LEBIH UTAMA MEMBELI PRODUK IMPOR ATAU YANG LOKAL

Sampai detik ini masih banyak anak-anak negeri ini lebih suka memakai barang-barang impor. Biasanya kalau ada jenis barang sama di mana yang satu adalah produk lokal sedang yang lainnya adalah barang impor, orang-orang kita cenderung memilih untuk membeli barang impor. Padahal secara kualitas tidak jauh beda bahkan mutu barang lokal itu kadang lebih bagus.

Pertanyaan yang ingin kami ajukan adalah bagaimana hukumnya lebih memilih barang impor ketimbang memilih untuk membeli barang lokal padahal secara kualitas adalah sama dan harganya tidak jauh berbeda?

Jawaban

Fenomena produk impor dari luar negeri yang terus membanjiri negeri kita adalah hal yang bisa mengandung nilai positif dan negatif. Hadirnya produk-produk tersebut menyebabkan konsumen dalam negeri memiliki banyak pilihan yang beragam.

Aktivitas jual-beli adalah termasuk dalam kategori mu’amalah. Sedang pada dasarnya hukum bermuamalah adalah boleh sepanjang tidak ada dalil yang melarangnya. Tidak ada nash yang secara tegas melarang seorang Muslim untuk membeli barang impor. Karena itu harus dikembalikan kepada hukum asalnya yaitu kebolehan untuk membeli barang impor sepanjang barang yang dibeli tersebut bukan termasuk barang yang diharamkan dalam pandangan Islam.

Namun persoalannya ternyata tidak sesederhana itu karena kecenderungan konsumen dalam negeri untuk lebih memlih produk impor ternayata disadari atau turut serta menghambat kemajuan perekenomian masyarakat dalam negeri itu sendiri.

Sebab, sejatinya apabila konsumen dalam negeri lebih senang membeli barang-barang impor maka yang akan memetik manfaat terbesar adalah produsen barang di luar negeri. Uang kita akan mengalir ke luar tanpa ada manfaat ekonomi ke dalam.

Hal Ini tentu menjadi problem tersendiri karena sikap lebih senang membeli barang impor malah menguntungkan pihak luar (i’anah ‘alal ghair) dan merugikan pihak dalam negeri secara ekonomi.

Dengan demikian kebiasaan untuk membeli barang impor daripada barang buatan dalam negeri padahal ada barang buatan dalam negeri yang sama-sama berkualitas merupakan kebiasaan yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Sebab, kebiasaan tersebut malah menguntungkan pihak luar dan merugikan bangsa sendiri.

وَمِنْ هَذِهِ الْعَادَاتِ وُلُوعُ النَّاسِ بِالشِّرَاءِ مِنَ الْأَجْنَبِيِّ يُفَضِّلُونَ عَلَى أَبْنَاءِ الْوَطَنِ

Artinya, “Dari salah satu kebiasaan (yang tidak baik) ini adalah orang lebih suka membeli (produk, pent) orang asing ketimbang produk anak negeri,” (Lihat Ali Mahfudl, Al-Ibda’ fi Madharil Ibtida’, [Riyadl, Maktabah Ar-Rusyd: 1421 H/2000 M], cet pertama,  halaman 354).

Berpijak dari sini maka sudah sepatutnya bagi kita untuk mencintai produk buatan dalam negeri. Karena dengan mencintainya, maka sama dengan membantu memperkuat ekonomi sesama anak bangsa. Lain halnya jika kita lebih cenderung memilih produk impor.

Jika penjelasan singkat ini ditarik dalam konteks pertanyaan di atas, maka jawaban atas pertanyaan tersebut adalah boleh membeli barang impor, tetapi kendati pun boleh tetapi sebaiknya dihindari jika memang masih ada produk dalam negeri karena berpotensi merugikan produsen dalam negeri sendiri.

Dengan kata lain, jika ada dua produk yang sama kualitas dan dengan harga yang tak jauh berbeda, di mana yang satu adalah produk impor sedang yang lainnya adalah produk dalam negeri, maka hukum membeli produk impor dalam konteks ini adalah makruh. Alasannya sebagaimana yang telah kami kemukakan di atas.

Untuk meningkatkan daya saing di antara gempuran produk-produk dari luar, para produsen lokal harus selalu membuat langkah-langkah terobosan dan inovatif sehingga membuat masyarakat lebih tertarik untuk melirik produk lokal. Sudah sepatutnya kita semua mendukung gerakan mencintai produk dalam negeri.

Hal penting yang perlu digarisbawahi adalah bahwa status hukum makruh tersebut mesti dibaca dalam konteks ketika barang yang kita perlukan tidak bisa dipenuhi oleh produk lokal, tetapi harus didatangkan dari luar.

WALLOHU A’LAM

LBM NU JEMBER MEMBAHAS JUM’ATAN DI JALAN RAYA

HMASS Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri bersama Darmadi Adi dan 4 lainnya.

28 November 2016 ·

Surat Pernyataan Sikap LBM PCNU Jember terhadap PBNU, tentang fatwa hukum shalat jumat di jalan dalam demonstrasi 212.

Di bawah ini hasil Bahtsul Masailnya:

BAHSUL MASA’IL LBM PCNU JEMBER TENTANG HUKUM SHALAT JUM’AT DI JALAN DALAM KONTEKS DEMONSTRASI 212

Deskripsi masalah

Dalam kongres PP. Muslimat NU ke-17 di Jakarta, Prof. Dr. KH. Said Agil Siradj memberi pernyataan bahwa melaksanakan salat Jumat di jalan raya tidak sah menurut mazhab Imam Syafi’i dan Maliki.

Di sisi lain, LBM PBNU, seperti diberitakan NU Online pada tanggal 24 November 2016, memutuskan bahwa salat jum’at di jalan sah menurut mayoritas ulama kecuali Imam Malik, tetapi haram disebabkan mengganggu ketertiban umum dan membuat kemacetan.

Sebelum itu semua, Dr. Abd. Moqsith Ghazali wakil ketua LBM PBNU juga mengatakan bahwa salat jumat di jalan raya tidak sah dengan berlandaskan pada keterangan Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ yang menyatakan bahwa salat Jum’at tidak sah kecuali dalam abniyah yang beliau pahami dengan makna bangunan yang terdiri dari kayu, batu, dan bahan-bahan material lainnya. Hal ini membuat masyarakat menjadi bingung.

(LDNU Jember)

*Pertanyaan*:

  1. Apa yang dimaksud dengan abniyah dalam bab Jumat pada kitab-kitab fikih?
  2. Bagaimana hukumnya salat Jumat selain di masjid?
  3. Bagaimana hukumnya bila salat Jumat dilaksanakan di jalan raya?
  4. Bagaimana hukumnya salat Jumat di jalan raya dalam konteks rencana demonstrasi 212 yang dianggap menimbulkan kemacetan dan mengganggu ketertiban umum?

*Jawaban*:

  1. Yang dimaksud _abniyah_ adalah area pemukiman penduduk, bukan suatu bangunan.

Ini berarti salat Jumat harus dilaksanakan di area pemukiman, bukan harus di dalam bangunan.

كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار (ص: 142)

لصِحَّة الْجُمُعَة شُرُوط بَقِيَّة شُرُوط الصَّلَاة مِنْهَا دَار الْإِقَامَة وَهِي عبارَة عَن الْأَبْنِيَة الَّتِي يستوطنها الْعدَد الَّذين يصلونَ الْجُمُعَة سَوَاء فِي ذَلِك المدن والقرى والمغر الَّتِي تتَّخذ وطناً

النجم الوهاج في شرح المنهاج 2/457

قال: (الثاني: أن تقام في خطة أبنية أوطان المجمعين) – وهم: عدد تنعقد بهم الجمعة فصاعدا- أي: تشترط إقامتها في بقعة معدودة من بلد

المجموع شرح المهذب – (ج 4 / ص 505)

* (فرع) لا تصح الجمعة عندنا إلا في أبنيه يستوطنها من تنعقد بهم الجمعة ولا تصح في الصحراء وبه قال مالك وآخرون * وقال أبو حنيفة وأحمد يجوز اقامتها لاهل المصر في الصحراء كالعيد * واحتج أصحابنا بما احتج به المصنف ان النبي صلي الله عليه وسلم وأصحابه لم يفعلوها في الصحراء مع تطاول الازمان وتكرر فعلها بخلاف العيد وقد قال صلى الله عليه وسلم ” صلوا كما رأيتموني أصلي “

  1. Menurut madzhab Syafi’i , Hanafi dan Hanbali hukumnya sah selama berada di darul iqamah (area pemukiman penduduk).

Pendapat yang mengharuskan pelaksanaan sholat jum’at di masjid hanyalah madzhab Maliki

وقال في “طرح التثريب” (3/ 190) :

“مذهبنا [ أي : مذهب الشافعية ] : أن إقامة الجمعة لا تختص بالمسجد ، بل تقام في خِطة الأبنية ؛ فلو فعلوها في غير مسجد لم يُصلّ الداخل إلى ذلك الموضع في حالة الخطبة ، إذ ليست له تحية ” انتهى .

وقال في ” الإنصاف” (2/ 378) ـ من كتب الحنابلة ـ :

” قوله ( ويجوز إقامتها في الأبنية المتفرقة , إذا شملها اسم واحد ، وفيما قارب البنيان من الصحراء ) وهو المذهب مطلقا . وعليه أكثر الأصحاب . وقطع به كثير منهم . وقيل : لا يجوز إقامتها إلا في الجامع ” انتهى. وأما المالكية ، فاشترطوا لإقامتها الجامع ، كما سبق .قال خليل المالكي في شروط الجمعة : ” وبجامع مبني متحد “.

روضة الطالبين وعمدة المفتين (2/ 4)

الشَّرْطُ الثَّانِي: دَارُ الْإِقَامَةِ، فَيُشْتَرَطُ لِصِحَّةِ الْجُمُعَةِ دَارُ الْإِقَامَةِ، وَهِيَ الْأَبْنِيَةُ الَّتِي يَسْتَوْطِنُهَا الْعَدَدُ الَّذِينَ يُصَلُّونَ الْجُمُعَةَ، سَوَاءٌ فِيهِ الْبِلَادُ، وَالْقُرَى، وَالْأَسْرَابُ الَّتِي يَتَّخِذُهَا وَطَنًا، وَسَوَاءٌ فِيهِ الْبِنَاءُ مِنْ حَجَرٍ، أَوْ طِينٍ، أَوْ خَشَبٍ. وَأَمَّا أَهْلُ الْخِيَامِ النَّازِلُونَ فِي الصَّحْرَاءِ، وَيَتَنَقَّلُونَ فِي الشِّتَاءِ وَغَيْرِهِ، فَلَا تَصِحُّ جُمُعَتُهُمْ فِيهَا، فَإِنْ كَانُوا لَا يُفَارِقُونَهَا شِتَاءً وَلَا صَيْفًا، فَالْأَظْهَرُ أَنَّهَا لَا تَصِحُّ. وَالثَّانِي: تَصِحُّ وَتَجِبُ. وَلَوِ انْهَدَمَتْ أَبْنِيَةُ الْقَرْيَةِ، أَوِ الْبَلَدِ، فَأَقَامَ أَهْلُهَا عَلَى الْعِمَارَةِ، لَزِمَهُمُ الْجُمُعَةُ فِيهَا، سَوَاءٌ كَانُوا فِي مَظَالٍّ، أَوْ غَيْرِهَا، لِأَنَّهُ مَحَلُّ الِاسْتِيطَانِ. وَلَا يُشْتَرَطُ إِقَامَتُهَا فِي مَسْجِدٍ، وَلَا فِي كُنٍّ، بَلْ يَجُوزُ فِي فَضَاءٍ مَعْدُودٍ مِنْ خِطَّةِ الْبَلَدِ، فَأَمَّا الْمَوْضِعُ الْخَارِجُ عَنِ الْبَلَدِ الَّذِي إِذَا انْتَهَى إِلَيْهِ الْخَارِجُ لِلسَّفَرِ قَصَرَ، فَلَا يَجُوزُ إِقَامَةُ الْجُمُعَةِ فِيهِ.

