KECANDUAN GADGET SUDAH MENJADI FENOMENA MASYARAKAT

Suatu malam, saya menghadiri undangan hajatan tetangga. Jadi ceritanya, malam itu tetangga saja sedang mengadakan acara tahlilan, mendoakan anggota keluarganya yang sudah tiada. Saat acara sedang berlangusng, ada seorang tamu undangan yang begitu menyita perhatian saya. Mungkin bukan menyita perhatian, tapi lebih tepatnya mengganggu konsentrasi saya, dan kemungkinan konsentrasi para tamu undangan yang lainnya.

Pasalnya, tamu udangan yang duduk persis di belakang saya itu membawa ponsel yang tidak dinonaktifkan atau minimal disetting agar tidak mengeluarkan bunyi. Namun sayangnya, ponsel milik tamu udangan yang duduk di belakang saya itu tetap disetting berbunyi atau mode dering, sehingga setiap beberapa menit sekali akan terdengar suara notifikasinya. Bisa jadi, notifikasi tersebut bersumber dari WhatsApp, Facebook, atau media sosial dan laman media online lain di ponsel tersebut.

Sungguh saya merasa heran, di tengah suasana yang tengah berlangsung dengan penuh khidmat tersebut, dia seolah tidak merasa risih dan malu menyalakan notifikasi ponselnya. Menurut saya, hal itu kurang etis, karena selain mengganggu kenyamanan orang-orang yang berada di sekelilingnya, juga menjadi pertanda bahwa dia kurang menghormati tuan rumah. Sama tidak etisnya ketika ada orang yang nekad mengaktifkan ponsel saat dia sedang melaksanakan shalat berjamaah di dalam masjid.

  Selama ini, ketika saya sedang berada dalam suatu perkumpulan, undangan hajatan ataupun ketika takziah misalnya, saya berusaha untuk tidak membawa ponsel. Atau bila terpaksa membawa, saya tentu akan menonaktifkan notifikasinya agar tak menimbulkan suara saat ada pesan bahkan telepon yang masuk. Alasannya tentu bisa ditebak, salah satunya karena saya tidak mau menjadi pusat perhatian ketika sedang di tengah-tengah acara yang khidmat, tiba-tiba ponsel saya berdering atau selalu memperdengarkan ringtone notifikasinya.

Pernah saya menemui sebuah kejadian yang menurut saya tak pantas ditiru oleh siapa pun. Jadi ketika itu ibu saya baru saja meninggal dunia. Saat acara pemberangkatan jenazah sedang dimulai, di mana kondisi pada saat itu keluarga sedang berduka dan orang-orang sedang konsentrasi mendengarkan seorang kiai yang didaulat untuk memberangkatkan jenazah ibu saya ke makam, tiba-tiba ponsel milik salah seorang pelayat berdering, mengeluarkan ringtone lagu dangdut dengan volume tinggi pula.

Saya sempat berpikir begini; sesibuk apa sih kita ini, sampai-sampai ponsel yang kita miliki selalu berdering di mana pun berada? Tanpa mengenal situasi dan kondisi? Tanpa ada waktu untuk rehat atau jeda sejenak. Minimal dimatikan, dan ditaruh di rumah barang sesaat, untuk menghormati orang-orang yang mengundang kita?

Notifikasi Ponsel Mempengaruhi Kualitas Tidur

Berbicara tentang definisi notifikasi, bila merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, adalah pemberitahuan atau kabar tentang penawaran barang dan sebagainya. Bisa juga diartikan sebagai pemberitahuan oleh pemegang surat wesel kepada penarik tentang adanya penolakan pembayaran. Bila kita melihat definisi tersebut, berarti ‘notifikasi ponsel’ dapat diartikan sebagai pemberitahuan dari berbagai aplikasi yang tersedia di dalam ponsel milik kita.  

Saya sungguh merasa heran dengan orang-orang yang selalu mengaktifkan notifikasi ponselnya, tanpa pernah ingin mematikannya barang sekejap. Bahkan mungkin ada sebagian orang yang ketika sedang tidur pun notifikasi ponselnya tak dinonaktifkan. Padahal, ciri-ciri tidur yang berkualitas adalah tak terganggu dengan suara-suara yang bersumber dari sekeliling kita. Setiap orang tentu membutuhkan waktu istirahat atau jam tidur yang berkualitas, agar saat terbangun nanti tubuh terasa segar dan dapat kembali melakukan aktivitas dengan bugar dan fresh. Orang yang memiliki kualitas tidur yang buruk; sedikit-sedikit terbangun akibat suara yang bersumber dari notifikasi ponselnya (misalnya) maka biasanya saat bangun tidur tubuhnya terasa lesu dan akhirnya kurang bergairah melanjutkan aktivitasnya.

Ketergantungan Gadget  

Orang yang hidupnya selalu ketergantungan gadget, maka ia akan sulit terlepas dari ponselnya meski hanya beberapa menit saja. Ia seolah merasa kehilangan sesuatu dan ada bagian dari tubuhnya yang hilang saat tak menggenggam ponsel ketika sedang bepergian.

Orang yang hidupnya kecanduan gadget, menurut Nurudin, dalam buku Media Sosial, Agama Baru Masyarakat Milenial (2018) disebuat nomophobia. Nomophobia berasal dari kata no mobile phone phobia, yakni individu yang menjadi takut jika jauh dari telepon genggamnya. Nurudin melandasi keterangannya dengan penelitian yang dilakukan Secur Envoy di Inggris (2012) yang menyebutkan bahwa sekitar dua per tiga dari 1000 orang yang diteliti mengaku merasa takut jika kehlinagan atau hidup tanpa telepon genggam. Penelitian itu juga menyebutkan, kisaran umur yang mengidap nomophobia sekitar 18-24 tahun (77%), disusul responden usia 23-25 tahun (68%).

Lewat tulisan ini, mari kita bersama-sama merenungi, kira-kira seberapa banyak waktu yang kita habiskan untuk bermain ponsel setiap harinya, dan seberapa banyak waktu yang digunakan untuk beribadah dan beramal kebajikan? Bila ternyata waktu kita lebih banyak terbuang sia-sia di depan layar ponsel, mari mulai sekarang kita kurangi, selanjutnya perbanyak waktu untuk beramal kebaikan dan beragam aktivitas yang lebih bermanfaat. Wallohu a’lam bish-shawaab.

MENILIK TATANAN NORMAL BARU, APAKAH SIAP DENGAN SEGALA RESIKONYA?

Pemerintah mewacanakan kebijakan tatanan normal baru (new normal) yang merupakan cara hidup baru berdampingan dengan Covid-19. Terdapat kekhawatiran, jumlah kasus menjadi semakin tidak terkendali kalau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kembali dilonggarkan ketika jumlah kasus masih tinggi. Konsekuensinya, korban meninggal akan semakin bertambah atau situasi secara keseluruhan bukannya membaik, tapi berisiko memburuk.

Di sisi lain, masyarakat juga sudah bosan diminta tinggal di rumah lebih dari dua bulan tanpa kepastian sampai kapan hal ini berakhir. Aktivitas kerja dari rumah selama seminggu penuh tidak sepenuhnya efektif karena ada banyak hal yang harus dikerjakan di kantor. Penderitaan paling besar dialami oleh pekerja harian lepas atau mereka yang bekerja di sektor-sektor informal yang selama PSBB ini aktivitasnya ditutup. Tanpa upaya relaksasi, maka beban ekonomi yang ditimbulkannya semakin besar. Para ahli epidemi dan mereka yang berkecimpung dalam bidang kesehatan mengingatkan pemerintah akan dampak besar yang ditimbulkan dengan adanya pelonggaran ini jika waktunya belum siap. Mereka merupakan kelompok paling terdampak karena menjadi garda terdepan untuk merawat pasien yang jumlahnya semakin hari semakin banyak. Baru-baru ini viral di media sosial tagar “Indonesia Terserah” yang dilakukan oleh seorang tenaga medis karena keprihatinan banyak orang yang tidak mematuhi aturan PSBB. Sejumlah perawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Depok tertular Covid-19 sehingga memaksa polikliniknya ditutup. Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya juga ditutup karena jumlah pasien melebihi kapasitas perawatannya dan beberapa perawat tertular Corona.

Sementara itu, kalangan pengusaha menyambut gembira relaksasi ini karena selama periode PSBB, pendapatan mereka benar-benar tercekik sedangkan sebagian beban operasional dan cicilan pinjaman tetap harus dibayarkan. Semakin lama PSBB diterapkan, semakin besar risiko kerugian dan kebangkrutan yang harus ditanggung. Sebagian pekerja telah mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dan jumlah ini akan terus bertambah jika situasi tidak membaik. Tak mudah menciptakan keseimbangan antara berbagai kepentingan dalam situasi pandemi ini. Menciptakan kebijakan yang kurang tepat dengan hanya memperhatikan satu aspek saja, akan mengorbankan aspek lainnya. Sangat ketat melakukan pembatasan sosial demi alasan kesehatan, menimbulkan korban sektor ekonomi karena pemerintah juga tidak mampu memberi dukungan sepenuhnya terhadap kelompok yang terdampak pandemi.

