KEABSAHAN KEPEMIMPINAN DAN UANG SUAP DALAM PENCALONAN

Definisi dzu syaukah

ومعنى ذى الشوكة انقياد الناس وطاعتهم وإذعانهم لأمره وإن لم يكن عنده ما عند السلطان من آلة الحرب والجند ونحوهما مما تقع به الرهبة كرؤساء البلد ورئيس الجماعة وصاحب الحوطة المطاع على الوجه الاعتقاد والاحتشام

“Pengertian konsep dzu syaukah (orang berpengaruh) adalah patuh, taat, dan tunduk pada perintahnya meskipun orang itu tidak memiliki kelengkapan negara layaknya sulthan, seperti alusista militer, tentara serdadu, dan semacamnya yang membuat kedudukannya diperhitungkan. Sebagaimana kelengkapan negara ini lazim dimiliki oleh para pemimpin negara, pemimpin massa, serta pemuka hauthah yang ditaati atas asas kepercayaan dan pengabdian.” (Bughyah al-Mustarsyidin, hlm 527)

 Definisi suap (risywah)

Definisi suap yang lebih sesuai dengan konsep (teori) yakni:

وقبول الرشوة حرام وهي ما يبذل للقاضي ليحكم بغير الحق أو ليمتنع من الحكم بالحق وإعطاؤها كذلك لأنه إعانة على معصية

“Menerima suap haram hukumnya. Suap adalah sesuatu yang diberikan kepada qadhi agar menetapkan hukum yang tidak benar, atau agar penyuap terbebas dari hukum yang benar. Memberi suap juga diharamkan sebab termasuk membantu terjadinya maksiat.” (Nihayatuz Zain, hlm 370)

Sedang definisi suap yang lebih sesuai dengan konteks (realita) yakni:

الرِّشْوَةُ -بِالكَسْرِ- مَا يُعْطِيْهِ الشَّحْصُ الحَاكِمَ وَغَيْرَهُ لِيَحْكُمَ لَهُ أَو يَحْمِلُهُ عَلَى مَا يُرِيْدُ

“Risywah -dengan harakat kasrah pada huruf ra’- adalah sesuatu yang diberikan seseorang kepada hakim atau selainnya agar menetapkan hukum yang memihak penyuap, atau agar menuruti apa yang diinginkan penyuap.” (al-Mishbah al-Munir, 1/228)

Perbedaan risywah dan hadiah

Keterangan dalam Raudhah:

فرع قد ذكرنا أن الرشوة حرام مطلقا والهدية جائزة في بعض فيطلب الفرق بين حقيقتيهما مع أن الباذل راض فيهما والفرق من وجهين أحدهما ذكره ابن كج أن الرشوة هي التي يشرط على قابلها الحكم بغير الحق أو الامتناع عن الحكم بحق والهدية هي العطية المطلقة والثاني قال الغزالي في الإحياء المال إما يبذل لغرض آجل فهو قربة وصدقة وإما لعاجل وهو إما مال فهو هبة بشرط ثواب أو لتوقع ثواب وإما عمل فإن كان عملا محرما أو واجبا متعينا فهو رشوة وإن كان مباحا فإجارة أو جعالة وإما للتقرب والتودد إلى المبذول له فإن كان بمجرد نفسه فهدية وإن كان ليتوسل بجاهه إلى أغراض ومقاصد فإن كان جاهه بالعلم أو النسب فهو هدية وإن كان بالقضاء والعمل فهو رشوة

“Sub masalah: Telah kami jelaskan bahwa suap haram secara mutlak sedang hadiah boleh dalam sebagian masalah. Dari sini perlu dikemukakan perbedaan esensial antara keduanya ketika pihak pemberi rela baik dalam menyuap ataupun memberi hadiah.

Perbedaannya ditinjau dari dua sisi. Pertama, dikatakan oleh Ibnu Kajj, bahwa suap adalah pemberian yang disyaratkan dalam penerimaannya untuk menetapkan hukum yang tidak benar atau pemberi terbebas dari tuntutan hukum yang benar. Sedangkan hadiah adalah pemberian semata.

Kedua, dikatakan oleh al-Ghazali dalam Ihya, suatu harta-benda adakalanya diberikan untuk tujuan jangka panjang, yakni dalam rangka ibadah dan shadaqah, dan adakalanya diberikan untuk tujuan jangka pendek. Yang jangka pendek ini orientasinya bisa berupa harta, maka dinamakan hibah yang disertai persyaratan/pengharapan timbal-balik, serta bisa juga berupa jasa. Bila jasa itu berupa amaliyah haram atau wajib ‘ain maka dikategorikan suap, bila amaliyahnya mubah maka disebut ijarah atau ju’alah.

Adakalanya juga harta-benda diberikan untuk mendekati atau meraih simpati dari orang yang diberi. Bila hal itu sebatas kedekatan pribadi maka disebut hadiah. Bila dimanfaatkan untuk meraih tujuan tertentu lewat kedudukan orang yang diberi maka disebut hadiah pada orang punya kedudukan lantaran ilmu atau nasabnya, serta disebut suap pada orang yang menyandang kedudukan hakim atau pejabat.” (Raudhah ath-Thalibin, 11/144)

Keterangan dalam Ittihaf, dikutip dari serangkaian analisa as-Subki dalam kitab karyanya Fashl al-Maqal fi Hidayah al-‘Ummal yang membicarakan tentang :

Konsep Dasar Istilah Hadiah dan Risywah

قال التقىي السبكي فإن قلت المهدي يتوصل بهديته الى محبة المهدى اليه والراشي يستميل المرتشي حتى يحكم له فلم اختص كل منها باسم؟ قلت المهدي ليس له غرض معين إلا استمالة القلب, والراشي له غرض معين وهو ذلك الحكم وليس غرضه استمالة القلب بل قد يكون يكرهه ويلعنه ففي الهدية تودد خاص بها وتوصل مشترك بينها وبين الرشوة وإن افترقا في المتوصل اليه, وفي الرشوة توصل خاص لا غير فخصصنا كلا منها باسم وميزنا بينهما بما اختصا به والغينا في الهدية المشترك

“Taqiyyuddin as-Subki berkata: Bila kau mempertanyakan bahwa pemberi hadiah, dengan hadiah yang diberikannya, meraih simpati dari orang yang diberi, sementara pemberi suap membujuk orang yang disuap agar menetapkan hukum yang menguntungkannya, lantas kenapa kedua pemberian ini harus dibedakan istilahnya?

Aku jawab bahwa seorang pemberi hadiah tidak punya tujuan khusus selain untuk meraih simpati, sedang seorang penyuap punya, yakni pada pamrih atas kasus hukum itu. Penyuap tidak bertujuan meraih simpati orang yang diberi, malah kadang sebenarnya benci dan menghujatnya. Sehingga bisa diketahui bahwa dalam istilah hadiah ada unsur simpati sebagai karakter asal, dan ada unsur pamrih yang menjadi karakter bersama dalam hadiah dan suap meskipun dalam bentuk yang berbeda. Sedang dalam suap ada unsur pamrih sebagai karakter asal. Karena itu kita membuat istilah yang berbeda untuk keduanya, dan kita membedakan keduanya berdasarkan karakter asal masing-masing, serta mengabaikan implikasi dari karakter bersama (simpati dan pamrih) yang ditemui dalam konsep hadiah.” (Ittihaf as-Sadat al-Muttaqin, 6/160)

Tinjauan Karakter Bersama Dalam Hadiah dan Risywah

قال التقي السبكي الهدية لا يقصد بها إلا استمالة القلب والرشوة يقصد بها الحكم الخاص مال القلب أم لم يمل فإن قلت العاقل إنما يقصد استمالة قلب غيره لغرض صحيح أما مجرد استمالة القلب من غير غرض أجر فلا قلت صحيح لكن استمالة القلب له بواعث منها أن ترتب عليه مصلحة مخصوصة معينة كالحكم مثلا فههنا المقصود تلك المصلحة وصارت استمالة القلب وسيلة غير مقصود لأن القصد متى علم بعينه لا يقف على سببه فدخل هذا في قسم الرشوة ومنها أن ترتب عليه مصالح لا تنحصر إما أخروية كالأخوة في الله تعالى والمحبة وقيل ثوابها وما أشبه ذلك لعلم أو دين فهذه مستحبة والإهداء لها مستحب ومنها أن تكون دنيوية كالتوصل بذلك إلى أغراض له لا تنحصر بأن يكون المستمال قلبه صاحب جاه فإن كان جاهه بالعلم والدين فذلك جائز وهل هو جائز بلا كراهة أو بكراهة تنزيه اقتضى كلام الغزالي في الإحياء الثاني ومراده في القبول في الهدية وهو صحيح لأنه قد يكون أكل بعلمه أو دينه أما الباذل فلا يكره له ذلك وإن كان جاهه بأمر دنيوي فإن لم يكن ولاية بل كان له وجاهة بمال أو صلة عند الأكابر ويقدر على نفعه فهذا لا يكره الإهداء إليه لهذا الغرض وأما قبوله فهو أقل كراهة من الذي قبله بل لا تظهر فيه كراهة لأنه لم يأكل بعلمه ولا دينه وإنما هو أمر دنيوي ولم يخرج من حد الهدية فلا كراهة

“Taqiyyuddin as-Subki berkata: Pemberian hadiah tidak memiliki tujuan utama selain untuk meraih simpati, sedang suap ditujukan untuk mencapai ketetapan hukum tertentu dan tak peduli akan mendapat simpati ataupun tidak.

Jika kau membantah: Logikanya yang namanya mencari simpati itu dikarenakan ada kepentingan (pamrih) tertentu, sedangkan murni mencari simpati tanpa ada kepentingan itu tidak logis.

Aku jawab: Benar, hanya saja simpati dicari lantaran beberapa faktor. Di antaranya, bila faktor itu karena ada keperluan tertentu, kasus hukum misalnya, lalu kita tahu bahwa yang menjadi motif utama adalah keperluan itu dan simpati hanya menjadi batu loncatan bukan tujuan, dengan pertimbangan sekira keperluan itu bisa terkuak sendiri niscaya tidak akan peduli lagi dengan cara semula, maka yang seperti ini masuk dalam kategori suap.

Bila faktor itu dikarenakan ada keperluan secara umum, yang adakalanya bersifat ukhrawi seperti menjalin ikatan persaudaraan, kasih sayang karena Allah, ataupun pahala ukhrawi, serta yang semacamnya baik lantaran unsur alim ataupun shalihnya orang yang diberi, maka keperluan yang semacam itu dianjurkan oleh syariat, dan pemberian hadiahnya juga dianjurkan.

Bila keperluan itu bersifat duniawi, seperti dijadikan sarana memenuhi keperluan secara umum, di mana orang yang dibutuhkan simpatinya punya kedudukan tertentu dan kedudukannya itu:

– Jika lantaran ilmu dan agama maka hukum pemberiannya diperbolehkan. Apakah boleh di sini dalam kerangka mubah atau makruh? Keterangan al-Ghazali dalam Ihya mengarah pada hukum yang kedua (makruh). Yang dikehendaki al-Ghazali dengan makruh adalah pada penerimaan hadiah itu, dan memang demikian, mengingat hadiah yang digunakan itu bisa dimungkinkan diberi lantaran sifat alim atau shalih pada dirinya (sementara dia belum tentu alim atau shalih, pen). Sedangkan bagi orang yang memberi hadiah hukumnya tidak makruh.

– Jika lantaran perkara duniawi, dan bukan punya kedudukan karena punya semacam kekuasaan, melainkan karena banyak harta ataupun banyak relasi dengan para tokoh sehingga orang itu dianggap berguna, maka pemberian hadiah karena motif semacam ini tidak makruh. Menerima hadiahnya juga lebih sedikit kadar makruhnya dibanding situasi sebelumnya (kedudukan lantaran ilmu dan agama, pen). Bahkan boleh jadi dibilang tidak maruh sebab dia tidak mempergunakan hadiah itu dengan dilatar belakangi ilmu atau agama, melainkan karena perkara duniawi semata serta tidak keluar dari definisi hadiah. Dari sini bisa dipahami bila dikatakan menerima hadiahnya itu tidak makruh.” (Ittihaf as-Sadat al-Muttaqin, 6/160)

Illat atau alasan Pamrih Yang Boleh dan Yang Dilarang Dalam Hadiah dan Risywah

وفي فصل المقال للتقي السبكي فإن قلت فمن ليس متوليا إذا أهدى اليه ليتحدث له في امر جائز عند ذي سلطان قلت اذا كانت تلك الحاجة جائزة ولم يكن المتحدث مرصدا لإبلاغ مثلها بحيث يجب عليه, فان كان لحديثه فيها أجرة بأن يكون يحتاج الى عمل كثير جاز وإلا فلا. اما الجواز فلأنه اجارة او جعالة واما المنع فلأن الشرع لم يرد بالمعاوضة في هذا النوع وان كان قد قصده العقلاء. وقد بان بهذا الفرق يبن الرشوة والهدية

“Tercantum dalam kitab Fashl al-Maqal karangan Taqiyyudin as-Subuki: Jika kau bertanya: Lalu bagaimana pada orang yang bukan penguasa, ketika dia diberi hadiah sesuatu agar mau menyampaikan urusan yang sifatnya mubah di sisi sulthan?

Aku jawab: Jika keperluan itu memang bersifat mubah dan dia bukan berprofesi tetap sebagai penghubung urusan semacam itu, maka hal itu diperbolehkan bila kinerjanya pantas diberi upah semisal harus dilalui dengan banyak usaha, bila tidak demikian maka tidak diperbolehkan.

