PERKATAAN IMAM AHMAD BIN HANBAL DAN IMAM BUKHORY YANG DI PELINTIR WAHABY

Inilah Ucapan Imam Bukhari dan Imam Ahmad Yang Dipelintir Wahabi

Kemunculan kaum Mujassimah-musyabbihah (wahabi-salafi) merupakan fitnah untuk menguji keimanan kaum muslimin di dunia ini hingga tiba masa fitnah terbesar di akhir zaman yaitu fitnah dajjal. Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَخْرُجُ نَاسٌ مِنَ اْلمَشْرِقِ يَقْرَؤُونَاْلقُرْانَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا قَطَعَ قَرْنٌ نَشَأَ قَرْنٌ حَتَّىيَكُوْنَ آخِرُهُمْ مَعَ اْلمَسِيْخِ الدَّجَّالِ

“ Akan muncul sekelompok manusia dari arah Timur, yang membacaal-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn (kurun /generasi) mereka putus, maka muncul generasi berikutnya hingga generasi akhirmereka akan bersama dajjal “ (Diriwayatkan imam Thabrani di dalamAl-Kabirnya, imam imam Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya dan imam Ahmad di dalam musnadnya)

Kaum muslimin cukup mengetahui akidah berkaitan kalam Allah bahwasanya kalam Allah adalah bersifat qadim, tidak membutuhkan alat, suara dan huruf, dan al-Quran adalah kalam Allah bukan makhluk. Sampai di sini tidak perlu panjang dan luas lagi untuk menelusuri esensi dan hakikatnya lebih dalam lagi. Karena tak ada satu pun parasahabat dan ulama salaf yang membahas lebih dalam lagi tentang masalah ini dan tentang Dzat Allah, maka membahas lebih dalam tentang hal ini adalah bid’ah, bahkan Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya : “ Renungilah makhluk Allah dan jangan renungi Dzat Allah “.

Namun muncullah fitnah kaum yang sangat berani membicarakan hakikat Dzat Allah dan sifat-sifat-Nya lebih dalam lagi, sehingga mereka tersesat jauh dan bahkan menyesatkan para pengikutnya ke jurang tajsim dan tasybih, Naudzu billahi min dzaalik..

Makna ucapan imam Bukhari yang disalah pahami wahabi :

حركاتهم وأصواتهم واكتسابهم وكتابتهم مخلوقة فأما القرآن المتلو المبين المثبت في المصاحف المسطور المكتوب الموعى في القلوب فهو كلام الله ليس بخلق

Gerak, suara, usaha dantulisan adalah makhluk, adapun al-Quran yang dibaca, yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada di dalam dada maka dia adalah kalam Allah bukanlah makhluk “. (Khalqi af’aalil ibaad : 47)

Kaum wahabi-salafi memahami ucapan imam Bukhari dengan nafsu dan pemikirannya sendiri sehingga menimbulkan pemahaman bahwa kalam Allah itu bersuara dan berhuruf.

Jawaban :

Saya jadi teringat sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِالزَّمانِ قَومٌ أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ قَوْلَخَيْرِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُوْنَمِنَ الدِّيْنَ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، فَإذَا لَقِيْتُمُوْهُمْفَاقْتُلُوْهُمْ ، فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْراً لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللهِ يَوْمَاْلقِيَامَة

 “ Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda lagi lemah akalnya, berucap dengan ucapan sbeaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur daribusurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.(HR. Imam Bukhari : 3342)

Nabi mensifati mereka pada umumnya masih berusia muda  tetapi lemah akalnya, atau itu adalah sebuah kalimat majaz yang bermakna orang-orang yang kurang berpengalaman atau kurang berkompetensi dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah bahkan kalam ulama. Subyektivitas dengan daya dukung pemahamanyang lemah dalam memahaminya, bahkan menafsiri ayat-ayat Al-Qur`an dan nash hadits dengan mengedepankan fanatik dan emosional golongan mereka sendiri.

Demikianlah kalam imam Bukhari yang sangat mudah dipahami, mereka pelintir sesuai keinginan nafsu dan pemikiran mereka sendiri tanpa mau menggunakan akal sehat dan merujuk pada penjelasan para ulama besar, sehingga menimbulkan pemahaman yang bertolak belakang dengan apa yang dimaksud oleh imam Bukhari sendiri

Simak dan bacapelan-pelan…! Semoga hidayah menyertai kalian…

Imam Bukhari mengatakan :

حركاتهم وأصواتهم واكتسابهم وكتابتهم مخلوقة فأما القرآن المتلو المبين المثبت في المصاحف المسطور المكتوب الموعى في القلوب فهو كلام الله ليس بخلق

Gerak, suara, usaha dantulisan adalah makhluk, adapun al-Quran yang dibaca, yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada di dalam dada maka dia adalah kalamAllah bukanlah makhluk “. (Khalqi af’aalil ibaad : 47)

Poin pertama dari kalam imam Bukhari :

حركاتهم وأصواتهم واكتسابهم وكتابتهم مخلوقة

“ Gerak,suara, usaha dan tulisan adalah makhluk “

Imam Bukhari dengan jelas menyatakan gerakan, suara, usaha dan tulisan adalah makhluk, karena semuanya bersifat baru dan ada permulaanya.

Pengertiannya adalah bahwasegala perbuatan, suara dan huruf yang berasal dari manusia adalah makhluk. Dan lebih jelas beliau mengatakan sebagaimana sering dinukil oleh ulama wahabi (tanpa mau memahaminya) berikut :

ما زلت أسمع أصحابنايقولون أفعال العباد مخلوقة

“ Aku senantiasa mendengar para ashab kami mengatakan bahwa perbuatan hamba adalah makhluk “.

Poin kedua dari kalam imamBukhari :

فأماالقرآن المتلو المبين المثبت في المصاحف المسطور المكتوب الموعى في القلوب فهوكلام الله ليس بخلق

“ Adapun al-Quran yangdibaca, yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada didalam dada maka dia adalah kalam Allah bukanlah makhluk “.

Lafadz al-Quran (فأما القرآن) di atas dalam ilmu nahwu kedudukannya menjadi mubtada’, tentu mubtada’ selalu membutuhkan khobarnya. Mana khobarnya ? khobarnya adalah lafadz fahuwa kalamullah (فهو كلام الله), sedangkan kalimat : al-Matluu al-Mubin, al-Mutsbat dan seterusnya adalah menjadi na’at yakni shifat.

Artinya adalah : al-Quranadalah kalamullah, dan al-Quran yang yang dibaca, yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada di dalam dada adalah kalam Allah bukan makhluk.

Ada dua pengertian dalam kalam imam Bukhari tersebut yaitu :

  1. al-Quran yang dibaca,yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada di dalam dada,jika dinisbatkan kepada kalam Allah adalah bukanlah makhluk.
  2. al-Quran yang ditulisdan dibaca dengan suara dan huruf oleh manusia, maka imam Bukhari menjwab : “perbuatan hamba adalah makhluk (أفعال العباد مخلوقة) “.

Manhaj imam Bukhari inilah yang diikuti oleh para ulama asyaa’irah bahwa : definsi al-Quran terbagi menjadi dua Yakni Jika yang dimaksudkan adalah kalam Allah, maka dia adalah sifat kalam yang qadim dan azali yang suci dari alat, suara dan huruf, sedangkan jikayang dimaksudkan adalah kalimat yang terlafadzkan oleh lisan manusia dan terbukukan dalam kertas-kertas, maka dia adalah kalimat-kalimat berhuruf dan bersuara yang baru dan mengibaratkan kepada kalam Allah yang qadim dan azali tersebut.

Penjelasan ini sesuaidengan penjelasan para ulama besar Ahlus sunnah :

Imam Abu Hanifah (150 H) Mengatakan:

وصفاته في الأزل غير محدَثة ولا مخلوقة فمن قال إنها مخلوقة أومحدَثة أو وقف أو شكّ فهو كافر بالله تعالى والقرءان أي كلام الله تعالى فيالمصاحف مكتوب وفي القلوب محفوظ وعلى الألسن مقروء وعلى النبي عليه الصلاة والسلاممنزل ولفظنا بالقرءان مخلوق وكتابتنا له مخلوقة وقراءتنا مخلوقة والقرءان غيرمخلوق

“ Sifat-sifat Allah diAzali tidaklah baru dan bukan makhluk (tercipta), barangsiapa yang mengatakanitu makhluk atau baru, atau dia diam (tidak berkomentar), atau dia ragu makadia dihukumi kafir kepada Allah. Al-Quran yakni Kalamullah tertulis dimushaf-mushaf, terjaga dalam hati, terbaca dalam lisan dan diturunkan kepadaNabi Saw. Danlafadz kami dengan al-Quran adalah makhluk, penulisan kami kepada Al-Quran adalah makhluk, bacaan kami dengannya adalah makhluk sedangkan al-Quran bukanlah makhluk “.

Kemudian imam Abu Hanifah melanjutkan :

ونحن نتكلم بالآلات والحروف والله تعالى يتكلم بلا ءالة ولا حروف والحروف مخلوقة وكلامالله تعالى غير مخلوق

“ Kami berbicara denganalat dan huruf sedangkan Allah Ta’ala berbicara tanpa alat dan huruf, sedangkanhuruf itu makhluk dan kalamullah bukanlah makhluk “.(Disebutkan dalam kitab al-Fiqh al-Akbar,al-Washiyyah, al-Alim w al-Muta’allimdan lainnya)

Al-Hafidz Azd-Dzahabi mengomentari kalam imam Bukhari berkaitan lafadz Quran berikut :

المسألة هي أن اللفظ مخلوق، سئل عنها البخاري، فوقف واحتجبأن أفعالنا مخلوقة واستدل لذلك ففهم منه الذهلي أنه يوجه مسألة اللفظ، فتكلم فيه.وأخذه بلازم قوله هو وغيره

“ Masalah (imam Bukhari) tersebut adalah sesungguhnya lafadz itu adalah makhluk. Imam Bukhari pernah ditanya tentang ini, lalu beliau tidak berkomentar malah beliau berhujjah : “Sesungguhnya semua perbuatan kita adalah makhluk “, beliau menjadikan itusebagai dalil dan ini dipahami oleh imam Adzdzahli bahwasanya imam Bukhari bermaksud masalah lafadz lalu beliau berbicara dengan itu, dan beliau juga selainnya senantiasa meneguhkan ucapannya itu “.(Siyar A’lam an-nubala : 12/457)

Ucapan : lafadz al-Quran adalah makhluk, memiliki dua makna yaitu makna haq (benar) dan makna bathil(salah). Mengatakannya secara muthlaq / general baik menafikan atau menetapkan adalah bid’ah, meskipun dia bermaksud makna yang haq ataupun makna yang bathil.Karena sesungguhnya imam Ahmad bin Hanbal tidaklah mencela dan memngatakan jahmiyyah kepada orang yang mengatakannya secara muthlaq kecuali jika ia bermaksud al-Quran.

Imam Ahmad bin Hanbal

Al-Hafidz Azd-Dzahabi menukil kalam imam Ahmad bin Hanbal sebagai berikut :

من قال: لفظي بالقرآن مخلوق، يريد به القرآن، فهو جهمي

“ Barasngsiapa yang mengatakan lafadz dengan al-Quran adalah makhluk, yang dimaksud adalah al-Quran, maka dia adalah seorang jahmi “. (Siyar A’lam an-nubala : 11/511)

Mungkin kaum wahabi-salafi akan bingung jika membaca penjelasan Ibnu Taimiyyah berikut tentang Nash dariimam Ahmad bin Hanbal :

فلهذاكان المنصوص عن الإمام أحمد وأئمة السنة والحديث أنه لا يقال : ألفاظنا بالقرآنمخلوقة ولا غير مخلوقة

“ Oleh sebab itu Nash yangresmi dari imam Ahmad dan para imam Ahlus sunnah dan hadits bahwa tidak bolehdikatakan :Lafadz kita dengan Al-Quran itu makhluk dan juga bukan makhluk “.(Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah, 12/ 375)

Di sisi lain Ibnu Taimiyyah mengatakan :

والمقصودهنا أن الامام أحمد ومن قبله من أئمة السنة ومن اتبعه كلهم بريئون من الاقوالالمبتدعة المخالفة للشرع والعقل ولم يقل أحد منهم أن القرآن قديم

“ Yang dimaksud di sini bahwasanya imam Ahmad dan ulama sebelumnya dari Ahlus sunnah dan para pengikutnya, berlepas diri dari pendapat-pendapat Ahlul bid’ah yang menyelisihi syare’at dan aqal, dan tidak seorang pun dari mereka mengatakan al-Quran ituqadim “. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah : 7/661)

Perhatikan : IbnuTaimiyyah mengatakan al-Quran itu tidak bersifat qadim. Inilah di antara bid’ah dhalalah yang dilakukan Ibnu Taimiyyah, Naudzu billahi min dzaalikal fahm, beranikah wahabi-salafi mengkafirkan IbnuTaimiyyah ??

