TANAMKANLAH RENDAH HATI KARENA USAHA ITU PENTING TAPI BUKAN SEGALANYA

Min ‘alamatil i’timad ‘alal ‘amal, nuqshan al-raja’ ‘inda wujudil zalal. Tanda seseorang bergantung pada amal dan karyanya adalah bahwa dia akan cenderung pesimis, kurang harapan manakala dia mengalami kegagalan atau terpeleset.

Ini kebijaksanaan yang mendalam. Bisa dipahami dalam pengertian “khusus” menurut para ahli tasawwuf. Atau dipahami secara awam atau umum.

Pengertian Umum

Dimulai dengan pemahaman yang umum atau awam dulu. Pemahaman orang-orang biasa. Seorang yang beriman seharusnya memiliki kesadaran bahwa ia bisa mencapai sesuatu bukan semata-mata karena pekerjaannya.

Kita berusaha, lalu berhasil. Kita bekerja, lalu sukses. Kita berdagang, lalu untung. Kita belajar, lalu menjadi orang pintar. Kita pedekate, lalu menjadi pasangan. Dan seterusnya. Semua hasil itu jangan semata-mata kita pandang sebagai melulu berkat usaha dan pekerjaan kita.

Kita harus menyisakan sedikit “ruang” bahwa keberhasilan kita ini jangan-jangan tidak seluruhnya karena faktor usaha kita, tetapi juga karena ada fakor X yang kita tidak tahu. Kehidupan manusia adalah sangat kompleks. Kita tidak bisa mengontrol seluruh faktor yang berpengaruh dalam tindakan sosial kita.

Ada faktor-faktor yang luput dari perhitungan dan kontrol kita. Faktor ini bisa membuat usaha kita sukses, bisa juga membuatnya gagal. Sebagai seorang beriman, kita percaya bahwa hanya Tuhan yang berkuasa atas faktor-faktor “misterius” semacam ini. Kalau Anda ateispun, Anda tetap bisa memahami logic di balik kata-kata bijak Ibnu Ataillah ini.

Manfaat dari sikap semacam ini adalah: Anda tidak langsung pesimis dan putus asa saat gagal mencapai suatu hasil. Jika Anda berpikir bahwa usaha Anda adalah satu-satunya faktor penentu, saat Anda gagal, Anda boleh jadi akan ngenes dan sedih: Saya sudah bekerja keras, kenapa tetap gagal?

Ajaran ini mau memberi tahu kita agar kita rendah hati.

Pengertian Khusus

Ada tiga jenis pekerjaan atau amal: amal syariat, amal thariqat, dan amal haqiqat.

Amal syariat adalah ketika Anda menyembah Tuhan sesuai dengan peraturan dan hukum agama. Amal thariqat adalah kesadaran bahwa saat Anda menyembah Tuhan, Anda tidak sekedar menyembah. Melainkan Anda sedang “on the journey”, sedang dalam petualangan dan perjalanan menuju Tuhan. Amal haqiqat adalah pengalaman spiritual yang disebut dengan “syuhud” atau “vision”.

Apa itu syuhud?

    Syuhud itu pengalaman mistik/spiritual yang hanya bisa dialami oleh seseorang yang sungguh-sungguh menjalani dua amal sebelumnya. Dalam pengalaman itu, Anda merasa seolah-olah berjumpa, menyaksikan (vision) Tuhan. Tentu bukan penyaksian dengan indera lahir. Melainkan dengan indera batin.

Jangan sekali-kali Anda mengira bahwa amal syariat dan thariqat bisa langsung, secara otomatis, membawa Anda kepada pengalaman haqiqat. Amal syariat dan thariqat adalah jalan atau wasilah menuju ke sana. Anda harus melalui jalan itu. Tetapi Anda sampai ke puncak haqiqat atau tidak, itu bukan sepenuhnya ditentukan oleh usaha kita sendiri, melainkan karena kemurahan (fadl) Tuhan.

Seorang yang bijak pernah berkata: Ketika seseorang telah sampai pada hakikat Islam, dia tak mampu berhenti berusaha/ beramal baik. Ketika seseorang memahami hakikat iman, dia tak akan mampu beramal/bekerja tanpa disertai Tuhan. Ketika seseorang sampai kepada hakikat ihsan (kebaikan), dia tak mampu berpaling kepada selain Tuhan.

Apa pelajaran yang dapat kita peroleh dari kebijaksanaan Ibnu Athaillah ini?

Pertama, kita diajarkan agar tidak merasa paling alim sendiri, saleh sendiri, Islami sendiri, karena amalan kita. Sombong dan tinggi hati bukanlah perangai orang beriman.

Kedua, kita juga diajarkan untuk rendah hati, jangan merasa sok bahwa usaha kita menentukan segala-galanya. Sebab perasaan sombong semacam itulah yang akan menjerembabkan kita kepada perasaan mudah putus asa, patah hati, pesimis.

Orang beriman harus optimis terus, tak peduli keadaan apapun yang sedang mengerubuti kita!

Apa yang bisa kita petik dari uraian di atas?

1. Banyak hal dan variabel dalam hidup ini yang di luar kontrol kita. Kita punya pilihan bebas untuk melakukan sesuatu, tetapi ada hal-hal di luar sana yang mempengaruhi pekerjaan dan pilihan kita, tetapi tak bisa kita kendalikan. Hanya Tuhanlah yang bisa mengendalikan itu semua. Karena itu, kita perlu mempunyai sikap “berserah diri” kepada Tuhan.

2. Jangan menganggap bahwa pekerjaan dan amal kita menentukan segala-galanya. Ibadah kita sekalipun tak menjamin keselamatan kita, menjamin kita masuk sorga. Hanya kemurahan Tuhan lah yang akan menjamin.

    3. Ajaran Ibnu Ataillah yang pertama ini hendak mengajari kita “the ethics of humility”, etika rendah hati. Seorang beriman tak boleh menyombongkan amalnya, pekerjaan baiknya. Seorang beriman harus rendah hati. Kerendah-hatian inilah yang membuat kita sehat secara mental.

Wallahu a’lam

KISAH NYATA : ANAK SENGSARA MUNGKIN KARENA PERKATAAN BURUK IBUNYA

Alkisah seorang anak hidup dalam kederhanaan. Sebut saja ia dalam kisah nyata ini dengan inisial H. Ibunya pergi merantau dan dia tinggal bersama neneknya. Setiap bulan ibunya pulang untuk sekadar silaturahmi pada orang tuanya yang masih hidup dan bertemu anaknya. Selama ini saya pun juga tidak tau apa pekerjaan asli sang ibu itu.

SILAHKAN LIHAT JUGA VIDEO DI LINK INI : Zain M Channel

Suatu ketika tepatnya di bulan puasa Ramadhan, sang ibu itu pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga. Seperti biasa adat anak-anak Jawa, setiap bulan puasa tak lepas dari petasan yang menjadi mainan mereka. Banyak anak-anak yang main petasan di pinggir jalan, di depan rumah orang, tanpa berpikir apakah yang mereka lakukan mengganggu orang lain atau tidak. Yang namanya anak-anak, sudah diberi tahu beberapa kali pun seakan tak dihiraukan. Tepatnya di depan rumahku kejadian ini berawal. Setelah shalat tarawih banyak anak yang bermain di depan rumah termasuk si H. Kebetulan hari-hari itu kakekku sedang sakit. Kebetulan malam itu ibu si H sedang ada di dalam rumahku berniat menjenguk kakekku. “Anak-anak, kalian jangan sampai main petasan di depan rumah ini, ya! Kakek lagi sakit” teriak ibu H sambil keluar di depan rumah. Setelah itu si ibu pun masuk lagi ke rumah dan kembali ke kamar kakek.

Tak lama kemudian, “Daaaaaaaarrrrr….” suara petasan meletus hingga membuat yang di dalam rumah kaget. Bergegaslah ibunda H tadi keluar. “Siapa yang mainan petasan barusan” teriak ibu itu dengan muka merah. “H, Bu” sahut salah satu anak yang di depan tadi.

Seketika ibu itu juga teriak pada anaknya. Ucapan yang bernada marah terucap, “Ingat, Nak, kamu diatur sulit. Ingat ya, kamu tidak pernah akan bahagia selamanya karena kamu sulit diatur,” teriak ibu tadi pada anaknya. Saat itu aku berada di rumah dan dengan jelas mendengar langsung “doa” sang ibu tadi pada H.

Diriku merasa tercengang dengan perkataan ibu tadi. “Masyaallah, tega banget ibu tadi mendoakan anaknya sendiri seperti itu. Bukankah doa ibu pada anak itu mudah terkabul? Apalagi sang ibu dalam keadaan marah karena anaknya,” gumamku dalam hati. H memang tergolong anak yang lumayan nakal. Tapi menurutku justru nakal itu harus didoakan agar berubah dan nantinya menjadi baik.

Beberapa tahun kemudian… Kehidupan H selama ini memang tergolong yang tidak beruntung. Dia pernah jadi buronan polisi karena kasus pencurian di Surabaya. Dalam hal pernikahan, ia gagal karena berakhir perceraian. Nikah lagi, dan menghamili mertuanya sendiri. Diusirlah ia oleh warga kampung istrinya karena dianggap mencemarkan nama baik. Dan yang terakhir yang saya tahu, H hampir dikeroyok pemuda kampungnya sendiri karena mencuri. Dan sekarang dia pun lontang-lantung di rumah seakan membawa beban berat jika dilihat raut mukanya.

