MENONTON TAYANGAN KARMA DI TV : Hasil Keputusan Bahtsul Masail LBM NU Kab/Kot Blitar Di Lembaga Pendidikan Islam Darul Huda (SMKI 2) Wlingi Edisi Putara Ke V 21-Juli-2018 M

Hasil Keputusan Bahtsul Masail LBM NU Kab/Kot Blitar
Di Lembaga Pendidikan Islam Darul Huda (SMKI 2) Wlingi
Edisi Putara Ke V 21-Juli-2018 M

Materi Pembahasan:
1. Menayangkan, menonton dan mempercayai Karma di TV
2. Muntahan atau gumoh bayi
3. Bekas tinta PEMILU ketika wudhu dan mandi

Dewan Mushohhih
1. KH. Ardani Ahmad
2. KH. Azizi Hasbulloh
3. Ky. Fauzi Hamzah Syam

Dewan Perumus
1. KH. Mukhroji
2. Ky. Hamid Ihsan
3. Ky. Agus Muhtasin
4. Ky. Dinul Qoyyim

Moderator
Ky. M. Ali Romzi

Notulen
Ky. Taufiqur Rohman
Ky. Zainul Millah

MEMUTUSKAN

  1. Menayangkan,menonton dan mempercayai Karma di TV

Karma adalah acara televisi realitas adikodrati (supranatural) yang di tayangkan oleh salah satu stasiun TV swasta sejak 24 Desember 2017.Acara yang berdurasi 120 menit ini di pandu oleh robby purba sebagai pembawa acara dan roy kiyoshi sebagai penerawang.dalam setiap episode terdapat 31 orang yang di undang sesuai tanggal lahir yang berbeda, Roy yang merupakan seorang yang indigo mempunyai kemampuan menerawang masa lalu dan masa depan seseorang melalui data tanggal lahir, gambar, tulisan dan pengakuan seseorang yang diundang atau partisipan, dan mengungkap kisah hidupnya serta memberinya saran untuk kehidupan yang lebih baik. sebagaimana di kutip dari wikipedia.

Pertanyaan :
a. Bagaimana hukumnya menayangkan acara seperti karma tersebut?

Jawaban :
Hukumnya haram karena mengandang hal-hal yang di haramkan :
a. Membuka aib orang lain,
b. Membublikasikan praktek kemaksiatan seperti praktek ramalan dan menyampaikan hal-hal ghaib yang di larang.
c. Merusak aqidah

Referensi Kitab :
ﺇﺣﻴﺎء ﻋﻠﻮﻡ اﻟﺪﻳﻦ ج 2 ص 328
الآفَةُ الثَّانِيَةَ عَشْرَةَ : إِفْشَاءُ السِّرِّ: وَهُوً مَنْهِيٌ عَنْهٌ لِمَا فِيْهَ مِنَ اْلإِيْذَاءِ وَالتَّهَاوُنِ بِحَقِّ المَعَارِفِ وَالْأَصْدِقَاءِ. قَالَ النَّبِـيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ الحَدِيثَ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ.
Kemaksiatan mulut ke dua belas adalah menyebarkan rahasia atau aib orang lain karena di dalamnya terdapat unsur menyakiti orang lain dan meremehkan etika pergaulan dan pertemanan. Nabi bersabda : ketika seseorang bercerita kemudian dia pergi maka cerita itu adalah amanah (yang harus dijaga).

إسعاد الرفيق ج 2 ص 127 (دار إحياء الكتب العربية)
(وَ) مِنْهَا (الْإِعَانَةُ عَلَى الْمَعْصِيَةِ) أَيْ عَلَى مَعْصِيَةٍ مِنْ مَعَاصِى اللهِ تَعَالَى بِقَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ غَيْرِهِ ثُمَّ إِنْ كَانَتِ الْمَعْصِيَّةُ كَبِيْرَةً كَانَتِ الْإِعَانَةُ عَلَيْهَا كَذَلِكَ
Termasuk dari kemaksiatan adalah : membantu terjadinya kemaksiatan baik dengan perkataan, perbuatan atau yang lain, dan termasuk dosa besar apabila kemasiatan yang dibantu juga kemaksiatan yang besar.

إحياء علوم الدين ج 1 ص 35
فَلْيَحْذَرْ الْكَذِبَ وَحِكَايَاتِ أَحْوَالٍ تُوْمِىءُ إِلَى هَفَوَاتٍ أَوْ مُسَاهَلاَتٍ يَقْصُرُ فَهْمُ الْعَوَّامِ عَنْ دَرْكِ مَعَانِيْهَا أَوْ عَنْ كَوْنِهَا هَفْوَةً نَادِرَةً مُرْدَفَةً بِتَكْفِيْرَاتٍ مُتَدَارَكَةٍ بِحَسَانَةٍ تُعْطَى عَلَيْهَا فَإِنَّ الْعَامَ يَعْتَصِمُ بِذَلِكَ فِيْ مُسَاهَلاَتِهِ وَهَفَوَاتِهِ وَيُمْهِدَ لِنَفْسِهِ عُذْرًا
Hindarilah kebohongan dan cerita-cerita kesalahan atau keteledoran orang dimana orang awam tidak mampu memahami arti yang terkandung di dalamnya, atau mereka tidak memahami bahwa kesalahan tersebut bersifat jarang apalagi kemudian kesalahan itu diikuti dengan kebaikan yang dapat meleburnya, karena orang awam justeru menjadikannya sebagai legalitas dan alasan dari kesalahan dan keteledoran mereka.

الموسوعة الفقهية ج 30 ص 33
العِرَافَةُ حَرَامٌ بِنَصِّ الْحَدِيْثِ النَّبَوِيِّ فَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ مَنْ أَتَى كَاهِنَا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أَنْزَلَ عَلَى مُحَمَّدٍ.
Praktek ramal adalah haram berdasarkan Hadits yang diriwayatkan Abu Harairah bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallama bersabda : barang siapa yang mendatangi peramal lalu dia mempercayai kata sang peramal maka dia telah mengkufuri apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.

اتحاف السادة المتقين ج 2 ص 286
وَﻻَ ﻳَﺠُﻮْزُ اْﻹِﺳْﺘِﻌَﺎﻧَﺔُ ﺑِﺎﻟْﺠِﻦِّ ﻓِﻲْ ﻗَﻀَﺎءِ ﺣَﻮَاﺋِﺠِﻪِ وَاﻣْﺘِﺜَﺎلُ أَوَاﻣِﺮِﻩِ وَإِﺧْﺒَﺎرِﻩِ ﺑِﺸَﻲْءٍ ﻣِﻦَ اﻟْﻤَﻐِﻴْﺒَﺎتِ وَﻧَﺤْﻮُ ذَﻟِﻚَ
Dan tidak boleh meminta bantuan jin dalam meraih kebutuhan, tidak boleh mentaati perintah-perintahnya dan tidak boleh meminta bantuan jin dalam menginformasikan hal-hal gaib.
إحياء علوم الدين الجزء الأول ص: 35
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَسْتَجِيْزُ وَضْعَ الْحِكَايَاتِ الْمُرَغِّبَةِ فِيْ الطَّاعَاتِ وَيَزْعَمُ أَنَّ قَصْدَهُ فِيْهَا دَعْوَةُ الْخَلْقِ إِلَى الْحَقِّ فَهَذِهِ مِنْ نَزَغَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّ فِيْ الصِّدْقِ مَنْدُوْحةً عَنِ اْلكَذِبِ وَفِيْمَا ذَكَرَ اللهُ تَعَالَى وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَنِيَّةٌ عَنِ الْاِخْتِرَاعِ فِيْ الْوَعْدِ
Sebagian orang ada yang menganggap boleh membuat cerita palsu yang dapat memberi motivasi dalam ketaatan, dia menganggap bahwa tujuan semacam itu bagian dari dakwah kebenaran, maka ini merupakan bujukan syetan, karena kebenaran tidak butuh kebohongan (hal-hal yang diharamkan) dan apa yang telah difirmankan Allah dan disabdakan oleh Rosul-Nya sudah cukup tanpa harus melakukan janji-janji palsu.

Pertanyaan :
b. Bagaimana pula hukum menonton dan mempercayainya?

Jawaban :
Hukum menonton tayangan karma adalah haram kecuali jika sebagai bahan kajian atau dlorbil amtsal (memberi contoh) untuk memberikan nasehat atau untuk membedakan antara haq dan bathil selama tidak sampai mempercayai ramalannya

Referensi :

البجيرمي على المنهج الجزء الرابع ص : 375
وَكُلُّ مَا حَرُمَ حَرُمَ التَّفَرُّجُ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ إِعَانَةٌ عَلَى مَعْصِيَةٍ
Setiap perkara yang haram maka haram pula menontonnya karena termasuk membantu terjadinya kemaksiatan
فتح العلي المالك ج 1 ص 209
أَمَّا الَّذِي يَضْرِبُ الْخَطَّ وَغَيْرَهُ وَيُخْبِرُ بِالْأُمُورِ الْمَغِيْبَاتِ فَلَا يَجُوزُ تَصْدِيقُهُ , وَلَا يَحِلُّ وَهُوَ فَاسِقٌ وَيُؤَدَّبُ ا هـ .
Adapun orang yang meramal menggunakan tulisan atau lainnya dan memberi informasi hal-hal yang gaib, maka tidak boleh mempercayainya
بغية المسترشدين ص:299 دار الفكر
وَأَنَّ مَا يَظْهَرُ عَلَى يَدِ الْفَاسِقِ مِنَ الْخَوَارِقِ مِنَ السِّحْرِ الْمُحَرَّمِ تَعَلُّمُهُ وَتَعْلِيْمُهُ وَفِعْلُهُ وَيَجِبُ زَجْرُ فَاعِلِهِ وَمُدَّعِيْهِ وَمَتَى حَكَمْنَا بِأَنَّهُ سِحْرٌ وَضَلاَلٌ حَرُمَ التَفَرُّجُ عَلَيْهِ إِذِ الْقَاعِدَةُ أَنَّ التَّفَرُّجُ عَلَى الْحَرَامِ حَرَامٌ كَدُخُوْلِ مَحَلِّ الصُّوَرِ الْمُحَرَّمِ وَحَرُمُ الْمَالُ الْمَأْخُوْذُ عَلَيْهِ اهـ
Keluarbiasaan (suprata natural) yang tampak pada orang yang fasik termasuk sihir yang diharamkan mempelajari dan mengajarkannya. Dan wajib melarang pelaku dan orang yang mengaku mampu melakukannya. Dan ketika kita telah menghukuminya sebagai sihir dan kesesatan maka haram pula menontonnya karena adanya Qoidah bahwa menghibur diri atau menonton suatu yang haram adalah haram, sebagaimana menghadiri tempat yang disitu terdapat gambar atau lukisan yang haram.
اسعاد الرفيق ص 69 ج 2
وَمِنْهَا مُشَاهَدَةُ الْمُنْكَرْ إِذَا كَانَ قَادِرًا عَلَى إِنْكَارِهِ وَلَمْ يُنْكِرْهُ أَوْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَيْهِ وَلَكِنَّهُ لَمْ يُعْذَرْ فِيْ مُشَاهَدَتِهِ لَهُ بِأَنْ كَانَ قَادِرًا عَلَى فِرَاقِ الْمَحَلِّ الَّذِيْ هُوَ فِيْهِ وَلَمْ يُفَارِقْ ذَلِكَ الْمَحَلِّ
Termasuk dari maksiat mata adalah melihat atau menonton kemunkaran ketika mampu melakukan nahi munkar atau mencegahnya namun tidak melakukannya, atau tidak mampu melakukan nahi munkar namun tidak ada alasan yang memperbolehkan melihatnya sebagaimana dia mampu meninggalkan tempat terjadinya kemungkaran namun mau meninggalkannya.
فتح الباري – ابن حجر – (ج 1 / ص 124)
قَالَ فَمَنْ اِدَّعَى عِلْمَ شَيْءٍ مِنْهَا غَيرَ مُسْنَدٍ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ كَاذِبًا فِيْ دَعْوَاهُ قَالَ وَأَمَّا ظَنُّ الْغَيْبِ فَقَدْ يَجُوْزُ مِنَ الْمُنَجِّمْ وَغَيْرِهِ إِذَا كَانَ عَنْ أَمْرٍ عَادِيٍ وَلَيْسِ ذَلِكَ بِعِلْمٍ
Maka barang siapa mengaku mengetahui hal-hal yang gaib yang tidak disandarkan kepada Rasulalloh Shallallhohu alaihi wasallama maka dia bohong dengan pengakuannya, adapun menduga kuat terhadap hal yang gaib maka boleh dari seorang munajjim (ahli perbintangan) selama dalam hal-hal sudah biasa terjadi.

  1. Muntahan atau gumoh bayi

Seorang ibu yang memiliki anak yang masih bayi,hampir bisa dipastikan memiliki permasalahan terkait muntahan atau dalam bahasa jawanya gumoh,mengingat seorang bayi sering mengeluarkan muntahan atau gumoh tersebut dan mengenai baju atau bagian-bagian badan sang ibu,tentunya kalau muntahan ini najis akan cukup memberatkan jika akan melakukan sholat sang ibu harus mandi dan ganti baju terlebih dahulu.

Pertanyaan:
a. Apakah ibu tersebut setiap sholat harus menyucikan dari najis muntahan si bayi?.

Jawaban :
Ketika najis muntahan tersebut sulit di hindari, maka hukumnya ma’fu sehingga tidak wajib menyucikan najis muntahan tersebut.

فتح المعين مع إعانة الطالبين الجزء الأول صحـ: 101
وَإِذَا تَأَمَّلْتَ الْجَوَابَ الْمَذْكُوْرَ تَجِدُ فِيْهَ أَنَّهُ لاَ فَرْقَ فِيْ الْعَفْوِ عَنِ الصَّبِيِّ بَيْنِ ثَدْيِ أُمِّهِ الدَّاخِلِ فِيْ فِيْهِ وَغَيْرِهِ مِنَ الْمُقَبِّلِ لَهُ وَالْمُمَاسِّ لَهُ وَلَيْسَ فِيْهِ تَخْصِيْصٌ بِالثَّدْيِ الْمَذْكُوْرِ
(قَوْلُهُ عُفِيَ إلخ) أي فَلَهَا أَنْ تُصَلِّيَ بِهِ وَلاَ تَغْسِلُهُ
Ketika kemu menelaah jawaban tersebut, kamu akan mendapati kesimpulan bahwa yang dimaafkan dari masalah najisnya muntahan bayi bukan hanya puting susu ibunya saja, akan tetapi yang lain juga dimaafkna seperti orang yang mencium dan menyentuhnya, jadi dalam kemakfuan tersebut tidak khusus puting susu sang ibu saja.
Maksud dimaafkan berarti boleh sholat meskipun terkena najis tersebut dan tidak mensucikannya.

