MENEGENAL ISTILAH DALAM TRAGEDI WABAH COVID-19

Sejak terjadi serangan penyakit (outbreak) bernama virus Korona, dengan nama resmi COVID-19, berseliweran kata-kata atau istilah-istilah khas dalam penyakit. Kita tiba-tiba sering sekali mendengar atau membaca satu kata atau istilah yang sebelumnya “diam” saja dalam kamus atau hanya dipakai orang tertentu: wabah, epidemi, endemik, dan pandemi. Mari kita pahami empat istilah itu satu per satu.

“Wabah” berasal dari bahasa Arab, al-waba` (الوَباَءِ). Tidak jelas sejak kapan kata al-Waba` kita adopsi menjadi wabah. Tapi berdasarkan keterangan banyak bacaan, gelombang pertama bahasa Arab menjadi bahasa Melayu lalu menjadi bahasa Indonesia terjadi abad ke-11 atau abad ke-12. Intermezo: “kata” dalam bahasa Arab disebut al-kalimah. “Kalimat” (susunan kata) dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab, yaitu al-kalam. Istilah-istilah kalimat, huruf, abjad, frasa, paragraf, alenia, bab, pasal, kitab, semua itu bahasa asing. “Judul”, kepala karangan, mungkin juga berasal dari bahasa Arab, al-jadal, artinya perdebatan, mungkin karena “judul” sering diperdebatkan, tapi ini spekulasi, hahaha… Eh, “kata” sendiri juga konon berasal dari Sansekerta, India. Bahasa kita memang bahasa serapan dari mana-mana, terbukti bahwa kita adalah bangsa yang sangat terbuka.

Dalam doa-doa, biasanya kata al-waba` “ditemani” al-bala`, kata yang juga sudah diserap dalam bahasa Indonesia, yakni “bala”, maknanya malapetaka; kemalangan; cobaan; kesengsaraan. Kita sering mendengar frasa “tolak bala”, ini artinya menolak kemalangan, malapetakan, sial. Dalam tradisi Jawa, juga ada dalam ajaran Islam, cara menolak bala dengan sedekah, memberi santunan, ritual atau doa tertentu, dan lain-lain.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “wabah” diartikan dengan penyakit menular yang berjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang di daerah yang luas. Kata kuncinya adalah “menular” dan “menyebar luas”. Demam berdarah itu tidak menular. Jika merujuk pada kamus, ia tidak disebut “wabah”.

Namun, orang awam menyebut “wabah” untuk semua penyakit yang meluas dalam waktu bersamaan. Ada diksi yang lebih tepat menggantikan “wabah” versi orang awam, yakni “hawar” (KBBI). Hawar bisa untuk sebutan penyakit menular, tapi bisa dipakai karena musim penyakit tertentu saja, tidak harus jenis penyakit menular. Masyarakat tani juga sering menyebut “wabah” (hawar) jika pertanian mereka diserang penyakit sejenis dalam waktu bersamaan. Itulah “wabah” dalam kamus dan dalam penggunaan masyarakat awam, orang umum.

Selanjutnya kita ulas “epidemi”. Dalam kamus, kata ini diberi keterangan begini: penyakit menular yang berjangkit dengan cepat di daerah yang luas dan menimbulkan banyak korban, misalnya penyakit yang tidak secara tetap berjangkit di daerah itu. Dengan penjelasan seperti ini, epidemi (epidemic) adalah sinonim dengan wabah. Epidemi itu wabah. Wabah itu epidemi. Ilmu yang mempelajari epidemi disebut epidemiologi.

Mari kita lihat kata selanjutnya: “endemik”. Kamus Besar Bahasa Indonesia menerangkan “endemik” sebagai berikut: (1) berkenaan dengan penyakit yang muncul dalam wilayah tertentu. (2) Berkenaan dengan spesies organisme yang terbatas pada wilayah geografis tertentu.

Endemik (endemic) itu penyakit –baik menular atau tidak– yang khas wilayah tertentu. Demam berdarah –tidak menular– adalah penyakit endemik daerah tropis, termasuk Indonesia.

Endemik tidak saja terkait jenis penyakit di daerah tertuntu, tapi juga spesies hewan yang hanya hidup di daerah tertentu juga disebut epidemik. Misalnya Kuskus beruang hanya ada di Sulawesi, Banteng Jawa hanya ada di Jawa, Kasuari Merah hanya ada di Papua, dan seterusnya.

Terakhir, mari kita pahami istilah Pandemik (pandemic). Dikutip dari IDN Times, berdasarkan buku berjudul Disease Control Priorities: Improving Health and Reducing Poverty 3rd edition yang ditulis oleh Nita Madhav et all, pandemik ialah wabah besar penyakit menular yang sangat meningkatkan morbiditas dan mortalitas di wilayah geografis yang luas, dilansir dari National Center for Biotechnology Information.

Selain itu, pandemik bisa memicu gangguan ekonomi, sosial dan politik yang signifikan di wilayah yang terdampak. Kasus pandemik kian melejit akibat peningkatan perjalanan, urbanisasi, integrasi global, eksploitasi lingkungan dan pengalihan lahan. Menurut World Health Organization, pandemik ialah penyebaran penyakit baru ke seluruh dunia.

Menghadapi pandemik seperti sekarang, solusi untuk memperlambat penyebarannya adalah melakukan “jaga jarak”. Kita diminta untuk sangat sedikit bergerak terutama karena ciri kuat manusia modern saat ini adalah sangat mudah bergerak. Tentu ini menjadi kondisi yang sangat sulit karena ini sejatinya menghilangkan jati diri hidup kita: bergerak, dan untuk Indonesia: terbuka. Untuk sementara kita harus diam dan tertutup, siapapun itu asalkan manusia, harus melakukannya: kaya ataupun miskin. Bisa dibayangkan betapa sulitnya.

Ini ujian lagi bagi kemanusiaan, bekerja sama dengan diam dan tertutup. Yang jika gagal maka semua menjadi tidak berguna. Saatnyalah kita kembali menjadi manusia yang saling menolong, juga terhadap bumi tempat kita bermukim sekarang. Dengan diam dan tertutup, ternyata bumi menjadi lebih nyaman untuk ditinggali. Polusi udara di China menurun drastis, kanal air di Venesia kembali jernih. Udara makin segar dan sehat, yang sangat mungkin manusia menjadi lebih sehat, lebih panjang usianya juga lebih cerdas. Yang jika dibandingkan, nantinya manusia lebih sehat satu tahun daripada tanpa adanya pandemik Korona. Sehat setahun lebih panjang dibandingkan dengan rugi harta setahun, pastilah tidak ada apa-apanya.

STRATEGI PENCEGAHAN PENYEBARAN VIRUS CORONA DI INDONESIA

Dokter Heri Munajib dari Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU) mengatakan episentrum krisis penyakit corona (COVID-19) di Indonesia saat ini berada di RS Mitra Keluarga yang bertempat di pusat Kota Depok, Jawa Barat. Hal ini menyusul ditemukannya kasus pertama, dua orang di Indonesia positif terinfeksi virus corona. “Rumah sakit ini tepat bersebelahan dengan Mapolrestro Depok dan berseberangan dengan Balaikota Depok.

Tepat di depannya membentang Jalan Margonda, poros utama Kota Depok,” kata Dokter Heri, Senin (2/3) malam. Kemudian, di sisi barat Balai Kota Depok terdapat Stasiun Depok Baru, salah satu simpul KRL commuterline yang melayani rute Bogor di Jawa Barat ke Manggarai di Jakarta. Tepat berdampingan dengan stasiun ini terdapat terminal non-bus Depok, melayani rute angkutan kota ke segenap penjuru.

Selain itu, tepat di hadapan Balai Kota juga ada terdapat halte bus yang melayani Transjakarta rute Depok ke Kampung Rambutan dan bus Bandara Soekarno-Hatta Tangerang. Di sisi depan dari stasiun dan terminal non-bus ini terdapat mall ITC yang padat setiap harinya.

“Jadi episentrum krisis penyakit korona ini tepat berimpit dengan (sebagian) pusat pemerintahan Kota Depok, berimpit dengan pusat-pusat lalu lintas transportasi massal di Depok. Maka potensi terjadinya penyebaran virus penyakit ini dengan menumpang sistem transportasi tersebut menjadi terbuka,” kata dia.

Menurut Dokter Heri, salah satu solusi rasional, meskipun menyakitkan, yang bisa dilakukan untuk mengatasi persoalan kemungkinan penyebaran virus penyakit corona ke luar wilayah Depok adalah dengan cara Depok lockdown, di mana Kota Depok ditutup untuk akses umum.

“Tutup sejumlah fasilitas untuk sementara seperti RS Mitra Keluarga; Mapolrestro Depok, dapat dipindahkan sebagian layanan ke tempat lain; Balai Kota Depok, dipindahkan sebagian layanan ke pusat Pemerintahan Depok lainnya di Kompleks GDC,” imbuh dokter yang aktif sebagai fact checker.

Langkah Depok lockdwon berikutnya menutup rute Transjakarta jalur Depok- Kampung Rambutan dan stasiun KRL terdekat dengan episentrum.

Opsi lainnya yang perlu dipertimbangkan, kata Dokter Heri, adalah meliburkan sekolah, kantor pemerintahan dan swasta, pasar tradisional dan supermarket yang ada di area itu.