Diperbolehkan karena hadiah itu diberlakukan sebagai upah ijarah maupun ju’alah. Dan dilarang karena dalam syariat tidak ditemui konsep timbal balik harta dengan bentuk semacam ini” (Ittihaf as-Sadat al-Muttaqin, 6/158)

– Asas Prinsipil Hadiah dan Risywah

وايضا لما كان المتوصل اليه بالهدية محبوبا في الشرع كان هو المعتبر في التسمية ولم ينظر الي السبب ولما كان المتوصل اليه بالرشوة حراما في الشرع لم يعتبر, وانما أعتبر في التسمية السبب فقط لأنه لم يقصد الراشي والمسترشي غيره, فكانت تسمية كل منهما باعتبار مقصد فاعلمهما

“Di samping itu, mengingat muara pemberian hadiah adalah pada hal yang sudah dilegitimasi sebagai anjuran oleh syariat maka poin anjuran ini yang menjadi tolak ukur penamaan hadiah tanpa perlu melihat pada motif pemberiannya. Kemudian mengingat muara pemberian suap berkisar pada hal yang diharamkan syariat maka keharaman ini tidak menjadi standar penyebutan suap, melainkan tolak ukurnya perlu dilihat secara spesifik pada motif pemberian tersebut, sebab tujuan penyuap dan orang yang disuap selalu bermuara pada hal yang diharamkan. Jadi standar penyebutan istilah hadiah atau suap dilihat dari tujuan di dalamnya. Cermatilah.” (Ittihaf as-Sadat al-Muttaqin, 6/160)

Status suap cukup dengan melihat qarinah

وَلَوْ أَهْدَى لِمَنْ خَلَّصَهُ مِنْ ظَالِمٍ لِئَلَّا يَنْقُضَ مَا فَعَلَهُ لَمْ يَحِلَّ لَهُ قَبُولُهُ وَإِلَّا حَلَّ أَيْ : وَإِنْ تَعَيَّنَ عَلَيْهِ تَخْلِيصُهُ بِنَاءً عَلَى الْأَصَحِّ أَنَّهُ يَجُوزُ أَخْذُ الْعِوَضِ عَلَى الْوَاجِبِ الْعَيْنِيِّ إذَا كَانَ فِيهِ كُلْفَةٌ خِلَافًا لِمَا يُوهِمُهُ كَلَامُ الْأَذْرَعِيِّ وَغَيْرِهِ هُنَا ، وَلَوْ قَالَ خُذْ هَذَا وَاشْتَرِ لَك بِهِ كَذَا تَعَيَّنَ مَا لَمْ يُرِدْ التَّبَسُّطَ أَيْ : أَوْ تَدُلَّ قَرِينَةُ حَالِهِ عَلَيْهِ كَمَا مَرَّ ؛ لِأَنَّ الْقَرِينَةَ مُحَكَّمَةٌ هُنَا

“Jika seseorang memberikan hadiah pada orang lain yang menolong dirinya dari orang zhalim agar orang itu tidak mengurungkan pertolongannya, maka pemberian itu tidak boleh diterima. Bila bukan demikian maka boleh diterima, yakni meskipun orang itu menjadi pelaku tunggal yang diwajibkan menolong, berpegang pada qaul ashah yang menyatakan boleh mengambil imbalan atas amaliyah wajib ‘ain yang butuh kerja keras. Hal ini berbeda dengan pendapat al-Adzra’i dan lainnya.

Umpama ada orang berkata: Ambillah dan belilah barang itu dengan uang ini, maka menjadi wajib bagi yang diberi untuk memenuhi selama tidak ada kehendak keleluasaan tasharruf dari pemberi, atau tidak ada qarinah yang menunjukkannya, sebab qarinah dalam konsep hadiah bisa diberlakukan sebagai kepastian.” (Tuhfatul Muhtaj, 26/205)

Syarat suap yang diperbolehkan

فمن اعطى قاضيا أوحاكما رشوة أو أهدى اليه هدية فان كان ليحكم له بباطل أو ليتوصل بها لنيل مالا يستحقه أو لأذية مسلم فسق الراشى والمهدى بالإعطاء والمرتشى والمهدى اليه بالاخذ والرائش بالسعى , وان لم يقع حكم منه بعد ذلك أو ليحكم له بحق أو لدفع ظلم أو لينال ما يستحقه فسق الآخذ فقط ولم يأثم المعطى لاضطراره للتوصل لحق بأى طريق كان

“Bagi orang yang memberikan suap atau hadiah pada qadhi atau hakim, bila ternyata diberikan untuk menghukumi secara bathil, atau sebagai sarana meraih sesuatu yang bukan haknya, atau berakibat menyakiti seorang muslim, maka penyuap dan pemberi hadiah menjadi fasiq sebab pemberiannya, orang yang disuap dan orang yang diberi menjadi fasiq sebab mengambilnya, serta kurir penyuap menjadi fasiq sebab perbuatannya.

Bila hukum di atas tidak terjadi, atau agar pemberi mendapatkan hukum yang benar, atau untuk menolak kezhaliman, atau untuk mendapatkan haknya maka hukum fasiq hanya berlaku pada orang mengambil pemberian itu. Pemberi tidak dianggap berdosa karena dia terpaksa melakukan hal itu sebagai sarana memperoleh hal yang benar dengan segala upaya.” (Is’adur Rafiq, hlm 100)

والمراد بالرشوة التي ذكرناها ما يعطى لدفع حق أو لتحصيل باطل وإن أعطيت للتوصل إلى الحكم بحق فالتحريم على من يأخذها كذلك وأما من لم يعطها فإن لم يقدر على الوصول إلى حقه إلا بذلك جاز وإن قدر إلى الوصول إليه بدونه لم يجز

“Yang dimaksud dengan suap yang kita perbincangkan ini yaitu harta benda yang diberikan untuk menolak kebenaran atau mencapai hal yang bathil. Bila harta itu diberikan sebagai sarana mendapatkan hukum yang benar maka hukum haram hanya bagi yang mengambilnya. Sedangkan ketika orang itu belum memberikannya, ketika haknya tidak bisa dicapai selain dengan cara suap itu maka boleh memberikan harta tersebut, ketika masih bisa mendapatkan haknya dengan cara lain maka tidak diperbolehkan.” (Fatawa as-Subki, 1/204)

* Dalil berkaitan politik uang dalam pemilihan pemimpin

– Hadits larangan suap pada pemilihan pejabat

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ : رَجُلٌ عَلَى فَضْلِ مَاءٍ بِالطَّرِيْقِ يَمْنَعُ مِنْهُ ابْنَ السَّبِيْلِ ، وَرَجُلٌ بَايَعَ إِمَامًا لاَ يُبَايِعُهُ إِلاَّ لِدُنْيَاهُ ، إِنْ أَعْطَاهُ مَا يُرِيْدُ وَفَى لَهُ ، وَإِلاَّ لمَ ْيَفِ لَهُ ، وَرَجُلٌ بَايَعَ رَجُلاً بِسِلْعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ ، فَحَلَفَ بِاللهِ لَقَدْ أُعْطِيَ بِهَا كَذَا وَكَذَا ، فَصَدَّقَهُ فَأَخَذَهَا ، وَلَمْ يُعْطَ بِهَا

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiga orang yang tidak akan diajak berbicara oleh Allah kelak pada hari kiamat, Allah tidak mensucikan mereka dan mereka akan memperoleh siksa yang pedih. Pertama, orang yang memiliki air berlebih dalam perjalanan dan tidak mau memberikannya kepada musafir. Kedua, laki-laki yang membai’at seorang pemimpin hanya karena faktor duniawi. Apabila pemimpin itu memberinya, ia akan memenuhi pembai’atannya, tetapi apabila tidak diberi, dia tidak akan memenuhinya. Dan ketiga, orang yang menawarkan dagangannya kepada orang lain sesudah waktu ashar, lalu dia bersumpah bahwa barang dagangan itu telah ditawar sekian dan sekian oleh orang lain, lalu pembeli mempercayainya dan membelinya, padahal sebenarnya barang itu belum pernah ditawar.”

” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasai, Baehaqi, Ibnu Jarir, dan Abdur Razak, lafazh dari Bukhari

– Pengecualian pada hadits

(فإن تعين على شخص) بأن لم يتعدد الصالح له في الناحية (لزمه) قبوله إن وله الإمام ابتداء ولزمه (طلبه) إن لم يوله الإمام ابتداء, ولو على عدم الإجابة, ولو ببذل مال كثير وإن حرم اخذه منه. فالإعطاء جائز والأخذ حرام

“[Jika kedudukan qadhi hanya mampu disandang orang tertentu] ketika tidak banyak dijumpai orang shalih di daerah itu [maka wajib baginya] untuk menerima ketika imam melantiknya serta wajib baginya [untuk menuntut jabatan itu] ketika imam tidak menunjuknya, meski tuntutannya akan berujung pada penolakan, walau harus dicapai dengan memberikan banyak harta, meski nantinya harta itu haram diambil oleh orang lain. Hukum memberikannya mubah dan hukum mengambilnya haram.” (Tausyikh ‘ala Ibni Qasim, hlm 279)

Pendalaman materi berkaitan

Hasil bahtsu masail PWNU Jatim 2005 pada deskripsi: Pilkada dan Batas Money Politic

Hasil bahtsu masail PWNU Jatim 2008 pada deskripsi: Legitimasi Pemerintah Dalam Pemilu

MENYIMPULKAN

  1. Prinsip dasar perbedaan suap dan hadiah terletak pada haram dan tidaknya konsekuensi dari pemberian barang tersebut.
  2. Suatu pemberian akan dikategorikan hadiah bila: untuk mendapat pahala, untuk meraih simpati, untuk mendapat imbalan materi (hadiah bi tsawab), untuk upah dari amaliyah yang patut diberi upah, atau tidak punya motif melainkan ikhlas lillahi ta’ala.
  3. Suatu pemberian akan dikategorikan suap bila: untuk menetapkan hukum yang tidak benar, untuk lepas dari hukum yang benar, untuk perantara mencapai kepentingan yang haram, untuk upah dari amaliyah yang tidak pantas diberi upah yakni pada amaliyah yang tidak pantas dinilai materi (karena sudah menjadi kewajiban atau tidak ada banyak usaha atau kerja keras di dalamnya).
  4. Pemberian diketahui sebagai suap lewat bukti langsung atau dengan dugaan (zhan) qarinah yang mengarah ke suap.
  5. Pemberian harta agar memilih kandidat yang bersangkutan termasuk suap sesuai dengan nash sharih hadits.
  6. Suap karena dharurat diperbolehkan bagi pemberi bila memenuhi sejumlah ketentuan: dalam rangka menegakkan hukum yang benar, yang bersangkutan adalah orang yang berhak, tidak menyakiti atau merugikan muslim lain yang juga berhak, serta tidak ada jalan lain mencapai haknya selain dengan menyuap.
  7. Dalam prosesi pemilihan pemimpin konsep suap karena dharurat juga bisa diberlakukan dengan tiga persyaratan utama: kandidat memang layak menjadi pemimpin, tidak ada figur kandidat lain yang layak, serta money politic di daerah tersebut sudah sangat parah sehingga bila tidak menyuap tidak akan menang.
  8. Prosesi pemilihan yang dicampuri suap, meskipun suap darurat, tetap termasuk dalam khitab hadits yang melarang suap dalam pemilihan imam, sehingga amaliyahnya fasid, dan konsepsi pemerintahan berjalan secara dzu syaukah

MERUMUSKAN

a.bagaimana hukum pemilihan trsebut?

Hukumnya bisa dianggap sah mengacu pada dharurat kepemimpinan dzu syaukah. Bila memungkinkan untuk diulang maka wajib diulang.

b.bagaimana hukum bg warga yg memilih karena mendapat uang trsebut?

Menerima uang itu berdosa karena tergolong suap. Sedangkan memilih lantaran mendapat uang itu juga berdosa lantaran sama dengan menjual hak suaranya dan amaliyahnya fasid.

Keabsahan kepemimpinan

قال السعد في شرح المقاصد وتنعقد الإمامة بطرق أحدها بيعة أهل الحل والعقد من العلماء والرؤساء ووجوه الناس إلى أن قال والثالث القهر والإستيلاء فإذا مات الإمام وتصدى للإمامة من يستجمع شرائطها من غير بيعة واستخلاف وقهر الناس بشوكته انعقدت الخلافة له إذا كان فاسقا أو جاهلا على الأظهر إلا أنه يعصى بما فعل وتلزم المسلمين طاعة هذا المتغلب للضرورة ومعنى هذا أن سلطة التغلب كأكل الميتة تنفذ عند الضرورة وتكون أقل حالا من الفوضى وأدنى من الهمجية ومقتضى ذلك أنه يجب السعي لإزالتها عند الإمكان فإن كان خلع المتغلب سهلا لا يترتب عليه مفاسد ولا ينجم عنه فتن خلع بلا تأجيل وإلا فإن كان خلعه يستوجب الفتن ويستلزم التفرقة وتزيد بسببه المفسدة على المصلحة فالواجب الصبر والضرورة تبيح المحظورات

“Imam Sa’d ad-Din at-Taftazani dalam Syarh al-Maqashid berkata: Kepemimpinan dinilai sah dengan beberapa hal.

Pertama, dengan baiat ahlu hall wal ‘aqd yang terdiri dari para ulama, para tokoh, dan sekelompok masyarakat…dst. (sampai yang)  Ketiga, dengan pengambil alihan kekuasaan. Ketika pemimpin terdahulu telah wafat sementara muncul pemberontakan dari tokoh lain yang memenuhi syarat pemimpin tanpa melalui baiat atau pergantian kepemimpinan, serta memaksa masyarakat dengan pengaruhnya, maka kepemimpinannya bisa disahkan, begitu juga sah disertai berdosa menurut qaul azhar pada tokoh yang fasiq atau jahil.

Wajib bagi kaum muslimin untuk mentaati pemimpin macam ini karena dharurat. Kekuasaan dengan paksaan kasusnya seperti memakan bangkai yang dilegalkan karena dharurat, konteksnya sedikit lebih ringan dari situasi wilayah yang kacau serta lebih ringan dari situasi pemerintahan yang kejam.

