MAKSUD HADITS TIDAK SAH SHOLATNYA WANITA YANG SUDAH HAIDL

لاتصح صلاة حائض الابخمار

Hadits ini bermakna kinayah atau majas, yang dimaksud al-haidl, bukanlah wanita yang sedang haidl, namun yang dimaksud di sini adalah perempuan yang sudah mencapai usia haidl atau wanita yang telah mencapai usia baligh. Berikut teks lengkap haditsnya :

[سِتْر الْعَوْرَة فِي الصَّلَاة]

[وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ حَائِضٍ] الْمُرَادُ بِهَا الْمُكَلَّفَةُ، وَإِنْ تَكَلَّفَتْ بِالِاحْتِلَامِ مَثَلًا، وَإِنَّمَا عَبَّرَ بِالْحَيْضِ نَظَرًا إلَى الْأَغْلَبِ [إلَّا بِخِمَارٍ بِكَسْرِ الْخَاءِ الْمُعْجَمَةِ آخِرُهُ رَاءٌ؛ هُوَ هُنَا مَا يُغَطَّى بِهِ الرَّأْسُ وَالْعُنُقُ رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا النَّسَائِيّ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ، وَأَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَالْحَاكِمُ وَأَعَلَّهُ الدَّارَقُطْنِيُّ، وَقَالَ: إنَّ وَقْفَهُ أَشْبَهُ، وَأَعَلَّهُ الْحَاكِمُ بِالْإِرْسَالِ، وَرَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الصَّغِيرِ وَالْأَوْسَطِ مِنْ حَدِيثِ ” أَبِي قَتَادَةَ ” بِلَفْظِ: «لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْ امْرَأَةٍ صَلَاةً حَتَّى تُوَارِيَ زِينَتَهَا، وَلَا مِنْ جَارِيَةٍ بَلَغَتْ الْمَحِيضَ حَتَّى تَخْتَمِرَ» وَنَفْيُ الْقَبُولِ الْمُرَادُ بِهِ هُنَا نَفْيُ الصِّحَّةِ وَالْإِجْزَاءِ؛ وَقَدْ يُطْلَقُ الْقَبُولُ وَيُرَادُ بِهِ كَوْنُ الْعِبَادَةِ بِحَيْثُ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا الثَّوَابُ، فَإِذَا نَفَى كَانَ نَفْيًا لِمَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا مِنْ الثَّوَابِ لَا نَفْيًا لِلصِّحَّةِ،

[الصنعاني ,سبل السلام ,1/197]

Hadits ini menerangkan tentang ketidak-sahannya sholat wanita yang sudah baligh/mukallafah tanpa menutup aurot ( tidak menggunakan mukena atau rukuh ).

Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi juga dijelaskan :

باﺏ ﻣﺎ ﺟﺎء ﻻ ﺗﻘﺒﻞ ﺻﻼﺓ اﻟﺤﺎﺋﺾ ﺇﻻ ﺑﺨﻤﺎﺭ

ﻗﻮﻟﻪ ﻻ ﺗﻘﺒﻞ ﺻﻼﺓ اﻟﺤﺎﺋﺾ اﻟﻤﺮاﺩ ﻣﻦ اﻟﺤﺎﺋﺾ ﻣﻦ ﺑﻠﻎ ﺳﻦ اﻟﻤﺤﻴﺾ ﻻ ﻣﻦ ﻫﻲ ﻣﻼﺑﺴﺔ اﻟﻤﺤﻴﺾ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﻣﻤﻨﻮﻋﺔ ﻣﻦ اﻟﺼﻼﺓ ﺇﻻ ﺑﺨﻤﺎﺭ ﺑﻜﺴﺮ اﻟﺨﺎء ﻫﻮ ﻣﺎ ﻳﻐﻄﻰ ﺑﻪ ﺭﺃﺱ اﻟﻤﺮﺃﺓ ﻗﺎﻝ ﻓﻲ اﻟﻘﺎﻣﻮﺱ اﻟﺨﻤﺎﺭ ﺑﺎﻟﻜﺴﺮ اﻟﻨﺼﻴﻒ ﻛﺎﻟﺨﻤﺮ ﻛﻄﻤﺮ ﻭﻛﻞ ﻣﺎ ﺳﺘﺮ ﺷﻴﺌﺎ ﻓﻬﻮ ﺧﻤﺎﺭﻩ ﺟﻤﻌﻪ ﺃﺧﻤﺮﺓ ﻭﺧﻤﺮ ﻭﺧﻤﺮ ﻭﻗﺎﻝ ﻧﺼﻴﻒ ﻛﺄﺳﻴﺮ اﻟﺨﻤﺎﺭ ﻭاﻟﻌﻤﺎﻣﺔ ﻭﻛﻞ ﻣﺎ ﻏﻄﻰ اﻟﺮﺃﺱ اﻧﺘﻬﻰ ﻭاﻟﺤﺪﻳﺚ اﺳﺘﺪﻝ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻮﺏ ﺳﺘﺮ اﻟﻤﺮﺃﺓ ﺭﺃﺳﻬﺎ ﺣﺎﻝ اﻟﺼﻼﺓ

Yang dimaksud al-haidl adalah wanita yang sudah mencapai usia haidl, bukan wanita yang sedang haidl, karena wanita yang sedang haidl tentu dilarang sholat.

Jadi Sholatnya wanita baligh itu tidak sah jika tanpa memakai khimar/kerudung, jilbab dan sejenisnya yang bisa menutupi aurotnya.

Waallohu aa’lam.

Referensi Tambahan :

عون المعبود

لا يقبل الله صلاة حائض الا بخمار

( لا يقبل الله صلاة حائض ) أي لا تصح صلاة المرأة البالغة ، إذا الأصل في نفي القبول نفي الصحة إلا لدليل ، كذا في المرقاة . قال الخطابي : يريد بالحائض المرأة التي بلغت سن الحيض ولم يرد به التي هي في أيام حيضها ، لأن ” الحائض لا تصلي بوجه “

عمدة القاري شرح صحيح البخاري

ففي قوله عليه الصلاة والسلام ” لا يقبل الله صلاة حائض إلا بخمار ” والمراد بالحائض من بلغت سن الحيض ، فإنها لا تقبل صلاتها إلا بالسترة ، ولا تصح ولا تقبل مع انكشاف العورة ، والقبول يفسر بترتب الغرض المطلوب من الشيء على الشيء

كفاية الأخيار

قوله  [ لا يقبل الله صلاة حائض إلا بخمار ] قال الترمذي : حديث حسن وقال الحاكم : هو على شرط مسلم والمراد بالحائض البالغ

SHOHABIYAH YANG MENGADU KEPADA NABI SAW. DAN DI BELA ALLOH SWT.

Keinginan Khaulah RA sempat tak akan dipenuhi oleh Rasulullah. Hingga akhirnya ia sesumbar mengadukan masalah itu kepada Allah.

Adalah Khaulah binti Tsa’labah, seorang sahabat perempuan yang memiliki paras cantik nan jelita. Ia diperistri oleh seorang laki-laki bernama Aus bin As-Shamit.

Satu ketika sang suami, Aus bin As-Shamit, melihat sang istri sedang melakukan shalat di rumahnya. Selama sang istri dalam shalatnya Aus terus memandanginya dari arah belakang. Ia sungguh terkesan dengan keindahan tubuh istrinya. Terlebih ketika Khaulah sedang bersujud, bagian belakang tubuhnya membuat Aus menginginkan istrinya.

Maka ketika sang istri selesai dari shalatnya Aus mengajaknya untuk melakukan hubungan suami istri, namun Khaulah menolak. Atas penolakan ini Aus marah besar hingga akhirnya keluar kalimat yang menjadikan Khaulah tertalak. Kepadanya dengan emosi Aus mengatakan, “Bagiku engkau laksana punggung ibuku!” (Dalam tradisi masyarakat Arab kala itu, menyamakan istri dengan punggung ibu suami adalah cara suami untuk menceraikan istrinya, red).

Syekh Nawawi Banten memiliki catatan tersendiri yang perlu diketahui perihal perilaku seksnya Aus. Disebutkan bahwa Aus berhasrat terhadap perempuan dan menginginkan menggaulinya dengan cara yang tidak semestinya perempuan digauli. Karenanya Khaulah menolak permintaannya itu. Atas penolakan ini Aus marah dan mengatakan, “Bila kamu keluar dari rumah sebelum aku melakukannya denganmu, maka bagiku engkau seperti punggung ibuku.”

Usai mengucapkan kalimat itu Aus menyesalinya. Ia paham bahwa dengan kalimat seperti itu sama saja ia menceraikan istrinya. Pada saat itu, di masa Jahiliyah, belum ada hukum dhihar. Kalimat dhihar seperti itu masih dianggap dan dihukumi sebagai talak.

Adapun Khaulah pun tak terima bila ia dicerai oleh suaminya. Maka serta merta ia mendatangi Rasulullah. Kepada beliau ia sampaikan, “Aus menikahiku saat aku masih gadis yang disukai banyak lelaki. Kini setelah aku tua dan memiliki banyak anak, ia menyamakanku dengan ibunya (baca: menceraikan). Aku memiliki anak-anak yang masih kecil. Kalau mereka aku serahkan kepada Aus, mereka akan tersia-sia. Tapi kalau mereka aku yang mengurus, mereka akan kelaparan.”

Dengan aduan itu Khaulah berharap agar Rasulullah tidak menghukumi talak atas hubungan perkawinannya dengan Aus. Namun Rasulullah tetap menghukumi talak atas ucapan Aus tersebut. Khaulah masih belum mau menerima. Ia bersikeras, “Rasul, demi Allah ia tidak mengatakan kalimat talak. Dia itu bapaknya anak-anakku. Dia itu orang yang paling aku cintai.”

Namun Rasulullah tetap bersikeras menghukumi talak atas Khaulah dan Aus. “Engkau haram baginya,” kata beliau. Tapi Khaulah tetap tidak mau terima. Terjadilah perdebatan di antara keduanya. Khaulah bersikeras untuk tidak mau dihukumi talak, sementara Rasulullah tetap dengan pendiriannya.

Sebagaimana diketahui, bahwa setiap kali ada permasalah yang disampaikan oleh para sahabat kepada Rasulullah, maka beliau tidak akan menghukumi kecuali setelah adanya wahyu dari Allah. Pun demikian dengan kasus Khaulah ini. Karena tidak ada wahyu yang turun menyangkut kasus tersebut, maka beliau tetap menghukumi talak dan tidak menerima permintaan Khaulah untuk memutuskan hukum yang lain.

Melihat kenyataan bahwa keinginannya tak akan dipenuhi oleh Rasulullah, Khaulah tak berputus asa. Kepada Rasul ia katakan, “Baiklah, akan aku adukan masalah ini kepada Allah!”

Maka kemudian Khaulah menengadahkan kepalanya ke arah langit. Dengan suara lantang ia berseru, “Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu. Turunkanlah solusi bagi masalahku ini melalui lisan Nabi-Mu!” Ia terus mengadukan masalahnya kepada Allah.

Di saat seperti itulah wajah Rasulullah terlihat berubah. Kepada beliau turun ayat yang menghukumi bahwa masalah Khaulah dan suaminya itu adalah masalah dhihar, bukan talak. Seorang suami yang men-dhihar istrinya dan berkeinginan untuk mencabut ucapannya itu, maka ia tidak boleh menggauli istrinya kecuali setelah memerdekakan seorang budak. Bila tidak mampu memerdekakan budak, maka berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Dan bila tidak mampu, maka memberi makan kepada enam puluh orang miskin.

Ayat dimaksud yang turun atas permasalah Khaulah ini adalah ayat 1 – 4 dari surat Al-Mujadilah. Allah berfirman:

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ (١) الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْكُمْ مِنْ نِسَائِهِمْ مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ (٢) وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (٣) فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ذَلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٤)

Artinya: “Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. Orang-orang di antara kamu yang menzihar istrinya, (menganggap istrinya sebagai ibunya, padahal) istri mereka itu bukanlah ibunya. Ibu-ibu mereka hanyalah perempuan yang melahirkannya. Dan sesungguhnya mereka benar-benar telah mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun. Dan mereka yang menzihar istrinya, kemudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan, maka (mereka diwajibkan) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepadamu, dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Maka barangsiapa tidak dapat (memerdekakan hamba sahaya), maka (dia wajib) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Tetapi barangsiapa tidak mampu, maka (wajib) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang yang mengingkarinya akan mendapat azab yang sangat pedih.”

Demikianlah Khaulah binti Tsa’labah. Perempuan dari kalangan sahabat yang tidak saja mengadukan permasalahannya kepada Rasul tetapi juga kepada Allah. Sahabat perempuan yang aduannya didengar dan dikabulkan oleh Allah, dan karenanya terbentuklah hukum dhihar dalam syari’at Islam.

Kisah ini banyak ditulis oleh para ulama tafsir dalam berbagai kitab mereka. Di antaranya oleh Syekh Nawawi Banten dalam kitab Al-Munȋr li Ma’ȃlimit Tanzȋl (Beirut: Darul Fikr, 2007, II: 405).

Imam Al-Qurthubi dalam kiab tafsirnya Al-Jȃmi’ li Ahkȃmil Qur’ȃn menuturkan sebuah cerita. Satu saat Sayidina Umar bin Khatab bersama beberapa orang berkendara menunggangi khimar. Dalam perjalanannya mereka bertemu dengan Khaulah binti Tsa’labah. Khaulah kemudian menghentikan perjalanan Umar bin Khatab dan teman-temannya.

Kepada khalifah kedua itu Khaulah kemudian memberikan banyak nasihat dan didengarka dengan seksama oleh Umar. Ia berkata, “Wahai Umar, engkau dahulu diundang dengan Umair, lalu kau dipanggil Umar, dan kini engkau diundang dengan sebutan Amirul Mukminin. Takutlah engkau kepada Allah, wahai Umar! Sesungguhnya orang yang yakin dengan kematian, maka ia takut kehilangan. Orang yang yakin dengan hisab, ia takut pada azab.”

Umar bin Khathab terus mendengarkan nasihat Khaulah, hingga ada yang mengatakan kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau berhenti hanya untuk mendengarkan ucapan perempuan tua ini?”

Mendengar ucapan tersebut Umar bin Khathab menjawab, “Demi Allah, seandainya perempuan ini menahanku dari awal hingga akhir siang, aku tak akan berhenti mendengarkannya kecuali untuk melakukan shalat maktubah. Tidakkah kalian mengenal siapa perempuan ini? Dia adalah Khaulah binti Tsa’labah. Allah telah mendengarkan ucapannya dari atas tujuh langit. Bila Tuhan semesta alam mau mendengarkan ucapannya, pantaskah bila Umar tak mau mendengarnya?” (Lihat: Muhammad Al-Qurthubi, Al-Jȃmi’ li Ahkȃmil Qur’ȃn, [Kairo: Darul Hadis, 2010, jil IX, juz XVII: 223). Wallahu a’lam.

FIQH WANITA : KITAB RISALATUL MAHIDL(MASALAH HAIDL) LENGKAP


ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺍﻟﺬﻯ ﺃﻧﺰﻝ ﺍﻟفرﻓﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻋﺒﺪﻩ ﻓﻴﻪ ﻳﺴﺌﻠﻮﻧﻚ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺤﻴﺾ . ﻗﻞ ﻫﻮ ﺃﺫﻯ ، ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﺍﻟﻘﺎﺋﻞ : ﻫﺬﺍﺷﺊ ﻛﺘﺒﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺑﻨﺎﺕ ﺍﺩﻡ ﻭﺍﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﺍﻟﻰ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺪﻳﻦ

Segala puji hanya milik Allah semata, yang telah menurunkan Al Quran pada hambanya yang didalamnya terdapat firmanny yang berbunyi ” Mereka menanyakan padamu ( Nabi Muhammad)tentang darah chaidl,jawablah bahwa chaidl adalah darah kotor.
Sholawat dan salam mudah2han senantiasa tercurah limpahkan pada Nabi yang bersabda “Chaidl adalah darah yang telah Allah taqdirkan pada wanita keturunan Nabi Adam ” dan mudah2han juga terlimpahkan pada keluarga,sahabat Nabi sampai hari pembalasan.

BAB .1. CHAIDL
A.Definisi Chaidl .

ﺍﻣﺎ ﺑﻌﺪ : ﻓﺎﻟﺤﻴﺾ ﻫﻮ ﺍﻟﺪﻡ ﺍﻟﺨﺮﺝ ﻓﻰ ﺳﻦ ﺍﻟﺤﻴﺾ ﻭﻫﻮ ﺗﺴﻊ ﺳﻨﻴﻦ ﻗﻤﺮ ﻳﺔ ﻣﻦ ﻓﺮﺝ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﺼﺤﺔ ﻭﻣﺎ ﺩﻭﻧﻪ ﻓﻬﻮ ﺩﻡ ﻓﺴﺎﺩ ،إهى( حاشية الباجوري على ابن القاسم الغزي ج ١ ص ١٠٨)

Definisi chaidl berdasrkan terminologi fiqh adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita ( otot pangkal rahim) karena pembawaannya ,artinya bukan karena sakit atau melahirkan, serta keluarnya diusia Chaidl( yakni minimal usia 9 tahun kurang 15hari 23jam 59 menit 59 detik) sedangkan darah yang keluar diselain masa2chaidl adLah darah fasad ( rusak) .

APAKAH ORANG HAMIL MENGALAMI MENSTRUASI ??
.
Ulama berbeda pendapat dalam memberikan hukum darah yang di keluarkan oleh wanita hamil:
@ Menurul qoul Ashoh dari syafiiyah dan malikiyah, darah yang ia keluarkan dihukumi Chaidl jika memenuhi kriterianya.
@ Menurut muqobilul Ashoh ,menyatakan bahwa darah yang di keluarkN bukanlah haid.

Referensi :
الفقه الإسلامي وأدلته ج١ ص ٥٢٥ دار الفكر
وهل تحيض الحامل? للفقهاءفيه رأيان
فذهب الملكية ,والشافعية في الاظهرالجديد: إلى ان الحامل قد تحض , وقد يعتريها الدم أحيانا ولو في اخر ايام الحمل , والغالب عدم نزول الدام بها, ودليلهم اطلاق الاية السابقة, والأخبار الدالة على ان الحيض من طبيعة المرأة, ولأنه دم صادف عادة , فكان حيضا كغير الحامل. وذهب الحنفية والحنابلة : إلى أن الحامل لا تحبض, ولو قبل خروج أكثر الولد عند الحنفية , أما عند الحنابلة : فما تراه قبل ولادتها بيومين أو ثلاثة , يكون دم نفاس. ودليلهم : قول النبي صلى الله عليه وسلم في سبي أو طاس (( لاتوطأ حامل حتى تضع, ولا غير ذات حمل حتى تحيض)) فجعل وجود الحيض علما على براءة الرحم, فدل على أنه لا يجتمع معه. وقال صلى الله عليه وسلم فى حق ابن عمر – لما طلق زوجته وهي حائض- ((ليطلقها طاهرا,أو حاملا)) فجعل علما على عدم الحيض, كما جعل الطهر علما على الحيض ولأنه زمن لا تعتاد المرأة فيه الحيض غالبا , فلم يكن ما تراه فيه حيضا كا لآ يسة . والطب والواقع يؤيد هذا الرأي . و عليه : لا تترك الحامل الصلاة لما تراه من الدم , لأنه دم فساد , لا حيض, كما لا تترك الصوم والا عتكاف والطواف ونحوها من العبادات , ولا يمنع زوجها من وطئها; لأنها ليس حئضا , وتغسل الحامل إذا رأت دما زمن حملها عند انقطاعه استحبابا, خروجا من الخلاف

B. USIA CHAIDL
Darah yang keluar dari rahim wanita , bisa dikategorikan darah Chaidl jika keluar di usia Chaidl. Sehingga jika keluarnya darah sebelum usianya ,maka statusnya bukanlah darah Chaidl namun darah fasad( rusak )
@ 1thn qomariyah ( Hijriyah) adalah 354 hari lebih 8 jam lebih 48 menit
@ 1thn Syamsiah ( Masehi) adalah 365 hari lebih 5jam lebih 49 mnit.
@ Usia Chaidl kurang lebih 3174 hari ( 1thn qomariyah dikalikan 9 thn -15hari (masa yang tidak muat terhadap minimal Chaidl dan minimal masa suci)= kurang lebih 3174 lebih 7 jam 2 menit
Jika seorang wanita mengeluarkan darah sebagian di usia Chaidl( telah berusia 3174 hari) dan sebgian di usia sebelumnya , maka darah yang ia keluarkan di usia Chaidl dihukumi chaidl, sedangkan darah sebelumnya dihukumi darah istihadhoh.

Contoh …

Seorang wanita mengeluarkan darah ketika ia berusia 3170 hari -3180 hari. Maka hukumnya :

Darah yg keluar mulai 3170-3174 adalah darah istihadoh

Darah yang keluar berikutnya adalah darah Chaidl.

Referensiny:

حاشية الجمل على المنهج الجزء الأول ص ٢٣٥-٢٣٦ دار الفكر
(اقل سنه تسع سنين)قمرية(تقريبا)فلو رأت الدم قبل تمام التسع بمالا يسع حيضا وطهرا فهو حيض وإلا فلا. (فرع) لو رأت الدم أياما بعضها قبل زمن الإمكن و بعضهافيه فالقياس كما قال الأسنوي جعل الممكن حيضا . اهى أقول فلو رأت الدم عشرة أيام من أول المشرينالباقية من التاسعة فالخمسة الثانية من العشرة المرتبة واقعة فى زمن الإمكان لأنها مع ما بعدهالا تسع حيضا وطهرا فهي حيض والخمسة الأولى مما ذكر واقعة قبل زمن الإمكان لأنها مع ما بعدها تسع ما ذكر فليست حيضا نعم ينبغي أن يقال بعضها حيض وهو اليوم الأخير بليلتها ناقصا شيأ بحيث يكون الباقي مع ما بعده لا يسع حيضا وطهرا بأن ينقص عن ستة عشر يوم بلياليها وهى أقل الطهر والحيص. ولو رأت دما جميع العشرين التي هي تمام التاسعة فقياس ما ذكر ان يقال الخمسة الأولى مع القدر الذى ينقص به بعدها عن كمال ستة عشر يوما بلياليها دم فساد والباقي بعد ذلك واقع في زمن الإمكان وهو أكثر من أكثر الحيض فيكون بعضه حيضا وبعضه طهرا علما يعلم من أقسام المستحاضة الآتية فإذا كانت مبتدءة غير مميزة فحيصها يوم وليلة من أول ذلك فليحرر اهى سم

STATUS DARAH YANG KURANG DARI 24JAM.
Jika wanita mengeluarkan darah kurang dari 24 jam , maka status darahnya adalah darah fasad bukan chaidl dan bukan istihadhoh. Namun sebenarnya konsekuensiny darah istihadhoh dan darah fasad adalah sama, sehingga dalam permasalahn seperti ini hnyalah khilaf lafdzi.

Referensi :
الترمسي من موهبة ذي الفصل ج ١ ص ٥٤٩
(والإستحاضة دم علة يخرج من عرق فمه في أدنى الرحم ) وقيل هي المتصلة بدم الحيض خاصة (وغيره) أي غير الدم المتصلة بالحيص من الدم الذي تراه سابق ( دم فساد) اي ولا يسمى دم استحاضة , والخلاف لفظي أي إذ لا خلاف في أن دم الفساد المذكور حكمه حكم الإستحاضة اهى

KEWAJIBAN WANITA DISAAT MENGELUARKAN DARAH DI USIA CHAIDL

Jika wanita di usia yang memungkinkan Chaidl mengeluarkan darah, maka ia harus menjalani apa yang semestinya di jalani wNita chaidl, seperti meninggalkan sholat, keharaman bagi suami untuk menjatuhkan talaq, dan lain lain, Karena secara dhohir di saat darah keluar di hukumi Chaidl, Namun jika darah tiba2 berhenti , sementara belum mencapai 24 jam , maka darah yg keluar dihukumi darah fasad. Sebaliknya jika berhentinya darah setelah mencapai 24 jam dan tidak melebihi 15 hari berarti semua darah adalah Chaidl meskipun keluarnya darah dengan beberapa warna.

Referensi :
المهذب الجزء الأول ص ٣٩ طه فوترا
(فصل) إذا رأت المرأة الدم لسن يجوز أن تحيض فيه أمسكت عما تمسك عنه الحائض فإن انقطع لدون اليوم والليلة كان ذلك دم فساد فتتوضأ و تصلي وإن انقطع ليوم وليلة إو لخمسة غشر يوما أو لما بينهما فهو حيض فتغتسل عند انقطاعه سواء كان الدم على صفة دم الحيض أو على غير صفته وسواء كان لها عادة فخالف عادتها أو لم يكن .
KELUARNYA BEBERAPA DARAH DALAM LINGKUP 15 HARI
~ Jika wanita di usia yang memungkinkan Chaidl mengeluarkan darah , dan mencapai 24 jam ,apapun warnany ,baik mubtadiah atau muttadah, semua di hukumi darah chaidl ,asakan tidak melebihi 15 hari.

HUKUM DARAH YANG DIRAGUKAN APAKAH MENCAPAI 24 JAM ATAU BELUM .
~Menyikapi wanita yang Ragu apakah darah yg ia keluarkan mencapai 24 jam atau belum ? Dalam hal ini Imam Romli tidak sependapat dengan Imam Ibnu Hajar. Imam Romli menghukumi Chaidl karena menimbang Asal, bahwa darah yg dikeluarkan oleh wanita adalah darah Chaidl, sebaliknya Imam Ibnu Hajar berpendat bahwa darah yg di keluarkan statusnya bukanlah darah Chaidl.
Referensi :

حاشية الشيخ سليمان الجمل ج ١ ص ٢٤٧ دار الفكر
واما إذا شكت في أنه يبلغ ذلك فهل يحكم عليه بأنه حيض لأنه الأصل فيما تراه أو لا فيه نظر والأقرب الأول لأنهم صر حوا بأنه يحكم على ما تراه المرأة أنه حيض إهى
إثمد العينين ص ١٤ طه فوترا
(مسئلة ) ما شك في بلوغه يوما وليلة من الدم ليس بحيض عند حج وحيض عند م ر قاله في العدد ولومفرقا في خمسة عشر يوما ولو بألوان إهى

C. NAMA-NAMA DARAH CHAIDL
Darah chaidl mempunyai 15 Nama, sebgaimana yang pernah di nadzomkan oleh sebagian Ulama ,melalui Nadzomnya ….