الفقه على المذاهب الأربعة (1/ 351)

هل تصح صلاة الجمعة في الفضاء؟ اتفق ثلاثة من الأئمة على جواز صحة الجمعة في الفضاء، وقال المالكية: لا تصح إلا في المسجد وقد ذكرنا بيان المذاهب تحت الخط (1) .

(1) المالكية قالوا: لا تصح الجمعة في البيوت ولا في الفضاء، بل لا بد أن تؤدي في الجامع. الحنابلة قالوا: تصح الجمعة في الفضاء إذا كان قريباً من البناء، ويعتبر القرب بحسب العرف فإن لم يكن قريباً فلا تصح الصلاة، وإذا صلى الإمام في الصحراء استخلف من يصلي بالضعاف. الشافعية قالوا: تصح الجمعة في الفضاء إذا كان قريباً من البناء، وحد القرب عندهم المكان

  1. Hukum salat di ruas jalan tanpa sebab yang memperbolehkan adalah makruh. _Illat_ kemakruhannya adalah mengurangi kekhusyu’an dan mengganggu pengguna jalan.

البيان في مذهب الإمام الشافعي (2 / 113):

وتكره الصلاة في قارعة الطريق؛ لحديث عمر – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -، ولأنه لا يتمكن من الخشوع في الصلاة؛ لممر الناس فيها، ولأنها تداس بالنجاسات. فإن صلى في موضع منها، فإن تحقق طهارته، صحت صلاته، وإن تحقق نجاسته، لم تصح صلاته، وإن شك فيها، ففيه وجهان مضى ذكرهما في المياه.

الموسوعة الفقهية الكويتية (27 / 113-114):

اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي الأْمَاكِنِ الَّتِي تُكْرَهُ الصَّلاَةُ فِيهَا، وَإِلَيْكَ تَفْصِيل أَقْوَالِهِمْ:

ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إِلَى كَرَاهَةِ الصَّلاَةِ فِي الطَّرِيقِ، … قَال الْخَطِيبُ الشِّرْبِينِيُّ: قَارِعَةُ الطَّرِيقِ هِيَ أَعْلاَهُ، وَقِيل: صَدْرُهُ، وَقِيل: مَا بَرَزَ مِنْهُ، وَالْكُل مُتَقَارِبٌ، وَالْمُرَادُ هُنَا نَفْسُ الطَّرِيقِ، وَالْعِلَّةُ فِي النَّهْيِ عَنِ الصَّلاَةِ فِي قَارِعَةِ الطَّرِيقِ هِيَ لِشَغْلِهِ حَقَّ الْعَامَّةِ، وَمَنْعِهِمْ مِنَ الْمُرُورِ؛ وَلِشَغْل الْبَال عَنِ الْخُشُوعِ فَيَشْتَغِل بِالْخَلْقِ عَنِ الْحَقِّ.

  1. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, _illat_ dari kemakruhan salat di jalan adalah mengganggu pengguna jalan dan mengurangi kekhusyu’an, sedangkan dalam konteks tersebut illat itu tidak terpenuhi sebab jalan tersebut sudah dikondisikan sebagai tempat demonstrasi yang hal itu sudah dijamin dalam peraturan perundang-undangan.

Dalam formulasi fiqhiyyah dikenal kaidah:

الرضا بالشيء رضا بما يتولد منه واعتراف بصحته

“Kerelaan terhadap sesuatu adalah kerelaan terhadap segala yang ditimbulkannya dan pengakuan terhadap keabsahannya (Al – Asybah wa Nadhoir As- Subuky). “

Ketika demonstrasi sebagai wujud menyatakan pendapat di muka umum sudah dianggap sah menurut peraturan perundang-undangan maka segala konsekuensinya harus dianggap sah pula selama tidak melanggar aturan yang ada.

Dalam konteks inilah gangguan terhadap pengguna jalan tidaklah relevan bila dijadikan _illat_ kemakruhan salat Jumat di tengah jalan saat demonstrasi, apalagi bila demonstrasinya dimulai sejak sebelum waktu dhuhur karena tempat tersebut memang diperuntukkan untuk warga yang ingin menyampaikan aspirasinya.

Hal ini juga sesuai dengan kaidah lain yang menyatakan:

الحكم يدور مع علته وجودا وعدما

“Hukum itu berlaku sesuai ada atau tidak adanya illatnya” (Ushul al-Sarakhsi)

Andai tetap dianggap sebagai hal yang mengganggu, maka hal tersebut tidak menyebabkan salatnya batal, hanya sekedar makruh dilakukan sebagaimana keterangan berikut:

الفِقْهُ الإسلاميُّ وأدلَّتُهُ 2/152

الصلاة في قارعة الطريق، أي أعلاه أو أوسطه: مكروهة عند الحنفية والشافعية ؛ لأن الطريق ممر الناس، فلا يؤمن من المرور، ولا من النجاسة، إذ لا تخلو من الأرواث والأبوال، فينقطع الخشوع بممر الناس، فإن صلى فيه، صحت الصلاة؛ لأن المنع لترك الخشوع، أو لمنع الناس من الطريق، وذلك لا يوجب بطلان الصلاة، ولقوله صلّى الله عليه وسلم : «جعلت لي الأرض مسجداً وطهوراً:» وفي لفظ: «فحيثما أدركتك الصلاة، فصل، فإنه مسجد» وفي لفظ : «أينما أدركتك الصلاة فصل، فإنه مسجد» . وذكر الشافعية: أن الصلاة تكره في الأسواق والرحاب الخارجة عن المسجد.

وقال المالكية: تجوز الصلاة بلا كراهة في محجة الطريق والمزبلة والمقبرة والحمام والمجزرة، أي وسطها إن أمنت النجاسة. فإن لم تؤمن بأن كانت محققة أو مظنونة فهي باطلة، وإن كانت مشكوكة أعيدت على الأرجح في الوقت، إلا إذا صلى في الطريق لضيق المسجد وشك في الطهارة فلا إعادة عليه. ولكن تظل الكراهة إن صلى بطريق من يمر بين يديه.

Jember, 26 November 2016.

Tim LBM PCNU Jember

MENIUP DAN MENGIPASI MAKANAN YANG AKAN DI MAKAN

Larangan meniup atau mengipas untuk mendinginkan makanan atau minuman panas dapat ditemukan dalam hadits riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi berikut ini.

وعن ابن عباس رضي اللّه عنهما أن النبي نهى أن يتنفس في الإناء أو ينفخ فيه

Artinya, “Dari Ibnu Abbas RA, bahwa Nabi Muhammad SAW melarang pengembusan nafas dan peniupan (makanan atau minuman) pada bejana,” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Dari hadits ini para ulama terbelah menjadi beberapa pendapat. Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum meniup makanan atau minuman adalah makruh tanzih karena ini berkaitan dengan adab dan kebersihan.

Adapun ulama lain memberikan tafsil. Menurut sebagian ulama ini, larangan makruh ini berlaku dengan asumsi bila seseorang itu mengikuti jamuan makan bersama-sama dengan orang lain di satu wadah besar atau satu wadah bersama, atau satu wadah yang dipakai bersama orang lain. Pasalnya, orang lain kemungkinan akan merasa jijik atau menduga masuknya kotoran atau penyakit di mulutnya ke dalam wadah bersama itu.

Ketika seseorang makan sendiri atau makan bersama keluarga atau muridnya, maka larangan meniup makanan dan minuman tidak berlaku karena orang yang makan bersama dia tidak merasa jijik dengan tindakan peniupan itu.

قوله (نهى عن النفخ في الطعام) لأنه يؤذن بالعجلة وشدة الشره وقلة الصبر قال المهلب : ومحل ذلك إذا أكل مع غيره فإن أكل وحده أو مع من لا يتقذر منه شيئا كزوجته وولده وخادمه وتلميذه فلا بأس

Artinya, “Kata (Nabi Muhammad SAW melarang peniupan makanan) karena itu mengisyaratkan ketergesa-gesaan, kerakusan dan kurang sabar. Al-Mahlab mengatakan bahwa letak larangan itu terdapat ketika seseorang makan bersama orang lain pada satu wajan. Jika seseorang makan sendiri atau bersama orang yang tidak menganggap ‘kotor’ apa pun yang keluar dari dirinya, seperti istri, anak, bujang, dan muridnya, maka tidak masalah,” (Lihat Al-Munawi, Faidhul Qadir, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1994 M/1415 H], juz VI, halaman 420).

Sebagian ulama Mazhab Maliki dan Hanbali menyatakan bahwa peniupan makanan atau minuman tidak makruh untuk mendinginkan hidangan tersebut karena memakan makanan atau minuman panas dapat menghilangkan berkah.

وَفِي قَوْلٍ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ : إِنَّهُ لاَ يُكْرَهُ النَّفْخُ فِي الطَّعَامِ لِمَنْ كَانَ وَحْدَهُ. وَقَال الآْمِدِيُّ – مِنَ الْحَنَابِلَةِ – : إِنَّهُ لاَ يُكْرَهُ النَّفْخُ فِي الطَّعَامِ إِذَا كَانَ حَارًّا ، قَال الْمِرْدَاوِيُّ : وَهُوَ الصَّوَابُ إِنْ كَانَ ثَمَّ حَاجَةٌ إِلَى الأَْكْل حِينَئِذٍ

Artinya, “Satu pendapat di dalam Mazhab Maliki menyatakan bahwa peniupan atas makanan tidak dimakruh bagi orang yang makan sendiri. Al-Amidi dari Mazhab Hanbali mengatakan bahwa peniupan makanan tidak makruh bila makanan itu panas. Al-Mirdawi mengatakan bahwa, ini yang benar, (tidak makruh) jika ada keperluan untuk mengonsumsinya saat itu,” (Lihat Wizaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyyah, Al-Mausuatul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Shafwah: 1997 M/1418 H], cetakan pertama, juz XXXXI, halaman 23).

Mayoritas ulama menyarankan orang yang memiliki punya waktu untuk menunggu dengan sabar makanan dan minumannya dingin seiring waktu. Sedangkan mereka yang berhajat untuk mengonsumsi makanan atau minuman yang masih panas dapat mempercepat pendinginan makanan tersebut dengan bantuan kipas bambu atau alat bantu lain.

ZINA DAN MASALAH-MASALAH RUMIT YANG BERHUBUNGAN

INILAH CARA BERTAUBAT DARI DOSA BERZINA

PERTANYAAN :

Ada seorang laki-laki dan seorang perempuan, keduanya ngerti agama. Karena nafsu mereka berzina. Apakah Alloh mengampuni mereka ?

JAWABAN :

Dosa selain syirik bisa diampuni dengan cara bertaubat :

.ذنب يغفر وذنب لا يغفر وذنب يجازى به فأما الذنب الذي لا يغفر فالشرك بالله وأما الذنب الذي يغفر فعملك بينك وبين ربك واما الذنب الذي يجازى به فظلمك أخاك. الجامع الصغير ٢/٢٠التائب من الذنب كمن لا ذنب له. الجامع الصغير ١/١٣٤

Orang yang bertaubat dari perbuatan zina tidak harus di-had untuk diterimanya taubat, karena melaksanakan hukum rajam adalah kewajiban pemerintah / imamah.

.لا تتوقف توبة الزاني أو القاتل على تسليم نفسه للحد وإن تحتم بثبوته عند الحاكم، بل لا تتوقف حتى في حق الأدمي الواجب تسليم نفسه، فإذا ندم صحت توبته في حق الله وبقيت معصية حق الأدمي بغية المسترشدين ص : ٢٤٩

.التوبة ثلاثة شروط الندم على الفعل والإقلاع في الحال والعزم على عدم العود ويزيد حق العباد برد المظالم اليهم. بغية المسترشدين ص :٢٨٤

Syarat taubat :

  1. Menyesali perbuatannya
  2. Meninggalkan / berhenti dari perbuatan dosa
  3. Berjanji tidak akan mengulangi lagi.

Hukum rajam bagi zani muhshon/jilid dan pengasingan bagi zani ghoeru muhshon tetap harus dijalankan (oleh pemerintah setelah semua syaratnya terpenuhi ). Karena hukum tersebut adalah haq Alloh. Masalah taubat itu masalah lain lagi meskipun dalam konteks yang sama.. Selain dosa syirik itu bisa diampuni, cuma masalah diampuni atau tidak cuma Alloh yang tahu, jika Alloh berkenan untuk diampuni pasti diampuni, jika Alloh tidak berkenan maka tidak akan diampuni. Tapi dengan taubat nashuha insyaa Alloh diampuni, tapi jangan terlalu berpangku tangan terhadap taqdir Alloh dengan menisbatkan perbuatan keji ini terhadap taqdir meskipun pada haqiqat nya memang taqdir, karena manusia diberi aqal dan daya ikhtiar untuk memilih dan memilah mana yang baik mana yang buruk mana yang melanggar atran Alloh mana yang tidak dengan ktntuan syar’i. Perbuatan zina dari yang mengerti agama lebih keji dari perbuatan zina orang awam.