Ya Allah, seketika jika melihat kehidupanya saya teringat ucapan ibundanya sewaktu dia kecil dulu. Ucapan sang ibu yang mendoakan anaknya tidak akan bahagia selamanya. “Apakah ini yang dinamakan doa ibu yang selalu terkabul,” pikirku.

Dengan kisah ini semoga kita menjadi orang tua yang lebih santun di setiap ucapan. Tidak gampang mendoakan dengan doa yang buruk. Jika anak kita nakal, hendakaknya malah kita doakan semoga diberi kesadaran hingga mendapat kebaikan. Karena ridha Allah tergantung dengan ridha orang tua juga.” Menjadi orang tua memang sulit. Harus mengatur rumah tangga, juga mendidik anak-anak agar mempunyai akhlak baik. Bandelnya sang anak kadang memancing emosi mereka. Inilah gambaran orang tua. Tetapi, meskipun demikian hendaklah orang tua menjaga ucapan untuk anak-anak mereka. Sebandel dan senakal apapun anak jangan sampai orang tua terucap dari mulut suatu perkataan yang tidak baik pada anak apalagi mendoakan yang tidak baik. Na’udzubillah.

JANGANLAH BERKATA YANG BURUK KARENA PERKATAAN BURUKMU BISA MENJADI DO’A

Menjaga lisan dari perkataan buruk merupakan keharusan. Nabi Muhammad ﷺ biasa menghindari penyampaian sesuatu yang terkesan jorok, dengan tidak menyebutkannya secara eksplisit, melainkan menggunakan kata kiasan.

Misalnya pada kasus seperti terekam dalam hadits yang diceritakan oleh Abad bin Hamim:

 أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلُ الَّذِي يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَجِدُ الشَّيْءَ فِي الصَّلاَةِ؟ فَقَالَ: «لاَ يَنْفَتِلْ – أَوْ لاَ يَنْصَرِفْ – حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

Artinya: “Seorang laki-laki mengeluh kepada Rasulullah ﷺ bahwa ia seolah-olah merasakan sesuatu (seperti kentut) dalam shalatnya. Lalu Nabi menyarankan orang tersebut untuk tidak meninggalkan shalatnya sampai ia benar-benar mendengar suara atau mencium bau” (HR Bukhari).

SILAHKAN LIHAT JUGA VIDEO DI LINK INI : Zain M Channel

Hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi Muhammad tidak secara eksplisit menyebut kalimat misalnya “sampai dia mendengar suara atau bau kentut” tapi hanya dengan istilah “mendengar suara atau mencium bau” saja. Kebiasaan Nabi memang menghindari menyebutkan kalimat-kalimat yang terkesan jorok jika diucapkan apa adanya. Pernyataan-pernyataan yang kurang baik memang perlu dihindari. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar mengisahkan ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasul. Pertanyaan itu hanya perumpamaan saja, namun akibatnya ia malah mengalami sendiri.

Berikut haditsnya:

 يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ أَنْ لَوْ وَجَدَ أَحَدُنَا امْرَأَتَهُ عَلَى فَاحِشَةٍ، كَيْفَ يَصْنَعُ إِنْ تَكَلَّمَ تَكَلَّمَ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ؟ وَإِنْ سَكَتَ سَكَتَ عَلَى مِثْلِ ذَلِكَ، قَالَ: فَسَكَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُجِبْهُ، فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ أَتَاهُ، فَقَالَ: ” إِنَّ الَّذِي سَأَلْتُكَ عَنْهُ قَدِ ابْتُلِيتُ بِهِ

Artinya: “Ya Rasulallah, bagaimana menurut anda seumpama seseorang di antara kita ada yang mendapati istrinya sedang melakukan perzinahan (selingkuh)? Apa yang harus dilakukan? Kalau mau dibicarakan, mestinya dia akan membicarakan masalah besar. Namun kalau mau diam, kok dia ya mendiamkan masalah besar? Mendapati pertanyaan tersebut, Nabi Muhammad ﷺ hanya diam seribu bahasa. Beliau tidak berkenan menjawab. Setelah beberapa waktu, laki-laki yang pernah melontarkan pertanyaan pengandaian itu sowan kepada Nabi. Ia mengaku, pertanyaan yang pernah ia lontarkan ternyata menimpa dirinya. Ia mengaku mendapat ujian dari Allah bahwa istrinya malah selingkuh” (HR Muslim: 1493) .

Sebuah kisah yang diceritakan oleh Ibnu Abbas:

 أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أَعْرَابِيٍّ يَعُودُهُ، قَالَ: وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ عَلَى مَرِيضٍ يَعُودُهُ قَالَ: «لاَ بَأْسَ، طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ» فَقَالَ لَهُ: «لاَ بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ» قَالَ: قُلْتُ: طَهُورٌ؟ كَلَّا، بَلْ هِيَ حُمَّى تَفُورُ، أَوْ تَثُورُ، عَلَى شَيْخٍ كَبِيرٍ، تُزِيرُهُ القُبُورَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَنَعَمْ إِذًا

Artinya: “Nabi Muhammad ﷺ mendatangi seorang Badui yang sedang sakit. Setiap mengunjungi orang sakit, Nabi bersabda: ‘Tidak apa-apa, menjadi penghapus dosa. insyaallah.’ Begitu juga perkataan Nabi tersebut, beliau sampaikan kepada orang Badui yang sedang sakit. Reaksi Badui ketika mendapatkan doa, malah berkata: ‘Penghapus dosa? Sekali-kali tidak (tidak mungkin), sakit panas saya yang bergejolak ini memang menimpa orang tua yang sudah lanjut usia yang mengantarkannya ke alam kubur.’ Maka Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Iya sudah kalau begitu” (HR Al-Bukhari: 3616).

Setelah orang Badui mengatakan bahwa panas yang ia derita adalah panas yang menghantarkannya kepada kematian, menurut At-Thabarani, besok paginya si Badui meninggal dunia.

Cerita lain tentang ucapan yang menjadi kenyataan adalah kisah Nabi Yusuf kecil di saat ia diajak oleh saudara-saudaranya untuk pergi ke hutan, ayah Nabi Yusuf yang bernama Nabi Ya’qub berat melepaskan Yusuf kecil. Beliau sempat mengatakan:

 إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا بِهِ وَأَخَافُ أَنْ يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ وَأَنْتُمْ عَنْهُ غَافِلُونَ

Artinya: “Sesungguhnya aku atas kepergian kalian bersama Yusuf sangat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala sedang kalian lengah darinya” (QS Yusuf: 13).

Setelah saudara-saudaranya Nabi Yusuf pulang dari hutan, ternyata mereka tidak membawa pulang Nabi Yusuf. Walaupun berbohong, mereka mengaku kepada Nabi Ya’qub bahwa Yusuf dimakan serigala. Kekhawatiran yang terucapkan oleh Nabi Ya’qub, seolah-olah menjadi realitas. Walaupun nanti ada cerita panjang nan rumit yang kemudian bisa menyatukan kembali di antara mereka semua.

Berikutnya, saat Nabi Yusuf digoda oleh seorang wanita dan wanita-wanita lain, Nabi Yusuf sampai berdoa:

 رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Artinya: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh” (QS Yusuf: 33).

Doa pilihan Nabi Yusuf yang lebih memilih penjara daripada terjerumus bersama para wanita, akhirnya diijabahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang akhirnya memang Nabi Yusuf dipenjara namun ia juga bebas dari tipu daya wanita:

 فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Maka Tuhan memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (QS Yusuf: 34)

Dalam syair Majnunu Laila ­–yang artinya orang yang tergila-gila dengan Laila, bukan Laila Majnun yang berarti Laila yang gila–Qais melantunkan:

 فلو كنتُ أعمى أخبِط الأرضَ بالعصا ۞ أصمَّ فنادتني أجبتُ المناديا

Artinya: “Jika saja aku ini menjadi buta, akan aku hentakkan tongkatku di atas muka bumi. Dan apabila aku tuli pun, andai saja Laila mengundangku, aku akan datangi pengundang tersebut.” Sebagian perawi mengisahkan bahwa Qais di kemudian hari menjadi buta dan tuli setelah melantunkan syairnya tentang buta dan tuli.

Dengan cerita-cerita di atas, kita dapat mengambil pelajaran betapa pentingnya sebuah perkataan baik untuk pribadi sendiri maupun untuk keluarga misalnya dengan kalimat “saya tidak mungkin mampu” dan lain sebagainya. Apalagi untuk orang tua yang sedang kurang berkenan dengan anaknya, jangan sampai berbicara buruk kepada anak tersebut. Barangkali dengan ucapan buruk tersebut, Allah mengabulkan suatu saat nanti. Na’udzu billah. Wallahu a’lam.

USWAH : AMPLOP DA’I JANGAN JADI TUJUAN

Ada seorang Sayyid sepuh yang sangat mencintai Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki, beliau biasa dipanggil “Syekh Syu’aib” dan umurnya jauh lebih tua dari Abuya, saya baru tahu kalau beliau itu seorang Sayyid ketika Abuya menyebut nama beliau dengan gelar “Assayyid” saat menulis buku harian, tapi saya lupa marganya. Syekh Syu’aib selalu menghadiri majlis Abuya, beliau juga sering bertamu pada Abuya di siang hari dan selalu membawa hadiah.

