BEBERAPA ADAB ISLAM DALAM BERPAKAIAN

Berpakaian merupakan bagian dari ibadah. Salah satu hal yang membedakan antara manusia dengan binatang adalah keharusan manusia mengenakan pakaian. Fungsi pakaian bagi manusia tidak hanya untuk menjaga kehangatan tubuh tetapi juga untuk menutup aurat sebagaimana perintah agama.

Al-‘Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudzâharah wal Muwâzarah (Dar Al-Hawi, 1994, hal. 82-83), menjelaskan pokok-pokok adab berpakaian sebagai berikut:

 واعلم أنه نه ينبغي لك أن تصدر جميع أمورك باسم الله. فإن نسيت أن تسمي في أول الأمر فقل إذا تذكرت باسم الله في أوله وآخره. فإذا لبست ثوبك فانو به ستر عورتك التي أمرك الله بسترها. وابدأ باليمين وأخِّرها في النزع. وارفع إزارك وقميصك إلى نصف الساق، فإن أبيت فلا تجاوزن الكعب. وللمرأة إرسال ثوبها على الأرض. واجعل كم قميصك إلى الرسغ أو إلى أطراف الأصابع وإن زدت فلا تسرف. ولا تتخذ من الملابس إلا ما تحتاج إلى لبسه. ولا تتحر أنفس الملبوس ولا أخشنه وتوسط في ذلك. ولا تكشف عورتك ولا شيئاً منها لغير حاجة. ومتى دعت الحاجة إلى كشف شيء منها فقل عنده: بسم الله الذي لا إله إلا هو. وقل إذا لبست ثوبك: “الحمد لله الذي كساني هذا ورزقنيه من غير حول مني ولا قوة

Artinya: “Hendaklah memulai segala urusan dengan membaca basmalah, jika lupa mengucapkannya di awal, maka ucapkanlah segera ketika ingat dengan membaca bismillâhi fi awwalihi wa âkhirihi, ketika berpakaian niatilah menutupi aurat yang itu merupakan perintah Allah, mulailah dengan sisi kanan pada waktu mengenakan dan sisi kiri pada waktu melepas, angkatlah sarung dan baju gamis sampai batas pertengahan batang kaki, atau tidak melampaui mata kaki, bagi perempuan boleh memanjangkan pakaiannya hingga menyentuh tanah, panjangkan lengan baju atau gamis sampai pada pergelangan tangan atau sampai ujung-ujung jari, dan jangan melampaui batas itu, jangan memiliki pakaian melebihi jumlah yang diperlukan, jangan memilih pakaian yang terlalu bagus dan juga jangan memilih yang terlalu buruk, jangan membuka aurat seluruhnya ataupun sebagian, kecuali ada perlu, ketika ada keperluan membukanya ucapkanlah bismillâhil ladzî lâilâha illâ huwa, setiap kali selesai mengenakan pakaian ucapkanlah alhamdulillâhil ladzî kasânî hâdzâ min ghairi haulin minnî walâ quwwatin.”

Dari kutipan di atas dapat diuraikan kedua belas adab berpakaian sebagai berikut:

Pertama, hendaknya memulai segala urusan dengan membaca basmalah. Sebelum memulai berpakaian hendaklah membaca bismillâhirrahmânirrahîm terlebih dahulu. Hal ini sekaligus untuk mengingatkan kepada kita bahwa dalam berpakaian kita harus mengikuti aturan-Nya sehingga kita tidak boleh berpakaian semau kita.

Kedua, jika lupa mengucapkan basmalah di awal, maka ucapkanlah segera ketika ingat dengan membaca bismillâhi fi awwalihi wa âkhirihi (Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya). Ini maksudnya kita tidak perlu mengulang dari awal cara kita berpakaian. Cukuplah dengan segera membaca bacaan tersebut begitu kita menyadari telah lupa.

Ketiga, ketika berpakaian niatilah menutup aurat yang itu merupakan perintah Allah. Jadi berpakaian adalah ibadah sebab merupakan perintah agama untuk menutup aurat. Jika sudah berpakaian tetapi tidak menutup aurat, hal itu tidak bisa disebut ibadah sebab tidak mengikuti aturan dari Allah.

Keempat, mulailah dengan sisi kanan pada waktu mengenakan dan sisi kiri pada waktu melepas. Baju dan celana, termasuk gamis dan daster, dan sebagainya, memiliki sisi kanan dan kiri. Masukkanlah tangan kanan terlebih dahulu ke sisi kanan pakaian itu, baru kemudian tangan kiri menyusul. Ketika melepas, lakukanlah hal sebaliknya, yakni mulai dari sisi kiri.

Kelima, angkatlah sarung dan baju gamis sampai batas pertengahan batang kaki, atau tidak melampaui mata kaki. Ukuran panjang sarung atau baju gamis sebaiknya memang seperrti itu. Aturan ini juga berlaku untuk celana panjang. Jadi tidak harus celana cingkrang.

Keenam, bagi perempuan boleh memanjangkan pakaiannya hingga menyentuh tanah. Hal yang harus selalu diingat apabila bagian bawah pakaian perempuan seperti abaya atau celana panjang menyentuh tanah, maka hati-hati jika terkena najis. Hal ini sangat berpengaruh terhadap sah tidaknya shalat apabila pakaian itu dikenakan sewaktu melakukan ibadah ini.

Ketujuh, panjangkan lengan baju atau gamis sampai pada pergelangan tangan atau sampai ujung-ujung jari, dan jangan melampaui batas itu. Lengan baju supaya panjang dengan ketentuan seperti yang telah dijelaskan. Ini berlaku terutama untuk perempuan sebab terkait langsung dengan aurat. Bagi laki-laki tidak harus seperti itu.

Kedelapan, jangan memiliki pakaian melebihi jumlah yang diperlukan. Di zaman sekarang banyak orang, terutama perempuan, memiliki pakaian yang jumlahnya jauh melebihi yang diperlukan karena berbagai alasan, seperti adanya pakaian seragam komunitas atau kepanitiaan tertentu. Hal ini tidak menjadi masalah selama dapat mengatur keseimbangan jumlahnya. Artinya pakaian-pakaian yang memang sudah tidak diperlukan supaya diberikan kepada pihak lain yang masih kekurangan pakaian.

Kesembilan, jangan memilih pakaian yang terlalu bagus dan juga jangan yang terlalu buruk; pilihlah yang pertengahan atau sedang-sedang saja. Artinya, hal terbaik dalam berpakaian sehari-hari adalah mengenakan pakaian yang sedang-sedang saja, dan bukan pakaian yang terbaik dan apalagi yang terburuk. Memang sebaik-baik perkara adalah yang tengah-tengah sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits Nabi.

Kesepuluh, jangan membuka aurat seluruhnya ataupun sebagian, kecuali ada perlu. Kita tidak mungkin berpakaian terus menerus sepanjang hari sebab ada saatnya kita harus membukanya seperti ketika hendak membuang hajat, periksa dokter atau lainnya. Hal terpenting dari hal ini adalah kita memiliki alasan yang benar untuk membuka aurat baik ketika sendirian atau ada orang lain.

Kesebelas, ketika ada keperluan untuk membukanya ucapkanlah bismillâhil ladzî lâilâha illâ huwa (Dengan nama Allah yang tiada tuhan kecuali Dia). Ucapan ini penting untuk selalu mengingat Allah subhanu wataála. agar terbentuk sikap hati-hati dan terhindar dari hal-hal yang dapat menjauhkan dari-Nya.

 Kedua belas, setiap kali selesai mengenakan pakaian ucapkanlah alhamdulillâhil ladzî kasânî hâdzâ min ghairi haulin minnî walâ quwwatin (Segala puji Allah yang telah memberiku pakaian ini tanpa daya dan kekuatan dariku). Jika ketika memulai berpakaian kita dianjurkan mengucapkan basmalah, maka ketika mengakhrinya kita mengucapkam hamdalah sebagai ungkapan syukur kita kepada Allah atas semua nikmat-Nya, khususnya berupa pakaian yang dengan itu kita dapat menutup aurat untuk memenuhi perintah-Nya.

Itulah kedua belas adab berpakaian menurut Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad yang pada intinya menekankan bahwa berpakaian merupakan ibadah karena merupakan perintah dari Allah subhanu wata’la. Tujuannya adalah untuk menutup aurat baik bagi laki-laki maupun perempuan. Dalam berpakaian hendaknya memulainya dari sisi kanan dengan membaca basmalah dan melepasnya dari sisi kiri dengan membaca hamdalah. Kesederhanan dalam berpakaian juga harus diperhatikan, yakni cukup pakaian yang sedang-sedang saja dan jumlahnya secukupnya sesuai dengan jumlah yang diperlukan. Sayyid Abdullah Al-Haddad menutup pembahasan tentang adab berpakaian ini dengan mengingatkan:

ومن السنة لبس العمامة وليس من السنة توسيع الأكمام وكبر العمائم

Artinya, “Mengenakan surban merupakan bagian dari sunnah Nabi shallallahu álaihi wasallam, akan tetapi melebarkan lengan baju dan membesarkan surban bukan merupakan sunnah beliau.”

WALLOHU A’LAM BISSHOWAB

INILAH BEBERAPA POLA DAN CARA MAKAN YANG DI CONTOHKAN ROSULULLOH SAW.

Makanan dan minuman merupakan kebutuhan dasar dan pasti diperlukan dalam situasi dan kondisi apa pun. Bahkan, keduanya merupakan rahasia kehidupan dan salah satu nikmat besar yang diberikan Allah kepada para hamba-Nya. Dalam banyak ayat, Allah telah menjelaskan bahwa makanan merupakan nikmat dan anugerah besar yang diberikan kepada kita.

Di antaranya adalah ayat yang menyatakan, “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-mayur, yaitu dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu,” (QS Abasa [80]: 24-32).

Untuk memenuhi kebutuhan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan sejumlah pedoman atau acuan perihal makanan, termasuk bagaimana cara makannya yang selayaknya kita pedomani. Sebab sudah barang tentu setiap informasi yang bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyimpan banyak hikmah dan rahasia.

Cukup banyak hadits yang berbicara tentang pedoman ini. Namun, dalam tulisan ini hanya akan disajikan sebagiannya saja, sedangkan sisanya akan disampaikan pada kesempatan berikutnya.

Di antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kepada kita bahwa perut bukanlah wadah yang siap diisi apa saja sesuai keinginan kita. Sekalipun ia diisi, tidak boleh berlebihan sehingga melebihi batas kemampuannya, sebagaimana dalam hadits, “Keturunan Adam tidak dianggap menjadikan perutnya sebagai wadah yang buruk jika memenuhinya dengan beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Karena itu, apa yang dia harus lakukan adalah sepertiga perutnya untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk napas,” (HR Ahmad).

Dengan demikian, yang terpenting perut kita terisi makanan halal yang dapat menjaga kelangsungan hidup. Sebab, bila tidak, kita sendiri yang rugi. Dikala perut kita kekenyangan, misalnya, kita menjadi mengantuk, malas beraktivitas, termasuk malas beribadah, sehingga kemudian kita menjadi kurang poduktif dan dalam jangka panjang berat badan kita menjadi berlebih (obesitas), lebih prihatin lagi di akhirat kekurangan amal.

Kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan agar kita tidak rakus dan tidak memasukkan berbagai jenis makanan ke dalam perut. Hal ini sejalan dengan kebiasaan Nabi yang menyebutkan bahwa beliau tidak pernah makan banyak, tidak pernah makan sampai kenyang, atau tidak memperbanyak ragam makanan. Bahkan, saat istrinya tidak masak makanan beberapa hari, beliau cukup berpuasa dan menyantap roti saja. Hal ini juga ditunjang oleh temuan-temuan dalam dunia pangan dan ilmu gizi bahwa ada beberapa makanan yang tidak boleh dikonsumsi secara bersamaan karena memiliki zat kimia yang justru akan menimbulkan efek negatif dan membahayakan bagi tubuh. Buah-buahan misalnya, sebaiknya tidak dikonsumsi dengan susu. Sebab, umumnya buah-buahan bersifat asam (memiliki PH rendah) sehingga bila bercampur dengan makanan lain dapat menyebabkan fermentasi dalam lambung. Demikian pula kedelai tidak boleh dimakan bersamaan bayam, kedelai dengan bawang hijau, susu kedelai dengan telur, susu dengan cokelat, daging dengan semangka, daging dengan cuka, dan sebagainya.

Ketiga, jika kita menghadiri suatu undangan yang di dalamnya disajikan makanan, sebaiknya tidak mengajak orang lain untuk memenuhi sebuah undangan tersebut kecuali atas izin orang yang mengundangnya.

Abu Mas’ud meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki Anshar yang akrab disapa Abu Syu’aib datang. Kemudian, dia bilang kepada pelayannya yang bernama Qashab, “Sediakanlah makanan untuk lima orang. Aku ingin mengundang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di antara mereka berlima. Sebab, aku mengetahui rasa lapar di raut wajah mereka.”

Abu Syu‘aib pun kemudian mengundang mereka. Namun, ada seorang lelaki yang datang bersama kelima tamu itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lantas bersabda, “Lelaki ini ikut bersama kami. Jika menghendaki, engkau boleh mengizinkannya. Dan jika menghendaki, engkau boleh menyuruhnya pulang,” (HR al-Bukhari). Abu Mas‘ud menambahkan, Abu Syu‘aib pun mengizinkannya. Keempat, pada saat makan kita dianjurkan untuk berkumpul, mengerumuni makanan, dan tidak berpencar darinya. Wahsyi ibn Harm mengatakan bahwa sejumlah sahabat bertanya, “Wahai Rasul, kami makan tapi tidak merasa kenyang.” Beliau menjawab, “Mungkin kalian berpencar (saat makan)?” Mereka berkata, “Iya.” Beliau kembali berkata, “Maka berkumpullah di sekitar makanan kalian. Sebutlah asma Allah (basmalah). Dengan begitu, Dia akan memberi keberkahan kepada kalian,” (HR Abu Dawud).

Beliau juga bersabda, “(Jika berkah) makanan untuk seorang pun jadi cukup untuk berdua. Makanan untuk berdua cukup untuk berempat. Dan makanan untuk berempat cukup untuk delapan orang,” (HR Muslim).

Ke empat, jangan makan makanan orang-orang yang sedang berlomba-lomba menyembelih hewan. Dalam hal ini, Ibnu ‘Abbâs meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang makan makanan orang-orang Arab yang berlomba menyembelih hewan (HR Abu Dawud). Maksudnya, mereka berlomba di sini adalah adu banyak menyembelih hewan. Ketika itu ada dua orang laki-laki yang bersaing dalam hal kebaikan dan kedermawanannya. Salah seorang dari mereka menyembelih unta dan lelaki yang lain juga menyembelihnya, sampai salah satu di antara mereka tidak mampu melakukannya. Namun, perbuatan itu hanya sekadar riya dan mencari popularitas. Dengan menyembelih untanya, mereka tidak bermaksud mencari keridaan Allah, sehingga perbuatan itu serupa dengan orang yang menyembelih hewan bukan karena Allah. (HR Abu Dawud dan al-Tirmidzi). Termasuk ke dalam kategori ini adalah daging hewan yang disembelih tidak menyebut asma Allah dan sembelihan orang-orang musyrik, sebagaimana dalam ayat, “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah,” (QS al-Nahl [16]: 115).

Kelima, jika kita memiliki makanan, sangat dianjurkan yang memakan makanan kita adalah orang yang saleh dan bertakwa. Abu Sa’id al-Khudzrî meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah engkau berteman kecuali dengan orang yang beriman, dan janganlah ada yang makan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” Sudah barang tentu, makanan yang diberikan kepada mereka akan menolong ketaatan dan ibadah mereka. Dan hendaknya tidak makan di khawân atau tempat tinggi yang dipersiapkan untuk makan, seperti meja makan. Anas ibn Mâlik meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Nabi Allah tidak pernah makan di khawân dan sakrajah. Tidak pula ia makan roti yang dikeringkan,” (HR al-Bukhari).

