DAHSYATNYA ISTIGHFAR YANG MURNI KARENA TAUBAT NASUHA

Kita teramat dimanja oleh Allah SWT. Sadarkah kita? Curahan kasihnya kepada kita tak ternilai. Ia menggadang-gadang kehadiran kita di firdaus-Nya. Ya, ia merindukan kita.

Kala kita melesat jauh dari dekapannya, Ia sigap. Ayat-ayatnya segera berseru memanggil kita, sabda-sabda RasulNya akan lantang mengajak kita kembali.

Dan, kala kita terasuki dosa, ia memberikan penawar. Penawar yang sangat mujarab membersihkan ruhani kita dari gumpalan-gumpalan dosa. Penawar itu teracik dan terkemas cantik dalam kalimat-kalimat sakti “istighfar”.

Habib Umar bin Segaf as-Segaf, dalam karyanya, Tafrihul Qulub wa Tafrijul Kurub, mendedah keagungan istighfar dengan mengalirkan seuntai kalimat ringkas sebagai mukaddimah, “Istighfar adalah instrumen pemantik rizki”. Sudah barang tentu, kalimat ini multi tafsir. Dalam pandangan salaf sekaliber Habib Umar, kata “rizki” memuat berjuta makna, ada rizki ruhani, ada rizki ragawi. Wallahu a’lam.

Beliau kemudian melanjutkan kalamnya, “Kitabullah dan hadis-hadis Rasul SAW menyebutkan fadhilah-fadhilah istighfar berulang kali. Diantara fadhilahnya adalah melebur dosa-dosa, menetaskan jalan keluar dari pelbagai persoalan, dan menyingkirkan kegalauan serta kesumpekan dari dalam hati.”

“Memang, kesumpekan dan deraan persoalan, lazimnya berpangkal dari perbuatan dosa. Oleh karena itu, seyogianya diobati dengan istighfar dan taubat yang tulus ikhlas. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa melazimi istighfar, maka untuknya, Allah memberikan kebahagiaan dari kemasyghulan, jalan keluar dari kesulitan-kesulitan, dan Ia akan melimpahkan rizki kepadanya dengan cara-cara yang tak pernah diperhitungkannya.”

Seolah hendak menegaskan, Habib Umar menyebutkan lagi fadhilah istighfar, “Khasiat istighfar adalah menghapus dosa-dosa, memendam aib-aib, memperderas rizki, mengalirkan keselamatan pada diri dan harta, mempermudah capaian cita-cita, menyuburkan berkah pada harta, dan mendekatkan diri pada-Nya.”

“Logikanya, untuk menyucikan baju yang terciprat lumpur, kita bilas dengan sabun, bukan malah didekatkan pada asap-asap tungku. Pun demikian hati kita. Agar kian bersih dan molek, kita poles dengan istighfar, serta kita hindarkan dari lumuran-lumuran maksiat.”

Syaikhah Ash-Shufiyah Rabi’ah bin Ismail Al-Adawiyah pernah berkata, “Sesungguhnya Istighfar kita masih perlu diistighfari.”

Pada saat kita mengucapkan “Astaghfirullah, astaghfirullah” namun hati kita tidak tersambung kepada Allah, maka hal ini tak ubahnya seperti meminta maaf kepada seseorang atas suatu kesalahan dengan berkata sambil tertawa, “Hahaha, maafkan aku, maafkan aku” dan berlalu. Itu namanya kurang ajar. Minta maaf itu artinya merasa bersalah. Jadi harus dilakukan dengan perasaan yang hancur dan penuh malu.

“Dulu kala, seseorang mengadu kepada Imam Hasan Bashri mengenai kekeringan yang melanda negerinya. Sang Imam, dengan kearifannya, memberikan resep sederhana, “beristighfarlah!”. Lalu datang seorang lainnya. Kali ini ia mengeluhkan kefakiran yang terus menggelayutinya. Sang imam memperlakukannya sama dengan yang pertama. Ia memberikan resep istighfar kepadanya. Lalu datanglah orang ketiga. Yang terakhir ini menyambat nestapa bahtera rumah tangganya karena tak kunjung dianugerahi buah hati. Sikap sang imam masih seperti sebelumnya. Ia memberikan resep istighfar. Kepada ketiga-tiganya, Imam Hasan memberikan obat yang sama, yakni istighfar, untuk problematika yang beragam. Ia juga menjelaskan dalil-dalil al-qur’an dan hadisnya kepada mereka.”

“Suatu waktu, kemarau panjang menerpa negeri muslimin. Amirul mukminin, Umar bin al-Khattab tak mau tinggal diam. Ia segera berinisiatif memohonkan hujan. Akan tetapi, bukannya salat istisqa’ yang dicanangkan Umar seperti pada galibnya. Kali ini, ia, seorang diri, hanya melafalkan kalimat-kalimat istighfar.”

“Istighfar Umar bukan sembarang istighfar. Tapi istighfar yang penuh ijabah. Tak lama kemudian, hujan deras menggerojok tanah muslimin. Seseorang yang keheranan langsung melempar tanya, “bagaimana bisa Anda memohon hujan hanya dengan menggumamkan istighfar?”. Dengan enteng, Umar menukasi, “Aku memohon hujan dengan kunci-kunci langit.”

Kalam-kalam Habib Umar benar adanya. Kita perlu memaknainya dengan bijak. Barangkali, berondongan musibah yang mendera tanah tumpah darah kita ini adalah getah dari perbuatan kita sendiri. Tinggal bagaimana kita menyikapi?

Sejatinya, kita membutuhkan figur Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Tapi, mengharap sosok Umar, di era seporak-poranda kini, ibarat kerdil merindukan bulan, Sia-sia saja. Jadi, alangkah layaknya bila kita mulai membudayakan taubat dan istighfar di tengah-tengah rutinitas kita. Mari kita basahi bibir-bibir kita dengan istighfar, dengan pengharapan, barangkali Allah SWT berkenan menyetarakan istighfar kolektif kita ini dengan sebiji istighfar Umar bin al-khattab. Astaghfirullah rabbal baraya, astaghfirullah minal khathaya.

ADAB ISTIGHFAR DAN BERUSAHA SHOLAT YANG SEBENAR-BENARNYA

Syaikhah Ash-Shufiyah Rabi’ah bin Ismail Al-Adawiyah pernah berkata, “Sesungguhnya Istighfar kita masih perlu diistighfari.”

Pada saat kita mengucapkan “Astaghfirullah, astaghfirullah” namun hati kita tidak tersambung kepada Allah, maka hal ini tak ubahnya seperti meminta maaf kepada seseorang atas suatu kesalahan dengan berkata sambil tertawa, “Hahaha, maafkan aku, maafkan aku” dan berlalu. Itu namanya kurang ajar. Minta maaf itu artinya merasa bersalah. Jadi harus dilakukan dengan perasaan yang hancur dan penuh malu.

SHALAT?

Shalat merupakan identitas sejati seorang muslim. Shalat inilah yang menjadi pembeda Islam dengan syirik. Lebih dari itu, shalat adalah kendaraan yang disediakan Sang Khalik bagi tiap pribadi muslim agar bisa “terbang” dan berkomunikasi dengan-Nya tiap hari. Sesuai tuntunan baginda Nabi SAW, Shalat adalah kinerja hati dan jasmani yang laras, bukan gerak raga yang kosong, sekalipun masih ditolerir dalam syara’. Berdiri, ruku’, i’tidal dan sujud adalah refleksi ketaqwaan dalam ranah fisik. Adapun khusuk, hudhur dan tadabbur, itulah dialog sebenarnya antara muslim dengan Rabbul ‘Alamiin. Berikut kami ketengahkan ulasan yang dalam mengenai hakikat shalat dari seorang ulama yang telah mencapai puncak pengetahuan pada abad keduabelas Hijriyah, Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi. “Ketahuilah, Islam laksana rumah yang dibangun dengan lima pilar utama, syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Pada pilar pertama terdapat satu gerbang dengan dua lorong yang berfungsi sebagai jalan untuk memasuki rumah. Setelah syahadat, shalatlah yang utama. Menyusul puasa ramadhan, zakat dan haji. Tunaikanlah lima kewajiban ini didasari kesadaran hati. Sebab sarana paling utama bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada penciptanya adalah kelima kewajiban ini. Jagalah shalat lima waktu dan kenalilah hak-haknya. Pelajari teori-teori hukum fikihnya, yang wajib maupun yang sunah. Anda harus mengetahui kedudukan shalat dalam agama, laksana kepala dalam rangkaian raga kita. Manusia mustahil hidup tanpa berkepala, begitu pula bila shalat ditinggalkannya, maka cahaya iman di kalbu seorang muslim pun niscaya padam. Sholat adalah tiang agama. Hadis lain menyebutkan bila seorang hamba berdiri untuk shalat, Allah SWT menyingkap tirai penyekat antara diri-Nya dengan hamba. Allah SWT akan menyambutnya dengan hadirat-Nya yang mulia. Sedangkan para malaikat di sekeliling-Nya sontak berdiri, lalu beterbangan ke langit-langit untuk larut bersama si hamba dalam shalat. Kemudian mereka mengamini doa-doa yang dipanjatkan si hamba seusai shalat. Berbagai kebaikan akan dikucurkan dari kolong-kolong langit ke ubun-ubun hamba yang tengah mendirikan shalat. Lalu terdengar seruan lantang, “Andaikata orang yang sedang bermunajat menyadari, kepada siapakah ia bermunajat, niscaya ia takkan menolehkan pandangannya. Sesungguhnya pintu-pintu langit dibuka bagi orang-orang yang melaksanakan shalat. Dan di hadapan para malaikat, Allah SWT senantiasa membangga-banggakan ketulusan orang yang shalat.” Dalam Taurat, Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah kalian enggan mendirikan sholat di hadapan-Ku sembari menangis sedu. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah ‘azza wajalla yang senantiasa bersemayam di hati kalian, dan di alam ghaib nanti, kalian akan menyaksikan cahaya-Ku.” Disebutkan pula bahwa ketika seorang muslim melaksanakan shalat dua rakaat, sepuluh ribu jenis malaikat merasa takjub kepadanya, tiap satu jenis terdiri dari sepuluh ribu malaikat. Dan Allah akan membanggakan muslim itu di hadapan seratus ribu malaikat-Nya. Dalam kitab Jami’ Asbabil Khairat, karya Syaikh Muhammad al-‘Imrani, tercantum sebuah hadis riwayat Ibnu Abbas yang berbunyi, “Islam ini ibarat sebatang pohon berbuah rindang di pelataran rumah. Iman adalah akarnya, salat batangnya, puasa dahannya, zakat rantingnya, jihad kuncup bunganya Dan budi pekerti adalah buahnya. Tunaikanlah salat dengan bagus. Raihlah kesempurnaannya dengan memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun, sunah-sunah, serta adab-adabnya. Juga dengan mengetahui kepastian waktunya, senantiasa mengingatnya, dan berupaya melaksanakannya di awal waktu, Dalam shalat kita juga harus khusuk, hudhur dan ikhlas. Jangan memecah fokus shalat kepada hal lain. Tuangkan seluruh pikiran, gerakan, dan konsentrasi pada satu titik, yakni Allah SWT semata. Berusahalah seoptimal mungkin melaksanakan shalat dengan cara demikian seraya memohon kepada-Nya agar selalu diberi petunjuk dan kekuatan.

KESEMPURNAAN SHALAT

Kesempurnaan shalat bertalian pula dengan kesempurnaan thaharah (kesucian) pada pakaian, badan dan tempat shalat. Karenanya, jalankanlah keseluruhan sunah dan adab bersuci tanpa dibayang-bayangi rasa was-was. Sebuah hadis shahih menuturkan, “Barangsiapa berwudu, lalu membaguskan wudunya, maka dosa-dosanya berkeluaran dari anggota wudunya itu. Jadinya, ia akan memasuki shalat dalam keadaan steril (bersih) dari dosa.” Shalat yang sempurna bisa diwujudkan dengan menyegerakan pelaksanaannya. Awal waktu adalah ridha Allah, sedang akhir waktu adalah ampunan-Nya. Terpenting pula, kumandangkanlah azan dan iqamah sebelum shalat. Pasalnya, setan-setan akan lari berhamburan dari kita manakala seruan azan didengungkan, seperti gambaran salah satu hadis. Hati-hatilah. Hindari was-was dan bisikan-bisikan nafs dalam shalat. Hadirkan hati bersama Allah SWT dengan sikap khusuk dan penuh adab. Sejatinya, sholat yang tidak disertai kehadiran hati lebih layak menuai azab dari Allah SWT. Dalam hadis Nabi SAW, “Tiadalah seorang hamba memperoleh faedah shalatnya kecuali bagian yang ia hayati.” Agar bisa khusuk dalam shalat, hindarilah ketergesaan. Shalatlah dengan perlahan dan tenang. Lakukan ruku’ dengan rentang waktu yang lama. Demikian pula sujud serta duduk setelahnya. Perlu diketahui, orang yang tidak menyempurnakan ruku’, sujud, dan khusuknya dalam shalat bisa dikategorikan sebagai “pencuri”. Ingat, laksanakanlah shalat lima waktu secara berjamaah. Nilai shalat berjamaah melebihi shalat sendirian dengan selisih dua puluh tujuh derajat. Tidaklah cenderung meninggalkan jamaah kecuali orang-orang yang hatinya disemayami sifat nifaq. Nabi SAW pernah mewartakan, “Mari, aku beritahukan kepada kalian mengenai hal-hal yang bisa memperkenankan Allah SWT menghapus dosa-dosa dan meninggikan derajat-derajat, diantaranya adalah mengerjakan wudhu’ kala situasi kurang mengenakkan, banyaknya langkah menuju masjid, dan penantian dari satu shalat ke shalat berikutnya. Upayakan selalu shalat pada shaf pertama, dan luruskanlah shafnya. Karena shaf yang lurus adalah bagian dari kesempurnaan fadhilah berjamaah. Berjamaah sangat dianjurkan dalam shalat lima waktu. Khususnya di waktu isyak dan shubuh. Sebuah hadis memaparkan, Siapa yang melaksanakan shalat isyak dengan berjamaah, maka sama artinya ia memakmurkan separuh malam dengan sholat, dan siapa yang melaksanakan shalat shubuh dengan berjamaah, maka sama artinya ia memakmurkan seluruh malam. Sedang hadis yang lain mengimbuhi, siapa yang melaksanakan keduanya dengan berjamaah, maka ia dalam naungan Allah SWT sampai pagi dan petang hari. Shalat lima waktu kian sempurna manakala diiringi sunah rawatibnya, qabliyah maupun ba’diyah. Shalat sunah berfungsi sebagai penambal kekurangan shalat fardu. Shalat-shalat sunah yang muakkad diantaranya adalah shalat witir, shalat dua hari raya, shalat dua gerhana, istisqa’, dhuha, dan shalat sunah antara maghrib dan isya’. Fadhilah-fadhilah shalat-shalat tersebut sangatlah masyhur. Demikian pula shalat tasbih yang berkeutamaan luar biasa dan shalat malam. Nabi SAW berseru, “Laksanakanlah shalat malam, sebab shalat malam adalah tradisi kaum shalihin, sarana pendekatan diri kepada tuhan kalian, penebus dosa-dosa, penangkal maksiat dan pengusir penyakit dari jasmani kita.” Di salah satu hadis shahihnya, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya diantara malam ada satu momen. Tidaklah seorang muslim berdoa baik untuk urusan dunia maupun akhirat tepat pada momen tersebut kecuali Allah SWT pasti akan mengabulkan permintaannya. Momen itu hadir di setiap malam.”

