PRIA BERTELANJANG DADA DAN TIDUR TELANJANG SERTA FAIDAH MELIPAT PAKAIAN

FAIDAH MELIPAT PAKAIAN

 فائدتان) الاولى : فى التجريد من الثياب عند النوم فوائد منها ان فيه راحة البدن من

حرارة حركة النهار. و منها سهولة التقليب يمينا و شمالا. و منها ادخال السرور على الاهل بزيادة التمتع، و منها امتثال الامر لان النبي صلى الله عليه و سلم نهى عن اضاعة المال و لا شك ان النوم فى الثوب الرفيع يفسده. و منها النظافة، اذ الغالب فى القوب النوم ان يكون فيه القمل و ما فى معناه.

الثانية) قال بعض اهل العلم يسن طيئ الثياب بالليل لان الطئ يرد اليها ارواحها و يسمى الله عند ذلك فان لم يفعل صار الشيطان يلبسها بالليل و هو يلبسهل بالنهار فتبلى سريعا و فى الحديث اطووا ثيابكم فان الشيطان لا يلبس ثوبا مطويا و ورد ايضا اطووا ثيابكم ترجع اليها ارواحها.

قرة العيون ٤٨

DUA FAEDAH:

PERTAMA

Telanjang sewaktu tidur terdapat beberapa faedah diantaranya dapat memberi kenyamanan tubuh dari gerakan panas di siang hari, memudahkan tubuh bergerak kekanan dan kekiri, menarik rasa gembira terhadap istri dg tambahan kemesraan. Menjalankan perintah (Nabi) karena Beliau melarang berbuat yg menyia-nyiakan harta karena tidur dg memakai pakaian akan merusak pakaian tersebut. Menjaga kebersihan karena pada umumnya pakaian tidur terdapat hewan kecil (kutu) yg dapat mengganggu pemakainya.

KEDUA:

Sebagian ahli ilmu berkata: “disunahkan melipat pakaian dimalam hari, karena dgn melipatnya dapat mengembalikan kondisi pakaian seperti semula dan bacalah basmalah. Jika tidak dilakukan, maka setan akan memakai pakaian tsb dimalam hari, sedang pemiliknya memakainya di siang hari. Dg demikian akan mempercepat proses kerusakannya.

Nabi bersabda : ” lipatlah pakaian kalian, sesungguhnya setan tidak akan mengenakan pakaian yg dilipat”.

Ada juga hadis lain : ” lipatlah pakaian kalian, karena pakaian itu akan kembali pada kondisi semula”.

TIDUR DENGAN TELANJANG BULAT

Hukum tidur telanjang/bugil makruh dan tergolong perkara yang dapat menyebabkan kefakiran

وأخرج البزار عن ابن عباس قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن الله ينهاكم عن التعري فاستحيوا من ملائكة الله الذين معكم الكرام الكاتبين الذين لا يفارقونكم إلا عند إحدى ثلاث حاجات : الغائط والجنابة والغسل

Dari Ibn Abbas ra, ia berkata : Rosulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Allah melarang kalian untuk telanjang maka meras malulah pada para malaikat Allah yang senantiasa bersama kalian, pada malaikat al-kiraam al-kaatibiin yang tiada berpisah dari kalian kecuali saat tiga kondisi, buang hajat, janabat dan mandi”. (HR. Al-Bazzaar).

Abdurrahman Bin Kamal jalaluddin as-suyuthi ‘AD-DURR AL-MANTSUUR VIII/448

Dalam Kitan Ta’lim al-Muta’allim disebutkan :

والنوم عريانا…. كل ذلك يورث الفقر

Tidur telanjang… kesemuanya dapat mendatangkan kefakiran.……

PRIA BERTELANJANG DADA DI DEPAN WANITA

Anggauta tubuh antara pusat dan lutut adalah aurat pria saat ia shalat, bersama pria lain dan saat bersama wanita mahramnya, namun saat ia bersama wanita lain diwajibkan baginya juga menutupi seluruh anggauta tubuhnya (pendapat lain mengatakan wajah pria bukanlah aurat saat bersama wanita lain kecuali bila dikhawatirkan menimbulkan fitnah).

Dengan demikian haram bagi pria membuka dadanya dihadapan wanita lain dan bagi wanita tersebut juga diharamkan melihatnya namun terdapat pendapat mengatakan boleh melihat selain anggauta antara pusat dan lututnya dengan jaminan tidak mengakibatkan rangsangan atau fitnah.

REFERENSI :

وحاصل القول فيما يتعلق بالعورة أن الرجل له ثلاث عورات إحداها ما بين سرته وركبته وهي عورته في الصلاة ولو في الخلوة وعند الذكور وعند النساء المحارم

ثانيتها السوءتان أي القبل والدبر وهي عورته في الخلوة

ثالثتها جميع بدنه وشعره حتى قلامة ظفره وهي عورته عند النساء الأجانب فيحرم على المرأة الأجنبية النظر إلى شيء من ذلك ولو علم الشخص أن الأجنبية تنظر إلى شيء من ذلك وجب حجبه عنها

ولسنا نقول إن وجه الرجل في حقها عورة كوجه المرأة في حقه بل هو كوجه الصبي الأمرد في حق الرجل فيحرم النظر عند خوف الفتنة فقط فإن لم تكن فتنة فلا إذ لم يزل الرجال على ممر الزمان مكشوفي الوجوه والنساء يخرجن متنقبات ولو كان وجوه الرجال عورة في حق النساء لأمروا بالتنقيب أو منعوا من الخروج إلا لضرورة

 Kesimpulan pembahasan tentang aurot lelaki adalah, lelaki punya tiga hal dalam aurot :

1- Aurotnya adaah antara pusar dan lutut, yaitu aurotnya dalam shalat, di sesama lelaki, dan saat wanita mahromnya sendiri

2- Hanya kubul dan duburnya saja, yitu saat dia sendirian, cntoh ketika mandi d kamar mand

3- ADALAH SEMUA BADANNYA, smp rambut dan kukunya, yaitu aurotnya di saat ada wanita lain/ajnabiy, Maka haram bagi wanita untuk melihatnya

Andaikan ada orang lelaki yang tahu, bahwa akan ada wanita yang akan melihatnya, maka ia wajib menutupi auratnya. Seperti contoh kasus, Seorang  pria sudah tahu bahwa di depan rumahnya banyak wanita lewat, maka ia wajib menutup badannya, tidak boleh dia telanjang dada di situ, Beda halnya kalau cuma wajah, Maka wajah bukan aurot.

Nihayah az-Zain I/47

وكذا الرجل له ثلاث عورات : عورة في الصلاة وقد تقدمت وهي أيضاً عورته عند الرجال ومحارمه من النساء ، وعورة النظر وهي جميع بدنه بالنسبة للأجنبية ، وعورة الخلوة السوأتان فقط على المعتمد زي

Begitu pula seorang pria, baginya memiliki tiga aurat :

  1. AURAT SHALAT

Ialah aurat yang wajib ditutupinya saat menjalani shalat yakni anggauta tubuhnya antara pusat dan lutut dan ini juga auratnya saat bersama sesama pria dan wanita-wanita mahramnya2. AURAT NADHRAHIalah aurat yang harus ia tutupi dari pandangan wanita lain yakni keseluruhan tubuhnya dinisbatkan pada wanita lain (bukan mahramnya)

  1. AURAT KHALWAH

Ialah auratnya saat ia sendirian yakni dua anggauta cabulnya (kemaluan dan dubur) menurut pendapat mu’tamad (yang bisa dijadikan pegangan)

Tuhfah al-Habiib II/184,

Buka juga keterangan di Kitab lain :

Hasyiyah al-Bujairomi ala al-Khothiib IV/79,

Hawaasyi as-Syarwaany II/112

Tuhfah al-Muhtaj VI/246

وأما نظرها إلى غير زوجها ومحرمها فحرام كنظره إليها، وقيل يحل أن تنظر منه ما عدا عورته عند الأمن

 Dan adapun melihatnya seorang wanita kepada selain suami dan mahramnya adalah haram sebagaimana melihatnya laki2 kepadanya. Namun ada pendapat pula bahwa halal melihat selain auratnya (antara pusar dan lutut) ketika aman dari fitnah (syahwat termasuk fitnah).

