MARHABAN YA ROMADLON…. MEMAKNAI BAHAGIA DALAM MENYAMBUT DATANGNYA BULAN ROMADLON

Sesuatu yang dinanti-nanti pasti akan memberikan kebahagiaan, sebagaimana sesuatu yang akan memberikan kebahagiaan pasti senantiasa dinantikan kehadirannya. Seorang suami istri misalnya, yang telah lama menikah dan belum dikaruniai anak, lalu berkeinginan mempunyai anak, pasti selalu menantikan hadirnya sang buah hati, lalu setelah hadir di tengah-tengah mereka pasti keduanya merasa bahagia tiada terkira. Namun jika anak yang akan memberikan kebahagiaan itu belum hadir, maka mereka akan selalu dan terus menantinya, sambil berharap hadirnya si buah hati di tengah mereka.

Begitu pula dengan bulan Ramadhan, bulan yang selalu dinanti-nanti oleh setiap hamba kehadirannya, karena ada kebahagiaan yang terdapat di dalamnya saat hadir di tengah-tengah mereka. Dan karena di dalamnya terdapat nilai yang akan memberikan kebahagiaan dan ketenteraman maka ia akan senantiasa dinanti-nantikan sepanjang tahunnya.

Begitulah yang dilakukan oleh Rasulullah saw saat menanti hadirnya bulan yang penuh berkah. Dua bulan sebelumnya beliau sudah memohon kepada Allah SWT agar dipanjangkan asianya sehingga dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Begitu pula para sahabat, mereka selalu antusias dan bersemangat dalam menanti hadirnya bulan Ramadhan. Sebagaimana para tabiin, tabi tabiin dan para salafussalih; mereka tidak pernah lupa dan selalu menantikan hadirnya bulan Ramadhan, bahkan dalam suatu riwayat disebutkan bahwa hidup mereka dalam setahun dibagi pada dua bahagian; periode pasca Ramadhan dengan memohon kepada Allah SWT agar diterima segala amal ibadah mereka dan periode sebelum Ramadhan (6 bulan sebelumnya), agar kembali diperkenankan Allah SWT untuk berjumpa dengan bulan Ramadhan pada masa yang akan datang.

Bahagia menyambut hadirnya bulan Ramadhan adalah suatu keniscayaan, karena dengan itu ia akan mempersiapkan diri untuk menyambutnya; baik secara fisik, mental dan spiritual, harta dan lain sebagainya, sebagaimana dapat memberikan semangat untuk mengisi aktivitas dan ibadah Ramadhan secara maksimal dan optimal.

Bahagia menyambut bulan Ramadhan merupakan sunnah dan bagian yang tidak boleh terpisahkan bagi umat Islam, karena hal tersebut berarti mensyukuri nikmat yang telah Allah SWT anugerahkan kepadanya; Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk meraih dan menggapai berbagai nikmat, pahala dan janji-janji yang telah disediakan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Seperti nabi saw selalu mengingatkan dalam sabdanya:

“Shalat lima waktu, dan jumat ke jumat lainnya, dan Ramadhan ke Ramadhan lainnya akan menggugurkan dosa antara keduanya selama menjauhi dosa besar”. (Muslim).

Dalam hadits lain disebutkan:

“Barangsiapa yang bergembira datangnya bulan Ramadhan, diharamkan Allah jasadnya menyentuh api neraka”. (An-Nasa’i).

Dan pada hadits lain juga disebutkan:

“Seandainya umatku tahu keutamaan bulan puasa, tentu mereka akan meminta supaya bulan yang ada dijadikan puasa selamanya… (Ibnu Majah).

Rasulullah saw selain mengucapkan doa ketika memasuki bulan Rajab seperti yang termaktub di atas, menjelang Ramadhan tiba beliau juga menyampaikan basyarah (kabar gembira) sekaligus pengarahan dan motivasi kepada para sahabatnya terkait dengan bulan Ramadhan. Seperti yang diriwayatkan oleh Sayyid bin Thawus dan syeikh Shaduq, dengan sanad dari Amirul Mukminin Umar bin Al-Khattab ra, dia berkata: bahwa Rasulullah saw pada suatu hari menjelang bulan Ramadhan tiba berpidato di hadapan kami:

Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah SWT dengan membawa berkah rahmat dan magfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah SWT. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama. Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah SWT dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amal mu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah SWT Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah SWT membimbingmu untuk melakukan shiyam (puasa) dan membaca Kitab-Nya. Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah SWT di bulan yang agung ini.

Kenanglah dengan rasa lapar dan haus-mu di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraan-mu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatim-mu. Bertobatlah kepada Allah SWT dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah SWT memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amal-mu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu. Ketahuilah! Allah SWT bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin (Tuhan semesta alam).

Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah SWT nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.” Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan se teguk air.”

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaqnya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathal mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah SWT akan meringankan pemeriksaan-nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah SWT akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah SWT akan memuliakannya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahim) di bulan ini, Allah SWT akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah SWT akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah SWT akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardhu, baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardhu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah SWT akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan menjadi ringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatamkan Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkan nya kembali bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan kembali bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasai dirimu kembali. Amirul mukminin berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah SWT”.

Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah SWT telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu (sunnah).”

“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, sama lah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.”

“Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan Allah SWT memberikan rezki kepada mukmin di dalamnya.

Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikit pun berkurang.” Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabda lah Rasulullah saw, “Allah SWT memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau se teguk air, atau se hirup susu.” Dan barangsiapa yang memberikan rasa kenyang kepada orang yang berpuasa, maka Allah SWT akan memberinya minuman dari kolam ku sehingga dia tidak akan haus selamanya sampai masuk surga.

Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya niscaya Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”

Oleh karena itu perbanyaklah dengan empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat membutuhkannya; Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan mohon ampun kepada-Nya; sedangkan dua perkara yang kamu sangat membutuhkannya ialah memohon surga dan perlindungan dari neraka.

Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah SWT memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (Ibnu Huzaimah).

Duhai bulan Ramadhan yang penuh berkah

Kuingin selalu hidup bersamamu

Merentas jalan menuju Ridha Allah

Menggapai bahagia sepanjang hidupku

Agenda Harian menuju bahagia di bulan Ramadhan

Maksud dari agenda harian ini adalah kiat efektif bagi kaum muslimin dalam memanfaatkan waktu sebaik mungkin pada saat melewati hari-hari di bulan Ramadhan dengan menunaikan ketaatan dan ibadah atau aktivitas lain untuk mendekatkan diri kepada Allah dan berharap ganjaran dan pahala dari-Nya.

Bahwa satu hari dalam bulan Ramadhan merupakan kesempatan emas dan peluang yang sangat berharga untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai bentuk ketaatan dan ibadah, mulai dari terbit fajar hingga selesai makan sahur di sepertiga akhir malam, dengan harapan semua itu menjadi sarana dalam menggapai bahagia di dunia dan di akhirat .

  1. Agenda Setelah Terbit Fajar
  1. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan”. (Ditashih oleh Al-Albani)

  1. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

  1. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki

Rasulullah saw bersabda:

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

  1. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

  1. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

“Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78)

Dan memiliki komitmen sesuai kemamampuannya dengan selalu:

– Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

– Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

– Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

  1. Agenda setelah keluar dari masjid atau mushalla
  1. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

  1. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

  1. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

  1. Agenda saat shalat Zhuhur
  1. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki
  1. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

  1. Agenda saat dan setelah shalat Ashar
  1. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid
  1. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

  1. Istirahat sejenak dengan niat yang baik

Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya dengan:

– Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

– Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

– Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

  1. Agenda sebelum beduk Maghrib
  1. Memperhatikan urusan rumah tangga

– melakukan mudzakarah

– Menghafal Al-Quran

  1. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui

media

  1. menyediakan bantuan atau ifthar di masjid-masjid dan di tempat lainnya
  1. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

“Doa adalah ibadah”

  1. Agenda setelah terbenam matahari
  1. Menjawab azan untuk shalat Maghrib
  1. Melakukan ifthar dengan rutab (kurma basah/muda), kurma secara ganjil atau seteguk air putih dengan berharap ganjaran dan mengikuti sunnah diiringi dengan doa

Dalam hadits disebutkan:

Rasulullah saw jika berbuka selalu membaca: “Telah hilang rasa haus, dan basah tenggorokan dan ditetapkan ganjaran insya Allah”.

  1. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)
  1. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat
  1. Berkumpul dengan keluarga dalam menyantap makanan berbuka diiringi dengan syukur atas sempurnanya puasa satu hari penuh
  1. Membaca dzikir sore
  1. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya dan sunnah tarawih dengan berwudhu dan wangi-wangian (khususnya bagi laki-laki) lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

  1. Agenda pada waktu shalat Isya
  1. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid
  1. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat
  1. Menunaikan shalat tarawih secara berjamaah secara sempurna di dalam masjid

Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya bagi siapa yang shalat bersama imam hingga selesai maka ditulis baginya seperti melakukan shalat qiyam lail”. (Ahlu sunan)

  1. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim
  1. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid
  1. Dakwah melalui media atau lainnya
  1. Melakukan mudzakarah
  1. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya dengan:

– Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

– Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

– Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

  1. Agenda pada sepertiga malam akhir
  1. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya, dan melakukan shalat secara berjamaah pada 10 malam terakhir
  1. Menunaikan shalat witir jika belum menunaikannya secara berjamaah
  1. Makan sahur dengan niat beribadah karena Allah dan menunaikan sunnah

Rasulullah saw bersabda:

“Makan sahurlah kalian, karena dalam sahur itu ada berkah nya”. (Muttafaqun alaih)

  1. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (Bukhari Muslim)

Ingatlah selalu:

Mengiringi niat yang baik saat melakukan setiap pekerjaan di sepanjang hari pada bulan Ramadhan

ISLAM MELARANG MERUSAK TEMPAT IBADAH NON MUSLIM

180_B.TIF

Dalam kitab at-Tabaqât karya Ibnu Sa’d, dikisahkan bahwa ketika datang utusan Kristen dari Najran berjumlah enam puluh orang ke Madinah untuk menemui Nabi, Nabi menyambut mereka di Masjid Nabawi. Menariknya, ketika waktu kebaktian tiba, mereka melakukan kebaktian di masjid. Sementara itu, para sahabat berusaha untuk melarang mereka. Namun Nabi memerintahkan: da’ûhum ‘biarkanlah mereka’.

