INILAH DAKWAH YANG SESUNGGUHNYA

*Dakwah itu,* *membina, bukan menghina…*

*Dakwah itu, mendidik, bukan ‘mendelik’…*

*Dakwah itu, mengobati, bukan melukai…*

*Dakwah itu, mengukuhkan, bukan meruntuhkan…*

*Dakwah itu, menguatkan, bukan melemahkan…*

_*Dakwah itu, mengajak, bukan mengejek…*_

_*Dakwah itu, menyejukkan, bukan memojokkan…*_

_*Dakwah itu, mengajar, bukan menghajar…*_

_*Dakwah itu, belajar, bukan kurang ajar…*_

_*Dakwah itu, menasehati, bukan mencaci maki…*_

_*Dakwah itu, merengkuh, bukan menuduh…*_

_*Dakwah itu, bersabar, bukan gusar…*_

*Dakwah itu, argumentative, bukan provokatif…*

*Dakwah itu, bergerak cepat, bukan sibuk berdebat…*

*Dakwah itu, realistis, bukan fantastis…*

*Dakwah itu, adu konsep di dunia nyata, bukan adu mulut dan olah kata…*

_*Dakwah itu, mencerdaskan, bukan mencemarkan…*_

_*Dakwah itu, menawarkan solusi, bukan mengumbar janji…*_

_*Dakwah itu, berlomba dalam kebaikan, bukan berlomba saling menjatuhkan…*_

_*Dakwah itu, menghadapi masyarakat, bukan membelakangi masyarakat…*_

*Dakwah itu, memperbarui masyarakat, bukan membuat masyarakat baru…*

*Dakwah itu, mengatasi keadaan, bukan meratapi kenyataan…*

*Dakwah itu, pandai memikat, bukan mahir mengumpat…*

_*Dakwah itu, menebar kebaikan, bukan mengorek kesalahan…*_

_*Dakwah itu, menutup aib dan memperbaikinya, bukan mengumpat aib dan menyebarkannya…*_

*Dakwah itu, menghargai perbedaan, bukan memonopoli kebenaran…*

*Dakwah itu, apresiasi terhadap langkah positif, bukan mencari-cari motif…*

_*Dakwah itu, mendukung semua proyek kebaikan, bukan memunculkan keraguan…*_

_*Dakwah itu, memberi senyum manis , bukan menjatuhkan vonis….*_

_*Dakwah itu, berletih-letih menanggung problema umat, bukan meletihkan umat…*_

*Dakwah itu, menyatukan kekuatan, bukan memecah belah barisan…*

*Dakwah itu, kompak dalam perbedaan, bukan ribut atas nama persatuan…*

*Dakwah itu, menghadapi musuh, bukan mencari musuh…*

*Dakwah itu, mencari teman, bukan memusuhi teman…*

*Dakwah itu, melawan kesesatan, bukan berbicara menyesatkan…*

*Dakwah itu, menjulurkan tangan, bukan menjulurkan lidah…*

_*Dakwah itu, asyik dengan kebersamaan, bukan bangga dengan kesendirian…*_

_*Dakwah itu, menampung semua lapisan, bukan mengkotak-kotakkan…*_

*Dakwah itu, kita mengatakan…*

*”aku cinta kamu”…* *bukan…*

*”aku benci kamu..”*

_*Dakwah itu, kita mengatakan…*_

_*”Mari bersama kami…”*_

*bukan…*

_*”Kamu harus ikut kami…”*_

*Dakwah itu, bisa di masjid, di sekolah, di pasar, di kantor, di parlemen, di jalanan, hingga di tempat kebanjiran….*

*Dakwah bukan hanya di pengajian…*

SEMOGA BERMANFAAT…

PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN AGAMA ANAK ANAKNYA

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan anak-cucu kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Furqan: 74)

Dalam ayat ini terdapat salah satu doa, yakni permohonan agar dikaruniai pasangan hidup dan juga keturunan yang “Qurrata a’yun”. Qurrata a’yun berasal dari bahasa Arab, yang artinya penyejuk mata, penyejuk jiwa, penentram hati, atau penyenang hati. “Qurrata a’yun maksudnya adalah keturunan yang mengerjakan keta’atan, sehingga dengan keta’atannya itu membahagian orang tuanya di dunia dan akhirat.” Keturunan yang ta’at pada Allah akan menyenangkan orang tua dengan bakti dan pelayanannya. Akan menyejukkan hati orang tua dan keluarga dengan membacakan dan mengajarkan mereka mentadabburi al-Quran dan as-Sunnah.

Tentunya dibalik lahirnya sesosok generasi Qurrata A’yun ada peran orang tua yang luar biasa dimana mereka dengan fitrah kasih sayang dan ketulusannya dapat mencetak generasi luar biasa untuk agama dan bangsa ini. Sesosok yang tentunya paling berpengaruh adalah ia yang bernama Ibu.

Sejarah telah membuktikan pengaruh Ibu sangat besar terhadap anak-anaknya untuk dapat mencetak generasi Qurrata A’yun, Umar bin Abdul Aziz adalah contoh dari pendidikan seorang Ibu yang baik lagi sholehah nan luar biasa, ibunya Layla binti Ashim adalah hasil perkawinan Ashim bin Umar bin Khattab dengan gadis pemerah susu yang jujur yang bernama Fatimah. Seperti dalam buku Kehidupan para Tabiin, ketika Umar bin Khattab menemukan kejujuran Fatimah maka ia mengawinkan dengan anaknya Ashim. Dari perkawinan inilah lahir Layla binti Ashim yang dinikahkan oleh Abdul-Aziz bin Marwan, gubernur Mesir pada masa itu. Maka dari perkawinan inilah terlahir sesosok generasi luar biasa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Khalifah dari Bani Ummayh yang mampu mencerahkan Islam pada masanya.

Ummu Madrasatun

“Al -Ummu madrasah Al-ula (Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya) bila engkau persiapkan dengan baik maka engkau telah mempersiapkan bangsa yang baik dan kuat”. Ibu berperan besar dalam pembentukan watak, karakter dan kepribadian anak-anaknya. Ia adalah sekolah pertama dan utama sebelum si kecil mengenyam pendidikan di manapun.

Dengan demikian ibu adalah guru terbaik bagi anak, yang dapat dilihat, dirasakan kedekatannya, sehingga akan menumbuhkan perasaan-perasaan anak yang akan melahirkan sikap terhadap berbagai hal. Oleh karena itu, kontribusi ibu terhadap perkembangan perilaku anak sangatlah kuat. Sehingga, peranan ibu untuk menumbuhkan anak yang berkepribadian kuat, terbuka, tidak mudah tersinggung, cerdas adalah dominan. Ibu yang pemurung akan melahirkan anak yang pemurung, sebaliknya ibu yang ceria akan melahirkan anak yang ceria.

Dalam kaitannya dengan kemajuan sebuah bangsa, maka posisi ibu adalah strategis. Lantaran itulah dengan posisi yang strategis, adalah tugas semua komponen masyarakat, untuk mendudukkan kembali posisi ibu pada porsinya. Bukan hanya ibu biologis saja, akan tetapi juga ibu seutuhnya.

Kerjasama Orang Tua dalam Mendidik Anak

Rasulullah saw bersabda: “Seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya, dan dia bertanggung jawab terhadap anak-anaknya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam pandangan Islam, tidak hanya seorang suami yang berperan sebagai pemimpin, namun seorang istripun menjadi pemimpin dalam urusan rumah tangga suaminya. Lalu bagaimanakah kerjasama ayah dan ibu dalam dunia pengasuhan? Kerjasama akan terbangun jika sebuah keluarga memiliki kesamaan visi serta memahami misi yang perlu dilakukan sehingga merekapun dapat memahami hendak kemana nahkoda keluarga akan dibawa, serta anak-anak yang seperti apa yang ingin mereka hasilkan. Maka merumuskan tujuan pengasuhan menjadi langkah awal dalam membangun kerjasama para ayah dan ibu. Setelah tujuan pengasuhan disepakati, pembagian peran dan tugas dalam mencapai tujuan tersebut adalah unsur pembentuk utama dalam sebuah kerjasama.

Namun, hal ini tidak berhenti pada pembagian tugas. Tapi, melanjutkannya menjadi sinergi, ada kerjasama, baik dalam perencanaan dan pelaksanaan tugas-tugas tersebut. Sehingga timbul suasana saling pengertian. Dan, untuk menumbuhkan rasa saling mengerti, kontribusi suami berperanan besar, karena ia diharapkan mampu menampilkan sosok pemimpin sekaligus perencana pendidikan keluarga. Perhatikan bagaimana Rasulullah saw ikut serta dalam memberikan tarbiyah (pendidikan) kepada anak tirinya (anak kandung Ummu Salamah). Diriwayatkan dari Umar bin Abi Salamah, beliau berkata: “Ketika kecil dulu aku berada di pangkuan Rasulullah saw. Tiba-tiba tanganku tanpa sadar mengambil (makanan) di sebuah piring besar. Beliau berkata kepadaku: “Hai anakku, ucapkanlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat darimu”. Setelah itu akupun terbiasa melakukan apa yang diajarkan Rasulullah saw. (HR. Bukhari).

Cara Nabi Mendidik Anak

Ibnu Abbas RA berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ajarlah, permudahlah, dan jangan persulit! Gembirakanlah dan jangan takut-takuti! Jika salah seorang dari kalian marah hendaklah berdiam diri! “ (HR. Ahmad dan Bukhori)

Keteladanan orang tua merupakan modal penting dalam mendidik anak, karena orang tualah yang paling banyak diikuti oleh anak-anaknya, dan mereka pulalah yang memberi pengaruh kuat terhadap jiwa anak, oleh karena itulah maka Rasulullah mengatakan “Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi yahudi, nasrani atau majusi”. Orang tua dituntut agar menjalankan segala perintah Allah swt dan sunah Rasul-Nya, menyangkut perilaku dan perbuatan. Karena anak melihat mereka setiap waktu. Kemampuan anak untuk meniru, secara sadar atau tidak, sangat besar dan tidak seperti yang kita duga.

Selain itu, orang tua perlu bersikap adil dan tidak pilih kasih, cerita dalam Al Qur’an tentang saudara-saudara Yusuf cukuplah menjadi pelajaran agar setiap orang tua bersikap adil terhadap anak-anaknya. Ketidakadilan dan sikap pilih kasih orang tua terhadap anak-anak akan menimbulkan rasa permusuhan, kedengkian, kecemburuan, kemarahan bahkan berujung kepada pemutusan persaudaraan dalam jiwa anak karena merasa dirinya disisihkan. Dan Rasulullahpun mengatakan dalam sebuah hadist yang berbunyi, “Bersikaplah adil di antara anak-anak kalian dalam pemberian sebagaimana kalian suka berlaku adil di antara kalian dalam kebaikan dan kelembutan.” (HR. Ibnu Abid Dunya)

Untuk mendapatkan kemudahan dari Allah maka orang tua sebaiknya berdoa untuk anak-anaknya. Doa merupakan rukun utama yang harus diamalkan oleh orang tua. Doa akan semakin menghangatkan kasih saying dan memantapkan cinta orang tua kepada anak-anaknya. Rasulullah bersabda,“Janganlah kamu berdoa buruk ke atas dirimu, janganlah kamu berdoa buruk atas anak-anakmu, janganlah kamu berdoa buruk ke atas pelayanmu dan janganlah kamu berdoa buruk ke atas harta-hartamu! Jangan sampai kamu (berdoa begitu) bertepatan dengan waktu (dimana) Allah (akan mengabulkan doa), lalu tutun di dalamnya pemberian (yang kamu minta) sehingga doamu itu benar-benar terkabul.” (HR. Abu Dawud)

Orang tuapun harus mempersiapkan diri dalam membantu anak agar berbakti dan taat kepada Allah swt. Rasulullah bersabda, “Bantulah anak-anakmu agar berbakti! Barangsiapa yang mau melakukannya, ia dapat mengeluarkan sikap kedurhakaan dari diri anaknya.”(HR. Thabrani) Berdasarkan ini, jelas orang tua bertanggung jawab untuk mempersiapkan anaknya menjadi anak yang baik. Bahkan mereka mampu menyingkirkan kedurhakaan dari jiwa anak-anak mereka dengan cara hikmah, nasihat yang baik, dan kesabaran.

MAKLUMAT PBNU DAN ADAB MENYAMBUT GERHANA BULAN

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Falakiyah mengumumkan prediksi bahwa pada Rabu, 31 Januari 2018, berlangsung gerhana bulan total. Selama fenomena alam iini berlangsung umat Islam dianjurkan mengisinya dengan ibadah.

