PENJELASAN HARTA RAMPASAN PERANG (GHONIMAH) DAN (SALAB) PERALATAN & PAKAIAN PERANG

BAB SALAB & GHANIMAH

(Fasal) di dalam menjelaskan hukum-hukum salab dan pembagian ghanimah.  

فَصْلٌ  فِيْ بَيَانِ أَحْكَامِ السَّلْبِ وَقَسْمِ الْغَنِيْمَةِ

Salab

Barang siapa membunuh seseorang dari pihak kafir, maka ia berhak diberi harta salab kafir tersebut. Lafadz “salab” dengan membaca fathah huruf lamnya.

(وَمَنْ قَتَلَ قَتِيْلًا أُعْطِيَ سَلَبَهُ)

بِفَتْحِ اللَّامِ

Dengan syarat orang yang membunuh adalah orang muslim, laki-laki atau perempuan, merdeka atau budak, imam telah mensyaratkan salab itu padanya ataupun tidak.     

بِشَرْطِ كَوْنِ الْقَاتِلِ مُسْلِمًا ذَكَرًا كَانَ أَوْ أُنْثًى حُرًّا أَوْ عَبْدًا شَرَّطَهُ الْإِمَامُ لَهُ أَوْ لاَ

Salab adalah pakaian yang dikenakan oleh orang yang terbunuh, muza, ar ran yaitu muza yang tanpa alas dan dikenakan pada betis saja (kaos kaki), peralatan perang, kendaraan yang ia gunakan bertempur atau ia pegang kendalinya, pelana, alat kendali, penutup tunggangan, gelang, kalung, sabuk yang digunakan mengikat perut, cincin, bekal nafaqah yang ada bersamanya, dan kuda serepan yang digiring bersamanya.           

وَالسَّلَبُ ثِيَابُ الْقَتِيْلِ الَّتِيْ عَلَيْهِ وَالْخُفُّ وَالرَّانُ وَهُوَ خُفٌّ بِلَا قَدَمٍ يُلبَسُ لْلسَّاقِّ فَقَطْ وَآلَاتُ الْحَرْبِ وَالْمَرْكُوْبُ الَّذِيْ قَاتَلَ عَلَيْهِ أَوْ أَمْسَكَهُ بِعِنَانِهِ وَالسَّرْجُ وَاللِّجَامُ وَمَقُوْدُ الدَّابَّةِ وَالسِّوَارُ وَالطُّوْقُ وَالْمِنْطَقَةُ وَهِيَ الَّتِيْ يُشَدُّ بِهَا الْوَسَطُ وَالْخَاتَمُ وَالنَّفَقَةُ الَّتِيْ مَعَهُ وَالْجَنِيْبَةُ الَّتِيْ تُقَادُ مَعَهُ

Sang pembunuh hanya bisa menghaki salab-nya orang kafir ketika ia melakukan hal yang membahayakan dirinya dalam membunuh kafir tersebut saat pertempuran.       

وَإِنَّمَا يَسْتَحِقُّ الْقَاتِلُ سَلْبَ الْكَافِرِ إِذَا غَرَّ بِنَفْسِهِ حَالَ الْحَرْبِ فِيْ قَتْلِهِ

Sekira dengan melakukan hal tersebut ia mampu menahan bahaya kafir tersebut.            

بِحَيْثُ يَكْفِيْ بِرُكُوْبِ هَذَا الْغَرَرِ شَرَّ ذَلِكَ الْكَافِرِ

Sehingga, seandainya ia membunuh kafir tersebut saat si kafir dalam keadaan tertawan, tidur, atau ia membunuhnya setelah pasukan kafir melarikan diri, maka ia tidak berhak mendapatkan salab kafir tersebut.      

فَلَوْ قَتَلَهُ وَهُوَ أَسِيْرٌ أَوْ نَائِمٌ أَوْ قَتَلَهُ بَعْدَ انْهِزَامِ الْكُفَّارِ فَلَا سَلْبَ لَهُ

Mencegah bahaya orang kafir adalah menghilangkan kekuatannya, seperti membutakan kedua matanya, memotong kedua tangannya atau kedua kakinya.    

وَكِفَايَةُ شَرِّ الْكَافِرِ أَنْ يُزِيْلَ امْتِنَاعَهُ كَأَنْ يَفْقَأَ عَيْنَيْهِ أَوْ يَقْطَعَ يَدَّيْهِ أَوْ رِجْلَيْهِ

Ghanimah

Ghanimah secara bahasa adalah diambil dari lafadz “al ghanmi” yang mempunyai makna laba / untung. 

وَالْغَنِيْمَةُ لُغَةً مَأْخُوْذٌ مِنَ الْغَنْمِ وَهُوَ الرِّبْحُ

Dan secara syara’ adalah harta yang dihasilkan oleh kaum muslimin dari kaum kafir harbi dengan pertempuran dan mengerahkan pasukan berkuda atau onta.          

وَشَرْعًا الْمَالُ الْحَاصِلُ لِلْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُفَّارِ أَهْلِ حَرْبٍ بِقِتَالٍ وَإِيْجَافِ خَيْلٍ أَوْ إِبِلٍ

Dengan keterangan “ahli harbi”, mengecualikan harta yang dihasilkan dari orang-orang murtad, maka sesungguhnya harta tersebut adalah harta fai’ bukan ghanimah.             

وَخَرَجَ بِأَهْلِ الْحَرْبِ الْمَالُ الْحَاصِلُ مِنَ الْمُرْتَدِّيْنَ فَإِنَّهُ فَيْئٌ لَا غَنِيْمَةٌ.

Pembagian Ghanimah

Setelah itu, maksudnya setelah mengeluarkan salab dari ghanimah, maka ghanimah dibagi menjadi seperlima.   

(وَتُقَسَّمُ الْغَنِيْمَةُ بَعْدَ ذَلِكَ)

أَيْ بَعْدَ إِخْرَاجِ السَّلْبِ مِنْهَا (عَلَى خَمْسَةِ أَخْمَاسٍ

Empat seperlimanya, barang menetap atau bisa dipindah, diberikan kepada orang-orang yang hadir di medan laga, dari orang-orang yang ikut merampas harta tersebut dengan niat berperang walaupun belum sempat ikut berperang bersama pasukan.          

فَيُعْطَى أَرْبَعَةُ أخْمَاسِهَا) مِنْ عَقَارٍ وَمَنْقُوْلٍ (لِمَنْ شَهِدَ) أَيْ حَضَرَ (الْوَقْعَةَ) مِنَ الْغَانِمِيْنَ بِنِيَّةِ الْقِتَالِ وَإِنْ لَمْ يُقَاتِلْ مَعَ الْجَيْشِ

Begitu juga orang yang hadir tidak dengan niat berperang namun ternyata dia ikut berperang menurut pendapat al adhhar.

وَكَذَا مَنْ حَضَرَ لَابِنِيَّةِ الْقِتَالِ وَقَاتَلَ فِيْ الْأَظْهَرِ

Tidak ada bagian apa-apa bagi orang yang hadir setelah pertempuran usai.          

وَلَا شَيْئَ لِمَنْ حَضَرَ بَعْدَ انْقِضَاءِ الْقِتَالِ

Tiga bagian diberikan kepada pasukan berkuda yang hadir ke medan pertempuran dan dia termasuk golongan yang memenuhi syarat-syarat berperang, dengan menggunakan kuda yang dipersiapkan untuk berperang, baik ia benar-benar sempat berperang ataupun tidak. Dua bagian diberikan untuk kudanya dan satu bagian untuk dirinya.        

(وَيُعْطَى لِلْفَارِسِ)

الْحَاضِرِ الْوَقْعَةِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْقِتَالِ بِفَرَسٍ مُهَيَّإٍ لِلْقِتَالِ عَلَيْهِ سَوَاءٌ قَاتَلَ أَمْ لاَ (ثَلَاثَةُ أَسْهُمٍ) سَهْمَيْنِ لِفَرَسِهِ وَسَهْمًا لَهُ

Yang diberi hanya satu kuda saja walaupun ia membawa kuda yang berjumlah banyak.   

وَلَا يُعْطَى إِلَّا لِفَرَسٍ وَاحِدٍ وَلَوْكَانَ مَعَهُ أَفْرَاسٌ كَثِيْرَةٌ

Bagi pejalan kaki, maksudnya pasukan yang berperang dengan berjalan, maka mendapatkan satu bagian.              

(وَلِلرِّجَالِ)

أَيِ الْمُقَاتِلِ عَلَى رِجْلَيْهِ (سَهْمٌ) وَاحِدٌ 

Yang diberi bagian dari ghanimah hanyalah orang yang memenuhi lima syarat, yaitu islam, baligh, berakal, merdeka dan laki-laki.      

(وَلَا يُسْهَمُ إِلَّا لِمَنْ) أَيْ شَخْصٍ (اسْتَكْمَلَتْ فِيْهِ خَمْسُ شَرَائِطَ الْإِسْلَامُ وَالْبُلُوْغُ وَالْعَقْلُ وَالْحُرِّيَّةُ وَالذُّكُوْرِيَّةُ

Radlkh (Persenan)

Jika salah satu syarat tidak terpenuhi, maka ia hanya diberi radlukh (persenan) tidak diberi sahmun (bagian).       

فَإِنِ اخْتَلَّ شَرْطٌ مِنْ ذَلِكَ رُضِخَ لَهُ وَلَا يُسْهَمُ) لَهُ

Maksudnya, orang yang tidak memenuhi syarat adakalanya karena ia adalah anak kecil, orang gila, budak, orang wanita atau kafir dzimmi.            

أَيْ لِمَنِ اخْتَلَّ فِيْهِ الشَّرْطُ إِمَّا لِكَوْنِهِ صَغِيْرًا أَوْ مَجْنُوْنًا أَوْ رَقِيْقًا أَوْ أُنْثًى أَوْ ذِمِّيًا

Ar radlkh secara bahasa adalah pemberian yang sedikit. Dan secara syara’ adalah sesuatu yang kadarnya di bawah bagian yang diberikan pada pasukan pejalan kaki.             

وَالرَّضْخُ لُغَةً الْعَطَاءُ الْقَلِيْلُ وَشَرْعًا شَيْئٌ دُوْنَ سَهْمٍ يُعْطَى لِلرَّاجِلِ

Sang imam melakukan ijtihad di dalam menentukan ukuran persenan tersebut sesuai dengan kebijakannya.        

وَيَجْتَهِدُ الْإِمَامُ فِيْ قَدْرِ الرَّضْخِ بِحَسَبِ رَأْيِهِ

Maka sang imam memberi lebih orang yang ikut berperang dari pada yang tidak, dan memberi lebih pada orang yang lebih banyak berperangnya daripada yang lebih sedikit ikut berperang.  

فَيَزِيْدُ الْمُقَاتِلَ عَلَى غَيْرِهِ وَالْأَكْثَرَ قِتَالًا عَلَى الْأَقَلِّ قِتَالًا

Tempat pengambilan persenan adalah empat seperlima menurut pendapat al adhhar.    

وَمَحَلُّ الرَّضْخِ الْأَخْمَاسُ الْأَرْبَعَةُ فِيْ الْأَظْهَرِ

Dan menurut pendapat yang kedua, tempat persenan tersebut adalah seluruh ghanimah.             

وَالثَّانِيْ مَحَلُّهُ أَصْلُ الْغَنِيْمَةِ

Seperlima yang tersisa setelah empat seperlima yang tadi, maka di bagi menjadi lima sahm (bagian)         

(وَيُقْسَمُ الْخُمُسُ) الْبَاقِيْ بَعْدَ الْأَخْمَاسِ الْأَرْبَعَةِ (عَلَى خَمْسَةِ أَسْهُمٍ

Satu bagian diberikan kepada Rasulullah Saw. Bagian tersebut menjadi hak beliau saat beliau masih hidup.           

سَهْمٌ) مِنْهُ (لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) وَهُوَ الَّذِيْ كَانَ لَهُ فِيْ حَيَاتِهِ

Kemudian setelah beliau meninggal dunia, maka ditasharrufkan kepada bentuk kemaslahatan yang berhubungan dengan kaum muslimin seperti para qadli yang menjadi juru hukum di daerah-daerah.   

(يُصْرَفُ بَعْدَهُ لِلْمَصَالِحِ)

الْمُتَعَلِّقَةِ بِالْمُسْلِمِيْنَ كَالْقُضَّاةِ الْحَاكِمِيْنَ فِيْ الْبِلَادِ

Adapun qadli-qadli pasukan perang, maka diberi razqu dari bagian empat seperlima sebagaimana yang diungkapkan imam al Mawardi dan yang lain.

أَمَّا قُضَّاةُ الْعَسْكَرِ فَيُرْزَقُوْنَ مِنَ الْأَخْمَاسِ الْأَرْبَعَةِ كَمَا قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَغَيْرُهُ

Dan seperti penjagaan ats tsughur, yaitu tempat-tempat yang mengkhawatirkan, yaitu area-area batas daerah-daerah kaum muslimin yang bersambung dengan bagian dalam daerah-daerah kita.       

وَكَسَدِّ الثُّغُوْرِ وَهِيَ الْمَوَاضِعُ الْمَخُوْفَةُ مِنْ أَطْرَافِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُلَاصِقَةِ لِبِلَادِنَا

Yang dikehendaki adalah menjaga ats tsughur dengan pasukan dan peralatan perang.     

وَالْمُرَادُ سَدُّ الثُّغُوْرِ بِالرِّجَالِ وَآلَاتِ الْحَرْبِ

Kemaslahatan yang terpenting harus didahulukan, kemudian yang agak penting.

وَيُقَدَّمُ الْأَهَمُّ مِنَ الْمَصَالِحِ فَالْأَهَمُّ

Satu bagian -dari seperlima- dimiliki oleh orang-orang yang memiliki ikatan kerabat, maksudnya kerabat Rasulullah Saw.     

(وَسَهْمٌ لِذَوِيْ الْقُرْبَى) أَيْ قُرْبَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Mereka adalah Bani Hasyim dan Bani Muthallib.

(وَهُمْ بَنُوْ هَاشِمٍ وَبَنُوْ الْمُطَلِّبِ)

Bagian tersebut dihaki oleh yang laki-laki, perempuan, kaya dan yang miskin dari mereka.             

وَيَشْتَرِكُ فِيْ ذَلِكَ الذَّكَرُ وَ الْأُنْثَى وَالْغَنِيُّ وَالْفَقِيْرُ

Untuk yang laki-laki diberi dua kali lipat bagian perempuan.        

وَيُفَضَّلُ الذَّكَرُ فَيُعْطَى مِثْلَ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ

Satu bagian dimiliki oleh anak-anak yatim kaum muslimin.            

(وَسَهْمٌ لِلْيَتَامَى) الْمُسْلِمِيْنَ

Lafadz “al yatama” adalah bentuk kalimat jama’ dari lafadz “yatim”. Yatim adalah anak kecil yang sudah tidak memiliki ayah.    

جَمْعُ يَتِيْمٍ وَهُوَ صَغِيْرٌ لَا أَبَّ لَهُ

Baik anak kecil tersebut laki-laki atau perempuan, memiliki kakek ataupun tidak, ayahnya terbunuh saat berperang ataupun tidak. Namun disyaratkan ia adalah anak yang faqir.      

