MENGETAHUI HAKIKAT SHOLAT YANG SEBENARNYA

Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf adalah salah satu ulama dengan kapasitas ilmu pengetahuan dhohir dan bathin yang diakui oleh ulama-ulama sezamanya. Al Arif Billah Habib Abdullah bin Idrus Al Aydrus menyebut beliau sebagai kholifah di masanya.

Pada satu kesempatan di masjid Thoha, Hadramaut, pada tanggal 20 Syawal 1353 Hijriyah, beliau memberikan ceramah ilmiah bertemakan shalat. Beliau berkata, shalat merupakan sarana paling utama bagi manusia untuk dapat selalu berinteraksi dengan Penciptanya. Dahulu  Nabi  Zakariya a.s. menjadikan shalat sebagai fasilitas  ketika beliau meminta kepada Allah untuk diberikan keturunan. Doa beliau dikabulkan dan mendapatkan seorang putra yaitu Nabi Yahya yang merupakan anugerah terbesar dalam hidupnya. Rasul SAW bersabda, ‘Hal yang paling membuatku senang adalah shalat’. Dengan shalat beliau merasakan suatu kenikmatan yang tiada banding, berdialog dengan Allah SWT.

Dalam kitab Nashoih Dinniyah Habib Abdullah Alhaddad mengibaratkan shalat sebagaimana kepala pada manusia. Manusia mustahil dapat hidup tanpa kepala. Demikian halnya semua perbuatan baik manusia akan sia-sia jika tanpa disertai shalat. Shalat merupakan parameter diterima atau tidaknya amal perbuatan manusia. Rasul SAW bersabda, ‘Pertama yang diperhitungkan pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya diterima, maka seluruh amal sholehnya diterima, namun jika shalatnya ditolak, maka seluruh amal solehnya ditolak pula.’

Habib Ahmad kemudian bercerita, “Al-walid Sayid Alwi bin Abdurrahman Assegaf berkata, ‘Sesungguhnya pamanku Abdurrahman bin Ali berkata, jika kamu mempunyai hajat baik urusan dunia ataupun akhirat, maka memintalah pertolongan kepada Allah SWT dengan melaksanakan shalat. Bacalah  akhir surat Thoha  seusai shalat, Insya Allah dengan segala kebesaran-Nya akan dikabulkan hajat dan keinginanmu.’

Namun shalat kita pada masa sekarang ini tidaklah seperti shalat para salaf terdahulu yang penuh khusyu’ dan khidmat. Shalat kita merupakan shalat yang selalu dipenuhi kelalaian dan kealpaan, sehingga sangatlah kecil prosentase diterimanya. Orang-orang sufi terdahulu yang tidak diragukan lagi kedalaman ilmu pengetahuannya, menambahkan tiga rukun pada rukun-rukun  shalat  yang dikemukakan para ulama fiqih yaitu, khusuk atau tadabbur (hadirnya hati), khudu’(merendahkan diri kepada Allah) dan ikhlas. Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.”

Penafsiran mereka dalam ayat ini adalah, ‘Janganlah kalian mendekati (mengerjakan) shalat sedangkan kalian dalam keadaan mabuk oleh kesenangan dunia hingga pikiran kalian kosong dari dari segala urusan dunia.’

Sekarang kita saksikan orang-orang melaksanakan shalat  namun hati mereka masih selalu tertuju pada urusan dunia, baik urusan jual beli maupun pekerjaan mereka. Akibatnya mereka lupa berapa rokaat yang telah mereka kerjakan, tidak mengetahui surat apa yang telah dibacakan imam. Mereka sama sekali tidak menghayati bacaan Alfatihah dan ayat-ayat yang lain dalam shalat, mereka tidak menyadari bahwa mereka berdiri di depan Maha Penguasa dan sedang berdialog dengan Maha Pencipta. Urusan-urusan duniawi benar-benar telah menguasai hati manusia.

Orang yang memikirkan urusan dunia dalam shalat sama halnya dengan orang yang melumuri Al-Qur’an yang suci dengan khomer. Shalat  yang seharusnya menjadi wadah yang suci  telah mereka penuhi dengan kotoran-kotoran yang menjijikkan. Tanpa ada niat ikhlas yang merupakan ruh dari shalat, orang yang demikian diibaratkan oleh Imam Ghozali seperti seseorang yang  menghadiahkan seonggok bangkai dengan kemasan rapi kepada seorang raja. Tentunya perbuatan tersebut bukannya menyenangkan hati raja melainkan membuat dia marah dan murka karena dianggap telah melecehkan kehormatan dan kebesarannya.

Para salaf terdahulu memandang shalat sebagai hal yang sangat sakral dan agung. Mereka selalu berusaha melaksanakan dengan sesempurna mungkin. Hingga diantara mereka acapkali dihinggapi burung saat shalat karena sangat khusyuk dan tenangnya. Ada pula yang sampai tidak merasakan dahsyatnya gempa bumi yang meluluh lantakkan bangunan-bangunan di sekitarnya. Bahkan Imam Ali bin Husein sama sekali tak merasakan  panasnya kobaran api yang membumi hanguskan rumah beliau saat beliau tenggelam dalam shalatnya. Saat ditanya beliau hanya berujar, ‘Panasnya api yang lain (api neraka) telah membuatku tak merasakan panasnya api dunia.’

Habib Ahmad kemudian memberikan tausiyah, ‘Rasul SAW bersabda, ‘Ada seorang lelaki di antara kamu, rambut di kedua pipinya telah memutih namun tidak diterima satu pun shalatnya.’ Ini menunjukkan bahwa tak ada satu shalat pun yang dia kerjakan dengan khusyuk. Padahal, mulai usia 15 tahun hingga enam puluh tahun sudah berapa kali dia mengerjakan shalat. Jika tidak ada satu shalat pun yang dia kerjakan dengan khusyuk, itu berarti hatinya benar-benar dikuasai urusan keduniaan.

Ini adalah masalah kompleks di tengah masyarakat Islam yang harus disikapi dengan serius, terutama bagi para ulama dan penuntut ilmu. Adapun orang awam pada zaman sekarang sudah merasa cukup dengan shalat serba praktis seperti yang biasa mereka kerjakan. Bahkan di antara mereka ada yang mengeluh jika mendapati seorang imam shalat terlalu lama. Mereka lebih memilih imam yang lebih cepat dan ringkas sembari mengesampingkan unsur kekhusyukan yang sebenarnya esensial dalam shalat. Bagaimana dengan shalat kita?

AQIDAH MODEL MUJASIMAH TERNYATA MIRIP HAYALAN FIR’AUN LAKNATULLOH

: ﺍﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻟﻤﺎ ﻭﺻﻒ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﺑﻜﻮﻧﻪ ﻣﺘﻜﺒﺮﺍ ﺟﺒﺎﺭﺍ ﺑﻴﻦ ﺃﻧﻪ ﺃﺑﻠﻎ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻼﺩﺓ ﻭﺍﻟﺤﻤﺎﻗﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺼﺪ ﺍﻟﺼﻌﻮﺩ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻤﺎﻭﺍﺕ ، ﻭﻓﻲ ﺍﻵﻳﺔ ﻣﺴﺎﺋﻞ :

ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﺍﻷﻭﻟﻰ : ﺍﺣﺘﺞ ﺍﻟﺠﻤﻊ ﺍﻟﻜﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺸﺒﻬﺔ ﺑﻬﺬﻩ ﺍﻵﻳﺔ ﻓﻲ ﺇﺛﺒﺎﺕ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﻭﺍﺕ ﻭﻗﺮﺭﻭﺍ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﻭﺟﻮﻩ ; ﺍﻷﻭﻝ : ﺃﻥ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮﻳﻦ ﻟﻮﺟﻮﺩ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻭﻛﻞ ﻣﺎ ﻳﺬﻛﺮﻩ ﻓﻲ ﺻﻔﺎﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﺬﻟﻚ ﺇﻧﻤﺎ ﻳﺬﻛﺮﻩ ﻷﺟﻞ ﺃﻧﻪ ﺳﻤﻊ ﺃﻥ ﻣﻮﺳﻰ

ﻳﺼﻒ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺬﻟﻚ ، ﻓﻬﻮ ﺃﻳﻀﺎ ﻳﺬﻛﺮﻩ ﻛﻤﺎ ﺳﻤﻌﻪ ، ﻓﻠﻮﻻ ﺃﻧﻪ ﺳﻤﻊ

ﻣﻮﺳﻰ ﻳﺼﻒ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺄﻧﻪ ﻣﻮﺟﻮﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﻭﺇﻻ ﻟﻤﺎ ﻃﻠﺒﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ . ﺍﻟﻮﺟﻪ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ : ﻭﺇﻧﻲ ﻷﻇﻨﻪ ﻛﺎﺫﺑﺎ ، ﻭﻟﻢ ﻳﺒﻴﻦ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﺫﺏ ﻓﻲ ﻣﺎﺫﺍ ، ﻭﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ﺍﻟﺴﺎﺑﻖ ﻣﺘﻌﻴﻦ ﻟﺼﺮﻑ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﺇﻟﻴﻪ ، ﻓﻜﺄﻥ ﺍﻟﺘﻘﺪﻳﺮ : ﻓﺄﻃﻠﻊ ﺇﻟﻰ ﺍﻹﻟﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺰﻋﻢ ﻣﻮﺳﻰ ﺃﻧﻪ ﻣﻮﺟﻮﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ، ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : ‏( ﻭﺇﻧﻲ ﻷﻇﻨﻪ ﻛﺎﺫﺑﺎ ‏) ﺃﻱ ﻭﺇﻧﻲ ﻷﻇﻦ ﻣﻮﺳﻰ ﻛﺎﺫﺑﺎ ﻓﻲ ﺍﺩﻋﺎﺋﻪ ﺃﻥ ﺍﻹﻟﻪ ﻣﻮﺟﻮﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ، ﻭﺫﻟﻚ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺩﻳﻦ ﻣﻮﺳﻰ ﻫﻮ ﺃﻥ ﺍﻹﻟﻪ ﻣﻮﺟﻮﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ

. ﺍﻟﻮﺟﻪ ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ : ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺄﻧﻪ ﻟﻮ ﻭﺟﺪ ﺇﻟﻪ ﻟﻜﺎﻥ ﻣﻮﺟﻮﺩﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ، ﻋﻠﻢ ﺑﺪﻳﻬﻲ ﻣﺘﻘﺮﺭ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺍﻟﻌﻘﻮﻝ ، ﻭﻟﺬﻟﻚ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﺼﺒﻴﺎﻥ ﺇﺫﺍ ﺗﻀﺮﻋﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﻓﻌﻮﺍ ‏[ ﺹ : 57 ‏] ﻭﺟﻮﻫﻬﻢ ﻭﺃﻳﺪﻳﻬﻢ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ، ﻭﺇﻥ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﻣﻊ ﻧﻬﺎﻳﺔ ﻛﻔﺮﻩ ﻟﻤﺎ ﻃﻠﺐ ﺍﻹﻟﻪ ﻓﻘﺪ ﻃﻠﺒﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ، ﻭﻫﺬﺍ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺄﻥ ﺍﻹﻟﻪ ﻣﻮﺟﻮﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﻋﻠﻢ ﻣﺘﻘﺮﺭ ﻓﻲ ﻋﻘﻞ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ ﻭﺍﻟﺰﻧﺪﻳﻖ ﻭﺍﻟﻤﻠﺤﺪ ﻭﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﻭﺍﻟﺠﺎﻫﻞ .