 Umdatussalik wa uddatunnasik. Kitab Nikah hal 213.

ويحرم عليها النظر الى الرجل عند خوف الفتنة قطعا

روضة الطالبين للنووي

Wanita haram melihat lelaki saat merasa dirinya akan tergoda, apalagi merangsang

Wallaahu A’lamu Bis Showab

ADZAN KETIKA MENGUBURKAN MAYIT DAN POSISI MAYIT KETIKA DI SHOLATI

Hukum Adzan Ketika Menaruh Mayat Ke Liang Lahat

Bagaimana hukum adzan ketika menaruh mayat di dalam kubur?

As-Syeikh Isma’il Usman Zein Al-Yamani beliau berfatwa bahwa hal tersebut “TIDAK APA-APA”. Dan hal tersebut (adzan ketika menguburkan mayat atau meletakkan di liang lahat ) mempunyai faedah secara umum dan khusus . Faedah umumnya yaitu adzan ini termasuk dzikir, dan berdzikir ketika memasukkkan mayat ke kubur adalah hal yang terpuji. Adapun faedah khususnya yaitu bahwasanya adzan dan iqamat mempunyai faedah untuk mengusir syaithan.

السؤال : هل يسن الاذان عند وضع الميت اولا؟ بينوا لنا من كلام العلماء فإنه قد عم في أقطارنا جاوا ومدوره

فالجواب والله الموفق للصواب : أن ذلك لا بأس به ولا يخلو عن فائدة عموما وخصوصا. أما عموما فلعموم كون ذلك ذكرا, وذكرالله عند انزال الميت في القبر محمود. واما خصوصا فلخصوص أن الاذان والإقامة يطردان الشيطان.

( Qurratul Ain Bi Fatawa Syeikh Ismail Zein hal: 235).

Adapun keterangan menganalogikan keluarnya seseorang dari dunia dengan lahir ke dunia yaitu: banyak dari para ulama’ yang menyebutkan masalah ini dan mereka menqiyaskan (menganalogikan) adzan ini dengan adzan di telinga bayi ketika dilahirkan kedunia maka disunnahkan juga ketika di keluarkan dari dunia karena agar seseorang yang baru keluar dari perut ibunya menuju dunia diiringi dengan dzikir begitupula baguslah kiranya seseorang yang keluar dari dunia menuju akherat juga diiringi dengan dzikir.

(Qurratul Ain Bi Fatawa Ismail Usman Zein hal 236).

Dalam pandangan ulama Syafiiyah, adzan dan iqamah tidak hanya diperuntukkan sebagai penanda masuknya salat, baik berdasarkan hadis maupun mengimplementasikan makna hadis. Oleh karenanya ada sebagian ulama yang memperbolehkan adzan saat pemakaman, dan sebagian yang lain tidak menganjurkannya. Dalam hal ini ahli fikih Ibnu Hajar al-Haitami berkata:

قَدْ يُسَنُّ الْأَذَانُ لِغَيْرِ الصَّلَاةِ كَمَا فِي آذَانِ الْمَوْلُودِ ، وَالْمَهْمُومِ ، وَالْمَصْرُوعِ ، وَالْغَضْبَانِ وَمَنْ سَاءَ خُلُقُهُ مِنْ إنْسَانٍ ، أَوْ بَهِيمَةٍ وَعِنْدَ مُزْدَحَمِ الْجَيْشِ وَعِنْدَ الْحَرِيقِ قِيلَ وَعِنْدَ إنْزَالِ الْمَيِّتِ لِقَبْرِهِ قِيَاسًا عَلَى أَوَّلِ خُرُوجِهِ لِلدُّنْيَا لَكِنْ رَدَدْته فِي شَرْحِ الْعُبَابِ وَعِنْدَ تَغَوُّلِ الْغِيلَانِ أَيْ تَمَرُّدِ الْجِنِّ لِخَبَرٍ صَحِيحٍ فِيهِ ، وَهُوَ ، وَالْإِقَامَةُ خَلْفَ الْمُسَافِرِ (تحفة المحتاج في شرح المنهاج – ج 5 / ص 51)

“Terkadang adzan disunahkan untuk selain salat, seperti adzan di telinga anak yang lahir, orang yang kesusahan, orang yang pingsan, orang yang marah, orang yang buruk etikanya baik manusia maupun hewan, saat pasukan berperang, ketika kebakaran, dikatakan juga ketika menurunkan mayit ke kubur, dikiaskan terhadap saat pertama datang ke dunia. Namun saya membantahnya di dalam kitab Syarah al-Ubab. Juga disunahkan saat kerasukan jin, berdasarkan hadis sahih, begitu pula adzan dan iqamah saat melakukan perjalanan” (Tuhfat al-Muhtaj 5/51)

Di kitab lainnya Ibnu Hajar secara khusus menjelaskan masalah ini:

( وَسُئِلَ ) نَفَعَ اللَّهُ بِهِ بِمَا لَفْظُهُ مَا حُكْمُ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ عِنْدَ سَدِّ فَتْحِ اللَّحْدِ ؟ ( فَأَجَابَ ) بِقَوْلِهِ هُوَ بِدْعَةٌ وَمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ سُنَّةٌ عِنْدَ نُزُولِ الْقَبْرِ قِيَاسًا عَلَى نَدْبِهِمَا فِي الْمَوْلُودِ إلْحَاقًا لِخَاتِمَةِ الْأَمْرِ بِابْتِدَائِهِ فَلَمْ يُصِبْ وَأَيُّ جَامِعٍ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ وَمُجَرَّدُ أَنَّ ذَاكَ فِي الِابْتِدَاءِ وَهَذَا فِي الِانْتِهَاءِ لَا يَقْتَضِي لُحُوقَهُ بِهِ . (الفتاوى الفقهية الكبرى – ج 3 / ص 166)

“Ibnu Hajar ditanya: Apa hukum adzan dan iqamat saat menutup pintu liang lahat? Ibnu Hajar menjawab: Ini adalah bid’ah. Barangsiapa yang mengira bahwa adzan tersebut sunah ketika turun ke kubur, dengan dikiyaskan pada anak yang lahir, dengan persamaan akhir hidup dengan permulaan hidup, maka tidak benar. Dan dari segi apa persamaan keduanya? Kalau hanya antara permulaan dan akhir hidup tidak dapat disamakan” (al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra 3/166)

 

Tentu yang dimaksud bid’ah disini tentu bukan bid’ah yang sesat, sebab Ibnu Hajar ketika menyebut bid’ah pada umumnya menyebut dengan kalimat “al-Madzmumah”, atau “al-Munkarah” dan lainnya dalam kitab yang sama. Beliau hanya sekedar menyebut bid’ah karena di masa Rasulullah Saw memang tidak diamalkan.

Adzan Pertama Kali di Kumandangkan ketika mayit di Kubur

Awal mula dilakukan adzan saat pemakaman adalah di abad ke 11 hijriyah berdasarkan ijtihad seorang ahli hadis di Syam Syria, sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh al-Muhibbi:

محمد بن محمد بن يوسف بن أحمد بن محمد الملقب شمس الدين الحموي الأصل الدمشقي المولد الميداني الشافعي عالم الشام ومحدثها وصدر علمائها الحافظ المتقن : وكانت وفته بالقولنج في وقت الضحى يوم الاثنين ثالث عشر ذي الحجة سنة ثلاث وثلاثين وألف وصلى عليه قبل صلاة العصر ودفن بمقبرة باب الصغير عند قبر والده ولما أنزل في قبره عمل المؤذنون ببدعته التي ابتدعها مدة سنوات بدمشق من افادته إياهم أن الأذان عند دفن الميت سنة وهو قول ضعيف ذهب إليه بعض المتأخرين ورده ابن حجر في العباب وغيره فأذنوا على قبره

