BERAMAL YANG TERSULIT ADALAH MENGENAI EMPAT HAL INI

Ikhlas, Sabar, Ridha, dan Syukur. Keempat kata sifat ini sudah tidak asing bagi kita semua. Terlebih bagi umat Islam. Untuk penganut agama lain, termasuk yang tidak beragama (Atheis), keempat kata ini memiliki arti tersendiri yang sama tujuan penggunaannya. Paling tidak semua orang setuju dan mengakui bahwa keempat kata ini memiliki makna yang baik. Dari sudut mana saja makna keempat kata ini dipahami, tetap membawa setiap orang kembali ke pemahaman tunggal.

Demikian baiknya makna dari masing-masing kata, tak jarang ada orang tua yang memilih menggunakannya untuk menamai anaknya. Ikhlas, Sabar, Ridha, dan Syukur, ketika dipilih menjadi nama nama orang, pasti pemberi nama berharap pengguna/pemiliknya memiliki sifat dari makna kata itu. Inilah yang dikatakan, “bahwa setiap nama yang diberikan orang tua kepada anaknya, didalamnya terkandung harapan dan doa.”

Dalam keseharian, kata “ikhlas, sabar, dan syukur” lebih familiar di lisan orang dibanding “ridha.” Setiap orang dengan mudah menggunakan ketiga kata ini sebagai pernyataan perasaan dan sikapnya atas sesuatu dan orang lain. Orang pun dengan mudah memahami maksud penggunaannya. Hingga tak heran, kata-kata tersebut pada kenyataannya menjadi pembenaran atas sesuatu. Pada hal lain bisa menjadi gambaran kepribadian orang yang mengucapkannya. Terkadang juga digunakan sebagai kata tuntutan untuk sesuatu atau pernyataan nasehat dan bentuk dukungan moril kepada orang lain.

Untuk orang yang ditimpa musibah dan mengalami kesulitan hidup, kata “sabar” digunakan untuk memberikan moril dukungan kepadanya; untuk orang yang merasa kehilangan akan sesuatu yang berarti dalam hidupnya, kita akan menggunakan kata “ikhlas” untuk mengingatkannya; untuk orang yang melakukan ibadah dan menghadapi cobaan hidup, kita akan menggunakan kata “ridha” untuk memberikan pesan ketekunan kepadanya; dan kata “syukur” akan kita gunakan kepada seseorang yang menerima suatu rezeki dan karunia.

Menyimak maksud dan makna dari keempat kata ini dalam batasan “Jalan Menuju Allah”, keempat kata ini tidak bisa di bolak-balik urutannya (sesuai judul tulisan). Kata “Ikhlas” tetap menjadi kata sifat pertama, kemudian diikuti dua kata lainnya, dan terakhir kata “Syukur.” Kandungan hikmah dan tujuan dari masing-masing kata tersebut ditempatkan sesuai urutannya oleh para ulama dan fuqaha. Inilah sebagian pentahapan sifat menuju kepada Allah.

Saat saya menulis tulisan sederhana ini, saya perhatikan judul di atas, ada hal yang unik. Terutama dalam jumlah huruf, jumlah huruf hidup dan jumlah huruf mati, dan susunan hurufnya. Keunikan yang saya tangkap adalah penulisan keempat kata ini berdasarkan huruf latin (bahasa Indonesia):

Kata “Ikhlas” terdiri atas enam huruf. Memiliki dua huruf hidup dan empat huruf mati (2 + 4= 6); Kata “Sabar” terdiri atas lima huruf. Memiliki dua huruf hidup dan tiga huruf mati (2 + 3 = 5); Kata “Ridha” terdiri atas lima huruf. Memiliki dua huruf hidup dan tiga huruf mati (2 + 3 =5); Kata “Syukur” terdiri atas enam huruf. Memiliki dua huruf hidup dan empat huruf mati (2 + 4 = 6). Bila angka-angka tersebut kita urutkan, akan menjadi “dua, tiga, empat, lima, dan enam.” Angka-angka tersebut bila saling ditambahkan, maka menghasilkan jumlah bilangan “dua puluh (20).”

Hasil akhir penambahan satu angka ke angka lain yang hasilnya dua puluh (20), membuat saya jadi teringat nasehat almarhum ayah saya. Beliau mengatakan, “bahwa sholat wajib itu dua puluh rakaat: Tujuh belas rakaat di dapat dari sholat wajib (Isha, Subuh, Dhuhur, Asar, dan Magrib), ditambah satu rakaat diri (niat diri), satu rakaat Rasulullah (niat membenarkan perintah sholat), dan satu rakaat Allah (niat sholat karena Allah). Bila tiga rakaat yang terakhir di pisah dari tujuh belas rakaat, itu namanya belum melakukan sholat secara benar (atau hanya benar secara syariat karena terpenuhi rukun sholat). Sebab, dasar mendirikan sholat adalah kebenaran niat diri, membenarkan perintah Allah yang disampaikan oleh Rasulullah, lalu keimanan kepada Allah.” Tiga rakaat terakhir pada jumlah dua puluh rakaat dipahami sebagai niat akan kebenaran keimanan, bukan rukun sholat.

Penggunaan huruf hidup pada keempat kata sifat itu adalah“a, i, u.” Ketiga huruf hidup ini (tanpa huruf “e” dan “o”), adalah bunyi vokal yang diucapkan oleh seorang anak manusia ketika ia lahir. Vokal “aaaa….”melambangkan sifat api (semangat atau amarah); “iiii…” melambangkan sifat air (dingin); dan “uuuu…” melambangkan sifat angin (dingin atau sejuk). Vokal “eeee…” dan “oooo…” lebih menggambarkan sikap responsif atas sesuatu. Oleh kebanyakan orang tua di kampung, kedua vokal terakhir diartikan sebagai unsur tanah. Dalam dunia sufistik, Api – Cahaya, Air, Tanah, dan Angin adalah unsur-unsur utama pembentuk materi dan sifat manusia.

Berdasarkan kandungan huruf hidup pada setiap kata, “Ikhlas” mengandung dua huruf hidup, yaitu “iiii….” dan “aaa…”, ini melambangkan bahwa sifat ini mengandung unsur kesadaran dan kemauan dalam pelaksanaannya; “Sabar” mengandung dua huruf hidup, yaitu “aaaa…”, ini melambangkan bahwa sifat ini mengandung unsur kemauan dalam pelaksanaannya; “Ridha” mengandung dua huruf hidup, yaitu ‘iiii….” dan “aaaa….” ini melambangkan bahwa sifat ini mengandung unsur kesadaran dan kemauan dalam pelaksanaannya; dan “Syukur” mengandung dua huruf hidup, yaitu “uuuu…” ini melambangkan bahwa sifat ini mengandung unsur kesadaran dalam pelaksanaannya. Khusus huruf “uuuu…” pada sifat syukur, harus dibedakan sesuai sifatnya. Dingin yang disebatkan oleh materi air berbeda dengan dingin oleh angin – udara. Udara lebih lembut sifatnya dibanding air.

Memperhatikan penjelasan-penjelasan di atas, keempat sifat ini harus dimiliki oleh setiap pribadi muslim. Cara memilikinya sudah tentu dengan melakukan kewajibannya sebagai hamba Allah dan umat Rasulullah. Mendirikan sholat adalah sarana utama untuk menghadirkan keempat sifat ini kedalam diri. Tanpa sholat, menurut hemat saya, keempat sifat ini akan kering maknanya, karena hanya akan menjadi bahasa lisan semata. Kalaupun makna keempatnya dipahami, seseorang pun akan kesulitan dan bingung untuk mewujudkannya dalam bentuk sifat dan perilaku setiap hari. Ia akan kehilangan arah dan tujuan dalam mengimplementasikannya. Intinya, bila kita telah mendirikan sholat wajib, maka sifat-sifat sholat harus kita tunaikan secara nyata.

Mahabenar Allah dengan ilmu dan pengetahuan-Nya. Puji dan syukur atas karunia akal yang telah Engkau berikan.

Kita tak perlu terkejut dan bertanya, kenapa orang-orang yang memiliki pemahaman cukup tentang ilmu agama, lebih suka menyandingkan kata sabar dan kata syukur sebagai satu kesatuan maksud dalam pengkalimatan – pengucapan. Sebab kedua kata ini secara maknawi menyiratkan pesan “kemauan dan kesadaran”. Jarang kita temui kata ikhlas disandingkan dengan kata syukur, kata ridha dengan kata sabar, dsb. Kalaupun ada orang yang melakukannya, pasti terdengar rancu di pemahaman orang-orang tertentu.

Khusus “Jalan Menuju Allah”, tidak hanya diisi dengan sifat Iklas, Sabar, Ridha, dan Syukur saja. Masih ada sifat-sifat lain yang harus dimiliki oleh setiap pribadi muslim. Tata urutannya seperti ini: Muhaasabah (instrospeksi diri), Khauf (perasaan takut), Rajaa’ (pengharapan), Shiddiiq(jujur) Ikhlas, Sabar, Wara’, Zuhud, Ridha, Tawakal, dan Syukur. Sifat Muhaasabah atau introspeksi diri merupakan jalan pertama, kemudian diikuti sifat-sifat lain, dan terakhir sifat syukur sebagai maqam paling tinggi dalam perjalanan menuju Allah.

Bila demikian makna keempat kata ini, sedikit misteri dari keempat sifatnya yang coba saya paparkan (pasti masih banyak lagi misteri dari keempat kata itu yang belum terkuak), kita harus berhenti bermain-main dalam mengucapkan kata-kata tersebut. Sebab keempat kata ini memiliki makna – maksud – tujuan yang kita sendiri belum tuntas belajar untuk memahaminya. Apalagi kita telah menggunakannya untuk menasehati dan menyadarkan orang lain, tapi kita tidak memberikan penjelasan tentang arah dan tujuan dari penggunaan keempat sifat ini.

