MENYAKITI TETANGGA DENGAN BAU MASAKAN DAN MEMBUAT SUMUR BOR YANG MENJOROK KE TANAH TETANGGA

MENYAKITI TETANGGA DENGAN BAU MASAKAN

Dalam hadits nabi dijelaskan:

ان استقرضك اقرضته,وان استعانك اعنته,وان مرض عدته,وان احتاج اعطيته,وان افتقر عدت عليه,وان اصابه خير هنيته,وان اصابه مصيبۃ عزيته,واذا مات اتبعت جنازته,ولا تستطيل عليه بالبناء فتحجب عنه الريح الا باءذنه,

ولا توءذيه بريح قدرك الا ان تغرف له منها

,وان اشتريت فاكهۃ فاءهد له,وان لم تفعل فاءدخلها سرا,ولا تخرج بها ولدك ليغيظ بها ولده(رواه ابو الشيخ)

Dalam hadits di atas, artinya:

Janganlah kamu menyakiti tetanggamu dengan bau masakan kuah yang direbus di dalam periukmu, kecuali kamu memberi kuah kepada tetanggamu sekedarnya

Dalam fiqh hal ini masuk pada : Melakukan aktifitas dalam milik diri sendiri namun berdampak mudhorat Pada orang lain, mudharat dimaksud adalah menyakiti hati tetangga.

Batasan menggunkan hak sendiri (bukan fasilitas umum) adalah dibatasi dengan tidak melampawi kebiasaan tradisi yang ada, dalam arti disini Perbuatan harus merupakan perbuatan yang dimaklumi oleh pandangan publik umum/setempat. Yaitu dikembalikan pada ‘uruf masyarakat, apakah hal itu dianggap berlebihan atau tidak. Jika sudah dianggap tidak berlebihan ( لا يخالف العادة) maka hal itu dapat dibenarkan meskipun nanti berdampak mudharat pada orang lain. Pendapat ini merupakan Pendapat imam syafi’i. Ulamak menambah harus tidak ada niat menyakiti/membuat kerusakan dari pengguna yang dalam hal ini adalah orang yang memasak makanan.

Tentu Qosdu atau niat darinya juga menentukan.

تحفة المحتاج في شرح المنهاج (6/ 209)

(وَاخْتَارَ جَمْعٌ الْمَنْعَ مِنْ كُلِّ مُؤْذٍ لَمْ يُعْتَدْ وَالرُّويَانِيُّ أَنَّهُ لَا يُمْنَعُ إلَّا إنْ ظَهَرَ مِنْهُ قَصْدُ التَّعَنُّتِ وَالْفَسَادِ وَأَجْرَى ذَلِكَ فِي نَحْوِ إطَالَةِ الْبِنَاء),ِ وَأَفْهَمَ الْمَتْنُ أَنَّهُ يُمْنَعُ مِمَّا الْغَالِبُ فِيهِ الْإِخْلَالُ بِنَحْوِ حَائِطِ الْجَارِ كَدَقٍّ عَنِيفٍ يُزْعِجُهَا وَحَبْسِ مَاءٍ بِمِلْكِهِ تَسْرِي نَدَاوَتُهُ إلَيْهَا قَالَ الزَّرْكَشِيُّ وَالْحَاصِلُ مَنْعُ مَا يَضُرُّ الْمِلْكَ دُونَ الْمَالِكِ اهـ. وَاعْتُرِضَ بِمَا مَرَّ فِي قَوْلِنَا وَلَا يُمْنَعُ مِنْ حَفْرِ بِئْرٍ بِمِلْكِهِ وَيُرَدُّ بِأَنَّ ذَاكَ فِي حَفْرٍ مُعْتَادٍ وَمَا هُنَا فِي تَصَرُّفٍ غَيْرِ مُعْتَادٍ فَتَأَمَّلْهُ، ثُمَّ

رَأَيْتُ بَعْضَهُمْ نَقَلَ ذَلِكَ عَنْ الْأَصْحَابِ فَقَالَ قَالَ أَئِمَّتُنَا وَكُلٌّ مِنْ الْمُلَّاكِ يَتَصَرَّفُ فِي مِلْكِهِ عَلَى الْعَادَةِ وَلَا ضَمَانَ إذَا أَفْضَى إلَى تَلَفٍ وَمَنْ قَالَ يُمْنَعُ مِمَّا يَضُرُّ الْمِلْكَ دُونَ الْمَالِكِ مَحَلُّهُ فِي تَصَرُّفٍ يُخَالِفُ فِيهِ الْعَادَةَ لِقَوْلِهِمْ لَوْ حَفَرَ بِمِلْكِهِ بَالُوعَةً أَفْسَدَتْ مَاءَ بِئْرِ جَارِهِ أَوْ بِئْرًا نَقَصَتْ مَاءَهَا لَمْ يَضْمَنْ مَا لَمْ يُخَالِفْ الْعَادَةَ فِي تَوْسِعَةِ الْبِئْرِ أَوْ تَقْرِيبِهَا مِنْ الْجِدَارِ أَوْ تَكُنْ الْأَرْضُ خَوَّارَةً تَنْهَارُ إذَا لَمْ تُطْوَ فَلَمْ يَطْوِهَا فَيَضْمَنُ فِي هَذِهِ كُلِّهَا وَيُمْنَعُ مِنْهَا لِتَقْصِيرِهِ

الموسوعة الفقهية الكويتية (16/ 222)

(وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّ كُل وَاحِدٍ مِنَ الْمُلاَّكِ لَهُ أَنْ يَتَصَرَّفَ فِي مِلْكِهِ عَلَى الْعَادَةِ فِي التَّصَرُّفِ، وَإِنْ تَضَرَّرَ بِهِ جَارُهُ أَوْ أَدَّى إِلَى إِتْلاَفِ مَالِه)، كَمَنْ حَفَرَ بِئْرَ مَاءٍ أَوْ حُشٍّ فَاخْتَل بِهِ جِدَارُ جَارِهِ أَوْ تَغَيَّرَ بِمَا فِي الْحُشِّ مَاءُ بِئْرِهِ؛ لأَِنَّ فِي مَنْعِ الْمَالِكِ مِنَ التَّصَرُّفِ فِي مِلْكِهِ مِمَّا يَضُرُّ جَارَهُ ضَرَرًا لاَ جَابِرَ لَهُ، (فَإِنْ تَعَدَّى بِأَنْ جَاوَزَ الْعَادَةَ فِي التَّصَرُّفِ ضَمِنَ مَا تَعَدَّى فِيهِ لاِفْتِيَاتِهِ).

KESIMPULAN JAWABAN :

Orang yang memasak makanan yang orang melihatnya bahkan turut mencium bau sedapnya namun sengaja tidak diberi oleh pemasak makanan?

Maka Ditafshil :

Pekerjaan yang seperti itu Boleh boleh saja apabila :

A. Dia tidak ada niat menyakiti dan seterusnya.

B. Perbuatannya sudah susuai dengan pemakluman ‘uruf setempat, Seperti satu dapur dengan tetangga sebelah atau dapurnya berhimpitan sehingga aroma sedap makanan selalu sampai dan seterusnya.

C. Haram apabila salah satu dua poin diatas tidak terpenuhi.

Contoh yang melanggar poin A

Semisal ada inisiatif menyakiti. Seperti dalam diskripsi masalah, yaitu ada unsur/ niatan kesengajaan memamerkan serta tidak akan memberinya.

MEMBUAT SUMUR BOR YANG MENJOROK KE TANAH TETANGGA

Diskrpsi :

Terdapat Tetangga yaang punya sumur tua, tapi sudah lama tidak di pakai karena airnya sudah tidak ada lagi, kemudian dia berinisiatif untuk mengebor sumur itu ke arah samping, rencananyapun dilaksanakan sampai pengeboran tersebut membuahkan hasil, sumur itu sekarang penuh dengan air.

Pertanyaan :

Apakah si pemilik sumur ini tidak termasuk memgambil hak orang lain, karena ia mengebor ke arah samping yang jelas-jelas melewati tanah yang bukan miliknya?

JAWABAN :

Tidak Boleh kerena termasuk GHOSOB yaitu mengambil hak orang lain.

مأخوذ : حاشية الباجوري ج ٢ ص ١٥

فصل : في أحكام الغصب وهو لغة أخذ الشيئ ظلما مجاهرة

وشرعا : الاستيلاء علي حق الغير ويرجع الاستيلاء للعرف

Ghosob: adalah mengambil hak milik orang lain secara terang terangan.

~ Allah swt sangat murka terhadap orang yang mencuri tanah milik orang lain. Sebagaimana disebutkan dalam Hadist:

وَقَدْ رَوَى ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ : أَعْظَمُ الْغُلُولِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ذِرَاعُ أَرْضٍ يَسْرِقُهُ رَجُلٌ فَيُطَوَّقُهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِين

“paling besarnya khianat dihari kiamat adalah mencuri sehasta tanah milik orang. Maka allah akan membebani tanah yang dicuri sampai lapisan paling bawah.

Catatan :

Kepemilikan seseorang dalam kasus ini (tanah) tidak hanya dasar tanah, akan tetapi kepemilikan tersebut sampai pada lapisan yang ke tujuh (lapisan paling bawah).

Sesuai dengan penjelasan hadist di atas:

َ وَفِي الْحَدِيثِ تَحْرِيمُ الظُّلْمِ وَالْغَصْبِ وَتَغْلِيظُ عُقُوبَتِهِ ، وَإِمْكَانُ غَصْبِ الْأَرْضِ وَأَنَّهُ مِنَ الْكَبَائِرِ قَالَهُ الْقُرْطُبِيُّ ، وَكَأَنَّهُ فَرَّعَهُ عَلَى أَنَّ الْكَبِيرَةَ مَا وَرَدَ فِيهِ وَعِيدٌ شَدِيدٌ ، وَأَنَّ مَنْ مَلَكَ أَرْضًا مَلَكَ أَسْفَلَهَا إِلَى مُنْتَهَى الْأَرْضِ ، وَلَهُ أَنْ يَمْنَعَ مَنْ حَفَرَ تَحْتَهَا سَرَبًا أَوْ بِئْرًا بِغَيْرِ رِضَاهُ

وَفِيهِ أَنَّ مَنْ مَلَكَ ظَاهِرَ الْأَرْضِ مَلَكَ بَاطِنَهَا بِمَا فِيهِ مِنْ حِجَارَةٍ ثَابِتَةٍ وَأَبْنِيَةٍ وَمَعَادِنَ وَغَيْرِ ذَلِكَ ، وَأَنَّ لَهُ أَنْ يَنْزِلَ بِالْحَفْرِ مَا شَاءَ مَا لَمْ يَضُرَّ بِمَنْ يُجَاوِرُهُ

وَفِيهِ أَنَّ الْأَرَضِينَ السَّبْعَ مُتَرَاكِمَةٌ لَمْ يُفْتَقْ بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ لِأَنَّهَا لَوْ فُتِقَتْ لَاكْتُفِيَ فِي حَقِّ هَذَا الْغَاصِبِ بِتَطْوِيقِ الَّتِي غَصَبَهَا لِانْفِصَالِهَا عَمَّا تَحْتَهَا أَشَارَ إِلَى ذَلِك َالدَّاوُدِيُّ

(الحافظ ابن حجرالعسقلاني رحمه الله

فتح الباري » كتاب المظالم » باب إثم من ظلم شيئا من الأرض » 2452)

Dalam hal ini, sesungguhnya kepemilikan tanah mulai dari yang tampak dari atas sampai ke kedalaman tanah, yang terdiri dari bebatuan dan barang-barang yang terpendam didalamnya.

~Namun jika Dalam pengalian sumur tersebut Ada sangkaan kuat diperbolehkan. Semisal : Selama pengeboran berlangsung tidak Ada teguran Dari pemilik tanah.

Maka penggalian sumur BOLEH.

فتاوى الكبرى ج ٤ ص ١١٦.

(وسئل) بما لفظه هل جواز الأخذ بعلم الرضا من كل شيئ.. الى ان قال… وصرحوا بأن غلبة الظن كالعلم في ذلك. وحينئذ فمتي غلب علي ظنه أن المالك يسمح له بأخذ شيئ معين من ماله.

جاز له اخذه. ثم ان بان خلاف ظنه لزمه ضمانه والافلا.

Dan apabila Ada teguran Dari pemilik tanah, maka pengeboran harus dihentikan Dan harus mengganti kerusakan jika ada.

وأن بان خلاف ظنه لزمه ضمانه والافلا. إھ

Wallahu a’lamu bisshowab..

JUAL BELI SPERMA HEWAN DAN HUKUM BAYI TABUNG

Deskripsi masalah:

Dalam dunia perternakan, istilah “Jual beli sperma unggul” sudah asing lagi praktek jual beli sudah mentradisi dilakukan oleh masyarakat mulai dari perkotaan sampai pada pelosok -pelosok pedesan. Sebagian masyarat melakukan pembuahan buatan (Insimenasi)dengan cara membeli bibit unggul (sperma limusin, baragus, smintal dll)kepada petugas dari dinas pertanian atau kepada para ahli perternakan, dengan cara disuntikkan (dimasukkan kedalam Vagina hewan) oleh petugas sesuai dengan ilmu pengetahun yang mereka miliki. Hal itu dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kwalitas hewan ternak.

Yang menarik proses inseminasi ini juga bisa dilakukan kepada manusia dengan cara menampung sperma pada bank-bank sperma, kemudian disuntikkan sebagai mana diatas (dimasukkan) kedalam rahim perempuan. Tak jarang , proses ini membuahkan hasil sebagaimana diharapkan.

Pertanyaannya:

1-Bagaimana pandangan fiqh terhadap kasus jual beli sperma bibit unggul hewan sebagaimana diskripsi diatas?

2-Bagaimana pula hukum Inseminasi yang dilakukan pada manusia?

Jawaban No-1:

Menurut qaul ashoh (lebih shohih) tidak diperbolehkan untuk memperjual belikan mani pejantan (untuk mengawini hewan betina), bahkan menyewanya (pejantan) untuk mengawini juga tidak boleh. Tetapi ada pendapat yang memperbolehkan menyewakan pejantan dan boleh mengambil ongkosnya.

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن عسب الفحل ) رواه البخاري من رواية ابن عمر . وعسب بفتح العين وسكون السين المهملتين ( وهو ضرابه ) أي طروقه للأنثى ( ويقال ماؤه , ويقال أجرة ضرابه ) وعلى الأولين يقدر في الحديث مضاف ليصح النهي أي نهى عن بدل عسب الفحل من أجرة ضرابه أو ثمن مائه أي بذل ذلك وأخذه . ( فيحرم ثمن مائه وكذا أجرته ) للضراب ( في الأصح ) عملا بالأصل في النهي من التحريم والمعنى فيه أن ماء الفحل ليس بمتقوم ولا معلوم ولا مقدور على تسليمه وضرابه لتعلقه باختياره غير مقدور عليه للمالك , ومقابل الأصح جواز استئجاره للضراب كالاستئجار لتلقيح النخل , ويجوز أن يعطي صاحب الأنثى صاحب الفحل شيئا هدية والإعارة للضراب محبوبة

.(المحلي في قليوبي ج 2 ص 218)

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sperma pejantan.” (HR. Bukhari, no. 2284).

Yang dimaksud dengan “melarang sperma pejantan” dalam hadits di atas mencakup dua pengertian:

A. Jual beli sperma pejantan.

B. Uang sewa karena mengawini betina.

Ibnu Hajar mengatakan, “Apapun maknanya, memperjualbelikan sperma jantan dan menyewakan pejantan itu haram karena sperma pejantan itu tidak bisa diukur, tidak diketahui, dan tidak bisa diserahterimakan.”. (Fathul Bari, jilid 6, hlm. 60, terbitan Dar Ath-Thaibah, Riyadh, cetakan ketiga, 1431 H)

Ibnul Qayyim mengatakan, “Yang benar, sewa pejantan adalah haram secara mutlak, baik dengan status ‘jual beli sperma’ ataupun ‘sewa pejantan’. Haram bagi pemilik pejantan untuk mengambil hasil dari menyewakan pejantan. Akan tetapi, tidak haram bagi pemilik binatang betina untuk menyerahkan uang kepada pemilik hewan jantan, bila membayar sejumlah uang dalam hal ini adalah pilihan satu- satunya, karena dia menyerahkan sejumlah uang untuk mendapatkan hal mubah yang dia perlukan.” (Zadul Ma’ad, juz 5, hlm. 704, Muassasah Ar- Risalah, cetakan keempat, 1425 H)

Dari Abu Amir Al-Hauzani dari Abu Kabsyah Al-Anmari. Abu Kabsyah datang ke rumah Abu Amir lalu mengatakan, “Pinjami aku kuda pejantanmu untuk mengawini kuda betani milikku, karena sungguh aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang meminjamkan kuda pejantannya secara cuma-cuma, lalu kuda betina yang dibuahi itu berketurunan, maka pemilik kuda jantan tersebut akan mendapatkan pahala tujuh puluh kuda yang dijadikan sebagai binatang tunggangan di jalan Allah. Jika tidak berketurunan maka pemilik kuda pejantan akan mendapatkan pahala seekor kuda yang digunakan sebagai hewan tunggangan di jalan Allah.” (HR. Ibnu Hibban, no. 4765)

Bagaimana jika pemilik hewan betina memberi hadiah kepada pemilik pejantan? Apakah pemilik pejantan boleh menerima hadiah tersebut?

Jawabannya perlu rincian:

1. Jika hadiah tersebut adalah sebagai kompensasi karena pemilik hewan betina telah dipinjami hewan pejantan dan itu adalah upah namun tidak tertulis maka tidak boleh bagi pemilik hewan pejantan untuk menerimanya.

2. Jika kondisi hadiah tersebut tidak sebagaimana di atas maka boleh diterima.

Para ulama bermazhab Hambali dan Syafi’i mengatakan, “Jika pemilik hewan pejantan diberi hadiah dan itu bukanlah uang sewa maka (uang tersebut) boleh diterima.” (Lihat: Zadul Ma’ad, juz 5, hlm. 706).

باب عسب الفحل

Bab sperma pejantan

2164 حدثنا مسدد حدثنا عبد الوارث وإسماعيل بن إبراهيم عن علي بن الحكم عن نافع عن ابن عمر رضي الله عنهما قال نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن عسب الفحل

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sperma pejantan. [Shahih Bukhhari].

Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fat_hul Bari menjelaskan :

وعلى كل تقدير فبيعه وإجارته حرام ؛ لأنه غير متقوم ولا معلوم ولا مقدور على تسليمه

Apapun maknanya, memperjualbelikan sperma jantan dan menyewakan pejantan itu haram karena sperma pejantan itu tidak bisa diukur, tidak diketahui, dan tidak bisa diserahterimakan. Ta’bir Fat-hul Bari selengkapnya :

قوله : ( باب عسب الفحل ) أورد فيه حديث ابن عمر في النهي عنه ، والعسب بفتح العين وإسكان السين المهملتين وفي آخره موحدة ، ويقال له العسيب أيضا ، والفحل : الذكر من كل حيوان فرسا كان أو جملا أو تيسا أو غير ذلك ، وقد روى النسائي من حديث أبي هريرة : نهى عن عسب التيس

واختلف فيه فقيل : هو ثمن ماء الفحل ، وقيل : أجرة الجماع ، وعلى الأخير جرى المصنف . ويؤيد الأول حديث جابر عند مسلم : نهى عن بيع ضراب الجمل وليس بصريح في عدم الحمل على الإجارة ؛ لأن الإجارة بيع منفعة ، ويؤيد الحمل على الإجارة لا الثمن ما تقدم عن قتادة قبل أربعة أبواب أنهم كانوا يكرهون أجر ضراب الجمل ، وقال صاحب ” الأفعال ” : أعسب الرجل عسيبا اكترى منه فحلا ينزيه .

وعلى كل تقدير فبيعه وإجارته حرام ؛ لأنه غير متقوم ولا معلوم ولا مقدور على تسليمه ، وفي وجه للشافعية والحنابلة تجوز الإجارة مدة معلومة ، وهو قول الحسن وابن سيرين ورواية عن مالك قواها الأبهري وغيره ، وحمل النهي على ما إذا وقع لأمد مجهول ، وأما إذا استأجره مدة معلومة فلا بأس كما يجوز الاستئجار لتلقيح النخل ،

وتعقب بالفرق لأن المقصود هنا ماء الفحل وصاحبه عاجز عن تسليمه بخلاف التلقيح ، ثم النهي عن الشراء والكراء ، إنما صدر لما فيه من الغرر ،

وأما عارية ذلك فلا خلاف في جوازه ، فإن أهدي للمعير هدية من المستعير بغير شرط جاز . وللترمذي من حديث أنس : أن رجلا من كلاب سأل النبي – صلى الله عليه وسلم – عن عسب الفحل فنهاه ، فقال : يا رسول الله ، إنا نطرق الفحل فنكرم ، فرخص له في الكرامة ولابن حبان في صحيحه من حديث أبي كبشة مرفوعا : من أطرق فرسا فأعقب كان له كأجر سبعين فرسا

Selanjutnya :

وفي وجه للشافعية والحنابلة تجوز الإجارة مدة معلومة

Kalau meminjamkan untuk dijadikan pejantan maka itu boleh bahkan ada anjuran. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda sebagaimana dalam riwayat dalam Fat_hul Bari di atas:

من أطرق فرسا فأعقب كان له كأجر سبعين فرسا

Barang siapa meminjamkan kuda untuk pejantan, dan beranak, maka hal itu baginya bagaikan pahala tujuh puluh kuda. Bujairimi Iqna’ IV : 36

Menurut pendapat yg kuat, Transaksi jual beli seperma diatas hukumnya adalah tidak sah,

Sebab seperma bukanlah benda yg memiliki nilai harga/ Mutamawwal menurut syari’at.

Solusi :

Ketika menyerahkan biaya sperma pejantan kepada pemilik sperma tersebut di atas namakan untuk di hadiahkan, Sebab sperma tsb tdk sah di perjual belikan dan disewakan.