Al-Imam al-Isfiraini (w418 H) mengatakan :

وأن تعلم أن كلام الله تعالى ليسى بحرف ولاصوت لأن الحرف والصوت يتضمنان جواز التقدم والتأخر، وذلك مستحيل على القديم سبحانه

“ Dan hendaknya kamu mengetahui bahwa sesungguhnya kalam Allah itu tidaklah dengan huruf dan suara karena huruf dan suara mengandung bolehnya pendahuluan dan pengakhiran, yang demikian itu mustahil bagi Allah yang Maha Qadim “. (at-Tabhsir fiddin : 102)

Dengan ini semakin jelas kerancuan akidah wahabi-salafi yang mengatas namakan imam Ahmad bin Hanbal,mereka hanya merusak citra baik madzhab Hanbali, mereka lah kaum hanabilah yang ekstrem dan ghulat dan kaum pembawa bid’ah dalam aqidah sebagaimana dinyatakan oleh imam Mula Ali al-Qari al-Hanafi (w 1014 H) :

ومبتدعة الحنابلة قالوا: كلامه حروف وأصوات تقوم بذاته وهو قديم،وبالغ بعضهم جهلاً حتى قال: الجلد والقرطاس قديمان فضلاً عن الصحف، وهذا قول باطلبالضرورة ومكابرة للحس للإحساس بتقدم الباء على السين في بسم الله ونحوه”

“ Para ahli bid’ah darikalangan Hanabilah berkata : “ Kalam Allah berupa huruf dan suara yang berdiri dalam Dzat-Nya dan itu qadim. Bahkan ada yang sampai berlebihan kebodohan mereka dengan berkata : “ Jilid dan Kertas itu bersifat qadim apalagi mushaf “,ini adalah ucapan BATHIL  secara pastidan sifat mukabarah…” (Syarh al-Fiqh al-Akbar : 29-35)

HUKUM MENARIK BIAYA KIRIM DO’A ARWAH PADA ACARA TAHLIL DAN ZIARAH KUBUR

Apa hukumnya kalau dalam ziarah /tahlil kubro / acara tahlilan di pengajian untuk pengiriman doa setiap arwah nya diberi (dimintai) jumlah nominal uang yang harus diberikan (contoh 1 arwah Rp. 5.000),

JAWABAN :

Hukumnya boleh / sah dan orang yang disewa berhaq mendapatkan upah / ongkos, bila memenuhi salah satu diantara 4 hal :

    Dibaca di samping kuburannya

    Tidak dibaca di samping kuburan akan tetapi disertai do’a setelah membacanya bahwa pahalanya dihadiahkan pada mayit tersebut.

    Dibaca di samping orang yang menyewa

    Atau dibaca serta disebut / diniatkan dalam hati.

Wallohu a’lam.

Referensi :

.إعانة الطالبين ٣/١١٢-١١٣

.قال شيخنا في شرح المنهاج يصح الإستئجار لقرأة القرأن عند القبر أو مع الدعاء بمثل ما حصل له من الأجر له أو لغيره عقبها عين زمانا أو مكانا أولا ونية الثواب له من غير دعاء له لغو خلافا لجمع أى قالوا أنه ليس بلغو فعليه تصح الإجارة ويستحق الأجرة وان اختار السبكي ما قالوه عبارة شرح الروض بعد كلام قال السبكي تبعا لابن الرفعة بعد حمله كلامهم على ما اذا نوى القارئ أن يكون ثواب قرأته للميت بغير دعاء على أن الذي دل عليه الخبر بالإستنباط أن بعض القرأن اذا قصد به نفع الميت نفعه إذ قد ثبت أن القارئ لما قصد بقرأته الملدوع نفعه.حاصل ما ذكره أربع صور إن كان قوله الأتي ومع ذكره في القلب صورة مستقلة وهي القرأة عند القبر والقرأة لا عنده لكن مع الدعاء عقبها والقرأة بحضرة المستأجر والقرأة مع ذكره في القلب وخرج بذلك القرأة لا مع أحد هذه الأربعة فلا يصح الإستئجار لها

بغية المسترشدين ص 165

(مسألة: ي): يصح الاستئجار لكل ما لا تجب له نية عبادة كان، كأذان وتعليم قرآن وإن تعين، وتجهيز ميت أولا كغيره من العلوم تدريساً وإعادة، بشرط تعيين المتعلم والقدر المتعلم من العلم، وكالاصطياد ونحوه لا القضاء والإمامة ولو في نفل، فما يعطاه الإمام على ذلك فمن باب الأرزاق والمسامحة، فلو امتنع المعطي من إعطاء ما قرره لم تجز له المطالبة به ولا لعقد نكاح كالجعالة عليه، ويحرم اشتراط الأجرة عليه من غير عقد، بل هو من أكل أموال الناس بالباطل، نعم إن أهدى نحو الزوج للملفظ شيئاً جاز قبوله إن لم يشترطه، وعلم الدافع عدم وجوبه عليه.

TERGODANYA NABI ADAM AS DAN SIFAT MAKSUMNYA SEBAGAI SEORANG ROSUL

TERGODANYA NABI ADAM ‘ALAIHIS SALAM

فأخرج إبليس مزمارا وزمر تزميرا مطربا فلما سمع آدم وحواء المزمار جاءا ليسمعا ذلك فلما وصلا الى شجرة الحنطة قال ابليس تقدم الى هذه الشجرة يآدم فقال إنى ممنوع فقال ابليس (وما نهاكما ربكما عن هذه الشجرة الا أن تكونا ملكين أو تكونا من الخالدين) فان من أكل من هذه الشجرة لا يشيب ولا يهرم ثم أقسم بالله أنها لا تضرهما وأنه لمن الناصحين لهما فظن آدم أنه لا يتجاسر أحد على أن يحلف بالله كاذبا وظن أنه من الناصحين

Kemudian iblis mengeluarkan seruling dan memainkannya dengan merdu, ketika adam dan hawa mendengarnya, me­reka langsung mendatanginya untuk mendengarkan/­menikmatinya,dis­aat mereka sampai dipohon gandum maka iblis berkata padanya,, wahai adam,mendekatla­h pada pohon ini,adam berkata, sesungg­uhnya aku dicegah untuk dekat dengan pohon itu, iblis berkata Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).”

Karena sesungguhnya siapa saja yang memakan biji dari pohon ini,dia tidak akan bisa tua dan pikun dan iblis juga bersumpah dengan nama ALLOH bahwa makan biji itu tidak akan membahayakan mereka berdua dan dia mengaku bahwa dia adalah pembawa nasihat bagi mereka berdua maka adam pun menyangka bahwa tiada yang berani mengucapkan sumpah dengan nama ALLOH pada kebohongan dan menyangka juga bahwa iblis tadi adalah malaikat pembawa nasihat.

فمن حرص حواء على الخلود فى الجنة تقدمت وأكلت فلما نظر آدم اليها حين أكلت ووجدها سالمة تقدم وأكل بعدها فلما وصلت الحبة الى جوفه طار التاج عن رأسه وطارت الحلل أيضا

Dari keinginan hawa untuk kekal disurga maka ia maju duluan dan memakannya ketika adam melihatnya makan dan selamat maka adam pun ikut maju dan memakannya,pada­ saat biji sampai ditenggorokan maka terbanglah mahkota yang ada dikepalanya bersama perhiasan-perhi­asan yang ada padanya

سؤال لأى شئ لما أكلت حواء من الشجرة لم تسقط الكسوة عنها فى الحال وآدم حين أكل سقطت عنه فى الحال الجواب لوسقطت فى الحال عن حواء لرجع آدم ولم يأكل وأيضا االدية على العاقلة ولان الأمر كان أولا لآدم

Pertanyaan, kenapa disaat hawa makan biji tersebut seluruh pakaiannya tidak terlepas seketika sedangkan adam pakaiannya terlepas seketika ? Jawab :Umpama lepas seketika maka adam akan kembali dan tidak mau ikut makan,begitu juga diyat/tebusan itu pada yang berakal dan karena sesungguhnya awal perkara itu untuk adam.

وقال بعض العلماء ان آدم أكل وهو ناس قال الله تعالى (ولقد عهدنا الى آدم من قبل فنسى)

Sebagian ulama’ berkata sesungguhnya adam memakannya itu dalam keadaan lupa Sebagaimana firman ALLOH : Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu). Qs.thoha ayat 115.

فلما أكل آدم من الشجرة أوحى الله تعالى الى جبرائيل عليه السلام بأن يقبض على ناصية آدم وحواء ويخرجهما من الجنة فأخرجهما جبرائيل من الجنة ونودى عليهما بالمعصية. قال فكان آدم وحواء عريانين فطافا على أشجار الجنة ليستترا بأوراقها فكانت الأشجار تنفر عنهما ورحمته شجرة التين فغطته فتستر بورقها وقيل غطته شجرة العود فلذلك أكرمها الله بالرائحة الطيبة وأكرم شجرة التين بالثمر الحلو الذى ليس له نوى وقيل غطته شجرة الحناء فلذلك صار أثرها طيبا مفرحا ولذلك سميت الحناء قال كعب الأحبار لما صار آدم عريانا أوحى الله تعالى اليه أن اخرج الىّ لأنظرك فقال آدم يارب لا أستطيع ذلك من حيائى منك وخجلى

Disaat adam makan dari biji gandum tersebut maka ALLOH memerintahkan jibril untuk mencabut ubun-ubun adam dan hawa dan mengeluarkannya­ dari surga dan dipanggil dengan sebutan maksiyat. Wahhab bin munabbih berkata, saat itu adam dan hawa dalam keadaan telanjang, mereka berputar pada pohon-pohon surga untuk mengambil daun untuk menutupi tubuh mereka tapi pohon-pohon itu pada kabur dari mereka, akhirnya ­ pohon tin iba pada mereka dan menutupi mereka dan diambillah daunnya untuk menutupi tubuh mereka.

Dikatakan bahwa yang menutupinya adalah pohon garu,oleh karena itu ALLOH memulyakannya dengan bau yang harum dan ALLOH memulyakan pohon tin dengan buah yang manis tanpa biji. Dikatakan juga bahwa yang menutupinya adalah pohon inai oleh karena itu jadilah baunya harum dan wangi dan dinamakan inai. Ka’ab alahbar berkata,ketika adam dalam keadaan telanjang, ALLOH­ berfirman padanya keluarlah kamu dariku, aku akan menunggumu maka adam berkata ya Tuhan sungguh aku tidak sanggup karena malu padamu.

