BEBERAPA TANDA MATA HATI KITA TERTUTUP ATAU BUTA

Syaik ibnu ‘Atthahillah As-Sakandary di dalam kitabnya Al Hakim merumuskan :

من علامات موت القلب عدم الحزن على ما فات من الموافقات وترك الندم على ما فعلته من وجود الزلات

“ Diantara tanda matinya hati adalah tidak ada perasaan sedih bila terlewatkan kesempatan beralamal dan tidak ada penyesalan atas bermacam pelanggaran yang telah engkau kerjakan .”

Berdasarakan kalama hikmah tersebut dapat disimpulkan bahwa hati apabila hati masih hidup , maka akan merasa sedih dan gundah terhadap kesempatan beramal taat yang terlewatkan dan akan merasa menyesal terhadap pelanggaran-pelanggaran yang telah di kerjakan. Akan tetapi bila mana hati itu telah tertutup, maka mempunyai dua tanda :

  1. Tidak merasa gundah dengan kesempatan beramal yang sudah lewat.
  2. Tidak merasa menyesal dengan pelanggaran ( maksiat) yang sudah dikerjakan.

Selanjutnya, Syaik Ibnu Atthaillah As-Shakandary RA telah merumuskan di dalam kalam hikmah beliau yang lain , sebagai berikut :

اجتهادك فيما ضمن لك وتقصرك فيما طلب منك دليل على انطماس البصيرة منك

“ Kegiatan ( Bersungguh-sungguh ) engkau pada menghasilkan sesuatu yang telah terjamin untuk engkau dan di samping itu , engkau meninggalkan sesuatu dimana engkau di tuntut ( pada mengerjakannya) adalah menunjukakan atas (telah) butanya mata hati engkau.”

Sebelum memaparkan keterangan dari kalam tersebut, maka terlebih dahulu kita harus ketahui beberapa perkataan yang tertera di dalamnya:

  1. Perkatan ” اجتهاد “ maksudnya ialah bersungguh sungguh tanpa kenal lelah dan letih, dimana seluruh kekuatan kita kerahkan untuk memperoleh sesuatu yang tertuju, jadi, tidak di maksudkan di sini seperti di dalam fiqh islam.

  1. Perkataan “ تقصير “ maksudnya ialah meninggalkan sesuatu yang di maksud (dituntut) yang disebabkan oleh kelalaian dan kurang perhatian atas tidak mengerjakan sesuatu secara sempurna seperti yang di perintahkan.

  1. Perkataan “ البصيرة “ di sini berbeda dengan perkataan Syaik Athaillah As-Sakandari dalam definisinya sebagai berikut :

عين فى القلب تدرك الأمور المعنوية كما أن البصر يدرك اللأمور المحسوسة

“ البصيرة “ atau biasa disebut dengan mata hati ialah sesuatu yang disebut dengan mata di dalam hati yang dapat menanggkap segala sesuatu yang sifatnya maknawiyah ( sesuatu yang tidak bias di tanggakap oleh panca indra yang lima) sebagaimana bahwasanya “ البصر “ merupakan mata jasmani, yang dapat menangkap segala sesuatu yang bersifat hisi ( di tangakap oleh panca indra yang lima ).

Penjelasan kalam hikmah.

Kalam hikmah ini memberikan pengertian kepada kita agar kita jangan memperdulikan dalam mencari rezeki yang telah dijamin oleh Allah SWT. Kita boleh saja berusaha mencari rezeki, bahkan seterusnya mencari rezeki yang halal.

Bahkan dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda :

من بات كالا من طلب الحلال بات مغفورا له

“ Barang siapa tidur dalam keadaan letih dan lelah dalam mencari rezeki yang halal, maka ia tidur dalam keadaan diampuni dosa-dosanya.”

Namun dalam mencari rezeki, jangan sampai kita meninggalkan semua kewajiban yang telah Allah perintahkan , karena hal itu akan mengakibatkan kita akan tertutup mata hati, sebagaimana yang dimaksud dari kalam hikmah tersebut.

Padahal Allah SWT dengan karunia dan kebaikannya telah menjamin rezeki hambanya sebagaimana firman Allah dalam Alquran pada surat Al Angkabut ayat 60 :

و كأين من دابة لا تحمل رزقها الله يرزقها وإياكم وهو السميع العليم

“ Dan berapa banyak binatang yang tidak membawa rezeki sendiri, Allah yang member rezeki kepadanya dan kepada kamu, dan Ia maha mendengar dan maha mengetahui.”

Dan dalam ayat lain Allah berfirman :

وأمر أهلك بالصلاة واصطبر عليها لا نسألك رزقا نحن نرزقك والعاقبة للتقوى

“ Dan perintahkan pengikut ( keluarga ) untuk sembahyang dan tetap mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Hanya kami yang memberikan rezeki kepadamu, dan akibat (yang baik) adalah untuk orang yang memelihara diri dari kejahatan.

Dua ayat ini memberikan pengertian kepada kita bahwa dalam masalah rezeki, kita tidak boleh susah sebab, sudah ada dalam jaminan Allah, asal saja kita berusaha sesuai dengan ketentuan kita masing-masing.

Dan apabila masah rezeki sudah jelas persoalannya, maka imbalan dari pada itu ialah, Allah SWT menuntut kepada kita untuk melaksanakan amal ibadah berupa kewajiban-kewajiban dan mengerjakan amalan kebaikan-kebaikan seperti yang telah di gariskan oleh agama.

Dengan amal ibadah kita dapat sampai kebaikan akhirat yang kekal dan dengan amal ibadah kita dapat dekat dengan Allah SWT.

Dan dalam ayat lain Allah berfirman:

مآ أريد منهم من رزق ومآ أريد أن يطعمون إن الله هو الرزاق ذو القوة المتين

“ Aku tidak menghendaki sedikitpun rezeki dari mereka dan aku tidak menghendaki mereka supaya mereka memberi aku makan, sungguh Allah dialah pemberi rezeki, yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”

Dalam ayat tersebut jelas, bahwasanya Allah tidak membutuhkan rezeki dari makhluk ciptaannya, namun ia menciptakan makhluknya ( manusia dan jin ) hikmahnya yaitu untuk berbuat amalan kebaikan dan senantiasa menyembah kepadanya.

Namun alangkah sayangnya, zaman sekarang banyak kita melihat orang-orang lebih mementingkan usahanya dari pada hubungannya dengan Rabbnya sehinnga mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban yang telah Allah perintahkan kepada mereka.

Mereka memiliki penglihatan, tetapi tidak mereka gunakan untuk membaca kalam Allah, mereka memiliki pendengaran, namun mereka malah mempergunakan untuk mendengar music, mereka memiliki mulut yang bias mereka gunakan untuk berbicara namun mereka sangat jauh dari zikir Allah dan Istighfar kepadanya.Inilah orang-orang yang termasuk kedalam golongan Ghafilun ( Orang-orang yang lalai dari mengingat Allah).

“ ايك يا اخوانى “ ( Takutlah wahai saudaraku ) terhadap kelelaian yang seperti itu, karena akan menjadiakan kita jauh dari keridhaan Allah dan dekat dengan kemurkaan Allah SWT. Namun “ عليك بالتوبة “ Lazimkan lah wahai saudaraku, dengan bertaubat dan meminta ampun kepadanya, karena dengan itu kita akan mendapatkan kebahagian yang hakiki, kebahagiaan yang di idam-idamkan oleh semua orang yang beriman, surga jannatunn naim.