CARA BERTAUBAT KARENA BERZINA DENGAN ISTRI ORANG

PERTANYAAN :

Seorang suami yang berzina dengan istri orang, dalam bertaubat apakah cukup bertaubat kepada Allah tanpa minta maaf kepada suami dari wanita yang dizinahinya?

JAWABAN :

Mengenai zina, ulama’ berbeda pendapat :

Zina termasuk haqqul adami. Kalau berpatokan pada pendapat ini taubat dari zina harus minta ma’af pada suaminya bila wanita yang di zinai bersuami dan atau minta ma’af pada kerabatnya bila dia tidak bersuami, disyaratkan minta ma’af pada suaminya wanita yang di zinai tersebut bila tidak khawatir timbul fitnah (seperti nyawanya terancam) bila hawatir timbul fitnah maka tidak harus minta ma’af cukup tadlorru’/merendahkan diri pada ALLAH agar suaminya merelakan pelaku zina itu.

Zina bukan termasuk haqqul adami, jadi tidak harus istihlal/minta ma’af.

– I’anah At-Tholibin IV / 295 :

ـ (قوله: وقال بعضهم يتوقف في التوبة الخ) أي يحتاج في صحة التوبة من الزنا على استحلال زوج المزني بها إن لم يخف فتنة. (وقوله: وإلا) أي بأن خيف فتنة. (وقوله: فليتضرع الخ) أي فلا يتوقف على الاستحلال، بل يكفي التضرّع إلى الله تعالى في إرضاء الخصم عنه. (قوله: وجعل بعضهم الخ) قال في الزواجر، بعد كلام: وقضية ما ذكره ـ أي الغزالي ـ من إشتراط الاستحلال في الحرم الشامل للزوجة والمحارم كما صرّحوا به، أن الزنا واللواط فيهما حق للآدمي، فتتوقف التوبة منهما على إستحلال أقارب المزني بها، أو الملوط به، وعلى إستحلال زوج المزني بها. هذا إن لم يخف فتنة، وإلا فليتضرّع إلى الله تعالى في إرضائهم عنه. ويوجه ذلك بأنه لا شكّ أن في الزنا واللواط إلحاق عار، أي عار بالأقارب، وتلطيخ فراش الزوج، فوجب إستحلالهم حيث لا عذر.فإِن قلت: ينافي ذلك جعل بعضهم من الذنوب التي لا يتعلق بها حق آدمي وطء الأجنبية فيما دون الفرج وتقبيلها من الصغائر، والزنا وشرب الخمر من الكبائر، وهذا صريح في أن الزنا ليس فيه حق آدمي فلا يحتاج فيه إلى الاستحلال.قلت: هذا لا يقاوم به كلام الغزالي، لا سيما وقد قال الأذرعي عنه أنه في غاية الحسن والتحقيق، فالعبرة بما دلّ عليه دون غيره. اهـ (قوله: فلا يحتاج) أي الزنا وهو تفريع على أنه ليس فيه حق آدمي. (وقوله: إلى الاستحلال) أي استحلال زوج المزني بها. (قوله: والأوجه الأول) أي ما قاله بعضهم من أنه يتوقف في التوبة من الزنا على الاستحلال

 

MEMBUNUH PELAKU ZINA MUHSHON

PERTANYAAN :

Bagaimana Hukumnya membunuh Orang yang sudah menikah melakukan zina?

JAWABAN :

Yang berhak menjatuhi hukuman rajam (caranya tubuhnya dikubur setengah badan lalu di lempari dengan batu sampai mati) bagi pezina adalah ulil amri, dan harus memenuhi syarat-syarat tertentu, tidak boleh seseorang atau satu institusi melakukan hukuman rajam.

Dalam kitab al Mugni karangan imam Ibnu Qudamah disebutkan :

فصل : وليس على قاتل الزاني المحصن قصاص ولا دية ولا كفارة . وهذا ظاهر مذهب الشافعي .

 المغني أحمد بن قدامة

[ Fasal ] Dan tidak ada qishos, diyat ataupun kifarat terhadap orang yang telah membunuh pezina muhson, ini adalah dzohirnya madzhab imam as syafi’i. [ Kitab Al-Mughniy – Ibnu Qudamah ]

BENTUK ZINA YANG TIDAK TERKENA HAD

PERTANYAAN :

Apakah termasuk zina anak anak yang berhubungan sebelum Baligh?

JAWABAN :

Anak anak yang melakukan hubungan intim tidak di namakan zina, karena belum mukallaf/baligh.

Ket. Dari kita al Bajuri 2/229

wahuwa iilaajul mukallafi walaw hukman fayasymilu assakroonu almuta’addi alwaadlihi hasyafatahu al ashliyata ila anqoola wahoroja bil mukallafi asshobiyu wal majnuunu falaisa iilaaju kullin min humaa zina haqiiqotan bal huma zina shurotan.

Namun dalam Tanwiir al-Quluub 388-389 di jelaskan :

Zina anak anak Tidak dinamai ZINA dan tidak dikenakan hukuman dera namun dita’zir disesuaikan dengan kondisinya yang dapat menjerakan…

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ……واما الصبي والمجنون فلا حد عليهما بل يؤدبان بما يليق بحالهما

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera,” (QS. 24:2)…Sedangkan pelaku zina oleh anak kecil dan orang gila maka tidak ada hukuman HAD bagi keduanya, namun diberikan pendidikan adab yang disesuaikan dengan keberadaan keduanya.

( يجلد ) وجوبا ( إمام ) أو نائبه دون غيرهما خلافا للقفال ( حرا مكلفا زنى ) …..وقوله مكلفا ) أي ولو حكما فشمل السكران المتعدي بسكره وخرج به الصبي والمجنون والسكران غير المتعدي فلا يجلدون

“Bagi seorang Imam atau Naibnya bukan selain keduanya kecuali menurut al-Qaffaal wajib memberi hukum Jilid (dera/cambuk) pada orang merdeka yang mukallaf yang melakukan perbuatan zina….(Keterangan Orang Mukallaf) meskipun mukallaf sebatas hukumnya maka termasuk didalamnya orang mabuk yang sengaja dalam mabuknya dan mengecualikan anak kecil, orang gila dan orang mabuk yang tidak sengaja dalam mabuknya maka mereka tidak dikenakan hukuman dera”.

I’anah at-Tholibin IV/142

LELAKI BERZINA DENGAN LELAKI YANG OPERASI KELAMIN JADI WANITA ?

PERTANYAAN :

  1. Apakah dinamakan Zina sperti layaknya perzinahan laki2 dan perempuan
  2. Apakah wajib dihad ?

JAWABAN :

Tindakan tersebut tidak dinamakan zina juga tidak wajib had, namun tetap haram dan berdosa :

.وبواضح فرج الخنثى المشكل فلا يسمى الإيلاج فيه زنا لاحتمال ذكورته وكون هذا المحل زائدا. الباجوري ٢/٢٣٠

Untuk syarat zina yang termasuk ke dalam zina yang dihad ada 12, di antaranya :

  1. Gender harus nyata, jadi jika khunsta muskil yang punya 2 alat kelamin, maka tidak bisa dikatakan zina
  2. Alat kelamin harus asli. Bilamana ada seorang laki-laki punya 2 kelamin yang serupa dan sama maka tidak di had
  3. Alat kelamin menempel, jadi jika dengan kelamin yang sudah putus maka tidak di had
  4. Alat kelamin yang dimasuki nyata (wadhih).

Dan lain-lain.

و الحاصل ان شروط وجوب حد الزنا بالجلد او بالرجم اثنا عشراحدها ان يكون المولج مكلفا….ثانيها واضح الذكورة فخرج الخنثى المشكل الذى له التان للرجال و النساء اذ اولج الة الذكورة فلا حد عليه لاحتمال انوثته و لاحتمال كون هذا عرقا زائدا……..ثالثها اولج جميع حشفته فخرج ما لو اولج بعض الحشفة فلا حد رابعها اصالة الذكر فخرج مالو خلق له ذكران مشتبهان فاولج احدهما فلا حد للشك فى كونه اصلياخمسها اتصال الذكر فخرج الذكر المبان فلا حد فيهسادسها ايلاج الحشفة فى قبل واضح الانوثة فخرج مالو اولج فى فرج خنثى مشكل فلا حد لاحتمال ذكورته و كون هذا محل زائدا……

نهاية الزين ٣٤٧

  • اللواط وإتيان البهائم(وحكم اللواط وإتيان البهائم كحكم الزنا) فمن لاط بشخص بأن وطئه في دبره حُدَّ على المذهب. ومن أتى بهيمة حُدَّ كما قال المصنف، لكن الراجح أنه يعزر (ومن وطئ) أجنبيةً (فيما دون الفرج عزر، ولا يبلغ) الإمام (بالتعزير أدنى الحدود). فإن عزر عبدا وجب أن ينقص في تعزيره عن عشرين جلدةً، أو عزر حُرًّا وجب أن ينقص في تعزيره عن أربعين جلدة؛ لأنه أدنى حد كل منهما

DOSAKAH JIKA NIAT BERZINA TAPI TERNYATA DIA ITU ISTRINYA ?

PERTANYAAN :

  1. Ada seorang niat zina ! Tapi tahu-tahu yang dizinai ini adalah istrinya sendiri apakah dosa ?
  2. Tapi kalau sebaliknya, ada orang bersetubuh dengan istrinya tapi tahu-tahu yang ditidurin orang lain apakah termasuk zina ?

JAWABAN :

Bila seseorang yang ada niatan/berkeyaqinan berzina dengan seorang perempuan tapi ternyata perempuan tersebut adalah istrinya sendiri maka orang tersebut tetap berdosa/haram. Jika dibalik, seperti orang menyetubuhi orang lain/bukan istrinya tapi dia menyangka itu istrinya maka dia tak dapat siksa zina.

.لو تعاطى فعل شيئ مباح له وهو يعتقد عدم حله كمن وطئ إمرأة يعتقد أنها أجنبية وأنه زان بها فإذا هي حليلته فهو حرام. الفرائد البهية ص : ١١

و عكس هذا : من وطئ أجنبية و هو يظنها حليلة له لا يترتب عليه شيء من العقوبات المؤاخذات المترتبة على الزاني اعتبارا بنيته و مقصده

– Asybah wa An-Nadhoir hal.40 :

وفي اللقطة بقصد الحفظ أو التمليك ، وفيما لو أسلم على أكثر من أربع ، فقال : فسخت نكاح هذه ، فإن نوى به الطلاق كان تعيينا لاختيار النكاح ، وإن نوى الفراق أو أطلق حمل على اختيار الفراق ، وفيما لو وطئ أمة بشبهة ، وهو يظنها زوجته الحرة ، فإن الولد ينعقد حرا وفيما لو تعاطى فعل شيء مباح له ، وهو يعتقد عدم حله ، كمن وطئ امرأة يعتقد أنها [ ص: 11 ] أجنبية ، وأنه زان بها ، فإذا هي حليلته أو قتل من يعتقده معصوما ، فبان أنه يستحق دمه ، أو أتلف مالا لغيره ، فبان ملكه .

قال الشيخ عز الدين : يجري عليه حكم الفاسق لجرأته على الله ; لأن العدالة إنما شرطت لتحصل الثقة بصدقه ، وأداء الأمانة ، وقد انخرمت الثقة بذلك ، لجرأته بارتكاب ما يعتقده كبيرة .

