MEMAAFKAN ORANG YANG MENDZOLIMI KITA

Apakah hukum menjauhi saudara dengan cara jarang silaturahmi karena saudara kita itu telah sering mendzolimi kita atau berbuat jahat ke kita. Apakah saudara kita yang dzolim itu memang harus di jauhi atau bagaimana?

JAWABAN :

Dalam hubungan kekeluargaan,persahabatan dan bahkan kemasyarakatan , adakalanya terjadi perbedaan , pertengkaran , perselisihan yang berakibat putusnya tali silaturrahmi,perpecahan,saling benci satu sama lain,hingga jangankan duduk dalam satu majlis,bertemu pun rasanya tak berharap.Islam memandang hal tersebut (perbedaan,perselisihan) biasa terjadi dalam hal muamalah,namun islam juga mengajarkan cara yang baik untuk kembali merajut hubungan yang lebih harmonis.

Sumber : Kitab Shohih Muslim

Dalam sebuah haditsnya Rosulullah SAW bersabda :

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث ليال يلتقيان فيعرض هذا ويعرض هذا وخيرهما الذي يبدأ بالسلام”

Tidaklah halal (haram) bagi seorang muslim menghindar dari saudaranya lebih dari tiga hari/malam,dan ketika bertemu mereka saling memalingkan muka,dan sebaik-baik dari keduanya adalah ia yang memulai mengucapkan salam”.

Tiga hari menghindar dihukumi boleh dalam rangka colling down,meredakan kemarahan dan kebencian, saling introspeksi dan kemudian menyambung silaturrahmi kembali.

قوله صلى الله عليه وسلم : ( لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث ليال ) قال العلماء : في هذا الحديث تحريم الهجر بين المسلمين أكثر من ثلاث ليال ، وإباحتها في الثلاث الأول بنص الحديث ، والثاني بمفهومه . قالوا : وإنما عفي عنها في الثلاث لأن الآدمي مجبول على الغضب وسوء الخلق ونحو ذلك ; [ ص: 91 ] فعفي عن الهجرة في الثلاثة ليذهب ذلك العارض . وقيل : إن الحديث لا يقتضي إباحة الهجرة في الثلاثة ، وهذا على مذهب من يقول : لا يحتج بالمفهوم ودليل الخطاب

Dalam lain kesempatan Rosulullah dimintai nasihat oleh sahabat ‘Uqbah bin ‘aamir tentang amalan yang mempunyai keunggulan dan keutamaan, Rosul bersabda :

قال عقبة ثم لقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فابتدأته فأخذت بيده فقلت يا رسول الله أخبرني بفواضل الأعمال فقال يا عقبة صل من قطعك وأعط من حرمك وأعرض عمن ظلمك

“Wahai ‘uqbah , Jalin kembali hubungan dengan orang yang memutuskan silaturrahmi denganmu , Berilah orang yang kikir padamu , dan maafkan orang yang zdolim/aniaya padamu “.

Tiga perkara ini bukan hal yang mudah dilakukan bagi seseorang,akan tetapi jika ia mampu melakukannya,maka Allah telah menyediakan pahala dan ganjaran yang maha besar (di atas rata-rata).

sumber :- Musnad uqbqh bin amir

 (حديث مرفوع) حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ , حَدَّثَنَا ابْنُ عَيَّاشٍ , عَنْ أسند= بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْخَثْعَمِيِّ , عَنْ فَرْوَةَ بْنِ مُجَاهِدٍ اللَّخْمِيِّ , عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ , قَالَ : أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِي : ” يَا عُقْبَةُ بْنَ عَامِرٍ صِلْ مَنْ قَطَعَكَ , وَأَعْطِ مَنْ حَرَمَكَ , وَاعْفُ عَمَّنْ ظَلَمَكَ ” .

– Musnad Imam Ahmad 16883

حدثنا أبو المغيرة حدثنا معان بن رفاعة حدثني علي بن يزيد عن القاسم عن أبي أمامة الباهلي عن عقبة بن عامر قال لقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فابتدأته فأخذت بيده قال فقلت يا رسول الله ما نجاة هذا الأمر قال يا عقبة احرس لسانك وليسعك بيتك وابك على خطيئتك قال ثم لقيني رسول الله صلى الله عليه وسلم فابتدأني فأخذ بيدي فقال يا عقبة بن عامر ألا أعلمك خير ثلاث سور أنزلت في التوراة والإنجيل والزبور والفرقان العظيم قال قلت بلى جعلني الله فداك قال فأقرأني قل هو الله أحد وقل أعوذ برب الفلق وقل أعوذ برب الناس ثم قال يا عقبة لا تنساهن ولا تبيت ليلة حتى تقرأهن قال فما نسيتهن من منذ قال لا تنساهن وما بت ليلة قط حتى أقرأهن قال عقبة ثم لقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فابتدأته فأخذت بيده فقلت يا رسول الله أخبرني بفواضل الأعمال فقال يا عقبة صل من قطعك وأعط من حرمك وأعرض عمن ظلمك

Wallohu a’lam bis showab

ADAB ATAU AKHLAK TIDURNYA UMAT ISLAM

Lima Adab Sebelum Tidur

Pada dasarnya, tidur merupakan aktivitas harian yang bersifat fitrah dan alami yang dialami oleh setiap makhluk, tak terkecuali manusia. Seluruh manusia pasti akan melewati keadaan terjaga dan tidur sepanjang harinya. Tidur merupakan kebutuhan pokok seperti halnya makan dan minum bagi setiap manusia.

Dalam kitab Bidayah al-Hidayah, Abu Hamid al-Ghazali membuat bab khusus tentang tata cara tidur, yang disebut dengan adab al-Naum. Setidaknya, ada lima hal yang perlu dilakukan dan dipersiapkan sebelum tidur sebagimana telah dicontohkan dan diperintahkan Nabi Saw.

Pertama; menutup pintu dan mematikan api dan lampu. Hal ini sebagaimana anjuran Nabi Saw dalam hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dari Jabir bin Abdillah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

أَطْفِئُوا اْلمَصَابِيْحَ بِاللَّيْلِ إِذِا رَقَدْتُمْ، وَأَغْلِقُواْ اْلأَبْوَابَ

“Matikanlah lampu-lampu di waktu malam jika kalian hendak tidur, tutuplah pintu-pintu”.

Kedua; bersuci dengan melakukan wudhu sebelum tidur. Terdapat beberapa riwayat hadis Nabi Saw yang menganjurkan wudhu sebelum tidur, di antaranya adalah hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim dari al-Barra’ bin ‘Azib, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ

“Apabila engkau hendak tidur, berwudhulah sebagaimana wudhu ketika hendak shalat.”

