MUJAHADAH SANGAT PENTING UNTUK MENDUKUNG IJTIHAD DAN JIHAD

Kata mujahadah tidak lebih populer daripada kata jihad atau ijtihad. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa ijtihad lebih utama daripada jihad. Rasulullah SAW bersabda,

    “Goresan tinta para ulama lebih utama daripada tumpahan darah para syuhada.”

Namun, masih ada yang lebih utama dari ijtihad, yakni mujahadah. Mujahadah ialah perjuangan yang mengandalkan unsur batin atau kalbu. Seusai sebuah peperangan yang amat dahsyat, Rasulullah SAW menyampaikan kepada para sahabatnya,

    “Kita baru saja pulang dari peperangan yang kecil ke peperangan yang lebih besar.”

Lalu beliau menjelaskan bahwa peperangan terbesar ialah melawan diri sendiri, yakni melawan hawa nafsu. Dalam buku Ihya Ulum al-Din, Imam Al-Gazali mengungkapkan, mujahadah satu jam lebih utama daripada beribadah (formalitas) setahun. Ini artinya, mujahadah merupakan puncak pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya.

Jihad, ijtihad, dan mujahadah, berasal dari satu akar kata yang sama, yaitu jahada yang berarti bersungguh-sungguh.

    Jihad adalah perjuangan sungguh-sungguh secara fisik;

    ijtihad perjuangan sungguh-sungguh melalui pikiran dan logika;

    dan mujahadah merupakan perjuangan sungguh-sungguh melalui kalbu.

Bagi masyarakat awam, jihad itulah ibadah yang paling tinggi. Namun dalam perspektif tasawuf, mujahadah menempati posisi yang lebih utama.

Mujahadah bisa mengantar manusia meraih predikat tertinggi sebagai manusia paripurna (insan kamil). Dan ia merupakan kelanjutan dari jihad dan ijtihad. Seseorang yang mendambakan kualitas hidup paripurna tidak bisa hanya mengandalkan salah satu dari ketiga perjuangan tadi. Tetapi, ketiganya harus sinergi di dalam diri.

Rasulullah SAW adalah contoh yang sempurna. Beliau dikenal sangat terampil dalam perjuangan fisik. Hal itu terbukti dengan keterlibatannya dalam beberapa peperangan. Dan beliau sendiri tampil sebagai panglima perang. Beliau juga seorang yang cerdas pikirannya, dan panjang tahajudnya.

Dalam konteks kekinian, komposisi ketiga unsur perjuangan di atas sebaiknya diatur sesuai dengan kapasitas setiap orang. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan masyarakat Muslim terbaik (khaira ummah).

Seseorang yang hanya memiliki kemampuan fisik, maka jihad fisik baginya adalah perjuangan yang tepat. Bagi seorang ulama, jihad paling utama baginya ialah menulis secara produktif untuk mencerahkan dan mencerdaskan umat. Namun, untuk mujahadah, sesungguhnya dapat diakses setiap orang dari golongan manapun. Mari memopulerkan mujahadah di samping jihad dan ijtihad dalam masyarakat.

WWW.JEJAKISLAM.COM MENYAMPAIKAN “SELAMAT IDUL FITRI 1440 H”.

WWW.JEJAKISLAM.COM SHOLAWAT BUKTI CINTA ROSULULLOH SAW.

MENYAMPAIKAN SELAMAT IDUL FITRI 1440 H.

SEMOGA KITA SEMUA BENAR BENAR BISA MENJADI MANUSIA YANG MUTTAQIN, YANG MENDAPATKAN ROHMAH, MAGHFIROH DAN TERBEBAS DARI API NERAKA. AMIN YA ROBBAL ‘ALAMIN

TAQOBBALALLOH SHIYAMANA WA SHIYAMAKUM

  جعلنا الله وإياكم من العائدين والفائزين والمقبولين كل عام وأنتم بخير. آمين

LANGKAH MENUJU IDUL FITRI 1440 H. KEKOMPAKAN KEMENANGAN KAUM MUSLIMIN

Syawwal secara literal memiliki beragam makna mulai dari ‘ringan’ hingga ‘mengandung’. Ini merupakan jejak dari era belasan abad silam kala masih berlaku sistem penanggalan lunisolar, dimana bulan kalender ini berlangsung usai puncak musim panas di Semenanjung Hijaz (Saudi Arabia). Dengan suhu udara yang mulai menurun maka kehidupan menjadi lebih ringan, tanpa didera sengatan tajam sinar mentari. Suhu udara yang mulai menurun juga diikuti mulai mengandungnya unta-unta betina seiring datangnya musim kawin mereka.

Namun di masa kini, manakala sistem penanggalan telah bertransformasi menjadi lunar murni, peranan Syawwal bertitik berat pada aspek religius. Inilah bulan kalender Hijriyyah yang mengikuti pada bulan Ramadan. Tanggal 1 Syawwal menandakan berakhirnya puasa Ramadan dan diperingati sebagai hari raya Idul Fitri. Di Indonesia dan negara-negara Asia Selatan / Asia Tenggara, perayaan Idul Fitri juga memiliki dimensi ekonomis dan sosio-kultural. Aktivitas konsumsi publik meningkat sepanjang masa libur Idul Fitri, jutaan manusia bermigrasi untuk sementara ke tanah kelahirannya dan tempat-tempat wisata yang eksotis pun dijubeli pengunjung.

Hilal

Seperti halnya bulan Ramadan, bulan Syawwal merupakan bagian kalender Hijriyyah yang gayut (bergantung) pada periode sinodis Bulan sebagai rentang waktu antara dua peristiwa konjungsi Bulan-Matahari berurutan. Konjungsi Bulan-Matahari sendiri adalah peristiwa saat Bulan dan Matahari menempati satu garis bujur ekliptika yang sama dalam tata koordinat langit. Pengamatan menunjukkan nilai periode sinodis Bulan sesungguhnya bervariasi di antara 29 hari 8 jam hingga 29 hari 16 jam. Namun jika pengamatan dilakukan dalam jangka panjang dan hasilnya dirata-ratakan, maka diperoleh nilai periode sinodis Bulan rata-rata adalah 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik. Inilah yang digunakan sebagai landasan untuk enetapkan panjang hari bulan Hijriyyah sebagai 29 hari atau

Penentu pergantian bulan kalender Hijriyyah adalah hilal, lengkungan sabit Bulan tertipis / termuda yang bisa dideteksi dengan mata baik menggunakan instrumen maupun tidak. Idul Fitri pun ditentukan dengan cara demikian. Secara umum di Indonesia terdapat dua cara penentuan Idul Fitri. Yang pertama adalah rukyat hilal (observasi hilal), yakni mencoba mengamati hilal dengan acuan setelah Matahari terbenam. Di satu sisi ini adalah cara penentuan dengan anggitan (rujukan) terbanyak dalam perspektif syariat. Akan tetapi di sisi lain cara ini butuh waktu hingga last minute guna memperoleh hasilnya. Sedangkan yang kedua adalah hisab (perhitungan astronomi), yakni mencoba memperhitungkan elemen-elemen posisional Bulan dan Matahari untuk kemudian diperbandingkan dengan persamaan batas (threshold) tertentu yang disebut kriteria. Di satu sisi hisab menyediakan aplikasi prediktif sejak jauh hari sebelumnya namun di sisi lain memiliki anggitan minimal. Pada dasarnya secara astronomi kedua cara tersebut berterima, sepanjang syarat dan ketentuan yang melekat pada masing-masing cara dipatuhi.

Indonesia memiliki sebuah kriteria untuk menentukan awal bulan kalender Hijriyyah, yang disebut kriteria Imkan Rukyat, atau disebut pula kriteria MABIMS karena menjadi acuan bagi Umat Islam di Asia Tenggara. Kriteria tersebut memiliki narasi tinggi Bulan toposentrik minimal adalah 2º dengan syarat tambahan. Yakni umur Bulan minimal 8 jam atau elongasi Bulan – Matahari minimal 3º. Kriteria ini dipergunakan baik dari sisi hisab, maupun dari sisi rukyat. Dari sisi hisab, maka apabila posisi Bulan sudah melebihi nilai kriteria ini awal bulan Hijriyyah yang baru sudah terjadi kala Matahari terbenam saat itu. Sementara dari sisi rukyat, kriteria ini juga menjadi alat untuk menerima atau menolak sebuah laporan hasil rukyat. Terutama jika laporan tersebut berdasarkan pada observasi mata telanjang saja, tanpa didukung alat bantu apapun dan tanpa citra/foto yang menjadi bukti.

Bagaimana dengan Idul Fitri 1440 H di Indonesia?

Tanggal 29 Ramadan 1440 H dalam Takwim Standar Indonesia bertepatan dengan Senin 3 Juni 2019 TU (Tarikh Umum). Pada tanggal inilah Idul Fitri 1440 H akan ditentukan, baik dengan cara hisab maupun rukyat. Pada almanak sejumlah ormas Islam seperti misalnya Nahdlatul ‘Ulama, Muhammadiyah dan Persis, tanggal 29 Sya’ban juga bertepatan pada hari yang sama.

Konjungsi geosentris Bulan dan Matahari terjadi pada hari Senin 3 Juni 2019 TU pukul 17:02WIB. Di seluruh Indonesia pada saat Matahari terbenam maka umur Bulan bervariasi mulai dari yang terkecil -1,6 jam (di Merauke, propinsi Papua) hingga yang terbesar +1,8 jam (di Banda Aceh, propinsi Aceh). Umur Bulan adalah selisih waktu di antara saat konjungsi geosentris Bulan dan Matahari dengan waktu lokal terbenamnya Matahari. Sementara tinggi toposentrik Bulan juga bervariasi dari yang terkecil -0º 57’ (di Jayapura, propinsi Papua) hingga yang terbesar +0º 22’ (di Pelabuhan Ratu, propinsi Jawa Barat). Demikian halnya elongasi Bulan bervariasi dari yang terkecil +3º 00’ (di Pelabuhan Ratu, propinsi Jawa Barat) hingga +3º 12’ (di Jayapura, propinsi Papua).

Dengan data-data tersebut, maka kriteria Imkan Rukyat tidak terpenuhi dari sisi hisab. Sementara dari sisi rukyat, masih harus menunggu hingga Matahari terbenam pada Senin senja 3 Juni 2019 TU, namun dengan Bulan terbenam lebih dulu dibanding Matahari pada saat ghurub (kecuali di sebagian Jawa dan sebagian Sumatra), maka mustahil hilal bisa dilihat. Pada sebagian pulau Jawa dan pulau Sumatra pun, meski Bulan terbenam terlambat dibanding Matahari, namun selisih waktu antara terbenamnya Matahari dan terbenamnya Bulan sangat singkat. Kurang dari 5 menit. Dalam situasi seperti ini juga mustahil hilal bisa dilihat. Dengan situasi demikian maka Idul Fitri 1440 H di Indonesia berpeluang sangat besar akan bertepatan dengan Rabu 5 Juni 2019 TU yang dimulai dari malam Rabu.

Bagaimana dengan belahan dunia lainnya?

Ada dua negara yang patut mendapat perhatian. Yang pertama adalah Saudi Arabia, negara yang membawahi dua tanah suci Umat Islam sedunia sehingga kerap dianggap sebagai kiblat dalam beragam aspek ibadah yang terkait dimensi spasial dan temporal. Termasuk dalam hal penentuan Idul Fitri. Arab Saudi bertumpu pada rukyat dalam menentukan 1 Syawwal 1440 H, namun bagaimana hasil rukyat di negara tersebut akan disikapi dapat dilihat dari sisi hisab.

Berbeda dengan Indonesia, segenap wilayah Saudi Arabia telah memiliki tinggi Bulan yang positif manakala Matahari terbenam pada Senin 3 Juni 2019 TU waktu setempat. Meski rentang tinggi Bulan di sana relatif kecil, yakni kurang dari 1º. Dengan tinggi Bulan yang sudah positif, bilamana apabila terdapat laporan hilal berhasil dilihat maka laporan tersebut berkemungkinan untuk diterima. Sehingga terbuka kemungkinan Saudi Arabia akan ber-Idul Fitri pada Selasa 4 Juni 2019 TU.

Negara yang kedua yang patut menjadi perhatian adalah Turki, tempat berlangsungnya Konferensi Penyatuan Kalender Hijriyyah Internasional 2016 sekaligus sebagai satu-satunya negara yang hingga saat ini telah meratifikasi Resolusi Istanbul. Resolusi Istanbul menyebutkan awal bulan Hijriyyah telah terjadi apabila tinggi Bulan minimal 5º dan elongasi Bulan – Matahari minimal 8º dimanapun di daratan pada Bumi ini, sepanjang di negara paling timur (yakni Selandia Baru) belum terbit fajar.

Berdasarkan data hisab, maka pada daratan paling barat (yakni wilayah benua Amerika bagian selatan) telah terjadi tinggi Bulan lebih dari 5º pada saat Matahari terbenam 3 Juni 2019 TU. Namun elongasinya masih kurang dari 8º dan demikian pula pada saat Matahari terbenam di Amerika selatan ternyata di Selandia Baru sudah terjadi terbitnya Matahari. Dengan semua kondisi tersebut, Turki telah memutuskan jauh hari sebelumnya bahwa Idul Fitri 1440 H di Turki bertepatan dengan Selasa 4 Juni 2019 TU.

