KEIKHLASAN TELUR MATA SAPI SANTRI DAN MARWAH GURU DI ERA INTERNET

Guru, sejak dulu dinilai sebagai penyalur ilmu pengetahun. Namun kini, apakah guru masih bisa dianggap demikian? Pertanyaan itu mengahantui saya sejak lama.

Saya mengamati bahwa guru saat ini sudah mulai ditinggalkan oleh anak-anak Generasi Z. Sebab mereka lebih memilih media internet untuk belajar ilmu pengetahuan.

Internet sekarang ini sudah merambah di berbagai macam keadaan. Internet ini bisa dilihat dari perkembangannya di Google. Segala macam di Google sekarang ada. Tools-tools (alat) sudah hampir lengkap diberikan oleh Google. Sebagai contoh ada you tube, gmail, google drive, google form, google clasroom dan masih banyak lagi.

Di sini mau tidak mau seorang guru, harus bersinggungan langsung dengan namanya tools-tools yang ada di dalam internet. Sebab para murid yang sedang belajar di sekolahan rata-rata sudah memakai berbagai macam alat itu.

Sedangkan masih banyak para pengajar di sekolahan yang kurang mampu mengikuti perkembangan zaman. Di sini bisa dipahim guru seperti kurang melek terhadap teknologi.

Anak-anak sekolah lebih memilih hal-hal instan melalui internet. Karena bagi mereka segala hal ada. Contoh saja di You Tube, segala macam pengetahuan alam maupun sosial semua ada. segala teori di bangku sekolah sudah tercangkup di dalam internet.

Lantas jika seperti itu, disekolahan masihkah dibutuhkan seorang guru sebagai penyalur ilmu pegetahuan? Jika hanya seperti itu, guru akan tergantikan oleh internet.

Sekarang cobaan guru lebih berat daripada 15 tahun yang lalu. dulu internet belum sampai sepesat saat ini. Kalau guru tidak melek teknologi akan tergilas oleh zaman. Hal semacam ini memang perlu diperhatikan sebagai seorang guru. Menambah wawasan dan melek teknologi jelas harus dipelajari dan beriringan setiap harinya.

Namun, ada beberapa hal yang tidak bisa digantikan oleh internet, seperti akhlalkul karimah atau pendidikan karakter. Prof Said Aqil Siroj dan Mamang Muhamad Haerudin dalam bukunya Berkah Islam Indonesia, menjelaskan akhlakul karimah adalah sesuatu keadaan yang tidak akan terpengaruh oleh kebudayaan dan peradaban waktu itu (era internet), melintasi ruang dan waktu dan dimiliki oleh setiap manusia kapan pun waktunya. (hal. 21).

Bahkan Al Ghazali menafsirkan akhlakul karimah merupakan sifat dan gambaran jiwa.

Di Indonesia, kita mengenal pendidikan karakter. Bagaimana anak-anak diajarkan untuk cinta tanah air, toleransi, cinta damai, tanggung jawab, gotong royong, kesetraan, keimanan, keadilan yang beradab, musyawarah dan kepedulian antar sesama. Hal ini sudah tercangkup semua di dalam Pancasila.

Selain pendidikan karakter, ada lagi yang tidak bisa digantikan oleh internet yaitu moral. Sekarang adanya proses kemerosotan moral mulai terlihat. Dampak instan dari internet sudah sampai ke keadaan moral.

Bisa di lihat dari etika manusia, kemerosotan nilai-nilai adat istiadat, nilai budaya serta konten pornografi dan tindakan korup sudah merambah di bangsa ini.

Saya rasa, pengajaran hal-hal semacam ini yang tidak bisa digantikan oleh internet. Guru seharusnya memegang kendali.

Guru sebagai penyalur utama ilmu pengetahuan memang dapat digantikan oleh adanya internet. Tetapi peran guru sebagai koneksi utama pendidikan karakter (akhlakul karimah) dan penyalur moral harus dioptimalkan di dalam lingkungan penddidikan.

Selain penjelasan di atas, saya mengucapkan selamat hari guru yang diperingati setiap tanggal 25 November. Tugas guru memang mulia tetapi juga teramat sulit dilakukan. Karena masa depan bangsa ini terletak pada tugas guru saat ini.

Mari menjadi guru yang kreatif, inovatif dan inspiratif untuk menjawab tantangan zaman.

ANTARA TELUR MATA SAPI DAN KEIKHLASAN SANTRI

Ayam yang bertelur, sapi yang punya nama. Itulah telur mata sapi. Begitu pun juga santri. Kontribusinya di mana-mana, meski namanya nyaris tak terdengar.

Tentang Santri

Dalam Islam tradisional, “santri” merupakan gerakan intelektual, baik secara kultural maupun secara organik. Santri dan pesantren merupakan dualitas struktur yang tidak dapat dipisahkan seperti dua sisi mata uang yang berbeda tetapi tidak bisa dipisahkan dari pemaknaan sebagai alat tukar, begitupun pesantren dan santri.

Seperti uang, pesantren merupakan sarana yang dapat membentuk perilaku manusia. Namun, uang juga dapat menjadikannya sebagai sumber konflik antar kepentingan, dan uang juga dapat menghadirkan cinta juga kebahagiaan. Begitu juga santri dan pesantren. dimanapun pasti terdapat dikotomi, sehingga manusia harus memaknai secara bijaksana.

Istilah santri berasal dari bahasa Sansekerta ‘shastri’ dari akar kata yang sama dengan kata ‘sastra’ yang berarti teks, tulisan, ajaran, dan kitab pengetahuan. Untuk lidah orang Jawa, kata ‘shastri’ dilafalkan menjadi ‘cantrik’, yang berarti seseorang yang mengabdi, belajar, berguru atau ‘nyantrik’ kepada orang yang berilmu, orang sakti, begawan, pandita, atau orang linuwih.

Dalam hidup santri tak pernah merasa tinggi, tak pernah merasa iri. Sebagaimana dalam filosofi padi, semakin merunduk ketika santri semakin berisi

Visi Santri

Dalam hakikatnya santri tak pernah meminta balas budi, “seperti telur mata sapi”. Ayam yang bertelur, tapi namanya, sapi yang memiliki.

Dalam dunia santri, terdapat dua paham, ukhuwwah wathaniyyah dan ukhuwwah basyariyyah, yang ditanamkan di dalam diri pesantren dan santri. Bagaimanapun, persaudaraan antar manusia itu harus dijunjung tinggi.

Dengan begitu, santri dapat menerima perbedaan: suku, Agama, budaya juga bahasa. Dan suburnya relasi sosial pesantren, membuat generasi santri dapat mewujudkan “hidup berdampingan secara damai” .

Bagi santri, keanekaragaman merupakan kemewahan kebesaran Tuhan. Dengan begitu Santri dapat menumbuhkembangkan peran sosial sebagai agen transformasi sosial menuju masyarakat plural, bagi upaya-upaya mencapai kebenaran dan realitas agar dapat meraih kebahagiaan dunia akhirat.

Santri adalah panglima, santri adalah laskar bhinneka. Santri adalah yang banyak berjuang untuk negara. Semua tahu, santri adalah yang menjaga keutuhan bangsa. Walaupun santri tak pernah di ikut serta dalam rumusan tata negara.

Namun santri tak pernah merasa dirinya kecewa. Sekalipun, santri tak pernah ditulis dalam sejarah bangsa. Bukan berarti santri tidak pernah berbuat apa-apa. Seperti telur mata sapi.

Kehidupan pesantren

Santri adalah sebutan orang yang menempuh pendidikan agama Islam. Pesantren adalah lembaga yang menghimpun dinamika-dinamika pemikiran, baik pemikiran sosial, budaya, politik, ekonomi dan terutama ilmu humaniora.

Di dalam kehidupan pesantren, tidak mengenal antara miskin dan kaya, semua diperlakukan sama. Dari belajar ilmu eksak, belajar tentang kearifan dalam kehidupan hingga belajar mendekat diri kepada Tuhan: semua sama. Dan yang lebih penting, bagaimana kaum santri dapat mengenal perbedaan sejak usia dini.

Semua ilmu diajarkan: dari belajar ilmu tajwid , membaca Alquran, nahwu shorof (tata bahasa dan gramatika bahasa Arab), hingga menghafal hadis sampai ribuan. Ilmu astronomi perbintangan hingga menghitung daun di pohon pun bisa dirumuskan.

Dengan begitu tradisi pesantren dan santri dapat menciptakan inklusifisme, bukan eksklusifisme seperti yang dipikirkan oleh orang di luar sana.

Santri adalah agen yang dibentuk oleh struktur pesantren. Bagaimana kehidupan santri yang berawal dari bentukan keluarga, semua serba ada, makan sudah disiapkan cuci pakaian sudah tinggal dandan. Begitu pindah ke pesantren dia harus menyesuaikan kemandirian kehidupan. Semua santri di wajibkan bertanggung jawab atas dirinya.

Termasuk memasak, mencuci, sampai membersihkan kamar, semua dikerjakan oleh masing-masing santri itu sendiri. Tetapi ada juga santri yang tidak pernah diajar mengaji oleh romo kiai. Hanya dia di tugaskan oleh romo kiai sebagai pembantu di rumahnya saja: seperti mengisi bak mandi, mencuci pakaian romo kiai, membersihkan halaman saban hari di waktu sore dan pagi.

Semuanya dikerjakan oleh santri yang mengabdi pada kiai.

‌Pernah suatu ketika ada pertanyaan dari teman satu kampung, ketika santri itu pulang dari pesantren. Sebut saja bernama Jagad. santri yang tidak pernah diajarkan mengaji oleh romo kiai.

“Hai Gad, apa yang kau dapat dari pesantren? Saat di pesantren, katanya kau tidak pernah diajarkan apa-apa, hanya menjadi pembantu saja di rumah kiai?” tanya Raya, anak kampung.

“Benar katamu”, kata Jagad.

“Lalu, untuk apa kamu berlama-lama di pesantren kalau sekedar jadi pembantu, tidak digaji. Baju yang kau pakai saja juga baju tahun lalu yang sekarang kau gunakan lagi, hampir gak pernah ganti.”

Jagad hanya bisa diam saja, tak ada yang ingin menjawab satu patah kata pun dari pertanyaan Raya.

Raya adalah sahabat baik Jagad di kampungnya. Sewaktu kecil ke mana-mana selalu bersama. Semenjak lulus sekolah menengah, keduanya ia berpisah. Si Raya pergi merantau ke kota. Perubahan Raya banyak dipengaruhi oleh orang kota, setelah lama di kota, lalu Raya pulang kampung dan berbisnis, lumayan sukses di kampungnya.

Jadi tidak heran jika Raya melihat kesuksesan orang itu selalu diukur dengan semata materi saja, sedang Jagad pergi menuntut ilmu ke pesantren, terlepas dia tidak pernah diajarkan ilmu agama oleh Romo Kiai, tetapi Jagad lebih bisa menata hati. Menjalani hidup sebagaimana mestinya.

Menurutnya kesuksesan orang bukan semata materi, tetapi kesuksesan orang adalah bagaimana seseorang bisa mensyukuri. Itulah yang tidak di dapatkan oleh Raya.

Sebagaimana menjelaskan barokah. Bagaimana barokah kiai itu dapat dijelaskan? Sedang yang diberikan barokah tidak pernah bisa merasakan.

Sama halnya menjelaskan pada orang buta, bahwa susu itu berwarna putih. Seperti dalam cerita rakyat dalam buku Leo Tolstoy, seorang yang buta sejak lahir bertanya kepada orang yang melihat, “Bagaimana warna susu?”

“Warna susu itu putih seperti kertas,” jawab orang yang melihat. “Kalau begitu warna itu juga gemerisik di tangan kalau di pegang?” tanya si buta.

“O.. tidak, dia itu putih seperti tepung.” Jawab orang itu. “Kalau begitu, berarti dia itu halus seperti tepung?

“O…tidak, hanya putih seperti kelinci putih.” Si buta masih saja juga bertanya, “Berarti susu itu juga empuk dan lembut seperti kelinci ?”

Dari beberapa contoh yang tadi sudah dijelaskan pada orang buta tersebut, orang buta tetap saja tidak dapat mengerti bagaimana putihnya warna susu.

Sebagaimana menjelaskan tentang barokah. Bagaimana dapat menjelaskan nikmatnya makan pada orang yang lidahnya sedang sariawan? Bagaimana menjelaskan indahnya pantai Raja Ampat kepada orang yang matanya tidak bisa melihat?

Begitu pula menjelaskan tentang “barokah” atau berkah. Barokah tetap saja tidak bisa dijelaskan tanpa orang tersebut bersedia mengalami dan mensyukuri hidup.