Suatu ketika saya sedang bersama Abuya dan datanglah Syekh Syu’aib dengan membawa hadiah, Abuya menerima hadiah itu dan langsung menciumnya dengan wajah gembira, Syekh Syu’aib nampak gembira dengan sambutan Abuya. Namun tiba-tiba wajah Abuya berubah seperti menghawatirkan sesuatu dan kemudian berkata: “Wahai Syekh Syu’aib, saya senang sekali menerima hadiah anda dan saya berterima kasih banyak, tapi saya mohon, kalau ke sini jangan selalu membawa hadiah.”

“Kenapa, wahai Sayyid?” Kata Syekh Syu’aib.

“Saya tidak mau terbiasa menerima hadiah dari Anda dan siapapun, karena saya hawatir ketika suatu saat anda tidak membawa hadiah kemudian hati saya berburuk sangka, misalnya saya akan mengira anda tidak mencintai saya lagi, atau anda tidak dermawan lagi dan sebagainya.”

Setelah mendengar penjelasan Abuya, Syekh Syu’aib tertawa kecil kemudian berkata: “Wahai Sayyid, katakan itu pada orang lain. Kalau saya, jangan halangi saya untuk membawa hadiah.” Mendengar ucapan Syekh Syu’aib itu Abuyapun tertawa terbahak-bahak.

Subhanallah, Abuya begitu ketatnya didalam menjaga hati, saya sendiri belum pernah berfikir akan hal itu, bahwa selalu menerima hadiah dari sesorang itu dapat memunculkan buruk sangka ketika suatu saat orang itu tidak memberi hadiah. Saya yakin orang sekelas Abuya tidak akan berburuk sangka seperti itu, karena, yang saya tahu, beliau orangnya sangat arif dan penyabar, beliau bahkan selalu berbaik sangka pada orang yang jelas-jelas menyakiti beliau. Kalau melihat raut Abuya ketika mengatakan itu, saya merasa Abuya mengatakannya dari hati, itu artinya beliau selalu rendah hati di hadapan Allah dan manusia. Walaupun beliau adalah seorang ulama besar yang sejak kecil sudah terbiasa menjaga hati, namun beliau selalu menghawatirkan keselamatan hati dari sifat-sifat tercela, beliau tidak merasa kebal dan selalu berusaha menghindari hal-hal yang dapat mengotori hati, beliau selalu mencurigai hawa nafsu dan berhati-hati didalam melakukan apapun.

Ucapan singkat Abuya kepada Syekh Syu’aib itu memberi arti yang sangat dalam. Bagi saya, seandainya Abuya hanya berbasa-basi dengan ucapan itu, tetap saja ucapan itu adalah sebuah tarbiyah serius bagi saya yang mendengarnya, apalagi kami (santri beliau) yang dari Indonesia akan mengalami hal itu, dimana para pendakwah di Indonesia umumnya mendapat hadiah ketika menghadiri undangan ceramah. Sebagai manusia biasa, penceramah yang terbiasa menerima amplop ketika berceramah bisa merasa tidak nyaman ketika suatu saat panitia tidak memberinya amplop, perasaan tidak nyaman itupun bisa bermacam-macam, misalnya buruk sangka pada tuan rumah atau panitia. Dalam hal ini, Abuya Ali Karrar mempunyai cara yang bagus dan patut ditiru, beliau tidak pernah membuka amplop yang beliau terima ketika diundang ceramah, beliau langsung menyerahkannya pada bendahara pribadi beliau, beliau juga tidak pernah menanyakan saldo uang yang dipegang bendahara kecuali sedang ada perlu untuk keperluan Pesantren atau program dakwah.

Saya sediri memiliki banyak pengalaman saat berlatih “tidak peduli amplop”, diantaranya ketika saya tinggal di Jakarta, saya pernah diundang ceramah ke Jawa Timur dan panitia salah memberi amplop, dia memberi saya amplop yang semestinya untuk penceramah lokal, isinya hanya beberapa ratus ribu rupiah saja, sementara dari jakarta ke Surabaya saya naik pesawat, dari Bandara Surabaya ke tempat acara menggunakan mobil dan supir sewaan.

Saya harap pembaca memaklumi kalau saya berharap isi amplop itu cukup untuk menutup biaya transportasi, karena biaya itu saya dapat dari berhutang. Hal serupa juga pernah terjadi ketika saya diundang ceramah di sebuah kampung pedalaman di Madura, ketika itu saya juga masih tinggal di Jakarta, setelah berceramah dan hendak pulang, tuan rumah memberi saya amplop isinya lima ratus ribu rupiah, hanya cukup untuk membayar sewa mobil dan supir dari Bandara ke tempat acara.

Ketika melepas saya pulang, tuan rumah berkata pada saya: “Terima kasih, Kiyai. Semoga anda bisa hadir setiap tahun.” Setelah membuka amplop dan menyerahkan isinya ke supir untuk membayar sewa mobil, saya teringat dengan kata-kata tuan rumah tadi, “Semoga anda bisa hadir setiap tahun”, sayapun berjanji di hati, kalau dia mengundang lagi maka saya akan datang walaupun harus berhutang untuk membeli tiketnya.

Saya juga memiliki pengalaman pernah menolak amplop, ketika itu saya marah karena ada seorang “penceramah komedian” yang dengan terang-terangan berkata bahwa dirinya memilih pindah profesi sebagai penceramah karena penghasilannya lebih bagus daripada profesi sebelumnya, sayapun menasehatinya walaupun ketika itu saya baru berumur dua puluh tiga tahun dan dia sudah hampir lima puluh tahun, namun dia malah berkata: “Sampean, kan, juga merima amplop kalau diundang ceramah.” Sayapun -yang ketika itu masih muda dan mudah marah- merasa jengkel dan tidak mau berteman dengannya, sampai-sampai saya menolaknya ketika dia bertamu ke rumah saya, ketika itu dia tidak turun dari mobil dan menyuruh asistennya untuk melihat apakah saya ada di rumah atau tidak, sayapun berkata pada asistennya: “Katakan saja bahwa saya ada di rumah tapi tidak mau menemuinya.”

Begitulah galaknya saya ketika masih muda dan baru pulang dari Makkah. Sejak saat itu, saya memutuskan untuk tidak menerima amplop ketika diundang ceramah atau apapun, saya bahkan berpesan pada tuan rumah atau panitia ketika datang untuk mengundang saya agar saya tidak diberi amplop. Itu adalah perubahan yang cukup berat bagi saya, karena kebiasaan saya sejak kecil adalah memiliki uang dari pemberian orang, baik hadiah dari santri-santri ayah saya maupun amplop ketika menghadiri undangan.

Di tempat saya, putra-putra Kiyai ketika hadir majlis diberi amplop oleh tuan rumah walaupun tidak berceramah atau memimpin doa, cukup hadir saja. Jadi, sejak kecil saya sudah terbiasa menerima amplop, ketika mulai diundang ceramah di umur tujuh belas tahunan sayapun terbiasa menerima amplop yang isinya lumayan banyak. Sebagaimana ayah saya, saya tidak berfikir untuk bekerja atau berwira usaha, karena uang yang saya dapat dari amplop itu sudah cukup untuk memenuhi keperluan saya, apalagi ayah saya yang setiap hari juga banyak tamunya dan setiap tamu pasti memberi amplop.

Nah, begitu saya memutuskan untuk tidak menerima amplop, sayapun mengalami kesulitan dan kemudian mulai sering “ngutang” bensin, tapi saya langsung mencoba untuk bekerja seperti orang biasa dan saya memilih berdagang. Pertama kali saya berdagang adalah berjualan bawang merah, saya nekat meminjam mobil box yang sudah tiga bulan tidak pernah dipakai, mobil box itu saya gunakan untuk mengangkut dua ton bawang merah dari Probolinggo dan saya bawa ke pasar Sukorejo. Setibanya di pasar saya bingung untuk menjual bawang merah itu, saya hanya berdiri di sebelah mobil box di parkiran pasar, namun tiba-tiba ada orang yang mengenal saya dan diapun menghampiri saya seraya berkata: “Sedang apa, Gus?”

“Saya punya bawang merah dan ingin menjualnya di sini.” Jawab saya dengan agak ragu dan malu-malu.

“Oo.. Di mana bawangnya, Gus?”

“Di dalam mobil ini.”

“Baiklah, Gus, saya akan beri tahu teman-teman saya di dalam pasar.” Kata orang itu kemudian bergegas masuk ke dalam pasar. Tidak lama kemudian orang itu kembali bersama beberapa orang penjual sayur dan rempah, sayapun kebingungan karena tidak menyiapkan timbangan dan kantong plastik, akhirnya salah satu dari mereka meminjamkan timbangan dan memberi saya kantong palstik, hanya dalam beberapa puluh menit saja bawang merah sayapun terjual beberapa kwintal.

Itu adalah pengalaman saya ketika baru pulang dari Makkah, ketika itu ayah saya tidak tahu kalau saya menolak amplop saat diundang ceramah, bahkan beliau tidak tahu kalau saya berdagang bawang merah. Hal itu berlangsung beberapa bulan dan kemudian saya keluar dari rumah karena disuruh menikah, ketika itu saya tidak mau menikah karena merasa belum harus “duduk” di rumah, ayah dan paman-paman saya masih sehat, saya pikir, saya masih bisa menambah pengalaman di luar.

