LEBIH UTAMA MEMBELI PRODUK IMPOR ATAU YANG LOKAL

Sampai detik ini masih banyak anak-anak negeri ini lebih suka memakai barang-barang impor. Biasanya kalau ada jenis barang sama di mana yang satu adalah produk lokal sedang yang lainnya adalah barang impor, orang-orang kita cenderung memilih untuk membeli barang impor. Padahal secara kualitas tidak jauh beda bahkan mutu barang lokal itu kadang lebih bagus.

Pertanyaan yang ingin kami ajukan adalah bagaimana hukumnya lebih memilih barang impor ketimbang memilih untuk membeli barang lokal padahal secara kualitas adalah sama dan harganya tidak jauh berbeda?

Jawaban

Fenomena produk impor dari luar negeri yang terus membanjiri negeri kita adalah hal yang bisa mengandung nilai positif dan negatif. Hadirnya produk-produk tersebut menyebabkan konsumen dalam negeri memiliki banyak pilihan yang beragam.

Aktivitas jual-beli adalah termasuk dalam kategori mu’amalah. Sedang pada dasarnya hukum bermuamalah adalah boleh sepanjang tidak ada dalil yang melarangnya. Tidak ada nash yang secara tegas melarang seorang Muslim untuk membeli barang impor. Karena itu harus dikembalikan kepada hukum asalnya yaitu kebolehan untuk membeli barang impor sepanjang barang yang dibeli tersebut bukan termasuk barang yang diharamkan dalam pandangan Islam.

Namun persoalannya ternyata tidak sesederhana itu karena kecenderungan konsumen dalam negeri untuk lebih memlih produk impor ternayata disadari atau turut serta menghambat kemajuan perekenomian masyarakat dalam negeri itu sendiri.

Sebab, sejatinya apabila konsumen dalam negeri lebih senang membeli barang-barang impor maka yang akan memetik manfaat terbesar adalah produsen barang di luar negeri. Uang kita akan mengalir ke luar tanpa ada manfaat ekonomi ke dalam.

Hal Ini tentu menjadi problem tersendiri karena sikap lebih senang membeli barang impor malah menguntungkan pihak luar (i’anah ‘alal ghair) dan merugikan pihak dalam negeri secara ekonomi.

Dengan demikian kebiasaan untuk membeli barang impor daripada barang buatan dalam negeri padahal ada barang buatan dalam negeri yang sama-sama berkualitas merupakan kebiasaan yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Sebab, kebiasaan tersebut malah menguntungkan pihak luar dan merugikan bangsa sendiri.

وَمِنْ هَذِهِ الْعَادَاتِ وُلُوعُ النَّاسِ بِالشِّرَاءِ مِنَ الْأَجْنَبِيِّ يُفَضِّلُونَ عَلَى أَبْنَاءِ الْوَطَنِ

Artinya, “Dari salah satu kebiasaan (yang tidak baik) ini adalah orang lebih suka membeli (produk, pent) orang asing ketimbang produk anak negeri,” (Lihat Ali Mahfudl, Al-Ibda’ fi Madharil Ibtida’, [Riyadl, Maktabah Ar-Rusyd: 1421 H/2000 M], cet pertama,  halaman 354).

Berpijak dari sini maka sudah sepatutnya bagi kita untuk mencintai produk buatan dalam negeri. Karena dengan mencintainya, maka sama dengan membantu memperkuat ekonomi sesama anak bangsa. Lain halnya jika kita lebih cenderung memilih produk impor.

Jika penjelasan singkat ini ditarik dalam konteks pertanyaan di atas, maka jawaban atas pertanyaan tersebut adalah boleh membeli barang impor, tetapi kendati pun boleh tetapi sebaiknya dihindari jika memang masih ada produk dalam negeri karena berpotensi merugikan produsen dalam negeri sendiri.

Dengan kata lain, jika ada dua produk yang sama kualitas dan dengan harga yang tak jauh berbeda, di mana yang satu adalah produk impor sedang yang lainnya adalah produk dalam negeri, maka hukum membeli produk impor dalam konteks ini adalah makruh. Alasannya sebagaimana yang telah kami kemukakan di atas.

Untuk meningkatkan daya saing di antara gempuran produk-produk dari luar, para produsen lokal harus selalu membuat langkah-langkah terobosan dan inovatif sehingga membuat masyarakat lebih tertarik untuk melirik produk lokal. Sudah sepatutnya kita semua mendukung gerakan mencintai produk dalam negeri.

Hal penting yang perlu digarisbawahi adalah bahwa status hukum makruh tersebut mesti dibaca dalam konteks ketika barang yang kita perlukan tidak bisa dipenuhi oleh produk lokal, tetapi harus didatangkan dari luar.

WALLOHU A’LAM

ANTARA SIKAP OPTIMIS DAN PESIMIS

ANTARA OPTIMIS DAN PESIMIS

  • Seperti apa arti optimis & pesimis dari berbagai pandngan/segi ?
  • Apa perbedaan sikap Optimis & pesimis ?
  • Manfaat apa saja yang dapat diambil dari sikap optimis ?
  • Apa saja dampak dari sikap Pesimis ?
  • Bagaimana cara menumbuhkan sikap optimis menghapuskan sikap pesimis?

■ Pengertian Optimis

  1. a) optimisme dalam perspektif islam

Optimis dalam Islam, khususnya dalam Ilmu Tasauf yang mempelajari tentang diri manusia, lebih dikenal dengan istilah raja’.

Raja’ (harapan) merupakan suatu maqam bagi orang yang berjalan menuju Allah dan hal (sifat mental) bagi orang yang menuntut dan ingin mencapai ketinggian budi.

  1. b) Optimis menurut para Ahli

 Ibnu Qudamah al-Muqadasi

Optimis adalah sesuatu yang terlintas di dalam hati yang merupakan harapan pada masa yang akan datang. Rasa lapang dada karena menantikan yang diharapkan dimana hal yang diharapkan itu memang mungkin terjadi.

Imam Qusyairi

Optimis adalah terpikat hati kepada sesuatu yang diharapkan yang akan terjadi pada masa yang akan datang.

Imam al-Ghazali

Hakikat Optimis adalah kelapangan hati dalam menantikan hal yang diharapkan pada masa yang akan datang dalam hal yang mungkin terjadi.

M.Ali Ghanim Ath-Thawil

Optimis berarti harapan, pandangan yang positif, ketenangan hati, bijaksana dan juga berarti semua aktivitas kebaikan yang mengandung makna optimis.

Ubaydillah

Optimisme berarti meyakini adanya kehidupan yang lebih bagus dan keyakinan itu digunakan untuk menjalankan aksi yang lebih bagus guna meraih hasil atau yang lebih bagus.

 Lorens Bagus

Optimisme dalam pengertian psikologi merupakan sikap pikiran yang condong melihat segala sesuatu dari seginya yang baik (afirmasi) terhadap dunia, keterbukaan pada dunia.

  1. c) Optimis dari segi Bahasa

Dilihat dari segi bahasa optimisme berasal dari bahasa latin yaitu “Optima” yang berarti terbaik Menjadi optimis, dalam arti khas kata, pada akhirnya berarti satu harapkan untuk mendapatkan hasil terbaik dari situasi tertentu. Menurut Inggris Oxford Dictionary mendefinisikan optimisme sebagai memiliki “harapan dan keyakinan tentang masa depan atau hasil yang sukses dari sesuatu; Kecenderungan untuk mengambil pandangan positif atau penuh harapan”. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “optimis” adalah orang yg selalu berpengharapan (berpandangan) baik dl menghadapi segala hal.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwasanya optimisme merupakan suatu sikap penuh dengan keyakinan yang tinggi dalam mengahadapi permasalahan kehidupan didunia ini, dan dimasa depan akan meraih kesuksesan yang telah dicita-citakan sebelumnya.

Pengertian pesimis

Kebalikan dari sikap optimis adalah sifat pesimis. Sifat pesimis dapat diartikan berprasangka buruk terhadap Allah SWT. Seseorang yang pesimis biasanya selalu khawatir akan memperoleh kegagalan, kekalahan, kerugian atau bencana, sehingga ia tidak mau berusaha untuk mencoba.

Perbedaan sikap Optimis dan sikap Pesimis

Orang pesimis biasanya cepat ragu dan gusar, sedangkan orang optimis biasanya selalu bersemangat dalam mempertahankan prinsip dan pilihan sikap hidup.

Orang pesimis senantiasa melihat kesulitan, kesusahan dalam setiap kesempatan, sedangkan seorang optimis langsung melihat kesempatan dalam setiap kesulitan.

Orang pesimis selalu cepat berkata ‘tidak tahu’, tidak bisa, tidak mungkin. Sedangkan orang optimis senantiasa berkata, “belum, nanti akan saya cari tahu.” Atau belum bisa—nanti saya pelajari dahulu, dan selalu yakin mengenai segala kemungkinan yang akan terjadi dalam tiap perencanaan kerja.

Orang pesimis merasa selalu berduka, luka dan prahara dirasakan selalu hadir setiap saat, dan mengira bahwa hidup hanya berbalut rasa sakit. Sedangkan orang optimis senantiasa menyadari bahwa segala luka, lelah, dan sakit hanyalah sementara. Tak ada strategi paling mujarab selain ikhlas dalam menetapi kesabaran dan menjaga kesyukuran.

Orang pesimis menjadi sosok yang kurang percaya diri karena lebih banyak menghitung ‘hal yang tidak menyenangkan’, orang optimis memiliki keyakinan dan rasa percaya diri tinggi sebab merasa ada hal baik di setiap kejadian apa pun.

Bagi orang pesimis, Ciri lain yang melekat adalah sedikit-sedikit kecewa, sedikit-sedikit merasa langkahnya salah, lebih banyak keluhan dan mudah menyerah. Bagi orang optimis, ciri lain yang melekat adalah ketika ada kecewa atau tertusuk duri dalam melangkah, ia akan bersegera memperbaiki diri, mengobati luka dengan tetap ceria dan bersemangat dalam perjuangannya.

Si pesimis cenderung mencari untung untuk diri sendiri, mengutamakan kepentingan pribadi. Sedangkan si optimis mengorbankan kepentingan pribadi karena merasa bahagia jika menyenangkan orang lain.

Si pesimis seolah hidupnya penuh curiga, melihat kehidupan bagaikan warna hitam-putih saja. Si optimis merasa hidupnya penuh berkah, memandang kehidupan berwarna-warni dan selalu indah.

Si pesimis suka membesar-besarkan masalah kecil, namun enggan mencari penyelesaiannya, sedangkan si optimis berusaha untuk menemukan solusi atas masalah besar meski dengan langkah kecil.

Si pesimis gemar menunda pekerjaan dan merasa tak termotivasi, sedangkan si optimis tekun dan menyegerakan karya nyata secepatnya.

Manfaat sikap Optimis

Hasil riset para ilmuwan menunjukkan bahwa seorang optimis lebih sehat dan panjang umur dibanding orang yang pesimis. Para peneliti memperhatikan bahwa orang optimis lebih sanggup menghadapi stres dan kecil kemungkinannya mengalami depresi.

Berikut ini beberapa manfaat bersikap optimis dan berpikir positif :

Orang optimis beresiko kecil terkena serangan jantung

Menurut penelitian terbaru yang diterbitkan 17 April 2012 di Jurnal Buletin Psikologi, orang yang optimis memiliki resiko lebih kecil terkena serangan jantung. Perasaan dan semangat positif seperti optimisme merupakan bentuk perasaan yang sangat baik untuk kesehatan jantung. Sebaliknya, perasaan-perasaan negatif seperti pesimisme, kemarahan, kecemasan, depresi, stress, kebencian ternyata sangatlah buruk untuk jantung.

Sebanyak 200 studi yang ditemukan oleh sekolah Harvard bidang kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa perasaan positif seperti optimisme, bersyukur, dan perasaan bahagia yang dimiliki seseorang dapat menurunkan reskio penyakit jantung dan stroke. Namun, hal tersebut masih mengabaikan faktor-faktor lain yang berhubungan dengan resiko penyakit jantung dan stroke yaitu faktor umur, kondisi sosial ekonomi, kebiasaan merokok, dan berat badan. Meski demikian, pengaruh perasaan positif terhadap kesehatan jantung yang memperlihatkan hubungan yang kuat tentu tidak bisa dikesampingkan.

