KETIKA MEYAKINI BAHWA HAQIQAT RASA GARAM ITU ASIN


Dulu ketika kita semua masih berada di alam ruh, semua ber-bay`at, mengakui dan bersaksi bahwa Allah adalah Robb kita
Q.S al-A’rof : 172

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Artinya : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Muncul pertanyaan di benak saya
=> Apakah dulu ruh saya memesan kepada Allah agar terlahir dari keluarga muslim ?
=> Apakah dulu ruh saya memesan kepada Allah agar terlahir dari suku sunda (pasundan) ?
=> Apakah dulu ruh saya memesan kepada Allah agar terlahir di Jawa Barat ?
=> Apakah dulu ruh saya memesan kepada Allah agar terlahir di pulau Jawa ?
=> Apakah dulu ruh saya memesan kepada Allah agar terlahir di Indonesia ?

Dan seterusnya dan seterusnya …
Demikian saya, begitu juga anda dengan latar belakang suku, ras bahkan agama dan kepercayaan yang berbeda.

Ditemukan jawaban dan umat muslim menyakininya ; “Karena Irodah Allah”. Titik tekan nya “ALLAH”.
Jika seumpama, ada seseorang menghina saya karena saya bersuku Jawa, sebenarnya penghina sedang menghina SEBUAH NAMA yang berada di belakang saya.
Demikian saudara saudara yang terlahir di Zimbabwe, Nigeria sebagai suku NEGRO yang ber-kulit hitam.
Demikian mereka dengan suku dan ras ber-kulit putih.
Demikian mereka dengan suku dan ras ber-mata sipit.
Dan sebagainya …

Demikian seorang muslim dengan adab dan akhlaq mulianya menyakini : “Semua kebaikan dan kesholihan yang ia perbuat, ia nisbatkan hanya kepada Allah. Dan semua keburukan dan ke-tidak patutan, ia nisbatkan kepada dirinya sendiri”.

Dan entahlah … setelah anda membaca ini, rasa asin garam itu memang sama kita rasakan ? atau anda merasakan rasa yang lain ketika mengecap garam, mungkin garam yang anda rasakan itu manis, pahit, asam atau kecut ? atau jangan-jangan lidah saya tidak sehat merasakan garam itu asin ?
Wallahul muwafiq wal musta’an

KALAU KARENA KEHEBATAN MAKA ADA YANG LEBIH HEBAT DARI NABI ISA AS UNTUK DIJADIKAN TUHAN

Sulamu al-Munajat : 4

وعن بعض العلماء انه اسر بالروم فقال لهم لما تعبدون عيسي؟ فقالوا لانه لا اب له. فقال فآدم اولي بكونه معبودا لانه لا ابوين له. قالوا فانه يحي الموتي. قال فحزقيل اولي بذلك لان عيس احيا اربعة نفر ، وحزقيل احيا اربعة آلاف . فقالوا فانه كان يبرئ الاكمه والابرص . قال فجرجيس اولي بذلك لانه طبح واحرق ثم خرج من المطبخة سالما
اه سلم المناجاة : ٤

Diriwayatkan sebagian ulama: Ketika pasukan romawi (nasrani) kalah perang dan menjadi tawanan pasukan muslimin, mereka (pasukan nasrani) ditanya:
“Mengapa kalian menyembah Isa as ?”.
mereka menjawab: “Karena Isa tidak mempunyai bapak”.
“Jika karena hal itu Nabi Isa di sembah, maka Nabi Adam as lebih utama disembah karena ia tidak mempunyai ibu dan bapak”. jawab muslim
Nasrani: “Karena Isa bisa menghidupkan orang yang telah mati”.
Muslim: “Jika karena hal itu Nabi Isa di sembah, maka Hizqiel lebih utama disembah,karena nabi isa hanya menghidupkan 4 orang saja, sedang hizqiel dapat menghidupkan 4000 pasukannya yang telah mati”.
Nasrani: “Karena Isa bisa menyembuhkan orang buta dan yang berpenyakit kulit”.
Muslim:” Jika karena hal itu Nabi Isa di sembah, maka JIRJIS lebih utama untuk disembah, karena ia pernah dihukum dengan di rebus (dimasukkan dalam wazan besar dengan air yang bergolak , namun ia keluar dari tempat rebusan itu dengan selamat”.

QS Surat Al-Maidah, ayat 116-118

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ (116) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (117) إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (118)

  1. Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah’? Isa menjawab, “Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib.
  2. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya, yaitu, ‘Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian,’ dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku. Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.
  3. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau; dan jika Engkau meng­ampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

سَمِعْتُ أَبَا بُرْدَةَ يُحَدِّثُ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ أَبِيهِ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ دُعِيَ بِالْأَنْبِيَاءِ وَأُمَمِهِمْ، ثُمَّ يُدْعَى بِعِيسَى فَيُذَكِّرُهُ اللَّهُ نِعْمَتَهُ عَلَيْهِ، فيقِر بِهَا، فيقولُ: {يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلى وَالِدَتِكَ} الْآيَةَ [الْمَائِدَةِ: 110] ثُمَّ يَقُولُ: {أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ} ؟ فَيُنْكِرُ أَنْ يَكُونَ قَالَ ذَلِكَ، فَيُؤْتَى بِالنَّصَارَى فَيُسْأَلُونَ، فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، هُوَ أَمَرَنَا بِذَلِكَ، قَالَ: فَيُطَوَّلُ شَعْرُ عِيسَى، عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَيَأْخُذُ كُلُّ مَلَكٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ بِشَعْرَةٍ مِنْ شَعْرِ رَأْسِهِ وَجَسَدِهِ. فَيُجَاثِيهِمْ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ، عَزَّ وَجَلَّ، مِقْدَارَ أَلْفِ عَامٍ، حَتَّى تُرْفَعَ عَلَيْهِمُ الْحُجَّةُ، وَيُرْفَعَ لَهُمُ الصَّلِيبُ، وَيُنْطَلَقَ بِهِمْ إِلَى النَّارِ”،

Disebutkan bahwa ia pernah mendengar Abu Burdah menceritakan hadis kepada Umar ibnu Abdul Aziz, dari ayahnya (yaitu Abu Musa Al-Asy’ari) yang telah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda, “Apabila hari kiamat tiba, maka para nabi dipanggil bersama dengan umatnya masing-masing. Kemudian dipanggillah Nabi Isa, lalu Allah mengingatkannya akan nikmat-nikmat yang telah Dia karuniakan kepadanya, dan Nabi Isa mengakuinya.” Allah Swt. berfirman: Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu. (Al-Maidah: 110), hingga akhir ayat. Kemudian Allah Swt. berfirman: Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah”? (Al-Maidah: 116) Isa a.s. mengingkari, bahwa dia tidak mengatakan hal tersebut. Kemudian didatangkanlah orang-orang Nasrani, lalu mereka ditanya. Maka mereka mengatakan, “Ya, dialah yang mengajarkan hal tersebut kepada kami.” Maka rambut Nabi Isa a.s. menjadi memanjang, sehingga setiap malaikat memegang sehelai rambut kepala dan rambut tubuhnya (karena merinding ketakutan). Lalu mereka didudukkan di hadapan Allah Swt. dalam jarak seribu tahun perjalanan, hingga hujjah (alasan) mereka ditolak dan diangkatkan bagi mereka salib, kemudian mereka digiring ke dalam neraka.

Wallohul muwafiq ila aqwamith thoriq

BATASAN TOLERANSI KEPADA ORANG KAFIR MENURUT ULAMA FIQH DAN AHLI TAFSIR

Toleransi Yang Benar Menurut Fuqoha Dan Mufassir
(Harap dibaca pelan pelan dan sampai akhir, agar tidak keseleo)

خاتمة ) تحرم مودة الكافر لقوله تعالى لا تجد قوما يؤمنون بالله واليوم الاخر يوادون من حاد الله ورسوله أن مخالطة الكفار مكروهة

Dalam khataman keterangan ini dijelaskan bahwa haram hukumnya mencintai orang kafir dengan dasar firmannya allah
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari .akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya (Al-Mujadalah : 22).…”
Sedangkan sesungguhnya bergaul/toleransi dengan orang kafir itu hukumnya adalah makruh.

أجيب بأن المخالطة ترجع إلى الظاهر والمودة إلى الميل القلبى ( قوله تحرم مودة الكافر ) أى المحبة والميل بالقلب

Dan saya pertegas pada jawaban ini bahwa sesungguhnya bergaul itu adalah aktivitas dhahiriyyah, sedangkan cinta itu adalah sebuah aktifitas kecondongannya hati.
Jadi kita harus bisa memilahnya serta membedakan dari kedua hal tadi
Dan dari penjelasan hukum haram mencintai orang kafir tadi maksudnya ialah rasa cinta dan kecenderungan hati dalam hati

وأما المخالطة الظاهرية فمكروهة

Adapun hukumnya bergaul/toleransi secara dhohiriyyah dengan orang kafir adalah makruh

Jadi kesimpulannya adalah :
وتحرم موادتهم وهو الميل القلبى لا من حيث الكفر وإلا كانت كفرا وسواء فى ذلك أكانت لأصل أو فرع أم غيرهما

Hukum mencintai orang kafir maksudnya cenderungnya hati pada orang kafir itu hukumnya adalah haram, namun apabila mencintai kekafirannya orang kafir maka hukumnya adalah kafir

وتكره مخالطته ظاهرا ولو بمهاداة فيما يظهر ما لم يرج إسلامه ويلحق به ما لوكان بينهما نحو رحم أو جوار

Sedangkan hukum nya bergaul/toleransi dengan orang kafir itu adalah makruh selama orang kafirnya itu tidak diharapkan ke islamannya ( masuk islam ) dan hukum makruh ini tetap berlaku meskipun orang kafirnya itu adalah saudaranya atau masih tetangganya

وقوله ما لم يرج إسلامه أو يرج منه نفعا أو دفع شر لا يقوم غيره فيه مقامه أما معاشرتهم لدفع ضرر يحصل منهم أو جلب نفع فلا حرمة فيه إهـ

Adapun bergaul/toleransi dengan orang kafir sebab ada tujuan manfaat atau tujuan minta pertolongan yang sangat mendesak (seperti berobat pada dokter kafir) maka hukumnyaTidak Haram
sedangkan bergaul dengan orang fasiq sebab ada tujuan supaya terhindar dari mala petaka ( perpecahan ) atau ada tujuan supaya menjaga kemanfaatan (persatuan ) maka hukumnya adalah tidak haram

SUMBER I : Fatawa al Kubro juz 4 halaman 117 (الفتاوى الكبرى الجزء الرابع ص : 117)


كن فيما بين الناس ظاهرا وامش جانبا من موافقتهم فيما يأتون ويذرون

Beradalah kalian diantara manusia secara zhahirnya dan berjalanlah dipinggir dari kesatuan mereka dalam masalah yang dikerjakan dan ditinggalkan.

Maksud yang lebih jelas lagi adalah ;

لا تجانب معاشرتهم ولكن جانب الحوض فى أمورهم

Janganlah kalian menjauhi pergaulan pada manusia yang lain tetapi jauhilah mendalami ( mencampuri ) urusan urusan mereka

Di pertegas lagi :

ليكن جسدك مع الناس وقلبك مع الله عز وجل . إهـ

Hendaklah jasad kalian itu ( bergaul dengan baik) bersama manusia namun hati kalian tetap serasa bersama allah azza wa jalla

SUMBER II : Dalam kitab tafsir khozin juz 1 halaman 185-186 (تفسير الخازن الجزء الأول ص : 185 – 186)


فبما رحمة من الله لنت يا محمد لهم

Karena rahmat dari Allah engkau wahai nabi Muhammad (dijadikan ) berlemah lembut kepada mereka, (kepada manusia, kepada sahabat) red

أي سهلت أخلاقك إذ خالفوك

Maksudnya akhlakmu ( ya muhammad ) yang tiada pernah mempersulit dikala mereka mengingkarimu

ولو كنت فظا سىء الخلق

Andaikata engkau itu kasar, maksudnya berkelakuan buruk

غليظ القلب جافيا فأغلظت لهم

Dan keras hati, maksudnya keras kepala dan kau gunakan mengerasi manusia

لانفضوا تفرقوا من حولك

Pasti mereka akan lari meninggalkanmu

SUMBER III : Kitab Faidhul Qadir juz 6 halaman 104 (فيض القدير الجزء السادس ص : 104)

Wallahu a’lamu bi muroodihi

HUKUM MENGHIBAH (NGEGOSIP, NGRASANI) ORANG KAFIR DAN AHLI BID’AH

فروع: الأول – سئل الغزالى عن غيبة الكافر فقال هى فى حق المسلم محذورة لثلاث علل : الإيذاء، وتنقيص ما خلقه الله تعالى، وتضييع الوقت بما لا يعنى.
والأولى تقتضى التحريم، والثانية الكراهة، والثالثة خلاف الأولى.
واما الذمى فكالمسلم فيما يرجع الى المنع من الإيذاء، لأن الشرع عصم دمه وعرضه وماله، قال فى الخادم والأولى هى الصواب.
فقد قال عليه الصلاة والسلام من سمع اى اسمع يهوديا أو نصرانيا ما يؤذيه فله النار . ولا كلام بعد هذا لظهور دلالته على الحرمة
واما الحربى فليس بمحرم على الأولى، ويكره على الثانية والثالثة
وأما المبتدع،فإن كفر فكالحربى، وإلا فكالمسلم. وأما ذكره ببدعته فليس مكروها
اه إسعاد الرفيق ، جزء ٢ صحيفة ٨٢-٨٣

Beberapa cabang :
Pertama
Hujjatul islam al-imam al-Ghozali ditanya seputar mengghibah kafir (non muslim). Imam al-Ghozali menjawab : Ghibah kepada kafir dalam haq seorang muslim adalah dilarang karena tiga faktor/tujuan/motif (ilat) : Pertama, menyakiti. Kedua, mengurangi atau merendahkan apa yang menjadi ciptaan Allah. Ketiga, menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak berguna.
Yang pertama (tujuan menyakiti) dengan konsekwensi hukum HARAM.

Yang kedua MAKRUH dan
Yang ketiga KHILAFUL AULA (menyalahi keutamaan).

