ADAB ATAU ETIKA DALAM BERDO’A YANG SESUAI SYARI’AT

Para Ulama menjelaskan tentang adab dan etika dalam berdoa agar dikabulkan, sebagaimana tuntutan dalam al-Qur‘ân dan Hadis.

Al-Baghawi rahimahullah berkata: “Ada etika dan syarat-syarat dalam berdoa yang merupakan sebab dikabulkannya doa. Barangsiapa memenuhinya, maka dia akan mendapatkan apa yang diminta dan barangsiapa mengabaikannya, dialah orang yang melampaui batas dalam berdoa; sehingga doanya tidak berhak dikabulkan”.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata “Kedua ayat berikut mencakup adab-adab berdoa dengan kedua jenisnya (doa ibadah dan doa permohonan);

Iaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ

” Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Janganlah kamu membuat kerosakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. [al-A‘raf/7:55-56]

Dan Ibnu Katsîr rahimahullah membawakan sejumlah hadits-hadits yang berkaitan dengan adab-adab tersebut iaitu:

  1. Mengangkat kedua tangan sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Salmân al-Fârisi Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ إِنَّ اللّهَ حَيِيٌ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

” Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha pemalu lagi Maha pemurah terhadap seorang hamba yang mengangkat kedua tangannya (berdoa), kemudian kedua tangannya kembali dengan kosong dan kehampaan (tidak dikabulkan).”

  1. Memulakan doa dengan pujian terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian Salawat dan Salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, selanjutnya bertawasul kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tawasul yang disyariatkan, seperti dengan bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan asma’ dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan amal shalih dan selainnya.

  1. Bersangka baik terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Diriwayatkan dalam sebuah hadis qudsi dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَقُولُ اللَّه عَزَّوَجَلَّ : يَقُولُ أَنَّا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِيْ وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِيْ

” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Aku (akan) sebagaimana hamba-Ku menyangka tentang-Ku, dan Aku akan bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku”

al-Qurthûbi rahimahullah berkata: ” maknanya adalah hamba itu menyangka dikabulkannya doa, diterimanya taubat, diberikan ampun melalui istighfâr, serta menyangka dibalas dengan pahala atas ibadah yang dilakukan sesuai syarat-syaratnya sebagai keyakinan akan kebenaran janji Allah Subhanahu wa Ta’ala.

  1. Menjauhi sikap tergesa-gesa mengharapkan terkabulnya doa; karena ketergesa-gesaan itu akan berakhir dengan sikap putus asa sehingga ia tidak lagi berdoa. Na‘ûdzubillâh.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُسْتَجَابُ لأَِحَدِكُم مَالَم يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَم يُتَجَبْ لِي

” Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahawa Rasulullah bersabda “ Akan dikabulkan (doa) seseorang di antara kalian selama dia tidak tergesa-gesa, iaitu dia berkata ‘aku telah berdoa namun belum dikabulkan bagiku’ “.

Dalam lafaz lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ لاَيَزَالُ يُستَجَابُ لِلعَبْدِ مَا لَم ْيَدْع ُبِإِثْم أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَالَمْ يَسْتَعْجِل قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الاِستِعْجَالُ قَالَ يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَم أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ

” Sentiasa akan dikabulkan (doa) seorang hamba selama tidak meminta sesuatu yang membawa dosa atau memutuskan tali kekeluargaan, selama dia tidak tergesa-gesa. Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah , apa yang dimaksud tergesa-gesa?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Dia berkata ‘aku telah berdoa, aku telah berdoa namun aku tidak pernah mendapatkan doaku dikabulkan’, kemudian ia berputus asa dan meninggalkan berdoa.

  1. Membersihkan jiwa raga dari berbagai kotoran dosa. Hati yang kotor dengan berbagai maksiat atau jiwa yang tidak bersih dari perkara haram akan menghalang terkabulnya doa.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيًّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَِ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّيسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَاأَيُّهَاالذِنيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَا كُمْ ثُمَّ دَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَارَبِّ يَارَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمََِشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامٌ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

” Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala baik dan tidak menerima melainkan yang baik. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum Mukminin dengan apa yang telah diperintahkannya kepada para rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai para rasul makanlah kalian dari yang baik dan beramal solehlah, sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman makanlah rizki yang baik dari apa yang diberikan kepada kalian…”.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seorang musafir yang berjalan jauh sehingga tidak terurus rambutnya, lusuh dan berdebu tubuhnya, dia mengangkat kedua tangannya ke arah langit seraya berdoa menyeru: “Wahai tuhanku, wahai tuhanku …”, namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi dari yang haram, bagaimana mungkin akan dikabulkan doanya?”.

  1. Yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha mengabulkan doa selama tidak ada sesuatu pun yang menghalangnya. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ادْعُوا اللَّهَ وَاَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِاْللإِجَاَبَةِ وَاعْلَمُواأَنَّ اللَّهَ لاَيَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

” Berdoalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kalian yakin (akan) dikabulkan, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa (seorang hamba) yang hatinya alpa serta lalai “.

Dalam hadis lain dari Abu Sa‘id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيْهَا إثْمٌ وَلاَقَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّأَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّ خِرَهَا لَهُ فِي الآخِرَةِ وَإِمَّا اَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا قَالُوا إِذًا نُكثِرُ قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ

” Tidaklah seorang Muslim berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebuah doa yang tidak ada dosa atau pemutusan ikatan kekeluargaan di dalamnya, melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberinya satu di antara tiga perkara; 1) boleh jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala segera mengabulkan doa tersebut, 2) atau menyimpan sebagai tabungan baginya di akhirat, 3) atau menyelamatkannya dari kejahatan yang setara dengan doa yang dipanjatkannya.” Para sahabat berkata : “Jika demikian, kami akan memperbanyak (doa).” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih banyak.”

Ibnu Katsîr rahimahullah berkata : “Yang dimaksud adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan doa seseorang, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak disibukkan dengan sesuatu apapun. Dia Subhanahu wa Ta’ala Maha mendengar doa. Dalam hal ini terdapat anjuran (memperbanyak) berdoa kerana tidak satu pun yang luput dari-Nya Subhanahu wa Ta’ala .”

Terutama pada saat kita tengah mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui ibadah puasa di bulan Ramadhan. Hendaknya kita mengambil kesempatan yang istimewa ini dengan memperbanyak doa bagi kebaikan kita di dunia dan akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَ ثٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَ تُهُمْ : الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَاْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ

” Ada tiga orang yang tidak ditolak doanya; seorang yang berpuasa sehingga berbuka, seorang pemimpin yang adil dan seorang yang dizalimi.

Marilah kita semua memperbanyak doa sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala murka terhadap yang orang yang tidak berdoa kepada-Nya sebagaimana firman-Nya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

” Dan tuhanmu berkata: “Berdoalah kepadaku, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari berdoa kepadaku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.”

Demikian pula dijelaskan dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ مَنْ لَم يَدْعُ اللَّه يَغْضَبْ عَلَيْه” yang artinya: “Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah Subhanahu wa Ta’ala marah terhadapnya”.

Ibnu al-Mubârak Radhiyallahu ‘anhu berkata :

الرّحْمَنُ إِذَا سُئِلُ أَعْطَى، وَالرَّحِيْمُ إِذَا لَمْ يُسْأَلْ يغْضَبُ

Ar-Rahmân (Allah Subhanahu wa Ta’ala) jika Dia diminta akan memberi, dan Ar-Rahîm (Allah Subhanahu wa Ta’ala) jika Dia tidak diminta akan marah.

MENGANGKAT TANGAN KE ATAS DI SAAT BERDO’A

Memang benar bahwa kita dianjurkan untuk mengangkat tangan saat berdoa. Rasulullah SAW sendiri mencontohkan umatnya dengan menengadahkan tangan ketika memohon kepada Allah SWT.

Adalah benar bahwa Allah tidak bertempat. Karena itu kita tidak mengatakan bahwa Allah ada di atas atau di arah tertentu. Allah SWT maha kaya sehingga Dia tidak membutuhkan tempat, tidak membutuhkan pencipta.

Lalu bagaimana dengan menengadahkan tangan saat berdoa? Pertama, menengadahkan tangan merupakan sunah Rasulullah SAW. Kedua, menengadahkan tangan ke atas hanya merupakan arah doa saja, sebagaimana Ka’bah sebagai arah sembahyang.

Ada baiknya kita melihat pandangan Imam Al-Ghazali perihal angkat tangan ke atas saat doa yang kami kutip dari Ihya Ulumiddin sebagai berikut.

فأما رفع الأيدي عند السؤال إلى جهة السماء فهو لأنها قبلة الدعاء وفيه أيضا إشارة إلى ما هو وصف للمدعو من الجلال والكبرياء تنبيها بقصد جهة العلو على صفة المجد والعلاء فإنه تعالى فوق كل موجود بالقهر والاستيلاء

Artinya, “Adapun perihal menengadahkan tangan kea rah langit saat berdoa, itu dikarenakan arah langit merupakan hanya qiblat doa. Hal ini juga mengisyaratkan sifat kebesaran dan keagungan Allah sebagai zat yang dimintakan pertolongan, mengarah ke atas mengingatkan kita pada kemuliaan dan ketinggian-Nya. Allah dengan kuasa dan kewenangan-Nya di atas segala yang ada,” (Lihat Imam Al-Ghazali, Ihya ulumiddin, 1939 M/1358 H, Mesir, Mustafa Al-Babi Al-Halabi wa Auladuh, juz 1, halaman 113).

Keterangan Imam Al-Ghazali di atas jelas mengatakan bahwa atas hanya kiblat doa sebagaimana Ka’bah kiblat sembahyang. Arah atas merupakan symbol ketinggian, kemuliaan, keluhuran, dan kebesaran zat Allah SWT.

INGATLAH BAHWA HIDUP KITA ADALAH MENUNGGU MATI

kyai            Kita adalah makhluk yang diciptakan oleh ALLOH yang asalnya tidak ada menjadi ada!

