BERUSAHA TAHU DIRI DENGAN MERENUNG SAAT MEMASUKI AKHIR RAMADHAN

Memasuki Ujung Ramadhan Harusnya Ingat Diri

Sebelum memulai kajian rutin yang dilangsungkan di Mushala PWNU Jatim, Ustadz Ma’ruf Khozin mengingatkan bahwa kini umat Islam tengah berada di penghujung Ramadhan. Ada banyak hal yang harus dilakukan agar kaum Muslimin tidak merugi karena akan berpisah dari bulan penuh kebajikan tersebut.

“Di penghujung Ramadhan kita harusnya mengingat diri,” katanya, Kamis (15/6). Termasuk dalam hal ini adalah bagaimana kemampuan untuk menahan nafsu. Menurut anggota dewan pakar PW Aswaja NU Center Jatim tersebut, justru di akhir Ramadhan kemampuan melawan hawa nafsu ini dipertaruhkan, lanjutnya.

Sebagai perumpamaan yang terus berulang, pada setiap akhir Ramadhan ada kecenderungan dalam berbelanja dan godaan jelang hari raya malah kian tinggi. “Kita hanya memindah nafsu ke malam hari,” kata alumnus Pesantren Ploso Kediri tersebut. Menurutnya, saat siang memang tidak banyak yang dilakukan kaum Muslimin. Akan tetapi kala memasuki malam, justru diperbudak dengan nafsu. “Dari mulai nafsu makan hingga berbelanja,” sergahnya.

Ustadz Ma’ruf kemudian membeberkan kegemaran makan dengan porsi yang lebih kala berbuka. “Karena alasan puasa, kala berbuka kita justru makan dan minum yang lebih enak,” ungkapnya. Hal tersebut tentu akan berpengaruh kepada kegemaran berbelanja yang justru berlebihan.

“Demikian kala persiapan menuju hari raya,” katanya. Yang ramai justru mall dan tempat belanja. Kalau pada sepuluh awal Ramadhan jamaah masjid dan mushala demikian semarak hingga menutup jalan dan gang, tidak saat ini, lanjutnya.

Dalam pandangan Ustadz Ma’ruf, sapaan akrabnya, ini menjadi bukti bahwa kaum Muslimin masih belum mampu menghayati esensi puasa. “Berbeda dengan para ulama dan kiai yang menjalankan puasa tidak hanya saat Ramadhan, juga di bulan yang lain,” tandasnya.

Di ujung penjelasannya, Ustadz Ma’ruf mengajak kaum Muslimin untuk benar-benar menghayati hakikat puasa. “Apalagi kini telah memasuki 10 hari terakhir dari Ramadhan, mari tingkatkan ibadah, kendalikan nafsu kita,” pungkasnya.

Perenungan di Akhir Ramadhan

Hari-hari Ramadhan telah kita lalui dengan berbagai kegiatan dan aktivitas yang galibnya lain dari hari-hari lain di bulan-bulan lain. Mulai dini hari, kaum muslimin biasanya bersama-sama keluarga melakukan ‘ritual’ santap sahur ; sore ngabuburit, ‘membunuh waktu’ menunggu saat berbuka; lalu ‘ritual’ santap buka; kemudian beramai-ramai melaksanakan shalat Taraweh dan Tadarusan; sampai acara-acara seremonial buka bersama, tarling (taraweh keliling), dan ceramah-ceramah keagamaan.

Kegiatan-kegiatan lain biasanya juga diupayakan dapat bernuansa ibadah, setidaknya dilabeli dengan label yang mengesankan keislaman, seperti Roadshow Safari Ramadhan; Gelar Ta’jil; Konser Seni dan Dakwah, Takbir Akbar, dlsb.

Yang mungkin agak tidak populer adalah kegiatan Ramadhan model zaman kanjeng Nabi Muhammad SAW: i’tikaf. Berdiam diri tafakur di rumah Tuhan. Bahkan agaknya memang ‘berdiam diri’ itu sendiri sudah merupakan sesuatu yang mewah di zaman gaduh dan sibuk sekarang ini. Berdiam diri melakukan kontemplasi mungkin malah dianggap bukan kegiatan sama sekali.

Padahal bulan suci Ramadhan merupakan satu-satunya saat paling kondusif untuk melakukan perenungan. Bulan yang citra, gaya, dan nuansanya sama sekali beda dari sebelas bulan yang lain. Kalau bulan-bulan lain lebih terasa duniawi, maka bulan yang satu ini terasa benar ‘ukhrawi’nya, keakhiratannya. Bahkan pengusaha-pengusaha pun dalam mencari keuntungan duniawi menemukan celah dalam kegiatan peribadatan bulan ini.

Boleh jadi karena minimnya perenungan, kita sering terkecoh oleh diri kita sendiri. Kita sering keliru dalam merasa, salah dalam anggapan, hanya karena kegiatan-kegiatan rutin yang tidak sempat kita renungkan. Sikap atau kegiatan yang sudah berlangsung lama, karena tidak pernah sempat kita renungkan, umumnya kita anggap sudah benar dan karenanya kila langsungkan terus. Padahal bila kita mau menyempatkan diri merenung, akan terbukti kekeliruannya. Kita ambil contoh kecil: kegemaran kita bermain pengeras suara di mesjid-mesjid dan mushalla-mushalla. Tidak hanya adzan yang kita lantunkan; tapi segala macam hal yang kita anggap syiar dan Islami, kita kumandangakan ke seantero penjuru. Agaknya kita jarang merenungkan: apakah hal seperti ini wajib, sunnah, mubah, makruh, atau haram? Karena sudah berlangsung lama dan MUI tidak pernah berfatwa makruh atau haram, maka kita pun tidak perlu bersusah payah merenungkannya. Kita merasa sudah benar. Karena sudah berlangsung lama dan tidak ada yang protes, kita pun tidak merasa perlu merenungkan apakah suara-suara itu mengganggu orang atau tidak? Apakah mereka yang tidak protes, meski terganggu itu, karena rela atau takut ?

Imbauan untuk menghormati Ramadhan bahkan sering disertai amar penutupan warung-warung, misalnya lagi, karena sudah berlangsung setiap Ramadhan, maka kita menganggapnya wajar. Padahal dengan sedikit perenungan, kita akan segera tahu kejanggalannya. Contoh-contoh lain masih banyak tentang keliru merasa dan salah anggapan akibat tiadanya perenungan ini.

Salah merasa dan beranggapan ini bisa berakibat fatal bila Allah tidak merahmati kita dengan mengilhamkan perlunya perenungan. Kita bisa merasa berbuat ibadah, padahal bukan. Kita merasa beramar-makruf nahi-munkar, padahal sedang berbuat anarki. Sebaliknya kita bisa menganggap sesuatu perbuatan sebagai amal duniawi semata, padahal sangat ukhrawi.

Wakil –wakil rakyat yang ngotot membangun gedung kantornya sedemikian megah dengan biaya dari rakyat sedemikian besar, pastilah tidak sempat merenung tentang, misalnya, memadaikah kegunaan gedung dan relevansinya dengan tugas-tugas mereka serta besarnya biaya? Apalagi berpikir tentang betapa tersakitinya rakyat yang mereka wakili yang selama ini belum pernah merasakan nasibnya membaik karena mereka perjuangkan.

Kelompok yang dengan angkuh merasa paling benar dan paling mulia sendiri di sisi Allah hanya karena berpakaian mirip Rasulullah SAW dan imamnya fasih melafalkan satu-dua ayat, pastilah mereka tidak sempat sedikit merenung, misalnya bahwa Rasulullah SAW yang pakaiannya mereka tiru itu wajahnya senantiasa tersenyum dan sama sekali tidak sangar seperti mereka. Bahwa pribadi Rasulullah SAW yang agamanya hendak mereka bela , adalah pribadi agung yang sangat santun; beradab baik di hadapan Allah maupun di hadapan hamba-hambaNya. Pribadi yang tridak pernah melaknat dan menyakiti sesama. Bahkan beliau bersabda dalam hadis shahih: “Al-muslimu man salimal muslimuun min lisaanihi wayadihi.“ Muslim sejati ialah orang yang selalu menjaga agar lisan dan tangannya tidak melukai sesamanya.

Nah, apabila i’tikaf dan tafakkur kita kemarin-kemarin terasa kurang, kita masih punya waktu setidaknya untuk merenungkan Ramadhan kita,dan puasa kita bagi kepentingan memulai kehidupan –terutama kehidupan keberagamaan kita–yang baru, yang lebih islami, yang lebih samawi, yang lebih manusiawi, yang lebih beradab.

Akhirnya, saya sampaikan Selamat Hari Raya Fitri 1440. Kullu ‘aamin wa Antum bikhair. Mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan dan kekhilafan saya.

(NU.OR ID)

KITA SUPAYA BERUSAHA IKHLAS DALAM MENUNTUT ILMU

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

“Barangsiapa menuntut ilmu untuk menandingi para ulama, atau mendebat orang-orang bodoh, atau memalingkan pandangan-pandangan manusia kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke neraka.” [HR. At-Tirmidzi dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu’anhu, Shahih At-Targhib: 106]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya wajah Allah ‘azza wa jalla, tetapi ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” [HR. Ahmad, Abu daud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Beberapa Pelajaran:

1) Menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat agung apabilla diniatkan ikhlas karena Allah ta’ala.

  • Sebagian ulama berkata,

العلم صلاة السر وعبادة القلب

“Ilmu adalah sholat yang tersembunyi dan ibadah hati.”

  • Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata,

العلم لا يَعْدله شيء لمن صحت نيته قالوا: وكيف تصح النية يا أبا عبد الله؟ قال: ينوي رفع الجهل عن نفسه وعن غيره

“Ilmu itu tidak dapat ditandingi oleh amalan apapun bagi orang yang niatnya benar (dalam menuntut ilmu).” Mereka bertanya, “Bagaimana benarnya niat wahai Abu Abdillah?” Beliau menjawab, “Seorang yang menuntut ilmu itu meniatkan untuk mengangkat kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.”

2) Bagaimana cara mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu:

  • Engkau niatkan untuk menjalankan perintah Allah ta’ala (karena Allah ta’ala).

  • Engkau niatkan untuk menjaga syari’at Allah ta’ala, sebab menjaga syari’at itu dilakukan dengan menghapalnya dalam dada dan menulisnya dalam buku.

  • Engkau niatkan untuk membela syari’at Allah ta’ala, yakni menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang disandarkan kepada syari’at.

  • Engkau niatkan untuk meneladani Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, terlebih engkau tidak mungkin meneladani beliau sampai engkau mengetahui petunjuk beliau shallallahu’alaihi wa sallam.

3) Celaan yang keras terhadap dua golongan dalam menuntut ilmu;

  • Orang yang membantah para ulama untuk riya’ dan sum’ah agar terlihat atau terdengar ilmunya,

  • Mendebat orang-orang bodoh untuk berbangga-bangga dan sombong dengan ilmunya (lihat Faidhul Qodir, 6/176).

4) Cinta popularitas adalah penyakit para penuntut ilmu yang harus diwaspadai.

  • Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata,

ما صَدَق الله عبد يحب الشهرة بعلم أو عمل أو كرم

“Tidaklah jujur kepada Allah, seorang hamba yang cinta popularitas dengan ilmu, amal atau kedermawanan.”

  • Bisyr bin Al-Harits rahimahullah berkata,

لا يجد حلاوة الآخرة رجل يحب أن يعرفه الناس

“Tidak akan mendapatkan manisnya akhirat, orang yang suka dikenal oleh manusia.”

5) Celaan yang keras terhadap orang yang berniat menuntut ilmu agama untuk meraih tujuan-tujuan duniawi semata seperti menginginkan ijazah, gelar sarjana, jabatan dan gaji yang tinggi. Bahkan niat tersebut termasuk kesyirikan, Allah ta’ala berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya (semata-mata), niscaya Kami berikan kepada mereka balasan amalan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” [Hud: 15-16]

Allah ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberikan rezeki kepadanya dari arah yang tidak ia sangka.” (Ath-Tholaq: 2-3)

Maka dalam ayat ini, Allah ta’ala memotivasi untuk bertakwa dengan menyebutkan jalan keluar dari kesempitan dan rezeki dari arah yang tidak ia sangka.” [Al-Qoulul Mufid, 2/138]

  • Berbeda dengan niat yang tercampur dengan riya’ atau sum’ah, yaitu memperlihatkan atau memperdengarkan amalan demi mendapat pujian makhluk, ini diharamkan dalam semua keadaan.

“Jika dikatakan: Barangsiapa yang menginginkan dunia (dan akhirat) dengan amalannya, bagaimana bisa dikatakan bahwa dia orang yang ikhlas, padahal dia menginginkan harta?

Sesungguhnya ia telah mengikhlaskan ibadah dan tidak menginginginkan (pujian) makhluk secara mutlak, maka ia tidak bermaksud untuk mempertontonkan amalannya kepada manusia dan meraih pujian mereka, tetapi ia bermaksud mendapatkan sesuatu yang sifatnya materi, maka keikhlasannya tidak sempurna, karena padanya ada percampuran (tidak murni), akan tetapi tidak sama dengan syirik seperti riya’, yang menginginkan agar dipuji ketika mendekatkan diri kepada Allah. Adapun yang ini, tidak menginginkan pujian manusia ketika beribadah, namun ia menginginkan sesuatu yang rendah selain itu.

Dan tidak mengapa seseorang berdoa dalam sholatnya, meminta rezeki dari Allah, akan tetapi janganlah ia sholat karena hal ini, karena ini tingkatan yang rendah.

Adapun mengejar kebaikan dunia dengan amalan-amalan dunia, seperti jual beli dan pertanian, maka ini tidak ada dosa padanya. Dan hukum asal, kita tidak boleh menjadikan dalam ibadah-ibadah itu bagian untuk dunia, dan telah lewat pembahasan hukum ibadah apabila tercampur riya pada Bab Riya’.”