Yang saya alami itu mungkin juga dialami oleh orang lain, maka saya berpesan pada adik-adik dan anak-anak didik saya yang mulai terjun di bidang dakwah, kalian boleh menerima amplop ketika berdakwah, yang penting jangan sampai amplop itu menjadi tujuan, walaupun hanya tujuan sampingan. Kalau memang perlu uang untuk transport sebaiknya berterus terang saja pada panitia agar disiapkan, akan lebih baik lagi kalau disiapkan tiketnya bukan dalam bentuk uang, daripada berharap amplop untuk mengganti tiket kemudian kecewa dan rusaklah keikhlasan kalian. Kalau kalian terkenal dan kalian memiliki banyak uang dari manapun, tunjukkan kesederhanaan dan kepedulian pada tetangga kalian. Usahakan mereka melihat kalian suka memberi sehingga kalian tidak hanya dikenal suka menerima. Kalau kalian memiliki banyak jadwal undangan ceramah yang biasanya diberi amplop, maka luangkanlah waktu untuk berdakwah tanpa diundang, misalnya dengan mendatangi kampung-kampung didekat rumah kalian untuk berdakwah model silaturrahim atau majlis kecil-kecilan.

Menurut pengalaman saya, dakwah dengan ceramah di panggung itu tidak banyak hasilnya, majlis seperti itu kadang lebih dipandang sebagai hiburan karena mendatangkan penceramah yang lucu atau terkenal, pengaruhnya lebih kuat dakwah model silaturrahim, dengan interaksi dari hati ke hati dan menunjukkan peduli, apalagi kalau kalian adalah putra guru mereka turun temurun. Jangan malas apalagi gengsi untuk bersilaturrahim pada masyarakat bawah.

Oh ya, mungkin ada yang bertanya, apakah sekarang saya masih menolak amplop? Jawabannya “tidak”, tapi ketahuilah bahwa amplop yang saya terima dari undangan ceramah tidak lebih banyak dari penghasilan saya berjualan buku, kebanyakan biaya pembangunan Pesantren saya juga dari hasil penjualan buku. Kemudian, selain berjualan buku, saya juga memiliki usaha yang penghasilannya cukup untuk keperluan saya dan keluarga saya. Kalau ada yang mengundang saya maka saya hanya minta agar disiapkan stand untuk buku-buku saya, atau agar panitia membantu menjualkan buku-buku saya, bahkan terkadang saya membeli tiket sendiri dengan uang dari hasil penjualan buku-buku itu.

AHLAK BERDANDAN AGAR SESUAI SYARIAT DI TENGAH NEW NORMAL

Nabiyullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam suatu ketika bersabda:

 الْبَذَاذَةُ مِنَ الْإِيمَانِ “Al-Badzadzah adalah sebagian dari Iman” (Riyadlu al-Shalihin, Nomor Hadits 515).

Hadits ini cukup terkenal dan sering disampaikan oleh para dai dalam berbagai ceramahnya. Sebenarnya, apa yang dikehendaki dari hadits ini? Simak penjelasan berikut ini!

Pertama, terkait dengan status hadits ini, Imam Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani memberikan penegasan:

 وَهُوَ حَدِيثٌ صَحِيحٌ أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَالْبَذَاذَةُ بِمُوَحَّدَةٍ وَمُعْجَمَتَيْنِ رَثَاثَةُ الْهَيْئَةِ وَالْمُرَادُ بِهَا هُنَا تَرْكُ التَّرَفُّهِ وَالتَّنَطُّعِ فِي اللِّبَاسِ وَالتَّوَاضُعُ فِيهِ مَعَ الْقُدْرَةِ لَا بِسَبَبِ جَحْدِ نِعْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى اهـ

“Ini adalah hadits shahih yang ditakhrij oleh Abu Dawud. Lafal “al-Badzazah” berarti keadaan yang serbakusut. Maksudnya, meninggalkan pakaian dan baju yang serbamewah, dan anjuran agar berlaku tawadhu’ meski mampu melakukan. Sikap tawadhu’ ini bukan lahir sebab oleh mengingkari terhadap nikmat Allah SWT.” (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathu al-Bari, juz 10, hal. 368).

Setidaknya, ada dua sikap para ulama ahli hadits yang lahir dari hadits ini, yaitu:

Pertama, anjuran mengenai sikap tengah-tengah dalam berhias. Setidaknya, pengertian ini hadir dengan mengambil sumber hadits dari Imam Al-Nasai rahimahullah, bahwa suatu ketika datang seorang laki-laki menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan sesampai di hadapan beliau, ia mendapati Rasulullah melarang para sahabat dari sikap berlebih-lebihan dalam melakukan irfah. Apakah itu irfah? Ibnu Buraidah menjelaskan, bahwa irfah itu adalah:

 الْإِرْفَاهُ التَّرَجُّلُ “Irfah itu adalah al-tarajjul (menyisir rambut dengan jari tangan).”

Menurut Syekh Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-Asqalani, al-Irfah, adalah:

 الْإِرْفَاهُ بِكَسْرِ الْهَمْزَةِ وَبِفَاءٍ وَآخِرُهُ هَاءٌ التَّنَعُّمُ وَالرَّاحَةُ وَمِنْهُ الرَّفَهُ بِفَتْحَتَيْنِ

“Al-Irfah, dengan kasrah hamzahnya, dan fa’ serta diakhiri huruf ha’, adalah kondisi bergelimang nikmat yang disertai dengan kelonggaran dan rehat. Dari kata ini muncul istilah al-rafahu, dengan dua fathah hurufnya.”

Penafsiran Ibnu Hajar ini didasarkan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud rahimahullah, dengan sanad dari sahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, yang marfu’ kepada Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Nabi shalllahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 من كان له شعر فليكرمه

“Barang siapa memiliki rambut, maka hendaknya ia menatanya.”

Semua keterangan di atas, dimuat di dalam kitab Fathu al-Bari li Ibn Hajar al-Asqalani, juz 10, hal. 368.

Kedua, hadits al-badzadzah mina al-Iman, berisikan anjuran bahwa tidak di sembarang waktu seorang Muslim itu boleh berhias. Ibnu Bathal menjelaskan kapan bolehnya seseorang berhias.

 Melalui sebuah pernyataannya yang direkam oleh Syekh Ibnu Hajar al-Asqalani, ia menjelaskan:

 والمراد بهذا الحديث – والله أعلم – بعض الأوقات ولم يأمر بلزوم البذاذة فى جميع الأحوال لتتفق الأحاديث، وقد أمر الله تعالى بأخذ الزينة عند كل مسجد، وأمر النبي (صلى الله عليه وسلم) باتخاذ الطيب، وحسن الهيئة واللباس فى الجمع وماشكل ذلك من المحافل

“Entah apa yang dikehendaki dari hadits ini – wallahu a’lam. Jelasnya, hadits ini tidak memerintahkan agar seorang Muslim tidak senantiasa berpenampilan lusuh (al-badzadzah) di semua waktu dan kondisi, karena disepakatinya hadits (diriwayatkan olehal-Bukhari dan Muslim). Sungguh, Allah SWT telah memerintahkan agar memakai perhiasan saat hendak menuju masjid. Bahkan, Baginda Nabi shalllallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar memakai wangi-wangian saat memasukinya, ditambah kondisi tubuh yang baik, dan pakaian yang baik pula, secara umum. (Sudah barang pasti) tiada maksud dari semua kondisi ini bahwa berhias ditujukan untuk berpesta” (Fathu al-Bari Syarah Shahihal-Bukhari, juz 9, hal. 164).

Kedua anjuran di atas, sepakat dalam satu fokus utama tujuan dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai al-Badzadzah mina al-Iman, yaitu bahwasanya Allah dan Nabinya menghendaki agar pribadi seorang Muslim senantiasa menjaga posisi ketawadhu’an dan melarang dari sikap bermegah-megahan (sok keren). Pakaian yang mewah kadang bisa menyeret seseorang dari berlaku kibir (sombong).

Tidak selalu yang dimaksud pakaian itu adalah pakaian dalam pengertian baju. Pakaian yang dimaksud bisa jadi berupa kendaraan, mobil, tempat tinggal yang mewah, dan lain sebagainya. Semua itu dilarang bila dalam ranah bermegah-megahan. Intinya, larangan itu adalah dimaksudkan untuk berhias layaknya hendak ke pesta. Jika berhiasnya adalah dalam rangka kerja, dan dalam batas-batas yang dibenarkan oleh syara’ (tengah-tengah), maka sudah barang tentu, hal ini sangat dianjurkan. Karena Islam menghendaki seorang muslim juga ada dalam kondisi mulia.

Sebagaimana hal itu dapat dipahami dari hadits larangan al-irfah huwa al-tarajjul (menyisir rambut dengan jari tangan). Semata itu semua adalah dalam rangka menjaga kehormatan dan kewibawaan seorang muslim itu sendiri.

Ibn Abdul Barr menjelaskan maksud lain dari hadits al-badzadzah, dengan menyampaikan:

 أَرَادَ بِهِ اطِّرَاحَ الشَّهْوَةِ فِي الْمَلْبَسِ وَالْإِسْرَافَ

“Nabi menghendaki agar seorang Muslim membuang syahwat berlebih-lebihan dalam pakaian dan tempat tinggal” (Al-Istidzkar, juz 1, hal. 330).

 Intinya, pribadi muslim dilarang untuk bersikap sombong dan berlebih-lebihan dalam berhias, sehingga tidak asal keren. Islam mengajarkan agar seorang muslim menjaga kewibawaannya (muru’ah), sebagaimana hal itu dimafhumi dari perintah berhias ketika memasuki masjid. Dengan kata lain, Islam mengajarkan agar perhiasan dan pakaian, adalah dipergunakan sebagaimana perlunya.

Wallahu a’lam bi al-shawab.