Sesungguhnya rahasia kebenaran dan keagungan makna “Ikhlas, Sabar, Ridha, dan Syukur”, hanya milik Allah. Dialah Yang Mahamengetahuinya. Sedikit yang saya sampaikan, bisa jadi salah dan bertentangan dengan pemahaman kebanyakan.

Dari kesebelas sifat yang harus dimiliki oleh setiap pribadi muslim, sengaja saya hanya memilih empat sifat tersebut untuk dibahas.Dasarnya, keempat sifat ini paling sering disebut oleh kebanyakan orang dalam percakapan setiap hari. Sebenarnya sifat “Jujur” pun masuk dalam kategori ini, tapi ia memiliki tingkatan di bawah sifat Ikhlas. Artinya, seseorang yang memiliki sifat ikhlas, pasti ia bisa berlaku jujur.

Di bawah ini saya akan coba sedikit membahas Ikhlas, Sabar, Ridha, dan Syukur menurut kebanyakan pemahaman yang berlaku dalam lingkungan Islam (dalam batasan defenisi):

  1. Ikhlas

Dalam kitab “ar-Risaalah al-Qusyairiyyah”, Abu Qasim al-Qusyairiyyah berkata,“Ikhlas adalah mengesakan Allah dalam mengerjakan ketaatan dengan sengaja. Yaitu melakukan ketaatan semat-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah tanpa ada tendensi lain, seperti berpura-pura kepada makhluk, mencari pujian manusia atau makna lain selain mendekatkan diri kepada Allah. Dapat juga dikatakan bahwa ikhlas adalah memurnikan perbuatan dari pandangan makhluk.

Dalam kitab yang sama, Junaid berkata,“Ikhlas adalah rahasia antara Allah dan hamba yang tidak diketahui oleh malaikat sehingga dia tidak dapat mencatatnya, tidak diketahui oleh setan sehingga dia tidak dapat merusaknya, dan tidak pula diketahui oleh nafsu sehingga dia tidak dapat memalingkannya.”

Fudhail ibn Iyadh masih dalam kitab yang sama berkata, “meninggalkan amal karena manusia adalah riyaa’, dan mengerjakan amal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas adalah jika engkau dijaga oleh Allah dari keduanya.”

Demikian agungnya makna dan maksud dari sifat ikhlas, orang-orang yang memiliki sifat ini (mukhlis) akan dimuliakan oleh Allah.

Terdapat beberapa pesan penting akan sifat ini. Pertama, kepemilikan sifat ikhlas ditujukan semata-mata karena Allah; Kedua,sifat ikhlas lahir hanya dari perkara-perkara kebaikan (amal saleh); Ketiga, substansi perwujudannya dalam kehidupan bersifat rahasia (hanya diri sendiri dan Allah yang tahu).

Oleh karena itu, kebiasaan kita mengiringkan pemberian kepada seseorang dengan mengatakan, “Terimalah! Aku memberikan untukmu dengan ikhlas,” adalah pernyataan yang salah. Terlepas dari benar tidaknya niat memberikan sesuatu kepada orang lain, pernyataan ini mengandung unsur riyaa’ dan syirik.

  1. Sabar

Dalam kitab “Syarh Riyaadh ash-Shaalihin” yang ditulis oleh Muhammad ibn Allanash-Shiddiqi, Raghib al-ashfahani berkata, “Sabar adalah menahan diri berdasarkan apa yang diharuskan oleh akal dan syariat, atau menahan diri dari apa yang diharuskan oleh keduanya (akal dan syariat) untuk ditahan.”

Al-Jurjani dalam kitab yang sama, berkata, “Sabar adalah meninggalkan keluh kesah kepada selain Allah tentang pedihnya suatu cobaan.”

Dzunnun al-Misri masih dalam kitab yang sama, berkata, “Sabar adalah menghindarkan diri dari hal-hal yang menyimpang, tetap tenang sewaktu tertimpa suatu ujian dan menampakkan kekayaan di kala tertimpa kefakiran dalam kehidupan.”

Ketiga definisi di atas mengandung tiga hal utama dalam berlaku sabar: Pertama,sabar harus berdasarkan pertimbangan akal sehat dan sesuai tuntunan syariat; Kedua, kesabaran harus ditujukkan pertama-tama untuk meminta/memohon pertolongan kepada Allah; dan Ketiga, selalu menampakkan kekayaan nikmat dan karunia yang lain saat kita ditimpa kefakiran dalam satu atau dua hal.

Penggunaan akal dan syariat menjadi ukuran utama dalam berlaku sabar. Hendaknya kita tidak berlaku sabar secara membabi buta (tanpa pertimbangan akal sehat), dan tanpa aturan dan arah yang jelas (hukum syariat).

Dalam menasehati orang lain yang ditimpa musibah agar berlaku sabar menghadapinya, kita harus berani memberikan pemahaman yang benar tentang sifat ini. Sudah tentu cara memberikan pemahaman harus dikemas baik untuk disampaikan secara sederhana, serta menghargai kondisi orang tersebut. Ber-empati adalah salah satu cara menghargai orang yang sedang ditimpa musibah.

  1. Ridha

Dalam kitab “Mi’raaj at-Tasyawwuf ilaa Haqaa’iq at-Tashawwuf” yang ditulis oleh Ahmad ibn Ujaibah, Sayid berkata, “Ridha adalah sikap lapangnya hati ketika menerima pahitnya ketetapan Allah.”

Dalam kitab yang sama Ibnu Ujaibah berkata,“Ridha adalah menerima kehancuran dengan wajah tersenyum, atau bahagianya hati ketika (suatu) ketetapan terjadi, atau tidak memilih-milih apa yang telah diatur dan ditetapkan oleh Allah, atau lapang dada dan tidak mengingkari apa-apa yang datang dari Allah.”

Ibnu Athailah as-Sakandari dalam kitab “ar-Risaalah al-Qusyairiyyah” berkata, “Ridha adalah pandangan hati terhadap pilihan Allah yang Kekal untuk hamba-Nya. Yaitu, menjauhkan diri dari kemarahan.”

Terdapat tiga hal utama yang menjadi intisari dari sifat ridha: Pertama, berjiwa besar dan lapang dada/hati ketika menerima ujian dan cobaan hidup. Yang paling penting adalah ridha dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan dari Allah; Kedua, berprasangka baik terhadap setiap ketetapan Allah yang terjadi/berlaku atas diri; dan Ketiga, menjauhkan diri dari kemarahan.

Sifat ridha bukanlah sifat yang mudah dipraktekkan dalam hidup. Ia membutuhkan kesadaran dan kemauan yang tinggi untuk melakukannya. Kesadaran akan tanggungjawab keimanan kepada Allah dan rasul-Nya, serta kemauan memahami maksud dan kehendak Allah dan rasul-Nya.

Bila kita membaca kisah-kisah islami, sifat ridha dimiliki oleh sahabat-sahabat Rasulullah. Pasti kita tahu kalimat yang mengiringi penyebutan nama mereka, “RadhiallahuAnhu/Anha atau semoga Allah senantiasa meridhainya.” Gelar ini sering disingkat “RA” dalam penulisan nama sahabat yang mulia (Contoh. Umar ibn KhattabRA, Ali ibn Abithalib RA, Ustman ibn Affan RA, Fatimah binti Rasulullah Muhammad RA, Abdurrahman ibn ‘Auf RA, Sa’ad ibn Abi Waqqas RA, Zubair ibn Awwam RA, dll).

Gelar atau penyebutan tersebut di akhir nama para sahabat dan keluarga Rasulullah diberikan dengan alasan yang kuat. Dalam kehidupan mereka, mereka telah ridha terhadap semua keputusan dan ketetapan dari Allah dan Rasulullah, hingga Allah dan Rasulullah pun menjadi ridha kepada mereka.

Menyangkut sifat ini, di dalam Al Qur’an surat At Taubah ayat 59, Allah telah mengatakan tentang hubungan keridhaan seorang hamba dengan-Nya: “Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata:”Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,” (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).”

Menerima datangnya ajal – kematian sebagai suatu ketetapan Allah dengan lapang dada adalah bentuk pengamalan sifat ridha. Hal ini telah dicontohkan oleh seorang sahabat Rasulullah, Bilal ibn Rabah RA. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Tirmidzi (hadist ini Gharib): “Aku sangat bahagia!Besok aku akan bertemu dengan orang-orang yang aku cintai, yaitu Muhammad dan para sahabatnya.”

Bilal RA menerima kematiannya dengan lapang dada. Beliau paham, bahwa di balik sakit dan pedihnya sakaratul maut yang akan dilaluinanti, ada karunia dari Allah, yaitu ia bertemu dengan Rasulullah dan sahabat-sahabatnya yang telah lebih dulu meninggal dunia.

Sifat ridha mengajarkan manusia untuk memahami bahwa Allah mendatangkan cobaan hidup bukan tanpa maksud. Setiap bencana dan kepedihan hidup yang dialami, di balik itu ada hikmah, karunia, dan nikmat yang lebih besar. Kita pun harus mau jujur untuk merenung sejenak, bahwa Allah memberikan manusia karunia dan kenikmatan hidup lebih banyak daripada penderitaan dan kesedihan yang menimpa kita.

  1. Syukur

Dalam kitab “Madariij as-Saalikin Syarh Manaazil as-Saa’iriin” karangan Ibnu Qayyim al-Jauziah, dikatakan, “bahwa Syukur adalah kesinambungan hati untuk mencintai Sang Pemberi nikmat, kesinambungan anggota badan untuk menaati-Nya, dan kesinambungan lisan mengingat dan memuji-Nya.”