Asalnya tidak wujud menjadi wujud!

Asalnya lemah menjadi kuat!

Asalnya bodoh menjadi pandai!

Asalnya miskin tidak punya apa-apa diberi kekayaan!

Semua sebab karena DIA, tanpa dia kita tidak bisa apa-apa dan tanpa DIA kita juga bukan apa-apa!

Tapi fenomena yang terjadi pada saat ini, mayoritas umat manusia terjangkit dengan virus yang melupakan dengan TUHANNYA!

Seakan-akan semuanya datang dari dirinya!

Si alim dengan ilmunya DIAKU sehingga merasa dirinya paling mulya!

Si cendikia dengan pendidikan dan penelitiannya DIAKU sehingga merasa pandai!

Si kaya dengan kekayaannya DIAKU sehingga merasa dirinya merasa kaya!

Si ahli ibadah dengan ibadahnya DIAKU sehingga merasa dekat dengan TUHANNYA!

Lupa dibalik itu semua TANPA DIA, kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa!

Inilah fenomena yang terjadi pada saat ini!

Virus-virus ANANIYAH  (AKU) sudah menjangkit umat manusia!  yang akhirnya berakibat “PENGAKUANKU SEBAGAI TUHAN” muncul didalam dirinya!

Wahai saudaraku…!!!

Ingat…!!! Kita adalah makhluk yang diciptakan, tanpa DIA kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa!

Dalam sejarah, iblis turun dilempar dari surga karena merasa “AKU” lebih baik daripada adam!

Bagaimana dengan kita yang katanya ingin mati khusnul khotimah masuk surga akan tetapi masih ada penyakit AKU didalam jiwa???

Tentu jawabannya TIDAK MUNGKIN DAN TIDAK AKAN BISA!

KARENA SURGA STERIL DARI PENYAKIT AKU!

Walaupun kita ahli ibadah, ahli sujud, ahli baca al quran, ahli puasa, ahli mujahadah, ahli berjuang dalam menegakkan agama, akan tetapi didalam hati kita masih ada pengakuan, aku ahli ibadah, aku ahli sujud, aku ahli baca al quran, aku ahli puasa, aku ahli mujahadah, aku ahli berjuang SEHINGGA MERASA DEKAT DENGAN ALLOH DAN RASULNYA, JUSTRU SEMAKIN JAUH DAN TIDAK AKAN MASUK SURGA ORANG YANG ADA PENGAKUAN DIDALAM DIRINYA!

INGAT…!!!

KETIKA ADA HAMBA MERASA DEKAT DENGAN ALLOH DAN RASULNYA SESUNGGUHNYA IA JAUH DENGAN ALLOH DAN RASULNYA!

Karena dia merasa dekat, sedangkan merasa dekat sendiri merupakan bentuk pengakuan diri yang merupakan salah satu bibit kanker rohani yang sangat ganas yaitu Ananiyah (AKU) yang berujung kepada syirik dihadapan ALLOH!

Inilah fenomena syirik khofi (penyekutuan ALLOH secara samar – Pengakuanku Sebagai Tuhan) yang terjadi dikalangan umat masyarakat.

Yang mengakibatkan umat menjadi anarkis sebab merasa dirinya paling benar!

Umat menjadi jahat sebab merasa paling tinggi sehingga tidak mau dikalahkan!

Umat menjadi kejam sebab merasa paling benar sehingga tidak mau tersaingi!

Akibatnya ketika ia menjadi seorang pimpinan menjadi kejam karena tidak mau tersaingi!

Sehingga antar satu pimpinan dengan pimpinan lain tidak mau dikalahkan dan merasa paling benar sendiri!

INILAH AWAL HANCURNYA PERADABAN MANUSIA!

Maka kembalilah wahai saudaraku…

Kembali menjadi hamba, menyadari bahwa kita adalah hamba, dan hamba adalah ciptaan, dan ciptaan asalnya tidak ada!

Dan ketika hamba masuk dalam ruang ketiadaan melalui dalam frekuensi kehambaan, disitu ada partikel-partikel suci yang sangat halus siap menarik seorang hamba untuk masuk dalam wilayah suci KETUHANAN! wilayah netral tiada sekutu bagiNYA! Dan hanya dia yang wajib wujud (WAJIBATUL WUJUD), maka ketika hamba ada sedikit perasaan AKU, saat itu terlempar keluar dalam wilayahNya!

Maka ketika hamba masuk dalam wilayah suci KETUHANAN, hati otomatis menjadi bersih, otomatis jiwanya menjadi lemah lembut, menjadi penyejuk bagi jiwa yang gersang, penerang hati yang sedang gelap-gulita, karena hati yang lembut bagaikan tabung resonansi yang mampu menghasilkan cahaya.

Semakin lembut hati seseorang, maka semakin tinggi frekuensi resonansi kelembutan jiwanya, sehingga jiwa yang lembut itu akan menghasilkan cahaya dalam pandangan “cakrawala rohaninya” hingga menembus alam semesta, karena belaian yang lembut bisa membuat hati yang keras menjadi luluh.

Ternyata frekuensi hati seseorang yang teresonansi frekuensi hati yang absolut bisa merubah hati yang negatif menjadi positif, yang keras akan menjadi lunak, yang asalnya takabbur menjadi rendah diri.

“Berbahagialah orang–orang yang mempunyai kelembutan jiwa, ikhlas didalam setiap langkah perbuatan, mereka itulah adalah lampu– lampu petunjuk dimana suatu fitnah digambarkan bagaikan malam yang gelap gulita menjadi nampak terang bagi mereka” (HR. Baihaqi dan Abu Nu’aim dari Tsauban)

Ingat…!!!

Surga dunia adalah sedetik ingat kepada ALLOH!

Nerakanya dunia adalah sedetik lupa kepada ALLOH!

Ketika sedetik ingat kepada ALLOH, maka sedetik itu ia pingsan dihadapan ALLOH!

Pingsan dari kesombongan, pingsan dari bangga diri, pingsan dari perasaan mampu, pingsan dari perasaan lebih baik daripada yang lain, pingsan dari keaku-akuan (ANANIYAH), karena hanyalah kerendahan yang terbangun didalam jiwanya.

Saat terbangun kerendahan didalam dirinya maka mulialah ahklaq (budi pekertinya), karena dia sudah mengenal akan jati dirinya bahwa dia sesungguhnya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.

Dan ketika sedetik lupa kepada ALLOH, maka sedetik itu ia siuman dari kerendahan dan terbangunlah kesombongan!

Semoga kita semua dilindungi oleh ALLOH SWT, karena kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa!

Aamiin…

KASIH SAYANG ALLOH SWT DI BALIK MAKSIYAT KITA

ALLOH             Ingatlah hidup ini adalah sebuah perjalanan, dan perjalanan itu pasti ada tujuan dan tujuan utama perjalanan manusia ialah kembali kepada Sang Pencipta sehingga perjalanan kita dalam melaksanakan tugas hidup yang semakin lama semakin berat, semakin banyak rintangan, semakin besar ujian, semoga dilindungi dan dikasih sayangi bahkan diselamatkan oleh Allah SWT.

Sebab kalau kita melaksanakan kesalahan lahir, akan nampak dan diketahui orang dan suatu saat kita dihakimi dan dinyatakan salah tapi orang yang melakukan kesalahan lahir ini masih ada perasaan bersalah didalam hati oleh Allah diberi kesempatan kembali kepadaNYA.

Walaupun manusia sudah dicap sebagai tempat salah dan dosa bahkan sangat dholimdan sangat kufur tapi justru ini bentuk kasih sayang Allah kepada manusia, artinya manusia kalau sudah dikatan Allah sangat dholim dan sangat kufur itu harus ditancapkan didalam hati dan ini merupakan resep untuk mendapat kasih sayangnya Allah.

Maka tancapkanlah dihati kita ketika kita sholat, ketika kita mujahadah, katakan didalam hati kita “YAA ALLAH AKULAH YANG PALING DHOLIM DAN AKULAH MANUSIA YANG PALING KUFUR”, ini merupakan rahasia ayat Al Quran yang merupakan bentuk kasih sayang Allah.

Ternyata ketika ayat itu dimasukkan didalam hati sehingga si alim yang hafal kitab, dan si abid yang ahli ibadah, ketika tertancap “INNAL INSAANA LA DHOLUMUN KAFFAR”ini manusia tetap sebagai hamba, dan tidak lepas dari perasaan hamba karena sekali hati lepas dari perasaan hamba walaupun sedetik saat itulah iblis menguasi hati kita sehingga ditancapkan bendera aku didalam hati kita, ketika kita lepas dari perasaan dholim, perasaaan kufur, perasaan penuh dosa saat lepas satu detik saat itu hati dikuasai iblis, dia datang mengendap-endap kepada orang sholeh menunggu waktu kapan si sholeh, kapan orang-orang yang dekat dengan Allah lepas dari perasaan hamba, itu ditunggu dan tidak pernah berhenti!

KETIKA SI AHLI IBADAH DAN ORANG-ORANG YANG BENAR-BENAR MULIA MERASA BAIK SEDETIK, YA SAAT SEDETIK ITU BERSAMA IBLIS, TOLONG DIPERHATIKAN!

Maka perasaan rendah harus dilatih… dilatih… dan dilatih… dimanapun berada, perasaan dholim, rendah, kufur harus ditancapkan didalam hati karena ayat itu mengandung rahasia, artinya kalau kita menempati posisi perasaan rendah, kufur dan dholim merupakan sumber dan diharapkan oleh Allah akan menerima fadholNYA!

Karena fadholnya Allah diberikan kepada hati yang memiliki perasaan rendah “LIL KULU BI MUNKATSIROTI MUTAARIDHOTI LINAFAHATIL ILAAHIYYAH” hati yang merasa rendah, merasa dholim, merasa kufur tidak ada apa-apanya merasa penuh dosa dihadapan Allah, akan tetapi iblis sangat benci melihat hamba yang merasa dosa dan merasa rendah itu, oleh karena itu hikmah daripada kita melakukan dosa ternyata Allah memberikan kasih sayangnya sehingga membalik dosa-dosanya menjadi kebaikan.