BELAJAR DARI KHOLIFAH ABU BAKAR RA AGAR TIDAK GILA JABATAN

Belajar Tidak Gila Jabatan

Dalam angan-angannya, tidak sedikit pun terlintas di benak Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk menggebu-gebu menjadi kepala negara menggantikan Rasulullah SAW yang wafat. Sifat lembut dan penyabarnya hanya membuat dia sibuk mengurus jenazah Nabi Muhammad di saat sahabat lain berjibaku membicarakan transisi kepemimpinan. Abu Bakar ditemani Ali bin Abi Thalib ketika mengurus jenazah Rasulullah.

Dalam hal pergantian kekuasaan, sejarah mencatat bahwa sebelum wafat, Rasulullah tidak menunjuk siapa yang akan menggantikannya dalam kedudukan sebagai kepala negara. Namun, Rasulullah meninggalkan wasiat agar kaum mukmin untuk tetap berpegang pada ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Nabi secara substansial. Di mana di dalam dua sumber utama umat Islam tersebut tradisi musyawarah (syura) diakui dan mendapat keutamaan tersendiri.

Dari petunjuk tersebut, sistem pemilihan dan pergantian khalifah didasarkan pada musyawarah atau kesepakatan umat, bukan semata-mata pertimbangan penunjukkan atau garis keturunan keluarga tertentu. Namun, pengelolaan negara dalam perspektif pergantian kekuasaan mengelami perkembangan sistem pemerintahan. Sehingga ada yang berbentuk dinasti, kerajaan (mamlakah), republik (syura), dan lain-lain.

Pasca Nabi Muhammad wafat, prinsip musyawarah dalam pemilihan kepala negara telah berjalan dengan baik. Hal ini karena kaum Muslimin sudah terbiasa menerapkan prinsip ukhuwah Islamiyah, berupaya mengedepankan kesepakatan bersama (musawah) dan menerapkan hasil musyawarah dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana yang telah berjalan sejak era kenabian.

Namun demikian, di balik lancarnya musyawarah yang secara aklamasi menunjuk Abu Bakar sebagai kepala negara menggantikan Rasulullah, perdebatan sengit terjadi antara sahabat Anshar dan Muhajirin. Perdebatan tersebut merupakan sesuatu yang wajar sebagai prinsip keterbukaan dalam musyawarah. Tetapi belakangan berakhir pada pengakuan kesukuan.

Seperti diketahui, dalam musyawarah tersebut, suku Khazraj menunjuk Sa’ad bin Ubadah untuk menjadi khalifah pasca Rasulullah. Tapi suku Aus tidak bersedia menerima pencalonan Sa’ad karena mempertimbangkan pencalonan dari kaum Muhajirin. Suku Khazraj bersikukuh atas pendirian mereka untuk mengangkat khalifah meskipun dari kaum Muhajirin juga akan mempertahankan pendiriannya.

Terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah melalui pemilihan dan di dalamnya terdapat proses-proses yang terbuka. Keterbukaan tersebut ditunjukkan lewat perdebatan antara kaum Anshar dan Muhajirin. Namun akhirnya secara musyawarah mufakat yang terpilih ialah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Terkait perdebatan sengit tersebut yang berujung pada pengakuan kesukuan, akhirnya dapat ditengahi oleh Abu Bakar dalam pidatonya yang menyejukkan. Abu Bakar berhasil menyatukan kembali perbedaan dan perdebatan dua kubu tersebut. Substansi pidatonya diterima oleh seluruh kaum Anshar dan Muhajirin karena kesucian hati Abu Bakar yang tidak ada sedikit pun keinginannya untuk dilantik menjadi kepala negara.

Pidato Khalifah Abu Bakar RA.

Dikutip dari Ahmad Sya’labi dalam Mausuah Tarikh al-Islami wa al-Hadharah al-Islamiyyah, Khamami Zada (2018) mengungkapkan pidato Abu Bakar sebagai berikut:

“Wahai manusia, sesungguhnya aku telah kalian percayakan untuk memangku jabatan khalifah, padahal aku bukanlah yang paling baik di antara kalian. Sebaliknya, kalau aku salah, luruskanlah langkahku. Kebenaran adalah kepercayaan, dan dusta adalah penghianatan. Orang yang lemah di kalangan kamu adalah kuat dalam pandanganku, sesudah hak-haku aku berikan kepadanya. Sebaliknya, orang yang kuat di antara kalian aku anggap lemah setelah haknya saya ambil. Bila ada yang meninggalkan perjuangan di jalan Allah, maka Allah akan menghinakannya. Bila kejahatan itu sudah meluas pada suatu golongan, maka Allah akan menyebarkan bencana kepada mereka. Taatilah aku selama aku masih taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Tetapi selama aku tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, gugurlah kesetiaan kalian kepadaku. Laksanakanlah shalat, Allah akan memberikanmu rahmat.”

Dari pidato Abu Bakar itu dapat ditarik poin-poin penting di antaranya, pertama, Abu Bakar mengakui bahwa dirinya bukanlah orang terbaik. Kedua, dia harus dibantu hanya selama dirinya berbuat baik dan harus diluruskan bila dia berbuat tidak baik. Ketiga, dia akan memberikan hak kepada setiap orang tanpa membedakan antara yang kuat dengan yang lemah. Keempat, ketaatan kepadanya tergantung pada ketaatannya kepada Allah.

Sebelumnya, saat Nabi Muhammad sakit, Abu Bakar Ash-Siddiq diminta untuk menggantikan Rasul menjadi imam shalat. Permintaan Rasul ini menjadi diskusi para sahabat kala itu, sebagai tanda Abu Bakar menjadi pemimpin baru umat Islam. Namun seperti yang telah dijelaskan di awal, musyawarah tetap harus ditempuh oleh para sahabat dalam menetapkan pemimpin.

 WALLOHU A’LAM

INILAH TUJUH TANDA AKHIR ZAMAN DIANTARA BEBERAPA TANDA ZAMAN AKHIR

Tanda pertama

Dari Ibnu Umar Ra. ia berkata: “Pada satu ketika dibawa ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sepotong emas. Emas itu adalah emas zakat yang pertama sekali dibawa oleh Bani Sulaim dari pertambangan mereka. Maka sahabat berkata: “Hai Rasulullah! Emas ini adalah hasil dari tambang kita”. Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Nanti kamu akan dapati banyak tambang-tambang, dan yang akan menguasainya adalah orang-orang jahat. (HR. Baihaqi)

Kita telah mulai melihat bahwa penguasa-penguasa negara yang mengaku muslim namun mereka menyerahkan penguasaan tambang minyak, emas, tembaga kepada kaum non muslim.

Tanda kedua

Dan Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Abdurrahman Al Qari dari Suhail dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnya, tetapi dia tidak mendapatkan seorang pun yang bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur Makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai.” (HR Muslim 1681)

Sekarang kita telah mulai menyaksikan kebenaran sabda junjungan kita ini. Kita banyak melihat tanah Arab yang dahulunya tandus dan kering kerontang tetapi sekarang telah mulai menghijau dan ditumbuhi rumput-rumputan dan pohon-pohon kayu. Contohnya, Padang Arafah yang ada di Mekkah al-Mukarramah yang dahulunya hanya dikenali sebagai padang pasir tandus dan tidak ada pohon-pohonan. Sekarang ini Padang Arafah mulai dipenuhi pohon-pohonan, sehingga kelihatan menghijau dan kita dapat berteduh di bawah naungannya. Keadaan ini walaupun menyejukkan mata memandang namun ia mengurangi gambaran keadaan padang Mahsyar, tempat berhimpunnya seluruh makhluk pada hari qiamat nanti yang merupakan tujuan utama dan pelajaran penting yang diambil dari ibadah wuquf jamaah Haji di Padang Arafah pada setiap 9 Zulhijjah tahun Hijriyah.

Tanda ketiga.

 Telah bercerita kepada kami Yahya bin Bukair telah bercerita kepada kami Al Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah bin Az Zubair bahwa Zainab binti Abu Salamah bercerita kepadanya dari Ummu Habibah binti Abu Sufyan dari Zainab binti Jahsy radliallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepadanya dengan gemetar sambil berkata: Laa ilaaha illallah, celakalah bangsa Arab karena keburukan yang telah dekat, hari ini telah dibuka benteng Ya’juj dan Ma’juj seperti ini. Beliau memberi isyarat dengan mendekatkan telunjuknya dengan jari sebelahnya. Zainab binti Jahsy berkata, Aku bertanya; Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa sedangkan di tengah-tengah kita banyak orang-orang yang shalih?. Beliau menjawab: Ya, benar jika keburukan telah merajalela.  (HR Bukhari 3097 , 3331,  6535, 6602) (HR Muslim 128, 5129)

Ketika itu bangsa Arab, banyak orang muslim tetapi tidak banyak lagi muslim yang shalih, di tanah Arab tidak banyak lagi orang muslim yang mencapai maqom disisiNya

Tanda keempat

Dari Sahl bin Saad as-Sa ‘idi Ra. ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Ya Allah! Jangan Engkau pertemukan aku dan mudah-mudahan kamu (sahabat) tidak bertemu dengan suatu zaman dikala para ulama sudah tidak diikuti lagi, dan orang yang penyantun sudah tidak dihiraukan lagi. Hati mereka seperti hati orang Ajam (pada fasiqnya), lidah mereka seperti lidah orang Arab (pada fasihnya).” (HR. Ahmad)

Orang banyak mengikuti ulama yang fasih berbahasa arab akan tetapi mereka tidak dapat menggunakan hati mereka untuk memahami Al Qur’an dan Hadits.

Tanda kelima

Dari Ali bin Abi Thalib Ra. ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.: “Sudah hampir tiba suatu zaman, kala itu tidak ada lagi dari Islam kecuali hanya namanya, dan tidak ada dari Al-Qur’an kecuali hanya tulisannya. Masjid-masjid mereka indah, tetapi kosong dari hidayah. Ulama mereka adalah sejahat-jahat makhluk yang ada di bawah kolong langit. Dari merekalah keluar fitnah, dan kepada mereka fitnah itu akan kembali .” (HR. al-Baihaqi)

Orang banyak mengikuti ulama yang berilmu namun kosong hidayah dan menebar fitnah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh”

Tanda keenam

Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Abu Uwais berkata, telah menceritakan kepadaku Malik dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan (HR Bukhari 98)

Keadaan orang banyak mengikuti mereka yang berfatwa tanpa ilmu. Berfatwa menggunakan akal pikiran sendiri.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)

Ilmu agama atau ilmuNya bukan berasal dari akal pikiran manusia namun berasal dari lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang berasal dari apa yang telah diwahyukan oleh Allah Azza wa Jalla.

Kemudian dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam disampaikan melalui lisan ke lisan ulama yang sholeh sampai kepada hambaNya.

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

Mereka yang berfatwa tanpa ilmu, mereka memahami agama bersandarkan muthola’ah (menelaah kitab) dengan akal pikirannya sendiri.

Ulama keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Habib Munzir Al Musawa menyampaikan “Orang yang berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja maka ia tidak akan menemui kesalahannya karena buku tidak bisa menegur tapi kalau guru bisa menegur jika ia salah atau jika ia tak faham ia bisa bertanya, tapi kalau buku jika ia tak faham ia hanya terikat dengan pemahaman dirinya, maka oleh sebab itu jadi tidak boleh baca dari buku, tentunya boleh baca buku apa saja boleh, namun kita harus mempunyai satu guru yang kita bisa tanya jika kita mendapatkan masalah”

Ibnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )

Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yg berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)

Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.

Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”

Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203

Asy-Syeikh as-Sayyid Yusuf Bakhour al-Hasani menyampaikan bahwa “maksud dari pengijazahan sanad itu adalah agar kamu menghafazh bukan sekadar untuk meriwayatkan tetapi juga untuk meneladani orang yang kamu mengambil sanad daripadanya, dan orang yang kamu ambil sanadnya itu juga meneladani orang yang di atas di mana dia mengambil sanad daripadanya dan begitulah seterusnya hingga berujung kepada kamu meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, keterjagaan al-Qur’an itu benar-benar sempurna baik secara lafazh, makna dan pengamalan“

Imam Malik ra berkata: “Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu)”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka” (HR Bukhari)

Hakikat makna hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh dari orang yang disampaikan secara turun temurun sampai kepada lisannya Sayyidina Muhammad bin Abdullah Shallallahu alaihi wasallam.