Wudhu dianjurkan bagi siapa pun yang ingin hendak tidur, siang maupun malam. Hal ini sebagaimana dikatakan al-Imam al-Nawawi, agar terhindar dari gangguan setan selama dalam kondisi tidur. Bahkan anjuran wudhu sebelum tidur ini berlaku pula bagi orang junub, meskipun dia tetap tidak boleh shalat dan membaca alquran dengan wudhu ini. Dalam sebuah hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar, dia bercerita bahwa bapaknya Sayyidina Umar bertanya kepada Nabi Saw;

أَيَرْقُدُ أَحَدُنَا وَهْوَ جُنُبٌ قَالَ « نَعَمْ إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْقُدْ وَهُوَ جُنُبٌ

“Apakah salah seorang di antara kami boleh tidur sedangkan ia dalam keadaan junub? Nabi Saw menjawab, “Iya, jika salah seorang di antara kalian junub, hendaklah ia berwudhu lalu tidur.”

Ketiga; mengibas tempat tidur dengan sarung atau benda lainnya. Hal ini berdasarkan hadis riwayat al-Imam Muslim dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْينَفْض فِرَاشَهُ بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ، فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِيْ مَا خَلْفَهُ عَلَيْهِ

“Apabila salah seorang dari kalian hendak barbaring di tempat tidurnya hendaklah ia kibas-kibas tempat tidurnya itu dengan sarungnya. Karena dia tidak tahu apa yang terjadi pada tempat tidurnya setelah ia tinggalkan sebelumnya.”

Tujuan mengibas tempat tidur adalah membersihkan barangkali ada kuman, kotoran atau lainnya yang bersarang di tempat tidur. Karena itu, dianjurkan mengibas tempat tidur tiga kali sambil membaca basmalah, untuk memastikan kuman atau kotoran tersebut hilang.

Keempat; melakukan shalat witir sebelum tidur. Al-Imam Ahmad meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah, dia bercerita;

أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَبِالْوِتْرِ قَبْلَ النَّوْمِ وَبِصَلَاةِ الضُّحَى فَإِنَّهَا صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ

“Kekasihku, Nabi Saw, mewasiatkan kepadaku untuk berpuasa tiga hari dari setiap bulan, shalat witir sebelum tidur, dan dari shalat Dhuha, maka sungguh itu adalah shalatnya awwabin (shalatnya orang-orang yang banyak taat kepada Allah).”

Anjuran shalat witir sebelum tidur ini terutama sangat ditekankan kepada orang yang tidak yakin akan bangun di akhir malam supaya lebih memberi jaminan tidak meninggalkan shalat witir akibat ketiduran.

Kelima; menulis wasiat sebelum tidur jika ada hal penting yang perlu diwasiatkan. Menurut al-Imam al-Ghazali dalam kitab Bidayah al-Hidayah, hasil wasiat yang sudah ditulis hendaknya disimpan di bawah bantal atau kasur tempat tidur. Dalam hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim, Nabi Saw bersabda;

مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُرِيْدُ أَنْ يُوْصِيَ فِيْهِ يَبِيْتُ لَيْلَتَيْنِ إِلاَّ وَوَصِيِّتُهُ مَكْتُوْبَةٌ عِنْدَهُ

“Tidak pantas bagi seorang muslim yang memiliki sesuatu yang ingin ia wasiatkan untuk melewati dua malamnya melainkan wasiatnya itu tertulis di sisinya.

Tiga Adab Saat Tidur

Dalam kitab Bidayah al-Hidayah, al-Imam al-Ghazali berkata bahwa keadaan tidur serupa dengan keaadan mati. Hanya saja bagi orang yang tidur, Allah mengembalikan jiwa atau ruh ke dalam jasad pada saat sudah terbangun. Sementara bagi orang mati, Allah menggenggam dan menahan jiwa atau ruh tersebut dan tidak mengembalikan kembali pada jasad.

Karena itu, Nabi Saw mengajarkan kepada kita beberapa adab pada saat tidur yang perlu diperhatikan kita semua sebagai umatnya. Hal ini agar ketika kematian menjemput secara tiba-tiba pada saat tidur, kita berada dalam keadaan kesucian hati dengan mengingat Allah. Setidaknya ada tiga adab yang diajarkan Nabi Saw pada saat tidur.

Pertama; tidur dengan berbaring pada rusuk sebelah kanan. Dalam hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim, Nabi Saw berkata kepada al-Barra’ bin Azib;

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَأْ وُضُوءَكَ للصَلاةِ، ثُمَّ اضْطَّجِعْ على شِقِّكَ الأَيْمَنِ

“Jika engkau akan menuju pembaringanmu (tempat tidurmu), maka berwudhulah seperti engkau berwudhu untuk menunaikan shalat, kemudian berbaringlah dirusukmu sebelah kanan.”

Sedangkan tidur dengan posisi tengkurap sangat dilarang oleh Nabi Saw. Dalam hadis riwayat Abu Daud dari Abu Dzar, dia berkata;

مَرَّ بِىَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَأَنَا مُضْطَجِعٌ عَلَى بَطْنِى فَرَكَضَنِى بِرِجْلِهِ وَقَالَ : يَا جُنَيْدِبُ إِنَّمَا هَذِهِ ضِجْعَةُ أَهْلِ النَّارِ.

“Nabi Saw lewat di hadapanku dan ketika itu aku sedang tidur tengkurap. Beliau menggerak-gerakkanku dengan kakinya. Beliau pun bersabda, ‘Wahai Junaidib, tidur seperti itu seperti berbaringnya penduduk neraka.”

Kedua; meletakkan tangan di bawah pipi kanan. Dalam hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dari Hudzaifah, dia berkata;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ مِنْ اللَّيْلِ وَضَعَ يَدَهُ تَحْتَ خَدِّهِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا وَإِذَا اسْتَيْقَظَ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Apabila Nabi Saw hendak tidur di malam hari, beliau meletakkan tangannya di bawah pipi, kemudian beliau mengucapkan: Bismika amutu wa ahya (Dengan nama-Mu aku mati dan aku hidup). Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: Al Hamdulillahilladzii ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).”

Ketiga; membaca doa dari Nabi Saw. Di antara doa dari Nabi Saw sebagai berikut;

اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ

“Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan aku hidup. Ya Allah, aku tundukkan wajahku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, karena rasa takut dan penuh harap kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari hukuman-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus.”

Do’a Sebelum Tidur

Membaca doa sebelum tidur merupakan adab yang diajarkan oleh Rasulullah Saw kepada kita, umatnya. Agar kita menutup segala aktifitas sehari-hari dengan menyebut nama Allah. Sehingga jika kita tidak bangun lagi maka kita akan meninggal dalam keadaan khusnul khatimah, karena meninggal setelah menyebutkan nama Allah Saw. Berikut ini doa yang beliau ajarkan:

باسمِكَ اللَّهُمَ أَحْيا وأمُوتُ

Bismika allahumma ahyaa wa amuut(u)

Artinya; Dengan nama-Mu ya Allah, aku hidup dan aku mati

(Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari)

Tiga Adab Bangun Tidur

Mengetahui adab-adab bangun tidur termasuk perkara penting dalam Islam. Bahkan al-Imam al-Ghazali meletakkan faslun fi adabil istiqadz minan naum, pasal mengenai adab-adab bangun tidur, pada urutan kedua setelah penjelasan mengenai materi ketaatan kepada Allah. Hal ini, menurut al-Imam al-Ghazali, karena kita tidak bisa melaksanakan perintah Allah dengan baik dan sempurna kecuali kita mengatur waktu beribadah sejak dari bangun tidur sampai ke tempat tidur kembali.