JANGAN MENINGGALKAN SHALAT

Meninggalkan shalat? Wal’iyadzu billahi min zalik. Tidak dimungkiri, perbuatan itu adalah pelanggaran yang serius dalam Islam. Hadis-hadis menghukumi pelakunya kufur dan lepas dari naungan Allah SWT serta rasul-Nya. Orang-orang yang meninggalkan shalat lima waktu, keberkahan umur dan rejekinya akan disirnakan Allah SWT. Doa-doa orang shaleh tidak berlaku untuknya, apalagi doanya sendiri. Amal perbuatan baiknya tidak diganjar. Ia akan mati dalam keadaan haus, lapar dan terhina. Kuburnya menyempit dan gelap gulita. Allah SWT takkan sudi memandangnya apalagi membersihkannya. Dan yang paling menakutkan, sudah sediakan baginya azab yang mahadahsyat. (hadits) Esensi shalat adalah hudhur, tafahum (penghayatan), pengagungan, pengharapan dan ketulus-ikhlasan kepada Allah SWT. Sebuah hadis melukiskan bahwa Allah SWT berkenan menyambut orang yang shalat selama ia tidak menoleh. Hadis yang lain menyebutkan bahwa Allah SWT takkan memandang shalat yang di dalamnya si pelaku tidak menghadirkan hatinya. Hal senada dituturkan oleh Ibnu Abbas, “Dua rakaat dengan durasi sedang disertai tafakur lebih utama daripada berdiri sepanjang malam sedangkan hati dalam keadaan lupa.”

MEMPERBAIKI SHALAT

Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf adalah salah satu ulama dengan kapasitas ilmu pengetahuan dhohir dan bathin yang diakui oleh ulama-ulama sezamanya. Al Arif Billah Habib Abdullah bin Idrus Al Aydrus menyebut beliau sebagai kholifah di masanya.

Pada satu kesempatan di masjid Thoha, Hadramaut, pada tanggal 20 Syawal 1353 Hijriyah, beliau memberikan ceramah ilmiah bertemakan shalat. Beliau berkata, shalat merupakan sarana paling utama bagi manusia untuk dapat selalu berinteraksi dengan Penciptanya. Dahulu  Nabi  Zakariya a.s. menjadikan shalat sebagai fasilitas  ketika beliau meminta kepada Allah untuk diberikan keturunan. Doa beliau dikabulkan dan mendapatkan seorang putra yaitu Nabi Yahya yang merupakan anugerah terbesar dalam hidupnya. Rasul SAW bersabda, ‘Hal yang paling membuatku senang adalah shalat’. Dengan shalat beliau merasakan suatu kenikmatan yang tiada banding, berdialog dengan Allah SWT.

Dalam kitab Nashoih Dinniyah Habib Abdullah Alhaddad mengibaratkan shalat sebagaimana kepala pada manusia. Manusia mustahil dapat hidup tanpa kepala. Demikian halnya semua perbuatan baik manusia akan sia-sia jika tanpa disertai shalat. Shalat merupakan parameter diterima atau tidaknya amal perbuatan manusia. Rasul SAW bersabda, ‘Pertama yang diperhitungkan pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya diterima, maka seluruh amal sholehnya diterima, namun jika shalatnya ditolak, maka seluruh amal solehnya ditolak pula.’

Habib Ahmad kemudian bercerita, “Al-walid Sayid Alwi bin Abdurrahman Assegaf berkata, ‘Sesungguhnya pamanku Abdurrahman bin Ali berkata, jika kamu mempunyai hajat baik urusan dunia ataupun akhirat, maka memintalah pertolongan kepada Allah SWT dengan melaksanakan shalat. Bacalah  akhir surat Thoha  seusai shalat, Insya Allah dengan segala kebesaran-Nya akan dikabulkan hajat dan keinginanmu.’

Namun shalat kita pada masa sekarang ini tidaklah seperti shalat para salaf terdahulu yang penuh khusyu’ dan khidmat. Shalat kita merupakan shalat yang selalu dipenuhi kelalaian dan kealpaan, sehingga sangatlah kecil prosentase diterimanya. Orang-orang sufi terdahulu yang tidak diragukan lagi kedalaman ilmu pengetahuannya, menambahkan tiga rukun pada rukun-rukun  shalat  yang dikemukakan para ulama fiqih yaitu, khusuk atau tadabbur (hadirnya hati), khudu’(merendahkan diri kepada Allah) dan ikhlas. Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.”

Penafsiran mereka dalam ayat ini adalah, ‘Janganlah kalian mendekati (mengerjakan) shalat sedangkan kalian dalam keadaan mabuk oleh kesenangan dunia hingga pikiran kalian kosong dari dari segala urusan dunia.’

Sekarang kita saksikan orang-orang melaksanakan shalat  namun hati mereka masih selalu tertuju pada urusan dunia, baik urusan jual beli maupun pekerjaan mereka. Akibatnya mereka lupa berapa rokaat yang telah mereka kerjakan, tidak mengetahui surat apa yang telah dibacakan imam. Mereka sama sekali tidak menghayati bacaan Alfatihah dan ayat-ayat yang lain dalam shalat, mereka tidak menyadari bahwa mereka berdiri di depan Maha Penguasa dan sedang berdialog dengan Maha Pencipta. Urusan-urusan duniawi benar-benar telah menguasai hati manusia.

Orang yang memikirkan urusan dunia dalam shalat sama halnya dengan orang yang melumuri Al-Qur’an yang suci dengan khomer. Shalat  yang seharusnya menjadi wadah yang suci  telah mereka penuhi dengan kotoran-kotoran yang menjijikkan. Tanpa ada niat ikhlas yang merupakan ruh dari shalat, orang yang demikian diibaratkan oleh Imam Ghozali seperti seseorang yang  menghadiahkan seonggok bangkai dengan kemasan rapi kepada seorang raja. Tentunya perbuatan tersebut bukannya menyenangkan hati raja melainkan membuat dia marah dan murka karena dianggap telah melecehkan kehormatan dan kebesarannya.

Para salaf terdahulu memandang shalat sebagai hal yang sangat sakral dan agung. Mereka selalu berusaha melaksanakan dengan sesempurna mungkin. Hingga diantara mereka acapkali dihinggapi burung saat shalat karena sangat khusyuk dan tenangnya. Ada pula yang sampai tidak merasakan dahsyatnya gempa bumi yang meluluh lantakkan bangunan-bangunan di sekitarnya. Bahkan Imam Ali bin Husein sama sekali tak merasakan  panasnya kobaran api yang membumi hanguskan rumah beliau saat beliau tenggelam dalam shalatnya. Saat ditanya beliau hanya berujar, ‘Panasnya api yang lain (api neraka) telah membuatku tak merasakan panasnya api dunia.’

Habib Ahmad kemudian memberikan tausiyah, ‘Rasul SAW bersabda, ‘Ada seorang lelaki di antara kamu, rambut di kedua pipinya telah memutih namun tidak diterima satu pun shalatnya.’ Ini menunjukkan bahwa tak ada satu shalat pun yang dia kerjakan dengan khusyuk. Padahal, mulai usia 15 tahun hingga enam puluh tahun sudah berapa kali dia mengerjakan shalat. Jika tidak ada satu shalat pun yang dia kerjakan dengan khusyuk, itu berarti hatinya benar-benar dikuasai urusan keduniaan.

Ini adalah masalah kompleks di tengah masyarakat Islam yang harus disikapi dengan serius, terutama bagi para ulama dan penuntut ilmu. Adapun orang awam pada zaman sekarang sudah merasa cukup dengan shalat serba praktis seperti yang biasa mereka kerjakan. Bahkan di antara mereka ada yang mengeluh jika mendapati seorang imam shalat terlalu lama. Mereka lebih memilih imam yang lebih cepat dan ringkas sembari mengesampingkan unsur kekhusyukan yang sebenarnya esensial dalam shalat. Bagaimana dengan shalat kita?

PELAJARAN PENTING : KUNCI KESUKSESAN DALAM MENUNTUT ILMU

فصل

فى الجد والمواظبة والهمة

Kesungguhan, Kegigihan Dan Cita-Cita Luhur

ثم لا بد من الجد والمواظبة والملازمة لطالب العلم، وإليه الإشارة فى القرآن بقوله تعالى: يا يحيى خذ الكتاب بقوة. وقوله تعالى: والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا

Kemudian bagi para pelajar harus bersungguh-sungguh, tekun dan gigih dalam belajar. Hal ini telah diisyaratkan dalam Al-Qur’an sebagaimana firman Allah Ta’ala; “Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh”. (Qs. Maryam; 12). Dan firman Allah Ta’ala; “Dan Orang-orang yang berjihad (mencari keridhaan) Kami, Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami”. (Qs. Ankabut; 69).

وقيل: من طلب شيئا وجد وجد، ومن قرع الباب ولج ولج

Dikatakan; Barangsiapa bersungguh-sungguh dalam mencari sesuatu ia pasti mendapatkan, dan barangsiapa yang mengetuk pintu dan maju pantang mundur, ia pasti dapat masuk.

وقيل: بقدرما تتعنى تنال ما تتمنى

Dan dikatakan; Sejauh mana batas jerih payahmu, sebatas itulah kamu meraih cita-citamu.

وقيل: يحتاج فى التعلم والتفقه إلى جد ثلاثة: المتعلم، والأستاذ، والأب، إن كان فى الأحياء

Dikatakan; Untuk mencapai kesuksesan dalam mempelajari ilmu dan fiqh, dibutuhkan tiga kesungguhan, yaitu; Kesungguhan pelajar, guru dan orang tua jika masih ada.

أنشدنى الشيخ الإمام الأجل الأستاذ سديد الدين الشيرازى للشافعى رحمهما الله

Asy-Syaikh Al-Imam Al Ajall Al-Ustadz Sadiduddin Asy-Syairazi malantunkan sya’ir kepadaku gubahan Imam Asy-Syafi’iy rahimahumallah;

اَلْجِدُّ يُدْنِى كُلَّ أَمْرٍ شَاسِعٍ # وَالْجِدُّ يَفْتَحُ كُلَّ بَابٍ مُغْلَقِ

Bersungguh-sungguh dapat mendekatkan segala perkara yang jauh # dan Bersungguh-sungguh dapat membuka setiap pintu yang terkunci

وَأَحَقُّ خَلْقِ اللهِ بِالْهَمِّ امْرُؤٌ # ذُوْ هِمَّةٍ يُبْلَى بَعَيْشٍ ضَيِّقِ

Makhluk Allah yang paling pantas di bilang sengsara adalah orang # yang bercita-cita tinggi yang di uji dengan kehidupan yang sempit

وَمِنَ الدَّلِيْلِ عَلَى الْقَضَاءِ وَحُكْمِهِ # بُؤْسُ اللَّبِيْبِ وَطْيْبُ عَيْشِ الْأَحْمَقِ

Di antara tanda bukti atas ketetapan dan hukum-Nya # adalah kesempitan orang cerdas dan kalapangan orang dungu

لَكِنْ مَنْ رُزِقَ الْحِجَا حُرِمَ الْغِنَى # ضِدَّانِ يَفْتَرِقَانِ أَىْ تَفَرُّقِ

Bagaimanapun orang yang di beri kecerdasan (kebanyakan) terhalang dari kekayaan # keduanya merupakan hal yang berlawanan yang tidak dapat disatukan

وأنشد لغيره

Dan beliau membawakan sya’ir gubahan yang lainnya;

تَمَنَّيْتَ أَنْ تَمْسِى فَقِيْهًا مُنَاظِرًا # بِغَيْرِ عَنَاءٍ وَالْجُنُوْنُ فُنُوْنُ

وَلَيْسَ اكْتِسَابِ الْمَالِ دُوْنَ مَشَقَّةٍ # تَحَمَّلُهَا فَالْعِلْمُ كَيْفَ يَكُوْنُ؟

Engkau mendambakan menjadi orang ahli fiqih yang lihai # tapi tidak mau susah payah, itu termasuk dari macam-macamnya gila

Mencari harta saja tidak akan berhasil tanpa menanggung kesulitan # apalagi ilmu, mana mungkin ilmu dapat di gapai tanpa kesulitan?

قال أبو الطيب

Abu Ath-Thayyib berkata;

وَلَمْ أَرَ فِى عُيُوْبِ النَّاسِ عَيْبًا # كَنَقْصِ الْقَادِرِيْنَ عَلَى التَّمَامِ

Aku tidak pernah melihat aib dari beberapa aib manusia # yang seperti aib orang yang mampu berusaha maksimal tapi tidak mau menjalaninya

ولا بد لطالب العلم من سهر الليالى كما قال الشاعر

Para pelajar harus sanggup tidak tidur malam sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penya’ir;

بِقَدْرِ الْكَدِّ تُكْتَسَبُ الْمَعَالِى # فَمَنْ طَلَبَ الْعُلَى سَهَرِ اللَّيَالِى

Kemuliaan hanya dapat dicapai sesuai dengan kadar kesulitan # maka barangsiapa yang mencari kemuliaan harus sanggup tidak tidur malam

تَرُوْمُ الْعِزَّ ثُمَّ تَنَامُ لَيْلًا # يَغُوْصُ الْبَحْرَ مَنْ طَلَبَ الَّلآلِى

Engkau menginginkan kemuliaan tapi tidur nyenyak di malam hari # padahal orang yang mencari mutiara saja harus menyelam ke dalam lautan

عُلُوُّ الْكَعْبِ بِالْهِمَمِ الْعَوَالِى # وَعِزُّ الْمَرْءِ فِى سَهَرِ اللَّيَالِى

Keluhuran derajat dapat diraih dengan cita-cita yang tinggi # dan keluhuran seseorang dapat diraih dengan tidak tidur malam

تَرَكْتُ النَّوْمَ رَبِّى فِى اللَّيَالِى # لِأَجْلِ رِضَاكَ يَا مَوْلَى الْمَوَالِى

Wahai Tuhanku, aku tinggalkan tidur di malam hari # demi mendapatkan ridla-Mu wahai Tuan sekalian manusia

وَمَنْ رَامَ الْعُلَى مِنْ غَيْرِ كَدٍّ # أَضَاعَ الْعُمْرَ فِى طَلَبِ الْمُحَالِ

Barangsiapa menginginkan keluhuran dengan tanpa kesusahan # berarti ia telah menyia-nyiakan usia untuk mencari perkara yang mustahil

فَوَفِّقْنِى إِلَى تَحْصِيْلِ عِلْمٍ # وَبَلِّغْنِى إِلَى أَقْصَى الْمَعَالِى

Maka tolonglah aku ya Allah, agar mendapatkan ilmu # dan sampaikanlah aku pada puncak kemuliaan yang di cita-citakan

(قيل)

Dikatakan;

اِتَّخِذِ اللَّيْلَ جَمَلًا # تُدْرِكْ بِهِ أَمَلًا

Jadikanlah malam hari sebagai kendaraanmu # agar kamu dapat meraih apa yang di cita-citakan.

قال المصنف وقد اتفق لى نظم فى هذا المعنى

Seorang penulis kitab berkata; Ada sya’ir gubahanku yang sema’na dengan sya’ir ini;

مَنْ شَاءَ أَنْ يَحْتَوِىَ آمَالَهُ جُمَلًا # فَلْيَتَّخِذْ لَيْلَهُ فِى دَرْكِهَا جَمَلًا

Barangsiapa ingin meraih semua yang di cita-citakan # maka jadikanlah malamnya sebagai tunggangan untuk mengejarnya

إِقْلِلْ طَعَامَكَ كَىْ تَحْظَى بِهِ سَهَرَا # إِنْ شِئْتَ يَا صَاحِبِى أَنْ تَبْلُغَ الْكَمَلَا

Kurangilah makanmu agar kamu mampu tidak tidur malam # jika kamu ingin mencapai kesempurnaan wahai sahabatku

وقيل: من أسهر نفسه بالليل، فقد فرح قلبه بالنهار

Dan dikatakan; Barangsiapa yang raganya tidak tidur dimalam hari, sungguh jiwanya akan merasa bahagia di siang hari

Rajin Dan Mengulang-ulang Pelajaran.