آمين يا رب العالمين

PENYEBAB DI TERIMANYA DO’A DAN DO’A UNTUK ORANG YANG KESURUPAN

DO’A UNTUK ORANG KESURUPAN

Kesurupan atau masru’ sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat, Lembaga pendikan juga dayah (pesantren) terlebih bagi santriwati, itu terjadi semua akibat ulah mereka yang benci terhadap tegaknya agama Allah SWT, mereka yang menginginkan ilmu agama ini pudar ditelan masa sehingga berhujung dengan jahilnya manusia.

Pertanyaan :

Apa ada semacam doa yang dapat menyembuhkan dikala seseorang mengalami masru’ (kesurupan) ?

Jawaban :

Doa buat orang kesurupan menurut kitab I’anatut Thalibin karya Syekh Sayyid Bakr Syata :

    Azan di telinga orang kesurupan 7 x

    Membaca surah Al fatihah 7 x

    Ma’uzatain (surat Al falaq dan An nas) 7 x

    Membaca ayat Al kursi dan surat At thariq

    Akhir surat Al hasyr.

    Akhir surat Assaffat.

Referensi:

I’anatut Thalibinn juz 1 hal 267

(فائدة)

 من الشنواني ومما جرب لحرق الجن أن يؤذن في أذن المصروع سبعا، ويقرأ الفاتحة سبعا، والمعوذتين، وآية الكرسي، والسماء والطارق، وآخر سورة الحشر من * (لو أنزلنا هذا القرآن) * إلى آخرها، وآخر سورة الصافات من قوله: * (فإذا نزل بساحتهم) * إلى آخرها.

وإذا قرئت آية الكرسي سبعا على ماء ورش به وجه المصروع فإنه يفيق

 

Beberapa Sebab Mustajabahnya Do’a menurut Sayyid Muhammad Alawy al Maliky

Berdo’a merupakan solusi dari sebuah masalah, ketenangan dalam segala gangguan dan ibadah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan. Dalam berdoa, seseorang mencari keadilan pada Tuhan-nya atas segala perkara yang menimpanya.

Dengan berdoa seseorang berharap masalah yang menimpanya segera selesai, dan apa yang diinginkannya dikabulkan. Namun, hal demikan bukan perkara yang mudah seperti membalikkan telapak tangan.

Semua doa akan diterima walau dengan bentuk yang berbeda, seperti diampuni dosa, bertambah rezeki dan lain sebagainya.

Salah satu yang sangat harus diperhatikan dalam berdoa adalah adab dan ketentuan berdoa. Karena adab akan sangat berpengaruh kepada diterima dan ditolaknya doa.

Berikut ini akan dijelaskan adab-adab dalam berdoa sebagaimana di kutip dari Sayyid Muhammad Alawy dalam kitab beliau Duru’l Waqiyyah Ba Hazbul Mahiiyah pada halaman 11, karena dengan memperhatikan adab dan ketentuan berdoa, kita berharap doa akan lebih dekat untuk diterima.

  1. Mencari waktu yang tepat sebagai mana yang telah dijelaskan oleh Nabi saw dalam beberapa hadis seperti hari Arafah dalam setahun, bulan Ramadhan, hari jumat dalam seminggu dan waktu sahur di penghujung malam.
  2. Mengintip dan mencari-cari dalam keadaan yang mulia, seperti merangkak dalam saf peperangan pada jalan Allah, ketika turun hujan, ketika iqamah adzan shalat lima waktu, sesudah bershalawat, di antara azan dan iqamah dan pada saat berpuasa, karena banyak ayat al-Qur’an dan hadits yang menunjukan kepada mulianya waktu-waktu di atas dan dianjurkan untuk berdoa saat itu.
  3. Menghadap kiblat, mengangkat dua tangan sehingga terlihat putih dari bathin tangan, karena Itba’ (mengikuti apa yang nabi saw lakukan) dan mengusapkannya kepada wajah saat selesai. Tidak boleh mengangkat wajah dan melihat langit, karena ada larangan kepada hal tersebut.
  4. Meringankan suara saat ketakutan dan mengeraskannya saat tidak ketakutan, karena ada perintah kepada demikian pada ayat dan hadits.
  5. Tidak memberatkan diri menggunakan bahasa yang puitis dalam berdoa, seperti menyusun doa yang mirip syair yang huruf ujungnya sama. Melakukan hal seperti ini boleh, tetapi jangan berlebihan. Karena ini merupakan satu anugerah dari Allah swt seperti yang telah dilakukan Rasulluah saw dan sebagian ulama ‘Arif billah.
  6. Merendahkan diri baik anggota lahir maupun bathin, penuh rasa harap.
  7. Yakin dengan yang di doakan, yakin diterima dan membenarkan harapan.
  8. Tegas dalam berdo’a dan mengulangnya sampai tiga kali.
  9. Membuka dan menutup doa dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada nabi saw.

    Dan terakhir adab bathin, yaitu: Taubat dari segala dosa, meminta maaf atas kedzaliman dan menghadap kepada Allah swt dengan penuh kesungguhan.

Demikian merupakan sebab yang paling ampuh untuk diterimanya doa.

Wallahua’lam.

SELAMAT IDUL ADHA 1440 H. SEMOGA KITA SEMAKIN BISA MENGAYOMI ORANG LAIN

WWW. JEJAK ISLAM.COM MENYAMPAIKAN :

 

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1440 H.

SEMOGA DI HARI KEMENANGAN INI KITA BENAR-BENAR DI MENANGKAN OLEH ALLOH SWT. BISA SALING ASAH ASIH ASUH, BISA SALING MEMBERI TIDAK HANYA DAGING QURBAN TETAPI MEMBERI SEBAGAIMANA YANG TERSIRAT DALAM PERINTAH IBADAH QURBAN. SEHINGGA KITA SEMUA SEMAKIN BAIK DI SISI ALLOH SWT. AMIN YA ROBBAL ALAMIN

MEMBANGUN DAN MENERAPKAN AKHLAK YANG MULIA DAN LUHUR

Kita bangga dengan syariat Islam yang telah kita miliki. Di mana syariat Islam menekankan untuk berbudi yang luhur (akhlaaqul kariimah). Namun sebagai umatnya, kadang kita tidak mampu melakukannya dengan baik, sehingga berakibat buruk dalam kehidupan bermasyarakat kita. Sebagaimana telah dikemukakan oleh tokoh penyair, As Syauqi : Wainnal umamul akhlaaqu maa baqiyat, wa in hum dzahabat akhlaaquhum dzahabuu (eksistensi masyarakat itu tergantung pada keberadaan budi pekerti, bila budi pekerti sudah hilang, maka hilang pula eksistensi masyarakat itu).

Budi pekerti menyangkut segala sikap dan perilaku yang mungkin akan kesulitan kalau diterapkan secara sempurna, namun setidaknya harus mempunyai skala prioritas yang mana didahulukan dan yang mana yang menyusul kemudian. Dengan cara mempelajari dari Al-Qur’an atau Al Hadits. Sebagai contoh adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam At Turmudzi.

Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat kelak adalah orang yang terbaik akhlaqnya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku pada hari kiamat kelak adalah tsartsarun, mutasyaddiqun dan mutafaihiqun.” Sahabat berkata: “Ya Rasulullah… kami sudah tahu arti tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa arti mutafaihiquun?” Beliau menjawab, “Orang yang sombong.” (HR. Tirmidzi) Di dalam hadits ini Rasulullah SAW menerangkan bahwa orang yang paling dekat dengan beliau adalah orang-orang yang paling baik akhlaknya. Maka apabila akhlak Anda semakin mulia niscaya kedudukan anda di hari kiamat kelak akan semakin dekat dengan beliau dibandingkan selain Anda. Sedangkan orang yang terjauh posisinya dari Nabi SAW pada hari kiamat kelak adalah tsartsarun, mutasyaddiqun dan mutafaihiqun.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin r.a.menerangkan bahwa makna tsartsarun adalah orang yang banyak bicara dan suka menyerobot pembicaraan orang lain. Apabila dia duduk ngobrol dalam suatu majelis dia sering menyerobot pembicaraan orang lain, sehingga seolah-olah tidak boleh ada yang bicara dalam majelis itu selain dia. Dia berbicara tanpa membiarkan orang lain leluasa berkata-kata. Perbuatan seperti ini tidak diragukan lagi termasuk kesombongan. Yang dimaksud majelis dalam konteks ini adalah pembicaraan-pembicaraan sehari-hari bukan majelis ilmu atau pengajian, sebab jika suatu saat Anda mendapat kesempatan untuk memberikan nasihat atau mengisi kajian di depan mereka lalu Anda sendirian yang lebih banyak berbicara maka hal ini tidaklah mengapa.

Makna mutasyaddiqun adalah orang yang suka berbicara dengan gaya bicara yang meremehkan orang lain seolah-olah dia adalah orang paling fasih, itu dilakukannya karena kesombongan dan bangga diri yang berlebihan. Seperti contohnya berbicara dengan menggunakan bahasa Arab di hadapan orang-orang awam, sebab kebanyakan orang awam tidak paham bahasa Arab. Seandainya Anda mengajak bicara mereka dengan bahasa Arab maka tentulah hal itu terhitung sikap berlebihan dan memaksa-maksakan dalam pembicaraan.

Adapun jika Anda sedang mengajar di hadapan para penuntut ilmu maka biasakanlah berbicara dengan bahasa Arab dalam rangka mendidik dan melatih mereka agar sanggup berbicara dengan bahasa Arab. Adapun terhadap orang awam maka tidak selayaknya Anda berbicara dengan mereka dengan bahasa Arab, tetapi bicaralah dengan mereka dengan bahasa yang mereka pahami dan jangan banyak memakai istilah-istilah asing, artinya janganlah Anda menggunakan kata-kata asing yang sulit mereka mengerti, karena hal itu termasuk berlebihan dan angkuh dalam pembicaraan.

Sedangkan makna mutafaihiqun: Nabi SAW telah menerangkannya yaitu orang-orang yang sombong. Orang sombong ini bersikap angkuh di hadapan orang-orang. Jika berdiri untuk berjalan seolah-olah dia berjalan di atas helaian daun karena adanya kesombongan di dalam dirinya. Perilaku ini tak diragukan lagi termasuk akhlak yang sangat tercela, wajib bagi setiap orang untuk menghindarinya. Karena yang namanya orang tetap saja manusia biasa, maka hendaklah dia mengerti ukuran dirinya sendiri. Meskipun dia telah dikaruniai sekian banyak harta, kedalaman ilmu atau kedudukan yang tinggi oleh Allah, seyogyanya dia merendahkan diri (tawadhu’). Sikap tawadhu’ orang-orang yang telah mendapat anugerah harta, ilmu, atau kedudukan tentu lebih utama nilainya daripada tawadhu’nya orang-orang yang tidak seperti mereka.

Betapa mahalnya harga budi pekerti yang luhur itu. Hingga orang yang berakhlak mulia itu sangat dicintai Nabi pada hari kiamat kelak. Yang berarti ukuran kemuliaan seseorang, sangat ditentukan oleh baik atau buruknya budi pekertinya.

Sebaliknya, orang yang paling dibenci oleh Nabi dan kedudukannya jauh dari beliau di akhirat kelak, adalah mereka yang bermulut besar dengan penuh kesombongan. Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya berkata yang baik, atau kalau tidak bisa maka hendaknya diam”. Betapa pentingnya berkata yang baik, sehingga Rasulullah SAW menghubungkan dengan keimanan seseorang.

KEISTIMEWAAN LEMAH LEMBUTAN DAN MURAH HATI

Kita harus mempunyai sebuah keyakinan, bahwa Rasulullah SAW adalah satu-satunya pemimpin yang mampu mewujudkan tatanan masyarakat yang adil makmur, sejahtera, harmonis, aman, tenteram, demokratis dan terbuka. Karena dalam membangun tatanan masyarakat, beliau tampil meletakkan kelembutan dan kasih sayang sebagai panglima.

Hal ini diabadikan Allah dalam surah Ali Imron [3] : 109. Yang maknanya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Sejarah membuktikan, fakta telah berbicara, sepanjang sejarah peradaban manusia emosi dan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Seorang hamba akan bernasib baik selama dia bersikap lemah lembut. Bersikap lemah lembut adalah salah satu bukti kesalehan seseorang dan kemuliaan akhlaknya. Sikap lemah lembut menimbulkan jiwa kasih sayang, dan tolong-menolong antar sesama. Begitu juga lemah-lembut adalah jalan yang mengantarkan seorang hamba meraih surganya. Sejalan dengan pesan Rasulullah SAW : Innallaaha rafiiqun yuhibbur rifqa (sungguh Allah Maha Lemah -Lembut, dan menyukai kelemahlembutan) HR Buchori dan Muslim. Hadis ini cukup pendek yang mengandung pelajaran bahwa murah hati dan lemah-lembut adalah dua sifat yang sangat mulia.

Allah SWT menjadikan dengan kedua sifat ini akan membuka, melembutkan dan melembutkan hati manusia. Setiap muslim harus menghiasinya dirinya dengan sifat murah hati dan lemah lembut. Satu hal yang harus kita sadari, bahwa hati manusia akan selalu condong kepada orang yang murah hati dan lemah lembut kepada makhluk yang ada di sekelilingnya. Sebaliknya, manusia akan menjauhi orang yang berhati keras tak kenal belas kasih kepada makhluk yang ada di sekelilingnya.

Al- Ghazali berkata : “Lemah lembut adalah sifat terpuji, dia bertentangan dengan kekejaman dan kekerasan. Kekejaman muncul sebagai akibat dari kemarahan, dan ketidaksopanan. Sedangkan lemah lembut adalah buah dari akhlak mulia, yaitu kedamaian dan ketenteraman. Kekejaman bisa disebabkan oleh kemarahan yang tidak terkendali, keinginan untuk berkuasa dan ketamakan. Sifat-sifat buruk tersebut dapat mengacaukan cara berfikir seseorang yang menyebabkan tidak bisa mengambil tindakan yagn tepat.