TETAP RENDAH HATI DALAM KEHIDUPAN NEW NORMAL

Al-Qur’an memberi pesan bahwa bersikap rendah hati adalah tuntunan pokok ajaran Islam. Rendah hati atau humility (bahasa Arab: tawadhu’) adalah sebuah sikap menyadari keterbatasan kemampuan diri, sehingga dengannya seseorang tidak merasa angkuh dan tidak pula sombong. Bersikap rendah hati kepada orang lain merupakan salah satu tuntunan ajaran pokok dalam Islam. Nabi Muhammad adalah suri tauladan bagi kita dalam menjalani kehidupan bermasyarakat dan berinteraksi sosial. Ketika berinteraksi, Nabi selalu mengedepankan sikap rendah hati kepada siapa pun tanpa memandang status sosial, golongan, dan ras. Sebab hal tersebut merupakan perintah Allah kepada Nabi-Nya.

Ada banyak ayat yang membahas tentang perintah Allah agar berlaku rendah hati kepada semua manusia.

Pertama, perintah untuk lemah lembut kepada orang lain, sebab jika berlaku angkuh dan keras hati niscaya mereka (para pengikutnya ) akan berpaling.

 فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Artinya: “Maka berkat rahmat Allah, engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu” (QS Ali Imran: 159).

Kedua, larangan untuk berlaku sombong dan membanggakan diri.

 وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

Artinya: “Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung” (QS al-Isra: 37).

Ketiga, larangan merendahkan orang lain dengan memalingkan wajah.

 وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri” (QS Luqman: 18).

Semua ayat yang diuraikan di atas menyatakan bahwa bersikap rendah hati adalah tuntunan pokok ajaran Islam. Namun, bagaimana cara kita agar mampu bersikap rendah hati kepada seluruh manusia di muka bumi ini? Syekh Nawawi al-Bantani dalam karyanya Nashaih al-Ibad (nasihat-nasihat kepada para hamba) menjelaskan dengan menukil ungkapan Syekh Abdul Qadir al-Jilani radliyallahu ‘anh sebagaimana berikut:

 إذا لقيت أحدا من الناس رأيت الفضل له عليك وتقول عسى أن يكون عند الله خيرا مني وأرفع درجة

“Jika kamu bertemu salah seorang, maka pandanglah bahwa dia memiliki keutamaan dibandingkan dirimu, dan (tanamkan dalam hatimu) katakan bahwa bisa jadi menurut Allah dia lebih baik dan lebih tinggi derajatnya dibandingkan diri sendiri.”

 فإن كان صغيرا قلت هذا لم يعص الله وأنا قد عصيت فلا شك أنه خير مني

“Jika melihat orang yang lebih muda, maka katakan bahwa dia tidak (belum) melakukan dosa kepada Allah, sementara saya telah melakukan dosa kepada-Nya, maka tidak dapat dibantah lagi bahwa dia lebih baik daripada saya.”

 وإن كان كبيرا قلت هذا قد عبد الله قبلي

“Jika melihat orang yang lebih tua (umurnya) maka katakan bahwa dia telah lebih dulu beribadah kepada Allah dibandingkan saya.”

 وإن كان عالما قلت هذا أعطى ما لم أبلغ ونال ما لم أنل وعلم ما جهلت وهو يعمل بعلمه

“Jika melihat orang alim, maka katakan bahwa dia telah berkonstribusi dengan ilmunya sedang saya belum mampu melakukannya dan dia mendapatkan apa yang belum saya capai dan mengetahui apa yang tidak saya ketahui dan dia mengamalkan ilmunya.”

 وإن كان جاهلا قلت هذا عصى الله بجهل وأنا قد عصيته بعلم ولا أدري بم يختم لي أو بم يختم له،

“Jika melihat orang bodoh, maka katakan bahwa dia melakukan dosa kepada Allah karena kebodohannya sementara saya melakukan dosa dalam keadaan sadar, saya tidak tahu bagaimana kelak saya berakhir atau bagaimana dia berakhir?”

 وإن كان كافرا قلت لا أدري عسى أن يسلم فيختم له بخير العمل وعسى أن أكفر فيختم لي بسوء العمل

“Jika melihat orang kafir, maka katakan saya tidak tahu barangkali ia masuk Islam dan berakhir dengan amal yang baik dan barangkali saya jadi kafir dan berakhir dengan amal yang buruk.”

Sungguh mendalam nasihat di atas, dan jika diamalkan tentu akan memberikan dampak positif dalam interaksi sosial antarmanusia. Tak akan ada orang yang merasa “sok-sokan” dan meremehkan orang lain, tak akan ada kisah mengerikan tentang “bullying” dan tak akan ada lidah yang gemar “nyinyir”.

Seorang ulama berkata:

 عزّ من غير كبر وتواضع من غير مذلة

Artinya: “Mulia tanpa sombong dan tawadhu’ (rendah hati) tanpa merendahkan diri.”

Begitulah yang seharusnya dilakukan. Meskipun kepala menghadap ke langit, namun kaki tetap berpijak di bumi.

MENGETAHUI ILMU HATI AGAR BISA MENJAGANYA DARI KEJELEKAN DAN KERACUNAN

Hati seorang hamba terkadang sehat, sakit, sakit parah, bahkan mati. Parahnya lagi, sakit dan matinya hati adakalanya tidak diketahui pemiliknya. Itu akibat si pemilik tidak tahu tanda-tanda sehat, sakit, dan matinya.

Maka dari itu, penting sekali kita mengetahui tanda-tanda tersebut. Adapun dalil sehat, sakit, dan matinya adalah sebagai berikut: “(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (sehat),” (QS Asy-Syu‘ara [26]: 88-89).

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta,” (QS Al-Baqarah [2]: 10).

 “Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat,” (QS Al-Baqarah [2]: 7).

Ketahuilah, hati yang sakit tak akan merasakan perihnya kemaksiatan, tak menyadari pedihnya kebodohan, dan tak menghiraukan batilnya aqidah. Tak hanya itu, hati yang sakit begitu “alergi” terhadap pahitnya obat. Sehingga ia lebih memilih bertahannya penyakit dibanding dengan pahitnya obat.

Sebaliknya, hati yang sehat akan merasakan sakitnya hal-hal tercela yang datang kepadanya, menyadari pedihnya kebodohan, dan mendeteksi penyakit dan aqidah yang batil. Sebaliknya, hati yang sehat adalah hati yang mudah menerima obat dan berusaha menyingkirkan penyakit. Selanjutnya, di antara tanda-tanda hati yang sakit adalah berpaling dari makanan yang bermanfaat kepada makanan yang membahayakan, dari obat yang menyehatkan kepada obat yang mencelakakan.

Sebaliknya, hati yang sehat adalah hati yang mementingkan obat yang menyehatkan walaupun pahit daripada harus bertahan dalam perihnya penyakit. Sesungguhnya, sebaik-baiknya makanan bagi hati adalah keimanan, dan sebaik-baiknya obat adalah Al-Qur’an.

Tanda hati yang sehat berikutnya adalah bergerak meninggalkan dunia dan menuju akhirat. Walau tinggal di dunia, ia menempatkan diri sebagai ahli dan peraih akhirat. Sementara di dunia, ia tinggal seperti yang asing. Mengambil dunia hanya sekadar memenuhi kebutuhan, bukan memenuhi keinginan, lalu bersiap kembali kepada negeri kepulangan yang abadi.

Hal ini sesuai dengan tutur ucap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil memegangi bagian tubuhnya:

 يَا عَبْدَ اللَّهِ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ، وَاعْدُدْ نَفْسَكَ مَعَ الْمَوْتَى

Artinya, “Wahai Abdullah, jadilah kalian di dunia seperti orang asing atau seperti orang yang melintasi perjalanan. Lalu persiapkanlah dirimu menghadap kematian!” (HR. Ahmad).

Sebaliknya, hati yang sakit adalah hati yang mementingkan urusan dunia, mengikuti keinginan nafsu, lupa akhirat saking betahnya di dunia, sehingga seolah-olah akan terus hidup di dunia selamanya. Kemudian, tanda hati yang sehat adalah selalu mengingatkan pemiliknya, hingga berpulang kepada Allah, rendah hati di hadapan-Nya, bergantung kepadanya seperti bergantungnya seorang pecinta kepada kekasihnya. Dengan mencintainya, dia merasa tak perlu mencintai kepada yang lain, tak perlu mengingat yang lain, tak perlu melayani yang lain. Kendati harus mencintai, mengingat, dan melayani sesuatu, maka dia mencinta, mengingat, dan melayani karena Allah.

Tanda hati yang sehat berikutnya adalah ketika melewatkan satu kebaikan atau satu ketaatan, ia akan menyesal melebihi penyesalan karena melewatkan dan kehilangan harta.

Hati yang sehat juga selalu merindukan kebaikan dan kemuliaan akhirat layaknya orang yang lapar dan haus merindukan makanan dan minuman. Ia merasa senang saat mengabdi dan melayani Allah. Sehingga apa pun yang datang dari-Nya, selalu diterimanya dengan sabar dan penghambaan.

Kaitan dengan ini, Yahya ibn Mu‘adz pernah berkata, “Orang yang senang melayani Allah, maka apa pun dan siapa pun akan senang melayaninya. Orang yang senang hatinya dengan Allah, maka segala sesuatu akan senang melihat kepadanya.”