قال : وأما مفاسد الآخرة فلا يعذب تعذيب زان ولا قاتل ، ولا آكل مالا حراما لأن عذاب الآخرة مرتب على ترتب المفاسد في الغالب ، كما أن ثوابها مرتب على ترتب المصالح في الغالب .

قال : والظاهر أنه لا يعذب تعذيب من ارتكب صغيرة ; لأجل جرأته وانتهاك الحرمة ; بل عذابا متوسطا بين الصغيرة والكبيرة .

وعكس هذا : من وطئ أجنبية وهو يظنها حليلة له لا يترتب عليه شيء من العقوبات المؤاخذات المترتبة على الزاني اعتبارا بنيته ومقصده .

 

TA’ZIR DENGAN MENGAMBIL HARTA

Salah satu peraturan lembaga pendidikan adalah larangan membawa handphone (HP), bila kedapatan maka pilihan ada 2 :

  1. Dijual paksa atau
  2. Dihancurkan didepan si empunya.

Pertanyaan :

  1. Sahkah seorang guru menjual HP murid yang melanggar peraturan, baik ada izin dari si murid atau tidak ?
  2. Apakah boleh menghancurkan HP didepan mata si murid karena maslahah (membuat sadar murid yg lain) dan apakah yang demikian tidak termasuk dalam kategori dhiya’ul maal ?

JAWABAN

Hukumnya khilaf (ulama berbeda pendapat), menurut mayoritas ulama Syafi’iyyah hukumnya tidak boleh seperti yang disebutkan dalam kitab Bughyah Al-Mustarsyidin, I’anah At-Tholibin, Hasyiyah Al-Jamal dan masih banyak lagi, namun sebagian ulama menghukumi boleh mengambil (menyita) harta benda dengan tujuan menimbulkan efek jera bagi pelakunya, seperti yang disebutkan dalam kitab Madzahib Al-Arba’ah maupun dalam Syarah Al-Yaqut An-nafis ….

Referensi :

ولا يجوز التعزير بحلق اللحية ولا بأخذ المال

“Dan tidak boleh menta’zir (menghukum) dengan mencukur jenggot atau dengan mengambil harta”.Tanwiir al-Quluub Hal- 392

(قال الشافعي: لا تضعف الغرامة على أحد في شيء إنما العقوبة في الأبدان لا في الأموال).

As-Syafi’i berkata “Denda tidak diperlakukan dengan mengambil sesuatu, hukuman diperlakukan sebatas pada raga tidak pada harta”.Sunan al-Kubraa Li al Baehaqy VIII/279

(لا يجوز بأخذ المال).

“Ta’zir tidak boleh dengan mengambil harta”. Hasyiyah al-Jamal V/164

قال الرحيباني وحرم تعزير بحلق لحية وقطع طرف وجرح ) لأنه مثلة ( وكذا ) يحرم تعزير ( بأخذ مال أو إتلافه ) لأن الشرع لم يرد بشيء من ذلك عمن يقتدى به , ولأن الواجب أدبه والأدب لا يكون بالإتلاف ( خلافا للشيخ ) تقي الدين ; فإن عنده التعزير بالمال سائغ إتلافا وأخذا).

“Dan haram menta’zir dengan mencukur jenggot, memotong anggauta dan melukainya, Ta’zir diharamkan juga dengan mengambil atau merusak harta benda karena tidak terdapati ketetapan syara’ yang demikian dari perilaku yang dapat diikuti dan karena tujuan diperlakukan menta’zir demi mengajari tatakrama yang tidak ada ketentuan dengan merusak harta benda berbeda menurut Imam Taqiyuddin yang memperkenankan ta’zir dengan mengambil atau merusak harta benda”. Mathalib Ulin Nuha VI/224

ANEKA TA’ZIR YANG DIPERBOLEHKAN

ولايجوز التعزير بأخذ المال عندنا ـ بغيةالمسترشدين ص ٣٥٠

“Dan tidak diperbolehkan menta’zir dengan cara mengambil harta” (Bughyah Al-Mustarsyidin halaman 350)

واجاز بعض الحنفية التعزير بالمال على انه اذا تاب يرد له ـ مذاهب الاربعة ج ٥ ص ٤٠١

“Sebagian ulama Hanafiyyah memperbolehkan menta’zir dengan cara mengambil harta namun wajib dikembalikan apabila pelakunya telah bertaubat” (Al-Fiqh ‘Ala Madzahib Al-Arba’ah V / 401)

Untuk nomor 2 : Boleh menghancurkan hp di depan pemiliknya

Syarah Al-Yaqut An-Nafis III / 272

ﻭﻫﻞ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﺘﻌﺰﻳﺮ ﺑﺎﻟﻐﺮﺍﻣﺔ ﺍﻟﻤﺎﻟﻴﺔ ؟ ﺍﻟﻤﺬﺍﻫﺐ ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ ﻻ ﺗﺠﻴﺰ ﺍﻟﺘﻌﺰﻳﺮ ﺑﺎﻟﺘﻐﺮﻳﻢ ﻟﻜﻦ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ﻭﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻘﺎﻫﺮ ﺍﻟﻤﻐﺮﺑﻲ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﺑﺎﻟﺠﻮﺍﺯ ﻭﻗﺎﻟﻮﺍ ﻻ ﺗﻌﻮﺩ ﺍﻟﻐﺮﺍﻣﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺘﻀﺮﺭ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﺮﻳﻤﺔ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺗﻌﻮﺩ ﺍﻟﻰ ﺑﻴﺖ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻭﻗﺎﻝ ﺁﺧﺮﻭﻥ ﺗﻌﻮﺩ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻤﺘﻀﺮﺭ ﻭﺍﻟﻤﻌﺘﻤﺪ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯﻭﺃﻣﺎ ﻣﺎ ﻓﻌﻠﻪ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻋﻤﺮ ﻣﻦ ﺗﻐﺮﻳﻢ ﺍﻟﺒﻌﺾ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻫﻮ ﺍﺟﺘﻬﺎﺩ ﻣﻨﻪ ﻭﻓﻲ ﻣﺴﺎﺋﻞ ﺧﺎﺻﺔ ﺛﻢ ﺇﻧﻪ ﺟﻌﻞ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻟﺒﻴﺖ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻭﺇﻣﺎﻣﻨﺎ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻋﻨﺪﻩ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﻲ ﻛﻤﺬﻫﺐ ﻏﻴﺮﻩ ﻻ ﻳﻠﺰﻡ ﺍﺗﺒﺎﻋﻪ ﻷﻧﻪ ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﻏﻴﺮﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﻰ ﻟﻪ ﺭﺃﻱ ﻳﺨﺎﻟﻔﻪ ـ اهـ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻴﺎﻗﻮﺕ ﺍﻟﻨﻔﻴﺲ ج ٣ ص ٢٧٢

Menurut sebagian ulama boleh menghukum (ta’zir) dengan mengambil harta, seperti menyita hp dsb dan hp yang disita boleh tidak dikembalikan kepada pemiliknya, tetapi dimasukkan ke baitul mal (kas pondok).

البحر الرائق :

ولم يذكر محمد التعزير بأخذ المال وقد قيل روي عن أبي يوسف أن التعزير من السلطان بأخذ المال جائز كذا في الظهيرية وفي الخلاصة سمعت عن ثقة أن التعزير بأخذ المال إن رأى القاضي ذلك أو الوالي جاز ومن جملة ذلك رجل لا يحضر الجماعة يجوز تعزيره بأخذ المال ا هـ .

وأفاد في البزازية أن معنى التعزير بأخذ المال على القول به إمساك شيء من ماله عنه مدة لينزجر ثم يعيده الحاكم إليه لا أن يأخذه الحاكم لنفسه أو لبيت المال كما يتوهمه الظلمة إذ لا يجوز لأحد من المسلمين أخذ مال أحد بغير سبب شرعي وفي المجتبى لم يذكر كيفية الأخذ وأرى أن يأخذها فيمسكها فإن أيس من توبته يصرفها إلى ما يرى وفي شرح الآثار التعزير بالمال كان في ابتداء الإسلام ثم نسخ . ا هـ

Wallahu A’lam bis showab

SAMAKAH FADHILAH NGAJI DI MEDIA SOSIAL (YOUTUBE, MP3, GOOGLE, FB, WA) DENGAN NGAJI DI MAJELIS ILMU

PERTANYAAN :

Mohon pendapatnya tentang mengaji di mp3, mp4, youtube (mendengarkan ceramah) apakah termasuk pada hadits? :

“جلو سك ساعة في مجلس العلم لاتكتب فيه حرفا ولاتمسوه فيه قلما خير لك من الف ركعة”

JAWABAN :

Pada dasarnya belajar, mengaji, mengambil ilmu dan hikmah dari mana saja kita bisa mendapatkannya itu sangat dianjurkan, termasuk mengambilnya dari hp, TV, youtube, google dan lain sebagainya itu sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits :

خذ الحكمة ولا يضرك من اي وعاء خرجت ” رواه الًديلمي عن ابن عباس مرفوعا”

Ambilah hikmah (pengertian), hal tersebut tidak akan membahayakanmu dari wadah mana saja hikmah itu keluar. (HR. Addailami dari Ibnu Abbas RA.)

Namun tentunya mengambil ilmu dari hp, google, TV, dll. keutamaannya tidak sama dengan berhadapan langsung dengan para guru. Karena pada zaman Rasulullah saw, para sahabat, tabi’in dan para salafussholeh proses mencari ilmu itu terjadi dengan الجلوس في مجلس العلم duduk bersama antara muballigh (guru, kiyai, ustad) dengan pendengar (murid, santri) di dalam majlis ilmu. Dan di dalam duduk bersama itu terjadi interaksi langsung antara muballigh dan murid, dan juga terjadi penghormatan murid kepada muballigh.

BAKTI KEPADA GURU MEMBUAT ILMU BERMANFAAT

Para Salafus sholeh, suri tauladan untuk manusia setelahnya telah memberikan contoh dalam penghormatan terhadap seorang guru. Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu berkata,

كنا جلوساً في المسجد إذ خرج رسول الله فجلس إلينا فكأن على رؤوسنا الطير لا يتكلم أحد منا

(kunnaa juluusan fil masjidi,idz khoroja rosuululloohi,fa jalasa ilainaa,faka anna ‘alaa ru uu sinaa ath thoiro,laa yatakallamu ahadun minnaa)

“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari).

Ibnu Abbas seorang sahabat yang ‘alim, mufasir Quran umat ini, seorang dari Ahli Bait Nabi pernah menuntun tali kendaraan Zaid bin Tsabit al-Anshari radhiallahu anhu dan berkata,

هكذا أمرنا أن نفعل بعلمائنا

“Seperti inilah kami diperintahkan untuk memperlakukan para ulama kami”.

Berkata Abdurahman Al Aslami,

ما كان إنسان يجترئ على سعيد بن المسيب يسأله عن شيء حتى يستأذنه كما يستأذن الأمير

“Tidaklah sesorang berani bertanya kepada Said bin Musayyib, sampai dia meminta izin, layaknya meminta izin kepada seorang raja”.

Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata,

مَا وَاللَّهِ اجْتَرَأْتُ أَنْ أَشْرَبَ الْمَاءَ وَالشَّافِعِيُّ يَنْظُرُ إِلَيَّ هَيْبَةً لَهُ

“Demi Allah, aku tidak berani meminum air dalam keadaan Asy-Syafi’i melihatku karena segan kepadanya”.

Diriwayatkan oleh Al–Imam Baihaqi, Umar bin Khattab mengatakan,

تواضعوا لمن تعلمون منه

” Tawadlu’lah kalian semua terhadap orang yang kalian tahu darinya ”

Al Imam As Syafi’i berkata,

كنت أصفح الورقة بين يدي مالك صفحًا رفيقًا هيبة له لئلا يسمع وقعها

“Dulu aku membolak balikkan kertas di depan Malik dengan sangat lembut karena segan padanya dan supaya dia tak mendengar jatuhnya kertas itu”.

Jelas tidak sama karena karena orang yang berjalan mencari ilmu Melaikat menghaparkan sayapnya.