Salam santri. Semoga barokah….

PENDIDIKAN YANG BEBAS PRASANGKA

Prasangka dapat muncul dari identifikasi tak teliti terhadap kesan-sesan inisial atas ciri-ciri fisik yang mudah dikenali atau terhadap keanggotaan dalam kelompok sosial tertentu. Cara mengidentifikasi yang keliru ini acapkali diwariskan secara turun temurun dalam kelompok sosial tertentu, sehingga individu-individu yang menjadi bagian kelompok tersebut akan mudah berprasangka terhadap individu lain yang kebetulan memiliki warna kulit, ras, suku, agama, atau partai politik, yang berbeda dengan dirinya.

Mengingat prasangka sudah terbentuk sejak usia dini dan berkembang terus sampai usia dewasa, maka untuk mengikisnya dibutuhkan langkah-langkah strategis dan berefek jangka panjang sehingga masyarakat memiliki perangkat kultural untuk memerangi prasangka.

Dalam sebuah tulisan yang berujudul “Prejudice Reduction through Multicultural Education” yang dipubilkasikan dalam Social Studies Research and Practice edisi musim panas 2007, Steven P. Camicia menawarkan sebuah strategi mendasar yang dianggap dapat mengikis prasangka sosial yaitu melalui pendidikan yang berwawasan multikultural. Pendidikan berwawasan multikultural memiliki perhatian yang besar terhadap hubungan saling mengenal, memahami, dan menghormati di antara peserta didik meskipun mereka memiliki latar belakang kultural yang beragam. Peserta didik menjadi sadar bahwa ternyata ada banyak perspektif dan kondisi sosial yang melatarbelakangi kehidupan setiap manusia.

Strategi mengikis prasangka yang berbasis pada pendidikan berwawasan multikultural—lanjut Camicia—sedikitnya harus mengandung dua hal, yaitu konstruksi pengetahuan (knowledge construction) dan hubungan antar kelompok (intergroup contact).

Pertama, konstruksi pengetahuan. Sebagai sebuah proses, konstruksi pengetahuam secara simultan tidak lain adalah dekonstruksi pengetahuan itu sendiri. Peserta didik diajak untuk memahami narasi-narasi dari kelompok lain, yang diawali dengan mendekonstruksi narasi-narasi mainstream yang melanggengkan ketidaksetaraan sosial. Dengan memahami banyak perspektif, peserta didik dapat mengembangkan kemampuan untuk menganalisis pelanggaran-pelanggaran yang melanggengkan ketidakadilan.

Strategi membongkar kebenaran yang terlanjur dianggap baku, normal, dan niscaya adalah proses untuk mengembangkan cara berpikir kritis pada peserta didik. Dengan bekal kemampuan berpikir kritis, peserta didik diharapkan mampu mendekonstruksi pengetahuan-pengetahuan yang berimplikasi pada munculnya prasangka (prejudical knowledge)—dan mampu merekonstruksi pengetahuan baru yang mengafirmasi keragaman perspektif.

Kedua, meningkatkan hubungan antar kelompok. Tugas lembaga pendidikan adalah memfasilitasi dan mengembangkan lingkungan yang dapat menjamin terciptanya hubungan sosial positif. Tentang hal ini, Camicia mengamini pernyataan Allport dalam The Nature of Prejudice (1954), sebuah risalah klasik tentang ilmu perilaku yang tetap menjadi rujukan utama bagi studi-studi prasangka sampai saat ini. “Prejudice (unless deeply rooted in the character structure of the individual) may be reduced by equal status contact between majority and minority groups in the pursuit of common goals. The effect is greatly enhanced if this contact is sanctioned by institutional supports (i.e., by law, custom, or local atmosphere), and provided it is of a sort that leads to the perception of common interests and common humanity between members of the two groups.”

Bagi Allport, prasangka hanya dapat dikikis melalui hubungan intensif antara pihak-pihak yang saling berprasangka. Sebab, prasangka lahir dari adanya tumpukan stereotip-streotip negatif dalam skema kognitif seseorang sehingga proses identifikasi terhadap orang lain cenderung gegabah. Hanya dengan memperbaiki dan memperjelas proses identifikasi tersebut, maka skema kognitif menjadi bersih dari stereotip-stereotip yang dapat melanggengkan prasangka.

Allport juga menyebutkan setidaknya ada empat syarat bagi terciptanya hubungan sosial yang bervisi keadilan. Pertama, menjunjung kesetaraan status (equal status). Kedua, mementingkan tujuan bersama (common goal). Ketiga, adanya kerjasama (cooperation). Dan keempat, adanya dukungan kelembagaan (institutional support). Keempat hal tersebut adalah pilar bagi tegaknya keadilan sosial dan demokrasi.

Dalam konteks sekolah, pendidikan bertugas mendesain lingkungan sekolah yang mengandung keempat syarat bagi terciptanya keadilan sosial sebagaimana dikemukakan Allport di atas. Pendidikan yang mengutamakan kesetaraan memiliki strategi pembelajaran dan suasana kelas yang dapat membantu peserta didik memahami keragaman ras, etnik, dan budaya, sehingga peserta didik dapat mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan bagi upaya menciptakan sebuah masyarakat yang demokratis. Kondisi sekolah yang seperti ini dapat membantu siswa mengikis benih-benih prasangka dan ketidakadilan sosial.

Sebuah kelas yang mampu menjamin kesetaraan status para peserta didik merupakan interseksi dari empat syarat hubungan sosial positif yang disebutkan Allport di atas. Syarat yang pertama memerankan fungsi penting bagi terciptanya hubungan antarkelompok yang setara dalam ruang kelas di tengah heterogenitas latar belakang kultural siswa. Dalam kelas tradisional, terdapat hirarki yang memungkinkan peserta didik dilihat oleh gurunya secara berbeda karena perbedaan prestasi dan latar belakang kultural. Kondisi ini memicu munculnya prasangka, baik antara sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dan gurunya. Sedangkan dalam kelas yang berwawasan multikultural semua peserta didik memiliki status yang sama sehingga prasangka sosial akan semakin terkikis karena jarak sosial antar siswa semakin meluruh.

Syarat yang kedua dan ketiga dapat melatih peserta didik dalam memahami pentingnya kerjasama dan tujuan bersama. Ketika peserta didik saling berkerjasama, mereka telah mengembangkan sebuah identitas kelompok yang dapat mengikis perilaku-perilaku berprasangka. Para pendidik dapat melengkapi tewujudnya suasana ruang kelas yang berwawasan multikultural dengan cara menciptakan kultur sekolah yang mendukung peserta didik dalam mengembangkan pemahaman terhadap kemajemukan latar belakang kultural sesama peserta didik. Wawasan ini dapat diterjemahkan dengan cara menyusun kurikulum, membuat kebijakan-kebijakan sekolah, dan penelitian-penelitian yang dapat mendukung terciptanya atmosfer pendidikan yang berwawasan multikultural.

Sekolah merupakan instutusi sosial strategis dan merupakan laboratorium ideal bagi pemahaman terhadap kondisi sosial dan dinamika politik yang sering sekali menunjukkan kondisi opresi, ketidakadilan, dan prasangka. Jika sebuah sekolah memiliki tujuan yang meliputi komitmen yang kuat terhadap kesetaraan, keadilan sosial, dan upaya mengurangi prasangka sosial, maka peserta didik akan memiliki keberanian untuk mengembangkan kritisisme baik itu dalam lingkungan sekolah maupun jauh melampaui batas-batas lingkungan sekolah.

Melalui pendidikan yang berwawasan multikultural, peserta didik akan terbantu dalam mengembangkan pemahamannya terhadap diversitas fenomena kultural. Dalam suasana pendidikan multikultural tersebut, peserta didik juga akan lebih berani mengambil peran dalam kegiatan-kegiatan konstruktif yang dapat menjamin tetap tergaknya toleransi dan demokrasi.

PENDIDIKAN NU SECARA KUANTITAS MASIH YANG PALING TINGGI

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi Islam yang bergerak dalam berbagai bidang seperti keagamaan, sosial, seni budaya, ekonomi, dan pendidikan. Dalam beberapa tahun terakhir ini, NU giat dalam menggalakkan pendidikan tingkat perguruan tinggi. Hal itu terbukti dengan berdirinya 31 universitas Nahdlatul Ulama yang berdiri dalam kurun waktu lima sampai sepuluh tahun terakhir. Selain itu, tentu masih ada banyak lagi kampus-kampus yang berafiliasi dengan NU atau didirikan oleh kader-kader NU, tapi tidak terdaftar pada struktural NU. Jumlahnya ratusan. Mulai dari sekolah tinggi hingga universitas. Pada tingkat Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyyah sampai Sekolah Menengah Atas atau Madrasah Aliyah, satuan pendidikan yang bernaung di bawah Lembaga Pendidikan Ma’arif PBNU adalah sekitar 48 ribu. Sedangkan untuk pondok pesantren, ada sekitar 23 ribu pesantren yang tergabung di dalam Asosiasi Pesantren NU atau Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI NU).

Muktamar ke-30 tahun 1999 yang diselenggarakan di Lirboyo Kediri bisa dibilang sebagai momentum penting dalam sejarah pengembangan pendidikan NU. Pada Muktamar ini, NU menegaskan untuk serius dalam memperkuat tata kelola pendidikannya. Lalu, tahun 2001 LP Ma’arif NU menggelar Rakernas. Di antara hasil Rakernas adalah membagi satuan pendidikan dalam tiga kategori sekolah atau madrasah, yaitu: Pertama, satuan pendidikan yang didirikan oleh LP Ma’arif. Kedua, satuan pendidikan yang didirikan oleh jamaah atau lembaga lain di lingkungan NU bekerja sama dengan LP Ma’arif. Terakhir, yang didirikan dan dikelola secara mandiri oleh jamaah atau lembaga lain di lingkungan NU. Namun yang menjadi pertanyaan adalah Bagaimana pendidikan NU bisa berkembang begitu pesatnya? Apa yang menyebabkannya? dan Apakah kuantitas yang begitu meruah dibarengi dengan kualitas yang memadahi?

Untuk menjawab itu, Jurnalis NU Online A Muchlishon Rochmat mewawancarai Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Masduki Baidlowi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Komisi X DPR RI (Bidang Pendidikan) dan juga Ketua LP Ma’arif PBNU. Berikut hasil wawancaranya: Seperti apa pendidikan NU saat ini? Secara kuantitas, saya kira pendidikan NU tidak ada tandingannya. NU adalah ormas yang memiliki lembaga pendidikan terbesar di Indonesia. Sampai sekarang pendidikan NU terus berkembang. Faktor apa yang menyebabkan pendidikan NU begitu meruah? Pendidikan NU bisa eksis dan bertahan bahkan semakin banyak karena mentalitas kader-kader NU di bidang pendidikan sangat kuat. Itu didasari oleh etos kerja mereka yang tumbuh dari ajaran agama. Salah atu ajaran agama yang menjadi pegangan kader-kader NU dalam bidang pendidikan adalah bahwa menyelenggarakan pendidikan itu tanda dari ilmu yang bermanfaat. Di dalam hadis Nabi disebutkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah salah satu bekal amal ibadah yang pahalanya tidak putus-putus meski sudah meninggal. Dari ajaran agama itu, etos ini menjadi nilai yang hidup dan mengakar kuat di dalam diri Nahdliyin. Sehingga kalau kita tanya berapa jumlah sekolah, berapa jumlah madrasah, lembaga formal, informal, atau pun nonformal, pasti yang terbanyak orang NU.

Orientasi pendidikan NU itu seperti apa? Ilmu pendidikan zaman modern selalu mengaitkan bahwa output dari orang yang belajar adalah akses kerja. Pada dasarnya pendidikan itu ada input, proses, dan output. Di dalam standar pendidikan nasional, ada delapan output. Ouput adalah salah satu standar kompetensi kelulusan. Kalau ada mahasiswa S1 di bidang musik, dia bisa apa dan bekerja dimana. Kalau dulu tidak ada urusan yang seperti itu karena yang namanya bekerja itu adalah akibat dari proses hidup. Mereka bebas untuk hidup seperti apa, namun yang terpenting adalah mereka bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Sehingga orientasi pendidikan pada zaman itu betul-betul berorientasi pada proses. Kalau disebut-sebut bahwa pendidikan itu adalah proses memanusiakan manusia atau pendidikan karakter yaitu sebenarnya pendidikan NU.

