka berarti ia telah mencapai tingkatan sabar.

Keutamaan Sabar dan urgensinya dalam Islam

Sabar adalah kekuatan jiwa yang harus dimiliki setiap muslim . Tanpa memiliki sifat sabar seseorang tidak akan mampu menghadapi berbagai macam godaan dan bisikan dunia dengan segala macam yang ditawarkannya meniscayakan adanya bujuk rayu yang senantiasa hadir menggugah hawa nafsu yang tanpa kesabaran tentu kita akan terjerambab dalam lembah hitam dunia, tak hanya itu dalam hidup dan kehidupan seringkali kita dihadapkan oleh peristiwa yang tak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan . Dalam syair Arab dikatakan  “saya berkehendak begitu, kamu begitu, kita begitu tapi Dia (Allah ) berkehendak lain”.[10]

Manusia tanpa pengejewantahan atas konsep sabar yang ditawarkan menurut pendapat penulis adalah seorang manusia yang menjalani kehidupan hanya berpangkal pada kekecewaan, kesedihan karena hakikatnya semua yang terjadi adalah bukan kehendak kita karena kehendak kita tidak selamanya identik dengan kehendak Tuhan.

Allah telah menyatakan bahwa orang yang tidak memiliki kesabaran akan menderita kerugian, seperti misalnya dalam QS. Al Ashr: 1-3.[11] Sabar merupakan senjata yang paling ampuh bekal yang paling berguna dan penolong yang paling besar. Sabar adalah cahaya yang menerangi jalan orang mukmin sehingga ia tidak kebingungan saat menghadapi berbagai kendala dan problem.

Kata Sabar sebagai Jalan menuju Keselamatan

Peran sabar amat dibutuhkan bagi manusia untuk menghadapi setiap rintangan atau kebimbangan untuk membela agama Allah dengan menegakkan syariat-Nya. Sebab, kebimbangan dan keraguan tersebut terkadang timbul manakala kita dihadapkan oleh bujuk rayu nafsu kesenangan duniawi atau bahkan banyak lagi yang semuanya merupakan jerat perangkap musuh-musuh Allah . oleh karena itu, Allah Azza wajalla dengan tegas menyatakan bahwa sabar adalah jalan menuju keselamatan , hal ini ditandai dengan firmannya QS. Ali Imran, 200 :

“ Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung ”.

Jenis-jenis Sabar Dalam Islam

1).Sabar dalam melakukan ketaatan

Seringkali kita menjumpai keadaan yang mempengaruhi jiwa kita yang disebabkan oleh nasihat-nasihat agama ataupun yang merupakan amal shaleh lainnya, sehingga kita menunjukkan komitmen kita akan hal itu,tetapi kita tidakmemiliki kesabaran untuk itu maka seseorang tidak mungkin dapat komitmen dalam ketaatan terhadap Allah selama ia tidak meghiasi diri dengan sifat sabar yag akan menolongya . karena pada dasarnya jiwa manusia itu tidak menyenangi hal-hal yang memberatkan.maka sungguh tanpa kesabaran seseorang tidak akan mampu melakukan apa-apa selain mengikuti hawa nafsunya. Maka dari, itulah seseorang harus membiasakan diri dengan bersabar. Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang berusaha sabar, maka Allah akan menjadikannya sabar”.[12]

2). Sabar dalam menghadapi kemaksiatan

Maksiat adalah sesuatu yang menjatuhkan seseorang dari Rabbnya sesungguhnya orang mukmin itu mencintai Allah maka ia tidak sabar berada jauh dari Rabbnya .seorang mukmin sejati tentunya senantiasa mengagungkan-Nya malu dan takut kepada-Nya untuk melakukan kemaksiatanyang didengar dan dilihat oleh Allah sementara ia mendapat nikmat dari-Nya.di antara contoh yang menggambarkan besarnya pengaruh iman terhadap kesabaran seseorang menghadapi kemaksiatan adakah kisah yang terjadi pada zaman khalifah Umar bin Khatab, yaitu ketika ada seorang wanita muda di tinggal suaminya pergi untuk berjihad.