ﻓﻬﺬﺍ ﺟﻤﻠﺔ ﺍﺳﺘﺪﻻﻻﺕ ﺍﻟﻤﺸﺒﻬﺔ ﺑﻬﺬﻩ ﺍﻵﻳﺔ ، ﻭﺍﻟﺠﻮﺍﺏ : ﺃﻥ ﻫﺆﻻﺀ ﺍﻟﺠﻬﺎﻝ ﻳﻜﻔﻴﻬﻢ ﻓﻲ ﻛﻤﺎﻝ ﺍﻟﺨﺰﻱ ﻭﺍﻟﻀﻼﻝ ﺃﻥ ﺟﻌﻠﻮﺍ ﻗﻮﻝ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﺍﻟﻠﻌﻴﻦ ﺣﺠﺔ ﻟﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺻﺤﺔ ﺩﻳﻨﻬﻢ ، ﻭﺃﻣﺎ ﻣﻮﺳﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻓﺈﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﺰﺩ ﻓﻲ ﺗﻌﺮﻳﻒ ﺇﻟﻪ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﻋﻠﻰ ﺫﻛﺮ ﺻﻔﺔ ﺍﻟﺨﻼﻗﻴﺔ ﻓﻘﺎﻝ ﻓﻲ ﺳﻮﺭﺓ ﻃﻪ : ‏( ﺭﺑﻨﺎ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﻋﻄﻰ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﺧﻠﻘﻪ ﺛﻢ ﻫﺪﻯ ‏) ‏[ ﻃﻪ : 50 ‏] ﻭﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺸﻌﺮﺍﺀ : ‏( ﺭﺑﻜﻢ ﻭﺭﺏ ﺁﺑﺎﺋﻜﻢ ﺍﻷﻭﻟﻴﻦ ‏) ‏( ﺭﺏ ﺍﻟﻤﺸﺮﻕ ﻭﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﻭﻣﺎ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ‏) ‏[ ﺍﻟﺸﻌﺮﺍﺀ : 28 ‏] ﻓﻈﻬﺮ ﺃﻥ ﺗﻌﺮﻳﻒ ﺫﺍﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻜﻮﻧﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﺩﻳﻦ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﻭﺗﻌﺮﻳﻔﻪ ﺑﺎﻟﺨﻼﻗﻴﺔ ﻭﺍﻟﻤﻮﺟﻮﺩﻳﺔ ﺩﻳﻦ ﻣﻮﺳﻰ ، ﻓﻤﻦ ﻗﺎﻝ ﺑﺎﻷﻭﻝ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺩﻳﻦ ﻓﺮﻋﻮﻥ ، ﻭﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﺑﺎﻟﺜﺎﻧﻲ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺩﻳﻦ ﻣﻮﺳﻰ ، ﺛﻢ ﻧﻘﻮﻝ : ﻻ ﻧﺴﻠﻢ ﺃﻥ ﻛﻞ ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻟﻪ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﻓﻲ ﺻﻔﺎﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﺬﻟﻚ ﻗﺪ ﺳﻤﻌﻪ ﻣﻦ ﻣﻮﺳﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ، ﺑﻞ ﻟﻌﻠﻪ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺩﻳﻦ ﺍﻟﻤﺸﺒﻬﺔ ﻓﻜﺎﻥ ﻳﻌﺘﻘﺪ ﺃﻥ ﺍﻹﻟﻪ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻣﻮﺟﻮﺩﺍ ﻟﻜﺎﻥ ﺣﺎﺻﻼ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ، ﻓﻬﻮ ﺇﻧﻤﺎ ﺫﻛﺮ ﻫﺬﺍ ﺍﻻﻋﺘﻘﺎﺩ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﻧﻔﺴﻪ ﻻ ﻷﺟﻞ ﺃﻧﻪ ﻗﺪ ﺳﻤﻌﻪ ﻣﻦ ﻣﻮﺳﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ .

ﻭﺃﻣﺎ ﻗﻮﻟﻪ : ‏( ﻭﺇﻧﻲ ﻷﻇﻨﻪ ﻛﺎﺫﺑﺎ ‏) ﻓﻨﻘﻮﻝ : ﻟﻌﻠﻪ ﻟﻤﺎ ﺳﻤﻊ ﻣﻮﺳﻰ

ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻗﺎﻝ : ‏( ﺭﺏ ﺍﻟﺴﻤﺎﻭﺍﺕ ﻭﺍﻷﺭﺽ ‏) ‏[ ﺍﻹﺳﺮﺍﺀ : 102 ‏] ﻇﻦ ﺃﻧﻪ ﻋﻨﻰ ﺑﻪ ﺃﻧﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﺴﻤﺎﻭﺍﺕ ، ﻛﻤﺎ ﻳﻘﺎﻝ ﻟﻠﻮﺍﺣﺪ ﻣﻨﺎ : ﺇﻧﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﺪﺍﺭ ﺑﻤﻌﻨﻰ ﻛﻮﻧﻪ ﺳﺎﻛﻨﺎ ﻓﻴﻪ ، ﻓﻠﻤﺎ ﻏﻠﺐ ﻋﻠﻰ ﻇﻨﻪ ﺫﻟﻚ ﺣﻜﻰ ﻋﻨﻪ ، ﻭﻫﺬﺍ ﻟﻴﺲ ﺑﻤﺴﺘﺒﻌﺪ ، ﻓﺈﻥ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﻛﺎﻥ ﺑﻠﻎ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻬﻞ ﻭﺍﻟﺤﻤﺎﻗﺔ ﺇﻟﻰ ﺣﻴﺚ ﻻ ﻳﺒﻌﺪ ﻧﺴﺒﺔ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺨﻴﺎﻝ ﺇﻟﻴﻪ ، ﻓﺈﻥ ﺍﺳﺘﺒﻌﺪ ﺍﻟﺨﺼﻢ ﻧﺴﺒﺔ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺨﻴﺎﻝ ﺇﻟﻴﻪ ﻛﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﻻﺋﻘﺎ ﺑﻬﻢ ; ﻷﻧﻬﻢ ﻟﻤﺎ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺩﻳﻦ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﻭﺟﺐ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺗﻌﻈﻴﻤﻪ . ﻭﺃﻣﺎ ﻗﻮﻟﻪ : ﺇﻥ ﻓﻄﺮﺓ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﺷﻬﺪﺕ ﺑﺄﻥ ﺍﻹﻟﻪ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻣﻮﺟﻮﺩﺍ ﻟﻜﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ، ﻗﻠﻨﺎ : ﻧﺤﻦ ﻻ ﻧﻨﻜﺮ ﺃﻥ ﻓﻄﺮﺓ ﺃﻛﺜﺮ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺗﺨﻴﻞ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﺻﺤﺔ ﺫﻟﻚ ﻻ ﺳﻴﻤﺎ ﻣﻦ ﺑﻠﻎ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻤﺎﻗﺔ ﺇﻟﻰ ﺩﺭﺟﺔ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﻓﺜﺒﺖ ﺃﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﺳﺎﻗﻂ

Ketahuilah

Saat Allah menshifati Fir’aun dengan sombong dan angkuh karena dia sangat” bodoh dengan tingkahnya yang ingin membuat bangunan/tangga menuju ke langit (untuk melihat tuhannya musa)

Di dalam ayat ada beberapa permasalahan :

  1. Kebanyakan kelompok musyabbihah (kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluknya) berhujjah dengan ayat ini untuk menetapkan Allah di langit dan mereka menetapkan beberapa point:

  1. Fir’aun termasuk orang yang ingkar tentang wujudnya Allah, maka segala sesuatu yang menyebutkan tentang sifatnya Allah, disebutkan olehnya karena dia mendapatkan info tersebut dari nabi musa A.S saat menerangkan kepada fir’aun tentang shifat” Allah, maka fir’aun pun menyebutkan hal tersebut apa adanya, kalaulah dia tidak mendengar musa menyebutkan Allah berada di langit maka dia tidak akan berencana mencari tuhannya musa di langit.

  1. Fir’aun berkata : aku menyangka bahwa musa ini berbohong, dan tidak menjelaskan kebohongan musa tentang apa? Dan perkara yang disebutkan sebelumnya menjelaskan untuk mengarahkan kepada fokus pembahasan, maka seakan” penjelasannya begini : maka aku akan melihat tuhannya musa yang dia menyangka bahwa tuhannya berada di langit lalu dia berkata :

وإني لأظنه كاذبا

Maksudnya adalah sungguh aku menyangka bahwa musa berbohong terhadap pengakuannya yabg menjelaskan bahwa tuhannya berada di langit, yang demikian itu menunjukkan bahwa agama yang dibawa oleh nabi musa menetapkan bahwa Allah itu bertempat di langit.

  1. Ilmu pasti menyebutkan bahwa jika seandainya ada tuhan maka pasti ada di langit, ini adalah ilmu yang bisa diterima akal, maka dari itu seseorang apabila mengadu kepada Allah mereka mengangkat wajah dan tangannya ke langit, dan fir’aun walaupun sangat kufur kepada Allah ketia dia mencari tuhan sungguh dia akan mencaringa di langit, ini menunjukkan sebuah kepastian bahwasanya Allah ada di langit adalag ilmu yang bisa diterima oleh akal oleh semua orang baik orang yg jujur, zindiq, penentang agama, orang berilmu atau orang bodoh ini adalah kesimpulan yang di jadikan dalil oleh kelompok musyabbihah dg ayat ini.