Sakrajah adalah wadah kecil yang memuat makanan ringan, seperti lalapan atau makanan penambah selera. Namun, hadits ini bukan berarti mengharamkan makan di meja makan atau di tempat tinggi lainnya, melainkan sebatas sunah bahwa makan sebaiknya dilakukan di atas tanah sebagaimana yang biasa dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Keenam, tidak makan sambil terlentang atau makan di tempat yang tersedia makanan yang haram. ‘Umar meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang makan di tempat yang disajikan minuman keras. Begitu pula beliau melarang seseorang makan sambil menelungkupkan perutnya. (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim).

 Ketujuh, tidak bersandar pada saat makan. A

bu Juhaifah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku tidak pernah makan sambil bersandar.” Ibnu ‘Amr juga menyebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah terlihat makan sambil bersandar,” (HR Abu Dawud dan al-Tirmidzi).

 Istilah “bersandar” ini tentu mencakup segala bentuk duduk yang dilakukan sambil bersandar atau menyandarkan bagian tubuh tertentu kepada sesuatu yang lain. Cara ini dimakruhkan atau dianggap kurang baik karena memperlihatkan duduknya orang yang sedang lahap dan nafsu makan. Akibatnya seseorang tidak bisa mengontrol daya tampung perutnya sehingga jadi membesar atau membuncit. (Lihat: Abdul Basith Muhammad al-Sayyid, al-I’jâz al-‘Ilmi fî al-Tasyrî‘ al-Islâmî, [Darul Kutub: Beirut], hal. 353).

Karena itu, posisi duduk yang dianjurkan pada saat makan adalah menekuk kedua lutut dan menduduki bagian dalam telapak kaki, atau menegakkan betis dan paha kanan dan menduduki kaki yang kiri. (Ibnu Hajar, Fath al-Bari, Beirut: Darul Ma‘rifah], 1379 H, jilid 9, hal. 542).

Kedelapan, duduklah dengan rendah hati dan makanlah dari bagian pinggir makanan.

Abdullah ibn Basar meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ memiliki sebuah mangkuk besar yang disebut dengan al-gharrâ’ dan cukup untuk dipakai makan oleh berempat. Usai shalat dhuha dan setelah mangkuk diisi makanan, sejumlah sahabat berkerumun di sekitar mangkuk tersebut, dan Rasulullah ﷺ pun terlihat duduk berlutut. Seorang Arab pedesaan bertanya, “Duduk apa ini?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah menjadikanku sebagai hamba yang mulia dan tidak menjadikanku sebagai hamba yang sombong dan penentang.” Setelah itu beliau memerintah para sahabat, “Makanlah makanan yang ada di pinggir mangkuk ini dan biarkanlah bagian tengahnya. Dengan begitu, makanan itu akan berkah” (HR Abu Dawud).

Kesembilan, membasuh kedua tangan sebelum makan.

Siti ‘Asiyah meriwayatkan bahwa ketika hendak tidur dalam keadaan junub, Rasulullah ﷺ selalu berwudhu; dan sewaktu hendak makan, beliau selalu mencuci tangan (HR al-Nasai dan Ahmad).

Kesepuluh, jangan pernah mencela makanan.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ sama sekali tidak pernah mencela makanan.

Jika menyukai suatu makanan, beliau memakannya. Namun ketika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya. (HR al-Bukhari).

Kesebelas, Rasulullah melarang makan atau minum dalam wadah emas atau perak. Dalam kaitan ini, Hudzaifah menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah kalian minum dalam wadah emas atau perak. Janganlah pula kalian makan dalam wadah emas atau perak. Jangan memakai pakaian berbahan sutera, sebab sutera adalah pakaian mereka (orang-orang kufur) di dunia, tapi pakaian kalian di akhirat” (HR al-Bukhari).

Keduabelas, membaca basmalah sebelum makan. Dan jika lupa membacanya, bacalah di saat ingat. Ibnu Mas‘ûd meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Siapa yang lupa mengucap nama Allah sebelum makan, maka bacalah setelah ingat, bismillâhi fî awwalihi wa âkhirihî, sebab doa itu menyambut makanan yang baru dan mencegah keburukan yang menimpa makanan yang masuk” (HR Ibnu Hibban).

Siti ‘Aisyah meriwayatkan, Rasulullah ﷺ pernah makan bersama keenam sahabatnya. Tiba-tiba datanglah seorang warga Arab pedesaan. Akibatnya beliau hanya makan dua suap saja. Beliau lantas bersabda, “Seandainya dia membaca basmalah, tentu makanan itu cukup bagi kalian.”

Ketigabelas, Rasulullah ﷺ juga selalu makan dan minum dengan tangan kanannya.

Hafshah meriwayatkan bahwa beliau menggunakan tangan kanannya untuk makan, minum, wudhu, berpakaian, mengambil sesuatu, memberi sesuatu, dan menggunakan tangan kirinya untuk selain itu (HR Ahmad).

Jabir juga meriwayatkan, Rasulullah ﷺ melarang makan dan minum menggunakan tangan kiri.. Dalam riwayat al-Akwa‘ disebutkan ada seorang pria yang makan dengan tangan kirinya di hadapan Rasulullah ﷺ Beliau pun langsung menegur, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Pria itu menjawab, “Aku tidak bisa.” Beliau menjawab, “Tidak. Engkau sesungguhnya mampu. Sebab, tidak ada yang menghalangi hal itu kecuali kesombongan.” Namun, sang pria tetap menggunakan tangan kirinya. Beliau akhirnya bersabda, “Jika salah seorang kalian makan, maka makanlah dengan tangan kanan. Jika minum, maka minumlah dengan tangan kanan. Sesungguhnya setan, selalu makan dan minum dengan tangan kiri” (HR Muslim).

Keempatbelas, makan dengan tiga jari.

Dalam kaitan ini, Ka‘b ibn Mâlik meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ biasanya makan dengan tiga jari (HR Muslim). Menurut Ibnu Hajar tiga jari yang dimaksud adalah ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah. Kemudian, Ibnu al-Qayyim menjelaskan, Rasulullah ﷺ selalu makan dengan tiga jarinya dan cara ini lebih baik. Sebab, makan dengan banyak jari atau dengan dua jari tidak memberikan kenikmatan kepada pelakunya, tidak pula memberikan rasa kenyang kecuali setelah waktu lama. Selain itu, makan dengan lima jari, misalnya, membuat makanan yang diambil terlalu banyak atau penuh, sehingga tidak memberikan rasa nikmat dan nyaman. Karenanya, cara makan yang paling baik adalah cara makan ala Rasulullah ﷺ dan orang-orang yang mengikutinya, yakni dengan tiga jari ( Asyraf al-Wasail, hal. 204; dan Jadul Maad, jilid 4, hal. 322).

Kelimabelas, tidak mengambil bagian pucuk makanan. Dalam riwayat Salmâ disebutkan, Rasulullah ﷺ tidak suka diambilkan pucuk makanan. Kemudian, seorang pelayan Rasulullah ﷺ bernama ‘Umar ibn Abu Salamah mengisahkan, “Sewaktu aku menjadi pelayan di rumah beliau, tanganku tak sengaja merogoh mangkuk. Beliau lalu menegurku, ‘Wahai sang pelayan, sebutlah nama Allah. Makanlah dengan tangan kananmu. Dan makanlah makanan yang ada di dekatmu” (HR al-Bukhari).

 Ibnu ‘Abbas juga meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Keberkahan itu turun di tengah makanan. Karenanya, makanlah di pinggir-pinggirnya, jangan tengah-tengahnya” (Abu Dawud dan al-Tirmidzi).

Keenambelas, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar makan makanan sampai habis. Anas meriwayatkan, “Rasulullah ﷺ memerintah kami untuk tidak menyisakan makanan di wadah. Sebab, beliau pernah menyampaikan, ‘‘Sesungguhnya kalian tidak tahu pada makanan manakah keberkahan itu berada,’” (HR Al-Tirmidzi).

Ketujuhbelas, mengambil makanan yang terjatuh. Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Ketika suapmu terjatuh, ambillah. Buanglah kotoran yang ada padanya. Dan janganlah engkau menyisakannya untuk setan” (HR Muslim).

Kedelapanbelas, tidak bersendawa di saat makan.

Ibnu ‘Umar meriwayatkan, ada seorang pria yang bersendawa di hadapan Nabi ﷺ Beliau lalu menegurnya, “Hentikan sendawamu. Sebab orang yang paling sering kenyangnya di dunia adalah orang yang paling lama laparnya di hari Kiamat,” (HR al-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Kesembilanbelas, di antara petunjuk Nabi ﷺ adalah menunggu makanan yang panas sampai dingin. Ketika memberi kuah suatu makanan, Asma binti Abu Bakar selalu menunggu rasa panas dan asapnya menghilang. Kemudian, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Cara itu adalah cara yang lebih agung untuk memperoleh keberkahan,’” (HR Ahmad). (Lihat: Abdul Basith Muhammad al-Sayyid, al-I’jâz al-‘Ilmi fî al-Tasyrî‘ al-Islâmî, [Darul Kutub: Beirut], hal. 359).

Kedua puluh, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kita tidak mengambil napas atau mengeluarkannya dalam gelas minum, sebagaimana dalam hadits, “Jika salah seorang kalian minum, maka janganlah bernapas di dalam gelas. Namun, jauhkanlah gelas itu dari mulutnya,” (HR Ibnu Majah). Ibnu ‘Abbâs meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ melarang mengambil atau mengeluarkan napas dalam gelas minum (HR al-Tirmidzi). Dalam riwayat selanjutnya, Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Nabi ﷺ juga melarang mengeluarkan napas pada makanan dan minuman kecuali ada kebutuhan (HR Ahmad dan al-Thabrani). Kemudian jika minum dengan satu napas tidak puas, lakukan sampai tiga kali, selain cara itu lebih mampu menghapus rasa haus. Anas ibn Malik meriwayatkan bahwa di saat minum, Rasulullah ﷺ mengambil napas sampai tiga kali. Beliau juga bersabda, “Cara ini lebih baik dan lebih mampu menghilangkan rasa haus,” (HR Ahmad). Ibnu al-Qayyim berkomentar, maksud bernapas saat minum adalah memisahkan gelas dari mulut lalu mengambil napas di luar gelas. Lalu kembali menempelkan gelas pada mulut.

Hal itu juga pernah ditanyakan oleh seorang pria, “Wahai Rasul, aku tidak merasa puas minum dengan satu napas.” Beliau menjawab, “Pisahkanlah gelas air minummu dari mulut, lalu ambillah napas,” (HR al-Baihaqi).

Keduapuluh satu, makan dan minumlah dengan tidak berlebihan (HR Ibnu Majah).

Hal ini juga sudah diperingatkan dalam Al-Qur’an, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan, (QS al-A’raf [7]:31).

Keduapuluh dua, melumat sisa-sia makanan yang masih menempel pada jari-jari. Hal ini diriwayatkan oleh Anas. Riwayat ini menyebutkan bahwa bila makan sesuatu, Rasulullah ﷺ selalu melumat ketiga jarinya (HR al-Tirmidzi). Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Ketika salah seorang dari kalian makan, maka lumatlah (semua) jari-jarinya. Sebab dia tidak tahu di jari manakah keberkahan itu berada,” (HR Muslim).

Dijelaskan oleh Ibnu Hajar, keberkahan itu tidak diketahui di jari yang mana ia berada. Karena itu, hendaknya seseorang melumat seluruh jarinya secara berurutan. Ketiga jarinya dilumat sampai tiga kali (jika makannya dengan tiga jari). Dimulai dari jari tengah, sebab ia paling panjang jadi mungkin paling kotor dan paling banyak makanan yang menempel. Setelah itu, jari telunjuk, lalu ibu jari. Dan itu bukan perbuatan yang kotor, sebagaimana anggapan sebagian orang (lihat: Asyraf al-Wasa’il, h. 203).

Keduapuluh tiga, jika dibawakan makanan oleh seseorang atau mungkin oleh pelayan, hendaknya kita menerima makanan itu dengan senang hati dan menikmatinya. Jika perlu ajak pula ia memakannya. Kendati ia tidak mau duduk bersama kita, ambillah satu atau dua suap makanan darinya sebagai penghormatan, sebagaimana yang disampaikan Rasulullah ﷺ, “Jika pelayanmu datang membawa makanan maka terima dan nikmatilah. Duduklah engkau bersamanya. Jika engkau tidak duduk bersamanya, maka ambillah satu atau dua suap darinya,” (HR al-Bukhari).

Keduapuluh empat, Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita untuk selalu berbagi makanan dengan siapa saja, sebagaimana sabdanya, “Jika kalian memasak dalam sebuah wajan, maka perbanyaklah airnya agar tetangga kalian dapat turut menikmatinya,” (HR al-Bukhari).

Keduapuluh lima, hendaknya kita menghabiskan makanan yang sudah dalam piring kita.

Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah terkejut karena al-tsufl. Maksud dari al-tsufl adalah makanan yang tersisa (HR Ahmad dan al-Hakim).

Keduapuluh enam, Rasulullah ﷺ mengajarkan bilamana makanan kita terkena lalat, maka celupkanlah seluruh lalat itu, “Ketika ada lalat masuk ke dalam minuman kalian, maka celupkanlah seluruh tubuh lalat itu lalu angkat kembali. Sebab, dalam salah satu sayapnya ada penyakit, sedangkan pada sayap yang lain ada penawarnya,” (HR al-Bukhari).

Keduapuluh tujuh, Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita agar menghindari makanan-makanan berbau, seperti bawang, kecuali setelah dimasak sempurna sehingga hilang baunya. “Siapa yang makan bawang merah atau bawang putih, hendaklah dia menjauhi kami, menjauhi masjid kami, dan tetap berada di rumahnya,” (HR al-Bukhari).

Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Siapa yang makan sayuran ini, yakni bawang merah, bawang putih, dan bawang bakung, hendaklah dia tidak mendekati masjid kami. Sebab para malaikat terganggu seperti halnya terganggunya keturunan Adam,” (HR Muslim).

Dalam riwayat berikutnya, beliau bersabda, “Siapa yang makan keduanya, maka sempurnakanlah memasaknya.” (HR Abu Dawud). Selain masjid, juga tentu tempat-tempat umum atau keramaian lainnya, seperti pasar, tempat resepsi, dan sebagainya. Demikian pula semua makanan yang beraroma tidak sedap dan mengganggu orang banyak dapat diperlakukan seperti bawang merah dan bawang putih. Contohnya jengkol dan petai (lihat: Abdul Basith Muhammad al-Sayyid, al-I’jâz al-‘Ilmi fî al-Tasyrî‘ al-Islâmî, [Darul Kutub: Beirut], hal. 353).

Keduapuluh delapan, Rasulullah ﷺ melarang makan atau minum sambil berdiri kecuali dalam keadaan darurat, sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Sa‘id.

Dalam hadits ini disebutkan bahwa Nabi ﷺ melarang minum sambil berdiri (HR. Muslim). Bahkan, dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah, siapa saja yang lupa makan atau minum sambil berdiri, disuruh memutahkannya, “Siapa saja yang lupa, maka muntahkanlah.” (HR Muslim).

Keduapuluh sembilan, Rasulullah ﷺ mencontohkan bila menggilir makanan atau minuman kepada orang lain, maka dirinya mengambil giliran yang terakhir.

Abdullah ibn Ubayy Aufa menuturkan, “Sewaktu bersama Rasulullah saw, para sahabat kehausan. Beliau pun memberikan minum kepada mereka. Salah seorang sahabat bertanya, ‘Apakah engkau tidak minum, wahai Rasul?’ Dijawabnya, ‘Pemberi mimum suatu kaum adalah yang paling terakhir,’” (HR al-Baihaqi).

Ketiga puluh, yang makan makanan kita adalah orang-orang yang saleh.