و للحيض خمسة عشراسما نطمها بعضهم بقوله :
للحيض خمسة أسماء وخمستها # حيض محيض مخاض طمث إكبار

طمس عراك فراك مع اذى ضحك

درس دراس نفاس قرء إعصار

Nama2 chaidl adalah
~chaidl,
~machidl,
~mukhodl,
~thomts
~ikbar,
~thoms,
~’irok,
~firok,
~adzaa,
~dlohk,
~dars,
~diros,
~nifas,
~qur’un dan
~ I’shor

D.MAHLUK-MAHLUK YANG MENGELUARKAN DARAH CHAIDL.
Hewan2 yang mengalami Chaidl,menurut sebagian Ulama ada 8 ,seperti dalam Nadzomnya yang berbunyi :

والذي يحيض الحيوانات ثمانية نظمها بعضهم بقوله
يحيض من ذي الروح ضبع مرأة # وأرنب وناقة وكلبة
خفاس الوزعة والحجر فقد # جأت ثمانيا وهذا المعتمد

Hewan bernyawa yang mengalami Chaidl adalah:
√ Dloblu’ ( sejenis anjing hutan /serigalal/Hyena)
√ Wanita
√ Kelinci
√ Onta
√ Anjing
√ Kelelawar
√ Cicak
√ Kuda

Apakah Jin juga mengalami Menstruasi ?
√ Wanita yang mengalami menstruasi secara syar’i hanyalah Manusia dan Jin, sedangkan darah yang keluar dari anjing betina dll ,tidak dihukumi darah chaidl syar’an

Referensi:

حاشية الباجوري على ابن القاسم الغزي ج ١ ص ١٠٨
وشملت المرأة الجنية فحكمها حكم الأدمية على الصحيح وأما غيرها من الحيوانات فلا حيض لها شرعا . إهى

E.WARNA DAN SIFAT DARAH .
ولونه أسود محتدم لذاع و الحاصل أن الأولوان خمية أقواها السواد ثم الحمرة ثم الشقرة ثم الصفرة ثم الكدرة

Warna darah Chaidl ( yang terkuat) adalah Hitam ,dan disaat keluar terasa perih dan sakit, walhasil warna darah ada 5 Sbagaimana urutan berikut:
1.Hitam
2.Merah
3.Merah kekuning kuningan
4.Kuning
5.Keruh

حاشية الباجوري على ابن القاسم الغزي ج ١ص ١٠٨
قوله أسود كان الأول أن يقال السواد لأن الاسود وهو الشئ المتصف بالسواد فا للون ليس باسود وإنما اللون هو السواد ويرد عليه أن لونه لا ينحصر في السواد ويجاب بأن المراد اللون الأقوى أو الأصلي إهى

Mencermati ibarot diatas bisa diambil kesimpulan bahwa maksud darah Chaidl warna hitam adalah darah Chaid yg terkuat atau yang asal . Sehingga tidak mengesampingkan warna warna darah chaidl lain selain warna Hitam.

وأن الصفات غير الألوان أربعة الثخين أو النتن أو هما أو التجرد عنهما فالأسود الثخين أقوى من غير الثخين والمنتن منه أقوى من غير المنتن والثخين المنتن أقوى من الثخين فقط او المنتن فقط وكذا يقال في بقية الألون وإن استوت الصفات كأسود رقيق وأحمر ثخين قدم السابق منهما لقوته بالتقدم.

Sedangkan sifat darah selain warna adalah
√KENTAL,
√BERBAU ANYIR,
√KENTAL DAN BERBAU ANYIR,
√TIDAK BERBAU DAN TIDAK KENTAL
Dari keterangan tersebut bisa ditarik kesimpulan :
@ Darah hitam kental lebih kuat dibandingkan darah yg hitam dan tidak kental
@ Hitam berbau lebih kuat daripada hitam tidak berbau anyir
@ Hitam kental dan berbau Anyir lebih kuat dibandingkan Hitam yang hanya kental saja . Atau hitam berbau Anyir saja.
Bgitupun juga dg kemungkinan2 darah lain selain hitam.
Jika sifat2 darah yang di keluarkan sama ( dari segi kuat dan lemahnya ) , sperti hitam tidak kental ( encer) dengan merah kental , maka yang dijadikan acuan dalam menghukumi Chaidl adalah yang keluar terlebih dulu ( yg awal)

Tanbih :
Fungsi mengetahui kuat dan lemahnya darah adalah untuk menentukan masa Chaidl disaat terjadi istihadhoh.

F. MINIMAL CHAIDL
Minimal darah chaidl adalah satu hari satu malam atau 24 jam jika keluarnya terus menerus ( mulai dari subuh sampai subuh) , hal ini semata karena tidak mungkin bisa tercapai minimalny Chaidl saja ( tanpa di embel2li yang lain , misal minimal plus umumnya chaidl,dll) sebab andaikan di selaselani oleh masa berhentinya darah , maka seluruhnya dianggab Chaidl. Degn catatan keluarnya darah tidak melebihi 15 hari serta tidak kurang dr minimal masa chaidl(24jam) . Ketentuan ini berdasarkan qoul shahbi( pendapat muktamad) . Dan menurut qoul laqti masa dimana wanita tidak mengeluarkan darah dianggab suci .
Darah dianggab ittishol (terus menerus) , ukurannya jk dalam vagina diberi kapas , maka pada kapas tersebut masih tampak bercak darah.

ﻭﺃﻗﻞ ﺍﻟﺤﻴﺾ ﺯﻣﻨﺎ ﻳﻮﻡ ﻭﻟﻴﻠﺔ ﺍﻯ ﻣﻘﺪﺍﺭ ﺫﻟﻚ ﻭﻫﻮ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﻭﻋﺸﺮﻭﻥ ﺳﺎﻋﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﺗﺼﺎﻝ ﻣﻌﺘﺎﺩ ﻓﻰ ﺍﻟﺤﻴﺾ ﺍﺫﻟﻮ ﺗﺨﻠﻠﻪ ﻧﻘﺎﺀ ﻓﻜﻞ ﺣﻴﺾ ﺍﺫﺍﻟﻢ ﻳﺠﺎﻭﺯ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻟﻢ ﻳﻨﻘﺺ ﺍﻟﺪﻡ ﻋﻦ ﺍﻗﻞ ﺍﻟﺤﻴﺾ ﻋﻠﻰ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﺴﺤﺐ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﻌﺘﻤﺪ ، ﻭﻗﻴﻞ ﺍﻥ ﺍﻟﻨﻘﺎﺀ ﻃﻬﺮ ﻭﻳﺴﻤﻰ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻠﻘﻂ-المعتاد- اي بحيث يكون لو وضعت قطنة او نحوها لتلوثت- في الحيص

Aqollul Chaidl terklarifikasi menjadi 3:
√ Aqoll Wachdah ( minimal Chaidl yang tidak bersamaan dengan umum dan maksimal chaidl) jika wanita mengeluarkan darah selama 24 jam secara terus menerus ( sperti mulai dari subuh sampai subuh)
√ Aqoll ma’al Gholib ( minimal Chaidl yg disertai umumnya chaidl) jika keluarnya 24 jam secara terpisah dan itu dlam lingkup 6 atau 7 hari.
√ Aqoll ma’al Aktsar ( minimal Chaidl yg disertai dengan paling banyaknya Chaidl) jika keluarnya 24 jam secara terpisah dalam lingkup 15 hari.

حاشية الشيخ سليمان الجمل ج ١ ص ٢٣٧ دار الفكر
(قوله : أي قدرهما متصلا) قيد في تحقق الأقل فقط أي لا يتقور الأقل فقط إلا إذا رأت أربعة وعشرين ساعة على الإتصال وأما لو رأتها متفرفة في أيام لا تكون أقل فقط ولا ينافي هذا قول شيخنا رأت دما متقطعا ينقص كل منه عن يوم وليلة وإإذا جمع بلغ يوما و ليلة على الاتصال فبكون كافيا في حصول أقل الحيض لأن الأقل له صورتان أقل فقط وأقل مع غيره إما مع الغالب أو مع الأكثر ح ل إهى

ULAMA ULAMA YANG MENTASHIH QOUL SAHBI ATAU SEBALIKNYA .
Diantara ulama2 yang memilih qoul sahbi ( hari2 tidak mengeluarkan darah masuk kategori chaidl) adalah : Imam Ghozaliy , Imam Rofi’i ,Imam Mutawalliy, Imam Sarokhsi dan masih banyak ulama2 tersohor lainnya yang lebih cenderung pada pendapat ini. Sedangkan Ulama2 yang memilih qoul talfiq( qoul laqti) adalah Imam Ruyani , Imam Abu Chamid ,Imam Muslim Al-Roziy dan masih banyak Ulama2 lain yang tdk diragukan kealimannya .

الحاوي الكبير للامام أبي الحسن علي ابن محمد بن بن حبيب الماوردي الجزء الاول ص ٥٢٠- ٥٦١ دار الفكر
واختلفوا في الأصح منهما فصحح قول التلفيق الشيخ أبو حامد والبندنجي ولمملي ومسلم الرازي والجرجاني والروياني في الحلية وصاحب البيان وهو اختيار أبي إسحاق المروزي وصحح الأكثرون قول السحب وممث صححه القضاة الثلاثة أبو حامد وأبو الطيب وحسين والسرخسي وأبو علي السنجي والغزالي والمتولي والبغوي والرافعي وهواختيار ابن سريج وقال صاحب الحاوي الذي صرح به الشافعي في كل كتبه أن الجميع حيض إهى
حاشية الباجوري على ابالقاسم الغزي ص ١١١
فلو حاضت امرأة خمسة أيام أو ثلاثة أو ثمانية أو عشرة مثلا لم يكن من الاقل ولا من الاكبر ولامن الاغلب كما قرره بعضهم

G . MAKSIMAL CHAIDL .
Sedangkan maksimal Chaidl adalah 15 hari 15 Malam , sehingga jika darah yang keluar melebihi batasnya, maka status darah kelebihan dari darah yg di hukumi Chaidl adalah darah istihadhoh.

ﻭﺍﻛﺜﺮﻩ ﺧﻤﺴﺔﻋﺸﺮ ﻳﻮﻣﺎ ﺑﻠﻴﺎﻟﻴﻬﺎ ﻓﺈﻥ ﺯﺍﺫ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻓﻬﻮ ﺍﺳﺘﺤﺎﺿﺔ

JADWAL DARAH YANG TERPUTUS PUTUS.
Mubtada’ah disaat darahnya terhenti , maka ia harus menjalankan rutinitas / aktifitas sbagaimana biasanya , baik Sholat,puasa ,atau yg lain dan wajib mandi terlebih dahulu bila darah yg ia keluarkan sudah mencapai 24 jam , kemudian jika darahnya keluar lagi , maka ia harus meninggalkan apa sja yang smestinya ditinggalkan orang Chaidl.
Contoh :
Mubtadiah dihari ke 3 , jam 11:30 darahnya berhenti dan darah yg ia kluarkan sdah mencapai 24 jam , maka ia wajib untuk mandi dan melaksanakan sholat Duhur ,serta kwajiban lain selama darahny belum keluar lgi . Bila darahny keluar lagi ia harus meninggalkan sgala rutinitas dan kwajibanny.
Mengenai sholat yg ia telah lakukan hukumnya tidak syah menurut qoul sahby, dan tidak dihukumi berdosa meskipun mengerjakan di waktu Chaidl . Sedangkan hukumnya Syah menurut Qoul Laqti sebab naqo ( masa berhentinya darah) hukumnya suci menurt Qoul ini . Begitu untuk berhntiny darah selanjutny selama masih dalam lingkup 15 hari . Sebaliknya jika darah belum mencapai minimal Chaidl , maka ia hanya berkewajiban Wudhu.

روضة الطالبين وعمدة المفتين ج ١ ص ١٩٠ دار الفكر
إذا انقطع دم المبتدأة فعند انقطاعه وهو بالغ أقل الحيض يلزمها على القولين الغسل والصلاة والصوم ولها الطواف والجماع وفي وجه لا يحل الجماع إذا قلنا بالسحب ثم إذا عاد الدم تركت الصوم والصلاة والجماع وغيرها وبينا على قول السحب وقوع العبادات والجماع في الحيض لكن لا تأثم وتقضي الصوم والطواف دون الصلاة وعلى قول التلفيق ما مصى صحيح ولا قصاء وهكذا حكم الانقطاع الثاني والثالث وما بعدهما في الخمسة عشر وفيه وجه ساذ ضعيف أن ما سوى الانقطاع الأول يبنى على أن العادة بماذا ثبتت فإذا ثبتت توقفنا في الغسل وسائر العبادات ارتقابا للعود وأما الشهر الثاني وما بعده فعلى قول التلفيق لا يختلف الحكم وعلى السحب في الدور الثاني

JADWAL DARAH YANG TERPUTUS PUTUS.
Mubtada’ah disaat darahnya terhenti , maka ia harus menjalankan rutinitas / aktifitas sbagaimana biasanya , baik Sholat,puasa ,atau yg lain dan wajib mandi terlebih dahulu bila darah yg ia keluarkan sudah mencapai 24 jam , kemudian jika darahnya keluar lagi , maka ia harus meninggalkan apa sja yang smestinya ditinggalkan orang Chaidl.
Contoh :
Mubtadiah dihari ke 3 , jam 11:30 darahnya berhenti dan darah yg ia kluarkan sdah mencapai 24 jam , maka ia wajib untuk mandi dan melaksanakan sholat Duhur ,serta kwajiban lain selama darahny belum keluar lgi . Bila darahny keluar lagi ia harus meninggalkan sgala rutinitas dan kwajibanny.
Mengenai sholat yg ia telah lakukan hukumnya tidak syah menurut qoul sahby, dan tidak dihukumi berdosa meskipun mengerjakan di waktu Chaidl . Sedangkan hukumnya Syah menurut Qoul Laqti sebab naqo ( masa berhentinya darah) hukumnya suci menurt Qoul ini . Begitu untuk berhntiny darah selanjutny selama masih dalam lingkup 15 hari . Sebaliknya jika darah belum mencapai minimal Chaidl , maka ia hanya berkewajiban Wudhu.

روضة الطالبين وعمدة المفتين ج ١ ص ١٩٠ دار الفكر
إذا انقطع دم المبتدأة فعند انقطاعه وهو بالغ أقل الحيض يلزمها على القولين الغسل والصلاة والصوم ولها الطواف والجماع وفي وجه لا يحل الجماع إذا قلنا بالسحب ثم إذا عاد الدم تركت الصوم والصلاة والجماع وغيرها وبينا على قول السحب وقوع العبادات والجماع في الحيض لكن لا تأثم وتقضي الصوم والطواف دون الصلاة وعلى قول التلفيق ما مصى صحيح ولا قصاء وهكذا حكم الانقطاع الثاني والثالث وما بعدهما في الخمسة عشر وفيه وجه ساذ ضعيف أن ما سوى الانقطاع الأول يبنى على أن العادة بماذا ثبتت فإذا ثبتت توقفنا في الغسل وسائر العبادات ارتقابا للعود وأما الشهر الثاني وما بعده فعلى قول التلفيق لا يختلف الحكم وعلى السحب في الدور الثاني
طريقان أصحهما يبنى على الخلاف في العادة إن أثبتناها بمرة فقد عرفنا التقطع بالشهر الأول فلاتغتسل ولاتصلي ولاتصوم حملا على عود الدم فإن لم يعد بان أنها كانت طاهرة فتقصي الصوم والصلاة وإن لم نثبتها بمرة فحكمها كما مضى في الشهر الأول وفي الشهر الثالث وما بعده تثبت العادة بالمرتين السابقتين فلا تغتسل عندالانقطاع ولاتصلي وإذا قلنا لا تثبت العادة إلابثلاث مرات لم يخف قياسه والطريق الثاني أن التقطع وإن تكرر مرات كثيرة فحكم المرة الأخيرة حكم الأول قاله أبو زيد قلت قطع بالطريق الثاني الشيخ أبو حامد وصاحب الشامل وغيرهما وهو ظهر نصه في الأم وهو الأصح والله أعلم. هذا كله إذاكان الانقطاع بعد بلوغ الدم أقل الحيض فإن رأت المبتدأة نصف يوم دما وانقطع وقلنا بطرد القولين فعلى قول السحب لا غسل عليها عند الانقطاع الأول أيضا على الأصح لشكنا في الحيض وفي سائر الانقطاعات إذا بلغ ما سبق من الدم وحده أقل الحيض يلزمها الغسل وقضاء الصوم والصلاة وحكم الدور الثاني والثالث على القولين جميعا كما ذكرنا في الحالة الأولى.
…………….
……….
H. PERHITUNGAN DARAH YANG KELUAR SAAT WANITA TIDUR.
Jika wanita tidur dalam keadaan suci dan bangun telah mengeluarkan darah , maka penghitungan keluarnya darah dimulai dari ia bangun , begitu juga sebaliknya .
Contoh : wanita mulai tidur jam 01 malam dalam keadaan suci kemudian bangun jam 04 pgi dan darah telah keluar maka keluarnya darah terhitung mulai jam 04 pg bkan jam 01 mlm.
…….
Referensi :
ردالمحتار ج ٢ ص ٣٨٥ مكتبة دار الباز
وفي الفيص: لونامت طاهرة وقامت حائضة حكم بحيصها منذ قامت وبعكسه منذ نامت احتياطا.
………
……………
I. HAL HAL YANG DI HARAMKAN WANITA HAID .

SHOLAT ( baik fardhu atau sunnah)
Bagi wanita haid diharamkan melakukan sholat, karena memang pada dasarnya ia tidak di wajibkan untuk melakukannya , dan setelah ia suci tidak diwajibkan unt meng-qodho, karena andaikan diwajibkan meng-qodho hal tersebut akan memberatkan. Namun bukan berarti dengan ia meninggalkan sholat berakibat ia tdk mendapatkan pahala, sebab pahal bisa ia dapatkan jika niat menuruti perintah syari’ ( Alloh swt / Nabi Muhammad saw)
………….
……………..
Referensi
المحلي بحاشية القليوبي الجزء الأول ص ٩٩-١٠٠ دار الفكر
(ويحرم به) أي بالحيض (ماحرم بالجنابة ) من الصلاة وغيرها (وعبور المسجد إن خافت تلويثه) بالمثلثة بالدم لغلبته أو عدم إحكامها الشد فإن أمنت جاز لهاالعبور كالجنب (والصوم ويجب قضاؤه بخلاف الصلاة) فلا يجب قضاؤها للمشقة فيه بكثرتها . (قوله من الصلاة إلخ) وتثاب الحائض على ترك ما حرم عليها إذا قصدت امتثال الشارع في تركه لا على العزم على الفعل لولا الحيض بخلاف المريض لأنه أهل لما عزم عليه حالة عزمه.
بغية المستر شدين ص ٣١ دار الفكر
(فائدة) قوله صلى الله عليه وسلم ” النساء ناقصات عقل ودين ” المراد بالعقل الدية وقال بعضهم هو العقل الغزيزي وهو المناسب للمقام وبنقص الدين بالنسبة للرجال من حيث عدم تعبدهن في بعد الأوقات وإن كن يثبن على الترك إن قصدن امتثال أمر الشارع كترك المحرمات. اهى بجيرمي
……………
………..
…..

PUASA ( baik fardhu atau sunnah)
Hal ini karena syarat sahnya puasa harus suci dari haid , namun jika haid terjadi di bulan romadhon, ia harus meng-qodho pada bulan2 lain. Alasan di wajibkan mengqodho’ karena puasa tidak sering dilakukan , sehingga tidak dirasa begitu berat oleh mereka , bedahalny dengan Sholat.

MEMBACA ALQURAN
Keharaman membaca Alquran bagi org yang sedang haid , didasari dari sabda Nabi SAW yang artinya ” bagi org yang masih menjalani haid dan junub tidak di perkenankan membaca Alquran”

MENYENTUH ATAU MEMBAWA ALQURAN
Bagi orang yang menjalani haid , haram untuk menyentuh Alquran , didasari dari firman Alloh swt yang artinya ” Tidak boleh untuk menyentuh Alquran kecuali bagi yang suci “

BERDIAM DIRI DI MASJID
Jika sekedar lewat ia di perbolehkan dengan catatan tidak ada kehawatiran mengotori masjid , sedangkan dasar keharaman berdiam diri di masjid bagi wanita haid , adalah sabda Nabi Saw yang berbunyi ” masjid tidak halal bagi org junub dan orang haid”

MELAKUKAN HUBUNGAN SUAMI ISTRI.
Wanita yang sedang haid diharamkan bersenggama , dikarenakan firman Alloh swt yang artinya ” jauhilah wanita yang sedang menjalani haid “
Menurut para ulama, menyetubuhi istri saat haid , termasuk dosa besar , meskipun tdk sampai menyebabkan kafarot. Dan banyak dr kalangan dokter maupun Ulama mengungkapkan bahwa bersetubuh disaat istri haid atau darah sudah berhenti ,namun belum mandi, akan berakibat buruk pada kesehatan . Diantarany komentar Imam Ghozali menyebutkan bahawa hal tersebut dapat menimbulkan penyakit kulit yang dahsyat pada diri suami , dan mungkin pada anak yang akan lahir kelak .

…………
…….
Referensi
الباجوري الجزء الأول ص ١١٥ دار إحياء الكتب العر بية
(و) السابع (الوطء) ويسن لمن وطئ في إقبال الدم التصدق بدينار ولمن وطئ في أدباره التصدق بنصف دينار (قوله والسابع الوطء) ولو في الدبر ولو بعد انقطاع الدم وقبل الغسل وحكى الغزالي أن الوطء قبل الغسل يورث الجذام ,قيل في الوطئ وقيل في الولد وأما بعد الغسل فله أن يطأها في الحال من غير كراهة إن لم تخف عوده.
البجيرمي على الخطيب الجزء الأول ص ٣٢٣- ٣٢٥ دار الفكر
(و)السابع (الوطء)ولو بعد انقطاعه وقبل الغسل لقوله تعالى ” ولا تقربوهن حتى يطهرن” ووطؤها في الفرج كبيرة من العامد العالم بالتحريم المختار ويكفر مستحلة كما في المجموع عن الأصحاب وغيرهم بخلاف الناسي والجاهل والمكره لخبر ” إن الله تجاوز عن أمتي الخطأوالنسيان وما استكرهوا عليه ” رواه البيهقي وغيره. ويسن للوطئ المعثمد المختار العالم بالتحريم في أول الدم وقوته التصدق بمثقال إسلامي من الذهب الخالص وفي آخر الدم وضعفه بنصف مثقال لخبر ” إذا واقع الرجل أ هله وهي حائض إن كان دما أ حمر فليتصدق بدينار وإن كان أ صفر فليتصدق بنصف دينار”. رواه أبو داود والحاكم وصححه . ويقاس النفاس على الحيض ولا فرق في الواطئ بين الزوج وغيره فغير الزوج مقيس على الزوج الوارد في الحديث والوطء بعد انقطاع الدم إلى الطهر كالوطء في اخر الدم ذكره في النجموع . ويكفي التصدق ولو على فقير واحد. (قوله الوطء) ولوبحائل ثخين كأنبوبة ، ومحل المنع إذا لم يخف الزنا ، فإن خافه جاز إن تعين طريقالدفعه كما قاله م ر. بل ينبغي وجوبه لأنه يرتكب أخف المفسدتين وقياسه حل الاستمناء إن تعين للدفع سم فلو كان يندفع بكل من الزنا والاستمناع تعين الاستمناع لخفته اج. ولو تعارض الوطء في الحيض والاستمناع بيده قدم الوطء لأن المرأة حل له في الجملة ولأن حرمته لعارض وهو محاورته للنجاسة وكونه يورث علة مؤلمة للمجامع وإجذام الولد ليس أمرا محققا بخلاف الاستمناء بيده فإنه حرام لذاته.
………….
……..
Kemudian bagi org yang terlanjur menggauli istrinya disaat haid , disunahkan untk sodakoh satu dinar ( 3,88 gr emas) , jika saat bersetubuh darah haid keluar dg deras . Dan sodakoh setengahdinar jk saat bersetubuh darah haid mnjelang berhenti ( tidak deras)
………
…….
Referensi
الفقه الإسلامي الجزء الأول ص ٥٤٠ دار الفكر
وقال الشافعية : يسن لمن وطئ في إقبال الدم التصدق بدينار ولمن وطئ في إدباره التصدق بنصف دينار لخبر ابن عباس السابق عند الترمذي : إذا كان دم أحمر فدينار وإن كان دما أصفر فنصف دينار “. ونصف في صحيفة ٧٢ : الدينار المثقال من الذهب أو ٢٥ ،ّ٤ غم أو ٧٢ حبة من الشعير المتوسط.
…..
……….
………
7.BERMESRAAN DENGAN BERSENTUHAN KULIT ANTARA PUSAR DAN LUTUT
Keharaman ini berdasarkan hadis Nabi Saw yang di riwayatkan dari sahabat Mu’adz, yang pernah bertanya pada beliau sebenarnya sebatas manakah anggota yang dihalalkan untuk suami disaat istrinya menjalani Hiad, dari pertanyaan itu Rosululloh saw menjawab “bahwa yang halal bagi sang suami adalah anggota yg diatas jarik( bahasa jawa) .Keharaman ini karena mendorong suami untuk melakukan persetubuhan dg sang istri.
…….
…..
Referensi
الباجوري الجزء الأول ص ١١٥ دار إحياء الكتب العربية
(و) الثامن (الاستمتاع بما بين السرة والركبة) من المرأة فلا يحرم الاستمتاع بهما ولا بما فوقها على المختار في المهذب (قوله بما بين السرة و الركبة ) أي بوطء أو غيره لأن الغير ولو بلا شهوة ربما يدعو إلى الجماع فحرم لخبر “من حام حول الحمى يوشك أن يقع فيه”
………..
………

TOWAF ( baik fardhu atau sunnah)
Ibadah thowaf haram dilakukan bagi orang haid , berdasarkan dari sabda Nabi Saw pada Syaidah Aisyah yang artinya ” lakukanlah apa saja yang di lakukan oleh orang yang haji hanya saja kamu jangan melakukan towaf.
J.MONOPAUSE
Menurut kalangan syafiiyah ,selama hayat masih dikandung badan, darah yg keluar dr rahim wanita , dihukumi haid . Ketentuan ini jika darah yang keluar telah memenuhi kriteria dalam haid, namun umumnya monipouse terjadi setelah wanita berusia 62 tahun.
…..
………
Referensi
الشرقاوي الجزء الأول ص١٤٨ دار الفكر
(وسن اليأس)من الحيض (اثنان وسنون سنة)
(قوله اثنان وستون ) هو المعتمد وهذا باعتبار الغالب فلا ينافى ما صرحوا به من أنه لا آخر لسن الحيض فهو ممكن ما دامت حية .
………..
K. BATASAN MASA SUCI YANG MEMISAHKAN ANTARA SATU HAID DENGAN HAID BERIKUTNYA
√ Minimal Suci : 15 hari 15 malam
√ Maximal Suci : Tidak ada batasannya
√ Umumnya Suci: 23 atau 24 hari
Melihat paparan diatas, bisa kita ambil kesimpulan bahwa : jika wanita mengeluarkan darah kedua diluar lingkup 15 hari , namun masa berhentinya darah ( pemisah antara darah pertama dan kedua ) belum mencapai 15 hari , maka status darah kedua bukanlah haid , namun darah Fasad. Dan jika keluarnya darah kedua masih dalam lingkup 15 hari dan tdk melewari hari ke 15 , maka semuanya di hukumi haid.
Contoh :
Seorg wanita mengeluarkan darah tgl 1-5 , kemudian suci , dan darah keluar kembali pada tanggal 16-26 , maka hukum darah yang keluar pada tanggal 1-5 adalah darah Haid. Sedang tanggal 16-20 , hukumnya istihadoh dan darah berikutnya adalah darah Haid.
…….
Contoh :
Seorang wanita mengeluarkan darah mulai tanggl 1-5 , kemudian suci, dan darah keluar kembali tgl 10-15 , maka hukumnya smua dianggab haid ( haidnya 15 hari)