Pendidikan karakter orientasinya adalah pada keteladanan guru. Standar Nasional Pendidikan (SNP) itu ada delapan. Yang 3 tidak terkait dengan guru, yaitu standar pendanaan, manajemen, dan sarana-prasarana. Sedangkan yang 5 selalu berkaitan dengan guru. Oleh karena itu, guru itu betul-betul merupakan kunci perubahan. Model pendidikan NU? Model pendidikan NU itu adalah model pendidikan yang sangat bagus. Dalam artian, saat kita mendidik orang itu jangan terlalu disibukkan outpunya tetapi lebih menyibukkan dengan bagaimana proses dari pendidikan itu, yaitu bagaimana memanusiakan manusia. Tujuannya? Ilmu yang bermanfaat adalah merupakan salah satu tujuan daripada pendidikan yang ada di NU. Minimal bermanfaat untuk diri sendiri, baru kemudian bermanfaat untuk orang lain. Makanya pendidikan di NU tidak pernah memikirkan tentang seperti apa sekolahnya akan dibangun. Misalnya seperti pesantren-pesantren besar NU yang ada saat ini itu tidak pernah memikirkan bagaimana membangun gedung, tetapi bagaimana seorang guru -yang punya pengaruh besar di dalam proses pendidika itu- tumbuh sebagai guru laku dan guru yang memberikan keteladanan. Oleh karena itu, jumlah pendidikan NU sangat banyak karena dua hal. Pertama, memegang teguh nilai ilmu yang bermanfaat dan yang kedua adalah berorientasi kepada proses penciptaan pendidikan karakter. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj selalu mengatakan bahwa kalau lahir dan sekolah di NU tidak akan ada yang menjadi teroris. Karena proses pendidikannya itu sangat menentukan bagaimana antara ilmu agama dihubungkan dengan adat istiadat setempat sebagai infrastruktur agama. Nah, yang menjadi pertanyaan adalah bagaiaman kalau konsep itu dihadapkan dengan orientasi pendidikan saat itu yaitu akses kerja? Kalau pola ini diterapkan sekarang, maka dianggap kurang berkualitas karena tidak pernah berfikir pada pasca proses. Pendidikan sekarang selalu dikaitkan dengan dunia kerja yang polanya terus berkembang sesuai dengan modernitas dan industri sehingga keahlian juga semakin tumbuh dan berkembang. Pendidikan keahlian-keahlian itu yang harus disiapkan oleh sekolah. Sehingga ukuran pendidikan disebut berkualitas atau tidak itu selalu dihubungkan dengan akses kerja. Kalau anda sudah terdidik di sebuah sekolah dan kemudian lulus, anda bisa apa dan diterima dimana. Itu pola pendidikan saat ini.

Lalu, bagaimana menghadapi itu? Karena sekarang harus berurusan dengan kualitas atau mutu dan pendidikan dihubungkan dengan kerja maka mau tidak mau NU juga harus melakukan penyesuaian-penyesuaian. Dan harus diakui bahwa dalam konteks ini NU agak tertinggal. Jadi untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian tujuan pendidikan, NU itu agak lambat dalam arti bahwa NU masih tetap saja berorientasi kepada dua hal dia atas, yaitu ilmu yang bermanfaat dan proses.

Bagaimana memperbaikinya? Harus segera dilakukan penyesuaian-penyesuaian. Banyak juga lembaga-lembaga pendidikan sekolah atau madrasah NU, lembaga-lembaga pendidikan pesantren NU yang sudah melakukan penyesuaian-penyesuaian. Tetapi secara keseluruhan bisa dikatakan bahwa belum sepenuhnya bisa karena begitu banyaknya jumlah lembaga pendidikan NU.

Terus, bagaimana caranya melakukan penyesuaian-penyesuaian tersebut dan harus dimulai dari mana?

Pertama kita bicara peran negara. Ada empat tujuan daripada didirikannya negara ini, diantaranya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini adalah tujuan utama dari bernegara dan ini kaitannya dengan pendidikan. Mencerdaskan itu bukan hanya pada aspek kognitif saja, kecerdasan itu kan mencerdaskan kehidupan. Artinya, implementasi dari ilmu pendidikan itu melahirkan kemudahan-kemudahan dan produktivitas-produktivitas dimana anak bangsa bisa dengan mudah menciptakan kesejahteraannya. Itu adalah kebijakan negara menciptakan kebijakan-kebijakan.

Derivasi dari tujuan bernegara ini, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, dirumuskan di dalam UUD 1945. Ada banyak pasal-pasal yang menjelaskan mengenai bagaimana cerdas dalam kehidupan. Intinya adalah pendidikan itu merupakan hak dasar bagi setiap warga negara yang harus disiapkan oleh negara. Oleh karena itu, negara wajib menyelenggarakan dan tidak boleh ada diskriminasi. Diskriminasi itu masih terjadi dimana-mana. Misalnya, sarana antara madrasah dan sekolah negeri beda, perlakuan di Papua dan di Jawa beda. Ini tidak boleh terjadi.

Kedua kita bicara internal. NU juga harus memperbaiki manajemen yang ada dan meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru yang mengajar di sekolah-sekolah NU.

DI MUSIM HUJAN, JANGAN BIARKAN HATI TETAP KERING

Seorang pembual tiba-tiba singgah di sebuah desa yang sedang diserang kemarau yang panjang selama beberapa waktu. Tak dinyana, dengan kecerdasan dan daya pikatnya yang tinggi, ia pun berjualan hujan di sana dan laku dibeli oleh sebuah keluarga yang terbawa oleh suasana panas kemarau.

Di sana ada seorang bapak, yang bagaimana pun caranya ingin menikahkan anak perempuannya yang belum juga kawin. Ada juga seorang lelaki yang berupaya menikahkan kakak perempuannya agar ia tak meninggalkan sopan-santun Jawa untuk tak melangkahinya. Tak elok kawin sebelum kakak perempuannya kawin duluan. Lalu ada lagi seorang lelaki yang terlalu terpaku pada catatan keuangan keluarga hingga saking perhitungannya ia pun lupa kawin pula.

Bintang Kejora (1986), sebuah film klasik yang dibintangi oleh El Manik dan Rini S. Bono, barangkali adalah sebuah film Indonesia yang kali pertama mengisahkan hujan—atau lebih khusus lagi: harapan.

Tak sebagaimana sajak-sajak tentang hujan Sapardi Djoko Damono yang mengemas hujan secara muram ala eksistensialisme, Bintang Kejora justru membawakan hujan sebagai sebentuk harapan.

Sebelum saya berkisah tentang kisah hujan itu ada baiknya saya sedikit berkisah tentang waktu dalam kaitannya dengan manusia. Barangkali, kesadaran manusia tentang waktu inilah yang membedakannya dengan makhluk lainnya.

Secara umum struktur kesadaran manusia normal terpilah dan terbentuk atas tiga hal: masa silam, kini, dan mendatang. Kesilaman itu terwujud dalam kenangan yang terpusat pada kekinian. Adapun mendatang berkaitan dengan harapan.

Seorang pemikir Prancis, Gaston Bachelard, menganalogikan kesadaran manusia dengan rumah: dapur, kamar mandi, tempat tidur, ruang tamu, dan dinding-dindingnya. Terkait dengan pemilahan saya, maka rumah sebagaimana yang dipahami Bachelard itu justru—menyangkut kesadaran manusia yang oleh Husserl disifati untuk selalu mengarah ke sesuatu (intensionalitas)—berada di masa silam dan mendatang.

Drama kehidupan manusia dalam perspektif agama misalnya, selalu meletakkan waktu kini sebagai “jalan” yang perlu dilalui dan dimanfaatkan untuk menuju rumah di masa mendatang yang, anehnya, justru menjadi tempat dari mana orang itu berasal (masa silam). Dalam bahasa agama hal itu direpresentasikan oleh sepenggal ungkapan “inna lillahi wa inna ilahi rajii’un”.

Setali tiga uang dengan berbagai sumber kearifan lokal. Dalam khazanah budaya Jawa terdapat ungkapan bahwa “urip mung mampir ngombe.” Bahkan dahulu pemahaman seperti itu terejawantah pula dalam bentuk arsitektural rumah Jawa. Di halaman depan selalu terdapat gapura di mana didekatnya ditaruh sebuah gentong berisi air. Gentong air itu diperuntukkan bagi para pejalan yang kehausan yang tengah melintas di depan rumah.

Ada beberapa catatan yang perlu dipahami di sini, tentang keterkaitan antara rumah sebagai analogi kesadaran dan air. Dalam berbagai bidang, air telah lama menjadi penanda resmi kehidupan. Konon kenapa manusia hidup di Bumi dan tak di Venus adalah karena volume planet yang pertama itu banyak diisi oleh air.

Pada mitologi Hindu, air identik dengan Wisnu yang dalam konteks konsep trimurti berkaitan dengan peran dan fungsi untuk memelihara. Pada kisah pewayangan, hanya para titisan Wisnu yang memiliki kembang wijaya yang dapat menghidupkan orang yang belum mati pada waktunya.

Secara eksistensial keterkaitan antara kesadaran dan air itu dapat dirasakan ketika orang sedang dipanggang oleh kemarau yang panjang. Dan ini menjadi bukti bahwa ada keterkaitan langsung antara jagad gedhe (makrokosmos) dan jagat cilik (mikrokosmos). Benarlah penggalan syair yang dinyanyikan oleh Elmanik di awal adegan film: “Jangan biarkan kemarau di hatimu.”

Apakah kemudian El Manik, yang dalam film itu bernama Bintang Kejora, tak pula menjadi korban dari keadaan, tak terusik olek lingkungan di mana ia berpijak? Sebermulanya ia tampak sebagai sosok yang jejeg suasana batinnya yang dapat mengubah keadaan keluarga Dahlia (Rini S. Bono) dan tentu pula keadaan sekitar.

Dengan bualannya itu ia mampu “mempermainkan” Sobrat, salah satu adik Dahlia, untuk tak terlalu serius dalam hidup hingga lupa bagaimana caranya tertawa. Dan terutama, dengan kepercayaan diri dan bualannya itu, ia mampu menundukkan Dahlia. Kakak perempuan Sobrat dan Sopan itu sedikit demi sedikit mulai tumbuh rasa percaya dirinya. Ia tak lagi seperti preman, mulai bersolek dan belajar tentang keanggunan.

Tapi begitu hujan tak turun sebagaimana yang dijanjikan, Bintang Kejora mulai gusar. Ia pun terjebak oleh keadaan. Dan ketika hujan itu tak turun-turun juga, Kejora mesti bersiap untuk diusir dari desa, untuk tak lagi dapat melepas lelah dan berumah. Sosok penumbuh harapan pun berganti pada si perawan kasep, Dahlia.

Dalam keputusasaan si Kejora, Dahlia meyakinkannya, setelah semua yang terjadi, setelah keadaan mulai berubah, entah si Kejora membual atau tidak, tak elok untuk meninggalkan gelanggang laiknya bukan pejantan. Dan hujan pun tiba-tiba turun membasahi desa itu. Semua bersorak girang dalam ranjapan air dari langit.

Sebagaimana kesadaran akan kesilaman dan kemendatangan, yang akan terang andaikata ada air yang oleh para sesepuh disebut sebagai ngelmu. Hanya dengan ngelmu itulah rumah itu akan ditemukan tanpa ketersesatan, dan bukannya dengan emas ataupun harta.

Mari, jangan biarkan hati kering. Mumpung musim hujan sudah tiba.

JAWABAN SEDERHANA DARI RAHASIA KEKUATAN BATIN PARA KYAI ATAU ULAMA

Dua atau tiga kali saya ditanya, “Pendidikan Kiai itu apa Mas? Sekolahnya di mana? Apa cukup bekal pendidikan mereka untuk memimpin ribuan santri di pesantrennya?”

Tentu, ini pertanyaan dilontarkan oleh orang yang belum kenal pesantren. Maksud pertanyaannya betul-betul ingin mencari jawaban, mencari pengertian tentang kiai, ulama pesantren. Ia tidak sedang main retorika, apalagi pertanyaan bernada sinikal. Bukan. Memang ia ingin memahami dunia kiai, dunia pesantren.

Saya menjawabnya pelan-pelan, semampu saya, sesuai pengalaman saya selama mengenal dunia pesantren.

Pertama-tama saya menjawab, “Kalau yang dimaksud pendidikan itu sekolah, maka jawabnya: dulu, para kiai tidak sekolah, apalagi di zaman kolonialisme. Saya belum pernah dengar kiai A satu angkatan dengan Budi Utomo, atau kiai B adik angkatan Soekarno di ITB. Ada yang sekolah, tapi jumlahnya sangat sedikit. Karena tidak sekolah itulah, para pejuang kemerdekaan, setelah merdeka tidak banyak orang pesantren, kiai-kiai, melanjutkan jadi pegawai pemerintah atau jadi tentara. Mereka lebih banyak kembali menjadi guru di madrasah atau kembali ke pesantren, buka buku keislaman abad pertengahan.”

