IMAM JA’FAR SHODIQ RA BUKAN IMAM DARI GOLONGAN SYI’AH

Tokoh dari kalangan ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini dicatut oleh Syiah sebagai tokoh sekte mereka, sebagai imam keenam dalam keyakinan Syiah Itsna Ayriyah, padahal jauh panggang dari api. Akidahnya sangat berbeda jauh dengan akidah sekte Syiah.

Nasab dan Kepribadiannya

Ia adalah Ja’far bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abu Thalib. Lahir di Madinah tahun 80 H dan wafat di kota yang sama pada tahun 148 H, dalam usia 68 tahun.

Ash-Shadiq merupakan gelar yang selalu tersemat kepadanya, karena ia terkenal dengan kejujurannya dalam hadis, ucapan, dan tindakan. Ia tidak dikenal berdusta. Tidak hanya pada Syiah, gelar ini juga masyhur di kalangan umat Islam. Syaikhul Islam sering menyebutnya dengan gelar ini.

Laqob lain yang menempel pada Ja’far adalah al-imam dan al-faqih, karena memang ia adalah seorang ulama dan tokoh panutan dari kalangan ahlul bait. Namun yang membedakan keyakinan umat Islam dengan keyakinan Syiah, bahwa menurut umat Islam Ja’far ash-Shadiq bukanlah imam yang ma’shum, bebas dari kesalahan dan dosa.

Imam Ja’far ash-Shadiq dikarunia beberapa orang anak, mereka adalah Isma’il (dijadikan imam oleh Syiah Ismailiyah), Ismail adalah putra tertuanya, wafat pada tahun 138 H, saat ayahnya masih hidup. Kemudian  Abdullah, dari Abdullah inilah terambil kun-yah Ja’far, Abu Abdullah. Kemudian Musa, ia dijadikan oleh Syiah Itsna Asyriyah sebagai imam yang ketujuh setelah Ja’far. Kemudian Ishaq, Muhammad, Ali, dan Fatimah.

Ja’far dikenal sebagai seorang yang dermawan dan sangat murah hati. Sifat ini seakan warisan dan tradisi dari keluarga yang mulia ini. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling murah hati di antara keluarga ini.

Dalam hal kedermawanan, ia juga mewarisi sifat kakeknya Ali Zainal Abidin yang terkenal dengan bersedekah secara sembunyi-sembunyi. Kisah yang masyhur tentang Ali Zainal Abidin bahwa pada malam hari yang gelap, ia memanggul sekarung gandum, daging, dan membawa uang dirham di atas pundaknya, lalu ia bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan dari kalangan orang-orang fakir dan miskin di Kota Madinah. Keadaan demikian tidak diketahui oleh orang-orang yang mendapat pemberiannya sampai ia wafat dan penduduk Madinah merasa kehilangan dengan sosok misterius yang senantiasa membagi-bagikan uang dan makanan di malam hari.

 

Perjalanan Keilmuannya

Ja’far ash-Shadiq menempuh perjalanan ilmiahnya bersama dengan ulama-ulama besar. Ia sempat menjumpai sahabat-sahabat Nabi yang berumur panjang, seperti: Sahl bin Sa’id as-Sa’idi dan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhuma. Dia juga berguru kepada tokoh-tokoh utama tabi’in seperti Atha bin Abi Rabah, Muhammad bin Syihab az-Zuhri, Urwah bin Zubair, Muhammad bin al-Munkadir, Abdullah bin Rafi’, dan Ikrimah maula Ibnu Abbas. Dia juga meriwayatkan dari kakeknya al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr.

Mayoritas ulama yang ia ambil hadisnya berasal dari Kota Madinah. Mereka adalah ulama-ulama tersohor, tsiqah, memiliki ketinggian dalam amanah dan kejujuran.

Adapun murid-muridnya yang paling terkenal adalah Yahya bin Sa’id al-Anshari, Aban bin Taghlib, Ayyub as-Sikhtiyani, Ibnu Juraij, dan Abu Amr bin al-‘Ala. Demikian juga imam darul hijrah, Malik bin Anas al-Ashbahi, Sufyan ats-Tsauri, Syu’bah bin al-Hajjaj, Sufyan bin Uyainah, Muhammad bin Tsabit al-Bunani, Abu Hanifah, dan masih banyak lagi.

Para imam hadis –kecuali Imam Bukhari- meriwayatkan hadis melalui jalurnya di kitab-kitab mereka. Sementara Imam Bukhari meriwayatkan hadis melalui jalurnya pada kita selain ash-Shahih.

Berkat keilmuan dan kefaqihannya, sanjungan para ulama pun mengarah kepadanya:

Abu Hanifah mengatakan, “Tidak ada orang yang lebih faqih daripada Ja’far bin Muhammad.”

Abu Hatim ar-Razi dalam al-Jarh wa at-Ta’dil, 2: 487 berkata, “(Dia) tsiqah, tidak perlu dipertanyakan kualitas orang sekaliber dia.”

Ibnu Hibban berkomentar, “Dia termasuk tokoh dari kalangan ahlul bait, ahli ibadah dari kalangan atba’ at-tabi’in, dan ulama Madinah.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memujinya dengan ungkapan, “Sesungguhnya Ja’far bin Muhammad termasuk imam, berdasarkan kesepakatan Ahlussunnah” (Minhaju as-Sunnah, 2:245).

Demikian sebagian kutipan dari para ulama yang meuji kedudukan Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq.

Ja’far ash-Shadiq Tidak Mencela Abu Bakar dan Umar RA.

Orang-orang Syiah bersikap berlebihan terhadap Ja’far ash-Shadiq. Mereka mendaulatnya sebagai imam keenam. Pengakuan mereka ini hanyalah klaim sepihak saja. Buktinya, apa yang Ja’far ash-Shadiq yakini dan ia katakan sangat jauh berbeda dengan keyakinan-keyakinan Syiah.

Misalnya sikap Ja’far ash-Shadiq terhadap Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar al-Faruq. Besarnya kecintaan Ja’far kepada kedua tokoh Islam ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Abdul Jabbar bin al-Abbas al-Hamdani berkatam “Sesungguhnya Ja’far bin Muhammad menghampiriku saat hendak meninggalkan Madinah. Ia berkata, ‘Sesungguhnya kalian, insya Allah termasuk orang-orang shaleh di Madinah. Maka tolong sampaikan (kepada orang-orang), barangsiapa yang menganggapku sebagai imam ma’shum yang wajib ditaati, maka aku berlepas diri darinya. Barangsiapa yang menduga aku berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar, maka aku pun berlepas diri darinya’,”

Ad-Daruquthni meriwayatkan dari Hanan bin Sudair, ia berkata, “Aku mendengar Ja’far bin Muhammad saat ditanya tentang Abu Bakar dan Umar, ia berkata, ‘Engkau bertanya tentang orang yang telah menikmati buah-buahan surga?’”

Pernyataan Ja’far ini sangat jelas bertolak belakang dengan keyakinan orang-orang Syiah yang mencela dan memaki Abu Bakar dan Umar serta mayoritas sahabat lainnya dan menjadikan hal itu sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ja’far ash-Shadiq tidak mungkin mencela mereka. Ibunya, Ummu Farwa adalah putri al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq. Sementara neneknya dari jalur ibunya adalah Asma’ binti Abdurrahman bin Abu Bakar ash-Shiddiq. Apabila anak-anak Abu Bakar ini adalah paman-pamannya dan Abu Bakar sendiri adalah kakeknya dari dua sisi, maka sulit dibayangkan seorang Ja’far ash-Shadiq yang berilmu dan shaleh ini melontarkan cacian dan makian kepada kakeknya, Abu Bajar ash-Shiddiq.

 

Klaim Bohong Syiah

Pada masa Ja’far, bid’ah al-Ja’d bin Dirham dan pengaruh Jahm bin Shafwan telah menyebar. Sebagian kaum muslimin terpengaruh dengan akidah Alquran sebagai makhluk, akan tetapi Ja’far bin Muhammad mengatakan, “Bukan Khaliq (pencipta), bukan juga makhluk, tetapi kalamullah.” Akidah dan pemahaman seperti ini bertentangan dengan golongan Syiah yang mengamini Mu’tazilah, dengan pemahaman akidahnya, Alquran adalah makhluk.

Artinya prinsip akidah yang dipegangi oleh Ja’far ash-Shadiq merupakan prinsip-prinsip yang diyakini para imam Ahlussunnah wal Jamaah, dalam penetapan sifat-sifat Allah. Yaitu menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta menafikan sifat-sifat yang dinafikan Allah dan Rasul-Nya.

Ibnu Taimiyah berkata, “Syiah Imamiyah (Itsna Asyriyah), mereka berselisih dengan ahlul bait dalam kebanyakan pemahaman akidah mereka. Dari kalangan imam ahlul bait seperti Ali bin Husein, Muhammad bin Ali, Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, dll. tidak ada yang mengingkari keyakinan melihat Allah di hari kiamat, tidak ada yang meyakini Alquran adalah makhluk, atau mengingkari takdir, atau menyatakan Ali merupakan khalifah resmi (sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), tidak ada yang mengakui imam yang dua belas adalah ma’shum atau mencela Abu Bakar dan Umar.”

Orang-orang Syiah juga berdusta dengan meyakini bahwa Ja’far ash-Shadiq adalah imam yang kekal abadi, tidak akan pernah mengalami kematian. Hingga saat ini, menurut mereka Ja’far ash-Shadiq telah menulis banyak karya untuk mendakwahkan ajaran Syiah. Di antara buku yang diklaim Syiah sebagai karya Imam Ja’far adalah Rasailu Ikhwani ash-Shafa, al-Jafr (buku yang memberitakan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi), ‘Ilmu al-Bithaqah, Ikhtilaju al-A’dha, Qiraatu al-Quran fi al-Manam, dll.

Sebuah prinsip yang harus kita pegang adalah kita tidak menerima suatu perkataan pun dari Ja’far ash-Shadiq dan imam-imam yang lain, kecuali dengan sanad yang bersambung, diriwayatkan dari orang-orang yang terpercaya, dan didukung dalil, maka baru perkataan tersebut bisa kita terima. Dan yang perlu diketahui, pada masa hidup Ja’far ash-Shadiq adalah masa-masa yang kering dari karya tulis (80-148 H).

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Syariat mereka (Syiah) tumpuannya berasal dari riwayat sebagian ahlul bait seperti Abu Ja’far al-Baqir, Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, dan lainnya. Tidak diragukan lagi, mereka (yang dijadikan Syiah sebagai tumpuan riwayat) adalah orang-orang pilihan milik kaum muslimin dan imam-imam umat ini. Ucapan-ucapan mereka mempunyai kemuliaan dan nilai yang pantas didapatkan oleh orang-orang seperti mereka. Namun sayang, banyak nukilan dusta banyak disematkan kepada mereka. Kaum Syiah tidak memiliki kapasitas dalam hal periwayatan. Mereka layaknya ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani), semua riwayat-riwayat yang mereka jumpai dalam buku-buku mereka, langsung mereka terima (tanpa selesksi). Berbeda dengan Ahlussunnah, mereka mempunyai kapasitas yang mumpuni dalam ilmu periwayatan, sebagai piranti untuk membedakan mana kabar yang benar dan kabar yang dusta.” (Minhaj as-Sunnah, 5: 162).

Diadaptasi dari muqoddimah tahqiq kitab al-Munazharah (Munazharah Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq ma’a ar-Rafidhi fi at-Tafdhili Baina Abi Bakr wa ‘Ali) karya Imam al-Hujjah Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, tahqiq Ali bin Abdul Aziz al-Ali Alu Syibl.

INILAH BUKTI KALAU SYI’AH TIDAK DI SUKAI OLEH KELUARGA NABI SAW.

Problematika Ahlussunnah atau Sunni dengan Syiah di akhir zaman ini seolah-olah sebuah isu yang tidak ada ujungnya. Banyak pihak menganggap ini adalah persoalan pelik yang tak berujung. Demikian juga masyarakat modern saat ini mengalami kesulitan yang sangat untuk memihak salah satu di antara dua kelompok ini, sehingga mereka dudukkan sikap menurut mereka yang benar adalah yang tidak memihak keduanya.

Sebenarnya permasalahan ini akan menjadi mudah apabila kita mengembalikannya kepada data-data sejarah. Dan di antara keistimewaan umat Islam adalah ilmu periwayatan yang umat ini miliki sehingga sejarah mereka terjaga, dan orang-orang yang coba memalsukannya akan dengan mudah diketahui oleh orang-orang yang berilmu.

Sejarah Islam hanya memandang satu kata untuk ajaran Syiah, yaitu ajaran yang merusak Islam dari dalam. Hal ini dibuktikan sendiri oleh keluarga Nabi shalallallahu ‘alaihi wa sallam (ahlul bait), di antaranya sikap ahlul bait itu mereka buktikan dengan menikahkan anak-anak mereka, atau ahlul bait menikahi orang-orang dari kalangan Ahlussunnah wal Jamaah, dan tidak pernah mereka menikahi atau menikahkan anak-anak mereka dengan seorang pun dari tokoh Syiah.

