ANTROPOLOGI KEHARAMAN BABI UNTUK MUSLIM DAN ALASAN TUBUH SAYA MENOLAK BABI

Antropologi Keharaman Babi Bagi Kaum Muslim dan Yahudi

Kenapa daging babi diharamkan bagi umat Islam dan Yahudi? Atau jangan-jangan pertanyaan demikian itu bagi kita (umat beragama) tidak terlalu penting untuk dipertanyakan. Sebab, alasan teologis ataupun pendasaran ajaran Islam sudah cukup bagi kita untuk mematuhi larangan untuk mengonsumsi daging babi tersebut.

Dalam ajaran Islam ada standarisasi bahwa makanan yang layak untuk dikonsumsi adalah makan yang halal. Begitu pula bagi umat Yahudi, ternyata ada standarisasi yang mirip dengan standarisasi halal sebagaimana dalam Islam. Pada kaum Yahudi, istilah standarisasi kehalalan sebuah makanan disebut dengan “koshr”. Sebagaimana dalam Islam, bagi kaum Yahudi babi juga dihukumi “haram”, tidak koshr, tidak halal.

Namun demikian, bagi kaum akademisi, intelektual, ataupun peneliti, alasan-alasan teologis/keimanan bahwa mengonsumsi daging babi berhukum haram tidak cukup. Perlu ada penjelasan lain dengan pendasaran-pendasaran penelitian ilmiah. Demikian itulah yang dilakukan oleh seorang antropolog bernama Marvin Harris dalam bukunya Sapi, Babi, Perang dan Tukang Sihir (2019) dalam satu babnya membahas tentang teka-teki kenapa daging babi diharamkan bagi kaum muslim dan Yahudi.

Dalam proses penelusuran antropolog Harris (2019) tentang teka-teki keharaman babi bagi umat Islam dan Yahudi adalah adanya alasan yang berkembang dalam masyarakat bahwa babi itu hewan yang jorok, kotor, berkubang dalam air kencingnya sendiri dan pemakan kotoran manusia. Tetapi, penjelasan seperti itu tak cukup bagi Harris.

Penelusurannya menemukan bahwa klaim demikian itu sangat tidak konsisten sebagai sebuah penjelasan ilmiah. Sebab apa, karena penelusurannya menemukan bahwa hewan sapi pun akan berlaku sama seperti babi ketika ditempatkan dalam kandang yang kurang terawat, ia akan berkubang dalam bekas air kencingnya sendiri dan juga sapi yang kelaparan akan memakan kotoran manusia sebagaimana babi.

Upaya lanjutan penelusuran antropologis Harris (2019) tentang teka-teki babi bertemu dengan penjelasan Moses Maimonides (Musa bin Maryam), seorang dokter istana Salahudin pada abad ke-12 M di Kairo, Mesir. Maimonides memberikan penjelasan naturalis/medis tentang kenapa babi diharamkan. Menurutnya babi diharamkan karena mengandung penyakit yang berbahaya jika dikonsumsi oleh masyarakat.

Kemudian, alasan Maimonides tersebut diperkuat oleh penemuan ilmiah pada abad ke-19 M bahwa dalam daging babi terdapat cacing pita yang dapat membahayakan jika dimasak kurang matang. Namun, penelusuran Harris selanjutnya menemukan bahwa penjelasan babi diharamkan hanya semata karena ada cacing pita masih menemui kontradiksi ilmiahnya.

Sebab apa? Daging sapi, kambing, dan domba yang oleh umat Islam dan Yahudi berhukum halal sebenarnya juga mengandung penyakit yang sama-sama berbahaya bagi masyarakat. Daging kambing dan domba mengandung bakteri Brucellosis melitensis yang berbahaya. Sapi lebih berbahaya, penyakit Antraks pada sapi juga merupakan salah satu penyakit menular yang paling berbahaya dalam sejarah umat manusia.

Dalam kebuntuan penelusuran ilmiah tersebut, sang antropolog memberikan jawaban yang menarik. Menurutnya larangan ilahiah atas babi tersebut merupakan sebuah strategi ekologis yang berasalan. Sebab apa, jika ditelusuri kondisi alam tempat kaum muslim dan yahudi hidup adalah tanah padang pasir yang gersang dan dekat dengan lembah sungai.

Kaum muslim dan yahudi adalah keturunan dari orang Ibrani prohistoris (anak-anak Nabi Ibrahim pada pertengahan abad ke-2 M). Mereka hidup di wilayah yang gersang, kasar, dengan sedikit penduduk di antara lembah sungai Mesopotamia dan Mesir. Pada awalnya anak cucu Ibrahim adalah peternak nomaden, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam kehidupan peternakan nomaden pada wilayah yang demikian itu, hewan yang paling bisa diandalkan untuk mudah berpindah-pindah adalah sapi, kambing, dan domba.

Selain babi sulit untuk dibawa berpindah tempat, babi juga memiliki kesulitan dalam hal makanannya. Walaupun babi adalah hewan omnivora, pemakan tumbuh-tumbuhan sebagaimana sapi, kambing dan domba. Akan tetapi, kebutuhan gizi babi didapat dari umbi-umbian, kacang-kacangan, dan buah-buahan, sama seperti yang dimakan manusia. Dalam kondisi tanah yang tandus tersebut, tentu sangat tidak efisien memelihara hewan yang memakan makanan yang juga dimakan manusia.

Alasan selanjutnya adalah bahwa babi adalah tipe hewan yang sulit untuk beradaptasi tinggal dalam wilayah yang panas dan gersang seperti di Timur Tengah. Menurut penelitian L.E. Mount dari Agricultural Council Institute of Animal Psychology di Cambridge menemukan bahwa babi dewasa akan mati jika terpapar sinar matahari langsung, dan suhu udara di atas 37ο C. Dan benar, di Timur Tengah, dimana tempat kaum muslim dan yahudi awal tinggal bersuhu 43ο C sepanjang tahun. Suhu setinggi itu akan cepat membunuh babi.

Pada akhirnya, penelusuran Marvin Harris tersebut menemukan bahwa pelarangan ilahiah atas daging babi bagi kaum muslim dan yahudi adalah sebuah strategi ekologis, supaya kelangsungan siklus mata rantai makanan masyarakat gurun yang gersang dan panas tersebut tetap seimbang. Informasi baru tersebut menarik bagi kita bahwa ternyata dibalik sebuah larangan teologis agama memiliki landasan-landasan ekologis yang rasional, demi kelangsungan umat manusia itu sendiri.

Mengapa Tubuh Saya Menolak Makan Babi

“Kenapa kawan-kawan (muslim) gak mau makan babi, tapi masih mau (menenggak minuman sampai) mabok? Bukankah jika berbicara dosa (menurut Islam), keduanya sama-sama berdosa?” tanya kawan saya beberapa waktu lalu ketika sedang asyik menikmati kerupuk kulit-babi bersama kawan-kawan lain, merencanakan pesta kecil demi sesuatu keberhasilan yang layak dirayakan dengan bir dan wine.

Siang itu, tak setiap dari kami yang “kebetulan” beragama Islam dan bahkan beberapa pernah mengenyam pendidikan di pesantren tapi masih juga (kadang) “minum” itu, agaknya tak memiliki jawaban yang pasti, tegas, jelas, dan berterima. Namun, pertanyaan itu telah mengusik kesadaran dan membikin saya memikirkan babi (dengan berbagai hasil olahan dagingnya) dalam beberapa hari.

Ya, kenapa babi—sebagai binatang maupun sebagai suatu olahan makanan—begitu melekat dalam kepala kami, paling tidak dalam kepala saya, sebagai sesuatu yang teramat haram, sangat haram, paling haram, sehingga tiada lagi yang melebihi keharamannya jika dibandingkan dengan binatang atau makanan/minuman lain yang  juga diharamkan dalam agama Islam?

Adakah “citra” haram si babi ini merupakan salah satu keberhasilan guru-guru agama kami, baik di madrasah ataupun di pesantren, dalam menanamkan suatu keyakinan yang tak bisa ditawar-tawar lagi? Sementara soal minuman yang memabukkan, kami masih saja bernegosiasi?

Seorang kawan lain menimpali pertanyaan itu dengan seloroh, “Bukankah pengharaman khomer berlangsung dalam beberapa tahap dan tidak serta-merta diharamkan dalam sekali “perintah”, sedangkan babi telah diharamkan sedari mula?”

Saya tertawa geli. Seolah kadar keharaman itu berbeda-beda dan memiliki nilai yang tidak setara antara satu dan yang lainnya. Tapi barangkali, secara taksadar, kami—atau paling tidak saya—mengamini “pembelaan” kawan saya itu. Sebab, hingga kini, saya (atau tubuh saya) tak bisa menerima babi sebagai sesuatu yang layak dikonsumsi. Sementara itu, saya masih bisa menerima bir dan wine sebagai sesuatu layak konsumsi; minuman yang sesekali bisa dinikmati tanpa  efek mabuk.

Ah, kami tak berhasil menemukan jawaban yang memuaskan, memang, bahkan untuk diri sendiri. Hanya saja, entah mengapa pertanyaan itu terus saja menggayuti pikiran saya. Barangkali, karena pertanyaan itu muncul pada tahun yang juga “mengandung” babi, yaitu tahun babi tanah.

Atau barangkali, karena ketika saya mejalani Residensi Penulis (Komite Buku Nasional) di Mentawai pada September—November 2018 lalu, tak sekali pun saya bernyali untuk sekadar menyentuh daging babi, ketika kami (saya dan tuan rumah) menikmati makan bersama.

“Silakan…,” kata saya kepada tuan rumah untuk tetap menikmati hidangannya, tanpa perlu merasa bersalah karena tamu mereka tidak berkenan menikmati makanan yang sama. “Saya hanya tidak bisa makan babi.”

Saya merasa tak perlu mengatakan bahwa dalam agama saya babi itu diharamkan. Lagipula, saat itu, saya mulai berpikir bahwa mungkin bukan melulu lantaran agama yang saya warisi dan kemudian saya yakini sedemikian rupa, yang telah mencegah tubuh saya untuk dapat menikmati daging babi. Maka kemudian, saya sekadar menikmati sagu panggang dengan udang dan ikan-ikan sungai yang dimasak dalam bumbung bambu.

Mitos Babi di Mentawai

Dalam beberapa kesempatan tinggal di Mentawai, memang, saya beberapa kali menyaksikan dan mengamati dengan saksama, bagaimana seekor babi disembelih dan diolah. Keempat kaki binatang yang menurut mitos orang Mentawai adalah pemberian langsung dari para leluhurnya dan diturunkan dari langit itu, diikat dan dibaringkan di depan uma.

Lehernya ditusuk dengan sebilah parang yang teramat runcing dan tipis, dan darahnya yang mengalir dari lubang tusukan itu ditampung dalam sebuah panci. Lalu, si babi yang telah mati dan tak lagi berdaya untuk sekadar menguik itu, dibedah dan dikeluarkan isi perutnya, sebelum kemudian tubuhnya yang malang dibakar di atas seunggun api untuk merontokkan bulu-bulunya.

Dan setelah bulu-bulunya hangus dan rontok—yang menguarkan bau tak sedap dalam penciuman saya—tubuh si babi dicincang sedemikian rupa, dan dimasak dalam kuali beserta darah yang tadi ditampung dan jeroan yang telah dibersihkan. Sementara kedua daun telinganya, tidak disertakan dalam rebusan daging babi itu.

“Tidak enak,” kata kawan yang menemani dan menjadi penerjemah saya selama menjalani residensi penulis di Mentawai itu. Jadi, bagian kuping babi itu dipisahkan karena akan merusak rasa masakan jika dicampurkan dalam rebusan. Begitu kawan saya menjelaskan.

Nah, kawan penerjemah saya itu adalah seorang Mentawai. Dia lahir dan besar dan berumah tangga di Mentawai, tepatnya di Dusun Madobag. Meski pengetahuannya tentang kebudayaan moyangnya agak terbatas, tapi ada sesuatu yang “unik” dalam dirinya. Dia mengaku telah “memeluk” agama Islam sejak beberapa tahun terakhir, namun tak pelak ia masih juga menikmati daging babi.

Tentu saja saya tak hendak mencegahnya, mengingatkannya, apalagi melarangnya, untuk tidak mengonsumsi daging babi yang diharamkan agama Islam itu. Sebab, saya toh tidak sedang menyiarkan suatu keyakinan dan tidak memiliki kapasitas untuk melarang orang lain. Saya hanya sedang belajar tentang hidup dan kehidupan orang Mentawai, yang justru mengharuskan saya untuk mengapropriasi, mengafirmasi, dan memahami segala hal yang mereka yakini sampai ke akarnya yang paling dalam.

Lambat laun, saya mendapati bahwa kawan saya ini bukan satu-satunya orang Mentawai yang saya temui, yang mengaku beragama Islam tapi masih juga mengonsumsi babi. Pertanyaan “mengapa” tentu saja tak terelakan dalam kepala saya. Namun, sebelum melontarkan pertanyaan semacam itu, lebih dulu saya mengajukan pertanyaan kepada diri saya sendiri: apakah benar bahwa babi “menjadi haram” dalam benak dan pemahaman saya lantaran pengaruh agama saya, atau lantaran kebudayaan yang mengonstruksi dan melekat begitu kuat dalam tubuh dan pikiran saya?