Melalui perintah ini, sahabat memahami bahwa Nabi mempersilahkan mereka untuk menggunakan Masjid Nabawi sebagai tempat kebaktian sementara. Mereka melakukan kebaktian dengan menghadap ke timur sebagai arah kiblat mereka. Peristiwa bersejarah yang menunjukkan sikap toleransi nabi ini terjadi di hari minggu setelah Asar tahun 10 H. Peristiwa ini juga terekam dengan sangat baik dalam beberapa babon kitab sejarah seperti Târîkh al-Umam wa al-Muluk, Sîrah Ibn Hisyam, Sîrah Ibn Ishaq dan lain-lain.

Sebagian ahli tafsir modern mengaitkan hadis ini dengan Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 114 yang bunyi terjemahannya kira-kira demikian:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن مَّنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَن يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَا أُولَٰئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَن يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Lalu, siapakah yang tepat dianggap lebih zalim daripada orang-orang yang berusaha melarang dan menghalang-halangi disebutnya nama Tuhan di tempat-tempat peribadatan serta berusaha menghancurkan tempat-tempat tersebut. Padahal mereka tidak berhak memasukinya kecuali dalam keadaan takut kepada Tuhan. Kelak mereka (yang menghancurkan tempat-tempat peribadatan) akan mendapatkan kesengsaraan di dunia dan siksaan yang berat di akhirat”.

Muhammad Asad, misalnya, dalam The Message of The Quran menerjemahkan kata masâjid pada ayat di atas sebagai houses of worship ‘tempat-tempat peribadatan’. Hal senada juga dikemukakan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Mannar yang menerjemahkan masâjid pada ayat di atas sebagai ma’abid ‘tempat-tempat peribadatan’, bukan sekedar peribadatan umat Islam. Penerjemahan masâjid sebagai ‘tempat peribadatan’ secara umum dan bukan sebagai ‘tempat peribadatan Islam’ secara khusus pada ayat di atas jelas merupakan terjemahan yang merujuk kepada makna generik dari masjid itu sendiri.

Masjid sendiri berasal dari kata sajada-yasjudu-sujud-masjid, yang arti secara harfiahnya ialah tempat bersujud, dan itu artinya tempat menyembah, apapun sesembahannya, yang jelas menurut Abduh, masih dalam koridor ahli kitab seperti Yahudi dan Nasrani dan ahli semi-kitab (penganut agama yang memiliki pegangan yang mirip kitab suci) seperti Majusi, Budha, Hindu, Konghucu dan lain-lain.

Dalam perkembangan selanjutnya, masjid sendiri sering diidentikkan sebagai tempat peribadatan umat Islam dan ketika disebut masjid, benak kita akan segera tertuju kepada masjid yang Islam ini. Konsekwensinya, kalau kita gunakan secara konsisten pengertian masjid dalam artinya yang Islami ini, jelas akan susah memahami Al-Qur’an dan beberapa hadith Nabi. Karena ketika menelusuri lebih jauh penggunaan kata masjid/masâjid dalam Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa kata masjid tidak selalu merujuk kepada ‘tempat peribadatan Islam’ melainkan bisa merujuk kepada sinagog, amalan ritual, tempat konspirasi dan lain-lain.

Sebagai misal Masjid dalam arti tempat peribadatan Yahudi atau sinagog, dapat pula kita temukan dengan mudah pada penggunaan kata masjid al-aqsha pada QS. al-Isra: 1 dan penggunaan kata masjidpada QS. al-Isra: 7. Sedangkan masjid dalam pengertian sebagai amalan ritual terdapat pada QS. al-A’raf: 31. Masjid dalam pengertian sebagai tempat konspirasi orang-orang munafik dengan Abu Amir ar-Rahib dan kaum Musyrik Quraish untuk menghancurkan umat Islam dari dalam terdapat dalam QS. at-Taubah: 107. Masjid yang difungsikan sama dengan sinagog, gereja dan biara (yakni sebagai tempat untuk menyembah Tuhan) terdapat QS. al-Hajj: 40.

Dengan pemaknaan yang lebih luas terhadap bentuk plural dari masjid pada ayat ini, Asad menjelaskan, bahwa salah satu prinsip yang paling fundamental dalam Islam ialah prinsip bahwa setiap agama yang memiliki keyakinan terhadap Tuhan sebagai ajaran utamanya harus dihormati dan dihargai meski dilihat secara keyakinan sangat bertentangan.

Karena itu, menurut Asad, setiap muslim diwajibkan menghormati dan menjaga tempat peribadatan agama apapun yang diperuntukkan untuk menyembah Tuhan, baik itu masjid, gereja atau sinagog. Dan karena itu pula segala usaha untuk mencegah dan menghalang-halangi para penganut agama lain untuk menyembah Tuhan menurut keyakinannya sangat dilarang dan bahkan dikutuk oleh Al-Qur’an sebagai sebuah kezaliman, bahkan dianggap sebagai bentuk kezaliman yang paling besar.

At-Thabari dalam Jâmi al-Bayân fi Tafsîr ayat Min Ayil Qur’ân menafsirkan ayat di atas sebagai ‘Siapa lagi orang yang lebih ingkar kepada Allah dan menyalahi segala aturannya selain dari orang yang menghalang-halangi disebutnya nama-Nya di tempat-tempat peribadatan dan berusaha menghancurkannya.’ Melalui pandangan ini, jelaslah bahwa at-Tabari mengkategorikan orang-orang yang tidak menghargai tempat peribadatan sebagai orang yang paling ingkar terhadap eksistensi Allah.

Kisah yang dikutip dari kitab at-Tabaqat karya Ibnu Sa’ad di atas dan kaitanya dengan QS. al-Baqarah: 114 menunjukan bahwa Nabi menerjemahkan secara langsung semangat Al-Qur’an untuk menghormati segala bentuk tempat peribadatan dalam praksis nyata. Hal demikian juga semakin dipertegas dengan kenyataan bahwa beliau selalu memerintahkan para sahabat untuk tidak merusak tempat-tempat peribadatan dalam peperangan. Ini artinya Nabi sangat menghormati dan menghargai tempat-tempat peribadatan agama lain meski secara keimanan sangat berbeda secara amat mendasar. Bahkan pasca perang Hunain, ketika menemukan lembaran kitab Taurat di sela-sela harta rampasan perang, Nabi memerintahkan untuk mengembalikan lembaran kitab tersebut kepada kaum Yahudi.

Dalam kisah di atas, meski meyakini Yesus sebagai “Anak Tuhan” dan Bunda Maria sebagai “Ibu Tuhan” sangat bertentangan dengan prinsip dasar Islam, utusan Kristen Najran tetap diberi kebebasan oleh Nabi untuk memasuki Masjid Nabawi dan melakukan kebaktian di dalamnya. Nabi tidak melarang mereka. Dan menariknya, jika dilihat secara keseluruhan cerita saat itu, Nabi berdebat dengan para tokoh Kristen Najran ini dan sangat tidak menyetujui keyakinan mereka tersebut.

Namun kendati berbeda secara keyakinan, Nabi tetap menghormati dan menghargai keyakinan mereka. Inilah yang dibuktikan dengan tindakan Nabi yang mengizinkan mereka melakukan kebaktian di Masjid Nabawi yang tidak mesti diartikan setuju dengan ajaran mereka. Sebuah sikap yang langka dan jarang ditemukan dalam tokoh-tokoh lainnya sepanjang sejarah.

Namun sayangnya, ajaran Nabi ini diselewengkan oleh oknum tertentu demi tujuan dan hasrat politik. Beberapa kelompok umat Islam yang ekstrem salah memahami semangat Nabi yang inklusif ini. Di antara mereka ada yang membakar, membom, meruntuhkan bangunan peribadatan seperti gereja, sinagog dan lain-lain dengan dalih agama. Membakar, membom dan aksi-aksi kejahatan lainnya yang ditujukan untuk menghancurkan tempat-tempat peribadatan tersebut jelas merupakan tindakan yang menurut Al-Qur’an sebagai adhlam ‘yang paling zalim/yang paling ingkar, dst’.

Dengan demikian, teroris yang melakukan aksi bom bunuh diri di gereja atau melakukan pemboman terhadap gereja, (bahkan masjid seperti yang pernah terjadi di Cirebon beberapa tahun lalu) dianggap sebagai bukan orang yang taat beragama, bahkan ia ingkar terhadap eksistensi Tuhan dan tidak beradab.

Dengan meminjam bahasa Al-Qur’an untuk Ahli Kitab yang telah menyelewengkan ajaran Taurat dan Injil, muslim yang merusak gereja, sinagog atau bahkan masjid sendiri dengan dalih agama, sama-sama dianggap telah yuharrifûnal kalima ‘an mawâdli‘ihi (telah menyelewengkan ajaran asli dari Nabi). Karena itu sebagai agama yang terbuka, Islam mengutuk segala jenis tindakan umatnya yang bertentangan dengan misi utamanya di muka bumi ini, yaitu misi untuk menyebarkan kasih sayang bagi semesta alam (rahmatan lil alamin).

SAYYIDINA ABU BAKAR RA MARAH HANYA KETIKA ISLAM DI LECEHKAN

Sayyidina Abu Bakar ra.  adalah sahabat yang paling percaya dengan Nabi Muhammad. Ia meyakini semua yang disampaikan Muhammad adalah sesuatu yang benar (haq), tidak ada kebatilan sedikit pun di dalamnya. Ketika Islam didakwahkan kepadanya, Abu Bakar langsung memeluk Islam tanpa ada keraguan sedikit pun di hatinya.

Ketika banyak umat Islam saat itu yang tidak percaya dengan Isra’ Mi’raj, Sayyidina Abu Bakar adalah orang pertama yang percaya. Maka tidak salah, jika Nabi Muhammad memberikan julukan as-Shiddiq (jujur) kepada Abu Bakar. Kejujuran, kejernihan pikiran, dan ketulusan hati Muhammad lah yang membuat beliau tidak memiliki rasa ragu sedikitpun terhadap Islam.

Sayyidina  Abu Bakar merupakan sahabat nabi yang memiliki sifat lemah lembut, tenang, serta tidak mudah terpancing hawa nafsu dan emosi. Saking lembut hatinya, Abu Bakar kerap kali menangis manakala membaca surat Al-Qur’an saat menjadi imam shalat.

Dia merupakan ‘antitesa’ dari Sayyidina Umar bin Khattab ra. yang terkenal ‘galak’, tegas, keras, dan tidak sungkan untuk marah. Hanya sedikit sekali riwayat yang menceritakan tentang kemarahan Sayyidina  Abu Bakar.