QODAR ALLOH SWT DAN KEMA’SHUMAN NABI ADAM AS DARI DOSA

Salah satu yang wajib bagi para Rosul dan wajib bagi kita meyakininya adalah sifat amanah, yaitu terpeliharanya mereka daripada melakukan dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil, biak haram maupun makruh, baik sengaja maupun tidak. Untuk menyikapi masalah Nabi Adam, aku curhat dulu yach… aku pernah nonton tv film hidayah, disitu aku lihat ada orang jahat… banget sampai timbul rasa kebencian di hatiku kepadanya dan aku menjulukinya si penjahat berengsek….(hehe ma’af),  padahal kenyataanya apa.., ia (si penjahat) ternyata mendapat sambutan dan tepukan yang hangat dari sang sutradara bahkan mendapat uang (gaji) yang cukup besar…  yups…ia adalah pemain yang baik, secara shury (rupa / gambaran) ia adalah penjahat tetapi secara hakiky (yang sebenarnya) ia adalah seorang yang amat patuh kepada perintah atasan. Sama halnya dengan persoalan Nabi Adam as., lebih jelasnya coba kita intip tafsir showi juz 1:22

و الحق ان يقال ان ذلك من سر القدر فهي منهي عنه ظاهرا لا باطنا فانه بالباطن مأمور بالاولى من قصة الخضر مع موسى و اخوة يوسف معه على انه انبياء فان الله قال للملائكة اني جاعل في الارض خليفة كان قبل خلقه و هذا الامر مبرم يستحيل تخلفه فلما خلقه و اسكنه الجنة اعلمه بالنهي عن الشجرة صورة فهذا النهي صوري و اكله من الشجرة جبري لعلمه ان المصلحة مترتبة علي اكله و انما سمي معصية نظرا للنهي الظاهري فمن حيث الحقيقة لم يقع منه عصيان و من حيث الشريعة وقعت منه المخالفة و من ذلك قول ابن العربي لو كنت مكان ادم لاكلت الشجرة بتمامها لما ترتب علي اكله من الخير العظيم و ان لم يكن من ذلك الا وجود سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم لكفى

“Dan yang benar bahwa dikatakan sesungguhnya itu adalah sirrul qodar(rahasia taqdir), maka ia dilarang secara zhohir tetapi tidak secara batin. karena Nabi Adam as pada batinnya adalah diperintah terlebih utama dari kisahnya Nabi Khidir serta Nabi Musa dan saudara Nabi Yusuf beserta Nabi Yusuf apalagi mereka itu adalah para Nabi. Sesungguhnya Allah SWT saat berfirman kepada para malaikat “Seseungguhnya aku akan menjadikan di bumi seorang kholifah” adalah sebelum menciptakan Nabi Adam. Dan perkara ini adalah pasti dann mustahil salah. Lalu saat Allah menciptakannya dan menempatkannya di surga, diberi tahu dengan larangan makan buah pada rupanya(zohirnya). Larangan ini adalah larangan shury dann makan buahnya adalah jabary dengan sengaja, tahu dan sadar karena ia tahu bahwa kemaslahatan ada didalam memakannya. Dan itu disebut ma’siat karena memandang pada larangan yang dzohir. Dan dilihat dari sisi syari’at terjadi daripadanya suatu pelanggaran. Dan diantara ma’na ini apa yang dikatakan oleh Ibnul ‘Aroby : “Jika aku di tempat Nabi Adam maka aku akan makan buah itu dengan sempurna karena dalam memakannya itu ada kebaikan yang banyak, dan jika tak ada satu kebaikan pun selain wujudnya Sayyidina Muhammad SAW niscaya cukup”.

Lebih jelasnya liat lagi tafsir Showy pada juz dan halaman yang sama:

انه اجتهد فأخطأ فسمى الله خطأه معصية فلم يقع منه صغيرة ولا كبيرة انما هو من باب حسنات الابرار سيئات المقربين فلم يتعمد المخالفة

ومن نسب التعمد و العصيان له بمعنى فعل الكبيرة او الصغيرة فقد كفر و من نفى اسم العصيان عنه فقد كفر ايضا لنص الاية

“Bahwa sesungguhnya Adam berijtihad lalu salah ijtihadnya, maka Allah memberi nama kesalahannya itu dengan ma’siat padahal tak pernah terjadi dpdnya dosa kecil maupun dosa besar. Sesungguhnya ini termasuk dalam bab “hasanatul abror sayyiatul muqorrobin”(kebaikan orang abror adalah kejahatan orang muqorrobin).

BARANGSIAPA yang MEMBANGSAKAN SENGAJA DAN DOSA kepada NABI ADAM dengan MA’NA IA MELAKUKAN DOSA BESAR ATAU DOSA KECIL MAKA IA TELAH KAFIR, SEBAGAIMANA JUGA yang MENOLAK NAMA MA’SIYAT DARIPADANYA karena ADA NASH AYAT QUR’AN”.

Kema’siyatan Nabi Adam hanyalah sebuah skenario dari ALLAH tuk menurunkannya dari surga, karena sebelum ALLAH menciptakan Adam, ALLAH pernah berfirman ke para Malaikat untuk menjadikan seorang kholifah dibumi. Sedangkan Adam diciptakan disurga. lalu ALLAH membuat Adam makan buah khuldi sehingga tercapailah tujuan ALLAH menjadikan kholifah di bumi. Yang wajib kita i’tikadkan adalah NABI ADAM MA’SIAT HANYA SeCaRa DZOHIR/SYARI’ATNYA SAJA, SEDANGKAN SECARA HAKIKAT NABI ADAM ADALAH MA’SUM (TERPELIHARA dari MA’SIAT) bahkan Nabi Adam dikatakan ta’at karena sedang menjalankan skenario dari ALLAH.

Kenapa Allah tidak ciptakan saja langsung manusia di bumi sebagai khalifah? Artinya iblis yang kafir pun atas skenario Allah iblis pun diusir lalu mempengaruhi Adam-Hawa untuk makan buah terlarang? Karena Allah ta’ala lah yang berkehendak…bukan manusiannya…? Berhakkah manusia mempertanyakan kehendak-Nya?

Banyak hikmah-hikmah ALLAH tidak menciptakan manusia langsung di bumi… bisa dilihat dari proses yang terjadi pada nabi Adam AS sehingga diturunkan dari surga..

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

HAKIKAT MAULID NABI SAW DAN BERDIRI MENGHORMATI NABI DI SAAT SRAKAL

Inilah Hakikat Maulid Menurut Para Ulama

Setiap bulan Rabiul Awal, umat Muslim di berbagai dunia selalu mengadakan peringatan maulid Nabi Saw. Ulama sepakat bahwa Nabi Saw. dilahirkan pada hari Senin bulan Rabiul Awal. Karena itu, mereka selalu memperingatinya setiap tahun pada bulan Rabiul Awal. Lantas apa hakikat maulid menurut mereka?

Setidaknya, ada tiga hakikat peringatan maulid menurut para ulama. Ini penting untuk diketahui bersama agar semua tahu maksud dan tujuan para ulama dan kaum Muslim mengadakan peringatan maulid Nabi Saw.

Pertama, untuk mengungkapkan rasa cinta kepada Nabi Saw. Para ulama dan kaum Muslim mengadakan maulid karena didorong kecintaan dan kerinduan kepada Nabi Saw. Ini salah satu cara yang mereka tempuh untuk mengungkapkan rasa cinta mereka kepada Nabi Saw. Dalam kitab I’anatut Thalibin disebutkan bahwa Imam Assirri Assaqathi mengatakan;

من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي (صلى الله عليه وسلم) فقد قصد روضة من رياض الجنة لانه ما قصد ذلك الموضع إلا لمحبة الرسول. وقد قال عليه السلام: من أحبني كان معي في الجنة

“Barangsiapa yang menghadiri tempat pembacaan maulid Nabi Saw, maka sungguh dia menghadiri salah taman dari taman-taman surga. Hal ini karena sesungguhnya tiada dia menghadiri tempat itu melainkan karena cintanya kepada Rasul. Dan Nabi Saw pernah bersabda, ‘Barangsiapa mencintaiku, maka dia akan bersamaku di dalam surga.’”

Kedua, untuk mengagungkan kemuliaan dan kedudukan Nabi Saw. Salah satu bentuk para ulama dan kaum Muslim mengagungkan kemuliaan dan kedudukan Nabi Saw. adalah dengan memperingati kelahirannya. Disebutkan dalam kitab I’anatut Thalibin bahwa Imam Junaid Albaghdadi pernah berkata;

من حضر مولد الرسول وعظم قدره فقد فاز بالايمان

“Barangsiapa menghadiri maulid Rasulullah Saw. dan mengagungkan kemuliaan dan kedudukannya, maka dia telah beruntung dengan keimanannya.”

Ketiga, untuk bersyukur dan menampakkan suka cita atas kelahiran Nabi Saw. Nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada kaum Muslim adalah kelahiran Nabi Saw. Karena itu, nikmat ini patut untuk disyukuri dan sambut dengan suka cita dengan memperingati kelahirannya. Dalam kitab Almadkhol, Imam Ibnul Hajj Al Maliki berkata;

فكان يجب أن نزداد يوم الاثنين الثاني عشر من ربيع الأول من العبادات والخير شكرا للمولى على ما أولانا من هذه النعم العظيمة وأعظمها ميلاد المصطفى صلى الله عليه وسلم. ومن تعظيمه صلى الله عليه وآله وسلم الفرح بليلة ولادته وقراءة المولد

“Menjadi sebuah kewajiban bagi kita untuk menambah ibadah dan kebaikan setiap hari Senin bulan Rabiul Awal karena sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas anugerah nikmat-nikmat besar ini kepada kita. Dan nikmay paling besar adalah kelahiran Nabi Saw. Dan salah satu cara mengagungkan Nabi Saw. adalah berbahagia di malam kelahirannya dan membaca maulid.”

Benarkah Nabi Hadir Ketika Acara Maulid?

Sebagian umat Muslim meyakini kehadiran Nabi Saw. ketika diadakan acara untuk memperingati kelahirannya. Karena itu, mereka berdiri saat pembacaan maulid untuk menghormati kehadiran Nabi Saw.

Kehadiran Nabi Saw. di tempat acara maulid dan tempat pembacaan salawat sangat dimungkinkan. Hal ini karena meskipun jasad Nabi Saw. sudah wafat dan dikubur di Madinah, namun ruhnya tetap hidup dan mengunjungi tempat yang beliau kehendaki, terutama tempat di mana salawat dan salam dibaca.

Bahkan menurut Imam Assuyuthi, sebagaimana dikutip dalam kitab Alajwibah Alghaliyah, Nabi Saw. masih hidup, baik jasad dan ruhnya dan bisa menghadiri tempat yang beliau kehendaki. Imam Assuyuthi berkata;

قد تحصل من مجموع الاحاديث ان النبي صلى الله عليه وسلم حي بجسده وروحه وانه يتصرف حيث شاء في اقطار الارض والملكوت وهو بهيبته التي كان عليها قبل وفاته، وانه يغيب عن الابصار كما غيبت الملائكة، فاذا اراد الله رفع الحجاب عمن اراد كرامته برؤيته رآه على هيئته

“Bisa diambil kesimpulan dari berbagai kumpulan hadis bahwa Nabi Saw. masih hidup secara jasad dan ruhnya. Beliau bisa menghadiri tempat yang dikehendaki di seluruh penjuru bumi dan langit. Beliau tetap memilik haibah atau kewibawaan seperti sebelum beliau wafat. Beliau tidak terlihat oleh mata sama seperti para malaikat.  Jika Allah berkehendak membuka tabir dari hamba yang dikehendaki-Nya, maka dia bisa melihat langsung Nabi Saw. dengan rupa dan bentuk sebagaimana adanya.”

Dalam kitab Anni’matul Kubra, Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dengan tegas mengatakan bahwa kehadiran Nabi Saw. di tempat acara maulid bukan perkara yang mustahil. Karena setiap salawat dan salam dibaca, maka Nabi Saw. selalu hadir, sebagaiman hadirnya ruh para nabi dan rasul ketika berkumpul bersama Nabi Saw. di Baitul Maquddas saat beliau melakukan Isra’ dan Mi’raj.  Imam Ibnu Hajar berkata;

فلا يبعد أن تحضر روحه المقدسة عليه الصلاة والسلام في كل مجلس يذكر فيه وإن كان في مواضع كثيرة وبلدان متباعدة وهو أمر مسلم عند أهل الذوق الصحيح الكرام

“Bukanlah sesuatu yang mustahil, ruh Nabi Saw. yang suci hadir di setiap tempat yang disebut namanya walaupun di tempat yang jauh dan berbeda-beda. Ini adalah sesuatu yang diterima oleh ahli dzauq yang benar dan yang mulia.”

Hukum Berdiri saat Membaca Maulid Al Barzanji

Di antara kitab yang selalu dibaca saat memperingati Maulid Nabi saw. adalah kitab yang dikenal dengan Maulid Al Barzanji. Kitab ini berupa syair dan prosa yang berisi riwayat, salawat, dan puji-pujian kepada Baginda Nabi saw. Kitab ini sangat populer di kalangan umat Muslim. Pada momentum puncak pembacaan maulid, yakni pada pembacaan syair “Asyraqal”, para peserta maulid dianjurkan untuk berdiri. Bagaimana hukum berdiri saat membaca Maulid Al Barzanji?

Berdiri saat membaca Maulid Al Barzanji termasuk perbuatan yang sangat dinilai baik oleh para ulama. Berdiri setiap membaca Maulid Al Barzanji merupakan tradisi para ulama dan kaum Muslim sejak dahulu hingga sekarang. Untuk menghormati dan mengagungkan Nabi saw. yang sedang diperingati, maka mereka terdorong untuk berdiri sebagai bentuk takzim dan penghormatan.