Adapun (mengghibah) DZIMMI, maka hukumnya seperti (mengghibah) MUSLIM, yaitu sama sama pada larangan menyakiti. Karena Syara’ melindungi darah, kehormatan dan hartanya dzimmi.
Shohibul qoul dalam kitab al-Khodim menyatakan bahwa pendapat pertama (yaitu haram) adalah pendapat yang benar.

Sabda Rosulullah SAW :

(من سمع اى اسمع يهوديا أو نصرانيا ما يؤذيه فله النار )


Tiada ucapan/kalam setelah ini karena telah jelas dalil atas keharamannya.

Adapun kafir HARBIY, maka ghibah atasnya TIDAK DIHARAMKAN menurut qoul yang pertama. dan MAKRUH menurut qoul kedua dan ketiga.

Adapun MUBTADI’ (PELAKU BID’AH), ghibah atasnya di tafshil:

  • Jika bid’ahnya menjatuhkannya pada KEKUFURAN, maka ghibah atasnya seperti hukum ghibah pada HARBIY.
  • Jika bid’ahnya tidak sampai menjatuhkannya pada kekufuran, maka hukumnya seperti (ghibah) pada seorang MUSLIM.

Adapun menyebutkan/mengutarakan/menyampaikan perkara perkara bid’ah yang dilakukan oleh pelaku bid’ah, maka hukumnya TIDAK MAKRUH.
…Dan seterusnya…

Sumber : Is’adur Rofiq, juz 2 hal 72-73
Wallahu a’lam.

BAHWA ROSULULLOH SAW.ADALAH ROHMAT DAN PASTI MASUK SURGA

أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لن ينجي أحدا منكم عمله قالوا ولا أنت يا رسول الله قال ولا أنا إلا أن يتغمدني الله برحمته

Hadis ini bila difahami tanpa melihat dalil dalil yang lain, akan mengakibatkan pemahaman yang salah.
Diantaranya akan bertentangan dengan ayat al-quran

سلام عليكم ادخلوا الجنة بما كنتم تعملون

وتلك الجنة التي أورثتموها بما كنتم تعملون

Dua ayat tersebut menggambarkan seorang masuk surga karena sebab amal.
Dan Amal itu tidak akan terjadi kecuali ada rahmat dari Allah. Jadi tidak bisa dipisahkan antara amal soleh dengan rahmat Allah.

Berikut komentar ulama

وقال عياض طريق الجمع أن الحديث فسر ما أجمل في الآية فذكر نحوا من كلام ابن بطال الأخير وأن من رحمة الله توفيقه للعمل وهدايته للطاعة كل ذلك لم يستحقه العامل بعمله وإنما هو بفضل الله وبرحمته

Lalu menanggapi hadis diatas bahwa amal ibadah manusia tidak mungkin terjadi Kecuali dikendalikan dikendalikan oleh taufik, dan taufik ini adalah rahmat dari Allah,, maka jangan lantas dibalik, diambil mafhum mukholafahnya,, menjadi arti (kalau tidak disertai dengan rahmat Allah, maka nabi Muhammad tidak akan masuk surga حاش و كلا. Ini salah.

Alasannya :

Seab antara Rasulullah dengan rahmat Allah tidak bisa dibedakan.

Firman Allah

وما أرسلناك الا رحمة للعالمين

Juga Tafsir dr ayat ini

قل بفضل الله ورحمته اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

وأخرج الخطيب، وابن عساكر ، عن ابن عباس : قل بفضل الله قال : النبي صلى الله عليه وسلم

Pendapat imam Tasturi

قال الإمام التُّستري رحمه الله في تفسيره: (قوله تعالى: قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذلِكَ فَلْيَفْرَحُوا أي بتوحيده ونبيه محمد صلّى الله عليه وسلّم كما قال: وَما أَرْسَلْناكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

رُوي عن ابن عباس ، وهو أن الله أرسل نبيه محمدا صلى الله عليه وسلم رحمة لجميع العالم ، مؤمنهم وكافرهم . فأما مؤمنهم فإن الله هداه به ، وأدخله بالإيمان به ، وبالعمل بما جاء من عند الله الجنة

Coba diperhatikan Masuk surga dengan amal,,

وبالعمل بما جاء الخ

Hadis lain

وعن أبي هريرة ، عن النبي – صلى الله عليه وسلم – أنه قال : ” إنما أنا رحمة مهداة ” . رواه الدارمي ،والبيهقي في ” شعب الإيمان ”

Semuanya dalil diatas menunjukkan bahwa nabi Muhammad itu adalah rahmat Allah,, jadi tidak boleh dimafhum mukholafahi. Bagaimana kalau nabi tidak dapat rahmat..???

Amal juga sangat terkait dengan rahmat, sehingga orang tidak bisa melakukan amal saleh kecuali dengan rahmat Allah.

وقال عياض طريق الجمع أن الحديث فسر ما أجمل في الآية فذكر نحوا من كلام ابن بطال الأخير وأن من رحمة الله توفيقه للعمل وهدايته للطاعة كل ذلك لم يستحقه العامل بعمله وإنما هو بفضل الله وبرحمته

Jadi yang di istisna’kan (yang di nafikan) adalah anggapan bahwa surga adalah TIMBAL BALIK dari amal manusia,, ini pemahaman yg diluruskan oleh Rasulullah,, bahwa surga bukan BAYARAN bagi orang yang taat,, tidak,, surga diberikan tidak karena bayaran,,, tapi karena murni kemurahan Allah.

Inilah artinya hadis diatas.

Maka dari itu,, orang yang beramal soleh,, tidak mungkin terjadi Kecuali sudah berbarengan dengan rahmat Allah. Dan amal saleh ini hanya sebuah sebab untuk masuk surga.

Kemudian nabi Muhammad,, adalah orang yang pasti masuk surga.

روى مسلم عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( آتِي بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتفْتِحُ ، فَيَقُولُ الْخَازِنُ : مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُولُ : مُحَمَّدٌ ، فَيَقُولُ: بِكَ أُمِرْتُ لَا أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ ) .

Banyak hadis yang menerangkan bahwa nabi Muhammad pasti masuk surga. Diantaranya :
1- hadis syafaat

دِ ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ يُسْمَعْ وَسَلْ تُعْطَهْ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ فَأَقُولُ يَا رَبِّ ائْذَنْ لِي فِيمَنْ قَالَ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ فَيَقُولُ وَعِزَّتِي وَجَلالِي وَكِبْرِيَائِي وَعَظَمَتِي لأُخْرِجَنَّ مِنْهَا مَنْ قَالَ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ) رواه البخاري

2- عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ” الكوثر نهر في الجنة حافتاه من ذهب ومجراه على الدر والياقوت .. الحديث ” وقال الترمذي : إنه حسن صحيح.

Tidak ada munafat/antara Ayat al-Qur’an & Hadits.

شرح النووي على المسلم ج١٦ ص ١٦٠
ﻭ‍ﻣ‍‍ﺬ‍ﻫ‍‍ﺐ‍ ‍ﺃ‍ﻫ‍‍ﻞ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺴ‍‍ﻨ‍‍ﺔ ‍ﺃ‍ﻳ‍‍ﻀ‍‍ﺎ ‍ﺃ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﺗ‍‍ﻌ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻰ ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﺠ‍‍ﺐ‍ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﺷ‍‍ﻲ‍ﺀ ‍ﺗ‍‍ﻌ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻰ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﺑ‍‍ﻞ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻌ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻢ‍ ‍ﻣ‍‍ﻠ‍‍ﻜ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺪ‍ﻧ‍‍ﻴ‍‍ﺎ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺂ‍ﺧ‍‍ﺮ‍ﺓ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﺳ‍‍ﻠ‍‍ﻄ‍‍ﺎ‍ﻧ‍‍ﻪ‍ ‍ﻳ‍‍ﻔ‍‍ﻌ‍‍ﻞ‍ ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﻬ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﺸ‍‍ﺎﺀ ‍ﻓ‍‍ﻠ‍‍ﻮ‍ﺍ ‍ﻋ‍‍ﺬ‍ﺏ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﻄ‍‍ﻴ‍‍ﻌ‍‍ﻴ‍‍ﻦ‍ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺼ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﺤ‍‍ﻴ‍‍ﻦ‍ ‍ﺃ‍ﺟ‍‍ﻤ‍‍ﻌ‍‍ﻴ‍‍ﻦ‍ ‍ﻭ‍ﺃ‍ﺩ‍ﺧ‍‍ﻠ‍‍ﻬ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻨ‍‍ﺎ‍ﺭ ‍ﻛ‍‍ﺎ‍ﻥ‍ ‍ﻋ‍‍ﺪ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻣ‍‍ﻨ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﺇ‍ﺫ‍ﺍ ‍ﺃ‍ﻛ‍‍ﺮ‍ﻣ‍‍ﻬ‍‍ﻢ‍ ‍ﻭ‍ﻧ‍‍ﻌ‍‍ﻤ‍‍ﻬ‍‍ﻢ‍ ‍ﻭ‍ﺃ‍ﺩ‍ﺧ‍‍ﻠ‍‍ﻬ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺠ‍‍ﻨ‍‍ﺔ ‍ﻓ‍‍ﻬ‍‍ﻮ ‍ﻓ‍‍ﻀ‍‍ﻞ‍ ‍ﻣ‍‍ﻨ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﻮ ‍ﻧ‍‍ﻌ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻜ‍‍ﺎ‍ﻓ‍‍ﺮ‍ﻳ‍‍ﻦ‍ ‍ﻭ‍ﺃ‍ﺩ‍ﺧ‍‍ﻠ‍‍ﻬ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺠ‍‍ﻨ‍‍ﺔ ‍ﻛ‍‍ﺎ‍ﻥ‍ ‍ﻟ‍‍ﻪ‍ ‍ﺫ‍ﻟ‍‍ﻚ‍ ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﻜ‍‍ﻨ‍‍ﻪ‍ ‍ﺃ‍ﺧ‍‍ﺒ‍‍ﺮ ‍ﻭ‍ﺧ‍‍ﺒ‍‍ﺮ‍ﻩ‍ ‍ﺻ‍‍ﺪ‍ﻕ‍ ‍ﺃ‍ﻧ‍‍ﻪ‍ ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﻔ‍‍ﻌ‍‍ﻞ‍ ‍ﻫ‍‍ﺬ‍ﺍ ‍ﺑ‍‍ﻞ‍ ‍ﻳ‍‍ﻐ‍‍ﻔ‍‍ﺮ ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻤ‍‍ﺆ‍ﻣ‍‍ﻨ‍‍ﻴ‍‍ﻦ‍ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﺪ‍ﺧ‍‍ﻠ‍‍ﻬ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺠ‍‍ﻨ‍‍ﺔ‍ﺑ‍‍ﺮ‍ﺣ‍‍ﻤ‍‍ﺘ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﻌ‍‍ﺬ‍ﺏ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﻨ‍‍ﺎ‍ﻓ‍‍ﻘ‍‍ﻴ‍‍ﻦ‍ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﺨ‍‍ﻠ‍‍ﺪ‍ﻫ‍‍ﻢ‍ ‍ﻓ‍‍ﻰ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻨ‍‍ﺎ‍ﺭ ‍ﻋ‍‍ﺪ‍ﻟ‍‍ﺎ‍ﻣ‍‍ﻨ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﺃ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﻌ‍‍ﺘ‍‍ﺰ‍ﻟ‍‍ﺔ ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﺜ‍‍ﺒ‍‍ﺘ‍‍ﻮ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﺣ‍‍ﻜ‍‍ﺎ‍ﻡ‍ ‍ﺑ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻌ‍‍ﻘ‍‍ﻞ‍ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﻮ‍ﺟ‍‍ﺒ‍‍ﻮ‍ﻥ‍ ‍ﺛ‍‍ﻮ‍ﺍ‍ﺏ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻋ‍‍ﻤ‍‍ﺎ‍ﻝ‍ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﻮ‍ﺟ‍‍ﺒ‍‍ﻮ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﺻ‍‍ﻠ‍‍ﺢ‍ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﻤ‍‍ﻨ‍‍ﻌ‍‍ﻮ‍ﻥ‍ ‍ﺧ‍‍ﻠ‍‍ﺎ‍ﻑ‍ ‍ﻫ‍‍ﺬ‍ﺍ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﺧ‍‍ﺒ‍‍ﻂ‍ ‍ﻃ‍‍ﻮ‍ﻳ‍‍ﻞ‍ ‍ﻟ‍‍ﻬ‍‍ﻢ‍ ‍ﺗ‍‍ﻌ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻰ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﻋ‍‍ﻦ‍ ‍ﺍ‍ﺧ‍‍ﺘ‍‍ﺮ‍ﺍ‍ﻋ‍‍ﺎ‍ﺗ‍‍ﻬ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺒ‍‍ﺎ‍ﻃ‍‍ﻠ‍‍ﺔ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﻨ‍‍ﺎ‍ﺑ‍‍ﺬ‍ﺓ ‍ﻟ‍‍ﻨ‍‍ﺼ‍‍ﻮ‍ﺹ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺸ‍‍ﺮ‍ﻉ‍ ‍ﻭ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﻇ‍‍ﺎ‍ﻫ‍‍ﺮ ‍ﻫ‍‍ﺬ‍ﻩ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﺣ‍‍ﺎ‍ﺩ‍ﻳ‍‍ﺚ‍ ‍ﺩ‍ﻟ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﺔ ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻫ‍‍ﻞ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺤ‍‍ﻖ‍ ‍ﺃ‍ﻧ‍‍ﻪ‍ ‍ﻟ‍‍ﺎ‍ﻳ‍‍ﺴ‍‍ﺘ‍‍ﺤ‍‍ﻖ‍ ‍ﺃ‍ﺣ‍‍ﺪ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺜ‍‍ﻮ‍ﺍ‍ﺏ‍ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺠ‍‍ﻨ‍‍ﺔ ‍ﺑ‍‍ﻄ‍‍ﺎ‍ﻋ‍‍ﺘ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﺃ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﻗ‍‍ﻮ‍ﻟ‍‍ﻪ‍ ‍ﺗ‍‍ﻌ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻰ ‍ﺍ‍ﺩ‍ﺧ‍‍ﻠ‍‍ﻮ‍ﺍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺠ‍‍ﻨ‍‍ﺔ ‍ﺑ‍‍ﻤ‍‍ﺎﻛ‍‍ﻨ‍‍ﺘ‍‍ﻢ‍ ‍ﺗ‍‍ﻌ‍‍ﻤ‍‍ﻠ‍‍ﻮ‍ﻥ‍ ‍ﻭ‍ﺗ‍‍ﻠ‍‍ﻚ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺠ‍‍ﻨ‍‍ﺔ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺘ‍‍ﻲ‍ ‍ﺃ‍ﻭ‍ﺭ‍ﺛ‍‍ﺘ‍‍ﻤ‍‍ﻮ‍ﻫ‍‍ﺎ ‍ﺑ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﻛ‍‍ﻨ‍‍ﺘ‍‍ﻢ‍ ‍ﺗ‍‍ﻌ‍‍ﻤ‍‍ﻠ‍‍ﻮ‍ﻥ‍ ‍ﻭ‍ﻧ‍‍ﺤ‍‍ﻮ‍ﻫ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺂ‍ﻳ‍‍ﺎ‍ﺕ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺪ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺔ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻰ ‍ﺃ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻋ‍‍ﻤ‍‍ﺎ‍ﻝ‍ ‍ﻳ‍‍ﺪ‍ﺧ‍‍ﻞ‍ ‍ﺑ‍‍ﻬ‍‍ﺎ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺠ‍‍ﻨ‍‍ﺔ ‍ﻓ‍‍ﻠ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﻌ‍‍ﺎ‍ﺭ‍ﺽ‍ ‍ﻫ‍‍ﺬ‍ﻩ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﺣ‍‍ﺎ‍ﺩ‍ﻳ‍‍ﺚ‍ ‍ﺑ‍‍ﻞ‍ ‍ﻣ‍‍ﻌ‍‍ﻨ‍‍ﻰ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺂ‍ﻳ‍‍ﺎ‍ﺕ‍ ‍ﺃ‍ﻥ‍ ‍ﺩ‍ﺧ‍‍ﻮ‍ﻝ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺠ‍‍ﻨ‍‍ﺔ ‍ﺑ‍‍ﺴ‍‍ﺒ‍‍ﺐ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻋ‍‍ﻤ‍‍ﺎ‍ﻝ‍ ‍ﺛ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺘ‍‍ﻮ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﻖ‍ ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﺄ‍ﻋ‍‍ﻤ‍‍ﺎ‍ﻝ‍ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻬ‍‍ﺪ‍ﺍ‍ﻳ‍‍ﺔ ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﺈ‍ﺧ‍‍ﻠ‍‍ﺎ‍ﺹ‍ ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﻬ‍‍ﺎ ‍ﻭ‍ﻗ‍‍ﺒ‍‍ﻮ‍ﻟ‍‍ﻬ‍‍ﺎ ‍ﺑ‍‍ﺮ‍ﺣ‍‍ﻤ‍‍ﺔ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﺗ‍‍ﻌ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻰ ‍ﻭ‍ﻓ‍‍ﻀ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﺼ‍‍ﺢ‍ ‍ﺃ‍ﻧ‍‍ﻪ‍ ‍ﻟ‍‍ﻢ‍ ‍ﻳ‍‍ﺪ‍ﺧ‍‍ﻞ‍ ‍ﺑ‍‍ﻤ‍‍ﺠ‍‍ﺮ‍ﺩ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻌ‍‍ﻤ‍‍ﻞ‍ ‍ﻭ‍ﻫ‍‍ﻮ ‍ﻣ‍‍ﺮ‍ﺍ‍ﺩ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﺣ‍‍ﺎ‍ﺩ‍ﻳ‍‍ﺚ

