WASIAT MENYAMA RATAKAN BAGIAN WARISAN DAN TIDAK SETUJUNYA SALAH SATU AHLI WARIS

Bagaimana hukumnya kalau warisan dibagi rata antara laki-laki dan perempuan, tapi sebelumnya sudah dimusyawarahkan dan disetujui oleh ahli waris.

Bila semua ahli warisnya tidak ada yang mahjur ‘alaih dan semua rela maka sah pembagian warisan dengan dibagi rata, bila semua ahli waris tersebut mengetahui bagiannya masing sebelum dibagi rata :

.وإن وقعت على خلاف الشرع بغير تراض بل بقهر أو حكم حاكم فباطلة إفرازا أو تعديلا أو ردا لأنها مهقور عليها___و إن وقعت بتراضيهم ولم يكن فيهما محجور مع علمهما بالحكم لكن إختارا خلافه صحت في غير الربوي مطلقا و فيه إن كانت القسمة إفرازا لأن الربا إنما يتصور جريانه في العقود دون غيرها كما في التحفة وإن كان ثم محجور فإن حصل له جميع حقه صحت وإلا فلا. بغية المسترشدين : ص : ٢٨١ : قول المتن أشترط الرضا الخ وظاهر أنه لا بد أن يعلم كل منهما ما صار إليه قبل رضاه. الشرواني ١٠/٢٠٨

Pola di masarakat kita ( Indonesia ) berbeda, di arab memang seorang laki-laki dituntut penuh menopang kebutuhan keluarga, sedangkan kita, kadang seorang suami ikut istri, kadang istri ikut suami, dan yang terjadi kebanyakan hukum bagi rata untuk harta milik orang tua, jadi tidak tepat disebut warisan, tapi hibbah, karena kebanyakan sudah dibagi-bagi sebelum orang tua meninggal.

Memang Allah menuntut setiap orang yang beriman untuk menerima semua aturan Allah dan Rasul-Nya dan mengedepankannya dari yang lainnya sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya. Dan barangsiapa yang membantah atau tidak menerimanya sesungguhnya orang itu telah berbuat maksiat terhadap Allah dan Rasul-Nya, sebagaiman firman-Nya :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

Artinya : “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab : 36)

Tentang hukum waris ini, Allah swt banyak membicarakannya di dalam Al Qur’an, di antaranya :

يُوصِيكُمُ اللّهُ فِي أَوْلاَدِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنثَيَيْنِ

Artinya : “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan.” (QS. An Nisaa : 11)

Hikmah dari bagian ahli waris laki-laki lebih banyak dari perempuan di antaranya adalah karena laki-laki punya beban tanggung-jawab menafkahi keluarga sedangkan perempuan tidak diwajibkan beban tersebut. Laki-laki punya beban kerja yang tidak mampu dilakukan perempuan seperti membajak sawah berperang dll….

 Lihat di HIKMATUT TASYRI’ WA FALSAFATUHU Juz 2 hal 264.

Adapun terkait dengan hibah maka hendaklah dibagi secara rata kepada seluruh anak-anaknya, sebagaimana pendapat jumhur ulama. Namun dibolehkan melebihkan bagian seorang anak tertentu dari anak-anak yang lainnya manakala memang hal itu diperlukan, seperti : untuk biaya pengobatannya, melunasi utang-utangnya, karena anaknya banyak, bekal pendidikannya atau yang lainnya, sebagaimana riwayat dari Ahmad (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz V hal 4014). Namun jika pembagian hibah kepada anak-anak tertentu tidak memiliki alasan yang dibenarkan maka harta hibah itu perlu kembali diperhitungkan.

JIKA AHLI WARIS TIDAK SETUJU WASIAT MEMBAGI RATA HARTA WARISAN ?

Dalam islam bab warisan telah diatur bagiannya masing2, untuk anak perempuan separuhnya laki2, tapi jika sebelum meninggal sang ortu berpesan untuk membagi hartanya dg rata.. setelah kejadian, saudara laki2 merasa kurang puas dan protes sementara yang perempuan tidak mau tahu dg dalih sudah amanat ortu untuk dibagi rata.

Bagaimana jalan keluar yang benar menurut syari’at islam ?

JAWABAN :

Kasus itu termasuk wasiat fasidah krn tidak ada takliq kematian atau sighot wasiat. Tapi umumunya cara seperti itu, dimasarakat dimakan hibah. Dan sah kalau diserah terimakan semasa hidupnya. Dan fasidah juga bila tidak serah terima dan tampa shighot. 

Jika pesannya “jika meninggal nanti…”  nah ini jelas wasiat. Namun wasiyat harus tidak lebih dr 1/3 tirkah, jika lebih, maka harus mendapat persetujuan ahli waris yang lain, jika ada yang tidak setuju maka pengadilan jalan keluarnya.

الكتب/823_كتاب-الأم-الإمام-الشافعي-ج-٤/الصفحة_118

Kalau wasiat sudah jelas tidak boleh lebih dari 1/3 tirkah, kecuali semua ahli waris ridho.

Sedang Syarat hibah pada anak2nya :

  1. Dilakukan saat sehat
  2. Meratakan pemberian.
  3. Tidak ada tujuan menghalang-halangi ahli waris.

وما روى عن النبي صلى الله عليه وسلم وما لم نعلم أهل العلم اختلفوا فيه يدل على هذا وإن كان يحتمل أن يكون وجوبها منسوخا وإذا أوصى لهم جاز وإذا أوصى للوالدين فأجاز الورثة فليس بالوصية أخذوا وإنما أخذوا بإعطاء الورثة لهم ما لهم لأنا قد أبطلنا حكم الوصية لهم فكان نص المنسوخ في وصية الوالدين وسمى معهم الأقربين جملة فلما كان الوالدان وارثين قسنا عليهم كل وارث

HIBBAH itu pemberian seseorang saat masih hidup dan membagi hartanya ketika ia masih hidup juga.. WASHIYAT itu pesan seseorang untuk memberikan sejumlah harta jika ia telah meninggal sehingga membagi hartanya setelah ia mati.  WARISAN itu peninggalan seseorang yang telah mati yang dibagikan otomatis pada ahli waris yang berhak setelah ia mati, sesuai faroidh.

Contoh wasiat : “nduk..! aku punya tabungan 10 M… sepeninggalku uang itu buat kamu untuk biaya sekolahmu dan biaya pernikahanmu nanti”.

Kalau contoh Hibbah : “nduk..! uang tabunganku 10 M itu sekarang aku berikan untuk kamu… ini kartu ATM nya dan ini no pinnya… jangan boros ya?”…

Jika jelas si ortu mengatakan 10 M dibagi rata untuk anak2nya setelah meninggal maka tergolong wasiat kepada ahliwaris yang tentunya harus disetujui oleh semua ahli waris.. maka :

  1. jika 10 M itu tidak lebih dari sepertiga (1/3) dari seluruh hartanya maka maka yang 10 M itu dibagi rata laki-laki perempuan.
  2. jika 10 M itu lebih dari sepertiga seluruh hartanya maka harus dikurangi menjadi sepertiga dan sisanya adalah tirkah yang harus dibagi secara faraidh / warisan.

Al-Iqna’ II / 221 :

حكم الوصية للوارث (ولا تجوز الوصية) أي تكره كراهة تنزيه (لوارث) خاص غير جائز بزائد على حصته لقوله صلى الله عليه وسلم: «لاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ» رواه أصحاب السنن (إلا أن يجيزها باقي الورثة) المطلقين التصرف لقوله صلى الله عليه وسلم: «لاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ إلاَّ أَنْ يُجِيزَهَا بَاقِي الوَرَثَة» رواه البيهقي بإسناد. قال الذهبي صالح وقياساً على الوصية لأجنبي بالزائد على الثلث،

Kifayatul Ahyar II / 33 :

وهل تصح الوصية للوارث؟ فيه خلاف: قيل لا تصح ألبتة لقوله عليه الصلاة والسلام (لا وصية لوارث) وهو حديث حسن صحيح. قاله الترمذي، والأصح الصحة، وتوقف على إجازة الورثة لقوله عليه الصلاة والسلام (لا تجوز الوصية لوارث إلا أن يشاء الورثة) رواه الدارقطني. قال عبدالحق: المشهور أنه منقطع ووصله بعضهم، فعلى الصحيح إجازة الورثة تنفيذ على الصحيح لا يحتاج إلى إيجاب وقبول وتكفي الإجازة والله أعلم

Intinya mengenai masalah wasiat kepada ahli waris hukumnya khilaf, namun menurut qoul asoh adalah sah wasiatnya .

Kifayatul Ahyar II / 34 :

ـ (فرع) الهبة للوارث كالواصية له وكذلك ضمان الدين عنه لأجنبي، وأطلق العراقيون أن الوصية لعبد الوارث كا لوصية له والله أعلم

Mengenai masalah salah satu ahli waris yang tidak setuju dalam Majmu’ An-Nawawi VI / 405  di jelaskan :

فصل : إذا أوصى أن يحجَّ عنه رجل بمائة درهم، ويدفع ما بقي من الثلث إلى آخر، وأوصى بالثلث لثالث وصيغتها عند الشافعي رحمه الله: «لو قال: أحجّوا عني رجلاً بمائة درهم، وأعطوا ما بقي من ثلثي فلاناً، وأوصى بثلث ماله لرجل بعينه، قال: «فللموصى له بالثلث نصف الثلث، وللحاج والموصى له بما بقي من الثلث نصف الثلث، ويحجّ عنه رجل بمائة درهم» . وهذا الرجل، أو الموصي قد أوصى بثلثي ماله. فإن أجاز الورثة ذلك، دفع ثلث المال إلى الموصى له بالثلث ولا يشاركه أحد، ودفع من الثلث الآخر مائة درهم إلى الموصى له بالحج، فإذا بقيت بعد المائة فضلة، دفعت إلى الموصى له بما بقي من الثلث. هذا حكم الوصية إذا أجازها الورثة.أمّا إذا لم يجز الورثة ذلك، ردَّت الوصايا إلى الثلث، فينظر: إذا كان الثلث مائة درهم فما دون، قسمت بين الموصى له بالثلث، وبين الموصى له بالمائة نصفين، لكل واحدٍ منهما خمسون، لاتفاقهما في قدر ما يستحقان، وهو المائة.

fokus

أمّا إذا لم يجز الورثة ذلك، ردَّت الوصايا إلى الثلث

PEMBAGIAN HARTA WARISAN KEPADA AHLI WARIS MENURUT ISLAM

Ahli Waris Laki-laki

  • Anak Laki-laki
  • Cucu L dari anak L
  • Bapak
  • Kakek (ayahnya ayah)
  • Saudara L (sekandung,seayah dan seibu)
  • Anak L dari saudara L sekandung/seayah
  • Paman (saudara sekandung dngn ayah/seayah dngn ayah)
  • Anak L paman (saudara sekandung dngn ayah/seayah dngn ayah)
  • Orang L yang memerdekakan
  • Suami

Ahli Waris Perempuan

  • Anak P
  • Cucu P dari anak L
  • Saudara P (sekandung, seayah, dan seibu)
  • Ibu
  • Nenek (ibunya ibu/ibunya ayah)
  • Perempuan yang memerdekakan
  • Istri

Furudul Muqoddaroh / Bagian Pasti: ½ ,1/4 ,1/8 , 1/3 , 1/6 , 2/3 , 1/3 sisa.

  • Ahli Waris Yang Mendapat Bagian 1/2:

1.Suami mendapat bagian ½ dengan syarat :

Tidak ada Furuk (anak, cucu, dst). Jika ada Furuk, maka Suami mendapat bagian 1/4.