فتح الجواد ص: 41 كما سبق
وَالْإِمَامُ مَالِكٍ قَدْ عَفَا عَنْ ثَوْبِ الْمُرْضِعَةِ إِنْ لَمْ تَدَعْ أَيْ تَتْرُكْ عِنْدَهُ أَسْبَابَ حَوْطَتِهِ أَيْ اِحْتِيَاطِهَا فِيْهِ مَعَ التَّحَرُّزِ مِنْهَا إِنْ بَالَ أَوْ رَاثَ الصَّبِيُّ بِهَا أَيْ بِثَوْبِ مُرْضِعَةٍ لَهَا فِيْ الصَّلاَةِ فِيْهَا بلِاَ نَضْحٍ لِبَوْلَتِهِ لِمَشَقَّةِ الْاِحْتِرَازِ عَنْهُ مَعَ عَدَمِ تَقْصِيْرِهَا
(قَوْلُهُ : مَعَ التَّحَرُّزِ) هُوِ مَعْنَى قَوْلِهِ إِنْ لَمْ تَدَعْ وَقَوْلُهُ : إِنْ بَالَ أَيْ أَوْ تَغَوَّطَ وَهَذَا مَذْهَبُ مَالِكٍ وَمُقْتَضَى قَوَاعِدِ مَذْهَبِنَا الْعَفْوُ أَيْضًا لِأَنَّ الْمَشَقَّةَ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ وَالْإِرْضَاعُ لَيْسَ قَيْدًا فَالْمُرَادُ بِهِ تَرْبِيَتُهُ لَكِنْ مَحَلُّهُ عِنْدَنَا إِذَا لَمْ تَقْدِرْ عَلَى ثَوْبٍ آخَرَ أَوْ قَدَرَتْ وَحَصَلَ لَهَا مَشَقَّةٌ شَدِيْدَةٌ بِأَنْ كَانَتْ فِيْ الشِّتَاءِ
Dalam madzhab malik dikatakan bahwa baju seorang ibu yang menyusui ketika terkena air kencing atau kotoran bayi maka hukumnya dimaafkan jika sudah berhati-hati dan berusaha menghindari. Dalam madzhab Syafi’i pun semestinya demikian karena kesulitan dapat mendatangkan kemudahan. Dan menyusui bukanlah ketentuan baku kerena yang dimaksud adalah perawatan, hanya saja menurut pendapat kita kemakfuan tersebut jika tidak ada baju yang lain atau ada baju lain namun sulit mendapatkannya, sebagaimana ketika musim hujan.

3. Bekas tinta biru PEMILU ketika mau wudhu dan mandi.

Ketika seseorang telah melakukan pencoblosan pada waktu PEMILU oleh pihak penyelenggara PEMILU yang berada di TPS di minta untuk menyelupkan jari tanganya pada tinta biru untuk memastikan pemilih tadi sudah benar-benar mencoblos,masalah timbul ketika di media sosial diviralkan bahwa orang setelah melakukan sholat dan mendapati jarinya masih terdapat bekas tinta tersebut maka sholat dan sesucinya tidak sah dan harus di ulang.

Pertanyaan :
a. Bagaimana hukum sholat yang di lakukan? apa benar tidak sah,dan harus di ulangi?.

Jawaban :
Hukumnya tafsil, apabila tinggal atsarnya (bekas atau sisa warna) maka sholatnya sah sehingga tidak harus diulang, namun apabila masih ada sisa tintanya bukan bekas atau sekedar warna maka wudhunya belum sah sehingga wudlu dan sholatnya wajib diulang.

Referensi :
فتح المعين مع إعانة الطالبين الجزء الأول ص: 35 دار إحياء الكتب العربية
(وَ) رَابِعُهَا (أَنْ لَا يَكُوْنَ عَلَى الْعُضْوِ حَائِلٌ) بَيْنَ الْمَاءِ وَالْمَغْسُوْلِ (كَنُوْرَةٍ) وَشَمْعٍ وَدُهْنٍ جَامِدٍ وَعَيْنِ حِبْرٍ وَحِنَّاءٍ بِخِلاَفِ دُهْنٍ جَارٍ أَيْ مَائِعٍ وَإِنْ لَمْ يَثْبُتْ الْمَاءُ عَلَيْهِ وَأَثَرِ حِبْرٍ وَحِنَّاءٍ
(قوله وَأَثَرِ حِبْرٍ وَحِنَّاءٍ) أَيْ وَبِخِلاَفِ أَثَرِ حِبْرٍ وَحِنَّاءٍ فَإِنَّهُ لاَ يَضُرُّ وَالْمُرَادُ بِالْأَثَرِ مُجَرَّدُ اللَّوْنِ بِحَيْثُ لاَ يَتَحَصَّلُ بِالْحَتِّ مَثَلاً مِنْهُ شَيْءٌ
Syarat sah wudlu yang ke empat adalah : tidak adanya penghalang antara air dan anggota yang dibasuh seperti kapur, lilin, minyak yang sudah mengeras, tinta dan pacar. Berbeda dengan minyak cair meskipun air tidak bias diam di atasnya, dan berbeda lagi bekas tinta dan bekas pacar maka tidak membahayakan. Yang dikehendaki dengan bekas tinta atau pacar adalah sekedar warna sekira apabila digosok tidak menghasilkan apa-apa.

KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

Keputusan Bahtsul Masail Maudlu’iyyah Konferwil PWNU Jawa Timur, 15-16 Dzulqa’dah 1439 H./28-29 Juli 2018 di PP. Lirboyo Kediri

Prinsip Menjalin Kerukunan Bagi Umat Islam Terhadap Pemeluk Agama Lain

  1. Dasar hubungan antara umat Islam dan pemeluk agama lain

Realitas keberagaman manusia dalam agama dan keyakinannya merupakan sunatullah yang tidak bisa dihilangkan. Andaikan Allah Swt mempersatukan manusia dalam satu agama misalnya tentu Dia kuasa, namun realitanya tidak demikian.

وَلَوْ شاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً واحِدَةً وَلا يَزالُونَ مُخْتَلِفِينَ . إِلاَّ مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ .

Dan jika Tuhan-mu Menghendaki, tentu Dia Jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat), kecuali orang yang Diberi rahmat oleh Tuhan-mu. Dan untuk itulah Allah Menciptakan mereka. Kalimat (keputusan) Tuhan-mu telah tetap, “Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS. Hud: 118– 119)

Perbedaan agama tidak bisa dijadikan alasan untuk berperilaku buruk, memusuhi dan memerangi pemeluk agama lain. Dengan demikian asas hubungan antara umat Islam dengan non muslim bukanlah peperangan dan konflik, melainkan hubungan tersebut didasari dengan perdamaian dan hidup berdampingan secara harmonis. Islam memandang seluruh manusia, apapun agama dan latar belakangnya, terikat dalam persaudaraan kemanusian (Ukhuwwah Insaniyyah) yang mengharuskan mereka saling menjaga hak-hak masing, mengasihi, tolong-menolong, berbuat adil dan tidak menzalimi yang lain. Allah Swt. berfirman:

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُم مِّنْ دِيَارِكُمْ أنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوْا إلَيْهِمْ إنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampong halamanmu. Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Komisi Maudhu’iyyah

Mushohhih:
KH.  Romadlon Khotib
KH. Muhibbul Aman Aly
KH. Azizi Hasbulloh

Perumus:
KH. Ahmad Asyhar Shofwan
K. Fauzi Hamzah Syam
KH. Shamthon Mashduqi
KH. Abd. Rozaq Sholeh

Moderator:
Ust. Ahmad Muntaha AM

Notulen:
Ust. H. Muchammad Mughits
Ust. Faurok Tsabat

SAHKAH QURBAN KETIKA SI WAKIL DAN MUWAKKIL QURBAN BERBEDA HARI RAYA

SALAH SATU KEPUTUSAN BAHTSUL MASAIL PWNU JATIM 2005 DI PP.SIDOGIRI

Deskripsi masalah:

Perbedaan jatuhnya awal Ramadhan dan Hari Raya fitri maupun Qurban akan selalu menjadi fenomena yang menarik di kalangan umat Islam Indonesia. Khususnya Hari Raya Qurban ada konsekwensi masalah yang perlu kita cermati yaitu ibadah qurban itu sendiri. Si fulan menyerahkan hewan qurban kepada seorang tokoh agama untuk menyembelih dan membagikan dagingnya kepada yang berhak pada hari raya qurban karena mereka berdua ini beda pendapat / keyakinan tentang jatuhnya 10 Dzul-Hijjah di mana menurut keyakinan fulan (muwakil) 10 Dzulhijjah jatuh pada hari Kamis, sedang tokoh agama (wakil) meyakini hari rabu, maka timbullah permasalahan baru tentang sah atau tidaknya ibadah qurban yang disembelih pada hari Rabu sesuai dengan keyakinan wakil.

Pertanyaan:

  1. Sahkah ibadah qurban si Fulan tadi?

  1. Jika tidak sah apakah wakil (tokoh agama) tadi wajib mengganti?

Jawaban :

  1. Tidak sah jika penyembelihan pada hari Rabu itu menyalahi terhadap keyakinan muwakkil.

Maraji’ :

بغية المسترشدين ص 250 ما نصه :

ويجب على الوكيل موافقة ما عين له الموكل من زمان ومكان وجنس ثمن وقدر كالأجل والحلول وغيرها اودلت قرينة قوية من كلام الموكل اوعرف اهل ناحيته فإن لم يكن شيئ من ذلك لزمه العمل بالأحوط نعم لو عين الموكل سوقا او قدرا او دلت القرائن على ذلك لغيرغرض او لم تدل وكان المصلحة في خلافه جاز للوكيل مخالفته ولا يلزمه فعل ما وكل فيه.

إعانة الطالبين ج: 3 ص: 94

قوله أو في زمان معين معطوف أيضا على لشخص معين أي أو قال له في زمان معين وقوله تعين ذلك أي الزمان ووجهه أن الحاجة قد تدعو للبيع فيه خاصة قوله فلا يجوز أي البيع وقوله قبله ولا بعده أي قبل ذلك الزمان المعين أو بعده

مغنى المحتاج جزء الثانى صــــــ 229 ما نصه:

ومتى خالف الوكيل الموكل فى بيع ماله بأن باعه الوجه المأذون فيه أو فى الشراء بعينه بأن اشترى له بعين ماله على وجه لم يأذن له فيه فتصرفه باطل لأن الموكل لم يرض بخروج ملكه على ذلك الوجه.

  1. حاشية إعانة الطالبين الجزء الثالث صـــــــــ 106 ما نصه:

(ومتى خالف شيأ مما ذكر فسد تصرفه وضمن قيمته يوم التسليم ولو مثليا إن أقبض المشترى فإن بقي استرده وله حينئذ بيعه بالإذن السابق وقبض الثمن ولايضمنه وإن تلف غرم الموكل بدله الوكيل أو المشتري والقرار عليه).

  1. Pihak yang diserahi hewan qurban (wakil) wajib mengganti apabila dia bertindak ceroboh (tafrith), seperti dia tahu bahwa langkah yang ditempuh itu menyalahi terhadap ketentuan yang buat oleh pihak muwakkil.

Maraji :

إعانة الطالبين ج: 3 ص: 89

وقوله فسد تصرفه أي بيعه المذكور لفقد الشروط المعتبرة فيه قوله وضمن أي الوكيل لتعديه بتسليمه له ببيع فاسد

PEMBUNUHAN KARAKTER APAKAH TERMASUK PELANGGARAN HIFDZUL IRDLI?

Deskripsi :
Usaha seseorang dalam meraih sukses, mengejar reputasi, karir dan jabatan, semakin tidak terkendali dengan berbagai macam cara asalkan tercapai, bahkan sampai tega melakukan pembunuhan karakter (character assasination), yaitu usaha mencoreng reputasi seorang tokoh nasional atau level dibawahnya, yang umumnya terjadi dikalangan politisi, pejabat public, pejabat tinggi, ekskutif professional dan lainnya, dengan memanipulasi fakta kebenaran, pemberitaan dusta, tuduhan melanggar norma agama, hukum atau social, dengan tendensius dan tanpa melakukan konfirmasi terlebih dahulu. Melalui cara seperti ini, akibatnya reputasi seseorang menjadi rusak, karir terhambat, dipecat dari jabatan sampai dikucilkan di tengah-tengah masyarakat.