Ia mengatakan sebagai pembanding, Tiongkok melakukan city lockdown secara massif sejak 1,5 bulan terakhir dan kini hasilnya sudah mulai dituai. “Perkembangan jumlah pasien baru penyakit corona di Tiongkok mulai melambat. Sebaliknya Italia dan Iran awalnya ragu dengan konsep lockdown dengan akibatnya jumlah pasien baru di kedua negara sempat meningkat eksponensial,” kata dia. Selain itu, protokol krisis seharusnya dipimpin commander in chief Presiden RI di mana Menko dan Menkes menjadi pelaksana lapangan.

“Yang kita khawatirkan, Kemenkes kurang menyadari bahaya terbesar dari isu coronavirus itu kalau publik tidak lagi percaya ke institusi resmi kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Bahaya penyebaran virus corona, tidak kalah dengan upaya delegitimasi ke penyelenggaraan pemilu waktu lalu. “Krisis skala korporasi saja diharuskan mendirikan crisis centre, task force, dan lain-lainnya. Apalagi ini menyangkut kehidupan 270 juta manusia,” tegasnya.

NEGARA DI DUNIA YANG MENOLAK PEMULANGAN EKS ISIS

Akhir-akhir ini wacana pemulangan eks ISIS asal Indonesia ke Tanah Air mengemuka. Presiden Jokowi Widodo menegaskan, dirinya menolak pemulangan eks-ISIS asal Indonesia.

Meski demikian, Jokowi mengatakan bahwa keputusan final terkait pemulangan eks-ISIS asal Indonesia akan dibahas dalam rapat terbatas dengan kementerian dan lembaga terkait nantinya.

Lantas bagaimana dengan negara-negara lainnya? Negara mana saja yang menolak untuk memulangkan warga negaranya yang telah bergabung dengan kelompok teroris tersebut?

Inggris

Menteri Dalam Negeri Inggris, Sajid Javid, menegaskan, dirinya tidak akan ragu mencegah warganya yang telah mendukung organisasi teroris untuk kembali ke Inggris. Bagi Javid, mereka yang meninggalkan Inggris dan bergabung dengan ISIS adalah orang yang dipenuhi kebencian terhadap negerinya sendiri. Tidak hanya menolak, Inggris juga mencabut status kewarganegaraan warganya yang bergabung dengan ISIS. Tidak hanya laki-laki dewasa, pemerintah Inggris juga melarang bayi dan anak-anak penduduk mereka yang menjadi anggota ISIS untuk kembali pulang. Dilaporkan, saat ini ada sekitar 30 anak-anak warga Inggris yang ditahan bersama dengan orang tua mereka di kamp-kamp utara Suriah. Dilansir laman The Times, Senin (12/8/2019), pemerintah Inggris menyebut bahwa anak-anak pejuang ISIS yang terjebak di medan perang akan dibiarkan begitu saja. Menurut Javid, terlalu berbahaya untuk mengirimkan personel militer atau sipil untuk menyelamatkan bayi dan anak di bawah umur yang memiliki kewarganegaraan Inggris dari kamp-kamp di Suriah Utara.

Alasan Javid menolak anak-anak eks-ISIS adalah kalau seandainya mereka dibawa pulang maka orang tua mereka akan memiliki alasan kuat untuk kembali ke Inggris.

Australia

Pemerintah Australia juga tegas menolak pemulangaan warganya yang bergabung dengan ISIS. Sama seperti Inggris, Australia juga mencabut status kewarganegaraan warganya yang menjadi anggota ISIS. Meski demikian, tidak seperti Inggris, pemerintah Australia cukup lunak dengan perempuan dan anak-anak eks-ISIS. Pada Juni tahun lalu, pemerintah Australia memulangkan delapan anak dari satu pasangan pejuang ISIS dari Suriah pada Juni lalu. Anak-anak tersebut kini berada di bawah perawatan otoritas Australia. Menteri Dalam Negeri Australia, Peter Dutton, mengaku turut prihatin terhadap anak-anak yang lahir dari para pejuang asing ISIS. Meski demikian, dia menegaskan, Australia harus ‘menyadari ancaman’ yang dapat dilakukan sejumlah wanita dan anak-anak eks ISIS jika mereka kembali ke Australia. “Beberapa wanita telah dibawa pergi secara paksa oleh suami mereka ke Timur Tengah dalam keadaan yang mengerikan dan ada pula perempuan-perempuan yang memang bersedia pergi dan bergabung dengan ISIS secara suka rela dan itu merupakan ancaman yang sama bagi Australia,” kata Dutton pada Rabu (24/7), diberitakan CNN.

Amerika Serikat

Pemerintah Amerika Serikat (AS) juga menolak warganya eks-ISIS untuk kembali ke negeri Paman Sam tersebut. Pada Februari 2019 lalu, seperti diberitakan New York Times, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa perempuan dari Alabama yang bergabung dengan ISIS tidak akan diizinkan untuk kembali pulang. Pernyataan itu dikeluarkan Trump untuk menanggapi Hoda Muthana (20), seorang perempuan Alabama yang bergabung dengan ISIS. Muthana adalah seorang mahasiswa di Alabama ketika bergabung dengan ISIS pada 2014 silam. Setelah beberapa tahun bergabung dengan ISIS, dia mengaku menyesal dan menyatakan keinginannya untuk kembali ke AS.

Prancis

Pemerintah Perancis mengambil kebijakan untuk menolak kembali warganya yang telah bergabung dengan ISIS. Pemerintah Perancis juga mencabut status kewarganegaraan mereka dan menganggapnya sebagai musuh negara. “Warga negara Perancis yang berjuang untuk ISIS (berarti) berperang melawan Prancis. Karena itu, mereka adalah musuh,” kata Menteri Luar Negeri Perancis, Jean-Yves Le Drian, dikutip NU Online dari laman ecfr.eu, Selasa (11/2). Menurut studi yang dilakukan Egmont Institute, eks-ISIS yang berasal dari Perancis mencapai 130 orang dewasa dan 270-320 anak-anak. Namun, Perancis dilaporkan telah memulangkan 17 anak dalam beberapa bulan terakhir, termasuk dua yang ibunya mengizinkan mereka untuk kembali ke tanah airnya tersebut. Memang, hampir semua negara Eropa-di antaranya Jerman, Denmark, Belgia, dan lainnya menolak memulangkan eks-ISIS dewasa dan mencabut status kewarganegaraan mereka. Namun mereka mau menerima kembali anak-anak eks-ISIS. Misalnya, Belgia merepatriasi lima anak dan seorang wanita muda pada Juni 2019, Swedia menerima tujuh yatim piatu pada Mei, dan Jerman menerima penyerahan empat anak—termasuk satu anak yang sakit.

Mungkin Italia menjadi satu-satunya negara anggota Uni Eropa yang diketahui memulangkan warganya eks-ISIS dewasa. Italia merepatriasi Samir Bougana (25), seorang warga negara Italia yang berasal dari Maroko, pada Juni 2019. Dia dikembalikan setelah setahun sebelumnya ditangkap oleh pasukan Kurdi Suriah ketika mencoba melarikan diri ke Turki.

Dilaporkan, ada 10 hingga 11 ribu eks-ISIS, baik militan maupun pendukung, yang ditahan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) di beberapa tahanan di Irak dan Suriah, di mana dua ribunya merupakan ‘militan asing’ alias berasal dari luar Irak dan Suriah. Menukil data UNHCR, 27 persen dari total eks-ISIS tersebut adalah perempuan dan 67 persennya adalah anak-anak di bawah usia 12 tahun. Perempuan dan anak-anak ditempatkan di tiga pengungsian besar, yaitu al-Hol, al-Roj, dan Ain Issa.

MENGETAHUI APA ITU VIRUS CORONA

Beberapa hari belakangan kita disuguhkan satu fenomena kesehatan yang barangkali mencemaskan. Media massa kita – begitu pula mungkin termasuk linimasa media sosial – sedang banyak mengulas perihal infeksi Coronavirus. Penyakit virus yang dinamai para ilmuwan sebagai Novel Coronavirus (yang berarti coronavirus jenis baru, disingkat 2019-nCov) ini dikenal juga sebagai virus Flu Wuhan. WHO telah merilis status infeksi virus 2019-nCov ini sebagai fenomena outbreak atau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) guna meningkatkan kewaspadaan tingkat global. Angka kejadian penyakit terus dilaporkan perkembangannya, dan sejauh ini kasus terkonfirmasi terbanyak ada di China – sebagai lokasi asal penyakit, kemudian Thailand, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Nepal, Vietnam, Prancis, dan Amerika Serikat.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan rilis Kemenkes RI belum ada laporan kasus terkonfirmasi infeksi pernapasan akibat Coronavirus.

Asal-usul dari virus ini serta bagaimana ia ditularkan antarmanusia masih terus diteliti. Sekadar wawasan bagi Anda, virus 2019-nCov yang kasus pertamanya di daerah Wuhan, China ini dalam kajian biologi merupakan jenis virus dari famili coronaviridae sebagaimana virus infeksi pernapasan SARS-Cov yang populer pada awal 2000-an serta virus MERS-Cov di daerah Arab yang beberapa tahun terakhir diperbincangkan dan populer pada momen-momen haji maupun umrah.