2.Anak Perempuan mendapat bagian ½ dengan syarat :

  • Tidak ada Anak laki-laki yang mengashobahkannya. Jika ada anak laki-laki yang mengashobahkan, maka bersama-sama anak laki-laki tersebut mendapat Ashobah Bilghairi.
  • Hanya satu, jika lebih dari satu maka mendapat bagian 2/3.

3.Cucu perempuan dari anak laki-laki mendapat bagian ½ dengan syarat :

  • Tidak ada anak kandung. Jika ada anak laki-laki maka cucu perempuan Mahjub, jika ada anak perempuan satu maka mendapat bagian 1/6. Jika ada anak perempuan lebih dari satu maka Mahjub.
  • Tidak ada orang yang mengasobahkan ( cucu laki-laki dari anak laki-laki ).
  • Hanya satu, jika lebih dari satu, maka mendapat bagian 2/3.

4.Saudara perempuan sekandung mendapat bagian ½ dengan syarat :

  • Tidak ada Furuk; jika ada anak laki-laki atau cucu laki-laki maka Mahjub, jika ada anak perempuan satu atau cucu perempuan, maka mendapat asobah.
  • Tidak ada orang yang mengasobahkan ( saudara laki-laki sekandung ).
  • Tidak ada ayah, jika ada ayah maka suadara sekandung mahjubd. Hanya satu, jika lebih dari satu maka mendapat bagian 2/3.

5.Saudara perempuan seayah mendapat bagian ½ dengan syarat :

  • Tidak ada Furu’. Jika ada furuk laki-laki (anak laki-laki atau cucu laki-laki) maka Mahjub, dan jika ada furuk perempuan (anak perempuan satu atau cucu perempuan satu) maka mendapat bagian asobah .
  • Tidak ada orang yang mengasobahkan ( saudara laki-laki seayah ).
  • Tidak ada ayah, jika ada ayah maka mahjub.
  • Hanya satu, jika lebih dari satu maka mendapat bagian 2/3.
  • Tidak ada saudara sekandung, jika ada saudara laki-laki sekandung maka Mahjub. Jika ada saudara perempuan sekandung satu (mendapat bagian ½ ), maka mendapat bagian 1/6. Jika ada saudara perempuan sekandung lebih dari satu maka Mahjub. Jika saudara perempuan sekandung mendapat Asobah karena bersama -sama dengan anak perempuan atau cucu perempuan, maka saudara seayah Mahjub.

  • Ahli Waris Yang Mendapat Bagian ¼.
  • Suami dengan syarat ada furu’.
  • Istri dengan syarat tidak ada furu’, jika ada furu’ maka istri mendapat bagian 1/8.

  • Ahli Waris Yang Mendapat Bagian 1/8.
  • Istri baik satu atau lebih dengan syarat ada furu’.

  • Ahli Waris Yang Mendapat Bagian 2/3.
  • Anak perempaun dengan syarat: lebih dari satu dan syaratnya sama dngn ketika mendapat 1/2
  • Cucu perempuan dari anak laki-laki dengan syarat : lebih dari satu dan syaratnya sama dngn ketika mendapat 1/2
  • Saudara perempuan sekandung dengan syarat: lebih dari satu dan syaratnya sama dngn ketika mendapat 1/2
  • Saudara perempaun seayah dengan syarat: lebih dari satu dan syaratnya sama dngn ketika mendapat 1/2

  • Ahli Waris Yang Mendapat Bagian 1/3.
  • Ibu dengan syarat :
  • tidak ada furu’ ( anak atau cucu ), jika ada furu’ maka ibu mendapat bagian 1/6.
  • Tidak ada saudara lebih dari satu, jika ada saudara lebih dari satu, ibu mendapat bagian 1/6.
  • Suadara perempuan atau laki-laki seibu dengan syarat: lebih dari satu dan tidak ada orang yang memahjubkan ( Ayah, kakek, furuk ).

  • Ahli Waris Yang Mendapat Bagian 1/6.
  • Ayah dengan syarat tidak ada furu’. jika ada furuk laki-laki maka ayah mendapat bagian 1/6, jika ada furuk perempuan maka ayah mendapat bagian 1/6 dan sisa.
  • Ibu dengan syarat: ada furu’ dan ada saudara lebih dari satu.
  • Kakek dengan syarat:a. Tidak ada ayah, jika ada ayah maka kakek menjadi mahjubb. Ada furuk.
  • Cucu perempuan dari anak laki-laki (satu atau lebih) dengan syarat :
  • Ketika bersama-sama dengan anak perempuan yang mendapat bagian1/2.
  • Tidak ada orang yang mengasobahkan ( cucu laki-laki ), jika ada cucu laki-laki bersama-sama cucu laki-laki mendapat asobah bilgoiri.
  • Saudara perempuan seayah dengan syarat:
  • Ketika bersama-sama dengan saudara perempuan sekandung yang mendapat bagian ½
  • Jika ada saudara perempuan sekandung lebih dari satu dan ada anak perempuan/cucu perempuan (tidak mendapat bagian ½ artinya mendapat bagian 2/3, atau asobah), maka saudara perempuan seayah adalah mahjub.
  • Tidak ada orang yang mengasobahkan ( saudara laki-laki seayah ).
  • Nenek dengan syarat Tidak ada ibu, jika ada ibu maka nenek mahjub.
  • Suadara laki-laki atau perempuan seibu dengan syarat:
  • Hanya satu.
  • Tidak ada orang yang menghalangi ( furuk, bapak dan kakek ).

INILAH KETERANGAN AHLI WARIS DALAM ILMU AGAMA ISLAM

كتاب الفرائض والوصايا

والوارثون من الرجال عشرة الابن وابن الابن وإن سفل والأب والجد وإن علا والأخ وأبن الأخ وإن تراخى والعم وابن العم وإن تباعدا والزوج والمولى المعتق والوارثات من النساء سبع البنت وبنت الابن والأم والجدة والأخت والزوجة والمولاة المعتقة ومن لا يسقط بحال خمسة الزوجان والأبوان وولد الصلب ومن لا يرث بحال سبعة العبد والمدبر وأم الولد والمكاتب والقاتل والمرتد وأهل ملتين وأقرب العصبات الابن ثم ابنه ثم الأب ثم أبوه ثم الأخ للأب والأم ثم الأخ للأب ثم ابن الأخ للأب والأم ثم ابن الأخ للأب ثم العم على هذا الترتيب ثم ابنه فإن عدمت العصبات فالمولى المعتق.

Ahli waris dari golongan laki-laki ada 10 (sepuluh) :
1. Anak laki-laki.
2. cucu laki-laki (dari anak laki-laki_ ke bawah.
3. Ayah.
4. Kakek ke atas.
5. Kakak/adik laki-laki.
6. Kemenakan (keponakan) laki-laki (anak dari kakak/adik laki-laki) ke bawah.
7. Saudara ayah.
8. Anak dan saudara ayah sekalipun jauh.
9. Suami.
10. Tuan yang telah memerdekakan hamba sahaya (budak) nya.

Ahli waris dari golongan perempuan ada 7 (tujuh) :

1. Anak perempuan.
2. Cucu perempuan (dan laki-laki).
3. Ibu.
4. Nenek perempuan.
5. Kakak/adik perempuan.
6. Isteri.
7. Pemilik budak wanita yang telah memerdekakan hamba sahaya-nya.

Orang yang tidak gugur hak warisnya dalam keadaan bagaimanapun juga ada 5 (lima) yaitu :

1. Suami.
2. Isteri.
3. Ayah.
4. Ibu.
5. Anak kandung laki-laki dan perempuan.

Orang yang tidak berhak mendapatkan waris/mewarisi (peninggalan dari mayit) dalam keadaan bagaimanapun ada 7 (tujuh) yaitu :

1. Hamba sahaya (budak) baik laki-laki atau perempuan.
2. Hamba sahaya mudabbar (yaitu budak yang disanggupi akan dimerdekakan bila tuannya telah meninggal dunia).
3. Ummul walad yaitu hamba sahaya perempuan yang mempunyai anak dari tuannya.
4. Hamba sahaya mukatab yaitu hamba sahaya yang sedang mengangsur / mencicil menebus dirinya untuk merdeka.
5. Pembunuh si mayit.
6. Orang murtad atau keluar dari Islam.
7. Pemeluk dua agama yang berlainan (misalnya, muslim dan kafir, yang satu tidak berhak mewarisi yang lain).

Asabah (penerima bagian waris tidak tetap) yang paling dekat adalah anak laki-laki.

Kemudian :
1. Cucu laki-laki dari anak laki-laki.
2. ayah.
3. Kakek.
4. Saudara kandung (seayah dan seibu).
5. Saudara seayah.
6. Putera saudara kandung (seayah seibu) alias keponakan.
7. Putera saudarayah) seayah alias keponakan.
8. Paman (saudara ayah) menurut urutan di atas.
9. Putera paman (sepupu).

Apabila ahli waris ashab tersebut sudah tidak ada (susah meninggal), maka pemilik hamba sahaya (laki-laki/perempuan) adalah yang yang telah memerdekakan mayit itu yang menerima warisan asabah.

BAGIAN PASTI DALAM WARISAN
(فصل) والفروض المذكورة في كتاب الله تعالى ستة النصف والربع والثمن والثلثان والثلث والسدس فالنصف فرض خمسة البنت وبنت الابن والأخت من الأب والأم والأخت من الأب والزوج إذا لم يكن معه ولد والربع فرض اثنين الزوج مع الولد أو ولد الابن وهو فرض الزوجة والزوجات مع عدم الولد أو ولد الابن والثمن فرض الزوجة والزوجات مع الولد أو ولد الابن والثلثان فرض أربعة البنتين وبنتي الابن والأختين من الأب والأم والأختين من الأب والثلث فرض اثنتين الأم إذا لم تحجب وهو للاثنين فصاعدا من الأخوة

والأخوات من ولد الأم والسدس فرض سبعة الأم مع الولد أو ولد الابن أو اثنين فصاعدا من الأخوة والأخوات وهو للجدة عند عدم الأم ولبنت الابن مع بنت الصلب وهو للأخت من الأب والأم وهو فرض الأب مع الولد أو ولد الابن وفرض الجد عند عدم الأب وهو فرض الواحد من ولد الأم

وتسقط الجدات بالأم والأجداد بالأب ويسقط ولد الأم مع أربعة الولد وولد الابن والأب والجد ويسقط الأخ للأب والأم مع ثلاثة الابن وابن الابن والأب ويسقط ولد الأب ويسقط ولد الأب بهؤلاء الثلاثة وبالأخ للأب والأم وأربعة يعصبون أخواتهم الابن وابن الابن والأخ من الأب والأم والأخ من الأب وأربعة يرثون دون أخواتهم وهم الأعمام وبنو الأعمام وبنو الأخ وعصابات المولى المعتق.

Bagian tetap atau pasti yang disebut dalam Al-Quran ada 6 (enam) yaitu:

1. 1/2 (setengah)
2. 1/4 (seperempat).
3. 1/8 (seperdelapan)
4. 2/3 (dua pertiga).
5. 1/3 (sepertiga).
6. 1/6 (seperenam).

Setengah (1/2) adalah bagian untuk (tiap orang) dari 5 orang di bawah ini:
1. Anak perempuan.
2. Cucu perempuan (dari anak laki-laki).
3. Saudara perempuan kandung (seaya seibu)
4. Saudara perempuan seayah.
5. Suami jika tak ada anak laki-laki atau anak perempuan si mayit.

1/4 (seperempat) adalah bagian untuk (tiap orang dari) dua orang ahli waris di bawah ini:

1. Suami yang bersama anak laki-laki/perempuan atau bersama cucu laki-laki/perempuan dari anak laki-laki.
2. Dan 1/4 dan tersebut adalah bagian untuk seorang istri (bagian) untuk beberapa orang isteri (2-4) yang tak bersama anak laki-laki/perempuan atau cucu laki-laki/perempuan dari anak laki-laki si mayit.

