KEHARAMAN MENCERITAKAN PENGALAMAN SPIRITUAL KEPADA ORANG LAIN

بسم الله الرحمن الرحيم

Wahai anakku, kelanjutan dari permasalahan-permasalahmu, sebagiannya tertulis dalam kitab-kitab karanganku untuk itu carilah disana. Dan menuliskan jawaban dari sebagian dari permasalahanmu yang lain itu haram (tidak diperkenankan). Amalkanlah apa yang telah kau ketahui supaya apa yang belum kau ketahui bisa tersingkap.       

ايها الولد، والباقي من مسائلك بعضها مسطور في مصنفاتي فاطلبه ثمة. وكتابة بعضها حرام. اعمل انت بما تعلم لينكشف لك ما لم تعلم.

Wahai anakku, setelah hari ini jangan lah kau tanyakan kepadaku permasalahanmu (lagi) kecuali dengan ucapan hati. Karena firman Allah SWT

Artinya: “Dan sekiranya mereka bersabar sampai engkau (Muhammad) keluar untuk menemui mereka, tentu hal itu lebih baik dari mereka”.

ايها الولد، بعد اليوم لا تسألني ما اشكل عليك الا بلسان الجنان لقوله تعالى ولو انهم صبروا حتى تخرج اليهم لكان خيرا لهم

Dan terimalah nasihat Nabi Khidir a.s disaat beliau berkata: “Janganlah engkau bertanya kepadaku mengenai apapun, sampai aku ceritakan padamu sebagai penjelasannya” Dan janganlah tergesa-gesa hingga kau telah samai atau hal tersebut telah tersingkap darimu dan kau telah melihatnya (dengan landasan ayat:) ”Kelak akan Aku perlihatkan kepada kalian tanda-tanda kebesaran-Ku, maka, janganlah kamu meminta menyegerakannya (terburu-buru)”.   

واقبل نصيحة الخضر عليه السلام حين قال فلا تسألني عن شيء حتى احدث لك منه ذكرا. ولا تستعجل حتى تبلغ اوانه يكشف لك وتراه “سأريكم آياتي فلا تستعجلون”

Oleh karena itu jangan kau tanyakan kepadaku sebelum waktunya dan yakinlah bahwa kau tidak akan mencapainya kecuali dengan menjalani karena sabda Allah ta’ala: “Dan tidakkah mereka bepergian di bumi maka mereka akan melihat (mengetahui)” 

فلا تسـألني قبل الوقت وتيقن انك لا تصل الا بالسير لقوله تعالى: أولم يسيروا في الارض فينظروا

Wahai anakku, demi Allah apabila kau telah me-lakoni maka kau akan melihat kejadian yang mengagumkan di setiap tempat dan serahkanlah jiwamu, karena (modal) pokok urusan ini adalah menyerahkan (segenap) jiwa. Seperti halnya  perkataan Dzunnun Al-Mishry –Rahimahullah taa’ala- pada salah satu murid-muridnya: “Apabila kau mampu menyerahkan (segenap) jiwamu maka kemarilah, jika tidak mampu janganlah kau sibuk dengan jalan orang-orang tasawuf.”           

ايها الولد، بالله ان تسر تر العجائب في كل منزل وابذل روحك فان رأس هذا الامر بذل الروح كما قال ذو النون المصري رحمه الله تعالى لاحد تلامذته: ان قدرت على بذل الروح فتعال، والا فلا تشتغل بترهات الصوفية

KETIKA SHALAT TIDAK KHUSYU’ DAN KEUTAMAAN WAKTU BA’DA ASHAR

بسم الله الرحمن الرحيم

Wahai muriid hendaknya kau terus-menerus bersungguh-sungguh dalam memperhatikan pelaksanaan shalat lima waktu, yakni dengan menyempurnakan kondisi berdirinya, bacaan-bacaannya, kekhusyu’annya, rukuknya, sujudnya dan memperhatikan kesempurnaan rukun-rukun yang lain serta sunah-sunahnya. Sebelum memasuki shalat buatlah hatimu merasakan kebesaran Dzat yang akan kau tuju dihadapan-Nya yakni Dzat Yang Maha Agung dan Maha Luhur.

Ingatlah! Jangan sekali-kali kau bermunajat pada Raja seluruh raja, Penguasa dari seluruh penguasa dengan hati lalai yang terlepas di dalam jurang kealpaan dan godaan syetan serta hati yang berkelana di wilayah angan-angan dan pikiran keduniawian. Karena hal itu menimbulkan kemarahan dari Allah dan akan ditolak dari pintu Allah.

وكُن-أيُّها المُريدُ- في غايَةِ الاِعتِناءِ بِإِقامةِ الصّلواتِ الخَمسِ بإتمامِ قِيامِهِنَّ وقِراءَتِهنّ وخُشوعِهنّ ورُكوعِهنّ وسُجودِهنّ وسائِرِ أركانِهِنّ وسُنَنِهنّ وأشعِر قَلبكَ قَبلَ الدُّخولِ في الصّلاةِ عَظمةَ مَن تُريدُ الوُقوفَ بَينَ يَديهِ جلَّ وعلا،

واحذَر أن تُناجِيَ مَلِكَ المُلوكِ وجبّارِ الجبابِرةِ بِقلبٍ لاهٍ مُستَرسِلٍ في أوديةِ الغَفلةِ والوَساوِسِ جائِلٍ في مَيادينِ الخَواطِرِ والأفكارِ الدُّنيَويّةِ، فَتَستوجِبَ المَقتَ مِن الله، والطَّردَ عن بابِ الله.

Rasulullah ‘alaihi asshalatu wassalam telah bersabda: “Ketika seorang hamba mendirikan shalat maka Allah (juga) mendatanginya dengan Dzat-Nya sendiri. kemudian ketika hamba tadi menengok ke belakang Allah ta’ala berkata: “dia (hamba tersebut) adalah keturunan Adam yang telah menoleh kepada orang yang lebih baik daripada-Ku.”

Kemudian apabila ia menoleh untuk yang kedua kalinya, Allah akan berkata yang sama. Kemudian jika si hamba tadi menoleh untuk yang ketiga kalinya, Allah akan berpaling darinya.”            

وقد قالَ عَليهِ الصّلاةُ والسّلامُ “إذا قامَ العَبدُ إلى الصّلاةِ أَقبلَ الله عَليهِ بِوَجههِ فإذا التَفتَ إلى ورائِهِ يَقولُ الله تعالى:” ابنُ آدمَ التَفَتَ إلى مَن هُو خيرٌ لهُ مِنّي”.

فإن التَفَتَ الثّانيةَ قالَ مِثلَ ذلِكَ فإن التَفَتَ الثّالِثةَ أعرَضَ الله عَنهُ”

Ketika orang yang menoleh dengan wajah fisiknya saja Allah berpaling darinya, bagaimana keadaan seseorang yang di dalam shalatnya menoleh dengan hati ke bagian-bagian dan perhiasan dunia (yang menipu)? Allah subhanahu wa ta’ala tidak melihat pada jasmani dan sisi lahir, Ia melihat hanya ada hati dan yang terdalam di dalamnya.              

فإذا كانَ المُلتفِتُ بِوَجهِهِ الظّاهِرِ يُعرِضُ الله عَنهُ فكيفَ يَكونُ حالُ مَن يَلتفِتُ بِقَلبِهِ في صلاتهِ إلى حُظوظِ الدُّنيا وزخارِفِها، والله سُبحانهُ وتعالى لاَ ينظُرُ إلى الأجسامِ والظّواهِرِ وإنّما ينظُرُ إلى القُلوبِ والسّرائِرِ.

Ketahuilah, bahwa ruh (esensi) seluruh ibadah dan maknanya adalah menghadirkan diri bersama Allah (hudhur) di dalam ibadahnya. Oleh karena itu, barang siapa ibadahnya tidak ada wujud hudhur-nya maka ibadahnya seperti debu yang berhamburan.       

واعلَم أنّ رُوحَ جَميعِ العِباداتِ ومَعناها إنّما هُو الحضُورُ معَ الله فيها، فَمن خَلت عِبادَتُهُ عنِ الحُضورُ، فعِبادتُهُ هباءٌ منثورٌ.

Analogi dari orang yang tidak hudhur bersama Allah dalam ibadahnya adalah seperti orang yang memberi hadiah pada penguasa yang tinggi sebuah dayang perempuan yang telah mati atau sebuah peti kosong. Bukankah ia sangat pantas mendapatkan hukuman dan tidak mendapat balasan (ganjaran).

ومثَلُ الّذي لاَ يَحضُرُ مَع الله في عِبادتهِ مَثلُ الذي يُهدي إلى ملِكٍ عظيمٍ وَصيفةٍ ميّتَةً أو صٌندوقاً فارغاً، فما أجدرُهُ بِالعقوبةِ وحِرمانِ المثوبة.

فصل

Ingatlah Wahai murid, jangan sekali-kali meninggalkan shalat Jum’at dan shalat berjama’ah. Karena hal tersebut yakni meninggalkan shalat jum’at dan jama’ah termasuk kebiasaan orang-orang sesat dan tanda-tanda orang orang yang memiliki kebodohan.

Jagalah shalat-shalat rawatib yang disyariatkan sebelum dan setelah shalat fardhu. Dan biasakanlah melakukan shalat witir, dhuha dan mengisi dengan ibadah waktu Antara maghrib dan isya’. Jadilah kau -wahai muriid- orang yang sangat menyukai mengisi dengan peribadahan apapun pada waktu setelah subuh sampai terbitnya matahari dan di waktu setelah shalat ashar sampai terbenam matahari. Dua waktu yang mulia ini Allah melimpahkan pertolongan-pertolongannya kepada hamba-hamba yang menghadap-Nya.

واحذَر أيُّها المُريدُ كلَّ الحذَرِ مِن تَركِ الجمُعةِ والجَماعاتِ، فإِنَّ ذلكَ مِن عاداتِ أَهلِ البَطالاتِ وسِماتِ أَربابِ الجهالاتِ.

وحَافِظ على الرَّواتبِ المشروعاتِ قَبلَ الصَّلاةِ وبَعدها، ووَاظِب على صَلاةِ الوَترِ والضُّحى وإِحياءِ ما بينَ العِشاءين، وكُن شَديدَ الحِرصِ على عِمَارةِ ما بَعدَ صَلاةِ الصُّبحِ إلى الطُّلوعِ، وما بعد صلاةِ العصرِ إلى الغروبِ فهذانِ وقتانِ شريفانِ تَفيضُ فيهما من الله تعالى الأمدادُ، على المتوجهين إليه من العبادِ.

Dan dalam mempergunakan waktu setelah subuh terdapat keistimewaan yang potensial dalam memperoleh rejeki yang bersifat jasmani dan di dalam mempergunakan waktu setelah Ashar terdapat keistimewaan yang potensial untuk memperoleh pemberian-pemberian (rejeki) yang bersifat hati (ruhani). Hal tersebut sudah dipraktikkan oleh orang-orang yang memiliki mata hati yang tajam yakni para orang-orang ‘arif yang agung.          

وفي عمارةِ ما بعدَ صلاةِ الصبحِ خاصيةٌ قويةٌ في جلبِ الأرزاقِ الجسمانيةِ وفي عمارةِ ما بعد العصرِ خاصيةٌ قويةٌ لجلبِ الأرزاقِ القلبيةِ، كذلك جرَّبَه أربابُ البصائرِ من العارفين الأكابرِ.

Di dalam hadits (menyebutkan): “Sesungguhnya orang yang duduk di tempat sholatnya seraya berdzikir kepada Allah setelah waktu sholat subuh itu lebih mempecepat dalam mendapatkan rejeki daripada orang yang bekerja dalam berbagai daerah (orang yang merantau).” Maksudnya orang yang bepergian ke suatu tempat untuk mencari rejeki.               

وفي الحديثِ: (( إن الذي يقعدُ في مُصلاهُ يذكرُ اللهَ بعد صلاةِ الصبحِ أسرعُ في تحصيلِ الرزقِ من الذي يضربُ في الآفاقِ)) أعني يسافرُ فيها لطلبِ الأرزاقِ.

TINGKATAN IBADAH DAN TAUBAT ANTARA ORANG YANG AWAM DAN LAINYA

TINGKATAN DALAM IBADAH

Tingkatan dalam PUASA :

• Puasa orang biasa, adalah menahan diri dari makan, minum dan hubungan biologis antara suami istri dalam jangka waktu tertentu.

• Puasa orang khususnya orang biasa, maksudnya adalah menahan diri dari hal yang diatas dengan disertai mencegah ucapan dan perbuatan dari hal-hal yang diharamkan

• Puasa orang khusus, adalah menahan diri dari melakukan segala sesuatu selain dzikir dan beribadah pada Allah Ta’aalaa.

• Puasa orang khususnya orang khusus, adalah menjaga diri dari selain Allah, tidak ada buka puasa baginya sampai datangnya hari kiamat, dan ini adalah maqam derajat yang tinggi. ( Fath al-Bari IV/109)

Tingkatan dalam SHALAT :

• Shalat orang biasa, adalah shalat kebanyakan orang pada umumnya dengan menjalankan perbuatan yang diawali takbiiratul ihram, diakhiri salam dengan disertai niat.

• Shalat orang khusus, adalah dengan meniadakan segala kehinaan yang terlintas dalam pikiran, keinginan-keinginan duniawi dalam shalatnya namun demikian diperkenankan baginya terlintasnya harapan-harapan yang bersifat ukhrawi seperti keinginan masuk dalam surga, aman dari siksa neraka.

