RUMAH YANG ADA PATUNG ATAU WAYANG GOLEK

Berikut adalah 5 persyaratan yang disepakati para ulama’ tentang keharaman gambar / patung :

1.Berbentuk manusia atau hewan

2.Berbentuk sempurna, tidak dibikin pengurangan anggota tubuh dengan bentuk yang menghalangi untuk hidup. Seperti terpotong kepalanya, terpotong sebagian kepalanya, perutnya, dadanya, dilubangi perutnya, memisah anggota-anggota tubuh menjadi dua bagian.

3.Gambar/gambarnya terletak pada tempat yang diagungkan, bukan pada tempat yang direndahkan dengan terinjak atau terhinakan.

4.Adanya bayangan bagi gambar/patung tersebut yang terlihat secara jelas. (Yang dimaksud adalah berbentuk 3 Dimensi: pent.)

5.Bukan diperuntukkan bagi anak perempuan.

Jika salah satu syarat dari 5 (lima) tidak ada maka termasuk hal yang diperselisihkan hukumnya di kalangan para ulama. Namun meninggalkan untuk hal yang diperselisihkan itu lebih wara’ dan lebih hati-hati.

Jika terpenuhi kelima syarat tersebut maka wajib untuk ditinggalkan dan diingkari dengan pelarangan / pencegahan. Wallahu a’lam.

Referensi:

~ Majmû Fatâwâ wa Rosâil lil Imam as-Sayyid Alwiy al-Malikiy al-Hasaniy, al-maulûd 1328 H wal-mutawaffâ 1391 H. Halaman 213-214.

فعلم أن المجمع على تحريمه من تصوير الأكوان ما اجتمع فيه خمسة قيود عند أولي العرفانأولها ؛ كون الصورة للإنسان أو للحيوانثانيها ؛ كونها كاملة لم يعمل فيها ما يمنع الحياة من النقصان كقطع رأس أو نصف أو بطن أو صدر أو خرق بطن أو تفريق أجزاء لجسمان ثالثها ؛ كونها في محل يعظم لا في محل يسام بالوطء والامتهانرابعها ؛ وجود ظل لها في العيان خامسها ؛ أن لا تكون لصغار البنان من النسوان

فإن انتفى قيد من هذه الخمسة . . كانت مما فيه اختلاف العلماء الأعيان . فتركها حينئذ أورع وأحوط للأديان . ولا ينكر على فاعلها إنكار زجر كفاعل ما أجمع على تحريمه من أمور العصيان ، لأن اختلاف علماء الأمة رحمة من الرحمن بل بالنصح والإرشاد إلى خروج من خلاف العلماء كما عليه أهل الكمال وسد ذرائع الفساد في الزمان . وعند تكامل القي يجب تركها على الإنسان وينكر عليه بالزجر لخرقة إجماع أهل العلم وهو سبب لاستحقاق النيران لازلنا في عافية من المنان

~ MAJMÛ FATÂWÂ WA ROSÂIL Lil Imam as-Sayyid Alwi al-Maliki al-Hasaniy (1328 H -1391 H). Hal. 212-213 :

وحاصل ما أجاب به هو ؛١ ـ أن تصوير الصورة إن كانت حيوانية كاملة لها ظل لغير لعب البنات الصغار محرم بإجماع الأئمة الكبار ولا يؤخذ لها ثمن ولا أجرة كما صرح به أهل الاعتبار ولا تدخل ملائكة الرحمة في محلها ، وفاعلها مستحق العذاب في جهنم مكلف بنفخ الروح فيها وليس بنافخ عافانا الله من ذلك

  1. Membentuk / membuat patung / boneka jika berupa hewan yang sempurna, yang mempunyai bayang-bayang, untuk selain mainannya anak-anak perempuan yang kecil itu diharamkan dengan kesepakatan para ulama’ yang agung, dan tidak dipungut harga atau ongkos dari patung tersebut sebagaimana penjelasan pakar i’tibar dan malaikat rahmat tidak masuk ke tempat tersebut, pembuatnya dilaknat dan mendapat siksa di neraka jahannam, dibebani meniupkan roh pada patung yang dibuatnya dan dia bukanlah orang yang bisa meniupkan roh, semoga Allah menyelamatkan kita dari hal demikian.

٢ ـ وإن كانت الصورة حيونية لها ظل لكنها ناقصة نقصا يمنع الحياة بقطع الرأس أو النصف أو الصدر أو خرق البطن أو أي عضو لا حياة بعده أو تغيب ذلك بصبغ مغير أو تفريق الأجزاء كانت مباحة في المذاهب الأربعة

  1. Jika patung/boneka berupa hewan yang mempunyai bayangan, akan tetapi patung tersebut terdapat kekurangan yang mencegah untuk hidup, seperti dengan terpotongnya kepala atau separuh kepala atau dada atau perutnya berlubang atau terpotongnya anggota yang mana saja yang tidak bisa hidup setelahnya. Atau tidak adanya anggota-anggota tersebut dengan bentuk yang dirubah atau memisahkan bagian-bagian anggota, maka hal tersebut diperbolehkan menurut madzhab 4.

٣ ـ وإن كانت الصورة حيوانية كاملة لكن لا ظل فها هنا تفصيل وهو أنها إن كانت في محل ممتهن كبساط وحصير ووسادة وفراش ونحوها كانت مباحة أيضا في المذاهب الأربعة إلا أن المالكية قالوا فعل هذا خلاف الأولى وليس مكروها

  1. Dan jika berbentuk hewan yang sempurna, akan tetapi tidak mempunyai bayangan, maka diperinci, jika berada pada tempat yang terhina/remeh/rendah seperti permadani, tikar, bantal, dan kasur atau semacamnya, maka hal ini juga diperbolehkan menurut madzhab 4, hanya saja malikiyah berpendapat perbuatan tersebut khilaful aula (menyelisihi pada yang lebih utama) dan tidak makruh.

٤ ـ وإن كانت هذه الصورة الحيوانية الكاملة التي لا ظل لها في محل غير ممتهن كحائط وقبة ومنارة وستر معلق وورق وسقف منعت عند الحنفية والشافعية والحنابلة ، وكرهت بلا تحريم عند المالكية ، وأبيحت عند بعض السلف والقاسم بن محمد أحد فقهاء المدينة وعمران بن حصين الصحابي ، وأجاز القاسم بن محمد المذكور وابن القاسم وأصبغ من المالكية والليث تصويرها في الثياب ، والجمهور فلم يقولوا بجواز الصورة الحيوانية الكاملة التي لا ظل لها إن كانت في محل غير ممتهن ، ومنعها الزهري مطلقا وإن كانت في ممتهن

  1. Dan jika patung / gambar hewan yang sempurna yang tidak mempunyai bayangan itu berada di tempat yang tidak hina/rendah, seperti: tembok, kubah, menara, tutup/satir yang digantungkan, kertas, dan atap, maka menurut hanafiyah, syafiiyah dan hanabilah dilarang. Menurut madzhab mallikiyah hukumnya makruh.

Kesimpulan :

1.BOLEH. Jika dibentuk hanya sampai pinggangnya

2.HARAM. Jika dibentuk sampai sempurna, baik menyertakan lengkap dua kaki atau satu kaki atau dibentuk sampai bawah tulang pinggul, maksud kata “sempurna” di atas adalah bentuk yang mungkin hidup bila ditiup ruh.

Wallohu a’lam.

MEMBERIKAN STATUS MURTAD KEPADA SESAMA MUSLIM

Sekarang ini, saya masih dapat membaca hadirnya fenomena memberikan status murtad kepada sesama umat islam. Sejujurnya saya terkejut, karena pengafiran ini justru muncul di grup diskusi dunia maya yang mengusung nama “tasawuf”. Biasanya para ahli tasawuf adalah ahli-ahli yang mampu menyelami seluk beluk hati sehingga dapat lebih berhati-hati dan tidak terburu-buru dalam menghakimi. Saya pikir kekeruhan hati seperti ini sudah musnah dari dunia tasawuf. Ternyata saya salah….

Keterkejutan itu tak bertahan lama, akhirnya tak lama kemudian saya tersenyum, saya lupa bahwa ini adalah grup diskusi dunia maya, yang penulisnya bisa siapa saja. Bukan tak mungkin dari golongan non-muslim, atau bahkan dari musuh-musuh islam yang menyusup.

Jika pelakunya adalah musuh islam yang disusupkan seperti pada kasus SHR, maka saya tidak usah berkomentar banyak.  Mereka memang diperintahkan untuk mempelajari islam. Tidak untuk mengimaninya, melainkan untuk mencari kelemahannya kemudian menghancurkannya.

Biasanya taktik kotor ini mudah dideteksi. Mereka biasanya melakukan agitasi, kampanye (propaganda) pada mas media dan elektronik dengan gencar dan memiliki frekuensi tinggi, sehingga orang-orang yang masih sederhana pola pikirnya, mudah terhasut dan akhirnya membenarkan.

Propaganda pikiran jahat itu dimulai dari penterjemahan, interpretasi dan penyajian serta pengacauan fakta-fakta yang menyimpang, kasar, halus dan disengaja.

Distorsi dan mis-interprestasi ini betul-betul dikemas dengan kepiawaian bahasa mereka dan logika yang menipu sehingga “para pencari” kesulitan atau benar-benar tidak memahami aspek islam yang sebenarnya. Mereka terperangkap kebohongan yang berhias kefasihan, dan akhirnya menelan pil-racun yang berlapis gula kebohongan dan mengikuti tulisan tersebut.

Tetapi jika hal itu dilakukan oleh sesama umat islam, maka diamnya saya hanya menghasilkan dosa. Maka izinkan saya berbicara. Maaf jika ada yang tersindir / tersinggung. Dan inilah tausyiah / nasihat bagi mereka :

  1. JANGAN KAU GELAPKAN AKHIRATMU DENGAN MENDZHALIMI MEREKA

Saudaraku, ketika engkau mengutuk, memberikan status murtad atau kafir, atau mendoakan saudaramu agar celaka, maka setan berkata dengan suara merdu, “Aku sangat berterimakasih kepadamu lebih dari semua makhluk yang ada di muka bumi. Karena permohonanmu agar saudaramu sesama islam dicelakakan, telah dikabulkan oleh Allah. Dengan cara itu, engkau telah meringankan bebanku.