Dimulai dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menikahi dan menikahkan putri-putrinya kepada imam Ahlussunnah wal Jamaah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi anak dari Abu Bakar yakni Aisyah, dan menikahi anak Umar bin Khattab yakni Hafshah. Lalu beliau menikahkan putri-putri beliau Ruqayyah dan Ummu Kultsum kepada Utsman bin Affan, dan Fathimah kepada Ali bin Abi Thalib.

Ali bin Abi Thalib menikahkan putrinya:

    Ramlah binti Ali bin Abi Thalib, dengan Muawiyah bin Hakam saudara dari khalifah Bani Ummayah Marwan bin Hakam.

    Khadijah binti Ali bin Abi Thalib dinikahkan oleh bapaknya (Ali) dengan Abdurrahman bin Amir dari Bni Abdusy Syam, sepupu Muawiyah bin Abi Sufyan.

    Ummu Kultsum bin Ali bin Abi Thalib dinikahkan dengan Umar bin Khattab.

    Hasan bin Ali menikahi anak perempuan Thalhah bin Ubaidillah.

Putri-putri Husein bin Ali bin Abi Thalib:

    Sukainah binti Husein dinikahkan dengan cucu Utsman bin Affan, Abdullah bin Amr bin Utsman.

    Fathimah binti Husein dinikahkan juga dengan cucu Utsman bin Affan, Zaid bin Amr bin Utsman.

Putri-putri Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib:

    Yazid bin Muawiyah adalah menantu Ja’far bin Abi Thalib.

    Abdul Malik bin Marwan, khalifah Umayyah, juga beristrikan anak Ja’far bin Abi Thalib.

Dua orang cucu Hasan bin Ali bin Abi Thalib dinikahi oleh Walid bin Abdul Malik, Khalifah Bani Umayyah.

Demikian juga ahlul bait menikahi putri-putri Ahlussunnah, karena pada hakikatnya ahlul bait adalah Ahlussnah wal Jamaah, orang-orang yang berpegang kepada sunnah Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Ibu dari Ja’far ash-Shadiq adalah cucu dari Abu Bakar ash-Shiddiq.

Sebagaimana kita ketahui periwayat hadis yang paling terkenal dari kalangan Syiah adalah Zurarah bin Sansan yang hidup sezaman dengan Ja’far ash-Shadiq, bahkan orang-orang Syiah mengatakan Zurarah adalah murid dekat dari Ja’far ash-Shadiq. Lalu apakah Ja’far ash-Shadiq menikahkan putrinya dengan Zurarah? Tidak satu pun! Atau adakah tokoh-tokoh Syiah yang menikah dengan putri-putri Ali bin Husein atau putri-putri Muhammad al-Baqir atau putri-putri Musa al-Kazhim atau putri-putri Ali ar-Ridha? Tidak satu pun, semua putri mereka dinikahkan dengan Ahlussunnah.

Mereka juga, orang-orang yang diklaim Syiah sebagai imam mereka ini menikahi  wanita-wanita Ahlussunnah, tidak menikahi wanita Syiah. Mengapa ini terjadi dalam sejarah Islam? Karena para ahlul bait ini adalah orang-orang yang berlepas diri dari Syiah.

Demikian juga imam-imam ahlul bait ini menamakan anak-anak mereka dengan nama-nama tokoh Ahlussunnah/Sunni: Abu Bakar, Umar, Aisyah, Utsman. Inilah nama putra dan putri Ali, Husein, dan Hasan, Ali bin Husein, Muhammad al-Baqir, mereka menamakan putra dan putri mereka dengan nama sahabat nabi. Mereka juga tinggal di lingkungan Ahlussunnah/Sunni, yakni bersama para sahabat nabi.

Ali bin Abi Thalib pernah tinggal di Kufah (daerah orang-orang Syiah) selama 4 tahun, dan Ali mendoakan kejelekan untuk penduduk Kufah karena buruknya perngai mereka. Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Ya Allah, gantikanlah aku dengan orang-orang yang lebih baik dari mereka, dan gantikanlah untuk mereka orang yang lebih buruk dari diriku.”

Husein bin Ali bin Abi Thalib terbunuh di Kufah, masyarakat Kufah yang memanggilnya agar keluar dari Kota Madinah menuju Kufah, lalu mereka sendiri yang membunuhnya. Lalu mereka mengagungkan tanah Karbala tempat terbunuhnya Husein sebagaimana orang Nasrani mengagungkan salib, karena menurut mereka Nabi Isa ‘alaihissalam disalib.

Maksud dari pembicaraan ini adalah para ahlul bait adalah orang-orang yang jauh dari mereka, ahlul bait berlepas diri dari orang-orang Syiah sebagaimana Nabi Isa ‘alaihisslam berlepas diri dari orang-orang Nasrani.

Ali bin Abi Thalib memiliki 20 anak perempuan dan 19 anak laki-laki, sebutkan satu saja diantara mereka yang menikah atau dinikah oleh seorang Syiah! Atau anak-anak Hasan, Husein, Ali bin Husein, Musa al-Kazhim, Muhammad al-Baqir, Ja’far ash-Shadiq, Ali ar-Ridha, satu saja dari anak-anak mereka!

Lalu bagaimana bisa dikatakan ahlul bait mereka klaim mencintai Syiah atau ahlul bait membenci Ahlussunnah. Apa yang mereka lakukan hanyalah untuk menimbulkan saling kebencian antara sesama umat Islam, demikianlah kiranya musuh dalam selimut yang menghancurkan Islam dari dalam.

Inilah fakta sejarah yang kita temui, jawabannya satu dan tidak ada kesamaran, tidak ada keragu-raguan bahwasanya pendahulu umat ini baik dari kalangan ahlul bait atau selain ahlul bait berlepas diri dari ajaran Syiah.

KEABSAHAN TAWASUL DENGAN PARA NABI DAN ORANG SHOLIH DALAM AQIDAH AHLUSSUNNAH

Kami pengikut Ahlussunnah tidak mengi’tiqadkan bahwa dzat seorang makhluk mempunyai pengaruh (ta’tsir), mampu mewujudkan sesuatu, menghilangkan, memberi manfaat dan memberi bahaya baik dzat Rasulallah, nabi-nabi, orang-orang shaleh dan lain-lain. Tetapi, kami meyakini bahwa hanya Allah yang dapat memberi manfaat dan bahaya serta yang lainnya.

Bertawassul dengan Rasulallah (baik dengan kedudukannya atau yang lain) atau orang-orang shalih bukan berarti menyembah kepada Rasulullah atau orang shalih tersebut seperti yang banyak di tuduhkan, sehingga memunculkan salah persepsi dari orang-orang yang anti terhadap ajaran tawassul dengan secara mutlak (dengan beraneka ragam bentuknya tawassul), bahwa orang yang bertawassul telah menjadi musyrik karena mendudukkan selain Allah di sepadankan dengan Allah dalam berdo’a. Akan tetapi tawassul adalah bentuk do’a yang di panjatkan kepada Allah dengan memakai perantara Nabi atau orang shalih, dengan harapan do’anya lebih di kabulkan oleh Allah. Hadits-hadits tentang itu semua sudah banyak di sampaikan oleh ulama, meski menurut sebagian kalangan yang sedikit mengerti mengenai derajat hadits, hadits-hadits dasar yang berkenaan dengan tawassul dengan Nabi atau orang shalih di anggap lemah semua.

Sayyid Mushthafa al-Bakri, seorang ulama madzhab Hanafi dan wali besar dalam tarekat Khalwatiyyah, menganalogikan tawassul dengan orang-orang shalih dan mulia di depan Allah dengan memohon bantuan orang yang mendapat kedudukan tinggi atau dekat dengan seorang raja, kemudian karena ingin tercapai maksudnya kepada raja, orang yang dekat dengan raja tersebut di jadikan sebagai perantara untuk di sampaikan kepada raja agar maksudnya sukses.

Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dalam Mafahim Yajibu An Tushahhash menjelaskan bahwasannya mencari perantara (wasilah) bukan sebagai bentuk syirik, karena jika mencari perantara kepada Allah adalah syirik, maka semua manusia adalah termasuk musyrik karena dalam semua urusan, mereka selalu memakai perantara. Lihat saja Rasulallah yang menerima wahyu al-Qur’an lewat perantara Malaikat Jibril, Rasulallah juga adalah perantara bagi para shahabat karena mereka kadang datang kepada beliau untuk mengadukan urusan-urusan mereka yang dianggap berat atau memohon doa dari beliau. Apakah pernah Rasulallah berkata pada mereka bahwa hal tersebut, yaitu memohon doa atau bantuan, adalah musyrik? Hal ini yang tidak banyak di ketehui oleh orang-orang yang anti terhadap tawassul.

As-Subki mengatakan: “Tawassul dengan Nabi ada tiga macam, yaitu: tawassul dengan Nabi dalam arti orang yang berharap hajatnya terkabulkan meminta kepada Allah lewat dengan (wasilah) diri Nabi Muhammad atau kedudukannya atau barakahnya. Dan masing-masing ada dasar haditsnya yang shahih.

Tawassul merupakan salah satu amalan yang sunnah dan tidak pernah diharamkan oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh ijma para sahabat radhiallahu ‘anhum, tidak pula oleh para tabi’in dan bahkan oleh para Ulama serta Imam-Imam besar Muhadditsin. Bahkan Allah memerintahkannya, Rasul saw mengajarkannya, Sahabat radhiallahu ‘anhum mengamalkannya.

Tak ada pula yang membedakan antara tawassul pada yang hidup dan mati. Karena tawassul adalah berperantara pada kemuliaan seseorang, atau benda (seperti air liur yang tergolong benda) di hadapan Allah swt, bukanlah kemuliaan orang atau benda itu sendiri.

Hadits yang dijadikan pijakan tentang tawassul dengan kedudukan Rasulullah di antaranya adalah hadits dengan sanad bagus riwayat ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir, bahwa Rasulullah menyebutkan dalam doanya:

بِحَقِّ نَبِيِّكَ وَاْلأَنْبِيَاءِ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِي

“Dengan haq Nabimu dan para Nabi-Nabi sebelumku”

Sedangkan dalil-dalil tentang tawassul dengan Nabi (baik saat beliau masih hidup atau sudah wafat), orang shalih, waliyullah dan lain-lain adalah: hadits riwayat at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim dan al-Bukhari serta Ahmad bin Hanbal dari ‘Utsman bin Hunaif, mengatakan: “Pada suatu waktu ada laki-laki buta datang kepada RasulUllah dan meminta supaya Rasulullah mendoakannya agar mendapatkan sehat wal afiyat, Rasulallah menjawab: ‘Jika kamu menginginkannya, aku dapat berdoa untukmu atau kamu bersabar dan itu lebih baik bagimu!’ Laki-laki itu menjawab: ‘Berdoalah untukku!’ Kemudian Rasulullah memerintahkan laki-laki tersebut berwudhu dengan baik dan berdoa sebagai berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ إِنِّي تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي هَذِهِ لِتُقْضَى لِيَ اللَّهُمَّ فَشَفِّعْهُ فِيَّ

“Wahai Tuhanku, aku meminta kepada Engkau dan aku menghadap kepada Engkau lewat Nabi Engkau Muhammad, Nabi rahmat. Wahai Nabi Muhammad, sesunguhnya aku menghadap kepada Rabb-ku lewat Engkau dalam memenuhi kebutuhanku ini sepaya Engkau dapat memenuhinya untukku. Wahai Tuhanku berilah syafaat kepadaku.”

Hadits ini adalah hadits shahih hasan sebagaimana disampaikan oleh at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Baihaqi. Hadits yang hampir senada dengan hadits di atas juga diriwayatkan oleh ath-Thabarani dalam al-Mu‘jam al-Kabir dan al-Mu‘jam ash-Shaghir.

Dalam hadits riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih disebutkan bahwasannya orang-orang pernah mengalami kepayahan karena ketiadaan air di zaman Khalifah ‘Umar bin Khaththab. Kemudian Bilal bin Harits mendatangi makam Rasulallah dan berkata: “Memintalah engkau hujan untuk umatmu, karena mereka sedang kepayahan!” Kemudian Rasulallah datang dalam mimpi Bilal dan memberi kabar bahwa mereka akan diberi hujan.

Hadits riwayat al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Anas bahwa ketika para shahabat kepayahan karena ketiadaan air, Umar bin Khaththab ber-istisqa’ lewat ‘Abbas bin Abdil Muththalib, beliau berdoa:

اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا

“Wahai Tuhanku, sesungguhnya kami bertawassul kepada Engkau lewat dengan Nabi kami dan Engkau memberu hujan kami. Dan kami bertawassul kepada Engkau lewat dengan paman Nabi kami, maka berilah kami hujan!”