Banyak analisis yang disuguhkan mengenai asal penyakit ini. Berdasarkan rilis dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention), coronavirus diduga bersifat zoonosis, yaitu mulanya ditularkan melalui hewan. Hal ini ditengarai dari susunan genetik virusnya yang masih satu famili dengan SARS, yang inangnya adalah jenis musang dan mamalia sejenis; serta MERS, yang ditularkan melalui perantara hewan ternak khususnya unta. Banyak sekali jenis coronavirus yang telah diketahui oleh peneliti, dan yang diketahui menginfeksi manusia baru enam jenis termasuk 2019-nCov, SARS, dan MERS dengan karakteristiknya masing-masing. Selain itu, kasus-kasus laporan pertama berada di daerah yang dekat dengan lokasi pasar hewan di daerah Wuhan. Salah satu yang sedang ditelusuri adalah kemungkinannya berasal dari ular, kelelawar dan hewan liar lainnya, meski tidak menutup kemungkinan penyebarannya melalui daging hewan ternak atau hewan laut. Laporan kasus infeksi ini diketahui berada di lingkungan yang dekat dengan perdagangan hewan. Meski diduga berasal dari hewan, coronavirus ini diperkirakan telah melewati serangkaian mutasi pada dirinya sehingga bisa menginfeksi manusia. Infeksi 2019-nCov ini menyerang organ pernapasan atas maupun bawah, menempel pada lapisan saluran napas mulai hidung, tenggorokan, sampai paru. Dalam beberapa kasus, infeksi ini dapat tanpa gejala atau hanya seperti flu biasa. Namun mengingat masa inkubasi penyakit ini sekitar 2 sampai 14 hari, maka dalam rentang waktu ini kondisi tubuh perlu dicermati.

Virus ini ditularkan antar manusia melalui udara dari batuk atau bersin, kontak kulit, atau setelah memegang tempat yang terpapar virus. Gejala infeksi pernapasan akibat coronavirus secara umum adalah demam, sesak, susah bernapas dan sesak, diikuti gejala lain seperti nyeri sendi, letih, mual muntah dan penurunan nafsu makan. Gejala dapat memberat pada kasus pasien dengan imun yang lemah atau telah memiliki penyakit tertentu sebelumnya. Pada kondisi tertentu, penyakit ini menyebabkan pnemunonia (radang paru-paru). Serta penting digali dari tiap penderita dengan keluhan di atas adanya riwayat berkunjung ke China – khususnya daerah Wuhan dan sekitarnya, kontak dengan penderita maupun orang yang usai berkunjung ke sana atau daerah dengan laporan kasus penyakit coronavirus ini. Ketika ada keluhan saluran pernapasan yang tidak membaik setelah beberapa hari sebagaimana di atas, segera berobat ke fasilitas kesehatan terdekat.

Pada dasarnya, infeksi virus bisa dicegah penularannya melalui perilaku hidup bersih dan sehat. Meski mudah menular, ia juga dapat diantisipasi. WHO merilis langkah-langkah minimal yang bisa dilakukan bagi masyarakat umum agar terhindar dari risiko tertular penyakit virus 2019-nCov secara khusus, dan umumnya untuk penyakit virus maupun infeksi lainnya.

Langkah-langkah ini meliputi menjaga kebersihan tangan dan pernapasan serta pengolahan makanan yang baik. Sering mencuci tangan dengan larutan cuci tangan berbasis alkohol (untuk tangan yang tidak terlalu kotor) atau mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir (untuk setelah bepergian jauh atau tangan tampak kotor) Batuk dan bersin dengan aman, yaitu menutup mulut dan hidung saat bersin dengan lipat siku atau tisu. Tisu segera dibuang, dan tangan segera dicuci. Mengurangi kontak langsung dengan orang yang sedang batuk atau pilek, disarankan menggunakan masker.

Jika memiliki gejala demam, batuk, serta rasa sesak dan susah bernapas yang terjadi lebih dari 3 hari, segera berobat ke fasilitas layanan kesehatan terdekat. Dalam kondisi tidak sehat hendaknya tidak bepergian atau berkonsultasi dulu ke dokter. Ketika berkunjung ke pasar yang dilaporkan ada pasien terdampak coronavirus, selalu menggunakan sarung tangan/pengaman saat memegang hewan yang dijual baik hidup atau mati. Selalu masak daging, telur, atau bagian hewan lainnya sampai matang. Hewan yang mati karena sakit – meskipun disembelih secara syar’i – tidak boleh dikonsumsi. Menghindari konsumsi hewan ternak atau hewan liar yang diduga menjadi inang atau perantara penularan virus.

Sebagaimana kebanyakan virus yang menyebar melalui udara (droplet), coronavirus dinilai sangat mudah menular, ditandai dengan tingginya angka laporan kasus dalam waktu yang tidak terlalu lama di skala global. Meski belum mencapai angka kematian yang fatal secara statistik, namun kebaruan virus ini, ditambah belum adanya terapi dan vaksin spesifik membuat WHO merilis kasus Novel Coronavirus ini sebagai outbreak, meski belum menjadi suatu wabah endemik.

Meski mudah menular, sekali lagi: pencegahannya dapat dimulai dengan proteksi diri saat sakit dan menjaga kebersihan badan, tangan dan barang yang kita konsumsi. Ingat, tangan adalah medium paling mudah penularan penyakit sehingga penting bagi kita untuk rajin cuci tangan pakai sabun atau larutan berbasis alkohol dengan langkah yang benar.

Selain itu, penyakit coronavirus ini dilaporkan sembuh melalui terapi suportif lewat perawatan intensif dan terpantau di rumah sakit, dengan pengawasan pada asupan gizi, sistem tubuh secara menyeluruh, serta pemberian obat-obatan yang dapat mengurangi gejala. Kiranya pemerintah telah melakukan langkah preventif dan penanganan. Tugas masyarakat umum adalah mengakses edukasi yang tepat, tidak terpengaruh kabar yang tidak akurat, dan tentu saja menjaga kebersihan dan makanan yang dikonsumsi. Hingga kini, penelitian tentang virus ini terus berjalan.
Wallahu a`lam.

Catatan: Agar terhindari dari hoaks dan kesimpangsiuran berita seputar virus ini, sebaiknya Anda mengakses informasi dari sumber kredibel seperti WHO atau CDC, atau laman atau media sosial milik Kementerian Kesehatan RI.

MENGENANG KETELADANAN ALMARHUM KH. SHOLAHUDDIN WAHID

“Saya Salahuddin. Tolong saya dikirimi info terbitan tiga edisi jurnal Tashwirul Afkar yang terakhir,” begitu suara di ujung telepon. Saya menjawab biasa saja, seadanya, karena tidak mengerti siapa yang telepon. “Iya, nanti saya infokan, Pak..”

Namun, betapa terkejutnya saat orang yang telepon tadi kirim SMS berisi nama lengkap beserta alamatnya. Kira-kira begini SMS-nya: “Kirim a.n. Salahuddin Wahid dengan alamat XXX. Jangan lupa infokan berapa saya harus bayar.”

Ya Allah, ternyata Gus Sholah yang telepon saya. Saya segera merespon SMS-nya dengan menyatakan akan mengantar langsung ke rumah. Beberapa hari kemudian saya mengunjungi rumahnya dengan membawa pesanannya. Kebetulan jarak kantor saya (Lakpesdam) di Tebet dengan rumah Gus Sholah di sekitar Mampang relatif dekat. Itu terjadi sekitar tahun 2008 atau awal 2009. Ini pertemuan kedua saya dengan Gus Sholah yang bisa ngobrol langsung. Pertemun pertama, saya sowan beliau di Tebuireng tahun 2007, waktu itu di sana ada acara Syarikat Indonesia, lembaga para santri untuk rekonsiliasi. Waktu itu banyak sekali anak muda berkumpul di pesantren Tebuireng. Tahun 2016 akhir saya kembali ke Tebuireng untuk keperluan wawancara, namun Gus Sholah waktu itu dibawa ke RS di Surabaya.

Pertemuan terkahir dengan Gus Sholah terjadi di rumah sakit Carolus, Jakarta Pusat. Waktu itu saya menjenguk Gus Im (Hasyim Wahid), adiknya bungsunya Gus Sholah. Di sana ada Gus Sholah beserta istrinya (putri KH Saifuddin Zuhri) yang ramah, malah mengajak foto bersama. Kami berfoto. Saya, Savic Ali, dan Eman Hermawan berdiri di sisi Gus Sholah dan istrinya.

Tadi malam, pukul sembilan kurang, Kiai Salahuddin bin Kiai Abdul Wahid Hasyim menghembuskan nafas terakhir di RS Harapan Kita, Jakarta. Usianya 77 tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun..

Pribadi yang Bersahaja

Sama dengan Gus Dur, juga putra-putri almaghfurlah Kiai Abdul Wahid Hasyim lainnya, Gus Sholah adalah pribadi yang bersahaja dan sederhana. Dia ini tokoh, keturunan orang yang punya nama besar, tapi mudah ditemui dan mudah diajak bicara. Orangnya jauh dari kesan mempersulit urusan, bersedia menyapa, bertemu, dan bicara dengan siapa saja.

Saya kira, hari ini tidak mudah mencari orang dengan posisi tokoh dan keturunan kanan kirinya “emas” yang gampangan. Bayangkan, bapak Gus Sholah adalah Kiai Abdul Wahid Hasyim kakeknya Hadrotusy Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari. Kita tahu siapa ayah dan kakeknya. Mertuanya juga bukan orang biasa, yakni Kiai Saifuddin Zuhri. Namun, dengan posisi “tinggi” seperti itu, ia tampil biasa saja. Seorang Gus Sholah sebetulnya sudah cukup memadai untuk sombong dan menjauh dari orang kebanyakan.

Namun, kenyataannya, Gus Sholah memilih biasa saja. Bicaranya pun tidak basa-basi (suaranya khas, serak dan berat). Sekali lagi, susah mencari orang begini. Kita kehilangan teladan budi pekerti yang lembut.