Pelonggaran untuk menggerakkan sektor ekonomi pada saat pandemi masih tinggi atau tanpa panduan yang jelas dan kepatuhan masyarakat akan menimbulkan risiko peningkatan kasus baru. Kesadaran masyarakat yang rendah terhadap perilaku hidup yang bersih dan sehat berpengaruh besar terhadap penyebaran Covid-19. Jepang tetap menerapkan kehidupan normal dalam menghadapi pandemi ini karena dari dulu masyarakatnya biasa memakai masker dan menggunakan hand sanitizer atau berperilaku hidup sehat lainnya. Ditambah dengan sistem kesehatan yang bagus, hal ini mampu mengurangi tingkat penyebaran virus ini. Masyarakat Indonesia, baru belajar membudayakan diri dengan menggunakan masker ketika keluar rumah. Ada ketidaknyamanan yang dirasakan sehingga sebagian orang mengabaikan. Rutin menggunakan cairan pembersih tangan juga perlu pembiasaan. Dalam negara demokrasi yang masyarakatnya memiliki kebebasan berbicara, maka instruksi dan kebijakan pemerintah seringkali mendapatkan penentangan. Apalagi jika kebijakan yang diambil kurang konsisten. Bagi pihak oposisi, jika ada kebijakan yang kurang tepat, segera saja menjadi sasaran untuk melakukan kritik sementara jika ada kebijakan yang kurang pas, mereka diam. Berbagai kompleksitas persoalan ini menambah ketidakpastian sampai kapan Covid-19 ini akan berakhir di Indonesia.

Sejumlah negara yang menerapkan kebijakan yang tepat dan konsisten serta masyarakatnya patuh terbukti berhasil memenangkan pertarungan dengan Covid-19. Tak semuanya negara kaya dan makmur seperti Jepang atau Selandia Baru. Vietnam yang merupakan tetangga dekat Indonesia yang kapasitas ekonominya masih di bawah Indonesia sangat berhasil menekan penyebaran virus ini. Malaysia dan Thailand juga telah berhasil membatasi kasus penyebaran di negaranya sampai kemudian membuka kembali sektor ekonominya.

Sebelum kebijakan baru tersebut benar-benar dilaksanakan, protokol dan panduan yang diberikan harus sudah benar-benar jelas dan masyarakat memahami betul bagaimana melaksanakannya. Ini merupakan prasyarat supaya dampak yang diinginkan tercapai. Untuk memastikan masyarakat mematuhi berbagai protokol kesehatan, maka aparat memiliki peran sangat penting. Memahami protokol kesehatan bukan berarti mematuhinya. Karena itu, tanpa upaya penegakan aturan, maka sebagian masyarakat akan berperilaku sebagaimana biasanya, tidak dalam rangka ‘normal baru’ yang membiasakan hal baru di tengah pandemi.

Soal rencana pembukaan tempat ibadah harus jelas protokolnya, misalnya bagaimana pengaturan jarak antar-shaf saat shalat berjamaah. Bagaimana shalat Jumat tetap dapat dilaksanakan tetapi juga tetap aman secara kesehatan bagi para jamaah menjadi sangat krusial, dan lainnya. Termasuk di antaranya rencana pembukaan sekolah, madrasah, atau pesantren. Jika tidak dikelola dengan tepat, maka Covid-19 bisa menyebar di tempat-tempat belajar tersebut. Penanganan pandemi yang menyebar dalam skala masif ini merupakan pengalaman baru. Kita dapat belajar dari keberhasilan atau kegagalan negara lain. Kebijakan coba-coba tanpa prinsip kehati-hatian dapat menimbulkan bencana karena menyangkut nyawa banyak manusia. Masih banyak ruang yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah perluasan penyebaran virus ini tanpa menimbulkan risiko tambahan seperti memperbanyak tes dan pelacakan orang-orang yang berhubungan dengan orang yang terkena Covid-19, akses pengobatan yang lebih baik, perlindungan yang lebih maksimal kepada para tenaga kesehatan dan lainnya.

SIKAP BERBEDA AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH DENGAN JABARIYAH DI TENGAH PANDEMI COVID 19

Di tengah merebaknya virus Corona atau Covid-19, pemerintah dan beberapa organisasi kemasyarakatan (Ormas) termasuk Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan kebijakan untuk mengantisipasi penyebaran virus membahayakan itu. Seperti adanya pembatasan berkumpul, shalat Jumat yang sementara ditiadakan bagi daerah terdampak, dan lain sebagainya. Dalam praktiknya di lapangan, kebijakan-kebijakan itu diterima oleh masyarakat tidak dalam satu pandangan, bahkan kadang disalahpahami. Menyikapi kondisi tersebut, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Pringsewu, Lampung H Taufik Qurrahim menegaskan bahwa imbauan yang dikeluarkan adalah demi kemaslahatan bersama, bukan karena takut terhadap penyakit atau imbauan dari orang yang tidak beragama. “Kita yang memegang teguh Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) harus bersikap di tengah-tengah (moderat) dalam segala hal termasuk bila ada musibah. Tidak seperti kelompok Jabariyah yang hanya sepenuhnya terserah Allah. Meskipun salaman dengan penderita virus, tidak pakai masker, mendatangi dan menciumi korban, bila belum takdirnya juga tidak akan mati,” katanya kepada NU Online, Rabu (18/3).

Begitu juga Aswaja tidak seperti penganut Muktazilah yang berprinsip bahwa apa yang menurut akal dari kesehatan, dokter dan Lain-lain di ikuti bukan karena takdir Allah. “Kita penganut Asy’ariah Aswaja maka di tengah-tengah antara keduanya (Jabariyah dan Muktazilah) dalam menyikapi dan menghadapi bencana dan takdir ini.

Ikhtiar secara dhahir harus dilakukan. Ikhtiar secara batin, berdoa dan saling mendoakan sebagai tawakal kepada Allah pun harus di tambah,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa shalat berjamaah di masjid tetap dilakukan begitupun shalat Jumat di masjid masih bisa dilakukan. Namun kegiatan-kegiatan massal yang melibatkan massa besar seperti pengajian akbar dan sejenisnya harus mempertimbangkan mudlaratnya dan dijadwal ulang. “Bukan di bubarkan atau ditiadakan. Semua ini guna mengurangi penyebaran virus yang medianya bisa melalui manusia, air, angin dan alam,” jelasnya. Munculnya pemahaman salah terkait larangan atau imbauan beberapa ibadah yang dilakukan bersama-sama dibatasi bukan bentuk pelarangan beribadah. Semua ini dilakukan untuk menjaga jiwa dan raga dari bahaya Covid-19 yang hukumnya juga wajib. Ia pun menyampaikan penjelasan bahwa permasalahan yang sedang dihadapi saat ini adalah pergerakan virus yang cepat dan tak terdeteksi.

“Menurut para pakar di bidangnya, virus ini bergerak terlalu cepat dan tidak terdeteksi siapa pembawanya. Dan korban yang kena pun selama 5-7 hari tidak merasa dirinya kena virus karena tidak ada tanda-tandanya,” jelasnya. Virus ini juga tidak terdeteksi dengan alat detektor yang saat ini dipakai di bandara, kantor, RSU dan di tempat fasilitas umum. Dalam jangka waktu 5-7 hari penderita belum mengeluh panas, demam, sesak napas dan gejala kena virus ini.

Virus ini bisa menularkan pada orang lain sepuluh, dua puluh, seratus, dua ratus, dan seterusnya. Ia menyontohkan jika satu kelas ada satu penderita, maka bila ia bersin bisa semua anak dalam satu kelas kena virus ganas ini. Dan orang lain yang tidak bersalah karena berinteraksi langsung akan jadi korban dari satu kelas ini. “Mari kita patuhi anjuran-anjuran demi kemaslahatan bersama. Jangan lupa bersih-bersih tangan dengan alkohol, cleaner, detrol dan lain-lain, juga dengan berwudlu dan menjaga stamina prima agar imun terhadap virus,” ungkapnya. Taufik juga mengingatkan dan mengimbau masyarakat tidak mendatangi daerah yang terpapar virus dan menjauhi orang yang terkena virus. Semua merupakan ikhtiar secara lahiriyah yang akan banyak membantu orang lain. Ia mengingatkan bahwa berkerumunnya manusia dalam satu tempat, menjadi salah satu media penyebaran yang sangat cepat dalam penularan Covid-19. “Makanya sudah sebaiknya dihindari. Bukan dibubarkan,” tandasnya.

MAAFKAN CORONA, JANGANLAH DEKATI KAMI KARENA KAMI PETANI MISKIN YANG TAK KENAL LIBUR DAN SOCIAL DISTANCING

Corona, tolong, jangan mendekat! Karena kami tak mengenal waktu libur dan social distancing.

Awal Maret 2020, tanah air kita diguncang oleh satu fenomena wabah penyakit dengan wajah yang sangat menyeramkan. Ya, virus yang bertamu ke Indonesia ini awal mula muncul di Wuhan-China 2019 yang lalu. Berbagai media silih berganti menayangkan jumlah korban yang jatuh silih berganti karena terpapar dengan virus corona ini.

Beberapa Negara mulai melakukan pemutusan hubungan dengan Negara lain, karena penyebaran virus ini yang begitu cepat. Pemerintah ketakutan. Beberapa tulisan peringatan dan anjuran pemerintah tersebar luas di media sosial agar masyarakat menjaga jarak (social distancing) dan menggunakan alat pelindung (masker) kemudian selalu membersihkan tangan dengan anti septik.

Alhasil, pemerintah pun tak hanya memberi himbauan untuk selalu menjaga diri dan sanak keluarga, namun berbagai kegiatan seperti instansi, perkantoran, kampus, sekolah, untuk sementara waktu dihentikan, mengingat virus ini cepat menyebar karena kerumunan.

