KHULU’ ATAU PERCERAIAN DENGAN GANTI RUGI YANG DIKEHENDAKI

(Fasal) menjelaskan beberapa hukum khulu’.   

(فَصْلٌ فِيْ أَحْكَامِ الْخُلْعِ)

Lafadz “al khul’u’” dengan terbaca dlammah huruf kha’nya yang diberi titik satu di atas, adalah lafadz yang tercetak dari lafadz “al khal’u” dengan terbaca fathah huruf kha’nya. Dan lafadz “al khal’u” bermakna mencopot.

وَهُوَ بِضَمِّ الْخَاءِ الْمُعْجَمَةِ مُشْتَقٌّ مِنَ الْخَلْعِ بِفَتْحِهَا وَهُوَ النَّزَعُ

Secara syara’, khul’u adalah perceraian dengan menggunakan ‘iwadl (imbalan) yang maqsud (layak untuk diinginkan).

وَشَرْعًا فُرْقَةٌ بِعِوَضٍ مَقْصُوْدٍ

Maka mengecualikan khulu’ dengan ‘iwadl berupa darah dan sesamanya.

فَخَرَجَ الْخُلْعُ عَلَى دَمٍّ وَنَحْوِهَا

Syarat Khulu’

Khulu’ hukumnya sah dengan menggunakan ‘iwadl yang ma’lum dan mampu diserahkan.

(وَالْخُلْعُ جَائِزٌ عَلَى عِوَضٍ مَعْلُوْمٍ) مَقْدُوْرٍ عَلَى تَسْلِيْمِهِ

Sehingga, jika khulu’ menggunakan ‘iwadl yang tidak ma’lum seperti seorang suami melakukan khulu’ pada istrinya dengan ‘iwadl berupa pakaian yang tidak ditentukan, maka sang istri tertalak ba’in dengan memberikan ganti mahar mitsil.

فَإِنْ كَانَ عَلَى عِوَضٍ مَجْهُوْلٍ كَأَنْ خَالَعَهَا عَلَى ثَوْبٍ غَيْرِ مُعَيَّنٍ بَانَتْ بِمَهْرِ الْمِثْلِ

Konsekwensi Khulu’

Dengan khulu’ yang sah, maka seorang wanita berhak atas dirinya sendiri. Dan sang suami tidak bisa ruju’ pada wanita tersebut, baik ‘iwadl yang digunakan sah ataupun tidak.

(وَ) الْخُلْعُ الصَّحِيْحُ (تَمْلِكُ بِهِ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا وَلَا رَجْعَةَ لَهُ) أَيِ الزَّوْجِ (عَلَيْهَا) سَوَاءٌ كَانَ الْعِوَضُ صَحِيْحًا أَوْ لَا

Dan ungkapan mushannif, “kecuali dengan akad nikah yang baru” tidak tercantum di kebanyakan redaksi.

وَقَوْلُهُ (إِلَّا بِنِكَاحٍ جَدِيْدٍ) سَاقِطٌ فِيْ أَكْثَرِ النُّسَخِ

Khulu’ boleh dilakukan saat sang istri dalam keadaan suci dan dalam keadaan haidl, dan khulu’ yang dilakukan ini tidaklah haram.

(وَيَجُوْزُ الْخُلْعُ فِيْ الطُّهْرِ وَفِيْ الْحَيْضِ) وَلَا يَكُوْنُ حَرَامًا

Wanita yang telah dikhulu’ tidak bisa ditalak. Berbeda dengan istri yang tertalak raj’i, maka bisa untuk ditalak.

(وَلَا يَلْحَقُ الْمُخْتَلِعَةَ الطَّلَاقُ) بِخِلَافِ الرَّجْعِيَّةِ فَيَلْحَقُهَا.

MENGGILIR ISTRI YANG LEBIH DARI SATU DAN NUSYUZ YANG MENJADIKAN NAFAQOH GUGUR

(Fasal) menjelaskan hukum-hukum qasm (menggilir) dan Nusyuz (purik : jawa).

(فَصْلٌ) فِيْ أَحْكَامِ الْقَسْمِ وَالنُّشُوْزِ)

Yang pertama adalah dari suami dan yang kedua dari istri.

وَالْأَوَّلُ مِنْ جِهَّةِ الزَّوْجِ وَالثَّانِيْ مِنْ جِهَّةِ الزَّوْجَةِ

Makna nusuznya seorang istri adalah ia tidak mau melaksanakan hak yang wajib ia penuhi.

وَمَعْنَى نُشُوْزِهَا ارْتِفَاعُهَا عَنْ أَدَاءِ الْحَقِّ الْوَاجِبِ عَلَيْهَا

Ketika seorang laki-laki memiliki dua istri atau lebih, maka bagi dia tidak wajib menggilir diantara kedua atau beberapa istrinya.

وَإِذَا كَانَ فِيْ عِصْمَةِ شَخْصٍ زَوْجَتَانِ فَأَكْثَرَ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْقَسْمُ بَيْنَهُمَا أَوْ بَيْنَهُنَّ

Sehingga, seandainya dia berpaling dari istri-istrinya atau istri satu-satunya, dengan tidak berada di sisi mereka atau di sisi satu istrinya tersebut, maka dia tidak berdosa.

حَتَّى لَوْ أَعْرَضَ عَنْهُنَّ أَوْ عَنِ الْوَاحِدَةِ فَلَمْ يَبِتْ عِنْدَهُنَّ أَوْ عِنْدَهَا لَمْ يَأْثَمْ

Akan tetapi disunnahkan baginya untuk tidak mengosongkan jadwal menginap di sisi mereka, begitu juga di sisi istri satu-satunya. Dengan artian ia berada di sisi mereka atau di sisi istrinya tersebut.

وَلَكِنْ يُسْتَحَبُّ أَنْ لَا يُعَطِّلَهُنَّ مِنَ الْمَبِيْتِ وَلَا الْوَاحِدَةَ أَيْضًا بِأَنْ يَبِيْتَ عِنْدَهُنَّ أَوْ عِنْدَهَا

Minimal empat hari sekali berada bersama dengan satu orang istri.

وَأَدْنَى دَرَجَاتِ الْوَاحِدَةِ أَنْ لَا يُخَلِّيَهَا كُلَّ أَرْبَعِ لَيَالٍ عَنْ لَيْلَةٍ

Hukum Adil di Dalam Menggilir Istri

Menyetarakan giliran di antara istri-istri hukumnya wajib bagi sang suami.

(وَالتَّسْوِيَةُ فِيْ الْقَسْمِ بَيْنَ الزَّوْجَاتِ وَاجِبَةٌ)

Sama rata adakalanya dipandang dari tempat dan adakalanya dipandang dari waktunya.

وَتُعْتَبَرُ التَّسْوِيَّةُ بِالْمَكَانِ تَارَةً وَبِالزَّمَانِ اُخْرَى

Adapun ditinjau dari sisi tempat, maka hukumnya haram mengumpulkan dua orang istri atau lebih didalam satu rumah kecuali mereka rela.

أَمَّا الْمَكَانُ فَيَحْرُمُ الْجَمْعُ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ فَأَكْثَرَ مِنْ مَسْكَنٍ وَاحِدٍ إِلَّا بِالرِّضَا

Adapun dari sisi waktu, maka bagi suami yang tidak menjadi seorang penjaga (bekerja) di malam hari, maka inti giliran yang harus dia lakukan adalah di waktu malam, sedangkan untuk siangnya mengikut pada waktu malam.

وَأَمَّا الزَّمَانُ فَمَنْ لَمْ يَكُنْ حَارِسًا فَعِمَادُ الْقَسْمِ فِيْ حَقِّهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ تَبِعَ لَهُ

Dan bagi suami yang menjadi penjaga di malam hari, maka inti giliran yang harus ia lakukan adalah waktu siang, sedangkan untuk waktu malamnya hanya mengikut pada waktu siang tersebut.

وَمَنْ كَانَ حَارِسًا فَعِمَادُ الْقَسْمِ فِيْ حَقِّهِ النَّهَارُ وَاللَّيْلُ تَبِعَ لَهُ.

 

Tidak Boleh Melanggar Giliran

Bagi seorang suami tidak diperkenankan berkunjung di malam hari pada istri yang tidak mendapat giliran tanpa ada hajat.

(وَلَا يَدْخُلُ) الزَّوْجُ لَيْلًا (عَلَى غَيْرِ الْمَقْسُوْمِ لَهَا لِغَيْرِ حَاجَةٍ)

Jika berkunjungnya karena ada hajat seperti menjenguk istrinya yang sakit dan sesamanya, maka ia tidak dilarang untuk masuk pada istri tersebut.

فَإِنْ كَانَ لِحَاجَةٍ كَعِيَادَةٍ وَنَحْوِهَا لَمْ يُمْنَعْ مِنَ الدُّخُوْلِ

Dan ketika masuknya karena ada hajat, jika ia berada di sana dalam waktu yang cukup lama, maka wajib mengqadla’ seukuran waktu berdiamnya dari giliran istri yang telah ia kunjungi.

وَحِيْنَئِذٍ إِنْ طَالَ مُكْثُهُ قَضَى مِنْ نَوْبَةِ الْمَدْخُوْلِ عَلَيْهَا مِثْلَ مُكْثِهِ

Sehingga, jika ia sempat melakukan jima’ dengan istri yang ia kunjungi -yang bukan gilirannya-, maka wajib mengqadla’ masa jima’nya, bukan melakukan jima’nya, kecuali jika waktunya sangat pendek, maka tidak wajib untuk diqadla’i.

فَإِنْ جَامَعَ قَضَى زَمَنَ الْجِمَاعِ لَا نَفْسَ الْجِمَاعِ إِلَّا أَنْ يَقْصُرَ زَمَنُهُ فَلَا يَقْضِيْهِ

Ketika Hendak Bepergian

Ketika seorang laki-laki yang memiliki beberapa istri ingin bepergian, maka ia harus mengundi di antara istri-istrinya. Dan ia melakukan perjalanan bersama istri yang mendapatkan undian.

(وَإِذَا أَرَادَ) مَنْ فِيْ عِصْمَتِهِ زَوْجَاتٌ (السَّفَرَ أَقْرَعَ بَيْنَهُنَّ وَخَرَجَ) أَيْ سَافَرَ (بِالَّتِيْ تَخْرُجُ لَهَا الْقُرْعَةُ)

Dan bagi suami yang melakukan perjalanan tidak wajib menqadla’ lamanya masa perjalanan pada para istrinya yang tidak diajak bepergian / yang ditinggal di rumah.

وَلَا يَقْضِيْ الزَّوْجُ الْمُسَافِرُ لِلْمُتَخَلِّفَاتِ مُدَّةَ سَفَرِهِ ذِهَابًا

Jika ia sampai di tempat tujuan dan muqim di sana, dengan artian ia niat muqim yang bisa merubah status musafirnya di awal pemberangkatan, ketika sampai di tempat tujuan atau sebelum sampai, maka ia wajib mengqadla’i waktu muqimnya, jika istri yang menyertainya dalam perjalanan juga muqim bersamanya sebagai mana keterangan yang disampaikan oleh imam al Mawardi. Jika tidak demikian, maka tidak wajib mengqadla’i.