Menurut Ibnu Ujaibah dalam kitab ““Mi’raaj at-Tasyawwuf ilaa Haqaa’iq at-Tashawwuf”, “bahwa Syukur adalah kebahagiaan hati atas nikmat yang diperoleh, dibarengi dengan pengarahan seluruh anggota tubuh supaya taat kepada Sang Pemberi nikmat, dan pengakuan atas segala nikmat yang diberinya dengan rendah hati.”

Sayyid dalam kitabnya “Ta’riifaat as-Sayyid” berkata, “bahwa syukur adalah mempergunakan semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah, berupa pendengaran, penglihatan, dan lainnya sesuai tujuan penciptaannya.”

Memperhatikan tiga penjelasan di atas tentang sifat Syukur, terdapat empat hal utama yang terkandung: Pertama, kesinambungan hati dan seluruh anggota badan mencintai Allah Sang Pemberi nikmat; Kedua,pengakuan bahwa seluruh nikmat dan karunia hanya bersumber/berasal dari Allah Sang Mahakaya; Ketiga, tidak hanya harta benda, kesehatan, keimanan, dan lain-lain saja, seluruh anggota badan adalah juga nikmat dan karunia dari Allah, termasuk jiwa dan ruh untuk hidup; dan Keempat, mempergunakan seluruh nikmat dari Allah untuk kebaikan, serta untuk memuliakan dan berlaku taat kepada-Nya.

Demikian agung dan mulianya makna sifat syukur dalam Islam, oleh mayoritas ulama sifat ini dipahami sebagai sifat yang memiliki maqam tertinggi. Sifat syukur menyangkut totalitas diri dalam beriman kepada Allah dan Rasulullah. Siapapun tidak bisa menafikan tingginya kedudukan sifat syukur dalam perjalanan menuju Allah.

Berkenaan dengan Allah sebagai Sang Pemberi nikmat, Al Qur’an telah mengingatkan manusia. Dalam surat An Nahl ayat 53, Allah berfirman, “Dan nikmat apa saja yang ada pada kalian, maka dari Allah.”

Seluruh nikmat dan karunia dari Allah tidak serta merta langsung kepada seseorang. Kehadiran orang lain, atau keberadaan ciptaan-ciptaan yang lain bisa menjadi perantaranya. Karena memang Allah memberikan nikmat dan karunia kepada seorang hamba, bukan hanya untuk digunakan sendiri oleh hamba itu. Ada hak orang lain yang harus diberikan dalam penggunaan nikmat dan karunia tersebut. Demikianlah Allah mengajarkan manusia secara indah dan lembut tentang sifat saling membutuhkan dalam berbuat baik dan saling berbagi manfaat kebaikan (menyebarkan manfaat sifat Syukur).

Untuk hal ini, Rasulullah menasehati umatnya dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud: “Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.”

Nasehat Rasulullah tentang makna syukur –bersyukur atas nikmat dari Allah, sangat sederhana secara tata bahasa. Hanya satu pernyataan kalimat dengan dua penggalan anak kalimat. Tapi di balik kesederhanaan nasehat dari Rasulullah, terkandung dua mutiara hikmah dari sifat syukur. Pertama, tidak berterimakasih dan tidak menghargai kebaikan dari orang lain, adalah mengingkari nikmat Allah (kufur nikmat) dan tidak bersyukur atas nikmat Allah; dan Kedua, Allah sangat menghargai manusia yang berbuat baik dan membagi manfaat nikmat dan karunia dari-Nya kepada orang lain. Allah tidak akan menerima pernyataan rasa syukur dari seseorang, bila orang itu tidak mau berterima kasih dan menghargai kebaikan orang lain.

Saudaraku sekalian, demikian berharganya diri kita dalam pandangan Allah, Rasulullah pun akan bangga karena kita menjadi umatnya, bila kita memahami makna dan tujuan dari sifat Ikhlas, Sabar, Ridha, dan Syukur. Apalagi bila setelah kita paham, kita tekun belajar untuk menjadikannya sebagai sifat-sifat diri kita.

Tak ada yang mustahil untuk mendapatkan keempat sifat ini. Atas bantuan dan pertolongan dari Allah, ketekunan belajar untuk memahami dan melaksanakannya, kita pasti bisa memiliki keempat sifat ini sebagai perhiasan diri hidup di dunia. Wallohu a’lam.

INILAH ADAB ADAB SUAMI KEPADA ISTERINYA DALAM AJARAN ISLAM

DI DALAM MEMBANGUN RUMAH TANGGA, UMAT ISLAM HARUS SANGAT BERHATI HATI. SEHINGGA SANG SUAMI SEBAGAI KEPALA RUMAH TANGGA HARUS BENAR BENAR TAHU AKAN ADAB ATAU ETIKA DI DALAM MEMPERGAULI ISTERINYA. BERIKUT ADALAH ADAB ADAB SUAMI KEPADA ISTERINYA DI DALAM AGAMA ISLAM, SEMOGA KITA BISA MENGAMALKANYA.

  1. Suami hendaknya menyadari bahwa adalah suatu ujian dalam menjalankan agama.

Firman Allah “Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-aubah: 24)

  1. Seorang istri bisa menjadi musuh bagi suami dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya…………..

Firman Allah “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At-Taghabun: 14)

  1. Hendaknya senantiasa berdo’a kepada Allah meminta istri yang sholehah.

Firman Allah “Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (AI-Furqan: 74)

  1. Di antara kewajiban suami terhadap istri, ialah: membayar mahar, memberi nafkah (makan, pakaian, tempat tinggal), menggaulinya dengan baik, berlaku adil jika beristri lebih dari satu. (AI-Ghazali)
  1. Jika istri berbuat “Nusyuz(durhaka kepada suami dalam hal ketaatan kepada Allah)”, maka suami dibolehkan bertindak sebagai berikut secara berurutan: (a) Memberi nasehat, (b) Pisah kamar, (c) Memukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Firman Allah “…..Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya..”.(An-Nisa’: 34).
  1. Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik akhlaknya dan paling ramah terhadap istrinya/keluarganya. (Tirmudzi)
  1. Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan anaknya. Firmas Allah “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya….”.(Ath-Thalaq: 7)
  1. Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya. (Tirmidzi)
  2. Hendaklah jangan selalu mentaati istri dalam kehidupan rumah tangga. Sebaiknya terkadang menyelisihi mereka. Dalam menyelisihi mereka, ada keberkahan. (Baihaqi, Umar bin Khattab ra., Hasan Bashri)
  3. Suami hendaknya bersabar dalam menghadapi sikap buruk istrinya. (Abu Ya’la)
  1. Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang, tanpa kasar dan zhalim. Firman Allah “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata Dan bergaullah dengan mereka secara patut….”(An-Nisa’: 19)
  1. Suami wajib memberi makan istrinya apa yang ia makan, memberinya pakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menghinanya, dan tidak berpisah ranjang kecuali dalam rumah sendiri. (Abu Dawud).
  1. Suami wajib selalu memberikan pengertian, bimbingan agama kepada istrinya, dan menyuruhnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (AI-Ahzab: 34, At-Tahrim : 6, Muttafaqun Alaih)
  1. Suami wajib mengajarkan istrinya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan wanita (hukum-hukum haidh, istihadhah, dll.). (AI-Ghazali)
  1. Suami wajib berlaku adil dan bijaksana terhadap istri. Firman Allah “…jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil maka (kawinilah) seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki…..”(An-Nisa’:3)
  2. Suami tidak boleh membuka aib istri kepada siapapun. (Nasa’i)
  1. Apabila istri tidak mentaati suami (durhaka kepada suami), maka suami wajib mendidiknya dan membawanya kepada ketaatan, walaupun secara paksa. (AIGhazali)

WAKTU MUDA UNTUK BERTAUBAT KEPADA ALLOH SWT.

Waktu muda, kata sebagian orang adalah waktu untuk hidup foya-foya, masa untuk bersenang-senang. Sebagian mereka mengatakan, “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga.” Inilah guyonan sebagian pemuda. Bagaimana mungkin waktu muda foya-foya, tanpa amalan sholeh, lalu mati bisa masuk surga[?] Sungguh hal ini dapat kita katakan sangatlah mustahil. Untuk masuk surga pastilah ada sebab dan tidak mungkin hanya dengan foya-foya seperti itu. Semoga melalui risalah ini dapat membuat para pemuda sadar, sehingga mereka dapat memanfaatkan waktu mudanya dengan sebaik-baiknya. Hanya pada Allah-lah tempat kami bersandar dan berserah diri.

Wahai Pemuda, Hidup di Dunia Hanyalah Sementara

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seorang sahabat yang tatkala itu berusia muda (berumur sekitar 12 tahun) yaitu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. (Syarh Al Arba’in An Nawawiyah Syaikh Sholeh Alu Syaikh, 294). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundaknya lalu bersabda,

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ , أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

“Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416)

Lihatlah nasehat yang sangat bagus sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat yang masih berusia belia.

