IMAM SYAFI’I RA MEMPERINGATKAN KITA AGAR “JANGAN ASAL SHARE DI MEDSOS”

Anda pengguna media sosial? Jika iya tentu Anda merasakan betul berbagai kemudahan yang disediakan perangkat dunia maya ini, mulai dari saling mengirim pesan jarak jauh, mempublikasikan tulisan dan foto secara kilat, hingga bertatap wajah dengan orang-orang di lintas negara. Kemudahan-kemudahan tersebut di satu sisi menggambarkan betapa gampangnya manusia masa kini belajar dan menjalin silaturahim tanpa kendala jarak. Namun di sisi lain bisa menjadi jebakan bagi para penggunanya untuk semakin ringan berbuat mubazir bahkan merusak. Dengan bahasa lain, medsos membuka kemudahan bagi berbuat baik tapi sekaligus juga berbuat buruk. Salah satu pemandangan yang dihasilkan media sosial adalah banjirnya informasi hingga pada taraf yang amat liar. Informasi dengan mudah diterima seseorang lalu dibagikan kembali, diterima orang lain lalu didistribusikan lagi, dan seterusnya. Facebook, grup-grup Whatsapp, Twitter, Instagram, BBM, Line, atau sejenisnya pun disesaki pesan berantai yang entah benar atau salah, entah faktual atau bohong. Celakanya bila kabar itu ternyata salah/bohong dan ada pihak yang dirugikan.

Fenomena copy-paste atau pendistribusian berita seperti ini pernah disinggung oleh Imam Syafi’i, bapak ushul fiqih dalam ilmu-ilmu keislaman. Ia menyebut kegiatan menyebarkan informasi yang belum diketahui benar-tidaknya sebagai al-kadzib al-khafiy (kebohongan tak terlihat/samar). Sebagaimana tertuang dalam kitab Ar-Risâlah:

أن الكذب الذي نهاهم عنه هو الكذب الخفي، وذلك الحديث عمن لا يُعرفُ صدقُه

“Sesungguhnya kebohongan yang juga dilarang adalah kebohongan tak terlihat, yakni menceritakan kabar dari orang yang tak jelas kejujurannya.” Dalam Irsyadul ‘Ibad ila Sabilir Rasyad, Abdul ‘Aziz al-Malibari yang juga mengutip perkataan Imam Syafi’i memaparkan redaksi kalimat secara lebih terang:

وَمِنْ الْكَذِبِ الْكَذِبُ الْخَفِيُّ ، وَهُوَ أَنْ يَرْوِيَ الْإِنْسَانُ خَبَرًا عَمَّنْ لَا يُعْرَفُ صِدْقُهُ مِنْ كَذِبِهِ

“Di antara jenis kebohongan adalah kebohongan yang samar. Yakni ketika seseorang menyebar informasi dari orang yang tak diketahui apakah ia bohong atau tidak.”

Imam Syafi’i menjelaskan hal itu saat mengomentari hadits hadditsû ‘annî walâ takdzibû ‘alayya (ceritakanlah dariku dan jangan berbohong atasku). Periwayatan hadits bagi Imam Syafi’i tak boleh main-main. Bisa kita analogikan, begitu pula dengan periwayatan atau penyebaran informasi di media sosial. Tak selayaknya seseorang asal copy-paste, retweet, regram, atau share informasi dari orang lain tanpa melakukan terlebih dahulu verifikasi dan klarifikasi (tabayyun). Disebut “kebohongan samar” karena aktivitas tersebut dilakukan seperti tanpa kesalahan. Karena bukan produsen informasi, melainkan sekadar penyebar, seseorang merasa enjoy saja melakukan copy-paste, apalagi informasi tersebut belum tentu salah atau bohong. Padahal, justru di sinilah tantangan terberatnya. Karena belum jelas bohong atau salah, informasi tersebut juga sekaligus belum jelas kebenaran dan kejujurannya. Di tengah keraguan semacam itu, pengguna media sosial wajib melakukan cek kebenaran. Jika tidak, pilihan terbaik adalah menyimpan informasi itu untuk diri sendiri, bila tidak ingin jatuh dalam tindakan haram al-kadzib al-khafiy. Kita juga mesti ingat bahwa dunia maya tidak sama dengan dunia imajiner atau khayalan. Media sosial sebagai salah satu unsur dari dunia maya memiliki dampak nyata bagi kehidupan manusia, entah merugikan atau menguntungkan. Alhasil, jika penyebaran informasi yang meragukan saja bagi Imam Syafi’i masuk katergori bohong (samar), penyebaran informasi palsu (hoax) tentu lebih parah. Orang mesti memikirkan dengan cermat dan memeriksanya secara pasti setiap informasi yang ia peroleh sebelum buru-buru menyebarkannya. Itulah bentuk ikhtiar positif manusia sebelum kelak mempertanggungjawabkan apa pun yang muncul dari anggota badannya, termasuk jari-jarinya.

Wallâhu a’lam.

DALIL 3 PEKERJAAN DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW.

Dalil alqur’an : 3 kerja Nabi ( Dakwah – Tazkiyatul qulub(Mensucikan Hati) – Ta’lim(Mengajarkan ilmu) & Hikmah)

Kerja Nabi ada 3 :

  1. Dakwah (menyampaikan ayat atau maksud dari ayat alqur’an)
  2. Tazkiyatul qulub/Mensucikan Hati (dengan dzikir dan ibadat serta usaha khidmad (melayani dengan baik kepada diri sendiri, memuliakan ulama, menghormati orang lain dan mahluq Allah yang lain)
  3. Ta’lim/Mengajarkan ilmu & Hikmah)

Dalil dalam alqur’an:

Al-Baqarah (2) : 129

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنتَ العَزِيزُ الحَكِيمُ

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan MEMBACAKAN kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

Al-Baqarah (2) : 151

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِّنكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُواْ تَعْلَمُونَ

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni’mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang MEMBACAKAN ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.

Al-‘Imran (3) : 164

لَقَدْ مَنَّ اللّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang MEMBACAKAN kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Al-Jumu’ah (62) : 2

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang MEMBACAKAN ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

Keterangan : Dalam kitab Muntakhab al hadits (Syaikhul Hadits Maulana Yusuf Rah.) mengatakan :

lafadz “yang MEMBACAKAN ayat-ayat-Nya kepada mereka” = maksudnya adalah para rasul mendakwahkan maksud dari ayat-ayat alqur’an dan mendakwahkan/metablighkan ayat-ayat alqur’an itu sendiri. ini disebut “kerja dakwah”

lafadz “mensucikan mereka” = disebut kerja tazkiyatul qulub (Mensucikan Hati (dengan dzikir dan ibadat serta usaha khidmad (melayani dengan baik kepada diri sendiri, memuliakan ulama, menghormati orang lain dan mahluq Allah yang lain))

lafadz “mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah” = usaha ta’im / belajar dan mengajar.

  1. Tanggung Jawab/medan Dakwah Ummat Muhammad
  2. Dakwah pada diri sendiri dan keluarga

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS Attahrim ayat 6)

  1. Dakwah kepada Jiran/tetangga, sahabat dan orang-orang dekat/kerabat

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, (QS Asysu’ara 214)

  1. Dakwah kepada Umat didaerah sendiri dan daerah lain

وَهَـذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُّصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَهُمْ عَلَى صَلاَتِهِمْ يُحَافِظُونَ

Dan ini (Al Quraan) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quraan) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya. (QS Al an’am 92).

  1. Dakwah kepada Ummat diseluruh dunia

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk seluruh manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS Ali imran 110).

PUASA RAJAB ADALAH PUASA SUNNAH YANG DI BID’AHKAN TUKANG BID’AH

Besok kita telah memasuki dalam bulan Rajab. Tidak sedikit kaum Muslimin di Indonesia, yang mentradisikan puasa Sunnah ketika memasuki bulan-bulan mulia seperti bulan Rajab. Persoalannya, setelah merebaknya aliran Salafi-Wahabi di Indonesia, beragam tradisi ibadah dan keagamaan yang telah berlangsung sejak masuknya Islam ke Nusantara, seperti puasa Sunnah di bulan Rajab selalu dipersoalkan oleh mereka dengan alasan bid’ah, haditsnya palsu dan alasan-alasan lainnya. Seakan-akan mereka ingin menghalangi umat Islam dari mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan beribadah puasa. Oleh karena itu tulisan ini, berupaya menjernihkan hukum puasa Rajab berdasarkan pandangan para ulama yang otoritatif.

Hukum Puasa Rajab

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum puasa Rajab.

Pertama, mayoritas ulama dari kalangan Madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i berpendapat bahwa puasa Rajab hukumnya Sunnah selama 30 hari. Pendapat ini juga menjadi qaul dalam madzhab Hanbali.

Kedua, para ulama madzhab Hanbali berpendapat bahwa berpuasa Rajab secara penuh (30 hari) hukumnya makruh apabila tidak disertai dengan puasa pada bulan-bulan yang lainnya. Kemakruhan ini akan menjadi hilang apabila tidak berpuasa dalam satu atau dua hari dalam bulan Rajab tersebut, atau dengan berpuasa pada bulan yang lain. Para ulama madzhab Hanbali juga berbeda pendapat tentang menentukan bulan-bulan haram dengan puasa. Mayoritas mereka menghukumi sunnah, sementara sebagian lainnya tidak menjelaskan kesunnahannya.

 

Berikut pernyataan para ulama madzhab empat tentang puasa Rajab.

Madzhab Hanafi

Dalam al-Fatawa al-Hindiyyah (1/202) disebutkan:

في الفتاوي الهندية 1/202 : ( المرغوبات من الصيام أنواع ) أولها صوم المحرم والثاني صوم رجب والثالث صوم شعبان وصوم عاشوراء ) اه

“Macam-macam puasa yang disunnahkan adalah banyak macamnya. Pertama, puasa bulan Muharram, kedua puasa bulan Rajab, ketiga, puasa bulan Sya’ban dan hari Asyura.”

Madzhab Maliki

Dalam kitab Syarh al-Kharsyi ‘ala Mukhtashar Khalil (2/241), ketika menjelaskan puasa yang disunnahkan, al-Kharsyi berkata:

(والمحرم ورجب وشعبان ) يعني : أنه يستحب صوم شهر المحرم وهو أول الشهور الحرم , ورجب وهو الشهر الفرد عن الأشهر الحرم ) اه وفي الحاشية عليه : ( قوله : ورجب ) , بل يندب صوم بقية الحرم الأربعة وأفضلها المحرم فرجب فذو القعدة فالحجة ) اه

“Muharram, Rajab dan Sya’ban. Yakni, disunnahkan berpuasa pada bulan Muharram – bulan haram pertama -, dan Rajab – bulan haram yang menyendiri.” Dalam catatan pinggirnya: “Maksud perkataan pengaram, bulan Rajab, bahkan disunnahkan berpuasa pada semua bulan-bulan haram yang empat, yang paling utama bulan Muharram, lalu Rajab, lalu Dzul Qa’dah, lalu Dzul Hijjah.”

Pernyataan serupa bisa dilihat pula dalam kitab al-Fawakih al-Dawani (2/272), Kifayah al-Thalib al-Rabbani (2/407), Syarh al-Dardir ‘ala Khalil (1/513) dan al-Taj wa al-Iklil (3/220).