APA YANG TELAH KITA LAKUKAN? PADAHAL ROMADLON 1440 H. SUDAH AKAN MENINGGALKAN KITA

Tak diragukan lagi bahwa penutup suatu amal memiliki urgensi yang sangat agung. Dahulu para salaf (pendahulu) rahimahumullah menaruh perhatian kepada penghujung amal mereka dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sekaligus mengamalkan kandungan firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَا ءَاتَوا وَقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُوْنَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut. Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.”  (QS. Al-Mu’minun : 60).

Allah Subhanahu wa Ta’ala mendeskripsikan hamba-Nya yang beriman bahwa mereka mempersembahkan amal shalih dan ketaatan serta bersungguh-sungguh dalam beribadah. Di samping itu, mereka sangat takut kepada Tuhan mereka Subhanahu wa Ta’ala karena mereka tidak tahu apakah amal mereka diterima atau tidak. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh merasa ‘ujub (bangga) dengan amalnya, meskipun sangatlah banyak amalnya. Karena, jika Allah tidak menerimanya, maka amal tersebut tidaklah berguna sama sekali, meskipun jumlahnya sangat banyak maupun besar. Selama amal tersebut tertolak, maka ia bagaikan debu yang berterbangan, hanya tersisa lelah, tanpa faidah.

Namun, jika Allah menerimanya, meskipun kadarnya sedikit, maka Dia Jalla wa ‘Ala akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللهَ لاَ يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيْمًا

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah. Dan jika ada kebaikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipat-gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya ganjaran yang agung.” (QS. An-Nisa’ : 40).

Akan tetapi, amal hanyalah sebagai sebab. Sedangkan parameter yang sesungguhnya adalah qabul (diterimanya amal). Ditinjau dari sudut pandang hamba, maka hendaknya ia mencurahkan sebab dengan mengerjakan amal. Adapun dari sudut pandang Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Dia lebih mengetahui siapa orang-orang yang muhsin (yang amalannya baik). Akan tetapi, seorang mukmin harus yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan ganjaran hamba-Nya yang beramal meskipun sedikit. Oleh karena itu, hendaknya seorang hamba memperbanyak amal, memurnikan niat, menjadikan amalnya sesuai tuntunan, dan berharap kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak putus asa dari rahmat Allah. Di samping itu, ia tidak merasa ‘ujub atau menganggap banyak amalnya. Akan tetapi, ia memohon kepada Allah agar amalnya diterima dan mengiringi amalnya dengan istighfar (memohon ampun). Sebab, manusia adalah tempatnya salah dan keliru. Boleh jadi seseorang amalnya banyak, tetapi ada cacat dan kekurangan dalam amalnya atau dinodai dengan sesuatu yang dapat merusak dan mengurangi pahala amal. Lantas ia tambal cacat dan kekurangan tersebut dengan istighfar.

Hendaknya seseorang memperbanyak istighfar di penghujung amal dan ibadahnya, semisal penghujung bulan Ramadhan. Seorang muslim yang diberi taufiq oleh Allah untuk berpuasa dan shalat malam, sepatutnya ia menyertai amal tersebut dengan istighfar dan merendah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak selayaknya ia merasa dirinya telah menunaikan amal sesuai dengan tuntutan syariat. Karena, dia tidak tahu, bisa jadinya pada amalnya terdapat cela yang banyak. Oleh karenanya, hendaknya ia memperbanyak istighfar dan menganggap bahwa amalnya sangatlah sedikit dibandingkan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang semestinya ia penuhi.

Meskipun amalannya banyak, ikhlas, dan sungguh-sungguh, tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap berdoa kepada Rabbnya,

لاَ أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ

“Aku tak sanggup menghitung sanjungan atas-Mu.” (HR. Muslim no. 486).

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakui bahwa beliau belum menunaikan hak Rabbnya ‘Azza wa Jalla secara sempurna. Lantas bagaimana lagi dengan manusia selain beliau? Mereka yang Allah sifati bahwa mereka adalah “Orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” Yakni dengan hati yang khawatir karena mereka tidak merasa aman dengan makar (tipu daya) Allah. Mereka mengatakan, “Kami shalat, puasa, dan menunaikan kewajiban kami.” Mereka tidak mengatakan bahwa amal mereka pasti diterima. Karena, itu adalah merasa ‘ujub dengan amal dan men-tazkiyah (menyucikan) diri sendiri dan amalnya. Seberapa pun besar amal seorang muslim, semestinya ia menganggap kecil amalnya di hadapan Allah. Seberapa pun banyak amalnya, ia tak tahu apakah amalnya sah dan diterima ataukah tidak. Betapa banyak keburukan yang muncul dari manusia baik dengan lisan, perbuatan, maupun tingkah lakunya. Terjadi banyak kejelekan dari manusia. Boleh jadi keburukan itu akan menghabiskan pahala amal atau minimal menguranginya dengan jumlah yang banyak.

Selayaknya bagi seorang muslim untuk menghitung-hitung kejelekannya dan tidak menghitung-hitung kebaikannya. Demikian pula hendaknya ia melakukan muhasabah (introspeksi) terhadap dirinya. Ia hitung keburukan dan dosanya lantas ia ber-istighfar dan bertaubat kepada Allah. Janganlah ia hitung kebaikannya lantas mengatakan, “Aku telah beramal ini dan itu.” Hendaknya ia serahkan amalnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia yakini bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala hamba-Nya yang beramal dan amalnya telah tercatat jika amalnya sah dan diterima. Ia tidak khawatir bahwa Allah akan menelantarkan kebaikannya,

وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيْعَ إِيْمَانَكُمْ إِنَّ اللهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَحِيْمٌ

“Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah : 143).

Akan tetapi, ia khawatirkan dirinya terjerumus dalam kesalahan, dosa, dan keburukan yang membinasakan. Maka hendaknya ia mengintrospeksi dirinya dan merenungkan kejelekan yang terjadi padanya. Lantas ia bertaubat dan ber-istighfar untuk setiap dosanya. Inilah yang sepatutnya dilakukan oleh seorang hamba.

Di penghujung Ramadhan, dahulu para salafush shalih memperbanyak istighfar dan taubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla serta takut amalnya tidak diterima. Mereka dahulu sungguh-sungguh beramal di bulan Ramadhan maupun selainnya. Kemudian, terbersit di hati mereka rasa khawatir bahwa tidak ada satu pun amal yang diterima. Lantas mereka ber-istighfar dan bertaubat kepada Allah. Bahkan, diriwayatkan bahwa mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Apabila mereka berjumpa dengan bulan Ramadhan, mereka berpuasa dan melakukan qiyamul lail (shalat malam). Lalu, mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan setelahnya agar Allah menerima amal mereka di bulan Ramadhan.

Di antara tanda diterimanya amal di bulan Ramadhan maupun selainnya adalah kebaikan yang diikuti dengan kebaikan setelahnya. Jika keadaan seorang muslim setelah Ramadhan tetaplah baik dan banyak melakukan kebaikan dan amal shalih, maka ini adalah bukti amalnya diterima. Namun, jika sebaliknya, kebaikan yang disusul dengan keburukan sesudahnya, ia keluar dari Ramadhan lantas diiringi dengan keburukan, kelalaian, dan berpaling dari ketaatan kepada Allah, maka ini adalah indikator amalnya tidak diterima. Setiap orang mengetahui dan melihat keadaan dirinya sendiri setelah Ramadhan. Jika kondisinya lebih baik, maka hendaknya ia memuji Allah karena ini adalah tanda amalnya diterima. Akan tetapi, jika kondisinya lebih buruk, maka hendaknya ia bertaubat dan ber-istighfar kepada Allah karena ini adalah indikator amalnya tidak diterima dan bukti dirinya malas dan lalai.

Janganlah seorang hamba merasa putus asa dari rahmat Allah sehingga tertutuplah pintu antara dirinya dengan Allah,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِيْنَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.Az-Zumar : 53).

Hendaknya ia bertaubat dan ber-istighfar serta kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla karena Allah Jalla wa ‘Ala menerima taubat hamba-Nya yang bertaubat,

وَهُوَ الَّذِيْ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُوا عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُوْنَ

“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Asy-Syura : 25).

IMAM SYAFI’I RA MEMPERINGATKAN KITA AGAR “JANGAN ASAL SHARE DI MEDSOS”

Anda pengguna media sosial? Jika iya tentu Anda merasakan betul berbagai kemudahan yang disediakan perangkat dunia maya ini, mulai dari saling mengirim pesan jarak jauh, mempublikasikan tulisan dan foto secara kilat, hingga bertatap wajah dengan orang-orang di lintas negara. Kemudahan-kemudahan tersebut di satu sisi menggambarkan betapa gampangnya manusia masa kini belajar dan menjalin silaturahim tanpa kendala jarak. Namun di sisi lain bisa menjadi jebakan bagi para penggunanya untuk semakin ringan berbuat mubazir bahkan merusak. Dengan bahasa lain, medsos membuka kemudahan bagi berbuat baik tapi sekaligus juga berbuat buruk. Salah satu pemandangan yang dihasilkan media sosial adalah banjirnya informasi hingga pada taraf yang amat liar. Informasi dengan mudah diterima seseorang lalu dibagikan kembali, diterima orang lain lalu didistribusikan lagi, dan seterusnya. Facebook, grup-grup Whatsapp, Twitter, Instagram, BBM, Line, atau sejenisnya pun disesaki pesan berantai yang entah benar atau salah, entah faktual atau bohong. Celakanya bila kabar itu ternyata salah/bohong dan ada pihak yang dirugikan.

Fenomena copy-paste atau pendistribusian berita seperti ini pernah disinggung oleh Imam Syafi’i, bapak ushul fiqih dalam ilmu-ilmu keislaman. Ia menyebut kegiatan menyebarkan informasi yang belum diketahui benar-tidaknya sebagai al-kadzib al-khafiy (kebohongan tak terlihat/samar). Sebagaimana tertuang dalam kitab Ar-Risâlah:

أن الكذب الذي نهاهم عنه هو الكذب الخفي، وذلك الحديث عمن لا يُعرفُ صدقُه

“Sesungguhnya kebohongan yang juga dilarang adalah kebohongan tak terlihat, yakni menceritakan kabar dari orang yang tak jelas kejujurannya.” Dalam Irsyadul ‘Ibad ila Sabilir Rasyad, Abdul ‘Aziz al-Malibari yang juga mengutip perkataan Imam Syafi’i memaparkan redaksi kalimat secara lebih terang:

وَمِنْ الْكَذِبِ الْكَذِبُ الْخَفِيُّ ، وَهُوَ أَنْ يَرْوِيَ الْإِنْسَانُ خَبَرًا عَمَّنْ لَا يُعْرَفُ صِدْقُهُ مِنْ كَذِبِهِ

“Di antara jenis kebohongan adalah kebohongan yang samar. Yakni ketika seseorang menyebar informasi dari orang yang tak diketahui apakah ia bohong atau tidak.”

Imam Syafi’i menjelaskan hal itu saat mengomentari hadits hadditsû ‘annî walâ takdzibû ‘alayya (ceritakanlah dariku dan jangan berbohong atasku). Periwayatan hadits bagi Imam Syafi’i tak boleh main-main. Bisa kita analogikan, begitu pula dengan periwayatan atau penyebaran informasi di media sosial. Tak selayaknya seseorang asal copy-paste, retweet, regram, atau share informasi dari orang lain tanpa melakukan terlebih dahulu verifikasi dan klarifikasi (tabayyun). Disebut “kebohongan samar” karena aktivitas tersebut dilakukan seperti tanpa kesalahan. Karena bukan produsen informasi, melainkan sekadar penyebar, seseorang merasa enjoy saja melakukan copy-paste, apalagi informasi tersebut belum tentu salah atau bohong. Padahal, justru di sinilah tantangan terberatnya. Karena belum jelas bohong atau salah, informasi tersebut juga sekaligus belum jelas kebenaran dan kejujurannya. Di tengah keraguan semacam itu, pengguna media sosial wajib melakukan cek kebenaran. Jika tidak, pilihan terbaik adalah menyimpan informasi itu untuk diri sendiri, bila tidak ingin jatuh dalam tindakan haram al-kadzib al-khafiy. Kita juga mesti ingat bahwa dunia maya tidak sama dengan dunia imajiner atau khayalan. Media sosial sebagai salah satu unsur dari dunia maya memiliki dampak nyata bagi kehidupan manusia, entah merugikan atau menguntungkan. Alhasil, jika penyebaran informasi yang meragukan saja bagi Imam Syafi’i masuk katergori bohong (samar), penyebaran informasi palsu (hoax) tentu lebih parah. Orang mesti memikirkan dengan cermat dan memeriksanya secara pasti setiap informasi yang ia peroleh sebelum buru-buru menyebarkannya. Itulah bentuk ikhtiar positif manusia sebelum kelak mempertanggungjawabkan apa pun yang muncul dari anggota badannya, termasuk jari-jarinya.

Wallâhu a’lam.

PENGERTIAN TAUBAT DAN PENJELASANYA DENGAN LENGKAP

Fasal Taubat

Setiap amalan dalam Islam mempunyai syarat dan rukun. Jika sesuatu syarat atau rukun tidak sempurna maka begitulah ibadah atau amalan tersebut, sama ada menjadi tidak sempurna atau lebih parah lagi menjadi tidak sah atau batal, justru menjadi sia-sia, menjadi ‘haba-an mantsura’ (debu-debu berterbangan).

