AGAMA AKAN HANCUR KALAU ORANG YANG BODOH BERDEBAT AL-QUR’AN

Bolehkah beragama tanpa mazhab? Jawab: tidak boleh.

Memang ada orang yang beragama terkesan tidak bermazhab, tapi sejatinya mereka bermazhab. Hanya saja mereka tidak mampu menjelaskan ke-bermazhaban-nya karena tidak pernah ngaji (belajar) secara serius soal rincian ilmiah cara beragama. Mereka shalat pakai mazhab, puasa pakai mazhab, haji pakai mazhab, dan seterusnya. Ketika ditanya ikut mazhab siapa, mereka tidak bisa menjawab. Inilah yang disebut sebagai orang awam dalam ilmu-ilmu agama.

Salahkah mereka? Tidak.

Selama menjalankan semua itu untuk diri sendiri, maka mereka tidak bersalah. Meski demikian, seharusnya setiap muslim tahu dari siapa (imam mazhab) dia mengambil ilmu urusan agamanya; mengikuti mazhab siapa. Muslim model ini adalah sebagian besar. Muslim model begini tidak boleh jadi seperti ustadz, kiai, ulama, atau tokoh agama. Karena, untuk menjadi tokoh agama yang dijadikan rujukan oleh masyakarat, orang harus mengerti soal bermazhab dalam beragama.

Tokoh agama harus dapat menjelaskan dengan rinci soal metodologi dan dasar-dasar bermazhab. Jika tidak, sebaiknya jadi pendengar saja, jangan ceramah. Mazhab dalam Islam dibangun berdasarkan akumulasi pemikiran dari generasi ke generasi. Dimulai dari guru utamanya, yaitu Nabi Muhammad SAW, para sahabat, tabi‘in, tabi‘it tabiin, ulama mazhab dan seterusnya, sampai generasi sekarang ini. Jadi, tidak bisa anda beragama kemudian mengaku guru anda adalah Nabi dan para sahabatnya secara langsung. Apalagi kemudian ceramah ke sana ke mari.

Para ulama sepakat akan pentingnya bermazhab dalam beragama. Sebagian mereka bahkan menganggap beragama tanpa bermazhab adalah kemungkaran. Dalam Kitab Aqdul Jayyid fi Ahkam al-Ijtihad wa at-Taqlid, hal. 14, Syah Waliyullah ad-Dahlawi al-Hanafi (w. 1176 H.) menyatakan, “Ketahuilah bahwa bermazhab (pada salah satu dari empat mazhab) adalah kebaikan yang besar. Meninggalkan mazhab adalah kerusakan (mafsadah) yang fatal.”

Pernyataannya ini didasari oleh beberapa alasan:

1. Semua ulama sepakat bahwa untuk mengetahui syariat harus berpegang teguh pada pendapat generasi salaf (Nabi dan sahabat). Generasi tabi‘in berpegang teguh pada para sahabat. Generasi tabi‘it tabi‘in berpegang teguh pada para tabi‘in. Demikian seterusnya: setiap generasi (ulama) berpegang teguh pada generasi sebelumnya. Ini masuk akal karena syariat tidak dapat diketahui kecuali dengan jalan menukil (naql) dan berpikir menggali hukum (istinbath). Tradisi menukil (naql) tidak bisa dilakukan kecuali satu generasi (ulama) menukil dari generasi sebelumnya (ittishal). Dalam berpikir mencari keputusan hukum (istinbath), mereka tidak bisa mengabaikan mazhab-mazhab yang sudah ada sebelumya. Ilmu-ilmu seperti nahwu, sharf, dan lain-lain tidak akan dapat dipahami jika tidak memahaminya melalui ahlinya.

2. Rasulullah SAW bersabda, “Ikutilah golongan yang paling besar (as-sawād al-a‘zham).” Setelah aku mempelajari berbagai mazhab yang benar, saya menemukan bahwa empat mazhab adalah golongan yang paling besar. Mengikuti empat mazhab berarti mengikut golongan paling besar.

3. Karena zaman telah jauh dari masa awal Islam, maka banyak ulama palsu yang terlalu berani berfatwa tanpa didasari kemampuan menggali hukum dengan baik dan benar.

Banyak amanat keilmuan yang ditinggalkan oleh mereka, dan mereka berani mengutip pendapat generasi salaf tanpa dipikirkan. Mereka mengutipnya lebih didasari oleh hawa nafsu belaka. Ayat-ayat Al-Quran dan As-Sunnah langsung dirujuk. Sementara mereka tidak memiliki otoritas keilmuan untuk istinbath. Mereka terlalu jauh dibanding para ulama yang benar-benar memiliki otoritas keilmuan dan selalu berpegang teguh pada amanat ilmiah. Kenyataan ini persis dengan apa yang dikatakan oleh Umar bin Khattab, “Islam akan hancur oleh perdebatan orang-orang yang bodoh terhadap Al-Qur‘an.” Ibnu Mas‘ud AS juga berkata, “Jika kamu ingin mengikuti, ikutilah orang (ulama) terdahulu (yang memegang teguh amanah ilmu pengetahuan).”

Wallahu alam.

SELAMAT IDUL FITRI 1441 H.

WWW.JEJAKISLAMCOM MENYAMPAIKAN : SELAMAT IDUL FITRI 1441 H.

