BERPOLITIK ALA NABI MUHAMMAD SAW DAN MENGANGKAT PEMIMPIN

Berpolitik Ala Nabi, Wajibkah?

Politik identik dengan berbagai macam intrik, maupun trik untuk mencapai sebuah kekuasaan atau jabatan. Ada yang mengatakan politik itu kotor, karena kadangkala sering menghalalkan segala cara demi ambisi kepentingan sesaat. Dalam menjawab tantangan yang semakin kompleks, terkait masalah ini, ada hal yang sangat menggelitik di pikiran kita, terutama partai yang berbasis massa Islam yang ingin mendapatkan suara dalam pemilu menggunakan jargon atau simbol-simbol agama, dengan dalih mengikuti cara berpoltik ala Nabi. ada sebuah pertanyaan yang harus segera dicari solusinya, yaitu: apakah wajib mengikuti cara berpolitik ala Nabi?

Untuk menjawab pertanyaan di atas dibutuhkan pemahaman yang cukup mendalam terhadap sejarah maupun dasar pengambilan hukumnya.

Pada dasarnya, segala urusan ibadah itu harus mengikuti petunjuk dari Nabi, tidak bisa direkayasa dengan logika semata, misalnya perintah salat, haji harus mengikuti aturan Nabi, sebalikya dalam urusan selain ibadah, seperti adat kebiasaan atau bidang muamalah (hubungan sesama manusia) harus disesuaikan dengan maslahat (kebaikan) yang terkandung di dalamnya, hal ini senada dengan pernyataan Imam Al Syatibi dalam kitabnya Al Muwafaqat terkait masalah penjelasan di atas, politik masuk ke dalam kategori adat kebiasaan, serta masuk dalam ranah muamalah. Jadi dalam hal ini menyesuaikan kondisi yang sesuai dengan konteks saat ini.

Di zaman Nabi, ketika berperang masih menggunakan peralatan yang kurang canggih seperti pedang, tombak, maupun peralatan sejenis lainnya. Apabila persenjataan ini masih dipakai saat ini, maka bisa dipastikan umat Islam akan tertinggal jauh di belakang umat lain, karena kekuatan lawan yang super canggih dalam peralatan perangnya, mulai dari tank, bom atom yang bisa menghancurkan banyak negara.

Namun masih banyak kebijakan-kebijakan Nabi yang dipandang masih relevan apabila diterapkan masa sekarang, terutama etika berpolitik Nabi terhadap lawan-lawan politiknya. Misalnya sifat ramah dan santun yang dimiliki, mampu mengalahkan lawan tanpa menggunakan kekerasan. Sejarah telah mencatat bahwa kebijaksanaan yang diterapkan Nabi sungguh memukau banyak kalangan terkait fathu Makkah (terbukanya kota Makkah) dari kafir Quraisy setelah umat Islam banyak diintimidasi dan disiksa, bukannya balas dendam terhadap mereka, sebaliknya memafkan, serta memberi jaminan bagi yang masuk kota Makkah, atau masuk ke rumah Abu Sufyan maka akan aman, hal ini sebagai tanda bukti keluhuran budi pekerti beliau.

Sisi lain yang masih relevan diterapkan saat ini ialah Nabi sangat perhatian terhadap rakyatnya atau umatnya, terutama beliau sangat serius menangani masalah yang berkaitan dengan orang yang lemah dalam ekonomi dan sosial.  Saat ini, kita jarang menemukan sesosok politikus seperti beliau.

Akhirnya, simbol-simbol agama jangan sampai digunakan untuk melegitimasi kepentingan pribadi, maupun golongannya.

Mewujudkan Rekonsiliasi Pasca Pilihan

Dalam kitab at-Targhib wa at-Tarhib, disebutkan keterangan bahwa Ubadah bin as-Shamit bercerita: “Maukah aku tunjukkan hal-hal yang menyebabkan Allah mengangkat derajatnya.” Ketika sahabat-sahabatnya menjawab, na’am, iya. Nabi berkata, “Kau maklumi orang yang menentangmu karena ketidaktahuannya, engkau maafkan orang yang menganiayamu, kau berikan rezekimu kepada orang yang mengharamkan hartanya untukmu, dan engkau sambungkan persaudaraan dengan orang yang memutuskannya.”

Dalam riwayat Abu Darda, Nabi saw. juga menyatakan: “Maukah kalian aku beritahu tentang derajat yang lebih baik ketimbang derajat puasa dan salat pada malam hari?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Memperbaiki kondisi di antara dua pihak.” (HR Ibn Hibban).

Menurut Abu Thayyib dalam kitabnya, ‘Awn al-Ma’bûd, makna ishlah dzatil bayn adalah memperbaiki kondisi di antara sesama muslim sehingga mereka dalam kondisi saling menyayangi, mencintai, dan sepakat (tidak dalam perselisihan). Beliau kemudian menambahkan, karena kata dzatil bayn itu mengandung banyak arti.

Namun arti yang lebih spesifiknya ialah: Thuruqus salamah (jalan keselamatan) serta menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar. Usaha untuk mendamaikan kedua belah pihak yang berseteru disebut sebagai rekonsiliasi.

Secara literal, rekonsiliasi berasal dari bahasa Inggris reconciliation. Dalam kamus al-Mawrid, karya Ba’albakki dinyatakan, bahwa reconciliation berarti as-shulh (perdamaian), tepatnya jika ada dua pihak yang saling berseteru, kemudian dilakukan ishlah (rekonsiliasi). Menurut istilah fukaha, shulh adalah kesepakatan yang bisa membawa kebaikan di antara kedua belah pihak yang berselisih.

Dilihat dari konteks pemaknaan terhadap rekonsiliasi di atas, tegas sekali rekonsiliasi tersebut merupakan salah satu ajaran yang sangat dianjurkan atau bahkan diperintahkan oleh Islam. Hal demikian sebagaimana yang dinyatakan dalam Alquran: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat kemakrufan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, kelak Kami akan memberinya pahala yang besar. (QS an-Nisa’ [4]: 114).”

Namun usaha-usaha untuk melakukan rekonsiliasi tidaklah mudah dilakukan. Hal demikian dapat dilihat dalam beberapa alasan berikut: pertama, strategi apa pun untuk memelihara ukhuwwah islamiyyah akan gagal, kalau tidak ada iktikad baik dari kedua belah pihak. Bila yang satu membangun jembatan dan yang lain membuat benteng, maka keduanya tidak akan bertemu.

Khutbah, ceramah, seminar, bahkan tindakan kekerasan tidak akan mempersatukan dua pihak yang berbeda kepentingan. Bila satu pihak berusaha mengalah demi ukhuwwah dan membuka dirinya untuk memahami yang lain; sementara lawannya berusaha memanfaatkan sikap mengalah itu dan menutup diri untuk memahami yang lain, maka ukhuwwah tidak pernah akan terwujud.

Dewasa ini, di Indonesia, berbagai golongan mulai melakukan pendekatan. Berbagai seminar telah diadakan untuk membahas strategi ukhuwwah. Sayang sekali masih ada golongan yang menyambut uluran persahabatan dengan kecurigaan, dan seruan ukhuwwah dengan buruk sangka. Mereka berusaha mencari-mencari perbedaan ketika pihak yang lain mengajak untuk memperhatikan persamaan. Mereka membongkar aib golongan yang lain, sebagian besar dengan memanfaatkan kemampuan imaginasi yang disalahgunakan. Sebagai pengganti jembatan, mereka membangun benteng yang kukuh.

Kedua, sejarah mengajarkan bahwa ketika kepentingan agama ditundukkan pada kepentingan politik, ukhuwwah tidak pernah dapat tercapai. Skisma besar antara Sunni dan Syiah lebih banyak disebabkan oleh kepentingan politik daripada karena perbedaan teologis. Pengalaman kita di Indonesia juga menunjukkan bahwa agama lebih sering diatasnamakan ketimbang direalisasikan. Imbauan agama hanyalah kemasan yang didesain untuk menutupi kepentingan politik.

Ketiga, untuk menghadapi manuver politik, pada umumnya pembangun persaudaraan tidak popular. Musuh-musuh sudah jelas akan mencurigainya. Sahabat-sahabat akan mengkhianatinya. Seperti jembatan, penyeru perdamaian harus siap diinjak orang-orang yang mau menyeberang dari kedua tepian. Pada masyarakat Islam yang sudah terpecah-pecah dalam berbagai kubu, orang yang tidak memihak satu golongan ditolak oleh semuanya. Kebiasaan sebagian umat untuk mengidentifikasi orang dari “bajunya” menyebabkan mereka sulit untuk menempatkan seorang yang menjadi penghubung berbagai golongan.

Kendati demikian, usaha apapun yang hendak menghancurkan persaudaraan tetap akan dilaknat oleh Tuhan. Alquran sangat mengutuk orang yang memutuskan persaudaraan sampai tiga kali (QS 13;21 dan 47: 22). Dalam Kanz Ummal, melalui hadis qudsi, Allah berkata kepada Nabi Dawud: “sampaikanlah kepada hamba-hamba Kami yang berbuat zalim (dengan memutuskan silaturahim) untuk tidak berzikir menyebut nama-Ku. Sudah menjadi kewajiban untuk menyebut nama orang yang menyebut nama-Ku. Karena itu setiap kali orang zalim itu menyebut nama-Ku, Aku menyebut namanya dengan melaknatnya.”

Kepemimpinan adalah Amanat

Pemilihan secara langsung akan dilaksanakan di beberapa daerah di Indonesia tahun ini dan seterusnya tentu saja mengandung harapan sekaligus kecemasan masyarakat. Secara teori kebijakan baru, ini dimaksudkan sebagai pengejawantahan demokrasi secara lebih luas untuk perubahan sosial yang lebih baik.