Kita tidak diperkenankan menyampaikan apa yang kita pahami dengan akal pikiran sendiri dengan cara membaca dan memahami namun kita sampaikan apa yang kita dengar dan pahami dari lisan mereka yang sanad ilmunya tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena hanya perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang merupakan kebenaran atau ilmuNya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan agama kepada Sahabat. Sahabat menyampaikan kepada Tabi’in. Tabi’in menyampaikan pada Tabi’ut Tabi’in. Para Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya, mereka berijtihad dan beristinbat berlandaskan hasil bertalaqqi (mengaji ) pada Salafush Sholeh

Contoh sanad Ilmu atau sanad guru Imam Syafi’i ra

  1. Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam
  2. Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra
  3. Al-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra
  4. Al-Imam Malik bin Anas ra
  5. Al-Imam Syafei’ Muhammad bin Idris ra

Tanda ketujuh

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abbad dan Ibnu Abu Umar semuanya dari Marwan al-Fazari, Ibnu Abbad berkata, telah menceritakan kepada kami Marwan dari Yazid -yaitu Ibnu Kaisan- dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing.” (HR Muslim 208)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  telah mengabarkan bahwa Islam pada akhirnya akan asing pula sebagaimana pada awalnya karena pada umumnya kaum muslim walaupun mereka banyak dan menjalankan perkara syariat namun mereka gagal mencapai maqom disisiNya, mereka gagal menjadi muslim yang berakhlakul karimah, muslim yang sholeh, muslim yang ihsan atau muslim yang bermakrifat , muslim yang menyaksikan Allah ta’ala dengan hati mereka (ain bashiroh)

“Orang yang asing,  orang-orang yang berbuat kebajikan ketika manusia rusak atau orang-orang shalih di antara banyaknya orang yang buruk, orang yang menyelisihinya lebih banyak dari yang mentaatinya”. (HR. Ahmad)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Islam itu pada mulanya datang dengan asing dan akan kembali dengan asing lagi seperti pada mulanya datang. Maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing”. Beliau ditanya, “Ya Rasulullah,  siapakah orang-orang yang asing itu ?”. Beliau bersabda, “Mereka yang memperbaiki dikala rusaknya manusia”. [HR. Ibnu Majah dan Thabrani]

Islam pada awalnya datang dengan asing diantara manusia yang berakhlak buruk (non muslim / jahiliyah) .  Tujuan beragama adalah untuk menjadikan manusia yang berakhlakul karimah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad)

Beruntunglah orang orang yang asing yakni orang yang sholeh diantara orang  yang rusak / buruk  maknanya semakin akhir zaman maka semakin sedikit muslim yang mencapai maqom disisiNya atau muslim yang sholeh, muslim yang ihsan, muslim yang bermakrifat, muslim yang menyaksikan Allah ta’ala dengan hati mereka (ain bashiroh).

Imam Malik ~rahimahullah menasehatkan agar kita menjalankan perkara syariat sekaligus  menjalankan tasawuf agar manusia tidak rusak dan menjadi manusia berakhlak baik

Imam Malik ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fiqih (menjalankan syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fiqih (menjalankan syariat) tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia, hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar“

Begitupula Imam Syafi’i ~rahimahullah menasehatkan kita agar mencapai ke-sholeh-an sebagaimana salaf yang sholeh adalah dengan menjalankan perkara syariat sebagaimana yang mereka sampaikan dalam kitab fiqih sekaligus menjalankan tasawuf untuk mencapai muslim yang baik, muslim yang sholeh, muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang Ihsan

Imam Syafi’i ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat), maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 47]

Sebelum belajar Tasawuf, Imam Ahmad bin Hambal menegaskan kepada putranya, Abdullah ra. “Hai anakku, hendaknya engkau berpijak pada hadits. Anda harus hati-hati bersama orang-orang yang menamakan dirinya kaum Sufi. Karena kadang diantara mereka sangat bodoh dengan agama.”

Namun ketika beliau berguru kepada Abu Hamzah al-Baghdady as-Shufy, dan mengenal perilaku kaum Sufi, tiba-tiba dia berkata pada putranya “Hai anakku hendaknya engkau bermajlis dengan para Sufi, karena mereka bisa memberikan tambahan bekal pada kita, melalui ilmu yang banyak, muroqobah, rasa takut kepada Allah, zuhud dan himmah yang luhur (Allah)” Beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih utama ketimbang kaum Sufi.” Lalu Imam Ahmad ditanya, “Bukanlah mereka sering menikmati sama’ dan ekstase ?” Imam Ahmad menjawab, “Dakwah mereka adalah bergembira bersama Allah dalam setiap saat…”

Imam Nawawi ~rahimahullah berkata : “ Pokok-pokok metode ajaran tasawwuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawwuf halaman : 20, Imam Nawawi)

PENGERTIAN TURUN KE LANGIT DUNIA DI SEPERTIGA MALAM YANG TERAKHIR

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata, saya telah membacakan kepada Malik dari Ibnu Syihab dari Abu Abdullah Al Agharr dan dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Rabb Tabaraka wa Ta’la turun ke langit dunia pada setiap malam, yakni saat sepertiga malam terakhir seraya berfirman, ‘Siapa yang berdo’a kepadaKu niscaya akan Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepadaKu niscaya akan Aku berikan dan siapa yang memohon ampun kepadaKu, niscaya akan Aku ampuni.” (HR Muslim 1261)

Pemahaman Ibnu Taimiyyah “Hadits yang disepakati keshahihannya ini, merupakan dalil yang shahih dan gamblang, yang menyatakan turunnya Allah Tabaraka wa Ta’ala ke langit dunia pada setiap malam, ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir. Turunnya Allah Ta’ala ini sesuai dengan kebesaran dan keagunganNya. Turun merupakan salah satu sifat Fi’liyah. Dia turun ketika Dia menghendaki dan kapan saja Dia menghendaki. Arti turun telah diketahui, tetapi bagaimana keadaan turunNya itu tidak diketahui, mengimaninya merupakan kewajiban, sedangkan bertanya mengenainya adalah bid’ah”. (Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah li Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah, Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qathaniy)

Ulama Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam “100 Pelajaran dari Kitab Aqidah Wasithiyah” menuliskan

Ibnu Taimiyyah dalam Ar Risalah Al ‘Arsyiyah berkata : “ Sesungguhnya Arsy tidak kosong; karena dalil-dalil tentang bersemayamnya Allah di atas Arsy adalah muhkam (tidak memerlukan takwil karena kejelasan maknanya), dan hadits tentang turun-Nya Allah muhkam pula. Sedangkan sifat-sifat Allah Suybhanahu Wa Ta’ala tidak bisa dikiaskan dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Maka wajib bagi kita untuk menetapkan nash-nash tentang istiwa (bersemayam) berdasarkan kedudukannya yang muhkam, begitu pula tentang turunnya Allah. Kita katakan bahwa Allah bersemayam di atas arsy, Allah juga turun ke langit dunia. Dia lebih mengetahui tentang bagaimana Dia bersemayam dan bagaimana Dia turun, sedangkan akal kita sangat terbats, sempit dan hina untuk mengetahui ilmu Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

Dari sini kemudian muncul permasalahan selanjutnya pada sebagian orang zaman sekarang yang memiliki pengetahuan bahwa bumi itu bulat dan matahari beredar mengelilingi bumi. Mereka melemparkan syubhat : bagaimana Allah turun di sepertiga malam terakhir sedangkan waktu antara Negara itu berbeda- beda? Seperti di Saudi Arabia kemudian berpindah ke Eropa dan negara-negara lainnya, apakah Allah akan sekali turun lebih dari sekali dalam satu malam?

Jawaban kami adalah : berimanlah anda terlebih dahulu bahwa Allah turun pada waktu yang telah ditentukan. Jika anda telah percaya maka tidak ada masalah setelah itu, jangan anda menanyakan “Bagaimana caranya?” tapi katakanlah : jika waktu sepertiga malam terakhir ada di Saudi, maka Allah tetap turun dan jika di Amerika sepertiga malam, maka Allah tetap turun juga. Kemudian jika fajar telah tiba maka habislah waktu turunnya Allah berdasarkan waktu setempat.

Imam Malik bin Anas ra menghadapi hadits ”Allah turun disetiap sepertiga malam” adalah, yanzilu amrihi (turunnya perintah dan rahmat Allah) pada setiap sepertiga malam adapun Allah Azza wa Jalla adalah tetap tidak bergeser dan tidak berpindah, maha suci Allah yang tiada tuhan selainNya.

Ulama yang sholeh keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Habib Munzir menyampaikanMaksudnya bukan secara makna yang dhohir Allah itu ke langit yang terdekat dengan bumi, karena justru hadits ini merupakan satu dalil yang menjawab orang yang mengatakan bahwa Allah Swt itu ada di satu tempat atau ada di Arsy.

Yang dimaksud adalah Allah itu senang semakin dekat, semakin dekat, semakin dekat kepada hamba hamba Nya disaat sepertiga malam terakhir semakin dekat Kasih Sayang Allah.

Allah itu dekat tanpa sentuhan dan jauh tanpa jarak. Berbeda dengan makhluk, kalau dekat mesti ada sentuhan dan kalau jauh mesti ada jarak. “Allah laysa kamitslihi syai’un”  (Allah tidak sama dengan segala sesuatu) (QS Assyura 11)

Allah Swt turun mendekat kepada hamba Nya di sepertiga malam terakhir maksudnya Allah membukakan kesempatan terbesar bagi hamba hamba Nya di sepertiga malam terakhir.

Sepertiga malam terakhir kira kira pukul 2 lebih dinihari.., kalau malam dibagi 3, sepertiga malam terakhir kira kira pukul 2 lebih, sampai sebelum adzan subuh itu sepertiga malam terakhir, waktu terbaik untuk berdoa dan bertahajjud.

Disaat saat itu kebanyakan para kekasih lupa dengan kekasihnya. Allah menanti para kekasih Nya. Sang Maha Raja langit dan bumi  Yang Maha Berkasih Sayang menanti hamba hamba yang merindukan Nya, yang mau memisahkan ranjangnya dan tidurnya demi sujudnya Kehadirat Allah Yang Maha Abadi. Mengorbankan waktu istirahatnya beberapa menit untuk menjadikan bukti cinta dan rindunya kepada Allah.

Kami,  kaum muslim pada umumnya bukannya menolak sebagian sifat-sifat Allah , namun kami menghindari mengi’tiqodkan dengan makna dzahir

Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.

Imam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir (kufur dalam i’tiqod) secara pasti.”

Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir”.

Seseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”

Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda (makhlukNya) dan anggota-anggota badan.”

Syeikh Al-Akhthal dalam “Hasyiyah ad-Dasuqi ‘ala Ummil Barahin”  menuliskan bahwa mereka yang mengi’tiqodkan Allah ta’ala mempunyai tangan tetapi  tidak serupa dengan tangan makhlukNya atau Allah ta’ala turun sebagaimana yang dikehendakiNya dan tidak serupa dengan turun makhlukNya , maka orang tersebut hukumnya “‘Aashin” atau orang yang telah berbuat durhaka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ulama yang sholeh keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,  Sayyid Muhammad bin Alwi Maliki mengatakan “‘Walaupun dalam kisah mi’raj yang didengar terdapat keterangan mengenai naik-turunnya Rasulullah, seorang muslim tidak boleh menyangka bahwa antara hamba dan Tuhannya terdapat jarak tertentu, karena hal itu termasuk perbuatan kufur. Na’udzu billah min dzalik. Naik dan turun itu hanya dinisbahkan kepada hamba, bukan kepada Tuhan. Meskipun Nabi shallallahu alaihi wasallam pada malam Isra’ sampai pada jarak dua busur atau lebih pendek lagi dari itu, tetapi beliau tidak melewati maqam ubudiyah (kedudukan sebagai seorang hamba). Ketahuilah bahwa bolak-baliknya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam antara Nabi Musa alaihissalam dengan Allah subhanahu wa ta’ala pada malam yang diberkahi itu tidak berarti adanya arah bagi Allah subhanahu wa ta’ala. Mahasuci Allah dari hal itu dengan sesuci-sucinya. Ucapan Nabi Musa alaihissalam kepada beliau, “Kembalilah kepada Tuhanmu,” artinya: “kembalilah ke tempat engkau bermunajat kepada Tuhanmu. Maka kembalinya Beliau adalah dari tempat Beliau berjumpa dengan Nabi Musa alaihissalam ke tempat beliau bermunajat dan bermohon kepada Tuhannya. Tempat memohon tidak berarti bahwa yang diminta ada di tempat itu atau menempati tempat itu karena Allah Subhanahu wa ta’ala suci dari arah dan tempat. Maka kembalinya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam kepadaNya adalah kembali Beliau meminta di tempat itu karena mulianya tempat itu dibandingkan dengan yang lain. Sebagaimana lembah Thursina adalah tempat permohonan Nabi Musa alaihissalam di bumi”.  (Wa huwa bi al’ufuq al-a’la diterjemahkan oleh Sahara publisher dengan judul Semalam bersama Jibril ‘alaihissalam)

Kesimpulannya adalah Allah ta’ala tidak bertempat di suatu tempat dan tidak juga bertempat di mana mana. Maha suci Allah dari “di mana” dan “bagaimana”

Imam Sayyidina Ali ra mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya yang menciptakan ayna (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kayfa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana“

Imam al Qusyairi menyampaikan, ” Dia Tinggi Yang Maha Tinggi, Luhur Yang Maha Luhur dari ucapan “bagaimana Dia?” atau “dimana Dia?”. Tidak ada upaya, jerih payah, dan kreasi-kreasi yang mampu menggambari-Nya, atau menolak dengan perbuatan-Nya atau kekurangan dan aib. Karena, tak ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Melihat. Kehidupan apa pun tidak ada yang mengalahkan-Nya. Dia Dzat Yang Maha Tahu dan Kuasa“.