Pertanyaan :
a. Bagaimana pandangan fiqih tentang pembunuhan karakter sebagaimana digambarkan di atas ?
Jawaban:
Pembunuhan karakter dalam pandangan fiqh termasuk pelanggaran terhadap konsep hifdzul ‘irdhi (harga diri) yang hukumnya haram, sebab perbuataan ini tidak lepas dari perbutan kidzib (dusta), ghibah (gosip), dan namimah (mengfitnah) dan lain-lain.
Dasar Pengambilan:

هامش سبعة كتب مفيدة ص 65
(واحفظ لسانك من طعن احد * من العباد ومن نقل ومن كذب ) اي احرصها وراعها وتوكل بها من وقوعها فى عرض احد من عباد الله تعالى ومن نقل الكلام ونقله على بعضهم الى بعض ومن الكذب وهو الاخبار بغير الواقع فمعنى الطعن فى عرض المسلم هو النميمة والغيبة. قال سيدنا الناظم وحد الغيبة شرعا ذكرك اخاك المسلم فى غيبته بما يكرهه لو سمعه سواء ذكرته بنقص فى دينه او بدنه او اهله او ولده حتى فى مشيته وثوبه وسائر ما يتعلق به وكذلك كتابتك لما يكرهه والاشارة اليه بنحو اليد وحد النميمة نقل كلام بعض الناس الى بعض بقصد الافساد والفتنة

شرح جوهر التوحيد ص 117
“وحفظ دين ثم نفس مال نسب * ومثلها عقل وعرض قد وجب” …. (قوله وعرض) اي ومثلها عرض فى وجوب الحفظ … الى ان قال … ولحفظه شرع حد القذف للعفيف والتعزير لغيره اهــــــ
Pertanyaan :
b. Perusakan reputasi berupa tuduhan selingkuh, apakah termasuk katagori qadzaf ?
Jawaban:
Tuduhan selingkuh termasuk kinayah Qadzaf, sebab kata “selingkuh” tidak secara pasti mengarah pada zina, melainkan bisa juga menunjukkaan makna yang lain. (muqaddimah zina).
Dasar Pengambilan:
الباجوري 2-236
والحاصل ان الالفاظ فى هذا المقام ثلاثة اقسام صريح وكناية وتعريض لان اللفظ ان لم يحتمل غير القذف فصريح وان احتمله واحتمل غيره بوضعه فكناية وان لم يحتمله اصلا لكن يفهم منه بقرائن الاحوال فتعريض

الموسوعة الفقهية الكويتية – (27 / 16)
ط – الْقَذْفُ – امْتَازَتْ صِيغَةُ الْقَذْفِ عَنْ غَيْرِهَا مِنَ الصِّيَغِ بِمَجِيءِ الصَّرِيحِ وَالْكِنَايَةِ وَالتَّعْرِيضِ فِيهَا ، فَالْقَذْفُ الصَّرِيحُ الْمُتَّفَقُ عَلَى صَرَاحَتِهِ مِنْ قِبَل الْعُلَمَاءِ هُوَ أَنْ يَقُول لِرَجُلٍ : زَنَيْتَ ، أَوْ يَا زَانِي ، أَوْ لاِمْرَأَةٍ : زَنَيْتِ ، أَوْ يَا زَانِيَةَ فَهَذِهِ الأَْلْفَاظُ لاَ تَحْتَمِل مَعْنًى آخَرَ غَيْرَ الْقَذْفِ ، وَمِثْل ذَلِكَ اللَّفْظُ الْمُرَكَّبُ مِنَ النُّونِ وَالْيَاءِ وَالْكَافِ ، وَكَذَا كُل لَفْظٍ صَرِيحٍ فِي الْجِمَاعِ فَإِنَّهُ يَكُونُ قَذْفًا إِذَا انْضَمَّ إِلَيْهِ وَصْفُ الْحُرْمَةِ

Pertanyaan :
c. Dapatkan dilakukan tuntutan hukum terhadap pelaku pembunuhan karakter atas dasar perusakan nama baik ?
Jawaban:
Pihak yang dicemarkan nama baiknya berhak melakukan tuntutan hukuman berupa ta’zir, bahkan had jika sampai qadzaf (tuduhan ziana).
Dasar Pengambilan:

الأحكام السلطانية – (1 / 477)
الْفَصْلُ السَّادِسُ : فِي التَّعْزِيرِ وَالتَّعْزِيرُ تَأْدِيبٌ عَلَى ذُنُوبٍ لَمْ تُشْرَعْ فِيهَا الْحُدُودُ ، وَيَخْتَلِفُ حُكْمُهُ بِاخْتِلَافِ حَالِهِ وَحَالِ فَاعِلِهِ ، فَيُوَافِقُ الْحُدُودَ مِنْ وَجْهِ أَنَّهُ تَأْدِيبُ اسْتِصْلَاحٍ وَزَجْرٍ يَخْتَلِفُ بِحَسَبِ اخْتِلَافِ الذَّنْبِ وَيُخَالِفُ الْحُدُودَ مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ : أَحَدُهَا أَنَّ تَأْدِيبَ ذِي الْهَيْبَةِ مِنْ أَهْلِ الصِّيَانَةِ أَخَفُّ مِنْ تَأْدِيبِ أَهْلِ الْبَذَاءَةِ وَالسَّفَاهَةِ ؛ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { أَقِيلُوا ذَوِي الْهَيْئَاتِ عَثَرَاتِهِمْ } . فَتُدَرَّجُ فِي النَّاسِ عَلَى مَنَازِلِهِمْ : فَإِنْ تُسَاوَوْا فِي الْحُدُودِ الْمُقَدَّرَةِ فَيَكُونُ تَعْزِيرُ مَنْ جَلَّ قَدْرُهُ بِالْإِعْرَاضِ عَنْهُ ، وَتَعْزِيرُ مَنْ دُونَهُ بِالتَّعْنِيفِ لَهُ وَتَعْزِيرٌ بِزَوَاجِر الْكَلَامِ وَغَايَةِ الِاسْتِحْقَاقِ الَّذِي لَا قَذْفَ فِيهِ وَلَا سَبَبَ ، ثُمَّ يُعْدَلُ بِمَنْ دُونَ ذَلِكَ إلَى الْحَبْسِ الَّذِي يُحْبَسُونَ فِيهِ عَلَى حَسَبِ ذَنْبِهِمْ وَبِحَسَبِ هَفَوَاتِهِمْ ، فَمِنْهُمْ مَنْ يُحْبَسُ يَوْمًا ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُحْبَسُ أَكْبَرَ مِنْهُ إلَى غَايَةٍ مُقَدَّرَةٍ . وَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الزُّبَيْرِيُّ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ تُقَدَّرُ غَايَتُهُ بِشَهْرٍ لِلِاسْتِبْرَاءِ وَالْكَشْفِ وَبِسِتَّةِ أَشْهُرٍ لِلتَّأْدِيبِ وَالتَّقْوِيمِ ثُمَّ يُعْدَلُ بِمَنْ دُونَ ذَلِكَ إلَى النَّفْيِ وَالْإِبْعَادِ إذَا تَعَدَّتْ ذُنُوبُهُ إلَى اجْتِذَابِ غَيْرِهِ إلَيْهَا وَاسْتِضْرَارِهِ بِهَا وَاخْتُلِفَ فِي غَايَةِ نَفْيِهِ وَإِبْعَادِهِ . فَالظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ تُقَدَّرُ بِمَا دُونَ الْحَوْلِ وَلَوْ بِيَوْمٍ وَاحِدٍ لِئَلَّا يَصِيرَ مُسَاوِيًا لِتَعْزِيرِ الْحَوْلِ فِي الزِّنَا ، وَظَاهِرُ مَذْهَبِ مَالِكٍ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يُزَادَ فِيهِ عَلَى الْحَوْلِ بِمَا يَرَى مِنْ أَسْبَابِ الزَّوَاجِرِ ثُمَّ يُعْدَلُ بِمَنْ دُونَ ذَلِكَ إلَى الضَّرْبِ يَنْزِلُونَ فِيهِ عَلَى حَسَبِ الْهَفْوَةِ فِي مِقْدَارِ الضَّرْبِ وَبِحَسَبِ الرُّتْبَةِ فِي الِامْتِهَانِ وَالصِّيَانَةِ .

Pertanyaan :
d. Jika pihak yang digossip (dinodai nama baiknya) malah merasa senang, sebab akan semakin tenar dan dapat menaikkan pendapatan honor, bagaimana hukum pelaku gossip dan yang digossip ?
Jawaban:
Ketika yang digossipkan adalah realita, maka haram kecuali orang yang digossip berprilaku fasik dengan terang-terangan atau dia memang suka digossipkan.
Ketika yang digossipkan tidak realita, maka haram sebab merupakan perbutan dusta.
Dasar Pengambilan:

هامش سبعة كتب مفيدة ص 65
(واحفظ لسانك من طعن احد * من العباد ومن نقل ومن كذب ) … قال سيدنا الناظم وحد الغيبة شرعا ذكرك اخاك المسلم فى غيبته بما يكرهه لو سمعه سواء ذكرته بنقص فى دينه او بدنه او اهله او ولده حتى فى مشيته وثوبه وسائر ما يتعلق به وكذلك كتابتك لما يكرهه والاشارة اليه بنحو اليد وحد النميمة نقل كلام بعض الناس الى بعض بقصد الافساد والفتنة

الفتاوى الحديثية لابن حجر الهيتمي – (1 / 303)
وحاصل عبارة الأذكار : يكره لمن إبتلى بمعصية أو غيرها أن يخبر غيره بها إلا نحو شيخه ممن يرجو بإخباره أن يعلمه مخرجا منها أو من مثلها أو سببها أو يدعو له أو نحو ذلك فى بأس به بل هو حسن ، وإنما يكره إذا انتفت هذه المصلحة روى الشيخان أنه صلى الله عليه وسلم قال ” كل أمتي معافى إلا المجاهرين ، وإن من المجاهرة أن يعمل الرجل بالليل عملا ثم يصبح وقد ستر الله تعالى عليه فيقول : يا فلان عملت البارحة كذا وكذا وقد بات يستره ربه وهو يصبح يكشف ستر الله عليه ” انتهى ، فأفاد أن محل الكراهة إذا انتفت تلك المصلحة فكان يتعين على الجلال أن يقول : وأن يحدث بما عمله من المعاصي إلا المصلحة ، وفاته أيضا قول الأذكار أو نحوها المفيدة أن نحو المعاصي مثلها فيما ذكر ، والظاهر أن مراده بنحوها كل ما تقتضي العادة كتمه ويعد أهلها ذكره خرما للمروءة كجماع الحليلة ونحوها من غير ذكر تفصيله وإلا حرم بل هو كبيرة لورود الشرع بالوعيد الشديد فيه ، وفاتهما أعني الجلال والنووي أن محل الكراهة إذا لم يتحدث على جهة التفكه بها واستحلاء ذكرها وإلا حرم عليه .

فتح الباري – ابن حجر – (11 / 80)
( قوله باب من ناجى بين يدي الناس ولم يخبر بسر صاحبه فإذا مات أخبر به ) ذكر فيه حديث عائشة في قصة فاطمة رضي الله عنهما إذ بكت لما سارها النبي صلى الله عليه و سلم ثم ضحكت لما سارها ثانيا فسألتها عن ذلك فقالت ما كنت لأفشي وفيه أنها أخبرت بذلك بعد موته وقد تقدم شرحه في المناقب وفي الوفاة النبوية قال بن بطال مساررة الواحد مع الواحد بحضرة الجماعة جائز لأن المعنى الذي يخاف من ترك الواحد لا يخاف من ترك الجماعة قلت وسيأتي إيضاح هذا بعد باب قال وفيه أنه لا ينبغي إفشاء السر إذا كانت فيه مضرة على المسر لأن فاطمة لو أخبرتهن لحزن لذلك حزنا شديدا وكذا لو أخبرتهن أنها سيدة نساء المؤمنين لعظم ذلك عليهن واشتد حزنهن فلما أمنت من ذلك بعد موتهن أخبرت به قلت أما الشق الأول فحق العبارة أن يقول فيه جواز إفشاء السر إذا زال ما يترتب على افشائه من المضرة لأن الأصل في السر الكتمان والا فما فائدته

رياض الصالحين (تحقيق الدكتور الفحل) – (2 / 182)
اعْلَمْ أنَّ الغِيبَةَ تُبَاحُ لِغَرَضٍ صَحيحٍ شَرْعِيٍّ لا يُمْكِنُ الوُصُولُ إِلَيْهِ إِلاَّ بِهَا ، وَهُوَ سِتَّةُ أسْبَابٍ :
الأَوَّلُ : التَّظَلُّمُ ، فَيَجُوزُ لِلمَظْلُومِ أنْ يَتَظَلَّمَ إِلَى السُّلْطَانِ والقَاضِي وغَيرِهِما مِمَّنْ لَهُ وِلاَيَةٌ ، أَوْ قُدْرَةٌ عَلَى إنْصَافِهِ مِنْ ظَالِمِهِ ، فيقول : ظَلَمَنِي فُلاَنٌ بكذا .
الثَّاني : الاسْتِعانَةُ عَلَى تَغْيِيرِ المُنْكَرِ ، وَرَدِّ العَاصِي إِلَى الصَّوابِ ، فيقولُ لِمَنْ يَرْجُو قُدْرَتهُ عَلَى إزالَةِ المُنْكَرِ : فُلانٌ يَعْمَلُ كَذا ، فازْجُرْهُ عَنْهُ ونحو ذَلِكَ ويكونُ مَقْصُودُهُ التَّوَصُّلُ إِلَى إزالَةِ المُنْكَرِ ، فَإنْ لَمْ يَقْصِدْ ذَلِكَ كَانَ حَرَاماً .
الثَّالِثُ : الاسْتِفْتَاءُ ، فيقُولُ لِلمُفْتِي : ظَلَمَنِي أَبي أَوْ أخي ، أَوْ زوجي ، أَوْ فُلانٌ بكَذَا فَهَلْ لَهُ ذَلِكَ ؟ وَمَا طَريقي في الخلاصِ مِنْهُ ، وتَحْصيلِ حَقِّي ، وَدَفْعِ الظُّلْمِ ؟ وَنَحْو ذَلِكَ ، فهذا جَائِزٌ لِلْحَاجَةِ ، ولكِنَّ الأحْوطَ والأفضَلَ أنْ يقول : مَا تقولُ في رَجُلٍ أَوْ شَخْصٍ ، أَوْ زَوْجٍ ، كَانَ مِنْ أمْرِهِ كذا ؟ فَإنَّهُ يَحْصُلُ بِهِ الغَرَضُ مِنْ غَيرِ تَعْيينٍ ، وَمَعَ ذَلِكَ ، فالتَّعْيينُ جَائِزٌ كَمَا سَنَذْكُرُهُ في حَدِيثِ((1)) هِنْدٍ إنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى
الرَّابعُ : تَحْذِيرُ المُسْلِمينَ مِنَ الشَّرِّ وَنَصِيحَتُهُمْ ، وذَلِكَ مِنْ وُجُوهٍ :
مِنْهَا جَرْحُ المَجْرُوحينَ مِنَ الرُّواةِ والشُّهُودِ وذلكَ جَائِزٌ بإجْمَاعِ المُسْلِمينَ ، بَلْ وَاجِبٌ للْحَاجَةِ .
ومنها : المُشَاوَرَةُ في مُصاهَرَةِ إنْسانٍ أو مُشاركتِهِ ، أَوْ إيداعِهِ ، أَوْ مُعامَلَتِهِ ، أَوْ غيرِ ذَلِكَ ، أَوْ مُجَاوَرَتِهِ ، ويجبُ عَلَى المُشَاوَرِ أنْ لا يُخْفِيَ حَالَهُ ، بَلْ يَذْكُرُ المَسَاوِئَ الَّتي فِيهِ بِنِيَّةِ النَّصيحَةِ .
ومنها : إِذَا رأى مُتَفَقِّهاً يَتَرَدَّدُ إِلَى مُبْتَدِعٍ ، أَوْ فَاسِقٍ يَأَخُذُ عَنْهُ العِلْمَ ، وخَافَ أنْ يَتَضَرَّرَ المُتَفَقِّهُ بِذَلِكَ ، فَعَلَيْهِ نَصِيحَتُهُ بِبَيانِ حَالِهِ ، بِشَرْطِ أنْ يَقْصِدَ النَّصِيحَةَ ، وَهَذا مِمَّا يُغلَطُ فِيهِ . وَقَدْ يَحمِلُ المُتَكَلِّمَ بِذلِكَ الحَسَدُ ، وَيُلَبِّسُ الشَّيطانُ عَلَيْهِ ذَلِكَ ، ويُخَيْلُ إِلَيْهِ أنَّهُ نَصِيحَةٌ فَليُتَفَطَّنْ لِذلِكَ.
وَمِنها : أنْ يكونَ لَهُ وِلايَةٌ لا يقومُ بِهَا عَلَى وَجْهِها : إمَّا بِأنْ لا يكونَ صَالِحاً لَهَا ، وإما بِأنْ يكونَ فَاسِقاً ، أَوْ مُغَفَّلاً ، وَنَحوَ ذَلِكَ فَيَجِبُ ذِكْرُ ذَلِكَ لِمَنْ لَهُ عَلَيْهِ ولايةٌ عامَّةٌ لِيُزيلَهُ ، وَيُوَلِّيَ مَنْ يُصْلحُ ، أَوْ يَعْلَمَ ذَلِكَ مِنْهُ لِيُعَامِلَهُ بِمُقْتَضَى حالِهِ ، وَلاَ يَغْتَرَّ بِهِ ، وأنْ يَسْعَى في أنْ يَحُثَّهُ عَلَى الاسْتِقَامَةِ أَوْ يَسْتَبْدِلَ بِهِ .
الخامِسُ : أنْ يَكُونَ مُجَاهِراً بِفِسْقِهِ أَوْ بِدْعَتِهِ كالمُجَاهِرِ بِشُرْبِ الخَمْرِ ، ومُصَادَرَةِ النَّاسِ ، وأَخْذِ المَكْسِ((1)) ، وجِبَايَةِ الأمْوَالِ ظُلْماً ، وَتَوَلِّي الأمُورِ الباطِلَةِ ، فَيَجُوزُ ذِكْرُهُ بِمَا يُجَاهِرُ بِهِ ، وَيَحْرُمُ ذِكْرُهُ بِغَيْرِهِ مِنَ العُيُوبِ ، إِلاَّ أنْ يكونَ لِجَوازِهِ سَبَبٌ آخَرُ مِمَّا ذَكَرْنَاهُ .
السَّادِسُ : التعرِيفُ ، فإذا كَانَ الإنْسانُ مَعْرُوفاً بِلَقَبٍ ، كالأعْمَشِ ، والأعرَجِ ، والأَصَمِّ ، والأعْمى ، والأحْوَلِ ، وغَيْرِهِمْ جاز تَعْرِيفُهُمْ بذلِكَ ، وَيَحْرُمُ إطْلاقُهُ عَلَى جِهَةِ التَّنْقِيصِ ، ولو أمكَنَ تَعْريفُهُ بِغَيرِ ذَلِكَ كَانَ أوْلَى ، فهذه ستَّةُ أسبابٍ ذَكَرَهَا العُلَمَاءُ وأكثَرُها مُجْمَعٌ عَلَيْهِ ، وَدَلائِلُهَا مِنَ الأحادِيثِ الصَّحيحَةِ مشهورَة