Berapa hamba-hamba Allah yang dicintai itu asalnya adalah orang-orang yang bodoh? orang-orang yang sangat lemah dan orang-orang yang penuh dengan maksiat? orang-orang tiap hari ingkar kepada Allah?

Akan tetapi ketika datang hidayah sehingga menancap di hati maka orang itu dicintai oleh Allah walaupun asalnya orang itu rendah dan banyak dosa, orang itu penuh maksiat, dan orang itu lupa orang sehingga mengikuti syahwat nafsunya, akan tetapi orang itu diangkat oleh Allah menjadi kekasihNYA karena menancapnya ayat itu didalam jiwa!

MAKA WAHAI SAUDARAKU…

Tancapkan perasaan dholim itu karena sedetik perasaan itu terangkat ya sedetik itu iblis masuk kedalam hati kita, maka harus dilatih dan banyak menangis didunia ini, kalau tidak bisa menangis lahirnya ya hatinya harus menangis merasa rendah, banyaknya maksiat ini saya sumbernya!

Andaikan saya baik, doa saya pasti diterima dan orang-orang akan baik, harus dilatih itu jangan ada kesempatan merasa baik! merasa rendah, merasa dosa, merasa dholim, merasa diri kita tidak ada apa-apanya dan merasa kecil itu sumber pertolongan dan fadholnya Allah.

Maka latih… latih… perasaan itu, perasaan faqodholamtu abadaw warobbini, sebab Rasulullah tidak akan membimbing kalau si hamba belum benar-benar menyadari dan mengakui sungguh kami dholim selalu!

INI YANG HILANG DIHATINYA UMAT, SEHINGGA KITA HANYA BISA BERBICARA AKAN TETAPI TIDAK MENGETRAPKAN!

Walaupun mujahadah ditingkatkan, riyadhoh benar-benar ditingkatkan tapi apa jadinya semakin meningkat kita semakin merasa tepat, hancur sudah perasaan dholim selalu itu yang semestinya ada didalam hati kita! Inilah awal hilangnya rasa dholim dan kufur sehingga merasa pede dihadapan Allah!

Ingat…!!! sedikit kita merasa LILLAH BILLAH, seketika itu jauh dihadapan Allah (RUQYATUL QURBI.. BU’DUN)

PERHATIKAN kita tidak bisa NOL, itu adalah fadhol dari Allah, maka jangan sekali-kali pupuk rohani menuju kepada Allah “faqodholamtu abadaw warobbini” dan “Innal insana ladholumun kaffar” hilang, lebih-lebih di zaman ini harus kita tingkatkan.

Ingat zaman ini juga banyak penyakit, banyak orang yang tidak sakit tiba-tiba mati mendadak, banyak orang yang belum taubat tahu-tahu duduk dengan keluarga jatuh dan mati! kita bertanggung jawab dan masyarakat masih membutuhkan kita, walaupun kita ini miskin dan bodoh, justru bodoh miskin itu bawa itu sebagai komandan perjalanan menuju kepada Allah!

Katakan dihadapan Allah “Yaa Allah saya orang bodoh dan miskin, ahli maksiat, dan banyak dosa tidak pantas berjuang untuk kesadaran” itu jadikan menuju kepada Allah, akan tetapi jika perasaan itu sudah hilang jangan harap bisa bertemu dengan Allah untuk mengingat Allah pun sulit!

Masa kita mengingat Allah sambil bertolak pinggang?

Masa kita mengingat Allah dengan merasa suci?

Ini sunggguh terbalik, karena hakekat ingat kepada Allah harus merasa rendah! Karena yang kita ingat adalah SANG PENCIPTA, yang kita ingat adalah TUHAN YANG MAHA SUCI!

Masa dihadapan Allah kita syirik menyekutukan Allah dengan kebaikan kita bahkan dengan perasaan AKU yang disebut dengan ANANIYAH!

OLEH KARENA ITU WAHAI SAUDARAKU…

Latih… latih… perasaan rendah dengan perasaan dosa walaupun kita baik secara lahiriah tidak pernah maksiat, tapi bersujudlah dihadapannya katakan justru maksiat saya adalah merasa bangga dengan ibadah saya, merasa takabur sehingga banyak saudara-saudara kita mati belum taubat karena sebab saya Yaa Allah…. bahkan keluarga, ayah, ibu, anak belum kenal ilmu ini sebab karena saya dan itu harus terlatih!

Maka ingat saudara-saudaraku kitapun akan menyusul saudara-saudara kita yang sudah meninggal dunia, hidup kita hanya sekali dan sebentar lagi kita akan meninggalkan dunia yang fana’ tapi perjuangan rohani tidak boleh putus!

Akan tetapi siapa yang digadang dan diharap untuk meneruskan perjuangan rohani kalau pertama kali pondasinya perasaan dholim dan perasaan rendah-serendahnya tidak mampu, siapa yang akan meneruskan perjuangan yang agung ini?

Maka terjadi dimana-mana orang menolak ajaran suci “LILLAH BILLAH” sebab karena kita sendiri tidak bisa mencerminkan sifat dan sikap kasih sayang!

Maka tanamkan pupuk kesadaran kepada Allah, dan pupuk kesadaran ialah ketika kita merasa dholim, merasa rendah-serendahnya, merasa kufur, merasa penuh dosa jangan sampai hilang dihati kita!

Ingat satu detik hilang perasaan itu satu detik itu dimakan oleh iblis dan dibawa ke alam ananiyah saat itulah kita merasa aku!, maka terlempar dalam wilayah suci KETUHANAN, sehingga menjadi temannya iblis dan setan! Itu hanya satu detik apalagi sering, roh kita dikawal dengan iblis dan setan karena kita tidak bersih.

Alangkah sedihnya hidup ini yang hanya sekali ini, kita kembali berpulang kepada Allah melewati alam barzah dan alam ma’syar sedangkan posisi kita membawa perasaan aku dihadapan Tuhan!

Mari kita latih… latih perasaan rendah dan dholim ini karena itu pupuk kesadaran, kalau kesadaran itu sudah ada dihati otomatis hati kita ada perasaan NOL, tidak ada kemampuan apa-apa karena pandangan kita hanya satu Allah SWT sebagai kesadaran jiwa, INGAT itu adalah kesadaran jiwa!

Maka jadikan hidup yang hanya sekali ini benar-benar berarti menjadi seorang hamba mempunyai sifat rendah, banyak berlumuran dosa serta, serta tidak memiliki daya dan kekuatan melaikan “LAA HAULAA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH”, perasaan ini harus ditancap didalam jiwa nyawa keluar dari jasad.

LATIH… LATIH… LATIH PERASAAN RENDAH, HINA, DAN NOL SAMPAI MEREGANNYA NYAWA (AL WAJAL ILAL AJAL)

TAWAKAL ATAU PASRAH KEPADA ALLOH SWT.

ALLOH             Tawakal itu bertingkat-tingkat, yaitu: Pertama, tawakalnya orang awam seperti kita kebanyakan. Kedua, tawakalnya orang khawas yang sudah jauh anak tangganya ke atas. Dan yang ketiga, tawakalnya khawasul khawas, yaitu orang yang sudah mencapai pada tingkat puncak.

Namun demikian, tawakal juga sering disalahpahami oleh sebagian di antara kita, seolah-olah orang yang tawakal itu pasrah. Apakah maksud dari pasrah?

Terkadang orang menyangka bahwa makna tawakal itu meninggalkan usaha dengan badan, meninggalkan pengaturan dengan hati dan jatuh di atas bumi bagaikan daging di atas landasan tempat memotong daging. Lihatlah daging di atas dapur tempat pemotongan itu! Bukanlah seperti ini seharusnya seorang muslim bertawakal, yaitu seperti daging yang tergeletak, tak ada usaha sama sekali. Ini adalah sangkaan orang-orang yang bodoh.

Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali (dalam kitab Ihya Ulumuddin) memberikan klarifikasi terhadap kita, bahwa yang dimaksud dengan tawakal bukanlah seperti itu, bukanlah hanya dengan berdoa saja, yang pokoknya semua denyut jantungnya diserahkan kepada Tuhan. Bukanlah ini yang disebut tawakal. Malah dikatakan, bahwa hal seperti ini tak lain merupakan sangkaan orang-orang yang bodoh, karena yang demikian itu diharamkan oleh syari’ah kita. Sebaliknya, kita wajib untuk bergerak. Banyak sekali ayat-ayat Alquran yang membahas mengenai hal ini. Allah berfirman:

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (Q.S. At-Taubah: 105)

Kita tidak disuruh hanya berdiam diri saja. Malahan Allah bersumpah:

(1) Demi masa. (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, (3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. Al-‘Ashr: 1-3)

Jadi, jangan ada yang beranggapan bahwa semakin tinggi tingkat kepasrahan seseorang jika ia hanya berdoa saja, meninggalkan keramaian, menelantarkan anak cucu dan keluarga. Hal ini justru berdosa.

Rasulullah pernah menegur tiga komponen sahabatnya berkenaan dengan hal ini. Ketika itu ada yang menyatakan, “Ya Rasulullah, alhamdulillah, ibadahku sudah meningkat, tak pernah lagi melakukan hubungan suami-isteri. Semua itu kulakukan demi untuk berkonsentrasi penuh terhadap cintaku kepadamu lebih dari cintaku kepada istri. Cintaku tak boleh lagi berbagi selain kepadamu.”

Mendengar ini, Rasulullah setengah marah. Beliau pun berkata kepada orang itu, “Aku ini seorang rasul, tetapi juga mempunyai isteri dan anak. Haknya isteri ada pada kita, begitu juga haknya anak.”