• Shalat orang yang sangat khusus, adalah dengan khudurnya hati dan berpaling jauh-jauh dari segala hal selain Allah.

(Tafsir Ruh al-Ma’any XXIII/113)

Tingkatan dalam IKHLAS :

• Ikhlas orang biasa, dengan menepis keberadaan orang lain dalam tujuan ibadahnya disertai dengan tercapainya bagian dirinya baik berupa kebahagian dunia ataupun akhirat seperti berpengharapan diberikannya kesehatan, harta, rizki lapang, kemegahan serta bidadari-bidadari surga.

• Ikhlas orang khusus, disertai dengan tercapainya bagian dirinya baik berupa kebahagian dalam kehidupan akhirat bukan kebahagiaan dunia.

• Ikhlas orang yang sangat khusus, bila mampu menepis semua bagian dalam dirinya secara keseluruhan, ibadahnya semata-mata bentuk pengabdian, menyadari keberadaanya sebagai hamba yang mesti menjalani titah Tuhannya dengan suka cita dan selalu diliputi kerinduan yang mendalam pada Sang Kekasih. (Iiqaazh al-Himam Syarh Matan alHikam I/18)

Tingkatan dalam TAUBAT :

• Taubat orang biasa, dengan menyesali dosa yang telah terbuat, berkeinginan kuat untuk tidak mengulangi kembali, mengembalikan hak-hak orang lain bila memungkinkan dan berniat mengembalikannya bila tidak memungkinkan.

• Taubat orang khusus, dengan berhenti dari hal-hal yang dimakruhkan Allah, berhenti dari kejelekan yang terlintas dalam pikiran, berhenti dari kelesuan dalam menjalani ibadah dan berhenti dari menjalani ibadah yang tidak sempurna.

• Taubat orang yang sangat khusus, bukan karena kesalahan atau kekurangan yang telah terjalankan tapi karena kesalahan dan kekurangan yang selalu terasakan, dengan taubat ini kian tinggilah maqam dan derajatnya disisi Allah Ta’aalaa. (Tafsiir al-Aluusi II/10)

Kitab Syarah Misykatul Mashobih

قال العارفون : التعبد إما لنيل الثواب ، أو التخلص من العقاب ، وهي أنزل الدرجات ، وتسمى عبادة ؛ لأن معبوده في الحقيقة ذلك المطلوب ، بل نقل الفخر الرازي إجماع المتكلمين على عدم صحة عبادته .

أو للتشرف بخدمته تعالى والانتساب إليه ، وتسمى عبودية ، وهي أرفع من الأولى ، ولكنها ليست خالصة له ،

أو لوجهه تعالى وحده من غير ملاحظة شيء آخر ، وتسمى عبودة ، وهي أعلى المقامات وأرفع الحالات

Ulama’ ahli ma’rifat berkata :

“Beribadah ada kalanya bertujuan untuk mendapatkan pahala atau agar selamat dari siksa, ini adalah derajat ibadan terendah dan dinamakan IBADAH, karena sesungguhnya yang disembahnya secara hakekat adalah tujuan tersebut.Bahkan fakhrur rozi menukil ijma’nya ulama’ kalam bahwa ibadah seperti itu tidaklah sah.

Atau tujuan ibadah adalah agar meraih kemuliyaan dengan berkhidmat kepada Allah ta’ala dan bersandar kepada-Nya, dan ini dinamakan sebagai UBUDIYAH, derajat ini lebih tinggi daripada yang awal,tetapi masih belum murni untuk Allah.

Atau tujuan ibadahnya hanyalah untuk meraih ridho Allah semata tanpa melirik sesuatu lainnya,ini dinamakan UBUDAH,dan ini adalah maqom dan keadaan tertinggi.”

TINGKATAN KEIKHLASAN

Ada orang yang bertanya: Apakah boleh kita membaca waqiah dengan tujuan meraih dunia (kelancaran rizki)? Apakah hal ini tidak termasuk kategori Riya’.

Permasalahan seperti ini bisa saja menggangu pikiran para jamaah. Maka disini meluruskan mengenai definisi riya, ikhlas dan tingkatannya seperti berikut dan selanjutnya anda yang akan menjawab pertanyaan diatas dengan sendirinya.

Dalam Risalah Qusyairiyah disebutkan :

 وقال الفضيل بن عياض رحمه الله تعالى: (ترك العمل من أجل الناس رياء، والعمل

 من أجل الناس شرك، والإخلاص أن يعافيك الله منهما)

[“الرسالة القشيرية” ص95 ـ 96)

 Fudhail bin iyadl Rahimahullah berkata: Meninggalkan Amal karena manusia itu namanya riya’, beramal karena manusia itu namanya syirik dan Ikhlas adalah jika engkau dijauhkan oleh Allah dari keduanya.

Sedang Ibnu Ajibah Rahimahullah berkata ;

 الإخلاص على ثلاث درجات: إخلاص العوام والخواص وخواص الخواص.

 Ikhlas terdiri atas tiga tahapan:

 فإخلاص العوام: هو إخراج الخلق من معاملة الحق مع طلب الحظوظ الدنيوية والأخروية كحفظ البدن والمال وسعة الرزق والقصور والحور. (1)

 Ikhlas awam. yaitu, berbuat karena Allah semata, namun masih menginginkan bagian dunia dan akhirat, seperti kesehatan dan kekayaan –Rizki yang melimpah , juga kemegahan di surga serta bidadari;

 وإخلاص الخواص: طلب الحظوظ الأخروية دون الدنيوية. (2)

Ikhlas Khusus. yaitu, hanya menginginkan bagian akhirat tanpa memperdulikan bagiannya di dunia;

 وإخلاص خواص الخواص: إخراج الحظوظ بالكلية، فعبادتهم تحقيق العبودية والقيامُ بوظائف الربوبية محبة وشوقاً إلى رؤيته، (3)

Ikhlas khawasul khawas. yaitu, melepaskan seluruh keinginan atau bagian kesenangan serta balasan dunia dan akherat, persembahan mereka semata-mata hanya untuk merealisasikan ubudiyah sekaligus melaksanakan hak dan perintah Ke-Tuhanan (Rububiyah), karena cinta dan rindu untuk melihat Allah SWT.

 Dalam kitab minhajul abidin terdapat permasalahan yaitu: Banyak masyayikh yang mengamalkan surat waqiah sewaktu dilanda kesulitan (ayyamul usri), mereka membaca quran yang termasuk amalan akhirat tapi dengan menghendaki harta dunia, apakah tidak termasuk riya’? Imam ghazali menjawab bahwa tujuan mereka adalah dunia yang digunakan untuk kebaikan, mengajarkan ilmu, menolak ahli bid’ah, membela kebenaran, mengajak-ngajak manusia menuju ibadah, dan mempermudah ibadah.

 فَهَذِهِ كُلُّهَا إرَادَاتٌ مَحْمُودَةٌ لَا يَدْخُلُ شَيْءٌ مِنْهَا فِي بَابِ الرِّيَاءِ ؛ إذْ الْمَقْصُودُ مِنْهَا أَمْرُ الْآخِرَةِ بِالْحَقِيقَةِ

Ini semua adalah keinginan / tujuan yang terpuji yang tidak masuk kedalamnya sesuatupun dari unsur riya’. Karena harta dunia (yang dicari dari surat waqiah) hakikatnya adalah berorientasi akhirat. Hal ini berlandaskan pada hadits shohih; “innamal a’mal bin niyyaat ” yang dijabarkan dalam sebuah hadits :

 كم من عمل يتصور بصورة الدنيا فيصير من أعمال الآخرة بحسن النية, وكم من عمل يتصور بصور الآخرة فيصير من أعمال الدنيا بسوء النية

Betapa banyak amal yang berbentuk amal dunia tetapi menjadi amal akhirat karena baiknya niat dan betapa banyak amal yang berbentuk amal akhirat tetapi jadi amal dunia belaka karena jeleknya niat.

TIPS NASIHAT SEKALIGUS KRITIKAN IMAM GHOZALI RAH, BAGI PARA DA’I ATAU MUBALIGH

(KITAB AYYUHAL WALAD)

بسم الله الرحمن الرحيم

Yang kedua dari nasehat yang harus ditinggalkan yaitu kau hendaknya waspada jika kamu menjadi pemberi nasehat dan orang yang mengingatkan (seperti; mubaligh, da’i, penceramah, tokoh agama,-penrj.). Karena di dalam hal tersebut terdapat bahaya yang besar kecuali kamu melaksanakan terlebih dahulu apa yang akan aku sampaikan, barulah kau menasehati sesama. Untuk itu, renungkanlah apa yang telah disampaikan kepada nabi Isa as; “Wahai Putra Maryam, nasihatilah dirimu sendiri dahulu, apabila kau bisa menerima nasihatmu sendiri maka maka baru kau menasehati para manusia, apabila kau belum bisa menerima nasehatmu sendiri, merasa malulah kepada Tuhanmu.”               

الثاني مما تدع هو ان تحذر من ان تكون واعظا ومذكرا لان فيه آفة كثيرة، الا ان تعمل بما تقول اولا ثم تعظ به الناس. فتفكر فيما قيل عيسى عليه السلام: يا ابن مريم عظ نفسك فان اتعظت فعظ الناس والا فاستح من ربك.

Dan jika kau diuji dengan kondisi ini –yakni sudah terlanjur menjadi tokoh, pnerj.) berhati-hatilah pada dua perkara:               

وان ابتليت بهذا العمل فاحترز خصلتين:

Yang Pertama, berhati-hatilah dari takalluf dalam ucapan (yakni omongan yang berbelit-belit, sulit dipahami, dan dibuat-buat.-penerj.) Baiku itu dengan istilah-istilah asing, isyarat-isyarat[1], keanehan-keanehan, bait-bait, dan syair-syair. Karena sesungguhnya Allah ta’ala membenci mutakallif (orang-orang yang mempersulit dan dibuat-buat). Adapun mutakallif  yang melewati batas itu menunjukkan kerusakan batin dan kelalaian pada hatinya.    

الاولى- عن التكلف في الكلام بالعبارات والاشارات والطامات والابياب والاشعار لان الله تعالى يبغض المتكلفين. والمتكلف المتجاوز عن الحد يدل على خراب الباطن وغفلة القلب.

Sedangkan makna dari tadzkir adalah;

>>Mengingatkan hamba pada neraka akhirat.

>>Mengingatkannya kecerobohan diri dalam hal pengabdian seorang makhluk kepada Sang Khaliq.

>>Mengingatkannya pada umurnya yang telah berlalu yang telah dihabiskan untuk perkara yang tidak ada gunanya.

>>Mengingatkannya rintangan-rintangan yang akan dihadapi yakni keimanannya yang tidak selamat di akhir hidupnya.

>>Mengingatkannya bagaimana keadaannya saat (nyawanya) dicabut oleh malaikat maut.

>>Mengingatkannya apakah ia mampu menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir?

>>Mengingatkan kegelisahannya di hari kiamat dan di permberhentian-pemberhentiannya.

>>Dan apakah dia bisa menyeberangi Jembatan (Shirathal Mustaqim) dengan selamat atau dia akan jatuh ke neraka Hawiyah?           

ومعنى التذكير ان يذكر العبد نار الآخرة وتقصير نفسه في حدمة الخلق ويتفكر في عمره الماضي الذي افناه فيما لا يعنيه ويتفكر فيما بين يديه من العقبات من عدم سلامة الايمان في الخاتمة وكيفية حاله في قبض ملك الموت. وهل يقدر على جواب منكر ونكير. ويهتم بحاله في القيامة ومواقفها. وهل يعبر عن الصراط سالما ام يقع في الهاوية.

Menyebutkan hal ini yakni panasnya api neraka dan jeritan-jeritan penderitaan ini disebut tadzkir (mengingatkan).               

ويستمر ذكر هذه النيران ونوحة هذه المصائب يسمى تذكيرا.

Menyiarkan pada makhluk dan memberitahu mereka tentang masalah-masalah tersebut,  memperingatkan atas kecerobohan dan kelalaiannya, memperlihatkan kesalahan-kesalahan mereka. Karena hal tersebut pastilah panasnya api-api neraka ini akan mengenai para pelakunya dan malapetaka itu akan datang mengejutkan kalian. (Ilustrasi-ilustrasi tadi disampaikan) supaya mereka memperbaiki umurnya yang telah lewat dengan sekuat tenaga dan supaya mereka menyesali hari-hari yang telah kosong, (yang hanya berisi) perbuatan dosa pada Allah ta’ala.        

واعلام الخلق واطلاعهم على هذه الاشياء وتنبيهم على تقصيرهم وتفريطهم وتبصيرهم بعيوب انفسهم لتمس حرارة هذه النيران اهل المجلس وتجزعهم تلك المصائب ليتدركوا العمر الماضي بقدر الطاقة ويتحسروا على الايام الخالية في غير طاعة الله تعالى.

Keseluruhan ini berdasarkan cara penyampaiannya disebut dengan wa’dz (nasehat). Seperti halnya apabila kau melihat banjir tiba-tiba datang menuju rumah seseorang yang mana ia dan keluarganya sedang di dalam.              

وهذه الجملة على هذا الطريق يسمى وعظا. كما لو رأيت ان السيل قد هجم على دار احد وكان هو واهله فيها.