Selajutnya al-Imam al-Ghazali menasehati agar ketika tidur malam hendaknya bangun sebelum terbitnya fajar. Namun secara umum, setidaknya ada tiga adab yang perlu dilakukan sesaat setelah bangun tidur, baik tidur malam maupun siang.

Pertama, membaca doa bangun tidur dan memperbanyak dzikir.

Dianjurkan ketika bangun tidur dan belum beranjak dari tempat tidur untuk membaca doa berikut ini.

اَلْحَمْدُ لِلهِ الذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْه النُشُوْرُ

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami. Dan kepada-Nya lah tempat kembali”

Kemudian dilanjutkan membaca zikir, bersegera wudhu dan melaksanakan shalat sehingga tidak terus tenggelam dalam rasa malas dan kantuk, khususnya setelah bangun tidur malam. Ketika bangun tidur kemudian dilanjutkan dengan zikir, wudhu dan shalat, maka akan membuat seseorang semangat dan baik raga dan jiwanya. Hal ini sebagaimana hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

يَعقِدُ الشَّيطانُ عَلى قافيَةِ رأسِ أَحدِكُم إذا هوَ نام ثَلاثَ عُقدٍ، يَضرِبُ كلَّ عُقدةٍ مَكانَها: عليكَ ليلٌ طويلٌ فارقُدْ، فإنِ استَيقظَ فذَكَر اللهَ انحلَّت عُقدةٌ، فإن تَوضَّأ انحلَّت عُقدةٌ، فإن صلَّى انحلَّت عُقدُه كلُّها، فأَصبحَ نَشيطًا طيِّبَ النَّفسِ، وإلَّا أَصبحَ خَبيثَ النَّفسِ كَسلانَ

“Setan mengikat tengkuk kepala seseorang di antara kalian ketika sedang tidur dengan tiga ikatan. Pada setiap ikatannya ia mengatakan: “malammu masih panjang, teruslah tidur”. Maka jika orang tersebut bangun, kemudian ia berzikir kepada Allah, terbukalah satu ikatan. Kemudian jika ia berwudhu terbukalah satu ikatan lagi. Kemudian jika ia shalat maka terbukalah seluruh ikatan. Sehingga ia pun bangun dalam keadaan bersemangat dan baik jiwanya. Namun jika tidak melakukan demikian, maka ia biasanya akan bangun dalam keadaan buruk jiwanya dan malas.”

Kedua, mencuci tangan dan wajah.

Ketika bangun tidur dianjurkan untuk mencuci wajah dan tangan sebelum memasukkan tangan tersebut ke dalam bejana atau melakukan aktifitas lainnya. Dalam hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Nabi Nabi Saw bersabda:

إذا استيقظ أحدُكم من نومِهِ، فلا يَغْمِسْ يدَه في الإناءِ حتى يغسلَها ثلاثًا . فإنه لا يَدْرِي أين باتت يدُه

“Jika salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka jangan mencelupkan tangannya ke dalam bejana sebelum ia mencucinya tiga kali. Karena ia tidak mengetahui di mana letak tangannya semalam.”

Ketiga, membersihkan mulut dan gigi dengan siwak atau sikat gigi.

Anjuran ini karena ketika tidur bau mulut biasanya berubah, disebabkan uap dari perut yang naik. Dan dalam keadaan ini, dengan bersiwak atau sikat gigi akan menghilangkan bau yang tidak sedap di mulut. Dalam hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim, Huzdaifah ibn al-Yaman bercerita;

كان النبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم إذا قام مِن الليلِ يَشُوصُ فاه بالسواكِ

“Biasanya Nabi Saw jika bangun di malam hari beliau menggosok-gosok mulutnya dengan siwak.”

 

Do’a Bangun Tidur

Berdoa ketika telah bangun tidur merupakan adab yang dicontohkan Rasul Saw., sekaligus sebagai tanda syukur kepada Allah SWT. karena masih diberikan umur panjang untuk memperbanyak ibadah dan berbuat baik. Berikut doa tersebut:

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذي أحْيانا بَعْدَما أماتَنا وإلَيْهِ النشُورُ

Alhamdu lillahil ladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur(u)

Segala puji Allah yang telah menghidupkan kami sesudah kami mati (membangunkan dari tidur) dan hanya kepada-Nya kami kembali. (Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari)

AGAR SELAMAT KITA BISA MENGAMALKAN NASIHAT SAYYIDINA UMAR RA DALAM KEHIDUPAN MODERN INI

Inilah beberapa nasehat sayyidina Umar bin Khotob RA.

  1. Wasiat Umar bin Khattab yang

pertama, bila kalian menemukan aib

yang ada dalam diri seseorang, maka

galilah aib yang ada dalam diri kalian

sendiri, karena aib kalian belum

tentu sedikit.

  1. Wasiat Umar bin Khattab yang ke-

dua, bila kalian ingin memusuhi

seseorang atau sesuatu, maka

musuhilah perut kalian, karena tidak

ada musuh yang lebih berbahaya

bagi kalian selain perut kalian

sendiri.

  1. Wasiat Umar bin Khattab yang ke-

tiga, bila kalian ingin memuji, pujilah

Allah SWT, karena tidak ada sesuatu

yang lebih banyak memberi kepada

kalian dan lebih santun serta lembut

kepada kalian selain Dia.

  1. Wasiat Umar bin Khattab yang ke-

empat, bila ada yang ingin kalian

tinggalkan, maka tinggalkanlah

kesenangan dunia, sebab justru bila

kalian tinggalkan kalian akan menjadi

terpuji.

  1. Wasiat Umar bin Khattab yang ke

lima, bila kalian ingin bersiap-siap

untuk sesuatu, maka bersiaplah

untuk mati, sebab bila kalian tidak

menyiapkan bekal untuk mati kalian

akan menderita, rugi dan penuh

penyesalan.

  1. Wasiat Umar bin Khattab yang ke

enam, bila kalian ingin menuntut

sesuatu maka tuntutlah akhirat

karena kalian tidak akan

mendapatkannya kecuali dengan

mencarinya.”

Itulah enam wasiat dari Sayyidina Umar bin Khattab yang patut kita renungkan dan ikuti.