1/8 (seperdelapan) adalah bagian untuk seorang istri dan (bagian) untuk beberapa orang isteri (2-4) yang bersama anak (laki-laki/perempuan) atau cucu laki-laki/perempuan dari anak laki-laki si mayit.

2/3 (dua pertiga) adalah bagian untuk (tiap-tiap golongan ahli waris dari) empat golongan di bawah ini, yaitu:

1. Dua orang anak perempuan atau lebih.
2. Dua orang cucu perempuan (dari anak laki-laki) atau lebih.
3. Dua orang saudari perempuan seayah seibu (kandung) atau lebh.
4. Dua orang saudari perempuan kandung (seayah seibu).

1/3 (sepertiga) adalah bagian untuk (tiap orang dari) dua orang (di bawah ini):

1. Ibu, jika tidak terhalang (mahjub).
2. Dan 1/3 tersebut adalah untuk dua orang atau lebih saudara laki-laki dan perempuan seibu.

1/6 (seperenam) adalah bagian untuk (tiap orang dari) 7 orang di bawah ini:

1. Ibu yang beserta anak (laki-laki/perempuan) atau cucu (laki-laki / perempuan dari anak laki-laki); atau yang beserta dua orang atau lebih saudara laki-laki / perempuan si mayit.

2. 1/6 ini untuk nenek (satu atau lebih) ketika tidak ada ibu si mayit.
3. Untuk cucu perempuan (dari anak laki-laki) yang beserta anak perempuan si mayit sendiri.
4. Seperenam tersebut adalah (juga bagian) untuk saudara perempuan seayah yang beserta saudara perempuan seayah seibu.
5. 1/6 tersebut adalah bagian untuk ayah yang beserta anak laki-laki/perempuan si mayit atau yang beserta cucu laki-laki / perempuan dari anak laki-laki si mayit.

6. Dan bagian untuk kakek ketika tidak ada ayah si mayit.
7. Dan 1/6 tersebut adalah bagian untuk seorang saudara laki-laki / saudara perempuan seibu.

INILAH KESALAHAN KESALAHAN DALAM PEMBAGIAN WARIS

Meskipun mayoritas penduduk negeri ini memeluk agama Islam, dan meskipun Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia, namun bukan berarti hukum waris dijalankan dengan benar oleh umat Islam.

Dalam kenyataannya, hukum waris yang menjadi salah satu ciri khas agama ini justru banyak ditinggalkan oleh pemeluk agama Islam sendiri. Persis dengan sabda Nabi SAW bahwa ilmu waris itu akan dilupakan orang, dan termasuk yang pertama kali akan dicabut dari umat beliau SAW.

تَعَلَّمُوا الفَرَائِضَ وَعَلِّمُوْهَا فَإِنَّهُ نِصْفُ العِلْمِ وَإِنَّهُ يُنْسَى وَهُوَ أَوَّلُ مَا يُنْزَعُ مِنْ أُمَّتِي

Pelajarilah ilmu faraidh dan ajarkanlah. Karena ia setengah dari ilmu dan dilupakan orang. Dan ia adalah yang pertama kali akan dicabut dari umatku”. (HR. Ibnu Majah, Ad-Daruquthuny dan Al-Hakim)

Kalau pun masih ada sisa-sisa dari umat Islam yang menjalankannya, sayangnya hukum waris dijalankan dengan cara-cara yang sebenarnya sudah tidak sejalan lagi sebagaimana yang seharusnya. Disana sini kita menemukan begitu banyak penyimpangan hukum waris dilakukan oleh mayoritas umat Islam.

Suka atau tidak suka, memang demikian itulah kenyataannya. Syariat Islam runtuh bukan karena dirusak oleh musuh-musuh Allah SWT, tetapi runtuh dengan sendirinya akibat keawaman dan kebodohan umat Islam sendiri terhadap ilmu syariah dalam agamanya.

Di antara begitu banyak kekeliruan dalam memandang hukum waris di dalam syariat Islam antara lain :

  1. Menyamakan Bagian Anak Laki-laki dan Perempuan

Menyamakan bagian antara anak laki-laki dengan bagian buat anak perempuan adalah masalah yang klasik dan paling sering terjadi di tengah masyarakat yang mengaku agamis dan islamis.

Padahal ketentuan bahwa bagian untuk anak perempuan itu separuh dari bagian anak laki-laki bukan sekedar karangan atau ciptaan manusia, melainkan sebuah ketetapan yang langsung Allah SWT turunkan dari langit kepada kita.

Kalau mau protes dan keberatan, silahkan langsung ajukan kepada Allah SWT. Kalau di masa pensyariatan dulu, bisa saja keberatan itu direspon langsung oleh Allah, sehingga hukumnya diubah atau minimal diringankan.

Tetapi kita sekarang ini hidup di luar era pensyariatan, maka semua yang sudah ditetapkan itu adalah ketetapan yang tidak bisa diprotes lagi. Protes berarti menentang hukum-Nya. Dan untuk itu Allah SWT sudah menegaskan ketentuan-Nya yang sudah baku tidak boleh diubah-ubah :

يُوصِيكُمُ اللّهُ فِي أَوْلاَدِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنثَيَيْنِ فَإِن كُنَّ نِسَاء فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ وَإِن كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ

Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu : bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta. (QS. An-Nisa’ : 11)

Saayngnya meski ayat ini sering dibaca berulang-ulang, namun dalam pelaksanannya cenderung hampir semua keluarga menjalankan cara-cara yang bertentangan dengan aturan syariah Islam ini.

Alasnnya bisa bermacam-macam. Bisa saja karena memang tidak tahu adanya aturan tersebut, lantaran selama ini lebih terdidik dengan sistem waris versi Belanda atau adat. Jadi selama ini memang sama sekali tidak pernah tahu menahu urusan pembagian waris.

Namun alasannya kadang bisa juga bukan karena tidak tahu, tetapi menganggap enteng urusan seperti ini. Dikiranya melanggar ketentuan syariah dalam masalah ini tidak mengapa, karena memang selama ini agama yang dijalankannya hanya sebatas masalah ritual dan syiar-syiar belaka.

Kalau urusan shalat, puasa, haji, perayaan hari-hari besar agama, serta hal-hal yang secara umum berbau agama, mungkin tidak pernah lepas dan selalu diupayakan. Tetapi giliran membagi warisnya dilakukan dengan cara yang menyimpang, tidak sadar kalau hal itu pada hakikatnya termasuk perbuatan menentang hukum-hukum Allah SWT, dan ancaman hukumannya bukan hal yang main-main.

Dan kenyataannya, tidak sedikit orang-orang yang setiap tahun bolak-balik pergi haji sekeluarga, tetapi tidak benar cara membagi harta warisan, karena mungkin dianggap urusan waris tidak ada kaitannya dengan agama yang dianutnya.

  1. Membagi Waris Ketika Masih Hidup

Kasus seorang yang masih hidup sudah diributkan hartanya untuk dibagi-bagi sebagai warisan, sudah cukup sering kita dengar. Kadang yang meributkannya adalah sang pemilik harta itu sendiri, tetapi tidak jarang yang meributkannya adalah para calon ahli waris.

Padahal secara syariah, tidak ada pembagian harta warisan selama pemilik harta itu masih hidup. Sebab salah satu syarat dalam pembagian waris adalah matinya pewaris.

Kalau pewarisnya masih hidup, maka tidak ada urusan dengan pembagian waris. Yang bisa dilakukan hanyalah hibah atau wasiat, tetapi bukan bagi waris.

Hibah : Hibah adalah pemberian harta kepada siapa saja yang dikehendaki, tanpa ada ketentuan siapa yang boleh dan tidak boleh untuk menerimanya.

Jadi bisa saja yang diberi hibah itu calon ahli waris atau bukan ahli waris. Dan tidak ada pembatasan jumlah maksimal dalam kasus hibah harta. Berapa pun harta yang mau diberikan, maka si pemilik harta berhak memberikan kepada orang yang dikehendakinya. Asalkan pemilik harta itu masih hidup dan sama sekali belum ada tanda-tanda menjelang kematian.

Wasiat : Sedangkan wasiat, hanya dilakukan ketika seseorang telah merasa hampir mendekati kematiannya. Dimana orang yang boleh diberi wasiat itu tidak boleh sekalian menjadi calo ahli waris. Jadi hanya boleh mereka yang bukan ahli waris saja. Dan untuk wasiat, ada pembatasan jumlah maksimal yang boleh diberikan, yaitu hanya 1/3 dari jumlah total harta. Sisanya yang 2/3 adalah hak para calon ahli waris.

Kesalahan yang sering terjadi, si pemilik harta sejak masih hidup sudah membagi-bagi harta kepada calon ahli warisnya, dengan menyebut sebagai pembagian warisan. Bahkan yang lebih fatal lagi, ahli waris yang haram menerima wasiat pun diberi wasiat.

Sebuah keawaman yang akut dan merata, tetapi sayangnya dibiarkan saja. Tidak ada satu pun orang yang merasa ikut bertanggung-jawab. Naudzubillah min zalik.

  1. Harta Bersama Suami Istri

Kasus harta bersama milik suami istri adalah warisan dari sistem hukum barat (baca:Belanda). Tetapi akibat perang pemikiran yang panjang, bahkan bangsa kita sangat lekat dengan sistem kepemilikan harta seperti ini, yang kita kenal dengan istilah harta gono-gini.

Dengan adanya sistem harta milik bersama atau gono-gini, maka pelaksanaan pembagian warisan menjadi rancu, karena misalnya begitu seorang suami meninggal dunia, harta tidak bisa dibagi waris. Mengapa?

Karena mempertimbangkan bahwa harta yang mau dibagi waris itu ternyata masih harta milik bersama antara suami dan istri. Dan karena istri saat itu masih hidup, biasanya pembagian waris ditunda-tunda, karena harus menunggu dulu istrinya meninggal juga.

Inilah kekeliruan fatal yang selama ini didiamkan saja, bahkan oleh mereka yang mengerti hukum Islam. Padahal kalau kita menggunakan sistem yang berlaku di dalam syariah Islam, sebenarnya kita tidak mengenal istilah harta bersama atau harta gono-gini.

Di dalam syariat Islam, ketika sepasang suami istri menikah, harta mereka tidak perlu dijadikan satu dan tiba-tiba menjadi harta milik bersama. Cara seperti itu adalah asli merupakan hukum buatan orang-orang kafir Eropa yang terbawa-bawa kepada kehidupan kita.

Di dalam sistem syariah Islam, prinsipnya bahwa semua harta suami tetap selalu menjadi harta suami. Dan bahwa semua harta istri juga akan tetap selalu harta milik istri sepenuhnya.

Namun sebagian dari harta suami, memang ada yang menjadi hak istri, tetapi harus lewat akad yang jelas, misalnya lewat pemberian mahar, atau nafkah yang memang hukumnya wajib, atau lewat hibah, atau hadiah. Tanpa penyerahan yang menggunakan akad yang pasti, harta suami tidak secara otomatis jadi harta istri.

Memang kalau istrinya cuma satu, masih bisa dinalar. Tetapi bayangkan bila seorang suami punya dua atau tiga istri sekaligus, siapa dari istri itu yang secara otomatis menjadi pemilik harta suami? Tentu akan jadi rancu kan?

Nah, oleh karena itulah, harta istri dari suami harus diberikan lewat akad pemberian, bukan terjadi secara otomatis.

  1. Harta Almarhum Dikuasai Istri

Salah satu kebiasaan buruk yang sering dilakukan oleh umat Islam di negeri ini adalah bahwa ketika suami meninggal dunia, istrinya otomatis menjadi penguasa tunggal atas harta milik suaminya itu. Apalagi bila anak-anak masih kecil-kecil, boleh dibilang harta suami sudah pasti jadi milik istri seluruhnya.