ولا بد لطالب العلم من المواظبة على الدرس والتكرار فى أول الليل وآخره، فإن ما بين العشاءين ووقت السحر، وقت مبارك

Tidak boleh tidak, para pelajar harus rajin belajar dan mengulang-ulang pelajaran di awal dan akhir malam. Karena waktu yang berada di antara Maghrib dan Isya’, dan waktu sahur (sebelum subuh) adalah waktu yang diberkahi.

Seorang penya’ir berkata;

يَا طَالِبَ الْعِلْمِ بَاشِرِ الْوَرَعَا # وَجَانِبِ النَّوْمَ وَاتْرُكِ الشِّبَعَا

Wahai para pelajar, hiasilah dirimu dengan sifat wira’i # jauhilah tidur dan tinggalkanlah kenyang

دَاوِمْ عَلى الدَّرْسِ لَا تُفَارِقُهُ # فَالْعِلْمُ بِالدَّرْسِ قَامَ وَارْتَفَعَا

Rajinlah belajar, janganlah berpisah dengan pelajaran # karena ilmu bisa didapat dan bertambah hanya dengan belajar

ويغتنم أيام الحداثة وعنفوان الشباب، كما قيل

Para pelajar harus menggunakan hari-harinya dan masa mudanya untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Ssebagaimana seorang penya’ir berkata;

بِقَدْرِ الْكَدِّ تُعْطَى مَا تَرُوْمُ # فَمَنْ رَامَ الْمُنَى لَيْلًا يَقُوْمُ

وَأَيَّامُ الْحَدَاثَةِ فَاغْتَنِمْهَا # أَلَا إِنَّ الْحَدَاثَةَ لَا تَدُوْمُ

Dengan kadar kesulitanlah kamu akan mendapatkan apa yang di cita-citakan # barangsiapa yang ingin mendapatkan apa yang di cita-citakan, maka harus mampu bangun malam

Dan menggunakan masa mudanya # ingatlah bahwa masa muda tidaklah selama-lamanya

Berlaku Lemah Lembut

ولا يجهد نفسه جهدا ولا يضعف النفس حتى ينقطع عن العمل بل يستعمل الرفق فى ذلك والرفق أصل عظيم فى جميع الأشياء

Para pelajar hendaklah tidak memaksa diri dan menguras tenaga hingga tidak bisa berbuat apa-apa, tapi para pelajar hendaknya berlaku lemah lembut dalam mencari ilmu, karena lemah lembut merupakan modal besar dalam segala hal

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ألا إن هذا الدين متين فأوغل فيه برفق، ولا تبغض نفسك فى عبادة الله تعالى فإن المنبت لا أرضا قطع ولا ظهرا أبقى

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Ingatlah, bahwa agama ini kokoh, maka masukilah dengan lemah lembut, jangan buat dirimu bosan beribadah kepada Allah Ta’ala, karena orang yang mematahkan kekuatan (kendaraan)nya tidak akan sampai pada tujuan bahkan akan kehilangan kendaraannya”.

وقال عليه السلام: نفسك مطيتك فارفق بها

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Dirimu adalah kendaraanmu, maka perlakukanlah ia dengan lamah lembut”.

Cita-cita Luhur

فلا بد لطالب العلم من الهمة العالية فى العلم، فإن المرء يطير بهمته كالطير يطير بجناحيه

Tidak boleh tidak, para pelajar harus bercita-cita luhur dalam ilmu, karena seseorang akan terbang dengan cita-citanya sebagaimana burung terbang dengan kedua sayapnya.

قال أبو الطيب رحمه الله

Abu Ath-Thayyib rahimahullahu Ta’ala berkata;

عَلَى قَدْرِ أَهْلِ الْعَزْمِ تَأْتِى الْعَزَائِمُ # وَتَأْتِى عَلَى قَدْرِ الْكَرِيْمِ الْمَكَارِمُ

وَتَعْظُمُ فِى عَيْنِ الصَّغِيْرِ صِغَارُهَا # وَتَصْغُرُ فِى عَيْنِ الْعَظِيْمِ الْعَظَائِمُ

Sesuai kadar cita-citanyalah seseorang akan mendapatkan apa yang di cita-citakan # dan sesuai kadar kemuliaannyalah seseorang akan mendapatkan kemuliaan

Sekecil apapun kemuliaan itu akan tanpak besar dalam pandangan orang yang bercita-cita rendah # dan sebesar apapun kemuliaan itu akan tanpak kecil dalam pandangan orang yang bercita-cita tinggi

والرأس فى تحصيل الأشياء الجد والهمة، فمن كانت همته حفظ جميع كتب محمد بن الحسن، واقترن بذلك الجد والمواظبة، فالظاهر أنه يحفظ أكثرها أو نصفها، فأما إذا كانت له همة عالية ولم يكن له جد، أو كان له جد ولم تكن له همة عالية لا يحصل له إلا علم قليل

Pangkal keberhasilan adalah kesungguhan dan cita-cita yang luhur. Barang siapa bercita-cita menghafalkan seluruh kitab Muhammad bin Hasan (Imam Agung dari kalangan madzhab Hanafi, beliau terkenal banyak menulis kitab), asal disertai dengan kesungguhan dan ketekunan, maka secara lahir ia pasti bisa menghafal sebagian besar atau separohnya.

Demikian pula sebaliknya, apabila ia berita-cita luhur tapi tidak ada kesungguhan, atau memiliki kesungguhan tapi tidak bercita-cita luhur, maka ia tidak akan mendapatkan ilmu kecuali hanya sedikit.

وذكر الشيخ الامام الأجل الأستاذ رضى الدين النيسابورى فى كتاب مكارم الأخلاق أن ذا القرنين لما أراد أن يسافر ليستولى على المشرق والمغرب، شاور الحكماء وقال: كيف أسافر لهذا القدر من الملك، فإن الدنيا قليلة فانية، وملك الدنيا حقير، فليس هذا من علو الهمة

فقال الحكماء: سافر ليحصل لك ملك الدنيا والآخرة

فقال: هذا أحسن

Asy-Syaikh Al-Imam Al-Ajall Al-Ustadz Radliyuddin An-Naisaburi menyebutkan dalam kitab Makarimul Akhlak bahwa raja Iskandar Dzul Qarnain ketika hendak menguasai wilayah timur dan barat ia bermusyawarah terlebih dahulu dengan orang-orang bijak, dan ia berkata; Bagaimana aku harus pergi untuk mendapatkan kedudukan dari kerajaan ini, sedangkan dunia ini sangat sedikit lagi fana, dan kerajaan dunia adalah hina, ini berarti bukan termasuk cita-cita luhur? Orang-orang bijak menjawab; Pergilah, agar tuan mendapatkan kerajaan dunia dan akherat. Raja Iskandar Dzul Qarnain menjawab; Inilah yang terbaik.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الله يحب معالى الأمور ويكره سفسافها

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Sesungguhnya Allah mencintai setiap perkara yang luhur dan membenci setiap perkara yang hina”.

وقيل

Seorang penya’ir berkata;

فَلَا تَعْجَلْ بِأَمْرِكَ وَاسْتَدِمْهُ # فَمَا صَلَّى عَصَاكَ كَمُسْتَدِيْمِ

Jangan tergesa-gesa dalam menangani urusanmu, tapi bertahanlah # karena tiada yang dapat meluruskan tongkatmu selain seperti orang yang tahan terhadap panas api

قيل: قال أبو حنيفة لأبى يوسف رحمهما الله تعالى: كنت بليدا أخرجتك المواظبة فى الدرس، وإياك والكسل فإنه شؤم وآفة عظيمة

Dikatakan; Abu Hanifah berkata kepada Abu Yusuf rahimahumallahu Ta’ala; Kamu memang dungu, tapi tekun dalam belajar dapat mengeluarkanmu dari kedunguan, dan jauhilah bermalas-malasan, karena sesungguhnya ia merupakan keburukan dan petaka yang sangat besar.

قال الشيخ أبو نصر الصفار الأنصارى

Asy-Syaikh Abu Nashr Ash-Shaffar Al-Anshariy berkata;

يَا نَفْسُ يَا نَفْسُ لَا تَرْخِى عَنِ الْعَمَلِ # فِى الْبِرِّ وَالْعَدِلْ وَالْإِحْسَانِ فِى مَهَلِ

وَكُلُّ ذِى عَمَلٍ فِى الْخَيْرِ مُغْتَبِطٌ # وَفِى بَلَاءٍ وَشُؤْمٍ كُلُّ ذِى كَسَلِ

Oh jiwaku. Oh jiwaku. Janganlah kamu menunda-nunda dari ber’amal # baik, adil dan berbuat kebajikan dengan perlahan-lahan

Setiap orang yang ber’amal baik senantiasa berada dalam kebaikan # dan orang yang bermalas-malasan senantiasa berada dalam bencana dan kemalangan

قال (المصنف): وقد اتفق لى فى هذا المعنى شعر

Seorang penulis kitab berkata; Ada sya’ir gubahanku yang sema’na dengan sya’ir ini;

دَعِى نَفْسِى التَّكَاسُلَ وَالتَّوَانِى # وَإِلَّا فَاثْبُتِى فِى ذِى الْهَوَانِ

فَلَمْ أَرَ لِلْكُسَالَى الْحَظُّ يُعْطَى # سِوَى نَدَمٍ وَحِرْمَانِ الْأَمَانِى

Tinggalkanlah wahai jiwaku bermalas-malasan dan menunda-nunda # kalau tidak, menetaplah dalam lembah kehinaan

Belum pernah aku melihat seorang pemalas di beri imbalan # selain menyesal dan terhalang dari mendapatkan apa yang diharapkan

(وقيل)

Dikatakan;

كَمْ مِنْ حَيَاءٍ وَكَمْ عَجْزٍ وَكَمْ نَدَمٍ # جَمٍّ تَوَلَّدَ لِلْإِنْسَانِ مِنْ كَسَلِ

إِيَّاكَ عَنْ كَسْلٍ فِى الْبَحْثِ عَنْ شُبَهٍ # مَا قَدْ عَلِمْتَ وَمَا قَدْ شَكَّ مِنْ كَسَلٍ

Berapa banyak rasa malu, sial dan menyesal # kebanyakan itu timbul pada diri manusia dari sifat malas

Berhati-hatilah dari sifat malas dalam membahas sesuatu yang belum jelas # apa yang kamu ketahui dan apa yang kamu ragukan itu timbul dari sifat malas

وقد قيل : الكسل من قلة التأمل فى مناقب العلم وفضائله

Dikatakan;  Sifat malas itu timbul karena kurangnya menghayati kemulyaan dan keutamaan ilmu.

Berusaha Sekuat Tenaga

فينبغى أن يتعب نفسه على التحصيل والجد والمواظبة بالتأمل فى فضائل العلم، فإن العلم يبقى والمال يفنى، كما قال أمير المؤمنين على بن أبى طالب كرم الله وجهه

Para pelajar hendaknya mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mendapatkan ilmu, bersungguh-sungguh dan terus-menerus menghayati keutamaan ilmu, karena ilmu itu kekal, sedangkan harta akan sirna, sebagaimana yang dikatakan Amirul Mu’minin ‘Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah;

رَضِيْنَا قِسْمَةَ الْجَبَّارِ فِيْنَا # لَنَا عِلْمٌ وَلِلْأَعْدَاءِ مَالُ

فَإِنَّ الْمَالَ يَفْنَى عَنْ قَرِيْبِ # وَإِنَّ الْعِلْمَ يَبْقَى لَا يَزَالُ

Kami rela terhadap pembagian Allah Maha Perkasa kepada kami # kami mendapatkan ilmu dan musuh-musuh kami mendapatkan harta

Karena harta akan sirna dalam waktu dekat # sedangkan ilmu abadi tidak akan musnah

والعلم النافع يحصل به حسن الذكر ويبقى ذلك بعد وفاته فإنه حياة أبدية

Dengan ilmu nafi’, seseorang akan senantiasa dikenang, dan kenangan itu akan terus berlangsung setelah mati, seakan-akan ia hidup selama-lamanya.

وأنشدنا الشيخ الأجل ظهير الدين مفتى الأئمة الحسن بن على المعروف بالمرغينانى شعرا

Asy-Syaikh Al-Ajall Dzahiruddin Mufti para imam AlHasan bin ‘Ali yang dikenal dengan sebutan Al-Marghinaniy membawakan syi’ir untuk kami;

اَلْجَاهِلُوْنَ فَمَوْتَى قَبْلَ مَوْتِهِمُ # وَالْعَالِمُوْنَ وَإِنْ مَاتُوا فَأَحْيَاءُ

Orang-orang bodoh adalah mati sebelum mati # dan orang-orang alim tetap hidup walaupun sudah mati

وأنشدنا الشيخ الإسلام الأجل برهان الدين

Asy-Syaikh Al-Islam Al-Ajall Burhanuddin membacakan sya’ir kepada kami;

وَفِى الْجَهْلِ قَبْلَ الْمَوْتِ مَوْتٌ لِأَهْلِهِ # فَأَجْسَامُهُمْ قَبْلَ الْقُبُوْرِ قُبُوْرُ

وَإِنِ امْرُؤٌ لَمْ يَحْيَى بِالْعِلْمِ مَيِّتٌ # فَلَيْسَ لَهُ حِيْنَ النُّشُوْرِ نُشُوْرُ

Kebodohan adalah kematian bagi orang bodoh sebelum ia mati # dan jasad mereka telah terkubur sebelum di kubur

Dan sesungguhnya seseorang yang hidup dengan tanpa ilmu adalah sama dengan mayat # ia tidak akan sadar dari kelalaian pada waktu bangkit dari kubur yaitu jasadnya

(وقال)

غيره

Dan beliau membacakan sya’ir yang lainnya;

أَخُو الْعِلْمِ حَيٌّ خَالِدٌ بَعْدَ مَوْتِهِ # وَأَوْصَالُهُ تَحْتَ التُّرَابِ رَمِيْمُ

وَذُو الْجَهْلِ مَيِّتٌ وَهُوَ يَمْشِى عَلَى الثَّرَى # يُظَنُّ مِنَ الْأَحْيَاءِ وَهُوَعَدِيْمُ

Orang yang mempunyai ilmu hidup kekal setelah matinya # sedang anggota tubuhnya hancur berada dibawah tanah

Dan orang bodoh adalah mayat yang berjalan diatas bumi # ia dikira masih hidup padahal telah tiada

وأنشدنا شيخ الإسلام برهان الدين رحمه الله تعالى (شعرا)

Dan Syaikhul Islam Burhanuddin membacakan Sya’ir kepada kami;

إِذِ الْعِلْمُ أَعْلَى رُتْبَةٍ فِى الْمَرَاتِبِ # وَمِنْ دُوْنِهِ عِزُّ الْعُلَى فِى الْمَوَاكِبِ

Katakan bahwa ilmu itu kedudukannya lebih tinggi di antara semua kedudukan # dan selain ilmu tinggi kedudukannya berada dalam suatu golongan

فَذُو الْعِلْمِ يَبْقَى عِزُّهُ مُتَضَاعِفَا # وَذُو الْجَهْلِ بَعْدَ الْمَوْتِ تَحْتَ التِّيَارَبِ

Orang yang berilmu keagungannya abadi dengan berlipat ganda # dan orang bodoh setelah mati menjadi debu dibawah debu

فَهَيْهَاتَ لَا يَرْجُو مَدَاهُ مَنِ ارْتَقَى # رُقِىَّ وَلِيِّ الْمُلْكِ وَالِى الْكَتَائِبِ

Mustahil orang yang mendaki tinggi tidak ingin mencapai puncak kemuliaan ilmu # bagaikan naik tingginya penguasa kerajaan yang memerintahkan bala tentara

سَأُمْلِى عَلَيْكُمْ بَعْضَ مَا فِيْهِ فَاسْمَعُوا # فَفِيّ حَصْرٌ عَنْ ذِكْرِ كُلِّ الْمَنَاقِبِ