فَإِنْ وَصَلَ مَقْصِدَهُ وَصَارَ مُقِيْمًا بِأَنْ نَوَى إِقَامَةً مُؤَثِّرَةً أَوَّلَ سَفَرِهِ أَوْ عِنْدَ وُصُوْلِ مَقْصِدِهِ أَوْ قَبْلَ وُصُوْلِهِ قَضَى مُدَّةَ الْإِقَامَةِ إِنْ سَاكَنَ الْمَصْحُوْبَةَ مَعَهُ فِيْ السَّفَرِ كَمَا قَالَهُ الْمَاوَرْدِيُّ وَإِلَّا لَمْ يَقْضِ

Adapun waktu perjalanan pulang setelah muqimnya tersebut, maka bagi suami tidak wajib untuk mengqadla’inya.

أَمَّا مُدَّةُ الرُّجُوْعِ فَلَا يَجِبُ عَلَى الزَّوْجِ قَضَاؤُهَا بَعْدَ إِقَامَتِهِ .

 

Pengantin Baru

Ketika seorang suami menikahi wanita yang baru, maka ia wajib mengistimewakannya, walaupun istrinya adalah budak wanita, dan ia memiliki istri lama.

(وَإِذَا تَزَوَّجَ) الزَّوْجُ (جَدِيْدَةً خَصَّهَا) حَتْمًا وَلَوْ كَانَتْ أَمَّةً وَكَانَ عِنْدَ الزَّوْجِ غَيْرُ الْجَدِيْدَةِ

Suami harus menginap di sisi istri barunya tersebut selama tujuh malam berturut-turut, jika istri barunya tersebut masih perawan, dan tidak wajib mengqadla’ untuk istri-istri yang lain.

وَهُوَ يَبِيْتُ عِنْدَهَا (بِسَبْعِ لَيَالٍ) مُتَوَالِيَاتٍ (إِنْ كَانَتْ) تِلْكَ الْجَدِيْدَةُ (بِكْرًا) وَلَا يَقْضِيْ لِلْبَاقِيَاتِ

Dan mengkhususkan pada istri barunya tersebut dengan tiga malam berturut-turut, jika istri barunya tersebut sudah janda.

(وَ) خَصَّهَا (بِثَلَاثٍ) مُتَوَالِيَةٍ (إِنْ كَانَتْ) تِلْكَ الْجَدِيْدَةُ (ثَيِّبًا)

Sehingga, seandainya sang suami memisah malam-malam tersebut dengan tidur semalam di sisi sang istri baru, dan semalam tidur di masjid semisal, maka semua itu tidak dianggap.

فَلَوْ فَرَّقَ اللَّيَالِيَ بِنَوْمِهِ لَيْلَةً عِنْدَ الْجَدِيْدَةِ وَلَيْلَةً فِيْ مَسْجِدٍ مَثَلًا لَمْ يُحْسَبْ ذَلِكَ

Bahkan sang suami harus memenuhi hak istri barunya secara berturut-turut, dan mengqadla’i malam-malam yang telah ia pisah-pisah untuk istri-istri yang lain.

بَلْ يُوْفِيْ الْجَدِيْدَةَ حَقَّهَا مُتَوَالِيًا وَيَقْضِيْ مَا فَرَّقَهُ لِلْبَاقِيَاتِ.

 

Nusuz / Purik

Ketika sang suami khawatir istrinya nusuz, dalam sebagian redaksi dengan ungkapan, “ketika nampak bahwa sang istri nusuz”, maka suami berhak memberi nasihat dengan tanpa memukul dan tanpa diam tidak menyapanya.

(وَإِذَا خَافَ) الزَّوْجُ (نُشُوْزَ الْمَرْأَةِ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ وَإِذَا بَانَ نُشُوْزُ الْمَرْأَةِ أَيْ ظَهَرَ (وَعَظَهَا) زَوْجُهَا بِلَا ضَرْبٍ وَلَا هَجْرٍ لَهَا

Seperti ucapannya pada sang istri, “takutlah engkau pada Allah di dalam hak yang wajib bagimu untukku. Dan ketahuilah sesungguhnya nusuz bisa menggugurkan kewajiban nafkah dan menggilir.”

كَقَوْلِهِ لَهَا “اتَّقِيْ اللهَ فِيْ الْحَقِّ الْوَاجِبِ لِيْ عَلَيْكَ وَاعْلَمِيْ أَنَّ النُّشُوْزَ مُسْقِطٌ لِلنَّفَقَةِ وَالْقَسْمِ”

Mencela suami bukanlah termasuk nusuz, namun dengan hal itu sang istri berhak diberi pengajaran sopan santun oleh suami menurut pendapat al ashah, dan ia tidak perlu melaporkannya pada seorang qadli.

وَلَيْسَ الشَّتْمُ لِلزَّوْجِ مِنَ النُّشُوْزِ بَلْ تَسْتَحِقُّ بِهِ التَّأْدِيْبَ مِنَ الزَّوْجِ فِيْ الْأَصَحِّ وَلَا يَرْفَعُهَا إِلَى الْقَاضِيْ

Jika setelah dinasihati ia tetap nusuz, maka sang suami mendiamkannya di tempat tidurnya, sehingga ia tidak menemaninya di tempat tidur.

(فَإِنْ أَبَتْ) بَعْدَ الْوَعْظِ (إِلَّا النُّشُوْزَ هَجَرَهَا) فِيْ مَضْجَعِهَا وَهُوَ فِرَاشُهَا فَلَا يُضَاجِعُهَا فِيْهِ

Mendiamkan tidak menyapanya dengan ucapan hukumnya haram dalam waktu lebih dari tiga hari.

وَهِجْرَانُهَا بِالْكَلَامِ حَرَامٌ فِيْمَا زَادَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ

Imam an Nawawi berkata di dalam kitab ar Raudlah, “sesungguhnya hukum haram tersebut adalah di dalam permasalan tidak menyapa tanpa ada udzur syar’i. Jika tidak demikian, maka hukumnya tidak haram lebih dari tiga hari.”

وَقَالَ فِيْ الرَّوْضَةِ أَنَّهُ فِيْ الْهَجْرِ بِغَيْرِ عُذْرٍ شَرْعِيٍّ وَإِلَّا فَلَا تَحْرُمُ الزِّيَادَةُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ

Jika sang istri tetap saja nusuz dengan berulang kali melakukannya, maka sang suami berhak tidak menyapa dan memukulnya dengan model pukulan mendidik pada sang istri.

(فَإِنْ أَقَامَتْ عَلَيْهِ) أَيِ النُّشُوْزِ بِتَكَرُّرِهِ مِنْهَا (هَجَرَهَا وَضَرَبَهَا) ضَرْبَ تَأْدِيْبٍ لَهَا

Dan jika pukulan tersebut menyebabkan kerusakan / luka / kematian, maka wajib bagi suami untuk mengganti rugi.

وَإِنْ أَفْضَى إِلَى التَّلَفِ وَجَبَ الْغَرْمُ

Sebab nusuz, giliran dan nafkah bagi sang istri menjadi gugur.

وَيَسْقُطُ بِالنُّشُوْزِ قَسْمُهَا وَنَفَقَتُهَا

HUKUM MENARIK BIAYA KIRIM DO’A ARWAH PADA ACARA TAHLIL DAN ZIARAH KUBUR

Apa hukumnya kalau dalam ziarah /tahlil kubro / acara tahlilan di pengajian untuk pengiriman doa setiap arwah nya diberi (dimintai) jumlah nominal uang yang harus diberikan (contoh 1 arwah Rp. 5.000),

JAWABAN :

Hukumnya boleh / sah dan orang yang disewa berhaq mendapatkan upah / ongkos, bila memenuhi salah satu diantara 4 hal :

    Dibaca di samping kuburannya

    Tidak dibaca di samping kuburan akan tetapi disertai do’a setelah membacanya bahwa pahalanya dihadiahkan pada mayit tersebut.

    Dibaca di samping orang yang menyewa

    Atau dibaca serta disebut / diniatkan dalam hati.

Wallohu a’lam.

Referensi :

.إعانة الطالبين ٣/١١٢-١١٣

.قال شيخنا في شرح المنهاج يصح الإستئجار لقرأة القرأن عند القبر أو مع الدعاء بمثل ما حصل له من الأجر له أو لغيره عقبها عين زمانا أو مكانا أولا ونية الثواب له من غير دعاء له لغو خلافا لجمع أى قالوا أنه ليس بلغو فعليه تصح الإجارة ويستحق الأجرة وان اختار السبكي ما قالوه عبارة شرح الروض بعد كلام قال السبكي تبعا لابن الرفعة بعد حمله كلامهم على ما اذا نوى القارئ أن يكون ثواب قرأته للميت بغير دعاء على أن الذي دل عليه الخبر بالإستنباط أن بعض القرأن اذا قصد به نفع الميت نفعه إذ قد ثبت أن القارئ لما قصد بقرأته الملدوع نفعه.حاصل ما ذكره أربع صور إن كان قوله الأتي ومع ذكره في القلب صورة مستقلة وهي القرأة عند القبر والقرأة لا عنده لكن مع الدعاء عقبها والقرأة بحضرة المستأجر والقرأة مع ذكره في القلب وخرج بذلك القرأة لا مع أحد هذه الأربعة فلا يصح الإستئجار لها

بغية المسترشدين ص 165

(مسألة: ي): يصح الاستئجار لكل ما لا تجب له نية عبادة كان، كأذان وتعليم قرآن وإن تعين، وتجهيز ميت أولا كغيره من العلوم تدريساً وإعادة، بشرط تعيين المتعلم والقدر المتعلم من العلم، وكالاصطياد ونحوه لا القضاء والإمامة ولو في نفل، فما يعطاه الإمام على ذلك فمن باب الأرزاق والمسامحة، فلو امتنع المعطي من إعطاء ما قرره لم تجز له المطالبة به ولا لعقد نكاح كالجعالة عليه، ويحرم اشتراط الأجرة عليه من غير عقد، بل هو من أكل أموال الناس بالباطل، نعم إن أهدى نحو الزوج للملفظ شيئاً جاز قبوله إن لم يشترطه، وعلم الدافع عدم وجوبه عليه.

STATUS PEMBERIAN SUAMI KEPADA SEORANG ISTRI

Bagaimana status pemberian suami terhadap istrinya?

Jawaban :

Di Tafshil :

Harta pemberian suami menjadi miliknya istri apabila memang suami memberikannya entah dengan berupa ungkapan atau sekedar adanya tujuan.

Sehingga apabila harta tersebut sudah di hibahkan (dengan redaksi atau dengan tujuan) pada istri maka harta tersebut menjadi miliknya istri sepenuhnya. Sehingga apabila uang tersebut terdapat sisa setelah belanja kebutuhan maka sisanya tetap menjadi pemiliknya (istri).