Jawab: sesunnguhnya mrk orang” yang bodoh cukuplah bagi mereka dianggap sesat yang nyata di saat mereka menjadikan ucapan fir’aun sebagai hujjah untuk membenarkan ajaran mereka, adapun Nabi Musa A.S. ketika menjelaskan tentang tuhan (kepada fir’aun) tidak melebihi dari apa yang di sebutkan dalam ayat” di bawah ini :

  1. surat thoha :

Tuhan kita adalah tuhan yang memberikan segala sesuatu kepada makhluknya kemudian diberikan petunjuk (thoha:50)

  1. Dalam surat asyu’aro’:

Tuhan kalian dan tuhan nenek moyang kalian yang terdahulu (asyuaro’ 20)

Maka jelaslah bahwa pengetahuan dzat Allah berada di langit adalah Agama Fir’aun, dan pengetahuan tentang ketuhanan Allah dan ada nya Allah adalah agamanya nabi Musa, maka barang siapa yang berkata yang pertama (Allah berada di langit) adalah ajaran agamanya fir’aun.

Barangsiapa yang berkata perkataan kedua (keberadaan Allah tanpa menjelaskan tempat Allah) adalah ajatan agama nabi Musa,

Jawaban kita kepada mereka:

Kita tidak yakin dengan setiap apa yang diucapkan fir’aun dalam menshifati Allah itu adalah ungkapan yang dia dengar dari Nabi Musa karena sebenarnya itu adalah sesuai dengan agama kaum musyabbihah (kaum yang menyerupakan Allah dengan makhluk) itu adalah keyakinan fir’aun sendiri yaitu : “jika tuhan itu ada mestinya dia bertempat di langit”, apa yang disebutkan oleh fir’aun adalah keyakinan dia sendiri bukan karena dia mendengar dari nabi musa A.S.

Adapun ucapan fir’aun :

وإني لأظنه كاذبا

*Sesungguhnya aku menyangka Musa itu berbohong*

Jawaban kita : pengingkaran fir’aun ini disaat dia mendengar Nabi Musa berkata :

رب السماوات والأرض

Tuhan langit dan bumi

(al-isro’ : 102)

رب السماوات والأرض

Juga bisa di artikan penguasa langit dan bumi.

Ada sebuah tamtsil jika kita katakan kepada seseorang : fulan itu robbud dar (penguasa rumah) maka yang ada di benaknya adalah fulan itu bertempat di rumah tersebut, itu lah yang ada di fikiran fir’aun saat nabi musa mengatakan

رب السماوات والأرض

Allah adalah penguasa langit dan bumi.

(Karena dia menganggap Allah itu sama dengan dia, karean dia jg mengaku menjadi tuhan, dalam benaknya tuhan itu harus bertempat dan duduk seperti dia, red) maka dari itu dia menceritakan ke khalayak ramai apa yang ada di khayalannya.

Memahami ini tidaklah rumit, krn fir’aun itu bodoh dan goblok (dalam memahami tuhan) sehingga dia nisbatkan perkataannya itu dengan khayalan dia sendiri (bukan berdasarkan penjelasan dr nabi musa), maka pantaslah dia nisbatkan penjelasan tsb (tuhan bertempat) kpd khayalannya fir’aun sendiri, dan juga golongan yang mengikuti agama fir’aun wajib mengagungkan khayalan fir’aun tsb.

Adapun ungkapan: sesungguhnya fitrah fir”aun bersaksi bahwasanya jika ada tuhan maka pasti tuhan itu bertempat di langit.

(krn fir’aun mengaku tuhan dan tempat dia ada di bumi, lalu nabi musa menjelaskan bahwa tuhannya lah yang menguasai langit dan bumi yang akhirnya fir’aun mengambil kesimpulan, jika ada tuhan lain maka pasti dia bertempat di langit bukan di bumi seperti dia,red)

Maka jawaban kami:

kami tidak mengingkari sesungguhnya fitrah kebanyakan manusia (yang kafir) akan berhayal (menyamakan Allah dengan makhluk yg butuh tempat ), apalagi orang yang fikirannya sama dengan fikiran bodoh nya fir’aun (dalam hal ketuhanan)

Dan jelaslah pendapat fir’aun tidak bisa dijadikan rujukan.

INILAH KETENTUAN DALAM MENGUCAPKAN DUA KALIMAH SYAHADAT

            Untuk menjadi  Islam adalah beriman dan meyakini dalam hati akan ketauhidan Allah dan diutusnya Rasulullah serta segala yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Karena keyakinan letaknya di hati yang tidak bisa diketahui orang lain, maka menjadi persyaratan keislaman seseorang dalam hukum dunia diharuskan untuk mengucapkan dua kalimat Syahadat. Pengucapannya tidaklah diharuskan dengan bahasa Arab, melainkan boleh dengan bahasa selainnya walaupun ia bisa berbahasa Arab.

            Satu hal yang terpenting dalam pengucapan dua kalimat syahadat  adalah mengetahui dan memahami akan arti dari dua kalimat syahadat yang ia ucapkan. Oleh karena itu, ketika ia mengucapkan dua kalimat syahadat dalam bahasa Arab dengan cara dituntun, namun ia tidak mengerti dan memahami maksud dari kalimat itu, maka syahadatnya BELUM SAH dalam menetapkan keislamannya dalam hukum dunia. Namun demikian, jika ia benar-benar telah beriman kepada Allah dan Rasulullah, maka ia tetap dihukumi Muslim di sisi Allah SWT.

REFERENSI :

إعانة الطالبين – (ج 4 / ص 157)

(قوله: تتمة) أي في بيان ما يحصل به الاسلام مطلقا على الكافر الاصلي وعلى المرتد (قوله: إنما يحصل إسلام الخ) عبارة التحفة ولا بد في الاسلام مطلقا وفي النجاة من الخلود في النار كما حكى عليه الاجماع في شرح مسلم من التلفظ بالشهادتين الخ (قوله: بالتلفظ بالشهادتين) متعلق بيحصل وإنما توقف صحة الاسلام عليه لان التصديق القلبي أمر باطني لا إطلاع لنا عليه فجعله الشارع منوطا بالنطق بالشهادتين الذي مدار الاسلام عليه (وقوله: من الناطق) خرج به الاخرس فلا يطالب بالنطق، بل إذا قامت قرينة على إسلامه كالاشارة كفى في حصول الاسلام (قوله: فلا يكفي ما بقلبه من الايمان) أي في إجراء أحكام المؤمنين في الدنيا عليه بناء على ن النطق شرط في الايمان أو في النجاة من النار بناء على أنه شطر منه.

والحاصل: اختلف في النطق بالشهادتين: هل هو شرط في الايمان لاجل إجراء الاحكام عليه أو شطر منه، أي جزء منه، فذهب إلى الاول محققو الاشاعرة والماتريدية وغيرهم.

ويترتب عليه أن من صدق بقلبه ولم يقر بلسانه فهو مؤمن عند الله غير مؤمن في الاحكام الدنيوية، ومن أقر بلسانه ولم يصدق بقلبه كالمنافق فهو مؤمن في الاحكام الدنيوية غير مؤمن عند الله، وذهب إلى الثاني قوم محققون كالامام أبي حنيفة وجماعة من الاشاعرة، وعليه فيكون الايمان عند هؤلاء اسما لعملي القلب واللسان جميعا وهما التصديق والاقرار، ويترتب عليه أن من صدق بقلبه ولم يتفق له الاقرار في عمره لا مرة ولا أكثر مع القدرة على ذلك لا يكون مؤمنا لا عندنا ولا عند الله تعالى، وهذا ضعيف. والمعتمد الاول (قوله: وإن قال به) أي بالاكتفاء بما في قبه من الايمان (قوله: ولو بالعجمية) أي يحصل الاسلام بالتلفظ بالشهادتين، ولو أتى بهما بالعجمية.

(قوله: وإن أحسن العربية: غاية للغاية) وكلاهما للرد (قوله: لا بلغة الخ) أي لا يكفي في حصول الاسلام الاتيان بهما بلغة لقنها له العارف بتلك اللغة وهو لا يفهم المراد منها (قوله: ثم الاعتراف) عطف على التلفظ: أي إنما يحصل الاسلام بالتلفظ وبالاعتراف لفظا برسالته (ص) إلى غير العرب.

نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج – (ج 1 / ص 153)

وَلَمَّا كَانَ تَصْدِيقُ الْقَلْبِ أَمْرًا بَاطِنًا لَا اطِّلَاعَ لَنَا عَلَيْهِ جَعَلَهُ الشَّارِعُ مَنُوطًا بِالشَّهَادَتَيْنِ مِنْ الْقَادِرِ عَلَيْهِ ، قَالَ تَعَالَى { قُولُوا آمَنَّا بِاَللَّهِ } وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { أُمِرْت أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ } رَوَاهُ الشَّيْخَانِ وَغَيْرُهُمَا ، فَيَكُونُ الْمُنَافِقُ مُؤْمِنًا فِيمَا بَيْنَنَا كَافِرًا عِنْدَ اللَّهِ ، قَالَ تَعَالَى { إنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنْ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا . وَهَلْ النُّطْقُ بِالشَّهَادَتَيْنِ شَرْطٌ لِإِجْرَاءِ أَحْكَامِ الْمُؤْمِنِينَ فِي الدُّنْيَا مِنْ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ وَالتَّوَارُثِ وَالْمُنَاكَحَةِ وَغَيْرِهَا غَيْرُ دَاخِلٍ فِي مُسَمَّى الْإِيمَانِ ، أَوْ جُزْءٌ مِنْهُ دَاخِلٌ فِي مُسَمَّاهُ قَوْلَانِ : ذَهَبَ جُمْهُورُ الْمُحَقِّقِينَ إلَى أَوَّلِهِمَا وَعَلَيْهِ مَنْ صَدَّقَ بِقَلْبِهِ وَلَمْ يُقِرَّ بِلِسَانِهِ مَعَ تَمَكُّنِهِ مِنْ الْإِقْرَارِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ عِنْدَ اللَّهِ ، وَهَذَا أَوْفَقُ بِاللُّغَةِ وَالْعُرْفِ ، وَذَهَبَ كَثِيرٌ مِنْ الْفُقَهَاءِ إلَى ثَانِيهِمَا ، وَأَلْزَمَهُمْ الْأَوَّلُونَ بِأَنَّ مَنْ صَدَّقَ بِقَلْبِهِ فَاخْتَرَمَتْهُ الْمَنِيَّةُ قَبْلَ اتِّسَاعِ وَقْتِ الْإِقْرَارِ بِلِسَانِهِ يَكُونُ كَافِرًا ، وَهُوَ خِلَافُ الْإِجْمَاعِ عَلَى مَا نَقَلَهُ الْإِمَامُ الرَّازِيّ وَغَيْرُهُ ، لَكِنْ يُعَارِضُ دَعْوَى الْإِجْمَاعِ قَوْلُ الشِّفَاءِ الصَّحِيحِ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ مُسْتَوْجِبٌ لِلْجَنَّةِ حَيْثُ أَثْبَتَ فِيهِ خِلَافًا ، أَمَّا الْعَاجِزُ عَنْ النُّطْقِ بِهِمَا لِخَرَسٍ أَوْ سَكْتَةٍ أَوْ اخْتِرَامِ مَنِيَّةٍ قَبْلَ التَّمَكُّنِ مِنْهُ فَإِنَّهُ يَصِحُّ إيمَانُهُ لِقَوْلِهِ تَعَالَى { لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إلَّا وُسْعَهَا } وَلِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { إذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ } وَأَمَّا الْإِسْلَامُ فَهُوَ أَعْمَالُ الْجَوَارِحِ مِنْ الطَّاعَاتِ كَالتَّلَفُّظِ بِالشَّهَادَتَيْنِ وَالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ

HADITS NABI SAW YANG MENGISAHKAN SAMPAINYA PAHALA KEPADA MAYIT

Anas Bin Malik  R.A berkata bahwa Rosulullah S.A.W. bersabda : “Sesungguhnya amalnya orang yang hidup itu diperlihatkan kepada keluarga dan bapak mereka yang mati apabila amal mereka baik maka mereka memuji kepada Allah dan merasa bahagia, apabila amal mereka jelek maka mereka berdo’a  “Yaa Allah janganlah engkau mencabut amal mereka sehinga engkau memberikan petunjuk kepadanya”. Lalu Rosulullah S.A.W.  bersabda : Orang yang mati tersakiti di dalam kubur sebagaimana tersakiti semasa hidupnya, kemudian Rosulullah S.A.W.  ditanya : “Apa yang menyakiti Mayyit?” Sesungguhnya mayyit itu tidak melakukan dosa, tidak sering menentang dan tidak saling bermusuhan  kepada satu orang pun dan juga tidak menyakiti tetangga melainkan jika kamu menentang salah satu orang maka orang tersebut pasti akan  mencacimu dan kedua orang tuamu , lalu kedua orang tuamu merasa tersakiti ketika ia dicaci, begitu juga mereka merasa senang ketika mereka diperlakukan baik”.

Sebagaimana dalam ceritanya Tsabit Al Banany, ia setiap malam Jum’at berziaroh ke kuburan dan ia bermunajat sampai subuh diwaktu ia bermunajat ia tertidur dan bermimpi :

Bahwa Ahli kubur tersebut keluar dari kuburnya dengan memakai baju yang sangat bagus dan wajahnya putih serta mereka diberikan berbagai macam-macam hidangan.

Dan ada diantara mereka seorang pemuda yang wajahnya itu pucat dan rambutnya berdebu, hatinya susah, bajunya jelek, menundukkan kepala, serta bercucuran air mata, dia tidak mendapatkan makanan  dan semua Ahli kubur tadi kembali kekuburanya dalam keadaan bahagia dan pemuda tadi juga kembali ke kuburanya dalam keadan putus asa serta susah.

Kemudian Tsabits Banany bertanya kepadanya : Kamu siapa kok berada diantara mereka yang mendapatkan makanan dan kembali kekuburanya dengan keadan bahagia sedangkan engkau tadak mendapatkan makanan dan engkau pulang dengan keadaan putus asa serta susah?

Maka pemuda tersebut berkata :“Ya Imamal Muslimin (Tsabit al Banany) Sesungguhya aku termasuk orang yang asing diantara mereka, tidak ada yang menyebut kebaikanku dan mendoakanku, sedangkan mereka mempunyai anak serta keluarga yang mengingatnya dengan mendo’akanya, berbuat kebajikan serta bershodaqoh setiap malam jum’at, kebaikan dan ganjaran shodaqoh tersebut di sampaikan kepadanya dan aku adalah seorang laki-laki yang berhaji, dan saya mempunyai seorang ibu kemudian kami bertujuan pergi haji, ketika kami sampai di kota ini maka takdir Allah berjalan kepadaku(Mati) dan ibuku mengnguburkanku  di sini dan ibuku kawin lagi lalu melupakanku bahkan ibuku tak pernah lagi mengingatku di dalam do’a dan shodaqoh, maka dari itu aku putus asa dan susah disetiap waktu dan masa,

Lalu Tsabit berkata : “Hai pemuda..  Beritahulah aku tentang tempat ibumu, maka aku akan mengabarinya akan keadaanmu”

Kemudian dia berkata : “Yaa Imamal Muslimin.. Dia (ibuku) berada di tempat ini dan rumah ini, lalu kabarilah dia (ibuku) jikalau dia (ibuku) tidak membenarkan kepadamu maka katakanlah sesungguhnya disakunya ada 100 misqol perak  warisan dari bapak yang aman. 100 misqol tesebut merupakan hakku (pemuda) maka Ia (ibuku) Akan membenarkanmu dengan tanda ini”.

            Ketika Tsabit datang dan mencari ibunya maka Tsabit menjumpainya, setelah bertemu, lalu Tsabit mengabarinya tentang keadaan Anaknya dan tentang beberapa misqol yang berada di sakunya kemudian Ibunya pingsan, ketika dia siuman maka ibu tadi menyerahkan 100 misqol kepada Tsabit Al Banany dan berkata :

“Aku wakilkan padamu untuk engkau sedekahkan dirham ini untuk anakku yang asing”,

Kemudian Tsabit mengambil dirham itu dan menyedekahkanya untuk anaknya ketika malam Jum’at, maka Tsabit Al Banany ziaroh lagi kepada teman-temanya, kemudian ia ngantuk dan bermimpi sebagaimana yang awal, kemudian ia melihat pemuda tadi berpakaianyang paling indah, wajahnya berseri-seri serta ia begembira kemudian pemuda tadi berkata kepada Tsabit Al Banany :

“Yaa Imamal Muslimin semoga Allah merahmatimu sebagaimana engkau merahmatiku.

Maka diambil kesimpulan bahwa kedua orang tua itu tersakiti jikalau dia disakiti dan mereka juga bahagia ketika ia diperlakukan dengan baik.

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

INILAH ATURAN MENYALAHKAN DAN KOMENTAR KE ORANG LAIN

Para ulama telah membuat aturan-aturan atau prinsip-prinsip ketika ingin menyalahkan orang lain atau menghukuminya, ini dikenal dengan istilah dhawabit al-hukm ‘ala an-nas. Aturan-aturan tersebut di antaranya:

Pertama, mengetahui dengan seksama seluk-beluk dan seluruh karakter seseorang yang dianggap bersalah.

Kedua, mengetahui metodologi kritik yang benar.

Ketiga, menghukumi kesalahan orang lain dengan standar Al-Quran dan hadis, bukan pendapat perorangan atau kelompok.

Keempat, menghukumi orang lain harus diniati ikhlas karena Allah SWT.

Kelima, menghukumi orang lain harus adil dan bebas kepentingan.

Keenam, sebelum menyalahkan orang lain, waspadailah dirimu sendiri.

Ketujuh, memahami bahwa tidak ada orang yang tidak berdosa kecuali Rasulullah, SAW.

Kedelapan, yang bisa dihukumi dari seseorang hanyalah lahiriahnya, bukan batiniahnya.

Kesembilan, tidak semua pendapat orang yang menghukumi orang lain bisa diterima.

Kesepuluh, hukum asal seseorang adalah adil dan baik. Artinya, kalau tidak ada komentar tentangnya, maka dia baik.

Kesebelas, wajib klarifikasi (tabayyun) sebelum menghukumi dan tidak boleh tergesa-gesa.

Keduabelas, komentar negatif rekan seangkatan seseorang tidak harus diterima kecuali ada alasan kuat.

Ketigabelas, syariat melarang memata-matai dan mencari-cari kesalahan.

Keempatbelas, tidak boleh menghukumi berdasarkan kemungkinan yang terjadi di masa depan.

Kelimabelas, tidak boleh menghukumi berdasarkan kemungkinan.

Keenambelas, harus memperhatikan kemaslahatan dan kerusakan dari penghukuman yang dikeluarkan.

Ketujuhbelas, di antara orang-orang itu ada yang harus dimaklumi kesalahannya dan/atau dimaafkan kesalahannya.

Wallahu A’lam.

PERKATAAN IMAM AHMAD BIN HANBAL DAN IMAM BUKHORY YANG DI PELINTIR WAHABY

Inilah Ucapan Imam Bukhari dan Imam Ahmad Yang Dipelintir Wahabi

Kemunculan kaum Mujassimah-musyabbihah (wahabi-salafi) merupakan fitnah untuk menguji keimanan kaum muslimin di dunia ini hingga tiba masa fitnah terbesar di akhir zaman yaitu fitnah dajjal. Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَخْرُجُ نَاسٌ مِنَ اْلمَشْرِقِ يَقْرَؤُونَاْلقُرْانَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا قَطَعَ قَرْنٌ نَشَأَ قَرْنٌ حَتَّىيَكُوْنَ آخِرُهُمْ مَعَ اْلمَسِيْخِ الدَّجَّالِ

“ Akan muncul sekelompok manusia dari arah Timur, yang membacaal-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn (kurun /generasi) mereka putus, maka muncul generasi berikutnya hingga generasi akhirmereka akan bersama dajjal “ (Diriwayatkan imam Thabrani di dalamAl-Kabirnya, imam imam Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya dan imam Ahmad di dalam musnadnya)

Kaum muslimin cukup mengetahui akidah berkaitan kalam Allah bahwasanya kalam Allah adalah bersifat qadim, tidak membutuhkan alat, suara dan huruf, dan al-Quran adalah kalam Allah bukan makhluk. Sampai di sini tidak perlu panjang dan luas lagi untuk menelusuri esensi dan hakikatnya lebih dalam lagi. Karena tak ada satu pun parasahabat dan ulama salaf yang membahas lebih dalam lagi tentang masalah ini dan tentang Dzat Allah, maka membahas lebih dalam tentang hal ini adalah bid’ah, bahkan Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya : “ Renungilah makhluk Allah dan jangan renungi Dzat Allah “.

Namun muncullah fitnah kaum yang sangat berani membicarakan hakikat Dzat Allah dan sifat-sifat-Nya lebih dalam lagi, sehingga mereka tersesat jauh dan bahkan menyesatkan para pengikutnya ke jurang tajsim dan tasybih, Naudzu billahi min dzaalik..

Makna ucapan imam Bukhari yang disalah pahami wahabi :

حركاتهم وأصواتهم واكتسابهم وكتابتهم مخلوقة فأما القرآن المتلو المبين المثبت في المصاحف المسطور المكتوب الموعى في القلوب فهو كلام الله ليس بخلق

Gerak, suara, usaha dantulisan adalah makhluk, adapun al-Quran yang dibaca, yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada di dalam dada maka dia adalah kalam Allah bukanlah makhluk “. (Khalqi af’aalil ibaad : 47)

Kaum wahabi-salafi memahami ucapan imam Bukhari dengan nafsu dan pemikirannya sendiri sehingga menimbulkan pemahaman bahwa kalam Allah itu bersuara dan berhuruf.