Kemudian ada lagi yang datang, lalu menyatakan, “Ya Rasulullah, aku berbahagia, karena aku tak pernah lagi tidur malam. Waktu sepenuhnya aku gunakan untuk salat, serta puasa sepanjang hari.”

Mendengar ini, Rasulullah kemudian berkata, “Bukanlah begitu seharusnya, karena badan ini juga ada haknya.”

Sesungguhnya, pembekasan tawakal itu nampak dalam gerak-gerik seorang hamba. Bekas-bekas ketawakalan bisa dilihat jika orang tersebut berusaha dengan ikhtiarnya. Jadi, ikhtiar itu adalah usaha. Seseorang yang sakit wajib hukumnya untuk berobat. Kita tidak boleh berpasrah diri begitu saja ketika sakit. Orang yang mati dalam keadaan tidak berikhtiar, maka sama saja orang tersebut mati bunuh diri.

Ada kalanya usaha tersebut dilakukan untuk menarik manfaat, yaitu seperti bekerja. Jika kita bekerja di kantor misalkan yang itu ada gajinya, maka hal ini merupakan usaha (ikhtiar) untuk hidup. Kalau kita sudah memperoleh manfaat, kemudian kita pelihara manfaat itu, maka ini adalah bagian dari tawakal. Dalam hal ini harus pula diingat, bahwa kita jangan bersikap mubazir. Memelihara manfaat atau harta yang kita peroleh itu adalah dengan menyimpannya, sebagian kita simpan untuk keperluan darurat. Janganlah jika kita hari ini mendapatkan rezeki yang hari itu juga akan habis. Kita dianjurkan untuk menghemat.

Jika suatu waktu harta kita itu hilang, maka janganlah khawatir, karena kita sudah melakukan ikhtiar. Jika terjadi seperti ini, maka camkanlah di dalam hati, bahwa Tuhan pasti menyimpan sesuatu yang tidak berkah di dalam harta itu, sehingga Tuhan kemudian mengambilnya melalui orang lain. Janganlah bersedih jika suatu waktu kita mengalami kehilangan harta. Yakinlah, bahwa pasti ada sesuatu yang tidak bermanfaat seandainya harta itu tetap tinggal bersama kita. Tak usah meratapi barang yang hilang, sebab apa yang telah hilang itu belum tentu akan kembali.

Ikhtiar juga dilakukan untuk memelihara dari kemelaratan, yaitu seperti menolak orang-orang yang menyerang, menolak pencuri, ataupun menolak binatang buas. Dalam hal ini, kita tidak boleh berpasrah saja jika menghadapi hal-hal tersebut. Selain itu, ikhtiar juga dilakukan untuk menghindari dari penyakit, yaitu seperti meminum obat. Jika kita sakit, lalu kita kemudian tak mengobatinya, maka hal ini bukanlah tawakal, melainkan kita telah melakukan dosa.

Jadi, gerak-gerik hamba tidak terlepas dari empat hal:

Pertama, menarik kemanfaatan, yaitu seperti bekerja. Kita bertawakal, tapi kita juga bekerja. Menarik manfaat maksudnya kita berusaha yang dari usaha itu ada hasilnya. Hasilnya itu kita gunakan untuk hidup sejahtera, untuk membiayai anak-anak bersekolah, digunakan untuk menjadikan anak kita sebagai anak yang saleh.

Kedua, memelihara kemanfaatan, yaitu seperti menyimpan harta. Jika pada yang pertama tugas kita adalah mencari harta tersebut, maka yang kedua tugas kita adalah menyimpannya.

Ketiga, menolak kemelaratan. Kita tidak boleh menjadi orang yang melarat, juga menjaga dari ancaman luar. Maksudnya, jika kita sudah tahu bahwa pola hidup kita itu ujung-ujungnya akan melarat, maka hindarilah jalan itu, carilah jalan yang lain. Seandainya pun juga ada dua cabang yang itu tidak ada pilihan hidup, misalkan jika kita bertahan pada suatu pendirian maka kita akan mati kelaparan. Tapi kalau kita mengambil jalan yang lain yang itu hasilnya adalah haram, maka pilihlah yang haram itu, seandaikan memang sudah tak ada pilihan yang lain. Di dalam Alquran disebutkan, bahwa babi pun dibolehkan untuk dimakan jika dalam keadaan tak ada pilihan seperti ini. Tapi harus memang dalam keadaan yang betul-betul darurat, sehingga tak ada dosa kita melakukan itu. Darurat itu membolehkan yang tidak boleh.

Keempat, memotong kemelaratan. Misalkan, jika kita sedang sakit, maka kita harus memotong jangan sampai sakit tersebut terlalu lama. Jika flu tanpa diobati, biasanya flu tersebut baru sembuh setelah lima hari ataupun sepuluh hari. Tetapi dalam hal ini kita tahu kondisi diri kita. Biasanya jika kita meminum obat, maka flu tersebut akan begitu cepat sembuh, yaitu paling-paling hanya tiga hari. Jadi, kemelaratan tersebut harus dipotong. Jangan membiarkan diri kita begitu saja tanpa ada usaha mengobati. Memotong kemelaratan juga adalah untuk memberikan peluang kepda ibadah-ibadah yang lain. Jika kita sehat, tentunya banyak ibadah yang bisa kita lakukan, serta ibadah tersebut bisa kita lakukan secara khusyu’ dibandingkan jika kita berada dalam keadaan sakit.

Rasulullah bersabda:

Jika kamu bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sesungguhnya, niscaya Allah memberikan rezeki kepadamu sebagaimana Allah memberikan rezeki kepada burung yang keluar dari sarangnya pagi-pagi dengan perut lapar dan kembali pada sore harinya dengan perut kekenyangan setiap hari. Dan lenyaplah gunung-gunung penghalang dengan sebab doanya.

Tawakal yang benar adalah tawakal seperti yang disabdakan oleh Rasulullah itu. Siapa yang bekerja ataupun berikhtiar kemudian berdoa, maka inilah tawakal yang benar. Kalau hal ini konsisten dilakukan, betul-betul fokus kepada Allah dalam menyerahlan dirinya, maka Allah akan menjamin rezeki orang tersebut. Hal ini merupakan suatu mu’jizat, ada misteri di situ, yaitu misteri keikhlasan, misteri tawakal.

Jika kita telah melakukan pekerjaan secara baik dan maksimum, mungkin setelah itu ada perasaan takut dan khawatir. Janganlah takut terhadap atasan kita jika kita telah melakukan sesuatu itu dengan baik dan maksimum, yang penting kita bekerja (berikhtiar) secara baik menurut kemampuan kita. Dalam hal ini, perlu adanya ketenangan. Jangan memberi kesempatan keraguan itu muncul dalam batin kita. Inilah tawakal.

Kita mungkin pernah merasakan tidak percaya diri setelah melakukan sesuatu, padahal apa yang telah kita lakukan itu sudah cukup baik. Ada rasa takut dan bersalah, seakan-akan yang telah kita lakukan itu tidak maksimal. Orang yang selalu digelisahkan oleh keraguannya sendiri, maka itu bukanlah tawakal. Orang yang tawakal, maka dia akan percaya pada dirinya sendiri. Dia telah berikhtiar, selebihnya diserahkan kepada Allah.

Kalau memang standard atasannya melebihi dari apa yang dilakukannya, maka ia akan menyerahkan kepada Allah, sebab Allah hanya menciptakan kadarnya seperti itu. Hingga kita tetap bisa bersikap tenang ketika dimarahi. Kalau memang kita bisa bersikap seperti ini, maka di saat yang lain mungkin atasan kita itu akan meminta maaf kepada kita. Mungkin juga kita akan dicari, karena walaupun terdapat kekurangan pada pekerjaan kita itu, tetapi istiqamahnya ternyata yang dibutuhkan oleh atasan kita, daripada dibandingkan dengan yang lain, sempurna tetapi munafik.

Ini adalah hal yang sangat penting untuk kita semua. Tidak perlu memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang sangat sempurna menurut standardnya orang lain, apalagi hal itu di luar kemampuan kita. Misalkan, kita hanya S1, tetapi kemudian ditantang untuk melakukan sesuatu seperti yang dilakukan oleh orang yang sudah S3. Bukanlah tawakal namanya jika kita tetap memaksakan untuk melakukan sesuatu yang di luar kemampuan kita.

Tawakal itu jika kita bekerja sesuai dengan apa adanya yang ada pada diri kita, bukan bagaimana seharusnya yang diinginkan oleh atasan kita. Karena, kalau kita selalu terbayangi oleh standardnya atasan kita ataupun standardnya orang lain, maka kita pasti selalu takkan pernah percaya diri. Sebaik apapun pekerjaan kita, ternyata itu masih ada kurangnya, karena di atas langit masih ada langit lagi. Orang yang seperti ini adalah orang yang tidak berperasaan tawakal. Orang yang berperasaan tawakal adalah orang yang apapun terjadi, maka itulah dirinya. Tapi hal ini harus konsisten dilakukan.

Kalaupun ada persoalan, misalkan dimarahi ataupun dicela, pada saat-saat seperti ini kita perlu tuma’ninah sebentar. Endapkanlah sebentar, kemudian kita berdoa kepada Allah bahwa ikhtiar kita itu sudah cukup tetapi atasan kita masih menganggapnya kurang. Kita serahkan diri kita kepada Allah, laa hawlawala quwwata illa billah. Insya Allah nantinya akan ada kemu’jizatan (keajaiban). Namun persoalannya selama ini, bahwa kita jarang sekali mau bertuma’ninah setelah melakukan ikhtiar.

Kita sudah melakukan kerja yang maksimum, tetapi kita dimarahi, seolah-olah kita terpengaruh, bahwa memang kita yang salah. Padahal dengan seperti ini, berarti kita telah menafikan kerja maksimum yang telah kita lakukan menurut kemampuan kita. Wakafkanlah diri kita kepada Allah pada saat-saat ini. Ingatlah Allah sambil kita berpasrah di dalam hati. Yakinlah, bahwa nantinya pasti akan ada jawaban. Tidak akan ada orang yang jatuh jika ia telah berikhtiar dan berdoa lalu menyerahkan dirinya kepada Allah.