Kemudian ini hadits sebagai gambaran lagi :

كن عالما او متعلما او مستمعا او محبا ولاتكن خامسا

Jadilah kamu sebagai orang yang alim atau pelajar atau orang yang mendengarkan atau orang yang cinta pada orang yang belajar jangan kamu menjadi orang yang kelima.

keterangan diatas menunjukkan bahwa interaksi langsung antara penceramah (guru,kiyai,ustad) dengan pendengar (murid) itu lebih utama daripada interaksi yang tidak langsung (melalui Hp, TV, internet) antara penceramah (guru,kiyai,ustad) dengan pendengar (murid).

ونظرك الی وجه العالم خير لك من الف فرس تصدقت بها في سبيل الله

“Pandanganmu terhadap wajah orang ‘alim lebih baik bagimu di bandingkan bersedekah 1000 muddah dijalan Allah ”

yang mana hadits ini merupakan nash yang jelas mengenai lebih banyak pahalanya mengaji (belajar) langsung kepada orang yang alim.

والله أعلم بالصواب

HUKUM MENGGUNAKAN DANA MASJID ATAU BARANG MILIK MASJID

HUKUM MENGGUNAKAN DANA ATAU BARANG MILIK MASJID

PERTANYAAN :

a). Bagaimana hukumnya menggunakan speaker masjid untuk kepentingan umum. Seperti pengumuman posyandu, berita kematian, ronda malam dll?

JAWABAN :

a). Apabila speaker tersebut berstatus wakaf, maka diperbolehkan jika wakif tidak mensaratkan wakafnya hanya untuk keperluan masjid, dan sudah tradisi speaker tersebut digunakan untuk keperluan seperti pada deskripsi. Jika speaker tersebut bukan barang wakaf, maka diperbolehkan dengan catatan terdapat maslahah yang kembali pada masjid atau masyarakat.

Referensi

حاشية إعانة الطالبين (1/ 69)

وَسَيَذْكُرُ الشَّارِحِ فِي بَابِ الْوَقْفِ أَنَّهُ حَيْثُ أَجْمَلَ الْوَاقِفُ شَرْطُهُ اُتُّبِعَ فِيْهِ الْعُرْفُ الْمُطَّرِدُ فِي زَمِنِهِ لِاَنَّهُ بِمَنْزِلَةِ شَرْطِ الْوَاقِفِ.

Terjemah: Apabila orang yang wakaf itu memutlakkan syaratnya maka mengikuti kebiasaan jamannya orang yang berwakaf tersebut karena kebiasaan tersebut posisinya sama dengan syarat orang yang wakaf.

الفتاوى الفقهية الكبرى (3/ 155)

وَأَنَّ الْمَسْجِدَ حُرٌّ يَمْلِك فَلَا يَجُوزُ التَّصَرُّفُ فيه إلَّا بِمَا فيه مَصْلَحَةٌ تَعُودُ عليه أو على عُمُومِ الْمُسْلِمِينَ

Terjemah: Sesungguhnya masjid itu seperti orang yang merdeka yang bisa memiliki sesuatu maka tidak dibolehkan menggunakan barang masjid kecuali ada maslahat yang kembali kepada masjid atau untuk kepentingan orang-orang muslim

b). Bagaimana caranya jika menggunakan alat masjid untuk kepentingan pribadi?

JAWABAN :

b). Di dalam penggunaan yang tidak diperbolehkan, si pengguna diharuskan membayar بأقصى القيم (dengan standart harga yang paling tinggi mulai terjadinya penggunaan sampai pembayaran).

Referensi :

  1. إعانة الطالبين الجزء الثالث ص : 176 – 177 دار الفكر.

فلو شغل المسجد بأمتعة وجبت الأجرة له فتصرف لمصالحه على الأوجه (قوله فلو شغل المسجد الخ) لا يظهر تفريعه على ما قبله وعبارة الروض وشرحه وينتقل ملك الموقوف إلى الله تعالى وجعل البقعة مسجدا أو مقبرة تحريرا لها كتحرير الرقبة فى أن كلا منهما ينتقل إلى الله تعالى وفى أنهما يملكان كالحر وفى أنهما لو منع أحد المسلمين منهما بغلق أو غيره ولم ينتفع بهما لا أجرة عليه اهـ باختصار وعبارة المنهاج وشرحه لابن حجر والأصح أنه إذا شرط فى وقف المسجد اختصاصه بطائفة كالشافعية اختص بهم فلا يصلى ولا يعتكف فيه غيرهم وبحث بعضهم أن من شغله بمتاعه لزمه أجرته لهم وفيه نظر إذ الذى ملكوه هو أن ينتفعوا به لا المنفعة كما هو واضح فالأوجه صرفها لمصالح الموقوف اهـ إذا علمت ذلك فكان الأولى للمؤلف أن يذكر قبل التفريع ما يتفرع عليه بأن يقول وجعل البقعة مسجدا تحرير لها كتحرير الرقبة فيملك كالرقبة المحررة ثم يفرع عليه ويقول فلو شغل المسجد الخ (قوله وجبت الأجرة له) أى للمسجد لأنه يملك وقوله فتصرف لمصالحه هذا معنى وجوب الأجرة له وقوله على الأوجه متعلق بوجبت ومقابله يقول تجب الأجرة لمن خصه الواقف بالمسجد كما يعلم من عبارة ابن حجر المارة آنفا

  1. هامش حاشية الباجورى الجزء الثانى ص : 12 – 15 دار الفكر.

(ومن غصب مالا لأحد لزمه رده لمالكه) ولو غرم على رده أضعف قيمته (و) لزمه أيضا (أرش نقصه) إن نقص كمن غصب ثوبا فلبسه أو نقص من غير لبس (و) لزمه أيضا (أجرة مثله) عما لو نقص المغصوب بخص سعره فلا يضمنه الغاصب على الصحيح وفى بعض النسخ ومن غصب مال امرىء أجبر برده إلخ (فإن تلف) المغصوب (ضمنه) الغاصب (بمثله إن كان له) أى المغصوب (مثل) والأصح أن المثلى ما حصره كيل أووزن وجاز السلم فيه كنحاس وقطن لا غالية ومعجون وذكر المصنف ضمان المتقوم بقوله (أو) ضمنه (بقيمته إن لم يكن له مثل) بأن كان متقوما واختلفت قيمته (أكثر ما كانت من يوم الغصب إلى يوم التلف) والعبرة فى القيمة بالنقد الغالب فإن غلب النقدان وتساويا قال الرافعى عين القاضى واحدا منهما اهـ

c). Bagaimana hukumnya menggunakan dana masjid yang telah terkumpul dari kotak jariyah untuk acara ceremony (mauludan, rojaban, sunatan massal dll.). Sedangkan semua biaya, baik bisyaroh, konsumsi dan lain lain diambilkan dari dana tersebut ?

JAWABAN :

c). Penggunaan dana masjid yang terkumpul dari amal jariyah untuk hal hal seperti di atas hukumnya ditafsil:

~Tidak diprbolehkan apabila dana tersebut diberikan untuk pembangunan masjid.

~Diperbolehkan bila dana tersebut diberikan untuk kemaslahatan masjid dan acara tersebut bisa menambah semaraknya/ ramainya masjid.

Referensi :

  1. بغية المسترشدين ص : 65 دار الفكر

(مسئلة ب) يجوز للقيم شراء عبد للمسجد ينتفع به لنحو نزح إن تعينت المصلحة فى ذلك.

إذ المدار كله من سائر الأولياء عليها نعم لا نرى للقيم وجها فى تزويج العبد المذكور كولى اليتيم إلا أن يبعه بالمصلحة فيزوجه مشتريه ثم يرد للمسجد بنحو بيع مراعيا فى ذلك المصلحة ويجوز بل يندب للقيم أن يفعل ما يعتاد فى المسجد من قهوة ودخون ونحوهما مما يرغب نحو المصلين وإن لم يعتد قبل إذا زاد على عمارته

“Diperbolehkan bahkan disunnahkan bagi takmir melakukan sesuatu yang biasa dilakukan di masjid,

seperti menyediakan kopi, rokok dan sesuatu yang disukai para jama’ah

walaupun hal ini tidak dibiasakan sebelumnya apabila uang kas ini sudah melebihi untuk pembangunan masjid”.

Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 65

  1. فتح الاله المنان للشيخ سالم بن سعيد بكير باغيثان الشافعي ص : 150

سئل رحمه الله تعالى عن رجل وقف اموالا كثيرة على مصالح المسجد الفلاني وهو الان معمور وفي خزنة المسجد من هذا الوقف الشئ الكثير فهل يجوز اخراج شئ من هذا الوقف لاقامة وليمة مثلا يوم الزينة ترغيبا للمصلين المواظبين ؟ فا جاب الحمد لله والله الموافق للصواب الموقوف على مصالح المساجد كما في مسئلة السؤال يجوز الصرف فيه البناء والتجصيص المحكم و في أجرة القيم والمعلم والامام والحصر والدهن وكذا فيما يرغب المصلين من نحو قهوة وبخور يقدم من ذلك الاهم فالاهم وعليه فيجوز الصرف في مسئلة السؤال لما ذكره السائل اذافضل عن عمارته ولم يكن ثم ما هو اهم منه من المصالح اهـ

Beliau (mualif kitab ini) di tanya tentang seseorang yg mewakafkan hartanya yg sangat banyak untuk kemaslahatan masjid dan sekarang masjid tersebut telah makmur (banyak yg ibadah disana) dan ada di kas masjid harta wakaf orang tersebut masih lebih karena sangat banyaknya ,

Maka apakah boleh mengeluarkan sebagian harta wakof ini untuk suatu acara agar orang orang yg solat lebih giat lagi ?

Maka beliau menjawab :

Segala puji bagi allah dan allah jua lah yg memberikan jalan kepada kebenaran.

Harta harta yg di wakofkan untuk kemaslahatan masjid , sebagaimana pada soal tsb ,

Boleh mentasarufkan harta wakof tsb untuk pembangunan , pengecatan , gaji marbot , asatidz , imam , begitu pula boleh untuk membuat lebih giat lagi orang yg solat seperti menyajikan kopi , bukhur(asap yg wangi untuk mewangikan masjid) akan tetapi semua harta wakaf itu harus di utamakan mana yg lebih penting , Oleh karena itu boleh mentasarufkan harta tsb untuk pertanyaan tadi dg syarat harta tsb sudah lebih dari kebutuhan masjid maka boleh mentasarufkannya untuk kemaslahatan masjid (seperti menjamukan kopi tadi , bukhur dll).

Fathul ilahil manan hal 150. Karangan syekh salim bin said.

  1. فتاوى بافضل ص:100

ما قول العلماء نفع الله بهم في مسجد عليه اوقاف.اراد جماعة من طلب العلم احياء بين العشاءين فيه لقراءة بعض كتب الفقه فهل للناظر ان يصرف لهم من غلة الوقف مما يكفي السريح لهم. لان السراح الذي لقراءة الحزب لا يمكنهم القراءة عليه ام لا؟ يجوز للناظر ان يصرف لهم مما يكفي التسريج للقرأة المذكورفي السؤال, والحال ما ذكر السائل, من غلة وقف المسجد الزائدة على عمارته واهم مصالحه ان لم يتوقع طرؤه اهم منه,والا فليس له ذالك,لان قرأة الفقه فيه كقراءة القراءن وهي من المصالح لان فيها احياء له, قال في القلائد:وافتى بعض اهل اليمن بحواز صرف الزائد المتسع لدراسة علم او قراءن فيه (المسجد) ,قال لانه لا غاية له.

Apa pendapat para ulama tentang masjid yg ada padanya harta harta wakaf karena ada sebagian santri (para pencari ilmu) ingin menghidupkan antara waktu magrib dan isya di dalam masjid untuk mempelajari kitab kitab fiqh

maka apakah boleh bagi pengelola wakaf untuk menggunakan harta wakaf tsb untuk keperluan menerangi mereka karena lampu yg mereka gunakan tidak cukup bagian sebagian kelompok yg lain?