Madzhab Syafi’i

Imam al-Nawawi berkata dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (6/439),

قال الإمام النووي في المجموع 6/439 : ( قال أصحابنا : ومن الصوم المستحب صوم الأشهر الحرم , وهي ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب , وأفضلها المحرم , قال الروياني في البحر : أفضلها رجب , وهذا غلط ; لحديث أبي هريرة الذي سنذكره إن شاء الله تعالى { أفضل الصوم بعد رمضان شهر الله المحرم ) اه

“Teman-teman kami (para ulama madzhab Syafi’i) berkata: “Di antara puasa yang disunnahkan adalah puasa bulan-bulan haram, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab, dan yang paling utama adalah Muharram. Al-Ruyani berkata dalam al-Bahr: “Yang paling utama adalah bulan Rajab”. Pendapat al-Ruyani ini keliru, karena hadits Abu Hurairah yang akan kami sebutkan berikut ini insya Allah (“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa bulan Muharram.”)”.

Pernyataan serupa dapat dilihat pula dalam Asna al-Mathalib (1/433), Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah (2/53),  Mughni al-Muhtaj (2/187), Nihayah al-Muhtaj (3/211) dan lain-lain.

Madzhab Hanbali

Ibnu Qudamah al-Maqdisi berkata dalam kitab al-Mughni (3/53):

قال ابن قدامة في المغني 3/53 🙁 فصل : ويكره إفراد رجب بالصوم . قال أحمد : وإن صامه رجل , أفطر فيه يوما أو أياما , بقدر ما لا يصومه كله … قال أحمد : من كان يصوم السنة صامه , وإلا فلا يصومه متواليا , يفطر فيه ولا يشبهه برمضان ) اه

“Pasal. Dimakruhkan mengkhususkan bulan Rajab dengan ibadah puasa. Ahmad bin Hanbal berkata: “Apabila seseorang berpuasa Rajab, maka berbukalah dalam satu hari atau beberapa hari, sekiranya tidak berpuasa penuh satu bulan.” Ahmad bin Hanbal juga berkata: “Orang yang berpuasa satu tahun penuh, maka berpuasalah pula di bulan Rajab. Kalau tidak berpuasa penuh, maka janganlah berpuasa Rajab terus menerus, ia berbuka di dalamnya dan jangan menyerupakannya dengan bulan Ramadhan.”

Ibnu Muflih berkata dalam kitab al-Furu’ (3/118):

وفي الفروع لابن مفلح 3/118 : ( فصل : يكره إفراد رجب بالصوم نقل حنبل : يكره , ورواه عن عمر وابنه وأبي بكرة , قال أحمد : يروى فيه عن عمر أنه كان يضرب على صومه , وابن عباس قال : يصومه إلا يوما أو أياما … وتزول الكراهة بالفطر أو بصوم شهر آخر من السنة , قال صاحب المحرر : وإن لم يله .

“Pasal. Dimakruhkan mengkhususkan bulan Rajab dengan berpuasa. Hanbal mengutip: “Makruh, dan meriwayatkan dari Umar, Ibnu Umar dan Abu Bakrah.” Ahmad berkata: “Memuku seseorang karena berpuasa Rajab”. Ibnu Abbas berkata: “Sunnah berpuasa Rajab, kecuali satu hari atau beberapa hari yang tidak berpuasa.” Kemakruhan puasa Rajab bisa hilang dengan berbuka (satu hari atau beberapa hari), atau dengan berpuasa pada bulan yang lain dalam tahun yang sama. Pengarang al-Muharrar berkata: “Meskipun bulan tersebut tidak bergandengan.”

DALIL PUASA RAJAB

Dalil Mayoritas Ulama

Mayoritas ulama yang berpandangan bahwa puasa Rajab hukumnya sunnah sebulan penuh, berdalil dengan beberapa banyak hadits dan atsar. Dalil-dalil tersebut dapat diklasifikasi menjadi tiga:

Pertama, hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan puasa sunnah secara mutlak. Dalam konteks ini, al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami berkata dalam al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah (2/53) dan fatwa beliau mengutip dari fatwa al-Imam Izzuddin bin Abdussalam (hal. 119):

قال ابن حجر كما في الفتاوى الفقهية الكبرى 2/53 🙁 ويوافقه إفتاء العز بن عبد السلام فإنه سئل عما نقل عن بعض المحدثين من منع صوم رجب وتعظيم حرمته وهل يصح نذر صوم جميعه فقال في جوابه :نذر صومه صحيح لازم يتقرب إلى الله تعالى بمثله والذي نهى عن صومه جاهل بمأخذ أحكام الشرع وكيف يكون منهيا عنه مع أن العلماء الذين دونوا الشريعة لم يذكر أحد منهم اندراجه فيما يكره صومه بل يكون صومه قربة إلى الله تعالى لما جاء في الأحاديث الصحيحة من الترغيب في الصوم مثل : قوله صلى الله عليه وسلم { يقول الله كل عمل ابن آدم له إلا الصوم } وقوله صلى الله عليه وسلم { لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك } وقوله { إن أفضل الصيام صيام أخي داود كان يصوم يوما ويفطر يوما } وكان داود يصوم من غير تقييد بما عدا رجبا من الشهور ) اه

“Ibnu Hajar, (dan sebelumnya Imam Izzuddin bin Abdissalam ditanya pula), tentang riwayat dari sebagian ahli hadits yang melarang puasa Rajab dan mengagungkan kemuliaannya, dan apakah berpuasa satu bulan penuh di bulan Rajab sah? Beliau berkata dalam jawabannya: “Nadzar puasa Rajab hukumnya sah dan wajib, dan dapat mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukannya. Orang yang melarang puasa Rajab adalah orang bodoh dengan pengambilan hukum-hukum syara’. Bagaimana mungkin puasa Rajab dilarang, sedangkan para ulama yang membukukan syariat, tidak seorang pun dari mereka yang menyebutkan masuknya bulan Rajab dalam bulan yang makruh dipuasai. Bahkan berpuasa Rajab termasuk qurbah (ibadah sunnah yang dapat mendekatkan) kepada Allah, karena apa yang datang dalam hadits-hadits shahih yang menganjurkan berpuasa seperti sabda Nabi SAW: “Allah berfirman, semua amal ibadah anak Adam akan kembali kepadanya kecuali puasa”, dan sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum menurut Allah dari pada minyak kasturi”, dan sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya puasa yang paling utama adalah puasa saudaraku Dawud. Ia berpuasa sehari dan berbuka sehari.” Nabi Dawud AS berpuasa tanpa dibatasi oleh bulan misalnya selain bula Rajab.”

Al-Syaukani berkata dalam Nail al-Authar (4/291):

وقال الشوكاني في نيل الأوطار 4/291 : ( وقد ورد ما يدل على مشروعية صومه على العموم والخصوص : أما العموم : فالأحاديث الواردة في الترغيب في صوم الأشهر الحرم وهو منها بالإجماع . وكذلك الأحاديث الواردة في مشروعية مطلق الصوم … ) اه

“Telah datang dalil yang menunjukkan pada disyariatkannya puasa Rajab, secara umum dan khusus. Adapun hadits yang bersifat umum, adalah hadits-hadits yang datang menganjurkan puasa pada bulan-bulan haram. Sedangkan Rajab termasuk bulan haram berdasarkan ijma’ ulama. Demikian pula hadits-hadits yang datang tentang disyariatkannya puasa sunnat secara mutlak.”

Kedua, hadits-hadits yang menganjurkan puasa bulan-bulan haram, antara lain hadits Mujibah al-Bahiliyah. Imam Abu Dawud meriwayatkan dalam al-Sunan (2/322) sebagai berikut ini:

عن مجيبة الباهلية عن أبيها أو عمها أنه : أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم انطلق فأتاه بعد سنة وقد تغيرت حالته وهيئته فقال يا رسول الله أما تعرفني قال ومن أنت قال أنا الباهلي الذي جئتك عام الأول قال فما غيرك وقد كنت حسن الهيئة قال ما أكلت طعاما إلا بليل منذ فارقتك فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم لم عذبت نفسك ثم قال صم شهر الصبر ويوما من كل شهر قال زدني فإن بي قوة قال صم يومين قال زدني قال صم ثلاثة أيام قال زدني قال صم من الحرم واترك صم من الحرم واترك صم من الحرم واترك وقال بأصابعه الثلاثة فضمها ثم أرسلها )

Dari Mujibah al-Bahiliyah, dari ayah atau pamannya, bahwa ia mendatangi Rasulullah SAW kemudian pergi. Lalu datang lagi pada tahun berikutnya, sedangkan kondisi fisiknya telah berubah. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, apakah engkau masih mengenalku?” Beliau bertanya: “Kamu siapa?” Ia menjawab: “Aku dari suku Bahili, yang datang tahun sebelumnya.” Nabi SAW bertanya: “Kondisi fisik mu kok berubah, dulu fisikmu bagus sekali?” Ia menjawab: “Aku tidak makan kecuali malam hari sejak meninggalkanmu.” Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Mengapa kamu menyiksa diri?” Lalu berliau bersabda: “Berpuasalah di bulan Ramadhan dan satu hari dalam setiap bulan.” Ia menjawab: “Tambahlah kepadaku, karena aku masih mampu.” Beliau menjawab: “Berpuasalah dua hari dalam sebulan.” Ia berkata: “Tambahlah, aku masih kuat.” Nabi SAW menjawab: “Berpuasalah tiga hari dalam sebulan.” Ia berkata: “Tambahlah.” Nabi SAW menjawab: “Berpuasalah di bulan haram dan tinggalkanlah, berpuasalah di bulan haram dan tinggalkanlah, berpuasalah di bulan haram dan tinggalkanlah.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Mengomentari hadits tersebut, Imam al-Nawawi berkata dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (6/439): “Nabi SAW menyuruh laki-laki tersebut berpuasa sebagian dalam bulan-bulan haram tersebut dan meninggalkan puasa di sebagian yang lain, karena berpuasa bagi laki-laki Bahili tersebut memberatkan fisiknya. Adapuan bagi orang yang tidak memberatkan, maka berpuasa satu bulan penuh di bulan-bulan haram adalah keutamaan.” Komentar yang sama juga dikemukakan oleh Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari dalam Asna al-Mathalib (1/433) dan Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fatawa-nya (2/53).

Ketiga, hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan bulan Rajab secara khusus. Hadits-hadits tersebut meskipun derajatnya dha’if, akan tetapi masih diamalkan dalam bab fadhail al-a’mal, seperti ditegaskan oleh Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fatawa-nya (2/53).

Di antara hadits yang menjelaskan keutamaan puasa Rajab secara khusus adalah hadits Usamah bin Zaid berikut ini:

في سنن النسائي 4/201 : ( عن أسامة بن زيد قال قلت : يا رسول الله لم أرك تصوم شهرا من الشهور ما تصوم من شعبان قال ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان ) اه

“Dalam Sunan al-Nasa’i (4/201): Dari Usamah bin Zaid, berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak melihatmu berpuasa dalam bulan-bulan yang ada seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban?” Beliau menjawab: “Bulan Sya’ban itu bulan yang dilupakan oleh manusia antara Rajab dan Ramadhan.”