Kabar tersebut beredar melalui Maklumat Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Nomor: 042/Lf-PBNU/I/2018 tentang Gerhana Bulan Total 2018, yang ditandatangani, Ahad (20/1). Maklumat ini juga berpijak pada hasil Musyawarah Penyerasian Hisab Lembaga Falakiyah PBNU di Jepara, Jawa Tengah pada 13 sampai dengan 15 Mei 2016.

Secara rinci Lembaga Falakiyah PBNU mengumumkan bahwa proses gerhana bulan total (GBT) melalui beberapa fase sebagai berikut:

  1. Awal Gerhana Penumbra: 17:51:15 WIB
  2. Awal Gerhana Bulan Sebagian: 18:48:27 WIB
  3. Awal GBT: 19:51:47 WIB
  4. Pertengahan/Puncak GBT: 20:29:49 WIB
  5. Akhir GBT: 21:07:51 WIB
  6. Akhir Gerhana Bulan Sebagian: 22:11:11 WIB
  7. Akhir Gerhana Bulan Penumbra: 23:08:27 WIB

Lembaga Falakiyah PBNU juga menyeru kepada kaum Muslimin, Nahdliyyin, pengurus NU dan lembaga NU di seluruh tingkatan untuk melaksanakan pengamatan gerhana dan mensyiarkan secara syar’i GBT dengan dzikir, shalat, khutbah, dan amal saleh lainnya.

“Kepada seluruh jajaran Lembaga Falakiyah NU di seluruh tingkatan, agar melakukan koordinasi untuk melaksanakan pengamatan dan ibadah. Serta mendokumentasikan proses gerhana tersebut sampai purna secara teknis-astronomis. Kemudian melaporkannya,” bunyi surat maklumat yang ditandantangani Ketua Lembaga Falakiyah PBNU KH A Ghazalie Masroeri.

Musyawarah Penyerasian Hisab Lembaga Falakiyah PBNU di Jepara yang diikuti oleh para ahli falak, astronom, dan ahli rukyah NU itu mengambil keputusan hisab jama’i berbasis tahqiqi-tadqiqi-‘ashri-kontemporer yang meliputi hisab awal bulan, roshdul qiblat, gerhana, dan masalah astronomis lainnya. Keputusan itu berlaku untuk masa beberapa tahun di antaranya telah kami umumkan melalui penerbitan almanak tiap tahun.

Sebagian tanda keagungan Allah tampil pada fenomena alam, seperti gerhana bulan atau gerhana matahari. Dua kejadian tersebut menjadi bagian dari ayat kauniyah yang biasanya dibedakan dari ayat qauliyah (Al-Qur’an). Ayat berarti tanda. Maksudnya, representasi dari kemahabesaran Allah, yang seharusnya membuat manusia kian meresapi kehadiran-Nya dan meningkatkan intensitas penghambaan.

Dalam Islam gerhana matahari dikenal dengan sebutan kusufus syamsi dan gerhana bulan dikenal dengan sebutan khusuful qamar. Para pakar ilmu falak atau astronomi telah memprediksi pada tanggal 31 Januari 2018 akan terjadi gerhana bulan total yang berlangsung sekitar satu jam. Umat Islam disunnahkan melaksanakan shalat khusuf (gerhana bulan) setiap kali menyaksikan peristiwa ini terjadi.

 

Terkait dengan peristiwa gerhana bulan, Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 437) menyebutkan beberapa adab menyambut gerhana bulan sebagai berikut:

آداب الخسوف: دوام الفزع، وإظهار الجزع، ومبادرة التوبة، وترك الملل، وسرعة القيام الى الصلاة، وطول القيام فيها، واستشعار الحذر.

Artinya: “ Senantiasa memiliki rasa takut, menampakkan rasa haru, segera bertobat, tidak bersikap mudah bosan, segera melaksanakan shalat, berlama-lama dalam shalatnya dan merasakan adanya peringatan.”

Dari kutipan di atas dapat diuraikan ketujuh adab menyambut gerhana bulan sebagai berikut:

Pertama, senantiasa memiliki rasa takut. Sepanjang peristiwa gerhana sebaiknya seseorang menunjukkan rasa takut di hadapan Allah SWT dan bukan rasa takut atas peristiwa gerhana itu sendiri. Rasa takut itu sangat penting dalam rangka membentuk kartakter takwa kepada Allah-Nya. Tanpa rasa takut sudah pasti seseorang akan mudah melakukan kemaksiatan.

Kedua, menampakkan rasa haru. Sepanjang peristiwa gerhana sebaiknya seseorang menampakkan rasa haru atas peristiwa gerhana di hadapan Allah SWT. Bagaimanapun peristiwa ini merupakan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah SWT sebagai Sang Pencipta sekaligus Sang Penguasa langit, bumi serta seluruh alam berserta seluruh isinya.

Ketiga, segera bertobat. Salah satu rangkaian bertobat adalah membaca istighfar. Hal ini dapat dilakukan, misalnya, ketika duduk di dalam masjid sambil menunggu saat iqamah. Dalam rangkaian shalat gerhana, khatib dalam doanya sewaktu khutbah mengucapkan istighfar dengan banyak memohon ampunan kepada Allah SWT, dan doa ini diamini oleh para jamaah.

Keempat, tidak bersikap mudah bosan. Sepanjang gerhana terjadi sebaiknya seseorang merasa betah menyambut peristiwa ini hingga selesai rangkaian pelaksanaan shalat gerhana. Shalat gerhana memang cenderung memakan waktu lebih lama dari pada shalat-shalat lainnya karena dalam setiap rakaatnya rukuk dilakukan dua kali. Demikian pula ketika khutbah disampaikan sebaiknya seseorang dapat mendengarkan isi nasihat-nasihatnya dengan khusyu’ dan khidmat.

Kelima, segera melaksanakan shalat. Begitu gerhana bulan terjadi, shalat khusuf ini sebaiknya segera dimulai dan dilakukan secara berjamaah. Baik laki-laki maupun perempaun disunnahkan melaksanakan shalat gerhana.

Keenam, berlama-lama dalam shalatnya. Shalat gerhana berlangsung dua rakaat namun memakan waktu lebih lama dari pada shalat-shalat lainnya karena dalam setiap rakaat terdapat dua ruku’. Ini artinya  dalam setiap rakaatnya dilakukan bacaan al-fatihan dan surah lainnya dua kali karena berdirinya juga dua kali sehingga total rukuk dan bacaan al-fatihah serta surah lainnya adalah empat.

Ketujuh, merasakan adanya peringatan. Sepanjang shalat gerhana sebaiknya seseorang merasakan adanya peringatan terkait peristiwa gerhana bahwa hal itu merupakan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah sebagai Sang Pencipta sekaligus Sang Penguasa langit dan bumi serta seluruh alam berserta seluruh isinya. Untuk itu diharapkan dengan melaksanakan shalat gerhana seseorang akan meningkat ketakwaannya kepada Allah SWT.

Ketujuh adab tersebut sebaiknya dilakukan secara utuh sebab dapat meningkatkan kesadaran kita akan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Hal yang tak kalah penting dari menyambut peristiwa gerhana ini adalah adanya kesadaran kita akan perlunya memperhatikan kejadian-kejadian alam sebab hal ini dapat meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

ADAB ATAU ETIKA DALAM MENYAMBUT GERHANA BULAN

Sebagian tanda keagungan Allah tampil pada fenomena alam, seperti gerhana bulan atau gerhana matahari. Dua kejadian tersebut menjadi bagian dari ayat kauniyah yang biasanya dibedakan dari ayat qauliyah (Al-Qur’an). Ayat berarti tanda. Maksudnya, representasi dari kemahabesaran Allah, yang seharusnya membuat manusia kian meresapi kehadiran-Nya dan meningkatkan intensitas penghambaan.

Dalam Islam gerhana matahari dikenal dengan sebutan kusufus syamsi dan gerhana bulan dikenal dengan sebutan khusuful qamar. Para pakar ilmu falak atau astronomi telah memprediksi pada tanggal 31 Januari 2018 akan terjadi gerhana bulan total yang berlangsung sekitar satu jam. Umat Islam disunnahkan melaksanakan shalat khusuf (gerhana bulan) setiap kali menyaksikan peristiwa ini terjadi.

 

Terkait dengan peristiwa gerhana bulan, Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 437) menyebutkan beberapa adab menyambut gerhana bulan sebagai berikut:

آداب الخسوف: دوام الفزع، وإظهار الجزع، ومبادرة التوبة، وترك الملل، وسرعة القيام الى الصلاة، وطول القيام فيها، واستشعار الحذر.

Artinya: “ Senantiasa memiliki rasa takut, menampakkan rasa haru, segera bertobat, tidak bersikap mudah bosan, segera melaksanakan shalat, berlama-lama dalam shalatnya dan merasakan adanya peringatan.”

Dari kutipan di atas dapat diuraikan ketujuh adab menyambut gerhana bulan sebagai berikut:

Pertama, senantiasa memiliki rasa takut. Sepanjang peristiwa gerhana sebaiknya seseorang menunjukkan rasa takut di hadapan Allah SWT dan bukan rasa takut atas peristiwa gerhana itu sendiri. Rasa takut itu sangat penting dalam rangka membentuk kartakter takwa kepada Allah-Nya. Tanpa rasa takut sudah pasti seseorang akan mudah melakukan kemaksiatan.

Kedua, menampakkan rasa haru. Sepanjang peristiwa gerhana sebaiknya seseorang menampakkan rasa haru atas peristiwa gerhana di hadapan Allah SWT. Bagaimanapun peristiwa ini merupakan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah SWT sebagai Sang Pencipta sekaligus Sang Penguasa langit, bumi serta seluruh alam berserta seluruh isinya.

Ketiga, segera bertobat. Salah satu rangkaian bertobat adalah membaca istighfar. Hal ini dapat dilakukan, misalnya, ketika duduk di dalam masjid sambil menunggu saat iqamah. Dalam rangkaian shalat gerhana, khatib dalam doanya sewaktu khutbah mengucapkan istighfar dengan banyak memohon ampunan kepada Allah SWT, dan doa ini diamini oleh para jamaah.

Keempat, tidak bersikap mudah bosan. Sepanjang gerhana terjadi sebaiknya seseorang merasa betah menyambut peristiwa ini hingga selesai rangkaian pelaksanaan shalat gerhana. Shalat gerhana memang cenderung memakan waktu lebih lama dari pada shalat-shalat lainnya karena dalam setiap rakaatnya rukuk dilakukan dua kali. Demikian pula ketika khutbah disampaikan sebaiknya seseorang dapat mendengarkan isi nasihat-nasihatnya dengan khusyu’ dan khidmat.

Kelima, segera melaksanakan shalat. Begitu gerhana bulan terjadi, shalat khusuf ini sebaiknya segera dimulai dan dilakukan secara berjamaah. Baik laki-laki maupun perempaun disunnahkan melaksanakan shalat gerhana.

Keenam, berlama-lama dalam shalatnya. Shalat gerhana berlangsung dua rakaat namun memakan waktu lebih lama dari pada shalat-shalat lainnya karena dalam setiap rakaat terdapat dua ruku’. Ini artinya  dalam setiap rakaatnya dilakukan bacaan al-fatihan dan surah lainnya dua kali karena berdirinya juga dua kali sehingga total rukuk dan bacaan al-fatihah serta surah lainnya adalah empat.

Ketujuh, merasakan adanya peringatan. Sepanjang shalat gerhana sebaiknya seseorang merasakan adanya peringatan terkait peristiwa gerhana bahwa hal itu merupakan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah sebagai Sang Pencipta sekaligus Sang Penguasa langit dan bumi serta seluruh alam berserta seluruh isinya. Untuk itu diharapkan dengan melaksanakan shalat gerhana seseorang akan meningkat ketakwaannya kepada Allah SWT.

Ketujuh adab tersebut sebaiknya dilakukan secara utuh sebab dapat meningkatkan kesadaran kita akan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Hal yang tak kalah penting dari menyambut peristiwa gerhana ini adalah adanya kesadaran kita akan perlunya memperhatikan kejadian-kejadian alam sebab hal ini dapat meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

RAHASIA DAN KEUTAMAAN WAKTU MALAM

Malam adalah waktu untuk meraih limpahan karunia Allah, baik bagi kehidupan di dunia maupun di akhirat. Kegelapan malam adalah suatu sirr (rahasia) untuk membuka dan mengungkap kegelapan bathin di bawah pancaran Rahmat Allah ‘Azza wa Jalla.