Jika seorang telah berhasil menyikapi setiap perkara dengan lemah lembut, hal itu adalah buah dari akhlak yang terpuji. Seseorang dikatakan memiliki sifat terpuji dan mulia jika dia mampu menahan amarah dan nafsu syahwat, serta menjaga keduanya agar tetap seimbang”. Karena itulah Rasulullah SAW memuji sifat orang yang memiliki sifat lemah lembut. Kebaikan dibangun atas sikap lemah lembut.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Jika kelemahlembutan itu ada pada sesuatu ia akan menghiasinya, dan jika kelemahlembutan itu dicabut dari sesuatu, ia akan menodainya”. HR Muslim.

Kelemahlembutan dalam berinteraksi akan membuat jiwa dan hati seorang tunduk dan luluh. Kelemahlembutan merupakan kunci keberhasilan dan keberuntungan. Jiwa pemberontak akan melunak dan hati pendengki akan menyadari kekeliruannya karena tersentuh oleh kelembutan. Mudah-mudahan Allah berkenan meletakkan murah hati dan kelembutan di hati kita semua. Sehingga, kedamaian, ketenteraman dapat diwujudkan di negara kita tercinta ini.

MUHASABAH SETELAH MELAKUKAN AMAL YANG BERMANFAAT

Usaha Hamba Tidak Berpengaruh Tanpa Qudrah dan Iradah ALLAH

Dikalangan masyarakat kita saat ini bahwa ada sebahagian kalangan yang meyakini bahwa manusia memiliki otoritas mutlak untuk mengubah nasib mereka sendiri tanpa butuh kepada pertolongan allah SWT, atau mereka beranggapan bahwa qudrah dan iradah Allah tidak berlaku dalam penentuan nasib seseorang. Mereka menjadikan surat al-ra’du : 11 sebagai dalil yang memperkuat statemen mereka.

Nah, disini  memberikan sedikit jawaban yang mudah-mudahan bisa menjadi oase di tengah padang pasir bagi para pembaca sekalian.

Terkait dengan surat al-ra’du :11, yang berbunyi:

إنَّ الله لا يُغيِّر ما بقومٍ حتى يغيروا ما بأنفسهم

Artinya: “sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”. (Q.S. al-ra’du :11)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa maksud dari keadaan disini adalah nikmat. Artinya, allah tidak akan mencabut nikmat dari suatu kaum sehingga mereka mencabutnya sendiri dengan bermaksiat kepada allah SWT. Sebagaimana termaktub dalam kitab tafsir al-wajiz;

 إنَّ الله لا يُغيِّر ما بقومٍ حتى يغيروا ما بأنفسهم }لا يسلب قوماً نعمةً حتى يعملوا بمعاصيه

Artinya: {sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri}, (maksudnya) Allah tidak akan mencabut nikmat dari suatu kaum, sehingga mereka berbuat maksiat kepada allah.

Lebih lanjut, syeikh ibrahim al-laqqany di dalam kitab beliau, matan al-jauharah menegaskan bahwa “menurut pendapat Ahlu sunnah waljama’ah, manusia sebagai hamba Allah, diwajibkan untuk berusaha. Akan tetapi usaha seorang hamba tidak akan memberi efek apapun tanpa qudrah dan iradah allah SWT”.

Secara logika, seandainya kita meyakini bahwa usaha manusia itu menjadi sebab adanya hasil, maka sungguh tidak ada orang yang gagal di dunia ini. Namun pada kenyataannya, terlalu banyak orang yang berusaha dengan maksimal, akan tetapi mereka tidak memperoleh hasil yang maksimal atau bahkan ada pula yang tidak memperoleh hasil sama sekali.

Setelah Ber-amal, Sudahkan Engkau Muhasabah ?

Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin sebagai wejangan untuk umat Islam. Diantara untaian hikmah, beliau menerangkan bagi kita makna dari dari kehidupan dunia yang fana ini dan seterusnya kita beramal bukan hanya karena sekedar melepaskan diri dari suatu kewajiban akan tetapi amalan yang sempurna adalah yang bisa memperhambakan diri manusia bagi Allah SWT sang maha pencipta.

Muhasabah setelah beramal atau mengerjakan perintah Allah adalah sesuatu yang sangat urgen bagi penempuh jalan akhirat sedangkan makna muhasabah sendiri ialah mengira hasil dari suatu pekerjaan baik perbuatan dunia maupun akhirat. Para pedagang, penjahit, pelaut mengira untung-rugi pada setiap sore hari mereka, namun penempuh jalan akhirat mempunyai titipan berat dalam masalah ini, artinya manusia ini bukan hanya memperbanyak amalan akan tetapi harus juga menilai bagaimana kualitas amal bagi menempuh jalan akhirat kelak.

Imam Al Ghazali berkata :

اعلم ان العبد كما يكون له وقت في اوله النهار يشارط فيه نفسه على سبيل التوصية بالحق فينبعي ان يكون له في اخر النهار ساعة يطالب فيها النفس ويحاسبها على جميع حركاتها وسكناتها كما يفعل التجار في الدنيا مع الشركاء في اخر كل سنة او شهر او يوم حرصا منهم على الدنيا وحوفا من ان يفوتهم منها

Ketahuilah ! sesungguhnya manusia semestinya meninggalkan catatan wasiat pada setiap harinya maka kewajiban juga melalukan pengiraan terhadap sertiap gerak-gerik mereka, tidak bedanya dengan dengan pedangang yang mengira untung-rugi pada tiap tahun,bulan bahkan setiap hari.

ومعني المحاسبة مع الشريك ان ينظر في رأس المال وفي الربح والخسران ليتبين له الزيادة من النقصان فأن كان من فضل حاصل استوفاه وشكره وان كان من خسران طالبه بضمانه وكفله تداركه في المستقبل فكذالك رأس مال العبد في دينه الفرائض وربحه النوافل والفضائل وخسرانه المعاصي وموسم

Makna muhasabah para pedangan bersama dengan teman syarikatnya baik modalnya dan untung –rugi supaya mereka mengetahui hasil yang didapatkan, jika mendapat keuntungan supaya biasa meraih lebih dari itu namun jika rugi supaya bisa menempel kerugian tersebut. Seperti itu juga para hamba sebagai pemodal negeri akhirat, berkewajiban juga untuk melalukan perkiraan baik dan buruk karena jika baik maka kewajiban bersyukur karena karunia-NYA tetapi jika kurang baik maka segera dalam bertaubat.

ينبغي ان يحاسب نفسه على الانفاس وعلى معصية بالقلب والجوارح في كل ساعة ولو رمى العبد بكل معصية حجرا في داره لامتلأت داره في مدة يسيرة قريبة من عمره ولكنه يتساهل في حفظ المعاص والمعاصى والملكان يحفظان عليه ذالك (احصاه الله ونسوه

Kewajiban bagi setiap jiwa melakukana pehitungan tentang kejahatan yang pernah dilakukannya pada tiap-tiap saat. “jika seseorang melemparkan batu kerumahnya karena menghitung maksiat yang pernah ia kerjakan maka sungguh dalam waktu singkat batu akan memenuhi rumahnya karena banyak dan sering manusia ini dalam berbuat maksiat’’

Pada Akhirnya Imam Al Ghazali RMH berkomentar : ‘’Allah ta’ala serta para malaikat tidak pernah lupa menghitung perbuatan manusia walaupun manusia selalu lupa apa yang pernah ia kerjakan’’

Maka dengan nasehat dan untaian hikmah Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumiddin semoga Allah memberikan kita taufiq dan hidayah dalam melalukan jalan akhirat sehingga kita bukan hanya melalukan ibadah tetapi berkewajiban juga melakukan perhitungan amalan yang pernah kita lalukan, jika baik maka seyogianya bersyukur namun jika kurang baik supaya bisa diperbaiki pada hari-hari selanjutnya Amin. ..