Allah Azza wa Jalla, ada sebagaimana awalnya , sebagaimana akhirnya, sebagaimana sebelum diciptakan ‘Arsy, sebagaimana sebelum diciptakan langit, sebagaimana sebelum diciptakan ciptaanNya. Dia tidak berubah, tidak berpindah, tidak berbentuk, tidak berbatas, tidak ada yang menyerupaiNya. Dia dekat tidak bersentuh dan Dia jauh tidak berjarak maupun tidak berarah.

Imam Syafi’i ~rahimahullah menjelaskan,

إنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكان ولا يجوز عليه التغير في ذاته ولا التبديل في صفاته (إتحاف السادة المتقين بشرح إحياء علوم الدين, ج 2، ص 24)

“Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap dengan sifat-sifat-Nya yang Azali sebelum Dia menciptakan tempat tanpa tempat. Tidak boleh bagi-Nya berubah (berpindah), baik pada Dzat maupun pada sifat-sifat-Nya”

Dalam kitab al-Washiyyah, Al-Imam Abu Hanifah menuliskan:

وَنُقِرّ بِأنّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى مِنْ غَيْرِ أنْ يَكُوْنَ لَهُ حَاجَةٌ إليْهِ وَاسْتِقْرَارٌ عَلَيْهِ، وَهُوَ حَافِظُ العَرْشِ وَغَيْرِ العَرْشِ مِنْ غَبْرِ احْتِيَاجٍ، فَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا لَمَا قَدَرَ عَلَى إيْجَادِ العَالَمِ وَتَدْبِيْرِهِ كَالْمَخْلُوقِيْنَ، وَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا إلَى الجُلُوْسِ وَالقَرَارِ فَقَبْلَ خَلْقِ العَرْشِ أيْنَ كَانَ الله، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوّا كَبِيْرًا.

“Kita menetapkan sifat Istiwa bagi Allah pada arsy, bukan dalam pengertian Dia membutuhkan kepada arsy tersebut, juga bukan dalam pengertian bahwa Dia bertempat atau bersemayam di arsy. Allah yang memelihara arsy dan memelihara selain arsy, maka Dia tidak membutuhkan kepada makhluk-makhluk-Nya tersebut. Karena jika Allah membutuhkan kapada makhluk-Nya maka berarti Dia tidak mampu untuk menciptakan alam ini dan mengaturnya. Dan jika Dia tidak mampu atau lemah maka berarti sama dengan makhluk-Nya sendiri. Dengan demikian jika Allah membutuhkan untuk duduk atau bertempat di atas arsy, lalu sebelum menciptakan arsy dimanakah Ia? (Artinya, jika sebelum menciptakan arsy Dia tanpa tempat, dan setelah menciptakan arsy Dia berada di atasnya, berarti Dia berubah, sementara perubahan adalah tanda makhluk). Allah maha suci dari pada itu semua dengan kesucian yang agung”

Dalam al-Fiqh al-Absath, al-Imam Abu Hanifah menuliskan:

قُلْتُ: أرَأيْتَ لَوْ قِيْلَ أيْنَ اللهُ؟ يُقَالُ لَهُ: كَانَ اللهُ تَعَالَى وَلاَ مَكَانَ قَبْلَ أنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ، وَكَانَ اللهُ تَعَالَى وَلَمْ يَكُنْ أيْن وَلاَ خَلْقٌ وَلاَ شَىءٌ، وَهُوَ خَالِقُ كُلّ شَىءٍ.

“Aku katakan: Tahukah engkau jika ada orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu”

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam doanya:

اللهم أنت الاول فليس قبلك شئ وأنت الآخر فليس بعدك شئ وأنت الظاهر فليس فوقك شئ وأنت الباطن فليس دونك شئ اقض عنا الدين واغننا من الفقر .

“Ya Allah, Engkaulah Dzat Yang Maha Awal, maka tiada sesuatu sebelum-Mu. Engkaulah Dzat Yang Maha Akhir , maka tiada sesuatu setelah-Mu. Engkau lah Dzat Yang Maha Dzahir maka tiada sesuatu di atas-Mu dan Engkau lah Dzat yang Maha Bathin maka tiada sesuatu di bawah-Mu. Ya Allah lunasilah hutangku dan kayakan aku dari kefakiran.” (HR Muslim,Shahih Muslim,4/2084) atau (Syarah Muslim,17/36)

Imam Syafi’i ~ rahimahullah juga menjelaskan bahwa “jika Allah bertempat di atas ‘Arsy maka pasti memiliki arah bawah, dan bila demikian maka mesti akan memiliki bentuk tubuh dan batasan, dan sesuatu yang memiliki batasan mestilah ia merupakan makhluk, Allah Maha Suci dari pada itu semua.”

ال الشيخ ابن حجر الهيتمي ناقلا المسائل التي خالف فيها ابن تيميه اجماع المسلمين ما نصه : وان العالم قديم بالنوع ولم يزل مع الله مخلوقا دائما فجعله موجبا بالذات لا فاعلا بالاختيارتعالى الله عن ذالك, وقوله بالجسمبة والجهة والانتقال و انه بقدر العرش لااصغر ولا اكبر , تعالى الله عن هذا الافتراء الشنيع القبيخ والكفر البراح الصريح. (الفتاوى الحديثية ص: ١١٦

Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitamy berkata dengan menukil permasalahan-permasalahan Ibnu Taimiyyah yang menyalahi kesepakatan umat Islam, yaitu : (Ibnu Taimiyyah telah berpendapat) bahwa  alam itu bersifat dahulu dengan satu macam, dan selalu makhluk bersama Allah. Ia telah menyandarkan alam dengan Dzat Allah Swt bukan dengan perbuatan Allah secara ikhtiar, sungguh Maha Luhur Allah dari penyifatan yang demikian itu. Ibnu Taimiyyah juga berkeyakinan adanya jisim pada Allah Swt, arah dan perpindahan. Ia juga berkeyakinan bahwa Allah tidak lebih kecil dan tidak lebih besar dari Arsy. Sungguh Allah maha Suci atas kedustaan keji dan buruk ini serta kekufuran yang nyata “. (Al-Fatawa Al-Haditsiyyah : 116)

وقال ايضا ما نصه : واياك ان تصغي الى ما في كتب ابن تيمية وتلميذه ابن القيم الجوزية وغيرهما ممن اتخذ الهه هواه واضله الله على علم و ختم على سمعه وقلبه وجعل على بصره غشاوة فمن يهديه من بعدالله. و كيف تجاوز هؤلاء الملحدون الحدود و تعدواالرسوم وخرقوا سياج الشربعة والحقيقة فظنوا بذالك انهم على هدى من ربهم وليسوا كذالك. (الفتاوى الحديثية ص:۲۰۳

Beliau (Syaikh Ibnu Hajar) juga berkata “ Maka berhati-hatilah kamu, jangan kamu dengarkan apa yang ditulis oleh Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah dan selain keduanya dari orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah telah menyesatkannya dari ilmu serta menutup telinga dan hatinya dan menjdaikan penghalang atas pandangannya. Maka siapakah yang mampu member petunjuk atas orang yang telah Allah jauhkan ?. Bagaimana orang-orang sesat itu telah melampai batasan-batasan syare’at dan aturan, dan mereka pun juga telah merobek pakaian syare’at dan hakikat, mereka masih menyangka bahwa mereka di atas petunjuk dari Tuhan mereka, padahal sungguh tidaklah demikian “. (Al-Fatawa Al-Haditsiyyah : 203)

Sekarang marilah kita simak penuturan seorang ulama yang sezaman dengan Ibnu Taimiyyah yaitu Ibnu Syakir Al-Kutuby dalam salah satu kitab tarikhnya juz 20 yang telah diabadikan oleh seorang ulama besar dari kalangan Ahlus sunnah yang terkenal di seluruh penjuru dunia yaitu Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Astqolani dalam kitabnya “ Ad-Duroru Al-Kaaminah “ dan beliau juga penyarah kitab Shohih Bukhori yang dinamakan Fathu Al-Bari.  ***** awal kutipan *****

Sidang Pertama : “Di tahun 705 di hari ke delapan bulan Rajab, Ibnu Taimiyyah disidang dalam satu majlis persidangan yang dihadiri oleh para penguasa dan para ulama ahli fiqih di hadapan wakil sulthon. Maka Ibnu Taimiyyah ditanya tentang aqidahnya, lalu ia mengutarakan sedikit dari aqidahnya. Kemudian dihadirkan kitab aqidahnya Al-Wasithiyyah dan dibacakan dalam persidangan, maka terjadilah pembahasan yang banyak dan masih ada sisa pembahasan yang ditunda untuk sidang berikutnya.

Dan di tahun 707 hari ke-6 bulan Rabi’ul Awwal hari kamis, Ibnu Taimiyyah menyatakan taubatnya dari akidah dan ajaran sesatnya di hadapan para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah dari kalangan empat madzhab, bahkan ia membuat perjanjian kepada para ulama dan hakim dengan tertulis dan tanda tangan untuk tidak kembali ke ajaran sesatnya, namun setelah itu ia pun masih sering membuat fatwa-fatwa nyeleneh dan mengkhianati surat perjanjiannya hingga akhirnya ia mondar-mandir masuk penjara dan wafat di penjara sebagaimana nanti akan diutarakan ucapan dari para ulama.

Berikut ini pernyataan Ibnu taimiyyah tentang pertaubatannya :

الحمد الله، الذي أعتقده أن في القرءان معنى قائم بذات الله وهو صفة من صفات ذاته القديمة الأزلية وهو غير مخلوق، وليس بحرف ولا صوت، وليس هو حالا في مخلوق أصلا ولا ورق ولا حبر ولا غير ذلك، والذي أعتقده في قوله: ? الرحمن على آلعرش آستوى ? [سورة طه] أنه على ما قال الجماعة الحاضرون وليس على حقيقته وظاهره، ولا أعلم كنه المراد به، بل لا يعلم ذلك إلا الله، والقول في النزول كالقول في الاستواء أقول فيه ما أقول فيه لا أعرف كنه المراد به بل لا يعلم ذلك إلا الله، وليس على حقيقته وظاهره كما قال الجماعة الحاضرون، وكل ما يخالف هذا الاعتقاد فهو باطل، وكل ما في خطي أو لفظي مما يخالف ذلك فهو باطل، وكل ما في ذلك مما فيه إضلال الخلق أو نسبة ما لا يليق بالله إليه فأنا بريء منه فقد تبرأت منه وتائب إلى الله من كل ما يخالفه وكل ما كتبته وقلته في هذه الورقة فأنا مختار فى ذلك غير مكره. كتبه أحمد بن تيمية) وذلك يوم الخميس سادس شهر ربيع الآخر سنة سبع وسبعمائة

“ Segala puji bagi Allah yang aku yakini bahwa di dalam Al-Quran memiliki makna yang berdiri dengan Dzat Allah Swt yaitu sifat dari sifat-sifat Dzat Allah Swt yang maha dahulu lagi maha azali dan al-Quran bukanlah makhluq, bukan berupa huruf dan suara, bukan suatu keadaan bagi makhluk sama sekali dan juga bukan berupa kertas dan tinta dan bukan yang lainnya. Dan aku meyakini bahwa firman Allah Swt “ الرحمن على آلعرش آستوى adalah apa yang telah dikatakan oleh para jama’ah (ulama) yang hadir ini dan bukanlah istawa itu secara hakekat dan dhohirnya, dan aku pun tidak mengetahui arti dan maksud yang sesungguhnya kecuali Allah Swt, bukan istawa secara hakekat dan dhohir seperti yang dinyatakan oleh jama’ah yang hadir ini. Semua yang bertentangan dengan akidah ini adalah batil. Dan semua apa yang ada dalam tulisanku dan ucapanku yang bertentangan dari semua itu adalah batil. Semua apa yang telah aku tulis dan ucapkan sebelumnya adalah suatu penyesatan kepada umat atau penisbatan sesuatu yang tidak layak bagi Allah Swt, maka aku berlepas diri dan menjauhkan diri dari semua itu. Aku bertaubat kepada Allah dari ajaran yang menyalahi-Nya. Dan semua yang aku dan aku ucapkan di kertas ini maka aku dengan suka rela tanpa adanya paksaan “ Telah menulisnya : (Ahmad Ibnu Taimiyyah) Kamis, 6-Rabiul Awwal-707 H.