Berdiam diri di rumah menjadi hal yang heboh diperbincangkan di semua jaringan media sosial, karena ihwal itu yang menjadikan gerakan social distancing lebih efektif untuk mengantisipasi virus corona. Bahkan, di beberapa daerah mulai melakukan lock down atau karantina wilayah dengan tak memberi izin kepada perantau untuk memasuki daerahnya, pun bisa, harus mengkarantina diri dan wajib lapor kepada pejabat desa.

Namun rupanya ada beberapa kalangan yang sama sekali merasa bahwa tanah air seperti suasana biasa saja, seperti petani, yang menjalani aktivitas kesehariannya. Bangun subuh, kemudian menikmati segelas kopi dan sebatang rokok di tangannya, lalu pergi ke sawah. Penulis melihat, rupanya petani ini tetap segar bugar menjalani aktivitasnya, walau mungkin ketakutan itu tetap ada. Namun karena kebutuhan keluarga untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah, ia sama sekali tak mengenal kata social distancing. Ke sawah, ia tak memakai masker, apalagi menggunakan hand sanitizer. Sementara di berbagai kalangan sudah mulai meributkan harga masker yang naik drastis, APD yang langka, dan hand sanitiser buatan sendiri.

Kasihan petani, baginya tak ada waktu libur. Disaat semua orang mulai kaget dengan kondisi tanah air yang mulai sepi dan work from home yang entah sampai kapan hal itu diberlakukan, sementara petani dengan motor bututnya, golok di samping pinggulnya, dengan baju lusuh, ia tetap berangkat setiap pagi ke ladangnya masing-masing.

Mungkin petani sudah terbiasa, bahkan tidak kagetan. Di kebun, ia sudah terbiasa dengan menyemprot tanamannya menggunakan pestisida. Setelah itu, terkadang ketika makan pun tangannya tidak di cuci dengan sabun, namun tetap lahap saja menyantap makanannya.

Bukannya petani tidak waspada, namun adakah pemerintah yang memiliki perhatian kepadanya, dengan memberi jaminan memenuhi kebutuhannya sehari-hari jika menerapkan work from home atau social distancing? Adakah yang siap menanggung roda perekonomian para petani?

Bukannya masyarakat petani tidak mendengar himbauan pemerintah, namun adakah di antara kita yang berada di posisinya di saat istri dan anak mulai kelaparan? jangankan dalam menghitung bulan untuk tidak beraktivitas atau berdiam diri, sehari saja, mereka agaknya resah, karena memikirkan penghasilan keluarganya.

Tak bisa membayangkan jikalau petani yang terpapar virus corona, selain mendapat beban psikis dengan lontaran hujatan dari berbagai kalangan karena tidak menaati himbauan pemerintah, wong padahal kenyataannya, petani juga ingin istirahat, bercanda bersama istri dan anak. Diam di rumah aja. Namun apalah daya, petani tetaplah petani, bekerja demi keluarga demi menyambung kelangsungan hidupnya. Ia tetap ke sawah, memanggul cangkul, dengan penuh harap agar corona tidak mendekatinya.

MUNAJAT DAN TAFAKKUR DI BALIK HIKMAH PANDEMI COVID-19

Hari-hari ini kita berada dalam situasi krisis global. Krisis yang mungkin belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Sementara orang menganggap kita tengah dalam situasi perang. Namun lawan kali ini tidak lazim, ia tak kasat mata, bukan lantaran ia makhluk suprarasional, melainkan saking kecilnya.

Ia juga tak laiknya musuh yang berdiri tegap menenteng senjata atau alat peledak lainnya. Namun biar pun begitu, ia tetap memiliki daya mortalitas yang cukup mengkhawatirkan. Makhluk itu bernama covid 19 (corona virus disease). Sebuah virus yang mudah menular, dan ngerinya, orang yang terpapar tidak kesemuannya mengalami gejala atau mengetahui kalau dirinya telah terpapar dan oleh karenanya ia bisa menjadi carrier atau pembawa virus yang bisa menulari orang di sekelilingnya jika ia tak mengisolir dirinya sendiri.

Demi memutus rantai penularan dan persebarannya, maka muncullah seruan social distancing dan belakangan diubah menjadi physical distancing  yang artinya menjauhi segala bentuk kerumunan dan pertemuan fisik jarak dekat. Seruan ini kemudian lazim menjadi tren tagar #dirumahaja. Hal ini sebagai bentuk ikhtiar untuk menyelamatkan sebanyak mungkin manusia dari paparan virus tersebut. Namun himbauan ini bukan tanpa sandungan dan aneka resistensi. Alih-alih ikut mendukung seruan pemerintah yang juga ditunjang oleh medis, masih saja ada pihak-pihak yang antipati atau bahkan menggugat seruan tersebut.

Mengutip pendapat Prof Masdar baru-baru ini di kolom Opini Kompas  (4/4/20), alasan yang menjadi batu sandungan dalam seruan physical distancing adalah: anakronisme sosial-budaya dan anakronisme pemahaman keagamaan yang kontraproduktif dengan situasi. Istilah Pertama maksudnya adalah ketidaktepatan meletakkan sikap kumpul-kumpul, bergerombol dan doyan gotongroyong secara fisik dalam situasi semacam ini. Masih ada banyak pihak yang susah menerima kenyataan yang telah mengakar di alam batin mereka bahwa watak berkumpul dan kongkow adalah budaya yang susah mereka jinakkan meski dalam situasi intaian persebaran virus yang massif semacam ini. Secara gamblang mereka abaikan seruan untuk sejenak mengubah kebiasaan berkumpul untuk sementara waktu demi kemaslahatan publik.

Sedangkan istilah kedua mengacu pada ketidaktepatan pemahaman teologi bahwa pandemi semacam ini ialah suratan Ilahi yang tidak perlu ditakuti berlebihan. Sebab hidup dan mati sudah ditulis secara pasti berikut kapan, di mana dan oleh alasan apa. Maka mereka cenderung apriori terhadap diseminasi virus, oleh karena itu, mereka tidak mengindahkan seruan #dirumahaja. Seakan-akan mereka menganggap bahwa manusia tidak dibekali akal, dan segala sumber daya sama sekali untuk ikut “merundingkan” nasibnya. Kedua alasan inilah –yang menurut Prof Masdar Hilmy- menjadi kendala serius dalam usaha memutus persebaran virus covid 19 di tengah-tengah masyarakat kita.

Padahal jika kita mau membuka mata dan hati secara lebih jernih, betapa momentum #dirumahaja semacam ini sungguh bisa kita temukan keteladanannya dari diri Nabi Muhammad SAW, meskipun harus kita kontekstualisasikan wujudnya. Memang Nabi Muhammad tidak pernah berjumpa dengan Covid 19 yang harus membuatnya #dirumahaja. Namun beliau juga pernah melakukan social distancing bahkan physical distancing  kala ‘uzlah di Gua Hira.

Seperti yang telah diberitakan oleh Assyahid Muhammad Said Ramadhan al-Buty, ulama kenamaan asal Siria. Bahwa jiwa akan terjerembab dalam keburukan hingga ia melaksanakan uzlah dan khalwat atau berjarak dan menyepi dari kerumunan manusia lain. Lalu mengisinya dengan muhasabah (instrospeksi) dan muraqabah (mendekatkan diri kepadaNya), serta berkontemplasi tentang alam raya dan keagungan ciptaanNya.

Lebih lanjut, dalam Fiqh Sirrah Nabawiyyah, Syaikh Buty menjelaskan bahwa sifat sombong, ‘ujub, hasud, riya’, cinta dunia adalah sikap-sikap yang dapat membahayakan manusia. Sedangkan obat dari marabahaya tersebut ialah menyepi seraya bertafakkur dan mengakui betapa lemahnya diri kita di hadapan Sang Khaliq. Tanpa pertolongan, anugerah dan hidayahNya, niscaya kita tak mampu meraih petunjukNya dan aneka kenikmatan lainnya. Momentum menjauhi keramaian juga bisa gunakan untuk bertafakkur atas keagunganNya, atas kondisi di hari akhir kelak, juga bagaimana menyeramkannya hari perhitungan amal yang ujungnya ialah luasnya rahmatNya atau dahsyatnya siksaNya.

Hikmah lain dari kita menjauhi keramaian dan tetap #dirumahaja adalah untuk melatih diri kita untuk mahabbah kepadaNya. Sebab kata Syaikh Buty, kecintaan kepadaNya tidak bisa hanya dengan bekal Iman yang berbasis Akal semata. Wasilah mahabbah kepadaNya setelah Iman adalah dengan memperbanyak perenungan tentang segenap kenikmatan dan merasakan gelegar keagunganNya melalui ayat-ayat kauniyah atau kebesaran ciptaaNya dan dengan memperbanyak zikir baik melalui hati dan lisan. Sudah barang tentu ini semua memerlukan kondisi yang hening dan distancing atau jarak dari segala kebisingan duniawi (Ramadhan Buty: 1991, 93).

Hal ini mustinya menjadikan kita sadar, betapun pandemi ini begitu menyiksa kita semua, namun tetap ada hikmah yang mengiringinya. Seruan physical distancing ini patut kita indahkan, setidaknya sekali sumur hidup saja, kita pernah melakukan hal yang sama seperti yang pernah dilakukan oleh Nabi junjungan kita semua. Meski kita tahu, sudah barang tentu kualitas ‘uzlah atau menyepi yang kita lakukan tidaklah sebanding dengan beliau. Namun demikian, ajakan berdiam diri di rumah ini marilah kita jadikan momentum untuk simulasi ‘uzlah kecil-kecilan ala Nabi, ya.. paling tidak kita sebut ‘uzlah di era 4.0. Sebab, -masih mengutip Syaikh Buty – hakikat dan manfaat dari Khalwat atu menyepi adalah obat untuk memperbaiki diri, itu kata beliau.