Selain itu, perhatian hati yang sehat hanya satu, yaitu selalu bersama Allah dalam ketaatan. Takut kehilangan waktu bersama-Nya. Ia takut waktunya terbuang percuma. Tatkala datang waktu shalat, hilanglah perhatiannya terhadap dunia karena ingin segera memasuki ketenangan, kenikmatan, dan kekhusyuan di dalamnnya. Tidak pernah lalai mengingat Allah, tidak pernah bosan menghamba kepada-Nya, tidak pernah bersahabat kecuali dengan orang yang mampu menunjukkan dan mengingatkan dirinya kepada Allah. Perhatiannya tertuju kepada cara memperbaiki amal dan menunaikan sebaik-baiknya amal. Setelah itu, ia menyusulnya dengan keikhlasan di dalamnya. Tidak pernah sungkan meminta nasihat. Tak ragu berbuat baik dan taklid kepada orang-orang saleh. Ia melihat segala sesuatu sebagai pemberian dan karunia Allah, sementara melihat dirinya penuh dengan kelalaian dalam memenuhi hak-hak-Nya. Adapun perkara yang merusak kesehatan hati setidaknya ada empat: banyak bicara yang tak berguna, banyak melihat yang tidak halal, banyak makan walaupun makanan yang halal, dan banyak bergaul dengan lingkungan yang tidak baik.

Sementara perkara yang dapat menghidupkan dan menyehatkan hati adalah membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, bershalawat, memperbanyak istigfar, menunaikan shalat malam, banyak bergaul dengan orang-orang saleh, dan sebagainya. (Lihat: Syekh Ahmad Farid, Tazkiyatun Nafsi, [Al-Iskandariyyah: Darul ‘Aqidah], 1993, hal. 21-46).

Rasulullah ﷺ pernah menyatakan bahwa dalam tubuh kita ini ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik maka baiklah seluruh tubuh kita. Namun jika segumpal daging itu rusak maka rusak pula seluruh tubuh kita. Segumpal daging dimaksud adalah hati. Demikian seperti yang diriwayatkan al-Bukhari. Berdasarkan hadits di atas, kita tahu bahwa baik-buruknya perilaku dan amal perbuatan kita sangat ditentukan oleh baik dan buruknya kondisi hati. Karena itu, kita dituntut untuk memperbaiki dan merawatnya. Untuk merawat hati agar tetap hidup, jernih, dan tidak rusak, dan tidak teracuni, para ulama telah memberikan beberapa rambu kepada kita.

Di antaranya dengan menghindari empat hal berikut ini.

Pertama, banyak bicara. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ yang menyatakan, “Siapa saja yang banyak bicaranya maka banyak kesalahannya. Siapa yang banyak kesalahannya, maka sedikit wara’-nya. Siapa saja yang sedikit wara-nya, maka mati hatinya. Siapa saja yang mati hatinya, maka Allah haramkan surga untuknya.”

Nabi Isa ‘alaihissalam pernah berpesan, “Sedikitlah bicara kecuali dengan berdzikir. Sebab, banyak bicara hanya akan mengeraskan hati.”

Namun tentunya, maksud banyak bicara di sini adalah bicara yang tanpa makna, sedangkan bicara yang memberi manfaat dan hikmah justru sangat dianjurkan.

Rasulullah ﷺ sendiri menganjurkan agar selalu bicara yang baik, bahkan anjuran itu dikaitkan dengan keimanan, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka katakanlah yang baik-baik atau diam,” (HR Malik). (Lihat: Ibnu Abi ‘Ashim, al-Zuhd, Daru al-Rayyan: Kairo], 1408 H, hal. 38).

Kedua, banyak makan, terlebih makanan yang haram. Para ulama menyatakan, di antara perkara yang dibenci adalah penuhnya perut dengan perkara halal. Ini artinya, diisi yang halal saja sudah dibenci, apalagi diisi dengan haram. Adapun rahasia larangan memenuhi perut, salah satunya yang dipesankan oleh Luqman al-Hakim kepada putranya, “Wahai anakku, jika perutmu penuh, maka pikiranmu akan tidur, hikmah jadi tertutup, dan anggota tubuh akan lemah dibawa ibadah.”

Seorang ahli hikmah juga menuturkan, “Siapa saja yang banyak makannya, pasti banyak minumnya. Siapa saja yang banyak minumnya, pasti banyak tidurnya. Siapa saja yang banyak tidurnya, pasti banyak dagingnya (gemuk). Siapa saja yang banyak dagingnya, pasti keras hatinya. Siapa saja yang keras hatinya, maka ia akan tenggelam dalam kubangan dosa.”

Ahli hikmah yang lain menyatakan, “Siapa yang banyak kenyang di dunia, maka ia akan banyak lapar di akhirat.” Karenanya, berbicara soal perut, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kepada kita bahwa perut bukanlah wadah yang siap diisi apa saja sesuai keinginan kita. Sekalipun ia diisi, tidak boleh berlebihan sehingga melebihi batas kemampuannya, sebagaimana dalam hadits, “Keturunan Adam tidak dianggap menjadikan perutnya sebagai wadah yang buruk jika memenuhinya dengan beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Karena itu, apa yang dia harus lakukan adalah sepertiga perutnya untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk nafas,” (HR Ahmad).

Ketiga, banyak bergaul dengan orang-orang buruk. Dikecualikan jika keyakinan dan akhlak kita sudah kuat, dan tujuan kita bergaul adalah memperbaiki akhlak mereka. Namun, sekiranya kita masih lemah, tinggalkanlah pergaulan dengan mereka. Sebab biasanya, bukan mereka yang berubah baik karena bergaul dengan kita, tetapi justru kita yang tergerus mereka. Sebaiknya, jika keyakinan dan karakter kita masih lemah, bersahabatlah dengan orang-orang saleh, terlebih persahabatan itu akan berlanjut hingga hari akhir. Salah satu hadits Rasulullah menyatakan, “Sesungguhkan engkau akan dikumpulkan bersama orang-orang yang engkau cintai.” Artinya, jika seseorang cinta kepada orang saleh, maka kelak ia akan dibangkitkan bersama orang-orang saleh.

Demikian pula sebaliknya. Luqman al-Hakim pernah berpesan kepada putranya, “Bergaullah dengan orang-orang saleh hamba Allah. Sebab, dari kebaikan-kebaikan mereka, engkau akan mendapatkan kebaikan. Boleh jadi, di akhir pergaulan dengan mereka, rahmat akan turun. Dan engkau mendapat rahmat itu bersama mereka. Wahai anakku, janganlah engkau bergaul dengan orang-orang buruk. Sebab, dengan bergaul dengan mereka, engkau tidak akan mendapat kebaikan. Boleh jadi di akhir pergaulan dengan mereka, siksaan turun kepada mereka. Dan engkau tertimpa siksaan itu bersama mereka.” (Ahmad ibn Hanbal, al-Zuhd, (Darul Kutub al-‘Ilmiyyah: Beirut], 1999, hal. 87). Dari bergaul dengan orang-orang saleh, diharapkan kita pun menjadi orang saleh. Sebab, orang saleh yang dijanjikan Allah akan beruntung, “Aku berjanji kepada hamba-hamba-Ku yang saleh dengan sesuatu yang belum pernah terlihat mata, belum pernah terdengar oleh telinga mana pun, dan belum pernah terbesit dalam hati siapa pun.” Demikian janji Allah kepada orang-orang saleh dalam salah satu hadits qudsi. Menjauhi orang-orang buruk dan mendekati orang-orang saleh ini tak lain demi menjaga hati kita agar tidak keruh dan terkotori.

Keempat, banyak memandang. Ketahuilah bahwa pangkal segala keburukan adalah banyak memandang. Kendati tidak seluruhnya, namun umumnya berbagai keburukan dan kejahatan, seperti perzinaan, perkosaan, pencurian, pembunuhan, dan sebagainya, baik secara langsung maupun tidak, dimulai dari pandangan. Tentu saja pandangan-pandangan yang buruk, terlebih di zaman modern seperti sekarang ini dimana segala informasi dan gambar apa saja mudah diakses. Pandangan-pandangan buruk itulah yang kemudian bersarang dalam hati dan mengotorinya. Sedangkan jika hati sudah kotor, maka yang timbul adalah kemalasan, kekikiran, niatan-niatan jahat, kesombongan, sikap keras menerima nasihat, dan jauh dari kebaikan. Mengingat pentingnya menjaga atau menundukkan pandangan ini, maka Allah memerintahkannya langsung dalam Al-Quran, sebagaimana ayat berikut, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’,” (QS al-Nur [24]: 30). Bahkan perintah ini tidak hanya ditujukan kepada kaum laki-laki, tetapi juga kepada kaum perempuan, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya’,” (QS al-Nur [24]: 31).

Walau konteks ayat di atas adalah menjaga pandangan dari aurat, tetapi selayaknya diterapkan terhadap hal-hal negatif yang dapat melahirkan rasa iri, dengki, panas hati, mengundang syahwat, dan seterusnya. Demikian empat hal yang dapat meracuni hati. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang mampu menghindarinya dan termasuk orang yang mampu menata hati menjadi lebih jernih. Wallahu a’lam.