Sistem demokrasi, meskipun terdapat kekurangan di dalamnya, adalah pilihan terbaik dalam konteks Indonesia dewasa ini, bahkan juga dalam konteks global. Demokrasi merupakan sistem di mana manusia secara personal diberi kesempatan untuk menggunakan hak-hak dan pilihan-pilihan politiknya secara sama. Dalam kaitannya dengan pil-pilan, setiap individu yang secara hukum dianggap dewasa memiliki hak untuk memilih pemimpinnya sesuai dengan hati nuraninya.

Dengan begitu, pilihan secara langsung merupakan cara menghargai hak-hak asasi manusia. Melalui pilkades atau pemilu masyarakat tentu sangat berharap akan terpilih pemimpin daerah yang mampu membawa perbaikan, keadilan, dan peningkatan kesejahteraan hidup dalam artinya yang luas. Namun demikian, pilihan juga bisa mencemaskan, jika kemudian orang yang dipilih ternyata mengecewakan karena mengkhianati harapan dan kepercayaan rakyat.

Mengangkat pemimpinan adalah kewajiban

Mengangkat pemimpin adalah keniscayaan dalam sebuah masyarakat. Para ulama memandang mengangkat pemimpin komunitas (nashb al-imam) adalah wajib atas dasar agama dan logika. Bahkan, menurut sebuah hadis Nabi, jika tiga orang bepergian bersama, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka untuk menjadi kepala atau pemimpin rombongannya. Apalagi jika mereka berkumpul dalam jumlah yang besar.

Hal ini tentu dimaksudkan agar mereka dapat menjalani hidupnya dengan teratur dan aman. Dari sini kemudian setiap orang diharapkan dapat mengaktualisasikan atau mewujudkan kepentingan-kepentingannya demi kesejahteraan hidupnya baik lahir maupun batin, material maupun spiritual.

Akan tetapi, memilih seorang pemimpin tentu tidak boleh sembarangan, melainkan harus cermat dan hati-hati. Kekeliruan dalam memilih pemimpin akan membawa dampak yang bisa merugikan bagi mereka. Namun satu hal yang pasti adalah bahwa semua orang tentu saja berharap bahwa pemimpin adalah orang yang baik dan yang dapat mengusahakan kesejahteraan hidupnya. Lalu siapa pemimpin jenis ini?

Salah satu kriteria utama pemimpin yang baik adalah orang yang dapat menjalankan amanat (amanah) pemilihnya. Ini karena kepemimpinan adalah amanat atau kepercayaan.

Amanat secara sederhana berarti memelihara atau menjaga titipan orang dan mengembalikannya kepada pemiliknya dalam bentuknya semula. Jadi amanah adalah titipan. Akan tetapi, dalam artinya yang lebih luas, amanat adalah juga menunaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya, menjaga hak-hak orang lain serta menjaga dirinya sendiri.

Melaksanakan kewajiban dan tugas-tugas dengan rajin, jujur, dan baik adalah juga merupakan bentuk amanat. Tugas dan kewajiban pemimpin adalah menjaga dan melindungi hak milik orang-orang yang dipimpinnya, baik tubuh (fisik), kehormatan diri, akal pikiran, keyakinan, maupun harta benda.

Pengertian amanat tersebut dengan sendirinya berarti juga tidak menggunakan posisi, kedudukan atau jabatannya untuk mencari keuntungan dan kenikmatan pribadi atau keluarganya dengan jalan atau cara yang tidak benar. Pemimpin rakyat yang menggunakan kekuasaannya untuk mengambil harta rakyat dan hak-hak yang lain melalui cara-cara yang menyimpang dan bertentangan dengan undang-undang adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan atas dirinya. Ia dianggap melakukan salah satu dosa besar dan melanggar hukum Tuhan.

Dalam Islam, amanat adalah dasar bagi siapa saja yang diangkat menjadi pemimpin baik dalam komunitas kecil, dalam rumah tangga, apalagi komunitas besar.

Dalam Alquran terdapat sejumlah ayat yang menegaskan keharusan pemimpin melaksanakan amanat. “Sesungguhnya Allah mewajibkan kamu untuk menyampaikan hak-hak orang lain (amanat). Dan jika kamu memutuskan suatu hukum maka putuskanlah dengan adil.” (Q.S. al-Nisa’ [4]: 58).

Amanat juga merupakan bagian dari keimanan.

 Nabi saw. pernah menyatakan, “Tidak ada iman bagi orang yang tidak menjaga amanat”.

Kepada Abu Dzar al-Ghiffari, Nabi Muhammad saw. menegaskan bahwa “kepemimpinan adalah amanat. Pada hari kiamat kelak, ia bisa merupakan kehinaan dan sesuatu yang disesali, kecuali jika ia mengambilnya dan menjalankannya dengan cara yang benar.” (HR. Muslim).

Nabi juga pernah memperingatkan kepada umatnya agar tidak memilih orang yang tidak dapat memegang amanat dengan baik, karena akan menghancurkan kehidupan. “Jika kepemimpinan masyarakat diberikan kepada orang yang tidak bisa memegang amanat, maka tunggu saja saat kehancurannya,” sabda Nabi.

Menurut Ibn Taimiyah, amanat pada akhirnya terpulang kepada tiga hal:

Khasyyatullah (takut kepada Allah), La yasytari bi ayatihi tsamanan qalila (tidak menjual kebenaran dengan harga yang rendah), dan Tarku khasyyah al-nas (tidak takut kepada manusia), sebagaimana firman Allah dalam surah al-Maidah [5] ayat 44.

Ini mengandung arti bahwa pemimpin yang amanah adalah yang senantiasa menjaga diri dari berbuat yang melanggar hukum, baik hukum Allah maupun hukum negara, tegas dalam menegakkan kebenaran dan melindungi hak-hak rakyat terutama yang lemah dan teraniaya. Semoga pil-pilan di Indonesia akan menghasilkan pemimpin yang amanah dan dapat memenuhi harapan masyarakat yang baik. Amin…..

BACA JUGA :

Tiga Tanda Pelajar Dan Pengajar Yang Baik Serta Tiga Tanda Faham Ilmu Dan Tanda Ahlaq yang Baik.

KEHANCURAN BANGSA KARENA SALAH MEMILIH PEMIMPIN SERTA SERBA SERBI PEMILU

Hancurnya Bangsa karena Salah Memilih Pemimpin

Menjelang pemilihan umum, masyarakat diimbau untuk lebih selektif dalam memilih dan memilah calon pemimpin daerah, dengan tak terprovokasi oleh iklan, atau banyaknya banner, maupun bisikan orang lain. Tapi lebih mengedepankan daya kritis yang tinggi, dan berperan aktif dalam menggali informasi, sehingga pilihannya tepat dan tak tergiur dengan money politic yang akan menyengsarakan rakyat di kemudian hari.

Karena para dasarnya, para calon kebanyakan berpikir tentang cara untuk mengembalikan modal sebagai prioritas utamanya, bukan untuk menjalankan sebuah amanat yang besar di pundaknya, agar tercipta sebuah tatanan masyarakat yang maju dan bermartabat.

Bila yang terpilih orang yang tak mampu memegang amanat, maka tinggal menunggu kehancurannya.

Hal ini seperti disebut di dalam Alquran, dalam Surat Al Isra 16 yang berbunyi:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

Artinya: Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu).

Imam Thabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ketika Allah hendak menghancurkan sebuah negeri, atau daerah maka Ia menjadikan orang yang hidup mewah atau yang mempunyai modal besar menjadi pemimpin mereka, kemudian mereka berbuat  onar, kerusakan, dan kezaliman, yang akhirnya membawa kehancuran daerah itu.

Maka dari itu dalam urusan memilih seorang pemimpin harus benar-benar selektif, terutama dalam mengatur urusan masyarakat dibutuhkan ilmu yang matang, strategi, amanat yang tinggi dan kearifan dalam bertindak. Imam Syafi’i pernah berkata

سِيَاسَةُ النَّاسِ أَشَدُّ مِنْ سِيَاسَةِ الدَّوَابّ

Artinya: Mengatur, mengurusi urusan manusia lebih sulit daripada merawat hewan melata. Dalam sebuah Hadis, Siti Aisyah pernah mendengar bahwa Nabi berdoa:

اﻟﻠﻬﻢ ﻣﻦ ﻭﻟﻲ ﻣﻦ ﺃﻣﺘﻲ ﺷﻴﺌﺎ ﻓﺮﻓﻖ ﺑﻬﻢ ﻓﺎﺭﻓﻖ ﺑﻪ، ﻭﻣﻦ ﺷﻖ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﺸﻖ ﻋﻠﻴﻪ.

Artinya: Ya Allah, siapapun orang yang memimpin urusan umatku dengan bijaksana, maka mudahkanlah, dan siapa yang memberatkan umat maka persulit urusannya. (HR. Bukhori Muslim).

Dari penjelasan di atas menjadi jelas bahwa untuk terciptanya sebuah tatanan masyarakat, maupun daerah yang baik, diawali dengan memilih pemimpin yang baik, dengan tak terpengaruh oleh siapa pun, atau iming-iming apa pun, apalagi menjual suara demi sebungkus nasi, hal ini sangat disayangkan.