Karena di tinggal lama oleh suaminya, ia merasa kesepian sehingga terbitkah gejolak nafsunya sebagai manusia normal yang seandainya ia tidak sadar bahwa Allah saelalu mengawasinya, tentulah ia tidak akan maelakuka perbuatan yang haram. Hanya rasa takutnya kepada Allahlah yang mampu menjadikannya mampu menahan diri dari perbuatan dosa itu. Imannya telah menghantarkannya kepada kesabarannya. Jadi keimanan juga berperan penting dalam kesabaran.

3). Sabar dalam menghadapi cobaan dan rintangan

Allah berfirman dalam surat al Baqarah:155-157 ” Sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kamu dengan sedikit ketakutan , kelaparan, kekurangan harta dan jiwa serta buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira pada orang-orang yang sabar. (yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,‘ innalillahi wa inna ilaihi raaji’un.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”

Alkisah, dahulu kala di kalangan Bani Israil ada seorang laki-laki ahli fiqh, berilmu dan ahli ibadah. Ia mempunyai seorang istri yang sangat cantik. Ketika istrinya meninggal ia sangat terpukul, sehingga ia mengunci diri untuk tidak keluar rumah. Mendengar ia berbuat seperti itu, maka datanglah seorang wanita Bani Israil untuk menemuinya. “ Tuan, aku punya masalah aku ingin minta fatwa kepada tuan, dan aku tidak puas kecuali aku mendengar jawabannya langsung dari engkau”. Karena wanita itu terus menerus memintanya, maka ia pun menerimanya. Sang wanita berkata, “ Tuan, aku pernah meminjam perhiasan dari tetanggaku. Ia lama aku pakai. Kemudian tetanggaku itu memintanya, apakah aku harus menyerahkannya?” si Laki-laki itu menjawab, “Ya, engkau harus mengembalikannya.” Maka wanita itu menukas, “ Semoga Allah memelihara tuan. Kalau begitu, apakah tuan bersedih ketika Allah mengambil miliknya yang dipinjamkan kepada tuan. Bukankah ia lebih berhak untuk mengambilnya ?” Laki-laki itu paham maksud ucapan si wanita.[13]

Dari kisah diatas, kita dapat mengambil ibrah bahwa segala sesuatu yang kita miliki didunia pasti akan kembali kepada-Nya karena pada hakikatnya yang berhak atas apa yang telah diciptakan ialah maha yang menciptakan apa yang telah ia ciptakan dan Allah memiliki otoritas penuh dalam hal ini. Seringkali kali kita merasa bahwa Tuhan tidak adil dengan menimpakan apa yang sama sekali tidak pernah kita harapkan bahkan mungkin sama sekali tidak pernah terbayang sebelumnya terbayang dalam benak kita. Perlu diingat bahwa segala sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik dihadapan Allah begitu pula sebaliknya, apa yang seringkali kita anggap tidak baik belum tentu tidak baik pula dihadapan Allah.

Derajat kesabaran dalam Al-Qur’an dan Hadis

Tingkatan tertinggi adalah terkekangnya seluruh dorongan hawa nafsu hingga tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk kontra. Hal ini dicapai dengan kesabaran yang kontinyu dan mujahadah yang terus menerus. Mereka termasuk golongan yang disinyalir(dalam al Qur’an) surat al Ahqaf: 13, Fusshilat: 30: “ Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, Kemudian mereka tetap istiqamah, mka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita”.

Kepada golongan tersebut Allah menyeru “ Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya”.

Tingkatan terendah adalah kokohnya dorongan-dorongan hawa nafsu dan tersisihnya dorongan agama. Hawa nafsu memenangkan kompetisi antara kalbu dan hawa nafsu, sehingga kalbu pun menyerah pada nafsu. Mereka termasuk golongan yang disinyalir dalam al Qur’an dalam surat as Sajdah:

“ Dan kalau kami menghendaki niscaya kami akan berikan kepada tiap- tiap jiwa petunjuk, akan tetapi Telah tetaplah perkataan dari padaKu: “Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama ”.

Tingkatan pertengahan adalah orang yang tidak bersungguh-sungguh melakukan penyerangan. Dalam peperangan itu, kemenangannya silih berganti. Adakalanya dia menang, tapi pada saat lain dia kalah. Inilah para mujahid yang disebut: ” (mereka) mencampur-baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk…”.