Taubat yang merupakan satu ibadah dan amalan yang dihukumkan wajib bagi orang yang berdosa dan sunnat bagi yang tidak berdosa. Jadi tengok le diri, kalau rasa tak berdosa, dihukumkan taubat itu sunnat, tapi kalau banyak dosa, wajiblah bertaubat. Mari kita telaah kitab “Sullamul Mubtadie” di tepi “Kifayatul Muhtadie” mukasurat 370 371 berhubung hal taubat ini.

Matan Kitab:

    (Fasal) Dan wajib taubat itu bagi orang yang mengerjakan dosa itu bersegera atas tiap-tiap orang yang mukallaf iaitu menyesal daripada pekerjaan yang ia mengerjakan dia daripada dosanya dan meninggalkan ia daripada demikian dosanya dengan ikhtiarnya dan mencita ia atas tiada hendak kembali kepadanya selama-lama, maka ia benci akan yang demikian itu seperti akan racun dan akan api dan serta ia membanyakkan mengucap istighfar dan jika adalah dosanya itu meninggalkan fardhu maka hendaklah segera mengqadhakan dia, maka tiada harus ia mengerjakan amal yang sunnat dan mengerjakan pekerjaan yang lain daripada mengqadhakan dia melainkan kerana menuntut akan kehidupannya dan makan dan minum dan qadha hajat dan tidur apabila sangat mengantuk, maka yang lain daripada itu tiada harus ia mengerjakan melainkan duduk mengqadhakan dia. Atau ada dosanya itu ada sangkutan hak manusia maka hendaklah ia kembali akan empunyanya. Jika ambil harta orang atau ia mengumpat – ngumpat orang maka hendak ia minta halal daripadanya atau membunuh atau meluka, maka hendaklah menyerahkan dirinya baginya atau membayar diatnya atau ia minta halalkan dan minta redhakan dia dan jika tiada ada lagi orang yang ia zalim atau orang yang ia khianat akan dia maka dibuat kebajikan dan disedekahkan dia meniatkan pahalanya bagi empunyanya dan membanyak akan taubat kepada Allah bahawa diredhai ahlinya pada hari Kiamat dan membanyakkan amal dan mendoakan empunyanya mudah-mudahan ia redhakan dia pada hari Kiamat.

Taubat 1

Matan:-

(Fasal) Dan wajib taubat itu bagi orang yang mengerjakan dosa itu bersegera atas tiap-tiap orang yang mukallaf.

Syarah:-

Yakni kewajipan bertaubat itu adalah bagi orang yang mengerjakan dosa tersebut dan kewajipan ini hendaklah dilakukan dengan bersegera atas setiap orang mukallaf, yakni yang aqil baligh. Ini adalah kerana orang yang beriman apabila melakukan dosa dan maksiat rasa berdosa dan bersalah akan terus wujud kerana sekurang-kurang nafsu orang beriman ialah nafsu lawwamah, iaitu nafsu yang mencela dirinya sendiri apabila melakukan dosa dan maksiat. Sepakat ulama tasawwuf dan fuqaha mewajibkan orang yang melakukan dosa bertaubat dari dosanya dan ianya hendaklah dilakukan dengan segera. Menangguh-nangguhkan taubat merupakan satu lagi dosa yang memerlukan kepada taubat yang lain pula. Oleh itu setiap kali kita terjerumus dalam dosa dan maksiat, maka teruslah bertaubat kepada Allah. Dan di sinilah peranan dan pentingnya ilmu yang memberi panduan mengenai dosa dan maksiat, kerana berapa ramai orang yang melakukan dosa dan maksiat tidak bertaubat atau tidak merasa berdosa kerana dia tidak tahu apa yang dilakukannya itu sebagai satu dosa dan maksiat kepada Allah.

Matan:-

    iaitu menyesal daripada pekerjaan yang ia mengerjakan dia daripada dosanya

Syarah:-

Syarat taubat yang pertama ialah “an-nadam“, iaitu menyesal atas keterlanjurannya melakukan dosa tersebut. Sebagaimana dinyatakan tadi, orang beriman sentiasa menyesal setiap kali melakukan dosa dan maksiat. Ini adalah kerana wujudnya iman dalam hatinya. Mungkin kerana imannya walaupun wujud tetapi masih lemah, maka dia masih terjerumus dalam dosa dan maksiat. Tetapi bezanya dengan orang yang tidak punya iman ialah dia walaupun berdosa menyesali akan dosanya tersebut berbanding yang tidak beriman. Penyesalan ini amat penting kerana ianya akan membawa orang tersebut kepada kesempurnaan taubatnya. Dalam riwayat dinyatakan bahawa Junjungan s.a.w. bersabda bahawa “Taubat itu adalah penyesalan“, dan dalam riwayat lain dinyatakan bahawa “Setiap anak Adam itu melakukan dosa, dan sebaik-baik pelaku dosa adalah yang bertaubat dari dosanya.” Tetapi kerana kurangnya kesedaran ilmu, maka sekarang orang melakukan maksiat tanpa rasa berdosa kerana dia tidak beranggapan ianya dosa. Ada orang yang berzina, tetapi tidak merasa berdosa kerana katanya dia berzina kerana suka sama suka dan kerana masing-masing ikhlas antara satu sama lain. Allahu …. Allah, dunia dah nak terbalik, manusia sudah songsang, bukan berbicara ikhlas dalam sholat, tetapi ikhlas dalam berzina. Begitu juga dalam bab-bab lain, manusia sudah tidak gemar pada ilmu-ilmu agama, mereka lebih tahu kesalahan lalu lintas berbanding kesalahan dalam hukum syarak. Bagaimana Allah nak beri bantuan kepada umat yang sebegini ????? Lihat sahaja para penganas yang mengganas atas nama Islam, membunuh secara membabibuta tak kira siapa mangsanya, hatta yang seagama pun menjadi mangsa, tidakkah mereka merasa perbuatan mereka tersebut MAKSIAT kepada Allah ? Sudah tentu tidak kerana itu mereka berbuat sedemikian. Sedangkan menurut fuqaha muktabar Ahlus Sunnah wal Jamaah, perbuatan membunuh orang tanpa hak adalah dosa besar. Justru ikhwah sekalian, selain kesalahan duniawi kena telaah dan belajar hukum halal haram dalam Islam, mari duduk depan tuan-tuan guru yang mengajar berpandukan kitab ulama terdahulu untuk mengetahui hal ini. Antara kitab yang elok untuk kita telaah dalam bab ini ialah kitab “al-Kabair” karangan Imam az-Zahabi dan kalau nak yang lebih luas bahasannya kitab “az-Zawajir” karangan Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Kalau tak silap kitab “al-Kabair” tersebut sudah ada terjemahannya dalam bahasa Melayu. Allahu a’laam.

Inilah matan kitab tersebut. Untuk makluman, kitab ini merupakan karangan Mawlana al-‘Alim al-‘Aamil al-‘Allamah al-Kaamil asy-Syaikh Daud bin Abdullah al-Fathoni yang masyhur itu. Dan kitab ini juga telah diberi syarah oleh Syaikh Muhammad Nur bin Muhammad bin Ismail Daud al-Fathoni dengan jodol “Kifaayatul Muhtadie pada menerangkan cahaya Sullamul Mubtadie”. Syaikh Muhammad Nur adalah anak kepada Syaikh Muhammad al-Fathoni atau gelarannya Syaikh Nik Mat Kecik pengarang “Mathla`ul Badrain” yang masyhur yang merupakan anak saudara dan anak angkat bagi Syaikh Daud al-Fathoni. Harap fahami matan kitab di atas dan insya-Allah, kita syarahkan nanti sekadar mampu dan keizinan Allah yang Esa.

Taubat 2

Matan:-

    ” dan meninggalkan ia daripada demikian dosanya dengan ikhtiarnya “

Syarah:-

Rukun seterusnya bagi seorang yang bertaubat ialah hendaklah dia tatkala bertaubat tersebut meninggalkan dosa dan maksiatnya itu dengan ikhtiarnya sendiri, yakni dengan pilihannya sendiri. Di sini terdapat 2 perkara pokok yang perlu difahami, (i) meninggalkan dosa; dan (ii) dengan ikhtiarnya. Bukan dinamakan orang bertaubat yang sewaktu bertaubat masih melakukan dosa yang ditaubatnya. Dan begitu juga orang yang meninggalkan maksiat kerana terpaksa, bukan kerana pilihannya sendiri demi menjunjung perintah Ilahi tidaklah dianggap sebagai sempurna taubatnya.

Sekarang kita lihat, ada segelintir manusia yang masih berselera dengan dosa dan maksiat, bahkan berbangga-bangga dengan dosa dan maksiat, cuma oleh kerana sudah uzur atau sudah tua, maka maksiat tersebut ditinggalkannya. Maka jadilah dia meninggalkan dosa dan maksiat kerana faktor tersebut, bukan kerana menjunjungan perintah Allah, dia meninggalkan dosa bukan kerana keinsafan dan pilihannya sendiri, tetapi meninggalkan dosa kerana tak larat lagi nak buat dosa tersebut sedangkan hatinya masih suka dengan dosa tersebut, maka hal taubat sebegini menurut ulama tidak sempurna dan dikhuatiri tak sah di sisi Allah s.w.t. Inilah sebabnya, Mawlana Syaikh Daud menegaskan syarat ini dengan kalimah “….dengan ikhtiarnya“. Demikian juga orang yang dipaksa bertaubat, lalu dia pun bertaubat kerana takut dihukum manusia, maka taubatnya itu hanya sah di mata manusia sedangkan di sisi Allah ta`ala, tidak dinamakan taubat. Ketahuilah dengan sebaiknya, agar kita faham bahawa kesempurnaan taubat itu hendaklah datang dari pilihan dan kesedaran kita sendiri setelah disuluh cahaya hidayah dan taufiq daripada Allah s.w.t. Allahu a’laam

Taubat 3

Matan:-

    “dan mencita ia atas tiada hendak kembali kepadanya selama-lama, maka ia benci akan yang demikian itu seperti akan racun dan akan api “

Syarah:-

    Seseorang yang bertaubat dengan sebenarnya, maka tatkala bertaubat tersebut langsung tidak teringat atau teringin bahkan terlintas untuk kembali membuat dosa yang ditaubatkan itu selama-lamanya. Bahkan timbul rasa benci kepada maksiat tersebut seperti seseorang yang bencikan racun yang membinasakan atau benci dihumban ke dalam api neraka. Kerana hakikat kesudahan dosa dan maksiat itu membawa seseorang ke dalam siksaan neraka. Dosa dan maksiat yang merupakan penyakit batin adalah lebih bahaya daripada sakit zahir seumpama kanser, kalau seorang menghidap kanser paling teruk kesudahannya ialah mati, tapi dosa dan maksiat jika tidak diampun oleh Allah akan membawa pelakunya ke neraka, dan ingatlah bahawa azab neraka itu teramatlah pedih dan masa di sana teramatlah panjang. Adakah kekuatan kita nak menanggungnya nanti ??? Allahu…Allah. Tuhanku aku tak layak untuk Syurga FirdausMu, tetapi aku tak tahan menanggung siksa nerakaMu, oleh itu ampunkanlah aku terimalah taubatku, sesungguhnya Engkaulah Pengampun dosa-dosa besar.

Seseorang yang mengaku bertaubat tetapi dosa masih terasa manis di sisinya, maka ketahuilah bahawa taubatnya belum cukup sempurna. Ada riwayat dalam hadits qudsi Allah ta`ala berfirman kepada Nabi Musa a.s. mengenai pertanyaan Nabi Musa tentang taubat seorang umatnya yang tidak dikabulkan Allah, maka Allah menjawabnya: “Bagaimana aku nak menerima taubatnya sedangkan hatinya masih melekat kepada dosa tersebut”. Allahu a’laam.

Taubat 4

Matan:-

    “…..dan serta ia membanyakkan mengucap istighfar. “

Syarah:-

Kesempurnaan taubat itu daripada hati yang tulus ikhlas terlancar ke lidah ucapan istighfar memohon keampunan Allah ta`ala. Junjungan s.a.w. seorang yang ma’sum menyatakan bahawa baginda mengucapkan istighfar 100 kali sehari. Maka insan kerdil dan banyak dosa seperti kita hendaklah berlebih lagi. Istighfar yang diucapkan biarlah betul-betul mencerminkan keinsafan hati kita. Ucapkanlah “Rabbirgh fir li” atau sebagainya. Tetapi hendaklah diingat bahawa ucapan istighfar yang hanya ditanam di bibir mulut tanpa berakar daripada hati kesannya jika pun ada amatlah minima. Tetapi janganlah cepat berputus asa, istighfar di lidah lebih baik daripada langsung tidak beristighfar. Insya-Allah, mudah-mudahan taubat lisan akan menembusi hati. Ingatlah bahawa titisan air yang terus menerus menimpa batu akan melekukkannya. Allahu a’laam.

Taubat 5

Matan:-

    “…dan jika adalah dosanya itu meninggalkan fardhu maka hendaklah segera mengqadhakan dia, maka tiada harus ia mengerjakan amal yang sunnat dan mengerjakan pekerjaan yang lain daripada mengqadhakan dia melainkan kerana menuntut akan kehidupannya dan makan dan minum dan qadha hajat dan tidur apabila sangat mengantuk, maka yang lain daripada itu tiada harus ia mengerjakan melainkan duduk mengqadhakan dia…..”

Syarah:-

    Jika dosa yang dilakukan merupakan maksiat meninggalkan kefardhuan atau kewajipan terhadap Allah, maka hendaklah orang yang bertaubat itu mengqadhakan fardhu yang ditinggalkannya dengan segera, jika kefardhuan tersebut ditinggalkan dengan sengaja tanpa keuzuran. Perlu diingat bahawa kejahilan tentang hukum hakam tidak termasuk keuzuran secara lazimnya. Maka hendaklah orang bertaubat tersebut menebus kembali fardhu yang ditinggalkannya dengan taubat dan qadha. Inilah pendapat jumhur ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah daripada 4 mazhab. Inilah pendapat yang sewajarnya diikuti kita, inilah fatwa Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar dan lain-lain ulama besar mazhab kita. Jangan terpengaruh dengan fatwa – fatwa zaman sekarang kaum muda atau lebih tepat kaum mudah yang suka bermudah-mudah dalam urusan agama, yang menyandarkan pendapat mereka kepada fatwa minoriti ulama Zahiri.