Diperoleh bahwa orang-orang yang berjiwa optimis ternyata mengalami penurunan resiko timbulnya masalah pada jantung sebesar 50%. Tak hanya itu, peneliti juga menemukan bahwa orang yang mempunyai emosi dan mental positif ternyata sebagian besar juga memiliki gaya hidup yang baik seperti olahraga, makan makanan yang sehat dan tidur yang cukup. Gaya hidup yang baik tersebut selain akan semakin menunjang kesehatan jantung orang-orang optimis, dapat juga menurunkan tekanan darah, kadar lemak darah dalam tubuh, dan menjaga berat badan ideal mereka.

Orang optimis akan lebih bahagia dan lebih sedikit mengalami stress

Orang yang optimis biasanya juga akan merasa lebih bahagia dalam hidup dan memiliki tingkat stress yang rendah. Mereka yang optimis memandang segala sesuatu dari sisi yang lebih positif. Efeknya tingkat kecemasan dan stress pun akan berkurang.

Orang optimis lebih percaya diri dan lebih berani mengambil berbagai peluang. Mereka tidak mudah menyerah dan jarang berputus asa. Andaikan pun belum berhasil, mereka yang optimis melihat hal negatif sebagai tantangan yang harusnya bisa dengan mudah diatasi bukan untuk terus diratapi. Sebaliknya mereka yang pesimis akan lebih besar terjebak dalam pikiran yang membuat depresi, tertekan, dan stress.

Orang optimis akan lebih sehat dan panjang umur

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, orang optimis akan lebih sedikit mengalami stress. Kadar hormon stress yang lebih sedikit dalam tubuh dapat menguatkan sistem imun tubuh dan ini berarti akan membuat tubuh menjadi lebih sehat.

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh mahasiswa Harvard University , mereka yang terbiasa optimis pada usia 25 tahun ternyata akan jauh lebih sehat pada usia 45 dan 60 tahun dibandingkan dengan mereka yang tidak (terbiasa pesimis). Studi lainnya tentang pesimis dan optimis memperlihatkan bahwa pesimisme dapat memicu timbulnya berbagai infeksi penyakit, kondisi kesehatan yang buruk, dan kematian lebih cepat.

Penelitian yang dilakukan di Amerika terhadap sekitar 100 ribu wanita juga memperlihatkan bahwa mereka yang optimis ternyata 14% lebih rendah mengalami kematian akibat penyakit berbahaya.

Orang optimis akan lebih sukses dan berprestasi

Sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka yang berjiwa optimis biasanya merupakan “juara-juara” dalam berbagai hal, baik di sekolah, karir, maupun di bidang-bidang lainnya. Mereka yang optimis selalu memiliki semangat untuk maju, tidak mudah putus asa, dan semakin terpacu untuk menang tatkala dihadapkan pada situasi yang sulit.

Keyakinan kuat yang dimiliki oleh mereka yang berjiwa optmis bisa memupuk semangat untuk berbuat lebih baik dan percaya diri dalam segala hal. Orang optimis memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang lebih positif. Mereka yang optimis tidak mudah menyerah dan tetap akan terus “melangkah” maju untuk meraih kesuksesannya.

Dalam sebuah team work pun sangatlah dibutuhkan mereka yang berjiwa optimis. Tim yang optimis akan lebih bersinergi satu sama lain dan memperlihatkan hasil (pencapaian) yang lebih baik daripada mereka yang tidak optimis.

Optimisme bersifat menyembuhkan

Tak hanya mencegah atau menurunkan resiko penyakit jantung dan berbagai infeksi penyakit, perasaan optimisme juga bersifat menyembuhkan. Pada sebuah studi kesehatan yang dilakuakan pada pasien-pasien depresi ditemukan bahwa terapi pikiran positif seperti optimisme yang dilakukan selama 12 minggu ternyata lebih berkhasiat dan efektif memperbaiki kondisi pasien daripada obat-obatan.

Studi lainnya yang dilakukan di Pusat Kanker di Australia menemukan bahwa pasien kanker pay*d*ra yang optimis ternyata berpeluang lebih besar untuk sembuh daripada mereka yang pesimis dan putus asa.

Jadi, mulai saat ini buanglah jauh-jauh perasaan negatif dari dalam diri Anda. Biasakan diri Anda untuk akrab dengan perasaan-perasaan positif seperti perasaan optimis, bersyukur, dan perasaan bahagia dalam memandang dan menjalani hidup.

Dampak sikap Pesimis

Pesimis adalah sikap manusia yang selalu didominasi oleh pikiran negatif, melihat segala sesuatu dengan fokus pada hal buruk dan jahat. Berikut adalah dampak dari orang yang memiliki sikap pesimis :

Ketika mengalami kepedihan atau musibah, orang cenderung menjadi peka. Pada saat itu pesimisme dapat muncul sebagai akibat pemberontakan yang kuat dalam emosi dan perasaan seseorang. Pesimisme yang memasuki pikiran dengan cara ini meninggalkan pengaruhnya pada proses pemikiran orang.

Orang yang menderita pesimisme jelas mengalami rasa sepi dan curiga ketika berurusan dengan orang lain. Sebagai akibat situasi yang tak memuaskan itu, orang ini menghancurkan kemampuannya untuk berkembang dan maju dan, dengan begitu, menakdirkan dirinya pada kehidupan yang tak diinginkan. Berdasarkan fakta-fakta ini, pesimisme merupakan faktor utama dalam kasus bunuh diri.

Keindahan ciptaan tidak terwujud di mata orang pesimisme. Selain itu, kebahagiaan akan tampil kepadanya dalam busana kebosanan dan nestapa. Orang yang pikirannya menjadi demikian negatif akan kehilangan segala keuntungan dari kemampuannya, karena dengan khayalannya orang pesimis akan menyia-nyiakan hidupnya dan lupa akan manfaat – manfaat besar yang akan dicapainya.

Langkah – langkah menumbuhkan sikap Optimis

Menumbuhkan sikap optimisme tidaklah mudah dilakukan, tidak seperti menerima dan menghafal konsep-konsep optimisme. Dalam menumbuhkan sikap ini tentunya memerlukan kiat ataupun langkah yang tidak mudah untuk dilakukan. Namun kalau kita sudah bersikap pesimistis maka sikap optimisme ini tidak akan dapat terealisasikan, bagaimana bisa merealisasikan sikap optimisme dalam kehidupan kalau kita sudah bersikap pesimistis untuk menumbuhkan atau merealisasikan sikap ini.

Berikut langkah – langkah yang dapat meningkatkan rasa optimisme dalam diri, antara lain sebagai berikut :

  1. Temukan hal-hal positif dari pengalaman kita di masa lalu.
  2. Tata kembali target yang hendak kita capai.
  3. Pecah target besar menjadi target-target kecil yang segera dapat dilihat keberhasilannya.
  4. Bertawakallah kepada Allah setelah melakukan ikhtiar.
  5. Ubah pandangan diri kita terhadap kegagalan.
  6. Yakinkan kepada diri kita bahwa Allah SWT akan selalu menolong dan memberi jalan keluar.

Langkah – langkah menghilangkan sikap pesimis

Pesimis adalah kondisi pikiran yang melihat dunia ini selalu negatif. Memang tidak harus semuanya terlihat negatif, mungkin untuk aspek kehidupan yang lain seseorang menerima dengan positif, tetapi untuk aspek lainnya dia melihatnya dengan negatif. Artinya mungkin ada seseorang yang pesimis hanya untuk sebagian aspek kehidupan lainnya. Muara dari pesimis adalah sikap putus asa, sebuah sikap yang menganggap tidak ada lagi (habis) harapan positif. Pesimis dengan sikap putus asa adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Saat kita membahas pesimis, kita juga sekaligus bicara tentang putus asa. Pesimis menyebabkan kita putus asa, dan penyebab putus asa adalah pesimis. Penyebab Pesimis Bagi orang yang pesimis, mereka pesimis karena “fakta dan logika berbicara” . Mereka akan bersandar pada fakta tentang hel-hal negatif, akibat buruk, dan kekagagal yang ada. Ini akan menjadi alasan bagi mereka, bahwa berpikir negatif itu wajar sebab fakta berbicara. Selain fakta, mereka pun akan mengatakan bahwa secara logika juga memang demikian, bahwa selalu ada hal negatif dan peluang kegagalan dibalik sesuatu.

Contoh fakta yang bisa dijadikan alasan mereka pesimis seperti banyaknya pejabat yang korup. Berbagai penggantian pejabat sudah sering terjadi, tetapi perbaikan belum terlihat. Ini menjadikan banyak orang yang pesimis. Bisa juga, Anda sudah mencoba bisnis, namun gagal lagi, gagal lagi. Anda kemudian mengatakan “fakta” bahwa Anda memang tidak akan berhasil bisnis, atau mengatakan bisnis itu sangat beresiko. Artinya, meski Anda punya fakta dan dalil untuk bersikap pesimis, Anda tetap orang pesimis. Namun, sebenarnya bukan itu penyebab pesimis. Biasanya salah satu penyebab pesimis adalah iman yang lemah bahkan orang yang tidak punya iman.

Dalam Al-qur’an telah dijelaskan larangan untuk tidak berputus asa, seperti yang dikutip dibawah ini :

“Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. (QS. Az Zumar: 53)

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir“. (QS. Yusuf:87)

Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat“. (QS Al Hijr:56)

“Janganlah kalian berputus asa dari rizqi Allah selama kepala kalian masih bergerak. Manusia itu dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan merah, tidak memiliki suatu apapun, lalu Allah Azzawajalla memberinya rizqi“. (HR Ahmad No 15294)

Dalam hadits lain disebutkan: “Janganlah kalian berputus asa dari kebaikan, selama kepala kalian masih bisa bergerak. Manusia itu dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan merah, tidak memiliki suatu apapun, lalu Allah Azzawajalla memberinya rizqi“. (HR Ahmad No 15295)

Bahaya Pesimis

Jika seseorang pesimis terhadap sesuatu, maka dia tidak mungkin lagi berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Tidak ada pencapaian dan kebaikan dari orang yang pesimis. Dia memiliki segudang alasan, logika, dan faktwa bahwa dia tidak perlu berusaha lagi. Jika tidak berusaha, maka dia tidak akan pernah mendapatkan apa-apa. Dia bahkan tidak mau berdakwah karena tidak akan ada gunanya menurut dia. Jadi, memang bahaya baik untuk dunia dan akhirat. Malas, tidak mau berusaha, hanya menghujat sana sini, bahkan tidak sedikit yang bunuh diri saat harapan sudah tidak ada. jadi, jangan biarkan sikap pesimis tumbuh dalam hati Anda.

Adapun langkah – langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi rasa pesimis adalah sebagai berikut :

  1. Bangun sikap optimis.
  2. Hilangkan sikap ragu dalam diri Tentukan tujuan hidup sebenarnya.
  3. Kuatkan iman dalam diri.
  4. Percaya pada Allah SWT, bahwa Allah akan selalu menolong kita dalam kondisi apapun.

Kesimpulan

Dilihat dari segi bahasa optimisme berasal dari bahasa latin yaitu “Optima” yang berarti terbaik Menjadi optimis, dalam arti khas kata, pada akhirnya berarti satu harapkan untuk mendapatkan hasil terbaik dari situasi tertentu. Inggris Oxford Dictionary mendefinisikan optimisme sebagai memiliki “harapan dan keyakinan tentang masa depan atau hasil yang sukses dari sesuatu; Kecenderungan untuk mengambil pandangan positif atau penuh harapan”.

Menumbuhkan sikap optimisme tidak mudah untuk dilakukan tidak seperti menerima dan menghafal konsep-konsep optimisme. Dalam menumbuhkan sikap ini tentunya memerlukan kiat ataupun langkah yang tidak mudah untuk dilakukan.

Adapun beberapa langkah untuk dapat menumbuhkan sikap optimesme dalam diri seorang individu yaitu:

  1. Temukan hal-hal positif dari pengalaman kita di masa lalu.
  2. Tata kembali target yang hendak kita capai.
  3. Pecah target besar menjadi target-target kecil yang segera dapat dilihat keberhasilannya.
  4. Bertawakallah kepada Allah setelah melakukan ikhtiar.
  5. Ubah pandangan diri kita terhadap kegagalan.
  6. Yakinkan kepada diri kita bahwa Allah SWT akan selalu menolong dan memberi jalan keluar.