TAQOBBALALLOH MINNA WA MINKUM SHIYAMANA SHIYAMAKUM WA JA’ALANALLOH MINAL ‘AIDIN WAL FAIZIN

AMIN……

SIKAP BERBEDA AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH DENGAN JABARIYAH DI TENGAH PANDEMI COVID 19

Di tengah merebaknya virus Corona atau Covid-19, pemerintah dan beberapa organisasi kemasyarakatan (Ormas) termasuk Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan kebijakan untuk mengantisipasi penyebaran virus membahayakan itu. Seperti adanya pembatasan berkumpul, shalat Jumat yang sementara ditiadakan bagi daerah terdampak, dan lain sebagainya. Dalam praktiknya di lapangan, kebijakan-kebijakan itu diterima oleh masyarakat tidak dalam satu pandangan, bahkan kadang disalahpahami. Menyikapi kondisi tersebut, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Pringsewu, Lampung H Taufik Qurrahim menegaskan bahwa imbauan yang dikeluarkan adalah demi kemaslahatan bersama, bukan karena takut terhadap penyakit atau imbauan dari orang yang tidak beragama. “Kita yang memegang teguh Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) harus bersikap di tengah-tengah (moderat) dalam segala hal termasuk bila ada musibah. Tidak seperti kelompok Jabariyah yang hanya sepenuhnya terserah Allah. Meskipun salaman dengan penderita virus, tidak pakai masker, mendatangi dan menciumi korban, bila belum takdirnya juga tidak akan mati,” katanya kepada NU Online, Rabu (18/3).

Begitu juga Aswaja tidak seperti penganut Muktazilah yang berprinsip bahwa apa yang menurut akal dari kesehatan, dokter dan Lain-lain di ikuti bukan karena takdir Allah. “Kita penganut Asy’ariah Aswaja maka di tengah-tengah antara keduanya (Jabariyah dan Muktazilah) dalam menyikapi dan menghadapi bencana dan takdir ini.

Ikhtiar secara dhahir harus dilakukan. Ikhtiar secara batin, berdoa dan saling mendoakan sebagai tawakal kepada Allah pun harus di tambah,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa shalat berjamaah di masjid tetap dilakukan begitupun shalat Jumat di masjid masih bisa dilakukan. Namun kegiatan-kegiatan massal yang melibatkan massa besar seperti pengajian akbar dan sejenisnya harus mempertimbangkan mudlaratnya dan dijadwal ulang. “Bukan di bubarkan atau ditiadakan. Semua ini guna mengurangi penyebaran virus yang medianya bisa melalui manusia, air, angin dan alam,” jelasnya. Munculnya pemahaman salah terkait larangan atau imbauan beberapa ibadah yang dilakukan bersama-sama dibatasi bukan bentuk pelarangan beribadah. Semua ini dilakukan untuk menjaga jiwa dan raga dari bahaya Covid-19 yang hukumnya juga wajib. Ia pun menyampaikan penjelasan bahwa permasalahan yang sedang dihadapi saat ini adalah pergerakan virus yang cepat dan tak terdeteksi.

“Menurut para pakar di bidangnya, virus ini bergerak terlalu cepat dan tidak terdeteksi siapa pembawanya. Dan korban yang kena pun selama 5-7 hari tidak merasa dirinya kena virus karena tidak ada tanda-tandanya,” jelasnya. Virus ini juga tidak terdeteksi dengan alat detektor yang saat ini dipakai di bandara, kantor, RSU dan di tempat fasilitas umum. Dalam jangka waktu 5-7 hari penderita belum mengeluh panas, demam, sesak napas dan gejala kena virus ini.

Virus ini bisa menularkan pada orang lain sepuluh, dua puluh, seratus, dua ratus, dan seterusnya. Ia menyontohkan jika satu kelas ada satu penderita, maka bila ia bersin bisa semua anak dalam satu kelas kena virus ganas ini. Dan orang lain yang tidak bersalah karena berinteraksi langsung akan jadi korban dari satu kelas ini. “Mari kita patuhi anjuran-anjuran demi kemaslahatan bersama. Jangan lupa bersih-bersih tangan dengan alkohol, cleaner, detrol dan lain-lain, juga dengan berwudlu dan menjaga stamina prima agar imun terhadap virus,” ungkapnya. Taufik juga mengingatkan dan mengimbau masyarakat tidak mendatangi daerah yang terpapar virus dan menjauhi orang yang terkena virus. Semua merupakan ikhtiar secara lahiriyah yang akan banyak membantu orang lain. Ia mengingatkan bahwa berkerumunnya manusia dalam satu tempat, menjadi salah satu media penyebaran yang sangat cepat dalam penularan Covid-19. “Makanya sudah sebaiknya dihindari. Bukan dibubarkan,” tandasnya.