Teori-teori Politik ala Kitab “Alfiyah Ibnu Malik”

Dalam dunia Islam dikenal salah satu kitab gramatikal Arab yang sangat fenomenal yaitu kitab Alfiyah Ibnu Malik. Di dalamnya tidak hanya membahas tentang masalah seputar Nahwu dan Sharaf saja, namun tersimpan mutiara hikmah terkait ilmu politik, di antaranya:

  1. Pemilihan pemimpin.

Seorang pemimpin yang dicintai rakyatnya terlahir bukan dari hasil rekayasa politik belaka, namun ada usaha yang dinilai berharga sebagai bentuk pengabdian maupun pengorbanan yang akan didedikasikan kepada rakyatnya, sehingga rakyat memilihnya dengan hati nurani dan kepercayaan yang diberikan kepadanya.  Hal ini seperti yang tertuang dalam syair Alfiyah yang berbunyi:

ورفعوا مبتدأ بالابتداء#…………….

Rakyat akan mengangkat seorang pemimpin yang sesuai dengan kerja nyata yang telah dilakukan sebagai bentuk pengabdian terhadap daerah yang akan ia pimpin.

  1. Calon pemimpin ideal.

Di akhir masa kepemimpinan biasanya ada calon pengganti yang telah disiapkan untuk menjadi orang yang berkualitas mengikuti pemimpin sebelumnya dengan meneruskan gaya kepemimpinan yang masih relevan untuk dikembangkan sebagai terobosan baru, sehingga masyarakat mau mendukungnya sesuai langkah konkret yang telah dijalankan. Hal ini tertuang dalam potongan bait di bawah ini.

……… …………… .#كذاك رفع خبر بالمبتداء

Calon pemimpin ada yang diangkat melalui rekomendasi dari pemimpin sebelumnya,  misalnya Umar bin Khaththab menjadi pemimpin atas rekomendasi dari Abu Bakar.

BACA JUGA :

BAHAYANYA IRIHATI DAN IRIHATI YANG DI PERBOLEHKAN

Al-Ghazali dan Kitab Nasihat untuk Para Pemimpin

Adalah Hujjatul Islam, Abu Hamid al-Ghazali (505 H), sang ulama Sunni terkenal dari mazhab al-Asyariah dan bermazhab fikih Syafi’i, penulis prolifik. Semasa hidupnya memang al-Ghazali sangat mencintai ilmu dari berbagai disiplin ilmu Islam, mulai dari fikih, filsafat, hingga tasawuf. Pengalaman berkelananya dalam menjelajahi negeri-negeri Islam, ia tuangkan dalam sebuah kitab yang berjudul al-Tibr al-Masbuq fi Nashaih al-Muluk.

Abdurrahman Badawi dalam Muallafat al-Ghazali mencatat ada beberapa perbedaan penisbatan mengenai originalitas nama kitab ini. Ada yang menyebut judulnya sebagai Gharaib al-Uwal fi ‘Ajaib al-Duwal (Keunikan orang-orang terdahulu pada keistimewaan bangsa-bangsanya).

Badawi menjelaskan bahwa penamaan kitab ini seperti tersebut tidak dikenal (jahil) dalam pandangan para historian. Pendapat yang kuat adalah kitab al-Tibru al-Masbuq fi Nashihat al-Muluk (emas yang didahulukan dalam menasihati para raja).

Kitab tipis ini berisi tentang cerita-cerita nasehat para ulama, ahli zuhud, terhadap para pemimpin (umara).

Dalam pengantarnya, al-Ghazali menyatakan bahwa seorang ulama memberikan nasihat pada pemimpin, dalam kisah, hikmah, dan seruan untuk bersikap adil. Kitab ini kemungkinan didasarkan atas pengamatan al-Ghazali selama menempuh perjalanan di berbagai bangsa, kala itu, sebelum menempuh hidup dari pengasingan diri (uzlah).

Ada beberapa catatan penting yang perlu dilakukan di sini. Yaitu bahwa pemimpin dan ulama merupakan dua pondasi yang penting untuk memakmurkan masyarakat. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Saw bahwa sebuah negeri akan makmur, jika adilnya para pemimpin, saran dan nasihatnya para ulama, dermanya orang kaya dan doanya orang miskin.

Bahkan al-Ghazali mengutip hadis bahwa seorang pemimpin adil lebih utama dari pada ahli ibadah seratus tahun.

Dari hadis ini, al-Ghazali melihat bahwa kondisi pemimpin yang adil merupakan keharusan untuk memakmurkan masyarakat.

Al-Ghazali sendiri tidak melihat aspek keadilan dalam bentuk satu kategori yang tetap. Hal ini sebagaimana di awal kitabnya, ia mengatakan bahwa kekuasaan (power) merupakan nikmat Allah, maka siapa saja yang tidak menunaikan maka ia telah kufur nikmat. Pesan al-Ghazali di sini cukup bisa dipahami secara tersurat.

Lebih jauh al-Ghazali mengatakan bahwa seorang pemimpin tak ubahnya seperti sebagai penjaga (harish/the guardian) kemaslahatan umat, di sisi lain sebagai representasi agama dan mengatur (al-tanzhim) administrasi urusan perkara duniawi. Tafsiran al-Ghazali tersebut didasarkan atas konsep umum al-Mawardi bahwa al-khilafah hirasthuddin wa siyasatud dunya.

Dalam kitab tersebut diceritakan ada seseorang yang alim zuhud, pernah diundang untuk datang kepada seorang khalifah (raja). Sang raja berkata, “berilah aku nasihat”. Lantas sang alim zahid bercerita bahwa di sebuah negeri nun jauh dikenal dengan negeri Cina, hidup seorang raja yang adil berkuasa dan memerintah rakyatnya dengan penuh penghormatan dan cinta.

Suatu ketika ia menderita penyakit telinga (tuli), lalu ia menangis. Sang penasihat bertanya, apa yang membuatmu menangis. Lantas sang raja berkata, aku menangis bukan karena sakitku. Akan tetapi, aku menangis karena aku tidak mampu lagi mendengarkan keluhan rakyatku yang meminta pertolongan di hadapan singgasanaku. Mendengar hal tersebut, sang penasihat memerintahkan rakyatnya memakai baju merah (ahmar), agar sang raja mengenali bahwa orang tersebut dalam keadaan sulit.

Dari kisah-kisah yang dituliskan, nasehat untuk para pemimpin haruslah dilakukan dengan cara-cara yang baik dan tidak melakukan cara-cara dekstruktif (mafsadat) yang besar. Dari kitab ini tampak bahwa al-Ghazali sangat menekankan keseimbangan antara ulama (intelektual) dan umara dalam melakukan perbaikan untuk mencapai kemaslahatan bagi rakyat.

 

Golput dalam Syariat Islam

Pesta demokrasi rakyat Indonesia melalui pemilu 2019 di berbagai TPS di daerah masing-masing. Tentunya tidak hanya pihak panitian pemilu atau kandidat dan para tim suksesnya, melainkan rakyatpun pasti sudah matang-matang memikirkan untuk menentukan pilihannya.

Pada setiap pemilu, masih banyak kejadian-kejadian yang menyimpang dari aturan baku. Seperti tindak money politik atau tindak golput. Mengenai tindak Golput, istilah singkatan dari golongan putih atau disederhanakan menjadi pemilih abu-abu.

Artinya, mereka tidak menentukan sikap ketika jadwal pencoblosan berlangsung. Mereka enggan memilih salah satu diantara para kandidat kepada daerah. Tindakan ini terntunya menjadi catatan penting yang harus segera ditemukan solusinya agar tidak terulang terus-menerus di setiap waktu pilihan di masa-masa mendatang sampai pada pilpres digelar.

Adapun tindakan golput ini dapat menggugurkan suara dan menciderai proses demokrasi. akibat golput tersebut surat suara menjadi tidak sah atau abstain. Kasus ini, Jika digali lebih dalam, maka tindakan golput memiliki pengertian luas, diantaranya:

Pertama, tidak menentukan pilihan. ini merupakan tindakan yang sia-sia, bagaimana seorang yang datang ke bilik suara (TPS) tanpa mencoblos satu di antara kandidat kepala daerah. bisa juga dia mengosongkan suara suara dan partisipasinya seakan dianggap sebagai formalitas belaka.

Hal ini serupa dengan peristiwa tahkim, di mana sifat aliran qadariyah pada saat itu tidak memihak kepada Ali RA. maupun Muawiyah. Sifat ini sama dengan istilah “cari aman”.

Kedua, mencoblos lebih dari satu pilihan. Golongan ini termasuk dari orang-orang yang bimbang dalam bertindak maupun bersikap. Padahal jelas Rasulullah saw. Bersabda :

(دع ما يريبك إلى ما لا يريبك (رواه الترميذي

Baca Juga :  Kritik Ali Mustafa Yaqub atas Fatwa MUI tentang Penentuan Arah Kiblat.

“Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu”.

Anjuran untuk meninggalkan hal-hal yang meragukan adalah bagian dari syariat islam. Tidak hanya dalam hal pemilihan kepala daerah, terlebih pada urusan ibadahpun sangat diwanti-wanti agar terhindar dari sifat bimbang, sehingga dapat melaksanakan ibadah dengan khusu’ dan khidmat.

Ketiga, tidak memilih karena alasan sedang merantau. Budaya masyarakat Indonesia dalam upaya untuk menyambung hidup yaitu dengan cara bekerja di luar daerah (transmigrasi). Jika pada persyaratan pemilih disesuaikan dengan KTP asal, maka berapa juta jiwa yang tidak bisa ikut memilih pemimpin karena tersebar di berbagai daerah dan KTP tersebut tidak bisa digunakan di daerah tempat mereka bekerja.

Masalah ini harus ditangani secara serius agar semua masyarakat bisa berpartisipasi hajat demokrasi ini tanpa terkecuali. Jika sampai hari ini tidak diperhatikan, maka hal seperti ini dapat dipastikan menjadi kecacatan di tiap periodenya.