Ath Thibiy mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan orang yang hidup di dunia ini dengan orang asing (al ghorib) yang tidak memiliki tempat berbaring dan tempat tinggal. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan lebih lagi yaitu memisalkan dengan pengembara. Orang asing dapat tinggal di negeri asing. Hal ini berbeda dengan seorang pengembara yang bermaksud menuju negeri yang jauh, di kanan kirinya terdapat lembah-lembah, akan ditemui tempat yang membinasakan, dia akan melewati padang pasir yang menyengsarakan dan juga terdapat perampok. Orang seperti ini tidaklah tinggal kecuali hanya sebentar sekali, sekejap mata.” (Dinukil dari Fathul Bariy, 18/224)

Negeri asing dan tempat pengembaraan yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah dunia dan negeri tujuannya adalah akhirat. Jadi, hadits ini mengingatkan kita dengan kematian sehingga kita jangan berpanjang angan-angan. Hadits ini juga mengingatkan kita supaya mempersiapkan diri untuk negeri akhirat dengan amal sholeh. (Lihat Fathul Qowil Matin)

Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Apa peduliku dengan dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2551. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi)

‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu juga memberi petuah kepada kita,

ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً ، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً ، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ

“Dunia itu akan pergi menjauh. Sedangkan akhirat akan mendekat. Dunia dan akhirat tesebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal.” (HR. Bukhari secara mu’allaq –tanpa sanad-)

Manfaatkanlah Waktu Muda, Sebelum Datang Waktu Tuamu

Lakukanlah lima hal sebelum terwujud lima hal yang lain. Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir)

Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, maksudnya: “Lakukanlah ketaatan ketika dalam kondisi kuat untuk beramal (yaitu di waktu muda), sebelum datang masa tua renta.”

Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, maksudnya: “Beramallah di waktu sehat, sebelum datang waktu yang menghalangi untuk beramal seperti di waktu sakit.”

Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, maksudnya: “Manfaatklah kesempatan (waktu luangmu) di dunia ini sebelum datang waktu sibukmu di akhirat nanti. Dan awal kehidupan akhirat adalah di alam kubur.”

Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, maksudnya: “Bersedekahlah dengan kelebihan hartamu sebelum datang bencana yang dapat merusak harta tersebut, sehingga akhirnya engkau menjadi fakir di dunia maupun akhirat.”

Hidupmu sebelum datang kematianmu, maksudnya: “Lakukanlah sesuatu yang manfaat untuk kehidupan sesudah matimu, karena siapa pun yang mati, maka akan terputus amalannya.”

Al Munawi mengatakan,

فَهِذِهِ الخَمْسَةُ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلاَّ بَعْدَ زَوَالِهَا

“Lima hal ini (waktu muda, masa sehat masa luang, masa kaya dan waktu ketika hidup) barulah seseorang betul-betul mengetahui nilainya setelah kelima hal tersebut hilang.” (At Taisir Bi Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 1/356)

Benarlah kata Al Munawi. Seseorang baru ingat kalau dia diberi nikmat sehat, ketika dia merasakan sakit. Dia baru ingat diberi kekayaan, setelah jatuh miskin. Dan dia baru ingat memiliki waktu semangat untuk beramal di masa muda, setelah dia nanti berada di usia senja yang sulit beramal. Penyesalan tidak ada gunanya jika seseorang hanya melewati masa tersebut dengan sia-sia.

Orang yang Beramal di Waktu Muda Akan Bermanfaat untuk Waktu Tuanya

Dalam surat At Tiin, Allah telah bersumpah dengan tiga tempat diutusnya para Nabi ‘Ulul Azmi yaitu [1] Baitul Maqdis yang terdapat buah tin dan zaitun –tempat diutusnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam-, [2] Bukit Sinai yaitu tempat Allah berbicara langsung dengan Nabi Musa ‘alaihis salam, [3] Negeri Mekah yang aman, tempat diutus Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah bersumpah dengan tiga tempat tersebut, Allah Ta’ala pun berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At Tiin [95]: 4-6)

Maksud ayat “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” ada empat pendapat. Di antara pendapat tersebut adalah “Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya sebagaimana di waktu muda yaitu masa kuat dan semangat untuk beramal.” Pendapat ini dipilh oleh ‘Ikrimah.

“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” Menurut Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Ibrahim dan Qotadah, juga Adh Dhohak, yang dimaksudkan dengan bagian ayat ini adalah “dikembalikan ke masa tua renta setelah berada di usia muda, atau dikembalikan di masa-masa tidak semangat untuk beramal setelah sebelumnya berada di masa semangat untuk beramal.” Masa tua adalah masa tidak semangat untuk beramal. Seseorang akan melewati masa kecil, masa muda, dan masa tua. Masa kecil dan masa tua adalah masa sulit untuk beramal, berbeda dengan masa muda.

An Nakho’i mengatakan, “Jika seorang mukmin berada di usia senja dan pada saat itu sangat sulit untuk beramal, maka akan dicatat untuknya pahala sebagaimana amal yang dulu dilakukan pada saat muda. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah (yang artinya): bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”

Ibnu Qutaibah mengatakan, “Makna firman Allah (yang artinya), “Kecuali orang-orang yang beriman” adalah kecuali orang-orang yang beriman di waktu mudanya, di saat kondisi fit (semangat) untuk beramal, maka mereka di waktu tuanya nanti tidaklah berkurang amalan mereka, walaupun mereka tidak mampu melakukan amalan ketaatan di saat usia senja. Karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui, seandainya mereka masih diberi kekuatan beramal sebagaimana waktu mudanya, mereka tidak akan berhenti untuk beramal kebaikan. Maka orang yang gemar beramal di waktu mudanya, (di saat tua renta), dia akan diberi ganjaran sebagaimana di waktu mudanya.” (Lihat Zaadul Maysir, 9/172-174)

Begitu juga kita dapat melihat pada surat Ar Ruum ayat 54.

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar Ruum: 54)

Ibnu Katsir mengatakan, “(Dalam ayat ini), Allah Ta’ala menceritakan mengenai fase kehidupan, tahap demi tahap. Awalnya adalah dari tanah, lalu berpindah ke fase nutfah, beralih ke fase ‘alaqoh (segumpal darah), lalu ke fase mudh-goh (segumpal daging), lalu berubah menjadi tulang yang dibalut daging. Setelah itu ditiupkanlah ruh, kemudian dia keluar dari perut ibunya dalam keadaan lemah, kecil dan tidak begitu kuat. Kemudian si mungil tadi berkembang perlahan-lahan hingga menjadi seorang bocah kecil.

Lalu berkembang lagi menjadi seorang pemuda, remaja. Inilah fase kekuatan setelah sebelumnya berada dalam keadaan lemah. Lalu setelah itu, dia menginjak fase dewasa (usia 30-50 tahun). Setelah itu dia akan melewati fase usia senja, dalam keadaan penuh uban. Inilah fase lemah setelah sebelumnya berada pada fase kuat. Pada fase inilah berkurangnya semangat dan kekuatan. Juga pada fase ini berkurang sifat lahiriyah maupun batin. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban”.” (Tafsir Al Qur’an Al Azhim pada surat Ar Ruum ayat 54)

Jadi, usia muda adalah masa fit (semangat) untuk beramal. Oleh karena itu, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Janganlah disia-siakan.

Jika engkau masih berada di usia muda, maka janganlah katakan: jika berusia tua, baru aku akan beramal.

Daud Ath Tho’i mengatakan,

إنما الليل والنهار مراحل ينزلها الناس مرحلة مرحلة حتى ينتهي ذلك بهم إلى آخر سفرهم ، فإن استطعت أن تـُـقدِّم في كل مرحلة زاداً لما بين يديها فافعل ، فإن انقطاع السفر عن قريب ما هو ، والأمر أعجل من ذلك ، فتزوّد لسفرك ، واقض ما أنت قاض من أمرك ، فكأنك بالأمر قد بَغَـتـَـك

Sesungguhnya malam dan siang adalah tempat persinggahan manusia sampai dia berada pada akhir perjalanannya. Jika engkau mampu menyediakan bekal di setiap tempat persinggahanmu, maka lakukanlah. Berakhirnya safar boleh jadi dalam waktu dekat. Namun, perkara akhirat lebih segera daripada itu. Persiapkanlah perjalananmu (menuju negeri akhirat). Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Tetapi ingat, kematian itu datangnya tiba-tiba. (Kam Madho Min ‘Umrika?, Syaikh Abdurrahman As Suhaim)

Semoga maksud kami dalam tulisan ini sama dengan perkataan Nabi Syu’aib,

إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud [11]: 88)

Semoga Allah memperbaiki keadaan segenap pemuda yang membaca risalah ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka ke jalan yang lurus..

MENDAPATKAN RIZQI ITU DENGAN TIDAK TERGESA GESA DAN PERTOLONGAN ALLOH SWT.

Jika kita bersabar,maka rizqi akan mendatangi kita dengan sendirinya tanpa susah payah

Syair karya syaikh Zubair Dahlan

لا تعجلن فليس الرزق بالعجل …… الرزق يأتي بــــــــلا ريب مع الأجل

فلو صبرتم لكان الرزق يأتيكم …… لكــــــــــــــنه خلق الإنسان من عجل

Janganlah engkau tergesa-gesa, karena rizki itu tidak dapat diraih dengan tergesa-gesa Rizki akan datang tanpa keraguan seiring berjalannya waktu andaikan engkau mau bersabar, niscaya rizki akan mendatangimu, akan tetapi Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.

