PERGUNU JAKARTA ADALAH BUKTI KEBERHASILAN KH. HASYIM ASY’ARI MENDIDIK MURID

Jakarta, NU Online

Keberhasilan pendiri Nahdlatul Ulama Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dalam mendidik murid-muridnya akan dijadikan kiblat oleh Persatuan Guru NU DKI Jakarta.

Demikian dikatakan Ketua Pergunu DKI Jakarta terpilih Lutfi Hakim Wahid kepada NU Online seusai dirinya dilantik masa khidmat 2018-2023 di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (19/10).

“Kita akan bawa Pergunu DKI ke pemikiran Kiai Hasyim Asy’ari,” kata Lutfi.

Menurut pria yang karib disapa Gus Lutfi itu, perjuangan Mbah Hasyim dalam mendidik tidak kenal lelah sehingga berhasil menciptakan murid-murid yang mempuni.

“Nah, saya ingin guru-guru Pergunu DKI ini seperti perjuangan Mbah Hasyim yang berhasil menciptakan kader-kader yang mempuni, diterpa apa puan siap,” ucapnya.

Di antara nama-nama murid Mbah Hasyim yang berhasil menjadi orang besar, ialah KH Abdul Wahab Hasbullah, Jombang,KH Bisri Syansuri, Jombang,KH R As’ad Syamsul Arifin, Situbondo, KH Wahid Hasyim (anaknya), KH Achmad Shiddiq, dan KH R Asnawi (Kudus).

Upaya untuk mewujudkannya adalah dengan mengintensifkan pengkaderan dan penanaman iman kepada para guru.

“Nanti melalui pengkaderan dan penanaman iman. Nah, itu kita masukkan ke dalam program-program yang akan kita kerjakan nanti. Kita harus bisa melaksanakan program dan visi misi Mbah Hasyim Asyari,” tegasnya.

Kesuksesan Mbah Hasyim dalam melakukan pengkaderan juga berhasil membuat keturunannya menjadi orang-orang yang berilmu dan bermanfaat bagi banyak orang, seperti KH Abdul Wahid Hasyim dan Gus Dur.

RUU PESANTREN; PONDOK DAN MADRASAH HARUS SIAP JADI PERANGKAT PENDUKUNGNYA

Demak, NU Online

Rancangan Undang Undang (RUU) Pesantren dan Pendidikan keagamaan yang merupakan hak inisiatif DPR telah masuk dan disetujui dalam rapat paripurna DPR RI Selasa (16/10).

RUU yang sudah masuk Badan Legislasi (baleg) DPR RI setelah ada kesepakatan dengan pemerintah akan ditetapkan menjadi Undang Undang (UU), maka di sini perlu adanya kesiapan dari madrasah dan pesantren tersebut baik perangkat keras maupun perangkat lunaknya yang dijadikan standar nasional oleh pemerintah.

Hal tersebut disampaikan H Fathan Subchi Anggota F PKB DPR RI asal Demak pada seminar peranan Bank Indonesia dalam pengembangan sistem ekonomi dan keuangan syari’ah yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia (BI) bekerjasama dengan Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah Kabupaten Demak di gedung IHM Muslimat NU Demak, Jumat (19/10).

“Jika RUU ini ditetapkan jadi undang undang, maka pesantren dan Madrasah Diniyah harus mempersiapkan perangkat pendukungnya termasuk persiapan pemenuhan administrasi yang dibutuhkan,” ujarnya.

Dikatakan, setelah RUU disahkan menjadi UU tentunya ada persyaratan persyaratan yang harus dipenuhi karena akan masuk dalam sistem pemerintahan seperti lembaga pendidikan umum yang sudah diakui oleh negara yang akan diberlakukan secara bertahap.

“Pemenuhan persyaratan seperti SDM, administrasi, bentuk fisik atau bangunan merupakan kewajiban yang harus di penuhi karena itu aturan negara dan sudah masuk dalam draf RUU,” tambahnya.

Sementara itu Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Demak H Sukarmin mengatakan, guru Madrasah Diniyah (Madin) dan pengasuh pesantren harus mempersiapkan diri. Pihaknya terus mensosialisasikan sejak dini untuk mengantisipasi disahkannya RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan disahkan menjadi UU.

“kita persiapkan mental dan SDM semua pengelola Madin biar nanti jika RUU ini jadi UU diberlakukan tidak kaget dan sudah siap,” tegas Sukarmin.

Seminar nasional tersebut selain dihadiri kepala madrasah diniyah se Kabupaten Demak sebanyak 500 orang, jajaran pengurus madrasah dari tingkat kabupaten sampai kecamatan. Selain itu,  juga dihadiri Deputi Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia dari Jakarta selaku pembicara seminar, wakil ketua PW Muslimat NU Jawa Tengah yang juga anggota FPKB DPRD Jateng  Hj Ida Nursaadah sebagai moderator seminar serta Ketua LAZISNU Demak H Zayinul Fata.

NARASI PARA PENGUASA MENGENAI PANCASILA

Oleh: تيدي خليل الدين

Narasi dan ideologi merupakan dua bahasan yang memiliki keterkaitan yang cukup dekat. Seturut dengan bahasan tentang Pancasila, narasi menjadi cara bagi penguasa untuk menuturkannya sebagai ideologi negara. Masing-masing era memiliki karakternya sendiri dalam menarasikan Pancasila. Imajinasi sosial tentang Pancasila disalurkan melalui pelbagai sarana, meski sama-sama memiliki fungsi legitimasi. Tulisan ini hendak mendedah narasi Pancasila menurut tiga presiden Indonesia; Soekarno, Soeharto dan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Pada masa Soekarno, Pancasila dijadikannya sebagai “civil religious legitimation” bagi Demokrasi Terpimpin yang ia jalankan. (Purdy: 1984, 89) Tapi, sesungguhnya pada masa itu, Pancasila hanya salah satu dari apa yang oleh Soekarno disebut sebagai “Lima Azimat” Revolusi. Dalam pidato Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1965, Soekarno memberikan amanat yang ia beri tajuk “Capailah Bintang-bintang di Langit (Tahun Berdikari)”. Soekarno mengatakan:

“Gagasan-gagasanku itu, Nasakom (1926), Pancasila (1945), Manipol/Usdek (1959), Trisakti Tavip (1964) dan Berdikari (1965), sebenarnya hanyalah hasil penggalianku, yang dua pertama dari masyarakat bangsaku, dan tiga yang terakhir dari revolusi Agustus . . . Baik Nasakom, baik Pancasila, baik Manipol/Usdek, baik Trisakti, maupun Berdikari, kesemuanya mengabdi kepada persatuan nasional revolusionar, artinya, mengabdi kepada kepentingan revolusi . . . Kita tidak cukup hanya berjiwa Nasakom, kita pun harus berjiwa Pancasila, berjiwa Manipol/Usdek, berjiwa Trisakti Tavip, berjiwa Berdikari!”

Soekarno menarasikan Pancasila dalam kerangka revolusi sebagai pandangan utama yang saat itu berkembang. (Pranarka: 1985, 80) Hal itu disampaikannya pada pidato 17 Agustus 1959. Soekarno menegaskan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia yang ke empat belas saat itu, harus benar-benar membuka sejarah baru dalam revolusi perjuangan nasional bangsa Indonesia.

Narasi Pancasila dalam kerangka revolusi itu terus dikembangkan oleh Soekarno dalam pidato tahun 1960. Di tahun ini, ia menyinggung tentang apa yang disebut Manipol-Usdek yang sebenarnya telah diperkenalkan pada tahun 1959. Dalam pidato yang berjudul “Laksana Malaikat yang Menyerbu dari Langit: Jalannya Revolusi Kita (Jarek)”, Soekarno menyodorkan satu Manifesto Politik (Manipol).

Soekarno kemudian menekankan sifat universal dari Pancasila. Menurutnya, Pancasila lebih memenuhi kebutuhan manusia dan lebih menyelamatkan manusia, daripada Declaration of Independence-nya Amerika, atau Manifesto komunis. Bagi Soekarno, Declaration of Independence itu tidak mengandung keadilan sosial, sementara Manifesto Komunis itu harus disublimir dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua ideologi itu, kata Soekarno menjadi sebab manusia dunia terpecah belah dan saling mengintai.

Dengan menggunakan pendekatan ideologis, Pranarka mengatakan bahwa analisis terhadap Pancasila melalui hal tersebut tidak mempersoalkan konsistensi yang menyangkut substansil dan tidak memperhitungkan ”nilai kebenaran internal” dari uraian itu, karena perhatian lebih dititikberatkan pada kegunaan konkrit sebagai motivasi utamanya. (Pranarka, ibid, 349)

Pendekatan seperti ini bisa kita gunakan untuk mencermati uraian Soekarno tentang Pancasila. Terlihat bahwa paparan Soekarno tentang Pancasila tidak terlalu mementingkan kebenaran internal dan konsistensi substansialnya. Itu bisa dimengerti karena motivasi utamanya adalah nation-building, kesatuan bangsa. Meminjam analisis Ricoeur, inilah fungsi integratif dari Pancasila yang kemudian dijadikan legitimasi oleh Soekarno. Di dalamnya, Soekarno memberi nuansa profetik. Inilah strategi Soekarno dalam menarasikan Pancasila.

Dalam menarasikan Pancasila Soekarno banyak menciptakan neologisme. Pancasila ia katakan sebagai dasar negara dan isi jiwa bangsa Indonesia. Di tempat lain, ia menyebut bahwa Pancasila adalah ”hogere opptrekking dari Declaration of Independence dan Manifesto Komunis”. Ia juga menyebut Pancasila adalah wadah, dan masing-masing dapat memberikan isi kepada Pancasila tersebut. Pancasila juga disebut Soekarno sebagai kepribadian Indonesia yang digali dari bumi Indonesia. Soekarno juga pernah menuturkan bahwa Pancasila dan Islam adalah sama. Nasakom, seperti yang dikatakan oleh Soekarno juga sesungguhnya mengandung ”inkompatibilitas intrinsik”. (Pranarka, ibid) Tapi itu tidak kemudian dipersoalkannya, karena yang terpenting adalah bahwa unsur Komunisme, Nasionalis dan Agama dapat bahu membahu mengerek panji revolusi.