Maka beliau menjawab :

Boleh menggunakan harta wakaf untuk keperluan menerangi mereka untuk mempelajari fiqh di masjid akan tetapi hal itu jika harta tersebut lebih dari pembangunan untuk masjid (jadi jika masih di butuhkan untuk membangun masjid maka tidak boleh) ,

kebolehan tsb karena mempelajari ilmu fiqh itu disamakan dg membaca alquran karena sama sama untuk memakmurkan masjid.

Telah berkata di kitab qolaid : Telah berfatwa sebagian ulama yaman akan kebolehannya menggunakan harta wakaf yg berlebih untuk menggunakannya untuk mempelajari ilmu dan membaca quran di masjid.

(Fatwa syekh bafadhol hal 100).

والله تعالى اعلم بالصواب

DALIL APAKAH QURBAN ATAU AQIQAH TERLEBIH DAHULU

KAIDAH FIQH :

إِذَا تَزَاحَمَتِ الْمَصَالِحُ قُدِّمَ اْلأَعْلَى مِنْهَا وَإِذَا تَزَاحَمَتِ الْمَفَاسِدُ قُدِّمَ اْلأَخَفُّ مِنْهَا

Jika ada beberapa kemaslahatan bertabrakan, maka maslahat yang lebih besar (lebih tinggi) harus didahulukan. Dan jika ada beberapa mafsadah (bahaya, kerusakan) bertabrakan, maka yang dipilih adalah mafsadah yang paling ringan

لاَ يَجُوْزُ تَقْدِيْمُ الْعِبَادَاتِ أَوِ الْكَفَّارَاتِ عَلَى سَبَبِ الْوُجُوْبِ وَيَجُوْزُ تَقْدِيْمُهَا بَعْدَ وُجُوْدِ السَّبَبِ وَقَبْلَ شَرْطِ الْوُجُوْبِ وَتَحَقُّقِهِ

Tidak boleh mendahulukan pelaksanaan ibadah atau kaffarah sebelum adanya sebab wujûb dan diperbolehkan melaksanakannya setelah adanya sebab wujûbnya sebelum ada dan terpenuhi syarat wajibnya.

APAKAH QURBAN ATAU AQIQAH TERLEBIH DAHULU

Jika mampu membeli dua kambing untuk qurban dan aqiqoh maka itu lebih baik. Jika mampu hanya satu kambing, maka qurban lebih afdol daripada aqiqoh, dan qurbanlah yang didahulukan daripada aqiqoh dengan alasan-alasan sebagai berikut :

a. Aqiqah waktunya lebih luas (muwassa’). Sementara ibadah qurban waktunya telah ditentukan syari’at dan terbatas (mudhayaq), yaitu harus dilaksanakan pada tanggal 10-14 Dzulhijjah.
b. Qurban lebih dahulu disyariatkan dalam Islam daripada aqiqoh.
c. Pelaksanaan qurban pada tanggal 10, 11, 12 dan 13 bersifat ada’ (اداء) sedangkan pelaksanaan aqiqoh bagi orang dewasa bersifat qodlo’, ada’ lebih afdol daripada qodlo’.
d. Kesunnahan aqiqoh bagi orang dewasa masih diikhtilafkan antara ulama, sedangkan kesunnahan qurban tidak diikhtilafkan.

Referensi :

١. وقد سئل ابن حجر المكي الشافعي رحمه الله : عن ذبح شاة أيام الأضحية بنيتها ونية العقيقة ، فهل يحصلان أو لا ؟
فأجاب : الذي دل عليه كلام الأصحاب وجرينا عليه منذ سنين : أنه لا تداخل في ذلك ؛ لأن كلاًّ من الأضحية والعقيقة سنَّةٌ مقصودةٌ لذاتها ، ولها سبب يخالف سبب الأخرى ، والمقصود منها غير المقصود من الأخرى ، إذ الأضحيةُ فداءٌ عن النفس ، والعقيقةُ فداءٌ عن الولد ، إذ بها نُمُّوهُ وصلاحهُ ، ورجاءُ بِرِّهِ وشفاعته ، وبالقول بالتداخل يبطل المقصود من كلٍ منهما ، فلم يمكن القول به ، نظير ما قالوه في سنة غسل الجمعة وغسل العيد ، وسنة الظهر وسنة العصر ، وأما تحية المسجد ونحوها فهي ليست مقصودة لذاتها بل لعدم هتك حرمة المسجد ، وذلك حاصلٌ بصلاة غيرها ، وكذا صوم نحو الاثنين ؛ لأن القصد منه إحياء هذا اليوم بعبادة الصوم المخصوصة ، وذلك حاصلٌ بأي صومٍ وقع فيه ، وأما الأضحية والعقيقة ، فليستا كذلك كما ظهر مما قررته وهو واضح .. انتهى  الفتاوى الفقهية  ( 4 / 256 ) .

قال ابن حجر الهيتمي رحمه الله في “تحفة المحتاج شرح المنهاج” (9/371) :

” وَظَاهِرُ كَلَامِ َالْأَصْحَابِ أَنَّهُ لَوْ نَوَى بِشَاةٍ الْأُضْحِيَّةَ وَالْعَقِيقَةَ لَمْ تَحْصُلْ وَاحِدَةٌ مِنْهُمَا ، وَهُوَ ظَاهِرٌ ; لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا سُنَّةٌ مَقْصُودَةٌ ” انتهى
فالأضحية سنة مؤكدة في حق القادر عليها، فإن استطعت الجمع بين فعل السنتين: الأضحية والعقيقة فهذا حسن، مع الإعراض عن بذل المصاريف غير الضرورية في العقيقة، وإن لم تستطع الجمع بين سنة الأضحية وذبح العقيقة المطلوبة شرعا، فقدم سنة الأضحية لتقدم وقتها على زمن العقيقة، وراجع الفتوى رقم: 44768.
هذا إضافة إلى أن الأضحية أقوى تأكيدا من العقيقة عند بعض أهل العلم كالمالكية، ففي مواهب الجليل للحطاب: قال ابن عرفة: وفي سماع القرينين من وافق يوم عقيقة ولده يوم الأضحى ولا يملك إلا شاة عق بها ابن رشد إن رجا الأضحية في تالييه، وإلا فالأضحية، لأنها آكد. قيل: سنة واجبة، ولم يقل في العقيقة، انتهى.

CARA MANDI NABI SAW DAN HUKUM MENGGUNAKAN AIR MASJID

PERTANYAAN :

  1. APAKAH CARA MANDI ROSULULLOH SAW SEBAGAIMANA YANG SEDANG BEREDAR DI INTERNET ITU BENAR?

2. BAGAIMANA HUKUMNYA MEMANFAATKAN AIR MASJID UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI?

Jawaban no 2

Beberapa dalil tentang tata cara mandi Raasulullah , dan kebanyakan tata cara mandi rasulullah yg disebutkan dalam hadist adalah mandi wajib / mandi janabah , dan biasanya beliau mulai dr kepala setelah wudhu sebagaimana Sebagaimana istri2 Rasulullah mempraktekkannya berikut hadistnya :

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, beliau berkata:

كُنَّاإِذَأَصَابَتْ إِحْدَانَاجَنَابَةٌأَخَذَتْ بِيَدَيْهَاثَلَاثًافَوْقَ رَأْسَهَا ثُمَََّ تَأْخُذُ بِيَدِهَا عَلَى شِقِّهَاالْأيَْمَنِ وَبِيَدِهَااْلأُخْرَى عََََلَى شِقِّهَااْلأ يْسَرِ

Kami ( istri-istri Nabi) apabila salah seorang diantara kami junub, maka dia mengambil (air) dengan kedua telapak tangannya tiga kali lalu menyiramkannya di atas kepalanya, kemudian dia mengambil air dengan satu tangannya lalu menyiramkannya ke bagian tubuh kanan dan dengan tangannya yang lain ke bagian tubuh yang kiri.” (Hadits Shahih riwayat Bukhari: 277 dan Abu Dawud: 253)

  1. Dari Jubair bin Muth’im berkata, “Kami saling memperbincangkan tentang mandi janabah di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda,

أَمَّا أَنَا فَآخُذُ مِلْءَ كَفِّى ثَلاَثاً فَأَصُبُّ عَلَى رَأْسِى ثُمَّ أُفِيضُهُ بَعْدُ عَلَى سَائِرِ جَسَدِى

“Saya mengambil dua telapak tangan, tiga kali lalu saya siramkan pada kepalaku, kemudian saya tuangkan setelahnya pada semua tubuhku.” (HR. Ahmad 4/81. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim).

Dan dalam Riwayat yg lain jika beliau mandi junub , beliau memulai dgn mencuci tangan , dan kemaluan kemudian berwudhu dan mengusap2. Kapalanya dgn air hingga merata baru kemudian menguyurkannya kesuluruh tubuh dr kepala , berikut dua hadist yg diriwaayatkan oleh 2 istri Rasulullah

  1. Hadits pertama riwayat Aisyah :

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِى الْمَاءِ ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ، ثُمَّ يُفِيضُ

 الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

Dari ‘Aisyah, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.” (HR. Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316)

  1. Hadits kedua riwayat Maimunah :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَتْ مَيْمُونَةُ وَضَعْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مَاءً يَغْتَسِلُ بِهِ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ ، فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ ، فَغَسَلَ مَذَاكِيرَهُ ، ثُمَّ دَلَكَ يَدَهُ بِالأَرْضِ ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ ، ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ

Dari Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Maimunah mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).” (HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)

  1. Mengatasnamakan sunah rosul

Dari Al Mughirah, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4).

Dalam hadits yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ بنيَ لَهُ بَيْتٌ فِي جَهَنَّمَ

“Barangsiapa berdusta atas namaku, maka akan dibangunkan baginya rumah di (neraka) Jahannam.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir)

Imam Dzahabi juga membawakan hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang berkata atas namaku padahal aku sendiri tidak mengatakannya, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka.”

Jawaban no 3

  1. Sebagaimana telah diketahui, bahwa air yang berada di masjid wakaf statusnya adalah milik masjid. Adapun pemanfaatannya menjadi satu paket dalam pemanfaatan masjid yang berupa barang wakafan. Pemanfaatan barang yang telah diwakafkan harus sesuai dengan tujuan pihak yang mewakafkan (Qasdul Waqif). Hal ini terus berlaku selama tujuan pewakafan tersebut dapat dibenarkan menurut syariat dan menghasilkan kemaslahatan. Namun, apabila tujuan pihak yang mewakafkan (Qasdul Waqif) tersebut belum jelas, maka yang menjadi tolak ukur adalah kebiasaan (‘Urf) yang berlaku di daerah tersebut.

 Hasyiyah Al-Qulyubi, vol. III/100.

Pemanfaatan air yang berada di masjid sangat mirip dengan permasalahan yang dibahas di dalam Bab Wakaf dari kitab Fathul Mu’in. Syaikh Zainuddin Al-Malibari berkata sebagai berikut:

وَسُئِلَ الْعَلَّامَةُ الطَّنْبَدَاوِيْ عَنِ الْجِوَابِيْ وَالْجِرَارِ الَّتِيْ عِنْدَ الْمَسَاجِدِ فِيْهَا الْمَاءُ إِذَا لَمْ يُعْلَمْ أَنَّهَا مَوْقُوْفَةٌ لِلشُّرْبِ أَوِ الْوُضُوْءِ أَوِ الْغُسْلِ الْوَاجِبِ أَوِ الْمَسْنُوْنِ أَوْ غَسْلِ النَّجَاسَةِ؟ فَأَجَابَ إِنَّهُ إِذَا دَلَّتْ قَرِيْنَةٌ عَلَى أَنَّ الْمَاءَ مَوْضُوْعٌ لِتَعْمِيْمِ الْاِنْتِفَاعِ: جَازَ جَمِيْعُ مَا ذُكِرَ مِنَ الشَّرْبِ وَغَسْلُ النَّجَاسَةِ وَغَسْلُ الْجِنَابَةِ وَغَيْرُهَا وَمِثَالُ الْقَرِيْنَةِ: جِرْيَانُ النَّاسِ عَلَى تَعْمِيْمٍ لِاِنْتِفَاعٍ مِنْ غَيْرِ نَكِيْرٍ مِنْ فَقِيْهٍ وَغَيْرِهِ إِذِ الظَّاهِرُ مِنْ عَدَمِ النَّكِيْرِ: أَنَّهُمْ أَقْدَمُوْا عَلَى تَعْمِيْمِ الْاِنْتِفَاعِ بِالْمَاءِ بِغُسْلٍ وَشُرْبٍ وَوُضُوْءٍ وَغَسْلِ نَجَاسَةٍ فَمِثْلُ هَذَا إِيْقَاعٌ يُقَالُ بِالْجَوَازِ

“Al-‘Allamah Syaikh Thambadawi ditanya tentang masalah kamar mandi dan tempat air yang berada di masjid yang berisi air ketika tidak diketahui status pewakafan air tersebut,  apakah untuk minum, untuk wudlu, untuk mandi wajib atau sunnah, atau membasuh najis?. Beliau menjawab: Sesungguhnya apabila terdapat tanda-tanda (Qorinah) bahwa air tersebut disediakan untuk kemanfaatan umum, maka boleh menggunakannya untuk semua kepentingan di atas, yaitu untuk minum, membasuh najis, mandi junub dan lain sebagainya. Contoh dari tanda-tanda (qorinah) tersebut adalah kebiasaan manusia untuk memanfaatkannya secara umum tanpa ada inkar dari orang yang ahli fikih ataupun yang lainnya. Dan contoh pemanfaatan air sebagaimana contoh di atas adalah boleh,”.