Sebab, selain sebagai bentuk syukur, juga tentu akan menolong ketaatan mereka. Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Hendaklah yang makan makanan kalian adalah orang yang baik, orang yang sedang berbuka puasa, dan orang yang bershalawat.”

Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Siapa yang tidak bersyukur kepada sesama manusia, tidak dianggap bersyukur kepada Allah,” (HR al-Hakim).

Ketigapuluh satu, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar selalu membersihkan sisa-sisa makanan yang ada di mulut, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Hurairah, “Siapa saja yang makan suatu makanan dan mendapati sisa-sisanya dari mulut, maka buanglah segera. Dan jika makanan itu masih bisa terkunyah, maka telanlah. Siapa saja yang melakukannya, itu lebih baik. Dan siapa saja yang tidak melakukannya, maka tidak ada salahnya.”

Ketigapuluh dua, bersiwak setelah makan.

Dalam hal ini, Rasulullah ﷺ bersabda, “Bersiwak itu membersihkan mulut dan menarik keridaan Tuhan,” (HR al-Nasai).

Ketigapuluh tiga, mencuci tangan setelah makan.

Nabi ﷺ menyatakan, “Siapa yang tidur di malam hari, sedangkan dalam tangannya terdapat kotoran, (seperti bekas lemak) maka dia akan ditimpa sesuatu. Dan janganlah dia menyalahkan siapa-siapa kecuali kepada dirinya sendiri.”

Ketigapuluh empat, berdoa setelah makan, sebab hal itu mengundang ampunan dari Allah swt.

 Itu pula yang diajarkan dan biasa dilakukan Rasulullah ﷺ, sebagaimana dalam sabdanya, “Siapa saja yang makan suatu makanan, lalu membaca doa berikut:

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا الطَّعَامَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ

“Segala puji hanya milik Allah, Zat yang telah memberikan makanan ini kepadaku dan memberikanya sebagai rezeki bagiku tanpa daya dan kekuatan dariku.” Maka dia akan diampuni dosanya yang telah lalu,” (HR Abu Dawud).

Se Usai makan, beliau juga selalu berdoa dengan doa ini:

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي يُطْعِمُ وَلَا يُطْعَمُ، مَنَّ عَلَيْنَا فَهَدَانَا، وَأَطْعَمَنَا وَسَقَانَا، وَكُلَّ بَلَاءٍ حَسَنٍ أَبْلَانَا . الْحَمْدُ لِلَّهِ غَيْرَ مُوَدَّعٍ رَجَاءَ رَبِّي وَلَا مُكَافَئٍ وَلَا مَكْفُورٍ ، وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ . الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَ مِنَ الطَّعَامِ، وَسَقَى مِنَ الشَّرَابِ، وَكَسَى مِنَ الْعُرْيِ، وَهَدَى مِنَ الضَّلَالَةِ ، وَبَصَّرَ مِنَ الْعَمَى، وَفَضَّلَ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَهُ تَفْضِيلًا . الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 “Segala puji hanya milik Allah, Dzat yang selalu memberi makanan dan tak pernah diberi makanan, Dzat yang telah memberi anugerah kepada kami, lalu memberi petunjuk, Dzat yang telah memberi makanan dan minuman kepada kami, Dzat yang telah memberikan ujian yang baik kepada kami. Segala puji hanya Allah, dengan pujian yang tidak pernah berakhir, dengan penuh harapan kepada Tuhanku, dengan pujian yang tak tertandingi, pujian yang tak bisa diingkari. Segala puji hanya milik Allah, Dzat yang telah memberikan makanan dan minuman, Dzat yang telah memberi pakaian kepada hamba yang telanjang, Dzat yang telah memberikan petunjuk dari kesesatan, Dzat yang telah memberikan penglihatan kepada hamba-Nya yang tunanetra, Dzat yang telah memberikan banyak karunia kepada makhluk yang telah dicipta-Nya. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam” (HR al-Baihaqi).

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ menyabdakan, “Sesungguhnya Allah akan senantiasa rida kepada hamba-Nya yang apabila menyantap suatu makanan, dia lalu memuji-Nya atas nikmat makanan tersebut. Dan apabila minum suatu minuman, dia memuji-Nya atas nikmat minuman tersebut,” (HR Muslim).

Wallahu a’lam. Inilah beberapa pola dan cara makan yang dicontohkan Rasulullah ﷺ Semoga bermanfaat (Abdul Basith Muhammad al-Sayyid, al-I’jâz al-‘Ilmi fî al-Tasyrî‘ al-Islâmî, [Darul Kutub: Beirut], hal. 353).

 Wallahu‘lam ‘alam.

KH. HASYIM ASY’ARI : TANDA-TANDA ORANG YANG MENCINTAI ROSULULLOH SAW.

Dalam sebuah karyanya yang berjudul An-Nurul Mubin fi Mahabbati Sayyidil Mursalin, Hadratusy Syekh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari menjelaskan berbagai kriteria seseorang layak disebut sebagai “Pecinta Muhammad”.

Kitab yang termuat dalam dalam kompilasi kitab karya beliau berjudul Irsyadus Sari ini memang tidak tebal, tapi isinya bagus dan berbobot. Di dalam kitab ini, beliau menjelaskan karakteristik pribadi Rasulullah, keluarga Rasulullah, keutamaan Ahlul Bait dan para sahabat, serta tanda-tanda mencintai beliau.

Menurut Hadrotusy Syekh Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari, ada beberapa tanda-tanda seseorang mencintai Rasulullah Muhammad saw:

1. Senantiasa meneladani Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Melaksanakan sunahnya, mengikuti sabdanya, mencontoh perbuatannya, melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya. Mengikuti akhlaknya, baik dalam kondisi sulit maupun mudah, maupun dalam kondisi senang ataupun tidak senang. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran 31.

2. Banyak menyebut namanya. Karena orang yang mencintai sesuatu/seseorang, dia akan banyak menyebutnya.

Dengan demikian, mencintai Rasulullah berarti banyak berselawat kepadanya. Selawat adalah ibadah yang super istimewa. Mengapa?

Sebab, Allah bersama malaikatnya senantiasa bershalawat kepada Rasulullah. Allah beserta malaikat memberi contoh terlebih dulu, kemudian memerintahkan agar orang-orang yang beriman bershalawat kepada Nabi, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ahzab 56. Dengan demikian, inilah ibadah yang dilakukan oleh Allah, malaikat, dan kaum mukminin.

3. Di antara tanda mencintai Rasulullah adalah senantiasa merindukan bertemu dengannya. Karena orang yang mencintai pasti bahagia bertemu dengan sosok yang dicintai.

Mencintai Rasulullah berarti mencintai pribadi beliau, keluarga dan para sahabatnya. Beruntunglah umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang senantiasa mencintai keluarga dan para sahabat Rasulullah saw. Tidak hanya mencintai Ahlul Bait(keluarga Nabi saw)saja dan menafikan bahkan membenci sebagian besar sahabat sebagaimana yang dilakukan Syiah Rafidhah, juga tidak membenci Ahlul Bait sebagaimana dilakukan oleh kelompok Khawarij. Semua imbang, mencintai Ahlul Bait dan para sahabat beliau. Sebab beliau tidak akan pernah bisa dipisahkan dari Ahlul Bait dan para sahabat beliau.

4. Di antara tanda mencintai Rasulullah adalah sangat mengagungkannya dan menghormatinya saat menyebut namanya serta memperlihatkan kerendahan hati disertai kekhusyu’an saat mendengar namanya.

Beberapa hari silam, ada seorang kiai dari Jombang yang wafat saat mahallul qiyam (prosesi berdiri pada saat pembacaan Maulid). KH. Rofi’usy Syan, nama kiai ini, selama hidupnya dikenal sebagai pecinta selawat. Dia wafat dalam kondisi indah, khusnul khatimah, pada saat sedang menyenandungkan untaian kalimat indah kepada Rasulullah. Benar kata sebagian ulama Salaf, kondisi wafat seseorang menunjukkan kebiasaannya selama hidup.

Dengan kebeningan hati dan kerinduan yang memuncak kepada Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, para kekasih Allah menggubah berbagai redaksi selawat yang memiliki fadhilah masing-masing. Misalnya sealawat Nariyah atau selawat Taziyah atau sealawat Tafrijiyah yang disusun oleh Syaikh Ahmad At-Tazi al-Maghribi, selawat Fatih-nya Syaikh Muhammad al-Bakri, Selawat Badawiyah-nya Sayyid Ahmad al-Badawi, selawat Kubro, selawat Munjiyat, dan sebaginya.

    Dalam kitab Afdhalus Shalawat ala Sayyid as-Sadat, Syekh Yusuf bin Ismail An-Nabhani mencatat kurang lebih ada 70 macam redaksi selawat yang disusun oleh para ulama.

Semua selawat disusun sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah sekaligus membina umat agar mencintai beliau shallallahu alaihi wasallam. Setidaknya, kita meng-ugemi selawat dengan secara rutin membacanya setiap hari. Sebab, lidah yang terbiasa dipakai ghibah dan namimah seperti lidah kita hanya bisa dibasuh dengan istighfar dan sealawat.

5. Di antara tanda cinta kepada Rasulullah adalah mencintai orang yang mencintainya, mencintai para ahlul baitnya, para sahabatnya dari kalangan Anshar dan Muhajirin, serta memusuhi orang yang memusuhi mereka dan membenci orang yang membenci dan mencela mereka. Karena orang yang mencintai sesuatu dia akan menyukai orang yang mencintai itu dan membenci orang yang membenci sesuatu itu.

6. Di antara tanda mencintai Rasulullah adalah mencintai Alquran. Poin terakhir ini terasa menghentak. Tampaknya, dengan kondisi keimanan yang naik turun, kita lebih sering memegang gawai ketimbang mushaf, dan tertlampau sering asyik dengan medsos dibanding bacaan Alquran. Jika memang kondisinya demikian, berarti iman kita perlu “di-charge”. Mengapa?

Karena seperti batre ponsel, kondisi iman kita naik turun. Lebih sering tidak stabil. Agar penuh dan stabil, kita perlu lebih sering menyapa mushaf. Sebab, Alquran adalah satu-satunya mukjizat yang istimewa dan dapat kita “pegang”. Para rasul memiliki mukjizat yang tidak bisa ditiru umatnya: Nabi Ibrahim yang dibakar tapi tidak mempan, Nabi Musa yang bercakap-cakap dengan Allah dan membelah lautan.

Lalu Nabi Isa yang menghidupkan orang mati, menyehatkan mata buta, dan sebagainya. Semua tidak bisa ditiru umatnya masing-masing. Tapi Alqur’an memang istimewa. Inilah mukjizat yang masih bisa dirasakan dan manfaatnya diperoleh umat Nabi Muhammad hingga akhir zaman.

An-Nurul Mubin Fi Mahabbati Sayyidil Mursalin karya KH. M. Hasyim Asy’ari.

Wallahu a’lam Bisshawab

HIDUPLAH 1 JAM DENGAN MEMPERBANYAK DZIKIR DAN SHOLAWAT

Suatu hari seorang anak kecil datang kepada ayahnya dan bertanya,

“Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita?”.

Ayahnya memandang kepada anak kecil itu dan berkata, “Tidak, nak”.

Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya & berkata lagi,

“Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun?”

Ayahnya kembali mnggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepeda putrinya:)

“Oh ayah, bagaimna kalau 1 bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan?”

 Ayahnya tertawa, “Mungkin tidak bisa juga, nak”.

“OK ayah, ini yang terakhir kali, apakah kita bisa hidup tidak berdosa dalam 1 jam saja?”.

Akhirnya ayahnya mengangguk, “Kemungkinan besar, bisa nak dan kasih sayang اَللّهُ lah yang akan memampukan kita untuk hidup benar”.

Anak ini tersenyum lega. “Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam ayah.

Lebih mudah menjalaninya, dan aku akan menjaganya dari jam ke jam, sehingga aku dapat hidup dengan benar….”

Pernyataan ini mengandung kebenaran sejati, Marilah kita hidup dari waktu ke waktu, dengan memperhatikan cara kita menjalani hidup ini, Dari latihan yang paling kecil dan sederhana sekalipun, akan menjadikan kita terbiasa, dan apa yang sudah biasa kita lakukan akan menjadi sifat, dan sifat akan berubah jadi karakter, dan karakter akan menjadi destiny…..

Hiduplah 1 jam dengan memperbanyak dzikir dan sholawat dan TANPA :

tanpa kemarahan,

tanpa hati yang jahat,

tanpa pikiran negatif,

tanpa menjelekkan orang,

tanpa keserakahan,

tanpa pemborosan,

tanpa kesombongan,

tanpa kebohongan,

tanpa kepalsuan…

Lalu ulangi lagi untuk 1 jam berikutnya.

Allohummahdina shirotolladzina an’amta alaihim ghoiril maghdlubi alihim wa ladlollin… Amin

ADAB BERDO’A : JANGANLAH BOSAN UNTUK BERDO’A KEPADA ALLOH SWT. WALAUPUN MERASA BELUM DI KABULKAN

لا يكن تأخر أمد العطاء مع الإلحاح في الدعاء – موجبا ليأسك ؛ فهو ضمن لك الإجابة فيما يختاره لك لا فما تختار لنفسك وفي الوقت الذي يريد ، لا في الوقت الذي تريد .

“Ojo ono opo mundure mangsane peparingane Allah sedeng oleh jaluk (donga) ira ing Allah iku kelawan nggethu iku anyebabake dadi luwase (putus asane) iro oleh donga.Maka utawi Allah iku wis nanggung ing sira kelawan nembadani ing barang kang dadi pilihane Allah,dudu ing barang kang sira karepi milih lan ing dalem wektu kang Allah kersa ake,dudu ing dalem wektu kang sira kersa ake.”

Maksude,lamun sira wis nggethu olehe jaluk/donga ing Allah nuli durung diijabah dening Allah maka ojo iku dadi putus asane awak ira.Sebab saben-saben donga iku mesti den ijabah dening Allah,ananging kabeh gumantung ing putusane Allah lan pilihane Allah,kerana sak becik-becik pilihan iku pilihane Allah…Sing penting sira yakin kayak kang wis didhawuhake Gusti Allah ing dalem Al-Quran…”Padha dongaa sira kabeh ing ing Ingsun,mesti Ingsun ijabah.”

TERJEMAH BAHASA NASIONAL:

Janganlah engkau putus asa karena tertundanya pemberian, padahal engkau telah mengulang-ulang doa. Allah menjamin pengabulan doa sesuai dengan apa yang Dia pilih untukmu, bukan menurut apa yang engkau pilih sendiri, dan pada saat yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau ingini.

Di antara syarat diterimanya doa adalah apabila dilaksanakan dengan penuh harapan dan tidak berputus asa. Belum terkabulnya doa seorang hamba, padahal ia telah berulang-ulang berdoa jangan sampai menjadikannya putus asa, karena Allah berfirman,

”Berdoalah kalian kepada-Ku maka Aku akan mengabulkanmu.” (Ghâfir: 60)

Allah SWT. akan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya. Namun demikian, terkabulnya doa tidaklah terikat dengan kemauan si hamba akan tetapi lebih terikat dengan kehendak dan rencana Allah. Karena Allah Maha Mengetahui akan kondisi hamba-hamba-Nya; terkadang Allah menolak permintaan seorang hamba, karena memang yang terbaik adalah tidak terkabulnya doa itu. Dalam konteks ini, ketika Allah menolak suatu doa sebenarnya secara tersirat memberi, sebagaimana dikatakan oleh syaikh Atha’, ”Ketika Allah menolak sebuah permintaan sebenarnya memberi dan ketika memberi sebenarnya menolak.” Untuk memperkuat pandangan ini, simaklah ayat berikut ini,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (216)

”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Maha Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Penolakan Allah dalam merealisasikan suatu doa, mempunyai substansi pemberian yang tepat bagi manusia. Demikian juga, Dia mengabulkan sebuah doa pada waktu yang ditentukan-Nya, bukan pada waktu yang engkau tentukan. Jadilah seperti Musa yang sabar, karena sabar dan tidak tergesa-gesa merupakan sifat yang utama bagi seorang hamba. Simaklah kisah Musa dan Harun yang berdoa agar Fir’aun dan kaumnya beriman kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, ”Ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau.” (Yûnus: 88) Sampai akhir ayat yang mengisahkan tentang permohonan Musa dan Harun agar kaumnya beriman kepada Allah, dan ternyata permohonan itu baru dikabulkan setelah empat puluh (40) tahun berlalu, sebagaimana firman Allah berikutnya,

”Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu teteplah kalian berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.” (Yûnus: 89)

Dalam sebuah hadits disebutkan, ”Sesungguhnya Allah menyukai kesabaran dalam doa.”