Adanya konsep optimisme tersebut, haruslah kita semua berbenah diri untuk lebih bersiakap optimisme dalam berusaha sehingga dapat mencapai harapan dan cita-cita sebagai seorang yang bahagia didunia maupun diakhirat. Kita lihat pada saat ini Indonesia masih berada di bawah negara-negara lain dalam berbagai aspek kehidupan, untuk mengejarnya dan menjadikan Bangsa kita sebagai Khoiru Ummah dimuka bumi ini perlulah adanya sikap optimisme dikalangan masyarakat Indonesia tercinta ini.

Saran

  1. Tumbuhkan sikap optimis dalam diri, karena dengan bersikap optimis kita akan medapat berbagai macam manfaat yang tentunya akan menjadi bekal tuk mencapi pribadi yang bahagia dunia dan akhirat.
  2. Buang sikap pesimis dalam diri, karena akan sangat merugikan serta dapat menghancurkan masa depan kita sendiri.

Ada 8 Perbedaan Antara Orang Optimis dengan Orang Pesimis

  1. Orang Optimis: kegagalan adalah satu proses pembelajaran akan hasil yang lebih memuaskan.

Orang Pesimis: kegagalan adalah satu bukti kalau itulah identitas dirinya.

  1. Orang Optimis: suka keluar dari zona nyaman untuk menghadapi tantangan baru yang akan membuat satu kemajuan dalam dirinya.

Orang Pesimis: zona nyaman sudah cukup. Tantangan hanya untuk orang yang tak berpikir panjang.

  1. Orang Optimis: dapat menginspirasi orang yang berada di sekitarnya.

Orang Pesimis: hanya bisa iri dengan pencapaian orang lain.

  1. Orang Optimis: menerima kritik yang dikatakan orang lain.

Orang Pesimis: tidak menerima pandangan orang lain tentang dirinya.

  1. Orang Optimis: percaya akan sebuah perubahan.

Orang Pesimis: konstan adalah satu-satunya cara agar dunia tetap bergulir sebagaimana mestinya.

6.Orang Optimis: berani bermimpi dengan perencanaan untuk mewujudkannya.

Orang Pesimis: jangan mimpi, jalani saja realita yang ada hari ini.

  1. Orang Optimis: masih banyak hal untuk dipelajari.

Orang Pesimis: hanya belajar hal-hal yang mendukung usaha yang konstan.

  1. Orang Optimis: bisa melihat hal baik dalam kejadian paling buruk sekalipun.

Orang Pesimis: sudahlah, hal buruk ya akan selamanya buruk, tidak ada aspek lain.

PERKATAAN IMAM AHMAD BIN HANBAL DAN IMAM BUKHORY YANG DI PELINTIR WAHABY

Inilah Ucapan Imam Bukhari dan Imam Ahmad Yang Dipelintir Wahabi

Kemunculan kaum Mujassimah-musyabbihah (wahabi-salafi) merupakan fitnah untuk menguji keimanan kaum muslimin di dunia ini hingga tiba masa fitnah terbesar di akhir zaman yaitu fitnah dajjal. Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَخْرُجُ نَاسٌ مِنَ اْلمَشْرِقِ يَقْرَؤُونَاْلقُرْانَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا قَطَعَ قَرْنٌ نَشَأَ قَرْنٌ حَتَّىيَكُوْنَ آخِرُهُمْ مَعَ اْلمَسِيْخِ الدَّجَّالِ

“ Akan muncul sekelompok manusia dari arah Timur, yang membacaal-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn (kurun /generasi) mereka putus, maka muncul generasi berikutnya hingga generasi akhirmereka akan bersama dajjal “ (Diriwayatkan imam Thabrani di dalamAl-Kabirnya, imam imam Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya dan imam Ahmad di dalam musnadnya)

Kaum muslimin cukup mengetahui akidah berkaitan kalam Allah bahwasanya kalam Allah adalah bersifat qadim, tidak membutuhkan alat, suara dan huruf, dan al-Quran adalah kalam Allah bukan makhluk. Sampai di sini tidak perlu panjang dan luas lagi untuk menelusuri esensi dan hakikatnya lebih dalam lagi. Karena tak ada satu pun parasahabat dan ulama salaf yang membahas lebih dalam lagi tentang masalah ini dan tentang Dzat Allah, maka membahas lebih dalam tentang hal ini adalah bid’ah, bahkan Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya : “ Renungilah makhluk Allah dan jangan renungi Dzat Allah “.

Namun muncullah fitnah kaum yang sangat berani membicarakan hakikat Dzat Allah dan sifat-sifat-Nya lebih dalam lagi, sehingga mereka tersesat jauh dan bahkan menyesatkan para pengikutnya ke jurang tajsim dan tasybih, Naudzu billahi min dzaalik..

Makna ucapan imam Bukhari yang disalah pahami wahabi :

حركاتهم وأصواتهم واكتسابهم وكتابتهم مخلوقة فأما القرآن المتلو المبين المثبت في المصاحف المسطور المكتوب الموعى في القلوب فهو كلام الله ليس بخلق

Gerak, suara, usaha dantulisan adalah makhluk, adapun al-Quran yang dibaca, yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada di dalam dada maka dia adalah kalam Allah bukanlah makhluk “. (Khalqi af’aalil ibaad : 47)

Kaum wahabi-salafi memahami ucapan imam Bukhari dengan nafsu dan pemikirannya sendiri sehingga menimbulkan pemahaman bahwa kalam Allah itu bersuara dan berhuruf.

Jawaban :

Saya jadi teringat sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِالزَّمانِ قَومٌ أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ قَوْلَخَيْرِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُوْنَمِنَ الدِّيْنَ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، فَإذَا لَقِيْتُمُوْهُمْفَاقْتُلُوْهُمْ ، فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْراً لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللهِ يَوْمَاْلقِيَامَة

 “ Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda lagi lemah akalnya, berucap dengan ucapan sbeaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur daribusurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.(HR. Imam Bukhari : 3342)

Nabi mensifati mereka pada umumnya masih berusia muda  tetapi lemah akalnya, atau itu adalah sebuah kalimat majaz yang bermakna orang-orang yang kurang berpengalaman atau kurang berkompetensi dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah bahkan kalam ulama. Subyektivitas dengan daya dukung pemahamanyang lemah dalam memahaminya, bahkan menafsiri ayat-ayat Al-Qur`an dan nash hadits dengan mengedepankan fanatik dan emosional golongan mereka sendiri.

Demikianlah kalam imam Bukhari yang sangat mudah dipahami, mereka pelintir sesuai keinginan nafsu dan pemikiran mereka sendiri tanpa mau menggunakan akal sehat dan merujuk pada penjelasan para ulama besar, sehingga menimbulkan pemahaman yang bertolak belakang dengan apa yang dimaksud oleh imam Bukhari sendiri

Simak dan bacapelan-pelan…! Semoga hidayah menyertai kalian…

Imam Bukhari mengatakan :

حركاتهم وأصواتهم واكتسابهم وكتابتهم مخلوقة فأما القرآن المتلو المبين المثبت في المصاحف المسطور المكتوب الموعى في القلوب فهو كلام الله ليس بخلق

Gerak, suara, usaha dantulisan adalah makhluk, adapun al-Quran yang dibaca, yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada di dalam dada maka dia adalah kalamAllah bukanlah makhluk “. (Khalqi af’aalil ibaad : 47)

Poin pertama dari kalam imam Bukhari :

حركاتهم وأصواتهم واكتسابهم وكتابتهم مخلوقة

“ Gerak,suara, usaha dan tulisan adalah makhluk “

Imam Bukhari dengan jelas menyatakan gerakan, suara, usaha dan tulisan adalah makhluk, karena semuanya bersifat baru dan ada permulaanya.

Pengertiannya adalah bahwasegala perbuatan, suara dan huruf yang berasal dari manusia adalah makhluk. Dan lebih jelas beliau mengatakan sebagaimana sering dinukil oleh ulama wahabi (tanpa mau memahaminya) berikut :

ما زلت أسمع أصحابنايقولون أفعال العباد مخلوقة

“ Aku senantiasa mendengar para ashab kami mengatakan bahwa perbuatan hamba adalah makhluk “.

Poin kedua dari kalam imamBukhari :

فأماالقرآن المتلو المبين المثبت في المصاحف المسطور المكتوب الموعى في القلوب فهوكلام الله ليس بخلق

“ Adapun al-Quran yangdibaca, yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada didalam dada maka dia adalah kalam Allah bukanlah makhluk “.

Lafadz al-Quran (فأما القرآن) di atas dalam ilmu nahwu kedudukannya menjadi mubtada’, tentu mubtada’ selalu membutuhkan khobarnya. Mana khobarnya ? khobarnya adalah lafadz fahuwa kalamullah (فهو كلام الله), sedangkan kalimat : al-Matluu al-Mubin, al-Mutsbat dan seterusnya adalah menjadi na’at yakni shifat.

Artinya adalah : al-Quranadalah kalamullah, dan al-Quran yang yang dibaca, yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada di dalam dada adalah kalam Allah bukan makhluk.

Ada dua pengertian dalam kalam imam Bukhari tersebut yaitu :

  1. al-Quran yang dibaca,yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada di dalam dada,jika dinisbatkan kepada kalam Allah adalah bukanlah makhluk.
  2. al-Quran yang ditulisdan dibaca dengan suara dan huruf oleh manusia, maka imam Bukhari menjwab : “perbuatan hamba adalah makhluk (أفعال العباد مخلوقة) “.

Manhaj imam Bukhari inilah yang diikuti oleh para ulama asyaa’irah bahwa : definsi al-Quran terbagi menjadi dua Yakni Jika yang dimaksudkan adalah kalam Allah, maka dia adalah sifat kalam yang qadim dan azali yang suci dari alat, suara dan huruf, sedangkan jikayang dimaksudkan adalah kalimat yang terlafadzkan oleh lisan manusia dan terbukukan dalam kertas-kertas, maka dia adalah kalimat-kalimat berhuruf dan bersuara yang baru dan mengibaratkan kepada kalam Allah yang qadim dan azali tersebut.

Penjelasan ini sesuaidengan penjelasan para ulama besar Ahlus sunnah :

Imam Abu Hanifah (150 H) Mengatakan:

وصفاته في الأزل غير محدَثة ولا مخلوقة فمن قال إنها مخلوقة أومحدَثة أو وقف أو شكّ فهو كافر بالله تعالى والقرءان أي كلام الله تعالى فيالمصاحف مكتوب وفي القلوب محفوظ وعلى الألسن مقروء وعلى النبي عليه الصلاة والسلاممنزل ولفظنا بالقرءان مخلوق وكتابتنا له مخلوقة وقراءتنا مخلوقة والقرءان غيرمخلوق

“ Sifat-sifat Allah diAzali tidaklah baru dan bukan makhluk (tercipta), barangsiapa yang mengatakanitu makhluk atau baru, atau dia diam (tidak berkomentar), atau dia ragu makadia dihukumi kafir kepada Allah. Al-Quran yakni Kalamullah tertulis dimushaf-mushaf, terjaga dalam hati, terbaca dalam lisan dan diturunkan kepadaNabi Saw. Danlafadz kami dengan al-Quran adalah makhluk, penulisan kami kepada Al-Quran adalah makhluk, bacaan kami dengannya adalah makhluk sedangkan al-Quran bukanlah makhluk “.

Kemudian imam Abu Hanifah melanjutkan :

ونحن نتكلم بالآلات والحروف والله تعالى يتكلم بلا ءالة ولا حروف والحروف مخلوقة وكلامالله تعالى غير مخلوق

“ Kami berbicara denganalat dan huruf sedangkan Allah Ta’ala berbicara tanpa alat dan huruf, sedangkanhuruf itu makhluk dan kalamullah bukanlah makhluk “.(Disebutkan dalam kitab al-Fiqh al-Akbar,al-Washiyyah, al-Alim w al-Muta’allimdan lainnya)

Al-Hafidz Azd-Dzahabi mengomentari kalam imam Bukhari berkaitan lafadz Quran berikut :

المسألة هي أن اللفظ مخلوق، سئل عنها البخاري، فوقف واحتجبأن أفعالنا مخلوقة واستدل لذلك ففهم منه الذهلي أنه يوجه مسألة اللفظ، فتكلم فيه.وأخذه بلازم قوله هو وغيره

“ Masalah (imam Bukhari) tersebut adalah sesungguhnya lafadz itu adalah makhluk. Imam Bukhari pernah ditanya tentang ini, lalu beliau tidak berkomentar malah beliau berhujjah : “Sesungguhnya semua perbuatan kita adalah makhluk “, beliau menjadikan itusebagai dalil dan ini dipahami oleh imam Adzdzahli bahwasanya imam Bukhari bermaksud masalah lafadz lalu beliau berbicara dengan itu, dan beliau juga selainnya senantiasa meneguhkan ucapannya itu “.(Siyar A’lam an-nubala : 12/457)

Ucapan : lafadz al-Quran adalah makhluk, memiliki dua makna yaitu makna haq (benar) dan makna bathil(salah). Mengatakannya secara muthlaq / general baik menafikan atau menetapkan adalah bid’ah, meskipun dia bermaksud makna yang haq ataupun makna yang bathil.Karena sesungguhnya imam Ahmad bin Hanbal tidaklah mencela dan memngatakan jahmiyyah kepada orang yang mengatakannya secara muthlaq kecuali jika ia bermaksud al-Quran.