Di antara rahasia ciptaan Allah SWT ialah diciptakan-Nya waktu yang berpasang-pasangan, yakni penciptaan malam yang berpasangan dengan siang. Penciptaan malam menjadi sebuah rahasia tersendiri, tatkala Allah Ta’ala menyebutkan berbagai kejadian sangat penting di waktu malam, seperti peristiwa Isra dan Mi’raj, Lailatul Qadr, malam Nishfu Sya’ban, malam-malam sepanjang Ramadhan, ibadah Tahajjud, dan sebagainya. Kenapa malam dipilih bagi peristiwa-peristiwa istimewa bagi umat Nabi Muhammad SAW?

Al-Imam As-Suyuthi dalam kitabnya yang berjudul Asrar al-Kaun menukil suatu riwayat dari Al-Hakim berdasarkan hadits yang disampaikan Abu Hurairah dari Nabi SAW. Seorang laki-laki datang menghadap kepada Nabi untuk ber­tanya, “Wahai Muhammad, apakah engkau melihat surga itu terhampar seluas langit dan bumi? Jika demikian, di manakah neraka?”

Nabi SAW menjawab dengan balik bertanya, “Apakah engkau melihat bagaimana malam menyelimuti segala sesuatu (hingga gelap tak terlihat), maka di manakah siang saat itu?”

Laki-laki itu terdiam, lalu berkata, “Sungguh Allah yang lebih tahu.”

Beliau pun melanjutkan, “Demikianlah, Allah melakukan apa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Mustadrak, karya Al-Hakim, bab Iman).

Sungguhpun demikian adanya, Allah menjadikan kejadian malam dan siang sebagai bahan berpikir dengan landasan iman bagi orang-orang yang berpikir dan berdzikir atau ulul albab, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil albab. Yaitu mereka yang berdzikir mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, seraya berpikir tentang kejadian langit dan bumi. Lalu mereka berkata, ‘Tuhan kami, sungguh Engkau tiada menciptakan ini semua dengan sia-sia’.” (QS Ali ‘Imran: 190-191).

Hadiah dari Allah SWT

Diciptakannya waktu siang yang terang benderang agar manusia dapat melakukan muamalah iqtishadiyah (berdagang, berusaha, dan bertransaksi ekonomi) dan yang lainnya dengan jelas. Waktu siang digunakan untuk mencari nafkah untuk menghidupi diri dan keluarga dan bermuamalah di antara manusia. Urusan duniawi pada waktunya telah menguras tenaga dan pikiran sepanjang hari manusia. Banyak prestasi yang telah diraih, tetapi juga banyak cita-cita yang belum tercapai dan masalah yang belum dapat dipecahkan. Maka sibuklah manusia dengan alam pikirannya tentang hal ini. Allah SWT berfirman mengabadikan kesibukan manusia ini dengan firman-Nya, “Sesungguhnya kamu mempunyai kesibukan yang panjang di siang hari.” (QS Al-Muzzammil: 7).

Sedangkan malam yang gelap gulita, hening, sunyi, dan tenang, dijadikan untuk melakukan hubungan muamalah dengan Allah Ta’ala. Bathin manusia pada umumnya mudah terketuk dalam kesunyian dan kesendirian. Mereka juga lebih mudah melakukan instropeksi dan evaluasi dari sekian aktivitasnya di waktu siang, apakah berhasil mendulang pahala, sebagai bekal kehidupan mendatang.

Allah SWT, Yang Mahatahu apa-apa yang ada di bilik hati manusia, menyediakan waktu malam bagi manusia untuk menenangkan hati dan pikiran, sambil memberikan ruang waktu tertentu di bagian malam itu untuk bermunajat kepada-Nya, mengadukan nasibnya dan memohon jalan keluar dari masalah yang dihadapinya. Inilah bagian dari sifat Rahman dan Rahim Allah Ta’ala.

Allah SWT mengundang Nabi Muhammad SAW di suatu malam pada bulan Rajab untuk menerima hadiah berupa perintah shalat lima waktu. Anugerah hadiah itu diberikan di waktu malam, dan tiga di antara shalat lima waktu dipilihkan Allah SWT bagi umat Nabi Muhammad SAW juga di waktu malam: shalat Maghrib, di awal malam, shalat Isya, di pertengahan awal malam, dan shalat Subuh, di akhir malam.

Ada satu bagian malam lagi yang Allah anugerahkan dan pilihkan bagi umat nabi yang mulia ini untuk bermesraan dengan-Nya, yakni waktu sepertiga malam. Allah Ta’ala tidak menjadikan kewajiban padanya, melainkan sebuah penawaran bagi mereka yang ingin dekat dengan-Nya. Itulah yang disebut qiyamul lail, atau mengisi waktu malam dengan banyak ibadah, seperti shalat Tahajjud, tadarus Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, dan mengadukan perihal kehidupan kepada-Nya.

Waktu malam yang sedemikian istimewa ini diberikan Allah Ta’ala, dan semakin terasa lebih istimewa di saat malam-malam bulan Ramadhan, hingga Allah akan menyandangkan kehormatan bagi siapa yang dikehendaki-Nya di Malam Qadr, atau Lailatul Qadr, di penghujung malam bulan Ramadhan, menurut berbagai riwayat yang termasyhur. Inilah waktu yang teramat istimewa yang sungguh sangat sayang jika terlewatkan.

Kenapa malam sedemikian istimewa untuk berkomunikasi dengan Sang Maha Pengasih? Karena Al-Qur’an menyebutkan bahwa waktu malam itu “asyaddu wath’an wa aqwamu qila” (sangat menyambung dengan Allah, dan ucapannya sangat mantap), sebagaimana tertuang dalam QS Al-Muzammil: 6.

Membangun Diri

Jika kaum materialis-hedonis menggambarkan malam sebagai waktu yang tepat untuk ajang bersosialita dalam dunia gemerlap alias dugem, yang sarat dengan kemaksiatan, makna kegulitaan malam tepat dengan realitas kegelapan hati mereka.

Sedangkan agama yang hanif ini menawarkan bagi umat Sayyidul Wujud Muhammad SAW bahwa malam adalah waktu untuk meraih limpahan karunia Allah, baik karunia bagi kehidupan di dunia maupun di akhirat. Kegelapan malam dalam konteks ini adalah suatu sirr (rahasia) untuk membuka dan mengungkap kegelapan bathin di bawah pan­caran nur Allah ‘Azza wa Jalla.

Salah satu ibadah di malam hari demi meraih limpahan karunia Allah adalah shalat Tahajjud. Sesungguhnya shalat Tahajjud meneguhkan iman, jiwa, dan mental seorang muslim untuk menghadapi masalah hidup duniawi dan lain-lain. Allah SWT berfirman, “Dan pada sebagian malam bertahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS Al-Isra’: 79).

Pada ayat yang lain disebutkan, telah disanjungkan bagi mereka yang berada dalam kesempatan menggapai ampunan Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam surga dan dekat dengan air yang mengalir, sambil mengambil apa yang diberi oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum ini di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.” (QS Adz-Dzariyat: 15-18).

Begitu juga dengan ayat berikut, “Orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar.” (QS Ali ‘Imran: 17).

Inilah da’bush shalihin (jalan hidup yang akrab ditempuh orang-orang shalih), sebagaimana yang disampaikan Nabi SAW, “Hendaklah kalian bangun malam. Sebab hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian. Wahana pendekatan diri kepada Allah SWT, penghapus dosa, dan pengusir penyakit dari dalam tubuh.” (HR At-Tirmidzi).

Ulama-ulama dahulu di dalam manaqib mereka terbiasa dengan pola hidup ini. Sebagaimana diceritakan bagaimana Al-Imam Al-Quthb Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad terbiasa bangun malam, berziarah ke pemakaman kaum shalihin di Zanbal di tengah malam, memenuhi kolam-kolam wudhu di masjid dengan mengisikan air ke dalamnya di tengah malam, mempersiapkan pena dan kertasnya juga di tengah malam.

Demikianlah juga apa yang kita baca dari kebiasaan Al-Imam Asy-Syafi’i, yang larut dalam tadarus Qur’an di waktu malam hingga mampu mengkhatamkannya beberapa puluh kali dalam satu malam saja. Belum lagi saat ia menggoreskan penanya di atas gulungan kertas demi menghasilkan karya-karya yang penuh manfaat buat kita di masa kini.

Maka di manakah kita di antara mereka, radhiyallahu ‘anhum ajma’in?

Bicara dalam tataran fadhilah ruhiyyah (keutamaan secara ruhani) sebagaimana salafush shalih melakukannya, akan semakin dirasakan lengkap jika tataran fadhilah ‘ilmiyyah (keutamaan secara ilmu) juga kita padukan.

Menurut beberapa penelitian, kebiasaan bangun malam untuk beribadah memiliki manfaat bagi imunitas (daya tahan) tubuh terhadap berbagai penyakit yang menyerang jantung, otak, dan organ-organ tubuh yang lain. Karena orang yang bangun tidur malam hari berarti menghentikan kebiasaan tidur dan ketenangan terlalu lama, yang merupakan salah satu faktor pencetus terjadinya penyumbatan pembuluh darah. Aktivitas shalat malam, untuk menghadap Allah, Sang Pencipta, akan menenangkan hati dari segala kegundahan dan kegelisahan hidup yang dialami.

Bangun malam dapat menjadikan tubuh bugar dan bersemangat, serta terhindar dari penyakit punggung pada usia tua. Dalam salah satu penelitian medis terbukti bahwa orang-orang yang terbiasa shalat malam relatif lebih aman dari serangan penyakit pada tulang punggung daripada orang-orang yang tidak shalat malam.

Shalat malam juga memiliki kandungan aspek relaksasi yang cukup besar, dan memiliki pengaruh terhadap kejiwaan, sebagai strategi penanggulangan adaptif pereda stres. Bahkan dapat menumbuhkan motivasi positif, sedang respons emosi positif dapat menghindarkan reaksi stres.

Ada yang bertanya; Kenapa harus di waktu malam semua ibadah “berat” ini dilakukan?

Allah Ta’ala berfirman pada QS Al-Muzzammil: 6-7, “Sesungguhnya bangun di waktu malam, dia lebih berat, dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya bagimu di siang hari kesibukan yang panjang.”

Tidur adalah keadaan istirahat alami pada makhluk hidup, termasuk manusia. Tidur itu penting untuk kesehatan. Namun tidur yang dimaksud bagi kesehatan bukan pada frekuensinya yang lama atau kuantitas waktunya, namun kualitas tidur itu sendiri. Di saat tidur, tanda-tanda kehidupan, seperti kesadaran, denyut jantung, dan frekuensi pernapasan mengalami perubahan, yaitu mengalami penurunan atau perlambatan. Dalam tidur normal biasanya fungsi saraf motorik dan saraf sensorik untuk kegiatan yang memerlukan koordinasi dengan sistem saraf pusat akan diblokade atau dihambat, sehingga pada saat tidur cenderung tidak bergerak dan daya tanggap berkurang. Dan umumnya tidur dilakukan di waktu malam.

Saat bangun tidur di waktu malam, pikiran lebih terang. Bayangkan, dalam satu hari, jantung kita berdetak 100.000 kali, darah kita mengalir melalui 17 juta mil arteri, urat darah halus/kapiler, dan juga pembuluh vena. Tanpa kita sadari rata-rata sehari kita berbicara 4.000 kata, bernapas sebanyak 20.000 kali, menggerakkan otot-otot besar sebanyak 750 kali dan mengoperasikan 14 miliar sel otak. Dan tidur adalah istirahat yang sangat baik menurut ilmu kesehatan, karena terjadi proses pemulihan sel tubuh, penambahan kekuatan, dan otak kita kembali berfungsi dengan sangat baik.

Sangatlah tepat jika Allah berkehendak agar shalat Tahajjud menjadi semacam sarana aktivitas yang dikerjakan setelah tidur malam. Dengan pikiran yang segar, akan membantu kita lebih khusyu’ memaknai ayat-ayat Allah yang kita baca.

Satu Malam Seribu Bulan

Di antara sekian rahasia malam lainnya adalah ketika Allah SWT menganugerahkan kepada umat Muhammad SAW sebuah malam bernama Lailatul Qadr. Lailatul Qadr adalah malam saat Allah menurunkan kitab suci Al-Qur’an (nuzulul Qur’an) bagi Nabi Muhammad SAW.