    Seterusnya dinyatakan bahawa orang yang bertaubat dari maksiat meninggal fardhu tanpa uzur disyaratkan menggunakan segala masa dan kelapangannya untuk mengqadha fardhunya tersebut dan tidak dibenarkan dia mengerjakan amalan-amalan sunnat. Inilah qawl asah dalam mazhab kita, sedangkan qil mengatakan tidak perlu bersegera. Bahasan hal ini telah kita buat dahulu, silalah rujuk lagi.

Taubat 6

Matan:-

    “…Atau ada dosanya itu ada sangkutan hak manusia maka hendaklah ia kembali akan empunyanya. Jika ambil harta orang atau ia mengumpat – ngumpat orang maka hendak ia minta halal daripadanya atau membunuh atau meluka, maka hendaklah menyerahkan dirinya baginya atau membayar diatnya atau ia minta halalkan dan minta redhakan dia..”

Syarah:-

Jika dosa atau maksiat dilakukan bersangkut paut dengan hak manusia, maka kesempurnaannya ialah dengan dikembalikan balik hak orang tersebut, atau mintak halal. Jika membunuh orang atau mencederakan orang maka hendaklah menyerah diri kepada orang yang dicederai atau waris orang yang dibunuh agar dapat dijalankan hukuman qisas atau mintak halal atau dibayar diat.

Matan:-

    “…dan jika tiada ada lagi orang yang ia zalim atau orang yang ia khianat akan dia maka dibuat kebajikan dan disedekahkan dia meniatkan pahalanya bagi empunyanya dan membanyak akan taubat kepada Allah bahawa diredhai ahlinya pada hari Kiamat dan membanyakkan amal dan mendoakan empunyanya mudah-mudahan ia redhakan dia pada hari Kiamat.”

Syarah:-

Jika orang yang dizalimi tersebut telah tiada dan warisnya tidak diketahui, maka hendaklah orang yang bertaubat daripada kezalimannya itu memperbanyak membuat kebajikan dan bersedekah yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang kena zalimnya itu serta mendoakan orang tersebut. Kerana sesuatu hutang kezaliman yang tidak dijelaskan di dunia sewaktu hidup nescaya akan dituntut di akhirat dan nanti bukan wang ringgit yang digunakan untuk membayarnya melainkan pahala kebajikan kita. Mudah-mudahan dengan banyak bersedekah dan membuat kebajikan yang pahalanya ditujukan kepada orang yang kena zalim tersebut akan redhalah ia melepaskan tuntutannya atas si penzalim yang bertaubat itu. Dan mudah-mudahan dengan kesungguhannya bertaubat dan beramal sholeh Allah akan menjadi penanggung baginya atas tuntutan orang yang kena zalim tersebut. Allahu a’laam.

MEMAHAMI PENGERTIAN CARA BERSYUKUR DAN BERSABAR

 SYUKUR

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. 14:7).

Bersyukur kepada Allah itu ada tiga cara, yaitu bersyukur dengan hati, dengan lisan, dan bersyukur dalam sikap perilaku (perbuatan)

  1. Bersyukur dengan hati

Bersyukur di dalam hati ialah dengan cara membentuk keyakinan dan keinginan dalam diri untuk menjalani kebajikan-kebajikan yang telah diperintahkan dan tidak gampang memperlihatkan bentuk nikmat yang telah Allah berikan padanya terhadap setiap orang.

  1. Beresyukur dengan lisan

Adapun syukur dengan lisan yaitu dengan memperbanyak puji syukur kepada Allah sambil membaca Alhamdulillah.

  1. Bersyukur dalam dalam sikap prilaku (Perbuatan)

Adapun bersyukur dalam bentuk sikap tingkah laku dan perbuatan adalah dengan menjadikan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan padanya sebagai sarana amal ibadah serta menjaga diri sedapat mungkin dari tercebur dalam maksiat.

Ketahuilah…

Seseorang tidak dikatakan bersyukur selagi belum mampu menjadikan nikmat yang telah ia terima sebagai sarana untuk mahabbah (mencintai Allah) bukan untuk kesenangan-kesenangan yang bersifat pribadi, bila ia menjadikan nikmatNya justru sebagai sarana terhadap hal-hal yang Allah murkai sesungguhnya ia benar-benar telah mengkufuri nikmatNya sebagaimana bila ia menganganggurkan nikmat tersebut karena artinya ia telah menyia-menyiakan kesempatan yang telah Allah berikan padanya untuk menggapai kehidupan bahagia.

{ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ } ( 7 ) إبراهيم وهو لغة : فعل ينبئ عن تعظيم المنعم بسبب كونه منعماً على الشاكر أو غيره سواء كان ذكراً باللسان أو عملاً بالأركان أو اعتقاداً بالجنان

اعلم أن الشكر ينتظم من علم وحال وعمل فالعلم معرفة النعمة من المنعم والحال هو الفرح الحاصل بإنعامه والعمل هو القيام بما هو مقصود المنعم ومحبوبه ويتعلق ذلك العمل بالقلب وبالجوارح وباللسان أما بالقلب فقصد الخير وإضماره لكافة الخلق وأما باللسان فإظهار الشكر لله تعالى بالتحميدات الدالة عليه وأما بالجوارح فاستعمال نعم الله تعالى في طاعته والتوقي من الاستعانة بها على معصيته

بيان الشكر في حق الله تعالى

اعلم أن العبد لا يكون شاكرا لمولاه إلا إذا استعمل نعمته في محبته أي فيما أحبه لعبده لا لنفسه وأما إذا استعمل نعمته فيما كرهه فقد كفر نعمته كما إذا أهملها وعطلها وإن كان هذا دون الأول إلا أنه كفران للنعمة بالتضييع وكل ما خلق في الدنيا إنما خلق إلة للعبد ليتوصل به إلى سعادته

Syarh al-Hikam al-‘Athooiyyah hal 64 dan Mau’izhoh al-Mu’miniin Min Ihyaa ‘Uluum ad-Diin I/420

SABAR

Dinukil dari kitab Risalatul Qusyairiyah

قال الله، عزَّ وجلَّ: “واصبر وما صبرك إلا بالله”.وأخبرنا عليُّ بن أحمد الأهوازي، قال: أخبرنا أحمدبن عبيد البصري، قال: حدثنا أحمد بن علي الخراز قال: حدثنا أسيد بن زيد قال: حدثنا مسعود بن سعد، عن الزيات، عن أبي هريرة، عن عائشة، رضي الله عنها، رفعته، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إن الصبر عند الصدمة الأولى”.

Allah SWT berfirman, “Washbir, mawaa shabruka illa biLlaah” yang artinya, “Sabarlah engkau yaa Muhammad, dan tidaklah kesabaranmu itu kecuali dengan pertolongan Allah”. (An-Nahl 27).

Dari ‘Aisyah RA, diceritakan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Inna shabra ‘inda shadmatil uula”. ‘Sesungguhnya sabar yang sempurna itu pada pukulan yang pertama’.

وأخبرنا علي بن أحمد قال: أخبرنا بن عبيد قال: حدثنا أحمد بن عمر، قال: حدثنا محمد بن مرداس قال: حدثنا يوسف بن عطية، عن عطاء بن أبي ميمونة، عن أنس بن مالك، رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “الصبر عند الصدمة الأولى”.

Dari sahabat Anas bin Malik diriwayatkan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Sabar yang paling sempurna adalah pada pukulan (ketika menghadapi cobaan) yang pertama”.

ثم الصبر على أقسام: صبر على ما هو كسب للعبد، وصبر على ما ليس بكسب له.فالصبر على المكتسب، على قسمين: صبر على ما أمر الله تعالى به، وصبر على من نهى عنه.وأما الصبر على ما ليس بمكتسب للعبد: فصبره على مقاساة ما يتصل به من حكم الله فيما يناله فيه مشقة.

Sabar itu terbagi menjadi dua, yaitu sabar yang berkaitan dengan usaha hamba dan sabar yang tidak berkaitan dengan usaha hamba.

Sabar yang berkaitan dengan usaha hamba terbagi menjadi dua, yaitu sabar terhadap apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan sabar terhadap apa yang dilarang-Nya.

Sedang sabar yang tidak berkaitaan dengan usaha adalah sabar terhadap penderitaan yang terkait dengan hukum karena mendapatkan kesulitan.

سمعت الشيخ أبا عبد الرحمن السلمي يقول: سمعت السحين بن يحيى يقول: سمعت جعفر بن محمد يقول: سمعت الجنيد يقول: المسير من الدنيا إلى الآخرة سهل هين على المؤمن، وهجران الخلق في جنب الله تعالى شديد، والمسير من النفس إلى الله تعالى صعب شديد، والصبر مع الله أشد.وسئل الجنيد عن الصبر، فقال: هو تجرع المرارة من غير تعبيس

Al- Junaid mengatakan, “Perjalanan dari duniia menuju akhirat adalah mudah dan menyenangkan bagi orang yang beriman. Putusnya hubungan makhluk di sisi Allah SWT adalah berat. Perjalanan dari diri sendiri menuju kepada Allah SWT adalah berat. Dan sabar kepada Allah SWT tentunya akan lebih berat”.

Beliau ditanya tentang sabar lalu menjawab, “Menelan kepahitan tanpa bermasam muka”.

وقال علي بن أبي طالب، رضي الله عنه: الصبر من الإيمان بنزلة الرأس في الجسد.وقال أبو القاسم الحكيم: قوله تعالى: “واصبر” أمر بالعبادة، وقوله: “وما صبرك إلا بالله” عبودية، فمن ترقىَّ من درجة لك إلى درجة بك؛ فقد انتقل من درجة العبادة إلى درجة العبودية.قال صلى الله عليه وسلم: “بك أحيا وبك أموت”.

Menurut Ali bin Abi Thalib, sabar merupakan bagian dari iman sebagaimana kepala merupakan bagian dari tubuh.Menurut Abul Qasim, yang dimaksud firman Allah SWT,”Sabarlah engkau (yaa Muhammad)” adalah pondasi ibadah.

Sedangkan firman Allah SWT,”tiada kesabaranmu kecuali dengan pertolongan Allah”. Adalah ubudiyah (penghambaan). Barang siapa yang naik dari satu derajat ke derajat yang lain karena pertolongan Allah maka dia pindah dari derajat kaidah menuju derajat ubudiyah.

RasuluLlah SAW bersabda, “BiKa ahya wa biKa amuut” . dengan pertolongan-Mu aku hidup, dan dengan pertolongan-Mu aku mati”.

سمعت الشيخ أبا عبد الرحمن السلمي، يقول: سمت أبا جعفر الرازي يقول: سمعت عياشاً يقول: سمعت أحمد يقول: سألت أبا سليمان عن الصبر، فقال: والله ما نصبر على ما نحب، فكيف على ما نكره? وقال ذو النون: الصبر: التباعد عن المخالفات، والسكونُ عند تجرع قصص البلية، وإظهار الغنى مع حلول الفقر بساحات المعيشة.

Abu Sulaiman pernah ditanya tentang sabar, dia menjawab, “Demi Allah kami tidak bersabar terhadap apa yang kami cintai, maka bagaimana kami bersabar terhadap apa yang kami benci ?”Menurut Dzunun Al-Mishri, yang dimaksud sabar adalah menjauhi hal-hal yang bertentangan, bersikap tenang ketika menelan pahitnya cobaan dan menampakkan sikap kaya dengan menyembunyikan kefakiran di medan kehidupan.”

وقال ابن عطاء: الصبر: الوقوف مع البلاء بحسن الأدب.وقيل: هو الفناء في البلوى بلا ظهور شكوى.وقال أبو عثمان: الصبار: الذي عوَّد نفسه الهجوم على المكاره.وقيل: الصبر: المقام مع البلاء بحسن الصحية، كالمقام مع العافية.

Menurut Ibnu Atha, yang dimaksud sabar adalah tertimpa cobaan dengan tetap berperilaku yang baik.

 Menurut satu pendapat sabar adlah lenyap dari cobaan tanpa memperlihatkan pengaduan,

menurut abu usman yang dimaksud sabar orang yang sangat sabar yaitu orang yang mengembalikan pada dirinya terhadap sesuatu yang dibenci ketika menghadapi serangan.

Menurut sebagian ulama, yang dimaksud sabar adalah tertimpa cobaan dengan tetap bersikap baik dalam pergaulan sebagaimana ketika dalam keadaan sehat (selamat).

وقال أبو عثمان: أحسن الجزاء على عبادة: الجزاء على الصبر، ولا جزاء فوقه، قال الله عزَّ وجلَّ: “ولنجزين الذين صبرواأجرهم بأحسن ما كانون يعملون”.وقال عمرو بن عثمان: الصبر. هو الثبات مع الله سبحانه وتعالى، وتلقي بلائه بالرحب والدعة.وقال الخوَّاص: هو الثبات على أحكام الكتاب والسنة.وقال يحيى بن معاذ: صبر المحبين أشدُّ من صبر الزاهدين، واعجباً، كيف يصبرون? وأنشدوا:الصبر يحمد في المواطن كلها إلا عـــلـــيك فـــإنـــه لايحــــــمـــــــد

Abu Utsman berkata , sebaik baik balasan thd ibadah adalah balasan dalam kesabaran dan tiada balasan yg lebih tingggi darinya,Allah SWT berfirman, “Dan akan Kami balas orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari pada apa yang mereka usahakan”. (An-Nahl 96).