Jawaban :

Saya jadi teringat sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِالزَّمانِ قَومٌ أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ قَوْلَخَيْرِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُوْنَمِنَ الدِّيْنَ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، فَإذَا لَقِيْتُمُوْهُمْفَاقْتُلُوْهُمْ ، فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْراً لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللهِ يَوْمَاْلقِيَامَة

 “ Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda lagi lemah akalnya, berucap dengan ucapan sbeaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur daribusurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.(HR. Imam Bukhari : 3342)

Nabi mensifati mereka pada umumnya masih berusia muda  tetapi lemah akalnya, atau itu adalah sebuah kalimat majaz yang bermakna orang-orang yang kurang berpengalaman atau kurang berkompetensi dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah bahkan kalam ulama. Subyektivitas dengan daya dukung pemahamanyang lemah dalam memahaminya, bahkan menafsiri ayat-ayat Al-Qur`an dan nash hadits dengan mengedepankan fanatik dan emosional golongan mereka sendiri.

Demikianlah kalam imam Bukhari yang sangat mudah dipahami, mereka pelintir sesuai keinginan nafsu dan pemikiran mereka sendiri tanpa mau menggunakan akal sehat dan merujuk pada penjelasan para ulama besar, sehingga menimbulkan pemahaman yang bertolak belakang dengan apa yang dimaksud oleh imam Bukhari sendiri

Simak dan bacapelan-pelan…! Semoga hidayah menyertai kalian…

Imam Bukhari mengatakan :

حركاتهم وأصواتهم واكتسابهم وكتابتهم مخلوقة فأما القرآن المتلو المبين المثبت في المصاحف المسطور المكتوب الموعى في القلوب فهو كلام الله ليس بخلق

Gerak, suara, usaha dantulisan adalah makhluk, adapun al-Quran yang dibaca, yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada di dalam dada maka dia adalah kalamAllah bukanlah makhluk “. (Khalqi af’aalil ibaad : 47)

Poin pertama dari kalam imam Bukhari :

حركاتهم وأصواتهم واكتسابهم وكتابتهم مخلوقة

“ Gerak,suara, usaha dan tulisan adalah makhluk “

Imam Bukhari dengan jelas menyatakan gerakan, suara, usaha dan tulisan adalah makhluk, karena semuanya bersifat baru dan ada permulaanya.

Pengertiannya adalah bahwasegala perbuatan, suara dan huruf yang berasal dari manusia adalah makhluk. Dan lebih jelas beliau mengatakan sebagaimana sering dinukil oleh ulama wahabi (tanpa mau memahaminya) berikut :

ما زلت أسمع أصحابنايقولون أفعال العباد مخلوقة

“ Aku senantiasa mendengar para ashab kami mengatakan bahwa perbuatan hamba adalah makhluk “.

Poin kedua dari kalam imamBukhari :

فأماالقرآن المتلو المبين المثبت في المصاحف المسطور المكتوب الموعى في القلوب فهوكلام الله ليس بخلق

“ Adapun al-Quran yangdibaca, yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada didalam dada maka dia adalah kalam Allah bukanlah makhluk “.

Lafadz al-Quran (فأما القرآن) di atas dalam ilmu nahwu kedudukannya menjadi mubtada’, tentu mubtada’ selalu membutuhkan khobarnya. Mana khobarnya ? khobarnya adalah lafadz fahuwa kalamullah (فهو كلام الله), sedangkan kalimat : al-Matluu al-Mubin, al-Mutsbat dan seterusnya adalah menjadi na’at yakni shifat.

Artinya adalah : al-Quranadalah kalamullah, dan al-Quran yang yang dibaca, yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada di dalam dada adalah kalam Allah bukan makhluk.

Ada dua pengertian dalam kalam imam Bukhari tersebut yaitu :

  1. al-Quran yang dibaca,yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada di dalam dada,jika dinisbatkan kepada kalam Allah adalah bukanlah makhluk.
  2. al-Quran yang ditulisdan dibaca dengan suara dan huruf oleh manusia, maka imam Bukhari menjwab : “perbuatan hamba adalah makhluk (أفعال العباد مخلوقة) “.

Manhaj imam Bukhari inilah yang diikuti oleh para ulama asyaa’irah bahwa : definsi al-Quran terbagi menjadi dua Yakni Jika yang dimaksudkan adalah kalam Allah, maka dia adalah sifat kalam yang qadim dan azali yang suci dari alat, suara dan huruf, sedangkan jikayang dimaksudkan adalah kalimat yang terlafadzkan oleh lisan manusia dan terbukukan dalam kertas-kertas, maka dia adalah kalimat-kalimat berhuruf dan bersuara yang baru dan mengibaratkan kepada kalam Allah yang qadim dan azali tersebut.

Penjelasan ini sesuaidengan penjelasan para ulama besar Ahlus sunnah :

Imam Abu Hanifah (150 H) Mengatakan:

وصفاته في الأزل غير محدَثة ولا مخلوقة فمن قال إنها مخلوقة أومحدَثة أو وقف أو شكّ فهو كافر بالله تعالى والقرءان أي كلام الله تعالى فيالمصاحف مكتوب وفي القلوب محفوظ وعلى الألسن مقروء وعلى النبي عليه الصلاة والسلاممنزل ولفظنا بالقرءان مخلوق وكتابتنا له مخلوقة وقراءتنا مخلوقة والقرءان غيرمخلوق

“ Sifat-sifat Allah diAzali tidaklah baru dan bukan makhluk (tercipta), barangsiapa yang mengatakanitu makhluk atau baru, atau dia diam (tidak berkomentar), atau dia ragu makadia dihukumi kafir kepada Allah. Al-Quran yakni Kalamullah tertulis dimushaf-mushaf, terjaga dalam hati, terbaca dalam lisan dan diturunkan kepadaNabi Saw. Danlafadz kami dengan al-Quran adalah makhluk, penulisan kami kepada Al-Quran adalah makhluk, bacaan kami dengannya adalah makhluk sedangkan al-Quran bukanlah makhluk “.

Kemudian imam Abu Hanifah melanjutkan :

ونحن نتكلم بالآلات والحروف والله تعالى يتكلم بلا ءالة ولا حروف والحروف مخلوقة وكلامالله تعالى غير مخلوق

“ Kami berbicara denganalat dan huruf sedangkan Allah Ta’ala berbicara tanpa alat dan huruf, sedangkanhuruf itu makhluk dan kalamullah bukanlah makhluk “.(Disebutkan dalam kitab al-Fiqh al-Akbar,al-Washiyyah, al-Alim w al-Muta’allimdan lainnya)

Al-Hafidz Azd-Dzahabi mengomentari kalam imam Bukhari berkaitan lafadz Quran berikut :

المسألة هي أن اللفظ مخلوق، سئل عنها البخاري، فوقف واحتجبأن أفعالنا مخلوقة واستدل لذلك ففهم منه الذهلي أنه يوجه مسألة اللفظ، فتكلم فيه.وأخذه بلازم قوله هو وغيره

“ Masalah (imam Bukhari) tersebut adalah sesungguhnya lafadz itu adalah makhluk. Imam Bukhari pernah ditanya tentang ini, lalu beliau tidak berkomentar malah beliau berhujjah : “Sesungguhnya semua perbuatan kita adalah makhluk “, beliau menjadikan itusebagai dalil dan ini dipahami oleh imam Adzdzahli bahwasanya imam Bukhari bermaksud masalah lafadz lalu beliau berbicara dengan itu, dan beliau juga selainnya senantiasa meneguhkan ucapannya itu “.(Siyar A’lam an-nubala : 12/457)

Ucapan : lafadz al-Quran adalah makhluk, memiliki dua makna yaitu makna haq (benar) dan makna bathil(salah). Mengatakannya secara muthlaq / general baik menafikan atau menetapkan adalah bid’ah, meskipun dia bermaksud makna yang haq ataupun makna yang bathil.Karena sesungguhnya imam Ahmad bin Hanbal tidaklah mencela dan memngatakan jahmiyyah kepada orang yang mengatakannya secara muthlaq kecuali jika ia bermaksud al-Quran.

Imam Ahmad bin Hanbal

Al-Hafidz Azd-Dzahabi menukil kalam imam Ahmad bin Hanbal sebagai berikut :

من قال: لفظي بالقرآن مخلوق، يريد به القرآن، فهو جهمي

“ Barasngsiapa yang mengatakan lafadz dengan al-Quran adalah makhluk, yang dimaksud adalah al-Quran, maka dia adalah seorang jahmi “. (Siyar A’lam an-nubala : 11/511)

Mungkin kaum wahabi-salafi akan bingung jika membaca penjelasan Ibnu Taimiyyah berikut tentang Nash dariimam Ahmad bin Hanbal :

فلهذاكان المنصوص عن الإمام أحمد وأئمة السنة والحديث أنه لا يقال : ألفاظنا بالقرآنمخلوقة ولا غير مخلوقة

“ Oleh sebab itu Nash yangresmi dari imam Ahmad dan para imam Ahlus sunnah dan hadits bahwa tidak bolehdikatakan :Lafadz kita dengan Al-Quran itu makhluk dan juga bukan makhluk “.(Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah, 12/ 375)

Di sisi lain Ibnu Taimiyyah mengatakan :

والمقصودهنا أن الامام أحمد ومن قبله من أئمة السنة ومن اتبعه كلهم بريئون من الاقوالالمبتدعة المخالفة للشرع والعقل ولم يقل أحد منهم أن القرآن قديم

“ Yang dimaksud di sini bahwasanya imam Ahmad dan ulama sebelumnya dari Ahlus sunnah dan para pengikutnya, berlepas diri dari pendapat-pendapat Ahlul bid’ah yang menyelisihi syare’at dan aqal, dan tidak seorang pun dari mereka mengatakan al-Quran ituqadim “. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah : 7/661)

Perhatikan : IbnuTaimiyyah mengatakan al-Quran itu tidak bersifat qadim. Inilah di antara bid’ah dhalalah yang dilakukan Ibnu Taimiyyah, Naudzu billahi min dzaalikal fahm, beranikah wahabi-salafi mengkafirkan IbnuTaimiyyah ??