Konsekuensinya yaitu wajib menghilangkan kepemimpinan semacam ini ketika situasi memungkinkan. Bila suksesi berjalan mudah dan tidak berimbas pada banyak kerusakan dan fitnah maka harus dicopot. Namun bila ada kepastian menimbulkan banyak fitnah, perpecahan, dan mafsadah lain yang lebih besar dari mashlahahnya maka yang diwajibkan di sini adalah bersabar, sebab dharurat memperbolehkan hal yang sebenarnya diharamkan.” (Ta’liqat Tahdzib, 7/271-275)

والأصل في مبايعة الامام ان يبايعه على ان يعمل بالحق ويقيم الحدود ويأمر بالمعروف وينهى عن المنكر فمن جعل مبايعته لمال يعطاه دون ملاحظة المقصود في الأصل فقد خسر خسرانا مبينا ودخل في الوعيد المذكور وحاق به ان لم يتجاوز الله عنه وفيه ان كل عمل لا يقصد به وجه الله وأريد به عرض الدنيا فهو فاسد وصاحبه آثم والله الموفق

“Prinsip asal dalam prosesi baiat imam adalah membaiat karena dia dinilai mampu bertindak secara benar, menegakkan hukum, dan menjalankan amar ma’ruf nahi munkar. Sehingga barang siapa yang membaiat karena harta yang diberikannya tanpa memperdulikan tujuan dalam prinsip asal maka dia sungguh merugi, masuk dalam ancaman hadits tersebut, serta akan celaka bila Allah tidak mengampuninya. Hadits itu juga menunjukkan bahwa setiap amaliyah yang tidak bertujuan mencari ridha Allah tetapi untuk mencari kesenangan dunia, maka amal itu dianggap fasid dan pelakunya berdosa. Hanya Allah Maha Pemberi Taufiq.” (Fathul Bari, 13/203)

والمراد من المبايعة هنا هو المعاقدة عليه والمعاهدة، فكأن كل واحد منهما باع ما عنده من صاحبه وأعطاه خالصة نفسه وطاعته ودخيلة أمره

“Yang dimaksud dengan baiat di sini adalah akad dan perjanjian baiat. Seakan-akan setiap orang dari pemilih dan yang dipilih membeli aset pihak lainnya dan mau memberikannya demi melancarkan diri sendiri, serta mematuhi dan mengikuti perintah pemberi.” (‘Umdatul Qari, 12/199

Wallahu subhanahu wata’ala a’lam.

CARA MEMILIH PEMIMPIN DAN AKIBAT PEMIMPIN BERBUAT DZOLI

Dalil Memilih atau Mengangkat pemimpin adalah fardlu kifayah :

.بقي أن نقول أن وجوب نصب الخليفة الذي ذهب اليه جمهور العلماء ليس وجوبا عينيا بل هو وجوب كفائي شأنه شأن سائر الواجبات الكفائية من جهاد وطلب علم ونحو ذلك فإذا بهذه الوظيفة من يصلح لها سقط وجوبها على كافة المسلمين .

مغني المحتاج ٥/٤١٨

SEPUTAR PEMILIHAN PEMIMPIN DAN UANG SUAPNYA

Sudah dekat sekali Pemilihan atau pencoblosan pil-pil an untuk kepala desa dearah mana saja. Yang di tanyakan adalah :

  1. Bagaimana hukumnya menerima uang dari calon2 tersebut?
  2. Yang harus di pilih calon model yang bagaimana?
  3. Ikut berdosakah kalau suatu saat calon yang terpilih itu dzholim sedangkan sekarang ikut memilihnya?

JAWABAN :

  1. Berdasarkan ajaran nabi Muhammad SAW, adalah haram hukumnya bagi yang menyogok dan yang disogok.

Apabila pemberian dari calon untuk menarik simpati, maka boleh menerimanya, tapi jika tujuanya untuk di pilih dan terdapat perjanjian yang mengikat maka termasuk sogok,maka harom menerimanya.

  1. Berdasarkan ajaran Beliau juga mengajarkan sholat istikhoroh, mintalah petunjuk kepada yang Maha tahu yaitu Allah Robbul ‘alamin dalam menentukan pilihan.
  2. Karena kita telah memasrahkan diri kepada Nya dalam menentukan piiihan,maka soal pertanggung jawabannya ketika yang terpilih berbuat dzolim, maka ia sendirilah yang menanggung dosanya sendiri.

Pada dasarnya, memilih seorang pemimpin itu dengan tujuan agar mengamalkan kebenaran, menegakkan batasan-batasan agama, menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran. Bukan memilih karena diberi uang. (Keterangan: Berdasarkan hadits di bawah, hukum haram ini tidak terbatas pada apabila si penerima hadiah tersebut adalah seorang tokoh. Akan tetapi hukum haram ini bersifat umum, baik si penerima rakyat biasa, tokoh masyarakat maupun partai politik).

Dasar pengambilan;

– Shahîh al-Bukhârî; Shahîh Muslim;

– Fath al-Bârî Syarh al-Bukhârî, juz XIII, hal. 214 dan 218;

– Faidh al-Qadîr Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr, juz III, hal. 330.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ : رَجُلٌ عَلَى فَضْلِ مَاءٍ بِالطَّرِيْقِ يَمْنَعُ مِنْهُ ابْنَ السَّبِيْلِ ، وَرَجُلٌ بَايَعَ إِمَامًا لاَ يُبَايِعُهُ إِلاَّ لِدُنْيَاهُ ، إِنْ أَعْطَاهُ مَا يُرِيْدُ وَفَى لَهُ ، وَإِلاَّ لمَ ْيَفِ لَهُ ، وَرَجُلٌ بَايَعَ رَجُلاً بِسِلْعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ ، فَحَلَفَ بِاللهِ لَقَدْ أُعْطِيَ بِهَا كَذَا وَكَذَا ، فَصَدَّقَهُ فَأَخَذَهَا ، وَلَمْ يُعْطَ بِهَا اهـ رواه البخاري ومسلم

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah saw bersabda: “Tiga orang yang tidak akan diajak berbicara oleh Allah kelak pada hari kiamat, Allah tidak akan membersihkan mereka dan mereka akan memperoleh siksa yang pedih. Pertama, orang yang memiliki air melebihi kebutuhan dalam perjalanan dan tidak memberikannya kepada musafir (yang membutuhkannya). Kedua, laki-laki yang membai’at seorang pemimpin hanya karena dunia. Apabila pemimpin itu memberinya, ia akan memenuhi pembai’atannya, tetapi apabila tidak diberi, dia tidak akan memenuhinya. Dan ketiga, orang yang menawarkan dagangannya kepada orang lain sesudah waktu asar, lalu dia bersumpah bahwa barang dagangan itu telah ditawar sekian oleh orang lain, lalu pembeli mempercayainya dan membelinya, padahal barang itu belum pernah ditawar sekian oleh orang lain.” (HR. al-Bukhri dan Muslim).

قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ الْعَسْقَلاَنِيُّ الشَّافِعِيُّ فِيْ فَتْحِ الْبَارِيْ : وَاْلأَصْلُ فِيْ مُبَايَعَةِ اْلإِمَامِ أَنْ يُبَايِعَهُ عَلَى أَنْ يَعْمَلَ بِالْحَقِّ وَيُقِيْمَ الْحُدُوْدَ وَيَأْمُرَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ ، فَمَنْ جَعَلَ مُبَايَعَتَهُ لِمَالٍ يُعْطَاهُ دُوْنَ مُلاَحَظَةِ الْمَقْصُوْدِ فِي اْلأَصْلِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِيْنًا وَدَخَلَ فِيْ الْوَعِيْدِ الْمَذْكُوْرِ وَحَاقَ بِهِ إِنْ لَمْ يَتَجَاوَزِ اللهُ عَنْهُ ، وَفِيْهِ أَنَّ كُلَّ عَمَلٍ لاَ يُقْصَدُ بِهِ وَجْهُ اللهِ وَأُرِيْدَ بِهِ عَرَضُ الدٌّنْيَا فَهُوَ فَاسِدٌ وَصَاحِبُهُ آثِمٌ، وَاللهُ الْمُوَفِّقُ اهـ فتح الباري شرح صحيح البخاري.

Al-Hafizh Ibn Hajat al-‘Asqalani al-Syafi’i berkata dalam Fath al-Bari: “Pada dasarnya orang membai’at pemimpin itu bertujuan agar ia melakukan kebenaran, menegakkan batasan-batasan Allah, melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Oleh karena itu, barang siapa yang menjadikan pembai’atannya kepada pemimpin karena harta yang diterimanya tanpa melihat tujuan utama, maka dia telah mengalami kerugian yang nyata dan masuk dalam ancaman hadits di atas, serta ia akan celaka apabila Allah tidak mengampunya. Hadits tersebut menunjukkan bahwa setiap perbuatan yang tidak bertujuan mencari ridha Allah, tetapi bertujuan mencari kesenangan dunia, maka amal itu rusak dan pelakunya berdosa. Hanya Allah-lah yang memberikan taufiq-Nya.”

قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ بْنُ عُمَرَ نَوَوِي الْجَاوِيُ: وَأَخْذُ الرِّشْوَةِ بِكَسْرِ الرَّاءِ وَهُوَ مَا يُعْطِيْهِ الشَّخْصُ لِحَاكِمٍ أَوْ غَيْرِهِ لِيَحْكُمَ لَهُ أَوْ يَحْمِلَهُ عَلىَ مَا يُرِيْدُ كَذَا فِي الْمِصْبَاحِ وَقَالَ صَاحِبُ التَّعْرِيْفَاتِ وَهُوَ مَا يُعْطَى لإِبْطَالِ حَقٍّ أَوْ لإِحْقَاقِ بَاطِلٍ اهـ مرقاة صعود التصديق ص 74.

Syaikh Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi (Syaikh Nawawi Banten) berkata: “Termasuk perbuatan maksiat adalah menerima suap/risywah. Suap adalah sesuatu yang diberikan kepada seorang hakim atau lainnya, agar keputusannya memihak si pemberi atau mengikuti kemauan pemberi, sebagaimana yang terdapat dalam kitab al-Mishbab. Pengarang kitab al-Ta’rifat berkata: “Suap adalah sesuatu yang diberikan karena bertujuan membatalkan kebenaran atau membenarkan kesalahan.” (Mirqat Shu’ud al-Tashidiq, hal. 74).

MEMOTONG-MOTONG JANGKRIK ATAU KODOK SEBAGAI UMPAN MEMANCING ATAU PAKAN HEWAN

MEMOTONG-MOTONG JANGKRIK ATAU KODOK SEBAGAI UMPAN MEMANCING ATAU PAKAN HEWAN

Deskripsi : Kita senantiasa dianjurkan untuk berbuat kebaikan, termasuk dalam hal menyembelih atau membunuh binatang, baik ma’kul (boleh dimakan) atau ghairu ma’kul (tidak boleh dimakan). Bagi penggemar burung dan orang yang hobi memancing, jangkrik sudah menjadi bagian dari kegemarannya, karena ia sebagai salah satu jenis makanan burung atau umpan memancing. Namun dalam menyajikan jangkrik sebagai makanan atau umpan terindikasi kurang mencerminkan berbuat baik terdahadap binatang.

Pertanyaan :

a.Bagaimana hukum memotong-motong dalam keadaan hidup-hidup terhadap hewan yang digunakan sebagai umpan atau pakan burung?

b.Bagaimana hukum memancing di pemancingan umum yang semata-mata untuk hiburan, bukan untuk mengambil ikannya, dan lain sebagainya? (PCNU Kab. Blitar)

Jawaban :

BACA JUGA : INILAH CARA AGAR KERJA KITA BERNILAI IBADAH

a. Memotong-motong binatang (jangkrik) yang masih hidup untuk makanan burung adalah haram karena mengandung unsur ta’dzib (menyiksa), akan tetapi jika dibunuh terlebih dahulu lalu diprotoli maka hukumnya boleh.

Dasar Pengambilan Hukum :

إسعاد الرفيق ص 101

ومنها المثلة بالحيوان أي تقطيع اجزائه وتغيير خلقته وهي من الكبائر

اسم الكتاب: مسند الإمام أحمد ج 5 ص 528

حدّثنا عبدالله حدَّثني أبي حدثنا عبدالواحد الحداد أبو عبيدة عن خلف ـ يعني ابن مهران ـ حدثنا عامر الأحول عن صالح بن دينار عن عمرو بن الشريد قال: سمعت الشريد يقول: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلّم يقول: «من قتل عصفوراً عبثاً عج إلى الله عزَّ وجلَّ يوم القيامة منه يقول: يا رب إن فلاناً قتلني عبثاً ولم يقتلني لمنفعة

صحيح ابن حبان ج 5 ص 411

أخبرنا محمدُ بنُ عبد الرحمن السَّامِي ، قال: حَدَّثنا أحمدُ بنُ حنبل ، قال: حَدَّثنا أبو عبيدة الحدادُ ، عن خَلَفِ بنِ مِهران ، قال: حَدَّثنا عامِرٌ الأحَولُ ، عَنْ صَالح بنِ دينارٍ ، عن عمرِو بنِ الشريد قال: سَمِعْتُ الشَّرِيدَ يقولُ: سمعتُ رسولَ الله يقولُ : «مَنْ قَتَلَ عُصْفُوراً عَبَثاً، عَجَّ إلى اللَّهِ يَوْمَ القِيَامَةِ يَقُولُ: يَا رَبِّ، إنَّ فلاناً قَتَلَنِي عَبَثاً وَلَمْ يَقْتُلْنِي مَنْفَعَةً

فيض القدير ج 6 ص 193

(من قتل عصفورا) بضم أوله ونبه بالعصفور لصغره على ما فوقه وألحق به تنزه المترفين بالاصطياد لا لأكل أو حاجة وفي رواية فما فوقها وهو محتمل لكونه فوقها في الحقارة والصغر وفوقها في الجثة والعظم (بغير حقه) في رواية حقها والتأنيث باعتبار الجنس والتذكير باعتبار اللفظ وحقها عبارة عن الانتفاع بها (سأله اللّه عنه) في رواية عن قتله أي عاقبه وعذبه عليه (يوم القيامة) تمامه عند مخرجه أحمد وغيره قيل: وما حقها يا رسول اللّه قال: أن تذبحه فتأكله ولا تقطع رأسه فترمى بها فما أوهمه صنيع المصنف من أن ما ذكره هو الحديث بتمامه غير صحيح وفي رواية للقضاعي وغيره من قتل عصفوراً عبثاً جاء يوم القيامة وله صراخ تحت العرش يقول رب سل هذا فيم قتلني من غير منفعة

السيل الجرار ج 4 ص 371

أقول إنما أجاز الله سبحانه لعباده صيد ما يصاد من الحيوانات والانتفاع بما ينتفع به من أهليها من أكل وغيره وجوز لهم قتل ما يقتل منها من الفواسق وما كان فيه إضرار بالعباد أو بأموالهم وأما الإغراء بينها فهو باب من أبواب اللعب والعبث وليس هو مما أباحه الله لأنه إيلام لحيوان بغير فائدة على غير الصفة التي أذن الله بها فهو حرام من هذه الحيثية وقد حرم الله العبث بالحيوان لغير فائدة كما أخرجه مسلم وغيره من حديث ابن عباس مرفوعا بلفظ لا تتخذوا شيئا فيه الروح غرضا وهكذا حديث من قتل عصفورا عبثا عج إلى الله يوم القيامة يقول يا رب إن فلانا قتلني عبثا ولم يقتلني منفعة وهو حديث مروي من طرق قد صحح الأئمة بعضها. ووجه الاستدلال بما ذكرنا وإن كان ليس بإغراء بين الحيوان أن صلى الله عليه وسلم قد نهى عن العبث الذي لا فائدة فيه والإغراء عبث لا فائدة فيه.