..
Referensi :
المجموع الجزء الثاني ص ٥١٢-٥١٣ المكتبة السلفية
(فرع) إذا رأت ثلاثة أيام دما ثم اثني عشر نقاء ثم ثلاثة دما ثم انقطع فالثلاثة الأولى حيض لأنه في زمان الإمكان و الثلاثة الأخيرة دم فساد ولا يجوز أن تجعل حيضا مع الثلاثة الأول وما بينهما لمجاوزته خمسة عشر يوما ولايجوز أن تجعل حيضا ثانيا لأنه لم يتقدمه أقل طهر وهكذا لو رأت يوماوليلة دما أو يومين أو ثلاثة أو أربعة أو خمسة أو ستة أو غير ذلك ثم رأت النقاع تمام خمسة عشر ثم رأت يوما وليلة فأكثر دما فالأول حيض والآخر دم فساد ولا خلاف في شيء من هذا ولو رأت دما دون يوم وليلة ثم رأت النقاع تمام خمسة عشر ثم رأت الدم يوما وليلة أو ثلاثة أيام أو خمسة أو نحو ذلك فالأول دم فساد والثاني حيض لوقوعه في زمن الإمكان ولا يضم الأول إليه المجاوزة الخمسة عشر ولا يستقل بنفسه ولو رأت نصف يوم دما ثم تمام خمسة عشر نقاء ثم نصف يوم دما فالدمان جميعا دم فساد ولا حيض لها بلا خلاف لأن كل دم لا يستقل ولا يمكن ضمه إلى الآخر المجاوزة خمسة عشر. ولو رأت المبتدأة يوما بلا ليلته دما ثم ثلاثة عشر نقاء ثم أيام دما فقد رأت في الخمسة عشر يومين دما في أولها يوما وفي آخرها يوما فإن قلنا لا تلفق فحيضها الدم الثاني وأما الأول فدم فساد وإن لفقنا من العادة فحيضها أيضا الثاني وأما الأول فدم فساد لأن المبتدأة ترد إلى يوم وليلة أو ست أو سبع وليس في هذا الزمان ما يمكن جعله حيضا وإن لفقنا في مدة الإمكان وهي الخمسة عشر فإن قلنا المبتدأة ترد يوم وليلة حيضناها اليوم الأول ومن الخامس عشر مقدار ليلة فيتم لها يوم وليلة وإن قلنا ترد الى ست أو سبع فحيضها الأول من الخامس عشر بليلته لأنه المكان ويكون الدم بعد الخمسة عشر دم فساد.
………
………
L. STATUS KEPUTIHAN YANG KELUAR SETELAH BERHENTINYA DARAH
Cairan berwarna putih ( keputihan) yang kluarnya setelah berhentinya darah menurut Imam Syafi’i dihukumi suci dan bukan darah Haid sehingga tidak mengharuskan mandi. Dan keputihan atau getah vagina dalam istilah fiqh dikategorikan sebagai Rothubatul farji dan hukumny sbb;
√ Bila keluar dari balik liang Farji ( anggota Farji bagian dalam yg tidak terjangkau Penis saat bersenggama ) maka hukumnya najis dan menyebabkan batalny wudhu, sebab keluar dr dlm tubuh
√ Bila keluar dari liang farji ( anggota farji yang tidak wajib dibasuh ktika istinja dan masih terjangkau penis saat bersenggama ) maka hukumnya Suci menurut sbgian Ulama.
√ Bila keluar dari luar liang Farji ( anggota Farji yg tampak saat jongkok ) maka hukumnya suci .
…….
………
Referensi
اعانة الطالبين الجزء الأول ص ٨٢. الحرمين.
(قوله وهي) أي رطوبة الفرج الطاهرة على الأصح (قوله متردد بين المذي والعرق) أي ليس مذيا محضا ولا عرقا كذلك (قوله الذي لا يجق غسله) خالف في ذلك الجمال الرملي وقال إنها إن خرجت من محل لا يجب غسله فهي نجسة لأنها حينئذ رطوبة جوفيه وحاصل ما ذكره الشارح فيها إنها ثلاثة أقسام طاهرة قطعا وهي ما تخرج مما يجب غسله في الاستنجاء وهو ما يظهر عند جلوسها ، ونجسة قطعا وهي ما تخرج من وراء باطن الفرج وهو ما لا يصله ذكر المجامع، وطاهرة على الأصح وهي ما تخرج مما لا يجب غسله ويصله ذكر المجامع وهذا التفصيل هو ملخص ما في التحفة وقال العلامة الكردي أطلق في شرحي الإرشاد نجاسة ما تحقق خروجه من الباطن وفي شرح العباب بعد كلام المجموع أنها متى خرجت مما لا يجب غسله كانت نجسة اهى.
حاشية القليوبي على المحلي الجزء الأول ص ٧١ دار الفكر
(قوله والثالث)وهو رطوبة الفرج وإن انفصلت عنه وهي ماء أبيض يخرج مما بين ما يجب غسله في الاستنجاء والآخر ما يصله ذكر المجامع المعتدل فما وراء ذلك نجس قطعا وما قبله طاهر قطعا . وفي كلام الشارح وغيره كشيخنا الرملي وابن حجر وغيره أن هذه الاقسام الثلاثة في فرج الآدمي لا في فرج البهيمة وهو المعروف المشاهد ثم رأت عن البلقيني أنه ليس للبهيمة إلا منفذ واحد للبول والجماع فراجعه.
……
………
BAB II
MUSTAHADHOH DALAM HAID
A. DEFINISI ISTIHADHOH
Definisi istihadoh adalah darah yang keluar slain dimasa haid daj nifas.
Contoh:
@ Darah keluar sementara usia wanita belum genab 9 tahun kurang 15 hari 23jam 59menit 59 detik
@ Darah yang di keluarkan tidak mencapai 24 jam
@ Darah yang keluar melebihi 15 hari 15 Malam
……..
…………

Referensi
حاشية اعانة الطالبين للسيد أبي بكر المشهور بالسيد البكري بن محمد شطا الدمياطي المصري ج ١ ص ٧٤ الحرمين
وحاصل ذلك أن الاستحاضة الدم الخرج في غير أوقات الحيض والنفاس بأن خرج قبل تسع سنين أو بعدها ونقص عن قدر يوم وليلة وبأن زاد على خمسة عشر يوما بليالها أو قبل تمام أقل الطهر أو مع الطلق ولم بتصل بحيض قبله وهي حدث دائم فلا تمنع شيئا مما تمنع بالحيض من نحو صلاة ووطء ولو مع جريان الدم. اهى
…….
………
B.HAL HAL YANG HARUS DILAKUKAN MUSTAHADHOH APABILA AKAN SHALAT

Membersihkan kemaluan.

Membalut kemaluan dg kapas atau yang lainnya , hal ini bertujuan agar darah yang ada di dalam tidak keluar atau setidak tidaknya bisa meminimalisir keluarnya darah , dan dalam menyumbat harus sampai pada kemaluan yang tidak wajib dibasuh ketika istinja’ , dg catatan setatusnya bukanlah org yang berpuasa , sebab kalau hal ini dilakukan sementara ia dalam keadaan puasa , maka puasanya dihukumi batal .

Setelah ia menyumbat kemaluan , dan darah tetap keluar maka ia harus membalutnya dengan semisal kain atau yang lainnya.

Setelah kemaluam terbalut ,lalu ia harus segera bersuci dg wudhu atau tayamum dan secepatnya melakukan sholat.
……………
……..
Referensi
البجيرمي على المنهج الجزء الأول ص ١٣٤-١٣٥ دار الفكر
(والاستحاضة كسلس) أي كسلس بول أو مذي فيما يأتي (فلا تمنع ما يمنعه الحيض) من صلاة وغيرها للضرورة وتعبيري بذلك أعم من قوله فلا تمنع الصوم والصلاة وإن كان في المتحيرة تفصيل يأتي ( فيجب أن تغسل مستحاضة فرجها فتحشوه) بنحو قطنة (فتعصبه) بأن تشده بعد حشوه بذلك بخرقة مشقوقة الطرفين تخرج أحدهما أمامها والآخر وراءها وتربطهما بخرقة تشد بها وسطها كالتكة. (بشرطهما) أي الحشو والعصب أي بشرط وجوبهما بأن احتاجتها ولن تتأذ بهما ولم تكن في الحشو صائمة وإلا فلا يجب بل يجب على الصائمة ترك الحشو نهارا ولو خرج الدم بعد العصب لكثرته لم يضر أو لتقصيرها فيه ضر (فتتطهر ) بأن تتوضأ أو تتيمم وتفعل جميع ما ذكر ( لكل فرض) وإن لم تزل العصابة عن محلها ولم يظهر الدم على جوانبها كالتيمم في غير دوام الحدث في التطهر وقياسا عليه في الباقي (وقته) لا قبله كالتيمم-إلى أن قال- (و) إن ( تبادر به) أي بالفرض بعد التطهر تقليلا للحدث بخلاف المتيمم في غير دوام الحدث (ولا يضر تأجيرها) الفرض(لمصلحة كستروانتظار جماعة) وإجابة مؤذن واجتهاد في قبله لأنها غير مقصرة بذلك والتصريح بالوجوب في غير الوضوء والعصب من زيادتي. قوله(فتحشوه) ويجب في الحشو أن يكون داخلا عن محل الاستنجاء لابارزا عنه لئلاتصيرحاملة لمتصل بنجس اهى برماوي.
تحفة المحتج الجزء الأول ص ٤١٨ دار الفكر
(والاستحاضة)كأن يجاوز الدم خمسة عشر و يستمر (حدث دائم كسلس) بفتح اللام أي دوام بول أو نحوه فإنه حدث دائم أيضا فهو تشبيه لبيان حكمها الإجمالي لاتمثيل لها فلهذا فرع عليه قوله (فلا تمنع الصوم والصلاة) وغيرهما مما يحرم بالحيض كالوطء ولو حال جريان الدم والتضمخ بالنجاسة للحاجة جائز بيانا لذلك الحكم الإجمالي
………
…………
Muhimmatun :
@ Niat mustahadhoh dalam melakukN bersuci , bukanlah untuk menghilangkan hadas, Namun niatnya adalah supaya ia di perbolehkan untuk melakukan sholat atau yg lainnya.
@ Jika ia punya anggaban kuat(dzon) bahwa darahnya akan berhenti di akhir waktu, maka ia harus menanti sampai pada wKtu itu
@ Satu kali bersuci hnya bisa digunKan untuk satu Fardhu, sedangkan untuk sholat sunnah bisa ia lakukan dengan berulang kali meskipun hanya dg satu x bersuci.
C.KLASIFIKASI MUSTAHADHOH
Untuk menetapkan masa haid dari mustahadhoh ,perlu diketahui terlbeh dahulu kategori mustahadhoh ,yg secara global hnya ada dua yaitu:

Mubtada’ah : perempuan yang baru pertama kali mengeluarkan darah ( belum punya adat haid)

Mu’taadah : perempuan yang sudah mempunyai masa kebiasaan haid. Sedangkan keterangN secara rinci insya Alloh akan di uraikan di bawah ini.
Bentuk Mustahadhoh ada 7 :

Mubtada’ah mumayizah

Mubtada’ah ghoiru mumayizah

Mu’taadah mummayizah

Mu’taadah ghoitu mumayizah yg ingat kadar dan waktu haid yang pernah ia alami.

Mu’taadah yg lupa kadar dan waktu keluarnya darah yang pernah ia alami

Mu’taadah yang hany ingat kadar lamanya keluar darah nMun lupa waktu

Mu’taadah yg ingat wKtu namun ia lupa kadarnya , dan wanita yg lupa dikatakan wanita mutahayyiroh.
…………..
Referensi
وصورها سبعة لأنها إما مبتدأة مميزة أو مبتدأة غير مميزة وإما معتادة مميزة أو معتادة غير مميزة ذاكرة لعادتها قدرا ووقتا أو ناسية لها قدر ووقتا أو ذاكرة للقدر دون الوقت أو العكس وتسمى هذه المرأة الناسية متحيرة.
……….
………….
I. Mustahadzoh Mubtada’ah Mumayizah
الصورة الأول هي المبتدأة أي أول ما ابتدأها الدم المميزة وهي التي ترى قويا وضعيفا كاالأسود والأحمر فالضعيف وإن طال استحاضة والقوي حيض بشرط ان لاينقص القوي عن أقل الحيض وأن لا يعبر اكثره وأن لاينقص الضعيف عن أقل الطهر وأن يكون ولاء بأن يكون خمسة عشر يوما فأكثر متصلة
………
………….
Mustahadhoh pertama adalah mubtada’ah mumayizah yaitu wNita pemula mengeluarkan darah , dan dapat membedakan darah antRa kuat dan lemah , mengenai hukumny wanita seperti ini darah lemah meskipun lama dihukumi istihadoh srdangkan darah kuat dihukumi haid dengan catatn sbgai berikut :
@ Darah kuat tdk kurang dari 24 jam
@ Darah kuat tdk lebih dari 15 hari
@ Darah lemah yang keluar diantara dua darah kuat tidak kurang dari 15hari . Syarat ini diberlakukan jika ada darah kuat yg sama dg darah yg pertama keluar. Sebab syarat ini hanya unt menentukan daran kuat yang kedua dihukumi darah haid (bukan unt menentukan haid terhadap darah kuat pertama) dan masa keluar darah lemah dihukumi sebagai pemisah antara dua haid . Sedangkan jika tdk ada darah kuat kedua maka syarat ke 3 ini tidak diberlakukan ( wanita seperti ini masih dihukumi mumayizah dg hanya membutuhkan syarat 1 dan 2.
@ Darah lemah yang keluar diantara dua darah kuat harus terus menerus dalam art keluarnya tidak silih berganti .
………
…..
Referensi
حاشية الشربني على شرح البهجة الأول ص ٢٢٠-٢٢١ الميمنية بمصر.
(قوله فحيضها السواد الأول مع الحمرة ) اعلم أنه تقدم في كلام الشارح أن اشتراط بلوغ الضعيف خمسة عشر ليمكن جعله طهرا أي فيمكن جعل ما بعده حيضا فقد صرح الشيخان بأن هذا الاشتراط ليمكن جعل القوي بعده حيضا كما نقله الشيخ عميرة على المنهج ونقل سم في حاشية الشارح عن المتولي أنه قال إنه إنما يفتقر إلى القيد الثالث إذا استمر للاحتراز عما لو رأت عشر سوادا ثم عشر حمرة أو نحوهما وانقطع الدم فإنها تعمل بتمييزها فالمراد بالاستمرار في كلام المتولي أن يأتي بعد الضعيف قوي مماثل للأول إذ لو استمر الضعيف كانت مميزة وليسد المراد استمرار القوي دائما قطعا فإن إمكان جعل القوي حيض ثابت وإن لم يستمر القوي وحينئذ فمثال المجموع الذي هو السبعات المذاكرة مما نقص الضعيف فيه عن أقل الطهر واستمر الدم فتكون فاقدة لشرط التمييز وحيضها يوما وليلة.
حاشية الشربن على شرح البهجة الجزء الأول ص ٢١٧ الميمنيةبمصر
قوله(ليمكن جعله طهرا) أي لاشيئ أخر فلا ينافي أن يكون مع ما قبله حيضا تدبر . قوله(أيضا ليمكن جعله طهرا) أي فيمكن ما بعد حيضا لا لكون ما قبله حيضا فإنه ليس شارطا في ذلك انتهى.
غرر البهية مع حاشية الشربني الجزء الأول ص ٢١٧ الميمنية بمصر.
فإن فقدت شرطا مما ذكر فهي كغير المميزة وستأتي وذلك بأن يكون القوي دون يوم وليلة أو فوق خمسة عشر أو يبلغ يوما وليلة وينقص الضعيف عن خمسة عشر أو يبلغها غير متصلة كأن رأت يوما أسود ويومين أحمر وهكذا إلى آخر الشهر. قوله(وينقص الضعيف)أي وجاء بعده قوي انتهى.
……….
…………….
Contoh :
Seorang wanita belum pernah haid dan di usia memungkinkan haid mengLMi pendarahan sbb:
Tgl 1 keluar darah hitam slama 24jam
Tgl 2-22 kluar darah merah (lewat 15hr)
Maka yang di hukumi haid adalah darah hitam. Dan darah merah dihukumi istihadoh .
……………….
CONTOH
Wanita belum pernah haid dan diusia yang memungkinkan haid ia mengalami pendarahan sbb:
Tgl 1-10 keluar darah hitam
Tgl 11-31 keluar darah merah
Maka haidnya 10 hr . Sisanya istihadoh
……….
Contoh ..
Wanita belum pernah haid dan diusia yang memungkinkan haid ia mengalami pendarahan sbb:
Tgl 1-10 keluar darah hitam
Tgl 11-25 keluar darah merah
Tgl 26-28 keluar darah hitam
Maka tgl 1-10 dihukumi haid .tgl 11-25 dihukumi istihadhoh. Tgl 26-28 dihukumi haid ke 2 karena sdh dipisah oleh minimal suci 15hr.
…….
فإن نقص القوي عن اقل الحيض أو عبر أكثره أو نقص الضعيف عن اقل الطهر أو لم يكن ولاء كما لو رأت يوما أسود ويوما أحمر وهكذا فهي فاقدة سرط من سروط التمييز وسيأتي حكمها اهى. (حاسية الباجوري على ابن القاسم الغزي الجزء الأول ص ١١٠)
………
Melihat kriteria diatas, wanita masuk kategori tidak memenuhi syarat tamyiz jika :

Darah kurang dari 24 jam
Contoh : seorang wanita belum pernah haid , diusia memungkinkan haid , ia mengalami pendarahan sebagai berikut: tgl 1 kluar darah warna hitam selama 15 jam dan selanjutnya nengeluarkan darah warna merah sampai tgl 20 ‘

Darah kuat melebihi 15 hari.
Contoh : seorang wanita belum pernah haid , diusia memungkinkan haid ,ia mngalami pendarahan sbgai berikut: tgl 1-16 mngeluarkan darah warna hitam , kmudian disusul darah merah sampai tgl 25.

Darah lemah yang diapit oleh dua darah kuat kurang dr minimal masa suci
Contoh : seorang wanita belum pernah haid , diusia memungkinkan haid ,ia mngalami pendarahan sbgai berikut: tgl 1 mengeluarkan darah warna hitam , tgl 2-15 keluar darah warna merah dan berikutnya ia keluar darah hitam sampai tgl 20.-

Darah Lemah yang diapit dua darah kuat keluarnya secara silih berganti
Contoh : seorang wanita belum pernah haid , diusia memungkinkan haid ,ia mngalami pendarahan sbgai berikut: keluar dRah sehari warna hitam , dan sehari warna merah dan kejDian ini berlanjut hingga lebh dr 15 hr
Dari ke 4 contoh diatas yg dihukumi haid adalah 1hari saja. Selebihny istihadhoh.
………….
Referensi
التهذيب الجزء الأول ص :٤٤٧ دار الكتب العلمية
وإنما يعمل بالتمييز بثلاثة شرائط : أحدها الاينقص الدم القوي عن يوم وليلة . والثاني الاتزيد عن خمسة عشر يوما . والثالث : الاينقص الدم الضعيف بين الدمين القوي عن خمسة عشر يوما لأنه طهر في حق المميزة ، والطهر لا ينتقص عن خمسة عشر يوما فإن انتقض الدم القوي عن يوم وليلة أو زاد على خمسة عشر يوما انتقص الدم الضعيف عن خمسة عشر يوما وهي كمن رأت الكل على لون واحد. ولوكانت ترى يوما وليلة دما أسود ثم يوما وليلة أحمر ثم أسود ثم أحمر فإن انقطع على خمسة عشر يوما فالكل حيض وإن جاوز فهو كما لو رأت الدم كله على لون واحد لأن الدم الضعيف لم يبلغ أقل الطهر وإذا اجتمع دمان قويان ومجموعهما لا يزيد على خمسة عشر يوما تجعل الكل حيضا مثل إن رأت خمسة أيام دما أسود ثم خمسة دما أحمر ثم أصفر واستمر وزاد على خمسة عشر فأيام السواد والحمرة حيض وما بعدهما استحاضة.
……..
Tanbih:
Wanita mustahadzoh mumayiizah dibulan awal harus tarobbush ( menanti) dengan meninggalkan apapun yang merupakan rutinitasny , seperti sholat,puasa, sampai lewat 15 hari di hitung mulai pertama kali mngeluarkan darah , sebab kemungkinan darah berhenti sebelum lewatnya 15hri , yang tentunya smua darahnya dihukumi haid.
Sedangkan dibulan kedua , kwajiban untuk mandi dalam rangka melakukan sholat adalah setelah peegantian darah dari kuat ke lemah.
…….
Referensi
روضة الطالبين الجزء الأول ص ٢٧٥ دار الفكر
واعلم أن المبتدئة المميزة لا تشتغل بالصوم والصلاة عند انقلاب الدم من القوة الى الضعيف لاحتمال إنقطاع الضعيف قبل مجاوزة خمسة عشر فيكون الجميع حيضا فتتربص الى انقضاء الخمية عشر فإن انقضت والدم مستمر عرفنا أنها مستحاضة فتقضي صلوات ما زاد على الدم القوي هذا حكم الشهر الأول . وأما الثاني وما بعده فبانقلاب الدم تغتسل وتصلي وتصوم ولايخرج ذلك على الخلاف في ثبوت العادة بمرة.
…………………
………….
Jika darah yang di keluarkan wanita adalh darah kuat , lemah dan terlemah , maka darah kuat dan darah lemah dihukumi Haid ,dengan catatan memenuhi kriteria berikut:
@Darah kuat keluar terlebih dulu
@Darah kuat bersambung langsung dengan darah lemah
@Keduanya keluar dalam lingkup 15hari.
…………
Referensi
حاشية الشيخ سليمان الجمل الجزء الأول ص ٢٤٨-٣٤٩ دار الفكر
ولو اجتمع قوي وضعيف وأضعف فالقوي مع ما يناسبه في القوة من الضعيف حيض بثلاثة شروط أن يتقدم القوي وأن يتصل به المناسب الضعيف وأن يصلحا معا للحيض بأن لايزيد مجموعهنا على أكثر كخمسة سوادا ثم خمسة حمرة ثم أطبقت الصفرة فالأولان حيض، فإن لم يصلحا معا للحيض كعشرة سوادا وستة حمرة ثم أطبقت الصفرة أو صلحا لكن تقدم الضعيف كخمسة حمرة ثم خمسة سوادا ثم أطبقت الصفرة أو تأخر لكن لم يتصل الضعيف بالقوي كخمسة سوادا ثم خمسة صفرة ثم أطبقت الحمرة فالحيض الأسود فقط اهى شرح
………..
………
Contoh :
Seorang wanita mengalami pendarahan mulai tgl 1-5 berwarna hitam , tgl 6-10berwarna merah , tgl 11-17 berwarna kuning . Maka haidnya adalah tgl 1-10.
Note:
Jika tidak memenugi 3 kriteria diatas maka yg dihukumi haid adalah darah kuat saja.
……………….
© Pengertian asy-syahru menurut fuqoha’
Ketika dalam redaksi Fuqoha terdapat kalimat asy-syahru , maka yang dimaksud oleh beliau adalah bulan hijriyah , kecuali dalam 3 permasalahan yang dalam hal ini yg dimaksudkan adalah 30 hari.

Wanita mumayizah yg tidak memenuhi kriteria

Wanita mutahayyiroh

Wanita hamil .
……..
Referensi :
حاشية الشيخ سليمان الجزء ١ ص٢٥٠
واعلم أن الشهر متى أطلق في كلام الفقهاء فالمراد به الهلالي إلا في ثلاثة مواضع في المميزة الفاقدة شرطا وهي المذكورة هنا وفي المتحيرة وفي الحمل بالنظر لأقله وغالبه، فإن الشهر في هذه المواضع الثلاث عددي أعني ثلاثين يوما اهى. شيخنا ح ف نقلا عن الشوبري على التحرير
……………………..
……………
©Ragam perubahan siklus wanita

Adat maju ,
Contoh : seorang wNita mengalami menstruasi dibulan janiary tgl 5-12-kemudian dibulan berikutnya menstruasi terjadi mulai tgl 1-7

Adat mundur
Contoh:
seorang wNita mengalami menstruasi dibulan janiary tgl 1-7-kemudian dibulan berikutnya menstruasi terjadi mulai tgl 5-12

Adat bertambah
Contoh: seorang wNita mengalami menstruasi dibulan janiary tgl 5-12-kemudian dibulan berikutnya menstruasi terjadi mulai tgl 5-15

Adat berkurang
Contoh :seorang wNita mengalami menstruasi dibulan janiary tgl 5-12-kemudian dibulan berikutnya menstruasi terjadi mulai tgl 5-10
……………..
Referensi
البيان ج ١ص٤٧٤
(فرع) وقد تنتقل العادة ، فتتقدم، فتتأخر، وتزيد ، وتنقص اهى
………
……….
TATIMMATUN
Jika adat wanita berkurang dibulan atau daur kedua dan seterusnya , maka setelah darah berhenti ia harus melakukan apa saja yang harus dilakukan oleh orang suci ini menurut qoul laqti atau talfiq( qoul dhoif). Dan hanya untuk bulan atau daur kedua saja mnurut qoul syahbi yang menyatakan adat belm bisa diterapkan jika baru sekali terjadi .
Contoh : seorang wNita mengalami menstruasi dibulan janiary tgl 1-7 kemudian dibulan berikutnya menstruasi terjadi mulai tgl 1-3 maka ia harus melakukan apa saja yang harus dilakukan orang suci setelah hari ke 3 (tidak perlu mnunggu tgl 7)
Sedang untuk bulan atau Daur ketiga dan seterusnya , menurut qoul syahbi jika darahnya berhenti sebelum adatnya , maka ia tdk wajib mandi dan sholat , sebab kemungkinan besar darhnya akan kembali keluar lagi , yg otomatis masa berhentinya darah juga di hukumi haid bila darah yang kedua tidak melewati 15 hari terhitung dr hari pertama mengeluarkan darah.
…….
Referensi
روضة الطالبين وعمدة المفتين ج ١ ص ١٩٥ دار الفكر
إذا انقطع دم المبتدأة فعند انقطاعه وهو بالغ أقل الحيض يلزمها ع RISALAH HAID bag.2
Referensi
روضة الطالبين وعمدة المفتين ج ١ ص ١٩٥ دار الفكر
إذا انقطع دم المبتدأة فعند انقطاعه وهو بالغ أقل الحيض يلزمها على القولين الغسل والصلاة والصوم ولها الطواف والجماع وفي وجه لايحل الجماع إذا قلنا بالسحب ثم إذا عاد الدم تركت الصوم والصلاة والجماع وغيرها وبيان على قول السحب وقوع العبادات والجماع في الحيض لكن لا تأثم وتقضي الصوم والطواف دون الصلاة وعلى قول التلفيق ما مضى صحيح ولا قضاء وهكذا حكم الانقطاع الثاني والثالث وما بعدهما في الخمسة عشر وفيه وجه شاد ضعف أن ما سوى الانقطاع الأول يبنى على أن العادة بماذا ثبتت فإذا ثبتت توقفنا في الغسل وسائر العبادات ارتقابا للعود وأما الشهر الثاني وما بعده فعلى قول التلفيق لا يختلف الحكم وعلى السحب في الدور الثاني طريقان اصحهما يبنى على الخلاف في العادة إن اثبتناها بمرة فقد عرفنا التقطع بالشهر الأول فلاتغتسل ولا تصلي ولا تصوم حملا على عود الدم فإن لم يعد بان انها كانت طاهرة فتقضي الصوم والصلاة وإن لم نثبتها بمرة فحكمها كما مضى في الشهر الأول وفي الشهر الثالث وما بعده تثبت العادة بالمرتين السابقتين فلا تغتسل عند الانقطاع ولا تصلي وإذا قلنا لا تثبت العادة إلا بثلاث مرات لم يخف قياسه والطريق الثاني أن التقطع وإن تكرر مرات كثيرة فحكم المرة الأخيرة حكم الأولى قاله أبو زيد قلت قطع بالطريق الثاني الشيخ أبو حامد وصاحب الشامل وغيرها وهو ظاهر نصه في الأم وهو الاصح وآلله أعلم. هذا كله إذا كان الانقطاع بعد بلوغ الدم أقل الحيض فإن رأت المبتدأة نصف يوم دما وانقطع وقلنا بطرد القولين فعلى قول السحب لا غسل علبها عند الانقطاع الأول وتتوضأ وتصلي وفي سائر الانقطاعات إذا بلغ مجموع ما سبق دما ونقاء أقل الحيض صار حكمها ما سبق في الحالة الأول وعلى قول التلفيق لا غسل في الانقطاع الأول أيضا على الأصح لشكنا في الحيض وفي سائر الانقطاعات إذا بلغ ما سبق من الدم وحده أقل الحيض يلزمها الغسل وقضاء الصوم والصلاة وحكم الدم الثاني والثالث على القولين جميعا كما ذكرنا في الحالة الأول.
……….

