PEMBAHASAN KEWAJIBAN ORANG TUA DAN ANAK YANG SHOLIH SERTA CARA BELAJAR AL-QUR’AN

   KEWAJIBAN ORANG TUA TERHADAP ANAK

  1.  Anak mempunyai hak untuk hidup.

Allah berfirman:

‘Janganlah kamu membunuh anak anakmu karena takut miskin. Kami akan memberikan rizqi kepadamu dan kepada mereka.’ ( QS. Al-An’am: 151)

  1. Menyusui

Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QS AI Baqarah: 233)

Al ‘Allamah Siddiq Hasan Khan berkata, “Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. Maksudnya, adalah jumlah waktu selama itu dihitung dari mulai hamil sampai disapih.”

  1. Memberi Nama yang Baik

Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya kewajiban orang tua dalam memenuhi hak anak itu ada tiga, yakni: pertama, memberi nama yang baik ketika lahir. Kedua, mendidiknya dengan al-Qur’an dan ketiga, mengawinkan ketika menginjak dewasa.”

Berkenaan dengan nama-nama yang bagus untuk anak, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian, maka perbaguslah nama kalian.” (HR.Abu Dawud)

  1. Mengaqiqahkan Anak

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Tiap tiap seorang anak tergadai dengan ‘aqiqahnya. Disembelih (‘aqiqah) itu buat dia pada hari yang ketujuhnya dan di cukur serta diberi nama dia.’ (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Imam yang empat dan dishahihkan oleh At Tirmidzy, hadits dari Samurah ).

  1. Mendidik anak

Pada suatu kesempatan, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab kehadiran seorang tamu lelaki yang mengadukan kenakalan anaknya, “Anakku ini sangat bandel.” tuturnya kesal. Amirul Mukminin berkata, “Hai Fulan, apakah kamu tidak takut kepada Allah karena berani melawan ayahmu dan tidak memenuhi hak ayahmu?” Anak yang pintar ini menyela. “Hai Amirul Mukminin, apakah orang tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak?” Umar ra menjawab, “Ada tiga, yakni: pertama, memilihkan ibu yang baik, jangan sampai kelak terhina akibat ibunya. Kedua, memilihkan nama yang baik. Ketiga, mendidik mereka dengan al-Qur’an.”

  1. Memberi makan dan keperluan lainnya

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Cukup berdosa orang yang menyia nyiakan ( tanggung jawab) memberi makan keluarganya.’ ( HR Abu Daud )./1100;247/33.

  1. Memberi rizqi yang ‘thayyib’.

Dari Abu Rafi’ r.a., telah berkata; Telah bersabda Rasulullah s.a.w. ‘Kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah mengajarinya tulis baca, mengajarinya berenang dan memanah, tidak memberinya rizqi kecuali rizqi yang baik.’ HR Al Hakim/Depag;51.

  1. Mendidik anak tentang agama.

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Tiap bayi dilahirkan dalam kadaan suci ( fithrah Islamy ) . Ayah dan Ibunyalah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nashrany, atau Majusyi. HR Bukhary.;1100;243/15.

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Barang siapa mempunyai dua anak perempuan dan dia asuh dengan baik maka mereka akan menyebabkannya masuk sorga. ( HR Al Bukhary )/ 1100; 244/20.

  1. Mendidik anak untuk sholat.
  2. menyediakan tempat tidur terpisah antara laki laki dan perempuan.

Islam mengejarkan ‘hijab’ sejak dini. Meskipun terhadap sesama Muhrim , Bila telah berusia tujuh tahun tempat tidur mereka harus dipisahkan.

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Suruhlah anak anakmu sholat bila berumur tujuh tahun dan gunakan pukulan jika mereka sudah berumur sepuluh tahun dan pisahlah tempat tidur mereka ( putra putri ).

  1. Mendidi anak tentang adab yang baik.
  2. Memberi pengajaran dengan pelajaran yang baik;

Berkata shahabat ‘AlI r.a.; ‘Ajarilah anak anakmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dengan zamanmu.’ (Depag;19).

  1. Memberi pengajaran Al Quran.

Rasulullah s.a.w. bersabda;’Sebaik baik kalian adalah barang siapa yang belajar Al Qur aan dan mengajarkannya’.

Nabi s.a.w. bersabda; ‘Ilmu itu ada tiga macam. Selainnya adalah sekedar tambahan. Adapun yang tiga macam itu ialah; Ilmu tentang ayat ayat ( Al Qur aan) yang muhkamat, ilmu tentang Sunnah Nabi, dan ilmu tentang pembagian warits. ( HR Ibnu Majah ).

  1. Memberikan pendidikan dan pengajaran baca tulis .

Dari Abu Rafi’ r.a., telah berkata; Telah bersabda Rasulullah s.a.w. ‘Kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah mengajarinya tulis baca, mengajarinya berenang dan memanah, tidak memberinya rizqi kecuali rizqi yang baik.’ HR Al Hakim/Depag;51.

  1. Memberikan perawatan dan pendidikan kesehatan.

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Jagalah kebersihan* dengan segala usaha yang mampu kamu lakukan. Sesungguhnya Allah Ta’ala menegakkan Islam diatas prinsip kebersihan. Dan tak akan masuk sorga kecuali orang yang memelihara kebersihan.’ ( HR At Thabarany )/Depag; 57.

  1. Memberikan pengajaran ketrampilan.

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Sebaik baik makanan adalah hasil usaha tangannya sendiri’.

Dalam sabdanya yang lain beliau mengatakan; ‘Mengapa tidak kau ajarkan padanya ( anak itu ) menenun sebagaimana dia telah diajarkan tulis baca?’ ( HR An- Nasai ) /Depag; 52

  1. Memberikan kepada anak tempat yang yang baik dalam hati orang tua.

Seorang datang kepada Nabi s.a.w. dan bertanya; ‘Ya Rasulullah, apakah hak anakku ini? Nabi s.a.w. menjawab;’ Kau memberinya nama yang baik, memberi adab yang baik dan memberinya kedudukan yang baik ( dalam hatimu ) . ( HR At Tuusy )./1100;243/16.

  1. Memberi kasih sayang.

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Bukanlah dari golongan kami yang tidak menyayangi yang lebih muda dan ( bukan dari golongan kami ) orang yang tidak menghormati yang lebih tua.’ ( HR At Tirmidzy ). Depag; 42

  1. Menikahkannya

 “Kawinkanlah anak-anak kamu (yang belum kawin) dan orang-orang yang sudah waktunya kawin dari hamba-hambamu yang laki-laki ataupun yang perempuan. Jika mereka itu orang-orang yang tidak mampu, maka Allah akan memberikan kekayaan kepada mereka dari anugerah-Nya.” (QS. An-Nur:32)

Rasulullah dalam hal ini bersabda, “Ada tiga perkara yang tidak boleh dilambatkan, yaitu: shalat, apabila tiba waktunya, jenazah apabila sudah datang dan ketiga, seorang perempuan apabila sudah memperoleh (jodohnya) yang cocok.” (HR. Tirmidzi)

  1. Mengarahkan anak

 “Sesungguhnya pemuda itu sedang tumbuh. Maka apabila dia lebih mengutamakan untuk duduk bersama orang-orang yang berilmu, hampir-hampir bisa dikata dia akan selamat. Namun bila dia cenderung pada selain mereka, hampir-hampir dia rusak binasa.” (Dinukil dari Lammud Durril Mantsur minal Qaulil Ma`tsur, bab Hukmus Salaf ‘alal Mar`i bi Qarinihi wa Mamsyahu no.517).

                                                              ANAK SHOLEH INVESTASI ORAG TUA

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)mereka” (An Nisa: 9).

Orangtua diharuskan khawatir meninggalkan (mewariskan) kepada anak cucunya dhu’afa (kelemahan) dalam beberapa hal di antaranya :

  1. Lemah harta kekayaan
  2. Lemah fisik.
  3. Lemah ilmu.
  4. Lemah Aqidah.

إِذَا مَاتَ بْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ، صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ.

Artinya: “Jika wafat anak cucu Adam, maka terputuslah amalan-amalannya kecuali tiga: Sadaqah jariah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang selalu mendoakannya.” (HR.Muslim)

                                                      ANAK SHOLEH DAN MENCINTAI AL QURAN

إنَّ هَذَا الْقُرْآَنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

        Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar

( Al Isra ; 9 )

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

Dari Aisyah ra. Beliau berkata : “Bahwasannya Rasulullah bersabda : orang yang pandai membaca al Qur’an akan beserta para malaikat yang mulia. Dan orang yang terbata-bata dalam membacanya dan sangat kesulitan maka baginya ada dua pahala.” ( HR. Bukhori, Muslim dan Abu Dawud )

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

Bacalah al qur’an, maka sesungguhnya dia akan menjadi syafa’at bagi para sahabatnya di hari kiamat (HR. Muslim)

“Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

“Barang siapa membaca satu huruf dari Alquran, maka ia akan memperoleh kebaikan. Kebaikan itu berlipat sepuluh kali. Aku tidak mengatakan, Alif Laam Miim satu huruf, akan tetapi, Alif adalah huruf, Lam huruf, dan Mim huruf.” (At Tirmidzi. Nomor:3075).

 “Didiklah anak-anakmu dengan tiga perkara: mencintai Nabimu; mencintai ahlul baitnya; dan memba Al-Qur’an karena orang-orang yang memelihara Al-Qur’an itu berada dalam lingkungan singasana Allah pada hari ketika tidak ada perlindungan selain dari pada perlindungan-Nya; mereka beserta para Nabi-Nya dan orang-orang suci”. (HR. Ath Thabrani).

Menanamkan rasa cinta anak terhadap Al-Qur’an pertama kali harus dilakukan di dalam keluarga, yaitu dengan metode keteladanan. Karena jika kita menginginkan anak mencintai Al-Qur’an, maka jadikanlah keluarga kita sebagai suri teladan yang baik dengan cara berinteraksi secara baik dengan Al-Qur’an.

Metode-metode yang bisa digunakan agar anak kita mencintai Al-Qur’an diantaranya adalah:

  1. Bercerita /mendongengkan kepada anak dengan kisah-kisah yang diambil dari Al-Qur’an.

Mempersiapkan cerita untuk anak dapat menjadikannya mencintai Allah Ta’ala dan Al-Qur’an Al-Karim, karena dengan mendongeng anak tidak hanya sekedar mendengarkan isi cerita yang kita sampaikan namun mereka juga menggunakan imajinasinya dalam menyimak cerita yang kita bawakan. Terbangunnya sebuah imajinasi dalam pikiran anak akan melekat hingga ke alam bawah sadarnya. apalagi jika anak kita sampai tertidur mendengar cerita kita.

Menurut sebuah penilitian si fakultas psikologi Canada (dikutip dari detik news) fase tidur manusia terbagi dalam 4 fase :

  1. Fase menjelang tidur. dalam fase ini biasanya kesadaran kita masih diatas 75%. dalam fase ini otak mampu merekan hal2 yang terjadi disekitar kita.
  2. Fase menjelang tidur lelap. Dalam fase ini kesadaran yang bekerja adalah dibawah 30% dan kesadaran alam bawah sadar mulai bekerja hingga 70%. ini adalah fase yang sangat baik untuk menasehati dan menanamkan apapun dalam diri anak. sebuah penelitian yang tercatan 80% anak nakal / hiperaktif menjadi lebih baik setelah mendapat terapi nasehat dalam fase ini. selama 1-2bulan. Dan tingkat kecerdasan anak meningkat hinga 60% setelah mendapat masukan positive (pujian, lagu2 yang menenangkan dan ungkapan cinta orang tua).
  3. Fase tidur lelap. Dalam fase ini kesadaran bawah sadar kita bekerja 100%. Mimpi berlangsung pada fase ini.
  4. Fase post-tidur lelap. fase ini hampir sama dengan fase kedua, hanya saja tingkat kemampuan merespon masukan dari luar lebih lemah dibandingkan fase kedua.

Fase yang baik bagi manusia untuk memeperbaiki kualitas psikologis adalah pada fase dua dan empat. Jika kita ingin menanamkan kecintaan anak terhadap Al-Qur’an dan mengembangkan kualitas psikis anak kita maka pergunakanlah kedua fase terbaik ini untuk hal tersebut.

Akan lebih bagus jika kisah-kisah dogeng bagi anak-anak kita diambil dari Al-Qur’an secara langsung, seperti kisah tentang tentara gajah yang menghancurkan Ka’bah, kisah perjalanan nabi Musa dan nabi Khidir, kisah Qarun, kisah nabi Sulaiman bersama ratu Bilqis dan burung Hud-hud, kisah tentang Ashabul Kahfi, dan lain-lain.

Sebelum kita mulai bercerita kita katakan pada anak, “Sekarang saatnya untuk menjelajahi kisah-kisah seru yang ada di Al-Qur’an.” Sehingga rasa cinta anak terhadap cerita-cerita itu dengan sendirinya akan terikat dengan rasa cintanya pada Al-Qur’an. Namun, dalam menyuguhkan cerita pada anak harus diperhatikan pemilihan waktu yang tepat, pemilihan bahasa yang cocok, dan kalimat yang terkesan, dan alur yang merangsang imajinasi mereka. Sehingga hal ini akan memberi pengaruh yang kuat pada jiwa dan akal anak.

  1. Sabar dalam menghadapi anak.

Misalnya ketika anak belum bersedia menghafal pada usia ini, maka kita harus menangguhkannya sampai anak benar-benar siap. Jangan pernah memaksakan kehendak, karena ini dapat memberikan trauma pada anak. Anak-anak yang mengalami trauma akan sulit untuk menerima apapun. Bahkan dapat mengakibatkan kebencian dalam hati mereka. Namun kita harus selalu memperdengarkan bacaan Al-Qur’an kepadanya.

  1. Menggunakan metode pemberian penghargaan untuk memotivasi anak.

Misalnya jika anak telah menyelesaikan satu surat kita ajak ia untuk jalan-jalan/rekreasi, atau dengan menggunakan lembaran prestasi/piagam penghargaan, sehingga anak akan semakin terdorong untuk mengahafal Al-Qur’an.

  1. Menggunakan semboyan untuk mengarahkan anak mencintai Al-Qur’an.

Misalnya : Saya mencintai Al-Qur’an, Al-Qur’an Kalamullah, Allah mencintai anak yang cinta Al-Qur’an, Saya suka menghafal Al-Qur’an.

  1. Menggunakan sarana menghafal yang inovatif.

Hal ini disesuaikan dengan kepribadian dan kecenderungan si anak (cara belajarnya), misalnya :

  • Bagi anak yang dapat berkonsentrasi dengan baik melalui pendengarannya, dapat menggunakan sarana berupa kaset, atau program penghafal Al-Qur’an digital, agar anak bisa mempergunakannya kapan saja, serta sering memperdengarkan kepadanya bacaan Al-Qur’an dengan lantunan yang merdu dan indah.
  • Bagi anak yang peka terhadap sentuhan, memberikannya Al-Qur’an yang cantik dan terlihat indah saat di bawanya, sehingga ia akan suka membacanya, karena ia ditulis dalam lembaran-lembaran yang indah dan rapi.
  • Bagi anak yang dapat dimasuki melalui celah visual, maka bisa mengajarkannya melalui video, komputer, layer proyektor, melalui papan tulis, dan lain-lain yang menarik perhatiannya.
  1. Memilih waktu yang tepat untuk menghafal Al-Qur’an.

Hal ini sangat penting, karena kita tidak boleh menganggap anak seperti alat yang dapat dimainkan kapan saja, serta melupakan kebutuhan anak itu sendiri. Karena ketika kita terlalu memaksa anak dan sering menekannya dapat menimbulkan kebencian di hati anak, disebabkan dia menanggung kesulitan yang lebih besar. Oleh karena itu, jika kita ingin menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an di hati anak, maka kita harus memilih waktu yang tepat untuk menghafal dan berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Adapun waktu yang dimaksud bukan saat seperti di bawah ini:

  • Setelah lama begadang, dan baru tidur sebentar,
  • Setelah melakukan aktivitas fisik yang cukup berat,
  • Setelah makan dan kenyang,
  • Waktu yang direncanakan anak untuk bermain,
  • Ketika anak dalam kondisi psikologi yang kurang baik,
  • Ketika terjadi hubungan tidak harmonis anatara orangtua dan anak, supaya anak tidak membenci Al-Qur’an disebabkan perselisihan dengan orangtuanya.

Kemudian hal terakhir yang tidak kalah penting agar anak mencintai Al-Qur’an adalah dengan membuat anak-anak kita mencintai kita, karena ketika kita mencintai Al-Qur’an, maka anak-anak pun akan mencintai Al-Qur’an, karena mereka mengikuti orang yang dicintai.