MENGETAHUI PERBEDAAN ANTARA IBADAH DAN (TA’DZIM) ETIKA ATAU AKHLAQ

Banyak orang yang salah dalam memahami hakikat ta’dzim / penghormatan dan hakikat ibadah. Sehingga mereka mencampur diantara keduanya dan mengatakan bahwa segala bentuk ta’dzim adalah suatu ibadah atau pengabdian kepada orang yang dihormati. Maka, berdiri, mencium tangan, menghormati Nabi saw dengan menggunakan kata “Ya Sayyidana” dan “Ya Nabiyallah”, kesemuanya menurut mereka adalah suatu hal yang mendatangkan pada bentuk penyembahan pada selain Allah ta’ala. Sebenarnya, itu adalah suatu pemahaman yang sangat bodoh dan melebih-lebihkan yang tidak diridhoi Allah dan RasulNya serta suatu bentuk pemberatan yang sangat tidak disukai oleh syariat Islam.

Ketahuilah, Adam, manusia pertama dan hamba Allah pertama yang sholih dari jenis manusia. Allah telah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan terhadap ilmu yang ada padanya dan sebagai pemberitahu kepada para malaikat akan terpilihnya Adam diantara para makhlukNya. Allah ta’ala berfirman, (“Dan ketika Aku berkata kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kalian kepada Adam.’ Maka mereka bersujud kecuali iblis. Iblis berkata, ‘Apakah aku harus bersujud kepada makhluk yang dicipta dari tanah?’). Dalam ayat yang lain dijelaskan, (“Aku (: iblis) lebih baik dari dia (: Adam). Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah.”). dalam ayat yang lain, (“Kemudian kesemua malaikat bersujud kecuali iblis. Dia tidak mau bila termasuk diantara orang-orang yang bersujud.”).

Para malaikat menghormati / memuliakan makhluk yang dimuliakan Allah, sedangkan iblis sombong dan tidak mau bersujud kepada makhluk yang dicipta dari tanah. Iblis adalah makhluk pertama yang melakukan qiyas dalam urusan agama dengan pendapatnya sendiri dan berkata, “Aku lebih baik darinya.” Alasan yang dia pakai adalah iblis dicipta dari api sedangkan adam dicipta dari tanah, sehingga dia tidak mau memuliakannya dan tidak mau bersujud kepadanya.

Iblis adalah makhluk pertama yang sombong dan tidak mau memuliakan makhluk yang dimuliakan Allah, sehingga iblis tertolak dari rahmat Allah karena kesombongannya terhadap seorang hamba yang sholih. Itu adalah sebuah bentuk kesombongan terhadap Allah, karena bersujud sebenarnya adalah kepada Allah karena Dia telah memerintahkannya. Allah telah menjadikan sujud kepada Adam sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan kepada Adam dan Adam termasuk golongan yang meng-esakan Allah.

Diantara dalil yang menjelaskan tentang penghormatan kepada orang-orang sholih, antara lain, Allah berfirman dalam haknya Yusuf, (“Dan dia mendudukkan ayahnya diatas singgasana dan mereka bersujud kepadanya (: Yusuf)”, adalah sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan terhadap Yusuf dari saudara-saudaranya. Dimungkin bersujud diperbolehkan dalam syariat mereka, atau seperti sujudnya para malaikat kepada Adam sebagai bentuk pemuliaan, penghormatan dan bentuk kepatuhan terhadap perintah Allah sebagai bentuk tafsiran dari mimpi Yusuf, karena mimpi seorang nabi adalah wahyu.

Adapun nabi Muhammad saw, maka Allah berfirman, (“Sesungguhnya Aku telah mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira dan yang menakut-nakuti, supaya mereka beriman kepada Allah dan RasulNya dan mereka memuliakannya”). Allah berfirman, (“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendahului dihadapan Allah dan RasulNya”). Allah berfirman, (“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian meninggikan suara kalian diatas suara Nabi”). Allah juga berfirman, (“Janganlah kalian menjadikan panggilan kepada rasul diantara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada yang lainnya”). Allah telah melarang mendahului beliau dalam perkataan dan adab yang buruk adalah mendahului beliau dalam ucapan. Sahl ibn Abdillah berkata, “Janganlah kalian berkata sebelum beliau bersabda dan ketika beliau bersabda, maka dengarkanlah dan perhatikanlah.”

Para sahabat melarang dari mendahulukan dan tergesa-gesa mendatangi suatu urusan sebelum beliau mendatanginya dan tidaklah mereka memfatwakan suatu hal dari berperang atau urusan agama lainnya melainkan dengan perintah beliau dan mereka tidak berani mendahului beliau. Kemudian Allah menasehati dan menakut-nakuti mereka dengan berfirman, (“Bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha tahu”). Salma berkata, “Bertaqwalah kalian kepada Allah dalam menyia-nyiakan hak hakNya dan menelantarkan kemulianNya. Sesungguhnya Dia maha mendengar perkataan kalian dan maha mengetahui perbuatan kalian.”

Kemudian Allah melarang umat dari menaikkan suara diatas suara beliau, seperti sebagian dari mereka yang mengeraskan suaranya kepada yang lain. Abu Muhammad Makki berkata, “Artinya, janganlah kalian mendahului beliau dalam perkataan, mengeraskan suara ketika berbincang dan memanggil nama beliau seperti diantara kalian memanggil yang lainnya. Akan tetepi, muliakanlah beliau, agungkanlah dan panggillah beliau dengan panggilan yang mulia, seperti ‘Ya Rasulallah’ atau ‘Ya Nabiyallah’ seperti yang telah difirmankan Allah, (“Janganlah kalian menjadikan panggilan kepada Rasul diantara kalian seperti panggilan diantara kalian kepada yang lainnya.”)

Kemudian Allah menakut-nakuti mereka dengan terhapusnya amal mereka jika mereka melakukan itu semua. Ayat tersebut turun dalam jama’ah yang mendatangi Nabi saw lalu mereka menyeru beliau, “Ya Muhammad! Keluarlah dan temui kami.” Kemudian Allah menghina mereka dengan ‘bodoh’ dan mensifati mereka dengan ‘kebanyakan mereka adalah orang-orang yang tidak berakal.’

Amr ibn al ‘Ash berkata, “Tidak seorangpun yang lebih aku cintai dibandingkan Rasulullah dan tidaklah ada yang lebih mulia dibandingkan beliau. Tidaklah aku mampu memenuhi mataku ini dari beliau karena memuliakan beliau. Seandainya aku diminta untuk mensifati beliau, maka sudah tentu aku tidak akan mampu karena aku tidak pernah memenuhi mataku ini dengan melihat beliau.” (HR. Muslim dalam al-Shahih kitab iman bab islam menghancurkan agama sebelumnya)

At-Tirmidzi telah meriwayatkan dari Anas, Sesungguhmya Rasulullah saw suatu hari keluar menemui para sahabat muhajirin dan anshar dan pada saat itu mereka sedang duduk. Diantara mereka ada Abu Bakar dan Umar. Tidak seorangpun dari mereka yang mengangkat pandangannya kepada beliau melainkan Abu Bakar dan Umar, karena keduanya melihat beliau dan beliaupun melihat mereka berdua. Keduanya tersenyum kepada beliau dan beliaupun tersenyum kepada keduanya.”

Usamah ibn Syarik berkata, “Aku mendatangi Nabi saw dan para sahabat berada disekeliling beliau yang seakan-akan diatas kepala mereka terdapat burung. Mengenai sifat beliau, ketika beliau bersabda maka orang-orang yang duduk disitu akan menundukkan kepalanya yang seakan-akan ada burung diatas kepala mereka. Diantara penghormatan yang dilakukan para sahabat kepada beliau adalah tidaklah beliau berwudhu melainkan mereka akan memperebutkan air sisa wudhu beliau dan hampir-hampir saja mereka berkelahi untuk mendapatkannya. Tidaklah beliau meludah melainkanludah itu akan jatuh ditangan mereka lalu mereka menggosok-gosokkannya dimuka dan tubuh mereka. Tidaklah sehelai rambut beliau jatuh melainkan mereka akan berebut untuk mendapatkannya. Ketika beliau berkata-kata, maka mereka akan memelankan suara mereka ketika berada disamping beliau. Dan tidak pernah mereka menajamkan pandangannya kepada beliau.”

Ketika Usamah kembali ke Quraisy, dia berkata, “Wahai kaum Quraisy! Sesungguhnya aku telah mengunjungi Kisra di istananya, Qaishar di istananya dan Najasyi di istananya. Demi Allah, belum pernah aku melihat seorang rajanya kaum seperti Muhammad dimata para sahabatnya.”

Al Thabrani dan ibn Hibban dalam kitab shohinya telah meriwayatkan dari Usamah ibn Syarik, dia berkata, “Kami duduk disisi Nabi saw yang seakan-akan ada burung diatas kepala kami. Tidak ada orang diantara kami yang berkata kemudian orang-orang mendatangi beliau dan bertanya, ‘Diantara para hamba Allah, siapakah yang paling disukai Allah?’ beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya.” Seperti yang telah dijelaskan dalam al Targhib (juz 4 halaman 187).

Abu Ya’la dalam kitab shahihnya telah meriwayatkan dari al Barra’ ibn ‘Azib, dia berkata, “Suau hari aku sangat ingin bertanya kepada Rasulullah tentang suatu perkara, namun aku mengakhirkannya selama dua tahun karena kewibawaan yang beliau meliki.”

Al Baihaqi telah meriwayatkan dari al Zuhri, dia berkata, “Seorang sahabat anshor telah bercerita kepadaku, sesungguhnya Rasulullah saw ketika berwudhu atau berludah, maka para sahabat akan memperebutkan ludah beliau kemudian mereka mengusapkannya ke muka dan kulit mereka. Rasulullah saw bertanya, “Kenapa kalian melakukan itu?” mereka menjawab, “Kami mencari berkahmu.” Kemudia rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa ingin dicintai Allah dan RasulNya, maka benarkanlah hatids, penuhilah amanah dan jagan sakiti tetangga kalian.” Seperti yang dijelaskan dalam al Kanz (juz 8 halaman 228)

Kesimpulannya, terdapat dua perkara besar yang harus dikaji. Pertama, kewajiban memuliakan Nabi saw dan meninggikan derajat beliau melebihi makhluk yang lain. Kedua, mengesakan sifat ketuhanan berkeyakinan bahwa Allah adalah esa dalam dzat, sifat dan perbuatanNya. Barangsiapa memiliki keyakinan bahwa ada yang menyekutui Allah dalam dzat, sifat atau perbuatan, maka dia telah melakukan perbuatan syirik seperti orang-orang musyrik yang telah meyakini sifat Tuhan bagi berhala dan mereka menyembahnya. Dan barangsiapa yang merendahkan martabat Rasulullah maka dia telah melakukan kemaksiatan atau melakukan kekufuran.