Hadits riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak, Umar bin Khaththab mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Ketika Nabi Adam melakukan kesalahan, dia bermunajat: “Wahai Rabb-ku, aku memohon kepada-Mu dengan lewat haq-Muhammad ketika Engkau mengampuni kesalahanku.” Lalu Allah berfirman: “Wahai Adam, bagaimana engkau tahu tentang Muhammad sementara Aku belum menciptakannya?” Adam menjawab: “Wahai Rabb-ku, karena ketika Engkau menciptakanku dengan tangan-Mu (kekuasaan-Mu) dan meniupkan ruh di jasadku dari ruh-Mu, aku mengangkat kepalaku dan aku melihat di tiang-tiang ‘Arsy tertulis La ilaha illallah, Muhammad Rasulallah, dan aku tahu Engkau tidak akan menyandarkan nama-Mu kecuali kepada makhluk yang paling Engkau kasihi.” Allah kembali berfirman: “Benar wahai engkau Adam, karena sesungguhnya Muhammad adalah makhluk yang paling Aku cintai; dan jika engkau memohon kepada-Ku lewat dengan haq-nya Aku akan mengampunimu. Andai bukan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu. ”

Al-Alusi dalam kitab tafsirnya Ruh al-Ma’ani saat menguraikan ayat 35 dari surat al-Maidah tentang perintah mencari wasilah, menjelaskan di perbolehkannya bertawassul dengan kedudukan Rasulullah.

Ulama yang shaleh dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang membolehkan Tawassul (Sebagian diambil dari kitab Syawahid al-Haq karya Syaikh Yusuf an-Nabhani yang khusus menerangkan tentang tawassul atau istighatsah ) :

  1. Al Imam Sufyan bin Uyainah (guru dari Al Imam Syafi’i & Imam Ahmad bin Hanbal).
  2. Al Imam Abu Hanifah (pendiri Mazhab Hanafi).
  3. Al Imam Muhammad bin al Hasan al Syaibani (murid Al Imam Abu Hanifah).
  4. Al Imam Alauddin Abu Bakar bin Mas’ud al Kasani (ulama terkemuka madzhab Hanafi).
  5. Al Imam Malik bin Anas (pendiri Mazhab Maliki).
  6. Al Imam Asy Syafi’i (pendiri Mazhab Syafi’i).
  7. Al Imam Ahmad bin Hanbal (pendiri Mazhab Hanbali).
  8. Al Imam Abu Ali al Khallal (ulama terkemuka madzhab Hanbali).
  9. Al Hafizh Ibn Hajar Al Asqalani.
  10. Al Hafizh al Khatib al Baghdadi (penulis kitab Tarikh Baghdad)
  11. Al Hafizh Ibnu Khuzaimah.
  12. Al Hafizh Abu al Qasim ath Thabarani
  13. Al Hafizh Abu Syaikh al Ashbihani.
  14. Al Hafizh Abu Bakar bin al Muqri’ al Ashbihani.
  15. Al Hafizh Ibn al Jauzi.
  16. Al Hafizh adz Dzahabi.
  17. Syaikh Yusuf bin Ismail al Nabhani.
  18. Al Hafizh Abu Ishaq Ibrahim bin Ishaq al Harbi (ulama terkemuka madzhab Hanbali).
  19. Al Hafizh Abu Ali al Husain bin Ali bin Yazid al Naisaburi (guru utama al Imam al Hakim).
  20. Al Hafizh Abdul Ghani al Maqdisi (ulama terkemuka madzhab Hanbali).
  21. Al Imam Abu al Khair al Aqtha al Tinati (murid al Imam Abu Abdillah bin al Jalla).
  22. Al Hafizh Ibnu Asakir.
  23. Al Hafizh Al Sakhawi.
  24. Al Sya’rani.
  25. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Al Imam al Nawawi).
  26. Al Hafizh Ibn Al Jazari.
  27. Al Imam Muhammad bin Ali al Syaukani.
  28. Al Hafizh al Baihaqi
  29. Zainuddin Ali bin al-Husain (cucu Rasulallah)
  30. Asy-Syihab Mahmud
  31. Asy-Syihab Ahmad ad-Dimasyqi
  32. Al-Juzuli dalam Dala’il al-Khairat
  33. Muhammad al-Makki dalam shalawat Fathur Rasul
  34. Muhammad asy-Syanwani, Syaikh Universitas Al-Azhar Cairo Mesir yang juga pengarang syarah Mukhtashar Abi Jamrah
  35. Muhammad Wafa asy-Syadzili

Sedang ulama yang melakukan tawasul dalam keterangan kitab yang laen sebagai berikut:

  1. Sufyan bin Uyainah (198 H / 813 M)

Sufyan bin Uyainah berkata: ada dua laki-laki saleh yang dapat menurunkan hujan dengan cara bertawassul dengan mereka yaitu Ibnu ‘Ajlan dan Yazid bin Yadzibin jabir. Perkataan ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. (kitab al-‘illal wa Ma’rifah al-Rijal juz I hal. 163-164 karya Ahmad bin Hanbal)

2 Imam Abu Hanifah (80-150 H/ 699-767 M)

perkataan Abu Hanifah ketika berziarah ke Madinah dan berdiri di hadapan makam Rosulullah saw. yaitu:

“Hai orang yang termulya di antara manusia dan jin dan sebaik-baik makhluk, berilah aku kemurahanmu dan ridloilah aku dengan ridlomu. Aku merindukan kemurahan darimu, engkaulah satu2nya harapan Abu Hanifah”. (kitab al-Ziyaroh Nabawiyah hal. 56 karya Sayyid Muhammad al-Maliki).

  1. Imam Syafii (150-204 H/ 767-819 M)

“Dari Ali bin Maimun beliau berkata: Aku telah mendengar Imam Syafii berkata: Aku selalu bertabarruk dengan Abu Hanifah dan mendatangi makamnya dengan berziarah setiap hari. Jika aku mempunyai hajat, maka aku menunaikan sholat 2 rokaat, lalu aku datangi makam beliau dan aku memohon hajat itu kepada Allah di sisi makamnya,sehingga tidak lama kemudian hajatku segera terkabulkan” (kitab Tarikh al-Baghdad juz I hal. 123 dengan sanad yang shohih, karya al-Hafidz Abi Bakr Ahmad bin Ali).

  1. Abu Ishaq bin Ibrahim bin Ishaq al-Harby (198-285 H/813-898 M)

Ibrahim al-Harby berkata: Makam Ma’ruf al-Karkhy adalah obat penawar yang sangat mujarab (maksudnya datanglah ke makam Ma’ruf al-Karkhy, sebab berdo’a di sisinya banyak manfaatnya dan dikabulkan (Kitab Tarikh al-Islam hal.1494 karya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman)

Tawassul yang dilakukan oleh ulama’ muta’akhirin

  1. Ibnu Huzaimah (223-311 H/ 838-924 M)

“Kami berangkat bersama pemuka ahli hadits, Abu Bakr bin Huzaimah dan rekannya Abu Ali al-Tsaqofy beserta rombongan para guru untuk berziarah ke makam Ali Ridlo bin Musa al-Kadzim di Thusi, ia (Abu Bakr bin Mu’ammal) berkata: Aku melihat keta’dliman beliau (Ibnu Huzaimah) thd makam itu,serta sikap tawadlu’ terhadapnya dan do’a beliau yang begitu khusyu’ di sisi makam itu sampai membuat kami bingung (kitab Tahdzib…. juz 7 hal. 339 karya Imam Ibnu Hajar al-Asqolany)

  1. Abu Qosim al-Thobary (260-360 H/874-971 M) Abu al-Syaikh al-Asbihany (274-369 H/ 897-979 M)dan Abu Bakar bin Muqry al-Asbihany (273-381 H/ 896-991 M) Mereka mengisahkan kondisi mereka dalam keadaan lapar selama satu tahun kurang makan,lalu setelah waktu Isya’ mereka bertawasul dan beristighosah dengan cara mengunjungi makam Rosulullah saw seraya berkata demikian: “Yaa Rosulullah kami semua lapar dan lapar” dan saat salah satu mau pulang,al-Thobary berkata: Duduklah,kita tunggu datangnya rizki atau kematian, kemudian 2 orang teman al-Thobary tidur di sisi makam Rosulullah saw,sedang al-Thobary duduk sambil memandang sesuatu, tiba2 datang seorang lelaki ‘alawy (yaitu keturunan Nabi saw) bersama dengan 2 budaknya yang masing2 membawa keranjang yang penuh dengan makanan. Lalu kami duduk dan makan bersama, kemudian lelaki ‘alawy berkata: Hai kamu apakah kamu semua mengadu kepada Rosulullah? Aku barusan bermimpi bertemu dengan Rosulullah saw dan menyuruh aku membawakan makanan untuk kamu sekalian (kitab al-Wafa bi Ahwal al-Musthafa hal.818 karya Ibnu al-Jauzy)
  2. Abu Ali al-Husaini bin Ali bin Yazid al-Asbihany (277-349 H/ 900-961 M) beliau berkomentar sebagai berikut:

“Al-Hakim berkata bahwa aku telah mendengar Abu Ali al-Naisabury berkata: Pada suatu ketika aku dalam kesusahan yang sangat mendalam,lalu aku bermimpi bertemu Rosulullah saw. dan beliau berkata kepadaku: “Pergilah ke makam Yahya bin Yahya (142-226 H/ 759-840 M),bacalah istighfar dan berdo’alah kepada Allah nanti kebutuhanmu akan dikabulkan” Kemudian pagi harinya aku melakukan hal tersebut,lalu kebutuhanku segera dikabulkan (kitab Tahdzib…juz 11 hal. 261 karya Imam Ibnu Hajar al-Asqolani)

  1. Ibnu Taimiyah berkomentar dalam kitabnya Al-Kawakib Al Durriyah juz 2 hal. 6 yaitu:

“Tidak ada perbedaan antara orang hidup dan orang mati seperti yang dianggap sebagian orang. Jelas shohih hadits riwayat sebagian sahabat bahwa telah diperintahkan kepada orang2 yang punya hajat di masa Kholifah Utsman untuk bertawasul kepada nabi setelah beliau wafat (berdo’a dan bertawasul di sisi makam Rosulullah) kemudian mereka bertawasul kepada Rosulullah dan hajat mereka terkabul, demikian diriwayatkan al-Thabary”

MEMBACA AL-QUR’AN DI KUBURAN TERNYATA NABI SAW JUGA MELAKUKAN

Tatkala berziarah kubur utamanya di makam orang shalih seperti para nabi, ulama, maupun auliya banyak dijumpai yang membaca Al-Qur’an. Bagaimanakah hal ini menurut kacamata syariat? Mengingat ada sebagian pandangan yang mengatakan bahwa hal tersebut perbuatan bid’ah yang terlarang dan tidak ada contoh dari Nabi Muhammad SAW.

Nabi SAW  ternyata Juga  membaca Al-Qur’an di kuburan. Hal ini dibuktikan  dalam beberapa riwayat bahwa beliaumelaksanakan shalat  jenazah di kuburan. Dan tentu dalam shalatnya membaca Al-Qur’an karena hal itu adalah rukun shalat,termasuk shalat  jenazah.

Referensi yang bisa diketengahkan adalah sebagai berikut:

  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا أَسْوَدَ أَوْ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَ يَقُمُّ الْمَسْجِدَ فَمَاتَ فَسَأَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهُ فَقَالُوا مَاتَ قَالَ أَفَلَا كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي بِهِ دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهِ أَوْ قَالَ قَبْرِهَا فَأَتَى قَبْرَهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا )  رواه ا لبخاري(

 Dari Abu Hurairah bahwasanya seorang laki-laki atau seorang perempuan berkulit hitam yang biasanya menyapu masjid meninggal dunia. Lalu Nabi SAW bertanya tentangnya, dan para sahabat menjawab bahwa dia telah meninggal. Nabi bersabda: Apakah kalian tidak memberi tahuku tentangnya? Tunjukan kuburnya kepadaku.” Lalu Nabi Muhammad mendatangi kuburnya dan menshalatinya. (HR Bukhari)

عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ صَلَّيْتُ خَلْفَ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَلَى جَنَازَةٍ فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ قَالَ لِيَعْلَمُوا أَنَّهَا سُنَّةٌ  (رواه البخاري)

 Dari Tholhah bin Abdillah ia berkata: Aku menshalati  jenazah di belakang Ibnu Abbas RA lalu ia membaca al-Fatihah. Ia berkata, hendaknya mereka tahu bahwa ini adalah sunnah (HR  Bukhari).

 لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب (الشافعى ، وأحمد ، وابن أبى شيبة ، والدارمى ، والبخارى ، ومسلم ، والترمذى ، والنسائى ، وابن ماجه ، وابن خزيمة ، وابن حبان ، والدارقطنى عن محمود بن الربيع عن عبادة بن الصامت . البيهقى فى القراءة عن ابن عمر وعن جابر)

Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca al-Fatihah. (HR As Syafi’i, Ahmad, Ahmad, Ibnu Syaibah, ad Darimi, Bukhari,Muslim dan lain-lain dari Jabir).