Agaknya saya perlu menambahinya, betapa saat kita lebih banyak berdiam di rumah seperti saat ini, bukan diri kita saja yang bisa kita perbaiki, namun bumi pun bisa kita perbaiki. Semoga!

JANGANLAH MEMPREDIKSI BERAKHIRNYA COVID-19 DENGAN HADITS NABI SAW.

Seseorang membagikan sebuah video di WAG yang saya ikuti di kampung. Dalan video itu tampak seseorang lelaki muda memakai jubah hitam, seperti jubah khas Saudi, dengan kopiah putih. Latar belakangnya perpustakaan yang penuh dengan kitab berjilid-jilid. Semua itu mendukung sekali ceramah singkatnya yang berjudul “Corona Berakhir Menurut Hadits”.

Di sebelah kiri bagian bawah, ada info IG dan FB dia, dan nama sebuah yayasan. Tapi semua itu tidak perlu disebutkan di sini. Saya tidak tahu seberapa banyak video itu di-share dan ditonton. Tetapi, sebagaimana video lain, hampir dapat dipastikan ada yang mempercayainya, lalu dalam sekejap menjadi bagian obrolan.

Saya tertarik menanggapi video ini, karena kontennya menurut saya menyesatkan, terutama secara historis dan ilmiah. Kesalahan historis dan ilmiah ini membuat pemahaman tentang hadis tersebut, dan pemahaman masyarakat tentang wabah yang sedang melanda jadi kacau..

Agar jelas, saya kutip langsung perkataannya secara agak detail.

“Banyak orang bertanya-tanya, kapan wabah ini, virus corona ini berakhir. Jawabannya disebutkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya ‘Musnad’, kumpulan kompilasi hadis-hadis Rasulullah saw. Rasulullah saw menjawab: ‘Idza thala’a al-najmu dza shabahin rufi’at al-‘ahadu’ (sic!, penceramah menyebut kata al-‘ahadu berkali-kali, bukan al-‘ahatu/al’ahah), apabila suatu saat nanti muncul bintang di satu pagi, pada pagi hari, maka akan diangkatlah segala macam wabah, virus, yang menular, yang memakan korban secara massal….”

Lalu dia menjelaskan dengan mengutip pendapat Syaikh Ahmad Abdurrahman al-Banna’ al-Sa’ati dalam kitabnya “Al-Fath al-Rabbani Li Tartibi Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal al-Syaibani,” bahwa yang dimaksudkan dengan al-najmu (bintang) ini adalah bintang Tsurayya. Dengan merujuk kepada Imam ibnu Mulaqqin, bintang ini akan muncul pada permulaan bulan “Ayyar” (harusnya “Iyar”), yakni bulan Mei. (Catatan: Iyar adalah penanggalan Ibrani, yang biasanya jatuh pada bulan April-Mei).

Lalu dia mulai menghitung, “Ini bulan April. Mudah-mudahan orang yang pada mau pulang kampung, orang yang pada punya urusan, semuanya akan kembali normal kembali” pada bulan berikutnya, yakni Mei. Dia juga menambahkan, bahwa menurut Syaikh Al-Sa’ati, ini “rufi’at niha’iyyan, … diangkat secara total… Wabah penyakit menular akan hilang dari alam dunia ini.”

Selanjutnya dia berdoa mudah-mudahan “prediksi Rasulullah saw… yang berdasarkan wahyu” benar-benar membawa kegirangan dalam diri kita. Kemudian dia menambahkan pendapat Syaikh al-Sa’ati, bahwa “bala’ itu maksimal menimpa suatu negeri tidak lebih dari lima puluh hari.” Dan menurut Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani dan Imam Badruddin al-‘Aini, dalam Syarh Shahih Bukhari, “Wabah ini akan terangkat ‘inda-sytidadi al-harri fi awwali al-shaifi”, ketika masuk musim panas.” Semua bala akan Allah angkat. Ini yang dia sebut sebagai kabar gembira yang datang dari Rasulullah.

Penjelasan penceramah dalam video tampak meyakinkan, apalagi didukung dengan jubah dan latar belakang kitab yang berjilid-jilid. Tetapi sebenarnya pemahamannya bermasalah secara mendasar.

Pertama, apakah benar penerjemahan kata al-‘anah dengan “wabah, virus, yang menular, yang memakan korban secara massal”? Hadis yang dia kutip disebut benar ada dalam Musnad Ahmad dalam Kitab Khalq al-Alam (Kitab Penciptaan Alam), Bab Ma Ja’a fi al-Syamsi wa l-qamari wa l-kawakib (bab tentang matahari, bulan dan bintang-bintang), dengan redaksi “Idza thala’a al-najmu dza shabahin rufi’at al-‘ahatu” (ketika bintang itu terbit maka dihilangkanlah al-‘ahah).

Penerjemahan al-‘ahah dengan wabah, virus, yang menular, yang memakan korban secara massal” adalah berlebihan dan tidak benar. Al-‘ahah dalam Mu’jam al-Wasith diartikan sebagai “bahaya atau penyakit yang menimpa tanaman dan ternak.” Tapi ada juga yang menambahkan manusia juga, dalam pengertian sakit pada bagian tubuh tertentu atau disabilitas fisik (ahadu a’dha’i al-insan) atau bahaya atau sakit yang tampak mata (Al-Mu’jam al-Ra’id, Al-Mu’jam al-Ghani).

Terkait ‘ahah yang mengenai ternak terdapat dalam hadis: “la yuridanna dzu ‘ahatin ‘ala mushihhin,” Janganlah sekali-kali mencampurkan unta yang menderita penyakit (dzu ‘ahah) dengan unta yang sehat.” (HR Muslim 2221 dan Abu Dawud 3411). Dalam hadis Bukhari (5775) dan Muslim (2221) disebutkan dengan redaksi sedikit berbeda, “La yuradu mumridhun ‘ala mushihhin,” janganlah mencampur unta yang sakit dengan unta yang sehat.

Di antara penyakit (‘ahah) unta yang eksplisit disebutkan adalah sakit kudis. ”Wahai Rasulullah, sekelompok unta berada di tengah padang pasir, kemudian masuk kedalamnya unta yang terkena kudis dan menular ke unta yang lain maka Rasulullah saw bersabda: ”lantas siapakah yang menularkan pertama kalinya? (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebagian ulama menjelaskan bahwa pertanyaan retoris Rasulullah itu untuk membantah keyakinan mereka tentang penularan natural, bahwa yang menularkan pertama kali adalah Allah. Dengan tanpa mengurangi keyakinan Allahlah penyebab pertama penyakit, pertanyaan Rasulullah ini sangat ilmiah, bahwa perlu dilacak penyebar penyakit sebelumnya, dan jika mungkin yang pertama menyebarkan. Teknologi ilmiah belum memungkinkan saat itu.

Kata ‘ahah dalam konteks tanaman, terutama buah-buahan, ada dalam hadis yang juga tercantum syarah al-Sa’ati. Syaikh al-Sa’ati mengutip hadis yang sedikit berbeda yang diriwayatkan Abu Dawud dari jalur Atha dari Abu Hurairah secara marfu’:

“Idza thala’a al-najmu shabahan rufi’at al-‘ahatu, apabila terbit bintang itu pada waktu pagi maka al-‘ahah akan terhapus.”

Tetapi, hadis itu tidak dipergunakan al-Sa’ati untuk menjelaskan wabah penyakit menular, sebagaimana penceramah itu, tetapi penyakit buah-buahan. Hadis ini dipergunaksn al-Sa’ati untuk mensyarahi hadis yang dalam Musnad Ahmad masuk dalam Bab al-Nahy ‘an Bay’ al-Tsamrati qabla Yabdu Shalahuha (Larangan Menjual Buah Sebelum Tampak Kualitas Baiknya). Bab tentang hukum dan etika jual beli! Begini hadisnya:

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw melarang penjualan buah-buahan, “hatta tabdu shalahuha, sampai tampak kualitas baiknya.” Ibnu Umar mengatakan, mereka (para Sahabat) bertanya, ‘Apa itu shalahuha (kualitas bagusnya)?’ Rasulullah menjawab, ‘Apabila hilang penyakitnya (‘ahatuha), dan jelas baik (thayyib)-nya.’”

Dalam hadis lain, Utsman bin Abdullah bin Suraqah bertanya kepada Ibnu Umar tentang penjualan buah yang berpenyakit, maka dia berkata: “Rasulullah melarang penjualan buah-buahan sehingga hilang penyakit (‘ahah)-nya. Saya bertanya, “Kapan itu?” Rasulullah berkata, “Sampai terbitnya bintang Tsurayya.” Mengapa Tsurayya?

Hadis yang terkait dengan bintang Tsurayya berkaitan dengan ‘ahah buah-buahan, sedangkan hadis yang terkait dengan ‘ahah hewan atau unta, tidak dikaitkan dengan terbitnya Tsurayya. Hanya disebutkan agar unta yang sakit tidak dicampur dengan unta yang sehat. Hadis tentang ‘ahah buah-buahan menjelaskan tentang fakta pada masa Rasulullah (abad ke-7 Masehi) di Hijaz, bahwa ada penyakit buah-buahan yang kadang menyerang perkebunan pada musim dingin, tetapi akan hilang pada awal musim panas.