Bersandar pada penjelasan sebelumnya, bahwa tindakan golput merupakan tindakan tercela, merusak tatanan aturan yang telah disahkan oleh undang-undang. Tindakan seperti ini tidak dibenarkan dan keluar dari koridor ketentuan.

Menyikapi hal tersebut, dalam sudut pandang islam bahwa tindakan golput bagian dari pelanggaran. Selaras dengan sikap tidak patuh terhadap perintah Al-Qur’an. Firmat Allah dalam surat An-Nisa ayat 59:

أطيعوا الله وأطيعوا الرسول أولي الأمر منكم.

“Taatilah Allah dan Rasul-Nya dan ulil amri diantara kalian”.

Mayoritas para ulama menafsirkan kata ulil amri yaitu pemerintah. hasil konsesus menyatakan Negara Kesatuan Republik Indonesia menganut sistem demokrasi, Maka taat dan menghormati terhadap kebijakan pemerintah bukan hal biasa melainkan perintah Negara dan Agama untuk rakyatnya agar senentiasa mematuhi Pemerintah secara seksama.

Ayat ini menjelaskan hukum wajibnya menaati ulil amri (pemimpin), yaitu orang yang mendapatkan mandat untuk memerintah rakyat. Menaati kepala negara adalah wajib, berarti mengangkat pemimpin pun hukumnya wajib, karena jika pemimpin tidak ada, maka kewajiban untuk menaati pemimpin pun tidak bisa dijalankan. Dengan demikian, hukum mengangkat pemimpin pun menjadi wajib.

Pada tahun 2009, dalam ijtima’ ulama di Padang Panjang Sumatera Barat, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang haramnya Golput tersebut. Fatwa ini juga didukung oleh fatwa MUI yang ada di beberapa daerah bahwa nasabul imam atau mengangkat pemimpin adalah wajib, walaupun kadang-kadang tidak menggunakan istilah “Golput.” Ini merupakan ijtihad politik dalam meminimalisir angka dan fenomena Golput.

Oleh karena itu, orang-orang mukmin tidak akan pernah mengambil sikap Golput ketika pilkada, karena mengetahui bahwa memilih pemimpin adalah kewajiban, bukan sekadar hak. Sebagai kewajiban, maka orang-orang mukmin pasti memilih pemimpin yang terbaik dari calon-calon yang ada.

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

ANTARA MASEHI DAN HIJRIYYAH SEBAGAI PENANGGALAN MUSLIM NON MUSLIM

Tidak benar sepenuhnya bahwa kalender masehi ini milik non-Muslim dan kalender hijriah milik Muslim. Ihwal penanggalan hijriah dan masehi sebenarnya tidak selalu terkait dengan urusan agama. Dia berkaitan dengan gejala alam yang distrukturkan melalui ilmu pengetahuan (astronomi) menjadi penanda masa.

Tahun 1 Hijriyah juga ditandai dengan peristiwa hijrah, bukan lahirnya Nabi Muhammad SAW, peristiwa isra’ mi’raj atau turunnya wahyu pertama. Hijrah dari Makkah ke Madinah adalah sebuah peristiwa sosial, berkaitan dengan perubahan sebuah peradaban besar.

Nama-nama bulan dalam kalender hijriah sendiri diambil dari nama-nama musim dan sesuai dengan padanannya dalam kalender masehi ketika itu, kecuali bulan Muharram dan Dzulhijjah. Muharram artinya bulan yang dihormati. Orang-orang ketika itu tidak diperbolehkan berperang di bulan ini, dan di tiga bulan lainnya. Dzulhijjah artinya bulan untuk berhaji.

Nama-nama sepuluh bulan lainnya adalah nama-nama musim. Shafar artinya kuning, tumbuhan mulai menguning. Rabiul awal dan Rabiuts tsani artinya musim gugur pertama dan kedua. Jumadil ula danJumadits tsani artinya musim dingin pertama dan kedua (jumud artinya beku). Rajab artinya cair, es sudah mulai mencair.

Sya’ban artinya lembah, orang-orang Arab sudah mulai ke ladang untuk bercocok tanam. Ramadhan artinya pembakaran, mulai masuk musim panas. Syawal berarti peningkatan suhu, panas sekali. Puncaknya adalah bulan Dzulqa’dah, artinya saat orang duduk-duduk tidak keluar rumah. Terakhir Dzulhijjah waktunya orang berhaji.

Bulan Muharram dan seterusnya sampai Dzulhijjah ketika itu disesuaikan dengan padanannya dalam kalender masehi, secara berurutan mulai September.

Pada masa awal Islam, sistem penanggalan yang digunakan oleh orang Arab adalah penggabungan antara penanggalan bulan (lunar) dan solar (matahari), qamariyah dan syamsiyah, atau hijriah dan masehi: Penggabungan dua sistem penanggalan sekaligus. Jadi pengitungan perbulannya mengikuti sistem qamariyah (29 atau 30 hari), tapi jumlah setahunnya mengikuti sistem syamsiyah (365/366 untuk kabisat).

Masalahnya, jumlah hari dalam sistem qamariyah adalah 354 hari, sehingga ada selisih 11 hari. Karena itu, dalam beberapa tahun sekali terdapat penambahan bulan (bulan ke-13) yang dalam ilmu falak disebut interkalasi. Penambahan bulan ini bertujuan agar kalender qamariyah bisa sejajar kalender syamsiyah, secara teknis juga sejajar dengan perubahan musim.

Namun kapan tepatnya penambahan bulan ini tidak disepakati sehingga memunculkan masalah yang rumit. Bangsa Arab (warisan Nabi Ibrahim) sudah menyepakati untuk tidak berperang pada empat bulan khusus: Muharram, Rajab, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. Tapi ketidakpastian penambahan bulan ke-13 ini menyebabkan jadwal gencatan senjata jadi kacau, rawan kecurangan.

Sampai akhirnya turun Surat at-Taubah ayat 36. إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا… “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah 12 bulan.. Setelah itu orang Arab mulai memakai kalender bulan murni, lunar.

Dampaknya (karena perbedaan jumlah hari dalam dua sistem penanggalan), bulan-bulan dalam hijriah tidak lagi sepadan dengan masehi, berubah-ubah. Tapi hikmahnya, misalnya, orang Arab juga Eropa atau kawasan dengan banyak musim tidak selalu berpuasa pada musim panas. Juga, kadang berpuasa sampai 18 jam, kadang cuma 10/11 jam.

Nah Indonesia adalah kawasan tropis dengan perubahan musim yang normal-normal saja, sangat berbeda dengan kawasan dengan banyak musim. Apalagi jika dibandingkan dengan misalnya daerah di kawasan negara bagian Alaska yang selama 65 hari (November-Januari) tidak menemukan matahari, selalu malam.

Kenormalan ini mungkin yang menyebabkan kita santai-santai saja. Kita tidak punya tantangan alam. Namun, dengan melihat perubahan masa sebagai gejala alam (ilmiah) ditambah kejadian bencana alam silih berganti mudah-mudahan membuka mata kita untuk terus berbenah. Erupsi gunung berapi, gempa dan tsunami adalah gejala alam juga.

Jangan sampai (naudzubillah) gejala alam dianggap sebagai adzab bagi suku atau penduduk tertentu atau periode kepemimpinan tertentu. Setelah berucap “subhanallah” selanjutnya, gejala alam harus disikapi dengan serangkaian riset. Gejala alam harus menjadi rahmat, bukan musibah.

KALENDER 2019 SAMA DENGAN 1895 INI PENJELASANYA

Awal tahun ini ramai beredar dalam jagat maya tentang lembaran kalender 1895, yang sama persis dengan 2019. Yakni dalam hal hari untuk setiap tanggal didalamnya. Misalnya, 1 Januari 2019 dan 1 Januari 1895 ternyata sama-sama bertepatan dengan hari Selasa. Kesamaan ini memantik pertanyaan, bagaimana semua itu bisa terjadi?

Terdapat beraneka ragam kalender yang semuanya mengacu pada pergerakan benda–benda langit. Ada yang hanya mengacu ke Matahari, yang dikenal sebagai kalender Matahari (solar). Ada pula yang hanya mengacu ke Bulan, membuatnya dinamakan kalender Bulan (lunar). Sebaliknya ada pula yang mengacu pada Matahari dan Bulan sekaligus, yang disebut kalender lunisolar. Bahkan ada juga yang mengacu pada Matahari dan Zahara (Venus), misalnya kalender suku Maya.

Kalender Masehi merupakan kalender terpopuler pada masakini. Meski berakar sebagai kalender religi (yakni kalender Nasrani), namun dalam kurun satu seperempat abad terakhir terdapat upaya-upaya menjadikannya kalender sekuler. Di Eropa terdapat titimangsa CE (Common Era), yang ditransliterasikan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai TU (Tarikh Umum) menggantikan istilah M (Masehi).

Ini adalah substitusi bagi kosakata titimangsa AD (Anno Domini) yang dianggap kurang pas mengingat Nabi Isa AS lahir sebelum tahun 1. Titimangsa CE adalah tahun 1, 2, 3, dan seterusnya. Sebaliknya terdapat pula titimangsa BCE (Before Common Era), atau dalam Bahasa Indonesia menjadi STU (Sebelum Tarikh Umum) menggantikan SM (Sebelum Masehi).

Kalender Tarikh Umum merupakan sistem penanggalan Matahari dengan acuan pada gerak semu tahunan Matahari. Yakni dimana Matahari seolah-olah beringsut dari satu rasi ke rasi bintang berikutnya dalam lingkaran ekliptika sebagai akibat peredaran Bumi mengelilingi Matahari.