Setelah Soekarno berkuasa, Soeharto tampil menjadi Presiden Indonesia. Secara resmi, Soeharto mulai memegang tampuk kekuasaan saat ia dilantik menjadi presiden pada bulan maret 1967. Namun, faktanya Soeharto memulai peranannya ketika dia membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1966 melalui surat perintah sebelas Maret (Supersemar). (Purdy, 205-206) Penyingkiran Soekarno dan PKI sebagai kekuatan politik ketiga terbesar dari domain politik, terlihat sangat efektif dengan keterlibatan militer. (Crouch, 2007)

Periode dimana Soeharto berkuasa ini disebut Orde Baru. Pada 16 Agustus 1967, Soeharto menyampaikan pidato kenegaraan. Dalam pidatonya itu, Soeharto mengatakan bahwa Orde Baru adalah “…tatanan seluruh peri-kehidupan rakyat, bangsa dan negara yang diletakkan kembali kepada pelaksanaan kemurnian Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945”.

Ada tiga kekuatan yang menjadi pilar Orde Baru. (Aspinall: 2005, 22-23) Pertama, Orde Baru memperluas kekuatan militer untuk melakukan kontrol terhadap kehidupan politik. Melalui doktrin dwifungsi, militer berperan di ranah politik sekaligus menjaga keamanan negara. Kedua pemerintah merestrukturisasi pimpinan institusi politik dan masyarakat sipil. Meski infrastruktur politik seperti partai, dewan perwakilan dan pemilihan tetap dipertahankan, tetapi perangkat tersebut sudah ditransformasi melalui kombinasi intervensi, manipulasi dan pemaksaan. Pemerintah memoles Golkar (Golongan Karya) sebagai kendaraan elektoralnya. Pemerintah menekankan doktrin monoloyalitas. Ketiga, pemerintah berusaha membangun sebuah justifikasi ideologi yang komprehensif untuk pemerintahan otoritariannya. Pemerintah memurnikan ideologi Pancasila yang ditekankan pada harmoni sosial dan kesatuan organis antara negara dan masyarakat. Merujuk pada “asas kekeluargaan” (family principle), individu dan kelompok diharapkan bisa menomorduakan kepentingannya atas kepentingan masyarakat yang lebih luas.

Berbeda halnya dengan Soekarno yang banyak menulis tentang Pancasila sebagai proyek politiknya, Soeharto tidak memiliki karya yang fokus membahas Pancasila. (Titaley, 1991: 153) Pemahaman terhadap Pancasilanya Soeharto hanya bisa kita cermati, salah satunya, dari pidato-pidato resmi kenegaraan yang ia sampaikan di berbagai kesempatan. (Krissantono, 1976) Pemahaman terhadap Pancasila seperti yang direfleksikan Soeharto juga bisa kita sarikan dari berbagai program pada masa Orde Baru yang memiliki hubungan dengan Pancasila.

Transisi kepemimpinan politik di Indonesia dari Soekarno dan Soeharto diawali dengan runtuhnya PKI. Ke depan, kehidupan politik Soeharto tidak memiliki tantangan, karena PKI sudah tidak ada lagi. Soeharto hanya berhadapan dengan kelompok Islam dan kelompok Sosialis yang tidak terlalu kuat posisinya. Jelas, bahwa legitimasi pemerintahan Orde Baru diderivasi, salah satunya dari koalisi anti komunis.

Pancasila menurut Soeharto tidak tiba-tiba datang pada tahun 1945. Ia adalah buah dari perjuangan bangsa Indonesia dan berurat akar pada kebudayaan bangsa Indonesia itu sendiri. Soeharto kemudian menegaskan lagi bahwa “Pancasila adalah kepribadian kita, adalah pandangan hidup seluruh Bangsa Indonesia, pandangan hidup yang disetujui oleh wakil-wakil rakyat menjelang dan sesudah proklamasi kemerdekaan kita; oleh karena itu, Pancasila adalah satu-satunya pandangan hidup yang dapat pula mempersatukan kita. Pancasila adalah perjanjian luhur seluruh Rakyat Indonesia yang selalu harus kita junjung tinggi bersama dan kita bela selama-lamanya”.

Kaitannya dengan PKI, Soeharto melihat bahwa ideologi Nasakom seperti yang digaungkan Soekarno dulu itu adalah kecelakaan. Pancasila menjadi tidak lagi murni karena ia berubah menjadi Nasakom. Maka dari itu Soeharto mengajak kepada bangsa Indonesia agar merumuskan Pancasila secara sederhana dan jelas untuk digunakan sebagai pedoman hidup manusia Pancasila. (Krissantono, 1976)

“Jangan terulang lagi misalnya, Pancasila lalu berubah menjadi “Nasakom” yang membawa bencana itu. Ajakan saya adalah agar kita bersama-sama memikirkan penghayatan dan pengamalan Pancasila dalam segala segi kehidupan dan tingkah laku kita sehari-hari.”

Soeharto melihat bahwa Pancasila telah berhasil melewati masa ujicoba yang panjang sehingga tetap bertahan. Kekuatannya untuk tetap bertahan itulah yang menunjukan kalau ia satu-satunya jawaban atas persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia. Fungsi Pancasila sebagai jiwa bangsa Indonesia ditegaskan Soeharto saat dia mengatakan, “Pancasila adalah jiwa dari Bangsa Indonesia. Karena itu, setiap usaha merenggutnya dari bangsa ini pasti akan mendapat perlawanan yang hebat dan berakibat dengan kegagalan”. Di kesempatan lain, Soeharto melihat Pancasila sebagai landasan idiil bagi peri-kehidupan bangsa kita.

Tak hanya dilihat sebagai pandangan hidup, Pancasila oleh Soeharto juga dinilai sekaligus sebagai tujuan hidup bangsa kita. “Kita tidak akan memerosotkan Pancasila hanya menjadi semboyan kosong atau bahan propaganda murah. Pancasila, karena merupakan pandangan hidup, merupakan dasar dan tujuan, maka Pancasila itu harus kita laksanakan dalam segala segi kehidupan dalam tata pergaulan Bangsa Indonesia”.

Penghayatan dan pengamalan Pancasila, menurut Soeharto dilakukan untuk menciptakan masyarakat Indonesia. Atau dengan kata lain, tujuan Soeharto adalah menciptakan Masyarakat Pancasila yang dirumuskan sebagai masyarakat yang berazaskan kekeluargaan dan religius.

“…atau kalau meminjam rumusan yang popular: Masyarakat Pancasila adalah masyarakat yang sosialistis religius dengan ciri-ciri pokok: Tidak membenarkan adanya: kemelaratan, keterbelakangan, perpecahan, pemerasan, kapitalisme, feodalisme, kolonialisme dan imperialisme; karenanya harus bersama-sama menghapuskannya. Menghayati hidupnya dengan berkewajiban: taqwa pada Tuhan Yang Mahaesa, cinta pada Tanah Air, kasih sayang pada sesama manusia, suka bekerja dan rela berkorban untuk kepentingan rakyat”.

Dhakidae menganalisis bahwa Pancasila di era Orde Baru pertama-tama dihubungkan dengan kelompok kiri yang ”anti Pancasila”. (Dhakidae, 692) Tanggal 30 September kemudian ditetapkan sebagai hari pengkhianatan dan 1 Oktober sebagai hari dimana Pancasila terbukti ”sakti” dari rongrongan kelompok yang dianggap ”anti Pancasila”. Jadilah 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Monumen Kesaktian Pancasila dijadikan sebagai ”alat pengingat” dan pembentuk pengetahuan saktinya Pancasila. Tak hanya melalui monumen, produksi pengetahuan tentang Kesaktian Pancasila juga dihadirkan melalui Film Pengkhianatan Gerakan 30 September, sebagai tafsir resmi pemerintah. (McGregor, 2008) Padahal kata Robert Cribb, seperti dikutip Mc. Gregor, ”dalam Pancasila tidak dapat diketemukan alasan mengapa orang komunis harus dibunuh, dan bukan, misalnya dididik kembali dengan halus”. (McGregor, 2008)

Pancasila di era Orde Baru, kata Dhakidae lebih pada soal ”discourse competition, pertandingan wacana, untuk memenangkan medan pertempuran diskursus politik”. (Dhakidae, 692) Tak heran jika di era ini lahir politik pengabaian (exclusion) sehingga hanya memungkinkan satu tafsir terhadap Pancasila. Tahun 1985, pemerintah mengeluarkan UU nomor 8 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Di Pasal 2 ayat 1, UU itu mengatakan organisasi kemasyarakatan berasaskan Pancasila sebagai satu-satunya asas. Pasal 16 menyebutkan ”Pemerintah membubarkan Organisasi Kemasyarakatan yang menganut, mengembangkan, dan menyebarkan paham atau ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme serta ideologi, paham, atau ajaran lain yang bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam segala bentuk dan perwujudannya”. Dengan begitu tidak ada organisasi masyarakat atau organisasi agama sekalipun yang tidak berdasarkan Pancasila.

Jika dibandingkan dengan pandangan Soekarno dan Soeharto, cara Gus Dur menjabarkan Pancasila agak sedikit berbeda. Soekarno sangat menekankan Pancasila sebagai seperangkat ide untuk melawan gelombang kapitalisme dalam sebuah revolusi. Soekarno membungkus Pancasila sebagai “ideologi tengah” di antara Kapitalisme dan Marxisme. Ideologi Pancasila ini adalah sintesa yang menurut Soekarno digali dari bumi nusantara. Soeharto sesungguhnya sama dengan Soekarno, menjadikan Pancasila sebagai ideologi. Pancasila dijadikan sebagai norma yang menjadi takaran mana masyarakat yang Pancasilais dan mana yang anti Pancasila. Usaha Soeharto untuk mengukuhkan Pancasila sebagai ideologi disokong penuh oleh militer. Merekalah yang pada gilirannya menjadi pengaman “tafsir resmi” terhadap Pancasila.