Ingatlah ada dua istilah, yaitu menyerahkan diri dan pasrah. Kita sudah berikhtiar melakukan yang secara maksimum sesuai dengan kemampuan kita. Kemudian setelah itu serahkanlah hasil kerja kita tersebut kepada Tuhan. Setelah itu barulah kita pasrah. Menyerahkan diri berbeda dengan pasrah. Pasrah adalah puncak dari semua usaha yang kita lakukan itu. Jadi, anak tangganya adalah ikhtiar (berusaha), sesudah itu tawakal (menyerahkan), sesudah itu barulah pasrah. Janganlah kita langsung pasrah tanpa melewati dua anak tangga di bawahnya, yaitu tak ada ikhtiar dan tawakal.

Ketika kita sedang menghadapi suatu problem, maka ingatlah Allah pada saat itu. Pada kondisi ini, baik itu atasan ataupun orang lain, apakah mereka mampu melawan Tuhan? Pada waktu itu, kita sudah berada di dalam genggaman Tuhan. Masih adakah kekuatan lain yang akan merampas kita yang sudah berada di dalam genggaman Tuhan? Jawabannya, tidak ada yang mampu merampas kita jika kita sudah berada di dalam genggaman Tuhan. Tapi ini harus dilakukan dengan haqqul yaqin, yaitu jangan setengah-setengah. Pada umumnya, pasrahnya kita itu setengah-setengah (tanggung).

Janganlah kita takut dipecat. Justru kalau kita takut, malahan mungkin akan dipecat. Dalam hal ini, jadilah seperti baja, yaitu istiqamah, sehingga si pemecat itu akan kalah. Kalau kita menyerahkan diri ini sepenuhnya kepada Allah, maka hukum alam (sunnatullah)nya yang berlaku adalah pasti Tuhan akan melindungi kita. Tapi kalau kita ragu, maka sama saja kita sudah bersikap syirik, yaitu pada satu sisi kita percaya Tuhan, tetapi pada sisi yang lain kita selalu dirundung rasa takut.

Berani membunuh keraguan, itulah yang dicari oleh orang banyak. Tapi sangat sedikit yang bisa mencapai pada tingkatan tersebut. Bagaimanakah membunuh keraguan? Caranya, kita harus haqqul yaqin.

Sebagian para ulama mengatakan, bahwa semua hamba itu berada dalam rezeki Allah. Akan tetapi sebagian dari mereka itu memakan dengan kehinaan, yaitu seperti meminta-minta. Maksudnya, karakter orang tersebut memang suka meminta-minta. Memang dahulunya ketika miskin kebiasaannya adalah meminta-minta. Tetapi ketika sudah kaya, kebiasaan meminta-minta itu masih ada. Ironisnya, kalau tempat ia meminta itu lebih rendah daripada dirinya sendiri.

Tidak pantas jika ada atasan yang meminta kepada bawahannya, melainkan dialah seharusnya yang memberi kepada bawahannya. Jika ada yang seperti ini, maka yakinlah, apa yang didapatnya itu tak ada keberkahannya. Sekalipun ia memiliki banyak harta, tetapi jika semuanya itu diperoleh dari meminta-minta, maka tak ada keberkahan di dalamnya.

Tangan yang di atas itu lebih baik daripada tangan yang di bawah. Meminta itu hanyalah kepada Allah, bukanlah kepada makhluk. Tidak usah menambah rezeki jika jalannya adalah dengan meminta-minta. Mintalah kepada Allah, hindarilah meminta kepada sesama manusia. Meminta yang dimaksud adalah potong kompas (jalan pintas). Orang yang menjadi tempat meminta-minta itu mendapatkan harta dengan bermandikan keringat, tetapi kita seenaknya saja meminta. Meminta tersebut bentuknya juga bermacam-macam: ada yang berbentuk proposal, dan berbagai macam bentuk lainnya. Apalagi kalau memang memintanya itu dilakukan di pinggir jalan, yaitu sengaja mendramatisir dirinya sebagai orang miskin, padahal ternyata dia bukanlah orang yang pantas untuk meminta-minta. Tak ada keberkahan yang didapatkan melalui cara seperti ini. Lebih baik kita hidup dalam kesederhanaan tetapi memiliki harga diri, dibandingkan hidup berkecukupan tetapi dengan cara menjual harga diri.

Sebagian dari mereka dengan jerih payah dan menunggu seperti para pedagang. Ini mungkin lebih baik, karena ada usahanya. Sebagian lagi dari mereka dengan membuka usaha seperti perajin (tukang), jadi lebih terprogram rutinitasnya, prediksi-prediksinya, dengan menggunakan sistem yang rapi, ada tenaga kerja (karyawan), bukan spontanitas dirinya sendiri yang mendapatkan keuntungan, tetapi ini sudah menggunakan sistem yang rapi. Dan sebagian dari mereka itu dengan kemuliaan, seperti para ahli tasawuf yang menyaksikan kepada Allah Yang Maha Mulia, kemudian mereka itu mengambil rezeki mereka dari kekuasaan-Nya, mereka tidak melihat perantaraannya.

Jadilah pedagang yang sufi. Kita boleh banyak memiliki cabang-cabang usaha, tetapi pada sisi lain kita juga harus dekat kepada Allah. Orang yang seperti ini membuat orang lain menjadi iri. Dunianya kaya, akhiratnya juga kaya. Orang yang diberi kemuliaan seperti ini harus lebih banyak bersyukur dibandingkan yang lain. Bersyukurnya tidak hanya sekedar tahmid. Kalau tahmid hanya sekedar mengucapkan Alhamdulillah, sedangkan bersyukur dilakukan dengan disertai tindakan nyata.

Bagaimanakah gaya sufi yang dimaksud? Yaitu menarik manfaat, misalkan memiliki perusahaan, memiliki cabang-cabang usaha yang banyak, pekerjaan di mana-mana, tetapi ia memelihara yang bermanfaat itu. Menyimpan harta dengan baik. Barang siapa yang memperoleh harta, baik itu yang merupakan warisan, ataupun memang hasil kerja dan jerih payahnya, atau dengan sebab apapun juga, maka yang harus dilakukan oleh orang tersebut adalah hanya mengambil sekedar kebutuhannya ketika itu.

Orang kaya yang sufistik seperti inilah modelnya. Ia makan apabila lapar. Jangan mentang-mentang kaya, lalu bersikap boros. Salah satu hikmah kita berpuasa adalah kita tidak lagi terlalu tergila-gila dengan jenis makanan apapun. Ia memakai pakaian jika ia telanjang. Kalau tidak ada lagi pakaiannya, barulah ia membeli yang baru. Dan ia membeli tempat tinggal yang sederhana. Bagi mereka, tidak perlu lagi rumah mewah. Dan jika ia memiliki kelebihan, maka akan dibaginya kepada yang membutuhkan. Besar ataupun kecil yang dibaginya itu tergantung dia, karena kondisi kehidupan kita juga harus dihitung. Ia tidak mengambilnya dan tidak pula menimbunnya.

Ingatlah, bahwa yang kita bawa ketika mati hanyalah kain kafan. Menurut Rasulullah, bahwa ada tiga hal yang akan menyertai ketika seseorang meninggal dunia. Tetapi yang paling dicintainya justru itulah yang paling pendek mengantarnya hingga ke kuburan. Yang paling kita cintai adalah istri atau suami kita. Secinta apapun seorang istri terhadap suaminya, atau seorang suami terhadap istrinya, dia tidak akan mau menemani pasangan hidupnya itu di dalam liang lahat.

Sesudah istri, anak, ataupun keluarga, barulah harta. Harta ini masih lumayan, karena masih mau menyertai kita dalam bentuk tujuh lapis kain kafan. Tapi yang paling sering kita benci, justru itulah yang paling lama mengawal kita, bahkan tanpa batas. Itulah yang disebut dengan amal. Jarang sekali amal yang dilakukan itu kita laksanakan dengan nikmat, melainkan lebih banyak membebani kita. Tetapi justru yang paling membebani kita inilah justru yang paling abadi menyertai kita.

Yang paling kita cintai paling hanya sampai di permukaan (atas) kuburan menyertai kita. Harta yang kita miliki paling hanya sampai di dalam kuburan (itupun hanya berbentuk kain kafan). Sedangkan amal yang kita lakukan akan selamanya menyertai kita, bahkan hingga di hari akhir, di padang mahsyar, bahkan hingga di dalam surga

 

HATI YANG MATI DAN OBATNYA

    ROS            Suatu hari, Imam Fath Al-Musili berkata kepada murid-muridnya, “Bukankah seorang pesakit jika tidak diberi makan, minum dan ubat selama tiga hari ia akan mati?” Murid-muridnya menjawab, ‘Ya..’

Guru yang bijak ini melanjutkan, “Begitu juga hati kita. Jika tidak diberikan ilmu dan hikmah selama tiga hari, ia akan mati.”

Setiap amalan bersumber daripada hati. Hati yang baik akan melahirkan perbuatan yang baik. Dan hati yang rosak hanya akan melahirkan perbuatan yang buruk.

Meskipun ia melakukan kebaikan, namun tersimpan niat buruk di sebaliknya. Oleh itu, hati sangat menentukan kualiti amalan seseorang.

Rasulullah SAW bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada seketul daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Dan apabila ia rosak, maka rosaklah seluruh jasad. Ketahuilah, daging itu adalah hati”. (riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Hati manusia sangat ajaib. Ia selalu berubah-ubah. Ia juga sangat mudah dipengaruhi oleh faktor-faktor luaran.

Apa-apa yang dilihat ataupun didengar dapat merubah suasana hati. Oleh yang demikian, seorang mukmin wajib selalu menjaga pancainderanya daripada maksiat agar terjaga kejernihan hati.

