BULAN SHAFAR DAN BANTAHAN KEMISTISAN DI DALAMNYA

Sebagaimana kita ketahui hal mistis masih sangat kental saat kita memasuki bulan safar. Banyak pihak menganggap bahwa bulan safar adalah bulan yang harus banyak waspada sebab banyak penyakit dan musibah yang akan turun.

Dalam kitab “Mandzumah syarh atsar fi ma waroda an syahr shofar” karya Almufakkir islami Habib Abu Bakar Al Adni, yang mana didalamnya menjelaskan beberapa kasus mistik yang terjadi sepanjang sejarah di Arab dan bagaimana sikap kita menanggapinya.

Berikut beberapa kasus yang telah di ringkas :

PERTAMA kasus sugesti banyak orang arab yang menganggap bulan shafar adalah bulan yang banyak terjadi fitnah dan musibah, bahkan orang arab juga menjadikan bulan shafar sebagai syahr harom memanjangkan dari muharram. Padahal nabi sendiri bersabda “tidak (termasuk bulan harom) bulan shofar!!” Dan dalam surat attaubah ayat 37 juga membantah kepercayaan mereka.

KEDUA banyak yang menganggap bulan ini akan terjadi “العدوى al adwa” yaitu proses terjadinya penularan penyakit berbahaya. Dan orang arab juga percaya bahwa jika ada burung hantu dimalam hari pada bulan ini maka arwah orang mati menjelma dalam burung itu meminta tolong. Dan rosulullah sendiri telah menafikan hal itu.

KETIGA banyak orang yang mempercayai “العيافة al Iyafah” yaitu melepas burung dan melihat arah perginya kemana untuk mencari keberuntungan. Dan juga banyak yang percaya “الطيرة atthiroh” yaitu jika melihat ada gagak maka dianggap akan terjadi hukuman dan laknat.

KEEMPAT kepercayaan atas ” الغول al ghoulu” jenis syetan yang dianggap memata matai manusia dan menggelincirkannya dan memberi marabahaya. Dan hingga hari ini masih ada yang percaya bahwa jika bepergian melihat cahaya atau sejenis api tapi setelah didekati menghilang.

Padahal rosulullah saw telah melarang lima hal “العدوى، الطيرة ، الهامة، الصفر ، الغول، والنوء” sebagaimana dalam kitab kanzun najah wassurur.

KELIMA kepercayaan dengan “النوء annau’” yaitu 28 bintang jahiliyah yang diyakini sebagian berupa hujan dan angin, dan menjadikannya sebagai ramalan. Padahal rosulullah telah melarang dalam hadits:

اخاف عن امتي الاستسقاء بالانواء وخوف السلطان والتكذيب بالقدر (الحديث)

KE ENAM orang juga banyak menganggap setiap hari rabu akhir bulan sebagai “Rabu wekasan” bertendensi dalil hadits

آخر يوم الاربعاء آخر يوم نحس مستمر (الحديث)

Imam sakhowi mengomentari hadits ini bahwa keyakinan buruk tergantung persepsi Psikologis yang meyakininya sebagaimana prediksi ahli perbintangan. Namun jika persepsinya tergantung pada allah maka tidak akan berpengaruh apapun.

كما يرون يوم النحس يوم الاربعاء * من كل شهر وكذا باقي الصفر

وشرعنا مخالف لرأيهم * وضابط للاعتقاد والفكر

“Sebagaimana orang menganggap hari Celaka di hari Rabu * setiap bulan ataupun sisa bulan sofar.

Syariat kita berbeda dengan statement mereka * ukurannya kita ukur dari kepercayaan dan Persepsi.

Kesimpulan :

Mari kita semua dalam memasuki bulan shofar ini tetap meningkatkan ibadah dan dzikir kita tanpa khawatir berlebihan perihal kejadian buruk yang belum terjadi.

Pada bulan ini juga merupakan bulan pernikahan Rosulullah s.a.w dengan sayyidatuna Khodijah R.A, serta pernikahan Putri beliau Sayyidatuna Fatimah dengan sayyidina Ali karromallahu wajhahu.

Serta kemenangan peperangan abwa’ dan perang Khoibar.

وابطل المختار شؤما فاسدا * اسبابه الجهل متى الجهل ظهر

Sekian WALLOHU A’LAM

ALASAN IMAM MADZHAB YANG EMPAT TIDAK MEMAKAI HADITS BUKHORI DAN MUSLIM

Masalah keshahihan hadits ini memang banyak orang yang terkecoh, karena kurang mengerti dan belum memahami apa yang dimaksud dengan hadits shahih.

Banyak yang berpikir bahwa keshahihan suatu hadits itu adalah wahyu yang turun dari langit. Banyak orang awam yang belum pernah belajar ilmu hadits berimajinasi seolah-olah keshahihan hadits merupakan wangsit khusus yang diberikan kepada tokoh-tokoh tertentu secara ghaib. Seolah-olah informasi keshahihan hadits itu secara khusus Allah anugerahkan kepada sosok tertentu, rada mirip-mirip dengan sosok imam mahdi di akhir zaman.

Padahal sebenarnya 100% keshahihan hadits itu hasil ijtihad, yaitu merupakan hasil penilaian subjektif dari seorang peneliti hadits lewat analisa logis tapi tetap tidak bisa lepas dari subjektifitasnya sendiri. Oleh karena hanya sekedar ijtihad, maka apa yang dibilang shahih oleh seorang peneliti hadits, bisa saja disanggah dan ditolak oleh peneliti lain,  bahkan bisa dikeluarkan hasil ijtihad lainnya yang justru bertentangan.

Imam Bukhari Berijtihad

Semua yang dituangkan Al-Bukhari (194-265 H) di dalam kitab Shahihnya adalah hasil ijtihad beliau. Jangan sekali-kali kita menduga bahwa beliau menerima wahyu dari Allah. Beliau melakukan penelitian atas tiap-tiap perawi dengan mengadakan perjalanan panjang dan jauh menelusuri berbagai pelosok negeri Islam. Seratus persen keshahihan hadits Bukhari itu dihasilkan lewat ijtihad dan bukan berdasarkan wahyu.

Tentu kita wajib menghargai dan menghormati hasil ijtihad seorang Bukhari, karena beliau memang ahli dan pakar di bidang itu. Dengan catatan, biar bagaimana pun tetap saja hasil ijtihad dan bukan wahyu.

Begitu juga hadits yang tertuang dalam kitab Shahih Muslim. Imam Muslim (204-261 H) sebagai penyusunnya tidak lain adalah seorang yang melakukan ijtihad, dalam arti penellitian ilmiyah untuk memilah mana yang beliau anggap shahih dan tidak. Pertimbangannya tanpa didasari wahyu dari langit. Hanya mengandalkan penilaian manusiawi semata.

Tentu kita wajib menghargai dan menghormati hasil ijtihad seorang Imam Muslim, karena beliau memang ahli dan pakar di bidang itu. Dengan catatan, biar bagaimana pun tetap saja hasil ijtihad dan bukan wahyu.

Tetapi menjadi keliru sekali ketika kita mengandalkan keshahihan hadits Bukhari dan Muslim sebagai satu-satunya rujukan dalam masalah agama. Mengapa? Karena selain hasil ijtihad keduanya, masih ada ribuan peneliti dan ahli hadits lain yang juga melakukan penelitian. Dan tidak sedikit yang kualitasnya malah lebih tinggi dari apa yang diijtihadkan oleh keduanya.

Penelitian Hadits Sebelum Zaman Bukhari dan Muslim

Sebagaimana kita ketahui bahwa Imam Bukhari dan Imam Muslim termasuk ulama yang hidup di abad ketiga hijriyah. Artinya, keberadaan dua kitab Shahih, yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim baru muncul di abad ketiga, atau setelah 200 tahun Rasulullah SAW wafat. Yang jadi pertanyaan adalah : Lalu umat Islam yang hidup di abad pertama dan kedua, sebelum Bukhari dan Muslim lahir, menggunakan hadits apa dalam beragama?

Jawabnya mereka menggunakan semua hadits nabi juga. Tentunya bukan hadits-hadits yang dishahihkan oleh Bukhari atau Muslim, sebab Bukhari dan Muslim belum lahir. Dan hadits-hadits di masa itu juga sudah diteliti dengan baik oleh para ahli hadits di zamannya.

Sebutlah misalnya Imam Malik rahimahullah yang menyusun kitab Al-Muwaththa’. Di zamannya, kitab Al-Muwaththa’ ini merupakan kitab hadits unggulan. Bahkan Al-Imam Asy-Syafi’i yang ingin belajar hadits kepada Imam Malik menghafal hadits-hadits di dalamnya.

Jadi jangan keliru beranggapan bahwa hadits shahih itu hanya hadits Bukhari dan Muslim saja. Maka tidak salah kalau kita katakan bahwa tidak ada satu pun shahabat nabi yang menggunakan hadits shahih riwayat Bukhari. Dan tidak satupun tabi’in yang menggunakannya juga. Mereka semua beragama tanpa menggunakan Shahih Bukhari dan Sahih Muslim.

Hal itu terjadi karena para shahabat dan para tabi’in hidup lebih dulu dari keduanya. Bagaimana mungkin orang yang hidup seabad sebelumnya bisa menggunakan hadits yang diriwayatkan pada abad-abad berikutnya?

Penelitian Hadits Dilakukan Oleh Empat Imam Mazhab

Para imam mazhab yang empat, Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal, sama sekali tidak pernah menggunakan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Mereka sama sekali tidak pernah menyentuh kitab Shahih Bukhari dan Muslim.

Kenapa?

Pertama, karena mereka lahir jauh sebelum Bukhari (194-265 H) dan Muslim (204-261 H) dilahirkan. Tidak mungkin mereka mengandalkan keshahihan hadits dari generasi berikutnya. Yang lebih logis adalah orang yang ada pada generasi berikutnya justru mengandalkan hasil penellitian hadits pada generasi sebelumnya.

Kedua, karena keempat imam mazhab itu sendiri justru merupakan pakar hadits paling top di zamannya. Tidak ada ahli hadits yang lebih baik dari mereka di zamannya. Apa urusannya pakar hadits paling top harus mengambil hadits dari kalangan yang lebih pantas menjadi murid atau cucu muridnya?

Ketiga, karena keempat imam mazhab itu hidup di zaman yang secara zaman lebih dekat ke Rasulullah SAW dari pada masa Bukhari atau Muslim sendiri. Maka kualitas periwayatan hadits mereka dipastikan lebih kuat dan lebih terjamin ketimbang kualitas di masa-masa berikutnya.

Kalau dalam bidang teknologi, memang semakin maju zamannya ke depan, ilmunya semakin lengkap dan sempurna. Karena penemuan yang dulu kemudian disempurnakan dengan penemuan terbaru. Sebaliknya, dalam bidang penelitian hadits, semakin mundur dan mendekati sumber aslinya, akan semakin baik.