  1. JANGAN KAU SAKITI MEREKA DENGAN KEBODOHANMU DALAM BERMUAMALAH

Saudaraku, mungkin cerita ini bisa memberimu pencerahan :

Umar ra. Bertanya kepada Khudzaifah bin yaman : “Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai khudzaifah ?” Khudzaifah menjawab: “Pagi ini aku menyukai fitnah, membenci kebenaran (haq), shalat tanpa berwudhu dan aku memiliki sesuatu di muka bumi, apa yang tidak dimiliki oleh Allah di langit.”

Mendengar jawaban itu maka Umar marah. Ali karramallahu wajhah datang menemuinya dan berkata kepadanya : “Di wajahmu terlihat tanda kemarahan, wahai amirul mukminin.” Kemudian Umar menceritakan kepada Ali tentang apa yang menyebabkannya marah kepada Khudzaifah.

Kemudian Ali berkata : “Sungguh benar Khudzaifah. Adapun kecintaan kepada fitnah berarti kecintaan kepada harta dan anak-nak, sebagaimana Allah berfirman dalam Al Quran “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (fitnah) (bagimu) (QS At Taghaabun (64):15). Adapun dia membenci kebenaran (haq) berarti dia membenci kematian, karena kedatangan kematian adalah benar (haq). Dan shalat tanpa berwudhu berarti shalawatnya atas Nabi saw. Adapun yang dimilikinya di muka bumi yang tidak dimiliki oleh Allah di langit berarti dia memiliki istri dan seorang anak, sedangkan Allah tidak beristri dan beranak. Hal ini sebagaimana firman Allah “Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan” (QS Al Ikhlash : 3)

Umar berkata : “Demi Allah, engkau telah membuatku puas dan lega.”

Saudaraku, berapa banyak orang yang mencela ucapan yang benar hanya  karena pemahamannya yang buruk.

Apalagi ilmu hikmah sangat pelik dan mendalam. Hikmah adalah karunia Allah. Suatu ilmu yang paling agung, suatu kebaikan yang paling utama dan merupakan dasar keutamaan, dan induk segala kebaikan. Hanya segelintir orang yang diberikan kebijakan berupa hikmah, sebagaimana Allah berfirman : “Allah menganugerahkan Al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar Telah dianugerahi karunia yang banyak. dan Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS Al Baqarah : 269)

Hikmah itu berasal dari kesempurnaan Dzat Allah swt dan keberlangsungan eksistensinya yang terus menerus, tiada pernah berakhir. Allah memberikannya kepada orang-orang pilihan-Nya. Jarang orang mendapatkannya kecuali ia telah meninggalkan keduniawian, menundukkan hawa nafsunya sambil membawa ketakwaan, ke-wara-an, ke-zuhud-an hakiki dan masuk ke jalan orang-orang yang didekatkan dengan Allah, dari kalangan malaikat atau hamba-hamba-Nya yang shalih, sehingga Allah menganugerahinya suatu ilmu, lalu memberinya hikmah dan kebaikan. Menghidupkannya dengan kehidupan yang baik, dan memberikan cahaya yang mampu menuntunnya di dalam kegelapan jalan dunia. Sebagaimana firman Allah : “Dan apakah orang yang sudah mati. Kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? (QS Al An Am : 122)

Nah saudaraku, cerita di atas menceritakan kepadamu perbedaan antara orang yang telah diberi ilmu hikmah dan orang yang belum diberi ilmu hikmah. Perbedaannya tampak mencolok, bagaikan perbedaan langit dan bumi. Tetapi bukan itu yang ingin diketengahkan hari ini, inti dari cerita di atas adalah bahwa jika engkau telah mendapatkan ilmu hikmah, maka engkau akan dapat memandang sesuatu hal secara dalam dan arif. Pemahaman terhadap ilmu Allah terpancar dari wajah dan bahasa. Keputusanmu bukanlah keputusan serampangan, melainkan dengan hujah (dalil) yang nyata sehingga keputusanmu adalah keputusan yang bercahaya, sehingga dengan demikian, engkau dapat menyelematkan seseorang dari fitnah dan kebodohan orang lain.

Tetapi, ketahuilah olehmu saudaraku, bahwa kajian-kajian Ilahiah dan pengetahuan-pengetahuan ketuhanan sangatlah tersembunyi, suatu jalan yang pelik. Barang siapa yang ingin menyelami lautan pengetahuan Ilahi dan mendalami hakikat ketuhanan, maka ia harus menempa diri dengan latihan-latihan (riyadhah) ilmiah dan amaliah serta memperoleh kemampuan bawaan (malakah) untuk menanggalkan beban berat di badannya, untuk kemudian naik ke kerajaan langit. Dan di situlah engkau akan “menemukan” Tuhan, dan merasa nyaman dalam pangkuan-Nya.

Ingatlah, bahwa sebagian kaum memiliki kebencian terhadap perbedaan paham lawannya. Kebencian ini membuat ia sibuk mendistorsi fakta-fakta mengenai islam, sehingga secara tak langsung mereka menghancurkan islam dari dalam. Semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut.

Semoga engkau termasuk ke dalam golongan yang didekatkan oleh Allah kepada-Nya. Sehingga dengan kedekatanmu, Allah menganugerahimu ilmu hikmah yang akan menerangi jalanmu di dunia ini. Amin…

  1. BIARKAN ALLAH BESERTA HAMBANYA

Saudaraku, walaupun abu jahal dikenal sebagai salah seorang dari musuh Rasul senior, kenyataannya Nabi masih menasihatinya secara personil.

“Wahai abu jahal”, nabi memulai, “tahukan kamu cerita nabi Ibrahim ketika beliau diangkat oleh Allah ke alam malakut (alam malaikat) dan ke tempat yang sedikit di bawah langit. Dari sana ia diberikan oleh Allah suatu kekuatan sehingga bisa menyaksikan apa yang dilakukan oleh manusia di dunia, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.

Ketika dilihatnya dua orang yang sedang berzina, Ibrahim mengangkat kedua tangannya dan berdoa memohon kutukan dan kecelakaan bagi mereka. Doa ini dikabulkan. Kemudian Ibrahim melihat dua orang lain yang melakukan hal yang sama. Dipanjatkannya lagi doa kutukan sampai keduanya celaka. Sampai Ibrahim melakukan hal tersebut untuk ketiga kalinya.

Melihat hal itu, Allah berfirman kepada nabi Ibrahim : Wahai Ibrahim, tahanlah doamu kepada mereka. Sungguh Aku adalah Allah yang maha pengampun dana maha penyayang. Dosa hamba-hambaku tidak merugikanku, sebagaimana ketaatan mereka tidak akan menambahkan apa-apa bagiku. Aku tidak mengatur mereka dengan cara melampiaskan rasa murka seperti halnya yang kau lakukan. Tahanlah doamu dari hamba-hambaku, yang laki-laki dan perempuan karena engkau hanya seorang hamba yang bertugas memberikan peringatan. Engkau tidak bersekutu denganku dalam kerajaan-Ku. Engkau tidak mempunyai kuasa terhadap-Ku dan terhadap hamba-hambaKu. Hamba-hambaku berada di antara tiga sifat

Pertama, mereka yang memohon ampun dariKu. Aku ampuni mereka. Aku maafkan kesalahan-kesalahan mereka dan aku sembunyikan aib-aib mereka.

Kedua, hamba-hamba-Ku yang Ku tahan mereka dari azab-Ku karena Ku tahu kelak dari sulbi mereka akan lahir anak keturunan yang beriman. Aku bersikap lunak kepada ayah-ayah mereka mereka dan tidak terburu-buru terhadap ibu-ibu mereka. Aku angkat azabku agar hambaku yang mukmin itu bisa keluar dari sulbi mereka. Apabila mereka dan anaknya sudah terpisah, maka akan datanglah saat azab-ku dan turunlah bencana-Ku.

Ketiga, mereka yang bukan dari golongan pertama dan kedua. Untuk mereka telah ku siapkan azab yang lebih besar dari kau (Ibrahim) inginkan. Karena azab-ku terhadap hamba-hambaku berdasarkan keagunganKu dan kemahaperkasaanKu.

Wahai Ibrahim, biarkan antara Aku dan hamba-hamba-Ku. Karena Aku lebih kasih terhadap mereka dibandingkan dengan engkau, dan Aku adalah Allah yang maha kuasa, maha sabar, maha mengetahui dan maha bijaksana. Aku mengatur mereka dengan ilmu-Ku dan Aku laksanakan terhadap mereka ketentuan dan takdir-Ku.

  1. UCAPAN KOTOR BERASAL DARI HATI YANG KOTOR

“Wahai saudaraku, sesungguhnya orang kau murtadkan telah menemui Rabb-nya. Dan ingatlah bahwa ketika engkau kelak menghadap pula kepada Allah Azza wa Jalla. Engkau pasti akan sadar bahwa dosa terkecil yang pernah engkau lakukan di dunia jauh lebih berat bagimu dibandingkan kejahatan terbesar yang dilakukan oleh orang yang kau murtadkan.

Di hari itu (kiamat), engkau tidak akan pernah memikirkan dosa terbesar oleh orang yang kau murtadkan, walaupun ia begitu besar. Sebab engkau hanya memikirkan dirimu sendiri, walaupun dosa itu mungkin tidak sebanding dengan kedzaliman orang yang kau murtadkan. Ya, saudaraku, masing-masing kalian kelak akan sibuk dengan dirinya sendiri.

Ketahuilah saudaraku, bahwa Allah azza wa jalla akan menuntut balas pada orang yang kau murtadkan, terhadap orang-orang yang didzaliminya. Sebagaimana juga Ia akan menuntut balas kepada orang-orang yang mendzalimi orang yang kau murtadkan, untuknya. Maka bila engkau hari ini mendzalimi orang yang kau murtadkan, pasti Allah akan menunututmu di akhirat akibat kedzaliman itu.

Berhati-hatilah menjelek-jelekan siapapun dengan kata-kata kotor. Termasuk orang yang kau berikan status murtad. Allah tidak akan membiarkanmu menodai dan mengotori majelisnya dengan celaan dan kebencian kepada siapa saja.