Sebagaimana tubuh badan, hati boleh sihat ataupun sakit. Tanda hati yang sihat adalah ia giat melakukan ibadat dan amalan kebajikan.

Setiap amalan ibadah dan zikir terasa nikmat untuk dikecapi. Sama seperti seseorang yang tengah sihat tubuhnya, ia akan nikmat menyantap makanan dan minuman.

Adapun tanda hati tengah sakit adalah ia tidak dapat merasakan manisnya ibadat. Ia tidak tahan berlama-lama dalam aktiviti ibadah.

Sebaliknya, ia sangat seronok melakukan maksiat. Seperti orang yang tengah sakit kulit, perkara yang paling nikmat adalah menggaruk gatalnya hingga melukai diri sendiri.

Imam Tabiin di Basrah yang bernama Hasan Al-Basri pernah mengajarkan teknik semak kesihatan hati.

Beliau berkata, “Rasakanlah kemanisan dalam tiga perkara: ketika melakukan solat, membaca al-Quran dan ketika berzikir. Jika engkau merasakannya, maka bergembiralah. Namun jika kau tidak merasakannya, maka ketahuilah bahawa pintu hatimu telah tertutup.”

Hati orang kebanyakan seperti kita tidak berapa sihat. Kita sedari ataupun tidak, pelbagai penyakit tersimpan di dalam hati kita seperti hasad dengki, dendam, tamak, kedekut, meragukan janji Allah dan lain-lain. Tingkatan sakit itu berbeza-beza. Ada yang masih ringan, ada juga yang sudah parah.

Oleh itu, kita perlu segera mengubati hati kita. Ubat hati adalah hikmah dan ilmu yang memperkenalkan tuhannya, hakikat dirinya dan tugasan yang mesti ia lakukan di dunia sebagai hamba Allah. Semua itu boleh didapatkan apabila kita bercampur dengan orang-orang yang “berhati sihat.”

Berkata Ibrahim Al-Khawas, “Ubat hati lima perkara: Membaca al-Quran sambil memahami maknanya, mengosongkan perut, solat malam, berdoa pada waktu fajar dan bergaul dengan orang-orang saleh.”

Jika kita tidak segera mengubati hati yang sakit, ia akan terus sakit. Suatu hari nanti, ia bahkan boleh mati. Orang yang mati hati lebih berbahaya daripada mati jasad. Sebab orang yang mati jasad boleh segera dikuburkan.

Namun orang yang mati hati akan menjadi sampah masyarakat. Ia sangat mengganggu kehidupan masyarakat, namun tidak boleh dibuang ataupun ditanam.

KOREKSI DIRI ATAU INTROSPEKSI DARI SIFAT YANG TERCELA

GENG               Bahwa sifat-sifat tercela yang terdapat pada diri manusia banyak sekali, itu diakui atau tidak, adapun di antara sifat- sifat tercela yang sering muncul di dalam hati manusia itu adalah sifat sombong, kagum terhadap diri sendiri, bohong, khianat, buruk sangkah, menghina, memfitnah, menertawakan, dengki, marah, bersikap keras, riya’ dan lalai bahkan masih banyak lagi yang lainnya.

Oleh karenanya, kewajiban bagi manusia itu sendiri untuk mengoreksi dirinya, agar jangan sampai sifat-sifat jahat tersebut bersarang di dalam hatinya, dan hendaklah berusaha dengan sekuat-kuatnya untuk menghilangkan sifat-sifat tercela tersebut.

Di dalam hal bergaul dengan manusia terkadang bisa menjengkelkan dan juga terkadang menyenangkan, oleh karenanya di dalam bergaul hendaklah kita pandai-pandai untuk mengoreksi diri atau menghindari setiap perbuatan yang dapat mengakibatkan sifat tercela.

Tobat kepada Allah SWT. itu erat sekali kaitannya dengan mengoreksi diri sendiri, sebab bagaimanapun baiknya seseorang pasti pernah melakukan suatu perbuatan yang salah, sedikit atau pun banyak, disengaja ataupun tidak, dan seketika itu jika ia telah ingat maka hendaklah ia segera bertaubat kepada Allah SWT. dan tidak mengulanginya lagi.

Terkadang memanglah tidak sama, apa yang kita kehendaki itu tidak dikehendaki oleh orang lain, dan apa yang dikehendaki oleh orang lain itu tidak sama dengan yang kita kehendaki, dan terkadang orang sering mengoreksi diri kita, mencela kita, serta mengungkit-ungkit akan kesalahan-kesalahan kita mungkin telah membuat diri kita menjadi jengkel dan marah

Di dalam menghadapi hal yang demikian itu … hamba Allah SWT. yang sholeh dan mukhlis tidaklah akan menyalahkan kepada orang lain. Dan hendaklah ia kembalikan segala-galanya itu kepada Allah SWT. sebagai Pemelihara alam semesta, Maha Adil, Maha Kuasa dan Maha Mengetahui segalanya dengan apa yang tidak diketahui oleh manusia.

Di dalam pergaulan sangatlah diperlukan suatu jiwa … asalkan tidak angkuh, tabah tetapi tidak menyalahkan, tegar dan selalu waspada.

Agar mengetahui akan kelemahan pada diri sendiri dan dengan berusaha untuk memperbaiki serta menambah …. perbuatan baik, maka mengoreksi diri itu sangat penting dari kita.

Sudah menjadi kebiasaan dari manusia, lupa mengontrol pada diri sendiri, namun kesalahan atau cela orang lain yang telah menjadi bahan pembicaraan setiap hari, sebagai mana pepatah mengatakan bahwa “Gajah di pelupuk mata tak kelihatan, semut di seberang lautan nampak di mata”.

Lebih baik menyakiti diri sendiri, sebab mengoreksi lebih baik daripada dikoreksi oleh orang lain sebab itu akan lebih menyakitkan lagi bahkan lebih pedih rasanya.

Untuk itu obat yang paling mujarab di dalam pergaulan itu adalah berusaha untuk memperbaiki diri serta menghidupkan kembali perasaan dan sikap beragama dalam diri kita

Dan dengan bertawakkal kepada Allah SWT. maka rasa sakit dan pedih itu dapatlah disembuhkan dengan sendiirinya kemudian dapat dipulihkan dengan ridlo untuk menerima semua yang datang dari Allah SWT..

Sebagaimana telah disebutkan di dalam surat Luqman ayal 17, yang berbunyi :

Artinya: ” …. Hendaklah kalian bersabar atas apa yang telah menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang sangat hebat”.

Terhadap hamba yang ahli di dalam beribadah. Allah SWT. tidak membiarkan perbuatan orang-orang dzalim menekan kepada mereka (hamba Allah SWT.), hanya saja Allah SW’T, ingin mengetahui berapa besar kesabaran dan ketabahan yang telah dimiliki oleh hamba-hamba-Nya. Apalagi suatu kesalahan atau kepedihan itu telah datang dari diri hamba itu sendiri.

Semua penderitaan yang dialami oleh manusia itu bukan karena Allah benci kepada hamba-Nya, melainkan Allah SWT. ingin agar hamba-hamba-Nya itu mengetahui akan kelemahan dirinya sendiri dan mengetahui akan keagungan serta kehebatan Allah SWT..

Dalam firman Allah SWT. memberikan suatu pengharapan, tertera di dalam surat Al-Baqarah ayat 177, yang artinya adalah sebagai berikut :

“Orang-orang yang sabar menghadapi kesempitan, kesedihan dan pada waktu perang. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya, dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”.

Allah SWT. ingin agar hamba-hamba-Nya yang sholeh tertempa jiwanya, maka Allah SWT. menganugerahkan hidup serta kelengkapan yang sangat dibutuhkan oleh manusia, sehingga imannya tidak menjadi luntur berhadapan dengan masalah- masalah dunia yang sangat menyulitkan bagi mereka.

Dalam hal ini Syekh Athaillah telah mengungkapkan pendapatnya yang berbunyi : “Allah SWT. memang sengaja mendatangkan ganggu, untukmu dari manusia, agar kamu tidak merasa tentera karena gangguan itu. Allah SWT. memang menghendaki agar kamu gelisah, agar kamu selalu ingat kepada Alla karena kegelisahan itu”.

Di dunia ini banyak yang menyakitkan manusia, dan semi peristiwa yang menimpa kepada manusia itu Allah SWT. telah mengetahui, di antara peristiwa itu adalah ada fitnah, kekejaman, musibah, kebakaran, sakit dan lain sebagainya yang telah menyedihkan kepada manusia serta juga ada caci maki dan kebencian.

Maka dengan gangguan tersebut manusia disibukkan apalagi kalau manusia sangat terikat dengan manusia yan lainnya, dan mereka telah menjadikan bahwa manusia itu tempat harapan dan tumpuhannya, dan mereka itu lebih bahaya bersandar kepada manusia daripada bersandar kepada Alla SWT..

Kadang-kadang manusia tidak sadar bahwa dekatnya dengan manusia lain malah menganggu perilakunya sendiri manusia itu bisa ikhlas dan jujur, juga bisa munafik dan membawa fitnah, jika engkau tidak terjaga oleh pertolongan Allah dan ibadahmu, maka sudah pasti engkau akan terjerumus ke dalam godaan dan fitnah manusia.

“Larimu dari kebaikan manusia, melebihi larimu menghadapi keburukan mereka”, (itulah menurut pendapat Syekh Ab Hasan Asy- Syadzili). Kebaikan-kebaikan orang itu langsung membahayakan hatimu sedangkan keburukan orang hanya mampu membahayakan jasmanimu. Sesungguhnya apabila ada musuh yang mendekatkan dirimu kepada Allah SWT., lebi baik daripada sahabat yang memutuskan dirimu dari Allah SWT.”.

Perlu diingat, bahwa bahaya yang menimpa jasmanimu itu lebih baik dan ringan daripada bahaya yang menimpa hatimu Dan adapun berterima kasih kepada orang yang berbuat baik kepada kita itu lebih utama disertai dengan pemberian yang seimbang, maka apabila belum sanggup untuk berbuat demikian, berdo’alah kebaikan atas mereka.