Tetapi apabila pemberian suami tidak di sertai sebagaimana ketentuan di atas (berupa redaksi atau tujuan menghadiahkan) maka harta tersebut masih miliknya suami sehingga istri tidak boleh mentashorrufkannya sisa uang Nafkah tersebut kecuali atas izin suami.

Kecuali apabila diketahui menurut kebiasaan bahwa ia (suami) ridho dengan apa yang di lakukan istri (Bersedaqoh) artinya suami memiliki sifat dermawan maka dengan begitu diperoleh izinnya walaupun ia (suami) tidak mengucapkannya.

Namun apabila kebiasaan suami tidak tetap dan diragukan keridhoannya atau suami tersebut termasuk seorang yang pelit, dan itu diketahui atau diragukan dari keadaannya, maka istri tidak boleh menggunakan hartanya (untuk di infakkan kepada yang membutuhkan) kecuali mendapatkan izin yang jelas dari suami.

توشيح على ابن قاسم :

ولو اشترى الزوج لزوجته حليا للتزين به ما دامت عنده، لم تملكه إلا بصيغة ويصدق في ذلك، وكذا لو زين به ولده الصغير من غير صيغة، حتى لو مات الولد لم ترث منه أمه، لأنه باق على ملك أبيه. إهـ.

نهاية الزين :

أَن مَا يُعْطِيهِ الزَّوْج مصلحَة أَو صباحية كَمَا اُعْتِيدَ بِبَعْض الْبِلَاد لَا يملك إِلَّا بِلَفْظ أَو قصد إهداء

شرح النووي على المسلم :

واعلم أنه لا بد للعامل – وهو الخازن – وللزوجة والمملوك من إذن المالك في ذلك ، فإن لم يكن إذن أصلا فلا أجر لأحد من هؤلاء الثلاثة ، بل عليهم وزر بتصرفهم في مال غيرهم بغير إذنه . والإذن ضربان : أحدهما : الإذن الصريح في النفقة والصدقة ، والثاني : الإذن المفهوم من اطراد العرف والعادة كإعطاء السائل كسرة ونحوها مما جرت العادة به واطرد العرف فيه ، وعلم بالعرف رضاء الزوج والمالك به ، [ ص: 93 ] فإذنه في ذلك حاصل وإن لم يتكلم ، وهذا إذا علم رضاه لاطراد العرف وعلم أن نفسه كنفوس غالب الناس في السماحة بذلك والرضا به ، فإن اضطرب العرف وشك في رضاه أو كان شخصا يشح بذلك وعلم من حاله ذلك أو شك فيه لم يجز للمرأة وغيرها التصدق من ماله إلا بصريح إذنه

PENJELASAN FIQIH TENTANG MAHAR PERNIKAHAN ATAU MAS KAWIN

BAB MAS KAWIN

(Fasal) menjelaskan hukum-hukum mas kawin.               

(فَصْلُ) فِيْ أَحْكَامِ الصَّدَاقِ

Lafadz “shadaq” dengan terbaca fathah huruf shadnya adalah bacaan yang lebih fasih daripada dibaca kasrah, dan dicetak dari lafadz “ash shadq” dengan terbaca fathah huruf shadnya. Dan ash shadq adalah nama sesuatu yang sangat keras.

وَهُوَ بِفَتْحِ الصَّادِ أَفْصَحُ مِنْ كَسْرِهَا مُشْتَقٌّ مِنَ الصَّدْقِ بِفَتْحِ الصَّادِ وُهَوَ اسْمٌ لِشَدِيْدِ الصُّلْبِ

Dan secara syara’, shadaq adalah nama harta yang wajib diberikan oleh seorang laki-laki sebab nikah, wathi’ syubhat atau meninggal dunia.

وَشَرْعًا اسْمٌ لِمَالٍ وَاجِبٍ عَلَى الرَّجُلِ بِنِكَاحٍ أَوْ وَطْءِ شُبْهَةٍ أَوْ مَوْتٍ

Disunnahkan menyebutkan mas kawin di dalam akad nikah, walaupun pernikahan seorang budaknya majikan dengan budak wanitanya majikan tersebut.

(وَيُسْتَحَبُّ تَسْمِيَّةُ الْمَهْرِ) فِيْ عَقْدِ (النِّكَاحِ) وَلَوْ فِيْ نِكَاحِ عَبْدِ السَّيِّدِ أَمَّتَهُ

Sudah dianggap cukup menyebutkan mas kawin berupa apapun, akan tetapi disunnahkan mas kawinnya tidak kurang dari sepuluh dirham dan tidak lebih dari lima ratus dirham murni.

وَيَكْفِيْ تَسْمِيَّةُ أَيِّ شَيْئٍ كَانَ وَلَكِنْ يُسَنُّ عَدَمُ النَّقْصِ عَنْ عَشْرَةِ دَرَاهِمَ وَعَدَمُ الزِّيَادَةِ عَلَى خَمْسِ مِائَةِ دِرْهَمٍ خَالِصَةٍ

Dengan ungkapannya, “disunnahkan”, mushannif memberikan isyarah bahwa boleh melakukan akad nikah tanpa menyebutkan mas kawin, dan hukumnya memang demikian.

وَأَشْعَرَ بِقَوْلِهِ يُسْتَحَبُّ بِجَوَازِ إِخْلَاءِ النِّكَاحِ عَنِ الْمَهْرِ وَهُوَ كَذَلِكَ

At Tafwidl (Memasrahkan)

Sehingga, jika di dalam akad nikah tidak disebutkan mas kawinnya, maka hukum akad nikah tersebut sah. Dan inilah yang dimaksud dengan at tafwidl (memasrahkan).

(فَإِنْ لَمْ يُسَمَّ) فِيْ عَقْدِ النِّكَاحِ مَهْرٌ (صَحَّ الْعَقْدُ) وَهَذَا مَعْنَى التَّفْوِيْضِ

Tafwidl adakalanya dari mempelai wanita yang sudah baligh dan rasyid, seperti ucapan wanita tersebut pada walinya, “nikahkanlah aku dengan tanpa mas kawin”, atau “dengan tanpa mas kawin yang akan aku miliki”, kemudian sang wali menikahkannya dan mentiadakan mas kawin atau diam tidak mengucapkan mas kawin.

وَيَصْدُرُ تَارَةً مِنَ الزَّوْجَةِ الْبَالِغَةِ الرَّشِيْدَةِ كَقَوْلِهَا لِوَلِيِّهَا زَوِّجْنِيْ بِلَا مَهْرٍ أَوْ عَلَى أَنْ لَا مَهْرَ لِيْ فَيُزَوِّجُهَا الْوَلِيُّ وَيُنْفِيْ الْمَهْرَ أَوْ يَسْكُتُ عَنْهُ

Begitu juga seandainya majikan budak wanita berkata pada seseorang, “aku nikahkan engkau dengan budak wanitaku”, dan sang majikan mentiadakan mas kawin atau diam tidak menyebutkannya.

وَكَذَا لَوْ قَالَ سَيِّدُ الْأَمَّةِ لِشَخْصٍ زَوَّجْتُكَ أَمَّتِيْ وَنَفَى الْمَهْرَ أَوْ سَكَتَ.

 

Konsekwensi Tafwidl

Ketika tafwidl telah sah, maka mas kawin menjadi wajib / tetap dalam permasalahan ini sebab tiga perkara.

(وَ) إِذَا صَحَّ التَّفْوِيْضُ (وَجَبَ الْمَهْرُ) فِيْهِ (بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ)

Tiga perkara tersebut adalah sang suami memastikan mas kawin yang akan ia berikan dan sang istri setuju dengan mas kawin yang telah ditetapkan oleh sang suami.

وَهِيَ (أَنْ يُفَرِّضَهُ الزَّوْجُ) عَلَى نَفْسِهِ وَتَرْضَى الزَّوْجَةُ بِمَا فَرَّضَهُ

Atau seorang hakim memastikan mas kawin yang dibebankan terhadap sang suami. Dan yang dipastikan oleh seorang hakim pada sang suami adalah mahar mitsil.

(أَوْ يُفَرِّضُهُ الْحَاكِمُ) عَلَى الزَّوْجِ وَيَكُوْنُ الْمَفْرُوْضُ عَلَيْهِ مَهْرَ الْمِثْلِ

Dan disyaratkan hakim harus mengetahui ukuran mahar mitsil tersebut.

وَيُشْتَرَطُ عِلْمُ الْقَاضِيْ بِقَدْرِهِ

Tidak disyaratkan adanya persetujuan dari kedua mempelai terhadap apa yang telah ditentukan oleh seorang hakim.

أَمَّا رِضَا الزَّوْجَيْنِ بِمَا يُفَرِّضُهُ فَلَا يُشْتَرَطُ

Atau sang suami telah menjima’ sang istri, maksudnya istri yang telah tafwidl sebelum ada ketentuan dari sang suami tersebut atau seorang hakim. Sehingga bagi sang istri berhak memiliki mahar mitsil sebab jima’ tersebut.

(أَوْ يَدْخُلَ) أَيِ الزَّوْجُ (بِهَا) أَيِ الزَّوْجَةِ الْمُفَوِّضَةِ قَبْلَ فَرْضٍ مِنَ الزَّوْجِ أَوِ الْحَاكِمِ (فَيَجِبُ) لَهَا (مَهْرُ الْمِثْلِ) بِنَفْسِ الدُّخُوْلِ

Mahar mitsil yang dijadikan ukuran adalah mahar mitsil saat akad nikah menurut pendapat al ashah.

وَيُعْتَبَرُ هَذَا الْمَهْرُ بِحَالِ الْعَقْدِ فِيِ الْأَصَحِّ

Jika salah satu dari suami istri meninggal dunia sebelum ada kepastian ukuran mas kawinnya dan sebelum terjadi jima’, maka sang suami wajib memberikan mahar mitsli menurut pendapat al adlha

وَإِنْ مَاتَ أَحَدُ الزَّوْجَيْنِ قَبْلَ فَرْضٍ وَوَطْءٍ وَجَبَ مَهْرُ مِثْلٍ فِيْ الْأَظْهَرِ

Yang dikehendaki dengan mahar mitsil adalah ukuran mas kawin yang disetujui / disukai oleh wanita yang selevel dengan istri tersebut secara adatnya.

وَالْمُرَادُ بِمَهْرِ الْمِثْلِ قَدْرُ مَا يُرْغَبُ بِهِ فِيْ مِثْلِهَا عَادَةً

 

Ukuran Mas Kawin

Tidak ada batasan tertentu di dalam ukuran minimal mas kawin. Dan juga tidak ada batasan tertentu di dalam ukuran maksimal mas kawin.