Masing-masing ketiga kesabaran di atas itu dirigkas lagi menjadi dua:

1. Sabar jasmani, yakni kesabaran dalam menerima dan melaksanakan perintah-perintah keagamaan yang melibatakn anggota tubuh seperti dalam ibadah haji, peperangan dan penyakkiit-penyakit jasmani.

2. Sabar ruhani ‘ yaitu kemampuan menahan kehendak hawa nafsu, meliputi; sabar menyangkut kesenangan duniawi, sabar untuk melirik kekayaan orang lain, sabar untuk tidak marah dan dendam.[14]

Waktu dan rintangan bersabar mengadapi Cobaan

Ada yang salah dalam praktek keseharian dan menyebutnya dengan sabar ketika berlalunya sebuah peristiwa. Lalu kapan waaktunya sabar itu? Sabar dibutuhkan pads waktun sebelum , sedang dan sesudah berbuat atau bersikap. Sabar pada sebelum dan awal perbuatan yaitu upaya untuk meluruskann niat dan mengukuhkan tekad serta merancang perbuatan. Sabar sedang atau beserta perbuatan adalah sebuah harapan hingga tercapai dengan sempurna dan sukses perbuatan tersebut.

Kisah Keteladan Tokoh yang Bersabar

Al qur’an mengisahkan beberapa tokoh yang sangat dikenal kesabarannya, diantaranya;

Kisah Kesabaran Nabi Ayyub as,- Kesabarannya dalam menjalani cobaan hidup berupa penyakit yang dideritanya sehingga ia sampai ditinggalkan keluarganya. Ia selalu mengembalikan segala urusannya kepada Allah dengan bertaubat dan beristigfar sehingga Allah memberi pahala dan imbalan berupa terlepasnya dari penyakit, duka cita kesusahan, karena kerabatnya telah kembali kepadanya setelah sekian lama meninggalkannya bahkan keturunannya bertambah banyak sampai dua kali lipat dari jumlah sebelumnya. Keadaan tersebut berubah karena sikapnya yang tidak pernah mengeluh dan bersabar.

Kisah Kesabaran Ya’qub as,- Kesabaran Ya’qub dengan hilangnya Yusuf karena dibuang oleh saudara-saudaranya yang iri dan dengki kepada Yusuf. Di sini Ya’qub benar-benar diuji kesabarannya dan ternyata memang ia dapat berlaku sabar dengan kesabaran yang baik yaitu kesabaran yang tidak ada keluh kesah. Kedukaan Ya’qub tidak hanya itu saja, ia kembali di uji harus berpisah dengan anaknya, yaitu Bunyamin. Karena ia ditahan Yusuf (raja Mesir) karena dalam karungnya terdapat piala raja yang sengaja dimasukkan Yusuf agar ia dapat menahan saudaranya itu.

Duka dan kesedihannya tersebut masih dinilai dalam batas kewajaran manusiawi, tidak sampai melampaui batas denagn menampakkan kegelisahan dan sikap yang tidak diridhai, namun sebaliknya ia bersikap ridha dan menerima qadha’ dan qadarnya.

Kisah Kesabaran Yusuf as,- Ia adalah figur penyabar yang dicontohkan dalam al Qur’an. Dia diuji oleh Allah yaitu mmendapatkan tipu muslihat perbuatan kakak-kakaknya, tipu daya dari Zulaikha, masuk penjara beberapa tahun tanpa kesalahan, dan berpisah dengan ayahnya, Ya’qub dan saudara-saudaranya. Akan tetapi bersabar dan tabah. Ia adukan seluruh persoalan hanya kepada Allah.

Kisah Kesabaran Ismail as,- Kesabaran nabi Ismail tatkala ia dengan tegas menjawab mimpi ayahnya, Allah memerintahkan kepada ibrahim untuk menyembelih ismail.

Kisah Kesabaran Nabi Nuh,- yaitu ketika ia dalam berdakwah kepada kaumnya selama 950 tahun dalam menyampaikan risalah dan tauhid kenabiaan. Yang didapat hanyalah cacian, hinaan dan ejekan yang didapatkannya, hanya beberapa orang yang mau mengikuti ajarannya. Sehingga Allah menurunkan adzab yang besar kepada kaumnya.