Referensi : Kitab Ihya Ulumiddin Juz 4 hal.557-558

 

Pekerjaan yang Bermanfaat di Akhirat

عن ابي هريرة رضي الله عنه ان رسول الله صلي الله عليه و سلم قال اذا مات العبد انقتع عمله الا من ثلاث : صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعو له . رواه مسلم.

Sayyid Walid imam Malawi Abbas Al-maliki Al-husni, semoga Allah merahmatinya, dalam syarahannya terhadap hadis ini mengatakan kalau sebenarnya masalah terputusnya amalan seorang hamba ketika ia meninggal adalah urusan yang dhahir, karena orang mati tidak bisa beramal dan tidak pula ditaklif. Hanya saja, ada sebagian amalan orang yang sudah mati yang pernah dikerjakan semasa hidupnya akan terus mengalir pahalanya walau tidak dikerjakan lagi, karena demikianlah nabi membuat pengecualian dalam tiga perkara, pertama : Sedekah Jariyyah, maksudnya sedekah yang kekal manfaatnya dan tidak terputus bahkan sampai hari kiamat, seperti menggali sumur, wakaf mashaf, wasiat, membangun mesjid, balai pengajian dan lain sebgainya. Kedua: Ilmu yang bermanfaat, maksudnya ilmu syar’i yang dengan sebabnya mendapat nikmat yang berkepanjangan dan selamat dari pedihnya azab akhirat, ilmu syariat yang pernah dibagikan kepada orang lain. Termasuk pula kepada ilmu yang bermanfaat yaitu mengarang kitab atau mewakafkannya, karena maksud dari ilmu yang bermanfaat adalah Mutlak manfaat baik manfaat langsung atau sebab yang mendatangkan manfaat. Ketiga: Anak shalih yang selalu berdoa kepada dua ibu bapaknya, karena anak tersebut adalah hasil usaha dari dua ibu bapaknya, oleh karena demikian Allah memberikan karunia kepada dua ibu bapaknya berupa dituliskan kepada dua ibu bapaknya semua kebaikan yang pernah dikerjakan oleh anak shalih tersebut, dan bukan keburukan yang dikerjakan oleh anak tersebut.

Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa amalan yang tidak terputus pahalanya tidak terkusus kepada tiga perkara, karena Mafhum (pemahaman) yang dipahami dari bilangan tidak bisa dijadikan hujjah. Pada saat itu Nabi Saw mengetahui tiga perkara, kemudian Allah memberitau Nabi kalau perkara tersebut bukan hanya tiga, tapi lebih banyak. Seperti yang telah disebutkan dalam sebuah hadis yang merawi oleh ibnu majah dari Abi Hurairah, bahwa sesungguhnya Nabi Saw bersabda: “ Beberapa perkara yang layak didapatkan oleh seorang hamba dari amalan dan kebaikan sesudah matinya adalah ilmu yang bermanfaat bagi orang lain, anak shalih yang ditinggalkannya, mashaf yang diwariskan, mesjid yang dibangun, rumah bagi ibnu sabil, sungai yang disewanya, sedekah yang dikeluarkan pada masa sehat dan sakitnya dan tetap terhubung sesudah matinya”.

Ibnu Abi Izzi dalam kitab Syarah Aqidah Thahawiyyah mengatakan kalau dalam hadis dikhabarkan bahwa sesungguhnya amalan seseorang akan terputus ketika ia telah meninggal, amalan orang lain pada dasarnya adalah untuk dirinya sendiri, dan jika dia menghibahkan kepada orang lain termasuk kepada mayit, maka pahala itu akan sampai seperti pahala orang yang mengerjakannya, bukan yang sampai diri pahala tapi bagian lain yang sama dengan pahala dasarnya.

Pada sebagian kitab juga disebutkan kalau penyebutan anak yang shalih pada perkara yang ketiga itu adalah karena Ghalib (kebiasaan) yang akan berdoa kepada orang tua adalah anaknya, dengan demikian tidak menafikan kalau doa orang lain yang bukan anaknya juga akan sampai. Wallahua’lam.

Sumber : Manhajus Shalah fi Fahmin Nusus baina Nadhariyyah wa Tathbiki, Sayyid Walid imam Malawi Abbas Al-maliki Al-husni, khadim Ilmus Syarif fi baladil haram.

MUJAHADAH SANGAT PENTING UNTUK MENDUKUNG IJTIHAD DAN JIHAD

Kata mujahadah tidak lebih populer daripada kata jihad atau ijtihad. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa ijtihad lebih utama daripada jihad. Rasulullah SAW bersabda,

    “Goresan tinta para ulama lebih utama daripada tumpahan darah para syuhada.”

Namun, masih ada yang lebih utama dari ijtihad, yakni mujahadah. Mujahadah ialah perjuangan yang mengandalkan unsur batin atau kalbu. Seusai sebuah peperangan yang amat dahsyat, Rasulullah SAW menyampaikan kepada para sahabatnya,

    “Kita baru saja pulang dari peperangan yang kecil ke peperangan yang lebih besar.”

Lalu beliau menjelaskan bahwa peperangan terbesar ialah melawan diri sendiri, yakni melawan hawa nafsu. Dalam buku Ihya Ulum al-Din, Imam Al-Gazali mengungkapkan, mujahadah satu jam lebih utama daripada beribadah (formalitas) setahun. Ini artinya, mujahadah merupakan puncak pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya.

Jihad, ijtihad, dan mujahadah, berasal dari satu akar kata yang sama, yaitu jahada yang berarti bersungguh-sungguh.

    Jihad adalah perjuangan sungguh-sungguh secara fisik;

    ijtihad perjuangan sungguh-sungguh melalui pikiran dan logika;

    dan mujahadah merupakan perjuangan sungguh-sungguh melalui kalbu.

Bagi masyarakat awam, jihad itulah ibadah yang paling tinggi. Namun dalam perspektif tasawuf, mujahadah menempati posisi yang lebih utama.

Mujahadah bisa mengantar manusia meraih predikat tertinggi sebagai manusia paripurna (insan kamil). Dan ia merupakan kelanjutan dari jihad dan ijtihad. Seseorang yang mendambakan kualitas hidup paripurna tidak bisa hanya mengandalkan salah satu dari ketiga perjuangan tadi. Tetapi, ketiganya harus sinergi di dalam diri.

Rasulullah SAW adalah contoh yang sempurna. Beliau dikenal sangat terampil dalam perjuangan fisik. Hal itu terbukti dengan keterlibatannya dalam beberapa peperangan. Dan beliau sendiri tampil sebagai panglima perang. Beliau juga seorang yang cerdas pikirannya, dan panjang tahajudnya.

Dalam konteks kekinian, komposisi ketiga unsur perjuangan di atas sebaiknya diatur sesuai dengan kapasitas setiap orang. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan masyarakat Muslim terbaik (khaira ummah).