محاضرات الأدباء ومحاورات الشعراء والبلغاء لأبي الفرج الأصفهاني في الحد الرابع والعشرون في الحيوان

النهي عن المثلة بالحيوان والحث على تحسين الذبح: قال النبي صلى الله عليه وسلم: لعن الله من يمثل بالحيوان، ونهى أن تصبر البهيمة وأن يؤكل لحمها إذا ضرب. وقال أيضاً: لا تتخذوا الروح غرضاً. وقال: إن الله كتب الإحسان في كل شيء، فإذا قتلتم فأحسنوا القتلة، وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبحة، وليحد أحدكم شفرته وليرح ذبيحته.

الحواشي المدنية ج 1 ص 30

(قوله ولا يجرح) اعتمده الشارح في كتبه وعبر في حاشيته على تحفة بقوله ولا يجوز امتحانها بشق بعض أجزائها خلافا للغزالي ومن تبعه على كثرتهم إلى آخر ما أطال به، وفي الإمداد: اللائق بقاعدة تحريم المثلة إلا الدليل انه لا يجوز جرحه مطلقا.

اسعاد الرفيق، ج 2 ص 131

ومنها اتخاد الحيوان غرضا بالمعجمة ما ينصبه الرماة ويقصدون اصابته من نحو قرطاس لقوله عليه الصلاة والسلام لعن من اتخذ شيئا فيه الروح غرضا ، وقول ابن عمر رضي الله عنه وقد مر بفتيان نصبوا طيرا أو دجاجة يترامونها فلما رأوه تفرقوا: من فعل هذا؟ لعن الله من فعل هذا ان رسول الله صلى الله عليه وسلم لعن من اتخذ شيئا فيه الروح غرضا

b. Memancing di pemancingan umum yang semata-mata untuk hiburan, bukan untuk mengambil ikannya, dan lain sebagainya, hukumnya adalah haram karena tergolong menyiksa terhadap ikan. Dasar pengambilan hukum idem dengan sub a.

Bagaimanakah hukumnya memakan BELUT ?

Intinya khilaf, namun pendapat yang kuat adalah hukumnya halal. Ada kitab khusus yang membahas masalah ini namanya AS SOWAIQUL MUHRIQOH, atau biasa disebut KITAB BELUT.

{ أنكلس } … في حديث علي رضي اللّه عنه [ أنه بعث إلى السوُّق فقال : لا تأكلوا الأنْكَلِيس ] هو بفتح الهمزة وكسرها : سمك شبيه بالحيَّات ردِئ الغذاء وهو الذي يسمى الْمَارْمَاهِي . وإنما كرِهه لهذا لا لأنه حرام . هكذا يُروى الحديث عن علي رضي اللّه عنه . ورواه الأزهري عن عمار وقال : [ الأنْقلِيس ] بالقاف لغة فيه

[ INKILIIS, Belut ] Dalam hadits marfuu’nya sayyidina Ali ra, sesungguhnya beliau mengutus ke pasar kemudian berkata “Janganlah memakan belut”. Belut ialah hewn yang mirip ular yang buruk makanannya ia disebut juga dengan marmahi. Pelarangan di atas bukan ke arah hukum haram namun makruh. Demikianlah riwayat hadist dari sayyidina Ali ra. Al-Azhary dari ‘Ammaar meriwayatkan dengan menggunakan huruf Qaaf “INQLIISY”. [ An-Nihaayah Fii Ghariib al-Aatsaar I/183 ].

Dalam ibarah Al-Fiqh al-islaam I/30 belut  dihukumi HALAL :

والحكم الخاص بحل الجزء المبان من السمك يشمل جميع أنواع السمك ومنه الجريت بكسر المعجمة وتشديد المهملة وهو سمك اسود مدور

Hukum kehalalan yang berlaku pada bagian potongan tubuh dari ikan, mencakup pada seluruh species jenis-jenis ikan yang ada diantaranya belut yaitu ikan yang berwarna hitam dan berbentuk bulat. [ Al-Fiqh al-islaam I/30 ].

Berikut Istilah nama-nama untuk belut :

انقلس : الأنقيلس والأنقليس : سمكة على خلقة حية ، وهي عجمية . ابن الأعرابي : الشلق الأنكليس ، ومرة قال : الأنقليس ، وهو السمك الجري والجريت ; وقال الليث : هو بفتح اللام والألف ، ومنهم من يكسر الألف واللام ، قال الأزهري : أراها معربة .

INQILIS, ANQILIIS, INQILIIS : Ikan dengan bentuk fisik seperti ular, adalah hewan ‘Ajam (di luar arab) Ibn ‘Araby “Ikan kecil Ankaliis”. Marrah “Anqaliis adalah al-Jary dan al-Jiriit, belut”. Al-Lays “Dengan membaca fathah lam dan alifnya ANQALIIS, sebagian ada yang menkasrah lam dan alifnya INQILIIS. Al-Azhary “Menurutku memang bentuk kalimat yang mu’rab”. [ Lisaan al-‘Araab hal 177 ].

Mengambil JAMUR di tanah Orang (SAMA DENGAN MENGAMBIL BELUT DI SAWAH ORANG LAIN)

Bagaimana hukum nya ngambil jamur di tanah orang ?

BOLEH apabila pemiliknya sudah tidak memperdulikannya lagi atau meyakini bahwa pemilik merelakannya.

Jika sebalikanya maka TIDAK BOLEH, seperti halnya pemilik pohon pelit atau pohon buah tersebut dipagari, maka haram mengambilnya.

أسنى المطالب الجزء 1 صحـ : 574 مكتبة دار الكتاب الإسلامي

وَالثِّمَارُ وَالزَّرْعُ فِي التَّحْرِيمِ ) عَلَى غَيْرِ مَالِكِهَا وَالْحِلِّ لَهُ ( كَغَيْرِهَا ) فَلاَ يُبَاحُ لَهُ بِغَيْرِ إذْنِ مَالِكِهَا إِلاَّ عِنْدَ اضْطِرَارِهِ فَيَأْكُلُ وَيَضْمَنُ  فَلَوْ جَرَتِ الْعَادَةُ بِأَكْلِ مَا تَسَاقَطَ ) مِنْهَا ( جَازَ ) إِجْرَاءً لَهَا مَجْرَى اْلإِبَاحَةِ لِحُصُوْلِ الظَّنِّ بِهَا كَمَا يَحْصُلُ بِحَمْلِ الصَّبِيِّ الْمُمَيِّزِ الْهَدِيَّةَ قَالَ الزَّرْكَشِيُّ وَيَنْبَغِيْ أَنْ يُسْتَثْنَى مَا إِذَا كَانَ ذَلِكَ لِمَنْ لاَ يُعْتَبَرُ إذْنَهُ كَيَتِيمٍ وَأَوْقَافٍ عَامَّةٍ ِلأَنَّ صَرِيحَ إِذْنِهِ لاَ يُؤَثِّرُ فَمَا يَقُوْمُ مَقَامَهُ أَوْلَى قَالَ وَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ عَبْدِ السَّلاَمِ مِثْلَ ذَلِكَ فِي الشُّرْبِ مِنَ الْجَدَاوِلِ وَاْلأَنْهَارِ الْمَمْلُوْكَةِ وَهَذَا أَوْلَى مِنْهُ ( إِلاَّ إِنْ حُوِّطَ عَلَيْهِ ) أَيْ مَا ذُكِرَ مِنَ الثِّمَارِ وَالزُّرُوعِ ( أَوْ مَنَعَ ) مِنْهُ ( الْمَالِكُ ) ِلأَنَّ ذَلِكَ يَدُلُّ عَلَى شُحِّهِ وَعَدَمِ مُسَامَحَتِهِ اهـ

Buah-buahan dan tanaman dalam hukum halal haramnya diambil selain pemiliknya sama dengan barang-barang lainya dalam arti tidak halal mengambilnya tanpa seizin pemiliknya kecuali dalam kondisi terpaksa maka boleh mengambil dan memakannya namun harus mengganti.

Bila dalam masyarakat berkembang kebiasaan diperkenankan memungut buah-buahan dan tanaman yang terjatuh maka secara agama juga diperlakukan hukum yang sama karena artinya pemiliknya diduga juga memperbolehkannya sebagaimana bolehnya memungut hadiah dari bocah yang sudah tamyiz.

Berkata az-Zarkasyi “Semestinya dalam hal ini diberi pengecualian pada hal yang tidak bisa dipertimbangkan lagi pemberian izinnya seperti izin dari anak yatim dan tempat-tempat wakaf umum karena meskipun perizinan dengan kata jelaspun darinya tidak berpengaruh maka hal yang serupa kedudukannya dengannya lebih baik dianalogkan juga dengannya”.

Ibn Salam berkata “Serupa dengannya minum ditempat anak-anak sungai atau kali yang dipunyai seseorang”Kecuali saat Buah-buahan dan tanaman tersebut dipagari atau pemiliknya melarang mengambilnya karena yang demikian menunjukkan sifat kikirnya pemilik dan tidaka adanya toleransi darinya. Asnaa al-Mathaalib I/574

تحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء 9 صحـ : 337 مكتبة دار إحياء التراث العربي

وَيَحْرُمُ أَخْذُ ثَمَرٍ مُتَسَاقِطٍ إنْ حُوِّطَ عَلَيْهِ وَسَقَطَ دَاخِلَ الْجِدَارِ وَكَذَا إِنْ لَمْ يُحَوَّطْ عَلَيْهِ أَوْ سَقَطَ خَارِجَهُ لَكِنْ لَمْ تُعْتَدِ الْمُسَامَحَةُ بِأَخْذِهِ وَفِي الْمَجْمُوْعِ مَا سَقَطَ خَارِجَ الْجِدَارِ إنْ لَمْ تُعْتَدْ إِبَاحَتُهُ حَرُمَ وَإِنِ اعْتِيدَتْ حَلَّ

Dan haram memungut buah-buahan yang telah jatuh bila dipagari dan jatuh didalam tembok pagar atau jatuh diluar tembok pagar hanya saja tidak terjadi kebiasaan masyarakat ditoleransi menmungutnya.

Dalam kitab al-Majmu’ dijelaskan “Benda yang jatuh diluar tembok pagar bila tidak umum di masyarakat maka haram memungutnya bila umum maka halal .Tuhfah al-Muhtaaj IX/337

Wallahu A’lamu Bis Showab.

LIHAT JUGA :

UREK UREK MENANGKAP BELUT DI SAWAH DAPET SATU BESAR……

HUKUM MEMAKAN IKAN YANG MASIH ADA KOTORANYA

HUKUM MEMAKAN IKAN TANPA MEMBUANG KOTORANNYA

Bagaimana hukumnya memakan ikan kecil seperti ikan teri atau yang lainnya yang tidak di buang kotorannya?

JAWABAN

Memakan ikan yang di dalamnya ada kotorannya hukumnya boleh karena kotoran dari ikan kecil hukumi suci, bahkan menurut imam Romliy kotorannya ikan itu suci baik ikan kecil maupun ikan besar :

وعبارته : وقد اتفق ابن حجر وزياد و م ر وغيرهم على طهارة ما في جوف السمك الصغير من الدم والروث وجواز أكله معه وإنّه لا ينجس به الدهن بل جرى عليه م ر الكبير ايضا لأن لنا قولا قويا أن السمك لادم له . إهـ

( بغية المشترسدين ص 15 )

وأما حكم الروث فيعفى عنه في السمك الصغير دون الكبير فلا يجوز أكله إذا لم ينزع ما في جوفه لامتزاج لحمه بفضلاته التي في باطنه بواسطة الملح.

(نهاية الزين : ص : ٤٣

Kalau ikannya terbilang kecil maka tidak apa-apa. Tapi kalau ikannya tergolong besar maka kotorannya wajib dibuang. Ukuran besar atau kecil adalah kembali kepada ‘urf (penilaian umum di masyarakat).

Kotoran ikan adalah najis dan wajib dibuang. Tapi dimaafkan, jika sulit membuangnya yakni pada ikan-ikan kecil.

 “Ghoyah At-Talkhiish” Hamisy Bughyah halaman 254

(مسألة): روث السمك نجس، ويجوز أكل صغاره قبل شقّ جوفه، ويعفى عن روث تعسر تنقيته وإخراجه، لكن يكره كما في الروضة، ويؤخذ منه أنه لا يجوز أكل كباره قبل إخراج روثه لعدم المشقة في ذلك

(Masalah) Kotoran ikan adalah najis. Boleh memakan ikan-ikan kecil sebelum ikan tersebut dibersihkan dari kotorannya, dan dimaafkan bagi kotoran yang sulit dibersihkan dan dikeluarkan, tetapi makruh (memakannya) sebagaimana disebutkan dalam kitab Ar-Raudhah. Dari itulah dapat diambil kesimpulan bahwa ikan-ikan besar tidka boleh dimakan sebelum dikeluarkan kotorannya, karena tidak adanya kesulitan untuk melakukan itu.”Ikan yg kotorannya tidak dibuang. Tidak boleh dikonsumsi, karena ‘ainun najasah (kotorannya) masih melekat.