Kisah Kesabaran nabi ibrahim yaitu ketika ia dibakar oleh kaumnya yang tidak mau mengikuti ajarannya. Sehingga dengan kesabarannya itulah Allah menghilangkan panasnya api tersebut.

Kisah Kesabaran Nabi Musa,- yaitu ketika ia mendapat godaan, penderitaan dan ujian yang dialaminya. Seperti ketika harus menghadapi Fir’aun yang sangat kejam.

Sabar dan Kaitannya dengan Iman

Kesabaran termasuk dalam kategori keimanan, karena keimanan dikaitkan pada pengetahuan dan perbuataan sekaligus. Sedangkann seluruh amal perbuatan yang membentangkan dua sisi; preventif dan ekspresif; penyucian dan penghiasan diri, hanya bisa tuntas dengan kesabaran.

Bila iman bertambah mantap di dalam hati, bertambah pula kesabaran seseorang. Ia pun akan lebih mampu membuang rasa amarah dan nafsu hendak mencelakakan orang lain yang beerbuat salah terhadap dirinya.

Kedudukan seorang muslim disisi Allah banyak tergantung pada kesanggupannya mengendalikan diri, membuang amarah, mengekang lidah, menghindari soal-soal yang tidak berguna, dan menyesali kekeliruan atau kesalahannya.[15]

Term-term lain yang identik dengan kata Bijak sabar

1) ‘Iffah,- Term iffah diartikan dengan sampainya pada suatu keadaan dimana jiwa menahan terhadap mengalahkan nafsu, mencegah, menahan terhadap sesuatu yang tidak halal, tidak baik atau dalam pengertian lain meninggalkan hawa nafsu yang hina; mensucikan jiwa raga.

Sikap tersebut sebagaimana disinggung membutuhkan sikap sabar dan qana’ah yang serius. Sebab tanpa itu, tidak tercapai kepada maksud. Sikap tersebut pendek kataa mengandung pengertian untuk sabar, berqana’ah, baik dalam cara berpakaian maupun ucapan.

2) Hilm,- Term hilm berarti memelihara diri dari tabi’at terhadap bangkitnya kemarahan. Didalam al-quran, term yang mengandung pengertian hilm dengan arti sabar beserta isytiqaqnya terulang sebanyak 15 kali.

3) Qana’ah, Term “al-alqani” baik dalam pengertian bahasa, istilah, hingga kajian tasawuf dan tafsir sangat identik dengan term “sabar” yang di dalamnya mengandung pengertian adanya sikap menahan diri dari keluh kesah. Dalam pemaknaannya, ia mencakup aspek rela, menerima, puas, dan tidak meminta-minta yang itu semua cenderung kepada sikap dan prilaku sabar dalam hal menerima rizki yang sedikit sebagai perlawanan dari sifat rakus.

4) Zuhud, Term zuhud dalam pengertian bahasa, istilah, para mufassirin, dan tasawuf terdapat kesamaan visi, dimana terdapat unsur-unsur yang saling mendukung dengan term sabar, yaitu dalam hal menghadapi kesulitan hidup, dan dalam berupaya untuk tidak menjadi hamba dunia.[16]

Relevansi Potret Persekongkolan Musuh-musuh Allah untuk menguras Kesabaran Kita

Atas nama kebebasan berpikir, orang-orang kafir dan penganut ajaran batil menodai kemurnian akidah Islam dan mencoreng keutuhan dienullah yang hanif. Secara tidak langsung, umat Islam diajak untuk mengikuti Barat baik dalam pola pikirnya, kebudayaannya, maupun sistemnya. Padahal sistem, kebudayaan dan gaya hidup mereka yang realistis sama sekali terpisah dari ajaran Islam. Mereka melakukan hal itu agar kita melepaskan diri dari akidah, agar kita menjadi ekor mereka, meninggalkan syariat, nilai-nilai dan akhlaq kita.