Dan semakin menjauhi zaman aslinya tentu akan semakin lemah hasil penelitiannya. Tidak akan ada lagi penemuan baru macam teknologi komputer dalam ilmu hadits. Karena yang dilakukan adalah penelitian keshahihan hadits dan bukan kesempurnaan produk pabrik.

Keempat, justru Bukhari dan Muslim sendiri malah bermazhab kepada para imam mazhab yang empat itu. Banyak kajian ilmiyah yang memastikan bahwa Bukhari sendiri dalam fiqihnya bermazhab Syafi’i.

Memang ada sementara tokoh saking antipatinya dengan mazhab fiqih, lalu mengarang-ngarang sebuah nama mazhab imaginer baru yang tidak pernah ada bukti kongkritnya dalam sejarah. Mereka sebut mazhab ‘ahli hadits’. Dari namanya saja sudah bermasalah. Dikesankan seolah-olah yang tidak bermazhab ahli hadits berarti tidak menggunakan hadits dalam mazhabnya. Padahal mazhab ahli hadits itu adalah mazhab para ulama peneliti hadits untuk mengetahui keshahihan hadits dan bukan dalam menarik kesimpulan hukum (istimbath).

Kalaulah benar pernah ada mazhab ahli hadits yang berfungsi sebagai metodologi istimbath hukum, lalu mana ushul fiqihnya? Mana kaidah-kaidah yang digunakan dalam mengistimbath hukum? Apakah cuma sekedar menggunakan sistem gugur, bila ada dua hadits, yang satu kalah shahih dengan yang lain, maka yang kalah dibuang?

Lalu bagimana kalau ada hadits sama-sama dishahihkan oleh Bukhari dan Muslim, tetapi isinya bertentangan dan bertabrakan tidak bisa dipertemukan?

Al-Imam Asy-syafi’i sejak 13 abad yang lalu sudah bicara panjang lebar tentang masalah kalau ada beberapa hadits sama-sama shahihnya tetapi matannya saling bertentangan, apa yang harus kita lakukan? Beliau sudah menulis kaidah itu dalam kitabnya : Ikhtilaful Hadits yang fenomenal itu.

Cuma baru sampai mengetahui suatu hadits itu shahih, sebenarnya pekerjaan melakukan istimbath hukum belum selesai. Meneliti keshahihan hadits baru langkah pertama dari duapuluh tiga puluh langkah dalam proses istimbath hukum, yang hanya bisa dilakukan oleh para mujtahid.

Umat Terlalu Awam Dapat Informasi Diplintir

Sayangnya banyak sekali orang awam yang tersesat mendapatkan informasi yang sengaja disesatkan oleh kalangan tertentu yang punya rasa dengki. Seolah-olah imam mazhab yang empat itu kerjaannya cuma merusak agama dengan mengarang-ngarang agama dan menambah-nambahinya seenak udelnya. Sejelek itu para perusak agama melancarkan fitnah keji kepada para ulama.

Padahal keempat imam mazhab itu di zamannya justru merupakan para ulama peneliti hadits (muhaddits). Sebab syarat untuk boleh berijtihad adalah harus menguasai hadits dan mampu meneliti sendiri kualitas keshahihan haditsnya. Imam Malik itu penyusun Al-Muwaththa’ yang tiga khalifah memintahnya agar dijadikan kitab standar negara. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal sendiri lebih dikenal sebagai ahli hadits ketimbang sebagai mujtahid dalam ilmu fiqih.

Entah orientalis mana yang datang menyesatkan agama, tiba-tiba datang generasi yang awam agama dan dicuci otaknya, dengan mudahnya dan teramat lancang menuduh keempat imam mazhab itu sebagai orang-orang bodoh dengan ilmu hadits. Hadits shahih versi Bukhari dibanding-bandingkan secara zahir dengan pendapat keempat mazhab, seolah-olah pendapat mazhab itu buatan manusia dan hadits shahih versi Bukhari itu datang dari Allah yang sudah pasti benar.

Orang-orang awam yang kurang ilmu itu dengan seenaknya menyelewengkan ungkapan para imam mazhab itu dari maksud aslinya : “Bila suatu hadits itu shahih, maka itulah mazhabku”. Kesannya, para imam mazhab itu bodoh dengan keshahihan hadits, lalu menggantungkan mazhabnya kepada orang-orang yang hidup dua tiga abad sesudahnya.

Padahal maksudnya bukan begitu. Para ulama mazhab itu menolak suatu pendapat, karena menurut mereka hadits yang mendasarinya itu tidak shahih. Maka pendapat itu mereka tolak sambil berkata,”Kalau hadits itu shahih, pasti saya pun akan menerima pendapat itu. Tetapi berhubung hadits itu tidak shahih menurut saya, maka saya tidak menerima pendapat itu”.  Yang bicara bahwa hadits itu tidak shahih adalah profesor ahli hadits, yaitu para imam mazhab sendiri. Maka wajar kalau mereka menolaknya.

Tetapi lihat pengelabuhan dan penyesatan dilakukan secara terstruktur, sistematis dan masif. Digambarkan seolah-olah seorang Imam Asy-Syafi’i itu tokoh idiot yang tidak mampu melakukan penelitian hadits sendiri, lalu kebingungan dan menyerah menutup mukanya sambil bilang,”Saya punya mazhab tapi saya tidak tahu haditsnya shahih apa tidak, jadi kita tunggu saja nanti kalau-kalau ada orang yang ahli dalam bidang hadits. Nah, mazhab saya terserah kepada ahli hadits itu nanti ya”.

Dalam hayalan mereka, para imam mazhab berubah jadi badut pandir yang tolol dan bloon. Bisanya bikin mazhab tapi tidak tahu hadits shahih. Sekedar meneliti hadits apakah shahih atau tidak, mereka tidak tahu. Dan lebih pintar orang di zaman kita sekarang, cukup masuk perpustakaan dan tiba-tiba bisa mengalahkan imam mazhab.

Cara penyesatan dan merusak Islam dari dalam degan modus seperti ini ternyata nyaris berhasil. Coba perhatikan persepsi orang-orang awam di tengah kita. Rata-rata mereka benci dengan keempat imam mazhab, karena dikesankan sebagai orang bodoh dalam hadits dan kerjaanya cuma menambah-nambahi agama.

Parahnya, setiap ada tradisi dan budaya yang sesat masuk ke dalam tubuh umat Islam, seperti percaya dukun, tahayyul, khurafat, jimat, dan berbagai aqidah sesat, sering diidentikkan dengan ajaran mazhab. Seolah mazhab fiqih itu gudangnya kesesatan dan haram kita bertaqlid kepada ulama mazhab.

Sebaliknya, orang yang harus diikuti adalah para ahli hadits, karena mereka itulah yang menjamin keshahihan hadits.

Bukhari dan Muslim Bukan Penentu Satu-satunya Keshahihan Hadits

Ini perlu dicatat karena penting sekali. Shahih tidaknya suatu hadits, bukan ditentukan oleh Bukhari dan Muslim saja. Jauh sebelum keduanya dilahirkan ke dunia, sudah ada jutaan ahli ahli hadits yang menjalankan proses ijtihad dalam menetapkan keshahihan hadits.

Dan boleh jadi kualitasnya jauh lebih baik. Kualitas keshahihannya jauh lebih murni. Hal itu karena jarak waktu dengan sumber aslinya, yaitu Rasulullah SAW, lebih dekat.

Hadits di zaman Imam Bukhari sudah cukup panjang jalur periwayatannya. Untuk satu hadits yang sama, jalur periwayatan Bukhari bisa sampai enam atau tujuh level perawi yang bersambung-sambung. Sementara jalur hadits Imam Malik cuma melewati tiga level perawi. Secara logika sederhana, kualitas keasliannya tentu berbeda antara hadits yang jalurnya tujuh level dengan yang tiga level. Lebih murni dan asli yang tiga level tentunya.

Bayangkan kalau Imam Bukhari hidup hari ini di abad 15 hijriyah, haditsnya bisa melewati 40-50 level perawi. Secara nalar kita bisa dengan mudah menebak bahwa kualitas periwayatannya jauh lebih rendah. Beda tiga sampai empat level saja sudah besar pengaruhnya, apalagi beda 50 level, tentu jauh lebih rendah.

Apalagi yang jadi ahli haditsnya bukan selevel Bukhari, tetapi sekedar mengaku-ngaku saja. Tentu kualitas haditsnya jauh lebih parah lagi. Bukhari itu melakukan perjalanan panjang dan lama ke hampir seluruh dunia Islam. Tujuannya untuk bertemu langsung para perawi hadits yang masih tersisa. Maksudnya untuk mengetahui langsung seperti apa kualitas hafalan dan kualitas keislaman mereka.

Menurunnya Kualitas Periwayatan Seiring Dengan Semakin Jauhnya Jarak

Semakin jauh jarak waktu antara sumber hadits dengan zaman penelitiannya, maka kualitasnya akan semakin menurun. Sebab jalur periwayatannya akan menjadi semakin panjang. Jumlah perawi yang harus diteliti jelas lebih banyak lagi.

Seandainya seorang dengan kualitas Imam Bukhari hidup di abad kelima, tentu nilai kualitas penelitiannya akan jauh lebih rendah dibandingkan beliau hidup di abad ketiga. Dan bila beliau hidup di abad kelima belas, sudah bisa dipastikan kualitas penelitiannya akan jauh lebih rendah, bahkan beliau malah tidak bisa melakukan apa-apa.

Karena tidak mugkin lagi melakukan penelitian langsung bertemu muka dengan para perawi. Maka keistimewaan hadits Bukhari akan anjlog total. Untungnya beliau hidup di zaman yang tepat, yaitu di masa para perawi masih hidup dan bisa diwawancarai langsung.

Maka siapapun orangnya, kalau baru hari gini melakukan penelitian tentang para perawi, kelasnya rendah sekali. Semua hasil penelitian semata-mata mengandalkan data sekunder, yaitu hanya sekedar menelliti di tingkat literatur dalam perpustakaan. Sebuah pekerjaan yang sangat mudah, karena semua mahasiswa fakultas hadits semester pertama pun bisa mengerjakannya.

Dosen hadits bisa dengan mudah mengajarkan teknik takhrij hadits kepada anak-anak muda mahasiswa usia di bawah 20 tahunan, lalu menugaskan masing-masing melakukan takhrij untuk dapat nilai. Bahkan pekerjaan seperti itu bisa dilakukan oleh orang yang sama sekali tidak pernah belajar ilmu hadits di bangku kuliah. Cukup dengan otodidak, sedikit diberi pelatihan singkat, asalkan tekun tiap hari nongkrong di perpustakaan, bisa melakukan penelitian kelas-kelas rendahan. Siapapun bisa melakukannya dengan mudah.