Dalam kisah Nabi Adam AS

بدائع الزهور في وقائع الدهور ص: 41، بترقيم الشاملة آليا

فلما زرع آدم نبت فى الحال وأسبل وأدرك القمح من يومه فعلمه جبرائيل كيف يحصد فحصد ودرس وذرى فى الهواء فقال آدم لجبرائيل آكل فقال اصبر ثم قطع من الجبل حجرين فطحن بهما فلما صار دقيقا قال آدم آكل فقال اصبر ثم مضى وأناه بشرارة نار من نار جهنم بعد أن غمسها فى الماء سبع مرات ولولا ذلك لأحرقت الأرض ومن عليها ثم ان جبرائيل علمه كيف يخبزفخبزثم قال لجبرائيل آكل فقال اصبر حتى تغرب الشمس فيتم لك الصوم فكان آدم أول من صام على وجه الأرض فلما غربت الشمس ووضع آدم الرغيف بين يديه ومد يده ليأخذ من الرغيف لقمة فر الرغيف من بين يديه وسقط من أعلى الجبل فتبعه آدم وأخذه فقال له جبرائيل لو صبرت لأتاك الرغيف من غير أن تقوم اليه

Saat nabi adam menanam seketika itu jadi tumbuh dan bertangkai dan timbullah gandum dihari itu juga lalu jibril mengajarkan untuk menunainya, maka ­ ditunailah gandum tersebut dengan seksama dan ditampi (disiliri..jawa­) melalui angin (ditiupkan angin agar bersih) adam berkata apakah boleh aku makan sekarang ? jibril menjawab, tunggu ­ dulu. Kemudian jibril membelah 2 batu gunung lalu menggiling gandum tersebut dengan ke 2 batu itu sehingga menjadi tepung lalu adam berkata,apakah aku sudah bisa memakannya sekarang? jibril menjawab, sabarl­ah, lalu jibril pergi dan mendatangkan secuil api dari jahannam setelah dicelupkan air selama 7x, jika tidak demikian maka bumi seisinya bisa terbakar.

Kemudian jibril mengajarkan cara membuat roti,setelah jadi roti,adam bertanya pada jibril,apakah aku sudah bisa memakannya? jibril menjawab, tunggu­ dulu sampai matahari terbenam maka jadi sempurna untukmu berpuasa nabi adam adalah manusia yang pertama kali melakukan puasa dimuka bumi ini ketika matahari sudah terbenam dan adam meletakkan roti itu dihadapannya lalu adam mengulurkan tangannya untuk mengambil secuil dari roti tersebut,

maka rotinya lari dan jatuh dari atas gunung lalu adam mengejar dan mengambilnya kembali lalu jibril berkata pada adam, seumpama kamu mau bersabar maka roti tersebut akan mendatangimu sendiri tanpa kamu kejar.

الكتاب: بدائع الزهور في وقائع الدهور

المؤلف: جلال الدين عبد الرحمن بن أبي بكر السيوطي

 

PERTOLONGAN ALLOH SWT.

حَدَّثَنَا أَبُو حَازِمٍ الْحَافِظُ، أَخْبَرَنِي أَبُو مَنْصُورٍ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ الْأَزْهَرِيُّ قَالَ: سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْحَاقَ السَّعْدِيَّ يَقُولُ: سَمِعْتُ عَلِيَّ بْنَ خَشْرَمٍ يَقُولُ: كَثِيرًا مَا كَانَ ابْنُ عُيَيْنَةَ يَقُولُ: ” تَوْفِيقٌ قَلِيلٌ خَيْرٌ مِنْ عِلْمٍ كَثِيرٍ ”

pertolongan allah ( taufiq) yang sedikit itu lebih baik dari pada ilmu yang banyak

 أَخْبَرَنَا أَبُو سَعْدٍ الْمَالِينِيُّ، حدثنا أَبُو مُحَمَّدٍ الْحَسَنُ بْنُ أَحْمَدَ الْمُؤَدِّبُ بِتُسْتَرَ قَالَ: سَمِعْتُ عَلِيَّ بْنَ الْحُسَيْنِ بْنِ إِسْحَاقَ يَقُولُ: سَمِعْتُ سَهْلَ بْنَ عَبْدِ اللهِ بْنِ يُونُسَ الزَّاهِدَ يَقُولُ: ” مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ فَلْيَكْتُبِ الْحَدِيثَ، فَإِنَّ فِيهِ مَنْفَعَةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ”

الكتاب: شعب الإيمان ج 3 ص 307
المؤلف: أحمد بن الحسين بن علي بن موسى الخُسْرَوْجِردي الخراساني، أبو
بكر البيهقي (المتوفى: 458هـ

Berkata Sahal bin Abdullah bin Yunus az Zahid : Barang siapa yang menginginkan (balasan) dunia dan akhirat maka hendaklah kamu menulis hadist maka sesungguhnya dengan menulis hadist itu membawa kemanfaatan di dunia dan akhirat.

NABI SAW SAJA MENANGIS DENGAN DI SIKSANYA KAUM WANITA DI NERAKA.

 Durrotun nashikhin hal 44

Dari Sayyidina Ali Ra beliau berkata, aku berkunjung kepada Nabi S.A.W bersama Fatimah

Ra. Sampai dirumah beliau, kujumpai sedang menangis terisak isak, Aku

bertanya: ”Bapak dan Ibuku menjadi tebusan atas kesedihanmu, wahai

Rasulullah, apa sebenarnya yang menyebabkan engkau menangis seperti

itu?”.

Rasulullah menjawab: ”Hai Ali pada malam ketika aku di isra’kan

kelangit, kulihat berbagai macam kaum wanita dari umatku di siksa dineraka

dengan berbagai macam siksaan, Melihat hal itu aku menangis lantaran

beratnnya siksaan yang di timpakan kepada mereka.

Aku melihat ada wanita

yang digantung dengan rambutnya dimana otaknya mendidih.

Aku melihat lagi wanita yang di gantung dengan lidahnya, sementara air yang

mendidih dituangkan ke tenggorokannya.

Aku juga melihat wanita yang

kedua kakinya dipasung hingga susu dan kedua tangannya terbelenggu pada

ubun-ubunnya. Sementara Allah memerintah ular dan kalajenging untuk

menyiksanya.

Aku juga melihat wanita yang digantung dengan kedua

susunya. Aku melihat pula wanita berkepala babi dan berbadan keledai, ia

mengalami beribu-ribu siksaan.

Aku melihat wanita yang berbentuk(berupa) anjing, sementara api neraka

membakar dirinya masuk melalui lubang mulutnya dan keluar melalui

duburnya, sementara para malaikat memukulimya dengan godam yang

panas.

Mendengar semua itu Fatimah Az Zahra bangkit seraya berkata: ”Wahai

Kekasihku dan permata hatiku, sesungguhnya perbuatan apakah yang

pernah dilakukan mereka, hingga mengalami siksaan seperti itu?”.

Rasulullah menjawab: ”Wahai putriku perempuan yang digantung

menggunakan rambutnya sendiri adalah disebabkan ia tidak menutup

rambutnya dari pandangan lelaki lain.

Perempuan yang di gantung

menggunakan lidahnya disebabkan ia suka menyakiti hati suaminya.

Perempuan yang digantung menggunakan kedua susunya disebabkan ia

mengotori tempat tidur suaminya (dia bersetubuh dengan lelaki lain).

Perempuan yang dipasung kedua kakinya pada kedua susu dan kedua

tangannya dirantai keubun-ubunnya, sementara Allah memerintah ular dan

kalajengking untuk menyiksanya, disebabkan dia tidak mandi jinabat, tidak

mandi setelah haid danmeremehkan sholat

Perempuan yang berkepala babi

dan berbadan keledai sesungguhnya perempuan itu suka mengadu-adu lagi

pendusta.

Adapun perempuan yang berbentuk anjing sementara api membakar dirinya

masuk melalui mulut dan keluar melalui duburnya, sesungguhnya disebabkan

dia perempuan yang suka mengungkit ungkit (pemberian kepada

suaminya)lagi berhati dengki. Wahai putriku, celaka sekali istri yang

bermaksiat (durhaka) kepada suaminya”.

BETAPA ISTIMEWANYA MENUNJUKAN DAN MENGAJARKAN KEBAIKAN

Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam bersabda ;

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barang siapa yang menunjukkan pada suatu kebajikan, maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana orang yang mengerjakannya”. ( Shohih Muslim, No.1893 ).

Imam Nawawi mengatakan ; ” Hadits ini menunjukkan tentang keutamaan mengajak kepada kebaikan, mengingatkan kebaikan dan menolong orang yang mengerjakan kebaikan. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan mengajarkan lmu agama dan cara-cara beribadah, terutama bagi orang yang akan mengamalkan suatu ibadah”.

Imam Al-Qurthubi berpendapat bahwasanya orang yang menunjukkan kebaikan pada orang lain akan mendapatkan pahala yang sama sebagaimana yang didapatkan oleh orang yang ia tunjukkan pada kebaikan tersebut, begitupula ia akan mendapatkan kelipatan pahala seperti yang didapatkan orang yang mengerjakan kebaikan tersebut. Alasannya karena pahala yang diberikan kepada seseorang bisa dberikan oleh Alloh kepada sapa saja yang DIA kehendaki dan dengan cara apapun apalagi jika dikerjakan dengan niat yang tulus. Beliau menambahkan bahwa hal ini berlakubagi setiap amal perbuatanyang menyerupai hal diatas, seperti yang dijelaskan dalam hadits Nabi yang lain ;

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barangsiapa memberi buka orang puasa, maka dia mendapatkan pahala seperti orang puasa, tidak dikurangi sedikitpun pahala orang yang puasa.” ( Sunan Tirmidzi, No.807 )

Sedangkan maksud dari kata “khoir” (kebaikan) dalam hadits tersebut mencakup segala macam kebaikan, baik itu kebaikan yang berkenaan dengan urusan-urusan duna maupun kebaikan yang berkaitan dengan urusan-urusan akhirot sebagaimana dijelaskan oleh Syekh As-Shon’ani.

