RUMAH YANG ADA PATUNG ATAU WAYANG GOLEK

Berikut adalah 5 persyaratan yang disepakati para ulama’ tentang keharaman gambar / patung :

1.Berbentuk manusia atau hewan

2.Berbentuk sempurna, tidak dibikin pengurangan anggota tubuh dengan bentuk yang menghalangi untuk hidup. Seperti terpotong kepalanya, terpotong sebagian kepalanya, perutnya, dadanya, dilubangi perutnya, memisah anggota-anggota tubuh menjadi dua bagian.

3.Gambar/gambarnya terletak pada tempat yang diagungkan, bukan pada tempat yang direndahkan dengan terinjak atau terhinakan.

4.Adanya bayangan bagi gambar/patung tersebut yang terlihat secara jelas. (Yang dimaksud adalah berbentuk 3 Dimensi: pent.)

5.Bukan diperuntukkan bagi anak perempuan.

Jika salah satu syarat dari 5 (lima) tidak ada maka termasuk hal yang diperselisihkan hukumnya di kalangan para ulama. Namun meninggalkan untuk hal yang diperselisihkan itu lebih wara’ dan lebih hati-hati.

Jika terpenuhi kelima syarat tersebut maka wajib untuk ditinggalkan dan diingkari dengan pelarangan / pencegahan. Wallahu a’lam.

Referensi:

~ Majmû Fatâwâ wa Rosâil lil Imam as-Sayyid Alwiy al-Malikiy al-Hasaniy, al-maulûd 1328 H wal-mutawaffâ 1391 H. Halaman 213-214.

فعلم أن المجمع على تحريمه من تصوير الأكوان ما اجتمع فيه خمسة قيود عند أولي العرفانأولها ؛ كون الصورة للإنسان أو للحيوانثانيها ؛ كونها كاملة لم يعمل فيها ما يمنع الحياة من النقصان كقطع رأس أو نصف أو بطن أو صدر أو خرق بطن أو تفريق أجزاء لجسمان ثالثها ؛ كونها في محل يعظم لا في محل يسام بالوطء والامتهانرابعها ؛ وجود ظل لها في العيان خامسها ؛ أن لا تكون لصغار البنان من النسوان

فإن انتفى قيد من هذه الخمسة . . كانت مما فيه اختلاف العلماء الأعيان . فتركها حينئذ أورع وأحوط للأديان . ولا ينكر على فاعلها إنكار زجر كفاعل ما أجمع على تحريمه من أمور العصيان ، لأن اختلاف علماء الأمة رحمة من الرحمن بل بالنصح والإرشاد إلى خروج من خلاف العلماء كما عليه أهل الكمال وسد ذرائع الفساد في الزمان . وعند تكامل القي يجب تركها على الإنسان وينكر عليه بالزجر لخرقة إجماع أهل العلم وهو سبب لاستحقاق النيران لازلنا في عافية من المنان

~ MAJMÛ FATÂWÂ WA ROSÂIL Lil Imam as-Sayyid Alwi al-Maliki al-Hasaniy (1328 H -1391 H). Hal. 212-213 :

وحاصل ما أجاب به هو ؛١ ـ أن تصوير الصورة إن كانت حيوانية كاملة لها ظل لغير لعب البنات الصغار محرم بإجماع الأئمة الكبار ولا يؤخذ لها ثمن ولا أجرة كما صرح به أهل الاعتبار ولا تدخل ملائكة الرحمة في محلها ، وفاعلها مستحق العذاب في جهنم مكلف بنفخ الروح فيها وليس بنافخ عافانا الله من ذلك

  1. Membentuk / membuat patung / boneka jika berupa hewan yang sempurna, yang mempunyai bayang-bayang, untuk selain mainannya anak-anak perempuan yang kecil itu diharamkan dengan kesepakatan para ulama’ yang agung, dan tidak dipungut harga atau ongkos dari patung tersebut sebagaimana penjelasan pakar i’tibar dan malaikat rahmat tidak masuk ke tempat tersebut, pembuatnya dilaknat dan mendapat siksa di neraka jahannam, dibebani meniupkan roh pada patung yang dibuatnya dan dia bukanlah orang yang bisa meniupkan roh, semoga Allah menyelamatkan kita dari hal demikian.

٢ ـ وإن كانت الصورة حيونية لها ظل لكنها ناقصة نقصا يمنع الحياة بقطع الرأس أو النصف أو الصدر أو خرق البطن أو أي عضو لا حياة بعده أو تغيب ذلك بصبغ مغير أو تفريق الأجزاء كانت مباحة في المذاهب الأربعة

  1. Jika patung/boneka berupa hewan yang mempunyai bayangan, akan tetapi patung tersebut terdapat kekurangan yang mencegah untuk hidup, seperti dengan terpotongnya kepala atau separuh kepala atau dada atau perutnya berlubang atau terpotongnya anggota yang mana saja yang tidak bisa hidup setelahnya. Atau tidak adanya anggota-anggota tersebut dengan bentuk yang dirubah atau memisahkan bagian-bagian anggota, maka hal tersebut diperbolehkan menurut madzhab 4.

٣ ـ وإن كانت الصورة حيوانية كاملة لكن لا ظل فها هنا تفصيل وهو أنها إن كانت في محل ممتهن كبساط وحصير ووسادة وفراش ونحوها كانت مباحة أيضا في المذاهب الأربعة إلا أن المالكية قالوا فعل هذا خلاف الأولى وليس مكروها

  1. Dan jika berbentuk hewan yang sempurna, akan tetapi tidak mempunyai bayangan, maka diperinci, jika berada pada tempat yang terhina/remeh/rendah seperti permadani, tikar, bantal, dan kasur atau semacamnya, maka hal ini juga diperbolehkan menurut madzhab 4, hanya saja malikiyah berpendapat perbuatan tersebut khilaful aula (menyelisihi pada yang lebih utama) dan tidak makruh.

٤ ـ وإن كانت هذه الصورة الحيوانية الكاملة التي لا ظل لها في محل غير ممتهن كحائط وقبة ومنارة وستر معلق وورق وسقف منعت عند الحنفية والشافعية والحنابلة ، وكرهت بلا تحريم عند المالكية ، وأبيحت عند بعض السلف والقاسم بن محمد أحد فقهاء المدينة وعمران بن حصين الصحابي ، وأجاز القاسم بن محمد المذكور وابن القاسم وأصبغ من المالكية والليث تصويرها في الثياب ، والجمهور فلم يقولوا بجواز الصورة الحيوانية الكاملة التي لا ظل لها إن كانت في محل غير ممتهن ، ومنعها الزهري مطلقا وإن كانت في ممتهن

  1. Dan jika patung / gambar hewan yang sempurna yang tidak mempunyai bayangan itu berada di tempat yang tidak hina/rendah, seperti: tembok, kubah, menara, tutup/satir yang digantungkan, kertas, dan atap, maka menurut hanafiyah, syafiiyah dan hanabilah dilarang. Menurut madzhab mallikiyah hukumnya makruh.

Kesimpulan :

1.BOLEH. Jika dibentuk hanya sampai pinggangnya

2.HARAM. Jika dibentuk sampai sempurna, baik menyertakan lengkap dua kaki atau satu kaki atau dibentuk sampai bawah tulang pinggul, maksud kata “sempurna” di atas adalah bentuk yang mungkin hidup bila ditiup ruh.

Wallohu a’lam.

HUKUM BERMAIN GAME ONLINE

Hukum memainkannya diqiyaskan pada permainan secara umum karena zaman dulu belum ada game (software) seperti yang ada sekarang, namun sudah ada rambu-rambu permainan yang boleh dan tidak. Misal selagi tidak ada unsur perjudian, tidak melalaikan sholat dan tidak bermain bersama orang yang meyakini keharamannya maka hal itu boleh, game online itu sama seperti halnya permainan biasa pada umumnya seperti bermain catur, hanya saja para ulama lebih memandang positif terhadap permainan catur.

Berikut rambu-rambu hukum permainan secara garis besar, sebagaimana dikutip dari kitab Almausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah :

Permainan itu ada yang mubah, ada yang dianjurkan, makruh dan haram. Permainan yang mubah semisal lomba lari, lomba perahu dll yaitu permainan yang memenuhi syarat :

1.tidak ada unsur hinaan yang merendahkan harga diri

2.tidak menyebabkan dhoror pada manusia atau hewan

3.tidak memalingkan dari sholat atau kewajiban agama yang lain

4.tidak mengarahkan pada dusta atau hal-hal lain yang diharamkan

Permaian yang dianjurkan semisal main panah-panahan pada sasaran (tembak-tembakan kalau jaman sekarang) atau lainnya yang bermanfaat melatih perang (pertahanan diri).

Permainan yang makruh seperti bermain adu burung atau merpati karena hal itu tidaklah pantas bagi orang yang terhormat serta membiasakannya bisa memalingkan dari berbuat suatu yang maslahat dan dari amal ibadah.

Permainan yang haram contohnya permainan yang mengandung unsur qimar (judi)ْ

– Almausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah :

الموسوعة الفقهية الكويتية ٣٥/ ٢٦٨-٢٦٩

اللَّعِبُ مِنْهُ مَا هُوَ مُبَاحٌ وَمِنْهُ مَا هُوَ مُسْتَحَبٌّ وَمِنْهُ مَا هُوَ مَكْرُوهٌ وَمِنْهُ مَا هُوَ مُحَرَّم

فَمِنَ اللَّعِبِ الْمُبَاحِ الْمُسَابَقَةُ الْمَشْرُوعَةُ عَلَى الأَْقْدَامِ وَالسُّفُنِ وَنَحْوِ ذَلك…..

وَإِبَاحَةُ اللَّعِبِ إِنَّمَا يَكُونُ بِشَرْطِ أَنْ لاَ يَكُونَ فِيهِ دَنَاءَةٌ يَتَرَفَّعُ عَنْهَا ذَوُو الْمَرُوءَاتِ، وَبِشَرْطِ أَنْ لاَ يَتَضَمَّنَ ضَرَرًا فَإِنْ تَضَمَّنَ ضَرَرًا لإِِنْسَانٍ أَوْ حَيَوَانٍ كَالتَّحْرِيشِ بَيْنَ الدُّيُوكِ وَالْكِلاَبِ وَنِطَاحِ الْكِبَاشِ وَالتَّفَرُّجِ عَلَى هَذِهِ الأَْشْيَاءِ فَهَذَا حَرَامٌ، وَبِشَرْطِ أَنْ لاَ يَشْغَل عَنْ صَلاَةٍ أَوْ فَرْضٍ آخَرَ أَوْ عَنْ مُهِمَّاتٍ وَاجِبَةٍ فَإِنْ شَغَلَهُ عَنْ هَذِهِ الأُْمُورِ وَأَمْثَالِهَا حَرُمَ، وَبِشَرْطِ أَنْ لاَ يُخْرِجَهُ إِلَى الْحَلِفِ الْكَاذِبِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ…..

وَمِنَ اللَّعِبِ الْمُسْتَحَبِّ الْمُنَاضَلَةُ عَلَى السِّهَامِ وَالرِّمَاحِ وَالْمَزَارِيقِ وَكُل نَافِعٍ فِي الْحَرب….

وَمِنَ اللَّعِبِ الْمَكْرُوهِ اللَّعِبُ بِالطَّيْرِ وَالْحَمَامِ لأَِنَّهُ لاَ يَلِيقُ بِأَصْحَابِ الْمَرُوءَاتِ وَالإِْدْمَانُ عَلَيْهِ قَدْ يُؤَدِّي إِلَى إِهْمَال الْمَصَالِحِ وَيَشْغَل عَنِ الْعِبَادَاتِ وَالطَّاعَاتِ

وَمِنَ اللَّعِبِ الْمُحَرَّمِ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ: كُل لُعْبَةٍ فِيهَا قِمَارٌ لأَِنَّهَا مِنَ الْمَيْسِرِ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِاجْتِنَابِهِ

– Hasyiyah jamal ‘alaa alMinhaj X/749 :

وفارق النرد الشطرنج حيث يكره إن خلا عن المال بأن معتمده الحساب الدقيق والفكر الصحيح ففيه تصحيح الفكر ونوع من التدبير ومعتمد النرد الحزر والتخمين المؤدي إلى غاية من السفاهة والحمق قال الرافعي ما حاصله ويقاس بهما ما في معناهما من أنواع اللهو وكل ما اعتمد الفكر والحساب كالمنقلة والسيجة وهي حفر أو خطوط ينقل منها وإليها حصى بالحساب لا يحرم ومحلها في المنقلة إن لم يكن حسابها تبعا لما يخرجه الطاب الآتي وإلا حرمت وكل ما معتمده التخمين يحرم

Perbedaan antara permainan dadu dan catur yang dihukumi makruh bila memang tidak menggunakan uang adalah bahwa permainan catur berdasarkan perhitungan yang cermat dan olah pikir yang benar, dalam permainan catur terdapat unsur penggunaan pikiran dan pengaturan strategi yang benar sedangkan permainan dadu berdasarkan spekulasi yang menyebabkan kebodohan dan kedunguan yang maksimal.

Menurut Imam Rofi’i hukum dadu dan catur tersebut bisa dianalogikan pada semua bentuk permainan dan segala hal dan segala hal yang berdasarkan hitung-hitungan dan pikiran seperti alminqolat dan assijah (jenis permainan di arab) yakni permainan dengan membentuk garis dan lobang-lobang untuk mengisi bebatuan yang di lakukan dengan perhitungan tersendiri. Permainan semacam ini tidak haram, sedangkan semua jenis permainan yang berdasarkan spekulasi hukumnya haram.

– Fath alMu’iin IV/285 :

واللعب بالشطرنج بكسر أوله وفتحه معجما ومهملا مكروه إن لم يكن فيه شرط مال من الجانبين أو أحدهما أو تفويت صلاة ولو ب.نسيان بالاشتغال به أو لعب مع معتقد تحريمه وإلا فحرام ويحمل ما جاء في ذمه من الأحاديث والآثار على ما ذكر

Bermain catur hukumnya makruh bila tidak disertai salah satu ketentuan berikut :

  • Disertai dengan harta dari kedua pemain atau salah satunya (karena berarti judi)
  • Keasyikan bermainnya tidak sampai meninggalkan sholat meskipun karena meninggalkannya karena unsur lupa,
  • Tidak bermain bersama orang yang berkeyakinan mengharamkan catur tersebut

Bila ada salah satu ketentuan di atas maka bermain catur menjadi haram. Wallohu a’lam.

BEBERAPA HUKUM TERKAIT WANITA YANG SEDANG HAIDL

Wanita haidl membawa buku qiroati dan sejenisnya

Hukum membawa buku buku TPA seperti IQRO’, QIRAATI, DIROSATI, TARTILI, An-NAHDHIYI dan sejenisnya bagi wanita yang sedang haidl diperbolehkan (Tidak Haram). Dikarenakan penyusunan dari buku-buku tersebut untuk belajar/mengajar Al Qurán.