Padahal hak istri atas harta suaminya hanya 1/8 atau ¼ saja. Bila suami punya anak misalnya, maka istri hanya berhak mendapat 1/8 dari total harta milik suaminya. Sisanya yang 7/8 bagian menjadi hak anak-anaknya yang kini sudah menjadi anak yatim.

Dasarnya adalah firman Allah SWT :

وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِن لَّمْ يَكُن لَّكُمْ وَلَدٌ فَإِن كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُم مِّن بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ

Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. (QS. An-Nisa’ : 12)

Kalau pun anak-anak almarhum masih kecil-kecil, bukan berarti anak kecil tidak boleh menerima warisan. Mereka tetap berhak atas harta warisan dari ayahnya. Namun istri boleh menyimpan dan memelihara harta dari anak-anaknya itu, untuk suatu hari harus diserahkan harta itu kepada mereka.

Kalau pun harus terpakai harta itu demi kepentingan anak-anak, maka istri harus secara amanat membelanjakannya dan tidak membuang-buang harta itu, apalagi menguasainya untuk kepentingan diri sendiri.

Dan apabila si janda ini menikah lagi dengan laki-laki lain, ada anggapan di tengah masyarakat bahwa si laki-laki yang menikahi janda kaya menjadi orang yang paling beruntung.

Kenapa?

Karena seolah-olah si suami baru ini merasa mendapat hak dan bagian dari harta peninggalan almarhum. Padahal seharusnya tak secuil pun harta almarhum yang tiba-tiba berubah menjadi haknya. Harta itu milik anak-anak almarhum dan istrinya saja, sedangkan suami baru bukan pihak yang berhak atas harta almarhum.

Demikian juga yang terjadi bila istri yang meninggal dunia, maka suami seolah-olah menjadi pewaris tunggal, dan mengangkat diri dirinya sebagai satu-satunya orang yang berhak atas seluruh harta peninggalan istrinya. Maka dia merasa bebas untuk kawin lagi dan memberikan seluruh harta milik almarhumah istrinya kepada istri barunya.

Padahal seharusnya, suami hanya mendapat 1/4 bagian saja dari harta istrinya. Bagian lainnya yang 3/4 bukan miliknya tetapi milik ahli waris yang lain.

  1. Bagi Waris Menunggu Salah Satu Pasangan Meninggal Dunia

Dengan alasan untuk menghormati ibu yang telah hidup sendiri karena ditinggal mati oleh ayah yang menjadi suaminya, seringkali pembagian waris tidak dilaksanakan.

Tindakan ini kalau didasarkan pada kesalahan sebelumnya, yaitu bahwa harta milik seorang suami secara otomatis dan pasti menjadi harta milik istrinya juga.

Pandangan ini jelas tidak sejalan dengan hukum Islam yang memandang bahwa tiap orang punya hak atas harta masing-masing. Dan meskipun seorang laki-laki punya istri, harta miliknya tidak secara otomatis menjadi harta istrinya. Dan demikian juga berlaku sebaliknya, harta milik istri tidak secara otomatis menjadi harta suami.

Maka kalau ada salah satu yang meninggal, harta harus segera dibagi waris, tanpa harus menunggu pasangannya meninggal terlebih dahulu.

Keharusan segera membagi warisan itu dikecualikan, misalnya bila ada pertimbangan yang bersifat teknis semata, bukan karena harus menunggu kematian. Misalnya karena ada pertimbangan karena harta itu sulit untuk dijual, jadi untuk sementara dibiarkan saja dulu. Kalau demikian tentu bisa dimaklumi bila sedikit tertunda.

Namun begitulah yang terjadi di tengah masyarakat kita, umumnya pembagian harta warisan tidak segera dilaksanakan secepatnya, alasannya semata-mata karena masih menghormati ibu mereka.

Dan yang lebih parah, para ibu yang posisinya sebagai istri almarhum pun tidak lebih baik cara berpikirnya. Biasanya karena kurang ilmu dan ikut-ikutan kebiasaan yang ada di tengah masyarakatnya, juga merasa tersinggung kalau ketika masih hidup, harta peninggalan suami sudah dibagi-bagi kepada putera puteri almarhum.

  1. Bukan Ahli Waris Tetapi Merasa Paling Berhak

Di antara bentuk kekeliruan dalam pembagian waris yang sering terjadi adalah diberikannya harta peninggalan almarhum kepada orang yang bukan ahli waris, dengan mengatas-namakan pembagian waris.

Di antara mereka yang sebenarnya tidak berhak atas harta warisan namun seringkali ikut diberikan harta waris ada beberapa jenis :

  1. Tidak Terdaftar Dalam Sturuktur Ahli Waris

Orang yang tidak termasuk di dalam daftar ahli waris tapi sering menuntut agar mendapat bagian waris antara lain mereka yang hubungannya pakai istilah angkat, tiri dan mantan.

   Jalur Keluarga Berstatus Angkat

Yang dimaksud dengan keluarga yang menggunakan istilah ‘angkat’ antara lain adalah anak angkat, ayah angkat, ibu angkat, saudara angkat, paman angkat, bibi angkat dan seterusnya.

Pengangkatan saudara atau anak tidak dikenal di dalam syariat Islam.

   Jalur Kelurga Berstatus Tiri

Selain jalur keluar yang berstatus angkat, yang bukan termasuk ahli waris adalah jalur keluarga yang berstatus tiri. Misalnya anak tiri, ibu tiri, ayah tiri, saudara tiri lain ayah lain ibu, dan seterusnya.

   Jalur Keluarga Berstatus Mantan

Selain itu yang juga bukan termasuk ahli waris adalah jalur keluarga yang berstatus mantan. seperti mantan suami atau mantan istri.

   Memang Bukan Ahli Waris

Selain itu yang bukan termasuk ahli waris adalah menantu, mertua dan sebagian keponakan, saudara ipar, cucu dari jalur anak perempua, sebagian paman.

  1. Terdaftar Dalam Ahli WAris Tetapi Terhijab dan Terlarang

Tidak semua orang yang termasuk di dalam daftar ahli waris pasti mendapatkan jatah bagian dari harta warisan. Mereka yang terhijab oleh keberadaan ahli waris yang lain yang lebih dekat, tentu juga tidak mendapat harta warisan.

Dari 22 pihak ahli waris yang terdaftar, hanya 6 pihak saja yang pasti tidak akan pernah terhijab, yaitu anak laki-laki, anak perempuan, suami, istri, ayah dan ibu. Selebihnya, masih sangat besar kemungkinan terhijab dan gugur haknya.

Mereka yang sudah termasuk di dalam daftar ahli waris dan tidak terhijab, tetapi pada dirinya ada mawani’ (pencegah), seperti yang sudah Penulis sebutkan di awal. Di antara pencegah seorang ahli waris dari menerima harta waris adalah perbedaan agama, pembunuhan dan perbudakan.

  1. Bagi Waris Berdasarkan Kesepakatan

Kesalahan yang paling fatal dalam pembagian harta waris adalah pembagian berdasarkan kesepakatan dengan sesama ahli waris, tanpa mengindahkan ketentuan yang ada di dalam Al-Quran, As-Sunnah dan juga apa yang telah ditetapkan syariah Islam.

Alasan yang biasanya digunakan adalah asalkan para pihak sama-sama ridha dan tidak menuntut apa-apa. Sehingga dianggap sudah tidak perlu lagi dibagi berdasarkan ketentuan syariah.

Perumpamaan keharaman tindakan ini ibarat laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri sepakat dan rela sama rela untuk melakukan hubungan badan di luar nikah, alias berzina. Meski sama-sama suka dan tidak merasa dirugikan, tetapi bukan berarti berzina itu dibolehkan. Sebab di luar mereka, ada Allah SWT yang telah menetapkan keharaman berzina.

Demikian juga dengan pembagian harta waris yang melanggar ketentuan Allah SWT. Para ahli waris mungkin secara suka rela membaginya, namun di sisi lain mereka telah sepakat untuk meninggalkan ketentuan Allah SWT.

Maka yang seharusnya dilakukan, sebelumnya harus dibagi sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Bahwa setelah itu masing-masing pihak ingin menghadiahkan sebagian jatahnya atau seluruhnya buat saudaranya, itu terserah mereka masing-masing.

Dalam hal ini ada ancaman yang serius dari Allah SWT bagi keluarga yang tidak menggunakan hukum mawaris dalam pembagian harta peninggalan almarhum.

وَمَن يَعْصِ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ

Dan siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (QS. An-Nisa’ : 14)

Di ayat ini Allah SWT telah menyebutkan bahwa membagi warisan adalah bagian dari hudud, yaitu sebuah ketetapan yang bila dilanggar akan melahirkan dosa besar. Bahkan di akhirat nanti akan diancam dengan siksa api neraka.

Sayangnya, tidak ada pihak yang berhak untuk mencegah cara-cara jahiliyah ini, baik dari pihak para ulama apalagi dari pihak pemerintah, baik ulama atau pun pemerintah, keduanya hanya menjadi penonton pasif belaka. Sayang sekali mereka seringkali tidak pernah merasa berkewajiban untuk meluruskan umat dari berbagai penyimpang yang dilakukan.

Dan dalam banyak kasuk, kedua belah pihak lebih sering menyerahkan urusan ini kepada rapat dan kesepakatan keluarga. Yang penting semua sama-sama ikhlas dan menerima, masalah dianggap selesai. Apakah Allah SWT menerima atau tidak, sama sekali tidak ada yang peduli.

  1. Bagi Waris Menggunakan Aturan Adat

Salah satu bentuk kekeliruan yang amat fatal adalah membagi waris dengan tata cara adat yang bertentangan dengan hukum mawaris.

Turunnya ayat-ayat tentang waris ini di masa Rasulullah SAW justru untuk menggantikan tata cara pembagian waris secara adat. Di antara adat yang bertentangan dengan hukum mawaris di masa Rasulullah SAW antara lain :

   Anak perempuan tidak mendapatkan harta warisan. Ketika syariat tentang mawaris ini turun, anak perempuan ditetapkan mendapat bagian dari warisan.

   Anak laki-laki yang belum mampu memanggul senjata juga tidak mendapat harta warisan. Sehingga anak-anak kecil, bila ayah mereka meninggal dunia, sudah dipastikan tidak akan mendapat warisan. Yang dapat warisan hanya khusus anak-anak laki-laki yang sudah dewasa, dan ukurannya adalah kemampuan dalam berperang dan memanggul senjata. Ketika syariat Islam turun, semua anak baik besar maupun masih kecil, pasti mendapat harta warisan.

   Anak angkat atau anak adopsi menerima warisan kalau menggunakan hukum jahiliyah di masa sebelum turunnya syariat Islam. Dengan semakin sempurnanya syariat Islam, anak angkat bukan hanya tidak mendapat harta warisan, tetapi hukum mengangkat anak itu sendiri pun dibatalkan dan dilarang.

   Anak Mewarisi Ibu Tirinya. Bila seorang ayah yang punya banyak istri meninggal dunia, maka anak laki-laki pertama berhak mewarisi para mantan istri ayahnya, alias ibu tiri mereka. Dengan turunnya syariat Islam, ibu tiri menjadi haram untuk dinikahi, apalagi diwariskan kepada anak tiri.

Dan masih banyak lagi contoh-contoh hukum waris adat jahiliyah yang bisa kita sebutkan. Semua itu kemudian dihapus dan terlarang untuk dijalankan oleh umat Islam.

Di negeri kita, tiap suku punya ketentuan hukum waris yang mereka pelihara sejak zaman nenek moyang. Terkadang ketentuan-ketentuannya sejalan dengan hukum mawaris, namun seringkali justru bertentangan 180 derajat.

Maka bila memang ketentuan hukum adat bertentangan dengan hukum mawaris yang datang dari Allah SWT, hukum adat itu harus ditinggalkan, karena hukumnya haram untuk dijalankan.