ORANG BERIMAN JANGANLAH MENYEBARKAN BERITA BOHONG ATAU HOAKS

Allah SWT telah mewanti-wanti umat Islam untuk tidak gegabah dalam membenarkan sebuah berita yang disampaikan oleh orang-orang fasik yang termasuk di dalamnya orang-orang yang belum diketahui secara jelas sikap dan perilaku (kejujuran)-nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS al-Hujurat:6)

Syeikh Thahir ibn Asyur, ahli tafsir kenamaan asal Tunisia, dalam kitabnya berjudul tafsir at-tahrir wa at-tanwir, dalam menafsirkan ayat di atas memberikan sebuah penjelasan bahwa ayat ini menegaskan kepada umat Islam agar berhati-hati dalam menerima laporan atau berita seseorang yang tidak diketahui asal-usulnya. Hal ini baik dalam ranah persaksian maupun dalam periwayatan.

Dalam konteks hari ini, kita dituntut agar berhati-hati dalam menerima pemberitaan dari media apapun, terlebih media atau informasi dari seseorang yang isinya sarat dengan muatan kebencian kepada pihak lain.

Dalam ajaran Islam, berbohong merupakan perbuatan tercela. Pembuatan berita hoaks merupakan sebuah kejahatan yang bisa menyesatkan kesadaran para pembaca atau pendengarnya. Dalam adabud dunya waddin, Imam al-Mawardi (beberapa sumber menisbatkan perkataan ini kepada Hasan ibn Sahal) mengatakan bahwa pembuat berita hoaks diibaratkan perbuatan mencuri akal sehat (penerima pesannya):

وقيل في منثور الحكم: الكذاب لص؛ لأن اللص يسرق مالك، والكذاب يسرق عقلك

Artinya, “Dikatakan dalam Mantsurul Hikam bahwa pendusta adalah ‘pencuri’. Kalau pencuri itu mengambil hartamu, maka pendusta itu mencuri akalmu,” (Lihat Al-Imam Al-Mawardi, Adabud Dunya wad Din, [Beirut: Darul Fikr, 1992 M/1412 H], halaman 191).

Selain itu, menurut Imam Al-Mawardi dalam kitab yang sama juga dijelaskan bahwa efek negatif dari pemberitaan hoaks adalah hilangnya rasa aman dan rasa tenteram. Yang ada kecurigaan, waswas, dan ketegangan.

“Bohong itu pusat kejahatan dan asal segala perilaku tercela karena keburukan konsekuensi dan kekejian dampaknya. Bohong melahirkan adu domba. Adu domba menghasilkan kebencian. Kebencian mengundang permusuhan. Di dalam suasana permusuhan tidak ada rasa aman dan relaksasi,”

FATWA HARAM HOAKS

Kejahatan dan dampak negatif yang ditimbulkan oleh berita hoaks menuntut Lembaga-lembaga keagamaan Islam di Indonesia untuk melakukan kajian mendalam terhadap hal tersebut. MUI, NU, dan Lembaga Bahstul Masail Pondok Pesantren Lirboyo sudah mengeluarkan fatwa keharaman memproduksi dan menyebarkan hoaks.

FATWA MUI

Melalui fatwanya nomor No. 24 tahun 2017 tentang hukum dan pedoman bermuamalah melalui media sosial, MUI memutuskan hukum haram dalam penyebaran hoaks serta informasi bohong meskipun bertujuan baik, seperti info tentang kematian orang yang masih hidup. Selain penyebaran hoaks, dalam fatwa tersebut MUI juga mengharamkan ghibah (membicarakan orang lain tanpa sepengetahuannya), fitnah, namimah (adu domba), dan juga penyebaran permusuhan.

BAHSTUL MASAIL NU

Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama melalui hasil Bahstul Masail yang diselenggarakan pada tanggal 1 Desember 2016 menyatakan haram perilaku membuat dan menyebarkan berita palsu, bohong, menipu atau dikenal dengan hoax.

LBM PBNU merespon situasi saat ini yang makin marak terkait perilaku membuat dan menyebarkan berita hoax. Hal semacam itu bisa menyebabkan tersebarnya kebencian dan permusuhan di kalangan masyarakat dan lebih jauhnya bisa menyebabkan disintegrasi nasional.

Senada dengan Lembaga Bahtsul Masail dan juga Fatwa MUI, lembaga Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo pada tanggal 22-23 Maret 2017 juga menggelar Bahstul Masail yang salah satu pertanyaannya membahas tentang hoaks. Hasil rumusan Bahtsul Masail tersebut mengatakan bahwa hukum menyebarkan berita hoaks tanpa melakukan tabayyun atas kevalidannya terlebih dahulu adalah haram.

Oleh karena itu, marilah kita semua bersama-sama menangkal bahaya hoaks ini dengan tidak turut serta menyebarkan berita yang tidak diketahui secara jelas validitasnya. Kita terangi dunia digital kita dengan informasi-informasi yang benar dan bermanfaat. Sebab, kata bijak bestari: ‘dusta (hoaks), kemunafikan, makar (tipu muslihat), dan penipuan ibarat gunung es yang jika terkena cahaya kebenaran akan meleleh bersama orang-orangnya yang hendak menggapai awan’.

Semoga Allah melindungi kita, keluarga kita dan segenap bangsa ini dari segala berita bohong dan fitnah keji. Amiiin…

LEBIH BAIK BELAJAR ATAU IBADAH YANG SUNNAH

Menuntut ilmu adalah kemuliaan dan keutamaan. Apalagi ilmu yang bermanfaat bagi orang banyak. Demikian pula ibadah sunnah, semisal shalat, puasa, baca al-Qur’an, dan lain-lain.

Kalau bisa melakukan keduanya, rajin ibadah sunnah dan rajin belajar, tentu lebih baik. Tapi kalau tidak bisa, misalkan waktu yang tersedia tidak cukup, dan diharuskan untuk memilih mana yang harus didahulukan?

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ menjelaskan persoalan ini secara rinci. Bahkan beliau membuat bab khusus tentang keutamaan menuntut ilmu daripada ibadah sunnah, semisal shalat dan puasa, dan ibadah individu lainnya. Ia membuat bab dengan judul:

فصل في ترجيع الاشتغال بالعلم على الصلاة والصيام وغيرهما من العبادات القاصرة على فاعلها

Artinya, “Sebuah pasal tentang keutamaan menuntut ilmu dari shalat dan puasa, serta ibadah qashirah (individual) lainnya.”

Dalam bagian ini, Imam An-Nawawi menukil banyak riwayat dari Khatib Al-Baghdadi terkait keutamaan menuntut ilmu dibanding ibadah sunnah, khususnya ibadah yang hanya bermanfaat bagi orang yang mengajarkannya saja. Di antara hadits yang menunjukkan keutamaan orang berilmu ketimbang ahli ibadah adalah:

فَقِيهٌ وَاحِدٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ

Artinya, “Satu orang faqih lebih ditakuti setan ketimbang seribu ahli ibadah,” (HR IbnuMajah).