وَلَا يَحِلُّ أَكْلُ سَمَكِ مِلْحٍ وَلَمْ يُنْزَعْ مَا فِيْ جَوْفِهِ لِأَنَّهُ فِي أَكْلِ السَّمَكَةِ كُلِّهَا مَعَ مَا فِيْ جَوْفِهَا مِنَ النَّجَاسَةِ

(الفتاوى الكبرى الفقهية باب المسابقة والمناضلة )

Tidaklah halal memakan hewan laut yang tidak dibuang isi perutnya karena itu berarti memakan ikan bersama najis yang ada di dalam perutnya.

 (قول الشارح جواز أكل الصغير) في البجيرمي على الخطيب ما نصه ما يصدق عليه عرفا انه صغير فيدخل فيه كبار البسارية المعروفة بمصر و ان كان قدر اصبعين مثلا كما في ع ش على ر م لا ان كان كبيرا اهـ مؤلف

و نقل فى الجواهر عن الاصحاب لا يجوز اكل سمك ملح و لم ينزع ما فى جوفه اى من المستقذرات. وظاهره لا فرق بين كبيره و صغيره، و لكن ذكر الشيخان جواز اكل الصغير مع ما في جوفه لعسر تنقية ما فيه. (قوله لكن ذكر الشيخان جواز اكل الصغير الخ) و قوله مع ما في جوفه قال البجيرمي و ان كان الأصح نجاسته

اعانة ج 1 ص91

Kesimpulan

Ada ikhtilaf ulama dalam masalah kotoran pada ikan yang di ketegorikan Besar , maka dalam masalah ini ada baiknya menggunakan qoidah ” Al Khuruju minal khilafi mustahabun ” . Artinya : ” keluar dari ikhtilaf itu di sunahkan “

Khusus untuk ikan yang tergolong besar,maka ada baiknya dibersihkan dulu kotorannya sebelum dimasak.

BACA JUGA :

KUCING YANG MENJADI HAMA APAKAH BOLEH DI BUNUH?

MEMAKAN IKAN BANDENG YANG MASIH ADA KOTORANNYA

Bagaimana hukumnya makan ikan “BANDENG” yang ternyata ketika di goreng masih ada kotoranya?

JAWABAN :

Dalam hal ini Imam Ibnu Hajar dan Imam Romli sepakat bahwa apa saja yang terdapat dalam ikan ikan kecil,baik darah atau kotoran dianggap suci dan diperbolehkan memakannya meskipun bersamaan kotoran .Bahkan Imam Romli memutlakkan ,baik ikan besar atau kecil sama saja.

وعبارته : وقد اتفق ابن حجر وزياد و م ر وغيرهم على طهارة ما في جوف السمك الصغير من الدم والروث وجواز أكله معه وإنّه لا ينجس به الدهن بل جرى عليه م ر الكبير ايضا لأن لنا قولا قويا أن السمك لادم له . إهـ

( بغية المشترسدين ص 15 )

وأما حكم الروث فيعفى عنه في السمك الصغير دون الكبير فلا يجوز أكله إذا لم ينزع ما في جوفه لامتزاج لحمه بفضلاته التي في باطنه بواسطة الملح.

(نهاية الزين ج: 1 ص: 43

(مسألة: ب): ذهب بعضهم إلى طهارة روث المأكول، بل ذهب آخرون إلى طهارة جميع الأرواث حتى من الكلب إلا الآدمي

بل جرى عليه م ر الكبير ايضا لأن لنا قولا قويا أن السمك لادم له . إهـ

و نقل فى الجواهر عن الاصحاب لا يجوز اكل سمك ملح و لم ينزع ما فى جوفه اى من المستقذرات. وظاهره لا فرق بين كبيره و صغيره، و لكن ذكر الشيخان جواز اكل الصغير مع ما في جوفه لعسر تنقية ما فيه

فتح المعين ١٢

tidak boleh memakan ikan asin yg tidak dikeluarkan isi perutnya baik ikan itu kecil atau pun besar,namun ada yg berpendapat bahwa boleh mengkonsumsi ikan kecil beserta isi perutnya lantarn sulitnya membersihkannya.

Kalau ikannya terbilang kecil maka tidak apa-apa. Tapi kalau ikannya tergolong besar maka kotorannya wajib dibuang. Ukuran besar atau kecil adalah kembali kepada ‘urf (penilaian umum di masyarakat).

Kotoran ikan adalah najis dan wajib dibuang. Tapi dimaafkan, JIKA SULIT MEMBUANGNYA yakni pada ikan-ikan kecil.

Ghoyah At-Talkhiish  Hamisy Bughyah halaman 254

(مسألة): روث السمك نجس، ويجوز أكل صغاره قبل شقّ جوفه، ويعفى عن روث تعسر تنقيته وإخراجه، لكن يكره كما في الروضة، ويؤخذ منه أنه لا يجوز أكل كباره قبل إخراج روثه لعدم المشقة في ذلك

(Masalah) Kotoran ikan adalah najis. Boleh memakan ikan-ikan kecil sebelum ikan tersebut dibersihkan dari kotorannya, dan dimaafkan bagi kotoran yang sulit dibersihkan dan dikeluarkan, tetapi makruh (memakannya) sebagaimana disebutkan dalam kitab Ar-Raudhah. Dari itulah dapat diambil kesimpulan bahwa ikan-ikan besar tidka boleh dimakan sebelum dikeluarkan kotorannya, karena tidak adanya kesulitan untuk melakukan itu.”Ikan yg kotorannya tidak dibuang. Tidak boleh dikonsumsi, karena ‘ainun najasah (kotorannya) masih melekat.

وَلَا يَحِلُّ أَكْلُ سَمَكِ مِلْحٍ وَلَمْ يُنْزَعْ مَا فِيْ جَوْفِهِ لِأَنَّهُ فِي أَكْلِ السَّمَكَةِ كُلِّهَا مَعَ مَا فِيْ جَوْفِهَا مِنَ النَّجَاسَةِ (الفتاوى الكبرى الفقهية باب المسابقة والمناضلة )

Tidaklah halal memakan hewan laut yang tidak dibuang isi perutnya karena itu berarti memakan ikan bersama najis yang ada di dalam perutnya.

‎(قول الشارح جواز أكل الصغير) في البجيرمي على الخطيب ما نصه ما يصدق عليه عرفا انه صغير فيدخل فيه كبار البسارية المعروفة بمصر و ان كان قدر اصبعين مثلا كما في ع ش على ر م لا ان كان كبيرا اهـ مؤلف (عغانة الطالبين ج 1 ص 91_تقريرات المؤلف الحاشية)

 و نقل فى الجواهر عن الاصحاب لا يجوز اكل سمك ملح و لم ينزع ما فى جوفه اى من المستقذرات. وظاهره لا فرق بين كبيره و صغيره، و لكن ذكر الشيخان جواز اكل الصغير مع ما في جوفه لعسر تنقية ما فيه. (قوله لكن ذكر الشيخان جواز اكل الصغير الخ) و قوله مع ما في جوفه قال البجيرمي و ان كان الأصح نجاسته (اعانة ج 1 ص 91)

HALAL KAH HEWAN YANG DIBERI MAKAN DENGAN KOTORAN MANUSIA

Bagaimana hukumnya memakan ikan lele yang di kasih makan kotoran kita sendiri?

JAWABAN :

Bila terjadi perubahan pada bau, rasa atau warna pada daging lele yang diberi makan kotoran manusia tersebut maka mengkonsumsi daging lele tersebut hukumnya MAKRUH, bila tidak terjadi perubahan pada dagingnya meskipun ia hanya diberikan makanan kotoran manusia maka tidak makruh.

ويكره جلالة ولو من غير نعم كدجاج إن وجد فيها ريح النجاسة( قوله ويكره جلالة ) أي ويكره أكل لحم الجلالة وبيضها وكذا شرب لبنها لخبر أنه صلى الله عليه وسلم نهى عن أكل الجلالة وشرب لبنها حتى تعلف أربعين ليلة رواه الترمذي وزاد أبو داود وركوبها والجلالة هي التي تأكل الجلة وهي بفتح الجيم وكسرها وضمها البعرة كذا في القاموس لكن المراد بها هنا النجاسة مطلقا ..وقوله إن وجد فيها ريح النجاسة تقييد للكراهة أي محل الكراهة إن ظهر في لحمها ريح النجاسة ومثله ما إذا تغير طعمه أو لونه وعبارة التحفة مع الأصل وإذا ظهر تغير لحم جلالة أي طعمه أو لونه أو ريحه كما ذكره الجويني واعتمده جمع متأخرون ومن اقتصر على الأخير أراد الغالب اه فإن لم يظهر ما ذكر فلا كراهة وإن كانت لا تأكل إلا النجاسة

Dan makruh hukumnya memakan daging jallaalah meskipun bukan dari jenis binatang ternak seperti ayam bila terdapati bau najisnya

(Keterangan dan makruh hukumnya memakan daging jallaalah) artinya hukumnya memakan daging serta telur jallaalah makruh begitu juga meminum susunya berdasarkan hadits nabi “Rasulullah SAW melarang memakan daging serta susu jallaalah hingga ia diberi makan (biasa) selama 40 malam” (HR. At-Turmudzy, dan Abu Daud menambahkan ‘dan menungganginya’). Jallaalah ialah hewan yang memakan kotoran hewan, namun yang dimaksud dalam hadits ini adalah memakan najis secara mutlak.

(Keterangan bila terdapati bau najisnya) adalah pembatasan atas hukum makruh dalam arti bila memang daging hewan tersebut terdapati bau, rasa atau warna dari najis yang menjadi makanannya maka makruh memakan dagingnya.Keterangan dalam kitab at-tuhfah “Bila nampak perubahan pada rasa, atau warna, atau bau pada daging Jallaalah sepertiyang dituturkan oleh al-Juwainy dan dijadikan pegangan oleh golongan ulama-ulama mutaakhiriin, ulama yang hanya mensyaratkan perubahan terjadi pada baunya karena menimbang pada kebiasaan terjadinya perubahan.Dan bila tidak tampak perubahan pada bau, rasa, atau warna pada daging Jallaalah maka tidak makruh memakannya meskipun ia tidak memakan makanan selain dari barang najis.

I’anah at-Tholibin II/351

Imam al-Syairazy dalam al-muhazzab kitab al-ath’imah berkata: makruh hukumnya makan daging jullalah, yaitu binatang yang makanan utamanya kotoran, seperti unta sapi, kambing, atau ayam, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas (bahwasanya Rasul melarang menkonsumsi susu binatang jullalah) dan hukumnya tidak haram memakannya karena tidak ada perubahan daging yang mencolok, hal ini tidak mewajibkan pengharaman, jika binatang jullalah memakan makanan yang bersih dan dagingnya menjadi baik, maka hukumnya tidak makruh.

ويكره أكل الجلالة ، وهي التي أكثر أكلها العذرة من ناقة أو بقرة أو شاة أو ديك أو دجاجة ، لما روى ابن عباس رضي الله عنهما { أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن ألبان الجلالة } ولا يحرم أكلها لأنه ليس فيه أكثر من تغير لحمها وهذا لا يوجب التحريم ، فإن أطعم الجلالة طعاما طاهرا وطاب لحمها لم يكره

Imam Al-nawawi dalam al-majmu’ syarah al-muhazzab kitab al-ath’imah bab al-jullalah menjelaskan sebagai berikut:

(Penjelasan) hadits ibnu abbas itu shahih diriwayatkan oleh abu dawud, tirmidzi, nasa’i, dengan isnad yang shahih. Al-tirmidzi berkata : itu hadits hasan shahih. sahabat-sahabat kami berpendapat: al-jullalah adalah hewan yang memakan sampah dan benda najis, bisa jadi itu unta , sapi, kambing, ayam. Dikatakan, jika sebagian besar makanannya adalah benda najis, maka itulah jullalah, jika makanannya sebagian besar benda suci, maka bukan disebut jullalah. Qaul shahih menurut jumhur itu tidak ada ukuran banyak sedikit. Ukurannya adalah bau. Jika menurut urf (kebiasaan) didapati bau benda najis (dalam tubuh binatang) maka itulah jullalah, jika sebaliknya, maka tidak. Jika daging binatang jullalah itu berubah, maka hukumnya itu makruh tanpa ada perselisihan.

( الشرح ) حديث ابن عباس صحيح رواه أبو داود والترمذي والنسائي بأسانيد صحيحة ، قال الترمذي : هو حديث حسن صحيح ، قال أصحابنا : الجلالة هي التي تأكل العذرة والنجاسات ، وتكون من الإبل والبقر والغنم والدجاج ، وقيل : إن كان أكثر أكلها النجاسة فهي جلالة ، وإن كان الطاهر أكثر فلا ، والصحيح الذي عليه الجمهور أنه لا اعتبار بالكثرة ، وإنما الاعتبار بالرائحة والنتن فإن وجد في عرفها وغيره ريح النجاسة فجلالة ، وإلا فلا ، وإذا تغير لحم الجلالة فهو مكروه بلا خلاف

Jadi, hukum makan daging binatang jullalah, seperti ikan lele yang diberi makan dari kotoran dan benda najis itu hukumnya makruh, jika bau kotoran atau benda najis itu dominan terdapat di dalam daging binatang jullalah itu.

Wallaahu A’lamu Bis Showwab.

LIHAT JUGA :

MENANGKAP IKAN DENGAN CARA TRADITIONAL

HUKUM MENGAMBIL AIR MASJID UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI, BOLEHKAH?

Mohon penjelasannya bagaimana kah hukumnya mengambil air dari sumur masjid untuk kepentingan pribadi ?

Jawaban :

Ketika waqif (orang yang mewakafkan) meng-ijmalkan (tidak memberikan batasan) atas benda yang ia wakafkan unruk masjid, maka diperbolehkan mengambil air sumur dari sumur masjid tersebut karena dicukupkan dengan tradisi yang berlaku dimana masyarakat umum biasa mengambil air sumur masjid untuk kepentingan pribadi.

Tapi apabila waqif memberi batasan (qoyyid) bahwa benda yang diwakafkan hanya boleh dipakai untuk kepentingan masjid, maka tidak diperbolehkan mengambil air sumur masjid untuk kepentingan pribadi. Wallahu a’lam.