Pelan sekali saya menjawab. Saya khawatir jatuh pada “nada” bahwa orang tidak sekolah juga hebat. Saya menghindari betul disebut glorifikasi pesantren. Saya mengutip bagian akhir karya Saifuddin Zuhri terkait kiai yang kembali ke “tempat asalnya”, setelah bergerilya merebut kemerdekaan. Di kalangan pesantren tahun 1950an awal, ada ungkapan yang sangat populer tentang sarjana: nyari sarjana di pesantren seperti nyari tukang es di malam hari.”

Yang mengatakan itu ulama muda, mendiang Abdul Wahid Hasyim, ayahandanya Gus Dur. Ungkapan itu disebarkan, disampaikan di banyak kesempatan. Hasilnya, kecuali Gus Dur, semua putra Kiai Wahid-Nyai Sholihah ada yang jadi insinyur, dokter, dan ada yang kuliah di bidang ekonomi. Gus Dur pun, semula, sekolah ekonomi, sebelum akhirnya mendalami ilmu agama dari pesantren ke pesantren, alias bukan sarjana yang menjadi keresahan ayahandanya. Ungkapan Kiai Wahid ini menggema di Malang, sehingga banyak kader NU di sana banyak yang sekolaah hingga perguruan tinggi umum, alias tidak mendalami agama di pesantren.

Saya menjelaskan kepadanya, sampai sekarang pun sekarang masih banyak juga kiai tidak sekolah, atau hanya tamat SD, SMP. Banyak sekali. Ada yang kuliah IAIN sampe lulus S1, ada para anak-anak kiai yang sekarang jadi kiai hanya semester satu di IAIN. Yang hanya semester satu itu teman saya sendiri, nggak betah di kampus, lari ke pesantren tradisional.

Tapi banyak juga hari ini pengasuh pesantren sekolah hingga S2 bahkan S3. Mereka jebolan kampus-kampus ngetop, dalam ataupun ke luar negeri, dari Barat atau Timur, akrab dengan literatur Inggris, Belanda, Prancis atau hanya baca buku-buku berbahasa Arab saja.

Studinya pun beragam, tidak melulu ilmu tafsir ataupun ilmu fiqih, namun juga filsafat, hukum, hingga, hingga politik. Banyak dari kiai yang sekolah “non-agama” mengambil studi ilmiah sosial dan ilmu humaniora. Saya belum tahu pengasuh pesantren yang doktor di bidang kedokteran ataupun pertanian. Saya mendengar di Pesantren Ngalah, Pasuruan, putra-putri Kiai Sholeh sekolah hingga S3 di bidang sains. Juga di Pesantren Cipasung, Tasikmalaya.

Namun, saya jawab, yang menentukan para pengasuh pesantren itu mampu atau tidak mampu dalam memimpin pesantren, bukan semata-mata tinggi sekolahnya atau mendalam pendidikannya. Kekuatan dahsyat dari seorang kiai atau pengasuh pesantren adalah kekuatan batin. Kesiapan mental, istilah yang lebih bisa kita bayangkan. Kekuatan batin atau mental ini pasti saja bisa ditelusiri, ada road map-ny, detil-detilnya bisa dibicarakan, namun ada yang susah diungkapkan. “Fungsi” apa melakukan zikir, puasa, ziarah kubur sedikit-sedikit bisa kita diskusikan sebagaimana yoga bisa kita pelajari, namun ada yang lebih dalam lagi. Susah saya mengungkapkannya, sangat terbatas bahasa dan pengetahuan saya.
Baca juga: Empat Ulama Besar yang Menguasai Bahasa Semit

Namun, kekuatan ini lebih menentukan, menurutku. Seorang pengasuh memimpin ribuan santri loh, ribuan amanat para wali santri. Bertahun-tahun para kiai itu, bahkan seumur hidupnya “menggendong” amanat itu. Mau santri cuma 15 orang atau 15 ribu, seorang kiai harus memiliki daya tahan batin agar kuat batinnya menjaga amanat santri. Kalau tidak, dia pecah hatinya di tengah jalan. Ambyaaarr..

Di sinilah saya sering mengatakan bahwa para kiai itu layak menikmati kemudahan-kemudahan, keistimewaan-keistimewaan, nah, mendapatkan privilese. Mulai dari diciumi tangannya, disowani, ke mana-mana disambut dengan kehormatan penuh. Ada seloroh, “Hiburan kiai itu hanya merokok, sarung bagus, dan duduk di atas bantal. Kalau rokok haram, gimana?”

Ada teman di Facebook tanya, “kok rumah kiai atau mobil bagus-bagus?” Saya jawab, “lah itu kesenangannya sedikit, pusingnya jauh lebih banyak.”

Ada lagi yang bilang, “Loh kiai enak ya, duduknya di bantal..” Saya jawab, “Masa duduk dibantal kamu kritisi. Sakit dia itu bokongnya, bahkan mungkin wasir karena duduk terus.”

Saya betul-betul menyaksikan kiai-kiai pusing ndak karuan, masih banyak yang gali lobang tutup lobang untuk bayar listri pesantren, loh. Pengasuh pesantren di kampung terpencil sana, dengan ribuan santrinya, dengan bangunan sederhananya, dengan fasilitas seadanya, dengan pemandangan itu-itu saja, dengan kuliner yang terbatas.

Di sinilah saya mafhum seorang kiai bolak-balik umroh, di sinilah saya mafhum bila seaorang anak kiai menempuh jalan berbeda dgn orangtuanya, karena tidak kuat. Kiai itu ya, mau normal kayak orang-orang di Facebook itu nggak bisa. Pamer makanan, nonton bioskop, ngopi santai-santai di warung kopi kekinian, foto-foto di jalanan. Ndak bisa, ndak enak kiai begitu.

Karena itulah Gus Mus buat puisi, melukis, atau ngisi seminar. Tidak melulu dakwah atau menekuni dunia seni yang mendakik-dakik. Itu hiburan juga, memecah kepenatan diundang orang untuk ceramah, ngaji di depan santrinya. Gus Muwafiq main gitar, itu hiburan. Manusiawi kan? Itu saja banyak orang memandangnya sebagai kelainan. Duh, kasihan.. Sementara boss-boss di Jakarta, punya karyawan lima saja merasa ditekan kanan dan kiri. Mereka bolak-balik ngadem di mall, ngopi lagi, nonton lagi.. Iya kan?

Teman saya mulai mantuk-mantuk. Saya GR, “Wah, paham dia. Alhamdulillah…”

Namun dia mendesak lagi, “kamu bisa tidak mengeluarkan satu atau dua kata untuk kiai-kiai itu. Apa itu kekuatan yang membuat batin mereka kuat?”

Duuh.. Saya pusing. Apa yaa.. dua kata yang membuat batin mereka kuat. Mungkin ini: Mungkin kyai sudah mendapatkan do’a dan izin dari Rosulillah dan kedua adalah Rasa tanggungjawab jiwa pengabdi. Tentu saja tidak semuanya begitu, karena kiai juga manusia.

MEMILIH PESANTREN NU SETELAH DISAHKANYA UU PESANTREN

PENGESAHAN UU PESANTREN

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pesantren menjadi Undang-Undang (UU) setelah mendengar persetujuan dari seluruh fraksi partai politik di DPR RI.

Menanggapi kabar tersebut, salah seorang Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Robikin Emhas menyampaikan rasa syukur. Menurutnya, pengesahan RUU Pesantren menjadi kado istimewa bagi bangsa dan negara.

“Alhamdulillah, RUU Pesantren disahkan menjadi UU. Terima kasih Presiden Jokowi, DPR RI dan segenap pihak yang tidak mungkin disebut satu persatu. Secara khusus, terima juga kepada DPP PKB dan Fraksi PKB, juga PPP dan parpol lainnya,” ujar Robikin Emhas, Selasa (24/9) di Jakarta.

Dia menegaskan, pengesahan RUU Pesantren penting karena pesantren merupakan pilar penanaman nilai-nilai agama dan nasionalisme yang sudah teruji perannya.

“Selain itu, UU Pesantren yang disahkan menjelang peringatan Hari Santri 22 Oktober 2019 juga boleh dibilang merupakan kado tersendiri, bagi bangsa dan negara,” tegasnya.

Memilih Pesantren NU agar Toleran

“Alhamdulillah Mas, anak saya Rezka diterima di pesantren.”

Begitulah pesan singkat dari seorang sahabat saya yang melalui aplikasi messenger beberapa hari silam.

“Assalamualaikum, kami dari panitia Penyaringan Santri Baru (PSB) SMP Ali Maksum memberitahukan bahwa ananda Rezka dinyatakan DITERIMA sebagai Santri SMP Ali Maksum,” ia susulkan terusan pesan dari panitia seleksi pesantren yang mengkonfirmasi bahwa anaknya lolos seleksi di pesantren NU yang berbasis di Krapyak Yogyakarta tersebut.

Jimmy, nama sahabat saya tersebut, mungkin mengalami perasaan ‘nano-nano’, campur-aduk antara senang, sedih atau bahkan bingung. Betapa tidak, dalam sejarah keluarganya ini merupakan pengalaman perdana mempercayakan pesantren untuk masa depan anak kelak.

Jimmy bukanlah berasal dari keluarga santri atau mambu santri. Ia merupakan kebanyakan masyarakat Indonesia, Muslim yang menjalankan ritual dan kewajiban agamanya, tetapi tidak begitu berhasrat untuk mengidentifikasikan dirinya sebagai kaum santri. Ia mungkin lebih pas mewakili kaum abangan dalam bahasa antropolog Clifford Geertz.

Kegelisahan Muslim Awam

Mungkin akan menarik untuk mengetahui sedikit lebih dalam mengapa kawan tersebut akhirnya mempercayakan pesantren sebagai media pendidikan anaknya. Ini agak menarik dan mungkin sedikit berbeda dengan sebagian kita yang memiliki tradisi santri secara turun-menurun.

Bagi kaum santri, barangkali among the top rank alasan memesantrenkan anak adalah untuk kecipratan berkah kiai, menjaga darah hijau untuk tetap mengalir pada generasi penerus, dan alasan-alasan klasik-melankonik sekitar itu. Kualitas pendidikan, atau masa depan yang gemilang, bukanlah faktor pendorong bagi kaum santri untuk memondokkan anaknya. Bekerja di tempat yang prestisius dan bonafid? Itu sama sekali tidak pernah terpikir di benak orang tua kami zaman dahulu.

Jimmy, dan mungkin kebanyakan orang, hanyalah kalangan yang gelisah dengan pergaulan dan dunia pendidikan sekaligus.

Kenakalan remaja, narkoba atau kecanduan games dan gadget mungkin menjadi alasan sentimentil yang pertama. Dengan gadget yang tidak bisa lepas dari anak kita dan teman-temannya, sebagian kita menjadi sedemikian khawatir terjadinya disfungsi informasi dan kegunaan gadget. Kita khawatir, gadget bukan saja akan menyita waktu belajar anak-anak melainkan juga menjadi media yang buruk bagi tumbuh kembang anak.

Alasan kedua adalah dunia pendidikan kita yang semakin minim karakter. Sekali lagi, masalah agama tidak menjadi soal yang sangat serius bagi kalangan seperti kawan saya ini. Beragama itu bagi kawan saya sewajarnya sebagai bentuk kehambaan manusia di hadapan Tuhannya. Bagi Jimmy dan kalangan abangan-menengah, karakter merupakan elemen yang penting dalam pendidikan anak. Lebih penting ketimbang deretan nilai-nilai akademik dan prestasi-prestasi seremonial lainnya.

Kawan saya ini juga unik. Meskipun secara ekonomi tergolong berkecukupan–ia bekerja sebagai konsultan pembangunan di beberapa lembaga internasional–ia adalah orang yang gelisah dengan pendidikan berbiaya tinggi. Baginya, mutu pendidikan tidaklah melulu diikuti dengan biaya yng tinggi.

“Sebenarnya saya bisa saja menyekolahkan anak saya di international school atau di pesantren modern yang biaya masuknya bisa 40-60 juta. Tapi untuk apa bila kemudian tidak berhasil membentuk karakter anak saya kelak. Apalagi pesantren modern kalau saya lihat derajat toleransinya tidak tinggi, tidak setulus pesantren-pesantren NU yang toleransinya dari hati,” imbuhnya sembari menjelaskan alasan yang lebih substansial.