Tepatnya mengacu pada periode tropis Matahari, yaitu selang waktu yang dibutuhkan Matahari untuk bergerak semu dari sebuah titik Haml (vernal equinox) ke titik Haml yang sama berikutnya. Titik Haml adalah salah satu titik potong lingkaran ekliptika dan khatulistiwa langit. Ia mendapatkan namanya karena dahulu terletak di rasi al-Haml (Aries), meski pada masakini telah beringsut hingga berkedudukan di rasi al-Hut (Pisces) sebagai akibat gerak presesi sumbu rotasi Bumi.

Periode tropis Matahari bernilai rata-rata 365 hari 5 jam 48 menit 45 detik, atau dalam bentuk desimal adalah 365,24219 hari. Maka setahun Tarikh Umum terdiri atas tahun basitah (berumur 365 hari) dan tahun kabisat (berumur 366 hari) yang disusun berdasarkan hisab ‘urfi (tubular).

Karena siklus kabisat terjadi setiap 4 tahun sekali (kecuali bagi tahun abad) dan siklus mingguan terjadi setiap 7 hari sekali, maka kelipatan persekutuan terkecil antara 7 dan 4 adalah 28. Sehingga suatu kalender Tarikh Umum akan sama persis dengan kalender 28 tahun sebelumnya. Kecuali jika melintasi tahun abad. Ini menjadikan hari dan tanggal di tahun 2019 adalah sama persis dengan di tahun 1991, 1963, 1935 dan 1907.

Situasi berbeda terjadi manakala kita berhadapan dengan pergantian abad. Dapat dilihat bahwa hari dan tanggal di tahun 1907 ternyata tidak sama dengan 28 tahun sebelumnya (tahun 1879). Melainkan sama persis dengan tahun 1895. Dengan kata lain selisihnya hanyalah 12 tahun, bukannya 28 tahun. Meski demikian selisih 12 ini sejatinya masih mengacu ke bilangan 7 dan 4. Yakni berasal dari penjumlahan 7 dan 4 ditambahkan dengan 1.

Ada aturan khusus bagi pergantian abad dimana tahun abadnya bukanlah tahun kabisat. Dalam kalender Tarikh Umum, tahun kabisat adalah bilangan tahun yang habis dibagi 4 kecuali tahun abad. Tahun abad adalah tahun-tahun yang menandai awal sebuah abad, misalnya tahun 1600, 1700, 1800 dan seterusnya. Dalam tahun abad berlaku aturan khusus, dimana ia akan menjadi tahun kabisat hanya bilamana habis dibagi 400. Karena itu tahun 1700, 1800 dan 1900 hanyalah tahun basitah. Sebaliknya tahun 2000 merupakan tahun kabisat.

Bilamana tahun abad bukanlah tahun kabisat, maka terdapat aturan khusus yang berlaku hingga 28 tahun berikutnya.Apabila tahun-tahun tersebut terletak di antara rentang tahun abad tersebut hingga 11 tahun berikutnya, maka selisihnya adalah 12. Sebaliknya apabila tahun-tahunnya terletak di antara 11 hingga 28 tahun terhitung dari tahun abad yang bukan kabisat, maka selisihnya menjadi 40 (yang berasal dari 28 ditambahkan dengan 12). Aturan khusus ini tidak berlaku bilamana tahun abad merupakan tahun kabisat.

Mari kita lihat abad ke-20. Ia diawali dengan tahun 1900 yang adalah tahun abad bukan tahun kabisat. Dengan aturan khusus di atas, maka tahun 1901 hingga 1911 memiliki hari dan tanggal yang persis sama dengan 11 tahun sebelumnya, yakni tahun 1889 hingga tahun 1900.

Dengan aturan khusus yang sama, maka tahun 1912 hingga tahun 1928 memiliki hari dan tanggal yang persis sama dengan 40 tahun sebelumnya, yakni tahun 1872 hingga tahun 1888. Sebaliknya tahun 2000 yang mengawali abad ke-21 adalah tahun kabisat. Maka pola selisih 28 tahun tetap berlaku tanpa aturan khusus. Inilah yang membuat tahun 2001 hingga 2027 memiliki hari dan tanggal yang sama dengan tahun 1973 hingga 1999. Pola keteraturan semacam ini bermanfaat untuk membentuk apa yang kita kenal sebagai Kalender Abadi.

DO’A DI RINGANKAN HISAB DAN 4 GOLONGAN MANUSIA YANG DI RINDUKAN SURGA

Sebagai umat Islam, kita pasti mengharapkan keselamatan di akhirat kelak dan berkumpul dengan saudara-saudara  kita di surga nantinya. Akan tetapi sebelumya, amalan kita selama di dunia akan dihisab. Walau nabi Muhammad Saw dijamin untuk masuk Surga, beliau tetap membaca doa agar dipermudah ketika dihisab dan mungkin bagi kita untuk mengamalkanya. Adapun doanya ialah:

(اللَّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَابَاً يَسِيرَاً…(رواه أحمد

“Ya Allah, hisablah aku dengan hisab yang mudah..”. (H.R Imam Ahmad)

Ini Empat Golongan yang Dirindukan Surga

Setiap orang yang beriman pasti menginginkan agar dirinya dimasukkan ke dalam surga. Di dalam surga, mereka berhasrat bukan hanya terhadap kenikmatan di dalamnya, lebih dari itu mereka berhasrat agar bertemu dengan Allah, Tuhan yang selama di dunia disembah dengan penuh kerinduan. Karena hanya di dalam surga, Allah dapat dilihat dan tidak ada kenikmatan apapun yang bisa menandingi kenikmatana melihat wujud-Nya.

Namun, ternyata surga bukan hanya bisa dirindukan tapi juga bisa merindukan. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Anas bin Malik, dia berkata bahwa Nabi SAW bersabda;

مَنْ سَأَلَ اللَه اْلجَنَّةَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَتِ اْلجَنَّةُ اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ اْلجَنَّةَ وَمَنِ اسْتَجَارَ مِنَ النَّارِ ثلَاَث َمَرَّاتٍ قَالَتِ النَّارُ اَللَّهُمَّ أَجِرْهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa meminta surga kepada Allah sebanyak tiga kali, maka surga akan berkata, ‘Ya Allah masukkan dia ke dalam surga.’ Dan barangsiapa meminta dijauhkan dari neraka, maka neraka berkata, ‘Ya Allah, jauhkan dia dari neraka.’”

Hadis ini menunjukkan bahwa surga juga bisa meminta kepada Allah agar seseorang dimasukkan ke dalamnya. Begitu juga dengan neraka, bisa meminta agar seseorang dijauhkan dari dirinya. Dalam kitab Raunaqul Majalis disebutkan, bahwa ada empat golongan yang dirindukan surga dan meminta kepada Allah agar mereka segera dimasukkan ke dalamnya.

اَلْجَنَّةُ مُشْتَاقَةٌ إِلَى أَرْبَعَةِ نَفَرٍ: تَالِي الْقُرْآنِ، وَحَافِظِ اللِّسَانِ، وَمُطْعِمِ الْجِيْعَانِ وَالطَّائِمِيْنَ فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ

“Surga sangat rindu terhadap empat golongan, yaitu orang yang membaca Al-Quran, orang yang memelihara lisan, orang yang memberi makan terhadap orang-orang yang lapar serta orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan.”

Pertama, pembaca Al-Quran. Selain dapat menentramkan hati, membaca Al-Quran juga bisa mengantarkan pembacanya ke derajat tertinggi di surga. Nabi SAW bersabda, “Bacalah (Al-Quran), naiklah (pada derajat-derajat surga) dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya dengan tartil di dunia. Sesungguhnya kedudukan derajatmu pada kadar akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Ahmad).

Kedua, orang yang selalu menjaga lisannya dari berkata kotor, mengumpat, menyakiti orang lain melalui lisannya. Disebutkan dalam sebuah hadis, “Wahai Rasulullah, ada seorang wanita yang hanya melaksanakan shalat wajib saja dan hanya bersedekah dengan sepotong keju namun dia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Nabi SAW menjawab, “Dia termasuk penghuni surga.” (HR. Bukhari).

Ketiga,  orang yang memberi makan terhadap orang lapar. Nabi SAW bersabda, “Siapapun mukmin memberi makan mukmin yang kelaparan. Pada hari kiamat nanti Allah akan memberinya makanan dan buah-buahan surga.” (HR. Tirmidzi).

Keempat, orang yang berpuasa di bulan Ramadhan. Nabi SAW bersabda, “Surga memiliki delapan buah pintu. Di antara pintu tersebut ada yang dinamakan pintu Al-Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa.” (HR. Bukhari).

Wallahu A’lam.

CARA MENJAWAB ORANG BODOH DALAM BERMEDIA INTERNET

Munculnya media baru, internet, menggeser otoritas keagamaan dari yang mulanya hanya sebatas para cendekiawan dan para ulama menjadi lebih luas.

Semua orang bisa berkomentar terkait kesalehan maupun kesalahan seseorang, bahkan kita tidak tahu apakah yang berkomentar itu lebih baik atau tidak dari orang yang dikomentari, baik dalam segi amal maupun pengetahuan keagamaannya.

Hal ini menjadikan perdebatan di internet semakin banyak. Tidak sedikit yang mulai mengarah pada pelecehan terhadap fisik dan lain sebagainya. Beberapa perdebatan tersebut pun menguap entah kemana pembahasannya.

Menyikapi hal ini, ada tips dari para ulama, khususnya ketika ada orang-orang ‘bodoh’ yang komentar di timeline kita. Salah satu tipsnya adalah:

تَرْكُ الجَوَابِ عَلىَ الجَاهِلِ جَوَابٌ

Jawaban atas (perdebatan) orang bodoh itu dengan tidak menjawabnya.