Juga dalam hadits lain disebutkan, ”Sesungguhnya hamba yang shaleh apabila berdoa kepada Allah, malaikat Jibril berkata: Wahai Tuhanku, hamba-Mu fulan telah berdoa, maka kabulkanlah. Kemudian Allah berfirman: Berdoalah wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku senang mendengar suaramu.”

Demikianlah, tata krama dalam berdoa yang telah ditunjukkan oleh Allah agar menjadi pedoman bagi umat Islam. Terkadang Allah mengabulkan atau mengganti dengan hal lain yang notabene merupakan kebaikan dan tambahan yang lebih baik.

HUKUM NGE”PRANK” UNTUK DI UPLOAD DI MEDSOS

Prank, itulah istilah yang sering digunakan oleh para netizen untuk mengistilahkan sebuah tindakan yang dilakukan oleh sekelompok atau perorangan kepada temannya atau bahkan terhadap orang yang tidak dikenal untuk sekedar menjahili, iseng-iseng, bahkan untuk menguji sikap asli korbannya. Prank lebih tenar di kalangan youtubers, karena merekalah yang sejatinya memproklamirkan istilah itu lewat video-video yang diunggah di akun youtube mereka demi meraih subscribe dari para viewers. Sehingga pada intinya, dari berbagai variasi Prank, visi sebenarnya adalah menghibur dan mencari ketenaran disamping juga dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Dalam prakteknya, prank sendiri pada umumnya akan menimbulkan keresahan dan rasa tidak nyaman pada korbannya. Meskipun berhasil memancing tawa, namun tidak sedikit juga yang membuat para korban merasa ketakutan, bahkan menyebabkan trauma karena adegannya sangat realistis dan videonya pun dibuat sangat detail.

Contoh prank yang menakutkan dan meresahkan :

Video prank pocong yang dibuat oleh sekelompok ABG di daerah Jakarta Selatan. Salah satu dari mereka mengenakan kostum menyerupai pocong lengkap dengan riasan wajah pucat dan seram. Ia berdiri di sebuah gang sepi dekat dengan kuburan lalu beraksi menakut-nakuti warga dan pengendara motor. Alhasil, banyak warga dan pengendara yang merasa ketakutan bahkan salah satu ibu warga setempat merasa trauma atas kejadian tersebut. Lalu mereka merekam dan mengupload videonya.

Contoh prank yang memancing tawa:

Berbeda dengan video prank pocong sebelumnya video yang dibuat salah satu youtubers Indonesia asal Kaltim melakukan aksi jahil dengan menyamar menjadi pocong. Sambil mengendarai mobil, ia membeli makanan dengan layanan drive thru (layanan tanpa turun) di restoran cepat saji. Alhasil, karena aksi yang dilakukannya sengaja tidak begitu realistis, hal itu berhasil memancing tawa kebanyakan korban dan penonton.

Bagaimanakah hukum nge-prank tanpa izin pihak korban, mengupload dan menonton video prank sebagaimana deskripsi di atas ?

Hukum nge-prank dengan berbagai medianya diharamkan apabila membahayakan (idlror), menyakiti (idza), mengejek (istihza), menakut-nakuti (tarwi’) yang melebihi batas-batas kewajaran. Kecuali, ada dugaan ridlo dari korban atas kejahilannya.

Referensi:

Silsilah al Adab al Islamiyah Juz 17 hal.7

Al Zawajir Juz 2 hal. 472

Tuhfatul Muhtaj Juz 14 hal. 300

Ibarot :

(اسعاد الرفيق الجزء الثاني صحـ 119)

(و) منها (إيذاء الجار) جاره (ولو) كان (كافرا) لكن إذا كان (له أمان إيذاء ظاهرا) كأن بشرف على حرمه أو يبنى ما يؤذيه مما لا يسوغ شرعا –الىأنقال- (تنبيه) المراد بالأذى الظاهر ما يعد فى العرف إيذاء ففى الزواجر ان إيذاء المسلم مطلقا كبيرة ووجه التخصيص بالجار ان إيذاء غيره لا يكون كبيرة الا إن كان له وقع بحيث لا يحتمل عادة بخلاف الجار فإنه لا يشترط فى كونه كبيرة الا ان يصدق عليه عرفا أنه ايذاء.

الزواجر عن اقتراف الكبائر (2/ 175)

فإن قلت : إيذاء المسلم كبيرة مطلقا فما وجه تخصيص الجار ؟ قلت : كأن وجه التخصيص أن إيذاء غير الجار لا بد فيه أن يكون له وقع بحيث لا يحتمل عادة بخلاف إيذاء الجار فإنه لا يشترط في كونه كبيرة أن يصدق عليه عرفا أنه إيذاء .

إحياء علوم الدين – (ج 2 / ص 328)

الآفة الحادية عشر السخرية والاستهزاء وهذا محرم مهما كان مؤذياً كما قال تعالى ” يا أيها الذين آمنوا لا يسخر قوم من قوم عسى أن يكونوا خيراً منهم ولا نساء من نساء عسى أن يكن خيراً منهن ” ومعنى السخرية الاستهانة والتحقير والتنبيه على العيوب والنقائص على وجه يضحك منه: وقد يكون ذلك بالمحاكاة في الفعل والقول، وقد يكون بالإشارة والإيماء، وإذا كان بحضرة المستهزأ به لم يسم ذلك غيبة وفيه معنى الغيبة. قالت عائشة رضي الله عنها: حاكيت إنساناً فقال لي النبي صلى الله عليه وسلم ” والله ما أحب أني حاكيت إنساناً ولي كذا وكذا وقال ابن عباس في قوله تعالى ” يا ويلتنا ما لهذا الكتاب لا يغادر صغيرة ولا كبيرة إلا أحصاها ” إن الصغيرة التبسم بالاستهزاء بالمؤمن، والكبيرة القهقهة بذلك. وهذه إشارة إلى أن الضحك على الناس من جملة الذنوب والكبائر. وعن عبد الله بن زمعة أنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو يخطب فوعظهم في ضحكهم من الضرطة فقال ” علام يضحك أحدكم مما يفعل وقال صلى الله عليه وسلم ” إن المستهزئين بالناس يفتح لأحدهم باب من الجنة فيقال هلم هلم فيجيء بكربه وغمه فإذا أتاه أغلق دونه، ثم يفتح له باب آخر فيقال هلم هلم فيجيء بكربه وغمه فإذا أتاه أغلق دونه فما يزال كذلك حتى إن الرجل ليفتح له الباب فيقال له هلم هلم فلا يأتيه وقال معاذ بن جبل: قال النبي صلى الله عليه وسلم ” من عير أخاه بذنب قد تاب منه لم يمت حتى يعمله وكل هذا يرجع إلى استحقار الغير والضحك عليها استهانة به واستصغاراً له. وعليه قوله تعالى ” عسى أن يكونوا خيراً منهم ” أي لا تستحقره استصغاراً فلعله خير منك.وهذا إنما يحرم في حق من يتأذى به، فأما من جعل نفسه مسخرة وربما فرح من أن يسخر به كانت السخرية في حقه من جملة المزاح – وقد سبق ما يذم منه وما يمدح – وإنما المحرم استصغار يتأذى به المستهزأ به لما فيه من التحقير والتهاون. وذلك تارة بأن يضحك على كلامه إذا تخبط فيه ولم ينتظم، أو على أفعاله إذا كانت مشوشة كالضحك على خطه وعلى صنعته، أو على صورته وخلقته إذا كان قصيراً أو ناقصاً لعيب من العيوب. فالضحك من جميع ذلك داخل في السخرية المنهي عنها.

الزواجر عن اقتراف الكبائر – (ج 2 / ص 268)

( الكبيرة الحادية والخمسون بعد المائتين : السخرية والاستهزاء بالمسلم ) .قال تعالى : { يا أيها الذين آمنوا لا يسخر قوم من قوم عسى أن يكونوا خيرا منهم ولا نساء من نساء عسى أن يكن خيرا منهن } وقد مر الكلام على تفسيرها قريبا ، وقد قام الإجماع على تحريم ذلك .وأخرج البيهقي : { إن المستهزئين بالناس يفتح لأحدهم في الآخرة باب من الجنة فيقال له هلم هلم فيجيء بكربه وغمه فإذا جاءه أغلق دونه ، ثم يفتح له باب آخر فيقال له هلم هلم فيجيء بكربه وغمه فإذا جاءه أغلق دونه ، فما يزال كذلك حتى يفتح له الباب من أبواب الجنة فيقال له هلم فما يأتيه من الإياس } .وقال ابن عباس في قوله تعالى : { ويقولون يا ويلتنا مال هذا الكتاب لا يغادر صغيرة ولا كبيرة إلا أحصاها } الصغيرة التبسم ، والكبيرة الضحك بحالة الاستهزاء .

إسعاد الرفيق ج 2 ص95

و منها الضحك لخروج ريح من شخص أو على مسلم من المسلمين أو ذمي إذا كان استحقارا به لما فيه من الإيذاء الغير المحتمل و إيذاء المسلم وكذا الذمي حرام بل كبيرة على أن مجرد الضحك مذموم مميت للقلب فكيف به إذا اشتمل على ما يؤذي المسلم أو الذمي من السخرية والاستحقار

سلسلة الآداب الإسلامية للشيخ محمد صالح المنجد – (ج 17 / ص 7)

ضوابط المزاح: نذكر في ختام هذا الدرس ضوابط المزاح: أولا: ألا يكون فيه كذب, امزح ولكن لا تقول إلا حقا, رواية، حادثة صحيحة فيها طرفة تذكرها, أما أن تختلق أشياء لإضحاك الناس فلا. ثانيا: ألا يكون فيه غيبة. ثالثا: ألا يكون فيه قذف. رابعا: أن يكون في الوقت المناسب, فلا يكون -مثلا- في وقت الوعظ، أو التذكير بالموت، أو جلسة علم وجد، ويأتي في منتصف هذا الجو العلمي أو الوعظي من يلقي بطرفة، فهذا من أسوأ ما يمكن أن يحدث في مجالس العلم

خامسا: عدم الانهماك والاسترسال والمبالغة والإطالة. سادسا: عدم الترويع وعدم الإضرار به, فلا يأتي شخص ويخطف مفتاح سيارة شخص آخر أو يسرق, أو يأخذ منه شيئا ثمينا، فهذا فيه ترويع وخوف، وربما يبلغ الشرطة، وفي الأخير يأتي هذا ويقول: كنت أمزح, فهذا لا يكون بحال. سابعا: ألا يكون فيه فحش, بعض النكت التي تسمى عند العوام نكتا هي عبارة عن قلة حياء، وقلة أدب وبذاءة, وتكون قبيحة، وهي كثيرة جدا ومنتشرة بين الناس في المجالس, كل الطرف التي يأتون بها متعلقة بالعورات المغلظة, وربما بلغت البذاءة ببعضهم أن يأتيك بطرفة فيما يتعلق بجماع الرجل بزوجته, أو ما يكون بينهما من الأشياء, والله لا يحب الجهر بالسوء من القول, ولم يكن النبي صلى الله عليه وسلم فاحشا أو متفحشا .ثامناً: ألا يكون فيها استهزاء بشيء من الدين، كالاستهزاء بالكتاب العزيز، أو بأحاديث النبي صلى الله عليه وسلم، أو بالملائكة, فبعض النكت مذكور فيها استهزاء بالملائكة، أو الجنة والنار، أو عذاب القبر، فهذه كثيرة بين الناس, يقول: عندي نكتة ثم يأتي بشيء فيه ذكر لأشياء من العقيدة أو من اليوم الآخر يجعله في هيئة طرفة ونكتة. تاسعاً: ألا يكون مع السفهاء، لأنه إذا مازح السفهاء ردوا عليه سفاهة, فأضر ذلك بشخصيته. عاشراً: أن يراعي شعور الآخرين, لأنه قد يأتي بمزحة لكن تجرح شعور الذي أمامه, ويجب على الإنسان أن يكون أدبياً يراعي مشاعر الخلق, وإذا أراد أن يمازح لا يزعجه ولا يجعله يغضب منه, وليست القضية إضحاك أكبر عدد في المجلس ولو كان فيها إيذاء للآخرين, وكثير من المزحات يكون فيها ضحايا, يعني: ضحك من في المجلس، لكن صار بينك وبين الذي مزحت به كما يقال في لغة العرب: تطنزت به, هذا موجود في كثير من النكت وطرائف الناس, وربما قام من المجلس وقد خاصمهم وهجرهم أو لم يكلمه من أجل أنه جعل منه أضحوكة في المجلس, وهذا يقع كثيراً, وهذا لا شك أنه إيذاء للمؤمنين, وإيذاء المؤمنين حرام وسخرية، قال تعالى: { لا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْراً مِنْهُمْ } [الحجرات:11] وبعض الناس متخصص في هذه القضية, المسألة أنه كيف يجعل الآخرين أضحوكة كيف يهزأ بهم في المجلس، كيف يجعلهم مضحكة في الناس, وهذا حرام لا يجوز. حادي عشر: ألا يمازح مع الكبير والعالم بما لا يليق بمقامه أن تمازحه في هذا المجال, ممكن أن يمازح شخص صديقه، لكن قد لا يناسبه أن يمزح مع كبير في السن في المجلس، فأنت عندما تمازحه فكأنك لا تحترمه ولا توقره, مزاحك له تنبئ عن عدم توقيرك له. ثانية عشر: ألَّا يكون فيه إغراق في الضحك، أو يؤدي إلى الإغراق في الضحك, كل مزاح النبي صلى الله عليه وسلم ليس فيه إغراق في الضحك حتى ينقلب الإنسان على قفاه, أو على عقبيه وهو يضحك, بل مزاح معتدل. ثالثة عشر: ألَّا يضر بشخصه بين الناس, فيكون مضحكة أو مهرج القوم، حتى إذا أراد أحد أن يضحك -كما يقولون- يأتي إلى هذا المهرج، ويقولون: ما هو آخر شيء عندك؟ أعطنا موقفاً، وكثير من المقابلات الجادة مع بعض المشايخ يكون فيها سؤالاً، مثل أن يقول: اذكر لنا موقفاً طريفاً مر بك؟ نكتفي بهذا القدر، ونسأل الله سبحانه وتعالى أن يؤدبنا بآداب شريعته, وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليماً كثيراً .