Mengomentari hadits tersebut, Imam al-Syaukani berkata dalam kitabnya Nail al-Authar (4/291): “Hadits Usamah di atas, jelasnya menunjukkan disunnahkannya puasa Rajab. Karena yang tampak dari hadits tersebut, kaum Muslimin pada masa Nabi SAW melalaikan untuk mengagungkan bulan Sya’ban dengan berpuasa, sebagaimana mereka mengagungkan Ramadhan dan Rajab dengan berpuasa.”

Keempat, atsar dari ulama salaf yang saleh. Terdapat beberapa riwayat yang menyatakan bahwa beberapa ulama salaf yang saleh menunaikan ibadah puasa Rajab, seperti Hasan al-Bashri, Abdullah bin Umar dan lain-lain. Hal ini bisa dilihat dalam kitab-kitab hadits seperti Mushannaf Ibn Abi Syaibah dan lain-lain.

Dalil Madzhab Hanbali

Sebagaimana dimaklumi, madzhab Hanbali berpendapat bahwa mengkhususkan puasa Rajab secara penuh dengan ibadah puasa adalah makruh. Akan tetapi kemakruhan puasa Rajab ini bisa hilang dengan dua cara, pertama, meninggalkan sehari atau lebih dalam bulan Rajab tanpa puasa. Dan kedua, berpuasa di bulan-bulan di luar Rajab, walaupun bulan tersebut tidak berdampingan dengan bulan Rajab.

Para ulama yang bermadzhab Hanbali, memakruhkan berpuasa Rajab secara penuh dan secara khusus, didasarkan pada beberapa hadits, antara lain:

Hadits dari Zaid bin Aslam, bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa Rajab, lalu beliau menjawab: “Di mana kalian dari bulan Sya’ban?” (HR. Ibnu Abi Syaibah [2/513] dan Abdurrazzaq [4/292]. Tetapi hadits ini mursal, alias dha’if).

Hadits Usamah bin Zaid. Ia selalu berpuasa di bulan-bulan haram. Lalu Rasulullah SAW bersabda kepadanya: “Berpuasalah di bulan Syawal.” Lalu Usamah meninggalkan puasa di bulan-bulan haram, dan hanya berpuasa di bulan Syawal sampai meninggal dunia.” (HR. Ibn Majah [1/555], tetapi hadits ini dha’if. Hadits ini juga dinilai dha’if oleh Syaikh al-Albani.).

Hadits dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi SAW melarang puasa Rajab. (HR. Ibn Majah [1/554], tetapi hadits ini dinilai dha’if oleh Imam Ahmad, Ibnu Taimiyah dalam al-Fatawa al-Kubra [2/479], dan lain-lain).

Madzhab Hanbali juga berdalil dengan beberapa atsar dari sebagian sahabat, seperti atsar bahwa Umar pernah memukul orang karena berpuasa Rajab, atsar dari Anas bin Malik dan lain-lain. Tetapi atsar ini masih ditentang dengan atsar-atsar lain dari para sahabat yang justru melakukan puasa Rajab. Disamping itu, dalil-dalil para ulama yang menganjurkan puasa Rajab jauh lebih kuat dan lebih shahih sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya.

Wallahul muwaffiq.

DALIL SYAR’I MEMBACA SUBHANALLOH DI SAAT MERASA TAKJUB ATAUPUN KAGUM

Banyak sekali artikel yang menyebar di google yang menyebabkan kerancuan dalam berfikir dan membuat masyarakat bingung di antaranya ada beberapa tulisan yang intinya melarang mengucapkan subhanallah ketika takjub atau kagum.

Maka dari itu seharusnya masyarakat indonesia secara umum jangan hanya cukup dengan membaca artikel” yang ada di web site tanpa belajar kepada para ulama’ dan hendaknya bertanya kepada para ulama’ jika menemui kebingungan.

Sebenarnya tidak ada satu dalil pun yang melarang seseorang mengucapkan subhanallah ketika kagum, larangan yang di sampaikan di berbagai artikel tersebut hanya asumsi pribadi yang kemudian disampaikan untuk menyalahkan saudara muslimnya.

Jelas sekali di dalam al-qur’an Allah menyebutkan tasbih untuk menceritakan kekaguman sebagai permulaan coba lihat di bawah ini:

  1. Allah SWT berfirman:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,”

(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 190)

Allah SWT berfirman:

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا  ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

allaziina yazkuruunalloha qiyaamaw wa qu’uudaw wa ‘alaa junuubihim wa yatafakkaruuna fii kholqis-samaawaati wal-ardh, robbanaa maa kholaqta haazaa baathilaa, sub-haanaka fa qinaa ‘azaaban-naar

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”

(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 191).

Keterangan :

Dalam surat ali imron ayat 190-191 menceritakan tentang orang-orang yang memiliki akal ketika menyaksikan tanda-tanda Allah yang agung tentang penciptaan langit dan bumi maka lisan mereka tergerak untuk mengucapkan :

سبحانك فقنا عذاب النار

Maha suci engkau maka lindungilah kami dari siksa neraka.

  1. Dalam surat al-isro’ ayat ke 1 disebutkan:

Allah SWT berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْۤ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَا ۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

sub-haanallaziii asroo bi’abdihii lailam minal-masjidil-haroomi ilal-masjidil-aqshollazii baaroknaa haulahuu linuriyahuu min aayaatinaa, innahuu huwas-samii’ul-bashiir

“Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”

(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 1)

Keterangan :

Ayat ini menunjukkan suatu hal yang mengagumkan (yaitu tentang di isro’ dan mi’rojkannya nabi muhammad) yaitu perkara yang tidak bisa dilakukan kecuali oleh Allah, maka cocoklah ayat ini dimulai dengan lafadz “subhanal ladzi asro biabdihi lailan” maha suci dzat yang telah menjalankan hambanya pada malam hari, hal ini mengajarkan kita untuk mengucapkan subhanallah sebagai rasa kagum terhadap mukjizat nabi,dan keagungan Allah. Dan juga sebagai kekaguman bahwa nabi kita nabi muhammad isro” dan mi’roj dengan ruh dan jasad beliau seperti yang disebutkan oleh imam abul qosim al-ashbahani bahwa lafadz subhana dalam ayat tersebut menunjukkan kekaguman.

Subhaana mengekspresikan suatu Ketakjuban atau kekaguman atas manifestasi Qudratullah, yang membuat akal kebingungan & kewalahan dalam menalarnya. Contoh: QS. Yaasiin, 36: ayat 36. Dalam konteks Isra Mikraj mengisyaratkan bahwa Isra Rasulullah adalah rihlah super spektakuler, tak dapat dijangkau daya nalar manusia, yang merupakan bagian dari tanda-tanda KekuasaanNya.

Assyeikh Mutawalli Asy Sya’rawi menafsirkan makna Subhaana, dengan menulis: “Kalimat Subhaana dalam Al Isra, 17: 1 memberi isyarat bahwa kejadian & ‘adegan-adegan’ setelah kalimat subhaana, merupakan peristiwa yang keluar dari zona-zona kemampuan dan daya nalar manusia. Apabila engkau mendengarnya, takutlah untuk menyanggah atau memprotesnya dengan berkata: “Bagaimana mungkin peristiwa ini bisa terjadi ?”. Melainkan tasbihkanlah Allah bahwa perbuatanNya tidak sama dengan perbuatan manusia. Apabila Allah telah berfirman, “Dia telah meng-Isra-kan NabiNya Muhammad dari Makkah ke Baitul Maqdis hanya dalam satu malam”, padahal lumrahnya manusia, jarak sejauh itu ditempuh dengan mengendarai unta selama satu bulan, maka takutlah engkau mengingkariNya. Karena Tuhanmu tidak berfirman, “Muhammad telah Isra (melakukan perjalanan malam)”, tapi Muhammad di-Isra-kan oleh Tuhannya. Perjalanan Isra bukan ‘dari’ & ‘oleh’ kehendak Muhammad sendiri, tapi ‘dari’ & ‘oleh’ kehendak Allah. Maka janganlah engkau membandingkannya dengan ukuran teori-teori waktu yang engkau ketahui! Perbuatan Allah bukan untuk dijadikan objek praktek atau eksperimen, tidak seperti perbuatan manusia”.

Bisa dilihat karya assyeikh Muhammad Mutawalli Asy Sya’rawi, di kitab Khawatiri Haul al Quran (Tafsir Al Sya’rawi)._ Kairo: Maktabah at Turas al Islamiy, t.t. hlm. 8310.

Kemudian di bawah ini akan di tambahkan beberapa dalil berikut penjelasan ulama’ yang diakui keilmuannya skala internasional di antaranya adalah:

  1. Di dalam kitab shohih bukhori, al-imam albukhori memberi judul didalam bab adab yang tertulis :

باب التكبير والتسبيح عند التعجب

Bab membaca takbir dan tasbih ketika kagum

Hadist yang beliau tulis adalah :

عَنْ أُمِّ سَلَمَة َقَالَتِ : اسْتَيْقَظَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقَالَ : ” سُبْحَانَ اللَّهِ، مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنَ الْفِتَنِ ؟ وَمَاذَا فُتِحَ مِنَ الْخَزَائِنِ ؟ أَيْقِظُوا صَوَاحِبَاتِ الْحُجَرِ ؛ فَرُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فِي الْآخِرَةِ

Dari ummu salamah beliau berkata :

“Pada suatu malam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terbangun lalu bersabda: “Subhaanallah (Maha suci Allah), fitnah apakah yang diturunkan pada malam ini? Dan apa yang dibuka dari dua perbendaharaan (Ramawi dan Parsi)? Bangunlah wahai orang-orang yang ada di balik dinding (kamar-kamar), karena betapa banyak orang hidup menikmati nikmat-nikmat dari Allah di dunia ini namun akan telanjang nanti di akhirat (tidak mendapatkan kebaikan).

  1. Untuk judul yang di tulis oleh Imam Bukhori, Imam Bathol berkomentar : Tasbih dan Takbir maknanya adalah mengagungkan Allah, dan menyucikan Allah dari setiap keburukan (yang dinisbatkan kepada Allah), dan penggunaan dzikir di atas adalah di saat takjub (kagum/heran) dan mengungkapkan perkara yang baik, serta di dalam nya terdapat hikmah untuk melatih lisan untuk selalu berdzikir kepada Allah, dan ini adalah penjelasan yang sangat gamblang dari Imam Bukhori dengan memberi judul seperti di atas, jadi seakan-akan beliau memberikan jawaban kepada orang-orang yang melarang ucapan tasbih untuk kagum.
  2. Imam Ibnu Hajar menjelaskan : sungguh telah banyak riwayat hadist-hadist shohih yang menjelaskan tentang “dzikir dengan subhanallah ketika takjub (kagum)” seperti :
  3. Hadist dr Abu Hurairoh R.a :

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻘِﻴَﻨِﻲ النَّبِيُِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺟُﻨُﺐٌ وفيه ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦَ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﺠُﺲُ

Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjumpa dengan aku padahal aku dalam keadaan junub. (Di dalam hadist tersebut) Beliau lalu bersabda: “Subhanallah! Wahai Abu Hurairah, seorang Muslim itu tidaklah najis.”(H.R. muttafaqun alaih).