سَوَاءٌ كَانَ الصَّغِيْرُ ذَكَرًا أَوْ أُنْثًى لَهُ جَدٌّ أَوْ لاَ قُتِلَ أَبُوْهُ فِيْ الْجِهَادِ أَوْ لاَ وَيُشْتَرَطُ فَقْرُ الْيَتِيْمِ

Satu bagian milik kaum miskin dan satu bagian untuk ibn sabil. Dan keduanya telah dijelaskan hampir mendekati KITAB PUASA.   

(وَسَهْمٌ لِلْمَسَاكِيْنِ وَسَهْمٌ لِأَبْنَاءِ السَّبِيْلِ) وَسَبَقَ بَيَانُهُمَا قُبَيْلَ كِتَابِ الصِّيَامِ

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

KEMAKRUHAN LEBIH TINGGINYA TEMPAT SHOLAT IMAM DAN KEKHUSUSAN SHOLAWAT IBROHIMIYYAH DALAM TAHYAT AKHIR

KETENTUAN KEMAKRUHAN TEMPAT IMAM SHOLAT LEBIH TINGGI DARI MAKMUM

Disebutkan dalam kitab  Fathul Mu’in halaman 37 baris ke 8 sampai baris ke 9 :

ﻭﻳﻜﺮﻩ ﺍﺭﺗﻔﺎﻉ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻵﺧﺮ ﺑﻼ ﺣﺎﺟﺔ ﻭﻟﻮ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ

Dan hukumnya makruh jika posisinya salah satu dari imam dan makmum lebih tinggi dari yang lain dengan tanpa ada keperluan, meski itu di dalam masjid.

Hukum makruh tersebut apabila tidak ada hajat. Apabila ada hajat misal agar imam bisa mengajari jamaah makmum sifat / ketentuan sholat, atau agar suara takbir imam sampai ke para makmum, maka tidak dimakruhkan, bahkan menjadi sunnah untuk meninggikan tempat imam sholat tersebut.

– I’anatuth Tholibin :

(قوله: بلا حاجة) متعلق بارتفاع، أي يكره الارتفاع إذا لم توجد حاجة، فإن وجدت حاجة كتعليم الإمام المأمومين صفة الصلاة، وكتبليغ المأموم تكبير الإمام، فلا يكره، بل يندب.

(قوله: ويكره الخ) أي للنهي عن ارتفاع الإمام عن المأموم. ومحل الكراهة..إذا أمكن وقوفهما على مستو، وإلا بأن كان موضع الصلاة موضوعا على هيئة فيها ارتفاع وانخفاض فلا كراهة.

قال الكردي: وفي فتاوي الجمال الرملي: إذا ضاق الصف الأول عن الاستواء يكون الصف الثاني الخالي عن الارتفاع أولى مع الصف الأول من الارتفاع.

شرح النووي على مسلم ج ٥ ص ٣٤ مكتبة الشاملة

وَفِيهِ جَوَازُ صَلَاةِ الْإِمَامِ عَلَى مَوْضِعٍ أَعْلَى مِنْ مَوْضِعِ الْمَأْمُومِينَ وَلَكِنَّهُ يُكْرَهُ ارْتِفَاعُ الْإِمَامِ عَلَى الْمَأْمُومِ وَارْتِفَاعُ الْمَأْمُومِ عَلَى الْإِمَامِ لِغَيْرِ حَاجَةٍ فَإِنْ كَانَ لِحَاجَةٍ بِأَنْ أَرَادَ تَعْلِيمَهُمْ أَفْعَالَ الصَّلَاةِ لَمْ يُكْرَهْ بَلْ يُسْتَحَبُّ لِهَذَا الْحَدِيثِ وَكَذَا إِنْ أَرَادَ الْمَأْمُومُ إِعْلَامَ الْمَأْمُومِينَ بِصَلَاةِ الْإِمَامِ وَاحْتَاجَ إِلَى الِارْتِفَاعِ وَفِيهِ تَعْلِيمُ الْإِمَامِ الْمَأْمُومِينَ أَفْعَالَ الصَّلَاةِ وَأَنَّهُ لَا يَقْدَحُ ذَلِكَ فِي صَلَاتِهِ وَلَيْسَ ذَلِكَ مِنْ بَابِ التَّشْرِيكِ فِي الْعِبَادَةِ بَلْ هُوَ كَرَفْعِ صَوْتِهِ بِالتَّكْبِيرِ لِيُسْمِعَهُمْ

المنهاج القويم ص ١٥٧ مكتبة الشاملة

“ويكره” في المسجد وغيره “ارتفاع أحدهما” أي الإمام أو المأموم “على الآخر” للنهي عن ارتفاع الإمام وقياسًا عليه في ارتفاع المأموم، هذا إن كان الارتفاع “بغير حاجة” وإلا كتعليم المأموم كيفية الصلاة أو تبليغ تكبيرة الإمام فلا يكره بل يندب.

حاشية قليوبي ج ١ ص ٢٨٠

قَوْلُهُ: (يُكْرَهُ ارْتِفَاعُ الْمَأْمُومِ عَلَى إمَامِهِ وَعَكْسُهُ) وَلَوْ عَلَى جَبَلٍ أَوْ حَائِطٍ فِي الْمَسْجِدِ وَغَيْرِهِ وَتَفُوتُ بِهِ فَضِيلَةُ الْجَمَاعَةِ خِلَافًا لِابْنِ حَجَرٍ فِي مَسْجِدٍ بُنِيَ كَذَلِكَ، وَالْمُرَادُ ارْتِفَاعٌ يَظْهَرُ فِي الْحِسِّ عُرْفًا وَإِنْ لَمْ يَكُنْ قَدْرَ قَامَةٍ وَضَمِيرُ عَكْسِهِ عَائِدٌ لِارْتِفَاعِ الْمَأْمُومِ فَهُوَ انْخِفَاضُهُ عَنْ الْإِمَامِ، وَالْمَعْنَى أَنَّهُ يُكْرَهُ لِكُلِّ مَأْمُومٍ أَنْ يَكُونَ مَوْقِفُهُ مُرْتَفِعًا عَنْ مَوْقِفِ الْإِمَامِ أَوْ مُنْخَفِضًا عَنْهُ، وَهَذَا بِظَاهِرِهِ يَشْمَلُ مَا لَوْ ارْتَفَعَ الْإِمَامُ وَحْدَهُ أَوْ انْخَفَضَ وَحْدَهُ وَنِسْبَةُ الْكَرَاهَةِ لِلْمَأْمُومِ لِأَنَّهُ تَابِعٌ وَالْوَجْهُ فِي هَذَيْنِ نِسْبَةُ الْكَرَاهَةِ لِلْإِمَامِ حَيْثُ لَا عُذْرَ، عَلَى أَنَّ ظَاهِرَ كَلَامِ الْمُصَنِّفِ أَنَّ الْعَكْسَ رَاجِعٌ لِارْتِفَاعِ الْإِمَامِ، فَنَسَبَ الْكَرَاهَةَ إلَيْهِ بِدَلِيلِ الِاسْتِثْنَاءِ بَعْدَهُ بِقَوْلِهِ كَتَعْلِيمٍ إلَّا أَنْ يُؤَوَّلَ بِأَنَّهُ مُسْتَثْنًى مِنْ ارْتِفَاعِ الْإِمَامِ الْمَفْهُومِ مِنْ انْخِفَاضِ الْمَأْمُومِ وَمَا بَعْدَهُ مُسْتَثْنًى مِنْ ارْتِفَاعِ الْمَأْمُومِ فَتَأَمَّلْ

MENGAPA MEMAKAI SHALAWAT IBRAHIMIYYAH DI TASYAHUD AKHIR ?

Dikhususkannya penuturan Nabi Ibrahim AS karena rahmat dan barokah tidak akan terkumpul pada Nabi selain Nabi Ibrahim, firman Alloh Swt:

‘رحمة الله و بركاته عليكم أهل البيت’

Ucapan mushanif wakhusha Ibrahim. Ilakhi, Ibarot Al Ajhuriy Dalam syarah kitab mukhtashar bin aby jamrah yang telah di-nash oleh beliau sesungguhnya dikhususkannya penuturan Nabi Ibrahim As dan keluarganya dalam shalawat karena ada dua wajah :

1. Yang pertama sesungguhnya Nabi Kita ‘alaihi shalaatu wassalam pada malam isra dan mi’raj beliau melihat para Nabi lalu beliau mengucapkan salam pada mreka namun tidak ada satupun dari mereka yang mengucapkn salam pada umat Nabi Muhammad selain Nabi Ibrahim As, maka Nabi kita memerintahkan kepada kita agar kita bershalawat kepada beliau ( Nabi Ibrahim) dan keluarganya disetiap akhir shalat sampai hari kiamat sebagai balasan kebaikan untuk beliau.

Dari ibarot di atas ada yang kurang lebih artinya ” karena rahmat dan barokah tidak terkumpul pada Nabi selain Nabi Ibrahim As ” Maksudnya tulisan rahmat dan barokah dalam al-Qur’an, kedua kata itu dijumpai ditulis serangkai hanya pada Nabi Ibrahim. Kalimat ‘alaikum’ di ayat itu untuk keluarganya Nabi Ibrahim.

رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ

2. Yang kedua Sesungguhnya Nabi Ibrohim manakala selesai dari membangun baitullah duduk beserta keluarganya, maka beliau menangis seraya berdo’a, beliau berkata Yaa Allah barang siapa yang berhaji akan rumah Engkau ini (di tempat ini) dari golongan yang tua-tua dari umat Muhammad maka berikan (kirimkan) kepadanya salam dariku, maka berkata ahli keluarganya Amiin, berkata Ishak, ya Allah barang siapa yang berhaji di rumah Engkau ini, dari golongan yang setengah baya dari umat Muhammad, maka berikan (kirimkan) kepadanya salam dariku, maka keluarganya berkata Amiin, kemudian berkata Ismail ya Allah barang siapa berhaji di rumah Engkau ini para pemuda dari golongan umat Muhammad, maka berikan (kirimkan) kepadanya salam dariku, maka keluarganya berkata Amiin, maka berkata Sarah ya Allah barang siapa berhaji di rumah Engkau ini golongan perempuan dari Umat Muhammad, maka berikan (kirimkan) kepadanya salam dariku, maka keluarganya berkata Amiin, maka berkata Hajar ya Allah barang siapa berhaji di rumah engkau ini para maula (majikan) dari golongan umat Muhammad, maka berikan (kirimkan) kepadanya salam dariku, maka keluarganya berkata Amiin, manakala telah terdahulu dari mereka oleh yang demikian itu (ucapan salam) maka kita diperintahkan dengan shalawat atas mereka sebagai balasan bagi mereka.

Wallohu a’lam.

– Fat-hul Wahhaab / Hasyiyah Jamal 3/428 :

وَخَصَّ إبْرَاهِيمَ بِالذِّكْرِ ؛ لِأَنَّ الرَّحْمَةَ وَالْبَرَكَةَ لَمْ تَجْتَمِعَا لِنَبِيٍّ غَيْرِهِ قَالَ تَعَالَى { رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ } ( قَوْلُهُ وَخَصَّ إبْرَاهِيمَ بِالذِّكْرِ إلَخْ )  عِبَارَةُ الْأُجْهُورِيِّ

فِي شَرْحِ مُخْتَصَرِ ابْنِ أَبِي جَمْرَةَ نَصُّهَا وَإِنَّمَا خَصَّ إبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِذِكْرِهِ وَآلِهِ فِي الصَّلَاةِ لِوَجْهَيْنِ : أَحَدُهُمَا أَنَّ نَبِيَّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ رَأَى لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ جَمِيعَ الْأَنْبِيَاءِ وَسَلَّمَ عَلَى كُلِّ نَبِيٍّ وَلَمْ يُسَلِّمْ أَحَدٌ مِنْهُمْ عَلَى أُمَّتِهِ غَيْرَ إبْرَاهِيمَ فَأَمَرَنَا نَبِيُّنَا أَنْ نُصَلِّيَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ آخِرَ كُلِّ صَلَاةٍ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مُجَازَاةً لَهُ عَلَى إحْسَانِهِ

الثَّانِي : أَنَّ إبْرَاهِيمَ لَمَّا فَرَغَ مِنْ بِنَاءِ الْبَيْتِ جَلَسَ مَعَ أَهْلِهِ فَبَكَى وَدَعَا فَقَالَ اللَّهُمَّ مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ مِنْ شُيُوخِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ فَهَبْهُ مِنِّي السَّلَامَ فَقَالَ أَهْلُ بَيْتِهِ : آمِينَ ، قَالَ إِسْحَاقُ : اللَّهُمَّ مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ مِنْ كُهُولِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ فَهَبْهُ مِنِّي السَّلَامَ فَقَالُوا : آمِينَ ثُمَّ قَالَ إسْمَاعِيلُ : اللَّهُمَّ مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ مِنْ شَبَابِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ فَهَبْهُ مِنِّي السَّلَامَ فَقَالُوا : آمِينَ فَقَالَتْ سَارَةُ : اللَّهُمَّ مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ مِنْ نِسَاءِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ فَهَبْهُ مِنِّي السَّلَامَ فَقَالُوا : آمِينَ فَقَالَتْ هَاجَرُ اللَّهُمَّ مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ : مِنْ الْمَوَالِي مِنْ النِّسَاءِ وَالرِّجَالِ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ فَهَبْهُ مِنِّي السَّلَامَ فَقَالُوا : آمِينَ ، فَلَمَّا سَبَقَ مِنْهُمْ ذَلِكَ أُمِرْنَا بِالصَّلَاةِ عَلَيْهِمْ مُجَازَاةً لَهُمْ انْتَهَتْ .

MANAKAH YANG LEBIH BAIK, MENDIRIKAN JAMA’AH YANG BARU ATAU MENGIKUTI JAMA’AH YANG SUDAH AKAN SELESAI?

Mana yang lebih utama dalam shalat berjama’ah antara mengikuti imam yang sudah sisa satu rakaat, atau membuat jama’ah lagi di belakang dengan imam lain?

*Jawaban:*

Menurut pendapat yang mu’tamad (menjadi pegangan) dalam madzhab syafi’i lebih baik menunggu jemaah lain jika memang ada harapan akan ada jamaah baru dan tidak khawatir akan ketinggalan fadilah awal waktu. Namun pembuatan jamaah baru ini hendaknya dilakukan setelah salam imam jamaah yang pertama selesai, sebab makruh hukumnya membuat jamaah baru sebelum jamaah yang pertama selesai, karena dapat mengganggu pada jamaah yang pertama. Akan tetapi menurut kitan al-Umdah, jika alasan mengganggu ini tidak ada, maka hukumnya tidak makruh lagi untuk langsung takbir tanpa harus menunggu imam jamaah pertama salam.

*Catatan:*

Ketentuan makruh membuat jamaah baru hanya berlaku dalam masjid ghairu mathruq (tidak menjadi tempat singgah lalu lalang orang) seperti di dalam perkampungan, dan telah memiliki imam rotib (imam yang diangkat secara resmi dan rutin untuk menjadi imam). Adapun di dalam masjid yang mathruq (menjadi tempat singgah lalu lalang orang) atau masjid tidak mathruq tapi tidak memiliki imam ratib, maka sama sekali tidak dimakruhkan untuk membuat jamaah baru.

*Referensi:*

*إعانة الطالبين، ج ٢، ص ١٥*

ويسن لجمع حضروا والامام قد فرغ من الركوع

الاخير أن يصبروا إلى أن يسلم ثم يحرموا – ما لم يضق الوقت -.

وكذا لمن سبق ببعض الصلاة ورجا جماعة يدرك معهم الكل.