Selain itu, ada banyak riwayat lain yang menunjukkan keutamaan orang berilmu. Misalnya, Rasul pernah mengatakan, “Majelis fikih lebih baik ketimbang ibadah enam puluh tahun”, “Orang berilmu lebih besar pahalanya ketimbang orang puasa dan berperang di jalan Allah”, dan masih banyak riwayat lain. Riwayat seperti ini banyak dikutip Khatib Al-Baghdadi dalam karyanya Al-Faqih wal Mutafaqqih.

Berdasarkan beberapa riwayat itu, Imam An-Nawawi menyimpulkan:

انهم متفقون على ان الاشتغال بالعلم أفضل من الاشتغال بنوافل الصوم والصلاة والتسبيح ونحو ذلك من نوافل عبادات البدن، ومن دلائله سوى ما سبق أن نفع العلم  يعم صاحبه والمسلمين، والنوافل المذكورة مختصة به

Artinya, “Ulama salaf sepakat bahwa menuntut ilmu lebih utama ketimbang ibadah sunnah, semisal puasa, shalat, tasbih, dan ibadah sunnah lainnya. Di antara dalilnya adalah, selain yang disebutkan di atas, ilmu bermanfaat bagi banyak orang, baik pemiliknya maupun orang lain, sementara ibadah sunnah yang disebutkan (manfaatnya) khusus bagi orang yang mengerjakan saja.”

Dilihat dari manfaatnya, menuntut ilmu lebih utama ketimbang ibadah sunnah. Sebab itu, bagi orang yang dihadapkan pada situasi dilematis, antara mengerjakan ibadah sunnah atau belajar, merujuk pendapat Imam An-Nawawi di atas, belajar lebih diutamakan.

Meskipun demikian, pelajar atau santri yang mampu mengerjakan ibadah sunnah tentu lebih baik.

Kalau bisa kedua amalan baik ini dilakukan terus-menerus. Di samping rajin belajar, tapi juga rajin ibadah. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)

Lebih Baik Belajar atau Ibadah Sunnah?

Menuntut ilmu adalah kemuliaan dan keutamaan. Apalagi ilmu yang bermanfaat bagi orang banyak. Demikian pula ibadah sunnah, semisal shalat, puasa, baca al-Qur’an, dan lain-lain.

Kalau bisa melakukan keduanya, rajin ibadah sunnah dan rajin belajar, tentu lebih baik. Tapi kalau tidak bisa, misalkan waktu yang tersedia tidak cukup, dan diharuskan untuk memilih mana yang harus didahulukan?

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ menjelaskan persoalan ini secara rinci. Bahkan beliau membuat bab khusus tentang keutamaan menuntut ilmu daripada ibadah sunnah, semisal shalat dan puasa, dan ibadah individu lainnya. Ia membuat bab dengan judul:

فصل في ترجيع الاشتغال بالعلم على الصلاة والصيام وغيرهما من العبادات القاصرة على فاعلها

Artinya, “Sebuah pasal tentang keutamaan menuntut ilmu dari shalat dan puasa, serta ibadah qashirah (individual) lainnya.”

Dalam bagian ini, Imam An-Nawawi menukil banyak riwayat dari Khatib Al-Baghdadi terkait keutamaan menuntut ilmu dibanding ibadah sunnah, khususnya ibadah yang hanya bermanfaat bagi orang yang mengajarkannya saja. Di antara hadits yang menunjukkan keutamaan orang berilmu ketimbang ahli ibadah adalah:

فَقِيهٌ وَاحِدٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ

Artinya, “Satu orang faqih lebih ditakuti setan ketimbang seribu ahli ibadah,” (HR IbnuMajah).

Selain itu, ada banyak riwayat lain yang menunjukkan keutamaan orang berilmu. Misalnya, Rasul pernah mengatakan, “Majelis fikih lebih baik ketimbang ibadah enam puluh tahun”, “Orang berilmu lebih besar pahalanya ketimbang orang puasa dan berperang di jalan Allah”, dan masih banyak riwayat lain. Riwayat seperti ini banyak dikutip Khatib Al-Baghdadi dalam karyanya Al-Faqih wal Mutafaqqih.

Berdasarkan beberapa riwayat itu, Imam An-Nawawi menyimpulkan:

انهم متفقون على ان الاشتغال بالعلم أفضل من الاشتغال بنوافل الصوم والصلاة والتسبيح ونحو ذلك من نوافل عبادات البدن، ومن دلائله سوى ما سبق أن نفع العلم  يعم صاحبه والمسلمين، والنوافل المذكورة مختصة به

Artinya, “Ulama salaf sepakat bahwa menuntut ilmu lebih utama ketimbang ibadah sunnah, semisal puasa, shalat, tasbih, dan ibadah sunnah lainnya. Di antara dalilnya adalah, selain yang disebutkan di atas, ilmu bermanfaat bagi banyak orang, baik pemiliknya maupun orang lain, sementara ibadah sunnah yang disebutkan (manfaatnya) khusus bagi orang yang mengerjakan saja.”

Dilihat dari manfaatnya, menuntut ilmu lebih utama ketimbang ibadah sunnah. Sebab itu, bagi orang yang dihadapkan pada situasi dilematis, antara mengerjakan ibadah sunnah atau belajar, merujuk pendapat Imam An-Nawawi di atas, belajar lebih diutamakan.

Meskipun demikian, pelajar atau santri yang mampu mengerjakan ibadah sunnah tentu lebih baik.

Kalau bisa kedua amalan baik ini dilakukan terus-menerus. Di samping rajin belajar, tapi juga rajin ibadah.

Wallahu a‘lam.

INILAH CARA AGAR KERJA KITA BERNILAI IBADAH

Selama di dunia, mau tak mau kita harus berusaha terlebih dahulu untuk memperoleh kebutuhan hidup. kita tidak boleh berpangku tangan saja sembari mengharap belas kasihan orang lain. Dalam islam, orang yang memberi lebih terhormat daripada orang yang menerima. Seorang mukmin yang tegar dan mampu mandiri lebih utama daripada seorang mukmin yang lemah dan selalu menggantungkan nasibnya kepada orang lain.

Anggapan bahwa islam adalah ajaran yang cenderung mengajak orang bermalas-malasan adalah anggapan yang salah. Justru islam melalui al-Qur’an dan hadis-hadis memotivasi umatnya agar  menjadi manusia pekerja keras dan pantang menerima belas kasih orang lain. Sejarah menyebutkan bahwa para nabi dan rasul aktif bekerja. Ada yang menjadi petani, pengembala, tukang kayu dan beragam profesi lainnya. Tokoh-tokoh penyebar agama islam di Indonesia pun adalah ulama-ulama yang ulet berniaga di samping kegigihan mereka berdakwah.