Apalagi zaman sekarang sudah ada ratusan software hadits. Cukup masukkan keyword saja, maka semua data bisa keluar dalam hitungan detik saja.

Kalau baru sampai disitu kok tiba-tiba merasa lebih tinggi derajatnya dari Bukhari dan Muslim, rasanya ada yang salah dalam logika. Jangankan merasa lebih tinggi, merasa selevel saja pun sudah tidak sopan.

Maka kita tidak bisa menyamakan kualitas keshahihan hadits yang diteliti di abad kelimabelas ini, dengan kualitas penelitian hadits yang dilakukan di abad ketiga zaman Bukhari dan Muslim. Nilainya jauh berbeda. Dan kualitas penelitian hadits di abad pertama dan kedua tentu jauh lebih baik lagi.

Anehnya, jarang sekali umat Islam yang bisa membedakan, mana kualitas penelitian kelas tinggi dan mana kelas rendahan. Sebab sekarang ini kita hidup di zaman serba awam dan serba tidak tahu.

Kadang-kadang umat Islam terkecoh dengan mudah dengan penampilan fisik. Asalkan ada orang pintar ceramah, kebetulan jenggotnya panjang, bajunya gamis ala arab, pakai surban melilit kepala, tangannya sibuk memutar-mutar biji tasbih, suaranya diberat-beratkan, langsung kita anggap dia adalah ulama yang tahu segala-galanya. Padahal satu pun hadits tidak dihafalnya.

Lebih lucu lagi, kalau ada tokoh yang bisa menyalah-nyalahkan ulama betulan, melancarkan kritik ini dan itu, bahkan mencaci maki dengan kata-kata kasar, maka oleh pendukungnya yang sama-sama awam dijadikan seolah-olah dia adalah utusan Allah yang turun langsung dari langit, menjadi anugerah bagi alam semesta.

Seolah-olah kebenaran milik dia semata. Orang lain yang tidak setuju dengan seleranya dianggap bodoh semua. Ulama yang tidak sejalan dengannya akan dihujani cacian makian dan sumpah serapah.

Semoga Allah SWT mengampuni kita semua. Amiin ya rabbal alamin

Wallahu a’lam bishshawab,

DALIL KEABSAHAN BERTABARRUK(NGALAP BERKAH)

Menurut Jumhur ulama empat madzhab bertabaruk dengan orang-orang shalih dan peninggalannya adalah disyariatkan. Tidak ada yang melarang hal ini dalam masa-masa awal Islam. Disinyalir Ibnu Taimiyah di abad ke tujuh Hijriyah merupakan orang pertama yang menyelisihi jumhur dalam masalah ini.

Di antara dalil-dalil kebolehan bertabaruk dengan orang shaleh adalah adalah :

  1. Hadits Mathohir

Diriwayatkan oleh Thabrani dalam al Ausath dari Ibnu Umar ra. Beliau berkata, “Rasulullah SAW mengutus orang kepada Mathohir (tempat-tempat wudhu umat muslim) untuk dibawakan air. Kemudian beliau meminumnya dengan harapan mendapatkan berkah dari tangan-tangan kaum muslim.” Al Haitsami mengatakan dalam Majma bahwa Thabrani meriwayatkannya da;am al Ausath dan perawinya terpercaya. Sedangkan Abdul Azis bin Abi Rawad terpercaya namun dinisbatkan kepada Irja.

  • Hadits sumur unta

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra bahwa para sahabat bersama Rasulullah SAW melewati tanah kaum Tsamud. Mereka mengambil air dari sumurnya dan membuat adonan makanan dengannya. Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan untuk membuang air yang diambil dari sumur itu dan memberikan adonan yang dibuat dengan air tersebut kepada unta. Beliau SAW memerintahkan mereka mengambil air dari sumur yang pernah didatangi oleh unta (unta yang menjadi mukjizat Nabi Shaleh).”

Imam Nawawi dalam syarahnya mengomentari bahwa hadits ini memiliki beberapa faidah diantaranya adalah anjuran untuk menghindari sumur-sumur kaum dzalim dan bertabaruk dengan sumur-sumur kaum shalihin.

  • Hadits Juraij

Dalam Shahih Muslim disebutkan tentang kisah Juraij, seorang shaleh yang terkenal. Juraij dituduh menghasilkan anak dari perzinahan dengan seorang pelacur sehingga kaumnya merusak biaranya. Kemudian Juraij berkata, “Di mana anak itu ?” Mereka mendatangkan bayi itu. Juraij berkata, “Tinggalkan aku agar aku bisa melaksanakan shalat.” Juraij pun melaksanakan shalat. Selesai dari shalatnya ia mendatangi bayi itu dan menyentuh perutnya seraya berkata, “Wahai anak, siapakah ayahmu?” Bayi itu pun menjawab, “ Fulan, si penggembala.” Bani Israil (yang merasa kaget karena jawaban bayi itu), mendekati Juraij, menciuminya serta mengusap-ngusap tubuhnya. Mereka berkata, “Kami akan membangun biara dari emas untukmu.” Juraij menjawab, “Tidak perlu (kalian berbuat seperti itu), tapi cukup dirikanlah (biaraku) dari tanah sebagaimana dulu adanya.”, Mereka pun melakukan apa yang diperintahkan Juraij.”

Hadits ini adalah bentuk diamnya Nabi SAW dan menganggap baiknya Nabi SAW atas apa yang dilakukan mereka terhadap Juraij. Seandainya menciumi dan mengusap orang sholeh untuk bertabaruk adalah terlarang pastinya beliau menjelaskan.

Hadits-hadits yang menjelaskan tabaruk dengan Nabi SAW. Alasan tabaruk dengan Nabi adalah karena keimanan Nabi SAW, ketakwaanya, keshalehhan dan kedekatan Beliau SAW kepada Allah. Alasan ini juga terdapat pada para wali dan orang shaleh walau berbeda tingkatannya.

  • Sanggahan-sanggahan

Mereka yang melarang tabaruk dengan orang shaleh beralasan bahwa kebolehan tabaruk itu hanya khusus bagi Nabi SAW. Selain itu para sahabat dan salaf tidak melakukannya. Dan Tabaruk dengan orang shaleh dikhawatirkan berakhir dengan menjadikan mereka sebagai Sesembahan.

Argumen-argumen mereka sama sekali tidak berdasar dan tidak pantas diajukan setelah datangnya dalil yang jelas tentang kebolehan Tabaruk dengan peninggalan orang-orang shaleh.

Pernyataan bahwa Tabaruk adalah kekhususan Nabi SAW membutuhkan dalil dan mereka tidak memilikinya. Hukum asli segala hal adalah umum dan boleh diikuti.

  • Ilmu Yang Sedikit

Jika dikatakan bahwa dalilnya adalah keshalehan Nabi SAW sudah pasti sedangkan keshalehan selain Nabi hanya sebatas prasangka yang tidak pasti. Maka perlu diketahui bahwa persangkaan kuat dalam masalah ini sudah cukup sebab mayoritas hukum syariat didasari oleh persangkaan kuat dan bukan kepastian. Seandainya kita memakai cara pemikiran mereka, tidak ada lagi di muka bumi ini manusia yang layak untuk dihormati. Karena sebanyak apa pun ibadah atau ilmu seseorang, kita dengan mudah dapat berkata, “Untuk apa menghormati mereka? Mungkin saja hati mereka tidak sebaik dzohirnya.” Dalil ini hanya dipakai oleh kaum yang hatinya penuh buruk sangka terhadap sesama muslim.

Adapun alasan mereka bahwa para sahabat dan salaf tidak melakukannya. Itu salah sebab para sahabat dan salaf telah melakukannya. Dalam Mustadrak dikatakan, “Muhammad bin Thalhah termasuk seorang zahid yang rajin beribadah. Para sahabat Nabi bertabaruk dengan doanya, dan beliau adalah orang pertama yang dijuluki as Sajad (yang sering sujud). memberitahukan kepadaku tentang shahihnya hal ini Abdullah al Asfihani.”

Telah ditetapkan pula bahwa Imam Syafii bertabaruk dengan baju Imam Ahmad. Hikayat ini diriwayatkan dalam banyak jalur dan telah dituliskan para ulama dalam kitab-kitab mereka seperi Bidayah Wa Nihayah, Manaqib Ahmad dan lainnya.

Imam Syafii juga bertabaruk dengan kubur Abu Hanifah sebagaimana disebutkan dalam Tarikh Baghdad. Dalam kitab Adab Ibnu Muflih juga meriwayatkan bahwa Imam Ahmad bertabaruk dengan baju Yahya bin Yahya.

Sedangkan argumen mereka bahwa tabaruk dengan atsar orang shaleh bisa menjadi perantara kepada penyembahan mereka. Maka hal yang sama juga bisa dikatakan mengenai tabaruk dengan Nabi SAW. Faktanya Tabaruk dengan Nabi SAW disepakati kebolehannya dan tidak ada seorang pun umat Islam yang menyembah Nabi SAW.

Jika dikatakan Nabi telah mengajarkan sahabatnya tauhid maka tidak ditakutkan atas mereka akibat buruknya. Maka dikatakan begitupula dimungkinkan diajarkan kepada orang yang bertabaruk tauhid sehingga kita aman dari akibat buruknya.

SEMUA MENGAKU AHLUS SUNNAH…. SIAPAKAH YANG BENAR?

                Ahlu Sunah Asyairoh

Ahlu sunah wal jamaah (Aswaja) merupakan istilah bagi golongan yang senantiasa berada pada jalan salafusholeh, berpegang teguh dengan al-Quran, sunah dan atsar yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW serta para sahabatnya ra. Istilah ini digunakan untuk membedakannya dengan para pengikut bidah dan hawa nafsu.

Ulama terdahulu telah sepakat apabila disebut ahlu sunah maka yang dimaksud adalah Asyairoh (pengikut jalan Imam Abul Hasan al-Asyari) serta aliran lain yang sejalan yakni Maturidiyah dan Atsariyah (pengikut hadits). Rasulullah SAW menyebutkan bahwa kelak Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya tersesat kecuali satu golongan yang selamat, mereka adalah mayoritas umat Islam. Sifat ini hanya sesuai dengan Aswaja. Merekalah mayoritas umat Islam yang dinafikan sesatnya melalui hadits terkenal, “Umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan.”

Al Ijiy dalam kitab Mawaqif -setelah menyebut golongan-golongan yang sesat- menjelaskan bahwa golongan selamat adalah yang disabdakan Nabi SAW, “Mereka adalah orang-orang yang mengikutiku dan para sahabatku” (HR.Turmudzi). Yaitu golongan Asyairoh dan para salaf dari ahli hadits dan ahlu sunah wal jamaah. Madzhab mereka disebut kosong dari berbagai bidah.