Demi memahami keterkaitan antara babi dan agama atau kebudayaan itu, maka saya melakukan wawancara secara intensif dan mendalam dengan beberapa informan yang telah saya identifikasi dan tentukan. Dan dari hasil wawancara itu, saya mendapati jawaban-jawaban yang menarik sekaligus mencengangkan, yang kemudian saya rangkum dalam beberapa kalimat pernyataan, sebagai berikut.

“Agama kami (memang) Islam, tapi tubuh kami Mentawai. Dan orang Mentawai memakan babi. Tubuh kami suka daging babi. Dalam pesta-pesta harus ada babi. Jadi, tubuh kamilah yang menginginkan dan memakan babi, bukan agama kami.”

Begitulah. Dan rumusan serupa dari orang-orang Mentawai yang saya wawancarai itu, terkonfirmasi kemudian oleh Maskota Delfi—salah seorang dosen Antropologi di Universitas Andalas—melalui artikel jurnalnya yang bertajuk “Islam and Arat Sabulungan in Mentawai”. Apalagi, dalam kebudayaan orang Mentawai, babi—selain juga ayam—merupakan binatang yang amat penting, baik sebagai makanan dalam hidangan berbagai ritual uma, alak toga (mas kawin), tulou (denda), dan keperluan lainnya.

Untuk itu, demi mendapatkan gambaran yang lebih jelas, barangkali perlu saya tambahkan pernyataan informan-informan yang dikutip secara cukup panjang oleh Delfi, yang menurut saya, menarik untuk diperhatikan:

“Kata sasareu sipuisilam (pemeluk agama Islam dari luar Mentawai), babi haram. Teteu siburuk (nenek moyang terdahulu) kami juga mengatakan kalau sasareu selalu sebut babi itu haram dan sasareu tidak mau memakannya. Tapi kami lihat ada juga sasareu yang memakannya, Sainias (orang Nias) suka makan babi, Saibatak (orang Batak) juga banyak yang suka makan babi”.

“Jadi, sasareu itu ada yang makan babi, ada yang tidak. Sasareu Sipuisilam tidak makan babi. Kalau di sini, di Mentawai, di Siberut ini, kami semua suka babi …. Kami sudah lama diberitahu kalau babi haram. Ya, babi haram, tapi babi mananam (enak). Kami tidak makan babi yang haram, tapi babi yang mananam yang kami makan”.

    Jadi, babi haram jangan kita makan, babi yang mananam saja yang kita makan. Rugi kita kalau babi mananam tidak kita makan. Seperti kata sasareu, rezeki jangan dibuang, itu namanya mubazir. Kalau mubazir tidak boleh, tidak bagus itu. Jadi babi mananam jangan dibuang.”

Atau penyataan informan lainnya yang tak kalah menarik, sebagai berikut.

“Memang arat [dalam kontek ini kata arat berarti agama] saya Islam, kami di Mentawai Siberut ini menyebut orang yang punya arat Islam itu Sipuisilam. Tapi yang Isilam itu kan arat saya. Saya makan babi, anak-anak saya juga makan [babi], semua keluarga saya makan babi. Kami punya babi, sudah kita pelihara baik-baik, kita kasih makan sagu tiap hari, karena kita mau makan dagingnya. Sayang kalau tidak kita makan”.

    Kalau kita tidak mau makan dagingnya untuk apa kita susah-susah peliharanya. Kadang kami jual juga kalau ada yang mau beli, biasanya kalau ada lia (ritual), orang beli babi pada kami. Saya makan babi karena saya memang suka makan babi walau arat saya Isilam. Arat Isilam, tapi tubuh saya tidak. Tubuh saya ini Mentawai, makanya saya makan babi. Yang makan babi itu mulut saya, tubuh saya, bukan arat saya.”

Saya merenungi dan mencoba memahami pernyataan-pernyataan itu, dan bagaimana orang Mentawai sampai pada sebuah konsep yang membedakan (secara ekstrem?) antara tubuhnya dan agamanya. Namun kemudian, agaknya saya bersepakat dengan pandangan Delfi yang menyatakan bahwa larangan mengonsumsi babi bagi penganut agama Islam, oleh kebanyakan orang Mentawai—khususnya yang beragama Islam—di Pulau Siberut, sulit untuk dipahami, apalagi untuk dipraktikkan.

Secara sederhana, barangkali dapat dikatakan bahwa larangan itu tidak masuk akal karena tidak bersesuai dan tidak berterima bagi alam lingkungan dan perikehidupan orang Mentawai.

Konstruksi Budaya

Sampai titik ini, kemudian saya memikirkan ulang tentang agama dan kebudayaan yang mengonstuksi keseluruhan diri saya. Adakah agama telah mengonstruksi diri dan kesadaran saya sehingga saya (atau tubuh saya) menolak dan tidak bisa memakan babi?

Ataukah kebudayaan yang melekat dalam diri dan kesadaran saya yang telah mengafirmasi ajaran agama karena pengharaman terhadap babi dianggap bersesuai dan berterima dengan adat dan kebiasaan leluhur saya? Dan bukankah dalam alam lingkungan tempat saya tumbuh—di Serang, Banten—, kemudian menyerap berbagai-bagai nilai kebudayaan di dalamnya, tak pernah saya temui babi ataupun olahan daging babi?

Saya mengingat-ingat bagaimana kesadaran tentang agama dan kebudayaan itu menjadi bagian dari diri saya. Dan meski tidak berhasil mengingat sampai ke dasar atau ke tahap paling awal dalam kehidupan yang saya jalani, saya toh mulai menelusuri ingatan-ingatan yang dapat saya kenangkan kembali.

Salah satunya, ingatan pada pesantren dengan kobong-kobong berbilik bolong yang pernah saya tinggali, pada Madrasah Tsanawiyah yang pernah saya masuki, yang bagaimanapun, tentu pembelajaran di dalamnya telah menjadi bagian dari kesadaran saya hingga saat ini. Barangkali, termasuk kesadaran bahwa babi adalah haram untuk saya konsumsi.

Namun, saya tak dapat mengabaikan kenyataan bahwa dalam alam lingkungan dan kebudayaan yang saya jalani selama ini, saya tak pernah mendapati babi di keluarga saya, baik sebagai binatang liar yang diburu, binatang ternak, atau menu makan. Tidak juga saya mendapati daging babi terhidang dalam pesta-pesta daur hidup yang saya warisi dari kebudayaan leluhur.

Kecuali, sekali pernah saya saksikan seekor babi malang yang dibantai anjing-anjing pemburu dalam arena ngadu bagong di Garut, yang justru membikin saya ngeri dan jatuh kasihan kepada si babi yang terus saja menguik ketakutan sembari melarikan diri ke sana ke mari.

Dalam kebudayaan yang saya resapi, tampaknya babi memang tak pernah menjadi bagian dalam perikehidupan urang Sunda, selain sekadar dianggap sebagai hama, yang oleh karenanya dianggap layak dibantai anjing-anjing dalam arena ngadu bagong itu. Maka, dengan demikian, dalam benak saya menyimpan kesimpulan yang tak lagi dapat ditawar bahwa babi bukan untuk dikonsumsi; babi bukan makanan! Untuk itu, sebagaimana orang Mentawai yang sulit memahami mengapa suatu ajaran agama mengharamkan babi untuk dikonsumsi, saya pun sulit memahami mengapa ada orang yang bisa mengonsumsi babi.

Dalam kesulitan memahami itu, saya teringat salah satu esai Marshal Sahlins yang bertajuk “Food as Symbolic Code”. Melalui esai tersebut, Sahlins menyibakkan kode-kode simbolik atas empat jenis binatang (sapi, babi, kuda, dan anjing) sebagai suatu sistem budaya dalam masyarakat Amerika, yang ternyata menyokong hierarki sosial dalam masyarakat tersebut.

Menurut Sahlins, dalam kebudayaan Amerika yang tentu mengandung makna dan nilai yang diresapi masyarakatnya, keempat binatang itu menempati status dan derajat yang berbeda antara satu dan lainnya; yaitu, stratifikasi sebagai subjek/teman (kuda dan anjing) dan sebagai objek/makanan (sapi dan babi).

Bahkan, di dalam statusnya sebagai teman atau sebagai makanan, keempat binatang itu masih juga dipilah dan ditempatkan pada derajat tertentu guna menyokong hierarki sosial antara yang-kaya dan yang-miskin. Anjing dianggap memiliki derajat lebih tinggi daripada kuda sebab anjing diperbolehkan tinggal dan bahkan tidur bersama si empunya (di dalam rumah/apartemen dan melekat), sedangkan kuda ditempatkan di istal (di luar dan berjarak).

Sementara itu, sapi dianggap memiliki derajat lebih tinggi daripada babi karena daging sapi lebih disukai. Bahkan, bagian paha sapi, misalnya, selalu dihargai lebih mahal tinimbang bagian lainnya sehingga hanya yang-kaya saja yang mampu membeli dan menikmatinya, sedangkan bagian jeroan selalu dihargai dengan murah yang memang diperuntukkan bagi makanan yang-miskin.

Kita tahu, bahwa dalam persoalan makan-memakan-makanan itu, nilai dan makna simbolik dalam suatu kebudayaan tentu akan berbeda dengan nilai dan makna simbolik dalam kebudayaan lainnya. Dan dalam hal itu, bagi saya, agaknya penolakan tubuh saya terhadap babi tidak melulu dilandasi kesadaran pada pengharaman oleh agama, melainkan lebih dipengaruhi oleh nilai dan makna simbolik yang saya resapi melalui kebudayaan.

Atau barangkali, penolakan tubuh saya terhadap babi bertumpu pada kelindan antara agama Islam dan kebudayaan Sunda. Sebab, sekalipun bir atau wine diharamkan—meski tentu saja agama tidak tegas menyebut merek—, tapi alam lingkungan dan kebudayaan yang nilai-nilainya saya resapi, dapat dengan mudah menyediakan minuman sejenis seperti “anggur kolesom cap orang tua” yang biasa dikonsumsi kakek saya sehari seloki. Saya tahu, bahwa minuman itu tidak pernah diperlakukan seburuk memperlakukan babi dalam arena ngadu bagong itu, meskipun pernah saya “salah gunakan” karena menenggaknya lebih banyak tinimbang kebiasaan kakek saya itu.

Dengan demikian, jika orang Mentawai beragama Islam masih juga memakan babi yang mananam, tapi tidak memiliki kebiasaan menenggak minuman hasil fermentasi (karena dalam kebudayaan mereka tidak ditemukan minuman semacam itu), saya justru sebaliknya. Tubuh saya yang juga “kebetulan” beragama Islam, menolak mengonsumsi babi walaupun masih saja menoleransi untuk meminum bir atau wine (astaghfirullahal adziem), karena dalam kebudayaan saya minuman itu mudah saja ditemukan.

Sementara itu, kawan-kawan di berbagai daerah  dengan latar kebudayaan lain, mampu menikmati keduanya: memakan daging babi (guling) sembari menenggak wine.

11 SEPTEMBER 2019 SELAMAT JALAN PRESIDEN RI KE 3 Prof. Dr. Ing. H. BJ. HABIBIE

Presiden Republik Indonesia (RI) ketiga Bacharuddin Jusuf Habibie (BJ. Habibie) semasa masih hidup, pernah mengatakan bahwa jika bisa memilih antara ilmu teknologi dengan ilmu agama, ia akan memilih ilmu agama.

Pernyataan tersebut ia kemukakan saat acara dialog umum dengan tema “Indonesia Pasca Reformasi dan Peran Lulusan Azhar” di Mesir 6 Juni 2011 silam.

“Jika Allah memanggilku dan bertanya padaku, wahai Habibie pilihlah salah satu dari pilihan ini. Mana yang kau pilih antara Ilmu pengetahuan dan tekhnologi (iptek) atau iman dan takwa (Imtak). Maka dengan seketika saya menjawab Imtak, namun ternyata Allah memberikan dua keistimewaan itu pada saya,” kata Habibie saat itu, seperti dikutip dari Kompasiana, Rabu (11/9/2019).

Habibie meninggalkan pesan yang sangat mendalam mengenai salah satu pernyataannya ini soal bekal nanti di akhirat.

Habibie mempertanyakan ketika nanti kematian menjemputnya. Kira-kira jika malaikat datang menjemput, akan seperti apakah kematian nanti? Siapa yang akan memandikan? Dimana akan dikuburkan? Sempatkah anak kesayangan dan menjadi kebanggaan datang mengurus jenazah dan menguburkan?

“Apa amal yang akan dibawa ke akhirat nanti? Rumah akan ditinggal, asset juga akan ditinggal pula. Anak-anak entah apakah akan ingat berdoa untuk kita atau tidak  Sedang ibadah mereka sendiri saja belum tentu dikerjakan? Apa lagi jika anak tak sempat dididik sesuai tuntunan agama?  Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja,” terangnya.