( والرابع مس المصحف ) وهو اسم للمكتوب من كلام الله بين الدفتين ( وحمله ) إلا إذا خافت عليه ( قوله وهو ) أى المصحف وقوله اسم للمكتوب من كلام الله بين الدفتين أى بين دفتى المصحف وهذا التفسير ليس مرادا هنا وإنما المراد به هنا كل ما كتب عليه قرآن لدراسته ولو عمودا أو لوحا أو نحوهما الى أن قال …. والعبرة بقصد الكاتب إن كان يكتب لنفسه وإلا فقصد الآمر أو المستأجر

[ Yang ke-empat Memegang Mushaf ] Mushaf ialah nama dari tulisan firman Allah diantara dua lampiran. Juga haram membawanya kecuali saat ia menghawatirkannya.(keterangan Mushaf ialah nama dari tulisan firman Allah diantara dua lampiran) yang dikehendaki adalah setiap perkara yang ditulis alQuran untuk dibaca meskipun berupa tiang, papan atau lainnya…. Pertibangannya diserahkankan pada penulis bila tujuan penulisannya untuk pribadi bila tidak maka diserahkan yang berwenang atau pun penyewa jasa.  [ Haasyiyah al-Baajuri I/117 ].

( و ) حمل ومس ( ما كتب لدرس قرآن ) ولو بعض آية ( كلوح فى الأصح ) لأنه كالمصحف وظاهر قولهم بعض آية أن نحو الحرف كاف وفيه بعد بل ينبغى فى ذلك البعض كونه جملة مفيدة

Dan haram membawa serta memegang tulisan quran untuk dibaca meskipun hanya sebagian ayat seperti halnya yang berupa papan menurut pendapat yang paling shahih karena ia seperti mushaf. (keterangan meskipun hanya sebagian ayat) tidak semacam huruf KAAF, pengertian ini terlalu jauh semestinya batasan dikatakan sebagian ayat adalah susunan kalimat yang berfaedah. [ Tuhfah al-Muhtaaj I/149 ].

Hukum membacanya juga diperbolehkan apabila tidak qoshdul qiroáh (bertujuan membaca) :

( مسألة ى ) يكره حمل التفسير ومسه إن زاد على القرآن وإلا حرم. وتحرم قراءة القرآن على نحو جنب بقصد القراءة ولو مع غيرها لا مع الإطلاق على الراجح ولا بقصد غير القراءة كرد غلط وتعليم وتبرك ودعاء .

Makruh membawa dan memegang Tafsir yang jumlahnya melebihi tulisan qurannya bila tidak maka haram. Dan haram membacanya bagi semisal orang junub bila bertujuan untuk membacanya meskipun alQurannya bersama tulisan lain tapi tidak haram baginya bila memutlakkan tujuannya menurut pendapat yang kuat dan juga tidak haram tanpa adanya tujuan membacanya seperti saat membenarkan bacaan yang salah, mengajar, mencari keberkahan dan berdoa. [ Bughyah al-Mustarsyidiin hal0 26 ].

وحكى وجه أن للجنب أن يقرأ ما لم يدخل فى حد الإعجاز وهو ثلاث آيات ونقل الترمذى فى الجامع عن الشافعى أنه قال لا يقرأ الحائض والجنب شيئا إلا طرف الآية والحرف ونحو ذلك أفاده فى البكرى.

Dihikayahkan sebuah pendapat bahwa bagi orang junub diperbolehkan membaca alQuran asal tidak dalam batasan ‘hal yang dapat melemahkan’ dari alQuran yakni berupa tiga ayat, Imam at-Turmudzi menyadur dari Imam Syafi’i yang berkata “Wanita haid dan orang junub tidak boleh membaca sesuatu dari alQuran kecuali ujung ayat , huruf dan sejenisnya. [ At-Turmusy hal. 427-428 ].

قوله: ( ولو بعض آية ) صادق بالحرف الواحد وهو كذلك لكون صورته فى الحرف أن يقصد به القرآن فيأثم, وإن اقتصر عليه لأنه نوى معصية وشرع فيها, فالتحريم من هذه الجهة لا من حيث إنه يسمى قرآنا كما فى حاشيته م ر على الروض .

(keterangan meskipun sebagian ayat) dapat berarti satu huruf, memang demikianlah adanya namun penjabarannya satu huruf yang disengaja dengan tujuan membaca alQuran, maka berdosalah dirinya meskipun hanya berupa satu huruf karena ia telah berniat dan menjalani maksiat. Dengan demikian keharaman karena melihat unsure ini bukan karena melihat berupa quran atau tidaknya. Bujairomi alaa al-Khothiib I/314

WANITA HAID & ALQURAN

  • Memegang/membawa al-Quran bagi wanita haid haram hukumnya kecuali saat ia menghawatirkan tersia-siakannya al-Qur’an

( والرابع مس المصحف ) وهو اسم للمكتوب من كلام الله بين الدفتين ( وحمله ) إلا إذا خافت عليه ( قوله وهو ) أى المصحف وقوله اسم للمكتوب من كلام الله بين الدفتين أى بين دفتى المصحف وهذا التفسير ليس مرادا هنا وإنما المراد به هنا كل ما كتب عليه قرآن لدراسته ولو عمودا أو لوحا أو نحوهما الى أن قال …. والعبرة بقصد الكاتب إن كان يكتب لنفسه وإلا فقصد الآمر أو المستأجر

[ Yang ke-empat dari hal yang diharamkan bagi wanita haid adalah memegang Mushaf ]. Mushaf ialah nama dari tulisan firman Allah diantara dua lampiran.

Juga haram membawanya kecuali saat ia menghawatirkannya. (keterangan Mushaf ialah nama dari tulisan firman Allah diantara dua lampiran) yang dikehendaki adalah setiap perkara yang ditulis alQuran untuk dibaca meskipun berupa tiang, papan atau lainnya…. Pertibangannya diserahkankan pada penulis bila tujuan penulisannya untuk pribadi bila tidak maka diserahkan yang berwenang atau pun penyewa jasa. [ Haasyiyah al-Baajuri I/117 ].

( و ) حمل ومس ( ما كتب لدرس قرآن ) ولو بعض آية ( كلوح فى الأصح ) لأنه كالمصحف وظاهر قولهم بعض آية أن نحو الحرف كاف وفيه بعد بل ينبغى فى ذلك البعض كونه جملة مفيدة

Dan haram membawa serta memegang tulisan quran untuk dibaca meskipun hanya sebagian ayat seperti halnya yang berupa papan menurut pendapat yang paling shahih karena ia seperti mushaf. (keterangan meskipun hanya sebagian ayat) tidak semacam huruf KAAF, pengertian ini terlalu jauh semestinya batasan dikatakan sebagian ayat adalah susunan kalimat yang berfaedah. [ Tuhfah al-Muhtaaj I/149 ].

  • Membaca al-Quran bagi wanita haid juga haram hukumnya, kecuali bila tidak terdapat unsur qoshdul qiroáh (bertujuan membaca) seperti saat bertujuan membenarkan bacaan yang salah, mengajar, mencari keberkahan atau berdoa.

( مسألة ى ) يكره حمل التفسير ومسه إن زاد على القرآن وإلا حرم. وتحرم قراءة القرآن على نحو جنب بقصد القراءة ولو مع غيرها لا مع الإطلاق على الراجح ولا بقصد غير القراءة كرد غلط وتعليم وتبرك ودعاء .

Makruh membawa dan memegang Tafsir yang jumlahnya melebihi tulisan qurannya bila tidak maka haram. Dan haram membacanya bagi semisal orang junub bila bertujuan untuk membacanya meskipun alQurannya bersama tulisan lain tapi tidak haram baginya bila memutlakkan tujuannya menurut pendapat yang kuat dan juga tidak haram tanpa adanya tujuan membacanya seperti saat membenarkan bacaan yang salah, mengajar, mencari keberkahan dan berdoa. [ Bughyah al-Mustarsyidiin hal. 26 ].

  • Memegang/membawa al-Quran yang ada tafsirnya bagi wanita haid haram hukumnya kecuali bila jumlah kalimat tafsirnya lebih banyak ketimbang huruf alQurannya

Sedang memegang/membawa al-Quran yang ada terjemahnya muthlak haram kecuali saat ia menghawatirkan tersia-siakannya alQuran

أما ترجمة المصحف المكتوبة تحت سطوره فلا تعطي حكم التفسير بل تبقى للمصحف حرمة مسه وحمله كما أفتى به السيد أحمد دحلان حتى قال بعضهم إن كتابة ترجمة المصحف حرام مطلقا سواء كانت تحته أم لا فحينئذ ينبغي أن يكتب بعد المصحف تفسيره بالعربية ثم يكتب ترجمة ذلك التفسير

Terjemah Al-qur’an yang ditulis dibawahnya tidak bisa disamakan dengan hukum tafsir Quran (dimana kalau Qurannya lebih banyak ketimbang tafsirnya tidak boleh dipegang orang yang menanggung hadats), hukum yang berlaku untuk terjemah Alquran sama dengan alquran dalam arti tidak boleh dibawa/dipegang oleh orang hadats seperti yang difatwakan oleh Sayyid Ahmad dahlan, bahkan sebagian ulama menyatakan menterjemah Alquran di bawahnya atau dimana saja hukumnya haram secara mutlak, karena sebaiknya setelah alquran baru ditulis terjemahannya kemudian baru diterjemahkan tafsirnya (Nihaayah Azzain I/33).

Wanita haidl membaca al Qur’an dan berwudlu

  1. WUDHU WANITA HAID

a.Bila wudhunya untuk menghilangkan hadats atau untuk ibadah maka haram karena akan menimbulkan TANAAQUD (fungsi wudhu bertentangan dengan keadaannya yang sedang hadats) dan menimbulkan TALAA’UB (mempermainkan ibadah sebab dia tahu wudhunya tidak bisa menghilangkan hadats berupa haidnya)

b.Bila wudhunya untuk menghilangkan hadats atau untuk ibadah setelah berhentinya darah maka sunnah karena fungsinya TAQLIIL ALHADATS (meringankan dan mengecilkan hadats) dan NASYAATH LI ALGHUSLI (Untuk merangsang segera mandi)

c.Bila wudhunya tidak untuk menghilangkan hadats/ibadah melainkan wudhu yang tujuannya untuk ‘AADAH/kebiasaan seperti Tabarrud (menyejukkan dirinya) dan nazhoofah (kebersihan) maka sunnah karena fungsi rof’i alhadats (menghilangkan hadats) atau taqliil alhadats (meringankan/mengecilkan hadats tidak terjad dalam wudhu semacam inii dan tidak menimbulkan tanaaqud (fungsi wudhu bertentangan dengan keadaannya yang sedang hadats)

Referensi dari :

– Aljamal I/486

وللحائض بعد انقطاع حيضها الوضوء لنوم أو أكل أو شرب أو جماع أو نحو ذلك تقليلا للحدث وهذا الوضوء لا تبطله نواقض الوضوء كالبول ونحوه وإنما يبطله جماع آخر ولهذا يلغز فيقال لنا وضوء لا تبطله الأحداث

– AlMughni I/110 :

أما الطهارة المقصودة للتنظيف كأغسا…ل الحج فإنها تأتي بها

ومما يحرم عليها أي الحائض الطهارة عن الحدث بقصد التعبد مع علمها بالحرمة لتلاعبها فإن كان المقصود النظافة كأغسال الحج لم يمتنع

فِي ( عب ) : مِثْلُهُ الْحَائِضُ بَعْدَ انْقِطَاعِ الدَّمِ لَا قَبْلَهُ وَهَذَا عَلَى أَنَّ الْعِلَّةَ رَجَاءُ نَشَاطِهِ لِلْغُسْلِ

هذا الذى ذكرناه من أنه لا تصح طهارة حائض هو في طهارة لرفع حدث سواء كانت وضوءا أو غسلا واما الطهارة المسنونة للنظافة كالغسل للاحرام والوقوف ورمى الجمرة فمسونة للحائض بلا خلاف

– Almajmuu’ II/349 :

1 – تحرم على الحائض والنفساء الطهارة بنية رفع الحدث أو نية العبادة كغسل الجمعة أما الطهارة المسنونة للنظافة كالغسل للإحرام وغسل العيد ونحوه من الأغسال المشروعة التي لا تفتقر إلى طهارة فلا تحرم والدليل عليه قوله صلى الله عليه و سلم لعائشة رضي الله عنها حين حاضت في الحج : ( افعلي كما يفعل الحاج غير أن لا تطوفي بالبيت حتى تطهري ) ( البخاري ج 2 / كتاب الحج باب 80 / 1567 )

– Fiqh al-Ibaadaat li as-Syaafi’I I/200 :

مثلاً الوضوء يكون عبادة إذا قصد به التوصل للعبادة كالصلاة والطواف ونحوهما مما يفتقر إلى ذلك، ويكون عادة للنظافة والتبرد ونحوهما، فإذا نوى استباحة الصلاة باستعمال الماء في أعضاء الوضوء، أو فرض الغسل، صح الوضوء.

– Fiqh al-Islaam wa adillatuh I/146 :

1 – يغتسل تنظفاً، أو يتوضأ، والغسل أفضل؛ لأنه أتم نظافة، ولأنه عليه الصلاة والسلام اغتسل لإحرامه (1) ، وهو للنظافة لا للطهارة، ولذا تفعله المرأة الحائض والنفساء، لما روى ابن عباس مرفوعاً إلى النبي صلّى الله عليه وسلم : «أن النفساء والحائض تغتسل وتُحرم، وتقضي المناسك كلها، غير أن لا تطوف بالبيت» (2) وأمر النبي صلّى الله عليه وسلم أسماء بنت عميس، وهي نفساء أن تغتسل (3) .

__________

(1) رواه الدارمي والترمذي وغيرهما عن زيد بن ثابت: أن رسول الله صلّى الله عليه وسلم اغتسل لإحرامه (نصب الراية: 17/3).

(2) رواه أبو داود والترمذي عن ابن عباس (نيل الأوطار: 303/4).

(3) رواه مسلم عن جابر.