Ada dua kejadian yang membuat Khulafaur Rasyidin yang pertama ini sampai naik pitam. Pertama, kaum Muslim diejek oleh kaum Musyrik saat Kerajaan Persia berhasil mengalahkan Romawi. Ceritanya, kaum Musyrik ‘menyamakan’ kaum Muslim dengan kaum Kristen Romawi.

Kaum Musyrik menuduh bahwa kekalahan Romawi atas Persia adalah disebabkan karena mereka (kaum Kristen Romawi) juga Ahli Kitab sebagaimana kaum Islam. Informasi ini sampai di telinga Sayyidina  Abu Bakar dan membuatnya marah.

Kedua, saat Finhas mengolok-olok ajaran Islam. Suatu ketika Sayyidina Abu Bakar menghampiri segerombolan Yahudi di Madinah. Ia menyeru kaum Yahudi tersebut untuk menerima Islam dan menyembah Allah.

Salah seorang Yahudi, Finhas, menjawab ajakan beliau itu dengan ejekan dan cemoohan yang cukup keterlaluan. Kepada Abu Bakar, Finhas mengatakan bahwa Tuhan lah yang membutuhkan mereka, bukan sebaliknya. Finhas juga mengejek bahwa jika Tuhan itu kaya maka, maka Dia tidak akan meminta pinjaman kepada hambanya.

Cemoohan Finhas ini merupakan satire dari Surat al-Baqarah ayat 245; Siapakah yang hendak meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, yang akan Dia lipatgandakan dengan sebanyak-banyaknya.

Apa yang dilakukan Finhas itu membuat Sayyidina Abu Bakar menjadi geram. Dia langsung memukul Finhas dengan sekuat tenaga. Tapi, karena pada saat kejadian ini ada perjanjian damai antara kaum Muslim dan Yahudi, maka Sayyidina Abu Bakar tidak meneruskan untuk menghajar Finhas.

Sayyidina Abu Bakar adalah orang yang tidak suka mengedepankan kekerasan dan amarah.  Ia hanya akan berubah menjadi keras dan marah apabila ajaran Islam dipermainkan.

MENGUSIR RASA MALAS DAN NIAT MENYAMBUT RAMADLAN

Ramadhan akan sampai hanya tersisa sehari saja, akan tetapi mengapa banyak di antara kita yang masih saja malas menumpuk saldo pahala. Memang harus diakui, kemalasan adalah momok utama yang menghalangi insan beriman untuk menggapai pahala besar dan derajat prestise di sisi Allah.

Ingin menghilangkan rasa malas? Berikut adalah jurus paling mujarab dari Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi untuk mengusir rasa malas beribadah:

“Jadikanlah aktivitas membaca Al-Quranul Karim sebagai wirid yang rutin untuk kamu jalani. Begitu pula bacaan zikir dan hizib yang dituntunkan para salaf. Telaahilah kitab-kitab yang ditulis para salaf kita, terutama kitab-kitab yang memuat sejarah hidup, akhlak mulia, serta semangat mereka dalam agama. Membaca sejarah mereka dapat membangkitkan hati kita yang malas, menggugah semangat untuk meneladani akhlak-akhlak mereka.”

“Bekali diri dengan ilmu terlebih dahulu, baru beramallah! Tak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang yang menuntut ilmu daripada mempelajari sejarah tokoh-tokoh yang agung kemudian memaksakan diri mengikuti amal dan ucapan mereka.”

Niatkanlah dalam menyambut ramadlan sebagaimana di bawah ini :

Kami berniat sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah berniat, begitu juga sebagaimana niat salafus soleh dari keturunan ahlil bait Nabi yang mulia dan para sahabat yang mulia, Kami berniat untuk menegakkan Ramadhan dengan hak-hak berpuasa dengan cara yang diridhai oleh Allah, Raja Yang Maha Tahu, Kami berniat rutin melaksanakan shalat malam, menjaga anggota badan dari maksiat dan dosa, Kami berniat membaca Al Quran dan memperbanyakkan zikir dan sholawat kepada Pemimpin sekalian manusia, Rasulullah SAW. Kami berniat menjauhi ghibah, membicarakan kejelekan orang lain, adu domba, berdusta dan sebab-sebab yang di haramkan, Kami berniat untuk memperbanyakkan sedekah, menyantuni janda-janda, dan para faqir miskin, serta anak2 yatim, Kami berniat untuk melazimi dan bersungguh-sungguh dalam menyempurnakan adab-adab islam, dan solat berjamaah pada waktunya dengan teratur, Kami berniat sebagaimana niatnya para hamba Allah yang solihin pada 10 hari pertama, pertengahan dan terakhir dan malam lailatul qadar, serta setiap malam dan siang.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada pemimpin kita Nabi MUHAMMAD Shallallahu ‘alaihi wasallam dan keluarganya serta para sahabat. Berkat Rahasia ALFATIHAH..!

PERSIAPAN DALAM MENYAMBUT BULAN SUCI ROMADLON

180_B.TIF

Alangkah bahagianya kaum muslimin dengan kedatangan bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, bulan Al-Qur’an, bulan ampunan, bulan kasih sayang, bulan doa, bulan taubat, bulan kesabaran, dan bulan pembebasan dari api neraka. Bulan yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh segenap kaum muslimin.

Bulan yang sebelum kedatangannya Rasulullah Saw. berdoa kepada Allah: “Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.” Bulan dimana orang-orang saleh dan para generasi salaf berdoa kepada Allah agar mereka disampaikan ke bulan Ramadhan enam bulan sebelum kedatangannya, Mualla bin al-Fadhl berkata: “Mereka (salaf) selama enam bulan berdoa kepada Allah supaya disampaikan ke bulan Ramadhan, dan berdoa enam bulan selanjutnya agar amalan mereka pada bulan Ramadhan diterima.”

Kenapa mereka begitu bersungguh-sungguh memohon kepada Allah agar disampaikan ke bulan Ramadhan? Mari kita dengarkan sabda Rasulullah Saw. ketika beliau memberi kabar para sahabatnya dengan kedatangan bulan Ramadhan: “Ketika datang malam pertama dari bulan Ramadhan seluruh setan dibelenggu, dan seluruh jin diikat. Semua pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang terbuka. Semua pintu sorga dibuka hingga tidak ada satu pun pintu yang tertutup. Lalu tiap malam datang seorang yang menyeru: “Wahai orang yang mencari kebaikan kemarilah; wahai orang yang mencari keburukan menyingkirlah. Hanya Allah lah yang bisa menyelamatkan dari api neraka”. (H.R.Tirmidzi).

Rasulullah Saw. juga bersabda: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan di dalamnya puasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu langit, menutup pintu neraka, dan membelenggu setan-setan. Di dalamnya Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang diharamkan kebaikan malam itu maka ia sungguh telah diharamkan (dari kebaikan).” (HR. Nasa’i dan Baihaki).

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali mengomentari hadits ini dengan perkataannya: “Hadits ini merupakan dasar dan dalil memberi ucapan selamat yang dilakukan kaum muslimin kepada muslimin lainnya dengan kedatangan bulan Ramadhan, bagaimana seorang mukmin tidak bergembira dengan dibukanya pintu sorga? Bagaimana seorang mukmin tidak bergembira dengan ditutupnya pintu neraka? Bagaimana orang yang berakal tidak bergembira dengan masa dimana setan-setan dibelenggu?” Hendaklah kita juga mencontoh para salaf dengan senantiasa berdoa kepada Allah agar disampaikan ke bulan Ramadhan yang penuh dengan berbagai macam keberkahan dan keutamaan tersebut.

Ramadhan adalah tamu istimewa. Adalah merupakan kewajiban bagi kita sebagai tuan rumah untuk menyambut kedatanganya dengan suka cita dan memuliakannya. Ramadhan adalah anugerah Allah yang luar biasa. Ramadhan adalah kesempatan untuk menyiapkan masa depan kita di dunia dan akhirat; oleh karenanya kita mesti mempersiapkan kehadirannya dengan persiapan yang paripurna agar kita bisa sukses meraih gelar takwa dan mendapat janji Allah yaitu ampunan dan bebas dari api neraka.

Apa saja perkara yang harus dipersiapkan menjelang kedatangan tamu tersebut?

1) Niat yang sungguh-sungguh

Ketika Ramadhan menjelang banyak orang berbondong-bondong pergi ke pasar dan supermarket untuk persiapan berpuasa. Mereka juga mempersiapkan dan merencanakan anggaran pengeluaran anggaran untuk bulan tersebut. Tetapi sedikit dari mereka yang mempersiapkan hati dan niat untuk Ramadhan. Puluhan kali Ramadhan menghampiri seorang muslim tanpa meninggalkan pengaruh positif pada dirinya seakan-akan ibadah Ramadhan hanya sekedar ritual belaka, ssekedar ajang untuk menggugurkan kewajiban tanpa menghayati dan meresapi esensi ibadah tersebut, jika Ramadhan berlalu ia kembali kepada kondisinya semula.

Tancapkanlah niat untuk menjadikan Ramadhan kali ini dan selanjutnya sebagai musim untuk menghasilkan berbagai macam kebaikan dan memetik pahala sebanyak-banyaknya. Anggaplah Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terakhir yang kita lalui karena kita tidak bisa menjamin kita akan bertemu Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Tanamkan tekad yang disertai dengan keikhlasan untuk konsisten dalam beramal saleh dan beribadah pada bulan Ramadhan ini. Ingat sabda Rasulullah Saw.: “Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan ikhlas maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu.”

2) Bertaubat dengan sungguh-sunguh.

“Setiap manusia adalah pendosa dan sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat” demikian sabda Rasulullah Saw. seperti yang diwartakan Ahmad dan Ibnu Majah.