خلاصة الأثر في أعيان القرن الحادي عشر – ج 3 / ص 32

“Muhammad bin Muhammad bin Yusuf bin Ahmad bin Muhammad yang diberi gelar Syamsuddin al-Hamawi, asalnya ad-Dimasyqi, kelahiran al-Midani, asy-Syafii, seorang yang alim di Syam, ahli hadis disana, pemuka ulama, al-hafidz yang kokoh. Beliau wafat di Qoulanj saat waktu Dhuha, hari Senin 13 Dzulhijjah 1033. Disalatkan sebelum Ashar dan dimakamkan di pemakaman ‘pintu kecil’ di dekat makam orang tuanya. Ketika janazahnya diturunkan ke kubur, para muadzin melakukan bid’ah yang mereka lakukan selama beberapa tahun di Damaskus, yang diampaikan oleh beliau (Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Yusuf) kepada mereka bahwa ‘adzan ketika pemakaman adalah sunah’. Ini adalah pendapat lemah yang dipilih oleh sebagian ulama generasi akhir. Pendapat ini ditolak oleh Ibnu Hajar dalam kitab al-Ubab dan lainnya, maka mereka melakukan adzan di kuburnya” (Khulashat al-Atsar 3/32)

Memang, hal ini masuk dalam kasus fiqhiyah khilafiyah. Sebagian ulama menganggap beradzan dan beriqamah saat hendak mengebumikan mayit merupakan bid’ah karena tidak ada dalil nash yang terwarid. Dan sebagian yang lain mengatakan kesunahannya dengan mengiyaskan pada sunahnya adzan dan iqamah saat lahirnya seorang bayi. Mayit yang akan ditempatkan dalam buminya akan mendapat keringanan menjawab pertanyaan Munkar-Nakir saat ia diadzani dan diiqamahi.

Hal ini sebagaimana jawaban  Syekh al Usbuhi ketika ditanya dalil adat yang berkembang di masyarakat tersebut. Beliau menuturkan, “Aku tidak menemukan dalil baik dalam Alquran maupun sunah mengenai hal tersebut. Hanya saja diceritakan bahwa sebagian ulama mutaakhirin melakukannya dengan menqiyaskan pada kesunahan adzan dan iqamah saat bayi yang baru lahir.

Dalam prakteknya juga terjadi beberapa perbedaan mengenai shighot iqamah saat mengubur mayit. Sebagian dengan menggunakan lafal قد قامت الصلاۃ (Sungguh benar-benar terjadi shalat)  dan sebagian lainnya menggunakan قد قامت القيامة (Sungguh benar-benar akan terjadi hari kiamat).

Mengenai adzan saat mengebumikan mayit memang terdapat pendapat dari ulama yang mengiyaskan saat bayi lahir. Namun untuk pergantian lafalnya tidak diketemukan dalil  yang memperbolehkannya. Lafal adzan dan iqamah sudah ditetapkan oleh baginda Nabi Saw. Setelah sebagian sahabat-termasuk sayyidina Umar- mendapatkan ilham melalui mimpi, berupa ajaran lafal adzan, yang kemudian dihaturkan dan disetujui Rasulullah Saw. Karenanya, tidak diperbolehkan (makruh) mengubah tata tertib atau urutan dari adzan. Dan bila sampai mengubah makna adzan atau iqamah tersebut maka hukumnya haram, dan adzan tersebut tidak sah.

حاشية الشرواني  1 / 468)

قوله فإن جعله أى لفظ حى على خير العمل قوله لم يصح أذانه والقياس حينئذ حرمته لأنه به صار متعاطيا لعبادة فاسدة.

حاشيتا قليوبي  2 / 155)

قوله : ( ويشترط ترتيبه وموالاته ) فلا يعتد بغير ما رتب ويعيده في محله ، ويكره عدم ترتيبه إن لم يغيِر المعنى وإِلا فيحرم ، ولا يصح ولا يعتد بغير المتوالي على ما يأتي والإِقامة كالأذان

Meskipun secara nash tidak tertemukan dalil dalam hal ini, kalangan Syafi’iyyah mensunahkan mengumandangkan adzan pada beberapa kondisi di antaranya saat melepas kepergian seseorang. Hal ini karena tidak ada di antara para imam madzhab empat yang menentang keberadaannya.

قَدْ يُسَنُّ الْأَذَانُ لِغَيْرِ الصَّلَاةِ كَمَا فِي آذَانِ الْمَوْلُودِ ، وَالْمَهْمُومِ ، وَالْمَصْرُوعِ ، وَالْغَضْبَانِ وَمَنْ سَاءَ خُلُقُهُ مِنْ إنْسَانٍ ، أَوْ بَهِيمَةٍ وَعِنْدَ مُزْدَحَمِ الْجَيْشِ وَعِنْدَ الْحَرِيقِ قِيلَ وَعِنْدَ إنْزَالِ الْمَيِّتِ لِقَبْرِهِ قِيَاسًا عَلَى أَوَّلِ خُرُوجِهِ لِلدُّنْيَا لَكِنْ رَدَدْته فِي شَرْحِ الْعُبَابِ وَعِنْدَ تَغَوُّلِ الْغِيلَانِ أَيْ تَمَرُّدِ الْجِنِّ لِخَبَرٍ صَحِيحٍ فِيهِ ، وَهُوَ ، وَالْإِقَامَةُ خَلْفَ الْمُسَافِرِ ( قَوْلُهُ : خَلْفَ الْمُسَافِرِ ) يَنْبَغِي أَنَّ مَحَلَّ ذَلِكَ مَا لَمْ يَكُنْ سَفَرَ مَعْصِيَةٍ فَإِنْ كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يُسَنَّ ع ش

Terkadang adzan disunahkan dikerjakan bukan untuk waktunya shalat seperti adzan untuk orang yang sedang ditimpa kesusahan, ketakutan, sedang marah, orang atau hewan yang jelek perangainya, saat perang berkecamuk, kebakaran, menurut sebagian pendapat saat mayat diturunkan dalam kuburan dengan mengqiyaskan diberlakukannya adzan saat ia terlahir didunia namun aku menolak yang demikian dalam Syarh al-‘Ubaab, dan saat terdapat gangguan jin dan adzan dan iqamah bagi seseorang yang hendak bepergian. (Keterangan bagi seseorang yang hendak bepergian) semestinya letak kesunahannya bukan pada bepergian yang maksiat bila bepergiannya demikian maka tidak disunahkan. [ Tuhfah al-Muhtaaj V/51 ].

وزاد ابن حجر في التحفة الأذان والإقامة خلف المسافر

Imam Ibn Hajar menambahkan dalam kitab at-Tuhfah adzan dzn iqamah juga dikerjakan bagi seseorang yang hendak bepergian. [ Hasyiyah ar-Rodd al-Mukhtaar I/413 ].

ويسن الأذان والإقامة أيضاً خلف المسافر، ويسن الأذان في أذن دابة شرسة وفي أذن من ساء خلقه وفي أذن المصروع اهــــ ق ل

Dan disunahkan juga adzan dan iqamah bagi seseorang yang hendak bepergian, ditelinga binatang yang jelek perangainya, orang yang jelek akhlaknya dan ditelinga orang yang ketakutan. [ Tuhfah al-Habiib I/893 ].

وَيُسَنُّ الْأَذَانُ وَالْإِقَامَةُ أَيْضًا خَلْفَ الْمُسَافِرِ, وَيُسَنُّ الْأَذَانُ فِي أُذُنِ دَابَّةٍ شَرِسَةٍ وَفِي أُذُنِ مَنْ سَاءَ خَلْقُهُ وَفِي أُذُنِ الْمَصْرُوعِ. ا هـ. ق ل.

Dan disunahkan juga adzan dan iqamah bagi seseorang yang hendak bepergian, ditelinga binatang yang jelek perangainya, orang yang jelek akhlaknya dan ditelinga orang yang ketakutan.  [ Hasyiyah al-Bujairomi V/65 ].

الأذان لغير الصلاة.  هذا ويندب الأذان لأمور غير الصلاة: منها الأذان في أذُن المولود اليمنى عند ولادته، كما تندب الإقامة في اليسرى لأنه صلّى الله عليه وسلم ْذَّن في أذ ُن الحسن حين ولدته فاطمة (2) . ومنها الأذان وقت الحريق ووقت الحرب، وخلف المسافر.