INILAH HUKUM MENGERUK LAYANAN INTERNET GRATISAN (PHREAKER)

Mungkin masih jarang kalangan awam yang mendengar kata Phreaker. Sebenarnya Phreaker hampir sama sifatnya dengan Kracker dimana sama-sama menyukai gratisan. Bedanya, Phreaker lebih fokus ke dalam bug  jaringan/telekomunikasi. Contoh mudahnya, orang bisa menelpon atau internetan secara gratis, padahal seharusnya berbayar. Contoh lainnya, seseorang menggunakan bug yang ada di suatu perusahaan telekomunikasi (meskipun tidak diketahui bocornya informasi ini hasil sendiri atau diberi tahu orang dalam), itu adalah salah satu kegiatan phreaking dan orang yang melakukannya disebut Phreaker.

Sekarang banyak Phreaker membuat aplikasi injector untuk layanan internet gratis dari berbagai macam operator yang bisa dinikmati oleh berbagai Lapisan masyarakat Indonesia, baik dari kalangan santri, mahasiswa, pegawai dan lainnya. Sedangkan mekanismenya sebagaimana berikut:
a. Phreaker membuat aplikasi injector, membuat playload, kemudian memasukkan bug dari salah satu Operator Telekomunisasi yang kemudian akan menjadi scrip aktive yang dikenal dengan istilah config.
b. Config akan berjalan aktif dan experied sesuai keinginan Phreaker. Bisa seminggu atau bahkan sebulan.
c. Phreaker dan pengguna karyanya menikmati layanan internet dari berbagai operator secara gratis tanpa batas kuota.

Untuk lebih memperjelas sistem aplikasinya, perhatikan gambar berikut:

Keterangan
1) Ponsel yang memakai jasa salah satu operator, namun tidak ada dana/data untuk akses internet, kemudian pemilik ingin menjadikan ponselnya dapat mengakses internet bebas pulsa tanpa bayar.
2) Mencari bug dari salah satu operator setelah bug (celah).
3) Menjadikan bug sebagai scrip agar terbaca oleh sistem melalui bahasa pemograman yang diletakkan pada injector.
4) Injector mempunyai SSH (Scure Shell) untuk menyingkronkan jaringan.
5) SSH berasal dari domain milik salah satu perusahaan.

Intinya, akses internet bukan hanya dari operator, melainkan juga dari pihak pemilik SSH. Kalau dikalkulasi melalui bentuk persentase, akses internet dari operator sekian persen dan dari Pihak SSH sekian persen, semisal (operator 30% SSH 70%).

Pertanyaan
a. Apa hukumnya Phreaker pembuat aplikasi injector tersebut, mengingat aplikasi itu digunakan oleh orang banyak secara gratis tanpa ada campur tangan dari pihak operator?
b. Apa hukum pengguna dari layanan yang dibuat Phreaker, mengingat tidak semua pengguna mengerti proses pembuatan dan pengoperasian aplikasinya?
c. Apa pula hukumnya jika pengguna injector mengunakan layanan internet untuk kepentingan syi’ar agama, mengingat saat ini telah terjadi perang cyber dunia, baik dari sisi agama, negara maupun lainnya?

Jawaban a
Ulama berbeda pendapat tentang pengertian mal (harta). Menurut ulama Salaf, mal menuntut adanya ain (materi bendanya); sementara menurut ulama Mu’assirin , mal adalah segala sesuatu yang bisa diuangkan.

Terkait dengan sinyal/paket data, merupakan sesuatu yang materinya tidak nampak, namun dalam pembuatannya memerlukan berbagai keahlian yang membutuhkan biaya, sehingga menjadi komoditas yang dapat dikomersilkan. Karenanya, siapapun yang memanfaatkan jasa paket data dengan cara yang tidak dibenarkan dalam perundangan IT dianggap sebagai pelanggaran yang diharamkan. Dengan demikian, berdasarkan pendapat ulama Mu’assirin penggunaan injector tersebut tergolong pencurian sekaligus termasuk kejahatan IT.

Karenanya, upaya membuat injector yang dapat membobol paket data merupakan upaya menolong pencurian dan pelanggaran terhadap aturan pemerintah.[]

Referensi

إسعاد الرفيق الجزء الثانى ص: 114 مكتبة ” الهداية ” سورابيا(و) منها (الإعانة على المعصية) أى على معصية من معاصى الله بقول أو فعل أو غيره ثم إن كانت المعصية كبيرة كانت الإعانة عليها كبيرة كذلك كما فى الزواجر اهـ

صناعة الفتوي وفقه الأقليات ص 400-402: حقوق النسر بعد اطلاع المجلس علي البحوث المقدمة في موضوع الحقوق المعنوية (برامج الكمبيوتر) والتصرف فيها وحمايتها ومناقسة الأبحاث المقدمة واستعراض الآراء الفقهية في الموضوع , وأدلتها باستفاضة مع الربط بين الأدلة الفقهية وقواعد الفقه وأصوله والمصالح ومقاصد الشرع, قررما يلي: أولاً: يؤكد المجلس ما جاء في قرر مجمع الفقه الإسلامي الجولي في مؤتمره الخامس بالكويت من 1-6 جمادي الأولي 1309 الموافق 10 الي 15 ديسمبر 1988 م قرار رقم 34 (5/5) و نصهك اولاً: الاسم التجاري والعنوان التجاري والعلامة التجارية والتأليف والإختراع, والإبتكار هي حقوق خاصة لأصحابها, اصبح لها في العرف المعاصر قيمة مالية لتمول الناس لها, وهذه الحقوق يعتد بها شرعا فلا يجوز الاعتداء عليها. ثانيا: يجوز التصرف في الإسم التجاري او العنوان التجاري او العلامة التجارية ونقل اي منها بعوض مالي إذا انتفى العرر والتدليس والغش باعتبار أن ذلك أصبح حقا ماليا. ثالثا حقوق التأليف والإختراع والإبتكار مصونة شرعا ولأصحابها حق التصرف فيها ولايجوز الإعتداء عليها” انتهي قرار المجمع . ثالثا: أن برامج الجاسب الآلي (سواء كانت برامج تشغيلية ام برامج تطبيقية ام تخزينية وسواء اكانت برامج المصدر الهيمنة علي جميع عمليات التخزين والإدخال والإخراج للبيانات أو المحررة بإحدي لغات الحاسوب) لها قيمة مالية يعتد بها شرعا فيجوز التصرف فيها لأصحابها من المنتجين او الوكلاء بالبيع والشراس والإجارة ونحوها إذا انتفر العرر والتدليس. رابعا : بما ان هذه البرامج حق مالي لأصحابها فهي مصونة شرعا فلايجوز الإعتداء عليها رعاية لحقوق الآخرين الذين بذلوا جهودا وأموالا في إنتاجها ومنعا لأكل أموال الناس بالباطل. خامسا: يجب علي المشتري البرامج أن يلتزم بالشروط التي لا تخالف الشرع والقوانين المنظمة لتداولها للنصوص الدالة علي وجوب الوفاء بالعقود والإلتزام بالشروط فلا يجوز استنساخها للغير ما دام العقد لايسمح بذلك. سادسا: لايجوز شراء البرامج التى علم أنها مسروقة  او مستنسخة بوجه غير مشروع ولا المتاجرة بهاز سابعا: يجوز لمشتري البرنامج أن يستنسخ منها لاستعماله الشخصي. ثامنا علي الشركات المنتجة والوكلاء عدم المبالعة في أثمان البرامج.

 المعاملة المالية للزحيلي ص:589  : آراء العلماء العصر في حق الإبداع : الإتجاه الأول لبعض العلماء من الحنفية يرون تأثرا بمذهب متقدمي الحنفية في القةل بعدم اعتبار مالية المنافع أن حق الابتكا و منه حق التأليف يجب بذله مجانا ولا تجوز المعاوضة عنه ولا يحل المقابل المالي له. إن اصحاب هذا الاتجاه يقولون لا يعد  الشيء مالا إلا بتوافر عنصرين فيه وهما إمكان الحيازة  والاحراز وامكان الانتفاع به عادة او عرفا فلا يعد مالا ما لايمكن حيازنة واحرازه كالأمور المعنوية كالعلم والصحة والشرف وكذا كل مالايمكن الإنتفاع به إما لضرر وفسده كلحم الميتة و الطعام المسموم او الفاسد و إما لتفاهة كحب حنطة او قطرة ماء ويعني أن المال عند هؤلاء يقتصر علي ما له صفة مادية محسوسة اما المنافع والحقوق فليست أموالا وإنما هي ملك لامال لعدم إمكان حيازتها بذاتها وإذا وجدت فلابقاء ولااستمرار لها لأنها معنوية وتنتهي شياء فشياء تدريجا إذا لم تستوف المنفعة مع مرور الزمان المتجدد – الي أن قال- الاتجاه الثاني لجمهور الفقهاء من المالكية والشافعية وغيرهم يرون أن حق التأليف وغيره من الحقوق يقبل المعاوضة المالية عنه لما سبق ايراده من الأدلة وموجزها: 1. حق الابداع أو الابتكار له صفة المالية لأن المنافع كالسكنى والركوب تعد أموالا لأن المال في اصطلاح الجمهور غير الحنفية هو كل ما له قيمة مالية عرفا يلزم متلفه بضمانه وهذا يشمل الأعيان والمنافع ومنها سائر الأمور المعنوية كالحقوق من كل ما يدخل تحت الملك لأن الحقوق كلها تقوم على أساس الملك بسبب أن جوهر الحق الإختصاص والاختصاص جوهر الملك وحقيقته وإلا لما كانت حقوقا بل مجرد اباحة وإذا كانت الحقوق من قبيل الملك فالحقوق أموال لأن المال مرادف للملك والملك كما عرفه اختصاص حاجز شرعا يخول صاحبه التصرف فيه إلا المانع. – إلى أن قال – 2.أقر العرف العام جعل حق المؤلف ونحوه محلا للمعاوضة عنه أو التبادل فالعرف كما تقدم بيانه أساس ثبوت صفات مالية الأشياء ومبني هذا العرف هو المصلحة والمصالح المرسلة إحدى مصادر التشريع التبعية. 3. مقتض الحق والعدل وجوب نسبة الحق لصاحبه وتحريم انتحال القول لغير قائله والفكرة لغير صاحبها لينتفع بأجرها أو يتحمل وزرها إن كانت شرا. 4. تقتضي قاعدة الغنم بالغرم أو الخراج بالضمان أن يتحمل الإنسان مسؤولية قوله أو عمله فيكون له الحق في ما أبدعه أو اخترعه. 5. الابداع الذهني أصل لوجود الوسائل المادية من مختلف الاختراعات التي لها صفة المالية فيكون الأصل أو السبب أولى باعتبار صفة المالية. والخلاصة لا أدري وجود شر أو غبن أو جور أعظم من هذا أن يستثمر الطابع أو الناشر حق المؤلف ويربح على حسابه أموالا طائلة ويحرم هذا المؤلف المسكين الذي كاد عقله يتفجر وفكره يعيا وأعصبه تتلف من عناء انجاز المصنف والذي كلفه جهودا طويلة وشاقة فسهر ليله وأتعب عينه وشغل نهاره كله بالتأليف ثم يقال له قدم هذا العمل لغيرك مجانا؟ إن هذا لهو الإفك المبين والخطأ الواضح

Jawaban b
Berdasar pendapat Mu’assirin, tindakan pembobolan provider merupakan tindakan pencurian, sehingga hukum memanfaatkan hasil pencurian otomatis diharamkan.