Al-Imam al-Isfiraini (w418 H) mengatakan :

وأن تعلم أن كلام الله تعالى ليسى بحرف ولاصوت لأن الحرف والصوت يتضمنان جواز التقدم والتأخر، وذلك مستحيل على القديم سبحانه

“ Dan hendaknya kamu mengetahui bahwa sesungguhnya kalam Allah itu tidaklah dengan huruf dan suara karena huruf dan suara mengandung bolehnya pendahuluan dan pengakhiran, yang demikian itu mustahil bagi Allah yang Maha Qadim “. (at-Tabhsir fiddin : 102)

Dengan ini semakin jelas kerancuan akidah wahabi-salafi yang mengatas namakan imam Ahmad bin Hanbal,mereka hanya merusak citra baik madzhab Hanbali, mereka lah kaum hanabilah yang ekstrem dan ghulat dan kaum pembawa bid’ah dalam aqidah sebagaimana dinyatakan oleh imam Mula Ali al-Qari al-Hanafi (w 1014 H) :

ومبتدعة الحنابلة قالوا: كلامه حروف وأصوات تقوم بذاته وهو قديم،وبالغ بعضهم جهلاً حتى قال: الجلد والقرطاس قديمان فضلاً عن الصحف، وهذا قول باطلبالضرورة ومكابرة للحس للإحساس بتقدم الباء على السين في بسم الله ونحوه”

“ Para ahli bid’ah darikalangan Hanabilah berkata : “ Kalam Allah berupa huruf dan suara yang berdiri dalam Dzat-Nya dan itu qadim. Bahkan ada yang sampai berlebihan kebodohan mereka dengan berkata : “ Jilid dan Kertas itu bersifat qadim apalagi mushaf “,ini adalah ucapan BATHIL  secara pastidan sifat mukabarah…” (Syarh al-Fiqh al-Akbar : 29-35)

HUKUM MENARIK BIAYA KIRIM DO’A ARWAH PADA ACARA TAHLIL DAN ZIARAH KUBUR

Apa hukumnya kalau dalam ziarah /tahlil kubro / acara tahlilan di pengajian untuk pengiriman doa setiap arwah nya diberi (dimintai) jumlah nominal uang yang harus diberikan (contoh 1 arwah Rp. 5.000),

JAWABAN :

Hukumnya boleh / sah dan orang yang disewa berhaq mendapatkan upah / ongkos, bila memenuhi salah satu diantara 4 hal :

    Dibaca di samping kuburannya

    Tidak dibaca di samping kuburan akan tetapi disertai do’a setelah membacanya bahwa pahalanya dihadiahkan pada mayit tersebut.

    Dibaca di samping orang yang menyewa

    Atau dibaca serta disebut / diniatkan dalam hati.

Wallohu a’lam.

Referensi :

.إعانة الطالبين ٣/١١٢-١١٣

.قال شيخنا في شرح المنهاج يصح الإستئجار لقرأة القرأن عند القبر أو مع الدعاء بمثل ما حصل له من الأجر له أو لغيره عقبها عين زمانا أو مكانا أولا ونية الثواب له من غير دعاء له لغو خلافا لجمع أى قالوا أنه ليس بلغو فعليه تصح الإجارة ويستحق الأجرة وان اختار السبكي ما قالوه عبارة شرح الروض بعد كلام قال السبكي تبعا لابن الرفعة بعد حمله كلامهم على ما اذا نوى القارئ أن يكون ثواب قرأته للميت بغير دعاء على أن الذي دل عليه الخبر بالإستنباط أن بعض القرأن اذا قصد به نفع الميت نفعه إذ قد ثبت أن القارئ لما قصد بقرأته الملدوع نفعه.حاصل ما ذكره أربع صور إن كان قوله الأتي ومع ذكره في القلب صورة مستقلة وهي القرأة عند القبر والقرأة لا عنده لكن مع الدعاء عقبها والقرأة بحضرة المستأجر والقرأة مع ذكره في القلب وخرج بذلك القرأة لا مع أحد هذه الأربعة فلا يصح الإستئجار لها

بغية المسترشدين ص 165

(مسألة: ي): يصح الاستئجار لكل ما لا تجب له نية عبادة كان، كأذان وتعليم قرآن وإن تعين، وتجهيز ميت أولا كغيره من العلوم تدريساً وإعادة، بشرط تعيين المتعلم والقدر المتعلم من العلم، وكالاصطياد ونحوه لا القضاء والإمامة ولو في نفل، فما يعطاه الإمام على ذلك فمن باب الأرزاق والمسامحة، فلو امتنع المعطي من إعطاء ما قرره لم تجز له المطالبة به ولا لعقد نكاح كالجعالة عليه، ويحرم اشتراط الأجرة عليه من غير عقد، بل هو من أكل أموال الناس بالباطل، نعم إن أهدى نحو الزوج للملفظ شيئاً جاز قبوله إن لم يشترطه، وعلم الدافع عدم وجوبه عليه.

TERGODANYA NABI ADAM AS DAN SIFAT MAKSUMNYA SEBAGAI SEORANG ROSUL

TERGODANYA NABI ADAM ‘ALAIHIS SALAM

فأخرج إبليس مزمارا وزمر تزميرا مطربا فلما سمع آدم وحواء المزمار جاءا ليسمعا ذلك فلما وصلا الى شجرة الحنطة قال ابليس تقدم الى هذه الشجرة يآدم فقال إنى ممنوع فقال ابليس (وما نهاكما ربكما عن هذه الشجرة الا أن تكونا ملكين أو تكونا من الخالدين) فان من أكل من هذه الشجرة لا يشيب ولا يهرم ثم أقسم بالله أنها لا تضرهما وأنه لمن الناصحين لهما فظن آدم أنه لا يتجاسر أحد على أن يحلف بالله كاذبا وظن أنه من الناصحين

Kemudian iblis mengeluarkan seruling dan memainkannya dengan merdu, ketika adam dan hawa mendengarnya, me­reka langsung mendatanginya untuk mendengarkan/­menikmatinya,dis­aat mereka sampai dipohon gandum maka iblis berkata padanya,, wahai adam,mendekatla­h pada pohon ini,adam berkata, sesungg­uhnya aku dicegah untuk dekat dengan pohon itu, iblis berkata Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).”

Karena sesungguhnya siapa saja yang memakan biji dari pohon ini,dia tidak akan bisa tua dan pikun dan iblis juga bersumpah dengan nama ALLOH bahwa makan biji itu tidak akan membahayakan mereka berdua dan dia mengaku bahwa dia adalah pembawa nasihat bagi mereka berdua maka adam pun menyangka bahwa tiada yang berani mengucapkan sumpah dengan nama ALLOH pada kebohongan dan menyangka juga bahwa iblis tadi adalah malaikat pembawa nasihat.

فمن حرص حواء على الخلود فى الجنة تقدمت وأكلت فلما نظر آدم اليها حين أكلت ووجدها سالمة تقدم وأكل بعدها فلما وصلت الحبة الى جوفه طار التاج عن رأسه وطارت الحلل أيضا

Dari keinginan hawa untuk kekal disurga maka ia maju duluan dan memakannya ketika adam melihatnya makan dan selamat maka adam pun ikut maju dan memakannya,pada­ saat biji sampai ditenggorokan maka terbanglah mahkota yang ada dikepalanya bersama perhiasan-perhi­asan yang ada padanya

سؤال لأى شئ لما أكلت حواء من الشجرة لم تسقط الكسوة عنها فى الحال وآدم حين أكل سقطت عنه فى الحال الجواب لوسقطت فى الحال عن حواء لرجع آدم ولم يأكل وأيضا االدية على العاقلة ولان الأمر كان أولا لآدم

Pertanyaan, kenapa disaat hawa makan biji tersebut seluruh pakaiannya tidak terlepas seketika sedangkan adam pakaiannya terlepas seketika ? Jawab :Umpama lepas seketika maka adam akan kembali dan tidak mau ikut makan,begitu juga diyat/tebusan itu pada yang berakal dan karena sesungguhnya awal perkara itu untuk adam.

وقال بعض العلماء ان آدم أكل وهو ناس قال الله تعالى (ولقد عهدنا الى آدم من قبل فنسى)

Sebagian ulama’ berkata sesungguhnya adam memakannya itu dalam keadaan lupa Sebagaimana firman ALLOH : Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu). Qs.thoha ayat 115.

فلما أكل آدم من الشجرة أوحى الله تعالى الى جبرائيل عليه السلام بأن يقبض على ناصية آدم وحواء ويخرجهما من الجنة فأخرجهما جبرائيل من الجنة ونودى عليهما بالمعصية. قال فكان آدم وحواء عريانين فطافا على أشجار الجنة ليستترا بأوراقها فكانت الأشجار تنفر عنهما ورحمته شجرة التين فغطته فتستر بورقها وقيل غطته شجرة العود فلذلك أكرمها الله بالرائحة الطيبة وأكرم شجرة التين بالثمر الحلو الذى ليس له نوى وقيل غطته شجرة الحناء فلذلك صار أثرها طيبا مفرحا ولذلك سميت الحناء قال كعب الأحبار لما صار آدم عريانا أوحى الله تعالى اليه أن اخرج الىّ لأنظرك فقال آدم يارب لا أستطيع ذلك من حيائى منك وخجلى

Disaat adam makan dari biji gandum tersebut maka ALLOH memerintahkan jibril untuk mencabut ubun-ubun adam dan hawa dan mengeluarkannya­ dari surga dan dipanggil dengan sebutan maksiyat. Wahhab bin munabbih berkata, saat itu adam dan hawa dalam keadaan telanjang, mereka berputar pada pohon-pohon surga untuk mengambil daun untuk menutupi tubuh mereka tapi pohon-pohon itu pada kabur dari mereka, akhirnya ­ pohon tin iba pada mereka dan menutupi mereka dan diambillah daunnya untuk menutupi tubuh mereka.

Dikatakan bahwa yang menutupinya adalah pohon garu,oleh karena itu ALLOH memulyakannya dengan bau yang harum dan ALLOH memulyakan pohon tin dengan buah yang manis tanpa biji. Dikatakan juga bahwa yang menutupinya adalah pohon inai oleh karena itu jadilah baunya harum dan wangi dan dinamakan inai. Ka’ab alahbar berkata,ketika adam dalam keadaan telanjang, ALLOH­ berfirman padanya keluarlah kamu dariku, aku akan menunggumu maka adam berkata ya Tuhan sungguh aku tidak sanggup karena malu padamu.