Menurut Amr bin Utsman, yang dimaksud sabar adalah tetap bersama Allah SWT dan menerima cobaan-Nya dengan lapang dada dan senang hati.

Menurut Ibrahim Al-Khawash yang dimaksud sabar adalah tetap konsisten dengan hukum-hukum al-Qur’an dan As-Sunah.

Menurut Yahya kesabaran orang-orang yang cinta kepada Allah SWT lebih kuat daripada kesabaran orang-orang yang zuhudSya’ir :Sabar akan menghiasi dengan keindahanDi seluruh tanah airSabar tidak akan terhiasi dengan keindahanKecuali hanya bila tertuju pada-Mu

وقال رويم: الصبر: ترك الشكوى.وقال ذون النون: الصبر: هو الاستعانة بالله تعالى.سمعت الأستاذ أبا عليِّ الدقاق، رحمه الله، يقول: الصبر كأسمه.وأنشدني الشيخ أبو عبد الرحمن السلمي، قال: أنشدني أبو بكر الرازي قال: أنشدني ابن عطاء لنفسه:سأصبر، كي ترضى، وأتلف حسرة وحسبي أن ترضى ويتلفني صبري

Menurut Ruwaim, yang dimaksud sabar adalah meninggalkan keluhan.

Menurut Dzunun Al-Mishri yang dimaksud sabar adalah memohon pertolongan kepada Allah SWT.

Menurut Abu Ali ad Daqqoq sabar adalah seperti asma-NyaSya’ir ibnu atho’:Saya akan bersabar agar Engkau relaSaya lenyapkan rasa keluh kesah Agar Engkau juga relaSaya merasa cukup Apabila sabarkuTelah melenyapkan diriku.

وقال أبو عبد الله بن خفيف: الصبر على ثلاثة أقسام، متصبر، وصابر،وصبار.وقال عليُّ بن أبي طالب، رضي الله عنه: الصبر مطية لا تكبو.سمعت محمد بن الحسين يقول: سمعت علي بن عبد الله البصري يقول: وقف رجل على الشبليَّ فقال: أي صبر أشد على الصابرين? فقال: الصبر في الله عزَّ وجلَّ، فقال: لا، فقال: الصبر لله، قال: لا. قال: الصبر مع الله، قال: لا. قال: فاي شيء? قال: الصبر عن الله.قال: فصرخ الشبلي صرخة طادت روحه أن تتلف.

Menurut Abdullah bin Khafif sabar terbagi menjadi tiga yaitu orang yang menerima sabar, orang yang sabar, orang yang sangat sabar.

Menurut Ali bin Abi Thalib, sabar ibarat binatang kendaraan yang tidak pernah jatuh tersungkur.

Ali bin Abdillah Al-Bashri mengatakan bahwa seorang laki-laki berhenti di depan As-Syibli seraya bertanya, “Sabar yang bagaimana yang lebih kuat atas orang-orang yang sabar?’

“Sabar di dalam Allah SWT”. “Bukan”.

“Sabar untuk Allah SWT” “Bukan”.

“Jadi sabar yang bagaimana” As-Sybli balik bertanya.

“Sabar menghindarkan diri dari Allah SWT”.

Setelah itu As-Syibli berteriak yang menyebabkan ruh-nya hampir saja lenyap.

وسمعته يقول: سمعت محمد بن عبد الله بن شاذان، يقول: سمعت أبا محمد الجريري يقول: الصبر: أن لايفرق بين حال النعمة والمحنة، مع سكون الخاطر فيهما. والتصبر: هو السكون، مع البلاء مع وجدان أثقال المحنة.وأنشد بعضهم:

صبـرت ولـم أطـلـع هـواك عـلـى صــبـــري وأخفيت ما بي منك عن موضع الصبر

مخـافة أن يشـكـو ضـــمـــيري صـــبـــابـــتـــي إلـى دمـــعـــتـــي ســـرَّاً فـــتـــجـــري ولا أدري

Menurut Abu Muhammad Ahmad Al-Jariri yang dimaksud sabar adalah tidak memisahkan antara kenikmatan dan ujian dengan pemikiran yang tenang, sedangkan yang dimaksud penerimaan sabar adalah tenang menghadapi cobaan dengan mendapatkan beratnya ujian.

 Sebagian ulama mengatakan dlm syairnya:

saya bersabar tetapi saya belum mengetahuik einginan-Mu atas sabarku

saya sembunyikan dari-mu apa-apa yang terkait denganku dari tempat sabar

karena hati nuraniku takut mengeluh pada kerinduanku

terhadap air mataku secara rahasia sehingga ia tetap mengalir, dan sayapun tidak mengetahui.

سمت الأستاذ أبا علي الدقاق، رحمه الله، يقول: فاز الصابرون بعزِّ الدارين؛ لأنهم نالوا من الله تعالى معيته: قال الله تعالى: “إن الله مع الصابرين”.وقيل في معنى قوله تعالى: “اصبروا وصابروا ورابطوا” الصبر: دون المصابرة، والمصابرة: دون المرابطة.وقيل: اصبروا بنفوسكم على طاعة الله تعالى، وصابروا بقلوبكم على البلوى في الله، ورابطوا بأسراركم على الشوق إلى الله.وقيل: أصبروا في الله، وصابروا بالله، ورابطوا مع الله.وقيل: أوحى الله تعالى إلى داود عليه السلام: تخلق بأخلاقي، وإنَّ من أخلاقي أنني أنا الصبور.قويل: يجرَّع الصبر، فإن قتلك قتلك شهيداً، وإن أحياك أحياك عزيزاً.

Abu Ali ad Daqqoq berkata , beruntunglah orang2 yg bersabar dengan keagungan daroin (dunia dan akherat) karena mereka mendapatkan kebersamaan dari Allah, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.

Yang dimaksud firman Allah SWT, Ishbiruu washabiruu warabithuu, Sabarlah, dan sabarkanlah, dan berjagalah kamu sekalian”. (Ali Imran 200).

Sebagian berpendapat bahwa yang dimaksud ayat ini adalah sabarlah dengan diri kamu sekalian untuk ta’at kepada Allah SWT, sabarlah dengan hati kalian untuk menerima cobaan-Nya, dan sabarlah dengan tabir rahasia hati kalian untuk rindu kepada-Nya.

Sedangkan menurut sebagian ulama yang lain yang dimaksud ayat itu adalah sabarlah kalian karena Allah SWT, sabarlah kalian dengan-Nya, dan bersabarlah kalian bersama-Nya.Menurut satu pendapat, Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud AS, “Ber budi pekertilah dengan budi pekerti-Ku, sesungguhnya sebagian dari budi pekerti-Ku adalah sangat sabar”.

Dalam ungkapan lain disebutkan, telanlah kesabaran. Apabila Allah SWT mematikanmu maka Dia akan mematikanmu dengan mati syahid. Apabila Allah SWT menghidupkanmu maka Dia akan menghidupkanmu dengan kemuliaan.

وقيل: الصبر لله: عناء، والصبر بالله: بقاء، والصبر في الله: بلاء. والصبر مع الله وفاء، والصبر عن الله: جفاء.وأنشدوا:والـصـبـر عـنـك فـمـذمـوم عــواقـــبـــه والصبر في سائر الأشياء محمود

وأنشدوا:وكيف الصبر عمن حل منى بمـنـزلة الـيمـين مـن الـشـمــالإذا لـعـب الـرجـال بـكـلِّ شـيء رأيت الـحـب يلـعـب بـالـرجـال

Menurut sebagian ulama, sabar karena Allah SWT adalah suatu kelelahan, sabar dengan Allah SWT adalah ketetapan, sabar di hadapan Allah SWT adalah cobaan, sabar bersama Allah SWT adalah pemenuhan, dan sabar menghindar dari Allah SWT adalah kehanyutan.

Sya’ir :

Sabar menghindarkan diri dari-Mu Akan mengabkibatkan tercela Sedangkan sabar dalam segala hal Akibatnya terpuji

Bagaimana sabar dari orang yang tinggal di sampingku Dengan menempati yang kanan dari pada yang sebelah kiri Apabila orang yang bersendau gurau Dengan segala sesuatu Maka saya telah melihat kecintaanYang bersendau gurau dengan orang lain

وقيل: الصبر على الطلب عنوان الظفر، والصبر في المحن علامة الفرج. وقيل: المصابرة: هي الصبر على الصبر، حتى يستغرق الصبر في الصبر فيعجز الصبر عن الصبر، كما قيل: صابر الصبر فاستغاث به فصاح المحب بالصبر صبراً

Menurut sebagian yang lain, sabar mencari adalah tanda keberhasilan, sedangkan sabar menerima ujian adalah tanda kebahagiaan. Menurut yang lain, yang dimaksud menyabarkan diri adalah sabar di atas sabar sehingga dapat mencakup sabar di dalam sabar dan melemahkan sabar dari sabar

وقيل: حبس الشبلي وقتاً في المارستان، فدخل عليه جماعة؛ فقال: من أنتم? فقالوا: أحباؤك جاءوك زائرين.فأخذ يرميهم بالحجر، وأخذوا يهربون.فقال: يا كذابون، لو كنتم أحبائي لصبرتم على بلائي.وفي بعض الأخبار. بعيني ما يتحمل المتحملون من أجلي.وقال الله تعلى:”واصبر لحكم ربك فإنك بأعيننا”.

Menurut satu cerita,pada satu waktu Asy-Syibli di masukkan kedalam rumah sakit Sekelompok orang datang kepadanya.“Siapa kalian”. Tanya Asy-Syibli.“Para kekasihmu yang sedang beraziarah kepadamu.”Kemudian beliau melemparkan batu kepada mereka sehingga mereka lari. Beliau mengatakan kepada mereka, “Wahai orang-orang pembohong, jika kalian para kekasihku, maka tentu engkau akan sabar menerima cobaanku”.Di dalam sebagian hadits disebutkan, “Dengan penjagaan Mata-Ku (Allah), orang-orang yang sabar sebenarnya tidak bersabar untukku. “Allah SWT berfirman, “Bersabarlah engkau kepada hukum Tuhanmu, sesungguhnya engkau dalam penjagaan Kami”. (At-Thuur 48).

وقال بعضهم: كنت بمكة.. فرأيت فقيراً طاف بالبيت، وأخرج من جيبه رقعة، ونظر فيها، ومر، فلما كان بالغد، فعل مثل ذلك، فترقبته أياماً وهو يفعل مثل ذلك، فيوماً من الأيام طاف ونظر في الرقعة، وتباعد قليلا، وسقط ميتاً، فأخرجت الرقعة من جيبه، فإذا فيها: “واصبر لحكم ربك فإنك بأعيننا”.وقيل: رؤي حدث يضرب وجه شيخ بنعله، فقيل له: ألا تستحي!? تضرب حر وجه شيخ بمثل هذا?: فقيل: جرمه عظيم. فقيل: وما ذاك? فقال: هذا الشيخ يدّعي أنه يهواني، ومنذ ثلاث ما رآني.

Sebagian ulama mengatakan, saya berada di Makkah, saya melihat orang fakir mengelilingi BaituLlah. Dia mengeluarkan Ruq’ah (semacam azimat atau bungkusan yang berisi tulisan) dari dalam sakunya. Dia melihat ruq’ah itu lalu pergi. Esok hari ia berperilaku seperti itu, beberapa hari saya memperhatikannya. Dia selalu mengerjakan hal itu setiap hari untuk kepentingannya sendiri. Suatu hari ia berkeliling dan melihat ruq’ahnya. Sedikit demi sedikit ia menjauh lantas terjatuh dan meninggal dunia. Ruq’ah itu kemudian saya keluarkan dari dalam sakunya. Ternyata di dalam ruq’ah itu berisikan firman Allah SWT,”Bersabarlah engkau terhadap hukum Tuhanmu sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami”. (At-Thuur 48).

وقال بعضهم: دخلت بلاد الهند، فرأيت رجلا بفرد عينيسمى فلانا الصبور فسألت عن حاله، فقيل: هذا في عنفوان شبابه سافر صديق له، فخرج في وداعه، فدمعت إحدى عينيه ولم تبك الأخرى، فقال لعينه التي لم تدمع: لِمَ لم تدمعي على فراق صاحبي? لأحرمنك النظر إلى الدنيا وغمض عينه، فمنذ ستين سنة لم يفتح عينه.

Sebagian ulama lain mengatakan, “saya memasuki negara India. Saya melihat seorang laki-laki menggunakan satu mata. Orang-orang memberikan nama kepadanya si Fulan yang sangat sabar. Saya bertanya kepada mereka tentang keadaannya, lantas dijawab bahwa ketika dia menginjak awal remaja, saat teman-temannya hendak bepergian dia keluar dari tempat tinggalnya. Salah satu dari kedua matanya melelehkan air mata, sedang mata yang satunya tidak menangis. Dia mengatakan kepada mata satunya yang tidak melelehkan air mata, ‘Kenapa engkau tidak melelehkan air mata atas perpisahan temanku ? Saya tentu akan mengharamkanmu untuk melihati dunia’. Dia memejamkan matanya selama dua tahun tanpa pernah membukanya.

وقيل في قوله تعلى:”فاصبر صبراً جميلا”: الصبر الجميل: أن يكون صاحب المصيبة في القوم لا يدري من هو.وقال عمر بن الخطاب، رضي الله عنه، لو كان الصبر والشكر بعيرين، لم أبال أيهما ركبت.وكان ابن شبرمة، رحمه الله، إذا نزل به بلاء قال:سحابة ثم تنقشع.وفي الخبر، أن النبي صلى الله عليه وسلم، سئل عن الإيمان، فقال:”الصبر والسماحة”.