Di antara karunia Allah adalah selalu mengulang-ulang kehadiran momen-momen kebaikan. Ada momen yang diulang setiap pekan, bulan, tahun dan lain-lain. Ramadhan adalah salah satu dari momen tersebut yang selalu datang setiap tahun. Ketika seorang hamba tenggelam dalam kelalaian karena harta benda, anak istri, dan perhiasan dunia lain yang membuat dia lupa kepada Rabbnya, terbius dengan godaan setan, dan terjatuh ke dalam berbagai macam bentuk maksiat datang bulan Ramadhan untuk mengingatkannya dari kelalaiannya, mengembalikannya kepada Rabbnya, dan mengajaknya kembali memperbaharui taubatnya. Ramadhan adalah bulan yang sangat layak untuk memperbarui taubat; karena di dalamnya dilipatgandakan kebaikan, dihapus dan diampuni dosa, dan diangkat derajat. Jika seorang hamba selalu dituntut untuk bertaubat setiap waktu, maka taubat pada bulan Ramadhan ini lebih dituntut lagi; karena Ramadhan adalah bulan mulia waktu dimana rahmat-rahmat Allah turun ke bumi. Mana para pendosa? Mana orang-orang yang melampaui batas? Mana orang-orang yang selalu bermaksiat kepada Allah siang malam? Mana orang-orang yang membalas nikmat Allah dengan maksiat, memerangi Allah di bumi-Nya, dan menentangnya dalam kekuasan-Nya? Segeralah bertaubat! Karena tak satu pun dari kita yang bersih dari dosa dan bebas dari maksiat. Pintu taubat selalu terbuka dan Allah senang dan gembira dengan taubat hambanya. Taubat yang sungguh-sungguh atau taubat nasuha adalah dengan meninggalkan maksiat yang dilakukan, menyesali apa yang telah dilakukan, dan berjanji untuk tidak kembali mengulangi maksiat tersebut, dan jika dosa yang dilakukannya berkaitan dengan hak orang lain hendaknya meminta maaf dan kerelaan dari orang tersebut.

3) Mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan puasa dan ibadah Ramadhan lain.

“Menuntut ilmu wajib setiap muslim” (HR. Ibnu Majah). Ilmu yang Rasulullah Saw. maksudkan dalam hadits ini adalah ilmu yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah yang Allah wajibkan kepada setiap hamba. Setiap muslim wajib mempelajari ilmu tersebut; karena sah atau tidaknya ibadah yang dilakukannya tergantung dengan pengetahuannya tersebut. Seorang yang ingin melakukan shalat wajib mengetahui syarat-syarat atau rukun-rukun atau hal-hal yang membatalkan shalat dan lain-lainya, agar shalatnya sesuai dengan tuntutan agama. Begitu juga bulan Ramadhan di bulan ini Allah mewajibkan kepada setiap muslim yang mampu untuk berpuasa. Maka sudah menjadi kewajiban setiap muslim untuk membekali dirinya dengan hal-hal yang berkaitan dengan syarat-syarat dan rukun-rukun puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, hal-hal yang dimakruhkan dan dibolehkan dalam puasa, hal-hal yang membatalkan puasa dan lain-lain supaya puasa yang dilakukannya sesuai dengan tuntunan syariah dan perbuatannya tidak sia-sia. Di samping pengetahuan yang berkenaan dengan puasa, pengetahuan-pengetahuan lain yang berkaitan dengan Ramadhan juga perlu seperti anjuran-anjuran, prioritas-prioritas amal yang harus dilakukan dalam Ramadhan, dan lain-lain agar setiap muslim dapat mengoptimalkan bulan ini sebaik mungkin.

4) Persiapan fisik dan jasmani.

Menahan diri untuk tidak makan dan minum seharian penuh selama sebulan tentu memerlukan kekuatan fisik yang tidak sedikit, belum lagi kekuatan yang dibutuhkan untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat tarawih dan shalat sunnah lainnya, ditambah kekuatan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an dan beri’tikaf selama sepuluh hari di akhir Ramadhan. Kesemua hal ini menuntut kita selalu dalam kondisi prima sehingga dapat memanfaatkan Ramadhan dengan optimal dan maksimal. Melakukan puasa sunnah pada sebelum Ramadhan adalah salah satu cara melatih diri untuk mempersiapkan dan membiasakan diri menghadapi Ramadhan. Oleh karenanya Rasulullah Saw. mencontohkan kepada umatnya bagaimana beliau memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban, sebagaimana yang diwartakan Aisyah: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Saw. berpuasa selama sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa (sunah) lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (Muttafaq Alaih)

Inilah diantara hal-hal yang mesti dipersiapkan untuk menyambut datangnya bulan kesabaran ini.

Amalan-amalan sunah pada bulan Ramadhan:

Selain puasa yang Allah wajibkan pada bulan Ramadhan ada berbagai amalan yang disunahkan pada bulan ini di antaranya:

Mengkhatamkan Al-Qur’an

Bulan Ramadhan adalah bulan Al-Quran. Pada bulan inilah Al-Qur’an pertama kali turun dari lauhul mahfuz ke langit dunia sekaliagus. Allah berfirman:

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)(al baqarah: 185)

Ibnu Abbas RA berkata; “Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi melebihi angin yang berhembus.”

Hadist tersebut menganjurkan kepada setiap muslim agar bertadarus al-Quran, dan berkumpul dalam majlis al-Quran dalam bulan Ramadhan. Membaca dan belajar al-Qur’an bisa dilakukan di dihadapan orang yang lebih mengerti atau lebih hafal al-Quran. Dianjurkan pula untuk memperbanyak membaca al-Quran di malam hari.

Dalam hadist di atas, mudarosah antara Nabi Muhammad saw dan Malaikat Jibril terjadi pada malam hari, karena malam tidak terganggu oleh pekerjaan-pekerjaan keseharian. Di malam hari, hati seseorang juga lebih mudah meresapi dan merenungi amalan dan ibadah yang dilakukannya.

Shalat tarawih

Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa yang menghidupkan malam bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Shalat tarawih atau qiyam Ramadhan tidak ada batasannya. Sebagian orang mengira shalat tarawih tidak boleh kurang dari 20 rakaat, sebagian lain mengira tidak boleh lebih dari 11 atau 13 rakaat. Ini adalah pendapat keliru yang menyalahi dalil. Hadits-hadits menunjukkan bahwa shalat malam adalah perkara yang luas, tidak ada batasan yang tidak boleh dilanggar. Bahkan ada riwayat yang jelas mengatakan bahwa nabi Saw. pernah shalat 11 rakaat, terkadang 13 rakaat atau kurang dari itu. Ketika ditanya tentang shalat malam beliau bersabda: “Dua rakaat dua rakaat, jika seseorang diantara kalian khawatir masuk waktu subuh hendaklah shalat satu rakaat witir.”

Memperbanyak doa

Orang yang berpuasa ketika berbuka adalah salah satu orang yang doanya mustajab. Oleh karenanya perbanyaklah berdoa ketika sedang berpuasa terlebih lagi ketika berbuka. Berdoalah untuk kebaikan diri kita, keluarga, bangsa, dan saudara-saudara kita sesama muslim di belahan dunia.

Memberi buka puasa (tafthir shaim)

Hendaknya berusaha untuk selalu memberikan ifthar (berbuka) bagi mereka yang berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir korma sebagaimana sabda Rasulullah yang berbunyi:” Barang siapa yang memberi ifthar (untuk berbuka) orang-orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun”. (Bukhari Muslim)

Bersedekah

Rasulullah Saw. bersabda: “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan” (HR. Tirmizi).

Ibnu Abbas RA berkata; “Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi melebihi angin yang berhembus.“

Dan pada akhir bulan Ramadhan Allah mewajibkan kepada setiap muslim untuk mengeluarkan zakat fitrah sebagai penyempurna puasa yang dilakukannya.

I’tikaf

I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk beribadah kepada Allah. I’tikaf disunahkan bagi laki-laki dan perempuan; karena Rasulullah Saw. selalu beri’tikaf terutama pada sepuluh malam terakhir dan para istrinya juga ikut I’tikaf bersamanya. Dan hendaknya orang yang melaksanakan I’tikaf memperbanyak zikir, istigfar, membaca Al-Qur’an, berdoa, shalat sunnah dan lain-lain.

Umroh

Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melaksanakan umrah, karena umroh pada bulan Ramadhan memiliki pahala seperti pahala haji bahkan pahala haji bersama Rasulullah Saw. Beliau bersabda: “Umroh pada bulan Ramadhan seperti haji bersamaku.”

Memperbanyak berbuat kebaikan

Bulan Ramadhan adalah peluang emas bagi setiap muslim untuk menambah ‘rekening’ pahalanya di sisi Allah. Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dan Baihaki dikatakan bahwa amalan sunnah pada bulan Ramadhan bernilai seperti amalan wajib dan amalan wajib senilai 70 amalan wajib di luar Ramadhan. Raihlah setiap peluang untuk berbuat kebaikan sekecil apapun meskipun hanya ‘sekedar’ tersenyum di depan orang lain. Ciptakanlah kreasi dan inovasi dalam berbuat kebaikan agar saldo kebaikan kita terus bertambah.“dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa memanfaatkan momentum Ramadhan untuk merealisasikan ketakwaan diri kita dan bisa meraih predikat “bebas dari neraka.” Amin

BELAJAR AGAR DI CINTAI OLEH SESAMA MANUSIA DAN ALLOH SWT.

 

Agar Dicintai Allah dan Dicintai Manusia

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

 

Dicintai Lebih Baik daripada Hanya Sekedar Mencintai

Cinta adalah sebuah kata yang sering kita dengan dan kita rasakan. Bahkan terkadang cinta seseorang terhadap sesuatu bisa menjadikan marabahaya baginya. Namun suatu ha yang terkadang samar bagi kita, bahwa dicintai oleh sesuatu itu lebih baik daripada hanya sekedar mencintai sesuatu. Hal ini mirip dengan dengan diridhoi sesuatu lebih baik daripada hanya sekedar ridho pada sesuatu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang para sahabat,

    وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

    “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan (para sahababat) muhajirin dan anshor (para sahababat) dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik (para tabi’un), Allah ridho kepada mereka (mereka diridhoi Allah) dan merekapun ridho kepada Allah”. ( QS. At Taubah [9] : 100).

 

Bagaimana Cara Agar Kita Dicintai Allah dan Manusia

Pertanyaan di atas telah lebih dahulu ditanyakan para sahabat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam sebagaimana yang diceritakan sahabat Abul ‘Abbas Sa’ad bin Sahl rodhiyallahu ‘anhu,

    أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِى عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِىَ اللَّهُ وَأَحَبَّنِىَ النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ازْهَدْ فِى الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِى أَيْدِى النَّاسِ يُحِبُّوكَ ».

    “Seorang Laki-laki datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam, lalu ia mengatakan, “Wahai Rosulullah tunjukkanlah kepadaku sebuah amal yang jika aku amalkan maka Allah akan mencintaiku demikian juga manusia (artinya Ia Dicintai Allah dan Manusia –pent.)?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam pun menjawab, “Zuhudlah engkau di dunia maka Allah akan mencintaimu dan zuhudlah engkau terhadap apa yang ada pada tangan-tangan (yang dimiliki) manusia maka manusia akan mencintaimu”.