Fathul Mu’in, hlm 88-89.

Dari penjelasan Syaikh Zainuddin Al-Malibari yang mengutip pendapat Syaikh Thambadawi dapat ditarik kesimpukan bahwa memanfaatkan air yang berada di masjid dengan cara mengambilnya untuk kepentingan pribadi dapat dibenarkan secara syariat.

MENONTON TAYANGAN KARMA DI TV : Hasil Keputusan Bahtsul Masail LBM NU Kab/Kot Blitar Di Lembaga Pendidikan Islam Darul Huda (SMKI 2) Wlingi Edisi Putara Ke V 21-Juli-2018 M

Hasil Keputusan Bahtsul Masail LBM NU Kab/Kot Blitar
Di Lembaga Pendidikan Islam Darul Huda (SMKI 2) Wlingi
Edisi Putara Ke V 21-Juli-2018 M

Materi Pembahasan:
1. Menayangkan, menonton dan mempercayai Karma di TV
2. Muntahan atau gumoh bayi
3. Bekas tinta PEMILU ketika wudhu dan mandi

Dewan Mushohhih
1. KH. Ardani Ahmad
2. KH. Azizi Hasbulloh
3. Ky. Fauzi Hamzah Syam

Dewan Perumus
1. KH. Mukhroji
2. Ky. Hamid Ihsan
3. Ky. Agus Muhtasin
4. Ky. Dinul Qoyyim

Moderator
Ky. M. Ali Romzi

Notulen
Ky. Taufiqur Rohman
Ky. Zainul Millah

MEMUTUSKAN

  1. Menayangkan,menonton dan mempercayai Karma di TV

Karma adalah acara televisi realitas adikodrati (supranatural) yang di tayangkan oleh salah satu stasiun TV swasta sejak 24 Desember 2017.Acara yang berdurasi 120 menit ini di pandu oleh robby purba sebagai pembawa acara dan roy kiyoshi sebagai penerawang.dalam setiap episode terdapat 31 orang yang di undang sesuai tanggal lahir yang berbeda, Roy yang merupakan seorang yang indigo mempunyai kemampuan menerawang masa lalu dan masa depan seseorang melalui data tanggal lahir, gambar, tulisan dan pengakuan seseorang yang diundang atau partisipan, dan mengungkap kisah hidupnya serta memberinya saran untuk kehidupan yang lebih baik. sebagaimana di kutip dari wikipedia.

Pertanyaan :
a. Bagaimana hukumnya menayangkan acara seperti karma tersebut?

Jawaban :
Hukumnya haram karena mengandang hal-hal yang di haramkan :
a. Membuka aib orang lain,
b. Membublikasikan praktek kemaksiatan seperti praktek ramalan dan menyampaikan hal-hal ghaib yang di larang.
c. Merusak aqidah

Referensi Kitab :
ﺇﺣﻴﺎء ﻋﻠﻮﻡ اﻟﺪﻳﻦ ج 2 ص 328
الآفَةُ الثَّانِيَةَ عَشْرَةَ : إِفْشَاءُ السِّرِّ: وَهُوً مَنْهِيٌ عَنْهٌ لِمَا فِيْهَ مِنَ اْلإِيْذَاءِ وَالتَّهَاوُنِ بِحَقِّ المَعَارِفِ وَالْأَصْدِقَاءِ. قَالَ النَّبِـيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ الحَدِيثَ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ.
Kemaksiatan mulut ke dua belas adalah menyebarkan rahasia atau aib orang lain karena di dalamnya terdapat unsur menyakiti orang lain dan meremehkan etika pergaulan dan pertemanan. Nabi bersabda : ketika seseorang bercerita kemudian dia pergi maka cerita itu adalah amanah (yang harus dijaga).

إسعاد الرفيق ج 2 ص 127 (دار إحياء الكتب العربية)
(وَ) مِنْهَا (الْإِعَانَةُ عَلَى الْمَعْصِيَةِ) أَيْ عَلَى مَعْصِيَةٍ مِنْ مَعَاصِى اللهِ تَعَالَى بِقَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ غَيْرِهِ ثُمَّ إِنْ كَانَتِ الْمَعْصِيَّةُ كَبِيْرَةً كَانَتِ الْإِعَانَةُ عَلَيْهَا كَذَلِكَ
Termasuk dari kemaksiatan adalah : membantu terjadinya kemaksiatan baik dengan perkataan, perbuatan atau yang lain, dan termasuk dosa besar apabila kemasiatan yang dibantu juga kemaksiatan yang besar.

إحياء علوم الدين ج 1 ص 35
فَلْيَحْذَرْ الْكَذِبَ وَحِكَايَاتِ أَحْوَالٍ تُوْمِىءُ إِلَى هَفَوَاتٍ أَوْ مُسَاهَلاَتٍ يَقْصُرُ فَهْمُ الْعَوَّامِ عَنْ دَرْكِ مَعَانِيْهَا أَوْ عَنْ كَوْنِهَا هَفْوَةً نَادِرَةً مُرْدَفَةً بِتَكْفِيْرَاتٍ مُتَدَارَكَةٍ بِحَسَانَةٍ تُعْطَى عَلَيْهَا فَإِنَّ الْعَامَ يَعْتَصِمُ بِذَلِكَ فِيْ مُسَاهَلاَتِهِ وَهَفَوَاتِهِ وَيُمْهِدَ لِنَفْسِهِ عُذْرًا
Hindarilah kebohongan dan cerita-cerita kesalahan atau keteledoran orang dimana orang awam tidak mampu memahami arti yang terkandung di dalamnya, atau mereka tidak memahami bahwa kesalahan tersebut bersifat jarang apalagi kemudian kesalahan itu diikuti dengan kebaikan yang dapat meleburnya, karena orang awam justeru menjadikannya sebagai legalitas dan alasan dari kesalahan dan keteledoran mereka.

الموسوعة الفقهية ج 30 ص 33
العِرَافَةُ حَرَامٌ بِنَصِّ الْحَدِيْثِ النَّبَوِيِّ فَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ مَنْ أَتَى كَاهِنَا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أَنْزَلَ عَلَى مُحَمَّدٍ.
Praktek ramal adalah haram berdasarkan Hadits yang diriwayatkan Abu Harairah bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallama bersabda : barang siapa yang mendatangi peramal lalu dia mempercayai kata sang peramal maka dia telah mengkufuri apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.

اتحاف السادة المتقين ج 2 ص 286
وَﻻَ ﻳَﺠُﻮْزُ اْﻹِﺳْﺘِﻌَﺎﻧَﺔُ ﺑِﺎﻟْﺠِﻦِّ ﻓِﻲْ ﻗَﻀَﺎءِ ﺣَﻮَاﺋِﺠِﻪِ وَاﻣْﺘِﺜَﺎلُ أَوَاﻣِﺮِﻩِ وَإِﺧْﺒَﺎرِﻩِ ﺑِﺸَﻲْءٍ ﻣِﻦَ اﻟْﻤَﻐِﻴْﺒَﺎتِ وَﻧَﺤْﻮُ ذَﻟِﻚَ
Dan tidak boleh meminta bantuan jin dalam meraih kebutuhan, tidak boleh mentaati perintah-perintahnya dan tidak boleh meminta bantuan jin dalam menginformasikan hal-hal gaib.
إحياء علوم الدين الجزء الأول ص: 35
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَسْتَجِيْزُ وَضْعَ الْحِكَايَاتِ الْمُرَغِّبَةِ فِيْ الطَّاعَاتِ وَيَزْعَمُ أَنَّ قَصْدَهُ فِيْهَا دَعْوَةُ الْخَلْقِ إِلَى الْحَقِّ فَهَذِهِ مِنْ نَزَغَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّ فِيْ الصِّدْقِ مَنْدُوْحةً عَنِ اْلكَذِبِ وَفِيْمَا ذَكَرَ اللهُ تَعَالَى وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَنِيَّةٌ عَنِ الْاِخْتِرَاعِ فِيْ الْوَعْدِ
Sebagian orang ada yang menganggap boleh membuat cerita palsu yang dapat memberi motivasi dalam ketaatan, dia menganggap bahwa tujuan semacam itu bagian dari dakwah kebenaran, maka ini merupakan bujukan syetan, karena kebenaran tidak butuh kebohongan (hal-hal yang diharamkan) dan apa yang telah difirmankan Allah dan disabdakan oleh Rosul-Nya sudah cukup tanpa harus melakukan janji-janji palsu.

Pertanyaan :
b. Bagaimana pula hukum menonton dan mempercayainya?

Jawaban :
Hukum menonton tayangan karma adalah haram kecuali jika sebagai bahan kajian atau dlorbil amtsal (memberi contoh) untuk memberikan nasehat atau untuk membedakan antara haq dan bathil selama tidak sampai mempercayai ramalannya

Referensi :