  1. Menunda Bagi Waris Sampai Para Ahli Waris Meninggal

Contohnya adalah seorang kakek yang ketika wafat meninggalkan harta berupa sebidang tanah. Tanah itu dibiarkan saja tidak dibagi waris, sampai salah satu atau beberapa ahli waris pun meninggal dunia. Padahal seharusnya tanah itu segera dibagi waris, agar para ahli waris yang berhak memilikinya bisa segera menikmatinya.

Entah bagaimana dan entah karena alasan apa, ternyata bertahun-tahun dibiarkan saja tanah itu tanpa kejelasan siapa pemiliknya. Lalu lahirlah anak-anak dari ahli waris, yang sebenarnya bukan ahli waris langsung dari sang kakek.

Di level mereka inilah kemudian muncul pertentangan atau perebutan atas tanah warisan dari kakek. Tiap-tiap cucu merasa sebagai ahli waris, sehingga masing-masing mengklaim sebagai pihak yang berhak atas tanah tersebut.

Sayangnya, generasi yang seharusnya menjadi ahli waris langsung justru sudah banyak yang wafat.

  1. Ahli Waris Pengganti

Istilah ahli waris pengganti yang dimaksud adalah bila seorang anak yang seharusnya menjadi ahli waris, meninggal lebih dulu sebelum ayahnya yang menjadi pewaris wafat.

Dalam syariat Islam, yang namanya bagi waris itu hanya terbatas memindahkan harta warisan dari pewaris yang wafat kepada ahli waris yang syaratnya adalah orang yang masih hidup.

Meski seorang anak biasanya jadi ahli waris dari ayahnya, tetapi kalau si anak ini meninggal duluan, maka statusnya bukan ahli waris dari ayahnya. Yang terjadi malah sebaliknya, justru ayahnya itulah yang menjadi ahli waris dari anaknya yang meninggal. Kalau si anak ini punya harta, maka ayahnya adalah salah satu dari ahli waris.

Sayangnya, justru di dalam Kompilasi Hukum Islam, ketentuan syariah ini, entah dengan alasan apa yang kita tidak paham, malah dilanggar. Posisi si anak yang meninggal duluan ini kemudian digantikan olah anaknya lagi, yang tidak lain adalah cucu dari almarhum.

Ketentuan ini jelas-jelas melanggar hukum syariah, karena cucu yang dikatakan menggantikan posisi ayahnya itu sebenarnya terhijab (mahjub) dengan adanya ahli waris yang lain, yaitu pamannya, atau kalau dari sisi si kakek disebut anak-anak kakek yang lain.

Konon alasan adanya kedudukan pengganti ahli waris ini didasarkan pada niat baik, agar anak-anak almarhum calon ahli waris yang meninggal duluan itu tetap bisa mendapatkan bagian dari harta yang diwariskan kakek.

Sayangnya, solusi yang digunakan tidak benar, karena malah mengubah hukum waris itu sendiri. Prinsipnya, tujuan yang baik tidak boleh dijalankan dengan cara yang tidak baik.

Yang seharusnya dilakukan adalah bukan mengubah hukum waris, tetapi gunakan cara lain yang masih dibenarkan dalam syariat Islam. Salah satunya adalah syariat wasiyat atau hibah.

  1. Wasiat

Ketika sang kakek pemilik harta mengetahui salah satu anaknya ada yang wafat dan meninggalkan anak, dimana anak itu tidak lain adalah cucunya juga, maka si kakek boleh saja berwasiat. Isinya bila nanti dirinya berpulang ke rahmatullah, sebagian dari hartanya itu diwasiatkan agar diberikan kepada cucunya.

Sebab cucu itu sudah dipastikan tidak akan mendapat harta warisan dari sang kakek. Maka wasiat dari kakek bisa berlaku agar si cucu tetap mendapatkan bagian dari harta.

Cara inilah yang dilakukan oleh Pemerintah Mesir dan Suriah, ketika menghadapi masalah seperti ini. Pemerintah berinisiatif untuk mewajibkan sang kakek membuat wasiat. Istilahnya adalah wasiyah wajibah. Jadi wasiat itu bukan semata-mata inisiatif si kakek, tetapi negara mewajibkan kepada kakek untuk mewasiatkan harta kepada si cucu.

Cara ini 100% sesuai dengan syariah, dan tujuan untuk memberikan keadilan kepada cucu juga tercapai.

  1. Hibah

Selain dengan jalan wasiat, bisa saja si kakek langsung memberi harta kepada si cucu on the spot, tanpa harus menunggu dirinya meninggal dunia.

Ketika tahu salah satu anaknya wafat dan meninggalkan anak yang juga menjadi cucunya, si kakek langsung ke bank mencairkan uang. Lalu uang itu langsung diserahkan kepada si cucu, nilainya terserah saja. Dan boleh saja bila nilainya kurang lebih sama dengan yang nantinya bakalan diterima oleh anak atau cucu lainnya.

Tindakan seperti ini baik sekali dilakukan, karena sejak dini sudah diantisipasi urusan keadilan harta.

Apa Yang Bisa Kita Lakukan?

Semua fenomena ini berangkat dari semakin asingnya umat Islam terhadap ilmu syariah, khususnya ilmu mawaris yang telah diajarkan oleh Nabi SAW.

Maka kuncinya adalah bagaimana kita kembali menggalakkan pengajaran dan sosialisasi ilmu mawaris ini ke tengah-tengah umat dengan tindakan yang nyata.

Kita sebenarnya punya banyak majelis ilmu. Bahkan setiap masjid punya pengajian yang rutin dilaksanakan. Tidak ada salahnya kalau kita mulai dari menyisipkan pengajian di berbagai majelis taklim dengan materi yang terkait dengan maslah mawaris.

Syukur nanti kalau bisa lebih disosialisasikan secara masif dan nasional. Entah lewat kurikulum resmi di sekolah, atau pun juga lewat berbagai terobosan yang bisa dilakukan oleh para ustadz, da’i dan juga para penceramah. Setelah tentunya mereka juga mendapatkan kuliah khusus dalam masalah seperti ini.

Dan tidak ada salahnya kalau hukum-hukum waris ini disosialisasikan lewat berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Tentu semua semata-mata hanya mengharap ridha Allah SWT.

Wallahu a’lam bishshawab

INILAH KELUARGA DEKAT YANG BUKAN AHLI WARIS

Ada beberapa anggota keluarga yang memang seringkali agak rancu kita memandangnya. Banyak dikira mereka itu termasuk ahli waris, padahal setelah dilacak lebih jauh dalam daftar ahli waris, memang tidak tercantum. Artinya mereka memang bukan ahli waris.

Sayangnya, karena kurang teliti seringkali mereka dianggap sebagai ahli waris. Alasannya karena memang posisinya yang nyaris sangat dekat dengan almarhum.

Ada sekitar sembilan anggota keluarga dan bisa saja lebih dari itu. Mereka ini sering tertukar dan dianggap sebagai ahli waris, padahal bukan. Mereka adalah :

  1. Anak Angkat

Anak angkat bukan termasuk anak yang mendapat hak waris. Karena yang dimaksud dengan anak adalah anak yang merupakan dari benih sang muwarrits sendiri, dimana anak itu hasil pernikahan yang sah secara syariah.

Sebenarnya bukan hanya anak angkat yang tidak menerima harta waris, tetapi juga termasuk ayah angkat, ibu angkat, saudar angkat, paman angkat dan seterusnya.

Tambahan lagi bahwa syariat Islam tidak mengakui adanya anak angkat, bahkan mengharamkan pengangkatan anak. Meski pun hukum yang berlaku di negeri kita mengakui keabsahan anak angkat, namun dalam urusan bagi waris, anak angkat tetap bukan ahli waris.

Kalau pun mereka tetap ingin diberikan harta dari almarhum, jalannya bukan dengan pewarisan, tetapi bisa dengan hibah atau waisat yang dilakukan sejak almarhum masih hidup. Atau bisa saja para ahli waris setelah menerima harta waris sepakat untuk memberi semacam ‘uang kerahiman’ kepadanya. Tetapi yang jelas anak angkat tidak menerima harta dari almarhum lewat jalur waris.

Dan cara hibah atau wasiat ini juga bisa diberlakukan kepada semua daftar berikut ini.

  1. Anak Tiri

Anak tiri bukan termasuk ahli waris. Yang dimaksud tiri adalah anak dari pasangan. Misalnya, seorang laki-laki menikahi janda yang sudah punya anak.

Dalam keseharian, sering kita sebut dia sebagai anak tiri. Meski hubungan keduanya sangat dekat, tetapi dalam hukum syariah, anak tiri bukan ahli waris. Karena anak itu bukan dari darah daging muwarrits.

Dan termasuk yang juga bukan ahli waris adalah ayah tiri, dan ibu tiri.

  1. Mantan Suami mantan Istri

Suami adalah ahli waris dari istri yang meninggal. Istri juga ahli waris dari suami yang meninggal. Tetapi hubungan saling mewarisi ini berhenti tatkala hubungan suami istri di di antara keduanya telah selesai karena perceraian.

Maka mantan istri bukan ahli waris dan mantan suami juga bukan ahli waris. Walau pun mereka pernah hidup bersama puluhan tahun lamanya.

  1. Keponakan

Keponakan memang ada yang masuk dalam ahli waris, namun tidak semua keponakan termasuk dalam daftar ahli waris. Dari 4 hubungan keponakan, hanya satu saja yang menjadi ahli waris.

   Anak laki-laki dari saudara laki-laki almarhum. Hanya keponakan yang satu ini saja yang termasuk ke dalam ahli waris.

   Anak laki-laki dari saudari perempuan almarhum, bukan termasuk ahli waris.

   Anak perempuan dari saudara laki-laki almarhum, bukan termasuk ahli waris.

   Anak perempuan dari saudari perempuan almarhum, bukan termasuk ahli waris.

  1. Mertua – Menantu

Meski sudah seperti anak sendiri, hubungan antara mertua dan menantu tidak saling mewarisi. Yang menjadi ahli waris adalah anak muwarrits langsung atau orangtuanya. Sedangkan pasangannya jelas bukan termasuk ahli waris.

Dalam kasus sering terjadi menantu malah lebih repot mengurusi harta pasangannya. Yang jadi anaknya saja tidak terlalu meributkan, malah menantu yang bukan ahli waris kelihatan punya ambisi untuk mendapat harta dari peninggalan mertuanya.

  1. Saudara Ipar

Saudara ipar adalah saudara dari istri atau suami. Misalnya, seorang wanita ditinggal mati suaminya. Maka saudara wanita itu adalah saudara ipar bagi almarhum. Kedudukannya tidak terdapat dalam daftar ahli waris.

Misal lain, seorang suami ditinggal mati istrinya. Maka saudara suami itu adalah ipar bagi almarhumah. Kedudukannya bukan sebagai ahli waris.

  1. Cucu Dari Anak Perempuan

Meski pun cucu termasuk dalam daftar ahli waris, namun tidak semua cucu bisa termasuk di dalamnya. Cucu yang merupakan anak dari anak perempuan almarhum bukan termasuk ahli waris, baik cucu itu laki-laki atau pun perempuan.

Yang termasuk ahli waris adalah cucu dari anak laki-laki, baik cucu itu laki-laki atau perempuan.

  1. Paman dan Bibi Jalur Ibu

Paman memang termasuk dalam daftar ahli waris, tetapi tidak semua paman. Hanya paman yang merupakan saudara ayahnya almarhum saja yang termasuk ahli waris. Sedangkan paman yang merupakan saudara ibunya almarhum, bukan termasuk ahli waris.

  1. Saudara lain ayah lain ibu

Dalam daftar para ahli waris ada saudara seayah seibu, saudara seayah saja dan saudara seibu saja. Mereka bisa saling mewarisi. Tapi adakah saudara yang lain ayah lain ibu?