– Fiqh al-Islaam wa adillatuh III/503 :

وقيس بالجنب الحائض والنفساء إذا انقطع دمهما وبالأكل والشرب والحكمة في ذلك تخفيف الحدث غالبا والتنظيف وقيل لعله ينشط للغسل

– AlMughni I/63 :

وَسُئِلَ نَفَعَ اللَّهُ بِهِ بِمَا صُورَتُهُ إذَا أتى الْمُغْتَسِلُ بِالْأَكْمَلِ في الْغُسْلِ وَقَدَّمَ الْوُضُوءَ فَهَلْ يُسْتَحَبُّ له أَنْ يَنْوِي عِنْدَ غَسْلِ الْكَفَّيْنِ نِيَّةَ رَفْعِ الْجَنَابَةِ وَنِيَّةَ رَفْعِ الْحَدَثِ الْأَصْغَرِ إنْ لم تَتَجَرَّدْ جَنَابَتُهُ عنه أو نِيَّةُ الْغُسْلِ إنْ تَجَرَّدَتْ وَيَسْتَصْحِبُ نِيَّةَ كُلٍّ مِنْهُمَا إلَى فَرَاغِهِ كما هو مُقْتَضَى كَلَامِهِمْ أو يَكْتَفِي بِنِيَّةِ الْغُسْلِ عن الْجَنَابَةِ أو ما الْحُكْمُ فيها فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ إنَّ جَنَابَتَهُ تَارَةً تَتَجَرَّدُ عن الْحَدَثِ الْأَصْغَرِ كَأَنْ يَلُوطَ أو يَطَأَ بَهِيمَةً أو يُنْزِلَ بِنَحْوِ ضَمِّ امْرَأَةٍ بِحَائِلٍ وَحِينَئِذٍ فَيَنْوِي بِالْوُضُوءِ سُنَّةَ الْغُسْلِ وَتَارَةً لَا تَتَجَرَّدُ وَحِينَئِذٍ فَيَنْوِي بِهِ رَفْعَ الْحَدَثِ الْأَصْغَرِ وَإِنْ قُلْنَا إنَّهُ يَنْدَرِجُ في الْغُسْلِ خُرُوجًا من خِلَافِ من أَوْجَبَهُ وَتَصْرِيحُ ابن الرِّفْعَةِ كَابْنِ خَلَفٍ الطَّبَرِيِّ بِمَا ظَاهِرُهُ يُخَالِفُ ذلك مُؤَوَّلٌ وَلَيْسَتْ النِّيَّةُ الْمَذْكُورَةُ في الْقِسْمَيْنِ وَاجِبَةٌ بَلْ مَنْدُوبَةٌ في أَوَّلِ كُلٍّ وَلَا يُشْتَرَطُ اسْتِصْحَابُهَا إلَى آخِرِهِ قِيَاسًا على نَحْوِ الطَّوَافِ في الْحَجِّ لِشُمُولِ نِيَّةِ الْغُسْلِ لِلْوُضُوءِ وَقَوْلُ الْإِسْنَوِيِّ لَا يُتَصَوَّرُ شُمُولُ نِيَّةِ الْغُسْلِ لِلْوُضُوءِ لِأَنَّهُ إذَا نَوَى رَفْعَ الْحَدَثِ ارْتَفَعَتْ الْجَنَابَةُ عن الْمَغْسُولِ من أَعْضَاءِ الْوُضُوءِ فَيَكُونُ الْمَأْتِيُّ بِهِ غُسْلًا لَا وُضُوءً غَلَطٌ كما قَالَهُ الزَّرْكَشِيُّ لِأَنَّ رَفْعَ الْجَنَابَةِ لَا يُنَافِي الْإِتْيَانَ بِصُورَةِ الْوُضُوءِ

وإذا تَقَرَّرَ أَنَّ حُصُولَ صُورَتِهِ لَا يُنَافِي ارْتِفَاعَ الْجَنَابَةِ في أَعْضَائِهِ فَبَحَثَ ابن الرِّفْعَةِ عَدَمَ ارْتِفَاعِهَا لِأَنَّهُ غَسَلَهَا بِنِيَّةِ السُّنَّةِ يُرَدُّ بِأَنَّ قَصْدَ ذلك لَا يُنَافِي نِيَّةَ رَفْ

  1. WANITA HAID & ALQURAN
  • Memegang/membawa al-Quran bagi wanita haid haram hukumnya kecuali saat ia menghawatirkan tersia-siakannya alQuran

( والرابع مس المصحف ) وهو اسم للمكتوب من كلام الله بين الدفتين ( وحمله ) إلا إذا خافت عليه ( قوله وهو ) أى المصحف وقوله اسم للمكتوب من كلام الله بين الدفتين أى بين دفتى المصحف وهذا التفسير ليس مرادا هنا وإنما المراد به هنا كل ما كتب عليه قرآن لدراسته ولو عمودا أو لوحا أو نحوهما الى أن قال …. والعبرة بقصد الكاتب إن كان يكتب لنفسه وإلا فقصد الآمر أو المستأجر

Yang No. 4 dari hal yang diharamkan bagi wanita haid adalah memegang Mushaf. Mushaf ialah nama dari tulisan firman Allah diantara dua lampiran. Juga haram membawanya kecuali saat ia menghawatirkannya. (keterangan Mushaf ialah nama dari tulisan firman Allah diantara dua lampiran) yang dikehendaki adalah setiap perkara yang ditulis alQuran untuk dibaca meskipun berupa tiang, papan atau lainnya…. Pertibangannya diserahkankan pada penulis bila tujuan penulisannya untuk pribadi bila tidak maka diserahkan yang berwenang atau pun penyewa jasa. [ Haasyiyah al-Baajuri I/117 ].

( و ) حمل ومس ( ما كتب لدرس قرآن ) ولو بعض آية ( كلوح فى الأصح ) لأنه كالمصحف وظاهر قولهم بعض آية أن نحو الحرف كاف وفيه بعد بل ينبغى فى ذلك البعض كونه جملة مفيدة

Dan haram membawa serta memegang tulisan quran untuk dibaca meskipun hanya sebagian ayat seperti halnya yang berupa papan menurut pendapat yang paling shahih karena ia seperti mushaf.

(keterangan meskipun hanya sebagian ayat) tidak semacam huruf KAAF, pengertian ini terlalu jauh semestinya batasan dikatakan sebagian ayat adalah susunan kalimat yang berfaedah. [ Tuhfah al-Muhtaaj I/149 ].

  • Membaca al-Quran bagi wanita haid juga haram hukumnya kecuali bila tidak terdapat unsur qoshdul qiroáh (bertujuan membaca) seperti saat bertujuan membenarkan bacaan yang salah, mengajar, mencari keberkahan atau berdoa.

( مسألة ى ) يكره حمل التفسير ومسه إن زاد على القرآن وإلا حرم. وتحرم قراءة القرآن على نحو جنب بقصد القراءة ولو مع غيرها لا مع الإطلاق على الراجح ولا بقصد غير القراءة كرد غلط وتعليم وتبرك ودعاء .

Makruh membawa dan memegang Tafsir yang jumlahnya melebihi tulisan qurannya bila tidak maka haram.

Dan haram membacanya bagi semisal orang junub bila bertujuan untuk membacanya meskipun alQurannya bersama tulisan lain tapi tidak haram baginya bila memutlakkan tujuannya menurut pendapat yang kuat dan juga tidak haram tanpa adanya tujuan membacanya seperti saat membenarkan bacaan yang salah, mengajar, mencari keberkahan dan berdoa. [ Bughyah al-Mustarsyidiin hal. 26 ].

  • Memegang/membawa al-Quran yang ada tafsirnya bagi wanita haid haram hukumnya kecuali bila jumlah kalimat tafsirnya lebih banyak ketimbang huruf alQurannya

Sedang memegang/membawa al-Quran yang ada terjemahnya muthlak haram kecuali saat ia menghawatirkan tersia-siakannya alQuran

أما ترجمة المصحف المكتوبة تحت سطوره فلا تعطي حكم التفسير بل تبقى للمصحف حرمة مسه وحمله كما أفتى به السيد أحمد دحلان حتى قال بعضهم إن كتابة ترجمة المصحف حرام مطلقا سواء كانت تحته أم لا فحينئذ ينبغي أن يكتب بعد المصحف تفسيره بالعربية ثم يكتب ترجمة ذلك التفسير

Terjemah Alquran yang ditulis dibawahnya tidak bisa disamakan dengan hukum tafsir Quran (dimana kalau Qurannya lebih banyak ketimbang tafsirnya tidak boleh dipegang orang yang menanggung hadats), hukum yang berlaku untuk terjemah Alquran sama dengan alquran dalam arti tidak boleh dibawa/dipegang oleh orang hadats seperti yang difatwakan oleh Sayyid Ahmad dahlan, bahkan sebagian ulama menyatakan menterjemah Alquran dibawahnya atau dimana saja hukumnya haram secara mutlak, karena sebaiknya setelah alquran baru ditulis terjemahannya kemudian baru diterjemahkan tafsirnya (Nihaayah Azzain I/33).

Boleh baca al-Qur’an bagi orang haid atau junub dengan niat dzikir

ولا فرق بين ما لا يوجد نظمه الا فيه كآية الكرسي وسورة الاخلاص وبينما يوجد فيه وفي غيره على المعتمد عند العلامة م ر تبعا لوالده وهو الاقرب … قال الشيخ الخطيب أفتى الشيخ السهاب الرملي أنه لو قرأ القرأن جميعه لا بقصد القرأن جاز وهو المعتمد … ومعنى عدم القصد أن يقصد بالقراءة التعبد لاننا متعبدون بذكر القرآن جميعه … وهل يشترط في قصد الذكر بالقراءة ملاحظة الذكر في جميع القراءة قياسا على تكبير الانتقالات أو يكفي قصد الذكر في الأول وان غفل عنه في الأثناء فيه نظر والاقرب الثاني اهـ حاشية الجمل 1/157

Dan tidak ada beda antara ayat yang tidak ada pemakainnya kecuali di dalam al-Qur’an semisal ayat kursi dan surat al-ikhlash dan ayat yang biasa dipakai di selain al-qur’an (semisal hamdalah atau basmalah) menurut pendapat yang Mu’tamad (yang bisa dibuat pegangan) yang dikemukakan oleh Imam Romli mengikuti pendapat ayahnya. Pendapat inilah yang lebih dekat.

Berkata syekh Khotib : Berfatwa syekh as-Syihab al-Romli bahwasannya jika membaca al-Qur’an selururhnya tidak dengan tujuan baca al-Qur’an boleh, dan inilah pendapat yang mu’tamad.

Yang dimaksud dengan “tidak dengan tujuan baca al-Qur’an” ialah membaca al-Qur’an dengan tujuan ibadah. Karena kita bisa beribadah dengan dzikir al-Qur’an seluruhnya.

Apakah dalam niat dzikir ini harus ingat niat tersebut pada seluruh bagiannya diqiyaskan dengan niat takbir pada saat takbir intiqal? Ataukah cukup dengan niat dzikir di awalnya saja walaupun di pertengahan lupa? Dalam masalah ini terjadi pemikiran, dan yang lebih mendekati “benar” adalah yang kedua.

Apakah boleh mengeluarkan mani dengan bercumbu dengan istri selain jimak, disebabkan istri sedang haid ?

JAWABAN :

Di saat istri sedang haid, maka suami boleh mengeluarkan air mani karena bercumbu di selain pusar dan lutut dengan istri tanpa jimak. Namun haram mengeluarkan air mani jika dengan tangan suami sendiri, berbeda jika dengan tangan (atau anggota tubuh yang halal saat haid) istri, maka hal itu boleh/halal.

الموسوعة الفقهية الكويتية

اسْتِمْنَاء

التَّعْرِيفُ:

١ – الاِسْتِمْنَاءُ: مَصْدَرُ اسْتَمْنَى، أَيْ طَلَبَ خُرُوجَ الْمَنِيِّ.

وَاصْطِلاَحًا: إخْرَاجُ الْمَنِيِّ بِغَيْرِ جِمَاعٍ، مُحَرَّمًا كَانَ، كَإِخْرَاجِهِ بِيَدِهِ اسْتِدْعَاءً لِلشَّهْوَةِ، أَوْ غَيْرَ مُحَرَّمٍ كَإِخْرَاجِهِ بِيَدِ زَوْجَتِهِ. (٢)

Makna;

Istimna

Definisi:

Istimna adalah masdar dari madhi istamna, yakni menuntut (melakukan usaha agar) keluarnya mani.

Secara istilah : Pengeluaran mani dengan selain jimak, baik pengeluaran mani itu dihukumi haram seperti dengan tangannya sendiri untuk mengundang syahwat, atau tidak dihukumi haram seperti mengeluarkan mani dengan tangan istrinya.

Wallohu a’lam.

MENIKAH SIRRI MENJADIKAN WAJIB MEMBERIKAN NAFKAH

Apakah Nikah Sirri menjadikan wajib memberi nafkah

JAWABAN :

Karena dalam NIKAH SIRRI belum hidup bersama layaknya SUAMI ISTRI, selama hal tersebut belum tamkin, maka TIDAK WAJIB NAFAQOH. TAPI jika suami istri tersebut sudah masuk dalam wilayah TAMKIN semisal sering beduaan dibebaskan bersenang-senang, seringkali seatap berdua, sekalipun BELUM DUKHUL maka WAJIB NAFAKAH.

– Kitab fathul mu’in :

فصل في النفقة من الإنفاق وهو الإخراج ( يجب ) المد الآتي وما عطف عليه ( لزوجة ) أو أمة ومريضة ( مكنت ) من الإستمتاع بها ومن نقلها إلى حيث شاء عند أمن الطريق والمقصد ولو بركوب بحر غلبت فيه السلامة فلا تجب بالعقد خلافا للقديم وإنما تجب بالتمكين يوما فيوما ويصدق هو بيمينه في عدم التمكين وهي في عدم النشوز والإنفاق عليها وإذا مكنت من يمكن التمتع بها ولو من بعض الوجوه وجبت مؤنها ولو كان الزوج طفلا لا يمكن جماعه إذ لا منع من جهتها وإن عجزت عن وطء بسبب غير الصغر كرتق أو مرض أو جنون لا إن عجزت بالصغر بأن كانت طفلة لا تحتمل الوطء فلا نفقة لها

– Bidayatul Mujtahid :

ﺑﺪﺍﻳﺔ ﺍﻟﻤﺠﺘﻬﺪ ﻭﻧﻬﺎﻳﺔ ﺍﻟﻤﻘﺘﺼﺪ « ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ « ﺍﻟﺒﺎﺏ ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ﻓﻲ ﺣﻘﻮﻕ ﺍﻟﺰﻭﺟﻴﺔ ﺣﻘﻮﻕ ﺍﻟﺰﻭﺟﺔ ﻋﻠﻰ ﺯﻭﺟﻬﺎ

ﻓﺄﻣﺎ ﺍﻟﻨﻔﻘﺔ : ﻓﺎﺗﻔﻘﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻮﺑﻬﺎ ، ﻭﺍﺧﺘﻠﻔﻮﺍ ﻓﻲ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﻣﻮﺍﺿﻊ : ﻓﻲ ﻭﻗﺖ ﻭﺟﻮﺑﻬﺎ ، ﻭﻣﻘﺪﺍﺭﻫﺎ ، ﻭﻟﻤﻦ ﺗﺠﺐ ؟ ، ﻭﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺗﺠﺐ ؟ . ﻓﺄﻣﺎ ﻭﻗﺖ ﻭﺟﻮﺑﻬﺎ : ﻓﺈﻥ ﻣﺎﻟﻜﺎ ﻗﺎﻝ : ﻻ ﺗﺠﺐ ﺍﻟﻨﻔﻘﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﺣﺘﻰ ﻳﺪﺧﻞ ﺑﻬﺎ ﺃﻭ ﻳﺪﻋﻰ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺪﺧﻮﻝ ﺑﻬﺎ ، ﻭﻫﻲ ﻣﻤﻦ ﺗﻮﻃﺄ ، ﻭﻫﻮ ﺑﺎﻟﻎ . ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺣﻨﻴﻔﺔ ، ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ : ﻳﻠﺰﻡ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﺒﺎﻟﻎ ﺍﻟﻨﻔﻘﺔ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﻫﻲ ﺑﺎﻟﻐﺎ ، ﻭﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻫﻮ ﺑﺎﻟﻐﺎ ﻭﺍﻟﺰﻭﺟﺔ ﺻﻐﻴﺮﺓ : ﻓﻠﻠﺸﺎﻓﻌﻲ ﻗﻮﻻﻥ : ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ : ﻣﺜﻞ ﻗﻮﻝ ﻣﺎﻟﻚ ، ﻭﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﺃﻥ ﻟﻬﺎ ﺍﻟﻨﻔﻘﺔ ﺑﺈﻃﻼﻕ . ﻭﺳﺒﺐ ﺍﺧﺘﻼﻓﻬﻢ : ﻫﻞ ﺍﻟﻨﻔﻘﺔ ﻟﻤﻜﺎﻥ ﺍﻻﺳﺘﻤﺘﺎﻉ ، ﺃﻭ ﻟﻤﻜﺎﻥ ﺃﻧﻬﺎ ﻣﺤﺒﻮﺳﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺰﻭﺝ  ﻛﺎﻟﻐﺎﺋﺐ ﻭﺍﻟﻤﺮﻳﺾ .12

Menurut imam malik tidak wajib, menuurut imam syafi’ii wajib jika memang istri sudah baligh, jika masih bocah TIDAK WAJIB.