Sedangkan Tajudin As-Subki sebagaimana dinukil dalam kitab Ithafus Sadah menyebut bahwa seluruh pengikut Aswaja memiliki keyakinan yang sama namun metode memahami yang berbeda. Di sana ada metode ahlu hadits (atsariyah), metode nadzor (pikir) dan logika yang diwakili Asyairoh dan Maturidiyah, dan metode penyingkapan melalui ilham yang diwakili sufiyah. Pada tahap awal para sufi menggunakan dua metode pertama, namun di puncaknya perjalanannya mereka mendapatkan penyingkapan melalui ilham.

Pada dasarnya pengambilan dasar Asyairoh dan Maturidiyah pun berasal dari hadits shahih, maka tidak heran jika nama Ahlu sunah disebut maka keduanyalah yang dimaksud. Syaikh Murtadho al-Zubaidi dalam kitabnya Ithafusadah mengatakan dengan tegas,“Jika disebut ahlu sunah maka yang dimaksud adalah Asyairoh dan Maturidiyah.” Tak jauh berbeda perkataan Ibnu Abidin al-Hanafi dalam Radul Mukhtar, “Ahlu Sunah wal Jamaah adalah Asyairoh dan Maturidiyah.”

Pada kesempatan kali ini kita hanya akan membahas sekelumit tentang Asyairoh, golongan yang dikatakan oleh Habib Abdullah al-Hadad dalam bait syairnya:

“ Jadilah seorang Asyari dalam akidahmu sebab itulah  jalan yang bersih dari kesesatan dan kekufuran”

Al-Faqih Abdullah al-Aidrus Akbar dalam kitab Kibritul Ahmar pun mengatakan,” Itiqod kami adalah Asyari dan madzhab kami adalah Syafii sesuai dengan ketentuan Al-Quran dan Sunah.”

Asyairoh

Sebutan Asyairoh diperuntukan bagi mereka yang mengikuti jalan Abul Hasan Asyari ¾seorang keturunan sahabat mulia Abu Musa al-Asyari¾dalam masalah akidah. Mengikuti disini bukan dalam artian taklid yakni mengikuti tanpa mengetahui dalil, sebab taklid dalam masalah akidah adalah terlarang. Namun mengikuti dalam artian menapaki petunjuknya dan dalil-dalil yang dibawakannya.

Imam Ali bin Ismail al-Asyari lahir pada tahun 260 H, pada mulanya beliau menganut faham Muktazilah dalam asuhan Ajuba’i selama 40 tahun dan sempat menjadi tokoh penting madzhab tersebut. Beliau mendapati banyak kerancuan dalam akidah Muktazilah, berdialog dengan para gurunya namun tidak mendapatkan jawaban memuaskan. Begitulah keadaannya sampai Allah menunjukan jalan kebenaran. Setelah itu, ia keluar menuju masjid jami, menaiki mimbar dan mengumumkan taubatnya dari faham Muktazilah menuju faham para salaf dan sahabat yang kelak dikenal dengan Ahlu Sunah wal Jamaah.

Ibnu Khalikan dalam Wafiyatul A`yan mengatakan, “Abul Hasan mulanya menganut  Muktazilah kemudian taubat dari pendapat seputar sifat Adil dan bahwa al-Quran adalah makhluk di masjid jami Bashroh pada hari Jumat.” Senada dengan itu yang dikatakan oleh adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala.

Para ulama mengatakan bahwa ahlul bidah sebelum munculnya Imam Abu Hasan al-Asyari berani menegakan kepala namun setelah beliau nampak mereka bersembunyi.

Pada dasarnya Abul Hasan Al-Asyari tidak membuat akidah baru, beliau hanya menegakan bendera bagi jalan para salaf sehingga bisa terlihat dan diikuti setelah sekian lama jalan itu samar tertutup golongan-golongan ahlul bidah terutama Muktazilah yang didukung oleh penguasa kala itu.

Al-Hafidz Abu Bakar al-Baihaqi menyatakan, “Beliau (al-Asyari) tidak membuat hal baru maupun bidah dalam agama Allah. Beliau hanya mengambil pendapat-pendapat para sahabat dan tabiin serta para imam setelahnya dalam masalah ushuludin (akidah) kemudian menguatkan pendapat-pendapat ini dengan penjelasan dan penerangan.”

Imam Murtadho az-Zubaidi dalam Ithafus Sadah juga mengatakan hal serupa, “Ketahuilah bahwa keduanya, yaitu Imam Abu Hasan dan Abi Mansur Al-Maturidi tidak membuat pemikiran baru atau madzhab baru. Mereka hanya menetapkan madzhab salaf dan mendukung apa yang dilakukan sahabat Rasulullah SAW. Keduanya menyanggah ahlu bidah sampai terputus dan berpaling kalah.”

Inilah pula yang dikatakan oleh, Asubki dalam Thobaqot-nya, Ibnu Asakir dalam Tanbih KidzB al Muftari dan ulama lainya. Mereka menyatakan dengan tegas bahwa ajaran Asyari bukan ajaran baru, beliau hanya menyusun dan merumuskan ulang paham akidah salaf secara sistematis sehingga menjadi pedoman akidah Ahlu Sunah. Maka tidak berlebihan jika Al-Baihaqi menyatakan bahwa jalan Al-Asyari adalah jalan para salaf seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad bin Hanbal, dan bahkan Imam Bukhari dan Muslim.

Imam Asyari dan murid-muridnya dengan tekun mendakwahkan ajaran salaf tersebut dan memberantas bidah sampai ke akar-akarnya. Karena murninya ajaran ini maka bukan hal yang mengherankan apabila hampir semua ulama dan imam rujukan yang hidup setelah beliau menisbatkan diri sebagai pengikut ajarannya atau ajaran yang sesuai dengannya yakni Maturidi. Tidak ada satu fan ilmu syariat pun yang tokohnya bukan Asyari atau Maturidi. Dalam ilmu Tafsir terdapat al-Qurtubi, Ibnu Katsir, Ibnu Athiyah, Abu Hayan, ar-Razi, al-Baghawi, as-Samarqandi, an-Naisaburi, al-Alusi, al-Halabi, asy-Suyuthi, Khatib Syarbini dan lainnya.

Dalam ilmu hadits terdapat ad-Daruqutni, Abu Nuaim, al-Hakim, Ibnu Hiban, al-Baihaqi, Ibnu Asakir, al-Baghdadi, An-Nawawi, Ibn Sholah, al-Kirmani, al-Mundziri, al-Ubi, Ibnu Hajar al-Atsqalani, as-sakhowi, As-Suyuthi, al-Qastalani, al-Munawi dan lainnya. Imam Tajudin as-Subki dalam Thobaqot Kubro pernah berseloroh,” Dan itu (Asyairoh) adalah madzhab ahli hadits sejak masa lampau sampai sekarang.”

Hampir seluruh ulama madzhab yang empat menganut Asyairah. Imam Izudin bin Abdis Salam pernah mengatakan, “Akidah Asyari adalah akidah yang berkumpul di dalamnya para pengikut Syafiiyah, Malikiyah, Hanafiyah dan tokoh-tokoh utama dalam Hanabilah.”

Begitulah pula dalam ilmu lughoh, nahwu, bahasa arab, sejarah, dan semua ilmu syariat lain. Mayoritas tokoh rujukan dalam ilmu-ilmu tersebut adalah Aswaja penganut Asyairoh atau Maturidiyah. Betapa benar apa yang dikatakan oleh al Habib Abdullah bin Alwi al Hadad dalam kitab Nailul Marom:

“”Ketahuilah bahwa madzhab Asyari dalam akidah adalah madzhab yang dianut oleh mayoritas umat Islam, baik ulamanya maupun orang umumnya. Karena yang bernisbat kepadanya dan menapaki jalannya adalah para imam yang ahli dalam seluruh fan ilmu sepanjang masa. Mereka adalah para imam dalam ilmu tauhid, ilmu kalam, ilmu tafsir, ilmu qiroah, ilmu fiqih, Ushul fiqih, hadits, dan fan-fannya, tasawuf, bahasa dan sejarah.”

Asyairoh masa kini

Pada masa ini banyak yang mengaku sebagai Aswaja namun jika diteliti ternyata ajaran mereka sangat bertolak belakang dengan ajaran salaf. Mereka mengaku Ahlu sunah, namun justru mencela bahkan menganggap Asyairoh sebagai madzhab yang sesat. Padahal para ulama sejak dahulu mengatakan apabila disebut ahlu sunah maka yang dimaksud adalah Asyairoh dan Maturidi.

Salah satu tokoh golongan menyimpang ini, Sholeh Fauzan mengatakan dalam kitabnya al-Irsyad, “Yang mengingkari hal ini (sifat Allah) hanya ahlu bid`ah yaitu Jahmiyah, Muktazilah dan Asyairoh yang sejalan dengan orang-orang musyrik Quraisy yang tidak mempercayai Ar Rahman dan mengingkari nama-nama Allah.”

Tuduhan ini dangkal dan tak perlu dibantah sebab justru Asyairohlah yang dahulu menyanggah para ahlu bidah penentang sifat yakni Muktazilah. Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa mengatakan :

“Tiada keraguan bahwa pendapat Ibnu Kulab dan Asyari serta kaum yang sejalan dan menetapkan sifat berbeda dengan pendapat Jahmiyah dan Muktazilah. Justru mereka memiliki tulisan-tulisan dalam menentang Jahmiyah dan Muktazilah serta menjelaskan kesesatan penentang sifat,terkadang mereka mengkafirkan dan terkadang hanya menyesatkan.”

Jadi tuduhan bahwa Asyairoh adalah golongan penentang sifat adalah tuduhan tidak berdasar. Golongan Asyairohlah yang giat menetapkan sifat sama` (Maha Mendengar), Bashor (Maha Melihat) dan sifat Allah lain yang dinafikan oleh aliran Muktazilah.

Sebenarnya alasan mereka menuduh Asyairoh sebagai golongan penentang sifat adalah karena Asyairoh menolak untuk menisbatkan makna dari sifat-sifat yang tidak layak bagi Allah SWT Sedangkan mereka justru menisbatkan sifat-sifat itu kepada Allah SWT.

Di dalam al-Quran dan Hadits banyak disebut bahwa Allah berada di atas Arsy, turun ke bumi, tertawa atau menisbatkan tangan, wajah kepada Allah SWT. Ayat dan hadits tersebut di kalangan ulama dikatakan sebagai ayat atau hadits mutasyabih atau ayat sifat yang jika difahami secara luarnya saja akan menjerumuskan kepada tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk).