Anjuran Membaca Al-Qur’an di Kuburan

Terkait kebiasaan membaca Al-Qur’an di pemakaman atau kuburan, dalil pembenarnya adalah sebagai berikut:

 وعن عبد الرحمن ابن العلاء بن اللجلاج قال قال لي أبي يا بني إذا أنا مت فالحد لي لحداً فإذا وضعتني في لحدي فقل بسم الله وعلى ملة رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم سن التراب على سناً ثم اقرأ عند رأسي بفاتحة البقرة وخاتمتها فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ذلك. رواه الطبراني في الكبير ورجال موثقون.)مجمع الزوائد ومنبع الفوائد *  – (1 / 467(

 Dari Abdur Rahman bin ‘Ala’ bin Lajlaj, ia berkata: Ayahku berkata; wahai anakku jika aku meninggal. maka galilah liang lahat untuku. Maka tatkala engkau meletakan aku di liang lahat, maka ucapkanlah “bismillahi wa ala millati rosulillahi shollohu alaihi wa sallam.” Kemudian  ratakanlah tanah atasku, lalu bacalah di samping kepalaku permulaan dan akhir surat al-Baqarah karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah SAW berabda tentang hal itu. (HR Thabrani dengan periwayat yang terpercaya).

Fatwa ulama

Untuk fatwa para ulama dapat kita simak sebagai berikut:

    Imam Syafi’i

أخبرني روح بن الفرج قال : سمعت الحسن بن الصباح الزعفراني يقول :سألت الشافعي عن القراءة عند القبر ؟ فقال لابأس بها (الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر 89  الأمام ابو بكر أحمد بن محمد بن هارون الخلال توفي 311 ه )

Rauh bin Faraj berkata: Aku mendengar Hasan bin Shabbah al-Za’farani berkata; aku bertanya kepada Imam As-Syafi’i tentang membaa Al-Qur’an di kuburan. Ia berkata; tidak mengapa. (Al-Amru bil makruf wa an-nahyi anil munkar 89 karya Syeh AbuBakar Ahmad bin Muhammad bin Harun al-Khollal w 311)

    Imam an Nawawi

ويستحب إن يقرأ من القرآن ما تيسر ويدعو لهم عقبها نص عليه الشافعي واتفق عليه الاصحاب ))المجموع شرح المهذب – (5 / 311)(

Dan disunnahkan untuk membaca sesuatu dari Al-Qur’an dan berdoa untuk ahli kubur sesudahnya. Imam As Ssyafi’i telah menetapkan hal itu dan disepakati oleh ashhab atau sahabatnya.

Tradisi Salafus Shalihin

    Ibnu al-Jauzi al-Hanbali: Sejak Ma’ruf al-Karakhi wafat tahun 200 H, tiap hari, mendapat kiriman hadiah pahala bacaan berjuz-juz al-Qur’an, minimal orang berdiri di pinggir makamnya dan membacakan surat al-Ikhlash untuknya. (Shaidul Khatir karya Ibnul Jauzi 474).

    Ketika al-Imam Abu Ja’far al-Hasyimi, guru besar madzhab Hanbali, wafat tahun 470 H, kaum Hanabilah membaca al-Qur’an di makamnya sampai khatam 10.000 kali. (Siyaru A’lami an-Nubala’ juz 18 / 547)

Wallahu a’lam bis shawab dan semoga bermanfaat

MENGETAHUI HUKUM BAYI DI DALAM KANDUNGAN DI BACAKAN SURAT MARYAM DAN YUSUF

Aliran Salafi memang tidak pernah suka dengan tabarruk, demikian halnya juga tidak mengamalkan tafaul. Sementara kita sering mengamalkan keduanya. Sebab kita yakin, keberkahan dan kebaikan datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mari kita perhatikan hadits berikut:

ﻗﺎﻝ ابو هريرة ﺳﻤﻌﺖ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ: «ﻻ ﻃﻴﺮﺓ، ﻭﺧﻴﺮﻫﺎ اﻟﻔﺄﻝ» ﻗﺎﻟﻮا: ﻭﻣﺎ اﻟﻔﺄﻝ؟ ﻗﺎﻝ: «اﻟﻜﻠﻤﺔ اﻟﺼﺎﻟﺤﺔ ﻳﺴﻤﻌﻬﺎ ﺃﺣﺪﻛﻢ» رواه البخاري

Abu Hurairah mendengar bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Tidak boleh meyakini sial (seperti dari suara burung). Sebaik-baiknya adalah tafaul (mengharap kebaikan)”. Para sahabat bertanya: “Apa tafaul?” Nabi menjawab: “Kalimat yang bagus, yang didengar oleh kalian.”(HR Bukhari)

Hadits di atas menegaskan bahwa tafaul berbeda dengan tathayyur atau tsyaum (merasa sial). Tafaul dibolehkan. Nah, yang kita amalkan adalah tafaul kandungan dengan dibacakan surat dalam al-Quran, yaitu surat Yusuf dan Surat Maryam. Bagaimana hukum tafaul dengan surat dalam al-Quran? Ulama beda pendapat, kebetulan kita mengikuti pendapat yang membolehkan:

(ﻭاﺳﺘﻔﺘﺎﺡ اﻟﻔﺄﻝ ﻓﻴﻪ) – ﺃﻱ: اﻟﻤﺼﺤﻒ (ﻓﻌﻠﻪ) ﺃﺑﻮ ﻋﺒﻴﺪ اﻟﻠﻪ (اﺑﻦ ﺑﻄﺔ) – ﺑﻔﺘﺢ اﻟﺒﺎء – (ﻭﻟﻢ ﻳﺮﻩ) اﻟﺸﻴﺦ ﺗﻘﻲ اﻟﺪﻳﻦ ﻭﻻ (ﻏﻴﺮﻩ) ﻣﻦ ﺃﺋﻤﺘﻨﺎ. ﻭﻧﻘﻞ ﻋﻦ اﺑﻦ اﻟﻌﺮﺑﻲ ﺃﻧﻪ ﻳﺤﺮﻡ، ﻭﺣﻜﺎﻩ اﻟﻘﺮاﻓﻲ ﻋﻦ اﻟﻄﺮﺳﻮﺳﻲ اﻟﻤﺎﻟﻜﻲ، ﻭﻇﺎﻫﺮ ﻣﺬﻫﺐ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ اﻟﻜﺮاﻫﺔ

“Mengawali mendapatkan kebaikan dari al-Quran telah dilakukan oleh Abu Ubaidillah ibn Battah. Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dan imam kita lainnnya (Hanabilah) tidak sependapat. Ibnu Arabi mengharamkannya. Al-Qarafi meriwayatkan hukum haram ini dari Thurthusi al-Maliki. Sedangkan pendapat secara dzahir Madzhab Syafiiyah adalah makruh.” (Mathalib Uli An-Nuha, 1/159).

LUCU…!!! UCAPAN DO’A MINAL ‘AIDIN WAL FAIZIN DI GUGAT MEREKA

Pada hari-hari lebaran ini, beredar BC bertajuk ‘Bagaimana Ucapan Idul Fitri yang Sesuai Sunnah?’ Seingat saya, jelang hari raya di tahun-tahun sebelumnya, BC tersebut juga tersebar.

Intinya, tulisan itu ‘mempermasalahkan’ beberapa hal yang telah menjadi tradisi kebiasaan umat Islam, khususnya di Indonesia.

Berikut isi lengkap tulisan by no name yang menyebar via BB, WA, atau media sosial lainnya:

“Sehubungan dengan akan datangnya Idul Fitri, sering kita dengar tersebar ucapan: “MOHON MAAF LAHIR&BATHIN”. Seolah-olah saat Idul Fithri hanya khusus untuk minta maaf. Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idhul Fithri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku di hari Idul Fitri. Demikian Rasulullah mengajarkan kita. Tidak ada satu ayat Qur’an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir & Batin ”di saat-saat Idul Fitri. Satu lagi, saat Idul Fithri, yakni mengucapan : “MINAL’AIDIN WAL FAIZIN”. Arti dari ucapan tersebut adalah: “Kita kembali&meraih kemenangan.”

KITA MAU KEMBALI KEMANA? Apa pada ketaatan atau kemaksiatan? Meraih kemenangan? Kemenangan apa? Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan? Satu hal lagi yang mesti dipahami, setiap kali ada yg ucapkan “Minal‘Aidin wal Faizin” Lantas diikuti dengan kalimat “Mohon Maaf Lahir&Batin ”. Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya. Ini sungguh KELIRU luar biasa. Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain.. PASTI PADA BINGUNG! Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita HINDARI. Ucapan yg lebih baik & dicontohkan langsung oleh para sahabat ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ , yaitu :

“TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM” (Semoga Allah menerima amalku & amal kalian). Jadi lebih baik, ucapan/SMS/BBM kita: Taqobbalallahu minna wa minkum. (Selesai)

TANGGAPAN

Riwayat ‘Taqabbalallahu Minna wa Minkum’ dan Ihwal Ucapan Selainnya

Riwayat yang menjelaskan ucapan ‘Taqabbalallahu Minna wa Minkum’ dituturkan oleh Muhammad bin Ziyad. Ia menceritakan kejadian kala bersama Abu Umamah al-Bahili dan lainnya dari sahabat Rasulullah SAW. Syahdan, sepulang dari Shalat Id, mereka saling mengatakan,

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ

Imam Ahmad menjelaskan, sanad hadits Abu Umamah ini Jayyid

Ali bin Tsabit berujar,

سألت مالك بن أنس منذ خمس وثلاثين سنة وقال: لم يزل يعرف هذا بالمدينة.

“Aku bertanya pada Malik bin Anas sejak 35 tahun. Dia menjawab, ‘Hal (ucapan) ini selalu ditradisikan di Madinah.”

Dalam Sunan al-Baihaqi disebutkan:

عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ قَالَ: لَقِيتُ وَاثِلَةَ بْنَ الأَسْقَعِ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَقُلْتُ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، فَقَالَ: نَعَمْ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، قَالَ وَاثِلَةُ: لَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ عِيدٍ فَقُلْتُ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، فَقَالَ: نَعَمْ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ.

Diriwayatkan dari Khalid bin Ma’dan, ia berkata, “Aku bertemu Watsilah bin Asqa’ pada hari Raya. Aku katakan padanya: Taqabbalallahu minna wa minka. Watsilah menanggapi, ‘Aku pernah bertemu Rasulullah SAW pada hari raya, lantas aku katakan ‘Taqabbalallahu minna wa minka’. Beliau menjawab, ‘Ya, Taqabbalallahu minna wa minka.”

Kedua riwayat ini memberikan benang merah, ucapan ‘Taqabbalallahu minna wa minka’ merupakan bacaan yang disyariatkan (masyru’) dan hukum mengucapkannya sunnah.

Apakah Ucapan Lain Tidak Boleh?

Ucapan selamat atau tahniah atas datangnya momen tertentu bisa saja merupakan tradisi atau adat. Sementara hukum asal suatu adat adalah boleh, selagi tidak ada dalil tertentu yang mengubah dari hukum asli ini. Hal ini juga merupakan madzhab Imam Ahmad. Mayoritas ulama menyatakan, ucapan selamat pada hari raya hukumnya boleh (lihat: al-Adab al-Syar’iyah, jilid 3, hal. 219).

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, ucapan selamat (tahniah) secara umum diperbolehkan, karena adanya nikmat, atau terhindar dari suatu musibah, dianalogikan dengan validitas sujud syukur dan ta’ziyah (lihat al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, jilid 14, hal 99-100).

Berdasarkan keterangan di atas, maka setiap ucapan baik, apalagi merupakan doa, dalam momen nikmat atau bahkan musibah, adalah sesuatu yang boleh, bahkan baik untuk dilakukan. Dengan kalam lain, ucapan di Idul Fitri yang terbaik memang ‘taqabbalallahu minna wa minkum’. Namun bukan berarti doa dan ucapan lain yang baik itu tidak diperbolehkan.

Meluruskan Makna Minal ‘Aidin Wal Faizin

Minal ‘Aidin wal Faizin dalam bahasa Indonesia berarti ‘Semoga kita termasuk orang yang kembali dan menuai kemenangan’.

Kita yakin, orang yang mengucapkannya tidak akan memaknainya ‘kembali pada kemaksiatan pascaramadhan, meraih kemenangan atas bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan’.

Pun, jangan memaknai Minal ‘Aidin Wal Faizin’ dengan ‘Mohon Maaf Lahir Batin’, hanya karena biasanya dua kalimat itu beriringan satu sama lain. Itu sama saja dengan ‘membahasa-Inggriskan’ keset dengan welcome, dengan alasan tulisan itu biasanya ada di keset.

Makna popular kalimat tersebut adalah ‘Ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin ilal fithrah wal faizin bil jannah’ (Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai orang yang kembali pada fitrah dan menuai kemenangan dengan meraih surga).

Jadi jangan khawatir. Maknanya bukan kembali ke perbuatan maksiat dan menang telah menaklukkan Ramadhan. Tanda orang yang diterima ibadahnya, ia makin meningkatkan ketaatan dan makin meninggalkan kemaksiatan (min ‘alamati qabulit-tha’ah fa innah tajurru ila tha’atin ukhra).

Apa makna fitrah? Setidaknya ia memiliki dua makna: Islam dan kesucian.

Makna pertama diisyaratkan oleh hadits:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia (sebagai/seperti) Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Sisi pengambilan kesimpulan hukum atau wajh al-istidlal-nya, Nabi telah menyebutkan agama-agama besar kala itu, namun Nabi tidak menyebutkan Islam. Maka fitrah diartikan sebagai Islam.

Dengan ujaran lain, makna kembali ke fitrah adalah kembali ke Islam, kembali pada ajaran, akhlak, dan keluhuran budaya Islam.