شرح زاد المستقنع للشنقيطي ج ٢٣ ص ١٠

وقوله: (ومنيه ومني الآدمي) (ومنيه) أي: مني ما يؤكل لحمه فإنه يعتبر طاهراً، وقد ذكر هنا مني الدواب؛ لأن كثيراً من المسائل تترتب عليها أحكام، فمثلاً: مني الدواب يباع، وهذا موجود في مختلف أنواع الحيوانات، وقد تقرر في الشرع -ويكاد يكون قول الجماهير خلافاً للحنفية- أن النجس لا يجوز بيعه؛ لحديث جابر بن عبد الله: (إن الله ورسوله حرم بيع الميتة والخمر والخنزير والأصنام) فإذا ثبت أن النجس لا يجوز بيعه، وحكمت على المني الخارج من الحيوان الذي يؤكل لحمه أنه طاهر، *ففي هذه الحالة لو سألك سائل عن بيع مني الحيوان* كما يفعل بالحقن وتحقن به الإناث من أجل أن تخصب وتنجب، هل يجوز أو لا يجوز؟ فعلى القول بنجاسة فضلته: لا يجوز بيعه؛ لأنه لا يجوز بيع النجس، *وعلى القول بطهارتها: يجوز بيعه؛ لأنه طاهر أشبه بسائر الطاهرات. إهـ*

*الأم للإمام الشافعي ج٣/ ص٦٦*

(ﻭاﻟﺜﺎﻧﻰ) ﻭﺑﻪ ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻦ ﺃﺑﻰ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻭﻳﺤﻜﻰ ﻋﻦ ﻣﺎﻟﻚ اﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﻛﺎﻻﺳﺘﺌﺠﺎﺭ ﻟﺘﻠﻘﻴﺢ اﻟﻨﺨﻞ *ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﻌﻄﻲ ﺻﺎﺣﺐ اﻻﻧﺜﻰ ﺻﺎﺣﺐ اﻟﻔﺤﻞ ﺷﻴﺌﺎ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻬﺪﻳﺔ* ﺧﻼﻓﺎ ﻻﺣﻤﺪ ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ *

*الفقه الاسلامي ج٣ ص ٧٦٦*

*ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ اﻟﻤﺒﻴﻊ ﻣﺎﻻ ﻣﺘﻘﻮﻣﺎ*: ﻭاﻟﻤﺎﻝ ﻋﻨﺪ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﻛﻤﺎ ﻋﺮﻓﻨﺎ ﺳﺎﺑﻘﺎ: ﻣﺎ ﻳﻤﻴﻞ ﺇﻟﻴﻪ اﻟﻄﺒﻊ ﻭﻳﻤﻜﻦ اﺩﺧﺎﺭﻩ ﻟﻮﻗﺖ اﻟﺤﺎﺟﺔ. ﻭﺑﻌﺒﺎﺭﺓ ﺃﺧﺮﻯ: ﻫﻮ ﻛﻞ ﻣﺎ ﻳﻤﻜﻦ ﺃﻥ ﻳﻤﻠﻜﻪ اﻹﻧﺴﺎﻥ ﻭﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻪ ﻣﻌﺘﺎﺩ. *ﻭاﻷﺻﺢ ﺃﻧﻪ ﻫﻮ ﻛﻞ ﻋﻴﻦ ﺫاﺕ ﻗﻴﻤﺔ ﻣﺎﺩﻳﺔ ﺑﻴﻦ اﻟﻨﺎﺱ.* ﻭاﻟﻤﺘﻘﻮﻡ: ﻣﺎ ﻳﻤﻜﻦ اﺩﺧﺎﺭﻩ ﻣﻊ ﺇﺑﺎﺣﺘﻪ ﺷﺮﻋﺎ. ﻭﺑﻌﺒﺎﺭﺓ ﺃﺧﺮﻯ: ﻫﻮ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﺤﺮﺯا ﻓﻌﻼ ﻭﻳﺠﻮﺯ اﻻﻧﺘﻔﺎﻉ ﺑﻪ ﻓﻲ ﺣﺎﻟﺔ اﻻﺧﺘﻴﺎﺭ (¬1)، ﻓﻼ ﻳﻨﻌﻘﺪ ﺑﻴﻊ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﺑﻤﺎﻝ ﻛﺎﻹﻧﺴﺎﻥ اﻟﺤﺮ ﻭاﻟﻤﻴﺘﺔ ﻭاﻟﺪﻡ، ﻭﻻ ﺑﻴﻊ ﻣﺎﻝ ﻏﻴﺮ ﻣﺘﻘﻮﻡ ﻛﺎﻟﺨﻤﺮ ﻭاﻟﺨﻨﺰﻳﺮ ﻓﻲ ﺣﻖ ﻣﺴﻠﻢ، ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺑﻴﻊ ﺁﻻﺕ اﻟﻤﻼﻫﻲ ﻋﻨﺪ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻹﻣﻜﺎﻥ اﻻﻧﺘﻔﺎﻉ ﺑﺎﻷﺩﻭاﺕ اﻟﻤﺮﻛﺒﺔ ﻣﻨﻬﺎ، ﻭﻋﻨﺪ اﻟﺼﺎﺣﺒﻴﻦ ﻭﺑﻘﻴﺔ اﻷﺋﻤﺔ: ﻻ ﻳﻨﻌﻘﺪ ﺑﻴﻊ ﻫﺬﻩ اﻷﺷﻴﺎء، ﻷﻧﻬﺎ ﻣﻌﺪﺓ ﻟﻠﻔﺴﺎﺩ

*المال المتقوم* هو الذي له قيمة مالية في الشرع حيث أباح الانتفاع به في حالة السعة والاختيار، أى في الظروف العادية، وذلك مثل العقارات والمنقولات إلا ما كان محرما منها، بشرط الحيازة الفعليه، وذلك بأن يكون المال الذي أباح الشارع الحكيم الانتفاع به تحت يد حائز بالفعل، فالسمك في الماء يباح الانتفاع به شرعا، لكنه ما دام في الماء لا يعتبر مالا متقوما لعدم حيازته، فإذا اصطاده إنسان وحازه بالفعل اعتبر مالا متقوما.

*وغير المتقوم* هو الذي ليست له قيمة في الشرع، إما لعدم حيازته كالسمك في الماء والطير في الهواء، وإما لعدم إباحته كالخمر والميتة.

والخمر والخنزير بالنسبة لغير المسلم من أهل الذمة، فيعتبران مالا متقوما عند الحنفية.

*زاد المعاد ج١ /ص٧٧ (لابن الجوزي)*

*أن ماء الفحل لا قيمة له ولا هو مما يعاوض عليه* ولهذا لو نزا فحل الرجل على رمكة غيره فأولدها فالولد لصاحب الرمكة اتفاقا لأنه لم ينفصل عن الفحل إلا مجرد الماء وهو لا قيمة له

وقد علل التحريم بعدة علل، إحداها : أنه لا يقدر على تسليم المعقود عليه فأشبه إجارة الآبق فإن ذلك متعلق باختيار الفحل وشهوته. *الثانية : أن المقصود هو الماء وهو مما لا يجوز إفراده بالعقد فإنه مجهول القدر والعين*

*والصحيح تحريمه مطلقا وفساد العقد به على كل حال ويحرم على الآخر أخذ أجرة ضرابه*

*بجيرمي على المنهج ج٣ ص٧٨*

(ﻧﻬﻰ اﻟﻨﺒﻲ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻋﻦ ﻋﺴﺐ اﻟﻔﺤﻞ) ﺭﻭاﻩ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ (ﻭﻫﻮ ﺿﺮاﺑﻪ) ﺃﻱ: ﻃﺮﻭﻗﻪ ﻟﻷﻧﺜﻰ (ﻭﻳﻘﺎﻝ ﻣﺎﺅﻩ) ﻭﻋﻠﻴﻬﻤﺎ ﻳﻘﺪﺭ ﻓﻲ اﻟﺨﺒﺮ ﻣﻀﺎﻑ ﻟﻴﺼﺢ اﻟﻨﻬﻲ ﺃﻱ: ﻋﻦ ﺑﺪﻝ ﻋﺴﺐ اﻟﻔﺤﻞ ﻣﻦ ﺃﺟﺮﺓ ﺿﺮاﺑﻪ، ﺃﻭ ﺛﻤﻦ ﻣﺎﺋﻪ ﺃﻱ: ﺑﺬﻝ ﺫﻟﻚ ﻭﺃﺧﺬﻩ (ﻓﺘﺤﺮﻡ ﺃﺟﺮﺗﻪ) ﻟﻠﻀﺮاﺏ (ﻭﺛﻤﻦ ﻣﺎﺋﻪ) ﻋﻤﻼ ﺑﺎﻷﺻﻞ ﻓﻲ اﻟﻨﻬﻲ ﻣﻦ اﻟﺘﺤﺮﻳﻢ ﻭاﻟﻤﻌﻨﻰ ﻓﻴﻪ *ﺃﻥ ﻣﺎء اﻟﻔﺤﻞ ﻟﻴﺲ ﺑﻤﺘﻘﻮﻡ، ﻭﻻ ﻣﻌﻠﻮﻡ، ﻭﻻ ﻣﻘﺪﻭﺭ ﻋﻠﻰ ﺗﺴﻠﻴﻤﻪ* ﻭﺿﺮاﺑﻪ ﻟﺘﻌﻠﻘﻪ ﺑﺎﺧﺘﻴﺎﺭﻩ ﻏﻴﺮ ﻣﻘﺪﻭﺭ ﻋﻠﻴﻪ ﻟﻠﻤﺎﻟﻚ ﻭﻟﻤﺎﻟﻚ اﻷﻧﺜﻰ ﺃﻥ ﻳﻌﻄﻲ ﻣﺎﻟﻚ اﻟﻔﺤﻞ ﺷﻴﺌﺎ ﻫﺪﻳﺔ. ﻭﺇﻋﺎﺭﺗﻪ ﻟﻠﻀﺮاﺏ ﻣﺤﺒﻮﺑﺔ.

*حاشية الجمال ج٤ ص ٥٦٥*

(ﻗﻮﻟﻪ ﻭاﻟﻤﻌﻨﻰ ﻓﻴﻪ) ﺃﻱ ﻓﻲ اﻟﻨﻬﻲ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﻣﺎ ﻳﻘﺘﻀﻴﻪ ﻣﻦ اﻟﻔﺴﺎﺩ ﻓﻜﺄﻧﻪ ﻗﺎﻝ *ﻭاﻟﺤﻜﻤﺔ ﻓﻲ اﻟﻔﺴﺎﺩ ﺇﻟﺦ.*

ﻭﻋﺒﺎﺭﺓ ﺷﺮﺡ ﻣ ﺭ ﺃﻭﺿﺢ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﻭﻧﺼﻬﺎ *ﻓﻴﺤﺮﻡ ﺛﻤﻦ ﻣﺎﺋﻪ ﻭﻳﺒﻄﻞ ﺑﻴﻌﻪ ﻷﻧﻪ ﻏﻴﺮ ﻣﺘﻘﻮﻡ* ﺇﻟﺦ ﻭﻻ ﻳﺼﺢ ﺭﺟﻮﻉ اﻟﻀﻤﻴﺮ ﻟﻠﺤﺮﻣﺔ ﻷﻥ ﻫﺬﻩ اﻟﺤﻜﻤﺔ ﻻ ﺗﻨﺘﺠﻬﺎ ﻛﻤﺎ ﻻ ﻳﺨﻔﻰ اﻩـ. ﻭﻗﻮﻟﻪ ﺇﻥ ﻣﺎء اﻟﻔﺤﻞ ﺇﻟﺦ ﺭاﺟﻊ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﻭﺛﻤﻦ ﻣﺎﺋﻪ ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻭﺿﺮاﺑﻪ ﺭاﺟﻊ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺃﺟﺮﺗﻪ ﻓﻘﻮﻟﻪ ﻭﺿﺮاﺑﻪ ﻣﻌﻄﻮﻑ ﻋﻠﻰ ﻣﺎء ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻒ ﻭاﻟﻨﺸﺮ اﻟﻤﺸﻮﺵ اﻩـ. ﻣﻦ اﻟﺤﻠﺒﻲ

*(ﻗﻮﻟﻪ ﻟﻴﺲ ﺑﻤﺘﻘﻮﻡ) ﺃﻱ ﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﻗﻴﻤﺔ ﻭﻟﻴﺲ اﻟﻤﺮاﺩ ﺑﺎﻟﻤﺘﻘﻮﻡ ﻣﺎ ﻗﺎﺑﻞ اﻟﻤﺜﻠﻲ* ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻭﻻ ﻣﻘﺪﻭﺭ ﻋﻠﻰ ﺗﺴﻠﻴﻤﻪ، اﻟﻤﻨﺎﺳﺐ ﻟﺘﻌﺒﻴﺮﻩ ﺳﺎﺑﻘﺎ ﺑﺎﻟﻘﺪﺭﺓ ﻋﻠﻰ اﻟﺘﺴﻠﻢ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻭﻻ ﻣﻘﺪﻭﺭ ﻋﻠﻰ ﺗﺴﻠﻤﻪ اﻩـ. ﺷﻴﺨﻨﺎ

*الموسوعة الفقهية ج٧ ص٤٥*

– ﻭﻣﻦ ﻗﺒﻴﻞ ﺑﻴﻊ اﻟﻤﻌﺪﻭﻡ ﺃﻳﻀﺎ:

*ﺑﻴﻊ ﻋﺴﺐ اﻟﻔﺤﻞ.*

ﻭﻗﺪ ﺭﻭﻱ ﻓﻲ اﻟﺤﺪﻳﺚ ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻗﺎﻝ {: ﻧﻬﻰ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻦ ﺛﻤﻦ ﻋﺴﺐ اﻟﻔﺤﻞ}

(4) ﻭﻳﺮﻭﻯ: {ﻋﻦ ﻋﺴﺐ اﻟﻔﺤﻞ}

*ﻓﻘﺎﻝ اﻟﻜﺎﺳﺎﻧﻲ ﻓﻴﻬﺎ: ﻭﻻ ﻳﻤﻜﻦ ﺣﻤﻞ اﻟﻨﻬﻲ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺲ اﻝﻋﺴﺐ، ﻭﻫﻮ اﻟﻀﺮاﺏ؛ ﻷﻥ ﺫﻟﻚ ﺟﺎﺋﺰ ﺑﺎﻹﻋﺎﺭﺓ، ﻓﻴﺤﻤﻞ ﻋﻠﻰ اﻟﺒﻴﻊ ﻭاﻹﺟﺎﺭﺓ*، ﺇﻻ ﺃﻧﻪ ﺣﺬﻑ ﺫﻟﻚ، ﻭﺃﺿﻤﺮﻩ ﻓﻴﻪ (5) ، ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: {ﻭاﺳﺄﻝ اﻟﻘﺮﻳﺔ}

*ﻭﺫﻛﺮ اﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﻧﺤﻮ ﻫﺬا ﻓﻲ ﺗﺄﻭﻳﻞ اﻟﺤﺪﻳﺚ، ﻭﻃﺮﻗﻮا ﻟﻪ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻭﺟﻪ ﻣﻦ اﻻﺣﺘﻤﺎﻻﺕ، ﻭﻧﺼﻮا – ﻛﻐﻴﺮﻫﻢ – ﻋﻠﻰ ﺑﻄﻼﻥ ﺑﻴﻌﻪ، ﻭﻗﺎﻟﻮا: ﻳﺤﺮﻡ ﺛﻤﻦ ﻣﺎﺋﻪ، ﻭﻳﺒﻄﻞ ﺑﻴﻌﻪ، ﻷﻧﻪ ﻏﻴﺮ ﻣﻌﻠﻮﻡ ﻭﻻ ﻣﺘﻘﻮﻡ، ﻭﻻ ﻣﻘﺪﻭﺭ ﻋﻠﻰ ﺗﺴﻠﻴﻤﻪ (1)* .

اﻟﺸﺮﻁ اﻟﺜﺎﻧﻲ ﻣﺎ ﻳﺘﻌﻠﻖ ﺑﻤﺤﻞ اﻟﻌﻘﺪ:

7 – *ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ اﻟﻤﻌﻘﻮﺩ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺎﻻ، ﺑﻤﻌﻨﺎﻩ اﻟﻔﻘﻬﻲ اﻻﺻﻄﻼﺣﻲ، ﻭﻫﻮ: ﻣﺎ ﻳﻤﻴﻞ ﺇﻟﻴﻪ اﻟﻄﺒﻊ*، ﻭﻳﺠﺮﻱ ﻓﻴﻪ اﻟﺒﺬﻝ ﻭاﻟﻤﻨﻊ (2) . *(ﺭ: ﻣﺼﻄﻠﺢ: ﻣﺎﻝ) ﻓﻼ ﻳﻨﻌﻘﺪ ﺑﻴﻊ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﺑﻤﺎﻝ*. ﻭﺫﻟﻚ ﻣﺜﻞ ﺑﻴﻊ اﻟﻤﺴﻠﻢ اﻟﻤﻴﺘﺔ ﻓﺈﻧﻪ ﺑﺎﻃﻞ، ﺳﻮاء ﺃﻣﺎﺗﺖ ﺣﺘﻒ ﺃﻧﻔﻬﺎ، ﺃﻡ ﻣﺎﺗﺖ ﺑﺨﻨﻖ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺗﺬﻛﻴﺔ، ﻭﻫﺬا ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: {ﺣﺮﻣﺖ ﻋﻠﻴﻜﻢ اﻟﻤﻴﺘﺔ ﻭاﻟﺪﻡ}

*تحفة المحتاج ج٤ / ص٧٦*

*(ﺑﺎﺏ) ﺑﺎﻟﺘﻨﻮﻳﻦ (ﻓﻲ اﻟﺒﻴﻮﻉ اﻟﻤﻨﻬﻲ ﻋﻨﻬﺎ ﻭﻣﺎ ﻳﺘﺒﻌﻬﺎ*) ﺛﻢ اﻟﻨﻬﻲ *ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﺬاﺕ اﻟﻌﻘﺪ ﺃﻭ ﻻﺯﻣﻪ ﺑﺄﻥ ﻓﻘﺪ ﺑﻌﺾ ﺃﺭﻛﺎﻧﻪ ﺃﻭ ﺷﺮﻭﻃﻪ اﻗﺘﻀﻰ ﺑﻄﻼﻧﻪ ﻭﺣﺮﻣﺘﻪ* ﻷﻥ ﺗﻌﺎﻃﻲ اﻟﻌﻘﺪ اﻟﻔﺎﺳﺪ ﺃﻱ ﻣﻊ اﻟﻌﻠﻢ ﺑﻔﺴﺎﺩﻩ ﺃﻭ ﻣﻊ اﻟﺘﻘﺼﻴﺮ ﻓﻲ ﺗﻌﻠﻤﻪ ﻟﻜﻮﻧﻪ ﻣﻤﺎ ﻻ ﻳﺨﻔﻰ ﻛﺒﻴﻊ اﻟﻤﻼﻗﻴﺢ ﻭﻫﻮ ﻣﺨﺎﻟﻂ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺑﺤﻴﺚ ﻳﺒﻌﺪ ﺟﻬﻠﻪ ﺑﺬﻟﻚ *ﺣﺮاﻡ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﻨﻘﻮﻝ اﻟﻤﻌﺘﻤﺪ* ﺳﻮاء ﻣﺎ ﻓﺴﺎﺩﻩ ﺑﺎﻟﻨﺺ ﻭاﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻭﻗﻴﺪ ﺫﻟﻚ اﻟﻐﺰاﻟﻲ ﻭاﻋﺘﻤﺪﻩ اﻟﺰﺭﻛﺸﻲ ﺑﻤﺎ ﺇﺫا ﻗﺼﺪ ﺑﻪ ﺗﺤﻘﻴﻖ اﻟﻤﻌﻨﻰ اﻟﺸﺮﻋﻲ ﺩﻭﻥ ﺇﺟﺮاء اﻟﻠﻔﻆ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺗﺤﻘﻴﻖ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﻓﺈﻧﻪ ﺑﺎﻃﻞ ﺛﻢ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﻣﺤﻤﻞ ﻛﻤﻼﻋﺒﺔ اﻟﺰﻭﺟﺔ ﺑﻨﺤﻮ ﺑﻌﺘﻚ ﻧﻔﺴﻚ ﻟﻢ ﻳﺤﺮﻡ ﻭﺇﻻ ﺣﺮﻡ ﺇﺫ ﻻ ﻣﺤﻤﻞ ﻟﻪ ﻏﻴﺮ اﻟﻤﻌﻨﻰ اﻟﺸﺮﻋﻲ ﻭﻗﺪ ﻳﺠﻮﺯ ﻻﺿﻄﺮاﺭ ﺗﻌﺎﻃﻴﻪ ﻛﺄﻥ اﻣﺘﻨﻊ ﺫﻭ ﻃﻌﺎﻡ ﻣﻦ ﺑﻴﻌﻪ ﻣﻨﻪ ﺇﻻ ﺑﺄﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﻗﻴﻤﺘﻪ ﻓﻠﻪ اﻻﺣﺘﻴﺎﻝ ﺑﺄﺧﺬﻩ ﻣﻨﻪ ﺑﺒﻴﻊ ﻓﺎﺳﺪ ﺣﺘﻰ ﻻ ﻳﻠﺰﻣﻪ ﺇﻻ اﻟﻤﺜﻞ ﺃﻭ اﻟﻘﻴﻤﺔ ﺃﻭ اﻟﺨﺎﺭﺝ ﻋﻨﻪ اﻗﺘﻀﻰ ﺣﺮﻣﺘﻪ ﻓﻘﻂ *ﻓﻤﻦ اﻷﻭﻝ ﺃﺷﻴﺎء ﻣﻨﻬﺎ « (ﻧﻬﻲ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻋﻦ ﻋﺴﺐ)*

ﺑﻔﺘﺢ ﻓﺴﻜﻮﻥ ﻟﻠﻤﻬﻤﻠﺘﻴﻦ «اﻟﻔﺤﻞ» ) ﺭﻭاﻩ اﻟﺸﻴﺨﺎﻥ (ﻭﻫﻮ ﺿﺮاﺑﻪ) ﺃﻱ ﻃﺮﻭﻗﻪ ﻟﻷﻧﺜﻰ ﻭﻫﺬا ﻫﻮ اﻷﺷﻬﺮ ﻭﻣﻦ ﺛﻢ ﺣﻜﻰ ﻣﻘﺎﺑﻠﻴﻪ ﺑﻴﻘﺎﻝ (ﻭﻳﻘﺎﻝ ﻣﺎﺅﻩ) ﻭﻛﻞ ﻣﻦ ﻫﺬﻳﻦ ﻻ ﻳﺘﻌﻠﻖ ﺑﻪ ﻧﻬﻲ ﻓﺎﻟﺘﻘﺪﻳﺮ ﻋﻦ ﺑﺪﻝ ﻋﺴﺐﻫ ﻣﻦ ﺃﺟﺮﺓ ﺿﺮاﺑﻪ ﻭﺛﻤﻦ ﻣﺎﺋﻪ ﺃﻱ ﻋﻦ ﺇﻋﻄﺎء ﺫﻟﻚ ﻭﺃﺧﺬﻩ (ﻭﻳﻘﺎﻝ ﺃﺟﺮﺓ ﺿﺮاﺑﻪ) ﻭاﻟﻔﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﻫﺬا ﻭاﻷﻭﻝ ﺃﻥ اﻷﺟﺮﺓ ﺛﻢ ﻣﻘﺪﺭﺓ ﻭﻫﻨﺎ ﻇﺎﻫﺮﺓ *(ﻓﻴﺤﺮﻡ ﺛﻤﻦ ﻣﺎﺋﻪ) ﻭﻳﺒﻄﻞ ﺑﻴﻌﻪ ﻷﻧﻪ ﻏﻴﺮ ﻣﻌﻠﻮﻡ ﻭﻻ ﻣﺘﻘﻮﻡ ﻭﻻ ﻣﻘﺪﻭﺭ ﻋﻠﻰ ﺗﺴﻠﻴﻤﻪ* (ﻭﻛﺬا ﺃﺟﺮﺗﻪ) ﻟﻠﻀﺮاﺏ (ﻓﻲ اﻷﺻﺢ) ﻷﻥ ﻓﻌﻞ اﻟﻀﺮاﺏ ﻏﻴﺮ ﻣﻘﺪﻭﺭ ﻋﻠﻴﻪ ﻟﻠﻤﺎﻟﻚ

*شرح النووي ج٣ ص٤٤*

ﻭاﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺑﻴﻊ اﻟﻤﻼﻣﺴﺔ ﻭﺑﻴﻊ اﻟﻤﻨﺎﺑﺬﺓ ﻭﺑﻴﻊ ﺣﺒﻞ اﻟﺤﺒﻠﺔ ﻭﺑﻴﻊ اﻟﺤﺼﺎﺓ *ﻭﻋﺴﺐ اﻟﻔﺤﻞ* ﻭﺃﺷﺒﺎﻫﻬﺎ ﻣﻦ اﻟﺒﻴﻮﻉ اﻟﺘﻲ ﺟﺎء ﻓﻴﻬﺎ ﻧﺼﻮﺹ ﺧﺎﺻﺔ *ﻫﻲ ﺩاﺧﻠﺔ ﻓﻲ اﻟﻨﻬﻲ ﻋﻦ ﺑﻴﻊ اﻟﻐﺮﺭ* ﻭﻟﻜﻦ ﺃﻓﺮﺩﺕ ﺑﺎﻟﺬﻛﺮ ﻭﻧﻬﻲ ﻋﻨﻬﺎ ﻟﻜﻮﻧﻬﺎ ﻣﻦ ﺑﻴﺎﻋﺎﺕ اﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ اﻟﻤﺸﻬﻮﺭﺓ ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ

*مرقاة المفاتيح ج٣ ص٨٧*

(ﻭﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺃﻥ ﺭﺟﻼ ﻣﻦ ﻛﻼﺏ) ﺑﻜﺴﺮ اﻟﻜﺎﻑ، ﻗﺒﻴﻠﺔ (ﺳﺄﻝ اﻟﻨﺒﻲ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻋﻦ ﻋﺴﺐ اﻟﻔﺤﻞ) ﺃﻱ (ﺇﺟﺎﺭﺓ ﻣﺎﺋﻪ ﻭﺿﺮاﺑﻪ (ﻓﻨﻬﺎﻩ) *ﺃﻱ ﻧﻬﻲ ﺗﺤﺮﻳﻢ ﻋﻨﺪ اﻟﺠﻤﻬﻮﺭ* (ﻗﺎﻝ: ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺇﻧﺎ ﻧﻄﺮﻕ اﻟﻔﺤﻞ) ﺑﻀﻢ اﻟﻨﻮﻥ ﻭﻛﺴﺮ اﻟﺮاء ﻧﻌﻴﺮﻩ ﻟﻠﻀﺮاﺏ، ﻓﻲ اﻟﻨﻬﺎﻳﺔ: ﻭﻓﻲ اﻟﺤﺪﻳﺚ: ﻭﻣﻦ ﺣﻘﻬﺎ ﺇﻃﺮاﻕ ﻓﺤﻠﻬﺎ ﺃﻱ ﺇﻋﺎﺭﺗﻪ ﻟﻠﻀﺮاﺏ، ﻭاﻟﻄﺮﻕ ﻓﻲ اﻷﺻﻞ ﻣﺎء اﻟﻔﺤﻞ، ﻭﻗﻴﻞ ﻫﻮ اﻟﻀﺮاﺏ ﺛﻢ ﺳﻤﻲ ﺑﻪ اﻟﻤﺎء (ﻓﻨﻜﺮﻡ) ﻋﻠﻰ ﺻﻴﻐﺔ اﻟﻤﺘﻜﻠﻢ اﻟﻤﺠﻬﻮﻝ ﺃﻱ ﻳﻌﻄﻴﻨﺎ ﺻﺎﺣﺐ اﻷﻧﺜﻰ ﺷﻴﺌﺎ ﺑﻄﺮﻳﻖ اﻟﻬﺪﻳﺔ ﻭاﻟﻜﺮاﻣﺔ ﻻ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻤﻌﺎﻭﺿﺔ (ﻓﺮﺧﺺ ﻟﻪ ﻓﻲ اﻟﻜﺮاﻣﺔ) ﺃﻱ ﻓﻲ ﻗﺒﻮﻝ اﻟﻬﺪﻳﺔ ﺩﻭﻥ اﻟﻜﺮاء. ﻗﺎﻝ اﻷﺷﺮﻑ: ﻓﻴﻪ ﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻟﻮ ﺃﻋﺎﺭﻩ اﻟﻔﺤﻞ ﻟﻹﻧﺰاء ﻓﺄﻛﺮﻣﻪ اﻟﻤﺴﺘﻌﻴﺮ ﺑﺸﻲء ﺟﺎﺯ ﻟﻪ ﻗﺒﻮﻟﻪ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺠﺰ ﺃﺧﺬ اﻟﻜﺮاء. (ﺭﻭاﻩ اﻟﺘﺮﻣﺬﻱ) .

وعرف الشافعية الإيجار فقالوا: هو عقد على منفعة مقصودة معلومة مباحة قابلة للبذل والإباحة بعوض معلوم. ومحترزات قيود التعريف هي أنه: خرج بقولهم: «منفعة» : العين، فالعقد عليها بيع أو هبة، وبقولهم: «مقصودة» : المنفعة التافهة كاستئجار بياع على كلمة لا تتعب، وبقولهم: «معلومة» : المضاربة والجعالة على عمل مجهول. وأما قيد «قابلة للبذل والإباحة» فهو لإخراج منفعة البُضع، فإن العقد عليها لا يسمى إجارة، والقيد الأخير (أي بعوض) لإخراج هبة المنافع والوصية بها والشركة والإعارة (2) .

وقال المالكية: الإيجار: تمليك منافع شيء مباحة مدة معلومة بعوض (3) . وبمثل ذلك قال الحنابلة (4) .

وإذا كانت الإجارة بيع المنافع فلايجوز عند أكثر الفقهاء إجارة الشجر والكرم للثمر؛ لأن الثمر عين، والإجارة بيع المنفعة لا بيع العين. ولا تجوز إجارة الشاة للبنها أو سمنها أو صوفها أو ولدها؛ لأن هذه أعيان، فلا تستحق بعقد ا لإجارة. ولا تجوز إجارة ماء في نهر أو بئر أو قناة أوعين؛لأن الماء عين، ولا يجوز استئجارالآجام التي فيها الماء للسمك وغيره من القصب والصيد؛ لأن كل ذلك عين. وعلى هذا فلا تجوز إجارة البِرك أو البحيرات للاصطياد أي ليصاد منها السمك (1) .

ولا تجوز إجارة المراعي؛ لأن الكلأ عين فلا تحتمل الإجارة.

*ولا يجوز عند جمهور الفقهاء استئجار الفحل للضراب؛ لأن المقصود منه النسل، بإنزال الماء وهو عين*، وقد ثبت أنه صلّى الله عليه وسلم : «نهى عن عَسْب الفحل» (2) أي كرائه. وقد حذفت كلمة «الكراء» من باب المجاز المرسل مثل: {واسأل القرية} [يوسف:82/12]. ولا يجوز استئجار الدراهم والدنانير والمكيلات والموزونات؛ لأنه لا يمكن الانتفاع بها إلا بعد استهلاك أعيانها، والمعقود عليه في الإجارة هو المنفعة لا العين (3) . لهذا كله فإن المقرر أن: «كل ما ينتفع به مع بقاء عينه تجوز إجارته وما لا فلا» .

واستثنوا استئجار المرضع للضرورة كما يأتي. وأجاز المالكية كراء الفحل للنزو على الإناث، وأجرة الحمام جائزة عند أكثر العلماء (4)

Jawaban No-2:

Diperinci sebagai mama berikut:

A. Apabila sperma yang di suntikan atau dimasukan ke dalam rahim wanita tersebut ternyata bukan sperma suami istri, maka hukumnya haram.

B. Dan apabila sperma / mani yang disuntikan tersebut sperma suami istri, tetapi cara mengeluarkannya tidak muhtarom, maka hukumnya juga haram.

C. Bila sperma yang suntikan itu sperma / mani suami istri dan cara mengeluarkannya muhtarom, serta dimasukan ke dalam rahim istri sendiri maka hukumnya boleh.

Keterangan : Mani muhtarom adalah yang keluar atau dikeluarkan dengan cara yang diperbolehkan oleh syara’.

Tentang anak yang dihasilkan dari sperma, tersebut dapat ilhaq atau tidak kepada pemilik mani terdapat perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar dan Imam Romli. Menurut Imam Ibnu Hajar tidak bisa ilhaq kepada pemilik mani secara mutlaq (baik muhtarom atau tidak) sedang menurut Imam Romli anak tersebut dapat ilhaq kepada pemilik mani dengan syarat keluarnya mani tersebut harus muhtarom.

Dasar Pengambilan Dalil :

مامن ذنب بعد الشرك أعظم عند الله من نطفة وضعها رجل فى رحم لايحل له. رواه ابن الدنا عن الهشيم بن مالك الطائ الجامع الصغير

Tidak ada dosa yang lebih besar setelah syirik (menyekutukan Allah ) disisi Allah dari pada maninya seorang laki-laki yang ditaruh pada rahim wanita yang tidak halal baginya. (HR. Ibnu Abid-dunya dari Hasyim bin Malik al-thoi). [ Al-jami’ul Shoghir hadis no. 8030 ].

من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فلا يسقين ماءه زرع أخيه

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali menyiram air (maninya ) pada lahan tanaman (rahim) orang lain. [ Hikmatu Tasyri’wal Safatuhu, II: 48 ].

Al-Qolyubi, IV : 32

ولو أتت بولد عُلِمِ أنه ليس منه مع إمْكَانِه مِنْهُ ( لَزِمَهُ نَفْيُهُ ) لِأَنَّ تَرْكَ النَّفْيِ يَتَضَمَّنُ اسْتِلْحَاقَ مَنْ لَيْسَ مِنْهُ حَرَامٌ.

Terjemah:

Apabila seoarang perempuan datang dengan membawa anak, dan diketahui bahwa anak tersebut bukan dari suaminya, dan dapat mungkin dari suaminya (namun secara yakin tidak dari suaminya). Maka wajib meniadakan (menolak mengakui), karena bila tidak dilaksanakan penolakan, dapat dimasukan nasab dari orang yang tidak haram (suaminya).

( وَلَوْ أَتَتْ بِوَلَدٍ عَلِمَ أَنَّهُ لَيْسَ مِنْهُ ) مَعَ إمْكَانِ كَوْنِهِ مِنْهُ ( لَزِمَهُ نَفْيُهُ ) لِأَنَّ تَرْكَ النَّفْيِ يَتَضَمَّنُ اسْتِلْحَاقَهُ ، وَاسْتِلْحَاقُ مَنْ لَيْسَ مِنْهُ حَرَامٌ وَطَرِيقُ نَفْيِهِ اللِّعَانُ الْمَسْبُوقُ بِالْقَذْفِ فَيَلْزَمَانِ أَيْضًا وَإِنَّمَا يَلْزَمُهُ قَذْفُهَا إذَا عَلِمَ زِنَاهَا ، أَوْ ظَنَّهُ كَمَا تَقَدَّمَ فِي جَوَازِهِ ، وَإِلَّا فَلَا يَقْذِفُهَا لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ الْوَلَدُ مِنْ وَطْءِ شُبْهَةٍ قَالَهُ الْبَغَوِيّ وَغَيْرُهُ ( وَإِنَّمَا يَعْلَمُ ) أَنَّ الْوَلَدَ لَيْسَ مِنْهُ ( إذَا لَمْ يَطَأْ ) ( أَوْ ) وَطِئَ وَ ( وَلَدَتْهُ لِدُونِ سِتَّةِ أَشْهُرٍ مِنْ الْوَطْءِ ) الَّتِي هِيَ أَقَلُّ مُدَّةِ الْحَمْلِ ( أَوْ فَوْقَ أَرْبَعِ سِنِينَ ) الَّتِي هِيَ أَكْثَرُ مُدَّةِ الْحَمْلِ ( فَلَوْ وَلَدَتْهُ لِمَا بَيْنَهُمَا ).[5]

( الحاصل ) المراد بالمنى المحترام حال خروجه فقط على ما اعتمده مر وان كان غير محترم حال الدخول، كما اذا احتلم الزوج وأخذت الزوجة منيه فى فرجها ظانة أنه من منىّ اجنبى فإن هذا محترم حال الخروج وغير محترم حال الدخول وتجب العدة به إذا طلقت الزوجة قبل الوطء على المعتمد خلافا لإبن حجر لأنه يعتبر أن يكون محترما فى الحالين كماقرره شيخنا.

Terjemah:

(kesimpulan) yang dimaksud mani muhtarom (mulya) adalah pada waktu keluarnya saja, seperti yang dikuatkan imam romli, meskipun tidak muhtarom padawaktu masuk. Contoh : suami bermimpi keluar mani, dan istrinya mengambilnya ( air mani tersebut) lalu dimasukan kefarjinya dengan persangkaan, bahwa air mani tersebut milik laki-laki lain (bukan suaminya) maka hal ini dinamakan mani muhtarom keluarnya, tapi tidak muhtarom waktu masuknya kefarji, dan dia wajib punya iddah (masa penantian) jika suaminya menceraikan sebelum disetubui. Menurut yang mu’tamad, berbeda dengan pendatnya imam ibnu hajar yang mengatakan, kreterianya harus muhtarom keduanya (waktu masuk dan keluar) seperti ketetapan dari syaikuna ( Rofi’I Nawawi).

Kifayatu Al-akhyar, II : 113

لو إستمنى الرجل منية بيد امرأته او امته جاز لأنها محل استمتاعها

Terjemah:

Jika seorang suami sengaja mengeluarkan air maninya dengan perantara tangan istrinya, atau tangan perempuan amatnya, maka boleh, karena perempuan tersebut tempat istima’ (senang-senang) bagi seorang suami.

Tuhfah, VI : 431 ( belum ketemu )

Al-bajuri, II : 172

Al-bughya : 238

Tambahan ibaroh :

*حاشية الجمل – (ج 19 / ص 130) المكتبة الشاملة*

قَوْلُهُ : مَنِيُّهُ الْمُحْتَرَمُ ) الْعِبْرَةُ فِي الِاحْتِرَامِ بِحَالِ خُرُوجِهِ فَقَطْ حَتَّى إذَا خَرَجَ مِنْهُ مَنِيٌّ بِوَجْهٍ مُحْتَرَمٍ كَمَا إذَا عَلَا عَلَى زَوْجَتِهِ فَأَخَذَتْهُ أَجْنَبِيَّةٌ عَالِمَةٌ بِأَنَّهُ مَنِيُّ أَجْنَبِيٍّ وَاسْتَدْخَلَتْهُ فَهُوَ مَنِيٌّ مُحْتَرَمٌ تَجِبُ بِهِ الْعِدَّةُ وَالْوَلَدُ مِنْهُ حُرٌّ نَسِيبٌ وَلَوْ سَاحَقَتْ امْرَأَتُهُ الَّتِي نَزَلَ فِيهَا مَاؤُهُ امْرَأَةً أَجْنَبِيَّةً فَخَرَجَ مَاؤُهُ مِنْهَا وَنَزَلَ فِي الْأَجْنَبِيَّةِ فَهُوَ مُحْتَرَمٌ ، وَالْوَلَدُ لْمُنْعَقِدُ مِنْهُ وَلَدُهُ ، وَلَوْ اسْتَنْجَى بِحَجَرٍ فَخَرَجَ مِنْهُ مَنِيٌّ عَلَى الْحَجَرِ فَأَخَذَتْهُ امْرَأَةٌ عَمْدًا وَاسْتَنْجَتْ بِهِ فَدَخَلَ مَا عَلَيْهِ فَرْجَهَا فَهُوَ مُحْتَرَمٌ . ا هـ م ر

*(إعانة الطالبين – (ج 4 / ص 38*

ويشترط في ثبوت العدة وطء الزوج لها ولا بد أن يكون الواطىء ممن يمكن وطؤه كصبي تهيأ له وأن تكون ممن يمكن وطؤها ومثل الوطء إدخال منيه المحترم حال خروجه وحال دخوله على ما اعتمده ابن حجر وحال خروجه فقط وإن لم يكن محترما حال دخوله على ما اعتمده م ر وذلك كما إذا احتلم الزوج وأخذت الزوجة منيه وأدخلته فرجها ظانة أنها مني أجنبي فإن هذا محترم حال الخروج وغير محترم حال الدخول وتجب به العدة إذا طلقت الزوجة بعده وقبل الوطء على معتمد الثاني دن الأول لأنه اعتبر أن يكون محترما في الحالين

*حاشية الشرقاوي (ج 2/ ص 329*

(قوله محترم) اي حال خروجه ….. وكما لو خرج منه باحتلام فأدخلته زوجته على ظن انه ماء أجنبي فيحرم عليها وتلزمها العدة

*مغني المحتاج ج٢/ ص٤٤*

ﺃﻭ ﺍﻟﻔﺮﻗﺔ ﺑﻌﺪ ﺍﺳﺘﺪﺧﺎﻝ ﻣﻨﻴﻪ ﺃﻱ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﻷﻧﻪ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻌﻠﻮﻕ ﻣﻦ ﻣﺠﺮﺩ ﺍﻹﻳﻼﺝ ، ﻭﻗﻮﻝ ﺍﻷﻃﺒﺎﺀ : ﺍﻟﻤﻨﻲ ﺇﺫﺍ ﺿﺮﺑﻪ ﺍﻟﻬﻮﺍﺀ ﻻ ﻳﻨﻌﻘﺪ ﻣﻨﻪ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻏﺎﻳﺘﻪ ﻇﻦ ، ﻭﻫﻮ ﻻ ﻳﻨﺎﻓﻲ ﺍﻹﻣﻜﺎﻥ ﻓﻼ ﻳﻠﺘﻔﺖ ﺇﻟﻴﻪ ، ﻭﻻ ﺑﺪ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﻤﻨﻲ ﻣﺤﺘﺮﻣﺎ ﺣﺎﻝ ﺍﻹﻧﺰﺍﻝ ﻭﺣﺎﻝ ﺍﻹﺩﺧﺎﻝ ، ﺣﻜﻰ ﺍﻟﻤﺎﻭﺭﺩﻱ ﻋﻦ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ ﺃﻥ ﺷﺮﻁ ﻭﺟﻮﺏ ﺍﻟﻌﺪﺓ ﺑﺎﻻﺳﺘﺪﺧﺎﻝ ﺃﻥ ﻳﻮﺟﺪ ﺍﻹﻧﺰﺍﻝ ﻭﺍﻻﺳﺘﺪﺧﺎﻝ ﻣﻌﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺰﻭﺟﻴﺔ ، ﻓﻠﻮ ﺃﻧﺰﻝ ﺛﻢ ﺗﺰﻭﺟﻬﺎ ﻓﺎﺳﺘﺪﺧﻠﺘﻪ ﺃﻭ ﺃﻧﺰﻝ ﻭﻫﻲ ﺯﻭﺟﺔ ﺛﻢ ﺃﺑﺎﻧﻬﺎ ﻭﺍﺳﺘﺪﺧﻠﺘﻪ ﻟﻢ ﺗﺠﺐ ﺍﻟﻌﺪﺓ ﻭﻟﻢ ﻳﻠﺤﻘﻪ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺍ ﻫـ .ﻭﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﺃﻥ ﻫﺬﺍ ﻏﻴﺮ ﻣﻌﺘﺒﺮ ﺑﻞﺍﻟﺸﺮﻁ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻦ ﺯﻧﺎ ﻛﻤﺎﻗﺎﻟﻮﺍ ، ﺃﻣﺎ ﻣﺎﺅﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﺰﻧﺎ ﻓﻼ ﻋﺒﺮﺓﺑﺎﺳﺘﺪﺧﺎﻟﻪ

*ﺑﺠﻴﺮﻣﻰ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﻄﻴﺐ ﺍﻟﺠﺰﺀ 4 ﺹ: 446*

قَوْلُهُ : ( الْمُحْتَرَمِ ) أَيْ حَالَ خُرُوجِهِ بِأَنْ لَا يَخْرُجُ عَلَى وَجْهٍ مُحَرَّمٍ وَكَانَ ذَلِكَ فِي حَيَاةِ السَّيِّدِ فَإِنْ فَعَلَتْ ذَلِكَ بَعْدَ مَوْتِ السَّيِّدِ ثَبَتَ النَّسَبُ وَلَا تَعْتِقُ بِهِ لِانْتِقَالِهَا إلَى مِلْكِ الْغَيْرِ وَهُوَ الْوُرَّاثُ حَالَ عُلُوقِهَا .ح ل .وَقَوْلُهُ : ثَبَتَ النَّسَبُ أَيْ وَالْإِرْثُ لِكَوْنِ مَنِيِّهِ مُحْتَرَمًا حَالَ خُرُوجِهِ .وَلَا يُقَالُ : يَلْزَمُ عَلَيْهِ إرْثُ مَنْ لَمْ يَكُنْ مَوْجُودًا عِنْدَ الْمَوْتِ .لِأَنَّا نَقُولُ : وُجُودُ أَصْلِهِ كَوُجُودِهِ وَلَا يُعْتَبَرُ كَوْنُهُ مُحْتَرَمًا أَيْضًا حَالَ دُخُولِهِ خِلَافًا لِبَعْضِهِمْ وَقَدْ صَرَّحَ بَعْضُهُمْ بِأَنَّهُ لَوْ أَنْزَلَ فِي زَوْجَتِهِ فَسَاحَقَتْ بِنْتَهُ فَحَبِلَتْ مِنْهُ لَحِقَ الْوَلَدُ بِهِ .وَكَذَا لَوْ مَسَحَ ذَكَرَهُ بِحَجَرٍ بَعْدَ إنْزَالِهِ فِيهَا فَاسْتَنْجَتْ بِهِ امْرَأَةٌ فَحَبِلَتْ مِنْهُ .ا هـ .زي وَعِبَارَةُ شَرْحِ م ر لِانْتِفَاءِ مِلْكِهِ لَهَا حَالَ عُلُوقِهَا فَتَكُونُ هَذِهِ الصُّورَةُ خَارِجَةً بِقَوْلِ الْمَتْنِ أَمَتُهُ .