Habibie juga mengajak kita untuk merenungi kehidupan ini. Menyiapkan ‘bekal’ untuk menghadap-Nya dan ‘mempertanggung jawabkan kepadaNya.

“Jangan terbuai dengan ‘Kehidupan Dunia’ yang  bisa  melalaikan. Kita boleh saja giat berusaha di dunia, tapi jadikan itu untuk bekal kita pada perjalanan panjang dan kekal di akhir hidup kita,” pesannya.

Bacharuddin Jusuf Habibie, pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 itu, meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto pada Rabu (11/9/2019), pukul 18.05 WIB. Selamat jalan pak Habibie.

MARI MENGKRITISI DISERTASI YANG SEDANG VIRAL TENTANG MILK AL-YAMIN

Kontroversi penafsiran Muhammad Syahrur terhadap ayat milk al-yamin (Q.S.al-Mukminun: 5-6) menarik untuk dicermati kembali dan dikritisi. Terlebih kemudian Abdul Aziz, dosen IAIN Surakarta, penulis disertasi menjadikan tafsiran Syahrur tersebut dianggap sebagai solusi untuk melegalkan hubungan seks di luar nikah yang konvensional, bahkan mengusulkannya sebagai perbaikan hukum positip di Indonesia, meski dengan syarat-syarat tertentu.

Syahrur, pemikir Syiria selama ini ini dikenal kontroversial. Ia memang menyatakan bahwa (Q.S. al-Mukminun: 5-6) memberikan informasi tentang dua model hubungan seksual (al-`alâqah al-jinsiyah), yaitu:

Pertama, hubungan seks yang diikat oleh ikatan pernikahan tercermin dalam istilah illâ `ala azwâjihim

 

Kedua, hubungan seks yang tidak lewat pernikahan, tercermin dalam istilah aw ma malakat aimanuhum, yang secara harfiah berarti, apa yang dimiliki oleh tangan kanan mereka. Itulah yang kemudian dikenal dengan istilah milk al-yamin.

Para ulama dulu dan sekarang umumnya memahami frasa milk al-yamin sebagai budak yang dimiliki. Dulu, budak memang boleh dijadikan partner seksual oleh pihak tuannya, tanpa harus melalui pernikahan. Ini sebagaimana dapat dibaca dalam literatur kitab-kitab fikih dan tafsir.

Namun, bagi Syahrur milk al-yamin (baca: milkul yamin) di era kontemporer bukan budak, melainkan `aqdun ihshan (kontrak kesepakatan untuk sama-sama menjaga diri hanya untuk berhubungan seks dengan pasangan tersebut saja, tidak dengan yang lain).

Atau yang juga disebut dengan istilah zawaj mut’ah (kawin kontrak) atau zawaz misyar di mana di situ tidak ada mahar, thalaq, tidak pewarisan, karena memang tujuan pokoknya hanya sekedar tujuan seksual (hadf jinsi). (Syahrur dalam Nahwa Ushul Jadidah… hlm. 307-308)

Hemat penulis, konsep milk al-yamin ala Muhammad Syahrur memiliki implikasi yang amat serius. Ia bisa saja dijadikan sebagai pintu masuk untuk menghalalkan “seks bebas”, bagi sebagian orang yang salah paham. Ada pembaca buku Syahrur, yang salah paham, lalu menganggap bahwa Syahrur membolehkan hubungan zina, “seks bebas” di luar nikah.

Dalam buku al-Kitab wal Qur’an (hlm. 628) dengan tegas ia menyatakan bahwa zina adalah `alaqah al-jima’ al jinsi al-mubasyir bayn al-rajul wal mar’ah bidun `aqd al-nikah, atau yang juga disebut dengan fahisyah.

    Syahrur jelas tidak bermaksud menghalalkan zina. Ketika beliau diwancarai di salah satu channel TV Abu Dabi’, beliau dengan tegas menyatakan bahwa tuduhan yang menyatakan dirinya menghallalkan zina adalah samasekali kebohongan, (hadza ithlâqan iftira’ ).

Lalu di mana letak kelemahan pemikiran Syahrur tersebut? Ada beberapa kritik yang dapat penulis kemukakan, yaitu:

Pertama, kritik ontologis, terkait dengan dasar asumsi dasar Syahrur bahwa tidak ada konsep naskh dalam Alquran. Syahrur masih menganggap bahwa ayat milk al-yamin yang disebut 15 kali dalam Alqur’an sebagai ayat yang muhkam, dan tidak dapat dinaskh (dihapus, diganti dengan ayat lain), baik naskh bacaan maupun naskh hukumnya. Padahal menurut para ulama, seperti Mahmud Muhammad Thaha dalam kitabnya, al-Risalah al-Tsaniyah bahwa ayat tentang milk al-yamin (perbudakan) adalah ayat hukumnya sudah di-naskh, karena bertentangan dengan spirit Alquran yang menjunjung tinggi harkat martabat manusia. Begitu juga jika ayat tersebut milk yamin dibaca dengan teori double movement Fazlur Rahman.

Sayangnya, Syahrur masih menganggap teks Alquran tentang milk al-yamin sebagai sesuatu yang tsabat (tetap) yang juga harus dieksekusi dalam konteks kontemporer dewasa ini. Lalu beliau mencoba menafsirkan bahwa milk al-yamin, bukan budak, tapi partner hubungan seks di luar pernikahan yang konvensional. Tapi ingat, lepas setuju atau tidak, bahwa Syahrur memberikan ketentuan dan syarat. Misalnya, harus tetap ada akad (kontrak), tidak boleh dilakukan dengan perempuan yang ada hubungan mahram, tidak homo/lesbi, hubungan seksnya juga tidak boleh dipertontonkan kapada orang lain, tidak boleh dengan perempuan yang menjadi istri orang lain.

Hemat penulis, teks Alquran tentang milk al-yamin tersebut juga “dibentuk” atau lebih tepatnya merespon realitas sosial-historis saat itu. Atau dalam bahasa para ulama bayan lil waqi’. Ia hadir sebagai social mechanisme untuk merespon problem sosial dan situasi konteks Arab, di saat sistem perbudakan masih mengakar kuat (deep rooted), bahkan bukan hanya di masyarakat bangsa Arab, tetapi juga bangsa-bangsa lain, seperti Yunani, Romawi Persia, Babilonia. Jadi, tradisi milkul yamin sesungguhnya bukan ajaran Alquran.

    Alquran justru ingin menghapuskannya. Alquran hadir bukan untuk melanggengkan sistem perbudakan, apapun jenis dan model perbudakan. Sebab Alquran adalah kitab suci sumber inspirasi dan advokasi untuk kaum lemah mustad’afin, salah satunya adalah budak. Maka, memfusingkan kembali ayat milk al-yamin di era kontemporer ini sama dengan melanggengkan sistem perbudakan baru, dan itu artinya kita mundur kembali secara moral dan peradaban.

Kedua, kritik metodologis, terkait konsep antisinonimitas (`adam al-taraduf fi kalimatil Qur’an). Syahrur menganggap bahwa milk al-yamin, bukan al-riqq (budak). Memang teori ini ada ikhtilaf di kalangan ulama, ada yang setuju ada yang tidak setuju. Namun, sejauh pembacaan penulis, semua para ulama Tafsir menafsirkan milk al-yamin dengan al-riqq (budak). Kalau kemudian Syahrur dan juga diikuti oleh Saudara Dr. Abdul Aziz, mencoba memberi makna baru sesuai dengan konteks kekinian, bahwa milk al-yamin adalah partner seksual di luar istri yang dinikahi secara konvensional, tentu makna tersebut tidak sesuai dengan original meaning.

Padahal, menurut salah satu kaedah tafsir seorang penafsir tetap harus menjaga makna asal, la budda min mura’ati ma’na al-ayah `ala hasab zaman al-nuzul (wajib menjaga original meaning di saat ayat itu turun apa). Inilah yang dalam teori hermeneutik, ada prior text dalam pikiran Syahrur untuk memaksakan makna milk al-yamin, bukan dengan budak, tetapi hubungan seksual dengan partner seksual dengan kontrak tertentu, asal suka sama suka.

Secara hermeneutik –meminjam istilah Gadamer– Syahrur terlalu memaksakan pra pemahaman dalam penafsiran ayat, dengan mengabaikan intended original meaning teks tersebut. Mestinya, yang ideal penafsiran tersebut tetap menjaga original meaning dan menangkap maqashid (signifikansi) di balik ayat.

Lalu apa maqashid ayat milk al-yamin tersebut? Hemat penulis, setidaknya ada dua: Pertama, ayat milkul yamin itu untuk merespon problem sosial kemanusiaan, bukan samata-mata problem seksual. Alquran ingin menghapuskan sistem perbudakan, tetapi caranya secara evolusi, pelan-pelan tapi pasti. Itu sebabnya di Alquran memerintahkan fakk al-raqabah (bebasakan perbudakan). Kedua, ayat milk al-yamin itu untuk solusi sementara saja, di mana orang saat itu bisa melampiaskan hasrat seksual kepada budak. Tapi dalam saat yang sama Alquran dan juga Nabi saw, selalu mendorong untuk memerdekakan budak. Itu sebab Sabda Nabi saw dalam hadis Shahih Bukhari—“kepada para pemuda yang sudah siap bekalnya nikah, supaya menikah. Bagi yang belum mampu bekalnya supaya berpuasa. (fa’alaikum bi shoum). Nabi saw tidak mengatakan: fa alaikum bi milkil yamin.

Masih terkait kritik metodologi, Syahrur seolah ingin mengqiyaskan term milk yamin yang dulu di pahami sebagi budak dengan partner seksual di luar nikah konvensional. Model qiyasseperti ini namanya qiyas fasid (analog yang rusak) atau qiyas ma’al fariq. Sebab kedua kasus itu tidak sepenuhnya memiliki illat yang sama. Bahkan secara eksistensial antara budak (milkul yamin yang dulu) dengan partner seksual sekarang berbeda. Dulu yang namanya budak nyaris tidak memiliki posisi tawar dengan tuannya. Dia benar-benar berada dalam “genggaman” tuannya, ia bisa menjualnya atau mempekerjakannya. Sementara dalam konteks tafsiran milkul yamin ala Syahrur, kedua belah pihak yang berkontrak memiliki eksistensial yang setara.

Ketiga, Kritik Ideologis.

Kritik ideologi adalah kritik yang dimaksudkan untuk mengungkap hidden ideology di balik penafsiran al-Qur’an. Ini dapat ditelusuri melalui konteks kepengarangan tafsir tersebut. Syahrur terlalu strukturalis dalam berpikir. Maka, setiap membahas isu, selalu berpikir binary opposition. Lalu kadang lupa terhadap bagaimana harakah al-nash (gerak teks Alquran) itu sendiri. Dalam kasus milkul yamin, Syahrur lalu hanya berpikir bahwa Qur’an membuat dua kategori tentang hubungan seksual yang dibolehkan, yaitu merital dan non marital.

Syahrur lalu mencoba menganalogkan milkul yamin dengan model hubungan seksual di luar nikah konvensional, di mana laki dan perempuan boleh tinggal bersama dengan kontrak tertentu, seperti model samen leven (musakanah) yang berlaku di Rusia.

Menurut Undang-undang di sana, hal itu dibolehkan. Jadi, ideologi tersembunyi di balik tafsiran milk al-yamin adalah memberikan legalitas hubungan seksual di luar pernikahan konvensional. Ini tanpa sadar, juga merupakan bias ideologi patriarkhi, sebab seolah lalu perempuan hanya menjadi objek seks, sementara laki-laki sebagai subjek.

Keempat, Kritik Epistemologis-Aksiologis.

Kritik aksiologis ini menyangkut nilai guna dari sebuah produk penafsiran . Sebagai academic exercise siapa pun diberi ruang untuk berpikir bebas. Tapi dia harus bertanggungjawab secara inteletual dan secara moral. Maka, tentunya ada batasan-batasan nilai yang mesti dipertimbangkan, baik nilai budaya, sosial, dan kondisi psikologi masyarakat. Orang mestinya bukan hanya pinter, tapi juga harus bener dan pener.

Di atas knowledge masih ada ada wisdom. Sebuah kebenaran tafsir, menurut hemat punulis bukan hanya diukur di atas kertas on paper –atau di ujian promosi doktor–m isalnya melalui konsistensi metodologis atau konsistensi filosofis terhadap premis-premis logika semata, tetapi juga perlu diuji secara korespondensi di lapangan. Apakah hasil penafsiran tersebut mampu memberi solusi sosial, atau justru malah menambah problem sosial? Maaf, Tidak dibuka peluang untuk free sex saja “banyak” yang melakukan, melalui prostisusi on line, model nikah sembunyi sembunyi, apalagi diberi justifikasi agama (pembenaran).