Beda halnya dengan Soekarno dan Soeharto, cara pandang Gus Dur terhadap Pancasila memiliki nuansa lain. Gus Dur memang beberapa kali menyebut Pancasila sebagai ideologi. Dalam sambutan peringatan Hari Lahirnya Pancasila, Gus Dur mengatakan

Inilah yang sangat penting bahwa Pancasila adalah sebuah ideologi yang memberikan kemungkinan pengembangan profesionalisme yang jujur, tapi juga memungkinkan inisiatif rakyat atau dalam bahasa sekarang masyarakat untuk bisa muncul menunaikan tugasnya dengan baik dan mencapai hal-hal yang kita perlukan.

Sebagai ideologi, Pancasila menurut Gus Dur membutuhkan wadah. Wadah itulah yang akan dijaga eksistensinya. Karena itu, Gus Dur terus melakukan kompromi-kompromi untuk menjaga eksistensi negara sebagai wadah dimana ideologi itu bisa dijalankan.

Meskipun demikian, Gus Dur tidak menafikan bahwa Pancasila sebagai ideologi akan terus diperdebatkan. Pancasila akan terus digugat, begitu juga bentuk negara. Disini Gus Dur justru membuka kemungkinan jika suatu waktu Pancasila (dalam pengertian formnya) dirubah. Yang tidak akan dirubah oleh Gus Dur adalah substansi dari ideologi Pancasila itu sendiri. Kata Gus Dur,

“Karena itu, ingin saya kemukakan sekali lagi di sini bahwa di dalam memperingati hari Pancasila, kita harus kreatif. Saya nyatakan tadi bahwa Pancasila sebagai ideologi akan diperdebatkan orang. Bentuk negara juga akan diperdebatkan orang. Segala-galanya akan diperdebatkan. Tetapi, esensi daripada ideologi, ideologi Pancasila tidak akan diubah dan saya akan berjuang mati-matian untuk mempertahankan Pancasila.”

Cara pandang Gus Dur terhadap Pancasila inilah yang membedakan dengan Soekarno dan Soeharto. Gus Dur di satu sisi mengikuti ritme Soekarno dan Soeharto dalam memosisikan Pancasila sebagai ideologi. Gus Dur tidak menutup mata bahwa suatu waktu, ideologi ini akan mendapat tantangan, bahkan diperdebatkan. Pancasila akan terus diperdebatkan sebagai sebuah kerangka ideologi.

Di sisi lain, Gus Dur akan terus berusaha mempertahankan Pancasila dari berbagai gugatan. Pancasila yang dimaksud oleh Gus Dur dalam konteks ini adalah nilai atau substansinya. Jika penulis menafsirkan apa yang disampaikan oleh Gus Dur, maka ia melihat Pancasila itu dalam dua bingkai, formal dan substansial. Ideologi yang formalistik selalu akan berada dalam matra perdebatan. Bukan tidak mungkin ada ideologi baru yang dapat menggantikan Pancasila. Meski di kemudian hari ada kemungkinan hadirnya ideologi yang menggantikan Pancasila, tapi nilai dari ideologi Pancasila itu akan ia pertahankan.

Meski ada sedikit perbedaan dalam menempatkan Pancasila, baik Soekarno, Soeharto maupun Gus Dur memiliki kesamaan. Mereka menjadikan Pancasila dalam kerangka integratifnya. Fungsi sebagai legitimasi kekuasaan barangkali sangat kuat terasa pada masa Soeharto dan Soekarno. Di era Gus Dur, vibrasi Pancasila sebagai alat legitimasi kekuasaan tidak sekencang Soekarno dan Soeharto. Gus Dur lebih menekankan pada ide kebebasan berekspresi dan berorganisasi, kesetaraan, demokrasi dan penghargaan terhadap pluralisme. Oleh Gus Dur, Pancasila dijadikan sebagai garansi untuk mewadahi nilai-nilai tersebut.

ALASAN ALASAN KENAPA SESEORANG MEMBUAT HOAKS

Lima Alasan Seseorang Membuat Hoaks menurut Sayyid Alwi Al-Maliki
Di zaman yang serba internet ini, semua kejadian bisa dengan mudah tersebar dengan tempo yang cukup singkat dan dibaca oleh semua orang di penjuru dunia. Bahkan berita yang seharusnya hanya boleh dikonsumsi oleh lingkup kecil bisa dikonsumsi oleh semua orang. Masalah pribadi bisa menjadi masalah bersama jika sudah ditayangkan di internet.

Kemudahan tersebut tidak diimbangi dengan kesadaran para penggunanya. Akibatnya, tidak semua kejadian yang tersebar sesuai dengan fakta, ada yang ditayangkan setengah-setengah, ada yang disalahgunakan dengan pemberitaan yang berbeda, ada juga yang sengaja dibuat-buat.

Hal-hal semacam ini sebenarnya sejak zaman dahulu telah difikirkan oleh para ulama. Penyebaran berita bohong atau hoaks secara prinsip tidak jauh berbeda dengan penyebaran hadits palsu dalam kajian ilmu hadits.

Bedanya–mungkin–hanya sedikit atau bahkan hampir tidak ada. Jika dulu yang dibuat-buat atau dipalsukan adalah hal-hal yang berkaitan dengan Rasul SAW, yang meliputi perkataan, perbuatan, sifat maupun ketetapan, saat ini lebih global dan semua hal berpotensi bisa dipalsukan atau dibuat-buat.

Jika hal-hal yang berkaitan dengan Rasul Saw saja bisa dipalsukan, lalu bagaimana jika hal yang sama sekali tidak berkaitan dengan Rasul? Tentu akan lebih sering, bukan? Bahkan lebih parahnya, saat ini ada yang sengaja menghubung-hubungkan kisah Rasul dengan kejadian yang menimpa para idolanya, walaupun terlalu dipaksakan.

Sebagaimana hadits palsu, penyebaran dan pembuatan berita bohong atau hoaks tentu memiliki latar belakang atau alasan tertentu. Para ulama hadits berhasil mengidentifikasi alasan-alasan tersebut dan merangkumnya menjadi beberapa hal. Tentu karena kajian penyebaran hadits palsu ini secara prinsip sesuai dengan prilaku pembuatan dan penyebaran berita bohong atau hoaks sekarang, maka hemat kami, tentu akan sesuai pula alasan-alasan penyebaran hadits palsu tersebut dengan konteks pembuatan dan penyebaran hoaks sekarang.

Salah satu ulama yang bisa dikatakan cukup berhasil dalam mengidentifikasi alasan dan latarbelakang pembuatan dan penyebaran hoaks tersebut adalah Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dalam karyanya yang berjudul Al-Manhalul Lathif fi Ushulil Haditsis Syarif. Sayyid Alawi Al-Maliki menjelaskan lima alasan dibuat dan disebarkannya hadits-hadits palsu (Lihat Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Al-Manhalul Lathif fi Ushulil Haditsis Syarif, [Madinah, Maktabah Malik Fahd: 1421 H], halaman 148), atau dalam konteks sekarang bisa disebut hoaks:

Pertama, mempertahankan kepentingan pribadi atau golongan. Sayyid Muhammad bin Alawi menyebutnya dengan “al-Intishar lil Mazhab”. Zaman dahulu, kaum syiah yang Rafidhah sering membuat hadits palsu untuk mendukung gerakan-gerakan politik mereka. Dalam konteks sekarang, bisa jadi para simpatisan partai atau organisasi juga melakukan hal ini demi mengangkat elektabilitas partai atau hanya sekadar membela partai atau organisasinya dari serangan lawan.

Kedua, mendekatkan diri kepada pejabat tertentu (orang-orang yang berkepentingan), atau dalam bahasa Sayyid Muhammad disebut, “Thalabut Taqarrub ilal Muluk wal Umara’”. Dalam konteks hari ini, alasan kedua ini bisa saja terjadi pada simpatisan calon-calon presiden yang akan berkontestasi. Dengan adanya hoaks yang dibuat, harapannya sang pejabat semakin dekat dengan orang tersebut dan lebih peduli dengan orang tersebut. Tentu harapannya, agar orang tersebut dijadikan pejabat tertentu.

Ketiga, mencari rizki (Thalabul kasbi wal irtizāq bil wadh’ī). Dalam konteks sekarang, banyak juga institusi atau perorangan yang menyediakan jasa pembuatan hoaks dan penyebarannya, seperti Saracen dan MCA (Muslim Cyber Army).

Keempat, membela pendapat tertentu walaupun salah (al-Intiṣār ilāl futyā ʽIndal khaṭā’ fīhā). Hal ini tentu banyak kita temukan sekarang. Banyak orang berbondong-bondong membela orang salah, tapi yang digunakan untuk membela adalah hoaks.

Kelima, menarik simpati orang untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik (Ṭalabut targhībin nās fi afʽālil khair), termasuk mengajarkan anak-anak tentang agama tapi dengan kisah-kisah hoaks. Atau ajakan untuk membantu korban bencana alam, tapi foto-foto yang digunakan adalah foto-foto hoaks.

Diakui atau tidak, lima hal itu terjadi di masyarakat maya dan nyata kita. Tentu, dengan adanya indentifikasi dari Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, memiliki harapan ganda, di satu sisi menjadikan orang yang berpotensi membuat dan menyebarkan hoaks bisa sadar sebelum melakukannya.