– Majmu’ Syarah Muhadzdzab :

أمّا إذا تزوج العبد بإذن سيده، ونكح، فقد وجب عليه المهر بالعقد، والنفقة بالتمكين

فصل : لا تجب النفقة إلا إذا سلمت المرأة نفسها إلى زوجها، وتمكَّن من الاستمتاع بها، ونقلها إلى حيث يريد، وكانا من أهل الاستمتاع.

أي لا تجب بمجرد العقد، لسقوطها بالنشوز، وإنما تجب باجتماع العقد والتمكين، ورسول الله صلى الله عليه وسلّم تزوج عائشة ودخل بعد سنتين، فما أنفق عليها حتى دخلت عليه، ولو كانت النفقة حقاً لها لساقه إليها قبل الدخول. كما لا تجب النفقة بمجرد الاستمتاع وحده، لأن الموطوءة بشبهة لا نفقة لها، مع وجود الاستمتاع. لذلك جمعوا بين العقد والتمكين، وفيما تجب به قولان:

أحدهما : وهو قوله في القديم: تجب النفقة بالعقد، كالمهر، ولا تتوقف على التمكين بدليل وجوبها للمريضة والرتقاء، لكن لو نشزت سقطت النفقة، والنشوز مسقط لها.

والقول الثاني : قوله في الجديد وهو الأظهر: أنها لا تجب بالعقد، بل بالتمكين يوماً فيوماً.

Dari ibarot Majmu’ di atas :

وفيما تجب به قولان: أحدهما : وهو قوله في القديم: تجب النفقة بالعقد، كالمهر، ولا تتوقف على التمكين بدليل وجوبها للمريضة والرتقاء، لكن لو نشزت سقطت النفقة، والنشوز مسقط لها. والقول الثاني : قوله في الجديد وهو الأظهر: أنها لا تجب بالعقد، بل بالتمكين يوماً فيوماً.

Berarti ada khilaf antara qoul qodim dan qoul jadid.

  • QOUL QADIM = nafkah menjadi wajib cukup dengan akad nikah, tanpa embel-embel tamkin.
  • QOUL JADID = (qoul azhar) nafkah tidak wajib hanya dengan akad nikah tapi harus dengan adanya TAMKIN baik hanya satu hari atau dua hari. SYUKRON

Pengertian TAMKIN dalam ta’bir menurut Pendapat Madzhab Syaifi’ie :

ﻭﻓﻲ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻳﺘﺤﻘﻖ ﺑﺘﻮﺍﻓﺮ ﺃﻣﺮﻳﻦ، ﺍﻷﻭﻝ ﺗﻤﻜﻴﻦ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﻣﻦ ﺍﻻﺳﺘﻤﺘﺎﻉ ﺑﻬﺎ، ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺗﻤﻜﻴﻨﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻘﻠﺔ ﻣﻌﻪ ﺣﻴﺚ ﻳﺸﺎﺀ، ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﺰﻭﺟﻬﺎ ﻓﻴﻪ ﻭﺇﻟﻰ ﻏﻴﺮﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﻼﺩ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﻣﺄﻣﻮﻧﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺨﺎﻃﺮ، ﻓﻠﻮ ﻣﻜﻨﺘﻪ ﻣﻦ ﻧﻔﺴﻬﺎ ﻭﻟﻢ ﺗﻤﻜﻨﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻘﻠﺔ ﻟﻢ ﺗﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻨﻔﻘﺔ، ﻷﻥ ﺍﻟﺘﻤﻜﻴﻦ ﻟﻢ ﻳﻜﻤﻞ .«5»

Tamkin dalam Madzhab Syaf’i memastikan dengan adanya dua cakupan :

  1. memungkinkan si suami beristimta’ (bersenang-senang) dengan sang istri
  2. memungkinkan si suami pindah tempat bersama istri di tempat yang disukai baik di daerah tempat kawin atau di daerah lain yang aman dari mara bahaya, andaikan memungkinkan bagi suami untuk itu terhadap diri istri, tapi masih belum memungkinkan untuk hidup bersama, maka TIDAK WAJIB nafkah karena status TAMKIN belumlah sempurna.

Wallahu’alam.

 

SERBA SERBI PERNIKAHAN SECARA LENGKAP

SAKINAH dalam keluarga hanya dapat dibangun melalui proses panjang, sejak awal menuju bingkai rumah tangga semua harus dipersiapkan secara matang sehingga pada akhirnya benar-benar tercipta lingkungan keluarga yang selaras, serasi, serta mampu mengamalkan, menghayati dan memperdalam nilai-nilai keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia. Catatan berikut mencoba sedikit mengurai sejak awal terciptanya keluarga baru menuju sakinah yang Insya Allah sesuai konsep Rasulullah SAW.

MEMINANG (KHITBAH)

Meminang artinya menyatakan permintaan untuk menikah dari seorang laki-laki kepada seorang perempuan atau sebaliknya dengan perantaraan seseorang yang dipercayai. Mengkhitbah dengan cara tersebut diperbolehkan dalam agama islam terhadap gadis atau janda yang telah habis masa iddahnya, kecuali perempuan yang masih dalam masa iddah bain, sebaiknya dengan jalan sindiran saja. Hal ini telah dijelaskan dalam firman Allah :

“Dan tidak ada dosa bagimu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran“ (QS. Al-Baqarah ayat 235)

Sedangkan terhadap perempuan yang masih dalam “Iddah Raj’iyah“, hukumnya haram meminang karena perempuan yang masih dalam iddah raj’iyah secara hukum masih berstatus sebagai istri bagi laki-laki yang menceraikannya, dan dia boleh kembali padanya. Demikian juga tidak diizinkan mengkhitbah seorang perempuan yang sedang dipinang oleh orang lain, sebelum nyata bahwa permintaannya itu tidak diterima. Hal ini sesuai dengan hadist Nabi :

“Orang mukmin adalah saudara orang mukmin. Maka tidak halal bagi seorang mukmin mengkhitbah seorang perempuan yang sedang dikhitbah oleh saudaranya, sehingga nyata sudah ditinggalkannya” (Riwayat Ahmad dan Muslim).

DOA KETIKA MEMINANG

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله ، جئتكم راغبا في فتاتكم (فلانة)، أو في كريمتكم (فلانة بنت فلان

Asyhadu an Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahuu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhuu wa rasuuluhuu, ji’tukum raaghiban fii fataatikum (Fulaanah) aw fii kariimatikum (Fulaanah binti Fulan)

“Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah Yang Esa, tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya, aku dating pada kalian karena berharap akan meminang puterimu (…..sianu /Disebut nama anak yang hendak dipinang), atau meminang puteri muliamu (…..sianu /Disebut nama anak yang hendak dipinang).

DOA MEMOHON JODOH

  • Untuk laki-laki :

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS; Alfurqon ayat 74)

  • Untuk perempuan :

اللهم ابعث بعلا صالحالخطبتى وعطف قلبه علي بحق كلامك القديم وبرسولك الكريم بالف الف لاحولا ولا قوة الا بالله العلي العظيم وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم والحمد لله رب العالمين

Allaahumma ib’ats ba’lan shoolihan lihitbaty wa ‘atthif qolbahuu ‘alayya bi haqqi kalaamikal qodiimi wa rasuulikal kariimi bi alfi alfi Laa haula wa laa Quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘adziimi, wa shollaa allahu ‘alaa sayyidinaa wa ‘alaa aaalihii wa shohbihii, walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin

“Ya Allah kirimkan calon suami sholih untuk meminangku, lembutkan hatinya untukku dengan haq firmanMu yang dahulu dan utusanMu yang mulia dengan berkah sejuata Laa haula wa laa Quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adziimi, shalawat salam semoga tercurah pada baginda Muhammad keluarga dan para sahabatnya, segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam”.

PENGERTIAN NIKAH

Nikah menurut bahasa berarti kumpul atau wathi (bersetubuh) atau bisa juga berarti ‘akad. Adapun pengertiannya menurut syara’ adalah ‘akad yang mengandung pembolehan wathi (bersetubuh) dengan menggunakan lafadz yang musytaq dari lafadz inkah ( إنكاح ) atau tazwij ( تزويج ) atau terjemahnya, dengan rukun-rukun dan syarat-syarat tertentu.

HUKUM NIKAH

Hukum menikah ada lima :

1.• Sunah, yaitu bagi orang yang membutuhkan wathi (bersetubuh) dan mempunyai biaya untuk mahar, pakaian fashol tamkin dan memberi nafkah istrinya padahari dilangsungkannya ‘akad dan malamnya.

2.• Khilaful aula, yaitu bagi orang yang membutuhkannya, hanya saja tidak mempunyai biaya.

3.• Makruh, yaitu bagi orang yang tidak membutuhkannya dan juga tidak mempunyai biaya.

4.• Wajib, yaitu bagi yang bernadzar untuk menikah yang sebelumnya sunah Baginya.

5.• Haram, yaitu bagi orang yang tidak mampu memenuhi hak-hak istri.

PELAKSANAAN AKAD NIKAH

1) Sebelum pelaksanaan ‘akad nikah dimulai, terlebih dahulu bangku atau meja disiapkan dan diletakkan di tengah ruangan, kemudian wali atau wakilnya duduk di sebelah barat meja dan calon pengantin pria di sebelah timur meja berhadapan dengan wali atau wakilnya. Sedangkan dua orang saksi duduk di sebelah utara meja atau sebelah kiri wali. Qori’, Khotib dan orang yang berdo’a duduk di sekitar wali dan mempelai pria.

2) setelah semuanya siap di tempat masing-masing, MC (pembagi acara) bisa mulai membuka acara ‘akad nikah dengan susunan acara sebagaimana berikut :

  1. Pembukaan
  2. Pembacaan ayat suci al-Qur’an
  3. Khutbah nikah
  4. Akad nikah
  5. Do’a penutup

3) Setelah acara pembukaan dan pembacaan ayat suci al-Qur’an, dilanjutkan dengan membaca Khutbah Nikah.

Khutbah Nabi SAW saat Menikahkan Puterinya Fatimah Az-Zahra’ Ra.

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على محمد وآل محمد الحمد لله المحمود بنعمته، المعبود بقدرته، المطاع بسلطانه، المرهوب من عذابه وسطواته النافذ أمره في سمائه وأرضه، الذي خلق الخلق بقدرته، وميزهم بأحكامه وأعزهم بدينه، وأكرمهم بنبيه محمد (صلى الله عليه وآله وسلم)، إن الله تبارك اسمه، وتعالت عظمته، جعل المصاهرة سبباً لاحقاً، وأمراً مفترضاً أوشج به الأرحام، وألزم الأنام، فقال عز من قائل: (وهو الذي خلق من الماء بشراً فجعله نسباً وصهراً وكان ربك قديراً) فأمر الله تعالى يجري إلى قضائه، وقضاؤه يجري إلى قدره، ولكل قضاء قدر، ولكل قدر أجل ولكل أجل كتاب: (يمحو الله ما يشاء ويثبت وعنده أم الكتاب). ثم إن الله عزوجل أمرني أن أزوج فاطمة بنت خديجة من عليّ بن أبي طالب فاشهدوا أني قد زوجته على أربعمائة مثقال فضة إن رضي بذلك علي بن أبي طالب

“Segala puji bagi Allah yang dipuji dengan segala nikmat-Nya, yang disembah dengan ketentuan-Nya, yang ditaati dengan kekuasaan-Nya, yang ditakuti azab dan kekuasaan-Nya, yang perkara-Nya meliputi langit dan bumi-Nya, yang menciptakan makhluk dengan takdir-Nya, yang mengistimewakan makhluk-Nya dengan hukum-Nya, yang memuliakan mereka dengan agama-Nya, yang menjadikan mereka mulia dengan Nabi-Nya Muhammad saw. Sesungguhnya Allah nama-Nya Maha Mulia, Maha Tinggi dan Maha Agung. Ia telah menjadikan mushaharah (hubungan keluarga karena pernikahan) sebagai sebab penerus generasi manusia, perkara yang menjadi sebab penyambung keluarga dan penerus generasi manusia. Allah yang Maha mulia firman-Nya menyatakan: “Dialah yang menciptakan manusia dari air kemudian menjadikan manusia mempunyai keturunan dan mushaharah, dan Tuhanmu Maha Kuasa.” (Al-Furqan: 54). Perkara Allah swt berlaku dalam ketetapan-Nya, ketetapan-Nya berlaku dalam takdir-Nya, setiap ketetapan mempunyai takdir, setiap takdir mempunyai ajal, dan setiap ajal mempunyai kitab, “Allah menghapus apa yang dikehendaki dan menetapkan (apa yang dikehendaki), di sisi-Nya ada Ummul Kitab.” (Ar-Ra’d: 39).

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikan sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah ( dalam nilai perak), dan Ali bin ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw mendoakan keduanya:

جَمَعَ اللهُ شَمْلَكُمَا، وَأَسْعَدَ جَدَّكُمَا، وَبَارِكْ عَلَيْكُمَا، وَأَخْرَجَ مِنْكُمَا كَثِيراً طَيِّبًا

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.”(kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab 4). Riwayat hadis ini bersumber dari Anas bin Malik, salah seorang sahabat Nabi saw.

4) Selesai pembacaan khutbah nikah biasanya petugas (pegawai catatan sipil atau penghulu) bertanya kepada mempelai pria tentang statusnya, bentuk dan jumlah mas kawinnya dan yang lain sebagainya. Setelah semuanya selesai, baru acara ‘akad nikah bisa dimulai. Bagi siapa saja yang akan mang’akadi disunahkan membaca:

أزوجك على ما أمر الله به عز وجل من إمساك بمعروف أو تسريح بإحسان

Kemudian orang yang meng’akadi biasanya menyuruh mempelai pria membaca syahadat :

أشهد أن لا إله إلا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

5) Kemudian dilanjutkan prosesi ijab qobul, dengan dialog sebagaimana berikut :

Apabila ‘akad nikah itu dilaksanakan oleh wali (tidak diwakilkan), maka shigotnya sebagai berikut:

ولي : أنكحتك وزوجتك (ليلى) موليتي بمهر ألف روبيه حالا

الزوج : قبلت نكاحها وتزويجها لنفسي بالمهر المذكور حالا

Terjemahnya:

Wali : “Saya nikahkan dan saya kawinkan kamu dengan (Laila), perempuan yang menjadi kuasaku, dengan mahar seribu rupiah dibayar kontan.

Suami : “Saya terima pernikahan dan perkawinan ini untuk saya, dengan mahar yang telah disebutkan secara kontan.

Apabila ‘akad nikah itu diwakilkan atau diserahkan pada orang lain, maka harus ada shighot taukil (ungkapan pasrah wakil) dari sang wali seperti dibawah ini :

وكلتك في تزويج (ليلى) بنتي عن (زيد) بمهر ألف روبية حالا

Terjemahnya:

“Aku wakilkan kepadamu untuk menikahkan (Laila), anak perempuanku dengan Zaid sebagai calon suami, dengan mahar seribu rupiah kontan.”