Kita tentu mengkhawatirkan dampak-dampak negatifnya, misalnya maraknya model pernikahan ‘milkul yamin’ yang dapat ‘merusak’ atau setidaknya mendistorsi kepercayaan umat terhadap institusi pernikahan keluarga. Oleh sebab itu, seorang ilmuan perlu mempertimbangkan implikasiimplikasi dari temuan-temuan yang diklaim sebagai “ilmiah”, apakah akan membawa mashalah atau mafsadah. Beragama menurut hemat penulis, tidak hanya pada persoalan boleh atau tidak boleh, tetapi juga ada aspek etis atau tidak etis. Dan ini jelas dalam buku Syahrur Nahwa Ushul Jadidah… ketika menyebut unsur agama, yaitu ada aspek qiyam (nilai), syara’i (aturan hukum) dan syi’ar (aspek simbolis-simbolis).

Wa allahu alam bi shawab.

PLESETAN SINGKATAN NU YANG ASLINYA NAHDLATUL ULAMA “KEBANGKITAN ULAMA”

Logo dan nama NU tidak hanya menempel di bendera atau kop surat, tapi juga di kaos, topi, kendaraan, dan jadi merk air minum. Pedagang bilang,”Lebih baik jualan gelas atau bendera NU, daripada jualan NU.”

Nahdlatul Ulama, disingkat menjadi NU. NU singkatan dari Nahdlatul Ulama. Sebagaimana umumnya organisasi keagamaan pada waktu itu,  Nahdlatul Ulama –yang berdiri pada 31 Januari 1926– menggunakan nama Arab, yang artinya “Kebangkitan Ulama”.

Bahasa Arab juga dipakai oleh orang-orang Arab di Indonesia ketika mendirikan oranisasi Jami’atul Khoir tahun 1905 atau Al-Irsyad yang berdiri 1914. Dan tak lupa, nama Muhammadiyah oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912.

Mungkin hanya Serikat Dagang Islam atau SDI, yang didirikan oleh HOS Cokroaminoto, Haji Agus Salim, Haji Samanhudi, yang memakai nama agak lokal, ada kata “dagang”-nya. Organisasi yang berdiri Oktober 1905 ini, kemudian berganti nama Syarikat Islam atau SI.

Di antara sekian organisasi Islam, mungkin hanya NU yang mengalami olok-olok, ejekan, hinaan perihal nama. Kepanjangan NU diplesetkan sedemikian rupa buruk, baik oleh orang luar atau orang dalam sendiri. Ini menyakitkan.

Ini empat singkatan NU yang menyakitkan tersebut:

Satu:

Nasi Uduk. Singkatan ini dilontarkan oleh partai-partai yang tidak suka Partai Nahdlatul Ulama pada saat pemilu 1955.  NU diolok-olok sebagai partai yang mampunya tahlilan, kenduren, atau acara-acara keagamaan lainnya, yang di dalamnya makan “NU”: Nasi Uduk.

Dua:

Nunut Urip. Ini bahasa Jawa, artinya numpang hidup. Plesetan ini datang dari dalam Nahdlatul Ulama sendiri. Plesetan nunut urip dimaksudkan untuk mengkritik aktivis NU yang tidak punya kemampuan apapun, ngaji gak bisa, sekolah abal-abal, jaringan ke masyarakat bodong, skil pengorganisasi klaim saja.

Mereka di NU hanya mencari penghasilan, menggunakan NU sebagai kendaraan untuk mencari makan, mencari kekuasaan, mencari status sosial dan memperkaya diri.

Tiga:

Nunut Udud. Ini juga bahasa Jawa, artinya numpang merokok. Ini tak kalah kurang ajar dari nomor dua tadi. Ini dilontarkan oleh para perokok, baik oleh orang NU ataupun bukan. Mereka datang ke kantor NU untuk merokok, karena di kantor Muhammadiyah, kantor persis dilarang merokok. Ataupun orang NU yang oleh istrinya tidak boleh merokok di rumah. Jadilah dia “NU” (numpang udud) di kantor NU.

Empat:

Nahdlatul Umaro. Kalau yang ini bahasa Arab, artinya kebangkitan pemerintah. Plesetan ini dilontar baik dari dalam NU ataupun dari luar NU.

Plesetan ini dimaksudkan untuk mengkritik orang NU yang terlalu dekat dan menempel pemerintah untuk mendapatkan “kue” kekuasaan. “NU” begini, singkatannya bukan Nahdlatul Ulama, bukan kebangkitan ulama, melainkan Nahdlatul Umaro, kebangkitan pemerintah.

Plesetan-plesetan di atas menyakitkan sekali, tidak beradab, menghina Nahdlatul Ulama. Tapi satu waktu, jika kita membacanya dengan sehat, permainan kata tersebut bisa jadi kritik yang mengkuatkan dan membesarkan, ataupun jadi humor sarat makna. Apalagi jika kita mengingat bahwa tidak ada entitas apapun yang sempurna, termasuk Nahdlatul Ulama atau NU.

MENCOBA MEMAHAMI ISTILAH ‘SEDULUR PAPAT LIMA PANCER’

Dari kecil, istilah ‘Sedulur Papat Limo Pancer‘ sudah akrab di telinga. Terminologi ini merupakan bukti luasnya falfasah Jawa yang tak kalah enigmatis dan ilmiah dibandingkan ilmu-ilmu modern era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0.

Masalahnya, orang Jawa, Nusantara, tidak mencari rumusan epistomologi, ontologi, dan aksiologinya, namun justru hanyut dalam gelombang pembidahan, penyirikan, dan pengafiran nilai-nilai, tradisi, dan budaya khas Nusantara itu.

Jika dianalisis, Jawa itu tidak sekadar adiluhung, namun sangat ilmiah. Namun dalam kajian perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat, ada upaya para ilmuwan “meninabobokkan” hal itu. Buktinya, peradaban Jawa Kuno atau Nusantara Kuno tidak sering bahkan tidak pernah disebut dalam ilmu modern. Adanya, hanya Yunani Kuno, Mesir Kuno, China Kuno. Di mana Jawa atau Nusantara Kuno tersebut?

Hal itu diperkuat saat saya dan teman akademisi meneliti Kidung Wahyu Kolosebo karya Kanjeng Sunan Kalijaga. Belum saya temukan rujukan asli, valid, dan secara kualitas mampu menerjemahkan mahakarya Raden Mas Said tersebut. Padahal, Kidung Wahyu Kolosebo ini sangat luar biasa yang sekarang justru jadi komoditas pentas dangdut.

    Selain Wahyu Kolosebo, ada kidung lain karya Sunan Kalijaga yang memuat istilah Sedulur Papat Kelimo Pancer pada kurun abad 15-16. Dalam Suluk Kidung Kawedar, Kidung Sarira Ayu, pada bait 41 dan 42 tertulis Sedulur Papat Kelimo Pancer.

Bunyinya; Ana kidung akadang premati//Among tuwuh ing kuwasanira//Nganakaken saciptane//Kakang kawah puniku//Kang rumeksa ing awak mami//Anekakaken sedya//Pan kuwasanipun adhi ari-ari ika//Kang mayungi ing laku kuwasaneki//Anekaken pangarah//Ponang getih ing rahina wengi//Angrowangi Allah kang kuwasa//Andadekaken karsane//Puser kuwasanipun//Nguyu uyu sambawa mami//Nuruti ing panedha//Kuwasanireku//Jangkep kadang ingsun papat//Kalimane pancer wus dadi sawiji//Nunggal sawujudingwang.

Dalam lisanul jawi (lisan orang Jawa), secara leksikal, dapat diartikan ke dalam beberapa poin. Pertama, ada nyanyian tentang saudara kita yang merawat dengan hati-hati. Memelihara berdasarkan kekuasaannya. Apa yang dicipta terwujud. Ketuban itu menjaga badan saya. Menyampaikan kehendak dengan kuasanya. Adik ari-ari tersebut memayungi perilaku berdasar arahannya.

Darah siang malam membantu Allah Yang Kuasa. Mewujudkan kehendak-Nya. Pusar kekuasaannya memberi perhatian dengan kesungguhan untuk saya. Memenuhi permintaan saya. Maka, lengkaplah empat saudara itu. Kelimanya sebagai pusat sudah jadi satu. Manunggal dalam perwujudan saya saat ini. Dus, apakah ini syirik? Sangat konyol jika tak berbasis riset, kita membidahkan kidung ini.

Epistemologi Sedulur Papat

Secara bahasa, ada yang menyebut Kiblat Papat Limo Pancer, Sedulur Papat Limo Pancer Kakang Kawah Adi Ari-ari. Pemaknaan istilah ini tidak bisa sembarangan karena sangat enigmatis dan penuh misteri, bahkan banyak kaum intelektual hanya menyebut sebagai mitos. Apakah demikian? Jelas tidak.

Adi (2018) menerjemahkan secara ilmiah ke dalam beberapa bagian. Pertama, kakang kawah atau air ketuban. Kedua, adi ari-ari atau ari-ari.  Ketiga, getih atau darah. Keempat, puser atau pusar. Kelima, pancer, yang berarti kita sendiri sebagai pusat kehidupan ketika dilahirkan.

Ketika sang jabang bayi lahir ke dunia melalui rahim ibu, maka semua unsur-unsur itu keluar dari rahim ibu. Dengan izin Tuhan, unsur ini menjaga manusia yang ada di bumi saat dilahirkan. Orang Jawa di dalam doa sering menyebut untuk mendoakan pejaga yang tidak tampak ini (kakang kawah, adi ari-ari, getih dan puser).

    Sedulur papat juga dimaknai empat makhluk gaib yang tidak kasat mata (metafisik). Mereka merupakan saudara yang setia menemani hidup manusia, mulai dilahirkan di dunia hingga nanti meninggal dunia menuju alam kelanggengan.

Riset Raharjo (2012:4), menyebut dalam ilmu Jawa terdapat jagat kecil (mikrokosmos)  “kiblat papat” yang merupakan “kakang kawah adhi ari-ari” dengan pusat manusia sendiri, sebagai satu kesatuan jiwa manusia untuk meraih ketentraman hidup memiliki saudara alamiah dalam tubuhnya.

Kedalaman makna ini tidak cukup ditinjau dari aspek filologi atau antropologi, namun harus menggunakan pendekatan lain yang lebih kompatibel. Dalam falsafah Jawa, saat manusia dilahirkan dari rahim ibu pasti membawa air ketuban, ari-ari, darah, dan tali plasenta. Masyarakat Jawa meyakini bahwa keempat benda ini menyertai kehidupan manusia dan selalu “menghidupi” secara batin sejak dilahirkan sampai meninggal dunia.

Semua agama meyakini bawa hidup dan matinya seorang ditentukan oleh Tuhan. Dalam kehidupan ini, selain alam fisik juga ada metafisik yang dalam keyakinan Hindu disebut mikrokosmos yang merupakan unsur alam dengan mengawinkan “sedulur papat” di atas sebagai bagian empat kiblat dalam alam yang berupa tanah/bumi, air, api, dan angin.

    Konsep ini tentu selaras dengan kepercayaan semua agama di Nusantara yang meyakini manusia hidup, mati, dan menyinergikan kehidupan-kematian itu dengan tanah, api, air, dan angin. Tidak bisa tidak. Jika ada orang mengingkari Sedulur Papat, otomatis mereka menolak kehidupan.

Dalang Ki Sigit Ariyanto (2017) pernah menafsir Sedulur Papat dengan sangat rinci. Pertama, watman, merupakan rasa cemas atau khawatir ketika seorang ibu hendak melahirkan anaknya. Watman diartikan saudara tertua yang menyiratkan betapa utamanya sikap hormat, sujud kepada orangtua khususnya ibu. Kasih sayang ibu ialah kekuatan yang akan mengiringi hidup seorang anak.

Kedua, wahman yaitu kawah atau air ketuban. Fungsinya menjaga janin dalam kandungan agar tetap aman dari goncangan. Ketika melahirkan, air ketuban pecah dan musnah menyatu dengan alam, namun secara metafisik ia tetap ada sebagai saudara penjaga dan pelindung.

Ketiga, rahman atau darah dalam persalinan sebagai gambaran kehidupan, nyawa, dan semangat. Selalu ada sebagai saudara yang memberi kehidupan dan kesehatan jasmani. Keempat, Ariman atau ari-ari (plasenta) sebagai saluran makanan bagi janin. Ia merupakan saudara tak kasat mata yang mendorong seseorang untuk mencari nafkah dan memelihara kehidupan.

Baca juga:  Kenangan Mahasiswa Madura Belajar Filsafat di UIN Jogja

Kelima, panceratau pusat yang berarti bayi itu sendiri dimaknai juga sebagai ruh yang ada dalam diri manusia yang akan mengendalikan kesadaran diri seseorang agar tetap eling lan waspada (ingat dan waspada). Ingat kepada sang pencipta dan menjadi insan yang bijaksana.

Dalam risetnya, Dewi (2017:4) juga menemukan,  keempat saudarana watman, wahman, rahman, dan ariman itu merupakan saudara manusia yang menemani secara metafisik. Sedulur Papat menjadi potensi atau energi aktif dan pancer sebagai pengendali kesadaran. Mereka adalah saudara penolong dalam mengarungi kehidupan hingga seseorang  kembali lagi pada sang pencipta.