زي وَعِبَارَةُ شَرْحِ م ر لِانْتِفَاءِ مِلْكِهِ لَهَا حَالَ عُلُوقِهَا فَتَكُونُ هَذِهِ الصُّورَةُ خَارِجَةً بِقَوْلِ الْمَتْنِ أَمَتُهُ .وَذَلِكَ لِأَنَّهَا فِي هَذِهِ الصُّورَةِ وَقْتَ عُلُوقِهَا لَيْسَتْ أَمَةً لِلسَّيِّدِ وَانْظُرْ لَوْ وَطِئَ زَوْجَتَهُ أَوْ أَمَتَهُ ظَانًّا أَنَّهَا أَجْنَبِيَّةً وَخَرَجَ مَنِيُّهُ هَلْ هُوَ مُحْتَرَمٌ اعْتِبَارًا بِالْوَاقِعِ أَوْ لَا نَظَرًا لِظَنِّهِ الْمَذْكُورِ ؟ فِيهِ نَظَرٌ وَالظَّاهِرُ الْأَوَّلُ كَمَا قَالَهُ سم فِي شَرْحِ الْغَايَةِ حَيْثُ قَالَ وَالْعِبْرَةُ فِي الِاحْتِرَامِ بِحَالِ خُرُوجِهِ فَقَطْ وَلَوْ بِاعْتِبَارِ الْوَاقِعِ فِيمَا يَظْهَرُ كَمَا لَوْ خَرَجَ بِوَطْءِ زَوْجَتِهِ ظَانًّا أَنَّهَا أَجْنَبِيَّةٌ فَاسْتَدْخَلَتْهُ زَوْجَةٌ أُخْرَى أَوْ أَجْنَبِيَّةٌ اعْتِبَارًا بِالْوَاقِعِ دُونَ اعْتِقَادِهِ وَلَوْ اسْتَمْنَى بِيَدِهِ مَنْ يَرَى حُرْمَتَهُ فَالْأَقْرَبُ عَدَمُ احْتِرَامِهِ كَمَا فِي شَرْحِ م ر .فَلَا عِدَّةَ بِهِ وَلَا نَسَبَ يَلْحَقُ بِهِ كَمَا قَالَهُ سم وَمِنْ الْمُحْتَرَمِ كَمَا شَمَلَهُ حَدُّهُ مَا خَرَجَ بِسَبَبِ تَرَدُّدِ الذَّكَرِ عَلَى حَلْقَةِ دُبُرِ زَوْجَتِهِ أَوْ أَمَتِهِ مِنْ غَيْرِ إيلَاجٍ فِيهِ لِجَوَازِهِ .أَمَّا الْخَارِجُ بِسَبَبِ إيلَاجٍ فِيهِ فَلَيْسَ مُحْتَرَمًا لِأَنَّهُ حَرَامٌ لِذَاتِهِ خِلَافًا لِمَا بَحَثَهُ الشَّيْخُ عَمِيرَةُ مَعَ أَنَّهُ مُحْتَرَمٌ كَمَا لَوْ وَطِئَ أُخْتَهُ الرَّقِيقَةَ وَيُؤَيِّدُ الْأَوَّلَ أَنَّ الْوَلَدَ لَا يَلْحَقُ بِالْوَطْءِ فِي الدُّبُرِ كَمَا صَرَّحَ بِهِ م ر فِي بَابِ الِاسْتِبْرَاءِ .وَلَوْ خَرَجَ مِنْ رَجُلٍ مَنِيٌّ مُحْتَرَمٌ مَرَّةً وَمَنِيٌّ غَيْرُ مُحْتَرَمٍ مَرَّةً أُخْرَى وَمَزَجَهُمَا حَتَّى صَارَا شَيْئًا وَاحِدًا وَاسْتَدْخَلَتْهُ أَمَتُهُ أَوْ زَوْجَتُهُ وَحَبِلَتْ وَأَتَتْ بِوَلَدٍ ، فَإِنَّهُ يُنْسَبُ لَهُ تَغْلِيبًا لِلْمُحْتَرَمِ .كَمَا قَالَهُ الطَّبَلَاوِيُّ وسم .لَا يُقَالُ : اجْتَمَعَ مُقْتَضٍ وَمَانِعٌ فَيُغَلَّبُ الْمَانِعُ .لِأَنَّا نَقُولُ هُوَ غَيْرُ مُقْتَضٍ لَا مَانِعٍ وَانْظُرْ لَوْ كَانَ ذَلِكَ مِنْ رَجُلَيْنِ وَاسْتَدْخَلَتْهُ أَمَةُ أَحَدِهِمَا ، وَأَتَتْ بِوَلَدٍ هَلْ يُنْسَبُ لِصَاحِبِ الْمُحْتَرَمِ تَغْلِيبًا لَهُ وَالظَّاهِرُ الْأَوَّلُ كَمَا يُؤْخَذُ مِنْ كَلَامِ الطَّبَلَاوِيِّ وسم .قَوْلُهُ : ( فَلَا يَثْبُتُ بِهِ أُمِّيَّةُ الْوَلَدِ ) وَيَثْبُتُ النَّسَبُ بِخِلَافِ مَا إذَا انْفَصَلَ بَعْدَ مَوْتِهِ وَاسْتَدْخَلَتْهُ فَاسْتَظْهَرَ ق ل .عَدَمَ ثُبُوتِ النَّسَبِ وَاسْتَظْهَرَ الشَّارِحُ ثُبُوتَهُ وَلَا يَثْبُتُ الِاسْتِيلَادُ

Wallahu a’lamu bisshowab..

TALAQ DALAM HATI DAN TALAQ DALAM KEADAAN SANGAT MARAH

HUKUM THALAK YANG HANYA TERLINTAS DALAM HATI

Bagaimana hukumnya terlintas di dalam hati menthalak istri, tapi tidak diucapkan di mulut. Apakah menjadi thalak?

JAWABAN :

Menthalaq dengan niat mengucapkan, tapi tidak melafadzkan (mengucapkan kata thalaq), maka tidak jatuh thalaqnya, ini kesepakatan ulama’. Bagi orang yang mampu bicara, thalaq yang hanya dengan memberi isyarat tanpa diucapkan tidaklah jatuh thalaqnya. Sama dengan hal-nya orang menthalaq dengan niat tidak diucapkan. Sedangkan thalaq harus dengan ucapan sekiranya terdengar kepada dirinya sendiri. Seperti hal-nya orang yang sedang I’tidal dalam shalat. Intinya thalaq tidak akan jatuh apabila tidak menggerakan lisan (lidah) Sekiranya terdengar pada dirinya sendiri. Syarat dari jatuhnya talak itu adalah dengan ucapan yang jelas atau dengan kata-kata yang terang, orang yang mentalak tersebut mengeraskan suaranya kira2 dapat memberi pendengaran dirinya sendiri jika dia baik pendengaranya. Dan tidak pula jatuh thalaq dengan tanpa ucapan dan tidak jatuh thalaq dengan ucapan suara yang lirih kira2 tidak dapat memberi pendengaran dirinya sendiri.

– Almausu’ah fiqhiyyah :

الموسوعة الفقهية ( 29 / 23 ) :” فإذا نوى التّلفّظ بالطّلاق ثمّ لم يتلفّظ به : لم يقع بالاتّفاق ؛ لانعدام اللّفظ أصلاً

وخالف الزّهريّ ، وقال بوقوع طلاق النّاوي له من غير تلفّظ ودليل الجمهور قول النّبيّ صلى الله عليه وسلم : ( إنّ اللّه تجاوز لأمّتي عمّا حدّثت به أنفسها ، ما لم تعمل أو تكلّم به

– Alfiqhu ‘alal madzahibil arba’ah :

الفقه على المذاهب الأربعة

الشافعية قالوا: الإشارة لا يقع بها الطلاق من القادر على الكلام بأي وجه وعلى أي حال،كما لا يقع بالنية ولا بالكلام النفسي، بل لا بد من التلفظ به ولا بد من أن يسمع به نفسه في حالة الاعتدال، فلو فرض وتكلم به وكان سمعه ثقيلاً، أو كان بحضرته لغط كثير، فلا بد من أن يرفع به صوته بحيث لو كان معتدل السمع لسمع بهذا الصوت، فلا يقع بتحريك اللسان من غير أن يسمع نفسه

– Nihayatuz Zain halaman 332 :

وَشَرْطُ الوُقُوْعِ الطَّلاَقِ بِصَرِيْحٍ اَوْكِنَا يَةٍ رَفَعَ صَوْتَهُ بِحَيْثُ يُسْمِعُ نَفْسَهُ لَوْكَانَ صَحِيْحَ السَّمْعِ وَلاَعَارِضٍ, وَلاَيَقَعُ بِغَيْرِ لَفْظٍ وَلاَ بِصَوْةٍ خَفِيٍّ بِحَيْثُ لاَ يُسْمِعُ بِهِ نَفْسَهُ.

– Bujairimy dan I’anatuththoolibiin :

البجيرمي على الخطيب :

وشرط وقوعه بصريح أو كناية رفع صوته بحيث يسمع نفسه لو كان صحيح السمع ولا عارض ولا يقع بغير لفظ عند أكثر العلماء قاله م ر في شرحه وقوله ( ولا يقع بغير لفظ ) أي ولا بصوت خفي بحيث لا يسمع نفسه وقوله ( عند أكثر العلماء ) أشار به إلى خلاف سيدنا مالك فإنه قال يقع بنيته .ا هـ .

اعانة الطالبين :

(قوله: وللتلفظ به الخ) أي ولا أثر للتلفظ بالطلاق تلفظا مصورا بحالة، هي كونه لا يسمع نفسه، وذلك لانه يشترط في وقوع الطلاق التلفظ به حيث يسمع نفسه، فإن اعتدل سمعه ولا مانع من نحو لغط، فلا بد أن يرفع صوته به بقدر ما يسمع نفسه، بالفعل وإن لم يعتدل سمعه أو كان هناك مانع من نحو لغط فلا بد أن يرفع صوته بحيث لو كان معتدل السمع ولا مانع لسمع فيكفي سماعه تقديرا وإن لم يسمع بالفعل

SAHKAH TALAK DALAM KONDISI SANGAT MARAH?

Apakah talak dalam kondisi sangat marah sehingga menghilangkan kesadaran normalnya itu sah (jatuh)? .

JAWABAN :

Dalam kehidupan rumah tangga perselisihan antara suami-isteri merupakan hal yang tak bisa dielakkan. Ini merupakan hal biasa dalam kehidupan rumah tangga. Namun acapkali di tengah-tengah perselisihan itu muncul kemarahan yang sangat luar biasa, sehingga tanpa sadar terucap kata talak dari pihak suami.

Sedang mengenai jatuh apa tidaknya talaknya orang yang dalam kondisi sangat marah, para ulama terjadi perselisihan pendapat. Namun dalam kasus ini ada yang menarik dari penjelasan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, salah satu ulama pengikut madzhab hanbali.

Pertama-tama yang dilakukan beliau sebelum menetapkan sah atau tidaknya talak dalam kondisi marah. Beliau terlebih dahulu membagi bentuk kemarahan. Setidaknya ada tiga klasifikasi atau level kemarahan. Level pertama, kemarahan yang biasa, yang tidak mempengaruhi kesadarannya. Artinya, pihak yang marah masih menyadari dan mengetahui apa yang ia ucapkan atau maksudkan dalam kondisi tersebut. Dalam kasus kemarahan yang seperti ini jika sampai terucap kata talak maka talaknya sah atau jatuh.

Kedua, kemarahan yang sangat luar biasa sehingga menyebabkan orang yang mengalami kemarahan ini tidak menyadari apa yang terucap dan apa yang dikehendaki. Apa yang terucap ketika dalam kemarahan yang seperti ini tidak memiliki konsekwensi apa-apa. Dengan demikian, jika seseorang mengucapkan kata talak dalam kondisi kemarahan yang sangat luar biasa maka talaknya tidak sah atau jatuh. Alasannya adalah ketika seseorang dalam kondisi marah yang sangat luar biasa itu seperti orang gila yang tidak menyadari apa yang diucapkan dan tidak mengerti maksud dari apa yang diucapkan tersebut.

Ketiga, kemarahan yang berada di tengah yang berada antara kemarahan pada level pertama dan kedua. Kemaran pada level tidak menjadikan seseorang seperti orang yang gila. Bagi Ibnu al-Qayyim, jika ada seseorang mengalami kemarahan pada level ini kemudian terucap kata talak maka talak tersebut tidak sah atau tidak jatuh.

قُلْتُ : وَلِلْحَافِظِ ابْنِ الْقَيِّمِ الْحَنْبَلِيِّ رِسَالَةٌ فِي طَلَاقِ الْغَضْبَانِ قَالَ فِيهَا : إنَّهُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ : أَحَدُهَا أَنْ يَحْصُلَ لَهُ مَبَادِئُ الْغَضَبِ بِحَيْثُ لَا يَتَغَيَّرُ عَقْلُهُ وَيَعْلَمُ مَا يَقُولُ وَيَقْصِدُهُ ، وَهَذَا لَا إشْكَالَ فِيهِ .وَالثَّانِي أَنْ يَبْلُغَ النِّهَايَةَ فَلَا يَعْلَمُ مَا يَقُولُ وَلَا يُرِيدُهُ ، فَهَذَا لَا رَيْبَ أَنَّهُ لَا يَنْفُذُ شَيْءٌ مِنْ أَقْوَالِهِ .الثَّالِثُ مَنْ تَوَسَّطَ بَيْنَ الْمَرْتَبَتَيْنِ بِحَيْثُ لَمْ يَصِرْ كَالْمَجْنُونِ فَهَذَا مَحَلُّ النَّظَرِ ، وَالْأَدِلَّةُ عَلَى عَدَمِ نُفُوذِ أَقْوَالِهِ

“Saya berkata, bahwa al-hafizh Ibn al-Qayyim al-Hanbali memeliki risalah mengenai talak dalam kondisi marah. Dalam risalah tersebut ia mengatakan bahwa kemarahan itu ada tiga macam. Pertama, adanya dasar-dasar kemarahan bagi seseorang namun nalarnya tidak mengalami kegoncangan sehingga ia masih mengerti apa yang dikatakan dan dimaksudkan. Dan dalam konteks ini tidak ada persoalan sama sekali. Kedua, ia sampai pada puncak (kemarahannya) sampai tidak menyadari apa yang dikatakan dan dikehendaki. Dan dalam konteks ini tidak ada keraguan bahwa apa yang terucap tidak memiliki konsekwensi(akibat) apa-apa. Ketiga, orang yang tingkat kemarahannya berada di tengah di antara level yang pertama dan kedua. Dan dalam konteks perlu ditinjau lebih lanjut lagi (mahall an-nazhar). Namun, dalil-dalil yang ada menunjukkan bahwa apa yang terucap tidak memiliki konsekwensi(akibat) apa-apa. (Lihat Ibnu Abidin, Hasyiyatu Durr al-Mukhtar, Bairut-Dar al-Fikr, 1421 H/2000 M, juz, 10, h. 488)

Namun jika seseorang mengalami kemarahan pada level ketiga, yaitu di antara level pertama dan kedua kemudian terucap darinya kata talak, maka menurut mayoritas ulama talaknya sah. Artinya dalam pandangan mereka kemarahan yang tidak sampai berakibat pada hilangnya kesadaran dan rasionalitas seseorang, meskipun menyebakan ia keluar dari kebiasaanya tetaplah jatuh. Sebab, ia tidak seperti orang gila.

اَلثَّالِثُ : أَنْ يَكُونَ الْغَضَبُ وَسَطًا بَيْنَ الْحَالَتَيْنِ بِأَنْ يَشَتَدَّ وَيُخْرِجُ عَنْ عَادَتِهِ وَلَكِنَّهُ لَا يَكُونُ كَالْمَجْنُونِ الَّذِي لَا يَقْصِدُ مَا يَقُولُ وَلَا يَعْلَمُهُ وَالْجُمْهُورُ عَلَى أَنَّ الْقِسْمَ الثَّالِثَ يَقَعُ بِهِ الطَّلَاقُ

“Ketiga, adanya kemarahan itu pada level sedang yaitu di antara level pertama dan kedua. Artinya, ada kemarahan yang sangat sehingga ia keluar dari kebiasannya, akan tetapi ia tidak seperti orang gila yang tidak menyadari kemana arah dan tujuan apa yang diucapkannya dan tidak mengetahuinya. Menurut mayoritas ulama talaknya seseorang yang mengalami kemarahan pada level ketiga ini jatuh” (Lihat Abdurraham al-Jujairi, al-Fiqh ‘ala Madzahab al-Arba’ah, Bairut-Dar al-Fikr, juz, 4, h. 142 )

Hasil verifikasi atau tahqiq yang dilakukan para ulama dari kalangan madzhab hanafi menyatakan bahwa kemarahan yang mengakibatkan seseorang keluar dari karakter dan kebiasannya, dimana igauan mendominasi(menguasai) perkataan dan tindak lakunya adalah ini tidak jatuh, meskipun ia menyadari apa yang dikatakan dan apa yang dimaksudkan.

Alasan yang dikemukakan mereka adalah, bahwa ia dalam keadaan mengalami kegoncangan pemahaman. Karenanya, apa yang kehendaki atau dimaksudkan tidak didasarkan pada pemahaman yang sahih. Jadi, ia seperti orang gila.

وَالتَّحْقِيقُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ أَنَّ الْغَضْبَانَ الَّذِي يُخْرِجُهُ غَضَبُهُ عَنْ طَبِيعَتِهِ وَعَادَتِهِ بِحَيْثُ يَغْلُبُ الْهَذَيَانُ عَلَى أَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ فَإِنَّ طَلَاقَهُ لَا يَقَعُ وَإِنْ كَانَ يَعْلَمُ مَا يَقُولُ وَيَقْصِدُهُ لِأَنَّهُ يَكُونُ فِي حَالَةٍ يَتَغَيَّرُ فِيهَا إِدْرَاكُهُ فَلَا يَكُونُ قَصْدُهُ مَبْنِيًّا عَلَى إِدْرَاكٍ صَحِيحٍ فَيَكُونُ كَالْمَجْنُونِ

“Hasil verifikasi kalangan madzhab Hanafi menyatakan bahwa kemarahan yang menyebabkan seseorang keluar dari tabiat dan kebiasaannya, dimana igauan menguasai perkataan dan perbuatannya, maka talaknya tidak jatuh meskipun ia mengetahui apa yang dikatakan dan apa yang dimaksudkan. Sebab, ia berada dalam kondisi mengalami kegoncangan pemahaman. Karenanya, apa yang dikehendaki itu tidak didasarkan atas pemahaman yang sahih sehingga ia menjadi seperti orang gila” (Lihat Abdurraham al-Jujairi, al-Fiqh ‘ala Madzahab al-Arba’ah, Bairut-Dar al-Fikr, juz, 4, h. 144 )

Berangkat dari penjelasan ini, maka jawaban untuk pertanyaan di atas adalah bahwa talaknya orang yang dalam kondisi sangat marah sehingga hilang kesadarannya adalah tidak jatuh atau tidak sah.

Begitu juga talak tidak sah ketika kemarahan itu sampai membuat seseorang keluar dari tabiat dan kebiasannya, meskipun ia menyadari apa yang diucapkan dan apa yang dimaksudkan. Dalam ini tentunya berbeda dengan pandangan mayoritas ulama, yang menyatakan tetap jatuh atau sah talaknya.

Demikian jawaban ini. Semoga bisa dimengerti dengan baik. Bagi para suami agar selalu mengontrol kemarahannya, dan bagi para isteri agar tidak perlu memancing kemarahan suami.

Wallahu a’lamu bisshowab..

HUKUM MENGEMUDI TANPA SIM DAN STATUS GOOGLE ADSENSE

STATUS FEE GOOGLE ADSENSE

Mereka yang aktif di dumay entah sebagai blogger atau youtuber pasti kenal dengan google adsense. Google adsense adalah sebuah program periklanan online yang dimiliki oleh Google. Google adsense adalah cara tercepat dan cara termudah bagi pemilik blog dan pemilik chanel di youtube untuk menghasilkan uang dari internet. Caranya dengan memasang iklan google adsense pada blog / chanel mereka. Komisi yang didapatkan dari google adsense ada 2 macam; pertama komisi per klik yang artinya, jika ada orang lain atau pengunjung situs/blog yang mengklik iklan maka pemilik blog akan mendapatkan komisi dari google. Dan yang kedua komisi per view yang artinya, jika ada orang lain atau pengunjung  yang melihat video anda maka anda akan mendapatkan komisi seperti dalam youtube. Saat ini untuk mendaftar program google adsense cukup sulit apalagi untuk pemula. Namun setelah anda diterima dan memiliki sebuah akun google adsense, maka anda sudah bisa memulai memasang iklan di blog atau video anda. Dan jika ada orang lain yang meng-klik / melihat iklan adsense tersebut maka anda akan mendapatkan komisi  (komisi per klik bervariasi). Tapi anda baru bisa mencairkan komisi dari google adsense jika penghasilan anda sudah mencapai rupiah yg senilai $100 atau 1.3 Juta Rupiah. Jika dibawah nominal tersebut jangan harap bisa dicairkan.

Note: Google Adsense punya beberapa kebijakan yang wajib diikuti, jika dilanggar maka konsekuensi terbesarnya adalah dihapusnya akun anda.

*Pertanyaan:*

A. Apa status google adsense dalam kaca mata Fiqh?

B. Apakah komisi yang didapat dari klik dan view memiliki status yang sama?

*Jawaban:*

1. Ada dua pandangan;

Pertama, Jika yang dimaksud adalah setatus kesepakatan antar google dengan blooger ata youtuber dalam pemasangan iklan dengan komisi yang disepakati, maka termasuk hibah ala an yaqdliya lahu hajah (pemberian atas dasar terpenuhinya kepenting pemberi).

Kedua, mengingat prakteknya kompensasi diberikan setelah adanya klik dan view, maka hal yang sedemikian tergolong wa’du bil hibah (janji memberi sesuatu)

2. Iya sama.

*Referensi:*

*مغني المحتاج، ج ٣، ص ٥٧٣*

ﻭ‍ﻟ‍‍ﻮ ‍ﺃ‍ﻫ‍‍ﺪ‍ﻯ ‍ﺷ‍‍ﺨ‍‍ﺺ‍ ‍ﻟ‍‍ﺂ‍ﺧ‍‍ﺮ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻰ ‍ﺃ‍ﻥ‍ ‍ﻳ‍‍ﻘ‍‍ﻀ‍‍ﻲ‍‍ﻟ‍‍ﻪ‍ ‍ﺣ‍‍ﺎ‍ﺟ‍‍ﺔ ‍ﺃ‍ﻭ ‍ﻳ‍‍ﺨ‍‍ﺪ‍ﻣ‍‍ﻪ‍ ‍ﻓ‍‍ﻠ‍‍ﻢ‍ ‍ﻳ‍‍ﻔ‍‍ﻌ‍‍ﻞ‍ ‍ﻭ‍ﺟ‍‍ﺐ‍ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍  ‍ﺭ‍ﺩ‍ﻫ‍‍ﺎ ‍ﺇ‍ﻥ‍ ‍ﺑ‍‍ﻘ‍‍ﻴ‍‍ﺖ‍ ‍ﻭ‍ﺑ‍‍ﺪ‍ﻟ‍‍ﻬ‍‍ﺎ ‍ﺇ‍ﻥ‍ ‍ﺗ‍‍ﻠ‍‍ﻔ‍‍ﺖ‍ ‍ﻛ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﻗ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻪ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺈ‍ﺻ‍‍ﻄ‍‍ﺨ‍‍ﺮ‍ﻱ‍.

*حاشية القليوبي ٣٢٣/٢*

فرع لو اسقط الاجل لم يسقط قال السبكي : لكنه معروف يستحب الوفاء به قال : وما قاله الاصحاب من عدم صحة التأجيل ظاهر لكن قولهم الوعد لا يجب الوفاء به مشكل لمخالفته ظاهر الآية والسنة ولان خلفه كذب وهو من خصال المنافقين.

*المجموع ٣٧٥/١٥*

ﻭﻟﻤﺎ ﻛﺎﻧﺖ اﻟﻬﺒﺔ ﺗﻤﻠﻴﻜﺎ ﻟﻤﻌﻴﻦ ﻓﻲ اﻟﺤﻴﺎﺓ ﻟﻢ ﻳﺠﺰ ﺗﻌﻠﻴﻘﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﺷﺮﻁ ﻛﺎﻟﺒﻴﻊ، ﻓﺎﻥ ﻋﻠﻘﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﺷﺮﻁ ﻛﻘﻮﻝ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻻﻡ ﺳﻠﻤﺔ (ﺇﻥ ﺭﺟﻌﺖ ﻫﺬﻳﺘﻨﺎ ﺇﻟﻰ اﻟﻨﺠﺎﺷﻲ ﻓﻬﻰ ﻟﻚ) ﻛﺎﻥ ﻭﻋﺪا، ﻭﺇﻥ ﺷﺮﻁ ﻓﻲ اﻟﻬﺒﺔ ﺷﺮﻭﻃﺎ ﺗﻨﺎﻓﻰ ﻣﻘﺘﻀﺎﻫﺎ ﻧﺤﻮ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻭﻫﺒﺘﻚ ﻫﺬا ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻡ ﻻ، ﺗﻬﺒﻪ ﺃﻭ ﻻ ﺗﺒﻴﻌﻪ ﺃﻭ ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻥ ﺗﻬﺒﻪ ﺃﻭ ﺗﺒﻴﻌﻪ ﺃﻭ ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻥ ﺗﻬﺐ ﻓﻼﻧﺎ ﺷﻴﺌﺎ ﻟﻢ ﻳﺼﺢ

HUKUM MENGEMUDI TANPA MEMILIKI SIM

Bagaimana hukum mengemudi bagi yang tidak punya SIM?.

*Catatan:*

*PERSYARATAN PENGEMUDI*

*Pasal 77*

(1) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di

Jalan wajib memiliki Surat Izin Mengemudi sesuai

dengan jenis Kendaraan Bermotor yang dikemudikan.

*Pasal 281 UU LLAJ:*

“Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang tidak memiliki Surat Izin Mengemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah).”