Kemudian wakil wali menerimanya dengan mengucapkan:

قبلت توكيلك في تزويجها عن (زيد) بالمهر المذكور حالا

Terjemahnya :

“Saya terima perwakilanmu untuk menikahkan anak perempuanmu dengan (Zaid)

sebagai calon suami, dengan mahar yang telah disebutkan.” Setelah itu sang wakil dapat menikahkan calon pengantin seperti dalam dialog berikut ini:

وكيل ولي : أنكحتك وزوجتك (ليلى) بنت أحمد موكلي بمهر ألف روبية حالا.

الزوج : قبلت نكاحها وتزويجها لنفسي بالمهر المذكور حالا.

Terjemahnya :

Wakil wali : “Saya nikahkan dan saya kawinkan kamu dengan (Laila), anak perempuan Ahmad sebagai orang yang mewakilkan kepadaku, dengan mahar seribu rupiah kontan.”

Suami : “Saya terima pernikahan dan perkawinan ini untuk saya, dengan mahar yang telah disebutkan.”

Apabila mempelai pria ( Zaid ) mewakilkan dalam qobulnya, maka bentuk ijabnya

seperti berikut :

أنكحتك وزوجتك عن(زيد) ليلى بنت أحمد بمهر ألف روبية حالا.

Terjemahnya :

“Saya nikahkan dan saya kawinkan kamu sebagai orang yang mewakili (Zaid) dengan (Laila) anak perempuan (Ahmad), dengan mahar seribu rupiah kontan.”

Sedangkan untuk ijab yang tidak diwakilkan adalah :

أنكحتك وزوجتك عن زيد ليلى موليتي بمهر ألف روبية حالا

Terjemahnya :

“Saya nikahkan dan saya kawinkan kamu sebagai orang yang mewakili Zaid dengan Laila anak perempuan yang menjadi kuasaku, dengan mahar seribu rupiah kontan.”

Kemudian qobulnya :

قبلت نكاحها وتزويجها له / لزيد بالمهر المذكور حالا

Terjemahnya:

“Saya terima pernikahan dan perkawinan ini untuk (Zaid), dengan mahar yang telah disebutkan.”

Setelah ijab qobul selesai dilakukan, dua orang saksi dapat menanyakan sah atau tidak pada ‘akad tersebut. Apabila sah, maka diteruskan dengan acara do’a sebagai penutup. Setelah ‘akad nikah dipastikan keabsahannya, kemudian salah seorang yang berada dalam majlis ‘akad (sebaiknya pemuka agama) berdo’a, sebagaimana berikut :

بسم الله الرحمن الرحيم , الحمد لله رب العالمين حمدا يوافي نعمه ويكافئ مزيدة, يا ربنا لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك, اللهم اجعل هذا العروس وزوجته مؤدة ورحمة وألف بينهما كما ألفت بين آدم وحواء وألف بينهما كما ألفت بين يوسف وزليخاء وألف بينهما كما ألفت بين سيدنا محمد وسيدتنا خديجة الكبري, اللهم بارك لهما وارزقهما رزقا حسنا حلالا طيبا نافعا مباركا في عمرهما ودينهما ودنياهما وآخرتهما وارزقهما ذرية صالحة مباركا, اللهم ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما, ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الأخرة حسنة وقنا عذاب النار, وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا والحمد لله رب العالمين.

DOA-DOA setelah Akad NIKAH

Tiga doa berikut ini dikutip dari kitab MAKARIM AL-AKHLAQ: 209. Bersumber dari salah seorang cucu Rasulullah saw yaitu Imam Ja’far Ash-Shadiq putera Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husein Ra cucu Rasululah saw. Doanya sebagai berikut:

اًللَّهُمَّ بِأَمَانَتِكَ أَخَذْتُهَا وَبِكَلِمَاتِكَ اِسْتَحْلَلْتُ فَرْجَهَا، فَإِنْ قَضَيْتَ لِي مِنْهَا وَلَدًا فَاجْعَلْهُ مُبَارَكًا سَوِيًّا وَلاَتَجْعَلْ لِلشَّيْطَانِ فِيْهِ شَرِيْكًا وَلاَنَصِيْبًا

Allaâhumma biamâanatika akhattuhâa, wa bikalimaâtika istahlaltu farjahâa, fain qadhayta lîi minhâa waladan faj’alhu mubâarakan syawiyyâa, walâa taj’al lissyaithâani fîihi syarîikan walâa nashibâ.

“Ya Allah, dengan amanat-Mu kujadikan ia isteriku dan dengan kalimat-kalimat-Mu dihalalkan bagiku kehormatannya. Jika Kau tetapkan bagiku memiliki keturunan darinya, jadikan keturunanku keberkahan dan kemuliaan, dan jangan jadikan setan ikut serta dan mengambil bagian di dalamnya”.

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي اَلْفَهَا وَوُدَّهَا وَرِضَاهَا بِي، وَاَرْضِنِي بِهَا، وَاجْمَعْ بَيْنَنَا بِأَحْسَنِ اِجْتِمَاعٍ وَاَيْسَرِ ائْتِلاَفٍ فَإِنَّكَ تُحِبُّ الْحَلاَلَ وَتُكْرِهُ الْحَرَامَ

Allâahummarzuqnîi alfahâa wa wuddahâa wa ridhâahâa bîi, wa ardhinîi bihâa, wajma’ baynanâa biahsanijjtimâ’in wa aysari’ tilâafin, fainnaka tuhibbul halâala wa tukrihul harâam.

“Ya Allah, karuniakan padaku kelembutan isteriku, kasih sayang dan ketulusannya, ridhai aku bersamanya. Himpunkan kami dalam rumah tangga yang paling baik, penuh kasih sayang dan kebahagiaan, sesungguhnya Engkau mencintai yang halal dan membenci yang haram”.

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي وَلَدًا وَاجْعَلْهُ تَقِيًّا ذَكِيًّا لَيْسَ فِي خَلْقِهِ زِيَادَةٌ وَلاَنُقْصَانُ وَاجْعَلْ عَاقِبَتَهُ اِلَى خَيْر

Allâahummarzuqnîi waladan, waj’alhu taqiyyan dzakiyyan laysa fîi khalqihii ziyâadatun walâa nuqshân, waj’al ‘âqiibatahuu ilâa khairin.

“Ya Allah, karuniakan padaku keturunan, dan jadikan ia anak yang bertakwa dan cerdas, tidak ada kelebihan dan kekurangan dalam fisiknya, dan jadikan kesudahannya pada kebaikan”.

Catatan:

Untuk mendoakan orang lain, tinggal mengganti dhamir (kata ganti nama). Bagi yang belum bisa bhs arab, cukuplah merubah kata ganti nama dalam terjemahannya, misalnya :

Dalam terjemahan doa yang pertama menjadi:

Ya Allah, dengan amanat-Mu (Fulan) telah menjadikan ia isterinya dan dengan kalimat-kalimat-Mu dihalalkan baginya kehormatannya. Jika Engkau tetapkan baginya memiliki keturunan darinya, jadikan keturunan darinya keberkahan dan kemuliaan, dan jangan jadikan setan ikut serta dan mengambil bagian di dalamnya.

Dalam terjemahan doa yang Kedua menjadi:

Ya Allah, karuniakan pada (Fulan) kelembutan isterinya, kasih sayang dan ketulusannya, ridhai ia bersamanya. Himpunkan mereka berdua dalam rumah tangga yang paling baik, penuh kasih sayang dan kebahagiaan, sesungguhnya Engkau mencintai yang halal dan membenci yang haram.

Dalam terjemahan doa yang Ketiga menjadi:

Ya Allah, karuniakan pada (Fulan) keturunan, dan jadikan ia anak yang bertakwa dan cerdas, tidak ada kelebihan dan kekurangan dalam fisiknya, dan jadikan kesudahannya pada kebaikan.

TUGAS NA-IB

Menanyakan kepada wali & mempelai pria apakah:

  • Nikahnya Tawkil atau tidak
  • Dengan paksaan atau tidak
  • Apakah suka sama suka
  • Dengan mahar apa..?

Lalu pembawa acara membukanya dengan muqoddimah dan Al-Fatihah lalu menyerahkan sepenuhnya kepada yang menikahkan (wali / kyai)

TUGAS WALI

Apabila tidak tawkil maka langsung menanyakan saksi dua atau menunjuknya dengan ditentukan.

  • Menyuruh orang yang bertugas untuk membacakan Khotbah Nikah langsung menikahkannya dengan ijab yang didahului Tahmid danSholawat lalu menjabat tangan calon suami dengan mengucapkan Uzawwijuka ‘Alaa maa….
  • Menanyakan kepada saksi apakah ‘akadnya sudah sah atau belum. Kalau sudah bilang sampun dan kalau belum bilang dereng dengan menjelaskan letak kekurangan atau kesalahannya.
  • Mendo’akan atau menyuruh orang yang sholeh untuk berdo’a yang bermanfa’at kepada kedua mempelai.
  • Langsung menemukan kedua mempelai dengan diiringi Sholawat Nabi dan ketika bertemu sunah tangan kanan suami menyalami istrinya dan tangan kiri memegang ubun-ubunnya dengan dibacakan do’a :

الحمد لله رب العالمين اللهم صل على سيدنا محمدٍ اللهم اني اسألك خيرَ هذه وما اجبلتها وأعوذ بك من شر هذه وما اجبلتها وصلى الله على سيدنا محمد و الحمد لله رب العالمين

Maka setelah berdo’a selesailah prosesi ‘akad nikah dan pembawa acara langsung menutupnya dengan membaca Hamdallah dan Salam dan sunah langsung mengadakan Walimatul ‘Ursyi

TUGAS PENYERAHAN PENGANTIN

  • Menyampaikan salam bila dititipi oleh walinya suami
  • Menyerahkan manten laki-laki kepada walinya istri
  • Mohon ma’af atas sikap rombongan yang kurang berkenan
  • Pamit dan mohon do’a keselamatan

TUGAS PENERIMAAN PENGANTIN

  • Menjawab salam sesuai dengan ucapan salamnya
  • Mangga’aken hidangan yang ada
  • Menerima penyerahan dan menyerahkan kepada walinya istri
  • Memberikan ma’af kepada rombongan
  • Mendo’akan keselamatan rombongan hingga sampai tujuannya.

DOA-DOA PASUTRI

Sebelum melakukan hubungan, hendaknya pasutri membersihkan hati dengan cara bertaubat dari segala perbuatan yang telah lalu. Sehingga dalam melakukan hubungan dilakukan dengan perasaan bahagia.

Setelah itu, bersihkanlah tubuh dari hadas dengan cara berwudhu, memakai wangi-wangian. Khusus untuk istri, dianjurkan menggunakan celak mata (sipat) dan pacar. Lantas, sampaikanlah niat dalam hati akan harapan anak kelak yang lahir adalah anak shaleh. Setelah sudah berbusana rapi hendaknya mendahulukan kaki kanan untuk melangkah dengan membaca bismillah wassalamu ‘ala rasulillahis assalamu ‘alaikum, “Dengan nama Allah dan kesejahteraan Rasulullah semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu”.

Lakukanlah sholat sunnah paling sedikit 2 rakaat. Dalam shalat bacalah surat Al-Fatihah 3x, surat Al-Ikhlas 3x, membaca shalawat lantas berdoa (akan diterangkan dibawah) memanjatkan apa yang diinginkan. Berikutnya suami, menghmpiri istri sambil mengatakan; assalaamu ‘alaikum ya baabar rahmaan, “semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu wahai pintu kasih sayang”.Kalimat ini dijawab oleh istri dengan membaca; wa’alaikum salaam yaa sayyidal amiini,”semoga keselamatan juga menyertaimu wahai (tuan) yang dipercaya”.

Kemudian suami mengecup kening istri sambil mengatakan kalimat;

اللهم اني اسألك خيرها وخيرما جبلتها عليه واعوذبك من شرها وشرما جبلتها عليه

(allaahuma innii as’aluka khairahaa wa khaira maa jabaltahaa ‘alaihi, wa a’uudzubika min syarrihaa wa syarri maa jabaltahaa ‘alaihi),

“ya Allah, aku mohon kepada-Mu atas kebaikan istri dan kebaikan tabiat yang telah Engkau tabiatkan kepadanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan istri dari keburukan perangai yang telah Engkau tabiatkan kepadanya”.

Saat suami telah berada pada pangkuan istri, bisikkan dengan perlahan ke telinga istri, radhitu billahi rabba, aku telah ridha Allah itu menjadi Tuhanku. Lantas lanjutkan dengan membaca shalawat bersama-sama (boleh shalawat apa saja); allaahumma shalli ‘alaa muhammad wa ‘alaa sayyidinaa muhammad, “ya Allah berilah limpahan rahmat kepada nabi Muhammad dan seluruh keluarganya”.

Doa ketika akan melakukan senggama (Jima) bagi suami istri

اللهم جنبنا الشيطان وجنب الشيطان عنما رزقتنا

Allaahumma jannibnas syaithoonaa wa jannibis syaithoona ‘anmaa rozaqtanaa

“Dengan nama Allah Ya Allah jauhkanlah kami dari godaan setan dan jauhkan pula ya Allah setan itu dari anak yang akan kau anugerahkan kepada kami” .

Doa saat mengecup ubun-ubun

اللهم بارك لي في اهلي وبارك لهم في اللهم اجمع بيننا ما جمعت بخير وفرق بيننا اذا فرقت بخير

“ Allaahumma baarik lii fi ahlii, wa baarik lahum fiyya. Allaahumma ijma’ bainanaa ma jama’ta bikhair, wa farriq bainanaa idzaa farraqta ilaa khair “.

“ Ya Allah, berkahilah hamba dalam berkeluarga, dan berkahilah bagi istriku di dalamnya. Ya Allah satukanlah kami sebagaimana Engkau menyatukan kami dengan kebaikan, dan pisahkanlah kami jika Engkau memisahkannya untuk / menuju kebaikan “.

Doa keluar mani / inzal / orgasme

الحمد لله الذى خلق من الماء بشرا فجعله نسباوصهرا وكان ربك قديرا

Alhamdulillaahil ladzii kholaqo minal maai basyaroo, faja’alahu nasaban wa shihroo, wa kaana Robbuka Qodiiroo

“Segala puji bagi Allah yang teah menciptakan manusia dari air (mani) lalu ia jadikan keturunan dan Tuhanmu maha kuasa atas segala sesuatu”.

Doa agar cepat dikarunia anak

رَبِّ لاَ تَذَرْنِي فَرْداً وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

“Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik” (QS; Al-Anbiyaa ayat 89)

Doa mendapat keturunan yang baik baik

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“ Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi engkau seorang anak yang baik, sesungguhnya engkau maha mendengar ( segala ) do’a”. (QS; Ali Imran ayat 38), Dan Doa

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي

“ Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang menegakkan sholat beserta anak keturunanku”. (QS; Ibrahim ayat 40)

Doa wanita yang sedang Hamil

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS; Alfurqon ayat 74) Sebaiknya setiap habis sholat dibaca 100 x

Doa agar mudah melahirkan

حنا ولدت مريم ومريم ولدت عيسي عليه السلام اخرج ايها المومود بقدرة الملك المعبود

Hanaa waladad Maryam, wa Maryam waladad ‘Iisaa ‘Alaihissalaam. Ukhruj ayyuhal mauluud biqudratil malikil ma’buud

“Hana melahirkan Maryam, Maryam melahirkan Nabi Isa ‘Alaihissalaam. Segera lahirlah wahai anak atas kuasa Dzat Yang Maha Merajai, Yang Maha disembah”

Doa wanita setelah melahirkan

اعيذه بالواحد الصمد الذى لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا احد من شر كل ذى حسد

U’iidzuhuu bik waahidis shomad, alladzii lam yalid wa lam yuulad, wa lam yakun lahuu kufuwan ahad, min syarri kulli dzii hasad

“Aku mohonkan perlindungan bagi anak ini, kepada Allah yang Esa, tempat kami menggantungkan segala nasib, Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak pula ada yang menyamai Nya, agar terlindung dari kejahatan orang yang dengki”.