    Artinya, tanpa mengenal Sedulur Papat kita sendiri akan susah menuju Tuhan.

Bukan Misteri

Dari epistemologi di atas sudah jelas dan ilmiah, manusia mau beragama atau ateis akan berteman dengan Sedulur Papat atau Kiblat Papat. Sebab, Sedulur Papat inilah yang akan memandu manusia menuju Tuhannya. Orang Jawa sendiri, menjadi Sedulur Papat Limo Pancer sebagai jimat, pakem, aturan, atau pedoman dalam berbagai kehidupan.

Apa wujudnya? Salah satunya filosofi Kiblat Papat Lima Pancer yang diartikan sebagai empat arah mata angin yaitu timur, selatan, barat dan utara sedangkan Lima Pancer yaitu tengah.

Bahkan, orang Jawa sendiri memasukkan itu ke dalam nama-nama hari (pasaran) yang menjadi penentu jodoh, rezeki, dan nyawa manusia. Wujudnya, berupa konsep hari seperti pasaran legi (timur), pahing (selatan), pon (barat), wage (barat), dan kliwon (tengah/pusat).

    Misalnya, dalam menanam jagung, ketika tidak mengindahkan konsep ini, bisa jadi mereka puso alias gagal panen. Begitu pula dengan pemilihan hari pernikahan, khitan, pindahan atau membangun rumah dan sebagainya.

Apakah hanya itu? Ternyata tidak. Kontekstualiasi Sedulur Papat juga menjelmas dalam elemen dasar dalam kehidupan manusia. Seperti cipta, rasa, karsa, dan karya. Tanpa keempat hal ini, bisa jadi manusia hidup namun mati. Artinya, sangat konyol ketika manusia hidup namun tidak memiliki cipta, rasa, karsa dan karya.

Islam sendiri sudah mengonsep hal itu dengan riil ke dalam bab nafsu, tasawuf, dan kondisi hati manusia dalam Surat Al-Qiyamah (75:1-2). Dari ayat itu, Winardi (2017) mengnalisis, manusia memiliki empat unsur paling dasar, yaitu lawwamah, supiyah, amarah dan mutmainah.

Lawwamah ini diartikan selemah apa pun manusia, pasti di dalam jiwanya terdapat sifat kejam dan berani membunuh. Jika diilmiahkan, sifat ini  menjadi pertanda setiap manusia hidup membutuhkan tanah sebagai salah satu sumber hidup atau dalam tubuh manusia  pasti mengandung zat tanah. Lambang warna dari sifat aluamah yakni  hitam.

Supiyah mengandung arti yaitu sebagai sahabat hidup manusia  yang selalu menginginkan harta benda dalam kemegahan serta  kemewahan dunia. Lambang warna dari sifat supiyah yakni kuning. Amarah yaitu sifat selalu mengajak dan menginginkan hal berbau atau dalam ranah politik, kecerdasan akan tetapi lebih cenderung dalam kesombongan.

    Lambang warna dari sifat ini merah. Mutmainah yaitu sifat cenderung mengajak dalam nafsu ketuhanan,  beribadah kepada Tuhan. Lambang warna dari mutmainah yakni putih.

Dari keempat jenis ini, tidak mungkin manusia hanya memilih satu saja karena sudah digariskan dalam kehidupan. Namun, di antara keempat itu manusia harus dapat menyinergikan, memilah dan memilih mana yang potensi benar-salah, baik-buruk, indah-jelek untuk menggapai kehidupan bahagia dan pada akhirnya mengantarkan manusia kepada Tuhannya.

Baca juga:  Empat Pantangan bagi Cerdik Pandai

Tanpa Sedulur Papat Limo Pancer, bisa jadi manusia tidak tahu dirinya. Bahkan, filsuf Martin Buber (1878-1965) jauh-jauh hari menggagas konsep diri dalam kehidupan dengan tujuan agar manusia menjadi dirinya sendiri meskipun dalam dirinya ada diri-diri yang lain. Dari diri-diri yang lain itu, manusia harus dapat menggapai jati diri, hakikat diri, dan harga diri agar tidak membelah diri.

Sedangkan konsep diri perspektif Ibnu Miskawaih (1994: 43-44), manusia memiliki tiga bagian, yaitu al-quwwah  alnatiqah (fakultas berpikir), al-quwwah algadabiyyah (fakultas amarah), dan alquwwah  al-shahwiyah (fakultas nafsu syahwat). Sedangkan Imam Al-ghazali (1960: 291) membuat episteme fakultas berpikir dengan al-nafs al-insaniyyah (jiwa  sebagai  esensi  manusia), fakultas amarah dengan istilah al-nafs alhayawaniyyat, dan fakultas nafsu syahwat dengan istilah al-nafs al-hayawaniyyah.

    Diri manusia, menurut dua filsuf ini memiliki keutamaan dengan beberapa syarat. Miskawaih dan Al-Ghazali mengemukakan ada empat keutamaan tertinggi bagi manusia.

Mulai dari al-hikmat sebagai keutamaan akal, al-shaja‘ah keutamaan daya, al-gadab, al-‘iffah sebagai keutamaan daya al-shahwah, dan al-‘adalah sebagai  keseimbangan  daya  itu. Keutamaan-keutamaan inilah yang harusnya digali, karena manusia selain badan, juga memiliki akal, nafsu/syahwat dan hati.

Sudah jelas, Sedulur Papat Limo Pancer merupakan bagian dari diri manusia yang harus diijtihadi, digali, dan disinergikan ke dalam kehidupan agar manusia dapat kembali kepada Tuhannya. Uniknya, saat ini Indonesia berada pada era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 yang secara leksikal merupakan kesamaan dari Sedulur Papat (Revolusi Industri 4.0), Limo Pancer (Society 5.0). Ini bukan kebetulan, namun memang sudah sesuai dengan zeitgeist (spirit zaman).

    Jika kita tidak dapat mentransformasi teknologi batin pada Sedulur Papat Limo Pancer, maka akan susah bagi kita untuk menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0.

Sebab, sinyal, kuota, internet, pulsa, semuanya adalah dunia maya, makhluk gaib yang kita sembah setiap hari. Sedangkan Sedulur Papat Limo Pancer jelas-jelas ada secara fisik saat kita lahir. Dus, kini siapa yang lebih gaib dan mitos antara sinyal, pulsa, kuota dengan Sedulur Papat Limo Pancer?

DIRGAHAYU HUT KEMERDEKAAN RI 17 AGUSTUS 2019 SEMOGA JIWA KITA JUGA MERDEKA

www.Jejakislam.com(sholawat bukti cinta Rosululloh).

          Manusia di ciptakan oleh swt terdiri dari dua unsur, yaitu Jasadiyyah dan Ruhaniyyah. Bagi kita bangsa Indonesia, secara jasadiyyah sudah merdeka 74 tahun yang lalu.

          Yang menjadi pertanyaan adalah, sudahkah jiwa kita juga merdeka?

          Kalau dulu bangsa Indonesia di jajah oleh dua penjajah yaitu jepang dan belanda, kemudian pada tanggal 17 Agustus 1945 memproklamirkan kemerdekaan yang menjadi tanda berakhirnya penjajahan tersebut atau merdeka.

Adapun manusia juga di jajah oleh dua penjajah, yaitu Syaitan dan Nafsu. Tetapi ketahuilah bahwa penjajahan syaitan itu lemah, sebagaimana Alloh swt berfirman :

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

          “Sesungguhnya tipu daya syaitan itu lemah”.(QS. An Nisa 76).

          Beberapa langkah untuk melumpuhkan penjajahan syaitan, antara lain :

  1. Selalu berdzikir mengingat Alloh swt, sebagaimana banyak di terangkan oleh Alloh dalam Al Qur’an dan oleh Nabi Muhammad saw dalam hadits haditsnya.
  2. Keikhlasan dalam berbagai aspek, sebagaimana di nyatakan oleh syaitan sendiri yang di terangkan oleh Alloh dalam Surat Al Hijr ayat 40 :

إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

          “Kecuali(yang tidak bisa di goda) hamba hambaMu yang mereka itu yang berbuat ikhlas”.

            Sedangkan penjajahan Nafsu, lebih berat daripada penjajahan syaitan, hal ini sebagaimana di terangkan oleh Nabi Muhammad saw :

أَعْدَى عَدُوِّكَ نَفْسُكَ الَّتِى بَيْنَ جَنْبَيْكَ

“Musuhmu yang berat adalah nafsumu yang ada di badanmu”.(HR. Turmudzi).

Dan dalam mengomentari hadits ini, Ulama mengatakan :

ألنَّفْسُ أَخْبَثُ مِنْ سَبْعِيْنَ الشَّيْطَانِ

“Nafsu itu lebih jahat dari 70 syaitan“.

 Kemudian, untuk melumpuhkan penjajahan nafsu, maka kita harus mengtahui nafsu itu sendiri, Imam As Showi sebagai pakar ahli tafsir Al Qur’an menjelaskan :

           Bahwa setiap manusia mempunyai satu nafsu, dan nafsu yang ada dalam diri manusia itu mempunyai tiga sifat :

  1. Nafsu amaroh bis su’.

           Yaitu nafsu yang selalu mengajak kepada perbuatan yang tidak baik. Alloh swt berfirman :

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

         “Sesungguhnya nafsu itu selalu mengajak kepada kejelekan “(QS. Yusuf 53).

          Dalam menghadapi nafsu ini, kita harus berjuang memeranginya, yaitu dengan selalu melawannya. Karena dengan memeranginya maka nafsu amaroh bis su’ ini berubah sifat menjadi :

  1. Nafsul lawwamah

          Yaitu nafsu yang selalu mengkritik kita apabila kita tidak berbuat baik. Alloh swt berfirman dalam surat al Qiyamah ayat 2 :

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ الَّوَّامَةِ

          “Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri”.

          Menghadapi nafsu seperti ini, kita harus memperjuangkan kritikanya untuk kita ikuti, dan jika kritikan nafsul lawwamah ini kita ikuti, maka nafsu ini akan berubah sifat menjadi :

  1. Nafsul Muthmainnah

          Yaitu nafsu yang tenang. Alloh swt berfirman di dalam surat al Fajr ayat 27 sampai 30 :

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي

          “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang puas lagi di ridloinya, msuklah ke dalam golongan hamba hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu”.

Selamat belajar dan semoga bisa meraih kemerdekaan di dalam jiwa kita. Amin….

KHUTBAH IDUL ADHA : PENDIDIKAN YANG TERKANDUNG DALAM IBADAH QURBAN

Khutbah I

اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ اَكبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ كُلَّمَا هَلَّ هِلاَلٌ وَأَبْدَرَ، اللهُ أَكْبَرُ كُلَّماَ صَامَ صَائِمٌ وَاَفْطَرَ، اللهُ أَكْبَرْ كُلَّماَ تَرَاكَمَ سَحَابٌ وَأَمْطَرَ وَكُلَّما نَبَتَ نَبَاتٌ وَأَزْهَرَ وَكُلَّمَا أَطْعَمَ قَانِعٌ اْلمُعْتَرَّ.

اَلْحَمْدُ للهُ الَّذِي فَضَّلَ عَشْرَ ذِى الْحِجَّةِ بِتَضْعِيْفِ أُجُوْرِ اْلعِباَدَاتِ.

فَمَنْ كَانَ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ إِلَى شِرَاءِ الْأُضْحِيَّةِ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ وَمُحِيَ عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ المُوْجِدُ الْمُعْدِمُ الْمَخْلُوْقَاتِ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ رَغَّبَ أُمَّتَهُ فِى الْأُضْحِيَّةِ وَ أَعْمَالِ الصَّالِحاَتِ.

اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَ سَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ السَّادَاتِ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ ماَ اخْتَلَفَتِ الْأَيَّامُ وَ السَّاعاَتُ.

أَمَّا بَعْدُ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Saudara kaum muslimin-muslimat yang dimuliakan oleh Allah,

Alhamdulillah, pada pagi hari ini kita bisa menyelenggarakan shalat Idul Adha dengan bahagia. Sesuai dengan namanya, yaitu Hari Raya Kurban, maka pada 10 Dzulhijjah sampai dengan 3 hari berikutnya yang disebut sebagai hari tasyriq, marilah kita mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan menyembelih hewan kurban dan membagi-bagikannya sebagai amal sosial kepada yang membutuhkan.