*Jawaban:*

Karena ada aturan pemerintah yang mengharuskan pengemudi untuk memiliki SIM, maka hukumnya haram dzahiran, karena aturan yang dibuat pemerintah tersebut wajib dipatuhi dzahiran dalam artian tidak berdosa meski tidak memiliki SIM asalkan memiliki kelihaian mengemudi dan faham aturan lalu lintas sebagaimana pendapat Syaikh Syarwani. Namun demikian pemerintah tetap berhak untuk melakukan penindakan sesuai UU jika didapati pengemudi yang tidak memiliki SIM.

*Referensi:*

*بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي ص: 142*

(مسألة: ك): يجب امتثال أمر الإمام في كل ما له فيه ولاية كدفع زكاة المال الظاهر، فإن لم تكن له فيه ولاية وهو من الحقوق الواجبة أو المندوبة جاز الدفع إليه والاستقلال بصرفه في مصارفه، وإن كان المأمور به مباحاً أو مكروهاً أو حراماً لم يجب امتثال أمره فيه كما قاله (م ر) وتردد فيه في التحفة، ثم مال إلى الوجوب في كل ما أمر به الإمام ولو محرماً لكن ظاهراً فقط، وما عداه إن كان فيه مصلحة عامة وجب ظاهراً وباطناً وإلا فظاهراً فقط أيضاً، والعبرة في المندوب والمباح بعقيدة المأمور، ومعنى قولهم ظاهراً أنه لا يأثم بعدم الامتثال، ومعنى باطناً أنه يأثم اه. قلت: وقال ش ق: والحاصل أنه تجب طاعة الإمام فيما أمر به ظاهراً وباطناً مما ليس بحرام أو مكروه، فالواجب يتأكد، والمندوب يجب، وكذا المباح إن كان فيه مصلحة كترك شرب التنباك إذا قلنا بكراهته لأن فيه خسة بذوي الهيئات، وقد وقع أن السلطان أمر نائبه بأن ينادي بعدم شرب الناس له في الأسواق والقهاوي، فخالفوه وشربوا فهم العصاة، ويحرم شربه الآن امتثالاً لأمره، ولو أمر الإمام بشيء ثم رجع ولو قبل التلبس به لم يسقط الوجوب اه.

*حواشي الشرواني، ج ٣، ص ٧١-٧٣*

ﻧ‍‍ﻌ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺬ‍ﻱ‍ ‍ﻳ‍‍ﻈ‍‍ﻬ‍‍ﺮ ‍ﺃ‍ﻥ‍ ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﺃ‍ﻣ‍‍ﺮ ‍ﺑ‍‍ﻪ‍ ‍ﻣ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ليس فيه ‍ﻣ‍‍ﺼ‍‍ﻠ‍‍ﺤ‍‍ﺔ ‍ﻋ‍‍ﺎ‍ﻣ‍‍ﺔ ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﺠ‍‍ﺐ‍ ‍ﺍ‍ﻣ‍‍ﺘ‍‍ﺜ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻪ‍ ‍ﺇ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻇ‍‍ﺎ‍ﻫ‍‍ﺮ‍ﺍ ‍ﻓ‍‍ﻘ‍‍ﻂ‍ *‍ﺑ‍‍ﺨ‍‍ﻠ‍‍ﺎ‍ﻑ‍ ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﺫ‍ﻟ‍‍ﻚ‍ ‍ﻳ‍‍ﺠ‍‍ﺐ‍ ‍ﺑ‍‍ﺎ‍ﻃ‍‍ﻨ‍‍ﺎ ‍ﺃ‍ﻳ‍‍ﻀ‍‍ﺎ* ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻔ‍‍ﺮ‍ﻕ‍ ‍ﻇ‍‍ﺎ‍ﻫ‍‍ﺮ .

الشرح:

(‍ﻗ‍‍ﻮ‍ﻟ‍‍ﻪ‍: ‍ﻣ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﻟ‍‍ﻴ‍‍ﺲ‍ ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﻣ‍‍ﺼ‍‍ﻠ‍‍ﺤ‍‍ﺔ ‍ﺇ‍ﻟ‍‍ﺦ‍) *‍ﺃ‍ﻗ‍‍ﻮ‍ﻝ‍ ‍ﻭ‍ﻛ‍‍ﺬ‍ﺍ ‍ﻣ‍‍ﻤ‍‍ﺎ فيه ‍ﻣ‍‍ﺼ‍‍ﻠ‍‍ﺤ‍‍ﺔ ‍ﻋ‍‍ﺎ‍ﻣ‍‍ﺔ ‍ﺃ‍ﻳ‍‍ﻀ‍‍ﺎ ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﻈ‍‍ﻬ‍‍ﺮ ‍ﺇ‍ﺫ‍ﺍ كانت تحصل مع ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺎ‍ﻣ‍‍ﺘ‍‍ﺜ‍‍ﺎ‍ﻝ‍ ‍ﻇ‍‍ﺎ‍ﻫ‍‍ﺮ‍ﺍ ‍ﻓ‍‍ﻘ‍‍ﻂ‍* ‍

ﻭ‍ﻇ‍‍ﺎ‍ﻫ‍‍ﺮ ‍ﺃ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﻨ‍‍ﻬ‍‍ﻲ‍ ‍ﻛ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﺄ‍ﻣ‍‍ﻮ‍ﺭ ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﺠ‍‍ﺮ‍ﻱ‍ ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﺟ‍‍ﻤ‍‍ﻴ‍‍ﻊ‍ ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﻗ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻪ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺸ‍‍ﺎ‍ﺭ‍ﺡ‍ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﺄ‍ﻣ‍‍ﻮ‍ﺭ ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﻤ‍‍ﺘ‍‍ﻨ‍‍ﻊ‍ ‍ﺍ‍ﺭ‍ﺗ‍‍ﻜ‍‍ﺎ‍ﺑ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﺇ‍ﻥ‍ ‍ﻛ‍‍ﺎ‍ﻥ‍ ‍ﻣ‍‍ﺒ‍‍ﺎ‍ﺣ‍‍ﺎ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻰ ‍ﻇ‍‍ﺎ‍ﻫ‍‍ﺮ ‍ﻛ‍‍ﻠ‍‍ﺎ‍ﻣ‍‍ﻬ‍‍ﻢ‍ ‍ﻛ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﺗ‍‍ﻘ‍‍ﺪ‍ﻡ‍ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﻜ‍‍ﻔ‍‍ﻲ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺎ‍ﻧ‍‍ﻜ‍‍ﻔ‍‍ﺎ‍ﻑ‍‍ﻇ‍‍ﺎ‍ﻫ‍‍ﺮ‍ﺍ ‍ﺇ‍ﺫ‍ﺍ ‍ﻟ‍‍ﻢ‍ ‍ﺗ‍‍ﻜ‍‍ﻦ‍ ‍ﻣ‍‍ﺼ‍‍ﻠ‍‍ﺤ‍‍ﺔ ‍ﻋ‍‍ﺎ‍ﻣ‍‍ﺔ ‍ﺃ‍ﻭ ‍ﺣ‍‍ﺼ‍‍ﻠ‍‍ﺖ‍ ‍ﻣ‍‍ﻊ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺎ‍ﻧ‍‍ﻜ‍‍ﻔ‍‍ﺎ‍ﻑ‍ ‍ﻇ‍‍ﺎ‍ﻫ‍‍ﺮ‍ﺍ ‍ﻓ‍‍ﻘ‍‍ﻂ‍ ‍ﻭ‍ﻗ‍‍ﻀ‍‍ﻴ‍‍ﺔ ‍ﺫ‍ﻟ‍‍ﻚ‍ ‍ﺃ‍ﻧ‍‍ﻪ‍ ‍ﻟ‍‍ﻮ ‍ﻣ‍‍ﻨ‍‍ﻊ‍ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﺷ‍‍ﺮ‍ﺏ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻘ‍‍ﻬ‍‍ﻮ‍ﺓ ل‍‍ﻣ‍‍ﺼ‍‍ﻠ‍‍ﺤ‍‍ﺔ

‍ﻋ‍‍ﺎ‍ﻣ‍‍ﺔ ‍ﺗ‍‍ﺤ‍‍ﺼ‍‍ﻞ‍ ‍ﻣ‍‍ﻊ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺎ‍ﻣ‍‍ﺘ‍‍ﺜ‍‍ﺎ‍ﻝ‍ ‍ﻇ‍‍ﺎ‍ﻫ‍‍ﺮ‍ﺍ ‍ﻓ‍‍ﻘ‍‍ﻂ‍ ‍ﻭ‍ﺟ‍‍ﺐ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺎ‍ﻣ‍‍ﺘ‍‍ﺜ‍‍ﺎ‍ﻝ‍ ‍ﻇ‍‍ﺎ‍ﻫ‍‍ﺮ‍ﺍ ‍ﻓ‍‍ﻘ‍‍ﻂ‍ ‍ﻭ‍ﻫ‍‍ﻮ ‍ﻣ‍‍ﺘ‍‍ﺠ‍‍ﻪ‍ ‍ﻓ‍‍ﻠ‍‍ﻴ‍‍ﺘ‍‍ﺄ‍ﻣ‍‍ﻞ‍ ‍ﺳ‍‍ﻢ‍

— إلى أن قال —

ﻭ‍ﺑ‍‍ﺤ‍‍ﺚ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺈ‍ﺳ‍‍ﻨ‍‍ﻮ‍ﻱ‍ ‍ﺃ‍ﻥ‍ ‍ﻛ‍‍ﻞ‍ ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﺃ‍ﻣ‍‍ﺮ‍ﻫ‍‍ﻢ‍ ‍ﺑ‍‍ﻪ‍ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﻧ‍‍ﺤ‍‍ﻮ ‍ﺻ‍‍ﺪ‍ﻗ‍‍ﺔ ‍ﻭ‍ﻋ‍‍ﺘ‍‍ﻖ‍ ﻳ‍‍ﺠ‍‍ﺐ‍ ‍ﻛ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﺼ‍‍ﻮ‍ﻡ‍ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﻈ‍‍ﻬ‍‍ﺮ ‍ﺃ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻮ‍ﺟ‍‍ﻮ‍ﺏ‍ ‍ﺇ‍ﻥ‍ ‍ﺳ‍‍ﻠ‍‍ﻢ‍ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻣ‍‍ﻮ‍ﺍ‍ﻝ‍ ‍ﻭ‍ﺇ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻓ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻔ‍‍ﺮ‍ﻕ‍ ‍ﺑ‍‍ﻴ‍‍ﻨ‍‍ﻬ‍‍ﺎ ‍ﻭ‍ﺑ‍‍ﻴ‍‍ﻦ‍ ‍ﻧ‍‍ﺤ‍‍ﻮ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺼ‍‍ﻮ‍ﻡ‍ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﺿ‍‍ﺢ‍ ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﺸ‍‍ﻘ‍‍ﺘ‍‍ﻬ‍‍ﺎ ‍ﻏ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﺒ‍‍ﺎ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻰ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻨ‍‍ﻔ‍‍ﻮ‍ﺱ‍ ‍ﻭ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﺛ‍‍ﻢ‍ ‍ﺧ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻔ‍‍ﻪ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﺫ‍ﺭ‍ﻋ‍‍ﻲ‍ ‍ﻭ‍ﻏ‍‍ﻴ‍‍ﺮ‍ﻩ‍ ‍ﺇ‍ﻥ‍‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﺨ‍‍ﺎ‍ﻃ‍‍ﺐ‍ ‍ﺑ‍‍ﻪ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﻮ‍ﺳ‍‍ﺮ‍ﻭ‍ﻥ‍ ‍ﺏ‍‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﻮ‍ﺟ‍‍ﺐ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻌ‍‍ﺘ‍‍ﻖ‍ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻜ‍‍ﻔ‍‍ﺎ‍ﺭ‍ﺓ ‍ﻭ‍ﺏ‍‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﻔ‍‍ﻀ‍‍ﻞ‍ ‍ﻋ‍‍ﻦ‍ ‍ﻳ‍‍ﻮ‍ﻡ‍ ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﻴ‍‍ﻠ‍‍ﺔ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺼ‍‍ﺪ‍ﻗ‍‍ﺔ

*الشرح:*

(‍ﻗ‍‍ﻮ‍ﻟ‍‍ﻪ‍ ‍ﻳ‍‍ﺠ‍‍ﺐ‍ ‍ﻛ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﺼ‍‍ﻮ‍ﻡ‍) ‍ﻳ‍‍ﺄ‍ﺗ‍‍ﻲ‍ ‍ﻋ‍‍ﻦ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﻐ‍‍ﻨ‍‍ﻲ‍ ‍ﺧ‍‍ﻠ‍‍ﺎ‍ﻓ‍‍ﻪ‍ (‍ﻗ‍‍ﻮ‍ﻟ‍‍ﻪ‍: ‍ﻭ‍ﺇ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﺇ‍ﻟ‍‍ﺦ‍) ‍ﺃ‍ﻱ‍, ‍ﻭ‍ﺇ‍ﻥ‍ ‍ﻟ‍‍ﻢ‍ ‍ﻳ‍‍ﺴ‍‍ﻠ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻮ‍ﺟ‍‍ﻮ‍ﺏ‍ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻣ‍‍ﻮ‍ﺍ‍ﻝ‍ ‍ﻓ‍‍ﻮ‍ﺟ‍‍ﻬ‍‍ﻪ‍ ‍ﻇ‍‍ﺎ‍ﻫ‍‍ﺮ, ‍ﻓ‍‍ﺈ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻔ‍‍ﺮ‍ﻕ‍ ‍ﺇ‍ﻟ‍‍ﺦ‍ (‍ﻗ‍‍ﻮ‍ﻟ‍‍ﻪ‍: ‍ﻭ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﺛ‍‍ﻢ‍ ‍ﺧ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻔ‍‍ﻪ‍) ‍ﺃ‍ﻱ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺈ‍ﺳ‍‍ﻨ‍‍ﻮ‍ﻱ‍ (‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﺫ‍ﺭ‍ﻋ‍‍ﻲ‍ ‍ﻭ‍ﻏ‍‍ﻴ‍‍ﺮ‍ﻩ‍) ‍ﻭ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻓ‍‍ﻘ‍‍ﻪ‍‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﻐ‍‍ﻨ‍‍ﻲ‍ ‍ﻓ‍‍ﻘ‍‍ﺎ‍ﻝ‍ ‍ﺑ‍‍ﻌ‍‍ﺪ ‍ﻛ‍‍ﻠ‍‍ﺎ‍ﻡ‍ ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﻧ‍‍ﺼ‍‍ﻪ‍ ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﺆ‍ﺧ‍‍ﺬ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﻛ‍‍ﻠ‍‍ﺎ‍ﻣ‍‍ﻪ‍‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﺃ‍ﻱ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﺫ‍ﺭ‍ﻋ‍‍ﻲ‍ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻐ‍‍ﺰ‍ﻱ‍ ‍ﺃ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﻝ‍‍ﺃ‍ﻣ‍‍ﺮ ‍ﺑ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻌ‍‍ﺘ‍‍ﻖ‍ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺼ‍‍ﺪ‍ﻗ‍‍ﺔ ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﺠ‍‍ﺐ‍ ‍ﺍ‍ﻣ‍‍ﺘ‍‍ﺜ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﻫ‍‍ﺬ‍ﺍ ‍ﻫ‍‍ﻮ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻈ‍‍ﺎ‍ﻫ‍‍ﺮ ‍ﺍ‍ﻩ‍.

— إلى أن قال —

 ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﻮ ‍ﻋ‍‍ﻴ‍‍ﻦ‍ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻰ ‍ﻛ‍‍ﻞ‍ ‍ﻏ‍‍ﻨ‍‍ﻲ‍ ‍ﻗ‍‍ﺪ‍ﺭ‍ﺍ ‍ﻓ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﺬ‍ﻱ‍ ‍ﻳ‍‍ﻈ‍‍ﻬ‍‍ﺮ ‍ﺃ‍ﻥ‍ ‍ﻫ‍‍ﺬ‍ﺍ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﻗ‍‍ﺴ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﺒ‍‍ﺎ‍ﺡ‍; ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺘ‍‍ﻌ‍‍ﻴ‍‍ﻴ‍‍ﻦ‍ ‍ﻟ‍‍ﻴ‍‍ﺲ‍ ‍ﺑ‍‍ﺴ‍‍ﻨ‍‍ﺔ ‍ﻭ‍ﻗ‍‍ﺪ ‍ﺗ‍‍ﻘ‍‍ﺮ‍ﺭ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﺍ‍ﻝ‍‍ﺃ‍ﻣ‍‍ﺮ ‍ﺏ‍‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﺒ‍‍ﺎ‍ﺡ‍ ‍ﺃ‍ﻧ‍‍ﻪ‍ ‍ﺇ‍ﻧ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﺠ‍‍ﺐ‍ ‍ﺍ‍ﻣ‍‍ﺘ‍‍ﺜ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻪ‍ ‍ﻇ‍‍ﺎ‍ﻫ‍‍ﺮ‍ﺍ ‍ﻓ‍‍ﻘ‍‍ﻂ‍

*الشرح:*

(‍ﻗ‍‍ﻮ‍ﻟ‍‍ﻪ‍: ‍ﺇ‍ﻧ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﺠ‍‍ﺐ‍ ‍ﺍ‍ﻣ‍‍ﺘ‍‍ﺜ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻪ‍ ‍ﻇ‍‍ﺎ‍ﻫ‍‍ﺮ‍ﺍ ‍ﺇ‍ﻟ‍‍ﺦ‍) ‍ﻗ‍‍ﺪ ‍ﻳ‍‍ﻨ‍‍ﻈ‍‍ﺮ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﺇ‍ﻃ‍‍ﻠ‍‍ﺎ‍ﻕ‍ ‍ﺫ‍ﻟ‍‍ﻚ‍ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﺘ‍‍ﺠ‍‍ﻪ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻮ‍ﺟ‍‍ﻮ‍ﺏ‍ ‍ﺑ‍‍ﺎ‍ﻃ‍‍ﻨ‍‍ﺎ ‍ﺃ‍ﻳ‍‍ﻀ‍‍ﺎ ‍ﺇ‍ﺫ‍ﺍ ‍ﻇ‍‍ﻬ‍‍ﺮ‍ﺕ‍

‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﺼ‍‍ﻠ‍‍ﺤ‍‍ﺔ

‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻌ‍‍ﺎ‍ﻣ‍‍ﺔ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﺫ‍ﻟ‍‍ﻚ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﻌ‍‍ﻴ‍‍ﻦ‍ ‍ﻭ‍ﻛ‍‍ﺎ‍ﻥ‍ ‍ﻣ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﺤ‍‍ﺘ‍‍ﻤ‍‍ﻞ‍ ‍ﻋ‍‍ﺎ‍ﺩ‍ﺓ ‍ﺳ‍‍ﻢ‍ ‍ﻗ‍‍ﻮ‍ﻝ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﺘ‍‍ﻦ‍

Masalah Qoshor Janda Dan Merangkap Qoshor Seharian Bag. I

 

                   Ada ibu-ibu muslimat, di kampung beliau yaitu Riau, Luar Jawa, Sumatera. Sang ibu menanyakan dua poin permasalahan:

  1. Apakah sah sholat qoshor janda yang bepergian, padahal janda itu tidak mempunyai mahram? Sedangkan dalam hadist disebutkan: seorang perempuan yang beriman kepada Alloh dan hari Akhir tidak di izinkan untuk bepergian sejauh perjalanan sehari semalam kecuali bersama-sama mahramnya (Riwayat jamaah ahli hadist kecuali Imam Nasai)

Mungkin yang di kehendaki adalah hadist ini:

إحكام الأحكام شرح عمدة الأحكام – (ج 2 / ص 254)  المؤلف: الإمام تقي الدين ابن دقيق العيد

 الْحَدِيثُ الرَّابِعُ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ {لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاَللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ إلَّا وَمَعَهَا حُرْمَةٌ}. وَفِي لَفْظِ الْبُخَارِيِّ ” لَا تُسَافِرُ مَسِيرَةَ يَوْمٍ إلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ “

Artinya: “Tidaklah halal bagi perempuan yang beriman pada Alloh dan hari Akhir, Bepergian sehari semalam kecuali ada mahram bersamanya”. Dalam lafadz imam Bukhori: “Tidak bepergian sehari kecuali dengan Mahram”.

  1. Dan sholat yang boleh di qoshor dan Jama’ hanya Dluhur, Ashar dan Isya. Apakah boleh di kerjakan sekaligus menjadi enam rakaat?

URAIAN JAWABAN

  1. Tentang Janda Qoshor

Sebelumnya:

Alangkah baiknya kalau kita mengenal secuil perkara yang tidak memperkenankan Sholat Qoshor, yakni maksiat. Dalam hal ini ada perincian dari ulama. Sebagai berikut:

المجموع الجزء الرابع ص: 224

قال المصنف رحمه الله ولا يجوز القصر إلا في سفر ليس بمعصية فأما إذا سافر لمعصية كالسفر لقطع الطريق أو قتال المسلمين فلا يجوز القصر ولا الترخص بشيء من رخص المسافرين لأن الرخص لا يجوز أن تعلق بالمعاصي ولأن في جواز الرخص في سفر المعصية إعانة على المعصية وهذا لا يجوز

Artinya: “Pengarang Rahimahulloh berkata: Sholat Qoshor tidak boleh dilakukan kecuali pada perjalanan yang bukan dalam rangka maksiat (Boleh qoshor selama tidak maksiat:Pent). Apabila orang tersebut bepergian karena tujuan maksiat, seperti merampok atau membunuh orang muslim (atau bepergiannya wanita tanpa mahram:pent) maka tidak boleh sholat Qoshor, dan tidak boleh melakukan dispensasi/kemurahan yang berkaitan dengan dispensasi bepergian. Karena dispensasi tidak bisa di gantungkan dengan maksiat. Dan karena hukum boleh dispensasi dalam pergi bermaksiat termasuk menolong atas maksiat, dan hal ini tidak boleh”.

Untuk keterangan lebih lanjut bisa di telaah di ibarat di bawah ini:

المجموع الجزء الرابع ص: 224

(الشرح) قال أصحابنا إذا خرج مسافرا عاصيا بسفره بأن خرج لقطع الطريق أو لقتال المسلمين ظلما أو آبقا من سيده أو ناشزة من زوجها أو متغيبا عن غريمه مع قدرته على قضاء دينه ونحو ذلك لم يجز له أن يترخص بالقصر ولا غيره من رخص السفر بلا خلاف عند أصحابنا إلا المزني فجوز له ذلك وإلا التيمم فقد سبق في بابه أن في العاصي بسفره ثلاثة أوجه (أصحها) يلزمه التيمم وإعادة الصلاة (والثاني) يلزمه التيمم ولا إعادة (والثالث) يحرم التيمم ويجب القضاء ويعاقب على ترك الصلاة ويكون كتاركها مع تمكنه من الطهارة لأنه قادر على استباحتها بالتيمم بأن يتوب ويستبيح التيمم وسائر الرخص هذا كله فيمن خرج عاصيا بسفره فأما من خرج بنية سفر مباح ثم نقله إلى معصية ففيه وجهان مشهوران حكاهما الشيخ أبو حامد والبندنيجي وجماعات من العراقيين وإمام الحرمين وجماعات من الخراسانيين (أحدهما) يترخص بالقصر وغيره لأن السفر انعقد مباحا مرخصا فلا يتغير قال إمام الحرمين وهذا ظاهر النص (وأصحهما) لا يترخص من حين نوى المعصية لأن سفر المعصية ينافي الترخص وممن صححه القاضي  أبو علي البندنيجي والرافعي قال صاحب البيان وهذه المسألة تشبه من سافر مباحا إلى مقصد معلوم ثم نوى في طريقه إن لقيت فلانا رجعت فهل له استدامة الترخص فيه وجهان أما إذا أنشأ سفر معصية ثم تاب في أثناء طريقه ونوى سفرا مباحا واستمر في طريقه إلى مقصده الأول ففيه طريقان (أصحهما) وبه قطع الأكثرون أن ابتداء سفره من ذلك الموضع فإن كان منه إلى مقصده مرحلتان ترخص بالقصر وغيره وإلا فلا (والثاني) حكاه إمام الحرمين عن شيخه أن طرآن سفر الطاعة كطرآن نية سفر المعصية فيكون فيه الوجهان هذا كله في العاصي بسفره أما العاصي في سفره وهو من خرج في سفر مباح وقصد صحيح ثم ارتكب معاصي في طريقه كشرب الخمر وغيره فله الترخص بالقصر وغيره بلا خلاف لأنه ليس ممنوعا من السفر وإنما يمنع من المعصية بخلاف العاصي بسفره

المحلى والقليوبى الجزء الأول  ص: 260

ولا يترخص العاصى بسفره كآبق فناشزة وغريم قادر علي الأداء لأن السفر سبب الرخصة بالقصر وغيره فلا تناط بالمعصية (قوله ولا يترخص العاصى) خلافا للمزنى من أئمتنا ولو شرك فى سفره بين حرام وجائز لم يترخص تغليبا للمانع.