  1. Hadist dr ‘Aisyah R.ha :

أن امرأة سألت النبي صلي الله عليه وسلم عن غسلها من المحيض وفيه قال تطهري بها قالت : كيف ؟ قال : سبحان الله” الحديث متفق عليه

Dari Aisyah : Bahwasanya ada perempuan bertanya kepada Rasulullah S.A.W tentang tata cara wanita membersihkan diri dari haid, di dalam hadist tersebut disebutkan: nabi bersabda : bersihkanlah dengan kapas tersebut! Lalu wanita itu bertanya lagi: bagaimana caranya? Lalu nabi menjawab : subhanallah (sambil menutup muka beliau)

HR.Muttafaq alaih.

  1. Hadist dr Imron Bin Husein R.a :

في قصة المرأة التي نذرت أن تنحر ناقة النبي صلي الله عليه وسلم فَقَالَ : ” سُبْحَانَ اللَّهِ بِئْسَمَا جَزَتْهَا

Riwayat dari Imron bin Husein tentang kisah seorang wanita yang bernadzar ingin menyembelih onta rasulullah, maka nabi bersabda : Subhanallah “Malang benar jika engkau sembelih unta ini.

  1. Muslim
  2. Hadist Abdullah bin Sallam R.a :

Di dalam riwayat Bukhori dan Muslim ada ungkapan dari sekumpulan shohabat (tentang penilaian mereka terhadap seseorang yang tampak bekas kekhusyuan ibadahnya) seperti riwayat dari Abdullah bin sallam tang di dalam hadist tersebut ada ungkapan kepada laki-laki tersebut : sesungguhnya engkau ini lelaki penghuni syurga. Lalu nabi berkomentar dalam sabda beliau : Subhanallah, Tidak sepatutnya seseorang mengatakan apa yang tidak ia ketahui. HR. Bukhori-Muslim

Penjelasan : 4 hadist di atas disebutkan Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul bari menunjukkan bahwa Nabi Muhammad mengucapkan lafadz Subhanallah ketika takjub (kagum), dan beliau tidak pernah melarang dzikir tersebut di ucapkan ketika kagum terhadap suatu perkara.

  1. Hadist Riwayat Imam Bukhori tentang seseorang takjub (kagum) karena melihat hewan bisa berbicara:

ﻓﻘﺪ ﺭﻭﻯ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ، ﻗَﺎﻝَ : ‏« ﺻَﻠَّﻰ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﺻَﻼَﺓَ ﺍﻟﺼُّﺒْﺢِ، ﺛُﻢَّ ﺃَﻗْﺒَﻞَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺑَﻴْﻨَﺎ ﺭَﺟُﻞٌ ﻳَﺴُﻮﻕُ ﺑَﻘَﺮَﺓً ﺇِﺫْ ﺭَﻛِﺒَﻬَﺎ ﻓَﻀَﺮَﺑَﻬَﺎ، ﻓَﻘَﺎﻟَﺖْ : ﺇِﻧَّﺎ ﻟَﻢْ ﻧُﺨْﻠَﻖْ ﻟِﻬَﺬَﺍ، ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺧُﻠِﻘْﻨَﺎ ﻟِﻠْﺤَﺮْﺙِ ‏» ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱ ُ : سبحان الله بقرة تتكلم

ﻘَﺎﻝَ : ‏« ﻓَﺈِﻧِّﻲ ﺃُﻭﻣِﻦُ ﺑِﻬَﺬَﺍ، ﺃَﻧَﺎ ﻭَﺃَﺑُﻮ ﺑَﻜْﺮٍ، ﻭَﻋُﻤَﺮُ ‏» . ﻭَﻣَﺎ ﻫُﻤَﺎ ﺛَﻢَّ،

‏« ﻭَﺑَﻴْﻨَﻤَﺎ ﺭَﺟُﻞٌ ﻓِﻲ ﻏَﻨَﻤِﻪِ ﺇِﺫْ ﻋَﺪَﺍ ﺍﻟﺬِّﺋْﺐُ، ﻓَﺬَﻫَﺐَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺑِﺸَﺎﺓٍ، ﻓَﻄَﻠَﺐَ ﺣَﺘَّﻰ ﻛَﺄَﻧَّﻪُ ﺍﺳْﺘَﻨْﻘَﺬَﻫَﺎ ﻣِﻨْﻪُ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺬِّﺋْﺐُ ﻫَﺬَﺍ : ﺍﺳْﺘَﻨْﻘَﺬْﺗَﻬَﺎ ﻣِﻨِّﻲ، ﻓَﻤَﻦْ ﻟَﻬَﺎ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﺴَّﺒُﻊِ، ﻳَﻮْﻡَ ﻻَ ﺭَﺍﻋِﻲَ ﻟَﻬَﺎ ﻏَﻴْﺮِﻱ ‏» ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ : ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ! ﺫِﺋْﺐٌ ﻳَﺘَﻜَﻠَّﻢُ . ﻗَﺎﻝَ : ‏« ﻓَﺈِﻧِّﻲ ﺃُﻭﻣِﻦُ ﺑِﻬَﺬَﺍ ﺃَﻧَﺎ ﻭَﺃَﺑُﻮ ﺑَﻜْﺮٍ ﻭَﻋُﻤَﺮُ ‏» .

ﻭَﻣَﺎ ﻫُﻤَﺎ ﺛَﻢَّ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu , dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Dahulu, ada seorang lelaki berjalan sembari menunggangi seekor sapi miliknya [dan dia pun memukuli/mencambukinya]. Maka sapi itu pun menoleh kepadanya dan berkata, ‘Aku diciptakan bukan untuk diperlakukan seperti ini. Akan tetapi aku diciptakan untuk bercocok tanam.’.” Maka orang-orang pun berkomentar, “Subhanallah -dengan perasaan heran dan kaget-, sapi bisa berbicara?.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku mengimani -meyakini kebenaran- hal itu, demikian juga Abu Bakar dan Umar.” (HR. Bukhari )

  1. Imam Nawawi dalam Syarah shohih muslim juz 3/10 menjelaskan sebagai berikut :

ولفظة (سبحان الله) لإرادة التعجب كثيرة في الحديث وكلام العرب

Artinya : “dan lafadz subhanallah untuk bermaksud takjub (kagum) sangat banyak disebutkan dalam hadist dan percakapan orang arab.

  1. Imam Nawawi juga memberi judul dalam kitab al-adzkar :

باب جواز التعجب بلفظ التسبيح والتهليل ونحوهما

Bab kebolehan mengucapkan tasbih, tahlil dan seumpamanya di saat takjub (kagum).

  1. Di dalam almausuah alfiqhiyah alkuwaitiyah disebutkan bab tentang tasbih untuk takjub dan menampilkan hadist :

a.

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺃﻧﻪ ﻟﻘﻴﻪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﻃﺮﻳﻖ ﻣﻦ ﻃﺮﻕ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻭﻫﻮ جنب ﻔﺎﻧﺴﻞ ﻓﺬﻫﺐ ﻓﺎﻏﺘﺴﻞ ﻓﺘﻔﻘﺪﻩ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻠﻤﺎ ﺟﺎﺀﻩ ﻗﺎﻝ : ﺃﻳﻦ ﻛﻨﺖ ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﻫﺮﻳﺮﺓ .

ﻗﺎﻝ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻘﻴﺘﻨﻲ ﻭﺃﻧﺎ ﺟﻨﺐ ﻓﻜﺮﻫﺖ ﺃﻥ ﺃﺟﺎﻟﺴﻚ ﺣﺘﻰ ﺃﻏﺘﺴﻞ . ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﺳﺒﺤﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻥ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻻ ﻳﻨﺠﺲ.

Dari Abu Hurairah bahwasanya dia bertemu Nabi ﷺ di salah satu jalan di Madinah, dan dia junub. Maka dia menyelinap pergi untuk mandi, sehingga Rasulullah ﷺ mencari-carinya. Ketika dia datang kembali, beliau pun bertanya, “Kemana kamu pergi wahai Abu Hurairah ?” Dia menjawab, “Wahai Rasulullah, engkau menemuiku dalam keadaan aku junub, aku merasa tidak suka untuk duduk bersama kamu hingga aku mandi. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda:

“Maha Suci Allah, orang mukmin itu tidak najis.

  1. Hadist riwayat Anas :

عَنْ أَنَسٍ ، أَنَّ أُخْتَ الرُّبَيِّعِ أُمَّ حَارِثَةَ جَرَحَتْ إِنْسَانًا، فَاخْتَصَمُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” الْقِصَاصَ، الْقِصَاصَ “. فَقَالَتْ أُمُّ الرَّبِيعِ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُقْتَصُّ مِنْ فُلَانَةَ ؟ وَاللَّهِ لَا يُقْتَصُّ مِنْهَا. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” سُبْحَانَ اللَّهِ يَا أُمَّ الرَّبِيعِ الْقِصَاصُ كِتَابُ اللَّهِ “. قَالَتْ : لَا وَاللَّهِ لَا يُقْتَصُّ مِنْهَا أَبَدًا. قَالَ : فَمَا زَالَتْ حَتَّى قَبِلُوا الدِّيَةَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ مَنْ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ “.

Dari Anas R.a sesungguhnya saudara perempuan arrobi’ yaitu ummu haritsah melukai seseorang, mereka mengadukan kepada nabi lalu beliau bersabda : “hukuman qishos, hukuman qishos” lalu ummu robi’ berkata : wahai rosulullah apakah si fulanah harus di hukum qishos? Demi Allah, dia tidak berhak di qishos. Nabi ﷺ bersabda : Sunhanallah wahai ummu robi’, hukuman qishos itu ada di Al-qur’an. Lalu ummu robi’ berkata lagi : tidaj, demi Allah dia tidak berhak di qishos selamanya. Nabi ﷺ

Bersabda : ia masih terkena hukuman qishos sampai mereka menerima diyat, kemudian Rasulullah ﷺ

Bersabda : sesungguhnya ada dari kalangan hamba-hamba Allah seseorang yang jika dia bersumpah atas nama Allah maka Allah mengabulkannya.

Tambahan : di dalam buku basahi lidahmu dengan dzikrullah karya syeikh irfan bin sulaim al-asya hasunah di halaman 240 tertulis judul untuk hadist di atas : “apa yang harus diucapkan seorang ketika merasa kagum dengan sesuatu padahal ia mengingkari sebelumnya atau merasa takut darinya.

  1. Imam Nawawi dalam Tahdzib al asma’ wash shifat juz 3/143 menjelaskan : sebagian ulama menjelaskan bahwa secara hukum asal penggunaan tasbih itu ketika melihat perkara yang mengagumkan dari ciptaan Allah, kemudian berlakulah dzikir tersebut untuk bentuk takjub yang lain.

Dari paparan di atas jelaslah bagi kita bahwa membaca subhanallah ketika takjub (kagum) tidak lah dilarang bahkan di sunnahkan, maka dari itu hendaknya orang-orang yang menyalahkan tanpa ilmu agar menahan diri dari menyampaikan apa yang tidak di ketahui, bertanyalah kepada para ulama’ agar tidak gampang menyalahkan orang lain.