Referensi :

  1. Syarah Nawawi Ala Muslim, Juz : 13 Hal : 39
  2. Syarah As-Suyuthi Ala Muslim, Juz : 4 Hal : 490
  3. Subulus Salam Syarah Bulughul Marom, Juz : 2 Hal : 639

Syarah Nawawi Ala Muslim, Juz : 13 Hal : 39

وحدثنا أبو بكر بن أبي شيبة، وأبو كريب، وابن أبي عمر، واللفظ لأبي كريب، قالوا: حدثنا أبو معاوية، عن الأعمش، عن أبي عمرو الشيباني، عن أبي مسعود الأنصاري، قال: جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم، فقال: إني أبدع بي فاحملني، فقال: «ما عندي»، فقال رجل: يا رسول الله، أنا أدله على من يحمله، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «من دل على خير فله مثل أجر فاعله

من دل على خير فله مثل أجر فاعله) فيه فضيلة الدلالة على الخير والتنبيه عليه والمساعدة لفاعله وفيه فضيلة تعليم العلم ووظائف العبادات لاسيما لمن يعمل بها من المتعبدين وغيرهم

Syarah As-Suyuthi Ala Muslim, Juz : 4 Hal : 490

قال النووي المراد أن له ثوابا كما لفاعله ثوابا ولا يلزم أن يكون قدر ثوابهما سواء انتهى وذهب بعض الأئمة إلى أن المثل المذكور في هذا الحديث ونحوه إنما هو بغير تضعيف واختار القرطبي أنه مثله سواء في القدر والتضعيف قال لأن الثوا ب على الأعمال إنما هو بفضل من الله فيهبه لمن يشاء على أي شيء صدر منه خصوصا إذا صحت النية التي هي من أصل الأعمال في طاعة عجز عن فعلها لمانع منعه منها فلا بعد في مساواة أجر ذلك العاجز لأجر القادر الفاعل أو يزيد عليه قال وهذا جار في كل ما ورد مما يشبه ذلك كحديث من فطر صائما فله مثل أجره

Subulus Salam Syarah Bulughul Marom, Juz : 2 Hal : 639

ولفظ خير يشمل الدلالة على خير الدنيا والآخرة فلله در الكلام النبوي

 

TAAT PADA SUAMI YANG SHOLEH ADALAH KUNCI SURGA WANITA MUSLIMAH

Suatu ketika Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah SAW bertanya kepada ayahandanya, “Ayahanda, siapa wanita pertama yang akan masuk surga ?”

Rasulullah SAW menjawab,”Muti’ah.”

Siapakah Muti’ah? Karena rasa penasaran yang tinggi, Siti Fatimah pun mencari seorang wanita yang bernama Muti’ah ketika itu. Beliau juga ingin tahu, amal apakah yang bisa membuat wanita itu bisa masuk surga pertama kali?

Setelah bertanya-tanya, akhirnya Siti Fatimah mengetahui rumah seorang wanita yang bernama Muti’ah. Kali ini ia ingin bersilaturahmi ke rumah wanita tersebut, ingin melihat lebih dekat kehidupannya. Waktu itu, Siti Fatimah berkunjung bersama dengan anaknya yang masih kecil, Hasan. Setelah mengetuk pintu, terjadilah dialog.

“Di luar, siapa?” kata Muti’ah tidak membukakan pintu.

“Saya Fatimah, putri Rasulullah”

“Oh, iya. Ada keperluan apa?”

“Saya hanya berkunjung saja”

“Anda seorang diri atau bersama dengan lainnya?”

“Saya bersama dengan anak saya, Hasan?”

“Maaf, Fatimah. Saya belum mendapatkan izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki”

“Tetapi Hasan masih anak-anak”

“Walaupun anak-anak, dia lelaki juga kan? Maaf ya. Kembalilah besok, saya akan meminta izin dulu kepada suami saya”

“Baiklah” kata Fatimah. Setelah mengucapkan salam, ia pun pergi.

Keesokan harinya, Siti Fatimah kembali berkunjung ke rumah Muti’ah. Selain mengajak Hasan, ternyata Husein (saudara kembar Hasan) merengek meminta ikut juga. Akhirnya mereka bertiga pun berkunjung juga ke rumah Muti’ah.

Terjadilah dialog seperti hari kemarin.

“Suami saya sudah memberi izin bagi Hasan”

“Tetapi maaf, Muti’ah. Husein ternyata merengek meminta ikut. Jadi saya ajak juga!”

“Dia perempuan?” “Bukan, dia lelaki”

“Wah, saya belum memintakan izin bagi Husein.”

“Tetapi dia juga masih anak-anak” “Walaupun anak-anak, dia juga lelaki. Maaf ya. Kembalilah esok!”

“Baiklah” Kata Siti Fatimah.

Namun rasa penasarannya demikian besar untuk mengetahui, rahasia apakah yang menyebabkan wanita yang akan dikunjunginya tersebut diperkanankan masuk surga pertama kali. Akhirnya hari esok pun tiba. Siti Fatimah dan kedua putranya kembali mengunjungi kediaman Mutiah. Karena semuanya telah diberi izin oleh suaminya, akhirnya mereka pun diperkenankan berkunjung ke rumahnya. Betapa senangnya Siti Fatimah karena inilah kesempatan bagi dirinya untuk menguak misteri wanita tersebut.

Menurut Siti Fatimah, wanita yang bernama Muti’ah sama juga seperti dirinya dan umumnya wanita. Ia melakukan shalat dan lainnya. Hampir tidak ada yang istimewa. Namun, Siti Fatimah masih penasaran juga. Hingga akhirnya ketika telah lama waktu berbincang, “rahasia” wanita itu tidak terkuak juga. Akhirnya, Muti’ah pun memberanikan diri untuk memohon izin karena ada keperluan yang harus dilakukannya.

“Maaf Fatimah, saya harus ke ladang!”

“Ada keperluan apa?”

“Saya harus mengantarkan makanan ini kepada suami saya”

“Oh, begitu”

Tidak ada yang salah dengan makanan yang dibawa Muti’ah yang disebut-sebut sebagai makanan untuk suaminya. Namun yang tidak habis pikir, ternyata Muti’ah juga membawa sebuah cambuk.

“Untuk apa cambuk ini, Muti’ah?” kata Fatimah penasaran.

“Oh, ini. Ini adalah kebiasaanku semenjak dulu” Fatimah benar-benar penasaran. “Ceritakanlah padaku!” “Begini, setiap hari suamiku pergi ke ladang untuk bercocok tanam. Setiap hari pula aku mengantarkan makanan untuknya. Namun disertai sebuah cambuk. Aku menanyakan apakah makanan yang aku buat ini enak atau tidak, apakah suaminya seneng atau tidak. Jika ada yang tidak enak, maka aku ikhlaskan diriku agar suamiku mengambil cambuk tersebut kemudian mencambukku. Ini aku lakukan agar suamiku ridlo dengan diriku. Dan tentu saja melihat tingkah lakuku ini, suamiku begitu tersentuh hatinya. Ia pun ridlo atas diriku. Dan aku pun ridlo atas dirinya”

“Masya Allah, demi menyenangkan suami, engkau rela melakukan hal ini, Muti’ah?”

“Saya hanya memerlukan keridloannya. Karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada suami yang baik dan sang suami ridlo kepada istrinya”

“Ya… ternyata inilah rahasia itu”

“Rahasia apa ya Fatimah?” Muti’ah juga penasaran.

“Rasulullah Saw mengatakan bahwa dirimu adalah wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali. Ternyata semua gara-gara baktimu yang tinggi kepada seorang suami yang sholeh.” Subhanallah.

Wallohu a’lam.

TUNTUNAN AKHLAK BAGI ORANG YANG KAYA RAYA

Kekayaan, betapapun kerasnya cara kita mendapatkannya, adalah anugerah Allah. Karena anugerah, ia harus diperlakukan sesuai dengan aturan-aturan Sang Pemberi Anugerah. Orang tak bisa seenaknya berbuat dengan hartanya meskipun ia mengklaim itu hasil jerih payahnya sendiri. Sebab, setiap yang dimiliki manusia terkandung tanggung jawab yang harus dipikul. Sikap etis dalam memiliki kekayaan termasuk dari implementasi tanggung jawab tersebut.

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali menjelaskan etika menjadi orang kaya dalam salah satu risalahnya berjudul Al-Adabu fid Dîn, persisnya dalam fasal Âdâbul Ghanî (dalam Majmû‘ Rasâil al-Imâm al-Ghazâlî, Kairo: al-Maktabah at-Taufîqiyyah). Imam Al-Ghazali mengulas beberapa poin penting yang harus dilakukan oleh orang berpunya.

Pertama, selalu bersikap tawaduk (luzûmut tawadlu’). Kedua, menghapus sikap sombong (nafyut takabbur). Orang yang memiliki kelebihan, termasuk kelebihan harta benda, diharuskan untuk melestarikan sifat rendah hati, tidak angkuh, terhadap orang lain baik miskin maupun kaya seperti dirinya. Sifat ini bisa muncul jika si kaya menginsafi bahwa kekayaan hanyalah titipan atau sekadar amanat.

Ketiga, senantiasa bersyukur (dawâmusy syukr). Lawan dari syukur adalah kufur alias mengingkari kekayaan sebagai karunia yang sangat berharga. Kufur biasanya dipicu oleh sifat tamak, tak puas dengan apa yang sedang dimiliki.

Keempat, terus bekerja untuk kebajikan (at-tawâshul ilâ a‘mâlil birr).Di antara modal orang kaya yang tak dimiliki orang miskin adalah kekuatan ekonomi. Karena itu hendaknya kekuatan ini dimanfaatkan untuk kemaslahatan orang lain, bukan dibiarkan menumpuk, bukan pula untuk kegiatan mubazir atau yang menimbulkan mudarat.

Kelima, menunjukkan air muka yang berseri-seri kepada orang fakir dan gemar mengunjunginya (al-basyâsyah bil faqîr wal iqbâl ‘alaihi). Sikap ini adalah bukti bahwa si kaya tak membedakan pergaulan berdasarkan status ekonomi seseorang.