Ini dikuatkan oleh informasi yang sebenarnya disebutkan dalam syarah al-Sa’ati juga, bahwa munculnya bintang Tsurayya pada awal shaif (musim panas) itu tanda saja bagi memuncaknya panas di tanah Hijaz (isytidati al-harr fi bilad al-Hijaz) dan permulaan matangnya buah (ibtida’ nadhj al-tsamar). Bukan karena Tsurayya maka panas bumi meningkat dan penyakit tumbuhan mati, apalagi ramalan. Bahkan Syaikh al-Sa’ati berpendapat bahwa saat itu buah-buahan ‘sudah matang’, bukan permulaan matang. Kalau dikembalikan kepada hadis tentang berjualan buah-buahan, maka ini sejalan dengan etika perdagangan, bahwa dilarang menjual barang yang mengandung ghurur (penipuan), misalnya mengandung penyakit atau masih belum matang.

Ada beberapa hadis tentang ‘ahah yang dikaitkan dengan manusia, seperti: “Sesungguhnya apabila Allah ta’ala menurunkan ‘ahah (penyakit) dari langit kepada penduduk bumi maka Allah menjauhkan penyakit itu dari orang-orang yang meramaikan masjid”. (HR. Ibnu Asakir dan Ibnu Adi). Atau: “Apabila Allah menghendaki ‘ahah (penyakit) pada suatu kaum, maka Allah melihat ahli masjid, lalu menjauhkan penyakit itu dari mereka.” (HR. Ibnu Adi, al-Dailami, dan al-Daraquthni) tetapi masuk dalam kategori hadis-hadis dhaif (lihat Mawsu’ah al-Ahadits wa al-Atsar al-Dha’ifah wa al-Mawdhu’ah). Di sini pun ‘ahah adalah penyakit umum, walau bisa menular.

Kedua, apakah benar hadis ini adalah hadis prediksi (ramalan), sehingga dapat diterapkan untuk memprediksi kapan berakhirnya covid-19, yakni awal bulan Mei 2020?

Jawabnya tidak benar. Anggapan hadis ini sebagai ramalan telah gugur dengan fakta-fakta sejarah. Pendapat bahwa kalau bintang Turayya itu muncul “wabah, virus, yang menular, yang memakan korban secara massal” diangkat selamanya, dan bahkan dikatakan diangkat dari semua negeri secara total sekali bertentangan dengan fakta sejarah.

Sejarah telah menyaksikan wabah penyakit menular pada masa Umar bin Khattab wabah di Syam, yang korbannya puluhan ribu, termasuk di dalamnya beberapa sahabat senior. Bahkan wabah tha’un pada 357 H mencapai Mekkah. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibn Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, terjadi wabah besar di Mekkah pada saat musim haji. Banyak jamaah yang meninggal sebelum sampai Mekkah, sehingga sedikit yang dapat berhaji, dan dari yang sedikit ini, banyak yang meninggal setelah haji. Setelah itu masih terjadi wabah-wabah lain dengan korban yang besar juga, baik di dunia Arab maupun di luarnya, yang tidak perlu saya sebutkan di sini, karena sudah banyak ditulis akhir-akhir ini.

Berdasar pada hadis-hadis yang menggunakan kata ‘ahah, menjadi jelaslah bahwa istilah ini terkait dengan penyakit buah-buahan dan ternak yang memang bisa menular, tetapi bukan dalam pengertian wabah penyakit yang mematikan. Dalam hadis tentang buah-buahan, ‘ahah itu semacam wereng (serangga dengan ukuran sebutir beras), dan terkait hewan, penyakit kudis pun disebut sebagai ‘ahah. Kalau ‘ahah dalam konteks manusia terkait dengan penyakit secara umum, walau bisa menular. Sementara itu, untuk wabah berbahaya yang meluas, Rasulullah menggunakan kata waba’ (asal kata wabah dalam bahasa Indonesia) dan tha’un.

Tentu kita berharap wabah Covid-19 ini segera berakhir, namun menganggap hadis tentang terbitnya bintang Tsurayya sebagai ramalan berakhirnya Covid-19 pada bulan Mei merupakan pemahaman yang mengada-ada, manipulatif serta pemerkosaan terhadap hadis Nabi. Wallahu a’lam bi sh-shawab.

WORD WAR FILM, MEREBUT KEMANUSIAAN DI TENGAH WABAH

Covid-19 mengingatkan kita pada film World War Z (2013). Film yang merepresentasikan gambaran bagaimana satu pandemi meruntuhkan seluruh tatanan dunia. Wabah rabies yang pelahan menjangkiti dunia ditengarai berasal dari virus misterius yang belum diketahui dari mana asalnya. Efek yang ditimbulkan oleh pandemi digambarkan secara apik dalam film ini.

Manusia yang terkena virus berubah menjadi makhluk semacam “binatang” yang kelaparan dan mencari mangsa. Mangsa yang dimaksud adalah manusia lain yang dijangkiti dengan cara digigit. Setelah terjangkit, mereka pun  berubah menjadi sesosok mayat hidup (zombie) yang berjalan di atas dunia. Sosok manusia tak lagi menjadi manusia.

Gerry Lane (Brad Pitt), mantan penyelidik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan Dr. Fassbach (Elyes Gabel), ahli virus, kemudian ditugaskan oleh wakil sekretaris PBB, Thierry Umutoni (Fana Mokoena) untuk menyelidikinya. Sang wakil sekretaris PBB itu yakin bahwa andaikata sumber virus tersebut ditemukan, maka vaksin anti-virus akan dapat di buat.

Humphreys yang berada di Korea Selatan merupakan tempat penyelidikan pertama mereka. Hal itu karena adanya e-mail yang menyebutkan istilah “zombie” dalam sebuah memo yang berasal dari tempat tersebut. Tapi sayangnya, sang ahli virus tewas saat dalam perjalanan menju Camp Humphreys. Gerry lantas melanjutkan penyelidikan tentang keberadaan virus itu seorang diri.

Melalui berbagai aksi yang dilakukannya, sang mantan penyelidik PBB itu mencoba melacak jejak bagaimana virus misterius itu bermula. Sampai akhirnya ia merasa terpanggil untuk mencari solusi atas bencana kemanusiaan tersebut.

Upaya menyelamatkan umat manusia tak digambarkan melalui pengobatan pada mereka yang telah menjadi zombie, tapi dengan mencari metode yang tepat untuk menyelamatkan mereka yang masih selamat.

Senjata Biologi Penghancur Kemanusiaan

Tubuh manusia yang telah terinfeksi virus digambarkan dapat berubah menjadi sesosok “binatang.” Transformasi ini dapat dimaknai sebagai simbol kehancuran hakikat tatanan kemanusiaan. Tubuh manusia yang telah terinfeksi tetap dapat bergerak layaknya manusia, tapi berbagai kemampuan yang dimilikinya akan hilang. Efek agresifitas yang muncul karena terjangkiti virus tersebut seperti halnya binatang yang mengejar mangsanya.

Demikianlah adagium homo homini lupus menemukan maknanya, baik secara literal maupun metaforis. Manusia adalah manusia andaikata ia memiliki sistem kontrol atas diri dan kehidupannya. Hal ini diperlihatkan dalam berbagai peristiwa penyerangan para zombie pada manusia lainnya.

World War Z memperlihatkan berbagai representasi efek virus pada tubuh manusia. Tubuh yang terkontaminasi akan berubah menjadi sosok yang brutal dan ganas. Mereka menyerang dan memburu manusia normal lainnya dengan cara menggigitnya. Tubuh yang telah tergigit untuk selanjutnya akan mengalami kejang-kejang dan dalam hitungan detik akan bertransformasi pula menjadi menjadi zombie.

Tak ayal lagi, virus adalah makhluk metaorganisme yang merupakan bentuk peralihan antara benda mati (yang memiliki sifat dapat dikristalkan) dan mahluk hidup (karena dapat berkembang biak) di mana tubuhnya terdiri dari asam nukleat. Virus membutuhkan makhluk hidup lainnya untuk berkembang biak. Hal ini dikarenakan ia tak memiliki sel yang merupakan syarat untuk melakukan reproduksi.

Dalam film besutan Mark Foster tersebut digambarkanlah efek serangan virus yang secara spesifik memengaruhi sistem syaraf otak.Sebagaimana yang diketahui, otak adalah pusat dari berbagai kemampuan di mana tubuh manusia dapat di kontrol. Melalui otaklah berbagai informasi tentang tatanan budaya, politik, agama, dst., disimpan dan dipahami. Oleh karena itu, andaikata otak tersebut rusak, maka rusak pula segala tatanan dunia.

Runtuhnya Ideological State Apparatuse (ISA)

Efek dari virus yang merubah manusia menjadi zombie adalah hilangnya berbagai tatanan masyarakat. Dalam film ini dikisahkan bahwa wabah tersebut segera tersebar ke seluruh benua. Berbagai wilayah yang penduduknya sudah menjadi mayat kehilangan pula Ideological State Apparatuse (ISA).

ISA berhubungan erat dengan berbagai proses reproduksi yang membangun mekanisme produksi antara pekerja dan sistem upah. Hal ini mewujud dalam bentuk berbagai struktur pengetahuan manusia tentang dirinya dan lingkungan sekitarnya.

Dengan berubahnya manusia menjadi zombie akibat implantasi virus, maka pada saat yang sama sistem pengetahuan itu pun menjadi hilang. Tak ada lagi tata aturan ataupun perundangan yang dapat mengontrol dan mengarahkan manusia untuk produktif atau berfungsi secara kapitalistik. Kondisi ini menyebabkan hancurnya berbagai wilayah di mana manusia itu tinggal.