Di sisi lain, bagi para korban, agar bisa berhati-hati dengan berita-berita yang berkaitan dengan lima hal di atas. Alangkah baiknya jika seluruh berita yang diterima dicek terlebih dahulu kebenarannya. Wallahu a’lam

PEWAYANGAN DALAM DAKWAH ISLAM DI INDONESIA

Dakwah Islam sudah dilakukan sejak lama di Indonesia dengan berbagai metode dan sarana. Salah satunya adalah dengan metode pendekatan budaya dan sarana hiburan masyarakat, seperti yang pernah dilakukan oleh Sunan Kalijaga dengan kisah wayangnya. Wayang sebagai warisan budaya diadaptasi untuk sarana dakwah dengan menampilkan cerita yang berisikan ajaran Islam.

Berdasarkan buku Minanur Rahman dan Arabic The Source Of All The  Langguages yang menyatakan bahwa bahasa Arab itu merupakan induk semua bahasa. Dengan demikian, berdasarkan teori itu kemungkinan penamaan Wayang itu diambil dari kata “wachyan” artinya wahyu/firman Tuhan.

Jadi, nama figur dan kisah dalam Ramayana dan Maha Barata itu pada mulanya berasal dari wahyu Ilahi. Sedangkan Dalang, yang memainkan wayang tersebut berasal dari kata Arab “Dallan” artinya penuntun atau penunjuk jalan. Jadi, Dalang itu adalah orang yang mempertunjukan kisah tentang wayang yang bernuansa petunjuk-petunjuk Tuhan untuk manusia, baik dalam urusan pribadi, keluarga, pemerintahan, Negara, hubungan internasional, peperangan dan sebagainya. Ada juga kerajaan antagonis yaitu Astina (Asysayithon)  dengan penguasanya Duryudana (Durjana) yang selalu bersikap jahat seperti syaithan.

Tokoh punakawan yang menjadi figur penasehat yang senantiasa memberikan pencerahan dalam cerita wayang juga memiliki makna yang begitu mendalam dan sarat makna. Punakawan yang terdiri dari Semar, Gareng Petruk dan Bagong ada kemungkinan berasal dari kata Semar/Sammir berarti siap sedia, Gareng/Khair berarti kebaikan/kebagusan, Petruk/Fatruk berarti meninggalkan, sedangkan Bagong/Bagho artinya lalim atau kejelekan  “Sammir Ilal Khairi Fatruk Minal Bagho” yang artinya “Berangkatlah menuju kebaikan maka kamu akan meninggalkan kejelekan”. Ini juga selaras dengan perintah Allah SWT supaya “amar ma’ruf nahi munkar” yaitu “Mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan buruk”.

Dalam cerita Maha Barata yang mencerita kisah keturunan Pandu Dewanata yang dikenal dengan Pandawa juga sangat lekat dengan tuntunan ajaran Islam. Pandawa yang terdiri dari lima bersaudara  Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, mengisyaratkan kepada Lima Rukun Islam.  Sedang tokoh kontranya adalah bala Kurawa dan Astina yang selalu membuat kemudhorotan. Dalam pementasan wayang, sang dalang juga selalu menempatkan mereka pada posisi yang berseberangan, dimana tokoh Pandawa berada dikanan sebagai lambang kebaikan, sedang Kurawa/Astina selalu di kiri sebagai lambang keburukan.

Kisah Tokoh Pandawa jika diselaraskan dengan ajaran Islam terutama sebagai pengejawantahan Rukun Islam adalah sebagai berikut;

1) Yudhistira

Yudhistira merupakan rangkaian dari kata “Yudh, is dan tira”. Yudh kependekan dari kata ‘Yudha” artinya  jihad atau perang; Is kependekan dari kata “Islam” dan Tira merupakan kependekan dari kata “Tirakat”. Yudhistira ini juga memiliki Jimat Kalima sada, yang mengisyaratkan kepada “Kalimah Syahadat” Rukun Islam yang pertama. Maksudnya adalah seseorang yang telah mengucapkan kalimah Syahadat (masuk agama Islam) berarti ia bertekad untuk memerangi hawa-nafsunya dan berupaya menaklukkannya agar ia dapat mengikuti kehendak Allah SWT, sebagai Tuhannya dan mengikuti Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya. Oleh karena itu Rasulullah SAW menyatakan bahwa jihad melawan hawa-nafsu itu merupakan jihad paling besar.

Yudhistira dilambangkan dengan ibu jari dimana mengucapkan kalimah syahadat atau tauhid Ilahi merupakan ibu atau induk dari ajaran Islam. Seperti julukannya sebagai Satrio Pembareb

2) Bima

Bima atau Raden Werkudoro yang selalu siap dengan senjata pamungkasnya yaitu Kuku Pancanaka yang diartikan sholat lima waktu haruslah ditegakkan dalam keadaan apapun. Bima juga memiliki julukan Ksatria Penegak yang merefleksikan Ibadah Shalat sebagai Tiang Agama atau Penegak Agama

Bima merupakan rangkaian dari kata “Bi dan Ma”. Bi kependekan dari kata “Bisa” sedangkan Ma kependekan dari kata “Manunggal”. Jadi, Bima itu bisa manunggaling kawula marang Gusti, dan dia memiliki kuku Pancanaka yaitu memiliki kekuatan lima waktu yang mengisyaratkan kepada “Shalat” rukun Islam yang kedua. Maksudnya, amalan shalat itu merupakan media bertemunya seorang hamba dengan Khaliqnya. Oleh karena itu Rasulullah SAW menyatakan bahwa seorang yang sedang menunaikan shalat hendaknya ia seakan-akan sedang melihat Tuhannya, tapi jika tidak dapat melihat-Nya, hendaknya ia merasa sedang dilihat Tuhannya.

Bima dilambangkankan dengan jari telunjuk, telunjuk sebagai simbol dan alat penunjuk arah. Dengan shalat manusia juga bisa mendapat petunjuk dan dapat bertemu dengan Allah swt, ketika shalat juga ada gerakkan menegakkan jari telunjuk. Selain itu shalat juga harus ditegakkan, karena sebagai tiang agama.

3) Arjuna

Raden Arjuna digambarkan sebagai tokoh yang sangat tampan, lemah lembut, pemberani, pemanah ulung, pembela kebenaran, dan idola kaum wanita. Ini merefleksikan Ibadah Puasa wajib dibulan Ramadhan yang penuh hikmah dan pahala sehingga menarik hati kaum Muslim utk beribadah sebanyak-banyaknya. Keahlian Raden Arjuna dalam bertempur dan memanah ini, merefleksikan Ibadah Puasa sebagai senjata utk melawan hawa nafsu.

Arjuna merupakan rangkaian dari kata Ar, ju dan na. Ar kependekan dari kata Arsa, artinya akan atau mengharapkan, Ju kependekan dari kata maju, dan Na kependekan dari kata rahina, artinya terang karena penerangan dari langit atau agama. Jadi, ARJUNA bermakna mengharapkan kemajuan atau kesuksesan ruhani (agama). Ini mengisyaratkan kepada ”Shiyam” atau Puasa sebagai rukun Islam ketiga. Maksudnya adalah amalan Puasa dapat membuat pelakunya berhati suci yang menyebabkan Tuhan berkenan mengaruniakan wahyu (petunjuk), sehingga hati menjadi terang-benderang.  Oleh karena itu sejarah membuktikan bahwa sebelum para nabi menerima wahyu, biasanya mereka melakukan puasa lebih dahulu (atau bertapa).

Arjuna sebagai Ksatria Penengah disimbolkan dengan jari tengah, dimana jari tengah yang memiliki posisi paling tinggi ini menggambarkan bahwa dengan puasa manusia dapat meraih derajat yang tinggi, dan merupakan penengah atau penyeimbang untuk menahan hawa nafsu.

4) Nakula

Nakula merupakan rangkaian dari kata “Na dan Kula”. Na kependekan dari kata “Trisna” artinya kasih-sayang, sedangkan Kula kependekan  dari kata “Kawula” artinya masyarakat. Jadi, Nakula itu mengisyaratkan kepada “Zakat” sebagai rukun Islam keempat. Maksudnya, memberikan zakat, infaq, sedekah, hadiah dan yang sejenisnya merupakan manifestasi dari cinta-kasih seorang muslim kepada sesama manusia sebagai makhluq Allah SWT.

Nakula disimbolkan dengan jari manis dimana jari manis sebagai simbol cinta dan kasih sayang, karena biasa dipakaikan cincin tanda cinta.

5) Sadewa

Sadewa merupakan rangkaian dari kata “Sa dan Dewa”. Sa kependekan dari kata “Sangu” artinya bekal, De kependekan dari kata “Gede” artinya besar dan banyak, sedangkan Wa kependekan dari kata “Dawa” artinya panjang atau lama. Jadi, Sadewa itu mengisyaratkan kepada ibadah  “Haji” sebagai rukun Islam kelima. Maksudnya, ibadah Haji itu membutuhkan bekal yang besar dan untuk keperluan hidup dalam waktu yang panjang, disamping untuk biaya transportasi, terlebih bagi seorang muslim Indonesia yang jauh dari kota Mekkah, kerajaan Saudi Arabia.

Sadewa disimbolkan dengan jari kelingking, karena jari kelingking merupakan jari terkecil. Haji merupakan ibadah yang memerlukan syarat, sehingga tidak semua umat Islam bisa memenuhinya, atau hanya sebagian kecil saja yang bisa melaksanakannya.

Jika kelima tokoh diatas bersatu, maka akan menjadi kekuatan yang luara biasa, seperti halnya jika 5 rukun jika kita jalankan dengan sepenuhnya, maka keimanan kita juga akan sangat kuat.

SEJARAH ASAL USUL KESENIAN WAYANG

Asal-usul dan perkembangan wayang tidak tercatat secara akurat seperti sejarah. Namun orang selalu ingat dan merasakan kehadiran wayang dalam kehidupan masyarakat. Wayang akrab dengan masyarakat sejak dahulu hingga sekarang, karena memang wayang itu merupakan salah satu buah usaha akal budi bangsa Indonesia. Wayang tampil sebagai seni budaya tradisional, dan merupakan puncak budaya daerah.