Aku akan mendiktekan kepadamu sebagian tentang kemuliaan ilmu, maka dengarkanlah # namun secara ringkas, aku tidak akan menyebutkan tiap-tiap kemuliaan ilmu karena terlalu banyak

هُوَ النُّوْرُ كُلُّ النُّوْرِ يَهْدِى عَنِ الْعَمَى # وَذُو الْجَهْلِ مَرَّ الدَّهْرِ بَيْنَ الْغَيَاهِبِ

Ilmu adalah cahaya segala cahaya yang menyelamatkan dari butanya kebodohan # dan orang bodoh dari masa ke masa berada dalam kegelapan yang tiada tara

هُوَ الذِّرْوَةُ الشّمَاءُ تَحْمِى مَنِ الْتَجَا # إِلَيْهَا وَيُمْشِى آمِنًا فِى النَّوَائِبِ

Ilmu laksana gunung menjulang tinggi, ia akan melindungi orang yang mengungsi # kesana sehingga selamat dari malapetaka

بِهِ يِنْجُوْ وَالنَّاسُ فِى غَفَلَاتِهِمْ # بِهِ يَرْتَجِى وَالرُّوْحُ بَيْنَ التَّرَائِبِ

Dengan ilmu seseorang akan selamat di saat mereka berada dalam kelalaian # dengan ilmu seseorang berharap selamat di saat ruh berada diantara tulang dada

بِهِ يَشْفَعُ الْإِنْسَانُ مَنْ رَاحَ عَاصِيًا # إِلَى دَرَكِ النِّيْرَانِ شَرِّ الْعَوَاقِبِ

Dengan ilmu seseorang dapat menolong orang durhaka yang di giring # menuju jurang neraka seburuk-buruk tempat kembali

فَمَنْ رَامَهُ رَامَ الْمَآرِبَ كُلَّهَا # وَمَنْ حَازَهُ قَدْ حَازَ كُلَّ الْمَطَالِبِ

Maka barangsiapa mencari ilmu, berarti ia mencari segala-galanya # dan barang siapa mendapatkan ilmu, sungguh ia telah mendapatkan semua yang di cari

هُوَ الْمَنْصَبُ الْعَالِى يَا صَاحِبَ الْحِجَا # إِذَا نِلْتَهُ هَوِّنْ بِفَوْتِ الْمَنَاصِبِ

Ilmu adalah kedudukan yang paling tinggi wahai orang-orang yang berakal # jika kamu telah mendapatkannya, maka tenanglah bila kedudukan yang lain terlepas

فَإِنْ فَاتَكَ الدُّنْيَا وَطِيْبُ نَعِيْمِهَا # فَغَمِّضْ فَإِنَّ الْعِلْمَ خَيْرُ الْمَوَاهِبِ

Maka jika dunia beserta kenikmatannya terlepas darimu # pejamkan matamu karena sesungguhnya ilmu adalah sebaik-baik pemberian

وأُنشدتُ لبعضهم

Dan aku dibacakan sya’ir gubahan sebagian para ulama’;

إِذَا مَا اعْتَزَّ ذُوعِلْمٍ بِعِلْمٍ # فَعِلْمُ الْفِقْهِ أَوْلَى بِاعْتِزَازٍ

فَكَمْ طِيْبٍ يَفُوْحُ وَلَا كَمِسْكِ # وَكَمْ طَيْرٍ يَطِيْرُ وَلَا كَبَازِى

Apabila orang-orang yang berilmu menjadi mulia lantaran ilmu # maka ilmu fiqih lebih pantas menjadikan mulia

Berapa banyak minyak wangi yang harum semerbak, tapi tidak seharum minyak misik # dan berapa banyak burung yang terbang, tapi tidak sehebat burung raja wali

وأنشدت لبعضهم

Dan aku dibacakan sya’ir gubahan sebagian para ulama’;

اَلْفِقْهُ أَنْفَسَ شَيْئٍ أَنْتَ ذَاخِرَهُ # مَنْ يَدْرُسُ الْعِلْمَ لَمْ تَدْرُسْ مَفَاخِرُهُ

فَاجْهَدْ لِنَفْسِكَ مَا أَصْبَحْتَ تَجْهَلُهُ # فَأَوَّلُ الْعِلْمِ إِقْبَالٌ وَآخِرُهُ

Ilmu fiqih lebih berharga dari segala sesuatu yang seharusnya kamu pelajari # barangsiapa mempelajari ilmu maka ia tidak akan kehilangan keagungannya

Maka bersungguh-sungguhlah dirimu mempelajari apa yang belum kamu ketahui # karena permulaan ilmu adalah kebahagiaan, akhirannya pun juga kebahagiaan

وكفى بلذة العلم والفقه والفهم داعيا وباعثا للعاقل على تحصيل العلم

Cukuplah kelezatan ilmu terutama ilmu fikih dan kefahaman sebagai perangsang dan pembangkit bagi orang yang berakal untuk mendapatkan ilmu

Penyebab Rasa Malas.

وقد يتولد الكسل من كثرة البلغم والرطوبات

Terkadang rasa malas itu timbul akibat banyaknya dahak dan cairan dalam tubuh lantaran banyak makan.

وطريق تقليله، تقليل الطعام

قيل: اتفق سبعون نبيا على أن كثرة النسيان من كثرة البلغم، وكثرة البلغم من كثرة شرب الماء، وكثرة شرب الماء من كثرة الأكل

Adapun cara mengurangi dahak yaitu mengurangi makan.

Dikatakan; Tujuh puluh orang Nabi sepakat bahwa sering lupa itu akibat dari banyaknya dahak, dan banyaknya dahak akibat dari banyak minum, dan banyak minum akibat dari banyak makan.

والخبز اليابس يقطع البلغم، وكذا أكل الزبيب على الريق، ولا يكثر منه، حتى لايحتاج إلى شرب الماء فيزيد البلغم

Makan roti kering dapat menghilangkan dahak, begitu pula makan anggur kering. Namun jangan terlalu banyak (makan anggur kering) agar tidak haus, karena akibatnya justru akan menambah dahak.

والسواك يقلل البلغم، ويزيد الحفظ والفصاحة، فإنه سنة سنية، يزيد فى ثواب الصلاة، وقراءة القرآن

Bersiwak juga dapat mengurangi dahak, di samping dapat menguatkan hafalan dan kefasihan. Sesungguhnya bersiwak merupakan kesunnatan yang luhur yang dapat menambah pahala shalat dan bacaan al-Qur’an.

وكذلك القيء يقلل البلغم والرطوبات

Demikian pula, muntah juga dapat mengurangi dahak dan cairan dalam tubuh.

Cara Mengurangi Makan

وطريق تقليل الأكل التأمل فى منافع قلة الأكل وهى: الصحة والعفة والإيثار. وقيل فيه شعر

Adapun cara mengurangi makan yaitu dengan cara menghayati mamfa’atnya makan sedikit. yaitu menyehatkan, menjauhkan diri dari perkara syub_hat dan lebih mementingkan orang lain.

Hal itu disebutkan dalam sya’ir;

فَعَارٌ ثُمَّ عَارٌ ثُمَّ عَارٌ # شَقَاءُ الْمَرْءِ مِنْ أَجْلِ الطَّعَامِ

Celaka, celaka dan celaka # celakanya seseorang disebabkan oleh makanan

وعن النبى عليه الصلاة والسلم أنه قال: ثلاثة يبغضهم الله تعالى من غير جرم: الأكول والبخيل والمتكبر

Diriwayatkan dari Nabi ‘alaihishshalatu wassalam, beliau bersabda; “Ada tiga golongan orang yang di benci oleh Allah Ta’ala bukan karena ia berdosa; yaitu orang yang banyak makan, orang kikir dan orang sombong”.

وتأمل فى مضار كثرة الأكل وهى: الأمراض وكلالة الطبع

قيل: البطنة تذهب الفطنة

Dan dengan cara menghayati bahayanya banyak makan, yaitu timbulnya berbagai macam penyakit dan lemahnya daya fikir.

Dikatakan; Perut kenyang dapat menghilangkan kecerdasan.

حكى عن جالينوس أنه قال: الرمان نفع كله، والسمك ضرر كله، وقليل السمك خير من كثرة الرمان، وفيه إتلاف المال، والأكل فوق الشبع ضرر محض ويستحق به العقاب فى دار الآخرة، والأكول بغيض فى القلوب

Diriwayatkan dari Jalinus ia berkata; Buah delima semuanya bermanfa’at dan ikan laut semuanya berbahaya, namun sedikit makan ikan laut adalah lebih baik daripada banyak makan delima karena bisa menghabiskan harta. Sedangkan makan terlalu kenyang adalah murni membahayakan dan berhak mendapatkan siksa kelak di akhirat. Dan terlalu banyak makan di benci oleh banyak orang.

وطريق تقلييل الأكل: أن يأكل الأطعمة الدسمة ويقدم فى الأكل الألطف والأشهى، ولايأكل مع الجيعان إلا إذا كان له غرض صحيح فى كثرة الأكل، بأن يتقوى به على الصيام والصلاة والأعمال الشاقة فله ذلك

Dan termasuk cara mengurangi makan yaitu; Makan makanan berlemak, mendahulukan makan makanan yang lebih lembut dan yang paling mengundang selera, serta jangan makan bersama orang-orang yang sangat lapar kecuali apabila ada tujuan baik, misalnya makan banyak karena agar kuat berpuasa, mengerjakan shalat dan amal-amal berat lainnya, maka demikian itu diperbolehkan.

PELAJAR HARUS SERIUS DAN ISTIQOMAH SERTA MEMPUNYAI CITA-CITA YANG TINGGI (2)

Usaha sekuat Tenaga

فينبغى أن يتعب نفسه على التحصيل والجد والمواظبة بالتأمل فى فضائل العلم، فإن العلم يبقى [ببقاء المعلومات] والمال يفنى، كما قال أمير المؤمنين على بن أبى طالب كرم الله وجهه:

رضـينا قسمة الجـبار فينا لـنا علم وللأعـداء مال

فإن المال يفنى عن قريب وإن العلم يبقى لا يزال

Hendaklah pelajar bersungguh-sungguh sampai terasa letih guna mencapai kesuksesan, dan tak kenal berhenti, dan dengan cara menghayati keutamaan ilmu. Ilmu itu kekal, sedang harta adalah fana, seperti apa yang dikemukakan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib:

Kami rela, bagian Allah untuk kami

Ilmu untuk kami, harta buat musuh kami

Dalam waktu singkat, harta jadi musna

Namun ilmu, abaditak akan sirna

والعلم النافع يحصل به حسن الذكر ويبقى ذلك بعد وفاته فغنه حياة أبدية.

وأنشدنا الشيخ الإمام الأجل ظهير الدين مفتى الأئمة الحسن بن على المعروف بالمرغينانى:

الجـــاهـلـون مـوتـى قـبل مـوتـهــم والعـالمـون وإن ماتوا فأحياء

Ilmu yang bermanfaat akan menjunjung tinggi nama seseorang, tetap harum namanya walaupun ia sudah mati. Dan karena begitu, ia dikatakan selalu hidup abadi. Syaikhul Ajall Al-Hasan bin Ali Al-Marghibaniy membawakan syi’ir buat kami:

Kaum bodoh, telah mati sebelum mati

Orang alim, tetap hidup walaupun mati

وأنشدنى الشيخ الإمام الأجل برهان الدين رحمه الله:

وفى الجهل قبل الموت موت لأهله فـأجــسامهـم قبل القبور قبور

وإن امــرؤ لم يحـــيى بالعلم مــيت فـليس له حــين النشور نشور

Demikian pula Syaikhul Islam Burhanuddin :

Kebodohan membunuh si bodoh sebelum matinya

Belum dikubur, badanya telah jadi pusara

Orang hidup tanpa berilmu, hukumnya mati

Bila bangkit kembali, tak kan bisa bangkit kembali

[وقال غيره]:

أخـو الـعـلم حـي خــالـد بـعـد مــــــوتـه وأوصـاله تحـت التراب رمـيم

وذو الجهل ميت وهو يمشى على الثرى يظهر مـــن الأحياء وهوعديم

Lain lagi :

Orang berilmu, hidup kekal setelah mati

Ruas tubuhnya telah hancur lebur di timbun duli

Orang bodoh, jalan di bumi, mati hukumnya

Dikira hidup, nyatanya mati

وأنشدنى أستاذنا شيخ الإسلام برهان الدين رحمة الله عليه شعرا:

ذا العلم أعلى رتبة فى المــــــــراتب ومن دونه عز العلى فـى المواكــب

فذو العلم يبقــى عزه متضــاعفـــــــا وذو الجهل بعد الموت فـى الترائب

فـهــيات لا يرجــو مـداه مـن ارتـقى رقى ولى الملك والـى الكــــــــتائب

سأملى عليكــم بعض ما فيه فاسمعوا فبى حصر عن ذكر كـل المــــناقب

هو النور كل النور يهدى عن العمى وذو الجهل مر الدهر بين الغــياهب؛

هو الـذروة الشماء تحمى مـــن التجا إليها ويمشى آمـــــنا فـى الـــنـوائب

به ينتجــــى والناس فى غفلاتـــــهـم به يرتجـــــى والـروح بين الترائب

به يشفع الإنسان مــن راح عاصـــيا إلى درك النيران شـر العـــــــواقب

فمن رامه رام المآرب كلــــــــــــــها ومـــــن حازه قد حاز كـل المطالب

هو المنصب العالى يا صاحب الحجا إذا نلته هون بفــــــــوت المـناصب

فإن فاتك الدنيا وطيب نعيمـــــــــــها [ فغمض] فإن العلم خير المواهب

Syakhul Islam Burhanuddin membawakan Syi’ir buat kita :

Kalau sang ilmu, tingkat tertinggi tuk tempat singgah

Kalau lainnya, meninggi bila banyak anak buah

Orang berilmu, namanya harum berlipat tinggi

Orang bodoh, begitu mati tertimbun duli

Mendaki tinggi, kepuncak ilmu, mustahil bisa

Bila maksudnya, bagai komandan pasukan kuda

Dengarkan dulu, sedikit saja dikte buatmu

Cuma ringkasan, kemulyaan ilmu yang aku tahu

Ia cahaya, penerang buta, terang benderang

tapi si bodoh, sepanjang masa gelap menantang

Dia puncak, menjulang tinggi, pelindung siapa berlindung

Makanya aman, dari segala aral melintang

juru penyelamat, dikala insan terjerat tipu

harapan manis, kala sang nyawa diambang pintu

Ia sarana, guna menolong teman durhaka

Yang jalan bengkok, akibat bobrok, lapis neraka

Yang bertujuan ilmu, berarti telah menuju “segala”

Yang dapat ilmu, artinya telah dapatsegala

Wahai kaum berakal, ilmu itu pangkat mulia

Bila telah didapat, pangkat lain lepas tak mengapa

Bila engkau meninggalkan dunia dengan segala nikmatnya

Pejamkan mata, cukuplah ilmu jadi anugrah berharga

mendaki tinggi kepuncak ilmu mustahil bisa

bila maksudnya bagai komandan pasukan kuda

Dengarkan dulu sedikit saja dikte buatmu

Cuma ringkasan kemulyaan ilmu yang aku tahu

Ia cahaya penerang buta terang benderang

Tapi si bodoh sepanjang masa gelap menantang

Dia puncak menjelang tinggi pelindung siapa berlindung

Makanya aman dari segala aral melintang

Juru penyelamat dikala insan terjerat tipu

Harapan manis kala sang nyawa diambang pintu

Ia sarana guna menolong teman durhaka

Yang jalan bengkok akibat bobrok lapis neraka

Yang bertujuan ilmu berarti telah menuju segala

Yang dapat ilmu artinya telah dapat segala

Wahai kaum berakal ilmu itu pangkat mulia

Bila telah didapat, pangkat lain lepas tak mengapa

bila engkau meninggalkan dunia dengan segala nikmatnya

pejamkan mata, cukuplah ilmu jadi anugrah terharga

وقيل فى هذا المعنى:

إذا مـــــــا اعتز ذو علم بعــــــــــلم فعلم الفقــــــــه أولـــــــــى باعتزاز

فكـــــــــــم طيب يفوح ولا كــمسك وكــــــــــــم طير يطير ولا كبازى

Syi’ir gubahan sebagian para ulama’ dibawakan buatku:

Jikalau karena ilmu, orang alim menjadi mulya

Ilmu fiqh membawa mulya kan lebih bisa

Banyak semerbak yang dengan misik tidak menandingi

Banyak penerbang yang tak seperti raja wali

وأنشدت أيضا لبعضهم:

الفقه أنفس كل شيئ أنت ذا خـــــره مــن يدرس العلم لم تدرس مفاخره

فاكسب لنفسك ما أصبحت تجهــــله فأول العلم إقبال وآخـــــــــــــــــره

Dibawakan lagi untukku :

Fiqh itu ilmu termahal,engkaulah yang memungut

Siapa belajar, tak kan habis hikmah di dapat

Curahkan dirimu, mempelajari yang belum tahu

Awal bahagia, akhirpun bahagia, itulah ilmu

وكفى بلذة العلم والفقه والفهم داعيا وباعثا للعاقل على تحصيل العلم.