Makna fitrah yang kedua adalah kesucian. Makna ini berdasarkan hadits Nabi:

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ أَوْ خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ: الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ

“Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut/menghilangkan bulu ketiak, dan memotong kumis.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kelima macam fitrah yang disebutkan dalam hadits ini kesemuanya kembali pada praktik kebersihan dan kesucian. Dapat disimpulkan kemudian bahwa makna fitrah adalah bersih dan suci.

Jadi, ‘minal ‘Aidin ilal fithrah’, berarti kita mengharap kembali menjadi orang bersih dan suci. Dengan keyakinan pada hadits Nabi, orang yang shiyam dan qiyam (berpuasa dan menghidupkan malam) di bulan Ramadhan, karena iman dan semata mencari ridha Allah, akan diampuni dosanya yang telah lalu. Harapannya, semoga kita seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibu, bersih-suci dari salah dan dosa. Amin…

Sementara panjatan doa “Semoga kita menuai kemenangan dengan meraih surga – Wal Faizin bil jannah”, sangat terkait dengan tujuan puasa Ramadhan dan happy ending bagi orang yang berhasil membuktikan tujuan itu.

Dalam al-Baqarah ayat 183 dijelaskan bahwa tujuan puasa Ramadhan adalah ‘agar kalian bertakwa (la’allakum tattaqun)’.

ياأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.

Sedangkan Surat al-Hijr ayat 45 dan Ali Imran ayat 133 menjelaskan, bagi orang bertakwa itu hadiahnya adalah surga.

Allah berfirman dalam al Hijr ayat 45:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ.

Sedangkan dalam Ali Imran ayat 133 disebutkan:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ.

Ringkasnya, puasa berdampak takwa. Takwa berhadiah surga.

Hal inilah yang menjadi harapan orang yang berpuasa Ramadhan. Ia ingin dijadikan sebagai orang bertakwa dengan sebenarnya, dan mengharap menjadi salah satu penghuni surga.

Itulah makna kemenangan yang terucap dalam ‘wal faizin’ itu. Bukan kemenangan atas Ramadhan, sehingga bebas melakukan keburukan karena merasa sudah ‘menang’!

Minta Maaf di Idul Fitri Keliru?

Orang yang minta maaf di hari Raya, in syaa-Allah tidak meyakini minta maaf itu hanya khusus di hari Raya. Ini adalah ikhtiar untuk kesempurnaan ibadah.

Islam agama paripurna. Tidak sempurna iman seseorang sampai dua sisi tali hablun minallah dan hablun minannas sama-sama dikuatkan. Dalam sekian hadits dijelaskan misalnya, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ‘hendaknya dia menghormati tamunya’, ‘hendaknya dia mengatakan yang baik atau diam’, dan seterusnya.

Surat al-Ma’un juga menjelaskan, pendusta hari pembalasan itu orang yang menolak anak yatim dan tidak memperdulikan orang miskin. Shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar (tanha ‘anil fahsyaa-i wal munkar). Zakat atau sedekah itu membersihkan dan mensucikan mereka (tuthahhiruhum wa tuzakkihim biha).

Dus, dari sekian penjelasan baik dari al-Qur’an maupun Sunnah itu, akhirnya seorang muslim sangat memahami, ada misi kebaikan secara vertikal dan horizontal. Siapa yang mengaku bertauhid, harus baik pula dalam wilayah sosial. Kalau puasa Ramadhan adalah hubungan baik secara vertikal, mengapa kemudian untuk minta maaf pascaramadhan sebagai ranah sosial dilarang?

Wallahu a’lam.

PENJELASAN SEMAKIN PANJANG JENGGOT MAKA SEMAKIN BODOH DAN AHLI HADITS TERNYATA MENGIKUTI MADZHAB

180_B.TIF

Semakin Panjang Jenggotnya Semakin Bodoh Otaknya

كلّما طالت اللحية، تكوسج العقل

“Saat jenggot panjang, otak jadi pendek.”

Kutipan “jenggot panjang, otak pendek” itu tertulis dalam salah satu kitab diwan Imam al-Syafii (ada beragam kitab diwan yang mengumpulkan kalimat hikmah Imam al-Syafii).

Namun, sumber primer kutipan itu adalah al-Wafi bi al-Wafayat (tepatnya di jilid kedua halaman ke-123), kitab-biografi 29 jilid yang ditulis lebih dari enam ratus tahun lalu oleh ulama-penulis Sunni bernama Shalahuddin al-Shafadi.

Dari al-Wafi bi al-Wafayat itulah diketahui kata-kata di atas dinisbahkan kepada Imam al-Syafii.

Disisipkan di bagian biografi Imam al-Syafii.

Apa maksud pernyataan itu?

Entahlah.

Di kitabitu tidak ada penjelasan maksud dan konteks yang menyertai kata-kata itu.

Kata-kata itu berdiri sendiri.

Shalahuddin al-Shafadi hanya mengutip begitu saja.

Hanya Imam Syafii sendiri yang tahu.

Kita hanya bisa menafsirkan.

Sekitar 250 tahun sebelum al-Shafadi, Imam al-Ghazali telah terlebih dahulu menukil kutipan serupa dalam kitab Ihya Ulumiddin pada bab Asrar al-Thaharah. Tepat di atas pasal al-Lihyah (Jenggot).

كلما طالت اللحية تشمر العقل

“Saat jenggot panjang, otak jadi berkurang.”

Kata-kata yang dikutip Imam al-Ghazali itu bermakna sama dengan kata-kata Imam Syafii.

Hanya berbeda di satu kata saja.تكوسج  dan تشمر.

Beda kata, maksudnya sama.

Bagusnya, Imam al-Ghazali mengutip nukilan itu dalam konteks tertentu.

Sehingga sedikit-banyak membantu memahami maksud ungkapan itu

Imam al-Ghazali mengutip kata-kata itu untuk konteks “ukuran panjang jenggot” bahwa “ukuran panjang jenggot sebaiknya sedang-sedang saja”, bahwa “jika Anda memelihara jenggot, sebaiknya dirawat”, bahwa “jenggot yang panjangnya keterlaluan bisa merusak penampilan, dan digunjing orang-orang”.

Imam Ghazali mengutip kata-kata Imam an-Nakha’i:

 “Aku heran kepada orang berakal yang jenggotnya panjang.

Kenapa dia tidak memotong jenggotnya; jangan biarkan terlalu panjang, namun juga jangan dipotong terlalu pendek.

Sedang-sedang saja dalam segala sesuatu itu bagus.”

(Panjang ideal jenggot adalah segenggaman.

Atau, yang penting proporsional dengan wajah).

Nah, setelah mengutip perkataan Imam Nakhai itu, Imam Ghazali melanjutkan dengan kutipan itu:

“Saat jenggot panjang, otak jadi berkurang.”

Jadi, apa makna “jenggot panjang, otak berkurang” dalam konteks kutipan Imam al-Ghazali?

Orang yang jenggotnya panjang, apalagi tidak terawat, tidak punya banyak kecerdasan dalam berpenampilan?

Orang yang jenggotnya panjang tidak punya banyak kecerdasan untuk tahu bahwa yang sedang-sedang saja itu lebih baik?

Atau seperti apa?

Atau, mungkin, secara filosofis, Anda menafsirkan sendiri kata kata-kata Imam al-Syafii atau kutipan yang dinukil Imam al-Ghazali di atas dengan melepaskannya dari konteks—biar mudah.

Misal, jenggot adalah tanda umur.

Semakin berumur, jenggot seseorang semakin cepat tumbuh atau semakin lebat.

Artinya, semakin berumur, seseorang semestinya bisa lebih bijaksana dan mengedepankan nurani—tanpa meninggalkan rasio.

Atau, “jenggot panjang, otak berkurang” artinya semakin tua, kemampuan otak seseorang semakin turun.

Menjadi tua, seseorang bisa jadi pikun. Sesuatu yang alamiah.

Atau, terserah Anda, seperti apa.

Atau, jika mau mendengar penjelasan (klarifikasi) Kiai Said Aqil soal jenggot dan otak, silakan cek di YouTube sana.

Cari aja.

Penjelasan filosofis Kiai Said bisa jadi alternatif untuk memahami maksud “jenggot panjang, otak pendek”.

Yang jelas, menurut saya, kata-kata Imam as-Syafii atau kutipan yang dinukil Imam al-Ghazali di atas (atau pernyataan Kiai Said) bukan ungkapan negatif untuk memojokkan kaum berjenggot.

Konon, Imam al-Syafii sendiri memiliki jenggot yang bagus dan terawat.

Masa, orang berjenggot mengucapkan kata-kata negatif perihal kejenggotannya?

Tapi, bagaimana menafsirkan kutipan sangat eksplisit yang dinukil oleh Ibnul Jauzi dalam karyanya yang berjudul Akhbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin (Kabar Tentang Orang-Orang Dungu dan Goblok) ini?

الحمق سماد اللحية فمن طالت لحيته كثر حمقه

“Goblok itu pupuk untuk jenggot.

Orang yang makin panjang jenggotnya berarti gobloknya makin banyak.”

Jenggot Spiritual

Bertebaran riwayat perintah Rasulullah agar para sahabat melebatkan jenggot (dan menipiskan kumis).

Di antara tebaran riwayat itu, anjuran untuk melebatkan jenggot dan menipiskan kumis merupakan “politik identitas” kala itu agar kaum muslim membedakan diri dari kaum Majusi yang identitas mereka dikenali dari wajah klimis tanpa jenggot.

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ

“Bedakan diri kalian dari kaum musyrik; lebatkan jenggot kalian dan potong kumis kalian [yang melebihi bibir]”

(HR: al-Bukhari).

“Kaum musyrik” dalam hadis di atas adalah kaum Majusi.

Hadis riwayat Muslim menegaskannya.

جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ

“Potong kumis kalian [yang melebihi bibir], panjangkan jenggot kalian; bedakan diri kalian dari kaum Majusi.”

Bagaimana dengan konteks zaman n̶o̶w̶ sekarang saat “politik identitas” dalam jenggot tersebut barangkali tidak lagi relevan?

Pola pikir seperti apa sehingga perkara jenggot tetap baik dilakukan meski konteks anjuran berjenggot tidak ada lagi?

(Maksudnya, tentu saja nganu sekali jika Anda memelihara jenggot dan memotong kumis dengan alasan biar tidak menyamai kaum Majusi.

Identitas kaum Majusi saja barangkali sudah tidak diketahui.

Kan jadi tambah nganu).

Maksudnya, bagaimana kita tahu bahwa memelihara jenggot itu bisa mendatangkan pahala?

Berjenggot menjadi baik dan bernilai spiritual bukan karena jenggot an sich, melainkan karena hal-hal di luar jenggot, yaitu saat jenggot membuat Anda selalu ingat Nabi, membuat Anda semakin cinta Nabi, membuat Anda ingin selalu meneladani Nabi.

Karena niat yang baik.

Namun, bahkan niat baik Anda ikut jejak Rasulullah dalam berjenggot bisa terkotori hingga jenggot Anda tak lagi bernilai secara spiritual.

Dalam “Ihya”, Imam al-Ghazali mengingatkan kita, ada sepuluh hal yang dibenci dalam berjenggot.

Di antara sepuluh itu, dua hal sangat dibenci dan sebaiknya dihindari bagi kaum berjenggot.

Pertama, berjenggot karena ingin pamer. Imam al-Ghazali menukil kutipan,

“Ada dua syirik yang bisa tumbuh dalam jenggot: merawatnya karena ingin pamer dan membiarkannya awut-awutan karena ingin dianggap zuhud.”

Kedua, saat jenggot bikin Anda sombong.

Saat Anda, misal, merasa jenggot menaikkan tingkat keislaman Anda, lalu memandang rendah keislaman orang lain karena tak berjenggot.

Anda merasa sangat islami karena berjenggot, orang lain dianggap tak islami karena tak berjenggot.

(Perihal kesombongan, tentu saja ia tak hanya jadi godaan orang berjenggot.

Orang tak berjenggot juga bisa terjangkiti kesombongan, semisal memandang orang-orang berjenggot dengan tatapan negatif.

Sombong memang keburukan yang bisa menempel di apa dan siapa saja).

Betapa sayang Imam al-Ghazali kepada orang-orang berjenggot.

Alih-alih berpahala, beliau tak ingin berjenggot menjadi sia-sia.

Lalu, bagaimana dengan nasib orang yang secara genetik hanya dapat berjenggot tujuh lembar yang jadi …..  jika dipanjangkan?

 

Bisakah kaum seperti itu mendapatkan pahala atas ketidakberjenggotannya?

Ya bisa saja.

 

⏳ ANTARA ULAMA FIQIH (DOKTER) dengan ULAMA HADITS (APOTEKER)

(Urgensi mengetahui tahun kelahiran mereka)

Kenapa para Imam Mazhab seperti Imam Abu Hanifah, imam Malik, imam Syafii dan imam Ahmad, tidak menggunakan hadits shahih Bukhari dan shahih Muslim yang katanya merupakan 2 kitab hadits tershohih?

Untuk tahu jawabannya, kita mesti paham sejarah. Mesti paham biografi tokoh-tokoh tersebut.