Maka kamu akan berkata “Bahaya! Bahaya! Larilah kalian dari banjir!” Apakah dalam situasi seperti ini hatimu ingin memberi tahu pada pemilik rumah dengan ungkapan-ungkapan yang sulit dan dibuat-buat? Dengan makna-makna yang tersembunyi? Dan dengan isyarat-isyarat? Sudah pasti tidak. Begitu juga perilaku wa’idz (pemebri nasehat) sebaiknya menjauhi hal-hal tersebut.     

فتقول الحذر الحذر فروا من السيل. وهل يشتهي قلبك في هذه الحالة ان تخبر صاحب الدار خبرك بتكلف العبارات والنكت والاشارات فلا تشتهي البتة فكذلك حال الواعظ فينبغي ان يجتنبها

DO’A BA’DA SHOLAT FARDLU DAN PENJELASAN BAGAIMANA ADAB KITA DALAM BERDO’A

ADAB BERDOA

Al-Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin, beliau menyebutkan bahwa dalam berdoa itu ada beberapa adab yang harus dijaga, yaitu :

    Hendaklah kita mengamati dan memilih waktu-waktu yang baik dan mulia untuk berdoa. Dengan berdasarkan hadits Rasulullah Imam al-Ghazali dalam Ihya’nya mencontohkan bahwa waktu–waktu yang baik itu adalah seperti hari Arafah, bulan Ramadhan hari Jum’at, dan diwaktu sahur.

    Hendaklah kita mempergunakan kesempatan berdoa pada keadaan–keadaan yang mulia. Dengan berdasarkan hadits Rasulullah pula Imam al-Ghazali mencontohkan dalam kitabnya tersebut bahwa keadaan yang baik adalah seperti ketika berada dalam barisan (shaf) peperangan (jihad fisabilillah), ketika turunnya hujan, antara azan dan iqamat, ketika hari kala kita sedang berpuasa dan ketika berada pada sujud sembahyang.

    Hendaklah kita berdoa dengan menghadap qiblat (Ka’bah), baik berdoa setelah shalat atau pada waktu-waktu lainnya, begitu yang dilakukan Rasulullah kala Beliau berdoa. Adapun jika berdoa setelah shalat fardhu maka menurut Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibariy dalam kitabnya Fat-hul Mu’in, bahwa menghadap qiblat hanya disunatkan bagi selain imam. Adapun bagi imam maka sebaiknya ia berdiri pada tempat ia sembahyang dan menghadap jama’ah jika dari para jama’ah itu tidak terdapat orang perempuan, atau sebaiknya bagi imam berdoa dengan mengarahkan pihak kanannya kearah makmum sedangkan qiblat berada pada pihak kirinya.

    Hendaklah kita berdoa dengan mengangkatkan dua tangan kelangit (keatas). Menurut Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibariy dalam kitabnya Irsyaadil ‘Ibaad bahwa hukum mengangkat dua tangan itu adalah disunatkan bagi selain orang yang sedang sembahyang dan yang sedang berkhutbah, adapun bagi keduanya maka tidak disunatkan mengangkat dua tangan. Dan tangan yang diangkat itu adalah tangan yang dalam keadaan suci dan diangkat sampai sejajar tingginya dengan dua bahu. Adapun tangan yang bernajis menurut Syeikh Sayed Bakri bin Sayed Muhammad Syatha dalam kitab beliau I’anatuth Thaalibin maka hukum mengangkatnya adalah makruh walaupun tangan itu tertutup. Dan jika adalah hal yang didoakan itu merupakan hal yang sangat rumit dan mendesak maka menurut beliau berdasarkan al-Kurdiy bahwa tangan itu diangkat bukan sejajar dengan bahu tapi lebih keatas lagi, sekira-kira tampaklah putih–putih ketiaknya. Menurut Syeikh Syihabuddin Qulyubiy dalam kitab beliau Hasyiyah al-Mahalliy bahwa telapak tangan itu dirapatkan dan sebaiknya dalam keadaan terbuka, artinya telapak tangan tidak ditutup dengan penutup apapun jua. Hal itu kita lakukan sebagai isyarah kita sedang menadah pemberian dan anugerah dari Tuhan, dan dalam keadaan seperti itu maka pandangan mata ditujukan kelangit (keatas), sebagai isyarah kita memperhatikan rahmat Allah yang sedang diturunkan, dan setelah selesai berdoa maka tangan itu disapukan kewajah.

    Hendaklah berdoa dengan suara yang lunak dan sayup. Yang dimaksudkan disini adalah jangan meninggikan suara sampai terdengar oleh orang lain dan jangan pula mengecilkannya sampai tak terdengar pada diri sendiri. Guru besar kita pembangun mazhab Syafi’iy yaitu Muhammad bin Idris asy-Syafi’ie yang dikenal dengan Imam Syafi’iy dalam kitab beliau yang terkenal yaitu al-Um bahwa beliau berkata, “Saya memilih (berpendapat) bahwa disunatkan bagi imam dan makmum apabila telah selesai dari shalat agar mereka berzikir dan berdoa dan hendaknya mereka melakukan itu dengan merendahkan suara, kecuali kalau ia seorang imam yang bermaksud ingin mengajarkan zikir dan doa kepada para jama’ah maka baguslah jika ia membesarkan suaranya sebatas para jama’ah itu belum bisa, adapun jika mereka telah bisa maka suara imam kala berzikir dan berdoa itu harus dikecilkan kembali. Pendapat maha guru kita itu telah diikuti oleh semua murid beliau dan semua penganut mazhab Syafi’ie termasuk Syeikh Zainuddin al-Malibariy dalam kitabnya Fathul Mu’in, dan beliau menambahkan bahwa boleh juga bagi imam untuk membesarkan suara dalam zikir dan doanya jika ia bermaksud agar makmum atau para jama’ah membaca amien untuk doanya tersebut. Dan beliau menyebutkan dalam kitab tersebut, menurut guru beliau Syihabuddin Syeikh Ibnu Hajar al-Haitamiy bahwa terlalu membesarkan suara ketika berzikir dan berdoa didalam mesjid, sekira-kira dapat mengganggu kekhusyukkan orang sembahyang maka membesarkan suara adalah sepantasnya diharamkan.

    Hendaklah kita dalam berdoa tidak membebani diri dengan bersajak. Kecuali pada doa-doa yang pernah diajari oleh Rasulullah, karena do’a yang paling bagus yang kita bacakan adalah do’a–do’a yang diajarkan oleh Rasulullah maka walaupun terdapat sajak didalamnya tapi tidak termasuk membebani diri. Yang dimaksud dengan bersajak ialah membebani diri dengan mencari persamaan kata atau huruf pada akhir kalimat lalu tidak memperhatikan maksud dari doa yang sedang dibaca itu, karena yang dituntut kala berdoa bukan persamaan kata tapi merendah diri dengan hati yang khusyuk dan lidah yang hina.

    Hendaklah keadaan kita dalam berdoa dengan merendah diri dan dengan khusyuk serta bersikap bahwa kita harap dan takut kepada Allah. Menurut Syeikh Jalaluddin al-Mahalliy dalam kitabnya Tafsir al-Jalalaini bahwa yang dimaksud dengan harap adalah bahwa kita dalam berdoa dengan satu kepastian bahwa kita berada dalam rahmat Allah SWT. dan kita pula harus cemas dan takut dari azab-Nya.

    Hendaklah kita mengokohkan doa dengan satu keyakinan bahwa doa itu pasti diperkenankan sebagaimana yang Allah janjikan. Dan hendaklah kita berbaik sangka pada Tuhan dengan membenarkan harapan bahwa doa pasti diterima-Nya. Disebutkan dalam berbagai kitab bahwa “Tuhan akan bersikap terhadap kita hamba menurut sangkaan kita terhadap-Nya, kalau kita menyangka bahwa Tuhan akan berbuat baik pada kita maka kebaikanlah yang diberikan Tuhan bagi kita, dan sebaliknya jika kita beranggapan bahwa yang akan diperbuat Tuhan terhadap kita adalah keburukan maka hal yang terburuklah yang bakal menghimpit kita nantinya. Oleh karena itu maka hendaklah kita dalam berdoa harus dengan satu keyakinan dan rasa percaya bahwa pintu keampunan Allah itu jauh lebih besar dibandingkan dengan dosa–dosa kita. Dan pintu rahmat Allah terbuka lebar bagi siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang mau bertaubat dan mau berdoa pada-Nya. Dan rahmat yang luas itu akan diberikan bagi semua yang memerlukannya dan mau meminta kepada-Nya. Dari satu sisi bahwa kita dihadapan Tuhan harus mengakui kesalahan dan dosa yang kita lakukan dalam sebuah pengakuan yang melambangkan penyesalan bukan kepuasan dan bangga, dan dari sisi lain bahwa kita juga harus mengakui bahwa keampunan Allah SWT. jauh lebih besar dari sebesar apapun dosa-dosa kita.

    Hendaklah kita berdoa dengan penuh kesungguhan dan mengulang–ulang doa itu sampai tiga kali.

    Hendaklah kita memulai doa dengan menyebut nama Allah dan memuji kehebatan dan kebesaran-Nya apakah dalam bentuk Basmalah, Hamdalah, atau Zikir–Zikir lain yang sifatnya merupakan bentuk sanjungan kita kepada Allah SWT. setelah memuji Allah SWT. maka kita membaca shalawat kepada Rasul-Nya Nabi Muhammad SAW. Hal ini mengandung pengertian bahwa janganlah kita dalam berdoa menuju lansung pada permohonan dan permintaan, tapi berikan dulu kata-kata sanjungan dan pujian akan kebesaran Tuhan dan kemurahan-Nya. Tidakkah kita memperhatikan pengajaran Allah SWT. pada surat al-Fatihah, bahwa dalam surat tersebut sesungguhnya Allah SWT. mengajarkan kita akan cara berdoa kepada-Nya dengan firman-Nya. “Berikan Kami Jalan Yang Lurus. Yaitu Jalan Yang Telah Engkau Berikan Bagi Mereka, Yang Tidak Adalah Mereka Itu Dimurkakan Dan Tidak Pula Dalam Kesesatan.

    Doa tersebut tertulis setelah kata-kata pujian dan sanjungan terhadap dirinya pada ayat sebelumnya dengan firman-Nya “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Segala Jenis Puji-Pujian Itu Hanyalah Hak Istimewa Bagi Allah Pemilik Alam Jagat Raya. Yang Pengasih Dan Penyayang. Yang Merupakan Raja Pada Hari Kiamat. Hanya Engkau Yang Kami Sembah Dan Hanya Kepada Engkau Pula Kami Mohon Pertolongan”.

    Hendaklah kita berdoa dengan memelihara adab bathiniyah. Adab inilah yang merupakan pangkal dan modal agar doa kita diterima oleh Allah SWT.

ADAB BATHINIYAH DAN HAKIKAT TAUBAT

Guru kita Imam Abdullah Ba’lawiy al-Haddad dalam kitab beliau an-Nashaih ad-Diniyyah wal Washaayaa al-Imaniyyah (Nasehat–Nasehat Agama Dan Wasiat Keimanan) beliau mengatakan;

“Bahwa Rasulullah SAW. menganjurkan agar dalam berdoa kita harus dengan keyakinan bahwa doa kita pasti diterima Allah SWT. dan segala apa yang kita minta kepada Allah bukan merupakan masalah yang sepele tapi seluruhnya merupakan sesuatu yang besar dalam artian bahwa segalanya itu tidak mungkin terjadi kalau Allah tiada menghendaki, dan doa yang kita ucapkan mestilah doa yang pasti maka janganlah berdoa dengan mengatakan “Ya Allah Ampunkanlah dosa ku jika engkau mau”. Tapi hendaklah kita berdoa dengan satu kepastian dan berbesarlah harapan bahwa doa kita bakal diqabulkan Tuhan. Dan ketika berdoa hendaklah hati kita menyatu dengan apa yang diucapkan oleh lidah dengan perasaan takut pada Tuhan atas kesalahan yang pernah kita lakukan dan loba kita akan penerimaan doa oleh Tuhan dengan kemurahan dan kasih sayang serta benar janjinya.

Sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Allah yang selalu hidup dan maha mulia itu malu kepada hamba yang apabila sihamba tersebut mengangkatkan dua tangannya dan berdoa tapi Allah SWT. menolaknya”.

Al-Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin telah berkata bahwa untuk tercapai adab yang bathiniyah maka harus dengan “Bertaubat dari semua kesalahan dan dosa dengan Tuhan atau dengan sesama insan dan makhluq lainnya.

Menurut ‘Allaamah Syaikhul Islam Ibrahim al-Baijuriy dalam kitabnya Tahqieqil Maqam ‘Ala Kifayatul ‘Awam, adalah hakikat taubat ialah:

عِبَارَةٌ عَنِ اْلإِقْلاَعِ مِنَ الذَّنْبِ, وَالنَّدْمِ, وَالْعَزْمِ عَلىَ أَنْ لاَ يَعُوْدَ إِلىَ مِثْلِ الذَّنْبِ الَّذِيْ وَقَعَ فِيْهِ.

Yaitu : Mencabut diri dari dosa dan kemaksiatan. Menyesali atas kesalahan. Bercita-cita dengan satu kepastian untuk tidak kembali lagi pada kesalahan dan dosa yang pernah dikerjakan.

SYARAT – SYARAT SAH TAUBAT

Masih Menurut ‘Allaamah Syaikhul Islam Ibrahim al-Baijuriy dalam kitabnya yang tersebut diatas bahwa adalah syarat sahnya itu sebagai berikut:

    Taubat itu dilakukan sebelum Ghar-Gharah yaitu sebelum nafas sampai dikerongkongan. Ini merupakan syarat taubat yang umum dan mencakupi bagi orang kafir dan mukmin yang ‘ashiy (maksiat).