Bagi orang yang berakal, telah cukuplah merasa terpanggil Menuju kesuksesan berilmu oleh sebagaimana kelezatan-kelezatan ilmu, fiqh dan kebahagian yang timbul bila sedang faham terhadap suatu masalah.

Sebab Kemalasan

وقد يتولد الكسل من كثرة البلغم والرطوبات،

Sikap malas itu bisa timbul akibat dari lendir dahak atau badan berminyak yang disebabkan orang terlalu banyak makan.

وطريق تقليله، تقليل الطعام.قيل: اتفق سبعون طبيبا على أن النسيان من كثرة البلغم، وكثرة البلغم من كثرة شرب الماء، وكثرة شرب الماء من كثرة الأكل،

Adapun cara mengurangi dahak itu sendiri adalah bisa dilakukan dengan cara mengurangi makan. Ada dikatakan: “tujuh puluh orang Nabi sependapat bahwa sering lupa itu akibat dahak terlalu banyak, dahak terlalu banyak karena minum terlalu banyak, dan biasa adanya minum terlalu banyak itu karena makan yang terlalu banyak pula.”

والخبز اليابس يقطع البلغم، وكذلك أكل الزبيب على الريق، ولا يكثر منه، حتى لايحتاج إلى شرب الماء فيزيد البلغم.

Makan roti kering dn menelan buah anggur kering dapat juga menghilangkan dahak. Namun jangan terlalu banyak, agar tidak mengakibatkan ingin minum, yang kesudahannya memperbanyak lendir dahak pula.

والسواك يقلل البلغم، ويزيد الحفظ والفصاحة، فإنه سنة سنية، تزيد فى ثواب الصلاة، وقراءة القرآن،

Bersiwak juga dapat menghilangkan dahak pula. Disamping memperlancar hafalan dan kefasihan lisan. Demikianlah, perbuatan itu termasuk sunah Nabi yang bisa memperbesar pahala ibadah sahlat dan membaca Al-Qur’an.

وكذا القيء يقلل البلغم والرطوبات

Muntah juga dapat mengurangi lendir dahak, dan mengurangi perminyakan badan (yang disebabkan makan terlalu banyak).

Cara Mengurangi Makan

وطريق تقليل الأكل التأمل فى منافع قلة الأكل هى: الصحة والعفة والإيثار. وقيل فيه شعر:

فعار ثم عار ثم عار شقاء المرء من أجل الطعام

وعن النبى عليه السلم أنه قال: ثلاثة يبغضهم الله من غير جرم: الأكول والبخيل والمتكبر

Cara mengurangi makan bisa dilakukan dengan cara menghayati faedah dan mamfaat yang timbul dari makan sedikit. Antara lain adalah badan sehat, lebih terjaga dari yang haram dan berarti pula ikut memikirkan nasib orang lain. Dalam hal ini ada syi’ir menyebutkan :

celaka, celaka dan celaka

karena makan, manusia jadi celaka

Hadist Nabi Saw. Menyebutkan : “tiga orang yang di benci Allah bukan karena ia berdosa, yaitu orang pelahap makan, orang kikir dan orang sombong.

وتأمل فى مضار كثرة الأكل وهى: الأمراض وكلالة الطبع، وقيل: البطنة تذهب الفطنة.

حكى عن جالينوس أنه قال: الرمان نفع كله، والسمك ضرر كله، وقليل السمك خير من كثرة الرمان.

وفيه أيضا: إتلاف المال، والأكل فوق الشبع ضرر محض ويستحق به العقاب ودار الآخرة، والأكول بغيض فى القلوب.

Bisa pula dengan cara menghayati madlarat yang timbul dari akibat makan terlalu banyak, antara lain sakitdan tolol. Ada dikatakan: “Perut kenyang, kecerdasan hilang”. Ada dikatakan ucapan galinus sebagai berikut: “Semua buah delima bermamfaat, semua ikan laut madlarat. Tetapi masih lebih bagus makan ikan laut sedikit, daripada delima tapi banyak, karena bisa menghabiskan harta. Makan lagi setelah perut kenyang hanyalah membawa madlarat, dan mendatangkan siksa kelak diakherat. Orang terlalu banyak makan itu dibenci setiap orang.”

وطريق تقلييل الأكل: أن يأكل الأطعمة الدسمة ويقدم فى الأكل الألطف والأشهى، ولايأكل مع الجائع إلا إذا كان له غرض صحيح، بأن يتقوى به على الصيام والصلاة والأعمال الشاقة فله ذلك.

Caranya lagi untuk mengurangi makan, adalah dengan makanan yang berlemak atau berzat pemuak. Makan mana yang lebih lembut dan disukai terlebih dahulu. Dan jangan bersama-sama orang yang sedang lapar sekali selain bila hal itu justru harus dilakukan karena bertujuan bak. Misalnya agar kuat berpuasa, mengerjakan shalat atau perbuatan-perbuatan lain yang berat, bolehlah dilakukan.

PELAJAR HARUS SERIUS DAN ISTIQOMAH SERTA MEMPUNYAI CITA-CITA YANG TINGGI

فصل

فى الجد والمواظبة والهمة

FASAL : SUNGGUH-SUNGGUH, KONTINUITAS DAN CITA-CITA LUHUR

Kesungguhan Hati

ثم لا بد من الجد والمواظبة والملازمة لطالب العلم، وإليه الإشارة فى القرآن بقوله تعالى: يا يحيى خذ الكتاب بقوة. وقوله تعالى: والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا

Selain itu semua, pelajar juga harus bersungguh hati dalam belajar serta kontinu (terus-terusan). Seperti itu pula di tunjukkan firman Allah: “Dan Orang-orang yang mencari keridhaan Kami, niscaya Kami tunjukkan mereka kepada jalan-jalan Kami” (Surat 29, Al-Ankabut 69).

وقيل: من طلب شيئا وجد وجد، ومن قرع الباب ولج ولج. وقيل: بقدرما تتعنى تنال ما تتمنى.

Ada dikatakan pula : “siapa sungguh-sungguh dalam mencari sesuatu pastilah ketemu” “Brangsiapa mengetuk pintu bertubi-tubi, pasti dapat memasuki”. ada dikatakan lagi: “Sejauhmana usahamu, sekian pula tercapai cita-citamu”

وقيل: يحتاج فى التعلم والتفقه إلى جد ثلاثة: المتعلم، والأستاذ، والأب، إن كان فى الأحياء

Ada dikatakan : “Dalam mencapai kesuksesan mempelajari ilmu dan fiqh itu diperlukan kesungguhan tiga fihak. Yaitu guru, pelajar dan wali murid jika masih ada.”

أنشدنى الشيخ الإمام الأجل الأستاذ سديد الدين الشيرازى للشافعى رحمهما الله:

الجـــد يــدنـى كــل أمـر شـاسـع والـجــد يفــتـح كــل باب مــغـلـق

وأحق خلق الله تعالى بالهم امرؤ ذو هــمـة يــبلـى بـعــيـش ضـيـق

ومن الدليل على القضاء وحكمه بؤس اللبيب وطيب عيش الأحمق

لكن من رزق الحجا حرم الغنى ضـدان يــفـــتـرقــان أى تــفــرق

Syi’ir gubahan Asy-Syafi’iy dikemukan kepadaku oleh Al Ustadz Sadiduddin Asy-Syairaziy:

Dengan kesungguhan, hal yng jauh jadi berada pintu terkuncipun jadi terbuka

Titah Allah yang paling berhaq bilang sengsara, yang bercita tinggi namun hidupnya miskin papa

Disini bukti kelestarian taqdir dan hukumNya, bila sipandai hidup sengsara, sedang sibodoh cukup berharta

Tapi yang hidup akalny, tidak di beri harta dan benda, keduanya pada berpisah, satu disini satu disana

وأنشدت لغيره:

تمـنيت أن تمسى فـقيها مناظـرا بغـير عناء والجـنون فنون

وليس اكتساب المال دون مشقة تحملها فالعلم كـيف يكون؟

Syi’ir gubahan lain Asy-Syafi’iy dikemukan padaku:

Kau idamkan menjadi paqih penganlisa, padahal tidak mu sengsara, macam-macam sajalah penyakit gila

Tidak bakal engkau memboyong harta, tanpa menanggung masakat derita, ilmupun begitu pula

قال أبو الطيب المتنبى:

ولم أرى فـى عيوب الناس عيبا كنقص القادرين على التمام

Abut Thayib berkata:

Tak kulihat aib orang sebagai cela, bagaikan orang kuasa yang tak mau memenuhi apa mestinya.

Pelajar pula harus sanggup tidak tidur bermalam-malam sebagaimana

ولا بد لطالب العلم من سهر الليالى كما قال الشاعر:

بقـدر الـكــد تكــتـسـب المـعالى ومـن طـلـب الـعـلى سـهـر اللـيالى

تــروم الــــعــز ثـم تنــام لــــيلا يغوص فى البحر مـن طلب اللآلى

علـو الـكــعـب بالهـمـم الـعـوالى وعـن الـــمـرء فـى ســهـر اللـيالى

تركــت الــنوم ربى فى اللــيالى لأجــل رضـاك يامــولـى الـمـوالى

ومــن رام الــعـلى مـن غـير كد أضاع الـعـمـر فى طـلب المـحــال

فــوفـقـنى إلـى تحــصــيل عـلـم وبلـغــنـى إلـى أقــصـى الـمـعــالى

قيل: اتخذ الليل جملا تدرك به أملا

Kata penyair:

Seukur kesulitan, ukuran keluhuran, siapa ingin luhur, jangan tidur semalaman

Kau ingin mulya, tapi tidur di malam hari,dengan menyelam laut, permata kan didapati

Keluhuran derajat, dengan hikmah yang tinggi, keluhuran seseorang, dengan berjaga di malam hari

Oh tuhan, kubuang tidurku di malam hari, demi ridhaMu Ya Maulal Mawali

Siapa tanpa mau sengsara inginkan keluhuran, mengulur umur yang takkan kedapatan

Tolonglah saya agar mendapat ilmu, sampaikan saya dikemulyaan sisiMu

Jadikanlah malam, unta tunggangann buat kau dapat, yang kau citakan

قال المصنف وقد اتفق لى نظم فى هذا المعنى شعر:

مـن شاء أن يحـتوى آماله جـملا فلـيتـخـذ لــيله فـى دركــها جــمـلا

إقلل طعامك كى تحظى به سهرا إن شئت يا صاحبى أن تبلغ الكملا

وقيل: من أسهر نفسه بالليل، فقد فرح قلبه بالنهار.

Pengarang kitab berkata : I ada Nadzam yang sema’na dengan syi’ir-syi’ir di atas, yaitu:

Barangsiapa ingin semua maksudnya tercapai, jadikanlah malam, tunggangan untuk mencpai

Kurangilkah makan, agar kau mampu berjaga, bila kau idamkan, mendapat sempurna

Ada dikatakan : “Barang siapa tidak tidur dimalam hari, hatinya bahagia di siang hari.”

kontinuitas dan mengulang pelajaran.

ولا بد لطالب العلم من المواظبة على الدرس والتكرار فى أول الليل وآخره، فإن ما بين العشائين، ووقت السحر، وقت مبارك.

Tidak boleh tidak, pelajar harus dengan kontinyu sanggup dan mengulangi pelajaran yang telah lewat. Hal itu dilakukan pada awal waktu malam, akhir waktu malam. Sebab waktu diantara maghrib dan isya, demikian pula waktu sahur puasa adalah membawa berkah.

قيل فى هذا المعنى:

يا طالب العـلم باشـر الورعا وجـانب الـنوم واترك الشبعـا

وداوم على الدرس لا تفارقه فإن العلم بالدرس قام وارتفعا

– hai pelajar, patuhilah waro’

singkiri tidur, dari perut kenyang

langgengkan pelajar, jangan kau rusak

dengan belajar, ilmu tegak dan makin menanjak

فيغتنم أيام الحداثة وعنفوان الشباب، كما قيل:

بقـدر الـكــد تعــطى ما تروم فـمــن رام المـنى لــيلا يقـوم

وأيام الـحــداثـة فـاغـتـنـمـهـا ألا إن الــحــــــداثــة لاتــدوم

Hendaknya pula mengambil kesempatan masa muda dan awal remajanya. Syi’ir mengemukakan:

Sebesar sengsara, itulah kesuksesan citamu.

Siapa menuju citz, jangan tidur dimalam berlalu

Sempatkan dirimu, dimasa muda

Dan ingat, masa itu tak lama berada

Menyantuni Diri

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ألا إن هذا الدين متين فأوغل فيه برفق، ولا تبغض نفسك فى عبادة الله تعالى فإن المنبت لا أرضا قطع ولا ظهرا أبقى.

وقال عليه السلام: نفسك مطيتك فارفق بها

Jangan membuat dirinya sendiri bersusah payah, hingga jadi lemah dan tak mampu berbuat apa-apa. Ia harus selalu menyantuni dirinya sendiri. Kesantunan itu mendasari kesuksesan segala hal. Rasulullah saw. Bersabda: “Ingatlah, bahwa islam itu agama yang kokoh. Santunilah dirimu dalam menunaikan tugas agama, jangan kau buat dirimu sengsara lantaran ibadahmu kepada Allah. Karena orang yang telah hilang kekuatannya itu, tiada bisa memutus bumi dan tiada pula kendaraan tunggangannya.”

Nabi saw bersabda : “dirimu itu kendaraanmu, maka santunilah ia.”

Cita-cita Luhur

فلا بد لطالب العلم من الهمة العالية فى العمل، فإن المرء يطير بهمته كالطير يطير بجناحيه.

وقال أبو الطيب رحمه الله:

على قدر أهل العزم تأتى العـزائم وتأتى على قـدر الكـرام المكارم

وتعظم فى عين الصغير صغارها وتصغر فى عين العظيم العظائم

Pelajar harus luhur cita-citanya dalam berilmu. Manusia itu akan terbang dengan cita-citanya, sebagaimna halnya burung terbang dengan kedua sayapnya.

Abuth-Thoyyib berucap:

Seberapa kadar ahli cita, si cita-cita kan didapati

Seberapa kadar orang mulya, sikemulyaan kan di temui

Barang kecil tampaknya besar, dimata orang bercita kecil

Barang besar dimata oarang bercita besar, tampaknya kecil

والركن فى تحصيل الأشياء الجد والهمة العالية، فمن كانت همته حفظ جميع كتب محمد بن الحسن، واقترن بذلك الجد والمواظبة، فالظاهر أنه يحفظ أكثرها أو نصفها، فأما إذا كانت له همة عالية ولم يكن له جد، أو كان له جد ولم تكن له همة عالية لا يحصل له العلم إلا قليلا.