لكن قال شيخنا إن محله ما لم يفت بانتظارهم فضيلة أول الوقت، أو وقت الاختيار، سواء في ذلك الرجاء واليقين.

وأفتى بعضهم بأنه لو قصدها فلم يدركها كتب له أجرها، لحديث فيه.

الشرح:

(قوله: ويسن لجمع حضروا الخ) عبارة المغني: (فرع) دخل جماعة المسجد والإمام في التشهد الأخير؟ فعند القاضي حسين

يستحب لهم الاقتداء به، ولا يؤخرون الصلاة.

وجزم المتولي بخلافه، وهو المعتمد.

بل الأفضل للشخص – إذا سبق ببعض الصلاة في الجماعة، ورجا جماعة أخرى يدرك معها الصلاة جميعها في الوقت – التأخير ليدركها بتمامها معها.

وهذا إذا اقتصر على صلاة واحدة، وإلا فالأفضل أن يصليها مع هؤلاء، ثم يعيدها مع الآخرين.

اه.

*عمدة المفتي والمستفتي*

(لكن لا يحرمون إلا بعد سلام إمام الجماعة فإن أحرموا قبل سلامه كره ذكره ابن العماد كابن حجر.

قالوا وعلة الكراهة أن فيه إنشاء جماعة قبل تمام الأخرى)

وقد اختار صاحب العمدة أنه إذا لم يوجد تشويش من الجماعة الثانية فلا كراهة في الإحرام قبل السلام.

*المجموع شرح المهذب، ج ٤، ص ٢٢٢*

أما حكم المسألة فقال أصحابنا إن كان للمسجد إمام راتب وليس هو مطروقا كره لغيره اقامة الجماعة فيه ابتداء قبل فوات مجئ إمامه ولو صلى الإمام كره أيضا إقامة جماعة أخرى فيه بغير إذنه هذا هو الصحيح المشهور وبه قطع الجمهور وحكى الرافعي وجها أنه لا يكره ذكره في باب الآذان وهو شاذ ضعيف وإن كان المسجد مطروقا أو غير مطروق وليس له إمام راتب لم تكره إقامة الجماعة الثانية فيه لما ذكره المصنف أما إذا حضر واحد بعد صلاة الجماعة فيستحب لبعض الحاضرين الذين صلوا أن يصلي معه لتحصل له الجماعة ويستحب أن يشفع له من له عذر في عدم الصلاة معه إلى غيره ليصلي معه للحديث والله أعلم

*فتاوى الرملي، ج ١، ص ٢٤٤*

(سئل) هل تكره إقامة جماعتين في حالة واحدة في مسجد مطروق إذا كان له إمام راتب بغير إذنه أم لا؟

(فأجاب) لا تكره وهو مفهوم بالأولى من نفي كراهة إقامة جماعة فيه قبل إمامه وعبارة التحقيق إن كان للمسجد إمام راتب وليسمطروقا كره لغير إمامه إقامة الجماعة فيه ويقال لا إن أقيمت بعد فراغ الإمام وإلا فلا، وعبارة الروض ويكره أن تقام جماعة فيمسجد بغير إذن إمامه إلا إذا كان مطروقا وعبارة جامع المختصرات وتكره الجماعة بذي راتب لا يطرق ولو بعده في الأصح اهـ. وما صرح به في التتمة من كراهة عقد جماعتين في حالة واحدة محله في غير المطروق فإن أكثرهم صرح بكراهة القبلية والبعدية وسكت عن المقارنة.

PENJELASAN HUKUM DAN SYARAT BERJIHAD VERSI KITAB FATHUL QORIB

KITAB HUKUM-HUKUM JIHAD

Hukum jihad Di masa Rasulullah Saw setelah hijrah adalah fardlu kifayah.              

وَكَانَ الْأَمْرُ بِهِ فِيْ عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الْهِجْرَةِ فَرْضَ كِفَايَةٍ

Keadaan Orang Kafir

Sedangkan setelah masa beliau, maka kaum kafir memiliki dua keadaan.

وَ أَمَّا بَعْدَهُ فَلِلْكُفَّارِ حَالَانِ

Salah satunya adalah mereka berada di daerahnya sendiri. Maka hukum jihad adalah fardlu kifayah bagi kaum muslimin di dalam setiap tahun.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُوْنُوْا بِبِلَادِهِمْ فَالْجِهَادُ فَرْضُ كِفَايَةٍ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ سَنَةٍ

Sehingga, ketika sudah ada orang yang melakukannya dan ia bisa mencukupi, maka hukum dosa gugur dari yang lainnya.

فَإِذَا فَعَلَهُ مَنْ فِيْهِ كِفَايَةٌ سَقَطَ الْحَرَجُ عَنِ الْبَاقِيْنَ

Kedua, orang-orang kafir masuk ke salah satu daerah kaum muslimin, atau mereka berada di dekat daerah tersebut, maka ketika demikian, hukum jihad adalah fardlu ‘ain bagi kaum muslimin.          

وَالثَّانِيْ أَنْ يَدْخُلَ الْكُفَّارُ بَلْدَةً مِنْ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ أَوْ يَنْزِلُوْا قَرِيْبًا مِنْهَا فَالْجِهَادُ حِيْنَئِذٍ فَرْضُ عَيْنٍ عَلَيْهِمْ

Sehingga, bagi penduduk daerah tersebut wajib menolak kaum kafir dengan apapun yang mereka bisa

فَيَلْزَمُ أَهْلَ ذَلِكَ الْبَلَدِ الدَّفْعُ لِلْكُفَّارِ بِمَا يُمْكِنُ مِنْهُمْ

 

Syarat-Syarat Jihad

Syarat wajibnya jihad ada tujuh perkara.               

(وَشَرَائِطُ وُجُوْبِ الْجِهَادِ سَبْعُ خِصَالٍ)

Pertama adalah islam, sehingga tidak wajib jihad bagi orang kafir.             

أَحَدُهَا (الْإِسْلَامُ) فَلَا جِهَادَ عَلَى كَافِرٍ

Yang kedua adalah baligh, sehingga tidak wajib jihad bagi anak kecil.       

(وَ) الثَّانِيْ (الْبُلُوْغُ) فَلَا جِهَادَ عَلَى صَبِيٍّ

Yang ketiga adalah berakal, sehingga tidak wajib jihad bagi orang gila.     

(وَ) الثَّالِثُ (الْعَقْلُ) فَلَا جِهَادَ عَلَى مَجْنُوْنٍ

Yang ke empat adalah merdeka, sehingga tidak wajib jihad bagi seorang budak walaupun majikannya memerintahkan, dan walaupun dia adalah budak muba’adl. Dan tidak wajib pula bagi budak mudabbar dan budak mukatab.          

(وَ) الرَّابِعُ (الْحُرِّيَّةُ) فَلَا جِهَادَ عَلَى رَقِيْقٍ وَلَوْ أَمَرَ سَيِّدُهُ وَلَوْ مُبَعَّضًا وَلَا مُدَبَّرًا وَلَا مُكَاتَباً

Yang kelima adalah laki-laki, sehingga tidak wajib jihad bagi orang perempuan dan khuntsa musykil.

(وَ) الْخَامِسُ ( الذُّكُوْرِيَّةُ) فَلَا جِهَادَ عَلَى امْرَأَةٍ وَخُنْثًى مُشْكِلٍ

Yang ke enam adalah sehat, sehingga tidak wajib jihad bagi orang yang sakit yang menghalanginya untuk berperang dan naik kendaraan kecuali dengan menanggung kesulitan yang berat seperti demam yang terus menerus.          

(وَ) السَّادِسُ (الصِّحَّةُ) فَلَا جِهَادَ عَلَى مَرِيْضٍ بِمَرَضٍ يَمْنَعُهُ عَنْ قِتَالٍ وَرُكُوْبٍ إِلَّا بِمَشَقَّةٍ شَدِيْدَةٍ كَحُمًى مُطْبِقَةٍ

Yang ke tujuh adalah mampu berperang sehingga tidak wajib jihad bagi semisal orang yang tangannya terpotong, dan tidak wajib bagi orang yang tidak menemukan / memiliki bekal berperang seperti senjata, kendaraan dan nafaqah.               

(وَ) السَّابِعُ (الطَّاقَةُ) عَلَى الْقِتَالِ (فَلَا جِهَادَ عَلَى أَقْطَعِ يَدٍّ مَثَلًا وَلَا عَلَى مَنْ عَدِمَ اُهْبَةَ الْقِتَالِ كَسِلَاحٍ وَمَرْكُوْبٍ وَنَفَقَةٍ

Macam-Macam Tawanan

Tawanan dari pihak kaum kafir ada dua kelompok  :         

(وَمَنْ أُسِرَ مِنَ الْكُفَّارِ فَعَلَى ضَرْبَيْنِ

Satu kelompok adalah kelompok yang tidak ada hak bagi imam untuk memilih kebijakan, bahkan mereka langsung menjadi budak dengan penawanan tersebut. Dalam sebagian redaksi menggunakan lafadz “yashiru” sebagai ganti dari lafadz “yakunu”.              

ضَرْبٍ) لَا تَخْيِيْرَ فِيْهِ لِلْإِمَامِ بَلْ (يَكُوْنُ) وَفِي بَعْضِ النُّسَخِ بَدَلَ يَكُوْنُ يَصِيْرُ (رَقِيْقًا بِنَفْسِ السَّبْيِ) أَيِ الْأَخْذِ

Mereka adalah anak-anak kecil dan para wanita, maksudnya anak-anak kecil dan para wanita dari pihak kaum kafir.               

(وَهُمُ الصِّبْيَانُ وَالنِّسَاءُ) أَيْ صِبْيَانُ الْكُفَّارِ وَنِسَاؤُهُمْ

Kaum khuntsa dan orang-orang gila disamakan dengan mereka.

وَيُلْحَقُ بِمَا ذُكِرَ الْخُنَاثَى

وَالْمَجَانِيْنُ

Dengan keterangan “pihak kaum kafir”, mengecualikan para wanitanya kaum muslimin. Karena sesungguhnya penawanan tidak bisa diberlakukan pada kaum muslimin.             

وَخَرَجَ بِالْكُفَّارِ نِسَاءُ الْمُسْلِمِيْنَ لِأَنَّ الْأَسْرَ لَا يُتَصَوَّرُ فِيْ الْمُسْلِمِيْنَ

Dan satu kelompok adalah kelompok yang tidak langsung menjadi budak dengan penawanan tersebut.

(وَضَرْبٍ لَا يُرَقُّ بِنَفْسِ السَّبْيِ

Mereka adalah orang-orang kafir asli yang laki-laki, baligh, merdeka dan berakal.

وَهُمُ) الْكُفَّارُ الْأَصْلِيُّوْنَ (الرِّجَالُ الْبَالِغُوْنَ) الْأَحْرَارُ الْعَاقِلُوْنَ.

Bagi imam diperkenankan memilih kebijakan pada mereka di antara empat perkara :       

(وَالْإِمَامُ مُخَيَّرٌ فِيْهِمْ بَيْنَ أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ)

Salah satunya adalah membunuh dengan memenggal leher tidak dengan membakar dan menenggelamkan semisal.               

أَحَدُهَا (الْقَتْلُ) بِضَرْبِ رَقَبَةٍ لَا بِتَحْرِيْقٍ وَلَا تَغْرِيْقٍ مَثَلًا

Yang kedua adalah menjadikan budak. Hukum mereka setelah dijadikan budak adalah seperti hukum harta-harta ghanimah.          

(وَ) الثَّانِيْ (الْاِسْتِرْقَاقُ) وَحُكْمُهُمْ بَعْدَ الْاِسْتِرْقَاقِ كَبَقِيَّةِ أَمْوَالِ الْغَنِيْمَةِ

Yang ketiga adalah memberi anugerah kepada mereka dengan membebaskan jalan mereka.       

(وَ) الثَّالِثُ (الْمَنُّ) عَلَيْهِمْ بِتَخْلِيَّةِ سَبِيْلِهِمْ

Yang ke empat adalah meminta tebusan adakalanya dengan harta atau dengan kaum laki-laki, maksudnya dengan tawanan dari kaum muslimin.    

(وَ) الرَّابِعُ (الْفِدْيَةُ) إِمَّا (بِالْمَالِ أَوْ بِالرِّجَالِ) أَيِ الْأُسْرَى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Uang tebusan mereka hukumnya seperti harta rampasan yang lain.          

وَمَالُ فِدَائِهِمْ كَبَقِيَّةِ أَمْوَالِ الْغَنِيْمَةِ

Satu orang kafir boleh ditebus dengan satu orang islam atau lebih, dan boleh beberapa orang kafir ditebus dengan satu orang muslim.         

وَيَجُوْزُ أَنْ يُفَادَى مُشْرِكٌ وَاحِدٌ بِمُسْلِمٍ أَوْ أَكْثَرَ وَمُشْرِكُوْنَ بِمُسْلِمٍ

Dari semua itu, sang imam melakukan apa yang mendatangkan kemaslahatan pada kaum muslimin.

(يَفْعَلُ) الْإِمَامُ (مِنْ ذَلِكَ مَا فِيْهِ الْمَصْلَحَةُ) لِلْمُسْلِمِيْنَ

Sehingga, jika yang lebih bermanfaat masih samar bagi sang imam, maka ia menahan para tawanan tersebut hingga jelas baginya mana yang paling bermanfaat kemudian ia lakukan.             

فَإِنْ خَفِيَ عَلَيْهِ الْأَحَظُّ حَبَسَهُمْ حَتَّى يَظْهَرَ لَهُ الْأَحَظُّ فَيَفْعَلُهُ

Dengan keterangan saya di depan “kafir asli”, mengecualikan pasukan kafir yang tidak asli seperti orang-orang murtad, maka sang imam menuntut mereka agar masuk islam. Sehingga, jika mereka tidak mau melakukannya, maka sang imam membunuhnya.  

وَخَرَجَ بِقَوْلِنَا سَابِقًا الْأَصْلِيُّوْنَ الْكُفَّارُ غَيْرُ الْأَصْلِيِّيْنَ كَالْمُرْتَدِّيْنَ فَيُطَالِبُهُمُ الْإِمَامُ بِالْإِسْلَامِ فَإِنِ امْتَنَعُوْا قَتَلَهُمْ

               

Barang siapa dari pihak kafir yang telah masuk islam sebelum tertangkap, maksudnya tertangkap oleh imam, maka harta, nyawa, dan anak-anak kecil mereka harus dijaga dari penawanan.

(وَمَنْ أَسْلَمَ) مِنَ الْكُفَّارِ (قَبْلَ الْأَسْرِ) أَيْ أَسْرِ الْإِمَامِ لَهُ (أُحْرِزَ مَالُهُ وَدَمُّهُ وَصِغَارُ أَوْلَادِهِ) عَنِ السَّبْيِ

Anak-anak kecil tersebut dihukumi islam sebab islamnya orang tua mereka karena mengikut padanya, berbeda dengan anak-anak mereka yang sudah baligh, maka status islam orang tua mereka tidak bisa melindungi mereka.               

وَحُكِمَ بِإِسْلَامِهِمْ تَبْعًا لَهُ بِخِلَافِ الْبَالِغِيْنَ مِنْ أَوْلَادِهِ فَلَا يَعْصِمُهُمْ إِسْلَامُ أَبِيْهِمْ

Islamnya kakek juga bisa melindungi cucu mereka yang masih kecil.         