?Imam Abu Hanifah lahir tahun 80 Hijriyah,

?Imam Malik lahir tahun 93 Hijriyah,

?Imam Syafii lahir tahun 150 Hijriyah dan

?Imam Ahmad lahir tahun 164 Hijriyah.

Sementara itu

?Imam Bukhori lahir tahun 196 H,

?Imam Muslim lahir tahun 202 H,

?Imam Abu Daud lahir tahun 202 H,

?Imam Nasai lahir tahun 215 H.

Artinya

Imam Abu Hanifah (Madzhab Hanafi) sudah ada 116 tahun sebelum Imam Bukhori lahir,

dan

Imam Malik sudah11! ada 103 tahun sebelum Imam Bukhari lahir.

“Lalu ada pertanyaan, apakah hadits para Imam Mazhab lebih lemah dari Shohih Bukhari dan Shohih Muslim?”

Jawabannya, justru sebaliknya. Hadis-hadis para imam mazhab lebih kuat dari hadits-hadits para Imam Hadits, karena para imam mazhab hidup lebih awal daripada Imam-imam Hadits.

Rosululloh SAW bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah pada kurunku, kemudian kurun sesudahnya (sahabat), kemudian yang sesudahnya (Tabi’in).” [HR. Al-Bukhori no. 2652 dan Muslim no. 2533 ]

? Jadi kalau ada manusia zaman sekarang yang mengklaim sebagai ahli hadits, lalu menghakimi bahwa pendapat Imam-iman Mazhab adalah salah dengan menggunakan alat ukur hadits-hadits Shohih Bukhori dan Shohih Muslim, maka boleh dibilang orang itu adalah TIDAK :

❌Paham ILMU FIQIH,

❌Paham Ajaran Islam.

Jadi, meskipun menurut hadits Shohih Bukhori misalnya, bahwa sholat Nabi begini dan begitu, berbeda dengan cara sholatnya Imam Mazhab.

“Sadarilah oleh kita bahwa, para Imam Mazhab itu, seperti Imam Malik melihat langsung cara sholat puluhan ribu anak-anak sahabat Nabi di Madinah. Anak-anak sahabat ini belajar langsung ke Sahabat Nabi yang jadi bapak mereka. Jadi lebih kuat ketimbang 2-3 hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori 100 tahun kemudian. Bahkan Imam Abu Hanifah bukan hanya melihat puluhan ribu anak-anak para sahabat melainkan beliau telah berjumpa dengan para sahabat Nabi s.a.w.”

Imam Bukhori dan Imam Muslim, meski termasuk pakar hadits PALING TOP, mereka tetap bermazhab. Mereka mengikuti mazhab Imam Syafi’ie.

Berikut ini di antara para Imam Hadits yang mengikuti Mazhab Syafi’ie:

Imam Bukhori,

Imam Muslim,

Imam Abu Daud,

Imam Nasa’i,

Imam Baihaqi,

Imam Turmudzi,

Imam Ibnu Majah,

Imam Tobari,

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani,

Imam Nawawi,

Imam as-Suyuti,

Imam Ibnu Katsir,

Imam adz-Dzahabi,

Imam al-Hakim.

Lalu ada yang bertanya, lho apa kita tidak boleh mengikuti hadits Shohih Bukhori, Shohih Muslim, dsb?

Ya tentu boleh, tetapi bukan sebagai landasan utama melainkan sebagai pelengkap.

“Jika ada hadits yang bertentangan dengan ajaran Imam Mazhab, maka yang kita pakai adalah ajaran Imam Mazhab. Bukan hadits tersebut”

Kenapa seperti itu?

Karena para Imam Hadits saja seperti itu.

95% imam hadist mengikuti Mazhab imam Syafi’ie.

Tidak pakai hadits mereka sendiri? Benar. Karena keilmuan mereka masih jauh di bawah para imam mazhab.

Cukup banyak orang awam yang tersesat karena mendapatkan informasi yang sengaja disesatkan oleh kalangan tertentu

?Menurut kelompok ini Imam Mazhab yang 4 itu kerjaannya cuma merusak agama dengan mengarang-ngarang agama dan menambah-nambahi seenaknya.

 

✔Itulah fitnah kaum akhir zaman terhadap ulama salaf yang asli.

Imam Mazhab itu sebenarnya lebih faham tentang hadist dibanding imam hadist sendiri. Apa buktinya? Tidak ada Imam hadist yang berijtihad sendiri. Mereka semua bermadzhab. Apa kita berani menyalahkan imam hadist karena mereka bermadzhab?

Atau

Beranikah kita mengatakan imam hadist telah berbuat kesalahan karena bermadzhab kepada orang yang tidak faham sumber hukum Al Quran dan Hadist?

Imam Ahmad berkata, untuk menjadi mujtahid, selain hafal Al Qur’an juga harus menguasai minimal 500.000 hadits. Sedangkan hadits Shohih yang dibukukan Imam Bukhori cuma 7000-an. Sementara Imam Muslim cuma 9000-an. Nah lohhh…???

Imam malik, hanafi, syafii, hambali itu selain hafal al quran beserta tafsir dan asbabun nuzulnya, juga hafal ratusan ribu bahkan jutaan hadist plus asbabul wurudnya, serta menguasai berbagai cabang ilmu.

Itulah kenapa imam hadist-pun bermadzhab, tidak ijtihad dengan hadistnya sendiri.

Lihatlah pengelabuan, penyesatan, dan pembodohan terstruktur, sistematis dan masif ini. Masihkah kita diam?

Ayo ngaji. Guruku adalah ulama pesantren, bukan mbah google ataupun artis ceramah tv, youtube, maupun medsos lainnya.

ISLAM MELARANG MERUSAK TEMPAT IBADAH NON MUSLIM

180_B.TIF

Dalam kitab at-Tabaqât karya Ibnu Sa’d, dikisahkan bahwa ketika datang utusan Kristen dari Najran berjumlah enam puluh orang ke Madinah untuk menemui Nabi, Nabi menyambut mereka di Masjid Nabawi. Menariknya, ketika waktu kebaktian tiba, mereka melakukan kebaktian di masjid. Sementara itu, para sahabat berusaha untuk melarang mereka. Namun Nabi memerintahkan: da’ûhum ‘biarkanlah mereka’.

Melalui perintah ini, sahabat memahami bahwa Nabi mempersilahkan mereka untuk menggunakan Masjid Nabawi sebagai tempat kebaktian sementara. Mereka melakukan kebaktian dengan menghadap ke timur sebagai arah kiblat mereka. Peristiwa bersejarah yang menunjukkan sikap toleransi nabi ini terjadi di hari minggu setelah Asar tahun 10 H. Peristiwa ini juga terekam dengan sangat baik dalam beberapa babon kitab sejarah seperti Târîkh al-Umam wa al-Muluk, Sîrah Ibn Hisyam, Sîrah Ibn Ishaq dan lain-lain.

Sebagian ahli tafsir modern mengaitkan hadis ini dengan Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 114 yang bunyi terjemahannya kira-kira demikian:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن مَّنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَن يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَا أُولَٰئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَن يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Lalu, siapakah yang tepat dianggap lebih zalim daripada orang-orang yang berusaha melarang dan menghalang-halangi disebutnya nama Tuhan di tempat-tempat peribadatan serta berusaha menghancurkan tempat-tempat tersebut. Padahal mereka tidak berhak memasukinya kecuali dalam keadaan takut kepada Tuhan. Kelak mereka (yang menghancurkan tempat-tempat peribadatan) akan mendapatkan kesengsaraan di dunia dan siksaan yang berat di akhirat”.

Muhammad Asad, misalnya, dalam The Message of The Quran menerjemahkan kata masâjid pada ayat di atas sebagai houses of worship ‘tempat-tempat peribadatan’. Hal senada juga dikemukakan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Mannar yang menerjemahkan masâjid pada ayat di atas sebagai ma’abid ‘tempat-tempat peribadatan’, bukan sekedar peribadatan umat Islam. Penerjemahan masâjid sebagai ‘tempat peribadatan’ secara umum dan bukan sebagai ‘tempat peribadatan Islam’ secara khusus pada ayat di atas jelas merupakan terjemahan yang merujuk kepada makna generik dari masjid itu sendiri.

Masjid sendiri berasal dari kata sajada-yasjudu-sujud-masjid, yang arti secara harfiahnya ialah tempat bersujud, dan itu artinya tempat menyembah, apapun sesembahannya, yang jelas menurut Abduh, masih dalam koridor ahli kitab seperti Yahudi dan Nasrani dan ahli semi-kitab (penganut agama yang memiliki pegangan yang mirip kitab suci) seperti Majusi, Budha, Hindu, Konghucu dan lain-lain.

Dalam perkembangan selanjutnya, masjid sendiri sering diidentikkan sebagai tempat peribadatan umat Islam dan ketika disebut masjid, benak kita akan segera tertuju kepada masjid yang Islam ini. Konsekwensinya, kalau kita gunakan secara konsisten pengertian masjid dalam artinya yang Islami ini, jelas akan susah memahami Al-Qur’an dan beberapa hadith Nabi. Karena ketika menelusuri lebih jauh penggunaan kata masjid/masâjid dalam Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa kata masjid tidak selalu merujuk kepada ‘tempat peribadatan Islam’ melainkan bisa merujuk kepada sinagog, amalan ritual, tempat konspirasi dan lain-lain.

Sebagai misal Masjid dalam arti tempat peribadatan Yahudi atau sinagog, dapat pula kita temukan dengan mudah pada penggunaan kata masjid al-aqsha pada QS. al-Isra: 1 dan penggunaan kata masjidpada QS. al-Isra: 7. Sedangkan masjid dalam pengertian sebagai amalan ritual terdapat pada QS. al-A’raf: 31. Masjid dalam pengertian sebagai tempat konspirasi orang-orang munafik dengan Abu Amir ar-Rahib dan kaum Musyrik Quraish untuk menghancurkan umat Islam dari dalam terdapat dalam QS. at-Taubah: 107. Masjid yang difungsikan sama dengan sinagog, gereja dan biara (yakni sebagai tempat untuk menyembah Tuhan) terdapat QS. al-Hajj: 40.

Dengan pemaknaan yang lebih luas terhadap bentuk plural dari masjid pada ayat ini, Asad menjelaskan, bahwa salah satu prinsip yang paling fundamental dalam Islam ialah prinsip bahwa setiap agama yang memiliki keyakinan terhadap Tuhan sebagai ajaran utamanya harus dihormati dan dihargai meski dilihat secara keyakinan sangat bertentangan.

Karena itu, menurut Asad, setiap muslim diwajibkan menghormati dan menjaga tempat peribadatan agama apapun yang diperuntukkan untuk menyembah Tuhan, baik itu masjid, gereja atau sinagog. Dan karena itu pula segala usaha untuk mencegah dan menghalang-halangi para penganut agama lain untuk menyembah Tuhan menurut keyakinannya sangat dilarang dan bahkan dikutuk oleh Al-Qur’an sebagai sebuah kezaliman, bahkan dianggap sebagai bentuk kezaliman yang paling besar.

At-Thabari dalam Jâmi al-Bayân fi Tafsîr ayat Min Ayil Qur’ân menafsirkan ayat di atas sebagai ‘Siapa lagi orang yang lebih ingkar kepada Allah dan menyalahi segala aturannya selain dari orang yang menghalang-halangi disebutnya nama-Nya di tempat-tempat peribadatan dan berusaha menghancurkannya.’ Melalui pandangan ini, jelaslah bahwa at-Tabari mengkategorikan orang-orang yang tidak menghargai tempat peribadatan sebagai orang yang paling ingkar terhadap eksistensi Allah.

Kisah yang dikutip dari kitab at-Tabaqat karya Ibnu Sa’ad di atas dan kaitanya dengan QS. al-Baqarah: 114 menunjukan bahwa Nabi menerjemahkan secara langsung semangat Al-Qur’an untuk menghormati segala bentuk tempat peribadatan dalam praksis nyata. Hal demikian juga semakin dipertegas dengan kenyataan bahwa beliau selalu memerintahkan para sahabat untuk tidak merusak tempat-tempat peribadatan dalam peperangan. Ini artinya Nabi sangat menghormati dan menghargai tempat-tempat peribadatan agama lain meski secara keimanan sangat berbeda secara amat mendasar. Bahkan pasca perang Hunain, ketika menemukan lembaran kitab Taurat di sela-sela harta rampasan perang, Nabi memerintahkan untuk mengembalikan lembaran kitab tersebut kepada kaum Yahudi.

Dalam kisah di atas, meski meyakini Yesus sebagai “Anak Tuhan” dan Bunda Maria sebagai “Ibu Tuhan” sangat bertentangan dengan prinsip dasar Islam, utusan Kristen Najran tetap diberi kebebasan oleh Nabi untuk memasuki Masjid Nabawi dan melakukan kebaktian di dalamnya. Nabi tidak melarang mereka. Dan menariknya, jika dilihat secara keseluruhan cerita saat itu, Nabi berdebat dengan para tokoh Kristen Najran ini dan sangat tidak menyetujui keyakinan mereka tersebut.