Pangkal kesuksesan adalah kesungguhan dan himmah yang luhur. Barang siapa berhimmah menghapalkan seluruh kitab Muhammad Ibnul Hasan, lagi pula disertai usaha yang sungguh-sungguh dan tak kenal berhenti, maka menurut ukuran lahir pasti akan bisa menghafal sebagian besar atau separohnya.

Demikian pula sebaliknya, bila ita-citanya tinggi tapi tidak ada kesungguhan berusaha, atau sungguh-sungguh tetapi tidak bercita-cita tinggi, maka hanya sedikit pula ilmu yang berhasil didapatkannya.

وذكر الشيخ الامام الأجل الأستاذ رضى الدين النيسابورى فى كتاب مكارم الأخلاق أن ذا القرنين لما أراد أن يسافر ليستولى على المشرق والمغرب، شاور الحكماء وقال: كيف أسافر بهذا القدر من الملك، فإن الدنيا قليلة فانية، وملك الدنيا أمر حقير، فليس هذا من علو الهمة.

فقال الحكماء: سافر ليحصل لك ملك الدين والآخرة. فقال: هذا أحسن.

وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الله يحب معالى الأمور ويكره سفسافها.

وقيل : فلا تعجل بأمرك واستدمه فما صلى عصاك كمستديم

Di dalam kitab Makarimul Akhlak, Syaikhul Imam Al-Ustadz Ridladdin mengemukakan, bahwa kaisar Dzul Qarnain dikala berkehendak menaklukan dunia timur dan barat bermusyawarah dengan para Hukama’ dan katanya : Bagaimana saya harus pergi untuk memperoleh kekuasaan dan kerajaan ini, padahal dunia ini hanya sedikit nilainya, fana dan hina, yang berarti ini bukan ita-cita luhur? Hukama menjawab : “Pergilah Tuan, demi mendapat dunia dan akherat.” Kaisar menyahut: “Inilah yang baik.”

Rasulullah saw. Bersabda : “Sungguh, Allah senang perkara-perkara yang luhur tetapi benci yang hina.’

Syi’ir dikatakan;

Jangan tergesa menangani perkaramu, senantiasalah begitu!

Takada yang bisa meluruskan tongkatmu, seperti yang meluruskannya selalu.

قيل: قال أبو حنيفة رضى الله لأبى يوسف: كنت بليدا أخرجتك المواظبة، وإياك والكسل فإنه شؤم وآفة عظيمة.

Ada dikatakan : Abu Hanifah berkata kepada Abu Yusuf : ” Hati dan akalmu tertutup. Tapi engkau bisa keluar dari belenggu itu dengan cara terus-terusanbelajar. Jauhilah malas-malas yang jahat dan petaka itu.”

قال الشيخ الإمام أبو نصر الصفار الأنصارى:

يا نفس يا نفس لا ترخى عن العمل فى البر والعدل والإحسان فى مهل

فـكـل ذى عـمـل فى الخـير مـغـتبط وفـى بـلاء وشــؤم كــل ذى كــسـل

Syaikh Abu Nashr Ash-Shoffar Al-Anshariy berkata:

Diriku oh diriku, janganlah kau bermalas-malasan

Untuk berbakti, adil, berbuat bagus perlahan-lahan

Setiap yang beramal kebajikan, untung kan didapat

Tapi yang bermalasan, tertimpa balak dan keparat.

قال المصنف: وقد اتفق لى فى هذا المعنى شعر:

دعى نـفـسى الـتكــاسـل والـتـوانـى وإلا فـاثـــبــتـى فـى ذا الـــهـــوان

فلم أر للـكــسـالـى اـلحـظ [ يعطى] ســوى نــدم وحــــرمــان الأمــانـى

Ada syi’ir gubahanku yang semakna itu:

Tinggalkanlah oh diriku, bermalasan dan menunda urusan

Kalau tidak, letakkan saja aku, dijurang kehinaan

Tak kulihat, orang pemals mendapat imbal

Selain sesal, dan cita-cita menjadi gagal.

وقيل: كـم مـن حـياء وكم عـجـز وكـم نـدم جــم تــولـــد للإنـسـان مــن كـــسـل

[ إياك عن كسل فى البحث عن شبه فـمــا علـمـت وما قـد شذ عنك سل]

وقد قيل : الكسل من قلة التأمل فى مناقب العلم وفضائله،

Syi’ir diucapkan:

Bertumpuk malu, lemah dan sesal

Kebanyakan dari akibat orang malas beramal

Buanglah segan untuk membahas yang belum jelas

Segala yang kau tahu, dan yang masih ragu akibat malas

Kata-kata mutiara di ucapkan : Sikap malas adalah timbul dari akibat jarang menghayati kemulyaan dan keutamaan ilmu.”

NASIHAT MULIA UNTUK ANAK-ANAK KITA AGAR MENJADI ANAK YANG SHOLIH SHOLIHAH

نِصيحة الأستاذ لتلميذه

يا بني : أرشدك الله ووفقك لصالح الأعمال انك منى بمنزلة الولد من أبيه : يسرنى أن اراك صحيح البنية, قوي الادراك, زكي القلب, مهذب الأخلاق, محافظا على الآداب, بعيدا عن الفحش في القول, لطيف المعاشرة, محبوبا من اخوانك, تواسى الفقراء, وتشفق على الضعفاء, تغفر الزلات, وتعفو عن السيئات, ولا تفرط في صلاتك, ولا تهمل في عبادتك ربك

Pelajaran Pertama

Nasehat Guru kepada Muridnya

Wahai Anakku!

Semoga Allah memberi petunjuk dan taufik kepadamu dalam melaksanakan amal saleh.

Engkau bagiku bagaikan seorang anak bagi ayahnya. Aku senang bila melihatmu sehat badannya, cerdas otaknya, bersih hatinya, mulia akhlaknya, santun prilakunya, jauh dari perkataan buruk, baik dengan teman-teman, disukai oleh teman-teman, menyayangi orang faqir, membantu orang lemah, mengampuni orang yang jahat, memaafkan kesalahan orang lain, tidak meninggalkan shalat dan tidak menggampangkan ibadah kepada Tuahnmu.

يا بني : ان كنت تقبل نصيحة ناصح فأنا أحق من تقبل نصيحته. أنا استاذك ومعلمك ومرب روحك. لا تجد احدا احرص على منفعتك وصلاحك مني

Wahai Anakku!

Bila kamu mau menerima nasehat orang lain, maka akulah orang yang paling berhak kamu terima nasehatnya. Akulah ustadzmu, akulah gurumu dan akulah murabbi ruhmu. Kamu tidak akan mendapati orang yang paling menginginkan kebaikan dan kesuksesan kamu lebih dariku

من النصائح, واعمل به في حضورى وبينك وبين اخوانك وبينك وبين نفسك

Wahai anakku!

Bagimu, aku adalah penasehat yang terpercaya. Ambillah semua nasehat yang aku berikan kepadamu. Laksanakanlah nasehat itu dikala kamu sedang berada dihadapanku, dikala kamu sedang bersama teman-temanmu dan dikala dalam kesendirianmu

يا بني : اذا لم تعمل بنصيحتى في خلوتك فقلما تحافظ عليها بين اخوانك

Wahai anakku!

Bila kamu tidak melaksanakan nasehatku dalam kesendirianmu, maka sulit bagimu melaksanakan nasehat itu jika sedang bersama teman-temanmu

يا بني : اذا لم تتخذنى قدوة فبمن تقتدى؟ وعلام تجهد نفسك فى الجلوس أمامى؟

Wahai anakku!

Bila kamu tidak menjadikanku sebagai panutan? Maka siapa lagi panutanmu? Bagaimana perasaanmu bila sedang duduk dihadapanku

يا بني : ان الأستاذ لا يحب من تلاميذه الا الصالح المؤدب فهل يسرك أن يكون أستاذك ومربيك غير راض عنك, ولا طامع في صلاحك؟

Wahai anakku!

Sesungguhnya seorang guru tidak menginginkan muridnya kecuali menjadi seorang yang baik dan sopan. Maukah kamu tidak diridhai oleh gurumu atau tidak disukai oleh murabbimu? Maukah gurumu dan murabbimu tidak peduli lagi kepadamu

ايصال الخير اليك بالطاعة والامتثال لما امرك به من مكارم الأخلاق

Wahai anakku!

Aku senang kamu menjadi seorang yang baik-baik. Banggakan aku dengan kebaikanmu, dengan ketaatanmu, dengan kesungguhanmu melaksanakan setiap perintah demi kemuliaan ahlakmu

وبين اخوانك واهله وعشيرته. فكن حسن الخلق يحترمك الناس ويحبوك

Wahai anakku!

Ahlaq yang baik adalah sebuah kebanggaan bagi dirinya, bagi teman-temannya dan bagi keluarganya. Maka jadilah kamu orang yang baik ahlaqnya, sehingga orang-orang akan memuliakanmu dan akan akan menyayangimu

علمك اضر عليك من جهلك, فان الجاهل معذور بجهله, ولا عذر للعالم عند الناس اذا لم يتجمل بمحاسن الشيم

Wahai anakku!

Bila kamu tidak menghiasi ilmumu dengan ahlak yang mulia, maka kepandaianmu lebih membahayanku daripada kebodohanmu. Karena orang bodoh bisa dimaklumi sedangkan manusia biasanya tidak memaklumi orang pandai bila tidak memiliki ahlak mulia

يا بني : لا تعتمد على مراقبتى لك, فان مراقبتك لنفسك أفضل وأنفع لك من مراقبتى لك

Wahai anakku!

Janganlah kamu tergantung pada pengawasanku. Karena pengawasan dari dirimu lebih utama dari pngawasanku padamu

يا بني : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ان الله استخلص هذا الدين لنفسه ولا يصلح لدينكم الا السخاء و حسن الخلق ألا فزينوا دينكم بهما. (رواه : الطبران عن عمران بن حصين. واشار البويطى الى انه حديث ضعيف)

Wahai anakku!

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

ان الله استحلص هذا الدين لنفسه ولا يصلح لدينكم الا السخاء وحسن الخلق ألا فزينوا دينكم بهما

Artinya: Sesungguhnya Allah memurnikan agama ini untuk diri-Nya. Tidak akan baik agamamu kecuali kamu berlaku dermawan dan berahlak baik. Maka hiasilah agamamu dengan kedua sikap tersebut

الدرس الثاني

في الوصية بتقوى الله

يا بنى : ان ربك يعلم ما تكنه في صدرك, وما تعلنه بلسانك, ومطلع على جميع اعمالك, فاتق الله. يا بنى- واخذر ان يراك على حالة لاترضيه

Pelajaran Kedua Wasiat Taqwa Kepada Allah

Wahai anakku!

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui isi hatimu, mengetahui ucapanmu dan mengawasi semua perbuatanmu. Maka bertaqwalah kepada Allah Wahai anakku! Dan upayakan jangan sampai Dia melihatmu melakukan perbuatan yang tidak disukai-Nya

اخذر ان يسخط عليك ربك الذى خلقك ورزقك ووهبك العقل الذى تتصرف به في سؤونك. كيف يكون حالك اذا اطلع عليك أبوك وأنت تفعل أمرا نهاك عنه؟ أما تخشى أن يشدد عليك العقوبة؟ فليكن حالك مع الله كذالك لأنه يراك من حيث لا تراه. فلا تفرط في شيئ امرك به, ولاتمدد يدك الى شيئ نهاك عنه

Jagalah dirimu dari murka Tuhanmu, Dialah yang telah menciptakanmu, Dialah yang telah memberi rizki kepadamu dan Dialah yang memberimu akal sehingga kamu memanfaatkan akal tersebut untuk menyelesaikan masalahmu.

Bayangkan bagaimana perasaanmu bila ayahmu melihatmu melakukan suatu padahal dia telah melarangnya? Bukankah kamu merasa takut, ayahmu akan memberi hukuman kepadamu? Begitulah sebaiknya sikapmu kepada Allah, karena Allah selalu melihatmu meskipun kamu tidak melihat-Nya. Janganlah kamu meninggalkan perintah-Nya. Dan janganlah kamu menerjang larangan-Nya

يا بنى : ان ربك شديد العقاب, فاخذر –يا بنى- واتق غضبه وسخطه, ولا يغرنك حلمه فان الله يملى للظالم حتى اذا اخذه لم يفلته”

Wahai anakku!

Sesungguhnya Tuhanmu amat kuat tamparan-Nya dan amat dahsyat azab-Nya. Maka takutlah -Wahai anakku!-. Jagalah dirimu dari murka-Nya. Janganlah kamu terbuai oleh bijaksana-Nya. Karena Allah telah menyiapkan siksaan bagi orang yang zalim, sehingga bila siksaan itu telah menimpanya, dia tidak bisa menghindar darinya

يا بنى : ان في طاعة الله من اللذة والراحة ما لا يعرف الا بالتجربة –فيا بنى- استعمل طاعة مولاك على سبيل التجربة أياما لتدرك هذه اللذة, وتشعر بهذه الراحة وتعلم اخلاصى لك في النصيحة

Wahai anakku!

Sesungguhnya didalam ketaatan kepada Allah terdapat suatu kenikmatan dan ketenangan. Dimana kenikmatan dan ketenangan itu diperoleh bila melalui suatu ujian/cobaan. Oleh karena itu Wahai anakku! Lewatilah ujian-ujian ketaatan kepada Rajamu beberapa hari dulu agar kamu bisa mendapatkan kelezatan ini, agar kamu bisa merasakan ketenangan ini dan kamu baru tahu betapa ihlasnya nasehatku

يا بنى : انك ستجد في طاعة الله ثقلا على نفسك أول الأمر فاحتمل هذا الثقل, واصبر عليه, حتى تصير الطاعة عندك من العادات التى تألفها

Wahai anakku!

Sesungguhnya dirimu akan menjumpai keletihan dan kecapaian dalam melakukan ketaatan sewaktu pertama memulai. Maka bertahanlah dalam keletihan dan kecapaian ini. Bersabarlah menerima hal ini sampai ketaatan menjadi kebiasaan/pola hidupmu

تتعلم القراءة والكتابة, وتؤمر بحفظ القران الكريم غيبا ألم تكن اذ ذاك تكره المكتب والمعلم, وتتمنى ان تكون مطلق السراح فها انت اليوم قد بلغت الدرجة التى عرفت بها فائدة الصبر على التعلم في المكتب, وعلمت أن معلمك كان ساعيا في مصلحتك

Wahai anakku!

Lihatkah dirimu sewaktu belajar di Sekolah Dasar. Kamu belajar membaca dan menulis, kamu diwajibkan menghafal alquranul karim diluar kepala. Bukankah waktu itu kamu merasa tidak senang dengan Sekolah dan juga tidak suka kepada guru, kamu waktu itu berharap ingin keluar dan bersantai-santai saja. Kini kamu telah melewati sekolah dasar itu. Kamu pun tahu manfaat kesabaran sewaktu belajar di Sekolah Dasar. Kamu pun sekarang tahu bahwa gurumu menyuruh demi kebaikanmu

فيا بنى : اسمع نصيحتى, واصبر على طاعة الله كما صبرت على التعلم في المكتب وسوف تعلم فائدة هذه النصيحة وتظهر لك جليا اذا ساعدتك العناية الالهية على العمل بنصيحة استاذك

Wahai anakku!

Dengarkan nasehatku, bersabarlah dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah sebagaimana kesabaranmu sewaktu belajar di Sekolah. Kamu akan tahu manfaat nasehatku dan akan muncul kebesaranmu bila kamu dibantu oleh pertolongan ilahi dalam melaksanakan nasehat gurumu

يا بنى : اياك أن تنظن أن تقوى الله هي الصلاة والصيام ونحوهما من العبادات فقط: ان تقوى الله تدخل في كل شيئ فاتق الله في عبادة مولاك. لا تفرط فيها. واتق الله في اخوانك: لا تؤذ أحدا منهم. واتق الله في بلدك : لا تخنه ولا تسلط عليه عدوا. واتق الله في نفسك لا تهمل في صحتك, ولا تتخلق بسوى الأخلاق الفاضلة

Wahai anakku!