Bekerja bisa bernilai ibadah dan bahkan pahalanya melebihi ibadah-ibadah sunnah apabila didasari dengan niat baik serta dilakukan sesuai syari’at. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui pola kerja sesuai tuntunan Rasulullah Saw. Dengan bekerja secara benar, niscaya kita mendapatkan keuntungan ganda, materi dunia dan pahala di akhirat. Ibarat sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Mari kita simak penuturan al-Imam Habib Abdullah bin Husein bin Thahir al-‘Alawi tentang cara bekerja yang baik dan berkah berikut ini,

“Ketika kalian hendak memasuki dunia kerja, persiapkanlah niat-niat yang baik terlebih dahulu. Mencari rejeki yang halal adalah wajib bagi setiap insan muslim. Untuk itu, niatkanlah di dalam hati bahwa tujuan kalian bekerja adalah untuk mendapatkan rejeki halal yang dapat menunjang kehidupan agama kalian, menjaga martabat kalian serta keluarga kalian agar tidak meminta-minta kepada orang lain juga untuk menghindarkan diri kalian dari sikap ingin memiliki hak-hak orang lain.

Akan tetapi, di tengah-tengah kesibukan kerja, janganlah kalian melalaikan urusan akhirat. Luangkan waktu untuk mempelajari ilmu syari’at yang diwajibkan kepada kalian, laksanakan salat lima waktu dengan berjama’ah, jagalah keistiqamaan kalian dalam membaca wirid-wirid.

Allah Swt berfirman,

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

‘Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.’

Selanjutnya Allah Swt mengingatkan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.

Pelajarilah ilmu yang berkaitan dengan bidang kerja kalian, agar kalian dapat mengambil sikap yang benar dan tidak merugikan orang lain. Sehingga kalian selamat dari perbuatan dosa dan maksiat.

Hindarilah cara kerja yang tidak benar dan menyalahi aturan syari’at. Sebab harta yang dihasilkan dengan cara tersebut adalah haram. Harta haram hakikatnya menjijikkan dan akan lenyap dari tangan pemiliknya dengan cepat. Hal itu telah terbukti dan pasti akan dirasakan oleh mereka yang melakukannya.

Sesungguhnya ibadah yang dilaksanakan oleh orang yang memakan barang haram atau memakai baju yang haram takkan diterima oleh Allah Swt. Penyusun Zubad menggambarkan,

‘ Dan ketaatan dari seseorang yang memakan barang haram,

Adalah semisal bangunan yang didirikan diatas ombak lautan.

Dalam hadis disebutkan bahwa orang yang memakan barang haram, maka sekujur tubuhnya akan mengerjakan kemaksiatan, baik ia menghendakinya ataupun tidak. Sebuah kata bijak berbunyi, “Makanlah semua yang kalian inginkan, niscaya seperti jenis makanan kalian itulah bentuk amal perbuatan kalian.”

Kemudian manakala kalian dikarunia harta yang halal, pergunakanlah dengan tata cara dan niat yang baik. Makanlah secukupnya dan jangan sampai terlalu kenyang. Sebab perut yang dipenuhi dengan makanan sekalipun halal akan menjadi pemicu perbuatan-perbuatan nista. Bisa dibayangkan, bagaimana jika dipenuhi dengan makanan yang haram.

Rasulullah Saw mewartakan, “Tiada wadah yang penuh yang lebih jelek daripada perut. Sebenarnya cukup bagi manusia beberapa suap makanan untuk menegakkan tubuhnya. Jika memang menghendaki lebih, maka yang layak adalah sepertiga perutnya untuk makanan, sepertiganya lagi untuk minum, dan sepertiga yang terakhir untuk nafasnya.” Disebutkan pula bahwa kebanyakan penyakit penyebabnya adalah kekenyangan perut.

Ketahuilah, sesungguhnya harta yang sedikit namun halal lebih baik dan lebih mendatangkan berkah daripada harta melimpah namun haram atau syubhat.

Apabila kalian telah mendapatkan rejeki yang sekiranya mencukupi kebutuhan kalian di waktu itu , maka qana’ah (merasa cukup)-lah dengannya lalu bersyukurlah kepada Allah serta jangan mengharapkan yang berlebihan untuk masa yang akan datang.

Janganlah kalian bersikap tamak dan selalu mengharap lebih, sehingga tubuh dan hatimu akan kecapaian karenanya. Asal tahu saja, sesungguhnya takkan sampai kepada kalian kecuali rejeki yang telah ditakdirkan untuk kalian.

Ketahuilah, sesungguhnya nikmat-nikmat Allah yang dikaruniakan kepada kalian yang bukan berupa harta benda jauh lebih besar daripada kenikmatan yang berupa harta benda.

Hati-hatilah, jangan pernah menipu, berkhianat ataupun berbohong dalam setiap pekerjaan kalian. Karena semua tindakan itu memancing amarah Allah Swt dan menghapus keberkahan dari jerih payah kalian. Dasarilah segala urusan pekerjaan kalian dengan sikap jujur dan nasihah. Keluarkan semua hak yang diwajibkan dalam harta kalian seperti zakat, pelunasan utang, serta nafkah-nafkah yang wajib dengan senang hati dan lapang dada.”

Dalam nasehat-nasehatnya di atas, Habib Abdullah bin Husein bin Thahir menekankan bahwa tujuan bekerja adalah untuk mendapatkan rejeki dari Allah Swt yang bisa mencukupi kebutuhan keseharian kita dan bukan untuk mencari kekayaan. Adapun yang kita ketahui sekarang ini, orang-orang bekerja untuk menumpuk kekayaan. Sehingga tindakan saling tipu, saling khianat dan trik-trik kotor lainnya mewarnai dunia usaha kita.

DO’A DI RINGANKAN HISAB DAN 4 GOLONGAN MANUSIA YANG DI RINDUKAN SURGA

Sebagai umat Islam, kita pasti mengharapkan keselamatan di akhirat kelak dan berkumpul dengan saudara-saudara  kita di surga nantinya. Akan tetapi sebelumya, amalan kita selama di dunia akan dihisab. Walau nabi Muhammad Saw dijamin untuk masuk Surga, beliau tetap membaca doa agar dipermudah ketika dihisab dan mungkin bagi kita untuk mengamalkanya. Adapun doanya ialah:

(اللَّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَابَاً يَسِيرَاً…(رواه أحمد

“Ya Allah, hisablah aku dengan hisab yang mudah..”. (H.R Imam Ahmad)

Ini Empat Golongan yang Dirindukan Surga

Setiap orang yang beriman pasti menginginkan agar dirinya dimasukkan ke dalam surga. Di dalam surga, mereka berhasrat bukan hanya terhadap kenikmatan di dalamnya, lebih dari itu mereka berhasrat agar bertemu dengan Allah, Tuhan yang selama di dunia disembah dengan penuh kerinduan. Karena hanya di dalam surga, Allah dapat dilihat dan tidak ada kenikmatan apapun yang bisa menandingi kenikmatana melihat wujud-Nya.