البجيرمي على المنهج الجزء الرابع ص : 375
وَكُلُّ مَا حَرُمَ حَرُمَ التَّفَرُّجُ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ إِعَانَةٌ عَلَى مَعْصِيَةٍ
Setiap perkara yang haram maka haram pula menontonnya karena termasuk membantu terjadinya kemaksiatan
فتح العلي المالك ج 1 ص 209
أَمَّا الَّذِي يَضْرِبُ الْخَطَّ وَغَيْرَهُ وَيُخْبِرُ بِالْأُمُورِ الْمَغِيْبَاتِ فَلَا يَجُوزُ تَصْدِيقُهُ , وَلَا يَحِلُّ وَهُوَ فَاسِقٌ وَيُؤَدَّبُ ا هـ .
Adapun orang yang meramal menggunakan tulisan atau lainnya dan memberi informasi hal-hal yang gaib, maka tidak boleh mempercayainya
بغية المسترشدين ص:299 دار الفكر
وَأَنَّ مَا يَظْهَرُ عَلَى يَدِ الْفَاسِقِ مِنَ الْخَوَارِقِ مِنَ السِّحْرِ الْمُحَرَّمِ تَعَلُّمُهُ وَتَعْلِيْمُهُ وَفِعْلُهُ وَيَجِبُ زَجْرُ فَاعِلِهِ وَمُدَّعِيْهِ وَمَتَى حَكَمْنَا بِأَنَّهُ سِحْرٌ وَضَلاَلٌ حَرُمَ التَفَرُّجُ عَلَيْهِ إِذِ الْقَاعِدَةُ أَنَّ التَّفَرُّجُ عَلَى الْحَرَامِ حَرَامٌ كَدُخُوْلِ مَحَلِّ الصُّوَرِ الْمُحَرَّمِ وَحَرُمُ الْمَالُ الْمَأْخُوْذُ عَلَيْهِ اهـ
Keluarbiasaan (suprata natural) yang tampak pada orang yang fasik termasuk sihir yang diharamkan mempelajari dan mengajarkannya. Dan wajib melarang pelaku dan orang yang mengaku mampu melakukannya. Dan ketika kita telah menghukuminya sebagai sihir dan kesesatan maka haram pula menontonnya karena adanya Qoidah bahwa menghibur diri atau menonton suatu yang haram adalah haram, sebagaimana menghadiri tempat yang disitu terdapat gambar atau lukisan yang haram.
اسعاد الرفيق ص 69 ج 2
وَمِنْهَا مُشَاهَدَةُ الْمُنْكَرْ إِذَا كَانَ قَادِرًا عَلَى إِنْكَارِهِ وَلَمْ يُنْكِرْهُ أَوْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَيْهِ وَلَكِنَّهُ لَمْ يُعْذَرْ فِيْ مُشَاهَدَتِهِ لَهُ بِأَنْ كَانَ قَادِرًا عَلَى فِرَاقِ الْمَحَلِّ الَّذِيْ هُوَ فِيْهِ وَلَمْ يُفَارِقْ ذَلِكَ الْمَحَلِّ
Termasuk dari maksiat mata adalah melihat atau menonton kemunkaran ketika mampu melakukan nahi munkar atau mencegahnya namun tidak melakukannya, atau tidak mampu melakukan nahi munkar namun tidak ada alasan yang memperbolehkan melihatnya sebagaimana dia mampu meninggalkan tempat terjadinya kemungkaran namun mau meninggalkannya.
فتح الباري – ابن حجر – (ج 1 / ص 124)
قَالَ فَمَنْ اِدَّعَى عِلْمَ شَيْءٍ مِنْهَا غَيرَ مُسْنَدٍ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ كَاذِبًا فِيْ دَعْوَاهُ قَالَ وَأَمَّا ظَنُّ الْغَيْبِ فَقَدْ يَجُوْزُ مِنَ الْمُنَجِّمْ وَغَيْرِهِ إِذَا كَانَ عَنْ أَمْرٍ عَادِيٍ وَلَيْسِ ذَلِكَ بِعِلْمٍ
Maka barang siapa mengaku mengetahui hal-hal yang gaib yang tidak disandarkan kepada Rasulalloh Shallallhohu alaihi wasallama maka dia bohong dengan pengakuannya, adapun menduga kuat terhadap hal yang gaib maka boleh dari seorang munajjim (ahli perbintangan) selama dalam hal-hal sudah biasa terjadi.

  1. Muntahan atau gumoh bayi

Seorang ibu yang memiliki anak yang masih bayi,hampir bisa dipastikan memiliki permasalahan terkait muntahan atau dalam bahasa jawanya gumoh,mengingat seorang bayi sering mengeluarkan muntahan atau gumoh tersebut dan mengenai baju atau bagian-bagian badan sang ibu,tentunya kalau muntahan ini najis akan cukup memberatkan jika akan melakukan sholat sang ibu harus mandi dan ganti baju terlebih dahulu.

Pertanyaan:
a. Apakah ibu tersebut setiap sholat harus menyucikan dari najis muntahan si bayi?.

Jawaban :
Ketika najis muntahan tersebut sulit di hindari, maka hukumnya ma’fu sehingga tidak wajib menyucikan najis muntahan tersebut.

فتح المعين مع إعانة الطالبين الجزء الأول صحـ: 101
وَإِذَا تَأَمَّلْتَ الْجَوَابَ الْمَذْكُوْرَ تَجِدُ فِيْهَ أَنَّهُ لاَ فَرْقَ فِيْ الْعَفْوِ عَنِ الصَّبِيِّ بَيْنِ ثَدْيِ أُمِّهِ الدَّاخِلِ فِيْ فِيْهِ وَغَيْرِهِ مِنَ الْمُقَبِّلِ لَهُ وَالْمُمَاسِّ لَهُ وَلَيْسَ فِيْهِ تَخْصِيْصٌ بِالثَّدْيِ الْمَذْكُوْرِ
(قَوْلُهُ عُفِيَ إلخ) أي فَلَهَا أَنْ تُصَلِّيَ بِهِ وَلاَ تَغْسِلُهُ
Ketika kemu menelaah jawaban tersebut, kamu akan mendapati kesimpulan bahwa yang dimaafkan dari masalah najisnya muntahan bayi bukan hanya puting susu ibunya saja, akan tetapi yang lain juga dimaafkna seperti orang yang mencium dan menyentuhnya, jadi dalam kemakfuan tersebut tidak khusus puting susu sang ibu saja.
Maksud dimaafkan berarti boleh sholat meskipun terkena najis tersebut dan tidak mensucikannya.

فتح الجواد ص: 41 كما سبق
وَالْإِمَامُ مَالِكٍ قَدْ عَفَا عَنْ ثَوْبِ الْمُرْضِعَةِ إِنْ لَمْ تَدَعْ أَيْ تَتْرُكْ عِنْدَهُ أَسْبَابَ حَوْطَتِهِ أَيْ اِحْتِيَاطِهَا فِيْهِ مَعَ التَّحَرُّزِ مِنْهَا إِنْ بَالَ أَوْ رَاثَ الصَّبِيُّ بِهَا أَيْ بِثَوْبِ مُرْضِعَةٍ لَهَا فِيْ الصَّلاَةِ فِيْهَا بلِاَ نَضْحٍ لِبَوْلَتِهِ لِمَشَقَّةِ الْاِحْتِرَازِ عَنْهُ مَعَ عَدَمِ تَقْصِيْرِهَا
(قَوْلُهُ : مَعَ التَّحَرُّزِ) هُوِ مَعْنَى قَوْلِهِ إِنْ لَمْ تَدَعْ وَقَوْلُهُ : إِنْ بَالَ أَيْ أَوْ تَغَوَّطَ وَهَذَا مَذْهَبُ مَالِكٍ وَمُقْتَضَى قَوَاعِدِ مَذْهَبِنَا الْعَفْوُ أَيْضًا لِأَنَّ الْمَشَقَّةَ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ وَالْإِرْضَاعُ لَيْسَ قَيْدًا فَالْمُرَادُ بِهِ تَرْبِيَتُهُ لَكِنْ مَحَلُّهُ عِنْدَنَا إِذَا لَمْ تَقْدِرْ عَلَى ثَوْبٍ آخَرَ أَوْ قَدَرَتْ وَحَصَلَ لَهَا مَشَقَّةٌ شَدِيْدَةٌ بِأَنْ كَانَتْ فِيْ الشِّتَاءِ
Dalam madzhab malik dikatakan bahwa baju seorang ibu yang menyusui ketika terkena air kencing atau kotoran bayi maka hukumnya dimaafkan jika sudah berhati-hati dan berusaha menghindari. Dalam madzhab Syafi’i pun semestinya demikian karena kesulitan dapat mendatangkan kemudahan. Dan menyusui bukanlah ketentuan baku kerena yang dimaksud adalah perawatan, hanya saja menurut pendapat kita kemakfuan tersebut jika tidak ada baju yang lain atau ada baju lain namun sulit mendapatkannya, sebagaimana ketika musim hujan.

3. Bekas tinta biru PEMILU ketika mau wudhu dan mandi.

Ketika seseorang telah melakukan pencoblosan pada waktu PEMILU oleh pihak penyelenggara PEMILU yang berada di TPS di minta untuk menyelupkan jari tanganya pada tinta biru untuk memastikan pemilih tadi sudah benar-benar mencoblos,masalah timbul ketika di media sosial diviralkan bahwa orang setelah melakukan sholat dan mendapati jarinya masih terdapat bekas tinta tersebut maka sholat dan sesucinya tidak sah dan harus di ulang.

Pertanyaan :
a. Bagaimana hukum sholat yang di lakukan? apa benar tidak sah,dan harus di ulangi?.

Jawaban :
Hukumnya tafsil, apabila tinggal atsarnya (bekas atau sisa warna) maka sholatnya sah sehingga tidak harus diulang, namun apabila masih ada sisa tintanya bukan bekas atau sekedar warna maka wudhunya belum sah sehingga wudlu dan sholatnya wajib diulang.

Referensi :
فتح المعين مع إعانة الطالبين الجزء الأول ص: 35 دار إحياء الكتب العربية
(وَ) رَابِعُهَا (أَنْ لَا يَكُوْنَ عَلَى الْعُضْوِ حَائِلٌ) بَيْنَ الْمَاءِ وَالْمَغْسُوْلِ (كَنُوْرَةٍ) وَشَمْعٍ وَدُهْنٍ جَامِدٍ وَعَيْنِ حِبْرٍ وَحِنَّاءٍ بِخِلاَفِ دُهْنٍ جَارٍ أَيْ مَائِعٍ وَإِنْ لَمْ يَثْبُتْ الْمَاءُ عَلَيْهِ وَأَثَرِ حِبْرٍ وَحِنَّاءٍ
(قوله وَأَثَرِ حِبْرٍ وَحِنَّاءٍ) أَيْ وَبِخِلاَفِ أَثَرِ حِبْرٍ وَحِنَّاءٍ فَإِنَّهُ لاَ يَضُرُّ وَالْمُرَادُ بِالْأَثَرِ مُجَرَّدُ اللَّوْنِ بِحَيْثُ لاَ يَتَحَصَّلُ بِالْحَتِّ مَثَلاً مِنْهُ شَيْءٌ
Syarat sah wudlu yang ke empat adalah : tidak adanya penghalang antara air dan anggota yang dibasuh seperti kapur, lilin, minyak yang sudah mengeras, tinta dan pacar. Berbeda dengan minyak cair meskipun air tidak bias diam di atasnya, dan berbeda lagi bekas tinta dan bekas pacar maka tidak membahayakan. Yang dikehendaki dengan bekas tinta atau pacar adalah sekedar warna sekira apabila digosok tidak menghasilkan apa-apa.

KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

Keputusan Bahtsul Masail Maudlu’iyyah Konferwil PWNU Jawa Timur, 15-16 Dzulqa’dah 1439 H./28-29 Juli 2018 di PP. Lirboyo Kediri

Prinsip Menjalin Kerukunan Bagi Umat Islam Terhadap Pemeluk Agama Lain

  1. Dasar hubungan antara umat Islam dan pemeluk agama lain

Realitas keberagaman manusia dalam agama dan keyakinannya merupakan sunatullah yang tidak bisa dihilangkan. Andaikan Allah Swt mempersatukan manusia dalam satu agama misalnya tentu Dia kuasa, namun realitanya tidak demikian.

وَلَوْ شاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً واحِدَةً وَلا يَزالُونَ مُخْتَلِفِينَ . إِلاَّ مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ .

Dan jika Tuhan-mu Menghendaki, tentu Dia Jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat), kecuali orang yang Diberi rahmat oleh Tuhan-mu. Dan untuk itulah Allah Menciptakan mereka. Kalimat (keputusan) Tuhan-mu telah tetap, “Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS. Hud: 118– 119)

Perbedaan agama tidak bisa dijadikan alasan untuk berperilaku buruk, memusuhi dan memerangi pemeluk agama lain. Dengan demikian asas hubungan antara umat Islam dengan non muslim bukanlah peperangan dan konflik, melainkan hubungan tersebut didasari dengan perdamaian dan hidup berdampingan secara harmonis. Islam memandang seluruh manusia, apapun agama dan latar belakangnya, terikat dalam persaudaraan kemanusian (Ukhuwwah Insaniyyah) yang mengharuskan mereka saling menjaga hak-hak masing, mengasihi, tolong-menolong, berbuat adil dan tidak menzalimi yang lain. Allah Swt. berfirman:

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُم مِّنْ دِيَارِكُمْ أنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوْا إلَيْهِمْ إنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampong halamanmu. Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Komisi Maudhu’iyyah

Mushohhih:
KH.  Romadlon Khotib
KH. Muhibbul Aman Aly
KH. Azizi Hasbulloh

Perumus:
KH. Ahmad Asyhar Shofwan
K. Fauzi Hamzah Syam
KH. Shamthon Mashduqi
KH. Abd. Rozaq Sholeh

Moderator:
Ust. Ahmad Muntaha AM

Notulen:
Ust. H. Muchammad Mughits
Ust. Faurok Tsabat