  1. TIRULAH RASUL DALAM MELURUSKAN KESALAHAN ORANG

Wahai saudaraku, ketika engkau memurtadkan saudaramu sesalam muslim, tanyakanlah kepada dirimu sendiri, “Kira-kira, manakah yang lebih baik, Dirimu atau Nabi Musa?” Jawabanmu pastilah, “Sudah tentu Nabi Musa lebih baik daripada saya.”

Lalu tanyakanlah pertanyaan kedua,  “lalu, siapakah menurut pendapatmu yang lebih jahat, orang yang kau murtadkan atau Firaun?” Tentu jawabanmu adalah, “Pada hemat saya, Firaun masih lebih jahat daripada orang yang saya murtadkan.”

Maaf, saudaraku. Seingat saya, bagaimana pun jahatnya Firaun, sampai ia mengaku tuhan, dan bertindak kejam kepada umat Nabi Musa, malah telah merebus hidup-hidup dayang-dayang putrinya yang bernama Masyitah beserta susuannya, pun Nabi Musa diperintahkan Allah untuk berkata dengan lemah lembut kepada si zalim itu. Tolong dapatkah Tuan membacakan buat saya perintah Allah yang dimuat dalam Al-Quran Surat Thoha ayat 44 tersebut?” “Berikanlah, hai Musa dan Harun, kepada Firaun nasihat-nasihat yang baik dengan bahasa yang halus, mudah-mudahan ia mau ingat dan menjadi takut kepada Allah.” (QS Toha : 44)

Karena itu, pantas bukan kalau saya meminta Tuan untuk menegur orang yang salah dengan bahasa yang lebih sopan dan sikap yang lebih bertata krama? Lantaran Tuan tidak sebaik Nabi Musa dan orang yang tuan murtadkan tidak sejahat Firaun? Ataukah barangkali Tuan mempunya Al-Quran lain yang memuat ayat 44 surat Thaha itu?”

Saudaraku, hatimu mungkin tidak puas, rasanya masih ingin mengutuk dengan kalimat yang lebih garang dan keras. Akan tetapi, bagaimanapun pahitnya, perintah Allah harus dipatuhi, ayat Al-Quran harus dipegang.

Kutiplah surah An-Nahl ayat 125 yang berbunyi : “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana, dengan nasihat yang baik.

Jika seseorang melihat bahwa ada saudaranya sesama muslim menyimpang, mengapa ia tidak menyayangi saudaranya dengan meluruskannya ? Tidak hanya berkoar memurtadkan orang lain, sementara ia sendiri tidak melakukan perbaikan.

  1. Seyogianya seseorang tidak mencampur adukkan pendapat pribadi pada hal-hal yang menjadi hak prerogatif Allah.

Pengafiran dan pemurtadan adalah hak prerogatif Allah, bukan hak manusia. Tahanlah ucapan-ucapanmu dari hamba-hamba Allah, yang laki-laki dan perempuan karena engkau hanya seorang hamba yang bertugas memberikan peringatan. Engkau tidak bersekutu dengan Allah dalam kerajaan-Nya, juga tidak bersekutu dalam surga dan neraka-Nya. Engkau tidak mempunyai kuasa terhadap-keputusan Allah dan terhadap hamba-hamba-Nya.

Sebelum seorang menggenggam surga dan neraka di kedua tangannya, ia tidak boleh memberikan status kafir atau murtad kepada sesama muslim.

  1. TAHUKAH ENGKAU

Berhati-hatilah  saudaraku, barangkali orang yang sekarang engkau beri status murtad, bisa jadi memiliki lautan kebaikan di masa sebelumnya – maka – bisa jadi kesalahan itu telah lenyap di tengah lautan kebaikannya.

Atau barangkali ketika engkau memberikan status murtad kepadanya, ia sudah bertaubat lama, dan menggantikan kesalahannya dengan kebaikan yang melangit. Sehingga status murtad yang engkau berikan akhirnya menjadi fitnah dan dosa untukmu.

Nah saudaraku, semoga kita semua diberkahi Allah, sehingga tidak melangkahi kuasa-Nya. Amin.

INILAH SHOLAWAT DARI SYAIKH AHMAD TIJANY RA SELAIN SHOLAWAT FATIH

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تَعْدِلُ جَمِيْعَ صَلَوَاتِ أَهْلِ مَحَبَّتِكَ . وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَلاَمًا يَعْدِلُ سَلاَمَهُمْ .

Artinya:” Ya Allah berikanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebenar-benar shalawat yang menyamai seluruh shalawat ahli mahabbah kepada-Mu. Dan berikanlah salam kepada Nabi Muhammad serta keluarganya sebenar-benar salam yang menyamai seluruh salam ahli mahabbah kepada-Mu.”

Penjelasan:

Shalawat ini disebut oleh sebagian ulama dengan nama shalawat Ahlul Mahabbah. Shalawat ini salah satu shalawat yang ditalqinkan oleh Rasulullah shallahu alaihi Wa sallam dalam pertemuan Ruhani Yaqzhatan (sadar) kepada seorang wali besar al-Imam Sayyidi Syaikh Ahmad Bin Muhammad Attijaniy (1150-1230 H).

Sayyidi Syaikh Ahmad Tijaniy berkata: “Ketika aku pergi dari kota Tilimsan ke kota Abi Samaghun, aku diberikan oleh Rasulullah redaksi shalawat, bila membacanya satu kali sama dengan membaca kitab Dalail al-Khairat 1000 kali. Dalam riwayat lain, Qadhi al-Imam Ahmad al-Sukairij mengatakan: Siapa yang membacanya membandingi pahala mengkhatamkan 70.000 kali Dalailul khairat.

Shalawat Ahlul mahabbah ini memiliki keutamaan yang sangat besar lantaran di dalamnya terdapat rahasia-rahasia yang tersimpan yang tidak dapat diketahui kecuali oleh orang-orang yang telah mendapat khushusiyat dari Allah Taala untuk mengetahuinya.

Hendaknya seseorang mengamalkan shalat ini dengan niat yang baik dan benar tanpa disertai keraguan dan buruk sangka. Karena siapa saja yang memiliki niat dan persangka yang baik, maka ia akan mendapatkan keistimewaan tersebut.

(lihat kitab: كشف الحجاب عمن تلاقى مع الشيخ التجاني من الأصحاب halaman 440).

AMALAN AGAR KITA SEMAKIN MANTAP DALAM BERSYARI’AT DAN BERTARIQAT

بسم الله الرحمن الرحيم

حمدا له أظهر في الوجود *** نور حقيقة النبي المحمود

وصل يا رب على محمد *** الفاتح الخاتم طه الأمجد

وناصر الحق وهادينا الى *** صراطك القويم نهج الفضلا

وآله بحق قدره الفخيم *** وجاه مقدار مقامه العظيم.

أما بعد:

Syekh Yusuf Bin Ismail An-Nabhaniy Rahimahullah dalam kitabnya Hadil Murid Ila Thuruqil Asanid halaman: 48 mengutip faidah doa agar mantap mengamalkan syariat dan thoriqoh dari kitab Sanad Syekh Abdul Karim as-Syarobatiy al-Halabiy:

Siapa saja yang ingin Allah Taala mantapkan dirinya dalam bersyariat dan berthoriqoh, hendaknya ia tulis doa di bawah ini di sebuah bejana kemudian dia hapus dengan menuangkan air ke bejana tersebut dan meminumnya. Doanya sebagai berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم فهمني علم الشريعة والطريقة واستعملني بها بحق سيدنا محمد صلى الله عليه واله وصحبه وسلم

Artinya: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang. Ya Allah, berikan aku pemahaman ilmu syariat dan thoriqoh dan berikan aku kekuatan untuk mengamalkannya dengan pangkat kemualian Nabi Muhammad semoga shalawat Allah selalu tercurah kepada beliau, para keluarga dan sahabatnya.

Syekh Abdul Karim as-Syarabatiy al-Halabiy berkata Mujarrabat ini terdapat dalam kitab sanad Guru kami Sayyid Ahmad al-Qodiriy dan beliau telah mengijazahkannya kepadaku.

Adapun sanad muttahsil (bersambung) kepada Syekh Abdul Karim as-Syarabatiy dari gurunya Sayyid Ahmad al-Qodiriy, al-Faqir riwayatkan:

الحاج رزقي ذو القرنين أصمت البتاوي عن الدكتور يوسف خطار محمد عن المحدث السيد عبد الله بن محمد بن الصديق الغماري الحسني عن الشيخ يوسف بن إسماعيل النبهاني عن الشيخ محمد أبي الخير عابدين عن الشيخ محمد بن عمر ابن عابدين عن الشيخ شاكر العقاد العمري عن الشيخ مصطفى الرحمتي عن الشيخ عن الشيخ عبد الكريم السراباتي الحلبي عن شيخه السيد احمد القادري رحمه الله .

Jika pada sanad di atas, antara al-Faqir dengan Syekh Yusuf An-Nabhaniy melalui 2 undak (perantara) yakni Syekh Yusuf Khotthor Muhammad dari Sayyid Abdullah Bin Muhamad Bin Shiddiq al-Ghumariy baru kemudian Syekh Yusuf Nabhaniy.

Al-Faqir juga mendapat ijazah muttahsil dengan as-Sanadul aliy (sanad tinggi) kepada Syekh Yusuf Ismail An-Nabhaniy hanya melalui satu perantara saja yakni dari Sayyid Abdurrahman Bin Abdul Hay al-Kattaniy dari Syekh Yusuf Bin Ismail an-Nabhaniy.

Doa di atas menggambarkan bahwa pengamalan thoriqoh kudu sejalan dengan syariat. Berthoriqoh tanpa mengamalkan syariat adalah kebathilan dan kerusakan yang sangat nyata laksana telur tanpa cangkangnya.

Syekh Zainuddin al-Malibariy menyatakan dalam kitab Hidayatul Adzkiya:

فشريعة كسفينة وطريقة *** كالبحر ثم حقيقة در غلا

Artinya: “Syariat tak ubahnya bagai perahu dan thoriqoh itu seperti laut yang menjadi medannya sedangkan Haqiqat merupakan mutiara yang sangat mahal berada di dasar laut.

YAQINLAH BAHWA HADIAH PAHALA PADA MAYIT PASTI SAMPAI

Terlebih dahulu saya minta maaf jika nanti pertanyaannya terkesan konyol dan mengada-ada. Jujur saja saya awam dalam soal agama, dan baru-baru ini kesadaran untuk belajar agama saya muncul.