Menelusuri asal-usul wayang secara ilmiah memang bukan hal yang mudah. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga kini banyak para cendikiawan dan budayawan berusaha meneliti dan menulis tentang wayang. Ada persamaan, namun tidak sedikit yang saling-silang pendapat. Hazeu berbeda pendapat dengan Rassers begitu pula pandangan dari pakar Indonesia seperti K.p.a. Kusumadilaga, Ranggawarsita, Suroto, Sri Mulyono dan lain-lain.

Pegelaran Wayang Kulit Jadul

Namun semua cendikiawan tersebut jelas membahas wayang Indonesia dan menyatakan bahwa wayang itu sudah ada dan berkembang sejak zaman kuna, sekitar tahun 1500 SM, jauh sebelum agama dan budaya dari luar masuk ke Indonesia.

Jadi, wayang dalam bentuknya yang masih sederhana adalah asli Indonesia, yang dalam proses perkembangan setelah berseniuhan dengan unsur-unsur lain, terus berkembang maju sehingga menjadi ujud dan isinya seperti sekarang ini. Sudah pasti perkembangan itu tidak akan berhenti, melainkan akan berlanjut di masa-masa mendatang.

Wayang yang kita lihat sekarang ini berbeda dengan wayang pada masa lalu, begitu pula wayang di masa depan akan berubah sesuai zamannya. Tidak ada sesuatu seni budaya yang mandeg. Seni budaya akan selalu berubah dan berkembang, namun perubahan seni budaya wayang ini tidak berpengaruh terhadap jati dirinya, karena wayang telah memiliki landasan yang kokoh. Landasan utamanya adalah sifat “hamot, hamong, hamemangkat yang menyebabkannya memiliki daya tahan dan daya kembang wayang sepanjang zaman.

Pegelaran Wayang Kulit Modern

Hamot adalah keterbukaan untuk menerima pengaruh dan masukan dari dalam dan luar; Hamong adalah kemampuan untuk menyaring unsur-unsur baru itu sesuai nilai-nilai wayang yang ada, untuk selanjutnya diangkat menjadi nilai-nilai yang cocok dengan wayang sebagai bekal untuk bergerak maju sesuai perkembangan masyarakat.

Hamemangkat atau memangkat sesuatu nilai menjadi nilai baru. Dan, ini jelas tidak mudah. Harus melalui proses panjang yang dicerna dengan cermat. Wayang dan seni pedalangan sudah membuktikan kemampuan itu, berawal dari zaman kuna, zaman Hindu, masuknya agama Islam, zaman penjajahan hingga zaman merdeka, dan pada masa pembangunan nasional dewasa ini. Kehidupan global juga merupakan tantangan dan sudah barang tentu wayang akan diuji ketahanannya dalam menghadapinya.

Periodisasi

( pembabakan suatu masa )

Periodisasi perkembangan budaya wayang juga merupakan bahasa yang menarik. Bermula zaman kuna ketika nenek moyang bangsa Indonesia masih menganut animisme dan dinamisme. Dalam kepercayaan animisme dan dinamisme ini diyakini roh orang yang sudah meninggal masih tetap hidup, dan semua benda itu bernyawa serta memiliki kekuatan. Roh-roh itu bisa bersemayam di kayu-kayu besar, batu, sungai, gunung dan lain-lain. Paduan dari animisme dan dinamisme ini menempatkan roh nenek moyang yang dulunya berkuasa, tetap mempunyai kuasa. Mereka terus dipuja dan dimintai pertolongan. Untuk memuja roh nenek moyang ini, selain melakukan ritual tertentu mereka mewujudkannya dalam bentuk gambar dan patung Roh nenek moyang yang dipuja ini disebut “hyang” atau “dahyang”.

Orang bisa berhubungan dengan para hyang ini untuk minta pertolongan dan perlindungan, melalui seorang medium yang disebut ‘syaman’. Ritual pemujaan nenek moyang, hyang dan syaman inilah yang merupakan asal mula pertunjukan wayang. Hyang menjadi wayang, ritual kepercayaan itu menjadi jalannya pentas dan syaman menjadi dalang. Sedangkan ceritanya adalah petualangan dan pengalaman nenek moyang. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa Asli yang hingga sekarang masih dipakai. Jadi, wayang itu berasal dari ritual kepercayaan nenek moyang bangsa Indonesia di sekitar tahun l500 SM.

Berasal dari zaman animisme, wayang terus mengikuti perjalanan sejarah bangsa sampai pada masuknya agama Hindu di Indonesia sekitar abad keenam. Bangsa Indonesia mulai berseniuhan dengan peradaban tinggi dan berhasil membangun kerajaan-kerajaan seperti Kutai, Tarumanegara, bahkan Sriwijaya yang besar dan jaya. Pada masa itu wayang pun berkembang pesat, mendapat pondasi yang kokoh sebagai suatu karya seni yang bermutu tinggi.

Pertunjukan roh nenek moyang itu kemudian dikembangkan dengan cerita yang lebih berbobot, Ramayana dan Mahabarata. Selama abad X hingga XV, wayang berkembang dalam rangka ritual agama dan pendidikan kepada masyarakat. Pada masa ini telah mulai ditulis berbagai cerita tentang wayang. Semasa kerajaan Kediri, Singasari dan Majapahit kepustakaan wayang mencapai puncaknya seperti tercatat pada prasasti di candi-candi, karya sastra yang ditulis oleh Empu Sendok, Empu Sedah, Empu Panuluh, Empu Tantular dan lain-lain. Karya sastra wayang yang terkenal dari zaman Hindu itu antara lain Baratayuda, Arjuna Wiwaha, Sudamala, sedangkan pergelaran wayang sudah bagus, diperkaya lagi dengan penciptaan peraga wayang terbuat dari kulit yang dipahat, diiringi gamelan dalam tatanan pentas yang bagus dengan cerita Ramayana dan Mahabarata. Pergelaran wayang mencapai mutu seni yang tinggi sampai sampai digambarkan “Hannonton ringgit menangis esekel”, tontonan wayang sangat mengharukan.

Wayang Orang

Menarik untuk diperhatikan Cerita Ramayana dan Mahabarata yang asli berasal dari India, telah diterima dalam pergelaran wayang Indonesia sejak zaman Hindu hingga sekarang. Wayang seolah-olah identik dengan Ramayana dan Mahabarata. Namun perlu dimengerti bahwa Ramayana dan Mahabarata versi India itu sudah banyak berubah. Berubah alur ceritanya; kalau Ramayana dan Mahabarata India merupakan cerita yang berbeda satu dengan lainnya, di Indoenesia menjadi satu kesatuan. Dalam pewayangan cerita itu bermula dari kisah Ramayana terus bersambung dengan Mahabarata, malahan dilanjutkan dengan kisah zaman kerajaan Kediri. Mahabarata asli berisi 20 parwa, sedangkan di Indonesia tinggal 18 parwa. ( artikel, cerita, kesusastraan Jawa Kuna ).

Yang sangat menonjol perbedaannya adalah falsafah yang mendasari kedua cerita itu. Lebih-lebih setelah masuknya agama Islam. Falsafah Ramayana dan Mahabarata yang Hinduisme diolah sedemikian rupa sehingga menjadi diwarnai nilai-nilai agama Islam. Hal ini antara lain tampak pada kedudukan dewa, garis keturunan yang patriarkhat, dan sebagainya. Wayang diperkaya lagi dengan begitu banyaknya cerita gubahan baru yang bisa disebut lakon “carangan”, maka Ramayana dan Mahabarata benar-benar berbeda dengan aslinya. Begitu pula, Ramayana dan Mahabarata dalam pewayangan tidak sama dengan Ramayana dan Mahabarata yang berkembang di Myanmar, Thailand, Kamboja, dan di tempat-tempat lainnya. Ramayana dan Mahabarata dari India itu sudah menjadi Indonesia karena diwarnai oleh budaya asli dan nilai-nilai budaya yang ada di Nusantara.

Rama & Shinta

Di Indonesia, walaupun cerita Ramayana dan Mahabarata sama-sama berkembang dalam pewayangan, tetapi Mahabarata digarap lebih tuntas oleh para budayawan dan pujangga kita. Berbagai lakon carangan  dan sempalan, kebanyakan mengambil Mahabarata sebagai inti cerita.

Masuknya agama Islam di Indonesia pada abad ke-15, membawa perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Begitu pula wayang telah mengalami masa pembaharuan. Pembaharuan besar-besaran, tidak saja dalam bentuk dan cara pergelaran wayang, melainkan juga isi dan fungsinya. Berangkat dari perubahan nilai-nilai yang dianut, maka wayang pada zaman Demak dan seterusnya telah mengalami penyesuaian dengan zamannya. Bentuk wayang yang semula realistik proporsional seperti tertera dalam relief candi-candi, distilir menjadi bentuk imajinatif seperti wayang sekarang ini. Selain itu, banyak sekali tambahan dan pembaharuan dalam peralatan seperti kelir atau layar, blencong, atau lampu, debog yaitu pohon pisang untuk menancapkan wayang, dan masih banyak lagi.