    Taubat itu dilakukan sebelum matahari keluar dari tempat ia terbenam di arah Barat, karena keadaan seperti ini memberi satu pengertian pintu taubat telah tertutup buat semua makhluq yang ada.

    Mencari dan meminta kema’afan dari para hamba Tuhan (manusia) jika dosa yang dilakukan itu ada kaitannya dengan mereka, caranya adakala dengan mengembalikan hak mereka atau meminta kepada mereka akan kebebasan dari hak-hak tersebut. Untuk dosa mengupat maka hal ini kita lakukan bila apa yang kita ucapkan itu telah sampai ketelinga orang yang kita upat. Dan jika belum sampai maka hal ini tidak diperlukan karena hanya akan menimbulkan sakit hati mereka kepada kita, tapi taubatnya cukuplah dengan berIstighfar untuknya, andaikan kelak apa yang kita upat itu pun sampai ketelinga mereka sedangkan kita telah berIstighfar untuk mereka maka hal itu sudah tidak mengapa lagi karena ketika berita noda itu sampai pada mereka adalah berita yang sudah terhapus nodanya. Dan begitu pulalah dosa zina, ada satu pendapat yang mengatakan bahwa kita harus minta ma’af pada orang yang bertanggung jawab atas perempuan yang kita zinahi itu, apakah itu suaminya, bapaknya atau kakeknya. Tapi hal ini akan berakibat fatal dan sangat riskan karena bisa menimbulkan keburukan dan fitnah ataupun pembunuhan. Dan menurut pendapat yang lain dan inilah pendapat yang ada mashlahat, untuk taubatnya cukuplah antara kita dengan Allah jadi tak perlu minta ma’af pada manusia.

SEPULUH PERKARA YANG MEMATIKAN HATI

Diceritakan didalam kitab Majaalis as-Saniyah karangan ‘Allamah Syaikh Ahmad bin Syaikh Hijaziy al-Fasyniy bahwa pada suatu hari disatu masa ada seorang Ulama Sufi di negeri Irak yang bernama Abu Ishaq Syeikh Ibrahim bin Adham. Pada satu ketika Beliau berjalan di pusat kota Basrah Irak, tiba-tiba masyarakat kota itu berkumpul dengan Beliau dan mereka berkata, ” Wahai Abu Ishaq! Kami sudah sangat lama sekali berdoa tapi doa kami tampaknya belum juga diterima Allah, gerangan apa yang telah terjadi wahai Aba Ishaq?. Maka Abu Ishaq Syeikh Ibrahim bin Adham menjawab sesuai dengan keberadaannya sebagai seorang Ulama Sufi, beliau berkata “Doa kalian tidak diterima Tuhan karena hati kalian telah mati”.

Hati itu bisa mati disebabakan oleh 10 perkara, yaitu :

    Kalian mengenal Allah tapi kalian tidak menunaikan hak-Nya.

    Kalian mendakwakan bahwa kalian mencintai Rasulullah SAW. tapi kalian meninggalkan sunnahnya.

    Kalian membaca al Qur-an tapi kalian tidak mengamalkan isinya.

    Kalian makan nikmat Allah SWT. tapi kalian tidak mensyukuri nikmat tersebut.

    Kalian mengatakan bahwa syaithan adalah musuh kalian tapi kalian bergabung dengannya dan tidak pernah berselisih dengannya.

    Kalian mengatakan bahwa syurga itu pasti ada tapi kalian tidak beramal untuk mendapatkannya.

    Kalian mengatakan bahwa neraka itu pasti ada tapi kalian tidak pernah lari dari padanya.

    Kalian mengatakan bahwa kematian itu adalah sesuatu yang pasti tapi kalian tidak mengadakan persiapan untuk menghadapinya.

    Kalian terbangun dari tidur maka kalian pun sibuk memeriksa keaiaban yang ada pada orang lain sementara keaiban yang ada pada diri kalian itu terabaikan.

    Kalian menguburkan jenazah tapi tidak mengambil contoh dan pelajaran dari padanya.

SEJARAH KAUM-KAUM YANG TIDAK DITERIMA DOA DAN PENYEBABNYA

    ‘Allamah Syaikh Ahmad bin Syaikh Hijaziy al-Fasyniy dalam kitabnya Majaalis as-Saniyah menceritakan telah berkata Wahab bin Munabbah (seorang ulama yang ahli sejarah), bahwa beliau pernah mendengar suatu kisah yang terjadi dizaman Nabi Musa As. “Suatu hari Nabi Musa As. berjalan-jalan, dan tiba-tiba beliau melihat seorang laki-laki yang sedang berdoa dengan merendah diri, yang kelihatannya silaki-laki tersebut sudah sangat lama melakukan hal seperti itu sampai mengundang perhatian Nabi Musa. Lalu Nabi Musa menadahkan tangan dan bermunajah pada Tuhan, Nabi Musa berkata, “Ya Allah! Apakah Engkau belum mengabulkan do’a laki-laki itu? Allah pun berfirman, “Wahai Musa, sesungguhnya, andaipun orang laki-laki itu menadahkan tangannya sampai kelangit untuk berdo’a, dan andaipun ia menangis sampai hilang nyawanya agar doanya diterima, namun Aku tidak akan mengabulkan permintaannya”. Nabi Musa bertanya, Ya Tuhan! Mengapa sampai demikian? Allah berfirman, “Wahai Musa, karena dalam perutnya ada yang haram, pada badannya ada yang haram, dan dalam rumahnya pun ada yang haram”.

    Al-Hujjatul Islam Imam al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin menceritakan ada satu riwayat bahwa Ka’ab al-Ahbar (seorang ahli sejarah) pernah bercerita, “Tertimpa kemarau panjang pada satu kaum dizaman Nabi Musa, maka Nabi Musa bersama para umatnya kaum Bani Israil pun keluar kesatu tempat untuk berdoa agar Allah menurunkan hujan, namun hujan tidak juga turun. Nabi Musa dan Kaumnya melakukan hal ini sampai tiga kali tapi hujan tetap belum terjadi, sampai akhirnya Allah SWT. berkata kepada Nabi Musa, Wahai Musa! Sungguh Aku tak akan menerima doamu dan doa ummatmu, karena dalam kumpulan umatmu yang sedang berdoa kepadaku ada seorang yang suka namimah (membawa berita bohong dengan tujuan menghancurkan /tukang fitnah). Nabi Musa menyembah dan berkata, siapakah dia Ya Tuhanku, biar kami keluarkan dari kelompok kami ini. Lalu Allah berfirman, wahai Musa tak mungkin aku tunjukkan kepadamu siapa orangnya, bukankah aku melarang kalian untuk namimah dan mengapa engkau meminta aku bersifat namimah dengan meminta kepadaku untuk menunjukkan pelaku namimah yang ada diantara kamu. Akhirnya Nabi Musa pun mengambil satu alternatif dan berkata kepada umatnya, wahai para umatku sekalian, siapa diantara kalian yang memiliki sifat namimah maka bertaubatlah, maka yang merasa ada bersifat dengan sifat namimah pun bertaubat, alhasil akhirnya Allah SWT. pun menurunkan hujan.

    Al-Hujjatul Islam Imam al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin menceritakan; Sufyan ats-Tsuriy berkata, telah sampai kepadaku satu berita yang terjadi pada kaum Bani Israil, selama tujuh tahun mereka mengalami kemarau panjang sehingga mereka memakan bangkai dan anak – anak mereka yang masih kecil. Maka keluarlah mereka kegunung-gunung seraya menangis dan merendah diri, maka Allah SWT. mewahyukan kepada para Nabi mereka, “Andai pun kalian berjalan kepadaku dengan telapak kaki kalian sehingga lutut–lutut kalian terlepas dari sendinya, atau sehingga tangan–tangan kalian sampai kepenjuru langit, dan lidah–lidah kalian sampai tidak jelas lagi dalam berdoa kepadaku, namun aku tidak akan memperkenankan doa kalian, dan aku tak akan mengasihani terhadap tangis dan jerit kalian kalau masih ada diantara kalian yang belum mengembalikan sesuatu yang dizalimi kepada pemiliknya. Lalu mereka mengerjakannya dan hujan pun turun pada hari itu juga.

ANTARA DIAM DAN DOA

Dalam Risalah al-Imam Abu Qaasim al-Qusyairiy ra. beliau berkata bahwa ada perbedaan pendapat para ulama tentang apakah doa lebih baik dari pada diam? Atau diam itu lebih baik dari pada berdoa? Pendapat yang pertama mengatakan bahwa berdoa itu ibadah, hal ini berdasarkan kepada sabda Rasulullah yang mengatakan demikian dalam haditsnya, dan karena dengan berdoa maka seseorang telah menampakkan ketergantungannya kepada Allah SWT. dan betapa ia sangat memerlukan Allah. Dengan kata lain menurut pendapat ini adalah berdoa itu lebih bagus dari pada diam.

Pendapat yang kedua mengatakan bahwa diam itu lebih bagus dari berdoa, karena hal ini dapat menunjukkan seseorang pada bersikap pasrah dan menerima qadha dan hukum Tuhan, karena memang segala sesuatu itu sudah ada ketentuannya dari Tuhan. Dan pendapat yang ketiga mengatakan sebaiknya bagi seseorang hendaklah ia berdoa dengan lidahnya dan dia terima hukum Tuhan dalam hati nya. Pendapat yang ketiga ini tampaknya ingin menyatukan perbedaan antara pendapat pertama dan kedua yang saling mengklaim hanya satu yang terbaik. Tapi pendapat ketiga menyimpulkan bahwa antara diam dan doa itu sama.

Lain halnya dengan Abu Qaasim al-Qusyairiy ra. Beliau berpendapat bahwa antara diam dan doa itu ada waktunya masing-masing yang ada kalanya sewaktu-waktu berdoa itu lebih baik dan pada waktu lain barangkali diam itu yang lebih baik. Maka bila ada suatu gejala dalam hati yang mengarahkan kita agar berdoa maka pada waktu itu adalah berdoa itu lebih baik. Dan jika gejala menunjuki bahwa kita tak perlu berdoa maka kala itu adalah diam terlebih baik.