Adapun beberapa cara agar anak-anak kita semakin mencintai kita antara lain:

  • Senantiasa bergantung kepada Allah, selalu berdo’a kepada Allah untuk kebaikan anak-anak. Dengan demikian Allah akan memberikan taufikNya dan akan menyatukan hati kita dan anak-anak.
  • Bergaul dengan anak-anak sesuai dengan jenjang umurnya, yaitu sesuai dengan kaedah, “Perlakukan manusia menurut kadar akalnya.” Sehingga kita akan dengan mudah menembus hati anak-anak.
  • Dalam memberi pengarahan dan nasehat, hendaknya diterapkan metode beragam supaya anak tidak merasa jemu saat diberi pendidikan dan pengajaran.
  • Memberikan sangsi kepada anak dengan cara tidak memberikan bonus atau menundanya sampai waktu yang ditentukan adalah lebih baik daripada memberikan sangsi berupa sesuatu yang merendahkan diri anak. Tujuannya tidak lain supaya anak bisa menghormati dirinya sendiri sehingga dengan mudah ia akan menghormati kita.
  • Memahami skill dan hobi yang dimiliki anak-anak, supaya kita dapat memasukkan sesuatu pada anak dengan cara yang tepat.
  • Berusaha dengan sepenuh hati untuk bersahabat dengan anak-anak, selanjutnya memperlakukan mereka dengan bertolak pada dasar pendidikan, bukan dengan bertolak pada dasar bahwa kita lebih utama dari anak-anak, mengingat kita sudah memberi makan, minum, dan menyediakan tempat tinggal. Hal ini secara otomatis akan membuat mereka taat tanpa pernah membantah.
  • Membereskan hal-hal yang dapat menghalangi kebahagiaan dan ketenangan hubungan kita dengan anak-anak.
  • Mengungkapkan rasa cinta kepada anak, baik baik dengan lisan maupun perbuatan

CARA MUDAH MENGAJARKAN DAN MENGHAFAL AL-QUR’AN UNTUK ANAK-ANAK.

Suatu ketika Sufyan Tsauri ditanya, manakah yang engkau cintai orang yang berperang atau yang membaca Alquran? Ia berkata, membaca Alquran, karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya kepada orang lain”. Imam Abu Abdurrahman As-Sulami tetap mengajarkan Alquran selama empat puluh tahun di mesjid agung Kufah disebabkan karena ia telah mendengar hadis ini. Setiap kali ia meriwayatkan hadis ini, selalu berkata: “Inilah yang mendudukkan aku di kursi ini”.

Al Hafiz Ibnu Katsir dalam kitabnya Fadhail Quran halaman 126-127 berkata: [Maksud dari sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkan kepada orang lain” adalah, bahwa ini sifat-sifat orang-orang mukmin yang mengikuti dan meneladani para rasul. Mereka telah menyempurnakan diri sendiri dan menyempurnakan orang lain. Hal itu merupakan gabungan antara manfaat yang terbatas untuk diri mereka dan yang menular kepada orang lain.

Dari Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: Bacakan Alquran kepadaku. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, aku harus membacakan Alquran kepada baginda, sedangkan kepada bagidalah Alquran diturunkan? Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya aku senang bila mendengarkan dari orang selainku. Kemudian aku membaca surat An-Nisa’. Ketika sampai pada ayat yang berbunyi: {Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (umatmu).} Aku angkat kepalaku atau secara mendadak ada seseorang berada di sampingku. Dan ketika aku angkat kepalaku, aku melihat beliau mencucurkan air mata. (Sahih Muslim No: 1332)

Imam Nawawi berkata (Ada beberapa hal yang dapat dipetik dari hadis ini, di antaranya: sunat hukumnya mendengarkan bacaan Alquran, merenungi, dan menangis ketika mendengarnya, dan sunat hukumnya seseorang meminta kepada orang lain untuk membaca Al Quran agar dia mendengarkannya, dan cara ini lebih mantap untuk memahami dan mentadabburi Al Quran, dibandingkan dengan membaca sendiri).

Dari uraian diatas dapar kita pahami bahwa betapa pentingnya untuk mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an terutama kepada anak-anak. Dibawah ini ada beberapa fungsi mempelajari dan menajarkan serta mendorong kepada anak-anak untuk mempelajari Al-Qur’an diantaranya :

  • untuk mendapatkan ridho Allah
  • untuk mendapatkan ketenangan hidup.
  • karena Al Qur’an akan menjadi penolong (syafa’at) bagi para penghafalnya.
  • penghafal Al-Qur’an dapat memberikan syafaat bagi keluarganya
  • mendapatkan banyak kemuliaan dan pahala yang berlimpah

Prinsip-prinsip mengajarkan Al-Qur’an:

  • Tidak boleh memaksa anak ( kecuali dengan alasan, misalkan watak anak ‘pemalas’ )
  • Lakukan kegiatan dengan cara menyenangkan
  • Dimulai dari ayat-ayat yang mudah difahami
  • Keteladanan dan motivasi

Kunci keberhasilan mengajarkan anak untuk menghafal Al-Qur’an:

  • Suasana senang dan membahagiakan akan membantu anak untuk mengingat hafalannya dalam waktu yang lama, dengan demikian anak akan berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan perasaan cinta dan keterikatan terhadap Al-Qur’an.
  • Berulang dan kontinyu

Cara memelihara dan mengembangkan memori anak:

  • Ajari anak untuk fokus dan perhatian pada pendidiknya.
  • Faktor makanan adalah penentu untuk terpelihara kemampuan memori itu bekerja (zat-zat adiktif yang terdapat dalam makanan, perlahan tapi pasti akan merusak daya ingat anak-anak).
  • Memberi penjelasan pada anak-anak atas nilai-nilai yang terkandung dalam bacaan yang dihafalnya, maka memori akan bekerja lebih eksis.
  • Menghormati waktu bermain dan waktu istirahat anak.
  • Jauhkan unsur-unsur yang dapat mengancam psikologi anak-anak ; celaan dan tekanan.
  • Ciptakan motivasi-motivasi agar anak cenderung menyukai aktifitas menghafal

Waktu-waktu yang tepat untuk mengajarkan anak menghafal Al-Qur’an:

  • Tidak mengantuk
  • Tidak letih / kelelahan
  • Tidak kekenyangan atau sebaliknya, tidak sedang kelaparan
  • Tidak dalam keadaan capek belajar
  • Tidak sedang bermain
  • Tidak dalam keadaan sakit / bad mood

Yang perlu diperhatikan tentang bakat anak dalam menghafal:

  • Kenali bakat anak-anak dan hargai minat mereka.
  • Fahami keterbatasan daya ingat anak karena tiap anak itu beda kemampuannya
  • Kenali anak-anak yang memiliki kesulitan dalam belajar dan berinteraksi

TEKNIS PENGAJARAN

Bayi ( 0-2 tahun )

  • Bacakan Al-Qur’an dari surat Al-Fatihah
  • Tiap hari 4 kali waktu ( pagi, siang, sore, malam )
  • Tiap 1 waktu satu surat diulang 3x
  • Setelah hari ke-5 ganti surat An-Nas dengan metode yang sama
  • Tiap 1 waktu surat yang lain-lain diulang 1x 2.

Di atas 2 tahun

  • Metode sama dengan teknik pengajaran bayi. Jika kemampuan mengucapkan kurang, maka tambah waktu menghafalnya, misal dari 5 hari menjadi 7 hari.
  • Sering dengarkan murottal.

Di atas 4 tahun

  • Mulai atur konsentrasi dan waktu untuk menghafal serius
  • Ajari muroja’ah sendiri * Ajari mengahfal sendiri
  • Selalu dimotivasi supaya semangat selalu terjaga
  • Waktu menghafal 3-4x per hari

CARA MENJAGA HAFALAN

  • Mengulang-ulang secara teratur
  • Mendengarkan murottal
  • Mentadabburi dan menghayati makna
  • Menjauhi maksiat

SABAR DALAM AL QUR’AN DAN HAL HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANYA

180_B.TIF

Kesabaran (al-Sabr) sering diidentikkan dengan sikap pasrah, pasif dan nrimo, sehingga berkonotasi pada sikap negatif. Padahal, dalam tradisi tasawuf ia dijadikan sebagai salah satu maqam untuk meraih derajat puncak kesufian para pengembara ruhani.

Tingkat kesabaran seseorang dalam menghadapi hal-hal yang menyinggung perasaan berbeda-beda. Ada yang tersinggung sedikit saja sudah meluap, dan ada pula yang sekalipun menghadapi kesukaran ia tetap sabar berkat pikiran yang mantap dan kehalusan serta kebaikan perangainya.

Watak asli yang ada pada seseorang memang besar sekali peranannya adalah orang yang mudah marah atau tenang, apakah ia berfikiran keruh atau jernih dan sebagainya. Namun antara kepercayaan terhadap diri sendiri dan kesabaran dalam menghadapi kesalahan orang lain terdapat kaitan erat. Seorang manusia besar yang telah mencapai tingkat kessempurnaan ia akan tambah berlapang dada, bertambah besar pula kesabarannya.[1]

Tulisan ini berusaha mengungkap seputar Sabar, yang mencakup

Ø Hakikat dan Makna Sabar
Ø Esensi Sabar
Ø Keutamaan Sabar dan Urgensinya
Ø Jenis-jenis Sabar
Ø Derajat Kesabaran
Ø Waktu dan Rintangan Bersabar
Ø Tokoh Teladan Sabar
Ø Sabar dan Kaitannya dengan Iman
Ø Term-term yang identik dengan Sabar
Ø Relevansinya
Ø Kiat untuk Bersabar
Ø Kesabaran Rasanya Pahit, tetapi Akibatnya Manis bagaikan Madu; sebuah refleksi

Bentuk Pengungkapan Kata Bijak Sabar dalam Al-Quran

Untuk mengetahui gambaran yang jelas tentang bentuk isytiqaq kata sabar dalam Al-quran, maka dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1) Kata Sabar dalam Fiil Madhi

a. Sabara terulang sebanyak dua kali, yakni pada QS. al-Syu’ara’[42]: 43, dan al-Ahqaf [46]: 35.
b. Sabaru terulang sebanyak 15 kali, yaitu pada QS. al-An’am[6]: 34, al-A’raf[7]: 137, Hud [11]: 11, an-Nahl[16]: 42, 96, 110, al-Mu’minun[23]:111, al-Furqan[25]: 75, al-Ankabut[29]: 59, as-Sajadah[32]: 24, Fussilat[41]: 35, ar-Rad[13]: 22, al-Qasas[28]:54, al-Hujurat[49]: 5, dan al-Insan[76]:12.
c. Sabarna, terulang sebanyak dua kali, yaitu pada QS. Ibrahim[14]: 21 dan al-Furqan[25]:42
d. Sabartum, terulang sebanyak dua kali yaitu pada QS. ar-Rad[13]:24 dan an-Nahl[16]: 126.

2) Kata Sabar dalam Fiil Mudhari’

a. Tasbiru tertulis sekali dalam QS. al-Kahfi[18]: 68.
b. Tasbiru terulang sebanyak enam kali yaitu pada QS. at-Tur[52]: 16, al-Furqan[25]: 20, Ali-Imran[3]: 110, 125, 186 dan QS. an-Nisa’[4]: 25.
c. Nasbiranna tertulis sekali dalam QS. Ibrahim[4]: 12
d. Nasbiru tertulis sekali dalam QS. al-Baqarah[2]: 61.
e. Yasbiru tertulis sekali dalam QS. Yusuf[12]: 91.
f. Yasbiru tertulis sekali dalam QS. Fussilat[41]:24.

3) Kata Sabar dalam Isim Fa’il
a. As-Shabirun terulang sebanyak tiga kali yaitu dalam QS. al-Qasas[28]: 85, az-Zumar[39]: 10 dan al-Anfal[8]: 65.
b. As-Shabirin terulang sebanyak 15 kali yaitu dalam QS al-Anbiya’[21]:185, as-Saffat[37]:102, al-Baqarah[2]: 153, 155, 177, 249, Ali-Imran[3]: 17, 142, al-Anfal[8]: 46, 66, an-Nahl[16]: 126, al-Hajj[22]: 35, al-Ahzab[33]: 35 dan Muhammad[47]: 31.
c. Sabbar terulang sebanyak empat kali yaitu dalm QS. Ibrahim[14]: 5, Luqman[31]: 31, Saba’[34]: 19, dan al-Anfal[8]: 66
d. Shabiran tertulis sebanyak dua kali yatu dalam QS. Al-Kahfi[18]: 69 dan Sad[38]: 44.

4) Kata Sabar dalam Fiil Amr

a. Isbir terulang sebanyak sembilan belas kali yaitu dalam QS. Yunus[10]: 109, Hud[11]: 49, 115, ar-Rumr[20]: 60, Luqman[31]: 17, Sad[38]: 17, Gafir[40]: 55, 77, Qaf[50]:39, at-TA’raf[7]: 87, 128, Sad[38]: 6, at-Tur[52]: [52]: 48, al-Ma’arij[70]: 5, al-Mudatsir[74]: 7, an-Nahl[14]: 127, al-Kahfi[18]: 28, Taha[20]: 130, al-Ahqaf[46]: 35, al-Qalam[69]: 48, al-Muzammil[73]: 10 dan al-Ihsan[76]: 24..
a. Isbiru terulang sebanyak enam kali yaitu dalam QS. Al- 16, Ali Imran[3]: 200, dan al-Anfal[8]: 46.
b. Istabir terulang sebanyak tiga kali dalam QS. Maryam[19]: 65, Taha[20]: 132 dan al-Qamar[54]: 27.
c. Shabiru tertulis sekali dalam QS. Ali-Imran [3]: 200.

5) Kata Sabar dalam Isim Masdar (infinitif)

Tertulis dalam satu bentuk sebanyak 14 kali yaitu dalam QS. Yusuf [12]: 18, 83, al-Balad [90]: 17, al-‘Asr [103], al-Baqarah [2]: 45, 153, al-A’raf [17]: 126, al-Kahfi [18]: 67, 72, 75, 78, 82, al-Baqarah [2]: 250, an-Nahl [16]: 127.[2]

Sungguh Allah telah banyak berfirman dalam al Qur’an bahwa sabar merupakan suatu sifat yang utama untuk dimiliki oleh setiap manusia.

Makna dan Hakikat Mutiara Sabar 

Kata “sabar” diambil dari bahasa Arab صبر . Dalam pengertian istilahi, term tersebut dimaknai dengan mencegah dalam kesempitan, memelihara diri dari kehendak akal dan syara’ dan dari hal yang menuntut untuk memeliharanya. Bisa diartikan pula dengan menahan diri (nafsu) dari keluh kesah, meninggalkan keluhan atau pengaduan kepada selain Allah.[3]

Sabar adalah keadaan seseorang berlapang dada menerima apa yang terjadi (hal yang tidak diinginkan) adapun kalau hal itu tidak dapat dipungkiri serta percaya penuh bahwa semua itu dari Allah adapun Al-Ghazali mengartikan sabar lebih menitikberatkan pada sifat-sifat suatu perbuatan yang tidak baik (tidak pada suatu kejadian yang menimpa seseorang) yaitu dengan meninggalkan segala macam perbuatan yang diinginkan oleh nafsu atau syahwat, dan perbuatan yang tidak memberikan manfaat baik didunia dan diakhirat. [4]

Mencermati sabar dalam pandangan tasawuf maka sabar erat kaitannya dengan kesabaran dalam menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangannya serta dalam menerima segala cobaan yang ditimpakan. Tidak menunggu-nunggu datangnya pertolongan dari Tuhan. Dengan sabar ini para sufi sengaja dan menyiapkan diri bergelimang dengan berbagai macam cobaan, kesulitan dan derita dalam hidupnya dengan sikap sabar dengan tanpa adanya keluhan sedikitpun. Jadi, meskipun dalam banyak uraian tentang kesabaran mencerminkan sikap pasif dan pasrah, namun tidak selalu memberi pengertian bahwa sikap sikap tersebut terlebih dahulu tanpa didasari usaha dan upaya.[5] Anggapan tersebut jelas keliru. Sikap sabar tidak identik dengan sifat pasif, tetapi justru aktif.[6]

Sabar merupakan derajat utama pula bagi orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah (suluk). Semua kedudukan agama itu pada dasarnya dapat disusun menjadi tiga hal, yaitu ma’rifat, hal ihwal dan amal perbuatan. Ma’rifat adalah pokok yang dapat menimbulkan hal ihwal. Sehingga diibaratkan bahwa ma’rifat itu seperti pohon, hal ihwal itu dahannya dan amal perbuatan adalah buahnya. Oleh karena itu sabar hanya akan dapat dilakukan dengan sempurna jika seseorang telah menguasai ma’rifat.[7]

Dari beberapa makna tersebut diatas jelas bahwa sabar tidak identik dengan sikap lemah, menerima apa adanya atau menyerah, tetapi merupakan usaha tanpa mengenal lelah atau gigih yang menggambarkan kekuataan jiwa pelakunya sehingga mampu mengalahkan atau mengendalikan hawa nafsunya. Sabar juga bukan berarti mengedepankan seluruh keinginan sampai terlupakan di bawah sadar sehingga dapat menimbulkan kompleks-kompleks kejiwaan, tetapi pengendalian keinginan yang dapat menjadi hambatan bagi pencapaian sesuatu yang luhur( baik) dan mendorong jiwa sehingga pelakunya mencapai cita-cita yang didambakan. [8]

Esensi Kata Bijak Sabar dalam Kehidupan

Esensi sabar adalah keteguhan yang mendorong hidup beragama, dalam menghadapi dorongan hawa nafsu. Itu ialah karakteristik manusia yang terkomposisi dari unsur malaikat dan binatang. Binatang hanya dikuasai oleh dorongan-dorongan nafsu birahi, sedangkan para malaikat tidaklah dikuasai oleh hawa nafsu. Mereka semata-mata diarahkan pada kerinduan untuk menelusuri keindahan kehadirat ketuhanan dan dorongan kearah derajat kedekatan dengannya. Mereka bertasbih mensucikan Allah s.w.t. sepanjang siang dan malam tiada henti. Pada diri mereka tidak ada dorongan hawa nafsu.[9] Sementara pada diri manusia dan binatang cenderung mengikuti hawa nafsunya. Jika manusia dapat mengendalikan hawa nafsu, maka berarti ia telah mencapai tingkatan sabar.