Imam Ahmad bin Hanbal

Al-Hafidz Azd-Dzahabi menukil kalam imam Ahmad bin Hanbal sebagai berikut :

من قال: لفظي بالقرآن مخلوق، يريد به القرآن، فهو جهمي

“ Barasngsiapa yang mengatakan lafadz dengan al-Quran adalah makhluk, yang dimaksud adalah al-Quran, maka dia adalah seorang jahmi “. (Siyar A’lam an-nubala : 11/511)

Mungkin kaum wahabi-salafi akan bingung jika membaca penjelasan Ibnu Taimiyyah berikut tentang Nash dariimam Ahmad bin Hanbal :

فلهذاكان المنصوص عن الإمام أحمد وأئمة السنة والحديث أنه لا يقال : ألفاظنا بالقرآنمخلوقة ولا غير مخلوقة

“ Oleh sebab itu Nash yangresmi dari imam Ahmad dan para imam Ahlus sunnah dan hadits bahwa tidak bolehdikatakan :Lafadz kita dengan Al-Quran itu makhluk dan juga bukan makhluk “.(Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah, 12/ 375)

Di sisi lain Ibnu Taimiyyah mengatakan :

والمقصودهنا أن الامام أحمد ومن قبله من أئمة السنة ومن اتبعه كلهم بريئون من الاقوالالمبتدعة المخالفة للشرع والعقل ولم يقل أحد منهم أن القرآن قديم

“ Yang dimaksud di sini bahwasanya imam Ahmad dan ulama sebelumnya dari Ahlus sunnah dan para pengikutnya, berlepas diri dari pendapat-pendapat Ahlul bid’ah yang menyelisihi syare’at dan aqal, dan tidak seorang pun dari mereka mengatakan al-Quran ituqadim “. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah : 7/661)

Perhatikan : IbnuTaimiyyah mengatakan al-Quran itu tidak bersifat qadim. Inilah di antara bid’ah dhalalah yang dilakukan Ibnu Taimiyyah, Naudzu billahi min dzaalikal fahm, beranikah wahabi-salafi mengkafirkan IbnuTaimiyyah ??

Al-Imam al-Isfiraini (w418 H) mengatakan :

وأن تعلم أن كلام الله تعالى ليسى بحرف ولاصوت لأن الحرف والصوت يتضمنان جواز التقدم والتأخر، وذلك مستحيل على القديم سبحانه

“ Dan hendaknya kamu mengetahui bahwa sesungguhnya kalam Allah itu tidaklah dengan huruf dan suara karena huruf dan suara mengandung bolehnya pendahuluan dan pengakhiran, yang demikian itu mustahil bagi Allah yang Maha Qadim “. (at-Tabhsir fiddin : 102)

Dengan ini semakin jelas kerancuan akidah wahabi-salafi yang mengatas namakan imam Ahmad bin Hanbal,mereka hanya merusak citra baik madzhab Hanbali, mereka lah kaum hanabilah yang ekstrem dan ghulat dan kaum pembawa bid’ah dalam aqidah sebagaimana dinyatakan oleh imam Mula Ali al-Qari al-Hanafi (w 1014 H) :

ومبتدعة الحنابلة قالوا: كلامه حروف وأصوات تقوم بذاته وهو قديم،وبالغ بعضهم جهلاً حتى قال: الجلد والقرطاس قديمان فضلاً عن الصحف، وهذا قول باطلبالضرورة ومكابرة للحس للإحساس بتقدم الباء على السين في بسم الله ونحوه”

“ Para ahli bid’ah darikalangan Hanabilah berkata : “ Kalam Allah berupa huruf dan suara yang berdiri dalam Dzat-Nya dan itu qadim. Bahkan ada yang sampai berlebihan kebodohan mereka dengan berkata : “ Jilid dan Kertas itu bersifat qadim apalagi mushaf “,ini adalah ucapan BATHIL  secara pastidan sifat mukabarah…” (Syarh al-Fiqh al-Akbar : 29-35)

LAMBANG AGAMA YANG DI BISNISKAN, SIAPA YANG UNTUNG?

Aksi bela bendera Tauhid sudah mulai meredam. Penulis ingin mengajak berpikir di luar konteks apakah tindakan pembakaran bendera termasuk penistaan agama, atau sah saja membakar bendera organisasi yang dilarang di Indonesia. Kajian tentang itu sudah terlalu banyak, semua tidak ada yang salah karena berbeda persepsi dalam memahami fenomena tersebut.

Ada hal yang menarik bagi penulis, daripada memperdebatkan perbedaan persepsi tentang anggapan penistaan agama yang tidak ada ujungnya. Pertanyaan sederhana, sebenarnya pihak mana saja yang diuntungkan dari aksi bela bendera tauhid tersebut? Jelas, bagi penulis salah satu pihak yang diuntungkan dari aksi tersebut adalah penjual topi dan bendera yang bertuliskan kalimat Tauhid. Berarti aksi tersebut membawa berkah terhadap pebisnis topi dan bendera bertuliskan Tauhid, bukan? Apakah juga menguntungkan dalam dunia politik praktis, penulis yakin, sebagian besar orang mengetahui jawabannya.

Ada fenomena menarik kalau kita perhatikan dari aksi bela bendera Tauhid tersebut.  Aksi yang bersifat membela agama namun mempunyai keuntungan bagi sebagian orang. Dari kasus tersebut, ada proses komodifikasi simbol agama kemudian menimbulkan keuntungan bagi sebagian orang.

Komodifikasi agama banyak dilakukan masyarakat Islam di Indonesia untuk kepentingan ekonomi kelompok tertentu atau perusahaan. Misalnya, dengan memakai simbol-simbol agama, banyak perusahaan yang mengembangkan bisnisnya, misalnya bank syariah, hijab syar’i dan lain sebagainya. Ada pandangan, dengan menggunakan produk atau layanan yang mempunyai nuansa islami, dinilai menambah tingkat spiritualitas seseorang.

Komodifikasi Simbol Agama

Greg Fealy dalam tulisannya “Consuming Islam: Commodefied Religion and Aspirational Peiteism in Contemporary” yang diterbitkan oleh ISEAS Publishing, banyak penemuan menarik tentang komodifikasi agama. Dari komodifikasi agama kemudian muncullah ekonomi Islam. Ada yang berpandangan bahwa ekonomi Islam dimoderasi oleh nilai-nilai keadilan sosial dan kesejahteraan spiritual, tidak cenderung materialistik dan tidak hanya untuk kepentingan pribadi semata. Kemudian muncullah pelabelan “syariah” dalam berbagai aspek produk dan layanan masyarakat.

Konsumsi masyarakat terhadap komodifikasi agama memiliki pengaruh secara ekonomi dan budaya. Hasil temuan Greg Fealy, banyak produk atau jasa yang memiliki simbol agama atau syariah yang mengalami perkembangan. Asuransi jiwa tumbuh 34 persen per tahun sejak 2002, dibandingkan dengan 25 persen asuransi konvensional. Bank konvensional kemudian juga memiliki bank yang berlabel syariah. Kredit islami juga tumbuh secara signifikan, pada sekitar tahun 2005 an.

Dalam bidang pendidikan keagamaan misalnya, khotbah yang identik dengan imbalan finansial yang murah hati, namun memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap pengembangan ekonomi. Penemuan Greg Fealy, dengan mencontohkan Aa Gym pada tahun 2005-2006, ia menjalankan bisnis yang dibangun di sekitar lingkungannya. Selain sebagai da’i, ia juga memiliki penerbitan, rekaman, pendidikan Islam, multi-level marketing, program radio sindikasi, layanan telepon seluler. Namun, ketika Aa Gym berpoligami, menurut Greg Fealy, bisnisnya mulai menurun.

Begitu juga dengan bidang yang lain, ketika menggunakan komodifikasi agama banyak mengalami peningkatan pada saat itu. Layanan kesehatan tradisional Islam berkembang, seperti rukyat, obat herbal dan bekam yang sering ditampilkan di televisi. Pada saat itu, tren jasa menerima khotbah dari dai favorit melalui telepon seluler pun mulai marak. Agama yang dikomodifikasi, mempunyai pengaruh terhadap budaya dan ekonomi. Mengingat saat ini ekspresi keagamaan sangat kental dengan masyarakat.

Dari komodifikasi agama tersebut muncullah budaya baru, yaitu orang yang mengekspresikan keagamaannya melalui atribut. Ada yang mengatakan bahwa komodifikasi Islam mencerminkan meningkatnya religiusitas. Ada juga yang berpandangan bahwa sebagian kaum muslim ingin membohongi dengan produk-produk Islam sebagai bagian dari ekspresi iman mereka. Kalau beragama hanya dipahami sebatas atribut dari barang yang ia konsumsi, menurut Greg Fealy akan mengarah pada sikap yang eksklusivisme dan radikalisme yang lebih besar ketika kaum muslim mendefinisikan diri mereka secara sempit menggunakan kriteria atribut luar agama.

Adanya komodifikasi Islam karena dipengaruhi dengan adanya perkembangan modernisasi, urbanisasi dan globalisasi. Peluang tersebut dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk memenuhi kebutuhan pasar. Para pelaku bisnis memanfaatkan kebutuhan orang dalam beragama. Misalnya, bagi orang yang tidak sempat untuk pergi ke pengajian dan menyempatkan waktu untuk belajar agama, mereka menyediakan jasa ceramah agama melalui radio, televisi dan media sosial.

Gagasan awal dari komodifikasi Islam yang ingin membawa keadilan ekonomi dan tidak mementingkan individu, ternyata belum maksimal terjadi di Indonesia, walaupun komodifikasi agama marak dilakukan. Dampak dari komodifikasi Islam tersebut tidak merata bagi Greg Fealy. Tulisan yang diterbitkan pada tahun 2008 tersebut menggambarkan bagaimana pembiayaan berbasis syariah tidak lebih dari 2 persen dari semua sektor ekonomi nasional dan Indonesia.

Dari temuan Greg Fealy, yang dinamakan ekonomi Islam dapat diklasifikasikan menjadi dua. Pertama, mereka yang memakai simbol syariah dalam produk dan layanannya, walaupun menggunakan sistem ekonomi kapitalis. Kedua, mereka yang tidak menggunakan label syariah, namun memiliki sistem pengelolaan keuangan yang syariah.

Sumber Kedangkalan

Komodifikasi Islam yang berupa produk dan layanan yang berbasis atribut Islam, yang hanya dipahami sebagai aktivitas spiritual akan menimbulkan kedangkalan. Orang yang berpandangan bahwa aktivitas keagamaan yang cukup melalui konsumsi mereka terhadap produk yang berlabel islami, akan menimbulkan eksklusivisme dalam beragama. Orang yang tidak mengkonsumsi produk tersebut, dinilai tidak Islami.

Dalam beragama tidak cukup melalui atribut yang mencerminkan Islam. Ada hal yang lebih penting, yaitu perilaku. Percuma ketika menggunakan atribut agama dari ujung kepala sampai kaki, namun perilakunya mudah menyalahkan orang, melakukan kekerasan dan menimbulkan fitnah. Saat ini kita memahami, sekelompok orang yang melakukan gerakan Indonesia tanpa pacaran, namun menjual produk-produk untuk menunjang bisnis di dalamnya. Atau, ketika orang berhijrah diidentikkan dengan pakaian dan style penampilan mereka tanpa memerhatikan aspek yang lain daripada menghargai perbedaan. Maka hijrah memiliki gaya tersendiri dalam berpakaian.

INTOLERANSI MENINGKAT? EFEK SALAH TAFSIR AGAMA ATAU POLITIK?