Namun kendati berbeda secara keyakinan, Nabi tetap menghormati dan menghargai keyakinan mereka. Inilah yang dibuktikan dengan tindakan Nabi yang mengizinkan mereka melakukan kebaktian di Masjid Nabawi yang tidak mesti diartikan setuju dengan ajaran mereka. Sebuah sikap yang langka dan jarang ditemukan dalam tokoh-tokoh lainnya sepanjang sejarah.

Namun sayangnya, ajaran Nabi ini diselewengkan oleh oknum tertentu demi tujuan dan hasrat politik. Beberapa kelompok umat Islam yang ekstrem salah memahami semangat Nabi yang inklusif ini. Di antara mereka ada yang membakar, membom, meruntuhkan bangunan peribadatan seperti gereja, sinagog dan lain-lain dengan dalih agama. Membakar, membom dan aksi-aksi kejahatan lainnya yang ditujukan untuk menghancurkan tempat-tempat peribadatan tersebut jelas merupakan tindakan yang menurut Al-Qur’an sebagai adhlam ‘yang paling zalim/yang paling ingkar, dst’.

Dengan demikian, teroris yang melakukan aksi bom bunuh diri di gereja atau melakukan pemboman terhadap gereja, (bahkan masjid seperti yang pernah terjadi di Cirebon beberapa tahun lalu) dianggap sebagai bukan orang yang taat beragama, bahkan ia ingkar terhadap eksistensi Tuhan dan tidak beradab.

Dengan meminjam bahasa Al-Qur’an untuk Ahli Kitab yang telah menyelewengkan ajaran Taurat dan Injil, muslim yang merusak gereja, sinagog atau bahkan masjid sendiri dengan dalih agama, sama-sama dianggap telah yuharrifûnal kalima ‘an mawâdli‘ihi (telah menyelewengkan ajaran asli dari Nabi). Karena itu sebagai agama yang terbuka, Islam mengutuk segala jenis tindakan umatnya yang bertentangan dengan misi utamanya di muka bumi ini, yaitu misi untuk menyebarkan kasih sayang bagi semesta alam (rahmatan lil alamin).

RU’YATUL HILAL SEBAGAI DASAR PENETAPAN AWAL RAMADLAN

Sejak dari bulan Rajab kita sudah melaksanakan doa yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad Sallallahu ’Alaihi Wasallam melalui puji-pujian menjelang Shalat Fardhu atau pada saat-saat tertentu yang kita sempatkan untuk membaca-nya. Doa yang dimaksud adalah;

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِىرَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَالِغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah berilah keberkahan pada kami dibulan rajab, bulan sya’ban dan sampaikanlah kami di bulan Ramadhan”

Alhamdulillah, pada kesempatan ini, doa kita dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kita akhrnya bisa sampai pada Bulan Suci Ramadhan, bulan yang penuh berkah, penuh ampunan dan bulan di mana pahala dilipatgandakan.

Di dalam doa tersebut tersirat makna; 2 (dua) bulan sebelum Ramadhan, Kita sudah mengharap dan mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya Ramadhan bulan yang suci dan mulia. Dengan harapan kita termasuk golongan orang-orang dalam Hadis Rasulullah SAW dinyatakan;

مَنْ فَرَحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانْ

“Barang siapa yang senang dengan datangnya bulan Ramadhan, maka Allah SWT mengharamkan jasad orang tersebut atas api neraka”

Lantas kapan saatnya Bulan Ramadhan tiba? Pertanyaan ini penting untuk dikemukakan untuk menambah wawasan keilmuan dan memperkuat keyakinan kita. Seperti dinyatakan oleh Jumhurul Ulama; mereka sepakat bahwa penetapan awal Ramadhan itu dilakukan dengan salah satu dari 2 (dua) cara, yaitu;

Dihitung dengan (melihat) hilal (tanggal) bulan Ramadhan, bila tidak ada yang menghalangi pandangan seperti mendung, awan, asap, debu dll.

Dengan menyempurnakan bulan Sya’ban 30 hari, bila tanggal 29 sya’ban ada penghalang Ru’yatul hilal.

Hal ini berdasar hadis Nabi Muhammad SAW :

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَاَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَاِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاَكْمِلُوْا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا

“Berpuasalah kalian apabila melihat bulan, dan berbukalah (berhari raya-lah) kalian, apabila telah melihat bulan. Namun jika pandanganmu terhalang oleh awan, maka sempurnakan bulan sya’ban itu sampai dengan 30 hari”. (HR. Bukhori)

Dalam keyakinan kita, Ru’yah adalah Pegangan dan Pedoman yang diyakini untuk dilaksanakan. Oleh karena itu, seseorang dilarang memulai puasa ataupun mengakhirinya sebelum ada keputusan hasil Ru’yah, sebagai mana sabda Rasulullah SAW :

عَنْ عَبْدِاللهِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ لاَ تَصُوْمُوْا حَتَّى تَرَوا الهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوْا حَتَّى تَرَوْهُ فَاءِنْ غَمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ (صحيح البخارى)

“Dari Abdullah Bin Umar RA. Bahwa suatu ketika Rosululloh bercerita tentang bulan Ramadhan. Rosul bersabda : janganlah kalian berpuasa sehingga kamu melihat bulan dan janganlah kamu berbuka (hari raya) sampai kamu melihat bulan, namun jika pandanganmu tertutup mendung, maka perkirakanlah jumlah harinya” (HR. Bukhari)

Kalaupun ada golongan atau kelompok lain di negara Kita yang menggunakan selain Ru’yah Al – Hilal dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan, itu lebih dikarenakan kurang tepat dalam menempatkan dan mempedomani Hujjah/Dalil semisal Hadis Rasulullah SAW :

عَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ اَنَّا اُمَّةٌ اُمِّيَّةٌ لاَ نَكْتَبَ وَلاَ نَحْسُبٌ اَلشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا يَعْنِى مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِيْنَ وَمَرَّةً ثَلاَثِيْنَ

“Dari Ibnu Umar RA. Dari Nabi SAW, bahwa beliau bersabda, kami adalah umat yang tidak dapat menulis dan berhitung satu bulan itu seperti ini. Seperti ini maksudnya : satu saat berjumlah 29 hari dan pada waktu lain 30 hari”. (HR. Bukhari)

Hadis di atas dijadikan landasan untuk melemahkan metode Ru’yah al Hilal sebagai mana yang kita yakini. Dalam pemahaman mereka, Rasulullah SAW menggunakan Ru’yah, karena dizaman Rasul Muhammad SAW, belum mampu melakukan Hisab / perhitungan.

Oleh karenanya, bagi mereka, metode Ru’yah Al Hilal sudah tidak relevan lagi di zaman sekarang yang serba bertehnologi canggih ini di mana Metode Hisab (Penentuan awal Ramadhan dengan Metode Perhitungan) di dukung oleh dan didasarkan pada hitungan berbasis Komputer.

Pemahaman tersebut sungguh belum bisa diterima karena kenyataannya di zaman Rasulullah SAW, telah ada Sahabat-Sahabat yang mahir Ilmu Hisab terutama seperti sahabat Ibnu Abas RA.

Kita meyakini dan mengikuti; bahwa Ru’yah Al Hilal cara yang diajarkan, dianjurkan dan yang telah dilaksanakan Rasulullah dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan; bukan dengan Hisab, atau malah dengan mengikuti keputusan Negara lain yang berbeda Matla’.

Hadis tentang Ru’yah Al Hilal dikukuhkan oleh para Ulama NU sebagai sebuah Keputusan yang WAJIB diikuti oleh Warga NU. Maka, Berdasarkan Keputusan Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama Tahun 1987 di PP Al Ihya Ulumaddin Kesugihan, ditetapkan bahwa: warga NU/ Warga Nahdliyyin mengawali Puasa Romadlon dan Idul Fitri berdasarkan Rukyat bil Fi’li / Ru’yah Al Hilal dan atau Istikmal jika proses Ru’yah Al Hilal tidak dicapai karena terhalang awan/mendung, serta mengikuti Hasil Sidang Itsbat oleh Pemerintah RI, juga berdasarkan Rukyatul Hilal.

Jika Pemerintah RI ternyata menetapkan Awal Ramadhan dan atau Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha berdasarkan Hisab semata dan bukan berdasarkan Ru’yatul Hilal atas dasar Sumpah terhadap Dua Orang Saki atau lebih, seperti pernah terjadi beberapa tahun yang lalu, maka Warga NU tidak Wajib mengikutinya. Artinya, demi menjaga keyakinan yang kita anut, Warga NU tetap melaksanakan Ibadah Puasa Ramadhan dan Merayakan Idul Fitri tetap berdasarkan hasil Ru’yatul Hilal.

BOM BUNUH DIRI MELEDAK DI SURABAYA, PAHAMILAH BAHWA ITU BUKAN MATI SYAHID

Hukum Bom Bunuh Diri

Lagi-lagi bom bunuh diri terjadi di Indonesia, tepatnya di Indonesia. Tidak terbayang di benak bangsa ini ada tindak kekerasan dan teror semacam bom bunuh diri. Mengingat posisi negara ini dalam keadaan damai dan bukan di tengah peperangan. Apalagi jika menilik umur bangsa Indonesia ini yang memiliki sejarah panjang semenjak Nusantara. Tentunya bangsa ini telah menginjak masa dewasa dan bukan bangsa yang masih muda.

Akan tetapi itulah yang terjadi. bom bunuh diri meledak lagi. Hal ini menunjukkan kurangnya kedewasaan bangsa kita dalam menyikapi berbagai masalah yang ada. Seolah sudah tidak ada jendela kompromi dan solusi.

Kejadian semacam ini (kekerasan dan teror) sangat merugikan bangsa dan Negara, apalagi jika mempertimbangkan sektor ekonomi dan investasi yang sedang mencari format dan merayu kepercayaan dunia luar. Apapun alasannya hal ini tidak dapat dibenarkan begitu juga kaca mata fiqih memandangnya.

Seperti yang pernah dibahas oleh Bahtsul Masail NU dalam Munas Alim Ulama di Pondok Gede tahun tahun 2002 tentang hukum intihar (mengorbankan diri). Dalam keputusan tersebut dinyatakan bahwa bom bunuh diri (intihar) yang dilakukan oleh para teroris tidak akan mengantarkan mereka kepada level syuhada. Karena sejatinya motiv mereka adalah adalah frustasi (putus asa) dalam menghadapi hidup. Artinya putus asa dalam mencari jalan solusi kehidupan yang benar.

Dalam keputusan itu dengan jelas diterangkan bahwa “Bunuh diri dalam Islam adalah diharamkan oleh agama dan termasuk dosa besar, akan tetapi tindakan pengorbanan jiwa sampai mati dalam melawan kezaliman, maka dapat dibenarkan bahkan bisa merupakan syahadah, jika 1) Diniatkan benar-benar hanya untuk melindungi atau memperjuangkan hak-hak dasar (al-dharuriyyat al-khams) yang sah, bukan untuk maksud mencelakakan diri (ahlak al-nafs). 2) Diyakini tidak tersedia cara lain yang lebih efektif dan lebih ringan resikonya. 3) Mengambil sasaran pihak-pihak yang diyakini menjadi otak dan pelaku kezaliman itu sendiri.”

Jika demikian adanya, sungguh bom bunuh di Surabaya dan berbagai macam teror yang lain sangatlah jauh dari syarat syahadah. Karena bom itu bisa dianggap mencelakkan diri dan menerjang hak asasi manusia. Dan sesungguhnya masih banyak jalan keluar untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada.