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

SIFAT MUKHOLAFATUL LIL HAWADIS NYA ALLOH SWT SEBELUM MENCIPTAKAN HAWADIS

Sebelum ada alam dan sebelum ada semuanya (hawadits) ALLAH bersifat Mukholafatul lil hawadis pada apa?

JAWABAN :

Imam at-Thohaawy berkata : “Seperti halnya sifat-sifat Allah yang kesemuanya sebangsa azali begitu juga Allah senatiasa bersifatan dengannya secara abadi, bukan setelah menjadikan selainNya, Allah memperoleh asma AL-KHAALIQ (Sang Pencipta). Asma-asma ini menetap padaNya tanpa permulaan dan akhiran.

Baca keterangan kitabAsmaa al-Husna II/7 :

الكتاب : أسماء الله الحسنى

قال الإمام الطحاوى : وكما كان بصفاته أزليا كذلك لا يزال عليها أبديا ليس بعد خلق الخلق استفاد اسم الخالق ولا بإحداث البرية استفاد اسم الباري ) من أسماء الله عز وجل الباري ، يعني الخالق ، برى الخلق يعني خلقهم فهو الباري ، وهذا الاسم ملازم لذاته ليست له بداية ولا نهاية

Arti sifat-sifat Allah semuanya sebangsa qadim (dahulu) adalah tanpa ada permulaan bersifatannya Allah dengannya, tidak ada keterkaitan antara keberadaan yang menyandang sifat dan obyeknya. Pemilik sifat dalam kedudukan semacam ini “wujud tanpa ada permulaan yang mengawali wujudnya sebagaimana tanpa akhiran yang mengakhiri pada kekekalannya”

Dengan demikian MUKHALAFAH LIL HAWADITS (sifat berbedanya Allah dengan makhluknya) adalah sifat yang melekat pada diri Allah semenjak  azali, perbedaan Allah dengan makhluk menjadi ketetapan baik sebelum, saat, atau sesudah wujudnya makhluk tanpa terpengaruh sedikitpun akan keberadaan dan tidaknya sesuatu yang bernama makhluk (obyek).

Wallahu A’lamu Bis Showab.

Keterangan lengkapnya :

معنى أن الصفات قديمة أنها لا بداية لوصف الله تعالى بها، أي على تقدير وجود الواصف والموصوف. والموصوف في هذا المقام موجود لا أول لوجوده كما لا آخر لبقائه، لأنه الله تعالى رب العالمين، والواصف إما أن يكون هو الله تعالى ولله تعالى أن يثني على نفسه كما يشاء، وحتى قبل أن يخلق الخلق، وأما إن كان الواصف المخلوق، فإنما يصف الله تعالى على ما هو عليه على تقدير عدم وجود المخلوقات.

يعني : أنت الآن لو قدرت في ذهنك عدم وجود المخلوقات، وقلت هل كان الله تعالى موجودا، فالجواب بعم بالطبع، فلو سألت نفسك : هل الله تعالى قبل وجود المخلوقات يشبه شيئا منها إذا وجدت، أو يشبه ما علم هو جل شأنه أنه سيوجَدُ منها، أو ما لن يوجد.

فالجواب هو لا قطعا.

يعني إن الله تعالى يعلم أنه لا يشبه شيئا من مخلوقاته ، وعلمه هذا ثابت منذ الأزل، وعدم مشابهته لمخلوقاته ثابت منذ الأزل، سواء قدرت وجودا المخلوقات أم لم تقدر ذلك.

فقولنا إن الله تعالى مخالف للحوادث، والذي معناه أنه تعالى لا يشبه شيئا من المخلوقات، هذا الوصف ثابت لله تعالى أزلا وأبدا كما ترى، على التقادير السابقة.

فالحوادث لها صفات ، وهذه الصفات ثابتة لها في نفس الأمر، كما تقول إن هذا العالم موصوف بالإمكان، قبل وجوده وبعد وجوده، فوصفه بالإمكان ثابت له أزلا وأبدا، لأن هذا الوصف وصف له في نفسه، ولا يتوقف وصف العالم بالإمكان على وجود العالم. وكذلك تقول: إن العالم المخلوق موصوف بالافتقار الذي هو فرع الإمكان، فكل ممكن مفتقر، والوصف بالافتقار ثابت للعالم قبل وجود العالم وبعد وجوده، ولا يتوقف وصف العالم بالافتقار على وجوده. وهكذا….

فتقول: بناء على هذا: الله تعالى مخالف للحوادث قبل وجود الحوادث وبعد وجود الحوادث، ولا يتوقف وصفه بالمخالفة للحوادث على وجود الحوادث. فاتصاف الله تعالى بكونه مخالفا للحوادث لا أول له. وبناء على نفي الأولية له، يمكن وصفه بالقدم، بناء على أن القديم هو ما لا أول له.

MENGETAHUI HAKIKAT SHOLAT YANG SEBENARNYA

Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf adalah salah satu ulama dengan kapasitas ilmu pengetahuan dhohir dan bathin yang diakui oleh ulama-ulama sezamanya. Al Arif Billah Habib Abdullah bin Idrus Al Aydrus menyebut beliau sebagai kholifah di masanya.

Pada satu kesempatan di masjid Thoha, Hadramaut, pada tanggal 20 Syawal 1353 Hijriyah, beliau memberikan ceramah ilmiah bertemakan shalat. Beliau berkata, shalat merupakan sarana paling utama bagi manusia untuk dapat selalu berinteraksi dengan Penciptanya. Dahulu  Nabi  Zakariya a.s. menjadikan shalat sebagai fasilitas  ketika beliau meminta kepada Allah untuk diberikan keturunan. Doa beliau dikabulkan dan mendapatkan seorang putra yaitu Nabi Yahya yang merupakan anugerah terbesar dalam hidupnya. Rasul SAW bersabda, ‘Hal yang paling membuatku senang adalah shalat’. Dengan shalat beliau merasakan suatu kenikmatan yang tiada banding, berdialog dengan Allah SWT.

Dalam kitab Nashoih Dinniyah Habib Abdullah Alhaddad mengibaratkan shalat sebagaimana kepala pada manusia. Manusia mustahil dapat hidup tanpa kepala. Demikian halnya semua perbuatan baik manusia akan sia-sia jika tanpa disertai shalat. Shalat merupakan parameter diterima atau tidaknya amal perbuatan manusia. Rasul SAW bersabda, ‘Pertama yang diperhitungkan pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya diterima, maka seluruh amal sholehnya diterima, namun jika shalatnya ditolak, maka seluruh amal solehnya ditolak pula.’

Habib Ahmad kemudian bercerita, “Al-walid Sayid Alwi bin Abdurrahman Assegaf berkata, ‘Sesungguhnya pamanku Abdurrahman bin Ali berkata, jika kamu mempunyai hajat baik urusan dunia ataupun akhirat, maka memintalah pertolongan kepada Allah SWT dengan melaksanakan shalat. Bacalah  akhir surat Thoha  seusai shalat, Insya Allah dengan segala kebesaran-Nya akan dikabulkan hajat dan keinginanmu.’

Namun shalat kita pada masa sekarang ini tidaklah seperti shalat para salaf terdahulu yang penuh khusyu’ dan khidmat. Shalat kita merupakan shalat yang selalu dipenuhi kelalaian dan kealpaan, sehingga sangatlah kecil prosentase diterimanya. Orang-orang sufi terdahulu yang tidak diragukan lagi kedalaman ilmu pengetahuannya, menambahkan tiga rukun pada rukun-rukun  shalat  yang dikemukakan para ulama fiqih yaitu, khusuk atau tadabbur (hadirnya hati), khudu’(merendahkan diri kepada Allah) dan ikhlas. Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.”

Penafsiran mereka dalam ayat ini adalah, ‘Janganlah kalian mendekati (mengerjakan) shalat sedangkan kalian dalam keadaan mabuk oleh kesenangan dunia hingga pikiran kalian kosong dari dari segala urusan dunia.’

Sekarang kita saksikan orang-orang melaksanakan shalat  namun hati mereka masih selalu tertuju pada urusan dunia, baik urusan jual beli maupun pekerjaan mereka. Akibatnya mereka lupa berapa rokaat yang telah mereka kerjakan, tidak mengetahui surat apa yang telah dibacakan imam. Mereka sama sekali tidak menghayati bacaan Alfatihah dan ayat-ayat yang lain dalam shalat, mereka tidak menyadari bahwa mereka berdiri di depan Maha Penguasa dan sedang berdialog dengan Maha Pencipta. Urusan-urusan duniawi benar-benar telah menguasai hati manusia.

Orang yang memikirkan urusan dunia dalam shalat sama halnya dengan orang yang melumuri Al-Qur’an yang suci dengan khomer. Shalat  yang seharusnya menjadi wadah yang suci  telah mereka penuhi dengan kotoran-kotoran yang menjijikkan. Tanpa ada niat ikhlas yang merupakan ruh dari shalat, orang yang demikian diibaratkan oleh Imam Ghozali seperti seseorang yang  menghadiahkan seonggok bangkai dengan kemasan rapi kepada seorang raja. Tentunya perbuatan tersebut bukannya menyenangkan hati raja melainkan membuat dia marah dan murka karena dianggap telah melecehkan kehormatan dan kebesarannya.

Para salaf terdahulu memandang shalat sebagai hal yang sangat sakral dan agung. Mereka selalu berusaha melaksanakan dengan sesempurna mungkin. Hingga diantara mereka acapkali dihinggapi burung saat shalat karena sangat khusyuk dan tenangnya. Ada pula yang sampai tidak merasakan dahsyatnya gempa bumi yang meluluh lantakkan bangunan-bangunan di sekitarnya. Bahkan Imam Ali bin Husein sama sekali tak merasakan  panasnya kobaran api yang membumi hanguskan rumah beliau saat beliau tenggelam dalam shalatnya. Saat ditanya beliau hanya berujar, ‘Panasnya api yang lain (api neraka) telah membuatku tak merasakan panasnya api dunia.’

Habib Ahmad kemudian memberikan tausiyah, ‘Rasul SAW bersabda, ‘Ada seorang lelaki di antara kamu, rambut di kedua pipinya telah memutih namun tidak diterima satu pun shalatnya.’ Ini menunjukkan bahwa tak ada satu shalat pun yang dia kerjakan dengan khusyuk. Padahal, mulai usia 15 tahun hingga enam puluh tahun sudah berapa kali dia mengerjakan shalat. Jika tidak ada satu shalat pun yang dia kerjakan dengan khusyuk, itu berarti hatinya benar-benar dikuasai urusan keduniaan.

Ini adalah masalah kompleks di tengah masyarakat Islam yang harus disikapi dengan serius, terutama bagi para ulama dan penuntut ilmu. Adapun orang awam pada zaman sekarang sudah merasa cukup dengan shalat serba praktis seperti yang biasa mereka kerjakan. Bahkan di antara mereka ada yang mengeluh jika mendapati seorang imam shalat terlalu lama. Mereka lebih memilih imam yang lebih cepat dan ringkas sembari mengesampingkan unsur kekhusyukan yang sebenarnya esensial dalam shalat. Bagaimana dengan shalat kita?