Mengapa kekerasan atas nama agama atau intoleransi berbasis agama belakangan ini seolah meningkat? Saya menyadari pertanyaan semacam ini seakan menuduh agama dalam sejarahnya selalu identik dengan kekerasan. Namun apabila pertanyaan di atas tidak dikemukakan, tentu sangat sulit menemukan benang merah dari persoalan-persoalan klasik yang telah berjalan selama kurun waktu ratusan tahun.

Jose Casanova, di dalam laporan penelitiannya “Public Religion in The Modern World” (2001:23) menyimpulkan bahwa agama-agama yang ada di dunia saat ini telah mengalami ambiguitas yang begitu nyata. Ia menyatakan bahwa agama pada satu sisi memiliki karakteristik yang bersifat “Exclusive, particularist, dan perimordial”, namun pada sisi yang lain agama juga memiliki karakteristik yang bersifat “Inclusive, universalist, dan transcending”.

Dari beberapa karakteristik yang telah dijelaskan oleh Casanova tersebut kemudian dapat diidentifikasi bahwa agama tak ubahnya sebuah pedang yang mempunyai dua mata. Di mana pada satu sisi sebagai perekat umat, namun pada sisi yang lain, ia juga menjadi titik pemicu konflik.

Jika merujuk pada sejarah perjalanan agama-agama besar dunia, seringkali kita dapatkan nuansa kekerasan dengan jumlah korban yang sangat besar. Masih segar di ingatan kita perseteruan antara agama Islam dengan Kristen yang memicu terjadinya Perang Salib. Kekerasan yang menurut sebagian para pemuka kedua agama tersebut dianggap sebagai perang suci telah memakan korban yang tak sedikit, ratusan ribu atau bahkan mungkin jutaan nyawa dalam rentan waktu dua abad. Hal inil yang kemudian disimpulkan oleh Casanova sebagai bentuk anomali yang terjadi di kalangan para pemeluk agama-agama.

Praktik kekerasan yang dilakukan oleh beberapa oknum dengan mengatasnamakan agama tertentu, biasanya menggunakan dalil teologis untuk melegitimasi setiap tindakan yang dilakukan. Walaupun di dalam realitanya, pemahaman terhadap dalil teologis yang telah dikemukakan terindikasi absurd, namun dengan semangat yang begitu besar, tetap saja yang bersangkutan bersikukuh bahwa apa yang ditawarkannya itu benar.

Persoalan yang terjadi di Tanjung Balai, Sumatera, beberapa waktu lalu menurut sebagian pengamat erat kaitannya dengan suhu perpolitik di negeri ini. Dengan kata lain, pada peristiwa pembakaran Klenteng oleh beberapa oknum yang terjadi kemarin agama hanyalah elemen kecil yang diikutsertakan dalam konflik sosial atau beberapa hal lain yang belakangan dianggap meningkatkan eskalasi gesekan antar agama. Jika persoalan itu yang menjadi titik kulminasinya, maka dalam hal ini Georges Baladier (1984:18) menyatakan bahwa kelompok agama merupakan dimensi dari suasana politik.

Dalam hal ini agama sebagai alat kekuasaan yang dipakai untuk perjuangan politik. Oleh karena itu, ketika agama dijadikan sebagai sumber legitimasi yang jika meminjam istilah Jurgen Hebermas sebagai kelayakan sebuah pemangku politik untuk menjadi eksis, maka akan ada semacam kegiatan tukar menukar yang terjadi antara kekuasaan, pengakuan, dan ketaatan.

Oleh karena itu, dalam rangka mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan, setiap terjadi konflik bernuansa agama, masyarakat harus melihat dengan cerdas setiap fakta dan realita yang mengelilingi konflik tersebut. Atau dalam kata lain, ke depan masyarakat harus lebih mampu untuk melihat kekerasan agama yang sesungguhnya dengan kaca mata yang lebih jeli dengan mengkaji atau mendiskusikannya terlebih dahulu.

Apakah hal-hal tersebut murni karena kesalahan dalam memahami ajaran agama ataukah faktor politik?  Saya kira kita sudah tahu jawabannya. Wallahu A’lam bis Shawab.

TATA KRAMA ITU PENTING DALAM BERBANGSA DAN BERNEGARA

Dalam penerbitan perdana sebuah jurnal ilmiah bulanan  NU, yang diterbitkan tahun 1928 dan bertahan sampai tahun 60- an, KH M. Hasyim Asy’ari menuliskan fatwa beliau: bahwa kentongan (alat dari kayu yang dipukul hingga berbunyi nyaring) tidak dapat diperkenankan untuk memanggil sholat dalam hukum Islam. Dasar dari pendapatnya itu adalah kelangkaan hadis Nabi; biasanya disebut sebagai tidak adanya teks tertulis (dalil naqli) dalam hal ini. Dan dalam penerbitan bulan berikutnya, pendapat tersebut disanggah oleh wakil beliau Kyai Faqih dari Maskumambang, Gresik, yang menyatakan bahwa kentongan harus diperkenankan, karena ia dianalogi/ diqi’as-kan kepada beduk sebagai alat pemanggil sholat/ sembahyang. Karena beduk diperkenankan, atas adanya sumber tetulis (dalil naqli) berupa hadis Nabi Muhammad SAW. Mengenai adanya/ digunakannya alat tersebut pada jaman nabi, maka kentonganpun harus diperkenankan.

Segera setelah uraian Kyai Faqih itu muncul, KH M. Hasyim Asy’ari segera memanggil para ulama se Jombang dan para santri senior beliau berkumpul di pesantren Tebu Ireng, Jombang. Dan ia pun memerintahkan kedua artikel itu untuk dibacakan kepada para hadirin. Setelah itu, beliau menyatakan mereka dapat menggunakan salah satu dari kedua alat pemanggil itu dengan bebas. Yang beliau minta hanyalah satu hal saja, yaitu hendaknya di mesjid Tebu Ireng, Jombang kentongan itu tidak akan digunakan selama-lamanya. Pandangan beliau itu mencerminkan sikap sangat menghormati pendirian Kyai Faqih dari Maskumambang tersebut, dan bagaimana sikap itu didasarkan pada “kebenaran” yang beliau kenal.

Dalam bulan Maulid/ Rabi’ul Awal berikutnya, KH M. Hasyim Asy’ari diundang berceramah di pesantren Maskumambang. Tiga hari sebelumnya, para utusan Kyai Faqih Maskumambang menemui para ketua/ pimpinan ta’mir mesjid dan surau yang ada di kabupaten Gresik dengan membawa pesan beliau. Pesan itu adalah, selama Kyai M. Hasyim Asy’ari berada di kawasan kabupaten tersebut, semua kentongan yang ada harus diturunkan dari tempat bergantungnya alat tersebut. Sikap ini diambil beliau karena penghormatan beliau terhadap Kyai Hasyim Asy’ari, yang bagaimanapun juga adalah atasan beliau dalam berorganisasi. Kebenaran, tidak berarti hilangnya sikap menghormati pandangan seseorang, sebagai sebuah sikap tanda kematangan pribadi kedua tokoh tersebut.

*****

Sikap saling menghargai satu sama lain, antara kedua tokoh tersebut yaitu antara Rais Aam dan Wakil Rais Aam PBNU itu, menunjukkan tata krama yang sangat tinggi antara dua orang ulama yang berbeda pendapat, namun menghargai satu sama lain. Inilah yang justru tidak kita lihat saat ini, terlebih-lebih antara pemimpin gerakan Islam dewasa ini, yang tampak mencuat justru sikap saling menyalahkan, sehingga tidak terdapat kesatuan pendapat antara mereka.  Yang menonjol adalah perbedaan pendapat, bukan persamaan antara mereka. Penulis tidak tahu, haruskah kenyataan itu disayangkan  ataukah justru dibiarkan?

Mungkin hal itu adalah  “kehausan” yang penulis rasakan, adalah sisa-sisa dari sebuah nostalgia yang ada mengenai “keagungan” masa lampau belaka, tetapi bukankah seseorang berhak merasa seperti itu? Bukankah kitab suci Al Quran menyatakan; “sesungguhnya telah-Ku ciptakan kalian (dalam bentuk) lelaki dan perempuan dan Ku- jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa agar saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di hadapan Allah adalah yang paling bertaqwa” (Inna khalqna kum min dzakarin wa undza wa dzalanakum su’uban wa qaba illa li ta’arafu inna aqramakum inza allahi hattaqum). Ayat ini jelas membenarkan perbedaan pendapat di antara kaum muslimin. Karenanya, justru ayat ini menolak penyeragaman (uniformisasi) dalam pandangan kaum muslimin. Dan hal itu tercermin berdirinya sekian banyak kelompok yang ada dalam gerakan mereka, sepanjang sejarah Islam sendiri.

Namun Allah juga berfirman dalam kitab suci-Nya itu: “Dan berpeganglah kalian kepada tali Allah (secara) keseluruhan dan janganlah bercerai-berai/ terpecah belah” (wa tashimu bihabli allahi jami’an wa la tafaroqu), ayat ini menunjukkan kepada kita, bahwa yang dilarang bukannya perbedaan pandangan melainkan bersikap terpecah-belah satu dari yang lain. Hal ini diperkuat oleh sebuah ayat lain: ‘bekerjasamalah kalian dalam (bekerja untuk) kebaikan dan ketakwaan”(Ta’awanu alla al-birri wa al-taqwa) yang jelas-jelas mengharuskan kita melakukan koordinasi berbagai kegiatan. Tetapi, kerjasama seperti hanya dapat dilakukan oleh kepemimpinan tunggal dalam berbagai gerakan Islam.

*****

Masalahnya sekarang adalah langkanya kepemimpinan seperti itu. Para pimpinan gerakan Islam saling bertengkar, minimal hanya bersatu dalam ucapan, yang oleh seorang wartawan kita diungkapkan sebagai “basa-basi” belaka. Mengapakah demikian? Karena para pemimpin itu hanya mengejar ambisi pribadi belaka, dan jarang yang berpikir mengenai umat Islam secara keseluruhan, padahal sikap seperti itupun juga salah. Seharusnya, mereka berpikir tentang bagaimana melestarikan agama Islam sebagai budaya, melalui upaya melayani dan mewujudkan kepentingan seluruh bangsa. Ambisi politik masing-masing akan terwujud jika ada pengendalian diri, dan jika diletakkan dalanm kerangka kepntingan seluruh bangsa.

Dalam ajaran Islam dikenal istilah “ikhlas” dan ketulusan yang dimaksudkan oleh istilah tersebut adalah peleburan ambisi pribadi masing-masing ke dalam pelayanan kepentingan seluruh bangsa. Di sinilah justru harus ada kesepakatan antara para pemimpin berbagai gerakan/ organisasi Islam yang ada, dan ketundukkan kepada keputusan sang pemimpin dirumuskan. Untuk melakukan perumusan seperti itu, diperlakukan dua persyaratan sekaligus, yaitu kejujuran sikap dan ucapan, yang disertai dengan sikap “mengalah” kepada kepentingan berbagai gerakan organisasi itu. Tanpa kedua hal itu, sia-sialah upaya “menyatukan” umat Islam dalam sebuah kerangka perjuangan yang diperlukan.

Dalam hal ini, penulis lagi-lagi teringat kepada sebuah adagium yang sering dinyatakan berbagai kalangan, sebagi ucapan Nabi Muhammad SAW: “Tak ada agama tanpa kelompok, tak ada kelompok tanpa kepemimpinan dan tak ada kepemimpinan tanpa sang pemimpin” (La diina illa bizma’atin wa laa jam’ata illa bii immamatin wa-laa imammata illa bii imammin). Adagiumnya memang benar, walaupun sekelompok kecil pernah mengajukan klaim kepemimpinan itu dan minta diterima sebagi pemimpin. Namun sikap mereka yang memandang rendah kelompok lain, justru menggagalkan niatan tersebut, sedangkan kelompok-kelompok lain tidaklah memiliki kepemimpinan kohesif seperti itu. Herankah kita, jika wajah berbagai gerakan Islam di Tanah Air kita saat ini tampak tidak memiliki kepemimpinan yang jelas? Di sinilah kita perlu embangun kembali “kesatuan” umat (ummatan wahiditan). Mudah diucapkan, namun sulit diwujudkan bukan?