Seseorang yang hanya memiliki kemampuan fisik, maka jihad fisik baginya adalah perjuangan yang tepat. Bagi seorang ulama, jihad paling utama baginya ialah menulis secara produktif untuk mencerahkan dan mencerdaskan umat. Namun, untuk mujahadah, sesungguhnya dapat diakses setiap orang dari golongan manapun. Mari memopulerkan mujahadah di samping jihad dan ijtihad dalam masyarakat.

KEUTAMAAN MENGURANGI MAKAN DAN TIDUR SERTA KIAT AGAR MUDAH QIYAMUL LAIL TAHAJJUD

KEUTAMAAN MENGURANGI MAKAN, TIDUR DAN NGANGGUR

{الباب الرابع والثلاثون}

:  في فضيلة الإقلال من الأكل والنوم والراحة

قال النبي صلى الله عليه وسلم: {ثَلاثَةٌ تُورِثُ قَسْوَةَ القَلْبِ حُبُّ النّوْمِ وَحُبُّ الرَّاحَةِ وَحُبُّ الأَكْلِ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Tiga hal yang bisa menjadikan hati keras adalah suka tidur, suka istirahat (nganggur) dan suka makan”.

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ شَبِعَ في الدُّنْيَا جَاعَ يَوْمَ  القِيَامَةِ، وَمَنْ جَاعَ في الدُّنْيَا شَبِعَ يَوْمَ القِيَامَةِ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa kenyang di dunia maka lapar di hari kiamat dan barangsiapa lapar di dunia maka kenyang di hari kiamat.”

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ أكَلَ فَوْقَ الشَّبَعِ فَقَدْ أَكَل الحَرَامَ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa makan di atas kenyang maka dia benar-benar telah makan haram.”

وقال صلى الله عليه وسلم: {سَيِّدُ العَمَلِ الجُوعُ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Pimpinan amal itu lapar”

وقال صلى الله عليه وسلم: {الجُوعُ مُخُّ العِبَادَةِ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Lapar adalah inti ibadah”

وقال صلى الله عليه وسلم: {أَحْيوا قُلُوبَكُمْ بِقِلَّةِ الضَّحِكِ  وَقِلَّةِ الشَّبَعِ وَطَهِّرُوهَا بالجُوعِ تَصْفُو وَتَرِقُّ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Hidupkanlah hati kalian dengan sedikit tertawa dan sedikit kenyang  dan sucikanlah dengan lapar maka hati kalian akan menjadi jernih dan  lembut.”

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: {أَقْرَبُكُمْ مِني يَوْمَ القِيَامَةِ أَكْثَرُكُمْ جُوعا وَتَفكُّرا}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Orang yang paling dekat denganku di hari kiamat adalah yang paling banyak lapar dan tafakurnya.”

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ كَثُرَ طَعَامُهُ كَثُرَ عَذَابُهُ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa banyak makannya maka banyak azabnya.”

وقال صلى الله عليه وسلم: {لا صِحَّةَ مَعَ كَثْرَةِ النَّوْمِ ولا صِحَّةَ مَعَ كَثْرَةِ الأَكْلِ وَلاَ شِفَاءَ بِحَرَامٍ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Tidak ada kesehatan bersama banyaknya tidur, tidak ada kesehatan  bersama banyaknya makan dan tidak ada kesembuhan dengan perkara haram”.

وقال صلى الله عليه وسلم: {الصُّبْحَةَ تَمْنَعُ الرِّزْقَ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Tidur pagi menghalangi rizki”.

MELAKSANAKAN TAHAJJUD ? DAN HAL-HAL APA SAJA YANG MEMUDAHKAN TAHAJJUD ?

Diantara sebab-sebab yang bisa menyebabkan sulit melaksanakan sholat malam atau tahajjud ada 4 :

  1. Menganggap penting urusan dunia dan lalai hiruk pikuk akherat.
  2. Sibuk berbicara tentang dunia dan berbicara yang tidak berguna bahkan batil dan banyak gaduh.
  3. Memayahkan anggota tubuh dengan pekerjaan yang berat di siang hari.
  4. Kebanyakan makan sehingga mudah tidur.

Di antara sebab-sebab yang bisa menjadikan mudah untuk melaksanakan sholat malam atau tahajjud ada 4 :

  1. Tajdidul wudhu’ / selalu memperbaharui wudhu’.
  2. Berdzikir sebelum matahari tenggelam, termasuk diantaranya adalah membaca tasbih.

As Suhrawardi berkata : hendaknya diantara siang dan malam membaca tasbih berikut ini 100 kali :

 سبحان الله العلي الديان سبحان الله الشديد الأركان سبحان من يذهب بالليل  ويأتي بالنهار سبحان من لا يشغله شأن عن شأن سبحان الله الحنان المنان  سبحان الله المسبح في كل مكان

Subhaana’llaahi’l ‘aliyyi’d dayyaan, subhaa-na’llaahisy syadiidi’l arkaan, subhaanaman yadzhabu bi’l-lail,  wa ya’tii  bi’nna-haar, subhaana man laa yusy-ghiluhuu sya’nun ‘an sya’n,  subhaana’llahil han-naanil mannaan, subhaana’llaahi’l musabbahi fi ku’lli makaan.

Artinya : “Mahasuci Allah yang mahatinggi, lagi yang mahaperkasa, mahasuci  Allah, yang maha kokoh sendi-sendi ciptaanNya, mahasuci yang pergi  dengan malam dan datang dengan siang, mahasuci yang tidak disibukkan  oleh suatu keadaan dari keadaan. Mahasuci Allah, yang mahapenyantun,  yang melimpah-limpah ni’matNya. Mahasuci Allah yang dipujikan di seluruh tempat”.

Barang siapa membaca tasbih tersebut seratus kali maka tidak akan wafat hingga dia melihat tempatnya di syurga.

  1. Beribadah di antara maghrib dan isya’’.
  2. Tidak berbicara setelah melakukan ibadah itu.

Hujjatul Islam Imamuna Al Ghazali berkata : “Ketahuilah bahwa qiyamul lail itu sulit kecuali bagi orang yang telah  di tolong untuk melakukan qiyamul lail dengan syarat-syarat yang memudahkanya secara dhohir dan bathin , adapun syarat-syarat yang  memudahkanya secara dhohir ada 4 :

  1. Tidak memperbanyak makan yang bisa menyebabkan banyak minum dan banyak tidur jadinya berat untuk bangun malam.
  2. Tidak memayahkan dirinya disiang hari dengan pekerjaan yang melemahkan tubuh karena hal itu juga menyebabkan mudah tidur.
  3. Tidak meninggalkan qoilulah di siang hari karena qoilulah adalah sunnah yang bisa menolong qiyamul lail.
  4. Tidak melakukan dosa di siang hari karena melakukan dosa bisa mengkeraskan hati dan bisa menghalang-halangi antara dia dengan sebab-sebab rahmat.