Adapun orang yang berlebih-lebihan dalam memuliakan beliau dengan bentuk apapun dan tidak mensifati beliau dengan sifat-sifat Tuhan, maka dia telah benar dan telah menjaga dari sisi ketuhanan dan kerasulan. Itu adalah perkataan yang sangat pas, tidak lebih dan tidak kurang.

Ketika ditemukan dalam perkataan orang mukmin tentang penyandaran suatu hal kepada selain Allah, maka diwajibkan untuk membawanya pada majaz ‘aqli dan tidak ada jalan untuk mengkafirkannya, karena majaz ‘aqli juga digunakan dalam al Qur’an dan sunnah.

ASY’ARIYAH MERUPAKAN KEBANGKITAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Asy`ariyah adalah sebuah paham aqidah yang dinisbatkan kepada Imam Abu al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy`ary. Beliau lahir di Bashrah pada tahun 260 Hijriyah dan wafat pada tahun 324 Hijriyah. Beliau merupakan salah satu keturunan shahabat Nabi SAW yang bernama Abu Musa al-Asy’ari. Beliau adalah Syeikh Thariqah Ahlu Sunnah wal Jama’ah, seorang imam para theolog dan penolong sunnah Rasulullah SAW.

Pada mulanya Imam Asy’ari adalah pengikut Abu Ali al-Jubba’i, seorang pemimpin dan theolog Mu’tazilah. Beliau menjadi pengikut Mu’tazilah selama empat puluh tahun, sehingga pada waktu yang lama itu beliau menjadi imam di kalangan Mu’tazilah. Namun semakin lama mendalami konsep theology Mu’tazilah malah menyebabkan kebimbangan dan kebingungan pada diri beliau. Sehingga pada puncaknya beliau mengasingkan diri di dalam rumahnya selama lima belas hari. Setelah itu, beliau keluar dari rumahnya menuju ke masjid dan naik ke atas mimbar, mengumumkan kepada masyarakat bahwa beliau telah mencabut akidah yang selama ini dianut dan diyakininya. Beliau kemudian menyerahkan beberapa kitab yang sesuai dengan akidah yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan para shahabatnya (akidah Ahli Sunnah wal Jama’ah) kepada masyarakat.

Kisah keluarnya Imam Abu al-Hasan al-Asy’ary dari kubangan Mu’atazilah bermula ketika beliau tidur di malam-malam sepuluh hari pertama bulan Ramadhan. Dalam tidurnya itu beliau bermimpi bertemu dengan Nabi SAW. Dalam mimpi itu Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Ali, tolonglah madzhab-madzhab yang telah diriwayatkan dariku, karena madzhab-madzhab itulah yang benar.” Ketika bangun dari tidurnya, beliau merasakan beban masalah yang sangat berat. Beliau selalu memikirkan mimpi itu dan merasa gelisah.

Pada pertengahan Ramadhan (sepuluh hari kedua), beliau kembali bermimpi bertemu Nabi SAW untuk yang kedua kalinya. Dalam mimpi yang kedua ini, Rasulullah SAW bersabda: “Apa yang telah engkau perbuat pada apa yang telah aku perintahkan?” Beliau berkata: “Wahai Rasulallah, gerangan apa yang harus aku lakukan, sementara aku telah menyebarkan ajaran-ajaran yang benar kepada umat ini dari madzhab-madzhab yang telah diriwayatkan darimu.”

Rasulullah bersabda: “Tolonglah madzhab-madzhab yang telah diriwayatkan dariku, karena madzhab-madzhab itulah yang benar.” Ketika terbangun dari mimpinya, beliau sangat menyesal dan sedih. Beliau sepakat untuk meninggalkan ilmu kalam dan mengikuti hadits serta terus-menerus membaca al-Qur’an. Hingga tiba saatnya pada tanggal dua puluh tujuh Ramadhan, seperti biasanya beliau selalu menghidupkan malam itu. Namun pada waktu itu rasa ngantuk menyerang beliau, sehingga beliau tertidur. Dalam tidurnya itu, beliau kembali bermimipi bertemu Rasulallah SAW. Rasulullah SAW bertanya kepada beliau: “Apa yang telah engkau kerjakan terhadap apa yang telah aku perintahkan?” Beliau menjawab: “Wahai Rasulullah Aku telah meninggalkan ilmu kalam dan berpegang pada al-Qur’an dan Sunnahmu.” Rasulullah bersabda: “Aku tidak memerintahkanmu untuk meninggalkan ilmu kalam, aku hanya memerintahmu untuk menolong madzhab-madzhab yang telah diriwayatkan dariku, karena madzhab-madzhab itulah yang benar.”

Imam Asy’ary berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana aku meninggalkan madzhab yang telah aku gambarkan permasalahan-permasalahnnya dan aku telah mengetahui dalil-dalilnya selama tiga puluh tahun untuk berpendapat.” Maka Rasulullah SAW bersabda: “Seandainya aku tidak mengetahui bahwasanya Allah SWT akan menganugerahkan padamu karunia dari sisi-Nya, maka aku tidak akan berdiri di hadapanmu, sehingga aku menjelaskan maksud dalil-dalil itu. Bersunguh-sungguhlah, karena sesungguhnya Allah akan menganugerahkan karunia dari sisi-Nya kepadamu.” Imam Abu al-Hasan terbangun dari mimpinya dan berkata: “Tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan.” [Q.S. Yunus: 32] Setelah peristiwa itu beliau membela aqidah-aqidah Ahlu Sunnah, khususnya tentang masalah yang berkaitan dengan melihat Allah SWT dan syafaat yang diingkari oleh kaum Mu’tazilah.

Selain sebagai ahli theolog dan berbagai disiplin ilmu yang lain, al-Imam al-Asy’ary juga merupakan Imam dalam tashawuf. Orang-orang yang pernah berkumpul bersama beliau menuturkan bahwa beliau selama dua puluh tahun mengerjakan shalat subuh dengan wudlu shalat isya’. Beliau makan dari hasil tanah yang diwakafkan kakeknya Bilal bin Abu Bardah bin Abu Musa al-Asy’ary kepada anak cucunya. Nafkah beliau dalam setahun hanya tujuh belas dirham. Untuk bekal hidupnya, beliau menghabiskan satu dirham lebih sedikit setiap bulannya.

Sebagian orang menyangka bahwa Imam Abu Hasan al-Asy’ary bermadzhab Maliki, padahal hal itu tidak benar. Yang benar beliau adalah seorang yang bermadzhab Syafi’i. Beliau mendalami madzhab Syafi’i kepada Syeikh Abu Ishaq al-Maruzi sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Syeikh Abu Bakar Ibnu Fauruq dalam Thabaqat al-Mutakallimin dan Syeikh Abu Ishaq al-Isfiraini yang dinukil oleh Syeikh Abu Muhammad al-Juwaini dalam Syarh al-Risalah. Sedangkan yang bermadzhab Maliki adalah al-Qadli Abu Bakar bin al-Baqilani, seorang tokoh besar madzhab Asy’ariyah.

Karya-karya Imam al-Asy’ari

Abu Muhammad bin Hazm menuturkan bahwa karya-karya Imam al-Asy’ari mencapai lima puluh lima karya tulis. Namun pendapat ini ditolak oleh Ibnu Asakir, kemudian beliau menuturkan dari Abu al-Ma’ali bin Abdul Malik al-Qadli, beliau mendengar dari orang yang tsiqat bahwa karya Imam al-Asy’ary lebih dari tiga ratus karya tulis. Karya-karya itu diantaranya adalah: al-Fushul fi al-Rad ‘ala al-Mulhidin, al-Mujiz, al-Istitha’ah, al-Shifat, al-Ru’yah, al-Asma’ wa al-Ahkam, al-Rad ala al-Mujassimah, al-Idlah, al-Luma’ al-Shaghir, al-Luma’ al-Kabir, al-Syarh wa al-Tafshil, al-Muqaddimah, al-Naqdlu ‘ala al-Jubba’i, al-Naqdlu ‘ala al-Balkhi, Maqalat al-Muslimin, Maqalat al-Mulhidin, al-Jawabat fi al-Shifat ‘ala al-I’tizal, al-Rad ‘ala Ibnu Rawandi dan masih banyak lagi yang lainnya.

Hakekat Madzhab Asy’ariyah

Perlu diketahui bahwa Imam al-Asy’ary tidaklah membuat madzhab baru, beliau hanyalah merumuskan kembali akidah-akidah yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW dan para shahabatnya. Namun ternyata masih ada saja sekelompok orang yang mencela dan menghina madzhab Asy’ariyah, bahkan menuduhnya sebagai madzhab yang sesat. Hal itu tidaklah mengherankan, karena zaman dulupun juga telah ada sekelompok orang yang menganggap sesat dan mengkafirkan Asy’ariyah. Qadli al-Qudlat Abu Abdillah al-Damaghani al-Hanafi mengatakan bahwa orang yang mengatakan demikian sungguh telah melakukan bid’ah dan melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan. Lebih lanjut Syeikh Abu Ishaq al-Syairazi mengungkapkan bahwa Asy’ariyah adalah esensi dari Ahlu Sunnah itu sendiri dan penolong syariah yang bangkit menentang kelompok-kelompok ahli bid’ah seperti Qadariyah, Rafidhah dan kelompok-kelompok lain yang menyimpang. Barang siapa yang mencela mereka, maka sesungguhnya ia telah mencela Ahlu Sunnah. Lebih lanjut lagi al-Imam al-Qusyairi mengatakan bahwa Ashab al-Hadits telah sepakat bahwa Abu al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ary adalah salah seorang imam dari para imam Ashab al-Hadits. Madzhab beliau adalah madzhab Ashab al-Hadits. Beliau telah mengulas tentang pokok-pokok agama (ushuluddin) sesuai manhaj Ahlu Sunnah. Beliau telah membantah teori-teori kalam yang digagas oleh kelompok-kelompok yang menyimpang. Beliau laksana pedang yang terhunus, yang siap membantai Mu’tazilah, Rafidhah dan kelompok-kelompok ahli bid’ah yang menyimpang dari Islam. Barang siapa yang mencela, mencaci atau melaknat beliau maka sungguh ia telah menghina dan mencaci semua kelompok Ahlu Sunnah.

Ketidaktahuan terhadap hakekat madzhab Asy’ary itulah yang menyebabkan mereka berani mencela Asy’ariyah, hingga menyebabkan Ahlu Sunnah tercabik-cabik dan terpecah belah. Sebagian dari mereka yang tidak tahu hakekat madzhab Asy’ariyah ini menuduh bahwa Asy’ariyah adalah kelompok yang sesat seperti ahli bid’ah yang lain. Kita tidak tahu bagaimana cara pandang mereka dalam memahami madzhab yang murni ini, sehingga menyamakan dengan madzhab ahli bid’ah seperti Mu’tazilah dan yang lainnya. Allah SWT berfirman:

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ. مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ. [القلم/35، 36]

“Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian), bagaimana kamu mengambil keputusan?” [Q.S. al-Qalam: 35-36]

Padahal Asy’ariyah terdiri dari para ulama Ahli Hadits, Ahli Fiqih, Ahli Tafsir dan ilmu-ilmu yang lain. Aqidah beliau diikuti oleh para ulama’ Madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi dan para pembesar Madzhab Hambali. Kebesaran madzhab Asy’ariy juga diakui oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau berkata: “Para ulama adalah penolong ilmu-ilmu agama. Sedangkan Asy’ariyah adalah penolong ushuluddin (aqidah).”

Pengikut Imam al-Asy’ary terdiri dari para imam-imam besar di masanya yang kredibilatasnya sudah tidak dipertanyakan lagi. Diantara mereka yang berada di bawah bendera Asy’ariyah adalah: al-Imam Abu Said al-Isma’ili, al-Qadli Abu Bakar bin al-Baqilani, al-Qadli Abdul Wahhab al-Maliki, al-Hafidz Abu Bakar al-Baihaqi, al-Khatib al-Baghdadi al-Hafidz, Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi penulis kitab Risalah al-Qusyairiyah yang menjadi rujukan utama ilmu tashawuf, Syeikh Abu Ishaq al-Syaerazi pemilik kitab al-Muhadzdzab sebagai salah satu kitab induk dalam Madzhab Syafi’i, Imam al-Haramain penulis kitab Nihayat al-Mathlab, Hujjatul Islam al-Ghazali yang kebesaran namanya sudah diakui oleh dunia, Imam Fakhruddin al-Razi penulis Tafsir al-Kabir, Sulthan al-Ulama Izzuddin bin Abdissalam, Imam al-Nawawi pemilik Syarah Shahih Muslim dan al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab sebagai kitab rujukan madzhab Syafi’i, Syeikhul Islam Ibnu Daqiqil ‘Id, Syeikhul Islam Ibnu Hajar al-Asqalani penulis kitab Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, seorang pakar hadits yang telah disepakati kepakarannya, Imam Taqiyuddin al-Subuki, Imam Tajuddin al-Subuki, Syeikhul Islam Zakaria al-Anshari, al-Imam al-Suyuthi, Imam Ibnu Hajar al-Haitami pemilik kitab al-Zawajir ‘an Iqtiraf al-Kabair dan masih banyak lagi para ulama pengikut madzhab Asy’ariyah yang tentunya akan membutuhkan berjilid-jilid buku jika harus disebutkan satu persatu diantara mereka.

Lalu bagaimana bisa kita mengatakan bahwa mereka semua itu bukanlah Ahlu Sunnah? Kebaikan apa yang bisa kita harapkan jika kita menuduh ulama-ulama kita dan para salaf shaleh sebagai orang yang sesat dan menyimpang? Bagaimana Allah SWT bisa membuka hati kita untuk menimba ilmu mereka jika dalam hati kita mempunyai keyakinan bahwa mereka telah menyimpang dan berpaling dari ajaran Islam? Jika para ulama di atas bukanlah Ahlu Sunnah, lalu siapakah Ahlu Sunnah?