(وَلَيْسَ لِأَقَلِّ الصَّدَاقِ) حَدٌّ مُعَيَّنٌ فِيْ قِلَّةٍ (وَلَا أَكْثَرِهِ حَدٌّ) مُعَيَّنٌ فِيْ الْكَثْرَةِ

Bahkan batasan dalam hal itu adalah, sesungguhnya setiap sesuatu yang sah dijadikan sebagai tsaman, baik berupa benda atau manfaat, maka sah dijadikan sebagai mas kawin.

بَلِ الضَّابِطُ فِيْ ذَلِكَ أَنَّ كُلَّ شَيْئٍ صَحَّ جَعْلُهُ ثَمَنًا مِنْ عَيْنٍ أَوْ مَنْفَعَةٍ صَحَّ جَعْلُهُ صَدَاقًا

Namun telah dijelaskan bahwa sesungguhnya mas kawin yang disunnahkan adalah tidak kurang dari sepuluh dirham dan tidak lebih dari lima ratus dirham

وَسَبَقَ أَنَّ الْمُسْتَحَبَّ عَدَمُ النَّقْصِ عَنْ عَشْرَةِ دَرَاهِمَ وَعَدَمُ الزِّيَادَةِ عَلَى خَمْسِ مِائَةِ دِرْهَمٍ

Bagi seorang laki-laki diperkenankan menikahi seorang wanita dengan mas kawin berupa manfaat yang diketahui/maklum, seperti mengajari Al Qur’an pada wanita tersebut.

(وَيَجُوْزُ أَنْ يَتَزَوَّجَهَا عَلَى مَنْفَعَةٍ مَعْلُوْمَةٍ) كَتَعْلِيْمِهَا الْقُرْآنَ

Hukum Mas Kawin

Separuh dari mas kawin menjadi gugur sebab terjadi talak sebelum melakukan jima’.

(وَيَسْقُطُ بِالطَّلَاقِ قَبْلَ الدُّخُوْلِ نِصْفُ الْمَهْرِ)

Sedangkan talak yang terjadi setelah jima’ walaupun satu kali saja, maka seluruh mas kawin berhak diberikan pada sang istri, walaupun jima’ yang dilakukan hukumnya haram seperti sang suami menjima’ istrinya saat sang istri melakukan ihram atau saat haidl.

أَمَّا بَعْدَ الدُّخُوْلِ وَلَوْ مَرَّةً وَاحِدَةً فَيَجِبُ كُلُّ الْمَهْرِ وَلَوْ كَانَ الدُّخُوْلُ حَرَامًا كَوَطْءِ الزَّوْجِ زَوْجَتَهُ حَالَ إِحْرَامِهَا أَوْ حَيْضِهَا

Sebagaimana keterangan didepan bahwa seluruh mas kawin wajib diberikan pada sang istri sebab salah satu dari suami istri meninggal dunia. Dan mas kawin belum wajib sebab telah berduaan dengan sang istri menurut qaul jadid.

وَيَجِبُ كُلُّ الْمَهْرِ كَمَا سَبَقَ بِمَوْتِ أَحَدِ الزَّوْجَيْنِ لَا بِخَلْوَةِ الزَّوْجِ بِهَا فِيْ الْجَدِيْدِ

Ketika seorang istri yang merdeka bunuh diri sebelum sang suami berhubungan intim dengannya, maka mas kawin wanita tersebut tidak gugur.

وَإِذَا قَتَلَتِ الْحُرَّةُ نَفْسَهَا قَبْلَ الدُّخُوْلِ بِهَا لَا يَسْقُطُ مَهْرُهَا

Berbeda dengan permasalahan ketika seorang istri budak wanita yang melakukan bunuh diri atau dibunuh oleh majikannya sendiri sebelum sang suami melakukan jima’ dengannya, maka sesungguhnya mas kawinnya menjadi gugur.

بِخِلَافِ مَا لَوْ قَتَلَتِ الْأَمَّةُ نَفْسَهَا أَوْ قَتَلَهَا سَيِّدُهَا قَبْلَ الدُّخُوْلِ فَإِنَّهُ يَسْقُطُ مَهْرُهَا .

( Kitab Fathul Qorib)

PENJELASAN FIQIH TENTANG RESEPSI ATAU WALIMAH PERNIKAHAN

FASAL : Melakukan resepsi pernikahan hukumnya disunnahkan.

(فَصْلٌ) وَالْوَلِيْمَةُ عَلَى الْعَرْسِ مُسْتَحَبٌّ)

 

Yang dikehendaki dengan walimah adalah jamuan untuk pernikahan

وَالْمُرَادُ بِهَا طَعَامٌ يُتَّخَذُ لِلْعَرْسِ

 

Imam asy Syafi’i berkata, “walimah mencakup segala bentuk undangan karena baru saja mengalami kebahagian.”

وَقَالَ الشَّافِعِيُّ تَصْدُقُ الْوَلِيْمَةُ عَلَى كُلِّ دَعْوَةٍ لِحَادِثِ سُرُوْرٍ

 

Minimal walimah yang diadakan oleh orang kaya adalah menyembelih satu ekor kambing. Dan bagi orang miskin adalah jamuan yang mampu ia sajikan.

وَأَقَلُّهَا لِلْمُكْثِرِ شَاةٌ وَلِلْمُقِلِّ مَا تَيَسَّرَ

 

Macam-macam walimah banyak dan disebutkan di dalam kitab-kitab yang panjang keterangannya

وَأَنْوَاعُهَا كَثِيْرَةٌ مَذْكُوْرَةٌ فِي الْمُطَوَّلَاتِ

Memenuhi Undangan Walimah

Memenuhi undangan resepsi pernikahan hukumnya adalah wajib, maksudnya fardlu ‘ain menurut pendapat al ashah. Dan tidak wajib memakan hidangannya menurut pendapat al ashah.

(وَالْإِجَابَةُ إِلَيْهَا)

أَيْ وَلِيْمَةِ الْعُرْسِ (وَاجِبَةٌ) أَيْ فَرْضُ عَيْنٍ فِيْ الْأَصَحِّ وَلَا يَجِبُ الْأَكْلُ مِنْهَا فِيْ الْأَصَحِّ

Adapun memenuhi undangan walimah-walimah selain resepsi pernikahan, maka hukumnya tidak fardlu ‘ain akan tetapi hukumnya adalah sunnah.

أَمَّا الْإِجَابَةُ لِغَيْرِ وَلِيْمَةِ الْعُرْسِ مِنْ بَقِيَّةِ الْوَلَائِمِ فَلَيْسَتْ فَرْضَ عَيْنٍ بَلْ هِيَ سُنَّةٌ

 

Memenuhi undangan walimatul ‘urs itu hanya wajib atau walimah yang lain hukumnya sunnah dengan syarat orang yang mengundang tidak hanya mengundang orang-orang kaya saja, akan tetapi mengundang orang-orang kaya sekaligus orang-orang fakir

وَإِنَّمَا تَجِبُ الإِجَابَةُ لِوَلِيْمَةِ الْعُرْسِ أَوْ تُسَنُّ لِغَيْرِهَا بِشَرْطِ أَنْ لَا يَخُصَّ الدَّاعِيْ الْأَغْنِيَاءَ بِالدَّعْوَةِ بَلْ يَدْعُوْهُمْ وَالْفُقَرَاءَ

 

Dan dengan syarat mereka diundang pada hari pertama.

وَأَنْ يَدْعُوَهُمْ فِيْ الْيَوْمِ الأَوَّلِ

 

Sehingga, jika seseorang mengadakan resepsi selama tiga hari, maka hukumnya tidak wajib datang di hari yang kedua bahkan hukumnya hanya sunnah, dan makruh datang di hari yang ketiga.

فَإِنْ أَوْلَمَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ لَمْ تَجِبِ الْإِجَابَةُ فِيْ الْيَوْمِ الثَّانِيْ بَلْ تُسْتَحَبُّ وَتُكْرَهُ فِيْ الْيَوْمِ الثَّالِثِ

 

Untuk syarat-syarat yang lain dijelaskan di dalam kitab-kitab yang lebih luas keterangannya.

وَبَقِيَّةُ الشُّرُوْطِ مَذْكُوْرَةٌ فِيْ الْمُطَوَّلَاتِ

 

Ungkapan mushannif, “kecuali ada udzur”, maksudnya ada sesuatu yang menghalangi untuk menghadiri resepsi

وَقَوْلُهُ (إِلَّا مِنْ عُذْرٍ) أَيْ مَانِعٍ مِنَ الْإِجَابَةِ لِلْوَلِيْمَةِ

 

 

Seperti di tempat acara ada orang yang bisa menyakiti orang yang diundang, atau tidak layak baginya untuk bergabung dengannya.

كَأَنْ يَكُوْنَ فِيْ مَوْضِعِ الدَّعْوَةِ مَنْ يَتَأَذَّى بِهِ الْمَدْعُوُّ أَوْ لَا تَلِيْقَ بِهِ مُجَالَسَتُهُ

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

CARA MANDI NABI SAW DAN HUKUM MENGGUNAKAN AIR MASJID

PERTANYAAN :

  1. APAKAH CARA MANDI ROSULULLOH SAW SEBAGAIMANA YANG SEDANG BEREDAR DI INTERNET ITU BENAR?

2. BAGAIMANA HUKUMNYA MEMANFAATKAN AIR MASJID UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI?

Jawaban no 2

Beberapa dalil tentang tata cara mandi Raasulullah , dan kebanyakan tata cara mandi rasulullah yg disebutkan dalam hadist adalah mandi wajib / mandi janabah , dan biasanya beliau mulai dr kepala setelah wudhu sebagaimana Sebagaimana istri2 Rasulullah mempraktekkannya berikut hadistnya :

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, beliau berkata:

كُنَّاإِذَأَصَابَتْ إِحْدَانَاجَنَابَةٌأَخَذَتْ بِيَدَيْهَاثَلَاثًافَوْقَ رَأْسَهَا ثُمَََّ تَأْخُذُ بِيَدِهَا عَلَى شِقِّهَاالْأيَْمَنِ وَبِيَدِهَااْلأُخْرَى عََََلَى شِقِّهَااْلأ يْسَرِ

Kami ( istri-istri Nabi) apabila salah seorang diantara kami junub, maka dia mengambil (air) dengan kedua telapak tangannya tiga kali lalu menyiramkannya di atas kepalanya, kemudian dia mengambil air dengan satu tangannya lalu menyiramkannya ke bagian tubuh kanan dan dengan tangannya yang lain ke bagian tubuh yang kiri.” (Hadits Shahih riwayat Bukhari: 277 dan Abu Dawud: 253)

  1. Dari Jubair bin Muth’im berkata, “Kami saling memperbincangkan tentang mandi janabah di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda,

أَمَّا أَنَا فَآخُذُ مِلْءَ كَفِّى ثَلاَثاً فَأَصُبُّ عَلَى رَأْسِى ثُمَّ أُفِيضُهُ بَعْدُ عَلَى سَائِرِ جَسَدِى

“Saya mengambil dua telapak tangan, tiga kali lalu saya siramkan pada kepalaku, kemudian saya tuangkan setelahnya pada semua tubuhku.” (HR. Ahmad 4/81. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim).