Referensi

فتح القريب المجيب بحاشية الباجوري  الجزء: الثاني؛ ص: 16 – 17: (فصل): في أحكام الغصب وهو لغةً أخذ الشيء ظلماً مجاهرة وشرعاً الاستيلاء على حق الغير عدواناً، ويرجع في الاستيلاء للعرف ودخل في حق ما يصح غصبه مما ليس بمال كجلد ميتة، وخرج بعدواناً الاستيلاء بعقد (وقوله عدواناً) اي ظلما يقال عدا عليه عدوانا اذا تعدى عليه وظلمه ثم إن كان من حرز مثله سمي سرقة أو مكابرة في صحراء سمي محاربة أو مجاهرة واعتمد الهرب سمي اختلاسا فإن جحد ما ائتمن عليه سمي خيانة وصريح ذلك ان محو السرقة يقال له غصب شرعا والمشهور انه ليس غصبا فيزاد في التعريف مجاهرة مع الاعتماد على القوة والغلبة لاخراج نجو السرقة ولذلك قال بعضهم اعلم ان اخذ مال الغير على ثلاثة اقسام لان الآخذ له اما ان يعتمد القوة والشدة فلذلك غصب وانتهاب واما ان يعبتمد الهرب فهو اختلاس وكل منهما مع اجهر فان كان خفية فهو السرقة والتقييد بالعدوان يخرج ما لو اخذ ما غيره يظنه ماله فيقتضي ان ذلك ليس غصبا مع انه غصب حقيقة على المعتمد خلافا لقول الرافعي ان الثابت في هذه حكم الغصب لا حقيقته وهو ناظر الى ان الغصب يقتضي الاثم مطلقا وليس كذلك بل هو غالب فقط فلو عبر بدل قوله عدوانا بقوله بلا حق لكان اولى وانسب ولذلك قال بعضهم ولو بلا قصد والحاصل ان الغصب إما أن يكون فيه الإثم والضمان كما إذا استولى على مال غيره المتمول عدوانا أو الإثم دون الضمان كما إذا استولى على اختصاص غيره او ماله الذي لا يتمول عدوانا أو الضمان دون الإثم كما إذا استولى على مال غيره المتمول يظنه فهذه ثلاثة اقسام وزاد بعضهم قسما رابعا وهو ما انتفى به الاثم والضمان كان اخذ اختصاص غيره يطنه اختصاصه (قوله ويرجع في الاستيلاء للعرف) فما يعده في العرف استيلاء كان غصبا وما لا فلا فالمرجع في الاستيلاء الى العرف وهو المتعارف بين الناس بحيث لو عرض على العقول لتلقته بالقبول وهذا ظاهر في العقار واما المنقول فلا بد من نقله الا الفراش والدابة فلا يشترط نقلهما … (وخرج بعدوان) وخرج به ايضا ما لو اخذ مال غيره يطنه ماله وقج علمت ما فيه فهو قيد للاخراج اه

المجموع شرح المهذب الجزء التاسع صحـ: 326 – 329 : (فرع) قال الغزالي في الإحياء إذا قدم لك إنسان طعاما ضيافة أو أهداه لك أو أردت شراءه منه ونحو ذلك لم يطلق الورع فإنك تسأل عن حله ولا يترك السؤال (بل) قد يجب وقد يحرم وقد يندب وقد يكره وضابطه أن مظنة السؤال هي موضع الريبة ولها حالان (أحدهما) يتعلق بالمالك (والثاني) بالملك (أما) الأول فالمالك ثلاثة أضرب (الضرب الأول) أن يكون مجهولا وهو من ليس فيه علامة تدل على طيب ماله ولا فساده فإذا دخلت قرية فرأيت رجلا لا تعرف من حاله شيئا ولا عليه علامة فساد ماله وشبهه كهيئة الأجناد ولا علامة طيبة كهيئة المتعبدين والتجار فهو مجهول ولا يقال مشكوك فيه لأن الشك عبارة عن اعتقادين متقابلين لهما سببان مختلفان قال وأكثر الفقهاء لا يدركون الفرق بين ما لا يدرى وبين ما يشك فيه فالورع ترك ما لا يدرى ويجوز الشراء من هذا المجهول وقبول هديته وضيافته ولا يجب السؤال بل لا يجوز والحالة هذه لأنه إيذاء لصاحب الطعام فإن أراد الورع فليتركه وإن كان لا بد من أكله فليأكل ولا يسأل فإن الإقدام على ترك السؤال أهون من كسر قلب مسلم وإيذائه (الضرب الثاني) أن يكون مشكوكا فيه بأن يكون عليه دلالة تدل على عدم تقواه كلباس أهل الظلم وهيئاتهم أو ترى منه فعلا محرما تستدل به على تساهله في المال فيحتمل أن يقال يجوز الأخذ منه من غير سؤال ولا يحرم الهجوم بل السؤال ورع ويحتمل أن يقال لا يجوز الهجوم ويجب السؤال قال وهو الذي نختاره ونفتي به إذا كانت تلك العلامة تدل على أن أكثر ماله حرام فإن دلت على أن فيه حراما يسيرا كان السؤال ورعا (الضرب الثالث) أن يعلم بممارسة ونحوها بحيث يحصل له ظن في حل ماله أو تحريمه بأن يعرف صلاح الرجل وديانته فهنا لا يجب السؤال ولا يجوز أو يعرف أنه مراب أو مغن ونحوه فيجب السؤال

إحياء علوم الدين (جـ 2 / صـ 124) دار إحياء الكتب العربية : مسألة حيث جعلنا السؤال من الورع فليس له أن يسأل صاحب الطعام والمال إذا لم يأمن غضبه وإنما أوجبنا السؤال إذا تحقق أن أكثر ماله حرام وعند ذلك لا يبالي بغضب مثله إذ يجب إيذاء الظالم باكثر من ذلك والغالب أن مثل هذا لا يغضب من السؤال نعم إن كان يأخذ من يد وكيله أو غلامه أو تلميذه أو بعض أهله ممن هو تحت رعايته فله أن يسأل مهما استراب لأنهم لا يغضبون من سؤاله ولأن عليه أن يسأل ليعلمهم طريق الحلال.إهـ

Jawaban c
Dakwah tidak diperkenankan menggunakan media yang diharamkan.

Referensi

إحياء علوم الدين – (4/ 368): 

بغية المسترشدين الجزء الاول صـ:326: (مسألة: ك): عين السلطان على بعض الرعية شيئاً كل سنة من نحو دراهم يصرفها في المصالح إن أدّوه عن طيب نفس لا خوفاً وحياء من السلطان أو غيره جاز أخذه، وإلا فهو من أكل أموال الناس بالباطل، لا يحل له التصرف فيه بوجه من الوجوه، وإرادة صرفه في المصالح لا تصيره حلالاً.

HUKUM PUASANYA ORANG YANG TIDAK NIAT TETAPI HANYA MAKAN SAHUR

Dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan banyak orang yang selalu sibuk, saking sibuknya sampai sampai tidak bisa mengikuti sholat tarowih, sehingga karena kecapekan langsung tidur dan bangun di saat sahur, karena memang kecapekan bangunya pun terlambat, sudah hampir imsak, akhirnya karena gugup orang ini pun lupa melakukan niat puasa.

Apakah sah puasanya orang tersebut, dan Apakah sahur saja itu sudah di cukupkan sama dengan niat puasa?

Menurut Qoul mu’tamad ( pendapat yang kuat) puasa sah, karena tujuan sahur tersebut yaitu menolak haus di waktu siang dan mencegah dari makan atau minum atau jimak, itu adalah wujud nyata niat, dan  puasanya terbersit dalam hatinya.

Refrensi :

~ Al Bujairomi ‘alal minhaj

~ Asna  Al matholib

~ Majmu’ syarah Al muhadzab

~ Tanwir qulub

~ Mughni Al muhtaj

~ Al iqna’

~ Ianah tholibin

~ Hasyiyah Al bajuri

Ibaroh :

البجيرمي على المنهج

وَمِنْ النِّيَّةِ مَا لَوْ تَسَحَّرَ لِيَصُومَ، أَوْ شَرِبَ لِدَفْعِ الْعَطَشِ عَنْهُ نَهَارًا أَوْ امْتَنَعَ مِنْ الْأَكْلِ أَوْ الشُّرْبِ، أَوْ الْجِمَاعِ خَوْفَ طُلُوعِ الْفَجْرِ إنْ خَطَرَ الصَّوْمُ بِبَالِهِ بِصِفَاتِهِ الشَّرْعِيَّةِ لِتَضَمُّنِ كُلٍّ مِنْهَا قَصْدَ الصَّوْمِ وَالْمُرَادُ أَنْ يُحْضِرَ ذَاتَ الصَّوْمِ فِي ذِهْنِهِ، ثُمَّ صِفَاتِهِ، ثُمَّ يَقْصِدُ الْإِتْيَانَ بِذَلِكَ وَصِفَاتُ الصَّوْمِ كَوْنُهُ مِنْ رَمَضَانَ أَوْ غَيْرَهُ كَالْكَفَّارَةِ وَالنَّذْرِ وَذَاتُهُ الْإِمْسَاكُ جَمِيعَ النَّهَار

أسنى المطالب

(وَلَوْ تَسَحَّرَ لِيَصُومَ) أَوْ شَرِبَ لِدَفْعِ الْعَطَشِ نَهَارًا (أَوْ امْتَنَعَ مِنْ الْأَكْلِ) أَوْ الشُّرْبِ أَوْ الْجِمَاعِ (خَوْفَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فَهُوَ نِيَّةٌ إنْ خَطَرَ بِبَالِهِ صَوْمُ فَرْضِ رَمَضَانَ) لِيَتَضَمَّنَ كُلٌّ مِنْهَا قَصْدَ الصَّوْمِ وَعِبَارَةُ أَصْلِهِ إنْ خَطَرَ بِبَالِهِ الصَّوْمُ بِالصِّفَاتِ الَّتِي يُشْتَرَطُ التَّعَرُّضُ لَهَا (لَا إنْ تَسَحَّرَ لِيَقْوَى) عَلَى الصَّوْمِ فَلَا يَكْفِي فِي النِّيَّةِ وَهَذَا مَحْذُوفٌ فِي بَعْضِ النُّسَخِ وَثُبُوتُهُ فِي بَقِيَّتِهَا يَقْتَضِي أَنَّ الْمُصَنِّفَ فَهِمَ مِنْ كَلَامِ أَصْلِهِ أَنَّهُ لَا يَكْفِي مُطْلَقًا وَهُوَ ظَاهِرُ كَلَامِهِ بِبَادِئِ الرَّأْيِ لَكِنَّ الْحَقَّ أَنَّهُ يَكْفِي إنْ خَطَرَ بِبَالِهِ الصَّوْمُ وَكَلَامُ الْأَصْلِ صَالِحٌ لِأَخْذِهِ مِنْهُ

مجموع شرح المهذب

* {فَرْعٌ} فِي مَسَائِلَ تَتَعَلَّقُ بِنِيَّةِ الصَّوْمِ

(إحْدَاهَا) إذَا نَوَتْ الْحَائِضُ صَوْمَ الْغَدِ قَبْلَ انْقِطَاعِ دَمِ حَيْضِهَا ثُمَّ انْقَطَعَ فِي اللَّيْلِ قَالَ الْمُتَوَلِّي وَالْبَغَوِيُّ وَآخَرُونَ مِنْ أَصْحَابِنَا إنْ كَانَتْ مُبْتَدَأَةً يَتِمُّ لَهَا فِي اللَّيْلِ أَكْثَرُ الْحَيْضِ أَوْ مُعْتَادَةً عَادَتُهَا أَكْثَرُ الْحَيْضِ وَهِيَ تُتِمُّ فِي اللَّيْلِ صَحَّ صَوْمُهَا بِلَا خِلَافٍ لِأَنَّا نَقْطَعُ بِأَنَّ نَهَارَهَا كُلَّهُ طُهْرٌ وَإِنْ كَانَتْ عَادَتُهَا دُونَ أَكْثَرِهِ وَيَتِمُّ بِاللَّيْلِ فَوَجْهَانِ (أَصَحُّهُمَا) تَصِحُّ نِيَّتُهَا وَصَوْمُهَا لِأَنَّ الظَّاهِرَ اسْتِمْرَارُ عَادَتِهَا فَقَدْ بَنَتْ نِيَّتَهَا عَلَى أَصْلٍ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا عَادَةٌ أَوْ كَانَتْ وَلَا يَتِمُّ أَكْثَرُ الْحَيْضِ فِي اللَّيْلِ أَوْ كَانَتْ لَهَا عَادَاتٌ مُخْتَلِفَةٌ لَمْ يَصِحَّ لِأَنَّهَا لَمْ تَجْزِمْ وَلَا بَنَتْ عَلَى أَصْلٍ وَلَا أَمَارَةٍ

* (الثَّانِيَةُ) قَالَ الْمُتَوَلِّي لَوْ تَسَحَّرَ لِيَقْوَى عَلَى الصَّوْمِ أَوْ عَزَمَ فِي أَوَّلِ اللَّيْلِ أَنْ يَتَسَحَّرَ فِي آخِرِهِ لِيَقْوَى عَلَى الصَّوْمِ لَمْ يَكُنْ هَذَا نِيَّةً لِأَنَّهُ لَمْ يُوجَدْ قَصْدُ الشُّرُوعِ فِي الْعِبَادَةِ وَقَالَ الرَّافِعِيُّ قَالَ الْقَاضِي أَبُو الْمَكَارِمِ فِي الْعُدَّةِ لَوْ قَالَ فِي اللَّيْلِ أَتَسَحَّرُ لِأَقْوَى عَلَى الصَّوْمِ لَمْ يَكْفِ هَذَا فِي النِّيَّةِ قَالَ وَنَقَلَ بَعْضُهُمْ عَنْ نَوَادِرِ الْأَحْكَامِ لِأَبِي الْعَبَّاسِ الرُّويَانِيِّ أَنَّهُ لَوْ قَالَ أَتَسَحَّرُ لِلصَّوْمِ أَوْ أَشْرَبُ لَدَفْعِ الْعَطَشِ نَهَارًا أَوْ امْتَنَعَ مِنْ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالْجِمَاعِ مَخَافَةَ الْفَجْرِ كَانَ ذَلِكَ نِيَّةً لِلصَّوْمِ قَالَ الرَّافِعِيُّ وَهَذَا هُوَ الْحَقُّ إنْ خَطَرَ بِبَالِهِ الصَّوْمُ بِالصِّفَاتِ الْمُعْتَبَرَةِ لِأَنَّهُ إذَا تَسَحَّرَ لِيَصُومَ صَوْمَ كَذَا فَقَدْ قَصِدَه