Dalam memahami ayat dan hadits yang demikian, mereka yang tersesat menolak untuk mentakwil (memalingkan makna) dan memilih untuk menetapkan makna lafadz dzohirnya. Sehingga mereka mengatakan dzat Allah benar-benar berada di atas, dzat Allah benar-benar turun, Allah benar-benar memiliki tangan dalam arti sebenarnya, dan lainnya. Ini adalah pemahaman yang sangat keliru dan sesat. Sebab seluruh ulama sepakat bahwa Allah tidak dibatasi oleh tempat dan arah serta bukan berupa tubuh seperti makhuk-Nya. Dalam al-Quaran disebutkan :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [الشورى: 11[

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS asy-Asuara: 11)

Dalam menanggapi ayat tersebut para salaf terbagi menjadi dua golongan. Satu golongan menyerahkan sepenuhnya makna kepada Allah setelah mensucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk. Mereka percaya itu adalah firman Allah namun tidak tahu apa maknanya dan tidak membahasnya. Inilah golongan tafwidh, golongan mayoritas ulama salaf. golongan kedua mentakwil, memalingkan makna kepada makna majasnya yang sesuai dengan keagungan Allah, misalnya hadits mengenai Allah turun ke bumi diartikan bahwa yang turun adalah nikmatnya, Allah beristiwa di atas arsy maksudnya Allah menguasai Arsy, tangan diartikan kekuasaan, wajah diartikan dzat dan seterusnya. Ini dinamakan golongan ahli takwil. Kedua golongan ini adalah sama benar.

Imam Zarkarsyi dalam kitabnya Al Burhan fi Ulumil Quran menyatakan,

“Manusia berselisih mengenai mutasyabihat yang berada dalam ayat dan hadits ke dalam tiga golongan,

1. Tidak ada jalan untuk takwil, ayat itu harus difahami secara dzohir dan tidak ditakwil sedikit pun. Merekalah golongan musyabihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk)

2. Ayat ini memiliki takwil (arti), namun kami tidak menakwilinya dan kami mensucikan Allah dari keserupaan. Kami mengatakan, “Tidak ada yang mengetahui maknanya kecuali Allah.” Ini perkataan salaf

3. Ayat itu ditakwil dan mereka mentakwilnya dengan apa yang layak untuk Allah.

Yang pertama adalah keliru dan yang kedua dan ketiga dinukilkan dari para sahabat.”

Imam Nawawi dalam Syarah Muslim ketika mengomentari salah satu dari hadits tentang sifat mengatakan, “Ini adalah hadits mengenai sifat. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang terkenal di kalangan ulama. Pertama adalah madzhab salaf (tafwidh) dan kedua (takwil) adalah madzhab mayoritas ahli kalam dan sekelompok ulama salaf, telah diceritakan dari Imam Malik dan Auzai bahwa keduanya mentakwil sesuai dengan yang layak dengan-Nya.”

Mayoritas Asyairoh memperbolehkan dua faham tersebut (tafwidh dan takwil) dalam memahami ayat mutasyabihat. Dan memang inilah faham seluruh ulama ahlu sunah. Ibnu Hajar al-Atsqolani menukilkan perkataan Ibnu Daqiil Id, “Yang mensucikan Allah itu ada dua. Golongan yang diam dan tidak mentakwil dan golongan yang mentakwil.”

Jadi justru mereka yang mengartikan ayat mutasyabih secara dzohir adalah aliran yang salah.

Maka, pada masa ini kita harus lebih berhati-hati dalam masalah akidah, ikutilah akidah yang benar yakni akidah para salaf dan sahabat yang sudah dibuktikan kebenarannya oleh para ulama rujukan. Mereka adalah Asyairoh dan Maturidiyah.

KENDURI DAN DALIL SELAMATAN KEMATIAN 3,7,40,100 DAN 1000 HARI

Hukum selamatan hari ke-3, 7, 40, 100, setahun, dan 1000 hari diperbolehkan dalam syari’at Islam. Keterangan diambil dari kitab “Al-Hawi lil Fatawi” karya Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi jilid 2 halaman 178 sebagai berikut:

قال الامام أحمد بن حنبل رضي الله عنه فى كتاب الزهد له : حدثنا هاشم بن القاسم قال: حدثنا الأشجعى عن سفيان قال

قال طاوس: ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام , قال الحافظ ألو نعيم فى الجنة: حدثنا أبو بكر بن مالك حدثنا عبد الله بن أحمد بن حنبل حدثنا أبى حدثنا هاشم بن القاسم حدثنا الأشجعى عن سفيان قال: قال طاوس: ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام

Artinya:

“Telah berkata Imam Ahmad bin Hanbal ra di dalam kitabnya yang menerangkan tentang kitab zuhud: Telah menceritakan kepadaku Hasyim bin Qasim sambil berkata: Telah menceritakan kepadaku al-Asyja’i dari Sufyan sambil berkata: TelaH berkata Imam Thawus (ulama besar zaman Tabi’in, wafat kira-kira tahun 110 H / 729 M): Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal selama hari-hari tersebut.

Telah berkata al-Hafiz Abu Nu’aim di dalam kitab Al-Jannah: Telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Malik, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepadaku Ubay, telah menceritakan kepadaku Hasyim bin al-Qasim, telah menceritakan kepadaku al-Asyja’i dari Sufyan sambil berkata: Telah berkata Imam Thawus: Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal selama hari-hari tersebut.”

Selain itu, di dalam kitab yang sama jilid 2 halaman 194 diterangkan sebagai berikut:

ان سنة الاطعام سبعة أيام بلغنى أنهامستمر الى الأن بمكة و المدينة فالظاهر أنها لم تترك من عهد الصحابة الى الأن و انهم أخذوها خلفا عن سلف الى الصدر الأول

ِArtinya:

“Sesungguhnya, kesunnahan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan perbuatan yang tetap berlaku sampai sekarang (yaitu masa Imam Suyuthi abad ke-9 H) di Mekkah dan Madinah. Yang jelas kebiasaan tersebut tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat sampai sekarang, dan tradisi tersebut diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama, yaitu sahabat.”

SELAMATAN KEMATIAN

Syeikh Nawawi Al-Bantani menerangkan tentang dibolehkannya mengadakan “Selamatan Kematian” di dalam kitab karyanya yang bernama”Nihayatuz Zain” pada halaman 281 (lihat tulisan pada foto kedua dan ketiga dari atas pada baris kalimat pertama s/d keempat !) sebagai beriukut:           

Artinya:

Mengadakan selamatan kematian dari orang yang masih hidup untuk orang yang sudah meninggal tidak hanya dibatas pada tujuh hari saja, tapi juga bisa dilakukan lebih dari tujuh hari atau kurang dari tujuh hari. Pembatasan hari-hari tersebut merupakan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku pada suatu masyarakat, sebagaimana yang difatwakan oleh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. Dan, sesungguhnya kebiasaan-kebiasaan tersebut sudah berlaku pada suatu masyarakat berupa mengadakan sedekah kematian pada ketiga hari kematiannya, tujuh hari, dua puluh hari, empat puluh hari, dan seratus hari. Setelah itu diadakan “Haul” pada setiap tahun hari kematiannya, sebagaimana difatwakan oleh Syeikh Yusuf Sanbalawini.

CATATAN:

1. Sayyid Ahmad Zaini Dahlan adalah salah seorang guru Syeikh Nawawi Al-Bantani ketika belajar di Mekkah. Sedangkan Syeikh Yusuf Sanbalawini juga termasuk guru beliau ketika belajar di pesantrennya di Purwakarta – Jawa Barat.

KEMBALI KEPADA AL-QUR’AN DAN HADITS ITU BAIK SEKALI… TAPI…?

DESKRIPSI MASALAH

Dewasa ini, sudah merebak di berbagai lini, baik di media sosial, media cetak, maupun elektronik, yang dilakukan segolongan umat islam yg mengklaim dirinya sebagai ahlu sunnah wal jama’ah. Mereka mengedepankan jargon kembali ke Qur’an dan Sunnah sohihah. Terlebih lagi bagi masyarakat awam yg sedang semangat mendalami islam, slogan kembali ke Qur’an dan Sunnah ibarat amunisi tercanggih yg mampu membetot seluruh rasa semangat keberagamaan mereka. Sehingga mereka menganggap dirinya paling benar dan kuat dalam beragama karena selalu berpegang pada dalil Qur’an dan Sunnah. Ironisnya, kelompok ini kerap menyerang golongan umat islam yg tidak sepaham dengan pemikiran dan keyakinan yg dianutnya. Tak pelak ungkapan bid’ah, musyrik, kafir seringkali mereka lontarkan ke pihak yg tak sepemahaman. Vonis tasyrik dan takfir ini pun memicu perselisihan dan perpecahan di kalangan umat islam. Bahkan tak jarang terjadi konflik yg mengarah ke chaos di tengah masyarakat. Argumentasi dan petuah golongan ini selalu mengutip ayat-ayat al Qur’an dan Hadits dalam menyerang golongan umat islam yg berbeda dengannya.

PERRTANYAAN

Bolehkah setiap muslim mengutip langsung al Qur’an dan Hadits dalam beristinbath (menggali hukum) dan berfatwa?

JAWABAN

1. Tidak setiap muslim boleh beristinbath (menggali hukum) dan menghukumi masalah dgn langsung ke al Qur’an Hadits. Hanya orang yg memiliki kemampuan untuk itu yg boleh melakukannya, karena dalam istinbath harus menguasai ilmunya seperti bahasa arab, tafsir, asbabun nuzul, asbabul wurud, nasakh mansukh, dan metodologi istinbath yg memadai. Hal ini sesuai dengan:

1. perintah Allah “Fas’alu ahladz dzikri in kuntum la ta’lamun”

2. Sabda Nabi SAW.,

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Barangsiapa berbicara tentang al qur’an tanpa ilmu, maka hendaklah mengambil tempatnya di neraka” (HR. At Tirmidzi, dan beliau nyatakan sebagai hadits hasan shohih)

Dan sabda Nabi Saw. yg artinya, “Ingat,,, Bertanyalah kalian. Kalau tidak tahu,,, (HR. Imam Bayhaqi)”.