Di atas surat pernyaan itu telah ditanda tangani di bagian atasnya oleh Ketua hakim, Badruddin bin jama’ah. Pernyataan ini telah disaksikan, diakui dan ditanda tangani oleh : – Muhammad bin Ibrahim Asy-Syafi’i, beliau menyatakan : اعترف عندي بكل ما كتبه بخطه في التاريخ المذكور (Aku mengakui segala apa yang telah dinyatakan oleh Ibnu Taimiyyah ditanggal tersebut) – Abdul Ghoni bin Muhammad Al-Hanbali : اعترف بكل ما كتب بخطه (Aku mengakui apa yang telah dinyatakannya) – Ahmad bin Rif’ah – Abdul Aziz An-Namrowi : أقر بذلك (Aku mengakuinya) – Ali bin Miuhammad bin Khoththob Al-Baji Asy-Syafi’I : أقر بذلك كله بتاريخه (Aku mengakui itu dengan tanggalnya) – Hasan bin Ahmad bin Muhammad Al-Husaini : جرى ذلك بحضوري في تاريخه (Ini terjadi di hadapanku dengan tanggalnya) – Abdullah bin jama’ah (Aku mengakuinya) – Muhammad bin Utsman Al-Barbajubi : أقز بذلك وكتبه بحضوري (Aku mengakuinya dan menulisnya dihadapanku).

Mereka semua adalah para ulama besar di masa itu salah satunya adalah syaikh Ibnu Rif’ah yang telah mengarang kitab Al-Matlabu Al-‘Aali “ syarah dari kitab Al-Wasith imam Ghozali sebanyak 40 jilid.

Namun faktanya Ibnu Taimiyah tidak lama melanggar perjanjian tersebut dan kembali lagi dengan ajaran-ajaran menyimpangnya. Sampai-sampai dikatakan oleh seorang ulama :

 لكن لم تمض مدة على ذلك حتى نقض ابن تيمية عهوده ومواثيقه كما هو عادة أئمة الضلال ورجع إلى عادته القديمة في الإضلال.

“ Akan tetapi tidak lama setelah itu Ibnu Taimiyyah melanggar perjanjian dan pernyataannya itu sebegaimana kebiasaan para imam sesat dan ia kembali pada kebiasaan lamanya di dalam menyesatkan umat “

Sidang kedua : Diadakan hari jum’ah hari ke-12 dari bulan Rajab. Ikut hadir saat itu seorang ulama besar Shofiyuddin Al-Hindiy. Maka mulailah pembahasan, mereka mewakilkan kepada syaikh Kamaluddin Az-Zamalkani dan akhirnya beliau memenangkan diskusi itu, beliau telah membungkam habis Ibnu Taimiyyah dalam persidangan tersebut. Ibnu Taimiyyah merasa khawatir atas dirinya, maka ia member kesaksian pada orang-orang yang hadir bahwa ia mengaku bermadzhab Syafi’I dan beraqidah dengan aqidah imam Syafi’i. Maka orang-orang ridho dengannya dan mereka pun pulang.

Sidang ketiga : Sebelumnya Ibnu Taimiyyah mengaku bermadzhab Syafi’I, namun pada kenyataannya ia masih membuat ulah dengan fatwa-fatwa yang aneh-aneh sehingga banyak mempengaruhi orang lain. Maka pada akhir bulan Rajab, para ulama ahli fiqih dan para qodhi berkumpul di satu persidangan yang dihadiri wakil shulthon saat itu. Maka mereka semua saling membahas tentang permasalahan aqidah dan berjalanlah persidangan sbgaiamana persidangan yang pertama. Setelah beberapa hari datanglah surat dari sulthon untuk berangkat bersama seorang utusan dari Mesir dengan permintaan ketua qodhi Najmuddin.

Di antara isi surat tersebut berbunyi “ Kalian mengetahui apa yang terjadi di tahun 98 tentang aqidah Ibnu Taimiyyah “. Maka mereka bertanya kepada orang-orang tentang apa yang terjadi pada Ibnu Taimiyyah. Maka orang-orang mendatangkan aqidah Ibnu Taimiyyah kepada qodhi Jalaluddin Al-Quzwaini yang pernah dihadapkan kepada ketua qodhi imamuddin. Maka mereka membincangkan masalah ini kepada Raja supaya mengirim surat untuk masalah ini dan raja pun mnyetujuinya. Kemudian setelah itu Raja memerintahkan syamsuddin Muhammad Al-Muhamadar Ibnu untuk mendatangi Ibnu Taimiyyah dan ia pun berkata kepada Ibnu Taimiyyah “ Raja telah memerintahkanmu untuk pergi esok hari. Maka Ibnu Taimiyyah berangkat ditemani oleh dua Abdullah dan Abdurrahman serta beberapa jama’ahnya.

Siding keempat : Maka pada hari ketujuh bulan Syawwal sampailah Ibnu Taimiyyah ke Mesir dan diadakan satu persidangan berikutnya di benteng Kairo di hadapan para qodhi dan para ulama ahli fiqih dari empat madzhab. Kemudian syaikh Syamsuddin bin Adnan Asy-Syafi’I berbicara dan menyebutkan tentang beberapa fasal dari aqidah Ibnu Taimiyyah. Maka Ibnu Taimiyyah memulai pembicaraan dengan pujian kepada Allah Swt dan berbicara dengan pembicaraan yang mengarah pada nasehat bukan pengklarifikasian. Maka dijawab “ Wahai syaikh, apa yang kau bicarakan kami telah mengetahuinya dan kami tidak ada hajat atas nasehatmu, kami telah menampilkan pertanyaan padamu maka jawablah ! “. Ibnu Taimiiyah hendak mengulangi pujian kepada Allah, tapi para ulama menyetopnya dan berkata “ Jawablah wahai syaikh “. Maka Ibnu Taimiyyah terdiam “. Dan para ulama mengulangi pertanyaan berulang-ulang kali tapi Ibnu Taimiyyah selalu berbeli-belit dalam berbicara. Maka seorang qodhi yang bermadzhab Maliki memerintahkannya untuk memenjarakan Ibnu Taimiyyah di satu ruangan yang ada di benteng tersebut bersama dua saudaranya yang ikut bersamanya itu. Begitu lamanya ia menetap di penjara dalam benteng tersebut hingga ia wafat dalam penjara pada malam hari tanggal 22, Dzulqo’dah tahun 728 H.

MEMINUM TEH DI PAGI HARI SAMBIL MENCARI INSPIRASI DAN SOLUSI

Seorang pria muda datang pada ibunya dan mengeluh tentang banyaknya permasalahan dalam kehidupannya.

Namun betapa kagetnya, karena ternyata ibunya hanya diam saja, seolah tidak ingin mendengarkan keluh kesahnya.

Bahkan sang ibu malah masuk ke dapur dan anaknya terus bercerita sambil mengikutinya.

Sang ibu lalu memasak air.

Sampai airnya mendidih, lalu sang ibu menuangkan ‘Air Panas Mendidih’ itu ke dalam 3 gelas yang telah disiapkan.

Di gelas pertama ia masukkan WORTEL, di gelas kedua ia masukkan TELUR dan di gelas ketiga ia masukkan TEH.

Setelah menunggu beberapa saat, ia mengangkat isi ketiga gelas tadi dan hasilnya:

  • WORTEL yang KERAS menjadi LUNAK,
  • TELUR yang mudah PECAH menjadi KERAS,
  • TEH menghasilkan aroma yang HARUM.

Lalu sang ibu menjelaskan:

“Nak….. MASALAH DALAM HIDUP ITU BAGAIKAN AIR MENDIDIH.

Namun, sikap kitalah yang akan menentukan dampaknya.

Kita bisa menjadi Lembek seperti Wortel, mengeras seperti Telur, atau harum seperti TEH.

Wortel dan telur bukan mempengaruhi air, tetapi malah berubah karena air mendidih itu,

sementara TEH malah mengubah AIR, membuatnya menjadi HARUM.

”Setiap Masalah, selalu tersimpan Mutiara Iman yang berharga.

Sangat mudah untuk bersyukur saat keadaan baik-baik saja.

Tapi apakah kita dapat tetap percaya saat pertolongan Allah seolah tidak kunjung datang?

Ada 3 reaksi orang saat masalah datang:

  • Ada yang menjadi lembek, suka mengeluh (seperti wortel tadi) dan mengasihani diri sendiri.
  • Ada yang mengeras (seperti telur), marah dan berontak kepada Tuhannya…
  • Ada juga yang justru semakin harum (seperti teh), menjadi semakin kuat dan percaya pada-NYA.

Ada kalanya Allah sengaja menunda pertolongan-NYA.

Apa tujuannya?

Agar kita belajar percaya dan setia!

Karena tidak pernah ada masalah yang tidak bisa Allah selesaikan…

Selamat menikmati Secangkir Teh campur daun Tin di pagi ini..

SELAMAT HARLAH NU 96, 23 MARET 2019, ISTIGHOSAH KUBRO DAN TAHLIL NASIONAL

PBNU Siap Gelar Istighotsah Kubra dan Tahlil Serentak Nasional

PBNU menginstruksikan seluruh warga NU untuk memperingati hari lahir (harlah) Nahdlatul Ulama ke-96 versi tahun Hijriah dengan melaksanakan istighotsah secara serentak di daerah masing-masing pada 16 Rajab 1440 H yang bertepatan dengan 23 Maret 2019 pukul 06.00 waktu setempat.

Menurut Ketua PBNU Robikin Emhas instruksi ini untuk seluruh pengurus NU dari anak ranting hingga pusat serta pengurus 14 lembaga dan 18 badan otonom NU dari cabang hingga pusat, 36 pengurus NU di luar negeri (PCINU) serta pesantren dan majelis ta’lim, serta warga NU pada umumnya.

“Tujuan kegiatan ini adalah memohon pertolongan kepada Allah agar keluarga masyarakat dan bangsa kita senantiasa menjadi keluarga, mayarakat, dan bangsa yang aman damai, makmur, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur; kegiatan ini juga bertujuan untuk mendoakan para ulama, pejuang, para syuhada shalihin yang merupakan perintis kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” jelasnya di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (14/3).

Ia menambahkan, kegiatan bernama Istighotsah Kubra dan Tahlil Serentak Nasional ini bisa dipusatkan di masjid, mushala, pesantren, atau di tempat terbuka di lingkup cabang atau wilayah masing-masing.

Kegiatan ini, sambungnya, akan diikuti 10.985.100 orang dengan rincian sebanyak 8.980.350 orang yang dikoordinasi PWNU dan PCNU di seluruh Indonesia, sebanyak 2.000.000 orang yang dikoordinasi kalangan pesantren dan majelis taklim, serta 4.750 orang yang dikoordinasi PCINU di 36 negara.

Lebih lanjut ia mengatakan, Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar sebelumnya sempat mewacanakan peringatan harlah NU pada Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, akhir bulan lalu.

“Ternyata sambutan pengurus wilayah dan cabang, serta warga NU sangat luar biasa. Berdasarkan laporan yang masuk ke PBNU, jumlah yang ingin hadir, melebihi yang diperkirakan. Kita punya rincian detail jumlah orang dari tiap daerah,” katanya.

Oleh karena itu, kata dia, PBNU mempertimbangkan pelaksanaan tersebut dari berbagai aspek, terutama keamanan dan ketertiban, juga ketersediaan tempat.

“Kita berpegang kepada kaidah fiqih, dar’ul mafasid muqadamun ala jalbil mashalih, mencegah dampak yang tak diharapkan lebih penting daripada kemeriahan seremonial. Juga kaidah riayah mashalihil ‘ammah; kemashalahatan untuk kepentingan umum harus didahulukan daripada kepentingan golongan,” pungkasnya.

Ribuan Jama’ah Bakal Hadiri Istighotsah Kubro Harlah Ke-96 NU di BandarLampung

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Lampung dan Pengurus Cabang (PCNU) Kota Bandar Lampung siap menggelar Istighotsah Kubro di Masjid Agung Al Furqon, Sabtu (23/3) pagi. Sekira 5 ribu nahdliyin diperkirakan memadati masjid terbesar di Kota Tapis Berseri tersebut.

Ketua PCNU Bandar Lampung Ichwan Adji Wibowo mengatakan, jama’ah yang bakal hadir berasal dari puluhan pondok pesantren di Bandar Lampung, pengurus NU mulai tingkat PWNU, PCNU, MWC, ranting, hingga anak ranting, lembaga, badan, serta warga NU pada umumnya.

“Informasi dari panitia, bisa jadi jama’ah yang hadir lebih dari 5 ribu. Ini karena antusiasme nahdliyin untuk hadir dalam acara ini demikian tinggi,” kata Adji dalam siaran persnya, Jumat (22/3).

Bakal hadir pula Rais Syuriah PWNU Lampung KH Muhsin Abdillah serta jajarannya antara lain Wakil Rais Syuriyah KH RM Soleh Bajuri, KH Khairuddin Tahmid (Ketua MUI Lampung), KH Ihya Ulumuddin, dan KH Basyaruddin Maisyir.

Ketua Tanfidziyah PWNU Lampung KH Moh Mukri juga akan hadir bersama Kapolda Lampung Irjen Purwadi Arianto serta ulama kharismatik Al Habib Umar bin Muhdhor al-Haddad.

Istighotsah kubro ini digelar untuk memperingati hari lahir (Harlah) ke-96 NU yang menurut kalender Hijriah jatuh pada 16 Rajab 1440 H atau 23 Maret 2019. Sedangkan dalam hitungan Masehi, tahun 2019 ini merupakan harlah ke-93 NU pada 31 Januari lalu.