كتاب تنوير القلوب ص ٢٢٨

والمعتمد أنه لو تسحر ليصوم أو شرب لدفع العطش نهارا أو امتنع من الاكل أو الشرب أو الجماع خوف طلوع الفجر كان ذلك نية إن خطر بباله الصوم

مغني المحتاج – محمد بن أحمد الشربيني الجزء ١ الصفحة ٤٢٣

تنبيه ) ظاهر كلام المصنف أنه لو تسحر ليتقوى على الصوم لم يكن ذلك نية، وبه صرح في العدة. والمعتمد أنه لو تسحر ليصوم، أو شرب لدفع العطش نهارا، أو امتنع من الاكل أو الشرب أو الجماع خوف طلوع الفجر كان ذلك نية إن خطر بباله الصوم بالصفات التي يشترط التعرض لها لتضمن كل منها قصد الصوم

الإقناع في حل ألفاظ أبى شجاع الجزء ١ ص ٢١٧

الاول (النية) لقوله (ص) إنما الاعمال بالنيات ومحلها القلب، ولا تكفي باللسان قطعا ولا يشترط التلفظ بها قطعا كما قاله في الروضة

تنبيه: ظاهر كلام المصنف أنه لو تسحر ليتقوى على الصوم لم يكن نية وبه صرح في العدة، والمعتمد أنه لو تسحر ليصوم أو شرب لدفع العطش نهارا أو امتنع من الاكل أو الشرب أو الجماع خوف طلوع الفجر كان ذلك نية إن خطر بباله الصوم بالصفات التي يشترط التعرض لها لتضمن كل منها قصد الصوم

إعانة الطالبين الجزء ٢ ص ٢٤٩

ولو تسحر ليصوم، أو شرب لدفن العطش نهارا، أو امتنع من الاكل أو الشرب أو الجماع خوف طلوع الفجر، فهو نية – إن خطر بباله صوم فرض رمضان، لتضمن كل منها قصد الصوم

حاشية البجيرمي على الخطيب الجزء ٦ ص ٤٢٤

الأول ( النية ) لقوله صلى الله عليه وسلم { إنما الأعمال بالنيات } ومحلها القلب ، ولا تكفي باللسان قطعا ولا يشترط التلفظ بها قطعا كما قاله في الروضة تنبيه : ظاهر كلام المصنف أنه لو تسحر ليتقوى على الصوم لم يكن نية وبه صرح في العدة ، والمعتمد أنه لو تسحر ليصوم أو شرب لدفع العطش نهارا أو امتنع من الأكل أو الشرب أو الجماع خوف طلوع الفجر كان ذلك نية إن خطر بباله الصوم بالصفات التي يشترط التعرض لها لتضمن كل منها قصد الصوم

MARHABAN YA ROMADLON…. LUPA NIAT PUASA DI MALAM HARI DAN RUKUN NIAT PUASA

Apakah jumlah rukun niat puasa sama dengan jumlah rukun niat solat ?

 

Dalam sholat, ketika kita niat keluar dari sholat maka saat itu juga sholatnya batal, sedangkan dalam puasa, jika kita niat keluar dari puasa maka puasanya tidak batal.

Qosd dan ta’yin dalam kedua niat ini sama, tapi fardliyah tidak termasuk syarat dalam niat puasa

– Kitab Iqna’ (1/236)

تَنْبِيه قَضِيَّة سكُوت المُصَنّف عَن التَّعَرُّض للفرضية أَنه لَا يشْتَرط التَّعَرُّض لَهَا وَهُوَ كَذَلِك كَمَا صَححهُ فِي الْمَجْمُوع تبعا للأكثرين وَإِن كَانَ مُقْتَضى كَلَام الْمِنْهَاج الِاشْتِرَاط وَالْفرق بَين صَوْم رَمَضَان وَبَين الصَّلَاة أَن صَوْم رَمَضَان من الْبَالِغ لَا يَقع إِلَّا فرضا بِخِلَاف الصَّلَاة

Bedanya lagi, kalau puasa niatnya bukan berbarengan dengan pekerjaannya. Sedangkan sholat berbarengan niatnya dengan pekerjaannya.

التقريرات السديدة ج ١ ص ٨٣

زمنها أول العبادات و خرج به الصوم و الزكاة و الأضحية فالنية فيها ليست مقترنة بأول العبادات.

– Kitab Iqna’ (1/236)

تَنْبِيه قَضِيَّة سكُوت المُصَنّف عَن التَّعَرُّض للفرضية أَنه لَا يشْتَرط التَّعَرُّض لَهَا وَهُوَ كَذَلِك كَمَا صَححهُ فِي الْمَجْمُوع تبعا للأكثرين وَإِن كَانَ مُقْتَضى كَلَام الْمِنْهَاج الِاشْتِرَاط وَالْفرق بَين صَوْم رَمَضَان وَبَين الصَّلَاة أَن صَوْم رَمَضَان من الْبَالِغ لَا يَقع إِلَّا فرضا بِخِلَاف الصَّلَاة

LUPA MEMBACA NIAT SAAT PUASA

Selama romadlon kita mempunyai kewajiban melakukan ibadah puasa, di samping itu kita juga harus niat melaksanakan puasa setiap hari, tetapi kalau ada yang lupa niat puasa di malam hari bagaimanakah hukum puasanya? Apakah tetap sah atau bagimana?

Menurut madzhab Syafi’i harus tabyīt niat (niat di malam hari), sehingga bila lupa niat di malam hari harus imsāk (tidak makan dan minum dan sebagainya) di siang harinya, selain juga berkewajiban mengqodlo puasanya. Namun, menurut mazhab Hanafi, niat di siang hari (qabla al-zawāl) tidak apa-apa (sah puasanya). Karena itu, ulama Syafi’iyah, menganjurkan golongan Syafii ikut pada mazhab Hanafi ini agar (sekalipun tidak niat di malam hari) puasanya tetap sah dan tidak berkewajiban qodlo. Bahkan, lebih dianjurkan lagi golongan Syafi’i mengikuti mazhab Maliki yang meperbolehkan niat puasa 1 bulan penuh, dengan cara niat di malam hari tanggal 1 bulan Romadlon.

Referensi Kitab Busyrā al-Karīm halaman 266.

(1).
Hukum orang yang tidak berniat puasa pada malam harinya, maka menurut
Madzhab yang tiga ( Abu Hanifah, Imam Syafi’I dan Imam Ahmad ) hukum
puasanya tidak sah. Karena salah satu syarat sahnya puasa seseorang
adalah berniat pada malam harinya.
(2).
Sedangkan menurut Imam Malik jika pada awal bulan Romadlon berniat
sebulan penuh untuk berpuasa Romadlon, jika seseorang berpuasa pada
keesokan harinya yang lupa berniat pada malam harinya maka menjadi sah
puasanya. Untuk itu, sebagai kehati hatian hendaklah seseorang melakukan
sebagaimana pendapat Imam Malik diatas.
(3).
Sedangkam masalah bersahur atau tidak sama sekali tidak mempengaruhi
keabsahan puasa seseorang, karena hukum sahur tersebut hanya sunnah
saja. Jika sering kecapekan maka solusi terbaik setelah
sholat isya’ langsung berniat atau ketika akan tidur boleh berniat,
dengan demikian puasanya dapat dihukumi sah karena sudah berniat pada
malam harinya.
(4).
Jika dari sebelumnya sudah bertaqlid kepada Imam
Malik yang sudah mencukupi berniat satu kali saja dalam berpuasa sebulan
penuh atau mengikuti Imam Abu Hanifah yang membolehkan berniat pada
pagi harinya, maka puasanya menjadi sah. Namun kalau tidak bertaqlid
maka hukumnya tidak boleh.

NB:
lebih baik jika kita bermadzhab Syafi’i hendaklah berkometmen saja
dengan madzhab Imam Syafi’i supaya tidak mencampur adukan antara madzhab
yang akhirnya dapat merusak ibadah kita.

Dasar Pengambilan:

(1). HR. Imam Abu Daud. No 219.
(2). Kasyifatus Saja. Hal 117.
(3). Syarah At_Tanbih. Hal 266.
(4) Nihayah Az_Zain. Juz 1. Hal 185. –

لحديث حفصة أن النبى صلى الله عليه وسلم قال: ” من لم يبيت الصيام من الليل فلا صيام له ” رواه أبو داود (ص 219) .

فلو
نوى ليلة اول رمضان صوم جميعه لم يكف لغير اليوم الاول ، لكن ينبغى له ذلك
ليحصل له صوم اليوم الذى نسي النية فبه عند مالك كما يسن له ان ينوى اول
اليوم الذى نسيها فيه ليحصل له صومه عند ابى حنيفة و واضح ان محله ان قلد و
الا كان متلبسا بعبادة فاسدة فى اعتقاده و هو حرام . كاشفة السجا ١١٧.

ولا يصح صوم رمضان ولا غيره من الصيام الواجب, إلا بنية من الليل لكل يوم . شرح التنبيه. صفحة 266.

وفرضه ) أي أركان الصوم اثنان الأول ( نية ) ليلا ( لكل يوم ) ومحلها
القلب ويستحب التلفظ بها ولو نسي النية ليلا وطلع الفجر وهو ناس لم يحسب له
ذلك اليوم لكن يجب عليه الإمساك رعاية لحرمة الوقت ويسن في أول الشهر أن
ينوي صوم جميعه وذلك يغني عن تجديدها في كل ليلة عند الإمام مالك فيسن ذلك
عندنا لأنه ربما نسي التبييت في بعض الليالي فيقلد الإمام مالكا. نهاية
الزين – (ج 1 / ص 185).

BOM BUNUH DIRI MELEDAK DI SURABAYA, PAHAMILAH BAHWA ITU BUKAN MATI SYAHID

Hukum Bom Bunuh Diri

Lagi-lagi bom bunuh diri terjadi di Indonesia, tepatnya di Indonesia. Tidak terbayang di benak bangsa ini ada tindak kekerasan dan teror semacam bom bunuh diri. Mengingat posisi negara ini dalam keadaan damai dan bukan di tengah peperangan. Apalagi jika menilik umur bangsa Indonesia ini yang memiliki sejarah panjang semenjak Nusantara. Tentunya bangsa ini telah menginjak masa dewasa dan bukan bangsa yang masih muda.

Akan tetapi itulah yang terjadi. bom bunuh diri meledak lagi. Hal ini menunjukkan kurangnya kedewasaan bangsa kita dalam menyikapi berbagai masalah yang ada. Seolah sudah tidak ada jendela kompromi dan solusi.

Kejadian semacam ini (kekerasan dan teror) sangat merugikan bangsa dan Negara, apalagi jika mempertimbangkan sektor ekonomi dan investasi yang sedang mencari format dan merayu kepercayaan dunia luar. Apapun alasannya hal ini tidak dapat dibenarkan begitu juga kaca mata fiqih memandangnya.

Seperti yang pernah dibahas oleh Bahtsul Masail NU dalam Munas Alim Ulama di Pondok Gede tahun tahun 2002 tentang hukum intihar (mengorbankan diri). Dalam keputusan tersebut dinyatakan bahwa bom bunuh diri (intihar) yang dilakukan oleh para teroris tidak akan mengantarkan mereka kepada level syuhada. Karena sejatinya motiv mereka adalah adalah frustasi (putus asa) dalam menghadapi hidup. Artinya putus asa dalam mencari jalan solusi kehidupan yang benar.

Dalam keputusan itu dengan jelas diterangkan bahwa “Bunuh diri dalam Islam adalah diharamkan oleh agama dan termasuk dosa besar, akan tetapi tindakan pengorbanan jiwa sampai mati dalam melawan kezaliman, maka dapat dibenarkan bahkan bisa merupakan syahadah, jika 1) Diniatkan benar-benar hanya untuk melindungi atau memperjuangkan hak-hak dasar (al-dharuriyyat al-khams) yang sah, bukan untuk maksud mencelakakan diri (ahlak al-nafs). 2) Diyakini tidak tersedia cara lain yang lebih efektif dan lebih ringan resikonya. 3) Mengambil sasaran pihak-pihak yang diyakini menjadi otak dan pelaku kezaliman itu sendiri.”

Jika demikian adanya, sungguh bom bunuh di Surabaya dan berbagai macam teror yang lain sangatlah jauh dari syarat syahadah. Karena bom itu bisa dianggap mencelakkan diri dan menerjang hak asasi manusia. Dan sesungguhnya masih banyak jalan keluar untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada.