3. Kesepakatan Ulama.

Catatan: perkataan: “Mengambil hadits lebih baik daripada mengambil ucapan As Syafi’iy dan Abu Hanifah”. Di sikapi oleh Imam Adz Dzahabi:

هذا جيد، لكن بشرط أن يكون قد قال بذلك الحديث إمام من نظراء هذين الامامين مثل مالك، أو سفيان، أو الاوزاعي، وبأن يكون الحديث ثابتا سالما من علة، وبأن لا يكون حجة أبي حنيفة والشافعي حديثا صحيحا معارضا للآخرة

“Pendapat tersebut baik, akan tetapi dengan syarat orang yang berkata tentang hadits tersebut adalah seorang Imam yang sepadan dengan kedua Imam tersebut (Imam As Syafi’iy dan Abi Hanifah), seperti Imam Malik, Sufyan, Al Auza’iy. Dan hendaknya hadits yang ditetapkannya adalah hadits yang tidak mengandung ‘Illat (steril), juga hendaknya hadits yang dijadikan hujjah bagi Imam Abi Hanifah dan Imam As Syafi’iy adalah bukan hadits yang shohih serta bertentangan (Ta’aarudh) dengan yang lain”. (Al Hafidz Adz Dzhabi dalam – Siyaaru A’laamin Nubalaa, vol. 16, hlm. 405)

REFERENSI

الفتوى بغير علم

٨ – الإفتاء بغير علم حرام، لأنه يتضمن الكذب على الله تعالى ورسوله، ويتضمن إضلال الناس، وهو من الكبائر، لقوله تعالى: {قل إنما حرم ربي الفواحش ما ظهر منها وما بطن والإثم والبغي بغير الحق وأن تشركوا بالله ما لم ينزل به سلطانا وأن تقولوا على الله ما لا تعلمون} (١) ، فقرنه بالفواحش والبغي والشرك، ولقول النبي صلى الله عليه وسلم: إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من صدور العلماء، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء، حتى إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رءوسا جهالا، فسئلوا، فأفتوا بغير علم، فضلوا وأضلوا. (٢)

الموسوعة الفقهية الكويتية ج ٣٢ ص ٢٣-٢٤

اعلام الموقعين 1 ص:44

إذا كان عند الرجل الكتب المصنفة فيها قول رسول الله ص – واختلاف الصحابة و التابعين فلا يجوز أن يعمل بما شاء ويتخير فيقضي به ويعمل به حتى يسأل أهل العلم ما يؤخذ به فيكون يعمل على أمر صحيح

الموافقات 5 ص: 336-337

فتاوى المجتهدين بالنسبة إلى العوام كالأدلة الشرعية بالنسبة إلى المجتهدين

والدليل عليه أن وجود الأدلة بالنسبة إلى المقلدين وعدمها سواء؛ إذ كانوا لا يستفيدون منها شيئا؛ فليس النظر في الأدلة والاستنباط من شأنهم، ولا يجوز ذلك لهم البتة وقد قال تعالى: {فَاسْأَلوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ}

والمقلد غير عالم؛ فلا يصح له إلا سؤال أهل الذكر، وإليهم مرجعه في أحكام الدين على الإطلاق، فهم إذن القائمون له مقام الشارع، وأقوالهم قائمة مقام [أقوال] الشارع

سير أعلام النبلاء – (ج 16 / ص 405)

قال ابن خلكان: كان يتهم بالاعتزال، وكان ربما يختار في الفتوى (2)، فيقال له في ذلك، فيقول: ويحكم ! [ حدث ] فلان عن فلان، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم بكذا وكذا، والاخذ بالحديث أولى من الاخذ بقول الشافعي وأبي حنيفة (3)

قلت: هذا جيد، لكن بشرط أن يكون قد قال بذلك الحديث إمام من نظراء هذين الامامين مثل مالك، أو سفيان، أو الاوزاعي، وبأن يكون الحديث ثابتا سالما من علة، وبأن لا يكون حجة أبي حنيفة والشافعي حديثا صحيحا معارضا للآخرة

سُئِلَ مَالِكٌ، قِيلَ لَهُ: لِمَنْ تَجُوزُ الْفَتْوَى؟ قَالَ: لَا تَجُوزُ الْفَتْوَى إِلَّا لِمَنْ عَلِمَ مَا اخْتَلَفَ النَّاسُ فِيهِ, قِيلَ لَهُ: اخْتِلَافُ أَهْلِ الرَّأْيِ؟ قَالَ: لَا، اخْتِلَافُ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِلْمُ النَّاسِخِ وَالْمَنْسُوخِ مِنَ الْقُرْآنِ وَمِنْ حَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَذَلِكَ يُفْتِي

فائدة : قال الإمام الشعراني في زبد العلوم والميزان : وأما أصول الفقه فترجع إلى مراتب الأوامر والنواهي التي جاءت في الكتاب والسنة ، وإلى معرفة ما أجمع عليه الأئمة ، وما قاسوه ، وما ولدوه بالاجتهاد من طريق الاستنباط ، ويجمع كل من الأوامر والنواهي مرتبتين تخفيفاً وتشديداً ، فمن وجد في نفسه ضعفاً أخذ بالتخفيف ، أو قوة فبالأشد. وجميع أحاديث الشريعة وما بني عليها من أقوال المجتهدين إلى يوم الدين لا يخرج عن هذا ، فما ثم حكم يناقض حكماً أبداً ولا يصادمه ، وهذا أطلعني الله تعالى عليه ، لم يظفر به أحد من المجتهدين ، فمن تحقق به لم ير في الشريعة وفي أقوال العلماء خلافاً قط ، ومن تحقق بما تحقق به أهل الله تعالى من الكشف والتحقيق شهد جميع ما ولده المجتهدون ، مأخوذاً من شعاع الشريعة ولم يخطىء أحداً منهم اهـ

بغية المسترشدين ص ٦

بغية ص ٧

مسألة : ك) : شخص طلب العلم ، وأكثر من مطالعة الكتب المؤلفة من التفسير والحديث والفقه ، وكان ذا فهم وذكاء ، فتحكم في رأيه أن جملة هذه الأمة ضلوا وأضلوا عن أصل الدين وطريق سيد المرسلين ، فرفض جميع مؤلفات أهل العلم ، ولم يلتزم مذهباً ، بل عدل إلى الاجتهاد ، وادّعى الاستنباط من الكتاب والسنة بزعمه ، وليس فيه شروط الاجتهاد المعتبرة عند أهل العلم ، ومع ذلك يلزم الأمة الأخذ بقوله ويوجب متابعته ، فهذا الشخص المذكور المدَّعي الاجتهاد يجب عليه الرجوع إلى الحق ورفض الدعاوى الباطلة ، وإذ طرح مؤلفات أهل الشرع فليت شعري بماذا يتمسك ؟ فإنه لم يدرك النبي عليه الصلاة والسلام ، ولا أحداً من أصحابه رضوان الله عليهم ، فإن كان عنده شيء من العلم فهو من مؤلفات أهل الشرع ، وحيث كانت على ضلالة فمن أين وقع على الهدى ؟ فليبينه لنا فإن كتب الأئمة الأربعة رضوان الله عليهم ومقلديهم جلّ مأخذها من الكتاب والسنة ، وكيف أخذ هو ما يخالفها ؟ ودعواه الاجتهاد اليوم في غاية البعد كيف ؟ وقد قال الشيخان وسبقهما الفخر الرازي : الناس اليوم كالمجمعين على أنه لا مجتهد ، ونقل ابن حجر عن بعض الأصوليين : أنه لم يوجد بعد عصر الشافعي مجتهد أي : مستقل ، وهذا الإمام السيوطي مع سعة اطلاعه وباعه في العلوم وتفننه بما لم يسبق إليه ادعى الاجتهاد النسبي لا الاستقلالي ، فلم يسلم له وقد نافت مؤلفاته على الخمسمائة ، وأما حمل الناس على مذهبه فغير جائز ، وإن فرض أنه مجتهد مستقل ككل مجتهد

بغية المسترشدين ص ٧

مسألة : ش) : نقل ابن الصلاح

الإجماع على أنه لا يجوز تقليد غير الأئمة الأربعة ، أي حتى العمل لنفسه فضلاً عن القضاء والفتوى ، لعدم الثقة بنسبتها لأربابها بأسانيد تمنع التحريف والتبديل ، كمذهب الزيدية المنسوبين إلى الإمام زيد بن عليّ بن الحسين السبط رضوان الله عليهم ، وإن كان هو إماماً من أئمة الدين ، وعلماً صالحاً للمسترشدين ، غير أن أصحابه نسبوه إلى التساهل في كثير لعدم اعتنائهم بتحرير مذهبه ، بخلاف المذاهب الأربعة فإن أئمتها جزاهم الله خيراً بذلوا نفوسهم في تحرير أقوالها ، وبيان ما ثبت عن قائلها وما لم يثبت ، فأمن أهلها التحريف ، وعلموا الصحيح من الضعيف ، ولا يجوز للمقلد لأحد من الأئمة الأربعة أن يعمل أو يفتي في المسألة ذات القولين أو الوجهين بما شاء منهما ، بل بالمتأخر من القولين إن علم ، لأنه في حكم الناسخ منهما ، فإن لم يعلم فبما رجحه إمامه ، فإن لم يعلمه بحث عن أصوله إن كان ذا اجتهاد ، وإلا عمل بما نقله بعض أئمة الترجيح إن وجد وإلا توقف ، ولا نظر في الأوجه إلى تقدم أو تأخر ، بل يجب البحث عن الراجح ، والمنصوص عليه مقدم على المخرج ما لم يخرج عن نص آخر ، كما يقدم ما عليه الأكثر ثم الأعلم ثم الأورع ، فإن لم يجد اعتبر أوصاف ناقلي القولين ، ومن أفتى بكل قول أو وجه من غير نظر إلى ترجيح فهو جاهل خارق للإجماع ، والمعتمد جواز العمل بذلك للمتبحر المتأهل للمشقة التي لا تحتمل عادة ، بشرط أن لا يتتبع الرخص في المذاهب بأن يأخذ منها بالأهون بل يفسق بذلك ، وأن لا يجتمع على بطلانه إماماه الأوَّل والثاني اهـ. وعبارة ب تقليد مذهب الغير يصعب على علماء الوقت فضلاً عن عوامهم خصوصاً ما لم يخالط علماء ذلك المذهب ، إذ لا بد من استيفاء شروطه ، وهي كما في التحفة وغيرها خمسة : علمه بالمسألة على مذهب من يقلده بسائر شروطها ومعتبراتها. وأن لا يكون المقلد فيه مما ينقض قضاء القاضي به ، وهو ما خالف النص أو الإجماع أو القواعد أو

(1/17)

القياس الجلي. وأن لا يتتبع الرخص بأن يأخذ من كل مذهب ما هو الأهون عليه. وأن لا يلفق بين قولين تتولد منهما حقيقة لا يقول بها كل من القائلين كأن توضأ ولم يدلك تقليداً للشافعي ، ومس بلا شهوة تقليداً لمالك ثم صلى فصلاته حينئذ باطلة باتفاقهما. وأن لا يعمل بقول إمام في المسألة ثم يعمل بضده ، وهذا مختلف فيه عندنا ، والمشهور جواز تقليد المفضول مع وجود الفاضل ، وفي قول يشترط اعتقاد الأرجحية أو المساواة اهـ. وفي ك : من شروط التقليد عدم التلفيق بحيث تتولد من تلفيقه حقيقة لا يقول بها كل من الإمامين ، قاله ابن حجر ، إذ لا فرق عنده بين أن يكون التلفيق في قضية أو قضيتين ، فلو تزوّج امرأة بولي وشاهدين فاسقين على مذهب أبي حنيفة ، أو بلا ولي مع حضوره وعدم عضله ، ثم علق طلاقها بإبرائها من نفقة عدَّتها مثلاً فأبرأته ، ثم أراد تقليد الشافعي في عدم وقوع الطلاق لعدم صحة الإبراء عنده من نفقة العدَّة لم يصح ، بل يحرم وطؤها حينئذ على كلا المذهبين ، أما الشافعي فلأنها ليست بزوجة عنده أصلاً لعدم صحة النكاح ، ولولا الشبهة لكان زناً محضاً ، وأما أبو حنيفة الذي يرى تزويجها فلكونها بانت منه بالبراءة المذكورة ، وقال ابن زياد : القادح في التلفيق إنما يتأتى إذا كان في قضية واحدة ، بخلافه في قضيتين فليس بقادح ، وكلام ابن حجر أحوط ، وابن زياد أوفق بالعوام ، فعليه يصح التقليد في مثل هذه الصورة