Dikatakan, pertama, Al-Qadr berarti malam yang bertabur kemuliaan bagi Umat Nabi SAW. Allah SWT mengangkat umat ini dengan mukjizat beliau itu sebagai jalan hidup bagi mereka untuk mencapai kemuliaan di sisi Allah. Di tambah lagi, Allah juga mengangkat umat ini dengan memberi bonus yang dahsyat, yang mana ibadah satu malam mendapatkan pahala ibadah lebih baik dari seribu bulan — seribu bulan itu sama dengan 83 tahun lebih empat bulan. Subhanallah.

Kedua, Al-Qadr mengandung pengertian taqdir, karena pada malam itu Allah menyerahkan kepada empat malaikat sebagai pengatur segala urusan, baik masalah kematian, hidup, rizqi, sehat dan sakit, naik dan turun pangkat, hujan dan kemarau, dan lain-lain. Empat malaikat tersebut yaitu Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail.

Ketiga, Al-Qadr berarti malam yang sempit, karena turunnya rombongan malaikat ke dunia, sehingga penuh sesak oleh malaikat. Mereka diperintahkan untuk menebarkan rahmat Allah bagi orang-orang yang dikehendaki Allah, sesuai izin Allah.

Inilah segelintir saja di antara rahasia dan keutamaan di balik penciptaan malam, tatkala Allah memilih sejumlah malam untuk menurunkan segala karunianya buat umat ini. Maka, pantaslah kita berucap sebagaimana berucap kaum ulul albab, “Rabbana ma khalaqta hadza bathila (Duhai Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan kesia-siaan).”

Wallahu A’lam Bishshowab

LEBIH BAIK DI BILANG “SOK ALIM” DARIPADA DZOLIM

   BANYAK ORANG BERKATA: SOK SUCI KAMU , URUS SAJA DIRI SENDIRI ! APA KAMU SUDAH SUCI ? APA KAMU SUDAH BENER ? LAKUM DINUKUM WALIYADIN ! TAK PERLU CAMPURI URUSAN ORANG LAIN !

Jika Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam hanya mengurus akhlak diri sendiri saja, dan hanya keluarganya saja, tidak untuk mengurusin orang lain, maka mungkin saat ini indahnya islam sebagai agama dan jalan hidup tidak akan pernah sampai kepada kita

   Jika Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam hanya mengurus akhlak diri sendiri saja, tidak untuk mengurusin orang lain, mungkin kita sudah dikafirkan oleh Amerika, Israel, portugis, belanda, jepang dan lain-lain yang membawa misi Gold, Gospel, Glory.

Tahukah saudara jika dakwah menyampaikan kebenaran Islam PADA SEMUA ORANG bukan cuma tugas ustadz tapi KEWAJIBAN SETIAP MUSLIM?

   Qs.3:20 “Kewajiban kamu hanyalah menyampaikan”

   Qs.42:48 “Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan”

   Qs.16:82 “Kewajiban yang dibebankan atasmu hanyalah menyampaikan”

Jadi dengan adanya facebook ini maka pemanfaatan facebook yang paling utama adalah dakwah. Dakwah yang berisikan pesan nasehat agama untuk mengajak kepada mereka untuk kembali kepada jalan kebenaran dan yang dapat mendatangkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

   “Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaat bagi orang lain.” [Al Jaami’ Ash Shogir, no. 11608]

Dari Abu Mas’ud Al Anshori, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

   “Barangsiapa memberi petunjuk pada orang lain, maka dia mendapat ganjaran sebagaimana ganjaran orang yang melakukannya.” [HR. Muslim]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

   “Jika Allah memberikan hidayah kepada seseorang melalui perantaraanmu maka itu lebih baik bagimu daripada mendapatkan unta merah (harta yang paling berharga orang Arab saat itu).” [HR. Bukhari dan Muslim]

Lihatlah saudaraku, bagaimana jika tulisan kita dalam note, status, atau link kita di facebook dibaca oleh 5-10 bahkan ratusan orang, lalu mereka amalkan, betapa banyak pahala yang kita peroleh. Jadi, facebook jika dimanfaatkan untuk dakwah semacam ini, sungguh sangat bermanfaat.

   Tetapi bagi dari sebagian orang (kalangan kerabat dan teman) ada yang merasa tidak suka ketika kita memanfaatkan facebook tersebut itu untuk mencari pahala dan amal dengan cara dakwah. Sehingga bermunculan orang-orang yang mengatakan, sok suci , sok, alim, sok bijak dan lain sebagainya!

Bagaimanapun dakwah harus berlanjut meski ada yang mencaci maki, meski ada mengatakan sok alim. Lebih baik dikatakan sok alim daripada sok zalim.

Apakah benar dan dibenarkan bila kita menjadi Sok Alim, Sok Bijak, Sok Baik, Sok Suci, dan sok-sok lainnya ?

Menurut saya:

“Suatu perbuatan yang dikatakan sok, itu artinya perbuatan tersebut dilakukan secara berpura-pura. Atau bukan merupakan tabiat asli kita. Dan berpura-pura selama ditujukan untuk membentuk karakter diri pribadi sebagai suatu pembelajaran sebelum kita meraih kondisi yang diharapkan, maka itu adalah suatu cara yang benar dan dibenarkan oleh saya.”

   “Yang tidak benar, adalah bila perilaku sok tersebut ditujukan untuk sekedar sombong-sombongan atau sekedar ingin mendapat pujian dari orang lain..”

Dasarnya begini :

Pikiran Alam Bawah sadar tidak bisa membedakan antara sungguh-sungguh atau sekedar pura-pura. Apapun pesan yang disampaikan oleh pikiran sadar anda, baik nyata atau sekedar imajinasi. Semuanya akan ditanggapi dengan serius oleh fikiran bawah sadar dan dijadikan perintah untuk ditindak lanjuti. Alam bawah sadar adalah Bawahan pikiran sadar yang sangat patuh…

Jadi, bila saat ini ini anda belum bisa menjadi orang yang baik, belum bisa menjadi orang yang bijak, alim, suci, dan lain sebagainya. Namun anda berpura-pura saja anda sudah menjadi menjadi orang baik, orang alim, orang suci, dll. Serta anda dalam setiap perkataan dan perberbuatan seolah-olah anda adalah demikian. Maka lambat laun tapi pasti, anda akan betul-betul menjadi orang yang baik, dan orang yang bijak.

   Jadi, biarkan anjing menggonggong..[karena memang hanya itu yang bisa dilakukan oleh anjing]

Dan Tetaplah lakukan perubahan diri untuk menjadi lebih baik..!!!

   “Percaya adalah meyakini sesuatu walaupun saat itu belum dapat dilihat secara nyata dan secara langsung, dan buahnya adalah melihat apa yang dipercayai secara nyata dan secara langsung..”

PURA-PURA SUKSES = 75% SUKSES

Ada sebuah rahasia kehidupan yang unik mengenai pura-pura yang sangat sederhana namun sangat mengena dan bermanfaat untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Seseorang yang memulai pagi harinya dengan pura-pura malas/sakit, yang tidak terbangun segera walaupun sebenarnya dia sudah bangun dari tidurnya, akan menghabiskan seharian waktunya dengan bermalas-malasan atau malahan bisa betul-betul sakit walaupun pada mulanya dia sehat-sehat saja.

Berbeda dengan seseorang yang memulai paginya dengan berpura-pura semangat, berangkat kerja dengan berpura-pura naik mobil pribadi plus sopir pribadi walaupun sebenarnya naik angkutan kota, tersenyum dan menyapa setiap orang berpura-pura seolah-olah semua orang mengenal dirinya, bekerja dengan sangat antusias dan profesional berpura-pura sebagai seorang CEO bergaji ratusan juta rupiah/bulan walaupun sebenarnya posisinya baru seorang Administrator penjualan, misalnya.

   Berpura-pura akan merupakan pesan yang disampaikan ke otak kita, bahwa kita menginginkan diri kita mengalami kondisi sesuai dengan apa yang kita pikirkan – dan otak kita tidak mengenal apakah kita sedang berpura-pura atau bersungguh-sungguh dengan pesan yang kita kirimkan.

Jadi …

   Kalau Anda ingin termotivasi – berpura-puralah termotivasi, dan Anda akan benar-benar termotivasi sepanjang hari.

   Kalau Anda ingin merasa antusias – berpura-puralah antusias, dan Anda akan benar-benar merasa antusias sepanjang hari.

   Kalau Anda ingin murah hati – berpura-puralah menjadi pribadi yang sangat pemurah dan orang akan benar-benar melihat Anda sebagai sosok pribadi yang murah hati.

   Kalau Anda ingin naik jabatan (misalkan menjadi seorang CEO) – berpura-puralah menjadi seorang CEO di tempat kerja Anda, lakukan kebiasaan-kebiasaan seorang CEO di tempat kerja Anda, dalam beberapa tahun ke depan Anda akan menjadi seorang CEO sungguhan.

   Kalau Anda ingin menjadi pribadi yang sukses dan jauh lebih sukses lagi dari kondisi sekarang – berpura-puralah menjadi pribadi yang sukses dengan membiasakan diri melakukan kebiasaan-kebiasaan orang yang saat ini lebih sukses dari Anda.

Berpura-puralah dengan bersungguh-sungguh pada apa yang paling Anda inginkan terjadi pada diri Anda – dalam waktu yang relatif cepat maka itulah yang akan terjadi.

Dengarkan Perkataannya, Jangan Lihat Orangnya

Malam itu untuk ketiga kalinya maling pendusta itu tertangkap basah oleh Abu Hurairrah ketika sedang beraksi mencuri makanan milik kaum muslimin.

Kata Abu Hurairah “Sungguh akan aku bawa menghadap Rasulullah saw. Ini adalah kali yang ketiga kau datang. Padahal kau telah berjanji tidak akan kembali, tapi ternyata kau balik lagi.”

Kata orang itu, “Lepaskanlah aku, akan aku ajari kau beberapa kalimat yang Allah memberikan manfaat pada kalimat-kalimat itu.”

“Apa itu?”.

“Jika engkau hendak tidur, bacalah ayat kursi. Karena Allah akan menjagamu sampai kau bangun, dan syetan tak akan berani mendekatikmu.”

Lalu Abu Hurairahpun membebaskannya. Besok Rasulullah saw bertanya kepada Abu Hurairah tentang tawanannya semalam. Kata Abu Hurairah, “Wahai Rasulullah, dia menyangka bahwa dia telah mengajariku beberapa kalimat yang bermanfaat bagiku, maka aku bebaskan dia.”

“Apa itu?” kata Nabi.

“Dia berkata padaku agar aku membaca ayat kursi sebelum tidur. Dan apabila aku membacanya, maka aku akan dijaga oleh Allah sampai subuh dan tidak akan ada seytan yang mendekatiku,” jawab Abu Hurairah.

“Ketahuilah, sesungguhnya dia telah berkata jujur padamu padahal sebenarnya dia itu pendusta. Tahukah kau siapa orang yang kau ajak bicara selama tiga malam ini, hai abu Hurairah?”

“Tidak.”

“Dia itu adalah setan.” (Hr. Bukhari)

Lihat kisah di atas, bagaimana setan mengetahui fadilah ayat kursi, padahal itu sama sekali tidak ada gunanya bagi dirinya. Malah Abu Hurairah yang memanfaatkan apa yang diajarkan setan kepadanya. Begitulah setan, terkadang dia mengetahui sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, tapi tidak ada manfaatnya bagi dirinya sendiri. Demikian pula dengan manusia. Terkadang seseorang mengetahui hal-hal yang baik dan berguna bagi dirinya, namun ia tidak mengamalkannya. Lalu ilmunya diambil oleh orang lain dan bermanfaat.

Kalau kita perhatikan, hampir tidak ada bedanya atau bahkan tidak berbeda sama sekali antara setan dengan orang yang suka menyuruh untuk berbuat baik tetapi dirinya sendiri tidak melakukan yang dia katakan. Atau orang yang mempunyai banyak ilmu tetapi ilmunya tidak bermanfaat bagi dirinya.

Ilmu yang dimilikinya sama sekali tidak ada pengaruhnya bagi kehidupan beragamanya dan fikrahnya. Orang yang seperti ini sama saja dengan setan. Bahkan bisa jadi mereka lebih setan daripada setan. Sebab setan memang dari sananya sudah memproklamirkan dirinya sebagai musuh Allah dan orang-orang mukmin. Jadi wajar kalau mereka tidak mau melakukan amal kebaikan meskipun mereka mengetahui.

Orang-orang model beginilah yang disinyalir oleh Allah swt dalam firman-Nya, “Apakah kalian menyuruh orang-orang untuk berbuat baik sementara kalian melupakan diri kalian sendiri padahal kalian membaca al Kitab?” (Al Baqoroh 44).