Janganlah mengira bahwa Taqwa kepada Allah hanya sebatas melaksanakan shalat, puasa dan yang sama dengan keduanya saja. Ajan tetapi taqwa kepada Allah berada dalam segala hal. Bertaqwalah kepada Allah dalam beribadah kepada Tuhanmu, janganlah kamu meninggalkannya. Bertaqwalah kepada Allah dalam pertemanan, jangan kamu sakiti satupun dari mereka. Bertaqwalah kepada Allah dalam bernegara, jangan kamu berkhianat dan jangan berkolaborasi dengan musuh. Bertaqwalah kepada Allah dalam dirimu sendiri, janganlah kamu sia-siakan kesehatanmu dan janganlah berprilaku selain prilaku dengan ahlak mulia

يا بنى : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم”اتق الله حيثما كنت, وأتبع السيئة الحسنة تمحها, وخالق الناس بخلق حسن

Wahai anakku!

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Bertaqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan yang akan menghapusnya. Dan berahlaklah kepada manusia dengan ahlak yang baik.

WALHAMDULILLAAHIROBBIL’AALAMIIN

TANAMKANLAH RENDAH HATI KARENA USAHA ITU PENTING TAPI BUKAN SEGALANYA

Min ‘alamatil i’timad ‘alal ‘amal, nuqshan al-raja’ ‘inda wujudil zalal. Tanda seseorang bergantung pada amal dan karyanya adalah bahwa dia akan cenderung pesimis, kurang harapan manakala dia mengalami kegagalan atau terpeleset.

Ini kebijaksanaan yang mendalam. Bisa dipahami dalam pengertian “khusus” menurut para ahli tasawwuf. Atau dipahami secara awam atau umum.

Pengertian Umum

Dimulai dengan pemahaman yang umum atau awam dulu. Pemahaman orang-orang biasa. Seorang yang beriman seharusnya memiliki kesadaran bahwa ia bisa mencapai sesuatu bukan semata-mata karena pekerjaannya.

Kita berusaha, lalu berhasil. Kita bekerja, lalu sukses. Kita berdagang, lalu untung. Kita belajar, lalu menjadi orang pintar. Kita pedekate, lalu menjadi pasangan. Dan seterusnya. Semua hasil itu jangan semata-mata kita pandang sebagai melulu berkat usaha dan pekerjaan kita.

Kita harus menyisakan sedikit “ruang” bahwa keberhasilan kita ini jangan-jangan tidak seluruhnya karena faktor usaha kita, tetapi juga karena ada fakor X yang kita tidak tahu. Kehidupan manusia adalah sangat kompleks. Kita tidak bisa mengontrol seluruh faktor yang berpengaruh dalam tindakan sosial kita.

Ada faktor-faktor yang luput dari perhitungan dan kontrol kita. Faktor ini bisa membuat usaha kita sukses, bisa juga membuatnya gagal. Sebagai seorang beriman, kita percaya bahwa hanya Tuhan yang berkuasa atas faktor-faktor “misterius” semacam ini. Kalau Anda ateispun, Anda tetap bisa memahami logic di balik kata-kata bijak Ibnu Ataillah ini.

Manfaat dari sikap semacam ini adalah: Anda tidak langsung pesimis dan putus asa saat gagal mencapai suatu hasil. Jika Anda berpikir bahwa usaha Anda adalah satu-satunya faktor penentu, saat Anda gagal, Anda boleh jadi akan ngenes dan sedih: Saya sudah bekerja keras, kenapa tetap gagal?

Ajaran ini mau memberi tahu kita agar kita rendah hati.

Pengertian Khusus

Ada tiga jenis pekerjaan atau amal: amal syariat, amal thariqat, dan amal haqiqat.

Amal syariat adalah ketika Anda menyembah Tuhan sesuai dengan peraturan dan hukum agama. Amal thariqat adalah kesadaran bahwa saat Anda menyembah Tuhan, Anda tidak sekedar menyembah. Melainkan Anda sedang “on the journey”, sedang dalam petualangan dan perjalanan menuju Tuhan. Amal haqiqat adalah pengalaman spiritual yang disebut dengan “syuhud” atau “vision”.

Apa itu syuhud?

    Syuhud itu pengalaman mistik/spiritual yang hanya bisa dialami oleh seseorang yang sungguh-sungguh menjalani dua amal sebelumnya. Dalam pengalaman itu, Anda merasa seolah-olah berjumpa, menyaksikan (vision) Tuhan. Tentu bukan penyaksian dengan indera lahir. Melainkan dengan indera batin.

Jangan sekali-kali Anda mengira bahwa amal syariat dan thariqat bisa langsung, secara otomatis, membawa Anda kepada pengalaman haqiqat. Amal syariat dan thariqat adalah jalan atau wasilah menuju ke sana. Anda harus melalui jalan itu. Tetapi Anda sampai ke puncak haqiqat atau tidak, itu bukan sepenuhnya ditentukan oleh usaha kita sendiri, melainkan karena kemurahan (fadl) Tuhan.

Seorang yang bijak pernah berkata: Ketika seseorang telah sampai pada hakikat Islam, dia tak mampu berhenti berusaha/ beramal baik. Ketika seseorang memahami hakikat iman, dia tak akan mampu beramal/bekerja tanpa disertai Tuhan. Ketika seseorang sampai kepada hakikat ihsan (kebaikan), dia tak mampu berpaling kepada selain Tuhan.

Apa pelajaran yang dapat kita peroleh dari kebijaksanaan Ibnu Athaillah ini?

Pertama, kita diajarkan agar tidak merasa paling alim sendiri, saleh sendiri, Islami sendiri, karena amalan kita. Sombong dan tinggi hati bukanlah perangai orang beriman.

Kedua, kita juga diajarkan untuk rendah hati, jangan merasa sok bahwa usaha kita menentukan segala-galanya. Sebab perasaan sombong semacam itulah yang akan menjerembabkan kita kepada perasaan mudah putus asa, patah hati, pesimis.

Orang beriman harus optimis terus, tak peduli keadaan apapun yang sedang mengerubuti kita!

Apa yang bisa kita petik dari uraian di atas?

1. Banyak hal dan variabel dalam hidup ini yang di luar kontrol kita. Kita punya pilihan bebas untuk melakukan sesuatu, tetapi ada hal-hal di luar sana yang mempengaruhi pekerjaan dan pilihan kita, tetapi tak bisa kita kendalikan. Hanya Tuhanlah yang bisa mengendalikan itu semua. Karena itu, kita perlu mempunyai sikap “berserah diri” kepada Tuhan.

2. Jangan menganggap bahwa pekerjaan dan amal kita menentukan segala-galanya. Ibadah kita sekalipun tak menjamin keselamatan kita, menjamin kita masuk sorga. Hanya kemurahan Tuhan lah yang akan menjamin.

    3. Ajaran Ibnu Ataillah yang pertama ini hendak mengajari kita “the ethics of humility”, etika rendah hati. Seorang beriman tak boleh menyombongkan amalnya, pekerjaan baiknya. Seorang beriman harus rendah hati. Kerendah-hatian inilah yang membuat kita sehat secara mental.

Wallahu a’lam

KISAH NYATA : ANAK SENGSARA MUNGKIN KARENA PERKATAAN BURUK IBUNYA

Alkisah seorang anak hidup dalam kederhanaan. Sebut saja ia dalam kisah nyata ini dengan inisial H. Ibunya pergi merantau dan dia tinggal bersama neneknya. Setiap bulan ibunya pulang untuk sekadar silaturahmi pada orang tuanya yang masih hidup dan bertemu anaknya. Selama ini saya pun juga tidak tau apa pekerjaan asli sang ibu itu.

SILAHKAN LIHAT JUGA VIDEO DI LINK INI : Zain M Channel

Suatu ketika tepatnya di bulan puasa Ramadhan, sang ibu itu pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga. Seperti biasa adat anak-anak Jawa, setiap bulan puasa tak lepas dari petasan yang menjadi mainan mereka. Banyak anak-anak yang main petasan di pinggir jalan, di depan rumah orang, tanpa berpikir apakah yang mereka lakukan mengganggu orang lain atau tidak. Yang namanya anak-anak, sudah diberi tahu beberapa kali pun seakan tak dihiraukan. Tepatnya di depan rumahku kejadian ini berawal. Setelah shalat tarawih banyak anak yang bermain di depan rumah termasuk si H. Kebetulan hari-hari itu kakekku sedang sakit. Kebetulan malam itu ibu si H sedang ada di dalam rumahku berniat menjenguk kakekku. “Anak-anak, kalian jangan sampai main petasan di depan rumah ini, ya! Kakek lagi sakit” teriak ibu H sambil keluar di depan rumah. Setelah itu si ibu pun masuk lagi ke rumah dan kembali ke kamar kakek.

Tak lama kemudian, “Daaaaaaaarrrrr….” suara petasan meletus hingga membuat yang di dalam rumah kaget. Bergegaslah ibunda H tadi keluar. “Siapa yang mainan petasan barusan” teriak ibu itu dengan muka merah. “H, Bu” sahut salah satu anak yang di depan tadi.

Seketika ibu itu juga teriak pada anaknya. Ucapan yang bernada marah terucap, “Ingat, Nak, kamu diatur sulit. Ingat ya, kamu tidak pernah akan bahagia selamanya karena kamu sulit diatur,” teriak ibu tadi pada anaknya. Saat itu aku berada di rumah dan dengan jelas mendengar langsung “doa” sang ibu tadi pada H.

Diriku merasa tercengang dengan perkataan ibu tadi. “Masyaallah, tega banget ibu tadi mendoakan anaknya sendiri seperti itu. Bukankah doa ibu pada anak itu mudah terkabul? Apalagi sang ibu dalam keadaan marah karena anaknya,” gumamku dalam hati. H memang tergolong anak yang lumayan nakal. Tapi menurutku justru nakal itu harus didoakan agar berubah dan nantinya menjadi baik.

Beberapa tahun kemudian… Kehidupan H selama ini memang tergolong yang tidak beruntung. Dia pernah jadi buronan polisi karena kasus pencurian di Surabaya. Dalam hal pernikahan, ia gagal karena berakhir perceraian. Nikah lagi, dan menghamili mertuanya sendiri. Diusirlah ia oleh warga kampung istrinya karena dianggap mencemarkan nama baik. Dan yang terakhir yang saya tahu, H hampir dikeroyok pemuda kampungnya sendiri karena mencuri. Dan sekarang dia pun lontang-lantung di rumah seakan membawa beban berat jika dilihat raut mukanya.

Ya Allah, seketika jika melihat kehidupanya saya teringat ucapan ibundanya sewaktu dia kecil dulu. Ucapan sang ibu yang mendoakan anaknya tidak akan bahagia selamanya. “Apakah ini yang dinamakan doa ibu yang selalu terkabul,” pikirku.

Dengan kisah ini semoga kita menjadi orang tua yang lebih santun di setiap ucapan. Tidak gampang mendoakan dengan doa yang buruk. Jika anak kita nakal, hendakaknya malah kita doakan semoga diberi kesadaran hingga mendapat kebaikan. Karena ridha Allah tergantung dengan ridha orang tua juga.” Menjadi orang tua memang sulit. Harus mengatur rumah tangga, juga mendidik anak-anak agar mempunyai akhlak baik. Bandelnya sang anak kadang memancing emosi mereka. Inilah gambaran orang tua. Tetapi, meskipun demikian hendaklah orang tua menjaga ucapan untuk anak-anak mereka. Sebandel dan senakal apapun anak jangan sampai orang tua terucap dari mulut suatu perkataan yang tidak baik pada anak apalagi mendoakan yang tidak baik. Na’udzubillah.

JANGANLAH BERKATA YANG BURUK KARENA PERKATAAN BURUKMU BISA MENJADI DO’A

Menjaga lisan dari perkataan buruk merupakan keharusan. Nabi Muhammad ﷺ biasa menghindari penyampaian sesuatu yang terkesan jorok, dengan tidak menyebutkannya secara eksplisit, melainkan menggunakan kata kiasan.

Misalnya pada kasus seperti terekam dalam hadits yang diceritakan oleh Abad bin Hamim:

 أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلُ الَّذِي يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَجِدُ الشَّيْءَ فِي الصَّلاَةِ؟ فَقَالَ: «لاَ يَنْفَتِلْ – أَوْ لاَ يَنْصَرِفْ – حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

Artinya: “Seorang laki-laki mengeluh kepada Rasulullah ﷺ bahwa ia seolah-olah merasakan sesuatu (seperti kentut) dalam shalatnya. Lalu Nabi menyarankan orang tersebut untuk tidak meninggalkan shalatnya sampai ia benar-benar mendengar suara atau mencium bau” (HR Bukhari).

SILAHKAN LIHAT JUGA VIDEO DI LINK INI : Zain M Channel

Hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi Muhammad tidak secara eksplisit menyebut kalimat misalnya “sampai dia mendengar suara atau bau kentut” tapi hanya dengan istilah “mendengar suara atau mencium bau” saja. Kebiasaan Nabi memang menghindari menyebutkan kalimat-kalimat yang terkesan jorok jika diucapkan apa adanya. Pernyataan-pernyataan yang kurang baik memang perlu dihindari. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar mengisahkan ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasul. Pertanyaan itu hanya perumpamaan saja, namun akibatnya ia malah mengalami sendiri.

Berikut haditsnya:

 يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ أَنْ لَوْ وَجَدَ أَحَدُنَا امْرَأَتَهُ عَلَى فَاحِشَةٍ، كَيْفَ يَصْنَعُ إِنْ تَكَلَّمَ تَكَلَّمَ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ؟ وَإِنْ سَكَتَ سَكَتَ عَلَى مِثْلِ ذَلِكَ، قَالَ: فَسَكَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُجِبْهُ، فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ أَتَاهُ، فَقَالَ: ” إِنَّ الَّذِي سَأَلْتُكَ عَنْهُ قَدِ ابْتُلِيتُ بِهِ

Artinya: “Ya Rasulallah, bagaimana menurut anda seumpama seseorang di antara kita ada yang mendapati istrinya sedang melakukan perzinahan (selingkuh)? Apa yang harus dilakukan? Kalau mau dibicarakan, mestinya dia akan membicarakan masalah besar. Namun kalau mau diam, kok dia ya mendiamkan masalah besar? Mendapati pertanyaan tersebut, Nabi Muhammad ﷺ hanya diam seribu bahasa. Beliau tidak berkenan menjawab. Setelah beberapa waktu, laki-laki yang pernah melontarkan pertanyaan pengandaian itu sowan kepada Nabi. Ia mengaku, pertanyaan yang pernah ia lontarkan ternyata menimpa dirinya. Ia mengaku mendapat ujian dari Allah bahwa istrinya malah selingkuh” (HR Muslim: 1493) .

Sebuah kisah yang diceritakan oleh Ibnu Abbas:

 أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أَعْرَابِيٍّ يَعُودُهُ، قَالَ: وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ عَلَى مَرِيضٍ يَعُودُهُ قَالَ: «لاَ بَأْسَ، طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ» فَقَالَ لَهُ: «لاَ بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ» قَالَ: قُلْتُ: طَهُورٌ؟ كَلَّا، بَلْ هِيَ حُمَّى تَفُورُ، أَوْ تَثُورُ، عَلَى شَيْخٍ كَبِيرٍ، تُزِيرُهُ القُبُورَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَنَعَمْ إِذًا

Artinya: “Nabi Muhammad ﷺ mendatangi seorang Badui yang sedang sakit. Setiap mengunjungi orang sakit, Nabi bersabda: ‘Tidak apa-apa, menjadi penghapus dosa. insyaallah.’ Begitu juga perkataan Nabi tersebut, beliau sampaikan kepada orang Badui yang sedang sakit. Reaksi Badui ketika mendapatkan doa, malah berkata: ‘Penghapus dosa? Sekali-kali tidak (tidak mungkin), sakit panas saya yang bergejolak ini memang menimpa orang tua yang sudah lanjut usia yang mengantarkannya ke alam kubur.’ Maka Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Iya sudah kalau begitu” (HR Al-Bukhari: 3616).