Adapun syarat-syarat yang memudahkannya secara bathin ada 4 :

  1. Selamatnya hati dari rasa iri terhadap muslimin, bid’ah dan dari kelebihan urusan dunia yang menjadikannya bercita-cita menghabiskan waktunya untuk mengurusi dunia, hal ini menyebabkan sulit untuk qiyamul lail dan kalaupun bisa qiyamul lail maka tidak berfikir tentang qiyamul lailnya malahan yang difikir dalam qiyamul lailnya adalah urusan dunia.
  2. Perasaan takut yang sangat beserta memperpendek angan-angan, karena jika seseorang berfikir tentang hiruk pikuk akherat dan tingkatan neraka maka dia sulit untuk tidur dan besar rasa takutnya.
  3. Mengetahui keutaman-keutamaan qiyamul lail dengan mendengarkan ayat-ayat, hadits-hadits dan atsar tentang qiyamul lail hingga menjadi tetap harapan dan kerinduannya pada pahalanya dan bisa membangkitkan rasa rindu untuk mencari tambahan dan kecintaan pada  derajat di syurga.
  4. Cinta kepada Allah dan kuatnya keimanan bahwa dalam qiyamul lail dia tidaklah berbicara dengan satu huruf kecuali dia sedang bermunajat/berbisik  dengan Rabbnya dan Dia memperhatikan hamba-Nya serta melihat apa yang terbersit di dalam hatinya, apa yang terbersit di dalam hatinya adalah dari Allah ta’ala dengan khitob bersamanya .

Ketika seseorang cinta kepada Allah ta’ala maka dia akan suka menyendiri tanpa ada keraguan,  dan akan merasa nikmat dengan bermunajat , oleh karena itulah nikmatnya  bermunajat dengan sang kekasih menjadikannya kuat qiyamul lail dalam waktu yang lama.

Wallohu a’lam. (Sumber : Kitab Syarah Al Adzkiya’)

MENATA NIAT DAN MEMBERI KARENA MALU ATAU TERPAKSA

Memberi sumbangan karena malu adalah haram :

تحفة المحتاج في شرح المنهاج ج ٦ ص ٣١٤ مكتبة دار إحياء التراث العربي

قَالَ فِي الإِحْيَاءِ لَوْ طَلَبَ مِنْ غَيْرِهِ هِبَةَ شَيْءٍ فِي مَلا مِنْ النَّاسِ فَوَهَبَهُ مِنْهُ اسْتِحْيَاءً مِنْهُمْ وَلَوْ كَانَ خَالِيًا مَا أَعْطَاهُ حَرُمَ كَالْمَصَادِرِ وَكَذَا كُلُّ مَنْ وُهِبَ لَهُ شَيْءٌ لاتِّقَاءِ شَرِّهِ أَوْ سِعَايَتِهِ اهـ نِهَايَةٌ زَادَ الْمُغْنِي

Disebutkan dalam kitab Ihya’ : Apabila ada orang mencari / meminta sesuatu pemberian dari orang lain di tengah masyarakat, lalu orang memberi dia karena malu kepada masyarakat sekitar walaupun itu bukan berupa barang seperti halnya jasa, begitu juga haram setiap orang yang memberi sesuatu karena untuk menghindari kejelekannya ataupun perbuatannya. (Tuhfatul Muhtaj VI / 314).

Timbul pertanyaan : Kalau beli karena terpaksa atau malu bisa disamakan gak ya? Menurut keterangan yang ada di kitab I’anatut Thalibin MAKA membeli karena terpaksa tidak sah.

إعانة الطالبين ج ٣ ص ٧

وشرط في عاقد بائعا كان أو مشتريا تكليف فلا يصح عقد صبي ومجنون وكذا من مكره بغير حق لعدم رضاه

MENATA NIAT YANG BAIK

Dinukil dari kitab Tambihul Ghofilin

قَالَ حَامِدٌ اللّفافُ: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ هَلَاكَ امْرِئٍ عَاقَبَهُ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ،أَوَّلُهَا يَرْزُقُهُ اللَّهُ الْعِلْمَ وَيَمْنَعُهُ عَنْ عَمَلِ الْعُلَمَاءِ، وَالثَّانِي يَرْزُقُهُ صُحْبَةَ الصَّالِحِينَ وَيَمْنَعُهُ عَنْ مَعْرِفَةِ حُقُوقِهِمْ،وَالثَّالِثُ يَفْتَحُ عَلَيْهِ بَابَ الطَّاعَاتِ وَيَمْنَعُهُ مِنْ إِخْلَاصِ الْعَمَلِ.إِنَّمَا يَكُونُ ذَلِكَ لِخُبْثِ نِيَّتِهِ وَسُوءِ سَرِيرَتِهِ لِأَنَّ النِّيَّةَ لَوْ كَانَتْ صَحِيحَةً لَرَزَقَهُ اللَّهُ تَعَالَى مَنْفَعَةَ الْعِلْمِ وَالْإِخْلَاصَ لِلْعَمَلِ وَمَعْرِفَةَ حُرْمَةِ الصَّالِحِينَ.

Hamid al Lafaf berkata :

” Ketika Allah berkehendak merusak pada seseorang maka Allah menghukumnya dengan tiga hal :

  1. Allah memberikan kepadanya ilmu dan mencegahnya dari beramal dengan amalannya ahli ilmu.(maksudnya, mempunyai ilmu tapi tdk mau mengamalkan ilmunya)

  1. Allah memberikan kepadanya bersahabat dengan orang2 sholeh dan mencegahnya dari mengetahui hak2 orang sholeh.(maksudnya, sering berkumpul dengan orang2 sholeh tapi malah merendahkan dan menghina mereka)

  1. Allah membukakan kepadanya pintu ketaatan dan mencegahnya dari ikhlas dalam beramal.(maksudnya, sering beramal tapi tdk ikhlas)

semua hal itu terjadi sebab buruknya niat dan buruknya hati, karena jika memang benar niatnya baik maka Allah ta’ala akan memberikan manfaatnya ilmu yaitu beramal dengan ilmu, memberikan ikhlas dalam beramal dan memberikan pengetahuan tentang kehormatan orang2 sholeh.

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

BERUSAHA TAHU DIRI DENGAN MERENUNG SAAT MEMASUKI AKHIR RAMADHAN

Memasuki Ujung Ramadhan Harusnya Ingat Diri

Sebelum memulai kajian rutin yang dilangsungkan di Mushala PWNU Jatim, Ustadz Ma’ruf Khozin mengingatkan bahwa kini umat Islam tengah berada di penghujung Ramadhan. Ada banyak hal yang harus dilakukan agar kaum Muslimin tidak merugi karena akan berpisah dari bulan penuh kebajikan tersebut.

“Di penghujung Ramadhan kita harusnya mengingat diri,” katanya, Kamis (15/6). Termasuk dalam hal ini adalah bagaimana kemampuan untuk menahan nafsu. Menurut anggota dewan pakar PW Aswaja NU Center Jatim tersebut, justru di akhir Ramadhan kemampuan melawan hawa nafsu ini dipertaruhkan, lanjutnya.

Sebagai perumpamaan yang terus berulang, pada setiap akhir Ramadhan ada kecenderungan dalam berbelanja dan godaan jelang hari raya malah kian tinggi. “Kita hanya memindah nafsu ke malam hari,” kata alumnus Pesantren Ploso Kediri tersebut. Menurutnya, saat siang memang tidak banyak yang dilakukan kaum Muslimin. Akan tetapi kala memasuki malam, justru diperbudak dengan nafsu. “Dari mulai nafsu makan hingga berbelanja,” sergahnya.