Dalam ayat lain Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan? Besar sekali kebencian di sisi Allah kalau kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” (Ash-Shoff 2-3)

Namun meskipun mereka “cuma pintar ngomong”, bukan berarti kita tidak boleh mengambil perkataan mereka. Selama itu tidak melenceng dari al-Qur’an dan sunnah, boleh saja kita mendengarkan apa yang mereka katakan. Ali bin Abi Thalib pernah berkata “Undzur maa qoola, walaa tandzur man qoola” Lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan kau melihat siapa yang mengatakan.

Ada lagi yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari setan. Setan itu terkadang berbuat baik kepada kita tetapi sebetulnya malah merugikan atau bahkan mencelakakan. Jadi kita mesti hati-hati dan waspada terhadap segala bentuk kebaikan setan. Karena setan itu licik.

Pernah suatu hari Abdullah bin Ummi Maktum, seorang sahabat yang buta, hendak pergi ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah. Di tengah jalan dia terjatuh dan terperosok di sebuah lubang. Besoknya Ibnu Ummi Maktum pergi lagi ke masjid seperti biasa, namun kali ini ada seseorang yang berbaik hati yang menuntunya. Tentu saja Ibnu Ummi Maktum heran karena orang itu tidak turut sholat berjamaah. Tetapi Ibnu Ummi Maktum hanya mengucapkan terima kasih seraya berkata “Kau ini baik sekali, siapakah kau ini sebenarnya?” Jawab orang itu, “AKu adalah setan.” Kaget Ibnu Ummi Maktum mengetahui siapa yang telah berbuat baik kepadanya. Kata Ibnu Ummi Maktum, “Apa maksudmu menolongku?” Jawab setan yang berujud orang baik itu “Kemarin ketika kau jatuh terperosok, setengah dari dosamu diampuni oleh Allah. Aku khawatir kalau kali ini kau jatuh lagi, maka habislah dosamu.”

Setan memang licik setan. Dia tolong Ibnu Ummi Maktum bukan karena bermaksud ikhlas ingin menolong. Tapi dia tidak mau kalau sampai dosa Ibnu Ummi Maktum diampuni oleh Allah semuanya. Ada udang dibalik batu, kata orang. Jadi bukannya kita su’uzh-zhon dengan orang-orang yang bertipe macam setan begini. Namun sekedar hati-hati dan waspada.

   Sekarang ini banyak orang-orang model setan bergentayangan di sekililing kita.

Adalah yang mereka belajar agama, banyak membaca buku-buku keislaman dan banyak mengetahui hukum-hukum Islam, tapi volume ibadahnya tidak berubah. Iman dan akhlaknya tidak ada bedanya dengan orang yang tidak tahu agama (baca: orang awam). Bahkan bisa jadi akhlak mereka lebih buruk dibanding orang awam. Selain itu juga tidak sedikit orang belajar Islam malah untuk menyerang sendi-sendi Islam yang telah mapan. Atau untuk menyelipkan pikiran nyleneh dengan mengambil dalil dari al-Qur’an, sunnah, sirah, maupun perkataan ulama dalam posisi yang tidak tepat. Seenaknya saja mereka memakai dalil. Tampaknya maksud mereka baik, ingin memperbarui Islam.

Namun sejatinya mereka malah menghancurkan Islam dari dalam. Ada lagi yang sering mengisi pengajian di sana-sini, tapi hanya sebatas menyampaikan ilmu. Bermanfaat bagi yang hadir namun tidak ada artinya bagi dirinya sendiri. Memang benar kata sya’ir,”Al ‘Ilmu bilaa ‘amalin, kasy-syajari bilaa tsamarin.” Ilmu tanpa amal, bagaikan pohon tanpa buah.

Ada beberapa hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa yang berkenaan dengan Abu Hurairah dan Abdullah bin Ummi Maktum.

Pertama, bukan tidak mungkin ada orang yang buruk akhlaknya dan pas-pasan imannya, tetapi mempunyai ilmu yang bermanfaat bagi orang lain.

Kedua, bolehnya kita belajar atau mendengarkan perkataan orang-orang yang “cuma pintar ngomong’ selama itu benar dan tidak melenceng dari al-Qur’an dan sunnah.

Ketiga, orang yang mempunyai suatu ilmu tetapi tidak mau mengamalkannya, tidak ada bedanya dengan setan.

Keempat, kita mesti hati-hati terhadap kebaikan-kebaikan orang-orang model setan ini, karena siapa tahu ada maksud jahad dibalik kebaikannya. Juga terhadap pemikiran-pemikiran yang bernada memperbarui agama, sebab seringnya pemikiran-pemikiran yang berkulit pembaruan malah membuat ‘pe-er’ bagi ummat Islam.

PENJELASAN SYARI’AT THORIQOH HAQIQAT DAN MA’RIFAT

  1. Syariat :

Adalah hukum Islam yaitu Al qur’an dan sunnah Nabawiyah / Al Hadist yang merupakan sumber acuan utama dalam semua produk hukum dalam Islam, yang selanjutnya menjadi Madzhab-madzhab ilmu Fiqih, Aqidah dan berbagai disiplin ilmu dalam Islam yang dikembangkan oleh para ulama dengan memperhatikan atsar para shahabat ijma’ dan kiyas. Dalam hasanah ilmu keislaman terdapat 62 madzhab fiqh yang dinyatakanmu’tabar (Shahih dan bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya) oleh para ulama. Sedangkan dalam hasanah ilmu Tuhid (keimanan), juga dikenal dengan ilmu kalam. Ahirnya ummat Islam terpecah menjadi 73 golongan / firqah dalam konsep keyakinan. Perbedaan ini terdiri dari perbedaan tentang konsep konsep, baik menyangkut keyakinan tentang Allah SWT, para malaikat, kitab kitab Allah, para Nabi dan Rasul, Hari Qiamat dan Taqdir.

Namun dalam masalah keimanan berbeda dengan Fiqih. Dalam Fiqh masih ada toleransi atas perbedaan selama perbedaan tersebut tetap merujuk pada Al Qur’an dan Sunnah, dan sudah teruji kebenarannya serta diakui kemu’tabarannya oleh para ulama yang kompeten. Akan tetapi dalam konsep keimanan, dari 73 golongan yang ada, hanya satu golongan yang benar dan menjadi calon penghuni surga, yaitu golongan yang konsisten / istiqamah berada dibawah panji Tauhidnya Rasulullah SWA dan Khulafa Ar Rasyidiin Al Mahdiyyin yang selanjutnya dikenal dengan Ahlu As Sunnah wal Jamaah. Sedangkan firqah / golongan lainnya dinyatakan sesat dan kafir. Jika tidak bertaubat maka mereka terancam masuk dalam neraka. Na’udzubillah.

  1. Thariqah :

Adalah jalan / cara / metode implementasi syariat. Yaitu cara / metode yang ditempuh oleh seseorang dalam menjalankan Syariat Islam, sebagai upaya pendekatannya kepada Allah Swt. Jadi orang yang berthariqah adalah orang yang melaksanakan hukum Syariat, lebih jelasnya Syariah itu hukum dan Thariqah itu prakteknya / pelaksanaan dari hukum itu sendiri.

Thariqah ada 2(dua) macam :

Thariqah ‘Aam : adalah melaksanakan hukum Islam sebagaimana masyarakat pada umumnya, yaitu melaksanakan semua perintah, menjauhi semua larangan agama Islam dan anjuran anjuran sunnah serta berbagai ketentuan hukum lainnya sebatas pengetahuan dan kemampuannya tanpa ada bimbingan khusus dari guru / mursyid / muqaddam.

Thariqah Khas : Yaitu melaksanakan hukum Syariat Islam melalui bimbingan lahir dan batin dari seorang guru / Syeikh / Mursyid / Muqaddam. Bimbingan lahir dengan menjelaskan secara intensif tentang hukum-hukum Islam dan cara pelaksanaan yang benar. Sedangkan bimbingan batin adalah tarbiyah rohani dari sang guru / Syeikh / Mursyid / Muqaddam dengan izin bai’at khusus yang sanadnya sambung sampai pada Baginda Nabi, Rasulullah Saw. Thariqah Khas ini lebih dikenal dengan nama Thariqah as Sufiyah / Thariqah al Auliya’.Thariqah Sufiyah yang mempunyai izin dan sanad langsung dan sampai pada Rasulullah itu berjumlah 360 Thariqah. Dalam riwayat lain mengatakan 313 thariqah. Sedang yang masuk ke Indonesia dan direkomendasikan oleh Nahdlatul Ulama’ berjumlah 44 Thariqah, dikenal dengan Thariqah Al Mu’tabaroh An Nahdliyah dengan wadah organisasi yang bernama Jam’iyah Ahlu Al Thariqah Al Mu’tabarah Al Nahdliyah.

Dalam kitab Mizan Al Qubra yang dikarang oleh Imam Asy Sya’rany ada sebuah hadits yang menyatakan :

ان شريعتي جا ئت على ثلاثما ئة وستين طريقة ما سلك احد طريقة منها الا نجا .(ميزان الكبرى للامام الشعرني : 1 / 30)

“Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 360 thariqah (metoda pendekatan pada Allah), siapapun yang menempuh salah satunya pasti selamat”. (Mizan Al Qubra: 1 / 30 )

Dalam riwayat hadits yang lain dinyakan bahwa :

ان شريعتي جائت على ثلاثمائة وثلاث عشرة طريقة لا تلقى العبد بها ربنا الا دخل الجنة ( رواه الطبرني )

“Sesungguhnya syariatku datang membawa 313 thariqah (metode pendekatan pada Allah), tiap hamba yang menemui (mendekatkan diri pada) Tuhan dengan salah satunya pasti masuk surga”. (HR. Thabrani)

Terlepas dari perbedaan redaksi dan jumlah thariqah pada kedua riwayat hadits diatas, mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus percaya akan adanya thariqah sebagaimana direkomendasi oleh hadits tersebut. Kalau tidak percaya berarti tidak percaya dengan salah satu hadits Nabi SAW yang Al Amiin (terpercaya dan tidak pernah bohong). Lalu bagaimana hukumnya tidak percaya pada Hadits Nabi yang shahiih?

Dari semua thariqah sufiyah yang ada dalam Islam, pada perinsip pengamalannya terbagi menjadi dua macam. Yaitu thariqah mujahadah dan Thariqah Mahabbah. Thariqah mujahadah adalah thariqah / mitode pendekatan kepada Allah SWT dengan mengandalkan kesungguhan dalam beribadah, sehingga melalui kesungguhan beribadah tersebut diharapkan secara bertahap seorang hamba akan mampu menapaki jenjang demi jenjang martabah (maqamat) untuk mencapai derajat kedekatan disisi Allah SWT dengan sedekat dekatnya. Sebagian besar thariqah yang ada adalah thariqah mujahadah.

Sedangkan thariqah mahabbah adalah thariqah yang mengandalkan rasa syukur dan cinta, bukan banyaknya amalan yang menjadi kewajiban utama. Dalam perjalanannya menuju hadirat Allah SWT seorang hamba memperbanyak ibadah atas dasar cinta dan syukur akan limpahan rahmat dan nikmat Allah SWT, tidak ada target maqamat dalam mengamalkan kewajiban dan berbagai amalan sunnah dalam hal ini. Tapi dengan melaksanakan ibadah secara ikhlash tanpa memikirkan pahala, baik pahala dunia maupun pahala ahirat , kerinduan si hamba yang penuh cinta pada Al Khaliq akan terobati. Yang terpenting dalam thariqah mahabbah bukan kedudukan / jabatan disisi Allah. tapi menjadi kekasih yang cinta dan dicintai oleh Allah SWT. Habibullah adalah kedudukan Nabi kita Muhammad SAW. (Adam shafiyullah, Ibrahim Khalilullah, Musa Kalimullah, Isa Ruhullah sedangkan Nabi Muhammad SAW Habibullah). Satu satunya thariqah yang menggunakan mitode mahabbah adalah Thariqah At Tijany.