Doa Sesudah Shalat

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ, اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ عَلىَ كُلِّ حَالٍ حَمْدًا يُوَافىِ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ, يَارَبَّنَا لَكَ اْلحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِى لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ, اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى آَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, اَللَّهُمَّ لَكَ اْلحَمْدُ وَإِلَيْكَ اْلمُشْتَكَى وَبِكَ اْلمُسْتَغَاثُ وَاَنْتَ اْلمُسْتَعَانُ وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَتُوْبُ إِلَيْكَ مِنَ اْلمَعَاصِى لاَ نَرْجِعُ إِلَيْهَا أَبَدًا, اَللَّهُمَّ مَغْفِرَتُكَ أَوْسَعُ عَنْ ذُنُوْبِنَا وَرَحْمَتُكَ نَرْجَى عِنْدَنَا مِنْ أَعْمَالِنَا, اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ رِضَاكَ وَاْلجَنَّةَ وَنَعُوْذُبِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ اْلهُدَى وَالتُّقَى وَاْلعَفَافَ وَاْلغِنىَ, اَللَّهُمَّ اَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فىِ اْلأُمُوْرِ كُلِّهَا وَاَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلآخِرَةِ, اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ اَهْلِ السَّعَادَةِ وَاْلوِدَادِ وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنْ اَهْلِ الشَّقَاوَةِ وَاْلِعنَادِ, اَللَّهُمَّ اِنَّكَ تَعْلَمُ سِرَّنَا وَعَلاَنِيَتَنَا فَاقْبَلْ مَعْذِرَتَنَا وَتَعْلَمُ حَاجَاتَنَا فَأَعْطِنَا سُؤَلَنَا وَتَعْلَمُ مَا فىِ اَنْفُسِنَا فَاغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا اِنَّكَ اَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ إِيْمَانًا يُبَاشِرُ قُلُوْبَنَا وَيَقِيْنًا صَادِقًا حَتَّى نَعْلَمَ اَنَّهُ لَنْ يُصِيْبَنَا إِلاَّ مَا كَتَبْتَهُ عَلَيْنَا وَالرِّضَا بِمَا قَسَمْتَهُ لَنَا يَاذَااْلجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ, اَللَّهُمَّ اَرِنَا اْلحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَاَرِنَا اْلبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ, اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا وَآَمِنْ رَوْعَاتِنَا وَاَقِلَّ عَثَرَاتِنَا وَاحْفَظْنَا مِنْ بَيْنَ أَيْدِيْنَا وَمِنْ خَلْفِنَا وَعَنْ أَيْمَانِنَا وَعَنْ َشمَآئِلِنَا وَمِنْ فَوْقِنَا وَنَعُوْذُبِكَ أَنْ نُغْتَالَ مِنْ تَحْتِنَا, اَلَّلهُمَّ بِعِلْمِكَ اْلغَيْبِ وَقُدْرَتِكَ عَلىَ اْلخَلْقِ أَحْيِنَا مَا كَانَتِ اْلحَيَاةُ خَيْرًا لَنَا وَتَوَفَّنَا مَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لَنَا, اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ اْلإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ, اَللَّهُمَّ إِنَّكَ أَمَرْتَنَا بِدُعَآئِكَ وَوَعَدْتَنَا إِجَابَتَكَ وَقَدْ دَعَوْنَاكَ كَمَا أَمَرْتَنَا فَأَجَبْنَاكَمَا وَعَدْتَنَا, اَللَّهُمَّ فَامْنُنْ عَلَيْنَا بِمَغْفِرَةٍ مَا قَارَفْنَا وَإِجَابَتَكَ فىِ سُقْيَانَا وَسِعَةَ َرِزْقِنَا, اَللَّهُمَّ امْنُنْ عَلَيْنَا بِصَفَاءِ اْلمَعْرِفَةِ وَهَبْ لَنَا تَصْحِيْحَ اْلمُعَامَلَةِ فِيْمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ عَلىَ السُّنَّةِ وَارْزُقْنَا صِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ وَحُسْنَ ظَنِّ بِكَ, وَامْنُنْ عَلَيْنَا بِكُلِّ مَا يُقَرِّبُنُا إِلَيْكَ مَقْرُوْنًا بِعَوَافىِ الدَّارَيْنِ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ, اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلىَ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ, اَللَّهُمَّ يَا مُحَوِّلَ اْلأَحْوَالِ حَوِّلْ حَالَنَا إِلىَ أَحْسَنِ حَالٍ بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ يَاعَزِيْزٌ يَامُتَعَالٍ, اَللَّهُمَّ أَعْطِنَا رِضَاكَ فىِ الدُّنْيَا وَاْلآَخِرَةِ وَاخْتِمْ لَنَا باِلسَّعَادَةِ وَالَّشهَادَةِ وَاْلمَغْفِرَةِ, اَللَّهُمَّ أَظِلَّنَا فىِ ظِلِّكَ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّكَ وَاسْقِنَا بِكَأْسِ ُمحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَرَابًا هَنِيْئًا لاَ نَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدًا يَا ذَا اْلجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِو اَللَّهُمَّ اخْتِمْ بِالسَّعَادَةِ آَجَالَنَا وَحَقِّقْ بِالزِّيَادَةِ آَمَالَنَا وَاَقْرِنْ بِاْلعَافِيَةِ غُدُوَنَا وَآَصَالَنَا وَاجْعَلْ إِلىَ رَحْمَتِكَ مَصِيْرَنَا وَمَآلَنَا وَاصْبُبْ سَجَالَ عَفْوِكَ عَلىَ ذُنُوْبَنَا وَمَنْ عَلَيْنَا بِإِصْلاَحِ عُيُوْبِنَا وَاجْعَلِ التَّقْوَى زَادَنَا وَفىِ دِيْنِكَ اجْتِهَادَنَا وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَاعْتِمَادَنَا, وَثَبِِّتْنَا عَلَى نَهْجِ اْلإِسْتِقَامَةِ وَأَعِذْنَا فىِ الدُّنْيَا مِنْ مُوْجِبَاتِ النَّدَامَةِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ وَخَفِّفْ عَنَّا ثَقْلَ اْلأَوْزَارِ وَاْرْزُقْنَا عَيْشَ اْلأَبْرَارِ وَاكْفِنَا وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ اْلأَشْرَارِ وَأَعْتِقْ رَقَابَنَا وَرَقَابَ آَبَآئِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَوْلاَدِنَا وَاِخْوَانِنَا وَعَشِيْرَتِنَا وَأَصْحَابِنَا وَأَحْبَابِنَا مِنَ النَّارِ بِرَحْمَتِكَ يَاعَزِيْزُ يَاغَفَّارُ يَاسَتَّارُ يَاحَلِيْمُ يَاجَبَّارُ, اَللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَزِدْنَا عِلْمًا, اَللَّهُمَّ الْطُفْ بِنَا فىِ تَيْسِيْرِ كُلِّ عَسِيْرٍ فَإِنَّ تَيْسِيْرَ كُلِّ عَسِيْرٍعَلَيْكَ يَسِيْرٍ وَنَسْئَلُكَ الْيُسْرَى وَاْلمُعَافَاةَ فىِ الدُّنْيَا وَاْلآَخِرَةِ, اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الِّنفَاقِ وَاَعْمَالَنَا مِنَ الِّريَآءِ وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَأَعْيُنَنَا مِنَ اْلخِيَانَةِ فَإِنَّكَ تَعْلَمُ اْلخَائِنَةَ اْلاَعْيُنِ وَماَ تُخْفِي الصُّدُوْرُ, اَللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَناَ ذَنْباً إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَجْتَهُ وَلاَ دَيْناً إِلاَّ قَضَيْتَهُ وَلاَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْياَ وَاْلآَخِرَةِ إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ, اَللَّهُمَّ ارْحَمْناَ بِالْقُرْآَنِ وَاجْعَلْهُ لَناَ إِمَامًا وَنُوْرًا وَهُدًى وَرَحْمَةً, اَللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نَسِيْنَا وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا وَارْزُقْنَا تِلاَوَتَهُ أَنآَءَ الَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ وَاجْعَلْهُ لَنَا حُجَّةً يَارَبَّ اْلعَالَمِيْنَ, اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَناَ دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَناَ دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَناَ آَخِرَتَنَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَناَ فيِ كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ اْلمَوْتَ رَاحَةً لَناَ مِنْ كُلِّ شَرٍّ, اَللَّهُمَّ اهْدِنَا بِالْهُدَى وَنَقِّنَا بِالتَّقْوَى وَاغْفِرْلَنَا فيِ اْلآَخِرَةِ وَاْلأُوْلى, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُبِكَ مِنْ جُهْدِ الْبَلآَءِ وَدَرْكِ الشِّقَآءِ وَسُوْءِ اْلقَضَآءِ وَشَمَاتَةِ اْلأَعْدَآءِ, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَقَلْبٍ لاَيَخْشَعُ وَدُعَآءٍ لاَيُسْمَعُ وَنَفْسٍ لاَتَشْبَعُ. وَنَعُوْذُبِكَ مِنَ اْلجُوْعِ فَإِنَّهُ بِئْسَ الضَّجِيْعُ وَمِنْ اْلخِيَانَةِ فَإِنَّهَا بِئْسَتِ الْبِطَانَةُ وَ مِنَ اْلكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَاْلهَرَمِ وَمِنْ أَنْ نُرَدَّ إِلىَ أَرْذَلِ اْلعُمُرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَعَذَابِ اْلقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَاْلمَمَاتِ, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُبِكَ مِنَ اْلهَمِّ وَاْلحَزْنِ وَنَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسْلِ وَنَعُوْذُبِكَ مِنَ اْلجُبْنِ وَالْفَشْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ, رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ أَنْتَ وَلِيٌّ فىِ الدُّنْيَا وَاْلآَخِرَةْ تَوَفَّنَا مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنَا بِالصَّالِحِيْنَ أَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ. وَاكْتُبْ لَنَا فىِ هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفىِ اْلآَخِرَةِ إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ اْلمَصِيْرُ, اَللَّهُمَّ اجْعَلْ آَخِرَ كَلاَمِنَا مِنَ الدُّنْيَا عِنْدَ انْتِهَآءِ آَجَالِنَا قَوْلَ لآَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ, اَللَّهُمَّ كَمَا أَحْيَيْتَنَا عَلَيْهَا فَأَمِتْنَا عَلَيْهَا غَيْرَ مَفْتُوْنِيْنَ وَ لاَ ضَآلِّيْنَ وَلاَ مُضِلِّيْنَ وَلاَ مُغَيِّرِيْنَ وَلاَ مُبَدِّلِيْنَ وَأَنْتَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ وَاهْدِنَا إِلَى صِرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْدِعُكَ اَدْيَانَنَا وَأَبْدَانَنَا وَأَنْفُسَنَا وَأَمْوَالَنَا وَأَهْلَنَا وَكُلَّ شَيْئٍ أَعْطَيْتَنَا, اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ فِي كَنَفِكَ وَأَمَانِكَ وَعِيَاذِكَ وَجِوَارِكَ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَذِيْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ ذِيْ شَرٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٍ, اَللَّهُمَّ جَمِّلْنَا بِالْعَافِيَةِ وَالسَّلاَمَةِ وَحَقِّقْنَا بِالتَّقْوَى وَاْلإِسْتِقَامَةِ وَأَعِذْنَا مِنْ مُوْجِبَاتِ النَّدَامَةِ فِي الْحَالِ وَالْمَالِ إنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَآءِ, رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظَّاِلمِيْنَ رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ اْلعَزِيْزُ اْلحَكِيْمُ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَإِسْرَافَنَا فىِ أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلىَ اْلقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ, رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَ بِاْلإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فىِ قُلُوْبِنَا غِلاً لِّلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَؤُوْفُ الرَّحِيْمِ, رَبَّنَا آَتِنَا مِنْ لَدُنْك َرَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا, رَبَّناَ ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ, رَبَّناَ ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيْرًا كَبِيْرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْلَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنَا إِنَّكَ أَنْتَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ, رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَـنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ, رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ اْلفَاتِحِيْنَ, رَبَّنَا أَوْزِعْنَا أَنْ نَشْكُرَ بِنِعْمَتِكَ الَّتِيْ اَنْعَمْتَ عَلَيْنَا وَعَلىَ وَالِدَيْنَ وَأَنْ نَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لَناَ فيِ ذُرِّيَتِنَا أَنَّا تُبْنَا إِلَيْكَ وَإِنَّا مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ, رَبَّنَا آَتِنَا فىِ الدُّنْيَا حَسَنَةٍ وَفىِ اْلآخِرَةِ حَسَنَةٍ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَآئَنَا كَمَا تَقَبَّلْتَ دُعَآءَ رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عليه وَسَلَّمَ, رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ, وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آَلِهِ وَصِحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلِعزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ, وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَاَلمِيْنَ.

TA’DZIM DAN MENJAGA ADAB KEPADA GURU ADALAH KUNCI FUTUH SANG MURID

Al Imam Al Quthub Alhabib Ali bin Hasan al Atthas pengarang kitab “Syarah Ratib Alattas” radhiyallah anhu pernah mengatakan :

ﺍﻥ ﺍﻟﻤﺤﺼﻮﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﻔﺘﺢ ﻭﺍﻟﻨﻮﺭ ﺍﻋﻨﻲ ﺍﻟﻜﺸﻒ ﻟﻠﺤﺠﺐ، ﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﺍﻻﺩﺏ ﻣﻊ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻭﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻛﺒﺮ ﻣﻘﺪﺍﺭﻩ ﻋﻨﺪﻙ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻚ ﺫﺍﻟﻚ ﺍﻟﻤﻘﺪﺍﺭ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺷﻚ.

“Memperoleh ilmu, futuh dan cahaya (maksudnya terbukanya hijab2 batinnya), adalah sesuai dg kadar adabmu bersama gurumu. Kadar besarnya gurumu di hatimu, maka demikian pula kadar besarnya dirimu di sisi Allah tanpa ragu. ”

(al Manhaj as Sawiy, hal. 217).

Oleh karena itu diceritakan bahwa Al -Imam Nawawi ra ketika hendak belajar kepada gurunya, beliau selalu bersedekah di perjalanan dan berdoa,

“Ya Allah, tutuplah dariku kekurangan guruku, hingga mataku tidak melihat kekurangannya dan tidak seorangpun yg menyampaikan kekurangan guruku kepadaku “(Lawaqih al Anwaar al Qudsiyyah, hal, 155)

Dan beliau juga pernah mengatakan dalam kitab At Tahdzibnya :

ﻋﻘﻮﻕ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪﻳﻦ ﺗﻤﺤﻮﻩ ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ ﻭﻋﻘﻮﻕ ﺍﻻﺳﺘﺎﺫﻳﻦ ﻻ ﻳﻤﺤﻮﻩ ﺷﻲﺀ ﺍﻟﺒﺘﺔ.

“Durhaka kepada orang tua dosanya bisa terhapus oleh taubat, tapi durhaka kepada gurumu tidak ada satupun yg dapat menghapusnya “.

Al Imam Al Quthub Al Habib Abdullah bin Alwi al Haddad ra juga mengatakan,

“Paling bahayanya bagi seorang murid, adalah berubahnya hati gurunya kepadanya. Seandainya seluruh wali dari timur dan barat ingin memperbaiki keadaan si murid itu, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah ridha kembali “_.

(Adaab Suluk al Murid, hal, 54).

Diceritakan bahwa ada seorang santri yg tengah menyapu tempat belajar milik gurunya, tiba2 Nabi Khidir datang kepadanya.

Maka santri tersebut tidak sedikitpun menoleh dan mengajak bicara kepada Nabi Khidhir.

Lalu Nabi Khidhir pun berkata kepadanya, “Hai santri apakah engkau tidak mengenalku ?”

Santri itu menjawab, ” Iya aku mengenalmu, engkau adalah Abul Abbas al Khidhir ”

Maka Nabi Khidhir berkata kembali, “Mengapa kamu tidak meminta sesuatu dariku ?”

Santri itu menjawab, “Guruku sudah cukup bagiku, sehingga tidak lagi tersisa satu hajatpun kepadamu “.

(Kalam al Habib Idrus al Habsyi, hal, 78).

Kaitannya dg hal ini Alimam Alquthub AlHabib Abdullah bin Alwi al Haddad ra berkata,

“Tidak sepatutnya bagi penuntut ilmu mengatakan pada gurunya,Perintahkan aku ini, berikan aku ini”.Karena itu sama saja menuntut untuk dirinya. Tapi sebaiknya dia seperti mayat di hadapan orang yg memandikannya.”