Keutamaan Sabar dan urgensinya dalam Islam

Sabar adalah kekuatan jiwa yang harus dimiliki setiap muslim . Tanpa memiliki sifat sabar seseorang tidak akan mampu menghadapi berbagai macam godaan dan bisikan dunia dengan segala macam yang ditawarkannya meniscayakan adanya bujuk rayu yang senantiasa hadir menggugah hawa nafsu yang tanpa kesabaran tentu kita akan terjerambab dalam lembah hitam dunia, tak hanya itu dalam hidup dan kehidupan seringkali kita dihadapkan oleh peristiwa yang tak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan . Dalam syair Arab dikatakan  “saya berkehendak begitu, kamu begitu, kita begitu tapi Dia (Allah ) berkehendak lain”.[10]

Manusia tanpa pengejewantahan atas konsep sabar yang ditawarkan menurut pendapat penulis adalah seorang manusia yang menjalani kehidupan hanya berpangkal pada kekecewaan, kesedihan karena hakikatnya semua yang terjadi adalah bukan kehendak kita karena kehendak kita tidak selamanya identik dengan kehendak Tuhan.

Allah telah menyatakan bahwa orang yang tidak memiliki kesabaran akan menderita kerugian, seperti misalnya dalam QS. Al Ashr: 1-3.[11] Sabar merupakan senjata yang paling ampuh bekal yang paling berguna dan penolong yang paling besar. Sabar adalah cahaya yang menerangi jalan orang mukmin sehingga ia tidak kebingungan saat menghadapi berbagai kendala dan problem.

Kata Sabar sebagai Jalan menuju Keselamatan

Peran sabar amat dibutuhkan bagi manusia untuk menghadapi setiap rintangan atau kebimbangan untuk membela agama Allah dengan menegakkan syariat-Nya. Sebab, kebimbangan dan keraguan tersebut terkadang timbul manakala kita dihadapkan oleh bujuk rayu nafsu kesenangan duniawi atau bahkan banyak lagi yang semuanya merupakan jerat perangkap musuh-musuh Allah . oleh karena itu, Allah Azza wajalla dengan tegas menyatakan bahwa sabar adalah jalan menuju keselamatan , hal ini ditandai dengan firmannya QS. Ali Imran, 200 :

“ Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung ”.

Jenis-jenis Sabar Dalam Islam

1).Sabar dalam melakukan ketaatan

Seringkali kita menjumpai keadaan yang mempengaruhi jiwa kita yang disebabkan oleh nasihat-nasihat agama ataupun yang merupakan amal shaleh lainnya, sehingga kita menunjukkan komitmen kita akan hal itu,tetapi kita tidakmemiliki kesabaran untuk itu maka seseorang tidak mungkin dapat komitmen dalam ketaatan terhadap Allah selama ia tidak meghiasi diri dengan sifat sabar yag akan menolongya . karena pada dasarnya jiwa manusia itu tidak menyenangi hal-hal yang memberatkan.maka sungguh tanpa kesabaran seseorang tidak akan mampu melakukan apa-apa selain mengikuti hawa nafsunya. Maka dari, itulah seseorang harus membiasakan diri dengan bersabar. Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang berusaha sabar, maka Allah akan menjadikannya sabar”.[12]

2). Sabar dalam menghadapi kemaksiatan

Maksiat adalah sesuatu yang menjatuhkan seseorang dari Rabbnya sesungguhnya orang mukmin itu mencintai Allah maka ia tidak sabar berada jauh dari Rabbnya .seorang mukmin sejati tentunya senantiasa mengagungkan-Nya malu dan takut kepada-Nya untuk melakukan kemaksiatanyang didengar dan dilihat oleh Allah sementara ia mendapat nikmat dari-Nya.di antara contoh yang menggambarkan besarnya pengaruh iman terhadap kesabaran seseorang menghadapi kemaksiatan adakah kisah yang terjadi pada zaman khalifah Umar bin Khatab, yaitu ketika ada seorang wanita muda di tinggal suaminya pergi untuk berjihad.

Karena di tinggal lama oleh suaminya, ia merasa kesepian sehingga terbitkah gejolak nafsunya sebagai manusia normal yang seandainya ia tidak sadar bahwa Allah saelalu mengawasinya, tentulah ia tidak akan maelakuka perbuatan yang haram. Hanya rasa takutnya kepada Allahlah yang mampu menjadikannya mampu menahan diri dari perbuatan dosa itu. Imannya telah menghantarkannya kepada kesabarannya. Jadi keimanan juga berperan penting dalam kesabaran.

3). Sabar dalam menghadapi cobaan dan rintangan

Allah berfirman dalam surat al Baqarah:155-157 ” Sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kamu dengan sedikit ketakutan , kelaparan, kekurangan harta dan jiwa serta buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira pada orang-orang yang sabar. (yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,‘ innalillahi wa inna ilaihi raaji’un.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”

Alkisah, dahulu kala di kalangan Bani Israil ada seorang laki-laki ahli fiqh, berilmu dan ahli ibadah. Ia mempunyai seorang istri yang sangat cantik. Ketika istrinya meninggal ia sangat terpukul, sehingga ia mengunci diri untuk tidak keluar rumah. Mendengar ia berbuat seperti itu, maka datanglah seorang wanita Bani Israil untuk menemuinya. “ Tuan, aku punya masalah aku ingin minta fatwa kepada tuan, dan aku tidak puas kecuali aku mendengar jawabannya langsung dari engkau”. Karena wanita itu terus menerus memintanya, maka ia pun menerimanya. Sang wanita berkata, “ Tuan, aku pernah meminjam perhiasan dari tetanggaku. Ia lama aku pakai. Kemudian tetanggaku itu memintanya, apakah aku harus menyerahkannya?” si Laki-laki itu menjawab, “Ya, engkau harus mengembalikannya.” Maka wanita itu menukas, “ Semoga Allah memelihara tuan. Kalau begitu, apakah tuan bersedih ketika Allah mengambil miliknya yang dipinjamkan kepada tuan. Bukankah ia lebih berhak untuk mengambilnya ?” Laki-laki itu paham maksud ucapan si wanita.[13]

Dari kisah diatas, kita dapat mengambil ibrah bahwa segala sesuatu yang kita miliki didunia pasti akan kembali kepada-Nya karena pada hakikatnya yang berhak atas apa yang telah diciptakan ialah maha yang menciptakan apa yang telah ia ciptakan dan Allah memiliki otoritas penuh dalam hal ini. Seringkali kali kita merasa bahwa Tuhan tidak adil dengan menimpakan apa yang sama sekali tidak pernah kita harapkan bahkan mungkin sama sekali tidak pernah terbayang sebelumnya terbayang dalam benak kita. Perlu diingat bahwa segala sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik dihadapan Allah begitu pula sebaliknya, apa yang seringkali kita anggap tidak baik belum tentu tidak baik pula dihadapan Allah.

Derajat kesabaran dalam Al-Qur’an dan Hadis

Tingkatan tertinggi adalah terkekangnya seluruh dorongan hawa nafsu hingga tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk kontra. Hal ini dicapai dengan kesabaran yang kontinyu dan mujahadah yang terus menerus. Mereka termasuk golongan yang disinyalir(dalam al Qur’an) surat al Ahqaf: 13, Fusshilat: 30: “ Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, Kemudian mereka tetap istiqamah, mka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita”.

Kepada golongan tersebut Allah menyeru “ Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya”.

Tingkatan terendah adalah kokohnya dorongan-dorongan hawa nafsu dan tersisihnya dorongan agama. Hawa nafsu memenangkan kompetisi antara kalbu dan hawa nafsu, sehingga kalbu pun menyerah pada nafsu. Mereka termasuk golongan yang disinyalir dalam al Qur’an dalam surat as Sajdah:

“ Dan kalau kami menghendaki niscaya kami akan berikan kepada tiap- tiap jiwa petunjuk, akan tetapi Telah tetaplah perkataan dari padaKu: “Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama ”.

Tingkatan pertengahan adalah orang yang tidak bersungguh-sungguh melakukan penyerangan. Dalam peperangan itu, kemenangannya silih berganti. Adakalanya dia menang, tapi pada saat lain dia kalah. Inilah para mujahid yang disebut: ” (mereka) mencampur-baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk…”.

Masing-masing ketiga kesabaran di atas itu dirigkas lagi menjadi dua:

1. Sabar jasmani, yakni kesabaran dalam menerima dan melaksanakan perintah-perintah keagamaan yang melibatakn anggota tubuh seperti dalam ibadah haji, peperangan dan penyakkiit-penyakit jasmani.

2. Sabar ruhani ‘ yaitu kemampuan menahan kehendak hawa nafsu, meliputi; sabar menyangkut kesenangan duniawi, sabar untuk melirik kekayaan orang lain, sabar untuk tidak marah dan dendam.[14]

Waktu dan rintangan bersabar mengadapi Cobaan

Ada yang salah dalam praktek keseharian dan menyebutnya dengan sabar ketika berlalunya sebuah peristiwa. Lalu kapan waaktunya sabar itu? Sabar dibutuhkan pads waktun sebelum , sedang dan sesudah berbuat atau bersikap. Sabar pada sebelum dan awal perbuatan yaitu upaya untuk meluruskann niat dan mengukuhkan tekad serta merancang perbuatan. Sabar sedang atau beserta perbuatan adalah sebuah harapan hingga tercapai dengan sempurna dan sukses perbuatan tersebut.

Kisah Keteladan Tokoh yang Bersabar

Al qur’an mengisahkan beberapa tokoh yang sangat dikenal kesabarannya, diantaranya;

Kisah Kesabaran Nabi Ayyub as,- Kesabarannya dalam menjalani cobaan hidup berupa penyakit yang dideritanya sehingga ia sampai ditinggalkan keluarganya. Ia selalu mengembalikan segala urusannya kepada Allah dengan bertaubat dan beristigfar sehingga Allah memberi pahala dan imbalan berupa terlepasnya dari penyakit, duka cita kesusahan, karena kerabatnya telah kembali kepadanya setelah sekian lama meninggalkannya bahkan keturunannya bertambah banyak sampai dua kali lipat dari jumlah sebelumnya. Keadaan tersebut berubah karena sikapnya yang tidak pernah mengeluh dan bersabar.

Kisah Kesabaran Ya’qub as,- Kesabaran Ya’qub dengan hilangnya Yusuf karena dibuang oleh saudara-saudaranya yang iri dan dengki kepada Yusuf. Di sini Ya’qub benar-benar diuji kesabarannya dan ternyata memang ia dapat berlaku sabar dengan kesabaran yang baik yaitu kesabaran yang tidak ada keluh kesah. Kedukaan Ya’qub tidak hanya itu saja, ia kembali di uji harus berpisah dengan anaknya, yaitu Bunyamin. Karena ia ditahan Yusuf (raja Mesir) karena dalam karungnya terdapat piala raja yang sengaja dimasukkan Yusuf agar ia dapat menahan saudaranya itu.

Duka dan kesedihannya tersebut masih dinilai dalam batas kewajaran manusiawi, tidak sampai melampaui batas denagn menampakkan kegelisahan dan sikap yang tidak diridhai, namun sebaliknya ia bersikap ridha dan menerima qadha’ dan qadarnya.

Kisah Kesabaran Yusuf as,- Ia adalah figur penyabar yang dicontohkan dalam al Qur’an. Dia diuji oleh Allah yaitu mmendapatkan tipu muslihat perbuatan kakak-kakaknya, tipu daya dari Zulaikha, masuk penjara beberapa tahun tanpa kesalahan, dan berpisah dengan ayahnya, Ya’qub dan saudara-saudaranya. Akan tetapi bersabar dan tabah. Ia adukan seluruh persoalan hanya kepada Allah.

Kisah Kesabaran Ismail as,- Kesabaran nabi Ismail tatkala ia dengan tegas menjawab mimpi ayahnya, Allah memerintahkan kepada ibrahim untuk menyembelih ismail.

Kisah Kesabaran Nabi Nuh,- yaitu ketika ia dalam berdakwah kepada kaumnya selama 950 tahun dalam menyampaikan risalah dan tauhid kenabiaan. Yang didapat hanyalah cacian, hinaan dan ejekan yang didapatkannya, hanya beberapa orang yang mau mengikuti ajarannya. Sehingga Allah menurunkan adzab yang besar kepada kaumnya.

Kisah Kesabaran nabi ibrahim yaitu ketika ia dibakar oleh kaumnya yang tidak mau mengikuti ajarannya. Sehingga dengan kesabarannya itulah Allah menghilangkan panasnya api tersebut.

Kisah Kesabaran Nabi Musa,- yaitu ketika ia mendapat godaan, penderitaan dan ujian yang dialaminya. Seperti ketika harus menghadapi Fir’aun yang sangat kejam.

Sabar dan Kaitannya dengan Iman

Kesabaran termasuk dalam kategori keimanan, karena keimanan dikaitkan pada pengetahuan dan perbuataan sekaligus. Sedangkann seluruh amal perbuatan yang membentangkan dua sisi; preventif dan ekspresif; penyucian dan penghiasan diri, hanya bisa tuntas dengan kesabaran.

Bila iman bertambah mantap di dalam hati, bertambah pula kesabaran seseorang. Ia pun akan lebih mampu membuang rasa amarah dan nafsu hendak mencelakakan orang lain yang beerbuat salah terhadap dirinya.

Kedudukan seorang muslim disisi Allah banyak tergantung pada kesanggupannya mengendalikan diri, membuang amarah, mengekang lidah, menghindari soal-soal yang tidak berguna, dan menyesali kekeliruan atau kesalahannya.[15]

Term-term lain yang identik dengan kata Bijak sabar

1) ‘Iffah,- Term iffah diartikan dengan sampainya pada suatu keadaan dimana jiwa menahan terhadap mengalahkan nafsu, mencegah, menahan terhadap sesuatu yang tidak halal, tidak baik atau dalam pengertian lain meninggalkan hawa nafsu yang hina; mensucikan jiwa raga.

Sikap tersebut sebagaimana disinggung membutuhkan sikap sabar dan qana’ah yang serius. Sebab tanpa itu, tidak tercapai kepada maksud. Sikap tersebut pendek kataa mengandung pengertian untuk sabar, berqana’ah, baik dalam cara berpakaian maupun ucapan.

2) Hilm,- Term hilm berarti memelihara diri dari tabi’at terhadap bangkitnya kemarahan. Didalam al-quran, term yang mengandung pengertian hilm dengan arti sabar beserta isytiqaqnya terulang sebanyak 15 kali.

3) Qana’ah, Term “al-alqani” baik dalam pengertian bahasa, istilah, hingga kajian tasawuf dan tafsir sangat identik dengan term “sabar” yang di dalamnya mengandung pengertian adanya sikap menahan diri dari keluh kesah. Dalam pemaknaannya, ia mencakup aspek rela, menerima, puas, dan tidak meminta-minta yang itu semua cenderung kepada sikap dan prilaku sabar dalam hal menerima rizki yang sedikit sebagai perlawanan dari sifat rakus.

4) Zuhud, Term zuhud dalam pengertian bahasa, istilah, para mufassirin, dan tasawuf terdapat kesamaan visi, dimana terdapat unsur-unsur yang saling mendukung dengan term sabar, yaitu dalam hal menghadapi kesulitan hidup, dan dalam berupaya untuk tidak menjadi hamba dunia.[16]

Relevansi Potret Persekongkolan Musuh-musuh Allah untuk menguras Kesabaran Kita

Atas nama kebebasan berpikir, orang-orang kafir dan penganut ajaran batil menodai kemurnian akidah Islam dan mencoreng keutuhan dienullah yang hanif. Secara tidak langsung, umat Islam diajak untuk mengikuti Barat baik dalam pola pikirnya, kebudayaannya, maupun sistemnya. Padahal sistem, kebudayaan dan gaya hidup mereka yang realistis sama sekali terpisah dari ajaran Islam. Mereka melakukan hal itu agar kita melepaskan diri dari akidah, agar kita menjadi ekor mereka, meninggalkan syariat, nilai-nilai dan akhlaq kita.