PELAJARAN DARI KISAH SUJUDNYA PARA MALAIKAT KEPADA NABI ADAM AS.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menempatkan Adam dan anak keturunannya dalam kedudukan yang mulia, lebih mulia dari para makhluk-Nya yang lain. Salah satu bukti yang menunjukkan hal tersebut adalah setelah Allah menciptakan Adam, Allah perintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam ‘alaihi shalatu wa salam.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)

Peristiwa sujudnya para malaikat kepada Adam terkadang menimbulkan polemik di sebagian umat Islam atau memang isu ini sengaja dilemparkan ke tengah-tengah umat Islam untuk menebar kerancuan dengan mempertanyakan “Mengapa Allah meridhai makhluk-Nya sujud kepada selain-Nya? Bukankah ini sama saja melegitimasi kesyirikan? Dan Iblis adalah hamba Allah yang benar-benar mentauhidkannya karena menolak untuk sujud kepada Adam”. Kurang lebih demikian kalimat rancu yang sering dibesar-besarkan oleh sebagian kalangan.

Yang perlu kita ketahui adalah para ulama membagi sujud ke dalam dua bagian; pertama, sujud ibadah dan yang kedua sujud (tahiyah) penghormatan.

Sujud ibadah hanya boleh dipersembahkan kepada Allah semata tidak boleh kepada selain-Nya. Allah tidak pernah memerintahkan satu pun dari makhluk-Nya untuk bersujud kepada selain-Nya dalam rangka untuk beribadah kepada makhluk tersebut. Para malaikat Allah perintahkan sujud kepada Adam bukan dalam rangka sujud ibadah tetapi sujud penghormatan.

Sujud penghormatan merupakan bagian dari syariat umat-umat terdahulu, kemudian amalan ini diharamkan dengan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara contoh sujud penghormatan adalah sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam ‘alaihissalam. Demikian juga mimpi Nabi Yusuf yang ia ceritakan kepada Ayahnya Nabi Ya’qub lalu mimpi itu menjadi kenyataan. Di dalam surat Yusuf dikisahkan,

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (QS. Yusuf: 4)

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ

Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf, “Wahai ayahku inilah ta´bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan…” (QS. Yusuf: 100)

Inilah di antara contoh-contoh sujud penghormatan yang merupakan bagian dari syariat umat terdahulu.

Pengalaman serupa juga pernah terjadi kepada Muadz bin Jabal tatkala melihat ahlul kitab di Syam. Tatkala pulang dari Syam, Muadz sujud di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

مَا هَذَا يَا مُعَاذُ قَالَ أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَقْتُهُمْ يَسْجُدُونَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ نَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا تَفْعَلُوا فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Apa-apaan ini, wahai Mu’adz?” Muadz menjawab, “Aku baru datang dari Syam. Yang kulakukan ini serupa dengan mereka, (orang-orang di sana) mereja sujud untuk uskup dan pendeta-pendeta mereka. Aku pun berkeinginan melakukannya kepadamu.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jangan kau lakukan. Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk bersujud, maka akan kuperintahkan istri untuk bersujud kepada suaminya.” (HR Ibnu Majah, No. 1853).

Apa yang dilakukan penduduk Syam adalah contoh dari syariat terdahulu yang masih mereka amalkan, mereka sujud kepada pemuka-pemuka agama dan tokoh-tokoh mereka sebagai penghormatan untuk para pembesar tersebut, bukan untuk menyembah mereka.

Di antara contoh lainnya juga, ada seekor hewan melata yang sujud kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau melarangnya karena sujud kepada makhluk, baik itu sujud penghormatan terlebih lagi sujud untuk ibadah, haram hukumnya dalam syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam timbangan syariat Muhammad (baca: syariat Islam) sujud penghormatan sama saja dengan sujud ibadah, haram hukumnya apabila dipersembahkan kepada selain Allah.

Pelajaran lainnya yang dapat kita petik dari peristiwa sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam ‘alaihissalam adalah, iblis termasuk dari bangsa jin bukan dari golongan malaikat sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang.

Malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan bangsa jin termasuk iblis, Allah ciptakan dari api. Allah berfirman,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya…” (QS. Al-Kahfi: 50)

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Saya lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al-A’raf: 12)

Dengan demikian iblis bukanlah dari golongan malaikat, saat itu ia hanya bersama dengan para malaikat Allah yang taat. Ada yang menyatakan, dahulu iblis adalah bangsa jin yang taat kepada Allah. Inilah alasannya ia dimuliakan dengan dikumpulkan bersama para malaikat walaupun ia bukan malaikat. Namun akhirnya sifat sombongnya terlihat di hadapan para malaikat, tatkala Allah mengujinya dengan memerintahkan untuk sujud kepada Adam.

BAHWA ORANG TUA NABI ADALAH TERGOLONG AHLI SURGA

Sebagian Ibarah dan keterangan di ambil dari Ulama yang di idolakan ( ‘di klaim’) seperti Ibnu taimiyyah dan murid beliau Ibnul Qoyyim) dan ulama papan atas salafi wahabi seperti syeikh Ibnu Utsaimin. HAL INI di maksudkan agar orang yang berkeyakinan bahwa ortu Nabi saw masuk neraka tahu dan merubah keyakinanya yang salah tersebut.