Para wali dan pujangga Jawa mengadakan pembaharuan yang berlangsung terus menerus sesuai perkembangan zaman dan keperluan pada waktu itu, utamanya wayang digunakan sebagai sarana dakwah Islam. Sesuai nilai Islam yang dianut, isi dan fungsi wayang telah bergeser dari ritual agama (Hindu) menjadi sarana pendidikan, dakwah, penerangan, dan komunikasi massa. Ternyata wayang yang telah diperbaharui kontekstual dengan perkembangan agama Islam dan masyarakat, menjadi sangat efektif untuk komunikasi massa dalam memberikan hiburan serta pesan-pesan kepada khalayak. Fungsi dan peranan ini terus berlanjut hingga dewasa ini.

gambar Sunan Kalijaga

Dalang Wanita Cantiq

Perkembangan wayang semakin meningkat pada masa setelah Demak, memasuki era kerajaan-kerajaan Jawa seperti Pajang, Mataram, Kartasura, Surakarta, dan Yogyakarta. Banyak sekali pujangga-pujangga yang menulis tentang wayang, menciptakan wayang-wayang baru. Para seniman wayang banyak membuat kreasi-kreasi yang kian memperkaya wayang.

Begitu pula para dalang semakin profesional dalam menggelar pertunjukan wayang, tak henti-hentinya terus mengembangkan seni tradisional ini. Dengan upaya yang tak kunjung henti ini, membuahkan hasil yang menggembirakan dan membanggakan, wayang dan seni pedalangan menjadi seni yang bermutu tinggi, dengan sebutan “Adiluhung”. Wayang terbukti mampu tampil sebagai tontonan yang menarik sekaligus menyampaikan pesan-pesan moral keutamaan hidup. Dari landasan perkembangan wayang tersebut di atas, tampak bahwa memang wayang itu berasal dari pemujaan nenek moyang pada zaman kuna, dikembangkan pada zaman Hindu, kemudian diadakan pembaharuan pada zaman masuknya agama Islam dan terus mengalami perkembangan dari zaman kerajaan-kerajaan Jawa, zaman penjajahan, zaman kemerdekaan hingga kini.

Indonesia Asli

Asal-usul wayang menjadi jelas, asli Indonesia yang berkembang sesuai budi daya masyarakat dengan Wayang Indonesia memiliki ciri khas yang merupakan jatidirinya. Sangat mudah dibedakan dengan seni budaya sejenis yang berkembang di India, Cina, dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Tidak saja berbeda bentuk serta cara pementasannya, cerita Ramayana dan Mahabarata yang digunakan juga bisa berbeda. Cerita terkenal ini sudah digubah sesuai nilai dan kondisi yang hidup dan berkembang di Indonesia.

Keaslian wayang bisa ditelusuri dari penggunaan bahasa seperti wayang, kelir, blencong, kepyak, dalang, kotak, dan lain-lain. Kesemuanya itu bahasa Jawa Asli. Berbeda misalnya dengan cempala yaitu alat pengetuk kotak, adalah bahasa Sansekerta. Wayang asli menerima pengaruh dari India. Bahasa dalam wayang ini terus berkembang secara pelan namun pasti dari bahasa Jawa Kuna atau bahasa Kawi, bahasa Jawa Baru dan bukan tidak mungkin kelak wayang ini akan menggunakan bahasa Indonesia. Wayang selalu menggunakan bahasa campuran yang biasa disebut ‘basa rinengga’ maksudnya bahasa yang telah disusun indah sesuai kegunaannya. Dalam seni pedalangan, kedudukan sastra amat penting dan harus dikuasai dengan baik oleh para dalang.

Sendratari Ramayana

Bentuk peraga wayang juga mengujudkan keaslian wayang Indonesia, karena bentuk stilasi peraga wayang yang imajinatif dan indah itu merupakan proses panjang seni kriya wayang yang dilakukan oleh para pujangga dan seniman perajin Indonesia sejak dahulu. Begitu majunya dan seni rupa, wayang sudah mencapai tingkat ‘sempurna’. Penilaian ini obyektif, tidak berlebihan, apabila dibandingkan dengan bentuk-bentuk peraga wayang atau seni boneka dari mancanegara.

Sarat dengan Falsafah

Kekuatan utama budaya wayang, yang juga merupakan jati dirinya, adalah kandungan nilai falsafahnya. Wayang yang tumbuh dan berkembang sejak lama itu ternyata berhasil menyerap berbagai nilai-nilai keutamaan hidup dan terus dapat dilestarikan dalam berbagai pertunjukan wayang.

Bertolak dari pemujaan nenek moyang, wayang yang sudah sangat religius, mendapat masukan agama Hindu, sehingga wayang semakin kuat sebagai media ritual dan pembawa pesan etika. Memasuki pengaruh agama Islam, kokoh sudah landasan wayang sebagai tontonan yang mengandung tuntutan yaitu acuan moral budi luhur menuju terwujudnya ‘akhlaqulkarimah’.

Proses akulturasi kandungan isi wayang itu meneguhkan posisi wayang sebagai salah satu sumber etika dan falsafah yang secara tekun dan berlanjut disampaikan kepada masyarakat. Oleh karena itu ada pendapat, wayang itu tak ubahnya sebagai buku falsafah, yaitu falsafah Nusantara yang bisa dipakai sumber etika dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat.

Wayang bukan lagi sekedar tontonan bayang-bayang atau ‘shadow play, melainkan sebagai ‘wewayangane ngaurip’ yaitu bayangan hidup manusia. Dalam suatu pertunjukan wayang, dapat dinalar dan dirasakan bagaimana kehidupan manusia itu dari lahir hingga mati. Perjalanan hidup manusia untuk berjuang menegakkan yang benar dengan mengalahkan yang salah. Dari pertunjukan wayang dapat diperoleh pesan untuk hidup penuh amal saleh guna mendapatkan keridloan Illahi.

Wayang juga dapat secara nyata menggambarkan konsepsi hidup ‘sangkan paraning dumadi’, manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali keharibaan-Nya. Banyak ditemui seni budaya semacam wayang yang dikenal dengan ‘puppet show’, namun yang seindah dan sedalam maknanya sulit menandingi Wayang Kulit Purwa.

Itulah asal-usul wayang Indonesia, asli Indonesia yang senantiasa berkembang dari waktu ke waktu. Secara dinamis mengantisipasi perkembangan dan kemajuan zaman.

Organisasi Pewayangan

Perkembangan wayang dari waktu ke waktu selain didukung oleh masyarakat, juga digerakkan oleh lembaga-lembaga swadaya masyarakat, bukan oleh pemerintah. Dahulu keraton menjadi pusat dan acuan pengembangan wayang dan seni pedalangan. Peranan keraton beralih pada lembaga-lembaga masyarakat antara lain berupa sanggar-sanggar, lembaga pendidikan, paguyuban-paguyuban budaya, kesenian dan dalam jaman modern sekarang ini telah tampil pula organisasi-organisasi pewayangan. Organisasi pewayangan bersifat lokal ada pula yang bersifat nasional. Organisasi pewayangan dan pedalangan yang bersifat nasional adalah Persatuan Pedalangan Indonesia atau PEPADI dan SENAWANGI atau Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia. Dua organisasi pewayangan yang sekarang berkiprah dalam upaya melestarikan dan mengembangkan wayang.

SENAWANGI atau merupakan organisasi pewayangan terkemuka dan terkonsolidasikan dengan baik. Didirikan pada tahun 1975, di Jakarta. Setiap 5 tahun sekali, menyelenggarakan Pekan Wayang Indonesia, yang merupakan puncak kegiatan pewayangan. Bersamaan dengan Pekan Wayang, dilaksanakan pula Kongres SENA WANGI. Pada bulan Agustus 1999, diselenggarakan Pekan Wayang Indonesia VII dan Kongres SENA WANGI yang ke enam. SENAWANGI mengelola Gedung Pewayangan Kautaman yang terletak di kompleks TMII Jakarta Timur. Diupayakan gedung ini bisa menjadi Pusat Pewayangan Indonesia dan dunia.

PEPADI organisasi profesi yang beranggotakan para dalang, pengrawit dan swarawati memiliki cabang di seluruh wilayah Indonesia. Banyak bergerak dalam kegiatan pagelaran wayang, pendidikan dan pelatihan dan lain-lain.

BERLOMBA MENGAJARI ANAK DZIKIR DAN MEMBACA AL-QUR’AN

MENGAJARI ANAK BERDZIKIR

ينبغي علينا أنْ لا يسبِقَنا أحدٌ إلى تعليم أبنائنا وبناتنا سُورةَ الفاتحة وذِكرَ اللهِ سُبحانهُ وتعالى. لماذا؟

“Semestinya agar kita tidak didahului orang lain untuk mengajarkan putra-putri kita Surat al-Fatihah dan dzikrullah subhanahu wata’ala. Kenapa?

لأنَّا إذا علَّمناهم سُورة الفاتحة؛ فكُلَّما قرأوا سُورةَ الفاتحة كتب اللهُ لنا أجرَهم، وإذا علمناهم ذِكرَ اللهِ؛ فكُلَّما قالوا سُبحان الله كتب اللهُ لنا أجرَهم،

Karena, jika kita mengajarkan mereka Surat al-Fatihah, setiap mereka membaca al-Fatihah, akan dituliskan pahala mereka bagi kita. Saat kita mengajarkan kepada mereka dzikrullah, setiap mereka mengucapkan ‘Subhanallah’ dituliskan bagi kita pahala mereka.

نمُوت ونُدفنُ في قبُورنا ويجري أجرُنا في الدُّنيا بذِكرِ أبنائنا؛ لأنَّنا نحنُ الَّذين علَّمناهم أنْ يذكُروا اللهَ سُبحانهُ وتعالى.

Kita meninggal dan dikuburkan di kuburan kita, namun pahala kita tetap mengalir di dunia dengan dzikir yang dilakukan anak kita. Karena kitalah yang mengajari mereka dzikrullah subhanahu wata’ala.”

 

MENGAJARI AL-QUR’AN

“ Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Mengapa kita perlu mengajarkan Al-Qur’an dan mendorong anak-anak untuk menghafal Al-Qur’an ?