(Ghoyah al Qashd wa al Murad, jilid 2, hal 177).

Para ulama ahli hikmah mengatakan :

“Barangsiapa yang mengatakan ” kenapa ?” Kepada gurunya, maka dia tidak akan bahagia selamanya ”

(Al Fataawa al Hadiitsiyyah : 56).

Para ulama hakikat mengatakan :

“Tujuh puluh persen ilmu itu diperoleh karena faktor kuatnya hubungan (batin,adab dan baik sangka antara murid dengan gurunya ”

Saudaraku, keterangan di atas adalah nasihat, koreksi dan peringatan kepada kita semua agar senantiasa memuliakan guru. Jangan sampai kita mengecewakan atau bahkan jangan sampai berani (menjelek-jelekkan) kepadanya. Naudubillah..!

Semoga kita semua dijadikan oleh Allah Swt sebagai murid dan santri yang baik, taat, patuh, dan mendapat berkah serta ridho dari guru kita, sehingga kita akan mendapatkan barokah dan kemudahan dalam hidup kita, Aamiin…

Wallahu a’lam

HIKMAH MENCINTAI PARA ULAMA SEBAGAI WAROSATUL ANBIYA

Sayyidina Abubakar RadhiAllahu anhu selalu mengiringi Rasulullah Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wasallam berjalan pulang bersama setelah menunaikan sholat isya berjamaah.. dan mereka berpisah ketika nabi masuk rumahnya.. Dan terkadang berpisah sejenak sangatlah terasa berat bagi Abubakar, beliau duduk didepan pintu rumah nabi hingga fajar tiba !!! Rasulullah keluar dari rumah untuk sholat subuh dan Abubakar berangkat bersama orang terkasihnya lagi, nabi bertanya, “kenapa sampai demikian duhai Abubakar?”. Dan Abubakar menjawab ,

قرة عينى بك يا رسول الله

“qurratu ‘ayni bika ya Rasulullah”

(engkau adalah segala penghias dan pengobat rindu bagi mataku, wahai Rasulullah)

Bagi kita yang tak pernah tahu bagaimana rupa Rasulullah Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wasallam cukuplah berkumpul dan menatap para auliya atau ulama, Imam Hasan Al Basri berkata:

سأل رجل الحسن البصري فقال يا إمام دلني على عمل يقربني الى الله ويدخلني الجنه . قال احب احد أولياءه عسى الله ان يتطلع إلى قلبه فيجد اسمك مكتوب فيه فيدخلك معه الجنه

Seseorang bertanya kepada Imam Hasan Al Basri “wahai Imam hasan katakan amalan apa yang bisa membuat aku dekat dengan Allah dan menyelamatkan diriku ditempat terbaik di yaumil akhir (jannah) dan imam Hasan menjawab “cintailah para auliya atau ulama (orang yang dekat dengan Allah) dan berharap ketika Allah menatap hati para kekasihnya itu dan disana tertulis namamu, dan itu akan membuat Allah membiarkan engkau bersama mereka di tempat terbaik Nya” In syaa Allah, Aamiin .

Mencintai Ulama dan Anjuran Untuk Memuliakannya

Kuncup cinta tak boleh layu. Deburan asmara mesti menggebu. Rasa cinta adalah fitrah. Cinta ulama mengais berkah. Penting bagi kita semua untuk menggali pembahasan tentang Mencintai Ulama dan Memuliakannya. Hal ini agar kita lebih mampu mendekatkan diri pada Sang Maha Kuasa melalui jalan ilmu. Jalannya orang-orang yang diridloi oleh Allah SWT.

Siapa Ulama?

Ulama adalah orang-orang yang berjuang di jalan Agama melalui ilmu. Mereka adalah orang-orang yang mewarisi Nabi dalam menjaga dan mensyiarkan ilmu agama. Mensyiarkan pengetahuan pada umat agar tetap berpegang pada kebenaran diatas Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Ulama berperan mendidik dan mengajarkan ilmu-ilmu kepada umat agar mereka berilmu dalam beramal. Sebab keimanan, ucapan, dan perbuatan apabila dilakukan tanpa disertai dengan ilmu maka semuanya malah bisa menjadi pedang yang menghunus, baik terhadap orang lain maupun diri sendiri. Pemahaman dalam urusan agama harus menjadi pendalaman yang mendarah daging. Apalagi ketika kita dihadapkan pada berbagai kewajiban yang menuntut kita untuk mengetahui ilmunya.

Mengapa Harus Mencintai dan Memuliakan Ulama?

Allah SWT Berfirman:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِماً بِالْقِسْطِ

“Allah menyatakan bahwasannya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. (juga menyatakan yang demikian itu) para Malaikat dan orang-orang yang berilmu..” (QS.  Ali-Imran: 18).

Dalam ayat diatas, Allah SWT memulai dengan menyebut nama-Nya Yang Agung. Setelah itu dilanjutkan dengan menyebut malaikat lantas kemudian pada para ahli ilmu. Hal ini menunjukan kemuliaan dan keutamaan para ahli ilmu disisi Allah SWT. Oleh sebab itu tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mencintai para ulama sebagai bagian dari ahli ilmu.

Rasulullah SAW bersabda:

وقال صلى الله عليه وسلم: أكرموا العلماء فإنهم عند الله كرماء مكرمون

“Handaknya kamu semua memuliakan ulama’, karena mereka itu orang-orang yang mulia menurut Allah dan dimulyakan.” (Kitab Lubabul Hadits)

وقال صلى الله عليه وسلم: فَضْلُ العَالِمِ عَلىَ العَابِدِ كَفَضْلِ القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ عَلىَ سَائِرِ الكَوَاكِبِ

Nabi SAW bersabda: “Keutamaan seorang alim atas ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan di malam purnama atas seluruh bintang-bintang.” (Kitab Lubabul Hadits)

فَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أُمَّتِي :وفي رواية للحارث بن أبي أسامة عن أبي سعيد الخدري عنه صلى الله عليه وسلم

Dalam satu riwayat Al Harits bin Abu Usanah dari Sa’id Al Khudri ra. dari Nabi SAW bersabda : “Keutamaan seorang alim atas ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas umatku.” (Kitab Tanqihul Qaul)

وقال صلى الله عليه وسلم: من نظر إلى وجه العالم نظرة ففرح بها خلق الله تعالى من تلك النظرة ملكا يستغفر له إلى يوم القيامة

Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa memandang wajah orang alim dengan satu pandangan lalu ia merasa senang dengannya, maka Allah Ta’ala menciptakan malaikat dari pandangan itu dan memohonkan ampun kepadanya sampai hari kiamat.” (Kitab Lubabul Hadits)

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: من أكرم عالما فقد أكرمني، ومن أكرمني فقد أكرم الله، ومن أكرم الله فمأواه الجنة

Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa memuliakan orang alim maka ia memuliakan aku, barangsiapa memuliakan aku maka ia memuliakan Allah, dan barangsiapa memuliakan Allah maka tempat kembalinya adalah surga.” (Kitab Lubabul Hadits)

رواه الخطيب البغدادي عن جابر  .أكْرِمُوا العُلَمَاءَ فإنَّهُمْ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، فَمَنْ أكرَمَهُمْ فَقَدْ أَكْرَمَ الله وَرَسُولَهُ  :وقال صلى الله عليه وسلم

Nabi SAW bersabda : “Hendaknya kamu semua memuliakan para ulama, karena mereka itu adalah pewaris para Nabi, maka barangsiapa memuliakan mereka berarti memuliakan Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Al Khatib Al Baghdadi dari Jabir ra., Kitab Tanqihul Qaul)

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: نَوْمُ العَالِمِ أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ الجَاهِلِ

Nabi SAW bersabda : “Tidurnya orang alim itu lebih utama daripada ibadah orang bodoh.” (Kitab Lubabul Hadits)

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: مَنْ زَارَ عَالِمًا فَكَأَنَمَّا زَارَنِي، وَمَنْ صَافَحَ عَالِمًا فَكَأَنَّما صَافَحَنِي، وَمَنْ جَالَسَ عَالِمًا فَكَأَنَّما جَالَسَنِي في الدُّنْيَا، وَمَنْ جَالَسَنِي في الدُّنْيَا أَجْلَسْتُهُ مَعِيْ يَوْمَ القِيَامَةِ

Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa mengunjungi orang alim maka ia seperti mengunjungi aku, barangsiapa berjabat tangan kepada orang alim ia seperti berjabat tangan denganku, barangsiapa duduk bersama orang alim maka ia seperti duduk denganku didunia, dan barangsiapa yang duduk bersamaku didunia maka aku mendudukkanya pada hari kiamat bersamaku.” (Kitab Lubabul Hadits)

وعن أنس بن مالك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: مَنْ زَارَ عَالِما فَقَدْ زَارَنِي، وَمَنْ زَارَنِي وَجَبَتْ له شَفَاعَتي، وكانَ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ أَجْرُ شَهِيدٍ

Dari Anas bin Malik ra., bahwasanya Rasulullah bersabda : “Barangsiapa mengunjungi orang alim berarti ia mengunjungi aku, barangsiapa mengunjungi aku maka ia wajib memperoleh syafa’atku, dan setiap langkah memperoleh pahala orang mati syahid.” (Kitab Tanqihul Qaul)

وعن أبي هريرة قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: مَنْ زَارَ عَالِما ضَمِنْتُ لَهُ عَلى الله الجَنَّةَ

Dari Abu Harairah ra., saya mendengar Rasulullah saww. bersabda : “Barangsiapa mengunjungi orang alim, maka aku menjamin kepadanya dimasukkan surga oleh Allah”. (Kitab Tanqihul Qaul)

فقيه واحد متورع أشد على الشيطان من ألف عابد مجتهد جاهل ورع :وقال صلى الله عليه و

Nabi SAW bersabda : “Seorang alim fiqih yang perwira (wara’) adalah lebih berat bagi syaitan daripada seribu orang ahli ibadah yang tekun yang bodoh lagi perwira.” (Kitab Tanqihul Qaul)

Sungguh hina apabila kita menemukan orang-orang yang membenci ulama. Hal ini menyedihkan karena merupakan pelecehan terhadap agama. Sebab, agama senantiasa diperjuangkan oleh ilmu-ilmu yang disyiarkan oleh ulama. Lantas apabila ada orang yang menghinakan ulama itu berarti ia sungguh-sungguh telah melecehkan agama. Bukan hanya itu, orang yang melecehkan ulama seolah sedang menentang Nabi SAW. Sebab Nabi SAW jelas-jelas memerintahkan kita selaku umatnya agar memuliakan ulama, bukan malah menghinakannya. Naudzubillah. Semoga kita dijadikan orang-orang yang selalu dekat dengan ulama. Mencintai dan memuliakannya dengan penuh keikhlasan. Serta dijadikan orang yang senantiasa tidak bosan untuk mengambil ilmu dari mereka. Agar kita menjadi orang-orang yang diangkat derajatnya dan didekatkan dengan Allah SWT.

Mari kita mencintai para ulama, sebab para ulama adalh warasatul anbiya…

Hujjatul islam imam Ghozali ra bukanlah dari keturunan ulama, tetapi orang tuanya yang sangat ta’dzim, mahabbah, wa takrimah kepada ulama dan berdoa kepada Allah, semoga anaknya menjadi ulama, dan alhamdulillah anak2nya menjdi ulama yang terkenal sangat alim.

Semoga kelak keturunan kita menjadi ulama yang istiqomah, bertaqwa, waroi, tawdhu, roja, khauf, mahabbah kepada allah. Amin…..

Ulama Pewaris Nabi

Rasulullah bersabda

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud)

Rasulullah bersabda

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِباَدِ، وَلَكِنْ بِقَبْضِ الْعُلَماَءِ. حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عاَلِماً اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْساً جُهَّالاً فَسُأِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّو

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.”(HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.”(HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

Periwayat Terbayak Sahabat Rasulullah yang paling banyak meriwayatkan hadits ialah:

Abu Hurairah 5374 hadits, Ibnu Umar 2630 hadits, Anas bin Malik 2286 hadits, Aisyah 2210 hadits, Ibnu ‘Abbas 1660 hadits, Jabir bin ‘Abdullah 1540 hadits, Abu Sa’id Al-Khudri 1170 hadist, Ibnu Mas’ud 848 hadits, Ibnu ‘Amr bin Ash 700 hadits, Abu Dzarr Al- Ghifari 281 hadits, Abu Darda’ 179 hadits (Talqih fahum ahli al-atsar karya Ibn Jauzi)

Nabi bersabda

 خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku ( para sahabat ) kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya ( tabiu’t tabi’in )” (Hadits Bukhari & Muslim)

Imam Malik rohimahullah telah berkata :

 كُلُّ خَيْرٍ فِي إتِباَعِ مَنْ سَلَف وَ كُلُّ شَرٍّ فِي إبْتِداَعِ مَنْ خَلَفِ

“Setiap kebaikan adalah apa-apa yang mengikuti para pendahulu (salaf), dan setiap kejelekan adalah apa-apa yang diada-adakan orang kemudian (kholaf)” dan “Tidak akan baik akhir dari umat ini kecuali kembali berdasarkan perbaikan yang dilakukan oleh generasi pertama”.