Pendidikan

Kiai Abdul Wahid Hasyim awal tahun 1950an berseloroh: mencari sarjana di NU susahnya minta ampun, sama seperti mencari es di tengah malam. Mungkin karena itu, putra beliau tidak ada yang nyantri hingga “bulukan” di pesantren, kecuali Gus Dur. Ya, cucunya ulama besar dan pendiri NU tidak belajar agama secara “nglothok”. Gus Sholah yang dipelajari adalah “ilmu umum”, tepatnya arsitektur. Gus Sholah mendapatkan gelar “insiyur” di Institut Teknologi Bandung. Gus Im, bungsunya Kiai Wahid, belajar ilmu ekonomi di UI.

Saat Gus Sholah menjadi pengasuh utama Pesantren Tebuireng, menggantikan pamannya Kiai Yusuf Hasyim, banyak orang yang ragu kemampuan Gus Sholah memimpin pesantren, bukan saja karena beliau selama ini lebih banyak tinggal di luar pesantren, bahkan ilmu agamanya pun diragukan.

Namun, Gus Sholah membuktikan bahwa dirinya juga seorang kiai yang layak mempin pesantren besar warisan kakeknya. Di bawah kepemimpinan Gus Sholah, Tebuireng tumbuh pesat menjadi pesantren yang kokoh dan berwibawa.

Kita kehilangan teladan orang yang punya perhatian pada dunia pendidikan yang memadukan antara “ilmu umum” dan “ilmu agama”.

Berbeda dengan Gus Dur

Entah karena berbeda pendidikan atau apa, Gus Sholah punya perbedaan cukup mencolok dengan kakaknya, Gus Dur.

Awal-awal mahasiswa, saya pernah membaca esai Gus Sholah dan Gus Dur berbeda pendapat tentang Pancasila. Detailnya saya lupa. Namun, bagi yang akrab dengan keluarga Tebuireng, berbeda sesama kerabat bukanlah hal yang istimewa. Biasa saja. Satu contoh: jauh sebelum Gus Dur dan Gus Dur bersilang pendapat di koran, berpuluh tahun sebelumnya, Kiai Abdul Wahid Hasyim dan adiknya, Kiai Abdul Karim Hasyim juga telah berpolemik di majalah internal NU, namanya majalah Berita Nahdlatoel Oelama (BNO). Baca: Kritik Putra Mbah Hasyim untuk Kiai.

Perbedaan Gus Sholah sama Gus Dur juga terjadi di ranah partai politik. Saat Gus Dur bikin PKB, Gus Sholah bersama pamannya, Kiai Yusuf Hasyim malah mendirikan partai sendiri. Kita kehilangan teladan orang yang damai, berakhlak di tengah perbedaan.

Kita semua kehilangan banyak hal karena kepergian Gus Sholah. Akhirnya hanya bisa berdoa, semoga beliau husnul khotimah, diampuni segala khilaf dan dosanya. Al-Fatihah…

PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DAN RELASI GURU MURID YANG BUKAN SEKEDAR TRANSAKSIONAL

Pendidikan adalah pondasi utama dalam membangun bangsa, juga merupakan sistem dan cara meningkatkan kualitas manusia dalam segala aspek kehidupan. Pendidikan menjadi salah satu faktor yang ikut menentukan maju mundurnya kehidupan bangsa tersebut. Sekolah dan pusat pendidikan menjadi sarana dan akses yang harus diperhatikan oleh masyarakat maupun pemerintah untuk meningkatkan sumber daya manusia yang unggul.

Pendidikan menjadi tolok ukur kemajuan bangsa, oleh karena itu, selain menjadi tanggung jawab pribadi, pendidikan juga menjadi tanggung jawab bersama. Pendidikan harus dibangun bukan hanya kepentingan dunia, tetapi juga bekal di akhirat.

Namun pendidikan saat ini seperti terlempar jauh hanya sebagai sarana untuk pemenuhan kebutuhan pasar kapitalis. Lembaga-lembaga pendidikan berlomba-lomba menyiapkan anak didiknya agar siap menghadapi tantangan zaman. Tidak salah untuk melakukan hal tersebut, namun ada baiknya pendidikan tidak hanya sekadar terpaut pada nilai dan skill duniawi, tetapi juga menanamkan nilai ukhrawi dalam kehidupan.

Mengintegrasikan nilai dalam pendidikan dalam kehidupan nyata itu harus dilakukan oleh para guru. Nilai dunia dan akhirat tidak boleh dipisahkan dalam membangun pendidikan. Hal ini karena hubungan guru dengan murid tidak hanya hubungan transaksional, tetapi hubungan lahir batin yang mengikat antara keduanya.
Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ini sudah tertera dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 66-68, “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul. Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpalah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.”

Ayat tersebut menjelaskan tentang penolakan segolongan orang untuk mentaati perintah Allah dan Rasulnya. Mereka memilih untuk mengikuti pemimpin dan pembesarnya yang menyesatkan. Di hari akhir nanti, mereka meminta agar pemimpin mereka diberi azab dua kali lipat karena telah mengajak mereka dalam kesesatan.

Dalam ayat ini juga mengandung makna tersirat bahwa apa yang dilakukan guru sekarang akan terkoneksi dengan akhiratnya, karena guru sebagai teladan dan orang yang memberi jalan ilmu. Jika seorang guru menyesatkan para muridnya, maka dia pun akan mendapat balasan di hari akhir nanti. Ayat ini menjadi pedoman dan pengingat kepada guru untuk berhati-hati dalam mengemban amanahnya sebagai seorang panutan para murid.

Oleh karena itu, dalam proses mengajar, guru tidak boleh lepas dari etika mengajar apabila kesuksesan pendidikan ingin dicapai dengan sempurna. Menurut Ibnu ‘Athaillah, seorang guru memiliki peran yang sangat penting dalam membimbing muridnya. Hal ini bisa dilihat dalam bukunya yang berjudul Latha’if al-Minan: “Gurumu bukan hanya kau dengar, tetapi adalah orang yang kau ambil darinya.”

Fungsi guru sebagai pembimbing perlu ditekankan kembali. Begitupun murid sebagai peserta didik, ia juga harus menghormati, mentaati, dan mengikuti perannya dalam proses belajar mengajar. Hubungan guru-murid tidak hanya dipahami sekadar penyedia jasa yang membimbing murid dalam proses pembelajaran. Namun hubungan mereka akan dipertanggungjawabkan bukan sekadar di dunia, tetapi juga di akhirat.

Segala sistem di dunia ini punya problematika sendiri, termasuk dalam pendidikan. Seperti diungkapkan oleh Masduki Zakariya, S. HI (Kepala MTs Miftahul Khoir Karangrejo). Dalam hal ini Ia bersuara kepada tebuireng.online tentang apa saja yang menjadi problema pendidikan yang sedang dihadapi oleh bangsa ini.

Apakah arti dari problematika pendidikan?

Problematika pendidikan adalah persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan. Hal ini banyak terjadi, termasuk di Indonesia.

Apakah yang menjadi problematika pendidikan di Indonesia?

Ada beberapa problematika pendidkan antara lain sebagai berikut:
Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Rendahnya pemerataan kesempatan belajar (equity).

Hal ini disebabkan banyaknya peserta didik yang putus sekolah, serta banyaknya lulusan yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini disebabakan oleh:

a. Mahalnya biaya pendidikan

b. Rendahnya pemahaman mengenai pentingnya pendidikan

  1. Rendahnya mutu akademik.

Yakni rendahnya mutu akademik terutama penguasaan ilmu pengetahuan alam (IPA), Matematika, terlebih dalam bidang bahasa asing. bahasa terutama bahasa Inggris padahal penguasaan materi tersebut merupakan kunci dalam menguasai dan mengembangkan iptek. Hal ini disebabakan oleh antara lain:

a. Kurangnya minat siswa dalam belajar

b. Kurikulum yang berubah-ubah

Rendahnya efisiensi internal karena lamanya masa studi melampaui waktu standart yang sudah ditentukan.

Rendahnya efisiensi eksternal sistem pendidikan yang disebut dengan relevansi pendidikan, yang menyebabkan terjadinya pengangguran tenaga terdidik yang cenderung terus meningkat. Secara empiris kecenderungan meningkatnya pengangguran tenaga terdidik disebabkan oleh perkembangan dunia usaha yang masih di dominasi oleh pengusaha besar yang jumlahnya terbatas dan sangat mengutamakan efisiensi (padat modal dan padat teknologi). Dengan demikian pertambahan kebutuhan akan tenaga kerja jauh lebih kecil dibandingkan pertambahan jumlah lulusan lembaga pendidikan.

Terjadi kecenderungan menurunnya akhlak dan moral para pelajar.

Menurunnya akhlak dan moral para pelajar juga termasuk problematika pendidikan, hal inilah yang menyebabkan lunturnya tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial, sehingga terjadinya tawuran pelajar dan kenakalan remaja.

Perubahan kurikulum.

perubahan kurikulum dari KTSP ke kurikullum 2013. Perubahan yang begitu cepat menyebabkan penurunan prestasi siwam yang disebabakan oleh para siswa blum memahami dan belum bisa beradaptasi dengan kurikulum yang baru.. Tak hanya itu, perubahan kurikulum juga menyebabkan para guru disibukkan dengan berbagai macam aturan smpai lupa pada tujuan pendidkan.

Apakah masalah yang paling menonjol?

Kurangnya minat pelajar untuk menuntut ilmu.
Kualitas guru yang rendah.
Keadaan guru yang memprihatinkan, seperti para guru yang hanya mengajarkan apa yang ada di buku, namun lupa menanamkan budi pekerti kepada muridnya.