Sebagaimana di ketahui bersama bahwa kedua orang tua Nabi Muhammad SAW seda pada zaman fatroh.
Simak hadits berikut:

باب فيمن لم تبلغه الدعوة ممن مات في فترة وغير ذلك

عن الأسود بن سريع أن نبي الله – صلى الله عليه وسلم – قال : ” أربعة يحتجون يوم القيامة : رجل أصم لا يسمع شيئا ، ورجل أحمق ، ورجل هرم ، ورجل مات في فترة ، فأما الأصم فيقول : لقد جاء الإسلام وما أسمع شيئا ، وأما الأحمق فيقول : يا رب لقد جاء الإسلام والصبيان يخذفوني بالبعر ، وأما الهرم فيقول : يا رب لقد جاء الإسلام وما أعقل شيئا ، وأما الذي مات في فترة فيقول : ما أتاني لك رسول فيأخذ مواثيقهم ليطيعنه ، فيرسل عليهم أن ادخلوا النار ، فوالذي نفسي بيده لو دخلوها كانت عليهم بردا وسلاما “

“Ada empat golongan pada hari kiamat yang akan mengajukan hujjah :
(1) Orang tuli yang tidak dapat mendengar,
(2) orang idiot,
(3) orang yang tua renta lagi pikun, dan
(4) orang yang meninggal pada jaman fatrah.
Orang yang tuli akan berkata : ‘Wahai Rabbku, Islam datang namun aku tidak mendengar sesuatupun tentangnya’.
Orang idiot berkata : ‘Islam datang, namun anak-anak melempariku dengan kotoran hewan’.
Orang yang tua lagi pikun berkata : ‘Sungguh Islam telah datang, namun aku tidak mengerti/paham’.
Dan orang yang mati di jaman fatrah berkata : ‘Wahai Rabbku, Rasul-Mu tidak mendatangiku’. Lalu diambillah perjanjian terhadap mereka untuk diuji. Kemudian akan diutus seorang utusan (Rasul) kepada mereka untuk memasuki api. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya mereka ke dalam api itu niscaya mereka akan merasakan dingin dan selamat (dari adzab)”

Sumber :

  • Majma’ al Zawaid
  • Ahkamu Ahlu al Dzimmah – Ibn Qoyyim al Jauziyah

MESTINYA DENGAN HADITS TERSEBUT SUDAH JELAS !!!

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

وهذا بخلاف ما كان يقوله بعض الناس كأبي إسحاق الإسفراييني ومن اتبعه يقولون لا نكفر إلا من يكفر فإن الكفر ليس حقا لهم بل هو حق لله وليس للإنسان أن يكذب على من يكذب عليه ولا يفعل الفاحشة بأهل من فعل الفاحشة بأهله بل ولو استكرهه رجل على اللواطة لم يكن له أن يستكرهه على ذلك ولو قتله بتجريع خمر أو تلوط به لم يجز قتله بمثل ذلك لأن هذا حرام لحق الله تعالى ولو سب النصارى نبينا لم يكن لنا أن نسبح المسيح والرافضة إذا كفروا أبا بكر وعمر فليس لنا أن نكفر عليا

“Hal ini bertentangan dengan pekataan sebagian orang seperti Abu Ishaq Al-Isfirayiiniy serta orang yang mengikuti pendapatnya, mereka mengatakan : Kami tidak mengkafirkan kecuali orang-orang mengkafirkan (kami). (Perkataan ini salah), karena takfir itu bukanlah hak mereka tapi hak Allah. Seseorang tidak boleh berdusta kepada orang yang pernah berdusta atas namanya. Tidak boleh pula ia berbuat keji (zina) dengan istri seseorang yang pernah menzinahi istrinya. Bahkan kalau ada orang yang memaksanya untuk melakukan liwath (homo sex), tidak boleh baginya untuk membalas dengan memaksanya untuk melakukan perbuatan yang sama, karena hal ini merupakan pelanggaran terhadap hak Allah. Seandainya orang Nashrani mencela Nabi kita, kita tidak boleh mencela Al-Masih (‘Isa ‘alaihis-salaam). Demikian pula seandainya orang-orang Rafidlah mengkafirkan Abu Bakar dan ‘Umar, tidak boleh bagi kita untuk mengkafirkan ‘Ali radliyallaahu ‘anhum ajma’iin” [Minhajus-Sunnah, 5/244 – Muassasah Qurthubah, Cet. 1 Th. 1406].

Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata dalam Qashidah Nuniyyah-nya :

الكفر حق الله ثم رسوله *** بالنص يثبت لا بقول فلان
من كان رب العالمين وعبده *** قد كفراه فذاك ذو الكفران

“Kekafiran itu adalah hak Allah dan Rasul-Nya — dengan nash yang tetap bukan dengan perkataan si Fulan

Barangsiapa yang Allah dan Rasul-Nya —- telah mengkafirkannya maka dialah orang kafir”.

[Qashidah Nuniyyah, hal. 277; Maktabah Ibni Taimiyyah, Cet. 2/1417, Kairo].

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin pentolan ulama wahabi saja berkata :

الحكم بالتكفير والتفسيق ليس إلينا بل هو إلى الله تعالى ورسوله صلى الله عليه وسلم، فهو من الأحكام الشرعية التي مردها إلى الكتاب والسنة، فيجب التثبت فيه غاية التثبت، فلا يكفر ولا يفسق إلا من دل الكتاب والسنة على كفره أو فسقه

“Menghukumi kafir atau fasiq bukanlah hak kita, namun ia merupakan hak Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ia merupakan hukum-hukum syari’ah yang harus dikembalikan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Oleh karena itu, wajib untuk menelitinya dengan seksama. Tidak boleh mengkafirkan atau memfasikkan kecuali orang-orang yang memang telah ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang kekafirannya atau kefasikannya” [Al-Qawaaidul-Mutslaa, hal. 87].