Intoleransi dan Hijrahnya Kaum Abangan

Apa yang disampaikan sahabat saya tersebut setidaknya menjelaskan sedikit kepada kita akan apa yang sedang terjadi di kalangan Muslim abangan, dan juga priyayi (bila kita masih hendak konsisten menggunakannya dalam diskusi kali ini).

Lihat saja bagaimana bergairahnya pengajian-pengajian di lingkungan ASN, pegawai BUMN dan perusahaan-perusahaan swasta bonafid yang merupakan tempat berkumpulnya kalangan priyayi dan abangan. Atau, cermatilah fenomena artis-artis hijrah yang berhasil mengubah penampilah lahiriah mereka 180 derajat. Belum cukup? Lihatkan generasi millennial yang rata-rata tidak memiliki latar belakang pendidikan agama yang berduyun-duyun membanjiri Hijrah Fest di GBLA Bandung beberapa waktu lalu.

Tidak ada yang salah dengan fenomena hijrah ini. Masalahnya adalah mereka yang berhijrah ini kemudian memiliki sikap yang cenderung intoleran, baik terhadap kaum seagama sendiri lebih-lebih terhadap saudara kita non-Muslim. Hingga di sini, fenomena hijrah ini menjadi sesuatu yang patut dikoreksi.

Terlebih belakangan kita bisa melihat bagaimana kawan sepergaulan kita, yang tadinya baik-baik saja, hidupnya humanis dan dapat berkawan dengan siapa saja secara lahir bathin namun kemudian hidupnya berubah. Cara pandang mereka terhadap kehidupan dan interaksi sosial berubah setelah mengenal dunia hijrah’. Mereka mendadak menjadi intoleran, membatasi diri dalam ruang lingkup pergaulan yang lebih terbatas, minimal mereka-mereka ini menganggap non-Muslim sebagai pihak yang ‘patut dicurigai’ dan karennya ‘harus berhati-hati’ berinteraksi dengan mereka.

Pesantren NU sebagai Koreksi Fenomena Hijrah

Karena kepo, kemudian saya bertanya lagi kepada sahabat tersebut kenapa ia memasukkan anaknya ke pesantren NU. Ini agak unik bagi saya karena Jimmy bukanlah aktivis NU, atau pernah mengikuti jenjang kaderisasi di badan otonom NU. Jimmy dan keluarga besarnya juga tidak ada yang berpendidikan pesantren dalam sepanjang sejarah. Jimmy juga bukanlah lulusan IAIN, UIN, atau STAI. Demikian juga Veni, istri Jimmy, ia juga awam sama sekali tentang pesantren. Veni juga tidak terobsesi dengan tayangan dai cilik atau program tahfidz anak seperti di tivi-tivi selama Ramadhan.

Jawaban Jimmy dan Veni membuat hati saya tergetar, berbaur antara haru, bangga sekaligus agak teriris. “Kami melihat NU selalu menjunjung tinggi nilai Islam rahmatan lil alamin. Sehingga, kami berharap anak-anak kami nantinya bisa melihat bahwa perbedaan adalah hal yang alami dan sunatullah. Bagi kami, ber-Islam itu bukan hanya hablum minallah, melainkan juga menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi,” jelasnya.

Apa yang terjadi pada Jimmy dan Veni ini juga dialami oleh sebagian kalangan Muslim awam (abangan dan priyayi) di sekeliling kita. Itulah yang menjelaskan kenapa fenomena hijrah menjadi marak. Sayangnya fenomena hijrah ini cenderung melekat pada sandaran ajaran pemaknaan Islam secara literal, simplistis, ahistoris sehingga cenderung menanamkan benih intoleransi terhadap sesama. Medan ‘hijrah’ ini sudah terlanjur dikuasai oleh pengajar-pengajar agama yang berpemahaman keagamaan yang kaku dan kurang bisa menerima pihak lain.

Apa yang dialami Jimmy sesungguhnya menjadi pelajaran bagi kita semua. Pelajaran yang teramat menarik. Bahwa maraknya intoleransi belakangan ini yang salah satunya disebabkan oleh fenomena hijrah, sesungguhnya bisa dikoreksi oleh pesantren NU. Pesantren harus turun gunung kembali untuk menjadi garda terdepan dakwah di masyarakat yang lebih luas.

Yang sedang dialami oleh kaum Muslimin awam (priyayi dan abangan) hanyalah fenomena dahaga spiritualitas semata. Sayangnya, selama ini pesantren atau khususnya pesantren di lingkungan NU tidak melakukan penetrasi yang ekspansif di kalangan-kalangan Muslim awam ini. Pesantren NU hanya populer di kalangan yang sudah memiliki tradisi santri.

Apa yang dialami Jimmy dan Veni tentu sangat spesial. Walau tidak memiliki tradisi santri sebelumnya, pasangan ini berhasil melewati sebuah transformasi kegelisahan dengan cara yang benar: kegelisahan mereka akan masa depan anak tidak lantas membuat keduanya gegabah memilih dunia pendidikan! Mereka mempertimbangkan aspek kecerdasan akademis, kecerdasan sosial, dan fahim agama dengan satu bingkai yang tegas: rahmatan lil alamin yang karenanya harus toleran lahir-batin. Bukan toleran yang tampak permukaan tetapi dalam hatinya masih tertanam sekam kebencian terhadap makhluk Tuhan yang berbeda dengannya.

Selamat ya Jimmy dan Veni. Insyallah Rezka kelak menjadi anak bangsa yang tangguh dengan keislaman dan keindonesiaannya!

“Semoga UU Pesantren menambah berkah bagi Indonesia,” harap Robikin.

Setelah melalui berbagai kajian, pertimbangan, dan rancangan yang dibuat oleh pihak-pihak terkait, RUU Pesantren disetujui oleh semua fraksi di DPR RI pada Selasa, 24 September 2019.

“Setuju!” kata 288 anggota DPR dari seluruh fraksi di Gedung Nusantara II, Kompleks Kantor DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (24/9).

Suara persetujuan itu sebagai jawaban atas pertanyaan yang disampaikan oleh Fahri Hamzah, Pemimpin Rapat Paripurna ke-10 DPR RI.

Sebelumnya, Fahri menerima banyak interupsi yang bersifat penguatan dari berbagai fraksi. Semua pandangan fraksi pada prinsipnya mendukung.

Sementara itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan pandangan terakhir Presiden RI Joko Widodo.

Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa RUU Pesantren dibuat karena adanya kebutuhan mendesak atas independensi pesantren berdasarkan fungsinya, yakni dakwah dan pemberdayaan masyarakat.

Di samping itu, RUU tentang Pesantren ini juga merupakan bentuk afirmasi dan fasilitasi bagi pesantren. Pengesahan RUU Pesantren ini disambut dengan Shalawat Badar dan lantunan Ya Lal Wathan oleh anggota DPR RI yang hadir dalam rapat paripurna.

SUMBER : NU ONLINE

ANTROPOLOGI KEHARAMAN BABI UNTUK MUSLIM DAN ALASAN TUBUH SAYA MENOLAK BABI

Antropologi Keharaman Babi Bagi Kaum Muslim dan Yahudi

Kenapa daging babi diharamkan bagi umat Islam dan Yahudi? Atau jangan-jangan pertanyaan demikian itu bagi kita (umat beragama) tidak terlalu penting untuk dipertanyakan. Sebab, alasan teologis ataupun pendasaran ajaran Islam sudah cukup bagi kita untuk mematuhi larangan untuk mengonsumsi daging babi tersebut.

Dalam ajaran Islam ada standarisasi bahwa makanan yang layak untuk dikonsumsi adalah makan yang halal. Begitu pula bagi umat Yahudi, ternyata ada standarisasi yang mirip dengan standarisasi halal sebagaimana dalam Islam. Pada kaum Yahudi, istilah standarisasi kehalalan sebuah makanan disebut dengan “koshr”. Sebagaimana dalam Islam, bagi kaum Yahudi babi juga dihukumi “haram”, tidak koshr, tidak halal.

Namun demikian, bagi kaum akademisi, intelektual, ataupun peneliti, alasan-alasan teologis/keimanan bahwa mengonsumsi daging babi berhukum haram tidak cukup. Perlu ada penjelasan lain dengan pendasaran-pendasaran penelitian ilmiah. Demikian itulah yang dilakukan oleh seorang antropolog bernama Marvin Harris dalam bukunya Sapi, Babi, Perang dan Tukang Sihir (2019) dalam satu babnya membahas tentang teka-teki kenapa daging babi diharamkan bagi kaum muslim dan Yahudi.

Dalam proses penelusuran antropolog Harris (2019) tentang teka-teki keharaman babi bagi umat Islam dan Yahudi adalah adanya alasan yang berkembang dalam masyarakat bahwa babi itu hewan yang jorok, kotor, berkubang dalam air kencingnya sendiri dan pemakan kotoran manusia. Tetapi, penjelasan seperti itu tak cukup bagi Harris.

Penelusurannya menemukan bahwa klaim demikian itu sangat tidak konsisten sebagai sebuah penjelasan ilmiah. Sebab apa, karena penelusurannya menemukan bahwa hewan sapi pun akan berlaku sama seperti babi ketika ditempatkan dalam kandang yang kurang terawat, ia akan berkubang dalam bekas air kencingnya sendiri dan juga sapi yang kelaparan akan memakan kotoran manusia sebagaimana babi.

Upaya lanjutan penelusuran antropologis Harris (2019) tentang teka-teki babi bertemu dengan penjelasan Moses Maimonides (Musa bin Maryam), seorang dokter istana Salahudin pada abad ke-12 M di Kairo, Mesir. Maimonides memberikan penjelasan naturalis/medis tentang kenapa babi diharamkan. Menurutnya babi diharamkan karena mengandung penyakit yang berbahaya jika dikonsumsi oleh masyarakat.

Kemudian, alasan Maimonides tersebut diperkuat oleh penemuan ilmiah pada abad ke-19 M bahwa dalam daging babi terdapat cacing pita yang dapat membahayakan jika dimasak kurang matang. Namun, penelusuran Harris selanjutnya menemukan bahwa penjelasan babi diharamkan hanya semata karena ada cacing pita masih menemui kontradiksi ilmiahnya.

Sebab apa? Daging sapi, kambing, dan domba yang oleh umat Islam dan Yahudi berhukum halal sebenarnya juga mengandung penyakit yang sama-sama berbahaya bagi masyarakat. Daging kambing dan domba mengandung bakteri Brucellosis melitensis yang berbahaya. Sapi lebih berbahaya, penyakit Antraks pada sapi juga merupakan salah satu penyakit menular yang paling berbahaya dalam sejarah umat manusia.

Dalam kebuntuan penelusuran ilmiah tersebut, sang antropolog memberikan jawaban yang menarik. Menurutnya larangan ilahiah atas babi tersebut merupakan sebuah strategi ekologis yang berasalan. Sebab apa, jika ditelusuri kondisi alam tempat kaum muslim dan yahudi hidup adalah tanah padang pasir yang gersang dan dekat dengan lembah sungai.

Kaum muslim dan yahudi adalah keturunan dari orang Ibrani prohistoris (anak-anak Nabi Ibrahim pada pertengahan abad ke-2 M). Mereka hidup di wilayah yang gersang, kasar, dengan sedikit penduduk di antara lembah sungai Mesopotamia dan Mesir. Pada awalnya anak cucu Ibrahim adalah peternak nomaden, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam kehidupan peternakan nomaden pada wilayah yang demikian itu, hewan yang paling bisa diandalkan untuk mudah berpindah-pindah adalah sapi, kambing, dan domba.

Selain babi sulit untuk dibawa berpindah tempat, babi juga memiliki kesulitan dalam hal makanannya. Walaupun babi adalah hewan omnivora, pemakan tumbuh-tumbuhan sebagaimana sapi, kambing dan domba. Akan tetapi, kebutuhan gizi babi didapat dari umbi-umbian, kacang-kacangan, dan buah-buahan, sama seperti yang dimakan manusia. Dalam kondisi tanah yang tandus tersebut, tentu sangat tidak efisien memelihara hewan yang memakan makanan yang juga dimakan manusia.

Alasan selanjutnya adalah bahwa babi adalah tipe hewan yang sulit untuk beradaptasi tinggal dalam wilayah yang panas dan gersang seperti di Timur Tengah. Menurut penelitian L.E. Mount dari Agricultural Council Institute of Animal Psychology di Cambridge menemukan bahwa babi dewasa akan mati jika terpapar sinar matahari langsung, dan suhu udara di atas 37ο C. Dan benar, di Timur Tengah, dimana tempat kaum muslim dan yahudi awal tinggal bersuhu 43ο C sepanjang tahun. Suhu setinggi itu akan cepat membunuh babi.