بغية المسترشدين ص ٨-٩

[شروط المفتي أو المجتهد]

ومن شرط المفتي (١) وهو المجتهد أن يكون عالما بالفقه أصلا وفرعا خلافا ومذهبا (٢)، أي بمسائل الفقه، وقواعده (٣) وفروعه (٤)، وبما فيها من الخلاف (٥)، ليذهب إلى قول منه ولا يخالفه، بأن * يحدث قولا آخر، لاستلزام اتفاق من (٦) قبله بعدم ذهابهم إليه [على نفيه] (٧).(١) المفتي هو المخبر بحكم الله تعالى عن دليل شرعي، أو هو المتمكن من معرفة أحكام الوقائع شرعا بدليل مع حفظه لأكثر الفقه، انظر صفة الفتوى والمفتي والمستفتي ص ٤، الفتيا ومناهج الإفتاء ص ٩، إرشاد الفحول ص ٢٦٥، تيسير التحرير ٣/ ١٧٩، أحكام الإفتاء ص ٢٦

وأن يكون كامل الآلة (١) في الاجتهاد (٢) عارفا بما يحتاج إليه في استنباط الأحكام من النحو واللغة ومعرفة الرجال (٣) الراوين للأخبار (٤) ليأخذ برواية المقبول منهم دون المجروح

وتفسير الآيات الواردة في الأحكام (٥) والأخبار الواردة فيها (٦) ليوافق ذلك في اجتهاده ولا يخالفه وما ذكره * من قوله عارفا إلى آخره من جملة آلة الاجتهاد

ومنها معرفته بقواعد الأصول (١) وغير ذلك (٢)

[شروط المستفتي]

ومن شرط المستفتي أن يكون من أهل التقليد (١)

[فيقلد المفتي في الفتيا] (٢)

فإن لم يكن الشخص * من أهل التقليد بأن كان من أهل الاجتهاد فليس له أن يستفتي كما قال وليس للعالم أي (٣) المجتهد أن يقلد لتمكنه من الاجتهاد (٤).(١) أهل التقليد هم خلاف أهل الاجتهاد، وأهل التقليد يقلدون المجتهدين، فلا يجوز تقليد غير المجتهد، قال تعالى (فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون) سورة النحل الآية ٤٣، وأهل الذكر هم العلماء. التحقيقات ص ٦١٠، البرهان ٢/ ١٣

شرح الورقات في اصول الفقه

جزء الاول ص ۲۲۰

والله أعلم

NB :

Rumusan ini diputuskan dlm musyawaroh Grup FKSL via Whatsapp(WA), dg tembusan dan pengawasan dari Al Mukarromuun :

– KH. M. Azizi Chasbulloh(Malang/Blitar)

– KH. Akhmad Shampthon Masduqi(Malang)

– K. Ridlwan Qoyyum (Nganjuk)

Musyawirin :

– KH. Hizbulloh Al Haq (Pule Nganjuk)

– K. Fathun Nuha(Grobokan)

– KH. Nidhom Subki(Malang)

– K. Ahmad Hafidz(Malang)

– K. Syamsuri Abd. Qohar(Pasuruan),

– KH. Adibuddin(Bangkalan)

– K. Syukron Makmun(Brebes),

– K. M. Khoirin (Demak)

– K. Aly Shodiq Asa (Jember)

– H. Anang Mas’ulun (Sidoarjo)

– KH. Zainuri (Gresik)

Dan segenap Musyawirin lainnya yg tdk di sebutkan satu persatu

BEBERAPA CIRI AJARAN AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

Ada tiga ciri utama ajaran Ahlussunnah wal Jamaah atau kita sebut dengan Aswaja yang selalu diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya:

Pertama, at-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Ini disarikan dari firman Allah SWT:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً

Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah SWT menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian.(QS al-Baqarah: 143).

Kedua at-tawazun atau seimbang dalam segala hal, terrnasuk dalam penggunaan dalil ‘aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits). Firman Allah SWT:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

Sunguh kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti kebenaran yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka al-kitab dan neraca (penimbang keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (QS al-Hadid: 25)

Ketiga, al-i’tidal atau tegak lurus. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian menjadi orang-orang yang tegak membela (kebenaran) karena Allah menjadi saksi (pengukur kebenaran) yang adil. Dan janganlah kebencian kamu pada suatu kaum menjadikan kamu berlaku tidak adil. Berbuat adillah karena keadilan itu lebih mendekatkan pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS al-Maidah: 8)

Selain ketiga prinsip ini, golongan Ahlussunnah wal Jama’ah juga mengamalkan sikap tasamuhatau toleransi. Yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Namun bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda tersebut dalam meneguhkan apa yang diyakini. Firman Allah SWT:

فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

Maka berbicaralah kamu berdua (Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS) kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut dan mudah-mudahan ia ingat dan takut. (QS. Thaha: 44)

Ayat ini berbicara tentang perintah Allah SWT kepada Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS agar berkata dan bersikap baik kepada Fir’aun. Al-Hafizh Ibnu Katsir (701-774 H/1302-1373 M) ketika menjabarkan ayat ini mengatakan, “Sesungguhnya dakwah Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS kepada Fir’aun adalah menggunakan perkataan yang penuh belas kasih, lembut, mudah dan ramah. Hal itu dilakukan supaya lebih menyentuh hati, lebih dapat diterima dan lebih berfaedah”. (Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim, juz III hal 206).

Dalam tataran praktis, sebagaimana dijelaskan KH Ahmad Shiddiq bahwa prinsip-prinsip ini dapat terwujudkan dalam beberapa hal sebagai berikut: (Lihat Khitthah Nahdliyah, hal 40-44)

1. Akidah.

a. Keseimbangan dalam penggunaan dalil ‘aqli dan dalil naqli.

b. Memurnikan akidah dari pengaruh luar Islam.

c. Tidak gampang menilai salah atau menjatuhkan vonis syirik, bid’ah apalagi kafir.

2. Syari’ah

a. Berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadits dengan menggunanakan metode yang dapat dipertanggung­jawabkan secara ilmiah.

b. Akal baru dapat digunakan pada masalah yang yang tidak ada nash yang je1as (sharih/qotht’i).

c. Dapat menerima perbedaan pendapat dalam menilai masalah yang memiliki dalil yang multi-interpretatif (zhanni).

3. Tashawwuf/ Akhlak

a. Tidak mencegah, bahkan menganjurkan usaha memperdalam penghayatan ajaran Islam, selama menggunakan cara-cara yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum Islam.

b. Mencegah sikap berlebihan (ghuluw) dalam menilai sesuatu.

c. Berpedoman kepada Akhlak yang luhur. Misalnya sikap syaja’ah atau berani (antara penakut dan ngawur atau sembrono), sikap tawadhu’ (antara sombong dan rendah diri) dan sikap dermawan (antara kikir dan boros).

4. Pergaulan antar golongan

a. Mengakui watak manusia yang senang berkumpul dan berkelompok berdasarkan unsur pengikatnya masing-masing.

b. Mengembangkan toleransi kepada kelompok yang berbeda.

c. Pergaulan antar golongan harus atas dasar saling menghormati dan menghargai.

d. Bersikap tegas kepada pihak yang nyata-nyata memusuhi agama Islam.

5. Kehidupan bernegara

a. NKRI (Negara Kesatuan Republik Indanesia) harus tetap dipertahankan karena merupakan kesepakatan seluruh komponen bangsa.

b. Selalu taat dan patuh kepada pemerintah dengan semua aturan yang dibuat, selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.

c. Tidak melakukan pemberontakan atau kudeta kepada pemerintah yang sah.

d. Kalau terjadi penyimpangan dalam pemerintahan, maka mengingatkannya dengan cara yang baik.

6. Kebudayaan

a. Kebudayaan harus ditempatkan pada kedudukan yang wajar. Dinilai dan diukur dengan norma dan hukum agama.

b. Kebudayaan yang baik dan ridak bertentangan dengan agama dapat diterima, dari manapun datangnya. Sedangkan yang tidak baik harus ditinggal.

c. Dapat menerima budaya baru yang baik dan melestarikan budaya lama yang masih relevan (al-­muhafazhatu ‘alal qadimis shalih wal akhdu bil jadidil ashlah).

7. Dakwah

a. Berdakwah bukan untuk menghukum atau memberikan vonis bersalah, tetapi mengajak masyarakat menuju jalan yang diridhai Allah SWT.

b. Berdakwah dilakukan dengan tujuan dan sasaran yang jelas.

c. Dakwah dilakukan dengan petunjuk yang baik dan keterangan yang jelas, disesuaikan dengan kondisi dan keadaan sasaran dakwah.

MANAQIB SEBAGAI SARANA MENDAPATKAN BERKAH ALLOH SWT.

Secara bahasa manaqib berarti meneliti, menggali secara istilah diartikan sebagai riwayat hidup seseorang yang berisikan tentang budi pekertinya yang terpuji ahhlaknya yang baik karomahny dan sebagainya yang patut dijadikan suri tauladan. Maksud dari menjalankan manaqib diantarnya untuk beertawasul, untuk memperoleh berkah, untuk lebih mengenal orang sholih dan lebih mencintanya.

Dalil-dalil manaqib

Sebenarnya manaqib itu ada dalam Al’quran seperti manaqib, ashabul kahfi, Manaqib Raja Dzul Qur’nain, Manaqib Lukman dan lain sebagainya. Adapun dalil yang digunakan hujjah untuk memperbolehkan praktek manaqib yaitu dalam kitab Bughyat al_Mustarsyidin, hlm. 97.

وَقَدْ وَرَدَ فِي اْلَاثَرِ عَنْ سَيِِّدِ الْبَشَرِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قاَلَ :مَنْ وَرَّخَ مُؤْمِناَ فَكَأَنمَّاَ اَحْياَهُ وَمَنْ قَرَأَ تاَرِيْخَهُ فَكَأَنمَّاَ زَارَهُ فَقَدْ اسْتًوْجَبَ رِضْوَانَ اللهِ فيِ حُزُوْرِ الْجَنَّةِ

Tersebut dalam surat atsar: Rosululloh pernah bersabda: Siapa membuat sejarah orang mukmin( yang sudah meninggal ) sama saja menghidupkan kembali; siapa memmbacakan sejarahnya seolah-olah ia sedang, siapa yang mengunjunginya, Alloh akan memberikan surga.