Lalu bagaimanakah agar kita bisa menjadi hamba yang dicintai oleh Allah?

  1. Mentadabburi Al–Quran dan Mengamalkannya

Untuk menapaki cinta kepada Allah adalah membaca Al-Quran dengan khusyuk, disertai perenungan mendalam terhadap makna-makna yang terkandung di dalamnya dengan menghadirkan kesadarannya secara total bahwa kita sedang bermunajat kepada Allah. Inilah rahasia menuju cinta kepada Allah.

Setelah memahami makna-makna Al-Quran, maka kita harus mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari dan mengajarkannya kepada orang lain. Hidup dengan mempraktikkan pedoman dalam Al-Quran akan membuat hidup kita bermakna, karena selalu menapaki jalan kebajikan. Seperti yang telah diriwayatkan oleh Usman bin Affan bahwa Rasulullah bersabda “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya”.

  1. Mendekatkan Diri kepada Allah dengan Amalan-amalan Sunnah

Ada dua golongan dari seorang hamba Allah yang beruntung. Pertama, yang mencintai Allah yaitu yang menjalankan amalan-amalan wajib. Kedua, yang dicintai Allah yaitu jika kita melakukan amalan-amalan sunnah setelah tuntas amalan wajib. Golongan inilah yang disebut Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah dengan “Kualitas diri yang sampai kepada kualitas yang dicintai Allah setingkat lebih tinggi setelah mencintai Allah”. Jika kita telah menuntaskan amalan wajib dan menambahnya dengan amalan sunnah maka kualitas diri kita meningkat menjadi “Yang dicintai Allah.”

  1. Mengingat Allah di dalam Hati, Lisan, dan Tindakan Sehari-hari

Mengingat Allah adalah kesadaran diri akan Allah, baik hati, ucapan, maupun tindakan. Apabila kita mengingat Allah maka seorang hamba akan mendapatkan ampunan dan ridha-Nya. Allah berfirman “..Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS Al-Ahzab: 35). Jadi dengan mengingat Allah hidup menjadi lurus dan selaras dalam kebaikan. Mengingat Allah dalam hati, lisan, dan perbuatan adalah bekal untuk masuk surga dan menapaki tingkatan-tingkatan di dalamnya.

  1. Cinta kepada Allah membawa Cinta Kepada Seluruh Makhluk-Nya

Ridha kepada Allah membawa diri kita pada ridha selain-Nya, maksudnya diri kita merasa ridha bahwa apa pun yang ada di alam semesta ini di bawah ketentuan Allah. Inilah ketentraman jiwa yang diperoleh dari keridhaan kepada-Nya. Ketentraman inilah yang dimilki oleh orang yang beriman dengan ridha kepada-Nya.

  1. Merenungkan Nama-nama dan Sifat-sifat Allah serta Berma’rifat terhadapNya

Hamba yang beriman adalah orang yang mengenal Allah melalui nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Kemudian dia membenarkan Allah dalam pergaulannya sehari-hari, ikhlas niat dan tujuannya, serta tidak berperilaku melainkan dengan budi pekerti yang luhur.

Hamba yang mengimani sifat-sifat Allah dan kesadaran diri akan kesempurnan-Nya adalah pembangkit bagi hati untuk cinta kepada-Nya. Hati pasti akan selalu cinta kepada yang dikenalnya dan terus rindu untuk selalu bersama-Nya.

  1. Menyadari Kebaikan Allah dan Segala Kenikmatan dariNya

Sebagai hamba senantiasa diliputi oleh segala kebaikan dari Allah. Segala kenikmatan, kasih sayang, dan segala hak dapat memenuhi perasaannya. Tidak ada yang memberikan kenikmatan dan kebahagiaan di dunia ini kepada kita selain Allah. Semua yang ada di alam semesta ini, pasti semuanya dariNya. Dengan demikian, tidak ada yang layak untuk dicintai dengan segala ketulusan selain Allah.

  1. Menyerahkan Diri Sepenuhnya Hanya kepada Allah

Maksud menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah adalah kekhusyukan hati, penyerahan diri sepenuhnya, kesadaran diri sangat butuh kepada-Nya, dan menjaga etika menghamba kepada-Nya. Semua definisi tersebut menunjukkan bahwa hati adalah sumber dari praktik khusyuk yang kemudian mendisiplinkan tubuh.

  1. Bermunajat kepada Allah di Tengah Malam

Allah memberikan sanjungan bagi siapa saja yang lambungnya jauh dari tempat tidur untuk berdoa dan bermunajat kepada Allah. Kita mendirikan shalat malam di mana shalat tersebut adalah seutama-utama shalat sunnah. Inilah praktik yang meningkatkan kualitas cinta kita kepada Allah. Kita bangun malam dan mendirikan shalat ketika orang-orang sedang terlelap tidur.

  1. Bersahabat dengan Para Pecinta Allah

Disnilah Ibnu Al-Qayyim menjadikan interaksi dengan para pecinta Allah sebagai keniscayaan menuju cinta kepada Allah. Rasulullah bersabda “Allah berfirman, Cintaku menjadi keniscayaan bagi orang-orang yang mencintai-Ku. Cintaku menjadi keniscayaan bagi orang-orang yang mencintai-Ku. Cintaku menjadi keniscayaan bagi orang-orang yang mengunjungi-Ku.” (Hr. Ahmad).

Sesungguhnya cinta seorang muslim kepada saudaranya karena Allah adalah buah dari ketulusan iman dan budi pekerti yang luhur. Cinta tersebut dijaga oleh Allah dalam hati seorang hamba yang beriman, sehingga keimanan tersebut tidak melenceng ataupun melemah.

  1. Menjauhi Segala Hal yang Dapat Melalaikan Hati

Jika kita ingin mencintai Allah, maka tidak ada pilihan bagi kita untuk senantiasa menjaga hati agar tetap bersih. Oleh karena itu mari menjaga hati dari segala sesuatu yang dapat melalaikan hati dengan senantiasa mengawasi dan membersihkan hati dari penyakit yang dapat membuatnya kotor.

Hati yang bersih adalah hati yang senantiasa menyadari bahwa Allah itu benar adanya, hari kiamat pasti kedatangannya, dan Allah pasti membangkitkan manusia dari kuburnya. Hati yang bersih adalah hati yang sehat. Sehatnya hati karena menaati perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga kita termasuk hamba yang memiliki hati yang bersih.

 

Penjelasan Singkat dan Faidah Hadits

Dalam redaksi hadits di atas tidak ditentukan siapa sahabat yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam karena hal itu tidaklah diperlukan dan kita tidaklah diperintahkan untuk mencari-cari siapa nama sahabat yang mulia tersebut. Hal ini banyak sekali kita temui dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam.

Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “(ازْهَدْ فِى الدُّنْيَا) zuhudlah engkau di dunia” maksudnya adalah bersikap roghbahlah (berpalinglah) engkau terhadap dunia yaitu tidak mencari bagian dari dunia kecuali bagian dari dunia yang akan memberikan manfaat di akhirat. Sikap zuhud ini lebih mulia dari waro’ karena waro adalah meninggalkan hal-hal bagian dunia yang membahayakan diri di akhirat. Jika kita telah bersikap zuhud maka secara otomatis kita telah bersikap waro’.

Dunia disebut dengan dunia (الدُّنْيَا) karena dua hal :

        (دُنْيَا فِيْ الزَّمَان) di muka dalam masalah waktu, karena dunia terjadi sebelum akhirat.

        (دُنْيَا فِيْ الْمَرْتَبَة) rendah/hina dalam hal tingkatan, karena dunia derajatnya jauh lebih rendah/hina dengan akhirat.

Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “(وَازْهَدْ فِيمَا فِى أَيْدِى) zuhudlah engkau dengan apa yang ada pada tangan (yang dimiliki) manusia” maksud bersikap roghbahlah (berpalinglah) dari apa yang ada pada manusia (hal-hal bagian dari dunia yang mereka miliki), hal ini mencakup meniggalkan sikap meminta-minta pada manusia. Karena jika kita meminta sesuatu kepada manusia maka hal itu bisa memberatkan mereka dan derajat kita menjadi lebih rendah. Karena tangan yang di atas lebih mulia daripada tangan yang ada di bawah.

 

Adapun diantara faidah hadits di atas adalah :

        Tingginya keingan para sahabat dalam rangka meraih kebaikan di dunia dan akhirat.

        Penetapan sifat cinta yang hakiki pada Allah.

        Bolehnya mencari kecintaan dari manusia selama dengan cara-cara yang halal.

        Fadhilah dari sikap zuhud di dunia.

MENJAGA KESUCIAN WANITA ADALAH BUKTI AKHLAK DAN KEIMANAN

Islam sangat menjaga kesucian diri baik cewek maupun cowok. Islam sebagai pandangan hidup yang paripurna dan lengkap, telah memunyai aturan hingga hal terkecil sekalipun. Islam mempunyai langkah-langkah yang bukan hanya curative (penyembuh) tapi juga preventif (pencegah). Maksudnya, sebelum terjadi kerusakan masyarakat karena seks bebas dan hilangnya virgintas pada remaja, ada langkah-langkah pencegahan yang harus ditempuh.

 

Pertama, ada aturan yang lengkap dan detil tentang gaya berpakaian baik cewek maupun cowok. Batas-batas aurat mana yang dipatuhi untuk tidak dipamerkan semaunya sendiri. Bagi cewek ada kerudung dan jilbab yang harus dikenakan bila keluar rumah. Untuk cowok pun, hati-hati dengan sesuatu yang ada di atas lutut dan di bawah pusar. Karena itulah area batas aurat cowok. ada perintah menundukkan pandangan dari melihat hal-hal yang bukan menjadi haknya.

Kedua, aturan pergaulan laki-laki dan perempuan yang sempurna. Larangan berduaan bagi laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom karena pihak ketiga pastilah setan. Tahu sendirilah apa kerjaan setan yang bakal ngomporin kedua orang beda jenis ini untuk melakukan hal-hal terlarang.

Ketiga, peran serta masyarakat harus ada. Menegur, menasehati, dan peduli harus ditingkatkan ketika terjadi gejala perilaku seseorang menuju kea rah gaul bebas. Yang namanya tetangga apalagi pak RT dan RW harus tegas memberi teguran, peringatan hingga sanksi untuk perilaku yang kebablasan.