Pada akhirnya, penelusuran Marvin Harris tersebut menemukan bahwa pelarangan ilahiah atas daging babi bagi kaum muslim dan yahudi adalah sebuah strategi ekologis, supaya kelangsungan siklus mata rantai makanan masyarakat gurun yang gersang dan panas tersebut tetap seimbang. Informasi baru tersebut menarik bagi kita bahwa ternyata dibalik sebuah larangan teologis agama memiliki landasan-landasan ekologis yang rasional, demi kelangsungan umat manusia itu sendiri.

Mengapa Tubuh Saya Menolak Makan Babi

“Kenapa kawan-kawan (muslim) gak mau makan babi, tapi masih mau (menenggak minuman sampai) mabok? Bukankah jika berbicara dosa (menurut Islam), keduanya sama-sama berdosa?” tanya kawan saya beberapa waktu lalu ketika sedang asyik menikmati kerupuk kulit-babi bersama kawan-kawan lain, merencanakan pesta kecil demi sesuatu keberhasilan yang layak dirayakan dengan bir dan wine.

Siang itu, tak setiap dari kami yang “kebetulan” beragama Islam dan bahkan beberapa pernah mengenyam pendidikan di pesantren tapi masih juga (kadang) “minum” itu, agaknya tak memiliki jawaban yang pasti, tegas, jelas, dan berterima. Namun, pertanyaan itu telah mengusik kesadaran dan membikin saya memikirkan babi (dengan berbagai hasil olahan dagingnya) dalam beberapa hari.

Ya, kenapa babi—sebagai binatang maupun sebagai suatu olahan makanan—begitu melekat dalam kepala kami, paling tidak dalam kepala saya, sebagai sesuatu yang teramat haram, sangat haram, paling haram, sehingga tiada lagi yang melebihi keharamannya jika dibandingkan dengan binatang atau makanan/minuman lain yang  juga diharamkan dalam agama Islam?

Adakah “citra” haram si babi ini merupakan salah satu keberhasilan guru-guru agama kami, baik di madrasah ataupun di pesantren, dalam menanamkan suatu keyakinan yang tak bisa ditawar-tawar lagi? Sementara soal minuman yang memabukkan, kami masih saja bernegosiasi?

Seorang kawan lain menimpali pertanyaan itu dengan seloroh, “Bukankah pengharaman khomer berlangsung dalam beberapa tahap dan tidak serta-merta diharamkan dalam sekali “perintah”, sedangkan babi telah diharamkan sedari mula?”

Saya tertawa geli. Seolah kadar keharaman itu berbeda-beda dan memiliki nilai yang tidak setara antara satu dan yang lainnya. Tapi barangkali, secara taksadar, kami—atau paling tidak saya—mengamini “pembelaan” kawan saya itu. Sebab, hingga kini, saya (atau tubuh saya) tak bisa menerima babi sebagai sesuatu yang layak dikonsumsi. Sementara itu, saya masih bisa menerima bir dan wine sebagai sesuatu layak konsumsi; minuman yang sesekali bisa dinikmati tanpa  efek mabuk.

Ah, kami tak berhasil menemukan jawaban yang memuaskan, memang, bahkan untuk diri sendiri. Hanya saja, entah mengapa pertanyaan itu terus saja menggayuti pikiran saya. Barangkali, karena pertanyaan itu muncul pada tahun yang juga “mengandung” babi, yaitu tahun babi tanah.

Atau barangkali, karena ketika saya mejalani Residensi Penulis (Komite Buku Nasional) di Mentawai pada September—November 2018 lalu, tak sekali pun saya bernyali untuk sekadar menyentuh daging babi, ketika kami (saya dan tuan rumah) menikmati makan bersama.

“Silakan…,” kata saya kepada tuan rumah untuk tetap menikmati hidangannya, tanpa perlu merasa bersalah karena tamu mereka tidak berkenan menikmati makanan yang sama. “Saya hanya tidak bisa makan babi.”

Saya merasa tak perlu mengatakan bahwa dalam agama saya babi itu diharamkan. Lagipula, saat itu, saya mulai berpikir bahwa mungkin bukan melulu lantaran agama yang saya warisi dan kemudian saya yakini sedemikian rupa, yang telah mencegah tubuh saya untuk dapat menikmati daging babi. Maka kemudian, saya sekadar menikmati sagu panggang dengan udang dan ikan-ikan sungai yang dimasak dalam bumbung bambu.

Mitos Babi di Mentawai

Dalam beberapa kesempatan tinggal di Mentawai, memang, saya beberapa kali menyaksikan dan mengamati dengan saksama, bagaimana seekor babi disembelih dan diolah. Keempat kaki binatang yang menurut mitos orang Mentawai adalah pemberian langsung dari para leluhurnya dan diturunkan dari langit itu, diikat dan dibaringkan di depan uma.

Lehernya ditusuk dengan sebilah parang yang teramat runcing dan tipis, dan darahnya yang mengalir dari lubang tusukan itu ditampung dalam sebuah panci. Lalu, si babi yang telah mati dan tak lagi berdaya untuk sekadar menguik itu, dibedah dan dikeluarkan isi perutnya, sebelum kemudian tubuhnya yang malang dibakar di atas seunggun api untuk merontokkan bulu-bulunya.

Dan setelah bulu-bulunya hangus dan rontok—yang menguarkan bau tak sedap dalam penciuman saya—tubuh si babi dicincang sedemikian rupa, dan dimasak dalam kuali beserta darah yang tadi ditampung dan jeroan yang telah dibersihkan. Sementara kedua daun telinganya, tidak disertakan dalam rebusan daging babi itu.

“Tidak enak,” kata kawan yang menemani dan menjadi penerjemah saya selama menjalani residensi penulis di Mentawai itu. Jadi, bagian kuping babi itu dipisahkan karena akan merusak rasa masakan jika dicampurkan dalam rebusan. Begitu kawan saya menjelaskan.

Nah, kawan penerjemah saya itu adalah seorang Mentawai. Dia lahir dan besar dan berumah tangga di Mentawai, tepatnya di Dusun Madobag. Meski pengetahuannya tentang kebudayaan moyangnya agak terbatas, tapi ada sesuatu yang “unik” dalam dirinya. Dia mengaku telah “memeluk” agama Islam sejak beberapa tahun terakhir, namun tak pelak ia masih juga menikmati daging babi.

Tentu saja saya tak hendak mencegahnya, mengingatkannya, apalagi melarangnya, untuk tidak mengonsumsi daging babi yang diharamkan agama Islam itu. Sebab, saya toh tidak sedang menyiarkan suatu keyakinan dan tidak memiliki kapasitas untuk melarang orang lain. Saya hanya sedang belajar tentang hidup dan kehidupan orang Mentawai, yang justru mengharuskan saya untuk mengapropriasi, mengafirmasi, dan memahami segala hal yang mereka yakini sampai ke akarnya yang paling dalam.

Lambat laun, saya mendapati bahwa kawan saya ini bukan satu-satunya orang Mentawai yang saya temui, yang mengaku beragama Islam tapi masih juga mengonsumsi babi. Pertanyaan “mengapa” tentu saja tak terelakan dalam kepala saya. Namun, sebelum melontarkan pertanyaan semacam itu, lebih dulu saya mengajukan pertanyaan kepada diri saya sendiri: apakah benar bahwa babi “menjadi haram” dalam benak dan pemahaman saya lantaran pengaruh agama saya, atau lantaran kebudayaan yang mengonstruksi dan melekat begitu kuat dalam tubuh dan pikiran saya?

Demi memahami keterkaitan antara babi dan agama atau kebudayaan itu, maka saya melakukan wawancara secara intensif dan mendalam dengan beberapa informan yang telah saya identifikasi dan tentukan. Dan dari hasil wawancara itu, saya mendapati jawaban-jawaban yang menarik sekaligus mencengangkan, yang kemudian saya rangkum dalam beberapa kalimat pernyataan, sebagai berikut.

“Agama kami (memang) Islam, tapi tubuh kami Mentawai. Dan orang Mentawai memakan babi. Tubuh kami suka daging babi. Dalam pesta-pesta harus ada babi. Jadi, tubuh kamilah yang menginginkan dan memakan babi, bukan agama kami.”

Begitulah. Dan rumusan serupa dari orang-orang Mentawai yang saya wawancarai itu, terkonfirmasi kemudian oleh Maskota Delfi—salah seorang dosen Antropologi di Universitas Andalas—melalui artikel jurnalnya yang bertajuk “Islam and Arat Sabulungan in Mentawai”. Apalagi, dalam kebudayaan orang Mentawai, babi—selain juga ayam—merupakan binatang yang amat penting, baik sebagai makanan dalam hidangan berbagai ritual uma, alak toga (mas kawin), tulou (denda), dan keperluan lainnya.

Untuk itu, demi mendapatkan gambaran yang lebih jelas, barangkali perlu saya tambahkan pernyataan informan-informan yang dikutip secara cukup panjang oleh Delfi, yang menurut saya, menarik untuk diperhatikan:

“Kata sasareu sipuisilam (pemeluk agama Islam dari luar Mentawai), babi haram. Teteu siburuk (nenek moyang terdahulu) kami juga mengatakan kalau sasareu selalu sebut babi itu haram dan sasareu tidak mau memakannya. Tapi kami lihat ada juga sasareu yang memakannya, Sainias (orang Nias) suka makan babi, Saibatak (orang Batak) juga banyak yang suka makan babi”.

“Jadi, sasareu itu ada yang makan babi, ada yang tidak. Sasareu Sipuisilam tidak makan babi. Kalau di sini, di Mentawai, di Siberut ini, kami semua suka babi …. Kami sudah lama diberitahu kalau babi haram. Ya, babi haram, tapi babi mananam (enak). Kami tidak makan babi yang haram, tapi babi yang mananam yang kami makan”.

    Jadi, babi haram jangan kita makan, babi yang mananam saja yang kita makan. Rugi kita kalau babi mananam tidak kita makan. Seperti kata sasareu, rezeki jangan dibuang, itu namanya mubazir. Kalau mubazir tidak boleh, tidak bagus itu. Jadi babi mananam jangan dibuang.”

Atau penyataan informan lainnya yang tak kalah menarik, sebagai berikut.

“Memang arat [dalam kontek ini kata arat berarti agama] saya Islam, kami di Mentawai Siberut ini menyebut orang yang punya arat Islam itu Sipuisilam. Tapi yang Isilam itu kan arat saya. Saya makan babi, anak-anak saya juga makan [babi], semua keluarga saya makan babi. Kami punya babi, sudah kita pelihara baik-baik, kita kasih makan sagu tiap hari, karena kita mau makan dagingnya. Sayang kalau tidak kita makan”.

    Kalau kita tidak mau makan dagingnya untuk apa kita susah-susah peliharanya. Kadang kami jual juga kalau ada yang mau beli, biasanya kalau ada lia (ritual), orang beli babi pada kami. Saya makan babi karena saya memang suka makan babi walau arat saya Isilam. Arat Isilam, tapi tubuh saya tidak. Tubuh saya ini Mentawai, makanya saya makan babi. Yang makan babi itu mulut saya, tubuh saya, bukan arat saya.”

Saya merenungi dan mencoba memahami pernyataan-pernyataan itu, dan bagaimana orang Mentawai sampai pada sebuah konsep yang membedakan (secara ekstrem?) antara tubuhnya dan agamanya. Namun kemudian, agaknya saya bersepakat dengan pandangan Delfi yang menyatakan bahwa larangan mengonsumsi babi bagi penganut agama Islam, oleh kebanyakan orang Mentawai—khususnya yang beragama Islam—di Pulau Siberut, sulit untuk dipahami, apalagi untuk dipraktikkan.

Secara sederhana, barangkali dapat dikatakan bahwa larangan itu tidak masuk akal karena tidak bersesuai dan tidak berterima bagi alam lingkungan dan perikehidupan orang Mentawai.

Konstruksi Budaya

Sampai titik ini, kemudian saya memikirkan ulang tentang agama dan kebudayaan yang mengonstuksi keseluruhan diri saya. Adakah agama telah mengonstruksi diri dan kesadaran saya sehingga saya (atau tubuh saya) menolak dan tidak bisa memakan babi?

Ataukah kebudayaan yang melekat dalam diri dan kesadaran saya yang telah mengafirmasi ajaran agama karena pengharaman terhadap babi dianggap bersesuai dan berterima dengan adat dan kebiasaan leluhur saya? Dan bukankah dalam alam lingkungan tempat saya tumbuh—di Serang, Banten—, kemudian menyerap berbagai-bagai nilai kebudayaan di dalamnya, tak pernah saya temui babi ataupun olahan daging babi?