[ ADZAN DI LAIN WAKTU SHALAT ] Dan disunahkan adzan diselain shalat dibeberapa kondisi :

1.Diantaranya ditelinga kanan bayi saat baru dilahirkan sebagaimana disunahkan iqamah ditelinga kirinya karena baginda Nabi SAW mengadzani telinga Hasan saat ia dilahirkan Fathimah,

2.Diantaranya saat kebakaran, saat perang, dan bagi seseorang yang hendak bepergian. [ Al-Fiqh al-Islaam I/635 ].

الأذان لغير الصلاة :

51 – شرع الأذان أصلا للإعلام بالصلاة إلا أنه قد يسن الأذان لغير الصلاة تبركا واستئناسا أو إزالة لهم طارئ والذين توسعوا في ذكر ذلك هم فقهاء الشافعية فقالوا : يسن الأذان في أذن المولود حين يولد ، وفي أذن المهموم فإنه يزيل الهم ، وخلف المسافر ، ووقت الحريق ، وعند مزدحم الجيش ، وعند تغول الغيلان وعند الضلال في السفر ، وللمصروع ، والغضبان ، ومن ساء خلقه من إنسان أو بهيمة ، وعند إنزال الميت القبر قياسا على أول خروجه إلى الدنيا .

وقد رويت في ذلك بعض الأحاديث منها ما روى أبو رافع : رأيت النبي صلى الله عليه وسلم أذن في أذن الحسن حين ولدته فاطمة (1) ، كذلك روي أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : من ولد له مولود فأذن في أذنه اليمنى وأقام في اليسرى لم تضره أم الصبيان (2) . وروى أبو هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : إن الشيطان إذا نودي بالصلاة أدبر (3) . . ” إلخ .

وقد ذكر الحنابلة مسألة الأذان في أذن المولود فقط ونقل الحنفية ما ذكره الشافعي ولم يستبعدوه ، قال ابن عابدين : لأن ما صح فيه الخبر بلا معارض مذهب للمجتهد وإن لم ينص عليه

حاشية الباجورى  1 / 161)

ولا يسن الأذان عند إنزال الميت القبر خلافا لمن قال بسنيته حينئذ قياسا لخروجه من الدنيا على دخوله فيها قال ابن حجر ورددته فى شرح العباب لكن إن وافق إنزاله القبر أذان خفف عنه فى السؤال.

الفتاوى الكبرى لابن حجر 2 / 17)

 ( وسئل ) نفع الله به ما حكم الأذان والإقامة عند سد فتح الميت ؟ ( فأجاب ) بقوله هو بدعة إذ لم يصح فيه شيئ وما نقل عن بعضهم فيه غير معول عليه ثم رأيت الأصبحى أفتى بما ذكرته فإنه سئل هل ورد فيهما خبر عند ذلك ؟ فأجاب بقوله لا أعلم فى ذلك خبرا ولا أثرا إلا شيئا يحكى عن بعض المتأخرين أنه قال لعله مقيس على استحباب الأذان والإقامة فى أذن المولود إهـ

ADZAN DI LAIN WAKTU SHALAT

Pada dasarnya adzan hanya disyariatkan untuk tanda akan shalat hanya saja terkadang disunahkan juga untuk selain shalat dengan tujuan mencari keberkahan, sebagai pelipur atau menghilangkan hal-hal yang tidak disukai.

Ulama yang menilai adzan dapat dipergunakan semacam ini adalah kalangan Syafi’iyyah, mereka berpendapat “Disunahkan adzan ditelingan bayi saat ia dilahirkan, ditelinga orang yang kesusahan sebab dapat menghilangkan kegelisahannya, bagi seseorang yang hendak bepergian, saat kebakaran, saat perang berkecamuk, saat terdapat gangguan jin, saat tersesat dalam perjalanan, untuk orang yang ketakutan, marah, orang atau hewan yang jelek perangainya dan saat mayat diturunkan dalam kuburan dengan mengqiyaskan diberlakukannya adzan saat ia terlahir di dunia.

Dan telah teriwayatkan hadits-hadits mengenai hal tersebut, diantaranya hadits riwayat Abu Rofi’ : “Aku melihat baginda Nabi SAW adzan ditelingan Hasan saat ia dilahirkan oleh Fathimah” (HR. At-Tirmidzi)

Juga hadits bahwa Nabi SAW bersabda “Barangsiapa terlahirkan anak untuknya, kemudian ia adzan ditelinga kanannya dan iqamah ditelinga kirinya maka tidak akan membahayakan bagi anaknya gangguan Ummu as-Shibyaan/Jin wanita yang suka mengganggu anak kecil.” (HR. Abu Ya’la dan al-Baehaqi).

Abu Hurairah ra juga meriwayatkan sebuah hadits bahwa nabi SAW bersabda “Sesungguhnya syetan saat dikumandangkan seruan shalat akan menyingkir….. dst” (HR. Mutafaq ‘Alaih).

Kalangan Hanabilah memberlakukan adzan diselain shalat hanya untuk anak yang baru dilahirkan sedang kalangan Hanafiyah juga menukil keterangan Imam Syafi’i mengenai hal tersebut dan mereka juga tidak menentangnya. Ibn ‘Aabidiin berkata “Karena keautentikan khabar yang tidak terdapat pertentangan berarti menjadi aliran keyakinan bagi para mujtahid meskipun tidak terdapati dalil nash tentangnya”. [ Al-Mausuu’ah al-Foqhiyyah II/372 ].

وفي حاشية البحر للخير الرَّمْلي : رأيت في كتب الشَّافعية أنه قد يسن الأذان لغير الصلاة، كما في أذن المولود، والمهموم، والمصروع، والغضبان، ومن ساء خلقه من إنسان أو بهيمة، وعند مزدحم الجيش، وعند الحريق، قيل وعند إنزال الميت القبر قياساً على أول خروجه للدنيا، لكن رده ابن حجر في شرح العباب، وعند تغوّل الغيلان، أي عند تمرد الجن لخبر صحيح فيه. أقول؛ ولا بعد فيه عندنا ا هـ: أي لأن ما صح فيه الخبر بلا معارض فهو مذهب للمجتهد وإن لم ينص عليه، لما قدمناه في الخطبة عن الحافظ ابن عبد البرّ ، والعارف الشعراني عن كل من الأئمة الأربعة أنه قال: إذا صح الحديث فهو مذهبي، على أنه في فضائل الأعمال يجوز العمل بالحديث الضعيف كما مر أول كتاب الطهارة، هذا، وزاد ابن حجر في التحفة الأذان والإقامة خلف المسافر. قال المدني : أقول: وزاد في شرعة الإسلام لمن ضل الطريق في أرض قفر: أي خالية من الناس. وقال المنلا علي في شرح المشكاة: قالوا: يسن للمهموم أن يأمر غيره أن يؤذن في أذنه فإنه يزيل الهم، كذا عن عليّ رضي الله عنه، ونقل الأحاديث الواردة في ذلك فراجعه ا هـ.

Dalam Hasyiyah al-Bahr Li al-khair ar-Ramly tersirat : “Aku melihat dibeberapa kitab syafi’iyyah tertulis, sesungguhnya adzan terkadang diunahkan diselain shalat seperti adzan ditelingan anak, ditelingan orang yang kesusahan, ketakukan, marah, orang atau hewan yang jelek perangainya, saat perang berkecamuk, kebakaran, menurut sebagian pendapat saat mayat diturunkan dalam kuburan dengan mengqiyaskan diberlakukannya adzan saat ia terlahir didunia namun aku menolak yang demikian dalam Syarh al-‘Ubaab, dan saat terdapat gangguan jin dan adzan dan iqamah bagi seseorang yang hendak bepergian”.

Aku (Imam Romly) berkata : “Yang demikian bagi kami tidaklah asing, karena keautentikan khabar yang tidak terdapat pertentangan berarti menjadi aliran keyakinan bagi para mujtahid meskipun tidak terdapati dalil nash tentangnya, sebagaimana khutbah pembukaan kitab yang kami ambil dari al-Hafidh Ibn Abdil Bar dan al-‘Arif as-Sya’roni dari masing Imam Madzhab empat menyatakan “Bila sebuah hadits dinyatakan shahih berarti menjadi madzhab kami, hanya saja dalam hal keutamaan-keutamaan amal diperbolehkan amal dengan bersandar pada hadits dhaif seperti urauan kami di bab THOHARAH”.