Dan masih banyak lagi jalan yang harus kita tempuh untuk mengoreksi pada diri kita sendiri,, agar kita mengetahui atas semua kesalahan yang pernah kita lakukan, untuk itulah kita harus mempunyai ilmu.

Oleh karena itu tanpa ilmu kita tidak dapat mengetahui celah kita sendiri, untuk itu kita harus lebih pandai-pandai di dalam menitih ilmu serta menitih hati, dari segi mana hati kita itu terkena penyakit, dan bila sudah terserang maka segeralah kita mencari obatnya, dan jangan sampai kita hanya menuruti hawa nafsu.

Sebab yang mengajak manusia untuk melakukan suatu perbuatan maksiat itu adalah bahwa nafsu, sebagaimana sesuai dengan firman Allah SWT. yang berbunyi sebagai berikut :

Artinya : “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaranTuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya” (QS. An-Naziat: 40 – 41).

 

INTROSPEKSI DIRI ATAU MUHASABATUN NAFSI

KOR

1    Menyalahkan orang lain untuk penderitaan kita? Niscaya ia akan menambah kita satu penderitaan lagi.

2     Jujur dengan kesalahan diri sendiri dan ubahlah. Inilah dua solusi terefektif bila penderitaan sedang datang. Intinya, koreksi, koreksi, dan koreksi. Selanjutnya perbaiki, perbaiki dan perbaiki. Insya Allah tidak ada penderitaan yang bakal lama-lama bersemayam didalam kehidupan kita.

3     Carilah penyebab kesusahan hidup, dari dalam diri kita sendiri. Dan carilah penyebab semua penderitaan yang kita rasakan, dari dalam diri kita sendiri. Penyebab yang paling banyak dan yang paling utama adalah biasanya justru dari kita sendiri.

4     Perbuatan buruk akan menuai keburukan. Sedang perbuatan baik pun akan menuai kebaikan. Hanya  kadang kita perlu membuka mata, dibagian kehidupan yang mana ia tumbuh menjadi buah.

5     Renungkanlah wahai hatiku…tidak ada satupun yang bisa meloloskan diri dari hukum sebab akibat

6     Renungkanlah wahai diriku…tidak ada satupun  manusia yang bisa lolos dari kejaran akibat buruk perbuatan buruk…

7     Jangan tertawa dulu, untuk siapa saja yang telah mengecewakan Allah dan menari-nari diatas penderitaan orang lain

8     Jangan dulu bertepuk dada, untuk anda  yang berada  diatas angin dan kemudian melupakan sesama

9     Boleh saja berteriak  kesenangan, ketika mempertontonkan keburukan dan memperlihatkan kemaksiatan

10     Tapi jangan menangis, ketika Allah perlihatkan akibat buruk dari kelakuan  buruk.

11     Apapun perbuatan buruk yang kita lakukan, hanya akan mengantarkan kita kepada kenestapaan yang mungkin berkepanjangan. Dan apapun  kejahatan yang kita kerjakan, hanya akan mengantarkan kita kepada penyesalan yang mungkin kita ratapi sepanjang sisa hidup.

12    Disetiap perbuatan baik, akan menghasilkan perbuatan baik. Disetiap perbuatan buruk akan menghasilkan keburukan. Hanya kita tidak tahu bagaimana bentuknya, hasilnya dan kembangnya….

13     Siapapun punya masa lalu. Masa lalu memang  jangan menjadi beban, tapi harus menjadi pengalaman dan pelajaran

14     Bila kita tidak mau mengakrabkan diri dengan al qur’an dan as sunnah dan tidak mau berpedoman pada  keduanya, boleh jadi kita bagaikan berjalan tanpa arah dan tujuan atau berjalan  dalam kegelapan tanpa pelita

15     Koreksi dir, jujur diri, dan perbaiki. Insya Allah, kehidupan  yang gelap akan kembali  terang.

16     Koreksi diri (muhasabah) adalah sepenting ikhtiar perbaikan diri itu sendiri. Sedangkan tidak ada yang dinamakan perbaikan, jika tidak tahu apa yang mesti  diperbaiki.

17     Ajak diri tuk mengoreksi…kenapa kesusahan demi kesusahan terjadi. Renungkan dibalik penyakit yang diderita, renungkan dibalik hutang yang menjerat, renungkan dibalik kebangkrutan….dan pahami pesan yang dibawa setiap derita yang dirasakan….

18    Bila penyebab semua kesulitan kita adalah kesalahan kita sendiri…bila penyebab dibanyak semua kesusahan kita adalah keburukan kita sendiri…dan bila penyebab dibanyak penderitaan kita adalah maksiat dan dosa kita sendiri.. maka ampunan Allah adalah awal jawaban segalanya, atau mungkin…malah jawaban bagi segalanya….”Berlomba-lombalah kamu kepada ampunan dari tuhanmu…” (QS. Al Hadid : 21), “Wahai hamba-hambaku sesungguhnya kamu berbuat dosa diwaktu malam dan siang hari, sedang Aku mengampuni semua dosa. Maka mintalah kamu ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosamu”(HQ,HR Abu Dzar Al Ghifari)

19     Rizki mudah dicari. Cari saja dulu pemberi rizki. Rizki gampang didapat yaitu dengan mendekati pemiliknya. Rizki yang didapat dengan melupakan Allah atau dengan tidak melibatkannya, adalah sesungguhnya bukan rizki, melainkan  bibit penderitaan dan kehampaan.”…………Allah sebaik-baik pemberi rizki………..”(QS. Al Jumu’ah:11)

20     Adakah kekuasaan yang kita miliki..?adakah  kekuatan yang kita miliki…?sejatinya kita tiada memiliki apapun kecuali yang Allah izinkan bagi kita untuk memilikinya.

21     Seberapa hebat kita dalam mencari kekayaan, hingga  berani melupakan sang pemilik perbendaharaan langit dan bumi…?

22     Tidak kan ada keuntungan bagi mereka yang tidak benar jalannya…dan sebenar-benarnya jalan adalah jalan Allah

23     Ketika hidup dihadapkan pada ujung kesusahan, hadapkan wajah hanya kepada Allah. Dan ketika hidup dihadapkan pada wajah  kesenangan, hadapkan juga wajah kepada Allah

24     Jodoh ditangan Allah. Bukan ditangan manusia. Lalu, mengapa kita tidak langsung meminta kepada-Nya…?

25     Buat sebanyak-banyaknya orang bahagia dengan kehadiran kita, maka kebahagiaan akan menjadi bagian dari kehidupan dari kehidupan kita. Dan buat saja satu orang menderita sebab kelakuan kita, maka kesusahan lantas akan menjadi pakaian kita.

26     Sekali-kali berfikir dan merasa sebagai orang yang diinjak…

27     Bayangkan sekali-kali andai kita yang dicubit….

28     Coba bercermin, dan tanyakan bagaimana kalau diri kita yang berposisi sebagai korban penipuan…?

29     Tempuhlah jalan kebaikan, untuk menghapus jalan-jalan keburukan yang sudah terjejak

30     Tidak ada keburukan dan tidak ada kesalahan yang berakibat buruk. Semuanya berakibat buruk. Hanya dengan kebaikan sajalah, akibat buruk tersebut akan diubah dan dikubur

31     Kebaikan dan keburukan akan selalu bertarung. Didunia ini, dialam kubur dan dinegeri terakhir. Bila salah satu dari keduanya yang menang, kita sudah sama mafhum apa kejadian yang bakal terjadi.

32     Ada 2 jenis hari yang pasti akan kita lewati, yaitu hari berbangkit dan hari perhitungan.

33     Buatlah sebanyak-banyaknya kebaikan. Kita tidak tahu sebesar apa  keburukan yang sudah kita lakukan.”Ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya ia akan menghapusnya…”(al hadist)

34     Sebenarnya kegagalan demi kegagalan itu adalah hal biasa. Kegagalan adalah awal dari kesuksesan, dan kegagalan adalah sebuah proses menuju keberhasilan. Hampir tidak ada orang yang sukses tanpa kegagalan sebagai pintu pertamanya. Tapi perenungan tetap perlu dikedepankan, sebab siapa tahu kegagalan yang terjadi adalah sebab borok didalam diri sendiri yang perlu diperbaiki tapi belum kunjung diperbaiki.

35     Kesusahan hidup didunia ini boleh jadi sebab utamanya adalah kita melanggar apa yang dilarang Allah, dan atau tidak menunaikan kewajiban kepadaNya. Seseorang boleh saja kaya, tapi bila kekayaan diraih bukan denga cara-cara yang diridhoiNya, maka ia akan kehilangan 2 hal yang terlalu berharga bila dibandingkan dengan kekayan sebesar dan sebanyak apapun. Dua hal tersebut adalah keberkahan dan ketenangan. Seseorang boleh jadi mulia dan terhormat, terkenal dan termasyur. Tapi  bila dalam cara-caranya meraih kemuliaan, kehormatan, kepopuleran, ia justru menjauhi Allah, maka umurnya tidak akan lama. Setelah itu..?kemuliaan dan kehormatannya akan berganti wujud dengan kehinaan, kepopulerannya berganti wujud dengan kenistaan. Na’udzubillah min dzalik.