Atas nama metode, mereka menyeru wanita-wanita kita untuk mencopot pakaian takwa dan menggantinya dengan pakaian jahiliyah yang merangsang dan mempertontonkan aurat yang disuruh Allah agar ditutupi Mereka mengatakan bahwa busana setan ini lebih baik daripada jilbab dan mereka mengklaim bahwa pakaian transparan itu menarik dan membuat cantik wanita, sepertinya kecantikan itu muncul karena telanjang atau kegenitan dalam berpenampilan dan menjauhkan diri dari agama Allah. Apa yang mereka serukan ini tidak lain adalah perbuatan setan yang menuju ke arah Jahannam, maka tidak boleh bagi kita untuk mendengarkan seruannya jika kita ingin mendapat surga di akhirat.

Dengan alasan seni, musuh-musuh Allah berusaha menyebarkan nyanyian-nyanyian cinta yang cengeng, tarian-tarian yang merangsng, kisah-kisah asmara yang penuh kecabulan dan memprouksi film-film yang mengajarkan kekerasan, percintaan, dan kebebasan pergaulan muda-mudi . mereka dengan segenap daya berusaha menanamkan kepada generasi muda, anak-anak dan orang tua kita bahwa yang disebut seni adalah adegan dari penampilan seperti itu, adegan dan penampilan yang lepas dari nilai-nilai agama, adegan dan penampilan yang membangkitkan syahwat.

Kiat untuk Menumbuhkan Sifat Sabar dalam Kehidupan Sehari-Hari

Memahami arti kehidupan dunia dengan sebenarnya
Menyadari eksistensi diri
Keyakinan akan pahala yang lebih baik
Keyakinan akan terbebas dari musibah
Meneladani orang-orang yang sabar
Berhati-hati terhadap kendala-kendala kesabaran antara lain; tergesa-gesa, marah-marah, rasa susah dan sedih yang mendalam, dan putus asa.[17]

Kesabaran Rasanya Pahit, tetapi Akibatnya Manis bagaikan Madu;

Sebuah Refleksi,- Syaikh ‘Abdul Qadir Jailani ra. berkata: Betapa sering Engkau berkata: “Apa yang harus kulakukan dan bagaimana caranya?” lalu dikatakan kepadamu: “tetaplah di tempatmu, dan jangan melanggar batas yang telah ditentukan, hingga datang kelonggaran kepadamu dari Dia yang memerintahkanmu untuk tetap berada di tempat di mana kamu berada.

Allah SWT berfirman QS Ali Imran: 200 “Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung”

Wahai mukmin, Allah telah memerintahkan kepadamu untuk bersabar, saling berpesan dengan kesabaran, saling menjaga ikatan, menjaga batasan-batasan yang ditentukan Allah, lalu Allah memperingatkanmu agar tidak meniggalkan kesabaran. Dia mengatakan: dan takutlah kepada Allah untuk meninggalkannya – yaitu meninggalkan kesabaran – karena kebaikan dan keselamatan ada dalam kesabaran. Rasulullah SAW bersabda: ”kedudukan sabar terhadap iman, bagaikan kepala terhadap tubuh. Juga dikatakan bahwa pahala segala seuatu sesuai dengan ukurannya, kecuali pahala sabar, karena sabar itu pahalanya tidak terbatas.

Sebagaimana firman Allah SWT (QS. 39:10) Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang berriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. orang-orang yang berbuat baik di dunia Ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Apabila engkau sudah takut kepada Allah SWT, dengan menjaga kesabaran dan batasan-batasan yang telah ditentukan-Nya, maka ia akan melimpahkan apa yang telah dijanjikan-untukmu. Sebagaiman firman Allah dalam (_QS 65:2-3) “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”.

Tetaplah sabar sehingga engkau termasuk orang-orang yang tawakkal kepada-Nya sampai Allah memberikan kelapangan kepadamu. . karena Allah telah berjanjiakian memberikan kecukupan kepadamu, dalam firman-Nya: “barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia cukupkan bagi-Nya .

Lalu dengan kesabaran dan tawakkalmu, engkau termasuk orang-orang yang berbuat kebaikan, dan dengan itu Allah akan mencintaimu sebagaimana dalam firman-Nya: “sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan”(QS 5:13).

Kesabaran adalah pangkal semua kebaikan dan keselamatan , baik didunia maupun di akhirat, karena darinya seorang mukmin naik kepada tingkatan ridha dan menerima lalu fana dalam semua perbuatan Allah sebagaimana keadaan badaliyyah dan ghaibah.

Maka, hati-hatilah, jangan sampai engkau meninggalkan kesabaran, sehingga engkau akan terhina didunia dan akhirat, dan luput dari kebaikan keduanya.

Kesimpulan

Sabar yang dalam pengertiannya adalah menahan diri dari melakukan perbuatan maksiat atau hal yang dibenci oleh Allah, merupakan sifat yang terpuji, mulia, dan tentu saja diridhai, namun berat untuk dilaksanakan karena dengan berbagai gangguan dan kendala yang siap menghadang, sehingga untuk mewujudkan perilaku sabar dibutuhkan upaya yang sunnguh-sungguh dalam diri manusia. Oleh sebab itu, merupakan sebuah kekeliruan jika sabar diidentikkan dengan sikap pasrah, pasif dan nrimo, sehingga berkonotasi pada sikap negatif.

Segala perbuatan yang akan dilakukan harus dibangun dan dilandasi oleh keyakinan yang kuat. Sebaliknya tanpa itu, prilaku sabar relatif sulit akan tercapai. Dengan keyakinan itulah, maka term sabar yang dideskripsikan dalam al-Quran yang sarat dengan materi yang mengedepankan pentingnya unsur keyakinan dan keimanan tersebut akan mudah diterima dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, keyakinan lain yang harus ditumbuhkan dalam diri adalah bahwa prilaku sabar yang kita perankan di dunia ini berimplikasi dan berakibat bagi pelakunya di dunia dan akhirat. Diantara sekian banyak keyakinan-keyakinan yang perlu dibangun adalah yakin akan adanya pahala di sisi Allah dan yakin akan terbebas dari musibah bagi siapa yang dapat berlaku sabar.[18]

Dua nasihat tentang Nafsu dan Sabar

“Nafsu dapat menyebabkan penguasa menjadi budak;
Sabar bisa menyebabkan budak menjadi raja.[19]

Catatan Kaki[1] Muhammad al Ghazali, Akhlak Seorang Muslim( Bandung, Al Ma’arif: 1995) hlm 201
[2] . Fajrul Munawir, Konsep Sabar dalam Al-qur’an (Yogyakarta: TH Press, 2005), hlm.22-24.
[3] M. fajrul Munawir, Konsep sabar dalam al Qur’an ; Pendekatan Tafsir Tematik (Yogyakarta, TH Press. 2005)hlm.21
[4] Drs.S. Ansory al – Mansor, Cara Mendekatkan Diri kepada Allah (Jakarta , Fajar Interpratama offset,1997)hal 143
[5] M. Fajrul Munawir, Konsep Sabar dalam Al-qur’an (Yogyakarta: TH Press, 2005), hlm.5.
[6] Abdul Mustaqim, Akhlaq Tasawuf (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2007) hal.74.
[7] Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin (Surabaya: Gita Media Press, 2003) hal. 315
[8] Prof. dr Nasaruddin Umar, Tafsir social mendialogkan teks dengan konteks (Yogyakarta : eLSAQ Press, 2005) hlm. 37
[9] Terjemahan M. Luqman Hakim dan Hosen Arjaz Zamad (Risalah Gusti, 1996) hlm. 236
[10] Syaikh Syahhat bin Mahmud Ash-Shawi, Mahabbah Ilahiyah Menggapai Cinta Illahi (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), hlm.113
[11] Ibid, hlm. 115
[12] Syaikh Syahhat bin Mahmud Ash-Shawi, Mahabbah Ilahiyah Menggapai Cinta Illahi (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), hlm. 113-115.
[13] Syaikh Syahhat bin Mahmud Ash-Shawi, Mahabbah Ilahiyah Menggapai Cinta Illahi (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), hlm.118-125.
[14] Terjemahan M. Luqman Hakim dan Hosen Arjaz Zamad (Risalah Gusti, 1996) hlm.
[15] Muhammad al Ghazali, op. cit, hlm. 205.
[16] . Fajrul Munawir, Konsep Sabar dalam Al-quran (Yogyakarta: TH Press, 2005), hlm.40-60.
[17] Prof. dr Nasaruddin Umar, Tafsir sosial mendialogkan teks dengan konteks (Yogyakarta : eLSAQ Press, 2005) hlm.44
[18] Fajrul Munawir, Konsep Sabar dalam Al-quran (Yogyakarta: TH Press, 2005), hlm 72-73
[19] Imam Nawawi Al-Batani, Nashaihul Ibad; Menjadi Santun dan Bijak (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2005) hlm. 35

Daftar Pustaka
Mustaqim, Abdul. Akhlaq Tasawuf. Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2007.
Al Ghazali, Muhammad. Akhlak Seorang Muslim. Bandung: Al Ma’arif. 1995.
Al-Ghazali, Muhammad. Ihya’ Ulumuddin. Surabaya: Gita Media Press. 2003.
Munawir, M. Fajrul. Konsep sabar dalam al Qur’an ; Pendekatan Tafsir Tematik. Yogyakarta: TH Press. 2005.
Al – Mansor, Anshory. Cara Mendekatkan Diri kepada Allah. Jakarta: Fajar Interpratama offset. 1997.
Ash-Shawi, Syaikh Syahhat bin Mahmud. Mahabbah Ilahiyah; Menggapai Cinta Illahi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2001.
Umar, Nasaruddin. Tafsir sosial mendialogkan teks dengan konteks. Yogyakarta : eLSAQ Press. 2005.
Terjemahan M. Luqman Hakim dan Hosen Arjaz Zamad. Risalah Gusti. 1996.
Izutsu, Toshihiko. _ . Mc Gil University Press. 1996.
Al-Bantani, Imam Nawawi. Nashaihul Ibad: Menjadi Santun dan Bijak. Bandung: Irsyad Baitus Salam. 2005.
Al-Jailani, Syaikh Abdul Qadir, Raihlah Hakikat, Jangan Abaikan Syai’at: Adab-adab Perjalanan Spiritual (terj.) Adab As-Suluk Wa At-Tawasshul Ila Manazil Al-Muluk, Bandung: Pustaka Hidayah, 2007.

 

BERUSAHA MENGGAPAI MATI YANG HUSNUL KHOTIMAH

Allah SWT berfirman dalam Surat Ali Imran, ayat 102, :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”

Lewat ayat diatas Allah SWT me-wanti-wanti atau mengingatkan agar kita semua kelak ketika ajal  tiba, kita meninggal dunia dalam keadaan beriman kepada Allah.  Inilah yang disebut dengan husnul khatimah.  Husnul khatimah adalah tolok ukur satu-satunya apakah seseorang  sukses dalam hidupnya atau tidak. Memang banyak tolok ukur kesuksesan dalam hidup ini, seperti hidup kaya raya,  memiliki jabatan tinggi, dihormati dalam masyarakat,  hidup dalam kondisi kesehatan yang prima dan sebagainya.  Namun apalah arti hidup kaya raya, jika ketika meninggal dunia seseorang tak mampu  menyebut nama “Allah”. Apalah arti menduduki jabatan tinggi, jika di akhir hayat seseorang  tidak mengenal siapa Sang Penciptanya.  Apalah arti hidup mulia dan dihormati di tengah-tengah masyarakat, jika di akhir hayat seseorang mati dalam keadaan kafir. Na’udzubillahi mindzalik.

Husnul khatimah adalah harga mati yang harus selalu diusahakan dan diupayakan oleh siapa saja yang menginignkan surga dan menetap disana untuk selamanya. Cara kita mengupayakan agar diberi husnul khatimah adalah selalu bertakwa kepada Allah SWT, kapan  pun dan dimana pun kita berada. Husnul khatimah tidak hanya harus diupayakan secara terus menerus, tetapi harus pula selalu dimintakan kepada Allah SWT. Kita harus selalu berdoa kepada Allah agar diberi husnul khatimah. Jangan sampai kita lupa tidak memohon  husnul khatimah kepada Allah SWT dalam setiap doa kita karena husnul khatimah merupakan puncak dari semua kesuksesan di dunia ini. Tanpa husnul khatimah, sia-sialah hidup seseorang karena itu berarti neraka tempatnya di akherat sana.

Untuk menggapai husnul khatimah sesungguhnya tidak mudah karena setan bisa saja mengambil kesempatan di saat akhir menjelang kematian seseorang. Setan bisa saja berusaha sekuat tenaga untuk menyesatkannya dengan segala cara; bahkan terkadang menjelma dalam rupa ayah dan ibunya. Imam Al-Qurthubi dalam kitabnya berjudul At-Tadzkirah fi Ahwalil Mauta wa Umuril Akhirah menyatakan berdasarkan  sebuah riwayat Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa ketika seorang hamba mendekati ajalnya maka duduklah dua setan di sampingnya.   Setan yang berada di sebelah kanan yang menyerupai ayahnya mengatakan:

“Wahai anakku, aku sangat sayang dan cinta kepadamu. Jika kamu mau mati, maka matilah dengan membawa agama Nasrani sebab itu  adalah sebaik-baik agama.”

Sedangkan setan yang di sebelah kiri, yang menyerupai ibunya, mengatakan:

“Wahai anakku, perutku dahulu tempat hidupmu dan air susuku sebagai minumanmu serta pangkuanku sebagai tempat tidurmu, maka aku minta hendaknya kamu mati dengan membawa agama Yahudi sebab itu adalah sebaik-baik agama.”

Agar kita terhindar dari upaya penyesatan oleh setan yang akan menjerumuskan kita, maka Rasulullah SAW memberikan tuntunan kepada kita berupa doa memohon kepada Allah agar senantiasa menetapkan iman kita sampai akhir hayat kita. Doa tersebut sebagaimana termaktub dalam Surat Ali Imran ayat 8, sebagai berikut:

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami. Dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”

Husnul khatimah merupakan karunia terbesar dari Allah SWT yang tak tertandingi oleh apa  pun. Di saat setan terus melakukan berbagai godaan dan penyerupaan menjelang kematian seseorang, hanya Allah yang dapat menjaga dan menyelamatkan iman orang tersebut. Menurut Imam Sufyan Al-Tsauri, ada 4 (empat) cara yang bisa dilakukan seseorang untuk meraih husnul khatimah sebagai berikut:

  1. Menjaga iman dan ketakwaaan kepada Allah SWT secara istiqamah.

Siapa  pun yang menginginkan terjaga iman dan ketakwaannya hendaknya menjauhi benar-benar hal-hal yang bisa merusak  iman dan ketakwaannya. Ia  harus bertaubat dari segala dosa dan kemaksiatan, apalagi terhadap syirik . Hal itu bisa  dicapai, diantaranya dengan membaca doa seperti yang diajarkan Rasulullah SAW:

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك أَنْ أُشْرِكَ بِك وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُك لِمَا لا أَعْلَمُ

Artinya:  “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik (menyekutukan-Mu) sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap kesyirikan yang tidak aku ketahui.”

  1. Berusaha sungguh-sungguh memperbaiki lahir batin.

Hendaknya, niat  dan tujuan semua amal saleh harus benar-benar bersih lahir batin. Tidak ada niat dalam beribadah kecuali semata-mata karena untuk mencari ridha Allah SWT sebagaimana yang kita ucapkan dalam doa iftitah setiap kali memulai shalat:

 إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

  1. Senantiasa berdoa kepada Allah agar diwafatkan dalam keadaan iman.

Nabi Yusuf AS memberikan contoh doa husnul khatimah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, Surat Yusuf, ayat 101 :

تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

Artinya: “Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shaleh.”

  1. Senantiasa berdizkir kepada Allah dalam keadaan apa pun.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran, Surat 152, yang berbunyi:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

Artinya: “Maka ingatlah pada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian.”

Ayat diatas menegaskan janji Allah bahwa siapa  pun yang senantiasa berdzikir kepada Allah SWT, maka Allah akan senantiasa mengingat orang itu. Allah akan selalu memberinya petunjuk dan pertolongan hingga orang itu meninggal dalam keadaan mengingat-Nya.

KISAH CINTAH ROMANTIS ORANG ORANG YANG SHOLIH

  1. Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra

Cinta Ali dan Fatimah luar biasa indah, terjaga kerahasiaanya dalam sikap, ekspresi, dan kata, hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam suatu pernikahan. Konon saking rahasianya, setan saja tidak tahu menahu soal cinta di antara mereka. Subhanallah.

Ali terpesona pada Fatimah sejak lama, disebabkan oleh kesantunan, ibadah, kecekatan kerja, dan paras putri kesayangan Rasulullah Saw. itu. Ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar ibn Khattab melamar Fatimah sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Namun kesabarannya berbuah manis,lamaran kedua orang sahabat yang tak diragukan lagi kesholehannya tersebut ternyata ditolak Rasulullah Saw. Akhirnya Ali memberanikan diri. Dan ternyata lamarannya kepada Fatimah yang hanya bermodal baju besi diterima.