Rasulullah bersabda

“Akan senantiasa ada di antara ummatku sekelompok orang yang tampil membela kebenaran, tidak membahayakan mereka orang-orang yang menelantarkan mereka sehingga datang (hari Kiamat) ketetapan Allah, sedangkan mereka tetap dalam keadaan demikian.” (Hadits Muslim)

Permasalahannya umat Islam banyak pula yang merasa lebih pandai dan mengabaikan nasehat para ulama.alias meninggalkan para ulama

Asy‐Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al‐Bantani Rahimahullah Ta’ala, di dalam kitabnya, Nasha‐ihul Ibad fi bayani al‐Faadzi al‐Munabbihaat ‘alal Isti’daadi Li Yaumil Ma’adi membawakan sepotong hadits tentang larangan meninggalkan para ulama

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

سَيَأْتِيْ زَمَانٌ عَلَى اُمَّتِيْ يَفِرُّوْنَ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالْفُقَهَاءِ فَيَبْتَلِيْهِمُ اللهُ تَعَالَى بِثَلاَثِ بَلِيَّاتٍ: اُوْلاَهَا يَرْفَعُ بَرَكَةَ مِنْ كَسْبِهِمْ وَالثَّانِيَةُ يُسَلِّطُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا وَالثَّالِثَةُ يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ اِيْمَانٍ

“Akan datang satu zaman atas umatku dimana mereka lari (menjauhkan diri) dari (ajaran dan nasihat) ulama’ dan fuqaha’, maka Allah Taala menimpakan tiga macam musibah atas mereka, iaitu

  1. Allah mengangkat (menghilangkan) keberkahan dari rizki (usaha) mereka,
  2. Allah menjadikan penguasa yang zalim untuk mereka dan
  3. Allah mengeluarkan mereka dari dunia ini tanpa membawa iman

Dekat dengan Ulama dan Patuh terhadap Hukama

عليكم بمجالسة العلماء واستماع كلام الحكماء فإنّ الله تعالى يحي القلب الميت بنور الحكمة كما يحي الأرض الميتة بماء المطر

“Hendaklah kalian berkumpul dengan para ulama’ dan mendengarkan perkataan hukama’, karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang tandus dengan air hujan.”

Hikmah adalah suatu ilmu yang bermanfaat, sedangkan hukama’ adalah para ahli hikmah. Berdasarkan hadist ini, hukama’ adalah ahli hikmah yang mengetahui Dzat Allah, senantiasa berada dalam kebenaran, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Adapun ulama adalah orang alim (shaleh) yang mengamalkan ilmunya.

Ath-Thabrani juga telah meriwayatkan dari Abu Hanifah sebagai berikut:

جالسواالكبراء وسائلواالعلماء وخالطواالحكماء

“Hendaklah kalian berkumpul (bergaul) dengan para kubara’, dan bertanyalah kepada para ulama’ serta dekatlah kalian dengan para hukama’.”

Dalam riwayat yang lain:

جالس العلماء وصاحب الحكماء وخالط الكبراء

“Hendaklah kamu berkumpul dengan para ulama, bersahabat dengan para hukama’ dan dekat dengan para kubara’.”

Mengenai bertanya kepada para ulama’, hal ini sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui.” (Al-Anbiya: 7)

Dan mengenai berkumpul bersama para ulama atau hukama, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)

Ulama dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu: a. Ulama’, yaitu orang yang ‘alim (pengetahuannya luas) tentang hukum-hukum Allah dan mereka itu berhak memberikan petunjuk (nasihat).

  1. Hukama’ adalah orang-orang yang mengetahui Dzat Allah SWT. Dekat dengan mereka dapat membuat watak menjadi terdidik, karena dari hati mereka bersinar cahaya makrifat (mengenali Dzat Allah lebih dekat lagi dan rahasia-rahasia yang lain) dan dari jiwa mereka terpantul sinar keagungan Ilahi.
  2. Kubara’, yaitu orang-orang yang dianugerahi makrifat terhadap hukum-hukum Allah dan terhadap Dzat Allah.

Berkumpul dengan orang yang ‘alim (mengetahui tentang Allah) dapat mendidik tingkah laku menjadi lebih baik. Hal ini tidak lain karena pengaruh kebiasaan-kebiasaan mereka yang tentunya lebih baik daripada lisan. Jadi, kebiasaan seseorang yang dapat bermanfaat bagimu, tentu akan bermanfaat pula ucapannya. Begitu juga sebaliknya.

As-Sahwardi pernah meninjau ke sebagian masjid Al-Khaif di mina seraya memandangi wajah orang-orang yang berada di dalamnya. Lalu beliau ditanya oleh seseorang (yang berada disana), “Mengapa tuan memandang wajah-wajah orang itu?” Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah telah menjadikan beberapa orang yang apabila memandang kepada orang lain maka orang yang dipandangnya itu akan merasa damai (bahagia) dan saya pun sedang mencari orang yang seperti itu.”

Hal ini sebagaimana Rasulullah saw. telah bersabda,

سيأتي زمان على أمتي يفرّون من العلماء والفقهاء فيبتليهم الله بثلاث بليّات ألاها يرفع الله البركة من كسبهم والثانية يسلّط الله تعالى صلطانا ظالما والثالثة يخرجون من الدنيا بغير إيمان

“Akan datang suatu masa pada umatku, mereka lari (jauh) dari ulama’ dan fuqaha’ (orang-orang yang paham mengenai agama), maka Allah akan menurunkan tiga macam adzab kepada mereka; Pertama, Allah mencabut keberkahan dari usaha mereka. Kedua, Allah memberikan kekuasaan kepada pemimpin yang kejam (di dunia). Ketiga, mereka keluar dari dunia ini (mati) tanpa membawa iman.

WALLOHU ‘ALAM BIS SHOWAB

Nasha-ihul Ibad karangan Syaikh Nawawi al-Bantani

NA’UDZUBILLAH…… INILAH BEBERAPA SIFAT YANG DI BENCI NABI MUHAMMAD SAW.

Orang yang dibenci oleh Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam adalah orang yang banyak bicara dengan dibuat-buat dan orang yang sombong.

عن جابر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إن من أحبكم إلي وأقربكم مني مجلسا يوم القيامة أحاسنكم أخلاقا وإن أبغضكم إلي وأبعدكم مني مجلسا يوم القيامة الثرثارون والمتشدقون والمتفيهقون قالوا يا رسول الله قد علمنا الثرثارون والمتشدقون فما المتفيهقون قال المتكبرون

Dari sahabat Jabir sesungguhnya Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : ”Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada Hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya”. Sesunguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada Hari Kiamat adalah (ats-tsartsarun), (al-mutasyaddiqun) dan (al-mutasyaddiqun). Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami mengerti tentang ats-tsartsarun dan al-mutasyaddiqun. Lalu apa yang dimaksud dengan al-mutafaihiqun?’ Beliau menjawab, ‘Dialah orang yang sombong.”

Imam Tirmidzi berkata :

والثرثار هو الكثير الكلام والمتشدق الذي يتطاول على الناس في الكلام ويبذو عليهم

Yang dimaksud dengan Tsartsar adalah banyak bicara , dan yang dimaksud dengan mutasyaddiq adalah orang yang memperpanjang pembicaraan dihadapan manusia dan berkata kotor kepada mereka.

– Kitab Tuhfatul Ahwadzi :

قوله الثرثارون ، وفي النهاية الثرثارون هم الذين يكثرون الكلام تكلفا وخروجا عن الحق ، والثرثرة كثرة الكلام وترديده .

Tsartsarun dalam kitab An-Nihayah adalah mereka yang banyak bicara secara dibuat-buat dan keluar dari kebenaran. Tsartsaroh adalah banyak bicara dan mengulang ulanginya.

( والمتشدقون ) قال في النهاية : المتشدقون هم المتوسعون في الكلام من غير احتياط واحتراز ، وقيل أراد بالمتشدق المستهزئ بالناس يلوي شدقه بهم وعليهم انتهى ، والشدق جانب الفم

Mutsyaddiqun dalam kitab An-Nihayah adalah mereka yang memperlebar pembicaraan tanpa berhati-hati, waqila maksud mutasyaddiq adalah yang memperolok manusia yang membengkokkan sudut mulutnya kepada mereka dan atas mereka. As-Syadq adalah sudut mulut.

( والمتفيهقون ) هم الذين يتوسعون في الكلام ويفتحون به أفواههم ، مأخوذ من الفهق وهو الامتلاء والاتساع ، كذا في النهاية . قيل وهذا من الكبر والرعونة ،

Al-Mutafaihiqun adalah mereka yang memperlebar pembicaraan dan membuka mulut mereka. Kalimat tersebut diambil dari kata al-fahq yang artinya penuh dan luas. Seperti itulah keterangan dalam kitab Al-Nihayah. Dikatakan bahwa al-fahq adalah termasuk bagian dari kesombongan dan kebodohan.

وقال المنذري في الترغيب : الثرثار بثائين مثلثتين مفتوحتين هو الكثير الكلام تكلفا ، والمتشدق هو المتكلم بملء شدقه تفاصحا وتعظيما لكلامه ، والمتفيهق أصله من الفهق وهو الامتلاء ، وهو بمعنى المتشدق لأنه الذي يملأ فمه بالكلام ويتوسع فيه إظهارا لفصاحته وفضله واستعلاء على غيره ، ولهذا فسره النبي صلى الله عليه وسلم بالمتكبر انتهى .

Al-Mmundziri dalam kitab At-Targhib berkata : ” tsartsar dengan dua huruf tsa’ yang difathah artinya banyak bicara dengan dibuat-buat.  Mutasyaddiq adalah orang yang berbicara dengan memenuhi sudut mulutnya agar terlihat fasih dan agung bagi ucapannya. Mutafaihiq asalnya dari al-fahq yang artinya terisi penuh, dan mutafaihiq ini semakna dengan mutasyaddiq karena dia memenuhi mulutnya dengan ucapan dan memperlebar ucapan dengan memperlihatkan kefasihan, keutamaan dan penguasaan terhadap orang lain. Oleh karena inilah Nabi shollallohu alaihi wasallam menafsirinya dengan orang yang sombong.

Wallohu a’lam.

IMAN DAN ISLAM SERTA IHSAN SEBAGAI TOLERANSI DI JALAN RAYA

Islam, Iman, dan Tertib Lalu Lintas

Agaknya, kalau perlu diberikan peringkat, cara yang jitu untuk mengukur derajat keberimanan seseorang itu adalah di jalan raya. Ketika berkendara di jalan raya, orang-orang akan tampil apa adanya. Tidak ada tipu-tipu di sana, tidak seperti di atas panggung, lebih-lebih di depan kamera, di televisi. Di media sosial, misalnya, orang bisa tampak alim, tapi begitu paket datanya habis, ia mendadak bingung jika ilmunya Googlelial.

Melihat tingginya kecelakaan lalu lintas, wabil khusus Indonesia, pemerintah lalu menetapkan tahun 2017 sebagai tahun keselamatan berlalu lintas. Ini merupakan pertanda bahwa kesemrawutan dan keserampangan masyarakat di jalanan melampai batas. Tapi, bagaimana data-data kecelakaan di tahun 2018? Data resminya, saya tidak tahu.

    Faktanya, kesemrawutan tetap terjadi di mana-mana. Kecelakaan, atau situasi yang nyaris-nyaris mengarah pada kecelakaan, nyaris saya saksikan setiap hari.

Di Indonesia, kecelakaan (lalu lintas) masuk 10 peringkat ‘pembunuh’ yang berdarah dingin. Bukankah ini ngeri sekaligus memalukan? Keselamatan itu, pada dasarnya, dapat diupayakan.

Yang bikin malu, mengapa itu terjadi di negara yang muslimnya sangat banyak, bahkan dominan: mengaku Islam tapi kelakuannya begitu? Padahal, kita tahu, Islam sangat rinci dalam mengatur segala aspek kehidupan umatnya, dari doa masuk jamban hingga cara makan dan minum, begitu pula dengan akhlak, termasuk di jalan. Sekadar ‘pemanasan’ di esai yang pendek ini, kita sebut dulu tiga butir terkait hal ini:

Pertama, larangan mengganggu dan merintangi jalan. Dalam Surah Al-A’raf ayat 86 (وَلَا تَقْعُدُوا بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِهِ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا ) dengan jelas Allah melarangnya.

Meskipun ayat ini mengacu kepada umat Nabi Syuaib, tapi semangatnya tetap berlaku untuk zaman sekarang. Pengertian mengganggu dapat dikembangkan untuk berbagai bentuk, mulai nongkrong (sambil mengusili orang yang melintas), hingga membegal pelintas jalan.

Kedua, anjuran untuk memberikan kemudahan bagi pelalu lintas. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi bersabda: “الإيمان بضع و سبعون اوبضع وستون شعبة فأفضلها قول لا اله إلا الله وأدناها إماطة الأذى عن الطريق , والحياء شعبة من الإيمان”

Tema hadis ini adalah pemeringkatan iman. Yang tertinggi adalah ucapan tahlil (La ilaha illallah) dan yang paling rendah adalah “menyingkirkan aral dari tengah jalan”. Namun, amanat di dalamnya adalah karsa untuk memudahkan orang saat melintas di jalanan.

    Menyadari bahwa pekerjaan remeh ini—yakni “hanya” menyingkirkan sandungan yang ada di jalan—dapat menjadi indikator keimanan, mestinya membuat kita malu jika tidak berjiwa besar untuk mengalah, lebih-lebih malah mau menang sendiri. Kenyataannya, rendahnya sikap mau mengalah (di jalan raya) menjadi pemantik terjadinya kecelakaan.