بغية المسترشدين  ص: 77

(فائدة) جوز المزنى كأبى حنيفة القصر ولو للعاصى بسفره إذ هو عزيمة عندهما وفيه فسحة عظيمة – إلى أن قال – ومنعا الجمع مطلقا إلا فى النسك بعرفة ومزدلفة ومذهبنا كمالك وأحمد منعه للعاصى فصار الجمع للعاصى ممتنعا اتفاقا فليتنبه له.

Dan Jarak larangan keluar perempuan:

Para ulama juga berbeda pendapat tentang tenggang waktu pengharaman wanita keluar tanpa mahram. Sebagai berikut:

تحفة الأحوذي – (ج 4 / ص 278-279)

قوله (والعمل على هذا عند أهل العلم يكرهون للمرأة أن تسافر إلا مع ذي محرم) لكن قال الحنفية يباح لها الخروج إلى ما دون مسافة القصر بغير محرم وقال أكثر أهل العلم يحرم لها الخروج في كل سفر طويلا كان أو قصيرا ولا يتوقف حرمة الخروج بغير المحرم على مسافة القصر لإطلاق حديث بن عباس بلفظ لا تسافر المرأة إلا مع ذي محرم.

Artinya: “Ungkapan pengarang {pengamalan ahli ilmu tentang hadist ini adalah, beliau-beliau memakruhkan/membenci/tidak menyukai perempuan yang bepergian kecuali bersama mahramnya}, Akan tetapi ulama hanafiyyah berpendapat: Bagi perempuan di perbolehkan keluar pada perjalanan di bawah masafatil Qoshri (perjalananan yang memperbolehkan sholat Qoshor/ kurang-lebih 90 an KM) tanpa adanya Mahram. Dan kebanyakan ulama mengatakan: Bagi perempuan haram keluar di segala perjalanan baik Thowil (perjalanan bisa meng-qoshor) atau qoshir (perjalanan tidak bisa meng-qoshor). Dan keharaman keluarnya perempuan tidak terhenti pada masafatil Qoshri, karena mutlaknya hadist Sahabat ibni Abbas dengan lafadz: Perempuan tidak boleh bepergian kecuali dengan mahramnya”.

 

Selanjutnya:

Hadist diatas menurut asbabul wurud yang tercantum dalam beberapa literatur kitab-kitab hadist berawal dari bepergian haji (1), kemudian untuk masalah di luar haji para ulama berbeda pendapat:

  1. Tidak boleh, seperti keterangan di bawah ini:

فتح الباري لابن حجر – (ج 4 / ص 56)

قَوْله: (مَسِيرَة يَوْم وَلَيْلَة لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَة) أَيْ مَحْرَم, وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى عَدَم جَوَاز السَّفَر لِلْمَرْأَةِ بِلَا مَحْرَم, وَهُوَ إِجْمَاع فِي غَيْر الْحَجّ وَالْعُمْرَة وَالْخُرُوج مِنْ دَار الشِّرْك

Artinya: “Ucapan Imam Bukhori (perjalanan sehari-semalam yang perempuan tersebut tidak bersama Khurmah) itu maksudnya adalah Mahram. Di sini bisa di ambil sebuah dalil bahwa tidak boleh bepergian bagi perempuan tanpa adanya mahram, itu adalah kesepakatan para ulama selain dalam masalah Haji, Umroh dan keluar dari Negara Syirik/Kafir”.

Keterangan ini di perkuat oleh dawuh Imam Al Qodli sebagai berikut:

شرح النووي على مسلم – (ج 4 / ص 500)

وَقَدْ قَالَ الْقَاضِي: وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ لَهَا أَنْ تَخْرُج فِي غَيْر الْحَجّ وَالْعُمْرَة إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَم إِلَّا الْهِجْرَة مِنْ دَار الْحَرْب, فَاتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ عَلَيْهَا أَنْ تُهَاجِر مِنْهَا إِلَى دَار الْإِسْلَام وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهَا مَحْرَم

Artinya: Imam Al Qodli benar-benar berkata: “Para Ulama sepakat, bahwa sesungguhnya wanita tidak boleh keluar tanpa mahram di selain Haji dan Umroh dan selain pergi dari Darul Kharb (Negara kafir), Maka ulama bersepakat bahwa boleh bagi wanita tersebut untuk pergi ke Negara islam walaupun tanpa mahram”.

  1. Khilaf, seperti keterangan di bawah ini:

شرح النووي على مسلم – (ج 4 / ص 500)

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابنَا فِي خُرُوجهَا لِحَجِّ التَّطَوُّع وَسَفَر الزِّيَارَة وَالتِّجَارَة وَنَحْو ذَلِكَ مِنْ الْأَسْفَار الَّتِي لَيْسَتْ وَاجِبَة, فَقَالَ بَعْضهمْ: يَجُوز لَهَا الْخُرُوج فِيهَا مَعَ نِسْوَة ثِقَات كَحَجَّةِ الْإِسْلَام, وَقَالَ الْجُمْهُور: لَا يَجُوز إِلَّا مَعَ زَوْج أَوْ مَحْرَم, وَهَذَا هُوَ الصَّحِيح ؛ لِلْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَة.

Artinya: “Para sahabat kita (Ulama pengikut madzhab syafi’i) berbeda pendapat, dalam masalah keluarnya wanita (tanpa mahram), karena untuk tujuan haji sunnah, pergi ziarah, berdagang dan sejenisnya, yakni bepergian yang bukan merupakan kewajiban. Maka sebagian ulama berkata: Boleh bagi wanita tersebut keluar untuk bepergian diatas (dengan sarat) bersama beberapa perempuan yang bisa di percaya. (ulama yang memperbolehkannya) seperti Hujjatul Islam (Imamuna Al Ghozali). Dan Kebanyakan ulama berkata: “Bepergian tersebut tidak boleh, kecuali bersama suami atau mahram, dan ini adalah pendapat yang shahih, karena adanya hadist-hadist yang Shohiihah”.

 

Kesimpulan Jawaban:

Dengan mengacu pendapat yang memperbolehkan bepergian bagi wanita tanpa mahram, yang secara otomatis perjalanan tersebut bukan dalam rangka maksiat, terlebih apabila kurang dari masafatil Qoshri. Maka Janda di perbolehkan melaksanakan sholat qoshor dengan syarat ada perempuan yang bisa di percaya, yang menemaninya. Dan andai saja ada orang yang mengatakan tidak boleh, kita harus berlapang dada, menghormatinya, karena hal ini adalah masalah Ikhtilafiyyah Ijtihadiah (perbedaan dalam ber-ijtihad) dan kami berharap bagi yang kekeh-kukuh tidak memperbolehkan untuk melihat dasar perkhilafan ini. Agar tercipta Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur dan tidak terjadi gejolak di masyarakat.

Penting!! Hukum ziarah walisongo menurut Imam Ibnu Hajar Al Haitami adalah IBADAH YANG DI SUNNAHKAN, sebagai berikut:

الفتاوى الكبرى الجزء الثانى ص : 24

(وسئل) t عن زيارة قبور الأولياء في زمن معين مع الرحلة إليها هل يجوز مع أنه يجتمع عند تلك القبور مفاسد كثيرة كاختلاط النساء بالرجال وإسراج السرج الكثيرة وغير ذلك ؟ (فأجاب) بقوله زيارة قبور الأولياء قربة مستحبة وكذا الرحلة إليها إلى أن قال… ومن أطلق المنع من الزيارة خوف ذلك الاختلاط يلزمه إطلاق منع نحو الطواف والرمل بل والوقوف بعرفة أو مزدلفة والرمي إذا خشي الاختلاط أو نحوه فلما لم يمنع الأئمة شيئا من ذلك مع أن فيه اختلاطا أي اختلاط وإنما منعوا نفس الاختلاط لا غير فكذلك هنا إلح

Artinya: “(Syekh ibnu Hajar RA.) ditanyai masalah masalah ziaroh kubur para wali, di waktu tertentu bersama rombongan. Apakah hal tersebut boleh? Padahal banyak terjadi mafaasid (perbuatan yang tdak diperbolehkan agama) seperti: bercampurnya laki-laki perempuan (yang bukan mahrom),  menyalakan lampu yang banyak (tanpa faidah) dan lain sebagainya.(Maka beliau syekh menjawab:) dengan perkataan beliau: ZIARAH KUBUR KE WALI-WALI ALLOH ADALAH IBADAH YANG DI SUNNAHKAN, BEGITU PULA ROMBONGAN ZIARAH KE WALI-WALI ALLOH…sampai perkataan… Adapun ulama yang memutlakkan larangan ziarah kubur karena takut terjadinya percampuran laki-laki dan perempuan, maka mestinya mereka juga memutlakkan larangan (dalam kasus) seperti thowaf, romlu/sa’i, wukuf di Arafah atau di Muzdalifah dan melempar jumroh, apabila takut terjadinya percampuran antara lelaki dan perempuan atau semacamnya, (oleh karena itu) para Imam-Imam tidak melarang semua itu, padahal jelas terjadi percampuran lelaki-perempuan, dan hanya melarang praktek tercampurnya lelaki-perempuan saja (bukan melarang thowaf, sa’i dll. secara mutlak), maka mestinya begitu pula dalam masalah ini (ziarah kubur Wali-wali Alloh)

(1) إحكام الأحكام شرح عمدة الأحكام – (ج 2 / ص 254-256)  المؤلف: الإمام تقي الدين ابن دقيق العيد

الْحَدِيثُ الرَّابِعُ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ {لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاَللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ إلَّا وَمَعَهَا حُرْمَةٌ}. وَفِي لَفْظِ الْبُخَارِيِّ ” لَا تُسَافِرُ مَسِيرَةَ يَوْمٍ إلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ “

الشَّرْحُ

فِيهِ مَسَائِلُ.

الْأُولَى: اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي أَنَّ الْمَحْرَمَ لِلْمَرْأَةِ مِنْ الِاسْتِطَاعَةِ أَمْ لَا؟ حَتَّى لَا يَجِبَ عَلَيْهَا الْحَجُّ، إلَّا بِوُجُودِ الْمَحْرَمِ.وَاَلَّذِينَ ذَهَبُوا إلَى ذَلِكَ: اسْتَدَلُّوا بِهَذَا الْحَدِيثِ.فَإِنَّ سَفَرَهَا لِلْحَجِّ مِنْ جُمْلَةِ الْأَسْفَارِ الدَّاخِلَةِ تَحْتَ الْحَدِيثِ.فَيَمْتَنِعُ إلَّا مَعَ الْمَحْرَمِ.وَاَلَّذِينَ لَمْ يَشْتَرِطُوا ذَلِكَ قَالُوا: يَجُوزُ أَنْ تُسَافِرَ مَعَ رُفْقَةٍ مَأْمُونِينَ إلَى الْحَجِّ, رِجَالًا أَوْ نِسَاءً.وَفِي سَفَرِهَا مَعَ امْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ: خِلَافٌ فِي مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ.وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ تَتَعَلَّقُ بِالنَّصَّيْنِ إذَا تَعَارَضَا, وَكَانَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَامًّا مِنْ وَجْهٍ, خَاصًّا مِنْ وَجْهٍ.بَيَانُهُ: أَنَّ قَوْله تَعَالَى { وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إلَيْهِ سَبِيلًا } يَدْخُلُ تَحْتَهُ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ.فَيَقْتَضِي ذَلِكَ: أَنَّهُ إذَا وُجِدَتْ الِاسْتِطَاعَةُ الْمُتَّفَقُ عَلَيْهَا: أَنْ يَجِبَ عَلَيْهَا الْحَجُّ.وَقَوْلُهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ ” لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ – الْحَدِيثَ ” خَاصٌّ بِالنِّسَاءِ, عَامٌّ فِي الْأَسْفَارِ.فَإِذَا قِيلَ بِهِ وَأُخْرِجَ عَنْهُ سَفَرُ الْحَجِّ, لِقَوْلِهِ تَعَالَى { وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إلَيْهِ سَبِيلًا } قَالَ الْمُخَالِفُ: نَعْمَلُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى { وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ } فَتَدْخُلُ الْمَرْأَةُ فِيهِ.وَيَخْرُجُ سَفَرُ الْحَجِّ عَنْ النَّهْيِ.فَيَقُومُ فِي كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ النَّصَّيْنِ عُمُومٌ وَخُصُوصٌ.وَيَحْتَاجُ إلَى التَّرْجِيحِ مِنْ خَارِجٍ.وَذَكَرَ بَعْضُ الظَّاهِرِيَّةِ.أَنَّهُ يَذْهَبُ إلَى دَلِيلٍ مِنْ خَارِجٍ.وَهُوَ قَوْلُهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ { لَا تَمْنَعُوا إمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ }.وَلَا يَتَّجِهُ ذَلِكَ, فَإِنَّهُ عَامٌّ فِي الْمَسَاجِدِ, فَيُمْكِنُ أَنْ يَخْرُجَ عَنْهُ الْمَسْجِدُ الَّذِي يُحْتَاجُ إلَى السَّفَرِ فِي الْخُرُوجِ إلَيْهِ بِحَدِيثِ النَّهْيِ.

الثَّانِيَةُ: لَفْظُ ” الْمَرْأَةِ ” عَامٌّ بِالنِّسْبَةِ إلَى سَائِرِ النِّسَاءِ.وَقَالَ بَعْضُ الْمَالِكِيَّةِ: هَذَا عِنْدِي فِي الشَّابَّةِ.وَأَمَّا الْكَبِيرَةُ غَيْرُ الْمُشْتَهَاةِ: فَتُسَافِرُ حَيْثُ شَاءَتْ فِي كُلِّ الْأَسْفَارِ, بِلَا زَوْجٍ وَلَا مَحْرَمٍ.وَخَالَفَهُ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ مِنْ الشَّافِعِيَّةِ مِنْ حَيْثُ إنَّ الْمَرْأَةَ مَظِنَّةُ الطَّمَعِ فِيهَا, وَمَظِنَّةُ الشَّهْوَةِ, وَلَوْ كَانَتْ كَبِيرَةً.وَقَدْ قَالُوا: لِكُلِّ سَاقِطَةٍ لَاقِطَةٌ.وَاَلَّذِي قَالَهُ الْمَالِكِيُّ: تَخْصِيصٌ لِلْعُمُومِ بِالنَّظَرِ إلَى الْمَعْنَى.وَقَدْ اخْتَارَ هَذَا الشَّافِعِيُّ: أَنَّ الْمَرْأَةَ تُسَافِرُ فِي الْأَمْنِ.وَلَا تَحْتَاجُ إلَى أَحَدٍ, بَلْ تَسِيرُ وَحْدَهَا فِي جُمْلَةِ الْقَافِلَةِ, فَتَكُونُ آمِنَةً.وَهَذَا مُخَالِفٌ لِظَاهِرِ الْحَدِيثِ.

فتح الباري لابن حجر – (ج 4 / ص 56)

قَوْله: (مَسِيرَة يَوْم وَلَيْلَة لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَة) أَيْ مَحْرَم, وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى عَدَم جَوَاز السَّفَر لِلْمَرْأَةِ بِلَا مَحْرَم, وَهُوَ إِجْمَاع فِي غَيْر الْحَجّ وَالْعُمْرَة وَالْخُرُوج مِنْ دَار الشِّرْك, وَمِنْهُمْ مَنْ جَعَلَ ذَلِكَ مِنْ شَرَائِط الْحَجّ كَمَا سَيَأْتِي الْبَحْث فِيهِ فِي مَوْضِعه إِنْ شَاءَ اللَّه تَعَالَى.

شرح النووي على مسلم – (ج 4 / ص 500)

فَالْحَاصِل أَنَّ كُلّ مَا يُسَمَّى سَفَرًا تُنْهَى عَنْهُ الْمَرْأَة بِغَيْرِ زَوْج أَوْ مَحْرَم, سَوَاء كَانَ ثَلَاثَة أَيَّام أَوْ يَوْمَيْنِ أَوَيَوْمًا أَوْ بَرِيدًا أَوْ غَيْر ذَلِكَ ؛ لِرِوَايَةِ اِبْن عَبَّاس الْمُطْلَقَة, وَهِيَ آخِر رِوَايَات مُسْلِم السَّابِقَة ( لَا تُسَافِر اِمْرَأَة إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَم ) وَهَذَا يَتَنَاوَل جَمِيع مَا يُسَمَّى سَفَرًا. وَاَللَّه أَعْلَم.

وَأَجْمَعَتْ الْأُمَّة عَلَى أَنَّ الْمَرْأَة يَلْزَمهَا حَجَّة الْإِسْلَام إِذَا اِسْتَطَاعَتْ لِعُمُومِ قَوْله تَعَالَى: { وَلِلَّهِ عَلَى النَّاس حَجّ الْبَيْت }. وَقَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” بُنِيَ الْإِسْلَام عَلَى خَمْس “.. الْحَدِيث. وَاسْتِطَاعَتهَا كَاسْتِطَاعَةِ الرَّجُل, لَكِنْ اِخْتَلَفُوا فِي اِشْتِرَاط الْمَحْرَم لَهَا, فَأَبُو حَنِيفَة يَشْتَرِطهُ لِوُجُوبِ الْحَجّ عَلَيْهَا إِلَّا أَنْ يَكُون بَيْنهَا وَبَيْن مَكَّة دُون ثَلَاث مَرَاحِل, وَوَافَقَهُ جَمَاعَة مِنْ أَصْحَاب الْحَدِيث وَأَصْحَاب الرَّأْي, وَحُكِيَ ذَلِكَ أَيْضًا عَنْ الْحَسَن الْبَصْرِيّ, وَالنَّخَعِيِّ, وَقَالَ عَطَاء وَسَعِيد بْن جُبَيْر وَابْن سِيرِينَ وَمَالِك وَالْأَوْزَاعِيُّ وَالشَّافِعِيّ فِي الْمَشْهُور عَنْهُ: لَا يُشْتَرَط الْمَحْرَم, بَلْ يُشْتَرَط الْأَمْن عَلَى نَفْسهَا, قَالَ أَصْحَابنَا: يَحْصُل الْأَمْن بِزَوْجِ أَوْ مَحْرَم أَوْ نِسْوَة ثِقَات, وَلَا يَلْزَمهَا الْحَجّ عِنْدنَا إِلَّا بِأَحَدِ هَذِهِ الْأَشْيَاء, فَلَوْ وُجِدَتْ اِمْرَأَة وَاحِدَة ثِقَة لَمْ يَلْزَمهَا, لَكِنْ يَجُوز لَهَا الْحَجّ مَعَهَا, هَذَا هُوَ الصَّحِيح, وَقَالَ بَعْض أَصْحَابنَا: يَلْزَمهَا بِوُجُودِ نِسْوَة أَوْ اِمْرَأَة وَاحِدَة, وَقَدْ يَكْثُر الْأَمْن وَلَا تَحْتَاج إِلَى أَحَد, بَلْ تَسِير وَحْدهَا فِي جُمْلَة الْقَافِلَة وَتَكُون آمِنَة, وَالْمَشْهُور مِنْ نُصُوص الشَّافِعِيّ وَجَمَاهِير أَصْحَابه هُوَ الْأَوَّل, وَاخْتَلَفَ أَصْحَابنَا فِي خُرُوجهَا لِحَجِّ التَّطَوُّع وَسَفَر الزِّيَارَة وَالتِّجَارَة وَنَحْو ذَلِكَ مِنْ الْأَسْفَار الَّتِي لَيْسَتْ وَاجِبَة, فَقَالَ بَعْضهمْ: يَجُوز لَهَا الْخُرُوج فِيهَا مَعَ نِسْوَة ثِقَات كَحَجَّةِ الْإِسْلَام, وَقَالَ الْجُمْهُور: لَا يَجُوز إِلَّا مَعَ زَوْج أَوْ مَحْرَم, وَهَذَا هُوَ الصَّحِيح ؛ لِلْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَة.وَقَدْ قَالَ الْقَاضِي: وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ لَهَا أَنْ تَخْرُج فِي غَيْر الْحَجّ وَالْعُمْرَة إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَم إِلَّا الْهِجْرَة مِنْ دَار الْحَرْب, فَاتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ عَلَيْهَا أَنْ تُهَاجِر مِنْهَا إِلَى دَار الْإِسْلَام وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهَا مَحْرَم, وَالْفَرْق بَيْنهمَا أَنَّ إِقَامَتهَا فِي دَار الْكُفْر حَرَام إِذَا لَمْ تَسْتَطِعْ إِظْهَار الدِّين, وَتَخْشَى عَلَى دِينهَا وَنَفْسهَا, وَلَيْسَ كَذَلِكَ التَّأَخُّر عَنْ الْحَجّ, فَإِنَّهُمْ اِخْتَلَفُوا فِي الْحَجّ هَلْ هُوَ عَلَى الْفَوْر أَمْ عَلَى التَّرَاخِي ؟ قَالَ الْقَاضِي عِيَاض: قَالَ الْبَاجِيّ: هَذَا عِنْدِي فِي الشَّابَّة, وَأَمَّا الْكَبِيرَة غَيْر الْمُشْتَهَاة فَتُسَافِر كَيْف شَاءَتْ فِي كُلّ الْأَسْفَار بِلَا زَوْج وَلَا مَحْرَم, وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ الْبَاجِيّ لَا يُوَافَق عَلَيْهِ ؛ لِأَنَّ الْمَرْأَة مَظِنَّة الطَّمَع فِيهَا, وَمَظِنَّة الشَّهْوَة وَلَوْ كَانَتْ كَبِيرَة, وَقَدْ قَالُوا: لِكُلِّ سَاقِطَة لَاقِطَة. وَيَجْتَمِع فِي الْأَسْفَار مِنْ سُفَهَاء النَّاس وَسَقَطهمْ مَنْ لَا يَرْتَفِع عَنْ الْفَاحِشَة بِالْعَجُوزِ وَغَيْرهَا لِغَلَبَةِ شَهْوَته وَقِلَّة دِينه وَمُرُوءَته وَخِيَانَته وَنَحْو ذَلِكَ. وَاَللَّه أَعْلَم.

Wallohu a’lam

 

MANAKAH YANG LEBIH BAIK, MENDIRIKAN JAMA’AH YANG BARU ATAU MENGIKUTI JAMA’AH YANG SUDAH AKAN SELESAI?

Mana yang lebih utama dalam shalat berjama’ah antara mengikuti imam yang sudah sisa satu rakaat, atau membuat jama’ah lagi di belakang dengan imam lain?