Apakah masalah ini terjadi di semua jenjang pendidkan?

Masalah ini terjadi di seluruh daerah di Indonesia. Baik daerah pedalaman maupun yang dekat dengan ibu kota.

Apakah Solusi dari problematika pendidkan?

Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan

Dengan upaya pemecahan masalah-masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:

a) Seleksi yanglebih rasional terhadap masukan mentah, khususnya untuk SLTA dan PT. Ini bertujuan agar para tenaga terdidik yang berkualitas mendapatkan kesempatan untuk bekerja

b) Pengembangan kemampuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut. Dalam hal ini disediakannya biaya untuk para siswa berprestasi agar melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

c) Penyempurnaaan kurikulum. Yakni, tidak terus menerus mengubah kurikulum yang ada.

d) Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar dalam hal ini, tidak hanya menjadi tugas guru tapi semua pelajar.

e) Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran yakni disediakannya media pembelajaran di sekolah- sekolah.

f) Peningkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran yakni penetapan anggaran yang lebih besar di bidang pendidikan, agar sekolah mampu menyediakan prasarana dan sarana untuk mendukung dan mengembangkan proses pembelajaran.

g) Kegiatan pengendalian mutu. Kegiatan ini seperti disediakan pembelajaran-pembelajaran di luar kelas seperti les dan kelas-kelas non formal.

Apakah upaya yang telah dilakukan pemerintah?

Mengadakan dana BOS bagi siswa di sekolah. Hal ini terlihat dari dana yang diterima siswa di sekolah-sekolah
Pengembangan dan perbaikan kurikulum.

KEIKHLASAN TELUR MATA SAPI SANTRI DAN MARWAH GURU DI ERA INTERNET

Guru, sejak dulu dinilai sebagai penyalur ilmu pengetahun. Namun kini, apakah guru masih bisa dianggap demikian? Pertanyaan itu mengahantui saya sejak lama.

Saya mengamati bahwa guru saat ini sudah mulai ditinggalkan oleh anak-anak Generasi Z. Sebab mereka lebih memilih media internet untuk belajar ilmu pengetahuan.

Internet sekarang ini sudah merambah di berbagai macam keadaan. Internet ini bisa dilihat dari perkembangannya di Google. Segala macam di Google sekarang ada. Tools-tools (alat) sudah hampir lengkap diberikan oleh Google. Sebagai contoh ada you tube, gmail, google drive, google form, google clasroom dan masih banyak lagi.

Di sini mau tidak mau seorang guru, harus bersinggungan langsung dengan namanya tools-tools yang ada di dalam internet. Sebab para murid yang sedang belajar di sekolahan rata-rata sudah memakai berbagai macam alat itu.

Sedangkan masih banyak para pengajar di sekolahan yang kurang mampu mengikuti perkembangan zaman. Di sini bisa dipahim guru seperti kurang melek terhadap teknologi.

Anak-anak sekolah lebih memilih hal-hal instan melalui internet. Karena bagi mereka segala hal ada. Contoh saja di You Tube, segala macam pengetahuan alam maupun sosial semua ada. segala teori di bangku sekolah sudah tercangkup di dalam internet.

Lantas jika seperti itu, disekolahan masihkah dibutuhkan seorang guru sebagai penyalur ilmu pegetahuan? Jika hanya seperti itu, guru akan tergantikan oleh internet.

Sekarang cobaan guru lebih berat daripada 15 tahun yang lalu. dulu internet belum sampai sepesat saat ini. Kalau guru tidak melek teknologi akan tergilas oleh zaman. Hal semacam ini memang perlu diperhatikan sebagai seorang guru. Menambah wawasan dan melek teknologi jelas harus dipelajari dan beriringan setiap harinya.

Namun, ada beberapa hal yang tidak bisa digantikan oleh internet, seperti akhlalkul karimah atau pendidikan karakter. Prof Said Aqil Siroj dan Mamang Muhamad Haerudin dalam bukunya Berkah Islam Indonesia, menjelaskan akhlakul karimah adalah sesuatu keadaan yang tidak akan terpengaruh oleh kebudayaan dan peradaban waktu itu (era internet), melintasi ruang dan waktu dan dimiliki oleh setiap manusia kapan pun waktunya. (hal. 21).

Bahkan Al Ghazali menafsirkan akhlakul karimah merupakan sifat dan gambaran jiwa.

Di Indonesia, kita mengenal pendidikan karakter. Bagaimana anak-anak diajarkan untuk cinta tanah air, toleransi, cinta damai, tanggung jawab, gotong royong, kesetraan, keimanan, keadilan yang beradab, musyawarah dan kepedulian antar sesama. Hal ini sudah tercangkup semua di dalam Pancasila.

Selain pendidikan karakter, ada lagi yang tidak bisa digantikan oleh internet yaitu moral. Sekarang adanya proses kemerosotan moral mulai terlihat. Dampak instan dari internet sudah sampai ke keadaan moral.

Bisa di lihat dari etika manusia, kemerosotan nilai-nilai adat istiadat, nilai budaya serta konten pornografi dan tindakan korup sudah merambah di bangsa ini.

Saya rasa, pengajaran hal-hal semacam ini yang tidak bisa digantikan oleh internet. Guru seharusnya memegang kendali.

Guru sebagai penyalur utama ilmu pengetahuan memang dapat digantikan oleh adanya internet. Tetapi peran guru sebagai koneksi utama pendidikan karakter (akhlakul karimah) dan penyalur moral harus dioptimalkan di dalam lingkungan penddidikan.

Selain penjelasan di atas, saya mengucapkan selamat hari guru yang diperingati setiap tanggal 25 November. Tugas guru memang mulia tetapi juga teramat sulit dilakukan. Karena masa depan bangsa ini terletak pada tugas guru saat ini.

Mari menjadi guru yang kreatif, inovatif dan inspiratif untuk menjawab tantangan zaman.

ANTARA TELUR MATA SAPI DAN KEIKHLASAN SANTRI

Ayam yang bertelur, sapi yang punya nama. Itulah telur mata sapi. Begitu pun juga santri. Kontribusinya di mana-mana, meski namanya nyaris tak terdengar.

Tentang Santri

Dalam Islam tradisional, “santri” merupakan gerakan intelektual, baik secara kultural maupun secara organik. Santri dan pesantren merupakan dualitas struktur yang tidak dapat dipisahkan seperti dua sisi mata uang yang berbeda tetapi tidak bisa dipisahkan dari pemaknaan sebagai alat tukar, begitupun pesantren dan santri.

Seperti uang, pesantren merupakan sarana yang dapat membentuk perilaku manusia. Namun, uang juga dapat menjadikannya sebagai sumber konflik antar kepentingan, dan uang juga dapat menghadirkan cinta juga kebahagiaan. Begitu juga santri dan pesantren. dimanapun pasti terdapat dikotomi, sehingga manusia harus memaknai secara bijaksana.

Istilah santri berasal dari bahasa Sansekerta ‘shastri’ dari akar kata yang sama dengan kata ‘sastra’ yang berarti teks, tulisan, ajaran, dan kitab pengetahuan. Untuk lidah orang Jawa, kata ‘shastri’ dilafalkan menjadi ‘cantrik’, yang berarti seseorang yang mengabdi, belajar, berguru atau ‘nyantrik’ kepada orang yang berilmu, orang sakti, begawan, pandita, atau orang linuwih.

Dalam hidup santri tak pernah merasa tinggi, tak pernah merasa iri. Sebagaimana dalam filosofi padi, semakin merunduk ketika santri semakin berisi

Visi Santri

Dalam hakikatnya santri tak pernah meminta balas budi, “seperti telur mata sapi”. Ayam yang bertelur, tapi namanya, sapi yang memiliki.

Dalam dunia santri, terdapat dua paham, ukhuwwah wathaniyyah dan ukhuwwah basyariyyah, yang ditanamkan di dalam diri pesantren dan santri. Bagaimanapun, persaudaraan antar manusia itu harus dijunjung tinggi.

Dengan begitu, santri dapat menerima perbedaan: suku, Agama, budaya juga bahasa. Dan suburnya relasi sosial pesantren, membuat generasi santri dapat mewujudkan “hidup berdampingan secara damai” .

Bagi santri, keanekaragaman merupakan kemewahan kebesaran Tuhan. Dengan begitu Santri dapat menumbuhkembangkan peran sosial sebagai agen transformasi sosial menuju masyarakat plural, bagi upaya-upaya mencapai kebenaran dan realitas agar dapat meraih kebahagiaan dunia akhirat.

Santri adalah panglima, santri adalah laskar bhinneka. Santri adalah yang banyak berjuang untuk negara. Semua tahu, santri adalah yang menjaga keutuhan bangsa. Walaupun santri tak pernah di ikut serta dalam rumusan tata negara.

Namun santri tak pernah merasa dirinya kecewa. Sekalipun, santri tak pernah ditulis dalam sejarah bangsa. Bukan berarti santri tidak pernah berbuat apa-apa. Seperti telur mata sapi.

Kehidupan pesantren

Santri adalah sebutan orang yang menempuh pendidikan agama Islam. Pesantren adalah lembaga yang menghimpun dinamika-dinamika pemikiran, baik pemikiran sosial, budaya, politik, ekonomi dan terutama ilmu humaniora.

Di dalam kehidupan pesantren, tidak mengenal antara miskin dan kaya, semua diperlakukan sama. Dari belajar ilmu eksak, belajar tentang kearifan dalam kehidupan hingga belajar mendekat diri kepada Tuhan: semua sama. Dan yang lebih penting, bagaimana kaum santri dapat mengenal perbedaan sejak usia dini.