Keempat, peran Negara sangat vital dalam hal ini. Selain sebagai pihak yang mengelurkan aturan berkekuatan hukum, Negara-lah yang berhak memberi sanksi secara hokum pula bila ada pelanggaran. Negara harus mensosialisaskan aturan-aturan ini agar diketahui dan dipahami masyarakat. Bila sudah begini, orang-orang akan berpikir ribuan kali untuk melakukan tindakan amoral bila saja saksinya tegas. Cambuk 100 kali bagi yang pezina yang belum pernah menikah dan rajam bagi pezina yang sudah menikah. Bukan gertak sambal, tapi harus serius dilaksanakan. Bisa dijamin, angka gaul bebas yang notabene mengarah ke seks bebas langsung turun drastis.

Pesan untuk kamu (kaum muda)

Jangan main-main masalah virginitas ini, apalagi berniat untuk coba-coba. Karena mirip dengan narkoba, awalnya coba-coba selanjutnya bisa ketagihan. Bagi para cewek, kehilangan virginitas bisa menjadi pintu awal baginya untuk terjerumus ke arah jalan nggak bener selanjutnya. Banyak kasus menunjukkan bahwa cewek yang udah terlanjur kehilangan virginitas, akhirnya memilih masuk menjadi pelacur dengan anggapan hidupnya telah hancur dan nggak berguna lagi.

….Jangan main-main masalah virginitas ini, apalagi main coba-coba. Awalnya coba-coba selanjutnya bisa ketagihan….

Bagi cowok juga gak jauh beda. Awalnya yang berniat coba-coba bisa membuatnya menjadi ketagihan dan nggak lagi takut dosa. Apalagi mereka ini cenderung nggak punya beban social karena nggak ada selaput keperjakaan yang bisa membuktikan kesucian mereka or enggak. Plus, pihak cowok juga gak nanggung kehamilan akibat gaul bebas. Bahkan tak jarang banyak cowok yang akhirnya memilih jadi gigolo (pelacur laki-laki) demi uang dan kenikmatan sesaat. Na’udzubillah.

So, mulai saat ini, detik ini, kamu kudu nyadar bahwa masalah virginitas baik bagi cewek maupun cowok sama pentingnya. Sudah nggak zamannya lagi cewek menuding cowok sebagai pihak yang disalahkan. Begitu juga cowok menuding cewek sebagai pihak yang keganjenan. Semua kudu kembali melihat diri masing-masing, menjaga iman diri agar tidak tergoda untuk coba-coba gaul bebas yang itu bisa berakibat hilangnya virginitas. Bila benteng diri berupa keimanan sudah oke, maka saatnya kamu melihat sekitar. Ajak teman-temanmu untuk peduli virginitas dan mempertahankannya hingga menikah kelak. Gimana caranya?

Di usia kamu yang masih remaja dan sangat muda ini, jauhkan hal-hal yang bisa mengakibatkan nafsu syahwat muncul. Buang jauh-jauh majalah porno, hindari tontonan yang memancing syahwat, tolak pacaran yang jelas-jelas langkah awal setan untuk menjerumuskan kamu pada perzinaan dan gak usah ikhtilath yaitu bercampur baur antara cewek dengan cowok kecuali dalam tiga hal; pendidikan, kesehatan, dan perdagangan.

Lakukan aktivitas positif yang bisa meraup pahala semisal rajin belajar dan gabung dengan kelompok ilmiah remaja, olahraga yang tidak bertentangan dengan syariat, aktif di kegiatan rohis (kerohanian Islam), dan berkumpul dengan teman-teman yang shalih bagi cowok dan sholihah bagi cewek. Yang nggak boleh dilupakan, pertebal keimanan kamu dan yakini bahwa Allah Maha Melihat dimana pun kamu berada. So, hal ini bakal bikin kamu malu dan malas untuk berbuat maksiat.

 

Finally…

Virginitas selain bukan melulu tentang selaput dara yang menunjukkan masih perawan tidaknya seorang gadis, ia bisa menjadi tolok ukur keimanan dan akhlak perilaku seseorang. Seseorang ini bisa cewek dan bisa juga cowok. Meskipun pada seorang cowok sulit dideteksi apakah ia masih virgin ataukah enggak, tapi sesungguhnya jawaban itu bisa ditemui di dalam kejujuran hati masing-masing individu. Most of all, ada Allah yang MahaTahu tentang virgin tidaknya seseorang, suci ataukah ternoda.

 

….Virginitas bukan melulu tentang selaput dara dan kegadisan. Ia bisa menjadi tolok ukur keimanan dan akhlak perilaku seseorang….

Musuh-musuh Islam selalu mencari celah dan berupaya untuk menjerumuskan remaja dan pemuda-pemudi muslim agar berlumur dosa. Celah ini adalah siasat untuk merusak Islam secara keseluruhan sebagai tujuan akhir. Generasi muda adalah lahan empuk yang digunakan sebagai sasarannya. Gimana enggak kalo di usia kamu ini, perkembangan hormon seksual emang mulai berkembang dan daya ingin tahu pun mulai meledak-ledak. Kalo gak dibentengi dengan iman yang kuat, pastilah korban dari para pemuda akan berjatuhan.

Tidak bisa tidak bahwa remaja muslim kudu diselamatkan dari gaul bebas yang bisa mengakibatkan hilang dan murahnya harga virginitas. Itu semua bakal berat dilakukan selama paham kebebasan berperilaku yang menjadi salah satu sendi demokrasi terus dipertahankan. Nah, demokrasi ini ditopang oleh kapitalisme yang emang materi menjadi tujuan. Gak masalah remaja rusak yang penting uang bisa dihasilkan dari sana. Apalagi bila itu dianggap sebagai penghasil devisa Negara, maka tempat maksiat pun dilestarikan bahkan kalo bisa diperbanyak.

Hiii…pantas aja negeri ini gak pernah putus dirundung malang dari satu musibah ke musibah yang lain. Soalnya, Tuhan emang pantas murka melihat tingkah manusia dan Negara model kayak gini. Dan ternyata emang pangkal dari semua kerusakan ini terutama betapa murah harga virginitas remaja itu berpangkal dari system pergaulan, social, kemasyarakatan dan bahkan hokum kita itu mengacu pada selain Islam.

So, gak ada jalan lain bila kita ingin menyelamatkan generasi muda dari kerusakan yang makin parah kecuali kembali pada aturan yang berasal dari-Nya. Dan aturan ini gak akan mungkin sempurna dilaksanakan kecuali oleh sebuah system tertentu bernama Daulah Khilafah Islamiyah. Sistem ini gak akan tegak kalo gak ada pemuda muslim yang berusaha untuk memperjuangkannya. Jadi, gak ada pilihan lain kalo pingin mulia di dunia dan akhirat kecuali kita semua, saya dan kamu, turut ambil bagian dalam perjuangan ini.

Jadi, ayo kita sepakat untuk mempertahankan virginitas sampai merit kelak dan mencampakkan ide gaul bebas ke tong sampah peradaban.

MADZHAB IMAM ALI ZAINAL ABIDIN DALAM MENSYUKURI NIKMAT ALLOH SWT.

“Atha menceritakan bahwa suatu hari ia bersama Ubaid bin Umair bertamu ke rumah Siti Aisyah ra. Ia bertanya kepada Siti Aisyah ra, “Beritahukan kepada kami suatu hal yang menakjubkan dari Rasulullah saaw yang pernah engkau saksikan.” Aisyah ra menangis lalu berkata, “Keadaan Rasul yang mana yang tidak menakjubkan? Pada suatu malam beliau berada di rumahku. Beliau masuk ke tempat tidur bersamaku sehingga kulitku bersentuhan. Beliau mengatakan, “Wahai puteri Abu Bakar, tinggalkanlah diriku, aku ingin beribadah kepada Tuhanku.” “Saya ingin lebih dekat denganmu, “ pintaku.

Aisyah ra kemudian mengambilkan gerabah air, dan Rasulullah saaw berwudhu dengannya. Setelah itu, Rasulullah saaw berdiri melaksanakan salat, dan menangis hingga air matanya bercucuran sampai ke dadanya. Beliau rukuk, sujud, dan mengangkat kepalanya dalam keadaan manangis. Begitulah, sampai Bilal mengumandangkan azan untuk salat subuh. “Ya Rasulullah saaw, apa yang membuatmu menangis begitu rupa, padahal seluruh dosamu, yang lalu maupun yang akan datang telah diampuni oleh Allah swt.” tanya Aisyah ra. Rasulullah saaw berkata, “Apakah aku tidak pantas menjadi hamba yang senantiasa bersyukur.” (H.R. Ibnu Hibban)

Syukur umumnya diartikan sebagai ungkapan terima kasih, yang biasanya diungkapkan dengan bacaan alhamdulillahi rabbil ‘alamin, yang berarti “segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” Prof. Quraish Shihab (dalam Nafis, 1996: 162-163) menjelaskan kata hamd seringkali diterjemahkan pujian dan dianggap mempunyai kemiripan dengan syukur bahkan mungkin disamakan artinya. Namun pada hakikatnya dari segi bahasa, keduanya berbeda. Hamd (pujian) disampaikan kepada yang dipuji, walaupun yang bersangkutan tidak memberi apapun. Ia dipuji karena ada sifat atau sikapnya yang indah/baik. Kalau anda memuji dan mensyukuri Allah, atas segala perbuatan dan sifat-Nya, maka pada hakikatnya anda mengakui bahwa segala perbuatan dan sifat Allah adalah indah dan baik. Kalaupun pada lahirnya ada perbuatan/ketetapan Tuhan yang mungkin oleh kaca-mata manusia dinilai “kurang baik” maka harus disadari bahwa penilaian tersebut adalah akibat keterbatasan manusia dalam arti pasti ada sesuatu yang luput dari jangkauan pandanganya sehingga penilaian menjadi demikian. Walhasil, alhamdulillah berarti “segala puji bagi Allah.”

Adapun syukur, lanjut Quraish, pada dasarnya digunakan untuk mengakui dengan tulus penuh penghormatan atas nikmat yang dianugerahkan, baik dengan ucapan atau dengan perbuatan. Dalam Bahasa Arab, kata kerja syukur (syakara) lebih diartikan sebagai “membuka/menampakkan.” Karena itu, Alquran juga memperhadapkan kata itu dengan kufr/kafara “yang berarti menutup atau kikir,” seperti dalam firman-Nya : la in syakar tum la azidanna kum wa la in kafar tum inna adzabi la syadid, ”Kalau kamu bersyukur, pasti bertambah nikmat-Ku untukmu, dan kalau kamu kufur, sesungguhnya azabku sangat pedih”  (Q.S. Ibrahim : 7); atau wa asykur-u li wa la takfurun, “Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlan kufur” (Q.S. al-Baqarah : 152).

Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya Madarij as-Salikin mendefenisikan syukur sebagai kondisi hati untuk cinta pada wujud Allah yang telah memberikan nikmat-Nya, dilanjutkan dengan pembuktian anggota badannya yang diarahkan untuk senantiasa mentaati-Nya, disertai pengakuan lisan melalui pujian kepada-Nya. Dengan defenisi ini, para ulama umumnya membagi syukur pada tiga tingkatan : syukur hati; syukur lisan; dan syukur perbuatan. Ketiga tahapan syukur itu harus berkesinambungan dan terjalin erat. Kita diberikan oleh Allah mata, maka syukurnya kita adalah dengan menggunakan mata itu untuk hal-hal kebaikan. Kita diberikan telinga, maka gunakanlah untuk mendengar kebaikan. Kita diberikan lisan, maka ucapkanlah kata-kata yang mengajak pada keimanan. Kita diberi uang, harta, jabatan, yakinlah itu rahmat Allah, ucapkanlah alhamdulillah, dan yang terpenting pergunakanlah semuanya untuk jalan yang diridhai Tuhan, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau mengabarkannya” (Q.S. ad-Dhuha : 11). Karenanya, kita belum dinilai bersyukur, jika hanya meyakini memperoleh nikmat dari Allah, lalu mengucapkan alhamdulilah, tetapi menggunakan nikmat itu pada jalan maksiat.

Lantas, bagaimana agar syukur kita selaras antara hati, lisan dan tindakan? Prof. Quraish Shihab  menjawab bahwa untuk mensyukuri suatu nikmat secara sempurna, seseorang harus mengetahui untuk apa nikmat tersebut diciptakan/dianugerahkan Allah. Jika telah ditemukan jawabnya, maka gunakanlah nikmat itu sesuai dengan tujuan dimaksud. Karena itu, defenisi syukur adalah menggunakan segala apa yang dianugerahkan Allah sesuai dengan tujuan penciptaan anugerah itu. Kesadaran yang bermula dari lubuk hati yang terdalam itu, mengantar seseorang untuk menyampaikan pujian kepada-Nya dalam bentuk lisan, disusul dengan menggunakan semua anugerah/nikmat yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahan-Nya. Melalui syukur peringkat ketiga ini, terpenuhi janji Allah yang mengatakan

: وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Kalau kamu bersyukur, pasti bertambah nikmat-Ku untukmu” (Q.S. Ibrahim : 7).

Jika kita cermati, Q.S. Ibrahim : 7 di atas, menunjukkan juga dimensi syukur dua arah, yakni dari hamba dan dari Tuhan, dari makhluk dan dari Khaliq. Manusia beryukur kepada Allah swt, dan Allah juga “bersyukur” kepada manusia. Menurut al-Qusyairi dalam risalah-nya (2007: 244), syukurnya hamba kepada Allah swt, adalah dengan memuji kepada-Nya dan dengan mengingatkan kebaikan-Nya; sedangkan syukurnya Allah swt kepada hamba bermakna Allah memuji kepadanya dan mengingat kebaikannya. Perbuatan baik hamba adalah taat kepada Allah swt, sedangkan perbuatan baik Allah swt adalah dengan memberikan tambahan kenikmatan dan pertolongan. Karena itulah, pada hakikatnya kita tak mampu mensyukuri seluruh nikmat Allah,seperti diungkapkan Alquran, “Kalau kamu mencoba-coba menghitung nikmat Allah , niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya”, dan juga karena setiap syukur kita membutuhkan syukur lagi, dan kesadaran mensyukuri nikmat Allah juga merupakan bagian dari kenikmatan itu sendiri.

Dikisahkan, Nabi Daud as pernah menyatakan, “Ya Tuhan, bagaimana aku mampu bersyukur kepada-Mu, sedangkan setiap syukurku kepada-Mu merupakan juga nikmat dari-Mu?” Mendengar itu, Allah swt menurunkan wahyu kepada Nabi Daud as, “Sekarang, engkau telah benar bersykur kepada-Ku.”

Imam Ali Zainal Abidin dalam salah satu doanya tentang ketidaksanggupan dirinya untuk bersyukur dan mentaati Allah (dalam Shahifah Sajjadiyah, doa no. 37) mengungkapkan :

    “Ya Allah! Tidaklah mungkin seseorang mampu mensyukuri-Mu,

    kecuali datanglah kepadanya kebaikan-Mu,

    yang mengharuskannya lagi untuk mensyukuri-Mu.

    Tidaklah, meskipun sudah mencobanya, seseorang mencapai tingkat mentaati-Mu,

    tanpa merasakan kekurangan dalam memenuhi hak-Mu

    semua itu karena anugerah-Mu.

    Hamba-Mu yang paling bersykur, tidak mampu dalam mensyukuri-Mu

    Hamba-Mu yang paling berbakti, tidak sanggup mentaati-Mu”

Dalam doanya yang lain “Doa Para Pensyukur Nikmat”, cucu Rasulullah saaw ini megungkapkan :

“Tuhanku, runtunan karunia-Mu telah melengahkan aku

untuk bernar-benar bersyukur pada-Mu

Limpahan anugerah-Mu telah melemahkan aku

untuk menghitung pujian atas-Mu

Iringan ganjaran-Mu, telah menyibukkan aku

untuk memperbanyak pujaan pada-Mu

Inilah tempat orang yang mengakui limpahan nikmat

tetapi membalasnya tanpa terima kasih

yang menyaksikan kelalaian dan kealpaan dirinya

Padahal Engkau Maha Kasih dan Maha Sayang, Maha Baik, Maha Pemurah

yang tak kan mengecewakan pencari-Nya

yang tak kan menolakkan dari sisi-Nya pendamba-Nya

Di halaman-Mu singgah kafilah pengharap

Di serambi-Mu berhenti dambaan para pencari karunia

Janganlah membalas harapan kami dengan kekecewaan dan keputusasaan

Janganlah menutup kami dengan jubah keprihatinan dan keraguan

Tuhanku, besarnya nikmat-Mu mengecilkan rasa syukurku

Memudar—disamping limpahan anugerah-Mu—puji dan sanjungku

Karunia-Mu yang berupa cahaya iman menutupku dengan pakaian kebesaran

Curahan anugerah-Mu membungkusku dengan busana kemuliaan

Pemberian-Mu merangkaikan padaku kalung nan tak terpecahkan

dan melingkari leherku dengan untaian yang tak teruraikan

Anugerah-Mu tak terhingga sehingga kelu lidahku menyebutkannya

Karunia-Mu tak berbilang, sehingga lumpuh akalku memahaminya

apalagi menentukan luasnya

Bagaimana mungkin aku berhasil mensyukuri-Mu

Karena rasa syukurku pada-Mu memerlukan syukur lagi

Setiap kali aku dapat mengucapkan : “Bagi-Mu pujian”

Saat itu juga aku terdorong mengucapkan lagi : “Bagi-Mu pujian”

Tuhanku, sebagaimana Engkau makmurkan kami dengan karunia-Mu

dan memelihara kami dengan pemberian-Mu

Sempurnakan bagi kami limpahan nikmat-Mu

Tolakkan dari kami kejelekan azab-Mu

Berikan bagi kami—di dunia dan akhirat

yang paling tinggi dan paling mulia lambat atau segera

Bagi-Mu pujian –atas keindahan ujian-Mu dan limpahan kenikmatan-Mu

(Bagi-Mu) pujian yang selaras dengan ridha-Mu

yang sepadan dengan kebesaran kebajikan-Mu

Wahai Yang Maha Agung— Wahai Yang Maha Pemurah dengan rahmat-Mu

Wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi

Ya arhamar rahimin.

(ImamAli Zainal Abidin, Shahifah Sajjadiyah : hal. 229-231)

Demikianlah untaian doa yang sangat indah dari lisan mulia Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad. Semoga kita senantiasa mampu bersyukur kepada Allah swt atas segala nikmat, ujian, dan cobaan-Nya.

KEHEBATAN PAHALA MENJAGA PANDANGAN MATA (GHODDUL BASHOR)

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala Semoga sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Nabi akhir zaman Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Salah satu ajaran mulia dalam islam adalah menundukkan pandangan bahkan ia diperintahkan Allah ‘azza wa jalla kepada orang-orang yang beriman dari hamba-hambanya, dan ini menunjukkan mulianya apa yang diperintahkan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

    قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

    “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menundukkan pandanganya, dan menjaga kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS : An Nuur [24] : 30).

Pada ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala mendahulukan penyebutan menundukkan pandangan dari pada menjaga kemaluan, maka hal ini menunjukkan pentingnya menundukkan pandangan sebagai sarana untuk membersihkan hati dari penyakit-penyakit yang dapat merasuk ke dalamnya, setelah itu barulah hati itu dapat tumbuh dan berkembang dengan diberi makanan hati yang berupa amal keta’atan sebagaimana badan yang juga butuh makanan agar dapat tumbuh dan berkembang.

Maka pada kesempatan ini kami nukilkan 3 faidah yang sangat agung dari suatu ibadah yang agung, yaitu menundukkan pandangan dari apa yang dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim rohimahullah secara ringkas,

[1.]          Faidah Pertama, dapat merasakan manisnya iman, dimana ia merupakan suatu hal yang lebih baik, lebih lezat dari apa yang ia palingkan matanya dari melihatnya dan yang ia tinggalkan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka barangsiapa yang meninggalkan sesuatu apapun karena Allah maka Allah ‘azza wa jalla akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dari apa yang dia tinggalkan tersebut. Sebagaimana dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

    إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

    “Sesungguhnya tidaklah sesuatu yang kalian tinggalkan karena Allah ‘azza wa jalla kecuali pasti akan Allah gantikan untukmu dengan sesuatu yang lebih baik dari apa yang dia tinggalkan”.