الزواجر عن اقتراف الكبائر (2/ 472)

( الكبيرة الثامنة عشرة والتاسعة عشرة بعد الثلاثمائة : ترويع المسلم والإشارة إليه بسلاح أو نحوه ) أخرج البزار والطبراني وأبو الشيخ ابن حبان عن عامر بن ربيعة رضي الله عنه : { أن رجلا أخذ نعل رجل فغيبها وهو يمزح فذكر ذلك لرسول الله صلى الله عليه وسلم فقال النبي صلى الله عليه وسلم : لا تروعوا المسلم فإن روعة المسلم ظلم عظيم } . والطبراني : { من أخاف مؤمنا كان حقا على الله أن لا يؤمنه من أفزاع يوم القيامة } . والطبراني وأبو الشيخ : { من نظر إلى مسلم نظرة يخيفه فيها بغير حق أخافه الله يوم القيامة } . وأبو داود والطبراني بسند رواته ثقات : { لا يحل لمسلم أن يروع مسلما } ، قاله لما روع رجل من أصحابه بأخذ حبل معه وهو نائم فانتبه ففزع . وأبو داود والترمذي وقال حسن غريب : { لا يأخذن أحدكم متاع أخيه لاعبا ولا جادا } . ومسلم : { من أشار إلى أخيه بحديدة فإن الملائكة تلعنه حتى ينتهي وإن كان أخاه لأبيه وأمه } . والشيخان : { إذا توجه المسلمان بسيفيهما فالقاتل والمقتول في النار } . وفي رواية لهما : { إذا المسلمان حمل أحدهما على أخيه السلاح فهما على حرف جهنم فإذا قتل أحدهما صاحبه دخلاها جميعا ، قال فقلنا أو قيل : يا رسول الله هذا القاتل فما بال المقتول ؟ قال إنه كان أراد قتل صاحبه } ، . والشيخان : { لا يشر أحدكم إلى أخيه بالسلاح فإنه لا يدري لعل الشيطان ينزع في يده فيقع في حفرة من النار } وينزع بالمهملة وكسر الزاي يرمي أو بالمعجمة مع فتح الزاي ومعناه يرمي ويفسد وأصل النزع الطعن والفساد . تنبيه : عد هذين هو صريح حديث الغضب وغيره بالنسبة للأول واللعن وغيره بالنسبة للثاني ، ويتعين حمل الحرمة في الأول على ما إذا علم أن الترويع يحصل خوفا يشق تحمله عادة ، والكبيرة فيه على ما إذا علم أن ذلك الخوف يؤدي به إلى ضرر في بدنه أو عقله ، وحمل الثاني على ذلك أيضا ولم أر من تعرض لذلك .

تحفة المحتاج بشرح المنهاج (14/ 300)

من ائتمنه المالك كوديع يمتنع عليه أخذ ما تحت يده من غير علمه، لأن فيه إرعابا له بظن ضياعها ومنه يؤخذ حرمة كل ما فيه إرعاب للغير ودليله أن {زيد بن ثابت نام في حفر الخندق فأخذ بعض أصحابه سلاحه فنهى النبي صلى الله عليه وسلم عن ترويع المسلم} من يومئذ ذكره في الإصابة لكن يشكل عليه ما رواه أحمد أن {أبا بكر خرج تاجرا ومعه بدريان نعيمان وسويبط فقال له أطعمني قال حتى يجيء أبو بكر فذهب لأناس ثم وباعه لهم موريا أنه قنه بعشر قلائص فجاءوا وجعلوا في عنقه حبلا وأخذوه فبلغ ذلك أبا بكر رضي الله عنه فذهب هو وأصحابه إليهم فأخذوه منهم ثم أخبر النبي صلى الله عليه وسلم فضحك هو وأصحابه من ذلك حتى بدا سنه} وقد يجمع بحمل النهي على ما فيه ترويع لا يحتمل غالبا كما في القصة الأولى والإذن على خلافه كما في الثانية، لأن نعيمان الفاعل لذلك معروف بأنه مضحاك مزاح كما في الحديث ومن هو كذلك الغالب أن فعله لا ترويع فيه كذلك عند من يعلم بحاله ورواية ابن ماجه أن الفاعل سويبط لا تقاوم رواية أحمد السابقة فتأمل ذلك فإني لم أر من أشار لشيء منه مع كثرة المزاح بالترويع وقد ظهر أنه لا بد فيه من التفصيل الذي ذكرته، ثم رأيت الزركشي قال في تكميله نقلا عن القواعد: إن ما يفعله الناس من أخذ المتاع على سبيل المزاح حرام وقد جاء في الحديث {لا يأخذ أحدكم متاع صاحبه لاعبا جادا} جعله لاعبا من جهة أنه أخذه بنية رده وجعله جادا، لأنه روع أخاه المسلم بفقد متاعه ا ه.

بلوغ الغاية من تهذيب بداية الهداية (ص: 93)

الثامن المزاح والسخرية والاستهزاء بالناس فاحفظ لسانك منه في الجد والهزل، فإنه يريق ماء الوجه، ويسقط المهابة، ويستجر الوحشة، ويؤذي القلوب، وهو مبدأ اللجاج والغضب والتصارم، ويغرس الحقد في القلوب، فلا تمازح أحدًا، فإن مازحوك فلا تجبهم وأعرض عنهم حتى يخوضوا في حديث غيره، وكن من الذين إذا مروا باللغو مروا كرامًا.

موعظة المؤمنين من إحياء علوم الدين صـ: 289 دار الكتب العلمية

الآفة العاشرة المزاح والمنهي عنه المذموم منه هو المداومة عليه والإفراط فيه فأما المداومة فلأنه اشتغال باللعب والهزل وأما الإفراط فيه فإنه يورث كثرة الضحك والضغينة في بعض الأحوال ويسقط المهابة والوقار وأما ما يخلو عن هذه الأمور فلا يذم كما روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال إني لأمزح ولا أقول إلا حقا ألا إن مثله يقدر على أن يمزح ولا يقول إلا حقا – إلى أن قال – وبالجملة فإن كنت تقدر على أن تمزح ولا تقول إلا حقا ولا تؤذي قلبا ولا تفرط فيه وتقتصر عليه أحيانا على الندور فلا حرج عليك فيه

الفتاوى الكبرى الفقهية الجزء الرابع ص: 116 (دار الفكر)

(وسئل) بما لفظه هل جواز الأخذ بعلم الرضا من كل شىء أم مخصوص بطعام الضيافة (فأجاب) بقوله الذى دل عليه كلامهم أنه غير مخصوص بذلك وصرحوا بأن غلبة الظن كالعلم فى ذلك وحينئذ فمتى غلب على ظنه أن المالك يسمح له بأخذ شىء معين من ماله جاز له أخذه ثم إن بان خلاف ظنه لزمه ضمانه وإلا فلا

الزواجر عن اقتراف الكبائر ج ٢ ص ١٥٩-١٦٠ مكتبة الشاملة

(الْكَبِيرَةُ الثَّامِنَةَ عَشْرَةَ وَالتَّاسِعَةَ عَشْرَةَ بَعْدَ الثَّلَاثِمِائَةِ: تَرْوِيعُ الْمُسْلِمِ وَالْإِشَارَةُ إلَيْهِ بِسِلَاحٍ أَوْ نَحْوِهِ) أَخْرَجَ الْبَزَّارُ وَالطَّبَرَانِيُّ وَأَبُو الشَّيْخِ ابْنِ حِبَّانَ عَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -:

«أَنَّ رَجُلًا أَخَذَ نَعْلَ رَجُلٍ فَغَيَّبَهَا وَهُوَ يَمْزَحُ فَذُكِرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: لَا تُرَوِّعُوا الْمُسْلِمَ فَإِنَّ رَوْعَةَ الْمُسْلِمِ ظُلْمٌ عَظِيمٌ» . وَالطَّبَرَانِيُّ: «مَنْ أَخَافَ مُؤْمِنًا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُؤَمِّنَهُ مِنْ أَفْزَاعِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ» . وَالطَّبَرَانِيُّ وَأَبُو الشَّيْخِ: «مَنْ نَظَرَ إلَى مُسْلِمٍ نَظْرَةً يُخِيفُهُ فِيهَا بِغَيْرِ حَقٍّ أَخَافَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» . وَأَبُو دَاوُد وَالطَّبَرَانِيُّ بِسَنَدٍ رُوَاتُهُ ثِقَاتٌ: «لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا» ، قَالَهُ لَمَّا رُوِّعَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ بِأَخْذِ حَبْلٍ مَعَهُ وَهُوَ نَائِمٌ فَانْتَبَهَ فَفَزِعَ.

وَأَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَسَنٌ غَرِيبٌ: «لَا يَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ أَخِيهِ لَاعِبًا وَلَا جَادًّا» . وَمُسْلِمٌ: «مَنْ أَشَارَ إلَى أَخِيهِ بِحَدِيدَةٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى يَنْتَهِيَ وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لِأَبِيهِ وَأُمِّهِ» . وَالشَّيْخَانِ: «إذَا تَوَجَّهَ الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ» . وَفِي رِوَايَةٍ لَهُمَا: «إذَا الْمُسْلِمَانِ حَمَلَ أَحَدُهُمَا عَلَى أَخِيهِ السِّلَاحَ فَهُمَا عَلَى حَرْفِ جَهَنَّمَ فَإِذَا قَتَلَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ دَخَلَاهَا جَمِيعًا، قَالَ فَقُلْنَا أَوْ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ؟ قَالَ إنَّهُ كَانَ أَرَادَ قَتْلَ صَاحِبِهِ» ،. وَالشَّيْخَانِ: «لَا يُشِرْ أَحَدُكُمْ إلَى أَخِيهِ بِالسِّلَاحِ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي لَعَلَّ الشَّيْطَانَ يَنْزِعُ فِي يَدِهِ فَيَقَعُ فِي حُفْرَةٍ مِنْ النَّارِ» وَيَنْزِعُ بِالْمُهْمَلَةِ وَكَسْرِ الزَّايِ يَرْمِي أَوْ بِالْمُعْجَمَةِ مَعَ فَتْحِ الزَّايِ وَمَعْنَاهُ يَرْمِي وَيَفْسُدُ وَأَصْلُ النَّزْعِ الطَّعْنُ وَالْفَسَادُ.

تَنْبِيهٌ: عَدُّ هَذَيْنِ هُوَ صَرِيحُ حَدِيثِ الْغَضَبِ وَغَيْرِهِ بِالنِّسْبَةِ لِلْأَوَّلِ وَاللَّعْنِ وَغَيْرِهِ بِالنِّسْبَةِ لِلثَّانِي، وَيَتَعَيَّنُ حَمْلُ الْحُرْمَةِ فِي الْأَوَّلِ عَلَى مَا إذَا عُلِمَ أَنَّ التَّرْوِيعَ يُحَصِّلُ خَوْفًا يَشُقُّ تَحَمُّلُهُ عَادَةً، وَالْكَبِيرَةُ فِيهِ عَلَى مَا إذَا عُلِمَ أَنَّ ذَلِكَ الْخَوْفَ يُؤَدِّي بِهِ إلَى ضَرَرٍ فِي بَدَنِهِ أَوْ عَقْلِهِ، وَحُمِلَ الثَّانِي عَلَى ذَلِكَ أَيْضًا وَلَمْ أَرَ مَنْ تَعَرَّضَ لِذَلِكَ.

شرح النووي على مسلم ج ١٦ ص ١٦٩-١٧٠ مكتبة الشاملة

(باب النهي عن الاشارة بالسلاح إلى مسلم)

قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

[٢٦١٦] (مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيهِ بِحَدِيدَةٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لِأَبِيهِ وَأُمِّهِ) فِيهِ تَأْكِيدُ حُرْمَةِ الْمُسْلِمِ وَالنَّهْيُ الشَّدِيدُ عَنْ تَرْوِيعِهِ وَتَخْوِيفِهِ وَالتَّعَرُّضِ لَهُ بِمَا قَدْ يُؤْذِيهِ وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لِأَبِيهِ وَأُمِّهِ مُبَالَغَةٌ فِي إِيضَاحِ عُمُومِ النَّهْيِ فِي كُلِّ أَحَدٍ سَوَاءٌ مَنْ يُتَّهَمُ فِيهِ وَمَنْ لَا يُتَّهَمُ وَسَوَاءٌ كَانَ هَذَا هَزْلًا وَلَعِبًا أَمْ لَا لِأَنَّ تَرْوِيعَ الْمُسْلِمِ حَرَامٌ بِكُلِّ حَالٍ وَلِأَنَّهُ قَدْ يَسْبِقُهُ السِّلَاحُ كَمَا صَرَّحَ بِهِ فِي الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى وَلَعْنُ الْمَلَائِكَةِ لَهُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ حَرَامٌ

KEUTAMAAN NASIHAT KEPADA KEBAIKAN DAN TANGGUNG JAWAB DI AKHIRAT ATAS NASIHAT

Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ أَوْ قَالَ عَامِلِهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Barangsiapa yg menunjukkan pada kebaikan, maka dia mendapatkan seperti pahala pelakunya, atau orang yg mengerjakannya”Abu Isa berkata (imam tirmidzi) ini hadits hasan shahih

Kitab syarah Sunan Tirmidzi

( من دل ) أي بالقول أو الفعل أو الإشارة أو الكتابة ( على خير ) أي علم أو عمل مما فيه أجر وثواب ( فله ) أي فللدال ( مثل أجر فاعله ) أي من غير أن ينقص من أجره شيء

Sabda Nabi : ” Barangsiapa yg menunjukkan ” maksudnya, menunjukkan dengan ucapan, atau tindakan, atau isyarat atau tulisan.” pada kebaikan” maksudnya, ilmu ataupun amalan2 yg didalamnya terdapat balasan dan pahala.” maka dia mendapatkan ” maksudnya, orang yg menunjukkan.” seperti pahala pelakunya ” maksudnya, tanpa dikurangi dari pahalanya sedikitpun.

NASEHAT YANG DIABAIKAN, MASIHKAH DIMINTAI PERTANGGUNGJAWABAN KELAK ?

Bagaimana hukumnya jika seorang kakak perempuan membiarkan adiknya terjerumus (Jauh dari Robb nya), karena sudah dinasehati tapi tidak mau dengar, apa di akhirat kelak sang kakak akan dimintai pertanggungjawaban?

Ahkamul Fuqoha: 11/105 soal no 241 :

ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻫﻨﺎﻙ ﻣﻦ ﻳﻜﻔﻴﻬﻢ ﻟﻸﻣﺮ ﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭﺍﻟﻨﻬﻰ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ ﻓﻼ ﺣﺮﺝ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﺴﻜﻮﺕ ﻭﻟﺰﻭﻡ ﺍﻟﺒﻴﻮﺕ ، ﻭﺇﻻﻳﺤﺮﻡ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺫﻟﻚ، ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻻﻧﺘﺴﺎﺏ ﺇﻟﻰ ﺇﺣﺪﻯ ﺍﻟﺠﻤﻌﻴﺎﺕ ﺍﻹﺳﻼﻣﻴﺔ ﻓﻬﻮ ﺃﻓﻀﻞ، ﺑﻞ ﻗﺪ ﻳﺠﺐ ﻛﻤﺎﺇﺫﺍﺗﻴﻘﻦ ﺃﻭﻇﻦ ﺃﻧﻪ ﻻﻳﺆﺩﻯ ﺇﻟﻰ ﺣﻔﻆ ﺩﻳﻨﻪ ﻭﺻﻮﻧﻪ ﻋﻤﺎﻳﻔﺴﺪﻩ ﺇﻻ ﺑﺎﻹﻧﺘﺴﺎﺏ ﺍﻟﻴﻬﺎ ﺍﺧﺬﺍ ﻟﻤﺎﻓﻰ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﺍﻟﺘﺎﻣﺔ ﻭﺍﻹﺣﻴﺎﺀ. ﻭﻧﺼﺒﻪ: ﻭﻭﺍﺟﺐ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﻓﻔﻴﻪ ﻓﺮﻍ ﻣﻦ ﻓﺮﺽ ﻋﻴﻨﻪ ﻭﺗﻔﺮﻍ ﻟﻔﺮﺽ ﺍﻟﻜﻔﺎﻳﺔ ﺇﻟﻰ ﻣﻦ ﻳﺠﺎﻭﺭ ﺑﻠﺪﻩ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻮﺍﺩ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻌﺮﺏ ﻭﺍﻷﻛﺮﺍﺩ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ ﻭﻳﻌﻠﻤﻬﻢ ﺩﻳﻨﻬﻢ ﻭﻓﺮﺍﺋﺾ ﺷﺮﻋﻬﻢ. ﺇﻟﻰ ﺍﻥ ﻗﺎﻝ: ﻓﺈﻥ ﻗﺎﻡ ﺑﻬﺬﺍ ﺍﻷﻣﺮ ﻭﺍﺣﺪ ﺳﻘﻂ ﺍﻟﺤﺮﺝ ﻋﻦ ﺍﻵﺧﺮﻳﻦ ﻭﺍﻻ ﻋﻢ ﺍﻟﺤﺮﺝ ﺍﻟﻜﺎﻓﺔ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ ﺃﻣﺎﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﻓﻠﺘﻘﺼﻴﺮﻩ ﻓﻰ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ، ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺠﺎﻫﻞ ﻓﻠﺘﻘﺼﻴﺮﻩ ﺗﺮﻙ ﺍﻟﺘﻌﻠﻢ. ﺍﻟﺦ … ﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﻛﻞ ﻗﺎﻋﺪ ﻓﻰ ﺑﻴﺘﻪ ﺍﻳﻨﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻓﻠﻴﺲ ﺧﺎﻟﻴﺎ ﻓﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﻋﻦ ﻣﻨﻜﺮ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﺍﻟﺘﻘﺎﻋﺪ ﻋﻦ ﺇﺭﺷﺎﺩ ﺍﻟﻨﺎﺱ  ﻭﺗﻌﻠﻴﻤﻬﻢ ﻭﺃﻛﺜﺮ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺟﺎﻫﻠﻮﻥ .

Jika telah ada orang yang dianggap cukup sudah menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar, maka tidak dosa bagi lainnya hanya diam di rumah (tidak berdakwah), kalau belum ada yang menyampaikan maka haram bagi semua orang hanya berdiam diri. Adapun menisbatkan (amar ma’ruf nahi munkar) kepada salah satu organisasi islam itu lebih utama. Bahkan terkadang menjadi wajib ketika diyakini atau diduga kuat, tidak akan tercapai dalam mempertahankan agama dan menjaga kelangsungannya dari pihak-pihak yang merusaknya kecuali dengan berpedoman kepada kitab : addawatu attamah dan kitab ihya’ ulumuddin, yang arti nashnya :

“Wajib bagi setiap orang pandai dalam agama untuk meluangkan waktu guna memenuhi fardlu kifayah kepada orang yang berdekatan daerahnya dari ahli kulit hitam, orang arab dan lainnya, dan wajib pula mengajari mereka terhadap agamanya dan kewajiban-kewajiban syari’atnya …..s/d…. jika sudah ada salah seorang yang melakukan (amar ma’ruf nahi munkar) maka gugur dosa dari lainnya. Jika tidak ada sekali, maka yang berdosa adalah semuanya manusia. Adapun dosanya orang ‘alim, karena ia tidak menghiraukan keharusan keluar (berdakwah). Sedangkan dosanya orang yang bodoh, ia tidak memperhatikan kewajiban belajar (tidak mau belajar) dst. Perlu dimengerti, bahwa setiap orang yang hanya berdiam diri dirumahnya dimana saja, maka tidak dapat lepas dizaman ini dari kemungkaran, ketika hanya diam diri dari menunjukan manusia dan mengajarinya. Dan kebanyakan manusia itu bodoh (tidak tahu).

WALLOHU ‘ALAM BIS SHOWAB

SIFAT SEORANG MURID DAN CARA MERAIH SIR DARI GURU

Kiat Memperoleh Rahasia/ Sirr dari Guru

بسم الله الرحمن الرحيم            

تِمَّةٌ

Ketika kau –wahai muriid- menginginkan dari syaikh-mu sesuatu hal atau kau memulai bertanya terlebih dahulu kepada beliau mengenai suatu perkara, maka jangan sampai keagungan beliau dan keharusan bertatakrama di hadapan beliau menghalangimu untuk meminta dan bertanya kepadanya. Tanyakanlah kepada beliau sekali, dua kali dan tiga kali. Diam tidak bertanya dan meminta kepada beliau bukanlah tatakrama yang baik. Kecuali syaikh memberi isyarat kepadamu untuk diam dan memerintahkanmu untuk tidak bertanya. Ketika dalam kondisi seperti itu maka wajib mematuhinya.

وَإِذا أَردتَ -أيُّها المُريدُ-مِن شَيخِكَ أَمراً أَو بَدا لَكَ أَن تَسأَلَهُ عَن شَيءٍ فَلا يَمنَعُكَ إِجلالهِ وَالتَّأدُّبُ مَعَهُ عَن طَلَبِهِ مِنهُ وَسُؤَالِهِ عَنهُ، وَتَسأَلُهُ المَرَّةَ وَالمرَّتينِ وَالثَّلاثَ، فَلَيسَ السُّكوتُ عَنِ السُّؤاَلِ وَالطَّلبِ مِن حُسنِ الأَدَبِ، اللَّهُمَّ إِلاَّ أَن يُشيرَ عَليكَ الشَّيخُ بِالسِّكوتِ وَيَأمُرَكَ بِتَركِ السُّؤالِ، فَعِندَ ذَلكَ يَجِبُ عَليكَ اِمتِثالُهُ.

Dan ketika syaikh mencegahmu dari suatu perkara atau mendahulukan seseorang daripada kau maka janganlah kau mencurigainya. Hendaknya kau meyakini bahwa beliau telah melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat dan lebih baik bagimu. Dan apabila kau melakukan suatu kesalahan (berbuat dosa) dan Si Syaikh merasa berat sebab kesalahan tersebut maka bergegaslah meminta maaf kepada beliau dari kesalahanmu sampai beliau lega (memberi ridha).

وَإِذا مَنعَكَ الشَّيخُ عَن أَمرٍ أَو قَدَّمَ عَليكَ أَحداً فَإِيَّاكَ أَن تَتَّهِمَهُ، وَلْتَكُن مُعتَقِداً أَنَّهُ قَد فَعَلَ مَا هُوَ الأَنفَعُ وَالأَحسنُ لَكَ، وَإذا وَقَع مِنكَ ذَنبٌ وَوَجدَ عَليكَ الشَّيخُ بِسَبَبِهِ فَبادِر بِالاِعتِذارِ إِليهِ مِن ذَنبِكَ حَتَّى يَرضَى عَنكَ.

Ketika kau menginkari hati Si syaikh kepadamu seperti kau tidak mendapati wajah beliau berseri-seri maka kau harus membuatnya senang atau yang lain sebagainya. Kemudian ceritakanlah apa yang terjadi padamu yakni kekhawatiranmu pada perubahan hati beliau kepadamu. Barangkali hati beliau berubah kepadamu karena suatu hal yang kau ceritakan kepadanya maka harus meminta maaf. Atau barangkali perkara yang kau curigai pada syaikh-mu itu tidak terjadi pada Si syaikh dan kau telah dijatuhkan oleh syetan supaya berbuat buruk kepada beliau. Untuk itu, ketika kau telah mengetahui bahwa si syaikh telah meridhaimu maka hatimu akan tenang, berbeda ketika kau tidak membicarakannya dan kau diam saja dengan sepengetahuanmu (persepsimu) saja yakni (merasa) kesalamatan ada dipihakmu.        

وَإِذا أَنكَرتَ قَلبَ الشَّيخِ عَليكَ كَأَن فَقَدتَ مِنهُ بِشراً كُنتَ تَأَلَفُهُ أَو نَحوَ ذَلكَ، فَحَدِّثهُ بِما وَقعَ لَكَ مِن تَخَوُّفِكَ تَغَيُّرَ قَلبِهِ عَليكَ فَلَعلَّهُ تَغَيَّرَ عَليكَ لِشيءٍ أَحدَثتَهُ فَتَتُوبَ عَنهُ، أَو لَعَلَّ الذِّي تَوَهَّمتَهُ لَم يَكُن عِندَ الشَّيخِ وَأَلقاهُ الشَّيطانُ إِليكَ لِيَسُوءَكَ بِهِ، فَإِذا عَرَفتَ أَنَّ الشَّيخَ رَاضٍ عَنكَ سَكَنَ قَلبُكَ بِخلافِ مَا إِذا لَم تُحَدِّثهُ وَسَكَتَّ بِمَعرِفةٍ منِكَ بِسلامةِ جِهَتِكَ.

Ketika kau melihat seorang muriid dipenuhi dengan meng-agungkan dan memulyakan syaikh-nya yang terkumpul di lahir dan batinnya berdasakan keyakinan syaikh-nya, ketaaatan dan bertata karma dengan akhlak si syaikh maka pasti muriid tersebut akan mewarisi rahasia syaikh-nya atau akan memperoleh sebagian rahasia apabila si muriid masih hidup setelah syaikh-nya.            

وَإِذا رَأيتَ المُريدَ ممُتَلِئاً بِتَعظِيمِ شَيخِهِ، وَإِجلالِهِ ، مُجتَمِعاً بِظاهِرِهِ وَبَاطِنهِ عَلى اِعتِقادِهِ، وَامتِثالِهِ ، وَالتَّأَدُّبِ بِآدابِهِ؛ فَلا بُدَّ أَن يَرِثَ سِرَّهُ ، أَو شَيئاً مِنهُ إِن بَقِيَ بَعدَهُ

Sifat dan Sikap yang Layak bagi Muriid.

Kami akan menerangkan beberapa sifat yang muriid yang benar:

Sebagian orang-orang yang telah makrifat –radhiya Allahu ‘anhum wa nafa’anaa bihim ajma’iin- berkata:

Seorang menuju ke jalan Allah belum dapat dikatakan muriid, sebelum ia (mampu) menemukan di Al-Qur’an apapun yang ia inginkan, mengetahui kekuarangan dari kelebihan, mencukupkan kebutuhannya kepada Allah tidak dari sesama hamba dan mempersamakan penilaiannya antara emas dan debu jalan.

نذكر فيها شيئاً من أوصاف المريد الصادق:

قَالَ بَعضُ العَارِفينَ رَضِيَ الله عَنهُم وَنَفَعنا بِهم أَجمَعين:

لاَ يَكُونُ المُريدُ مُرِيداً حَتَّى يَجِدَ في القُرآنِ كُلَّ مَا يُريدُ، وَيَعرِفَ النُّقصَانَ مِنَ المَزيدِ، وَيَستَغنِي بِالمَولى عَنِ العَبِيدِ، وَيَستَوِي عِندَهُ الذَّهبُ وَالصَّعيدُ.

Muriid adalah orang yang menjaga batas-batas, menepati janji-janji, rela dengan keberadaan yang telah ada, bersabar ketika tidak memiliki apa-apa.   

المُرِيدُ مَن حَفِظَ الحُدودَ، وَوَفَّى بِالعُهُودِ، وَرَضِيَ بِالمَوجُودِ، وَصَبَرَ عَنِ الَمفقُودِ.

Muriid adalah orang yang bersyukur atas seluruh nikmat, bersabar atas bencana yang menimpanya, merasa rela (legowo) dengan takdir yang pahit dan memuji Tuhannya di waktu luang dan sempit serta mengikhlaskan dirinya secara lahir dan batin.   

المُريدُ مَن شَكَرَ عَلى النَّعماءِ، وَصَبرَ علَى البَّلاءِ، وَرَضِيَ بِمُرِّ القَضاءِ، وَحَمَدَ رَبَّهُ في السَّراءِ والضَّراءِ، وَأَخلَصَ لَهُ في السِّرِّ وَالنَّجوَى

Seorang muriid jangan sampai diperbudak oleh yang tidak abadi (makhluk) dan meminta penghambaan mereka, tidak kalah oleh syahwat dan hawa nafsu dan tidak dipaksa oleh adat kebiasaan.

Bicaranya merupakan zikir dan mutiara hikrnah, diamnya merupakan berpikir dan tauladan. Perbuatannya mendahului percakapannya. Ilmunya membenarkan amalannya. Syiar-nya khusyu’, tenang, tawadhu’ dan merendah diri, berpihak kepada yang benar dan mengutamakannya, serta menolak yang batil dan membencinya, bergaul dengan orang-orang yang baik serta melindungi mereka, dan membenci orang-orang jahat serta memusuhi mereka. Bathinnya lebih baik daripada lahirnya dan Pergaulannya lebih indah daripada penuturannya.          

المُريدُ مَن لاَ تَستَرِقُّهُ الأَغيَارُ، وَ لا تَستَعبِدُهُ الآثارُ، وَ لا تَغلِبُهُ الشَّهوَاتُ، وَلا تَحكُمُ عَليهِ العَاداتُ،

كَلامُهُ ذِكرٌ وَحِكمةٌ، وَصَمتُهُ فِكرَةٌ وَعِبرَةٌ، يَسبِقُ فِعلَهُ قَولَهُ وَيُصَدِّقُ عِلمَهُ عَمَلُهُ، شِعارُهُ الخُشوعُ وَالوَقاَرُ، وَدِثاَرُهُ التَّواضُعُ وَالاِنكِسارُ يَتَّبِعُ الحَقَّ وَيُؤثِرُهُ، وَيَرفُضُ الباطِلَ وَيُنكِرُهُ، يُحِبُّ الأَخيارَ وَيُوالِيهِم، وَيَبْغَضُ الأَشرارَ وَيُعادِيهِم، خُبْرُهُ أَحسنُ مِن خَبَرِهِ، وَمُعَاشَرَتُهُ أَطيَبُ مِن ذِكرِهِ.

Seorang murid harus suka menolong orang, ringan kaki dan tangan, jauh dari sifat bodoh, jadi orang yang dapat dipercaya, tidak berdusta, tidak berkhianat, bukan orang kikir dan pengecut, bukan pemaki atau pelaknat. Tiada mengabaikan kewajiban, tiada menggenggam apa-apa yang ada di dalam tangannya.

Niatnya senantiasa baik, bathinnya senantiasa suci, dadanya bersih dari segala rupa kejahatan. Minatnya tinggi terhadap segala amal yang dapat mendekatkan kepada Tuhan, dan nafsunya menolak dunia.      

كَثِيُر المَعُونَةِ، خَفِيفُ المَؤُونَةِ، بَعيدٌ عَنِ الرُّعُونةِ. أَمينٌ مَأمُونٌ، لا يَكذِبُ وَلا يَخونُ، لاَ بَخيلاً وَلا جَباناً، وَلا سَبَّاباً ولا لَعَّاناً، وَلا يَشتَغِلُ عَن بُدِّهِ، وَلا يَشِحُّ بِما في يَدِهِ، طَيِّبُ الطَّوِيَّةِ، حَسَنُ النِّيِّةِ، سَاحَتُهُ مِن كُلِّ شَرٍّ نَقِيَّةٌ، وَهِمَّتهُ فيما يُقَرِّبهُ مِن رَبِّهِ عَلِيَّةٌ، وَنَفسُهُ عَلى الدُّنيا أَبِيَّةٌ،

Tidak mudah tergelincir ke dalam kesalahan. Tidak melakukan sesuatu pekerjaan karena menurutkan hawa nafsunya, suka kepada sifat menepati janji dan kepahlawanan, bersifat pemalu, menjaga harga dirinya, bertimbang rasa terhadap semua manusia dan makhluk-Nya, tidak akan marah jika manusia tidak timbang rasa kepadanya.

Jika menerima rizki ia bersyukur, Jika ditahan rizkinya ia bersabar, jika ia menganiaya dirinya dia segera bertaubat dan beristighfar, dan jika dianiaya segera ia memaafkan dan mengampunkan. Suka duduk sendirian dan berjauhan dari manusia kebanyakan, tidak suka pamer dan keterkenalan.           