Beberapa minggu yang lalu saya mendapatkan hadiah dari istri berupa jam tangan. Teman saya mengeluarkan celetukan, “Itu hadiah dari orang hidup ke orang hidup, dan jelas bisa sampai.” Nadanya sedikit meledek, kemudian teman saya melanjutkan bahwa kiriman hadiah doa orang hidup ke orang mati tidak bakal sampai karena sudah beda alam. Saya ingin saya tanyakan adalah bagaimana pandangan ustadz mengenai hal ini?

Mohon penjelasanya. Karena setahu saya, dulu orang tua sering menasihati agar selalu kirim doa kepada yang telah meninggal dunia. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Agus/Jakarta)

 

Jawaban

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Pertama kami mengucapkan puji syukur kepada Allah atas munculnya kesadaran keagamaan penanya.

Bahwa nasihat orang tua kepada anaknya untuk selalu mendoakan kepada keluarga atau famili atau orang saleh yang telah meninggal dunia adalah hal yang sangat baik. Sudah sepatutnya untuk dilestarikan karena hal itu merupakan salah satu bukti bakti kita kepada mereka yang telah mendahului kita.

Orang yang hidup memberikan hadiah kepada yang masih hidup dengan hadiah material adalah hal biasa.

Namun, pertanyaannya apa yang dapat kita berikan kepada orang-orang yang telah mendahului kita? Tentu yang dapat kita berikan bukanlah materi. Lantas apa yang dapat kita berikan sebagai hadiah?

Jawabnya adalah doa dan permohonan ampunan (istighfar). Inilah yang paling layak untuk dihadiahkan kepada orang-orang yang telah meninggal dunia. Karena itu kemudian dikatakan bahwa hadiah orang hidup kepada yang meninggal dunia adalah doa dan permohonan ampunan.

هَدَايَا الْأَحْيَاءِ لِلْأَمْوَاتِ الدُّعَاءُ وَالْإِسْتِغْفَارُ

Artinya, “Hadiah orang-orang yang masih hidup kepada orang-orang yang telah meninggal dunia adalah doa dan memintakan ampunan kepada Allah (istighfar) kepada mereka,” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, Beirut, Darul Fikr, tt, halaman 281).

Dalam sebuah riwayat—sebagaimana dikemukakan Syekh Nawawi Al-Bantani— dikatakan bahwa di dalam kubur, orang yang meninggal dunia seperti orang tenggelam yang meminta pertolongan berupa doa. Ia menanti datangnya doa dari anaknya, saudara, atau temannya. Ketika ia mendapatkannya, maka itu lebih ia sukai ketimbang dunia dengan seluruh isinya.

رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ مَا الْمَيِّتُ فِي قَبْرِهِ إِلَّا كَالْغَريقِ الْمُغَوَّثِ-بِفَتْحِ الْوَاوِ الْمُشَدَّدَةِ أَيْ الطَّالِبِ لِأَنْ يُغَاثَ-يَنْتَظِرُ دَعْوَةً تَلْحُقُهُ مِنِ ابْنِهِ أَوْ أَخِيهِ أَوْ صَدِيقٍ لَهُ فَإِذَا لَحِقَتْهُ كَانَتْ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Artinya, “Diriwayatkan dari Nabi SAW, beliau bersabda, ‘Tidak ada mayit yang berada dalam kuburnya kecuali ia seperti orang tenggelam yang meminta pertolongan—kal ghariqil mughawwats dengan diharakati fathah pada huruf wawunya yang bertasdid, yaitu orang yang meminta pertolongan—ia menunggu setetes doa yang yang dikirimkan anaknya, saudara, atau temannya. Karenanya ketika ia mendapatkan doa, maka hal itu lebih ia sukai dibanding dunia dengan seluruh isinya,’” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, halaman 281).

Dari sinilah kemudian dapat dipahami betapa orang yang telah meninggal dunia itu sebenarnya mengharapkan kiriman atau hadiah doa dari orang yang masih hidup. Dengan kata lain, kiriman atau hadiah doa itu akan sangat berarti baginya, bahkan pahalanya pun akan sampai.

Karena itu para ulama—sebagaimana dikemukakan Muhyiddin Syarf An-Nawawi—menyatakan kesepakatan bahwa doa dari orang yang masih hidup kepada yang telah meningal dunia itu bermanfaat dan pahalanya akan sampai kepadanya. Salah satu dalil yang digunakan untuk mendukung pendapat ini adalah firman Allah SWT berikut ini:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ

Artinya, “Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan suadara-saudara kami yang telah beriman terlebih dulu dari kami,” (QS Al-Hasyr ayat 10).

اَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى اَنَّ الدُّعَاءَ لِلْاَمْوَاتِ يَنْفَعُهُمْ وَيَصِلُهم ثَوَابُهُ وَاحْتَجُّوا بِقَوْلِهِ تَعَالَى وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ

Artinya, “Para ulama sepakat bahwa doa untuk orang-orang yang telah meninggal dunia akan memberikan manfaat kepada mereka dan akan sampai juga pahalanya kepada mereka. Para ulama ini berdalil dengan firman Allah SWT, ‘Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan suadara-saudara kami yang telah beriman terlebih dulu dari kami,’ (Al-Hasyr ayat 10),’” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Adzkar An-Nawawiyyah, Jakarta, Darul Kutub Al-Islamiyah, cet ke-1, 1425 H/2004 M, halaman 180).

IMAM JA’FAR SHODIQ RA BUKAN IMAM DARI GOLONGAN SYI’AH

Tokoh dari kalangan ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini dicatut oleh Syiah sebagai tokoh sekte mereka, sebagai imam keenam dalam keyakinan Syiah Itsna Ayriyah, padahal jauh panggang dari api. Akidahnya sangat berbeda jauh dengan akidah sekte Syiah.

Nasab dan Kepribadiannya

Ia adalah Ja’far bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abu Thalib. Lahir di Madinah tahun 80 H dan wafat di kota yang sama pada tahun 148 H, dalam usia 68 tahun.

Ash-Shadiq merupakan gelar yang selalu tersemat kepadanya, karena ia terkenal dengan kejujurannya dalam hadis, ucapan, dan tindakan. Ia tidak dikenal berdusta. Tidak hanya pada Syiah, gelar ini juga masyhur di kalangan umat Islam. Syaikhul Islam sering menyebutnya dengan gelar ini.

Laqob lain yang menempel pada Ja’far adalah al-imam dan al-faqih, karena memang ia adalah seorang ulama dan tokoh panutan dari kalangan ahlul bait. Namun yang membedakan keyakinan umat Islam dengan keyakinan Syiah, bahwa menurut umat Islam Ja’far ash-Shadiq bukanlah imam yang ma’shum, bebas dari kesalahan dan dosa.

Imam Ja’far ash-Shadiq dikarunia beberapa orang anak, mereka adalah Isma’il (dijadikan imam oleh Syiah Ismailiyah), Ismail adalah putra tertuanya, wafat pada tahun 138 H, saat ayahnya masih hidup. Kemudian  Abdullah, dari Abdullah inilah terambil kun-yah Ja’far, Abu Abdullah. Kemudian Musa, ia dijadikan oleh Syiah Itsna Asyriyah sebagai imam yang ketujuh setelah Ja’far. Kemudian Ishaq, Muhammad, Ali, dan Fatimah.

Ja’far dikenal sebagai seorang yang dermawan dan sangat murah hati. Sifat ini seakan warisan dan tradisi dari keluarga yang mulia ini. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling murah hati di antara keluarga ini.

Dalam hal kedermawanan, ia juga mewarisi sifat kakeknya Ali Zainal Abidin yang terkenal dengan bersedekah secara sembunyi-sembunyi. Kisah yang masyhur tentang Ali Zainal Abidin bahwa pada malam hari yang gelap, ia memanggul sekarung gandum, daging, dan membawa uang dirham di atas pundaknya, lalu ia bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan dari kalangan orang-orang fakir dan miskin di Kota Madinah. Keadaan demikian tidak diketahui oleh orang-orang yang mendapat pemberiannya sampai ia wafat dan penduduk Madinah merasa kehilangan dengan sosok misterius yang senantiasa membagi-bagikan uang dan makanan di malam hari.

 

Perjalanan Keilmuannya

Ja’far ash-Shadiq menempuh perjalanan ilmiahnya bersama dengan ulama-ulama besar. Ia sempat menjumpai sahabat-sahabat Nabi yang berumur panjang, seperti: Sahl bin Sa’id as-Sa’idi dan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhuma. Dia juga berguru kepada tokoh-tokoh utama tabi’in seperti Atha bin Abi Rabah, Muhammad bin Syihab az-Zuhri, Urwah bin Zubair, Muhammad bin al-Munkadir, Abdullah bin Rafi’, dan Ikrimah maula Ibnu Abbas. Dia juga meriwayatkan dari kakeknya al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr.

Mayoritas ulama yang ia ambil hadisnya berasal dari Kota Madinah. Mereka adalah ulama-ulama tersohor, tsiqah, memiliki ketinggian dalam amanah dan kejujuran.

Adapun murid-muridnya yang paling terkenal adalah Yahya bin Sa’id al-Anshari, Aban bin Taghlib, Ayyub as-Sikhtiyani, Ibnu Juraij, dan Abu Amr bin al-‘Ala. Demikian juga imam darul hijrah, Malik bin Anas al-Ashbahi, Sufyan ats-Tsauri, Syu’bah bin al-Hajjaj, Sufyan bin Uyainah, Muhammad bin Tsabit al-Bunani, Abu Hanifah, dan masih banyak lagi.

Para imam hadis –kecuali Imam Bukhari- meriwayatkan hadis melalui jalurnya di kitab-kitab mereka. Sementara Imam Bukhari meriwayatkan hadis melalui jalurnya pada kita selain ash-Shahih.

Berkat keilmuan dan kefaqihannya, sanjungan para ulama pun mengarah kepadanya:

Abu Hanifah mengatakan, “Tidak ada orang yang lebih faqih daripada Ja’far bin Muhammad.”

Abu Hatim ar-Razi dalam al-Jarh wa at-Ta’dil, 2: 487 berkata, “(Dia) tsiqah, tidak perlu dipertanyakan kualitas orang sekaliber dia.”