Atas nama metode, mereka menyeru wanita-wanita kita untuk mencopot pakaian takwa dan menggantinya dengan pakaian jahiliyah yang merangsang dan mempertontonkan aurat yang disuruh Allah agar ditutupi Mereka mengatakan bahwa busana setan ini lebih baik daripada jilbab dan mereka mengklaim bahwa pakaian transparan itu menarik dan membuat cantik wanita, sepertinya kecantikan itu muncul karena telanjang atau kegenitan dalam berpenampilan dan menjauhkan diri dari agama Allah. Apa yang mereka serukan ini tidak lain adalah perbuatan setan yang menuju ke arah Jahannam, maka tidak boleh bagi kita untuk mendengarkan seruannya jika kita ingin mendapat surga di akhirat.

Dengan alasan seni, musuh-musuh Allah berusaha menyebarkan nyanyian-nyanyian cinta yang cengeng, tarian-tarian yang merangsng, kisah-kisah asmara yang penuh kecabulan dan memprouksi film-film yang mengajarkan kekerasan, percintaan, dan kebebasan pergaulan muda-mudi . mereka dengan segenap daya berusaha menanamkan kepada generasi muda, anak-anak dan orang tua kita bahwa yang disebut seni adalah adegan dari penampilan seperti itu, adegan dan penampilan yang lepas dari nilai-nilai agama, adegan dan penampilan yang membangkitkan syahwat.

Kiat untuk Menumbuhkan Sifat Sabar dalam Kehidupan Sehari-Hari

Memahami arti kehidupan dunia dengan sebenarnya
Menyadari eksistensi diri
Keyakinan akan pahala yang lebih baik
Keyakinan akan terbebas dari musibah
Meneladani orang-orang yang sabar
Berhati-hati terhadap kendala-kendala kesabaran antara lain; tergesa-gesa, marah-marah, rasa susah dan sedih yang mendalam, dan putus asa.[17]

Kesabaran Rasanya Pahit, tetapi Akibatnya Manis bagaikan Madu;

Sebuah Refleksi,- Syaikh ‘Abdul Qadir Jailani ra. berkata: Betapa sering Engkau berkata: “Apa yang harus kulakukan dan bagaimana caranya?” lalu dikatakan kepadamu: “tetaplah di tempatmu, dan jangan melanggar batas yang telah ditentukan, hingga datang kelonggaran kepadamu dari Dia yang memerintahkanmu untuk tetap berada di tempat di mana kamu berada.

Allah SWT berfirman QS Ali Imran: 200 “Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung”

Wahai mukmin, Allah telah memerintahkan kepadamu untuk bersabar, saling berpesan dengan kesabaran, saling menjaga ikatan, menjaga batasan-batasan yang ditentukan Allah, lalu Allah memperingatkanmu agar tidak meniggalkan kesabaran. Dia mengatakan: dan takutlah kepada Allah untuk meninggalkannya – yaitu meninggalkan kesabaran – karena kebaikan dan keselamatan ada dalam kesabaran. Rasulullah SAW bersabda: ”kedudukan sabar terhadap iman, bagaikan kepala terhadap tubuh. Juga dikatakan bahwa pahala segala seuatu sesuai dengan ukurannya, kecuali pahala sabar, karena sabar itu pahalanya tidak terbatas.

Sebagaimana firman Allah SWT (QS. 39:10) Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang berriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. orang-orang yang berbuat baik di dunia Ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Apabila engkau sudah takut kepada Allah SWT, dengan menjaga kesabaran dan batasan-batasan yang telah ditentukan-Nya, maka ia akan melimpahkan apa yang telah dijanjikan-untukmu. Sebagaiman firman Allah dalam (_QS 65:2-3) “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”.

Tetaplah sabar sehingga engkau termasuk orang-orang yang tawakkal kepada-Nya sampai Allah memberikan kelapangan kepadamu. . karena Allah telah berjanjiakian memberikan kecukupan kepadamu, dalam firman-Nya: “barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia cukupkan bagi-Nya .

Lalu dengan kesabaran dan tawakkalmu, engkau termasuk orang-orang yang berbuat kebaikan, dan dengan itu Allah akan mencintaimu sebagaimana dalam firman-Nya: “sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan”(QS 5:13).