Dalam kitab I’anatut Thalibin, Syaikh Abu Bakr Syatha mengatakan dengan jelas bahwa berdiri saat memperingati Maulid Nabi saw. termasuk mustahsan atau perbuatan yang sangat baik. Beliau berkata;

جرت العادة أن الناس إذا سمعوا ذكر وضعه صلى الله عليه وسلم يقومون تعظيما له صلى الله عليه وسلم وهذا القيام مستحسن لما فيه من تعظيم النبي صلى الله عليه وسلم ، وقد فعل ذلك كثير من علماء الامة الذين يقتدى بهم

“Sudah menjadi tradisi bahwa ketika mendengar kelahiran Nabi Muhammad saw. disebut-sebut, orang-orang akan berdiri sebagai bentuk penghormatan bagi Nabi saw. Berdiri seperti itu merupakan perbuatan yang sangat baik (mustahsan) sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi saw. Banyak ulama panutan umat yang sudah melakukan hal itu (berdiri).”

Selain itu, dalam Islam terdapat anjuran untuk berdiri dalam rangka menghormati orang yang dihormati. Misalnya, berdiri untuk menghormati seorang ulama. Jika berdiri untuk menghormati seorang ulama dianjurkan, maka tentu berdiri untuk menghormati Nabi saw lebih sangat dianjurkan lagi. Disebutkan dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Sa’id Alkhudri, dia berkata;

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْأَنْصَارِ: قُوْمُوْا إلَى سَيِّدِكُمْ أوْ خَيْرِكُمْ

“Rasulullah saw. berkata kepada para sahabat Anshar, ‘Berdirilah kalian untuk tuan kalian atau orang yang paling baik di antara kalian.’”

Dalam kitab Al-Bayan wat Ta’rif fi Dzikri Maulidin Nabawi, Sayyid Muhammad bin Alawi AlMaliki menyatakan bahwa Imam Al Barzanji di dalam kitab maulidnya yang berbentuk prosa mengatakan, ‘Sebagian para imam hadis yang mulia itu menganggap baik (istihsan) berdiri ketika disebutkan sejarah Nabi saw. Betapa beruntung orang-orang yang mengagungkan Nabi saw dan menjadikan hal itu sebagai puncak tujuan hidupnya.’

KHILAFIYAH TANGGAL KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAW DAN CARA MENYIKAPINYA

Khilafiyah Tanggal Kelahiran Nabi Muhammad saw.

Sudah masyhur dikalangan kaum Muslim bahwa Nabi Saw. dilahirkan pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal. Semua ulama sepakat bahwa Nabi Saw. dilahirkan pada hari Senin bulan Rabiul Awal. Namun mereka berbeda pendapat terkait tanggal kelahiran Nabi Saw. Berikut khilafiyah atau perbedaan ulama terkait tanggal kelahiran Nabi Saw.

Pertama, dalam kitab Lathaiful Ma’arif, Ibnu Rajab menulis bahwa menurut Imam Ibnu Ishaq dan ulama lainnya, tanggal kelahiran Nabi Saw. bertepatan dengan hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal. Pendapat ini diikuti oleh kebanyakan ulama dan menjadi pendapat yang masyhur di kalangan kaum Muslim.

Kedua, Nabi Saw. dilahirkan pada tanggal 2 bulan Rabiul Awal. Pendapat ini dikatakan oleh Imam Abdul Barr dalam kitab Alisti’ab.

Ketiga, Nabi Saw. dilahirkan pada tanggal 8 Rabiul Awal. Pendapat ini disebutkan oleh Imam Alhumaidi dari Imam Ibnu Hazam. Pendapat ini juga diiriwatkan oleh Imam Malik, Aqil, Yunus bin Yazid dan ulama lainnya dari Imam Azzuhri dari Jubair bin Muth’im.

Keempat, Nabi Saw. dilahirkan pada tanggal 10 Rabiul Awal. Pendapat ini dinukil oleh Ibnu Dihyah dan diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dari Abu Ja’far Al-Baqir.

Kelima, Nabi Saw. dilahirkan pada tanggal 9 Rabiul Awal bertepatan dengan 20 April 571 M.

Demikian khilafiyah atau perbedaan pendapat ulama terkait tanggal kelahiran Nabi Saw. Namun dari semua pendapat di atas, yang paling sahih dan diikuti oleh kabanyakan ulama adalah pendapat pertama, yaitu Nabi Saw. dilahirkan pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal. Hal ini karena berdasarkan hadis riwayat Ibnu Abi Syaibah dari Jabir dan Ibnu Abbas, mereka berdua berkata;

وُلِدَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفِيْلِ يَوْمَ الْاِثْنَيْنِ اَلثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ وَفِيْهِ بُعِثَ وَفِيْهِ عُرِجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ وَفِيْهِ هَاجَرَ وَفِيْهِ مَاتَ

“Rasulullah Saw. dilahirkan pada tahun Gajah, hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awal. Pada hari itu, Nabi Saw. diutus, pada hari itu Nabi Saw. mi’raj ke langit, pada hari itu Nabi Saw. hijrah dan pada hari itu Nabi Saw. wafat.”

Cara Bijak Imam Sakhawi Menyikapi Perbedaan Tanggal Lahir Nabi Muhammad Saw.

Sebagian umat Muslim melarang mengadakan peringatan maulid Nabi Saw. pada tanggal 12 Rabiul Awal. Salah satu alasan mereka adalah karena para ulama masih berbeda pendapat tentang tanggal kelahiran Nabi Saw. Sebagian mengatakan Nabi Saw. lahir pada tanggal 2 Rabiul Awal, 8, 9, 10, dan lainnya. Namun kebanyakan ulama mengatakan bahwa Nabi Saw. lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal.

Atas dasar perbedaan inilah sebagian umat Muslim melarang peringatan maulid. Mereka beranggapan bahwa merayakan maulid pada tanggal 12 Rabiul Awal tidak berdasar. Selain karena tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Saw, juga karena tanggal 12 Rabiul Awal belum tentu merupakan tanggal lahir Nabi Saw.

Menyikapi masalah perbedaan tanggal lahir Nabi Saw. sudah pernah dibahas oleh Imam Sakhawi dalam kitabnya Alajwibah Almardhiyah. Menurut beliau, perbedaan tanggal lahir Nabi Saw. justru memberikan keleluasaan untuk memperingati maulid di selain tanggal 12 Rabiul Awal. Kaum Muslim bisa memperingati maulid pada tanggal 2, 9, 10, 12 atau lainnya. Bahkan bisa juga memperingati maulid selama bulan Rabiul Awal tanpa harus terikat dengan tanggal tertentu.

Beliau berkata;

قُلْتُ: كَانَ مَوْلِدُهُ الشَّرِيْفُ عَلَى الأَصَحِّ لَيْلَةَ الإِثْنَيْنِ الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْع الأَوَّلِ، وَقِيْلَ: لِلَيْلَتَيْنِ خَلَتَا مِنْهُ، وَقِيْلَ: لِثَمَانٍ، وَقِيْلَ: لِعَشْرٍ وَقِيْلَ غَيْرُ ذَلِكَ، وَحِيْنَئِذٍ فَلاَ بَأْسَ بِفِعْلِ الْخَيْرِ فِيْ هذِهِ الأَيَّامِ وَاللَّيَالِيْ عَلَى حَسَبِ الاسْتِطَاعَةِ بَلْ يَحْسُنُ فِيْ أَيَّامِ الشَّهْرِ كُلِّهَا وَلَيَالِيْهِ

“Aku berkata (Imam Sakhawi); Tanggal kelahiran Nabi Saw. yang mulia menurut pendapat yang paling sahih adalah pada malam Senin, 12 Rabiul Awal. Dikatakan oleh ulama lain, Nabi Saw. lahir pada malam tanggal 2. Ada yang mengatakan pada tanggal 8, 10 dan lain sebagainya. Maka dari itu, tidak mengapa mengerjakan kebaikan pada setiap hari-hari ini dan malam-malamnya sesuai dengan kemampuan yang ada. Bahkan bagus dilakukan pada hari-hari dan malam-malam selama bulan Rabiul Awal.”

Dengan demikian, perbedaan ulama mengenai tanggal kelahiran Nabi Saw. bukan menjadi penghalang untuk mengadakan peringatan maulid di bulan Rabiul Awal. Sebaliknya, justru memberikan kelonggaran untuk mengadakan maulid selama sebulan penuh di bulan Rabiul Awal.

MENGENAL AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR DAN ZINA MATA JUGA HATI

Mengenal Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Amar ma’ruf nahi munkar yang biasa diartikan dengan “Memerintahkan untuk berbuat baik dan mencegah terjadinya perbuatn munkar” adalah salah satu perintah syara’ yang fardlu kifayah. Amar ma’ruf nahi munkar adalah satu kesatuan yang tidak bisa dilepaskan satu dengan lainnya, kedua hal tersebut adalah saling menetapi (talazum). Yang disebut dengan ma’ruf adalah:

المعروف وهو اسم لكل ما عرف من طاعة الله عز وجل, والتقرب إليه والإحسان إلى الناس ,وكل ما ندب اليه الشرع.

Ma’ruf adalah nama bagi setiap perbuatan yang diketahui merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah Azza wa Jall, mendekatkan diri kepada-Nya, berbuat baik kepada manusia, dan setiap apa yang disunahkan oleh syara’. Sedangkan yang disebut dengan Munkar adalah kebalikan dari ma’ruf.

Dalil dari al-Qur’an adalah:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ (ال عمران:110)

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Dalil dari as-Sunnah adalah:

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه, فإن لم يستطع فبقلبه, وذلك أضعاف الإيمان.

Barangsiapa di antara kamu sekalian yang melihat kemunkaran hendaknya merubah kemunkaran tersebut dengan tangannya, apabila tidak mampu maka dengan lisannya, apabila tidak mampu maka dengan hatinya, yang demikian adalah selemah-lemahnya iman. Dari hadits ini bisa diambil kesimpulan bahwasanya amar ma’ruf nahi munkar memiliki tiga tingkatan :

1.Yang pertama dan ini adalah yang paling kuat yaitu dengan menggunakan tangan/kemampuan/kekuasaan. Ini adalah merupakan amar ma’ruf nahi munkar yang merupakan fardlu ain dan wajib dilakukan dengan segera (al-wajib ‘ala al-faur) apabila memang memiliki kemampuan untuk itu.

2.Yang kedua: Apabila langkah pertama tidak dapat dilakukan, maka bagi orang yang melihat kemunkaran wajib melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan berpindah pada tingkatan yang kedua, yaitu dengan menggunakan lisan.

Ketika melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan menerapkan cara yang pertama, hendaknya pertama kali dilakukan dengan kelemah lembutan dan kasih sayang.

Apabila dua tingkatan ini tidak bisa dilakukan, maka hendaknya menerapkan amar ma’ruf nahi munkar tingkat ketiga, yaitu dengan cara melakukan pengingkaran dalam hati/tidak senang dengan adanya kemungkaran tersebut dan haram untuk cuek bebek atau tidak perduli ketika melihat terjadinya suatu kemungkaran. Dan tingkatan yang ketiga ini merupakan amar ma’ruf yang dilakukan sebab adanya kelemahan iman.

Dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar ada beberapa syarat-syarat yang harus dipenuhi apabila hendak melakukannya, yaitu:

1.Orang yang hendak melakukannya adalah seorang yang ‘Alim (benar-benar mengerti) dengan apa yang diperintahkannya atau yang dicegahnya tersebut.

2.Hendaknya amar ma’ruf yang dilakukan TIDAK menyebabkan kemunkaran atau kerusakan yang lebih besar.

3.Orang yang melakukan amar ma’ruf hendaknya memiliki prasangka kuat bahwa yang dilakukannya tersebut bisa berfaedah.

Apabila dua syarat yang pertama tidak dapat dipenuhi, maka HARAM untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Apabila syarat yang ketiga tidak dapat dipenuhi, maka kewajiban amar ma’ruf nahi munkar adalah gugur. [ Tulisan ini disarikan dari kitab Syarah ash-Shawi ‘ala Jauharah at-Tauhid karya syaikh al-Imam al-Faqih Ahmad bin Muhammad al-Maliki ash-Shawi ].

Zina mata dan zina hati

Zina mata adalah penglihatan yang digunakan untuk melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Sedangkan zina hati adalah hati mempunyai keinginan pada yang diharamkan kepada ALLAH.

.كتب على ابن آدم نصيبه من الزنا مدرك له لا محالة العينان زناهما النظر والأذنان زناهما الإستماع واللسان زناه الكلام واليد زناها البطش والرجل زناها الخطا والقلب يهوي و يتمنى و يصدق ذلك الفرج أو يكذبه. الحديث. إسعاد الرفيق : ص : ٦٧

Memandang foto yang mengumbar aurat hukumnya adalah harom :

الحلال والحرام في الإسلام : ص : ١١٣ :

.فتصوير النساء عاريات أو شبه عاريات و إبراز موانع الأنوثة و الفتنة منهن و رسمهن أو تصويرهن في أوضاع مثيرة للشهوات موقظة للغوائر الدنيا كما ترى ذلك واضحا في المجلة والصحف و دور السينما كل ذلك مما لا شك في حرمته و حرمة تصويره وحرمة نشره على الناس وحرمة إقتنائه واتخاذه في البيوت أو المكاتب والمجلات وتعليقه على الجدران وحرمة القصد إلى رؤيته ومشاهدته.