Ketiga, “Ada ‘CCTV’ di mana-mana!”, inilah konsep puncaknya. Hadis masyhur riwayat Syd. Muadz bin Jabal yang berbunyi “اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحسنةَ تَمْحُهَا، وخَالقِ النَّاسَ بخُلُقٍ حَسَنٍ” adalah kata kunci utama keberimanan. Ketika kita mengaku mukmin, pada saat itulah kita harus awas dan sadar bahwa Allah selalu memantau gerak-gerik manusia, bahwa hingga suara hati kita. Intermalisasi semangat hadis ini akan membuat manusia senantiasa beriman dalam kondisi apa pun, di mana pun.

Mengapa di supermarket jarang terjadi pencurian oleh pembeli? Mengapa di perempatan kota yang dijaga oleh petugas nyaris tak ada yang melanggar? Alasannya adalah “karena ada yang memantau dan mereka itu ‘ada’ serta ‘kelihatan’!

Sementara Allah, meskipun diyakini Ada, tapi karena tidak kelihatan oleh mata telanjang, maka manusia pun mudah lupa, atau melupakan, atau pura-pura lupa, sehingga mereka tidak malu untuk melanggar syariat-Nya. Hilangnya kesadaran ini membuat iman seseorang melorot ke tingkat terendah.

Demikian pula dengan pelanggaran di jalan raya. Terkadang, yang melakukannya itu adalah seorang muslim yang taat dalam ibadah dan rajin dalam hal shalat. Kok bisa?

Salah satunya penyebabnya adalah adanya pemahaman bahwa menaati aturan lalu lintas itu bukanlah bagian dari ketaatan dalam menjalankan syariah, padahal aturan ini merupakan wilayah ulil amri (pemerintah; melalui Dishub dan Polantas) yang harus ditaati selama tidak menganjurkan kemaksiatan.

Andaipun kita mau tetap menolak tunduk dengan hujah yang lain, bukankah sudah cukup alasan untuk tertib dengan mengakui keberadaan kita sebagai manusia yang harus menghargai sesamanya?

Di negara-negara maju, di Eropa misalnya, masyarakatnya tertib, termasuk di jalan raya, padahal mereka—anggap saja sebagiannya—justru ateis atau sekuler.

    Mereka tertib karena taat kepada aturan yang dikondisikan oleh sistem, etiket, lingkungan, dan hal itu butuh proses sangat lama. Adapun masyarakat Indonesia (yang kebanyakan muslim) mestinya lebih disiplin lagi karena ketaatan mereka itu berada di bawah naungan keimanan.

Sekarang, di lampu-lampu APILL di perempatan jalan kota, sudah dipasangi CCTV. Pelanggaran pasti berkurang jika ancaman dendanya benar-benar dijalankan.

Tapi, masa iya kita mau taat hanya karena takut terhadap kamera CCTV artifisial yang dipasang itu? Bukankah kita jauh akan lebih terhormat sebagai mukmin jika takut terhadap ‘CCTV’ yang tepasang di setiap hati sanubari kita semua dan ia dipantau langsung oleh Allah Swt?

Sepanjang Apakah Toleransi dan Keadaban Kita di Jalan Raya?

Sejak belia, bermula dari jalanan yang paling dekat di keseharian, orang-orang berani menadah konflik sekaligus harmoni. Jalan mengambil peran sebagai pengasuh dan pengasah cara beretika atau bersikap. Akhir-akhir ini, kita sering mendapati jalanan kampung berbenar menjadi lebih ramah.

Warga kampung ingin berdaulat bahwa jalan kampung memiliki cara menjadi toleran dengan gayanya, tidak hanya jalan-jalan kota yang berdaulat dengan segala tata rambunya.

Ada yang menggambari jalan kampung dengan gambar dua dan tiga dimensi berupa jembatan di atas jurang atau kubangan besar yang misterius. Gambar tiga dimensi ini segera menarik perhatian sekaligus sewaktu-waktu bisa menginsafkan para pengendara yang mengebut. Psikologi mereka “dipermainkan” oleh jurang yang tampak nyata. Gambar di jalan tegas berkata, “berhati-hatilah!” Kata lebih tegas dari plakat, “Hati-hati banyak anak-anak!”

Di jalanan, orangtua dan anak tidak merasakan ancaman yang membahayakan jiwa serta raga. Tidak ada hal yang perlu ditakutkan dari jalan. Anak secara tidak langsung menjadi pembelajar tentang di jalan, bukan hanya pembelajar cara berjalan.

Kita sering merasakan kekhawatiran sejak jalanan kampung yang kecil sekalipun. Anak-anak sekolah dasar sudah dibiarkan menaiki sepeda motor dan memang sengaja diajari sebelum penempaan etika berjalan dalam diri.

Mereka cenderung tergoda menjadi superior sebagai pengguna jalan karena berada di atas kendaraan bermesin; ngebut, ngetril, atau mengeraskan suara mesin. Orangtua terlalu menyepelekan.

Baca juga:  Ini Cara Hasan dan Husain Ingatkan Kesalahan Seseorang

Pengguna jalan tanpa kendaraan dan kaum bersepeda menjadi pihak yang harus selalu mengalah dan dikalahkan. Jalan gagal mengabarkan keberadilan lewat rutinitas harian yang pasti menggunakan jalan.

Jalan dibangun bukan saja sebagai infrastruktur yang melancarkan mobilitas. Pihak kepolisian dipastikan tidak hanya mengurusi keperluan SIM yang melegalkan seseorang dewasa berkendara dan menggunakan jalan raya.

Selain anjuran berhati-hati di jalan dari orangtua dan guru, pihak kepolisian melengkapi dengan safari keselamatan di pelbagai institusi pendidikan kanak. Aneka permainan, alat transportasi mini, ataupun adegan rekonstruksi di jalan diperagakan dan dipermainan. Anak-anak diharap menjadi para calon pengguna jalan yang bijak, dari menaati peraturan, mengenali rambu, dan saling berbagi dengan sesama pengguna.

Majalah anak Si Kuncung edisi No.8 (XVII, 1974) pernah memuat tulisan “Polantas Cilik” oleh Syaiful Bakhri, Padang. Sekilas dari ilustrator garapan Timboel Soedradjat, tampak lima anak sedang berada di jalan untuk menjadi pembelajar jalan. Di sana juga ada Polisi Lalu Lintas yang diceritakan, “Terlihat polisi itu cekatan. Enak saja tangannya melambai dan mengacung, memberhentikan kendaraan serta menyuruh kendaraan dari jurusan lain berjalan.”

Giliran lima anak, Rusli, Tono, Ati, Sri, dan Budi menyimak dan mempraktekkan. “Anak-anak itu memperhatikan dengan seksama. Tampak tangan Polisi itu yang satu diacungkan ke muka dan yang satunya lagi membuat sudut siku. Lalu, ia memutar lagi ke kanan. Peluit sekali-kali berbunyi tanda berhati-hati.”

Calon-calon polantas cilik beraksi di jalan untuk menggenapi pengetahuan dari buku-buku. Mereka belajar betapa berbahaya jalan tanpa pesan keselamatan yang disepakati bersama demi aman bersama.

Mereduksi Konflik

Di buku pelajaran lawas atau mutakhir, kita mendapati bagaimana kota dinarasikan lewat jalan. Bangunan, jalan, keramaian orang-orang, dan alat-alat transportasi menjadi penglihatan modern dan megah.

Kita cerap di buku bacaan anak lawas berjudul Titian (1950) garapan R.M. Djamain dan gambar oleh Sajuti Karim. Ada tulisan berjudul “Di kota” yang bercerita,

“Bagus-bagus rumah di kota. Lagi pula besar-besar. Djalannya lebar-lebar. Banjak oto jang bagus-bagus. Ada jang ketjil, ada jang besar. Mereka lalu dimuka toko. Sebentar-sebentar mereka berhenti hendak melihat-lihat. Banjak jang gandjil-gandjil!”

Ali, si tokoh anak dalam cerita begitu terpukau dengan keramaian. Meski tidak diceritakan secara tersurat, keberadaan jalan memberikan kesadaran jalan sebagai wilayah publik yang tidak bisa dihadapi dengan kesewenangan atau kesembronoan. Aturan berlaku untuk mereduksi konflik sosial, ekonomi, politik, dan fisik serta jiwa.

Secara moral, anak-anak yang salah waktu dan sikap di jalan mendapat stigma buruk. Kita tentu sering melihat jalan sebagai gaung kebebasan anak-anak berseragam untuk mbolos, konvoi, mengebut, atau melakukan aksi vandalisme.

Perlawanan di jalan bisa saja menjadi pelampisan frustrasi menghadapi rutinitas di sekolah ataupun di jalan. Sangat mungkin juga bahwa anak-anak ini memang lebih dulu mendapati gaya hidup ugalan pengendara dewasa: menyerobot lampu merah, berkonvoi, menerabas trotoar, dan pastinya mengebut.

Dari jalan, anak bertumbuh menjadi manusia bertoleransi atau memilih egoistik yang merusak atau mengganggu. Bukan hanya rambu-rambu keselamatan atau polisi memberikan jaminan selamat, tapi para pengendara sekaligus peristiwanya menjadi percontohan nan hidup bagi banyak bocah.

Bagi kota yang menggaungkan jargon “Kota Ramah Anak”, harus benar-benar memikirkan jalan tidak hanya sebagai jalur melenggangkan keangkuhan mesin-mesin modernitas. Kita tidak ingin anak hanya melihat jalan sebagai biang kematian, kecelakaan, kemacetan, tindak intoleran, dan waktu yang melenggang sia-sia.

    Dari jalan kampung sampai jalan kota raya, mereka berjalan berdemokrasi, bertoleransi kepada sesama, dan saling berbagi. Jalan bukan sekadar infrastruktur penting bagi negara untuk melancarkan kepentingan politik, ibadah, ekonomi, sosial, dan pariwisata.

Di jalanlah –bukan hanya di kantor yang bersih, di meja rapat yang berwibawa, di masjid, di klenteng, di gereja, di pure atau tempat ibadah lainnya– setiap orang disemai menjadi manusia beradab.

KEISTIMEWAAN KETIKA MANUSIA DIAM TIDAK BANYAK BICARA

Islam mengajarkan agar setiap orang untuk tidak banyak bicara dan seandainya berbicara, hanya berbicara tentang perihal yang benar dan baik-baik saja. Diam sepertinya satu hal yang sederhana, namun untuk merealisasikannya tidak mudah. Sikap tenang dan mengamati lalu berbicara menurut kadar yang cukup sering kali menjadi kunci sukses dari keadaan seseorang terhadap suatu keadaan yang terjadi dan berlangsung disekitarnya, dan tentunya berbicaira yang bermanfaat dan pada tempatnya adalah mutiara.

Berkata sebahagian para ulama, bahwasanya pada diam itu ada tujuh ribU kebaikan, dan tujuh ribu kebaikan itu terkumpul pada tujuh kalimat, pada tiap-tiap dari tujuh kalimat ini mengandung seribu kebaikan.

 أولها أن الصمت عبادة غير أولها أن الصمت راحة غير عناء

Pertama:

Merupakan Ibadah tanpa harus kerja keras atau berusaha.

 والثاني زينة من غير حلي

Kedua:

Merupakan hiasan diri tanpa perhiasan

 والثالث هيبة من غير سلطان

Ketiga:

Wibawa tanpa kekuasaan

 والرابع حصن من غير حافظ

Keempat:

Benteng tanpa dinding (selalu terkawal tanpa perlu pengawal atau penjaga )

 والخامس استغناء عن الاعتذار إلى الناس

Kelima:

Tidak perlu meminta maaf kepada siapapun yang disebabkan oleh perkataan

 والسادس إراحة الكرام الكاتبين

Keenam:

Malaikat pencatat amal menjadi rehat dan tidak lelah

 والسابع ستر لعيوبه

Ketujuh:

Penutup keburukan dan sisi-sisi kejahiliyahan dan kekurangan diri

Diam adalah ciri khas dari orang berilmu, dengan diam, kita mendapatkan kekuatan hebat untuk berfikir secara mendalam tentang apa yang terjadi di sekeliling, serta dapat konsentrasi dengan penuh tentang rasionalitas suatu jawaban.

Diam adalah kesempatan untuk menilai kehidupan, diam adalah kesempatan untuk istirahat, diam adalah kesempatan untuk istirahat, diam adalah kekuatan yang besar, dengan diam kita telah menguasai orang-orang yang ada di hadapan kita melalui pandangan. Diam bisa menjadi solusi paling jitu dalam menghadapi berbagai problema rumah tangga ringan yang bertumpuk-tumpuk. Di saat-saat genting, diam dapat melahirkan sikap dihormati, sebaliknya, perlawanan dan perdebatan dapat melahirkan sikap semakin menjauh dan dendam. Dengan diam, kita telah menghancurkan berbagai senjata musuh. Diam telah menjadi guru yang baik agar kita belajar menjadi pendengar yang baik, di mana banyak orang telah kehilangan sifat ini. Keselamatan manusia terletak pada bagaimana dia menjaga lidahnya.

Demikianlah 7 manfaat dari diam yang kami kutib dari kitab “Muraqi Ubudiyyah” karangan Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jaawi.

KLIK DI SINI UNTUK MENONTON VIDEO YANG BERKAITAN DENGAN MATERI INI BERSAMA KH. ZUHRUL ANAM (GUS ANAM)

Wallahua’lam.