Dan dalam Riwayat yg lain jika beliau mandi junub , beliau memulai dgn mencuci tangan , dan kemaluan kemudian berwudhu dan mengusap2. Kapalanya dgn air hingga merata baru kemudian menguyurkannya kesuluruh tubuh dr kepala , berikut dua hadist yg diriwaayatkan oleh 2 istri Rasulullah

  1. Hadits pertama riwayat Aisyah :

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِى الْمَاءِ ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ، ثُمَّ يُفِيضُ

 الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

Dari ‘Aisyah, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.” (HR. Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316)

  1. Hadits kedua riwayat Maimunah :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَتْ مَيْمُونَةُ وَضَعْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مَاءً يَغْتَسِلُ بِهِ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ ، فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ ، فَغَسَلَ مَذَاكِيرَهُ ، ثُمَّ دَلَكَ يَدَهُ بِالأَرْضِ ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ ، ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ

Dari Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Maimunah mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).” (HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)

  1. Mengatasnamakan sunah rosul

Dari Al Mughirah, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4).

Dalam hadits yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ بنيَ لَهُ بَيْتٌ فِي جَهَنَّمَ

“Barangsiapa berdusta atas namaku, maka akan dibangunkan baginya rumah di (neraka) Jahannam.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir)

Imam Dzahabi juga membawakan hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang berkata atas namaku padahal aku sendiri tidak mengatakannya, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka.”

Jawaban no 3

  1. Sebagaimana telah diketahui, bahwa air yang berada di masjid wakaf statusnya adalah milik masjid. Adapun pemanfaatannya menjadi satu paket dalam pemanfaatan masjid yang berupa barang wakafan. Pemanfaatan barang yang telah diwakafkan harus sesuai dengan tujuan pihak yang mewakafkan (Qasdul Waqif). Hal ini terus berlaku selama tujuan pewakafan tersebut dapat dibenarkan menurut syariat dan menghasilkan kemaslahatan. Namun, apabila tujuan pihak yang mewakafkan (Qasdul Waqif) tersebut belum jelas, maka yang menjadi tolak ukur adalah kebiasaan (‘Urf) yang berlaku di daerah tersebut.

 Hasyiyah Al-Qulyubi, vol. III/100.

Pemanfaatan air yang berada di masjid sangat mirip dengan permasalahan yang dibahas di dalam Bab Wakaf dari kitab Fathul Mu’in. Syaikh Zainuddin Al-Malibari berkata sebagai berikut:

وَسُئِلَ الْعَلَّامَةُ الطَّنْبَدَاوِيْ عَنِ الْجِوَابِيْ وَالْجِرَارِ الَّتِيْ عِنْدَ الْمَسَاجِدِ فِيْهَا الْمَاءُ إِذَا لَمْ يُعْلَمْ أَنَّهَا مَوْقُوْفَةٌ لِلشُّرْبِ أَوِ الْوُضُوْءِ أَوِ الْغُسْلِ الْوَاجِبِ أَوِ الْمَسْنُوْنِ أَوْ غَسْلِ النَّجَاسَةِ؟ فَأَجَابَ إِنَّهُ إِذَا دَلَّتْ قَرِيْنَةٌ عَلَى أَنَّ الْمَاءَ مَوْضُوْعٌ لِتَعْمِيْمِ الْاِنْتِفَاعِ: جَازَ جَمِيْعُ مَا ذُكِرَ مِنَ الشَّرْبِ وَغَسْلُ النَّجَاسَةِ وَغَسْلُ الْجِنَابَةِ وَغَيْرُهَا وَمِثَالُ الْقَرِيْنَةِ: جِرْيَانُ النَّاسِ عَلَى تَعْمِيْمٍ لِاِنْتِفَاعٍ مِنْ غَيْرِ نَكِيْرٍ مِنْ فَقِيْهٍ وَغَيْرِهِ إِذِ الظَّاهِرُ مِنْ عَدَمِ النَّكِيْرِ: أَنَّهُمْ أَقْدَمُوْا عَلَى تَعْمِيْمِ الْاِنْتِفَاعِ بِالْمَاءِ بِغُسْلٍ وَشُرْبٍ وَوُضُوْءٍ وَغَسْلِ نَجَاسَةٍ فَمِثْلُ هَذَا إِيْقَاعٌ يُقَالُ بِالْجَوَازِ

“Al-‘Allamah Syaikh Thambadawi ditanya tentang masalah kamar mandi dan tempat air yang berada di masjid yang berisi air ketika tidak diketahui status pewakafan air tersebut,  apakah untuk minum, untuk wudlu, untuk mandi wajib atau sunnah, atau membasuh najis?. Beliau menjawab: Sesungguhnya apabila terdapat tanda-tanda (Qorinah) bahwa air tersebut disediakan untuk kemanfaatan umum, maka boleh menggunakannya untuk semua kepentingan di atas, yaitu untuk minum, membasuh najis, mandi junub dan lain sebagainya. Contoh dari tanda-tanda (qorinah) tersebut adalah kebiasaan manusia untuk memanfaatkannya secara umum tanpa ada inkar dari orang yang ahli fikih ataupun yang lainnya. Dan contoh pemanfaatan air sebagaimana contoh di atas adalah boleh,”.

Fathul Mu’in, hlm 88-89.

Dari penjelasan Syaikh Zainuddin Al-Malibari yang mengutip pendapat Syaikh Thambadawi dapat ditarik kesimpukan bahwa memanfaatkan air yang berada di masjid dengan cara mengambilnya untuk kepentingan pribadi dapat dibenarkan secara syariat.

MENGAPA BERWUDLU KARENA KENTUT DAN KENTUT DI HADAPAN PUBLIK

Mengapa Kentut Diwajibkan Wudhu?

Kentut merupakan salah satu nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Orang tidak bisa kentut akan mengalami penyakit dispepsia. Tentu akan butuh biaya banyak ke dokter untuk menyembuhkan penyakit susah kentut. Namun demikian, walaupun kentut merupakan nikmat Allah, seorang muslim sebaiknya tidak kentut di sembarang tempat. Hal ini dilakukan untuk menjaga etika dan tatakrama pada orang lain.

Dalam hadis riwayat Aisyah, Nabi bersabda:

إِذَا أَحْدَثَ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَأْخُذْ بِأَنْفِهِ ثُمَّ لِيَنْصَرِفْ (رواه أبو داود)

Ketika kalian kentut saat shalat, maka tutuplah hidung kalian, dan kemudian beranjak keluar (dari jamaah shalat).

Menurut Imam al-Khattabi, perintah menutup hidung itu termasuk bagian dari etika di hadapan banyak orang. Hal ini supaya orang lain menganggap bahwa menutup hidung itu merupakan ekspresi orang yang sedang mimisan, karena keluar darah dari hidungnya. Dalam salah satu keterangan dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Thabari, dan Tafsir al-Qurthubi disebutkan bahwa salah satu tradisi buruk umat Nabi Luth itu membiasakan kentut sembarangan di muka umum.

Dalam fikih Syafi’i, kentut (flatus) merupakan salah satu penyebab yang membatalkan wudhu seseorang. Karena itu, jika seseorang ingin shalat atau memegang Alquran maka diwajibkan wudhu kembali.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa diwajibkan wudhu, tidak cukup cebok saja? Keluar kentut itu kan dari dubur atau anus, mengapa yang dibasuh bukan anusnya melainkan anggota wudhu, seperti wajah, tangan, dan seterusnya?

Pertama, dalil kentut membatalkan wudhu itu sudah jelas dalam Hadis Nabi.

عن عباد بن تميم عن عمه : أنه شكا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم الرجل الذي يخيَّل إليه أنه يجد الشيء في الصلاة ، فقال : لا ينفتل – أو: لا ينصرف – حتى يسمع صوتاً أو يجد ريحا ”

Diriwayatkan dari paman Abbad bin Tamim yang mengadu kepada Rasulullah Saw. mengenai lelaki yang bingung sepertinya dia kentut saat shalat. Lalu Nabi bilang, “Jangan batalkan shalat kalau dia tidak benar-benar mendengar suara (kentut) atau mencium bau (kentut).”

Menurut imam an-Nawawi, kentut itu membatalkan wudhu bila seseorang yakin memang dia benar-benar kentut. Karena itu, orang ragu kentut atau tidak, maka wudhunya tidak batal.

Kedua, kentut (flatus) itu pasti melewati saluran anus, tempat buang feses, alias tinja. Kita bisa bayangkan, seorang lelaki yang ingin bertemu pujaan hatinya pasti mempersiapkan diri dengan begitu rapih dan wangi, masa mau bertemu Tuhan, habis kentut langsung shalat? Mengapa kentut membatalkan wudhu? Ini karena keluarnya kentut itu menyerempet tempat anus. Hal ini dibuktikan antara lain jika seorang sudah tak tertahan (sudah enggak kebelet) ingin buang hajat besar, tentu kentutnya pun akan bau, karena kentutnya itu sedikit menyerempet feses. Hal ini berbeda dengan seseorang yang tidak ingin buang hajat, biasanya kentutnya tidak bau. Keluar kentut itu ibarat keluar feses dari anus. Keluar feses itu membatalkan wudhu, tentu kentut pun demikian.

Malah, dalam sebagian riwayat cebok setelah kentut itu sampai tidak diaku sebagai umat Nabi.

من استنجى من ريح فليس منا رواه ابن عدي

Orang yang habis kentut terus cebok itu bukan termasuk umat Nabi (HR Ibn Adi)

Dalil di atas dianggap dhaif. Pasalnya, dalam hadis tersebut terdapat nama Syarqi bin Qathami yang dianggap rawi pendusta oleh Ibnu Nadim. Karena itu, sebagian ulama Syafiiyyah hanya memakruhkan cebok setelah kentut. Awalnya, Syekh Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fathul Jawwab berpendapat bahwa cebok setelah kentut bila anus basah itu hukumnya sunah. Namun demikian, Syekh Ibnu Hajar al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj mentarjih bahwa cebok setelah kentut itu hukumnya mubah saja sekalipun anus selepas kentut itu basah.

Berdosakah Kentut di Hadapan Istri?

Setiap orang pasti melakukan buang gas atau kentut. Perbedaan intensitas buang gas ini tergantung dari sehat atau tidaknya perut seseorang. Perlu diketahui, sengaja mengeluarkan kentut di depan orang adalah tindakan tidak terpuji. Hal ini tentu tidak semestinya dilakukan oleh orang-orang yang ingin menjaga martabatnya. Tak terkecuali saat berada di rumah, maka sepatutnya seorang suami menjaga wibawanya kepada istri dan anak-anaknya.

Namun jika memiliki uzur, boleh saja kentut namun dianjurkan untuk menjauh dan cari tempat terbuka. Sementara, jika hal itu dianggap sebagai penyakit yang sudah diidap maka disarankan untuk segera berobat.