Kesabaran adalah pangkal semua kebaikan dan keselamatan , baik didunia maupun di akhirat, karena darinya seorang mukmin naik kepada tingkatan ridha dan menerima lalu fana dalam semua perbuatan Allah sebagaimana keadaan badaliyyah dan ghaibah.

Maka, hati-hatilah, jangan sampai engkau meninggalkan kesabaran, sehingga engkau akan terhina didunia dan akhirat, dan luput dari kebaikan keduanya.

Kesimpulan

Sabar yang dalam pengertiannya adalah menahan diri dari melakukan perbuatan maksiat atau hal yang dibenci oleh Allah, merupakan sifat yang terpuji, mulia, dan tentu saja diridhai, namun berat untuk dilaksanakan karena dengan berbagai gangguan dan kendala yang siap menghadang, sehingga untuk mewujudkan perilaku sabar dibutuhkan upaya yang sunnguh-sungguh dalam diri manusia. Oleh sebab itu, merupakan sebuah kekeliruan jika sabar diidentikkan dengan sikap pasrah, pasif dan nrimo, sehingga berkonotasi pada sikap negatif.

Segala perbuatan yang akan dilakukan harus dibangun dan dilandasi oleh keyakinan yang kuat. Sebaliknya tanpa itu, prilaku sabar relatif sulit akan tercapai. Dengan keyakinan itulah, maka term sabar yang dideskripsikan dalam al-Quran yang sarat dengan materi yang mengedepankan pentingnya unsur keyakinan dan keimanan tersebut akan mudah diterima dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, keyakinan lain yang harus ditumbuhkan dalam diri adalah bahwa prilaku sabar yang kita perankan di dunia ini berimplikasi dan berakibat bagi pelakunya di dunia dan akhirat. Diantara sekian banyak keyakinan-keyakinan yang perlu dibangun adalah yakin akan adanya pahala di sisi Allah dan yakin akan terbebas dari musibah bagi siapa yang dapat berlaku sabar.[18]

Dua nasihat tentang Nafsu dan Sabar

“Nafsu dapat menyebabkan penguasa menjadi budak;
Sabar bisa menyebabkan budak menjadi raja.[19]

Catatan Kaki[1] Muhammad al Ghazali, Akhlak Seorang Muslim( Bandung, Al Ma’arif: 1995) hlm 201
[2] . Fajrul Munawir, Konsep Sabar dalam Al-qur’an (Yogyakarta: TH Press, 2005), hlm.22-24.
[3] M. fajrul Munawir, Konsep sabar dalam al Qur’an ; Pendekatan Tafsir Tematik (Yogyakarta, TH Press. 2005)hlm.21
[4] Drs.S. Ansory al – Mansor, Cara Mendekatkan Diri kepada Allah (Jakarta , Fajar Interpratama offset,1997)hal 143
[5] M. Fajrul Munawir, Konsep Sabar dalam Al-qur’an (Yogyakarta: TH Press, 2005), hlm.5.
[6] Abdul Mustaqim, Akhlaq Tasawuf (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2007) hal.74.
[7] Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin (Surabaya: Gita Media Press, 2003) hal. 315
[8] Prof. dr Nasaruddin Umar, Tafsir social mendialogkan teks dengan konteks (Yogyakarta : eLSAQ Press, 2005) hlm. 37
[9] Terjemahan M. Luqman Hakim dan Hosen Arjaz Zamad (Risalah Gusti, 1996) hlm. 236
[10] Syaikh Syahhat bin Mahmud Ash-Shawi, Mahabbah Ilahiyah Menggapai Cinta Illahi (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), hlm.113
[11] Ibid, hlm. 115
[12] Syaikh Syahhat bin Mahmud Ash-Shawi, Mahabbah Ilahiyah Menggapai Cinta Illahi (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), hlm. 113-115.
[13] Syaikh Syahhat bin Mahmud Ash-Shawi, Mahabbah Ilahiyah Menggapai Cinta Illahi (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), hlm.118-125.
[14] Terjemahan M. Luqman Hakim dan Hosen Arjaz Zamad (Risalah Gusti, 1996) hlm.
[15] Muhammad al Ghazali, op. cit, hlm. 205.
[16] . Fajrul Munawir, Konsep Sabar dalam Al-quran (Yogyakarta: TH Press, 2005), hlm.40-60.
[17] Prof. dr Nasaruddin Umar, Tafsir sosial mendialogkan teks dengan konteks (Yogyakarta : eLSAQ Press, 2005) hlm.44
[18] Fajrul Munawir, Konsep Sabar dalam Al-quran (Yogyakarta: TH Press, 2005), hlm 72-73
[19] Imam Nawawi Al-Batani, Nashaihul Ibad; Menjadi Santun dan Bijak (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2005) hlm. 35