وَإِسْلَامُ الْجَدِّ يَعْصِمُ أَيْضًا الْوَلَدَ الصَّغِيْرَ

Islamnya laki-laki kafir tidak bisa melindungi istrrinya dari hak untuk dijadikan sebagai budak walaupun istrinya tersebut dalam keadaan hamil. 

وَإِسْلَامُ الْكَافِرِ لَا يَعْصِمُ زَوْجَتَهُ عَنِ اسْتِرْقَاقِهَا وَلَوْ كَانَتْ حَامِلاً

Sehingga, ketika sang istri menjadi budak, maka status pernikahannya menjadi terputus seketika.

فَإِنِ اسْتَرَقَّتْ انْقَطَعَ نِكَاحُهُ فِيْ الْحَالِ.

Anak Kecil Hukumnya Islam

Anak kecil dihukumi islam ketika wujud tiga sebab.

(وَ يُحْكَمُ لِلصَّبْيِ بِالْإِسْلَامِ عِنْدَ وُجُوْدِ ثَلَاثَةِ أَسْبَابٍ)

Salah satunya adalah salah satu dari kedua orang tuanya masuk islam, maka anak tersebut dihukumi islam karena mengikut pada orang tuanya.    

أَحَدُهَا (أَنْ يُسْلِمَ أَحَدُ أَبَوَيْهِ) فَيُحْكَمُ بِإِسْلَامِهِ تَبْعًا لَهُمَا

Adapun anak yang baligh dalam keadaan gila, atau baligh dalam keadaan berakal namun kemudian gila, maka ia seperti anak kecil.           

وَأَمَّا مَنْ بَلَغَ مَجْنُوْنًا أَوْ بَلَغَ عَاقِلًا ثُمَّ جُنَّ فَكَالصَّبِيِّ

Sebab kedua disebutkan di dalam perkataan mushannif, “atau anak kecil tersebut ditawan oleh orang islam ketikaa ia tidak bersamaan dengan kedua orang tuanya.”  

وَالسَّبَبُ الثَّانِيْ مَذْكُوْرٌ فِيْ قَوْلِهِ (أَوْ يَسْبِيْهِ مُسْلِمٌ) حَالَ كَوْنِ الصَّبِيِّ (مُنْفَرِدًا عَنْ أَبَوَيْهِ)

Sehingga, jika anak kecil tersebut ditawan bersama dengan salah satu kedua orang tuanya, maka sang anak tidak mengikuti agama orang yang menawannya.       

فَإِنْ سُبِيَّ الصَّبِيُّ مَعَ أَحَدِ أَبَوَيْهِ فَلَا يَتْبَعُ الصَّبِيٌّ السَّابِيَ لَهُ

Maksud dari keberadaan sang anak bersama dengan salah satu dari kedua orang tuanya adalah mereka berada dalam satu pasukan dan ghanimah yang satu juga, tidak harus orang yang memiliki keduanya adalah orang satu.             

وَمَعْنَى كَوْنِهِ مَعَ أَحَدِ أَبَوَيْهِ أَنْ يَكُوْنَا فِيْ جَيْشٍ وَاحِدٍ وَغَنِيْمَةٍ وَاحِدَةٍ لَا أَنَّ مَالِكَهُمَا يَكُوْنَ وَاحِدًا

Seandainya anak kecil tersebut ditawan oleh orang kafir dzimmi dan ia membawa anak tersebut ke daerah islam, maka sang anak tidak dihukumi islam menurut pendapat al ashah.           

وَلَوْسَبَّاهُ ذِمِّيٌ وَحَمَلَهُ إِلَى دَارِ الْإِسْلَامِ لَمْ يُحْكَمْ بِإِسْلَامِهِ فِيْ الْأَصَحِّ

Bahkan anak tersebut mengikuti agama orang yang menawannya.           

بَلْ هُوَ عَلَى دِيْنِ السَّابِيْ لَهُ

Sebab yang ketiga disebutkan di dalam perkataan mushannif, “atau anak kecil yang ditemukan terlantar di daerah islam, walaupun di sana ada penduduk kafir dzimmi. Maka sesungguhnya anak tersebut adalah islam.”   

وَالسَّبَبُ الثَّالِثُ مَذْكُوْرٌ فِيْ قَوْلِهِ (أَوْ يُوْجَدُ) أَيِ الصَّبِيُّ (لَقِيْطًا فِيْ دَارِ الْإِسْلَامِ) وَإِنْ كَانَ فِيْهَا أَهْلُ ذِمَّةٍ فَإِنَّهُ يَكُوْنَ مُسْلِمًا

Begitu juga -hukumnya islam- seandainya anak kecil tersebut ditemukan terlantar di daerah kafir dan di sana ada penduduk muslimnya.  

وَكَذَا لَوْ وُجِدَ فِيْ دَارِ كُفَّارٍ وَفِيْهَا مُسْلِمٌ.

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

PENJELASAN HUKUM BAGI ORANG YANG MENINGGALKAN SHOLAT 5 WAKTU

BAB ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT

Selain mushannif menyebutkan hukum tarikus shalat (orang yang meninggalkan sholat) di dalam permasalahan ubudiyah (ibadah). Sedangkan mushannif menyebutkannya di sini, beliau berkata.            

وَذَكَرَ غَيْرُ الْمُصَنِّفِ حُكْمَ تَارِكِ الصَّلَاةِ فِيْ رُبُعِ الْعِبَادَاتِ وَأَمَّا الْمُصَنِّفُ فَذَكَرَهُ هُنَّا فَقَالَ.

(Fasal) orang yang meninggalkan sholat yang telah diketahui ada dua macam, dan bisa diarahkan terhadap meninggalkan salah satu dari sholat lima waktu saja.

(فَصْلٌ) وَتَارِكُ الصَّلَاةِ الْمَعْهُوْدَةِ الصَّادِقَةِ بِإِحْدَى الْخَمْسِ (عَلَى ضَرْبَيْنِ

Salah satunya, seseorang meninggalkan sholat dan ia adalah orang mukallaf dan tidak meyaqini terhadap kewajiban shalat tersebut, maka hukumnya, maksudnya orang yang meninggalkan shalat tersebut adalah hukumnya orang murtad, dan baru saja dijelaskan hukumnya.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَتْرُكَهَا) وَهُوَ مُكَلَّفٌ (غَيْرُ مُعْتَقِدٍ لِوُجُوْبِهَا فَحُكْمُهُ) أَيِ التَّارِكِ لَهَا (حُكْمُ الْمُرْتَدِّ) وَسَبَقَ قَرِيْبًا بَيَانُ حُكْمِهِ

Yang kedua adalah ia meninggalkan sholat karena malas hingga waktu shalat tersebut keluar, namun ia tetap menyaqini kewajibannya, maka orang seperti ini disuruh bertaubat.

(وَالثَّانِيْ أَنْ يَتْرُكَهَا كَسْلًا) حَتَّى يَخْرُجَ وَقْتُهَا حَالَ كَوْنِهِ (مُعْتَقِدًا لِوُجُوْبِهَا فَيُسْتَتَابُ

Sehingga, jika ia mau bertaubat da melaksanakan sholat, -maka hukumnya jelas-. Dan ini adalah penjelasan cara taubat.

فَإِنْ تَابَ وَصَلَّى) وَهُوَ تَفْسِيْرٌ لِلتَّوْبَةِ

Jika tidak, maksudnya jika ia tidak mau bertaubat, maka berhak dibunuh sebagai hukuman bukan karena kufur.

(وَإِلَّا) أَيْ وَإِنْ لَمْ يَتُبْ (قُتِلَ حَدًّا) لَا كُفْرًا

Dan orang ini hukumnya adalah orang islam di dalam masalah dimakamkan di pemakaman muslimin dan makamnya tidak boleh dihilangkan.

(وَكَانَ حُكْمُهُ حُكْمَ الْمُسْلِمِيْنَ) فِيْ الدَّفْنِ فِيْ مَقَابِرِهِمْ وَلَا يُطْمَسُ قَبْرُهُ

والله أعلم بالصواب

TERNYATA IZIN DARI ISTERI BUKAN SYARAT BAGI SUAMI UNTUK BERPOLIGAMI

INILAH HUKUM POLIGAMI

Pada dasarnya hukum poligamy adalah mubah sebagaimana firman Allah dalam surat An nisa’ ayat 3 : “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”.

Meskipun pada dasanya mubah, poligami hukumnya juga bisa berubah menjadi sunnah atau makruh bahkan bisa juga haram, hal ini berdasarkan keadaan seseorang yang akan melakukan poligami. Jika seorang lelaki membutuhkan istri yang lain misalnya sebab sang istri sakit-sakitan, atau istrinya mandul padahal lelaki itu ingin punya anak serta dia merasa mampu untuk berbuat adil kepada istri istrinya maka poligamy hukumnya sunnah baginya. Sedangkan jika tujuan poligaminya bukan karena butuh tapi sekedar meraih kenikmatan dan bersenang senang serta masih diragukan tentang adil dan tidaknya terhadap para istri maka hukum poligami baginya adalah makruh.

الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي (4/ 35)

1ـ حكم تعد الزوجات:تعدد الزوجات مباح في أصله، قال تعالى: {وإن خفتم ألا تقسطوا في اليتامى فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع} [النساء: 3].

ومعنى الآية: إن خفتم إذا نكحتم اليتيمات أن لا تعدلوا في معاملتهن، فقد أبيح لكم أن تنكحوا غيرهن، مثنى وثلاث ورباع.

ولكن قد يطرأ على التعدد ما يجعله مندوبا، أو مكروها، أو محرما، وذلك تبعا لاعتبارات وأحوال تتعلق بالشخص الذي يريد تعدد الزوجات:

أـ فإذا كان الرجل بحاجة لزوجة أخرى: كأن كان لا تعفه زوجة واحدة، أو كانت زوجته الأولى مريضة، أو عقيما، وهو يرغب بالولد، وغلب على ظنه أن يقدر على العدل بينهما، كان هذا التعدد مندوبا، لأن فيه مصلحة مشروعة، وقد تزوج كثير من الصحابة رضي الله عنهم بأكثر من زوجة واحدة.

ب ـ إذا كان التعدد لغير حاجة، وإنما لزيادة التنعم والترفيه، وشك في قدرته على إقامة العدل بين زوجاته، فإن هذا التعدد يكون مكروها، لأنه لغير حاجة، ولأنه ربما لحق بسببه ضرر في الزوجات من عدم قدرته على العدل بينهن.

SYARAT ADIL DALAM SAKSI NIKAH DAN POLIGAMI

  1. Adil dalam masalah saksi nikah

ﻻَ ﻧِﻜَﺎﺡَ ﺇِﻻَ ﺑِﺸَﺎﻫِﺪَﻱْ ﻋَﺪْﻝٍ ﻭَﻭَﻟِﻲٍّ ﻣُﺮﺷِﺪٍ ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻏَﻴْﺮِ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻬُﻮَ ﺑَﺎﻃِﻞٌ

Tidak sah sebuah pernikahan itu kecuali dengan dua orang saksi yang adil dan wali juga adil, pernikahan yang tidak memenuhi hal itu maka batal.

Pengertian adil sebagaimana dijelaskan dalam Zaitunah al Ilqah hal. 115 adalah :

ﻭَﺍﻟﻌَﺪْﻝُ : ﻣَﻦْ ﻏَﻠَﺒَﺖْ ﻃَﺎﻋَﺘُﻪُ ﺻَﻐَﺎﺋِﺮُﻩُ …. ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻥْ ﻗَﺎﻝَ ﻭَﻫُﻤَﺎ ﻣَﻦْ ﻻَ ﻳُﻌْﺮَﻑُ ﻟَﻬُﻤَﺎ ﻣُﻔَﺴِّﻖٌ

Adil adalah orang yang ketaatan (kepada Allah) nya lebih dominan dari dosa kecilnya… sampai pada pernyataan kedua saksi itu adalah orang yang tidak diketahui kefasikannya.

Jadi yang menjadi tolok ukur عدالة adalah lebih banyak dan tidaknya Tho’at seseorang dari Ma’siatnya.

  1. Pengertian adil dalam poligami

Disebutkan dalam Tafsir al Qurthubi jilid 5 halaman 405 :

ﺃﺧﺒﺮ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﻨﻔﻲ ﺍﻻﺳﺘﻄﺎﻋﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺪﻝ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ، ﻭﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﻣﻴﻞ ﺍﻟﻄﺒﻊ ﺑﺎﻟﻤﺤﺒﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻉ ﻭﺍﻟﺤﻆ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﻠﺐ .. ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻳﻘﻮﻝ : ‏( ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺇﻥ ﻫﺬﻩ ﻗﺴﻤﺘﻲ ﻓﻴﻤﺎ ﺃﻣﻠﻚ ﻓﻼ ﺗﻠﻤﻨﻲ ﻓﻴﻤﺎ ﺗﻤﻠﻚ ﻭﻻ ﺃﻣﻠﻚ ‏)

“Allah mengkhabarkan bahwa tidak akan mampu seseorang berlaku adil kepada para istri, yakni yang berkaitan kecendrungan rasa cinta, hubungan seksual dan perasaan dalam hati. Karenanya Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam berdoa :

Ya Allah, inilah pembagianku pada perkara yang aku bisa, maka janganlah Engkau mencelaku pada perkara yang Engkau miliki, namun tidak aku miliki”

Namun disebutkan dalam al Mausu’ah :

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ : ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺍﻟﻤﻴﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺴﻢ ﻭﺍﻹﻧﻔﺎﻕ ﻻ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺤﺒﺔ، ﻟﻤﺎ ﻋﺮﻓﺖ ﻣﻦ ﺃﻧﻬﺎ ﻣﻤﺎ ﻻ ﻳﻤﻠﻜﻪ ﺍﻟﻌﺒﺪ

“Dan berkata para ulama : Yang dimaksud adalah kecenderungan tidak adil dalam masalah giliran malam dan nafkah, bukan pada perasaan cinta, karena masalah perasaan termasuk perkara yang diluar kemampuan seorang hamba.

Referensi :

تحفة المحتاج

( وشرط العدالة اجتناب ) كل كبيرة من أنواع ( الكبائر ) ؛ لأن مرتكب الكبيرة فاسق وهي وما في معناها كل جريمة تؤذن بقلة اكتراث مرتكبها بالدين ورقة الديانة وهذا لشموله أيضا لصغائر الخسة وللإصرار على صغيرة الآتي أشمل من حدها بما يوجب الحد ؛ لأن أكثرها لا حد فيه أو بما فيه وعيد شديد بنص الكتاب أو السنة ؛ لأن كثيرا مما عدوه كبائر ليس فيه ذلك كالظهار وأكل لحم الخنزير وكثيرا مما عدوه صغائر فيه ذلك كالغيبة كما بينت ذلك كله مع تعدادها على وجه مبسوط بحيث زادت على الأربعمائة ومع أدلة كل [ ص: 214 ] وما قيل فيه وبحث حمل ما نقل من الإجماع على أن الغيبة كبيرة وما ورد فيها من الوعيد الشديد على غير الفاسق بخلافه فإن ذكره بما لم يعلن به صغيرة وفي كتابي الزواجر عن اقتراف الكبائر ( و ) اجتناب ( الإصرار على صغيرة ) أو صغائر من نوع واحد أو أنواع بأن لا تغلب طاعاته صغائره فمتى ارتكب كبيرة بطلت عدالته مطلقا أو صغيرة أو صغائر داوم عليها أو لا خلافا لمن فرق ، فإن غلبت طاعاته صغائره فهو عدل ومتى استويا أو غلبت صغائره فهو فاسق ويظهر ضبط الغلبة بالنسبة لتعداد [ ص: 215 ] صور هذه وصور هذه من غير نظر إلى تعدد ثواب الحسنة ؛ لأن ذلك أمر أخروي لا تعلق له بما نحن فيه ، ثم رأيت بعضهم ضبط ذلك بالعرف ونص المختصر ضبطه بالأظهر من حال الشخص وهما صريحان فيما ذكرته ويجري ذلك في المروءة والمخل بها بناء على اعتبار الغلبة ، ثم كما هنا فإن غلبت أفرادها لم تؤثر وإلا ردت شهادته وصرح بعضهم بأن كل صغيرة تاب عنها لا تدخل في العد وهو حسن ؛ لأن التوبة الصحيحة تذهب أثرها بالكلية قيل عطف الإصرار من عطف الخاص على العام لما تقرر أنه ليس المراد مطلقه بل مع غلبة الصغائر ، أو مساواتها للطاعات وهذا حينئذ كبيرة . ا هـ .