Jawabnya ada. Misalnya seorang duda yang punya anak menikah dengan janda yang punya anak. Maka anak si duda dan anak si janda adalah saudara. Tetapi hubungan persaudaraan di antara mereka unik, yaitu saudara lain ayah dan lain ibu.

Wallahu a’lam bishshawab

APAKAH BAYI YANG DALAM KANDUNGAN MENDAPAT WARISAN

Mohon penjelasan terkait dengan hukum warisan bagi anak yang masih di dalam kandungan. Bagaimana ketentuan hukumnya? Apakah bayi sudah dianggap manusia yang berhak menerima waris atau harus ditunggu dulu kelahirannya?

Jawaban :

Memang ketika yang menjadi ahli waris seorang bayi yang ada di dalam kandugan ibunya, masalahnya akan jadi berbeda dan penghitungan warisnya pun rumit. Hal itu karena keberadaan bayi itu akan sangat mempengaruhi pembagian waris dan hak-hak para ahli waris lainnya.

Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Bayi atau janin yang masih di dalam perut ibunya masih merupakan misteri, sehingga tidak bisa langsung diambil keputusan hukum, kecuali bila sudah lahir nyata ke dunia ini.

  1. Ketidak-jelasan Status Bayi

Setidaknya ada tiga ketidak-jelasan status hukum dari seorang janin atau bayi yang masih berada di dalam rahim ibunya, yaitu :

  1. Nyawa : Hidup Atau Mati

Janin dalam perut ibunya belum bisa dipastikan status hukumnya, apakah akan lahir dalam keadaan hidup, atau sebaliknya atas kehendak Allah. Padahal hidup atau matinya janin itu tentu amat berpengaruh dalam menetapkan hukum.

  1. Jenis Kelamin : Laki-laki atau Perempuan

Janin yang masih ada di dalam rahim ibunya juga tidak jelas status jenis kelaminnya, apakah laki-laki atau perempuan. Walaupun di zaman sekarang sudah ada teknik ultrasonographi (USG) untuk mendeteksi keadaan bayi, termasuk jenis elaminnya, namun dari segi hukum tetap saja masih belum bisa ditetapkan statusnya. Padahal jenis kelamin janin itu nanti akan sangat besar pengaruhnya pada penetapan hukum.

  1. Jumlah : Satu atau Beberapa Orang

Janin yang masih di dalam rahim ibunya juga belum bisa dipastikan jumlahnya. Apakah cuma satu orang atau kembar. Dan kembar pun bisa cuma dua, tetapi bisa juga tiga, empat dan seterusnya.

Padahal jumlah janin itu akan berpengaruh pada pembagian waris buat diri masing-masing janin itu dan juga buat ahli waris yang lain.

  1. Pengaruh Hukum

Semua ketidak-jelasan status di atas akan sangat besar pengaruhnya dalam pembagian waris. Di antaranya, apakah janin itu menerima warisan atau tidak. Dan juga status janin itu juga akan mempengaruhi hak-hak dari ahli waris yang lain. Hak-hak mereka bisa berkurang atau malah sama sekali hilang alias terhijab.

  1. Bayi Menerima Waris atau Tidak

Setelah bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup, bayi itu menjadi ahli waris yang sah. Namun bila bayi itu lahir dalam keadaan mati, maka dia bukan ahli waris sehingga tidak menerima harta warisan.

  1. Ahli Waris Lain Berkurang Haknya

Status hidup atau mati pada diri ahli waris ini besar sekali pengaruhnya dalam penghitungan pembagian waris, khususnya buat ahli waris yang lain. Lahirnya seorang bayi bisa membuat ahli waris yang lain terhijab.

Contoh Pertama : Adik Bayi Mengurangi Jatah Sang Kakak

Misalnya ayah dan ibu telah dikaruniai seorang anak laik-laki. Lalu ayah wafat sedangkan ibu sedang mengandung adik bayi di dalam rahimnya.

Dalam hal ini jatah hak waris anak laki-laki pertama berkurang dengan lahirnya sang adik. Seandainya harta ayah 8 milyar, maka ibu (dalam hal ini sebagai istri) akan mendapat 1/8 bagian, atau sebesar 1 milyar. Sedangkan putera pertama mereka, seharusnya mendapat sisanya, yaitu 7/8 bagian atau senilai 7 milyar.

Namun karena sang adik lahir dalam keadaan hidup, maka dia harus berbagi dua. Maka angka 7/8 itu harus dibagi dua, yaitu masing-masing mendapat 3,5 milyar. Maka hak waris sang kakak menjadi berkurang setengahnya dengan kelahiran yang adik.

Contoh Kedua : Bayi Mengurangi Jatah Ibunya

Seorang suami wafat meninggalkan istri yang sedang hamil, maka hak waris istri bisa 1/8 dan bisa juga 1/4 bagian dari harta suaminya. Harta yang ditinggalkan 8 milyar.

Maka si istri itu mendapat 1/8 bagian, apabila bayi yang lahir itu hidup dan ikut mendapat warisan menjadi far’ waris. Berarti nilainya adalah 1 milyar.

Namun bila bayi tidak lahir atau meninggal dunia, maka keberadaannya dianggap tidak ada. Maka si istri akan menerima 1/4 bagian, yang nilainya 2 milyar.

  1. Ahli Waris Lain Terhijab

Lahirnya seorang bayi bisa membuat ahli waris yang lain terhijab. Contoh kasusnya adalah seorang suami wafat meninggal istri yang sedang mengandung bayi. Saudara dan saudari suami itu akan menerima sebagian dari harta warisan, apabila bayi dalam kandungan si istri meninggal dunia.

Namun bila bayi itu lahir dalam keadaan hidup, bahkan berjenis kelamin laki-laki, maka saudara dan saudari almarhum terhijab alias tertutup haknya dari menerima warisan.

Sedangkan bila bayi itu berjenis kelamin perempuan, maka mereka tetap masih mendapatkan hak waris dari sisanya. Namun tidak sebesar kalau bayi itu tidak dilahirkan.

  1. Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan

Berkaitan dengan hal ini, para pakar faraid menjelaskan hukum-hukum khusus secara rinci dengan menyertakan berbagai pertimbangan demi menjaga kemaslahatan ahli waris yang ada.

Janin dalam kandungan berhak menerima waris dengan memenuhi dua persyaratan:

  1. Bayi Diketahui Keberadaannya Ketika Pewaris Wafat

Bayi tersebut diketahui secara pasti keberadaannya dalam kandungan ibunya ketika pewaris wafat. Syarat pertama ini dapat terwujud dengan kelahiran bayi dalam keadaan hidup. Dan keluarnya bayi dari dalam kandungan maksimal dua tahun sejak kematian pewaris, jika bayi yang ada dalam kandungan itu anak pewaris. Hal ini berdasarkan pernyataan Aisyah radhiyallahuanhu:

“Tidaklah janin akan menetap dalam rahim ibunya melebihi dari dua tahun sekalipun berada dalam falkah mighzal.”

Pernyataan Aisyah tersebut dapat dipastikan bersumber dari penjelasan Rasulullah SAW. Pernyataan ini merupakan pendapat mazhab Hanafi dan merupakan salah satu pendapat Imam Ahmad.

Adapun mazhab Syafi’i dan Maliki berpendapat bahwa masa janin dalam kandungan maksimal empat tahun. Pendapat inilah yang paling akurat dalam mazhab Imam Ahmad, seperti yang disinyalir para ulama mazhab Hambali.

  1. Bayi Lahir Dalam Keadaan Hidup

Syarat kedua adalah bayi itu lahir dalam keadaan hidup ketika keluar dari perut ibunya, sehingga dapat dipastikan sebagai anak yang berhak mendapat warisan.

Dan tanda kehidupan yang tampak jelas bagi bayi yang baru lahir adalah jika bayi tersebut menangis, bersin, mau menyusu pada ibunya, atau yang semacamnya. Bahkan, menurut mazhab Hanafi, hal ini bisa ditandai dengan gerakan apa saja dari bayi tersebut.

Adapun menurut mazhab Syafi’i dan Hambali, bayi yang baru keluar dari dalam rahim ibunya dinyatakan hidup bila melakukan gerakan yang lama hingga cukup menunjukkan adanya kehidupan.

Bila gerakan itu hanya sejenak –seperti gerakan hewan yang dipotong– maka tidak dinyatakan sebagai bayi yang hidup. Dengan demikian, ia tidak berhak mewarisi. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

“Apabila bayi yang baru keluar dari rahim ibunya menangis (kemudian mati), maka hendaklah dishalati dan berhak mendapatkan warisan.” (HR Nasa’i dan Tirmidzi)

Namun, apabila bayi yang keluar dari rahim ibunya dalam keadaan mati, atau ketika keluar separo badannya hidup tetapi kemudian mati, atau ketika keluar dalam keadaan hidup tetapi tidak stabil, maka tidak berhak mendapatkan waris, dan ia dianggap tidak ada.

Wallahu a’lam bishshawab

 

PEMBAGIAN WARIS UNTUK CUCU KETIKA ORANG TUA MEREKA MENINGGAL

Bagaimanakah Pembagian Waris, apabila Ahli Waris meninggal Dunia semua (2 orang) terlebih dahulu sebelum Pewaris Meninggal Dunia, dan salah satu cucunya berbeda keyakinan. Padahal ahli waris memiliki anak (cucu pewaris) masing-masing :

  1. Ahli Waris ke 1 (perempuan) berputra 7 orang, terdiri dari 6 perempuan dan 1 laki-laki, dan salah satunya berbeda agama/ keyakinan (Hindu Bali)
  2. Ahli Waris ke 2 (laki-laki) berputra 3 orang, terdiri dari 2 perempuan dan 1 laki-laki.

Jawaban :

Untuk mudahnya penjelasan ini, izinkan kami menyebut bahwa almarhum itu A. Kedua anaknya adalah B (perempuan) dan C (laki-laki). Lalu B dan C masing-masing juga sudah punya putera puteri, tidak usah kita sebut nama mereka karena tidak terlalu penting.

Sistem pembagian waris syariah Islam menganut asas bahwa orang yang sudah wafat maka haknya dalam menerima harta warisan otomatis gugur. Dan tidak dikenal istilah ahli waris pengganti sebagaimana hukum barat yang kemudian dipaksakan masuk KHI. Dalam Islam tidak ada ceritanya anaknya kok naik derajat menjadi ahli waris pengganti.

Dalam kasus yang di tanyakan ini, ketika B dan C meninggal lebih dulu dari orang tua mereka yaitu A, maka hak sebagai ahli waris B dan C otomatis gugur. Yang tersisa tinggal hubungan kakek-cucu, yang dalam hal ini hubungan antara A dengan putera puteri B dan C.

Penting sekali untuk diketahui, dalam syariat Islam cucu memang termasuk salah satu ahli waris dari kakek. Tapi ada syaratnya, yaitu tidak ada hijab dan hanya cucu lewat jalur anak laki-laki.

  1. Tidak Ada Hijab

Yang dimaksud dengan hijab adalah penghalang. Maksudnya keberadaan ayah atau ibu para cucu menghalangi mereka dari menerima harta warisan dari kakek mereka. Jadi hanya manakala sudah tidak ada lagi hijab atau penghalang antara cucu dengan kakek, baru mereka menerima harta waris dari kakek.

Dalam kasus ini, karena B dan C sudah wafat, maka putera puteri mereka berhak mendapatkan harta waris dari kakek mereka.

  1. Cucu Jalur Anak Laki

Tapi harus dicatat juga bahwa tidak semua cucu merupakan ahli waris dari kakek. Ini poin yang teramat penting dan krusial, serta membedakan antara hukum waris Islam dengan hukum waris sekuler lainnya.