Nama-nama thariqah yang masuk ke Indonesia dan telah diteliti oleh para Ulama NU yang tergabung dalam Jam’iyyah Ahluth Thariqah Al Mu’tabarah Al Nahdliyah dan dinyatakan Mu’ tabar (benar – sanadnya sambung sampai pada Baginda Rasulullah SAW), antara lain :

  1. Umariyah                                       23. Usysyaqiyyah

  1. Naqsyabandiyah                           24. Bakriyah

  1. Qadiriyah                                       25. Idrusiyah

  1. Syadziliyah                                     26. Utsmaniyah

  1. Rifaiyah                                         27. ‘Alawiyah

  1. Ahmadiyah                                     28. Abbasiyah

  1. Dasuqiyah                                     29. Zainiyah

  1. Akbariyah                                     30. Isawiyah

  1. Maulawiyah                                   31. Buhuriyyah

  1. Kubrawiyyah                               32. Haddadiyah

  1. Sahrowardiyah                           33. Ghaibiyyah

  1. Khalwatiyah                                 34. Khodiriyah

  1. Jalwatiyah                                   35. Syathariyah

  1. Bakdasiyah                                 36. Bayumiyyah

  1. Ghazaliyah                                   37. Malamiyyah

  1. Rumiyah                                       38. Uwaisiyyah

  1. Sa’diyah                                       39. Idrisiyah

  1. Jusfiyyah                                     40. Akabirul Auliya’

  1. Sa’baniyyah                                 41. Subbuliyyah

  1. Kalsaniyyah                                 42. Matbuliyyah

  1. Hamzaniyyah                               43. TIJANIYAH

  1. Bairumiyah                                 44. Sammaniyah.

  1. Haqiqah

Yaitu sampainya seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. di depan pintu gerbang kota tujuan, yaitu tersingkapnya hijab-hijab pada pandangan hati seorang salik (hamba yang mengadakan pengembaraan batin) sehigga dia mengerti dan menyadari sepenuhnya Hakekat dirinya selaku seorang hamba didepan TuhanNya selaku Al Kholiq Swt. bertolak dari kesadaran inilah, ibadah seorang hamba pada lefel ini menjadi berbeda dengan ibadah orang kebanyakan. Kebanyakan manusia beribadah bukan karena Allah SWT, tapi justru karena adanya target target hajat duniawi yang ingin mereka dapatkan, ada juga yang lebih baik sedikit niatnya, yaitu mereka yang mempunyai target hajat hajat ukhrawi (pahala akhirat) dengan kesenangan surgawi yang kekal.

Sedangkan golongan Muhaqqiqqiin tidak seperti itu, mereka beribadah dengan niat semata mata karena Allah SWT, sebagai hamba yang baik mereka senantiasa menservis majikan / tuannya dengan sepenuh hati dan kemampuan, tanpa ada harapan akan gaji / pahala. Yang terpenting baginya adalah ampunan dan keridhaan Tuhannya semata. Jadi tujuan mereka adalah Allah SWT bukan benda benda dunia termasuk surga sebagaimana tujuan ibadah orang kebanyakan tersebut diatas.

  1. Ma’rifah

Adalah tujuan akhir seorang hamba yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. (salik) Yaitu masuknya seorang salik kedalam istana suci kerajaan Allah Swt. ( wusul ilallah Swt). sehingga dia benar benar mengetahui dengan pengetahuan langsung dari Allah SWT. baik tentang Tuhannya dengan segala keagungan Asma’Nya, Sifat sifat, Af’al serta DzatNya. Juga segala rahasia penciptaan mahluk diseantero jagad raya ini. Para ‘Arifiin ini tujuan dan cita cita ibadahnya jauh lebih tinggi lagi, Mereka bukan hanya ingin Allah SWT dengan Ampunan dan keridhaanNYa, tapi lebih jauh mereka menginginkan kedudukan yang terdekat dengan Al Khaliq, yaitu sebagai hamba hamba yang cinta dan dicintai oleh Allah SWT.

(syariah dan Thariqah) kita bisa mempelajari teori dan praktek secara langsung, baik melalui membaca kitab-kitab / buku-buku maupun melalui pelajaran-pelajaran (ta’lim) dan pendidikan (Tarbiyah) bagi ilmu Thariqah. Sedangkan Haqiqah dan ma’rifah pada prinsipnya tidak bisa dipelajarisebagai mana Syariah dan Thariqah karena sudah menyangkut Dzauqiyah.

Haqiqah dan ma’rifah lebih tepatnya merupakan buah / hasil dari perjuangan panjang seorang hamba yang dengan konsisten (istiqamah) mempelajari dan menggali kandungan syariah dan mengamalkanya dengan ikhlash semata mata karena ingin mendapatkan ridha dan ampunan serta cinta Allah SWT.

Perumpamaan yang agak dekat dengan masalah ini adalah : ibarat satu jenis makanan atau minuman ( misalnya nasi rawon ). Resep masakan nasi rawon yang menjelaskan bahan bahan dan cara membuat nasi rawon itu sama dengan Syariah. Bimbingan praktek memasak nasi rawon itu sama dengan Thariqah. Resep dan praktek masak nasi rawon ini bisa melalui buku dan mempraktekkan sendiri (ini thariqah ‘am ) sedangkan resep dan praktek serta bimbingan masak nasi rawon dengan cara kursus pada juru masak yang ahli (itu namanya Thariqah khusus). Makan nasi rawon dan menjelaskan rasa / enaknya ini sudah haqiqah dan tidak ada buku panduannya, demikian juga makan nasi rawon dan mengetahuisecara detail rasa, aroma, kelebihan dan kekurangannya itu namanya ma’rifah.

MUKTAMAR JAM’IYYAH AHLI THORIQOH AL MUKTABAROH DI PEKALONGAN

Muktamar Jamiyyah Ahli Thoriqoh Mu’tabaroh an Nahdliyah (JATMAN) di gelar di Pekalongan Jawa Tengah pada 15 Januari 2018. Muktamar ke XII ini dibuka oleh Presiden Joko Widodo. Muktamar kali dihadiri sekitar 8.500 peserta dari berbagai daerah.

Adalam Acara itu hadir pula Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendyini juga Presiden yang mengenakan setelan jas serta sarung dan kopiah tampak disambut oleh Rais Aam Jatnam, Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak anggota Jamiyah Ahli Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nadliyah (JATMAN) ikut menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjadikan Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, dan Bhinneka Tunggal sebagai tali pengikat keberagaman di Indonesia.

“Oleh karena itu, kami titip pada para kiai dan seluruh jamiyah thoriqoh agar tetap menjaga ukhuwah Islamiyah dan watoniyah. Persatuan dan kesatuan kita harus tetap dijaga dengan kuncinya Pancasila sebagai ideologi negara, NKRI, Bhinneka Tuggal Ika, dan UUD 1945 harus dijadikan pedoman bernegara di Indonesia,” katanya seperti dikutip kantor berita Antara.

Ada beberapa agenda dalam muktamar Jatman kali salah satunya adalah merumuskan kondisi internal kekinian maupun secara eksternal berkaitan dengan persoalan umat, rakyat, negara dan internasional. Menurut rencana muktamar akan ditutup oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Kamis, 18 Januari 2018.

Pelaksanaan JATMAN ini didasari bahwa dalam tasawuf, jumlah tarekat sangat banyak, tetapi kaum sufi mengelompokkan tarekat menjadi dua jenis, yaitu tarekat mu’tabar (thariqah yang mutashil (tersambung) sanadnya kepada Nabi Muhammad SAW), dan tarekat ghairu mu’tabar (thoriqoh yang munfashil (tidak tersambung) sanadnya kepada Nabi Muhammad. Untuk menghindari penyimpangan sufisme dari garis lurus yang diletakkan para sufi terdahulu, maka NU meletakkan dasar-dasar tasawuf sesuai dengan khittah ahlissunnah waljamaah. Dalam hal ini, NU membina keselarasan tasawuf Al-Ghazali dengan tauhid Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, serta hukum fikih sesuai dengan salah satu dari empat mazhab sunni.

Dalam kerangka inilah, Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (Jatman) dibentuk, yaitu untuk memberikan sebuah rambu-rambu kepada masyarakat tentang tarekat yang mu’tabar dan ghairu mu’tabar. Dari segi organisasi, Jatman secara de facto berdiri pada bulan Rajab 1399 H, bertepatan dengan Juni 1979 M. Tetapi, sebelum terbentuk Jatman, bibit organisasi tersebut telah lahir, yaitu Jam’iyyah Thariqah Al-Mu’tabarah. Kelahiran Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah tidak dapat dilepaskan dari Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-26 di Semarang. Tetapi, apabila dilihat dari segi ilmu dan amaliahnya, maka tarekat sudah ada sejak Nabi Muhammad SAW diutus untuk membawa agama Islam ke muka bumi. Nabi Muhammad menerima baiat dari malaikat Jibril, dan Jibril menerima dari Allah SWT.

Jam’iyyah Thariqah AI Mu’tabarah didirikan oleh beberapa tokoh NU, antara lain KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, Dr KH ldham Chalid, KH Masykur serta KH Muslih. Dengan tujuan awal untuk mengusahakan berlakunya syar’iat Islam dhahir-batin dengan berhaluan ahlussunnah wal jamaah yang berpegang salah satu dari mazhab empat, mempergiat dan meningkatkan amal saleh dhahir-batin menurut ajaran ulama saleh dengan baiah shohihah; serta mengadakan dan menyelenggarakan pengajian khususi/ tawajujuhan (majalasatudzzikri dan nasril ulumunafi’ah).

Jam’iyyah Thariqah Al Mu’tabarah pertama kali melakukan muktamar pada tanggal 20 Rajab 1377 atau bertepatan dengan 10 Oktober 1957 di Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang. Muktamar pertama diprakarsai oleh beberapa ulama dari Magelang dan sekitarnya, seperti KH Chudlori, KH Dalhar, KH Siradj, serta KH Hamid Kajoran. Pada muktamar pertama mengamanatkan kepada KH Muslih Abdurrahman dari Mranggen, Demak, sebagai rais aam.

PENGERTIAN JUJUR DAN AMANAH DALAM AGAMA ISLAM

Jujur adalah sifat penting bagi Islam. Salah satu pilar Aqidah Islam adalah Jujur. Jujur adalah berkata terus terang dan tidak bohong. Orang yang bohong atau pendusta tidak ada nilainya dalam Islam.

Bahkan bisa jadi orang pendusta ini digolongkan sebagai orang yang munafik. Orang-orang munafik tergolong orang kafir. Nauzubillah. Allah berfirman :

   Diantara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

   Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.

   Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. [QS.2 Al-Baqarah :8-10]

Kalau seandainya ummat Islam seorang pendusta, tidak jujur, tentunya ketika ia menyatakan beriman, maka imannya sangat rapuh untuk dipercaya, karena orangnya tidak amanah atau dapat dipercaya karena telah dianggap pendusta.

|

Memang kita diciptakan manusia ini dua jalan.

   Jalan kejahatan dan

   Jalan kebaikan.

Firman Allah ta’ala:

   Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. [QS. As-syam :8]

   Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. [QS. Al-Balad :10-11]

Yang dimaksud dengan “Dua jalan” ialah jalan kebajikan dan jalan kejahatan. Jalan kejahatan adalah jalan yang mudah dan enak dikerjakan, tetapi jalan kebaikan dan kebajikan adalah jalan yang sulit, mendaki lagi sukar.

Kalau kita memilih jalan kebaikan, kebajikan. Inilah jalan yang diridhoi Allah subhanahu wata’ala, dan orang yang berada dijalan ini akan mendapat ganjaran dari allah subhanahu wata’ala. Tetapi jalan kebaikan ini tidak mudah, sulit lagi sukar.

Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?

   (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan,atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir. [QS. Al-Balad :12-16]

Demikianlah jalan kebaikan yang harus orang-orang mu’min tempuh dan selalu bersabar berada dijalannya sama seperti kita puasa dibulan ramadhan ini tetap sabar dalam menjalankan ibadah dan segala kebaikan dan kebajikan yang kita amalkan selama dalam bulan Ramadhan.

Perbuatan baik dijalan yang baik tersebut diantaranya juga bersikap jujur. Jujur dalam segala perbuatan dan perbuatan kita. Karena orang yang terbiasa tidak jujur akan selalu menjadi serentetan kebohongan berikutnya yang lambat laun menjadi kebiasaan, dan dicaplah sebagai pembohong atau pendusta, nauzubillah.

Hadits nabi membawa pesan nabi salallohu alaihi wasalam tentang kejujuran adalah:

   Selalulah kamu jujur, karena sesungguhnya jujur itu mengantarkan kamu pada kebaikan dan kebaikan itu sesungguhnya mengantarkan pada surga.

   Sedangkan dusta akan mengantarkan pada keburukan dan dosa, dan sesungguhnya dosa itu akan mengantarkan pada neraka. [Hadits: Mutafaqun Alaih]

Oleh sebab itu hendaklah kita akan senantiasa jujur. Dan dikatakan kita sebagai orang yang jujur. Orang jujur ada kemungkinan akan teguh dalam memegang amanah. Sedangkan orang yang pendusta atau tidak jujur sama sekali tidak bisa memegang amanah.