فتعمد إخراج الريح أمام الناس أمر مستقبح ومضر، ولا يليق بصاحب المروءة، ومن كان به عذر فليفعل ذلك بعيدا عن الناس، ومن كان مريضا فليبحث لنفسه عن العلاج.

“Sengaja mengeluarkan kentut di depan orang adalah tindakan tidak terpuji dan membahayakan. Tidak patut dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keluhuran budi/ martabat (muruah). Untuk yang memiliki uzur, boleh saja kentut namun menjauhlah dari orang-orang. Yang sakit, carilah obat.”

Allah SWT berfirman dalam surah an-Nisa’ ayat 19:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Wahai para suami, perlakukanlah mereka (istri) dengan cara yang baik.” ( QS an-Nisa’: 19)

Seorang muslim adalah makhluk Allah yang mulia, memiliki martabat yang tinggi. Sepatutnya dia menjauhi segala perbuatan yang dapat merusak wibawa atau muruahnya. Kentut sembarangan, salah satu perbuatan yang bertentangan dengan menjaga muruah dan keluhuran akhlak.

Maka, cara menjaga muruah itu cukup mudah. Di antaranya mejaga rasa malu, karena malu dapat mencegah seseorang dari tindakan tercela dan tidak baik.

Nabi Saw bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah: jika engkau tidak malu perbuatlah sesukamu.” (HR Bukhari)

Kalimat “berbuatlah sesukamu” itu bermakna ancaman. Maksudnya silakan berbuat sesuai dengan kehendak diri, namun ingat segala tindakan yang dilakukan tersebut mendapat balasan dari Allah SWT.

Pernah ada seorang A’robi menemui Umar RA, kemudian ia meminta agar diajarkan kepadanya Islam. Umar menjawab:

أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ، وتقيم الصلاة ، وتؤتي الزكاة ، وتحج البيت ، وتصوم رمضان ، وعليك بالعلانية ، وإياك والسر وكل ما يستحى منه

“Kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mengerjakan salat, membayar zakat, berhaji, puasa ramadan, jauhi dosa-dosa di depan khalayak dan saat sendirian, serta jauhilah segala tindakan yang memalukan.” (Dinukil dalam syu’abul iman)

Tidak hanya itu, ketut sembarangan merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth. Barangkali ada anggapan orang yang mengatakan “di awal pernikahan memang malu, tapi makin tua usia pernikahan menjadi biasa dan kentut menjadi suatu hal yang lucu.”

Lebih jelas, Allah berfirman:

أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ وَتَقْطَعُونَ السَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنْكَرَ ۖ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“Apakah pantas kamu mendatangi laki-laki, menyamun dan melakukan kemungkaran di tempat-tempat pertemuan kalian? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, datangkanlah kepada kami azab Allah, jika engkau termasuk orang-orang yang benar.” (QS al-Ankabut: 29)

Dalam tafsir al-Qurtubi dijelaskan maksud ayat di atas adalah:

وقالت عائشة وابن عباس والقاسم بن أبي بزة والقاسم بن محمد : إنهم كانوا يتضارطون في مجالسهم

“Aisyah, Ibnu Abbas, al-Qosim bin Abi Bazzah dan al-Qosim bin Muhammad menjelaskan makna melakukan kemungkaran itu adalah di tempat-tempat pertemuan kalian.”

وَتَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنْكَرَ

“Mereka memiliki kebiasaan saling berbalas kentut di acara-acara mereka.”

 

Kisah Ulama 15 Tahun Pura-pura Tuli

Hatim Al-Asham merupakan salah seorang ulama besar yang wafat di Baghdad, Irak tahun 852 M atau 237 H. Terdapat sebuah kisah penuh hikmah yang mendasari kata ‘al-asham’, berarti tuli, yang menjadi julukannya, sebagaimana diriwayatkan Imam Ghazali dalam kitab Nashaihul Ibad.

Sejatinya Hatim tidak-lah tuli, hingga pada suatu hari, seorang wanita datang ke tempat Hatim untuk menanyakan sesuatu. Tak dinyana, ketika melontarkan pertanyaannya di hadapan Hatim, belum selesai ia bertanya, wanita tadi tak kuasa untuk menahan kentutnya.

Bunyinya terdengar jelas, hingga membuat ia salah tingkah dan terdiam. Di tengah kegalauan wanita itu, tiba-tiba Hatim berkata dengan suara keras.

“Tolong bicara yang keras! Saya tuli,”

Namun, yang bertanya justru bingung. Dalam kebingungannya, ia kembali dikagetkan dengan suara keras Hatim.

“Hai, keraskanlah suaramu, karena aku tidak mendengar apa yang kamu bicarakan,” teriak Hatim.

Wanita tadi kemudian menduga bahwa Hatim ini seorang yang tuli. Ia pun merasa sedikit lega, karena suara kentutnya tidak didengar Hatim. Suasana kembali menjadi cair. Ia pun kembali mengulang pertanyaannya.

Sejak saat itu, Hatim mendadak “menjadi tuli” dan bahkan ia melakukan hal tersebut selama wanita tadi masih hidup. Ya, demi menjaga perasaan dan kehormatan wanita itu, ia terus berpura-pura tuli selama 15 tahun.

BEBERAPA HIKMAH BERSUCI DAN CARA MENSUCIKAN SUMUR ATAU BAK AIR DARI NAJIS

Bersuci adalah aktifitas sehari-hari umat Islam. Betapa tidak ia menjadi syarat mutlak sebelum menunaikan ibadah shalat. Berikut ini adalah empat hikmah di balik disyariatkannya bersuci di dalam Islam. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al Fiqh Al Manhaji Ala Madzhab Al Imam Al Syafii.

Pertama, bersuci merupakan dorongan fitrah manusia.

Di mana manusia dengan fitrahnya tersebut pasti akan condong pada kebersihan. Dan ia akan menghindar dari hal-hal yang kotor serta menjijikkan. Maka, Islam juga agama fitrah yang memerintahkan (umatnya) untuk bersuci dan menjaga kebersihan (sesuai fitrah manusia itu sendiri).

Kedua, menjaga kemuliaan umat Islam.

Di mana watak manusia itu pasti condong pada kebersihan, senang berkumpul dan duduk-duduk (dengan kawannya) di tempat yang bersih. Sebaliknya, mereka pun tidak suka, meremehkan dan menghindari tempat yang kotor. Sehingga mereka tidak suka duduk-duduk (bersama kawannya) di tempat yang kotor. Oleh karena itu, Islam menjaga kemuliaan umat Islam dengan memerintahkan kebersihan. Agar mereka dapat berkumpul dengan kawan-kawannya dengan secara terhormat dan mulia. Serta menghormati dan memuliakan kawan-kawannya itu (karena dalam keadaan suci dan bersih)

Ketiga, menjaga kesehatan.

Kebersihan adalah salah satu faktor penting yang menjadi penyebab seseorang dapat terhindar dari penyakit. Karena banyak sekali penyakit itu menyerang manusia disebabkan karena kurang menjaga kebersihan.

Oleh karena itu, dengan membersihan badan, membasuh wajah, kedua tangan, hidung, dan kedua kaki dapat menjaga dari segala penyakit. Di mana anggota-anggota tubuh tersebut sangat rentan terkena kotoran setiap waktunya. Maka, betapa bersihnya umat Islam yang selalu membersihkan anggota-anggota tubuh rentan kotor tersebut berkali-kali setiap harinya.

Keempat, menghadap Allah swt. dalam keadaan suci dan bersih.

Manusia pastinya di dalam shalat akan berkomunikasi dan bermunajat kepada Tuhannya. Maka, sepatutnya ia telah dalam keadaan suci dhahir dan batinnya, dan bersih hati dan badannya. Karena Allah swt menyukai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.

Demikianlah empat hikmah disyariatkannya bersuci di dalam Islam.

Cara Menyucikan Air Sumur atau bak air yang Terkena Najis

Air sumur merupakan salah satu sumber air yang dikategorikan sebagai air yang suci dan menyucikan, dan merupakan salah satu sumber air yang banyak dimiliki masyarakat di perkampungan. Selain memiliki air yang jernih nan segar, sumur bisa dibilang sumber air yang sangat ekonomis dan praktis.

Pasalnya, kita tidak harus mengeluarkan biaya bulanan guna untuk membayar iuran pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), namun di balik kemudahan menggunakan air sumur biasanya terdapat berbagai macam masalah, seperti air yang keruh, kemasukan tikus sehingga dapat mempengaruhi terhadap warna, bau, serta rasa dari air tersebut.

Jika air sumur terkena bangkai tikus atau semacamnya, apakah air tersebut berubah menjadi air najis, jika demikian, bagaimana cara menyucikannya?

Jika air tersebut tergolong sedikit, yakni kurang dari ukuran dua kulah dalam istilah fukaha, maka diambil bangkainya (‘ainun najasah) terlebih dahulu, lalu airnya jangan dikuras, melainkan harus didiamkan sampai air tersebut menjadi banyak.

Hal itu bisa jadi jernih dengan sendirinya atau dengan alternatif lain, di antaranya menambahkan air sebanyak mungkin ke dalam sumur sampai menempuh batas minimal air dua kulah, setelah air menjadi banyak, lalu tidak ada perubahan yang signifikan baik secara warna, bau, maupun rasanya, maka air tersebut sudah kembali lagi menjadi air suci yang menyucikan.

Apabila air sumur yang terkena bangkai tersebut tergolong air yang banyak, maka jika tidak ada perubahan yang signifikan pada warna, bau, dan rasa, maka air tetap dalam keadaan suci dan menyucikan.

Tapi apabila air berubah dengan sebab bangkai tersebut, maka air dihukumi najis. Air akan kembali menjadi suci jika perubahan tersebut telah hilang, baik hilang dengan sendirinya maupun dengan alternatif lainnya.

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Mu’in

اذ تنجس ماء البئر القليل بملاقة النجس لم يطهر بالنزح, بل ينبغي ان لا ينزح ليكثر الماء بنع او صب ماء فيه, او الكثير بتغير به لم يطهر الا بزواله.

“Apabila air sumur yang sedikit terkena najis, maka tidak akan suci dengan sebab mengurasnya, melainkan harus menjadikan air tersebut banyak (dua kulah), dengan sebab keluar dari sumber air tersebut, atau dengan cara menambahinya. atau air banyak yang (terkena najis), dan air tersebut berubah karenanya, maka tidak akan suci kecuali perubahan tersebut telah hilang”( Fathul mu’in: 13). Wallahu a’lam.

PENJELASAN LENGKAP SHOLAT JAMAK DAN QOSHOR

  1. Pengertian

– Sholat qoshor adalah meringkas shalat dari 4 (empat) raka’at menjadi 2 (dua) raka’at.

– Sholat jama’ adalah mengerjakan 2 (dua) sholat fardlu dalam satu waktu. Jika dikerjakan pada waktu yang pertama disebut jama’ Taqdim dan jika dikerjakan pada watu sholat yang kedua disebut jama’ ta’khir.