*Jawaban:*

Menurut pendapat yang mu’tamad (menjadi pegangan) dalam madzhab syafi’i lebih baik menunggu jemaah lain jika memang ada harapan akan ada jamaah baru dan tidak khawatir akan ketinggalan fadilah awal waktu. Namun pembuatan jamaah baru ini hendaknya dilakukan setelah salam imam jamaah yang pertama selesai, sebab makruh hukumnya membuat jamaah baru sebelum jamaah yang pertama selesai, karena dapat mengganggu pada jamaah yang pertama. Akan tetapi menurut kitan al-Umdah, jika alasan mengganggu ini tidak ada, maka hukumnya tidak makruh lagi untuk langsung takbir tanpa harus menunggu imam jamaah pertama salam.

*Catatan:*

Ketentuan makruh membuat jamaah baru hanya berlaku dalam masjid ghairu mathruq (tidak menjadi tempat singgah lalu lalang orang) seperti di dalam perkampungan, dan telah memiliki imam rotib (imam yang diangkat secara resmi dan rutin untuk menjadi imam). Adapun di dalam masjid yang mathruq (menjadi tempat singgah lalu lalang orang) atau masjid tidak mathruq tapi tidak memiliki imam ratib, maka sama sekali tidak dimakruhkan untuk membuat jamaah baru.

*Referensi:*

*إعانة الطالبين، ج ٢، ص ١٥*

ويسن لجمع حضروا والامام قد فرغ من الركوع

الاخير أن يصبروا إلى أن يسلم ثم يحرموا – ما لم يضق الوقت -.

وكذا لمن سبق ببعض الصلاة ورجا جماعة يدرك معهم الكل.

لكن قال شيخنا إن محله ما لم يفت بانتظارهم فضيلة أول الوقت، أو وقت الاختيار، سواء في ذلك الرجاء واليقين.

وأفتى بعضهم بأنه لو قصدها فلم يدركها كتب له أجرها، لحديث فيه.

الشرح:

(قوله: ويسن لجمع حضروا الخ) عبارة المغني: (فرع) دخل جماعة المسجد والإمام في التشهد الأخير؟ فعند القاضي حسين

يستحب لهم الاقتداء به، ولا يؤخرون الصلاة.

وجزم المتولي بخلافه، وهو المعتمد.

بل الأفضل للشخص – إذا سبق ببعض الصلاة في الجماعة، ورجا جماعة أخرى يدرك معها الصلاة جميعها في الوقت – التأخير ليدركها بتمامها معها.

وهذا إذا اقتصر على صلاة واحدة، وإلا فالأفضل أن يصليها مع هؤلاء، ثم يعيدها مع الآخرين.

اه.

*عمدة المفتي والمستفتي*

(لكن لا يحرمون إلا بعد سلام إمام الجماعة فإن أحرموا قبل سلامه كره ذكره ابن العماد كابن حجر.

قالوا وعلة الكراهة أن فيه إنشاء جماعة قبل تمام الأخرى)

وقد اختار صاحب العمدة أنه إذا لم يوجد تشويش من الجماعة الثانية فلا كراهة في الإحرام قبل السلام.

*المجموع شرح المهذب، ج ٤، ص ٢٢٢*

أما حكم المسألة فقال أصحابنا إن كان للمسجد إمام راتب وليس هو مطروقا كره لغيره اقامة الجماعة فيه ابتداء قبل فوات مجئ إمامه ولو صلى الإمام كره أيضا إقامة جماعة أخرى فيه بغير إذنه هذا هو الصحيح المشهور وبه قطع الجمهور وحكى الرافعي وجها أنه لا يكره ذكره في باب الآذان وهو شاذ ضعيف وإن كان المسجد مطروقا أو غير مطروق وليس له إمام راتب لم تكره إقامة الجماعة الثانية فيه لما ذكره المصنف أما إذا حضر واحد بعد صلاة الجماعة فيستحب لبعض الحاضرين الذين صلوا أن يصلي معه لتحصل له الجماعة ويستحب أن يشفع له من له عذر في عدم الصلاة معه إلى غيره ليصلي معه للحديث والله أعلم

*فتاوى الرملي، ج ١، ص ٢٤٤*

(سئل) هل تكره إقامة جماعتين في حالة واحدة في مسجد مطروق إذا كان له إمام راتب بغير إذنه أم لا؟

(فأجاب) لا تكره وهو مفهوم بالأولى من نفي كراهة إقامة جماعة فيه قبل إمامه وعبارة التحقيق إن كان للمسجد إمام راتب وليسمطروقا كره لغير إمامه إقامة الجماعة فيه ويقال لا إن أقيمت بعد فراغ الإمام وإلا فلا، وعبارة الروض ويكره أن تقام جماعة فيمسجد بغير إذن إمامه إلا إذا كان مطروقا وعبارة جامع المختصرات وتكره الجماعة بذي راتب لا يطرق ولو بعده في الأصح اهـ. وما صرح به في التتمة من كراهة عقد جماعتين في حالة واحدة محله في غير المطروق فإن أكثرهم صرح بكراهة القبلية والبعدية وسكت عن المقارنة.

HADITS SHOLAT TASBIH DISHOHIHKAN OLEH IMAM BUKHORI ROHIMAHULLOH

Mengapa umat Islam masih saja melakukan berbagai macam bid’ah yang jelas-jelas dilarang Allah? Misalnya, masih saja ada kelompok yang melakukan ritual shalat tasbih, padahal hadits tentang shalat tasbih itu adalah hadits palsu. Bukankah hadits palsu itu haram dan tidak bisa dijadikan dasar sebagai landasan sebuah ibadah?

Jawaban

Hadits yang anda bilang palsu itu memang palsu menurut beberapa orang muhaddits Namun oleh beberapa muhadditsin lainnya dengan tegas menyatakan bahwa hadits itu tidak palsu, bahkan shahih atau setidaknya hasan. Maka dari sisi al-hukmu ‘alal hadits, hadits ini dikatakan palsu oleh sebagian orang dan tidak palsu oleh sebagian lainnya.

Lalu bagaimana hal itu bisa terjadi? Dan apakah dimungkinkan adanya perbedaan pandangan dalam menilai suatu hadits? Bukankah standar ukuran keshahihan suatu hadits itu adalah sesuatu yang pasti?

Perbedaan Dalam Menilai Keshahihan Hadits Adalah Sebuah Kemestian

Bukan hanya para ulama fiqih saja yang ‘rajin’ berbeda pendapat, namun para pakar hadits, dari yang paling rendah sampai ke level yang tertinggi, juga berhak untuk berbeda pendapat. Bahkan jurang pemisah perbedan pendapat di antara mereka seringkali sangat besar dan menganga. Bayangkah, ada suatu hadits yang divonis palsu oleh seorang pakar hadits, namun oleh pakar hadits yang lain dinilai shahih.

Kok bisa?

Ya, memang bisa. Dan memang itulah dunia kritik hadits, selalu ada yang mengatakan shahih dan ada juga yang mengatakan tidak shahih, bahkan palsu.

Semua itu adalah hal yang pasti terjadi, dan salah satu contohnya adalah tentang kedudukan hadits shalat tasbih yang anda tanyakan ini.

MATAN HADITS SHALAT TASBIH

Sebelumnya kita bicara tentang kedudukan hadits shalat tasbih, marilahkita mulai dari matan (isi) hadits yang dimaksud, yang terjemahannya sebagai berikut:

Dari Al-Abbas bin Abdilmuttalib ra bahwa Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Hai pamanku, Al-Abbas, maukah Paman saya beri sesuatu? Maukahsaya beri suatu anugerahi? Maukah saya beri suatu hadiah? Maukah saya berbuat sesuatu? Ada 10 hal yang bila Paman lakukan maka Allah mengampuni dosa-dosa, baik yang dulu maupun yang sekarang, yang lama maupun yang baru, yang disengaja maupun yang tidak disengaja, yang kecil maupun yang besar, yang sembunyi maupun yang terang-terangan? Sepuluh hal itu adalah shalat empat rakaat, setiap rakaat membaca Al-Fatihah dan sebuah surah, bila telah selesai pada rakaat pertama dan masih berdiri, bacalah tasbih “Subhanallah walhambulillah wala ilaaha illallah wallahu akbar”, sebanyak 15 kali. Kemudian ruku’lah dan bacalah tasbih tadi 10 kali, kemudian i’tidal dan bacalah tasbih tadi 10 kali, kemudian sujud dan bacalah tasbih tadi 10 kali, kemudian angkat kepala dari sujud dan bacalah tasbih tadi 10 kali, kemudian sujud lagi dan bacalah tasbih tadi 10 kali, kemudian angkat kepada dan bacalah tasbih tadi 10 kali. Maka bacaan tasbih itu ada 75 untuk tiap rakaat. Paman kerjakan 4 rakaat. Apabila paman mampu maka kerjakan shalat itu sekail dalam sehari, bila tidak mampu kerjakanlah setiap Jumat, bila tidak mampu maka kerjakan tiap bulan, bila tidak mampu maka kerjakan setahun sekali dan bila tidak mampu juga maka kerjakan sekali dalam umur hidup.” (HR Abu Daud dan Tirmizy)

AL-HUKMU ‘ALAL HADITS

Sekarang kita bicara tentang kedudukan hadits atau sering diistilahkan dengan al-hukmu ‘alal hadits. Dalam hal ini kita punya dua kubu yang berbeda pendapat.

    PENDAPAT YANG MENGATAKAN PALSU

Di antara para ulama yang mengatakan bahwa hadits tentang shalat tasbih adalah hadits palsu antara lain Al-Imam Ibnu Al-Jauzi, seorang ahli hadits yang hidup di abad ke-6 hijriyah (wafat tahun 597 H).

Beliau punya sebuah kitab khusus yang berisi hadits palsu semuanya. Dari namanya saja, kita sudah tahu bahwa isinya memang hadits palsu. Judul kitabnya adalah Al-Maudhu’at. Dan hadits tentang shalat tasbih ternyata ada di dalam salah satu isinya.

Paling tidak ada 3 jalur periwayatan hadits ini yang dituduhkan bermasalah, menurut Ibnul Jauzi.

    Masalah di Jalur Pertama

    Karena ada perawi yang mungkarul hadits bernama Shadaqah bin Yazid Al-Khurasani. Atau mu’dhal karena sanadnya terputus dua orang, seperti yang dikatakan oleh Ibnu HIbban.

    Masalah di Jalur Kedua

    Karena ada perawi yang majhul atau tidak diketahui identitasnya, yaitu Musa bin Abdil Aziz.

    Masalah di Jalur Ketiga

    Karena ada perawi yang dinilai tidak halal untuk meriwayatkan hadits yang bernama Musa bin Ubaidah. Yang menilai begitu di antaranya Imam Ahmad bin Hanbal.

Selain itu ada Al-Imam Asy-Syaukani (wafat tahun 1250 hijriyah), beliau termasuk yang mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits palsu. Kita bisa baca keterangan beliau dalam kedua kitabnya, Al-Fawaid Al-Majmu’ah Fil Ahaditisl Maudhu’ah, dan kitab Tuhfatudz-dzakirin.

    PENDAPAT YANG MENGATAKAN SHAHIH

Namun tuduhan di atas dijawab oleh para pakar hadits yang lain. Apa yang dikatakan sebagai hadits palsu oleh Ibnul Jauzi ternyata hanya riwayat yang melalui satu pangkal jalur yaitu Ad-Daruquthuny. Padahal selain jalur itu, masih banyak jalur lainnya yang tidak ikut dibahas oleh beliau.

Maka para pakar hadits selain beliau ramai-ramai mengkritisi balik apa yang telah disimpulkan oleh Ibnul Jauzi secara terburu-buru itu. Bahkan beliau juga dituduh orang yang terlalu mudah menjatuhkan vonis kepalsuan atas suatu hadits (tasahhul).

    Tuduhan bahwa Shadaqah bin Yazid Al-Khurasani sebagai mungkarul- hadis memang benar, namun ternyata salah alamat. Sebab yang meriwayatkan hadits ini ternyata orang lain yang namanya nyaris mirip, yaitu Shadaqah bin Abdullah Ad-Dimasyqi. Meski ada yang menilainya lemah (dhaih) namun dia bukan mungkarul hadits, sehingga tidak bisa dinilai sebagai hadits palsu. Sebab beberapa pengkritik hadits mengatakan bahwa dia shahih. Kalau Ma’qil bin Yazid Al-Kuhrasani memang mungkarul hadits, tetapi dia bukanlah orang yang meriwayatkan hadits ini.

    Tuduhan bahwa Musa bin Abdul Aziz adalah orang yang majhul, menurut Az-Zarkasyi tidak otomatis menjadikan hadits itu palsu. Boleh jadi Ibnul Jauzi memang tidak mengetahui identitas orang itu. Padahal banyak ulama lain seperti Bisyr bin Hakam, Abdurrahman bin Bisyr, Ishaq bin Abu Israil, Zaid bin Al-Mubarak, yang mengenalnya sebagai orang tidak ada masalah masalah (laa ba’sa bihi). Imam Ibnu Hibban juga mengatakan bahwa Musa bin Abdul Aziz sebagai orang yang tsiqah (kredibel). Bahkan Al-Imam Al-Buhkari meriwayatkan hadits dari beliau juga dalam kitab Adabul Mufrad. Jadi bukanlah Musa bin Abdil Aziz itu majhul, tetapi Ibnul Jauzi saja yang memang tidak punya keterangan tentang perawi itu. Ketidak-tahuan dia atas orang itu tidak bisa dijadikan vonis bahwa hadits itu palsu.

    Tuduhan bahwa Musa bin Ubaidah adalah orang yang tidak halal meriwayatkan hadits adalah sebatas tuduhan. Sebab Ibnul araq Al-Kannani menegaskan bahwa Musa bin Ubaidllah bukan pendusta, melainkan dia baru sekedar dituduh sebagai pendusta (muttaham bil kadzib). Ibnu Saad justru menilai bahwa dia adalah perawi yang tsiqah (kredibel), bukan dhaif.

Selain kedua imam di atas, ternyata hadits tentang shalat tasbih ini malah dikatakan sebagai hadits shahih, bukan hadits palsu.

Yang menarik, justru yang mengatakan shahih bukan sembarang orang, sehingga sanggahan mereka atas tuduhan kepalsuan hadits sangat berarti.

Di antara mereka yang mengatakan bahwa hadits itu shaih adalah:

    Al-Imam Bukhari rahimahulah.

    Siapa yang tidak kenal beliau? Beliau adalah penulis kitab tershahih kedua setelah Al-Quran Al-Kariem. Namun hadits ini memang tidak terdapat di dalam kitab shahihnya itu, melainkan beliau tulis dalam kitab yang lain. Kitab itu adalah Qiraatul Ma’mum Khalfal Imam. Di sana beliau menyatakan bahwa hadits tentang shalat tasbih di atas adalah hadits yang shahih.

    Al-‘Allamah Syeikh Nasiruddin Al-Albani

    Beliau adalah pakar hadits dari negeri Suriah yang amat tersohor di seantero jagad. Beliau pun juga termasuk yang mengatakan bahwa hadits tentang shalat tasbih ini shahih. Kita akan mendapatkan hadits ini dalam kitab karangan beliau, Shahih Sunan Abu Daud. Sebuah kitab hasil kritisi dan analisa beliau terhadap kitab sunan Abu Daud khususnya yang berstatus shahih saja.

KALANGAN YANG BERPENDAPAT GANDA ATAU TAWAQQUF

Misalnya Al-Imam An-Nawawi punya dua penilaian yang berbeda atas hadits yang sama. Demikian juga dengan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqallani, ahli hadits yang telah membuat syarah dari kitab Shahih A-Bukhari.

Sedangkan yang tawaqquf atau tidak memberikan komentar (abstein) antara lain Al-Imam Az-Dzahabi, sebagaimana yang kita baca dari kitab Tuhfatul Ahwadzi fi syarh jami’ At-Tirmizy jilid 2 halaman 488.

KESIMPULAN

Dalam dunia ilmu hadits, perbedaan pendapat dalam menilai kedudukan suatu riwayat memang sangat besar kemungkinannya. Ada yang telah divonis shahih atau dhaif oleh seorang ulama, belum tentu disepakati oleh ulama lainnya.

Sebaiknya kita lebih banyak mengkaji dan membaca literatur, khususnya dalam masalah hadits ini, karena dunia ilmu hadits sangat luas dan beragam. Tidak lupa pula kita harus lebih banyak bertanya kepada para ulama yang ahli agar kita tidak terlalu mudah mengeluarkan statemen yang nantinya akan kita sesali sendiri.

Wallahu a’lam bishshawab

BEBERAPA KEMULIAAN ORANG YANG DUDUK BERSAMA AHLI ILMU

Ada banyak kelebihan bagi seorang yang menuntut ilmu pengetahuan agama. Bahkan kelebihan dalam menuntut ilmu tak hanya di dapatkan oleh penuntut ilmu agama saja, melainkan juga didapatkan oleh seseorang yang duduk di dekat penuntut ilmu agama.

Di dalam kitab Bujairimi ‘Alal khatib disebutkan, bahwa seseorang yang duduk disisi orang alim, sedangkan dia tidak mampu menghafal ilmu darinya, maka baginya itu mendapatkan 7 macam karamah.

  1. Mendapati kelebihan orang-orang yang belajar.

Meskipun ia hanya duduk disamping seorang yang alim, dan tidak belajar darinya, namun dia tetap dikatakan sebagai seseorang yang belajar dan mendapatkan kelebihan-kelebihan orang-orang yang sedang belajar.

  1. Tercegah dari segala macam dosa selama duduk disisi orang alim tersebut.

Setiap manusia pasti melakukan dosa dalam kehidupannya. Dosa tersebut ada yang dosa kecil maupun dosa yang besar. Bahkan, tidak mengingat Allah juga merupakan dosa bagi orang-orang tertentu seperti para Nabi dan Rasul. Nah, kalau kita mau duduk disisi orang alim, maka akan terhalang dari kemungkinan berbuatnya dosa.

  1. Apabila keluar dari tempat itu untuk mencari ilmu, maka akan turun rahmat kepadanya.

Dalam setiap gerak langkahnya, ia juga akan mendapatkan rahmat, yaitu ketika berangkat dari tempat duduknya bersama orang alim tersebut untuk mencari ilmu pengetahuan.

  1. Apabila duduk di halaqah ilmu, dan turun rahmat kepada mereka, maka dia juga mendapatkan bagian rahmat itu.

Rahmat yang turun kepada majlis yang mencari ilmu, juga akan turun kepadanya, meskipun dia tidak sedang belajar, hanya duduk saja.

  1. Selama ia mendengar, dituliskan sedang mengerjakan perbuatan taat baginya.

Yang terpenting, ia harus selalu mendengar apapun ilmu pengetahuan yang mungkin disampaikan oleh seorang alim tersebut. Karna hanya mendengar saja, itu telah tercatat sebagai perbuatan taat baginya.

  1. Apabila ia mendengar, namun berkecil hati karna tidak memahaminya, maka jadilah kesedihan hatinya itu sebagai perantara kepada hadirat Allah swt.

ketika tidak memahami pelajaran yang disampaikan, Allah ta’ala tidak meninggalkan kita. Allah akan memberikan kelebihan kepada orang-orang yang bersedih ketika tidak mampu memahami pelajaran. Kesedihan di hatinya akan menjadi perantara bagi dirinya kepada hadirat Allah swt.

  1. Dia akan menyadari bahwa orang-orang muslim akan memuliakan orang alim dan orang-orang muslim akan mencela orang fasiq. Karenanya, hatinya akan condong kepada ilmu dan menjauhi kefasiqan.

TAKBIRAN SETELAH ADZAN UNTUK MENUNGGU IQOMAH SHOLAT FARDLU

Sudah kita ketahui bahwa di sebagian masyarakat mulai hari raya Idul adha sampai hari tasyriq berakhir, ada sebagian masyarakat yang membaca takbir ketika pujian (doa atau semacamnya yang dibaca secara keras setelah adzan untuk menunggu jama’ah).

Pertanyaan

  1. Bagaimana hukum membaca takbir seperti kasus diatas ?
  2. Adakah dalilnya baik dari Al Qur’an , Hadits atau Qoul Ulama ?

Jawab:

  1. Haram jika ada tujuan mensyariatkan takbiran tersebut secara khusus pada waktu atau akan menimbulkan iham (salah paham) dalam masyarakat bahwa hal tersebut disyari’atkan.

Uraian Jawaban

Waktu mengumandangkan takbir ‘idul fitri adalah setelah terbenamnya matahari malam hari raya sampai imam memulai takbirotul ihrom sholat ‘ied.

Dan untuk ‘Idul adlha disunahkan pula mengucapkan takbir setelah sholat fardlu, sholat sunat rowatib, sholat husuf, sholat istisqo’ dan sholat janazah sejak hari raya sampai sholat ashar hari tasyriq. Membaca takbir diluar ketentuan tersebut jika dibaca dengan keras hukumnya khilafussunnah (berlawanan denga sunah), kalau dibaca dengan pelan maka tentunya tidak apa-apa. Hukum ini adalah tinjauan hukum di lihat dari keberadaan takbir itu sendiri (min haitsu huwa huwa).

Tetapi dalam masalah membaca takbir yang dijadikan pujian pada hari tasyriq, juga harus memperhatikan dampak yang ditimbulkannya, apakah akan menimbulkan dampak positif atau, sehingga kalau membaca takbir ini bisa menimbulkan dampak negative, artinya kalau membaca takbir ini bisa menimbulkan dampak negatif seperti menyebabkan iham (salah faham) pada masyarakat awam bahwa hal itu diperintahkan agama, maka membaca takbir untuk pujian pada hari tasyrik hukumnya haram, jadi kesimpulannya keharamannya bukan karena takbir itu sendiri tetapi karena dampak negatif yang ditimbulkannya.

  1. Tidak ada
  • بجيرمي علي الخطيب 2 ص : 224

(ويكبر من غروب الشمس من ليلة العيد ) أي عيد الفطر والأضحى برفع صوت في المنازل والأسواق وغيرهما ودليله في الأول قوله تعالى {ولتكملوا العدة} أي عدة صوم رمضان { ولتكبروا الله } أي عند إكمالها , وفي الثاني القياس على الأول , وفي رفع الصوت إظهار شعار العيد واستثنى الرافعي منه المرأة , وظاهر أن محله إذا حضرت مع غير محارمها ونحوهم ومثلها الخنثى ويستمر التكبير( إلى أن يدخل الإمام في الصلاة ) أي صلاة العيد إذ الكلام مباح إليه , فالتكبير أولى ما يشتغل به لأنه ذكر الله تعالى وشعار اليوم , فإن صلى منفردا فالعبرة بإحرامه

(إلى أن يدخل الإمام في الصلاة) ومنه يعلم أنه لا يسن التكبير عقب صلاة عيد الفطر, فما جرت به العادة من التكبير عقبها فهو خلاف السنة . وظاهر كلامهم أن التكبير في حق من يريد الجماعة يستمر طلبه منه إلى إحرام الإمام وإن تأخر إحرامه إلى الزوال أو إلى ما بعده وفي حق المنفرد إلى إحرامه كذلك , أما في حق من لم يصل أصلا فإلى الزوال ; فاحفظ ذلك . ا هـ

Takbir dikumandangkan sejak terbenamnya matahari pada malam hari raya baik hari raya ‘idul fitri atau ‘idul adlha dengan suara keras di tempat-tempat umum seperti pasar dan lainnya, hal ini sesuai firman Allah yang artinya : “(Dan sempurnakanlah hitungan) hari puasa Romadlon dan (bacalah takbir) ketika sudah sempurna puasa Romadlon”. Dalam hal ini ‘Idul Adlha diqiyaskan dengan ‘Idul fitri. Mengeraskan suara itu untuk menunjukkan tanda-tanda hari raya.

Imam Rofi’i mengecualikan perempuan (dalam kesunahan mengeraskan suara) tentunya jika perempuan itu bersama-sama laki-laki yang bukan mahramnya. Hukum waria (wanita pria) sama dengan perempuan.