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

وليس لأحد أن يكفر أحدًا من المسلمين ـ وإن أخطأ وغلط ـ حتي تقام عليه الحجة، وتبين له المحَجَّة، ومن ثبت إسلامه بيقين لم يزل ذلك عنه بالشك، بل لا يزول إلا بعد إقامة الحجة، وإزالة الشبهة‏.‏

“Dan tidak boleh bagi seorangpun untuk mengkafirkan orang lain dari kaum muslimin walau ia bersalah dan keliru sampai ditegakkan padanya hujjah dan dijelaskan kepadanya bukti dan alasan. Barangsiapa yang telah tetap ke-Islam-an padanya dengan yakin, maka tidaklah hilang darinya hanya karena sebuah keraguan. Bahkan tidak hilang kecuali setelah ditegakkan kepadanya hujjah dan dihilangkan darinya syubhat” [Majmuu’ Al-Fataawaa – Ibnu Taimiyyah, 12/466].

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

فالتكفير يختلف بحسب اختلاف حال الشخص، فليس كل مخطئ ولا مبتدع، ولا جاهل ولا ضال، يكون كافرًا، بل ولا فاسقًا، بل ولا عاصيا

“Pengkafiran itu berbeda sesuai dengan keadaan individunya. Maka, tidak setiap orang yang bersalah, mubtadi’, jaahil, ataupun sesat otomatis menjadi kafir. Bahkan bisa jadi bukan seorang yang fasik dan bukan pula seorang yang durhaka” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 12/180]

Penutup, simak hadits Nabi SAW :

عن ابن عمر؛ أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : “إذا كفر الرجل أخاه فقد باء بها أحدهما”

Dari Ibnu ‘Umar : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila seseorang mengkafirkan saudaranya, maka hal itu akan kembali pada salah satu dari keduanya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari].

Wallahu a’lam

CARA CERDAS SITI ASIYAH MEMBUKTIKAN FIR’AUN BUKANLAH TUHAN

منزه عن كل نقص. والنقص عليه تعالي محال لان الناقص مفتقر الي من يكمله بدفع النقائص عنه

وحكي ان آسية قالت لفرعون اريد منك اللعب ومن غلب خرج عريانا الي باب القصر فاجابها الي ذلك فغلبته فقالت اوف بالعهد واخرج عريانا، فقال اصفحي عني ولك خزانة لؤلؤ، فقالت ان كنت الها فاوف بالشرط فان الوفاء بالعهد من شرط الالهية، فتجرد من ثيابه فلما راته الجواري كفرن به لقبح صورته وآمن بالله تعالي وكانت آسية تعرض عليهن الاسلام قبل ذلك فلا يقبلن

سلم المناجاة : ٥

Salah satu sifat wajib ilahiyah adalah bersih/lepas dari sifat kekurangan. Maka sifat kurang itu mustahil bagi Allah, karena “yang kurang” akan membutuhkan “yang lain” untuk dapat menjadi sempurna dan menutupi kekurangannya.

Sebenarnya siti Asiyah telah lama berda’wah (tentunya secara diam diam) dan mencoba menjelaskan dan membuktikan pada pengisi istana, bahwa suaminya “fir’aun” bukanlah TUHAN, namun asiyah belum menemukan cara jitu untuk membuktikannya, hingga ia melakukan siasat berikut.

Dikisahkan: Suatu ketika Asiyah mengajak fir’aun melakukan suatu permainan dengan satu perjanjian “Bagi yang kalah dalam permainan, harus telanjang dan berjalan sampai pintu istana” dan fir’aun menyetujuinya.

Asiyah menang dalam permainan itu dan ia berkata pada fir’aun: “Penuhi janjimu (kesepakatan kita) dan berjalanlah keluar dengan telanjang”.

Fir’aun berkata: “Maafkanlah aku (aku tidak bisa melakukan hal itu) dan sebagai ganti dari taruhan kita, aku berikan padamu gudang gudang yang berisi intan PERMATA lu’lu”.

Asiyah berkata: “Jika memang benar engkau ‘tuhan’, maka penuhilah perjanjianmu, karena memenuhi janji adalah sebagian dari tanda ke’tuhanan’.

Fir’aun (dengan berat hati) melepas semua pakaiannya dan berjalan menuju pintu istana dengan badan telanjang, dan ketika selir selirnya dan para pelayan istana umumnya melihat hal itu, seketika juga mereka mengingkari bahwa fir’aun adalah tuhan, karena dalam keadaan seperti itu fir’aun terlihat sangat buruk (tidak punya malu dan melebihi orang yang hilang akal alias gila).

Akhirnya mereka (para selir) percaya apa yang dikatakan asiyah selama ini bahwa fir’aun bukan tuhan, dan mereka menerima ajaran islam.

Maha suci Allah dari segala sifat kekurangan, Maha suci Allah yang tersifati dengan kesempurnaan, Maha suci Allah !!!