Ibn Hajar dalam at-Tuhfah menambahkan “Dan sunah adzan serta iqamah dibelakang orang yang bepergian”.

al-Madani berkata “Dan dalam Kitab Syar’ah al-Islam terdapat tambahan, dan bagi orang yang tersesat jalan didaerah terpencil”.

al-Manlaa ‘Ali dalam Syarh al-Misykaat berkata “Ulama berfatwa, bagi orang yang sedang kesusahan disunahkan memerintahkan untuk mengumandangkan adzan ditelinganya karena yang demikian dapat menghilangkan rasa sedihnya, demikian yang diambil dari sahabat Ali ra. [ Hasyiyah ar-Rodd al-Mukhtaar I/413 ].

MANFAAT DAN TATA CARA ADZAN DI SELAIN SHALAT

وَمِمَّا جُرِّبَ أَنَّ الْأَذَانَ فِي أُذُنِ الْمَحْزُونِ يَصْرِفُ حُزْنَهُ, وَإِذَا أُذِّنَ خَلْفَ الْمُسَافِرِ رَجَعَ, وَإِذَا أُذِّنَ فِي أُذُنِ مَنْ خُلُقُهُ سَيِّئٌ حَسُنَ خُلُقُهُ, وَمِمَّا جُرِّبَ لِحَرْقِ الْجِنِّ أَوْ يُؤَذِّنُ فِي أُذُنِ الْمَصْرُوعِ سَبْعًا, وَيَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ سَبْعًا, وَيَقْرَأُ الْمُعَوِّذَتَيْنِ وَآيَةَ الْكُرْسِيِّ وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ, وَآخِرَ الْحَشْرِ وَالصَّافَّاتِ, وَإِذَا قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ سَبْعًا عَلَى مَاءٍ, وَرَشَّهُ عَلَى وَجْهِ الْمَصْرُوعِ فَإِنَّهُ يُفِيقُ

Termasuk yang dapat dicoba dijalankan :

1.Adzan di telinga orang yang kesusahan menghilangkan kesedihannya

2.Adzan di belakang orang yang bepergian ia akan kembali

3.Adzan di telinga orang yang tabiatnya akan membaik akhlaknya

4.Juga dapat dicoba untuk membakar JIN atau orang yang ketakukan sebanyak tujuh kali, membaca al-Fatihah 7X, surat al-Mu’awwidzatain 7X, Ayat Kursi dan Was Samaa-i Wat Thooriq, akhir surat al-Hasyr dan as-Shooffaat..

5.Bila ayat kursi dibaca 7X pada air kemudian dipercikkan diwajah orang yang ketakutan, Insya Allah ia akan segera sadar.  [ Mathoolib Ulin Nuha III/11 ].

ومن فضائل الأذان أنه لو أذن خلف المسافر فإنه يكون في أمان إلى أن يرجع. وإن أذن في أذن الصبي وأقيم في أذنه الأخرى إذا ولد فإنه أمان من أم الصبيان وإذا وقع هذا المرض أيضاً وكذا إذا وقع حريق أو هجم سيل أو برد أو خاف من شيء كما في «الأسرار المحمدية» والأذان إشارة إلى الدعوة إلى الله حقيقة والداعي هو الوارث المحمدي يدعو أهل الغفلة والحجاب إلى مقام القرب ومحل الخطاب فمن كان أصم عن استماع الحق استهزأ بالداعي ودعوته لكمال جهالته وضلالته ومن كان ممن ألقى السمع وهو شهيد يقبل إلى دعوة الله العزيز الحميد وينجذب إلى حضرة العزة ويدرك لذات شهود الجمال ويغتنم مغانم أسرار الوصال

Diantara keutamaan adzan adalah, sesungguhnya bila dikumandangkan dibelakang orang yang bepergian sesungguhnya ia akan aman hingga kembali pulang, bila dikumandangkan ditelinga bayi dan diiqamahkan ditelinga lainnya saat dilahirkan maka ia akan aman dari gangguan Ummi Syibyaan, begitu juga saat terdapat orang sakit, kebakaran, bercucuran keringat dingin, atau takut akan sesuatu seperti keterangan yang diambil dari kitab al-Asraar al-Muhammadiyyah.

Adzan hakikatnya adalah ajakan pada Allah, yang menyeru adalah pewaris ajaran Muhammad, mengajak orang-orang yang lalai, tertutup untuk mendekat dan merapat pada hadratillah. Barangsiapa yang tuli mendengarkan kebenaran maka ia akan mentertawakan seruan dan penyerunya sebab kebodohan dan kesesatannya sudah dalam tahapan yang sempurna. Tapi barangsiapa yang dapat tersentuh pendengarannya dan ia bersaksi maka ia akan menerima ajakan Allah, merapat kehadhirat-Nya, menemukan kelezatan kesaksian kesempurnaan serta meraih rahasia-rahasia wushul (sampai) dihadhirat Allah. [ Ruuh al-Bayaan II/361 ]. Wallaahu A’lamu Bis Showaab.

INILAH POSISI KEPALA MAYAT SAAT DI SHALATI

Menurut keterangan, sebaiknya bila mayat lelaki, bagian kepala diletakkan diarah kirinya orang yang shalat (sebelah selatan untuk konteks Indonesia) sedang bila mayat wanita, bagian kepala diletakkan diarah kanannya orang yang shalat (sebelah utara untuk konteks Indonesia).

– Hasyiyah al-Bujairomi alaa al-Manhaj I/484 :

( قوله : ويقف غير مأموم إلخ ) ويوضع رأس الذكر لجهة يسار الإمام ويكون غالبه لجهة يمينه خلافا لما عليه عمل الناس الآن أما الأنثى والخنثى فيقف الإمام عند عجيزتهما ويكون رأسهما لجهة يمينه على عادة الناس الآن ع ش ، والحاصل أنه يجعل معظم الميت عن يمين المصلي ، فحينئذ يكون رأس الذكر جهة يسار المصلي ، والأنثى بالعكس إذا لم تكن عند القبر الشريف أما إن كانت هناك ، فالأفضل جعل رأسها على اليسار كرأس الذكر ليكون رأسها جهة القبر الشريف سلوكا للأدب كما قاله بعض المحققين .

– Fath al-‘Alaam III/172 :

ويقف ندبا غير مأموم من إمام ومنفرد عند رأس ذكر وعجز غيره من أنثى وخنثى. ويوضع رأس الذكر لجهة يسار الإمام، ويكون غالبه لجهة يمينه، خلافا لما عليه عمل الناس الآن. أما الأنثى والخنثى فيقف الإمام عند عجيزتيهما ويكون رأسهما لجهة يمينه على عادة الناس الآن؛ كذا في الشبرا ملسي والبجيرمي والجمل وغيرهما من حواشي المصريين.

“Bagi Imam sholat dan orang yang sholat sendirian, disunnahkan memposisikan diri -ketika sholat janazah- di dekat kepala mayit laki-laki dan di dekat bokong mayit perempuan dan banci. Kepala mayit laki-laki diletakkan pada posisi arah kiri imam -sedangkan yang mentradisi ada pada arah kanan imam-, hal ini berbeda dengan yang biasa dilakukan masyarakat saat ini. Adapun mayit perempuan dan banci, maka imam memposisikan dirinya di dekat bokong janazah, sedangkan kepala janazah diletakkan pada posisi arah kanan sebagaimana biasa dilakukan saat ini.”