Namun, ternyata surga bukan hanya bisa dirindukan tapi juga bisa merindukan. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Anas bin Malik, dia berkata bahwa Nabi SAW bersabda;

مَنْ سَأَلَ اللَه اْلجَنَّةَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَتِ اْلجَنَّةُ اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ اْلجَنَّةَ وَمَنِ اسْتَجَارَ مِنَ النَّارِ ثلَاَث َمَرَّاتٍ قَالَتِ النَّارُ اَللَّهُمَّ أَجِرْهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa meminta surga kepada Allah sebanyak tiga kali, maka surga akan berkata, ‘Ya Allah masukkan dia ke dalam surga.’ Dan barangsiapa meminta dijauhkan dari neraka, maka neraka berkata, ‘Ya Allah, jauhkan dia dari neraka.’”

Hadis ini menunjukkan bahwa surga juga bisa meminta kepada Allah agar seseorang dimasukkan ke dalamnya. Begitu juga dengan neraka, bisa meminta agar seseorang dijauhkan dari dirinya. Dalam kitab Raunaqul Majalis disebutkan, bahwa ada empat golongan yang dirindukan surga dan meminta kepada Allah agar mereka segera dimasukkan ke dalamnya.

اَلْجَنَّةُ مُشْتَاقَةٌ إِلَى أَرْبَعَةِ نَفَرٍ: تَالِي الْقُرْآنِ، وَحَافِظِ اللِّسَانِ، وَمُطْعِمِ الْجِيْعَانِ وَالطَّائِمِيْنَ فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ

“Surga sangat rindu terhadap empat golongan, yaitu orang yang membaca Al-Quran, orang yang memelihara lisan, orang yang memberi makan terhadap orang-orang yang lapar serta orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan.”

Pertama, pembaca Al-Quran. Selain dapat menentramkan hati, membaca Al-Quran juga bisa mengantarkan pembacanya ke derajat tertinggi di surga. Nabi SAW bersabda, “Bacalah (Al-Quran), naiklah (pada derajat-derajat surga) dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya dengan tartil di dunia. Sesungguhnya kedudukan derajatmu pada kadar akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Ahmad).

Kedua, orang yang selalu menjaga lisannya dari berkata kotor, mengumpat, menyakiti orang lain melalui lisannya. Disebutkan dalam sebuah hadis, “Wahai Rasulullah, ada seorang wanita yang hanya melaksanakan shalat wajib saja dan hanya bersedekah dengan sepotong keju namun dia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Nabi SAW menjawab, “Dia termasuk penghuni surga.” (HR. Bukhari).

Ketiga,  orang yang memberi makan terhadap orang lapar. Nabi SAW bersabda, “Siapapun mukmin memberi makan mukmin yang kelaparan. Pada hari kiamat nanti Allah akan memberinya makanan dan buah-buahan surga.” (HR. Tirmidzi).

Keempat, orang yang berpuasa di bulan Ramadhan. Nabi SAW bersabda, “Surga memiliki delapan buah pintu. Di antara pintu tersebut ada yang dinamakan pintu Al-Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa.” (HR. Bukhari).

Wallahu A’lam.

VIDEO SELFIE DAN BERFOTO RIA DI DAERAH YANG TERKENA BENCANA

Pada dasarnya, aktivitas berselfie ria merupakan hak pribadi yang dilindungi undang-undang dan syariat Islam.
Adapun aktivitas berfoto selfie ria atau membuat siaran langsung video dengan gembira di lokasi bencana yang masih dalam penanganan atau pemulihan pasca-bencana sebaiknya dihindari. Pasalnya, dalam situasi duka sebaiknya kita menunjukkan empati terhadap korban bencana dengan menjauhi ekspresi kegembiraan di media sosial.
Dalam kondisi pasca-bencana, kita sebaiknya menunjukkan empati dan solidaritas sosial serta berpartisipasi aktif bersama elemen masyarakat lainnya dalam proses pemulihan korban setelah bencana sebagaimana hadits Rasulullah SAW berikut ini.
إن المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا
Artinya, “Sungguh, hubungan orang yang beriman satu sama lain layaknya sebuah bangunan, yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain,” (HR Bukhari dan Muslim).
Suasana setelah bencana adalah suasana dukacita. Empati terhadap korban bencana sebaiknya tidak ditunjukkan dengan ekspresi yang biasa ditunjukkan dalam suasana sukacita. Ekspresi riang gembira dalam foto selfie sebaiknya dihindari.
Perihal empati dalam suasana dukacita dan solidaritas sosial ini  dipesan oleh Rasulullah SAW sebagaimana dalam riwayat Imam Muslim berikut ini:
قوله (مثل المؤمنين) الكاملين في الايمان (في توادهم) بشدة الدال مصدر توادد أي تحابب (وتراحمهم) أي تلاطفهم (وتعاطفهم) أي عطف بعضهم على بعض (مثل الجسد) الواحد بالنسبة لجميع أعضائه وجه الشبه التوافق في التعب والراحة (اذا اشتكى) أي مرض (منه عضو تداعى له سائر الجسد) أي باقيه (بالسهر) بفتح الهاء ترك النوم لان الالم يمنع النوم (والحمى) لان فقد النوم يثيرها ولفظه خبر ومعناه أمر أي كما ان الرجل اذا تألم بعض جسده سرى ذلك الالم الى جميع بدنه فكذا المؤمنون ليكونوا كنفس واحدة اذا أصاب أحدهم مصيبة يغتم جميعهم ويقصدوا ازالتها (حم م عن النعمان بن بشير) بل هو متفق عليه
Artinya, “Perkataan (Perumpamaan orang yang beriman) dengan keimanan yang sempurna (dalam kasih sayang) mawadah (kerahiman) belas kasih (kelembutan) satu sama lain (serupa dengan) satu (tubuh) dalam kaitannya dengan seluruh anggota tubuh dalam hal keletihan dan kesenangan. (Jika menderita) mengalami sakit (satu dari anggota tubuh itu, niscaya semua anggota tubuh) angota tubuh lainnya (ikut merasakan derita dengan terjaga) karena sakit menyebabkan seseorang sulit tidur (dan demam) karena kondisi terjaga karena sakit dapat membuat seseorang demam. Meski lafalnya bersifat informatif, makna hadits ini bersifat imperatif. Ketika seseorang menderita sakit pada salah satu anggota tubuhnya, maka nyerinya menjalar ke seluruh tubuh. Sama halnya dengan orang yang beriman. Mereka seharusnya seperti satu jiwa. Bila musibah menimpa salah satu dari mereka, maka sisanya yang lain merasa bimbang dan bergerak untuk mengatasinya. (riwayat Imam Muslim dari An-Nu‘man bin Basyir) justru riwayat Bukhari dan Muslim,” (Lihat Al-Munawi, At-Taysir bi Syarhil Jami‘is Shaghir, [Riyadh, Maktabah Al-Imam As-Syafi‘i: 1988 M/1408 H], juz II, halaman 722).
Dari keterangan ini, kita dapat menarik simpulan bahwa aktivitas berfoto selfie ria di tengah suasana duka setelah bencana berkaitan erat dengan adab, akhlak, dan moralitas. Sejauh ini, aktivitas berfoto selfie ria dalam konvensi sosial hari ini dan di Indonesia ini cenderung dipahami sebagai ekspresi kegembiraan yang tidak seharusnya ditunjukkan dalam suasana duka.
Meski tidak bermaksud “menari” di atas penderitaan orang lain, aktivitas semacam ini sebaiknya dihindari karena tidak patut dilakukan dan tidak layak dilakukan oleh mereka yang beriman dengan keimanan yang sempurna.