Ibnu Hibban berkomentar, “Dia termasuk tokoh dari kalangan ahlul bait, ahli ibadah dari kalangan atba’ at-tabi’in, dan ulama Madinah.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memujinya dengan ungkapan, “Sesungguhnya Ja’far bin Muhammad termasuk imam, berdasarkan kesepakatan Ahlussunnah” (Minhaju as-Sunnah, 2:245).

Demikian sebagian kutipan dari para ulama yang meuji kedudukan Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq.

Ja’far ash-Shadiq Tidak Mencela Abu Bakar dan Umar RA.

Orang-orang Syiah bersikap berlebihan terhadap Ja’far ash-Shadiq. Mereka mendaulatnya sebagai imam keenam. Pengakuan mereka ini hanyalah klaim sepihak saja. Buktinya, apa yang Ja’far ash-Shadiq yakini dan ia katakan sangat jauh berbeda dengan keyakinan-keyakinan Syiah.

Misalnya sikap Ja’far ash-Shadiq terhadap Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar al-Faruq. Besarnya kecintaan Ja’far kepada kedua tokoh Islam ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Abdul Jabbar bin al-Abbas al-Hamdani berkatam “Sesungguhnya Ja’far bin Muhammad menghampiriku saat hendak meninggalkan Madinah. Ia berkata, ‘Sesungguhnya kalian, insya Allah termasuk orang-orang shaleh di Madinah. Maka tolong sampaikan (kepada orang-orang), barangsiapa yang menganggapku sebagai imam ma’shum yang wajib ditaati, maka aku berlepas diri darinya. Barangsiapa yang menduga aku berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar, maka aku pun berlepas diri darinya’,”

Ad-Daruquthni meriwayatkan dari Hanan bin Sudair, ia berkata, “Aku mendengar Ja’far bin Muhammad saat ditanya tentang Abu Bakar dan Umar, ia berkata, ‘Engkau bertanya tentang orang yang telah menikmati buah-buahan surga?’”

Pernyataan Ja’far ini sangat jelas bertolak belakang dengan keyakinan orang-orang Syiah yang mencela dan memaki Abu Bakar dan Umar serta mayoritas sahabat lainnya dan menjadikan hal itu sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ja’far ash-Shadiq tidak mungkin mencela mereka. Ibunya, Ummu Farwa adalah putri al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq. Sementara neneknya dari jalur ibunya adalah Asma’ binti Abdurrahman bin Abu Bakar ash-Shiddiq. Apabila anak-anak Abu Bakar ini adalah paman-pamannya dan Abu Bakar sendiri adalah kakeknya dari dua sisi, maka sulit dibayangkan seorang Ja’far ash-Shadiq yang berilmu dan shaleh ini melontarkan cacian dan makian kepada kakeknya, Abu Bajar ash-Shiddiq.

 

Klaim Bohong Syiah

Pada masa Ja’far, bid’ah al-Ja’d bin Dirham dan pengaruh Jahm bin Shafwan telah menyebar. Sebagian kaum muslimin terpengaruh dengan akidah Alquran sebagai makhluk, akan tetapi Ja’far bin Muhammad mengatakan, “Bukan Khaliq (pencipta), bukan juga makhluk, tetapi kalamullah.” Akidah dan pemahaman seperti ini bertentangan dengan golongan Syiah yang mengamini Mu’tazilah, dengan pemahaman akidahnya, Alquran adalah makhluk.

Artinya prinsip akidah yang dipegangi oleh Ja’far ash-Shadiq merupakan prinsip-prinsip yang diyakini para imam Ahlussunnah wal Jamaah, dalam penetapan sifat-sifat Allah. Yaitu menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta menafikan sifat-sifat yang dinafikan Allah dan Rasul-Nya.

Ibnu Taimiyah berkata, “Syiah Imamiyah (Itsna Asyriyah), mereka berselisih dengan ahlul bait dalam kebanyakan pemahaman akidah mereka. Dari kalangan imam ahlul bait seperti Ali bin Husein, Muhammad bin Ali, Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, dll. tidak ada yang mengingkari keyakinan melihat Allah di hari kiamat, tidak ada yang meyakini Alquran adalah makhluk, atau mengingkari takdir, atau menyatakan Ali merupakan khalifah resmi (sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), tidak ada yang mengakui imam yang dua belas adalah ma’shum atau mencela Abu Bakar dan Umar.”

Orang-orang Syiah juga berdusta dengan meyakini bahwa Ja’far ash-Shadiq adalah imam yang kekal abadi, tidak akan pernah mengalami kematian. Hingga saat ini, menurut mereka Ja’far ash-Shadiq telah menulis banyak karya untuk mendakwahkan ajaran Syiah. Di antara buku yang diklaim Syiah sebagai karya Imam Ja’far adalah Rasailu Ikhwani ash-Shafa, al-Jafr (buku yang memberitakan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi), ‘Ilmu al-Bithaqah, Ikhtilaju al-A’dha, Qiraatu al-Quran fi al-Manam, dll.

Sebuah prinsip yang harus kita pegang adalah kita tidak menerima suatu perkataan pun dari Ja’far ash-Shadiq dan imam-imam yang lain, kecuali dengan sanad yang bersambung, diriwayatkan dari orang-orang yang terpercaya, dan didukung dalil, maka baru perkataan tersebut bisa kita terima. Dan yang perlu diketahui, pada masa hidup Ja’far ash-Shadiq adalah masa-masa yang kering dari karya tulis (80-148 H).

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Syariat mereka (Syiah) tumpuannya berasal dari riwayat sebagian ahlul bait seperti Abu Ja’far al-Baqir, Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, dan lainnya. Tidak diragukan lagi, mereka (yang dijadikan Syiah sebagai tumpuan riwayat) adalah orang-orang pilihan milik kaum muslimin dan imam-imam umat ini. Ucapan-ucapan mereka mempunyai kemuliaan dan nilai yang pantas didapatkan oleh orang-orang seperti mereka. Namun sayang, banyak nukilan dusta banyak disematkan kepada mereka. Kaum Syiah tidak memiliki kapasitas dalam hal periwayatan. Mereka layaknya ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani), semua riwayat-riwayat yang mereka jumpai dalam buku-buku mereka, langsung mereka terima (tanpa selesksi). Berbeda dengan Ahlussunnah, mereka mempunyai kapasitas yang mumpuni dalam ilmu periwayatan, sebagai piranti untuk membedakan mana kabar yang benar dan kabar yang dusta.” (Minhaj as-Sunnah, 5: 162).

Diadaptasi dari muqoddimah tahqiq kitab al-Munazharah (Munazharah Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq ma’a ar-Rafidhi fi at-Tafdhili Baina Abi Bakr wa ‘Ali) karya Imam al-Hujjah Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, tahqiq Ali bin Abdul Aziz al-Ali Alu Syibl.

INILAH BUKTI KALAU SYI’AH TIDAK DI SUKAI OLEH KELUARGA NABI SAW.

Problematika Ahlussunnah atau Sunni dengan Syiah di akhir zaman ini seolah-olah sebuah isu yang tidak ada ujungnya. Banyak pihak menganggap ini adalah persoalan pelik yang tak berujung. Demikian juga masyarakat modern saat ini mengalami kesulitan yang sangat untuk memihak salah satu di antara dua kelompok ini, sehingga mereka dudukkan sikap menurut mereka yang benar adalah yang tidak memihak keduanya.

Sebenarnya permasalahan ini akan menjadi mudah apabila kita mengembalikannya kepada data-data sejarah. Dan di antara keistimewaan umat Islam adalah ilmu periwayatan yang umat ini miliki sehingga sejarah mereka terjaga, dan orang-orang yang coba memalsukannya akan dengan mudah diketahui oleh orang-orang yang berilmu.

Sejarah Islam hanya memandang satu kata untuk ajaran Syiah, yaitu ajaran yang merusak Islam dari dalam. Hal ini dibuktikan sendiri oleh keluarga Nabi shalallallahu ‘alaihi wa sallam (ahlul bait), di antaranya sikap ahlul bait itu mereka buktikan dengan menikahkan anak-anak mereka, atau ahlul bait menikahi orang-orang dari kalangan Ahlussunnah wal Jamaah, dan tidak pernah mereka menikahi atau menikahkan anak-anak mereka dengan seorang pun dari tokoh Syiah.

Dimulai dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menikahi dan menikahkan putri-putrinya kepada imam Ahlussunnah wal Jamaah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi anak dari Abu Bakar yakni Aisyah, dan menikahi anak Umar bin Khattab yakni Hafshah. Lalu beliau menikahkan putri-putri beliau Ruqayyah dan Ummu Kultsum kepada Utsman bin Affan, dan Fathimah kepada Ali bin Abi Thalib.

Ali bin Abi Thalib menikahkan putrinya:

    Ramlah binti Ali bin Abi Thalib, dengan Muawiyah bin Hakam saudara dari khalifah Bani Ummayah Marwan bin Hakam.

    Khadijah binti Ali bin Abi Thalib dinikahkan oleh bapaknya (Ali) dengan Abdurrahman bin Amir dari Bni Abdusy Syam, sepupu Muawiyah bin Abi Sufyan.

    Ummu Kultsum bin Ali bin Abi Thalib dinikahkan dengan Umar bin Khattab.

    Hasan bin Ali menikahi anak perempuan Thalhah bin Ubaidillah.

Putri-putri Husein bin Ali bin Abi Thalib:

    Sukainah binti Husein dinikahkan dengan cucu Utsman bin Affan, Abdullah bin Amr bin Utsman.

    Fathimah binti Husein dinikahkan juga dengan cucu Utsman bin Affan, Zaid bin Amr bin Utsman.

Putri-putri Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib:

    Yazid bin Muawiyah adalah menantu Ja’far bin Abi Thalib.

    Abdul Malik bin Marwan, khalifah Umayyah, juga beristrikan anak Ja’far bin Abi Thalib.

Dua orang cucu Hasan bin Ali bin Abi Thalib dinikahi oleh Walid bin Abdul Malik, Khalifah Bani Umayyah.

Demikian juga ahlul bait menikahi putri-putri Ahlussunnah, karena pada hakikatnya ahlul bait adalah Ahlussnah wal Jamaah, orang-orang yang berpegang kepada sunnah Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Ibu dari Ja’far ash-Shadiq adalah cucu dari Abu Bakar ash-Shiddiq.