IKHWAL AMALIYAH YANG DI ANJURKAN DALAM BULAN ROJAB

مَا يُطْلَبُ فِيْ رَجَبَ الْحَرَامِ الْمُكَرَّمِ
اِعْلَمْ أَنَّ رَجَبًا شَهْرٌ فَضِيْلٌ، وَالْعِبَادَةُ فِيْهِ لَهَا أَجْرٌ جَلِيْلٌ، خُصُوْصًا اَلصَّوْمَ فِيْهِ وَالْاِسْتِغْفَارَ، وَالتَّوْبَةَ مِنَ الْأَوْزَارِ، وَفِيْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْهُ يُسْتَجَابُ الدُّعَاءُ فَيُسْتَحَبُّ

Perkara yang dianjurkan dalam bulan Rojab
Ketahuilah, bahwasanya Rojab adalah bulan yang utama. Ibadah didalam bulan Rojab mempunyai nilai pahala yang agung khususnya berpuasa, beristighfar, bertaubat dari dosa-dosa. Pada awal bulan Rojab doa mustajab, maka disunnahkan berdoa.

قَالَ صَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «خَمْسُ لَيَالٍ لَا يُرَدُّ فِيْهِنَّ الدُّعَاءُ؛ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ، وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَلَيْلَةُ الْجُمُعَةِ، وَلَيْلَةُ الْفِطْرِ، وَلَيْلَةُ النَّحْرِ» أَخْرَجَهُ السُّيُوْطِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي الْجَامِعِ، عَنِ ابْنِ عَسَاكِرَ، عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada lima malam doa di dalamnya tidak ditolak, yaitu: malam pertama bulan Rojab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jumat, malam Iedul Fitri, dan malam Iedul Adha. Hadits tsb diriwayatkan oleh Imam Suyuthi dalam Kitab al jami’uhshoghier dari Imam Ibn Asaakir dari shahabat Abu Umamah radhiyallaahu ‘anhu.

وَفِيْ لَيْلَةِ السَّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ مِنْهُ أُسْرِيَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا هُوَ مَشْهُوْرٌ مَعْلُوْمٌ

Pada malam 27 bulan Rojab, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam diisra`kan, sebagaimana riwayat yang masyhur dan sudah maklum.

وَرَجَبٌ هُوَ الْفَرْدُ مِنَ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ، قَالَ تَعَالَى: {إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ} وَهِيَ ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُو الْحِجَّةِ، وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبٌ؛ فَالْأَشْهُرُ الْحُرُمُ ثَلَاثَةٌ سَرْدٌ، وَوَاحِدٌ فَرد؛ وَهُوَ رَجَبٌ

Rajab adalah bulan yang menyendiri dari bulan-bulan yang haram.Allah Ta’ala berfirman (terjemahannya) : “Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah adalah 12 bulan dalam kitab Allah pada hari Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya ada 4 bulan yang haram”, Yaitu: Dzul Qa’dah Daul Hijjah Muharram dan Rajab. Bulan haram yang tiga berurutan yang satu menyendiri yaitu Rajab.

وَكَانَ فِي ابْتِدَاءِ الْإِسْلَامِ يَحْرُمُ الْقِتَالُ فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ، ثُمَّ نُسِخَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {اقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ} وَبَقِيَتْ حُرْمَتُهَا فِيْ تَضْعِيْفِ الْأَجْرِ عَلَى الطَّاعَةِ وَتَعْظِيْمِ الْوِزْرِ عَلَى الْمَعْصِيَةِ، حَمَانَا اللهُ تَعَالَى مِنْهَا

Pada awal Islam perang diharamkan didalam bulan-bulan haram, kemudian dimansukh dengan firman Allah Ta’ala (terjemahannya):“maka bunuhlah orang-orang musyrik itu dimana saja kamu jumpai mereka”Dan keharaman bulan-bulan tsb tetap dalam hal berlipatnya pahala ketaatan dan besarnya dosa maksiat. Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari perbuatan dosa.

وَرَجَبٌ هُوَ شَهْرُ اللهِ الْأَصَبُّ، تُصَبُّ فِيْهِ الرَّحْمَةُ عَلَى التَّائِبِيْنَ، وَتَفِيْضُ أَنْوَارُ الْقَبُوْلِ عَلَى الْعَالَمِيْنَ

Bulan Rajab adalah bulan Allah dikenal dengan sebutan AL ASHABB, yakni bulan kucuran rahmat bagi hamba-hamba Allah yang bertaubat didalamnya dan limpahan cahaya-cahaya qabulnya bagi seluruh alam.

وَكَانُوْا يُسَمُّوْنَهُ الْأَصَمَّ لِأَنَّهُ لَمْ يُسْمَعْ فِيْهِ حِسُّ قِتَالٍ

Mereka juga menamakannya dengan Al-ASHAM, yaitu bulan yang tuli karena tidak terdengarnya suara peperangan di dalamnya

وَيُقَالُ لَهُ: «رَجْمٌ» بِالْمِيْمِ، وَمَعْنَاهُ أَنَّهُ يُرْجَمُ فِيْهِ الْأَعْدَاءُ وَالشَّيَاطِيْنُ حَتَّى لَا يُؤْذُوْا فِيْهِ الْأَوْلِيَاءَ وَالصَّالِحِيْنَ

Bulan Rajab juga dikatakan bulan RAJM, karena didalam bulan tsb dirajam musuh-musuh dan syaitan, sehingga mereka tak dapat mengganggu para aulia dan orang orang saleh

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ، وَشَعْبَانُ شَهْرِيْ، وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِيْ» أَخْرَجَهُ فِي الْجَامِعِ

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “ Rajab adalah bulan Allah Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan umatku”Hadits dikeluarkan oleh Imam Suyuthi dalam Kitab Al jam’iushshoghier

وَقَالَ الْعُلَمَاءُ: رَجَبٌ شَهْرُ الْاِسْتِغْفَارِ، وَشَعْبَانُ شَهْرُ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ الْمُخْتَارِ، صَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم، وَرَمَضَانُ شَهْرُ الْقُرْآن

Ulama berkata: Rajab adalah bulan beristighfar (memohon ampun) Sya’ban adalah bulan bershalawat atas Nabi yang terpilih shallallaahu ‘alaihi wa aalihii wa shahbih. Ramadhan adalah bulan Al Quran.

فَاجْتَهِدُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ تَعَالَى فِيْ رَجَبٍ فَإِنَّهُ مَوْسِمُ التِّجَارَةِ، وَاعْمُرُوْا أَوْقَاتَكُمْ فِيْهِ فَهُوَ أَوَانُ الْعِمَارَةِ، فَمَنْ كَانَ مِنَ التُّجَّارِ فَهَذِهِ الْمَوَاسِمُ قَدْ دَخَلَتْ، وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا بِالْأَوْزَارِ فَهَذِهِ الْأَدْوِيَةُ قَدْ حُمِلَتْ

Maka bersungguh-sungguhlah kalian – rahimakumullah- didalam bulan Rajab karena bulan Rajab adalah musim berdagang dan ramaikanlah waktu waktu kalian didalam bulan Rajab, karena bulan Rajab adalah masa meramaikan. Barang siapa termasuk pedagang maka inilah musim berdagang telah tiba, dan barang siapa sakit dengan dosa-dosa maka inilah obat telah dibawakan

قَالَ وَهْبُ بْنُ مُنَبِّهٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ: جَمِيْعُ أَنْهَارِ الدُّنْيَا تَزُوْرُ زَمْزَمَ فِيْ رَجَبٍ تَعْظِيْمًا لِهَذَا الشَّهْرِ. وَقَرَأْتُ فِيْ كُتُبِ اللهِ الْمُنْزَلَةِ أَنَّ مَنْ اسْتَغْفَرَ اللهَ فِيْ رَجَبٍ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يَرْفَعُ يَدَيْهِ وَيَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَتُبْ عَلَيَّ (سَبْعِيْنَ مَرَّةً) لَمْ تَمَسَّ النَّارُ لَهُ جِلْدًا

Wahab bin Munabbih radhiyallaahu ‘anhu telah berkata: Semua waktu siang diseluruh dunia berziarah ke ZAMZAM di dalam bulan Rajab karena mengagungkan bulan ini. Aku telah membaca didalam kitab-kitab Allah yang telah diturunkan bahwasanya barang siapa beristighfar didalam bulan Rajab, pagi dan sore, mengangkat kedua tangannya seraya berdoa : ALLAAHUMMAGHFIR LII WARHAMNII WA TUB ‘ALAYYA 70 kali, maka apa neraka tidak akan menyentuh kulitnya

لَخَّصْتُ هَذَا كُلَّهُ مِنْ تُحْفَةِ الْإِخْوَانِ فِيْ قِرَاءَةِ الْمِيْعَادِ فِيْ رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَرَمَضَانَ لِلْعَلَّامَةِ الْفَشَنِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى؛ فَانْظُرْهُ فَإِنَّهُ فِيْ هَذَا الْبَابِ نَفِيْسٌ جِدًّا

Semua ini saya (penulis kitab Kanzunnajaah) ringkas dari kitab kitab “Tuhfatul Ikhwan Fii Qiraa`atil Mii’aad Fii Raajab wa Sya’ban wa Ramadhan” karya al al Allamah Al Fasyani rahimahullaah. Lihatlah kitab tsb karena kitab tsb dalam bab ini indah sekali.

وَذَكَرَ سَيِّدِيْ اَلْقُطْبُ الرَّبَّانِيُّ اَلشَّيْخُ عَبْدُ الْقَادِرِ الْجِيْلَانِيُّ قُدِّسَ سِرُّهُ فِيْ كِتَابِهِ «اَلْغُنْيَةِ»: أَنَّ مِمَّا يُطْلَبُ أَنْ يُدْعَى بِهِ فِيْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ هَذَا الدُّعَاءَ

Sayyidi Al Quthburrabbani, Syaikh Abdul Qadir al Jilani menuturkan dalam kitab beliau, al Ghunyah, bahwasanya diantara doa yang dianjurkan untuk dibaca pada awal malam bulan Rojab adalah:

إِلَهِيْ تَعَرَّضَ لَكَ فِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ الْمُتَعَرِّضُوْنَ، وَقَصَدَكَ الْقَاصِدُوْنَ، وَأَمَّلَ فَضْلَكَ وَمَعْرُوْفَكَ الطَّالِبُوْنَ؛ وَلَكَ فِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ نَفَحَاتٌ وَجَوَائِزُ، وَعَطَايَا وَمَوَاهِبُ، تَمُنُّ بِهَا عَلَى مَنْ تَشَاءُ مِنْ عِبَادِكَ، وَتَمْنَعُهَا مِمَّنْ لَمْ تَسْبِقْ لَهُ الْعِنَايَةُ مِنْكَ، وَهَأَنَذَا عَبْدُكَ الْفَقِيْرُ إلَيْكَ، الْمُؤَمِّلُ فَضْلَكَ وَمَعْرُوْفَكَ، فَإِنْ كُنْتَ يَا مَوْلَايَ تَفَضَّلْتَ فِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ عَلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ، وَجُدْتَ عَلَيْهِ بِعَائِدَةٍ مِنْ عَطْفِكَ، فَصَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ، وَجُدْ عَلَيَّ بِطَوْلِكَ وَمَعْرُوْفِكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

وَكَانَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ يُفَرِّغُ نَفْسَهُ لِلْعِبَادَةِ فِيْ أَرْبَعِ لَيَالٍ فِي السَّنَةِ، وَهِيَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ، وَلَيْلَةُ الْفِطْرِ، وَلَيْلَةُ الْأَضْحَى، وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ.
وَكَانَ مِنْ دُعَائِهِ فِيْهَا
Adalah sayyidina Ali radhiyallaahu ‘anhu menfokuskan dirinya untuk beribadah dalam empat malam berikut, yaitu malam pertama bulan Rojab, malam Iedul Fitri, malam Iedul Adha, dan malam Nishfu Sya’ban. Diantara doa beliau pada malam-malam tsb adalah :

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ مَصَابِيْحِ الْحِكْمَةِ، وَمَوَالِي النِّعْمَةِ، وَمَعَادِنِ الْعِصْمَةِ، وَاعْصِمْنِيْ بِهِمْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ، وَلَا تَأْخُذْنِيْ عَلَى غِرَّةٍ، وَلَا عَلَى غَفْلَةٍ، وَلَا تَجْعَلْ عَوَاقِبَ أَمْرِيْ حَسْرَةً وَنَدَامَةً، وَارْضَ عَنِّيْ؛ فَإِنَّ مَغْفِرَتَكَ لِلظَّالِمِيْنَ، وَأَنَا مِنَ الظَّالِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ مَا لَا يَضُرُّكَ، وَأَعْطِنِيْ مَا لَا يَنْفَعُكَ، فَإِنَّكَ الْوَاسِعَةُ رَحْمَتُهُ، الْبَدِيْعَةُ حِكْمَتُهُ، فَأَعْطِنِيَ السَّعَةَ وَالدَّعَةَ، وَالْأَمْنَ وَالصِّحَّةَ، وَالشُّكْرَ وَالْمُعَافَةَ وَالتَّقْوَى، وَأَفْرِغِ الصَّبْرَ وَالصِّدْقَ عَلَيَّ وَعَلَى أَوْلِيَائِكَ، وَأَعْطِنِيْ الْيُسْرَ، وَلَا تَجْعَلْ مَعَهُ الْعُسْرَ، وَاعْمُمْ بِذَلِكَ أَهْلِيْ وَوَلَدِيْ وَإِخْوَانِيْ فِيْكَ، وَمَنْ وَلَدَنِيْ، مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اهـ.