Di sisi lain, Fatimah ternyata telah memendam cintanya kepada Ali sejak lama. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah kedua menikah, Fatimah berkata kepada Ali: “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”. Ali pun bertanya mengapa ia tetap mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya. Sambil tersenyum Fathimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu”

  1. Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz, khalifah termasyhur dalam Bani Umayyah, suatu kali jatuh cinta pada seorang gadis, namun istrinya, Fatimah binti Abdul Malik tak pernah mengizinkannya menikah lagi. Suatu saat dikisahkan bahwa Umar mengalami sakit akibat kelelahan dalam mengatur urusan pemerintahan. Fatimah pun datang membawa kejutan untuk menghibur suaminya. Ia menghadiahkan gadis yang telah lama dicintai Umar, begitu pun si gadis mencintai Umar. Namun Umar malah berkata: “Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya kembali kepada dunia perasaan semacam itu,”

Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta. Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain. Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya, “Umar, dulu kamu pernah mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang?” Umar bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab, “Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya lebih dalam!”

  1. Abdurrahman ibn Abu Bakar

Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq dan istrinya, Atika, amat saling mencintai satu sama lain sehingga Abu Bakar merasa khawatir dan pada akhirnya meminta Abdurrahman menceraikan istrinya karena takut cinta mereka berdua melalaikan dari jihad dan ibadah. Abdurrahman pun menuruti perintah ayahnya, meski cintanya pada sang istri begitu besar.

Namun tentu saja Abdurrahman tak pernah bisa melupakan istrinya. Berhari-hari ia larut dalam duka meski ia telah berusaha sebaik mungkin untuk tegar. Perasaan Abdurrahman itu pun melahirkan syair cinta indah sepanjang masa:

Demi Allah, tidaklah aku melupakanmu

Walau mentari tak terbit meninggi

Dan tidaklah terurai air mata merpati itu

Kecuali berbagi hati

Tak pernah kudapati orang sepertiku

Menceraikan orang seperti dia

Dan tidaklah orang seperti dia dithalaq karena dosanya

Dia berakhlaq mulia, beragama, dan bernabikan Muhammad

Berbudi pekerti tinggi, bersifat pemalu dan halus tutur katanya

Akhirnya hati sang ayah pun luluh. Mereka diizinkan untuk rujuk kembali. Abdurrahman pun membuktikan bahwa cintanya suci dan takkan mengorbankan ibadah dan jihadnya di jalan Allah. Terbukti ia syahid tak berapa lama kemudian.

  1. Rasulullah Saw. dan Khadijah binti Khuwailid

Teladan dalam kisah cinta terbaik tentunya datang dari insan terbaik sepanjang masa: Rasulullah Saw. Cintanya kepada Khadijah tetap abadi walaupun Khadijah telah meninggal. Alkisah ternyata Rasulullah telah memendam cintanya pada Khadijah sebelum mereka menikah. Saat sahabat Khadijah, Nafisah binti Muniyah, menanyakan kesedian Nabi Saw. untuk menikahi Khadijah, maka Beliau menjawab: “Bagaimana caranya?” Ya, seolah-olah Beliau memang telah menantikannya sejak lama.

Setahun setelah Khadijah meninggal, ada seorang wanita shahabiyah yang menemui Rasulullah Saw. Wanita ini bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak menikah? Engkau memiliki 9 keluarga dan harus menjalankan seruan besar.”

Sambil menangis Rasulullah Saw menjawab, “Masih adakah orang lain setelah Khadijah?”

Kalau saja Allah tidak memerintahkan Muhammad Saw untuk menikah, maka pastilah Beliau tidak akan menikah untuk selama-lamanya. Nabi Muhammad Saw menikah dengan Khadijah layaknya para lelaki. Sedangkan pernikahan-pernikahan setelah itu hanya karena tuntutan risalah Nabi Saw, Beliau tidak pernah dapat melupakan istri Beliau ini walaupun setelah 14 tahun Khadijah meninggal.

Masih banyak lagi bukti-bukti cinta dahsyat nan luar biasa islami Rasulullah Saw. kepada Khadijah. Subhanallah.

  1. Rasulullah Saw. dan Aisyah

Jika Rasulullah SAW ditanya siapa istri yang paling dicintainya, Rasul menjawab, ”Aisyah”. Tapi ketika ditanya tentang cintanya pada Khadijah, beliau menjawab, “cinta itu Allah karuniakan kepadaku”. Cinta Rasulullah pada keduanya berbeda, tapi keduanya lahir dari satu yang sama: pesona kematangan.

Pesona Khadijah adalah pesona kematangan jiwa. Pesona ini melahirkan cinta sejati yang Allah kirimkan kepada jiwa Nabi Saw. Cinta ini pula yang masih menyertai nama Khadijah tatkala nama tersebut disebut-sebut setelah Khadijah tiada, sehingga Aisyah cemburu padanya.

Sedangkan Aisyah adalah gabungan dari pesona kecantikan, kecerdasan, dan kematangan dini. Ummu Salamah berkata, “Rasul tidak dapat menahan diri jika bertemu dengan Aisyah.”

Banyak kisah-kisah romantis yang menghiasi kehidupan Nabi Muhammad dan istrinya, Aisyah. Rasul pernah berlomba lari dengan Aisyah. Rasul pernah bermanja diri kepada Aisyah. Rasul memanggil Aisyah dengan panggilan kesayangan ‘Humaira’. Rasul pernah disisirkan rambutnya, dan masih banyak lagi kisah serupa tentang romantika suami-istri.

  1. Thalhah ibn ‘Ubaidillah

Berikut ini kutipan kisah Thalhah ibn ‘Ubaidillah.

Satu hari ia berbincang dengan ‘Aisyah, isteri sang Nabi, yang masih terhitung sepupunya. Rasulullah datang, dan wajah beliau pias tak suka. Dengan isyarat, beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam meminta ‘Aisyah masuk ke dalam bilik. Wajah Thalhah memerah. Ia undur diri bersama gumam dalam hati, “Beliau melarangku berbincang dengan ‘Aisyah. Tunggu saja, jika beliau telah diwafatkan Allah, takkan kubiarkan orang lain mendahuluiku melamar ‘Aisyah.”

Satu saat dibisikannya maksud itu pada seorang kawan, “Ya, akan kunikahi ‘Aisyah jika Nabi telah wafat.”

Gumam hati dan ucapan Thalhah disambut wahyu. Allah menurunkan firmanNya kepada Sang Nabi dalam ayat kelimapuluhtiga surat Al Ahzab, “Dan apabila kalian meminta suatu hajat kepada isteri Nabi itu, maka mintalah pada mereka dari balik hijab. Demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Kalian tiada boleh menyakiti Rasulullah dan tidak boleh menikahi isteri-isterinya sesudah wafatnya selama-lamanya.”

Ketika ayat itu dibacakan padanya, Thalhah menangis. Ia lalu memerdekakan budaknya, menyumbangkan kesepuluh untanya untuk jalan Allah, dan menunaikan haji dengan berjalan kaki sebagai taubat dari ucapannya. Kelak, tetap dengan penuh cinta dinamainya putri kecil yang disayanginya dengan asma ‘Aisyah. ‘Aisyah binti Thalhah. Wanita jelita yang kelak menjadi permata zamannya dengan kecantikan, kecerdasan, dan kecemerlangannya. Persis seperti ‘Aisyah binti Abi Bakr yang pernah dicintai Thalhah.

Subhanallah.

  1. Kisah cinta yang membawa surga

Al-Mubarrid menyebutkan dari Abu Kamil dari Ishaq bin Ibrahim dari Raja’ bin Amr An-Nakha’i, ia berkata, “Adalah di Kufah, terdapat pemuda tampan, dia sangat rajin dan taat. Suatu waktu dia berkunjung ke kampung dari Bani An-Nakha’.

Dia melihat seorang wanita cantik dari mereka sehingga dia jatuh cinta dan kasmaran. Dan ternyata cintanya pada si wanita cantik tak bertepuk sebelah tangan.

Karena sudah jatuh cinta, akhirnya pemuda itu mengutus seseorang untuk melamar gadis tersebut. Tetapi si ayah mengabarkan bahwa putrinya telah dojodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, cinta keduanya tak bisa padam bahkan semakin berkobar. Si wanita akhirnya mengirim pesan lewat seseorang untuk si pemuda, bunyinya, ‘Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji dengan kamu. Bila kamu setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku.’

Dijawab oleh pemuda tadi melalui orang suruhannya, ‘Aku tidak setuju dengan dua alternatif itu, sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabbku akan adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar. Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobaranya.’

Ketika disampaikan pesan tadi kepada si wanita, dia berkata, “Walau demikian, rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang yang lebih berhak untuk bertaqwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk itu.” Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mulai beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu pada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus karena menahan rindunya, sampai akhirnya dia meninggal dunia karenanya. Dan pemuda itu seringkali berziarah ke kuburnya, Dia menangis dan mendo’akanya. Suatu waktu dia tertidur di atas kuburannya. Dia bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan penampilan yang sangat baik. Dalam mimpi dia sempat bertanya, “Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?”

Dia menjawab, “Sebaik-baik cinta wahai orang yang bertanya, adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat mengiring menuju kebaikan.”

Pemuda itu bertanya, “Jika demikian, kemanakah kau menuju?” Dia jawab, “Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di Surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak.”

Pemuda itu berkata, “Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu.” Dia jawab, “Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah SWT) agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah.”

Si pemuda bertanya, “Kapan aku bisa melihatmu?” Jawab si wanita: “Tak lama lagi kau akan datang melihat kami.” Tujuh hari setelah mimpi itu berlalu, si pemuda dipanggil oleh Allah menuju kehadiratNya, meninggal dunia.

Hmm, sebuah kisah cinta yang agung dengan berdasarkan janji bertemu di surga. Luar biasa. AllahuAkbar.

  1. Ummu Sulaim dan Abu Thalhah

Ummu Sulaim merupakan janda dari Malik bin Nadhir. Abu Thalhah yang memendam rasa cinta dan kagum akhirnya memutuskan untuk menikahi Ummu Sulaim tanpa banyak pertimbangan. Namun di luar dugaan, jawaban Ummu Sulaim membuat lidahnya menjadi kelu dan rasa kecewanya begitu menyesakkan dada, meski Ummu Sulaim berkata dengan sopan dan rasa hormat,

“Sesungguhnya saya tidak pantas menolak orang yang seperti engkau, wahai Abu Thalhah. Hanya sayang engkau seorang kafir dan saya seorang muslimah. Maka tak pantas bagiku menikah denganmu. Coba Anda tebak apa keinginan saya?”

“Engkau menginginkan dinar dan kenikmatan,” kata Abu Thalhah.

“Sedikitpun saya tidak menginginkan dinar dan kenikmatan. Yang saya inginkan hanya engkau segera memeluk agama Islam,” tukas Ummu Sualim tandas.

“Tetapi saya tidak mengerti siapa yang akan menjadi pembimbingku?” tanya Abu Thalhah.

“Tentu saja pembimbingmu adalah Rasululah sendiri,” tegas Ummu Sulaim.

Maka Abu Thalhah pun bergegas pergi menjumpai Rasulullah Saw. yang mana saat itu tengah duduk bersama para sahabatnya. Melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah Saw. berseru, “Abu Thalhah telah datang kepada kalian, dan cahaya Islam tampak pada kedua bola matanya.”

Ketulusan hati Ummu Sulaim benar-benar terasa mengharukan relung-relung hati Abu Thalhah. Ummu Sulaim hanya akan mau dinikahi dengan keislamannya tanpa sedikitpun tegiur oleh kenikmatan yang dia janjikan. Wanita mana lagi yang lebih pantas menjadi istri dan ibu asuh anak-anaknya selain Ummu Sulaim? Hingga tanpa terasa di hadapan Rasulullah Saw. lisan Abu Thalhah basah mengulang-ulang kalimat, “Saya mengikuti ajaran Anda, wahai Rasulullah. Saya bersaksi, bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanNya.”

Menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah, sedangkan maharnya adalah keislaman suaminya. Hingga Tsabit –seorang perawi hadits- meriwayatkan dari Anas, “Sama sekali aku belum pernah mendengar seorang wanita yang maharnya lebih mulia dari Ummu Sulaim, yaitu keislaman suaminya.” Selanjutnya mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang damai dan sejahtera dalam naungan cahaya Islam.

  1. Kisah seorang pemuda yang menemukan apel

Alkisah ada seorang pemuda yang ingin pergi menuntut ilmu. Dictengah perjalanan dia haus dan singgah sebentar di sungai yang airnya jernih. dia langsung mengambil air dan meminumnya. tak berapa lama kemudian dia melihat ada sebuah apel yang terbawa arus sungai, dia pun mengambilnya dan segera memakannya. setelah dia memakan segigit apel itu dia segera berkata “Astagfirullah”

Dia merasa bersalah karena telah memakan apel milik orang lain tanpa meminta izin terlebih dahulu. “Apel ini pasti punya pemiliknya, lancang sekali aku sudah memakannya. Aku harus menemui pemiliknya dan menebus apel ini”.

Akhirnya dia menunda perjalanannya menuntut ilmu dan pergi menemui sang pemilik apel dengan menyusuri bantaran sungai untuk sampai kerumah pemilik apel. Tak lama kemudian dia sudah sampai ke rumah pemilik apel. Dia melihat kebun apel yang apelnya tumbuh dengan lebat.

“Assalamualaikum….”

“Waalaikumsalam wr.wb.”. Jawab seorang lelaki tua dari dalam rumahnya.

Pemuda itu dipersilahkan duduk dan dia pun langsung mengatakan segala sesuatunya tanpa ada yang ditambahi dan dikurangi. Bahwa dia telah lancang memakan apel yang terbawa arus sungai.

“Berapa harus kutebus harga apel ini agar kau ridha apel ini aku makan pak tua”. tanya pemuda itu.

Lalu pak tua itu menjawab. “Tak usah kau bayar apel itu, tapi kau harus bekerja di kebunku selama 3 tahun tanpa dibayar, apakah kau mau?”

Pemuda itu tampak berfikir, karena untuk segigit apel dia harus membayar dengan bekerja di rumah bapak itu selama tiga tahun dan itupun tanpa digaji, tapi hanya itu satu-satunya pilihan yang harus diambilnya agar bapak itu ridha apelnya ia makan.”Baiklah pak, saya mau.”

Alhasil pemuda itu bekerja di kebun sang pemilik apel tanpa dibayar. Hari berganti hari, minggu, bulan dan tahun pun berlalu. Tak terasa sudah tiga tahun dia bekerja dikebun itu. Dan hari terakhir dia ingin pamit kepada pemilik kebun.

“Pak tua, sekarang waktuku bekerja di tempatmu sudah berakhir, apakah sekarang kau ridha kalau apelmu sudah aku makan?”

Pak tua itu diam sejenak. “Belum.”

Pemuda itu terhenyak. “Kenapa pak tua, bukankah aku sudah bekerja selama tiga tahun di kebunmu.”

“Ya, tapi aku tetap tidak ridha jika kau belum melakukan satu permintaanku lagi.”

“Apa itu pak tua?”

“Kau harus menikahi putriku, apakah kau mau?”

“Ya, aku mau.” jawab pemuda itu.

Bapak tua itu mengatakan lebih lanjut. “Tapi, putriku buta, tuli, bisu dan lumpuh, apakah kau mau?”

Pemuda itu tampak berfikir, bagaimana tidak…dia akan menikahi gadis yang tidak pernah dikenalnya dan gadis itu cacat, dia buta, tuli, dan lumpuh. Bagaimana dia bisa berkomunikasi nantinya? Tapi diap un ingat kembali dengan segigit apel yang telah dimakannya. Dan dia pun menyetujui untuk menikah dengan anak pemilik kebun apel itu untuk mencari ridha atas apel yang sudah dimakannya.

“Baiklah pak, aku mau.”

Segera pernikahan pun dilaksanakan. Setelah ijab kabul sang pemuda itupun masuk kamar pengantin. Dia mengucapkan salam dan betapa kagetnya dia ketika dia mendengar salamnya dibalas dari dalam kamarnya. Seketika itupun dia berlari mencari sang bapak pemilik apel yang sudah menjadi mertuanya.

“Ayahanda…siapakah wanita yang ada didalam kamar pengantinku? Kenapa aku tidak menemukan istriku?”

Pak tua itu tersenyum dan menjawab. “Masuklah nak, itu kamarmu dan yang di dalam sana adalah istimu.”

Pemuda itu tampak bingung. “Tapi ayahanda, bukankah istriku buta, tuli tapi kenapa dia bisa mendengar salamku?

Bukankah dia bisu tapi kenapa dia bisa menjawab salamku?”

Pak tua itu tersenyum lagi dan menjelaskan. “Ya, memang dia buta, buta dari segala hal yang dilarang Allah. Dia tuli, tuli dari hal-hal yang tidak pantas didengarnya dan dilarang Allah. Dia memang bisu, bisu dari hal yang sifatnya sia-sia dan dilarang Allah, dan dia lumpuh, karena tidak bisa berjalan ke tempat-tempat yang maksiat.”

Pemuda itu hanya terdiam dan mengucap lirih: “Subhanallah…..”

Dan merekapun hidup berbahagia dengan cinta dari Allah.