KEINDAHAN BATHINIYYAH JAUH LEBIH UTAMA DI BANDING LAHIRIYAH

Mungkin saja ada yang bertanya, “Apa sih arti keindahan paras batin itu?” Setiap orang berpeluang merasakan sesuatu yang tidak bisa ditangkap lima panca indra. Bagaimana seorang Muslim bisa merasakan cinta kepada para nabi, ulama dan sahabat, sedangkan secara fisik, mereka tidak pernah saling bertemu? Contoh sejenisnya adalah: sama-sama ada pemimpin, yang satu adil, bijak bestari, pemberani, sayang kepada rakyatnya; yang lainnya zalim, pandir, dan pemarah; secara akal sehat manakah yang akan kita sukai? Tentu pemimpin yang pertama. Semua perasaan itu tak terindra. Ketika dikisahkan tentang kejujuran Abu Bakar, strategi yang dimiliki Umar, kedermawanan Utsman, dan keberanian Ali, seseorang tentu akan menyukai para sahabat Nabi ini. Jelas bukan sebab ketampanan wajah mereka—karena kita belum pernah bertemu dengan mereka. Seumpama sudah bertemu sekali pun, ketampanan wajah bukan menjadi tolok ukurnya, melainkan keindahan paras batin mereka. Kondisi serupa juga terjadi pada bagusnya akhlak Nabi Muhammad. Seandainya mau jujur dan berterus terang, para pembenci beliau pun sebenarnya mengakui keluhuran budi Nabi. Hanya saja, kesombongan dan iri hati menyumbat pengakuan tersebut. Kisah di atas adalah contoh keindahan paras batin.

Imam Ghazali dalam kitabnya Al-Arbain fi Ushulid Dîn menjelaskan, ada tiga kriteria yang perlu dipenuhi seseorang sehingga mereka bisa mendapatkan keindahan paras batin, yaitu ilmu, kemampuan, dan kebersihan hati dari aneka cacat.

 Pertama, ilmu. Maksudnya, orang yang ingin mendapatkan keindahan paras batin perlu mempunyai keilmuan yang cukup tentang Allah, malaikat, rasul, kitab Allah, keajaiban-keajaiban kerajaan Allah dan ilmu-ilmu yang dibawakan oleh Nabi secara detail

Kedua, kemampuan. Seseorang harus mampu mengalahkan diri sendiri dengan memecahkan syahwat, keinginan-keinginan nafsunya, lalu membawanya ke jalan lurus, juga mampu membawa hamba-hamba yang berada di sekitarnya dengan trik jitu sehingga mereka menapakai jalan yang lurus.

Ketiga, kebersihan hati. Paras hati menjadi indah jika didukung dengan kebersihan jiwa dari kebodohan, pelit, dengki, dan sifat-sifat buruk sejenis. Kemampuan menggabungkan antara kesempurnaan ilmu, kemampuan, dengan dibarengi akhlak yang baik, merupakan kunci keindahan paras batin.

 Tiga kriteria tersebut merupakan sesuatu yang tidak dimiliki oleh hewan. Jika Anda bisa mencintai ketiga sifat di atas, lalu Anda bisa melihat sosok Nabi Muhammad yang mempunyai ketiga sifat tersebut secara komplet, maka cinta Anda kepada Nabi Muhammad merupakan cinta yang naluriyah (dharuri). Setelah bisa mencintai Nabi Muhammad secara naluriah. Kita kemudian bisa melihat bahwa semua sifat Nabi Muhammad diciptakan oleh Allah ta’ala. Dengan demikiain, kita menjadi tahu, jika Nabi Muhammad saja yang diciptakan Allah bisa sesempurna ini, berikutnya kita akan menjadi tahu bahwa betapa sempurnanya Allah subhanahu wa ta’ala.

SELAMAT IDUL FITRI 1441 H.

WWW.JEJAKISLAMCOM MENYAMPAIKAN : SELAMAT IDUL FITRI 1441 H.

TAQOBBALALLOH MINNA WA MINKUM SHIYAMANA SHIYAMAKUM WA JA’ALANALLOH MINAL ‘AIDIN WAL FAIZIN

AMIN……

INILAH NASIHAT BAGI ORANG YANG BERPUASA DARI ULAMA SUFI

Nasihat Imam Abu Thalib al-Makki
untuk Orang yang Berpuasa

Menurut Imam Abu Thalib al-Makki,
untuk menuju puasa yang paripurna, menahan lapar dan haus saja tidak cukup.
Imam Abu Thalib al-Makki (w. 386 H) merupakan seorang ulama besar yang ahli di
bidang fiqih, hadits, dan tasawuf. Ia adalah penulis kitab Qût al-Qulûb fî
Mu’âmalah al-Mahbûb wa Washf Tharîq al-Murîd ilâ Maqâm al-Tauhîd. Kitab
tersebut merupakan salah satu kitab yang dirujuk Imam al-Ghazali dalam menyusun
Ihyâ’ Ulûm al-Dîn. Nasihatnya untuk orang yang berpuasa di ambil dari kitab
ini.

Berikut uraiannya. Dalam Qût
al-Qulûb, Imam Abu Thalib al-Makki menjelaskan tentang cita-cita ideal dalam
puasa yang harus dipahami oleh shâim (orang yang berpuasa).

Ia mengatakan:

 والمراد
من الصيام مجانبة الآثام، لا الجوع والعطش, كما ذكرنا من أمر الصلاة أن المراد بها
الإنتهاء عن الفحشاء والمنكر. كما قال رسول الله صلي الله عليه وسلم: من لم يترك
قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه

Terjemah bebas: “Tujuan dari puasa
adalah menjauhi dosa-dosa, bukan lapar dan haus (saja), sebagaimana yang
disebutkan kepada kita tentang perintah shalat, bahwa tujuannya adalah
pencegahan terhadap (perilaku) keji dan mungkar. Sebagaimana sabda Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Barangsiapa yang tidak meninggalkan ujaran
kebohongan (kepalsuan) dan mengamalkannya, maka Allah tidak membutuhkan
(usahanya) dalam meninggalkan makan dan minumnya” (Imam Abu Thalib al-Makki,
Qût al-Qulûb fî Mu’âmalah al-Mahbûb wa Washf Tharîq al-Murîd ilâ Maqâm
al-Tauhîd, Kairo: Maktabah Dar al-Turats, 2001, juz 3, h. 1247).

Imam Abu Thalib al-Makki mengatakan
bahwa cita-cita ideal dari puasa adalah menjauhi perbuatan dosa, bukan sekadar
menahan lapar dan dahaga. Penjelasan sederhananya, puasa adalah ibadah yang
melibatkan ketahanan fisik, yaitu menjauhi kebutuhan pokok manusia seperti
makan dan minum. Banyak orang mencuri karena kelaparan, dan banyak pula yang
berseteru karena berebut air. Kedua hal tersebut adalah kebutuhan primer
manusia.

Dengan berpuasa manusia dilatih
secara fisik. Ia dilatih untuk bertahan dengan menyengajakan lapar dan haus.
Artinya, di saat ia berpuasa, manusia mampu menghidupi keistiqamahannya. Ia
bisa bertahan dari mulai fajar menyingsing hingga matahari tergelincir.
Pelatihan fisik ini sebenarnya mengandung cita-cita ideal (al-murâd), yaitu menjauhkan
diri dari perbuatan dosa. Jika manusia bisa memahami puasa dalam kacamata
murâdi (tujuan), seperti yang diungkapkan Imam Abu Thalib al-Makki, ia akan
menjadi pribadi yang berkembang. Setiap menyelesaikan puasanya, ia akan menjadi
pribadi yang lebih menjaga diri. Ia menjadi lebih sadar bahwa ia selalu
diawasi. Rasa takutnya langsung menuju kepada Allah, sehingga ketika ia tidak
lagi berpuasa, ia merasa takut untuk berbuat dosa. Karena itu, dalam pandangan
Imam Abu Thalib al-Makki, untuk menuju puasa yang paripurna, menahan lapar dan
haus saja tidak cukup, harus dibarengi dengan penjagaan diri dari dosa-dosa
lainnya.

Salah satu dosa yang hampir semua
orang lakukan adalah berkata bohong, meski dalam tingkat yang paling rendah,
seperti pura-pura hendak memberi makan ayam. Imam Abu Thalib al-Makki mengutip
hadits Nabi yang mengatakan: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan ujaran
kebohongan (kepalsuan) dan mengamalkannya, maka Allah tidak membutuhkan
(usahanya) dalam meninggalkan makan dan minumnya.” Artinya, menahan lapar dan
haus tidak berarti apa-apa untuk Allah jika orang yang berpuasa masih berkata
bohong dan penuh kepalsuan.

Hadits inilah yang menjadi landasan
Imam Abu Thalib al-Makki tentang tujuan atau cita-cita ideal puasa, sebagaimana
shalat yang tujuannya untuk mencegah perilaku keji dan munkar. Di paragraf
sebelumnya, Imam Abu Thalib mengutip sebuah riwayat tentang banyak orang yang
berpuasa tapi hanya mendapatkan lapar dan haus saja. Ia menulis:

 وفي
الخبر: كم من صائم حظّه من صيامه الجوع والعطش. قيل: هو الذي يجوع بالنهار ويفطر
علي حرام. وقيل: هو الذي يصوم عن الحلال من الطعام ويفطر بالغيبة من لحوم الناس.
وقيل: هو الذي لا يغضّ بصره ولا يحفظ لسانه عن الآثام

Terjemah bebas: “Dalam sebuah riwayat
(disebutkan): ‘Seberapa banyak orang yang berpuasa, (tapi) dari puasanya
(hanya) mendapatkan lapar dan haus.’ Dikatakan (maksudnya adalah): ‘Ia adalah
orang yang lapar di siang hari dan berbuka dengan (hal) yang haram.’ Dikatakan:
‘Ia adalah orang yang berpuasa dari kehalalan makanan dan berbuka dengan ghibah
(memakan) daging manusia.’ Dikatakan: ‘Ia adalah orang yang tidak menundukkan
pandangannya dan tidak menjaga lisannya dari perbuatan dosa” (Imam Abu Thalib
al-Makki, Qût al-Qulûb fî Mu’âmalah al-Mahbûb wa Washf Tharîq al-Murîd ilâ
Maqâm al-Tauhîd, 2001, juz 3, h. 1247).