MUSTAHADHOH MUBTADA’AH GHOIRU MUMAYYIZAH
ﺍﻟﺼﻮﺭﺓ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻫﻰ ﺍﻟﻤﺒﺘﺪﺃﺓ ﺍﻯ ﺍﻭﻝ ﻣﺎ ﺍﺑﺘﺪﺃﻫﺎ ﺍﻟﺪﻡ ﻛﻤﺎ ﺗﻘﺪﻡ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﻤﻴﺰﺓ ﻭﻫﻰ ﺍﻟﺘﻰ ﺗﺮﺍﻩ ﺑﺼﻔﺔ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﻭﻣﺜﻠﻬﺎ ﺍﻟﻤﻤﻴﺰﺓ ﺍﻟﺘﻰ ﻓﻘﺪﺕ ﺷﺮﻃﺎ ﻣﻦ ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﻓﺤﻴﻀﻬﺎ ﻳﻮﻡ ﻭ ﻟﻴﻠﺔ ﻭﻃﻬﺮﻫﺎ ﺗﺴﻊ ﻭﻋﺸﺮﻭﻥ ﺍﻥ ﻋﺮﻓﺖ ﻭﻗﺖ ﺍﺑﺘﺪﺍﺀ ﺍﻟﺪﻡ ﻭﺍﻻ ﻓﻤﺘﺤﻴﺮﺓ ﻭﺳﻴﺄﺗﻲ ﺣﻜﻤﻬﺎ . (حاشية الشيخ إبراهيم الباجوري ج ١ ص ١١١)
……….
Wanita kedua dari mustahadhoh , adalah mubtada’ah ghoiru mumayyizah yakni wanita pemula yang mengalami pendarahan , dan tidak bisa membedakan warna darah yang ia keluarkan atau darah yang ia keluarkan hanya dengan satu sifat, untuk wanita ini hukumnya sama dengan wanita yang berstatus mumayyizah , namun tidak memenuhi kriteria, dalam arti haidnya adalah sehari semalam dan sucinya 29 hari, demikian tapi kalau ia bisa mengetahui waktu awal mengeluarkan darah , sehingga jika wanita tersebut tidak mengetahui maka hukumnya seperti wanita mutahayyiroh sbgaimana keterangan yang insyainsya Alloh akan di terangkan di pembahasan berikutnya
Contoh : seorang wanita mengeluarkan darah pada tanggal 1,3,5,7,9,11,13,15,16,17,18
Untuk perempuan ini , pada bulan pertama mandinya harus menanti 15 hari 15 malam . Dan ia harus mengqodho’i sholat yang ia tinggalkan selama 14hari ( mulai hari ke 2-15). Dan untuk bulan selanjutnya ( jika darah keluar berbulan bulan) mandinya tidak usah menunggu 15 hari, Namun pada saat keluarnya sdah mencapai sehari semalam(24jam) sehingga ia tidak punya hutang dibulan bulan berikutnya .
……….
……
Referensi
روضة الطالبين الجزء الأول ص ١٧٩ دار الفكر
(فرع) غير المميزة كالمميزة في ترك الصوم الصلاة في الشهر الأول الى تمام خمسة عشر يوما فإن جاوزها الدم تبينا الاستحاضة فإن رددناها إلى أقل الحيض قضت صلوات أربعة عشر يوما وإن رددناها إلى الست أو السبع قضت صلوات تسعة أيام أو ثمانية وأما الشهر الثاني وما بعده فإن وجدت فيه تمييزا بشرطها قبل تمام المرد أو بعد فهي في ذلك الدور مبتدأة مميزة وإن استمر فقد التمييز وجب عند مجاوزة المرد الغسل والصوم والصلاة فإن شفيت في بعض الشهور قبل مجاوزة خمسة عشر بان أنها غير مستحاضة في ذلك الشهر وجميع دمها فيه حيض فتقضي ما صامته في أيام الدم وتبينا أن غسلها لم يصح ولا تأثم بالصوم والصلاة والوطء فيما وراء المرد وإن كان قد وقع في الحيض لجهلها.
…….
………..
Mubtada’ah ghoiru mumayyizah menurut pendapat ashoh , hukum haidnya di kembalikan ke umumnya haid ,yakni enam atau tujuh hari. Dan tentunya ia harus mengqodho sholat yang di tinggalkan mulai hari ke 7 sampai hari ke 15. Pada bulan awal ia wajib mandi setelah melewati 15 hari , sedangkan pada bulan ke 2 dan seterusnya ia wajib mandi di hari ke 6 atau ke 7.
………
Referensi
المحلي الجزء الأول ص ١٠٤ دار الفكر
(أو مبتدأة لا مميزة بأن رأته بصفة أو) بصفتين مثلا لكن (فقدت شرط تمييز) من شروطه السابقة (فالأظهر ان حيضها يوم وليلة وطهرها تسع و عشرون) بقية الشهر. والثاني تحيض غالب الحيض ستة أو سبعة، وقيل : تتخين بينهما ،والأصح النظر إلى عادة النساء إن كانت ستة فستة أو سبعة فسبعة ،وبقية الشهر طهرها. والعبرة بنساء عشيرتها من الأبوين ، وقيل : بنساء عصباتها خاصة ، وقيل: بنساء بلدها وناحيتها ، كذا في الروضة كأصلها ومعنى من الأبوين ، بقرينة الثاني المعتبر في مهر المثل ما في الكفاية أنه لافرق بين الأقارب من الأب أو الأم (قوله المتن فالأظهر أن حيضها الخ)-إلى أن قال -محل هذا إذا علمت وقت ابتداء الدم وإلا فمتحيرة.
المهذب للإمام أبي إسحاق إبراهيم بن علي بن يوسف الفيروزبادي الشيروزي ج ١ص٤٠ طه فوترا
فإن كانت المبتدأة غير مميزة وهي التي بدأ بها الدم وغيرالخمسة عشر والدم على صفة واحدة ففيها قولان أحدهما إنها تحيض أقل الحيض لأنه يقين وما زاد مشكوك فيه والثاني أنها ترد الى غالب عادة النساء وهي ست أو سبع وهو الأصح
………..
………
…..

MUSTAHADZOH MU’TAADAH MUMAYYIZAH
ﺍﻟﺼﻮﺭﺓ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻫﻰ ﺍﻟﻤﻌﺘﺎﺩﺓ ﻭﻫﻰ ﺍﻟﺘﻰ ﺳﺒﻖ ﻟﻬﺎ ﺣﻴﺾ ﻭﻃﻬﺮ ﺍﻟﻤﻤﻴﺰﺓ ﻭﻫﻰ ﺍﻟﺘﻰ ﺗﺮﻯ ﻗﻮﻳﺎ ﻭﺿﻌﻴﻔﺎ ﻛﻤﺎ ﺗﻘﺪﻡ ﻓﻴﺤﻜﻢ ﻟﻬﺎ ﺑﺘﻤﻴﻴﺰ ﻻﻋﺎﺩﺓ ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﻟﻪ ﺍﻥ ﻟﻢ ﻳﺘﺨﻠﻞ ﺑﺒﻨﻬﻤﺎ ﺍﻗﻞ ﺍﻟﻄﻬﺮ ﻓﻠﻮ ﻛﺎﻧﺖ ﻋﺎﺩﺗﻬﺎ ﺧﻤﺴﺔ ﻓﻰ ﺍﻭﻝ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﻭﺑﻘﻴﺘﻪ ﻃﻬﺮ ﻓﻠﻤﺎ ﻧﺰﻝ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺍﻟﺪﻡ ﻭﺍﺳﺘﻤﺮ ﺭﺃﺕ ﻋﺸﺮﺓ ﺍﺳﻮﺩ ﻣﻦ ﺍﻭﻝ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﻭﺑﻘﻴﺘﻪ ﺍﺣﻤﺮ ﻛﺎﻥ ﺣﻴﻀﻬﺎ ﺍﻟﻌﺸﺮﺓ ﻻ ﺍﻟﺨﻤﺴﺔ ﻓﻘﻂ . ﻷﻥ ﺍﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﺃﻗﻮﻯ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺎﺩﺓ ﻻﻧﻪ ﻋﻼﻣﺔ ﻓﻰ ﺍﻟﺪﻡ ﻭﻫﻰ ﻋﻼﻣﺔ ﻓﻰ ﺻﺎﺣﺒﺘﻪ ﻓﻠﻮﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻌﺎﺩﺓ ﻏﻴﺮ ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﻟﻠﺘﻤﻴﻴﺰ ﻛﻤﺎ ﻟﻮﻛﺎﻧﺖ ﻋﺎﺩﺗﻬﺎ ﺧﻤﺴﺔ ﺍﻳﺎﻡ ﻓﻰ ﺍﻭﻝ ﺍﻟﺴﻬﺮ ﻓﺠﺎﺀ ﺍﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﻛﺬﻟﻚ ﺣﻜﻢ ﻟﻬﺎ ﺑﻬﻤﺎ ﻣﻌﺎ ﻭﻟﻮ ﺗﺨﻠﻞ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﺍﻗﻞ ﺍﻟﻄﻬﺮ ﻛﺄﻥ ﺭﺃﺕ ﺑﻌﺪ ﺧﻤﺴﺘﻬﺎ ﻋﺸﺮﻳﻦ ﺿﻌﻴﻔﺎ ﺛﻢ ﺧﻤﺴﺔ ﻗﻮﻳﺎ ﻗﻢ ﺿﻌﻴﻔﺎ ﻓﻘﺪﺭﺍﻟﻌﺎﺩﺓ ﺣﻴﺾ ﻟﻠﻌﺎﺩﺓ ﻭﻗﺪﺭﺍﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﺣﻴﺾ ﺍﺧﺮ ﻟﻠﺘﻤﻴﻴﺰ .(حاشية الباجوري على ابن القاسم الغزي ج ١ ص ١١١)
…………
…….
Bagian ketiga dari mustahadhoh , adalah mu’taadah mumayyizah , artinya wanita yang pernah mengalmi haid dan suci sekaligus ,mampu membedakan warna darah yg ia keluarkan , hukum wanit seperri ini yang di jadikan acuan untuk menghukumi haid adalam tamyiz, bukan adat yang tidak sesui dengan tamyiz, dengan catatan antara adat dan tamyiz tidak di pisah oleh minimal suci(15hari15malam)
Sehingga apabila kebiasaan haidnya diawal bulan lima hari (di bulan january misalny), dan bulan berikutnya ia mengeluarkan darah 10hari dengan warna hitam dan di iringi warna merah sampai melebihi maksimal haid (15hari) maka haidnya adalah 10 hari , bukan 5hari. Kaerena tamyiz lebih kuat dijadikan acuan daripada adat. Karena tamyiz merupakan alamat bagi darah sedangkan adat merupakan alamat bagi yang mengeluarkannya , dengan demikian jika adat sama dengan tamyiz tentunya keduanya yang di jadikan acuan , juga andaikan adat dan tamyiz dipisah oleh minimal masa suci , maka masing2 punya hukum sendiri2.
Contoh :
Ketika bulan january ia mengalami haid 5 hari , dibulan berikutnya ia mengeluarkan darah selama 25 hari darah lemah , kemudiam 5 hari berikutnya darah kuat dan di 5hari berikutnya darah lemah . Maka untuk tgl 1-5 dihukumi haid karena adat. Tgl 6-20 dihukumi suci. Tgl 21-25 dihukumi haid lagi karena tamyiz. Sedangkan darah berikutnya adalah darah istihadhoh.
……..
Referensi
القليوبي الجزء الأول ص ١٠٥ دار الفكر
قوله (بالتمييز لا العادة) أي إن لم يتخلل بينهما نقاء أو ضعف قدر أقل الطهر وإلا عمل بهما فلو كانت عادتها خمسة من أول الشهر ثم رأت في شهر عشرين ضعفا ثم خمسة قويا فهذه الخمسة حيض لقوتها والخمسة الأول من العشرين حيض أيضا لوقوعها في محل العادة وقد أشار إلى ذلك في المنهج بقوله أما إذا تخلل بينهما أقل طهر كأن رأت بعد خمستها أي السابقة التي تثبت بها العادة عشرين ضعيفا ثم خمسة قويا ثم ضعيفا فقدر العادة أي من أول العشرين وهو خمسة حيض أي لوقوعة في محل العادة والقوي حيض آخر أي لقوته فراجعه.
روضة الطالبين الجزء الأول ص ١٨٣ دار الفكر
أما إذا تخلل بينهما أقل الطهر بأن رأت عشرين فصاعدا دما ضعيفا ثم خمسة يوما ثم ضعيفا وعادتها القادمة خمسة فقدر العادة حيض للعادة والقوي حيض آخر لأن بينهما طهرا كاملا هذا هو الصحيح.
.
………….
…………
:-©Menurut Muqobilul Ashoh mu’taadah mumayyizah haidnya di kembalikan ke adat.
Menurut Abu Said Al-Ushtuhri dan Abu ‘Ali bin Khoiron, hukum haidnya mu’taadah mumayyizah di kembalikan keadat, atau haid yang pernah ia alami, bahkan inilah yang banyak di pahami oleh wanita, dan kita tidak masalah mengikuti pendapat ini karena bagaimanapun beliau juga termasuk santri2 senior dari kalangan Syafi’iyah.

Risalah haid bag. 3
Referensi
هامس الحاوي الكبير ج ١ ص٤٩٣
أبو سعيد الأصطخري منسوب إلى اصطخر المدنية واسمه الحسن بن أحمد (٢٤٤-٣٢٨) من كبار أصحابنا وأئمتهم وعبادهم وأخبارهم كما في المجموع ج٢ص٣٨٩
التهذيب في فقه الإمام الشافعي للإمام أبي محمد بن مسعود بن محمد بن الفراء البغوي ج١ص٤٥٢
وقال ابن خيران : أبو علي الحسين بن صالح بن خيران كان من أئمة مذهب الشافعي قال الخطيب كان من افاضل الشيوخ واماثل الفقهاء مع حسن المذهب وقوة الورع واراد السلطان أن يولية القضاء فامتنع واستتر ومر بابه لامتناعه.
الحاوي الكبير ج ١ص٤٩٨
فمذهب الشافعي أنها ترد إلى تمييزها دون عادتها وقال أبو سعيد ألأصطخري وأبو علي بن خيران بل ترد إلى عادتها دون تمييزها إستدلالا بأمرين : أحدهما أن العادة تأتلف والتمييز يختلف والمؤتلف أولى بالإعتبار من الإختلاف والثاني أن العادة متكررة والتمييز منفرد وما تكرر أولى إعتبارا انفرد وهذا خطاء لأمرين : أحدهما أن التمييز صفة محل حيض الإشكال والعادة في غيره والدلالة على الشيئ بصفة أولى من الدلالة عليه لغيره، والثاني أن التمييز دلالة حاضرة والعادة دلالة ماضية والدلالة الحاضرة أول من الدلالة الماضية
………………
……….
Bagi Mu’taadah mumayyizah , pada daur atau bulan2 sebelum istihadhoh , ketika darah yang di keluarkan melebihi adatnya maka ia harus tetap menunggu sampai 15 hari , hal ini di karenakan darah yang di keluarkan memungkinkan berhenti sebelum 15hari , yang tentunya semua akan dihukumi haid.
Sedangkan untuk daur atau bulan ke 2 setelah istihadohnya ,ia harus melakukan ibadah2 seperti sholat, puasa dll. Sedangkan kwajiban mandinya saat pergantian darah kuat ke lemah sbgaimana mubtada’ah mumayyizah .
…….
Referensi
شرح روضة الطالب الجزء الأول ص ٣٠٣ دار الكتب العلمية
(فرع)المبتدءة المميزة وغير المميزة والمعتادة يتركن الصلاة بمجرد رؤية الدم فإن انقطع لدون يوم وليلة فليس بحيص في حقهن او انقطع لدون خمسة عشر يوما فالكل حيض فإن جاوز الخمسة عشر ردت كل إلى مردها ) وهو للأول الدم القوي وللثانية يوم وليلة وللثالثة دمها القوي أو عادتها (وقضت) كل منهن صلاة وصوم (ما زاد) على مردها (ثم في الشهر الثاني) وما بعده (يتركن التربص ويصلين ) ويفعلن ما تفعله الطاهرة فيما زاد على مردهن لأن الايتحاضة علة مزمنه فالظاهر دوامها . اهى بحذف
فتح الجواد الجزء الأول ص ٨٤-٨٥ مصطفى البابي الحلي
(وتحيض) أي يحكم بحيض المبتدأة والمعتادة (إن عبر) أي جاوز الدم (المرد) وهو يوم وليلة للمبتدأة غير المميزة وأيام العادة للمعتادة غير المميزة (أو ضعف ) الدم في المميزة معتادة كانت أو مبتدأة فلا تصوم ولا تصلي لا حتمال ان لايعبر الخمسة عشر فيكون الجميع حيضا فتتربص لتبين الحال (فإن استمر ) وجاوز الخمسة عشر(بان) الزمن الذي حيضناها فيه (طهرا) فتقضي صومه وصلاته (وفي الدور الثاني تطهر) أي يحكم بأنها طاهرة بمجرد المجاوزة والضعف فتصوم وتصلي ويغشاها الحليل لأن الإساحاضة علة مزمنة فالظاهر بقاؤها اهى.
……….

MUSTAHADHOH MU’TAADAH GHOIRU MUMAYYIZAH.
.
الصورة الرابعة هي المعتادة بأن سبق لها حيض وطهر كما مر غير المميزة بأن تراه بصفة كما مر أيضا الذكرة لعادتها قدرا ووقتا فترد اليها قدرا ووقتا فلو حاضت في شهر خمسة أيام من أوله مثلا ثم استحيضت فحيضها هو الخمسة في أول الشهر وطهرها بقية الشهر عملا بعدتها وإن لم تتكرر لأن العادة تثبت بمرة إن لم تختلف فإن اختلفت فلا تثبت بمرة (حاشية الباجوري ج ١ ص ١١١)
………….
Mustachadloh ke empat adalah Mu’taadah Ghoiru Mumayyizah yang ingat kebiasaan chaidlnya baik
dari segi kadar lamanya ia mengeluarkan darah atau waktu dimulainya keluar darah, wanita yang
mengalami seperti ini, chaidlnya dilkembalikan ke kebiasaanya. Sehingga seandainya kebiasaan chaidlnya
lima hari di awal bulan, dibulan berikutnya ia mengalami istichadloh, maka chaidlnya adalah lima hari di
awal bulan. Sedangkan hari berikutnya dihukumi suci sesuai dengan adatnya, walaupun adatnya belum
terulang, karena adat bisa dijadikan acuan meskipun baru sekali, demikian tadi, jika adatmya sama,
sehingga ketika adatnya berbeda maka tidak cukup hanya sekali.
.
Wanita ini di bulan pertama dari istihadlohnya, sebelum ia melewati lima belas hari, dihitung dari ia meegeluarkan darah, ia tidak diperbolehkan untuk mandi, karena memungkinkan darah terhenti sebelum lima belas hari yang tentunya semua akan dihukumǐ chaidl. Dan ia harus mengqodlo sholat dihari hari yang tidlak dihukumi chaidl, sedangkan di bulan berikutnya, kewajiban sholat, puasa dan mandinya setelah ia melewati adat yang ia alami sebelumnya, karena bulan pertama dari ia mengalami istichadhoh sudah bisa dijadikan acuan untuk bulan berikutnya
.
…………………..
……….
فإن تكرر الدور وانتظمت عادتها ونسيت انتظامها أولم تنتظم أولم يتكرر الدور ونسيت النوبةالأخيرة فيهما حيضت اقل النوبة واحتاطت في الزائد كما يعلم مما سيأتي أولم تنسها ردت إليها واحتاطت في الزائد إن كان أولم تنس انتظام العادة لم تثبت إلا بمرتين ، فلو حاضت في شهر ثلاثة وفي ثانيةخمسة وفي ثالثة سبعة ثم عاد دورها هكذا ثم استحيضت في شهر السابع ردت فيه إلى ثلاثة وفي الثامن إلى خمسة وفي التاسع إلى سبعة وهكذا اهى ( بجيرمي على المنهج ج ١ ص ١٢٩)
…………
حاشية الشيخ سليمان الجمل جـ اصـ٢٥٠ دارالفكر
(واعلم) أن المعتادة إذاجاوز دمها عادتا أمسكت عما تمسك عنه الحائض قطعا لاحتمال انقطاعه على رأس خمسة عشر فالكل حيض وإن عبرها قضت ما وراء عادتها وفي الدور الثاني وما بعده إذا عبر أيام عادتا اغتسلت وصامت وصلت لظهور الإستحاضة لأنها تثبت بمرة جزما اهى
…………………
المجموع شرح المهذب جـ ٢ ص٤١٧
فان استمر بها الدم في الشهر الثاني وجاوز العادة اغتسلت عند مجاورة العادة لانا علمنا بالشهر الاول أنها مستحاضة فتغتسل في كل شهر عند مجاوزة العادة وتصلي وتصوم.
الشرح هذا الذى ذكره متفق عليه ولم يذكروا فيه الخلاف في ثبوت العادة بمرة وقد سبق في الفصل الماضي دليله وهو ان الاستحاضة علة مزمنة فالظاهر دوامها
وقوله علما بالشهر الاول انها مستحاضة يعنى والظاهر بقاء الاستحاضة وقوله وتصلي وتصوم يعنى تصير طاهرا في كل شئ من الصوم والصلاة والوطئ والقراءة وغيرها وانما
اقتصر المصنف على ذكر الصوم والصلاة تنبيها بهما علي ما سواهما: وقوله تغتسل وتصلي وتصوم يعني يجب عليها ذلك وهكذا تفعل في كل شهر فان انقطع دمها في بعض الشهور على خمسة عشر فما دونها علمنا أنها ليست مستحاضة في هذا الشهر وان جميع ما رأته فيه حيض فتدارك ما يجب تدركه من الصوم وغيره وكذا ان كانت قضت في هذه الايام صلوات أو طافت أو اعتكفت تبينا بطلان جميع ذلك لمصادفته الحيض: قال أصحابنا وإذا صامت بعد أيام العادة في الشهر الثاني وما بعده وطافت وفعلت غير ذلك مما تفعله الطاهر المستحاضة صح ذلك ولا قضاء عليها بلا خلاف قالوا ولا يجئ فيه القول الضعيف الذى سبق في المبتدئة فانها تؤمر
بالاحتياط الي خمسة عشر وفرقوا بأن العادة قوية والله أعلم
…..
Sebelum kita membahas klasifikasi Mu’tadah Ghoinu Mumayizah berikut hukumnya, ada baiknya
kita mengetahui maksud dari istilahistilah yang terkait erat denganya :
(تنبيه) والمراد بالدور فيمن لم تختلف عادتها هو المدة التي تشتمل على حيض وطهر وفيمن اختلفت عادتها هو جملة الأشهر المشتملة على العادات المختلفة كثرت الاشهر أو قلت ع ش على م ر إهى (حاشية الشيخ سليمان الجمل ج ١ ص ٢٥١)
A. Daur
Pengertian daur bagi wanita yang siklusnya sama adalah masa yang mencakup masa chaidl dan
Sucl, sedangkan bagi wanita yang siklusnya berbeda, adalah jumlah bulan yang mencakup terhadap
adat – adat yang berbeda baik sedikit atau banyak.
Contoh: Wanita yang siklusnya sama : Bulan Januari dan Februari ia mengalami chaidl selama 7
hari (contoh dua daur).
.
Contoh: Wanita yang siklusnya berbeda :
(Daur pertama) bulan Januari 3 hari, Februari 5 hari.
(Daur kedua) bulan Maret 3 hari, April 5 hari.
.
و معنى التكرار عود الدور مرة أو أكثر ولو على غير نظم الأول ومعنى الإنتظام كون كل شهر اكثر مما قبله فلو رأت في شهر خمسة ثم في شهر ستة ثم في شهر سبعة أو عكسه فهذا انتظام فإن عاد الدور كذلك فهو تكرار أيضا ولو رأت في شهر ستة ثم شهر خمسة ثم شهر سبعة فهذا عدم انتظام فإن عاد الدور كذلك فهو تكرار أيضا ،وادعي بعدهم أن هذين من الإنتظام أيضا لتوافق الدورين ( قليوبي على الجلال ج ١ ص ١٠٥)
وهذا الإدعاء موفق لما ذكر من التمثيل المذكور في البجيرمي في قوله ( قوله ونسيت انتظامها) أي لم تعرف كيفية دوران الدور بأن لم تدر هل ترتب الدور في نحو المثال الآتي،هكذا الثلاثة ثم الخمسة ثم السبعة أو بالعكس أو الخمسة ثم الثلاثة ثم السبعة أو بالعكس وغير ذلك من الوجوه الممكنة تأمل ع ش . إلخ…..ومال شيخنا المكرم المرحوم أحمد جزولي بن عثمان بن سهل إليه فقال في تمثيلة اثنين ثم خمسة ثم ثلاثة في الدور الأول ثم اثنين ثم خمسة ثم ثلاثة في الدور الثاني هذا انتظام إهى قال ذلك يوم ثاني عشر ذي الحجة سنة ١٣٩٣ هجرية
….
B. INTIDHOM
.
Intidhom adalah chaidl yang di alami pada bulan ini lebih banyak atau lebih sedikit dari pada bulan abelumnya. Sehingga jika seorang wanita mengeluarkan darah di bulan Januari 5
hari, Februari : 6 hari, Mare er: 7 hari, atau sebaliklya maka contoh yang demikian dikategorikan intidhom.kemudian jika adat ini terulang maka ia juga disebut tikror.
..
Jika di bulan Januari ia mengeluarkan darah 6 hari, Februari 5 hari, Maret 7 hari maka contoh
yang demikian tidak masuk kategori intidhom, kemudian jika daur seperti ini terulang kembali, maka masuk kategori tikror, namun sebagian ulama’ ada yang berpendapat bahwa dua contoh di atas (5 6 7 dan 6 5 7) masuk kategori intidhom. Pernyataan seperti ini selaras dengan contoh yang terdapat dalam kitab Bujayromi ‘ala AlManhaj (atau urutannya 5 hari, 3hari ,7hari) bahkan beliau Almukarrom Syaikhuna Almarhum Achmad Djazuly lebih cenderung pada pendapat yang mengatakan intidhom. Dangan melihat contoh yang pernah beliau sampaikan adalah (pada daur awal 2 5 3 kemudian di daur kedua 2 5 3 ). Keterangan ini beliau sampaikan bertepatan pada tangal 13 dzulhijah tahun 1393 Hijriyah.
.
Maksud wanita yang lupa intidhom atau runtutnya adat adalah wanita yang tidak mengetahu bagaimanaka daur yang ia alami itu berputar, dengan gambaran wanita tersebut tidak tahu persis bagaimanak urutan damya apakah 3 5 7 atau sebaliknya 7. 5 3 atau kemungkinan-ken
yang lain seperti 5 3 7 atau sebaliknya 7 3 5.
.
……………..
.
C.TIKROR
Pengertian Tikroruddaur ( terulangnya Daur) ialah kembalinya Daur baik sekali atau Lebih ,walaupun tidak sebagaimana pola atau Runtutan yang semula.
.
Klasifikasi Mu’taadah Ghoiru mumayizah berikut Hukumnya ,
..