Dalam kitab Jalauzh Zhulam ‘ala’Aqidatul awam dijelaskan

اِعْلَمْ يَنْبَغيِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ طاَلِبُ الْفَضْلِ وَالْخَيْرَاتِ اَنْ يَلْتَمِسَ الْبَرَكاَتِ وَالنَّفَحَاتِ وَاسْتِجاَبَةِ الدُّعاَءِ وَنُزُوْلِ الرَّحْماَتِ فِي حَضَرَاتِ اْلأَوْلِياَءِ فِي مَجاَلِسِهِمْ وَجَمْعِهِمْ اَحْيَاءً وَأَمْوَاتاً وَعِنْدَ قُبُوْرِهِمْ وَحَالَ ذِكْرِهِمْ وَعِنْدَ كَثْرَةِ الْجُمُوْعِ فِي زِياَرَاتِهِمْ وَعِنْدَ مَذَاكَرَاتِ فَضْلِهِمْ وَنَشْرِ مَناَقِبِهِمْ . (جلاء الظلام على عقيدة العوام)

Ketahuilah seyogyanya bagi setiap muslim yang mencari keutamaan dan kebaikan, agar ia mencari berkah dan anugrah, terkabulnya do’a dan turunnya rahmat didepan para wali, di majelis-majelis dan kumpulan mereka, baik masih hidup ataupun sudah mati, dikuburan mereka ketika mengingat mereka, dan ketika orang banyak berkumpul dalam berziarah kepada mereka, dan pembacaan riwayat hidup mereka.

BERHATI-HATILAH DALAM MEMBACA LAFADZ IYYAKA DALAM SURAT AL-FATIHAH

Apakah huruf ya kalau dalam lafadz iyya ka na’budu dalam al-fatihah kalau tidak di tasydid maknanya sinar matahari.

JAWABAN

[سورة الفاتحة (1) : آية 5]إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5)قَرَأَ السَّبْعَةُ وَالْجُمْهُورُ بِتَشْدِيدِ الْيَاءِ مِنْ إِيَّاكَ وَقَرَأَ عَمْرُو بْنُ فائد بتخفيفها مع كسر الهمزة وَهِيَ قِرَاءَةٌ شَاذَّةٌ مَرْدُودَةٌ لِأَنَّ إِيَّا: ضَوْءُ الشَّمْسِ «2» ، وَقَرَأَ بَعْضُهُمْ أَيَّاكَ بِفَتْحِ الْهَمْزَةِ وَتَشْدِيدِ الْيَاءِ، وَقَرَأَ بَعْضُهُمْ هَيَّاكَ بِالْهَاءِ بَدَلَ الْهَمْزَةِ كما قال الشاعر: [الطويل]فهياكو الأمر الذي إن توسّعت … موارده ضاقت عليك مصادره «3»تفسير ابن كثير ط العلمية

Juz 1 hal 46

Qiroatussab’ah dan jemhurul ulama membaca huruf  yak nya iyyaka dengan tasydid sedangkan amr bin faid tanpa tasydid dan hamzahnya di baca kasroh dan itu qiro’ah syad karna bila tanpa tasydid maka maknanya pada matahari saya menyembah.

Ya benar demikian, bahwa andai lafadz IYYAKA dibaca takhfif (tidak ditasydid huruf Ya`nya) seraya mengerti maknanya serta ada unsur kesengajaan maka hukumnya KUFUR,

Karena dg demikian(sengaja dan tahu maknanya),  ia akan bermakna “sinar matahari”, dan bila tidak demikian maka tidak kufur, dan sunnah melakukan sujud sahwi (bila terjadi dalam keadaan shalat),

Karena hal-hal yg membatalkan shalat bila tidak sengaja dilakukan dianjurkan untuk bersujud karena unsur kelalaiannya.

ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦ – ﺍﻟﻤﻠﻴﺒﺎﺭﻱ ﺍﻟﻬﻨﺪﻱ – ﺝ – ١ ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١٦٥ :ﻭﻟﻮ ﺧﻔﻒ ﺇﻳﺎﻙ، ﻋﺎﻣﺪﺍ ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻣﻌﻨﺎﻩ، ﻛﻔﺮ ﻷﻧﻪ ﺿﻮﺀ ﺍﻟﺸﻤﺲ، ﻭﺇﻻ ﺳﺠﺪ ﻟﻠﺴﻬﻮ. ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ – ﺍﻟﺒﻜﺮﻱ ﺍﻟﺪﻣﻴﺎﻃﻲ – ﺝ ١ – ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١٦٥ :ﻗﻮﻟﻪ: ﻛﻔﺮ ﻗﺎﻝ ﺳﻢ: ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺇﻥ ﺍﻋﺘﻘﺪ ﺍﻟﻤﻌﻨﻰ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﺑﺨﻼﻑ ﻣﻦ ﺍﻋﺘﻘﺪ ﺧﻼﻓﻪ ﻭﻗﺼﺪ ﺍﻟﻜﺬﺏ، ﻓﻠﻴﺮﺍﺟﻊ. ﺍﻫ. ﻗﻮﻟﻪ: ﻷﻧﻪ ﺿﻮﺀ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﺃﻱ ﻻﻥ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﺑﺎﻟﺘﺨﻔﻴﻒ ﻣﺎ ﺫﻛﺮ. ﻗﻮﻟﻪ: ﺳﺠﺪ ﻟﻠﺴﻬﻮ ﺃﻱ ﻻﻥ ﻣﺎ ﺃﺑﻄﻞ ﻋﻤﺪﻩ ﻳﺴﻦ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﻟﺴﻬﻮﻩ

AGAMA AKAN HANCUR KALAU ORANG YANG BODOH BERDEBAT AL-QUR’AN

Bolehkah beragama tanpa mazhab? Jawab: tidak boleh.

Memang ada orang yang beragama terkesan tidak bermazhab, tapi sejatinya mereka bermazhab. Hanya saja mereka tidak mampu menjelaskan ke-bermazhaban-nya karena tidak pernah ngaji (belajar) secara serius soal rincian ilmiah cara beragama. Mereka shalat pakai mazhab, puasa pakai mazhab, haji pakai mazhab, dan seterusnya. Ketika ditanya ikut mazhab siapa, mereka tidak bisa menjawab. Inilah yang disebut sebagai orang awam dalam ilmu-ilmu agama.

Salahkah mereka? Tidak.

Selama menjalankan semua itu untuk diri sendiri, maka mereka tidak bersalah. Meski demikian, seharusnya setiap muslim tahu dari siapa (imam mazhab) dia mengambil ilmu urusan agamanya; mengikuti mazhab siapa. Muslim model ini adalah sebagian besar. Muslim model begini tidak boleh jadi seperti ustadz, kiai, ulama, atau tokoh agama. Karena, untuk menjadi tokoh agama yang dijadikan rujukan oleh masyakarat, orang harus mengerti soal bermazhab dalam beragama.

Tokoh agama harus dapat menjelaskan dengan rinci soal metodologi dan dasar-dasar bermazhab. Jika tidak, sebaiknya jadi pendengar saja, jangan ceramah. Mazhab dalam Islam dibangun berdasarkan akumulasi pemikiran dari generasi ke generasi. Dimulai dari guru utamanya, yaitu Nabi Muhammad SAW, para sahabat, tabi‘in, tabi‘it tabiin, ulama mazhab dan seterusnya, sampai generasi sekarang ini. Jadi, tidak bisa anda beragama kemudian mengaku guru anda adalah Nabi dan para sahabatnya secara langsung. Apalagi kemudian ceramah ke sana ke mari.

Para ulama sepakat akan pentingnya bermazhab dalam beragama. Sebagian mereka bahkan menganggap beragama tanpa bermazhab adalah kemungkaran. Dalam Kitab Aqdul Jayyid fi Ahkam al-Ijtihad wa at-Taqlid, hal. 14, Syah Waliyullah ad-Dahlawi al-Hanafi (w. 1176 H.) menyatakan, “Ketahuilah bahwa bermazhab (pada salah satu dari empat mazhab) adalah kebaikan yang besar. Meninggalkan mazhab adalah kerusakan (mafsadah) yang fatal.”

Pernyataannya ini didasari oleh beberapa alasan:

1. Semua ulama sepakat bahwa untuk mengetahui syariat harus berpegang teguh pada pendapat generasi salaf (Nabi dan sahabat). Generasi tabi‘in berpegang teguh pada para sahabat. Generasi tabi‘it tabi‘in berpegang teguh pada para tabi‘in. Demikian seterusnya: setiap generasi (ulama) berpegang teguh pada generasi sebelumnya. Ini masuk akal karena syariat tidak dapat diketahui kecuali dengan jalan menukil (naql) dan berpikir menggali hukum (istinbath). Tradisi menukil (naql) tidak bisa dilakukan kecuali satu generasi (ulama) menukil dari generasi sebelumnya (ittishal). Dalam berpikir mencari keputusan hukum (istinbath), mereka tidak bisa mengabaikan mazhab-mazhab yang sudah ada sebelumya. Ilmu-ilmu seperti nahwu, sharf, dan lain-lain tidak akan dapat dipahami jika tidak memahaminya melalui ahlinya.

2. Rasulullah SAW bersabda, “Ikutilah golongan yang paling besar (as-sawād al-a‘zham).” Setelah aku mempelajari berbagai mazhab yang benar, saya menemukan bahwa empat mazhab adalah golongan yang paling besar. Mengikuti empat mazhab berarti mengikut golongan paling besar.

3. Karena zaman telah jauh dari masa awal Islam, maka banyak ulama palsu yang terlalu berani berfatwa tanpa didasari kemampuan menggali hukum dengan baik dan benar.

Banyak amanat keilmuan yang ditinggalkan oleh mereka, dan mereka berani mengutip pendapat generasi salaf tanpa dipikirkan. Mereka mengutipnya lebih didasari oleh hawa nafsu belaka. Ayat-ayat Al-Quran dan As-Sunnah langsung dirujuk. Sementara mereka tidak memiliki otoritas keilmuan untuk istinbath. Mereka terlalu jauh dibanding para ulama yang benar-benar memiliki otoritas keilmuan dan selalu berpegang teguh pada amanat ilmiah. Kenyataan ini persis dengan apa yang dikatakan oleh Umar bin Khattab, “Islam akan hancur oleh perdebatan orang-orang yang bodoh terhadap Al-Qur‘an.” Ibnu Mas‘ud AS juga berkata, “Jika kamu ingin mengikuti, ikutilah orang (ulama) terdahulu (yang memegang teguh amanah ilmu pengetahuan).”

Wallahu alam.