Jadi hanya sebatas cucu lewat jalur anak laki-laki saja yang menjadi ahli waris. Sedangkan cucu lewat jalur anak perempuan, bukan termasuk ahli waris. Maka dalam hal ini, hanya putera puteri C saja yang menjadi ahli waris. Sedangkan putera puteri B bukan ahli waris, karena B berjenis kelamin wanita.

Oleh sebab itulah tidak urusan dengan anak-anak B yang berbeda agama. Benar bahwa ahli waris yang berbeda agama tidak mendapat harta waris. Namun dalam hal ini, walau seandainya dia muslim sekalipun, tetap saja secara hukum waris Islam dia bukan ahli waris. Kesimpulannya, hanya putera puteri C saja yang menjadi ahli waris dari sang kakek A.

Cara Membagi Harta Waris Buat Cucu

Cara pembagian harta waris buat cucu sebenarnya mirip dengan pembagian waris buat anak, khususnya bila ada anak atau cucu laki-alki.

Tentu saja harta pewaris itu harus dikurangi terlebih dahulu bila ada hutang, harta bersama, nadzar, pengurusan jenazah dan wasiat. Setelah itu harta dibagi rata sejumlah cucu, tetapi dengan catatan bahwa tiap cucu laki-laki mendapat jatah untuk 2 cucu perempuan.

Anggaplah A sang kakek meninggalkan harta 4 milyar, maka seorang cucu laki-laki mendapat 2 milyar dan cucu perempuan masing-masing hanya mendapat 1 milyar saja. Adapun para cucu dari jalur B, baik laki-laki atau perempuan, baik muslim atau non muslim, tidak ada satupun yang menerima harta warisan.

Wallahu a’lam bishshawab

Inilah penjelasan Pembagian Harta Warisan Dalam Islam (Selesai)

   far                Setelah kita mengetahui siapa saja yang berhak mendapatkan warisan dari pihak ayah dan ibu, sekarang akan kami jabarkan tentang jumlah pembagian hasil warisan. Perlu diketahui, bahwa dalam pembagian harta warisan, adakalanya ahli waris tersebut ashobah, fardhu dan adakalanya mahjub.

Ashobah adalah hasil yang didapatkan oleh ahli waris dari sisa pembagian harta waris pihak lain (kerabat atau saudara), fardhu adalah hasil pasti yang didapatkan oleh ahli waris, sedangkan mahjub adalah keadaan ahli waris tidak bisa mendapatkan hasil warisan karena terhalang-halangi oleh kerabat atau saudaranya.

Untuk diketahui, bahwa pembagian harta waris sebagaimana diambilkan dari al-Qur’an, diperinci dibawah ini, sekaligus keterangan siapa saja yang berhak mendapatkan bagian tersebut

No Diberikan kepada Banyak Syarat
Suami ½ : (النصف) Tidak bersamaan dengan anak laki-laki dan cucu laki-laki
¼: (الربع) Bersamaan dengan anak laki-laki dan cucu laki-laki
Istri ¼: (الربع) Tidak bersamaan dengan anak laki-laki dan cucu laki-laki
⅛: (الثمن) bersamaan dengan anak laki-laki dan cucu laki-laki
Anak perempuan ½ : (النصف) Apabila sendirian dan tidak bersama anak laki-laki yang menyebabkan ashobah
⅔ (الثلثان) Apabila lebih dari satu dan tidak bersamaan dengan anak laki-laki yang menyebabkan ashobah
عصبة بالغير Apabila bersamaan dengan anak laki-laki yang menyebabkan ashobah secara mutlak
Cucu perempuan

dari anak laki-laki

½ : (النصف) Apabila sendirian, tidak ada anak kandung, dan tidak ada anak laki-laki yang menyebabkan ashobah
⅔ : (الثلثان) Apabila lebih dari satu tidak ada anak kandung, dan tidak ada anak laki-laki yang menyebabkan ashobah
1/6 : (السدس) Apabila berjumlah satu atau lebih, bersama dengan satu anak perempuan, dan tidak ada anak laki-laki yang menyebabkan ashobah
عصبة بالغير
  • Apabila bersama cucu laki-laki dari anak laki-laki yang sama tingkatannya secara mutlak (baik dia mempunyai bagian atau tidak),
  • Apabila bersama dengan cucu laki-laki dari anak laki-laki sebawahnya dan jika dia mempunyai bagian pasti atau tidak
محجوب
  • Apabila bersama dengan anak laki-laki secara mutlak (baik ada anak laki-laki yang mengashobahkan atau tidak, dan baik dia mempunyai bagian pasti atau tidak)
  • Apabila bersama dengan 2 anak perempuan atau lebih dan jika tidak ada laki-laki yang mengashobahkannya.
Saudara kandung perempuan ½ : (النصف) Apabila sendirian, tidak bersama anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki ayah, kakek dan tidak ada saudara laki-laki yang menyebabkannya mendapatkan ashobah
⅔ : (الثلثان) Apabila lebih dari satu, tidak bersamaan dengan anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, ayah, kakek, dan tidak ada saudara laki-laki yang menyebabkannya mendapatkan ashobah
عصبة بالغير Apabila bersama dengan saudara laki-laki, atau kakek disebagian keadaan
عصبة مع الغير Apabila berjumlah satu atau lebih dan bersama dengan anak perempuan  atau cucu perempuan yang berjumlah satu atau lebih
محجوب Apabila bersama dengan anak laki-laki dan cucu laki-laki dari anak laki-laki meskipun tingkatannya sebawahnya atau ayah
Saudara perempuan seayah ½ : (النصف) Apabila sendirian tidak bersama dengan anak, cucu laki-laki dari anak laki-laki, ayah, kakek, saudara laki-laki sekandung secara mutlak, dan tidak ada laki-laki yang mengashobahkanny (saudara seayah)
⅔ : (الثلثان) Apabila lebih dari satu, tidak bersama dengan anak, cucu laki-laki dari anak laki-laki, ayah, kakek, secara mutlak, dan tidak ada laki-laki yang mengashobahkanny (saudara seayah)
1/6 : (السدس) Apabila berjumlah satu atau lebih dan bersama dengan satu saudara perempuan kandung. Karena untuk menyempurnakan bagian ⅔ dengan syarat yang disebutkan dalam bagian ½.
عصبة بالغير Apabila bersama dengan saudara laki-laki seayah atau kakek disebagian keadaan
عصبة مع الغير Apabila berjumlah lebih dari satu atau lebih dan bersama anak perempuan atau cucu perempuan yang berjumlah satu atau lebih
محجوب
  • Apabila bersama ayah, anak laki-laki, cucu laki-laki atau saudara laki-laki sekandung yang berjumlah satu atau lebih
  • Apabila bersama dengan 2 saudara perempuan sekandung dan jika tidak ada saudara laki-laki seayah yang mengashobahkannya
  • Apabila bersama 1 saudara perempuan sekandung dan jika bersama dengan anak perempuan atau cucu perempuan
Ayah 1/6 : (السدس) Apabila bersama dengan anak laki-laki dan cucu laki-laki
1/6 + sisa Apabila bersama dengan anak perempuan dan cucu perempuan dari anak laki-laki
sisa Apabila tidak bersama dengan anak laki-laki dan cucu laki-laki
Ibu ⅓: (الثلث) Apabila tidak bersama anak laki-laki, cucu laki-laki, dan semua saudara secara mutlak
1/6 : (السدس) Apabila bersama dengan anak laki-laki, cucu laki-laki, dan semua saudara secara mutlak
⅓: (الثلث) + sisa Apabila bersama dengan ayah, salah satu dari suami atau istri, serta tidak bersama dengan anak laki-laki, cucu laki-laki dan semua saudara secara mutlak
Anak dari ibu/ saudara seibu ⅓: (الثلث) Apabila lebih dari satu serta tidak ada anak laki-laki, cucu laki-laki, ayah, dan kakek. Untuk bagian anak laki-laki sama dengan bagian anak perempuan.
1/6 : (السدس) Apabila sendirian serta tidak ada anak laki-laki, cucu laki-laki, ayah, dan kakek
محجوب Apabila bersama anak laki-laki, cucu laki-laki, ayah, dan kakek.
Kakek ⅓: (الثلث) Apabila bersama dengan saudara laki-laki yang selain se-ibu dan tidak mempunyai bagian pasti
1/6 : (السدس) Apabila bersama dengan anak laki-laki, cucu laki-laki, dan tidak bersama dengan ayah
⅓: (الثلث) + sisa Apabila bersama dengan saudara laki-laki selain se-ibu dan mempunyai bagian pasti
1/6 : (السدس) + sisa Apabila bersama dengan anak perempuan atau cucu perempuan dan tidak bersama dengan ayah
sisa Apabila tidak bersama dengan anak laki-laki, cucu laki-laki dan ayah
محجوب Apabila bersama bapak
  Catatan: pembagian diatas berlaku bagi kakek apabila tidak bersamaan dengan saudara laki-laki secara mutlak. Bila bersama dengan saudara laki-laki, maka bagi kakek bisa memilih antara 3 bagian, 1/6, ⅓ sisa, dan muqosamah
Nenek 1/6 : (السدس) Apabila berjumlah satu atau lebih dan tidak ada ibu
محجوب Apabila bersama ibu secara mutlak
  Catatan:

  • nenek se-ibu yang dekat bisa menghalangi nenek yang jauh secara mutlak, baik se-ayah atau se-ibu
  • nenek se-ayah yang dekat hanya bisa menghalangi nenek se-ayah yang jauh.

Dari uraian diatas, dapat kita simpulkan bahwa dalam permasalahan warisan, ada pihak-pihak yang bisa mendapatkan harta warisan secara langsung dan yang tidak. Sebagaimana table dibawah ini.

Golongan yang bisa

mendapatkan warisan dari segala arah

Ibu Anak perempuan
Ayah Suami
Anak laki-laki Istri
Golongan yang bisa mendapatkan

waris dari bagian yang pasti dan dari ashobah

Ayah Cucu perempuan
Kakek Saudara se-kandung
Anak perempuan Saudara perempuan se-ayah
Golongan yang bisa mendapatkan

waris dari bagian yang pasti saja

Saudara laki-laki se-ibu Ibu
Saudara perempuan se-ibu Nenek dari ibu
Suami Nenek dari ayah
Istri
Golongan yang bisa

mendapatkan waris dari ashobah saja

Anak laki-laki Paman dari ayah dan ibu
Cucu laki-laki Paman dari se-ayah
Saudara sekandung Anak paman dari sekandung
Saudara se-ayah Anak paman dari se-ayah
Anak dari saudara se-kandung Orang laki-laki yang memerdekakan
Anak dari saudara se-ayah Orang perempuan yang memerdekakan

Demikianlah sedikit pengetahuan tentang pembagian harta warisan yang terdapat dalam agama islam, dan perlu diketahui bahwa dalam al-Qur’an menyebutkan, untuk pembagian harta warisan perhitungan yang digunakan adalah ½, ¼, ⅛, ⅔, ⅓, dan 1/6.  Semoga sedikit pengetahuan ini bisa membawa kita dalam pertolongan dan perlindungan alloh swt, serta memasukkan kita dalam golongan sholih-sholihin. Amin.

Selesai.

Inilah penjelasan Pembagian Harta Warisan Dalam Islam

far

                  Segala puji bagi Alloh SWT, dzat yang Maha Dahulu, Kekal untuk selamanya, yang telah memberikan rizqi kepada seluruh makhlukNya. Sholawat beserta salam, semoga selalu tercurahkan kepada beliau Nabi terpilih, Nabi Muhammad SAW. Makhluk paling mulya dimuka bumi. Dan semoga tercurahkan juga kepada keluarga beliau dan para sahabat beliau. Amin.