وَقَدْ جَمَعَ سَيِّدِيْ الْعَلَّامَةُ السَّيِّدُ حَسَنُ ابْنُ سَيِّدِيْ عَبْدِ اللهِ بَاعَلَوِيٌّ اَلْحَدَّادُ اسْتِغْفَارًا، وَتَرَجَّمَ لَهُ بِدُعَاءِ اسْتِغْفَارِ رَجَبٍ، وَقَالَ: إِنَّ لَهُ فَضَائِلَ كَثِيْرَةً، وَآثَارًا غَزِيْرَةً وَهُوَ هَذَا

Sayyidi al ِllamah sayyid Hasan bin Sayyidii Abdullah Ba’alawi Al Haddad mengumpulkan doa istighfar dan menamainya dengan DOA ISTIGHFAR RAJAB. Beliau berkata: Di dalam istighfar tsb terdapat banyak fadhilah dan atsar yang melimpah. Doanya adaalah sbb:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِوَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ (ثلاثا)، وَأَتُوْبُ إِلَى اللهِ مِمَّا يُكَرِّهُ اللهَ قَوْلًا وَفِعْلًا، وَخَاطِرًا، وَبَاطِنًا وَظَاهِرًا، أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَغْفِرُكَ لِمَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. أَسْتَغْفِرُ اللهَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ مِنْ جَمِيْعِ الذُّنُوْبِ وَالْآثَامِ. أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِذُنُوْبِيْ كُلِّهَا، سِرِّهَا وَجَهْرِهَا، وَصَغْيْرِهَا وَكَبِيْرِهَا، وَقَدِيْمِهَا وَجَدِيْدِهَا، وَأَوَّلِهَا وَآخِرِهَا، وَظَاهِرِهَا وَبَاطِنِهَا، وَأُتْوْبُ إِلَيْهِ. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَغْفِرُكَ مِنْ ذَنْبٍ تُبْتُ إِلَيْكَ مِنْهُ ثُمَّ عُدْتُ فِيْهِ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا أَرَدْتُ بِهِ وَجْهَكَ الْكَرِيْمَ فَخَالَطَهُ مَا لَيْسَ لَكَ فِيْهِ رِضًا، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا وَعَدْتُكَ بِهِ مِنْ نَفْسِيْ ثُمَّ أَخْلَفْتُكَ فِيْهِ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا دَعَانِيْ إِلَيْهِ الْهَوَي مِنْ قِبَلِ الرُّخَصِ مِمَّا اشْتَبَهَ عَلَيَّ وَهُوَ عِنْدَكَ حَرَامٌ

وَأَسْتَغْفِرُكَ يَا مَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، يَا عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ مِنْ كُلِّ سَيِّئَةٍ عَمِلْتُهَا، فِيْ بَيَاضِ النَّهَارِ وَسَوَادِ اللَّيْلٍ، فِيْ مَلَاءٍ وَخَلَاءٍ، وَسِرٍّ وَعَلَانِيَةٍ وأَنْتَ نَاظِرٌ إِلَيَّ إِذَا ارْتَكَبْتُهَا، وَأَتَيْتُ بِهَا مِنَ الْعِصْيَانِ، فَأَتُوْبُ إِلَيْكَ يَا حَلِيْمُ يَا كَرِيْمُ يَا رَحِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُكَ مِنَ النِّعَمِ الَّتِيْ أَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيَّ فَتَقَوَّيْتُ بِهَا عَلَى مَعْصِيَتِكَ وَأَسْتَغْفِرُكَ مِنَ الذُّنُوْبِ الَّتِيْ لَا يَعْرِفُهَا أَحَدٌ غَيْرُكَ، وَلَا يَطَّلِعُ عَلَيْهَا أَحَدٌ سِوَاكَ وَلَا سَيَّعَهَا إِلَّا حِلْمُكَ، وَلَا يُنْجِيْنِيْ مِنْهَا إِلَّا عَفْوُكَ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِكُلِّ يَمِيْنٍ سَلَفَتْ مِنِّيْ فَحَنِثْتُ فِيْهَا وَأَنَا عِنْدَكَ مُؤَاخَذٌ بِهَا. وَأَسْتَغْفِرُكَ يَا مَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِيْنَ. وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِيْ فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِيْنَ. رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

وَأَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ فَرِيْضَةٍ أَوْجَبْتَهَا عَلَيَّ فِيْ آنَاءِ اللَّيْلِ وَأَطْرَافِ النَّهَارِ فَتَرَكْتُهَا خَطَأً أَوْ عَمْدًا أَوْ نِسْيَانًا أَوْ تَهَاوُنًا أَوْ جَهْلًا وَأَنَا مُعَاقَبٌ بِهَا. وَأَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ سُنَّةٍ مِنْ سُنَنِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، وَخَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ نَبِيِّكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَرَكْتُهَا غَفْلَةً أَوْ سَهْوًا أَوْ نِسْيَانًا أَوْ تَهَاوُنًا أَوْ جَهْلًا أَوْ قِلَّةَ مُبَالَاةٍ بِهَا. وَأَسْتَغْفِرُكَ يَا مَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ، سُبْحَانَكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، لَكَ الْمُلْكُ وَلَكَ الْحَمْدُ، وَأَنْتَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ، وَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. يَا جَابِرَ كُلِّ كَسِيْرٍ، وَيَا مُؤْنِسَ كُلِّ وَحِيْدٍ، وَيَا صَاحِبَ كُلِّ غَرِيْبٍ، وَيَا مُيَسِّرَ كُلِّ عَسِيْرٍ، يَا مَنْ لَا يَحْتَاجُ إِلَى الْبَيَانِ وَالتَّفْسِيْرِ، وَأَنْتَ عَلَى مَا تَشَاءُ قَدِيْرٌ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ، وَبِعَدَدِ مَنْ لَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى رُوْحِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي الْأَرْوَاحِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى تُرْبَةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي التُّرَابِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى قَبْرِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي الْقُبُوْرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى صُوْرَةِ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ فِي الصُّوَرِ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى اسْمِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي الْأَسْمَاءِ، {لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ، فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهُ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ}، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

اِنْتَهَى دُعَاءُ اسْتِغْفَارِ رَجَبٍ الْمَشْهُوْرُ نَفَعَ اللهُ تَعَالَى بِهِ آمِينْ

Selesai doa istighfar Rajab yang masyhur, sedmoga Allah memberikan manfaat dengannya. Amin.

وَلَا تَغْفُلْ عَنْ سَيِّدِ الْاِسْتِغْفَارِ الْوَارِدِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ

Jangan lupa membaca sayyidul Istighfar yang diriwayatkan dari Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam, yaitu:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ، وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، وَأَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ. يُقْرَأُ ثَلَاثًا صَبَاحًا وَكَذَلِكَ مَسَاءً وَاللهُ الْمُوَفِّقُ

Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah Rabb-ku, Tiada Tuhan kecuali Engkau, Engkau telah menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu. Aku akan berusaha memenuhi janji-janjiku kepada-Mu sekuat tenagaku, aku berlindung kepada-Mu dari apa perbuatan jelekku, aku mengakui akan nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku dan aku mengakui juga atas dosa yang pernah aku perbuat. Maka ampunilah diriku, sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau. Dibaca tiga kali pagi dan sore. Wallaahul Muwaffiq

وَمِنْ فَوَائِدِ الشَّيْخِ عَلِيٍّ اَلْأَجْهُوْرِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى كَمَا فِيْ تَرْجَمَتِهِ بِخُلَاصَةِ الْأَثَرِ أَنَّ مَنْ قَرَأَ فِيْ آخِرِ جُمُعَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَالْخَطِيْبُ عَلَى الْمِنْبَرِ: أَحْمَدُ رَسُوْلُ اللهِ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ (خَمْسًا وَثَلَاثِيْنَ مَرَّةً) لَا تَنْقَطِعُ الدَّرَاهِمُ مِنْ يَدِهِ تِلْكَ السَّنَةَ. اِنْتَهَى.

Dalam Fawa`idnya Syeikh Ali Al Ajhuri sebagaimana dalam biografi beliau dalam kitab Khulashatil Atsar bahwasanya barang siapa pada akhir Jumat bulan Rojab membaca:AHMADU RASUULULLOOH, MUHAMMADUN RASUULULLOOH 35 Xdalam keadaan Khatib masih berada diatas mimbar, maka dirham tidak terputus dari tangannya dalam tahun tersebut. Selesai. Wallaahu A’lam.
Sumber : Kitab Kanzunnajaah Wassuruur, karya Syeikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Qudus, halaman 39 s/d 43.

Tambahan dari kitab Nuzhatul Majaalis halaman 239 :

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ كُلَّ يَوْمٍ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَّلِ مِنْ رَجَبٍ سُبْحَانَ الْحَيِّ الْقَيُّوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ وَكُلَّ يَوْمٍ مِنَ الْعَشْرِ الثَّانِيِ مِائَةَ مَرَّةٍ سُبْحَانَ اللهِ الْأَحَدِ الصَّمَدِ وَمِنَ الْعَشْرِ الثَّالِثِ مِائَةَ مَرَّةٍ سُبْحَانَ اللهِ الرَّءُوْفِ لَمْ يَصِفْ اَلْوَاصِفُوْنَ مَا يُعْطَى مِنَ الثَّوَابِ

Dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : Barang siapa setiap hari dari sepuluh awal bulan Rajab membaca : SUBHAANAL HAYYIL QOYUUM 100 kali, dan sepuluh kedua :SUBHAANAL AHADISHSHOMAD 100 kali, dan sepuluh ketiga SUBHAANALLOOHIRRO`UUF 100 kali, maka orang yang mensifati tidak bisa mensifati pahala yang akan diberikan kepada orang tersebut. Wallaahu A’lam.

GHULUW (BERLEBIHAN) DALAM BERAGAMA TIDAK DI PERBOLEHKAN

Sikap Ghuluw itu Terlarang dalam Islam, Kenapa Demikian?

Ahlu Sunnah wal Jamaah, atau oleh kalangan santri biasa disebut dengan ASWAJA, adalah manhaj dalam memahami agama Islam yang berusaha sedekat mungkin memahami Islam sesuai dengan apa yang dipahami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam para sahabatnya, para tabi’in, dan para tabi’ut tabi’in.

Salah satu keunggulan Manhaj Ahlu Sunnah wal Jamaah adalah konsep I’tidal; bersikap adil dalam seluruh aspek. Sehingga, manhaj yang begitu mulia ini sangat anti terhadap berbagai macam bentuk sikap ghuluw dalam segala hal, terutama dalam berislam.

Ghuluw dalam konteks berislam maknanya adalah sikap keras, kaku, berlebih-lebihan, dan melebihi batas yang telah ditentukan oleh syar’i. (An-Nihayah fi Gharibil Atsar, 3/382)

Imam al-Qurthubi mencoba menjelaskan makna ghuluw yang terdapat dalam surat al-Maidah ayat 77, Laa Taghluu fii Diinikum, beliau mengatakan, “Janganlah berlebih-lebihan (Ifrath) sebagaimana sikap berlebih-lebihan kaum Yahudi dan Nasrani terhadap Nabi Isa. Bentuk ghuluw kaum Yahudi adalah menganggap Nabi Isa bukan anak yang lahir dari pernikahan syar’i (anak haram), sementara kaum Nasrani menganggap Isa adalah Tuhan.” (Tafsir al-Qurthubi, 6/252)

Sikap Ghuluw dalam berislam dapat terjadi dalam berbagai ranah praktik beragama; ranah ibadah, keyakinan atau akidah, perkataan, maupun perbuatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan keras kepada umatnya tentang buruknya sikap ghuluw dalam berislam.

Selain memang sikap ghuluw ini dilarang secara langsung berdasarkan dalil yang ada, tampaknya setiap muslim juga perlu memahami lebih detail mengapa sikap ghuluw dalam berislam ini dilarang. Harapannya, setiap muslim memiliki pemahaman yang mendalam dan menghujam tentang persoalan ini sehingga menambah kualitas keislaman secara ilmiah dan proporsional dalam amaliah, bukan sekedar ikut-ikutan.

SIKAP GHULUW MENJADI FAKTOR PERUSAK ISTIQAMAH DALAM BERAMAL

Sikap ghuluw ternyata menjadi faktor penyebab tumbuhnya perasaan jenuh dan lemah sehingga terputuslah kontinuitas dalam beramal ibadah. Ghuluw merusak prinsip istiqamah dalam beramal yang telah tertanam dalam diri seorang muslim.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

“Sesungguhnya agama itu mudah, dan sekali-kali tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan, dan (dalam beramal) hendaklah bersikap pertengahan (tidak melebihi dan tidak mengurangi), bergembiralah kalian, serta mohonlah pertolongan (di dalam ketaatan kepada Allah) dengan amal-amal kalian pada waktu kalian bersemangat dan giat.” (HR. Al-Bukhari No. 38)
Baca juga: 12 Buah Iman Pemberian Allah Kepada Hamba yang Jujur dalam Beriman

Maknanya, seorang muslim yang berjibaku dengan berbagai amal ibadah namun jika ia mengabaikan sikap keramahan (Ar-Rifqu), maka ia akan ditimpa perasaan letih lalu terputus amalannya, dan ia kalah dalam mempertahankan keistiqamahan. (Fathul Bari, Ibnu Hajar al-Asqalani, 1/94)

Dari hadits ini pula kita bisa paham bahwa orang yang terlalu berlebihan dalam berislam, maka ia akan mudah terhenti dari amalan tersebut. Bukan berarti Islam itu melarang umat untuk meraih idealisme amal ibadah, namun Islam mencegah sikap berlebih-lebihan yang akan mengantarkan pelakunya pada kejenuhan ibadah semisal tenggelam dalam kesibukan ibadah sunah hingga kehabisan energi untuk melaksanakan ibadah yang lebih utama atau wajib.
SIKAP GHULUW MENGELUARKAN PELAKUNYA DARI LINGKARAN SUNAH

Allah ‘azza wajalla memerintah hamba-Nya untuk senantiasa melaksanakan perintah-Nya dan perintah rasul-Nya. Sunah-sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menunjukkan cara untuk meyakini dan mengamalkan Islam secara benar. Oleh sebab itu, sikap ghuluw dalam berislam adalah bentuk lain dari sikap keluar dari ruang lingkup sunah. Orang yang ghuluw dalam berislam berarti ia sedang mengeluarkan dirinya dari lingkaran sunah.

Pernah ada tiga orang yang mendatangi rumah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bertanya perihal ibadah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah mereka diberitahu, mereka merasa ternyata amalan mereka masih sangat sedikit sekali.

Kemudian, salah satu dari mereka menyatakan diri ingin shalat sepanjang malam. Satunya lagi ingin melaksanakan shiyam sepanjang tahun. Orang yang ketiga ingin menjauh dari perempuan dan tidak akan menikahi perempuan selamanya.

Sikap tiga orang tersebut termasuk kategori sikap ghuluw. Buktinya, saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung menegur sikap tersebut dengan sabdanya,

“Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah di antara kalian, tetapi aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur malam, dan aku juga menikah dengan perempuan. Barang siapa yang benci terhadap sunahku, maka ia tidak termasuk golonganku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

SIKAP GHULUW MENJADI FAKTOR MUNCULNYA KEBINASAAN

Sikap ghuluw dalam berislam ternyata juga memicu munculnya kerusakan dan kebinasaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, ia berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku pada padi hari ‘Aqabah (hari melempar jumrah pertama dalam rangkaian ibadah haji), dan saat itu beliau berada di atas kendaraannya, ‘Kemarilah, ambilkan (kerikil) untukku.’