Daur Terulang ( tikrorruddaur) , Adat Berpola ( intidhom) dan ingat polanya .
.
يتكرر الدور وتنتظم عادتها وتذكر الإنتظام
..
Contoh :
Bulan 1 haid 3 hari
Bulan 2 haid 5 hari
Bulan 3 haid 7 hari
Bulan 4 haid 3 hari.
Bulan 5 haid 5 hari.
Bulan 6 haid 7 hari
Bulan 7 sampai 9 dia mengalami istihadhoh , maka Haidnya sbgai berikut. .
Bulan 7 haid 3 hari.
Bulan 8 haid 5 hari.
Bulan 9 haid 7 hari.
.
Referensi :
.
التحرير مع حاشية الشرقاوي الجزء الاول ص ١٥٥-١٥٦ دار الفكر
(وإلا) بأن كانت غير المميزة معتادة (ف) ترد ( لعادتها) قدرا ووقتا إن كانت حافظة لذلك لكنها في الدور الأول تصير حتى يعبر الدم الخمسة عشر إن تقصت عنها عادتها فتغتسل وتقضي ما زاد على عادتها وفي الدور الثاني تغتسل بمجرد مضي عادتها وتثبت العادت بمرة ومحل ذلك إذا اتفقت عادتها أو اختلفت واتسقت فإن لم تتسق ردت لمتلو الاستحاضة أو نسيت اتساقها اغتسلت آخر كل نوبة.
(قوله او اختلفت واتسقت) أي توالت وتتابعت على وزان ونسق واحد فلو حاضت في شهر ثلاثة وفي ثانية خمسة وفي ثالثة سبعة ثم عاد دورها هكذا ثم استحيضت في الشهر السابع ردت فيه إلى ثلاثة وفي الثامن إلى خمسة وفي التاسع إلى سبعة وهكذا لأن تغاقت الأقدار المختلفة قد صار عادة لها فلابد في رد هذه العادة من تكرار الدور مرتين ولا تثبت عادتها إلا بذلك
.
..

Daur terulang siklusnya berpola, dan wanita tersebut lupa pola, baik ia ingat adat chaidl sebelum ia mengalami istichadloh atau lupa, serta baik adat chaidl sebelum m istichadloh adalah yang trbesar ataupun terkecil
.
يتكرر الدور وتنتظم عادتها وتنسى انتظام سواء أذكرت النوبة الآخيرة نسيتها وسواء أكانت الأخيرة أكثر النوب أو أقلها.
.
..
Contoh : Seorang wanita pernah mengalami chaidl dengan formasi sebagai berikut :
Daur pertama (bulan 1 2 3) : 5 67
Daur kedua (bulan 4 5 6) : 5 6 7
Di bulan berikutnya ia mengalami pendarahan selama enam bulan, dan ia lupa susunan pola
sebelumnya, maka untuk hukum chaidl tiap bulannya adalah 5 hari, sedangkan hari berikutnya
dihukumi istichadloh.
..
Referensi :
..
حاشية الشيخ عبد الحميد الشرواني ج ١ ص ٤٣٢ دار الفكر
.
وأما اذا تكرر الدور وتنتظمت ونسيت انتظامها فتحيض أقل انوب وان كانت ذاكرة للنوب الأخيرة اهى
.
حاشية الشيخ سليمان الجمل ج ١ ص ٢٥١.
وأما إذا تكرر وانتظمت العادة ونسيت الانتظام فانها تحيض أقل النوب سواء أذكرت النوبة الاخيرة أو نسيتها وسواء أكانت الأخيرة أكثر النوب أو أقلها و حينئذ تحتاط للزائد
.
.
Tanbih
Perlu untuk diperhatikan, bahwa kewajiban mandi dan melakuk rutinitas sebagaimana shalat
dan lain lain bagi wanita ini di bulan pertama istichadloh (bulan ke 7) yaitu setelah darah melewati lima belas hari ,sedangkan di bulan berikutnya kewajiban melakukan mandi ikhtiyat untuk melakukan rutiinitas sholat dan lain lain , setelah ia melewati hari yg di hukumi Haid ( akhir hari ke 5 , ke 6 dan ke 7) selain itu pada tanggal tersebut dari segi hukum , satu sisi ia sperti org haid , dan di sisi lain seperti org suci .
..
Referensi
.
……………………………….
حاشية الشيخ سليمان الجمل ج ١ ص ٢٥١
فالمراد بهذ الاحتياط أنها تغسل عند كل نوبة من الزائد وتكون في هذاه المدة كحائض في أحكام وطاهر في أحكام إهى
.
الشرقاوي الجزء الاول ص ١٥٦ دار الفكر
.
(قوله أو نسيت انتساقها) أي ونسيت النوبة الأخيرة أيضا وإلا ردت لمتلو الاستحاضة كالذي قبله فترد في ذلك في ثلاث صور إن لم تنتسق عادتها أو لم يتكرر الدور أو تكرار وانتسق ونسيت انتساقها وقد عرفت النوبة الأخيرة في الثلاث وتغتسل آخر كل نوبة في الصور الثلاث المذكورة إن لم تعرف النوبة الأخيرة
.
.
3 . Daur berulang ,adat tidak berpola ,lupa pada adat haid sebelom ia mengalami istihadoh .
.
يتكرر الدور ولم تنتظم عادتها ونسيت النوبة الآخيرة
.
Daur pertama bulan 1 2 3 haidnya 6 5 7
Daur ke dua bulan 4 5 6 haidny 6 5 7
Di bulan ke 7 dan seterusnya ia mengalami istihadoh maka hukum haidnya di tiap bulan adalah 5 hari .
.
Referensi
.
حاشية الجمل ج ١ ص ٢٥١-٢٥٢ دار الفكر
.
الثالثة أن يتكرر الدور ولم تنتظم العادة ، فإن نسيت النوبة الأخيرة حيضت أقل النوبة واحتاطت في الزائد
.
.

Daur berulang , adat tidak berpola , dan ingat adat sebelum ia mengalami iatihadoh
..
يتكرر الدور ولم تنتظم عادتها ولم تنس النوبة الآخرة.
.
Contoh :
Daur pertama bulan 1 2 3 haidny 6 5 7
Daur kedua. Bulan 4 5 6 haidnya 6 5 7
Di bulan 7 dan bulan2 setelahnya ia mengalami istihadoh , mk yg di hukumi haid adalah 7 hari dan Bila adat sebelumnya ia mengalami istihadoh dg jumlah yg terkecil , maka ia harus mandi ihtiyat unt kelebihannya .
.
Contoh
Bulan 1 2 3 haidnya 6 7 4
Bulan 4 5 6 haidnya 6 7 4
.
Dibulan 7 dan seterusnya ia mengalami istihadoh maka yg dihukumi haid adalah 4 hari . Dan dibulan ke 8 setelah melewati 3 hr ia harus mandi ketika hendak melaksanakan sholat.
.
حاشية الجمل ج ١ ص ٢٥١-٢٥٢ دار الفكر
.
الثالثة أن يتكون الدور ولم تنتظم العادة ،فإن نسيت النوبة الأخيرة حيضت أقل النوب واحتاطت في الزائد ، وإن لم تنسها ردت إليها واحتاطت في الزائد إن كان بأن كانت النوبة الأخيرة في مثالها ثلاثة
.
.

Daur tidak berulang ,dan ia lupa adat haid sebelum ia mengalami istihadoh .
.
لم يتكرر الدور ونسيت النوبة الاخيرة
.
Contoh :
Bulan 1 haid 5 hari
Bulan 2 haid 6 hari.
Bulan 3 haid 7 hari.
Dibulan 4 dan slanjutny ia mengalami istihadoh maka haidnya tiap bulan adalah 5 hari ( adat haid paling sedikit )
..
Referensi ;
حاشية الجمل ج ١ص ٢٥٢ دار الفكر
.
الرابعة أن لا يتكرر الدور ، فإن نسيت النوبة الأخيرة حيضت أقل النوب واحتاطت في الزائد
.
.

Daur Tidak berulang dan ia ingat adat haid sebelum ia mengalami istihadoh.
.
لم يتكرر الدور وذكرت النوبة الآخرة
.
Contoh
Bulan 1 haid 7 hari
Bulan 2 haid 6 hari.
Bulan 3 haid 5 hari.
Bulan 4 dan sterusnya ia mengalami istihadoh mka yg di hukumi haid adalah 5 hri .
.
حاشية الجمل ج ١ ص٢٥٢ دار الفكر
.
الرابعة أن لا يتكرر الدور ، فإن نسيت النوبة الأخيرة حيضت أقل النوب واحتاطت في الزائد ، وإن ذكرتها حيضت سواء كانت أكثر أو أقل ولا احتياط خلافا للشارح ، لأن العادت الأخيرة تنسج ما قبلها كما ذكره سم والشيخ سلطان وغيرهما فتأمل اهى شيخنا الأشبولي غن شيخنا الحفني

Mustachadoh Mu’taadah Ghoiru mumayyizah yang lupa adatnya baik kadar lamanya atau waktunya .
الصورة الخمسة هي المعتادة غير المميزة الناسية لعادتها قدرا ووقتا بأن سبق لها حيض وطهر ولم تعلم عادتها قدرا ووقتا فهي كحائض في أحكام كحرمة التمتع بها والقرأة في غير الصلاة احتياطا لأن كل زمن يمر عليها يحتمل الحيض وكطاهر أحكام كوجوب الصلاة والصوم احتياطا لأن كل زمن يمر عليها يحتمل الطهر
.
Mustachadloh yang kelima, adalah Mu’tadaah Ghoiru Mumayizah yang lupa kebiasaan chaidlnya, baik dari sgi kadar lamanya atau waktunya, Mustachadloh ini juga dikenal dengan mitahayiroh. Maksudnya ia dalam keadaan kebingungan. sebab hari2 yang ia lalui mungkin haid dan mungkin suci . Sehingga ia dihukumi sebagaimana orang Haid dalam masalah masalah sebagai berikut :

Bersentuhan kulit dengan suaminya pada anggota yang berada di antara pusar dan lutut.

Membaca AlQur’an diluar sholat.
*Menyentuh AlQur’an

Membawa Alquran
*Berdiam di dalam masjid selain untuk ibadah yang tidak dapat dikerjakan di luar masjid.
*Lewat masjid jika khawatir darahnya akan menetes di masjid.
Dan dia dihukumi sebagaimana orang yang suci, dalam masalah : :
*Sholat, baik fardbu atau sunah.
*Thowaf, baik fardlu atau sunah
*Berpuasa, baik fardlu atau sunah.
*l’tikaf.
*Tholaq.
*Mandi.
.
..
Referensi:
البحيرمي على الخطيب الجزء الأول ص ٣٤٧-٣٤٦دار الفكر
فإن نسيت عادتها قدرا ووقتا وهي مميزة فكحائض في أحكامها السابقة لاحتمال كل زمن يمر عليها الحيض لا في طلاق وعبادة تفتقر لنية كصلاة وتغتسل لكل فرض إن جهلت وقت انقطاع الدم.
(قوله في أحكامها السابقة) كتمتع وقراءة في غير صلاة أي كحرمة تمتع وقراءة لأن التمتع والقراءة ليسا حكما فتحرم عليها القراءة وإن خافت نسيان القرآن لتمكنها من
إجرائه على قلبها أما في الصلاة فجائزة مطلقا أي فاتحة وغيرها ولو جميع القرآن لأن حدثها غير محقق في كل وقت بخلاف فاقد الطهورين ح ل وق ل. والمراد بالتمتع التمتع بما بين السرة والركبة. والحاصل أنما كالحائض في التمتع والقراءة والمكث في المسجد ومس المصحف وحمله وكالطاهر في الطلاق والصلاة والصوم والاعتكاف والطواف ومحل جواز دخولها المسجد إذا كان لعبادة متوقفة على دخوله كالطواف والاعتكاف ولو مندوبين، وإذا أجرت القرآن على قلبها فتثاب على ذلك لعذرها كما قرره شيخنا ح ف قال ع ش على م ر. فلو لم يكف في دفع النسيان إجراؤه على قلبها ولم يتفق لها القراءة في الصلاة لمانع بها كا شتغالها بصنعة تمنعها من تطويل الصلاة والنافلة جاز لها القراءة، ويجوز لها القراءة للتعلم لأن تعلم القراءة من فروض الكفايات وينبغي جواز مس المصحف وحمله إن توقفت قراءتها عليهما، وإذا قلنابجواز القراءة خوف النسيان فهل يجب عليها أن تقصد بتلاوتها الذكر أو تطلق لحصول المقصود من دفع النسيان مع ذلك؟ قلت: الظاهر انه لا يجب عليها ذلك بل يجوز لها قصد القراءة لأن حدثها غير محقق والعذر قائم بها فلا تمنع من قصد القراءة المحصل للثواب ثم إن كانت قراءتها مشروعة سن للسامع لها سجود التلاوة وإلا فلا كما في ع ش على م ر
.
.
Tanbih
Menurut sebagian Ulama , Mutahayyiroh haidnya adalah hari pertama ia mengeluarkan darah ,bahkan ada juga yang mengatakan bahwa hukum haidnya dikembalikan pada umumnya Haid yaitu enam atau tujuh hari.
..
Referensi
المجموع شرح المهذب ج ٢ ص٤٣٣ دار الفكر
فإن كانت ناسية للوقت والعدة هي المتحيرة ففيها قولان أحدهما أنها كالمبتدأة التي لا تمييز لها نص عليه في العدد فيكون حيضها من أول كل هلال يوما و ليلة أحد القولين وستا أو سبعا في الآخر
.
.
……………..
وتغتسل لكل فرض في وقته لاحتمل الانقطاع حينئذ إن جهلت وقت انقطاع الدم فإن علمته كأن عرفت أنه كان ينقطع عند الغروب فلا يلزمها الغسل الا عند الغروب وتتوضاء لباقي الفرائض لاحتمال الإنقطاع عند الغروب دون ما عداه
.
Wanita ini tiap ingin melakukan sholat fardlu, ia harus mandi di waktunya, ketentuan seperti ini
jika ia tidak tahu waktu terhentinya darah saat chaidl sebelum istihadoh ,sehigga jika ia mengetahui
waktu terhentinya, seperti disaat terbenamnya matahari, bukan di waktu lainnya, maka kewajiban
mandi hanya di saat terbenamnya matahari, sedangkan untuk melakukan sholat fardlu lainya, ia cukup wudlu’ karena kemugkinan terhentinya darah hanya di saat terbenamnya matahari.
.
وتصوم رمضان ثم شهرا كاملا فيبقى عليها يومان لاحتمال أن يطرأ عليها الحيض في اثناء اليوم الأول مع احتمال كونها تحيض أكثر الحيض فيرتفع على هذا الاحتمال يوم السادس عشر فيصح لها أربعة عشر من كل شهر من الشهرين بثمانية وعشرين يوما فيبقى عليها يومان فتصوم لهما من ثمانية عشر ثلاثة أولها وثلاثة أخرها فيحصلان وهذه المرأة الناسية تسمى متحيرة اهى ( الباجوري ج ١ص١١١
.
Ketika hal inu terjadi di bulan Ramadhan , maka ia harus puasa sebulan penuh dan ditambah sebulan lagi , sehingga masih dua hari yang semestinya harus di qodho’i karena haid mungkin
terjadi dipertengaban hari pertama, juga mungkin itu terjadi selama lima belas hari, sehingga chaidl bisa
dipastikan berakhir pada pertengahan hari ke enam belas. Dari uraian tersebut kita bisa mengambil
kesimpulan bahwa : Puasa dua bulan yang ia lakukan setiap bulannya, yang dianggap sah hanyalah
empat belas hari, dan tentunya ia masih punya kewajtban dodlo” dua hari. Sebab mungkin saja dia
sebenarnya chaidl 15 hari 15 malam (batas maksimal chaid), sehingga semisal Ramadlan 29 hari, puasa
yang sah ia lakukan adalah 13 hari, sebab seumpama chaidlyang ia alami mulai tanggal 1 siang, chaidl
tersbut akan berakhir pada tanggal 16 siang.Dan seumpama chaidl yang ia alami mulai tanggal 2, maka akan berakhir tanggal 17, dan seterusnya. Sehingga puasa yang sah tetap 13 hari.
Jadi sama halnya, 29 dikurangi 16 hari ,=13 hari, puasa yang 13 hari ini, sah secara yaqin.
Bila Ramadlan berumur 30 hari maka sama halnya : 30 dikurangi 16 hari =14 hari, puasa yang 14
hari ini, sah secara yagin.
Dari tata cara puasa tersebut, ia masih mempunyai hutang puasa 2 hari, baik usia Ramadlan 29
ataupun 30 hari. Dengan kalkulasi sebagai berikut:
Jika usia Ramadlan 29 hari, maka 13 (29-16) + 14 (30-16) =27
Jika usia R Ramadlan 30 hari, maka 14 (30-16)+ 14 (30-16) = 28
Sedangkan cara menggodlo’ yang dua hari, bisa ia lakukan dalam lingkup delapan belas hari, tiga
di awal, dan tiga diakhir
Dengan cara seperti ini, hutang puasa 2 hari sudah terpenuhi, sebab:
Jika mulai chaidlnya sebenarnya terjadi pada puasa ke 1, maka masa chaidl akan berakhir pada puasa
ke 4, sehingga puasa yang ke 5 dan ke 6 dihukumi sah, karena jarak antara puasa ke 1 dan ke 4
Sudah lebih dari kemungkinan paling lamanya chaidl (15 hari).
Jika mulai chaidlnya sebenarnya terjadi pada puasa ke 2, maka puasa yang ke 1 dan ke 6 dibukumi
sah.
Jika mulai chaidlnya sebenarnya terjadi pada puasa ke 3, maka puasa yang ke 1 dan ke 2
dihukumi sah.
.
Referensi
روضة الطالبين الجزء الأول صــ ١٨٨ دار الفكر
أما إذا أرادت قضاء أكثرمن يوم فتضعف ما عليها وتزيد يومين فتصوم نصف المجموع متواليا متى شاءت وتصوم النصف الآخر من أول السادس عشر، فإذا أرادت
يومين صامت ثلاثة متوالية متى شاءت ثم أفطرت تمام خمسة عشر ثم صامت السادس عشر والسابع عشر والثامن عشر وإن أرادت ثلاثة صامت أربعة ثم أربعةأولها
السادس عشر وإن أرادت أربعة عشر صامت الشهر كله ولو أنما صامت ما عليها على الولاء متى شاءت من غير زيادة وأعادته من أول السابع عشر وصامت بينهما يومين مجتمعين أو متفرقين إما متصلين بالضوم الأول أو الثاني وإما غير متصلين الخرجت من العهدة. هذا كله في قضاء الصوم الذي لا تتابع فيه وأما المتتابع بنذر أو
غيره فإن كان قدرا يقع في شهر صامت على الولاء ثم صامت مرة أخرى من السابع عشر
تخنة المحتاج الجزء الأول ص ٤٣٧ دار الفكر
(وتصوم رمضان) لاحتمال أنها طاهر جميعه (ثم )تصوم (شهرا)آخر (كاملين) إلى أن قال- (فيحصل) لها بفرض أن رمضان ثلاثون يوما (من كل )منهما (أربعةعشر) يوما لاحتمال أن حيضها الأكثر وأنه طرأ أثناء يوم وانقطع أثناء السادس عشر فيبطل منه ستة عشر يوما فإن نقص رمضان حصل لها منه ثلاثة عشر وبقي عليها
ستة عشر فإذا صامت شهرا كاملا بقي عليها يومان هنا أيضا فالكمال في رمضان قيد لغرض حصول الأربعة عشر لا لبقاء اليومين كما هو واضح فلا اعتراض على
المتن كما لا يعترض عليه بأنه لا يبقى عليها شيء إذا علمت أن الانقطاع كان ليلا لوضوحه أيضا (ثم) إذا بقي عليها يومان (تصوم من ثمانية عشر) يوما ستة أيام
(ثلاثة أولها وثلاثة آخرها فيحصل اليومان الباقيان) لأن الحيض إن طرأ أثناء أول صومها حصل الأخيران أو ثانيه فالأول والثامن عشر او ثالثه فالأولان أو أثناء السادس
عشر حصل الثاني والثالث أو السابع عشر فالثالث والسادس عشر أو الثامن عشر فالسادس عشر والسابع عشر ولا تتعين هذه الكيفية كما هو مبسوط في المطولات بل بالغ بعضهم فقال يمكن تحصيلها بكيفيات تبلغ الف صورة وصورة ولعله جميع مسائل الصوم بأنواعه لا في هذه الصورة بخصوصها لبداهة فساده (ويمكن قضاء في يوم) عليها بنذر مثلا (بصوم يوم ثم) صوم (الثالث ) من الأول (والسابع عشر) منه لوقوع يوم من الثلاثة في الطهر بكل تقدير كما علم مما مر ولا يتعين هذا أيضا
.

MUSTAHADHOH MU’TAADAH GHOIRU MUMAYYIZAH yang ingat adatnya hanya dalam hal kadar lamanya bukan waktunya .
الصورة السادسة هي الذاكرة لعادتها قدرا لا وقتا كأن تقول كان حيضي خمسة في العشر الأول من الشهر لا أعلم ابتداءها وأعلم أني في اليوم الأول طاهرة بيقين والسادس حيض بيقين فالأول طهر بيقين والعشرين الأخيرين والثاني إلى أخر الخامس محتمل للحيض والطهر دون الإنقطاع والسابع إلى أخر العاشر محتمل للحيض والطهر والإنقطاع فلليقين من حيض وطهر حكمه وهي في المحتمل كناسية لهما فيما مر ومعلوم أنه لايلزمها الغسل إلا عند احتمال الإنقطاع ويسمى ما يحتمل الإنقطاع طهرا مشكوكا فيه وما لا يحتمله حيضا مشكوكا فيه إهى ( الباجوري ج ١ص١١١)
Mustachadloh keenam, adalah wanita yang ingat kadar lamanya ia megeluarkan darah, namun ia lupa kapankah darahnya mulai keluar.
Contoh : Seorang wanita menyatakan : Saya pernah chaidl selama lima hari dalam lingkup sepuluh hari
yang awal, (antara tanggal 1- 10), namun saya tidak tahu kapankah darah itu mulai keluar, tapi saya
benar- benar yakin bahwa tanggal satu suci, sedangkan tanggal enam chaidl, jika demikian : maka tanggal satu dihukumi suci, tanggal dua sampai lima adalah hari yang memungkinkan ia chaidl dan suci, tanggal enam dihukumi chaidl, sedangkan tanggal tujuh adalah hari yang memungkinkan ia chaidl dan suci.
Perlu difahami bahwa:

Hari yang ia yakini suci (tanggal 1), ia harus menjalani hal- -hal yang harus dijalani orang suci.

Hari yang ia yakini chaidl (tanggal 6), ia harus menjalani hal-hal yang harus dijalani orang yang chaidl
*Pada hari – hari yang ada kemungkinan suci dan chaidl (anggal 2 -5 dan tanggal 7 – 10) ia harus
menjalani seperti Mutachayiroh dan kewaiib mandi hanya pada waktu yang memungkinkan darah
terhenti (yakni tanggal 7- 10)
Referensi
البجيرمي على الخطيب الجزء الاول ص ٣٤٨-٣٤٩ دار الفكر
فإن ذكرت الوقت دون القدر أو بالعكس فلليقين من حيض وطهر حكمه وهي في الزمن المحتمل للحيض والطهر كناسية لهما فيما مر. ( قوله فإن ذكرت الوقت الخ) والذاكرة للوقت كأن تقول كان حيضي يبتدئ أول الشهر فيوم وليلة منه حيض بيقين ونصفه الثاني طهر بيقين وما بين ذلك يحتمل الحيض والطهر والإنقطاع . شرح المنهج أي فتغتسل فيه لكل فرض . والذاكرة للقدر كأن تقول كان حيضي خمسة في العشر الأول من الشهر لا أعلم ابتداءها وأعلم أني في اليوم الأول طاهر فالسادس حيض بيقين والأول طهر بيقين كالعشرين الأخيرين والثاني إلى أخر الخامس محتمل للحيض والطهر أي فتتوصأ لكل فرض ولاتغتسل والسابع إلى أخر العاشر محتمل لهما واللانقطاع للأنه إن طرأ الحيص في الثاني فينقطع في السابع وإن طرأ في الثالث انقطع في الثامن وإن طرأ في الرابع انقطع في التاسع وإن طرأ في الخامس ينقطع في العاشر فتغتسل لكل فرض فيها لأنها لاتغتسل إلا عند احتمال الانقطاع
.
.

MUSTAHADHOH MU’TAADAH GHOIRU MUMAYYIZAH yang ingat adatnya hanya dalam hal waktu bukan kadar lamanya .
.
الصورة السابعة هي الذاكرة لعادتها وقتا لا قدرا كأن تقول كان حيضي يبتدئني أول الشهر ولا أعلم قدره فيوم وليلة منه حيض بيقين ونصفه الثاني طهر بيقين وما بين ذلك محتمل للحيض والطهر والإنقطاع فلليقين من حيض وطهر حكمه وهي في المحتمل كناسية لهما كما مر في التي قبلها اهى (الباجوري ج ١ ص ١١١)
Mustachadloh ketujuh, adalah wanita yang ingat kebiasaan chaidlnya, namun dari segi waktunya saja,
tidak kadar lamanya.
Contoh:
Seorang wanita menyatakan bahwa chaidl yang pernah dialami, mulai dari awal bulan, namun dia tidak tahu berapa lamanya, maka sehari semalam dari awal bulan dihukumi chaidl, tanggal 16 -30 dihukumi suci, sedang tanggal 2- 15 ada kemungkinan chaidl, suci dan terhenti. Dengan demikian maka :

  • Hari yang ia yakini suci (tangral 16-30), ia harus menjalani sebagaimana orang yang suci.
  • Hari yang ia yakini chaidl (tanggal 1), ia harus meninggalkan hal-hal yang ditinggalkan wanita chaidl.
    *Hari hari yang mungkin chaidl dan suci (tanggal 2-15), maka dihukumi seperti Mutachayiroh
    Tammat untuk bab Haid .

MEMBACA AL-QUR’AN DI HP BAGI WANITA YANG SEDANG HAIDL

Pertanyaan :

1.  Bagaimana hukum perempuan yang membaca Al-Qur’an dengan menggunakan HP pada saat berhalangan?

2.  Bagaimana perempuan yang berhalangan di bulan Romadhon, 10 hari terakhir tetap bisa beribadah dan mendapatkan pahala terutama dalam lailatul qodar?