Keenam, menjawab salam kepada siapa saja (raddus salâm ‘alâ kulli ahadin). Orang kaya juga dituntut untuk membalas sapaan yang datang dari setiap orang, terlepas dari latar belakang keturunan, kekayaan, status sosial, profesi, dan lain-lain. Manusia memang diciptakan setara dan sama-sama mulia, dan demikianlah seharusnya tiap orang saling bersikap.

Ketujuh, menampakkan diri sebagai orang yang berkecukupan (idh-hârul kifâyah). Artinya, orang kaya tak sepatutnya bersikap memelas atau menunjukkan tanda-tanda sebagai orang yang butuh bantuan. Tentu ini berbeda dari sikap hidup sederhana, yang menjadi lawan dari berfoya-foya dan terlalu bermewah-mewahan.

Kedelapan, lembut dalam bertutur dan berperangai ramah (lathâfah al-kalimah wa thîbul muânasah). Artinya, tidak mentang-mentang kaya dan bisa melakukan banyak hal dengan kekuatan ekonominya, orang kaya lantas boleh berbuat apa saja, termasuk berkata kasar dan merendahkan orang lain.

Kesembilan, suka membantu untuk kepentingan-kepentingan yang positif (al-musâ‘adah ‘alal khairât). Contah dari sikap ini adalah bersedekah, membangun fasilitas umum, memberi bantuan modal usaha, menanggung biaya pendidikan orang miskin, dan lain-lain.

PERSAHABATAN DALAM ISLAM

Salah satu nikmat Ilahi yang Allah berikan kepada manusia adalah rasa sosial dan kebutuhan untuk bergaul dengan orang lain dan menjalin hubungan persahabatan dengan anggota masyarakat. Orang yang memiliki teman yang baik dan memanfaatkan hubungan itu dengan benar dan logis akan memiliki kehidupan individu dan sosial yang lebih baik.

Anda tentunya memiliki kawan untuk berbicara, berbagi perasaan, saling menasehati dan saling membantu di kala susah. Sebagian orang punya kelebihan yang bisa menjalin hubungan persahabatan dengan banyak kawan sementara sebagian yang lain hanya puas dengan memiliki beberapa orang teman yang jumlahnya tak lebih dari hitungan jari. Tentunya, di antara kawan yang kita miliki adalah yang punya hubungan sangat dekat dan siap membantu dengan tulus saat kita mendapat kesusahan dan masalah.

Islam memandang persahabatan sebagai nilai yang agung dan menentukan dalam nasib dan kehidupan seseorang. Karena itu, baik Nabi Saw maupun para Imam Maksum Ahlul Bait dalam banyak kesempatan menekankan untuk memilih sahabat dan kawan dengan benar. Misalnya dalam hadis Nabi disebutkan bahwa beliau bersabda, “Manusia beragama seperti sahabatnya. Karena itu, hendaknya dia teliti dengan siapa dia menjalin persahabatan.” Hadis ini menerangkan sejauh mana pengaruh seorang kawan sehingga bisa mempengaruhi keberagamaan sahabatnya. Dalam hadis disebutkan,

“Sahabat yang baik lebih baik dari kesendirian dan kesendirian lebih baik dari sahabat yang buruk.”

Islam menekankan kepada kita untuk teliti dalam memilih kawan dan sahabat. Oleh karena itu, kecintaan kepada seseorang tidak lantas meniscayakan jalinan persahabatan. Sebab, untuk bersahabat kita harus melihat dengan teliti darimana munculnya kecintaan itu dan apakah orang tersebut layak untuk dijadikan sahabat.Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata,

“Orang yang menjalin persahabatan setelah teliti dalam memilih sahabat, maka persahabatannya akan langgeng dan kokoh.”

Dari hadis tadi dapat difahami bahwa persahabatan yang dijalin tanpa dasar pemikiran yang benar akan berakhir buruk .

Kini yang menjadi pertanyaan, menurut Islam kriteria apakah yang mesti dimiliki sahabat yang baik? Menurut Islam, salah satu kriteria terpenting adalah kematangan orang dalam bernalar dan mengambil sikap yang logis dalam semua hal. Sahabat yang seperti ini adalah penasehat yang bisa dipercaya yang mencegah sahabatnya dari kesalahan. Banyak riwayat dan hadis yang menekankan untuk memilih sahabat yang bijak dan berakal. Diantaranya adalah hadis dari Imam Ali (as). Beliau berkata,

“Bersahabat dengan orang yang arif dan bijak akan menghidupkan jiwa dan ruh.”

Hadis ini mengisyaratkan bahwa orang yang berakal adalah orang yang pandai bersikap. Orang yang demikian jelas akan mencegah sahabatnya dari perbuatan yang salah. Sementara, orang yang dungu dan bodoh justeru akan membuat malu orang lain karena perkataan, sikap dan perbuatannya.

Kriteria lain adalah akhlak dan budi pekerti yang baik. Menurut ajaran Islam, sahabat yang baik mesti memiliki akhlak yang baik dan jiwa yang bersih. Sebab, orang yang berperangai buruk akan mudah melakukan kejahatan, keburukan dan kesalahan. Dalam al-Qur’an al-Karim, Allah Swt mengingatkan kita untuk tidak memilih kawan yang jahat, buruk, dan pendosa.

Ayat 28 dan 29 surat al-Furqan menjelaskan kisah kawan yang buruk di hari kiamat kelak. Disebutkan di ayat itu bahwa seseorang yang berada di neraka menyesali karena salah memilih sahabat dan mengatakan, “Andai saja aku tidak menjadikan si Polan itu sahabatku. Dia telah mencegahku dari mengikuti kebenaran yang sebenarnya telah sampai kepadaku.”

Para pakar psikologi telah melakukan berbagai penelitian luas mengenai persahabatan. Mereka meyakini bahwa kawan dan sahabat di masa muda punya pengaruh besar dibanding sahabat yang dimiliki orang pada periode usia yang lain. sebab sahabat di masa muda punya peran besar dalam membentuk pemikiran dan agenda hidup seseorang. Para psikolog berpendapat bahwa secara kejiwaan, anak muda sangat mudah dipengaruhi dan salah satu yang punya pengaruh besar terhadapnya adalah sahabat. Islam mengenal dengan baik kriteria masa muda ini sehingga menekankan kepada pengikutnya untuk berhati-hati dan teliti dalam memilih kawan.

Mengenai persahabatan dengan orang yang tidak baik, Imam Ali (as) berkata,

“Bersahabat dengan orang yang durjana akan mengakibatkan kesengsaraan tak ubahnya seperti angin yang menyapu bangkai dan menyebarkan bau busuk bersamanya.”

Riwayat ini mengingatkan kita akan bahaya dan kerugian yang ditimbulkan oleh persahabatan dengan orang-orang jahat. Orang mungkin akan menjaga diri untuk tidak terpengaruh dengan perbuatan buruk mereka. Tetapi dia tetap tak bisa melepas diri dari imbas persahabatan ini yang hanya menghadiahkan cela baginya di tengah masyarakat. Mungkin orang akan mengatakan bahwa dia bisa menjaga diri meski berkawan dengan orang-orang jahat dan pendosa. Tapi satu hal yang perlu diingat adalah bahwa manusia bukanlah batu atau kayu mati yang sama sekali tidak tepengaruh oleh perbuatan, perkataan dan sifat orang lain yang ada di sekitarnya. Semua itu akan berpengaruh pada diri kita tanpa kita sadari.

Kriteria lain dari sahabat yang baik menurut Islam adalah orang yang setia dengan tali persahabatan.

Imam Sadiq (as) dalam sebuah riwayat menjelaskan hal itu dalam sebuah ungkapan indah. Beliau berkata, “Berkawan ada batasnya. Siapa saja yang menjaga batasan itu berarti dia adalah sahabat yang benar. Jika tidak, jangan bersahabat dengannya.”

Beliau lalu menjelaskan batas-batas persahabatan dan berkata,

“Batasan-batasan persahabatan adalah; Pertama, dia mesti bersikap sama baik didepanmu maupun dibelakangmu (Yakni menjaga kejujuran dan persahabatan). Kedua, menganggap kebaikanmu sebagai kebaikannya dan celamu sebagai celanya. Ketiga, tidak mengubah perilaku ketika dia mendapat kedudukan atau harta. Keempat, jika memiliki harta, dia tak akan pernah segan membantumu. Kelima, tidak membiarkanmu seorang diri kala engkau ditimpa masalah dan kesulitan.”

Kriteria berikutnya dari seorang sahabat yang baik adalah kesesuaiannya dengan kita. Sahabat yang baik adalah orang yang sederajat dengan kita dalam hal materi, kedudukan sosial, dan pemikiran.

Imam Muhammad Baqir (as) berkata, “Bersahabatlah dengan orang yang sederajat denganmu. Jangan engkau bersahabat dengan orang yang menjaminmu sebab hal itu akan mengakibatkan kehinaan dan kerendahan bagimu.”

Hadis ini mengingatkan kita akan harga diri manusia. Mungkin orang akan senang bersahabat dengan orang yang lebih kaya yang bisa membantunya secara finansial. Tapi sebenarnya persahabatan ini hanya akan membuatnya hina dan rendah di mata sahabatnya yang kaya.

Kriteria lain dari sahabat yang baik adalah kesabaran.

Imam Ali (as) berkata, “Bersahabatlah dengan orang yang penyabar, dengan begitu engkau bisa belajar meningkatkan kesabaranmu.”

Hadis ini menjelaskan pengaruh sahabat yang penyabar. Orang yang penyabar akan mudah merendahkan hati ketika muncul masalah dalam persahabatan. Dia akan mudah memaafkan kesalahan sahabatnya. Perselisihan yang mungkin muncul antara dia dengan kawannya tidak akan mudah merusak persahabatan. Tapi bagaimanakah kriteria orang yang penyabar?