Fokus :

فإن غلبت طاعاته صغائره فهو عدل ومتى استويا أو غلبت صغائره فهو فاسق

فتح المعين

فإن غلبت طاعاته صغائره فهو عدل ومتى استويا أو غلبت صغائره فهو فاسق

قواعد الأحكام في مصالح الأنام ج:1 ص: 27

في حكم الإصرار على الصغائر فإن قيل قد جعلتم الإصرار على الصغيرة بمثابة ارتكاب الكبيرة , فما حد الإصرار أيثبت بمرتين أم بأكثر من ذلك ؟ قلنا إذا تكررت منه الصغيرة تكررا يشعر بقلة مبالاته بدينه إشعار ارتكاب الكبيرة بذلك ردت شهادته وروايته بذلك . وكذلك إذا اجتمعت صغائر مختلفة الأنواع بحيث يشعر مجموعها بما يشعر أصغر الكبائر .

الأشباه والنظائر ص: 384-385

القول في العدالة : حدها الأصحاب : بأنها ملكة , أي هيئة راسخة في النفس تمنع من اقتراف كبيرة أو صغيرة دالة على الخسة أو مباح يخل بالمروءة وهذه أحسن عبارة في حدها وأضعفها قول من قال : اجتناب الكبائر والإصرار على الصغائر . لأن مجرد الاجتناب من غير أن تكون عنده ملكة , وقوة تردعه عن الوقوع فيما يهواه غير كاف في صدق العدالة . ولأن التعبير بالكبائر بلفظ الجمع يوهم أن ارتكاب الكبيرة الواحدة لا يضر وليس كذلك ولأن الإصرار على الصغائر من جملة الكبائر , فذكره في الحد تكرار ; ولأن صغائر الخسة ورذائل المباحات خارج عنه مع اعتباره . قال في الروضة : وهل الإصرار السالب للعدالة , المداومة على نوع من الصغائر , أم الإكثار من الصغائر , سواء كانت من نوع أو أنواع ؟ فيه وجهان يوافق الثاني قول الجمهور : من غلبت طاعاته معاصيه كان عدلا , وعكسه فاسق , ولفظ الشافعي في المختصر يوافقه , فعلى هذا لا تضر المداومة على نوع من الصغائر إذا غلبت الطاعة . وعلى الأول : تضر واعترضه في المطلب : بأن مقتضاه أن مداومة النوع الواحد تضر على الوجهين أما على الأول : فظاهر , وأما على الثاني : فلأنه في ضمن حكايته , قال : إن الإكثار من نوع واحد كالإكثار من الأنواع , وحينئذ : لا يحسن معه التفصيل نعم : يظهر أثرها فيما لو أتى بأنواع من الصغائر إن قلنا بالأول : لم يضر لمشقة كف النفس عنه , وهو ما حكاه في الإبانة وإن قلنا بالثاني : ضر . وتبعه في المهمات وقال : يدل على ما ذكرناه أنه خالف المذكور هنا وجزم في الكلام على الأولياء . وفي الرضاع : بأن المداومة على النوع الواحد تصيره كبيرة وأجاب البلقيني : بأن الإكثار من النوع الواحد غير المداومة فإن المراد بالأكثرية التي تغلب بها معاصيه على طاعته , وهذا غير المداومة فالمؤثر على الثاني : إنما هو الغلبة لا المداومة . والرجوع في الغلبة إلى العرف , فإنه يمكن أن يراد مدة العمر , فالمستقبل لا يدخل في ذلك , وكذا ما ذهب بالتوبة وغيرها .

الزواجر عن اقتراف الكبائر ج: 2 ص: 356-358

( الكبيرة الثانية والستون بعد الأربعمائة : إدمان صغيرة أو صغائر بحيث تغلب معاصيه طاعته ) وكون هذا كبيرة أي مثلها في سقوط العدالة هو ما صرحوا به . وعبارة الرافعي : قال الأصحاب يعتبر في العدالة اجتناب الكبائر , فمن ارتكب كبيرة فسق وردت شهادته , وأما الصغائر فلا يشترط تجنبها بالكلية لكن الشرط أن لا يصر عليها فإن أصر كان الإصرار كارتكاب الكبيرة , وأما الإصرار السالب للعدالة أهو المداومة على نوع من الصغائر أم الإكثار من الصغائر سواء كانت من نوع أو أنواع مختلفة ؟ منهم من يفهم كلامه الأول , ومنهم من يفهم كلامه الثاني ويوافقه قول الجمهور : إن من يغلب طاعته معاصيه كان عدلا ومن يغلب معاصيه طاعته كان مردود الشهادة , ولفظ الشافعي في المختصر قريب منه , وإذا قلنا به لم تضر المداومة على نوع واحد من الصغائر إذا غلبت الطاعات وعلى الاحتمالات الأول تضر . ا هـ . وتبعه في الروضة وقضية كلامهما ترجيح الثاني وهو كذلك وبه صرح ابن سراقة وغيره . والحاصل ; أن المعتمد وفاقا لكثيرين من المتأخرين كالأذرعي والبلقيني والزركشي وابن العماد وغيرهم أنه لا تضر المداومة على نوع من الصغائر ولا على أنواع سواء كان مقيما على الصغيرة أو الصغائر أو مكثرا من فعل ذلك حيث غلب الطاعات المعاصي وإلا ضر , وعلى هذا يحمل ما وقع للشيخين في موضعين آخرين من أن المداومة على الصغيرة تصيرها أي مثلها في رد الشهادة , لكن النوع إن انضم إليه كون طاعته لم تغلب معاصيه , ووقع للإسنوي تقرير لكلام الرافعي المذكور قد يخالف بعض ما قررته فلا تغتر به , فقد اعترضه ورده البلقيني وابن العماد وغيرهما ويؤيد ما قررناه قول الجمهور ومن غلبت طاعاته معاصيه كان عدلا . إذ ظاهره أن من غلبت معاصيه طاعاته ردت شهادته سواء كانت المعاصي من نوع أو أنواع , ومن ثم قال الأذرعي : المذهب وقول الجمهور وما تضمنته النصوص إن من كان الأغلب عليه الطاعة والمروءة قبلت شهادته أو المعصية وخلاف المروءة ردت شهادته , فقول الشيخين عن بعضهم إن العضل ثلاثا كبيرة إنما يأتي على الضعيف أي أو يحمل كما مر ما إذا انضم إليه غلبة المعاصي . وعبارة العبادي : حد الفسق الذي يثبت فيه الجرح أن يرتكب كبيرة أو يغلب صغائره على طاعاته قال : وحد المروءة أن لا يأتي بما يستكرهه الناس من مثله مثل المطعم والملبس , وفيه دليل على أن الإنسان لو قتر على نفسه في الأكل أو ضيق عليها في الملبس ردت شهادته . ثم رأيت ابن العماد قال : ما نقله الإسنوي عن الرافعي من أن الإصرار على الصغيرة يصيرها كبيرة ليس كذلك , ولم يذكر الرافعي هذه العبارة , وإنما ذكر أن الشاهد يفسق والتفسيق ورد الشهادة لا يلزم أن يكونا عن كبيرة , فقد يكونان عن الإصرار على الصغائر , وعن صغيرة واحدة يعظم خطرها كقبلة أجنبية بحضرة الناس . ا هـ . وليس كما ذكر في التفسيق إذ لا يكون إلا على كبيرة بخلاف رد الشهادة , فإنه يكون عن خرم مروءة كما في القبلة التي ذكرها عند من لم يجعلها كبيرة . وأما تمثيله بالإصرار المذكور فهو المتنازع فيه فلا دليل فيه , ثم رأيت بعضهم قال عقب كلامه وما ذكره في هذا غير صحيح . قال البلقيني : والرجوع في الغلبة للعرف فإنه لا يمكن أن يراد مدة العمر فالمستقبل لا يدخل في ذلك وكذلك ما ذهب بالتوبة وغيرها , ولهذا قال الشافعي رضي الله عنه في المختصر : ليس من الناس أحد نعلمه إلا أن يكون قليلا يمحض الطاعة والمروءة , فإذا كان الأغلب على الرجل الأظهر من أمره الطاعة والمروءة قبلت شهادته , فإذا كان الأغلب الأظهر من أمره المعصية وخلاف المروءة ردت شهادته . قال البلقيني : واتفق الأصحاب على أن المراد الصغائر فإن الكبيرة بمجردها تخرج عن العدالة , وإن كان الأغلب الطاعة فكان ينبغي أن يقال شرط العدالة اجتناب الكبائر وعدم غلبة الصغائر على الطاعة . ا هـ . وقضية قوله وعدم غلبة الصغائر على الطاعة أنهما لو استويا فلم يغلب أحدهما على الآخر بقيت العدالة , وهو محتمل ويحتمل سلبها كما لو اجتمع حلال وحرام يغلب الحرام لخبثه وكذا ينبغي هنا تغليب المعاصي لخبثها , وفسر القاضيان الماوردي والطبري الإصرار في قوله تعالى { ولم يصروا } بأن لم يعزموا على أن لا يعودوا إليه , وقضيته حصول الإصرار بالعزم على العود بترك العزم على عدم العود ويوافقه قول ابن الصلاح : الإصرار التلبس بضد التوبة باستمرار العزم على المعاودة واستدامة الفعل , بحيث يدخل به في حيز ما يطلق عليه الوصف بصيرورته كبيرة وليس لزمن ذلك وعدده حصر . وقال ابن عبد السلام : الإصرار أن تتكرر منه الصغيرة تكرارا يشعر بقلة مبالاته بدينه إشعار ارتكاب الكبيرة بذلك , قال : وكذلك إذا اجتمعت صغائر مختلفة الأنواع بحيث يشعر مجموعها بما يشعر به أصغر الكبائر . ا هـ . وإنما يحتاج لمعرفة ضابط الإصرار على الضعيف أن مطلق الإصرار على الصغيرة يصيرها كبيرة , أما على المعتمد السابق فالمدار على غلبة الطاعات والمعاصي ويؤخذ من ضبط البلقيني لها بالعرف أنه لا نظر إلى مضاعفة الطاعات وإنما يقابل إفراد الطاعات بإفراد المعاصي من غير نظر إلى المضاعفة وتردد بعضهم فيما لو استوت معاصيه وطاعاته , والذي يتجه سلب العدالة .

Jika Bernadzar Melakukan Poligami

Soal: Bila ada orang bernadzar : “Saya bernadzar untuk poligami”, apakah poligami baginya menjadi wajib ?

Poligami adalah sistem perkawinan yang salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yg bersamaan. Dalam antropologi sosial, poligami merupakan praktik pernikahan kepada lebih dari satu suami atau istri (sesuai dengan jenis kelamin orang bersangkutan).

Poligami ada dua :

 – Poligini

 – Poliandri

Poligami dalam Islam terbatas pada Poligini yaitu seorang pria Muslim diizinkan menikahi lebih dari satu wanita. Tapi masyarakat kita lebih mengenal dengan istilah Poligami dari pada poligini.

Sedangkan Poliandri hukumnya Haram dalam Islam, yaitu seorang wanita menikah dengan lebih dari satu pria. Maka jika ada wanita bernadzar akan melakukan poliandri, maka nadzarnya tidak sah. Secara jelas disebut dalam kitab Alfiqhu ‘Ala Madzahibil Arba’ah 2/129 :

أما الحرام فإنه لا يصح نذره لكونه معصية، وفي الحديث الصحيح: “لا نذر في معصية الله

Artinya : Adapun yg haram maka sungguh tidak sah menadzarinya karena itu sebuah kemaksiyatan (kedurhakaan). Dan dalam hadis sohih : “Tidak ada nadzar dalam kemaksiyatan kepada Alloh Ta’ala”.

Kemudian jika ada seorang muslim bernadzar melakukan Poligini (menikahi lebih dari satu wanita) maka ulama syafi’iyyah berbeda pendapat :

 

  1. Bernadzar akan melakukan Poligini, maka mutlaq nadzarnya tidak menjadikan dia wajib melakukan Poligini. Karena bernadzar dengan sesuatu yang asalnya mubah tidak menjadikan sesuatu tersebut wajib ia lakukan. Sedang hukum menikah juga hukum Poligini asalnya adalah mubah.

  1. Bernadzar untuk melakukan Poligini maka terperinci :

✓ Jika poligini sebelum ia bernadzar hukumnya mubah maupun makruh, maka nadzarnya tidak menjadikan perkara tersebut wajib ia lakukan.

✓ Jika hukum Poligini sebelum ia bernadzar hukumnya sunnah maka Poligini menjadi wajib dilakukan setelah ia bernadzar.

✓ Jika Poligini sebelum ia bernadzar hukumnya haram maka tidak sah nadzarnya dan haram baginya melakukan Poligini.

Hukum poligini asalnya mubah , kemudian bisa menjadi sunnah, makruh dan bisa haram.

Kemudian timbul pertanyaan lagi :

Jika melanggar atau melakukan hal sebaliknya dari nadzar perkara mubah, apakah terkena kafaroh?

Contoh : bernadzar Poligini, ternyata nikahi satu wanita satupun tidak mampu.

Maka ulama juga beda pendapat, yang paling sohih tidak terkena kafaroh.

Menurut pendapat yang lemah pelakunya terkena kafaroh yamin (sumpah).