Jawaban :

1.  Khilaf :

a.  Haram, menurut madzhab Syafi’iyah.

b.  Boleh jika perempuan tersebut keadaan aktif darah haid/nifasnya. Ini menurut madzhab Malikiyah.

Catatan :

•  Tulisan ayat al-Qur’an dilayar komputer/HP termasuk mushaf sehingga hukum menyentuh, membaca & membawanya haram bagi orang yang junub, haid & nifas apabila tulisan ayat al-Qur’an muncul dilayarnya untuk dibaca/belajar/mengajar. Ini menurut madzhab Syafi’iyah.

2.  Tetap mendapatkan pahala dan boleh beribadah sebagai berikut :

a.  Membaca ayat al-Qur’an di hati tanpa suara dan juga boleh melafadkan (membaca) ayat al-Qur’an dengan niat zikir, do’a, menghafal, menjaga hafalan, bercerita, tabarrukan (ingin mendapakan banyak kebaikan), menegur kesalahan baca atau mengajar tanpa disertai niat membaca al-Qur’an. Dua kegiatan ini tanpa menyentuh mushaf al-Qur’an.

b.  Membaca tahlil, tasbih, tahmid, takbir, sholawat pada Nabi Muhammad SAW dan zikir-zikir yang lain (baik ada ayat al-Qur’an_nya atau tidak ada) tanpa disertai niat membaca al-Qur’an.

Catatan :

•  Haram dan tidak sah (tidak mendapatkan pahala) melakukan ibadah sholat, menyentuh & membawa mushaf al-Qur’an, diam di masjid, membaca ayat al-Qur’an, puasa, thawaf dan bersenggama.

Referensi jawaban no. 1 :

Hukum membaca ayat al-Qur’an di mushaf

بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي – (ص 52) بيروت – دار الفكر

وَتَحْرُمُ قِرَاءَةُ القُرْآنِ عَلَى نَحْوِ جُنُبٍ بِقَصْدِ القِرَاءَةِ وَلَوْ مَعَ غَيْرِهَا لَا مَعَ الِإطْلَاقِ عَلَى الرَّاجِحِ وَلَا بِقَصْدِ غَيْرِ الْقِرَاءَةِ كَرَدِّ غَلَطٍ وَتَعْلِيمٍ وَتَبَرُّكٍ وَدُعَاءٍ

الموسوعة الفقهية الكويتية – (ج 18 / ص 322) الكويت – دارالسلاسل

وَذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ إِلَى أَنَّ الْحَائِضَ يَجُوزُ لَهَا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي حَال اسْتِرْسَال الدَّمِ مُطْلَقًا، كَانَتْ جُنُبًا أَمْ لاَ، خَافَتِ النِّسْيَانَ أَمْ لاَ. وَأَمَّا إِذَا انْقَطَعَ حَيْضُهَا، فَلاَ تَجُوزُ لَهَا الْقِرَاءَةُ حَتَّى تَغْتَسِل جُنُبًا كَانَتْ أَمْ لاَ، إِلاَّ أَنْ تَخَافَ النِّسْيَان

حاشية الصاوي على الشرح الصغير في مذهب الإمام مالك – (ج 1 / ص 247)

( إلَّا لِمُعَلِّمٍ وَمُتَعَلِّمٍ وَإِنْ حَائِضًا لَا جُنُبًا ) : أَيْ يَحْرُمُ عَلَى الْمُكَلَّفِ مَسُّ الْمُصْحَفِ وَحَمْلُهُ، إلَّا إذَا كَانَ مُعَلِّمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا، فَيَجُوزُ لَهُمَا مَسُّ الْجُزْءِ وَاللَّوْحِ وَالْمُصْحَفِ الْكَامِلِ، وَإِنْ كَانَ كُلٌّ مِنْهُمَا حَائِضًا أَوْ نُفَسَاءَ لِعَدَمِ قُدْرَتِهِمَا عَلَى إزَالَةِ الْمَانِعِ بِخِلَافِ الْجُنُبِ لِقُدْرَتِهِ عَلَى إزَالَتِهِ بِالْغُسْلِ أَوْ التَّيَمُّمِ. وَالْمُتَعَلِّمُ يَشْمَلُ مَنْ ثَقُلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ فَصَارَ يُكَرِّرُهُ فِي الْمُصْحَفِ ( وَإِلَّا حِرْزًا بِسَاتِرٍ وَإِنْ لِجُنُبٍ، كَبِأَمْتِعَةٍ قُصِدَتْ ) : هَذَا مَعْطُوفٌ عَلَى الِاسْتِثْنَاءِ قَبْلَهُ أَيْ : إلَّا لِمُعَلِّمٍ، وَإِلَّا إذَا كَانَ الْقُرْآنُ حِرْزًا بِسَاتِرٍ : يَقِيهِ مِنْ وُصُولِ قَذَارَةٍ إلَيْهِ، فَإِنَّهُ يَجُوزُ حَمْلُهُ خَوْفًا مِنْ ارْتِيَاعٍ أَوْ مَرَضٍ أَوْ رَمَدٍ وَلَوْ لِلْجُنُبِ، وَأَوْلَى الْحَائِضُ. وَظَاهِرُهُ وَلَوْ مُصْحَفًا كَامِلًا هُوَ كَذَلِكَ عَلَى أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ وَمِثْلُ ذَلِكَ حَمْلُهُ بِأَمْتِعَةٍ قُصِدَتْ بِالْحَمْلِ، كَصُنْدُوقٍ وَنَحْوِهِ فِيهِ مُصْحَفٌ أَوْ جُزْءٌ وَقَدْ حَمَلَهُ فِي سَفَرٍ أَوْ غَيْرِهِ. فَإِنْ قُصِدَ الْمُصْحَفُ فَقَطْ أَوْ قُصِدَا مَعًا، مُنِعَ إذَا كَانَ قَصَدَ الْمُصْحَفَ ذَاتِيًّا لَا بِالتَّبَعِ لِلْأَمْتِعَةِ، وَإِلَّا جَازَ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ وَكَذَا حَمْلُ التَّفْسِيرِ وَمَسُّهُ لَا يَحْرُمُ لِأَنَّهُ لَا يُسَمَّى مُصْحَفًا عُرْفًا

Pengertian mushaf

ﻧﻬﺎﻳﺔ ﺍﻟﺰﻳﻦ – (ص 32)

ورابعها مس المصحف ولو بحائل ثخين حيث عد ماسا له عرفا والمراد بالمصحف كل ما كتب فيه شيء من القرآن بقصد الدراسة كلوح أو عمود أو جدار كتب عليه شيء من القرآن للدراسة فيحرم مسه مع الحدث حينئذ سواء في ذلك القدر المشغول بالنقوش وغيره كالهامش ومابين السطور ويحرم أيضا مس جلده المتصل به وكذا المنفصل عنه مالم تنقطع نسبته عنه

ﺣﺎﺷﻴﺔ ﺍﻟﺒﺠﻴﺮﻣﻰ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﻄﻴﺐ – (ﺝ 3 / ﺹ 498)

وقوله ” كتابة ” وضابط المكتوب عليه كل ما ثبت عليه الخط كرق وثوب سواء كتب بحبر أو نحوه ونقر صور الأحرف في حجر أو خشب أو خطها على الأرض، فلو رسم صورتها في هواء أو ماء فليس كتابة في المذهب كما قاله الزيادي

حاشية الجمل – (ج 18 / ص 139)

وَضَابِطُ الْمَكْتُوبِ عَلَيْهِ كُلُّ مَا يَثْبُتُ عَلَيْهِ الْخَطُّ كَرَقٍّ وَثَوْبٍ سَوَاءٌ كَتَبَ بِحِبْرٍ وَنَحْوِهِ أَوْ نَقَرَ صُوَرَ الْأَحْرُفِ فِي حَجَرٍ أَوْ خَشَبٍ أَوْ خَطَّهَا عَلَى الْأَرْضِ فَلَوْ رَسْم صُورَتَهَا فِي هَوَاءٍ أَوْ مَاءٍ فَلَيْسَ كِنَايَةً فِي الْمَذْهَبِ ا هـ زي

تحفة المحتاج في شرح المنهاج  – (ج 2 / ص 131)

( وَ ) حَمْلُ وَمَسُّ ( مَا كُتِبَ لِدَرْسِ قُرْآنٍ ) وَلَوْ بَعْضَ آيَةٍ ( كَلَوْحٍ فِي الْأَصَحِّ ) ؛ لِأَنَّهُ كَالْمُصْحَفِ وَظَاهِرُ قَوْلِهِمْ بَعْضَ آيَةٍ أَنَّ نَحْوَ الْحَرْفِ كَافٍ وَفِيهِ بُعدٌ بَلْ يَنْبَغِي فِي ذَلِكَ الْبَعْضِ كَوْنُهُ جُمْلَةً مُفِيدَةً وَقَوْلُهُمْ كُتِبَ لِدَرْسٍ أَنَّ الْعِبْرَةَ فِي قَصْدِ الدِّرَاسَةِ وَالتَّبَرُّكِ بِحَالِ الْكِتَابَةِ دُونَ مَا بَعْدَهَا وَبِالْكَاتِبِ لِنَفْسِهِ أَوْ لِغَيْرِهِ تَبَرُّعًا وَإِلَّا فَآمِرِهِ أَوْ مُسْتَأْجِرِهِ وَظَاهِرُ عَطْفِ هَذَا عَلَى الْمُصْحَفِ أَنَّ مَا يُسَمَّى مُصْحَفًا عُرْفًا لَا عِبْرَةَ فِيهِ بِقَصْدِ دِرَاسَةٍ وَلَا تَبَرُّكٍ ، وَأَنَّ هَذَا إنَّمَا يُعْتَبَرُ فِيمَا لَا يَسُمَّاهُ ، فَإِنْ قُصِدَ بِهِ دِرَاسَةٌ حَرُمَ أَوْ تَبَرُّكٌ لَمْ يَحْرُمْ ، وَإِنْ لَمْ يُقْصَدْ بِهِ شَيْءٌ نُظِرَ لِلْقَرِينَةِ فِيمَا يَظْهَرُ ، وَإِنْ أَفْهَمَ قَوْلُهُ : لِدَرْسٍ أَنَّهُ لَا يَحْرُمُ إلَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ

( قَوْلُهُ : وَمَا كُتِبَ ) أَيْ وَمَحَلُّ مَا كُتِبَ أَيْ مِنْ الْقُرْآنِ لِدَرْسِ قُرْآنٍ فَهُوَ مِنْ الْإِظْهَارِ فِي مَوْضِعِ الْإِضْمَارِ فَانْدَفَعَ مَا يُقَالُ إنَّهُ إنَّمَا تَعَرَّضَ لِلْمَكْتُوبِ مَعَ أَنَّ الْمَقْصُودَ فِي الْمَقَامِ بَيَانُ الْمَكْتُوبِ فِيهِ ، وَأَنَّهُ لَا يَصِحُّ التَّمْثِيلُ الْمَذْكُورُ إلَّا بِتَقْدِيرٍ وَانْظُرْ هَلْ يَشْمَلُ مَا ذُكِرَ نَحْوَ السَّارِيَةِ وَالْجِدَارِ فِيهِ نَظَرٌ وَالْوَجْهُ لَا م ر ( قَوْلُهُ : كَلَوْحٍ ) يَنْبَغِي بِحَيْثُ يُعَدُّ لَوْحًا لِلْقُرْآنِ عُرْفًا فَلَوْ كَبُرَ جِدًّا كَبَابٍ عَظِيمٍ فَالْوَجْهُ عَدَمُ حُرْمَةِ مَسِّ الْخَالِي مِنْهُ عَنْ الْقُرْآنِ وَيُحْتَمَلُ أَنَّ حَمْلَهُ كَحَمْلِ الْمُصْحَفِ فِي أَمْتِعَةٍ

قَوْلُ الْمَتْنِ ( وَمَا كُتِبَ إلَخْ ) أَيْ وَمَحَلُّ مَا كُتِبَ أَيْ مِنْ الْقُرْآنِ لِدَرْسِ قُرْآنٍ فَهُوَ مِنْ الْإِظْهَارِ فِي مَوْضِعِ الْإِضْمَارِ فَانْدَفَعَ مَا يُقَالُ إنَّهُ إنَّمَا تَعَرَّضَ لِلْمَكْتُوبِ مَعَ أَنَّ الْمَقْصُودَ فِي الْمَقَامِ بَيَانُ الْمَكْتُوبِ فِيهِ وَانْظُرْ هَلْ يَشْمَلُ مَا ذُكِرَ نَحْوُ السَّارِيَةِ وَالْجِدَارِ فِيهِ نَظَرٌ وَالْوَجْهُ لَا م ر ا هـ سم قَوْلُ ( الْمَتْنِ وَمَا كُتِبَ ) أَيْ حَقِيقَةً أَوْ حُكْمًا لِيَدْخُلَ الْخَتْمُ الْآتِي فِي الْهَامِشِ ع ش أَيْ الطَّبْعُ قَوْلُ الْمَتْنِ ( كَلَوْحٍ ) يَنْبَغِي بِحَيْثُ يُعَدُّ لَوْحًا لِلْقُرْآنِ عُرْفًا فَلَوْ كَبُرَ جِدًّا كَبَابٍ عَظِيمٍ فَالْوَجْهُ عَدَمُ حُرْمَةِ مَسِّ الْخَالِي مِنْهُ عَنْ الْقُرْآنِ سم عِبَارَةُ ع ش يُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّهُ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ مِمَّا يُكْتَبُ عَلَيْهِ عَادَةً حَتَّى لَوْ كُتِبَ عَلَى عَمُودٍ قُرْآنًا لِلدِّرَاسَةِ لَمْ يَحْرُمْ مَسُّ غَيْرِ الْكِتَابَةِ خَطِيبٌ وَزِيَادِيٌّ وَيُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّهُ لَوْ نَقَشَ الْقُرْآنَ عَلَى خَشَبَةٍ وَخَتَمَ بِهَا الْأَوْرَاقَ بِقَصْدِ الْقِرَاءَةِ وَصَارَ يَقْرَأُ يَحْرُمُ مَسُّهَا ، وَلَيْسَ مِنْ الْكِتَابَةِ مَا يُقَصُّ بِالْمِقَصِّ عَلَى صُورَةِ حُرُوفِ الْقُرْآنِ مِنْ وَرَقٍ أَوْ قُمَاشٍ فَلَا يَحْرُمُ مَسُّهُ اهـ

فتح القريب المجيب لابن قاسم الغزي – (ص 24)

(ويحرم بالحيض) وفي بعض النسخ ويحرم على الحائض (ثمانية أشياء) أحدها (الصلاة) فرضاً أو نفلاً وكذا سجدة التلاوة والشكر (و) الثاني (الصوم) فرضاً أو نفلاً (و) الثالث (قراءة القرآن و) الرابع (مس المصحف) وهو اسم للمكتوب من كلام الله بين الدفتين (وحمله) إلا إذا خافت عليه (و) الخامس (دخول المسجد) للحائض إن خافت تلويثه (و) السادس (الطواف) فرضاً أو نفلاً (و) السابع (الوطء) ويسن لمن وطىء في إقبال الدم التصدق بدينار، ولمن وطىء في إدباره التصدق بنصف دينار (و) الثامن (الاستمتاع بما بين السرة والركبة) من المرأة فلا يحرم الاستمتاع بهما ولا بما فوقهما على المختار في شرح المهذب

ثم استطرد المصنف لذكر ما حقه أن يذكر فيما سبق في فصل موجب الغسل فقال (ويحرم على الجنب خمسة أشياء) أحدها (الصلاة) فرضاً أو نفلاً (و) الثاني (قاءة القرآن) غير منسوخ التلاوة آية كان أو حرفاً سراً أو جهراً، وخرج بالقرآن التوراة والإنجيل أما أذكار القرآن فتحل لا بقصد قرآن (و) الثالث (مس المصحف وحمله) من باب أولى (و) الرابع (الطواف) فرضاً أو نفلاً (و) الخامس (اللبث في المسجد) لجنب مسلم إلا لضرورة كمن احتلم في المسجد وتعذر خروجه منه لخوف على نفسه أو ماله، أما عبور المسجد ماراً به من غير مكث، فلا يحرم بل ولا يكره في الأصح، وتردد الجنب في المسجد بمنزلة اللبث، وخرج بالمسجد المدارس والربط

قَوْلُ الْمَتْنِ ( وَمَا كُتِبَ لِدَرْسِ قُرْآنٍ إلَخْ ) بِخِلَافِ مَا كُتِبَ لِغَيْرِ ذَلِكَ كَالتَّمَائِمِ الْمَعْهُودَةِ عُرْفًا نِهَايَةٌ عِبَارَةُ الْمُغْنِي أَمَّا مَا كُتِبَ لِغَيْرِ دِرَاسَةٍ كَالتَّمِيمَةِ ، وَهِيَ وَرَقَةٌ يُكْتَبُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ الْقُرْآنِ وَيُعَلَّقُ عَلَى الرَّأْسِ مَثَلًا لِلتَّبَرُّكِ وَالثِّيَابِ الَّتِي يُكْتَبُ عَلَيْهَا وَالدَّرَاهِمِ كَمَا سَيَأْتِي فَلَا يَحْرُمُ مَسُّهَا وَلَا حَمْلُهَا وَتُكْرَهُ كِتَابَةُ الْحُرُوفِ أَيْ مِنْ الْقُرْآنِ وَتَعْلِيقُهَا إلَّا إذَا جُعِلَ عَلَيْهَا شَمْعٌ أَوْ نَحْوُهُ وَيُسْتَحَبُّ التَّطَهُّرُ لِحَمْلِ كُتُبِ الْحَدِيثِ وَمَسِّهَا ا هـ قَالَ ع ش قَوْلُهُ : كَالتَّمَائِمِ إلَخْ يُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّهُ لَوْ جَعَلَ الْمُصْحَفَ كُلَّهُ أَوْ قَرِيبًا مِنْ الْكُلِّ تَمِيمَةً حَرُمَ ؛ لِأَنَّهُ لَا يُقَالُ لَهُ حِينَئِذٍ تَمِيمَةً عُرْفًا اهـ وَفِي الْبُجَيْرِمِيِّ مَا نَصُّهُ قَالَ شَيْخُنَا الْجَوْهَرِيُّ نَقْلًا عَنْ مَشَايِخِهِ يُشْتَرَطُ فِي كَاتِبِ التَّمِيمَةِ أَنْ يَكُونَ عَلَى طَهَارَةٍ وَأَنْ يَكُونَ فِي مَكَان طَاهِرٍ وَأَنْ لَا يَكُونَ عِنْدَهُ تَرَدُّدٌ فِي صِحَّتِهَا وَأَنْ لَا يَقْصِدَ بِكِتَابَتِهَا تَجْرِبَتَهَا وَأَنْ لَا يَتَلَفَّظَ بِمَا يَكْتُبُ وَأَنْ يَحْفَظَهَا عَنْ الْأَبْصَارِ بَلْ وَعَنْ بَصَرِهِ بَعْدَ الْكِتَابَةِ وَبَصَرِ مَا لَا يَعْقِلُ وَأَنْ يَحْفَظَهَا عَنْ الشَّمْسِ وَأَنْ يَكُونَ قَاصِدًا وَجْهَ اللَّهِ فِي كِتَابَتِهَا وَأَنْ لَا يُشَكِّلَهَا وَأَنْ لَا يَطْمِسَ حُرُوفَهَا وَأَنْ لَا يَنْقُطَهَا وَأَنْ لَا يُتَرِّبَهَا وَأَنْ لَا يَمَسَّهَا بِحَدِيدٍ وَزَادَ بَعْضُهُمْ شَرْطًا لِلصِّحَّةِ ، وَهُوَ أَنْ لَا يَكْتُبَهَا بَعْدَ الْعَصْرِ وَشَرْطًا لِلْجُودَةِ ، وَهُوَ أَنْ يَكُونَ صَائِمًا اهـ

( قَوْلُهُ : بَلْ يَنْبَغِي إلَخْ ) لَمْ أَرَهُ لِغَيْرِهِ وَهُوَ مَحَلُّ تَأَمُّلٍ وَالْأَلْيَقُ بِالتَّعْظِيمِ الْمَلْحُوظِ هُنَا عَدَمُ التَّفْصِيلِ وَإِبْقَاءُ الْكَلَامِ عَلَى إطْلَاقِهِ بَصْرِيٌّ عِبَارَةُ الْكُرْدِيِّ قَوْلُهُ : بَلْ يَنْبَغِي إلَخْ أَقَرَّهُ الْحَلَبِيُّ عَلَى الْمَنْهَجِ وَقَالَ الْقَلْيُوبِيُّ وَلَوْ حَرْفًا اهـ وَفِي الْإِيعَابِ لَوْ مُحِيَ مَا فِيهِ فَلَمْ يَزُلْ فَاَلَّذِي يَظْهَرُ بَقَاءُ حُرْمَتِهِ إلَى أَنْ تَذْهَبَ صُوَرُ الْحُرُوفِ وَتَتَعَذَّرَ قِرَاءَتُهَا انْتَهَى اهـ

( قَوْلُهُ : وَقَوْلُهُمْ كُتِبَ إلَخْ ) أَيْ وَظَاهِرُ قَوْلِهِمْ إلَخْ ( قَوْلُهُ : أَنَّ الْعِبْرَةَ ) إلَى قَوْلِهِ وَظَاهِرُهُ إلَخْ أَقَرَّهُ ع ش وَكَذَا أَقَرَّهُ الشَّوْبَرِيُّ ثُمَّ قَالَ وَلَوْ نَوَى بِالْمُعَظَّمِ غَيْرَهُ كَأَنْ بَاعَهُ فَنَوَى بِهِ الْمُشْتَرِي غَيْرَهُ اُتُّجِهَ كَوْنُهُ غَيْرَ مُعَظَّمٍ حِينَئِذٍ كَمَا أَشَارَ إلَيْهِ شَيْخُنَا فِي شَرْحِ الْعُبَابِ ا هـ ( قَوْلُهُ : بِحَالِ الْكِتَابَةِ إلَخْ ) وَفِي فَتَاوَى الْجَمَالِ الرَّمْلِيِّ كَتَبَ تَمِيمَةً ثُمَّ جَعَلَهَا لِلدِّرَاسَةِ أَوْ عَكْسِهِ هَلْ يُعْتَبَرُ الْقَصْدُ الْأَوَّلُ أَوْ الطَّارِئُ أَجَابَ بِأَنَّهُ يُعْتَبَرُ الْأَصْلُ لَا الْقَصْدُ الطَّارِئُ اهـ وَفِي الْقَلْيُوبِيِّ عَلَى الْمَحَلِّيِّ ، وَيَتَغَيَّرُ الْحُكْمُ بِتَغَيُّرِ الْقَصْدِ مِنْ التَّمِيمَةِ إلَى الدِّرَاسَةِ وَعَكْسِهِ انْتَهَى اهـ كُرْدِيٌّ

( قَوْلُهُ أَوْ لِغَيْرِهِ تَبَرُّعًا ) الظَّاهِرُ أَنَّ الْمُرَادَ بِالْمُتَبَرِّعِ الْكَاتِبُ لِلْغَيْرِ بِغَيْرِ إذْنِهِ لَا بِغَيْرِ مُقَابِلٍ كَمَا هُوَ الْمُتَبَادِرُ مِنْهُ بَصْرِيٌّ ( قَوْلُهُ : وَظَاهِرُ عَطْفِ هَذَا إلَخْ ) بَلْ ظَاهِرُهُ أَنَّ هَذَا لَا يُسَمَّى مُصْحَفًا إذْ الْمُصْحَفُ مَا يُقْصَدُ لِلدَّوَامِ لَا مَا ذَكَرَهُ بِقَوْلِهِ أَنَّ مَا يُسَمَّى إلَخْ فَتَأَمَّلْ بَصْرِيٌّ ( قَوْلُهُ : وَأَنَّ هَذَا ) أَيْ الْقَصْدَ وَقَوْلُهُ ، فَإِنْ قُصِدَ بِهِ أَيْ بِمَا لَا يُسَمَّى مُصْحَفًا عُرْفًا ( قَوْلُهُ : وَإِنْ لَمْ يُقْصَدْ بِهِ شَيْءٌ إلَخْ ) لَوْ قِيلَ بِالْحُرْمَةِ حِينَئِذٍ مُطْلَقًا لَكَانَ وَجِيهًا نَظَرًا إلَى أَنَّ الْأَصْلَ فِيهِ قَصْدًا لِدِرَاسَةٍ ، فَإِنْ عَارَضَهُ شَيْءٌ يُخْرِجُهُ عَنْهُ عَمَلٌ بِمُقْتَضَاهُ وَإِلَّا بَقِيَ عَلَى أَصْلِهِ بَصْرِيٌّ

( قَوْلُهُ : نُظِرَ لِلْقَرِينَةِ إلَخْ ) لَوْ كَانَ الْكَلَامُ مَفْرُوضًا فِي عَدَمِ الْعِلْمِ بِقَصْدِ الْكَاتِبِ أَوْ الْآمِرِ لَكَانَ لِلنَّظَرِ لِلْقَرَائِنِ وَجْهٌ لِيُسْتَدَلَّ بِهَا عَلَى الْقَصْدِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ بَلْ هُوَ مَفْرُوضٌ فِي عَدَمِ الْقَصْدِ وَعَلَيْهِ فَاَلَّذِي يَظْهَرُ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ مَا ذَكَرْته لَك آنِفًا مِنْ الْحُرْمَةِ مُطْلَقًا نَظَرًا إلَى أَنَّ الْأَصْلَ فِي كِتَابَةِ الْأَلْفَاظِ قَصْدُ الدِّرَاسَةِ لِلدَّوَامِ كَالْمُصْحَفِ أَوْ لَا لِلدَّوَامِ كَاللَّوْحِ ، فَإِنْ عَارَضَهُ مَا يُخْرِجُهُ عَنْهُ كَقَصْدِ التَّبَرُّكِ فَقَطْ عُمِلَ بِهِ وَإِلَّا بَقِيَ عَلَى أَصْلِهِ بَصْرِيٌّ ، وَيَأْتِي عَنْ ع ش فِي آدَابِ قَضَاءِ الْحَاجَةِ مَا يُفِيدُ عَدَمَ الْحُرْمَةِ فِي الْإِطْلَاقِ وَلَعَلَّ مَا قَالَهُ السَّيِّدُ عُمَرُ الْبَصْرِيُّ أَقْرَبُ ( قَوْلُهُ : إلَّا الْقِسْمَ الْأَوَّلَ ) أَيْ مَا قُصِدَ بِهِ الدِّرَاسَةُ

شرح الياقوت النفيس – (ص 82-83)

حكم حمل المصحف المسجل على الأشرطة ظهر حديثا فى الأسواق أشرطة تسجيل مسجل فيها القرأن الكريم بأكملة يكون المصحف من عشرين شريطا تقريبا فهل حكم هذا المصحف كحكم المصحف المكتوب؟ الذى أرى أن التسجيل على الشريط يحصل بأحرف منقوشة تثبت على الشريط وعلى هذا فيكون له حكم المصحف وقد قامت بعض الجمعيات فى مصر بتسجيل هذا المصحف بقراآت مجودة وأصوات جميلة على أسطوانات خاصة وعلى أشرطة كاسيت وتسمى مصحفا وأعتقد أن له حكم المصحف والأحوط للمسلم أن يحتاط فإن قيل إن التسجيل هذا إنما هو الصدى وقد سجل للسماع لا للقراءة؟ إنه فعلا صدى ولكنا لو نظرنا إلى القصد من الأذان حقيقة أليس هو الإعلام؟ وقد حصل به. ولبعض الفقهاء أقوال تعبروا عن أرائهم ومفاهيمهم وليس من الضرورى قبولها كقولهم لو نظر إنسان إلى صورة امرأة فى مرأة فيجوز له النظرإليها إنما ينظر إلى الصورة فى المرأة حتى ولو كانت عارية فمثل هذا الكلام نظر ومن الصعب على النفس تقلبه