Hal-hal penting setelah melahirkan

  • Sesudah bayi lahir di adzani telinga sebelah kanan kemudian membaca surat Al-ikhlas dan berdoa

إِنِّى أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk” (QS; Ali Imran ayat 36)

  • Dibacakan Iqomah ditelinga sebelah kiri. Dengan cara itu maka anak itu insyaallah tidak akan diganggu oleh syaithan yang bernama “Ummus Syibyan”
  • Diberi nama yang bagus, dicukur rambutnya, dicelaki dan disuapi dengan makanan-makanan yang manis seperti madu/kurma dll, sambil berdoa :

اللهم بارك لنا ولهذا الولد فى حياته وطول عمره بطاعتك يا ارحم الراحمين

Allaahumma baarik lanaa wa lihaadzal waladi fii hayaatihii, wa thowwil ‘umrohuu bi thoo’atika yaa Arhamar Roohimiin

“Yaa Allah berkahilah kami dan anak kami ini dalam kehidupannya, panjangkan umurnya untuk senantiasa taat padaMu wahai Maha Penyayang di antara para penyayang”.

Wallahu A’lam bi Asshowaab.

DZIKIR SUNNAH BERHENTI DEMI MENJAWAB DZIKIR YANG LAIN

Sunnah menghentikan kegiatan belajar mengajar di saat mendengar adza, karena belajar waktunya masih lama, berbeda dengan menjawab adzan yang hilang seiring terdiamnya suara muadzdzin. Keterangan di atas diambil dari Imam an-Nawaawy dalam kitab al-Adzkaar :

قال النووي رحمه الله في الأذكار: فصل: في أحوال تعرض للذاكر يستحب له قطع الذكر بسببها ثم يعود إليه بعد زوالها منها: إذا سلم عليه رد السلام ثم عاد إلى الذكر، وكذا إذا عطس عنده عاطس شمته ثم عاد إلى الذكر، وكذا إذا سمع الخطيب، وكذا إذا سمع المؤذن أجابه في كلمات الأذان والإقامة ثم عاد إلى الذكر، وكذا إذا رأى منكرًا أزاله، أو معروفًا أرشد إليه، أو مسترشدًا أجابه ثم عاد إلى الذكر، وكذا إذا غلبه النعاس أو نحوه. وما أشبه هذا كلها .انتهى.

[ PASAL ] Hal-hal yang disunahkan bagi seorang sedang berdzikir menghentikan dzikirnya kemudian meneruskannya kembali setelah hal-hal tersebut berlalu :

  • Saat ada seseorang memulai salam padanya
  • Saat ada seseorang bersin di dekatnya
  • Saat mendengar khutbah seorang khothib
  • Saat mendengar adzan dan iqamah dikumandangkan, sunah baginya menjawabnya dan setelahnya meneruskan kembali dzikirnya
  • Saat melihat kemungkaran yang dapat ia singkirkan
  • Saat ia mampu menunjukkan hal-hal kebaikan
  • Saat dimintai petunjuk kebaikan oleh orang lain
  • Saat rasa kantuk sangat menguasainya
  • Dan hal-hal sejenis tersebut di atas

Hukum Adzan Dan hukum menjawab Adzan menurut madzhab 4., TA’BIR :

_________إتقق الأئمة على ان الأذان سنة مؤكد : ماعد الحنابلة ، فانهم قالوا : إنه فرض كفاية بمعنى انه اذا أتي به أحد فقد سقط عن الباقين الخ

( الفقه على المذاهب الاربعة – ص ٢٤٥ )

Para imam sepakat atas bahwa hukum Adzan itu sunnah mu’akkad. ( sunnah yang kuat ) Selain ulama’ hanabilah. Mereka Berpendapat bahwa Adzan hukum Nya fardlu kifayah dengan artian jika Ada 1. Orang yang melaksanakan maka gugur Atas kewajiban yang lain ( Fiqhih Alaa madzahibil Arba’ah -245 ).

إجابة المؤذن مندوبة لمن يسمع الأذان ، ولو كان جنبا او كانت حائضا او نفسها ، فيندب ان يقول مثل مايقول المؤذن الا عند قول (( حي على الصلاة )) ،ا(( حى على الفلاح )) فإنه يجيبه فيها بقول لا حول ولا قوة الا بالله ، وهذا الحكم متفق عليه ، الا أن الحنفية اشترطوا أن لا تكون حائضا او نفساء ، فإن كانت فلا تندب لها الاجابة ،بخلاف باقي الأئمة والحنابلة اشترطوا الا يكون قد صلى الفرض الذي يؤذن له الخ ( الفقه على المذاهب الأربعة – ص، ٢٤٩ )

Menjawab Adzan hukum Nya sunnah bagi yang mendengar Adzan . Walaupun sedang ke Ada’an junub ( Hadast besar ) Dan ke Ada’an haid / nifas .maka sunnah menjawab seperti yang dikatakan mu’adzdzin ( orang yang Adzan ) kecuali baca’an (( hayyaa ‘alassholah Dan hayyaa ‘alalfalaah )) maka dijawab dengan baca’an ( laa hawala wala Quwwata illa billah, Dan hukum ini Sudah disepakati Oleh semua ulama’ ..Kecuali ulama’ Hanafiah mensyaratkan harus tidak dalam ke Ada’an haid Dan nefas Maka tidak disunnah kan menjawab Nya beda dengan imam-imam yang lain. Dan ulama’ hanabilah mensyaratkan dalam kesunnahan menjawab Adzan tidak mendirikan sholat fardhu dengan Adzan tersebut jika Melaksanakan sholat fardhu dengan Adzan tersebut maka tidak sunnah mejawab, karena jama’ah sholat fardhu itu tidak dipanggil dengan Adzan tersebut. ( fiqhih ala madzahibil 4. Hal – 249 ). Wallohu a’lam.

BERCINTA DI KAMAR MANDI DAN TEMPAT YANG BANYAK KALIGRAFI AL-QUR’AN

Bagaimana hukum melakukan jima’ dengan istri di kamar mandi?

Adapun bersenggama di kamar mandi maka hal itu tiada larangan dan tidak dikenakan kafaroh/denda tapi hal ini kurang sopan / khilaful adab.

– FATAWI ASSYABKAH AL-ISLAMIYYAH JUZ 5 HAL 4528 :

فتاوى الشبكة الإسلامية – (ج 5 / ص 4528)  وأما الجماع في الحمام فلا مانع منه، ولا كفارة في فعله، ولكنه خلاف الأدب

 

HUKUM MENJIMA’ ISTRI DALAM KAMAR YANG BANYAK KALIGRAFI AL QUR’AN

Jika dinding kamar penuh dengan kaligrafi ayat al quran, bolehkah kita menjimak istri di dalamnya ?

Boleh menjima’ istri dalam kamar yang banyak kaligrafi qur’an. Memang diterangkan dalam kitab Iqna’ juz 1 hal 90, makruh hukumnya menulis alqur’an pada tembok walaupun untuk masjid, baju, makanan dan yang semisalnya, dan boleh merusak temboknya, memakai bajunya dan memakan makanannya itu. Dalam kitab Al bajuri juz 1 hal 117 ditegaskan : Dan halal memakai baju yang bertuliskan alqur’an dan tidur memakai baju tersebut walaupun bagi orang yang junub. Dari keterangan di atas bisa disimpulkan / dianalogikan, boleh menjima’ istri dalam kamar yang banyak kaligrafi qur’an, karena hal itu lebih ringan dari sekedar memakai baju bertuliskan kaligrafi qur’an.

الإقناع١/٩٠

ويكره كتب القرأن على حائط ولو لمسجد و ثياب و طعام و نحو ذلك و يجوز هدم الحائط و لبس الثوب وأكل الطعام.

الباجوري ١/١١٧

ويحل لبس الثياب التي نقش عليها شيئ من القرأن والنوم فيها ولو للجنب.

HUKUM JIMA’ HINGGA KELUAR WAKTU SHOLAT

1.jika seorang istri sedang haid ,kemudian sudah suci namun belum mandi besar (janabah) dan pada saat itu juga digauli oleh suaminya . Apakah itu pelanggaran? Bolehkan hal semacam itu dilakukan ?

2.jika suami istri berjimak ketika menjelang subuh, dan di sampingnya dinyalakan musik yang lumayan keras, alasan agar tidak didengar orang, sehingga adzanpun tidak didengar, dan karena kenikmatan mereka lupa waktu subuh telah habis. Apakah perbuatan jimaknya termasuk dosa ? Sedang yang membuatnya lupa adalah kenikmatan jimak itu sendiri.

  1. Apa bila darah haid sudah tuntas (mampet) maka dia (perempuan yang tuntas dari haid) sebelum mandi jinabah boleh melakukan puasa dan tidak boleh malakukan jima’, beda hal nya dengan pendapat imam assuyuti beliau menyatakan boleh dijima’ meskipun belum mandi jinabat.

فتح المعين 27)

وإذا انقطع دمها حل لها قبل الغسل صوم لا وطء خلافا لما بحثه العلامة الجلال السيوطي رحمه الله

حاشية إعانة الطالبين (1/ 89)

(قوله: خلافا لما بحثه العلامة الجلال السيوطي) أي من حل الوطئ أيضا بالانقطاع.

  1. Tidak berdosa

تحفة الحبيب على شرح الخطيب (1/ 453)

ويجوز للرجل جماع أهله وإن علم عدم الماء وقت الصلاة فيتيمم ويصلي من غير إعادة اه . أقول : وهو ظاهر حيث كانا مستنجيين بالماء ، وإلا لم يجز له جماعها لما فيه من التضمخ بالنجاسة ، ولما يترتب عليه من بطلان تيممه إذا علم أنه لم يجد ماء في وقت الصلاة إلا أنه قد مر في باب الغسل أنه لا يكلف غسل الذكر من المذي ، لأنه ربما فترت شهوته عن جماع يريده ، وتقدم أنه يعفى عنه بالنسبة للجماع لا لما أصاب بدنه منه أو ثوبه ، وعليه فلو علم أنه لا يجد ماء يغسل به ما أصابه منه بعد الجماع ، فينبغي حرمته

إذا كان الجماع بعد دخول الوقت لا قبله ، فلا يحرم لعدم مخاطبته بالصلاة الآن وهو لا يكلف تحصيل شروطه الصلاة قبل دخول وقتها اه ا ط ف

Ini ibaroh dari Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab VI / 245

قال المصنف رحمه الله تعالى: وإن طلع الفجر وهو مجامع، فاستدام مع العلم بالفجر، وجبت عليه الكفارة لأنه منع صوم يوم من رمضان بجماع من غير عذر، فوجبت عليه الكفارة، كما لو وطىء في أثناء النهار، وإن جامع وعنده إن الفجر لم يطلع وكان قد طلع، أو أن الشمس قد غربت ولم تكن غربت، لم تجب عليه الكفارة لأنه جامع وهو يعتقد أنه يحل له ذلك وكفارة الصوم عقوبة تجب مع المأثم فلا تجب مع اعتقاد الإباحة كالحد وإن أكل ناسياً فظن أنه أفطر بذلك ثم جامع عامداً فالمنصوص في الصيام أنه لا تجب الكفارة، لأن وطىء وهو يعتقد أنه غير صائم فأشبه إذا وطىء وعنده أنه ليل ثم بان أنه نهار، وقال شيخنا القاضي أبو الطيب الطبري رحمه الله: يحتمل عندي أنه يجب عليه الكفارة لأن الذي ظنه لا يبيح الوطء بخلاف ما لو جامع وظن أن الشمس غربت، لأن الذي ظن هناك يبيح له الوطء، فإن أفطر بالجماع وهو مريض أو مسافر لم تجب الكفارة، لأنه يحل له الفطر فلا تجب الكفارة مع إباحة الفطر، وإن أصبح المقيم صائماً ثم سافر وجامع وجبت عليه الكفارة، لأن السفر لا يبيح له الفطر في هذا اليوم، فكان وجوده كعدمه، وإن أصبح الصحيح صائماً ثم مرض وجامع لم تجب الكفارة، لأن المريض يباح له الفطر في هذا اليوم، وإن جامع ثم سافر لم تسقط عنه الكفارة، لأن السفر لا يبيح له الفطر في يومه فلا يسقط عنه ما وجب فيه من الكفارة، وإن جامع ثم مرض أو جن ففيه قولان أحدهما: لا تسقط عنه الكفارة، لأنه معني طرأ بعد وجوب الكفارة فلا يسقط الكفارة كالسفر والثاني: أنه تسقط لأن اليوم يرتبط بعضه ببعض، فإذا خرج آخره عن أن يكون الصوم فيه مستحقاً خرج أوله عن أن يكون صوماً أو يكون الصوم فيه مستحقاً، فيكون جماعه في يوم فطر، أو في يوم صوم غير مستحق فلا تجب به الكفارة.

Fokus :

وإن جامع وعنده إن الفجر لم يطلع وكان قد طلع، أو أن الشمس قد غربت ولم تكن غربت، لم تجب عليه الكفارة لأنه جامع وهو يعتقد أنه يحل له ذلك وكفارة الصوم عقوبة تجب مع المأثم فلا تجب مع اعتقاد الإباحة كالحد

HUKUM PEREMPUAN JIMA’ DENGAN HEWAN

 Jika seorang wanita bersetubuh dengan hewan seperti Kambing / anjing / kuda dsb, apakah wajib mandi jinabAh ?

Bersetubuh dengan hewan (baik bagi pria maupun wanita) hukumnya haram. Jika dilanggar wanita tersebut tetap wajib mandi. Lihat kitab ArRoudhoh bab yang mewajibkan mandi :

.والرابع : الجنابة ، وهي بأمرين : الجماع ، والإنزال . أما الجماع ، فتغييب قدر الحشفة في أي فرج كان ، سواء غيب في فرج امرأة ، أو بهيمة ، أو دبرهما ، أو دبر رجل ، أو خنثى ، صغير أو كبير ، حي أو ميت . ويجب على المرأة بأي ذكر دخل فرجها ، حتى ذكر البهيمة ، والميت ، والصبي . وعلى الرجل المولج في دبره . ولا يجب إعادة غسل الميت المولج فيه على الأصح .

ويجب على المرأة بأي ذكر دخل فرجها ، حتى ذكر البهيمة ، والميت ، والصبي .

Dan wajib mandi atas perempuan sebab masuknya dzakar mana saja kedalam farjinya hingga dzakarnya HEWAN, mayyit dan anak kecil. Keterangan serupa dari kitab kifayatul akhyar (1/40) :

وَيجب أَيْضا على الْمَرْأَة بِأَيّ ذكر دخل فِي فرجهَا حَتَّى ذكر الْبَهِيمَة وَالْمَيِّت وَالصَّبِيّ

MACAM- MACAM IHTILAM ATAU MIMPI BASAH SERTA MANDINYA

Kalau orang mimpi ber jimak tapi tidak keluar mani, apakah wajib mandi ?