Referensi :

  1. Tuhfah al Muhtaj juz 6 hal. 260

حيث أجمل الواقف شرطه اتبع فيه العرف المطرد في زمنه؛ لأنه بمنزلة شرطه ثم ما كان أقرب إلى مقاصد الواقفين كما يدل عليه كلامهم ومن ثم امتنع في السقايات المسبلة على الطرق غير الشرب ونقل الماء منها ولو للشرب وظاهر كلام بعضهم اعتبار العرف المطرد الآن في شيء فيعمل به أي عملا بالاستصحاب المقلوب؛ لأن الظاهر وجوده في زمن الواقف وإنما يقرب العمل به حيث انتفى كل من الأولين

KETIKA RUMAH JAUH PEMUKIM TIDAK TETAP BOLEH TAK JUM’ATAN

BOLEH PEMUKIM TIDAK TETAP (GHAIRU MUSTAUTIN) SHALAT ZHUHUR SEBAGAI PENGGANTI JUM’AT DENGAN SYARAT

  1. Boleh shalat Jumat diganti dengan shalat Zhuhur dengan syarat: (a) kalau memang di kota tempat anda tinggal orang muslim yang mukim tetap (mustautin) tidak sampai 40 orang; (b) tidak ada masjid di tempat di mana kita tinggal; atau (c) ada masjid di luar kota yang dibuat Jumat namun kita tidak mendengar suara adzan muadzinnya kalau tanpa pengeras suara.

Ulama membagi tempat yang dipakai shalat Jumat menjadi dua: pertama, tempat shalat Jumat terdapat di luar kota, maka tidak wajib Jumat kecuali bagi yang mendengar suara adzannya menurut jumhur ulama. Kedua, ada masjid di kota atau desa kita, maka wajib shalat Jumat baik mendengar suara adzannya atau tidak.

Al-Syairazi dalam Al-Muhadzab, hlm. 4/353, menyatakan:

ولا تجب على المقيم في موضع لا يسمع النداء من البلد الذي تقام فيها الجمعة أو القرية التي تقام فيها الجمعة لما روى عبد الله بن عمرو أن النبي صلى الله عليه وسلم قال { الجمعة على من سمع النداء

Artinya: Tidak wajib shalat Jumat bagi seorang yang mukim di suatu tempat yang tidak mendengar adzan dari kota atau desa yang didirikan shalat Jum’at berdasarkan pada hadits Ibnu Amr Nabi bersabda: Jumat itu wajib bagi orang yang mendengar suara adzan.

Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah dari Ali Nabi bersabda:

لا جمعة ولا تشريق ولا صلاة فطر ولا أضحى إلا في مصر جامع أو مدينة عظيمة

Artinya: Tidak ada shalat Jum’at, shalat tasyriq, shalat Idul Fitri, shalat Idul Adha kecuali di kota yang ada masjid jamiknya (yang dibuat Jumat) atau kota besar.

Bagi yang tidak ada masjid di daerahnya, tapi dia mendengar suara adzan dari masjid desa atau kota tetangga, maka tetap wajib Jum’at. Nabi bersabda dalam hadits sahih riwayat Ibnu Majah dari Ibnu Abbas:

وروى ابن ماجه (793) عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلاةَ لَهُ إِلا مِنْ عُذْرٍ

Artinya: Barangsiapa yang mendengar suara adzan lalu tidak mendatangi (panggilan itu) maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur.

Dalam menjelaskan maksud hadits di atas, Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 4/353 berkata:

الاعتبار في سماع النداء : أن يقف المؤذن في طرف البلد والأصوات هادئة والريح ساكنة ، وهو مستمع فإذا سمع لزمه ، وإن لم يسمع لم يلزمه

Artinya: Yang dianggap dalam mendengarkan adzan adalah muadzin berdiri di pinggir kota/desa, suara dalam keadaan tenang dan angin tidak berhembus sedangkan ia sedang mendengarkan, maka apabila mendengar wajib datang ke masjid, apabila tidak mendengar maka tidak wajib baginya.

Adapun syarat wajibnya Jum’at harus adanya 40 orang pemukim tetap, Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 4/353 menjelaskan:

قال الشافعي والأصحاب : إذا كان في البلد أربعون فصاعدا من أهل الكمال وجب الجمعة على كل من فيه وإن اتسعت خطة البلد فراسخ ، وسواء سمع النداء أم لا ، وهذا مجمع عليه

Artinya: Imam Syafi’i dan ulama madzhab Syafi’iyah berkata, “Apabila di suatu kota terdapat 40 orang atau lebih dari ahlul kamal (pemukim tetap, laki-laki akil baligh), maka wajib shalat Jum’at bagi setiap orang yang ada di tempat tersebut walaupun luas daerahnya. Baik mendengar suara adzan atau tidak.

SHALAT ZHUHUR BERJAMAAH PENGGANTI JUMAT

Apabila shalat Jumat tidak dilaksanakan karena tidak terpenuhi syarat-syaratnya, maka otomatis muslim yang ada di tempat tersebut wajib melakukan shalat Zhuhur. Namun sangat dianjurkan untuk melakukan shalat Zhuhur secara berjamaah. Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 4/360 menyatakan:

قال الشافعي والأصحاب : ويستحب للمعذورين الجماعة في ظهرهم ، وحكى الغزالي والرافعي أنه لا يستحب لهم الجماعة ; لأن الجماعة المشروعة هذا الوقت الجمعة ، وبهذا قال الحسن بن صالح وأبو حنيفة والثوري ، والمذهب الأول كما لو كانوا في غير البلد ، فإن الجماعة تستحب في ظهرهم بالإجماع

Artinya: Imam Syafi’i dan ulama madzhab Syafi’iyah berkata “Sunnah bagi muslim yang tidak shalat Jum’at karena udzur untuk shalat berjamaah Zhuhur. Al-Ghazali dan Ar-Rofi’i meriwayatkan bahwa tidak sunnah berjamaah karena berjamaah yang sunnah pada waktu ini adalah shalat Jum’at. Ini pendapat Al-Hasan bin Shaleh, Abu Hanifah dan Tsauri. Pendapat yang dipilih adalah yang pertama (sunnah berjamaah) sebagaimana apabila mereka berada di luar kota di mana sunnah shalat berjamaah shalat Zhuhur menurut ijmak ulama.

BATASAN MUSAFIR

  1. Seseorang itu disebut musafir selama 3 hari tinggal di tempat lain dari rumahnya. Apabila lebih dari 3 hari, maka dalam terminologi syariah dia disebut dengan mukim non-mustautin (pemukim tidak tetap). Pemukim tidak tidak hukumnya wajib shalat Jum’at tapi tidak menjadi sahnya shalat Jumat. Artinya, kalau pemukim tetap berjumlah 30 orang, sedangkan sisanya yang 10 orang terdiri pemukim tidak tetap, maka shalat Jumatnya tidak sah dan tidak wajib mengadakan shalat Jum’at.

    BOLEH PEMUKIM TIDAK TETAP (GHAIRU MUSTAUTIN) SHALAT ZHUHUR SEBAGAI PENGGANTI JUM’AT DENGAN SYARAT

    1. Boleh shalat Jumat diganti dengan shalat Zhuhur dengan syarat: (a) kalau memang di kota tempat anda tinggal orang muslim yang mukim tetap (mustautin) tidak sampai 40 orang; (b) tidak ada masjid di tempat di mana kita tinggal; atau (c) ada masjid di luar kota yang dibuat Jumat namun kita tidak mendengar suara adzan muadzinnya kalau tanpa pengeras suara.

    Ulama membagi tempat yang dipakai shalat Jumat menjadi dua: pertama, tempat shalat Jumat terdapat di luar kota, maka tidak wajib Jumat kecuali bagi yang mendengar suara adzannya menurut jumhur ulama. Kedua, ada masjid di kota atau desa kita, maka wajib shalat Jumat baik mendengar suara adzannya atau tidak.

    Al-Syairazi dalam Al-Muhadzab, hlm. 4/353, menyatakan:

    ولا تجب على المقيم في موضع لا يسمع النداء من البلد الذي تقام فيها الجمعة أو القرية التي تقام فيها الجمعة لما روى عبد الله بن عمرو أن النبي صلى الله عليه وسلم قال { الجمعة على من سمع النداء

    Artinya: Tidak wajib shalat Jumat bagi seorang yang mukim di suatu tempat yang tidak mendengar adzan dari kota atau desa yang didirikan shalat Jum’at berdasarkan pada hadits Ibnu Amr Nabi bersabda: Jumat itu wajib bagi orang yang mendengar suara adzan.

    Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah dari Ali Nabi bersabda:

    لا جمعة ولا تشريق ولا صلاة فطر ولا أضحى إلا في مصر جامع أو مدينة عظيمة

    Artinya: Tidak ada shalat Jum’at, shalat tasyriq, shalat Idul Fitri, shalat Idul Adha kecuali di kota yang ada masjid jamiknya (yang dibuat Jumat) atau kota besar.

    Bagi yang tidak ada masjid di daerahnya, tapi dia mendengar suara adzan dari masjid desa atau kota tetangga, maka tetap wajib Jum’at. Nabi bersabda dalam hadits sahih riwayat Ibnu Majah dari Ibnu Abbas:

    وروى ابن ماجه (793) عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلاةَ لَهُ إِلا مِنْ عُذْرٍ

    Artinya: Barangsiapa yang mendengar suara adzan lalu tidak mendatangi (panggilan itu) maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur.

    Dalam menjelaskan maksud hadits di atas, Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 4/353 berkata:

    الاعتبار في سماع النداء : أن يقف المؤذن في طرف البلد والأصوات هادئة والريح ساكنة ، وهو مستمع فإذا سمع لزمه ، وإن لم يسمع لم يلزمه

    Artinya: Yang dianggap dalam mendengarkan adzan adalah muadzin berdiri di pinggir kota/desa, suara dalam keadaan tenang dan angin tidak berhembus sedangkan ia sedang mendengarkan, maka apabila mendengar wajib datang ke masjid, apabila tidak mendengar maka tidak wajib baginya.

    Adapun syarat wajibnya Jum’at harus adanya 40 orang pemukim tetap, Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 4/353 menjelaskan:

    قال الشافعي والأصحاب : إذا كان في البلد أربعون فصاعدا من أهل الكمال وجب الجمعة على كل من فيه وإن اتسعت خطة البلد فراسخ ، وسواء سمع النداء أم لا ، وهذا مجمع عليه

    Artinya: Imam Syafi’i dan ulama madzhab Syafi’iyah berkata, “Apabila di suatu kota terdapat 40 orang atau lebih dari ahlul kamal (pemukim tetap, laki-laki akil baligh), maka wajib shalat Jum’at bagi setiap orang yang ada di tempat tersebut walaupun luas daerahnya. Baik mendengar suara adzan atau tidak.

    SHALAT ZHUHUR BERJAMAAH PENGGANTI JUMAT

    Apabila shalat Jumat tidak dilaksanakan karena tidak terpenuhi syarat-syaratnya, maka otomatis muslim yang ada di tempat tersebut wajib melakukan shalat Zhuhur. Namun sangat dianjurkan untuk melakukan shalat Zhuhur secara berjamaah. Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 4/360 menyatakan:

    قال الشافعي والأصحاب : ويستحب للمعذورين الجماعة في ظهرهم ، وحكى الغزالي والرافعي أنه لا يستحب لهم الجماعة ; لأن الجماعة المشروعة هذا الوقت الجمعة ، وبهذا قال الحسن بن صالح وأبو حنيفة والثوري ، والمذهب الأول كما لو كانوا في غير البلد ، فإن الجماعة تستحب في ظهرهم بالإجماع

    Artinya: Imam Syafi’i dan ulama madzhab Syafi’iyah berkata “Sunnah bagi muslim yang tidak shalat Jum’at karena udzur untuk shalat berjamaah Zhuhur. Al-Ghazali dan Ar-Rofi’i meriwayatkan bahwa tidak sunnah berjamaah karena berjamaah yang sunnah pada waktu ini adalah shalat Jum’at. Ini pendapat Al-Hasan bin Shaleh, Abu Hanifah dan Tsauri. Pendapat yang dipilih adalah yang pertama (sunnah berjamaah) sebagaimana apabila mereka berada di luar kota di mana sunnah shalat berjamaah shalat Zhuhur menurut ijmak ulama.

    BATASAN MUSAFIR

    1. Seseorang itu disebut musafir selama 3 hari tinggal di tempat lain dari rumahnya. Apabila lebih dari 3 hari, maka dalam terminologi syariah dia disebut dengan mukim non-mustautin (pemukim tidak tetap). Pemukim tidak tidak hukumnya wajib shalat Jum’at tapi tidak menjadi sahnya shalat Jumat. Artinya, kalau pemukim tetap berjumlah 30 orang, sedangkan sisanya yang 10 orang terdiri pemukim tidak tetap, maka shalat Jumatnya tidak sah dan tidak wajib mengadakan shalat Jum’at.

DZIKIR FIDA : ANTARA PENANGGUNG KURANGNYA HITUNGAN DAN NGANTUK BERMASALAH

Dzikir fida’ telah menjadi amaliyah yang dilakukan secara meluas dikalangan masyarakat Nahdliyyin. Namun dalam pelaksanaannya masih banyak yang perlu dikoreksi semisal ketika seorang jamaah tertidur disaat berlangsungnya dzikir fida’ sehingga jumlah hitungan kurang dari seharusnya.

Pertanyaan:

    Jika hitungan dzikir fida’ kurang dari seharusnya seperti dalam deskripsi diatas, siapakah yang bertanggung jawab

Jawab :

Diperinci dengan rincian sebagai berikut :

    Apabila dalam majlis dzikir fida tersebut terjadi akad ijaroh maka yang bertanggung jawab adalah mustajir .

    Apabila tidak ada akad ijaroh ditafsil dengan rincian sebagai berikut:

    Apabila terdapat kesanggupan dari jamaah untuk menyelesaikan  maka menjadi tanggungan jamaah.

    Apabila sekedar taawun maka tidak menjadi tanggungan jamaah yang hadir.