Si   pemberi foto juga ikut berdosa karena termasuk membantu dan perantara pada perbuatan ma’siat :

إسعاد الرفيق ٢/١٢٧

ومنها الإعانة على المعصية أى على معصية من معاصي الله بقول أو فعل أو غيره تم إن كانت المعصية كبيرة كانت الإعانة عليها كذلك

أصول الفقه لمحمد أبو زهرة : ص : ٢٨٨

و بيان ذلك أن موارد الأحكام قسمان مقاصد وهي الأمور المكونة للمصالح والمفاسد في أنفسها أى التي هي في ذاتها مصالح أو مفاسد و وسائل وهي الطرق المقضيةإليها وحكمها حكم ما أفضت إليه من تحليل أو تحريم غير أنها أخفض رتبة من المقاصد في حكمها

Allah swt berfirman :

يعلم خائنة الاعين وما تخفى الصدور

Artinya : Dan (Allah) mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang di sembunyikan oleh hati. (QS. Ghaafir : 19).

Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata:

سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن نظر الفجاءة فأمرنى ان اصرف بصرى

Artinya : Aku bertanya kepada Rasulullah saw dari pandangan tiba-tiba (tidak sengaja) maka beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandanganku. (HR. Muslim).

Makna pandangan tiba-tiba adalah pandangan kepada wanita ajnabiyah tanpa sengaja, tidak ada dosa baginya pada pandangan pertama dan wajib untuk memalingkan pada saat itu juga. Apabila dipalingkan pada saat itu juga maka tidak berdosa tapi apabila terus-menerus memandang, maka berdosa berdasarkan hadist ini. Seorang penyair berkata :

كل الحودث مبدأها من النظر * ومعظم النار من مستصغر الشرر.

كم نظرة بلغت فى قلب صاحبها * كمبلغ السهم بين القوس والوتى.

والعبد ما دام ذا طرف يقلبه * فى اعين الناس موقوف على الخطر.

يسر مقلته ماضر مهجته * لا محر حبا بسر ورعاد بالضرر.

Artinya :

Seluruh malapetaka sumbernya berasal dari pandangan * dan besarnya nyala api berasal dari bunga api yang kecil.

Betapa banyak pandangan yang jatuh menimpa hati yang memandang * sebagaimana jatuhnya anak panah yang terlepaskan antara busur dan talinya.

Selama seorang hamba masih memiliki mata yang bisa ia bolak balik * maka ia sedang berada di atas bahaya di antara pandangan manusia.

Menyenangkan mata apa yang menjadikan penderitaan jiwa * sungguh tidak ada kelapangan dan keselamatan dengan kegembiraan yang mendatangkan penderitaan.

– Dalam shohih bukhori, disebutkan :

ﺍﻟْﻌَﻴْﻦُ ﺗَﺰْﻧِﻲ، ﻭَﺍﻟْﻘَﻠْﺐُ ﻳَﺰْﻧِﻲ، ﻓَﺰِﻧَﺎ ﺍﻟْﻌَﻴْﻦِ ﺍﻟﻨَّﻈَﺮُ، ﻭَﺯِﻧَﺎ ﺍﻟْﻘَﻠْﺐِ ﺍﻟﺘَّﻤَﻨِّﻲ، ﻭَﺍﻟْﻔَﺮْﺝُ ﻳُﺼَﺪِّﻕُ ﻣَﺎ ﻫُﻨَﺎﻟِﻚَ ﺃَﻭْ ﻳُﻜَﺬِّﺑُﻪُ

“Mata itu berzina, hati juga berzina. Zina mata dengan melihat (yang diharamkan), zina hati dengan membayangkan (pemicu syahwat yang terlarang). Sementara kemaluan membenarkan atau mendustakan semua itu.” (HR. Ahmad)

– Syarah ‘Uquudul lujain :

(وَقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُتِبَ عَلَىَ ابْنِ آدَمَ) أي قضى عليه وأثبت في اللوح المحفوظ (نَصِيبُهُ مِنَ الزّنَا) أي مقدماته كما نقله العزيزي عن المناوي (مُدْرِكٌ) أي فهو مدرك (ذَلِكَ)  أي ما كتب عليه (لاَ مَحَالَةَ) بفتح الميم أي لا بد ولا شك (فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النّظَرُ) إلى ما لا يحل (وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ)  إلى ما لا ينبغى شرعا (وَاللّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ) بما لا ينفع دنيا ولا دينا (وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ) أي القهر والأخذ بالعنف (وَالرّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا) بضم الخاء المعجمة  أي نقل الأقدام إلى مل لا يحل (وَالْقَلْبُ يَهْوَى) بفتح الواو أي يحبّ (وَيَتَمَنَّى) مالايحل (وَيُصَدّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ أَوْ يُكَذّبُه) أي بالإتيان بما < ص 17 > هو المقصود من ذلك، أو بالترك. رواه مسلم عن أبي هريرة.

Rosulullah SAW bersabda : Telah di tetapkan atas bani adam,jika tertulis di lauhil mahfudz ia berzina,maka itu akan terjadi, pasti ! Zina kedua mata adalah melihat pada hal yang tidak halal baginya,Zina kedua kuping adalah ketika diperdengarkan pada hal yang tak sepantasnya di dengar menurut syara’. Zina lisan adalah digunakan untuk mengatakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya bagi dunia dan agamanya. Zina tangan adalah merebut paksa. Zina kaki adalah digunakan untuk melangkah / berjalan menuju tempat yang tidak halal baginya. Dan hati ketika ditumpangi syahwat dan berharap sesuatu yang tak halal, adakalanya farjinya ikut membenarkan atau menganggap itu hanya dusta

وقال عليه السلام: {لِكُلِّ ابْنِ آدَمَ حَظٌّ مِنَ الزِّنَا، فَالعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا النَظَرُ، وَاليَدَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا البَطْشُ، وَالرِّجْلاَنِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا المَشْيُ، وَالفَمُ يَزْنِيْ وَزِنَاهُ القُبْلَةُ، وَالْقَلْبُ يَهُمّ أَوْ يَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الفَرْجُ أَوْ يُكَذِّبَهُ} كذا في الإحياء.

Rosul SAW bersabda : Pada setiap bani adam ada bagian dari zina.Kedua mata berzina dan zina keduanya adalah melihat, Kedua tangan berzina dan zina keduanya adalah merampas (mengambil paksa / tanpa hak). Kedua kaki berzina dan zina keduanya adalah digunakan berjalan ke tempat yang tak halal. Mulut berzina dan zinanya adalah melakukan ciuman. Dan hati berangan-angan atau mengharap/menghayalkan sesuatu yang tak halal baginya.

BUKTI BAHWA PANCASILA ADALAH SESUAI DENGAN SYARI’AT ISLAM

Akhir-akhir ini suara-suara untuk menegakkan syariat Islam secara keseluruhan kembali mencuat. Seruan ini disertai dengan usaha-usaha untuk menyebarkan ideologi kekhilafahan Islam sebagai dasar negara menggantikan Pancasila dan UUD 45.

Bagi mereka, Pancasila dengan lambang burung Garudanya merupakan salah satu jenis kemusyrikan dan bahkan layak disebut thagut. Jelas pemikiran seperti ini merupakan hasil pembacaan yang nominalis, pembacaan yang fokus kepada nama, bukan semangat yang dikandung nama tersebut.

Dalam Pancasila, tidak ada sila-sila yang dapat menjerumuskan ke dalam sistem kesyirikan atau ke-thagut-an. Coba perhatikan baik-baik lima sila dalam Pancasila. Semuanya merupakan pesan-pesan yang bersesuaian dengan nilai universal Islam.

Pancasila bukanlah agama baru. Esensi dan fungsinya juga berbeda. Pancasila merupakan falsafah yang dihasilkan dari eksplorasi daya pikir manusia yang tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial politik yang melingkupinya. Ia bersifat “ijtihadi” dan profan. Sementara agama bersumber dari wahyu, suci dan bersifat sakral.

Mengenai hal ini Saifudin Zuhri (1981: 54) mengatakan:

Pancasila dan agama memang berbeda secara esensi dan fungsinya kendati tidak bermusuhan secara antagonistik. Pancasila adalah falsafah (hasil penggalian dan eksplorasi daya pikir manusia menggunakan kecermatan bernalarnya), adapun agama adalah wahyu ilahi (yang bersih dari campur tangan apapun dari manusia). Dalam hubungannya dengan cita-cita kenegaraan Indonesia merdeka, pancasila adalah “political philosophy” untuk menjawab masalah-masalah duniawi bangsa Indonesia dalam arti kenegaraan.

Deklarasi Situbondo

Salah satu keputusan penting tentang hubungan antara Agama dan Negara dalam hal ini pancasila dan Islam adalah perumusan yang dilakukan oleh Nahdlatul Ulama dalam sebuah dokumen yang kemudian dikenal dengan “Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dengan Islam”. Deklarasi tersebut memuat lima butir penegasan sikap yang menafsirkan salah satu sila terpenting dalam Pancasila; Ketuhanan Yang Maha Esa, menurut tafsiran ‘islami’ (Ali Haidar, Nahdlatul Ulama dan Islam di Indonesia Pendekatan Fikih dalam Politik, 1994: 285). Deklarasi tersebut dirumuskan dalam sebuah piagam yang sangat komprehensif dan konklusif dalam sebuah Deklarasi Tentang Hubungan Pancasila dengan Islam. Deklarasi penting itu dirumuskan dalam Munas Alim Ulama NU di Situbondo pada tahun 1983. Pernyataan NU dianggap kontroversial dan menggemparkan saat itu. Bagi yang tidak tahu argumennya akan menentang, tetapi yang mengerti argumennya yang begitu rasional dan sistematis serta proporsional itu banyak yang tertegun dan simpati (Abdul Mun’im DZ, Piagam Perjuangan Kebangsaan, 2011).

Berikut ini bunyi Deklarasi Hubungan Pancasila dan Islam sebagaimana tertuang dalam rumusan Munas Alim Ulama NU di Situbondo tahun 1983:

Bismillahirrahmanirrahim

    Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesi bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.

    Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

    Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah akidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antarmanusia.

    Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya.

    Sebagai konsekuensi dari sikap di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.

Penerimaan NU terhadap pancasila baik sebagai asas tunggal organisasisnya maupun sebagai dasar Negara dapat disimpulkan karena dua hal; pertama, karena nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila itu sendiri merupakan sesuatu yang baik (maslahat). Kedua, alasan penerimaan pancasila ini karena fungsinya sebagai mu’ahadah atau mitsaq. Yakni sebuah kesepakatan, antara umat Islam dengan golongan lain di Indonesia untuk mendirikan Negara (Ali Haidar, 1994: 289-290). Satu tahun setelah deklarasi Situbondo NU menggelar Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo, Jawa Timur. Muktamar ini adalah muktamar NU yang menjadi catatan sejarah penting yang menandai hubungan antara NU dan Pancasila. Dalam muktamar ini, di samping memutuskan NU kembali ke Khittah 1926, NU secara tegas menerima pancasila sebagai asas organisasi. Asep Saeful Muhtadi (2004) menegaskan: “NU merupakan ormas (organisasi massa) Islam yang pertama menerima pancasila sebagai satu-satunya asas di satu pihak, meskipun di pihak lain, secara formal sesungguhnya belum ada ketentuan yang mengharuskan ormas apapun untuk menerima pancasila sebagai asas organisasi, karena pada saat itu kewajiban tersebut baru berlaku bagi organisasi-organisasi politik.”