Mimpi basah yang tidak mengeluarkan mani tidak mewajibkan mandi.

.وأجاب ابن عباس بأن معناه أنه لا يجب الغسل بالإحتلام إلا ان ينزل. الإقناع ١/٥٥وحمله ابن عباس على أنه لا يجب الغسل بالإحتلام الا إن أنزل. الباجوري

Apakah ikhtilam itu dari setan atau anugerah ?

Diterangkan dalam kitab Qurotul uyun shohifah 83 bahwa ada tiga macam ihtilam :

1). Ihtilam nikmah, ialah mimpi yang tidak memiliki gambaran jima tapi mengeluarkan mani, maksudnya adalah tidur tanpa mimpi tapi mengeluarkan mani.

2). Ihtilam ukubah, seorang yang bermimpi jima’ dengan rupa yang diharamkan .maaf seperti kita bermimpi jima’ dengan gambaran yang diharamkan oleh agama dan tidak menimbulkan kenikmatan dalam mimpi tersebut.  Ihtilam ukubah yang biasanya timbul akibat kita melihat sesuatu yang diharamkan atau berhayal yang diharamkan ataupun mimpi ini datang dari guguyon syetan yang diakibatkan oleh ketoledaran kita yang tidak membaca doa sebelum tidur.

3). Ihtilam karomah, tatkala kita bermimpi jima dengan gambaran atau tatacara yang disyariatkan agama dan timbul kenikmatan di dalamnya .

Dalam Qurotul uyun juga diterangkan pula bahwa Ihtilam atau mimpi basah salah satunya adalah akibat dari permainan atau gangguan syaithon. :

.وكذا يكره للزوج أن يأتي زوجته بعد الإحتلام____وذلك يورث الجنون في الولد إه أى لبقاء مني الإحتلام الذي هو أثر تلاعب الشيطان به فإذا نشأ عنه ولد تسلط عليه الشيطان. قرة العيون ص : ٥٥

HUKUM MENANGIS KETIKA SEDANG SHOLAT

Berikut beberapa pendapat Ulama Madzaahib al-Arba’ah tentang menangis dan segala jenisnya dalam SHOLAT :

MENANGIS SAAT SHOLAT

KALANGAN HANAFIYYAH BERPENDAPAT : Bila sebab tangisannya kepedihan dan musibah batal sholatnya karena tangisan dianggap pembicaraan manusia, bila sebabnya ingat surga dan neraka tidak membatalkan sholat karena berarti menunjukkan tambahnya khusyu’ yang menjadi tujuan dalam sholat, tangisan seperti ini menduduki makna tasbih dan doa. Menurut Abu Yusuf perincian di atas bila suara isak tersebut lebih dari dua huruf atau berupa dua huruf yang asal, sedang bila terdiri dari dua huruf tambahan atau salah satunya huruf asal dan lainnya huruf tambahan maka tidak membatalkan sholat baik tangisannya karena kepedihan atau mengingat akhirat. Yang dimaksud huruf tambahan adalah huruf-huruf yang terkumpul dalam lafadz “AMAANUN WA TASHIILUN”. ( Tabyiin alhaqaaiq I/155, Fath alQadiir I/281-282 ).

KESIMPULAN DI KALANGAN MALIKIYYAH : Tangisan dalam sholat adakalanya berupa suara adakalanya tidak, Tangisan tanpa suara tidak membatalkan sholat, baik tangisan yang tidak mampu ia kendalikan seperti dirinya dikuasai oleh kekhusyuan atau musibah atau tangisan yang mampu ia kendalikan selagi tidak banyak. Tangisan yang bersuara bila mampu ia kendalikan membatalkan sholat baik karena khusyu atau musibah sedang yang tidak mampu ia kendalikan bila karena rasa khusyu’ meskipun banyak tidak membatalkan, bila bukan karena rasa khusyu’ membatalkan. ( Hasyiyah as-Syaikh ‘alii al-‘Adawy ala Mukhtashor Kholil I/325, Jawaahir al-ikliil I/63, Mawaahib aljalil II/33 ). Sedang menurut adDasuuQy tangisan dengan suara karena musibah/kepedihan atau karena kekhusyuan bila tanpa ia kendalikan hukumnya seperti halnya berbicara saat sholat dalam arti dibedakan hukumnya antara kesengajaan dan tidaknya, bila sengaja membatalkan sedikit ataupun banyak, sedang bila lalai/tanpa sengaja juga membatalkan bila tangisannya banyak dan disunahkan sujud bila sedikit. ( Hasyiyah adDasuuqy alaa Syarh alkabiir I/284 ).

KALANGAN SYAFI’IYYAH BERPENDAPAT : Tangisan dalam sholat menurut pendapat yang shahih bila sampai keluar dua huruf dalam tangisannya membatalkan sholat karena adanya hal yang menafikan sholat walau tangisan takut akan akhirat sekalipun, sedang menurut Muqaabil pendapat yang shahih tidak membatalkan karena tangisan tidak tergolong pembicaraan serta tidak dapat difahami, tangisan hanyalah serupa dengan suara murni. ( Nihayah almuhtaaaj II/34, Hasyiyah Qolyubi I/187, Mughni alMuhtaaj I/195 ).

KALANGAN HANABILAH BERPENDAPAT : Mereka berpendapat bila tampak dua huruf dari tangisan, aduhan ketakutan atau rintihan dalam sholat tidak membatalkan karena dihukumi sebagaimana dzikiran. Ada pendapat “hal itu bila menguasainya/tidak terkendali, bila mampu dikendalikan membatalkan seperti bila tangisannya tidak karena ketakutan (akhirat) karena berarti ia mengejek dalam sholatnya dan artinya dirinya mengerjakan pembicaraan. Imam ahmad berkata dalam masalah rintihan “Bila menguasainya/tidak terkendali, aku membencinya, sedang bila dapat terkendali aku tidak membencinya. ( al-Furuu’ I/370-371 ). [ al-Mausuu’ah alFiqhiyyah VIII/181 ].

Wallaahu A’lamu bis showaab.

الْبُكَاءُ فِي الصَّلاَةِ :

12 – يَرَى الْحَنَفِيَّةُ أَنَّ الْبُكَاءَ فِي الصَّلاَةِ إِنْ كَانَ سَبَبُهُ أَلَمًا أَوْ مُصِيبَةً فَإِنَّهُ يُفْسِدُ الصَّلاَةَ ؛ لأَِنَّهُ يُعْتَبَرُ م…ِنْ كَلاَمِ النَّاسِ ، وَإِنْ كَانَ سَبَبُهُ ذِكْرَ الْجَنَّةِ أَوِ النَّارِ فَإِنَّهُ لاَ يُفْسِدُهَا ؛ لأَِنَّهُ يَدُل عَلَى زِيَادَةِ الْخُشُوعِ ، وَهُوَ الْمَقْصُودُ فِي الصَّلاَةِ ، فَكَانَ فِي مَعْنَى التَّسْبِيحِ أَوِ الدُّعَاءِ . وَيَدُل عَلَى هَذَا حَدِيثُ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي بِاللَّيْل وَلَهُ

أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الْمِرْجَل مِنَ الْبُكَاءِ . (1)

وَعَنْ أَبِي يُوسُفَ أَنَّ هَذَا التَّفْصِيل فِيمَا إِذَا كَانَ عَلَى أَكْثَرِ مِنْ حَرْفَيْنِ ، أَوْ عَلَى حَرْفَيْنِ أَصْلِيَّيْنِ ، أَمَّا إِذَا كَانَ عَلَى حَرْفَيْنِ مِنْ حُرُوفِ الزِّيَادَةِ ، أَوْ أَحَدُهَا مِنْ حُرُوفِ الزِّيَادَةِ وَالآْخَرُ أَصْلِيٌّ ، لاَ تَفْسُدُ فِي الْوَجْهَيْنِ مَعًا ، وَحُرُوفُ الزِّيَادَةِ عَشَرَةٌ يَجْمَعُهَا قَوْلُكَ : أَمَانٌ وَتَسْهِيلٌ (2) .

وَحَاصِل مَذْهَبِ الْمَالِكِيَّةِ فِي هَذَا : أَنَّ الْبُكَاءَ فِي الصَّلاَةِ إِمَّا أَنْ يَكُونَ بِصَوْتٍ ، وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ بِلاَ صَوْتٍ ، فَإِنْ كَانَ الْبُكَاءُ بِلاَ صَوْتٍ فَإِنَّهُ لاَ يُبْطِل الصَّلاَةَ ، سَوَاءٌ أَكَانَ بِغَيْرِ اخْتِيَارٍ ، بِأَنْ غَلَبَهُ الْبُكَاءُ تَخَشُّعًا أَوْ لِمُصِيبَةٍ ، أَمْ كَانَ اخْتِيَارِيًّا مَا لَمْ يَكْثُرْ ذَلِكَ فِي الاِخْتِيَارِيِّ .

وَأَمَّا إِذَا كَانَ الْبُكَاءُ بِصَوْتٍ ، فَإِنْ كَانَ اخْتِيَارِيًّا فَإِنَّهُ يُبْطِل الصَّلاَةَ ، سَوَاءٌ كَانَ لِمُصِيبَةٍ أَمْ لِتَخَشُّعٍ ، وَإِنْ كَانَ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ ، بِأَنْ غَلَبَهُ الْبُكَاءُ تَخَشُّعًا لَمْ يُبْطِل ، وَإِنْ كَثُرَ ، وَإِنْ غَلَبَهُ الْبُكَاءُ بِغَيْرِ تَخَشُّعٍ أَبْطَل (3) .

__________

(1) حديث : ” كان يصلي بالليل وله أزيز . . . ” أخرجه أبو داود ( 1 / 557 ـ ط عزت عبيد دعاس ) والنسائي ( 3 / 13 ـ ط المكتبة التجارية ) .

(2) تبيين الحقائق 1 / 155 ، 156 ط دائرة المعرفة ، وفتح القدير 1 / 281 ، 282 ـ ط دار صادر .

(3) حاشية الشيخ علي العدوي على مختصر خليل ، وهي بهامش الخرشي 1 / 325 ، ط دار صادر ، وجواهر الإكليل 1 / 63 ، ومواهب الجليل 2 / 33 .

هَذَا وَقَدْ ذَكَرَ الدُّسُوقِيُّ أَنَّ الْبُكَاءَ بِصَوْتٍ ، إِنْ كَانَ لِمُصِيبَةٍ أَوْ لِوَجَعٍ مِنْ غَيْرِ غَلَبَةٍ أَوْ لِخُشُوعٍ فَهُوَ حِينَئِذٍ كَالْكَلاَمِ ، يُفَرَّقُ بَيْنَ عَمْدِهِ وَسَهْوِهِ ، أَيْ فَالْعَمْدُ مُبْطِلٌ مُطْلَقًا ، قَل أَوْ كَثُرَ ، وَالسَّهْوُ يُبْطِل إِنْ كَانَ كَثِيرًا ، وَيُسْجَدُ لَهُ إِنْ قَل (1) .

وَأَمَّا عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ ، فَإِنَّ الْبُكَاءَ فِي الصَّلاَةِ عَلَى الْوَجْهِ الأَْصَحِّ إِنْ ظَهَرَ بِهِ حَرْفَانِ فَإِنَّهُ يُبْطِل الصَّلاَةَ ؛ لِوُجُودِ مَا يُنَافِيهَا ، حَتَّى وَإِنْ كَانَ الْبُكَاءُ مِنْ خَوْفِ الآْخِرَةِ . وَعَلَى مُقَابِل الأَْصَحِّ :

لاَ يُبْطِل لأَِنَّهُ لاَ يُسَمَّى كَلاَمًا فِي اللُّغَةِ ، وَلاَ يُفْهَمُ مِنْهُ شَيْءٌ ، فَكَانَ أَشْبَهَ بِالصَّوْتِ الْمُجَرَّدِ (2) .

وَأَمَّا الْحَنَابِلَةُ فَإِنَّهُمْ يَرَوْنَ أَنَّهُ إِنْ بَانَ حَرْفَانِ مِنْ بُكَاءٍ ، أَوْ تَأَوُّهِ خَشْيَةٍ ، أَوْ أَنِينٍ فِي الصَّلاَةِ لَمْ تَبْطُل ؛ لأَِنَّهُ يَجْرِي مَجْرَى الذِّكْرِ ، وَقِيل : إِنْ غَلَبَهُ وَإِلاَّ بَطَلَتْ ، كَمَا لَوْ لَمْ يَكُنْ خَشْيَةً ؛ لأَِنَّهُ يَقَعُ عَلَى الْهِجَاءِ ، وَيَدُل بِنَفْسِهِ عَلَى الْمَعْنَى كَالْكَلاَمِ ، قَال أَحْمَدُ فِي الأَْنِينِ : إِذَا كَانَ غَالِبًا أَكْرَهُهُ ، أَيْ مِنْ وَجَعٍ ، وَإِنِ اسْتَدْعَى الْبُكَاءَ فِيهَا كُرِهَ كَالضَّحِكِ وَإِلاَّ فَلاَ . (3)

(1) حاشية الدسوقي على الشرح الكبير 1 / 284 ـ ط دار الفكر .

(2) نهاية المحتاج 2 / 34 ، وحاشية قليوبي وعميرة1 / 187 ، ومغني المحتاج 1 / 195 .

(3) الفروع 1 / 370 ، 371 .

BEBERAPA PERMASALAHAN SEPUTAR ADZAN DAN ALASAN KENAPA NABI SAW TIDAK MENGUMANDANGKAN ADZAN

KEUTAMAAN MENGUMANDANGKAN ADZAN TEPAT WAKTU

Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj juz 5 hal 51 :

( وَإِنَّمَا يُشْرَعَانِ لِلْمَكْتُوبَةِ ) دُونَ الْمَنْذُورَةِ وَصَلَاةِ الْجِنَازَةِ ، وَالنَّفَلِ وَإِنْ شُرِعَتْ لَهُ الْجَمَاعَةُ فَلَا يُنْدَبَانِ ، بَلْ يُكْرَهَانِ لِعَدَمِ وُرُودِهِمَا فِيهَا نَعَمْ قَدْ يُسَنُّ الْأَذَانُ لِغَيْرِ الصَّلَاةِ كَمَا فِي آذَانِ الْمَوْلُودِ

Bila memungkinkan shalat dua kali maka lakukanlah, yang pertama demi meraih keutamaan shalat diawal waktu meskipun shalat sendirian, yang kedua demi meraih keutamaan berjamaah meskipun harus mengakhirkannya.  Bila hanya berkeinginan shalat sekali, maka ambillah jalan tengah dari beberapa pendapat yang berkembang dikalangan pengikut as-Syafi’i : “Bila memang mengakhirkannya dirasa berat maka lebih baik didahulukan, bila tidak berat (ringan) maka menunggu jamaah lebih utama”.