Diantara alasan mengapa kita perlu mengajarkan kepada mereka alqur’an adalah

    Untuk mendapatkan ridho Allah

    Untuk mendapatkan ketenangan hidup

    Karena Al Qur’an akan menjadi penolong (syafa’at) bagi para penghafalnya

    Penghafal Al-Qur’an dapat memberikan syafaat bagi keluarganya

    Mendapatkan banyak kemuliaan dan pahala yang berlimpah

Prinsip-prinsip mengajarkan Al-Qur’an :

Diantara prinsip-prinsip mengajarkan Al-Qur’an dalam mengajarkan Al Qur’an adalah :

    Tidak boleh memaksa anak ( kecuali dengan alasan, misalkan watak anak ‘pemalas’ )

    Lakukan kegiatan dengan cara menyenangkan

    Dimulai dari ayat-ayat yang mudah difahami

    Keteladanan dan motivasi

Kunci keberhasilan mengajarkan anak untuk menghafal Al-Qur’an :

  1. Suasana senang dan membahagiakan akan membantu anak untuk mengingat hafalannya dalam waktu yang lama, dengan demikian anak akan berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan perasaan cinta dan keterikatan terhadap Al-Qur’an.

  1. Berulang dan kontinyu

 

 

Cara memelihara dan mengembangkan memori anak :

  1. Ajari anak untuk fokus dan perhatian pada pendidiknya

  1. Faktor makanan adalah penentu untuk terpelihara kemampuan memori itu bekerja (zat-zat adiktif yang terdapat dalam makanan, perlahan tapi pasti akan merusak daya ingat anak-anak)

  1. Memberi penjelasan pada anak-anak atas nilai-nilai yang terkandung dalam bacaan yang dihafalnya, maka memori akan bekerja lebih eksis

  1. Menghormati waktu bermain dan waktu istirahat anak

  1. Jauhkan unsur-unsur yang dapat mengancam psikologi anak-anak ; celaan dan tekanan

  1. Ciptakan motivasi-motivasi agar anak cenderung menyukai aktifitas menghafal

 

Waktu-waktu yang tepat untuk mengajarkan anak menghafal Al-Qur’an :

  1. Tidak mengantuk

  1. Tidak letih / kelelahan

  1. Tidak kekenyangan atau sebaliknya, tidak sedang kelaparan

  1. Tidak dalam keadaan capek belajar

  1. Tidak sedang bermain

  1. Tidak dalam keadaan sakit / bad mood

 

Yang perlu diperhatikan tentang bakat anak dalam menghafal :

  1. Kenali bakat anak-anak dan hargai minat mereka.

  1. Fahami keterbatasan daya ingat anak karena tiap anak itu beda kemampuannya

  1. Kenali anak-anak yang memiliki kesulitan dalam belajar dan berinteraksi

 

 

TEKNIS PENGAJARAN :

  1. Bayi ( 0-2 tahun )

  1. Bacakan Al-Qur’an dari surat Al-Fatihah

  1. Tiap hari 4 kali waktu ( pagi, siang, sore, malam )

  1. Tiap 1 waktu satu surat diulang 3x

  1. Setelah hari ke-5 ganti surat An-Nas dengan metode yang sama

  1. Tiap 1 waktu surat yang lain-lain diulang 1x

 

2.                                                                                  Di atas 2 tahun

  1. Metode sama dengan teknik pengajaran bayi. Jika kemampuan mengucapkan kurang, maka tambah waktu menghafalnya, misal dari 5 hari menjadi 7 hari.

  1. Sering dengarkan murottal.

 

 

3.                                                                                 Di atas 4 tahun

  1. Mulai atur konsentrasi dan waktu untuk menghafal serius

  1. Ajari muroja’ah sendiri

  1. Ajari mengahafal sendiri

  1. Selalu dimotivasi supaya semangat selalu terjaga

  1. Waktu menghafal 3-4x per hari

 

 

CARA MENJAGA HAFALAN

  1. Mengulang-ulang secara teratur

  1. Mendengarkan murottal

  1. Mentadabburi dan menghayati makna

  1. Menjauhi maksiat

BEBERAPA HIKMAH BERPOLIGAMI “JIKALAU MAU DAN BISA ADIL SERTA MAMPU”

Diantara hikmah poligami yang bisa kami paparkan adalah :

  1. Zina diharamkan dalam Islam secara keras, karena berbagai macam bahaya yang terkandung padanya, dan Islam memberikan solusi syar’i dengan menikah dan bolehnya memiliki istri lebih dari satu, maka melarang poligami adalah kezaliman terhadap laki-laki dan wanita, serta menyebabkan tersebarnya zina, apalagi jumlah wanita lebih banyak dari laki-laki.
  2. Menikah bukan sekedar kesenangan raga, tetapi mengandung berbagai hikmah, diantaranya ketenangan batin dan memiliki anak serta mendidik mereka dengan baik, maka manakah yang lebih baik bagi wanita, dipoligami ataukah hidup menyendiri tanpa ketenangan?!
  3. Islam adalah agama yang adil dan seimbang, dalam menetapkan aturan Islam memperhatikan kemaslahatan seluruh wanita, bukan satu dua orang wanita saja, jika demikian:

  • Apa dosanya perawan-perawan tua dibiarkan tanpa suami?!
  • Tidakkah ada pandangan kasih sayang dan kasihan kepada para janda?!
  • Tidakkah kita lihat banyaknya wanita yang sampai tua tanpa suami?!
  • Maka manakah lebih baik bagi wanita kalau begitu, apakah hidup sendiri atau bersama suami dan madunya?!
  • Manakah yang lebih baik bagi masyarakat, terjaganya para wanita dengan bersuami ataukah membiarkan mereka menjadi para penggoda?!
  • Manakah yang lebih baik bagi laki-laki, memiliki dua, tiga dan empat istri, atau memiliki 10 pacar (pasangan selingkuh, zina)?!

  1. Poligami tidak wajib, dan siapa yang merasa tidak mampu berlaku adil maka tidak boleh berpoligami, semakin banyak wanita yang tidak bersuami, apabila yang mampu berpoligami dilarang melakukannya.

  1. Kesiapan wanita untuk memberikan kepuasan batin kepada suaminya tidak setiap saat, kadang terhalang haid, nifas dan lain-lain, sementara sebagian laki-laki apabila tidak terpuaskan maka bisa jadi mengantarkannya kepada zina.

  1. Bisa jadi seorang istri tidak mampu lagi melahirkan, maka daripada menceraikannya lebih baik suaminya menikah lagi dengan wanita yang bisa melahirkan.

  1. Bisa jadi istri memiliki suatu penyakit yang kadang menyulitkannya untuk melayani suami, maka daripada diceraikan lebih baik suaminya menikah lagi.

  1. Bisa jadi istri berperangai jelek, maka daripada menceraikannya lebih baik menikah lagi dan tetap mendidik istri sebelumnya dan sebagai penjagaan terhadap anak-anak agar tidak tersia-siakan jika kedua orang tuanya bercerai.

  1. Usia produktif laki-laki untuk memiliki anak lebih lama dari wanita, maka dihalanginya poligami menyebabkan umat kehilangan keturunan yang banyak, padahal Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mewasiatkan untuk memperbanyak anak.

  1. Apabila suami sedang memberikan giliran untuk istri lain maka kesempatan bagi istri yang lainnya untuk beristirahat dan bersantai, karena itulah sebagian wanita yang berakal menganjurkan suaminya untuk menikah lagi.

  1. Meraih pahala yang melimpah, terlebih jika yang dinikahi adalah seorang wanita yang sangat membutuhkan nafkah, baik lahir maupun batin.

  1. Yang membolehkan poligami adalah Allah ‘azza wa jalla, yang lebih tahu mana yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya dan lebih sayang kepada mereka dibanding diri-diri mereka sendiri.

RENUNGAN AKHIR PEKAN : BERPRASANGKA BAIKLAH KEPADA ALLOH SWT.

Seseorang mengeluh pada Ustadz, ‘Dimanakah keadilan Allah, telah lama aku meminta dan memohon padaNya namun tak pernah dikabulkan.. aku shalat, puasa, bersedekah, berbuat kebajikan.. tapi tak satupun keinginanku dikabulkan.

Padahal seorang teman yang ibadahnya kacau, bicaranya menyinggung hati, akhlaknya buruk, tapi apa yang dimintanya terkabul dengan cepat. Oh sungguh Allah tidak adil..’

Ustad berkata, ‘Pernahkah engkau didatangi pengamen?’

‘Pernah, tentu saja’ Kata orang itu serius.

‘Bayangkan jika pengamen itu berpenampilan seram, bertato, bertindik, nyanyiannya tak merdu memekakkan telinga, apa yang kau lakukan?’ Orang itu menjawab, ‘segera kuberi uang agar dia cepat berlalu dari hadapanku’

‘Lalu bagamana jika pengamen itu besuara merdu mendayu, menyanyi dengan sopan dan penampilannya rapi lagi wangi, apa yg kau lakukan?’ ‘Kudengarkan dan kunikmati hingga akhir lagu lalu kuminta ia bernyanyi lagi sekali lagi dan tambah lagi..’, kata orang itu sambil tertawa.

‘Kalau begitu bisa saja Allah bersikap begitu pada kita hambaNya. Jika ada manusia yang berakhlak buruk dan dibenciNya berdoa dan memohon padaNya, mungkin akan dia firmankan pada malaikat ‘Cepat berikan apa yang dia minta. Aku muak dengan pintanya. Tapi bila yang menadahkan tangan adalah hamba yang sholeh yang rajin bersedekah, maka mungkin saja Allah berfirman pada malaikatNya : Tunggu. Tunda dulu apa yang dipintanya, aku menyukai doa-doanya, Aku menyukai isak-tangis nya. Aku tak ingin dia menjauh dari Ku setelah mendapat apa yg dipintanya. Aku ingin mendengar tangisnya karena Aku mencintainya..’

Simak hadith Qudsi ini:

“Sesungguhnya Allah berfirman: “Aku sebagaimana prasangka hambaku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.” [HR.Turmudzi]

Kesimpulan kisah di atas? Selalulah bersangka baik pada Allah karena kita tidak tahu apa yang terbaik bagi diri kita..