نهاية المحتاج ج ٨ ص ٢٢٤

( وَلَوْ ) ( نَذَرَ فِعْلَ مُبَاحٍ أَوْ تَرْكَهُ )

كَأَكْلٍ وَنَوْمٍ مِنْ كُلِّ مَا اسْتَوَى فِعْلُهُ وَتَرْكُهُ أَصَالَةً وَإِنْ رَجَّحَ أَحَدَهُمَا بِنِيَّةِ عِبَادَةٍ بِهِ كَالْأَكْلِ لِلتَّقَوِّي عَلَى الطَّاعَةِ ( لَمْ يَلْزَمْهُ ) لِخَبَرِ أَبِي دَاوُد { لَا نَذْرَ إلَّا فِيمَا اُبْتُغِيَ بِهِ وَجْهُ اللَّهِ } وَفِي الْبُخَارِيِّ { أَمَرَ أَبَا إسْرَائِيلَ أَنْ يَتْرُكَ مَا نَذَرَهُ مِنْ قِيَامٍ وَعَدَمِ اسْتِظْلَالٍ } { وَإِنَّمَا قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَنْ نَذَرَتْ إنْ رَدَّهُ اللَّهُ سَالِمًا أَنْ تَضْرِبَ عَلَى رَأْسِهِ بِالدُّفِّ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ أَوْفِي بِنَذْرِك } لِأَنَّهُ اقْتَرَنَ بِقُدُومِهِ كَمَالُ مَسَرَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَإِغَاظَةِ الْكُفَّارِ فَكَانَ وَسِيلَةً لِقُرْبَةٍ عَامَّةٍ ، وَلَا يَبْعُدُ فِيمَا هُوَ وَسِيلَةٌ لِهَذَا أَنَّهُ مَنْدُوبٌ لِلَازِمِهِ ، عَلَى أَنَّ جَمْعًا قَالُوا بِنَدْبِهِ لِكُلِّ عَارِضِ سُرُورٍ لَا سِيَّمَا النِّكَاحُ ، وَمِنْ ثَمَّ أَمَرَ بِهِ فِيهِ فِي أَحَادِيثَ وَعَلَيْهِ فَلَا إشْكَالَ أَصْلًا ( لَكِنْ إنْ خَالَفَ لَزِمَهُ كَفَّارَةُ ، يَمِينٍ عَلَى الْمُرَجَّحِ ) فِي الْمَذْهَبِ كَمَا فِي الْمُحَرَّرِ، لَكِنْ الْمُرَجَّحُ فِي الْمَجْمُوعِ عَدَمُ لُزُومِهَا نَظَرًا إلَى أَنَّهُ نَذْرٌ فِي غَيْرِ مَعْصِيَةٍ ، وَكَلَامُ الرَّوْضَةِ كَأَصْلِهَا فِي مَوْضِعٍ يَقْتَضِيهِ وَهُوَ الْمُعْتَمَدُ

حاشية الشبراملسي

( قَوْلُهُ : بِالدُّفِّ ) أَيْ الطَّارِ ( قَوْلُهُ : فَكَانَ وَسِيلَةً لِقُرْبَةٍ عَامَّةٍ ) أَيْ لَكِنَّهُ مُبَاحٌ أَصَالَةً ، وَمَا كَانَ كَذَلِكَ لَا يَنْعَقِدُ وَإِنْ كَانَ وَسِيلَةً لِقُرْبَةٍ كَالْأَكْلِ لِلتَّقَوِّي عَلَى الْعِبَادَةِ . ( قَوْلُهُ : لَزِمَهُ كَفَّارَةُ يَمِينٍ ) ضَعِيفٌ

البيان فى مذهب الإمام الشافعي ٤ ص ٤٧٤

وإن نذر فعل شيء من المباحات، كالأكل والشرب والنوم وما أشبهه لم يلزمه بذلك شيء

Makna; Dan jika seseorang bernadzar melakukan sesuatu yang termasuk perkara-perkara mubah seperti makan, minum dan tidur dll maka tidak wajib sesuatupun baginya sebab nadzar tersebut.

النجم الوهاج ١٠ ص ١٠٣

قال: (لكن إن خالف .. لزمه كفارة يمين على المرجح) وهو الذي رجحه الشيخان في الكلام على نذر اللجاج والغضب؛ لأنه نذر في غير معصية الله.

إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين ج ٣ ص ٢٩٨

قوله: ويجب بالنذر حيث ندب) أي إذا نذر النكاح وجب عليه إنندب في حقه بأن كان تائقا قادرا على المؤنة، وهذا ما جرى عليه ابن حجر، ونص عبارته: نعم حيث ندب لوجود الحاجة والأهبة وجب بالنذر على المعتمد الذي صرح به ابن الرفعة وغيره.

اه.

والذي اعتمده م ر خلافه، ونص عبارته: ولا يلزم بالنذر مطلقا، وإن استحب، كما أفتى به الوالد رحمه الله تعالى، خلافا لبعض المتأخرين.

اه.

وعدم الانعقاد عنده نظرا لكون أصله الإباحة، والاستحباب فيه عارض.

إعانة الطالبين ج ٢ ص ٤١٠

(قوله: وكذا المباح)

أي ومثل المعصية في عدم الانعقاد: نذر المباح فعلا أو تركا – وهو ما استوى فعله وتركه، وذلك لخبر ابن داود: لا نذر إلا فيما ابتغي به وجه الله تعالى.

وفي البخاري أنه – صلى الله عليه وسلم -: أمر أبا إسرائيل أن يترك ما نذره من نحو قيام وعدم استظلال.

وإنما قال – صلى الله عليه وسلم – لمن نذرت أن تضرب على رأسه بالدف حين قدم المدينة: أوفي بنذرك: لما اقترن به من غاية سرور المسلمين، وإغاظة المنافقين بقدومه، فكان وسيلة لقربة عامة، ولا يبعد فيما هو وسيلة لهذه أنه مندوب للازمة، على أن جمعا قالوا بندبه لكل عارض سرور، لا سيما النكاح، ومن ثم أمر به في أحاديث، وعليه: فلا إشكال أصلا. اه. تحفة. (قوله: ك: لله علي أن آكل أو أنام) تمثيل لنذر فعل المباح، ومثله نذر تركه، ك: لله علي أن أترك الأكل أو النوم. (قوله: وإن قصد إلخ) أي لا ينعقد نذر المباح، وإن اقترن بنية عبادة، كقصد التقوي به على الطاعة، أو قصد النشاط لها.

(قوله: ولا كفارة في المباح على الأصح) أي لا كفارة عليه إن خالف على الأصح. ومقابله يقول: إن عليه كفارة يمين، ورجحه النووي في منهاجه، ونص عبارته: لكن إن خالف لزمه كفارة يمين على المرجح. اه.

إعانة الطالبين ج ٢ صـ ٤٠٨

(النذر: التزام)

مسلم، (مكلف) رشيد: (قربة لم تتعين) – نفلا كانت أو فرض كفاية – كإدامة وتر، وعيادة مريض، وزيادة رجل قبرا، وتزوج حيث سن – خلافا لجمع الى أن قال …. وخرج بالمسلم، المكلف: الكافر والصبي، والمجنون – فلا يصح نذرهم – كنذر السفيه -، وقيل يصح من الكافر.وبالقربة: المعصية – كصوم أيام التشريق وصلاة لا سبب لها في وقت مكروه – فلا ينعقدان -.وكالمعصية: المكروه – كالصلاة عند القبر.والنذر لاحد أبويه أو أولاده فقط.وكذا المباح: كلله علي أن آكل أو أنام.وإن قصد تقوية على العبادة، أو النشاط لها – ولاكفارة في المباح، على الاصح.وبلم تتعين: ما تعين عليه من فعل واجب عيني كمكتوبة وأداء ربع عشر مال تجارة وكترك محرم (قوله: وكذا المباح) أي ومثل المعصية في عدم الانعقاد: نذر المباح فعلا أو تركا – وهو ما استوى فعله وتركه، وذلك لخبر ابن داود: لا نذر إلا فيما ابتغي به وجه الله تعالى.وفي البخاري أنه (ص): أمر أبا إسرائيل أن يترك ما نذره من نحو قيام وعدم استظلال.وإنما قال (ص) لمن نذرت أن تضرب على رأسه بالدف حين قدم المدينة: أوفي بنذرك: لما اقترن به من غاية سرور المسلمين، وإغاظة المنافقين بقدومه، فكان وسيلة لقربة عامة، ولا يبعد فيما هو وسيلة لهذه أنه مندوب للازمة، على أن جمعا قالوا بندبه لكل عارض سرور، لا سيما النكاح، ومن ثم أمر به في أحاديث، وعليه: فلا إشكال أصلا.اه.تحفة. (قوله: وتزوج حيث سن) أي بأن يكون مريده محتاجا مطيقا لمؤن النكاح. كما الى أن قال …. وهذا هو ما جرى عليه ابن حجر.ونص عبارته في باب النكاح نعم، حيث ندب لوجود الحاجة والاهبة: ويجب بالنذر على المعتمد الذي صرح به ابن الرفعة وغيره كما بينته في شرح العباب ومحل قولهم: العقود لا تلتزم في الذمة: ما إذا التزمت بغير نذر.اه.والذي جرى عليه م ر: عدم صحة نذره مطلقا، ونص عبارته في باب النكاح أيضا.ولا يلزم بالنذر مطلقا، وإن استحب كما أفتى به الوالد رحمه الله تعالى خلافا لبعض المتأخرين.(قوله: خلافا لجمع) أي حيث قالوا لا يصح نذر التزوج، وعللوه بأنه مباح عرض له الندب، وهو لا يصح إلا في المندوب أصالة.وعبارة بعضهم: قوله في قربة: أي أصالة، فلا يصح نذر مباح عرض له الندب كالنكاح خلافا لابن حجر.اه

KETENTUAN DIPERBOLEHKANNYA POLIGAMI

Syarat seorang suami boleh menjalani poligami adalah harus adil dan mampu memberikah nafkah hidup, di luar ketentuan itu tidak terdapati persyaratan lain (termasuk harus minta izin pada istri) namun orang berakal adalah mereka yang mampu menguasai hal sebelum tertimpa masalah, karenanya BERFIKIRLAH sebelum bertindak…!!

قيود إباحة التعدد :اشترطت الشريعة لإباحة التعدد شرطين جوهريين هما:1 – توفير العدل بين الزوجات: أي العدل الذي يستطيعه الإنسان، ويقدر عليه، وهو التسوية بين الزوجات في النواحي المادية من نفقة وحسن معاشرة ومبيت، لقوله تعالى: {فإن خفتم ألا تعدلوا فواحدة، أو ما ملكت أيمانكم، ذلك أدنى ألا تعولوا} [النساء:3/4] فإنه تعالى أمر بالاقتصار على واحدة إذا خاف الإنسان الجور ومجافاة العدل بين الزوجات.وليس المراد بالعدل ـ كما بان في أحكام الزواج الصحيح ـ هو التسوية في العاطفة والمحبة والميل القلبي، فهوغير مراد؛ لأنه غير مستطاع ولا مقدور لأحد، والشرع إنما يكلف بما هو مقدور للإنسان، فلا تكليف بالأمور الجبلِّية الفطرية التي لا تخضع للإرادة مثل الحب والبغض.ولكن خشية سيطرة الحب على القلب أمر متوقع ،لذا حذر منه الشرع في الآية الكريمة: {ولن تستطيعوا أن تعدلوا بين النساء، ولو حرصتم، فلا تميلوا كل الميل، فتذروها كالمعلقة} [النساء:129/4] وهو كله لتأكيد شرط العدل، وعدم الوقوع في جور النساء، بترك الواحدة كالمعلقة، فلا هي زوجة تتمتع بحقوق الزوجية، ولا هي مطلقة. والعاقل: من قدَّر الأمور قبل وقوعها، وحسب للاحتمالات والظروف حسابها، والآية تنبيه على خطر البواعث والعواطف الداخلية، وليست كما زعم بعضهم لتقرير أن العدل غير مستطاع، فلا يجوز التعدد، لاستحالة تحقق شرط إباحته.2 – القدرة على الإنفاق: لا يحل شرعاً الإقدام على الزواج، سواء من واحدة أو من أكثر إلا بتوافر القدرة على مؤن الزواج وتكاليفه، والاستمرار في أداء النفقة الواجبة للزوجة على الزوج، لقوله صلّى الله عليه وسلم : «يا معشر الشباب، من استطاع منكم الباءة فليتزوج…» والباءة: مؤنة النكاح.

KETENTUAN YANG MEMBOLEHKAN SUAMI BERPOLIGAMI

Syariat memperkenan suami berpoligami bila memenuhi dua ketentuan :

  1. Bisa memberikan rasa ADIL diantara istri-istrinya.

Dalam artian kemampuan berbuat adil dalam hal-hal yang bersifat kebendaan seperti memberi nafkah, dapat bergaul dengan mereka secara baik serta menggiliri mereka dengan sama rata, Allah Ta’ala berfirman :

“Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. 4:3)

Dalam ayat ini diterangkan, Allah memerintahkan untuk mencukupi satu istri saja bila seseorang khawatir tidak mampu berbuat adil diantara para istrinya.

Dan bukan yang dimaksud adil disini adalah sama dalam hal membagi perasan, kasih sayang, cinta dan kecenderungan hati, bukan…!! Karena yang demikian tentunya tidak akan mampu dilakukan oleh seorangpun sedang syariat tidak akan menerapkan hukum diluar batas yang dimampui oleh seseorang maka ia tidak dituntut untuk menjalani hal-hal yang diluar fitrah kemampuan untuk tunduk pada keinginan seperti cinta dan benci hanya saja kekhawatiran terbelenggu oleh cinta (pada seorang diantara istri-istri lainnya) dapat menjadi kenyataan sehingga menjadikan istri bagai tergantung, tiada terpenuhi hak-haknya dan ia juga tiada tertalak dari cengkeraman kuasa suami.

Allah berfirman “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri- istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.” (QS. 4:129)

Ayat ini sebagai penegasan tentang ketentuan legalnya berpoligami agar karenanya tidak menjadikan mendzalimi kaum wanita sehingga membuat nasibnya terkatung-katung dan orang berakal adalah mereka yang mampu menguasai hal sebelum tertimpa masalah karenanya.

  1. Mampu memberikan NAFKAH pada istri-istrinya.

Syariat tidak menghalalkan seseorang memasuki ranah pernikahan baik menikah hanya seorang istri atau lebih kecuali ia berkemampuan memenuhi biaya dan tuntutan-tuntutan dalam sebuah rumah tangga, mampu memenuhi hak-hak yang semestinya didapatkan seorang istri atas suaminya berdasarkan sabda nabi :“Wahai kawula muda, barangsiapa yang mampu dari kalian atas biaya maka menikahlah” yang dimaksud biaya adalah biaya yang dibutuhkan dalam pernikahan dan rumah tangga. [ Al-Fiqh al-Islaam IX/160 ].

Wallahu A’lamu Bis Showab

MACAM JENIS MURTAD DAN TERHAPUS MUSNAH SELURUH AMALIYAHNYA

MACAM-MACAM MURTAD

Macam-macam murtad sebagaimana di tulis dalam Kitab Sulam Taufiq sebagai berikut :

1.Murtad Fi’ly (perbuatan) : Yaitu segala aktivitas yang bisa menyebabkan kita keluar dari ajaran Islam, aktivitas tersebut apakah dilakukan dengan sungguh-sungguh atau hanya sekedar bercanda atau juga bohong- bohongan semuanya sama saja termasuk murtad perbuatan, Contoh : Bersujud kepada Berhala, bersujud kepada Matahari.

2.Murtad I`tiqod. meyaqini adanya Tuhan selain Alloh.

3.Murtad Qauly (ucapan) : yaitu murtad yang disebabkan lidah atau ucapan, murtad jenis ini banyak sekali dan terkadang kita tidak sadar kalau hal itu termasuk murtad ucapan. Contoh: Mencemoohkan ayat suci Al Qur’an ,memanggil orang muslim dengan HAI KAFIR dll.

MUSNAHNYA AMAL ORANG YANG MURTAD

Menurut kalangan Syafi’iyyah pahala amal baiknya lebur bila ia tidak kembali pada islam hingga maut menjemput. Firman Allah : Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya (Q.S.2:127).

معنى الردة: الردة لغة: الرجوع عن الشيء إلى غيره، وهي أفحش الكفر وأغلظه حكماً، ومحبطة للعمل إن اتصلت بالموت عند الشافعية، وبنفس الردة عند الحنفية، قال الله تعالى: {ومن يرتدد منكم عن دينه فيمت وهو كافر، فأولئك حبطت أعمالهم في الدنيا والآخرة، وأولئك أصحاب النار هم فيها خالدون} [البقرة:217/2].