    بغية المسترشدين – (ج 1 / ص 346)

(مسألة : ب) : أخلّ الأجير بشيء مما استؤجر عليه ، فإن كان لعذر ولم تمكنه استنابة من يقوم مقامه فينبغي أن لا يأثم ، لكنه لا يستحق شيئاً مدة الإخلال ولو في النادر ، إلا إن كان من المستثنيات شرعاً ، أو استثنى عند العقد أو لغير عذر وأمكنه الاستنابة حيث جوّزناها بأن وردت الإجارة على الذمة فلم يستنب أثم.

    [الإسراء/34]

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

Bagaimana hukum fida’ satu putaran (70.000) untuk dua orang atau lebih?

Jawab :

Khilaf

    Menurut imam ibnu hajar dan ini yang lebih hati2 adalah tidak mencukupi

    Menurut imam suyuti adalah mencukupi

    بغية المسترشدين – (ج 1 / ص 346)

(مسألة : ك) : استؤجر لقراءة شيء معين من القرآن لشخص ، واستؤجر لقراءة ذلك المعين أيضاً لآخر ، فاقتصر المستأجر على قراءة المعين ، ثم أهدى ثوابه للشخصين ، فالذي يظهر وهو الأحوط أنه لا يكفي على المعتمد الذي رجحه ابن حجر من حصول نفس الثواب ، أما على ما اعتمده السيوطي من أن الجعل على الدعاء فيكفي ، وينبغي أن يحافظ الأجير على قراءة البسملة أوّل كل سورة غير براءة ، إذ أكثر العلماء يقول إنها آية ، فإذا قرأها كان متيقناً قراءة الختمة أو السورة ، خصوصاً من استؤجر أو جوعل على قراءة الأجزاء والأسباع فيبرأ بيقين ، وإلا فلا يستحق الأجرة لما أخل به عند من يقول إنها آية ، ولو أخل ذو وظيفة كقراءة بها في بعض الأيام لم ينقطع استحقاقه لغير مدة الإخلال.

Bolehkah ketika membaca “laa ilaaha illallohu” selalu diniati sebagai dzikir fida’ sedangkan hitungannya kurang dari 70.000?

Jawab :

Kendati banyak dzikir dengan fadhilah yang sama namun yang dimaksud ‘ataqoh jalaliyyah, ’ataqoh shugro atau dzikir fida adalah membaca kalimat tauhid “laa ilaaha illalloh” 70.000 kali, sama seperti ketika surat shomadiyyah dibaca 100.000 kali maka dinamakan ‘ataqoh kubro/fida kubro. Dan untuk mencapai hitungan tersebut tidak disyaratkan mutawali (terus-menerus), maka diperbolehkan setiap membaca “laa ilaaha illallohu” selalu diniati sebagai dzikir fida untuk mencapai hitungan yang dimaksud.

    خزينة الاسرار ص: 188

وَاَيْضًا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ قَالَ لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ أَحَدًا وَسَبْعِيْنَ اَلْفًا اِشْتَرَى بِهِ نَفْسَهُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ رَوَاهُ اَبُوْ سَعِيْدٍ وَ عَائِشَةٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَكَذَا لَوْ فَعَلَهُ لِغَيْرِهِ أَقُوْلُ وَلَعَلَّ هَذَا الْحَدِيْثَ مُسْتَنَدُالسَّادَةِ الصُّوْفِيَّةِ فىِ تَسْمِيَّةِ الذِّكْرِ كَلِمَةَ التَّوْحِيْدِ بِهَذَا اْلعَدَدِ عَتَاقَةً جَلاَلِيَّةً وَاشْتَهَرَتْ فىِ ذَلِكَ حِكَايَةٌ ذَكَرَهَا الشَّيْخُ اْلاَكْبَرُ عَنِ اْلاِمَامِ أَبِي اْلعَبَّاسِ اْلقُطْبِ اْلقَسْطَلاَنِى نَقْلاً عَنِ الشَّيْخِ أَبِي الرَّبِيْعِ الْمَالِكِى دَالَّةً عَلىَ صِدْقِ هَذَا الْخَبَرِ بِطَرِيْقِ اْلكَشْفِ اهـ .

Rosulullah SAW. bersabda : “Barangsiapa yang membaca kalimat Laa Ilaaha Illallah sebanyak 71.000 maka dia telah membeli dirinya sendiri dari Allah Azza wa Jalla”. Hadits riwayat Abu Sa’id dan ‘Aisyah r.a. begitu juga kalau dia melakukan untuk orang lain. Hadits ini adalah sebagai sandaran dasar para Ulama’ Shufi untuk menamakan dzikir dengan kalimat tauhid dengan jumlah hitungan tersebut dengan nama ‘Ataqoh Jalaliyyah. Cerita tentang kebenaran dzikir ini sudah sangat masyhur, diantaranya yang ditutur oleh as-Syaikh al-Akbar dari Imam Abi al-Abbas al-Qutbi al-Qostholani dari Syaikh Abi Robi’ al-Maliki untuk menunjukkan kebenaran hadits ini dengancara mukasyafah.

    هامش نصائح العباد ص: 24 – 25 شركة المعارف بندوغ

روى أحمد وغيره حديث (جددوا إيمانكم قيل يا رسول الله كيف نجدد إيماننا قال: أكثروا من قول لا إله إلا الله) وروى أن الشيخ أبا الربيع المالقى كان على مائدة طعام وكان قد ذكر لا إله إلا الله سبعين ألف مرة وكان معهم على المائدة شاب من أهل الكشف فحين مد يده إلى الطعام بكى وامتنع من الطعام فقال له الحاضرون لم تبكى فقال أرى جهنم وأرى أمى فيها. قال الشيخ أبو الربيع فقلت فى نفسى اللهم إنك تعلم أنى قد هللت هذه السبعين ألفا وقد جعلتها عتق أم هذا الشاب من النار فقال الشاب الحمد لله أرى أمى قد خرجت من النار وما أدرى ما سبب خروجها وجعل هو يبتهج وأكل مع الجماعة وهذا التهليل بهذا العدد يسمى عتاقة صغرى كما أن سورة الصمدية إذا قرئت وبلغت مائة ألف مرة تسمى عتاقة كبرى ولو فى سنين عديدة فان الموالاة لا تشترط اهـ

LEBIH UTAMA MEMBELI PRODUK IMPOR ATAU YANG LOKAL

Sampai detik ini masih banyak anak-anak negeri ini lebih suka memakai barang-barang impor. Biasanya kalau ada jenis barang sama di mana yang satu adalah produk lokal sedang yang lainnya adalah barang impor, orang-orang kita cenderung memilih untuk membeli barang impor. Padahal secara kualitas tidak jauh beda bahkan mutu barang lokal itu kadang lebih bagus.

Pertanyaan yang ingin kami ajukan adalah bagaimana hukumnya lebih memilih barang impor ketimbang memilih untuk membeli barang lokal padahal secara kualitas adalah sama dan harganya tidak jauh berbeda?

Jawaban

Fenomena produk impor dari luar negeri yang terus membanjiri negeri kita adalah hal yang bisa mengandung nilai positif dan negatif. Hadirnya produk-produk tersebut menyebabkan konsumen dalam negeri memiliki banyak pilihan yang beragam.

Aktivitas jual-beli adalah termasuk dalam kategori mu’amalah. Sedang pada dasarnya hukum bermuamalah adalah boleh sepanjang tidak ada dalil yang melarangnya. Tidak ada nash yang secara tegas melarang seorang Muslim untuk membeli barang impor. Karena itu harus dikembalikan kepada hukum asalnya yaitu kebolehan untuk membeli barang impor sepanjang barang yang dibeli tersebut bukan termasuk barang yang diharamkan dalam pandangan Islam.

Namun persoalannya ternyata tidak sesederhana itu karena kecenderungan konsumen dalam negeri untuk lebih memlih produk impor ternayata disadari atau turut serta menghambat kemajuan perekenomian masyarakat dalam negeri itu sendiri.

Sebab, sejatinya apabila konsumen dalam negeri lebih senang membeli barang-barang impor maka yang akan memetik manfaat terbesar adalah produsen barang di luar negeri. Uang kita akan mengalir ke luar tanpa ada manfaat ekonomi ke dalam.

Hal Ini tentu menjadi problem tersendiri karena sikap lebih senang membeli barang impor malah menguntungkan pihak luar (i’anah ‘alal ghair) dan merugikan pihak dalam negeri secara ekonomi.

Dengan demikian kebiasaan untuk membeli barang impor daripada barang buatan dalam negeri padahal ada barang buatan dalam negeri yang sama-sama berkualitas merupakan kebiasaan yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Sebab, kebiasaan tersebut malah menguntungkan pihak luar dan merugikan bangsa sendiri.

وَمِنْ هَذِهِ الْعَادَاتِ وُلُوعُ النَّاسِ بِالشِّرَاءِ مِنَ الْأَجْنَبِيِّ يُفَضِّلُونَ عَلَى أَبْنَاءِ الْوَطَنِ

Artinya, “Dari salah satu kebiasaan (yang tidak baik) ini adalah orang lebih suka membeli (produk, pent) orang asing ketimbang produk anak negeri,” (Lihat Ali Mahfudl, Al-Ibda’ fi Madharil Ibtida’, [Riyadl, Maktabah Ar-Rusyd: 1421 H/2000 M], cet pertama,  halaman 354).

Berpijak dari sini maka sudah sepatutnya bagi kita untuk mencintai produk buatan dalam negeri. Karena dengan mencintainya, maka sama dengan membantu memperkuat ekonomi sesama anak bangsa. Lain halnya jika kita lebih cenderung memilih produk impor.

Jika penjelasan singkat ini ditarik dalam konteks pertanyaan di atas, maka jawaban atas pertanyaan tersebut adalah boleh membeli barang impor, tetapi kendati pun boleh tetapi sebaiknya dihindari jika memang masih ada produk dalam negeri karena berpotensi merugikan produsen dalam negeri sendiri.

Dengan kata lain, jika ada dua produk yang sama kualitas dan dengan harga yang tak jauh berbeda, di mana yang satu adalah produk impor sedang yang lainnya adalah produk dalam negeri, maka hukum membeli produk impor dalam konteks ini adalah makruh. Alasannya sebagaimana yang telah kami kemukakan di atas.

Untuk meningkatkan daya saing di antara gempuran produk-produk dari luar, para produsen lokal harus selalu membuat langkah-langkah terobosan dan inovatif sehingga membuat masyarakat lebih tertarik untuk melirik produk lokal. Sudah sepatutnya kita semua mendukung gerakan mencintai produk dalam negeri.

Hal penting yang perlu digarisbawahi adalah bahwa status hukum makruh tersebut mesti dibaca dalam konteks ketika barang yang kita perlukan tidak bisa dipenuhi oleh produk lokal, tetapi harus didatangkan dari luar.

WALLOHU A’LAM

LBM NU JEMBER MEMBAHAS JUM’ATAN DI JALAN RAYA

HMASS Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri bersama Darmadi Adi dan 4 lainnya.

28 November 2016 ·

Surat Pernyataan Sikap LBM PCNU Jember terhadap PBNU, tentang fatwa hukum shalat jumat di jalan dalam demonstrasi 212.

Di bawah ini hasil Bahtsul Masailnya:

BAHSUL MASA’IL LBM PCNU JEMBER TENTANG HUKUM SHALAT JUM’AT DI JALAN DALAM KONTEKS DEMONSTRASI 212

Deskripsi masalah

Dalam kongres PP. Muslimat NU ke-17 di Jakarta, Prof. Dr. KH. Said Agil Siradj memberi pernyataan bahwa melaksanakan salat Jumat di jalan raya tidak sah menurut mazhab Imam Syafi’i dan Maliki.

Di sisi lain, LBM PBNU, seperti diberitakan NU Online pada tanggal 24 November 2016, memutuskan bahwa salat jum’at di jalan sah menurut mayoritas ulama kecuali Imam Malik, tetapi haram disebabkan mengganggu ketertiban umum dan membuat kemacetan.

Sebelum itu semua, Dr. Abd. Moqsith Ghazali wakil ketua LBM PBNU juga mengatakan bahwa salat jumat di jalan raya tidak sah dengan berlandaskan pada keterangan Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ yang menyatakan bahwa salat Jum’at tidak sah kecuali dalam abniyah yang beliau pahami dengan makna bangunan yang terdiri dari kayu, batu, dan bahan-bahan material lainnya. Hal ini membuat masyarakat menjadi bingung.

(LDNU Jember)

*Pertanyaan*:

  1. Apa yang dimaksud dengan abniyah dalam bab Jumat pada kitab-kitab fikih?
  2. Bagaimana hukumnya salat Jumat selain di masjid?
  3. Bagaimana hukumnya bila salat Jumat dilaksanakan di jalan raya?
  4. Bagaimana hukumnya salat Jumat di jalan raya dalam konteks rencana demonstrasi 212 yang dianggap menimbulkan kemacetan dan mengganggu ketertiban umum?

*Jawaban*:

  1. Yang dimaksud _abniyah_ adalah area pemukiman penduduk, bukan suatu bangunan.

Ini berarti salat Jumat harus dilaksanakan di area pemukiman, bukan harus di dalam bangunan.

كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار (ص: 142)

لصِحَّة الْجُمُعَة شُرُوط بَقِيَّة شُرُوط الصَّلَاة مِنْهَا دَار الْإِقَامَة وَهِي عبارَة عَن الْأَبْنِيَة الَّتِي يستوطنها الْعدَد الَّذين يصلونَ الْجُمُعَة سَوَاء فِي ذَلِك المدن والقرى والمغر الَّتِي تتَّخذ وطناً

النجم الوهاج في شرح المنهاج 2/457

قال: (الثاني: أن تقام في خطة أبنية أوطان المجمعين) – وهم: عدد تنعقد بهم الجمعة فصاعدا- أي: تشترط إقامتها في بقعة معدودة من بلد

المجموع شرح المهذب – (ج 4 / ص 505)

* (فرع) لا تصح الجمعة عندنا إلا في أبنيه يستوطنها من تنعقد بهم الجمعة ولا تصح في الصحراء وبه قال مالك وآخرون * وقال أبو حنيفة وأحمد يجوز اقامتها لاهل المصر في الصحراء كالعيد * واحتج أصحابنا بما احتج به المصنف ان النبي صلي الله عليه وسلم وأصحابه لم يفعلوها في الصحراء مع تطاول الازمان وتكرر فعلها بخلاف العيد وقد قال صلى الله عليه وسلم ” صلوا كما رأيتموني أصلي “

  1. Menurut madzhab Syafi’i , Hanafi dan Hanbali hukumnya sah selama berada di darul iqamah (area pemukiman penduduk).

Pendapat yang mengharuskan pelaksanaan sholat jum’at di masjid hanyalah madzhab Maliki

وقال في “طرح التثريب” (3/ 190) :

“مذهبنا [ أي : مذهب الشافعية ] : أن إقامة الجمعة لا تختص بالمسجد ، بل تقام في خِطة الأبنية ؛ فلو فعلوها في غير مسجد لم يُصلّ الداخل إلى ذلك الموضع في حالة الخطبة ، إذ ليست له تحية ” انتهى .