Daftar Pustaka
Mustaqim, Abdul. Akhlaq Tasawuf. Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2007.
Al Ghazali, Muhammad. Akhlak Seorang Muslim. Bandung: Al Ma’arif. 1995.
Al-Ghazali, Muhammad. Ihya’ Ulumuddin. Surabaya: Gita Media Press. 2003.
Munawir, M. Fajrul. Konsep sabar dalam al Qur’an ; Pendekatan Tafsir Tematik. Yogyakarta: TH Press. 2005.
Al – Mansor, Anshory. Cara Mendekatkan Diri kepada Allah. Jakarta: Fajar Interpratama offset. 1997.
Ash-Shawi, Syaikh Syahhat bin Mahmud. Mahabbah Ilahiyah; Menggapai Cinta Illahi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2001.
Umar, Nasaruddin. Tafsir sosial mendialogkan teks dengan konteks. Yogyakarta : eLSAQ Press. 2005.
Terjemahan M. Luqman Hakim dan Hosen Arjaz Zamad. Risalah Gusti. 1996.
Izutsu, Toshihiko. _ . Mc Gil University Press. 1996.
Al-Bantani, Imam Nawawi. Nashaihul Ibad: Menjadi Santun dan Bijak. Bandung: Irsyad Baitus Salam. 2005.
Al-Jailani, Syaikh Abdul Qadir, Raihlah Hakikat, Jangan Abaikan Syai’at: Adab-adab Perjalanan Spiritual (terj.) Adab As-Suluk Wa At-Tawasshul Ila Manazil Al-Muluk, Bandung: Pustaka Hidayah, 2007.

 

BERUSAHA MENGGAPAI MATI YANG HUSNUL KHOTIMAH

Allah SWT berfirman dalam Surat Ali Imran, ayat 102, :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”

Lewat ayat diatas Allah SWT me-wanti-wanti atau mengingatkan agar kita semua kelak ketika ajal  tiba, kita meninggal dunia dalam keadaan beriman kepada Allah.  Inilah yang disebut dengan husnul khatimah.  Husnul khatimah adalah tolok ukur satu-satunya apakah seseorang  sukses dalam hidupnya atau tidak. Memang banyak tolok ukur kesuksesan dalam hidup ini, seperti hidup kaya raya,  memiliki jabatan tinggi, dihormati dalam masyarakat,  hidup dalam kondisi kesehatan yang prima dan sebagainya.  Namun apalah arti hidup kaya raya, jika ketika meninggal dunia seseorang tak mampu  menyebut nama “Allah”. Apalah arti menduduki jabatan tinggi, jika di akhir hayat seseorang  tidak mengenal siapa Sang Penciptanya.  Apalah arti hidup mulia dan dihormati di tengah-tengah masyarakat, jika di akhir hayat seseorang mati dalam keadaan kafir. Na’udzubillahi mindzalik.

Husnul khatimah adalah harga mati yang harus selalu diusahakan dan diupayakan oleh siapa saja yang menginignkan surga dan menetap disana untuk selamanya. Cara kita mengupayakan agar diberi husnul khatimah adalah selalu bertakwa kepada Allah SWT, kapan  pun dan dimana pun kita berada. Husnul khatimah tidak hanya harus diupayakan secara terus menerus, tetapi harus pula selalu dimintakan kepada Allah SWT. Kita harus selalu berdoa kepada Allah agar diberi husnul khatimah. Jangan sampai kita lupa tidak memohon  husnul khatimah kepada Allah SWT dalam setiap doa kita karena husnul khatimah merupakan puncak dari semua kesuksesan di dunia ini. Tanpa husnul khatimah, sia-sialah hidup seseorang karena itu berarti neraka tempatnya di akherat sana.