36     Ketika seseorang berusaha, maka urusan Allah dalam memberikan hasilnya

37     Ketika seseorang melakukan suatu perbuatan dosa, maka menjadi  hak Allah membalasnya  dibagian mana yang Allah suka

38     Perbuatan buruk, buahnya buruk. Tidak ada pohon mangga yang berbuah cabe.

39     Menurut kita, kaya adalah mulia. Ini betul, asal kekayaan tersebut diraih dengan tidak membelakangi Allah. Kalau kekayaan diraih dengan melupakan Allah, maka bukan kemuliaan yang ada, melainkan justru kehinaan. Bahkan bukan Cuma dimata Allah, dimata manusia pun, akan menjadi hina bila kita meraih kekayaan dengan cara yang tidak benar. Contoh: kita sering mendengar,”he…si dia, kaya…Cuma sayang, boleh korupsi…”

40     Menurut kita memiliki kedudukan adalah mulia. Ini tidak salah, asal kedudukan tersebut diraih dengan cara-cara  yang tidak merendahkan  martabat diri. Apabila kedudukan diraih dengan menjadikan kepala orang sebagai injakan, atau dengan mengorbankan orang lain dan menempuh segala cara, maka kedudukan itu akan menjadikan ia hina

41    Cari kemuliaan dengan tidak melupakan pemilik kemuliaan itu sendiri, raih kemuliaan dengan melibatkan Allah, pemilik kemuliaan sejati.

 

SIKAP UMAT ISLAM KEPADA ULAMA DAN WALI ALLOH YANG BERKAROMAH

  nabi-muhammad           Belakangan ini, media-media non Ahlussunnah kerap memposting ejekan-ejekan terhadap para ulama sepuh, para wali dan para sufi yang mana menurut mereka mempercayai wali dan menjadi sufi itu akan membuat seseorang jauh dari sunnah. Sebagai ummat ahlusunnah waljamaah pantaskah kita bersikap seperti itu? sangat tidak pantas, sudah selayaknyalah kita percaya akan kewalian seseorang, tentang karomahnya dan sifat-sifat aneh darinya, sebagaimana keterangan dari Ibni Taymiyah:

ومن أصول أهل السنة : التصديق بكرامات الأولياء وما يجري الله على أيديهم من خوارق العادات في أنواع العلوم والمكاشفات وأنواع القدرة والتأثيرات ، كالمأثور عن سالف الأمم في سورة الكهف وغيرها ، وعن صدر هذه الأمة من الصحابة والتابعين وسائر قرون الأمة ، وهي موجودة فيها [ ص: 287 ] إلى يوم القيامة ) .

[ العقيدة الواسطية » شرح العقيدة الواسطية » أصول أهل السنة والجماعة الدين والإيمان قول وعمل » من أصول أهل السنة والجماعة التصديق بكرامات الأولياء]

“Termasuk prinsip ahlu as-Sunnah wa al-Jama’ah adalah membenarkan adanya karomah para wali dan kejadian-kejadian luar biasa yang Allah tunjukkan melalui mereka dalam berbagai bentuk ilmu dan mukasyafah, dalam berbagai jenis qudrat dan pengaruh, seperti yang diriwayatkan dari umat-umat terdahulu dalam (al Qur’an) Surat al-Kahfi dan selainnya, dan dari generasi awal umat ini, para sahabat, tabi’in, serta generasi-generasi umat yang lain. Karomah tetap akan ada di setiap umat sampai hari Kiamat.”
[Syarh Aqidatul Waasithiyah ]

Namun belakangan muncul kelompok yang mengingkari kewalian seseorang, karena menurut mereka kewalian dan karomah tidak bisa diketahui oleh umum, benarkah demikian? dalam majmu’ fatawa Ibnu Taymiyah mengatakan :

يقول شيخ الإسلام ابن تيمية: ومما ينبغي أنْ يُعرف أنّ الكرامات قد تكون بحسب الحاجة ، فإذا احتاج إليها الرجل لضعف الإيمان أو المحتاج إياه أتاه منها ما يقوي إيمانه ويسد حاجته ، ويكون من هو أكمل ولاية لله مستغنياً عن ذلك فلا يأتيه مثل ذلك لعلو درجته ، وغناه عنها لا لنقص ولايته ، ولهذا كانت هذه الأمور في التابعين أكثر منها في الصحابة بخلاف من يجري على يديه الخوارق لهدى الخلق وحاجتهم فهؤلاء أعظم درجة. (مجموع الفتاوى: ابن تيمية 11/283).

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah : ”“Dan di antara yang perlu diketahui adalah karomah ada kalanya bersesuaian dengan hajat seseorang. Apabila seseorang yang lemah imannya, atau orang yang sedang dalam keadaan memerlukan (terdesak), maka karomah pun ditampakkan di hadapannya dalam rangka agar keimanannya (terhadap kebenaran) bertambah kuat, dan keperluannya terpenuhi.
Manakala orang yang kewaliannya (ketaqwannya) terhadap Allah lebih sempurna, maka ia tidak diperlukan asbab ketinggian derajat. Oleh sebab itu, perkara-perkara ini berlaku ke atas para tabi’in lebih banyak berbanding di masa generasi sahabat. Berbeda dengan orang-orang yang diberi di hadapannya beberapa kemampuan tersebut, dengan tujuan sarana menuju hidayah kepada manusia dan untuk memenuhi keperluan mereka. Maka bagi mereka derajat yang agung.”

Kalau melihat ibarat diatas maka seorang wali benar-benar dapat menampakkan karomahnya, namun ada juga kelompok yang tetap mengingkari kewalian seseorang dikarenakan orang itu menyalahi aturan syariat, menurut hemat saya mereka tidak menyalahi syariat namun kita lah yang masih rendah ilmunya, sebagai orang yang masih rendah ilmu sungguh tidak pantas jika seuudzon terhadap wali Allah, dalam kitab Umdatussalik dijelaskan:

إذا سمعت كلمات من أهل التصوف والكمال ظاهرها ليس موافقا لشريعة الهدى من الضلال توفق فيها واسأل من الله العليم أن يعلمك مالم تعلم ولا تمل إلى الإنكار الموجب للنكال, لأن بعض كلماتهم مرموزة لاتفهم, وهي فى الحقيقة مطابقة لبطن من بطون القرأن الكريم وحديث النبي الرحيم. فهذا الطريق هوالأسلم القويم, والصراط المستقيم. .

“Apabila engkau mendengar beberapa ucapan dari ahli Tashawuf dan ahlul kamal yang mana secara zahir tidak sesuai dengan syariat Nabi yang menyatakan petunjuk dari segala kesesatan, maka bertawaquflah (berdiamlah/jangan berkomentar) engkau padanya dan bermohonlah (berserahlah) kepada Allah Yang Maha Mengetahui agar engkau di beri akan ilmu yang belum engkau mengetahuinya. Janganlah engkau cenderung mengingkarinya yang mengakibatkan memberi kesimpulan yang buruk. Karena sebagian dari pada kalimah atau perkataan mereka itu adalah isyarat yang tidak mudah difahami. Padahal hakikat-isinya itu sesuai dengan batinnya dari pada isi al Quran al Karim, dan haditsnya Nabi yang penyayang. Maka jalan ini lebih selamat sejahtera, dan jalan yang lurus.”

Itulah yang harus dipegang oleh kita sebagai orang awam terhadap waliyullah..

 

HATI HATI BERMAIN DENGAN ANJING, KARENA ITU KEBIASAAN SYAITAN

 AANJ               Salah satu hewan yang dihukumi najis mughalladhah adalah anjing. Cara menyucikan najis anjing adalah dengan menyamaknya, yaitu membasuh tujuh kali basuhan air, salah satunya telah dicampur dengan tanah yang suci. Tentang dalil dan cara menyucikan najis anjing bisa dibaca dalam tulisan kami sebelumnya cara menyucikan najis mughalladhah. Lalu apa hikmah dibalik Allah menghukumi anjing sebagai hewan bernajis? Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami pernah ditanyakan tentang hal ini, yang diikuti dengan pertanyaan tentang najiskan racun hewan berbisa seperti ular?. Berikut jawaban beliau;

وسئل – أمدنا الله من مدده – ما الحكمة في تنجس الكلب؟

وهل سم الحيات ونحوها نجس؟

فأجاب – أفاض الله علي من فيض مدده – الحكمة في تنجس الكلب التنفير مما كان يعتاده أهل الجاهلية من القبائح كمؤاكلة الكلاب، وزيادة إلفها ومخالطتها مع ما فيها من الدناءة والخسة المانعة لذوي المروآت وأرباب العقول من معاشرة من تحلى بهما ومن ثم حرم الجلوس على نحو جلد النمور والسباع لأن ذلك كان فعل المتكبرين من الجاهلية؛ فنهى الشارع عن التأسي بهم في ذلك فلما لم يكن في التأسي بهم هنا ما ليس فيه من الدناءة ثم كان ثم حرمة ونجاسة، وهنا حرمة فقط. وسم نحو الحيات نجس كما صرح به جمع متقدمون ومتأخرون والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب

Ditanyakan terhadap Ibnu Hajar Al-Haitami: Apakah hikmah dibalik Allah menghukumi Anjing sebagai hewan bernajis ?

dan Apakah racun ular dan hewan sejenisnya adalah najis ?

Beliau menjawab: Hikmah dibalik bernajisnya anjing adalah untuk menghindari apa yang telah menjadi kebiasaan jahiliyah yang melakukan perbuatan keji seperti makan anjing, dan bermain-main dengan anjing. Hal tersebut merupakan perbuatan keji dan hina dan kondisi tersebut sangat menentang dengan sikap orang yang memiliki muruah dan karisma untuk bergaul dengan orang-orang yang memiliki sikap tersebut, karena itu diharamkan duduk diatas kulit macan dan binatang buas lainnya., karena hal tersebut merupakan perbuatan orang takabbur, maka agama melarang mengikuti tingkah laku mereka.

Sedangkan racun ular dan umpanya adalah najis sebagaimana diterangkan oleh ulama Mutaqaddimun dan Mutaakhirun. Wallahu A’lam.

Fatawa Fiqhiyah Kubra Ibn Hajar al-Haitami, Jld. 1 hal 28. Cet. Dar Fikr tt

Kesimpulannya, hikmah Allah menghukumkan najisnya anjing adalah supaya umat muslim menjauhi bersentuhan dengan anjing yang bisa meruntuhkan muruah dan kehormatan seseorang.

Sedangkan hukum racun hewan berbisa seperti ular adalah najis.