Menurut satu pendapat, yang dimaksud firman Allah SWT, “Bersabarlah engkau dengan sabar yang baik”. (Al-Ma’arij 5) adalah sabar yang benar sehingga orang yang tertimpa musibah di tengah-tengah masyarakat tidak dapat diketahui.

Umar bin Khatab pernah mengatakan, “seandainya sabar dan syukur diibaratkan dua ekor unta, maka saya tidak peduli mana diantara keduanya yang akan saya naiki”.

Dalam satu ungkapan, Ibnu Syibrimah apabila mendapat cobaan dia mengatakan, “Sekarang berawan, besok ia akan hilang”.

Di dalam hadits pernah disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah ditanya tentang Iman beliau menjawab, “As-shabru wassamaahah”. ‘Sabar dan toleransi.’

وسئل السري عن الصبر، فجعل يتكلم فيه، فدب على رجله عقرب، وهي تضربه بابرتها ضربات كثيرة، وهو ساكن: فقيل له: لِمَ لم تنحها?.فقال: استحييت من الله تعالى أن أتكلم في الصبر، ولم أصبر.وفي بعض الأخبار: الفقراء الصبر هم جلساء الله تعالى يوم القيامة.وأوحى الله تعالى إلى بعض أنبيائه: أنزلت بعبي بلائي، فدعاني، فماطلته بالإجابة، فشكاني، فقلت: يا عبدي، كيف أرحمك من شيء به أرحمك.وقال ابن عيينة في معنى قوله تعالى:”وجعلنا منهم أئمة يهدون بأمرنا لما صبروا”،قال: لما أخذوا برأس الأمر جعلناهم رؤساء.

Syaikh Sary pernah ditanya tentang sabar. Ketika beliau hendak menjawab, kaki beliau dihinggapi kalajengking yang menyengat berulang-ulang.

Beliau tetap diam dan tak bergerak. Beliau ditanya, ‘mengapa kalajengking itu tidak kau jauhkan dari kakimu ?’. beliau menjawab, “Saya malu kepada Allah SWT membicarakan sabar sementara saya belum bisa bersabar”.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang-orang fakir yang bersabar adalah tamu-tamu Allah SWT di hari kiyamat.

Dalam suatu cerita Allah SWT menurunkan wahyu kepada sebagian Nabi-Nya,”Cobaan-Ku telah Aku turunkan kepada sebagian hamba-Ku kemudian ia berdo’a kepada-Ku, tetapi Aku tidak mengabulkannya. Kemudian ia mengeluh kapada-Ku. Aku berfirman kepada-Nya, ‘wahai hamba-Ku, bagaimana Aku dapat mengasihimu dengan suatu pemberian sehingga Aku akan mengasihimu”.Arti firman Allah SWT, “Dan Aku jadikan mereka pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka mau bersabar”.

Ayat itu, kata Ibnu Uyainah, adalah ketika mereka menghendaki suatu pemimpin dalam suatu urusan, maka Kami jadikan ia (orang yang sabar) sebagai pemimpinnya.

سمعت الأستاذ أبا عليٍّ الدقاق يقول: أن الصبر حده أن لا تعترض على التقدير؛ فأما إظهار البلاء على غير وجه الشكوى فلا ينافي الصبر، قال الله تعالى في قصة أيوب:”إنا وجدناه صابراً نعم العبد إنه أوًّاب” مع ما أخبر عنه تعالى أنه قال”مسنى الضر”.وسمعته يقول: استخرج الله منه هذه المقالة: يعني قوله:”مسني الضر”؛ لتكون متنفسا لضعفاء هذه الأمة.وقال بعضهم: إنا وجدناه صابراً، ولم يقل صبوراً لأنه لم يكن جميع أحواله الصبر، بل كان في بعض أحواله يستلذ البلاء، ويستعذبه، فلم يكفني حال الاستلذاذ صابراً؛ فلذلك لم يقل: صبوراً.

Ustadz Abu Ali Ad-Daqqaq mengatakan, “yang dimaksud pembatasan sabar adalah tidak merintangi takdir. Apabila menampakkan cobaan tanpa mengeluh atau mengadu, maka bukan berarti hal itu menikadakan sabar. Allah SWT berfirman tentang kisah Nabi Ayub AS, “Sungguh Kami mendapati Ayub sebagai orang yang sabar, Dia adalah sebaik-baik hamba”. (Shad 44).

Ayat ini ditopang oleh ifrman-Nya, yang lain seperti perkataan Nabi Ayub AS,“Kemelaratan telah menimpa diriku” (Al-Anbiya 83).

 Dari ungkapan ini dapat ditafsirkan bahwa maksudnya adalah,”Kemelaratan telah menimpa diriku agar Engkau memberikan kesenangan kepada orang-orang yang lemah.” Menurut sbagian ulama, ayat yang berbunyi, “sungguh Kami mendapati Ayub sebagai orang yang sabar”.

Bukan dengan kata seorang yang sangat sabar karena semua kondisi Ayub tidak dapat disamakan dengan sabar.

Sebaliknya semua kondisinya telah berubah menjadi ni’matnya musibah. Sehingga dalam kondisi ni’mat maka tidak dapat diklasifikasikan sebagai orang yang sangat sabar . Oleh karena itu Allah SWT tidak berfirman “sebagai orang yang sangat sabar”.

سمعت الأستاذ أبا علي، رحمه الله، يقول: حقيقة الصبر: الخروج من البلاء على حسب الدخول فيه، مثل أيوب عليه السلام فإنه قال في آخر بلائه: “مسني الضر وأنت أرحم الراحمين” فحفظ أدب الخطاب حيث عرض يقول: “وأنت أرحم الراحمين” ولم يصرح بقوله ارحمني.

Uastadz Abu Ali Ad-Daqqaq berkata, “Hakikat sabar adalah menghindarkan diri dari cobaan dan menerima apa yang telah menimpanya seperti Nabi Ayub AS beliau tetap mengatakan di akhir cobaannya, “Kemelaratan telah menimpa diriku, sedang Engkau lebih pengasih dari segala yang pengasih” (Al-Anbiya 83).

Dia menjaga etika berbicara dengan mengatakan Engkau lebih pengasih dari segala yang pengasih tidak mengatakan, Kasihanilah aku.

فصبر العابدين، أحسنه: أن يكون محفوظاً، وصبر المحبين أحسنه: أن يكون مرفوضاً. وفي معناه أنشدوا:تبـــــــين يوم الـــــــبـــــــين أن اعـــــــتـــــــزامــــــــــه على الصبر من إحدى الظنون الكواذبوفي هذا المعنى سمعت الأستاذ أبا علي، رحمه الله، يقول: أصبح يعقوب، عليه السلام، وقد وعد الصبر من نفسه فقال: “فصبر جميل أي: فشأني صبر جميل، ثم لم يمس حتى قال: يا أسفاً على يوسف”.

Perlu diketahui bahwa sabar itu tebagi menjadi dua, yaitu kesabaran orang yang beribadah, dan kesabaran orang yang cinta. Sebaik-baik sabar orang yang beribadah adalah terjaga. Dan sebaik baik kesabaran orang yang cinta adalah tertinggal.

Ustadz Abu Ali Ad-Daqqaq berkata, “Nabi Ya’qub telah mengoptimalkan perjanjian sabar dengan dirinya sendiri dengan mengatakan, “As-shabrun jamiil “ Namun ketika tidak mendapatkannya, beliau mengatakan, “Aduh alangkah duka citaku mengenang yusuf”.

KEUTAMAAN SABAR KETIKA MUSIBAH

{الباب الأربعون}: في فضيلة الصبر عند المصيبة

قَالَ النَّبِيُّ عليه الصلاة والسلام: {الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Sabar itu pada awal musibah”.

وقال عليه الصلاة والسلام: {لَوْ كَانَ الصَّبْرُ رَجُلاً لَكَانَ رَجُلاً كَرِيمًا}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Andaikan sabar itu lelaki tentu dia adalah lelaki yang mulia.”

وقال عليه الصلاة والسلام: {إذَا أَحَبَّ الله عَبْدا ابْتَلاَهُ بِبَلاءٍ لاَ دَوَاءَ لَهُ، فإنْ صَبَرَ اجْتَبَاهُ، وإنْ رَضِيَ اصْطَفَاه}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Jika Allah mencintai seorang hamba maka dia akan mencobanya dengan cobaan yang tidak ada obatnya. Jika dia sabar maka Allah memilihnya dan jika dia ridha maka Allah menjadikannya pilihan.”

وقال عليه الصلاة والسلام: {مَا تَجَّرَعَ عَبْدٌ جُرْعَةً أَفْضَلُ عِنْدَ الله مِنْ جُرْعَةِ غَيْظٍ كَظَمها ابْتَغَاء وَجْهِ الله تَعَالى}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Tidaklah seorang hamba menahan sesuatu yang lebih utama di sisi Allah selain menahan kemarahan karena mengharapkan ridha Allah ta’ala”.

وقال عليه الصلاة والسلام: {الصَّبْر وَصِيَّةٌ مِنْ وَصَايَا الله تَعَالى في أَرْضَهِ، مَنْ حَفِظَهَا نَجَا، وَمَنْ ضَيَّعَهَا هَلَكَ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Sabar itu salah satu wasiat dari beberapa wasiat Allah ta’ala di bumi, barang siapa menjaganya maka dia selamat dan barang siapa menyia-nyiakannya maka dia celaka.”

وقال صلى الله عليه وسلم: {أَوْحَى الله تَعَالى إلى مُوسَى بنِ عمْرَانِ عَلَيْهِمَا السَّلامُ يَا مُوسَى مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِي وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بلائي وَلَمْ يَشْكُرْ نَعمائي فَلْيَخْرُجْ مِنْ بَيْنِ أَرضي وَسَمَائِي وَلْيَطْلُبْ لَهُ رَبّا سِوائِي}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Allah ta’ala mewahyukan kepada Musa bin Imran -alaihimas salaam- : “Hai musa, barang siapa tidak ridha dengan takdir-KU, tidak bersabar atas cobaan-KU, tidak bersyukur atas nikmat-KU maka keluarlah dari antara bumi dan langit-KU dan carilah tuhan selain-KU”.

وقال عليه الصلاة والسلام: {الصَّبْرُ عِنْدَ المُصِيبَةِ بِتِسْعمَائة دَرَجَةٍ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Sabar ketika mendapat musibah itu memperoleh tujuhratus derajat.”.

وقال عليه الصلاة والسلام: {صَبْرُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيها}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : ” Sabar sesaat itu lebih baik dari dunia seisinya”.

وقال عليه الصلاة والسلام: {الصَّبْرُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ: صَبْرٌ عَلَى الفَرَائِضِ، وصَبْرٌ عَلَى المُصِيبَةِ، وَصَبْرٌ عَلَى أذَى النَّاسِ، وصَبْرٌ عَلَى الفَقْرِ. فَالصَّبْرُ عَلَى الفَرائِضِ تَوْفِيقٌ، وَالصَّبْرُ عَلَى المُصِيبَةِ مَثُوبَةٌ، وَالصَّبْرُ عَلَى أذَى النَّاسِ مَحَبَّةٌ، والصَّبْرُ عَلَى الفَقْرِ رِضَا الله تَعَالى}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : ” Sabar itu ada empat : sabar dalam menjalankan fardhu, sabar dalam menghadapi musibah, sabar menghadapi gangguan manusia dan sabar dalam kefakiran. Sabar dalam menjalankan kewajiban adalah taufik, sabar dalam menghadapi musibah berpahala, sabar dalam menghadapi gangguan manusia adalah cinta dan sabar dalam kefakiran adalah ridlo Allah ta’ala.”

وقال عليه الصلاة والسلام: {إذَا حَدثَ عَلى عَبْدٍ مُصِيبَةٌ في بَدَنِهِ أوْ مَالِهِ أو وَلَدِهِ فاسْتَقْبَلَ ذٰلِكَ بِصَبْرٍ جَمِيلٍ اسْتَحْيَا الله يَوْمَ القِيَامَةِ أَنْ يَنْصِبَ لَهُ مِيزانا أوْ يَنْشُرَ لَهُ دِيوانا

تم الكتاب والحمد لله رب العالمين

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Ketika terjadi musibah pada seorang hamba, baik pada badannya, hartanya atau anaknya kemudian dia menghadapinya dengan kesabaran yang baik maka pada hari kiamat Allah malu untuk memasang timbangan baginya dan malu untuk membentangkan buku catatan amalannya”.

Wallohu a’lam.

INILAH LIDAH ORANG YANG BERIMAN MENURUT IMAM GHOZALI RAHIMAHULLAH

Lidah Orang Beriman

Imam Al-Gazali dalam Afatul Lisan karyanya, menjelaskan: “Berkata keji, mencaci maki, dan mengumbar lidah untuk berkata kotor adalah perbuatan buruk dan jelas dilarang oleh Agama.”

“Orang yang beriman bukanlah orang yang gemar mencela, suka mengutuk, berkata keji, dan berlidah kotor.”

“Lidah yang ringan mengucapkan kata-kata kotor dan mengatakan hal-hal yang tidak patut merupakan bagian dari ciri kemunafikan.”

“Ada banyak hal yang mendorong seseorang mudah berkata keji dan mencaci maki, diantaranya adalah bertujuan menyakiti orang lain, atau karena telah menjadi watak dan kebiasaannya karena sering bergaul dengan orang-orang yang juga gemar mencaci maki.”

“Suatu ketika ada seseorang meminta nasehat kepada Nabi saw, kemudian Rasulullah menasehatinya, “Bertakwalah kepada Allah. Jika ada orang mencela dan memakimu dengan sesuatu yang kamu ketahui ada pada dirimu, janganlah kamu membalas dengan menyebut sesuatu yang kamu ketahui ada padanya. Dengan begitu bahaya celaan dan makian itu akan menimpanya, sedangkan pahalanya adalah bagimu. Ingat, jangan mencaci maki sedikitpun.”