  1. Syarat sholat qashar ada 7 (Tujuh) :
  2. Bepergian yang bukan karena tujuan maksiat.
  3. Jarak perjalanan mencapai 16 (enam belas) farsakh (ada ulama’ yang mengatakan 88 Km, 80 Km, 64 Km, 94,5 Km, dan lain-lain).

Terdapat perbedaan pendapat antara ulama antara jarak jauh seseorang dikatakan musafir yang diperkenankan menjama’/mengqashar shalat, ada yang mengatakan :

1.Dua Marhalah (81 Km)/ perjalanan 2 hari/ 16 farshah (Syafi’iyyah, Malikiyyah dan Hanabilah)

2.Tiga Marhalah (243 Km)/ perjalanan 3 hari (Hanafiyyah)

Perbedaan ini muncul karena tidak terdapatnya dalil nash yang sharih mengenai jarak jauhnya, sehingga para ulama mengambil jalan ijtihad mereka masing-masing dalam membatasinya.

Fiqh al-Islamy II/483 :

اشترط الفقهاء لصحة القصر الشروط الآتية

أن يكون السفر طويلاً مقدراً بمسيرة مرحلتين أو يومين أو ستة عشر فرسخاً عند الجمهور، أو ثلاث مراحل أو ثلاثة أيام بلياليها عند الحنفية، على الخلاف السابق بيانه

  1. Sholat yang dilakukan adalah sholat ada’ (sholat yang dilakukan pada waktunya) ataupun sholat qodlo’ (sholat yang dilakukan di luar waktunya) yang terjadi dalam perjalanan, bukan sholat yang ditingalkan di rumah.
  2. Niat qoshor (meringkas sholat) dilakukan ketika takbirotul ikhrom
  3. Tidak bermakmum kepada orang yang sholat sempurna (4 roka’at).
  4. Dilakukan masih dalam perjalanan.
  5. Bepergian dengan tujuan yang jelas.
  6. Syarat jama’ taqdim ada 5 (Lima) :
  7. Mendahulukan sholat yang pertama (dhuhur atau maghrib).
  8. Berniat jama’ taqdim pada sholat yang pertama (dhuhur atau maghrib).
  9. Muwalah/terus menerus (antara sholat yang pertama dan kedua tidak terpisah oleh waktu yang lama kadar 2 (dua) roka’at).
  10. Dilakukan ketika masih dalam perjalanan.
  11. Kedua sholat yakin dilakukan pada waktu sholat yang pertama.

  1. Syarat jama’ ta’khir :

Berniat jama’ ta’khir ketika masuknya waktu sholat yang pertama (Dhuhur dan Maghrib).

Catatan :

– Diperbolehkan untuk menggabungkan antara jama’ dan qoshor sholat.

– Tidak disyaratkan tartib dan niat pada waktu sholat yang awal.

SYARAT KEBOLEHAN JAMAK-QASHAR :

  1. Seseorang boleh menjamak-qashar shalatnya setelah melewati batas desanya.
  2. Jika seseorang mengadakan perjalanan, lalu dalam perjalanannnya ia melewati daerahnya lagi, maka ia tidak boleh menjamak-qashar, sampai ia keluar lagi dari batas desanya.

TUJUAN PERJALANAN :

Jika seseorang mengadakan perjalanan semata-mata bertujuan tamasya / rekreasi, maka ia tidak boleh menjamak-qashar.

STATUS MUSAFIR :

Seseorang dihukumi lepas dari status musafir (sehingga tidak boleh jamak-qashar) dengan salah satu dari 3 sebab:

1). Sampai kembali ke batas desanya.

2). Tiba di tempat tujuan yang berniat tinggal di situ selama 4 hari 4 malam atau lebih selain hari datang-pulang.

3). Berniat mukim/menetap di satu tempat secara mutlak (tanpa di batasi waktu).

Berikut Lafadz Niat Solat Jamak dan Qasar.

Jamak Taqdim dan Qasar Dzuhur-Asar

أصلي فرض الظهر ركعتين قصرا مجموعا إليه العصر أداء لله تعالى

“Aku menyengaja sholat fardhu zuhur dua rakaat dipendekkan dan dihimpunkan kepadanya asar tunai kerana Allah Taala”

. أصلي فرض العصر ركعتين قصرا مجموعا إلي الظهر أداء لله تعالى

“Aku menyengaja sholat fardhu asar dua rakaat dipendekkan dan dihimpunkan kepada zuhur tunai kerana Allah Taala”.

Maghrib – Isya

أصلي فرض المغرب ثلاث ركعات مجموعا إليه العشاء أداء لله تعالى

“Aku menyengaja sholat fardhu maghrib 3 rakaat dihimpunkan kepadanya isyak tunai kerana Allah Taala”.

. أصلي فرض العشاء ركعتين قصرا مجموعا إلي المغرب أداء لله تعالى

“Aku menyengaja sholat fardhu isyak dua rakaat dipendekkan dan dihimpunkan kepada maghrib tunai kerana Allah Taala”.

Jamak Ta’khir dan Qasar Asar – DZuhur

أصلي فرض العصر ركعتين قصرا مجموعا إليه الظهر أداء لله تعالى

“Aku menyengaja sholat fardhu asar dua rakaat dipendekkan dan dihimpunkan kepadanya zuhur tunai kerana Allah Taala”

أصلي فرض الظهر ركعتين قصرا مجموعا إلي العصر أداء لله تعالى

“Aku menyengaja sholat fardhu zuhur dua rakaat dipendekkan dan dihimpunkan kepada asar tunai kerana Allah Taala”.

Isya – Maghrib

أصلي فرض العشاء ركعتين قصرا مجموعا إليه المغرب أداء لله تعالى

“Aku menyengaja sholat fardhu isyak dua rakaat dipendekkan dan dihimpunkan kepadanya maghrib tunai kerana Allah Taala”.

أصلي فرض المغرب ثلاث ركعات مجموعا إلي العشاء أداء لله تعالى

“Aku menyengaja sholat fardhu maghrib 3 rakaat dihimpunkan kepada isyak tunai kerana Allah Taala”.

 

Keterangan :

QASHAR BAGI YANG BERTAMASYA, BEREKREASI ATAU PIKNIK

 Menurut Kalangan HANABILAH : Terdapat dua pendapat

فصل : وفي سفر التنزه والتفرج روايتان إحداهما تبيح الترخص وهذا ظاهر كلام الخرقي لأنه سفر مباح فدخل في عموم النصوص المذكورة وقياسا على سفر التجارة والثانية لا يترخص فيه قال أحمد : إذا خرج الرجل إلى بعض البلدان تنزها وتلذذا وليس في طلب حديث ولا حج ولا عمرة ولا تجارة فإنه لا يقصر الصلاة لأنه إنما شرع إعانة على تحصيل المصلحة ولا مصلحة في هذا والأول أولى

PASAL : Dalam bahasan perjalanan dengan tujuan tamasya dan plesir terdapat dua pendapat :

  1. Mendapatkan keringanan, ini yang di ambil dari pernyataan lahiriyah Imam Qarhy karena tujuan tamasya dan plesir termasuk perjalanan yang di bolehkan maka tercakup dalam dalil keumuman nash dan dianalogkan dengan perjalanan niaga.
  2. Tidak memperoleh keringanan, Imam Ahmad berkata “Bila seseorang bepergian kesejumlah daerah dengan tujuan tamasya dan mencari kenikmatan (refreshing) tidak untuk belajar hadits, haji, umroh tidak pula untuk perjalanan niaga maka tidak diperkenankan Qoshor sholat, karena Qoshor sholat diperlakukan guna menolong mendapatkan kemaslahatan sedang dalam perjalanan semacam ini tidak ada mashlahatnya. Pendapat pertama lebih bagus. [ Al-Mughni II/100 ].

Menurut Kalangan SYAFI’IYAH : Tergolong perjalanan yang dimubahkan (diperbolehkan) sehingga bisa mendapatkan keringanan Jama’ dan Qashar sholat.

وعدم المعصية سواء أكان السفر طاعة أم مكروها أم مباحا ولو سفر نزهة

“Dan bepergiannya tidak untuk maksiat, baik bepergian untuk hal ketaatan, hal makruh atau hal mubah meskipun bepergian untuk tujuan tamasya” . [ Nihayatul Muhtaj VI/156 ].

– Syarh al Kabiir li Ar Rofi’i IV/455 :

(الثالثة) لو كان له إلى مقصده طريقان يبلغ احدهما مسافة القصر والثانى لا يبلغها فسلك الطريق الطويل نظر ان كان لغرض كخوف أو حزونة في القصير أو قصد زيارة أو عبادة في الطويل فله القصر ولو قصد التنزه فكذلك وعن الشيخ ابى محمد رحمه الله تعالى تردد في اعتباره وان قصد الترخص ولم يكن له غرض سواه ففى المسألة طريقان (اظهرهما) أن في الترخص قولين (احدهما) انه يترخص وبه قال أبو حنيفة والمزنى وهو نصه في الاملاء لانه سفر مباح فأشبه سائر الاسفار (واصحهما) انه لا يترخص لانه طول الطريق علي نفسه من غير غرض فصار كما لو سلك الطريق القصير وكان يذهب يمينا وشمالا وطول على نفسه حتي بلغت المرحلة مرحلتين فانه لا يترخص

Bagi orang yang melakukan rekreasi juga diperbolehkan untuk mengqoshor sholatnya selama syarat qoshor telah terpenuhi, disini saya hanya menyebutkan ta’bir tentang kebolehan qoshor shalat sebab rekreasi. lihat Hasyiyah Jamal ‘Ala al Minhaj I/596 :

وما يذكر معها للقصر شروط ثمانية أحدها سفر طويل وإن قطعه في لحظة في بر أو بحر إن سافر لغرض صحيح ولم يعدل عن قصير إليه أي الطويل أو عدل عنه إليه لغرض غير القصر كسهولة وأمن وعيادة وتنزه

قوله وتنزه هو إزالة الكدرات البشرية وقال شيخنا ح ف هو رؤية ما تنبسط به النفس لإزالة هموم الدنيا ا ه

SAKIT YANG MENYEBABKAN BOLEH JAMAK SHALAT

Dalam Al-Maushu’ah Al-fiqhiyyah dijelaskan bahwa kebolehan sholat jamak bagi orang sakit itu ada perbedaan pendapat : Menurut imam Maliki dan imam Hanbali boleh. Berkata Imam Nawawi : Setelah saya tinjau yang masyhur dalam madzhab Syafii adalah tidak boleh. Sedang Al-Mutawalli berkata : Al-Qodli Husain telah berpendapat boleh melakukan jama’ sebab ‘udzur, takut (khouf) dan sakit sebagaimana bolehnya jama’ bagi musafir dan ini adalah pendapat yang sangat kuat ( kokoh ).

NB : Meski boleh melakukan jama’ tapi tak boleh melakukan qoshor karena qoshor itu bagi musafir saja.