Imam Abu Thalib al-Makki menghendaki
kita untuk berhati-hati saat berpuasa. Berhati-hati dalam segala hal buruk,
tidak hanya dalam hal menahan lapar dan dahaga saja. Jangan sampai puasa kita
kehilangan maknanya karena mengumpat, menggunjing, berbohong, dan meliarkan
pandangan kita. Andaipun kita sudah terlanjur berkata buruk atau menggunjing
orang lain, Imam Abu Thalib al-Makki menyarankan kita untuk mengambil wudhu,
sebagaimana yang dilakukan para ulama terdahulu. Ia mengatakan: “wa qad kânû
yatawaddla’ûna min adzal muslim” (sungguh mereka [para ulama] beruwdlu karena
menyakiti muslim).

Ia juga menulis: لأن أتوضأ من كلمة خبيثة أحبّ إليّ من أن أتوضأ من طعام طيّب

Terjemah bebas: “Karena berwudhu dari
kata yang buruk lebih aku sukai daripada berwudhu dari makanan yang baik” (Imam
Abu Thalib al-Makki, Qût al-Qulûb fî Mu’âmalah al-Mahbûb wa Washf Tharîq
al-Murîd ilâ Maqâm al-Tauhîd, 2001, juz 3, h. 1247). Tentu, berwudhu di sini
adalah berwudhu karena merasa bersalah dan menyesal telah menyakiti atau
menggunjing orang lain. Pertanyaannya, sudahkah perasaan bersalah itu muncul di
hati kita?

 Wallahu a’lam bish-shawwab

 

 

 

 

Menurut Imam Abu Thalib al-Makki,
untuk menuju puasa yang paripurna, menahan lapar dan haus saja tidak cukup.
Imam Abu Thalib al-Makki (w. 386 H) merupakan seorang ulama besar yang ahli di
bidang fiqih, hadits, dan tasawuf. Ia adalah penulis kitab Qût al-Qulûb fî
Mu’âmalah al-Mahbûb wa Washf Tharîq al-Murîd ilâ Maqâm al-Tauhîd. Kitab
tersebut merupakan salah satu kitab yang dirujuk Imam al-Ghazali dalam menyusun
Ihyâ’ Ulûm al-Dîn. Nasihatnya untuk orang yang berpuasa di ambil dari kitab
ini.

Berikut uraiannya. Dalam Qût
al-Qulûb, Imam Abu Thalib al-Makki menjelaskan tentang cita-cita ideal dalam
puasa yang harus dipahami oleh shâim (orang yang berpuasa).

Ia mengatakan:

 والمراد
من الصيام مجانبة الآثام، لا الجوع والعطش, كما ذكرنا من أمر الصلاة أن المراد بها
الإنتهاء عن الفحشاء والمنكر. كما قال رسول الله صلي الله عليه وسلم: من لم يترك
قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه

Terjemah bebas: “Tujuan dari puasa
adalah menjauhi dosa-dosa, bukan lapar dan haus (saja), sebagaimana yang
disebutkan kepada kita tentang perintah shalat, bahwa tujuannya adalah
pencegahan terhadap (perilaku) keji dan mungkar. Sebagaimana sabda Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Barangsiapa yang tidak meninggalkan ujaran
kebohongan (kepalsuan) dan mengamalkannya, maka Allah tidak membutuhkan
(usahanya) dalam meninggalkan makan dan minumnya” (Imam Abu Thalib al-Makki,
Qût al-Qulûb fî Mu’âmalah al-Mahbûb wa Washf Tharîq al-Murîd ilâ Maqâm
al-Tauhîd, Kairo: Maktabah Dar al-Turats, 2001, juz 3, h. 1247).

Imam Abu Thalib al-Makki mengatakan
bahwa cita-cita ideal dari puasa adalah menjauhi perbuatan dosa, bukan sekadar
menahan lapar dan dahaga. Penjelasan sederhananya, puasa adalah ibadah yang
melibatkan ketahanan fisik, yaitu menjauhi kebutuhan pokok manusia seperti
makan dan minum. Banyak orang mencuri karena kelaparan, dan banyak pula yang
berseteru karena berebut air. Kedua hal tersebut adalah kebutuhan primer
manusia.

Dengan berpuasa manusia dilatih
secara fisik. Ia dilatih untuk bertahan dengan menyengajakan lapar dan haus.
Artinya, di saat ia berpuasa, manusia mampu menghidupi keistiqamahannya. Ia
bisa bertahan dari mulai fajar menyingsing hingga matahari tergelincir.
Pelatihan fisik ini sebenarnya mengandung cita-cita ideal (al-murâd), yaitu menjauhkan
diri dari perbuatan dosa. Jika manusia bisa memahami puasa dalam kacamata
murâdi (tujuan), seperti yang diungkapkan Imam Abu Thalib al-Makki, ia akan
menjadi pribadi yang berkembang. Setiap menyelesaikan puasanya, ia akan menjadi
pribadi yang lebih menjaga diri. Ia menjadi lebih sadar bahwa ia selalu
diawasi. Rasa takutnya langsung menuju kepada Allah, sehingga ketika ia tidak
lagi berpuasa, ia merasa takut untuk berbuat dosa. Karena itu, dalam pandangan
Imam Abu Thalib al-Makki, untuk menuju puasa yang paripurna, menahan lapar dan
haus saja tidak cukup, harus dibarengi dengan penjagaan diri dari dosa-dosa
lainnya.

Salah satu dosa yang hampir semua
orang lakukan adalah berkata bohong, meski dalam tingkat yang paling rendah,
seperti pura-pura hendak memberi makan ayam. Imam Abu Thalib al-Makki mengutip
hadits Nabi yang mengatakan: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan ujaran
kebohongan (kepalsuan) dan mengamalkannya, maka Allah tidak membutuhkan
(usahanya) dalam meninggalkan makan dan minumnya.” Artinya, menahan lapar dan
haus tidak berarti apa-apa untuk Allah jika orang yang berpuasa masih berkata
bohong dan penuh kepalsuan.

Hadits inilah yang menjadi landasan
Imam Abu Thalib al-Makki tentang tujuan atau cita-cita ideal puasa, sebagaimana
shalat yang tujuannya untuk mencegah perilaku keji dan munkar. Di paragraf
sebelumnya, Imam Abu Thalib mengutip sebuah riwayat tentang banyak orang yang
berpuasa tapi hanya mendapatkan lapar dan haus saja. Ia menulis:

 وفي
الخبر: كم من صائم حظّه من صيامه الجوع والعطش. قيل: هو الذي يجوع بالنهار ويفطر
علي حرام. وقيل: هو الذي يصوم عن الحلال من الطعام ويفطر بالغيبة من لحوم الناس.
وقيل: هو الذي لا يغضّ بصره ولا يحفظ لسانه عن الآثام

Terjemah bebas: “Dalam sebuah riwayat
(disebutkan): ‘Seberapa banyak orang yang berpuasa, (tapi) dari puasanya
(hanya) mendapatkan lapar dan haus.’ Dikatakan (maksudnya adalah): ‘Ia adalah
orang yang lapar di siang hari dan berbuka dengan (hal) yang haram.’ Dikatakan:
‘Ia adalah orang yang berpuasa dari kehalalan makanan dan berbuka dengan ghibah
(memakan) daging manusia.’ Dikatakan: ‘Ia adalah orang yang tidak menundukkan
pandangannya dan tidak menjaga lisannya dari perbuatan dosa” (Imam Abu Thalib
al-Makki, Qût al-Qulûb fî Mu’âmalah al-Mahbûb wa Washf Tharîq al-Murîd ilâ
Maqâm al-Tauhîd, 2001, juz 3, h. 1247).

Imam Abu Thalib al-Makki menghendaki
kita untuk berhati-hati saat berpuasa. Berhati-hati dalam segala hal buruk,
tidak hanya dalam hal menahan lapar dan dahaga saja. Jangan sampai puasa kita
kehilangan maknanya karena mengumpat, menggunjing, berbohong, dan meliarkan
pandangan kita. Andaipun kita sudah terlanjur berkata buruk atau menggunjing
orang lain, Imam Abu Thalib al-Makki menyarankan kita untuk mengambil wudhu,
sebagaimana yang dilakukan para ulama terdahulu. Ia mengatakan: “wa qad kânû
yatawaddla’ûna min adzal muslim” (sungguh mereka [para ulama] beruwdlu karena
menyakiti muslim).

Ia juga menulis: لأن أتوضأ من كلمة خبيثة أحبّ إليّ من أن أتوضأ من طعام طيّب

Terjemah bebas: “Karena berwudhu dari
kata yang buruk lebih aku sukai daripada berwudhu dari makanan yang baik” (Imam
Abu Thalib al-Makki, Qût al-Qulûb fî Mu’âmalah al-Mahbûb wa Washf Tharîq
al-Murîd ilâ Maqâm al-Tauhîd, 2001, juz 3, h. 1247). Tentu, berwudhu di sini
adalah berwudhu karena merasa bersalah dan menyesal telah menyakiti atau
menggunjing orang lain. Pertanyaannya, sudahkah perasaan bersalah itu muncul di
hati kita?

 Wallahu a’lam bish-shawwab