Maka aku ambilkan untuk beliau kerikil-kerikil, dan kerikil-kerikil itu (yang aku ambil) adalah batu-batu yang digunakan untuk melempar Ketapel, maka ketika aku letakkan di tangan beliau, beliau berkata,

‘Dengan (kerikil) yang seperti mereka, dengan yang seperti mereka dan waspadalah kalian dari sikap ghuluw dalam beragama, karena sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah sikap ghuluw dalam beragama’.” (HR. An-Nasa’i No. 3057, hadits shahih)

SIKAP GHULUW ITU MEMPERSULIT DIRI

Namanya juga berlebih-lebihan, tentu saja setiap sikap yang berlebihan itu akan menghadirkan konsekuensi yang akan kembali kepada dirinya, yaitu berupa kesulitan. Allah ‘azza wajalla akan menghadirkan kesulitan-kesulitan pada orang yang lebih memilih bersikap ghuluw dalam berislam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُشَدِّدُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَيُشَدِّدُ اللهُ عَلَيْكُمْ فَإِنَّ قَوْمًا شَدَّدُوْا عَلَى أَنْفُسِهِمْ فَشَدَّدَ اللهُ عَلَيْهِمْ فَتِلْكَ بَقَايَاُهْم فِي الصَّوَامِعِ وَالدِّيَارِ وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوْهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ

“Janganlah kamu memberat-beratkan dirimu sendiri, sehingga Allah akan memberatkan dirimu. Sesungguhnya suatu kaum telah memberatkan diri mereka, lalu Allah memberatkan mereka. Sisa-sisa mereka masih dapat kamu saksikan dalam biara-biara dan rumah-rumah peribadatan, mereka mengada-adakan rahbaniyyah (ketuhanan/kerahiban) padahal Kami tidak mewajibkannya atas mereka. (HR. Abu Daud No. 4904; HR. Abu Ya’la No. 3694 dalam Al-Musnad, 6/365, Al-Haitsami berkata, riwayat Abu Ya’la adalah mursal, namun perawinya tsiqah)

Ibnu Qayyim menjelaskan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sikap ghuluw dalam berislam, yakni berislam melebihi batas yang telah ditentukan oleh syariat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menginformasikan bahwa sikap ghuluw adalah faktor penyebab datangnya kesulitan-kesulitan dari Allah ‘azza wajalla. Seperti orang yang menyulitkan diri dengan nazar yang cukup berat, akhirnya ia terbebani dengan beratnya memenuhi nazar tersebut. (Ighatsatul Lahfan, 1/132)
SIKAP GHULUW MEMBERI CELAH SETAN UNTUK BERKUASA

Setan memiliki pengalaman yang cukup panjang dalam proses menjerumuskan manusia ke dalam kesalahan dan dosa. Sikap ghuluw adalah salah satu dari sekian banyak pintu yang digunakan setan untuk menjerumuskan manusia. Manusia-manusia yang semangatnya melebihi pemahamannya terhadap agama dalam beramal menjadi sasaran yang cukup menggiurkan bagi setan.

Dari Mutharif ia berkata, ayahku berkata,

انْطَلَقْتُ فِي وَفْدِ بَنِي عَامِرٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا أَنْتَ سَيِّدُنَا فَقَالَ السَّيِّدُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قُلْنَا وَأَفْضَلُنَا فَضْلًا وَأَعْظَمُنَا طَوْلًا فَقَالَ قُولُوا بِقَوْلِكُمْ أَوْ بَعْضِ قَوْلِكُمْ وَلَا يَسْتَجْرِيَنَّكُمْ الشَّيْطَانُ

“Aku pergi bersama rombongan utusan bani Amir menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami lalu berkata, ‘Engkau adalah junjungan kami.’

Beliau langsung menyahut, ‘Junjungan itu hanyalah Allah Ta’ala semata.’

Kami berkata lagi, ‘Engkau adalah yang paling utama di antara kami dan memiliki kemuliaan yang besar.’

Beliau bersabda, ‘Berkatalah kalian dengan perkataan kalian, atau sebagian dari perkataan kalian (tidak perlu banyak pujian), dan jangan sekali-kali kalian terpengaruh oleh setan.’” (HR. Abu Daud No. 4172)

Begitu banyaknya informasi yang menyimpulkan atas terlarangnya sikap ghuluw menunjukkan bahwa sikap tersebut merupakan representasi kondisi lemahnya akal seseorang, tingkat kebodohan terhadap agama pada dirinya, kurangnya pemahaman terhadap agama Islam, dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, penting bagi setiap muslim untuk menyadari betapa perlunya memahami prinsip-prinsip manhaj Ahlu Sunnah Wal Jamaah, sebagai langkah untuk menyelamatkan diri dari berbagai bentuk penyimpangan dalam agama baik penyimpangan yang bersumber dari sikap berlebih-lebihan (ifrath) ataupun meremehkan (tafrith) dalam ranah keyakinan, perkataan, maupun perbuatan atau amal ibadah.

Salah seorang salaf mengatakan—perkataan ini dinukil Syaikh Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu’ al-Fatawa, 14/483, “Tidaklah Allah ‘azza wajalla memerintahkan sesuatu kecuali setan akan menggelincirkan pelakunya pada dua jurang; jurang ghuluw, dan jurang peremehan (taqshir).” Wallahu a’lam.

MENGIKUTI ORANG YANG SHOLIH DAN BERDO’A DENGAN PERANTARA MEREKA

MENGIKUTI ORANG YANG SHOLIH

Marilah berjalan di atas manhaj Salaf yang sholeh berdasarkan apa yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat, pemimpim / imam ijtihad kaum muslim pada umumnya (Imam Mujtahid Mutlak) yang bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salaf yang sholeh sehingga mendapatkan pemahaman Salaf yang sholeh langsung dari lisannya mereka serta melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salaf yang sholeh.

Ingat manhaj Salaf yang sholeh bukan manhaj salaf karena salaf (orang-orang terdahulu) ada yang sholeh dan ada pula yang tidak sholeh seperti kaum khawarij. Contohnya Abdurrahman ibn Muljam adalah seorang yang sangat rajin beribadah. Shalat dan shaum, baik yang wajib maupun sunnah, melebihi kebiasaan rata-rata orang di zaman itu.Namun terpangaruh oleh hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) orang-orang Khawarij yang selalu berbicara mengatasnamakan Islam. Sampai akhirnya, dialah yang ditugasi menjadi eksekutor pembunuhan Imam Sayyidina Ali ra.

Istilah manhaj salaf maupun mazhab salaf tidak pernah disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat. Kedua istilah tersebutnya tampaknya disampaikan oleh mereka yang mengaku-aku mengikuti Salaf yang sholeh namun tidak pernah bertalaqqi (mengaji) dengan Salaf yang sholeh.

Manhaj Salaf yang sholeh artinya jalan yang telah dilalui kaum muslim terdahulu sehingga mencapai muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan

Nasehat Imam Sayyidina Ali ra kepada puteranya sebagai berikut:

“Sejak awal aku bermaksud menolong mengembangkan akhlak yang mulia dan mempersiapkanmu menjalani kehidupan ini. Aku ingin mendidikmu menjadi seorang pemuda dengan akhlak karimah, berjiwa terbuka dan jujur serta memiliki pengetahuan yang jernih dan tepat tentang segala sesuatu di sekelilingmu.

Pada mulanya aku hanya ingin mengajarimu Kitab Suci, secara mendalam, mengerti seluk-beluk (tafsir dan takwil)nya, membekalimu dengan pengetahuan yang lengkap tentang perintah dan larangan-Nya (hukum-hukum dan syariat-Nya) serta halal dan haramnya. Kemudian aku khawatir engkau dibingungkan oleh hal-hal yang diperselisihkan di antara manusia, akibat perbedaaan pandangan di antara mereka dan diperburuk oleh cara berpikir yang kacau, cara hidup yang penuh dosa, egoisme dan kecenderungan hawa nafsu mereka, sebagaimana membingungkan mereka yang berselisih itu sendiri.

Oleh karena itu, kutuliskan, dalam nasihatku ini,prinsip-prinsip dasar dari keutamaan, kemuliaan, kesholehan, kebenaran dan keadilan. Mungkin berat terasa olehmu, tetapi lebih baik membekali engkau dengan pengetahuan ini daripada membiarkanmu tanpa pertahanan berhadapan dengan dunia yang penuh dengan bahaya kehancuran dan kebinasaan. Karena engkau adalah pemuda yang sholeh dan bertaqwa, aku yakin engkau akan mendapatkan bimbingan dan pertolongan Ilahi (taufik dan hidayah-Nya) dalam mencapai tujuanmu. Aku ingin engkau berjanji pada dirimu untuk bersungguh-sungguh mengikuti nasihatku ini.

Ketahuilah wahai putraku, bahwa sebaik-baiknya wasiat adalah taqwa kepada Allah, bersunguh-sungguh menjalankan tugas yang diwajibkan-Nya atasmu, dan mengikuti jejak langkah Rasullullah dan orang-orang yang sholeh dari keluargamu”.

Jadi kalau tidak sholeh artinya telah gagal mengikuti Salaf yang sholeh telah gagal mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam suri tauladan bagi seluruh manusia

Firman Allah ta’ala :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Yang artinya,
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sungguh dalam dirimu terdapat akhlak yang mulia”. (QS Al-Qalam:4)

Lantas aku (Sa’d bin Hisyam bin Amir) bertanya; “Wahai Ummul mukminin, beritahukanlah kepadaku tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’ ‘Aisyah menjawab; Bukankah engkau telah membaca Al Qur’an? Aku menjawab; Benar, Aisyah berkata; Akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Al Quran (HR Muslim 1233)

Dan telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farukh dan Abu Rabi’ keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Abdul Warits dari Abu At Tayyah dari Anas bin Malik dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah “orang yang paling baik akhlaknya” (HR Muslim 4273)

Rasulullah bersabda “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian ialah yang paling bagus akhlaknya.” (HR Bukhari 5569)

Imam Mazhab yang empat telah menasehatkan bahwa untuk mencapai muslim yang sholeh atau muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang ihsan adalah menjalankan perkara syariat sebagaimana yang mereka uraikan dalam kitab fiqih dan sekaligus menjalankan tasawuf

Imam Syafi’i ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 47]

Begitupula dengan nasehat Imam Malik ~rahimahullah bahwa menjalankan tasawuf agar manusia tidak rusak dan menjadi manusia berakhlak baik

Imam Malik ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fiqih (perkara syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia, hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar” .

Muslim yang Sholeh atau Muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang Ihsan adalah tujuan Rasulullah diutus oleh Allah Azza wa Jalla

Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad)

Seorang muslim dikatakan telah mengikuti atau mentaati Allah dan RasulNya sehingga mendapatkan maqom disisiNya atau dekat dengan Allah Azza wa Jalla adalah 4 golongan manusia yakni para Nabi (Rasulullah yang utama), para Shiddiqin, para Syuhada dan muslim yang sholeh

Firman Allah ta’ala :
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا
Yang artinya
“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )

Semakin dekat kita kepada Allah sehingga menjadi kekasihNya (Wali Allah)

Maqom Shiddiqin atau kedekatan dengan Allah

Semakin berilmu kita maka kita semakin takut kepada Allah Azza wa Jalla

Rasulullah bersabda ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (berma’rifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11)

Firman Allah ta’ala :
ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Yang artinya “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampu” (QS Al Faathir [35]:28)

Sungguh luas ilmuNya, semakin kita mendalami ilmuNya semakin tersungkur sujud kepadaNya

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh

Sekali lagi kami sampaikan bahwa tanda-tanda muslim yang dekat dengan Allah adalah muslim yang sholeh atau muslim yang telah mencapai Ihsan atau muslim yang telah bermakrifat, minimal mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau yang terbaik mereka yang dapat melihat Allah dengan hati, maka mereka mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar hingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah sesuai dengan tujuan beragama atau sesuai dengan tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla.

Jika belum dapat menyaksikan Allah dengan hati atau belum mencapai ma’rifat maka setiap kita akan bersikap atau melakukan perbuatan, ingatlah selalu perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa “Jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11)

BERDO’A DENGAN PERANTARA MAKHLUK YANG DI CINTAI OLEH ALLOH SWT.

Firman Allah ta’ala,

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar” (QS Az Zumar [39]: 3 )

Sebagian orang menyalahgunakan firman Allah ta’ala ini untuk mensesatkan atau bahkan mengkafirkan kaum muslim yang berdoa dengan bertawassul dengan orang sholeh yang sudah wafat.

Padahal “maa na’buduhum illaa liyuqarribuunaa ilaa allaahi” (QS Az Zumar [39]:3]) menjelaskan bahwa mereka menyembah selain Allah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Juga ditegaskan dalam ayat tersebut bahwa mereka adalah orang-orang pendusta dengan kata lain apa yang mereka katakan “mendekatkan diri kepada Allah” adalah dusta belaka

Sedang orang yang bertawassul dengan orang sholeh yang sudah wafat sama sekali tidak menyembahnya. Tetapi ia mengetahui bahwa orang sholeh itu memiliki kemuliaan di sisi Allah lalu ia bertawassul dengannya karena dimuliakanNya.

Berdoa dengan bertawassul adalah perintahNya

Firman Allah ta’ala :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Yang artinya
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (washilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS Al Maa’idah [5]: 35 )”

Bertawassul adalah adab berdoa, berperantara pada kemuliaan seseorang, kemuliaan tempat, kemuliaan benda , kemuliaan waktu, kemulian doa atau dzikrullah dihadapan Allah Azza wa Jalla

Boleh berperantara pada kemuliaan seseorang baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat karena kemuliaan seseorang di hadapan Allah tak akan sirna walaupun mereka sudah wafat. Terlebih lagi mereka yang meraih kemuliaan disisiNya tetap hidup sebagaimana para Syuhada

Firman Allah ta’ala :
وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَٰكِنْ لَا تَشْعُرُونَ
Yang artinya
”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada), (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS Al Baqarah [2]: 154 )

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada) itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS Ali Imran [3]: 169)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

حياتي خير لكم ومماتي خير لكم تحدثون ويحدث لكم , تعرض أعمالكم عليّ فإن وجدت خيرا حمدت الله و إن وجدت شرا استغفرت الله لكم.