Referensi jawaban no. 2 :

كاشفة السجا لنووي الجاوي – (ص 74)

(و) سادسها: (قراءة القرآن) قال النووي في التبيان: سواء كان آية أو أقل منها ويجوز للجنب والحائض إجراء القرآن على قلبهما من غير تلفظ به ويجوز لهما النظر في المصحف وإمراره على القلب، وأجمع المسلمون على جواز التهليل والتسبيح والتحميد والتكبير والصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلّم وغير ذلك من الأذكار للجنب والحائض، قال أصحابنا: وكذا إذا قالا لإنسان: خذ الكتاب بقوة وقصد به غير القرآن فهو جائز وكذا ما أشبهه، قالوا: ويجوز لهما أن يقولا عند المصيبة: إنا لله وإنا إليه راجعون إذا لم يقصد القرآن، وقال أصحابنا الخراسانيون: ويجوز أن يقول عند ركوب الدابة سبحان الذي سخر لنا هذا وما كنا له مقرنين} ((43 )الزخرف:13) أي مطيقين وعند الدعاء: ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار} ((2) البقرة:201) إذا لم يقصد به القرآن. قال إمام الحرمين: وإن قال الجنب: بسم الله والحمد لله فإن قصد القرآن عصى وإن قصد الذكر أو لم يقصد شيئاً لم يأثم، ويجوز لهما قراءة ما نسخت تلاوته كالشيخ والشيخة إذا زنيا فارجموهما ألبتة نكالاً من الله. انتهى قول النووي رضي الله عنه

حاشية البجيرمي على الخطيب – (ج 1 / ص 259-260)

تَنْبِيهٌ : يَحِلُّ لِمَنْ بِهِ حَدَثٌ أَكْبَرُ أَذْكَارُ الْقُرْآنِ وَغَيْرُهَا كَمَوَاعِظِهِ وَأَخْبَارِهِ وَأَحْكَامِهِ لَا بِقَصْدِ الْقُرْآنِ كَقَوْلِهِ عِنْدَ الرُّكُوبِ : { سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ } أَيْ مُطِيقِينَ، وَعِنْدَ الْمُصِيبَةِ : { إنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إلَيْهِ رَاجِعُونَ } وَمَا جَرَى بِهِ لِسَانُهُ بِلَا قَصْدٍ فَإِنْ قَصَدَ الْقُرْآنَ وَحْدَهُ أَوْ مَعَ الذِّكْرِ حُرِّمَ، وَإِنْ أَطْلَقَ فَلَا كَمَا نَبَّهَ عَلَيْهِ النَّوَوِيُّ فِي دَقَائِقِهِ لِعَدَمِ الْإِخْلَالِ بِحُرْمَتِهِ؛ لِأَنَّهُ لَا يَكُونُ قُرْآنًا إلَّا بِالْقَصْدِ قَالَهُ النَّوَوِيُّ وَغَيْرُهُ، وَظَاهِرُهُ أَنَّ ذَلِكَ جَارٍ فِيمَا يُوجَدُ نَظْمُهُ فِي غَيْرِ الْقُرْآنِ كَالْآيَتَيْنِ الْمُتَقَدِّمَتَيْنِ وَالْبَسْمَلَةِ وَالْحَمْدَلَةِ، وَفِيمَا لَا يُوجَدُ نَظْمُهُ إلَّا فِيهِ كَسُورَةِ الْإِخْلَاصِ وَآيَةِ الْكُرْسِيِّ، وَهُوَ كَذَلِكَ، وَإِنْ قَالَ الزَّرْكَشِيّ : لَا شَكَّ فِي تَحْرِيمِ مَا لَا يُوجَدُ نَظْمُهُ فِي غَيْرِ الْقُرْآنِ، وَتَبِعَهُ عَلَى ذَلِكَ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ كَمَا شَمِلَ ذَلِكَ قَوْلَ الرَّوْضَةِ، أَمَّا إذَا قَرَأَ شَيْئًا مِنْهُ لَا عَلَى قَصْدِ الْقُرْآنِ فَيَجُوزُ

AURAT WANITA MUSLIMAH DI HADAPAN WANITA KAFIR

Aurat Wanita
Aurat merupakan bagian tubuh tertentu yang diperintahkan syara’ untuk menjaganya bagi setiap orang, kecuali bagi orang-orang tertentu yang dibolehkan dalam agama. Agama melarang kaum perempuan untuk menampakkan auratnya kepada kepada non muhrim atau suaminya. Adapun sesama wanita muslimah dibolehkan dalam agama selama masih dalam batasannya.

Pertanyaan:
Bagaimana hukumnya kalau yang melihat itu adalah wanita non muslim, begitu juga sebaliknya?

Jawab:
Larangan melihat aurat muslimah bagi kafirah dipahami para ulama dari ayat 31 surat An Nuur:
{أو نسائهن} [النور: 31]
Artinya: …atau bagi wanita-wanita mukmin …..

Menurut pendapat yang kuat (Ashah) bahwa haram terhadap wanita kafir (baik wanita kafir zimmiyah atau harbiyah) memandang aurat wanita muslimat. Maka wajib bagi muslimat untuk menutup auratnya dihadapan wanita kafir.
Adapun yang dibolehkan terlihat hanyalah bagian tubuh yang biasa tampak pada saat bekerja atau bertugas, misalnya lengan yang agak melewati pergelangan tangannya yang biasa tampak ketika sedang memasak, atau kedua tumitnya yang tampak ketika sedang berjalan. Karena bagian seperti ini dimaafkan.
Keharaman melihat bagi kafirah terhadap aurat wanita muslimah sealama si kafirah itu bukan mahram atau hamba sahaya bagi wanita muslimah, bila mahram atau hamba sahayanya maka boleh. Sedangkan apabila muslimah yang memandang kepada aurat si kafirah maka maka dibolehkan karena tidak menentang dengan ayat Allah SWT diatas.

نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج ص 94 ج 6
(والأصح تحريم) (نظر) كافرة (ذمية) أو غيرها، ولو حربية (إلى مسلمة) فيلزم المسلمة الاحتجاب منها لقوله تعالى {أو نسائهن} [النور: 31] فلو جاز لها النظر لم يبق للتخصيص فائدة. وصح عن عمر – رضي الله عنه – منعه الكتابيات دخول الحمام مع المسلمات؛ ولأنها ربما تحكيها للكافر. والثاني لا يحرم نظرا إلى اتحاد الجنس كالرجال فإنهم لم يفرقوا فيهم بين نظر الكافر إلى المسلم وعكسه. نعم يجوز على الأول نظرها لما يبدو عند المهنة على الأشبه في الروضة كأصلها وهو المعتمد. وقيل للوجه والكفين فقط، ورجح البلقيني أنها معها كالأجنبي وصرح به القاضي وغيره، ثم محل ما تقرر حيث لم تكن الكافرة محرما أو مملوكة للمسلمة وإلا جاز لهما النظر إليها كما أفتى به المصنف في الثانية وبحثه الزركشي في الأولى، وهو ظاهر، وظاهر إيراد المصنف يقتضي أن التحريم على الذمية وهو صحيح إن قلنا بتكليف الكفار بفروع الشريعة وهو الأصح، وإذا كان حراما على الكافرة حرم على المسلمة التمكين منه؛ لأنها تعينها به على محرم.

نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج ص 94 ج 6
وأما نظر المسلمة إليها فمقتضى كلامهم جوازه وهو المعتمد لانتقاء العلة المذكورة في الكافرة وإن توقف الزركشي في ذلك، وقول ابن عبد السلام والفاسقة مع العفيفة كالكافرة مع المسلمة مردود كما قاله البلقيني وإن جزم به الزركشي

BERDOSAKAH WANITA YANG SUDAH MENUTUP AURAT KETIKA DI PANDANG LELAKI YANG BUKAN MAHROMNYA

Berdosakah bila wanita telah menutup aurat dan berjilbab tatapi di pandang lelaki lain yang bukan mahrom?
الباجوري 2_97
وقيل لا يحرم لقوله تعالى ولايبدين زينتهن الا ما ظهر منها وهو مفسر بالوجه والكفين والمعتمد الاول ولا بأس بتقليد الثاني لاسيما في هذه الزمان الذي كثر فيه خروج النسأ في الطريق والاسواق

Kalau ikut pendapat kedua Masihkah berdosa?

Tidak berdosa dengan taqlid pada pendapat qiil sebagaimana dalam Albajuri 2/97 di atas. Wanita dan anak itu fitnah (ujian) bagi pria. jadi gak ada salahnya wanita yang berlalu tanpa menaburkan aura syahwat, maksudnya mengerling atau apapun yang menjadikan sabab syahwat. jika anda sdh berbuat sedekat mungkin dengan rambu agama. maka yang salah mata prianya, yo biarkan saja.

Mafhumnya tidak kalau kita ikut pendapat ke dua yaitu qoul dlo’if, karena sudah tidak ada unsur i’anatul makshiat jika ikut pendapat ke dua. Wal hashil tidak ada hukum haram bagi laki-laki dan wanita jika ikut pendapat dlo’if tersebut yang artinya sudah hilang unsur i’anatul makshiat bagi qoum wanita, seperti yang tertera di i’anatut tholibin. Dan muqobil mu’tamad boleh diikuti, karena qoul dlo’if yang tidak boleh diikuti hanya qoul muqobilus shohih.

Melihat redaksi dari ta’bir di bajuri yaitu bahwa melihat bagian tubuh wanita bagi Qoum laki-laki lain (ajnabiyy) hukumnya haram kecuali adanya hajat,seperti berobat.sedang dalam hukum melihat wajah (selain ke dua mata) dan telapak tangan wanita bagi laki-laki lain ada perbedaan pendapat,antara lain:

  • menurut Qoul Mu’tamad hukumnya haram melihat wajah dan telapak tanganya jika tidak ada hajat,seperti mu’amalah dll.
  • menurut Qoul Muqobil Mu’tamad hukumnya boleh melihat wajah dan ke dua telapak tanganya walaupun tidak ada hajat.

Qoul Dlo’if boleh diikuti atau di pakai (diamalkan) untuk diri sendiri, tidak untuk difatwakan dan untuk menghukumi, qoul dlo’if yang boleh dipakai antara lain:

  • Khilaful Asshoh
  • Khilaful Mu’tamad
  • Khilaful Awjah
  • Khilaful Muttajah

Adapun Qoul Dlo’if yang tidak boleh dipakai sebagai pijakan hukum adalah Muqobilus Shohih (lawan yang benar) karena umumnya atau kebanyakanya qoul tersebut fasid/rusak.

إعانة الطالبين ج ١ ص ١٩
وأما الأقوال الضعيفة فيجوز العمل بها فى حق النفس لا فى حق الغير ما لم يشتد ضعفها ولا يجوز الإفتاء ولا الحكم بها والقول الضعيف شامل لخلاف الأصح وخلاف المعتمد وخلاف الأوجه وخلاف المتجه وأما خلاف الصحيح فالغالب أنه يكون فاسدا لايجوز الأخذ به ومع هذا كله فلا يجوز للمفتي أن يفتي حتى يأخذ العلم بالتعلم من أهله المتقين له العارفين

ADAPUN BERCADAR SUNNAH BUKAN KEWAJIBAN BAGI WANITA, KECUALI YAQIN ADA LAKI-LAKI LAIN MELIHATNYA, ini jika ikut qoul mu’tamad, kalo muqobil mu’tamad juga sunnah dan tidak haram walaupun tidak ada hajat. [I’ANATUT THOLIBIN 3/258, HASYIYSH JAMAL 3/123].

Masalah Qoshor Janda Dan Merangkap Qoshor Seharian Bag. I

 

                   Ada ibu-ibu muslimat, di kampung beliau yaitu Riau, Luar Jawa, Sumatera. Sang ibu menanyakan dua poin permasalahan:

  1. Apakah sah sholat qoshor janda yang bepergian, padahal janda itu tidak mempunyai mahram? Sedangkan dalam hadist disebutkan: seorang perempuan yang beriman kepada Alloh dan hari Akhir tidak di izinkan untuk bepergian sejauh perjalanan sehari semalam kecuali bersama-sama mahramnya (Riwayat jamaah ahli hadist kecuali Imam Nasai)

Mungkin yang di kehendaki adalah hadist ini:

إحكام الأحكام شرح عمدة الأحكام – (ج 2 / ص 254)  المؤلف: الإمام تقي الدين ابن دقيق العيد

 الْحَدِيثُ الرَّابِعُ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ {لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاَللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ إلَّا وَمَعَهَا حُرْمَةٌ}. وَفِي لَفْظِ الْبُخَارِيِّ ” لَا تُسَافِرُ مَسِيرَةَ يَوْمٍ إلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ “

Artinya: “Tidaklah halal bagi perempuan yang beriman pada Alloh dan hari Akhir, Bepergian sehari semalam kecuali ada mahram bersamanya”. Dalam lafadz imam Bukhori: “Tidak bepergian sehari kecuali dengan Mahram”.

  1. Dan sholat yang boleh di qoshor dan Jama’ hanya Dluhur, Ashar dan Isya. Apakah boleh di kerjakan sekaligus menjadi enam rakaat?

URAIAN JAWABAN

  1. Tentang Janda Qoshor

Sebelumnya:

Alangkah baiknya kalau kita mengenal secuil perkara yang tidak memperkenankan Sholat Qoshor, yakni maksiat. Dalam hal ini ada perincian dari ulama. Sebagai berikut:

المجموع الجزء الرابع ص: 224

قال المصنف رحمه الله ولا يجوز القصر إلا في سفر ليس بمعصية فأما إذا سافر لمعصية كالسفر لقطع الطريق أو قتال المسلمين فلا يجوز القصر ولا الترخص بشيء من رخص المسافرين لأن الرخص لا يجوز أن تعلق بالمعاصي ولأن في جواز الرخص في سفر المعصية إعانة على المعصية وهذا لا يجوز

Artinya: “Pengarang Rahimahulloh berkata: Sholat Qoshor tidak boleh dilakukan kecuali pada perjalanan yang bukan dalam rangka maksiat (Boleh qoshor selama tidak maksiat:Pent). Apabila orang tersebut bepergian karena tujuan maksiat, seperti merampok atau membunuh orang muslim (atau bepergiannya wanita tanpa mahram:pent) maka tidak boleh sholat Qoshor, dan tidak boleh melakukan dispensasi/kemurahan yang berkaitan dengan dispensasi bepergian. Karena dispensasi tidak bisa di gantungkan dengan maksiat. Dan karena hukum boleh dispensasi dalam pergi bermaksiat termasuk menolong atas maksiat, dan hal ini tidak boleh”.

Untuk keterangan lebih lanjut bisa di telaah di ibarat di bawah ini:

المجموع الجزء الرابع ص: 224

(الشرح) قال أصحابنا إذا خرج مسافرا عاصيا بسفره بأن خرج لقطع الطريق أو لقتال المسلمين ظلما أو آبقا من سيده أو ناشزة من زوجها أو متغيبا عن غريمه مع قدرته على قضاء دينه ونحو ذلك لم يجز له أن يترخص بالقصر ولا غيره من رخص السفر بلا خلاف عند أصحابنا إلا المزني فجوز له ذلك وإلا التيمم فقد سبق في بابه أن في العاصي بسفره ثلاثة أوجه (أصحها) يلزمه التيمم وإعادة الصلاة (والثاني) يلزمه التيمم ولا إعادة (والثالث) يحرم التيمم ويجب القضاء ويعاقب على ترك الصلاة ويكون كتاركها مع تمكنه من الطهارة لأنه قادر على استباحتها بالتيمم بأن يتوب ويستبيح التيمم وسائر الرخص هذا كله فيمن خرج عاصيا بسفره فأما من خرج بنية سفر مباح ثم نقله إلى معصية ففيه وجهان مشهوران حكاهما الشيخ أبو حامد والبندنيجي وجماعات من العراقيين وإمام الحرمين وجماعات من الخراسانيين (أحدهما) يترخص بالقصر وغيره لأن السفر انعقد مباحا مرخصا فلا يتغير قال إمام الحرمين وهذا ظاهر النص (وأصحهما) لا يترخص من حين نوى المعصية لأن سفر المعصية ينافي الترخص وممن صححه القاضي  أبو علي البندنيجي والرافعي قال صاحب البيان وهذه المسألة تشبه من سافر مباحا إلى مقصد معلوم ثم نوى في طريقه إن لقيت فلانا رجعت فهل له استدامة الترخص فيه وجهان أما إذا أنشأ سفر معصية ثم تاب في أثناء طريقه ونوى سفرا مباحا واستمر في طريقه إلى مقصده الأول ففيه طريقان (أصحهما) وبه قطع الأكثرون أن ابتداء سفره من ذلك الموضع فإن كان منه إلى مقصده مرحلتان ترخص بالقصر وغيره وإلا فلا (والثاني) حكاه إمام الحرمين عن شيخه أن طرآن سفر الطاعة كطرآن نية سفر المعصية فيكون فيه الوجهان هذا كله في العاصي بسفره أما العاصي في سفره وهو من خرج في سفر مباح وقصد صحيح ثم ارتكب معاصي في طريقه كشرب الخمر وغيره فله الترخص بالقصر وغيره بلا خلاف لأنه ليس ممنوعا من السفر وإنما يمنع من المعصية بخلاف العاصي بسفره

المحلى والقليوبى الجزء الأول  ص: 260

ولا يترخص العاصى بسفره كآبق فناشزة وغريم قادر علي الأداء لأن السفر سبب الرخصة بالقصر وغيره فلا تناط بالمعصية (قوله ولا يترخص العاصى) خلافا للمزنى من أئمتنا ولو شرك فى سفره بين حرام وجائز لم يترخص تغليبا للمانع.

بغية المسترشدين  ص: 77

(فائدة) جوز المزنى كأبى حنيفة القصر ولو للعاصى بسفره إذ هو عزيمة عندهما وفيه فسحة عظيمة – إلى أن قال – ومنعا الجمع مطلقا إلا فى النسك بعرفة ومزدلفة ومذهبنا كمالك وأحمد منعه للعاصى فصار الجمع للعاصى ممتنعا اتفاقا فليتنبه له.

Dan Jarak larangan keluar perempuan:

Para ulama juga berbeda pendapat tentang tenggang waktu pengharaman wanita keluar tanpa mahram. Sebagai berikut:

تحفة الأحوذي – (ج 4 / ص 278-279)

قوله (والعمل على هذا عند أهل العلم يكرهون للمرأة أن تسافر إلا مع ذي محرم) لكن قال الحنفية يباح لها الخروج إلى ما دون مسافة القصر بغير محرم وقال أكثر أهل العلم يحرم لها الخروج في كل سفر طويلا كان أو قصيرا ولا يتوقف حرمة الخروج بغير المحرم على مسافة القصر لإطلاق حديث بن عباس بلفظ لا تسافر المرأة إلا مع ذي محرم.

Artinya: “Ungkapan pengarang {pengamalan ahli ilmu tentang hadist ini adalah, beliau-beliau memakruhkan/membenci/tidak menyukai perempuan yang bepergian kecuali bersama mahramnya}, Akan tetapi ulama hanafiyyah berpendapat: Bagi perempuan di perbolehkan keluar pada perjalanan di bawah masafatil Qoshri (perjalananan yang memperbolehkan sholat Qoshor/ kurang-lebih 90 an KM) tanpa adanya Mahram. Dan kebanyakan ulama mengatakan: Bagi perempuan haram keluar di segala perjalanan baik Thowil (perjalanan bisa meng-qoshor) atau qoshir (perjalanan tidak bisa meng-qoshor). Dan keharaman keluarnya perempuan tidak terhenti pada masafatil Qoshri, karena mutlaknya hadist Sahabat ibni Abbas dengan lafadz: Perempuan tidak boleh bepergian kecuali dengan mahramnya”.

 

Selanjutnya:

Hadist diatas menurut asbabul wurud yang tercantum dalam beberapa literatur kitab-kitab hadist berawal dari bepergian haji (1), kemudian untuk masalah di luar haji para ulama berbeda pendapat:

  1. Tidak boleh, seperti keterangan di bawah ini:

فتح الباري لابن حجر – (ج 4 / ص 56)

قَوْله: (مَسِيرَة يَوْم وَلَيْلَة لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَة) أَيْ مَحْرَم, وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى عَدَم جَوَاز السَّفَر لِلْمَرْأَةِ بِلَا مَحْرَم, وَهُوَ إِجْمَاع فِي غَيْر الْحَجّ وَالْعُمْرَة وَالْخُرُوج مِنْ دَار الشِّرْك

Artinya: “Ucapan Imam Bukhori (perjalanan sehari-semalam yang perempuan tersebut tidak bersama Khurmah) itu maksudnya adalah Mahram. Di sini bisa di ambil sebuah dalil bahwa tidak boleh bepergian bagi perempuan tanpa adanya mahram, itu adalah kesepakatan para ulama selain dalam masalah Haji, Umroh dan keluar dari Negara Syirik/Kafir”.

Keterangan ini di perkuat oleh dawuh Imam Al Qodli sebagai berikut:

شرح النووي على مسلم – (ج 4 / ص 500)

وَقَدْ قَالَ الْقَاضِي: وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ لَهَا أَنْ تَخْرُج فِي غَيْر الْحَجّ وَالْعُمْرَة إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَم إِلَّا الْهِجْرَة مِنْ دَار الْحَرْب, فَاتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ عَلَيْهَا أَنْ تُهَاجِر مِنْهَا إِلَى دَار الْإِسْلَام وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهَا مَحْرَم

Artinya: Imam Al Qodli benar-benar berkata: “Para Ulama sepakat, bahwa sesungguhnya wanita tidak boleh keluar tanpa mahram di selain Haji dan Umroh dan selain pergi dari Darul Kharb (Negara kafir), Maka ulama bersepakat bahwa boleh bagi wanita tersebut untuk pergi ke Negara islam walaupun tanpa mahram”.

  1. Khilaf, seperti keterangan di bawah ini:

شرح النووي على مسلم – (ج 4 / ص 500)

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابنَا فِي خُرُوجهَا لِحَجِّ التَّطَوُّع وَسَفَر الزِّيَارَة وَالتِّجَارَة وَنَحْو ذَلِكَ مِنْ الْأَسْفَار الَّتِي لَيْسَتْ وَاجِبَة, فَقَالَ بَعْضهمْ: يَجُوز لَهَا الْخُرُوج فِيهَا مَعَ نِسْوَة ثِقَات كَحَجَّةِ الْإِسْلَام, وَقَالَ الْجُمْهُور: لَا يَجُوز إِلَّا مَعَ زَوْج أَوْ مَحْرَم, وَهَذَا هُوَ الصَّحِيح ؛ لِلْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَة.

Artinya: “Para sahabat kita (Ulama pengikut madzhab syafi’i) berbeda pendapat, dalam masalah keluarnya wanita (tanpa mahram), karena untuk tujuan haji sunnah, pergi ziarah, berdagang dan sejenisnya, yakni bepergian yang bukan merupakan kewajiban. Maka sebagian ulama berkata: Boleh bagi wanita tersebut keluar untuk bepergian diatas (dengan sarat) bersama beberapa perempuan yang bisa di percaya. (ulama yang memperbolehkannya) seperti Hujjatul Islam (Imamuna Al Ghozali). Dan Kebanyakan ulama berkata: “Bepergian tersebut tidak boleh, kecuali bersama suami atau mahram, dan ini adalah pendapat yang shahih, karena adanya hadist-hadist yang Shohiihah”.

 

Kesimpulan Jawaban:

Dengan mengacu pendapat yang memperbolehkan bepergian bagi wanita tanpa mahram, yang secara otomatis perjalanan tersebut bukan dalam rangka maksiat, terlebih apabila kurang dari masafatil Qoshri. Maka Janda di perbolehkan melaksanakan sholat qoshor dengan syarat ada perempuan yang bisa di percaya, yang menemaninya. Dan andai saja ada orang yang mengatakan tidak boleh, kita harus berlapang dada, menghormatinya, karena hal ini adalah masalah Ikhtilafiyyah Ijtihadiah (perbedaan dalam ber-ijtihad) dan kami berharap bagi yang kekeh-kukuh tidak memperbolehkan untuk melihat dasar perkhilafan ini. Agar tercipta Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur dan tidak terjadi gejolak di masyarakat.

Penting!! Hukum ziarah walisongo menurut Imam Ibnu Hajar Al Haitami adalah IBADAH YANG DI SUNNAHKAN, sebagai berikut:

الفتاوى الكبرى الجزء الثانى ص : 24

(وسئل) t عن زيارة قبور الأولياء في زمن معين مع الرحلة إليها هل يجوز مع أنه يجتمع عند تلك القبور مفاسد كثيرة كاختلاط النساء بالرجال وإسراج السرج الكثيرة وغير ذلك ؟ (فأجاب) بقوله زيارة قبور الأولياء قربة مستحبة وكذا الرحلة إليها إلى أن قال… ومن أطلق المنع من الزيارة خوف ذلك الاختلاط يلزمه إطلاق منع نحو الطواف والرمل بل والوقوف بعرفة أو مزدلفة والرمي إذا خشي الاختلاط أو نحوه فلما لم يمنع الأئمة شيئا من ذلك مع أن فيه اختلاطا أي اختلاط وإنما منعوا نفس الاختلاط لا غير فكذلك هنا إلح

Artinya: “(Syekh ibnu Hajar RA.) ditanyai masalah masalah ziaroh kubur para wali, di waktu tertentu bersama rombongan. Apakah hal tersebut boleh? Padahal banyak terjadi mafaasid (perbuatan yang tdak diperbolehkan agama) seperti: bercampurnya laki-laki perempuan (yang bukan mahrom),  menyalakan lampu yang banyak (tanpa faidah) dan lain sebagainya.(Maka beliau syekh menjawab:) dengan perkataan beliau: ZIARAH KUBUR KE WALI-WALI ALLOH ADALAH IBADAH YANG DI SUNNAHKAN, BEGITU PULA ROMBONGAN ZIARAH KE WALI-WALI ALLOH…sampai perkataan… Adapun ulama yang memutlakkan larangan ziarah kubur karena takut terjadinya percampuran laki-laki dan perempuan, maka mestinya mereka juga memutlakkan larangan (dalam kasus) seperti thowaf, romlu/sa’i, wukuf di Arafah atau di Muzdalifah dan melempar jumroh, apabila takut terjadinya percampuran antara lelaki dan perempuan atau semacamnya, (oleh karena itu) para Imam-Imam tidak melarang semua itu, padahal jelas terjadi percampuran lelaki-perempuan, dan hanya melarang praktek tercampurnya lelaki-perempuan saja (bukan melarang thowaf, sa’i dll. secara mutlak), maka mestinya begitu pula dalam masalah ini (ziarah kubur Wali-wali Alloh)

(1) إحكام الأحكام شرح عمدة الأحكام – (ج 2 / ص 254-256)  المؤلف: الإمام تقي الدين ابن دقيق العيد

الْحَدِيثُ الرَّابِعُ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ {لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاَللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ إلَّا وَمَعَهَا حُرْمَةٌ}. وَفِي لَفْظِ الْبُخَارِيِّ ” لَا تُسَافِرُ مَسِيرَةَ يَوْمٍ إلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ “

الشَّرْحُ

فِيهِ مَسَائِلُ.