Keputusan ini berdasar pada berbagai referansi yang semua menerangkan dibolehkannya bunuh diri dalam peperangan bukan dalam keadaan damai. Demkian seperti yang termaktub dalam  Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an

 اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي اقْتِحَامِ الرَّجُلِ فِي الْحَرْبِ وَحَمْلِهِ عَلَى الْعَدُوِّ وَحْدَهُ. فَقَالَ الْقَاسِمُ بْنُ مُخَيْمَرَةَ وَالْقَاسِمُ ابْنُ مُحَمَّدٍ وَعَبْدُ الْمَلِكِ مِنْ عُلَمَائِنَا: لاَ بَأْسَ أَنْ يَحْمِلَ الرَّجُلُ وَحْدَهُ عَلَى الْجَيْشِ الْعَظِيْمِ إِذَا كَانَ فِيْهِ قُوَّةٌ، وَكَانَ لِلهِ بِنِيَّةٍ خَالِصَةٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ فِيْهِ قُوَّةٌ فَذَلِكَ مِنَ التَّهْلُكَةِ، وَقِيْلَ: إِذَا طَلَبَ الشَّهَادَةَ وَخَلَصَتْ النِّيَّةُ فَلْيَحْمِلْ، لِأَنَّ مَقْصُوْدَهُ وَاحِدٌ مِنْهُمْ، وَذَلِكَ فِيْ قَوْلِهِ تَعَالَى وَمِنَ النَّاسِ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللهِ [الْبَقَرَةُ 207]

 وَقَالَ ابْنُ خُوَيْزٍ مِنْدَادٍ: فَأَمَّا أَنْ يَحْمِلَ الرَّجُلُ عَلَى مِائَةٍ أَوْ عَلَى جُمْلَةِ الْعَسْكَرِ أَوْ جَمَاعَةِ اللُّصُوْصِ وَالْمُحَارِبِيْنِ وَالْخَوَارِجِ فَلِذَلِكَ حَالَتَانِ: إِنْ عَلِمَ وَغَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ أَنَّهُ سَيَقْتُلُ مَنْ حَمَلَ عَلَيْهِ وَيَنْجُو فَحَسَنٌ وَكَذَلِكَ لَوْ عَلِمَ وَغَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ أَنَّهُ سَيُقْتَلُ وَلَكِنْ سَيَنْكِي نِكَايَةً أَوَ سَيُبْلِي أَوْ يُؤَثِّرُ أَثَرًا يَنْتَفِعُ بِهِ الْمُسْلِمُوْنَ فَجَائِزٌ أَيْضًا. وَقَدْ بَلَغَنِيْ أَنَّ عَسْكَرَ الْمُسْلِمِيْنَ لَمَّا لَقِيَ الْفُرْسَ نَفَرَتْ خَيْلُ الْمُسْلِمِيْنَ مِنَ الْفِيْلَةِ، فَعَمِدَ رَجَلٌ مِنْهُمْ فَصَنَعَ فِيْلاً مِنْ طِيْنٍ وَأَنِسَ بِهِ فَرَسُهُ حَتَّى أَلِفَهُ، فَلَمَّا أَصْبَحَ لَمْ يَنْفِرْ فَرَسُهُ مِنَ الْفِيْلِ فَحَمِلَ عَلَى الْفِيْلِ الَّذِيْ كَانَ يُقَدِّمُهَا فَقِيْلَ لَهُ: إِنَّهُ قَاتَلَكَ. فَقَالَ: لاَ ضَيْرَ أَنْ أُقْتَلَ وَيُفْتَحُ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَكَذَلِكَ يَوْمَ الْيَمَامَةِ لَمَّا تَحَصَّنَتْ بَنُو حَنِيْفَةَ بِالْحَدِيْقَةِ، قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ: ضَعُوْنِي فِي الْحَجَفَةِ وَأَلْقُوْنِى إِلَيْهِمْ، فَفَعَلُوْا وَقَاتَلَهُمْ وَحْدَهُ وَفَتَحَ الْبَابَ.

قُلْتُ: وَمِنْ هَذَا رُوِيَ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ r أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا؟ قَالَ r : فَلَكَ الْجَنَّةُ فَانْغَمَسَ فِي الْعَدُوِّ حَتَّى قُتِلَ. وَفِيْ صَحِيْحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ r أُفْرِدَ يَوْمَ أُحُدٍ فِيْ سَبْعَةٍ مِنَ اْلأَنْصَارِ وَرَجُلَيْنِ مِنْ قُرَيْشٍ، فَلَمَّا رَهِقُوْهُ قَالَ: مَنْ يَرُدُّهُمْ عَنَّا وَلَهُ الْجَنَّةُ أَوْ هُوَ رَفِيقِي فِي الْجَنَّةِ فَقَدِمَ رَجُلٌ مِنَ اْلأَنْصَارِ فَقَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ فَلَمْ يَزَلْ كَذَلِكَ حَتَّى قُتِلَ السَّبْعَةُ، فَقَالَ r: مَا أَنْصَفْنَا أَصْحَابَنَا هَكَذَا الرِّوَايَةُ، أَنْصَفْنَا بِسُكُوْنِ الْفَاءِ أَصْحَابَنَا بِفَتْحِ الْبَاءِ، أَيْ لَمْ نَدُلُّهُمْ لِلْقِتَالِ حَتَّى قُتِلُوا. وَرُوِيَ بِفَتْحِ الْفَاءِ وَرَفْعِ الْبَاءِ، وَوَجْهُهَا أَنَّهَا تَرْجِعُ لِمَنْ فَرَّ عَنْهُ مِنْ أَصْحَابِنَا، وَاللهُ أَعْلَمُ.

وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ: لَوْ حَمِلَ رَجُلٌ وَاحِدٌ عَلَى أَلْفِ رَجُلٍ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ وَهُوَ وَحْدَهُ، لَمْ يَكُنْ بِذَلِكَ بَأْسٌ إِذَا كَانَ يَطْمَعُ فِيْ نَجَاةٍ أَوْ نِكَايَةٍ فِي الْعَدُوِّ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ فَهُوَ مَكْرُوْهٌ، لِأَنَّهُ عَرَضَ لِنَفْسِهِ لِلتَّلَفِ فِيْ غَيْرِ مَنْفَعَةٍ لِلْمُسْلِمِيْنَ، فَإِنْ كَانَ قَصْدُهُ تَجْرِئَةً لِلْمُسْلِمِيْنَ عَلَيْهِمْ حَتَّى يَصْنَعُوْا مِثْلَ صَنِيْعِهِ فَلاَ يَبْعُدُ جَوَازُهُ، وَلِأَنَّ فِيْهِ مَنْفَعَةً لِلْمُسْلِمِيْنَ عَلَى بَعْضِ الْوُجُوْهِ. وَإِنْ كَانَ قَصْدُهُ إِرْهَابَ الْعَدُوِّ وَلِيَعْلَمَ صَلاَبَةَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي الدِّيْنِ فَلاَ يَبْعُدُ جَوَازُهُ. وَإِذَا كَانَ فِيْهِ نَفْعٌ لِلْمُسْلِمِيْنَ فَتَلِفَتْ نَفْسُهُ لِإِعْزَازِ دِيْنِ اللهِ وَتَوْهِيْنِ الْكُفْرِ فَهُوَ الْمَقَامُ الشَّرِيْفِ الَّذِيْ مَدَحَ اللهُ بِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ قَوْلِهِ إِنَّ اللهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ أَنْفُسَهُمْ الآيَةَ [التَّوْبَةُ 111] إِلَى غَيْرِهَا مِنَ آيَةِ الْمَدْحِ الَّتِيْ مَدَحَ اللهُ بِهَا مَنْ بَذَّلَ نَفْسَهُ

وَعَلَى ذَلِكَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُوْنَ حُكْمُ اْلأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ أَنَّهُ مَتَى رَجَا نَفْعًا فِي الدِّيْنِ فَبَذَّلَ نَفْسَهُ فِيْهِ حَتَّى قُتِلَ كَانَ فِي أَعْلَى دَرَجَاتِ الشُّهَدَاءِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُوْرِ [لُقْمَانُ 17] وَقَدْ رَوَى عِكْرِمَةُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ r أَنَّهُ قَالَ: أَفْضَلُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ، وَرَجُلٌ تَكَلَّمَ بِكَلِمَةِ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ فَقَتَلَهُ.

Ulama berbeda pendapat tentang kenekatan seseorang di medan perang dan menyerang musuh sendirian. Al-Qasim bin Mukhaimarah, al-Qasim bin Muhammad dan Abdul Malik dari kalangan ulama kita  (madzhab Malikiyah) berkata: “Tidak mengapa seseorang sendirian menghadapi pasukan musuh yang cukup banyak jika ia memiliki kekuatan dan niatnya ikhlas karena Allah semata. Jika ia tidak memiliki kekuatan maka termasuk bunuh diri. Dan suatu pendapat menyatakan: “(Meski ia tidak memiliki kemampuan) namun jika ia mencari kesyahidan dan niatnya ikhlas, maka silahkan melakukannya, karena yang diincar cuma salah satu dari musuh. Demikian itu ada dalam firman Allah Swt.: ”Di antara manusia ada yang menjual jiwanya demi untuk mendapatkan keridhaan Allah.” (QS. Al-Baqarah: 207).”

Ibn Khuwaizin Mindad berkata: “Adapun jika seseorang berani menyerang musuh yang berjumlah seratus, sejumlah tentara musuh, sekelompok pencuri, penyerang dan pemberontak, maka untuk hal ini ada dua kondisi: Jika ia mengetahui dan menduga kuat dirinya akan menewaskan musuh yang diserangnya dan ia selamat, maka hal itu bagus. Demikian pula jika ia mengetahui dan menduga kuat ia akan mati, namun akan bisa membuat mereka kalah, kacau atau menimbulkan akibat yang menguntungkan kaum muslimin, maka hukumnya juga boleh. Telah sampai kepadaku kisah pasukan kaum saat melawan pasukan Persia (Iran), kuda-kuda kaum muslimin lari ketakutan dikarenakan gajah. Maka salah seoarang anggota pasukan bertekat membuat patung gajah dari tanah liat sehingga kudanya menjadi tenang dan terbiasa melihat gajah. Maka ketika berperang kudanya tidak takut lagi pada gajah sehingga berani menghadapi pasukan gajah menyerangnya. Lalu ia diingatkan: “Sungguh hal itu akan membuatmu terbunuh.” Lalu ia menjawab; “Tidak mengapa saya terbunuh tapi kaum muslimin mendapat kemenangan.” Begitu pula dalam perang Yamamah ketika Bani Hanifah bertahan di suatu kebun. Salah seorang pasukan muslimin berkata: “Letakkan aku dalam perisai, lalu lemparkan aku kepada mereka.” Kemudian para pasukan lain melakukannya dan ia melawan musuh sendirian serta berhasil membuka pintu kebun tersebut.”

Saya (al-Qurthubi) berkata: “Termasuk kasus serupa, diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Saw.: “Bagaimana pendapat anda jika saya terbunuh dalam peperangan di jalan Allah dalam keadaan sabar dan mencari pahala?” Beliau menjawab: “Engkau mendapat surga.” Lalu laki-laki itu menceburkan diri di tengah-tengah musuh sehingga terbunuh. Dalam riwayat Shahih Muslim dari Anas bin Malik, sungguh pada hari perang Uhud Rasulullah Saw. terpojok  seorang diri, dalam pasukan tujuh orang dari Anshar dan dua orang dari Quraisy. Ketika musuh mendekatinya, beliau bersabda: “Siapa yang bisa mengenyahkan mereka dariku? Dan ia mendapat surga.”, atau: “ “Dia menjadi sahabatku di surga.” Lalu salah seorang dari sahabat Anshar itu menyerang maju sampai terbunuh. Hal tersebut terus berlangsung sehingga ketujuh orang tersebut mati. Lalu beliau Saw. bersabda: “Kami belum memberi petunjuk teknik berperang kepada para sahabat kami.“ Begitu riwayatnya, kata أَنْصَفْنَا  dengan sukun huruf fa’ dan kata أَصْحَابَنَا dengan dibaca fathah huruf ba’nya, yang berarti: “Kami belum memberi petunjuk teknik berperang kepada para sahabat kami.” Dan diriwayatkan dengan dibaca fathah huruf fa’nya dan dibaca raf’ huruf ba’nya (berarti: “Para sahabat kami tidak membela kami.”) Argumennya, riwayat itu kembali kepada para sahabat yang lari meninggalkan Nabi Saw. Wallahu a’lam.

Muhammad bin al-Hasan berpendapat: “Seandainya satu orang melakukan penyerangan kepada seribu musuh dengan sendirian, maka hal itu tidak mengapa jika ia dapat mengharap keselamatan diri atau mengalahkan musuh. Namun jika tidak demikian, maka hukumnya makruh. Karena berarti ia menjerumuskan diri sendiri dalam kematian yang tidak memberi manfaat pada kaum muslimin. Jika tujuannya adalah membangkitkan keberanian kaum muslimin dalam melawan musuh sehingga mereka mau meniru tindakannya, maka hal itu tidak jauh dari kebenaran diperbolehkannya. Karena ada manfaatnya bagi kaum muslimin dari satu sisi. Adapun jika tujuannya untuk menimbulkan ketakutan pada musuh dan supaya musuh mengetahui militansi muslimin dalam membela agamanya, maka hal itu tidak jauh dari kebenaran diperbolehkannya. Ketika dalam tindakannya itu terdapat keuntungan bagi pasukan muslimin, lalu ia mati demi kemuliaan agama Allah dan menghina kekafiran, maka hal itu merupakan kedudukan mulia yang mendapat pujian dari Allah bagi para mukminin sebagaimana dalam firmanNya: “Sungguh Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman, jiwa-jiwa mereka.” (QS. Al-Taubah: 111) Dan ayat-ayat lainnya yang menyebut pujian Allah kepada mereka yang rela mengorbankan jiwanya.

Hukum tersebut seharusnya berlaku pula pada hukum amr ma’ruf nahi munkar. Yaitu  ketika seseorang mengharap keuntungan bagi agama, lalu ia mengorbankan diri untuk hal itu sampai mati, maka ia berada di jajaran tertinggi derajat para syuhada. Allah Swt. berfirman: “Suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah dari perbuatan mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sungguh demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan.” (QS. Luqman: 17) Ikrimah meriwayatkan dari Ibn Abbas Ra., dari Nabi Saw., sungguh beliau bersabda: “Syuhada’ yang paling utama adalah Hamzah bin Abdul Muttalib dan seseorang yang menyuarakan kebenaran kepada penguasa zalim sehingga ia membunuhnya.”

 

(sumber: Hasil Keputusan Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta 25-28 Juli 2002/14-17 Rabiul Akhir 1423 Tentang Masail Maudhuiyyah As-Siyasiayh)

JUAL BELI KREDIT APAKAH TERMASUK DALAM KATEGORI RIBA

Apakah pembelian barang dengan sistem kredit adalah RIBAWI, karena jika terlambat 1 – 2 hari maka pembayaran bertambah besar ?

JAWABAN :

Sebenarnya perdagangan yang tidak beresiko tinggi kearah ribawi memang dengan memakai system naqdan (kontan) namun demikian menjual barang dengan sistem kredit yang di kenal dalam fikih dengan istilah bai’ bi tsaman ajil (menjual barang dengan harga tempo) penjualan model seperti ini hukumnya sah-sah saja.

Saat terjadi penjualan barang dengan memakai sistem kredit yang perlu diperhatikan adalah adanya pilihan harga yang jelas dari kedua belah pihak, sehingga tidak terjadi penjualan satu barang dengan dua harga (bai’atun fi bai’ataini) yang dilarang dalam Hadits riwayat at-Tirmidzi. Semisal penjual bilang pada pembeli, “Aku jual barang ini kepada kamu dengan harga 1.000 kontan atau dengan harga 2.000 dengan tempo (kredit). Terserah kamu pilih harga yang mana.”