KONSEP IBNUL QOYYIM AL JAUZIYYAH DALAM MENATA HATI

Menurut Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan min Mashayidis Syaitan, hati manusia terbagi menjadi tiga:

  1. Qalbun Salim (Hati yang selamat), dikatakan selamat karena ia bersih dari berbagai syahwat yang berseberangan dengan perintah dan larangan Allah swt, bersih dari berbagai syubhat yang menyelisihi berita-Nya dan bersih dari menghambakan diri kepada selain-Nya. Jadi, ia adalah hati yang selamat dari perbuatan syirik, hanya mengikhlaskan penghambaan kepada Allah swt semata, baik dalam kehendak, cinta, tawakal, inabah (Taubat), merendahkan diri, khasyyah (takut), dan raja’ (pengharapan).
  2. Qalbun Mayyit (hati yang mati), ia adalah hati yang kosong dari kehidupan dan tidak mengetahui Rabb-nya. Ia selalu menuruti keinginan nafsu dan kesenangan diri, menghambakan diri kepada selain-Nya dalam cinta, takut, rida, dan benci. Hawa nafsu membuatnya tuli dan buta. Hatinya telah ditutup rapat oleh Allah, kelak di akhirat, ia akan disiksa dengan seburuk-buruknya siksaan.
  3. Qalbun Maridh (hati yang sakit). Ia hidup tetapi sakit. Terdapat dua unsur yang saling tarik menarik di dalamnya. Ketika ia berhasil memenangkan pertarungan itu, maka dalam hatinya sedang ada rasa cinta kepada Allah swt, keimanan, keikhlasan, ketakwaan dan tawakkal kepada-Nya. Di dalam hati yang sakit juga ada kecintaan pada nafsu, cinta pada jabatan, membuat kerusakan di bumi, dengki, takabbur, bangga diri dsb. Allah swt menjelaskan ketiga jenis hati itu dalam firman-Nya:

 وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (52) لِّيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِّلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ(53) وَلِيَعْلَمَ  الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

**dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasulpun dan tidak (pula) seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. **agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat. **dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran Itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan Sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.

Dalam ayat ini Allah swt menginformasikan bahwa dua diantaranya terkena fitnah dan hanya satu yang selamat. Dua hati tersebut adalah hati yang berpenyakit dan hati yang keras (mati). Sedangkan yang selamat adalah hati orang mukmin yang tunduk dan patuh pada Rabb-Nya. Berkenaan dengan ini, Ibn Qudamah mengatakan bahwa Abu Bakar menjadi orang paling utama setelah Nabi saw bukan karena shalat dan ibadah lainnya, tetapi karena sesuatu dalam hatinya yakni kebersihan hati.

Berikut ini amalan dan tips yang bisa kita lakukan untuk membentuk Qalbun Salim menurut Ibnul Qayyim:

    Senantiasa berdoa kepada Allah swt agar diberikan hati yang bersih dan suci; diantara do’a yang diajarkan Rasulullah saw adalah:

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

“Ya Allah berilah sifat takwa kepada jiwaku dan bersihkanlah ia, Engkaulah sebaik-baiknya jiwa yang menyucikan, Engkaulah pelindung dan penguasanya”.

    Belajarlah pada Ulama sebab pemahaman ulama terhadap al-Quran dan Hadis lebih baik dari pada pemahaman orang awam, sebagaimana Firman Allah swt; “… bertanyalah pada ulama (ahl al-dzikr) jika kamu tidak mengetahui” (An-Nahl:43)

    Berkumpul dan bergaul dengan komunitas yang mengantarkan pada kebaikan, karena kebaikan akan menular. Malik Ibn Dinar rahimahullah berkata;

صاحب خيار الناس تنجو مسلما وصاحب شرار الناس يوما فتندما

“Bergaulah dengan orang-orang baik, niscaya engkau akan menjadi seorang yang selamat, (namun) cobalah sehari saja engkau bergaul dengan orang-orang yang buruk (hatinya), maka niscaya engkau akan menyesal selamanya”

    Perbanyak mengkaji dan memperdalam tazkiyatun nafs dengan melakukan dua hal. Pertama, mensucikan jiwa kita dari sifat-sifat yang buruk (takhalliy) dan kedua, menghiasinya dengan sifat-sifat yang baik dan terpuji (tahalliy).

    Menyibukkan diri dalam ketaatan dan tidak melakukan hal yang sia-sia dan kurang bermanfaat. sebagaimana disabdakan dalam hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan al-Tirmidzi:

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

“Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang yaitu meninggalkan hal yang tidak bermanfaat padanya”.

WASIAT NABI MUHAMMAD SAW TENTANG MEREDAM AMARAH

Dalam dinamika kehidupan, setiap orang memiliki reaksi yang berbeda-beda dalam menyikapi keadaan. Terkhusus dalam hal menyikapi sesuatu yang tidak disenangi, ada yang langsung menghujat/ melabrak, ada pula yang meredam perasaan dengan menyembunyikan amarahnya di dalam hati, atau berusaha berlapang dada memaafkan orang yang telah membuatnya marah.

Yang saya sebutkan terakhir merupakan karakter sosok agung yang patut ditiru oleh semua umat manusia yakni Nabi Muhammad Saw. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Shafwan bin Umayyah merupakan sosok yang paling membenci Nabi Saw. Kendati demikian, Nabi tidak membalasanya dengan amarah, beliau memaafkan bahkan senantiasa melakukan kebaikan hingga hati Shafwan bin Umayyah luluh.

Dalam hadis disebutkan :

عَنْ صَفْوَانَ بْنِ أُمَيَّةَ ، قَالَ :  أَعْطَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ حُنَيْنٍ ، وَإِنَّهُ لَأَبْغَضُ النَّاسِ إِلَيَّ ، فَمَا زَالَ يُعْطِينِي حَتَّى صَارَ ، وَإِنَّهُ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ

Dari Shafwan bin Umayyah ia berkata: Rasulullah Saw memberikan sesuatu kepadaku pada perang Hunain dan ketika itu beliau adalah orang yang paling aku benci, beliau terus memberiku pemberian hingga beliau menjadi sosok yang paling aku cintai. (HR Ahmad)

Sejarah mencatat bahwa Shafwan bin Umayyah merupakan sosok pembesar Quraisy yang pada masa jahiliyah paling benci terhadap Rasulullah Saw, hingga pada akhirnya beliau masuk Islam dan menjadi pembela islam yang gigih. Itu semua salah satunya berkat perlakuan Nabi yang ketika ada orang yang tidak suka atau membencinya bahkan beliau membalas hal tersebut dengan kebaikan-kebaikan hingga hati yang membencinya menjadi luluh.

Anggapan bahwa Islam merupakan agama yang rahmat bagi semesta alam bukanlah isapan jempol semata. Hal ini setidaknya terlihat dari kisah yang dinarasikan dalam hadis di atas, bagaimana Nabi Muhammad Saw, sebagai sosok pembawa risalah telah memberikan contoh yang baik dalam mnegatur emosi.

Dalam kitab sunan an-Nasa’i pada kitab yang membahas masalah kebaikan dan kiat beretika (al-birr wal adab) diriwayatkan sebuah hadis sebagai berikut :

 عن أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عَلِّمْنِي شَيْئًا وَلَا تُكْثِرْ عَلَيَّ لَعَلِّي أَعِيهِ قَال لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ ذَلِكَ مِرَارًا كُلُّ ذَلِكَ يَقُولُ لَا تَغْضَبْ

Artinya : Dari Abu Hurairah (W.57 H) ia berkata; Seorang laki-laki menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Ajarkanlah sesuatu kepadaku, namun jangan engkau memperbanyaknya, sehingga aku mudah untuk mengingatnya.” Maka beliau pun bersabda: “Janganlah kamu marah.” Lalu beliau mengulang-ngulang ungkapan itu. (HR Bukhari dan al-Nasa’i)

Dalam surah an-Nisa juga dijelaskan bahwa di antara ciri orang bertakwa adalah piawai meredam amarah dan berlapang dada untuk memaafkan kesalahan manusia. Allah berfirman :

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang meredam amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (An-Nisa’ : 133-134)

Terakhir mari kita berharap semoga Allah menganugerahkan kita dengan mendapatkan sifat-sifat mulia yang disebutkan di atas. Meredam amarah melahirkan keramahan dan menghilangkan ketegangan antara kita dengan sesama. Wallahu A’lam.

MEWASPADAI TIGA JALAN MENUJU NERAKA

Dalam surah Al Mudatsir ayat 42-45, Al Qur’an dengan sangat menarik menceritakan perbincangan di antara para penghuni surga dan penghuni neraka pada hari kiamat.

Penghuni surga bertanya kepada penghuni neraka, ‘apa jalan yang membawamu masuk neraka?’ Penghuni neraka kemudian menjawab, ‘dulu kami tidak termasuk golongan orang-orang salat. Dan kami tidak memberi makan orang miskin. Dan kami menggunjing bersama para penggunjing’ (Q.S. Almudatsir: 42-45).

Percakapan yang sangat menarik dalam Alquran ini mengandaikan orang yang mengalami kehancuran spiritual dan karenanya masuk neraka Saqor, disebabkan oleh sikap abainya terhadap nilai-nilai agama dan sosial.

Dalam ayat ini, Alquran dengan ringkas menjelaskan sedikitnya ada tiga jalan menuju neraka yang amat berbahaya dan harus dihindari oleh setiap manusia yang beriman. Hal demikian harus dihindari agar tidak dianggap sebagai abai terhadap nilai-nilai religius dan sosial yang akan menjerumuskan seseorang ke dalam neraka atau kehancuran secara spritual.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa jalan pertama yang mempermudah dan memperlancar jalan menuju neraka ialah meninggalkan salat. Nabi Saw. sedari awal sudah mewanti-wanti secara keras dan tegas bahwa perbedaan muslim dan kafir dapat dilihat dari salat atau tidaknya seseorang.

Salat merupakan tiang sekaligus fondasi dasar agama. Orang yang tidak salat dengan sendirinya dapat dikategorikan sebagai orang yang tidak memiliki tiang agama dan karenanya rapuh secara keislaman dan keimanan.

Ibarat sebuah rumah yang mudah hancur karena fondasi dan tiangnya rapuh, seorang muslim yang tidak melakukan salat akan sangat rentan terjerumus ke dalam kehancuran spiritual. Terkait hal ini Nabi bersabda, “ perbedaan kafir atau tidaknya seseorang ditentukan berdasarkan pada salatnya” (HR. Bukhari).

Namun perlu diperhatikan bahwa melaksanakan salat saja tidak cukup untuk jaminan terhindar dari siksa neraka. Artinya, harus ada pengejawantahan nilai-nilai yang terkandung dalam salat.

Salat itu menyimbolkan dua hubungan sekaligus; pertama, hubungan baik kita dengan Allah yang disimbolkan dengan takbiratul ihram; kedua, hubungan baik kita dengan manusia yang disimbolkan dengan menengok ke kanan dan ke kiri saat salam di akhir salat. Orang yang tidak salat bisa jadi merupakan orang yang bersikap acuh tak acuh terhadap nilai-nilai spiritual dan sosial dan karenanya pantas untuk masuk neraka.

Berdasarkan pada dua simbol yang memiliki makna spiritual dan sosial sekaligus dalam salat ini, maka jalan kedua yang dapat menjerumuskan seseorang untuk masuk neraka ialah orang yang terkadang memperhatikan simbol pertama dalam salat (hablum minalllah) namun mengabaikan simbol kedua (hablun minannas).

Karena itu, jalan kedua yang membawa seseorang masuk ke neraka harus diperhatikan juga; yakni, tidak memberi makanan kepada orang miskin. Bila ada seorang muslim memberi makan orang miskin tetapi tidak salat, ia akan masuk neraka Saqor. Juga, bila ada orang Islam yang suka salat tetapi tidak pernah memberi makanan kepada orang miskin, dia pun akan masuk neraka Saqor.

Jadi jalan kedua yang menjerumuskan seseorang ke dalam neraka ialah tidak memiliki kepedulian sosial dan tidak peka terhadap masalah kemasyarakatan. Dengan demikian, agar terhindar dari masuk neraka, kita harus memiliki sikap kepedulian sosial yang tinggi dan peka terhadap problem ketimpangan  sosial. Seorang muslim bukan seorang yang hidup soliter, hidup menyendiri dan mengasingkan diri dari dunia sekeliling.

Seorang muslim ialah seorang yang mampu membaca ketimpangan-ketimpangan sosial yang terjadi di sekelilingnya dan karenanya ia bertindak untuk mengatasi persoalan tersebut. Memberi makan orang miskin merupakan salah satu solusi untuk mengatasi problem-problem sosial kemasyarakatan. Dan jika seseorang abai terhadap problem sosial ini, maka neraka Saqor adalah ancamannya.