Selain itu, penyembelihan hewan kurban ini sebagai wujud dari rasa syukur kita atas segala nikmat yang dikaruniakan oleh Allah kepada kita semua, sebagaimana perintah Allah yang termuat dalam Surat al-Kautsar:

. إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ، فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ، إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ

“Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak.Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”

Berbahagialah mereka yang mampu beribadah kurban, sebab ini adalah anugerah istimewa di mana kebaikan ini kelak menjadi saksi di hari kiamat.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ ﷺ مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلاً أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah pada hari nahr manusia beramal suatu amalan yang lebih dicintai oleh Allah daripada mengalirkan darah dari hewan kurban. Ia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, rambut hewan kurban tersebut. Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada (ridha) Allah sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi, maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban.” (HR. Ibnu Majah)

Hadirin Jamaah Shalat Idul Adha yang dimuliakan oleh Allah

Kurban adalah peristiwa monumental yang selain memiliki nilai sejarah, juga mengandung nilai ibadah dan hikmah. Seorang Rasul yang diperintah oleh Allah menyembelih anak kesayangannya, sebagai wujud ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya. Dalam hal ini, selain memiliki nilai ibadah, Kurban yang dilaksanakan setiap bulan Dzulhijjah juga memiliki dimensi sosial. Yaitu, semua bergotong royong membantu prosesi penyembelihan hewan sekaligus mendistribusikannya. Selain itu, mereka yang mampu juga melaksanakan ibadah ini sebagai bentuk kepedulian juga terhadap sesama

Sebagai bagian dari ajaran agama, ada beberapa nilai pendidikan yang bisa dipetik dari peristiwa yang dijalani oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alaihimassalam ini. Di antaranya:

Pertama. Menjalani perilaku sabar. Nabiyullah Ibrahim alaihissalam sudah berpuluh tahun menikah namun belum dikaruniai putra. Di sinilah kesabaran beliau diuji. Bisa saja Allah memberikan putra kepada Nabi Ibrahim, yang bergelar Khalilullah, namun Allah menunda memberikan putra kepadanya. Dan, beliau menjalaninya dengan penuh kesabaran. Inilah di antara akhlak yang dicontohkan oleh Nabiyullah Ibrahim alaihissalam. Yaitu, menjalani ketentuan Allah dengan penuh kesabaran.

Oleh karena itu, sebagai manusia, seringkali kita terburu-buru berprasangka buruk kepada Allah atas apa yang menimpa kita. Padahal kita belum tahu kejutan, atau bahkan hikmah, atas apa yang digariskan oleh Allah kepada kita. Oleh karena itu, sebagai makhluk-Nya, kita harus senantiasa berprasangka baik kepada Allah. Sebab, sebagaimana hadits qudsi yang disabdakan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa Allah mengikuti prasangka hamba-Nya(أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي )

Sebagian ulama menjelaskan maknanya, yaitu Allah akan menganugerahkan ampunan jika hamba meminta ampunan. Allah akan menerima taubat jika hamba-Nya bertaubat. Dan, Allah akan mengabulkan doa jika hamba meminta. Allah akan beri kecukupan jika hamba-Nya meminta kecukupan, dan seterusnya. Ini adalah hikmah pertama.

Hadirin jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah

Nilai pendidikan yang kedua dalam peristiwa kurban ini adalah tawakkal. Jadi, setelah beliau menunggu kehadiran buah hati selama puluhan tahun, akhirnya dikaruniai Ismail alaihissalam melalui rahim Siti Hajar. Nabi Ibrahim alaihissalam sangat berbahagia dengan karunia ini. Namun, Allah tiba-tiba memberikan ujian kepadanya yaitu menyembelih putra yang beliau cintai. Dalam Surat Ash-Shaffat, ayat 102, Allah mengabadikan peristiwa ini dengan ungkapan yang bijak, tuturan seorang ayah kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ

Artinya: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu”

Ketika menyampaikan kabar ini, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga menunggu reaksi dari putranya, yaitu Ismail ‘alaihissalam, dengan menanyakan pendapatnya.

فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى.

“Maka pikirkanlah apa pendapatmu?”

Ayat ini telah mengajarkan kepada kita apabila dalam menentukan keputusan penting yang berkaitan dengan buah hati, kita juga memberikan peluang kepadanya untuk berpendapat. Ketika sang ayah memberikan pertanyaan tersebut, maka Ismail ‘alaihissalam menjawabnya dengan penuh kepastian.

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Hadirin yang Dimuliakan oleh Allah…

Dialog antara ayah dengan anak telah diabadikan oleh Allah dalam Surat As-Shaffat. Dalam metode pendidikan, pola semacam ini disebut metode hiwari alias dialog. Nabi Ibrahim tidak langsung menyuruh Ismail ‘alahissalam menuruti keinginannya agar mau disembelih. Melainkan, menanyakan kepadanya terlebih dulu. Meminta pendapatnya. Menguji respon dan reaksinya. Hal ini sesuai dengan fitrah psikologis, bahwa remaja bisa dimintai pendapat melalui cara dialog untuk mengembangkan nalarnya. Dan, Ismail ‘alaihissalam menjawab dengan pasti dan percaya diri serta berharap dirinya menjadi bagian orang-orang yang bersabar (minas shabirin).

Poin ketigadalam peristiwa ini adalah pendidikan ketauhidan. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimassalam kompak menjalani perintah Allah. Keduanya berserah diri dan bertawakal menjalani perintah Sang Pencipta, meskipun ketika hendak disembelih, Allah menggantinya dengan hewan sembelihan dari surga.

Pelajaran yang bisa kita petik dari peristiwa ini adalah pentingnya menanamkan ketauhidan kepada keluarga. Seorang ayah yang memiliki karakter kuat dan ketauhidan yang kokoh akan bisa mendidik anaknya dengan baik dalam hal kecintaan kepada Allah dan mentaati perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya, jika dirinya terlebih dulu memberikan contoh yang konkrit. Nabi Ibrahim telah memberikan contoh, dan Nabi Ismail pun tidak ragu melaksanakan permintaan dari ayahnya.

Sebagai seorang ayah, Nabi Ibrahim memberi contoh bagaimana ketaatan kepada Allah harus didahulukan daripada kecintaan terhadap anak. Sebagai seorang yang beriman, beliau menjalani ujian ini dengan baik. Tidak ada gugatan kepada-Nya, mengapa harus menyembelih putra yang telah dinantikan, bagaimana bisa Allah memerintahkan hal ini, dan berbagai pertanyaan lainnya. Yang dilakukan oleh beliau adalah menjalankannya, berserah diri kepada Allah untuk meraih ridlo-Nya. Sebab, beliau sadar, sebagai hanifan muslima alias seorang yang bersadar diri tunduk kepada-Nya dan menjalani ketentuan Allah.

Sedangkan sebagai seorang anak, Ismail ‘alaihisaalam mematuhi perintah dari ayahnya sebagai wujud bakti seorang anak, dan sebagai ungkapan ketaatan seorang hamba kepada Allah.

Demikianlah di antara hikmah peristiwa kurban yang dijalani oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimassalam. Semoga kita bisa memetik pelajaran dari khutbah yang saya sampaikan ini dan semoga kita semua bisa melaksanakan beberapa hikmah pendidikan yang telah saya sampaikan.

اعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الاَبْتَرُ

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اللهُ اَكْبَرْ (٣×) اللهُ اَكْبَرْ (٤×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

PEWAYANGAN JAWA SUMBER HOAKS DAN KISAH PALSU

Pewayangan merupakan jalinan kisah yang menyertai saya tumbuh dan berkembang. Sedari bocah saya terbiasa mendengarkan wayang di radio dan sesekali menyempatkan menonton pertunjukkannya di lapangan desa tetangga. Saya karib dengan suara groyok tapi dramatis Ki Narto Sabdo atau suara landung dan gandem Ki Anom Suroto juga sabetan setannya Ki manteb Soedarsono ketika melihat pakeliran-nya. Pada dekade 90-an merekalah yang menemani saya menghabiskan malam.

Meski pernah belajar di pesantren yang terkenal dengan disiplinnya yang ketat, saya setiap malam keluar berbaur dengan orang-orang dewasa di cangkruk sembari main gaple dan mendengarkan pertunjukan wayang di radio. Barangkali, kisah pewayangan lebih menarik perhatian saya daripada kitab-kitab yang diajarkan di pesantren. Apa yang saya dapat selama belajar agama adalah satu pendapat yang saya lupa nama kitab dan pengarangnya: bahwa baik tidaknya seseorang itu terletak di akhir hidupnya. Dan saya menganggap, waktu itu, pelajaran agama saya sudah cukup dan langsung loncat kelas tiga untuk mengikuti Ebtanas.

Entah kenapa saya menganggap bahwa kisah-kisah dalam pewayangan Jawa seperti mampu untuk mencandra kehidupan. Pesan besar pewayangan Jawa sejatinya telah tergurat dalam se-pupuh tembang pocung.

Wayang iku

Wewayangan kang satuhu

Lelakoning janma ing alam janaloka

Titenana wong cidra mangsa langgenga

Wayang itu

Adalah kacabenggala

Drama kehidupan manusia di dunia

Camkan: pendusta dan pengkhianat tak akan lama

Bahwa—seperti yang tergelar dalam epos Mahabharata—apa yang disebut sebagai perang besar Bharatayuda adalah “kondisi” di mana berlakunya hukum sebab-akibat: sing sapa nandur bakale ngundhuh, sing sapa nyilih bakale mbalekake, sing sapa utang bakale nyaur, utang wirang nyaur wirang, utang pati nyaur pati. Dengan kata lain, konsep “keadilan” dalam logika pewayangan Jawa bukanlah terletak kelak di akhirat, tapi (masih) di dunia ini. Maka dapat dimengerti kenapa Kresna sebagai titising Wisnu kekeuh bahwa perang besar itu harus terjadi.

Tapi di sini saya tak hendak mengupas pesan “sufistik” yang mengendap dalam setiap perlambang wayang. Justru saya hendak membahas berbagai rumor yang berserak dalam kisah yang disajikannya. Ketika saya mampir di kawasan Dieng, sebagaimana biasa, hal pertama yang saya lakukan adalah pemahaman baru apa yang mungkin dapat saya rangkai dari kompleks percandian di dataran tinggi Dieng.

Sekilas saya tak menemukan benang merah atas berbagai kisah dan sejarah dataran tinggi Dieng. Di kompleks percandian Arjuna terdapat candi Sembadra, Puntadewa, Srikandi, dan Arjuna yang dihadap oleh candi Semar, setelah sebelumnya menyambangi candi Gatotkaca di dekat pintu masuk. Candi Setyaki tergolek agak jauh dari kompleks candi Arjuna. Di ujung timur ada satu terowongan yang dinamakan Gangsiran Aswatama. Dan candi Bima tegak menyendiri sekitar 2 km di selatan kompleks percandian Dieng.

Andaikata percandian Dieng merupakan penggambarkan lakon Aswatama Nglandhak, kenapa mesti ada candi Gatotkaca dan Setyaki? Sekiranya ada candi Setyaki kenapa tak ada candi Kresna yang, seandainya kompleks percandian Dieng adalah candi pemujaan, merupakan titisan Wisnu yang lebih masuk akal untuk dicandikan sebagai tempat pemujaan? Ataukah percandian Dieng adalah penggambaran lakon Lahire Abimanyu di mana Bima yang memperoleh wahyu “ratu” di kali Sirayu harus mengikhlaskannya oncat dengan tiba-tiba menggendong Abimanyu, si jabang bayi Arjuna dan Sumbadra? Ataukah kompleks percandian Dieng tak berasal dari abad ke-7 dan 8 sebagaimana yang selama ini didengang-dengungkan tersebab terdapat candi Semar di sana? Dengan kata lain, bagi saya, candi Semar membuktikan bahwa secara diskursif kompleks percandian Dieng bukan berasal dari abad ke-7 dan 8. Sebab tak ada figur Semar dalam epos Mahabharata versi India. Nama Semar pertama kali muncul dalam Kakawin Sudamala di era kerajaan Majapahit dan terpahat di dinding candi Sukuh pada abad ke-14. Kisah dan filosofinya tak juga eksplisit terdapat dalam data-data yang berasal dari era Majapahit tersebut.

Secara diskursif, saya kira yang menjadi core kompleks percandian Dieng adalah justru candi Semar. Candi yang tergolek di depan candi Arjuna ini seolah telah menggoyahkan temuan para arkeolog dan sejarawan yang menyatakan bahwa kompleks percandian Dieng berasal dari abad ke-7 dan 8. Dan ini artinya, seperti pewayangan Jawa yang tak semata menelan mentah-mentah kisah Mahabharata versi India, kompleks percandian Dieng merupakan kontekstualisasi wiracarita Mahabharata versi Hindu India. Bukankah menurut para arkeolog dan sejarawan percandian yang termasuk gugusan percandian utara cenderung pinggiran dan misterius, tak diketahui pasti asal-usulnya hingga kini?

Benar, konon, ditemukan sebuah prasasti di kompleks percandian Dieng yang merujuk angka waktu abad ke-7 dan 8, pada masa kerajaan Kalingga. Tapi, sekali lagi, kenapa ada nama “Semar” di sana, dan seperti di atas, padahal secara diskursif baru muncul pada abad ke-14? Pada titik ini saya berkesimpulan bahwa percandian Dieng memiliki dua macam bentuk: percandian Dieng sebagai peninggalan arkeologis dan percandian Dieng sebagai sebentuk diskursus. Keduanya saling berkaitan, penamaan kompleks percandian Dieng yang identik dengan tokoh-tokoh pewayangan merupakan sebentuk diskursus. Tanpa diskursus ini percandian Dieng tak dapat dipahami.