Sebagaimana kita ketahui periwayat hadis yang paling terkenal dari kalangan Syiah adalah Zurarah bin Sansan yang hidup sezaman dengan Ja’far ash-Shadiq, bahkan orang-orang Syiah mengatakan Zurarah adalah murid dekat dari Ja’far ash-Shadiq. Lalu apakah Ja’far ash-Shadiq menikahkan putrinya dengan Zurarah? Tidak satu pun! Atau adakah tokoh-tokoh Syiah yang menikah dengan putri-putri Ali bin Husein atau putri-putri Muhammad al-Baqir atau putri-putri Musa al-Kazhim atau putri-putri Ali ar-Ridha? Tidak satu pun, semua putri mereka dinikahkan dengan Ahlussunnah.

Mereka juga, orang-orang yang diklaim Syiah sebagai imam mereka ini menikahi  wanita-wanita Ahlussunnah, tidak menikahi wanita Syiah. Mengapa ini terjadi dalam sejarah Islam? Karena para ahlul bait ini adalah orang-orang yang berlepas diri dari Syiah.

Demikian juga imam-imam ahlul bait ini menamakan anak-anak mereka dengan nama-nama tokoh Ahlussunnah/Sunni: Abu Bakar, Umar, Aisyah, Utsman. Inilah nama putra dan putri Ali, Husein, dan Hasan, Ali bin Husein, Muhammad al-Baqir, mereka menamakan putra dan putri mereka dengan nama sahabat nabi. Mereka juga tinggal di lingkungan Ahlussunnah/Sunni, yakni bersama para sahabat nabi.

Ali bin Abi Thalib pernah tinggal di Kufah (daerah orang-orang Syiah) selama 4 tahun, dan Ali mendoakan kejelekan untuk penduduk Kufah karena buruknya perngai mereka. Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Ya Allah, gantikanlah aku dengan orang-orang yang lebih baik dari mereka, dan gantikanlah untuk mereka orang yang lebih buruk dari diriku.”

Husein bin Ali bin Abi Thalib terbunuh di Kufah, masyarakat Kufah yang memanggilnya agar keluar dari Kota Madinah menuju Kufah, lalu mereka sendiri yang membunuhnya. Lalu mereka mengagungkan tanah Karbala tempat terbunuhnya Husein sebagaimana orang Nasrani mengagungkan salib, karena menurut mereka Nabi Isa ‘alaihissalam disalib.

Maksud dari pembicaraan ini adalah para ahlul bait adalah orang-orang yang jauh dari mereka, ahlul bait berlepas diri dari orang-orang Syiah sebagaimana Nabi Isa ‘alaihisslam berlepas diri dari orang-orang Nasrani.

Ali bin Abi Thalib memiliki 20 anak perempuan dan 19 anak laki-laki, sebutkan satu saja diantara mereka yang menikah atau dinikah oleh seorang Syiah! Atau anak-anak Hasan, Husein, Ali bin Husein, Musa al-Kazhim, Muhammad al-Baqir, Ja’far ash-Shadiq, Ali ar-Ridha, satu saja dari anak-anak mereka!

Lalu bagaimana bisa dikatakan ahlul bait mereka klaim mencintai Syiah atau ahlul bait membenci Ahlussunnah. Apa yang mereka lakukan hanyalah untuk menimbulkan saling kebencian antara sesama umat Islam, demikianlah kiranya musuh dalam selimut yang menghancurkan Islam dari dalam.

Inilah fakta sejarah yang kita temui, jawabannya satu dan tidak ada kesamaran, tidak ada keragu-raguan bahwasanya pendahulu umat ini baik dari kalangan ahlul bait atau selain ahlul bait berlepas diri dari ajaran Syiah.

KEABSAHAN TAWASUL DENGAN PARA NABI DAN ORANG SHOLIH DALAM AQIDAH AHLUSSUNNAH

Kami pengikut Ahlussunnah tidak mengi’tiqadkan bahwa dzat seorang makhluk mempunyai pengaruh (ta’tsir), mampu mewujudkan sesuatu, menghilangkan, memberi manfaat dan memberi bahaya baik dzat Rasulallah, nabi-nabi, orang-orang shaleh dan lain-lain. Tetapi, kami meyakini bahwa hanya Allah yang dapat memberi manfaat dan bahaya serta yang lainnya.

Bertawassul dengan Rasulallah (baik dengan kedudukannya atau yang lain) atau orang-orang shalih bukan berarti menyembah kepada Rasulullah atau orang shalih tersebut seperti yang banyak di tuduhkan, sehingga memunculkan salah persepsi dari orang-orang yang anti terhadap ajaran tawassul dengan secara mutlak (dengan beraneka ragam bentuknya tawassul), bahwa orang yang bertawassul telah menjadi musyrik karena mendudukkan selain Allah di sepadankan dengan Allah dalam berdo’a. Akan tetapi tawassul adalah bentuk do’a yang di panjatkan kepada Allah dengan memakai perantara Nabi atau orang shalih, dengan harapan do’anya lebih di kabulkan oleh Allah. Hadits-hadits tentang itu semua sudah banyak di sampaikan oleh ulama, meski menurut sebagian kalangan yang sedikit mengerti mengenai derajat hadits, hadits-hadits dasar yang berkenaan dengan tawassul dengan Nabi atau orang shalih di anggap lemah semua.

Sayyid Mushthafa al-Bakri, seorang ulama madzhab Hanafi dan wali besar dalam tarekat Khalwatiyyah, menganalogikan tawassul dengan orang-orang shalih dan mulia di depan Allah dengan memohon bantuan orang yang mendapat kedudukan tinggi atau dekat dengan seorang raja, kemudian karena ingin tercapai maksudnya kepada raja, orang yang dekat dengan raja tersebut di jadikan sebagai perantara untuk di sampaikan kepada raja agar maksudnya sukses.

Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dalam Mafahim Yajibu An Tushahhash menjelaskan bahwasannya mencari perantara (wasilah) bukan sebagai bentuk syirik, karena jika mencari perantara kepada Allah adalah syirik, maka semua manusia adalah termasuk musyrik karena dalam semua urusan, mereka selalu memakai perantara. Lihat saja Rasulallah yang menerima wahyu al-Qur’an lewat perantara Malaikat Jibril, Rasulallah juga adalah perantara bagi para shahabat karena mereka kadang datang kepada beliau untuk mengadukan urusan-urusan mereka yang dianggap berat atau memohon doa dari beliau. Apakah pernah Rasulallah berkata pada mereka bahwa hal tersebut, yaitu memohon doa atau bantuan, adalah musyrik? Hal ini yang tidak banyak di ketehui oleh orang-orang yang anti terhadap tawassul.

As-Subki mengatakan: “Tawassul dengan Nabi ada tiga macam, yaitu: tawassul dengan Nabi dalam arti orang yang berharap hajatnya terkabulkan meminta kepada Allah lewat dengan (wasilah) diri Nabi Muhammad atau kedudukannya atau barakahnya. Dan masing-masing ada dasar haditsnya yang shahih.

Tawassul merupakan salah satu amalan yang sunnah dan tidak pernah diharamkan oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh ijma para sahabat radhiallahu ‘anhum, tidak pula oleh para tabi’in dan bahkan oleh para Ulama serta Imam-Imam besar Muhadditsin. Bahkan Allah memerintahkannya, Rasul saw mengajarkannya, Sahabat radhiallahu ‘anhum mengamalkannya.

Tak ada pula yang membedakan antara tawassul pada yang hidup dan mati. Karena tawassul adalah berperantara pada kemuliaan seseorang, atau benda (seperti air liur yang tergolong benda) di hadapan Allah swt, bukanlah kemuliaan orang atau benda itu sendiri.

Hadits yang dijadikan pijakan tentang tawassul dengan kedudukan Rasulullah di antaranya adalah hadits dengan sanad bagus riwayat ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir, bahwa Rasulullah menyebutkan dalam doanya:

بِحَقِّ نَبِيِّكَ وَاْلأَنْبِيَاءِ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِي

“Dengan haq Nabimu dan para Nabi-Nabi sebelumku”

Sedangkan dalil-dalil tentang tawassul dengan Nabi (baik saat beliau masih hidup atau sudah wafat), orang shalih, waliyullah dan lain-lain adalah: hadits riwayat at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim dan al-Bukhari serta Ahmad bin Hanbal dari ‘Utsman bin Hunaif, mengatakan: “Pada suatu waktu ada laki-laki buta datang kepada RasulUllah dan meminta supaya Rasulullah mendoakannya agar mendapatkan sehat wal afiyat, Rasulallah menjawab: ‘Jika kamu menginginkannya, aku dapat berdoa untukmu atau kamu bersabar dan itu lebih baik bagimu!’ Laki-laki itu menjawab: ‘Berdoalah untukku!’ Kemudian Rasulullah memerintahkan laki-laki tersebut berwudhu dengan baik dan berdoa sebagai berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ إِنِّي تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي هَذِهِ لِتُقْضَى لِيَ اللَّهُمَّ فَشَفِّعْهُ فِيَّ

“Wahai Tuhanku, aku meminta kepada Engkau dan aku menghadap kepada Engkau lewat Nabi Engkau Muhammad, Nabi rahmat. Wahai Nabi Muhammad, sesunguhnya aku menghadap kepada Rabb-ku lewat Engkau dalam memenuhi kebutuhanku ini sepaya Engkau dapat memenuhinya untukku. Wahai Tuhanku berilah syafaat kepadaku.”

Hadits ini adalah hadits shahih hasan sebagaimana disampaikan oleh at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Baihaqi. Hadits yang hampir senada dengan hadits di atas juga diriwayatkan oleh ath-Thabarani dalam al-Mu‘jam al-Kabir dan al-Mu‘jam ash-Shaghir.

Dalam hadits riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih disebutkan bahwasannya orang-orang pernah mengalami kepayahan karena ketiadaan air di zaman Khalifah ‘Umar bin Khaththab. Kemudian Bilal bin Harits mendatangi makam Rasulallah dan berkata: “Memintalah engkau hujan untuk umatmu, karena mereka sedang kepayahan!” Kemudian Rasulallah datang dalam mimpi Bilal dan memberi kabar bahwa mereka akan diberi hujan.