  1. Zulaikha dan Yusuf As.

Cinta Zulaikha kepada Yusuf As. konon begitu dalam hingga Zulaikha takut cintanya kepada Yusuf merusak cintanya kepada Allah Swt. Berikut sedikit ulasan tentang cinta mereka

Zulaikha adalah seorang puteri raja sebuah kerajaan di barat (Maghrib) negeri Mesir. Beliau seorang puteri yang cantik menarik. Beliau bermimpi bertemu seorang pemuda yang menarik rupa parasnya dengan peribadi yang amanah dan mulia. Zulaikha pun jatuh hati padanya. Kemudian beliau bermimpi lagi bertemu dengannya tetapi tidak tahu namanya.

Kali berikutnya beliau bermimpi lagi, lelaki tersebut memperkenalkannya sebagai Wazir kerajaan Mesir. Kecintaan dan kasih sayang Zulaikha kepada pemuda tersebut terus berputik menjadi rindu dan rawan sehingga beliau menolak semua pinangan putera raja yang lain. Setelah bapanya mengetahui isihati puterinya, bapanya pun mengatur risikan ke negeri Mesir sehingga mengasilkan majlis pernikahan dengan Wazir negri Mesir.

Memandang Wazir tersebut atau al Aziz bagi kali pertama, hancur luluh dan kecewalah hati Zulaikha. Hatinya hampa dan amat terkejut, bukan wajah tersebut yang beliau temui di dalam mimpi dahulu. Bagaimanapun ada suara ghaib berbisik padanya: “Benar, ini bukan pujaan hati kamu. Tetapi hasrat kamu kepada kekasih kamu yang sebenarnya akan tercapai melaluinya. Janganlah kamu takut kepadanya. Mutiara kehormatan engkau sebagai perawan selamat bersama-sama dengannya.”

Perlu diingat sejarah Mesir menyebut, Wazir diraja Mesir tersebut adalah seorang kasi, yang dikehendaki berkhidmat sepenuh masa kepada baginda raja. Oleh yang demikian Zulaikha terus bertekat untuk terus taat kepada suaminya kerana ia percaya ia selamat bersamnya.

Demikian masa berlalu, sehingga suatu hari al-Aziz membawa pulang Yusuf a.s. yang dibelinya di pasar. Sekali lagi Zulaikha terkejut besar, itulah Yusuf a.s yang dikenalinya didalam mimpi. Tampan, menarik dan menawan.

Sabda Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Hammad dari Tsabit bin Anas memperjelasnya: “Yusuf dan ibunya telah diberi oleh Allah separuh kecantikan dunia.”

Kisah Zulaikha dan Yusuf direkam di dalam Al Quran pada Surah Yusuf ayat 21 sampai 36 dan ayat 51. Selepas ayat tersebut Al Quran tidak menceritakan kelanjutan hubungan Zulaikha dengan Yusuf a.s. Namun Ibn Katsir di dalam Tafsir Surah Yusuf memetik bahwa Muhammad bin Ishak berkata bahawa kedudukan yang diberikan kepada Yusuf a.s oleh raja Mesir adalah kedudukan yang dulunya dimiliki oleh suami Zulaikha yang telah dipecat. Juga disebut-sebut bahwa Yusuf telah beristrikan Zulaikha sesudah suaminya meninggal dunia, dan diceritakan bahwa pada suatu ketika berkatalah Yusuf kepada Zulaikha setelah ia menjadi isterinya, “Tidakkah keadaan dan hubungan kita se¬karang ini lebih baik dari apa yang pernah engkau inginkan?”

Zulaikha menjawab, “Janganlah engkau menyalahkan aku, hai kekasihku, aku sebagai wanita yang cantik, muda belia bersuamikan seorang pemuda yang berketerampilan dingin, menemuimu sebagai pemuda yang tampan, gagah perkasa bertubuh indah, apakah salah bila aku jatuh cinta kepadamu dan lupa akan kedudukanku sebagai wanita yang bersuami?”

Dikisahkan bahwa Yusuf menikahi Zulaikha dalam keadaan gadis (perawan) dan dari perkawinan itu memperoleh dua orang putra: Ifraitsim bin Yusuf dan Misya bin Yusuf.

TANDA KESUKSESAN DALAM MENJALANKAN PUASA RAMADHAN

Idul Fitri tiba ketika umat Islam menjalankan ibadah wajib puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Sepanjang bulan suci tersebut, mereka menahan lapar, haus, hubungan seks, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam. Secara bahasa, shaum (puasa) memang bersinonim dengan imsâk yang artinya menahan. Ramadhan merupakan arena kita berlatih menahan diri dari segala macam godaan material yang bisa membuat kita lupa diri.

Proses latihan tersebut diwujudkan dalam bentuk larangan terhadap hal-hal yang sebelumnya halal, seperti makan dan minum. Inilah proses penempaan diri. Targetnya: bila manusia menahan diri dari yang halal-halal saja mampu, apalagi menahan diri dari yang haram-haram. Puasa itu ibarat pekan ujian nasional bagi siswa sekolah. Selama seminggu itu para murid digembleng untuk belajar lebih serius, mengurangi jam bermain, dan menghindari hal-hal lain yang bisa mengganggu hasil ujian tersebut.

Ramadhan tentu lebih dari sekadar latihan. Ia adalah wahana penempaan diri sekaligus saat-saat dilimpahkannya rahmat (rahmah), ampunan (maghfirah), dan pembebasan dari api neraka (itqun minan nâr). Aktivitas ibadah sunnah diganjar senilai ibadah wajib, sementara ibadah wajib membuahkan pahala berlipat-lipat.

Selayak siswa sekolah yang mendapatkan raport selepas melewati masa-masa krusial ujian, demikian pula orang-orang yang berpuasa. Setelah melewati momen-momen penting sebulan penuh, umat Islam pun berhak mendapatkan hasilnya. Apa hasil itu? Jawabannya tak lain adalah predikat “takwa”, sebagaimana terdapat di al-Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Takwa merupakan standar paling tinggi tingkat kemuliaan manusia. Seberapa tinggi derajat mulia manusia tergantung pada seberapa tinggi takwanya. Inna akramakum ‘indallâhi atqâkum. Dalam konteks puasa Ramadhan, tentu takwa tak bisa digapai dengan sebatas menahan lapar dan dahaga. Ada yang lebih substansial yang perlu ditahan, yakni tergantungnya manusia kepada hal-hal selain Allah, termasuk hawa nafsu. Orang yang berpuasa dengan sungguh-sungguh akan mencegah dirinya dari segala macam perbuatan tercela semacam mengubar syahwat, berbohong, bergunjing, merendahkan orang lain, riya’, menyakiti pihak lain, dan lain sebagainya. Tanpa itu, puasa kita mungkin sah secara fiqih, tapi belum tentu berharga di mata Allah subhanahu wata’ala.

Rasulullah sendiri pernah bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Artinya: “Banyak orang yang berpuasa, namun ia tak mendapatkan apa pun dari puasanya selain rasa lapar saja.” (HR Imam Ahmad)

Karena puasa sudah kita lewati dan tak ada jaminan kita bakal bertemu Ramadhan lagi, pertanyaan yang lebih relevan bukan saja “kemenangan atas apa yang sedang kita rayakan?” tapi juga “apa tanda-tanda kita telah mencapai kemenangan?”. Jangan-jangan kita seperti yang disabdakan Nabi, termasuk golongan yang sekadar mendapatkan lapar dan dahaga, tanpa pahala?

Jika standar capaian tertinggi puasa adalah takwa, maka tanda-tanda bahwa kita sukses melewati Ramadhan pun tak lepas dari ciri-ciri muttaqîn (orang-orang yang bertakwa). Semakin tinggi kualitas takwa kita, indikasi semakin tinggi pula kesuksesan kita berpuasa. Demikian juga sebaliknya, semakin hilang kualitas takwa dalam diri kita, pertanda semakin gagal kita sepanjang Ramadhan.

Lantas, apa saja ciri-ciri orang bertakwa? Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan ciri-ciri orang takwa. Salah satu ayatnya terdapat dalam Surat Ali Imran:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَـــافِينَ عَنِ النَّــاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُـحْسِنِــينَ

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) pada saat sarrâ’ (senang) dan pada saat dlarrâ’ (susah), dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran: 134)

Ayat tersebut memaparkan tiga sifat yang menjadi ciri orang bertakwa.

 Pertama, gemar menyedekahkan sebagian hartanya dalam kondisi senang ataupun sulit. Orang bertakwa tidak akan sibuk hanya memikirkan diri sendiri. Ia mesti berjiwa sosial, menaruh empati kepada sesama, serta rela berkorban untuk orang lain dalam setiap keadaan. Bahkan, ia tidak hanya suka memberi kepada orang yang dicintainya, tapi juga kepada orang-orang memang membutuhkan.

Dalam konteks Ramadhan dan Idul Fitri, sifat takwa pertama ini sebenarnya sudah mulai didorong oleh Islam melalui ajaran zakat fitrah. Zakat fitrah merupakan simbol bahwa “rapor kelulusan” puasa harus ditandai dengan mengorbankan sebagian kekayaan kita dan menaruh kepedulian kepada mereka yang lemah. Ayat tersebut menggunakan fi’il mudhari’ yunfiqûna yang bermakna aktivitas itu berlangsung konstan/terus-menerus. Dari sini, dapat dipahami bahwa zakat fitrah hanyalah awal atau “pancingan” bagi segenap kepedulian sosial tanpa henti pada bulan-bulan berikutnya.

Ciri kedua orang bertakwa adalah mampu menahan amarah. Marah merupakan gejala manusiawi. Tapi orang-orang yang bertakwa tidak akan mengumbar marah begitu saja. Al-kâdhim (orang yang menahan) serumpun kata dengan al-kadhîmah (termos). Kedua-duanya mempunyai fungsi membendung: yang pertama membendung amarah, yang kedua membendung air panas.

Selayak termos, orang bertakwa semestinya mampu menyembunyikan panas di dadanya sehingg orang-orang di sekitarnya tidak tahu bahwa ia sedang marah. Bisa jadi ia tetap marah, namun ketakwaan mencegahnya melampiaskan itu karena tahu mudarat yang bakal ditimbulkan. Termos hanya menuangkan air panas pada saat yang jelas maslahatnya dan betul-betul dibutuhkan.

Patutlah pada kesempatan lebaran ini, umat Islam mengontrol emosinya sebaik mungkin. Mencegah amarah menguasai dirinya, dan bersikap kepada orang-orang pernah membuatnya marah secara wajar dan biasa-biasa saja. Ramadhan semestinya telah melatih orang untuk berlapang dada, bijak sana, dan tetap sejuk menghadapi situasi sepanas apa pun.

Ciri ketiga orang bertakwa adalah memaafkan kesalahan orang lain. Sepanjang Ramadhan, umat Islam paling dianjurkan memperbanyak permohonan maaf kepada Allah dengan membaca:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku.”

Kata ‘afw (maaf) diulang tiga kali dalam kalimat tersebut, menunjukkan bahwa manusia memohon dengan sangat serius ampunan dari Allah SWT. Memohon ampun merupakan bukti kerendahan diri di hadapan-Nya sebagai hamba yang banyak kesalahan dan tak suci.

Cara ini, bila dipraktikkan dengan penuh pengahayatan, sebenarnya melatih orang selama Ramadhan tentang pentingnya maaf. Bila diri kita sendiri saja tak mungkin suci dari kesalahan, alasan apa yang kita tidak mau memaafkan kesalahan orang lain? Maaf merupakan sesuatu yang singkat  namun bisa terasa sangat berat karena persoalan ego, gengsi, dan unsur-unsur nafsu lainnya.

Amatlah arif ulama-ulama di Tanah Air yang menciptakan tradisi bersilaturahim dan saling memaafkan di momen lebaran. Sempurnalah, ketika kita usai membersihkan diri dari kesalahan-kesalahan kepada Allah, selanjutnya kita saling memaafkan kesalahan masing-masing di antara manusia.

Sudah berapa kali puasa kita lewati sepanjang kita hidup? Sudahkah ciri-ciri sukses Ramadhan tersebut melekat dalam diri kita?

Wallahu a’lam bish shawab.

DO’A AGAR HATI DI KUATKAN MENCINTAI NABI SAW DAN ALLOH SWT.

Berbahagialah wahai para perindu, sebab orang yang sedang dilanda asmara rindu, mereka akan senantiasa merindukan pertemuan dan perjumpaan dengan sosok yang dirindukannya, mereka akan selalu mengingat dan menyebut nama yang dirindukan, kerinduan yang memuncak atas kecintaan yang begitu mendalam. Pernahkah gejolak ini kita rasakan?

Ketahuilah, jauh sebelum kita lahir, jauh ribuan tahun lalu sebelum kita hadir di dunia ini, ada sosok manusia insan paling mulia di seluruh jagat raya yang sudah begitu sangat merindukan kita. Sampai-sampai air matanya pun menetes dan menangis karena merindukan kita semua. Dialah Sayyidina Muhammad Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa alihi wa shohbihi wa sallam. Sosok yang semestinya paling kita rindu-rindukan. Insya Allah kita termasuk salah satu umat yang dirindukan Rasulullah dan kita pun senantiasa merindukan Rasulullah. Rasulullah merindukan kita sebelum kita merindukan Rasulullah.

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa alihi wa shohbihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَسُرَيْجُ بْنُ يُونُسَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ جَمِيعًا عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ ابْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ أَخْبَرَنِي الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى الْمَقْبُرَةَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا قَالُوا أَوَلَسْنَا إِخْوَانَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Suraij bin Yunus dan Qutaibah bin Sa’id dan Ali bin Hujr semuanya meriwayatkan dari Ismail bin Ja’far, Ibnu Ayyub berkata, telah menceritakan kepada kami Ismail telah mengabarkan kepadaku al-‘Ala’ dari bapaknya dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendatangi pekuburan lalu bersabda: “Semoga keselamatan terlimpahkah atas kalian para penghuni kuburan kaum mukminin, dan sesungguhnya insya Allah kami akan bertemu kalian. Sungguh aku sangat gembira seandainya kita dapat melihat saudara-saudara kita.” Para Sahabat bertanya, ‘Tidakkah kami semua saudara-saudaramu duhai Rasulullah? ‘ Beliau menjawab: “Kamu semua adalah sahabatku, sedangkan saudara-saudara kita ialah mereka (orang-orang mukmin) yang belum muncul (orang-orang beriman tanpa pernah melihat Rasulullah).” (Hadits Riwayat Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan:

حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ حَدَّثَنَا جَسْرٌ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدِدْتُ أَنِّي لَقِيتُ إِخْوَانِي قَالَ فَقَالَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَلَيْسَ نَحْنُ إِخْوَانَكَ قَالَ أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَلَكِنْ إِخْوَانِي الَّذِينَ آمَنُوا بِي وَلَمْ يَرَوْنِي

Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al-Qasim berkata, Telah menceritakan kepada kami Jasr dari Tsabit dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Saya berharap untuk bertemu dengan saudara-saudaraku”, (Sahabat Anas bin Malik) radhiyallahu ‘anhu berkata: para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Bukankah kami adalah saudara-saudaramu?, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalian adalah sahabatku, akan tetapi saudara-saudaraku adalah mereka yang beriman kepadaku walau tidak melihatku “. (Musnad Imam Ahmad)

Allah Ya Karim, Rasulullah sangat rindu kepada umatnya, yang mana mereka belum pernah melihat wajah indahnya, belum pernah bertemu dengannya, belum pernah berbincang-bincang dengannya, akan tetapi mereka mengimaninya dan sangat merindukannya. Mereka adalah orang-orang yang melanjutkan perjuangan risalah Rasulullah dan tidak jarang pula mereka meneteskan air mata dikarenakan menahan rindu yang sangat mendalam kepada Rasulullah. Mereka rindu dan Rasulullah pun rindu sebelum mereka rindu. Mudah-mudahan kita semua digolongkan dalam umat yang dirindu-rindukan oleh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa alihi wa shohbihi wa sallam.

Lantas bagaimana caranya agar di dalam hati kita tertanam kerinduan dan kecintaan kepada Rasulullah? Salah satunya adalah dengan memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala Yang Maha Merindu pemberi rasa rindu. Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa alihi wa shohbihi wa sallam mengajarkan kepada kita sebuah doa Nabi Daud ‘alaihis salam, yang meminta diberikan kekuatan hati untuk merindui dan mencintai Allah dan RasulNya Muhammad shollallohu ‘alaihi wa alihi wa shohbihi wa sallam. Berikut adalah doanya:

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنِيْ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ مَا يُقَرِّبْنِيْ إِلىٰ حُبِّكَ فِيْ كُلِّ عَمَلٍ. اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنِيْ مُتَابَعَةً لِسَيِدِنَا وَحَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ ظَاهِرًا وَبَاطِيْنًا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

“Ya Allah, anugerahilah aku cintaMu dan cinta orang yang mencintaiMu, yang dapat mendekatkan diriku kepada cintaMu dalam segala perbuatan. Ya Allah, anugerahilah aku kemampuan untuk mengikuti penghulu dan kekasih kami Muhammad shollallohu ‘alaihi wa alihi wa shohbihi wa sallam, secara dzahir dan batin, dengan rahmatMu duhai Yang Maha Pengasih dari semua yang berjiwa kasih.”