Untuk menggapai husnul khatimah sesungguhnya tidak mudah karena setan bisa saja mengambil kesempatan di saat akhir menjelang kematian seseorang. Setan bisa saja berusaha sekuat tenaga untuk menyesatkannya dengan segala cara; bahkan terkadang menjelma dalam rupa ayah dan ibunya. Imam Al-Qurthubi dalam kitabnya berjudul At-Tadzkirah fi Ahwalil Mauta wa Umuril Akhirah menyatakan berdasarkan  sebuah riwayat Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa ketika seorang hamba mendekati ajalnya maka duduklah dua setan di sampingnya.   Setan yang berada di sebelah kanan yang menyerupai ayahnya mengatakan:

“Wahai anakku, aku sangat sayang dan cinta kepadamu. Jika kamu mau mati, maka matilah dengan membawa agama Nasrani sebab itu  adalah sebaik-baik agama.”

Sedangkan setan yang di sebelah kiri, yang menyerupai ibunya, mengatakan:

“Wahai anakku, perutku dahulu tempat hidupmu dan air susuku sebagai minumanmu serta pangkuanku sebagai tempat tidurmu, maka aku minta hendaknya kamu mati dengan membawa agama Yahudi sebab itu adalah sebaik-baik agama.”

Agar kita terhindar dari upaya penyesatan oleh setan yang akan menjerumuskan kita, maka Rasulullah SAW memberikan tuntunan kepada kita berupa doa memohon kepada Allah agar senantiasa menetapkan iman kita sampai akhir hayat kita. Doa tersebut sebagaimana termaktub dalam Surat Ali Imran ayat 8, sebagai berikut:

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami. Dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”

Husnul khatimah merupakan karunia terbesar dari Allah SWT yang tak tertandingi oleh apa  pun. Di saat setan terus melakukan berbagai godaan dan penyerupaan menjelang kematian seseorang, hanya Allah yang dapat menjaga dan menyelamatkan iman orang tersebut. Menurut Imam Sufyan Al-Tsauri, ada 4 (empat) cara yang bisa dilakukan seseorang untuk meraih husnul khatimah sebagai berikut:

  1. Menjaga iman dan ketakwaaan kepada Allah SWT secara istiqamah.

Siapa  pun yang menginginkan terjaga iman dan ketakwaannya hendaknya menjauhi benar-benar hal-hal yang bisa merusak  iman dan ketakwaannya. Ia  harus bertaubat dari segala dosa dan kemaksiatan, apalagi terhadap syirik . Hal itu bisa  dicapai, diantaranya dengan membaca doa seperti yang diajarkan Rasulullah SAW:

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك أَنْ أُشْرِكَ بِك وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُك لِمَا لا أَعْلَمُ

Artinya:  “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik (menyekutukan-Mu) sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap kesyirikan yang tidak aku ketahui.”

  1. Berusaha sungguh-sungguh memperbaiki lahir batin.

Hendaknya, niat  dan tujuan semua amal saleh harus benar-benar bersih lahir batin. Tidak ada niat dalam beribadah kecuali semata-mata karena untuk mencari ridha Allah SWT sebagaimana yang kita ucapkan dalam doa iftitah setiap kali memulai shalat:

 إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

  1. Senantiasa berdoa kepada Allah agar diwafatkan dalam keadaan iman.

Nabi Yusuf AS memberikan contoh doa husnul khatimah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, Surat Yusuf, ayat 101 :

تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

Artinya: “Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shaleh.”

  1. Senantiasa berdizkir kepada Allah dalam keadaan apa pun.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran, Surat 152, yang berbunyi:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

Artinya: “Maka ingatlah pada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian.”

Ayat diatas menegaskan janji Allah bahwa siapa  pun yang senantiasa berdzikir kepada Allah SWT, maka Allah akan senantiasa mengingat orang itu. Allah akan selalu memberinya petunjuk dan pertolongan hingga orang itu meninggal dalam keadaan mengingat-Nya.