Saya mengingat-ingat bagaimana kesadaran tentang agama dan kebudayaan itu menjadi bagian dari diri saya. Dan meski tidak berhasil mengingat sampai ke dasar atau ke tahap paling awal dalam kehidupan yang saya jalani, saya toh mulai menelusuri ingatan-ingatan yang dapat saya kenangkan kembali.

Salah satunya, ingatan pada pesantren dengan kobong-kobong berbilik bolong yang pernah saya tinggali, pada Madrasah Tsanawiyah yang pernah saya masuki, yang bagaimanapun, tentu pembelajaran di dalamnya telah menjadi bagian dari kesadaran saya hingga saat ini. Barangkali, termasuk kesadaran bahwa babi adalah haram untuk saya konsumsi.

Namun, saya tak dapat mengabaikan kenyataan bahwa dalam alam lingkungan dan kebudayaan yang saya jalani selama ini, saya tak pernah mendapati babi di keluarga saya, baik sebagai binatang liar yang diburu, binatang ternak, atau menu makan. Tidak juga saya mendapati daging babi terhidang dalam pesta-pesta daur hidup yang saya warisi dari kebudayaan leluhur.

Kecuali, sekali pernah saya saksikan seekor babi malang yang dibantai anjing-anjing pemburu dalam arena ngadu bagong di Garut, yang justru membikin saya ngeri dan jatuh kasihan kepada si babi yang terus saja menguik ketakutan sembari melarikan diri ke sana ke mari.

Dalam kebudayaan yang saya resapi, tampaknya babi memang tak pernah menjadi bagian dalam perikehidupan urang Sunda, selain sekadar dianggap sebagai hama, yang oleh karenanya dianggap layak dibantai anjing-anjing dalam arena ngadu bagong itu. Maka, dengan demikian, dalam benak saya menyimpan kesimpulan yang tak lagi dapat ditawar bahwa babi bukan untuk dikonsumsi; babi bukan makanan! Untuk itu, sebagaimana orang Mentawai yang sulit memahami mengapa suatu ajaran agama mengharamkan babi untuk dikonsumsi, saya pun sulit memahami mengapa ada orang yang bisa mengonsumsi babi.

Dalam kesulitan memahami itu, saya teringat salah satu esai Marshal Sahlins yang bertajuk “Food as Symbolic Code”. Melalui esai tersebut, Sahlins menyibakkan kode-kode simbolik atas empat jenis binatang (sapi, babi, kuda, dan anjing) sebagai suatu sistem budaya dalam masyarakat Amerika, yang ternyata menyokong hierarki sosial dalam masyarakat tersebut.

Menurut Sahlins, dalam kebudayaan Amerika yang tentu mengandung makna dan nilai yang diresapi masyarakatnya, keempat binatang itu menempati status dan derajat yang berbeda antara satu dan lainnya; yaitu, stratifikasi sebagai subjek/teman (kuda dan anjing) dan sebagai objek/makanan (sapi dan babi).

Bahkan, di dalam statusnya sebagai teman atau sebagai makanan, keempat binatang itu masih juga dipilah dan ditempatkan pada derajat tertentu guna menyokong hierarki sosial antara yang-kaya dan yang-miskin. Anjing dianggap memiliki derajat lebih tinggi daripada kuda sebab anjing diperbolehkan tinggal dan bahkan tidur bersama si empunya (di dalam rumah/apartemen dan melekat), sedangkan kuda ditempatkan di istal (di luar dan berjarak).

Sementara itu, sapi dianggap memiliki derajat lebih tinggi daripada babi karena daging sapi lebih disukai. Bahkan, bagian paha sapi, misalnya, selalu dihargai lebih mahal tinimbang bagian lainnya sehingga hanya yang-kaya saja yang mampu membeli dan menikmatinya, sedangkan bagian jeroan selalu dihargai dengan murah yang memang diperuntukkan bagi makanan yang-miskin.

Kita tahu, bahwa dalam persoalan makan-memakan-makanan itu, nilai dan makna simbolik dalam suatu kebudayaan tentu akan berbeda dengan nilai dan makna simbolik dalam kebudayaan lainnya. Dan dalam hal itu, bagi saya, agaknya penolakan tubuh saya terhadap babi tidak melulu dilandasi kesadaran pada pengharaman oleh agama, melainkan lebih dipengaruhi oleh nilai dan makna simbolik yang saya resapi melalui kebudayaan.

Atau barangkali, penolakan tubuh saya terhadap babi bertumpu pada kelindan antara agama Islam dan kebudayaan Sunda. Sebab, sekalipun bir atau wine diharamkan—meski tentu saja agama tidak tegas menyebut merek—, tapi alam lingkungan dan kebudayaan yang nilai-nilainya saya resapi, dapat dengan mudah menyediakan minuman sejenis seperti “anggur kolesom cap orang tua” yang biasa dikonsumsi kakek saya sehari seloki. Saya tahu, bahwa minuman itu tidak pernah diperlakukan seburuk memperlakukan babi dalam arena ngadu bagong itu, meskipun pernah saya “salah gunakan” karena menenggaknya lebih banyak tinimbang kebiasaan kakek saya itu.

Dengan demikian, jika orang Mentawai beragama Islam masih juga memakan babi yang mananam, tapi tidak memiliki kebiasaan menenggak minuman hasil fermentasi (karena dalam kebudayaan mereka tidak ditemukan minuman semacam itu), saya justru sebaliknya. Tubuh saya yang juga “kebetulan” beragama Islam, menolak mengonsumsi babi walaupun masih saja menoleransi untuk meminum bir atau wine (astaghfirullahal adziem), karena dalam kebudayaan saya minuman itu mudah saja ditemukan.

Sementara itu, kawan-kawan di berbagai daerah  dengan latar kebudayaan lain, mampu menikmati keduanya: memakan daging babi (guling) sembari menenggak wine.

11 SEPTEMBER 2019 SELAMAT JALAN PRESIDEN RI KE 3 Prof. Dr. Ing. H. BJ. HABIBIE

Presiden Republik Indonesia (RI) ketiga Bacharuddin Jusuf Habibie (BJ. Habibie) semasa masih hidup, pernah mengatakan bahwa jika bisa memilih antara ilmu teknologi dengan ilmu agama, ia akan memilih ilmu agama.

Pernyataan tersebut ia kemukakan saat acara dialog umum dengan tema “Indonesia Pasca Reformasi dan Peran Lulusan Azhar” di Mesir 6 Juni 2011 silam.

“Jika Allah memanggilku dan bertanya padaku, wahai Habibie pilihlah salah satu dari pilihan ini. Mana yang kau pilih antara Ilmu pengetahuan dan tekhnologi (iptek) atau iman dan takwa (Imtak). Maka dengan seketika saya menjawab Imtak, namun ternyata Allah memberikan dua keistimewaan itu pada saya,” kata Habibie saat itu, seperti dikutip dari Kompasiana, Rabu (11/9/2019).

Habibie meninggalkan pesan yang sangat mendalam mengenai salah satu pernyataannya ini soal bekal nanti di akhirat.

Habibie mempertanyakan ketika nanti kematian menjemputnya. Kira-kira jika malaikat datang menjemput, akan seperti apakah kematian nanti? Siapa yang akan memandikan? Dimana akan dikuburkan? Sempatkah anak kesayangan dan menjadi kebanggaan datang mengurus jenazah dan menguburkan?

“Apa amal yang akan dibawa ke akhirat nanti? Rumah akan ditinggal, asset juga akan ditinggal pula. Anak-anak entah apakah akan ingat berdoa untuk kita atau tidak  Sedang ibadah mereka sendiri saja belum tentu dikerjakan? Apa lagi jika anak tak sempat dididik sesuai tuntunan agama?  Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja,” terangnya.

Habibie juga mengajak kita untuk merenungi kehidupan ini. Menyiapkan ‘bekal’ untuk menghadap-Nya dan ‘mempertanggung jawabkan kepadaNya.

“Jangan terbuai dengan ‘Kehidupan Dunia’ yang  bisa  melalaikan. Kita boleh saja giat berusaha di dunia, tapi jadikan itu untuk bekal kita pada perjalanan panjang dan kekal di akhir hidup kita,” pesannya.

Bacharuddin Jusuf Habibie, pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 itu, meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto pada Rabu (11/9/2019), pukul 18.05 WIB. Selamat jalan pak Habibie.

MARI MENGKRITISI DISERTASI YANG SEDANG VIRAL TENTANG MILK AL-YAMIN

Kontroversi penafsiran Muhammad Syahrur terhadap ayat milk al-yamin (Q.S.al-Mukminun: 5-6) menarik untuk dicermati kembali dan dikritisi. Terlebih kemudian Abdul Aziz, dosen IAIN Surakarta, penulis disertasi menjadikan tafsiran Syahrur tersebut dianggap sebagai solusi untuk melegalkan hubungan seks di luar nikah yang konvensional, bahkan mengusulkannya sebagai perbaikan hukum positip di Indonesia, meski dengan syarat-syarat tertentu.

Syahrur, pemikir Syiria selama ini ini dikenal kontroversial. Ia memang menyatakan bahwa (Q.S. al-Mukminun: 5-6) memberikan informasi tentang dua model hubungan seksual (al-`alâqah al-jinsiyah), yaitu:

Pertama, hubungan seks yang diikat oleh ikatan pernikahan tercermin dalam istilah illâ `ala azwâjihim

 

Kedua, hubungan seks yang tidak lewat pernikahan, tercermin dalam istilah aw ma malakat aimanuhum, yang secara harfiah berarti, apa yang dimiliki oleh tangan kanan mereka. Itulah yang kemudian dikenal dengan istilah milk al-yamin.

Para ulama dulu dan sekarang umumnya memahami frasa milk al-yamin sebagai budak yang dimiliki. Dulu, budak memang boleh dijadikan partner seksual oleh pihak tuannya, tanpa harus melalui pernikahan. Ini sebagaimana dapat dibaca dalam literatur kitab-kitab fikih dan tafsir.

Namun, bagi Syahrur milk al-yamin (baca: milkul yamin) di era kontemporer bukan budak, melainkan `aqdun ihshan (kontrak kesepakatan untuk sama-sama menjaga diri hanya untuk berhubungan seks dengan pasangan tersebut saja, tidak dengan yang lain).

Atau yang juga disebut dengan istilah zawaj mut’ah (kawin kontrak) atau zawaz misyar di mana di situ tidak ada mahar, thalaq, tidak pewarisan, karena memang tujuan pokoknya hanya sekedar tujuan seksual (hadf jinsi). (Syahrur dalam Nahwa Ushul Jadidah… hlm. 307-308)

Hemat penulis, konsep milk al-yamin ala Muhammad Syahrur memiliki implikasi yang amat serius. Ia bisa saja dijadikan sebagai pintu masuk untuk menghalalkan “seks bebas”, bagi sebagian orang yang salah paham. Ada pembaca buku Syahrur, yang salah paham, lalu menganggap bahwa Syahrur membolehkan hubungan zina, “seks bebas” di luar nikah.

Dalam buku al-Kitab wal Qur’an (hlm. 628) dengan tegas ia menyatakan bahwa zina adalah `alaqah al-jima’ al jinsi al-mubasyir bayn al-rajul wal mar’ah bidun `aqd al-nikah, atau yang juga disebut dengan fahisyah.

    Syahrur jelas tidak bermaksud menghalalkan zina. Ketika beliau diwancarai di salah satu channel TV Abu Dabi’, beliau dengan tegas menyatakan bahwa tuduhan yang menyatakan dirinya menghallalkan zina adalah samasekali kebohongan, (hadza ithlâqan iftira’ ).

Lalu di mana letak kelemahan pemikiran Syahrur tersebut? Ada beberapa kritik yang dapat penulis kemukakan, yaitu:

Pertama, kritik ontologis, terkait dengan dasar asumsi dasar Syahrur bahwa tidak ada konsep naskh dalam Alquran. Syahrur masih menganggap bahwa ayat milk al-yamin yang disebut 15 kali dalam Alqur’an sebagai ayat yang muhkam, dan tidak dapat dinaskh (dihapus, diganti dengan ayat lain), baik naskh bacaan maupun naskh hukumnya. Padahal menurut para ulama, seperti Mahmud Muhammad Thaha dalam kitabnya, al-Risalah al-Tsaniyah bahwa ayat tentang milk al-yamin (perbudakan) adalah ayat hukumnya sudah di-naskh, karena bertentangan dengan spirit Alquran yang menjunjung tinggi harkat martabat manusia. Begitu juga jika ayat tersebut milk yamin dibaca dengan teori double movement Fazlur Rahman.