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اَنْصَارِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اَزْوَاجِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اَتْبَاعِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى ذُرِّيَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

MENGENAL LEBIH JAUH ANTARA SHILATURRAHIM DAN SHILATURRAHMI

Ibnu Jarin berkata :

Bahwa Rosululloh Saw. Menjelaskan tentang firman Alloh yang berbunyi :

“Apabila telah di tunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Alloh”.(QS. Al Jumu’ah ayat 10)

Lalu Rosululloh Saw bersabda :

“Bukan untuk mencari harta, akan tetapi untuk menjenguk orang sakit, menghadiri jenazah dan berkunjung ke rumah saudara kita seiman”.

أَخْرَج ابنُ جرين قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم في قَوْلِهِ تَعَالَى ( فَإِذَاقُضِيَةِ الصّلَاةُ فَانْتَشِرُوْافِي الْأَرْضِ) قَالَ لَيْسَ لِطَلِبِ دِيْنَارٍ لَكِنْ لِعِيَادَةِ مَرِيْضٍ وَحُضُوْرِ جَنَازَةٍ وَزِيَارَةِ أَخٍ فِيْ اللهِ

ada ayat al-qur’an yang menganjurkan pentingnya silaturrahim

(( إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْأِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ)) (النحل:90).

وقال سبحانه وتعالى : (( فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ * أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ)) (محمد:23).

Adapun shilaturrohmi atau shilaturrohim mana yang benar keduanya sama-sama benar.

Essensinya sama yakni shilah (صلة) menyambung dan rahim (الرحيم ) jamaknya arham. Bisa dirujuk ke ilmu bahasa ada polisemi, hipernim dan hiponim.

Misalnya poliseninya kue, maka hipernimnya donat, kucur, jemblem dan lain-lain. odol misalnya, hipernimnya pepsodent, ritadent, dll.من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليصل رحمه man kaana yu’minu billahi wal yaumil akhir fal yashil rahimau (sesiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir maka hendaklah silaturrahim) hadis riwayat bukhoriمن احب ان يـبسط له فى رزقه وينسأ له فى اثره فليصل رحمه (متفقن عليه)

Artinya: Sesiapa yang ingin dimurahkan rezkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia bersilaturrahmi

penjelasan kata ro, ha, mim (رحم )

Ada dua bacaan (1) dibaca rohm dan (2) rihm

Menurut Ibn Manzur dalam lisan al-arab jilid 12, hal. 232, makna رحم adalah kerabat dekat, adapun menurut al-Raghib adalah peranakan tempat bersemanyamnya anak.

(١) قال ابن منظور في لسان العرب ١٢ / ٢٣٢: الرحم (بفتح الراء وكسر الحاء) أسباب

القربة، وأصلها الرحم التي هي منبت الولد، وهي الرحم (بكسر الراء وسكون الحاء)

. الجوهري: الرحم القرابة، والرحم بالكسر مثله.

Dari berbagai sumber kamus bahasa makna ro, ha’ mim, mengandungi 22 makna

(1)

رحم:

ر ح م: الرَّحْمَةُ الرقة والتعطف و المَرْحَمَةُ مثله وقد رَحِمَهُ بالكسر رَحْمَةً و مَرْحَمَةً أيضا و تَرَحَّمَ عليه و تَرَاحَمَ القوم رَحِمَ بعضهم بعضا و الرَّحَمُوتُ من الرحمة يقال رهبوت خير من رحموت أي لأن تُرهَب خير من أن تُرحَم و الرَّحِمُ القرابة والرحم أيضا بوزن الجسم مثله و الرَّحْمنُ الرَّحِيمُ اسمان مشتقان من الرحمة ونظيرهما نديم وندمان وهما بمعنى ويجوز تكرير الاسمين إذا اختلف اشتقاقهما على وجه التأكيد كما يقال فلان جاد مجد إلا أن الرحمن اسم مختص بالله تعالى ولا يجوز أن يسمى به غيره ألا ترى أنه سبحانه وتعالى قال {قل ادعوا الله أو ادعوا الرحمن} فعادل به الاسم الذي لا يشركه فيه غيره وكان مسيلمة الكذاب يقال له رَحْمَانُ اليمامة و الرَّحِيمُ قد يكون بمعنى المرحوم كما يكون بمعنى الراحم و الرُّحْمُ بالضمة الرحمة قال الله تعالى {وأقرب رحما} و الرُّحُمُ بضمتين مثله

المعجم: مختار الصحاح

(2)

رحم : مرحوم:

اسم مفعول من رحِمَ.

  • المرحوم: الميِّت (تفاؤلاً بتمتعه برحمة الله وعفوه) “ذكرى وفاة المرحوم فلان”.

المعجم: اللغة العربية المعاصر

(3)

رحم : رُحْمى:

رحمة، رقَّة القلب وعطف يقتضي المغفرة والإحسان “رُحْماك ياربّ: ارحمني”.

المعجم: اللغة العربية المعاصر

(4)

رحم : رحِمَ يَرحَم، رَحمةً ورُحْمًا، فهو راحِم، والمفعول مَرْحوم:

  • رحِم يتيمًا

رقَّ له وعطَف عليه “ضربه بلا رحمة ولا شفقة- كان يوم فتح مكة يوم الرَّحمة- ارْحَمُوا مَنْ فِي الأرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ [حديث]- {كَتَبَ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ}: أوجبها على نفسه كرمًا منه وفضلاً- {وَأَقْرَبَ رُحْمًا} “.

  • رحِم اللهُ فلانًا: تعطَّف عليه وأحسن إليه ورزقه ” {وَإلاَّ تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ} ” ° رحِمه الله/ الله يرحمه: دعاء للميِّت- يرحمك الله: تشميت للعاطس.

المعجم: اللغة العربية المعاصر

(5)

رحم : رُحْم:

1 – مصدر رحِمَ.

2 – علاقة القرابة وسببها ” {فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا} “.

المعجم: اللغة العربية المعاصر

(6)

رحم : رَحيم:

ج رحيمون ورُحَماء: صيغة مبالغة من رحِمَ: كثير الرّحمة والشفقة “أبٌ/ شيخٌ رحيم- إنه حاكم عادل بين الناس، رحيم بالضعفاء- {أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ} “.

  • الرَّحيم: اسم من أسماء الله الحسنى، ومعناه: الرَّفيق بالمؤمنين، والعاطف على خلقه بالرِّزق، والمثيب على العمل ” {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} “.
  • القتل الرَّحيم: إنهاء حياة المرضى الميئوس من شفائهم طبِّيًّا.

المعجم: اللغة العربية المعاصر

(7)

رحم : رَحْمَن:

  • الرَّحمن

1 – اسم من أسماء الله الحسنى، ومعناه: ذو الرَّحمة التي لا غايةَ بعدها في الرّحمة، الذي وسعت رحمتُه كلَّ شيء، الذي يُزيح العلل ويُزيل الكروب، العطوفُ على عباده بالإيجاد أوّلاً، وبالهداية إلى الإيمان وأسباب السّعادة ثانيًا، وبالإسعاد في الآخرة ثالثًا، المنعِمُ بما لا يُتصوَّر صدورُ جنسه من العباد ” {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} “.

2 – اسم سورة من سور القرآن الكريم، وهي السُّورة رقم 55 في ترتيب المصحف، مدنيَّة، عدد آياتها ثمانٍ وسبعون آية.

المعجم: اللغة العربية المعاصر

(8)

رحم : رَحْمَة:

ج رَحَمات (لغير المصدر) ورَحْمات (لغير المصدر):

1 – مصدر رحِمَ ° الرَّحمة: نداء لالتماس المغفرة والصفح أو لاستثارة الشفقة- تغمَّده الله برحمته/ انتقل إلى رحمة الله: تُوفِّي، مات- ملائكة الرَّحمة: كناية عن الممرِّضات- وضَعه تحت رحمته/ جعله تحت رحمته: تحكَّم فيه.

2 – خير ونعمة ” {وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ} “.

المعجم: اللغة العربية المعاصر

(9)

رحم : رَحِميَّة:

اسم مؤنَّث منسوب إلى رَحِم: “أواصر/ التهابات رحميّة”.

  • نزعة رحمِيَّة: نزعة تميل إلى إيجاد علاقة قويَّة ومتينة تجمع بين الأشخاص أو الأشياء.

المعجم: اللغة العربية المعاصر

(10)

رحم : رَحِم:

ج أَرحام، مؤ رَحِم، ج مؤ أَرحام:

1 – قرابة أو أسبابها “ونحن في الشرق والفصحى بنو رحمٍ … ونحن في الجُرح والآلام إخوانُ- إِنَّ أَعْمَالَ بَنِي آدَمَ تُعْرَضُ كُلَّ خَمِيسٍ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَلاَ يُقْبَلُ عَمَلُ قَاطِعِ رَحِمٍ [حديث]- {فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ} ” ° أولو الأرحام/ ذوو الأرحام: الأقارب الذين ليسوا من العَصَبة ولا من ذوي الفروض، كبنات الإخوة وبنات الأعمام- صِلَة الرَّحِم: زيارة الأقارب والإحسان إليهم، وعكسها قطيعة الرَّحم.

2 – (حي، شر) عضو عضليّ أجوف غليظ الجدار يوجد في بطن الثدييات، وفيه يتكوّن الجنين وينمو إلى أن يُولد (يذكَّر ويؤنَّث) ” {هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ} “.

  • حلقتا الرَّحم: (طب) حلقة على فم الفرج عند طرفه والحلقة الأخرى تنضمّ على الماء وتنفتح للحَيْض.

المعجم: اللغة العربية المعاصر

(11)

رحم : رَحُوم:

صيغة مبالغة من رحِمَ: كثير الرَّحمة (للمذكر والمؤنث).

المعجم: اللغة العربية المعاصر

(12)

رحم : رَحَموت:

شفقة ورحمة عظيمة “رَهبوتٌ خيرٌ لك من رَحَمُوت [مثل]: لأن تُرهَبَ خيرٌ لك من أن تُرْحَمَ لأن الذي يخافه النَّاس يقتضي أن يكون ع

Adapun pecahan kalimat ro’ ha’ mim ( رحم ) sebagai berikut :

(1) الرَّحْمة (2) المرْحَمَةُ (3) مَرْحومٌ (4)الرَّحْمَنُ (5)الرحيم(6)راحِمٌ (7) رَحِمٌ (8) رُحُماً (9) الرِحْمُ (10) الرُّحْمُ

Kesimpulannya, dari aspek semiotika-leksikografi perkataan silaturahmi mempunyai arti sama dengan silaturahim hanya saja penyebutan silaturahmi kurang tepat dan yg tepat silaturrahim.sungguhpun ini hanya ijtihad lughawi, klau lepat mohon ngapuro. suwun.

Adapun perkataan silah (صلة) asal kata وصل يصل وصلا atau وصل يصل صلة yang bermakna sambung ( الوصل) lawan darpada putus (ضد القطع).

 Pada pendapat Ibn Athir yang dimaksud dgn صلة الرحم adalah berbaik-baik kepada kerabat dekat yang masih ada hubungan keluarga

( يقول الإمام ابن الأثير : صلة الرحم هي الإحسان الى الأقربين من ذوي النسب

PENJELASAN TAMBAHNYA UMUR DALAM SHILATURRAHIM

Di dalam alqur’an dingendikaaken kados ngaten :

” Maka apabila telah datang ajal bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkanya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan”.

Sedang disisi lain banyak kita jumpai hadits yang dapat memanjangkan usia (shilaturrohim) dan yang menyebabkan mati muda adalah ketika tidak wira’i.

 

Bagaimanakah penjelasan dari kedua hal yang kontradiktif ini?

Mari kita cermati uraian di bawah ini :

ﺷﺮﺡ ﻣﺴﻠﻢ – ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ – ﺝ – ١٦ ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١١٤ – ١١٥

ﻣﻦ ﺃﺣﺐ ﺃﻥ ﻳﺒﺴﻂ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺭﺯﻗﻪ ﻭﻳﻨﺴﺄ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺃﺛﺮﻩ ﻓﻠﻴﺼﻞ ﺭﺣﻤﻪ

ﻳﻨﺴﺄ ﻣﻬﻤﻮﺯ ﺃﻱ ﻳﺆﺧﺮ ﻭﺍﻷﺛﺮ ﺍﻷﺟﻞ ﻷﻧﻪ ﺗﺎﺑﻊ ﻟﻠﺤﻴﺎﺓ ﻓﻲ ﺃﺛﺮﻫﺎ ﻭﺑﺴﻂ ﺍﻟﺮﺯﻕ ﺗﻮﺳﻴﻌﻪ ﻭﻛﺜﺮﺗﻪ ﻭﻗﻴﻞ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻓﻴﻪ ﻭﺍﻣﺎ ﺍﻟﺘﺄﺧﻴﺮ ﻓﻲ ﺍﻷﺟﻞ ﻓﻔﻴﻪ ﺳﺆﺍﻝ ﻣﺸﻬﻮﺭ ﻭﻫﻮ ﺃﻥ ﺍﻵﺟﺎﻝ ﻭﺍﻷﺭﺯﺍﻕ ﻣﻘﺪﺭﺓ ﻻ ﺗﺰﻳﺪ ﻭﻻ ﺗﻨﻘﺺ ﻓﺈﺫﺍ ﺟﺎﺀ ﺍﺟﻠﻬﻢ ﻻ ﻳﺴﺘﺄﺧﺮﻭﻥ ﺳﺎﻋﺔ ﻭﻻ ﻳﺴﺘﻘﺪﻣﻮﻥ

ﻭﺃﺟﺎﺏ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺑﺄﺟﻮﺑﺔ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻣﻨﻬﺎ ﺃﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﺑﺎﻟﺒﺮﻛﺔ ﻓﻲ ﻋﻤﺮﻩ ﻭﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﻟﻠﻄﺎﻋﺎﺕ ﻭﻋﻤﺎﺭﺓ ﺃﻭﻗﺎﺗﻪ ﺑﻤﺎ ﻳﻨﻔﻌﻪ ﻓﻲ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﻭﺻﻴﺎﻧﺘﻬﺎ ﻋﻦ ﺍﻟﻀﻴﺎﻉ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ

ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺃﻧﻪ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﻳﻈﻬﺮ ﻟﻠﻤﻼﺋﻜﺔ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﻠﻮﺡ ﺍﻟﻤﺤﻔﻮﻅ ﻭﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ﻓﻴﻈﻬﺮ ﻟﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻮﺡ ﺃﻥ ﻋﻤﺮﻩ ﺳﺘﻮﻥ ﺳﻨﺔ ﺇﻻ ﺃﻥ ﻳﺼﻞ ﺭﺣﻤﻪ ﻓﺎﻥ ﻭﺻﻠﻬﺎ ﺯﻳﺪ ﻟﻪ ﺃﺭﺑﻌﻮﻥ ﻭﻗﺪ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﻣﺎ ﺳﻴﻘﻊ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻭﻫﻮ ﻣﻦ ﻣﻌﻨﻰ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﻳﺸﺎﺀ ﻭﻳﺜﺒﺖ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻨﺴﺒﺔ ﺇﻟﻰ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﻣﺎ ﺳﺒﻖ ﺑﻪ ﻗﺪﺭﻩ ﻭﻻ ﺯﻳﺎﺩﺓ ﺑﻞ ﻫﻲ ﻣﺴﺘﺤﻴﻠﺔ ﻭﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﻇﻬﺮ ﻟﻠﻤﺨﻠﻮﻗﻴﻦ ﺗﺘﺼﻮﺭ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﻭﻫﻮ ﻣﺮﺍﺩ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ

ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻘﺎﺀ ﺫﻛﺮﻩ ﺍﻟﺠﻤﻴﻞ ﺑﻌﺪﻩ ﻓﻜﺄﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﻤﺖﺣﻜﺎﻩ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﻭﻫﻮ ﺿﻌﻴﻒ ﺃﻭ ﺑﺎﻃﻞ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ

“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) shilaturrahim.”

Maksudnya dari kalimat ajalnya diakhirkan dan rezekinya dilapangkan dan diperbanyak. Dan dikatakan juga maksudnya adalah berkah. Adapun penundaan ajal atau perpanjangan umur, terdapat satu permasalahan yaitu bagaimana mungkin ajal diakhirkan. Bukankah ajal dan rezeki telah ditetapkan dan tidak dapat bertambah dan berkurang sebagaimana firmanNya :

ﻭَﻟِﻜُﻞِّ ﺃُﻣَّﺔٍ ﺃَﺟَﻞٌ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺟَﺂﺀَ ﺃَﺟَﻠُﻬُﻢْ ﻻَﻳَﺴْﺘَﺄْﺧِﺮُﻭﻥَ ﺳَﺎﻋَﺔً ﻭَﻻَﻳَﺴْﺘَﻘْﺪِﻣُﻮﻥَ

“Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”.

Maka ulama menjawab dengan jawaban yang benar tentang masalah ini.

Pertama :

Yang dimaksud dengan tambahan di sini, yaitu tambahan berkah dalam umur. Diberi pertolongan melakukan ketaatan dan mengisi waktunya dengan hal hal yang bermanfaat baginya di akhirat, serta terjaga dari kesia siaan.