– Tuhfah al-Muhtaaj XI/181 :

وَفِي الْبُجَيْرِمِيِّ مَا نَصُّهُ وَيُوضَعُ رَأْسُ الذَّكَرِ لِجِهَةِ يَسَارِ الْإِمَامِ وَيَكُونُ غَالِبُهُ لِجِهَةِ يَمِينِهِ خِلَافًا لِمَا عَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ الْآنَ وَيَكُونُ رَأْسُ الْأُنْثَى وَالْخُنْثَى لِجِهَةِ يَمِينِهِ عَلَى عَادَةِ النَّاسِ الْآنَ ع ش وَالْحَاصِلُ أَنَّهُ يُجْعَلُ مُعْظَمُ الْمَيِّتِ عَنْ يَمِينِ الْمُصَلِّي فَحِينَئِذٍ يَكُونُ رَأْسُ الذَّكَرِ جِهَةَ يَسَارِ الْمُصَلِّي وَالْأُنْثَى بِالْعَكْسِ إذَا لَمْ تَكُنْ عِنْدَ الْقَبْرِ الشَّرِيفِ أَمَّا إذَا كَانَتْ هُنَاكَ فَالْأَفْضَلُ جَعْلُ رَأْسِهَا عَلَى الْيَسَارِ كَرَأْسِ الذَّكَرِ لِيَكُونَ رَأْسُهَا جِهَةَ الْقَبْرِ الشَّرِيفِ سُلُوكًا لِلْأَدَبِ كَمَا قَالَهُ بَعْضُ الْمُحَقِّقِينَ ا هـ .

Dalam kitab al-Bujairomi terdapat keterangan yang redaksinya “Dan kepala mayat laki-laki diletakkan disebelah kirinya imam shalat janazah, sebagian besar anggauta tubuh mayat diletakkan sebelah kanannya berbeda dengan kebiasaan shalat janazah yang terjadi sekarang ini. Sedang kepala mayat wanita serta khuntsa (orang berkelamin ganda) diletakkan disebelah kanan imam.

Kesimpulan “Sesungguhnya sebagian besar anggota mayat saat dishlalatkan berada disebelah kanan orang yang menshalatinya, maka kepala mayat laki-laki berada disebelah kirinya orang yang shalat janazah sedang wanita kebalikannya, hal yang demikian bila tidak berada pada kuburan yang mulia sedang bila disana maka sebaiknya meletakkan kepala mayat wanita disebelah kiri orang yang menshalatinya seperti mayat lelaki agar kepalanya kearah kuburan yang mulia demi menjaga sopan santun seperti keterangan yang disampaikan sebagian ulama yang muhaqqiqiin”.

– Tarsyihul Mustafidin141-142 :

ويقف ندبا غير مأموم من إمام ومنفرد عند رأس ذكر وعجز غيره من أنثى وخنثى ويوضع رأس الذكر لجهة يسار الإمام ويكون غالبه لجهة يمينه خلافا لما عليه عمل الناس الآن أما الأنثى والخنثى فيقف الإمام عند عجيزتهما ويكون رأسهما لجهة يمينه على عادة الناس الآن كذا في ع ش وبج والجمل وغيرها من حواشي المصريين قال الشيخ عبد الله باسودان الحضرمي لكنه مجرد بحث وأخذ من كلام المجموع وفعل السلف من علماء وصلحاء في جهتنا حضرموت وغيرها جعل رأس الذكر في الصلاة عن اليمين أيضا والمعول عليه هو النص ان وجد من مرجح لا على سبيل البحث والأخذ وإلا فما عليه الجمهور هذا هو الصواب.انتهى من فتاويه.

هذا إن لم تكن الجنازة عنذ القبر الشريف وإلا فالأفضل جعل رأسها على اليسار ليكون رأسها جهة القبر الشريف سلوكا للأدب وعليه العمل بالمدينة وجرى عليه الرملي وأتباعه.ونظر ابن حجر في استثنائه قال وإن كان له وجه وجيه.إنتهى

 ترشيح المستفيدين ص 141-142

Berbeda dengan pendapat di atas, As Syekh Abdullah Basudan Al Hadlramy yang diikuti As Syekh Isma’il ‘Utsman Az Zayn Al Yamany -dengan argumentasi sholat Rosulullah terhadap janazah (laki-laki dan perempuan) yang sudah dikuburkan- lebih cenderung berpendapat tidak membedakan posisi kepala janazah ketika disholati yaitu pada arah kanan imam/munfarid (arah utara untuk konteks Indonesia), baik janazah laki-laki maupun janazah perempuan atau banci.

– Fath al-‘Alaam III/172 :

قال الشيخ عبد الله باسودان الحضرمي : لكنه مجرد بحث. وأخذ من كلام المجموع وفعل السلف من علماء وصلحاء في جهتنا حضرموت وغيرها جعل رأس الذكر في الصلاة عن اليمين أيضا. والمعول عليه هو النص إن وجد من مرجح لا على سبيل البحث والأخذ، و إلا، فما عليه الجمهور هنا هو الصواب إهـ من فتاويه إهـ

– Al-Fiqh ala Madzahib al-Arba’ah I/816 :

لصلاة الجنائز سنن مفصلة في المذاهب مذكورة تحت الخط -إلى أن قال- المالكية قالوا : ليس لصلاة الجنازة سنن بل لها مستحبات وهي الإسرار بها ورفع اليدين عند التكبيرة الأولى فقط حتى يكونا حذو أذنيه كما في الإحرام لغيرها من الصلوات -إلى أن قال- ووقوف الإمام والمنفرد على وسط الرجل وعند منكبي المرأة ويكون رأس الميت عن يمينه رجلا كان أو امرأة إلا في الروضة الشريفة فإنه يكون عن يساره ليكون جهة القبر الشريف وأما المأموم فيقف خلف الإمام كما يقف في غيرها من الصلاة إلخ إهـ

– Ar-Risaalah al-Haaizah Fii ba’dhi Ahkaam al-Janaazah Hal. 10-21 :