Kisah pewayangan Jawa, seperti kisah-kisah orang besar, disertai pula oleh apa yang kita kenal sebagai rumor. Dalam jagad selebriti rumor berfungsi pula sebagai bahan untuk menggoreng orang yang bersangkutan untuk semakin tenar, semakin diperbincangkan, yang otomatis selalu menjadi pusat perhatian dan mengundang rasa penasaran. Rumor memang berkaitan dengan hal-hal yang, dalam kultur Indonesia, dinilai negatif. Terkadang orang yang didera rumor justru bangga karena nama dan kehidupan pribadinya akan semakin tenar dan dilahap pasar. Dalam kasus ini maka rumor bisa jadi beredar karena kehendak orang yang bersangkutan itu sendiri—sebagai branding.

Logika rumor inilah yang saya temukan di dataran tinggi Dieng. Di kompleks percandian Arjuna terdapat lima tokoh wayang yang menjadi nama candi yang merentang dari utara ke selatan: Arjuna yang dihadap oleh Semar, Srikandi, Puntadewa, dan Sembadra. Kenapa candi Arjuna tak bersebelahan dengan candi Sembadra, salah satu isterinya yang melahirkan sang pembawa wahyu cakraningrat dan penurun raja-raja Jawa: Abimanyu?

Sebelum menginjakkan kaki di kompleks percandian Arjuna kita akan bertemu terlebih dahulu dengan Tuk Bima Lukar, sebuah mata air yang menjadi hulu kali Sirayu, di mana dahulu menurut masyarakat setempat dilubangi oleh Bima yang bertelanjang (lukar) dengan menggunakan alat kelaminnya. Kemudian ksatria panengah Pandawa itu mengalirinya  dengan pipis-nya hingga menjadi kali Sirayu sekarang. Sirayu merupakan pujian Bima pada seorang perempuan yang mandi di kali buatannya tersebut: Sirayu, Sira Ayu (“Kamu cantik”).

Dalam lakon Wahyu Cakraningrat sebetulnya adalah Bima yang memperoleh wahyu para raja Jawa itu. Berhubung dalam kepercayaan Jawa berlaku pantangan orang yang sedang kadunungan wahyu untuk tilik bayi, maka lepaslah wahyu cakraningrat tersebut dari Bima yang datang tergopoh-gopoh untuk segera menggendong si jabang bayi. Akhirnya, wahyu itu oncat dan menitis ke bayi yang, secara lahiriah, anak Arjuna dan Sembadra. Maka untuk mengenang oncat-nya wahyu cakraningrat dari dirinya, Bima kemudian menamakan bayi Arjuna dan Sembadra itu sebagai Abimanyu, Bima banyu atau banyune Bima (airnya Bima).

Kenapa Bima yang dalam pewayangan dikisahkan keras dalam mendidik anak dapat tergopoh-gopoh untuk segera menggendong bayi Arjuna dan Sembadra? Hanya ada satu kemungkinan bahwa perempuan yang dipuji Bima cantik (Sira ayu) di Tuk Bima Lukar adalah Sembadra. Di sinilah kemudian dapat dipahami kenapa dataran tinggi ini diberi nama Dieng yang merupakan tembung garba “Di” (tempat) dan “Hyang” (eyang atau leluhur). Dalam Serat Pustaka Raja Purwa gubahan Ronggawarsita dipampangkanlah sislsilah para raja Jawa yang merentang ke atas sampai Arjuna sebagai campuran keturunan Sang Hyang Brahma dan Sang Hyang Wisnu. Jelas, silsilah ini adalah silsilah versi keraton. Tapi dataran tinggi Dieng menyajikan tafsir yang berbeda: bahwa yang menurunkan para raja Jawa bukanlah Arjuna, melainkan Bima.

MENGHORMATI ULAMA DAN BAGAIMANA ISLAM TANPA INDONESIA

Menaruh hormat pada orang yang dihormati adalah fitrah. Hormat bisa kepada siapa saja yang dianggap terhormat. Dalam etika pendidikan Islam yang direpresentasikan, salah satunya, oleh kitab ta’limul muta’allim, konsekuwensi hormat pada ilmu adalah hormat pada buku, pemilik ilmu, guru dan sekeluarganya meski yang masih kecil sekali sekalipun.

Untuk bernostalgia dengan nuansa hormat pada ilmu dan konsekuwensinya, mari kita lihat secara riil di pesantren-pesantren atau membaca kitab ta’limul muta’allim yang kelar dibaca satu kali duduk dengan visualisasi imajiner.

Begitu rincinya dalam hormat dan cara mereka hormat, bagaimana jika sosok yang kita hormati adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pembawa ilmu dan kota ilmu itu tersendiri?

    Ada adagium populer yang menjadi patron ber-Islam, ia berbunyi, “Etika lebih didahulukan dari pada mengikuti perintah.”

Kaidah ini membuat banyak umat Islam melakukan manuver keagamaan yang secara zahir berselisih dengan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah, sang pembawa syariat. Abu Bakar yang saat itu ditunjuk Rasulullah mengganti sebagai imam salat, dan nabi berdiri di belakang, Abu Bakar perlahan mundur.

Nabi memberi isyarat kepada Abu Bakar untuk tetap di tempat imam, tapi Abu Bakar tetap mundur teratur. Ia “membangkang” dari perintah sang kinasih.

Sementara ulama sampai ada juga yang lirih membaca surat al-lahab ­dalam shalatnya, al-lahab adalah sebuah surat yang menceritakan tentang celakanya Abu Lahab, salah satu tokoh Qurasy yang paling menentang dakwah Nabi. Ia beralasan kendatipun Abu Lahab terlaknat, namuna bagaimanapun ia adalah tetap paman nabi.

Dalam ranah ushul fikih ada pembahasan yang boleh dikata sensitif. Pembahasan ini, kata Syekh Ali Jum’ah, timbul akibat teori filsafat Aristoteles yang mengatakan bahwa jika di depan seseorang ada dua jalan dalam menempuh suatu pengetahuan, yang satu pasti (qath’i) dan yang satu lagi praduga (zhanni), apakah boleh mengambil jalan kedua sementara kita mampu untuk untuk mengabil jalan pertama?

Apa pembahasan yang sensitif itu? Adalah pembahasan ijtihad Rasulullah. Apakah beliau berijtihad apakah tidak? Jika beliau berijtihad yang hasil dari ijtihad ada dua kemungkinan; benar dan keliru.

Ulama banyak mengulas tentang hal ini dalam kitab-kitabnya, namun yang menarik di sini adalah sikap Imam Ibnu as-Subki (771 H).

Beliau mengatakan pada kitab yang mulanya ditulis oleh sang ayah, Imam as-Subki (756 H), yaitu kitab al-Ibhaj sebuah syarah apik atas kitab minhajul wushul karya Imam Baidhawi dalam fan ushul fikih. Begini bunyinya: “Saya menyucikan kitab saya ini dari pendapat selain pendapat ini”.

Ia tidak banyak mengulasnya dan langusng ke inti pendapat yang kuat baginya, yaitu kendati berijtihad, Rasul tidak keliru. Meski ada pendapat lain yang mengatakan sebaliknya, beliau tidak menyebutkannya demi hormat pada sang kinasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Selanjutya, sebuah kata dalam ilmu nahwu bisa mendapat kedudukan i’rab yang beragam. Kendati demikian, Syekh Ibrahim al-Baijuri (1277 H) dalam syarah atas Jauhar Tauhid saat mengulas kedudukan kata “Muhammad” yang saat itu bisa dibaca dalam tiga kedudukan; rafa’, nashab dan jer, beliau memilih rafa’ pada kata “muhammad” dengan alasan:

“ini (rafa’) lebih utama dalam sisi takzim, supaya nama yang agung itu marfu’un (terangkat derajatnya) dan menjadi asas (umdah) sebagaimana esensinya (madlul) menunjukkan keagungan kedudukan dan sandaran tiap makhluk”.

    Islam memang tidak pernah hening dari perbedaan ulamanya dalam memahami Islam. Ini harus kita ingat baik-baik.

Namun, perbedaan tidak serta merta membuat repot, bahkan jika kita berakal sehat, perbedaan itu keberkahan bagi umat seperti kita.

Salah satu perbedaan itu adalah tentang nama-nama Allah dan nama-nama Nabi Muhammad. Apakah nama-nama itu tauqifi (paten) atau tidak. Ibnul Arabi, murid Imam al-Ghazali yang bermazhab Maliki itu berkata bahwa ulama sepakat kalau nama-nama Allah adalah paten, tidak boleh menyematkan nama yang tidak dipatenkan oleh Allah sendiri.

Namun ulama berbeda dalam menyikapi nama-nama Nabi Muhammad. Lagi-lagi ulama memilih nama beliau sebagai tauqifi juga dengan hujah sad dzariah (menutup kemungkinan-kemungkinan buruk) dengan alasan sebab Nabi Muhammad adalah manusia dan itu pasti rentan bagi kita untuk memberi nama pada Rasululullah seenak kita yang boleh jadi itu tidak patut bagi kedudukan Nabi.

Islam tanpa Indonesia

Mari sejenak membayangkan bagaimana nasib Islam bila Allah tak menitipkan tongkat estafetnya pada bangsa besar Nusantara?

Hasilnya adalah, “anak kandung” agama bahari ini sudah punah sejak kemangkatan Rasulullah Muhammad Saw pada abad ke-7 M. Keratuan Kalingga barangkali tak harus meleburkan mugiya rahayu sagung dumadhi menjadi assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu, yang dibawa ‘Ali bin Abi Thalib ke sini. Generasi awal Wali Songo mungkin tak usah membangun jaringan luar biasa kokoh di sepanjang pantai utara Jawa hingga ke tanah Hijaz.

Kubilai Khan ndak usah repot-repot mengutus armada militernya menghadap Dyah Wijaya—lantas menitahkan anaknya, Hulagu Khan, memberangus Dinasti Abbasiyah yang melenceng. Belanda tak perlu repot-repot menghadapi Sultan Agung, Aru Palakka, Sultan Hasanuddin, Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Imam Bonjol, lalu dikemudian dihadapi secara intelek oleh Umar Said Cokroaminoto dan para bangsawan pikiran lainnya. Takkan ada lah Liga Bangsa-Bangsa (kini PBB) yang dianjurkan Raden Mas Panji Sosrokartono.

Muslim sedunia takkan mengenal Syekh Yusuf Makassar yang menginspirasi Nelson Mandela. Ulama di muka bumi usah pula mengagumi Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi, Syekh Nawawi al Bantani, dan Syekh Yasin Isa al Fadani, lantaran daya jangkau ilmu ke-Islaman mereka yang menembusi tepian batas zaman.

    Ibn Saud nggak mesti mengindahkan Komite Hijaz pimpinan Kiai Wahab Chasbullah, demi membendung kegilaannya yang ingin membongkar makam Nabi Muhammad Saw.

Kolonialisme-neoliberalisme tak perlu berhadapan dengan Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan—dengan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang mereka dirikan. Dua organisasi Islam yang skalanya melebar ke seantero dunia. Pendidikan umat Islam Indonesia hari ini, jelas berhutang budi pada dua matahari kembar Tanah Jawa tersebut—yang cerlang cahayanya masih bersinaran hingga saat ini.

Gerakan Non-Blok yang digelorakan Sukarno takkan melecut nyali para pemimpin revolusi besar, untuk menumpas tirani kolonialisme. Pertemuan para pendiri negara-bangsa Asia-Afrika yang berkumpul di Mesir pada 1961, kemudian menahbisnya sebagai Pahlawan Islam. KTT Asia Afrika setahun kemudian, adalah buah manis yang dipetik Bung Karno dari pergulatannya dengan Dunia Islam.

Setengah abad berselang, Gus Dur melanjutkan kerja besar kakeknya. Menumbangkan rezim Orde Baru. Memimpin Indonesia sebagai presiden. Melanglang buwana menjalin persaudaraan semesta. Mengenalkan Islam secara jenaka kepada para pemimpin dunia. Mengubah peta jalan politik. Menekan Israel dengan lobi tingkat tinggi yang belum pernah dilakukan presiden mana pun.

Sekarang kita kaji sisi lainnya. Indonesia bukan hanya unggul secara kuantitas selaku negara berpenduduk Muslim terbesar sedunia. Tak hanya itu. Di negeri ini, ada 1.340 suku bangsa, 300 kelompok etnik, 742 rumpun bahasa, dan ini yang mencengangkan: 200-an lebih keyakinan tua yang beberapa di antaranya malah lebih dulu ada sebelum Nabi Muhammad Saw lahir ke bumi.

    Uniknya, semua itu lebur dalam Islam, atau sebaliknya. Sehingga kehadiran agama Langit terakhir ini, seolah menjadi pelengkap rasa sejati bagi masyarakat Nusantara.

Bukti terkait itu bisa kita telusuri melalui tinggalan lontara pada abad ke-14 M karangan Mpu Prapanca yang berjudul Nirarthaprakreta, dalam pupuh keenam:

(baris pertama) Iwa mankaneki gati san hyan umibeki samuhanin dadi. Ya mawak pawak ya ginawe gumaway ikan acintya niskala. Sasinadhyanin tapa masadhya rin angulahaken giwarcana. Hana tan tumut tuwi tumut ta ya raket i sapolahin sarat.