KETIKA MEYAKINI BAHWA HAQIQAT RASA GARAM ITU ASIN


Dulu ketika kita semua masih berada di alam ruh, semua ber-bay`at, mengakui dan bersaksi bahwa Allah adalah Robb kita
Q.S al-A’rof : 172

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Artinya : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Muncul pertanyaan di benak saya
=> Apakah dulu ruh saya memesan kepada Allah agar terlahir dari keluarga muslim ?
=> Apakah dulu ruh saya memesan kepada Allah agar terlahir dari suku sunda (pasundan) ?
=> Apakah dulu ruh saya memesan kepada Allah agar terlahir di Jawa Barat ?
=> Apakah dulu ruh saya memesan kepada Allah agar terlahir di pulau Jawa ?
=> Apakah dulu ruh saya memesan kepada Allah agar terlahir di Indonesia ?

Dan seterusnya dan seterusnya …
Demikian saya, begitu juga anda dengan latar belakang suku, ras bahkan agama dan kepercayaan yang berbeda.

Ditemukan jawaban dan umat muslim menyakininya ; “Karena Irodah Allah”. Titik tekan nya “ALLAH”.
Jika seumpama, ada seseorang menghina saya karena saya bersuku Jawa, sebenarnya penghina sedang menghina SEBUAH NAMA yang berada di belakang saya.
Demikian saudara saudara yang terlahir di Zimbabwe, Nigeria sebagai suku NEGRO yang ber-kulit hitam.
Demikian mereka dengan suku dan ras ber-kulit putih.
Demikian mereka dengan suku dan ras ber-mata sipit.
Dan sebagainya …

Demikian seorang muslim dengan adab dan akhlaq mulianya menyakini : “Semua kebaikan dan kesholihan yang ia perbuat, ia nisbatkan hanya kepada Allah. Dan semua keburukan dan ke-tidak patutan, ia nisbatkan kepada dirinya sendiri”.

Dan entahlah … setelah anda membaca ini, rasa asin garam itu memang sama kita rasakan ? atau anda merasakan rasa yang lain ketika mengecap garam, mungkin garam yang anda rasakan itu manis, pahit, asam atau kecut ? atau jangan-jangan lidah saya tidak sehat merasakan garam itu asin ?
Wallahul muwafiq wal musta’an

KALAU KARENA KEHEBATAN MAKA ADA YANG LEBIH HEBAT DARI NABI ISA AS UNTUK DIJADIKAN TUHAN

Sulamu al-Munajat : 4

وعن بعض العلماء انه اسر بالروم فقال لهم لما تعبدون عيسي؟ فقالوا لانه لا اب له. فقال فآدم اولي بكونه معبودا لانه لا ابوين له. قالوا فانه يحي الموتي. قال فحزقيل اولي بذلك لان عيس احيا اربعة نفر ، وحزقيل احيا اربعة آلاف . فقالوا فانه كان يبرئ الاكمه والابرص . قال فجرجيس اولي بذلك لانه طبح واحرق ثم خرج من المطبخة سالما
اه سلم المناجاة : ٤

Diriwayatkan sebagian ulama: Ketika pasukan romawi (nasrani) kalah perang dan menjadi tawanan pasukan muslimin, mereka (pasukan nasrani) ditanya:
“Mengapa kalian menyembah Isa as ?”.
mereka menjawab: “Karena Isa tidak mempunyai bapak”.
“Jika karena hal itu Nabi Isa di sembah, maka Nabi Adam as lebih utama disembah karena ia tidak mempunyai ibu dan bapak”. jawab muslim
Nasrani: “Karena Isa bisa menghidupkan orang yang telah mati”.
Muslim: “Jika karena hal itu Nabi Isa di sembah, maka Hizqiel lebih utama disembah,karena nabi isa hanya menghidupkan 4 orang saja, sedang hizqiel dapat menghidupkan 4000 pasukannya yang telah mati”.
Nasrani: “Karena Isa bisa menyembuhkan orang buta dan yang berpenyakit kulit”.
Muslim:” Jika karena hal itu Nabi Isa di sembah, maka JIRJIS lebih utama untuk disembah, karena ia pernah dihukum dengan di rebus (dimasukkan dalam wazan besar dengan air yang bergolak , namun ia keluar dari tempat rebusan itu dengan selamat”.

QS Surat Al-Maidah, ayat 116-118

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ (116) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (117) إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (118)

  1. Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah’? Isa menjawab, “Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib.
  2. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya, yaitu, ‘Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian,’ dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku. Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.
  3. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau; dan jika Engkau meng­ampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

سَمِعْتُ أَبَا بُرْدَةَ يُحَدِّثُ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ أَبِيهِ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ دُعِيَ بِالْأَنْبِيَاءِ وَأُمَمِهِمْ، ثُمَّ يُدْعَى بِعِيسَى فَيُذَكِّرُهُ اللَّهُ نِعْمَتَهُ عَلَيْهِ، فيقِر بِهَا، فيقولُ: {يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلى وَالِدَتِكَ} الْآيَةَ [الْمَائِدَةِ: 110] ثُمَّ يَقُولُ: {أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ} ؟ فَيُنْكِرُ أَنْ يَكُونَ قَالَ ذَلِكَ، فَيُؤْتَى بِالنَّصَارَى فَيُسْأَلُونَ، فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، هُوَ أَمَرَنَا بِذَلِكَ، قَالَ: فَيُطَوَّلُ شَعْرُ عِيسَى، عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَيَأْخُذُ كُلُّ مَلَكٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ بِشَعْرَةٍ مِنْ شَعْرِ رَأْسِهِ وَجَسَدِهِ. فَيُجَاثِيهِمْ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ، عَزَّ وَجَلَّ، مِقْدَارَ أَلْفِ عَامٍ، حَتَّى تُرْفَعَ عَلَيْهِمُ الْحُجَّةُ، وَيُرْفَعَ لَهُمُ الصَّلِيبُ، وَيُنْطَلَقَ بِهِمْ إِلَى النَّارِ”،