Keputusan ini berdasar pada berbagai referansi yang semua menerangkan dibolehkannya bunuh diri dalam peperangan bukan dalam keadaan damai. Demkian seperti yang termaktub dalam  Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an

 اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي اقْتِحَامِ الرَّجُلِ فِي الْحَرْبِ وَحَمْلِهِ عَلَى الْعَدُوِّ وَحْدَهُ. فَقَالَ الْقَاسِمُ بْنُ مُخَيْمَرَةَ وَالْقَاسِمُ ابْنُ مُحَمَّدٍ وَعَبْدُ الْمَلِكِ مِنْ عُلَمَائِنَا: لاَ بَأْسَ أَنْ يَحْمِلَ الرَّجُلُ وَحْدَهُ عَلَى الْجَيْشِ الْعَظِيْمِ إِذَا كَانَ فِيْهِ قُوَّةٌ، وَكَانَ لِلهِ بِنِيَّةٍ خَالِصَةٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ فِيْهِ قُوَّةٌ فَذَلِكَ مِنَ التَّهْلُكَةِ، وَقِيْلَ: إِذَا طَلَبَ الشَّهَادَةَ وَخَلَصَتْ النِّيَّةُ فَلْيَحْمِلْ، لِأَنَّ مَقْصُوْدَهُ وَاحِدٌ مِنْهُمْ، وَذَلِكَ فِيْ قَوْلِهِ تَعَالَى وَمِنَ النَّاسِ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللهِ [الْبَقَرَةُ 207]

 وَقَالَ ابْنُ خُوَيْزٍ مِنْدَادٍ: فَأَمَّا أَنْ يَحْمِلَ الرَّجُلُ عَلَى مِائَةٍ أَوْ عَلَى جُمْلَةِ الْعَسْكَرِ أَوْ جَمَاعَةِ اللُّصُوْصِ وَالْمُحَارِبِيْنِ وَالْخَوَارِجِ فَلِذَلِكَ حَالَتَانِ: إِنْ عَلِمَ وَغَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ أَنَّهُ سَيَقْتُلُ مَنْ حَمَلَ عَلَيْهِ وَيَنْجُو فَحَسَنٌ وَكَذَلِكَ لَوْ عَلِمَ وَغَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ أَنَّهُ سَيُقْتَلُ وَلَكِنْ سَيَنْكِي نِكَايَةً أَوَ سَيُبْلِي أَوْ يُؤَثِّرُ أَثَرًا يَنْتَفِعُ بِهِ الْمُسْلِمُوْنَ فَجَائِزٌ أَيْضًا. وَقَدْ بَلَغَنِيْ أَنَّ عَسْكَرَ الْمُسْلِمِيْنَ لَمَّا لَقِيَ الْفُرْسَ نَفَرَتْ خَيْلُ الْمُسْلِمِيْنَ مِنَ الْفِيْلَةِ، فَعَمِدَ رَجَلٌ مِنْهُمْ فَصَنَعَ فِيْلاً مِنْ طِيْنٍ وَأَنِسَ بِهِ فَرَسُهُ حَتَّى أَلِفَهُ، فَلَمَّا أَصْبَحَ لَمْ يَنْفِرْ فَرَسُهُ مِنَ الْفِيْلِ فَحَمِلَ عَلَى الْفِيْلِ الَّذِيْ كَانَ يُقَدِّمُهَا فَقِيْلَ لَهُ: إِنَّهُ قَاتَلَكَ. فَقَالَ: لاَ ضَيْرَ أَنْ أُقْتَلَ وَيُفْتَحُ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَكَذَلِكَ يَوْمَ الْيَمَامَةِ لَمَّا تَحَصَّنَتْ بَنُو حَنِيْفَةَ بِالْحَدِيْقَةِ، قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ: ضَعُوْنِي فِي الْحَجَفَةِ وَأَلْقُوْنِى إِلَيْهِمْ، فَفَعَلُوْا وَقَاتَلَهُمْ وَحْدَهُ وَفَتَحَ الْبَابَ.

قُلْتُ: وَمِنْ هَذَا رُوِيَ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ r أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا؟ قَالَ r : فَلَكَ الْجَنَّةُ فَانْغَمَسَ فِي الْعَدُوِّ حَتَّى قُتِلَ. وَفِيْ صَحِيْحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ r أُفْرِدَ يَوْمَ أُحُدٍ فِيْ سَبْعَةٍ مِنَ اْلأَنْصَارِ وَرَجُلَيْنِ مِنْ قُرَيْشٍ، فَلَمَّا رَهِقُوْهُ قَالَ: مَنْ يَرُدُّهُمْ عَنَّا وَلَهُ الْجَنَّةُ أَوْ هُوَ رَفِيقِي فِي الْجَنَّةِ فَقَدِمَ رَجُلٌ مِنَ اْلأَنْصَارِ فَقَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ فَلَمْ يَزَلْ كَذَلِكَ حَتَّى قُتِلَ السَّبْعَةُ، فَقَالَ r: مَا أَنْصَفْنَا أَصْحَابَنَا هَكَذَا الرِّوَايَةُ، أَنْصَفْنَا بِسُكُوْنِ الْفَاءِ أَصْحَابَنَا بِفَتْحِ الْبَاءِ، أَيْ لَمْ نَدُلُّهُمْ لِلْقِتَالِ حَتَّى قُتِلُوا. وَرُوِيَ بِفَتْحِ الْفَاءِ وَرَفْعِ الْبَاءِ، وَوَجْهُهَا أَنَّهَا تَرْجِعُ لِمَنْ فَرَّ عَنْهُ مِنْ أَصْحَابِنَا، وَاللهُ أَعْلَمُ.

وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ: لَوْ حَمِلَ رَجُلٌ وَاحِدٌ عَلَى أَلْفِ رَجُلٍ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ وَهُوَ وَحْدَهُ، لَمْ يَكُنْ بِذَلِكَ بَأْسٌ إِذَا كَانَ يَطْمَعُ فِيْ نَجَاةٍ أَوْ نِكَايَةٍ فِي الْعَدُوِّ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ فَهُوَ مَكْرُوْهٌ، لِأَنَّهُ عَرَضَ لِنَفْسِهِ لِلتَّلَفِ فِيْ غَيْرِ مَنْفَعَةٍ لِلْمُسْلِمِيْنَ، فَإِنْ كَانَ قَصْدُهُ تَجْرِئَةً لِلْمُسْلِمِيْنَ عَلَيْهِمْ حَتَّى يَصْنَعُوْا مِثْلَ صَنِيْعِهِ فَلاَ يَبْعُدُ جَوَازُهُ، وَلِأَنَّ فِيْهِ مَنْفَعَةً لِلْمُسْلِمِيْنَ عَلَى بَعْضِ الْوُجُوْهِ. وَإِنْ كَانَ قَصْدُهُ إِرْهَابَ الْعَدُوِّ وَلِيَعْلَمَ صَلاَبَةَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي الدِّيْنِ فَلاَ يَبْعُدُ جَوَازُهُ. وَإِذَا كَانَ فِيْهِ نَفْعٌ لِلْمُسْلِمِيْنَ فَتَلِفَتْ نَفْسُهُ لِإِعْزَازِ دِيْنِ اللهِ وَتَوْهِيْنِ الْكُفْرِ فَهُوَ الْمَقَامُ الشَّرِيْفِ الَّذِيْ مَدَحَ اللهُ بِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ قَوْلِهِ إِنَّ اللهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ أَنْفُسَهُمْ الآيَةَ [التَّوْبَةُ 111] إِلَى غَيْرِهَا مِنَ آيَةِ الْمَدْحِ الَّتِيْ مَدَحَ اللهُ بِهَا مَنْ بَذَّلَ نَفْسَهُ

وَعَلَى ذَلِكَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُوْنَ حُكْمُ اْلأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ أَنَّهُ مَتَى رَجَا نَفْعًا فِي الدِّيْنِ فَبَذَّلَ نَفْسَهُ فِيْهِ حَتَّى قُتِلَ كَانَ فِي أَعْلَى دَرَجَاتِ الشُّهَدَاءِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُوْرِ [لُقْمَانُ 17] وَقَدْ رَوَى عِكْرِمَةُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ r أَنَّهُ قَالَ: أَفْضَلُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ، وَرَجُلٌ تَكَلَّمَ بِكَلِمَةِ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ فَقَتَلَهُ.

Ulama berbeda pendapat tentang kenekatan seseorang di medan perang dan menyerang musuh sendirian. Al-Qasim bin Mukhaimarah, al-Qasim bin Muhammad dan Abdul Malik dari kalangan ulama kita  (madzhab Malikiyah) berkata: “Tidak mengapa seseorang sendirian menghadapi pasukan musuh yang cukup banyak jika ia memiliki kekuatan dan niatnya ikhlas karena Allah semata. Jika ia tidak memiliki kekuatan maka termasuk bunuh diri. Dan suatu pendapat menyatakan: “(Meski ia tidak memiliki kemampuan) namun jika ia mencari kesyahidan dan niatnya ikhlas, maka silahkan melakukannya, karena yang diincar cuma salah satu dari musuh. Demikian itu ada dalam firman Allah Swt.: ”Di antara manusia ada yang menjual jiwanya demi untuk mendapatkan keridhaan Allah.” (QS. Al-Baqarah: 207).”

Ibn Khuwaizin Mindad berkata: “Adapun jika seseorang berani menyerang musuh yang berjumlah seratus, sejumlah tentara musuh, sekelompok pencuri, penyerang dan pemberontak, maka untuk hal ini ada dua kondisi: Jika ia mengetahui dan menduga kuat dirinya akan menewaskan musuh yang diserangnya dan ia selamat, maka hal itu bagus. Demikian pula jika ia mengetahui dan menduga kuat ia akan mati, namun akan bisa membuat mereka kalah, kacau atau menimbulkan akibat yang menguntungkan kaum muslimin, maka hukumnya juga boleh. Telah sampai kepadaku kisah pasukan kaum saat melawan pasukan Persia (Iran), kuda-kuda kaum muslimin lari ketakutan dikarenakan gajah. Maka salah seoarang anggota pasukan bertekat membuat patung gajah dari tanah liat sehingga kudanya menjadi tenang dan terbiasa melihat gajah. Maka ketika berperang kudanya tidak takut lagi pada gajah sehingga berani menghadapi pasukan gajah menyerangnya. Lalu ia diingatkan: “Sungguh hal itu akan membuatmu terbunuh.” Lalu ia menjawab; “Tidak mengapa saya terbunuh tapi kaum muslimin mendapat kemenangan.” Begitu pula dalam perang Yamamah ketika Bani Hanifah bertahan di suatu kebun. Salah seorang pasukan muslimin berkata: “Letakkan aku dalam perisai, lalu lemparkan aku kepada mereka.” Kemudian para pasukan lain melakukannya dan ia melawan musuh sendirian serta berhasil membuka pintu kebun tersebut.”

Saya (al-Qurthubi) berkata: “Termasuk kasus serupa, diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Saw.: “Bagaimana pendapat anda jika saya terbunuh dalam peperangan di jalan Allah dalam keadaan sabar dan mencari pahala?” Beliau menjawab: “Engkau mendapat surga.” Lalu laki-laki itu menceburkan diri di tengah-tengah musuh sehingga terbunuh. Dalam riwayat Shahih Muslim dari Anas bin Malik, sungguh pada hari perang Uhud Rasulullah Saw. terpojok  seorang diri, dalam pasukan tujuh orang dari Anshar dan dua orang dari Quraisy. Ketika musuh mendekatinya, beliau bersabda: “Siapa yang bisa mengenyahkan mereka dariku? Dan ia mendapat surga.”, atau: “ “Dia menjadi sahabatku di surga.” Lalu salah seorang dari sahabat Anshar itu menyerang maju sampai terbunuh. Hal tersebut terus berlangsung sehingga ketujuh orang tersebut mati. Lalu beliau Saw. bersabda: “Kami belum memberi petunjuk teknik berperang kepada para sahabat kami.“ Begitu riwayatnya, kata أَنْصَفْنَا  dengan sukun huruf fa’ dan kata أَصْحَابَنَا dengan dibaca fathah huruf ba’nya, yang berarti: “Kami belum memberi petunjuk teknik berperang kepada para sahabat kami.” Dan diriwayatkan dengan dibaca fathah huruf fa’nya dan dibaca raf’ huruf ba’nya (berarti: “Para sahabat kami tidak membela kami.”) Argumennya, riwayat itu kembali kepada para sahabat yang lari meninggalkan Nabi Saw. Wallahu a’lam.

Muhammad bin al-Hasan berpendapat: “Seandainya satu orang melakukan penyerangan kepada seribu musuh dengan sendirian, maka hal itu tidak mengapa jika ia dapat mengharap keselamatan diri atau mengalahkan musuh. Namun jika tidak demikian, maka hukumnya makruh. Karena berarti ia menjerumuskan diri sendiri dalam kematian yang tidak memberi manfaat pada kaum muslimin. Jika tujuannya adalah membangkitkan keberanian kaum muslimin dalam melawan musuh sehingga mereka mau meniru tindakannya, maka hal itu tidak jauh dari kebenaran diperbolehkannya. Karena ada manfaatnya bagi kaum muslimin dari satu sisi. Adapun jika tujuannya untuk menimbulkan ketakutan pada musuh dan supaya musuh mengetahui militansi muslimin dalam membela agamanya, maka hal itu tidak jauh dari kebenaran diperbolehkannya. Ketika dalam tindakannya itu terdapat keuntungan bagi pasukan muslimin, lalu ia mati demi kemuliaan agama Allah dan menghina kekafiran, maka hal itu merupakan kedudukan mulia yang mendapat pujian dari Allah bagi para mukminin sebagaimana dalam firmanNya: “Sungguh Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman, jiwa-jiwa mereka.” (QS. Al-Taubah: 111) Dan ayat-ayat lainnya yang menyebut pujian Allah kepada mereka yang rela mengorbankan jiwanya.

Hukum tersebut seharusnya berlaku pula pada hukum amr ma’ruf nahi munkar. Yaitu  ketika seseorang mengharap keuntungan bagi agama, lalu ia mengorbankan diri untuk hal itu sampai mati, maka ia berada di jajaran tertinggi derajat para syuhada. Allah Swt. berfirman: “Suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah dari perbuatan mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sungguh demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan.” (QS. Luqman: 17) Ikrimah meriwayatkan dari Ibn Abbas Ra., dari Nabi Saw., sungguh beliau bersabda: “Syuhada’ yang paling utama adalah Hamzah bin Abdul Muttalib dan seseorang yang menyuarakan kebenaran kepada penguasa zalim sehingga ia membunuhnya.”

 

(sumber: Hasil Keputusan Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta 25-28 Juli 2002/14-17 Rabiul Akhir 1423 Tentang Masail Maudhuiyyah As-Siyasiayh)