– Al-Mausu’ah Fiqhiyyah :

الموسوعة الفقهية:

اختلف الفقهاء في جواز الجمع للمريض: فذهب المالكيّة والحنابلة إلى جواز الجمع بين الظّهر والعصر وبين المغرب والعشاء بسبب المرض واستدلّوا بما روي عن ابن عبّاس رضي الله عنهما قال : « جمع رسول اللّه صلى الله عليه وسلم بين الظّهر والعصر ، وبين المغرب والعشاء من غير خوف ولا مطر » وفي رواية : « من غير خوف ولا سفر » وقد أجمعوا على أنّ الجمع لا يكون إلاّ لعذر فيجمع للمرض وقد ثبت « أنّ النّبيّ صلى الله عليه وسلم أمر سهلة بنت سهيل وحمنة بنت جحش رضي الله عنهما لمّا كانتا مستحاضتين بتأخير الظّهر وتعجيل العصر والجمع بينهما بغسل واحد، ثمّ إنّ هؤلاء الفقهاء قاسوا المرض على السّفر بجامع المشقّة فقالوا : إنّ المشقّة على المريض في إفراد الصّلوات أشدّ منها على المسافر، إلاّ أنّ المالكيّة يرون أنّ الجمع الجائز بسبب المرض هو جمع التّقديم فقط لمن خاف الإغماء أو الحمّى أو غيرهما وإن سلم من هذه الأمراض ولم تصبه أعاد الثّانية في وقتها، أمّا الحنابلة فيرون أنّ المريض مخيّر بين التّقديم والتّأخير كالمسافر ، فإن استوى عنده الأمران فالتّأخير أولى، لأنّ وقت الثّانية وقت للأولى حقيقة بخلاف العكس، والمرض المبيح للجمع عند الحنابلة هو ما يلحقه به بتأدية كلّ صلاة في وقتها مشقّة وضعف.

قال النووي رحمه الله تعالى بعد أن ذكر أن مشهور مذهب الشافعي عدم جواز الجمع بسبب المرض: وقال المتولي: قال القاضي حسين: يجوز الجمع بعذر الخوف والمرض كجمع المسافر ويجوز تقديما وتأخيرا والأولى أن يفعل أرفقهما به واستدل له المتولي وقواه……. وهذا الوجه قوي جدا، ويستدل له بحديث ابن عباس قال: جمع رسول الله صلى الله عليه وسلم بالمدينة من غير خوف ولا مطر. رواه مسلم، ووجه الدلالة من أن هذا الجمع إما أن يكون بالمرض وإما بغيره مما في معناه أو دونه ولأن حاجة المريض والخائف آكد من الممطور. انتهى

– At-Taqrirotus Sadidah :

التقريرات السديدة قسم الإبادة ص ٣٢٢ ط دار العلوم.

الجمع في المرض : لا يجوز الجمع للمريض تقديما و تأخيرا على المعتمد في المذهب , و اختاره الإمام النووي و غيره جوازه كالقاضي حسين و ابن سريج و الروياني و الماوردي و الدارمي و المتولي.

ضابط المرض المبيح للجمع : أن تلحقه مشقة شديدة إذا صلى كل صلاة في وقتها , و قال بعضهم : يجوز إذا كان المرض يبيح الجلوس في الصلاة.

[ Jamak sholat ketika sakit ] Tidak boleh menjamak sholat bagi orang yang sakit baik itu jamak taqdim atau takhir berdasarkan pendapat yang mu’tamad dalam madzhab syafi’i. Akan tetapi imam nawawi membolehkannya dan juga ulama lain seperti :

  1. Imam al Qodi Husain.
  2. Imam Ibnu Suroij.
  3. Imam Rouyani.
  4. Imam Mawardi.
  5. Imam Darimi.
  6. Imam Mutawali.
  7. Imam Hamd bin Sulaiman pensyarah kitab sunnan Abi Dawud.

Definisi sakit yang diperbolehkan menjamak sholat : Sekiranya orang yang sakit merasakan kesulitan yang sangat benar-benar sulit untuk sholat pada waktunya. Akan tetapi ada sebagian ulama berpendapat boleh jamak bagi orang yang sakit seandainya sakitnya itu memperbolehkan sholat secara duduk.

HUKUM SHOLAT JAMA’ BAGI YANG MENGADAKAN HAJATAN

Qoulnya ada, meskipun tidak ada hajat asalkan kita berkehendak menjama’ itu boleh, tapi perlu diingat qoul ini dloif. Untuk Qoshor terdapat qoul yang memperbolehkan. Namun qoul ini dianggap fasid. Untuk Jama’ juga ada, sebagaimana dihikayatkan Ibnu Mundzir dari sekelompok Ulama’. Diperbolehkan beramal (ibadah, mu’amalah) dan berfatwa memakai qaul (pendapat ulama) dlo’if untuk diri sendiri kecuali yang tergolong muqobil shohih (kebalikan shohih), dikarenakan mayoritas muqobil shohih adalah fasid (rusak / tidak bisa dipakai).

Urusan jama’ dan qashar sebetulnya sudah ada aturan bakunya di berbagai kitab fiqh. Orang bisa meng-qashar dan men-jama’ shalat kalau ia sedang dalam perjalanan; atau terhambat hujan dan sakit untuk jama’ saja. Sedang pengantin maupun panitia resepsi tidak boleh meng-qashar atau men-jama’ shalat. Hanya saja ada sebagian ulama madzhab Syafi’i yang memperbolehkan untuk jama’ saja.

Referensi :

فائدة) لنا قول بجواز الجمع فى السفر القصير اختاره البندنيجى وظاهر الحديث جوازه ولو فى الحضر كما فى شرح مسلم وقال الخطابى عن ابى اسحق جوازه فى الحضر للحاجة وان لم يكن خوف ولا مطر ولامرض وبه قال ابن منذر. ( بغية المستر شدين ص77

قال فى الفوائد وكذا يجوز الاخذ والعمل لنفسه بالاقوال والطرق والوجوه الضعيفة الا بمقابل الصحيح فان الغالب فيه انه فاسد ويجوز الافتاء به للغير بمعنى الارشاد به.(النفحات ص12)

– Al Majmu’ :

المجموع شرح المهذب الجزء الرابع ص: 228(فرع) في مذاهب العلماء ذكرنا أن مذهبنا أنه إذا فارق بنيان البلد قصر ولا يقصر قبل مفارقتها وإن فارق منزله وبهذا قال مالك وأبو حنيفة وأحمد وجماهير العلماء وحكى ابن المنذر عن الحارث بن أبي ربيعة أنه أراد سفرا فصلى بهم ركعتين في منزله وفيه الأسود بن يزيد وغير واحد من أصحاب ابن مسعود قال وروينا معناه عن عطاء وسليمان بن موسى قال وقال مجاهد لا يقصر المسافر نهارا حتى يدخل الليل قال ابن المنذر لا نعلم أحدا وافقهمجموع ج 4 ص 384( فرع ) فى مذاهبهم فى الجمع فى الحضر بلا خوف ولا سفر ولا مطر ولا مرض : مذهبنا ومذهب ابو حنيفة ومالك وأحمد والجمهور أنه لا يجوز وحكى ابن المنذر عن طائفة جوازه بلا سبب قال وجوزه ابن سيرين لحاجة أو مالم يتخذه عادة إهـ

–  al-Akhyar I/ 145 :

قال الاسنائي وما اختاره النووي نص عليه الشافعي في مختصر المزني ويؤيده المعنى ايضا فان المرض يجوز الفطر كالسفر فالجمع اولى بل ذهب جماعة من العلماء الى جواز الجمع في الحضر للحاجة لمن لا يتخذه عادة وبه قال ابو اسحاق المروزي.

–  Tarsyih al-Mustafidin hal. 134-135 :

قال السيد يوسف البطاخ في تشنيف السمع: ومن الشافعية وغيرهم من ذهب الى جواز الجمع تقديما مطلقا لغير سفر ولا مرض ولا غيرهما من الاعذار

– Bughyah al-Musytarsyidin hal. 77 :

(فائدة) لنا قول بجواز الجمع في السفر القصير وظاهر الحديث جوازه في حضر كما في شرح مسلم. وحكى الخطابي عن ابي اسحاق جوازه في الحضر للحاجة وان لم يكن خوف ولا مطر ولا مرض. وبه قال ابن المنذر ا.هــــــــــ

SHOLAT JUM’AT DENGAN NIAT DZUHUR YANG DI QOSHOR

Hukumnya Khilaf. Namun ‘alal madzhab tidak sah.

Ta’bir dari kitab:

  1. Raudhah (1/391, syamilah)

ولو صلى الظهر خلف من يصلي الجمعة فالمذهب أنه لا يجوز القصر مطلقا وقيل إن قلنا الجمعة ظهر مقصورة قصر وإلا فهي كالصبح

قلت وسواء كان إمام الجمعة مسافرا أو مقيما فهذا حكمه

  WALAU SHALLAA AZHZHUHRA KHALFA MAN YUSHALLII AL JUMU’ATA FAL MADZHABU ANNAHUU LAA YAJUUZU AL QASHRU MUTHLAQAN……

  1. Muhadzdzab (bersama Majmu’ 4/355)

وَإِنْ أَرَادَ أَنْ يَقْصُرَ الظُّهْرَ خَلْفَ مَنْ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ لَمْ يَجُزْ لِأَنَّهُ مُؤْتَمٌّ بِمُقِيمٍ وَلِأَنَّ الْجُمُعَةَ صَلَاةٌ تَامَّةٌ فَهُوَ كَالْمُؤْتَمِّ بِمَنْ يُصَلِّي الظُّهْرَ تَامَّةً

Jika seseorang berkehendak shalat Zhuhur dibelakang orang yang shalat jum’at, maka itu tidak boleh, karena orang tersebut bermakmum dengan orang yang mukim, dan karena sesungguhnya jum’at adalah shalat yang sempurna, maka dia seperti orang yang bermakmum dengan orang yang shalat Zhuhur secara sempurna.

Ta’bir Majmu’nya:

وَلَوْ نَوَى الظُّهْرَ مَقْصُورَةً خَلْفَ الْجُمُعَةِ مُسَافِرًا كَانَ إمَامُهَا أَوْ مُقِيمًا فَطَرِيقَانِ (الْمَذْهَبُ) وَهُوَ نَصُّهُ فِي الْإِمْلَاءِ وَبِهِ قَطَعَ الْمُصَنِّفُ وَالْأَكْثَرُونَ لَا يَجُوزُ الْقَصْرُ لِأَنَّهُ مُؤْتَمٌّ بِمُتِمٍّ (وَالثَّانِي) إنْ قُلْنَا هِيَ ظُهْرٌ مَقْصُورَةٌ جَازَ الْقَصْرُ كَالظُّهْرِ مَقْصُورَةً خَلْفَ عَصْرٍ مَقْصُورَةٍ وَإِلَّا فَهِيَ كَالصُّبْحِ وَمِمَّنْ حَكَى هَذَا الطَّرِيقَ الْبَغَوِيّ وَالرَّافِعِيُّ