Pertanyaannya kemudian, apakah sikap kebangsaan dan kenegaraan NU sebagaimana dijelaskan di atas berkaitan dan atau bahkan merupakan impelementasi dari paham dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja)? Jawaban atas pertanyaan ini bisa dilihat dari apa yang disampaikan oleh KH. Ahmad Siddiq (Rais Aam PBNU 1984-1991). Beliau menjelaskan bagaimana pandangan NU tentang kehidupan bernegera seperti berikut:

    Negara nasional (yang didirikan bersama oleh seluruh rakyat) wajib dipelihara dan dipertahankan eksistensinya;

    Penguasa Negara (pemerintah) yang sah harus ditempatkan pada kedudukan terhormat dan ditaati, selama tidak menyeleweng, memerintah ke arah yang bertentangan dengan hukum dan ketentuan Allah;

    Kalau terjadi kesalahan dari pihak pemerintah, cara mengingatkannya lewat cara yang sebaik-baiknya. (KH. Ahmad Siddiq, 1979: 39)

Pemikiran NU yang melandasi pandangan di atas ini sebenarnya dapat dengan mudah dilacak pada konsep bernegara dalam madzhab Syafii. Dimana dalam pandangan ini, Negara dipilah ke dalam tiga jenis: Dar Islam (Negara Islam), Dar Harb (Negara Anti-Islam), dan Dar Sulh (Negara Damai). (Wahid, 1996: 5, dan Asep Saeful Muhtadi, 2004: 132). Dengan demikian, tidaklah mengherankan bilamana NU hampir selalu berada di garda terdepan dalam mengawal pancasila. Sebab, dalam sejarahnya NU adalah ormas pertama yang menggunakannya sebagai asas organisasi.

Bagi kita yang akrab dengan pemikiran al-Ghazali, as-Syatibi, Izzudin bin Abd Salam, al-Qaffal, Ibnu Asyur, Allal al-Fasi, ar-Raysuni dan lain-lain, ketika membandingkan semangat nilai yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 45 dengan nilai-nilai universal Islam lewat kacamata pemikiran mereka, niscaya kita akan sampai kepada kesimpulan bahwa kedua dasar negara ini sesuai dengan maqasid syariah.

Sila pertama, ke-Tuhan-an Yang Maha Esa. Sila ini dulu menjadi perdebatan yang hangat di kalangan pendiri bangsa. Dulu sebutannya ialah ‘ketuhanan dengan menjalan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’ atau sering juga disebut sebagai Piagam Jakarta. Namun karena ada ketidaksetujuan di sana-sini, sila ini kemudian diubah menjadi ‘ke-Tuhan-an Yang Maha Esa’.

Jika dibandingkan antara redaksi ‘ke-Tuhan-an Yang Maha Esa dan redaksi ‘ketuhanan dengan menjalan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’, ternyata yang lebih bernilai tauhid atau yang lebih bersemangat keesaan Tuhan ialah yang pertama. Sedangkan yang kedua, penyebutan ketuhanan, apalagi dengan t kecil, tidak menekankan makna tauhid yang sebenarnya.

Karena itu, sila yang sekarang digunakan jelas sangat bersesuaian sekali dengan semangat kemahaesaan Tuhan yang digaungkan dalam berbagai ayat-ayat al-Quran. Hal demikian misalnya dapat dilihat pada beberapa ayat seperti QS. An-Nisa: 36, QS. al-An’am: 151, QS. an-Nur: 55, QS. Yusuf: 40, QS. Ali Imran: 64 dan masih banyak lainnya. Semua ayat ini mengandung arti perintah selalu untuk mengesakan Tuhan. Sementara itu musuh utama kemahaesaan Tuhan dan keserbamutlakannya ialah sikap mengesakan suatu pendapat sebagai satu-satunya kebenaran dan sikap memutlakkan yang seharusnya tidak berhak dimutlakkan. Gerakan mengkafir-kafirkan orang hanya karena berpaham Pancasila jelas merupakan lawan dari semangat tauhid.

Sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Jika kita menolak semangat yang terkandung dalam sila kedua dari Pancasila ini, berarti dengan sendirinya kita menolak menjalin hubungan baik dengan manusia secara beradab dan berakhlak. Konsekwensi logisnya, kalau kita menolak berhubungan baik dengan manusia, sebutan yang pas untuk kita ialah manusia tak bermoral, barbar dan biadab. Na’udzu billah! Dalam al-Quran, banyak sekali ayat-ayat yang berbicara mengenai posisi manusia dan kemanusiaan. Hal demikian misalnya seperti yang dapat kita perhatikan pada QS. At-Taghabun: 3, Hud: 61, Ibrahim: 32-34, Luqman: 20, ar-Rahman: 3-4, al-Hujurat: 13, al-Maidah: 32 dan lain-lain.

Membunuh manusia hanya karena alasan mereka kafir, musyrik menurut pandangannya jelas sangat bertentangan dengan ayat ini. Nabi saja diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia agar mereka menjadi manusia seutuhnya. Jika ada seorang muslim yang tidak memiliki sifat perikamanusiaan, maka dia bertentangan dengan al-Quran dan hadis nabi. Dalam hadis-hadisnya, Nabi sering mendefinisikan seorang muslim sebagai man salima al-muslimun min yadihi wa lisanihi “orang yang mampu menjaga lidah dan tangannya untuk tidak menyakiti sesama.” Jadi orang yang tidak menjaga lidah dan tangannya, dalam definisi hadis Nabi ini, layak disebut sebagai bukan muslim. Artinya sebagai manusia muslim kita harus berperikemanusiaan.

Sila ketiga, persatuan Indonesia. Dalam al-Quran, persatuan merupakan prinsip terpenting dalam membangun komunitas. Dalam al-Quran, ditemukan banyak sekali anjuran untuk bersatu dan kecaman terhadap perpecahan. Bahkan persatuan disebut al-Quran sebagai tali Allah. Hal demikian seperti yang dapat kita lihat pada  QS. Ali Imran: 64, 102-107. Semangat persatuan juga dapat kita temukan dalam beberapa ayat al-Quran seperti dalam QS. al-An’am: 153, QS. ar-Rum: 30-32, QS. al-Bayyinah: 1-5 dan lain-lain. Di dalam prakteknya di negara Madinah, Nabi menjalin persatuan dengan kelompok-kelompok sosial dari kalangan Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani, dan kalangan orang musyrik seperti Bani Khuza’ah, Bani Juhainah dan lain-lain yang kemudian dikenal sebagai Piagam Madinah.

Nabi mengajak semua elemen masyarakat untuk bersatu jika kemudian diserang oleh pihak musuh, yakni kaum Musyrik Quraish. Jika dengan kelompok non-muslim saja Nabi menjalin persatuan di negara Madinah, seharusnya umat Islam juga bersatu padu dan bahu membahu dalam kebaikan dengan kelompok selain mereka. Indonesia dengan berbagai macam suku, agama, budaya mampu menyatukan elemen-elemen masyarakat. Dalam perspektif Islam, Indonesia telah mengamalkan semangat al-Quran dan sunnah Nabi untuk menjalin dan menjaga persatuan dari tataran terkecil sampai tataran terbesar.

Jika menolak sila persatuan dan semangatnya ini, berarti  dengan sendirinya kita mendukung perpecahan dan kerusakan dan itu artinya kita dapat pula disebut sebagai pembuat keonaran dan pemecah belah umat. Jadi banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan kita untuk bersatu.

Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Semangat yang terkandung dalam sila ini ialah semangat untuk melawan segala bentuk tirani yang terejawantahkan ke dalam sistem totalitarianisme dan otoritarianisme dalam pemerintahan. Semangat melawan tirani  ini jelas semangat yang quranik, karena Islam menolak dengan tegas kekuasaan yang terpusat kepada individu atau segelintir elit tertentu. Kekuasaan yang terkumpul pada satu individu tertentu sangat rawan untuk disalahgunakan dan rawan dari kekeliruan dalam mengambil keputusan dan kebijakan. Dalam al-Quran ilustrasi tentang pemusatan kekuasaan dan kebenaran hanya pada satu sosok tertentu terletak pada model kepemimpinan Fir’aun.

Untuk menghindari itu, al-Quran membuka kanal berupa musyawarah dan pembagian tugas dan wewenang (kullukum ra’in) sebagai solusi agar kekuasaan tidak  terpusat kepada satu sosok pemimpin. Nabi dalam QS. Qaf: 45 sering disebut sebagai wa ma anta alayhim bi-jabbar “Kamu bukanlah tipe orang yang bertindak semena-mena terhadap mereka” dan dalam QS. al-Ghasyiyah: 22 sebagai lasta alayhim bi-musaytir “Kamu bukanlah tipe orang yang otoriter”.  Dua ayat ini cukup untuk dijadikan rujukan bahwa dalam Islam, tipe kepemimpinan yang otoriter sangatlah dilarang. Ditambah lagi dengan penegasan untuk selalu bermusyawarah seperti yang dapat dilihat pada QS.  al-Baqarah: 233, Ali Imran: 159 dan as-Syura: 38 dan semangat pembagian kerja atau perwakilan seperti yang dapat kita temukan pada QS. an-Nisa: 35 dan QS. Yusuf: 55.

Jika kita menolak sila keempat dari Pancasila ini, berarti dengan sendirinya kita menolak sistem perwakilan dan musyawarah serta mendukung sistem otoriter dan itu artinya kita mengadopsi sistem otoritarianisme yang kufur.  Semangat perwakilan dan

Sila kelima, keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Jika mereka menolak Pancasila, berarti mereka mengabaikan keadilan dan membela kezaliman. Sila kelima dalam Pancasila sangat menjunjung tinggi keadilan, semangat yang selalu digaungkan al-Quran dalam berbagai ayat-ayatnya. Dalam al-Quran, menjunjung tinggi keadilan merupakan bentuk amal yang dekat dengan ketakwaan. Ayat-ayat yang berbicara mengenai keadilan dapat dilihat pada QS. An-Nisa: 58, 135, al-Maidah: 8, al-An’am: 152-153, al-A’raf: 29, Hud: 84-86 dan lain-lain.

Lebih jauh lagi, jika kita menolak UUD 45 yang bersemangat anti-penindasan dan penjajahan, berarti dengan sendirinya kita pro-penindasan dan pro-penjajahan. Jika demikian halnya, sebagian kita yang melakukan aksi-aksi penindasan yang mengatasnamakan Islam sebenarnya merupakan musuh Islam yang nyata dan musuh bagi Indonesia yang islami ini.  Dengan pendasaran teologis terhadap Pancasila dan UUD 45 melalui semangatnya yang sangat quranik, jelaslah bahwa tidak tepat jika kedua dasar sistem kenegaraan kita ini dianggap sebagai tidak Islami.

Meski secara nama, Pancasila dan UUD 45 tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunnah, namun seperti yang ditegaskan imam al-Ghazali, yang islami itu bukan sekedar yang ma nataqa an-nash ‘apa yang ada dalam al-Quran dan Sunnah’ tapi lebih dari itu, yakni, yang ma wafaqa as-syar’a ‘yang sesuai dengan semangat syariat’. Pandangan ini cukup untuk membantah keyakinan bahwa semua hukum buatan manusia itu produk kekufuran. Selagi hukum tersebut bersesuaian dengan syariat, tidak menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yang halal, maka jelas Pancasila dan UUD 45 sangatlah islami.

Singkatnya, siapa pun orangnya dan apapun pahamnya yang tegas-tegas menolak keesaan Allah, menentang kemanusiaan, memecah belah persatuan, mengadopsi otoritarianisme dan menghancurkan sendi-sendi keadilan itulah thagut sebenarnya. Jika jaringan teroris yang mengatasnamakan Islam melawan ini semua, bukankah dengan sendirinya mereka itu salah satu thagut yang harus kita perangi?

Wallahu a’lam.

RUMAH YANG ADA PATUNG ATAU WAYANG GOLEK

Berikut adalah 5 persyaratan yang disepakati para ulama’ tentang keharaman gambar / patung :

1.Berbentuk manusia atau hewan

2.Berbentuk sempurna, tidak dibikin pengurangan anggota tubuh dengan bentuk yang menghalangi untuk hidup. Seperti terpotong kepalanya, terpotong sebagian kepalanya, perutnya, dadanya, dilubangi perutnya, memisah anggota-anggota tubuh menjadi dua bagian.

3.Gambar/gambarnya terletak pada tempat yang diagungkan, bukan pada tempat yang direndahkan dengan terinjak atau terhinakan.

4.Adanya bayangan bagi gambar/patung tersebut yang terlihat secara jelas. (Yang dimaksud adalah berbentuk 3 Dimensi: pent.)

5.Bukan diperuntukkan bagi anak perempuan.

Jika salah satu syarat dari 5 (lima) tidak ada maka termasuk hal yang diperselisihkan hukumnya di kalangan para ulama. Namun meninggalkan untuk hal yang diperselisihkan itu lebih wara’ dan lebih hati-hati.

Jika terpenuhi kelima syarat tersebut maka wajib untuk ditinggalkan dan diingkari dengan pelarangan / pencegahan. Wallahu a’lam.

Referensi:

~ Majmû Fatâwâ wa Rosâil lil Imam as-Sayyid Alwiy al-Malikiy al-Hasaniy, al-maulûd 1328 H wal-mutawaffâ 1391 H. Halaman 213-214.