Setelah orang Badui mengatakan bahwa panas yang ia derita adalah panas yang menghantarkannya kepada kematian, menurut At-Thabarani, besok paginya si Badui meninggal dunia.

Cerita lain tentang ucapan yang menjadi kenyataan adalah kisah Nabi Yusuf kecil di saat ia diajak oleh saudara-saudaranya untuk pergi ke hutan, ayah Nabi Yusuf yang bernama Nabi Ya’qub berat melepaskan Yusuf kecil. Beliau sempat mengatakan:

 إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا بِهِ وَأَخَافُ أَنْ يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ وَأَنْتُمْ عَنْهُ غَافِلُونَ

Artinya: “Sesungguhnya aku atas kepergian kalian bersama Yusuf sangat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala sedang kalian lengah darinya” (QS Yusuf: 13).

Setelah saudara-saudaranya Nabi Yusuf pulang dari hutan, ternyata mereka tidak membawa pulang Nabi Yusuf. Walaupun berbohong, mereka mengaku kepada Nabi Ya’qub bahwa Yusuf dimakan serigala. Kekhawatiran yang terucapkan oleh Nabi Ya’qub, seolah-olah menjadi realitas. Walaupun nanti ada cerita panjang nan rumit yang kemudian bisa menyatukan kembali di antara mereka semua.

Berikutnya, saat Nabi Yusuf digoda oleh seorang wanita dan wanita-wanita lain, Nabi Yusuf sampai berdoa:

 رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Artinya: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh” (QS Yusuf: 33).

Doa pilihan Nabi Yusuf yang lebih memilih penjara daripada terjerumus bersama para wanita, akhirnya diijabahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang akhirnya memang Nabi Yusuf dipenjara namun ia juga bebas dari tipu daya wanita:

 فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Maka Tuhan memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (QS Yusuf: 34)

Dalam syair Majnunu Laila ­–yang artinya orang yang tergila-gila dengan Laila, bukan Laila Majnun yang berarti Laila yang gila–Qais melantunkan:

 فلو كنتُ أعمى أخبِط الأرضَ بالعصا ۞ أصمَّ فنادتني أجبتُ المناديا

Artinya: “Jika saja aku ini menjadi buta, akan aku hentakkan tongkatku di atas muka bumi. Dan apabila aku tuli pun, andai saja Laila mengundangku, aku akan datangi pengundang tersebut.” Sebagian perawi mengisahkan bahwa Qais di kemudian hari menjadi buta dan tuli setelah melantunkan syairnya tentang buta dan tuli.

Dengan cerita-cerita di atas, kita dapat mengambil pelajaran betapa pentingnya sebuah perkataan baik untuk pribadi sendiri maupun untuk keluarga misalnya dengan kalimat “saya tidak mungkin mampu” dan lain sebagainya. Apalagi untuk orang tua yang sedang kurang berkenan dengan anaknya, jangan sampai berbicara buruk kepada anak tersebut. Barangkali dengan ucapan buruk tersebut, Allah mengabulkan suatu saat nanti. Na’udzu billah. Wallahu a’lam.

USWAH : AMPLOP DA’I JANGAN JADI TUJUAN

Ada seorang Sayyid sepuh yang sangat mencintai Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki, beliau biasa dipanggil “Syekh Syu’aib” dan umurnya jauh lebih tua dari Abuya, saya baru tahu kalau beliau itu seorang Sayyid ketika Abuya menyebut nama beliau dengan gelar “Assayyid” saat menulis buku harian, tapi saya lupa marganya. Syekh Syu’aib selalu menghadiri majlis Abuya, beliau juga sering bertamu pada Abuya di siang hari dan selalu membawa hadiah.

Suatu ketika saya sedang bersama Abuya dan datanglah Syekh Syu’aib dengan membawa hadiah, Abuya menerima hadiah itu dan langsung menciumnya dengan wajah gembira, Syekh Syu’aib nampak gembira dengan sambutan Abuya. Namun tiba-tiba wajah Abuya berubah seperti menghawatirkan sesuatu dan kemudian berkata: “Wahai Syekh Syu’aib, saya senang sekali menerima hadiah anda dan saya berterima kasih banyak, tapi saya mohon, kalau ke sini jangan selalu membawa hadiah.”

“Kenapa, wahai Sayyid?” Kata Syekh Syu’aib.

“Saya tidak mau terbiasa menerima hadiah dari Anda dan siapapun, karena saya hawatir ketika suatu saat anda tidak membawa hadiah kemudian hati saya berburuk sangka, misalnya saya akan mengira anda tidak mencintai saya lagi, atau anda tidak dermawan lagi dan sebagainya.”

Setelah mendengar penjelasan Abuya, Syekh Syu’aib tertawa kecil kemudian berkata: “Wahai Sayyid, katakan itu pada orang lain. Kalau saya, jangan halangi saya untuk membawa hadiah.” Mendengar ucapan Syekh Syu’aib itu Abuyapun tertawa terbahak-bahak.

Subhanallah, Abuya begitu ketatnya didalam menjaga hati, saya sendiri belum pernah berfikir akan hal itu, bahwa selalu menerima hadiah dari sesorang itu dapat memunculkan buruk sangka ketika suatu saat orang itu tidak memberi hadiah. Saya yakin orang sekelas Abuya tidak akan berburuk sangka seperti itu, karena, yang saya tahu, beliau orangnya sangat arif dan penyabar, beliau bahkan selalu berbaik sangka pada orang yang jelas-jelas menyakiti beliau. Kalau melihat raut Abuya ketika mengatakan itu, saya merasa Abuya mengatakannya dari hati, itu artinya beliau selalu rendah hati di hadapan Allah dan manusia. Walaupun beliau adalah seorang ulama besar yang sejak kecil sudah terbiasa menjaga hati, namun beliau selalu menghawatirkan keselamatan hati dari sifat-sifat tercela, beliau tidak merasa kebal dan selalu berusaha menghindari hal-hal yang dapat mengotori hati, beliau selalu mencurigai hawa nafsu dan berhati-hati didalam melakukan apapun.

Ucapan singkat Abuya kepada Syekh Syu’aib itu memberi arti yang sangat dalam. Bagi saya, seandainya Abuya hanya berbasa-basi dengan ucapan itu, tetap saja ucapan itu adalah sebuah tarbiyah serius bagi saya yang mendengarnya, apalagi kami (santri beliau) yang dari Indonesia akan mengalami hal itu, dimana para pendakwah di Indonesia umumnya mendapat hadiah ketika menghadiri undangan ceramah. Sebagai manusia biasa, penceramah yang terbiasa menerima amplop ketika berceramah bisa merasa tidak nyaman ketika suatu saat panitia tidak memberinya amplop, perasaan tidak nyaman itupun bisa bermacam-macam, misalnya buruk sangka pada tuan rumah atau panitia. Dalam hal ini, Abuya Ali Karrar mempunyai cara yang bagus dan patut ditiru, beliau tidak pernah membuka amplop yang beliau terima ketika diundang ceramah, beliau langsung menyerahkannya pada bendahara pribadi beliau, beliau juga tidak pernah menanyakan saldo uang yang dipegang bendahara kecuali sedang ada perlu untuk keperluan Pesantren atau program dakwah.

Saya sediri memiliki banyak pengalaman saat berlatih “tidak peduli amplop”, diantaranya ketika saya tinggal di Jakarta, saya pernah diundang ceramah ke Jawa Timur dan panitia salah memberi amplop, dia memberi saya amplop yang semestinya untuk penceramah lokal, isinya hanya beberapa ratus ribu rupiah saja, sementara dari jakarta ke Surabaya saya naik pesawat, dari Bandara Surabaya ke tempat acara menggunakan mobil dan supir sewaan.

Saya harap pembaca memaklumi kalau saya berharap isi amplop itu cukup untuk menutup biaya transportasi, karena biaya itu saya dapat dari berhutang. Hal serupa juga pernah terjadi ketika saya diundang ceramah di sebuah kampung pedalaman di Madura, ketika itu saya juga masih tinggal di Jakarta, setelah berceramah dan hendak pulang, tuan rumah memberi saya amplop isinya lima ratus ribu rupiah, hanya cukup untuk membayar sewa mobil dan supir dari Bandara ke tempat acara.

Ketika melepas saya pulang, tuan rumah berkata pada saya: “Terima kasih, Kiyai. Semoga anda bisa hadir setiap tahun.” Setelah membuka amplop dan menyerahkan isinya ke supir untuk membayar sewa mobil, saya teringat dengan kata-kata tuan rumah tadi, “Semoga anda bisa hadir setiap tahun”, sayapun berjanji di hati, kalau dia mengundang lagi maka saya akan datang walaupun harus berhutang untuk membeli tiketnya.

Saya juga memiliki pengalaman pernah menolak amplop, ketika itu saya marah karena ada seorang “penceramah komedian” yang dengan terang-terangan berkata bahwa dirinya memilih pindah profesi sebagai penceramah karena penghasilannya lebih bagus daripada profesi sebelumnya, sayapun menasehatinya walaupun ketika itu saya baru berumur dua puluh tiga tahun dan dia sudah hampir lima puluh tahun, namun dia malah berkata: “Sampean, kan, juga merima amplop kalau diundang ceramah.” Sayapun -yang ketika itu masih muda dan mudah marah- merasa jengkel dan tidak mau berteman dengannya, sampai-sampai saya menolaknya ketika dia bertamu ke rumah saya, ketika itu dia tidak turun dari mobil dan menyuruh asistennya untuk melihat apakah saya ada di rumah atau tidak, sayapun berkata pada asistennya: “Katakan saja bahwa saya ada di rumah tapi tidak mau menemuinya.”

Begitulah galaknya saya ketika masih muda dan baru pulang dari Makkah. Sejak saat itu, saya memutuskan untuk tidak menerima amplop ketika diundang ceramah atau apapun, saya bahkan berpesan pada tuan rumah atau panitia ketika datang untuk mengundang saya agar saya tidak diberi amplop. Itu adalah perubahan yang cukup berat bagi saya, karena kebiasaan saya sejak kecil adalah memiliki uang dari pemberian orang, baik hadiah dari santri-santri ayah saya maupun amplop ketika menghadiri undangan.

Di tempat saya, putra-putra Kiyai ketika hadir majlis diberi amplop oleh tuan rumah walaupun tidak berceramah atau memimpin doa, cukup hadir saja. Jadi, sejak kecil saya sudah terbiasa menerima amplop, ketika mulai diundang ceramah di umur tujuh belas tahunan sayapun terbiasa menerima amplop yang isinya lumayan banyak. Sebagaimana ayah saya, saya tidak berfikir untuk bekerja atau berwira usaha, karena uang yang saya dapat dari amplop itu sudah cukup untuk memenuhi keperluan saya, apalagi ayah saya yang setiap hari juga banyak tamunya dan setiap tamu pasti memberi amplop.

Nah, begitu saya memutuskan untuk tidak menerima amplop, sayapun mengalami kesulitan dan kemudian mulai sering “ngutang” bensin, tapi saya langsung mencoba untuk bekerja seperti orang biasa dan saya memilih berdagang. Pertama kali saya berdagang adalah berjualan bawang merah, saya nekat meminjam mobil box yang sudah tiga bulan tidak pernah dipakai, mobil box itu saya gunakan untuk mengangkut dua ton bawang merah dari Probolinggo dan saya bawa ke pasar Sukorejo. Setibanya di pasar saya bingung untuk menjual bawang merah itu, saya hanya berdiri di sebelah mobil box di parkiran pasar, namun tiba-tiba ada orang yang mengenal saya dan diapun menghampiri saya seraya berkata: “Sedang apa, Gus?”

“Saya punya bawang merah dan ingin menjualnya di sini.” Jawab saya dengan agak ragu dan malu-malu.

“Oo.. Di mana bawangnya, Gus?”

“Di dalam mobil ini.”

“Baiklah, Gus, saya akan beri tahu teman-teman saya di dalam pasar.” Kata orang itu kemudian bergegas masuk ke dalam pasar. Tidak lama kemudian orang itu kembali bersama beberapa orang penjual sayur dan rempah, sayapun kebingungan karena tidak menyiapkan timbangan dan kantong plastik, akhirnya salah satu dari mereka meminjamkan timbangan dan memberi saya kantong palstik, hanya dalam beberapa puluh menit saja bawang merah sayapun terjual beberapa kwintal.

Itu adalah pengalaman saya ketika baru pulang dari Makkah, ketika itu ayah saya tidak tahu kalau saya menolak amplop saat diundang ceramah, bahkan beliau tidak tahu kalau saya berdagang bawang merah. Hal itu berlangsung beberapa bulan dan kemudian saya keluar dari rumah karena disuruh menikah, ketika itu saya tidak mau menikah karena merasa belum harus “duduk” di rumah, ayah dan paman-paman saya masih sehat, saya pikir, saya masih bisa menambah pengalaman di luar.

Yang saya alami itu mungkin juga dialami oleh orang lain, maka saya berpesan pada adik-adik dan anak-anak didik saya yang mulai terjun di bidang dakwah, kalian boleh menerima amplop ketika berdakwah, yang penting jangan sampai amplop itu menjadi tujuan, walaupun hanya tujuan sampingan. Kalau memang perlu uang untuk transport sebaiknya berterus terang saja pada panitia agar disiapkan, akan lebih baik lagi kalau disiapkan tiketnya bukan dalam bentuk uang, daripada berharap amplop untuk mengganti tiket kemudian kecewa dan rusaklah keikhlasan kalian. Kalau kalian terkenal dan kalian memiliki banyak uang dari manapun, tunjukkan kesederhanaan dan kepedulian pada tetangga kalian. Usahakan mereka melihat kalian suka memberi sehingga kalian tidak hanya dikenal suka menerima. Kalau kalian memiliki banyak jadwal undangan ceramah yang biasanya diberi amplop, maka luangkanlah waktu untuk berdakwah tanpa diundang, misalnya dengan mendatangi kampung-kampung didekat rumah kalian untuk berdakwah model silaturrahim atau majlis kecil-kecilan.

Menurut pengalaman saya, dakwah dengan ceramah di panggung itu tidak banyak hasilnya, majlis seperti itu kadang lebih dipandang sebagai hiburan karena mendatangkan penceramah yang lucu atau terkenal, pengaruhnya lebih kuat dakwah model silaturrahim, dengan interaksi dari hati ke hati dan menunjukkan peduli, apalagi kalau kalian adalah putra guru mereka turun temurun. Jangan malas apalagi gengsi untuk bersilaturrahim pada masyarakat bawah.

Oh ya, mungkin ada yang bertanya, apakah sekarang saya masih menolak amplop? Jawabannya “tidak”, tapi ketahuilah bahwa amplop yang saya terima dari undangan ceramah tidak lebih banyak dari penghasilan saya berjualan buku, kebanyakan biaya pembangunan Pesantren saya juga dari hasil penjualan buku. Kemudian, selain berjualan buku, saya juga memiliki usaha yang penghasilannya cukup untuk keperluan saya dan keluarga saya. Kalau ada yang mengundang saya maka saya hanya minta agar disiapkan stand untuk buku-buku saya, atau agar panitia membantu menjualkan buku-buku saya, bahkan terkadang saya membeli tiket sendiri dengan uang dari hasil penjualan buku-buku itu.