Imam Sadiq (as) menjelaskan, “Orang yang marah kepadamu sampai tiga kali tapi tak pernah mengucapkan kata-kata buruk terhadapmu, maka ia layak engkau jadikan sahabat.”

Sampai disini kita sudah membicarakan beberapa kriteria sahabat yang baik menurut ajaran Islam. Ada baiknya kita juga mengenal kriteria-kriteria orang yang tidak layak dijadikan kawan. Ada banyak riwayat yang menjelaskan hal ini.

Salah satu riwayat yang terbaik dalam hal ini adalah hadis Imam Sajjad (as). Beliau berkata, “Anakku, cermatilah lima kelompok manusia yang tidak layak bagimu untuk bersahabat dengan mereka, berbicara dengan mereka dan berjalan bersama mereka.

Hindari persahabatan dengan orang pendusta. Sebab dia ibarat fatamorgana yang menampakkan hal yang dekat seakan jauh dan hal yang jauh seakan dekat. Jangan kau berkawan dengan orang pendosa sebab dia siap menjualmu dengan imbalan sesuap makanan atau lebih sedikit dari itu.

Jangan berkawan dengan orang yang kikir, sebab dia akan meninggalkanmu ketika engkau memerlukannya. Jauhi persahabatan dengan orang yang bodoh sebab dia akan merugikan dirimu ketika berniat melakukan kebaikan untukmu.

Jauhilah pula orang yang memutuskan tali kekerabatan sebab aku dapatkan al-Qur’an telah mengutuknya.

7 macam persahabatan

   “Ta’aruffan” , adalah persahabatan yang terjalin karena pernah berkenalan secara kebetulan, seperti pernah bertemu di kereta api, halte, rumah sakit, kantor pos, ATM, bioskop dan lainnya.

   “Taariiihan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor sejarah, misalnya teman sekampung, satu almamater, pernah kost bersama, diklat bersama dan sebagainya.

   “Ahammiyyatan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor kepentingan tertentu, seperti bisnis, politik, boleh jadi juga karena ada maunya dan sebagainya.

   “Faarihan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor hobbi, seperti teman futsal, badminton, berburu, memancing, dan sebagainya.

   “Amalan”, adalah persahabatan yang terjalin karena satu profesi, misalnya sama-sama dokter, guru, dan sebagainya.

   “Aduwwan”, adalah seolah sahabat tetapi musuh, didepan seolah baik tetapi sebenarnya hatinya penuh benci, menunggu, mengincar kejatuhan sahabatnya, “Bila engkau memperoleh nikmat, ia benci, bila engkau tertimpa musibah, ia senang” (QS 3:120).

Rasulullah mengajarkan doa”, Allahumma ya Allah selamatkanlah hamba dari sahabat yang bila melihat kebaikanku ia sembunyikan, tetapi bila melihat keburukanku ia sebarkan.”

   “Hubban Iimaanan”, adalah sebuah ikatan persahabat yang lahir batin, tulus saling cinta & sayang karena ALLAH, saling menolong, menasehati, menutupi aib sahabatnya, memberi hadiah, bahkan diam2 dipenghujung malam, ia doakan sahabatnya.

Boleh jadi ia tidak bertemu tetapi ia cinta sahabatnya karena Allah Ta’ala.

Dari ke 7 macam persahabatan diatas, 1 – 6 akan sirna di Akhirat. yang tersisa hanya ikatan persahabatan yg ke 7, yaitu persahabatan yg dilakukan krn Allah (QS 49:10),

“Teman2 akrab pada hari itu (Qiyamat) menjadi musuh bagi yg lain, kecuali persahabatan krn Ketaqwaan” (QS 43:67). Selalu saling mengingatkan dlm kebaikan dan kesabaran..

BERAKHLAK KEPADA GURU ADALAH HARGA MATI SI MURID

Etika merupakan sebuah gambaran dari sebuah perkataan, pekerjaan, dan perbuatan yang baik. Setiap orang yang ber-etika akan menjadi orang terpuji, Etika itu sendiri penerapannya secara kontinyu kepada siapapun dan kapanpun khususnya kepada orang orang yang lebih mulia dari kita.

Pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan tentang kisah tragis dari seorang yang sangat pandai namun ia tidak memiliki Etika kepada gurunya sendiri. Kisah ini saya dapatkan dari guru saya Syidi Syeikh Muhammad bin Ali Ba’atiyah beliau dari gurunya Al Allamah Al Habib Abdullah bin Shodiq Al Habsyi, beliau dari gurunya Al Allamah Al Habib Abdullah bin Umar As Syatiri sekaligus beliau tokoh yang dimaksud dalam cerita ini.

Dikisahkan di Tarim Yaman terdapat suatu pesantren yang bernama “Rubath Tarim”, pesantren ini telah melahirkan puluhan ribu Ulama’ yang tersebar diseluruh dunia. disana para santri diajarkan berbagai macam ilmu, khususnya spesifikasi Ilmu Fiqh sebagai keunggulannya.

Di pesantren itu pula ada seorang santri anggap saja namanya “Fulan”, si Fulan ini merupakan seorang santri yang sangat cerdas, kuat hafalannya, tangkas dan rajin hingga dikatakan bahwa ia menjadi santri yang sudah mencapai derajat Mufti saking pintarnya. ia juga hafal semua mas’alah fiqhiyah yang terdapat dalam kitab “Tuhtatul Muhtaj” sebuah kitab yang tebalnya 13 tiga belas jilid.

Kesehariannya di pesantren, si Fulan ini disukai oleh teman temannya sebab ia dibutuhkan oleh rekannya untuk menjelaskan pelajaran yang belum difahami serta mengajar kitab kitab lainnya. 13 tahun menjadi santri Rubath Tarim tentu saja hampir dipastikan kapasitasnya ia termasuk Ulama’ besar. Namanya pun tersohor hingga keluar pesantren bahwa ia termasuk calon Ulama besar yang akan muncul berikutnya.

Hingga akhirnya Syetan mengelabuhi si fulan, iapun merasa orang yang paling Alim, bahkan ia merasa kualitas dirinya sejajar dengan kealiman guru besarnya. Tidak cukup sampai disitu, kesombongan itu berlanjut hingga ia berani memanggil gurunya dengan namanya saja; “Ya Abdullah / Duhai Abdullah”!!!. Dimata para Ahli ilmu hal ini sungguh ini tindakan yang sangat sangat tercela dan kesombongan yang nyata.

Melihat kesombongan si fulan, Al Habib Abdullah As Syatiri sabar dan memilih diam saja. Syidi Syeikh Muhammad bin Ali Ba’atiyah mengatakan; “Diamnya seorang guru saat muridnya tidak sopan pada gurunya tetap akan mendapatkan Adzab dari Allah s.w.t.”

Kesombongan itupun berlanjut, si fulan pada suatu hari akan keluar dari Rubath Tarim untuk menuju kota Mukalla untuk berdakwah. Iapun keluar dari pesantren begitu saja tanpa izin kepada Al Habib Abdullah As Syatiri, hingga pada saat “Madras Ribath” sebutan untuk pengajian rutinan di rubath tarim, Habib Abdullah menanyakan perihal keberadaan si fulan yang biasanya duduk di depan namun tidak Nampak kelihatan;

“kemanakah si fulan???”, sebagian murid yang mengetahui menjawab “si fulan sedang berdakwah ke kota Mukalla”, habib berkata “apakah dia izin kepadaku??”, sontak murid yang lain diam saja. Dan Habib Abdullah kemudian berkata “baiklah, kalau begitu biarkan si fulan pergi akan tetapi ilmunya tetap disini!!!.”

Di sisi lain di kota Mukalla Yaman, para ahli ilmu dan tholib ilim yang mendengar bahwa si fulan santri senior rubath tarim akan mengisi ceramah di Masjid Bazar’ah merekapun berbondong-bondong datang, mereka pun mempersilahkan si fulan untuk memberikan ceramahnya.

Si fulan naik kemimbar dan memulai isi ceramahnya, ia memulai dengan basmalah, hamdalah, sholawat kepada nabi amma ba’du. Kemudian ia membaca sebuah ayat dan ingin menjelaskan ayat ini. namun ternyata dia terdiam!!!, kebingungan. Iapun terus berusaha mengingat ilmunya namun tak bisa, ia menoleh ke kanan dan kiri tetap saja begitu, hingga hampir sepuluhh menit dia terdiam dihadapan jama’ah di hadapannya. Hingga akhirnya dia duduk menangis karena semua ilmu yang pernah ia hafal hilang seketika!!!.

Jama’ah yang melihatnya kaget melihat hal itu, salah satu ahli ilmu di kota Mukalla mengerti bahwa pasti ada sesuatu yang tidak beres dari si fulan. Ia pun bertanya pada si fulan, setelah mendengar penjelasannya, si ahli ilmu menasehati agar ia (si fulan) minta maaf pada sang maha guru.

Memang sudah dikuasai oleh syetan, iapun enggan untuk tawadlu’ dan minta maaf pada sang guru.

Hidupnya pun bertambah tragis, tanpa ada keluarga yang mau menerimanya tanpa teman yang peduli pada nasibnya. Hingga ia hidup dalam keadaan sangat miskin di pinggiran kota Mukalla dan sehari hari menjadi penjual Arang di dekat kuburan Ya’qub.

Hingga akhir hayatnya ia hidup dalam keadaan miskin bahkan untuk sebuah kafan pun ia tak punya dan di beri sedekah oleh tetangganya. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Dari kisah ini mari kita semua perbaiki etika kita kepada guru kita dan kepada siapapun disekitar kita meskipun kita sudah memiliki ilmu yang banyak. Begitu pula mari kita saling Tawadlu’, merendahkan diri dan menjaga dari kesombongan yang bisa menghancurkan diri kita sendiri.