Arti Murtad secara bahasa adalah beralih dari sesuatu pada lainnya, perbuatan ini lebih kotor dan lebih berat hukumnya ketimbang kufur, perbuatan ini dapat melebur setiap amal kebajikan seseorang bila berlangsung hingga kematian menjemput menurut kalangan Syafi’iyyah berbeda menurut kalangan Hanafiyyah dengan seseorang menjalani murtad seketika itu pula semua amalnya lebur, Allah Ta’ala berfirman “Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. 2;217). [ Al-Fiqh al-Islaam VII/501 ].

حبوط العمل :19 – إذا ارتد المسلم واستمر كافرا حتى موته كانت ردته محبطة للعمل لقوله تعالى : { ومن يرتدد منكم عن دينه فيمت وهو كافر فأولئك حبطت أعمالهم (2) } .فإن عاد إلى الإسلام فمذهب الحنفية والمالكية أنه يجب عليه إعادة الحج وما بقي سببه من العبادات لأنه بالردة صار كالكافر الأصلي فإذا أسلم وهو غني فعليه الحج . ولأن وقته متسع إلى آخر العمر فيجب عليه بخطاب مبتدأ كما يجب عليه الصلاة والصيام والزكاة للأوقات المستقبلة ، ولأن سببه البيت المكرم وهو باق بخلاف غيره من العبادات التي أداها ، لخروج سببها .وما بقي سببه من العبادات كمن صلى الظهر مثلا ثم ارتد ثم تاب في الوقت يعيد الظهر لبقاء السبب وهو الوقت .

وذهب الشافعية والحنابلة إلى أنه لا يجب عليه أن يعيد عباداته التي فعلها في إسلامه من صلاة وحج وغيرها ، وذلك لأنه فعلها على وجهها وبرئت ذمته منها فلا تعود إلى ذمته ، كدين الآدمي . والمنصوص عن الشافعي رحمه الله تعالى حبوط ثواب الأعمال لا نفس الأعمال (1) .

(1) حاشية ابن عابدين 3 / 303 ، وحاشية الطحطاوي على الدر المختار 2 / 480 ، ومواهب الجليل 6 / 282 وما بعدها ، ومغني المحتاج 4 / 133 ، وكشاف القناع 6 / 181 .

[ PUNAHNYA AMAL KEBAJIKAN ] Bila seorang muslim murtad hingga kematiannya ia masih dalam kekufuran maka kemurtadannya dapat melebur amal bajiknya (yang dilakukan sebelum ia murtad) berdasarkan firman Allah “Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. 2;217)

Bila ia kembali kejalan ISLAM, menurut kalangan Hanafiyyag dan Malikiyyah wajib baginya mengulangi kembali hajinya dan ibadah-ibadah lainnya karena dengan ia menjalani kemurtadan maka ia seperti orang kafir asli bila ia kembali islam sementara ia kaya maka wajib baginya menunaikan ibadah Haji dan karena :

  • Waktunya haji diperluas seumur hidup maka wajib baginya setelah kembali pada islam menjalani perintah baru sebagaimana diwajibkan baginya menjalani shalat, puasa dan zakat pada waktu-waktu mendatang
  • Sebab yang berkaitan dengan ibadah haji adalah Baitul Mukarramah yang masih tetap ada berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya, Sebagaimana orang yang menjalani ibadah shalat dhuhur kemudian setelah usai ia murtad maka wajib baginya mengulang kembali shalat dhuhurnya karena keberadaan waktunya yang masih ada.

Kalangan Syafi’iyyah dan Hanabilah menilai ibadah yang dilakukan semasa ia belum murtad (kala ia masih islam) baik shalat, haji dan lain-lainnya tidak perlu diulang kembali karena ia telah menjalani sesuai dengan ketentuannya dan terbebas dari tanggungan menjalankannya maka tidak akan kembali diwajibkan baginya mengulangnya sebagaimana hutang sesama anak adam.Imam Syafi’i memberi ketegasan yang dimaksud adalah leburnya pahala suatu amal kebajikan bukan leburnya suatu amal kebajikan. [ Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah 13/234 ].

KELUAR DARI ISLAM (MURTAD) DAN KONSEKWENSI HUKUMNYA DALAM AGAMA ISLAM

BAB MURTAD

(Fasal) menjelaskan hukum-hukum murtad.       

(فَصْلٌ) فِيْ أَحْكَامِ (الرِّدَةِ)

Murtad adalah bentuk kekafiran yang paling jelek.           

وَهِيَ أَفْحَشُ أَنْوَاعِ الْكُفْرِ

Makna murtad secara bahasa adalah kembali dari sesuatu pada sesuatu yang lain.            

وَمَعْنَاهَا لُغَةً الرُّجُوْعُ عَنِ الشَّيْئِ إِلَى غَيْرِهِ

Dan secara syara’ adalah memutus islam dengan niat, ucapan atau perbuatan kufur seperti sujud kepada berhala.               

وَشَرْعًا قَطْعُ الْإِسْلَامِ بِنِيَّةِ كُفْرٍ أَوْ قَوْلِ كُفْرٍ أَوْ فِعْلِ كُفْرٍ كَسُجُوْدٍ لِصَنَمٍ

Semua itu baik atas dasar meremehkan, menentang atau menyaqini seperti orang yang menyaqini baru datangnya Sang Pencipta. 

سَوَاءٌ كَانَ عَلَى جِهَةِ الْاِسْتِهْزَاءِ أَوِ الْعِنَادِ أَوِ الْاِعْتِقَادِ كَمَنِ اعْتَقَدَ حُدُوْثَ الصَّانِعِ

Barang siapa yang murtad dari agama islam, laki-laki atau perempuan seperti orang yang mengingkari wujudnya Allah, mendustakan satu rasul dari rasul-rasulnya Allah, menghalalkan perkara yang diharamkan secara ijma’ seperti zina dan minum khamr, atau mengharamkan perkara yang halal secara ijma’ seperti nikah dan jual beli, maka ia wajib disuruh taubat seketika menurut qaul al ashah dalam dua perkara tersebut (wajib disuruh taubat dan seketika). 

(وَمَنِ ارْتَدَّ عَنِ الْإِسْلَامِ) مِنْ رَجُلٍ أَوِ امْرَأَةٍ كَمَنْ أَنْكَرَ وُجُوْدَ اللهِ أَوْ كَذَّبَ رَسُوْلًا مِنْ رُسُلِ اللهِ أَوْ حَلَّلَ مُحَرَّمًا بِالْإِجْمَاعِ كَالزِّنَا وَشُرْبِ الْخَمْرِ أَوْ حَرَّمَ حَلَالًا بِالْإِجْمَاع ِكَالنِّكَاحِ وَالْبَيْعِ (اُسْتُتِيْبَ) وُجُوْبًا فَيْ الْحَالِ فِيْ الْأَصَحِّ فِيْهِمَا

Sedangkan muqabil al ashah (pendapat pembanding al ashah) dalam permasalahan yang pertama adalah sesungguhnya orang tersebut sunnah disuruh taubat. Dan dalam permasalahan kedua adalah sesungguhnya orang tersebut diberi tenggang waktu tiga, maksudnya hingga tiga hari

وَمُقَابِلُ الْأَصَحِّ فِيْ الْأُوْلَى أَنَّهُ يُسَنُّ الْاِسْتِتَابَةُ وَفِيْ الثَّانِيَةِ أَنَّهُ يُمْهَلُ (ثَلَاثًا) أَيْ إِلَى ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ.

Jika orang tersebut mau bertaubat dengan kembali ke islam dengan cara mengikrarkan diri dengan mengucapkan dua kalimat syahadah secara tertib dengan mengucapkan iman kepada Allah pertama kali kemudian kepada rasul-Nya.               

(فَإِنْ تَابَ) بِعَوْدِهِ إِلَى الْإِسْلَامِ بِأَنْ يُقِرَّ بِالشَّهَادَتَيْنِ عَلَى التَّرْتِيْبِ بِأَنْ يُؤْمِنَ بِاللهِ أَوَّلًا ثُمَّ بَرَسُوْلِهِ

Sehingga, jika ia membalik, maka tidak syah sebagaimana yang diungkapkan imam an Nawawi di dalam kitab Syarh al Muhadzdzab di dalam pembahasan niat wudlu’.

فَإِنْ عَكَسَ لَمْ يَصِحَّ كَمَا قَالَهُ النَّوَوِيُّ فِيْ شَرْحِ الْمُهَذَّبِ فِيْ الْكَلَامِ عَلَى نِيَّةِ الْوُضْوْءِ

Jika tidak, maksudnya jika orang murtad tersebut tidak mau taubat, maka ia berhak dibunuh, maksudnya imam membunuhnya jika ia adalah orang merdeka dengan memenggal lehernya tidak dengan membakarnya dan sesamanya.       

(وَإِلَّا) أَيْ وَإِنْ لَمْ يَتُبِ الْمُرْتَدُّ (قُتِلَ) أَيْ قَتَلَهُ الْإِمَامُ إِنْ كَانَ حُرًّا بِضَرْبِ عُنُقِهِ لَا بِإِحْرَاقٍ وَنَحْوِهِ

Sehingga, jika selain imam membunuh orang murtad tersebut, maka orang tersebut berhak dita’zir          

فَإِنْ قَتَلَهُ غَيْرُ الْإِمَامِ عُزِّرَ

Dan jika orang murtad tersebut adalah budak, maka bagi majikannya diperkenankan membunuhnya menurut pendapat al ashah.

وَإِنْ كَانَ الْمُرْتَدُّ رَقِيْقًا جَازَ لِلسَّيِّدِ قَتْلُهُ فِيْ الْأَصَحِّ

Kemudian mushannif menyebutkan hukum memandikan orang murtad dan yang lainnya di dalam perkataan beliau,               

ثُمَّ ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ حُكْمَ الْغُسْلِ وَغَيْرَهُ فِيْ قَوْلِهِ

Dan orang murtad tersebut tidak wajib dimandikan, tidak boleh dishalati dan tidak boleh dimakamkan di pemakaman kaum muslimin 

(وَلَمْ يُغْسَلْ وَلَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِ وَلَمْ يُدْفَنْ فِيْ مَقَابِرِ الْمُسْلِمِيْنَ

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

PENJELASAN BAB BUGHOT ATAU PEMBERONTAK NEGARA

BAB BUGHAT (PEMBERONTAK)

(Fasal) menjelaskan hukum-hukum bughat.       

(فَصْلٌ) فِيْ أَحْكَامِ (الْبُغَاةِ)

Bughat adalah sekelompok orang muslim yang menentang imam yang adil.

وَهُمْ فِرْقَةٌ مُسْلِمُوْنَ مُخَالِفُوْنَ لِلْإِمَامِ الْعَادِلِ

Bentuk kalimat mufradnya lafadz “bughat” adalah “baghin” dari masdar “al baghyi” yang mempunyai arti perbuatan dhalim.

وَمُفْرَدُ الْبُغَاةِ بَاغٍ مِنَ الْبَغْيْ وَهُوَ الظُّلْمُ

Cara Mengatasi Bughat

Para pemberontak berhak diperangi, maksudnya imam berhak memerangi mereka dengan  tiga syarat. Lafadz “yuqatalu” dengan membaca fathah huruf sebelum yang terakhir.

(وَيُقَاتَلُ) بِفَتْحِ مَا قَبْلَ آخِرِهِ (أَهْلُ الْبَغْيِ) أَيْ يُقَاتِلُهُمُ الْإِمَامُ(بِثَلَاثِ شَرَائِطَ)

Salah satunya adalah mereka mempunyai kekuatan.

أَحَدُهَا (أَنْ يَكُوْنُوْا فِيْ مَنَعَةٍ)

Dengan gambaran mereka memiliki kemampuan menyerang dengan kekuatan, pasukan dan pemimpin yang dipatuhi oleh mereka, walaupun panutan tersebut bukan orang yang mereka angkat sebagai imam.

بِأَنْ يَكُوْنَ لَهُمْ شَوْكَةٌ بِقُوَّةٍ وَعَدَدٍ وَبِمُطَاعٍ فِيْهِمْ وَإِنْ لَمْ يَكُنِ الْمُطَاعُ إِمَامًا مَنْصُوْبًا

Sekira dalam mengembalikan mereka untuk patuh pada pemerintahan yang sah, imam yang adil butuh berusaha keras dengan mengeluarkan biaya dan mengerahkan pasukan.

بِحَيْثُ يَحْتَاجُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ فِيْ رَدِّهِمْ لِطَاعَتِهِ إِلَى كُلْفَةٍ مِنْ بَذْلِ مَالٍ وَتَحْصِيْلِ رِجَالٍ

Sehingga jika pemberontak itu hanya segelintir orang yang mudah untuk ditaklukkan, maka mereka bukan dinamakan bughat.

فَإِنْ كَانُوْا أَفْرَادًا يَسْهُلُ ضَبْطُهُمْ فَلَيْسُوْا بُغَاةً

Yang kedua, mereka keluar dari kekuasaan imam yang adil.

(وَ) الثَّانِيْ (أَنْ يَخْرُجُوْا عَنْ قَبْضَةِ الْإِمَامِ الْعَادِلِ

Adakalanya dengan tidak patuh padanya, atau mencegah hak yang tertuju pada mereka.

إِمَّا بِتَرْكِ الْاِنْقِيَادِ لَهُ أَوْ بِمَنْعِ حَقٍّ تَوَجَّهَ عَلَيْهِمْ

Baik hak tersebut berupa harta atau yang lainnya seperti had dan qishash

سَوَاءٌ كَانَ الْحَقُّ مَالِيًّا أَوْ غَيْرَهُ كَحَدٍّ وَقِصَاصٍ .

Yang ketiga mereka, maksudnya bughat, memiliki alasan mendasar, maksudnya masih bisa diterima sebagaimana yang diungkapkan oleh sebagian al ashhab

(وَ) الثَّالِثُ (أَنْ يَكُوْنَ لَهُمْ) أَيْ لِلْبُغَاةِ (تَأْوِيْلٌ سَائِغٌ) أَيْ مُحْتَمِلٌ كَمَا عَبَّرَ بِهِ بَعْضُ الْأَصْحَابِ

Seperti tuntutan ahli Shiffin atas nyawa Sayidina Utsman Ra karena mereka menyaqini bahwa sesungguhnya Sayidina ‘Ali Ra mengetahui orang yang membunuh Sayidina ‘Utsman.

كَمُطَالَبَةِ أَهْلِ صِفِّيْنَ بِدَمِّ عُثْمَانَ حَيْثُ اعْتَقَادُوْا أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَعْرِفُ مَنْ قَتَلَ عُثْمَانَ

Sehingga, jika alasan mereka sudah dipastikan salah, maka alasannya tidak bisa dianggap, bahkan dia adalah orang yang menentang kebenaran.

فَإِنْ كَانَ التَّأْوِيْلُ قَطْعِيَّ الْبُطْلَانِ لَمْ يُعْتَبَرْ بَلْ صَاحِبُهُ مُعَانِدٌ

Bagi imam tidak diperkenankan memerangi bughat kecuali setelah mengutus seseorang yang dapat dipercaya dan cerdas pada mereka untuk menanyakan apa sebenarnya yang membuat mereka tidak suka.