Dengan tidak meladeni pertanyaan yang diberikan oleh orang yang kita tidak tahu asal-usulnya, pengetahuan keagamaannya, juga sanad keilmuannya, kita terhindar dari dua hal, yaitu: pertama, menyia-nyiakan waktu kita, karena perdebatan seperti tidak akan memberikan solusi. Kedua, menghabiskan tenaga dan fikiran untuk hal yang tidak berguna.

Wallahu A’lam.

DI TAHUN BARU 2019 INI MARILAH MENGOREKSI DAN MEMPERBAIKI DIRI SENDIRI

Sebenarnya ada banyak hal yang pantas kita pelajari dari datangnya tahun baru Masehi ini, yang kesemuanya berakibat baik untuk diri kita.

Tahun baru yang ini, memang kita perlu ber introspeksi diri atau koreksi diri dengan penuh konsentrasi dan ke ikhlasan, karena dengan datangnya tahun 2019 itu artinya kita semakin tambah dewasa tambah tua dan lebih dekat dengan mati…

Pernahkah kita berfikir bahwa nanti kita akan mati…? padahal itu adalah hak pereogratif Alloh semata yang artinya tidak ada yang tahu kapan kita akan mati

Pernahkah kita menghitung kesalahan dan dosa kita dalam setahun yang lalu dan kemudian bertaubat menangis meminta ampun kepada Alloh…

Pernahkah kita mencoba mengenali ni’mat ni’mat Alloh yang begitu banyak yang telah kita nikmati, sehingga kita nantinya akan bisa mensyukurinya kepada Alloh..

Pernahkah kita berfikir bahwa kita hanya seorang hamba yang seharusnya hanya tunduk dan patuh kepada Alloh Ta’ala…

Pernahkah kita mencoba menghitung berapakah umur kita yang di gunakan untuk sholat menyembah Alloh Swt.

Mari kita hitung bersama sama :

Kalau kita di beri umur selama 60 tahun maka, Kita akan menghadap Alloh dengan perhitungan seperti di bawah ini.

60 tahun di kurangi masa sebelum kita baligh yaitu 15 tahun bagi pria atau 9 tahun bagi wanita. Sehingga 60 di kurangi masa sebelum baligh menjadi 45 tahun bagi laki laki dan 51 tahun bagi wanita.

Kemudian, sisa umur 51 tahun (wanita)dan 45 tahun (pria) di kurangi waktu untuk kita tidur, normalnya orang tidur dalam satu hari satu malam adalah 8 jam. Maka kita hitung begini : 8 jam di kalikan 30 hari(1 bulan) di kalikan 12(1 tahun) di kalikan 60 tahun (umur kita) hasilnya adalah 172.800 jam. Kemudian kita jumlahkan jumlah jam dalam sehari dengan jumlah hari dalam 1 tahun, yaitu 24 jam di kalikan 365 hari, hasilnya adalah 8760 jam.

Kemudian, 8760 jam di gunakan untuk membagi jumlah jam tidur kita dalam 60 tahun, yaitu 172.800 di bagi 8.760 jam, hasilnya adalah 19, 72 tahun.

Berarti, 51 tahun dan 45 tahun di kurangi jumlah tidur kita dalam 60 tahun yaitu selama 19 tahun, adalah 32 tahun bagi wanita dan 26 tahun bagi pria.

Kemudian, sisa umur 26 tahun(pria) dan 32 tahun(wanita) di kurangi waktu yang kita gunakan untuk Wa an plus nonton tv dan facebook an, twiter an dan yang lainya. Kita alokasikan saja 5 jam dalam sehari. (3 jam Wa an plus nonton tv dan 2 jam Facebook an dan yang lainya). Maka, 5 jam di kalikan 30 hari di kalikan 12 bulan di kalikan 60 tahun umur kita, hasilnya adalah 108.000 jam, kemudian di bagi dengan jumlah jam dalam satu tahun yaitu 8760. Hasilnya adalah 12,32 tahun.

Berarti, 26 tahun dan 32 tahun di kurangi jumlah Wa an plus nonton tv dan facebook an kita dalam 60 tahun yaitu 12 tahun, sisanya adalah 14 tahun bagi pria dan 20 tahun bagi wanita.

Kemudian, sisa umur 14 tahun (pria ) dan 20 (wanita) di kurangi waktu yang kita gunakan untuk bekerja. Kalau kita bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 2 sore dalam sehari, berarti 6 jam kita bekerja, di kurangi 1 jam istirahat, berarti 5 jam. Maka, 5 jam di kalikan 30 hari di kalikan 12 bulan di kalikan 60 tahun umur kita, hasilnya adalah 108.000 jam, kemudian di bagi dengan jumlah jam dalam satu tahun yaitu 8760. Hasilnya adalah 12,32 tahun.

Berarti 14 tahun dan 20 tahun di kurangi jumlah kita bekerja dalam 60 tahun yaitu selama 12 tahun, adalah 2 tahun bagi pria dan 8 tahun bagi wanita.

Kemudian, sisa umur 2 tahun (pria) dan 8 tahun (wanita) di kurangi waktu yang kita gunakan untuk sholat. Yaitu kita sholat paling lama 10 menit plus baca wirid. Berarti dalam sehari kita membutuhkan waktu untuk sholat selama 10 menit di kalikan 5 waktu sholat wajib, hasilnya adalah 50 menit. Kita bulatkan saja menjadi 60 menit atau 1 jam. Maka, 1 jam di kalikan 30 hari di kalikan 12 bulan di kalikan 60 tahun umur kita, hasilnya adalah 21.600 jam, kemudian di bagi dengan jumlah jam dalam satu tahun yaitu 8760. Hasilnya adalah 2,4 tahun.

Berarti 2 tahun dan 8 tahun di kurangi jumlah kita sholat dalam 60 tahun yaitu selama 2 tahun, adalah 0, tahun bagi pria dan 6 tahun bagi wanita.

Dengan demikian, masih sombongkah kita? Karena ternyata kita hanya menyisihkan waktu 2 tahun setengah selama umur kita yang kita gunakan untuk beribadah kepada Alloh Swt.

Padahal sholat adalah ibadah yang menjadi ukuran baik dan buruknya seluruh amaliyah ibadah kita.

Dan masih banyak sekali hal hal yang bisa kita pikirkan dengan tujuan agar kita semakin baik di hadapan Alloh di tahun yang ke 2019 ini.

Seperti memperbanyak membaca sholawat kepada Nabi kita Muhammad Saw.

Sebenarnya sama saja antara tahun Masehi dan Hijriyyah dalam ke datanganya di kehidupan kita, keduanya sama sama menuntut kita agar lebih tahu diri dan koreksi atas semua perbuatan kita yang telah lalu.

Ada pepatah yang mengatakan ;

Orang pandai akan belajar dari kesalahan orang lain, dan orang bodoh akan belajar dari kesalahan diri sendiri

Artinya, kita tidak perlu berbuat kesalahan demi untuk perubahan yang lebih baik dari kita. Cukup sejarah orang lain yang kita pelajari perilakunya untuk membuat kita bisa lebih baik di tahun ini.

Ada kata mutiara yang sangat baik :

“Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini”.

Juga ada dawuh : ” Barang siapa yang berumur 40 tahun, tetapi kejelekanya masih lebih dominan dari kebaikanya, maka bersiaplah masuk neraka”.

Hal ini adalah didikan yang sangat baik dari seorang utusan yang tanpa cela dalam hidupnya, sehingga kita bisa mencontoh Rosululloh agar kita selalu lebih baik dalam kehidupan kita.

Semoga kita termasuk orang orang yang bisa memanfaatkan momen tahun baru ini agar bisa lebih baik lagi di hadapan Alloh ta’ala..

Amin…

KIAT AGAR RUPIAH KEMBALI MENGUAT ATAS DOLLAR

Beberapa hari terakhir, nilai mata uang rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Puncaknya hari, Rabu (5/9) ketika nilai tukar rupiah berada di level terendah yaitu Rp15.029/dollar AS sejak krisis ekonomi tahun 1998.

Menurut Pakar Hubungan Internasional yang juga Wakil Sekjen Pimpinan Pusat GP Ansor Mahmud Syaltout mengatakan, melemahnya rupiah ini perlu ditanggapi secara cepat namun tidak perlu reaktif, apalagi menggunakan momen tersebut untuk kepentingan politik praktis.

“Terhadap dolar Amerika, kita memang babak belur,” kata Syaltout saat dikonfirmasi NU Online, Rabu (5/9).

Namun, katanya, pelemahan tersebut terjadi juga terhadap Yuan Tiongkok, Yen Jepang, Won Korea, dan semua mata uang negara-negara anggota ASEAN, kecuali dibandingkan dengan Kyat mata uang Myanmar – negara anggota ASEAN dengan perolehan medali paling buncit di Asian Games 2018.

“Kini saatnya kembali kerja, kerja, kerja. Kita harus mengupayakan bersama-sama agar ekonomi kita, khususnya mata uang kita jadi kuat, karena kita bersatu!” tegas doktor lulusan Universitas Sorbonne Paris, Perancis ini.

Menurutnya, apa dengan misuhi (memarahi) Paklik Jokowi, Bu Sri Mulyani dan tim ekonominya, mata uang Rupiah jadi menguat? “No!” jelasnya.

Begitu pula apa dengan ngedumeli atau bully Pak Prabowo, Bang Sandi dan lain-lainnya yang punya banyak tabungan dollar namun tetap konsisten ajukan kritik atau setidaknya warning terhadap pemerintahan Paklik Jokowi-Pak JK, mata uang Rupiah jadi menguat? “No!” ucapnya.