ومن فتوى العلامة الجليل المدرس بالحرم المكي المنيف الشيخ إسماعيل عثمان الزين لطف الله به مانصه : بسم الله الرحمن الرحيم (أما بعد) فكثيرا ما يذاكرني بعض الإخوان من طلبة العلم الشريف في مسألة فقهية هي في الواقع مسألة كمالية ليست واجبة ولا لازمة بل هي هيئة مندوبة، ولكن ربما كثر فيها النـزاع وطال، ووقع في فهمها وتطبيقها الخلاف واستطال، حتى صار يغلط بعضهم بعضا فيما هو ليس واجبا ولا فرضا؛ هذه المسألة هي كيفية وقوف الإمام والمنفرد في الصلاة على الجنازة. وسبب النزاع والخلاف يرجع إلى أمرين : (أحدهما) سوء الفهم في معنى عبارة بعض الفقهاء، (وثانيهما) تداول النقل للعبارة حتى صار الخطأ في تفسيرها كأنه ليس بالخطأ. وها أنا إن شاء الله أوضح منها المراد وأسلك فيها مسلك الرشاد والسداد، فأقول، وبالله التوفيق : قال الإمام أبو داود في سننه : (باب أين يقوم الإمام من الميت إذا صلى عليه) وساق سند الحديث إلى أنس بن مالك رضي الله عنه أنه صلى الله على رجل فقام عند رأسه، وصلى على امرأة فقام عند عجيزتها. قال له العلاء بن زياد : هكذا كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يفعل ؟. قال : نعم. وفي الصحيحين من حديث سمرة بن جندب رضي الله عنه قال : صليت وراء النبي صلى الله عليه وسلم على امرأة ماتت في نفاسها فقام وسطها. قال العلامة الأمير : فيه دليل على مشروعية القيام عند وسط المرأة إذا صلى عليها، وهذا مندوب. وأما الواجب فإنما هو استقبال جزء من الميت رجلا أو امرأة. وعن الإمام الشافعي رحمه الله أنه يقف حذاء رأس الرجل وعند عجيزة المرأة لما أخرجه أبو داود والترمذي من حديث أنس إلخ يعني الحديث المتقدم. دل ذلك على أمرين : (أحدهما) واجب؛ وهو محاذاة الإمام أو المنفرد بجميع بدنه جزأ من بدن الميت أي جزء كان، سواء كان رأسه أو بطنه أو رجله أو غير ذلك. (ثانيهما) مندوب ومستحب؛ وهو وقوفه عند رأس الرجل وعند عجيزة المرأة. والحكمة في ذلك أن الرأس هو أشرف أعضاء الإنسان فاستحب الوقوف عنده بشرط محاذاة المصلي له بجميع بدنه. واستحب الوقوف وسط المرأة عند عجيزتها لأنه أستر لها. وفي كلا الحالين رأس الميت سواء كان رجلا أو امرأة مما يلي يمين الإمام لا غير. والأمر الثاني أشار له الفقهاء بقولهم : ويندب أن يقف عند رأس الرجل وعجيزة المرأة. وحرصا منهم على حصول المحاذاة الواجبة بيقين قالوا : ويندب أن يكون معظم رأس الرجل عن يمين الإمام أو المنفرد لتتم المحاذاة، لكن بعضهم عبر بالضمير بدلا عن الظاهر فقال : ويندب أن يقف عند رأس الذكر بحيث يكون معظمه على جهة يمين الإمام. ومن هنا حصل التصرف في العبارة ونشأ الغلط، فظن بعضهم أن الضمير في قوله معظمه يعود على الميت حتى أن بعضهم عبر بالظاهر بدل المضمر على هذا الفهم السيئ فقال : بحيث يكون معظم الميت عن يمين الإمام. وهذا كله غلط وسوء فهم. وإنما المراد أن يكون معظم رأس الميت الذكر عن يمين الإمام ليحصل كمال المحاذاة المطلوبة. ومما يؤيد أن ما قلناه هو الصواب وأن عبارة الفقهاء هي خطأ ناشئ عن سوء الفهم وتداول الأيدي للعبارة أنهم قالوا إذا صلى على القبر أي فيقف عند موضع رأس الرجل وعند موضع عجيزة المرأة. وقد ثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى على قبر رجل ووقف عند موضع رأسه، وعلى قبر امرأة ووقف عند موضع عجيزتها. فلو كان الحال كما يقول بعض أهل الحواشي من الفقهاء إن رأس الذكر عن يسار الإمام لكان المصلي على القبر مستدبرا للقبلة، فصلاته باطلة. وحاشا النبي صلى الله عليه وسلم أن يصلي صلاة باطلة مستدبرا للقبلة، وحاشا السلف الصالح بل حاشا المسلمين أجمعين من ذلك. فيا من يقول إن رأس الذكر يكون مما يلي يسار الإمام، إفرض أنك تصلي على رجل في قبره بهذه الكيفية، وتصور وتخيل نفسك تماما، فلاتجد نفسك حينئذ إلا مستدبرا للقبلة. فعبارة المتون والشروح كلها مقصورة على ما هو المفهوم من الحديث فقط، فيقولون : ويندب أن يقف عند رأس الرجل وعجيزة المرأة للإتباع. أما قول بعض أهل الحواشي إن رأس الرجل من جهة يسار الإمام فلا أصل له ولا دليل عليه، بل قد يؤدي في بعض الحالات إلى بطلان الصلاة كما لو صلى على القبر كما سبقت الإشارة إليه. فهذا هو القول الصحيح في المسألة وعليه عمل الناس في جميع الأمصار. ومن ادعى أن السنة على خلاف عمل الناس فدعواه ظاهرة البطلان بعيدة عن الإتباع قريبة من الإبتداع مدارها سوء الفهم أعاذنا الله من ذلك وسلك بنا وبجميع المسلمين أوضح المسالك. و صلى الله على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه وسلم تسليما كثيرا. والحمد لله رب العالمين إهـ

Tata Cara Membawa Jenazah Ke Pemakaman

Disunahkan mendahulukan kepalanya untuk mengikuti arah jalan, baik itu berjalan ke arah qiblat maupun bukan.

Sebagaimana diterangkan dalam kitab: Tukhfah al-Mukhtaj Fii Syarhi al-Minhaj:

قَوْلُهُ (اِلَى تَنْكِيْسِ رَأْسِ الْمَيِّتِ) يُؤْخَذُ مِنْهُ اَنَّ السُّـنَّةَ فِىْ وَضْعِ رَأْسِ الْمَيِّتِ فِى حَالِ السَّيْرِ اَنْ يَكُوْنَ اِلَى جِهَّةِ الطَّرِيْقِ سَوَاءٌ اَلْقِبْلَةَ وَغَيْرَهَا بَصْرِىٌّ قَوْلُ الْمَتَنِ.

تحفة المحتاج فى شرح المنهاج فصل فى تكفين الميت ج 4 ص 71

Perkataan (Sampai  membalikkan kepala mayit) diambil dari perkataan tersebut, sesungguhnya sunnah meletakkan kepala mayit ketika berjalan/membawa ke makam sesuai arah jalan yang dilalui, baik menghadap kiblat atau tidak. Seperti dikatakan Sayid Umar Bashry.

 (Tukhfah al-Mukhtaj Fii Syarhi al-Minhaj juz 4 hal. 71)

Juga terdapat dalam kitab Mauhibah dzii al-Fadhli juz 3 hal. 424. Hawasyi al-Syarwani Wa al-Ubadi Fashl Fii Takfini al-Mayit Wa Khamlihi.

Wallohu a’lam bis showab

INILAH YANG MENJADIKAN DI PERBOLEHKANYA TIDAK SHALAT JUM’AT (‘UDZUR JUM’AT)

Udzur-udzur shalat jumah sama dengan udzur-udzur shalat berjamaah.

BERIKUT UDZUR / HALANGAN SHALAT JAMA’AH DAN JUM’AH :

  1. Hujan yang dapat membasahi pakaiannya dan tidak diketemukan pelindung hujan
  2. Sakit yang teramat sangat
  3. Sakitnya orang yang tidak terdapat yang mengurusinya
  4. Mengawasi kerabat yang hendak meninggal atau berputus asa
  5. Khawatir akan keselamatan jiwa atau hartanya
  6. Menyertai creditor dan berharap pengertiannya karena kemiskinannya
  7. Menahan hadats sementara waktu masih senggang
  8. Ketiadaan pakaian yang layak
  9. Kantuk yang teramat sangat
  10. Kelaparan, kehausan, kedinginan
  11. Bepergiannya sahabat dekat
  12. Memakan makanan busuk setengah matang yang tidak bisa dihilangkan baunya
  13. Runtuhnya atap-atap pasar
  14. Gempa

[ Al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah I/90-91 ].

– Ibaroh Sebagian ‘Udzur Jum`at :

تحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء 2 صحـ :374 مكتبة دار إحياء التراث العربيوَيَظْهَرُ فِي تَحْصِيلِ تَمَلُّكِ مَالٍ أَنَّهُ عُذْرٌ إنِ احْتَاجَ إلَيْهِ حَالاً وَإِلاَّ فَلاَ ( قَوْلُهُ إنِ احْتَاجَ إلَيْهِ حَالاً ) هَلْ مِثْلُهُ مَا لَوِ احْتَاجَ إلَيْهِ مَآلاً لَكِنَّهُ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَوْ لَمْ يُحَصِّلْهُ ْالآنَ لاَ يُمْكِنُهُ تَحْصِيلُهُ عِنْدَ اْلاحْتِيَاجِ إلَيْهِ مَحَلُّ تَأَمُّلٍ بَصْرِيٌّ وَقَدْ يُقَالُ هَذَا أَوْلَى بِأَنْ يُعْذَرَ بِهِ مِمَّا يَأْتِيْ مِنَ اْلاسْتِيحَاشِ بِالتَّخَلُّفِ عَنِ الرُّفْقَةِ اهـ