Merujuk instruksi PBNU, kegiatan serupa digelar secara massal dan serentak di seluruh Indonesia. Khusus Lampung, istighotsah dilaksanakan di seluruh PC kabupaten/kota hingga tingkat MWC di seluruh kecamatan.

Adji menjelaskan, dalam acara yang dimulai dengan shalat shubuh berjama’ah inu, juga dilakukan pembacaan tahlil dan shalawat Asyghil.

“Melalui istighotsah ini, warga NU memanjatkan doa bagi keselamatan bangsa Indonesia, khususnya dalam menyongsong Pemilihan Umum 17 April mendatang,” katanya.

Menurut Adji, besok akan menjadi hari penting bagi umat Islam di Bandar Lampung, khususnya warga NU. Istighotsah akan menjadi momentum untuk meneguhkan wajah Islam yang Rahmatan lil Alamin, Islam yang santun, Islam yang toleran, Islam yang bersahabat, dan Islam yang moderat.

Karenanya, ia menyerukan seluruh nahdliyin di Bandar Lampung untuk hadir dan menyemarakkan istighotsah kubro ini.

“Mari kita hadir dengan penuh suka cita dan kegembiraan. Ajaklah keluarga, sanak famili, tetangga, jama’ah masjid mushala, dan jama’ah majelis taklim. Ayo datang berbondong-bondong untuk menjadi bagian jama’ah istighotsah massal serentak secara nasional,” imbaunya.

“Bagi seluruh panitia, berjerih payahlah, nikmati kegetirannya, kesusahpayahannya. Dalam keheningan batin rasakan sebagai riyadoh menemui keberkahan,” tutupnya.

Pekan Diskon di Harlah NU Disambut Antusias Warga

Pekan diskon aneka jenis makanan dan layanan retail yang ditawarkan para pengusaha Nahdliyin Kota Pekalongan dalam rangka menyemarakkan Peringatan Harlah ke-96 Nahdlaul Ulama disambut antusias masyarakat.

Pekan diskon yang berlaku sejak tanggal 21 hingga 29 Maret 2019 pada Rumah Makan Griya Dahar Jagad, Selaras, Pecel lele Lamongan, Aqiqah & Catering, dan Apotik Simbang dengan syarat pembeli menunjukkan Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu).

Pemilik Pecel Lele Lamongan, Ilyas Muin kepada NU Online Jumat (22/3) mengatakan, dirinya mengaku gembira dengan adanya pekan diskon. Pasalnya, kegiatan ini dapat menambah konsumen di Kota Pekalongan meski dengan harga yang lebih murah.

“Bagi saya program ini sangat menarik, karena ini kesempatan bisa meraih konsumen yang lebih banyak. Jika saja waktunya diperpanjang 1 bulan misalnya, dirinya tidak merasa rugi sama sekali,” ujar Ilyas yang juga Wakil Ketua PCNU Kota Pekalongan ini.

Mustafa (42) mengaku senang ada program pekan diskon di Harlah NU ini. “Kalau bisa jangan sepekan tapi sebulan dengan nama bulan diskon,” usulnya.

Rini (31) salah seorang pelanggan yang biasa makan di Rumah Makan Selaras di Komplek Gedung Aswaja Pekalongan juga mengaku senang ada program diskon. Dirinya akan mengajak teman-teman kantor untuk memanfaatkan momentum pekan diskon ini.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan H Muhtarom mengatakan, program diskon yang diprakarsai oleh pengusaha NU adalah sebuah terobosan baru di acara Harlah ke-96.

Dirinya yang memiliki gerai showroom Batik Faaro, rumah makan griya dahar jagad, selaras, dan apotik simbang akan mengajak teman-teman pengusaha NU lainnya untuk bergabung menyemarakkan harlah NU dengan memberi diskon kepada masyarakat Pekalongan pada event yang sama di tahun depan.

“Ahamdulillah respons masyarakat cukup baik, tinggal bagaimana pengusaha NU memanfaatkan moment ini untuk berbagi kepada masyarakat Pekalongan,” jelasnya.

TERORISME DAN SOLUSI DARI NABI MUHAMMAD SAW DALAM MENGATASINYA

Indonesia Belum Selesai Mengatasi Terorisme

Beberapa hari lalu, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror berhasil menangkap Husein alias Abu Hamzah dan dua kawannya. Sementara istri Husein meledakkan diri bersama anaknya yang masih berusia dua tahun.

 

“Ini menunjukkan kita masih belum selesai mengatasi kekerasan, ancaman terorisme,” kata M Imdadun Rahmat, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Jalan Taman Amir Hamzah No. 5, Pegangsaan, Jakarta, Jumat (15/3).

 

Imdad menilai kelompok yang baru tertangkap itu sangat radikal. Mereka, katanya, tergolong pada salafi takfiri. Mereka mulanya berasal dari jaringan Al-Qaida, tetapi menyempal dan membentuk jaringan baru di bawah ISIS.

 

“Prioritas utamanya musuh dekat (pemerintah). Meskipun dalam praktiknya, musuh jauh dan dekat disikat bersama-sama. Misalnya kasus di Surabaya, selain mereka menyerang polisi, juga mereka menyerang gereja,” kata Imdad.

 

Ia juga mengungkapkan bahwa kasus terorisme di Sibolga keburu tercium oleh kepolisian. “Korbannya masih dirinya sendiri meskipun properti tetangga hancur,” katanya.

 

Melihat fakta tersebut, Imdad menilai bahwa Indonesia masih punya PR banyak dalam hal terorisme ini. Oleh karena itu, ia mengajak untuk bersama-sama melawan tindakan dan pandangan yang mendukung kekerasan dan terorisme.

 

“Kita sebagai bangsa masih harus bekerja keras untuk bersama-sama melawan kekerasan sebagai tindakan penembakan, pengeboman, dan sebagainya, maupun sikap dan pandangan yang menghalalkan, mendukung, mensuport kekerasan,” tegasnya.

 

Apalagi menjadikan kekerasan dan teror itu sebagai bagian dari ajaran agama. “Itu dua-duanya harus dilawan secara bersama-sama oleh bangsa kita,” pungkas Direktur SAS Institute itu.

Solusi Nabi Muhammad untuk Mengatasi Terorisme

Pangkal dari terorisme diantaranya adalah karena ketidakadilan, kebencian yang mendalam kepada liyan, dan pemahaman terhadap sesuatu hal secara ekstrem. Aksi terorisme dan kekerasan tidak hanya terjadi baru-baru ini saja, namun itu juga ada di sepanjang sejarah umat manusia. Termasuk pada zaman Nabi Muhammad saw.

Salah satu bukti aksi terorisme juga terjadi pada era Nabi Muhammad saw. adalah pengakuan Ja’far bin Abi Thalib ketika hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Kepada Raja Najasyi, Ja’far bin Abi Thalib menyampaikan keadaan masyarakat musyrik Makkah yang tidak segan menumpahkan darah dan penuh dengan aksi kekerasan.

“Wahai raja, kami adalah kaum yang melakukan kemusyrikan, kami menyembah berhala, memakan bangkai, berbuat jahat kepada tetangga, menghalalkan yang haram antar sesama kami seperti menumpahkan darah, dan yang lainnya,” kata Ja’far sebagaimana terekam dalam kitab As-Sirah An-Nabawiyyah (Ibnu Hisyam).

Kehadiran Nabi Muhammad saw. di tengah-tengah masyarakat yang seperti itu seolah menjadi titik terang untuk mewujudkan masyarakat yang harmonis, damai, dan saling menghormati serta menghapuskan kehidupan masyarakat yang penuh teror dan kekerasan. Sebagaimana dikutip dari buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib As-Sirjani, 2011), dengan membawa risalah Islam, Nabi Muhammad saw. menawarkan setidaknya tiga hal untuk mengatasi atau menghilangkan aksi-aksi terorisme yang mendera suatu masyarakat.

Pertama, menyebarkan ruh kasih sayang dan keadilan tanpa membeda-bedakan suku, ras, agama, dan gender. Nabi Muhammad saw. selalu menekankan kepada para sahabatnya untuk berlaku adil kepada siapapun, termasuk kepada non-Muslim. Juga mencurahkan kasih sayang kepada sesama meskipun dia beda.

Alkisah, suatu ketika ada sekelompok Yahudi yang datang kepada Nabi Muhammad saw. Ketika sampai di depan bilik Nabi Muhammad saw., mereka lantas mengucapkan Assamu ‘alaikum (semoga kematian untuk kalian). Iya, mereka mendoakan yang jelek untuk Nabi Muhammad saw. Sayyidah Aisyah yang saat itu tengah bersama Nabi Muhammad saw. tidak terima dengan salam laknat yang disampaikan sekelompok Yahudi itu.

“Dan bagi kalian kematian dan laknat,” timpal Sayyidah Aisyah.

Mendengar hal itu, Nabi Muhammad saw. langsung menegur Sayyidah Aisyah. Ia meminta agar istrinya itu menjauhi berkata kotor dan kekerasan, meski didoakan yang tidak baik. Nabi Muhammad saw. juga mengingatkan Sayyidah Aisyah bahwa Allah mencintai berbelas kasih dalam segala perkara.

Kedua, mengasihi mereka yang tidak tahu dan berbuat salah. Nabi Muhammad saw. tidak lantas menghukum mereka yang tidak tahu dan berbuat salah. Bahkan sebaliknya, Nabi Muhammad saw. memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang. Nabi Muhammad saw. sadar bahwa perlakuan kasih sayang kepada mereka yang tidak tahu dan berbuat salah akan membuatnya lunak. Sebaliknya, jika seandainya dikerasin maka bisa saja mereka nantinya akan balas dendam dan berbuat kekerasan.

Terkait hal ini, ada sebuah kisah menarik. Pada saat itu, Nabi Muhammad dan sebagian sahabatnya sedang duduk-duduk di dalam masjid. Tiba-tiba datang seorang badui. Dia masuk ke dalam masjid dan kencing di dalamnya. Para sahabat yang melihat kelakuan badui itu geram dan berniat untuk menghentikannya. Namun Nabi Muhammad saw. mencegahnya. Dia malah menyuruh para sahabatnya untuk membiarkan badui itu hingga selesai kencing.

“Sesungguhnya masjid-masjid itu tidak layak untuk (dijadikan tempat) kencing dan kotoran. Ia hanya untuk berdzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al-Qur’an,” kata Nabi Muhammad saw. dengan lembut kepada badui itu setelah dia menyelesaikan hajatnya. Nabi Muhammad saw. kemudian meminta para sahabatnya untuk mengambil seember air dan menyiramkannya ke tempat yang dikencingi badui itu.

Ketiga, mengedepankan nilai-nilai moderat atau tidak berlebih-lebihan. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad saw. pernah mengatakan kalau sebaik-baiknya suatu perkara adalah yang tengah-tengah. Tidak terlalu ekstrim ke kanan. Juga tidak terlalu ekstrim ke kiri. Begitu pun dalam memahami agama ataupun hal lainnya.

Karena jika seseorang sudah pada level berlebih-lebihan dalam suatu hal, maka dia menganggap kalau kebenaran hanya ada pada dirinya dan kelompoknya. Dia cenderung akan memaksakan kehendaknya kepada orang yang berbeda pendapat dan dapat menuntun kepada kekerasan. Berlebih-lebihan dalam memahami atau menganut suatu hal juga sangat berpotensi untuk menihilkan yang lain. Mereka menganggap bahwa mereka yang berbeda dengan diri dan kelompoknya adalah sebuah ancaman. Oleh karenanya harus dilenyapkan.

Begitu lah solusi Nabi Muhammad saw. untuk mengatasi masalah terorisme dan kekerasan.  Beliau selalu menenkankan untuk mencurahkan kasih sayang, menegakkan keadilan, dan bersikap moderat atau tidak berlebih-lebihan dalam hal apapun dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang harmonis dan damai. Kalau seandainya nilai-nilai itu sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia dan menyasar siapapun, maka tidak akan ada lagi aksi-aksi terorisme dan radikalisme.

Dukungan untuk Pemerintah Selandia Baru dari Nahdlatul Ulama

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Australia dan Selandia Baru (PCI NU ANZ) mengucapkan belasungkawa yang terdalam bagi keluarga dan sanak famili korban aksi terorisme di Masjid Christchurch di Selandia Baru.

“Pengurus PCINU berharap Allah akan memberikan kesaksian kepada mereka yang telah jatuh dalam tragedi, pemulihan, kesabaran, dan ketahanan terhadap mereka yang terluka,” kata Ketua Tanfidiyah NU Australia dan Selandia Baru Tufel Musayyad melalui keterangannya, Ahad (17/3).

Menaggapi aksi biadab tersebut, NU Australia dan Selandia Baru sepenuhnya mendukung pemerintah Selandia Baru untuk melakukan pemberantasan terhadap aksi terorisme. “Terutama untuk Perdana Menteri Jacinda Ardern untuk mengambil langkah-langkah hukum yang tegas untuk memastikan bahwa mereka yang terlibat dalam penyerangan dibawa ke pengadilan,” lanjutnya.