(فرع) اختلف كلام الاصحاب في تأخير الصلاة عن أول الوقت الي أثنائه لانتظار الجماعة فقطع أبو القاسم الداركي وابو علي الطبري وصاحب الحاوى وآخرون من كبار العراقيين باستحباب التأخير وتفضيله على فضيلة أول الوقت وقطع أكثر الخراسانيين بان تقديم الصلاة منفردا أفضل ونقل امام الحرمين والغزالي في البسيط انه لا خلاف فيه ونقل جماعات من الاصحاب انه ان رجا الجماعة في آخر الوقت ولم يتحققها ففى استحباب التأخير وجهان بناء على القولين في التيمم وحكي صاحبا الشامل والبيان هذا عن الاصحاب مطلقا ونقل الروياني عن القاضي أبى علي البندنيجى انه قال قال الشافعي في الام التقديم أول الوقت منفردا أفضل وقال في الاملاء التأخير للجماعة أفضل وقال القاضي أبو الطيب حكم الجماعة حكم التيمم إن تيقن الجماعة آخر الوقت فالتأخير أفضل وان تيقن عدمها فالتقديم أفضل وان رجا الامرين فعلي القولين وهذا الذى حكاه عن القاضي أبي الطيب هو الذى ذكره أبو على البندنيجى في جامعه كذا رأيته في نسخة معتمدة منه فهذا كلام الاصحاب في المسألة وقد ثبت في صحيح مسلم ان النبي

صلى الله عليه وسلم اخبر انه سيجئ أئمة يؤخرون الصلاة عن أول وقتها قال فصلوا الصلاة لوقتها واجعلوا صلاتكم معهم نافلة فالذي نختاره أنه يفعل ما أمره به النبي صلى الله عليه وسلم فيصلى مرتين مرة في أول الوقت منفردا لتحصيل فضيلة أول الوقت ومرة في آخره مع الجماعة لتحصيل فضيلتها وقد صرح أصحابنا باستحباب الصلاة مرتين على ما ذكرناه في باب صلاة الجماعة وسنبسطه هناك ان شاء الله تعالي فان اراد الاقتصار علي صلاة واحدة فان تيقن حصول الجماعة آخر الوقت فالتأخير أفضل لتحصيل شعارها الظاهر ولانها فرض كفاية على الصحيح في مذهبنا وفرض عين على وجه لنا وهو قول ابن خزيمة من أصحابنا وهو مذهب احمد ابن حنبل وطائفة ففى تحصيلها خروج من الخلاف ولم يقل أحد يأثم بتأخيرها ويحتمل أن يقال ان فحش التأخير فالتقديم افضل وان خف فالانتظار أفضل والله أعلم

[ SUB BAHASAN ] Ulama-ulama pengikut Madzhab Syafi’i berbeda pendapat dalam hal “mengakhirkan shalat dari awal waktunya hingga ditengah waktu” guna menunggu jamaah,

Imam Abu Qasim, Ad-Daraky, Abu Ali at-Thobry, pengarang kitab al-Haawy dan ulama-ulama pembesar irak menyatakan kesunahan dan mengutamakan mengakhirkan shalat ketimbang shalat diawal waktu demi tujuan diatas sedang kebanyakan ulama-ulama Khurasaan justru memilih sebaliknya.

Imam al-Haramain dan al-Ghozali menukil dalam kitab al-Basiith bahwa dalam hal tersebut sebenarnya tidak terdapat perbedaan.

Sebagian kalangan pengikut madzhab syafi’i menilai sesungguhnya bila ia mengharapkan keberadaan shalat jamaah diakhir waktu dan ternyata tidak terealita maka dalam mengakhirkan shalatnya terdapat dua pendapat berdasarkan dua pendapat yang berkembang dalam bab TAYAMMUM….

Imam ar-Rauyaani menyadur pernyataan al-Qadhi Abu Ali al-Bandanijy, ia berkata : “Imam as-Syafi’i dalam kitab al-Umm menyatakan mengerjakannya diawal waktu meskipun dengan shalat sendirian lebih utama, sedang dalam kitab al-Imlaa menyatakan mengakhirkan demi jamaah lebih utama”.

al-Qadhi Abu Thayyib berkata : “Hukum berjamaah sama halnya dengan hukum bertayammum, bila ia yakin berjamaah diakhir waktu maka mengakhirkan shalat lebih utama, bila tidak, maka mendahulukan diawal waktu lebih utama, bila ia berharap keduanya maka terdapat dua pendapat”.

Pernyataan al-Qadhi Abu Thayyib tersebut juga disebutkan oleh al-Bandanijy dalam kitab Jami’nya dalam sebuah teks yang autentik.

Demikianlah pendapat yang berkembang dikalangan para pengikut as-Syafi’i, dalam kitab shahih Muslim terdapat sabda Nabi Muhammad SAW : “Akan datang segolongan umat yang gemar mengakhirkan shalat dari awal waktunya, maka shalatlah kalian tepat waktunya dan jadikan shalat kalian bersama mereka sebagai shalat sunah”.

Bila menilik hadits diatas, maka kami memilih melakukan shalat dalam kondisi yang demikian dengan dua kali, sekali diawal waktu dengan sendiri demi mendapatkan keutamaan shalat diawal waktu dan sekali lagi diakhir waktu demi mendapatkan keutamaan berjamaah.

Para ulama pengikut as-Syafi’i telah menjelaskan tentang kesunahan shalat dua kali seperti keterangan yang telah kami tuturkan dalam BAB SHALAT JAMAAH dan Insya Allah juga akan kami panjang lebarkan keterangannya.

Bila hanya berkeinginan shalat satu kali maka bila ia yakin mengakhirkannya dapat mengerjakannya secara berjamaah maka mengakhirkannya lebih utama dengan berbagai pertimbangan :

  • Demi menjaga syiar Islam
  • Hukum shalat berjamaah menurut pendapat yang shahih dikalangan kami (syafi’iyyah) adalah fardhu kifayah, dan bahkan sebagian kami yakni Ibn Khuzaimah menyatakan Fardhu ainnya seperti pendapat dikalangan madzhab Ibn Hanbal dan sebagian golongan lainnya maka mengerjakannya dengan berjamaah (meskipun diakhir waktu) berarti keluar dari perbedaan pendapat dikalangan ulama
  • Tidak terdapati seorangpun yang menyatakan berdosa mengakhirkan shalat

Dan pendapat ini dapat disimpulkan “Bila memang mengakhirkannya dirasa berat maka lebih baik didahulukan, bila tidak berat (ringan) maka menunggu jamaah lebih utama”. Wallaahu A’lamu Bis Showaab. [ Al-Majmuu’ ala Syarh al-Muhadzdzab II/262-263 ].

أما تعجيل المتوضىء وغيره الصلاة في أول الوقت منفردا وتأخيرها لانتظار الجماعة ففيه ثلاثة طرق قيل التقديم أفضل وقيل التأخير وقيل وجهان قلت قطع معظم العراقيين بأن التأخير للجماعة أفضل ومعظم الخراسانيين بأن التقديم منفردا أفضل وقال جماعة هو كالتيمم فإن تيقن الجماعة آخر الوقت فالتأخير أفضل وإن ظن عدمها فالتقديم أفضل وإن رجاها فقولان وينبغي أن يتوسط فيقال إن فحش التأخير فالتقديم أفضل وإن خف فالتأخير أفضل

Sedang menyegerakannya orang yang wudhu dan selainnya dalam mengerjakan shalat diawal waktu dengan sendirian dan mengakhirkannya tapi dilakukan secara berjamaah maka terdapat tiga jalur pendapat, ada yang berpendapat lebih baik mendahulukan, ada yang berpendapat lebih baik mengakhirkan dan ada yang mengatakan dua wajah.

Aku berkata “Sebagian besar Ulama Iraq memilih mengakhirkannya demi berjamaah lebih utama sedang para ulama khurrasaan memilih keutamaan mendahulukannya meskipun dengan shalat sendiri, sebagian golongan menyatakan, hukumnya seperti tayammum bila yakin yakin mengerjakannya secara berjamaah diakhir waktu maka lebih baik mengakhirkan bila tidak lebih baik mendahulukan sedang bila ia berharap maka terdapat dua pendapat”.

Dan sebaiknya dalam hal ini dapat diambil jalan tengah “Bila memang mengakhirkannya dirasa berat maka lebih baik didahulukan, bila tidak berat (ringan) maka menunggu jamaah lebih utama”. [ Raudhah at-Thoolibiin I/95 ].

Tinggal kita mau menggunakan QAUL QADIM atau QAUL JADID. Menurut QAUL JADID adzan adalah HAQQUN LIL WAQTI, Sementara menurut QAUL QADIM adzan adalah HAQQUN LIL FARIIDHAH. Syeikh Sulaiman al Jamal dalam hasyiyah Manhaj juz I halaman 167 (maktabah syamilah) menerangkan :

لِأَنَّ الْأَذَانَ حَقٌّ لِلْوَقْتِ عَلَى هَذَا الْقَوْلِ وَعَلَى الْقَوْلِ الْقَدِيمِ الْأَصَحِّ هُوَ حَقٌّ لِلْفَرِيضَةِ كَمَا فِي شَرْحِ م ر

Imam Nawawi dalam kitab Majmu 3/84 (maktabah syamilah) menerangkan :

قال اصحابنا الاذان في الجديد حق الوقت وفى القديم حق الفريضة وفى الاملاء حق الجماعة

QAALA ASH_HAABUNAA : AL ADZAAN FIL JADIID HAQQUL WAQTI  WA FIL QADIIM HAQQUL FARIIDHAH  WA FII AL IMLAA` HAQQUL JAMAA’AH.

Imam Ramli dalam kitab Nihayah 1/405 :

والأذان حق للفريضة على القديم الأصح وعلى الجديد للوقت

WA AL ADZAANU HAQQUN LIL FARIIDHAH ‘ALAL QADIIM AL ASHAHHI WA ‘ALAL JADIID LIL WAQTI

 

HUKUM ADZAN DAN IQOMAH YANG DILAKUKAN OLEH DUA ORANG

Dalam kitab al Muhadzdzab (Majmu’ 3/121) diterangkan:

وَالْمُسْتَحَبُّ أَنْ يَكُونَ الْمُقِيمُ هُوَ الْمُؤَذِّنُ لِأَنَّ زِيَادَ بْنَ الْحَارِثِ الصُّدَائِيَّ أَذَّنَ فَجَاءَ بِلَالٌ لِيُقِيمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” إنَّ أَخَا صُدَاءٍ أَذَّنَ وَمَنْ أَذَّنَ فَهُوَ يقيم ” فان اذن واحد وَأَقَامَ غَيْرُهُ جَازَ لِأَنَّ بِلَالًا أَذَّنَ وَأَقَامَ عبد الله بن زيد

Sunnahnya orang yang iqomah adalah orang yang adzan, karena Ziyad ibn al Harits ash Shuda`i melakukan adzan, kemudian datanglah Bilal untuk iqomah, maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya saudara Shuda` telah adzan, barang siapa adzan maka dia yang iqomah. Jika satu orang adzan dan satu orang lainnya iqomah maka itu boleh karena Bilal azdan sementara Abdullah ibn Zaid iqomah.

MENGAPA NABI TIDAK MENGUMANDANGKAN ADZAN SHALAT ?

Nabi tidak pernah adzan shalat karena sibuk dengan sesuatu yang lebih penting dari kemashlatan orang-orang islam yang mana mashlahat tersebut bisa putus / tertinggal sebab adzan dan bila nabi adzan niscaya orang yang mendengarnya wajib hadir / shalat jama’ah walaupun orang tersebut punya udzur [ Bajuri 1/160 ].

– I’anah At-Tholibin I / 228 :

واعلم أن الأذانَ والإقامةَ من خصوصيات هذه الأمةِ كما قال السيوطى وشُرِعا فى السَنة الأولى من الهجرة كما فى ع ش وهما مُجْمَع عليهما ، والأذانُ أفضل من الإقامةِ وإن ضمت اليها الإمامة على الراجح ، فإن قيل أنه صلى الله عليه وسلم كان يؤمّ ولم يؤذّن أُجيب بأنه عليه السلام كان مشغولا بما هوأهمّ أو أنه لو أذن لَوَجَبَ الحضور على كل من سمِعه . وإنما كان الأذان أفضل من الإمامة لأنه ورد أن المؤذّن أمين والإمام ضمين والأمين أشرف ـ اهـ إعانة الطالبين الجزء الأول ص ٢٢٨

Fokus :

فإن قيل أنه صلى الله عليه وسلم كان يؤمّ ولم يؤذّن أُجيب بأنه عليه السلام كان مشغولا بما هوأهمّ أو أنه لو أذن لَوَجَبَ الحضور على كل من سمِعه

“Apabila dikatakan bahwa sesungguhnya Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam mengimami sholat namun tidak mengumandangkan adzan dijawab bahwa sesungguhnya Kanjeng Nabi sibuk oleh sesuatu / perkara yang lebih penting atau dijawab bahwaa sesungguhnya bila seandainyaa Kanjeng Nabi melakukan / mengumandangkan adzaan maka niscaya wajib menghadiri (jama’ah:ed) bagi siapapun yang mendengarnya”. Ibaroh serupa juga bisa ditemukan di :

– Tuhfatul Habib – Marji’ul Akbar :

فإن قيل: إنه كان يؤمّ ولم يؤذن. قيل لأنه كان مشغولاً بما هو أهم، وأنه لو أذن لوجب الحضور على كل من سمعه حتى الذي يخبز في التنور وإن أدى الحضور إلى تلف الخبز،

– Hasyiyah Al-Bujairimi ‘Alal Khothib – Marji’ul Akbar :

فَإِنْ قِيلَ: إنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَؤُمُّ وَلَمْ يُؤَذِّنْ. قِيلَ لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ مَشْغُولًا بِمَا هُوَ أَهَمُّ, وَأَنَّهُ لَوْ أَذَّنَ لَوَجَبَ الْحُضُورُ عَلَى كُلِّ مَنْ سَمِعَهُ حَتَّى الَّذِي يَخْبِزُ فِي التَّنُّورِ وَإِنْ أَدَّى الْحُضُورُ إلَى تَلَفِ الْخُبْزِ

– Bajuri dari percetakan darul ilmiyah juz 1 hal 309 :

فان قيل انه صلى الله عليه و سلم اشتغل بالامامة و لم يشتغل بالاذان و الاقامة و مثله الخلفاء بعده ؟ ،اجيب بانه كان مشغولا بما هو اهم من مصالح المسلمين و لو اذن لفائت بالاذان و كذا الخلفاء الراشدون بعده على انه لو اذن نفسه صلى الله عليه و سلم لوجب الخضور على كل من سمعه حتى المعذور كالذى يخبز فى التنور و لو ادى حضوره الى تلف الحبز و هذا فيه حرج و ضيق شديد

NB : Untuk selain adzan shalat, ada riwayat Nabi pernah mengumandangkan. Al Hafizh Ibn Hajar dalam kitab “at Talkhiishil Habiir” 4/272 menjelaskan tentang hadits tersebut sebagai berikut (lihat Dok no. 1756) :

حديث : { أنه صلى الله عليه وسلم أذن في أذن الحسين حين ولدته فاطمة }. أحمد وأبو داود والترمذي ، والحاكم والبيهقي من حديث أبي رافع ، ورواه الطبراني وأبو نعيم من حديثه بلفظ : { أذن في أذن الحسن والحسين }. ومداره على عاصم بن عبيد الله وهو ضعيف .

Hadits bahwasanya Rasulullah Shallalloohu ‘alaihi wasallam adzan di telinga al Husain ketika dilahirkan oleh Fathimah diriwayatkan oleh Ahmad, Abu dawud, Tirmidzi, Hakim dan Baihaqi dari haditsnya Abu Rafi’. Pokok permasalahannya adalah pada ‘Aashim ibn ‘Ubaidillah. Dia dha’if. Wallohu a’lam.