Jujur dan amanah adalah serangkaian sifat yang perlu kita sikapi. Sebagaimana rasulullah adalah seorang yang mempunyai sifat jujur, terpercaya [Amanah]. Oleh sebab itu kita patut menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan yang baik.

Sebagaimana Firman allah ta’ala:

   Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

   [QS. Al-Ahzab :21]

Pengertian Amanah Dalam Islam

Amanah adalah segala sesuatu yang dibebankan Allah kepada manusia untuk dilaksanakan yang tercakup di dalamnya

   Khilafah ilahiyah (khalifat allah, ibad allah),

   Khilafah takwiniah (al-taklif al-syar’iah) dalam kaitannya dengan hablun min allah dan hablun min al-nas.

Dalam ajaran Al-Qur’an manusia adalah makhluk yang memikul beban (mukallaf). Pembebanan (taklif) meliputi hak dan kewajiban. Setiap beban yang diterima manusia harus dilaksanakan sebagai amanah.

Amanah mempunyai akar kata yang sama dengan kata iman dan aman, sehingga mu’min berarti yang beriman, yang mendatangkan keamanan, juga yang memberi dan menerima amanah. Orang yang beriman disebut juga al-mu’min, karena orang yang beriman menerima rasa aman, iman dan amanah.

Bila orang tidak menjalankan amanah berarti tidak beriman dan tidak akan memberikan rasa aman baik untuk dirinya dan sesama masyarakat lingkungan sosialnya. Dalam sebuah hadis dinyatakan “Tidak ada iman bagi orang yang tidak berlaku amanah”.

Dalam kontek hablun min allah, amanah yang dibebankan Allah kepada manusia adalah Tauhid artinya pengakuan bahwa hanya Allah yang harus disembah, hanya Allah yang berhak mengatur kehidupan manusia dan hanya Allah yang harus menjadi akhir tujuan hidup manusia, sehingga pelanggaran terhadap tauhid adalah syirik dan orang musyrik adalah orang khianat kepada Allah.

Termasuk dalam kontek ini pula adalah mengimani seluruh aspek yang termuat dalam rukun iman dan melaksanakan ubudiyah yang termaktub dalam rukun islam.

Manusia diperintah Allah untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya (QS. 4 : 58), hal ini berkaitan dengan tatanan berinteraksi sosial (muamalah) atau hablun min al-nas.

   Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan [menyuruh kamu] apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.

   Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. An-Nisa :58)

Sifat dan sikap amanah harus menjadi kepribadian atau sikap mental setiap individu dalam komunitas masyarakat agar tercipta harmonisasi hubungan dalam setiap gerak langkah kehidupan.

Dengan memiliki sikap mental yang amanah akan terjalin sikap saling percaya, positif thinking, jujur dan transparan dalam seluruh aktifitas kehidupan yang pada akhirnya akan terbentuk model masyarakat yang ideal yaitu masyarakat aman, damai dan sejahtera.

Pengertian Amanah

Amanah secara etimologis (pendekatan kebahasaan/lughawi) dari bahasa Arab dalam bentuk mashdar dari (amina- amanatan) yang berarti jujur atau dapat dipercaya. Sedangkan dalam bahasa Indonesia amanah berarti pesan, perintah, keterangan atau wejangan.

Amanah menurut pengertian terminologi (istilah) terdapat beberapa pendapat, diantaranya menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Amanah adalah sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga agar sampai kepada yang berhak memilikinya.

Sedangkan menurut Ibn Al-Araby, amanah adalah segala sesuatu yang diambil dengan izin pemiliknya atau sesuatu yang diambil dengan izin pemiliknya untuk diambil manfaatnya.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat diambil suatu pengertian bahwa amanah adalah menyampaikan hak apa saja kepada pemiliknya, tidak mengambil sesuatu melebihi haknya dan tidak mengurangi hak orang lain, baik berupa harga maupun jasa.

Amanah merupakan hak bagi mukallaf yang berkaitan dengan hak orang lain untuk menunaikan nya karena menyampaikan amanah kepada orang yang berhak memilikinya adalah suatu kewajiban.

Ahmad Musthafa Al-Maraghi membagi amanah kepada 3 macam, yaitu :

  1. Amanah manusia terhadap Tuhan, yaitu semua ketentuan Tuhan yang harus dipelihara berupa melaksankan semua perintah Tuhan dan meninggalkan semua laranganNya.

Termasuk di dalamnya menggunakan semua potensi dan anggota tubuh untuk hal-hal yang bermanfaat serta mengakui bahwa semua itu berasal dari Tuhan.

Sesungguhnya seluruh maksiat adalah perbuatan khianat kepada Allah Azza wa Jalla.

  1. Amanah manusia kepada orang lain, diantaranya mengembalikan titipan kepada yang mempunyainya, tidak menipu dan berlaku curang, menjaga rahasia dan semisalnya yang merupakan kewajiban terhadap keluarga, kerabat dan manusia secara keseluruhan.

Termasuk pada jenis amanah ini adalah

   Pemimpin berlaku adil terhadap masyarakatnya,

   Ulama berlaku adil terhadap orang-orang awam dengan memberi petunjuk kepada mereka untuk memiliki i’tikad yang benar,

   Memberi motivasi untuk beramal yang memberi manfaat kepada mereka di dunia dan akhirat,

   Memberikan pendidikan yang baik, menyuruh berusaha yang halal serta memberikan nasihat-nasihat yang dapat memperkokoh keimanan agar terhindar dari segala kejelekan dan dosa serta mencintai kebenaran dan kebaikan.

Amanah dalam katagori ini juga adalah seorang suami berlaku adil terhadap istrinya berupa salah satu pihak pasangan suami-istri tidak menyebarkan rahasia pasangannya, terutama rahasia yang bersifat khusus yaitu hubungan suami istri.

  1. Amanah manusia terhadap dirinya sendiri, yaitu berbuat sesuatu yang terbaik dan bermanfaat bagi dirinya baik dalam urusan agama maupun dunia, tidak pernah melakukan yang membahayakan dirinya di dunia dan akhirat.

Amanah merupakan faktor utama terciptanya kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa, sebab dengan sikap amanah semua komponen bangsa akan berlaku jujur, tanggung jawab dan disiplin dalam setiap aktifitas kehidupan.

Mewabahnya korupsi, monopoli dan oligapoli dalam berbagai lapangan kerja dan sektor ekonomi baik ekonomi mikro maupun ekonomi makro, baik yang dikelola pemerintah maupun swasta, hilangnya saling percaya, tumbuhnya saling mencurigai (negative thinking), menjamurnya mental hipokrit, apriori terhadap tugas dan kewajiban dan sifat-sifat tercela lainnya sebagai akibat dari hilangnya amanah.

Pentingnya Amanah dalam Kehidupan

Berbicara tentang orang-orang yang akan menentukan masa depan bangsa ini, tak lepas dari membicarakan masalah amanah. Di tengah berbagai konflik yang ada, mampukah mereka menjalankan amanah itu?

Kata “amanah” adalah suatu kata yang besar dalam Islam. Bila dilihat berdasarkan syariat, amanah ini pengertiannya sangat luas dan mendalam. Mulai dari “Menyimpan rahasia hingga “menjalankah sesuatu yang menjadi perjanjian atau tugas”.

Amanah adalah akhlak dari para Nabi dan Rasul. Mereka adalah orang-orang yang paling baik dalam menjaga amanah. Tidak heran bila Rasulullah dikenal sebagi orang yang paling terpercaya, terutama dalam menjalankan amanah.

Ada empat elemen penting dalam konsep amanah, yaitu:

   Menjaga hak Allah SWT

   Menjaga hak sesama manusia

   Menjauhkan dari sifat abai dan berlebihan, artinya amanah memang harus disampaikan dalam kondisi tepat, tidak ditambahi atau dikurangi

   Mengandung sebuah pertanggung jawaban

Perlu dicatat, amanah sangat berkaitan dengan akhlak yang lain, seperti kejujuran, kesabaran, atau keberanian. Karena untuk menjalankan amanah, perlu keberanian yang tegas. Amanah sebagai salah satu unsur dalam Islam, membuktikan bawah salah satu fungsi agama adalah memberikan nilai pada kehidupan. Apalagi, amanah dititipkan pada hal-hal kecil, bukan hanya hal-hal besar saja.

Islam mengajarkan bahwa tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah dan tak ada agama bagi orang yang tak berjanji. Ini berarti amanah adalah bagian dari iman. Sehingga mereka yang tidak menjaga amanah, termasuk pada golongan orang-orang yang tidak beriman. Selain itu, agama juga mengajarkan kita untuk berjanji dan menepatinya karena itu bagian dari kehidupan.

Lebih lanjut, berbicara amanah juga merujuk pada golongan manusia yang termasuk para pemimpin. Bagaimanapun juga, kita semua merupakan pemimpin, setidaknya bagi diri sendiri dan keluarga. Sehingga, nanti kita pasti akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban tentang kepempinan kita. Hal ini tercantum dalam Alquran surat Al Anfaal ayat 27:

   “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.

Dari ayat di atas, kita bisa lihat bahwa Allah benar-benar dengan tegas melarang sifat khianat. Rasulullah pun dengan tegas mendidik orang untuk menjalankan amanah, bahkan sedari kecil.

Misalnya, ada satu kisah tentang seorang anak kecil bernama Abdullah. Pada suatu hari, dia disuruh ibunya menyampaikan setandan anggur kepda Rasulullah. Tapi di jalan, mungkin karena kehausan, beberapa anggur dimakan oleh Abdullah.

Ketika anggur itu diberikan, Rasulullah mengetahui hal itu dan seketika itu juga Rasulullah menjewer telinga Abdullah sambil mengucapkan kalimat, “Hai pengkhianat” sebanyak tiga kali.

Dalam hal ini, kita bisa lihat, bahwa menjaga amanah itu sangat penting dan memiliki konsekuensi yang besar untuk orang-orang yang mengabaikan amanah. Begitu besarnya, hingga bumi, langit, dan gunung pun takut melanggarnya. Hal ini tercantum dalam Alquran surat Al Ahzab ayat 72:

   “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.

Bila mereka saja takut, bukankah kita seharusnya lebih takut? Karena kitalah yang akhirnya dititipi amanah itu dan nantinya akan ditanya tentang pertanggungjawabannya.

RENUNGAN DI AWAL TAHUN AGAR SEMAKIN BAIK DI SISI ALLOH SWT.

TAHUN 2018 tinggal beberapa menit lagi akan datang. Seluruh masyarakat dunia menanti datangnya tahun baru masehi ini dengan bermacam aktifitas dan harapan serta do’a, tergantung kepada doktrin keluarga atau budaya lingkungan atau ajaran agama dan bahkan negaranya masing masing. Para pemuda dengan jiwa darah mudanya saling mengisi dengan aktifitas masing masing perkumpulan. Dengan hal hal yang kadang bermanfaat dan kadang kurang bermanfaat.

Hal itu dapat di maklumi, karena yang namanya anak muda kondisi kejiwaanya masih labil dan penuh gejolak. Begitu pula para orang tua yang merayakan dengan keluarga dengan berlibur dan berwisata ke tempat tempat yang terkadang lebih tidak pantas untuk pendidikan anak.

Hal ini juga dapat di maklumi karena memang tujuan asli dari para orang tua adalah menghibur keluarga di saat libur yang hanya ada setahun sekali.

Tetapi, Sebenarnya ada banyak hal yang pantas kita pelajari dari datangnya tahun baru Masehi ini, yang kesemuanya berakibat baik untuk diri kita. Apalagi tahun baru sekarang ini berbarengan dengan hari di mana di lahirkanya sang nabi akhir zaman, Sayyidina Muhammad Saw.

Tahun baru yang tinggal hitungan menit lagi, memang kita perlu ber introspeksi diri atau koreksi diri dengan penuh konsentrasi dan ke ikhlasan, karena dengan datangnya tahun 2018 itu artinya kita semakin tambah dewasa tambah tua dan lebih dekat dengan mati…

Pernahkah kita berfikir bahwa nanti kita akan mati…? padahal itu adalah hak pereogratif Alloh semata yang artinya tidak ada yang tahu kapan kita akan mati

Pernahkah kita menghitung kesalahan dan dosa kita dalam setahun yang lalu dan kemudian bertaubat menangis meminta ampun kepada Alloh…

Pernahkah kita mencoba mengenali ni’mat ni’mat Alloh yang begitu banyak yang telah kita nikmati, sehingga kita nantinya akan bisa mensyukurinya kepada Alloh..