فعلم أن المجمع على تحريمه من تصوير الأكوان ما اجتمع فيه خمسة قيود عند أولي العرفانأولها ؛ كون الصورة للإنسان أو للحيوانثانيها ؛ كونها كاملة لم يعمل فيها ما يمنع الحياة من النقصان كقطع رأس أو نصف أو بطن أو صدر أو خرق بطن أو تفريق أجزاء لجسمان ثالثها ؛ كونها في محل يعظم لا في محل يسام بالوطء والامتهانرابعها ؛ وجود ظل لها في العيان خامسها ؛ أن لا تكون لصغار البنان من النسوان

فإن انتفى قيد من هذه الخمسة . . كانت مما فيه اختلاف العلماء الأعيان . فتركها حينئذ أورع وأحوط للأديان . ولا ينكر على فاعلها إنكار زجر كفاعل ما أجمع على تحريمه من أمور العصيان ، لأن اختلاف علماء الأمة رحمة من الرحمن بل بالنصح والإرشاد إلى خروج من خلاف العلماء كما عليه أهل الكمال وسد ذرائع الفساد في الزمان . وعند تكامل القي يجب تركها على الإنسان وينكر عليه بالزجر لخرقة إجماع أهل العلم وهو سبب لاستحقاق النيران لازلنا في عافية من المنان

~ MAJMÛ FATÂWÂ WA ROSÂIL Lil Imam as-Sayyid Alwi al-Maliki al-Hasaniy (1328 H -1391 H). Hal. 212-213 :

وحاصل ما أجاب به هو ؛١ ـ أن تصوير الصورة إن كانت حيوانية كاملة لها ظل لغير لعب البنات الصغار محرم بإجماع الأئمة الكبار ولا يؤخذ لها ثمن ولا أجرة كما صرح به أهل الاعتبار ولا تدخل ملائكة الرحمة في محلها ، وفاعلها مستحق العذاب في جهنم مكلف بنفخ الروح فيها وليس بنافخ عافانا الله من ذلك

  1. Membentuk / membuat patung / boneka jika berupa hewan yang sempurna, yang mempunyai bayang-bayang, untuk selain mainannya anak-anak perempuan yang kecil itu diharamkan dengan kesepakatan para ulama’ yang agung, dan tidak dipungut harga atau ongkos dari patung tersebut sebagaimana penjelasan pakar i’tibar dan malaikat rahmat tidak masuk ke tempat tersebut, pembuatnya dilaknat dan mendapat siksa di neraka jahannam, dibebani meniupkan roh pada patung yang dibuatnya dan dia bukanlah orang yang bisa meniupkan roh, semoga Allah menyelamatkan kita dari hal demikian.

٢ ـ وإن كانت الصورة حيونية لها ظل لكنها ناقصة نقصا يمنع الحياة بقطع الرأس أو النصف أو الصدر أو خرق البطن أو أي عضو لا حياة بعده أو تغيب ذلك بصبغ مغير أو تفريق الأجزاء كانت مباحة في المذاهب الأربعة

  1. Jika patung/boneka berupa hewan yang mempunyai bayangan, akan tetapi patung tersebut terdapat kekurangan yang mencegah untuk hidup, seperti dengan terpotongnya kepala atau separuh kepala atau dada atau perutnya berlubang atau terpotongnya anggota yang mana saja yang tidak bisa hidup setelahnya. Atau tidak adanya anggota-anggota tersebut dengan bentuk yang dirubah atau memisahkan bagian-bagian anggota, maka hal tersebut diperbolehkan menurut madzhab 4.

٣ ـ وإن كانت الصورة حيوانية كاملة لكن لا ظل فها هنا تفصيل وهو أنها إن كانت في محل ممتهن كبساط وحصير ووسادة وفراش ونحوها كانت مباحة أيضا في المذاهب الأربعة إلا أن المالكية قالوا فعل هذا خلاف الأولى وليس مكروها

  1. Dan jika berbentuk hewan yang sempurna, akan tetapi tidak mempunyai bayangan, maka diperinci, jika berada pada tempat yang terhina/remeh/rendah seperti permadani, tikar, bantal, dan kasur atau semacamnya, maka hal ini juga diperbolehkan menurut madzhab 4, hanya saja malikiyah berpendapat perbuatan tersebut khilaful aula (menyelisihi pada yang lebih utama) dan tidak makruh.

٤ ـ وإن كانت هذه الصورة الحيوانية الكاملة التي لا ظل لها في محل غير ممتهن كحائط وقبة ومنارة وستر معلق وورق وسقف منعت عند الحنفية والشافعية والحنابلة ، وكرهت بلا تحريم عند المالكية ، وأبيحت عند بعض السلف والقاسم بن محمد أحد فقهاء المدينة وعمران بن حصين الصحابي ، وأجاز القاسم بن محمد المذكور وابن القاسم وأصبغ من المالكية والليث تصويرها في الثياب ، والجمهور فلم يقولوا بجواز الصورة الحيوانية الكاملة التي لا ظل لها إن كانت في محل غير ممتهن ، ومنعها الزهري مطلقا وإن كانت في ممتهن

  1. Dan jika patung / gambar hewan yang sempurna yang tidak mempunyai bayangan itu berada di tempat yang tidak hina/rendah, seperti: tembok, kubah, menara, tutup/satir yang digantungkan, kertas, dan atap, maka menurut hanafiyah, syafiiyah dan hanabilah dilarang. Menurut madzhab mallikiyah hukumnya makruh.

Kesimpulan :

1.BOLEH. Jika dibentuk hanya sampai pinggangnya

2.HARAM. Jika dibentuk sampai sempurna, baik menyertakan lengkap dua kaki atau satu kaki atau dibentuk sampai bawah tulang pinggul, maksud kata “sempurna” di atas adalah bentuk yang mungkin hidup bila ditiup ruh.

Wallohu a’lam.

MEMBERIKAN STATUS MURTAD KEPADA SESAMA MUSLIM

Sekarang ini, saya masih dapat membaca hadirnya fenomena memberikan status murtad kepada sesama umat islam. Sejujurnya saya terkejut, karena pengafiran ini justru muncul di grup diskusi dunia maya yang mengusung nama “tasawuf”. Biasanya para ahli tasawuf adalah ahli-ahli yang mampu menyelami seluk beluk hati sehingga dapat lebih berhati-hati dan tidak terburu-buru dalam menghakimi. Saya pikir kekeruhan hati seperti ini sudah musnah dari dunia tasawuf. Ternyata saya salah….

Keterkejutan itu tak bertahan lama, akhirnya tak lama kemudian saya tersenyum, saya lupa bahwa ini adalah grup diskusi dunia maya, yang penulisnya bisa siapa saja. Bukan tak mungkin dari golongan non-muslim, atau bahkan dari musuh-musuh islam yang menyusup.

Jika pelakunya adalah musuh islam yang disusupkan seperti pada kasus SHR, maka saya tidak usah berkomentar banyak.  Mereka memang diperintahkan untuk mempelajari islam. Tidak untuk mengimaninya, melainkan untuk mencari kelemahannya kemudian menghancurkannya.

Biasanya taktik kotor ini mudah dideteksi. Mereka biasanya melakukan agitasi, kampanye (propaganda) pada mas media dan elektronik dengan gencar dan memiliki frekuensi tinggi, sehingga orang-orang yang masih sederhana pola pikirnya, mudah terhasut dan akhirnya membenarkan.

Propaganda pikiran jahat itu dimulai dari penterjemahan, interpretasi dan penyajian serta pengacauan fakta-fakta yang menyimpang, kasar, halus dan disengaja.

Distorsi dan mis-interprestasi ini betul-betul dikemas dengan kepiawaian bahasa mereka dan logika yang menipu sehingga “para pencari” kesulitan atau benar-benar tidak memahami aspek islam yang sebenarnya. Mereka terperangkap kebohongan yang berhias kefasihan, dan akhirnya menelan pil-racun yang berlapis gula kebohongan dan mengikuti tulisan tersebut.

Tetapi jika hal itu dilakukan oleh sesama umat islam, maka diamnya saya hanya menghasilkan dosa. Maka izinkan saya berbicara. Maaf jika ada yang tersindir / tersinggung. Dan inilah tausyiah / nasihat bagi mereka :

  1. JANGAN KAU GELAPKAN AKHIRATMU DENGAN MENDZHALIMI MEREKA

Saudaraku, ketika engkau mengutuk, memberikan status murtad atau kafir, atau mendoakan saudaramu agar celaka, maka setan berkata dengan suara merdu, “Aku sangat berterimakasih kepadamu lebih dari semua makhluk yang ada di muka bumi. Karena permohonanmu agar saudaramu sesama islam dicelakakan, telah dikabulkan oleh Allah. Dengan cara itu, engkau telah meringankan bebanku.

  1. JANGAN KAU SAKITI MEREKA DENGAN KEBODOHANMU DALAM BERMUAMALAH

Saudaraku, mungkin cerita ini bisa memberimu pencerahan :

Umar ra. Bertanya kepada Khudzaifah bin yaman : “Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai khudzaifah ?” Khudzaifah menjawab: “Pagi ini aku menyukai fitnah, membenci kebenaran (haq), shalat tanpa berwudhu dan aku memiliki sesuatu di muka bumi, apa yang tidak dimiliki oleh Allah di langit.”

Mendengar jawaban itu maka Umar marah. Ali karramallahu wajhah datang menemuinya dan berkata kepadanya : “Di wajahmu terlihat tanda kemarahan, wahai amirul mukminin.” Kemudian Umar menceritakan kepada Ali tentang apa yang menyebabkannya marah kepada Khudzaifah.

Kemudian Ali berkata : “Sungguh benar Khudzaifah. Adapun kecintaan kepada fitnah berarti kecintaan kepada harta dan anak-nak, sebagaimana Allah berfirman dalam Al Quran “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (fitnah) (bagimu) (QS At Taghaabun (64):15). Adapun dia membenci kebenaran (haq) berarti dia membenci kematian, karena kedatangan kematian adalah benar (haq). Dan shalat tanpa berwudhu berarti shalawatnya atas Nabi saw. Adapun yang dimilikinya di muka bumi yang tidak dimiliki oleh Allah di langit berarti dia memiliki istri dan seorang anak, sedangkan Allah tidak beristri dan beranak. Hal ini sebagaimana firman Allah “Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan” (QS Al Ikhlash : 3)

Umar berkata : “Demi Allah, engkau telah membuatku puas dan lega.”

Saudaraku, berapa banyak orang yang mencela ucapan yang benar hanya  karena pemahamannya yang buruk.

Apalagi ilmu hikmah sangat pelik dan mendalam. Hikmah adalah karunia Allah. Suatu ilmu yang paling agung, suatu kebaikan yang paling utama dan merupakan dasar keutamaan, dan induk segala kebaikan. Hanya segelintir orang yang diberikan kebijakan berupa hikmah, sebagaimana Allah berfirman : “Allah menganugerahkan Al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar Telah dianugerahi karunia yang banyak. dan Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS Al Baqarah : 269)

Hikmah itu berasal dari kesempurnaan Dzat Allah swt dan keberlangsungan eksistensinya yang terus menerus, tiada pernah berakhir. Allah memberikannya kepada orang-orang pilihan-Nya. Jarang orang mendapatkannya kecuali ia telah meninggalkan keduniawian, menundukkan hawa nafsunya sambil membawa ketakwaan, ke-wara-an, ke-zuhud-an hakiki dan masuk ke jalan orang-orang yang didekatkan dengan Allah, dari kalangan malaikat atau hamba-hamba-Nya yang shalih, sehingga Allah menganugerahinya suatu ilmu, lalu memberinya hikmah dan kebaikan. Menghidupkannya dengan kehidupan yang baik, dan memberikan cahaya yang mampu menuntunnya di dalam kegelapan jalan dunia. Sebagaimana firman Allah : “Dan apakah orang yang sudah mati. Kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? (QS Al An Am : 122)

Nah saudaraku, cerita di atas menceritakan kepadamu perbedaan antara orang yang telah diberi ilmu hikmah dan orang yang belum diberi ilmu hikmah. Perbedaannya tampak mencolok, bagaikan perbedaan langit dan bumi. Tetapi bukan itu yang ingin diketengahkan hari ini, inti dari cerita di atas adalah bahwa jika engkau telah mendapatkan ilmu hikmah, maka engkau akan dapat memandang sesuatu hal secara dalam dan arif. Pemahaman terhadap ilmu Allah terpancar dari wajah dan bahasa. Keputusanmu bukanlah keputusan serampangan, melainkan dengan hujah (dalil) yang nyata sehingga keputusanmu adalah keputusan yang bercahaya, sehingga dengan demikian, engkau dapat menyelematkan seseorang dari fitnah dan kebodohan orang lain.