Hadits riwayat al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Anas bahwa ketika para shahabat kepayahan karena ketiadaan air, Umar bin Khaththab ber-istisqa’ lewat ‘Abbas bin Abdil Muththalib, beliau berdoa:

اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا

“Wahai Tuhanku, sesungguhnya kami bertawassul kepada Engkau lewat dengan Nabi kami dan Engkau memberu hujan kami. Dan kami bertawassul kepada Engkau lewat dengan paman Nabi kami, maka berilah kami hujan!”

Hadits riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak, Umar bin Khaththab mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Ketika Nabi Adam melakukan kesalahan, dia bermunajat: “Wahai Rabb-ku, aku memohon kepada-Mu dengan lewat haq-Muhammad ketika Engkau mengampuni kesalahanku.” Lalu Allah berfirman: “Wahai Adam, bagaimana engkau tahu tentang Muhammad sementara Aku belum menciptakannya?” Adam menjawab: “Wahai Rabb-ku, karena ketika Engkau menciptakanku dengan tangan-Mu (kekuasaan-Mu) dan meniupkan ruh di jasadku dari ruh-Mu, aku mengangkat kepalaku dan aku melihat di tiang-tiang ‘Arsy tertulis La ilaha illallah, Muhammad Rasulallah, dan aku tahu Engkau tidak akan menyandarkan nama-Mu kecuali kepada makhluk yang paling Engkau kasihi.” Allah kembali berfirman: “Benar wahai engkau Adam, karena sesungguhnya Muhammad adalah makhluk yang paling Aku cintai; dan jika engkau memohon kepada-Ku lewat dengan haq-nya Aku akan mengampunimu. Andai bukan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu. ”

Al-Alusi dalam kitab tafsirnya Ruh al-Ma’ani saat menguraikan ayat 35 dari surat al-Maidah tentang perintah mencari wasilah, menjelaskan di perbolehkannya bertawassul dengan kedudukan Rasulullah.

Ulama yang shaleh dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang membolehkan Tawassul (Sebagian diambil dari kitab Syawahid al-Haq karya Syaikh Yusuf an-Nabhani yang khusus menerangkan tentang tawassul atau istighatsah ) :

  1. Al Imam Sufyan bin Uyainah (guru dari Al Imam Syafi’i & Imam Ahmad bin Hanbal).
  2. Al Imam Abu Hanifah (pendiri Mazhab Hanafi).
  3. Al Imam Muhammad bin al Hasan al Syaibani (murid Al Imam Abu Hanifah).
  4. Al Imam Alauddin Abu Bakar bin Mas’ud al Kasani (ulama terkemuka madzhab Hanafi).
  5. Al Imam Malik bin Anas (pendiri Mazhab Maliki).
  6. Al Imam Asy Syafi’i (pendiri Mazhab Syafi’i).
  7. Al Imam Ahmad bin Hanbal (pendiri Mazhab Hanbali).
  8. Al Imam Abu Ali al Khallal (ulama terkemuka madzhab Hanbali).
  9. Al Hafizh Ibn Hajar Al Asqalani.
  10. Al Hafizh al Khatib al Baghdadi (penulis kitab Tarikh Baghdad)
  11. Al Hafizh Ibnu Khuzaimah.
  12. Al Hafizh Abu al Qasim ath Thabarani
  13. Al Hafizh Abu Syaikh al Ashbihani.
  14. Al Hafizh Abu Bakar bin al Muqri’ al Ashbihani.
  15. Al Hafizh Ibn al Jauzi.
  16. Al Hafizh adz Dzahabi.
  17. Syaikh Yusuf bin Ismail al Nabhani.
  18. Al Hafizh Abu Ishaq Ibrahim bin Ishaq al Harbi (ulama terkemuka madzhab Hanbali).
  19. Al Hafizh Abu Ali al Husain bin Ali bin Yazid al Naisaburi (guru utama al Imam al Hakim).
  20. Al Hafizh Abdul Ghani al Maqdisi (ulama terkemuka madzhab Hanbali).
  21. Al Imam Abu al Khair al Aqtha al Tinati (murid al Imam Abu Abdillah bin al Jalla).
  22. Al Hafizh Ibnu Asakir.
  23. Al Hafizh Al Sakhawi.
  24. Al Sya’rani.
  25. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Al Imam al Nawawi).
  26. Al Hafizh Ibn Al Jazari.
  27. Al Imam Muhammad bin Ali al Syaukani.
  28. Al Hafizh al Baihaqi
  29. Zainuddin Ali bin al-Husain (cucu Rasulallah)
  30. Asy-Syihab Mahmud
  31. Asy-Syihab Ahmad ad-Dimasyqi
  32. Al-Juzuli dalam Dala’il al-Khairat
  33. Muhammad al-Makki dalam shalawat Fathur Rasul
  34. Muhammad asy-Syanwani, Syaikh Universitas Al-Azhar Cairo Mesir yang juga pengarang syarah Mukhtashar Abi Jamrah
  35. Muhammad Wafa asy-Syadzili

Sedang ulama yang melakukan tawasul dalam keterangan kitab yang laen sebagai berikut:

  1. Sufyan bin Uyainah (198 H / 813 M)

Sufyan bin Uyainah berkata: ada dua laki-laki saleh yang dapat menurunkan hujan dengan cara bertawassul dengan mereka yaitu Ibnu ‘Ajlan dan Yazid bin Yadzibin jabir. Perkataan ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. (kitab al-‘illal wa Ma’rifah al-Rijal juz I hal. 163-164 karya Ahmad bin Hanbal)

2 Imam Abu Hanifah (80-150 H/ 699-767 M)

perkataan Abu Hanifah ketika berziarah ke Madinah dan berdiri di hadapan makam Rosulullah saw. yaitu:

“Hai orang yang termulya di antara manusia dan jin dan sebaik-baik makhluk, berilah aku kemurahanmu dan ridloilah aku dengan ridlomu. Aku merindukan kemurahan darimu, engkaulah satu2nya harapan Abu Hanifah”. (kitab al-Ziyaroh Nabawiyah hal. 56 karya Sayyid Muhammad al-Maliki).

  1. Imam Syafii (150-204 H/ 767-819 M)

“Dari Ali bin Maimun beliau berkata: Aku telah mendengar Imam Syafii berkata: Aku selalu bertabarruk dengan Abu Hanifah dan mendatangi makamnya dengan berziarah setiap hari. Jika aku mempunyai hajat, maka aku menunaikan sholat 2 rokaat, lalu aku datangi makam beliau dan aku memohon hajat itu kepada Allah di sisi makamnya,sehingga tidak lama kemudian hajatku segera terkabulkan” (kitab Tarikh al-Baghdad juz I hal. 123 dengan sanad yang shohih, karya al-Hafidz Abi Bakr Ahmad bin Ali).

  1. Abu Ishaq bin Ibrahim bin Ishaq al-Harby (198-285 H/813-898 M)

Ibrahim al-Harby berkata: Makam Ma’ruf al-Karkhy adalah obat penawar yang sangat mujarab (maksudnya datanglah ke makam Ma’ruf al-Karkhy, sebab berdo’a di sisinya banyak manfaatnya dan dikabulkan (Kitab Tarikh al-Islam hal.1494 karya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman)

Tawassul yang dilakukan oleh ulama’ muta’akhirin

  1. Ibnu Huzaimah (223-311 H/ 838-924 M)

“Kami berangkat bersama pemuka ahli hadits, Abu Bakr bin Huzaimah dan rekannya Abu Ali al-Tsaqofy beserta rombongan para guru untuk berziarah ke makam Ali Ridlo bin Musa al-Kadzim di Thusi, ia (Abu Bakr bin Mu’ammal) berkata: Aku melihat keta’dliman beliau (Ibnu Huzaimah) thd makam itu,serta sikap tawadlu’ terhadapnya dan do’a beliau yang begitu khusyu’ di sisi makam itu sampai membuat kami bingung (kitab Tahdzib…. juz 7 hal. 339 karya Imam Ibnu Hajar al-Asqolany)

  1. Abu Qosim al-Thobary (260-360 H/874-971 M) Abu al-Syaikh al-Asbihany (274-369 H/ 897-979 M)dan Abu Bakar bin Muqry al-Asbihany (273-381 H/ 896-991 M) Mereka mengisahkan kondisi mereka dalam keadaan lapar selama satu tahun kurang makan,lalu setelah waktu Isya’ mereka bertawasul dan beristighosah dengan cara mengunjungi makam Rosulullah saw seraya berkata demikian: “Yaa Rosulullah kami semua lapar dan lapar” dan saat salah satu mau pulang,al-Thobary berkata: Duduklah,kita tunggu datangnya rizki atau kematian, kemudian 2 orang teman al-Thobary tidur di sisi makam Rosulullah saw,sedang al-Thobary duduk sambil memandang sesuatu, tiba2 datang seorang lelaki ‘alawy (yaitu keturunan Nabi saw) bersama dengan 2 budaknya yang masing2 membawa keranjang yang penuh dengan makanan. Lalu kami duduk dan makan bersama, kemudian lelaki ‘alawy berkata: Hai kamu apakah kamu semua mengadu kepada Rosulullah? Aku barusan bermimpi bertemu dengan Rosulullah saw dan menyuruh aku membawakan makanan untuk kamu sekalian (kitab al-Wafa bi Ahwal al-Musthafa hal.818 karya Ibnu al-Jauzy)
  2. Abu Ali al-Husaini bin Ali bin Yazid al-Asbihany (277-349 H/ 900-961 M) beliau berkomentar sebagai berikut:

“Al-Hakim berkata bahwa aku telah mendengar Abu Ali al-Naisabury berkata: Pada suatu ketika aku dalam kesusahan yang sangat mendalam,lalu aku bermimpi bertemu Rosulullah saw. dan beliau berkata kepadaku: “Pergilah ke makam Yahya bin Yahya (142-226 H/ 759-840 M),bacalah istighfar dan berdo’alah kepada Allah nanti kebutuhanmu akan dikabulkan” Kemudian pagi harinya aku melakukan hal tersebut,lalu kebutuhanku segera dikabulkan (kitab Tahdzib…juz 11 hal. 261 karya Imam Ibnu Hajar al-Asqolani)

  1. Ibnu Taimiyah berkomentar dalam kitabnya Al-Kawakib Al Durriyah juz 2 hal. 6 yaitu:

“Tidak ada perbedaan antara orang hidup dan orang mati seperti yang dianggap sebagian orang. Jelas shohih hadits riwayat sebagian sahabat bahwa telah diperintahkan kepada orang2 yang punya hajat di masa Kholifah Utsman untuk bertawasul kepada nabi setelah beliau wafat (berdo’a dan bertawasul di sisi makam Rosulullah) kemudian mereka bertawasul kepada Rosulullah dan hajat mereka terkabul, demikian diriwayatkan al-Thabary”

MEMBACA AL-QUR’AN DI KUBURAN TERNYATA NABI SAW JUGA MELAKUKAN

Tatkala berziarah kubur utamanya di makam orang shalih seperti para nabi, ulama, maupun auliya banyak dijumpai yang membaca Al-Qur’an. Bagaimanakah hal ini menurut kacamata syariat? Mengingat ada sebagian pandangan yang mengatakan bahwa hal tersebut perbuatan bid’ah yang terlarang dan tidak ada contoh dari Nabi Muhammad SAW.