Sayangnya, Syahrur masih menganggap teks Alquran tentang milk al-yamin sebagai sesuatu yang tsabat (tetap) yang juga harus dieksekusi dalam konteks kontemporer dewasa ini. Lalu beliau mencoba menafsirkan bahwa milk al-yamin, bukan budak, tapi partner hubungan seks di luar pernikahan yang konvensional. Tapi ingat, lepas setuju atau tidak, bahwa Syahrur memberikan ketentuan dan syarat. Misalnya, harus tetap ada akad (kontrak), tidak boleh dilakukan dengan perempuan yang ada hubungan mahram, tidak homo/lesbi, hubungan seksnya juga tidak boleh dipertontonkan kapada orang lain, tidak boleh dengan perempuan yang menjadi istri orang lain.

Hemat penulis, teks Alquran tentang milk al-yamin tersebut juga “dibentuk” atau lebih tepatnya merespon realitas sosial-historis saat itu. Atau dalam bahasa para ulama bayan lil waqi’. Ia hadir sebagai social mechanisme untuk merespon problem sosial dan situasi konteks Arab, di saat sistem perbudakan masih mengakar kuat (deep rooted), bahkan bukan hanya di masyarakat bangsa Arab, tetapi juga bangsa-bangsa lain, seperti Yunani, Romawi Persia, Babilonia. Jadi, tradisi milkul yamin sesungguhnya bukan ajaran Alquran.

    Alquran justru ingin menghapuskannya. Alquran hadir bukan untuk melanggengkan sistem perbudakan, apapun jenis dan model perbudakan. Sebab Alquran adalah kitab suci sumber inspirasi dan advokasi untuk kaum lemah mustad’afin, salah satunya adalah budak. Maka, memfusingkan kembali ayat milk al-yamin di era kontemporer ini sama dengan melanggengkan sistem perbudakan baru, dan itu artinya kita mundur kembali secara moral dan peradaban.

Kedua, kritik metodologis, terkait konsep antisinonimitas (`adam al-taraduf fi kalimatil Qur’an). Syahrur menganggap bahwa milk al-yamin, bukan al-riqq (budak). Memang teori ini ada ikhtilaf di kalangan ulama, ada yang setuju ada yang tidak setuju. Namun, sejauh pembacaan penulis, semua para ulama Tafsir menafsirkan milk al-yamin dengan al-riqq (budak). Kalau kemudian Syahrur dan juga diikuti oleh Saudara Dr. Abdul Aziz, mencoba memberi makna baru sesuai dengan konteks kekinian, bahwa milk al-yamin adalah partner seksual di luar istri yang dinikahi secara konvensional, tentu makna tersebut tidak sesuai dengan original meaning.

Padahal, menurut salah satu kaedah tafsir seorang penafsir tetap harus menjaga makna asal, la budda min mura’ati ma’na al-ayah `ala hasab zaman al-nuzul (wajib menjaga original meaning di saat ayat itu turun apa). Inilah yang dalam teori hermeneutik, ada prior text dalam pikiran Syahrur untuk memaksakan makna milk al-yamin, bukan dengan budak, tetapi hubungan seksual dengan partner seksual dengan kontrak tertentu, asal suka sama suka.

Secara hermeneutik –meminjam istilah Gadamer– Syahrur terlalu memaksakan pra pemahaman dalam penafsiran ayat, dengan mengabaikan intended original meaning teks tersebut. Mestinya, yang ideal penafsiran tersebut tetap menjaga original meaning dan menangkap maqashid (signifikansi) di balik ayat.

Lalu apa maqashid ayat milk al-yamin tersebut? Hemat penulis, setidaknya ada dua: Pertama, ayat milkul yamin itu untuk merespon problem sosial kemanusiaan, bukan samata-mata problem seksual. Alquran ingin menghapuskan sistem perbudakan, tetapi caranya secara evolusi, pelan-pelan tapi pasti. Itu sebabnya di Alquran memerintahkan fakk al-raqabah (bebasakan perbudakan). Kedua, ayat milk al-yamin itu untuk solusi sementara saja, di mana orang saat itu bisa melampiaskan hasrat seksual kepada budak. Tapi dalam saat yang sama Alquran dan juga Nabi saw, selalu mendorong untuk memerdekakan budak. Itu sebab Sabda Nabi saw dalam hadis Shahih Bukhari—“kepada para pemuda yang sudah siap bekalnya nikah, supaya menikah. Bagi yang belum mampu bekalnya supaya berpuasa. (fa’alaikum bi shoum). Nabi saw tidak mengatakan: fa alaikum bi milkil yamin.

Masih terkait kritik metodologi, Syahrur seolah ingin mengqiyaskan term milk yamin yang dulu di pahami sebagi budak dengan partner seksual di luar nikah konvensional. Model qiyasseperti ini namanya qiyas fasid (analog yang rusak) atau qiyas ma’al fariq. Sebab kedua kasus itu tidak sepenuhnya memiliki illat yang sama. Bahkan secara eksistensial antara budak (milkul yamin yang dulu) dengan partner seksual sekarang berbeda. Dulu yang namanya budak nyaris tidak memiliki posisi tawar dengan tuannya. Dia benar-benar berada dalam “genggaman” tuannya, ia bisa menjualnya atau mempekerjakannya. Sementara dalam konteks tafsiran milkul yamin ala Syahrur, kedua belah pihak yang berkontrak memiliki eksistensial yang setara.

Ketiga, Kritik Ideologis.

Kritik ideologi adalah kritik yang dimaksudkan untuk mengungkap hidden ideology di balik penafsiran al-Qur’an. Ini dapat ditelusuri melalui konteks kepengarangan tafsir tersebut. Syahrur terlalu strukturalis dalam berpikir. Maka, setiap membahas isu, selalu berpikir binary opposition. Lalu kadang lupa terhadap bagaimana harakah al-nash (gerak teks Alquran) itu sendiri. Dalam kasus milkul yamin, Syahrur lalu hanya berpikir bahwa Qur’an membuat dua kategori tentang hubungan seksual yang dibolehkan, yaitu merital dan non marital.

Syahrur lalu mencoba menganalogkan milkul yamin dengan model hubungan seksual di luar nikah konvensional, di mana laki dan perempuan boleh tinggal bersama dengan kontrak tertentu, seperti model samen leven (musakanah) yang berlaku di Rusia.

Menurut Undang-undang di sana, hal itu dibolehkan. Jadi, ideologi tersembunyi di balik tafsiran milk al-yamin adalah memberikan legalitas hubungan seksual di luar pernikahan konvensional. Ini tanpa sadar, juga merupakan bias ideologi patriarkhi, sebab seolah lalu perempuan hanya menjadi objek seks, sementara laki-laki sebagai subjek.

Keempat, Kritik Epistemologis-Aksiologis.

Kritik aksiologis ini menyangkut nilai guna dari sebuah produk penafsiran . Sebagai academic exercise siapa pun diberi ruang untuk berpikir bebas. Tapi dia harus bertanggungjawab secara inteletual dan secara moral. Maka, tentunya ada batasan-batasan nilai yang mesti dipertimbangkan, baik nilai budaya, sosial, dan kondisi psikologi masyarakat. Orang mestinya bukan hanya pinter, tapi juga harus bener dan pener.

Di atas knowledge masih ada ada wisdom. Sebuah kebenaran tafsir, menurut hemat punulis bukan hanya diukur di atas kertas on paper –atau di ujian promosi doktor–m isalnya melalui konsistensi metodologis atau konsistensi filosofis terhadap premis-premis logika semata, tetapi juga perlu diuji secara korespondensi di lapangan. Apakah hasil penafsiran tersebut mampu memberi solusi sosial, atau justru malah menambah problem sosial? Maaf, Tidak dibuka peluang untuk free sex saja “banyak” yang melakukan, melalui prostisusi on line, model nikah sembunyi sembunyi, apalagi diberi justifikasi agama (pembenaran).

Kita tentu mengkhawatirkan dampak-dampak negatifnya, misalnya maraknya model pernikahan ‘milkul yamin’ yang dapat ‘merusak’ atau setidaknya mendistorsi kepercayaan umat terhadap institusi pernikahan keluarga. Oleh sebab itu, seorang ilmuan perlu mempertimbangkan implikasiimplikasi dari temuan-temuan yang diklaim sebagai “ilmiah”, apakah akan membawa mashalah atau mafsadah. Beragama menurut hemat penulis, tidak hanya pada persoalan boleh atau tidak boleh, tetapi juga ada aspek etis atau tidak etis. Dan ini jelas dalam buku Syahrur Nahwa Ushul Jadidah… ketika menyebut unsur agama, yaitu ada aspek qiyam (nilai), syara’i (aturan hukum) dan syi’ar (aspek simbolis-simbolis).

Wa allahu alam bi shawab.

PLESETAN SINGKATAN NU YANG ASLINYA NAHDLATUL ULAMA “KEBANGKITAN ULAMA”

Logo dan nama NU tidak hanya menempel di bendera atau kop surat, tapi juga di kaos, topi, kendaraan, dan jadi merk air minum. Pedagang bilang,”Lebih baik jualan gelas atau bendera NU, daripada jualan NU.”

Nahdlatul Ulama, disingkat menjadi NU. NU singkatan dari Nahdlatul Ulama. Sebagaimana umumnya organisasi keagamaan pada waktu itu,  Nahdlatul Ulama –yang berdiri pada 31 Januari 1926– menggunakan nama Arab, yang artinya “Kebangkitan Ulama”.

Bahasa Arab juga dipakai oleh orang-orang Arab di Indonesia ketika mendirikan oranisasi Jami’atul Khoir tahun 1905 atau Al-Irsyad yang berdiri 1914. Dan tak lupa, nama Muhammadiyah oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912.

Mungkin hanya Serikat Dagang Islam atau SDI, yang didirikan oleh HOS Cokroaminoto, Haji Agus Salim, Haji Samanhudi, yang memakai nama agak lokal, ada kata “dagang”-nya. Organisasi yang berdiri Oktober 1905 ini, kemudian berganti nama Syarikat Islam atau SI.

Di antara sekian organisasi Islam, mungkin hanya NU yang mengalami olok-olok, ejekan, hinaan perihal nama. Kepanjangan NU diplesetkan sedemikian rupa buruk, baik oleh orang luar atau orang dalam sendiri. Ini menyakitkan.

Ini empat singkatan NU yang menyakitkan tersebut:

Satu:

Nasi Uduk. Singkatan ini dilontarkan oleh partai-partai yang tidak suka Partai Nahdlatul Ulama pada saat pemilu 1955.  NU diolok-olok sebagai partai yang mampunya tahlilan, kenduren, atau acara-acara keagamaan lainnya, yang di dalamnya makan “NU”: Nasi Uduk.

Dua:

Nunut Urip. Ini bahasa Jawa, artinya numpang hidup. Plesetan ini datang dari dalam Nahdlatul Ulama sendiri. Plesetan nunut urip dimaksudkan untuk mengkritik aktivis NU yang tidak punya kemampuan apapun, ngaji gak bisa, sekolah abal-abal, jaringan ke masyarakat bodong, skil pengorganisasi klaim saja.

Mereka di NU hanya mencari penghasilan, menggunakan NU sebagai kendaraan untuk mencari makan, mencari kekuasaan, mencari status sosial dan memperkaya diri.

Tiga:

Nunut Udud. Ini juga bahasa Jawa, artinya numpang merokok. Ini tak kalah kurang ajar dari nomor dua tadi. Ini dilontarkan oleh para perokok, baik oleh orang NU ataupun bukan. Mereka datang ke kantor NU untuk merokok, karena di kantor Muhammadiyah, kantor persis dilarang merokok. Ataupun orang NU yang oleh istrinya tidak boleh merokok di rumah. Jadilah dia “NU” (numpang udud) di kantor NU.

Empat:

Nahdlatul Umaro. Kalau yang ini bahasa Arab, artinya kebangkitan pemerintah. Plesetan ini dilontar baik dari dalam NU ataupun dari luar NU.

Plesetan ini dimaksudkan untuk mengkritik orang NU yang terlalu dekat dan menempel pemerintah untuk mendapatkan “kue” kekuasaan. “NU” begini, singkatannya bukan Nahdlatul Ulama, bukan kebangkitan ulama, melainkan Nahdlatul Umaro, kebangkitan pemerintah.

Plesetan-plesetan di atas menyakitkan sekali, tidak beradab, menghina Nahdlatul Ulama. Tapi satu waktu, jika kita membacanya dengan sehat, permainan kata tersebut bisa jadi kritik yang mengkuatkan dan membesarkan, ataupun jadi humor sarat makna. Apalagi jika kita mengingat bahwa tidak ada entitas apapun yang sempurna, termasuk Nahdlatul Ulama atau NU.