وقال في ” الإنصاف” (2/ 378) ـ من كتب الحنابلة ـ :

” قوله ( ويجوز إقامتها في الأبنية المتفرقة , إذا شملها اسم واحد ، وفيما قارب البنيان من الصحراء ) وهو المذهب مطلقا . وعليه أكثر الأصحاب . وقطع به كثير منهم . وقيل : لا يجوز إقامتها إلا في الجامع ” انتهى. وأما المالكية ، فاشترطوا لإقامتها الجامع ، كما سبق .قال خليل المالكي في شروط الجمعة : ” وبجامع مبني متحد “.

روضة الطالبين وعمدة المفتين (2/ 4)

الشَّرْطُ الثَّانِي: دَارُ الْإِقَامَةِ، فَيُشْتَرَطُ لِصِحَّةِ الْجُمُعَةِ دَارُ الْإِقَامَةِ، وَهِيَ الْأَبْنِيَةُ الَّتِي يَسْتَوْطِنُهَا الْعَدَدُ الَّذِينَ يُصَلُّونَ الْجُمُعَةَ، سَوَاءٌ فِيهِ الْبِلَادُ، وَالْقُرَى، وَالْأَسْرَابُ الَّتِي يَتَّخِذُهَا وَطَنًا، وَسَوَاءٌ فِيهِ الْبِنَاءُ مِنْ حَجَرٍ، أَوْ طِينٍ، أَوْ خَشَبٍ. وَأَمَّا أَهْلُ الْخِيَامِ النَّازِلُونَ فِي الصَّحْرَاءِ، وَيَتَنَقَّلُونَ فِي الشِّتَاءِ وَغَيْرِهِ، فَلَا تَصِحُّ جُمُعَتُهُمْ فِيهَا، فَإِنْ كَانُوا لَا يُفَارِقُونَهَا شِتَاءً وَلَا صَيْفًا، فَالْأَظْهَرُ أَنَّهَا لَا تَصِحُّ. وَالثَّانِي: تَصِحُّ وَتَجِبُ. وَلَوِ انْهَدَمَتْ أَبْنِيَةُ الْقَرْيَةِ، أَوِ الْبَلَدِ، فَأَقَامَ أَهْلُهَا عَلَى الْعِمَارَةِ، لَزِمَهُمُ الْجُمُعَةُ فِيهَا، سَوَاءٌ كَانُوا فِي مَظَالٍّ، أَوْ غَيْرِهَا، لِأَنَّهُ مَحَلُّ الِاسْتِيطَانِ. وَلَا يُشْتَرَطُ إِقَامَتُهَا فِي مَسْجِدٍ، وَلَا فِي كُنٍّ، بَلْ يَجُوزُ فِي فَضَاءٍ مَعْدُودٍ مِنْ خِطَّةِ الْبَلَدِ، فَأَمَّا الْمَوْضِعُ الْخَارِجُ عَنِ الْبَلَدِ الَّذِي إِذَا انْتَهَى إِلَيْهِ الْخَارِجُ لِلسَّفَرِ قَصَرَ، فَلَا يَجُوزُ إِقَامَةُ الْجُمُعَةِ فِيهِ.

الفقه على المذاهب الأربعة (1/ 351)

هل تصح صلاة الجمعة في الفضاء؟ اتفق ثلاثة من الأئمة على جواز صحة الجمعة في الفضاء، وقال المالكية: لا تصح إلا في المسجد وقد ذكرنا بيان المذاهب تحت الخط (1) .

(1) المالكية قالوا: لا تصح الجمعة في البيوت ولا في الفضاء، بل لا بد أن تؤدي في الجامع. الحنابلة قالوا: تصح الجمعة في الفضاء إذا كان قريباً من البناء، ويعتبر القرب بحسب العرف فإن لم يكن قريباً فلا تصح الصلاة، وإذا صلى الإمام في الصحراء استخلف من يصلي بالضعاف. الشافعية قالوا: تصح الجمعة في الفضاء إذا كان قريباً من البناء، وحد القرب عندهم المكان

  1. Hukum salat di ruas jalan tanpa sebab yang memperbolehkan adalah makruh. _Illat_ kemakruhannya adalah mengurangi kekhusyu’an dan mengganggu pengguna jalan.

البيان في مذهب الإمام الشافعي (2 / 113):

وتكره الصلاة في قارعة الطريق؛ لحديث عمر – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -، ولأنه لا يتمكن من الخشوع في الصلاة؛ لممر الناس فيها، ولأنها تداس بالنجاسات. فإن صلى في موضع منها، فإن تحقق طهارته، صحت صلاته، وإن تحقق نجاسته، لم تصح صلاته، وإن شك فيها، ففيه وجهان مضى ذكرهما في المياه.

الموسوعة الفقهية الكويتية (27 / 113-114):

اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي الأْمَاكِنِ الَّتِي تُكْرَهُ الصَّلاَةُ فِيهَا، وَإِلَيْكَ تَفْصِيل أَقْوَالِهِمْ:

ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إِلَى كَرَاهَةِ الصَّلاَةِ فِي الطَّرِيقِ، … قَال الْخَطِيبُ الشِّرْبِينِيُّ: قَارِعَةُ الطَّرِيقِ هِيَ أَعْلاَهُ، وَقِيل: صَدْرُهُ، وَقِيل: مَا بَرَزَ مِنْهُ، وَالْكُل مُتَقَارِبٌ، وَالْمُرَادُ هُنَا نَفْسُ الطَّرِيقِ، وَالْعِلَّةُ فِي النَّهْيِ عَنِ الصَّلاَةِ فِي قَارِعَةِ الطَّرِيقِ هِيَ لِشَغْلِهِ حَقَّ الْعَامَّةِ، وَمَنْعِهِمْ مِنَ الْمُرُورِ؛ وَلِشَغْل الْبَال عَنِ الْخُشُوعِ فَيَشْتَغِل بِالْخَلْقِ عَنِ الْحَقِّ.

  1. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, _illat_ dari kemakruhan salat di jalan adalah mengganggu pengguna jalan dan mengurangi kekhusyu’an, sedangkan dalam konteks tersebut illat itu tidak terpenuhi sebab jalan tersebut sudah dikondisikan sebagai tempat demonstrasi yang hal itu sudah dijamin dalam peraturan perundang-undangan.

Dalam formulasi fiqhiyyah dikenal kaidah:

الرضا بالشيء رضا بما يتولد منه واعتراف بصحته

“Kerelaan terhadap sesuatu adalah kerelaan terhadap segala yang ditimbulkannya dan pengakuan terhadap keabsahannya (Al – Asybah wa Nadhoir As- Subuky). “

Ketika demonstrasi sebagai wujud menyatakan pendapat di muka umum sudah dianggap sah menurut peraturan perundang-undangan maka segala konsekuensinya harus dianggap sah pula selama tidak melanggar aturan yang ada.

Dalam konteks inilah gangguan terhadap pengguna jalan tidaklah relevan bila dijadikan _illat_ kemakruhan salat Jumat di tengah jalan saat demonstrasi, apalagi bila demonstrasinya dimulai sejak sebelum waktu dhuhur karena tempat tersebut memang diperuntukkan untuk warga yang ingin menyampaikan aspirasinya.

Hal ini juga sesuai dengan kaidah lain yang menyatakan:

الحكم يدور مع علته وجودا وعدما

“Hukum itu berlaku sesuai ada atau tidak adanya illatnya” (Ushul al-Sarakhsi)

Andai tetap dianggap sebagai hal yang mengganggu, maka hal tersebut tidak menyebabkan salatnya batal, hanya sekedar makruh dilakukan sebagaimana keterangan berikut:

الفِقْهُ الإسلاميُّ وأدلَّتُهُ 2/152

الصلاة في قارعة الطريق، أي أعلاه أو أوسطه: مكروهة عند الحنفية والشافعية ؛ لأن الطريق ممر الناس، فلا يؤمن من المرور، ولا من النجاسة، إذ لا تخلو من الأرواث والأبوال، فينقطع الخشوع بممر الناس، فإن صلى فيه، صحت الصلاة؛ لأن المنع لترك الخشوع، أو لمنع الناس من الطريق، وذلك لا يوجب بطلان الصلاة، ولقوله صلّى الله عليه وسلم : «جعلت لي الأرض مسجداً وطهوراً:» وفي لفظ: «فحيثما أدركتك الصلاة، فصل، فإنه مسجد» وفي لفظ : «أينما أدركتك الصلاة فصل، فإنه مسجد» . وذكر الشافعية: أن الصلاة تكره في الأسواق والرحاب الخارجة عن المسجد.

وقال المالكية: تجوز الصلاة بلا كراهة في محجة الطريق والمزبلة والمقبرة والحمام والمجزرة، أي وسطها إن أمنت النجاسة. فإن لم تؤمن بأن كانت محققة أو مظنونة فهي باطلة، وإن كانت مشكوكة أعيدت على الأرجح في الوقت، إلا إذا صلى في الطريق لضيق المسجد وشك في الطهارة فلا إعادة عليه. ولكن تظل الكراهة إن صلى بطريق من يمر بين يديه.

Jember, 26 November 2016.

Tim LBM PCNU Jember

MENIUP DAN MENGIPASI MAKANAN YANG AKAN DI MAKAN

Larangan meniup atau mengipas untuk mendinginkan makanan atau minuman panas dapat ditemukan dalam hadits riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi berikut ini.

وعن ابن عباس رضي اللّه عنهما أن النبي نهى أن يتنفس في الإناء أو ينفخ فيه

Artinya, “Dari Ibnu Abbas RA, bahwa Nabi Muhammad SAW melarang pengembusan nafas dan peniupan (makanan atau minuman) pada bejana,” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Dari hadits ini para ulama terbelah menjadi beberapa pendapat. Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum meniup makanan atau minuman adalah makruh tanzih karena ini berkaitan dengan adab dan kebersihan.

Adapun ulama lain memberikan tafsil. Menurut sebagian ulama ini, larangan makruh ini berlaku dengan asumsi bila seseorang itu mengikuti jamuan makan bersama-sama dengan orang lain di satu wadah besar atau satu wadah bersama, atau satu wadah yang dipakai bersama orang lain. Pasalnya, orang lain kemungkinan akan merasa jijik atau menduga masuknya kotoran atau penyakit di mulutnya ke dalam wadah bersama itu.

Ketika seseorang makan sendiri atau makan bersama keluarga atau muridnya, maka larangan meniup makanan dan minuman tidak berlaku karena orang yang makan bersama dia tidak merasa jijik dengan tindakan peniupan itu.

قوله (نهى عن النفخ في الطعام) لأنه يؤذن بالعجلة وشدة الشره وقلة الصبر قال المهلب : ومحل ذلك إذا أكل مع غيره فإن أكل وحده أو مع من لا يتقذر منه شيئا كزوجته وولده وخادمه وتلميذه فلا بأس

Artinya, “Kata (Nabi Muhammad SAW melarang peniupan makanan) karena itu mengisyaratkan ketergesa-gesaan, kerakusan dan kurang sabar. Al-Mahlab mengatakan bahwa letak larangan itu terdapat ketika seseorang makan bersama orang lain pada satu wajan. Jika seseorang makan sendiri atau bersama orang yang tidak menganggap ‘kotor’ apa pun yang keluar dari dirinya, seperti istri, anak, bujang, dan muridnya, maka tidak masalah,” (Lihat Al-Munawi, Faidhul Qadir, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1994 M/1415 H], juz VI, halaman 420).

Sebagian ulama Mazhab Maliki dan Hanbali menyatakan bahwa peniupan makanan atau minuman tidak makruh untuk mendinginkan hidangan tersebut karena memakan makanan atau minuman panas dapat menghilangkan berkah.

وَفِي قَوْلٍ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ : إِنَّهُ لاَ يُكْرَهُ النَّفْخُ فِي الطَّعَامِ لِمَنْ كَانَ وَحْدَهُ. وَقَال الآْمِدِيُّ – مِنَ الْحَنَابِلَةِ – : إِنَّهُ لاَ يُكْرَهُ النَّفْخُ فِي الطَّعَامِ إِذَا كَانَ حَارًّا ، قَال الْمِرْدَاوِيُّ : وَهُوَ الصَّوَابُ إِنْ كَانَ ثَمَّ حَاجَةٌ إِلَى الأَْكْل حِينَئِذٍ

Artinya, “Satu pendapat di dalam Mazhab Maliki menyatakan bahwa peniupan atas makanan tidak dimakruh bagi orang yang makan sendiri. Al-Amidi dari Mazhab Hanbali mengatakan bahwa peniupan makanan tidak makruh bila makanan itu panas. Al-Mirdawi mengatakan bahwa, ini yang benar, (tidak makruh) jika ada keperluan untuk mengonsumsinya saat itu,” (Lihat Wizaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyyah, Al-Mausuatul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Shafwah: 1997 M/1418 H], cetakan pertama, juz XXXXI, halaman 23).

Mayoritas ulama menyarankan orang yang memiliki punya waktu untuk menunggu dengan sabar makanan dan minumannya dingin seiring waktu. Sedangkan mereka yang berhajat untuk mengonsumsi makanan atau minuman yang masih panas dapat mempercepat pendinginan makanan tersebut dengan bantuan kipas bambu atau alat bantu lain.