الْأُولَى: اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي أَنَّ الْمَحْرَمَ لِلْمَرْأَةِ مِنْ الِاسْتِطَاعَةِ أَمْ لَا؟ حَتَّى لَا يَجِبَ عَلَيْهَا الْحَجُّ، إلَّا بِوُجُودِ الْمَحْرَمِ.وَاَلَّذِينَ ذَهَبُوا إلَى ذَلِكَ: اسْتَدَلُّوا بِهَذَا الْحَدِيثِ.فَإِنَّ سَفَرَهَا لِلْحَجِّ مِنْ جُمْلَةِ الْأَسْفَارِ الدَّاخِلَةِ تَحْتَ الْحَدِيثِ.فَيَمْتَنِعُ إلَّا مَعَ الْمَحْرَمِ.وَاَلَّذِينَ لَمْ يَشْتَرِطُوا ذَلِكَ قَالُوا: يَجُوزُ أَنْ تُسَافِرَ مَعَ رُفْقَةٍ مَأْمُونِينَ إلَى الْحَجِّ, رِجَالًا أَوْ نِسَاءً.وَفِي سَفَرِهَا مَعَ امْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ: خِلَافٌ فِي مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ.وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ تَتَعَلَّقُ بِالنَّصَّيْنِ إذَا تَعَارَضَا, وَكَانَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَامًّا مِنْ وَجْهٍ, خَاصًّا مِنْ وَجْهٍ.بَيَانُهُ: أَنَّ قَوْله تَعَالَى { وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إلَيْهِ سَبِيلًا } يَدْخُلُ تَحْتَهُ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ.فَيَقْتَضِي ذَلِكَ: أَنَّهُ إذَا وُجِدَتْ الِاسْتِطَاعَةُ الْمُتَّفَقُ عَلَيْهَا: أَنْ يَجِبَ عَلَيْهَا الْحَجُّ.وَقَوْلُهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ ” لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ – الْحَدِيثَ ” خَاصٌّ بِالنِّسَاءِ, عَامٌّ فِي الْأَسْفَارِ.فَإِذَا قِيلَ بِهِ وَأُخْرِجَ عَنْهُ سَفَرُ الْحَجِّ, لِقَوْلِهِ تَعَالَى { وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إلَيْهِ سَبِيلًا } قَالَ الْمُخَالِفُ: نَعْمَلُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى { وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ } فَتَدْخُلُ الْمَرْأَةُ فِيهِ.وَيَخْرُجُ سَفَرُ الْحَجِّ عَنْ النَّهْيِ.فَيَقُومُ فِي كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ النَّصَّيْنِ عُمُومٌ وَخُصُوصٌ.وَيَحْتَاجُ إلَى التَّرْجِيحِ مِنْ خَارِجٍ.وَذَكَرَ بَعْضُ الظَّاهِرِيَّةِ.أَنَّهُ يَذْهَبُ إلَى دَلِيلٍ مِنْ خَارِجٍ.وَهُوَ قَوْلُهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ { لَا تَمْنَعُوا إمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ }.وَلَا يَتَّجِهُ ذَلِكَ, فَإِنَّهُ عَامٌّ فِي الْمَسَاجِدِ, فَيُمْكِنُ أَنْ يَخْرُجَ عَنْهُ الْمَسْجِدُ الَّذِي يُحْتَاجُ إلَى السَّفَرِ فِي الْخُرُوجِ إلَيْهِ بِحَدِيثِ النَّهْيِ.

الثَّانِيَةُ: لَفْظُ ” الْمَرْأَةِ ” عَامٌّ بِالنِّسْبَةِ إلَى سَائِرِ النِّسَاءِ.وَقَالَ بَعْضُ الْمَالِكِيَّةِ: هَذَا عِنْدِي فِي الشَّابَّةِ.وَأَمَّا الْكَبِيرَةُ غَيْرُ الْمُشْتَهَاةِ: فَتُسَافِرُ حَيْثُ شَاءَتْ فِي كُلِّ الْأَسْفَارِ, بِلَا زَوْجٍ وَلَا مَحْرَمٍ.وَخَالَفَهُ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ مِنْ الشَّافِعِيَّةِ مِنْ حَيْثُ إنَّ الْمَرْأَةَ مَظِنَّةُ الطَّمَعِ فِيهَا, وَمَظِنَّةُ الشَّهْوَةِ, وَلَوْ كَانَتْ كَبِيرَةً.وَقَدْ قَالُوا: لِكُلِّ سَاقِطَةٍ لَاقِطَةٌ.وَاَلَّذِي قَالَهُ الْمَالِكِيُّ: تَخْصِيصٌ لِلْعُمُومِ بِالنَّظَرِ إلَى الْمَعْنَى.وَقَدْ اخْتَارَ هَذَا الشَّافِعِيُّ: أَنَّ الْمَرْأَةَ تُسَافِرُ فِي الْأَمْنِ.وَلَا تَحْتَاجُ إلَى أَحَدٍ, بَلْ تَسِيرُ وَحْدَهَا فِي جُمْلَةِ الْقَافِلَةِ, فَتَكُونُ آمِنَةً.وَهَذَا مُخَالِفٌ لِظَاهِرِ الْحَدِيثِ.

فتح الباري لابن حجر – (ج 4 / ص 56)

قَوْله: (مَسِيرَة يَوْم وَلَيْلَة لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَة) أَيْ مَحْرَم, وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى عَدَم جَوَاز السَّفَر لِلْمَرْأَةِ بِلَا مَحْرَم, وَهُوَ إِجْمَاع فِي غَيْر الْحَجّ وَالْعُمْرَة وَالْخُرُوج مِنْ دَار الشِّرْك, وَمِنْهُمْ مَنْ جَعَلَ ذَلِكَ مِنْ شَرَائِط الْحَجّ كَمَا سَيَأْتِي الْبَحْث فِيهِ فِي مَوْضِعه إِنْ شَاءَ اللَّه تَعَالَى.

شرح النووي على مسلم – (ج 4 / ص 500)

فَالْحَاصِل أَنَّ كُلّ مَا يُسَمَّى سَفَرًا تُنْهَى عَنْهُ الْمَرْأَة بِغَيْرِ زَوْج أَوْ مَحْرَم, سَوَاء كَانَ ثَلَاثَة أَيَّام أَوْ يَوْمَيْنِ أَوَيَوْمًا أَوْ بَرِيدًا أَوْ غَيْر ذَلِكَ ؛ لِرِوَايَةِ اِبْن عَبَّاس الْمُطْلَقَة, وَهِيَ آخِر رِوَايَات مُسْلِم السَّابِقَة ( لَا تُسَافِر اِمْرَأَة إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَم ) وَهَذَا يَتَنَاوَل جَمِيع مَا يُسَمَّى سَفَرًا. وَاَللَّه أَعْلَم.

وَأَجْمَعَتْ الْأُمَّة عَلَى أَنَّ الْمَرْأَة يَلْزَمهَا حَجَّة الْإِسْلَام إِذَا اِسْتَطَاعَتْ لِعُمُومِ قَوْله تَعَالَى: { وَلِلَّهِ عَلَى النَّاس حَجّ الْبَيْت }. وَقَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” بُنِيَ الْإِسْلَام عَلَى خَمْس “.. الْحَدِيث. وَاسْتِطَاعَتهَا كَاسْتِطَاعَةِ الرَّجُل, لَكِنْ اِخْتَلَفُوا فِي اِشْتِرَاط الْمَحْرَم لَهَا, فَأَبُو حَنِيفَة يَشْتَرِطهُ لِوُجُوبِ الْحَجّ عَلَيْهَا إِلَّا أَنْ يَكُون بَيْنهَا وَبَيْن مَكَّة دُون ثَلَاث مَرَاحِل, وَوَافَقَهُ جَمَاعَة مِنْ أَصْحَاب الْحَدِيث وَأَصْحَاب الرَّأْي, وَحُكِيَ ذَلِكَ أَيْضًا عَنْ الْحَسَن الْبَصْرِيّ, وَالنَّخَعِيِّ, وَقَالَ عَطَاء وَسَعِيد بْن جُبَيْر وَابْن سِيرِينَ وَمَالِك وَالْأَوْزَاعِيُّ وَالشَّافِعِيّ فِي الْمَشْهُور عَنْهُ: لَا يُشْتَرَط الْمَحْرَم, بَلْ يُشْتَرَط الْأَمْن عَلَى نَفْسهَا, قَالَ أَصْحَابنَا: يَحْصُل الْأَمْن بِزَوْجِ أَوْ مَحْرَم أَوْ نِسْوَة ثِقَات, وَلَا يَلْزَمهَا الْحَجّ عِنْدنَا إِلَّا بِأَحَدِ هَذِهِ الْأَشْيَاء, فَلَوْ وُجِدَتْ اِمْرَأَة وَاحِدَة ثِقَة لَمْ يَلْزَمهَا, لَكِنْ يَجُوز لَهَا الْحَجّ مَعَهَا, هَذَا هُوَ الصَّحِيح, وَقَالَ بَعْض أَصْحَابنَا: يَلْزَمهَا بِوُجُودِ نِسْوَة أَوْ اِمْرَأَة وَاحِدَة, وَقَدْ يَكْثُر الْأَمْن وَلَا تَحْتَاج إِلَى أَحَد, بَلْ تَسِير وَحْدهَا فِي جُمْلَة الْقَافِلَة وَتَكُون آمِنَة, وَالْمَشْهُور مِنْ نُصُوص الشَّافِعِيّ وَجَمَاهِير أَصْحَابه هُوَ الْأَوَّل, وَاخْتَلَفَ أَصْحَابنَا فِي خُرُوجهَا لِحَجِّ التَّطَوُّع وَسَفَر الزِّيَارَة وَالتِّجَارَة وَنَحْو ذَلِكَ مِنْ الْأَسْفَار الَّتِي لَيْسَتْ وَاجِبَة, فَقَالَ بَعْضهمْ: يَجُوز لَهَا الْخُرُوج فِيهَا مَعَ نِسْوَة ثِقَات كَحَجَّةِ الْإِسْلَام, وَقَالَ الْجُمْهُور: لَا يَجُوز إِلَّا مَعَ زَوْج أَوْ مَحْرَم, وَهَذَا هُوَ الصَّحِيح ؛ لِلْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَة.وَقَدْ قَالَ الْقَاضِي: وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ لَهَا أَنْ تَخْرُج فِي غَيْر الْحَجّ وَالْعُمْرَة إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَم إِلَّا الْهِجْرَة مِنْ دَار الْحَرْب, فَاتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ عَلَيْهَا أَنْ تُهَاجِر مِنْهَا إِلَى دَار الْإِسْلَام وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهَا مَحْرَم, وَالْفَرْق بَيْنهمَا أَنَّ إِقَامَتهَا فِي دَار الْكُفْر حَرَام إِذَا لَمْ تَسْتَطِعْ إِظْهَار الدِّين, وَتَخْشَى عَلَى دِينهَا وَنَفْسهَا, وَلَيْسَ كَذَلِكَ التَّأَخُّر عَنْ الْحَجّ, فَإِنَّهُمْ اِخْتَلَفُوا فِي الْحَجّ هَلْ هُوَ عَلَى الْفَوْر أَمْ عَلَى التَّرَاخِي ؟ قَالَ الْقَاضِي عِيَاض: قَالَ الْبَاجِيّ: هَذَا عِنْدِي فِي الشَّابَّة, وَأَمَّا الْكَبِيرَة غَيْر الْمُشْتَهَاة فَتُسَافِر كَيْف شَاءَتْ فِي كُلّ الْأَسْفَار بِلَا زَوْج وَلَا مَحْرَم, وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ الْبَاجِيّ لَا يُوَافَق عَلَيْهِ ؛ لِأَنَّ الْمَرْأَة مَظِنَّة الطَّمَع فِيهَا, وَمَظِنَّة الشَّهْوَة وَلَوْ كَانَتْ كَبِيرَة, وَقَدْ قَالُوا: لِكُلِّ سَاقِطَة لَاقِطَة. وَيَجْتَمِع فِي الْأَسْفَار مِنْ سُفَهَاء النَّاس وَسَقَطهمْ مَنْ لَا يَرْتَفِع عَنْ الْفَاحِشَة بِالْعَجُوزِ وَغَيْرهَا لِغَلَبَةِ شَهْوَته وَقِلَّة دِينه وَمُرُوءَته وَخِيَانَته وَنَحْو ذَلِكَ. وَاَللَّه أَعْلَم.

Wallohu a’lam

 

KESUNAHAN MANDI JUM’AT UNTUK WANITA DAN HARI YANG BAIK UNTUK MEMOTONG KUKU

Hari Yang Disunatkan Memotong Kuku

Pikiran yang jernih terletak pada badan yang sehat, kebersihan adalah salah satu fitrah yang menjadi kebutuhan manusia untuk melangsungkan kehidupan yang stabil. Tidak pernah alpa di dalam syariat Islam hal ini telah diatur sedemikian rupa, maka dalam literatur Islam sendiri para ulama telah mengkaji secara ilmiah dan dengan jalan tajarrubat (percobaan), ternyata banyak sekali syariat Islam yang menganjurkan kebersihan diri-sendiri, tempat tinggal hingga lingkungan  hidup, salah satunya adalah kebersihan badan mengenai anjuran memotong kuku, memotong kuku ini bagian dari sunnah Rasulullah SAW.

Manakah hari-hari yang afdhal untuk memotong kuku. Syaikh Ibrahim al Bajuri menjelaskan dalam tulisannya sebagai berikut :

ومثل يوم الجمعة فى سن ذلك يوم الخميس ويوم الاثنين دون بقية الايام

قَصُّ الْأَظَافِرِ يَوْمَ السَّبْتِ اٰكِلَةٌ * تَبْدُوْ وَفِيْمَا يَلِيْهِ يُذْهِبُ الْبَرَكَهْ

وَعَالِمٌ فَاضِلٌ يَبْدُوْ بِتَلْوِهِمَا  *  وَاِنْ يَكُنْ فِي الثُّلَاثَا فَاحْذَرِ الْهَلَكَهْ

وَيُوْرِثُ السُّوْءَ فِي الْأَخْلَاقِ رَابِعُهَا  *  وَفِي الْخَمِيْسِ الْغِنٰى يَأْتِىْ لِمَنْ سَلَكَهْ

وَالْعِلْمُ وَالْحِلْمُ زِيْدَا فِىْ عُرُوْبَتِهَا  *  عَنِ النَّبِيِّ رُوَيْنَا فَاقْتَفُوْا نُسُكَهْ

Hasyiah al-Bajuri Juz I Hal. 221

Hari – hari yang disunatkan memotong kuku

    Hari Jum’at

    Hari Kamis

    Hari Senin

    Memotong kuku pada hari Sabtu menimbulkan penyakit yang menggrogoti badan

    Hari Ahad menyebabkan hilang berkah

    Hari Senin menjadi orang alim lagi ladhil (pintar dan utama)

    Hari Selasa menyebabkan kebinasaan

    Hari Rabu menyebabkan buruk akhlak

    Hari Kamis mendatangkan kekayaan

    Hari Jumat menambah ilmu dan sifat santun.

Makhruh hukumnya jika hanya memotong kuku satu tangan saja (memotong kuku tangan kanan tidak memotong kuku tangan kiri/memotong kuku tangan kiri saja tidak memotong kuku tangan kanan), begitu pula makhruh jika hanya memotong kuku kaki sebelah saja.

Sunnahkah mandi Jum’at bagi perempuan?

Termasuk salah satu yang disunnahkan sebelum jum’at adalah mandi sunat jum’at, hal ini disunnahkan karena untuk membersihkan badan disaat hendak berkumpul disuatu tempat ibadat.  Shalat jum’at diwajiibkan terhadap orang laki-laki islam yang mukallaf dan disunnahkan bagi kaum hawa.

Pertanyaan :

Apakah ada kesunnahan mandi jum’at bagi wanita?

Jawaban :

Di dalam kitab Tuhfatul muhtaj dijelaskan yang bahwa kesunnahan shalat jum’at kepada orang-orang yang ingin berpergian jum’at baik laki-laki atau perempuan, jadi kalau memang wanita tersebut berencana hadir jum’at maka disunnahkan untuk mandi.

Tuhfatul Muhtaj Juz 2 Hal 465 Maktabah Syamela

حاضرها) أي مريد حضورها، وإن لم تلزمه للأخبار الصحيحة فيه وصرفها عن الوجوب الخبر الصحيح «من توضأ يوم الجمعة فبها ونعمت ومن اغتسل فالغسل أفضل» أي فبالسنة أي بما جوزته من الاقتصار على الوضوء أخذ ونعمت الخصلة هي ولكن الغسل معها أفضل وينبغي لصائم خشي منه مفطر، أولو على قول تركه وكذا سائر الأغسال (وقيل) يسن الغسل (لكل أحد) ، وإن لم يرد الحضور كالعيد وفرق الأول بأن الزينة ثم مطلوبة لكل أحد وهو من جملتها بخلافه هنا فإن سبب مشروعيته دفع لريح الكريه عن الحاضرين (ووقته من الفجر) الصادق؛ لأن الأخبار علقته باليوم وفارق غسل العيد بأن صلاته تفعل أول النهار غالبا فوسع فيه بخلاف هذا

BAHAYANYA BERSALAMAN ANTARA LELAKI DAN WANITA YANG BUKAN SAUDARA MAHROMNYA

Dewasa ini berkembangnya peradaban dikalangan kita dengan berbagai macam ragam corak dan model dengan berbagai alasan dan paradigma masing-masing sehingga melunturkan nilai-nilai keislaman yang mesti dijaga dalam kehidupan sehari-hari. salah satunya dalam hal berinteraksi dengan lawan jenis.

Dalam hubungan dengan lawan jenis, agama telah membuat batasan-batasan yang mencover segala tingkah laku kita dengan lawan jenis, baik ditempat kerja atau dimanapun dan kapanpun.

Pertanyaan

Apa hukumnya bersalaman dengan wanita di tempat kerja dalam keadaan wudhu’?

Ada dua pertanyaan pada masalah tersebut:

  1. Batalkah wudhu’ jika bersalaman dengan wanita?
  2. Bolehkah bersalaman dengan wanita ditempat kerja?

Jawaban:

  1. Membatalkan wudhu’menurut mazhab syafi’i,
  2. Dan pada masalah bersalaman dengan wanita ajnabi adalah haram, yang dimaksud dengan wanita ajnabi adalah wanita yang bukan mahram, wanita yang dikategorikan mahram adalah yang tidak boleh untuk dinikahi oleh muslim laki-laki dalam keadaan apapun seperti ibu, saudara perempuan, anak perempuan, bibi dari pihak ayah dan ibu, nenek, cucu, mertua wanita, menantu wanita, keponakan perempuan, ibu sepersusuan dan anak tiri, mereka yang telah disebutkan dalam surat An-Nisa’ ayat 23.

Tidak boleh bersalaman dengan wanita ajnabi ditempat kerja dan dimanapun serta kapanpun, wanita ajnabi seperti rekan kerja, teman belajar, tetangga, sepupu perempuan dll yang tidak termasuk mahram seperti yang telah dijelaskan diatas.

Siapa saja yang bersalaman dengan wanita ajnabi maka dia telah melakukan perbuatan haram dan meyalahi sunnah nabi Muhammad, karena nabi tidak pernah bersalaman dengan wanita ajnabi sekalipun, dan ketika nabi bermuamalah dengan wanita, nabi bermuamalah dengan mengisyarahkan dengan tanganNya.

Nabi SAW bersabda berkenaan dengan bersalaman dengan ajnabi:

“Hendak dipaku kepalamu dengan jarum dari besi lebih baik daripada engkau bersentuhan dengan wanita yang tidak halal bagimu”.

Refrensi:

Al-kalamu At-Thayib Fatawa “ashriyyah. Hal 17-18

مس يد المرأة

السؤال: ما حكم مصافحة النساء فى العمل وأنا على وضوء واقوم بالصلاة فهل مصافحة النساء تبطل الوضوء؟

الجواب: هنا قضيتان, القضية الاولى: مصافحة النساء هل تبطل الوضوء ام لا؟

ذهب جماعة منهم أبو حنيفة الى أنها لا تبطل الوضوء. وذهب آخرون منهم الشافعية إلى انها تبطل الوضوء

وخروجا من الخلاف إذا حدث من اللمس بالمصافحة او غيرها, فإننا نتوضأ

القضية الثانية: هل يجوز مصافحة النساء الأجنبيات فى العمل؟ لاتجوز مصافحة النساء الأجنبيات- وهن من لسن بمحارم, والنساء المحارم هن من لا يجوز للمسلم التزوج بهن مطلقا كالام والأخت والبنت والعمة والخالة والجدة والأحفاد من البنات وأم الزوجة وزوجة الإبن, وبنت الأخ و بنت الأخت والأم من الرضاع وبنت الزوجة ون مذكورات فى اية النساء رقم 23

لاتجوز مصاحة الأجنبيات فى العمل او فى أي مكان أو زمان والأجنبيات كالزميلة فى العمل او الدراسة أو الجارة أو إبنة العم أو العمة أو الخال أو الخالة وغيرهن ممن لسن بمحارم كما أسلفنا.

ومن صلفح هؤلاء الأجنبيات فقد وقع فى الحرام, وخالف سنة النبي العدنان, لأن النبي صلي الله عليه وسلم ما صافح إمرأة قط, وعندما كان يبايع النساء كان يبايعهن بالإشارة بيده الشريفة صلي الله عليه وسلم.

ويقول صلي الله عليه وسلم محذرا وحاظرا من هذه المصافحة:

لأن يطعن فى رأس أحدكم بمخيط من حديد خير له من أن يمس امرأة لاتحل له

DANGDUTAN HARAM KAITANYA DENGAN PORNOAKSI WANITA DAN PORNOGRAFI

Istilah pornografi dan pornoaksi tidak di temukan di kalangan ulama’ fiqih akan tetapi substansinya dari pengertian pornografi dan pornoaksi dapat di jumpai dalam kitab fikih. Keterangan kitab:

– Tafsir Al-Qosimi juz 3 halaman 48 – 49

تفسير القاسمي جزء 3 ص 48 – 49

قوله تعالى: “ولا تبرجنا تبرج الجاهلية الاولى ” أي تبرج النساء ايام الجاهلية الاولى اذ لا دين يمنعهم ولا ادب يزعمهم والتبرج فسر بالتبختر والتكسر بالمشي وباظهار الزينة وما يستدعي به شهوة الرجل اهـ

“Yakni para wanita di masa Jahiliyah pertama memper-elok diri dalam berjalan, sebab tidak ada agama yang melarangnya dan tak ada etika yang mengatur mereka. Kata ‘Tabarruj’ diinterpretasikan dengan melenggang, berlenggak-lenggok dalam melangkah, menampakkan perhiasannya, dan setiap hal yang dapat menarik hasrat para lelaki”.

مذاهب الاربعة جزء 2 ص 43

اما رقص النساء امام من لايحل لهن فانه حرام بالاجماع لما يترتب عليه من اثارة للشهوة والافتنان ولما فيه من التهتك والمحون ومثلهن الغلملن المراد امام من يشتهيهم ويفتـتن بهم اهـ

“Adapun hukum wanita menari-nari di depan lelaki yang bukan mahramnya adalah haram sesuai dengan konsensus para Ulama. Karena adanya faktor negatif yang ditimbulkan dari perbuatan tersebut, seperti meningkatkan libido (syahwat), fitnah, merusak kehormatan dan petaka. Sebagaimana wanita, lelaki muda belia (Amrod) pun diharamkan berdendang di depan lelaki yang menyukai sesama jenis (homosexual)”.

 

Dalam segala hal wanita di haruskan berpegang dan menta’ati peraturan syari’ah baik dalam aspek tingkah laku, berpakaian, maupun profesi.

Keterangan kitab: Seorang perempuan muslimah yang beraktifitas diluar rumah wajib baginya melaksanakan beberapa ketentuan syariat Islam, diantaranya:

  1. Keluar rumah karena adanya keperluan
  2. Mendapat izin suami atau muhrimnya
  3. Terjamin dan aman dari fitnah
  4. Menutup aurat
  5. Menghindari bercampur dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya
  6. Tidak berpenampilan seperti orang laki-laki
  7. Tidak berpakaian ketat dengan menonjolkan bentuk tubuh
  8. Profesi yang di lakukan tidak bertentangan dengan syari’ah

اداب حياة الزوجية ص 163

ليس في الاسلام ما يمنع المرأة ان تكون تاجرة او طبيـبة او مدرسة او محترفة لأي حرفة تكسب منها الرزق الحلال ما دامت الضرورة تدعو الى ذالك وما دامت تـختار لنفسها الاوسط الفاضلة وتلتزم خصائص العفة التـى اسفلنا بعضها اهـ

“Di dalam Islam tidak ada larangan yang mencegah wanita untuk menjadi usahawan, dokter, guru atau menjadi pekerja di profesi apapun yang ditujukan mencari rezeki yang halal, selama ada unsur darurat yang menuntutnya seperti itu, dan selama ia sanggup menerima persyaratan iffah (menjaga diri dari al-hal yang haram), seperti yang telah kami terangkan sebagiannya”.

اسعاد الرفيق جزء 2 ص 136

ومنهاخروج المرأة من بيتها متعطرة او متزينة ولوكانت مستورة وكان خروجها باذن زوجها اذا كانت تمر في طريقها على رجال اجانب –الى ان قال- قال في الزواجر وهو من الكبائر لصريح هذه الحديث وينبغي حمله ليوافق قواعدنا على ما اذا تحققت الفتنة اما مجرد خشيتها فانما هو مكروه ومع ظنها حرام غير كبيرة كما هو ظاهر وعد من الكبائر ايضا خروجها بغير اذن زوجها ورضاه لغير ضرورة شرعية كاستفتاء لم يكفها اياه او خشية نحو فجارة او انهدام المنـزل

“Diantara maksiat tubuh (badan) adalah keluarnya wanita dari rumahnya dengan cara memakai wewangian atau berhias meskipun memakai penutup, dan keluar rumah atas izin suaminya tetapi ternyata ia melewati jalanan para lelaki yang bukan mahramnya…Ibn Hajar berkata dalam kitabnya, Zawajir : Hal ini adalah bagian dari dosa besar karena sudah dinyatakan dalam hadis secara jelas. Dan selayaknya hadis ini diarahkan (agar dapat selaras dengan kaidah kita) pada permasalahan dimana fitnah bisa terjadi secara pasti. Kalau hanya kekhawatiran terjadinya fitnah saja maka masuk dalam hukum makruh. Sedangkan bila ada dugaan kuat fitnah akan terjadi maka hukumnya adalah haram, tetapi tidak mencapai taraf ‘dosa besar’. Termasuk dalam kategori dosa besar adalah keluarnya wanita tidak dengan seizin dan restu dari suaminya tanpa ada faktor darurat secara syar’i, contohnya, meminta fatwa (pada Ulama, misalnya mengenai haid) dimana suaminya sendiri tidak memiliki pengetahuan di bidang ini, atau karena khawatir pada semisal godaan orang lain, robohnya rumah dll”.