Kehancuran berbagai infrastruktur yang menyokong daya produksi di kota-kota besar adalah sebuah representasi runtuhnya berbagai tatanan di tingkat suprastruktur yang memuat ideologi, hukum, politik, cara pandang, sistem nilai dan sistem kepercayaan.

Dengan kata lain, dalam perspektif Marxian klasik, para manusia yang telah menjadi zombie tak lagi dapat mengaktualisasikan potensinya dengan bekerja di mana kemanusiaannya menjadi termanifestasikan. Mereka tak lagi memiliki akses baik secara mental maupun fisik dalam sistem mekanisme pasar yang telah dikembangkan manusia selama ribuan tahun.

Dalam film World War Z secara gamblang digambarkanlah hilangnya otoritas dan tatanan sipil  negara. Otoritas yang dimaksud tak hanya pada dimensi politik atas wilayah fisik melainkan juga secara kultural. Hal ini ditandai oleh berbagai pengambaran keadaan chaotic.

Hilangnya tatanan sipil dan pasar diperlihatkan dalam berbagai bentuk dan kondisi ini terjadi di seluruh dunia. Ada beberapa negara di mana dalam film tersebut diceritakan telah kehilangan otoritas: Amerika Serikat, Israel, Korea Selatan, India, Srilanka dan bahkan seluruh belahan benua Eropa.

Berbagai wilayah telah berubah dari tatanan masyarakat sipil menjadi dunia liar yang dihuni para zombie. Berbagai tempat yang semula aman dan nyaman bagi kehidupan manusia berubah menjadi tempat yang mencekam. Manusia yang masih hidup seolah hanya memiliki dua pilihan: bertahan hidup dengan cara apapun atau menyerah (menjadi zombie).

Pertama, pada adegan di mana keluarga Gerry berada di NJ Mart Supermarket yang terletak di Netwark, New Jersey. Mereka melihat bahwa kondisi tempat itu telah menjadi chaos. Penjarahan supermaket dapat menjadi simbol atas hilangnya otoritas kontrol pasar. Seperti lazimnya, pasar modern memiliki mekanisme jual-beli dengan standarisasi dan aturan tertentu.

Kondisi chaos sosial pada masyarakat menyebabkan mekanisme itu tak terjadi. Hilangnya otoritas dapat pula disaksikan pada sebuah adegan di mana sesaat setelah Gerry menembak seorang pria untuk melindungi istrinya dari penyerangan, tiba-tiba seorang polisi menghampiri mereka. Tapi polisi itu tak melakukan tindakan apapun. Ia justru melewati Gerry dan melakukan hal yang sama seperti orang lainnya: menjarah barang di supermarket. 

Kedua, hilangnya otoritas direpresentasikan pula melalui berbagai scene yang memperlihatkan hilangnya berbagai simbol kehadiran negara. Kejatuhan Washington D.C., sebagai ibu kota Amerika Serikat ditandai oleh semua orang yang berubah menjadi zombie.  Penanda lain adalah tewasnya Presiden Amerika Serikat karena telah menjadi mayat hidup.

Hanya beberapa orang saja yang selamat. Tapi meskipun demikian, manusia yang tersisa masih mempertahankan otoritas kekuasaannya melalui pembentukan pemerintahan darurat di sebuah kapal perang yang berada di tengah laut: U.S.S. Argus. Secara spesifik tempat itu menjadi Kantor darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ketiga, hilangnya otoritas negara yang lain adalah pada berbagai scene yang berlokasi di Israel. Kota yang semula terasa aman ternyata bukanlah tempat yang aman bagi perlindungan manusia. Informasi selanjutnya adalah melalui mekanisme pertahanan diri “dinding kota Yerusalem.”

Seorang perwira tinggi Mossad (lembaga intelijen Israel), Jurgen Warmbrun mengaku pada Gerry bahwa ia tahu tentang pandemi virus jauh sebelum hal itu terjadi. Mossad mendapatkan informasi dari pembicaraan seorang jendral di India perihal kehadiran Rakshasha yang diterjemahkan olehnya sebagai zombie atau yang tak dapat mati.

Dengan membangun tembok Yerusalem, perwira tinggi itu berharap dapat menyelamatkan sebanyak mungkin manusia. Dengan demikian, tembok kota Yerusalem dibangun dengan tujuan untuk menahan para zombie agar tak sampai ke pemukiman manusia.

Tapi upaya ini gagal, karena para zombie berhasil menembus tembok pertahanan. Alih-alih menjadi tempat perlindungan, kota Yerusalem justru menjadi ajang perburuan para zombie untuk menggigit manusia sehat agar dapat menjadi para inang virus tersebut.

Setelah kematian Dr. Fassbach, Gerry terus melanjutkan penyelidikannya atas sumber virus. Ia menyadari bahwa mereka yang telah terkontaminasi virus sesungguhnya telah mati dan tak lagi dapat diselamatkan. Upaya pencarian solusi oleh mantan penyelidik PBB itu pun berujung pada upaya mencari cara bagaimana mencegah virus itu untuk tak menyebar dan menjangkiti banyak manusia lainnya.

Berdasarkan temuan Gerry atas berbagai upaya pertahanan diri yang telah dilakukan manusia, ia pun menemukan bahwa semua upaya itu tak efektif untuk menghancurkan pasukan zombie.

Pertama, adalah upaya militer. Saat berada di Camp. Humphreys ia menjadi tahu bahwa dengan menembaki tubuh para zombie hanya akan memperlambat gerak tubuh dan tak akan mematikan mereka. Menurut informasi seorang tentara, tembakan yang tepat di kepala memang akan membunuh mereka, tapi yang paling efektif sebenarnya adalah dengan membakar tubuh mereka.

Kedua, adalah dengan membangun tembok penghalang sebagaimana yang dilakukan oleh Israel. Cara ini ternyata juga gagal, karena setinggi apapun dinding penghalang, dalam kondisi khusus para zombie tetap dapat menemukan cara untuk memanjatnya. Kasus Yerusalem adalah bukti kegagalan manusia dalam membendung para zombie.

Ketiga, Gerry menemukan bahwa tak ada tempat untuk melarikan diri di daratan yang aman selama para makhluk itu masih berjalan di atas bumi. Persebaran pandemi zombie yang sangat cepat menyebabkan hadirnya kondisi yang tak aman untuk manusia. 

Pada akhirnya, Gerry teringat pada sang ahli virus yang memiliki kesimpulan bahwa sisi paling brutal dari virus sesunggunya adalah mekanisme pertahanan diri atas kelemahannya. Atau dengan kata lain, para zombie hanya menarget manusia yang bertubuh sehat dan tak pernah menarget manusia yang sedang sakit.

Karena, ternyata, manusia yang sedang sakit tak memiliki sistem sel yang bagus dan mendukung virus itu untuk bereproduksi. Mantan agen PBB itu teringat berbagai peristiwa yang ia alami di mana ia menemukan fakta adanya manusia-manusia yang tak diserang oleh para zombie meski mereka berada di tengah-tengahnya.

Pertama, pada adegan saat ia bertemu dengan seorang tentara dengan kaki yang pincang di perkemahan Humphreys. Dapat diketahui jika tentara itu sama sekali tak diserang oleh para Zeke (mayat hidup) yang dulunya adalah para tentara penjaga seperti dirinya.

Kedua, saat di Israel yang menjadi kacau akibat keberhasilan para zombie menembus tembok pertahanan. Pada peristiwa itu Gerry sekilas melihat seorang pemuda yang seperti terkena kangker dan seorang lanjut usia yang lemah yang ternyata tak diserang oleh para zombie.

Ketiga, Zegen, seorang tentara Israel yang telapak tangannya digigit oleh Zombie, tapi tak berubah menjadi Zombie. Hal ini dikarenakan Gerry segera memotong telapak tangan tentara tersebut dengan sebilah pisau yang akhirnya menyebabkan kondisi tubuh si tentara menjadi lemah. Dengan kata lain, sebagaimana yang diungkapkan oleh Gerry, “Kelemahan manusia adalah kelemahan virus (zombie) itu.”

Film World War Z setidaknya dapat mengusik benak kita akan pertanyaan tentang hubungan antara manusia dengan virus. Terlebih lagi dalam situasi yang saat ini sedang kita hadapi: pandemi covid-19 (virus corona). Pandemi corona, andaikata tak segera tertangani, akan pula menyebabkan runtuhnya ISA yang berakibat runtuhnya pula negara secara keseluruhan.

Peringatan agar penanganan pasien corona harus dengan alat pelindung diri (APD) yang tepat untuk setiap tenaga kesehatan, demi keselamatan mereka dan keberlangsungan pelayanan penanganan pasien, dapat dibaca sebagai indikasi potensi runtuhnya ISA. Fakta bahwa covid-19 dapat menjangkiti siapa saja dan jumlah tenaga kesehatan yang tertular covid-19 juga bertambah, memperlihatkan bahwa negara berpotensi kehilangan otoritasnya.

Infrastruktur yang otomatis berubah karena wabah corona telah merubah pula berbagai suprastruktur di Indonesia. Selain suprastruktur politik, yang paling kentara, adalah suprastruktur agama. Himbauan untuk tak mengadakan acara-acara yang bersifat kerumunan, termasuk acara-acara keagamaan sekali pun, oleh pemerintah dan ormas-ormas keagamaan mengindikasikan telah berubahnya suprastruktur agama.

Kami teringat salah satu kalimat dalam novel Burung-Burung Manyar karya Romo Y.B. Mangunwijaya: “Orang-orang negeri ini pandai mempermanis berita-berita pahit.” Berbagai pemberitaan yang beredar seolah melupakan bagaimana seharunya menyikapi dengan bijak terkait dengan kehadiran pandemi.