Nabi SAW  ternyata Juga  membaca Al-Qur’an di kuburan. Hal ini dibuktikan  dalam beberapa riwayat bahwa beliaumelaksanakan shalat  jenazah di kuburan. Dan tentu dalam shalatnya membaca Al-Qur’an karena hal itu adalah rukun shalat,termasuk shalat  jenazah.

Referensi yang bisa diketengahkan adalah sebagai berikut:

  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا أَسْوَدَ أَوْ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَ يَقُمُّ الْمَسْجِدَ فَمَاتَ فَسَأَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهُ فَقَالُوا مَاتَ قَالَ أَفَلَا كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي بِهِ دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهِ أَوْ قَالَ قَبْرِهَا فَأَتَى قَبْرَهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا )  رواه ا لبخاري(

 Dari Abu Hurairah bahwasanya seorang laki-laki atau seorang perempuan berkulit hitam yang biasanya menyapu masjid meninggal dunia. Lalu Nabi SAW bertanya tentangnya, dan para sahabat menjawab bahwa dia telah meninggal. Nabi bersabda: Apakah kalian tidak memberi tahuku tentangnya? Tunjukan kuburnya kepadaku.” Lalu Nabi Muhammad mendatangi kuburnya dan menshalatinya. (HR Bukhari)

عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ صَلَّيْتُ خَلْفَ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَلَى جَنَازَةٍ فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ قَالَ لِيَعْلَمُوا أَنَّهَا سُنَّةٌ  (رواه البخاري)

 Dari Tholhah bin Abdillah ia berkata: Aku menshalati  jenazah di belakang Ibnu Abbas RA lalu ia membaca al-Fatihah. Ia berkata, hendaknya mereka tahu bahwa ini adalah sunnah (HR  Bukhari).

 لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب (الشافعى ، وأحمد ، وابن أبى شيبة ، والدارمى ، والبخارى ، ومسلم ، والترمذى ، والنسائى ، وابن ماجه ، وابن خزيمة ، وابن حبان ، والدارقطنى عن محمود بن الربيع عن عبادة بن الصامت . البيهقى فى القراءة عن ابن عمر وعن جابر)

Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca al-Fatihah. (HR As Syafi’i, Ahmad, Ahmad, Ibnu Syaibah, ad Darimi, Bukhari,Muslim dan lain-lain dari Jabir).

Anjuran Membaca Al-Qur’an di Kuburan

Terkait kebiasaan membaca Al-Qur’an di pemakaman atau kuburan, dalil pembenarnya adalah sebagai berikut:

 وعن عبد الرحمن ابن العلاء بن اللجلاج قال قال لي أبي يا بني إذا أنا مت فالحد لي لحداً فإذا وضعتني في لحدي فقل بسم الله وعلى ملة رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم سن التراب على سناً ثم اقرأ عند رأسي بفاتحة البقرة وخاتمتها فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ذلك. رواه الطبراني في الكبير ورجال موثقون.)مجمع الزوائد ومنبع الفوائد *  – (1 / 467(

 Dari Abdur Rahman bin ‘Ala’ bin Lajlaj, ia berkata: Ayahku berkata; wahai anakku jika aku meninggal. maka galilah liang lahat untuku. Maka tatkala engkau meletakan aku di liang lahat, maka ucapkanlah “bismillahi wa ala millati rosulillahi shollohu alaihi wa sallam.” Kemudian  ratakanlah tanah atasku, lalu bacalah di samping kepalaku permulaan dan akhir surat al-Baqarah karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah SAW berabda tentang hal itu. (HR Thabrani dengan periwayat yang terpercaya).

Fatwa ulama

Untuk fatwa para ulama dapat kita simak sebagai berikut:

    Imam Syafi’i

أخبرني روح بن الفرج قال : سمعت الحسن بن الصباح الزعفراني يقول :سألت الشافعي عن القراءة عند القبر ؟ فقال لابأس بها (الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر 89  الأمام ابو بكر أحمد بن محمد بن هارون الخلال توفي 311 ه )

Rauh bin Faraj berkata: Aku mendengar Hasan bin Shabbah al-Za’farani berkata; aku bertanya kepada Imam As-Syafi’i tentang membaa Al-Qur’an di kuburan. Ia berkata; tidak mengapa. (Al-Amru bil makruf wa an-nahyi anil munkar 89 karya Syeh AbuBakar Ahmad bin Muhammad bin Harun al-Khollal w 311)

    Imam an Nawawi

ويستحب إن يقرأ من القرآن ما تيسر ويدعو لهم عقبها نص عليه الشافعي واتفق عليه الاصحاب ))المجموع شرح المهذب – (5 / 311)(

Dan disunnahkan untuk membaca sesuatu dari Al-Qur’an dan berdoa untuk ahli kubur sesudahnya. Imam As Ssyafi’i telah menetapkan hal itu dan disepakati oleh ashhab atau sahabatnya.

Tradisi Salafus Shalihin

    Ibnu al-Jauzi al-Hanbali: Sejak Ma’ruf al-Karakhi wafat tahun 200 H, tiap hari, mendapat kiriman hadiah pahala bacaan berjuz-juz al-Qur’an, minimal orang berdiri di pinggir makamnya dan membacakan surat al-Ikhlash untuknya. (Shaidul Khatir karya Ibnul Jauzi 474).

    Ketika al-Imam Abu Ja’far al-Hasyimi, guru besar madzhab Hanbali, wafat tahun 470 H, kaum Hanabilah membaca al-Qur’an di makamnya sampai khatam 10.000 kali. (Siyaru A’lami an-Nubala’ juz 18 / 547)

Wallahu a’lam bis shawab dan semoga bermanfaat

MENGETAHUI HUKUM BAYI DI DALAM KANDUNGAN DI BACAKAN SURAT MARYAM DAN YUSUF

Aliran Salafi memang tidak pernah suka dengan tabarruk, demikian halnya juga tidak mengamalkan tafaul. Sementara kita sering mengamalkan keduanya. Sebab kita yakin, keberkahan dan kebaikan datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mari kita perhatikan hadits berikut:

ﻗﺎﻝ ابو هريرة ﺳﻤﻌﺖ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ: «ﻻ ﻃﻴﺮﺓ، ﻭﺧﻴﺮﻫﺎ اﻟﻔﺄﻝ» ﻗﺎﻟﻮا: ﻭﻣﺎ اﻟﻔﺄﻝ؟ ﻗﺎﻝ: «اﻟﻜﻠﻤﺔ اﻟﺼﺎﻟﺤﺔ ﻳﺴﻤﻌﻬﺎ ﺃﺣﺪﻛﻢ» رواه البخاري

Abu Hurairah mendengar bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Tidak boleh meyakini sial (seperti dari suara burung). Sebaik-baiknya adalah tafaul (mengharap kebaikan)”. Para sahabat bertanya: “Apa tafaul?” Nabi menjawab: “Kalimat yang bagus, yang didengar oleh kalian.”(HR Bukhari)

Hadits di atas menegaskan bahwa tafaul berbeda dengan tathayyur atau tsyaum (merasa sial). Tafaul dibolehkan. Nah, yang kita amalkan adalah tafaul kandungan dengan dibacakan surat dalam al-Quran, yaitu surat Yusuf dan Surat Maryam. Bagaimana hukum tafaul dengan surat dalam al-Quran? Ulama beda pendapat, kebetulan kita mengikuti pendapat yang membolehkan:

(ﻭاﺳﺘﻔﺘﺎﺡ اﻟﻔﺄﻝ ﻓﻴﻪ) – ﺃﻱ: اﻟﻤﺼﺤﻒ (ﻓﻌﻠﻪ) ﺃﺑﻮ ﻋﺒﻴﺪ اﻟﻠﻪ (اﺑﻦ ﺑﻄﺔ) – ﺑﻔﺘﺢ اﻟﺒﺎء – (ﻭﻟﻢ ﻳﺮﻩ) اﻟﺸﻴﺦ ﺗﻘﻲ اﻟﺪﻳﻦ ﻭﻻ (ﻏﻴﺮﻩ) ﻣﻦ ﺃﺋﻤﺘﻨﺎ. ﻭﻧﻘﻞ ﻋﻦ اﺑﻦ اﻟﻌﺮﺑﻲ ﺃﻧﻪ ﻳﺤﺮﻡ، ﻭﺣﻜﺎﻩ اﻟﻘﺮاﻓﻲ ﻋﻦ اﻟﻄﺮﺳﻮﺳﻲ اﻟﻤﺎﻟﻜﻲ، ﻭﻇﺎﻫﺮ ﻣﺬﻫﺐ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ اﻟﻜﺮاﻫﺔ

“Mengawali mendapatkan kebaikan dari al-Quran telah dilakukan oleh Abu Ubaidillah ibn Battah. Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dan imam kita lainnnya (Hanabilah) tidak sependapat. Ibnu Arabi mengharamkannya. Al-Qarafi meriwayatkan hukum haram ini dari Thurthusi al-Maliki. Sedangkan pendapat secara dzahir Madzhab Syafiiyah adalah makruh.” (Mathalib Uli An-Nuha, 1/159).