AQIDAH MODEL MUJASIMAH TERNYATA MIRIP HAYALAN FIR’AUN LAKNATULLOH

: ﺍﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻟﻤﺎ ﻭﺻﻒ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﺑﻜﻮﻧﻪ ﻣﺘﻜﺒﺮﺍ ﺟﺒﺎﺭﺍ ﺑﻴﻦ ﺃﻧﻪ ﺃﺑﻠﻎ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻼﺩﺓ ﻭﺍﻟﺤﻤﺎﻗﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺼﺪ ﺍﻟﺼﻌﻮﺩ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻤﺎﻭﺍﺕ ، ﻭﻓﻲ ﺍﻵﻳﺔ ﻣﺴﺎﺋﻞ :

ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﺍﻷﻭﻟﻰ : ﺍﺣﺘﺞ ﺍﻟﺠﻤﻊ ﺍﻟﻜﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺸﺒﻬﺔ ﺑﻬﺬﻩ ﺍﻵﻳﺔ ﻓﻲ ﺇﺛﺒﺎﺕ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﻭﺍﺕ ﻭﻗﺮﺭﻭﺍ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﻭﺟﻮﻩ ; ﺍﻷﻭﻝ : ﺃﻥ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮﻳﻦ ﻟﻮﺟﻮﺩ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻭﻛﻞ ﻣﺎ ﻳﺬﻛﺮﻩ ﻓﻲ ﺻﻔﺎﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﺬﻟﻚ ﺇﻧﻤﺎ ﻳﺬﻛﺮﻩ ﻷﺟﻞ ﺃﻧﻪ ﺳﻤﻊ ﺃﻥ ﻣﻮﺳﻰ

ﻳﺼﻒ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺬﻟﻚ ، ﻓﻬﻮ ﺃﻳﻀﺎ ﻳﺬﻛﺮﻩ ﻛﻤﺎ ﺳﻤﻌﻪ ، ﻓﻠﻮﻻ ﺃﻧﻪ ﺳﻤﻊ

ﻣﻮﺳﻰ ﻳﺼﻒ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺄﻧﻪ ﻣﻮﺟﻮﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﻭﺇﻻ ﻟﻤﺎ ﻃﻠﺒﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ . ﺍﻟﻮﺟﻪ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ : ﻭﺇﻧﻲ ﻷﻇﻨﻪ ﻛﺎﺫﺑﺎ ، ﻭﻟﻢ ﻳﺒﻴﻦ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﺫﺏ ﻓﻲ ﻣﺎﺫﺍ ، ﻭﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ﺍﻟﺴﺎﺑﻖ ﻣﺘﻌﻴﻦ ﻟﺼﺮﻑ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﺇﻟﻴﻪ ، ﻓﻜﺄﻥ ﺍﻟﺘﻘﺪﻳﺮ : ﻓﺄﻃﻠﻊ ﺇﻟﻰ ﺍﻹﻟﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺰﻋﻢ ﻣﻮﺳﻰ ﺃﻧﻪ ﻣﻮﺟﻮﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ، ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : ‏( ﻭﺇﻧﻲ ﻷﻇﻨﻪ ﻛﺎﺫﺑﺎ ‏) ﺃﻱ ﻭﺇﻧﻲ ﻷﻇﻦ ﻣﻮﺳﻰ ﻛﺎﺫﺑﺎ ﻓﻲ ﺍﺩﻋﺎﺋﻪ ﺃﻥ ﺍﻹﻟﻪ ﻣﻮﺟﻮﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ، ﻭﺫﻟﻚ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺩﻳﻦ ﻣﻮﺳﻰ ﻫﻮ ﺃﻥ ﺍﻹﻟﻪ ﻣﻮﺟﻮﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ

. ﺍﻟﻮﺟﻪ ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ : ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺄﻧﻪ ﻟﻮ ﻭﺟﺪ ﺇﻟﻪ ﻟﻜﺎﻥ ﻣﻮﺟﻮﺩﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ، ﻋﻠﻢ ﺑﺪﻳﻬﻲ ﻣﺘﻘﺮﺭ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺍﻟﻌﻘﻮﻝ ، ﻭﻟﺬﻟﻚ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﺼﺒﻴﺎﻥ ﺇﺫﺍ ﺗﻀﺮﻋﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﻓﻌﻮﺍ ‏[ ﺹ : 57 ‏] ﻭﺟﻮﻫﻬﻢ ﻭﺃﻳﺪﻳﻬﻢ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ، ﻭﺇﻥ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﻣﻊ ﻧﻬﺎﻳﺔ ﻛﻔﺮﻩ ﻟﻤﺎ ﻃﻠﺐ ﺍﻹﻟﻪ ﻓﻘﺪ ﻃﻠﺒﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ، ﻭﻫﺬﺍ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺄﻥ ﺍﻹﻟﻪ ﻣﻮﺟﻮﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﻋﻠﻢ ﻣﺘﻘﺮﺭ ﻓﻲ ﻋﻘﻞ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ ﻭﺍﻟﺰﻧﺪﻳﻖ ﻭﺍﻟﻤﻠﺤﺪ ﻭﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﻭﺍﻟﺠﺎﻫﻞ .

ﻓﻬﺬﺍ ﺟﻤﻠﺔ ﺍﺳﺘﺪﻻﻻﺕ ﺍﻟﻤﺸﺒﻬﺔ ﺑﻬﺬﻩ ﺍﻵﻳﺔ ، ﻭﺍﻟﺠﻮﺍﺏ : ﺃﻥ ﻫﺆﻻﺀ ﺍﻟﺠﻬﺎﻝ ﻳﻜﻔﻴﻬﻢ ﻓﻲ ﻛﻤﺎﻝ ﺍﻟﺨﺰﻱ ﻭﺍﻟﻀﻼﻝ ﺃﻥ ﺟﻌﻠﻮﺍ ﻗﻮﻝ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﺍﻟﻠﻌﻴﻦ ﺣﺠﺔ ﻟﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺻﺤﺔ ﺩﻳﻨﻬﻢ ، ﻭﺃﻣﺎ ﻣﻮﺳﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻓﺈﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﺰﺩ ﻓﻲ ﺗﻌﺮﻳﻒ ﺇﻟﻪ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﻋﻠﻰ ﺫﻛﺮ ﺻﻔﺔ ﺍﻟﺨﻼﻗﻴﺔ ﻓﻘﺎﻝ ﻓﻲ ﺳﻮﺭﺓ ﻃﻪ : ‏( ﺭﺑﻨﺎ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﻋﻄﻰ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﺧﻠﻘﻪ ﺛﻢ ﻫﺪﻯ ‏) ‏[ ﻃﻪ : 50 ‏] ﻭﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺸﻌﺮﺍﺀ : ‏( ﺭﺑﻜﻢ ﻭﺭﺏ ﺁﺑﺎﺋﻜﻢ ﺍﻷﻭﻟﻴﻦ ‏) ‏( ﺭﺏ ﺍﻟﻤﺸﺮﻕ ﻭﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﻭﻣﺎ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ‏) ‏[ ﺍﻟﺸﻌﺮﺍﺀ : 28 ‏] ﻓﻈﻬﺮ ﺃﻥ ﺗﻌﺮﻳﻒ ﺫﺍﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻜﻮﻧﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﺩﻳﻦ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﻭﺗﻌﺮﻳﻔﻪ ﺑﺎﻟﺨﻼﻗﻴﺔ ﻭﺍﻟﻤﻮﺟﻮﺩﻳﺔ ﺩﻳﻦ ﻣﻮﺳﻰ ، ﻓﻤﻦ ﻗﺎﻝ ﺑﺎﻷﻭﻝ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺩﻳﻦ ﻓﺮﻋﻮﻥ ، ﻭﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﺑﺎﻟﺜﺎﻧﻲ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺩﻳﻦ ﻣﻮﺳﻰ ، ﺛﻢ ﻧﻘﻮﻝ : ﻻ ﻧﺴﻠﻢ ﺃﻥ ﻛﻞ ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻟﻪ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﻓﻲ ﺻﻔﺎﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﺬﻟﻚ ﻗﺪ ﺳﻤﻌﻪ ﻣﻦ ﻣﻮﺳﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ، ﺑﻞ ﻟﻌﻠﻪ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺩﻳﻦ ﺍﻟﻤﺸﺒﻬﺔ ﻓﻜﺎﻥ ﻳﻌﺘﻘﺪ ﺃﻥ ﺍﻹﻟﻪ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻣﻮﺟﻮﺩﺍ ﻟﻜﺎﻥ ﺣﺎﺻﻼ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ، ﻓﻬﻮ ﺇﻧﻤﺎ ﺫﻛﺮ ﻫﺬﺍ ﺍﻻﻋﺘﻘﺎﺩ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﻧﻔﺴﻪ ﻻ ﻷﺟﻞ ﺃﻧﻪ ﻗﺪ ﺳﻤﻌﻪ ﻣﻦ ﻣﻮﺳﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ .

ﻭﺃﻣﺎ ﻗﻮﻟﻪ : ‏( ﻭﺇﻧﻲ ﻷﻇﻨﻪ ﻛﺎﺫﺑﺎ ‏) ﻓﻨﻘﻮﻝ : ﻟﻌﻠﻪ ﻟﻤﺎ ﺳﻤﻊ ﻣﻮﺳﻰ

ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻗﺎﻝ : ‏( ﺭﺏ ﺍﻟﺴﻤﺎﻭﺍﺕ ﻭﺍﻷﺭﺽ ‏) ‏[ ﺍﻹﺳﺮﺍﺀ : 102 ‏] ﻇﻦ ﺃﻧﻪ ﻋﻨﻰ ﺑﻪ ﺃﻧﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﺴﻤﺎﻭﺍﺕ ، ﻛﻤﺎ ﻳﻘﺎﻝ ﻟﻠﻮﺍﺣﺪ ﻣﻨﺎ : ﺇﻧﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﺪﺍﺭ ﺑﻤﻌﻨﻰ ﻛﻮﻧﻪ ﺳﺎﻛﻨﺎ ﻓﻴﻪ ، ﻓﻠﻤﺎ ﻏﻠﺐ ﻋﻠﻰ ﻇﻨﻪ ﺫﻟﻚ ﺣﻜﻰ ﻋﻨﻪ ، ﻭﻫﺬﺍ ﻟﻴﺲ ﺑﻤﺴﺘﺒﻌﺪ ، ﻓﺈﻥ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﻛﺎﻥ ﺑﻠﻎ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻬﻞ ﻭﺍﻟﺤﻤﺎﻗﺔ ﺇﻟﻰ ﺣﻴﺚ ﻻ ﻳﺒﻌﺪ ﻧﺴﺒﺔ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺨﻴﺎﻝ ﺇﻟﻴﻪ ، ﻓﺈﻥ ﺍﺳﺘﺒﻌﺪ ﺍﻟﺨﺼﻢ ﻧﺴﺒﺔ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺨﻴﺎﻝ ﺇﻟﻴﻪ ﻛﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﻻﺋﻘﺎ ﺑﻬﻢ ; ﻷﻧﻬﻢ ﻟﻤﺎ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺩﻳﻦ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﻭﺟﺐ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺗﻌﻈﻴﻤﻪ . ﻭﺃﻣﺎ ﻗﻮﻟﻪ : ﺇﻥ ﻓﻄﺮﺓ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﺷﻬﺪﺕ ﺑﺄﻥ ﺍﻹﻟﻪ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻣﻮﺟﻮﺩﺍ ﻟﻜﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ، ﻗﻠﻨﺎ : ﻧﺤﻦ ﻻ ﻧﻨﻜﺮ ﺃﻥ ﻓﻄﺮﺓ ﺃﻛﺜﺮ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺗﺨﻴﻞ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﺻﺤﺔ ﺫﻟﻚ ﻻ ﺳﻴﻤﺎ ﻣﻦ ﺑﻠﻎ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻤﺎﻗﺔ ﺇﻟﻰ ﺩﺭﺟﺔ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﻓﺜﺒﺖ ﺃﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﺳﺎﻗﻂ

Ketahuilah

Saat Allah menshifati Fir’aun dengan sombong dan angkuh karena dia sangat” bodoh dengan tingkahnya yang ingin membuat bangunan/tangga menuju ke langit (untuk melihat tuhannya musa)

Di dalam ayat ada beberapa permasalahan :

  1. Kebanyakan kelompok musyabbihah (kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluknya) berhujjah dengan ayat ini untuk menetapkan Allah di langit dan mereka menetapkan beberapa point:

  1. Fir’aun termasuk orang yang ingkar tentang wujudnya Allah, maka segala sesuatu yang menyebutkan tentang sifatnya Allah, disebutkan olehnya karena dia mendapatkan info tersebut dari nabi musa A.S saat menerangkan kepada fir’aun tentang shifat” Allah, maka fir’aun pun menyebutkan hal tersebut apa adanya, kalaulah dia tidak mendengar musa menyebutkan Allah berada di langit maka dia tidak akan berencana mencari tuhannya musa di langit.

  1. Fir’aun berkata : aku menyangka bahwa musa ini berbohong, dan tidak menjelaskan kebohongan musa tentang apa? Dan perkara yang disebutkan sebelumnya menjelaskan untuk mengarahkan kepada fokus pembahasan, maka seakan” penjelasannya begini : maka aku akan melihat tuhannya musa yang dia menyangka bahwa tuhannya berada di langit lalu dia berkata :

وإني لأظنه كاذبا

Maksudnya adalah sungguh aku menyangka bahwa musa berbohong terhadap pengakuannya yabg menjelaskan bahwa tuhannya berada di langit, yang demikian itu menunjukkan bahwa agama yang dibawa oleh nabi musa menetapkan bahwa Allah itu bertempat di langit.

  1. Ilmu pasti menyebutkan bahwa jika seandainya ada tuhan maka pasti ada di langit, ini adalah ilmu yang bisa diterima akal, maka dari itu seseorang apabila mengadu kepada Allah mereka mengangkat wajah dan tangannya ke langit, dan fir’aun walaupun sangat kufur kepada Allah ketia dia mencari tuhan sungguh dia akan mencaringa di langit, ini menunjukkan sebuah kepastian bahwasanya Allah ada di langit adalag ilmu yang bisa diterima oleh akal oleh semua orang baik orang yg jujur, zindiq, penentang agama, orang berilmu atau orang bodoh ini adalah kesimpulan yang di jadikan dalil oleh kelompok musyabbihah dg ayat ini.

Jawab: sesunnguhnya mrk orang” yang bodoh cukuplah bagi mereka dianggap sesat yang nyata di saat mereka menjadikan ucapan fir’aun sebagai hujjah untuk membenarkan ajaran mereka, adapun Nabi Musa A.S. ketika menjelaskan tentang tuhan (kepada fir’aun) tidak melebihi dari apa yang di sebutkan dalam ayat” di bawah ini :

  1. surat thoha :

Tuhan kita adalah tuhan yang memberikan segala sesuatu kepada makhluknya kemudian diberikan petunjuk (thoha:50)

  1. Dalam surat asyu’aro’:

Tuhan kalian dan tuhan nenek moyang kalian yang terdahulu (asyuaro’ 20)

Maka jelaslah bahwa pengetahuan dzat Allah berada di langit adalah Agama Fir’aun, dan pengetahuan tentang ketuhanan Allah dan ada nya Allah adalah agamanya nabi Musa, maka barang siapa yang berkata yang pertama (Allah berada di langit) adalah ajaran agamanya fir’aun.

Barangsiapa yang berkata perkataan kedua (keberadaan Allah tanpa menjelaskan tempat Allah) adalah ajatan agama nabi Musa,

Jawaban kita kepada mereka:

Kita tidak yakin dengan setiap apa yang diucapkan fir’aun dalam menshifati Allah itu adalah ungkapan yang dia dengar dari Nabi Musa karena sebenarnya itu adalah sesuai dengan agama kaum musyabbihah (kaum yang menyerupakan Allah dengan makhluk) itu adalah keyakinan fir’aun sendiri yaitu : “jika tuhan itu ada mestinya dia bertempat di langit”, apa yang disebutkan oleh fir’aun adalah keyakinan dia sendiri bukan karena dia mendengar dari nabi musa A.S.

Adapun ucapan fir’aun :

وإني لأظنه كاذبا

*Sesungguhnya aku menyangka Musa itu berbohong*

Jawaban kita : pengingkaran fir’aun ini disaat dia mendengar Nabi Musa berkata :

رب السماوات والأرض

Tuhan langit dan bumi

(al-isro’ : 102)

رب السماوات والأرض

Juga bisa di artikan penguasa langit dan bumi.

Ada sebuah tamtsil jika kita katakan kepada seseorang : fulan itu robbud dar (penguasa rumah) maka yang ada di benaknya adalah fulan itu bertempat di rumah tersebut, itu lah yang ada di fikiran fir’aun saat nabi musa mengatakan

رب السماوات والأرض

Allah adalah penguasa langit dan bumi.

(Karena dia menganggap Allah itu sama dengan dia, karean dia jg mengaku menjadi tuhan, dalam benaknya tuhan itu harus bertempat dan duduk seperti dia, red) maka dari itu dia menceritakan ke khalayak ramai apa yang ada di khayalannya.

Memahami ini tidaklah rumit, krn fir’aun itu bodoh dan goblok (dalam memahami tuhan) sehingga dia nisbatkan perkataannya itu dengan khayalan dia sendiri (bukan berdasarkan penjelasan dr nabi musa), maka pantaslah dia nisbatkan penjelasan tsb (tuhan bertempat) kpd khayalannya fir’aun sendiri, dan juga golongan yang mengikuti agama fir’aun wajib mengagungkan khayalan fir’aun tsb.

Adapun ungkapan: sesungguhnya fitrah fir”aun bersaksi bahwasanya jika ada tuhan maka pasti tuhan itu bertempat di langit.

(krn fir’aun mengaku tuhan dan tempat dia ada di bumi, lalu nabi musa menjelaskan bahwa tuhannya lah yang menguasai langit dan bumi yang akhirnya fir’aun mengambil kesimpulan, jika ada tuhan lain maka pasti dia bertempat di langit bukan di bumi seperti dia,red)

Maka jawaban kami:

kami tidak mengingkari sesungguhnya fitrah kebanyakan manusia (yang kafir) akan berhayal (menyamakan Allah dengan makhluk yg butuh tempat ), apalagi orang yang fikirannya sama dengan fikiran bodoh nya fir’aun (dalam hal ketuhanan)

Dan jelaslah pendapat fir’aun tidak bisa dijadikan rujukan.

INILAH KETENTUAN DALAM MENGUCAPKAN DUA KALIMAH SYAHADAT

            Untuk menjadi  Islam adalah beriman dan meyakini dalam hati akan ketauhidan Allah dan diutusnya Rasulullah serta segala yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Karena keyakinan letaknya di hati yang tidak bisa diketahui orang lain, maka menjadi persyaratan keislaman seseorang dalam hukum dunia diharuskan untuk mengucapkan dua kalimat Syahadat. Pengucapannya tidaklah diharuskan dengan bahasa Arab, melainkan boleh dengan bahasa selainnya walaupun ia bisa berbahasa Arab.

            Satu hal yang terpenting dalam pengucapan dua kalimat syahadat  adalah mengetahui dan memahami akan arti dari dua kalimat syahadat yang ia ucapkan. Oleh karena itu, ketika ia mengucapkan dua kalimat syahadat dalam bahasa Arab dengan cara dituntun, namun ia tidak mengerti dan memahami maksud dari kalimat itu, maka syahadatnya BELUM SAH dalam menetapkan keislamannya dalam hukum dunia. Namun demikian, jika ia benar-benar telah beriman kepada Allah dan Rasulullah, maka ia tetap dihukumi Muslim di sisi Allah SWT.

REFERENSI :

إعانة الطالبين – (ج 4 / ص 157)

(قوله: تتمة) أي في بيان ما يحصل به الاسلام مطلقا على الكافر الاصلي وعلى المرتد (قوله: إنما يحصل إسلام الخ) عبارة التحفة ولا بد في الاسلام مطلقا وفي النجاة من الخلود في النار كما حكى عليه الاجماع في شرح مسلم من التلفظ بالشهادتين الخ (قوله: بالتلفظ بالشهادتين) متعلق بيحصل وإنما توقف صحة الاسلام عليه لان التصديق القلبي أمر باطني لا إطلاع لنا عليه فجعله الشارع منوطا بالنطق بالشهادتين الذي مدار الاسلام عليه (وقوله: من الناطق) خرج به الاخرس فلا يطالب بالنطق، بل إذا قامت قرينة على إسلامه كالاشارة كفى في حصول الاسلام (قوله: فلا يكفي ما بقلبه من الايمان) أي في إجراء أحكام المؤمنين في الدنيا عليه بناء على ن النطق شرط في الايمان أو في النجاة من النار بناء على أنه شطر منه.

والحاصل: اختلف في النطق بالشهادتين: هل هو شرط في الايمان لاجل إجراء الاحكام عليه أو شطر منه، أي جزء منه، فذهب إلى الاول محققو الاشاعرة والماتريدية وغيرهم.

ويترتب عليه أن من صدق بقلبه ولم يقر بلسانه فهو مؤمن عند الله غير مؤمن في الاحكام الدنيوية، ومن أقر بلسانه ولم يصدق بقلبه كالمنافق فهو مؤمن في الاحكام الدنيوية غير مؤمن عند الله، وذهب إلى الثاني قوم محققون كالامام أبي حنيفة وجماعة من الاشاعرة، وعليه فيكون الايمان عند هؤلاء اسما لعملي القلب واللسان جميعا وهما التصديق والاقرار، ويترتب عليه أن من صدق بقلبه ولم يتفق له الاقرار في عمره لا مرة ولا أكثر مع القدرة على ذلك لا يكون مؤمنا لا عندنا ولا عند الله تعالى، وهذا ضعيف. والمعتمد الاول (قوله: وإن قال به) أي بالاكتفاء بما في قبه من الايمان (قوله: ولو بالعجمية) أي يحصل الاسلام بالتلفظ بالشهادتين، ولو أتى بهما بالعجمية.