Seperti itulah halnya Dia, yang ada dalam seluruh makhluk dan yang memenuhi segala makhluk. Dia Hyang Meliputi dan sekaligus Diliputi. Dia-lah yang diciptakan ini semua, dan Dia juga yang menciptakan, yang tak dapat dicapai dengan pikiran dan segenap indra; menjadi tujuan semua pertapa yang menyembah-Nya. Dia hadir dan dekat dengan segala makhluk, ikut di dalam segala perbuatan makhluk, tetapi juga tidak berbuat.

    (baris kedua) Rin apan kawastwan i siran grahana tubu widehalaksana. Ya matannya durgama kapangihanika tekapin mamet hayu. Humenen nda tan wenan atarka ri karegepanin samankana. Katunan tutur hidepikan lebar abalika wreddhyanin lupa.

Bagaimanakah (manusia) dapat menggambarkan-Nya dan meraba-Nya, karena Dia sungguh-sungguh bersifat ‘Tak bermateri’? Itulah sebabnya Dia sangat sukar ditemukan oleh orang yang berniat mencapai Kebahagiaan. Hanya pada waktu manusia mampu men-‘diam’-kan diri (dari segala pikiran liarnya) dan disaat manusia ‘tak merasa menemukan-nya’, maka akan hilang lenyap rasa dan pikiran kembali kepada ‘Ke-alpa-an yang Sempurna’, (dan dapat bertemu Dia).

Leluhur kita dahulu mengalihbahasakan lagi wejangan Mpu Prapanca itu menjadi tan keno kiniro (tiada terperi), tan keno kinoyo ngopo (tak berkesejajaran dengan apa pun). Islam hadir dengan bahasa Arab yang artinya juga bermiripan. Laysa kamitslihi say’un (tiada sesuatu yang bisa menyamai) atau mukhalafatu lil hawaditsi (berbeda dari makhluk-Nya).

Bentuk pencapaian makrifat sedemikianlah, yang membuat Islam tumbuh subur di zamrud Khatulistiwa ini. Muslim di Timur Tengah sana, yang dalam sejarah bahkan telah menyaksikan langsung kehadiran para Nabi-Rasul Tuhan, tak sanggup mengelola kesukuan bangsa mereka yang padahal homogen.

    Hingga tulisan ini kami susun, Saudi Arabia, Suriah, Libya, Tunisia, Lebanon, Irak, Iran, masih bertikai sengit antar sesama—yang ironisnya sama-sama muslim.

Sebagai antidot bagi saudara kita di Timteng sana, bangsa kita dianugerahi Tuhan serbaneka kelebihan yang tak terperikan. Dari sekian banyak bangsa di dunia, dari pelbagai aneka umat Muslim yang ada, hanya bangsa Indonesia yang dengan tingkat keseriusan tinggi, membakukan mudik sebagai ritus bersama. Berjamaah tapi tanpa imam. Dirayakan, bahkan dalam diam.

Sejak tiga dekade lalu kami mengenal Ramadan, rasanya sukar mencari orang perdana yang “mengajari” muslim Indonesia mudik ke kampung halaman. Lebih dari itu, mudik juga sudah ditradisikan pula oleh saudara sebangsa kita yang bukan beragama Islam. Dengan suka cita, mereka pun turut dalam gelombang besar pemudik pada penghujung Ramadhan—setiap tahun.

Entah bagaimana riwayat asli mudik sebelum jadi seperti sekarang ini, hanya Tuhan sajalah yang tahu. Itu ranah yang tak perlu dipusingkan. Sebab yang utama dari mudik adalah, kita wajib menjalankan perintah-Nya agar “saling kenal mengenal dan menyayangi”. (QS. al-Hujurat [49]: 13).

    Mudik, sangat dekat dengan upaya saling mengenal. Sangat besar kemungkinan mengajari kita arti penting rasa kasih-sayang yang kental.

Mengalami momen mudik dan lebaran, membuat kami kian yakin bahwa bangsa kita sudah berbakat bahagia sejak dahulu kala. Keriuhan Pilpres 2019 seketika mereda jelang akhir Ramadhan. Para pendukung Jokowi dan Prabowo mendadak senasib sepenanggungan manakala melintasi jalur mudik menuju kampung halaman. Semata karena ingin bersua handai tolan.

Sebelum Jokowi berhasil memenangkan pertarungan pilpres, dan menjabat orang nomor satu Indonesia medio 2019-2024, ia telah lebih dulu didapuk sebagai Presiden Dewan Keamanan PBB selama lima tahun ke depan. Inilah kali pertama seorang kepala negara beragama Islam, menduduki posisi paling strategis pada zaman modern. Pertanyaannya, kenapa harus Jokowi?

Dari sekian banyak negara berpenduduk muslim, tak satu pun yang sanggup menenggang perbedaan mazhab kalam (ushuluddin), fiqh, dan tariqat yang masih jumbuh dalam sejarah manusia. Iran yang dulu Sunni, kini Syi’ah. Saudi yang semula kosmopolit, sekarang sumpek-judeg dengan Wahabisme. Begitu juga dengan Afghanistan, Pakistan, Bangladesh.

    Pembedanya pun lumayan tegas. Di Indonesia belum pernah, dan mungkin takkan ada yang namanya mufti. Kita sudah cukup bersyukur dihadiahi Allah dengan seorang Prof. Quraisy Shihab, Mbah Maimun Zubair, Gus Mus, Habib Luthfi.

Tiada diperlukan lembaga sertifikasi. Majelis Ulama Indonesia (MUI) hanya sekadar nama. Bukan penentu kebijakan. Empat nama di atas itu saja, belum mewakili golongan khawash l-khawash (khususnya khusus) yang lazim dirujuk para kiai dalam sunyi-sepi hiruk-pikuk manusia.

Belum lagi jika kita menguliti bagaimana para pemeluk Nasrani dan Yahudi, yang dengan leluasa menjalankan laku beragama mereka. Bahkan hanya di sini saja ada pemeluk Nasrani yang lidahnya bisa dengan mudah menyebut alhamdulillah, insyaallah, Allahu akbar, tanpa harus merasa risih.

Ajaran rahmatan lil ‘alamin yang menjadi spirit utama Islam, sudah sejak lama mendarah daging dalam kehidupan orang Nusantara. Kita biasa mengenalnya dengan istilah gotong-royong, tepo seliro, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Islam yang mengedepankan napas komunalisme, kemudian bersalin rupa menjadi Partai Komunis Indonesia pada ranah politik. Wajar bila Vladinir Lenin kebingungan melihat Tan Malaka—yang lucunya telah menghafal Alquran sedari usia tujuh tahun.

Apalagi yang telah dan akan terus disumbangsihkan muslim Indonesia?

Jawaban yang paling tak bisa ditampik adalah: kedamaian. Ya, di Bumi Pertiwi inilah serbaneka manusia hidup rukun berdampingan, sejak lama sekali. Tak perlu konsep ahlul dzimmi sebagaimana yang diterapkan Dinasti Umayyah II di Spanyol.

Sebagai penerus ajaran Budhi Dharma, Kapitayan, Brahma (merujuk pada Nabi Ibrahim as yang juga disebut Abraham), menjadi mudah bagi kita menerima dan menjalankan Islam secara utuh dengan pendekatan akhlak sempurna. Laku luhur yang lindap di negeri para nabi itu, sudah semerbak mewangi di Sundalandia. Nama kuno bangsa kita sebelum kelak menjadi Indonesia—yang dari segi arti, mengandung konotasi yang kurang tepat.

Demi melacak jejak sumber penerimaan Islam sejak awal kehadirannya di dunia, kita bisa merujuk pada hasil telisik Stephen Oppenheimer, Arysio Santos, dan terkini, sekelompok peneliti Jepang yang mendaku bahwa seluruh umat manusia berasal dari Sundalandia.

Riset yang cukup mumpuni juga dikerjakan oleh Denys Lombard dalam tiga jilid Nusa Jawa Silang Budaya. Ia berhasil menguraikan dengan baik bagaimana bangsa agung Nusantara menyalin ulang begitu banyak khazanah kemanusiaan—yang sesungguhnya bermula dari sini, dan kembali pulang ke pangkuan Ibu Prativi.

Beberapa penelitian terbaru yang di antaranya berdasarkan tes DNA (Deoxyribo Nucleic Acid), termasuk yang dari Jepang, menyatakan bahwa anak-cucu manusia modern saat ini berasal dari Sundaland (dalam tulisan Jepang: スンダランド = ditranskripsikan menjadi Sundarando). Bangsa pertama yang membangun peradaban maju, dengan kondisi alam terkaya di dunia.

    Kita semua berawal mula dari bangsa Sunda: Besar dan Kecil. Berjiwa Jawa (bahagia). Berkonsep kenegaraan Nusantara, dengan motto sosial-kerakyatan Silihwangi (saling mengharumkan) melalui proses Silih asah, silih asih, silih asuh (saling menularkan pengetahuan, berbagi kasih, dan saling mengasuh). Dialihrupakan oleh Sukarno menjadi Pancasila.

Barangkali sidang pembaca sekalian sudah cukup akrab dengan begitu banyak ayat, hadis, dan atsar (tinggalan jejak) dari para sahabat Nabi Saw, terkait hidup dalam balutan cinta, kasih, dan sayang. Kami tak perlu lagi menyertakannya dalam tulisan sederhana ini. Silakan gali sendiri seturut kebutuhan masing-masing. Bila Anda ingin dicintai kehidupan, maka cintailah diri sendiri dan orang lain.

Islam sudah cukup selaras dengan hidup manusia. Soalnya, manusia lah yang tak pernah mau menyocokkan dirinya dengan ajaran kebaikan dari Tuhan. Kegagalan mengenali hidup sendiri, berdampak besar pada kegagapan menjalani laku lampah secara universal. Kegalatan mengenal diri, berujung pada kesesatan yang nyata dalam rimba raya jagat pramudhita.

MUJAHADAH SANGAT PENTING UNTUK MENDUKUNG IJTIHAD DAN JIHAD

Kata mujahadah tidak lebih populer daripada kata jihad atau ijtihad. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa ijtihad lebih utama daripada jihad. Rasulullah SAW bersabda,

    “Goresan tinta para ulama lebih utama daripada tumpahan darah para syuhada.”

Namun, masih ada yang lebih utama dari ijtihad, yakni mujahadah. Mujahadah ialah perjuangan yang mengandalkan unsur batin atau kalbu. Seusai sebuah peperangan yang amat dahsyat, Rasulullah SAW menyampaikan kepada para sahabatnya,

    “Kita baru saja pulang dari peperangan yang kecil ke peperangan yang lebih besar.”

Lalu beliau menjelaskan bahwa peperangan terbesar ialah melawan diri sendiri, yakni melawan hawa nafsu. Dalam buku Ihya Ulum al-Din, Imam Al-Gazali mengungkapkan, mujahadah satu jam lebih utama daripada beribadah (formalitas) setahun. Ini artinya, mujahadah merupakan puncak pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya.

Jihad, ijtihad, dan mujahadah, berasal dari satu akar kata yang sama, yaitu jahada yang berarti bersungguh-sungguh.

    Jihad adalah perjuangan sungguh-sungguh secara fisik;

    ijtihad perjuangan sungguh-sungguh melalui pikiran dan logika;

    dan mujahadah merupakan perjuangan sungguh-sungguh melalui kalbu.

Bagi masyarakat awam, jihad itulah ibadah yang paling tinggi. Namun dalam perspektif tasawuf, mujahadah menempati posisi yang lebih utama.

Mujahadah bisa mengantar manusia meraih predikat tertinggi sebagai manusia paripurna (insan kamil). Dan ia merupakan kelanjutan dari jihad dan ijtihad. Seseorang yang mendambakan kualitas hidup paripurna tidak bisa hanya mengandalkan salah satu dari ketiga perjuangan tadi. Tetapi, ketiganya harus sinergi di dalam diri.

Rasulullah SAW adalah contoh yang sempurna. Beliau dikenal sangat terampil dalam perjuangan fisik. Hal itu terbukti dengan keterlibatannya dalam beberapa peperangan. Dan beliau sendiri tampil sebagai panglima perang. Beliau juga seorang yang cerdas pikirannya, dan panjang tahajudnya.

Dalam konteks kekinian, komposisi ketiga unsur perjuangan di atas sebaiknya diatur sesuai dengan kapasitas setiap orang. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan masyarakat Muslim terbaik (khaira ummah).

Seseorang yang hanya memiliki kemampuan fisik, maka jihad fisik baginya adalah perjuangan yang tepat. Bagi seorang ulama, jihad paling utama baginya ialah menulis secara produktif untuk mencerahkan dan mencerdaskan umat. Namun, untuk mujahadah, sesungguhnya dapat diakses setiap orang dari golongan manapun. Mari memopulerkan mujahadah di samping jihad dan ijtihad dalam masyarakat.