“Hidupku lebih baik buat kalian dan matiku lebih baik buat kalian. Kalian bercakap-cakap dan mendengarkan percakapan. Amal perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Jika aku menemukan kebaikan maka aku memuji Allah. Namun jika menemukan keburukan aku memohonkan ampunan kepada Allah buat kalian.” (Hadits ini diriwayatkan oelh Al Hafidh Isma’il al Qaadli pada Juz’u al Shalaati ‘ala al Nabiyi Shallalahu alaihi wasallam. Al Haitsami menyebutkannya dalam Majma’u al Zawaaid dan mengkategorikannya sebagai hadits shahih dengan komentarnya : hadits diriwayatkan oleh Al Bazzaar dan para perawinya sesuai dengan kriteria hadits shahih)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إن أعمالكم تعرض على أقاربكم وعشائركم من الأموات فإن كان خيرا استبشروا، وإن كان غير ذلك قالوا: اللهم لا تمتهم حتى تهديهم كما هديتنا

“Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yang telah meninggal dunia. Jika perbuatan kalian baik, maka mereka mendapatkan kabar gembira, namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: “Ya Allah, janganlah engkau matikan mereka sampai Engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah kepada kami.” (HR. Ahmad dalam musnadnya).

Justru mereka yang membedakan bolehnya bertawassul pada yang hidup saja dan mengharamkan pada yang sudah wafat, maka mereka itu malah dirisaukan akan terjerumus pada kemusyrikan karena menganggap makhluk hidup bisa memberi manfaat, sedangkan akidah kita adalah semua yang hidup dan yang sudah wafat tak bisa memberi manfaat apa apa kecuali karena Allah ta’ala memuliakannya, bukan karena ia hidup lalu ia bisa memberi manfaat dihadapan Allah, berarti si hidup itu sebanding dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala?, si hidup bisa berbuat sesuatu pada keputusan Allah ?

Orang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah bisa memberi manfaat dan madlorot kepadanya dan jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala itu bisa memberi manfaat dan madlorot, maka dia telah melakukan perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan madlorot sesungguhnya hanyalah Allah semata.

Bertawassul adalah adab berdoa , salah satu usaha agar do’a yang kita panjatkan diterima dan dikabulkan Allah Subhanahu wa ta’ala

Bertawassul dengan kemulian orang yang sudah wafat, sebagaimana yang tercantum dalam Tafsir Ibnu Katsir surat An-nisa ayat 64,

Al-Atabi ra menceritakan bahwa ketika ia sedang duduk di dekat kubur Nabi Shallallahu alaihi wasallam, datanglah seorang Arab Badui, lalu ia mengucapkan,

“Assalamu’alaika, ya Rasulullah (semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah). Aku telah mendengar Allah ta’ala berfirman :
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا
Yang artinya, ‘Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka menjumpai Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang‘ (QS An-Nisa: 64),

Sekarang aku datang kepadamu, memohon ampun bagi dosa-dosaku (kepada Allah) dan meminta syafaat kepadamu (agar engkau memohonkan ampunan bagiku) kepada Tuhanku.”

Kemudian lelaki Badui tersebut mengucapkan syair berikut , yaitu:
“Hai sebaik-baik orang yang dikebumikan di lembah ini lagi paling agung, maka menjadi harumlah dari pancaran keharumannya semua lembah dan pegunungan ini. Diriku sebagai tebusan kubur yang engkau menjadi penghuninya; di dalamnya terdapat kehormatan, kedermawanan, dan kemuliaan.“

Kemudian lelaki Badui itu pergi, dan dengan serta-merta mataku terasa mengantuk sekali hingga tertidur.

Dalam tidurku itu aku bermimpi bersua dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam., lalu beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Hai Atabi, susullah orang Badui itu dan sampaikanlah berita gembira kepadanya bahwa Allah telah memberikan ampunan kepadanya!”

Bertawassul dengan kemulian tempat seperti berdoa di Multazam, Raudoh, Maqam Ibrahim dll

Bertawassul dengan waktu seperti berdoa pada sepertiga malam terakhir, berdoa ketika wukuf di pada Arafah, dll

Bertawassul dengan kemuliaan benda seperti berdoa memohon kesembuhan kepada Allah dengan perantaraan ludah orang-orang yang mulia disisi Allah

Telah menceritakan kepadaku Shadaqah bin Al Fadl telah mengabarkan kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari ‘Abdurrabbihi bin Sa’id dari ‘Amrah dari ‘Aisyah dia berkata; Biasanya dalam meruqyah, beliau membaca: BISMILLAHI TURBATU ARDLINA BI RIIQATI BA’DLINA YUSYFAA SAQIIMUNA BI IDZNI RABBINA (Dengan nama Allah, Debu tanah kami dengan ludah sebagian kami semoga sembuh orang yang sakit dari kami dengan izin Rabb kami. (HR Bukhari 5305)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb serta Ibnu Abu ‘Umar dan lafazh ini miliknya Ibnu Abu ‘Umar dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Abdu Rabbih bin Sa’id dari ‘Amrah dari ‘Aisyah bahwa apabila seseorang mengadukan suatu penyakit yang dideritanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti sakit kudis, atau luka, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berucap sambil menggerakkan anak jarinya seperti ini -Sufyan meletakkan telunjuknya ke tanah, kemudian mengangkatnya- Bismillahi turbatu ardhina biriiqati ba’dhina liyusyfaa bihi saqiimuna bi idzni rabbina. (Dengan nama Allah, dengan debu di bumi kami, dan dengan ludah sebagian kami, semoga sembuhlah penyakit kami dengan izin Rabb kami). Ibnu Abu Syaibah berkata; ruqyah tersebut berbunyi; Yusyfaa saqiimunaa’. Dan Zuhair berkata; Doa ruqyah tersebut berbunyi; Liyusyfaa saqiimunaa.’ (HR Muslim 4069)

Yang dimaksud ludah sebagian kami adalah ludah hambaNya yang disisiNya

Bertawassul dengan kemuliaan doa atau dzikrullah seperti berdoa memohon kesembuhan kepada Allah dengan perantaraan bacaan surat Al Fatihah

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At Tamimi; Telah mengabarkan kepada kami Husyaim dari Abu Bisyr dari Abu Al Mutawakkil dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa beberapa orang sahabat melakukan perjalanan jauh dan berhenti untuk istirahat pada salah satu perkampungan ‘Arab, lalu mereka minta dijamu oleh penduduk kampung itu. Tetapi penduduk enggan menjamu mereka. Penduduk bertanya kepada para sahabat; ‘Adakah di antara tuan-tuan yang pandai mantera? Kepala kampung kami digigit serangga.’ Menjawab seorang sahabat; ‘Ya, ada! Kemudian dia mendatangi kepala kampung itu dan memanterainya dengan membaca surat Al Fatihah. Maka kepala kampung itu pun sembuh. Kemudian dia diberi upah kurang lebih tiga puluh ekor kambing. Tetapi dia enggan menerima seraya mengatakan; ‘Tunggu! Aku akan menanyakannya lebih dahulu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah aku boleh menerimanya.’ Lalu dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menanyakannya hal itu, katanya; ‘Ya, Rasulullah! Demi Allah, aku telah memanterai seseorang dengan membacakan surat Al Fatihah.’ Beliau tersenyum mendengar cerita sahabatnya dan bertanya: ‘Bagaimana engkau tahu Al Fatihah itu mantera? ‘ Kemudian sabda beliau pula: ‘Terimalah pemberian mereka itu, dan berilah aku bagian bersama-sama denganmu.’ Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar dan Abu Bakr bin Nafi’ keduanya dari Ghundar Muhammad bin Ja’far dari Syu’bah dari Abu Bisyr melalui jalur ini, dia menyebutkan di dalam Haditsnya; ‘Kemudian orang itu mulai membacakan Ummul Qur’an, dan mengumpulkan ludahnya lalu memuntahkannya, setelah itu orang itu sembuh. (HR Muslim 4080)

Berdoa dengan bertawassul perantaraan sholawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam

Anas bin Malik r.a meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tiada doa kecuali terdapat hijab di antaranya dengan di antara langit, hingga bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka apabila dibacakan shalawat Nabi, terbukalah hijab dan diterimalah doa tersebut, namun jika tidak demikian, kembalilah doa itu kepada pemohonnya“

Rasulullah bersabda “Jika salah seorang di antara kalian berdoa maka hendaknya dia memulainya dengan memuji dan menyanjung Allah, kemudian dia bershalawat kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, kemudian setelah itu baru dia berdoa sesukanya.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan dishahihkan oleh At Tirmidzi)

Mereka bertanya kenapa kita harus bertawasul dalam berdoa sedangkan kita dijanjikan oleh Allah Azza wa Jalla akan mengabulkan segala permohonan hambaNya sebagaimana firmanNya yang artinya
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS Al Baqarah [2]:186 )

Kadang kita dalam memahami ayat di atas mengambil hanya sebagaian dari ayat itu yakni “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku“. Sehingga sebagian muslim, ketika selesai berdoa, seolah-olah “menagih janji” Allah Subhanahu wa Ta’ala berdasarkan apa yang dipahaminya itu.

Padahal dalam ayat itu juga telah dijelaskan jalan/cara/syarat agar Allah ar Rahmaan ar Rahiim mengabulkan doa hambaNya pada kalimat berikutnya “maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” maknanya doa akan terkabul tergantung kedekatan kita kepada Allah Azza wa Jalla atau tergantung kadar ketaatan kepada Allah dan RasulNya.

Seorang Muslim yang dikatakan telah mentaati Allah dan RasulNya sehingga mendapatkan maqom disisiNya adalah 4 golongan manusia sebagaimana firmanNya :
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا
Yang artinya “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )

Maqom Shiddiqin atau kedekatan dengan Allah
Semakin dekat kita kepada Allah bahkan sampai menjadi kekasihNya (Wali Allah) maka Allah telah menjanjikan pasti akan mengabulkan segala permintaan

Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah bersabda, Allah ta’ala berfirman “jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya. (HR Bukhari 6021)

Contohnya bagaimana Sayyidina Umar bin Khathab ra yang kita tahu setingkat beliau tentu bisa berdoa langsung kepada Allah ta’ala , namun beliau menjadikan Uwais ra seorang Tabi’in menjadi perantara bagi doanya kepada Allah Azza wa Jalla mengikuti pesan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Suatu hari Umar r.a. kedatangan rombongan dari Yaman, lalu ia bertanya :
“Adakah di antara kalian yang datang dari suku Qarn?”.
Lalu seorang maju ke dapan menghadap Umar. Orang tersebut saling bertatap pandang sejenak dengan Umar. Umar pun memperhatikannya dengan penuh selidik.
“Siapa namamu?” tanya Umar.
“Aku Uwais”, jawabnya datar.
“Apakah engkau hanya mempunyai seorang Ibu yang masih hidup?, tanya Umar lagi.
“Benar, Amirul Mu’minin”, jawab Uwais tegas.
Umar masih penasaran lalu bertanya kembali “Apakah engkau mempunyai bercak putih sebesar uang dirham?” (maksudnya penyakit kulit berwarna putih seperti panu tapi tidak hilang).
“Benar, Amirul Mu’minin, dulu aku terkena penyakit kulit “belang”, lalu aku berdo’a kepada Allah agar disembuhkan. Alhamdulillah, Allah memberiku kesembuhan kecuali sebesar uang dirham di dekat pusarku yang masih tersisa, itu untuk mengingatkanku kepada Tuhanku”.
“Mintakan aku ampunan kepada Allah”.
Uwais terperanjat mendengar permintaan Umar tersebut, sambil berkata dengan penuh keheranan. “Wahai Amirul Mu’minin, engkau justru yang lebih behak memintakan kami ampunan kepada Allah, bukankah engkau sahabat Nabi?”
Lalu Umar berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata “Sesungguhnya sebaik-baik Tabiin adalah seorang bernama Uwais, mempunyai seorang ibu yang selalu dipatuhinya, pernah sakit belang dan disembuhkan Allah kecuali sebesar uang dinar di dekat pusarnya, apabila ia bersumpah pasti dikabulkan Allah. Bila kalian menemuinya mintalah kepadanya agar ia memintakan ampunan kepada Allah”
Uwais lalu mendoa’kan Umar agar diberi ampunan Allah. Lalu Uwais pun menghilang dalam kerumunan rombongan dari Yaman yang akan melanjutkan perjalanan ke Kufah. (HR Ahmad)

Hadits senada diriwayatkan oleh Imam Muslim

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb; Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al Qasim; Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Al Mughirah; Telah menceritakan kepadaku Sa’id Al Jurairi dari Abu Nadhrah dari Usair bin Jabir bahwa penduduk Kufah mengutus beberapa utusan kepada Umar bin Khaththab, dan di antara mereka ada seseorang yang biasa mencela Uwais. Maka Umar berkata; Apakah di sini ada yang berasal dari Qaran. Lalu orang itu menghadap Umar. Kemudian Umar berkata: ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: Sesungguhnya akan datang kepadamu seorang laki-laki dari Yaman yang biasa dipanggil dengan Uwais. Dia tinggal di Yaman bersama Ibunya. Dahulu pada kulitnya ada penyakit belang (berwarna putih). Lalu dia berdo’a kepada Allah, dan Allahpun menghilangkan penyakit itu, kecuali tinggal sebesar uang dinar atau dirham saja. Barang siapa di antara kalian yang menemuinya, maka mintalah kepadanya untuk memohonkan ampun kepada Allah untuk kalian. Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Muhammad bin Al Mutsanna keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami ‘Affan bin Muslim; Telah menceritakan kepada kami Hammad yaitu Ibnu Salamah dari Sa’id Al Jurairi melalui jalur ini dari ‘Umar bin Al Khaththab dia berkata; Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sebaik-baik tabi’in, adalah seorang laki-laki yang dibiasa dipanggil Uwais, dia memiliki ibu, dan dulu dia memiliki penyakit belang ditubuhnya. Carilah ia, dan mintalah kepadanya agar memohonkan ampun untuk kalian.’ (HR Muslim 4612)