Ibnul Qoyyim rohimahullah menyebutkan bahwa,

    “Pandangan itu merupakan utusan hati, hatilah yang mengutus pandangan untuk melihat apa yang bisa dikabarkannya dari keindahan apa yang terlihat. Kemudian dari apa yang dilihat inilah muncul rasa rindu, yang kemudian berubah menjadi rasa cinta yang selanjutnya rasa cinta ini dapat berubah menjadi rasa cinta yang bersifat penghambaan, sehingga hatinya menjadi hamba apa yang dia cintai yang semula hanya berawal dari apa yang dia lihat. Sehingga akhirnya mengakibatkan letihnya hati dan hatinya akan menjadi tawanan apa yang ia lihat. Kemudian sang hati yang telah letih ini mengeluhkan keletihannya pada pandagan, namun apa yang dikatakan pandangan tidaklah seperti yang dia harapkan. Dia mengatakan, “Aku hanyalah sebagai utusanmu dan engkaulah yang mengutusku”.

Maka semakin bertambahlah sakit yang dirasakan hati dan beginilah salah satu ujian bagi hati yang kosong dari kecintaan kepada Allah dan ikhlas kepadaNya, sehingga dengan ini terlihatlah bagi kita dampak buruk dari tidak menjaga pandangan.

Kemudian Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan,

“Sesungguhnya hati itu pasti bergantung apa yang dicintainya, maka barangsiapa yang tidak menjadikan Allah lah satu-satunya yang dia cintai dan ilaah yang dia sembah sudah barang tentu hatinya akan menyembah/beribadah kepada selainNya”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Yusuf ‘alaihis salam,

    كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

    “Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran (khianat) dan kekejian (keinginan untuk berzina). Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas dalam kerta’atannya”. (QS : Yusuf [12] : 24).

Maka lihatlah saudaraku betapa Allah ‘azza wa jalla kaitkan antara menjadi hamba yang ikhlas dalam keta’atannya kepada Allah, dimana salah satu jalannya adalah dengan memalingkan pandangan dari sesuatu yang haram dilihat dan ini adalah salah satu sebab Nabi Yusuf alaihis salam bisa berpaling dari perzinaan dan pengkhianatan padahal saat itu Beliau adalah seorang yang masih muda, belum menikah, terasing dan seorang budak dari majikan suami orang yang mengajaknya berzina.

[2.]         Faidah Kedua, membuat hati menjadi bercahaya dan melahirkan firasat yang benar.

Ibnu Syujaa’ Al Karmani rohimahullah mengatakan,

    “Barangsiapa yang menjaga dhohirnya dengan mengikuti sunnah dan batinnya dengan perasaan selalu diawasi Allah ‘azza wa jalla (muroqobah), menahan diri dari mengikuti syahwat, menundukkan pandangan dari melihat hal-hal yang haram dan menjaga diri untuk tidak makan yang haram maka firasatnya tidak akan meleset”.

Demikian juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menceritakan kaum Nabi Luth alaihis salam dan musibah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala timpakan kepada mereka kemudian setelah itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

    إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ

    “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi Al Muwassimin”. (QS : Al Hijr [15] : 75).

Al Muwassimin dalam ayat ini ditafsirkan oleh Ibnul Qoyyim rohimahullah sebagai orang-orang yang penglihatan mereka selamat dari melihat hal-hal yang haram  dan keji.

Dalam surat An Nuur Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang manfaat yang diperoleh orang-orang yang menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan kemaluannya :

    اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

    “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi”. (QS : Al Nuur [24] : 35).

Setelah membawakan ayat ini Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan,

    “Rahasia dari hal ini adalah bahwa balasan dari suatu amal adalah sesuai dengan amalan yang dikerjakan. Barangsiapa yang menundukkan pandangannya dari melihat yang haram maka Allah akan gantikan dengan sesuatu yang lebih baik darinya. Maka sebagaimana ia menahan pandangan dari hal-hal yang diharamkan maka demikian jugalah Allah akan penuhi hati dan pandangan orang tersebut dengan cahayaNya sehingga dia akan dapat melihat (dengan hatinya yang telah dipenuhi cahaya) apa yang tidak terlihat oleh orang yang tidak menundukkan pandangannya dari hal yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan”.

Kemudian Beliau rohimahullah mengatakan,

    “Maka hati itu laksana cermin dan hawa nafsu laksana karat yang mengotorinya, apabila cermin tersebut bersih dari noda karat tersebut maka ia akan dapat terlihat sesuatu sebagai mana hakikatnya”.

[3.]         Faidah Ketiga, Timbulnya kekuatan, keteguhan dan keberanian hati.

Allah akan memberikan kepada orang yang menjaga pandangannya dari hal yang haram berupa kekuatan pertolonganNya, sebagaimana Allah memberikan cahayaNya kepada orang ini berupa kekuatan hujjah. Maka pada diri orang ini terkumpul dua kekuatan yang menyebabkan setan lari darinya, sebagaimana dikatakan dalam sebuah atsar,

    إِنَّ الَّذِيْنَ يُخَالِفُ هَوَاهُ يَفْرَقُ الشَّيْطَانُ مِنْ ظِلِّهِ

    “Sesungguhnya setan akan lari dari orang yang menyelisihi hawa nafsunya”.

Oleh sebab itu hal ini tidak akan didapatkan orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang berjiwa nista dan rendah. Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,

     وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

    “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati berkaitan dengan masa lalu, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman[16]”. (QS : Ali ‘Imran [3] : 138).

Demikian juga firman Allah Subahanahu wa Ta’ala,

    مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا

    “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka milik Allahlah kemuliaan itu semuanya”. (QS : Fathiir [35] : 10).

Dengan demikian maka barangsiapa yang ingin mendapatkan kemulian maka hendaklah ia mencarinya dengan taat kepada Allah, dengan al kalamuth thayyib (kata-kata yang baik), dan amal yang sholeh. Demikian juga sabda Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam,

    مَنْ الْتَمَسَ رِضَى اللهِ بِسَخْطِ النَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، وَأَرْضَى النَّاسُ عَنْهُ ، وَمَنْ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخْطِ اللهِ سَخِطَ اللهُ عَلَيْهِ ، وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسُ

    “Barangsiapa yang mencari ridho Allah walaupun manusia murka maka Allah ridho padanya dan menjadikan manusiapun ridho padanya. Dan barangsiapa yang mencari ridho manusia walaupun Allah murka maka Allah akan murka padanya dan Allah jadikan manusiapun murka padanya”.

Dengan demikian kita katakan pula bahwa

“Barangsiapa yang taat kepada Allah maka Allah akan mengasihinya dan melindunginya, tidak akan hina orang yang dikasihi dan dilindungi Robbnya”.

Sebagaimana yang diajarkan Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam dalam salah satu do’a qunut,

    إِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ

    “Sesungguhnya tidaklah hina orang yang engkau kasihi dan engkau tolong. Dan tidaklah mulia orang yang engkau musuhi”.

Suatu barang tentu menundukkan pandangan adalah suatu yang Allah ridhoi karena ia adalah perintah dari Rob Semesta Alam.

Demikianlah, mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat sebagai suatu amal yang diterima Allah ‘Azza wa Jalla dan dapat kita terapkan bersama, Amiin yaa Mujibas Saa’ilin. Semoga sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita shollallahu ‘alaihi was sallam.

JIKA KITA BERBURUK SANGKA MAKA KITA AKAN TERSERANG PENYAKIT DAN SEMAKIN MENDERITA

Sebagai kaum muslim tidak ada salahnya mempelajari hukum bersangka buruk, karena buruk sangka akan mengakibatkan hati menjadi gundah kulana, akan menjadikan hati tidak tenang, dan akan menjadikan kita akan lebih sia sia dalam beramal dalam hidupnya.

Orang orang yang sukses banyak yang menata hatinya dengan tidak pernah berburuk sangka, mereka yang di tanamkan dalam hatinya adalah berfikir positif. yang akan menciptakan suasana hati menjadi bahagia.

buruk sangka dalam setiap hari akan menciptakan diri kita tidak produktif, karena dalam dirinya hanya memikirkan kesalahan orang lain saja.

Dalam kisah ada seorang yang kehidupanya glamor, setiap hari dia bekerja hanya mencari keburukan alias kesalahan orang lain saja, pagi datang mulutnya sudah membuat gaduh mencari kesalahan orang lain, setiaap hari yang dilakukan seperti itu saja. dalam kehidupanya dia terasa tidak bahagia, badan kering dan kurus.. meskipun memiliki harta namun tidak terasa bahagia. dibandingkan dengan orang yang hatinya tenang selalu memandang dirinya penuh instropeksi diri..tanpa buruk sangka menjadikan dia hidupnya lebih sehat dan kuat padahal usia dia sudah tua.. menghilangkan buruk sangka akan menciptakan energi yang sangat baik

Oleh karena itu jiwa muslim wajib tahu tentang hukum buruk sangka antara lain :

Allah Ta’ala berfirman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-car kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]

Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa. Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus. Tajassus ialah mencari-cari kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”

Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik”

Ibnu Katsir menyebutkan perkataan Umar di atas ketika menafsirkan sebuah ayat dalam surat Al-Hujurat.

Bakar bin Abdullah Al-Muzani yang biografinya bisa kita dapatkan dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib berkata : “Hati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. Perkataan tersebut adalah berprasangka buruk terhadap saudaramu”.

Disebutkan dalam kitab Al-Hilyah karya Abu Nu’aim (II/285) bahwa Abu Qilabah Abdullah bin Yazid Al-Jurmi berkata : “Apabila ada berita tentang tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mancarikan alasan untuknya. Apabila kamu tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah kepada dirimu sendiri, “Saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukan perbuatan tersebut”.

Sufyan bin Husain berkata, “Aku pernah menyebutkan kejelekan seseorang di hadapan Iyas bin Mu’awiyyah. Beliaupun memandangi wajahku seraya berkata, “Apakah kamu pernah ikut memerangi bangsa Romawi?” Aku menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya lagi, “Kalau memerangi bangsa Sind , Hind (India) atau Turki?” Aku juga menjawab, “Tidak”. Beliau berkata, “Apakah layak, bangsa Romawi, Sind, Hind dan Turki selamat dari kejelekanmu sementara saudaramu yang muslim tidak selamat dari kejelekanmu?” Setelah kejadian itu, aku tidak pernah mengulangi lagi berbuat seperti itu”

“Alangkah baiknya jawaban dari Iyas bin Mu’awiyah yang terkenal cerdas itu. Dan jawaban di atas salah satu contoh dari kecerdasan beliau”.

Abu Hatim bin Hibban Al-Busti bekata dalam kitab Raudhah Al-‘Uqala (hal.131), ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya”.

Beliau juga berkata pada hal.133, “Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita”.