“Rasulullah bahkan melarang mencaci orang yang tidak seiman bahkan setelah mereka meninggal. Rasulullah bersabda, “Kalian jangan mencaci maki mereka (yang telah meninggal), karena apa yang kalian ucapkan tidak akan mengubah keadaan mereka, sedangkan perkataanmu sudah pasti menyakiti mereka (yang masih hidup). Ketahuilah, lidah yang kotor itu tercela.”

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Kemudian, sambil memantapkan niat ‘yang diformalisasi’ itu dalam hati, kita mengangkat tangan sambil mengucap kalimat takbir: Allahu Akbar (Allah Maha Lebih Besar). Secara fikh, hukum mengangkat tangan saat takbiratul ihram adalah sunat, tetapi takbirotul ihramnya sendiri rukun. Alhasil: takbiratul ihram kita tidak akan sah tanpa menggunakan kalimat ‘Allahu Akbar’.

Kalau merujuk pada Syeikh Nawawi dalam Safinah, kita bisa menambahkan sifat Allah yang lain saat takbiratul ihram sepanjang :

(1) tidak menghilangkan sifat akbar.

(2) tidak menjeda terlalu jauh antara asma Allah dan sifat akbar.

Jika jedanya terlalu panjang dan/atau bahkan ada pembacaan yang keliru baik pada asma Allah maupun lafaz akbar, maka takbirnya dianggap tidak sah, alhasil shalatnya juga tidak sah.

Pertanyaannya kemudian: kira-kira kenapa ya, Allah memilih kata ‘akbar’ untuk beliau sandingkan dengan asma-Nya di takbiratul ihram? Padahal, Allah memiliki tak-hingga sifat yang juga, katakanlah, ‘tidak kalah penting’ dibandingkan dengan sifat ‘akbar’? Kenapa tidak Allahu Rahman, Allahu Rahim biar selaras dengan basmalah? Biar selaras dengan misi Islam yang rahmatan lil ‘alamiin?

Bahkan kalau kita tarik lebih jauh: frasa Allahu Akbar malah adalah frasa yang paling banyak diucapkan oleh muazin saat memanggil kita salat. Ada apa dengan kalimat takbir dan salat?

Di tulisan awal, sudah di tawarkan analogi shalat sebagai sebuah pertemuan, persitatapan, suatu kencan dengan Maha Kekasih. Ada tujuan besar dari pertemuan itu, terkait dengan kedirian kita sebagai hamba-Nya, dan untuk itu Allah mengingatkan kita untuk memetakan kembali alasan dan tujuan segala aktivitas kita. Proses penyadaran itu kemudian dibarengi oleh perintah untuk mengingat kembali siapa diri kita di hadapan-Nya.

Barangkali oleh sebab Allah Maha Tahu kita ini gampang sekali merasa besar, merasa hebat, merasa pintar, hanya karena kita diberi potensi untuk menyadari ‘keberadaan’-nya di antara alam semesta. Apalagi kita sudah disanjung sebagai makhluk sempurna. Kita diuji dengan tarik-menarik akal dan hawa nafsu. Kita dipilih menjadi wakil-Nya di muka Bumi.

Kita tahu bahwa kita ini bahkan lebih kecil dari zarrah di hadapan semesta raya tetapi kemampuan kita mempelajari sang alam membuat kita merasa mampu menaklukkannya. Sedangkan goals dari shalat adalah, selain kecintaan yang bertambah dan ketenangan yang menentramkan dalam hati, juga ketakwaan yang membuat kita bisa mencegah diri kita dari perbuatan keji dan mungkar.

Alhasil, agar goals itu tercapai dan proses upgrading akhlaknya berhasil, mula-mula Allah perlu mengingatkan kita, secara rutin dan sistematis, bahwa sebesar apapun engkau berbesar kepala, sesungguhnya Beliau Maha Lebih dan Lebih Besar Lagi. Tidak peduli apakah engkau merasa mampu membelah matahari dan menyeberangi samudera, merekayasa genetika dan menghancurkan planet sekali tembak, seungguhnya “Aku Maha Lebih dan Lebih Besar Lagi”, lalu apa yang sesungguhnya engkau banggakan, engkau sombongkan?

Semangat itupulalah yang mesti kita implementasikan saat meng-akbar-kan Allah di luar shalat, saat bertakbir selepas selesai bersitatap dengan-Nya. Sayangnya, sebagaimana digelisahkan oleh Gus Mus, dalam bertakbir kita ini jangankan merasa nihil, yang ada malah meng-akbar-kan ego dan hawa nafsu kita, dengan mempergunakan takbir-nya Allah sebagai alat.

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

LARANGAN BERKACAK PINGGANG DALAM AGAMA ISLAM

Larangan (makruh) bertolak pinggang ketika shalat, Rosulullah saw bersabda:

وحَدَّثَنِي الْحَكَمُ بْنُ مُوْسَى الْقَنْطَرِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ  اللهِ بْنُ الْمُبَارَكِ قَالَ ح و حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي  شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُوْ خَالِدٍ وَأَبُوْ أُسَامَةَ جَمِيْعًا عَنْ هِشَامٍ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا

وَفِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ قَالَ نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dan telah menceritakan kepadaku al-Hakam bin Musa al-Qanthari telah  menceritakan kepada kami Abdullah bin al-Mubarak dia berkata, –Lewat  jalur periwayatan lain– dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin  Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Khalid dan Abu Usamah  semuanya meriwayatkan dari Hisyam dari Muhammad dari Abu Hurairah  Radhiyallahu’anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, melarang seorang lelaki shalat dengan berkacak pinggang.

Dan dalam riwayat Abu Bakar, dia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang (hal tersebut). (Shahih Muslim 545-46).

باب كراهة الاختصار في الصلاة

545  وحدثني الحكم بن موسى القنطري حدثنا عبد الله بن المبارك قال ح وحدثنا أبو  بكر بن أبي شيبة حدثنا أبو خالد وأبو أسامة جميعا عن هشام عن محمد عن أبي  هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه نهى أن يصلي الرجل مختصرا وفي رواية  أبي بكر قال نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم

قوله  : ( الحكم بن موسى القنطري ) بفتح القاف منسوب إلى محلة من محال بغداد  تعرف بقنطرة البر وأن ينسب إليها جماعات كثيرون منهم الحكم بن موسى ، هذا  ولهم جماعات يقال فيهم : القنطري ينسبون إلى محلة من محال نيسابور تعرف  برأس القنطرة ، وقد أوضح القسمين الحافظ أبو الفضل محمد بن طاهر المقدسي .

قوله  : ( نهى أن يصلي الرجل مختصرا ) وفي رواية البخاري : ( نهى عن الخصر في  الصلاة ) . اختلف العلماء في معناه ، فالصحيح الذي عليه المحققون والأكثرون  من أهل اللغة والغريب والمحدثين ، وبه قال أصحابنا في كتب المذهب : أن  المختصر هو الذي يصلي ويده على خاصرته . وقال الهروي : قيل : هو أن يأخذ  بيده عصا يتوكأ عليها . وقيل : أن يختصر السورة فيقرأ من آخرها آية أو  آيتين . وقيل : هو أن يحذف فلا يؤدي قيامها وركوعها وسجودها وحدودها ،  والصحيح الأول . قيل : نهى عنه لأنه فعل اليهود . وقيل : فعل الشيطان .  وقيل : لأن إبليس هبط من الجنة كذلك ، وقيل : لأنه فعل المتكبرين .

Menurut  Imam nawawi dalam syarah shohih muslim, berkacak pinggang di luar sholat  tidak diperbolehkan, mengacu pada sebuah pendapat bahwa hal demikian  merupakan perbuatan yahudi, pendapat lain adalah perbuatan syaitan,  pendapat lain bahwa iblis ketika ditirunkan Allah dari syurga ke bumi  dengan berkacak pinggang, dan karena berkacak pinggang adalah sebagian  dari perbuatan orang orang yang sombong.

Keterangan dan penjelasan senada dalam kitab Syarh al Sunnah Imam Baghowi :

أَخْبَرَنَا أَبُو عُثْمَانَ الضَّبِّيُّ، أَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ  الْجَرَّاحِيُّ، نَا أَبُو الْعَبَّاسِ الْمَحْبُوبِيُّ، نَا أَبُو عِيسَى،  نَا أَبُو كُرَيْبٍ، نَا أَبُو أُسَامَةَ،  عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي  هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ  يُصَلِّيَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا.

هَذَا حَدِيثٌ  مُتَّفَقٌ عَلَى صِحَّتِهِ، أَخْرَجَهُ مُحَمَّدٌ عَنْ عَمْرِو بْنِ  عَلِيٍّ، عَنْ يَحْيَى، عَنْ هِشَامٍ، وَأَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ عَنْ أَبِي  بَكْرِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ، عَنْ أَبِي أُسَامَةَ.

والاختصار: هو أن يضع يديه على خاصرته في الصلاة، ويقال: إن ذلك فعل اليهود، روي ذلك عن عائشة.

وكره  بعضهم أن يمشي الرجل مختصرا، ويروى أن إبليس إذا مشى مشى مختصرا، ويقال:  إن إبليس أهبط إلى الأرض كذلك، وهو شكل من أشكال المصائب.

وفي  بعض الأحاديث “الاختصار [في الصلاة] راحة أهل النار” وزعم بعضهم أن  الاختصار: هو أن يمسك بيده مخصرة، أي: عصا يتوكأ عليها. قلت: والأول أصح،

Dalam syarah annawawi 5/36 disebutkan bahwa Nabi saw melarang berkacak pinggang  di dalam sholat. Sedang Imam Nawawi sendiri mengatakan hukumnya makruh dalam bab : makruhnya berkacak pinggang dalam sholat.

(باب كَرَاهَةِ الْاخْتِصَارِ فِي الصَّلَاةِ)

[٥٤٥]  قَوْلُهُ الْحَكَمُ بْنُ مُوسَى الْقَنْطَرِيُّ بِفَتْحِ الْقَافِ  مَنْسُوبٌ إِلَى مَحَلَّةٍ مِنْ مَحَالِّ بَغْدَادَ تُعْرَفُ بِقَنْطَرَةِ  الْبَرِّ وَأَنْ يُنْسَبَ إِلَيْهَا جَمَاعَاتٌ كَثِيرُونَ مِنْهُمُ  الْحَكَمُ بْنُ مُوسَى هَذَا وَلَهُمْ جَمَاعَاتٌ يُقَالُ فِيهِمُ  الْقَنْطَرِيُّ يُنْسَبُونَ إِلَى مَحَلَّةٍ مِنْ مَحَالِّ نَيْسَابُورَ  تُعْرَفُ بِرَأْسِ الْقَنْطَرَةِ وَقَدْ أَوْضَحَ الْقِسْمَيْنِ الْحَافِظُ  أَبُو الْفَضْلِ مُحَمَّدُ بْنُ طَاهِرٍ الْمَقْدِسِيُّ قَوْلُهُ نَهَى  أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا وَفِي رِوَايَةِ الْبُخَارِيِّ نَهَى  عَنِ الْخَصْرِ فِي الصَّلَاةِ اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي مَعْنَاهُ  فَالصَّحِيحُ الَّذِي عَلَيْهِ الْمُحَقِّقُونَ وَالْأَكْثَرُونَ مِنْ  أَهْلِ اللُّغَةِ وَالْغَرِيبِ وَالْمُحَدِّثِينَ وَبِهِ قَالَ  أَصْحَابُنَا فِي كُتُبِ الْمَذْهَبِ أَنَّ الْمُخْتَصِرَ هُوَ الَّذِي  يُصَلِّي وَيَدُهُ عَلَى خَاصِرَتِهِ وَقَالَ الْهَرَوِيُّ قِيلَ هُوَ أَنْ  يَأْخُذَ بِيَدِهِ عَصَا يَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَقِيلَ أَنْ يَخْتَصِرَ  السُّورَةَ فَيَقْرَأُ مِنْ آخِرهَا آيَةً أَوْ آيَتَيْنِ وَقِيلَ هُوَ  أَنْ يَحْذِفَ فَلَا يُؤَدِّي قِيَامَهَا وَرُكُوعَهَا وَسُجُودَهَا  وَحُدُودَهَا وَالصَّحِيحُ الْأَوَّلُ قِيلَ نَهَى عَنْهُ لِأَنَّهُ فِعْلُ  الْيَهُودِ وَقِيلَ فِعْلُ الشَّيْطَانِ وَقِيلَ لِأَنَّ إِبْلِيسَ هَبَطَ  مِنَ الْجَنَّةِ كَذَلِكَ وَقِيلَ لِأَنَّهُ فِعْلُ الْمُتَكَبِّرِينَ

Wallahu a’lam.

HUKUM MENGUPLOAD IBADAH KITA DI MEDIA SOSIAL

Pamer atau menampakkan ibadah pada orang lain melalui Facebook, Twitter, BBM, Instagram, Path atau alat komunikasi lain bagaimana hukumnya? Halal atau haram? Kapan boleh menampakkan amal ibadah di jejaring sosial dan kapan harus merahasiakannya?

MENAMPAKKAN IBADAH DI STATUS MEDSOS, BOLEHKAH?

RINGKASAN JAWABAN

  1. Menampakkan atau memberitahukan amal ibadah sunnah adalah haram kalau dikuatirkan riya. Kecuali bagi orang tertentu yang kuat agamanya yang hatinya tidak terpengaruh dengan hinaan dan pujian dan bertujuan agar kebaikannya diikuti orang lain maka boleh.
  2. Amal ibadah wajib seperti shalat wajib, puasa Ramadan, haji, zakat itu lebih utama ditampakkan supaya ditiru orang dan tidak menimbulkan prasangka buruk (dikira tidak melakukan).