Pernahkah kita berfikir bahwa kita hanya seorang hamba yang seharusnya hanya tunduk dan patuh kepada Alloh Ta’ala…

Pernahkah kita mencoba menghitung berapakah umur kita yang di gunakan untuk sholat menyembah Alloh Swt.

Mari kita hitung bersama sama :

Kalau kita di beri umur selama 60 tahun maka, Kita akan menghadap Alloh dengan perhitungan seperti di bawah ini.

60 tahun di kurangi masa sebelum kita baligh yaitu 15 tahun bagi pria atau 9 tahun bagi wanita. Sehingga 60 di kurangi masa sebelum baligh menjadi 45 tahun bagi laki laki dan 51 tahun bagi wanita.

Kemudian, sisa umur 51 tahun (wanita)dan 45 tahun (pria) di kurangi waktu untuk kita tidur, normalnya orang tidur dalam satu hari satu malam adalah 8 jam. Maka kita hitung begini : 8 jam di kalikan 30 hari(1 bulan) di kalikan 12(1 tahun) di kalikan 60 tahun (umur kita) hasilnya adalah 172.800 jam. Kemudian kita jumlahkan jumlah jam dalam sehari dengan jumlah hari dalam 1 tahun, yaitu 24 jam di kalikan 365 hari, hasilnya adalah 8760 jam.

Kemudian, 8760 jam di gunakan untuk membagi jumlah jam tidur kita dalam 60 tahun, yaitu 172.800 di bagi 8.760 jam hasilnya adalah 19, 72 tahun.

Berarti, 51 tahun dan 45 tahun di kurangi jumlah tidur kita dalam 60 tahun yaitu selama 19 tahun, adalah 32 tahun bagi wanita dan 26 tahun bagi pria.

Kemudian, sisa umur 26 tahun(pria) dan 32 tahun(wanita) di kurangi waktu yang untuk kita gunakan nonton tv dan facebookan, twiteran dan yang lainya. Kita alokasikan saja 5 jam dalam sehari. (3 jam nonton tv dan 2 jam Facebookan dan yang lainya). Maka, 5 jam di kalikan 30 hari di kalikan 12 bulan di kalikan 60 tahun umur kita, hasilnya adalah 108.000 jam, kemudian di bagi dengan jumlah jam dalam satu tahun yaitu 8760. Hasilnya adalah 12,32 tahun.

Berarti, 26 tahun dan 32 tahun di kurangi jumlah nonton tv dan facebookan kita dalam 60 tahun yaitu 12 tahun, adalah 14 tahun bagi pria dan 20 tahun bagi wanita.

Kemudian, sisa umur 14 tahun (pria ) dan 20 (wanita) di kurangi waktu yang kita gunakan untuk bekerja. Kalau kita bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 2 sore dalam sehari, berarti 6 jam kita bekerja, di kurangi 1 jam istirahat, berarti 5 jam. Maka, 5 jam di kalikan 30 hari di kalikan 12 bulan di kalikan 60 tahun umur kita, hasilnya adalah 108.000 jam, kemudian di bagi dengan jumlah jam dalam satu tahun yaitu 8760. Hasilnya adalah 12,32 tahun.

Berarti 14 tahun dan 20 tahun di kurangi jumlah kita bekerja dalam 60 tahun yaitu selama 12 tahun, adalah 2 tahun bagi pria dan 8 tahun bagi wanita.

Kemudian, sisa umur 2 tahun (pria) dan 8 tahun (wanita) di kurangi waktu yang kita gunakan untuk sholat. Yaitu kita sholat paling lama 10 menit plus baca wirid. Berarti dalam sehari kita membutuhkan waktu untuk sholat selama 10 menit di kalikan 5 waktu sholat wajib, hasilnya adalah 50 menit. Kita bulatkan saja menjadi 60 menit atau 1 jam. Maka, 1 jam di kalikan 30 hari di kalikan 12 bulan di kalikan 60 tahun umur kita, hasilnya adalah 21.600 jam, kemudian di bagi dengan jumlah jam dalam satu tahun yaitu 8760. Hasilnya adalah 2,4 tahun.

Berarti 2 tahun dan 8 tahun di kurangi jumlah kita sholat dalam 60 tahun yaitu selama 2 tahun, adalah 0, tahun bagi pria dan 6 tahun bagi wanita.

Dengan demikian, masih sombongkah kita? Karena ternyata kita hanya menyisihkan waktu 2 tahun setengah selama umur kita yang kita gunakan untuk beribadah kepada Alloh Swt.

Padahal sholat adalah ibadah yang menjadi ukuran baik dan buruknya seluruh amaliyah ibadah kita.

Dan masih banyak sekali hal hal yang bisa kita pikirkan dengan tujuan agar kita semakin baik di hadapan Alloh di tahun yang ke 2018 ini.

Seperti memperbanyak membaca sholawat kepada Nabi kita Muhammad Saw.

Sebenarnya sama saja antara tahun Masehi dan Hijriyyah dalam ke datanganya di kehidupan kita, keduanya sama sama menuntut kita agar lebih tahu diri dan koreksi atas semua perbuatan kita yang telah lalu.

Ada pepatah yang mengatakan ;

Orang pandai akan belajar dari kesalahan orang lain, dan orang bodoh akan belajar dari kesalahan diri sendiri

Ini artinya kita tidak perlu berbuat kesalahan demi untuk perubahan yang lebih baik dari kita. Cukup orang lain yang kita pelajari perilakunya untuk membuat kita bisa lebih baik di tahun ini.

Ada kata mutiara yang sangat baik :

“Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini”.

MARILAH KITA BERUBAH KE ARAH YANG LEBIH BAIK

Allah SWT berfirman dalam Surat Ar-Ra’d, ayat 11,

إِنَّ اللهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Ayat ini menegaskan bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu, misalnya perubahan nasib, mendapatkan rezeki, ilmu, kelulusan ujian, kesehatan, dan sebagainya, maka ia harus melakukan suatu usaha secara aktif dan nyata, dan inilah yang disebut dengan ikhtiar atau usaha lahiriah.

Jadi seseorang akan tetap bodoh kalau ia tidak berusaha mengatasi kebodohannya dengan cara mencari ilmu. Seseorang akan tetap hidup sengsara jika ia tidak berikhtiar untuk lepas dari kesengsaraanya, misalnya dengan bekerja keras. Seseorang akan tetap pada watak dan kebiasaannya, seperti pelit, suka iri, malas, pendendam, dan sebagainya, sampai ia berusaha mengubah watak dan kebiasaan tersebut. Seseorang akan tetap sakit sampai ia berusaha mencari kesembuhan dengan cara berobat.

Berikhtiar adalah wajib. Maka barangsiapa mau berikhtiar, ikhtiarnya akan dicatat sebagai ibadah. Jika ikhtiarnya membuahkan hasil, maka setidaknya ia akan mendapat 2 (dua) keuntungan. Pertama, ia akan memperoleh pahala dari Allah SWT. Kedua, ia akan mendapat keberhasilan atau manfaat dari apa yang telah ia usahakan. Tetapi jika ikhtiarnya belum berhasil, maka setidaknya ia akan mendapat pahala dari Allah SWT. Jika ia sabar, maka ia akan mendapatkan pahala yang berlipat.

Untuk memperlancar atau mempermudah ikhtiar kita mencapai keberhasilan, kita perlu dan bahkan harus melakukan doa sebagai usaha batiniah. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Mukmin, ayat 60:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Artinya: “Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkannnya”

Allah SWT akan memberikan jawaban atau merespons apa yang menjadi keinginan atau usaha kita, kalau kita berdoa kepada-Nya. Hikmah berdoa kepada Allah SWT dalam kaitannnya dengan ikhtiar adalah bahwa doa akan mendekatkan kita kepada Allah SWT, dan karenanya akan memperlancar tercapainya apa yang kita usahakan.

Hikmah lain adalah bahwa dengan berdoa, kita akan terhindar dari klaim bahwa keberhasilan kita semata-mata karena ikhtiar kita sendiri tanpa campur tangan dari Allah SWT. Tentu ini akan mejadi kesombongan yang luar biasa sebagaimana disebutkan dalam ayat berikutnya,

إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS al-Mu’min: 60)

Oleh karena itu, tidak sepatutnya kita lupa berdoa kepada Allah SWT dalam setiap usaha kita meraih sesuatu. Semakin banyak kita berdoa dalam kehidupan kita sehar-hari, semakin dekatlah kita kepada Allah SWT dan tentu ini menjadi hal yang terpuji karena dengan berdoa kita menunjukkan kerendahan dan pengakuan betapa kecil dan lemahnya kita di depan Allah SWT.

Selain melakukan ikhtiar dan doa kepada Allah SWT dalam upaya kita meraih sesuatu, ada satu hal lagi yang tak boleh kita tinggalkan, yakni tawakal. Dalam surat Ali Imran, ayat 159, Allah SWT berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertwakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang brtawakal pada-Nya.”

Jadi memang ikhtiar dan doa sesungguhnya belum cukup karena masih ada satu hal lagi yang harus kita lakukam, yakni tawakal atau berserah diri kepada Allah SWT. Pertanyaannya, mengapa kita harus bertawakal kepada Allah SWT?

Tawakal memiliki peran penting dalam hidup ini, terutama terkait dengan usaha dan doa kita. Seperti kita ketahui dan mungkin sering kita alami bersama bahwa tidak setiap yang kita usahakan atau inginkan akan tercapai dengan segera sebagaimana kemauan kita, sebab memang bukan manusia yang mengatur hidup ini. Allah-lah yang mengatur seluruh alam dengan segala permasalahannya. Allah Maha Tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Allah Maha Adil dan Bijaksana dengan semua rencana dan keputusan-Nya.

Oleh karena itu, sudah seharusnya usaha dan doa kita, kita serahkan kepada Allah SWT. Biarlah Allah yang mengatur kapan usaha dan doa kita akan terkabul. Allah lebih tahu apa yang terbaik buat hamba-hamba-Nya. Allah lebih tahu kapan usaha dan doa kita akan terkabul. Terkadang, apa yang baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah SWT. Terkadang pula, Allah belum mengabulkan usaha dan doa kita karena Allah menilai kita belum siap, terutama secara mental spiritual, untuk menerima keberhasilan yang kita inginkan.

Ingatlah, ada sebagian orang yang ketika usaha dan doanya dikabulkan, mereka justru makin jauh dari Allah SWT dengan melakukan banyak kemaksiatan. Sebagai contoh, seseorang berdoa memohon kenaikan pangkat dalam jabatannya. Ketika pangkatnya naik dan berkuasa, ia justru banyak melakukan penyalah gunaan jabatan, seperti korupsi, manipulasi dan sebagainya.

Hal seperti itu banyak kita jumpai di era sekarang ini dimana jabatan tidak lagi dinilai sebagai suatu amanah tetapi telah dipandang sebagai kesempatan untuk memupuk kekayaan sebesar-besarnya secara tidak sah. Sungguh tragis dan ironis, setelah doanya terkabul, ia malah menjadi penghuni penjara. Na’udzubillahi mindzalik. Ini artinya, secara mental spiritual ia sebenarnya belum siap menerima sebuah keberhasilan duniawi.

Dengan bertawakal kepada Allah SWT, kita tentu lebih siap untuk menerima kenyataan. Mereka yang tidak tawakal, mungkin akan sangat kecewa dan bahkan mengalami stres berat ketika usaha dan doanya tidak atau belum terkabul. Sebagian dari mereka bahkan ada yang menyalahkan Tuhan dengan menuduh Tuhan tidak adil. Na’udzubillahi mindzalik.

Sebaliknya, mereka yang bertawakal tentu akan sabar menerimanya sambil introspeksi diri dengan tetap berusaha dan berdoa secara istiqamah. Mereka tidak akan putus asa karena menyadari sepenuhnya bahwa Allah-lah Yang Maha Tahu kapan sebaiknya usaha dan doanya akan terkabul. Ketika usaha dan doanya telah terkabul, tentu mereka akan bersyukur karena menyadari sepenuhnya keberhasilan itu berasal dari Allah SWT. Salah satu bentuk syukur itu adalah dengan tetap taat kepada Allah SWT yang disebut takwa.

Hal ini adalah didikan yang sangat baik dari seorang utusan yang tanpa cela dalam hidupnya, sehingga kita bisa mencontoh Rosululloh agar kita selalu lebih baik dalam kehidupan kita.

Semoga kita termasuk orang orang yang bisa memanfaatkan momen tahun baru ini agar bisa lebih baik lagi di hadapan Alloh ta’ala..Amin…