Disebutkan bahwa ia pernah mendengar Abu Burdah menceritakan hadis kepada Umar ibnu Abdul Aziz, dari ayahnya (yaitu Abu Musa Al-Asy’ari) yang telah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda, “Apabila hari kiamat tiba, maka para nabi dipanggil bersama dengan umatnya masing-masing. Kemudian dipanggillah Nabi Isa, lalu Allah mengingatkannya akan nikmat-nikmat yang telah Dia karuniakan kepadanya, dan Nabi Isa mengakuinya.” Allah Swt. berfirman: Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu. (Al-Maidah: 110), hingga akhir ayat. Kemudian Allah Swt. berfirman: Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah”? (Al-Maidah: 116) Isa a.s. mengingkari, bahwa dia tidak mengatakan hal tersebut. Kemudian didatangkanlah orang-orang Nasrani, lalu mereka ditanya. Maka mereka mengatakan, “Ya, dialah yang mengajarkan hal tersebut kepada kami.” Maka rambut Nabi Isa a.s. menjadi memanjang, sehingga setiap malaikat memegang sehelai rambut kepala dan rambut tubuhnya (karena merinding ketakutan). Lalu mereka didudukkan di hadapan Allah Swt. dalam jarak seribu tahun perjalanan, hingga hujjah (alasan) mereka ditolak dan diangkatkan bagi mereka salib, kemudian mereka digiring ke dalam neraka.

Wallohul muwafiq ila aqwamith thoriq

BATASAN TOLERANSI KEPADA ORANG KAFIR MENURUT ULAMA FIQH DAN AHLI TAFSIR

Toleransi Yang Benar Menurut Fuqoha Dan Mufassir
(Harap dibaca pelan pelan dan sampai akhir, agar tidak keseleo)

خاتمة ) تحرم مودة الكافر لقوله تعالى لا تجد قوما يؤمنون بالله واليوم الاخر يوادون من حاد الله ورسوله أن مخالطة الكفار مكروهة

Dalam khataman keterangan ini dijelaskan bahwa haram hukumnya mencintai orang kafir dengan dasar firmannya allah
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari .akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya (Al-Mujadalah : 22).…”
Sedangkan sesungguhnya bergaul/toleransi dengan orang kafir itu hukumnya adalah makruh.

أجيب بأن المخالطة ترجع إلى الظاهر والمودة إلى الميل القلبى ( قوله تحرم مودة الكافر ) أى المحبة والميل بالقلب

Dan saya pertegas pada jawaban ini bahwa sesungguhnya bergaul itu adalah aktivitas dhahiriyyah, sedangkan cinta itu adalah sebuah aktifitas kecondongannya hati.
Jadi kita harus bisa memilahnya serta membedakan dari kedua hal tadi
Dan dari penjelasan hukum haram mencintai orang kafir tadi maksudnya ialah rasa cinta dan kecenderungan hati dalam hati

وأما المخالطة الظاهرية فمكروهة

Adapun hukumnya bergaul/toleransi secara dhohiriyyah dengan orang kafir adalah makruh

Jadi kesimpulannya adalah :
وتحرم موادتهم وهو الميل القلبى لا من حيث الكفر وإلا كانت كفرا وسواء فى ذلك أكانت لأصل أو فرع أم غيرهما

Hukum mencintai orang kafir maksudnya cenderungnya hati pada orang kafir itu hukumnya adalah haram, namun apabila mencintai kekafirannya orang kafir maka hukumnya adalah kafir

وتكره مخالطته ظاهرا ولو بمهاداة فيما يظهر ما لم يرج إسلامه ويلحق به ما لوكان بينهما نحو رحم أو جوار

Sedangkan hukum nya bergaul/toleransi dengan orang kafir itu adalah makruh selama orang kafirnya itu tidak diharapkan ke islamannya ( masuk islam ) dan hukum makruh ini tetap berlaku meskipun orang kafirnya itu adalah saudaranya atau masih tetangganya

وقوله ما لم يرج إسلامه أو يرج منه نفعا أو دفع شر لا يقوم غيره فيه مقامه أما معاشرتهم لدفع ضرر يحصل منهم أو جلب نفع فلا حرمة فيه إهـ

Adapun bergaul/toleransi dengan orang kafir sebab ada tujuan manfaat atau tujuan minta pertolongan yang sangat mendesak (seperti berobat pada dokter kafir) maka hukumnyaTidak Haram
sedangkan bergaul dengan orang fasiq sebab ada tujuan supaya terhindar dari mala petaka ( perpecahan ) atau ada tujuan supaya menjaga kemanfaatan (persatuan ) maka hukumnya adalah tidak haram

SUMBER I : Fatawa al Kubro juz 4 halaman 117 (الفتاوى الكبرى الجزء الرابع ص : 117)


كن فيما بين الناس ظاهرا وامش جانبا من موافقتهم فيما يأتون ويذرون

Beradalah kalian diantara manusia secara zhahirnya dan berjalanlah dipinggir dari kesatuan mereka dalam masalah yang dikerjakan dan ditinggalkan.