Kehadiran wabah corona yang menginfeksi manusia secara global dan sejauh mana pengaruhnya bagi kehidupan manusia seharusnya menjadi bahan sekaligus ruang untuk berefleksi tentang keberlangsungan umat manusia ke depan.

Untuk itulah kita harus kembali belajar melihat diri kita ke dalam: “Provehito in Altum.” Dengan kata lain, pandemi ini tak dapat dipandang hanya melalui kacamata modernitas belaka di mana manusia menjadi pusat segala sesuatunya.

Konsep humanisme modern yang menempatkan manusia lebih superior dibanding alam tak urung menyingkapkan keterbatasannya. Modernisme tak pernah meletakkan alam sebagai partner manusia, tapi semata seonggok obyek untuk memenuhi kebutuhannya.

Dari berbagai kasus corona yang ada, seumpamanya di Italia, para tenaga kesehatan dan rumah sakit sampai harus memprioritaskan orang-orang muda untuk disembuhkan daripada orang-orang lanjut usia karena saking banyaknya yang terjangkit wabah corona. Pada titik inilah segala kemampuan manusia benar-benar disingkapkan keterbatasannya.

Ternyata alam dan apa yang terjadi di dalamnya tak selamanya dapat dikendalikan oleh manusia. Segala kesombongan humanisme modern, yang terlahir dari Italia, seolah sampai pada titik nadirnya dan segala kritik atas modernisme pun seperti mendapatkan perwujudan nyatanya.

Lantas apakah kita harus menyerah begitu saja dan membiarkan manusia tersapu bersih oleh sebuah wabah yang bersifat global? Pada World War Z tersingkap bahwa upaya manusia untuk mengatasi masalah yang tengah menderanya tak pernah usai. Instingnya untuk bertahan hidup tetap menyala, di antaranya lewat sang tokoh utama, Gerry Lane.

Ia tetap bersikeras untuk menemukan solusi sekaligus untuk hidup. Dan penemuannya yang tak terduga-duga justru seperti dapat menumbuhkan harapan baru: “Kelemahan manusia adalah kelemahan virus (zombie) itu.” Dengan kata lain, keterbatasan atau kerapuhan manusia adalah justru letak dari kekuatannya, ciri kemanusiaan yang menjadikannya manusia.

Kami sempat berpikir, di tengah rundungan wabah corona saat ini, dari berbagai kasus yang ada, ternyata tak ada data tentang orang yang dikategorikan abnormal, atau lugasnya “orang gila,” yang terkategorikan positif terjangkit wabah itu atau entah sekedar berstatus sebagai ODP, PDP, dan ODR. Barangkali, sekedar rasa penasaran yang membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Benarlah kata Gerry Lane dalam World War Z, “Kelemahan manusia adalah kelemahan virus itu.” (Ajeng Dewanthi, peneliti lepas budaya, sejarah, dan politik. Alumnus Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra dan Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta).

SEPINYA KA’BAH MERUPAKAN TANDA KIAMAT?

Pada tahun 2020 terhitung mulai akhir bulan Februari Kerajaan Arab Saudi telah memberi himbauan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan ibadah haji dan umroh ditiadakan dalam jangka waktu yang belum ditentukan. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi Muhammad Saleh bin Taher Banten dalam sebuah wawancara dengan Al Ekhbariya TV.

Sebab ditundanya pelaksanaan haji dan umroh tahun ini adalah wabah Covid-19 yang sedang melanda Arab Saudi dan negara-negara di dunia lainnya, termasuk Indonesia. Ribuan jemaah umrah (ziarah) dari berbagai belahan dunia, termasuk dari Indonesia yang tiba di Bandara Internasional King Abdul Aziz (Jeddah) dan Bandara Internasional Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMMA) Madinah, Kamis (27/2/2020) tidak bisa melanjutkan perjalanan dan berujung dipulangkan kembali.

Tentu hal ini membuat jamaah sedih, kendati berniat ibadah dari rumah namun harus kembali ke rumah bukanlah hal yang mudah. Tetapi dibalik peristiwa tersebut pasti ada hikmah yang bisa kita ambil. Merenungi dan menjadikannya pelajaran bahwa segala sesuatu semua atas kehendak Allah swt.

Akibat dari himbauan Kerajaan Arab Saudi Mekkah akan terlihat sepi dari para jama’ah. Namun apakah hal itu benar? Tidak sedikit yang mengait-ngaitkan Makkah sepi termasuk tanda-tanda kiamat. Lantas patutkah kita bersedih? Bahkan sempat beredar video Imam Masdjil Haram saat mengimami membaca surah dengan tangisan yang terisak-isak.

Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang harus ditempuh oleh setiap muslim (yang mampu). Setiap tahunnya bahkan setiap harinya Mekkah dan Madinah selalu ramai diisi oleh para hamba-hamba-Nya. Bahkan ada satu hadist yang mengatakan bahwa Mekkah akan selalu ramai setiap tahunnya. Paling tidak ada 600 ribu jama’ah yang hadir. Sebagaimana hadist Rasulullah SAW yang ditulis oleh Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Asraru Al-Haaj.

أن الله عزوجل قد وعد هذا البيت أن يحجه في كل سنة ستمائة ألف , فإن نقصوا أكملهم الله عزوجل من الملائكة , وإن الكعبة تحشر كالعروس المزفوفة , وكل من حجها يتعلق بأستارها يسعون حولها حتى تدخل الجنة فيدخلون معها

Allah azza wa jalla telah berjanji bahwa Makkah setiap tahunnya akan selalu dikunjungi 600 ribu orang, jika kurang maka Allah melengkapinya dengan mengirim malaikat. Sesungguhnya ka’bah itu mempertemukan seperti sepasang mempelai yang diarak. Dan setiap yang berhaji ke ka’bah maka akan terikat dengan tirai-tirainya, mereka mengelilinginya hingga ka’bah masuk surga dan merekapun masuk surga bersamanya.

Dalam hadist di atas Allah telah berjanji bahwa Mekkah (beserta isinya) akan selalu ramai. Kendatipun tidak ramai oleh jama’ah di dunia, akan datang jama’ah dari akhirat yang Allah kirim para malaikat-malaikatnya.

Namun saat Ka’bah benar-benar sepi dari orang-orang apakah termasuk tanda-tanda kiamat? Nabi Muhammad SAW memang pernah mengungkapkan tanda-tanda kiamat saat ditanya oleh

Malaikat Jibril. Kisah ini tertulis dalam hadis sahih dari kitab Al-Arba’in hadist nomor dua karya Imam An-Nawawi yang disyarahi Imam Yahya bin Syarifuddin An-Nawawi di kitabnya Syarah Al- Arbain Hadistan An-Nawawiyah.

Dalam hadist yang diriwayatkan sahabat Umar radhiyallhuanhu hadist tersebut membicarakan tentang islam, iman dan ihsan yang ditanyai Malaikat Jibril pada Nabi Muhammad saw. Dan Nabi Muhammad saw. menjawab semua pertanyaan dengan langsung, berbeda saat Nabi ditanyai tentang hari kiamat dan bertanya balik pada Malaikat Jibril. Lalu Nabi memberikan ciri-ciri tentang hari kiamat.

Pertama jika kelak ada ‘budak melahirkan majikan’, artinya anak yang dilahirkan jadi majikan orang tuanya (berbalik melawan orang tua), kedua jika ada orang miskin penggembala bertelanjang dada tanpa alas kaki tiba-tiba berlomba membangun gedung-gedung bertingkat (orang miskin kaya mendadak. Kedua tanda besar inilah yang menjadi pegangan utama dalam melihat tanda-tanda datangnya kiamat.

Ketua Komisi Hukum Pusat MUI Prof. Dr. Habib Muhammad Baharun menjelaskan saat dikonfirmasi tentang fenomena Ka’bah kosong tanda kiamat.

Beliau menuturkan bahwa riwayat-riwayat tentang tanda “Ka’bah yang sepi dari orang bertawaf”, tidak masuk dalam hadis yang masyhur dan mutawatir. Berbeda halnya bila kedua tanda besar itu muncul merata di seluruh dunia. Ditambah dengan tanda-tanda lainnya yang sangat spesifik misalnya turunnya Nabi Isa dan munculnya Imam Mahdi. Hal demikian juga bila sudah terlihat tanda-tanda selain dua tanda utama tadi. Yaitu turunnya Nabi Isa, kemunculan Imam Mahdi, serta keluarnya Ya’juj dan Ma’juj dan lain sebagainya tanda-tanda yang lebih spesifik. Wallahu a’lam.

MENEGENAL ISTILAH DALAM TRAGEDI WABAH COVID-19

Sejak terjadi serangan penyakit (outbreak) bernama virus Korona, dengan nama resmi COVID-19, berseliweran kata-kata atau istilah-istilah khas dalam penyakit. Kita tiba-tiba sering sekali mendengar atau membaca satu kata atau istilah yang sebelumnya “diam” saja dalam kamus atau hanya dipakai orang tertentu: wabah, epidemi, endemik, dan pandemi. Mari kita pahami empat istilah itu satu per satu.