– Roudhotu Thoolibiin III/397 :

والثاني أن يقول بعتكه بألف نقدا أو بألفين نسيئة فخذه بأيهما شئت أو شئت أنا وهو باطل أما لو قال بعتك بألف نقدا وبألفين نسيئة أو قال بعتك نصفه بألف ونصفه بألفين فيصح العقد

Lihat juga : Al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuh, V/147; Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil-Minhaj, 17/54

Catatan : Meskipun terjadi TAROODHI saling suka rela antara dua belah pihak (penjual-pembeli) dengan transaksi yang mereka lakukan itupun tidak berpengaruh terhadap rusaknya akad, artinya transaksinya tetap dianggap batal dan berkosekwensi wajibnya mengembalikan barang yang telah mereka terima.

Sedangkan transaksi kredit dengan praktek perjanjian pencabutan barang serta hangusnya uang cicilan disaat konsumen tidak mampu memenuhi kewajiban angsuran dalam jangka tertentu adalah tidak sah kecuali jika hal itu dilakukan di luar aqad (kharij al-aqd).

سلم التوفق ص : 65

واعلم ان الكلام وسيلة إلى المقاصد فكل مقصود محمود يمكن التوصل اليه بالصدق والكذب جميعا فالكذب فيه حرام لعدم الحاجة اليه وان أمكن التوصل اليه بالكذب ولم يمكن بالصدق فالكذب فيه مباح ان كان تحصيل ذلك المقصود مباحا وواجب ان كان المقصود واجبا فاذا اختفى مسلم من ظالم وسأل عنه وجب الكذب بإخفائه وكذا لو كان عنده أو عند غيره وديعة وسأل عنها ظالم قهرا وجب ضمانها على المودع المخبر. اهـ

حواشي الشرواني ج: 4 ص: 294

(وقوله في بيعة ) بفتح الباء اه ع ش (قوله بخلاف بألف الخ ) أي فإنه يصح ويكون الثمن ثلاثة آلاف ألف حالة وألفان مؤجلة لسنة اه نهاية )قوله وألفين لو زاد على ذلك فخذ بأيهما شئت الخ( ففي شرح العباب أن الذي يتجه البطلان وإن تردد فيه الزركشي لأن قوله فخذ الخ مبطل لإيجابه فبطل القبول المترتب عليه سم على حج اهـ

(قوله بألف نقدا وألفين إلي سنة الخ) قضيته بطلان ذلك وإن قبل بأحدهما معينا وهو الأوجه في شرح العباب وفاقا لمقتضى كلام الغزالي وغيره خلافا لما نقله ابن الرفعة عن القاضي من الصحة حينئذ وتخصيص البطلان بقبوله علي الإبهام أو بقبولهما معا .اهـ

المجموع ج: 9 ص: 364

الشروط خمسة أضرب أحدها: ما هو من مقتضى العقد بأن باعه بشرط خيار المجلس أو تسليم المبيع أو الرد بالعيب أو الرجوع بالعهدة أو انتفاع المشتري كيف شاء وشبه ذلك فهذا لا يفسد العقد بلا خلاف لما ذكره المصنف ويكون شرطه توكيداً وبياناً لمقتضاه الضرب الثاني: أن يشترط ما لا يقتضيه إطلاق العقد لكن فيه مصلحة للعاقد كخيار الثلاث والأجل والرهن والضمين والشهادة ونحوها، وكشرط كون العبد المبيع خياطاً أو كاتباً ونحوه فلا يبطل العقد أيضاً بلا خلاف بل يصح ويثبت المشروط الضرب الثالث: أن يشترط ما لا يتعلق به غرض يورث تنازعاً كشرط ألا يأكل إلا الهريسة، أو لا يلبس إلا الخز أو الكتان، قال إمام الحرمين وكذا لو شرط الإشهاد بالثمن وعين شهوداً وقلنا لا يتعينون فهذا الشرط لا يفسد العقد، بل يلغو ويصح البيع، هذا هو المذهب، وبه قطع إمام الحرمين والغزالي ومن تابعهما، وقال المتولي لو شرط التزام ما ليس بلازم بأن باع بشرط أن يصلي النوافل، أو رمضان أو يصلي الفرائض في أول أوقاتها بطل البيع لأنه ألزم، ما ليس بلازم، قال الرافعي مقتضى هذا فساد العقد في مسألة الهريسة ونحوها، والله سبحانه وتعالى أعلم الضرب الرابع: أن يبيعه عبداً أو أمة بشرط أن يعتقه المشتري ففيه ثلاثة أقوال الصحيح المشهور الذي نص عليه الشافعي في معظم كتبه وقطع به المصنف وأكثر الأصحاب، أن البيع صحيح طاعة لازم يلزم الوفاء به ولثاني يصح البيع ويبطل الشرط، فلا يلزمه عتقه والثالث يبطل الشرط والبيع جميعـاً همام من الشروط، والمذهب صحتهما

Dalam transaksi dikalangan kaum Hawa sering juga kita dengar istilah YARNEN (mbayar panen), YARDU (mbayar gadu), YARSEM (mbayar karo mesem). Apapun jenis transaksi seperti diatas kalau jelas akadnya maka SAH, yang tidak sah bila dijual dengan model akad “Aku jual barang ini kepada kamu dengan harga 1.000 kontan atau dengan harga 2.000 dengan tempo (kredit). Terserah kamu pilih harga yang mana.”

Bagaimana kalau beli barang dengan barang. Misal beli minyak goreng dengan beras ? Coba ana contekin macam-macam definisi akad/transaksi dalam fiqh :

قال الدارمي في جمع الجوامع و من خطه نقلت : إذا كان المبيع غير الذهب و الفضة بواحد منهما فالنقد ثمن و غيره مثمن و يسمى هذا العقد : بيعا  و إذا كان غير نقد سمى هذا العقد : معاوضة و مقايضة و منافلة و مبادلة  لان كان نقدا سمي : صرفا و مصارفة  و إن كان الثمن مؤخرا سمي : نسيئة  وإن كان المثمن مؤخرا سمي : سلما أو سلفا  و إن كان المبيع منفعة : سمي : إجارة  أو رقبة العبد له سمي : كتابة  أو بضعا سمي : صداقا أو خلعا انتهى

“Berkata Imam Daroomi dalam Kitab Jam’u Aljawaami’ :

~ Bila yang di jual tidak berupa emas dan perak sedang (alat pembayaran) dengan alat pembayaran emas dan perak (uang) maka alat pembayaran dinamakan harga sedang barangnya di namakan yang dihargai, dan transaksinya namanya jual beli

~ Bila alat pembayaran tidak berupa emas dan perak (uang, misalnya barang dengan barang) nama transaksinya Mu’aawadhoh/Muqooyadhoh/Munafalah/Mubadalah (barter)

~ Bila alat pembayaran berupa emas dan perak (auang) nama transaksinya pembelanjaan

~ Bila harga (uang) dibelakang nama transaksinya kredit

~ Bila barang di belakang nama transaksinya pesan

~ Bila barang berupa jasa nama transaksinya sewa

~ Bila barang berupa pembebasan hamba nama transaksinya kitaabah

~ Bila barang berupa BUDH’ (“hoho hihe” nya wanita) nama transaksinya mas kawin”

[ Asyabah 463 ]

Bolehkah jual beli barang dengan barang ? Diperbolehkan asal tidak terjadi RIBA FADHL (riba yang trjdi dalam masalah barter / tukar menukar benda). Namun bukan dua jenis benda yang berbeda, tapi dari satu jenis barang namun dengan kadar atau takaran yang berbeda

.ويسمى ربا الفضل لفضل أحد العوضين على الآخر

Di dalam masyarakat sering terjadi berbagai macam perdagangan ada yang sistim kontan ada juga yang sistim kredit / tempo, kalau mengkreditkan emas termasuk riba g pak ustad? Sama halnya dengan hukum diatas, Kalau saat transaksi pihak penjual berkata “Aku jual barang (emas) ini seharga 800.000 dengan kredit maka sah-sah saja”. Berbeda saat penjual bilang “Aku jual barang (emas) ini kepada kamu dengan harga 700.000 kontan atau dengan harga 800.000 dengan tempo (kredit). Terserah kamu pilih harga yang mana.” Kemudian antara penjual dan pembeli tidak mengadakan bentuk kesepakan transaksi yang disetujui dan berpisah, maka ini tidak boleh karena harga barang (emas) tersebut masih tidak di ketahui karenanya transaksi semacam ini di hukumi fasid (rusak), berbeda hukumnya dengan bila telah sepakat mengambil salah satu bentuk transaksi baik kontan/kredit sebelum keduanya berpisah….

Pada dasarnya jual beli saat buah belum nampak kebaikannya (masih muda/masih belum masak) tidak diperbolehkan karena masih rawan penyakit disamping akan menimbulkan gambling pada kedua belah pihak,. Berikut ketentuan jual beli buah dalam saat belum tampak kebaikannya menurut ketentuan syara’ :

  1. Padi, jagung, semangka, terong sayuran, tidak di perbolehkan dijual sebelum tampak kebaikannya kecuali dipetik langsung atau dijual bersama tanahnya.
  2. Kurma, kelapa dan buah dalam batang pohon lainnya, tidak diperbolehkan dijual sebelum tampak kebaikannya kecuali dipetik langsung atau dijual bersama batang pohonnya atau bersama tanahnya.

Solusi dalam mengatasi masalah pembelian buah yang masih belum tampak kebaikannya dan belum di mungkinkan untuk segera di potong bila memang hal semacam ini terjadi di lingkungan kita dan tidak dapat bagi kita menghindarinya :

  1. Mengikuti pendapat Imam Syafii dengan Qoul Qadiimnya yang memperkenankan penjualan semacam padi meski masih dalam tangkainya asalkan bentuk bijinya telah mengeras (dapat diperkirakan rata-rata hasil buahnya di saat siap potong. [ al Majmu’ juz 5 hal 49 dan juz 10 hal 472 ].
  2. Antara penjual dan pembeli tidak mengadakan akad jual beli tapi mengadakan akad saling hibah menghibahi.

– Siraaj Alwahhaab I/308 :

وكذلك الثمار قبل بدو الصلاح تجوز هبتها من غير شرط القطع بخلاف البيع

Wallaahu A’lamu Bis Showaab.

HUKUM BAGI ORANG YANG MENGUCAPKAN : NABI TIDAK ROHMATAN LIL ALAMIN

Jam’iyyah Musyawarah Riyadhotut Tholabah (JMRT), PP. Alfalah, Ploso, Kediri, menggelar acara Bahtsul Masail Kubro Antar pesantren Se-Jawa-Madura ke XX.

Hasil acara yang diselenggarakan pada tanggal 14-15 Februari 2018 itu dengan rincian sebagai berikut:

Deskripsi masalah:

Lagi-lagi, media sosial dihebohkan oleh seorang muballigh yang membuat blunder saat ceramah di acara Muktamar di salah satu ormas di Riau. Ia mengatakan bahwa “Nabi Muhammad tidak bisa mewujudkan rahmatan lil-‘alamin selama 40 tahun. Bahkan setelah turun wahyu selama 13 tahun, Nabi Muhammad juga tidak bisa mewujudkan rahmatan lil-‘alamin karena berada dibawah tekanan. Ditekan oleh orang-orang yang tidak senang kapada wahyu yang ia terima, maka rahmatan lil-‘alamin tidak terwujud diatas muka bumi Allah SWT.”

Ia juga berkata: “Kapan rahmatan lil-‘alamin itu dapat diwujudkan? Bukan dengan kenabian. Bukan dengan Al-Qur’an ditangan. Tapi, setelah tegaknya Khilafatin Nubuwwah.”

Dia mengatakan bahwa “tidak ada yang dapat mewujudkan rahmatan lil-‘alamin selain Khilafatin Nubuwwah, Khilafah ‘ala Minhajin-Nubuwwah (Sambil dijawab dengan teriakan takbir).”

“Jika seluruh umat tidak memperdulikan khilafah ini, maka dia sudah menyia-nyiakan pesan Nabi Muhammad SAW.,” ujarnya.

Dia menambahkan, “Dosa terbesar dalam umat ini bukanlah minum khamr. Karena dia akan mabuk untuk dirinya sendiri. Andai ada orang berzina, mungkin madlarat itu hanya untuk mereka berdua dan keluarganya. Tapi, ketika khilafah ini disia-siakan, maka tak terwujudnya rahmatan lil-‘alamin dirasakan oleh mulai dari sejak ikan lumba-lumba yang dipertontonkan ditengah anak-anak yang mestinya mendapatkan keadilan, sampai kepada anak yatim. Anak yang dalam fitroh, sampai ke alam semesta tidak mendapatkan rahmatan lil-‘alamin. Apa sebabnya? Karena tidak tegaknya khilafah (teriakan takbir),” jawabnya.

Perkataan yang digaris bawahi itulah yang menyebabkan kontra dikalangan netizen. Dan tak sedikit dari netizen yang menganggap muballigh tersebut telah menghina Nabi Muhammad SAW., dan bahkan apa yang disampaikan terkesan mendukung gerakan ormas tersebut.

Pertanyaan:

Apakah peryataan yang disampaikan oleh muballigh yang digaris bawahi dianggap menghina Nabi Muhammad SAW.?

Jawaban:

Konten/isi pernyataan muballigh tersebut, secara dhohir dianggap menghina Nabi. Hanya saja, jika muballigh tidak ada tujuan menghina, maka tidak sampai dihukumi kufur, tapi haram. Sebab, tidak sesuai dengan tafsir para ulama’.

Referensi:

  1. Fatawi Haditsiyah juz 1, hal. 161.
  2. Tafsir Rozi juz 11, hal. 80.
  3. Al-Fatawi Al-Kubro juz 4, hal. 236.
  4. Faidlul-Qodir juz 1, hal. 172.
  5. Al-Bahrul Madid juz 2, hal. 297.
  6. Al-Mausu’ah Quwaitiyah juz 7, hal. 99.

Mushohih:

Gus H. Ali saudi

  1. Su’ud abdillah
  2. Hadziqunnuha
  3. Sa’dullah

Perumus:

Gus H. Kanzul Fikri

Ust. Bisri Musthofa

Ust. Muhammad Anas

Ust. Shihabudin Sholeh

Ust. Ali Maghfur

Ust. A. Fadlil

Ust. M. Halimi

Ust. Fahrurrozi

Moderator:

  1. Alamur Rohman

Notulen:

Hadziqunnuha

  1. Iqbal