“Ayolah gaes. Lupakan sejenak perbedaan, rasakan kembali pelukan hangat kebangsaan Hanifan (atlet pencak silat peraih medali emas Asian games 2018), Paklik Jokowi dan Pak Prabowo yang menyatukan dan menguatkan kita sebagai bangsa! Dan, sekali lagi, kita bersatu, karena kuat! Ayo Indonesia!” tandas Syaltout.

Apa yang harus dilakukan?

Melemahnya rupiah terhadap dollar lebih banyak dipengaruhi karena kondisi ekononi global, selain inflasi yang tidak terkendali di dalam negeri. Namun, dikutip NU Online dari IDN Times dalam kondisi rupiah melemah, masyarakat bisa melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Mengerem belanja barang impor

Kalau kamu selama ini termasuk konsumtif terhadap barang-barang impor, terutama secara online, nampaknya hal ini perlu di-rem sementara waktu. Berhubung nilai tukar mata uang kita kian turun, otomatis barang yang dibanderol dengan harga dolar akan makin mahal jika dikonversi ke rupiah.

  1. Memacu kegiatan ekspor

Kalau flow impor menjadi lebih sulit, kondisi ini bisa digunakan untuk menaikkan nilai jual ke luar negeri atau ekspor.  Naiknya kurs dolar terhadap hampir seluruh mata uang lainnya di dunia menyebabkan peluang industri Indonesia dilirik pasar asing jadi lebih besar.

“Keadaan ini bisa menguntungkan kalau depresiasi rupiah bisa direspons secara cepat oleh sektor industri kita, karena ekspor yang meningkat. Mestinya harga komoditas bisa dianggap lebih murah di mata konsumen luar negeri,” ujar Agus Eko, Ekonom dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kepada IDN Times.

Untuk bidang usaha kecil dan menengah, bisa juga memanfaatkan momentum ini untuk mendorong kegiatan ekspor. Nilai tukar dolar terhadap rupiah yang meroket akan meningkatkan daya jual.

  1. Untuk pelaku UMKM: dibanding menaikkan harga, lebih baik menekan biaya produksi

Salah satu dampak yang mungkin timbul dari kejadian ini adalah naiknya harga pasaran dan kebutuhan hingga ke tingkat UMKM. Terutama mereka yang memanfaatkan bahan baku impor, baik pengimpor langsung atau tangan kedua.

Untuk menutup tingginya biaya produksi, mengatrol harga jual seringkali dipilih jadi solusi. Padahal kenaikan harga yang tak terkendali bisa berbuntut tingginya inflasi, sehingga keadaan ekonomi di Indonesia makin tak stabil.

“Banyak UMKM kita yang mengandalkan bahan baku dari sejumlah komunitas impor, misalkan bahan tekstil atau metal. Hal ini mempengaruhi biaya produksi yang juga naik,” tutur Agus Eko. Apalagi kalau mereka hanya bermain di pasar domestik dan tidak bisa mendapatkan nilai exchange rate dengan ekspor.

  1. Melakukan transaksi di dalam negeri secara normal

Sebagai konsumen, kita tetap bisa berkontribusi dalam stabilitas ekonomi. Agus mengatakan, pola transaksi dan konsumsi di masyarakat turut mempengaruhi inflasi.

Meskipun dalam kasus terburuk harga kebutuhan pokok akan naik karena pelemahan kurs, selama daya beli masyarakat stabil dan baik, harusnya tak sampai menjadi masalah. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar seharusnya tak sampai menimbulkan ketakutan atau kepanikan sosial di masyarakat.

“Di sini pemerintah harus bisa memastikan kepada masyarakat secara keseluruhan bahwa ini sifatnya temporer,” ujar Agus. Tak perlu adanya penundaan konsumsi akibat hal ini. Transaksi harus berjalan normal dan semuanya diawali dari pemerintah.

Ia menambahkan ketahanan ekonomi di Indonesia yang relatif baik bisa dilihat dari daya beli masyarakatnya.  Apalagi setiap jelang bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, di mana pola konsumsi orang cenderung irasional untuk memenuhi kebutuhan sandang dan pangan.

  1. Berinvestasi ke sejumlah bidang ini

Meski mata uang sedang merosot, bukan berarti investasi bakal seluruhnya mampet. Menurut Agus, ada sejumlah bidang yang tetap menguntungkan dan tak begitu terdampak meski nilai sedang fluktuatif.

Kamu masih bisa menyisihkan pundi rupiah demi masa depan dengan berinvestasi ke sana. Yakni bisnis dengan aset tetap seperti properti, emas, pembelian surat utang negara (saham), sektor pariwisata, dan lain-lain.

Di tengah kondisi seperti ini, juga ada sejumlah rekomendasi agar tak ikut terpuruk saat kurs rupiah memburuk. Ahli Ekonomi seperti dilansir Tempo, menyarankan perusahaan swasta yang mempunyai utang di luar negeri segera melakukan hedging atau lindung nilai.

Sebab, masih banyak perusahaan swasta yang berutang, tapi penerimaan yang didapat masih dalam rupiah. Artinya, perusahaan yang berutang dalam bentuk dolar, juga harus bayar pakai dolar. Jika tidak hedging, rupiah bisa semakin melemah.

Salah satu yang juga bisa dilakukan pemerintah untuk memperbaiki kurs rupiah adalah menggenjot investasi jangka panjang. Kinerja ekspor juga harus didongkrak dengan pemberian insentif.

PARA PENGUSAHA KENALI PERKEMBANGAN BLOCKCHAIN, APAKAH ITU?