“Wabah” berasal dari bahasa Arab, al-waba` (الوَباَءِ). Tidak jelas sejak kapan kata al-Waba` kita adopsi menjadi wabah. Tapi berdasarkan keterangan banyak bacaan, gelombang pertama bahasa Arab menjadi bahasa Melayu lalu menjadi bahasa Indonesia terjadi abad ke-11 atau abad ke-12. Intermezo: “kata” dalam bahasa Arab disebut al-kalimah. “Kalimat” (susunan kata) dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab, yaitu al-kalam. Istilah-istilah kalimat, huruf, abjad, frasa, paragraf, alenia, bab, pasal, kitab, semua itu bahasa asing. “Judul”, kepala karangan, mungkin juga berasal dari bahasa Arab, al-jadal, artinya perdebatan, mungkin karena “judul” sering diperdebatkan, tapi ini spekulasi, hahaha… Eh, “kata” sendiri juga konon berasal dari Sansekerta, India. Bahasa kita memang bahasa serapan dari mana-mana, terbukti bahwa kita adalah bangsa yang sangat terbuka.

Dalam doa-doa, biasanya kata al-waba` “ditemani” al-bala`, kata yang juga sudah diserap dalam bahasa Indonesia, yakni “bala”, maknanya malapetaka; kemalangan; cobaan; kesengsaraan. Kita sering mendengar frasa “tolak bala”, ini artinya menolak kemalangan, malapetakan, sial. Dalam tradisi Jawa, juga ada dalam ajaran Islam, cara menolak bala dengan sedekah, memberi santunan, ritual atau doa tertentu, dan lain-lain.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “wabah” diartikan dengan penyakit menular yang berjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang di daerah yang luas. Kata kuncinya adalah “menular” dan “menyebar luas”. Demam berdarah itu tidak menular. Jika merujuk pada kamus, ia tidak disebut “wabah”.

Namun, orang awam menyebut “wabah” untuk semua penyakit yang meluas dalam waktu bersamaan. Ada diksi yang lebih tepat menggantikan “wabah” versi orang awam, yakni “hawar” (KBBI). Hawar bisa untuk sebutan penyakit menular, tapi bisa dipakai karena musim penyakit tertentu saja, tidak harus jenis penyakit menular. Masyarakat tani juga sering menyebut “wabah” (hawar) jika pertanian mereka diserang penyakit sejenis dalam waktu bersamaan. Itulah “wabah” dalam kamus dan dalam penggunaan masyarakat awam, orang umum.

Selanjutnya kita ulas “epidemi”. Dalam kamus, kata ini diberi keterangan begini: penyakit menular yang berjangkit dengan cepat di daerah yang luas dan menimbulkan banyak korban, misalnya penyakit yang tidak secara tetap berjangkit di daerah itu. Dengan penjelasan seperti ini, epidemi (epidemic) adalah sinonim dengan wabah. Epidemi itu wabah. Wabah itu epidemi. Ilmu yang mempelajari epidemi disebut epidemiologi.

Mari kita lihat kata selanjutnya: “endemik”. Kamus Besar Bahasa Indonesia menerangkan “endemik” sebagai berikut: (1) berkenaan dengan penyakit yang muncul dalam wilayah tertentu. (2) Berkenaan dengan spesies organisme yang terbatas pada wilayah geografis tertentu.

Endemik (endemic) itu penyakit –baik menular atau tidak– yang khas wilayah tertentu. Demam berdarah –tidak menular– adalah penyakit endemik daerah tropis, termasuk Indonesia.

Endemik tidak saja terkait jenis penyakit di daerah tertuntu, tapi juga spesies hewan yang hanya hidup di daerah tertentu juga disebut epidemik. Misalnya Kuskus beruang hanya ada di Sulawesi, Banteng Jawa hanya ada di Jawa, Kasuari Merah hanya ada di Papua, dan seterusnya.

Terakhir, mari kita pahami istilah Pandemik (pandemic). Dikutip dari IDN Times, berdasarkan buku berjudul Disease Control Priorities: Improving Health and Reducing Poverty 3rd edition yang ditulis oleh Nita Madhav et all, pandemik ialah wabah besar penyakit menular yang sangat meningkatkan morbiditas dan mortalitas di wilayah geografis yang luas, dilansir dari National Center for Biotechnology Information.

Selain itu, pandemik bisa memicu gangguan ekonomi, sosial dan politik yang signifikan di wilayah yang terdampak. Kasus pandemik kian melejit akibat peningkatan perjalanan, urbanisasi, integrasi global, eksploitasi lingkungan dan pengalihan lahan. Menurut World Health Organization, pandemik ialah penyebaran penyakit baru ke seluruh dunia.

Menghadapi pandemik seperti sekarang, solusi untuk memperlambat penyebarannya adalah melakukan “jaga jarak”. Kita diminta untuk sangat sedikit bergerak terutama karena ciri kuat manusia modern saat ini adalah sangat mudah bergerak. Tentu ini menjadi kondisi yang sangat sulit karena ini sejatinya menghilangkan jati diri hidup kita: bergerak, dan untuk Indonesia: terbuka. Untuk sementara kita harus diam dan tertutup, siapapun itu asalkan manusia, harus melakukannya: kaya ataupun miskin. Bisa dibayangkan betapa sulitnya.

Ini ujian lagi bagi kemanusiaan, bekerja sama dengan diam dan tertutup. Yang jika gagal maka semua menjadi tidak berguna. Saatnyalah kita kembali menjadi manusia yang saling menolong, juga terhadap bumi tempat kita bermukim sekarang. Dengan diam dan tertutup, ternyata bumi menjadi lebih nyaman untuk ditinggali. Polusi udara di China menurun drastis, kanal air di Venesia kembali jernih. Udara makin segar dan sehat, yang sangat mungkin manusia menjadi lebih sehat, lebih panjang usianya juga lebih cerdas. Yang jika dibandingkan, nantinya manusia lebih sehat satu tahun daripada tanpa adanya pandemik Korona. Sehat setahun lebih panjang dibandingkan dengan rugi harta setahun, pastilah tidak ada apa-apanya.

STRATEGI PENCEGAHAN PENYEBARAN VIRUS CORONA DI INDONESIA

Dokter Heri Munajib dari Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU) mengatakan episentrum krisis penyakit corona (COVID-19) di Indonesia saat ini berada di RS Mitra Keluarga yang bertempat di pusat Kota Depok, Jawa Barat. Hal ini menyusul ditemukannya kasus pertama, dua orang di Indonesia positif terinfeksi virus corona. “Rumah sakit ini tepat bersebelahan dengan Mapolrestro Depok dan berseberangan dengan Balaikota Depok.

Tepat di depannya membentang Jalan Margonda, poros utama Kota Depok,” kata Dokter Heri, Senin (2/3) malam. Kemudian, di sisi barat Balai Kota Depok terdapat Stasiun Depok Baru, salah satu simpul KRL commuterline yang melayani rute Bogor di Jawa Barat ke Manggarai di Jakarta. Tepat berdampingan dengan stasiun ini terdapat terminal non-bus Depok, melayani rute angkutan kota ke segenap penjuru.

Selain itu, tepat di hadapan Balai Kota juga ada terdapat halte bus yang melayani Transjakarta rute Depok ke Kampung Rambutan dan bus Bandara Soekarno-Hatta Tangerang. Di sisi depan dari stasiun dan terminal non-bus ini terdapat mall ITC yang padat setiap harinya.

“Jadi episentrum krisis penyakit korona ini tepat berimpit dengan (sebagian) pusat pemerintahan Kota Depok, berimpit dengan pusat-pusat lalu lintas transportasi massal di Depok. Maka potensi terjadinya penyebaran virus penyakit ini dengan menumpang sistem transportasi tersebut menjadi terbuka,” kata dia.

Menurut Dokter Heri, salah satu solusi rasional, meskipun menyakitkan, yang bisa dilakukan untuk mengatasi persoalan kemungkinan penyebaran virus penyakit corona ke luar wilayah Depok adalah dengan cara Depok lockdown, di mana Kota Depok ditutup untuk akses umum.

“Tutup sejumlah fasilitas untuk sementara seperti RS Mitra Keluarga; Mapolrestro Depok, dapat dipindahkan sebagian layanan ke tempat lain; Balai Kota Depok, dipindahkan sebagian layanan ke pusat Pemerintahan Depok lainnya di Kompleks GDC,” imbuh dokter yang aktif sebagai fact checker.

Langkah Depok lockdwon berikutnya menutup rute Transjakarta jalur Depok- Kampung Rambutan dan stasiun KRL terdekat dengan episentrum.

Opsi lainnya yang perlu dipertimbangkan, kata Dokter Heri, adalah meliburkan sekolah, kantor pemerintahan dan swasta, pasar tradisional dan supermarket yang ada di area itu.

Ia mengatakan sebagai pembanding, Tiongkok melakukan city lockdown secara massif sejak 1,5 bulan terakhir dan kini hasilnya sudah mulai dituai. “Perkembangan jumlah pasien baru penyakit corona di Tiongkok mulai melambat. Sebaliknya Italia dan Iran awalnya ragu dengan konsep lockdown dengan akibatnya jumlah pasien baru di kedua negara sempat meningkat eksponensial,” kata dia. Selain itu, protokol krisis seharusnya dipimpin commander in chief Presiden RI di mana Menko dan Menkes menjadi pelaksana lapangan.

“Yang kita khawatirkan, Kemenkes kurang menyadari bahaya terbesar dari isu coronavirus itu kalau publik tidak lagi percaya ke institusi resmi kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Bahaya penyebaran virus corona, tidak kalah dengan upaya delegitimasi ke penyelenggaraan pemilu waktu lalu. “Krisis skala korporasi saja diharuskan mendirikan crisis centre, task force, dan lain-lainnya. Apalagi ini menyangkut kehidupan 270 juta manusia,” tegasnya.