RENUNGAN AKHIR PEKAN : KETINGGIAN MORAL ORANG YANG MENGUCAP MAAF DAN TERIMA KASIH

Seorang teman yang selama bertahun-tahun pernah hidup di negara dengan etika sosial yang sangat baik mengatakan, saat ini dia sudah membiasakan diri untuk tidak berharap mendapat ucapan terima kasih dari orang, sekalipun dia telah menolong orang tersebut dengan cara menahan pintu mini market atau kantor, agar orang yang ada di belakangnya tidak kejeprak mintu yang menutup secara otomatis. Dia juga sudah membiasakan diri untuk tidak berharap ada permintaan maaf dari orang yang menyenggolnya hingga terhuyung-huyung.

Ya, dibalik keramahan bangsa Indonesia, rasanya ada dua hal yang jarang sekali keluar dari mulut orang Indinesia: ‘terima kasih’ dan ‘minta maaf’.

Ucapan terima kasih dan minta maaf mungkin hanya memerlukan dua detik untuk mengucapkannya, namun memerlukan ketinggian moral dan kerendahan hati yang mendalam untuk melakukannya. Maaf dan terima kasih hanya akan keluar dari lisan orang yang hatinya tidak diliputi keangkuhan.

 

    Jangan pernah berharap hati yang penuh dengan kesombongan akan memiliki kesanggupan mengucapkan dua kata itu.

Bagi orang yang merasa dirinya harus dilayani, ucapan terima kasih terasa akan menjungkalkan posisinya. Mengucapkan terima kasih kepada sopir yang mengantarkannya dari rumah ke tempat kerja, misalnya, dianggap tak layak dilakukan karena itu sama dengan meletakkan posisinya sejajar dengan, atau bahkan lebih rendah dari, sopir. Dia merasa telah membayar impas jasa layanan sopir sehingga tak lagi perlu mengucapkan terima kasih. Jangan heran jika kita nyaris tak pernah mendengar ucapan terima kasih dari penumpang kepada sopir bus atau angkot, apalagi dari seorang bos ke sopir pribadinya.

 

Inilah yang disebut dengan pembendaan manusia. Kita memperlakukan manusia seperti robot. Karena robot hanyalah mesin yang bekerja sesuai program, maka ketika dia melayani kita, tak perlu berterima kasih kepadanya. Tak ada isu moral di sini.

 

Begitu juga dengan ucapan maaf, tidak akan keluar dari mulut orang yang merasa dirinya selalu benar. Bahkan kalau salah pun orang seperti ini tak akan mau meminta maaf karena permintaan maaf dianggap akan merendahkan dirinya.

Penyakit kesombongan dan merasa benar ini terutama menghinggapi orang yang selama ini merasa “terhormat”. Bagaimana mungkin orang terhormat akan minta maaf? Itu sama saja menghina kehormatannya.

Apa lagi kalau orang itu tokoh agama yang setiap katanya dianggap sebagai suara Tuhan. Bagaimana mungkin Tuhan minta maaf. Orang seperti ini akan bertahan sedemikian rupa untuk menjaga mulut “suci”-nya dari mengucapkan kata “maaf” yang dianggapnya “kotor”.

Orang seperti ini lebih memilih mati membusuk dengan keangkuhan dan kesombongannya daripada harus minta maaf.

Mari kita renungi kalimat bijak dari tradisi tasawuf, “Rendahkanlah dirimu sampai orang lain tak bisa lagi merendahkanmu”. Orang yang rendah hati bukanlah pribadi rendahan. Orang yang tinggi hati, tak peduli bergelar apa dan keturunan siapa, pada hakekatnya bukanlah orang yang memiliki keluhuran akhlak.

ULAMA YANG MENGOBARKAN KEKERASAN ADALAH ULAMA SU’

Cendekiawan muslim Indonesia, Prof Azyumardi Azra mengatakan bahwa ulama merupakan pewaris  Nabi Muhammad SAW yang memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan Nabi. Di saat yang bersamaan para ulama dituntut untuk menyontohkan akhlaq kenabian yang santun dan mulia.
“Ulama itu harus berakhlak mulia seperti Nabi karena ulama adalah pewaris para Nabi. Dengan begitu ulama tidak boleh menghina seseorang atau kelompok tertentu, tidak mengumbar ujaran kebencian, dan tidak mengedarkan fitnah atau hoaks,” ujar cendekiawan muslim Indonesia, Prof Dr Azyumardi Azra, MA, CBE di Jakarta, Kamis (13/12).
Dengan mengamalkan hal tersebut, secara bersamaan para ulama telah mengedukasi umat Islam khususnya dan masysarakat pada umumnya tentang cara berperilaku dan berakhlaq mulia. Sebab masyarakat Indonesia memandang ulama sebagai panutan.
Namun ia juga tak memungkiri akan adanya beberapa ulama yang kerap mengungkapkan ujaran kebencian di depan jamaahnya. Sebagian dari para ulama ini tak segan-segan mengungkapkan ujaran kebencian yang berbahaya dalam ceramahnya. Ia menduga bahwa salah satu faktor pendorongnya tak lain adalah keterlibatan para ulama pada kepentingan politik tertentu.
“Ulama yang berbuat seperti itu, kehilangan martabat dan kemuliaan keulamaannya sehingga menjadi su’ul ulama (ulama tercela),” imbuh Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.
Jika dilihat dari kacamata akhlaq, menurutnya, banyak ulama yang belum memenuhi syarat menjadi ulama, tetapi memaksakan diri untuk tampil di atas mimbar demi untuk mencari popularitas. Juga tidak sedikit ulama yang menganut paham radikal yang jelas-jelas bertujuan untuk merusak keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Azyumardi mengungkapkan, ulama atau ustaz atau penceramah radikal ini masih bebas memberikan gagasannya yang mengandung wacana intoleransi, radikalisme hingga anti-NKRI dan Pancasila, baik di masjid atau di media-media digital.
Ia menyarankan pada pemerintah agar ustaz-ustaz seperti itu ditertibkan. Salah satunya dengan cara menyeleksi ustaz atau penceramah keagamaan melalui sertifikasi dari Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia atau organisasi sekelas Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah sebelum melaksanakan dakwahnya.