Perkembangan teknologi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia saat ini, termasuk internet, komputer jaringan, dan lain-lain, termasuk perkembangan teknologi blockchain. Teknologi blockchain saat ini banyak dimanfaatkan dunia bisnis, perbankan, dunia usaha, dan lain-lain untuk dapat meningkatkan daya saing bisnis.
Dalam rangka mengembangkan bisnis jaringan bagi para pengusaha, Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) menggelar Halaqah Blockchain, Sabtu (3/11/2018) lalu di Kantor PBNU Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten di bidang teknologi dan jaringan komputer.
Blockchain memiliki keunikan yaitu dalam hal tersebarnya basis data, transparansi antar pemilik data, dan enkripsi keamanannya dibandingkan basis data biasa.
Revolusi yang dimungkinkan oleh blockchain akan mempermudah transaksi antara seluruh lapisan masyarakat hingga petani. Bukan hanya transaksi keuangan tapi juga transaksi berbagai data yang akan semakin membanjir dengan masuknya kita ke era internet of things (IoT).
Suatu era yang memungkinkan berbagai objek tertentu punya kemampuan untuk mentransfer data lewat jaringan tanpa memerlukan adanya interaksi dari manusia ke manusia ataupun dari manusia ke perangkat komputer.
Untuk mengetahui lebih spesifik tentang teknologi blockchain ini, Jurnalis NU Online Fathoni Ahmad melakukan wawancara dengan Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Abdul Kholik sesaat setelah halaqah blockchain sebagai berikut:
Kenapa HPN ini perlu membincangkan teknologi blockchain ini?
Blockchain ini adalah teknologi yang masih dalam tahap awal. Teknologi ini akan menjadi platform baru setelah platform internet. Jadi kalau kita terlibat sejak awal dalam perkembangan teknologi ini, Insyaallah kita akan memperoleh manfaat yang lebih besar.
Para narsumber misalnya Pak Rick Bleszynki (pengusaha teknologi prosesor asal Indonesia, tinggal di Amerika Serikat) misalnya, dia terlibat dalam teknologi prosesor itu kan dari awal dia, dari nol. Karena dari awal dia terlibat dalam teknologi ini, maka dia memperoleh kesempatan yang lebih besar, kemampuannya ikut melonjak, kemampuan teknologinya, kemampuan usahanya.
Terbukti dia sekarang dipakai oleh militer dan intelijen Amerika Serikat untuk menyuplai prosesornya mereka. Itu artinya hebat sekali. Di kalangan NU jika terlibat sejak awal dalam teknologi ini pada saat teknologi ini baru dan sedang dikembangkan, dan seperti apa yang dikatakan pak rick bahwa Blockchain ini akan menjadi the next platform.
Kesempatan untuk mempelajari blockchain ini penting bagi anak-anak muda NU yang saat ini sudah menggeluti teknologi tapi baru sampai level programming dan pembuatan website. Bincang-bincang ini memberikan kesempatan kepada generasi muda yang sudah bergerak di bidang IT agar arah perubahan IT bisa dipahami oleh anak muda NU.
Apalagi teknologi blokchain ini potensial. Mudah-mudahan ini memberikan kesempatan kepada teman-teman untuk memberikan visi untuk memberikan visi. Kalau mereka terlibat lebih awal dalam mengembangkan teknologi ini, maka akan bergerak maju.
Sudah dikembangkan sejauh mana di dunia bisnis secara spesifik?
Kalau sekarang kan yang banyak dipakai contoh bitcoin tapi itu kan salah satu aplikasi dari pemanfaatan blokchain. Blockhain yang powerfaul dalah bagaimana membuat aplikasi kepercayaan kapada semua orang. Dengan sistem tersebut, maka orang lain tidak perlu lagi memverifikasi kita, karena identitas kita semua sudah berada di Blockhain.
Misal bagaimana mentransfer uang ke Indonesia dari London. Dalam itungan detik, sudah bisa diproses. Tidak memerlukan bank. Sebelumnya, para TKI dari Hong Kong, Arab, Taiwan, dan Korsel, dan lain-lain harus lewat bank, biayanya mahal, waktunya lama. Teknologi blockchain bila dikembangkan bisa membantu TKI kita realtime detik ini pun dikirim, detik ini bisa diterima. Apalagi jika di HPN membuat aplikasi tersebut, maka manfaatnya bagi masyarakat tinggi sekali.
Tapi yang perlu kita lihat meskipun indonesia tidak mengizinkan, tidak ada negara satu pun yang bisa menahan teknolgi ini. Seperti bisnis digital seperti ojek online yang dkembangkan seperti sekarang tetapi mendapat protes, tetapi pada akhirnya pemerintah memberikan izin. Jika warga NU terlibat lebih awal akan mendapatkan peluang yang lebih besar.
Bagaimana generasi muda NU melihat teknologi blockchain ini dan selama ini sudah ada yang memanfaatkannya atau belum?
Sebenarnya ada pada level yang berbeda. Ya kita pernah terapkan tiga tahun yang lalu pada waktu kita membangun microfinance. Jika selama ini kita perlu memberikan kredit kepada masyarakat, syaratnya mereka harus memfotokopi identitas lalu semua diproses. Ini sudah berjalan tiga tahun yang lalu memberikan inovasi baru microfinance dengan teknologi baru yang lebih cepat.
Prosesnya kita fotokopi buku tabungannya lalu kita kirim di aplikasi kita. Hal ini tersistem secara otomatis. Kemudian terlihat, layak atau tidak untuk diberikan kredit. Dalam waktu satu atau dua hari selesai dengan menggunakan sistem microfinance. Ini sistem yang berjalan, rumus-rumus itu yang menentukan.
Misal, si fulan sudah memenuhi kredit tersebut. Kalau yang model konvensional, butuh satu minggu, dengan microfinance hanya butuh satu hari, nah dengan blokchain hanya butuh itungan detik. Selain itu, kita bisa membangun database. Database bisa diakses lebih cepat.
Bentuk lain sebagai wadah transaksi, teknisnya kita punya aplikasi sendiri dan harus mempunyai akun?
Teman-teman kita yang bergelut di bidang IT akan mengembangkan teknologi blockchain ini dalam bentuk aplikasi. Tentu saja sebagai pengguna harus punya akun di aplikasi tersebut.
Kalau kita mendaftrkan ke akun, maka transaksi uang kita akan diubah menjadi koin. Tetapi di Indonesia belum bisa ditukarkan menjadi uang karena pemerintah belum mengizinkan transaksi model tersebut.
Nanti kalau misalnya pemerintah sudah menghizinkan akan bisa dilakukan orang yang punya akun di Dompet HPN, misal dia tahu ada transfer dari Singapura, dia bisa ambil dari koperasi, atau ke mesin ATM punyanya NU.
Sekarnag ini yang bisa dilakukan kalau seandainya pengguna aplikasi di Indonesia lebih banyak, kita beli dalam bentuk poin. Seandainya teman-teman sudah masuk ke akun itu sebenarnya kita hanya butuh poin, beli di NU Mart pakainya poin kalau NU Mart punya akun serupa. Indoneaia belum mengizinkan poin diubah menjadi uang.
Negara mana saja yang sudah menerapkan teknologi blockchain?
Amerika, Jepang, China. Sebenarnya yang menginisiasi ide blockchain ini orang Jepang.
Kenapa Indoensia belum bisa menerapkan teknologi blockchain?
Sebenarnya di beberapa tempat sudah menerapkan, seperti di Bali. Anda bisa bayar hotel memakai koin. Lalu, kita juga bisa melihat sistem poin yang diterapkan perusahaan ojek online. Cuma poin tidak bisa jadi rupiah.
Bagaimana menyosialisasikan teknologi blockchain kepada warga NU secara umum?
Yang diinginkan oleh HPN, kita punya komunitasnya yang bisa mengembangkan teknologi blockchain. Kalau komunitas ada, kita bisa mengadakan silaturahim teknologi. Tapi kita mengikuti strategi, kalau kita mau mengejar ketertinggalan, kita bisa belajar dari akhir, tidak perlu dari awal. Seperti yang dilakukan Habibie, beliau langsung bikin pesawat. Dari produksi tersebut kita bisa belajar.
Kalau kita terlibat dari awal, kita berarti mulai dari akhir sehingga bisa maju. Supaya kita bisa lebih lanjut ke level yang lebih tinggi. Membetuk komunitas yang saling mengasuh dan mengasah. Selama ini, HPN memggumpulkan para pengusaha di bidang-bidang tertentu.
Perkembangan teknologi blockchain dalam ranah akdemik di perguruan tinggi seperti apa?
Di Indonesia sudah banyak potensi dari perkembangan teknologi blockchain ini. Justru teknologi ini memunculkan ketakutan dari pihak perbankan. Jika kita bisa mengembangkan blockchain ini, kita bisa moneyless, kita juga bankless, kita tidak perlu bank. Jika bank tidak mentransformasi diri, bank akan hilang, karena saat ini yang berkembang sistem crypto currency, kita sudah banyak, kita tidak oleh ketinggalan.
Empat tahun lagi, teknologi blockchain ini merajalela, kita harus bisa mengembangkan sehingga tidak ketinggalan. Tugas HPN memberikan visi ini bahwa ada anak teknologi baru, jangan sampai ketingalan.

LEBIH UTAMA MEMBELI PRODUK IMPOR ATAU YANG LOKAL

Sampai detik ini masih banyak anak-anak negeri ini lebih suka memakai barang-barang impor. Biasanya kalau ada jenis barang sama di mana yang satu adalah produk lokal sedang yang lainnya adalah barang impor, orang-orang kita cenderung memilih untuk membeli barang impor. Padahal secara kualitas tidak jauh beda bahkan mutu barang lokal itu kadang lebih bagus.

Pertanyaan yang ingin kami ajukan adalah bagaimana hukumnya lebih memilih barang impor ketimbang memilih untuk membeli barang lokal padahal secara kualitas adalah sama dan harganya tidak jauh berbeda?

Jawaban

Fenomena produk impor dari luar negeri yang terus membanjiri negeri kita adalah hal yang bisa mengandung nilai positif dan negatif. Hadirnya produk-produk tersebut menyebabkan konsumen dalam negeri memiliki banyak pilihan yang beragam.

Aktivitas jual-beli adalah termasuk dalam kategori mu’amalah. Sedang pada dasarnya hukum bermuamalah adalah boleh sepanjang tidak ada dalil yang melarangnya. Tidak ada nash yang secara tegas melarang seorang Muslim untuk membeli barang impor. Karena itu harus dikembalikan kepada hukum asalnya yaitu kebolehan untuk membeli barang impor sepanjang barang yang dibeli tersebut bukan termasuk barang yang diharamkan dalam pandangan Islam.

Namun persoalannya ternyata tidak sesederhana itu karena kecenderungan konsumen dalam negeri untuk lebih memlih produk impor ternayata disadari atau turut serta menghambat kemajuan perekenomian masyarakat dalam negeri itu sendiri.

Sebab, sejatinya apabila konsumen dalam negeri lebih senang membeli barang-barang impor maka yang akan memetik manfaat terbesar adalah produsen barang di luar negeri. Uang kita akan mengalir ke luar tanpa ada manfaat ekonomi ke dalam.

Hal Ini tentu menjadi problem tersendiri karena sikap lebih senang membeli barang impor malah menguntungkan pihak luar (i’anah ‘alal ghair) dan merugikan pihak dalam negeri secara ekonomi.

Dengan demikian kebiasaan untuk membeli barang impor daripada barang buatan dalam negeri padahal ada barang buatan dalam negeri yang sama-sama berkualitas merupakan kebiasaan yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Sebab, kebiasaan tersebut malah menguntungkan pihak luar dan merugikan bangsa sendiri.

وَمِنْ هَذِهِ الْعَادَاتِ وُلُوعُ النَّاسِ بِالشِّرَاءِ مِنَ الْأَجْنَبِيِّ يُفَضِّلُونَ عَلَى أَبْنَاءِ الْوَطَنِ

Artinya, “Dari salah satu kebiasaan (yang tidak baik) ini adalah orang lebih suka membeli (produk, pent) orang asing ketimbang produk anak negeri,” (Lihat Ali Mahfudl, Al-Ibda’ fi Madharil Ibtida’, [Riyadl, Maktabah Ar-Rusyd: 1421 H/2000 M], cet pertama,  halaman 354).

Berpijak dari sini maka sudah sepatutnya bagi kita untuk mencintai produk buatan dalam negeri. Karena dengan mencintainya, maka sama dengan membantu memperkuat ekonomi sesama anak bangsa. Lain halnya jika kita lebih cenderung memilih produk impor.

Jika penjelasan singkat ini ditarik dalam konteks pertanyaan di atas, maka jawaban atas pertanyaan tersebut adalah boleh membeli barang impor, tetapi kendati pun boleh tetapi sebaiknya dihindari jika memang masih ada produk dalam negeri karena berpotensi merugikan produsen dalam negeri sendiri.

Dengan kata lain, jika ada dua produk yang sama kualitas dan dengan harga yang tak jauh berbeda, di mana yang satu adalah produk impor sedang yang lainnya adalah produk dalam negeri, maka hukum membeli produk impor dalam konteks ini adalah makruh. Alasannya sebagaimana yang telah kami kemukakan di atas.

Untuk meningkatkan daya saing di antara gempuran produk-produk dari luar, para produsen lokal harus selalu membuat langkah-langkah terobosan dan inovatif sehingga membuat masyarakat lebih tertarik untuk melirik produk lokal. Sudah sepatutnya kita semua mendukung gerakan mencintai produk dalam negeri.

Hal penting yang perlu digarisbawahi adalah bahwa status hukum makruh tersebut mesti dibaca dalam konteks ketika barang yang kita perlukan tidak bisa dipenuhi oleh produk lokal, tetapi harus didatangkan dari luar.

WALLOHU A’LAM