لا يُصِرُّ علَى الهَفوَةِ، وَلا يُقدِمُ وَلا يُحجِمُ بِمُقتَضى الشَّهوَةِ، قَرِينُ الوَفَاءِ وَالفُتُوَّةِ، حَلِيفُ الحَياءِ وَالمرُوَّةِ، يُنصِفُ كُلَّ أَحدٍ مِن نَفسِهِ وَلا يَنتَصِفُ لَها مِن أَحَدٍ. إِن أُعطِيَ شَكَرَ، وَإِن مُنِعَ صَبَرَ، وَإِن ظَلَمَ تَابَ وَاستَغفَرَ، وَإِن ظُلِمَ عَفا وَ غَفَرَ، يُحِبُّ الخُمُولَ وَالاِسِتتَارَ، وَيَكرَهُ الظُّهورَ وَالاِشتِهارَ

lisannya diikat dari segala perkara yang tidak berguna baginya, dan hatinya senantiasa merasa pedih dan sedih, jika ia lalai dari mentaati Tuhannya. Tidak tawar menawar masalah/urusan agama. Tidak akan tunduk kepada makhluk dalam perkara yang akan dimurkai Tuhan Rabbii’Alamin, suka berkhalwat dan duduk mengasingkan diri, tidak merasa tenang waktu bergaul dengan orang banyak.

Tidak berdiam diri yang tidak berguna, namun ada saja kebaikan yang dibuatnya atau ilmu yang diajarkan,

sangat diharap darinya segala kebaikan, tidak ragu-ragu dan bimbang menolak kejahatan,            

لِسَانَهُ عَن كُلِّ مَا لا يَعنيِهِ مَخزونٌ، وَقَلبَهُ علَى تَقصِيرهِ في طاعةِ رَبِّهِ مَحزُونٌ، لاَ يُداهِنُ في الدِّينِ وَلا يُرضي المَخلوقِيَنَ بِسَخطِ رَبِّ العَالمِينَ، يَأنَسُ بِالوِحدَةِ وَالاِنفِرادِ، وَيَستَوحِشُ مِن مُخالَطَةِ العِبادِ، وَلا تَلقَاهُ إِلاَّ عَلى خَيرٍ يَعمَلُهُ، أَو عِلمٍ يُعَلِّمهُ، يُرجَي خَيرُهُ، وَلا يُخشَى شَرُّهُ،

Tidak menyakiti orang yang menyakiti nya, dan tidak bersikap kasar kepada orang yang mengkasarinya laksana pohon kurma, semakin anda melontarkan batu semakin banyak buahnya yang jatuh ataupun laksana bumi betapa banyak kotoran yang di lemparkan kepadnya tapi tidaklah keluarlah darinya kecuali setiap yang manis.   

وَلا يُؤذِي مَن آذاهُ، وَلا يَجفُو مَن جَفَاهُ، كَالنَّخلةِ تُرمَى بِالحَجَرِ فَتَرمِي بِالرُّطَبِ، وَكَالأَرضِ يُطرَحُ عَليهَا كُلُّ قَبيحٍ وَلا يَخرُجُ مِنها إِلاَّ كُلُّ مَليحٍ،

Cahaya kebenaran meliputi bentuk lahirnya, sehingga apa yang terlukis dari wajah lahirnya hampir-hampir menafsirkan apa yang tersembunyi dalam bathinnya, perbuatan dan tujuannya semata-mata mencari keridhoan Allah SWT, mengerjakan ataupun menjauhi sesuatu semata-mata untuk mengikuti jejak Nabi shollallohu alaihi wasallam yang dipandang sebagai manusia panutannya, orang kecintaannya dan orang pilihannya. Dan berusaha sekuat tenaga mencontoh Rasulullah dalam segala hal, mengikuti dalam akhlaknya ,perbuatannya dan juga tutur katanya.          

تَلوحُ أَنوارُ صِدقِهِ علَى ظَاهِرِهِ، وَيَكادُ يُفصِحُ مَا يُرَى علَى وَجهِهِ عَمَّا يُضمِرُ في سَرائِرهِ، سَعيُهُ وَهِمَّتُهُ في رِضَا مَولاهُ، وَحِرصَهُ ونَهمَتُهُ في مُتابَعَةِ رَسُولِهِ وَحَبِيبِهِ وَمُصطَفاهُ، يَتَأَسَّى بِهِ في جَميعِ أَحوَالِهِ، وَيَقتدِي بِهِ في أَخلاقِهِ وَأَفعَالِهِ وَأَقوالِهِ،

Seorang murid senantiasa tunduk dan patuh kepada perintah Tuhan yang Maha Agung yang telah di Firmankan dalam kitab yang mulia :

Apa yang diperintah oleh Rasul, kerjakanlah dan apa yang dilarang berhentilah

(QS. Al-Hasyr : 7)

Dan sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik untuk kamu dan orang-orang yang berharap untuk menemui Allah dihari akhirat dan ia harus mengingat Tuhan sebanyak-banyaknya.

(QS. Al-Ahzab : 21)

Dan siapa yang mematuhi Rasul maka ia sebenarnya mematuhi Allah.

(QS. An-Nisaa : 80)

Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepada engkau, sebenarnya mematuhi Allah.

(QS. Al-Fath: 10)

Katakanlah kalau kamu benar-benar mencintai Tuhan, maka ikutilah aku(Rasulullah SAW), niscaya kamu akan dicintai oleh Tuhan dan diampuni segala dosa-dosa kamu, dan Tuhan Maha Pengampun dan Penyayang.

(QS. Al-Imran : 31)

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau dilimpa azab yang pedih.

(An-Nur : 63)     

مُمتَثِلاً لأمرِ رَبِّهِ العَظِيمِ في كِتابِهِ الكَرِيم حَيثُ يَقولُ: (وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنهُ فَانْتَهُوا)، (لَقَدْ كَانَ لَكُمْ في رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَاليَومَ الآخِرَ وَذَكَرَ الله كَثيراً) ، ( وَمَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطاعَ الله) ، (إِنَّ الذَّينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ الله) ، (قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ الله وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَالله غَفُورٌ رَحِيمٌ) ، (فَلْيَحْذَرِ الذَّينَ يُخالِفونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبُهُمْ عَذابٌ أَلِيمٌ)

Anda akan mendapatkan mereka itu (sang Muriid), sebagai contoh yang tertinggi dalam mengikuti perjalanan Nabi mereka. Senantiasa patuh pada Tuhannya dan berlomba-lomba untuk mendapatkan janji Tuhan yang Agung dan ia lari dari ancaman Tuhan yang pedih.

Sebagaimana yang telah diterangkan dalam ayat-ayat yang telah kami datangkan dan yang belum kami datangkan dari ayat-ayat semakna yang mengandung kabar gembira dengan kebahagiaan sampai ke puncak kemenangan dan kejayaan bagi orang-orang yang mengikuti jejak Rasululullah shollallohu alaihi wasallam

dan menngandung peringatan dengan kehinaan dan kerendahan bagi orang-orang yag menyelisihinya.

فَتَرَاهُ في غَايَةِ الحِرصِ عَلى مُتابَعَةِ نَبِيِّهِ مُمْتَثلاً لأَمرِ رَبِّهِ وَرَاغِباً في الوَعدِ الكَريمِ وَهارِباً مِنَ الوَعِيدِ الأَلِيمِ الوَارِدَينِ في الآياتِ الَّتي أَورَدناها وَفِيما لَم نُورِدُهُ مِمَّا هُو في مَعناها المُشتَمِلَةِ عَلى البِشارَةِ بِغَايَةِ الفَوزِ وَالفَلاحِ للِمُتَّبِعينَ لِلرَّسولِ، وَعَلى النَّذارَةِ بِغايَةِ الخِزيِ وَالهَوانِ لِلمُخالِفِينَ لَهُ

“Ya Allah, Ya Tuhanku kami mengakui bahwa Engkaulah Allah Tuhanku, tiada Tuhan lain melainkan Engkau Maha Penyayang dan Pemberi berbagai nikmat, Pencipta langit dan bumi dengan penuh keindahan.

Wahai Tuhan yang Maha Agung lagi Maha Mulia, kami memohon pada Engkau agar aku dianugerahi menjadi pengikut yang terbaik dari hamba-Mu yaitu Rasul-Mu, junjungan kita Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam baik dalam akhlaknya perbuatannya dan ucapannya, lahir dan bathin.

Berilah kami hidup dan mati atas dasar ini, wahai Tuhan kabulkanlah permohonan kami dengan rahmat-Mu dan kelebihan-Mu wahai Tuhan yang Maha Mengasih Sayangi.           

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسأَلُكَ بِأَنَّكَ أَنتَ الله الذّي لا إِلهَ إِلاَّ أَنتَ الحَنَّانُ الَمنَّانُ بَديعُ السَّمواتِ وَالأَرضِ يَا ذا الجَلالِ وَالإِكرَامِ أَن تَرزُقنا كَمالَ المُتابَعةِ لِعبدِكَ وَرَسولِكِ سَيِّدنا مُحمَّدٍ صلّى الله عَليهِ وَسَلَّم في أَخلاقِهِ وَأعمَالِهِ وأَقوالِهِ ظَاهِراً وَباطِناً وَتُحيينا وَتُميتَنا عَلى ذَلكَ بِرحمَتِكَ يا أَرحَمَ الرَّاحِمين

Ya Allah, Engkaulah Tuhan kami, bagi-Mu segala puja dan puji yang baik lagi penuh keberkatan pujian yang memang sesuai dengan ke Maha Agungan Zat-Mu. Dan ke Maha Besaran kerajaan-Mu.

Maha Suci Engkau wahai Tuhan, tiada ilmu bagiku melainkan yang telah kau ajarkan padaku. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.

Tiada Tuhan melainkan Engkau Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku tergolong orang yang menganiaya diri sendiri.”               

اللَّهُمَّ رَبَّنا لَكَ الحَمدُ حمداً كَثيراً طَيِّباً مُبارَكاً فِيهِ كمَا يَنبَغي لِجَلالِ وَجهِكَ وَعَظيمِ سُلطانِك (سُبحانَكَ لاَ عِلمَ لَنا إِلاَّ ما عَلَّمتَنا إِنَّكَ أَنتَ العَليمُ الحَكيمُ)

)لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنتَ سُبحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ)

Telah selesai Risalah ini untuk murid yang di khususkan dari Rabb-nya yang maha agung dengan ketetapan, kekuatan dan kesungguhan. Alhamdulillah selesai pendikteannya pada malam ke tujuh atau delapan dari bulan romadlon tahun 1071 Hijrahnya Nabi shollallohu alaihi wasallam tasliiman katsiro, segala puji bagi Allah Tuhan seluruh  alam.        

تمت هذهِ الرِّسالةُ لِلمُريدِ المَخصوصِ مِن رَبِّهِ المَجيدِ بِالتثبيتِ وَالَتأيِيدِ وَالتَسديدِ، وَكانَ بِحَمدِ اللهِ إِملاؤُها في سَبعِ لَيالٍ أَو ثَمانٍ مِن شَهرِ رَمضانَ سَنةَ إِحدى وَسَبعينَ وَأَلفٍ مِن هِجرَتِهِ صَلَّى الله عَليهِ وَسَلَّم تسليماً كثيراً ، والحَمدُ لله رَبِّ العَالَمينَ.

Wallahu a’lam bishhawaab…

KEUTMAAN KETIKA KITA MENGINGAT KEMATIAN

Keutamaan Mengingat Mati

(الباب السابع والثلاثون): : في فضيلة ذكر الموت

.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Kematian itu jembatan yang menyambungkan seorang kekasih kepada kekasihnya”}     

وقال عليه السلام: {المَوْتُ جِسْرٌ يُوصلُ الحَبِيبَ إلى الحَبيبِ}

.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Kematian itu ada empat: kematian ulama, kematian orang kaya, kematian orang miskin dan kematian penguasa. Kematian ulama menimbulkan kekacauan dalam agama, kematian orang kaya menimbulkan penyesalan, kematian orang miskin menimbulkan ketenangan dan kematian penguasa menimbulkan fitnah.”} 

وقال عليه السلام: {المَوْتُ أَرْبَعٌ مَوْتُ العُلَمَاءِ وَمَوْتُ الأَغْنِيَاءِ وَمَوْتُ الفُقَرَاءِ وَمَوْتُ الأُمَرَاءِ فَمَوْتُ العُلَمَاءِ ثُلمَةٌ في الدِّينِ وَمَوْتُ الأَغْنِيَاءِ حَسَرَةٌ وَمَوْتُ الفُقَرَاءِ رَاحَةٌ وَمَوْتُ الأُمَرَاءِ فِتْنَةٌ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Sesungguhnya para wali Allah itu tidak meninggal, mereka hanya berpindah dari satu negeri ke negeri lainnya.”}  

وقال عليه السلام: {إنَّ أَوْلِيَاءَ الله لا يَمُوتُونَ وإنّما يَنْتَقِلُون مِنْ دَارٍ إلٰى دَارٍ أُخْرَى}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Sebaik-baik kematian adalah kenyamanan bagi orang mukmin”}       

وقال عليه السلام: {نعم المَوْتُ رَاحَةُ المُؤْمِنِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Kematian ulama adalah kegelapan dalam agama”}  

وقال عليه السلام: {مَوْتُ العُلَمَاءِ ظُلْمَةٌ في الدِّينِ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Jika anak adam mati maka terputuslah amalnya terkecuali tiga hal: sedekah jariyah atau ilmu yang dimanfaatkan atau anak sholeh yang mendoakannya.”}  

وقال عليه السلام: {إذَا مَاتَ ابْنَ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَة جَارِيَة أَوْ عِلْم يَنْتَفعُ بِه أَوْ وَلَد صَالِح يدعو له}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Ingatlah penghancur kenikmatan, para sahabat bertanya, Nabi, apakah penghancur kenikmatan itu?’ Nabi menjawab: “Mati, mati, mati”.”}         

وقال عليه السلام: {اذْكُرُوا هَاذِمَ اللَّذَّاتِ، قالوا: يا رَسُولُ الله وَمَا هَاذِمُ اللذات؟، قال: المَوْتُ المَوْتُ المَوْتُ} ثَلاَثا

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Jadikanlah dirimu di dunia seakan-akan seorang pengembara (orang asing) atau orang yang lewat dan anggaplah dirimu termasuk penghuni kubur.”

وقال عليه الصلاة والسلام: {كُنْ في الدُّنْيا كأنَّكَ غَرِيبٌ أَوْعَابِر سَبِيلٍ وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ القُبُورِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Ketika seorang alim meninggal maka menangislah ahli langit dan bumi selama tujuhpuluh hari. Barangsiapa tidak sedih atas meninggalnya orang alim maka dia adalah orang munafik, munafik, munafik.”} Nabi mengatakannya tiga kali.           

وقال عليه الصلاة والسلام: {إذا مَاتَ العَالِمُ بَكَتْ عَلَيْهِ أَهْلُ السَّمَوٰاتِ والأَرْضِ سَبْعِينَ يَوْما

مَنْ لَمْ يَحْزَنْ لِمَوْتِ العَالِمِ، فَهُوَ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ} قالها ثلاث مرات.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Ketika seseorang meninggal berkatalah para malaikat tentang apa yang telah dilakukannya dan berkatalah manusia tentang apa yang ditinggalkannya.

” وقال عليه الصلاة والسلام

{إذا مَاتَ المَيِّتُ تَقُولُ المَلاَئِكَةُ ما قَدَّمَ وَيَقُولُ النَّاسُ مَا خَلَّفَ}

Wallohu a’lam

MENCARI MURSYID THORIQOH DAN APA YANG HARUS DI LAKUKAN MURID THORIQOH

فصل

Hendaknya kau –wahai muriid- memiliki perhatian penuh dengan bersahabat dengan orang-orang baik dan mendatangi majlis orang-orang sholih. Jadilah kau orang yang benar-benar menginginkan mencari syaikh (guru) yang sholih, bisa memberi petunjuk dan nasehat, mengetahui hukum syariat, menempuh jalan thariqah, telah mencapai hakikat, sempurna akal, lapang dada (sabar), memiliki strategi yang baik dan mengetahui tingkatan manusia serta mampu membedakan antara tabiat, naluri dan kondisi-kondisi mereka. 