Jalan ketiga yang dapat memperlancar perjalanan menuju neraka Saqor ialah menggunjing orang lain. Menurut para ahli tafsir perbuatan yang termasuk dalam kategori ini ialah mengadu domba, menyakiti hati orang lain atau menyebarkan desas-desus.

Melakukan obrolan-obrolan semacam ini akan melapangkan jalan bagi seseorang untuk masuk neraka. Dalam Alquran disebutkan, kalau kita mendengar obrolan semacam itu, ‘janganlah kamu duduk bersama mereka sampai obrolannya pindah kepada topik yang lain’ (Q.S. Annisa: 140).

Menggunjing kejelekan orang lain, mengadu domba, menyebar fitnah atau desas-desus dapat dikategorikan sebagai usaha untuk memperkeruh hubungan baik antara sesama elemen masyarakat.

Sementara itu, Alquran selalu menegaskan bahwa menggunjing kejelekan orang lain sama saja dengan memakan dagingnya secara mentah-mentah dan itu juga sama saja artinya dengan menganggu stabilitas sosial. Jika seorang muslim melakukan itu, meski ia salat dan memberi makan orang miskin, ia tetap akan masuk neraka.

Dengan demikian ketiga jalan masuk neraka yang disebut Alquran ini merupakan peringatan sekaligus nasihat untuk kita semua agar selalu menghindarinya dan melakukan amalan-amalan sebaliknya.

Hal demikian dilakukan agar kita semua mendapat surganya; Pertama, melaksanakan salat baik sunnah maupun wajib dengan memahami betul-betul bahwa tujuan daripada salat ialah mencegah dari perbuatan keji dan munkar; Kedua, sering berderma kepada kaum papa dan peduli kepada problem ketimpangan sosial.

Ketiga, melakukan hubungan baik dengan orang lain dengan tidak mengadu domba, menyakiti hati orang lain atau menyebarkan desas-sesus. Tiga hal ini, yang merupakan kebalikan dari tiga jalan menuju neraka, merupakan nilai yang harus kita tanam kuat-kuat dalam diri kita agar kehidupan kita selalu dalam naungan, berkah dan rahmat dari Allah SWT.

TREND BAHASA DALAM KEHIDUPAN DAN PERGAULAN

Dewasa ini ,bahasa merupakan instrumen terpenting dalam kehidupan manusia.Manusia tidak bisa hidup tanpa bahasa,baik secara lisan maupun tulisan .Bahasa sebagai alat komunikasi sosial dalam kehidupan manusia. Bahasa adalah simbol–simbol yang digunakan untuk menyatakan  gagasan, ide dan perasaan orang kepada orang lain. Sejak lahir manusia sudah diajarkan berbahasa dalam  kehidupan sehari-hari mulai saat bagun pagi-pagi sampai menginjak malam waktu beristirahat, manusia tidak pernah lepas  memakai bahasa. Maka bahasa sangatlah berguna bagi manusia untuk melakukan aktifitasnya.‎Bahasa lisan merupakan bahasa yang interaksinya secara langsung. Adanya bahasa lisan dapatdikaitkan dengan berbicara karena merupakan simbol dari bahasa lisan. Sedangkan bahasa tulisan merupakan bahasa yang digunakan secara tidak langsung ,seperti  yang terdapat pada jejaring sosial bahasa tulisan melalui jejaring sosial yaitu situs pertemanan di facebook ataupun twitter.Pada zaman teknologi yang semakin maju ,mulailah bahasa lisan ataupun bahasa tulisan menjadi semakin naik daun terutama dalam hal gaya bahasa dijejaring  sosial.Istilah bahasa tersebut adalah bahasa alay yang banyak digunakan oleh para remaja. Berkaitan dengan jejaring sosial macam facebook ataupun twitter yang merupakan bahasa yang banyak  digunakan oleh manusia terutama kalangan remaja.Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi jarak jauh dengan internet melalui jejaring sosial ini.

Di samping itu, perkembangan era globalisasi ini  yang menuntut anak remaja selalu up date juga disinyalir menjadi salah satu penyebab pesatnya penyebaran virus alay. Nggak alay, nggak gaul. Hal ini dipengaruhi juga oleh  semakin berkembangnya teknologi, terutama berkembangnya situs jejaring sosial, seperti facebook dan twitter .Dan semakin lama bahasa alay tersebut terus berkembang dan berganti tren. bahasa ini muncul dikalangan remaja, yang disebut dengan bahasa “Alay”. Kemunculannya dapat dikatakan fenomenal, karena cukup menyita perhatian. Bahasa baru ini seolah menggeser penggunaan bahasa Indonesia dikalangan segelintir remaja. ‎Sehubungan dengan semakin maraknya penggunaan bahasa gaul yang digunakan oleh kalangan remaja dan sudah terdengar norak dimasyarakat luas tapi masih saja digunakan para remaja untuk menulis dijejaring sosial,sehingga  perlu adanya tindakan dari semua pihak yang peduli terhadap eksistensi kesantunan berbahasa.Dari sejak lahir hingga kini,bahasa masih tetap terasa kesulitan untuk berbahasa yang indah dan santun.Modifikasi bahasa dalam bentuk alay ternyata membawa sinyal ancaman serius terhadap bahasa terutama dikalangan remaja.

Hal tersebut sangatlah memperhatinkan karena remaja adalah generasi bangsa apabila bahasa mereka alay ini semakin marak maka akan berdampak pada bahasa yang tidak baik dan kurang sopan sekaligus pertanda semakin merosotnya kemampuan berbahasa Indonesia di kalangan generasi muda.

Allah   berfirman:

يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُوااتَّقُوااللَّهَوَقُولُواقَوْلًاسَدِيدًايُصْلِحْلَكُمْأَعْمَالَكُمْوَيَغْفِرْلَكُمْذُنُوبَكُمْۗوَمَنيُطِعِاللَّهَوَرَسُولَهُفَقَدْفَازَفَوْزًاعَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” [Al-Ahzab : 70-71]‎‎

Dari ayat diatas terlihat jelas bahwa Alloh memerintahkan kita berkata (berbahasa ) dengan benar,sehingga dapat disimpulkan bahwa bahasa alay merupakan bahasa yang tidak baik dan kurang benar karena secara tidak sadar bahasa alay dalam dunia maya ( jejaring sosial) akan dapat mempengaruhi terhadap dunia nyata terutama pada perkembangan bahasa indonesia yang baik dan benar dikalangan remaja .Dan dizaman sekarang kebutuhan akan berbahasa yang baik dan benar sangatlah diperlukan bagi warga negara indonesia , karena bahasa indonesia adalah bahasa nasional yang harus dipertahankan dan dilestarikan sebagai identitas bangsa  terutama untuk generasi selanjutnya.‎

Mempelajari bahasa asing, demi sebuah kemaslahatan menghindari makar [tipu daya) musuh-musuh Islam, maka hal ini diperbolehkan.

Jika ada kalangan yang menganggap bahwa orang-orang kafir Barat sebagai penjajah atau musuh bagi umat Islam, justru bagian dari strategi agar selamat dari kejahatan mereka seharusnya menguasai bahasa mereka.

Salah satu manfaatnya, dengan menguasai bahasa mereka. para aktivis bisa mendapatkan informasi-informasi penting, guna menangkal makar [tipu daya) mereka.

Rosululloh Sholallohu  ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ خَارِجَةَ بْنِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ أَبِيهِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَتَعَلَّمَ لَهُ كَلِمَاتِ كِتَابِ يَهُودَ. قَالَ « إِنِّى وَاللَّهِ مَا آمَنُ يَهُودَ عَلَى كِتَابٍ ». قَالَ فَمَا مَرَّ بِى نِصْفُ شَهْرٍ حَتَّى تَعَلَّمْتُهُ لَهُ قَالَ فَلَمَّا تَعَلَّمْتُهُ كَانَ إِذَا كَتَبَ إِلَى يَهُودَ كَتَبْتُ إِلَيْهِمْ وَإِذَا كَتَبُوا إِلَيْهِ قَرَأْتُ لَهُ كِتَابَهُمْ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dari Kharijah bin Zaid bin Tsabit, dari ayahnya; Zaid bin Tsabit, ia berkata: “Rasulullah ShalAllahu alaihi wa sallam menyuruhku untuk mempelajari -untuk nya- kalimat-kalimat [bahasa) dari buku [suratnya) orang Yahudi, nya berkata: “Demi Allah, aku tidak merasa aman dari [pengkhianatan) yahudi atas suratku.” Maka tidak sampai setengah bulan aku sudah mampu menguasai bahasa mereka. Ketika aku sudah menguasainya, maka jika nya menulis surat untuk yahudi maka aku yang menuliskan untuk nya. Dan ketika mereka menulis surat untuk nya maka aku yang membacakannya kepada nya.” Abu Isa mengatakan hadits ini hasan shahih. [HR. At Tirmidzi no. 2933).

Dalam riwayat lain:

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَعَلَّمَ السُّرْيَانِيَّةَ

“Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mempelajari bahasa Suryani.” [HR. At-Tirmidzi: 2639).

Al-Allamah Al-MubMirasfuri berkata:

قال القارىء قيل فيه دليل على جواز تعلم ما هو حرام في شرعنا للتوقي والحذر عن الوقوع في الشر  كذا ذكره الطيبي في ذيل كلام المظهر وهو غير ظاهر إذ لا يعرف في الشرع تحريم تعلم لغة من اللغات سريانية أو عبرانية أو هندية أو تركية أو فارسية وقد قال تعالى ومن آياته خلق السماوات والأرض واختلاف ألسنتكم أي لغاتكم بل هو من جملة المباحات نعم يعد من اللغو ومما لا يعني وهو مذموم عند أرباب الكمال إلا إذا ترتب عليه فائدة فحينئذ يستحب كما يستفاد من الحديث انتهى

“Al-Qari menyatakan bahwa di dalam hadits ini terdapat dalil atas bolehnya mempelajari sesuatu yang haram dalam syariat kita untuk berhati-hati dan berjaga-jaga dari terjatuh dalam keburukan. Demikianlah disebutkan oleh Ath-Thibi dalam dzail ucapan Al-Mudzhir. Ucapan nya ini tidak jelas karena tidak diketahui dalam syara’ ini sebuah dalil yang yang mengharamkan mempelajari satu bahasa pun dari bahasa-bahasa Suryani, Ibrani, India, Turki ataupun Persia. Dan Allah U berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan lisanmu” maksudnya adalah bahasa-bahasa kamu. Bahkan itu [mempelajari bahasa-bahasa Ajam) termasuk dari perkara mubah. Benar, itu bisa dianggap sesuatu yang sia-sia sehingga mempelajarinya adalah tercela menurut orang-orang yang menginginkan kesempurnaan. Kecuali jika terdapat faidah yang berturut-turut dari mempelajarinya maka ketika itu dianjurkan [mempelajarinya) sebagaimana faidah yang dapat diambil dari hadits ini. Selesai.” [Tuhfatul Ahwadzi: 7/413).

Ulama Hadits, Syeikh Sulaiman bin Nashir Al-Ulwan berkata tentang hadits di atas,

وهو دليل على جواز تعلم اللغة الأجنبية للمصلحة والحاجة وهذا لا ينازع فيه أهل العلم

Ini adalah dalil dibolehkannya mempelajari bahasa asing untuk kemaslahatan dan adanya kebutuhan, ahlu ilmipun tidak memperdebatkan hal ini.

Bahasa sebagai wasilah dalam berdakwah kepada umat manusia, maka mempelajari bahasa asing juga diperbolehkan. Sebab, para da’i seyogyanya berdakwah kepada mereka yang tidak memahami bahasa Arab dengan menggunakan bahasa kaumnya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. Ibrahim: 4).