“Pengurus NU Australia dan Selandia Baru juga memberikan dukungan yang diperlukan kepada para korban, termasuk pemakaman yang layak, keluarga dan sanak famili mereka, dan semua yang terkena dampak dan memastikan keselamatan, martabat, dan hak-hak rekan Muslim dan migran,” katanya.

Melihat kejadian ini, NU menyerukan pada komunitas global, akademik, agama, dan politik untuk terus mempromosikan perdamaian, dialog, saling pengertian dan global dan untuk mengambil tindakan tegas terhadap segala bentuk pemikiran ekstremis yang mengarah pada kekerasan.

Bagaimanapun, menurutnya, ekstremisme dan terorisme tidak dapat diterima karena alasan apa pun, dan oleh karena itu, mengutuk keras serangan kejam di Christchurch sebagai kekejaman terhadap kemanusiaan.

Serangan terorisme, selain bertentangan dengan rasa kemanusiaan, ia juga berlawanan dengan ketentuan dalam Al-Qur’an yang tertuang dalam surat Al-Maidah ayat 32; ‘Barangsiapa yang membunuh jiwa kecuali jiwa atau kerusakan [dilakukan] di negeri itu seolah-olah ia telah membunuh manusia sepenuhnya. Dan barangsiapa yang menyelamatkan seorang  seolah-olah ia telah menyelamatkan umat manusia sepenuhnya’.

Sebelumnya, sebanyak 50 Muslim meninggal dunia di dua masjid di kota Christchurch, Selandia Baru, akibat aksi yang dilakukan lone-wolf di negara yang terkenal kedamaiannya itu. Brenton Tarrant salah seorang pelaku teror di Masjid Al-Noor memamerkan aksi biadabnya melalui live streaming ke seluruh dunia dengan kamera yang dipasang di kepalanya.

Selain dukungan dari PCINU Australia dan Selandia Baru, dukungan serupa juga disampaikan oleh pimpinan Ponpes Al-Mizan Jatiwangi, H Maman Imanulhaq. Ia meminta pemerintah Indonesia proaktif mendukung Pemerintah Selandia Baru untuk menangkap dan meminta pertanggungjawaban aksi biadab pelaku.

Selain itu ia meminta pemerintah untuk membatasi penyebaran video penembakan yang beredar di masyarakat. “Kementerian Kominfo bekerja sama dengan Polri harus menelusuri akun-akun yang menyebarkan konten negatif berupa aksi kekerasan,” kata dia.

Maman juga meminta masyarakat untuk tidak membagikan atau meneruskan video penembakan yang menewaskan puluhan orang muslim tersebut.  Karena menurutnya dengan menyebarkan video tersebut akan terjadi ketakutan di kalangan muslim dan dapat menginspirasi beberapa orang yang phobi terhadap Islam untuk melakukan kebiadaban serupa.

Kiai muda NU ini juga berharap semua elemen masyarakat untuk bersatu padu makin mempererat ukhuwah atau persaudaraan untuk melawan segala bentuk tindakan keji dan kekerasan oleh siapapun dan atas nama apapun.

Ia juga meminta semua pihak terutama media barat untuk bersikap objektif dan jujur dalam mengungkap tragedi tersebut.“Siapapun yang melakukan serangan, ia adalah teroris yang keji. Label teroris jangan hanya disematkan pada seorang Muslim. Kita mengutuk tindakan terorisme ini. Tapi kita tidak boleh takut,” tutup Maman.

 

Dukung Muslim Setelah Aksi Teror, Wanita Selandia Baru Ramai-ramai Berkerudung

Wanita Selandia Baru ramai-ramai mengenakan kerudung untuk menunjukkan solidaritasnya kepada umat Islam menyusul aksi teror di dua masjid di Christchurch pekan lalu. Di media sosial, ramai tagar #headscarffharmony sebagai bentuk kampanye untuk mengajak warga non-Muslim Selandia Baru bersimpati terhadap umat Islam dengan berkerudung.

Aksi solidaritas dengan memakai kerudung dilakukan para wanita di Selandia Baru bersamaan dengan aksi peringatan sepekan yang diselenggarakan di lapangan Hagley Park, Jumat (22/3) waktu setempat. Lapangan Hagley Park merupakan lokasi yang berseberangan dengan Masjid Al-Noor, salah satu masjid yang menjadi sasar aksi teror pekan lalu.

Salah satu wanita Selandia Baru yang terlibat dalam kampanye kerudung untuk harmoni Rachel MacGregor mengatakan, dirinya mengaku cemas dengan kepala tertutup ketika keluar rumah. Dia mengaku, orang-orang menatap dirinya ketika memasuki kantornya.

“Ini memberi saya untuk pertama kalinya penghargaan untuk apa rasanya menjadi minoritas dan memakai pakaian yang mungkin biasanya tidak dipakai oleh mayoritas,” kata Rachel, dikutip Reuters, Jumat (22/3).

Sementara seorang doktor di Auckland Thaya Ashman memiliki ide untuk mendorong orang mengenakan jilbab setelah mendengar tentang seorang wanita yang terlalu takut untuk keluar karena dia merasa jilbabnya akan menjadikannya target terorisme.

“Saya ingin mengatakan:” Kami bersama Anda, kami ingin Anda merasa betah di jalan-jalan Anda sendiri, kami mencintai, mendukung, dan menghormati Anda,” katanya.

Para polisi wanita dan relawan non-Muslim yang hadir di lapangan Hagley Park untuk ikut serta dalam acara refleksi nasional sepekan setelah aksi teror juga mengenakan kerudung. Mereka melakukan itu sebagai bentuk penghormatan untuk komunitas Islam.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern dan beberapa elit masyarakat Selandia Baru juga turut hadir dalam acara peringatan sepekan aksi teror tersebut. Dalam pidatonya, Ardern menegaskasn bahwa Selandia Baru bersama dengan umat Islam.

“Kami hadir di sini turut bersimpati terhadap saudara Muslim kami. Ketika salah satu bagian tubuh kita terganggu, seluruh tubuh merasakan sakit. Selandia Baru turut berduka dengan kalian. Kita adalah satu,” kata Ardern yang disambut gemuruh tepuk tangan sesaan sebelum adzan dikumandangkan, diberitakan RadioNZ, Jumat (22/3).

Aksi solidaritas dengan berkerudung ini mendapatkan dukungan dari Dewan Wanita Islam dan Asosiasi Muslim Selandia Baru.

Pada Jumat (15/3) lalu, Brenton Tarrant, seorang anti-imigran dan pendukung ‘aliran’ supremasi kulit putih melakukan penembakan massal di Masjid Al-Noor dan Masjid Linwood di Christchurch. Kejadian itu menyebabkan 50 orang meninggal dan 50 lainnya mengalami luka-luka.

TIPUAN KEBOHONGAN DAN KEPALSUAN DUNIAWI

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa kehidupan dunia ini penuh dengan tipuan , kebohongan dan kepalsuan. Apa yang terlihat indah belum tentu indah dijalani demikian pula apa yang terlihat buruk belum tentu buruk ketika dijalani.

Banyak orang yang tertipu dalam  menjalani kehidupan dunia ini  akhirnya hidup dalam penderitaan, kemelut dan stress berkepanjangan yang tidak pernah berakhir

Dalam Al-Qur’an Allah telah mengingatkan pada  kita tentang tipuan dan kepalsuan kehidupan dunia ini, agar kita hati hati dan waspada menghadapinya. Antara lain dalam surat Al Hadid ayat 20 :

  1. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al Hadid 20)

Kehidupan dunia hanya permainan

Dalam surat Al Hadid ayat 20 diatas Allah menegaskan bahwa kehidupan dunia ini hanyalah perrmainan, senda gurau , perhiasan dan berlomba banyak tentang harta dan anak anak. Perumpamaannya seperti tanam tanam yang tumbuh subur menghijau mengagumkan para petani, kemudian menjadi kuning layu dan hancur. Kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat, kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara , kesenangan fatamorgana.

Kehidupan dunia ini diperlihatkan indah bagi orang yang kafir dan tidak beriman pada Allah dan kehidupan akhirat. Orang yang kurang ilmunya, dan condong mengikuti hawa nafsunya , lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada akhirat. Mereka asyik dengan permainan dan kesenangan dunia yang bersifat hanya sementara ini. Mereka tidak peduli dengan kehidupan akhirat. Umumnya mereka baru menyadari kekeliruannya jika nyawa sudah sampai di tenggorokan.

Dunia tempat singgah  sementara

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa kehidupan dunia ini hanyalah kehidupan sementara. Kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan diakhirat kelak. Kehidupan dunia dibandingkan kehidupan akhirat tidaklah ada artinya. Rasulullah mengatakan perbandingan kehidupan dunia dengan akhirat diumpamakan seperti seorang yang pergi ketepi pantai kemudian mencelupkan telunjuknya kedalam air laut. Maka air yang melekat ditelunjuknya  itulah perumpamaan hidup didunia, dan air yang tertinggal dilautan itulah perumpamaan  kehidupan  akhirat. Sungguh perbandingan yang amat mencolok.

Kita hidup di  dunia dibatasi oleh ruang dan waktu, mulai sejak dilahirkan dan berakhir sampai kita  wafat,  paling lama 90 atau 100 tahun. Kemampuan kitapun amat terbatas semakin tua kita semakin lemah. Sedang kehidupan akhirat dimulai sejak kita wafat sampai waktu yang tidak ada akhirnya (abadi)

Walaupun demikian sedikit sekali orang yang memahami hal itu, sebagian besar penduduk dunia ini lebih mengutamakan kehidupan dunia dari pada akhirat. Seluruh hidupnya tercurah untuk mencari harta, kekayaan , kesenangan dan kenikmatan  hidup dunia, mereka tidak peduli dengan kehidupan akhirat. Mereka menganggap kehidupan akhirat hanyalah hayalan kosong saja. Allah menjelaskan hal ini dalam surat Al Insan 27

  1. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat). (Al Insan 27)

Sebagian besar manusia lebih tertarik mengumpulkan harta dan kekayaan sebanyak banyaknya daripada mengumpulkan amal ibadah untuk kehidupan akhirat. Mereka mencari harta dan kekayaan dengan menghalalkan segala cara tidak peduli halal dan haram. Mereka tidak peduli dengan kehidupan akhirat. Mereka inilah kelompok orang yang tertipu oleh kehidupan dunia. Sikap kehati hatian Rasulullah dalam menghadapi kehidupan dunia bisa kita lihat dari beberapa riwayat berikut ini

Suatu ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di atas selembar tikar. Ketika bangkit dari tidurnya tikar tersebut meninggalkan bekas pada tubuh beliau. Berkatalah para shahabat yang menyaksikan hal itu, “Wahai Rasulullah, seandainya boleh kami siapkan untukmu kasur yang empuk!” Beliau menjawab:

“Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2377)

Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah menangis melihat kesahajaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai beliau hanya tidur di atas selembar tikar tanpa dialasi apapun. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:

Aku melihat bekas tikar di lambung/rusuk beliau, maka aku pun menangis, hingga mengundang tanya beliau, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, sungguh Kisra (raja Persia, –pent.) dan Kaisar (raja Romawi –pent.) berada dalam kemegahannya, sementara engkau adalah utusan Allah [2].” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau ridha mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?” (HR. Al-Bukhari no. 4913 dan Muslim no. 3676)

Dalam kesempatan yang sama, Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Nabinya:

“Mohon engkau wahai Rasulullah berdoa kepada Allah agar Allah memberikan kelapangan hidup bagi umatmu. Sungguh Allah telah melapangkan (memberi kemegahan) kepada Persia dan Romawi, padahal mereka tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Rasulullah meluruskan duduknya, kemudian berkata, “Apakah engkau dalam keraguan, wahai putra Al-Khaththab? Mereka itu adalah orang-orang yang disegerakan kesenangan (kenikmatan hidup/rezeki yang baik- baik) mereka di dalam kehidupan dunia [3] ?” (HR. Al-Bukhari no. 5191 dan Muslim no. 3679)

Demikianlah nilai dunia, bagi orang yang beriman . Orang yang bertakwa mengarungi dunia dengan hati hati mereka enggan untuk tenggelam di dalamnya, mereka sadar bahwa dunia ini hanyalah  tempat hidup sementara, persinggahan  atau tempat penyeberangan………. Di ujung sana menanti  kehidupan yang abadi  yang keutamaannya tidak bisa dibandingkan dengan kehidupan dunia.

Pada hari berbangkit nanti manusia merasa bahwa mereka hanya tinggal didunia sebentar saja. Kehidupan didunia terasa amat singkat seperti sekejap mata saja dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal dan abadi .  Hal ini dinyatakan dalam surat An Naziat  46 :

  1. Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari (An Naziat 46)

Orang yang beriman lebih mementingkan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia. Mereka selalu awas dan waspada terhadap berbagai jebakan dan tipuan dunia , yang dapat menghancurkan  kehidupan mereka di akhirat nanti.

Keyakinan yang menipu

Sebuah kebohongan dan kebathilan jika sudah tertanam didalam fikiran bawah sadar seseorang , sulit untuk dikoreksi. Dibutuhkan usaha ekstra ketat dan ulet untuk membongkar kekeliruan itu. Mereka yang tidak mau berfikir dan menggunakan akalnya dengan baik akan terus terlena dalam kebohongan dan kebathilan itu.