Semua ilmu diajarkan: dari belajar ilmu tajwid , membaca Alquran, nahwu shorof (tata bahasa dan gramatika bahasa Arab), hingga menghafal hadis sampai ribuan. Ilmu astronomi perbintangan hingga menghitung daun di pohon pun bisa dirumuskan.

Dengan begitu tradisi pesantren dan santri dapat menciptakan inklusifisme, bukan eksklusifisme seperti yang dipikirkan oleh orang di luar sana.

Santri adalah agen yang dibentuk oleh struktur pesantren. Bagaimana kehidupan santri yang berawal dari bentukan keluarga, semua serba ada, makan sudah disiapkan cuci pakaian sudah tinggal dandan. Begitu pindah ke pesantren dia harus menyesuaikan kemandirian kehidupan. Semua santri di wajibkan bertanggung jawab atas dirinya.

Termasuk memasak, mencuci, sampai membersihkan kamar, semua dikerjakan oleh masing-masing santri itu sendiri. Tetapi ada juga santri yang tidak pernah diajar mengaji oleh romo kiai. Hanya dia di tugaskan oleh romo kiai sebagai pembantu di rumahnya saja: seperti mengisi bak mandi, mencuci pakaian romo kiai, membersihkan halaman saban hari di waktu sore dan pagi.

Semuanya dikerjakan oleh santri yang mengabdi pada kiai.

‌Pernah suatu ketika ada pertanyaan dari teman satu kampung, ketika santri itu pulang dari pesantren. Sebut saja bernama Jagad. santri yang tidak pernah diajarkan mengaji oleh romo kiai.

“Hai Gad, apa yang kau dapat dari pesantren? Saat di pesantren, katanya kau tidak pernah diajarkan apa-apa, hanya menjadi pembantu saja di rumah kiai?” tanya Raya, anak kampung.

“Benar katamu”, kata Jagad.

“Lalu, untuk apa kamu berlama-lama di pesantren kalau sekedar jadi pembantu, tidak digaji. Baju yang kau pakai saja juga baju tahun lalu yang sekarang kau gunakan lagi, hampir gak pernah ganti.”

Jagad hanya bisa diam saja, tak ada yang ingin menjawab satu patah kata pun dari pertanyaan Raya.

Raya adalah sahabat baik Jagad di kampungnya. Sewaktu kecil ke mana-mana selalu bersama. Semenjak lulus sekolah menengah, keduanya ia berpisah. Si Raya pergi merantau ke kota. Perubahan Raya banyak dipengaruhi oleh orang kota, setelah lama di kota, lalu Raya pulang kampung dan berbisnis, lumayan sukses di kampungnya.

Jadi tidak heran jika Raya melihat kesuksesan orang itu selalu diukur dengan semata materi saja, sedang Jagad pergi menuntut ilmu ke pesantren, terlepas dia tidak pernah diajarkan ilmu agama oleh Romo Kiai, tetapi Jagad lebih bisa menata hati. Menjalani hidup sebagaimana mestinya.

Menurutnya kesuksesan orang bukan semata materi, tetapi kesuksesan orang adalah bagaimana seseorang bisa mensyukuri. Itulah yang tidak di dapatkan oleh Raya.

Sebagaimana menjelaskan barokah. Bagaimana barokah kiai itu dapat dijelaskan? Sedang yang diberikan barokah tidak pernah bisa merasakan.

Sama halnya menjelaskan pada orang buta, bahwa susu itu berwarna putih. Seperti dalam cerita rakyat dalam buku Leo Tolstoy, seorang yang buta sejak lahir bertanya kepada orang yang melihat, “Bagaimana warna susu?”

“Warna susu itu putih seperti kertas,” jawab orang yang melihat. “Kalau begitu warna itu juga gemerisik di tangan kalau di pegang?” tanya si buta.

“O.. tidak, dia itu putih seperti tepung.” Jawab orang itu. “Kalau begitu, berarti dia itu halus seperti tepung?

“O…tidak, hanya putih seperti kelinci putih.” Si buta masih saja juga bertanya, “Berarti susu itu juga empuk dan lembut seperti kelinci ?”

Dari beberapa contoh yang tadi sudah dijelaskan pada orang buta tersebut, orang buta tetap saja tidak dapat mengerti bagaimana putihnya warna susu.

Sebagaimana menjelaskan tentang barokah. Bagaimana dapat menjelaskan nikmatnya makan pada orang yang lidahnya sedang sariawan? Bagaimana menjelaskan indahnya pantai Raja Ampat kepada orang yang matanya tidak bisa melihat?

Begitu pula menjelaskan tentang “barokah” atau berkah. Barokah tetap saja tidak bisa dijelaskan tanpa orang tersebut bersedia mengalami dan mensyukuri hidup.

Salam santri. Semoga barokah….

PENDIDIKAN YANG BEBAS PRASANGKA

Prasangka dapat muncul dari identifikasi tak teliti terhadap kesan-sesan inisial atas ciri-ciri fisik yang mudah dikenali atau terhadap keanggotaan dalam kelompok sosial tertentu. Cara mengidentifikasi yang keliru ini acapkali diwariskan secara turun temurun dalam kelompok sosial tertentu, sehingga individu-individu yang menjadi bagian kelompok tersebut akan mudah berprasangka terhadap individu lain yang kebetulan memiliki warna kulit, ras, suku, agama, atau partai politik, yang berbeda dengan dirinya.

Mengingat prasangka sudah terbentuk sejak usia dini dan berkembang terus sampai usia dewasa, maka untuk mengikisnya dibutuhkan langkah-langkah strategis dan berefek jangka panjang sehingga masyarakat memiliki perangkat kultural untuk memerangi prasangka.

Dalam sebuah tulisan yang berujudul “Prejudice Reduction through Multicultural Education” yang dipubilkasikan dalam Social Studies Research and Practice edisi musim panas 2007, Steven P. Camicia menawarkan sebuah strategi mendasar yang dianggap dapat mengikis prasangka sosial yaitu melalui pendidikan yang berwawasan multikultural. Pendidikan berwawasan multikultural memiliki perhatian yang besar terhadap hubungan saling mengenal, memahami, dan menghormati di antara peserta didik meskipun mereka memiliki latar belakang kultural yang beragam. Peserta didik menjadi sadar bahwa ternyata ada banyak perspektif dan kondisi sosial yang melatarbelakangi kehidupan setiap manusia.

Strategi mengikis prasangka yang berbasis pada pendidikan berwawasan multikultural—lanjut Camicia—sedikitnya harus mengandung dua hal, yaitu konstruksi pengetahuan (knowledge construction) dan hubungan antar kelompok (intergroup contact).

Pertama, konstruksi pengetahuan. Sebagai sebuah proses, konstruksi pengetahuam secara simultan tidak lain adalah dekonstruksi pengetahuan itu sendiri. Peserta didik diajak untuk memahami narasi-narasi dari kelompok lain, yang diawali dengan mendekonstruksi narasi-narasi mainstream yang melanggengkan ketidaksetaraan sosial. Dengan memahami banyak perspektif, peserta didik dapat mengembangkan kemampuan untuk menganalisis pelanggaran-pelanggaran yang melanggengkan ketidakadilan.

Strategi membongkar kebenaran yang terlanjur dianggap baku, normal, dan niscaya adalah proses untuk mengembangkan cara berpikir kritis pada peserta didik. Dengan bekal kemampuan berpikir kritis, peserta didik diharapkan mampu mendekonstruksi pengetahuan-pengetahuan yang berimplikasi pada munculnya prasangka (prejudical knowledge)—dan mampu merekonstruksi pengetahuan baru yang mengafirmasi keragaman perspektif.

Kedua, meningkatkan hubungan antar kelompok. Tugas lembaga pendidikan adalah memfasilitasi dan mengembangkan lingkungan yang dapat menjamin terciptanya hubungan sosial positif. Tentang hal ini, Camicia mengamini pernyataan Allport dalam The Nature of Prejudice (1954), sebuah risalah klasik tentang ilmu perilaku yang tetap menjadi rujukan utama bagi studi-studi prasangka sampai saat ini. “Prejudice (unless deeply rooted in the character structure of the individual) may be reduced by equal status contact between majority and minority groups in the pursuit of common goals. The effect is greatly enhanced if this contact is sanctioned by institutional supports (i.e., by law, custom, or local atmosphere), and provided it is of a sort that leads to the perception of common interests and common humanity between members of the two groups.”

Bagi Allport, prasangka hanya dapat dikikis melalui hubungan intensif antara pihak-pihak yang saling berprasangka. Sebab, prasangka lahir dari adanya tumpukan stereotip-streotip negatif dalam skema kognitif seseorang sehingga proses identifikasi terhadap orang lain cenderung gegabah. Hanya dengan memperbaiki dan memperjelas proses identifikasi tersebut, maka skema kognitif menjadi bersih dari stereotip-stereotip yang dapat melanggengkan prasangka.

Allport juga menyebutkan setidaknya ada empat syarat bagi terciptanya hubungan sosial yang bervisi keadilan. Pertama, menjunjung kesetaraan status (equal status). Kedua, mementingkan tujuan bersama (common goal). Ketiga, adanya kerjasama (cooperation). Dan keempat, adanya dukungan kelembagaan (institutional support). Keempat hal tersebut adalah pilar bagi tegaknya keadilan sosial dan demokrasi.