Al-Imam Qatadah [seorang ulama tabiin) berkata:

قوله:[وما أرسلنا من رسول إلا بلسان قومه) ، أي بلغة قومه ما كانت . قال الله عز وجلّ:[ليبين لهم) الذي أرسل إليهم ، ليتخذ بذلك الحجة

“Firman Allah: “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya” maksudnya adalah dengan bahasa kaumnya apapun bahasanya. Dan firman Allah: “supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka” maksudnya adalah agar ia [penjelasan tersebut) dijadikan sebagai hujjah.”[HR. Ibnu Jarir: 16/517]‎

Secara umum bahasa dapat didefinisikan sebagai lambang atau simbol. Pengertian lain dari bahasa adalah alat komunikasi yang dihasilkan oleh alat ucap pada manusia. Perlu diketahui bahwa bahasa terdiri dari kata-kata atau kumpulan kata. Masing-masing mempunyai makna, yaitu hubungan abstrak antara kata sebagai lambang dengan objek atau konsep yang diwakili kumpulan kata atau kosakata itu. Pada waktu kita berbicara atau menulis, kata-kata yang kita ucapkan atau kita tulis tidak tersusun begitu saja, melainkan mengikuti aturan yang ada. Untuk mengungkapkan gagasan,pikiran atau perasaan ita harus memiliki kata-kata yang tepat barulah kita mulai menyusunnya.‎

Secara sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang terlintas di dalam hati. Namun, lebih jauh bahasa bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan. Dalam studi sosiolinguistik, bahasa diartikan sebagai sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi.

Bahasa pun mepunyai beberapa pengertian yang didefinisikan oleh para ahli, berikut ini mengenaipenjelasan pengertian dari beberapa ahli mengenai bahasa.         .

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Bahasa adalah sistem bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.

Menurut Carrol, Bahasa adalah sebuah sistem berstruktural mengenai bunyi dan urutan bunyi bahasa yang sifatnya manasuka, yang digunakan, atau yang dapat digunakan dalam komunikasi antar individu oleh sekelompok manusia dan yang secara agak tuntas memberi nama kepada benda-benda, peristiwa-peristiwa, dan proses-proses dalam lingkungan hidup manusia. ‎

Pada waktu kita berbicara atau menulis, kata-kata yang kita ucapkan atau kita tulis tidak tersusun begitusaja, melainkan mengikuti aturan yangada.Untuk mengungkapkan gagasan, pikiran atau perasaan, kitaharus memilih kata-kata yang tepat dan menyusun kata-kata itu sesuai dengan aturan bahasa. Seperangkataturan yang mendasari pemakaian bahasa, atau yang kita gunakan sebagai pedoman berbahasa inilah yangdisebut tata bahasa.

Makna Alay

Alay berasal dari kata Anak Layangan. Bahasa Alay bisa dikatakan bahasa kampungan, karena memang bahasa tersebut sungguh-sungguh tidak mengenal etika berbahasa dan biasanya yang bermain layangan adalah anak-anak kampung (orang kota juga sering, namun kota pinggiran). Apabila kalangan remaja mengunakan bahasa Alay secara tidak langsung telah melecehkan lawan bicara mereka baik secara tulisan  ataupun lisan Pada umumnya bahasa alay lebih  nampak dalam bentuk tulisan.

Alay, Alah lebay, Anak Layu, atau Anak kelayapan yang menghubungkannya dengan anak Jarpul (Jarang Pulang). Tapi yang paling santera adalah anak layangan. Dominannya, istilah ini untuk menggambarkan anak yang sok  keren, secara fashion, karya (musik) maupun kelakuan secaraumum.Konon asal usulnya, alay diartikan “anak kampong” karena anak kampung yang rata-rata berambut merah dan berkulit sawo gelap karena kebanyakan main layangan.

Salah satu cirri dari alay tersebut adalah tulisannya yang aneh dan di luar nalar serta akal sehat. Di sini Penulis akan mengklasifikasikan alay-alay kebeberapa tingkatan atau strata menurut dari tulisan mereka (di sini saya bukan mau membahas alay dari wajah atau penampilannya, wajah adalah pemberian dari Tuhan yang merupakan anugerah untuk manusia. Kalau tulisan emang biasanya dibuat oleh para alay itu sendiri).

Tulisan gaya alay biasa dengan mudah ditemukan diblog dan forum di internet. Semua kata dan kalimat ‘dijungkir balikkan’ begitu saja dengan memadukan huruf dan angka.Penulisan gaya alay atau anak lebay tidak membutuhkan standar baku atau panduan khusus, semua dilakukan suka-suka dan bebas saja.Sepertinya inilah tren generasi alay.

Berikut adalah pengertian alay menurut beberapa ahli;

Menurut definisi Koentjara Ningrat, Alay adalah gejala yang dialami pemuda-pemudi Indonesia, yang ingin diakui statusnya diantara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah   gaya tulisan, dan gaya berpakain, sekaligus meningkatkan kenarsisan, yang cukup mengganggu masyarakat dunia maya            (baca:   Pengguna internet sejati,kayak blogger dan kaskuser). Diharapkan sifat ini segera hilang, jika tidak akan mengganggu masyarakat sekitar.

Alay adalah singkatan dari Anak layangan, Alah lebay, Anak layu atau Anak kelayapan yang menghubungkannya dengan anak jarpul (Jarang Pulang). Tapi yang paling terkenal adalah Anak layangan.Dominannya,istilah ini menggambarkan anak yang menganggap dirinya keren secara gaya busananya.

Pesatnya perkembangan  teknologi dizaman modern ini ,penggunaan jejaring sosial lewat internet ini banyak diminati kalangan remaja. Jumlah pengguna bahasa Alay menunjukkan semakin akrabnya genersai muda Indonesia dengan dunia maya tersebut. Munculnya bahasa Alay juga menunjukkan adanya perkembangan zaman yang dinamis, karena suatu bahasa harus menyesuaikan dengan masyarakat penggunanya agar tetap eksis.

Akan tetapi, munculnya bahasa Alay juga merupakan sinyal ancaman yangsangat serius terhadap bahasa Indonesia dan pertanda semakin buruknya kemampuan berbahasa generasi muda zaman sekarang. Dalam ilmu linguistik memang dikenal adanya beragam-ragam bahasa baku dan tidak baku. Bahasa baku biasnya digunakan dalm acara-acara yang kurang formal. Akan tetapi bahasa Alay merupakan bahasa gaul yang tidak mengindah.

Tata bahasa indonesia pada saat ini sudah banyak mengalami perubahan. Masyarakat Indonesia khususnya para remaja, sudah banyak kesulitan dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Perubahan tersebut terjadi dikarenakan adanya penggunaan bahasa baru yang mereka anggap sebagai kreativitas . Jika mereka tidak menggunakannya, mereka takut dibilang ketinggalan zaman atau tidak gaul. Salah satu dari penyimpangan bahasa tersebut diantaranya adalah digunakannya bahasa Alay. Sehingga banyak aspek yang harus segera diperbaiki dan dibenahi.

Bahasa Alay secara langsung maupun tidak telah mengubah masyarakat Indonesia untuk tidak mempergunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

“Tiap generasi atau masa selalu muncul bahasa sandi yang berlaku dalam suatu komunitas kecil atau besar. Bahasa sandi suatu komunitas bisa berumur pendek, tetapi bisa juga berumur panjang.”

Saran

Sebaiknya bahasa Alay dipergunakan pada situasi yang tidak formal seperti ketika kita sedang berbicara dengan teman. Atau  pada komunitas yang mengerti dengan sandi bahasa Alay tersebut. Kita boleh menggunakannya, akan tetapi jangan sampai menghilangkan budaya berbahasa Indonesia. Karena bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi kenegaraan dan lambang dari identitas nasional, yang kedudukannya tercantum dalam Sumpah Pemuda dan UUD 1945 Pasal 36 sebagai bahasa Pesatuan bahasa Indonesia.

Sebenarnya sah-sah saja bagi mereka (terutama remaja) yang menggunakan bahasa alay, karena hal tersebut merupakan bentuk kreatifitas yang mereka buat. Namun sebaiknya penggunaan bahasa alay dapat digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi atau tidak digunakan pada situasi-situasi yang formal. Misalnya pada saat berbicara dengan teman. Teman disini adalah mereka yang mengetahui dan mengerti bahasa alay tersebut. Tetapi juga jangan sampai menghilangkan budaya berbahasa Indonesia kita. Karena biar bagaimanapun bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa kebanggaan kita dan wajib untuk dijaga serta dilestarikan.‎

Mempelajari bahasa asing hanya sekedar mengikuti trend, maka hal ini jelas dilarang. Mengingat di era globalisasi sekarang ini, westernisasi terjadi secara massif. Budaya Barat yang bertentangan dengan Islam, diadopsi oleh para remaja, seperti life style yang akrab dengan maksiat dan mode berpakaian seksi, termasuk cara berbicara.

Umar bin Al-Khaththab -RadhiyAllahu ‘anhu- berkata:

لاَ تَعَلَّمُوا رَطَانَةَ الأَعَاجِمِ وَلاَ تَدْخُلُوا عَلَى الْمُشْرِكِينَ فِى كَنَائِسِهِمْ يَوْمَ عِيدِهِمْ فَإِنَّ السُّخْطَةَ تَنْزِلُ عَلَيْهِمْ.

“Janganlah kalian mempelajari ‘rathanah’ [bercakap-bercakap) bahasa Ajam. Dan janganlah kalian memasuki gereja-gereja orang-orang musyrik ketika hari raya mereka karena murka [Allah) turun kepada mereka.” [HR. Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 19333 [9/234), Abdur Razzaq dalam Mushannafnya: 1609 [1/411) dan isnadnya di-shahih-kan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidla’ Shirathil Mustaqim: 199).

Dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar -RadhiyAllahu ‘anhuma- berkata:

أنه كره رطانة الأعاجم

“Bahwa Ia [Ibnu Umar) membenci bercakap-cakap dengan bahasa Ajam.” [Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Kitabul Adab: 53 [1/64) dari Ibnu Numair dari Al-Umari dari Nafi’).

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah -Rahimahullah- berkata:

وأما اعتياد الخطاب بغير العربية التي هي شعار الإسلام ولغة القرآن حتى يصير ذلك عادة للمصر وأهله ولأهل الدار وللرجل مع صاحبه ولأهل السوق أو للأمراء أو لأهل الديوان أو لأهل الفقه فلا ريب أن هذا مكروه فإنه من التشبه بالأعاجم وهو مكروه كما تقدم

“Dan adapun membiasakan berbicara dengan selain bahasa Arab yang merupakan syi’ar Al-Islam dan bahasa Al-Quran sampai bahasa tersebut menjadi adat [kebiasaan) bagi suatu negeri dan penduduknya, juga bagi penghuni rumah tangga, juga antara seseorang dengan temannya, bagi penduduk pasar, bagi pemerintahan atau dinas pemerintah atau menjadi kebiasaan bagi ahli fikih, maka tidak diragukan lagi bahwa ini [membiasakan selain bahasa Arab) adalah dibenci karena termasuk tasyabbuh dengan orang-orang Ajam dan perkara tersebut adalah dibenci sebagaimana keterangan terdahulu.” [Iqtidla’ Shirathil Mustaqim: 206).

Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa mempelajari bahasa asing tidak secara mutlak diharamkan. Terkadang mempelejari bahasa asing bahkan menjadi kebutuhan, demi kemaslahatan, mencegah makar dan mendakwahkan agama Islam.

Namun, mempelajari bahasa asing hanya sekedar mengikuti trend Barat sehingga jauh dari mendatangkan manfaat, maka jelas hal ini adalah haram.

Oleh sebab itu, maka seyogyanya kaum Muslimin memiliki niat yang lurus dalam mempelajari bahasa asing, agar terhindar dari dosa. Hal ini sebagaimana dalam hadits Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam,

عن عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ – رضى الله عنه – قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar bin Khathab berkata : “Saya mendengar Rosululloh bersabda : “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang itu tergantung terhadap apa yang dia niatkan, maka barang siapa yang  hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu untuk Allah dan Rasul Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia maka dia akan mendapatkannya atau hijrahnya untuk seorang wanita maka dia akan mekawininya, maka hijrahnya itu tergantung pada apa yang dia hijrah untuknya.” [HR. Bukhori 1, Muslim 1907).

Jika bahasa asing saja kita dianjurkan, maka untuk bahasa Arab, bahasa Al-Quran, umat Islam justru sangat dianjurkan, lebih-lebih soal bacaan Al-Quran, bacaan Shalat dan doa. Syeikh Sholeh Al Munajjid pernah mengatakan, mempelajari bahasa Arab adalah wajib. Sebagaimana para ulama sering mengemukakan suatu kaedah “Maa laa yatimmul waajibu illa bihi fahuwa waajibun (Sesuatu yang tidaklah sempurna sesuatu yang wajib kecuali dengannya maka sesuatu tersebut menjadi wajib).”

Terutama kewajiban untuk bacaan dan lafal dalam shalat. Sangat tidak mungkin bagi penuntut ilmu memahami Al Qur’an dan As Sunnah kecuali dengan jalan mempelajari bahasa Arab.