Tetapi, ketahuilah olehmu saudaraku, bahwa kajian-kajian Ilahiah dan pengetahuan-pengetahuan ketuhanan sangatlah tersembunyi, suatu jalan yang pelik. Barang siapa yang ingin menyelami lautan pengetahuan Ilahi dan mendalami hakikat ketuhanan, maka ia harus menempa diri dengan latihan-latihan (riyadhah) ilmiah dan amaliah serta memperoleh kemampuan bawaan (malakah) untuk menanggalkan beban berat di badannya, untuk kemudian naik ke kerajaan langit. Dan di situlah engkau akan “menemukan” Tuhan, dan merasa nyaman dalam pangkuan-Nya.

Ingatlah, bahwa sebagian kaum memiliki kebencian terhadap perbedaan paham lawannya. Kebencian ini membuat ia sibuk mendistorsi fakta-fakta mengenai islam, sehingga secara tak langsung mereka menghancurkan islam dari dalam. Semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut.

Semoga engkau termasuk ke dalam golongan yang didekatkan oleh Allah kepada-Nya. Sehingga dengan kedekatanmu, Allah menganugerahimu ilmu hikmah yang akan menerangi jalanmu di dunia ini. Amin…

  1. BIARKAN ALLAH BESERTA HAMBANYA

Saudaraku, walaupun abu jahal dikenal sebagai salah seorang dari musuh Rasul senior, kenyataannya Nabi masih menasihatinya secara personil.

“Wahai abu jahal”, nabi memulai, “tahukan kamu cerita nabi Ibrahim ketika beliau diangkat oleh Allah ke alam malakut (alam malaikat) dan ke tempat yang sedikit di bawah langit. Dari sana ia diberikan oleh Allah suatu kekuatan sehingga bisa menyaksikan apa yang dilakukan oleh manusia di dunia, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.

Ketika dilihatnya dua orang yang sedang berzina, Ibrahim mengangkat kedua tangannya dan berdoa memohon kutukan dan kecelakaan bagi mereka. Doa ini dikabulkan. Kemudian Ibrahim melihat dua orang lain yang melakukan hal yang sama. Dipanjatkannya lagi doa kutukan sampai keduanya celaka. Sampai Ibrahim melakukan hal tersebut untuk ketiga kalinya.

Melihat hal itu, Allah berfirman kepada nabi Ibrahim : Wahai Ibrahim, tahanlah doamu kepada mereka. Sungguh Aku adalah Allah yang maha pengampun dana maha penyayang. Dosa hamba-hambaku tidak merugikanku, sebagaimana ketaatan mereka tidak akan menambahkan apa-apa bagiku. Aku tidak mengatur mereka dengan cara melampiaskan rasa murka seperti halnya yang kau lakukan. Tahanlah doamu dari hamba-hambaku, yang laki-laki dan perempuan karena engkau hanya seorang hamba yang bertugas memberikan peringatan. Engkau tidak bersekutu denganku dalam kerajaan-Ku. Engkau tidak mempunyai kuasa terhadap-Ku dan terhadap hamba-hambaKu. Hamba-hambaku berada di antara tiga sifat

Pertama, mereka yang memohon ampun dariKu. Aku ampuni mereka. Aku maafkan kesalahan-kesalahan mereka dan aku sembunyikan aib-aib mereka.

Kedua, hamba-hamba-Ku yang Ku tahan mereka dari azab-Ku karena Ku tahu kelak dari sulbi mereka akan lahir anak keturunan yang beriman. Aku bersikap lunak kepada ayah-ayah mereka mereka dan tidak terburu-buru terhadap ibu-ibu mereka. Aku angkat azabku agar hambaku yang mukmin itu bisa keluar dari sulbi mereka. Apabila mereka dan anaknya sudah terpisah, maka akan datanglah saat azab-ku dan turunlah bencana-Ku.

Ketiga, mereka yang bukan dari golongan pertama dan kedua. Untuk mereka telah ku siapkan azab yang lebih besar dari kau (Ibrahim) inginkan. Karena azab-ku terhadap hamba-hambaku berdasarkan keagunganKu dan kemahaperkasaanKu.

Wahai Ibrahim, biarkan antara Aku dan hamba-hamba-Ku. Karena Aku lebih kasih terhadap mereka dibandingkan dengan engkau, dan Aku adalah Allah yang maha kuasa, maha sabar, maha mengetahui dan maha bijaksana. Aku mengatur mereka dengan ilmu-Ku dan Aku laksanakan terhadap mereka ketentuan dan takdir-Ku.

  1. UCAPAN KOTOR BERASAL DARI HATI YANG KOTOR

“Wahai saudaraku, sesungguhnya orang kau murtadkan telah menemui Rabb-nya. Dan ingatlah bahwa ketika engkau kelak menghadap pula kepada Allah Azza wa Jalla. Engkau pasti akan sadar bahwa dosa terkecil yang pernah engkau lakukan di dunia jauh lebih berat bagimu dibandingkan kejahatan terbesar yang dilakukan oleh orang yang kau murtadkan.

Di hari itu (kiamat), engkau tidak akan pernah memikirkan dosa terbesar oleh orang yang kau murtadkan, walaupun ia begitu besar. Sebab engkau hanya memikirkan dirimu sendiri, walaupun dosa itu mungkin tidak sebanding dengan kedzaliman orang yang kau murtadkan. Ya, saudaraku, masing-masing kalian kelak akan sibuk dengan dirinya sendiri.

Ketahuilah saudaraku, bahwa Allah azza wa jalla akan menuntut balas pada orang yang kau murtadkan, terhadap orang-orang yang didzaliminya. Sebagaimana juga Ia akan menuntut balas kepada orang-orang yang mendzalimi orang yang kau murtadkan, untuknya. Maka bila engkau hari ini mendzalimi orang yang kau murtadkan, pasti Allah akan menunututmu di akhirat akibat kedzaliman itu.

Berhati-hatilah menjelek-jelekan siapapun dengan kata-kata kotor. Termasuk orang yang kau berikan status murtad. Allah tidak akan membiarkanmu menodai dan mengotori majelisnya dengan celaan dan kebencian kepada siapa saja.

  1. TIRULAH RASUL DALAM MELURUSKAN KESALAHAN ORANG

Wahai saudaraku, ketika engkau memurtadkan saudaramu sesalam muslim, tanyakanlah kepada dirimu sendiri, “Kira-kira, manakah yang lebih baik, Dirimu atau Nabi Musa?” Jawabanmu pastilah, “Sudah tentu Nabi Musa lebih baik daripada saya.”

Lalu tanyakanlah pertanyaan kedua,  “lalu, siapakah menurut pendapatmu yang lebih jahat, orang yang kau murtadkan atau Firaun?” Tentu jawabanmu adalah, “Pada hemat saya, Firaun masih lebih jahat daripada orang yang saya murtadkan.”

Maaf, saudaraku. Seingat saya, bagaimana pun jahatnya Firaun, sampai ia mengaku tuhan, dan bertindak kejam kepada umat Nabi Musa, malah telah merebus hidup-hidup dayang-dayang putrinya yang bernama Masyitah beserta susuannya, pun Nabi Musa diperintahkan Allah untuk berkata dengan lemah lembut kepada si zalim itu. Tolong dapatkah Tuan membacakan buat saya perintah Allah yang dimuat dalam Al-Quran Surat Thoha ayat 44 tersebut?” “Berikanlah, hai Musa dan Harun, kepada Firaun nasihat-nasihat yang baik dengan bahasa yang halus, mudah-mudahan ia mau ingat dan menjadi takut kepada Allah.” (QS Toha : 44)

Karena itu, pantas bukan kalau saya meminta Tuan untuk menegur orang yang salah dengan bahasa yang lebih sopan dan sikap yang lebih bertata krama? Lantaran Tuan tidak sebaik Nabi Musa dan orang yang tuan murtadkan tidak sejahat Firaun? Ataukah barangkali Tuan mempunya Al-Quran lain yang memuat ayat 44 surat Thaha itu?”

Saudaraku, hatimu mungkin tidak puas, rasanya masih ingin mengutuk dengan kalimat yang lebih garang dan keras. Akan tetapi, bagaimanapun pahitnya, perintah Allah harus dipatuhi, ayat Al-Quran harus dipegang.

Kutiplah surah An-Nahl ayat 125 yang berbunyi : “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana, dengan nasihat yang baik.

Jika seseorang melihat bahwa ada saudaranya sesama muslim menyimpang, mengapa ia tidak menyayangi saudaranya dengan meluruskannya ? Tidak hanya berkoar memurtadkan orang lain, sementara ia sendiri tidak melakukan perbaikan.

  1. Seyogianya seseorang tidak mencampur adukkan pendapat pribadi pada hal-hal yang menjadi hak prerogatif Allah.

Pengafiran dan pemurtadan adalah hak prerogatif Allah, bukan hak manusia. Tahanlah ucapan-ucapanmu dari hamba-hamba Allah, yang laki-laki dan perempuan karena engkau hanya seorang hamba yang bertugas memberikan peringatan. Engkau tidak bersekutu dengan Allah dalam kerajaan-Nya, juga tidak bersekutu dalam surga dan neraka-Nya. Engkau tidak mempunyai kuasa terhadap-keputusan Allah dan terhadap hamba-hamba-Nya.

Sebelum seorang menggenggam surga dan neraka di kedua tangannya, ia tidak boleh memberikan status kafir atau murtad kepada sesama muslim.

  1. TAHUKAH ENGKAU

Berhati-hatilah  saudaraku, barangkali orang yang sekarang engkau beri status murtad, bisa jadi memiliki lautan kebaikan di masa sebelumnya – maka – bisa jadi kesalahan itu telah lenyap di tengah lautan kebaikannya.

Atau barangkali ketika engkau memberikan status murtad kepadanya, ia sudah bertaubat lama, dan menggantikan kesalahannya dengan kebaikan yang melangit. Sehingga status murtad yang engkau berikan akhirnya menjadi fitnah dan dosa untukmu.

Nah saudaraku, semoga kita semua diberkahi Allah, sehingga tidak melangkahi kuasa-Nya. Amin.

INILAH SHOLAWAT DARI SYAIKH AHMAD TIJANY RA SELAIN SHOLAWAT FATIH

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تَعْدِلُ جَمِيْعَ صَلَوَاتِ أَهْلِ مَحَبَّتِكَ . وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَلاَمًا يَعْدِلُ سَلاَمَهُمْ .

Artinya:” Ya Allah berikanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebenar-benar shalawat yang menyamai seluruh shalawat ahli mahabbah kepada-Mu. Dan berikanlah salam kepada Nabi Muhammad serta keluarganya sebenar-benar salam yang menyamai seluruh salam ahli mahabbah kepada-Mu.”

Penjelasan:

Shalawat ini disebut oleh sebagian ulama dengan nama shalawat Ahlul Mahabbah. Shalawat ini salah satu shalawat yang ditalqinkan oleh Rasulullah shallahu alaihi Wa sallam dalam pertemuan Ruhani Yaqzhatan (sadar) kepada seorang wali besar al-Imam Sayyidi Syaikh Ahmad Bin Muhammad Attijaniy (1150-1230 H).

Sayyidi Syaikh Ahmad Tijaniy berkata: “Ketika aku pergi dari kota Tilimsan ke kota Abi Samaghun, aku diberikan oleh Rasulullah redaksi shalawat, bila membacanya satu kali sama dengan membaca kitab Dalail al-Khairat 1000 kali. Dalam riwayat lain, Qadhi al-Imam Ahmad al-Sukairij mengatakan: Siapa yang membacanya membandingi pahala mengkhatamkan 70.000 kali Dalailul khairat.

Shalawat Ahlul mahabbah ini memiliki keutamaan yang sangat besar lantaran di dalamnya terdapat rahasia-rahasia yang tersimpan yang tidak dapat diketahui kecuali oleh orang-orang yang telah mendapat khushusiyat dari Allah Taala untuk mengetahuinya.

Hendaknya seseorang mengamalkan shalat ini dengan niat yang baik dan benar tanpa disertai keraguan dan buruk sangka. Karena siapa saja yang memiliki niat dan persangka yang baik, maka ia akan mendapatkan keistimewaan tersebut.

(lihat kitab: كشف الحجاب عمن تلاقى مع الشيخ التجاني من الأصحاب halaman 440).