QODAR ALLOH SWT DAN KEMA’SHUMAN NABI ADAM AS DARI DOSA

Salah satu yang wajib bagi para Rosul dan wajib bagi kita meyakininya adalah sifat amanah, yaitu terpeliharanya mereka daripada melakukan dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil, biak haram maupun makruh, baik sengaja maupun tidak. Untuk menyikapi masalah Nabi Adam, aku curhat dulu yach… aku pernah nonton tv film hidayah, disitu aku lihat ada orang jahat… banget sampai timbul rasa kebencian di hatiku kepadanya dan aku menjulukinya si penjahat berengsek….(hehe ma’af),  padahal kenyataanya apa.., ia (si penjahat) ternyata mendapat sambutan dan tepukan yang hangat dari sang sutradara bahkan mendapat uang (gaji) yang cukup besar…  yups…ia adalah pemain yang baik, secara shury (rupa / gambaran) ia adalah penjahat tetapi secara hakiky (yang sebenarnya) ia adalah seorang yang amat patuh kepada perintah atasan. Sama halnya dengan persoalan Nabi Adam as., lebih jelasnya coba kita intip tafsir showi juz 1:22

و الحق ان يقال ان ذلك من سر القدر فهي منهي عنه ظاهرا لا باطنا فانه بالباطن مأمور بالاولى من قصة الخضر مع موسى و اخوة يوسف معه على انه انبياء فان الله قال للملائكة اني جاعل في الارض خليفة كان قبل خلقه و هذا الامر مبرم يستحيل تخلفه فلما خلقه و اسكنه الجنة اعلمه بالنهي عن الشجرة صورة فهذا النهي صوري و اكله من الشجرة جبري لعلمه ان المصلحة مترتبة علي اكله و انما سمي معصية نظرا للنهي الظاهري فمن حيث الحقيقة لم يقع منه عصيان و من حيث الشريعة وقعت منه المخالفة و من ذلك قول ابن العربي لو كنت مكان ادم لاكلت الشجرة بتمامها لما ترتب علي اكله من الخير العظيم و ان لم يكن من ذلك الا وجود سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم لكفى

“Dan yang benar bahwa dikatakan sesungguhnya itu adalah sirrul qodar(rahasia taqdir), maka ia dilarang secara zhohir tetapi tidak secara batin. karena Nabi Adam as pada batinnya adalah diperintah terlebih utama dari kisahnya Nabi Khidir serta Nabi Musa dan saudara Nabi Yusuf beserta Nabi Yusuf apalagi mereka itu adalah para Nabi. Sesungguhnya Allah SWT saat berfirman kepada para malaikat “Seseungguhnya aku akan menjadikan di bumi seorang kholifah” adalah sebelum menciptakan Nabi Adam. Dan perkara ini adalah pasti dann mustahil salah. Lalu saat Allah menciptakannya dan menempatkannya di surga, diberi tahu dengan larangan makan buah pada rupanya(zohirnya). Larangan ini adalah larangan shury dann makan buahnya adalah jabary dengan sengaja, tahu dan sadar karena ia tahu bahwa kemaslahatan ada didalam memakannya. Dan itu disebut ma’siat karena memandang pada larangan yang dzohir. Dan dilihat dari sisi syari’at terjadi daripadanya suatu pelanggaran. Dan diantara ma’na ini apa yang dikatakan oleh Ibnul ‘Aroby : “Jika aku di tempat Nabi Adam maka aku akan makan buah itu dengan sempurna karena dalam memakannya itu ada kebaikan yang banyak, dan jika tak ada satu kebaikan pun selain wujudnya Sayyidina Muhammad SAW niscaya cukup”.

Lebih jelasnya liat lagi tafsir Showy pada juz dan halaman yang sama:

انه اجتهد فأخطأ فسمى الله خطأه معصية فلم يقع منه صغيرة ولا كبيرة انما هو من باب حسنات الابرار سيئات المقربين فلم يتعمد المخالفة

ومن نسب التعمد و العصيان له بمعنى فعل الكبيرة او الصغيرة فقد كفر و من نفى اسم العصيان عنه فقد كفر ايضا لنص الاية

“Bahwa sesungguhnya Adam berijtihad lalu salah ijtihadnya, maka Allah memberi nama kesalahannya itu dengan ma’siat padahal tak pernah terjadi dpdnya dosa kecil maupun dosa besar. Sesungguhnya ini termasuk dalam bab “hasanatul abror sayyiatul muqorrobin”(kebaikan orang abror adalah kejahatan orang muqorrobin).

BARANGSIAPA yang MEMBANGSAKAN SENGAJA DAN DOSA kepada NABI ADAM dengan MA’NA IA MELAKUKAN DOSA BESAR ATAU DOSA KECIL MAKA IA TELAH KAFIR, SEBAGAIMANA JUGA yang MENOLAK NAMA MA’SIYAT DARIPADANYA karena ADA NASH AYAT QUR’AN”.

Kema’siyatan Nabi Adam hanyalah sebuah skenario dari ALLAH tuk menurunkannya dari surga, karena sebelum ALLAH menciptakan Adam, ALLAH pernah berfirman ke para Malaikat untuk menjadikan seorang kholifah dibumi. Sedangkan Adam diciptakan disurga. lalu ALLAH membuat Adam makan buah khuldi sehingga tercapailah tujuan ALLAH menjadikan kholifah di bumi. Yang wajib kita i’tikadkan adalah NABI ADAM MA’SIAT HANYA SeCaRa DZOHIR/SYARI’ATNYA SAJA, SEDANGKAN SECARA HAKIKAT NABI ADAM ADALAH MA’SUM (TERPELIHARA dari MA’SIAT) bahkan Nabi Adam dikatakan ta’at karena sedang menjalankan skenario dari ALLAH.

Kenapa Allah tidak ciptakan saja langsung manusia di bumi sebagai khalifah? Artinya iblis yang kafir pun atas skenario Allah iblis pun diusir lalu mempengaruhi Adam-Hawa untuk makan buah terlarang? Karena Allah ta’ala lah yang berkehendak…bukan manusiannya…? Berhakkah manusia mempertanyakan kehendak-Nya?

Banyak hikmah-hikmah ALLAH tidak menciptakan manusia langsung di bumi… bisa dilihat dari proses yang terjadi pada nabi Adam AS sehingga diturunkan dari surga..

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

HAKIKAT MAULID NABI SAW DAN BERDIRI MENGHORMATI NABI DI SAAT SRAKAL

Inilah Hakikat Maulid Menurut Para Ulama

Setiap bulan Rabiul Awal, umat Muslim di berbagai dunia selalu mengadakan peringatan maulid Nabi Saw. Ulama sepakat bahwa Nabi Saw. dilahirkan pada hari Senin bulan Rabiul Awal. Karena itu, mereka selalu memperingatinya setiap tahun pada bulan Rabiul Awal. Lantas apa hakikat maulid menurut mereka?

Setidaknya, ada tiga hakikat peringatan maulid menurut para ulama. Ini penting untuk diketahui bersama agar semua tahu maksud dan tujuan para ulama dan kaum Muslim mengadakan peringatan maulid Nabi Saw.

Pertama, untuk mengungkapkan rasa cinta kepada Nabi Saw. Para ulama dan kaum Muslim mengadakan maulid karena didorong kecintaan dan kerinduan kepada Nabi Saw. Ini salah satu cara yang mereka tempuh untuk mengungkapkan rasa cinta mereka kepada Nabi Saw. Dalam kitab I’anatut Thalibin disebutkan bahwa Imam Assirri Assaqathi mengatakan;

من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي (صلى الله عليه وسلم) فقد قصد روضة من رياض الجنة لانه ما قصد ذلك الموضع إلا لمحبة الرسول. وقد قال عليه السلام: من أحبني كان معي في الجنة

“Barangsiapa yang menghadiri tempat pembacaan maulid Nabi Saw, maka sungguh dia menghadiri salah taman dari taman-taman surga. Hal ini karena sesungguhnya tiada dia menghadiri tempat itu melainkan karena cintanya kepada Rasul. Dan Nabi Saw pernah bersabda, ‘Barangsiapa mencintaiku, maka dia akan bersamaku di dalam surga.’”

Kedua, untuk mengagungkan kemuliaan dan kedudukan Nabi Saw. Salah satu bentuk para ulama dan kaum Muslim mengagungkan kemuliaan dan kedudukan Nabi Saw. adalah dengan memperingati kelahirannya. Disebutkan dalam kitab I’anatut Thalibin bahwa Imam Junaid Albaghdadi pernah berkata;

من حضر مولد الرسول وعظم قدره فقد فاز بالايمان

“Barangsiapa menghadiri maulid Rasulullah Saw. dan mengagungkan kemuliaan dan kedudukannya, maka dia telah beruntung dengan keimanannya.”

Ketiga, untuk bersyukur dan menampakkan suka cita atas kelahiran Nabi Saw. Nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada kaum Muslim adalah kelahiran Nabi Saw. Karena itu, nikmat ini patut untuk disyukuri dan sambut dengan suka cita dengan memperingati kelahirannya. Dalam kitab Almadkhol, Imam Ibnul Hajj Al Maliki berkata;

فكان يجب أن نزداد يوم الاثنين الثاني عشر من ربيع الأول من العبادات والخير شكرا للمولى على ما أولانا من هذه النعم العظيمة وأعظمها ميلاد المصطفى صلى الله عليه وسلم. ومن تعظيمه صلى الله عليه وآله وسلم الفرح بليلة ولادته وقراءة المولد

“Menjadi sebuah kewajiban bagi kita untuk menambah ibadah dan kebaikan setiap hari Senin bulan Rabiul Awal karena sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas anugerah nikmat-nikmat besar ini kepada kita. Dan nikmay paling besar adalah kelahiran Nabi Saw. Dan salah satu cara mengagungkan Nabi Saw. adalah berbahagia di malam kelahirannya dan membaca maulid.”

Benarkah Nabi Hadir Ketika Acara Maulid?

Sebagian umat Muslim meyakini kehadiran Nabi Saw. ketika diadakan acara untuk memperingati kelahirannya. Karena itu, mereka berdiri saat pembacaan maulid untuk menghormati kehadiran Nabi Saw.

Kehadiran Nabi Saw. di tempat acara maulid dan tempat pembacaan salawat sangat dimungkinkan. Hal ini karena meskipun jasad Nabi Saw. sudah wafat dan dikubur di Madinah, namun ruhnya tetap hidup dan mengunjungi tempat yang beliau kehendaki, terutama tempat di mana salawat dan salam dibaca.

Bahkan menurut Imam Assuyuthi, sebagaimana dikutip dalam kitab Alajwibah Alghaliyah, Nabi Saw. masih hidup, baik jasad dan ruhnya dan bisa menghadiri tempat yang beliau kehendaki. Imam Assuyuthi berkata;

قد تحصل من مجموع الاحاديث ان النبي صلى الله عليه وسلم حي بجسده وروحه وانه يتصرف حيث شاء في اقطار الارض والملكوت وهو بهيبته التي كان عليها قبل وفاته، وانه يغيب عن الابصار كما غيبت الملائكة، فاذا اراد الله رفع الحجاب عمن اراد كرامته برؤيته رآه على هيئته

“Bisa diambil kesimpulan dari berbagai kumpulan hadis bahwa Nabi Saw. masih hidup secara jasad dan ruhnya. Beliau bisa menghadiri tempat yang dikehendaki di seluruh penjuru bumi dan langit. Beliau tetap memilik haibah atau kewibawaan seperti sebelum beliau wafat. Beliau tidak terlihat oleh mata sama seperti para malaikat.  Jika Allah berkehendak membuka tabir dari hamba yang dikehendaki-Nya, maka dia bisa melihat langsung Nabi Saw. dengan rupa dan bentuk sebagaimana adanya.”