Membaca takbir tetap disunnahkan sampai imam melakukan takbirotul ihrom sholat ‘id, karena sebelum itu boleh berbicara, tetapi membaca takbir adalah amal yang paling utama, karena takbir adalah dzikir dan menjadi tanda-tanda kebesaran hari raya.

Jika Seseorang melakukan sholat ‘id sendirian maka ahir kesunahan membaca takbir adalah sampai ia melakukan takbirotul ihrom.

Dari penjelasan di atas, diketahui bahwa membaca takbir tidak disunahkan lagi setelah melaksanakan sholat ‘Idul fitri. Tradisi yang berlaku di masyarakat yaitu membaca takbir setelah sholat ‘Id adalah perbuatan yang bertentangan dengan sunnah (Khilafussnnnah).

Jelasnya membaca takbir bagi orang yang melaksanakan sholat ‘id secara berjama’ah tetap disunahkan sampai Imam melakukan takbirotul ihrom walau takbirotul ihromnya dilakukan saat matahari sudah condong ke arah barat atau setelahnya, bagi orang yang melaksanakan sholat ‘id sendirian membaca takbir disunahkan sampai ia melakukan takbirotul ihrom, dan bagi orang yang tidak melaksanakan sholat ‘id membaca takbir disunahkan sampai matahari condong ke arah barat.

  • توشيخ على ابن قاسم 89

ويكبر فى عيد الأضحى خلف الصلوات المفروضات ولو منذورة وفائتة وقضائها فى أيام العيد، وكذا خلف راتبة وصلاة كشوف واستسقاء ونفل مطلق كتحية ووضوء لا سجدة تلاوة وشكر وصلاة جنازة خلافا لصاحب التنقيح اي إذا لم يخف تغير الميت بنحو ظهور ريح من حين فعل صبح يوم عرفة الى زمن عقب فعل العصر من آخر أيام التشريق.

Disunahkan pula membaca takbir pada hari raya ‘Idul adlha setelah melaksanakan sholat fardlu, sholat yang dinadzari, atau sholat wajib diqodlo’ pada hari raya, setelah melaksanakan sholat sunnah rowatib, sholat kusuf, sholat istisqo’ dan sholat sunnah mutlak, dan juga setelah sholat tahiyyatul masjid. Membaca takbir tidak disunahkan setelah melakukan sujud tilawah, sujud syukur dan sholat jenazah, berbeda dengan pengarang Kitab Tanqih yang mengatakan disunahkan membaca takbir setelah sholat jenazah jika tidak dihawatirkan terjadinya perubahan bau mayit. Kesunahan membaca takbir dimulai setelah melaksanakan sholat shubuh pada hari ‘arafah sampai setelah melaksanakan sholat ashar hari terahir dari hari-hari tasyriq.

  • تحفة الجزء الثالث ص 54

والخلاف فى تكبير يرفع به صوته ويجعله شعارالوقت اما لواستغرق عمره بالتكبير فلا منع

Perbedaan pendapat ini pada takbir yang dibaca keras dan dijadikan tanda-tanda kebesaran waktu-waktu tertentu. Sebab seandainya ada orang menghabiskan seluruh umurnya hanya untuk membaca takbir maka tidak ada larangan.

  • بغية المسترشدين ص : 67 دار الفكر

(مسألة ب ك) تباح الجماعة فى نحو الوتر والتسبيح فلا كراهة فى ذلك ولا ثواب نعم إن قصد تعليم المصلين وتحريضهم كان له ثواب وأى ثواب بالنية الحسنة فكما يباح الجهر فى موضع الإسرار الذى هو مكروه للتعليم فأولى ما أصله الإباحة وكما يثاب فى المباحات إذا قصد بها القربة كالتقوى بالأكل على الطاعة هذا إذا لم يقترن بذلك محذور كنحو إيذاء أو اعتقاد العامة مشروعية الجماعة وإلا فلا ثواب بل يحرم ويمنع منها

(Masalah) sholat berjama’ah pada sholat witir, sholat tasbih dan sholat-sholat sunat yang sama (sholat sunat yang tidak disunahkan dilaksanakan secara berjama’ah) hukumnya boleh dan tidak makruh tetapi tidak mendapatkan pahala, tetapi kalau tujuannya adalah mendidik atau memberi semangat kepada orang-orang yang melaksanakan sholat maka bisa mendapatkan pahala, artinya mendapatkan pahala karena niat yang baik, Ini seperti diperbolehkannya membaca keras dengan tujuan mengajari pada tempat yang seharusnya membaca pelan yang hukum aslinya makruh, lebih-lebih pada perkara yang hukum asalnya mubah.

Seperti juga melakukan hal-hal yang hukum aslinya mubah bisa mendapatkan pahala karena niyat qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) contohnya makan dengan niat agar kuat melakukan ibadah. Namun tentunya jika melaksanakan sholat berjama’ah pada sholat witir dan lain-lain seperti di atas tidak menimbulkan sesuatu yang dilarang syara’ seperti mengganggu orang lain atau menyebabkan keyakinan di masyarakat awam bahwa sholat jama’ah dalam sholat-sholat sunah tersebut diperintahkan syara’. Kalau ini yang terjadi maka disamping tidak mendapatkan pahala hukumnya juga haram dan dilarang.

  • تنقيح الفتاوى الحامدية الجزء الثاني ص : 334

فائدة كل مباح يؤدّي إلى زعم الجهال سنية أمر أو وجوبه فهو مكروه كتعيين السورة للصلاة وتعيين القراءة لوقت ونحوه صرح بذلك في القنية قبيل باب صلاة المسافر

(Faidah) setiap hal yang hukum aslinya mubah kalau dilakukan kemudian menimbulkan keyakinan di masyarakat awam bahwa hal itu sunah atau wajib maka hukumnya menjadi makruh, seperti menentukan satu surat untuk sholat atau menentukan bacaan untuk waktu tertentu dan lain-lain.

ARISAN QURBAN BISA MENJADI QURBAN WAJIB KARENA NADZAR

Segala puji milik Allah pemberi cahaya petunjuk-Nya kepada yang dikehendaki-Nya, sholawat salam semoga terhatur kepada Nabi pemberi petunjuk kebenaran kepada seluruh umat manusia.

Kumpulan Hasil Bahtsul Masa’il ini adalah hasil kajian bersama MWC NU dan Pondok pesantren sekabupaten Tulungagung yang kami sajikan dalam sebuah buku kecil yang mungkin masih jauh dari sempurna.

Dalam menyajikan hasil Bahtsul Masa’il kami tuliskan ibarot dengan harokat lengkan dan dengan terjemahan bebas, yakni terjemahan yang berusaha menangkap ide dari ibarot kitab asalnya yang kami bahasakan dengan bahasa Indonesia yanng mudah dipahami, sehingga sering terjadi penambahan kata-kata yang tidak ada dalam ibarot aslinya dan sering pula terjadi pembuangan kata-kata yang tidak perlu.

Kami memberanikan diri menerbitkan buku ini karena masalah-masalah yang dibahas dan forum Bahtsul Masa’il MWC NU dan Pondok pesantren sekabupaten Tulungagung adalah masalah waqi’iyyah yang sangat dan harus diketahui secepatnya oleh masyarakat NU, karena masalah-masalah ini sangat terkait dengan problem hukum yang sedang mereka hadapi yang memerlukan kejelasan hukumnya, sehingga mereka mempunyai sandaran hukum dalam aktifitas ibadahnya.

Ahirnya dengan memohon rahmat, maghfiroh dan taufiq Allah, semoga buku ini dapat bermanfaat dan bisa menjadi jalan terang menuju ridlo Allah SWT. Amin X3 ya robbal ‘alamin

HASIL KEPUTUSAN BAHTSUL MASA’IL KE-1

LBM-NU KABUPATEN TULUNGAGUNG

DI MWC KOTA TULUNGAGUNG

  1. DISKRIPSI MASALAH

Berbagai cara digunakan untuk bisa melaksanakan ibadah Kurban yang diantaranya melalui arisan kurban dengan praktek masing-masing dari anggota arisan mengadakan iuran wajib misalnya sebesar Rp.50 ribu, lalu uang yang telah terkumpul diberikan kepada anggota yang namanya keluar pada saat undian (mbetok), kemudian dibelikan kambing untuk kurban. Namun lama-lama harga kambing mulai naik, sehingga jika iuran tetap Rp. 50 ribu dana yang terkumpul tidak akan cukup dibelikan kambing. Berangkat dari hal tersebut ada sebagian anggota punya keinginan iuran harus ditambah (semisal menjadi; Rp 75.000) agar dana yang terkumpul cukup digunakan membeli seekor kambing. Namun sebagian yang lain (kususnya anggota yang telah mbetok) tidak menyetujui iuran ditambah. Hingga pada akhirnya hal tersebut menjadi problem yang sampai saat ini belum ada solusinya.

Pertanyaan;

  1. Termasuk aqad apakah arisan kurban tersebut ?
  2. Bolehkah menambah iuran ditengah-tengah arisan dengan memandang sebagian anggota tidak menyetujuinya?
  3. Bagi anggota yang mbetok apakah wajib melakukan kurban ?

Jawaban;

  1. Termasuk aqad Qordu (hutang piutang).

Uraian jawaban

Arisan qurban dianggap sebagai akad hutang piutang karena melihat adanya sekelompok orang yang bersama-sama membeli kambing kemudian kambing itu dihutangkan kepada salah satu dari mereka. Akad utang piutang sangat dianjurkan oleh syara’ karena hutang piutang adalah salah satu bentuk tolong menolong (QS Al Baqoroh: 245)

  1. Tidak boleh apabila maqsud aqad tersebut utang-piutang uang (arisan uang).

Uraian jawaban

Dalam hutang piutang (qordlu) ada 3 rukun yang sangat menentukan status hukumnya, 3 rukun tersebut adalah :

  1. shîghot (îjab-qobûl) adalah pondasi terhadap keabsahan semua bentuk transaksi termasuk hutang piutang sehingga disini tidak cukup dengan mu’athoh (saling memberi tanpa kata-kata) artinya dalam hutang piutang ini harus ada kata-kata “Saya hutangi kamu” dari yang memberi hutang dan “saya menerima hutang dari kamu” dari orang yang menerima hutang. Atau dengan kata-kata lain yang mempunyai kandungan arti yang sama.
  2. ‘Aqidain (yang menghutangi dan yang menerima hutang)

disyaratkan bagi ‘aqidain adalah :

  1. a) orang yang sempurna akalnya, sehingga anak kecil dan orang gila tidak boleh melakukan boleh melakukan hutang piutang
  2. b) tidak terpaksa, karena dasar semua transaksi dalam islam adalah saling rela
  3. c) sanggup berbuat baik (ahli tabarru’)
  4. Ma’qud alaih yaitu objek transaksi hutang piutang ini.

Untuk menjawab masalah arisan qurban ini, kita fokuskan pada rukun ketiga yaitu ma’qud ‘alaih, karena perdebatan tentang boleh tidaknya menambah iuran arisan qurban di tengah-tengah arisan sedang berjalan bermula dari ma’qud alaih ini, sehingga perlu kita perjelas dulu ma’qud alaih-nya, apakah ma’qud alaihnya berupa uang atau kambing yang dijadikan qurban.

  • Kalau ma’qud alaih-nya adalah uang maka dalam masalah arisan qurban ini ada pengembalian atau pembayaran lebih dari hutang yang telah ditentukan dalam akad sehingga hutang piutang ini termasuk bentuk riba qordlu yaitu hutang piutang dengan pengembalian lebih yang jelas dilarang syara’ (S. Al Baqoroh; 275, QS Al Baqoroh; 278-280)
  • Sedangkan kalau ma’qud alaih-nya adalah kambing maka apakah harus dikembalikan dalam bentuk kambing atau boleh dikembalikan dalam bentuk uang?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita harus menengok syarat atau ketentuan ma’qud alaih dalam qordlu, perlu diketahui bahwa ma’qud alaih dalam qordlu ada 2 bentuk :

  1. Hal yang ada padanannya persis (mitsliyyan) seperti uang, beras, jagung dan lain-lain
  2. Hal yang bernilai (mutaqowwam) seperti hewan, tanah dan lain-lain

Dalam masalah arisan qurban ini ma’qud alaih-nya adalah jenis kedua yaitu mutaqowwam, qordlu yang diperbolehkan dalam mutaqowwam adalah pada mutaqowwam yang jelas kriterianya, sehingga dalam arisan qurban ini kambing yang dijadikan objek arisan ini harus jelas kriterianya seperti besar kecilnya atau jenisnya.

Kemudian dalam pengembalian hutang piutang terhadap mutaqowwam menurut pendapat yang rojih (unggul) harus menggunakan hal yang sepadan walau tidak persis yang dalam istilah fiqhnya disebut pengembalian shurotan artinya harus dikembalikan dalam bentuk kambing walau tidak bisa sama persis. Sedang pendapat yang lain boleh dikembalikan dalam bentuk uang. Dalam masalah ini jelas kita telah mengikuti pendapat yang rojih yaitu pengembalian dalam bentuk kambing.

حاشية القليوبى على المحلى الجزء الثانى ص: 258 دار احياء الكتب

فَرْعٌ : الْجُمُعَةُ الْمَشْهُورَةُ بَيْنَ النِّسَاءِ بِأَنْ تَأْخُذَ امْرَأَةٌ مِنْ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْ جَمَاعَةٍ مِنْهُنَّ قَدْرًا مُعَيَّنًا فِي كُلِّ جُمُعَةٍ أَوْ شَهْرٍ وَتَدْفَعُهُ لِوَاحِدَةٍ بَعْدَ وَاحِدَةٍ , إلَى آخِرِهِنَّ جَائِزَةٌ كَمَا قَالَهُ الْوَلِيُّ الْعِرَاقِيُّ

(Far’un) Perkumpulan yang masyhur di kalangan wanita dengan cara ada seorang wanita mengambil sejumlah uang yang ditentukan dari semua anggota setiap jum’at sekali atau setiap bulan sekali, kemudian uang yang terkumpul diberikan kepada seseorang dari mereka secara bergiliran sampai semuanya mendapatkan giliran. Perkumpulan ini hukumnya boleh seperti yang dijelaskan Syaikh Wali Al Iroqy

o مغني المحتاج 3 ص :

( وَيُرَدُّ ) فِي الْقَرْضِ ( الْمِثْلُ فِي الْمِثْلِيِّ ) ; لِأَنَّهُ أَقْرَبُ إلَى حَقِّهِ وَلَوْ فِي نَقْدٍ بَطَلَ التَّعَامُلُ بِهِ (وَ) يُرَدُّ ( فِي الْمُتَقَوِّمِ الْمِثْلُ صُورَةً ) { لِأَنَّهُ صلى الله عليه وسلم اقْتَرَضَ بَكْرًا وَرَدَّ رُبَاعِيًّا وَقَالَ : إنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً } رَوَاهُ مُسْلِمٌ ; وَلِأَنَّهُ لَوْ وَجَبَتْ قِيمَتُهُ لَافْتَقَرَ إلَى الْعِلْمِ بِهَا , وَيَنْبَغِي كَمَا قَالَ ابْنُ النَّقِيبِ : اعْتِبَارُ مَا فِيهِ مِنْ الْمَعَانِي كَحِرْفَةِ الرَّقِيقِ وَفَرَاهَةِ الدَّابَّةِ , فَإِنْ لَمْ يَتَأَتَّ اُعْتُبِرَ مَعَ الصُّورَةِ مُرَاعَاةُ الْقِيمَةِ ( وَقِيلَ الْقِيمَةُ ) كَمَا لَوْ أَتْلَفَ مُتَقَوِّمًا , وَعَلَيْهِ فَالْمُعْتَبَرُ قِيمَتُهُ يَوْمَ الْقَبْضِ إنْ قُلْنَا يُمْلَكُ بِالْقَبْضِ , وَبِالْأَكْثَرِ مِنْ وَقْتِ الْقَبْضِ إلَى التَّصَرُّفِ إنْ قُلْنَا : يُمْلَكُ بِالتَّصَرُّفِ

Dalam Qordlu (hutang piutang) yang dikembalikan adalah padanannya ketika yang dihutang adalah perkara yang ada padanannya (mitsly), karena hal itu adalah yang lebih mendekati untuk menngembalikan hak orang yang memberi hutang, walau berupa uang yang sudah tidak laku digunakan untuk jual beli lagi. Sedangkan kalau yang dihutang berupa barang yang bernilai (mutaqowwam) maka yang digunakan membayar adalah sesuatu yang mempunyai bentuk yang sama, karena Nabi Muhammad SAW pernah hutang seekor onta Bikru (onta yang menginjak umur 6 tahun) dan membayarnya dengan seekor onta Ruba’i (onta yang menginjak umur 7 tahun), beliau bersabda: sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam membayar hutang. Alasan lain adalah bahwa seandainya harus membayar dengan harganya, maka harus diketahui harganya (ketika akad hutang piutang)

Menurut Ibnu Naqib dalam membayar hutang sebaiknya mempertimbangkan nilai-nilai yang ada pada barang yang dihutang seperti keahlian bekerja pada hamba sahaya dan gemuk atau tidak pada hewan ternak. Kalau hal itu sulit dilakukan maka yang dipertimbangkan selain bentuknya juga harganya.

Pendapat lain mengatakan bahwa yang dipertimbangkan dalam membayar hutang adalah harganya saja, hal ini seperti jika seseorang merusak perkara yang bernilai. Menurut pendapat ini serta mengacu kepada pendapat yang mengatakan bahwa barang yang dihutang menjadi milik orang yang hutang ketika sudah diserahterimakan, maka yang diperhitungkan dalam membayar hutang adalah harga ketika serah terima hutang.

Dan yang diperhitungkan adalah harga tertinggi sejak diserah-terimakan sampai digunakan ketika kita mengikuti pendapat bahwa hutang berpindah kepemilikannya ketika digunakan

o المحلي 2 ص :

قوله : { اقترض بكرا ورد رباعيا } والبكر ما دخل في السنة السادسة والرباعي ما دخل في السابعة ويقال له الثني . قوله : ( أو في صفة المثل ) علم أنه من جملة الصورة كحرفة العبد .وإذا اختلفا في قدر القيمة أو في صفة المثل فالقول قول المستقرض .

(Nabi SAW pernah hutang Bikru dan membayarnya dengan Ruba’i) Bikru adalah onta yang menginjak umur 6 tahun dan Ruba’i adalah onta yang menginjak umur 7 tahun, Ruba’i sering disebut Tsany. Diketahui bahwa sesungguhnya sifat-sifat sepadan (sifatul mitsly) termasuk katagori bentuk seperti kemampuan bekerja hamba sahaya.

Kalau orang yang hutang dan orang yang memberi hutang berselisih tentang harga atau sifat-sifat sepadan maka yang dibenarkan adalah orang yang hutang

  1. Tidak wajib kecuali ada ucapan yang mengarah pada nadzar

Uraian Jawaban

Mengacu pendapat jumhurul ulama’ Pada dasarnya hukum Qurban adalah sunnah muakkad, dan bisa menjadi wajib karena adanya Nadzar.

Berbicara tentang Nadzar, Bentuk nadzar ada 2 yaitu

1) Nadzar shorih (jelas) seperti ucapan “untuk Allah, saya akan berqurban, ini adalah hewan qurbanku, aku jadikan hewan ini sebagai qurban”, dalam nadzar ini tidak membutuhkan niat bahkan kalau niat dengan niat yang tidak sesuai ucapannya, niatnya tidak diperhitungkan.

Karena itu yang sering terjadi pada masyarakat awam yaitu ketika mereka pulang dari pasar dengan menuntun kambing kemudian ditanya rekannya kambing siapa itu? Dia menjawab: “ini hewan kurbanku”, maka secara otomatis dia telah bernadzar berkurban.

Namun pendapat ini ditentang sebagian ulama’ antara lain Sayyid Umar Al Bashry yang mengatakan bahwa ucapan “Ini adalah hewan kurbanku” akan menjadi nadzar kurban kalau seseorang mengatakannya tanpa niat memberi tahu (ihbar), kalau ada niat ihbar maka tidak menjadi nadzar.

2) Nadzar kinayah (tidak jelas) seperti ucapan “kalau saya sembuh dari sakitku maka saya akan menyembelih seekor kambing”, dalam nadzar ini hukumnya sangat bergantung terhadap niat

  • حاشيتا قليوبي – وعميرة – (ج 1 / ص 97)

كِتَابُ الْأُضْحِيَّةِ قَوْلُهُ : ( لَا تَجِبُ إلَّا بِالْتِزَامٍ ) يُرِيدُ بِهِ أَنَّ نِيَّةَ الشِّرَاءِ لِلْأُضْحِيَّةِ لَا تُوجِبُهَا وَهُوَ كَذَلِكَ عَلَى الْأَصَحِّ ، قَوْلُهُ : ( بِالنَّذْرِ ) أَيْ وَمَا أُلْحِقَ بِهِ كَجَعَلْتُهَا أُضْحِيَّةً أَوْ هَذِه أُضْحِيَّةً

Qurban hukumnya tidak wajib kecuali dengan adanya menerima kewajiban (dengan nadzar), ini mengandung pengertian bahwa niat membeli untuk qurban tidak menjadikan wajibnya qurban. Ini menurut Qoul Ashoh. Qurban menjadi wajib sebab nadzar atau sesuatu yang menyamainya seperti mengatakan : “aku jadikan kambing ini sebagai kurban” atau “kambing ini adalah qurban”

o مغني المختاج 6 ص : 233

وأما الصيغة فيشترط فيها لفظ يشعر بالتزام فلا ينعقد بالنية كسائر العقود وتنعقد بإشارة الأخرس المفهمة , وينبغي كما قال شيخنا انعقاده بكناية الناطق مع النية

Disyaratkan dalam Shighot (ungkapan nadzar), kata-kata yang menunjukkan menerima kewajiban, sehingga tidak sah nadzar hanya dengan niat seperti aqad-aqad yang lain, dan nadzar sah dengan isyarat bagi orang bisu. Dan menurut Syaikhuna nadzar sah dengan bahasa kinayah jika disertai niat

o نهاية المختاج 8 ص: 131

[ فَرْعٌ ] لَوْ قَالَ : إنْ مَلَكْت هَذِهِ الشَّاةَ فَلِلَّهِ عَلَيَّ أَنْ أُضَحِّيَ بِهَا لَمْ تَلْزَمْهُ , وَإِنْ مَلَكَهَا لِأَنَّ الْمُعَيَّنَ لَا يَثْبُتُ فِي الذِّمَّةِ بِخِلَافِ إنْ مَلَكْتُ شَاةً فَلِلَّهِ عَلَيَّ أَنْ أُضَحِّيَ بِهَا فَتَلْزَمُهُ إذَا مَلَكَ شَاةً لِأَنَّ غَيْرَ الْمُعَيَّنِ يَثْبُتُ فِي الذِّمَّةِ , كَذَا صَرَّحُوا بِهِمَا فَانْظُرْ الرَّوْضَ وَغَيْرَهُ انْتَهَى سم عَلَى مَنْهَجٍ

(Far’un) Kalau ada orang berkata : “Jika aku memiliki kambing ini, maka hanya karena Allah aku akan berkurban dengannya”, maka dia tidak wajib berkurban walau dia benar-benar memiliki kambing tersebut, sebab “sesuatu yang tertentu tidak bisa menjadi tetap dalam tanggungjawabnya”. Berbeda jika ia mengatakan: “Jika aku memiliki seokar kambing maka hanya karena Allah aku akan berkurban dengannya”, maka ia wajib berkurban jika ia benar-benar memiliki seekor kambing, karena “sesuatu yang tidak tertentu itu bisa menjadi tetap dalam tanggungjawabnya”. 2 masalah ini telah dijelaskan oleh ulama’, lihat dalam kitab Roudl dan kitab-kitab lain.