(قوله: وإن أحسن العربية: غاية للغاية) وكلاهما للرد (قوله: لا بلغة الخ) أي لا يكفي في حصول الاسلام الاتيان بهما بلغة لقنها له العارف بتلك اللغة وهو لا يفهم المراد منها (قوله: ثم الاعتراف) عطف على التلفظ: أي إنما يحصل الاسلام بالتلفظ وبالاعتراف لفظا برسالته (ص) إلى غير العرب.

نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج – (ج 1 / ص 153)

وَلَمَّا كَانَ تَصْدِيقُ الْقَلْبِ أَمْرًا بَاطِنًا لَا اطِّلَاعَ لَنَا عَلَيْهِ جَعَلَهُ الشَّارِعُ مَنُوطًا بِالشَّهَادَتَيْنِ مِنْ الْقَادِرِ عَلَيْهِ ، قَالَ تَعَالَى { قُولُوا آمَنَّا بِاَللَّهِ } وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { أُمِرْت أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ } رَوَاهُ الشَّيْخَانِ وَغَيْرُهُمَا ، فَيَكُونُ الْمُنَافِقُ مُؤْمِنًا فِيمَا بَيْنَنَا كَافِرًا عِنْدَ اللَّهِ ، قَالَ تَعَالَى { إنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنْ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا . وَهَلْ النُّطْقُ بِالشَّهَادَتَيْنِ شَرْطٌ لِإِجْرَاءِ أَحْكَامِ الْمُؤْمِنِينَ فِي الدُّنْيَا مِنْ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ وَالتَّوَارُثِ وَالْمُنَاكَحَةِ وَغَيْرِهَا غَيْرُ دَاخِلٍ فِي مُسَمَّى الْإِيمَانِ ، أَوْ جُزْءٌ مِنْهُ دَاخِلٌ فِي مُسَمَّاهُ قَوْلَانِ : ذَهَبَ جُمْهُورُ الْمُحَقِّقِينَ إلَى أَوَّلِهِمَا وَعَلَيْهِ مَنْ صَدَّقَ بِقَلْبِهِ وَلَمْ يُقِرَّ بِلِسَانِهِ مَعَ تَمَكُّنِهِ مِنْ الْإِقْرَارِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ عِنْدَ اللَّهِ ، وَهَذَا أَوْفَقُ بِاللُّغَةِ وَالْعُرْفِ ، وَذَهَبَ كَثِيرٌ مِنْ الْفُقَهَاءِ إلَى ثَانِيهِمَا ، وَأَلْزَمَهُمْ الْأَوَّلُونَ بِأَنَّ مَنْ صَدَّقَ بِقَلْبِهِ فَاخْتَرَمَتْهُ الْمَنِيَّةُ قَبْلَ اتِّسَاعِ وَقْتِ الْإِقْرَارِ بِلِسَانِهِ يَكُونُ كَافِرًا ، وَهُوَ خِلَافُ الْإِجْمَاعِ عَلَى مَا نَقَلَهُ الْإِمَامُ الرَّازِيّ وَغَيْرُهُ ، لَكِنْ يُعَارِضُ دَعْوَى الْإِجْمَاعِ قَوْلُ الشِّفَاءِ الصَّحِيحِ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ مُسْتَوْجِبٌ لِلْجَنَّةِ حَيْثُ أَثْبَتَ فِيهِ خِلَافًا ، أَمَّا الْعَاجِزُ عَنْ النُّطْقِ بِهِمَا لِخَرَسٍ أَوْ سَكْتَةٍ أَوْ اخْتِرَامِ مَنِيَّةٍ قَبْلَ التَّمَكُّنِ مِنْهُ فَإِنَّهُ يَصِحُّ إيمَانُهُ لِقَوْلِهِ تَعَالَى { لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إلَّا وُسْعَهَا } وَلِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { إذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ } وَأَمَّا الْإِسْلَامُ فَهُوَ أَعْمَالُ الْجَوَارِحِ مِنْ الطَّاعَاتِ كَالتَّلَفُّظِ بِالشَّهَادَتَيْنِ وَالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ

HADITS NABI SAW YANG MENGISAHKAN SAMPAINYA PAHALA KEPADA MAYIT

Anas Bin Malik  R.A berkata bahwa Rosulullah S.A.W. bersabda : “Sesungguhnya amalnya orang yang hidup itu diperlihatkan kepada keluarga dan bapak mereka yang mati apabila amal mereka baik maka mereka memuji kepada Allah dan merasa bahagia, apabila amal mereka jelek maka mereka berdo’a  “Yaa Allah janganlah engkau mencabut amal mereka sehinga engkau memberikan petunjuk kepadanya”. Lalu Rosulullah S.A.W.  bersabda : Orang yang mati tersakiti di dalam kubur sebagaimana tersakiti semasa hidupnya, kemudian Rosulullah S.A.W.  ditanya : “Apa yang menyakiti Mayyit?” Sesungguhnya mayyit itu tidak melakukan dosa, tidak sering menentang dan tidak saling bermusuhan  kepada satu orang pun dan juga tidak menyakiti tetangga melainkan jika kamu menentang salah satu orang maka orang tersebut pasti akan  mencacimu dan kedua orang tuamu , lalu kedua orang tuamu merasa tersakiti ketika ia dicaci, begitu juga mereka merasa senang ketika mereka diperlakukan baik”.

Sebagaimana dalam ceritanya Tsabit Al Banany, ia setiap malam Jum’at berziaroh ke kuburan dan ia bermunajat sampai subuh diwaktu ia bermunajat ia tertidur dan bermimpi :

Bahwa Ahli kubur tersebut keluar dari kuburnya dengan memakai baju yang sangat bagus dan wajahnya putih serta mereka diberikan berbagai macam-macam hidangan.

Dan ada diantara mereka seorang pemuda yang wajahnya itu pucat dan rambutnya berdebu, hatinya susah, bajunya jelek, menundukkan kepala, serta bercucuran air mata, dia tidak mendapatkan makanan  dan semua Ahli kubur tadi kembali kekuburanya dalam keadaan bahagia dan pemuda tadi juga kembali ke kuburanya dalam keadan putus asa serta susah.

Kemudian Tsabits Banany bertanya kepadanya : Kamu siapa kok berada diantara mereka yang mendapatkan makanan dan kembali kekuburanya dengan keadan bahagia sedangkan engkau tadak mendapatkan makanan dan engkau pulang dengan keadaan putus asa serta susah?

Maka pemuda tersebut berkata :“Ya Imamal Muslimin (Tsabit al Banany) Sesungguhya aku termasuk orang yang asing diantara mereka, tidak ada yang menyebut kebaikanku dan mendoakanku, sedangkan mereka mempunyai anak serta keluarga yang mengingatnya dengan mendo’akanya, berbuat kebajikan serta bershodaqoh setiap malam jum’at, kebaikan dan ganjaran shodaqoh tersebut di sampaikan kepadanya dan aku adalah seorang laki-laki yang berhaji, dan saya mempunyai seorang ibu kemudian kami bertujuan pergi haji, ketika kami sampai di kota ini maka takdir Allah berjalan kepadaku(Mati) dan ibuku mengnguburkanku  di sini dan ibuku kawin lagi lalu melupakanku bahkan ibuku tak pernah lagi mengingatku di dalam do’a dan shodaqoh, maka dari itu aku putus asa dan susah disetiap waktu dan masa,

Lalu Tsabit berkata : “Hai pemuda..  Beritahulah aku tentang tempat ibumu, maka aku akan mengabarinya akan keadaanmu”

Kemudian dia berkata : “Yaa Imamal Muslimin.. Dia (ibuku) berada di tempat ini dan rumah ini, lalu kabarilah dia (ibuku) jikalau dia (ibuku) tidak membenarkan kepadamu maka katakanlah sesungguhnya disakunya ada 100 misqol perak  warisan dari bapak yang aman. 100 misqol tesebut merupakan hakku (pemuda) maka Ia (ibuku) Akan membenarkanmu dengan tanda ini”.

            Ketika Tsabit datang dan mencari ibunya maka Tsabit menjumpainya, setelah bertemu, lalu Tsabit mengabarinya tentang keadaan Anaknya dan tentang beberapa misqol yang berada di sakunya kemudian Ibunya pingsan, ketika dia siuman maka ibu tadi menyerahkan 100 misqol kepada Tsabit Al Banany dan berkata :

“Aku wakilkan padamu untuk engkau sedekahkan dirham ini untuk anakku yang asing”,

Kemudian Tsabit mengambil dirham itu dan menyedekahkanya untuk anaknya ketika malam Jum’at, maka Tsabit Al Banany ziaroh lagi kepada teman-temanya, kemudian ia ngantuk dan bermimpi sebagaimana yang awal, kemudian ia melihat pemuda tadi berpakaianyang paling indah, wajahnya berseri-seri serta ia begembira kemudian pemuda tadi berkata kepada Tsabit Al Banany :

“Yaa Imamal Muslimin semoga Allah merahmatimu sebagaimana engkau merahmatiku.

Maka diambil kesimpulan bahwa kedua orang tua itu tersakiti jikalau dia disakiti dan mereka juga bahagia ketika ia diperlakukan dengan baik.

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

INILAH ATURAN MENYALAHKAN DAN KOMENTAR KE ORANG LAIN

Para ulama telah membuat aturan-aturan atau prinsip-prinsip ketika ingin menyalahkan orang lain atau menghukuminya, ini dikenal dengan istilah dhawabit al-hukm ‘ala an-nas. Aturan-aturan tersebut di antaranya:

Pertama, mengetahui dengan seksama seluk-beluk dan seluruh karakter seseorang yang dianggap bersalah.

Kedua, mengetahui metodologi kritik yang benar.

Ketiga, menghukumi kesalahan orang lain dengan standar Al-Quran dan hadis, bukan pendapat perorangan atau kelompok.

Keempat, menghukumi orang lain harus diniati ikhlas karena Allah SWT.

Kelima, menghukumi orang lain harus adil dan bebas kepentingan.

Keenam, sebelum menyalahkan orang lain, waspadailah dirimu sendiri.

Ketujuh, memahami bahwa tidak ada orang yang tidak berdosa kecuali Rasulullah, SAW.

Kedelapan, yang bisa dihukumi dari seseorang hanyalah lahiriahnya, bukan batiniahnya.

Kesembilan, tidak semua pendapat orang yang menghukumi orang lain bisa diterima.

Kesepuluh, hukum asal seseorang adalah adil dan baik. Artinya, kalau tidak ada komentar tentangnya, maka dia baik.

Kesebelas, wajib klarifikasi (tabayyun) sebelum menghukumi dan tidak boleh tergesa-gesa.

Keduabelas, komentar negatif rekan seangkatan seseorang tidak harus diterima kecuali ada alasan kuat.

Ketigabelas, syariat melarang memata-matai dan mencari-cari kesalahan.

Keempatbelas, tidak boleh menghukumi berdasarkan kemungkinan yang terjadi di masa depan.

Kelimabelas, tidak boleh menghukumi berdasarkan kemungkinan.

Keenambelas, harus memperhatikan kemaslahatan dan kerusakan dari penghukuman yang dikeluarkan.

Ketujuhbelas, di antara orang-orang itu ada yang harus dimaklumi kesalahannya dan/atau dimaafkan kesalahannya.

Wallahu A’lam.