Kedua :

Berkaitan dengan ilmu yang ada pada malaikat yang terdapat di Lauh Mahfuzd dan semisalnya. Umpama usia si fulan tertulis dalam Lauh Mahfuzd berumur 60 tahun. Akan tetapi jika dia menyambung shilaturrahim, maka akan mendapatkan tambahan 40 tahun, dan Alloh telah mengetahui apa yang akan terjadi padanya (apakah ia akan menyambung silaturahim ataukah tidak). Inilah makna firman Alloh :

ﻳَﻤْﺤُﻮ ﺍﻟﻠﻪُ ﻣَﺎ ﻳَﺸَﺂﺀُ ﻭَﻳُﺜْﺒِﺖُ

“Alloh akan menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki)”.

Demikian ini ditinjau dari ilmu Alloh. Apa yang telah ditakdirkan, maka tidak akan ada tambahannya. Bahkan tambahan tersebut adalah mustahil. Sedangkan ditinjau dari ilmu makhluk, maka akan tergambar adanya perpanjangan (usia), dan hal demikian maksud dari hadits tersebut.

Dan yang ketiga :

Yang dimaksud, bahwa ia dikenang dengan baik setelah kematiannya seolah olah ia tidak pernah mati. Demikianlah yang diceritakan oleh Imam Al Qodli, dan riwayat ini dho’if (lemah) atau bathil.

Ibnu Jarin berkata :

Bahwa Rosululloh Saw. Menjelaskan tentang firman Alloh yang berbunyi :

“Apabila telah di tunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Alloh”.(QS. Al Jumu’ah ayat 10)

Lalu Rosululloh Saw bersabda :

“Bukan untuk mencari harta, akan tetapi untuk menjenguk orang sakit, menghadiri jenazah dan berkunjung ke rumah saudara kita seiman”.

أَخْرَج ابنُ جرين قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم في قَوْلِهِ تَعَالَى ( فَإِذَاقُضِيَةِ الصّلَاةُ فَانْتَشِرُوْافِي الْأَرْضِ) قَالَ لَيْسَ لِطَلِبِ دِيْنَارٍ لَكِنْ لِعِيَادَةِ مَرِيْضٍ وَحُضُوْرِ جَنَازَةٍ وَزِيَارَةِ أَخٍ فِيْ اللهِ

Wallohu a’lam.

Tambahan ibarot :

ﺻﺤﻴﺢ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻌﻘﻴﺪﺓ ﺍﻟﻄﺤﺎﻭﻳﺔ – ﺣﺴﻦ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ – ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ٢٧١ – ٢٧٢

ﻭﺃﻣﺎ ﻣﺎ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ 10 / 415 ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻣﺮﻓﻮﻋﺎ: ﻣﻦﺳﺮﻩ ﺃﻥ ﻳﺒﺴﻂ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺭﺯﻗﻪ، ﻭﺃﻥ ﻳﻨﺴﺄ ﻟﻪ ﺃﺛﺮﻩ ﻓﻠﻴﺼﻞ ﺭﺣﻤﻪ.

ﻓﻤﻌﻨﻰ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻤﺮ ﻫﻨﺎ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻓﻴﻪ ﻻ ﺯﻳﺎﺩﺓ ﻋﺪﺩ ﺍﻟﺴﻨﻴﻦ ﻭﺍﻷﻳﺎﻡ. ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺘﺢ:416 / 10ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺘﻴﻦ: ﻇﺎﻫﺮ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻳﻌﺎﺭﺽ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﻓﺈﺫﺍ ﺟﺎﺀ ﺃﺟﻠﻬﻢ ﻻ ﻳﺴﺘﺄﺧﺮﻭﻥ ﺳﺎﻋﺔ ﻭﻻ ﻳﺴﺘﻘﺪﻣﻮﻥ. ﻭﺍﻟﺠﻤﻊ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﻣﻦ ﻭﺟﻬﻴﻦ:

ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﺃﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﻛﻨﺎﻳﺔ ﻋﻦ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻤﺮ ﺑﺴﺒﺐ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻄﺎﻋﺔ، ﻭﻋﻤﺎﺭﺓ ﻭﻗﺘﻪ ﺑﻤﺎ ﻳﻨﻔﻌﻪ ﻓﻲ ﺍﻵﺧﺮﺓ، ﻭﺻﻴﺎﻧﺘﻪ ﻋﻦ ﺗﻀﻴﻴﻌﻪ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ. ﻭﻣﺜﻞ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﺟﺎﺀ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺹ ﺗﻘﺎﺻﺮ ﺃﻋﻤﺎﺭ ﺃﻣﺘﻪ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻷﻋﻤﺎﺭ ﻣﻦ ﻣﻀﻰ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﻢ ﻓﺄﻋﻄﺎﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻘﺪﺭ. ﻭﺣﺎﺻﻠﻪ ﺃﻥ ﺻﻠﺔ ﺍﻟﺮﺣﻢ ﺗﻜﻮﻥ ﺳﺒﺒﺎ ﻟﻠﺘﻮﻓﻴﻖ ﻟﻠﻄﺎﻋﺔ ﻭﺍﻟﺼﻴﺎﻧﺔ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻌﺼﻴﺔ ﻓﻴﺒﻘﻰ ﺑﻌﺪﻩ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﺍﻟﺠﻤﻴﻞ، ﻓﻜﺄﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﻤﺖ. ﻭﻣﻦ ﺟﻤﻠﺔ ﻣﺎ ﻳﺤﺼﻞ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ، ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﺍﻟﺨﻠﻒ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ. ﻭﺳﻴﺄﺗﻲ ﻣﺰﻳﺪ ﻟﺬﻟﻚ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ.

ﺛﺎﻧﻴﻬﻤﺎ ﺃﻥ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﻋﻠﻰ ﺣﻘﻴﻘﺘﻬﺎ، ﻭﺫﻟﻚ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﺇﻟﻰ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺍﻟﻤﻮﻛﻞ ﺑﺎﻟﻌﻤﺮ، ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻷﻭﻝ ﺍﻟﺬﻱ ﺩﻟﺖ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻵﻳﺔ ﻓﺒﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﺇﻟﻰ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻛﺄﻥ ﻳﻘﺎﻝ ﻟﻠﻤﻠﻚ ﻣﺜﻼ: ﺇﻥ ﻋﻤﺮ ﻓﻼﻥ ﻣﺎﺋﺔ ﻣﺜﻼ ﺇﻥ ﻭﺻﻞ ﺭﺣﻤﻪ، ﻭﺳﺘﻮﻥ ﺇﻥ ﻗﻄﻌﻬﺎ. ﻭﻗﺪ ﺳﺒﻖ ﻓﻲ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻧﻪ ﻳﺼﻞ ﺃﻭ ﻳﻘﻄﻊ، ﻓﺎﻟﺬﻱ ﻓﻲ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳﺘﻘﺪﻡ ﻭﻻ ﻳﺘﺄﺧﺮ، ﻭﺍﻟﺬﻱ ﻓﻲ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻤﻜﻦ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﻭﺍﻟﻨﻘﺺ ﻭﺇﻟﻴﻪ ﺍﻹﺷﺎﺭﺓ ﺑﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﻳﻤﺤﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﻳﺸﺎﺀ ﻭﻳﺜﺒﺖ ﻭﻋﻨﺪﻩ ﺃﻡ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ. ﻓﺎﻟﻤﺤﻮ ﻭﺍﻹﺛﺒﺎﺕ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﻤﺎ ﻓﻲ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻤﻠﻚ، ﻭﻣﺎ ﻓﻲ ﺃﻡ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻓﻲ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻼ ﻣﺤﻮ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺒﺘﺔ. ﻭﻳﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﺍﻟﻤﺒﺮﻡ، ﻭﻳﻘﺎﻝ ﻟﻸﻭﻝ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﺍﻟﻤﻌﻠﻖ. ﻭﺍﻟﻮﺟﻪ ﺍﻷﻭﻝ ﺃﻟﻴﻖ ﺑﻠﻔﻆ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﺒﺎﺏ، ﻓﺈﻥ ﺍﻷﺛﺮ ﻣﺎ ﻳﺘﺒﻊ ﺍﻟﺸﺊ، ﻓﺈﺫﺍ ﺃﺧﺮ ﺣﺴﻦ ﺃﻥ ﻳﺤﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺑﻌﺪ ﻓﻘﺪ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ﺍ ﻫ.

KETIKA MALAIKAT IZROIL AS MENGUNJUNGI MAKA APA YANG HARUS DI PERSIAPKAN

Pada saat engkau mati, Jangan pedulikan jasadmu yang sudah mulai layu, karena kaum muslimin akan mengurus jasadmu.

Mereka akan melucuti pakaianmu, memandikanmu dan mengkafanimu lalu membawamu ke tempatmu yang baru, kuburan.

Akan ada banyak orang yang mengantarkan jenazahmu bahkan mereka akan meninggalkan pekerjaan nya demi ikut menguburkanmu.

Barang barangmu akan dikemas; kunci kuncimu, kitab, koper, sepatu dan sarung,pakaianmu.

 Jika keluargamu setuju barang2 itu akan disedekahkan agar bermanfaat untukmu. Atau dibuang agar engkau segera hilang dari kenangan….

 Yakinlah; dunia dan alam semesta tidak akan bersedih dg kepergianmu.

Ekonomi akan tetap berlangsung! Aktivitas tetap berjalan, anak2 dengan cepat kembali tertawa, engkau telah tenggelam dalm episode kenangan…

Posisi pekerjaanmu akan diisi orang lain. Hartamu menjadi harta halal bagi ahli waris. Kendaraanmu berpindah tangan, rumahmu diisi orang baru.. Sedangkan kamu yg akan dihisab dan diperhitungkan dari hartamu!

Kesedihan atasmu ada 3;

Orang yang mengenalmu sekilas akan mengatakan, kasihan ya……

Kawan2mu akan bersedih beberapa jam atau beberapa hari lalu mereka kembali seperti sediakala dan tertawa tawa!

Di rumah ada kesedihan yang mendalam!

Keluargamu akan bersedih seminggu dua minggu, sebulan dua bulan, dan mungkin hingga setahun??

Selanjutnya mereka meletakkanmu dalam arsip kenangan!

Demikianlah “Kisahmu telah berakhir di tengah2 manusia”.

Dan kisahmu yang sesungguhnya baru dimulai, Akhirat!!

Telah musnah kemuliaan, harta, kesehatan, dan anak.

Telah engkau tinggalkan rumah, istana dan istri tercinta. Kini  hidup yg sesungguhnya telah dimulai.

 Pertanyaannya adalah:

Apa persiapanmu?

Sampaikanlah renungan ini pada orang² yang engkau kasihi.

Syekh Ali ath Thanthawi Mesir, rahimahullah

KITA BISA MASUK SURGA KARENA RAHMAT ALLOH SWT.

Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Pemberi rahmat (kasih sayang). Bahkan sayangNya terhadap hamba-hambaNya lebih dari sayangnya seorang ibu kepada anaknya. Dengan kasih sayangNya, Dia menciptakan kita. Dengan rahmatNya, Dia memberikan rizki kepada kita. Dengan rahmatNya, Dia memberikan kesehatan kepada kita. Dengan rahmatNya, Dia memberikan makan dan minum, pakaian serta tempat tinggal kepada kita. Dengan rahmatNya, Dia menunjukkan kita kepada Islam dan Iman serta amal shalih. Dengan rahmatNya, Dia mengajarkan kepada kita apa yang tidak kita ketahui. Dengan rahmatNya, Dia memalingkan kejahatan musuh-musuh dari diri kita.

Allah Ta’ala berfirman, artinya,

“Sesungguhnya Allah Ta’ala membela orang-orang yang telah beriman.” (QS. al-Hajj: 38).

Dengan rahmatNya, Dia menurunkan hujan dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan,. Dengan rahmatNya, Dia memasukkan hamba-hambaNya yang beriman dan yang beramal shalih ke dalam surga. Dengan rahmatNya, Dia menyelamatkan mereka dari Neraka.Segala sesuatu semuanya adalah berkat rahmat Allah Ta’ala.

Oleh karenanya seorang muslim perlu mengetahui faktor penyebab, Allah Ta’ala memberikan rahmat kepada makhlukNya, yaitu:

* 1. Berbuat Ihsan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala dengan menyempurnakan ibadah kepadaNya dan merasa dimonitor (diawasi) oleh Allah Ta’ala, bahwasanya kamu beribadah kepada Allah Ta’ala, seolah-olah kamu melihatNya, maka jika kamu tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu, dan berbuat baik kepada manusia semaksimal mungkin, baik dengan ucapan, perbuatan, harta, dan kedudukan.

Allah Ta’ala berfirman, artinya,

 “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-A’raf: 56)

* 2. Dan di antara sebab-sebab yang paling utama untuk mendapatkan rahmat Allah Ta’ala adalah bertakwa kepadaNya dan menaatiNya dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, seperti mengeluarkan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya (Mustahiq), beriman dengan ayat-ayat Allah swt, dan mengikuti RasulNya.

Allah Ta’ala berfirman, artinya,

“Dan rahmatKu meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmatKu untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi.” (QS. al-A’raf: 156, 157)

* 3. Kasih sayang kepada makhluk-makhlukNya baik manusia maupun binatang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 “Orang-orang yang penyayang, maka Allah Ta’ala akan menyayangi mereka (memberikan rahmat kepada mereka), sayangilah/ kasihilah penduduk bumi, niscaya penduduk langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi)

Dan hal itu lebih ditekankan lagi kepada orang-orang fakir dan miskin yang sangat membutuhkan. Sedangkan balasan (ganjarannya) sesuai dengan perbuatan, sebagaimana kita berbuat baik, maka kita akan mendapatkan balasan dari kebaikan tersebut.

* 4. Beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah Ta’ala.

 Allah Ta’ala berfirman, artinya,

 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Baqarah: 218).

Maka orang-orang yang beriman selalu mengharapkan rahmat Allah Ta’ala setelah mereka melaksanakan sebab-sebab mendapatkan rahmat yaitu iman, hijrah, dan berjihad di jalan Allah Ta’ala. Adapun hijrah meliputi berpindah dari negri syirik ke negri Islam dan meninggalkan apa yang dilarang Allah Ta’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah Ta’ala.” (Muttafaq ‘alaih).

Sedangkan jihad mencakup jihad melawan hawa nafsu dalam menaati Allah Ta’ala, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Orang yang berjihad adalah orang yang memerangi hawa nafsunya dalam menaati Allah Ta’ala.” (HR. al-Baihaqi).

Sebagaimana jihad meliputi pula jihad melawan setan dengan menyelisihinya dan bersungguh-sungguh untuk mendurhakainya dan jihad dalam memerangi orang-orang kafir dan jihad terhadap orang-orang munafik dan pelaku-pelaku maksiat baik dengan tangan, kemudian (jika tidak mampu) dengan lisan, kemudian (jika tidak mampu juga), maka dengan hati.

* 5. Mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menaati Rasulullah Ta’ala, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, artinya,

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ta’atlah kepada Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. an-Nur: 56).

* 6. Berdo’a kepada Allah Ta’ala untuk mendapatkannya dengan bertawasul dengan nama-namaNya yang Maha Pengasih (ar-Rahman) lagi Maha Penyayang (ar-Rahim) atau yang lainnya dari nama-namaNya yang Agung/ Indah, seperti kamu mengatakan, “Ya Rahman (Wahai Yang Maha Penyayang), sayangilah aku (rahmatilah aku), ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan rahmatMu yang luas yang meliputi segala sesuatu agar Engkau mengampuni dosaku dan menyayangiku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Allah Ta’ala berfirman, artinya,

“Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).” (QS. al-Kahfi: 10).

Dan Allah Ta’ala juga berfirman, artinya,

“Hanya milik Allah asma`u al-Husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asma`u al-Husna itu.” (QS. al-A’raf: 180).

Maka hendaklah seseorang memohon setiap permintaannya dengan nama yang sesuai dengan permintaannya itu untuk mendapatkannya.

Allah Ta’ala berfirman, artinya,

 “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu’.” (QS. al-Mu’min: 60).

Dan firman Allah Ta’ala lainnya, artinya,

“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik.” (QS. al-Mu’minun: 118).

Sungguh Allah Ta’ala telah menyuruh (kita) berdo’a dan menjamin ijabah (mengabulkan do’a tersebut) dan Dia Maha Suci yang tidak pernah mengingkari janji.

* 7. Mengikuti al-Qur`an al-Karim dan mengamalkannya.

Allah Ta’ala berfirman, artinya,

“Dan Al-Qur`an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (QS. al-An’am: 155).

* 8. Menaati Allah Ta’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman, artinya,

“Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. Ali ‘Imran: 132).

* 9. Mendengarkan dan memperhatikan dengan tenang ketika dibacakan al-Qur`an al-Karim.

Allah Ta’ala berfirman, artinya,

 “Dan apabila dibacakan Al-Qur`an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. al-A’raf: 204).

* 10. Istighfar, memohon ampunan dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, artinya,

“Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.” (QS. an-Naml: 46).

Wallahu a’lam.

Diterjemahkan dari Kitab “An-Nuqath al-‘Asyarah adz-Dzahabiyah”, Syaikh Abdur Rahman ad-Dusari.