وَلَا يُقَاتِلُ الْإِمَامُ الْبُغَاةَ حَتَّى يَبْعَثَ إِلَيْهِمْ رَسُوْلًا أَمِيْنًا فَطَنًا يَسْأَلُهُمْ مَا يَكْرَهُوْنَهُ

Kemudian, jika mereka mengatakan pada utusan tersebut suatu bentuk kedhaliman yang menjadi penyebab mereka tidak mau patuh terhadap sang imam, maka imam harus menghilangkannya.

فَإِنْ ذَكَرُوْا لَهُ مَظْلَمَةً هِيَ السَّبَبُ فِيْ امْتِنَاعِهْمِ عَنْ طَاعَتِهِ أَزَالَهَا

Dan jika mereka tidak menyebutkan sesuatu, atau mereka tetap tidak mau kembali patuh setelah bentuk kedhaliman tersebut dihilangkan, maka sang menasihati mereka, kemudian memberitahukan bahwa mereka akan diperangi.

وَإِنْ لَمْ يَذْكُرُوْا شَيْئًا أَوْ أَصَرُّوْا بَعْدَ إِزَالَةِ الْمَظْلَمَةِ عَلَى الْبَغْيِ نَصَحَهُمْ ثُمَّ أَعْلَمَهُمْ بِالْقِتَالِ.

Tawanan dari pihak bughat tidak boleh dibunuh.

(وَلَا يَقْتُلُ أَسِيْرَهُمْ) أَيِ الْبُغَاةِ

Namun, ketika ada seorang adil yang membunuhnya, maka tidak ada beban dlamman baginya menurut pendapat al ashah.

فَإِنْ قَتَلَهُ شَخْصٌ عَادِلٌ فَلَا قِصَاصَ عَلَيْهِ فِيْ الْأَصَحِّ

Tawanan dari mereka tidak boleh dilepaskan walaupun berupa anak kecil atau wanita kecuali peperangan telah selesai dan pasukan mereka bercerai berai.

وَلَايُطْلَقُ أَسِيْرُهُمْ وَإِنْ كَانَ صَبِيًّا أَوِ امْرَأَةً حَتَّى تَنْقَضِيَ الْحَرْبُ وَيَتَفَرَّقَ جَمْعُهُمْ

Kecuali jika tawanan mereka mau tunduk atas kemauan sendiri dengan mengikuti sang imam.

إِلَّا أَنْ يُطِيْعَ أَسِيْرُهُمْ مُخْتَارًا بِمُتَبَاعَتِهِ لِلْإِمَامِ

Dan harta mereka tidak boleh dijarah.

(وَلَا يُغْنَمُ مَالُهُمْ)

Senjata dan kendaraan mereka dikembalikan pada mereka setelah pertempuran selesai dan serangan mereka sudah dirasa aman sebab mereka bercerai berai atau telah kembali taat kepada imam.

وَيُرَدُّ سِلَاحُهُمْ وَخَيْلُهُمْ إِلَيْهِمْ إِذَا انْقَضَى الْحَرْبُ وَأَمِنَتْ غَائِلَتُهُمْ بِتَفَرِّقِهِمْ أَوْ رَدِّهِمْ لِلطَّاعَةِ

Mereka tidak boleh diperangi dengan senjata berat seperti api dan manjaniq.

وَلَا يُقَاتَلُوْنَ بِعَظِيْمٍ كَنَارٍ وَمَنْجَنِيْقٍ

Kecuali karena keadaan dlarurat, maka mereka boleh diperangi dengan alat-alat tersebut seperti mereka memerangi kita dengan alat tersebut atau mengepung kita

إِلَّا لِضَرُوْرَةٍ فَيُقَاتَلُوْنَ بِذَلِكَ كَأَنْ قَاتَلُوْنَا بِهِ أَوْ أَحَاطُوْا بِنَا

Korban luka mereka tidak boleh dihabisi sekalian. Tadzfif adalah menyempurnakan pembunuhan dan menyegerahkan

(وَلَا يُذَفِّفُ عَلَى جَرِيْحِهِمْ) وَالتَّذْفِيْفُ تَتْمِيْمُ الْقَتْلِ وَتَعْجِيْلُهُ .

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

ALASAN PERINTAH SHOLAT DALAM AL-QUR’AN MENGGUNAKAN LAFADZ “SHOLLU”

Apakah alasannya didalam al-qur’an lafadz perinteh sholat memakai lafadz “AQIMUS SHOLAT”? kenapa bukan lafadz “SHOLLUU”?

JAWABAN :

وأصل القيام في اللغة هو الانتصاب المضاد للجلوس والاضطجاع، وإنما يقوم القائم لقصد عمل صعب لا يتأتى من قعود، فيقوم الخطيب ويقوم العامل ويقوم الصانع ويقوم الماشي فكان للقيام لوازم عرفية مأخوذة من عوارضه اللازمة ولذلك أطلق مجازا على النشاط في قولهم قام بالأمر، ومن أشهر استعمال هذا المجاز قولهم قامت السوق وقامت الحرب، وقالوا في ضده ركدت ونامت، ويفيد في كل ما يتعلق به معنى مناسبا لنشاطه المجازي وهو من قبيل المجاز المرسل وشاع فيها حتى ساوى الحقيقة فصارت كالحقائق ولذلك صح بناء المجاز الثاني والاستعارة عليها، فإقامة الصلاة استعارة تبعية شبهت المواظبة على الصلوات والعناية بها بجعل الشيء قائما،

At-Tahrir wat-Tanwir 1/228

والمراد بإقامتها إتقان شروطها وأركانها وخشوعها ، وحفظ السر فيها ، قال الشيخ أبو العباس المرسي رضي الله عنه : ( كل موضع ذكر فيه المصلّون في معرض المدح فإنما جاء لمن أقام الصلاة ، إما بلفظ الإقامة ، وإما بمعنى يرجع إليها ، قال تعالى { الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقيمُونَ الصَّلاَةَ } ، وقال تعالى : { أَقِمِ الصَّلاَةَ } [ الإسرَاء : 78 ] ، { وَالْمُقِيمِى الصَّلاَةِ } [ الحَجّ : 35 ] ، ولما ذكر المصلّين بالغفلة قال : { فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ } [ الماعون : 4 ، 5 ] ولم يقل : فويل للمقيمين الصلاة )

Al-Bahrul Madid 1/16

واختُلف لِمَ سُمِّي فعل الصلاة على هذا الوجه إقامةً لها ، على قولين :

أحدهما : من تقويم الشيء من قولهم قام بالأمر إذا أحكمه وحافظ عليه .

والثاني : أنه فعل الصلاة سُمِّي إقامة لها ، لما فيها من القيام فلذلك قيل : قد قامت الصلاة

An-Nukatu wal ‘uyun 1/11

، والإقامة في الأصل : الدوام والثبات ، من قولك : قام الحق أي : ظهر وثبت .

ومعنى { وَيُقِيمُونَ الصلاة } : يؤدونها في أوقاتها المقدرة لها ، مع تعديل أركانها ، وإيقاعها مستوفية لواجباتها وسننها وآدابها وخشوعها ، فإن الصلاة المقامة بحق هي تلك التي يصحبها الإخلاص

Al-Wasith 1/16

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُوْنَ

Yang percaya kepada yang ghaib , dan yang mendirikan sembahyang dan dari sebagian apa yang Kami anugerahkan kepada mereka, mereka dermakan (QS: Al-Baqarah ayat 3)

CARA BACA

Tidak ada tanda bacaan khusus yang perlu dibahas secara detail yang terdapat dalam ayat ini selain tanda (لا) kecil diakhir ayat yang menandakan ayat ini masih berkaitan erat baik secara lafadz ataupun makna dengan ayat berikutnya.

ARTI PERKATA

الَّذِيْنَ (IsimMaushul, kata benda yang membutuhkan shilah/sifat) : Orang-orang

يُؤْمِنُوْنَ (FiilMudhori’ sebagai shilah dari الَّذِيْنَ): Yang Beriman

بِالْغَيْبِ (Jar Majrur) : Dengan yang ghaib

وَيُقِيْمُوْنَالصَّلاَةَ : Dan mendirikan sholat

وَمِمَّا (Asalnya ومن ما setelah diidghomkan menjadi وَمِمَّا) : Dan dari sebagian perkara

رَزَقْنَاهُمْ :Yang Kami berikan padanya

يُنفِقُوْنَ : Mereka mendermakannya

PENJELASAT AYAT

Ini adalah tiga tanda MUTTAQIIN (orang-orang yang bertaqwa) taraf pertama yang telah ditutur pada ayat sebelumnya.

  1. {الَّذِينَ يُؤْمِنُونَبِالْغَيْبِ} mereka yang beriman kepada yang gaib,

Pengertian IMAN disini adalah :

Abu ja’far ar-Razi menceritakan dari Abdullah, ia berkata: Iman itu adalah kebenaran.”

Ali bin Abi Thalhah dan juga lainnya, berkata,dari Ibnu Abbas, ra : “mereka beriman maksudnya adalah mereka membenarkan. “Sedangkan mu’amar, dari az-zuhri : “Iman adalah amal.”

Ibnu Jarir berkata bahwa yang lebih baik dan tepat adalah mereka harus mensifati diri dengan iman kepada yang ghoib baik melalui ucapan maupun perbuatan. Lafazh Iman kepada yang ghoib itu adalah Keimanan kepada Allah, Kitab-kitabnya dan Rasul-rasul-Nya sekaligus membenarkan pernyataan itu melalui perbuatan.

Ibnu Katsir berkata secara asal-usul kata bahwa Iman berarti pembenaran semata. Al Qur’an sendiri terkadang menggunakan kata ini untuk pengertian tersebut, sebagaimana dikatakan oleh Yusuf a.s kepada ayah mereka:

“dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar.” (Yusuf :17)

Demikian pula jika kata iman itu dipergunakan beriringan dengan amal shalih, sebagaimana firman Allah dalam al-Ashr : 3

“kecuali orang-orang yang beriman danmengerjakan amal saleh”

Adapun jika kata “Iman” itu dipergunakan secara mutlak, maka iman menurut syari’at tidak mungkin ada kecuali yang diwujudkan melalui keyakinan, ucapan dan amal perbuatan.

Demikian itulah yang menjadi pegangan mayoritas ulama, bahkan telah ijma Imam asy-Syafi’I, Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Ubaidah ,dan lain-lain “Bahwa iman itu adalah pembenaran dengan ucapan dan amal perbuatan, bertambah dan berkurang.”

Sebagian mereka mengatakan bahwa beriman kepada yang ghoib sama seperti beriman kepada yang nyata, dan bukan seperti yang difirmankan Allah mengenai orang-orang munafik

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّاوَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُمُسْتَهْزِئُونَ

“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telahberiman.” Dan bila mereka kembali kepada syaitan-setan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalahberolok-olok”. (al-baqarah : 14) ==>>Tafsir Ibnu Katsir

Percaya pada yang ghaib. Yang ghaib ialah yang tidak dapat disaksikan oleh panca indera; tidak nampak oleh mata, tidak terdengar oleh telinga, yaitu dua indera yang utama dari kelima (panca) inderakita. Tetapi dia dapat dirasa adanya oleh akal. Maka yang pertama sekali ialah percaya kepada Allah, zat yang menciptakan sekalian alam, kemudian itu percayaakan adanya hari kemudian, yaitu kehidupan kekal yang sesudah dibangkitkan dari maut.

Abu ja’far ar Razi menceritakan dari ar-Rabi’ bin Anas, dari Abu ‘Aliyah, ia berkata :

“Mereka beriman kepada Allah,Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, Surga dan neraka, serta pertemuan dengan Allah, dan juga beriman akan adanya kehidupan setelah kematian, serta adanya kebangkitan. Dan semuanya itu adalah hal yang ghoib.”‘

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Muhairiz, ia menceritakan bahwa ia pernah mengatakan kepada Abu Jam’ah: Beritahukan kepada kami sebuah hadist yang engkau dengan dari Rasulullah saw, ia pun berkata : Baiklah aku akan beritahukan sebuah hadist kepadamu.Kami pernah makan siang bersama Rasulullah, dan bersama kami terdapat Abu ‘Ubaidillah bin al-Jarrah, lalu ia bertanya: Ya Rasulullah, adakah seseorang yang lebih baik daripada kami? Sedangkan kami telah masuk Islam bersamamu dan berjihad bersamamu juga?,

Rasulullah menjawab : “Ya ada, yaitu suatu kaum setelah kalian, mereka beriman kepadaku padahal mereka tidak melihatku.”‘

  1. وَيُقِيمُونَ الصَّلاة : dan yang mendirikan sholat

Ibnu Abbas berkata { وَيُقِيمُونَ الصَّلاة} adalah mendirikan shalat, berarti mendirikan shalat dengan segala kewajibannya,

Dari Ibnu Abbas, adh Dhahhak, ia berkata: “mendirikan Shalat berarti mengerjakan dengan sempurna ruku’, sujud, bacaa,serta penuh ke khusyu’an”

Dan Qatadah berkata : { وَيُقِيمُونَ الصَّلاة} berarti, berusaha mengerjakannya tepat waktunya, berwudhu, ruku’ dan bersujud.

Sedangka Muqatil bin Hayyan berkata { وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ}, yaitu menjaga untuk selalu mengerjakannya pada waktunya, menyempurnakan wudhu’ ruku’, sujud, bacaaan al Qur’an, tasyahhud, serta membaca sholawat kepada Rasulullah. Demikian itulah makna mendirikan shalat.

  1. { وَمِمَّارَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ}, “Dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”.

Ali Bin Abi Thalhah dan yang lainnya berkata, dari Ibnu Abbas, ia berkata “maksud ayat ini ialah : mengeluarkan zakat dari harta kekayaan yang dimiliknya.

As Suddi, menceritakan dari Ibnu Abbas, dari IbnuMas’ud dan dari beberapa sahabat Rasulullah, ia berkata { وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ}, yakni pemberian nafkah seseorang kepada keluarganya.

Sedangkan Ibnu Jarir Ath Thobary, menentukan pilihannya bahwa ayat diatas bersifat umum mencakup segala bentuk zakat dan infak. Ia berkata, : sebaik-baiknya tafsir mengenai sifat kaum itu (beriman) adalah hendaklah mereka menunaikan semua kewajiban yang ada pada harta benda mereka, baik berupa zakat ataupun memberi nafkah kepada orang-orang yang harus ia jamin dari kalangan keluarganya, anak-anak dan yang lainnya dari kalangan orang-orang yang wajib dia nafkahi karena hubungan kekerabatan, kepemilikan (budak) atau faktor lainnya. Yang demikian itu karena Allah mensifati da memuji mereka dengan hal itu secara umum. Setiap Zakat dan infaq merupakan sesuatu yang terpuji.

Ibnu Katsir berkata : Seringkali Allah Ta’ala menyandingkan antara shalat dan infaq (zakat) karena shalat merupakan hak Allah sekaligus sebagai bentuk ibadah kepada-Nya, dan ia mencakup peng-Esa-an, penyanjungan, pengharapan, pemujian, pemnajatan do’a, serta tawakal kepada-Nya.Sedangkan infak/zakat merupakan salah satu bentuk perbuatan baik kepada semua makhluk dengan memberikan manfaat kepada mereka. Dan yang paling berhak mendapatkannya adalah keluarga, kaum kerabat serta orang-orang terdekat.

Dengan demikian segala bentuk nafkah dan zakat wajib tercakup dalam firman Allah { وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ} = dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.