Dalam konteks sekolah, pendidikan bertugas mendesain lingkungan sekolah yang mengandung keempat syarat bagi terciptanya keadilan sosial sebagaimana dikemukakan Allport di atas. Pendidikan yang mengutamakan kesetaraan memiliki strategi pembelajaran dan suasana kelas yang dapat membantu peserta didik memahami keragaman ras, etnik, dan budaya, sehingga peserta didik dapat mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan bagi upaya menciptakan sebuah masyarakat yang demokratis. Kondisi sekolah yang seperti ini dapat membantu siswa mengikis benih-benih prasangka dan ketidakadilan sosial.

Sebuah kelas yang mampu menjamin kesetaraan status para peserta didik merupakan interseksi dari empat syarat hubungan sosial positif yang disebutkan Allport di atas. Syarat yang pertama memerankan fungsi penting bagi terciptanya hubungan antarkelompok yang setara dalam ruang kelas di tengah heterogenitas latar belakang kultural siswa. Dalam kelas tradisional, terdapat hirarki yang memungkinkan peserta didik dilihat oleh gurunya secara berbeda karena perbedaan prestasi dan latar belakang kultural. Kondisi ini memicu munculnya prasangka, baik antara sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dan gurunya. Sedangkan dalam kelas yang berwawasan multikultural semua peserta didik memiliki status yang sama sehingga prasangka sosial akan semakin terkikis karena jarak sosial antar siswa semakin meluruh.

Syarat yang kedua dan ketiga dapat melatih peserta didik dalam memahami pentingnya kerjasama dan tujuan bersama. Ketika peserta didik saling berkerjasama, mereka telah mengembangkan sebuah identitas kelompok yang dapat mengikis perilaku-perilaku berprasangka. Para pendidik dapat melengkapi tewujudnya suasana ruang kelas yang berwawasan multikultural dengan cara menciptakan kultur sekolah yang mendukung peserta didik dalam mengembangkan pemahaman terhadap kemajemukan latar belakang kultural sesama peserta didik. Wawasan ini dapat diterjemahkan dengan cara menyusun kurikulum, membuat kebijakan-kebijakan sekolah, dan penelitian-penelitian yang dapat mendukung terciptanya atmosfer pendidikan yang berwawasan multikultural.

Sekolah merupakan instutusi sosial strategis dan merupakan laboratorium ideal bagi pemahaman terhadap kondisi sosial dan dinamika politik yang sering sekali menunjukkan kondisi opresi, ketidakadilan, dan prasangka. Jika sebuah sekolah memiliki tujuan yang meliputi komitmen yang kuat terhadap kesetaraan, keadilan sosial, dan upaya mengurangi prasangka sosial, maka peserta didik akan memiliki keberanian untuk mengembangkan kritisisme baik itu dalam lingkungan sekolah maupun jauh melampaui batas-batas lingkungan sekolah.

Melalui pendidikan yang berwawasan multikultural, peserta didik akan terbantu dalam mengembangkan pemahamannya terhadap diversitas fenomena kultural. Dalam suasana pendidikan multikultural tersebut, peserta didik juga akan lebih berani mengambil peran dalam kegiatan-kegiatan konstruktif yang dapat menjamin tetap tergaknya toleransi dan demokrasi.

PENDIDIKAN NU SECARA KUANTITAS MASIH YANG PALING TINGGI

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi Islam yang bergerak dalam berbagai bidang seperti keagamaan, sosial, seni budaya, ekonomi, dan pendidikan. Dalam beberapa tahun terakhir ini, NU giat dalam menggalakkan pendidikan tingkat perguruan tinggi. Hal itu terbukti dengan berdirinya 31 universitas Nahdlatul Ulama yang berdiri dalam kurun waktu lima sampai sepuluh tahun terakhir. Selain itu, tentu masih ada banyak lagi kampus-kampus yang berafiliasi dengan NU atau didirikan oleh kader-kader NU, tapi tidak terdaftar pada struktural NU. Jumlahnya ratusan. Mulai dari sekolah tinggi hingga universitas. Pada tingkat Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyyah sampai Sekolah Menengah Atas atau Madrasah Aliyah, satuan pendidikan yang bernaung di bawah Lembaga Pendidikan Ma’arif PBNU adalah sekitar 48 ribu. Sedangkan untuk pondok pesantren, ada sekitar 23 ribu pesantren yang tergabung di dalam Asosiasi Pesantren NU atau Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI NU).

Muktamar ke-30 tahun 1999 yang diselenggarakan di Lirboyo Kediri bisa dibilang sebagai momentum penting dalam sejarah pengembangan pendidikan NU. Pada Muktamar ini, NU menegaskan untuk serius dalam memperkuat tata kelola pendidikannya. Lalu, tahun 2001 LP Ma’arif NU menggelar Rakernas. Di antara hasil Rakernas adalah membagi satuan pendidikan dalam tiga kategori sekolah atau madrasah, yaitu: Pertama, satuan pendidikan yang didirikan oleh LP Ma’arif. Kedua, satuan pendidikan yang didirikan oleh jamaah atau lembaga lain di lingkungan NU bekerja sama dengan LP Ma’arif. Terakhir, yang didirikan dan dikelola secara mandiri oleh jamaah atau lembaga lain di lingkungan NU. Namun yang menjadi pertanyaan adalah Bagaimana pendidikan NU bisa berkembang begitu pesatnya? Apa yang menyebabkannya? dan Apakah kuantitas yang begitu meruah dibarengi dengan kualitas yang memadahi?

Untuk menjawab itu, Jurnalis NU Online A Muchlishon Rochmat mewawancarai Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Masduki Baidlowi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Komisi X DPR RI (Bidang Pendidikan) dan juga Ketua LP Ma’arif PBNU. Berikut hasil wawancaranya: Seperti apa pendidikan NU saat ini? Secara kuantitas, saya kira pendidikan NU tidak ada tandingannya. NU adalah ormas yang memiliki lembaga pendidikan terbesar di Indonesia. Sampai sekarang pendidikan NU terus berkembang. Faktor apa yang menyebabkan pendidikan NU begitu meruah? Pendidikan NU bisa eksis dan bertahan bahkan semakin banyak karena mentalitas kader-kader NU di bidang pendidikan sangat kuat. Itu didasari oleh etos kerja mereka yang tumbuh dari ajaran agama. Salah atu ajaran agama yang menjadi pegangan kader-kader NU dalam bidang pendidikan adalah bahwa menyelenggarakan pendidikan itu tanda dari ilmu yang bermanfaat. Di dalam hadis Nabi disebutkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah salah satu bekal amal ibadah yang pahalanya tidak putus-putus meski sudah meninggal. Dari ajaran agama itu, etos ini menjadi nilai yang hidup dan mengakar kuat di dalam diri Nahdliyin. Sehingga kalau kita tanya berapa jumlah sekolah, berapa jumlah madrasah, lembaga formal, informal, atau pun nonformal, pasti yang terbanyak orang NU.

Orientasi pendidikan NU itu seperti apa? Ilmu pendidikan zaman modern selalu mengaitkan bahwa output dari orang yang belajar adalah akses kerja. Pada dasarnya pendidikan itu ada input, proses, dan output. Di dalam standar pendidikan nasional, ada delapan output. Ouput adalah salah satu standar kompetensi kelulusan. Kalau ada mahasiswa S1 di bidang musik, dia bisa apa dan bekerja dimana. Kalau dulu tidak ada urusan yang seperti itu karena yang namanya bekerja itu adalah akibat dari proses hidup. Mereka bebas untuk hidup seperti apa, namun yang terpenting adalah mereka bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Sehingga orientasi pendidikan pada zaman itu betul-betul berorientasi pada proses. Kalau disebut-sebut bahwa pendidikan itu adalah proses memanusiakan manusia atau pendidikan karakter yaitu sebenarnya pendidikan NU.

Pendidikan karakter orientasinya adalah pada keteladanan guru. Standar Nasional Pendidikan (SNP) itu ada delapan. Yang 3 tidak terkait dengan guru, yaitu standar pendanaan, manajemen, dan sarana-prasarana. Sedangkan yang 5 selalu berkaitan dengan guru. Oleh karena itu, guru itu betul-betul merupakan kunci perubahan. Model pendidikan NU? Model pendidikan NU itu adalah model pendidikan yang sangat bagus. Dalam artian, saat kita mendidik orang itu jangan terlalu disibukkan outpunya tetapi lebih menyibukkan dengan bagaimana proses dari pendidikan itu, yaitu bagaimana memanusiakan manusia. Tujuannya? Ilmu yang bermanfaat adalah merupakan salah satu tujuan daripada pendidikan yang ada di NU. Minimal bermanfaat untuk diri sendiri, baru kemudian bermanfaat untuk orang lain. Makanya pendidikan di NU tidak pernah memikirkan tentang seperti apa sekolahnya akan dibangun. Misalnya seperti pesantren-pesantren besar NU yang ada saat ini itu tidak pernah memikirkan bagaimana membangun gedung, tetapi bagaimana seorang guru -yang punya pengaruh besar di dalam proses pendidika itu- tumbuh sebagai guru laku dan guru yang memberikan keteladanan. Oleh karena itu, jumlah pendidikan NU sangat banyak karena dua hal. Pertama, memegang teguh nilai ilmu yang bermanfaat dan yang kedua adalah berorientasi kepada proses penciptaan pendidikan karakter. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj selalu mengatakan bahwa kalau lahir dan sekolah di NU tidak akan ada yang menjadi teroris. Karena proses pendidikannya itu sangat menentukan bagaimana antara ilmu agama dihubungkan dengan adat istiadat setempat sebagai infrastruktur agama. Nah, yang menjadi pertanyaan adalah bagaiaman kalau konsep itu dihadapkan dengan orientasi pendidikan saat itu yaitu akses kerja? Kalau pola ini diterapkan sekarang, maka dianggap kurang berkualitas karena tidak pernah berfikir pada pasca proses. Pendidikan sekarang selalu dikaitkan dengan dunia kerja yang polanya terus berkembang sesuai dengan modernitas dan industri sehingga keahlian juga semakin tumbuh dan berkembang. Pendidikan keahlian-keahlian itu yang harus disiapkan oleh sekolah. Sehingga ukuran pendidikan disebut berkualitas atau tidak itu selalu dihubungkan dengan akses kerja. Kalau anda sudah terdidik di sebuah sekolah dan kemudian lulus, anda bisa apa dan diterima dimana. Itu pola pendidikan saat ini.