Wa ba’du… ilmu pengetahuan adalah suatu hal yang membedakan antara orang yang mengerti dan yang tidak mengerti, sebagaimana sabda Alloh swt.

هل يستوى الذين يعلمون والذين لا يعلمون

“tidaklah sama diantara orang-orang yang mengerti dan yang tidak mengerti”

Dan juga sabda beliau Nabi Muhammad SAW.

لاحسد إلا فى إثنين رجلٍ أتاه الله مالا فسلطه على هلكته فى الخير, ورجلٍ أتاه الحكمة فهو يقضى ويعلمها النّاس.

ومن يردالله به خيرا يفقهه فى الدين.

“ Tidak ada keinginan yang paling diinginkan oleh seseorang, kecuali dari dua hal, yaitu seorang laki-laki yang telah diberikan rizqi atau harta oleh Alloh kemudian menggunakan harta tersebut untuk kebajikan, dan seorang laki-laki yang diberikan ilmu kemudian dia mengambil suatu putusan hukum dengan ilmu tersebut dan mengajarkankan ilmu tersebut kepada masyarakat luas”

“Barang siapa yang dikehendaki oleh Alloh untuk kebaikan, maka Alloh akan memberinya kefahaman dalam ilmu agama”

Selanjutnya, salah satu ilmu yang paling mulya adalah ilmu tentang pembagian harta waris, yang dalam ilmu tersebut dijelaskan tentang siapa saja yang berhak untuk mendapatkan harta warisan, dan berapa bagian harta warisan yang bisa diterima. Ilmu pembagian harta waris pada saat sekarang sudah sangat langka digunakan, dikarenakan masyarakat sekarang lebih memilih untuk membagi harta waris secara adil kepada seluruh penerima harta warisan. Hal tersebut bukanlah bertentangan dengan ajaran beliau nabi, karena dalam pembagian harta waris yang lebih diutamakan adalah untuk kemaslahatan dalam membagi dan menggunakan harta warisan tersebut.

Dalam pembagian harta waris, pertama kali yang harus dilaksanakan adalah dengan menggunakan harta peninggalan orang yang telah meninggal untuk melunasi harta yang telah digadaikan, melunasi hutang piutang dan biaya untuk merawat jenazah.

Setelah semua dipenuhi, baru sisa dari harta warisan dibagikan kepada ahli waris sebanyak1/3 bagian dari harta peninggalan. Sedangkan yang lainnya untuk kemaslahatan agama.

Tidak semua  ahli waris bisa mendapatkan bagian dari harta warisan, oleh karena itu sebelum kita melanjutkan kedalam pembagian harta warisan, alangkah baiknya kita mengetahui rukun, syarat dan siapa saja yang berhak mendapatkan harta waris tersebut.

Seseorang bisa mendapatkan harta waris, tidak bisa dilepaskan dari tiga hal berikut ini. Yang pertama sifat kekerabatan atau saudara, yang kedua dikarenakan pernikahan dan yang terakhir “wala’”, wala’ adalah hubungan antara hamba (budak) dan tuannya.

Kemudian kita juga harus mengetahui rukun-rukun dalam permasalahan warisan, yang kesemuanya ada tiga, pertama mayit (مُوَرَّثٌ), ahli waris (وَارِثٌ), dan harta yang diwariskan (مَوْرُوْثٌ). Ketiga rukun tersebut saling berkaitan dan tidak bisa dilepaskan.

Syarat-syarat seseorang bisa mendapatkan harta waris juga ada tiga, pertama sudah dipastikan meninggalnya orang yang akan diwaris hartanya atau dianggap sudah meninggal, seperti orang hilang atau tidak diketahui keberadaannya. Kedua, adanya ahli waris, dan ketiga, wujudnya harta yang akan diwaris.

Dalam permasalahan harta waris, kita juga harus mengetahui siapa saja yang berhak untuk mendapatkan harta waris tersebut. Karena tidak semua kerabat, saudara, dan anak cucu bisa mendapatkan jatah warisan. Berikut ini kami cantumkan daftar siapa saja yang berhak untuk mendapatkan warisan dan berapa bagian yang akan diterimanya.

  • Daftar ahli waris secara singkat
No Ahli waris dari pihak laki-laki No Ahli waris dari pihak perempuan
Anak laki-laki Nenek
Cucu laki-laki Ibu
Bapak Anak perempuan
Kakek Cucu perempuan dari anak laki-laki
Saudara laki-laki Saudara perempuan
Sepupu Istri
Paman Orang perempuan yang

memerdekakan hambanya

Anak dari paman
Suami
Orang  laki-laki yang

memerdekakan hambanya

Nb:

  • Andaikan semua ahli waris dari pihak laki-laki ada, maka yang berhak mewaris hanya tiga orang, yaitu suami, bapak dan anak laki-laki.
  • Dan apabila semua ahli waris dari pihak perempuan ada, maka yang berhak mewaris hanya lima orang, yaitu anak perempuan, cucu perempuan dari anak laki-laki, ibu, istri dan saudara perempuan sekandung.

  • Daftar ahli waris secara lengkap
No Ahli waris dari pihak laki-laki No Ahli waris dari pihak perempuan
Anak laki-laki Nenek dari ayah
Cucu laki-laki Nenek dari ibu
Bapak Ibu
Kakek Anak perempuan
Saudara laki-laki sekandung Anak perempuan dari saudara laki-laki
Saudara laki-laki dari ayah Saudara perempuan dari ayah ibu
Saudara laki-laki dari ibu Saudara perempuan dari ayah
Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung Saudara perempuan dari ibu
Anak laki-laki dari saudara laki-laki se-ayah Istri
Paman dari ibu dan ayah Orang perempuan yang

memerdekakan hambanya

Paman dari ayah
Sepupu dari ibu dan ayah
Sepupu dari ayah
Suami
Orang  laki-laki yang

memerdekakan hambanya

Bersambung..

Diambilkan dari kitab ‘iddatul faridh fi al-‘ilmi faraaidh

 

PENJELASAN TENTANG WASIYAT WAJIBAH KAITANYA DENGAN WARISAN

      MAS           Beberapa waktu lalu Mahkamah Agung (MA) memenangkan gugatan seorang anak non muslim untuk mendapatkan bagian harta warisan orang tuanya (muslim) yang telah meninggal dunia. Dia mendapat warisan sebanyak bagian warisan saudara-saudara kandungnya yang muslim. MA memenangkan dengan alasan Wasiat Wajibah, padahal di tingkat Pengadilan Agama anak non muslim tersebut tidak mendapat bagian warisan dari keluarganya yang masih muslim.

Pertanyaan:

  1. Apa yang dimaksud Wasiat Wajibah?
  2. Apakah adanya wasiat itu bisa diputuskan oleh orang lain atau pengadilan? Sementara si orang tua tidak pernah mewasiatkan sesuatu kepada anak-anaknya atau orang lain?
  3. Bila keputusan itu bertentangan dengan ajaran agama Islam, siapa yang berdosa?

Jawab:

  1. Menurut Jumhurul Ulama dari para Imam madzhab empat menganggap bahwa wasiat itu pada dasarnya hukumnya adalah sunnah. Namun sebagian ulama dari kalangan madzhab Hanbali ada yang menyatakan bahwa ada wasiat yang hukumnya wajib yaitu wasiat yang diperuntukkan orang tua atau kerabat yang tidak dapat mewaris karena terhalang atau ada faktor yang menyebabkan seseorang tidak dapat mewarisi. Pendapat kedua ini kemudian diadopsi oleh Undang-Undang Mesir dan Syiria, sementara dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia wasiat wajibah ini dibelokkan pada anak angkat (pasal 209) yang dalam hukum Islam sebenarnya tidak mungkin diberi warisan dan tidak wajib di beri wasiat. Untuk lebih lengkap baca “Wasiat Wajibah dan Pergantian Waris” oleh KH. Hasyim Abbas pada AULA edisi April 1993.

Dasar Pengambilan:

الفقه الإسلام وأدلته جز 8 ص 122

بُيِّنَتْ أَنَّ الوَصِيَّةَ لِلأَقَارِبِ مُسْتَحبَّةٌ عِنْدَ الجُمْهُور مِنْهُمْ أَئِمَّةُ المَذَاهِبِ الأَرْبَعَةِ وَلاَ تَجِبُ عَلَى الشَّخْصٍ إِلاَّ بِحَقٍّ للهِ أَوْ لِلْعِبَادِ. وَيَرَى بَعضُ الفُقَهَاءِ كَابْنِ حَزْمٍ الظَّاهِرِى وَأَبِى بَكْرٍ بْنِ عَبْدِ العَزِيْز مِنَ الحَنَابِلَةِ: أَنَّ الْوَصِيَّةَ وَاجِبَةٌ دِيَانَةٌ وَقَضَاءٌ لِلْوَالِدَيْنِ وَالأَقْرَبِيْنَ الذِيْنَ لاَ يَرِثُونَ لِحَجْبِهِمْ عَنِ المِيْرَاث… إِلَى أنْ قَالَ: وَقَدْ أَخَذَ القَانُونُ المِصْرِ وَالسُّوْرِىِّ بِالرَّأيِ الثَانِى.

“…Telah dijelaskan bahwa wasiat kepada kerabat itu adalah disunnatkan menurut jumhur ulama’. Di antara mereka itu adalah para imam madzhab empat. Wasiat itu tidak wajib bagi seseorang kecuali sebab hak dari Allah atau bagi para para hamba Allah. Sebagian ahli fiqih, seperti Ibnu Hazm Adh-Dhahiri dan At-Thobari dan Abu Bakar bin Abdil Aziz dari ulama’ madzhab Hambali berpendapat bahwa wasiat itu adalah kewajiban agama dan pembayaran kewajiban bagi kedua orang tua dan para kerabat yang tidak dapat mkarena terhalang dari mewarisi …sampai ucapan pengarang: “Undang-undang Mesir dan Suriah teelah mengambil pendapat yang kedua.

  1. Wasiat wajibah ini tidak membutuhkan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam wasiat biasa, karena wasiat wajibah ini tidak membutuhkan ijab kabul. Wasiat wajibah dalam hal ini seperti warisan dan dijalankan sebagaimana pembagian waris.

الفقه الإسلام وأدلته جز 8 ص 123

وَبِمَا أَنَّ هَذِهِ الوَصِيَّةَ لاَ تَتَوَافَرُ لهَا مَقُومَاتُِ الوَصِيَةِ الإِخْتِيَارِيَّةِ لِعَدَمِ الإِيْجَابِ مِنَ المُوصِي وَالقَبُولِ مِنَ المُوصَى لَهُ فَهِيَ أَشْبَهَ بِالمِيْرَاثِ فَيُسْلَكُ فِيْهَا مَسْلَكُ المِيْرَاثِ. فَيُجْعَلُ للذَّكَرِ مْثْلُ حَظِّ الأُنْثَيَينِ, وَيَحْجُبُ الأَصْلُ فَرْعَهُ , وَيَأْخُذُ كُلَّ فَرْعٍ نَصِيْبَ أَصْلِهِ

Dan karena wasiat ini tidak memenuhi keteentuan-ketentuan wasiat yang dilakukan secara sukarela karena ketiadaan ijab dari orang yang memberi wasiat dan tidak ada qabul dari orang yang menerrima wasiat, maka wasiat wajibah ini menyerupai pembagian warisan; sehingga diperlakukan seperti perlaakuan warisan, yaitu bagi laki-laki mendapat bagian dua kali dai bagian perempuan dan ahliwaris yang asal menutupi cabangnya. an setiap cabang mengambil bagian dari asalnya saja.

  1. Secara substansial ketetapan hukum MA ini tidak keliru karena sesuai dengan madzhab Hanbali, tetapi ketetapan ini menjadi perlu dipertanyakan karena diputuskan pada orang yang bermadzhab Syafii yang tidak mengakui adanya wasiat wajibah.