وَلتَكُن لَكَ -أيُّها المُريدُ- عِنايَةٌ تَامَّةٌ بِصُحبةِ الأَخيارِ وَمُجالَسَةِ الصَّالِحينَ الأَبرارِ. وَكُن شَديدَ الحِرصِ علَى طَلبِ شَيخٍ صَالِحٍ مُرشِدٍ نَاصِحٍ، عَارِفٍ بِالشَّريعَةِ، سَالِكٍ لِلطَرِيقَةِ، ذَائِقٍ لِلحَقِيقَةِ، كَامِلِ العَقلِ وَاسِعِ الصَّدرِ، حَسَنِ السِّيَاسَةِ عاَرِفٍ بِطبَقاتِ النَّاسِ مُمَيِّزٍ بَينَ غَرائِزِهِم وَفِطَرِهِم وَأَحوَالِهِم.

Apabila kau telah mendapatkannya serahkanlah dirimu padanya, jadikanlah beliau pemberi keputusan seluruh urusanmu, rujuklah pendapat beliau dan berdiskusi kepadanya mengenai semua keadaan perilakumu. Ikutilah beliau dalam semua perbuatan dan perkataannya kecuali hal-hal khusus yang berkaitan dengan derajat beliau sebagai syaikh. Seperti bergaul dengan orang lain, bersama-sama mereka, berdakwah pada orang yang dekat dan jauh mengajak menuju Allah dan lain sebagainya. Untuk itu, hendaknya kau tidak mengingkarinya.     

فَإِن ظَفِرتَ بِهِ فَألقِ نَفسَكَ عَليهِ وَحَكِّمهُ في جمَيعِ أُمورِكَ وَارجِع إِلى رَأيِهِ وَمَشُورَتِهِ في كُلِّ شَأنِكَ وَاقتَدِ بِهِ في جَميعِ أَفعَالِهِ وَأَقوَالِهِ إِلاَّ فِيمَا يَكونُ خَاصّاً مِنها بِمَرتَبةِ المَشيَخَةِ، كَمُخالَطَةِ النَّاسِ وَمُداَرَاتِهم وَدَعوَةِ القَريبِ والبَعيدِ إَلى الله وَمَا أَشبَهَ ذَلكَ فَتُسَلِّمُهُ لَهُ،

Jangan kau menentang semua keadaan dan kondisinya baik itu secara tampak luar (lahir) dan dalamnya (batin). Apabila di dalam hatimu terbersit pikiran yang meragukan (kekahawatiran) mengenai beliau maka berusahalah menghilangkannya dengan sungguh-sungguh. Apabila pikiran tersebut ternyata tidak hilang, ceritakanlah kepada syaikh­-mu supaya beliau memberitahumu jalan terlepas dari pikiran seperti itu. Begitu juga, kau selalu memberitahukan apapun yang kau alami kepada beliau, lebih-lebih masalah yang berhubungan dengan thariqah.               

وَلا تَعتَرِض عَليهِ في شَيءٍ مِن أَحوَالِهِ لا ظَاهِراً ولا بَاطِناً وَإِن وَقَعَ في قَلبِكَ شيءٌ مِنَ الخَواطِرِ في جِهَتِهِ فاجتَهِد في نَفْيِهِ عَنكَ فَإِن لَم يَنتَفِ فَحَدِّث بِه الشَّيخَ لِيُعَرِّفَكَ وَجهَ الخَلاصِ مِنهُ، وَكَذلِكَ تُخبِرَهُ بِكُلِّ ما يَقَعُ لَكَ خُصوصاً فِيما يَتعَلَّقُ بِالطَّريقِ.

Berhati-hatilah, jangan sampai kau mentaati syaikh secara tampak luar saja dimana kau tau bahwa beliau sedang melihatmu dan kau mendurhakainya dalam keadaan tidak diketahui oleh syaikh. Maka apabila seperti kau akan jatuh dalam kerusakan.           

وَاحذَر أَن تُطيعَهُ في العَلانِيَةِ وَحَيثُ تَعلَمُ أَنَّهُ يَطَّلِعُ عَليكَ وَتَعصِيهِ في السِّرِّ وَحَيثُ لا يَعلَمُ فَتَقعُ في الهَلاكِ.

Janganlah kau berkumpul dengan salah satu dari syaikh-syaikh yang terkenal dengan suluknya kecuali telah mendapatkan izin dari syaikh-mu. Kemudian apabila beliau memberimu ijin jagalah hatimu dan berkumpulah dengan siapapun yang kau inginkan. Dan apabila beliau tidak mengijinkan maka ketahuilah bahwa beliau telah memilihkan yang lebih baik untukmu, jangan kau mencurigainya dan menyangka beliau telah berbuat dengki dan cemburu. Hanya dengan perlindungan Allah ketika hal tersebut muncul dari Ahlullah dan orang istimewa-Nya.     

وَلا تَجتَمِعَ بِأَحدٍ مِنَ المَشايِخِ المُتَظاهِرينَ بِالتَّسلِيكِ إِلاَّ عَن إِذنِهِ، فَإِن أَذِنَ لَكَ فاحفَظ قَلبَكَ وَاجتَمِع بَمَن أَرَدتَ وَإِن لمَ يَأذَن لَكَ فَاعلَم أَنَّهُ قَد آثَرَ مَصَلَحَتَكَ فَلا تَتَّهِمَهُ وَتَظُنَّ بِهِ الحَسدَ وَالغَيرَةَ، مَعَاذَ الله أَن يَصدُرَ عَن أَهلِ الله وَخاصَّتِهِ مِثلُ ذَلِكَ.

Berhati-hatilah, jangan kau meminta syaikh dengan karamah-karamahnya dan menyingkap rahasia hatimu. Karena hal yang ghaib tidak ada yang bisa mengetahui kecuali hanya Allah. Puncak dari wali adalah Allah memperlihatkan kepadanya sebagian hal-hal yang ghaib di waktu-waktu tertentu.             

وَاحذَر مِن مُطالَبَةِ الشَّيخِ بِالكَرَامَاتِ وَالمُكَاشَفَةِ بِخَوَاطِرِكَ فَإِنَّ الغَيبَ لا يَعلَمُهُ إِلاَّ الله، وَغَايَةُ الوَلِيِّ أَن يُطلِعَهُ اللهُ علَى بَعضِ الغيُوبِ في بَعضِ الأَحيان

Kadang-kadang muriid mendatangi syaikh untuk meminta menyingkap rahasia hatinya kemudian beliau tidak memenuhinya sementara beliau sebenarnya mengetahuinya dan mampu menyingkapnya. Hal tersebut beliau lakukan karena menjaga rahasia dan menutupi kondisi dan keadaannya. Karena mereka para syaikh –radhiya Allahu ‘anhum­- manusia yang paling ingin menyembunyikan rahasia-rahasia dan orang yang paling menjauhi dari menampakkan karamah dan hal yang luar biasa (keajaiban) walaupun mereka dimungkinkan memiliki dan bisa menggunakannya.               

وَرُبَّما دَخَلَ المُريدُ علَى شَيخِهِ يَطلُبُ مِنهُ أَن يُكاشِفَهُ بِخاطِرِهِ فَلا يُكاشِفَهُ وَهُوَ مُطَّلِعٌ عَليهِ وَمُكاشَفٌ بِهِ صِيَانَةً لِلسِرِّ وَسَتراً لِلحالِ فَإِنَّهُم رَضِيَ الله عَنهُم أَحرَصُ النَّاسِ علَى كِتمانِ الأَسرارِ وَأَبعَدُهُم عَنِ التَّظاهُرِ بِالكرَاماتِ والخَوارِقِ وَإِن مُكِّنُوا مِنها وَصُرِّفُوا فِيها.

Mayoritas karamah yang muncul dari para wali itu terjadi tanpa kehendaknya sendiri. Apabila karamah-karamah mereka muncul, mereka akan berpesan kepada orang yang melihatnya untuk tidak menceritakannya sampai mereka meninggal dunia. Terkadang mereka menampakkan karamah mereka dengan kehendak sendiri karena adanya kemaslahatan tersendiri daripada menutupinya.

وَأكثَرُ الكرَاماتِ الوَاقِعَةِ مِنَ الأَولِيَاءِ وَقعَت بِدونَ اِختِيَارِهِم، وَكاَنوا إِذا ظَهرَ عَليهُم شَيءٌ مِن ذَلِكَ يُوصونَ مَن ظَهرَ لَهُ أَن لا يُحَدِّثَ بِهِ حَتَّى يَخرُجُوا مِنَ الدُّنيا، وَرُبَّما أَظهَرُوا مِنها شَيئاً اختِيَاراً لِمَصلحَةٍ تَزيدُ علَى مَصلَحةِ السِّترِ.

Ketahuilah, bahwa syaikh yang sempurna adalah orang yang memberi kemanfaatan dengan semangatnya, perbuatannya dan perkataannya serta beliau selalu menjaga muriid-nya saat beliau berada di depannya ataupun saat beliau tidak bersamanya. Apabila si muriid berada jauh dari syaikh-nya dalam sisi tempatnya hendaknya si muriid mencari isyarat-isyarat dari syaikh-nya secara menyeluruh dalam urusan yang akan ia lakukan atau ia tinggalkan.

وَاعلَم أَنَّ الشَيخَ الكَامِلَ هُوَ الذِّي يُفِيدُهُ بِهِمَّتِهِ وَفِعلهِ وَقَولِهِ وَيحَفَظُهُ في حُضورِهِ وَغَيبَتِهِ وَإِن كانَ المُريدُ بَعيداً عَن شَيخِهِ مِن حَيثُ المَكانُ، فَليَطلُب مِنهُ إِشارَةً كُلِّيَةً فِيما يَأتي مِن أَمرِهِ وَيترُكُ.

Sesuatu yang paling berbahaya bagi muriid adalah perubahan hati syaikh-nya terhadap dirinya. Ketika sudah seperti itu, walaupun seluruh syaikh di belahan bumi Timur dan Barat berkumpul untuk memperbaiki keadaan si muriid, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali syaikh-nya memberikan ridhanya kepada Si muriid.      

وَأَضرُّ شَيءٌ عَلى المُريدِ تَغَيُّرِ قَلبَ شَيخِهِ عَليهِ وَلَو اجتَمعَ علَى إصلاحِهِ بَعدَ ذَلِكَ مَشايخُ المَشرِقِ وَالمَغرِبِ لمَ يَستَطيعُوهُ إِلاَّ أَن يَرضَى عَنهُ شَيخُهُ.

Ketahuilah bahwa seyogyanya bagi muriid yang mencari seorang syaikh tidak mengukuhkan dan memasrahkan dirinya pada setiap orang yang disebut dengan guru (syaikh) dan (terkenal) bisa menunjukkan jalan para murid menuju Allah sampai Si muriid mengetahui keahlian Sang syaikh dan hati Si muriid menerimanya.        

وَاعلَم أَنَّهُ يَنبَغي لِلمُريدِ الذَّي يَطُلبُ شَيخاً أَن لا يُحَكِّمَ في نَفسِهِ كُلَّ مَن يُذكَرُ بِالمَشيَخَةِ وَتَسلِيكِ المُريدينَ حَتَّى يَعرِفَ أَهلِيَّتَهُ وَيَجتمِعَ عَليهِ قَلبُهُ،

Begitu juga, tidak seharusnya bagi syaikh ketika seorang muriid datang untuk ber-thariqah memberi toleransi kepada si muriid tersebut sebelum ia menguji kesungguhan si muriid dalam pencariannya dan kesungguhan membutuhkannya kepada orang yang menunjukkanny ada Tuhannya.    

وَكذَلِكَ لا يَنبَغي للِشَيخِ إِذا جاءَ المُريدُ يَطلُبُ الطَّرِيقَ أَن يَسمَحَ لَهُ بِها مِن قَبلِ أَن يَختَبِر صِدقَهُ في طَلَبِهِ، وَشِدَّةِ تَعَطُّشِهِ إِلى مَن يَدُلُّهُ علَى رَبِّهِ.

Semua penjelasan ini, seluruhnya dalam mencari syaikh tahkiim. Para ulama mensyaratkan kepada muriid yaitu ketika bersama dengan syaikh tahkiim ia seperti mayat di hadapan beliau yang sedang memandikan dan seperti anak kecil yang diasuh oleh ibunya. Hal ini tidak berlaku dalam kaitannya dengan syaikh tabarruk. Ketika tujuan seorang muriid untuk tabarruk bukan tahkiim maka semakin sering mendatangi, mengunjungi dan mencari keberkahan syaikh-syaikh tabarruk tersebut adalah lebih baik.        

وَهذَا كُلُّهُ في شَيخِ التَّحكِيمِ، وَقَد شَرَطُوا عَلى المُريدِ أَن يَكونَ مَعهُ كَالَمِّيتِ بَينَ يَدَيِّ الغَاسِلِ وَكالطِّفلِ مَعَ أُمَّهِ، وَلا يَجرِي هَذا في شَيخِ التَّبَرُّكِ، وَمَهمَا كَانَ قَصدُ المُريدِ التَّبَرُّكَ دُونَ التَّحكِيمِ فَكُلَّما أَكثَرَ مِن لِقاءِ المَشايِخِ وَزِيارَتِهم وَالتَّبرُّك بِهم كَان أَحسَنَ.

Ketika seorang muriid tidak menemukan seorang syaikh pun maka ia harus terus-menerus bersungguh-sungguh dan sangat tekun berusaha meminta perlindungan Allah dan merasa sangat membutuhkan-Nya untuk mendatangkan seseorang yang memberikan petunjuk pada dirinya. Dengan seperti itu Dzat yang selalu memberikan jawaban kepada orang yang terdesak akan mengabulkannya dan Ia akan membawakan untuknya hamba-hamba-Nya yang akan menuntunnya. 

وَإذا لَم يَجِدِ المُريدُ شَيخاً فَعَليهِ بِمُلازَمَةِ الجِدِّ وَالاجتِهادِ مَعَ كَمالِ الصِّدقِ في الاِلتِجاءِ إِلى الله وَالاِفتِقارِ إِليهِ في أَن يُقَيِّضَ لَهُ مَنْ يُرشِدُهُ، فَسَوفَ يُجِيبُهُ مَن يُجِيبُ المُضطَرَّ، وَيَسُوقُ إِليهِ مَن يَأخُذُ بِيَدِهِ مِن عِبادِهِ.

Terkadang sebagian para muriid menganggap bahwa dirinya tidak memiliki satu orang pun syaikh. Kau akan mendapatinya, mereka terus mencari seorang syaikh padahal mereka sebenarnya memiliki syaikh yang tidak mereka lihat. Beliau mendidik dengan pandangannya, beliau menjagannya dengan perhatiannya sementara itu mereka tidak merasakan. Dalam sisi keadilan tentu tidak akan mencari seorang syaikh kecuali orang yang bersungguh-sungguh. Apabila bukan karena keadilan para syaikh al muhaqqiqun pasti akan diperlihatkan (dimunculkan). Akan tetapi Maha Suci Dzat yang tidak menjadikan sesuatu yang menunjukkan (bukti) yang mengarah kepada para walinya kecuali dari sisi dimana buktinya adalah menuju-Nya. Dan Allah tidak akan mengantarkan kepada mereka kecuali orang yang Ia kehendaki untuk sampai kepada-Nya.   

وَقَد يَحسِبُ بَعضُ المُريدينَ أَنَّهُ لا شَيخَ لَهُ فَتَجِدَهُ يَطلُبُ الشَّيخَ وَلَهُ شَيخٌ لَم يَرَهُ، يُرَبِّيهِ بِنَظَرِهِ وَيُرَاعيهِ بِعَينِ عِنايَتِهِ وَهُوَ لا يَشعُرُ، وَعِندَ التَناصُفِ مَا ذَهبَ إِلاَّ الصِّدقُ، وَإِلاَّ فَالمَشايِخُ المُحَقِّقُونَ مَوجُودونَ، وَلكِن سُبحانَ مَن لَم يَجعلِ الدَّلِيلَ عَلى أَولِيَائِه إِلاَّ مِن حَيثُ الدَّليِلُ عَليهِ وَلمَ يُوصِل إِليهِم إِلاَّ مَن أَرادَ أَن يُوصِلَهُ إِليهِ

Wallahu a’lam bishhawaab…