Apa yang tertanam didalam fikiran bawah sadar merupakan kebenaran mutlak bagi setiap orang. Terlepas apakah paham mereka itu salah atau benar, baik atau buruk . Bagi mereka apa yang diyakini dalam bawah sadar itulah kebenaran yang harus dibela dan dipertahankan. Disinilah munculnya keyakinan yang menipu. Sangat sulit menyadarkan manusia dari keyakinan yang keliru dan menipu ini. Tanpa hidayah dan bimbingan Allah seseorang tidak akan bisa keluar dari keyakinannya yang keliru itu.

Seseorang yang sudah ditanamkan keyakinan bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan merupakan  bagian tak terpisahkan dari Tuhan , atau seorang penyembah berhala dan Tuhan tuhan lainnya selain Allah amat sulit untuk keluar dari keyakinannya itu. Bagi setiap orang apa yang sudah tertanam didalam alam bawah sadarnya adalah kebenaran  mutlak, tidak peduli apakah keyakinannya itu benar atau salah.

Ayah nabi Ibrahim Azar ,  yakin bahwa patung yang dibuatnya itulah Tuhan yang harus disembah. Keyakinan ini sudah tertanam didalam fikiran bawah sadarnya sejak masa kanak kanak. Ketika Nabi Ibrahim mengingatkan bahwa keyakinannya itu keliru , ia marah besar pada Nabi Ibrahim. Azar tidak bisa menerima keyakinan Ibrahim yang mengatakan bahwa Tuhan yang harus disembah itu adalah Allah, bukan patung patung yang dibuat oleh ayahnya itu.

Orang Quraiys Abu Jahal, Abu lahab dan yang lainnya yakin bahwa Tuhan yang disembah itu adalah Lata, Uzza dan Manna . Didalam Ka’bah penuh berbagai macam patung dan berhala yang dianggap sebagai Tuhan oleh orang Quraiys. Mereka tidak bisa menerima ajaran Nabi Muhammad yang menyampaikan bahwa Tuhan yang patut disembah itub adalah Allah yang maha Esa.

Demikianlah didunia ini mereka yang sudah memeluk satu keyakinan seperti umat Nasrani, Budha, Hindu, konghucu, majusi ,Sinto, Atheis dan para penyembah dewa ,  amat sulit untuk keluar dari keyakinannya itu. Mereka tidak bisa menerima ajaran yang mengatakan bahwa agama yang benar itu adalah Islam, Tuhan yang patut disembah itu adalah Allah. Mereka tetap kukuh dengan pendirian dan keyakinan mereka.

Mereka baru menyadari kekeliruan mereka nanti setelah datang kematian , dan tersingkaplah semua hijab yang menutup hati dan fikiran mereka selama ini. Ketika itu mereka berseru mohon pada Allah agar dikembalikan hidup kedunia kembali, agar mereka bisa memperbaiki kekeliruan mereka selama ini, seperti disebutkan dalam surat Al Mukminun 99-100:

  1. (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) 100. agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan(Al Mukminuun 99-100)

Hanya orang yang mau berfikir dan  menggunakan akalnya dengan baik dan benar yang bisa keluar dari  keyakinan yang menipu itu. Agama Islam adalah agama bagi orang yang berakal dan mau berfikir. Salah satu keluhan orang kafir diakhirat nanti adalah seperti yang disebutkan dalam surat al Mulk ayat 10

  1. Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Al Mulk 10)

Masih banyak jumlah umat manusia yang belum mengenal Islam didunia ini, 80% penduduk dunia yang berjumlah hampir 7 milyar ini masih tertipu oleh keyakinan yang mereka anut turun temurun dari nenek moyang mereka. Mereka menyangka apa yang mereka yakini itu sebagai kebenaran mutlak yang tidak bisa digugat lagi. Mereka hanya mengikuti tradisi dan kepercayaan leluhur mereka secara membabi buta. Hati mereka tertutup untuk menerima kebenaran Islam. Walaupun seruan dakwah sudah sampai kepada mereka.  Banyak juga diantara mereka yang menerima informasi yang keliru tentang islam , akhirnya malah kejangkitan Islam phobia . Mereka semakin jauh dari hidayah dan petunjuk.  Inilah tantangan dakwah bagi umat Islam dewasa ini.

Kemewahan dunia yang menipu

Dalam perjalan Israak Mi’raj Rasulullah melihat seorang nenek tua yang bersolek memanggil manggilnya. Beliau bertanya pada Malaikat jibril siapakah wanita tua yang bersolek itu?. Malaikat Jibril menjelaskan itulah Dunia, semakin tua ia kelihatan semakin menarik , banyak manusia yang tertipu olehnya.

Kemewahan dan kesenangan  hidup dunia sekarang ini betul betul amat menggoda. Banyak orang yang tertipu , mereka ingin menikmati hidup selama lamanya. Mereka yang sudah merasakan kenikmatan dunia umumnya lupa pada kehidupan akhirat. Rata rata mereka cinta dunia dan takut  dengan kematian. Padahal Allah telah mengingatkan dalam surat al Hadit ayat 20 :”….Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan kesenangan tipuan (palsu)”

Bagi orang yang beriman pada Allah dan kehidupan akhirat kehidupan dunia ini tidak lebih berharga daripada bangkai seekor anak kambing yang sudah rusak. Rasulullah mengumpamakan kehidupan dunia ini seperti bangkai anak kambing yang tidak berharga. Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkisah, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil atau terputus telinganya (cacat). Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya berkata:

“Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar seharga satu dirham?” Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya dengan harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, “Apakah kalian suka bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian?” “Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih hidup, tetaplah ada cacat, kecil/terputus telinganya. Apatah lagi ia telah menjadi seonggok bangkai,” jawab mereka. Beliau pun bersabda setelahnya, “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini bagi kalian.” (HR. Muslim no.7344)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda:

 “Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk airpun.” (HR. At-Tirmidzi no. 2320)

Tatkala orang-orang yang utama, mulia lagi berakal mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghinakan dunia, mereka pun enggan untuk tenggelam dalam kesenangannya. Apatah lagi mereka mengetahui bahwa Nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup di dunia penuh kezuhudan dan memperingatkan para shahabatnya dari fitnah dunia. Mereka pun mengambil dunia sekedarnya dan mengeluarkannya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebanyak- banyaknya. Mereka ambil sekedar yang mencukupi dan mereka tinggalkan yang melalaikan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, sambil memegang pundak iparnya ini

 “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)

Banyak manusia yang tertipu oleh kehidupan dunia, mereka berfoya foya menghabiskan harta dan waktunya untuk menimati kehidupan dunia , dan mereka lupa pada kehidupan akhirat. Seluruh waktu dan fikirannya tercurah untuk mendapatkan kekayaan dan harta dunia, mereka tidak punya waktu untuk beribadah dan mengerjakan amal saleh bagi kehidupan akhirat.

Mereka sudah menghabiskan semua rezekinya didunia ini untuk memuaskan hawa nafsunya, dan diakhirat mereka tidak mendapat apa apa selain azab neraka sebagaimana disebutkan dalam surat Al –Ahqaf 20

“Dan ingatlah hari ketika orang-orang kafir dihadapkan ke neraka, kepada mereka dikatakan, ‘Kalian telah menghabiskan kesenangan hidup (rezeki yang baik-baik) kalian dalam kehidupan duniawi saja dan kalian telah bersenang-senang dengannya. Maka pada hari ini kalian dibalas dengan adzab yang menghinakan karena kalian telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa haq dan karena kalian berbuat kefasikan’.” (Al-Ahqaf: 20)

Orang yang tidak percaya pada kehidupan akhirat , menganggap kita hidup dan mati hanya karena proses alam saja. Setelah datang kematian maka selesailah semua masalah, karena itu mereka berusaha menikmati hidup ini sepuas puasnya. Mereka merasa rugi kalau tidak bisa meraih sukses, kemenangan , kemuliaan dan kekayaan berlimpah didunia ini. Mereka mengerahkan semua energi dan kekuatannya untuk meraih sukses dan kemenangan dunia, dengan menghalalkan segala cara. Mereka tidak takut dengan dosa dan kesalahan , karena mereka tidak percaya akan adanya kehidupan akhirat.

Jangan tertipu kehidupan dunia

Allah telah banyak mengingatkan dalam Al Qur’an agar kita hati hati dan waspada terhadap tipu daya kehidupan dunia yang melalaikan, salah satunya dalam surat Fathir ayat 5

  1. Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah (Fathir 5)

 Hiduplah didunia secara sederhana jangan berlebih lebihan dalam kemewahan. Karena kemewahan dan kesenangan yang dinikmati itu bisa mematikan hati dan jiwa. Perbanyaklah ibadah dan dzikir pada Allah, kumpulkan  bekal untuk kehidupan akhirat sebanyak banyaknya dengan mengerjakan amal amal soleh dan pekerjaan yang diridhoi Allah.

Jauhkan diri dari perbuatan dosa dan hal yang dimurkai Allah, perbanyak istighfar mohon ampun atas berbagai dosa dan kesalahan. Ingat kehidupan akhirat lebih utama daripada kehidupan dunia. Dunia ini penuh kepalsuan dan kebohongan. Kehidupan dunia hanya kebidupan sementara dalam waktu yang terbatas sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan abadi yang tidak ada batas akhirnya.

Bentengi diri dari tipu daya kehidupan dunia dengan berusaha memahami ajaran Islam secara benar. Perbaiki mutu shalat dengan berusaha untuk mengerti dan paham setiap ayat dan kalimat yang dibaca dalam shalat. Baca Al Qur’an secara rutin setiap hari dengan berusaha memahami kandunga n ayat ayat tersebut. Perbanyak amal ibadah dzikir dan tasbih untuk mendekatkan diri pada Allah , agar Allah memberikan pandangan batin yang luas dan dalam sehingga mampu membedakan antara yang haq dan bathil secara tepat.

Disamping tipu daya kehidupan dunia yang melalaikan kita juga berhadapan dengan ajaran ajaran yang menyesatkan. Banyak dukun, paranormal berbaju kyai atau ustad. Muncul aliran yang mengatas namakan islam padahal kegiatannya tidak islami. Waspadalah dengan ajaran yang mengatas namakan Islam namun ajarannya menyimpang dari Al Qur’an dan sunah, seperti aliran Syi’ah, Ahmadiyah , LDII, NII,  Kelompok Islam Radikal yang mengkafirkan orang yang tidak sepaham dengan mereka, dan lain sebagainya. Berpegang teguhlah pada al Qur’an dan sunah. Karena kelompok yang menyesatkan ini tidak akan pernah lenyap sampai hari kiamat, bahkan jumlahnya akan semakin membesar.

Orang yang beriman dan bertawakkal serta berpegang teguh pada al Qur’an merupakan  kelompok minoritas di bumi ini. Jumlah umat Islam didunia hanya 20 % dari populasi manusia didunia ini, itupun yang sungguh sungguh beriman dan bertakwa amatlah sedikit  Sebagaimana banyak disebutkan dalam Al Qur’an:

Qoliilan maa tu’minuun…………….sedikit sekali kamu yang beriman

Qoliilan maa tasykurun…………… sedikit sekali kamu yang bersukur

Qoliilan maa tadzakkaruun ……..sedikit sekali kamu  mengambil pelajaran

Faqoliilan maa yu’minuun………..maka sedikit sekali mereka yg beriman

Sebagian besar manusia dalam keadaan tertipu dan tidak beriman pada Allah sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an. Jangan heran jika melihat sebagian besar manusia yang ada dibumi ini tidak beriman pada Allah. Lebih 80% penduduk bumi yang berjumlah  7 milyar ini  menyembah berhala, patung dan mempersekutukan Allah.

Wa lakinna aktsaronnasi laa ya’lamuun…..kebanyakan manusia tidak tahu

Aktsaronnaasi laa yasykurun…………kebanyakan manusia tidak bersyukur

Aktsaronnasi laa yu’minuun ………..kebanyakan manusia tidak beriman

Aktsarohum laa ya’qiluun……..kebanyakan mereka tidak paham

Hati hatilah menghadapi tipu daya kehidupan dunia, masuklah kedalam kelompok minoritas , jangan tertarik pada kelompok mayoritas yang sebagian besar tertipu oleh kehidupan dunia.

Jangan tertarik dan kagum pada kekayaan berlimpah, kemewahan dan kekuasaan  yang diberikan Allah pada orang orang yang tidak beriman itu, mereka itu semuanya berada dalam keadaan tertipu sebagaimana diingatkan Allah dalam surat Thaha 131,

  1. Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (Thaha 131)

Orang yang beriman pada Allah dan kehidupan akhirat paham betul dengan sifat dunia yang menipu. Mereka tidak tertarik pada kemewahan dan keindahan dunia. Mereka lebih mengutamakan mencari keridhaan Allah dengan mematuhi perintah dan larangannya. Mereka rela mengorbankan kehidupan dunianya untuk mendapatkan  kehormatan dan kemuliaan hidup di akhirat.