URAIAN JAWABAN

Syaikh Izzuddin bin Abdussalam dalam kitab Qawaid al-Ahkam fi Qawaid Al-Anam hlm. 1/124 menyatakan definisi riya sebagai berikut:

الرياء إظهار عمل العبادة لينال مظهرها عرضا دنيويا إما بجلب نفع دنيوي ، أو لدفع ضرر دنيوي ، أو تعظيم أو إجلال ، فمن اقترن بعبادته شيء من ذلك أبطلها لأنه جعل عبادة الله وطاعته وسيلة إلى نيل أعراض خسيسة دنية ، فاستبدل الذي هو أدنى بالذي هو خير ، فهذا هو الرياء الخالص .

وأما رياء الشرك فهو أن يفعل العبادة لأجل الله ولأجل ما ذكر من أغراض المرائين وهو محبط للعمل أيضا ، قال تعالى : { من عمل عملا أشرك فيه غيري تركته لشريكه وفي رواية : تركته لشريكي }

Artinya: Riya’ adalah menampakkan amal ibadah untuk tujuan kemanfaatan duniawi atau menolak kemudaratan (bahaya) duniawi, atau pengagungan diri. Barangsiapa yang ibadahnya bersamaan dengan salah satunya maka (pahala) ibadahnya batal. Dia telah menjadikan ibadah dan ketaatan pada Allah untuk mencapai tujuan yang rendah. Dia telah menukar yang baik dengan yang rendah. Ini adalah bentuk riya’ yang murni.

Adapun riya syirik adalah melakukan ibadah karena Allah dan karena faktor-faktor yang disebut di atas. Ini juga membatalkan (pahala) amal. Nabi bersabda dalam hadits riwayat Muslim, Allah berfirman, “Barangsiapa melakukan amalan yang menyekutukan selain aku, maka aku meninggalkan amalan itu untuk sekutuku.”

Selanjutnya, dalam halaman yang sama Izzuddin Ibnu Abdissalam membagi orang yang pamer ibadah (Arab, sum’ah) menjadi dua golongan:

أحدهما تسميع الصادقين وهو أن يعمل الطاعة خالصة لله، ثم يظهرها ويسمع الناس بها ليعظموه ويوقروه وينفعوه ولا يؤذوه. وهذا محرم وقد جاء في الحديث الصحيح: “من سمع سمع الله به. ومن راءى راءى الله به، وهذا تسميع الصادقين”.

الضرب الثاني: تسميع الكاذبين وهو أن يقول صليت ولم يصل، وزكيت ولم يزك، وصمت ولم يصم، وحججت ولم يحج، وغزوت ولم يغز. فهذا أشد ذنبا من الأول لأنه زاد على إثم التسميع إثم الكذب، فأتى بذلك معصيتين قبيحتين، بخلاف الأول فإنه آثم إثم التسميع وحده

وكذلك لو راءى بعبادات ثم سمع موهما لإخلاصها فإنه يأثم بالتسميع والرياء جميعا . وإثم هذا أشد إثما من الكاذب الذي لم يفعل ما سمع به ، لأن هذا أثم بريائه وتسميعه وكذبه ثلاثة آثام

Artinya: Golongan pertama, pamernya orang yang jujur yaitu dia melakukan ketaatan murni karena Allah, lalu memamerkannya pada orang lain supaya mereka memujinya, mengaguminya, mendapat manfaat darinya dan tidak menyakitinya. Ini hukumnya haram berdasarkan hadis sahih, “Siapa yg menampakkan amalannya agar di dengar orang lain, niscaya Allah beberkan aibnya pada hari kiamat,dan siapa yang menamapakkan amalannya agar di lihat (lalu dipuji) orang, niscaya Allah mempermalukannya pada hari kiamat.” Ini sum’ah orang yang jujur.

Golongan kedua, pamernya pembohong. Yaitu ia berkata “aku shalat”, tapi tidak shalat; “Aku zakat”, tapi tidak zakat, “Aku puasa” tapi tidak puasa, “Aku haji” tapi tidak haji, “Aku berperang” tapi tidak berperang. Ini adalah dosa yang lebih parah karena selain pamer juga bohong sehingga dia melakukan dua dosa. Sedangkan yang pertama hanya dosa pamer saja.

Begitu juga apabila seseorang memperlihatkan amal ibadahnya (riya) lalu mengabarkannya pada orang lain (sum’ah) dengan mengira dia ikhlas, maka ia berdosa karena dua hal yaitu sum’ah dan riya’ sekaligus. Dosa jenis ini lebih berat daripada bohong atas amal yang tidak dikerjakannya. Karena ini dosa karena riya, sum’ah dan bohong.

MENAMPAKKAN IBADAH YANG DIBOLEHKAN ISLAM

  1. Izzuddin bin Abdissalam menyatakan ada kalanya menampakkan ibadah itu dibolehkan.

ومن أمن الرياء لقوة في دينه فأخبر بما فعله من الطاعات ليقتدي الناس به ، كان له أجر طاعته التي سمع بها وأجر تسببه إلى الاقتداء في تلك الطاعات التي سمع بها على اختلاف رتبها

Artinya: Orang yang aman dari rasa riya karena agamanya sudah sangat kuat lalu mengabarkan pada orang lain amal saleh yang telah dilakukannya dengan tujuan agar diikuti oleh orang lain, maka hukumnya boleh dan ia mendapat pahala amalnya dan pahala amal orang yang menirunya sesuai dengan perbedaan tingkatannya.

  1. Imam Nawawi dalam Al-Majmuk hlm. 6/228 menyatakan bahwa amal ibadah yang wajib juga boleh dan sebaiknya ditampakkan apabila tidak takut riya:

الأفضل في الزكاة إظهار إخراجها ; ليراه غيره فيعمل عمله ، ولئلا يساء الظن به , وهذا كما أن الصلاة المفروضة يستحب إظهارها , وإنما يستحب الإخفاء في نوافل الصلاة والصوم

Artinya: Yang paling utama dalam soal zakat adalah menampakkanya supaya dilihat dan ditiru orang lain dan agar tidak timbul buruk sangka. Begitu juga shalat wajib sunnah ditampakkan. Sedangkan yang sunnah disembunyikan adalah shalat dan puasa sunnah.

Ibnu Battal dalam Syarah Bukhari hlm. 3/420 menyatakan: Tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ulama mujtahid bahwa memberitahukan amal zakat wajib itu lebih utama daripada merahasiakannya. Dan bahwa merahasiakan sedekah sunnah itu lebih utama daripada mengumumkannya .. begitu juga semua amal ibadah wajib dan amal ibadah sunnah semuanya.

Dalam Al-Masu’ah Al-Fiqhiyah hlm. 23/301 dikatakan: Menampakkan dan memberitahukan saat mengeluarkan zakat wajib … Tabari berkata: Ulama sepakat (ijmak) bahwa menampakkan amal ibadah yang wajib itu lebih utama. Adapun firman Allah dalam QS Al-Baqarah 2:271 maka itu relevansinya pada sedekah sunnah dan shalat sunnah.

CATATAN:

– Riya’ adalah menampakkan perbuatan amal ibadah di depan orang lain seperti berzakat diliput media.

– Sum’ah atau tasmi’ adalah tidak menampakkan amal ibadahnya, tapi memberitahukannya pada orang lain. Misalnya, selesai shalat tahajud lalu menulis update status di Facebook atau Twitter, “Alhamdulillah, baru saja selesai tahajud.”

– Dua istilah di atas adalah istilah dalam bahasa Arab. Sedangkan dalam bahasa Indonesia keduanya disebut riya’.

WALLOHU A’LAM

MARI KITA BIASAKAN MENGKOREKSI DIRI “MUHASABATUN NAFSI”

Biasakan Diri dengan Muhasabah

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS: al-Hasyr [59]: 18)

Surat al-Hasyr di atas cukup untuk dijadikan dalil terhadap pentingnya melakukan muhasabah setelah beramal. Imam Ibnu Kasir dalam tafsirnya menjelaskan maksud ayat di atas, “Hisablah diri kalian semua sebelum kalian dihisab. Lihatlah, amal baik apa yang kalian simpan untuk bekal di hari kembali pada Tuhan kalian.”  Muhasabah atau introspeksi diri oleh ulama diartikan sebagai proses perenungan terhadap segala amal perbuatan yang telah atau akan dilakukan. Sebab, jiwa manusia kerap dipenuhi dengan hal-hal yang dapat membelokkan dirinya dari tujuan hidup yang sebenarnya. Sehingga diperlukan adanya waktu tertentu yang digunakan untuk bermuhasabah terhadap apa yang selama ini dikerjakan.

Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulûmud-Dîn menyamakan muhasabah diri dengan pedagang yang menghitung kerugian dan laba yang dihasilkan dalam satu rentang waktu tertentu. Ketika keuntungan yang didapat, ia mensyukuri dan berusaha meningkatkannya, pun juga ketika rugi yang didapat ia akan mencari penyebab dan berusaha untuk tidak mengulanginya pada masa yang akan datang. Mukmin yang berakal seharusnya melakukan hal yang sama terhadap amal perbuatannya di dunia.

Rasulullah bersabda, “Orang berakal adalah yang mengekang hawa nafsunya dan beramal untuk bekal mati, orang lemah adalah yang menuruti hawa nafsunya dan mengharap-harap kepada Allah.” (HR. Tirmidzi).

 Pembagian Muhasabah

Ibnu Qayyim dalam kitab Ighâsatul-Lahfân membagi muhasabah menjadi dua:

Pertama, muhasabah sebelum beramal. Yakni, seorang hamba tidak segera mengerjakan sesuatu sebelum mempertimbangkan sebab akibatnya. Hingga jelas baginya dampak positif dan negatif dari tindakan tersebut. Imam Hasan berkata, “Allah merahmati hamba yang berpikir sebelum bertindak. Apabila karena Allah dilanjutkan dan apabila karena yang lain mengurungkannya.”  Ibnu Qayyim melanjutkan setidaknya orang mukmin bertanya kepada dirinya sebelum melangkah mengerjakan sesuatu, apa kebaikan yang akan didapat dari perbuatannya? Apa keburukan yang akan didapat ketika tidak mengerjakannya? Ketika semuanya sudah jelas hendaknya ia mengambil keputusan yang terbaik.

Kedua, muhasabah setelah beramal. Bagian ini dibagi menjadi tiga. Pertama muhasabah terhadap ketaatan yang sudah dikerjakan. Apakah sudah sesuai dengan syariat atau belum. Kedua, muhasabah terhadap pekerjaan yang telah ditinggalkan dan waktu yang disia-siakan. Ketiga, muhasabah terhadap kebiasaan-kebiasaan mubah kenapa hal itu dikerjakan?

Tindakan terpenting setelah bermuhasabah adalah adanya kesadaran dalam diri manusia terhadap kualitas amal perbuatannya. Ketika dirinya menganggap telah banyak mengerjakan kebaikan, maka ia bersyukur dan memohon semua amalnya diterima oleh Allah. Sebaliknya, ketika dirinya menganggap telah banyak mengerjakan dosa dapat bersegera bertaubat dan mengikrarkan dalam dirinya untuk mengerjakan kebaikan pada masa selanjutnya.

 Faedah Muhasabah

Ibnu Qayyim menjelaskan setidaknya ada tiga faedah dari muhasabah:

Pertama, mengetahui hak-hak Allah yang harus dipenuhi. Dengan muhasabah kita menjadi sadar terhadap kelalaian yang dilakukan dan kewajiban yang ditinggalkan, sehingga ada tekad dalam diri untuk memperbaikinya. Kalaupun hak itu sudah terpenuhi, tetap ada hasrat untuk meningkatkannya pada masa selanjutnya.

 Imam Atha’illah as-Sakandari berkata, “Usahamu untuk mengenali berbagai kekurangan yang tersembunyi dalam dirimu adalah lebih baik ketimbang usahamu mengetahui bermacam perkara gaib yang terhalang darimu.”  

Kedua, mengetahui aib diri. Ketika aib diri sudah diketahui akan ada usaha untuk memperbaikinya. Hal ini sulit terlaksana apabila tidak ada kesadaran terhadap kekurangan diri itu.

Sayidina Umar bin Khattab t pernah berkata, “Semoga Allah memberikan rahmat kepada seseorang yang menunjukkan kepadaku aib-aibku.”

 Imam Atha’illah as-Sakandari dalam kalam hikmahnya berkata, “Di antara tanda matinya hati adalah tidak adanya perasaan sedih atas kesempatan beramal yang engkau lewatkan dan tidak adanya penyesalan atas kesalahan yang engkau lakukan.”

Ketiga, terbukanya tipu daya setan pada dirinya. Musuh abadi umat manusia adalah setan, sehingga berbagai cara dilakukan untuk menggoda dan menipu umat manusia agar menjadi temannya di neraka. Dengan muhasabah, kita sadar bahwa selama ini kita terperangkap dalam jaring-jaring tipu dayanya.

 Waktu Muhasabah

Tidak ada ketentuan waktu khusus untuk bermuhasabah. Seorang mukmin lebih mengetahui terhadap kondisi dirinya dibanding orang lain. Sehingga ia bisa bertindak kapan saja untuk bermuhasabah. Tetapi ulama menganjurkan untuk bermuhasabah pada malam hari ketika hendak tidur. Karena pada waktu tersebut yang paling pas untuk menghitung amal yang dilakukan pada hari itu.

Imam Mawardi dalam kitab Adâbad-Dunyâ wad-Dîn berkata, “Seorang mukmin hendaknya bermuhasabah pada malam hari terhadap pekerjaan yang dikerjakan pada siang hari. Karena waktu malam lebih menenangkan pikiran.”