Lalu, bagaimana menghadapi itu? Karena sekarang harus berurusan dengan kualitas atau mutu dan pendidikan dihubungkan dengan kerja maka mau tidak mau NU juga harus melakukan penyesuaian-penyesuaian. Dan harus diakui bahwa dalam konteks ini NU agak tertinggal. Jadi untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian tujuan pendidikan, NU itu agak lambat dalam arti bahwa NU masih tetap saja berorientasi kepada dua hal dia atas, yaitu ilmu yang bermanfaat dan proses.

Bagaimana memperbaikinya? Harus segera dilakukan penyesuaian-penyesuaian. Banyak juga lembaga-lembaga pendidikan sekolah atau madrasah NU, lembaga-lembaga pendidikan pesantren NU yang sudah melakukan penyesuaian-penyesuaian. Tetapi secara keseluruhan bisa dikatakan bahwa belum sepenuhnya bisa karena begitu banyaknya jumlah lembaga pendidikan NU.

Terus, bagaimana caranya melakukan penyesuaian-penyesuaian tersebut dan harus dimulai dari mana?

Pertama kita bicara peran negara. Ada empat tujuan daripada didirikannya negara ini, diantaranya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini adalah tujuan utama dari bernegara dan ini kaitannya dengan pendidikan. Mencerdaskan itu bukan hanya pada aspek kognitif saja, kecerdasan itu kan mencerdaskan kehidupan. Artinya, implementasi dari ilmu pendidikan itu melahirkan kemudahan-kemudahan dan produktivitas-produktivitas dimana anak bangsa bisa dengan mudah menciptakan kesejahteraannya. Itu adalah kebijakan negara menciptakan kebijakan-kebijakan.

Derivasi dari tujuan bernegara ini, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, dirumuskan di dalam UUD 1945. Ada banyak pasal-pasal yang menjelaskan mengenai bagaimana cerdas dalam kehidupan. Intinya adalah pendidikan itu merupakan hak dasar bagi setiap warga negara yang harus disiapkan oleh negara. Oleh karena itu, negara wajib menyelenggarakan dan tidak boleh ada diskriminasi. Diskriminasi itu masih terjadi dimana-mana. Misalnya, sarana antara madrasah dan sekolah negeri beda, perlakuan di Papua dan di Jawa beda. Ini tidak boleh terjadi.

Kedua kita bicara internal. NU juga harus memperbaiki manajemen yang ada dan meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru yang mengajar di sekolah-sekolah NU.

DI MUSIM HUJAN, JANGAN BIARKAN HATI TETAP KERING

Seorang pembual tiba-tiba singgah di sebuah desa yang sedang diserang kemarau yang panjang selama beberapa waktu. Tak dinyana, dengan kecerdasan dan daya pikatnya yang tinggi, ia pun berjualan hujan di sana dan laku dibeli oleh sebuah keluarga yang terbawa oleh suasana panas kemarau.

Di sana ada seorang bapak, yang bagaimana pun caranya ingin menikahkan anak perempuannya yang belum juga kawin. Ada juga seorang lelaki yang berupaya menikahkan kakak perempuannya agar ia tak meninggalkan sopan-santun Jawa untuk tak melangkahinya. Tak elok kawin sebelum kakak perempuannya kawin duluan. Lalu ada lagi seorang lelaki yang terlalu terpaku pada catatan keuangan keluarga hingga saking perhitungannya ia pun lupa kawin pula.

Bintang Kejora (1986), sebuah film klasik yang dibintangi oleh El Manik dan Rini S. Bono, barangkali adalah sebuah film Indonesia yang kali pertama mengisahkan hujan—atau lebih khusus lagi: harapan.

Tak sebagaimana sajak-sajak tentang hujan Sapardi Djoko Damono yang mengemas hujan secara muram ala eksistensialisme, Bintang Kejora justru membawakan hujan sebagai sebentuk harapan.

Sebelum saya berkisah tentang kisah hujan itu ada baiknya saya sedikit berkisah tentang waktu dalam kaitannya dengan manusia. Barangkali, kesadaran manusia tentang waktu inilah yang membedakannya dengan makhluk lainnya.

Secara umum struktur kesadaran manusia normal terpilah dan terbentuk atas tiga hal: masa silam, kini, dan mendatang. Kesilaman itu terwujud dalam kenangan yang terpusat pada kekinian. Adapun mendatang berkaitan dengan harapan.

Seorang pemikir Prancis, Gaston Bachelard, menganalogikan kesadaran manusia dengan rumah: dapur, kamar mandi, tempat tidur, ruang tamu, dan dinding-dindingnya. Terkait dengan pemilahan saya, maka rumah sebagaimana yang dipahami Bachelard itu justru—menyangkut kesadaran manusia yang oleh Husserl disifati untuk selalu mengarah ke sesuatu (intensionalitas)—berada di masa silam dan mendatang.

Drama kehidupan manusia dalam perspektif agama misalnya, selalu meletakkan waktu kini sebagai “jalan” yang perlu dilalui dan dimanfaatkan untuk menuju rumah di masa mendatang yang, anehnya, justru menjadi tempat dari mana orang itu berasal (masa silam). Dalam bahasa agama hal itu direpresentasikan oleh sepenggal ungkapan “inna lillahi wa inna ilahi rajii’un”.

Setali tiga uang dengan berbagai sumber kearifan lokal. Dalam khazanah budaya Jawa terdapat ungkapan bahwa “urip mung mampir ngombe.” Bahkan dahulu pemahaman seperti itu terejawantah pula dalam bentuk arsitektural rumah Jawa. Di halaman depan selalu terdapat gapura di mana didekatnya ditaruh sebuah gentong berisi air. Gentong air itu diperuntukkan bagi para pejalan yang kehausan yang tengah melintas di depan rumah.

Ada beberapa catatan yang perlu dipahami di sini, tentang keterkaitan antara rumah sebagai analogi kesadaran dan air. Dalam berbagai bidang, air telah lama menjadi penanda resmi kehidupan. Konon kenapa manusia hidup di Bumi dan tak di Venus adalah karena volume planet yang pertama itu banyak diisi oleh air.

Pada mitologi Hindu, air identik dengan Wisnu yang dalam konteks konsep trimurti berkaitan dengan peran dan fungsi untuk memelihara. Pada kisah pewayangan, hanya para titisan Wisnu yang memiliki kembang wijaya yang dapat menghidupkan orang yang belum mati pada waktunya.

Secara eksistensial keterkaitan antara kesadaran dan air itu dapat dirasakan ketika orang sedang dipanggang oleh kemarau yang panjang. Dan ini menjadi bukti bahwa ada keterkaitan langsung antara jagad gedhe (makrokosmos) dan jagat cilik (mikrokosmos). Benarlah penggalan syair yang dinyanyikan oleh Elmanik di awal adegan film: “Jangan biarkan kemarau di hatimu.”

Apakah kemudian El Manik, yang dalam film itu bernama Bintang Kejora, tak pula menjadi korban dari keadaan, tak terusik olek lingkungan di mana ia berpijak? Sebermulanya ia tampak sebagai sosok yang jejeg suasana batinnya yang dapat mengubah keadaan keluarga Dahlia (Rini S. Bono) dan tentu pula keadaan sekitar.

Dengan bualannya itu ia mampu “mempermainkan” Sobrat, salah satu adik Dahlia, untuk tak terlalu serius dalam hidup hingga lupa bagaimana caranya tertawa. Dan terutama, dengan kepercayaan diri dan bualannya itu, ia mampu menundukkan Dahlia. Kakak perempuan Sobrat dan Sopan itu sedikit demi sedikit mulai tumbuh rasa percaya dirinya. Ia tak lagi seperti preman, mulai bersolek dan belajar tentang keanggunan.

Tapi begitu hujan tak turun sebagaimana yang dijanjikan, Bintang Kejora mulai gusar. Ia pun terjebak oleh keadaan. Dan ketika hujan itu tak turun-turun juga, Kejora mesti bersiap untuk diusir dari desa, untuk tak lagi dapat melepas lelah dan berumah. Sosok penumbuh harapan pun berganti pada si perawan kasep, Dahlia.

Dalam keputusasaan si Kejora, Dahlia meyakinkannya, setelah semua yang terjadi, setelah keadaan mulai berubah, entah si Kejora membual atau tidak, tak elok untuk meninggalkan gelanggang laiknya bukan pejantan. Dan hujan pun tiba-tiba turun membasahi desa itu. Semua bersorak girang dalam ranjapan air dari langit.

Sebagaimana kesadaran akan kesilaman dan kemendatangan, yang akan terang andaikata ada air yang oleh para sesepuh disebut sebagai ngelmu. Hanya dengan ngelmu itulah rumah itu akan ditemukan tanpa ketersesatan, dan bukannya dengan emas ataupun harta.

Mari, jangan biarkan hati kering. Mumpung musim hujan sudah tiba.