Dalam kitab Anni’matul Kubra, Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dengan tegas mengatakan bahwa kehadiran Nabi Saw. di tempat acara maulid bukan perkara yang mustahil. Karena setiap salawat dan salam dibaca, maka Nabi Saw. selalu hadir, sebagaiman hadirnya ruh para nabi dan rasul ketika berkumpul bersama Nabi Saw. di Baitul Maquddas saat beliau melakukan Isra’ dan Mi’raj.  Imam Ibnu Hajar berkata;

فلا يبعد أن تحضر روحه المقدسة عليه الصلاة والسلام في كل مجلس يذكر فيه وإن كان في مواضع كثيرة وبلدان متباعدة وهو أمر مسلم عند أهل الذوق الصحيح الكرام

“Bukanlah sesuatu yang mustahil, ruh Nabi Saw. yang suci hadir di setiap tempat yang disebut namanya walaupun di tempat yang jauh dan berbeda-beda. Ini adalah sesuatu yang diterima oleh ahli dzauq yang benar dan yang mulia.”

Hukum Berdiri saat Membaca Maulid Al Barzanji

Di antara kitab yang selalu dibaca saat memperingati Maulid Nabi saw. adalah kitab yang dikenal dengan Maulid Al Barzanji. Kitab ini berupa syair dan prosa yang berisi riwayat, salawat, dan puji-pujian kepada Baginda Nabi saw. Kitab ini sangat populer di kalangan umat Muslim. Pada momentum puncak pembacaan maulid, yakni pada pembacaan syair “Asyraqal”, para peserta maulid dianjurkan untuk berdiri. Bagaimana hukum berdiri saat membaca Maulid Al Barzanji?

Berdiri saat membaca Maulid Al Barzanji termasuk perbuatan yang sangat dinilai baik oleh para ulama. Berdiri setiap membaca Maulid Al Barzanji merupakan tradisi para ulama dan kaum Muslim sejak dahulu hingga sekarang. Untuk menghormati dan mengagungkan Nabi saw. yang sedang diperingati, maka mereka terdorong untuk berdiri sebagai bentuk takzim dan penghormatan.

Dalam kitab I’anatut Thalibin, Syaikh Abu Bakr Syatha mengatakan dengan jelas bahwa berdiri saat memperingati Maulid Nabi saw. termasuk mustahsan atau perbuatan yang sangat baik. Beliau berkata;

جرت العادة أن الناس إذا سمعوا ذكر وضعه صلى الله عليه وسلم يقومون تعظيما له صلى الله عليه وسلم وهذا القيام مستحسن لما فيه من تعظيم النبي صلى الله عليه وسلم ، وقد فعل ذلك كثير من علماء الامة الذين يقتدى بهم

“Sudah menjadi tradisi bahwa ketika mendengar kelahiran Nabi Muhammad saw. disebut-sebut, orang-orang akan berdiri sebagai bentuk penghormatan bagi Nabi saw. Berdiri seperti itu merupakan perbuatan yang sangat baik (mustahsan) sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi saw. Banyak ulama panutan umat yang sudah melakukan hal itu (berdiri).”

Selain itu, dalam Islam terdapat anjuran untuk berdiri dalam rangka menghormati orang yang dihormati. Misalnya, berdiri untuk menghormati seorang ulama. Jika berdiri untuk menghormati seorang ulama dianjurkan, maka tentu berdiri untuk menghormati Nabi saw lebih sangat dianjurkan lagi. Disebutkan dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Sa’id Alkhudri, dia berkata;

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْأَنْصَارِ: قُوْمُوْا إلَى سَيِّدِكُمْ أوْ خَيْرِكُمْ

“Rasulullah saw. berkata kepada para sahabat Anshar, ‘Berdirilah kalian untuk tuan kalian atau orang yang paling baik di antara kalian.’”

Dalam kitab Al-Bayan wat Ta’rif fi Dzikri Maulidin Nabawi, Sayyid Muhammad bin Alawi AlMaliki menyatakan bahwa Imam Al Barzanji di dalam kitab maulidnya yang berbentuk prosa mengatakan, ‘Sebagian para imam hadis yang mulia itu menganggap baik (istihsan) berdiri ketika disebutkan sejarah Nabi saw. Betapa beruntung orang-orang yang mengagungkan Nabi saw dan menjadikan hal itu sebagai puncak tujuan hidupnya.’

KHILAFIYAH TANGGAL KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAW DAN CARA MENYIKAPINYA

Khilafiyah Tanggal Kelahiran Nabi Muhammad saw.

Sudah masyhur dikalangan kaum Muslim bahwa Nabi Saw. dilahirkan pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal. Semua ulama sepakat bahwa Nabi Saw. dilahirkan pada hari Senin bulan Rabiul Awal. Namun mereka berbeda pendapat terkait tanggal kelahiran Nabi Saw. Berikut khilafiyah atau perbedaan ulama terkait tanggal kelahiran Nabi Saw.

Pertama, dalam kitab Lathaiful Ma’arif, Ibnu Rajab menulis bahwa menurut Imam Ibnu Ishaq dan ulama lainnya, tanggal kelahiran Nabi Saw. bertepatan dengan hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal. Pendapat ini diikuti oleh kebanyakan ulama dan menjadi pendapat yang masyhur di kalangan kaum Muslim.

Kedua, Nabi Saw. dilahirkan pada tanggal 2 bulan Rabiul Awal. Pendapat ini dikatakan oleh Imam Abdul Barr dalam kitab Alisti’ab.

Ketiga, Nabi Saw. dilahirkan pada tanggal 8 Rabiul Awal. Pendapat ini disebutkan oleh Imam Alhumaidi dari Imam Ibnu Hazam. Pendapat ini juga diiriwatkan oleh Imam Malik, Aqil, Yunus bin Yazid dan ulama lainnya dari Imam Azzuhri dari Jubair bin Muth’im.

Keempat, Nabi Saw. dilahirkan pada tanggal 10 Rabiul Awal. Pendapat ini dinukil oleh Ibnu Dihyah dan diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dari Abu Ja’far Al-Baqir.

Kelima, Nabi Saw. dilahirkan pada tanggal 9 Rabiul Awal bertepatan dengan 20 April 571 M.

Demikian khilafiyah atau perbedaan pendapat ulama terkait tanggal kelahiran Nabi Saw. Namun dari semua pendapat di atas, yang paling sahih dan diikuti oleh kabanyakan ulama adalah pendapat pertama, yaitu Nabi Saw. dilahirkan pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal. Hal ini karena berdasarkan hadis riwayat Ibnu Abi Syaibah dari Jabir dan Ibnu Abbas, mereka berdua berkata;

وُلِدَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفِيْلِ يَوْمَ الْاِثْنَيْنِ اَلثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ وَفِيْهِ بُعِثَ وَفِيْهِ عُرِجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ وَفِيْهِ هَاجَرَ وَفِيْهِ مَاتَ

“Rasulullah Saw. dilahirkan pada tahun Gajah, hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awal. Pada hari itu, Nabi Saw. diutus, pada hari itu Nabi Saw. mi’raj ke langit, pada hari itu Nabi Saw. hijrah dan pada hari itu Nabi Saw. wafat.”

Cara Bijak Imam Sakhawi Menyikapi Perbedaan Tanggal Lahir Nabi Muhammad Saw.

Sebagian umat Muslim melarang mengadakan peringatan maulid Nabi Saw. pada tanggal 12 Rabiul Awal. Salah satu alasan mereka adalah karena para ulama masih berbeda pendapat tentang tanggal kelahiran Nabi Saw. Sebagian mengatakan Nabi Saw. lahir pada tanggal 2 Rabiul Awal, 8, 9, 10, dan lainnya. Namun kebanyakan ulama mengatakan bahwa Nabi Saw. lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal.

Atas dasar perbedaan inilah sebagian umat Muslim melarang peringatan maulid. Mereka beranggapan bahwa merayakan maulid pada tanggal 12 Rabiul Awal tidak berdasar. Selain karena tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Saw, juga karena tanggal 12 Rabiul Awal belum tentu merupakan tanggal lahir Nabi Saw.

Menyikapi masalah perbedaan tanggal lahir Nabi Saw. sudah pernah dibahas oleh Imam Sakhawi dalam kitabnya Alajwibah Almardhiyah. Menurut beliau, perbedaan tanggal lahir Nabi Saw. justru memberikan keleluasaan untuk memperingati maulid di selain tanggal 12 Rabiul Awal. Kaum Muslim bisa memperingati maulid pada tanggal 2, 9, 10, 12 atau lainnya. Bahkan bisa juga memperingati maulid selama bulan Rabiul Awal tanpa harus terikat dengan tanggal tertentu.

Beliau berkata;

قُلْتُ: كَانَ مَوْلِدُهُ الشَّرِيْفُ عَلَى الأَصَحِّ لَيْلَةَ الإِثْنَيْنِ الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْع الأَوَّلِ، وَقِيْلَ: لِلَيْلَتَيْنِ خَلَتَا مِنْهُ، وَقِيْلَ: لِثَمَانٍ، وَقِيْلَ: لِعَشْرٍ وَقِيْلَ غَيْرُ ذَلِكَ، وَحِيْنَئِذٍ فَلاَ بَأْسَ بِفِعْلِ الْخَيْرِ فِيْ هذِهِ الأَيَّامِ وَاللَّيَالِيْ عَلَى حَسَبِ الاسْتِطَاعَةِ بَلْ يَحْسُنُ فِيْ أَيَّامِ الشَّهْرِ كُلِّهَا وَلَيَالِيْهِ

“Aku berkata (Imam Sakhawi); Tanggal kelahiran Nabi Saw. yang mulia menurut pendapat yang paling sahih adalah pada malam Senin, 12 Rabiul Awal. Dikatakan oleh ulama lain, Nabi Saw. lahir pada malam tanggal 2. Ada yang mengatakan pada tanggal 8, 10 dan lain sebagainya. Maka dari itu, tidak mengapa mengerjakan kebaikan pada setiap hari-hari ini dan malam-malamnya sesuai dengan kemampuan yang ada. Bahkan bagus dilakukan pada hari-hari dan malam-malam selama bulan Rabiul Awal.”

Dengan demikian, perbedaan ulama mengenai tanggal kelahiran Nabi Saw. bukan menjadi penghalang untuk mengadakan peringatan maulid di bulan Rabiul Awal. Sebaliknya, justru memberikan kelonggaran untuk mengadakan maulid selama sebulan penuh di bulan Rabiul Awal.