Maksud yang lebih jelas lagi adalah ;

لا تجانب معاشرتهم ولكن جانب الحوض فى أمورهم

Janganlah kalian menjauhi pergaulan pada manusia yang lain tetapi jauhilah mendalami ( mencampuri ) urusan urusan mereka

Di pertegas lagi :

ليكن جسدك مع الناس وقلبك مع الله عز وجل . إهـ

Hendaklah jasad kalian itu ( bergaul dengan baik) bersama manusia namun hati kalian tetap serasa bersama allah azza wa jalla

SUMBER II : Dalam kitab tafsir khozin juz 1 halaman 185-186 (تفسير الخازن الجزء الأول ص : 185 – 186)


فبما رحمة من الله لنت يا محمد لهم

Karena rahmat dari Allah engkau wahai nabi Muhammad (dijadikan ) berlemah lembut kepada mereka, (kepada manusia, kepada sahabat) red

أي سهلت أخلاقك إذ خالفوك

Maksudnya akhlakmu ( ya muhammad ) yang tiada pernah mempersulit dikala mereka mengingkarimu

ولو كنت فظا سىء الخلق

Andaikata engkau itu kasar, maksudnya berkelakuan buruk

غليظ القلب جافيا فأغلظت لهم

Dan keras hati, maksudnya keras kepala dan kau gunakan mengerasi manusia

لانفضوا تفرقوا من حولك

Pasti mereka akan lari meninggalkanmu

SUMBER III : Kitab Faidhul Qadir juz 6 halaman 104 (فيض القدير الجزء السادس ص : 104)

Wallahu a’lamu bi muroodihi

HUKUM MENGHIBAH (NGEGOSIP, NGRASANI) ORANG KAFIR DAN AHLI BID’AH

فروع: الأول – سئل الغزالى عن غيبة الكافر فقال هى فى حق المسلم محذورة لثلاث علل : الإيذاء، وتنقيص ما خلقه الله تعالى، وتضييع الوقت بما لا يعنى.
والأولى تقتضى التحريم، والثانية الكراهة، والثالثة خلاف الأولى.
واما الذمى فكالمسلم فيما يرجع الى المنع من الإيذاء، لأن الشرع عصم دمه وعرضه وماله، قال فى الخادم والأولى هى الصواب.
فقد قال عليه الصلاة والسلام من سمع اى اسمع يهوديا أو نصرانيا ما يؤذيه فله النار . ولا كلام بعد هذا لظهور دلالته على الحرمة
واما الحربى فليس بمحرم على الأولى، ويكره على الثانية والثالثة
وأما المبتدع،فإن كفر فكالحربى، وإلا فكالمسلم. وأما ذكره ببدعته فليس مكروها
اه إسعاد الرفيق ، جزء ٢ صحيفة ٨٢-٨٣

Beberapa cabang :
Pertama
Hujjatul islam al-imam al-Ghozali ditanya seputar mengghibah kafir (non muslim). Imam al-Ghozali menjawab : Ghibah kepada kafir dalam haq seorang muslim adalah dilarang karena tiga faktor/tujuan/motif (ilat) : Pertama, menyakiti. Kedua, mengurangi atau merendahkan apa yang menjadi ciptaan Allah. Ketiga, menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak berguna.
Yang pertama (tujuan menyakiti) dengan konsekwensi hukum HARAM.

Yang kedua MAKRUH dan
Yang ketiga KHILAFUL AULA (menyalahi keutamaan).

Adapun (mengghibah) DZIMMI, maka hukumnya seperti (mengghibah) MUSLIM, yaitu sama sama pada larangan menyakiti. Karena Syara’ melindungi darah, kehormatan dan hartanya dzimmi.
Shohibul qoul dalam kitab al-Khodim menyatakan bahwa pendapat pertama (yaitu haram) adalah pendapat yang benar.

Sabda Rosulullah SAW :

(من سمع اى اسمع يهوديا أو نصرانيا ما يؤذيه فله النار )


Tiada ucapan/kalam setelah ini karena telah jelas dalil atas keharamannya.

Adapun kafir HARBIY, maka ghibah atasnya TIDAK DIHARAMKAN menurut qoul yang pertama. dan MAKRUH menurut qoul kedua dan ketiga.

Adapun MUBTADI’ (PELAKU BID’AH), ghibah atasnya di tafshil:

  • Jika bid’ahnya menjatuhkannya pada KEKUFURAN, maka ghibah atasnya seperti hukum ghibah pada HARBIY.
  • Jika bid’ahnya tidak sampai menjatuhkannya pada kekufuran, maka hukumnya seperti (ghibah) pada seorang MUSLIM.

Adapun menyebutkan/mengutarakan/menyampaikan perkara perkara bid’ah yang dilakukan oleh pelaku bid’ah, maka hukumnya TIDAK MAKRUH.
…Dan seterusnya…

Sumber : Is’adur Rofiq, juz 2 hal 72-73
Wallahu a’lam.