Subhanallah…

HAL HAL YANG PERLU DI PERHATIKAN DI BULAN MUHARROM

Khutbah I

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,

Alhamdulillah, pada bulan ini kita baru saja memasuki tahun baru Hijriah, yaitu bulan Muharram 1440 H. Perlu kita syukuri karena bulan Muharram termasuk bulan yang mulia. Menurut Ibnu al-Jauzi dalam kitab at-Tabshîrah juz 2 halaman 6, bulan Muharram adalah bulan yang mulia derajatnya. Dinamakan dengan bulan Muharram, karena Allah ﷻ mengharamkan peperangan dan konflik di bulan mulia ini. Selain itu, bulan ini juga termasuk salah satu dari bulan-bulan yang mulia, yaitu Muharram, Dzulhijjah, Dzulqa’dah, dan Rajab. Sebagaimana firman Allah dalam Surat at-Taubah:36:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu (lauhul mahfudz). Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” (QS at-Taubah: 36)

Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Tafsir al-Fakhrir Razi juz 16 halaman 53 menjelaskan bahwa setiap perbuatan maksiat di bulan haram akan mendapat siksa yang lebih dahsyat, dan begitu pula sebaliknya, perilaku ibadah kepada Allah akan dilipatgandakan pahalanya. Beliau menyatakan:

وَمَعْنَى الْحَرَمِ: أَنّ الْمَعْصِيَةَ فِيْهَا أَشَدُّ عِقَاباً ، وَالطَّاعَةُ فِيْهَا أَكْثَرُ ثَوَاباً

Artinya: “Maksud dari haram adalah sesungguhnya kemaksiatan di bulan-bulan itu memperoleh siksa yang lebih berat dan ketaatan di bulan-bulan tersebut akan mendapat pahala yang lebih banyak.”

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,

Bulan Muharram adalah momen terbaik untuk meningkatkan kebaikan dan ketakwaan kepada Allah ﷻ. Di bulan Muharram ini terdapat hari yang istimewa, yaitu hari ‘Asyura. Di hari tersebut umat Islam disunnahkan untuk berpuasa. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, Juz 8 halaman 9 menjelaskan sebuah hadits shahih riwayat Imam Muslim:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ، فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَسُئِلُوا عَنْ ذَلِكَ؟ فَقَالُوا: هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي أَظْهَرَ اللهُ فِيهِ مُوسَى، وَبَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى فِرْعَوْنَ، فَنَحْنُ نَصُومُهُ تَعْظِيمًا لَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَأَمَرَ بِصَوْمِهِ

Dari Ibnu Abbas RA, beliau berkata: “Rasulullah ﷺ hadir di kota Madinah, kemudian beliau menjumpai orang Yahudi berpuasa di bulan ‘Asyura, kemudian mereka ditanya tentang puasanya tersebut, mereka menjawab: hari ini adalah hari dimana Allah ﷻ memberikan kemenangan kepada Nabi Musa AS dan Bani Israil atas Fir’aun, maka kami berpuasa untuk menghormati Nabi Musa. Kemudian Nabi bersabda: Kami (umat Islam) lebih utama dengan Nabi Musa dibanding dengan kalian, Kemudian Nabi Muhammad memerintahkan untuk berpuasa di hari ‘Asyura.”

Dalam riwayat lain, para sahabat kemudian bertanya pada Nabi, bahwa hari ‘Asyura adalah hari yang dimuliakan oleh orang Yahudi dan Nasrani. Kemudian Nabi bersabda: Insya Allah tahun depan kita berpuasa di hari yang ke Sembilan. Dari hadits tersebut di atas, Imam Syafi’i berpendapat bahwa disunnahkan berpuasa di hari Sembilan dan sepuluh di bulan Muharram. Karena Nabi telah melaksanakan puasa di hari ‘Asyura dan berniat puasa di hari ke Sembilan di bulan Muharram (dikutip Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juz 8 halaman 9). Puasa di hari ke sembilan memiliki tujuan untuk membedakan antara puasa orang Islam dan orang Yahudi. Karena itu hukumnya makruh jika kita hanya puasa di hari ke sepuluh saja karena ada keserupaan dengan orang Yahudi. Dari beberapa riwayat hadits di atas dapat kita simpulkan bahwa umat Islam disunnahkan untuk melakukan puasa di hari ke Sembilan dan hari ‘Asyura di bulan Muharram.

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,

Mengapa hari Asyura disebut dengan Asyura (sepuluh)? Badaruddin al-‘Aini dalam kitab Umdatul Qari’ Syarah Shahih Bukhari, juz 11, halaman 117, beliau menjelaskan sebuah pendapat bahwa di hari ‘Asyura Allah ﷻ memberikan kemuliaan dan kehormatan kepada sepuluh nabi-Nya. Yaitu (1) kemenangan Nabi Musa atas Fir’aun, (2) pendaratan kapal Nabi Nuh, (3) keselamatan Nabi Yunus dengan keluar dari perut ikan, (4) ampunan Allah untuk Nabi Adam AS, (5) keselamatan Nabi Yusuf dengan keluar dari sumur pembuangan, (6) kelahiran Nabi Isa AS, (7) ampunan Allah untuk Nabi Dawud, (8) kelahiran Nabi Ibrahim AS, (9) Nabi Ya’qub dapat kembali melihat, dan (10) ampunan Allah untuk Nabi Muhammad ﷺ, baik kesalahan yang telah lampau maupun yang akan datang.

Selain di atas, para ulama juga menjelaskan beberapa keistimewaan para nabi di hari ‘Asyura, yaitu kenaikan Nabi Idris menuju tempat di langit, kesembuhan Nabi Ayub dari penyakit, dan pengangkatan Nabi Sulaiman menjadi raja. Dari beberapa kejadian di atas, hari ‘Asyura adalah hari yang amat istimewa. Karena itu, hari ‘Asyura menjadi momen yang amat baik untuk meniru akhlak para nabi, akhlak yang mulia, lemah lembut, dan menjunjung tinggi kasih sayang, dan kerukunan. Menghindari terhadap kejelekan, penghinaan, kekerasan, permusuhan, dan adu domba. Ingat, kebaikan di bulan ini dilipatgandakan pahalanya. Kejelekan di bulan ini dilipatkan siksa dan malapetakanya.

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,

Puasa hari ‘Asyura sangat dianjurkan karena memiliki beberapa keutamaan, Imam Turmudzi meriwayatkan hadits hasan dalam kitab Sunan Turmudzi juz 2 halaman 109, bahwa orang yang berpuasa di hari ‘Asyura akan mendapatkan ampunan dari Allah ﷻ. Sebagaimana sabda Nabi:

وروى التِّرْمِذِيّ من حَدِيث عَليّ، رَضِي الله تَعَالَى عَنهُ: (سَأَلَ رجل النَّبِي، صلى الله عَلَيْهِ وَسلم: أَي شَيْء تَأْمُرنِي أَن أَصوم بعد رَمَضَان؟ قَالَ: صم الْمحرم، فَإِنَّهُ شهر الله، وَفِيه يَوْم تَابَ فِيهِ على قوم وَيَتُوب فِيهِ على قوم آخَرين) . وَقَالَ: حسن غَرِيب

“Suatu ketika seorang laki-laki bertanya pada Nabi, apa yang akan engkau perintahkan kepadaku wahai Nabi setelah saya berpuasa di bulan ramadhan? Nabi bersabda: Berpuasalah di bulan Muharram, Muharram adalah bulan milik Allah, di bulan itu Allah menerima taubat satu kaum dan menerima taubat kaum yang lainnya.” (HR. Tirmidzi)

Selain itu, Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadits sahih dalam kitab Sunan Ibnu Majah, juz 1 halaman 553, bahwa barang siapa puasa di hari ‘Asyura akan dihapus kesalahan satu tahun yang telah lalu, sebagaimana sabda Nabi:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ»

Berpuasa di hari ‘Asyura, sesungguhnya saya mengira bahwa Allah akan menghapus kesalahan di tahun yang telah lalu (HR. Ibnu Majah).

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,

Ibnu al-Jauzi dalam kitab at-Tabshîrah juz 2 halaman 6 menyimpulkan bahwa bulan Muharram adalah bulan yang mulia, hari ‘Asyura adalah hari yang mulia. Bulan Muharram adalah musim kebaikan, momen yang baik untuk melakukan perdamaian, momen yang baik untuk meningkatkan amal, sedekah, menyantuni anak yatim, dan menolong mereka yang membutuhkan. Bulan Muharram sebagai bulan awal tahun baru hijriah menjadi momen yang terbaik untuk melakukan hijrah, hijrah dari sifat yang tercela menuju sifat yang terpuji. Abu Sulaiman sebagaimana dikutip Abu Na’im dalam kitab Hilyatul Auliya’ juz 9 halaman 269 menyatakan:

مَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ فِي نُقْصَانٍ

“Barangsiapa hari ini keadaannya masih sama dengan kemarin, maka ia dalam keadaan kurang baik.”

Dari pernyataan tersebut, mari kita bangkitkan motivasi kita untuk berubah dan berhijrah ke perilaku yang baik, semakin merekatkan persaudaraan, memanfaatkan potensi yang kita miliki sesuai dengan profesi masing-masing untuk membantu orang lain, membantu agama, dan membantu negara. Seseorang hamba akan selalu mendapatkan perlindungan dari Allah ﷻ selama ia bermanfaat dan membantu kesusahan saudaranya. Semoga kita dapat menjadi orang yang selalu berhijrah menuju kebaikan dan menjadi orang yang bermanfaat untuk masyarakat, agama, dan bangsa. Allahumma Aamiin.

جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكم مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين، وَأدْخَلَنَا وإِيَّاكم فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ : أعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمانِ الرَّحِيمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