Ustadz Ma’ruf kemudian membeberkan kegemaran makan dengan porsi yang lebih kala berbuka. “Karena alasan puasa, kala berbuka kita justru makan dan minum yang lebih enak,” ungkapnya. Hal tersebut tentu akan berpengaruh kepada kegemaran berbelanja yang justru berlebihan.

“Demikian kala persiapan menuju hari raya,” katanya. Yang ramai justru mall dan tempat belanja. Kalau pada sepuluh awal Ramadhan jamaah masjid dan mushala demikian semarak hingga menutup jalan dan gang, tidak saat ini, lanjutnya.

Dalam pandangan Ustadz Ma’ruf, sapaan akrabnya, ini menjadi bukti bahwa kaum Muslimin masih belum mampu menghayati esensi puasa. “Berbeda dengan para ulama dan kiai yang menjalankan puasa tidak hanya saat Ramadhan, juga di bulan yang lain,” tandasnya.

Di ujung penjelasannya, Ustadz Ma’ruf mengajak kaum Muslimin untuk benar-benar menghayati hakikat puasa. “Apalagi kini telah memasuki 10 hari terakhir dari Ramadhan, mari tingkatkan ibadah, kendalikan nafsu kita,” pungkasnya.

Perenungan di Akhir Ramadhan

Hari-hari Ramadhan telah kita lalui dengan berbagai kegiatan dan aktivitas yang galibnya lain dari hari-hari lain di bulan-bulan lain. Mulai dini hari, kaum muslimin biasanya bersama-sama keluarga melakukan ‘ritual’ santap sahur ; sore ngabuburit, ‘membunuh waktu’ menunggu saat berbuka; lalu ‘ritual’ santap buka; kemudian beramai-ramai melaksanakan shalat Taraweh dan Tadarusan; sampai acara-acara seremonial buka bersama, tarling (taraweh keliling), dan ceramah-ceramah keagamaan.

Kegiatan-kegiatan lain biasanya juga diupayakan dapat bernuansa ibadah, setidaknya dilabeli dengan label yang mengesankan keislaman, seperti Roadshow Safari Ramadhan; Gelar Ta’jil; Konser Seni dan Dakwah, Takbir Akbar, dlsb.

Yang mungkin agak tidak populer adalah kegiatan Ramadhan model zaman kanjeng Nabi Muhammad SAW: i’tikaf. Berdiam diri tafakur di rumah Tuhan. Bahkan agaknya memang ‘berdiam diri’ itu sendiri sudah merupakan sesuatu yang mewah di zaman gaduh dan sibuk sekarang ini. Berdiam diri melakukan kontemplasi mungkin malah dianggap bukan kegiatan sama sekali.

Padahal bulan suci Ramadhan merupakan satu-satunya saat paling kondusif untuk melakukan perenungan. Bulan yang citra, gaya, dan nuansanya sama sekali beda dari sebelas bulan yang lain. Kalau bulan-bulan lain lebih terasa duniawi, maka bulan yang satu ini terasa benar ‘ukhrawi’nya, keakhiratannya. Bahkan pengusaha-pengusaha pun dalam mencari keuntungan duniawi menemukan celah dalam kegiatan peribadatan bulan ini.

Boleh jadi karena minimnya perenungan, kita sering terkecoh oleh diri kita sendiri. Kita sering keliru dalam merasa, salah dalam anggapan, hanya karena kegiatan-kegiatan rutin yang tidak sempat kita renungkan. Sikap atau kegiatan yang sudah berlangsung lama, karena tidak pernah sempat kita renungkan, umumnya kita anggap sudah benar dan karenanya kila langsungkan terus. Padahal bila kita mau menyempatkan diri merenung, akan terbukti kekeliruannya. Kita ambil contoh kecil: kegemaran kita bermain pengeras suara di mesjid-mesjid dan mushalla-mushalla. Tidak hanya adzan yang kita lantunkan; tapi segala macam hal yang kita anggap syiar dan Islami, kita kumandangakan ke seantero penjuru. Agaknya kita jarang merenungkan: apakah hal seperti ini wajib, sunnah, mubah, makruh, atau haram? Karena sudah berlangsung lama dan MUI tidak pernah berfatwa makruh atau haram, maka kita pun tidak perlu bersusah payah merenungkannya. Kita merasa sudah benar. Karena sudah berlangsung lama dan tidak ada yang protes, kita pun tidak merasa perlu merenungkan apakah suara-suara itu mengganggu orang atau tidak? Apakah mereka yang tidak protes, meski terganggu itu, karena rela atau takut ?

Imbauan untuk menghormati Ramadhan bahkan sering disertai amar penutupan warung-warung, misalnya lagi, karena sudah berlangsung setiap Ramadhan, maka kita menganggapnya wajar. Padahal dengan sedikit perenungan, kita akan segera tahu kejanggalannya. Contoh-contoh lain masih banyak tentang keliru merasa dan salah anggapan akibat tiadanya perenungan ini.

Salah merasa dan beranggapan ini bisa berakibat fatal bila Allah tidak merahmati kita dengan mengilhamkan perlunya perenungan. Kita bisa merasa berbuat ibadah, padahal bukan. Kita merasa beramar-makruf nahi-munkar, padahal sedang berbuat anarki. Sebaliknya kita bisa menganggap sesuatu perbuatan sebagai amal duniawi semata, padahal sangat ukhrawi.

Wakil –wakil rakyat yang ngotot membangun gedung kantornya sedemikian megah dengan biaya dari rakyat sedemikian besar, pastilah tidak sempat merenung tentang, misalnya, memadaikah kegunaan gedung dan relevansinya dengan tugas-tugas mereka serta besarnya biaya? Apalagi berpikir tentang betapa tersakitinya rakyat yang mereka wakili yang selama ini belum pernah merasakan nasibnya membaik karena mereka perjuangkan.

Kelompok yang dengan angkuh merasa paling benar dan paling mulia sendiri di sisi Allah hanya karena berpakaian mirip Rasulullah SAW dan imamnya fasih melafalkan satu-dua ayat, pastilah mereka tidak sempat sedikit merenung, misalnya bahwa Rasulullah SAW yang pakaiannya mereka tiru itu wajahnya senantiasa tersenyum dan sama sekali tidak sangar seperti mereka. Bahwa pribadi Rasulullah SAW yang agamanya hendak mereka bela , adalah pribadi agung yang sangat santun; beradab baik di hadapan Allah maupun di hadapan hamba-hambaNya. Pribadi yang tridak pernah melaknat dan menyakiti sesama. Bahkan beliau bersabda dalam hadis shahih: “Al-muslimu man salimal muslimuun min lisaanihi wayadihi.“ Muslim sejati ialah orang yang selalu menjaga agar lisan dan tangannya tidak melukai sesamanya.

Nah, apabila i’tikaf dan tafakkur kita kemarin-kemarin terasa kurang, kita masih punya waktu setidaknya untuk merenungkan Ramadhan kita,dan puasa kita bagi kepentingan memulai kehidupan –terutama kehidupan keberagamaan kita–yang baru, yang lebih islami, yang lebih samawi, yang lebih manusiawi, yang lebih beradab.

Akhirnya, saya sampaikan Selamat Hari Raya Fitri 1440. Kullu ‘aamin wa Antum bikhair. Mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan dan kekhilafan saya.

(NU.OR ID)