المجموع الجزء 4 صحـ : 352 مكتبة مطبعة المنيرية( الثَّالِثَةُ ) لاَ تَجِبُ الْجُمُعَةُ عَلَى الْمَرِيْضِ سَوَاءٌ فَاتَتِ الْجُمُعَةُ عَلَى أَهْلِ الْقَرْيَةِ بِتَخَلُّفِهِ لِنُقْصَانِ الْعَدَدِ أَمْ لاَ لِحَدِيثِ طَارِقٍ وَغَيْرِهِ قَالَ الْبَنْدَنِيْجِيُّ لَوْ تَكَلَّفَ الْمَرِيضُ الْمَشَقَّةَ وَحَضَرَ كَانَ أَفْضَلَ قَالَ أَصْحَابُنَا الْمَرَضُ الْمُسْقِطُ لِلْجُمُعَةِ هُوَ الَّذِيْ يَلْحَقُ صَاحِبَهُ بِقَصْدِ الْجُمُعَةِ مَشَقَّةٌ ظَاهِرَةٌ غَيْرُ مُحْتَمَلَةٍ قَالَ الْمُتَوَلِّيُّ وَيَلْتَحِقُ بِالْمَرِيْضِ فِي هَذَا مَنْ بِهِ إسْهَالٌ كَثِيْرٌ قَالَ فَإِنْ كَانَ بِحَيْثُ لاَ يَضْبِطُ نَفْسَهُ حَرُمَ عَلَيْهِ حُضُورُ الْجَمَاعَةِ ِلأَنَّهُ لاَ يُؤْمَنُ تَلْوِيثُهُ الْمَسْجِدَ قَالَ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ فَهَذَا الْمَرَضُ الْمُسْقِطُ لِلْجُمُعَةِ أَخَفُّ مِنْ الْمَرَضِ الْمُسْقِطِ لِلْقِيَامِ فِي الْفَرِيضَةِ وَهُوَ مُعْتَبَرٌ بِمَشَقَّةِ الْوَحَلِ وَالْمَطَرِ وَنَحْوِهِمَا اهـ

المجموع الجزء 4 صحـ : 356 مكتبة مطبعة المنيريةَأَمَّا التَّمْرِيْضُ فَقَالَ إنْ كَانَ لِلْمَرِيْضِ مُتَعَهِّدٌ يَقُومُ بِمَصَالِحِهِ وَحَاجَتِهِ نُظِرَ إنْ كَانَ ذَا قَرَابَةٍ زَوْجَةً أَوْ مَمْلُوكًا أَوْ صِهْرًا أَوْ صَدِيقًا وَنَحْوَهُمْ فَإِنْ كَانَ مُشْرِفًا عَلَى الْمَوْتِ أَوْ غَيْرَ مُشْرِفٍ لَكِنْ يَسْتَأْنِسُ بِهَذَا الشَّخْصِ حَضَرَهُ وَسَقَطَتْ عَنْهُ الْجُمُعَةُ بِلاَ خِلاَفٍ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُشْرِفًا وَلاَ يَسْتَأْنِسُ بِهِ لَمْ تَسْقُطْ عَنْهُ عَلَى الْمَذْهَبِ

الحاوى الكبير الماوردى الجزء 3 صحـ : 34 مكتبة دار الفكرأَوْ يَخَافُ مَوْتَ مَنْزُوْلٍ بِهِ مِنْ ذِيْ نَسَبٍ أَوْ سَبَبٍ أَوْ مَوَدَّةٍ وَسَوَاءٌ كَانَ لَهُ قَيِّمٌ أَمْ لاَ قَدْ رُوِيَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يَسْتَحِمُّ لِلْجُمْعَةِ فَاسْتُخْرِجَ عَلَى سَعِيدِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ فَتَرَكَ الْجُمُعَةَ وَذَهَبَ إِلَى سَعِيدٍ فَأَمَّا إِنْ لَمْ يَكُنْ مَنْزُوْلاً بِهِ وَكَانَ مَرِيضًا فَإِنْ لَمْ يَكُنِ الْمَرَضُ شَدِيدًا مَخُوْفًا لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ عُذْرًا فِي التَّأْخِيرِ وَإِنْ كَانَ مَرَضًا شَدِيدًا فَإِنْ كَانَ وَالِدًا أَوْ وَلَدًا كَانَ ذَلِكَ عُذْرًا فِي التَّأْخِيرِ عَنِ الْجُمُعَةِ سَوَاءٌ كَانَ لَهُ قَيِّمٌ أَمْ لاَ لاِخْتِصَاصِ الْوَلَدِ بِفَضْلِ الْبِرِّ وَالْوَالِدِ بِفَضْلِ الْحُنُوِّ وَإِنْ كَانَ مِمَّنْ عَدَا الْوَالِدَ وَالْوَلَدَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ قَيِّمٌ بِأَمْرِهِ كَانَ ذَلِكَ عُذْرًا لَهُ فِي تَرْكِ الْجُمُعَةِ وَإِنْ كَانَ لَهُ قَيِّمٌ سِوَاهُ لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ عُذْرًا وَوَجَبَ عَلَيْهِ الْحُضُورُ اهـ

– I’aanah at-Tholibiin II/52 :

أن أعذار الجمعة كأعذار الجماعة

– Al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah I/90-91 :

فصل في أعذار الجمعة والجماعة أعذار الجمعة والجماعة المطر إن بل ثوبه ولم يجد كنا والمرض الذي يشق كمشقته وتمريض من لا متعهد له وإشراف القريب على الموت أو يأنس به ومثله الزوجة والصهر والمملوك والصديق والأستاذ والمعتق والعتيق ومن الأعذار الخوف على نفسه أو عرضه أو ماله وملازمة غريمه وهو معسر ورجاء عفو عقوبة عليه ومدافعة الحدث مع سعة الوقت وفقد لبس لائق وغلبة النوم وشدة الريح بالليل وشدة الجوع والعطش والبرد والوحل والحر ظهرا وسفر الرفقة وأكل منتن نيء إن لم يمكنه إزالته وتقطير سقوف الأسواق والزلزلة

Wallahu A’lam Bishowab.

UANG DAMAI SAAT RAZIA POLISI LALU LINTAS DAN MENYAMBUNG KEMBALI TANGAN PENCURI

HUKUM MENYAMBUNG KEMBALI TANGAN PENCURI YANG DI POTONG

Para  ulama’ berbeda pendapat mengenai tangannya pencuri yang telah dipotong  kemudian disembuhkan kembali sebagai mana asalnya dengan cara disambung, apakah hukumannya sudah gugur ataukah harus dipotong lagi untuk kedua kalinya karena hikmah pemotongan belum nyata ? Ada dua pendapat :

  1. Hukuman sudah gugur hanya dengan pemotongan yang awwal.

Alasan  pendapat awwal, karena pemotongan telah dilakukan sempurna sebagaimana  perintah Allah dan ini sudah cukup sebagai pencegahan.

  1. Hukuman belum gugur dan harus dipotong lagi tangan yang disambung tersebut.

Alasan  pendapat kedua, hukuman jika sebagai pencegah bagi pelakunya maka dia juga sebagai pencegah bagi orang lainnya, oleh karena itulah tangan pencuri yang dipotong digantungkan dilehernya agar orang-orang mengambil  pelajaran/’ibroh.

Jadi, jika potongan tangan tersebut disambung kembali maka hilanglah makna ‘ibroh, bahkan hilang juga makna  pencegahan bagi si pencuri sendiri ketika dia tahu bahwa pengembalian  tangannya memungkinkan, walaupun ada sebagian rasa sakit.

– Fatawa Darulifta’ Mishriyyah  (10/208) – Mufti Syeikh Athiyyah Shaqor :

وهنا  مسألة أثيرت أخيرا وهى : إذا قطعت يد السارق ثم عولجت بوصلها كما كانت هل  يسقط الحد بقطعها أو لابد من قطعها ثانيا لأن حكمة القطع لم تتحقق ؟  للعلماء رأيان ، رأى بسقوط الحد بمجرد القطع ، ورأى بمنعه من وصلها وقطعها  إن وصلها ، وجهة نظر الرأى الأول أن القطع تمَّ كما أمر الله وهذا كاف فى  زجره هو، ولا يُهم إن كان سيتبدل بها يدا صناعية أو يصل يده التى قطعت ،  فالعقوبة وقعت ولو فى حدها الأدنى ، وإذا نفذ القطع علنا كان النكال وكانت  العبرة .

ووجهة نظر الرأى الثانى أن العقوبة إذا كانت زجرا  له فهى زجر لغيره ، ومن أجل ذلك كان تعليق يده بعنقه ليعتبر الناس ، فلو  وصل ما قطع ضاع معنى العبرة. بل ضاع المعنى فى زجر نفسه هو، إذا عرف أن  إعادة يده ممكنة وإن كان فيها بعض الألم .

Hukum Memberi Uang Damai Saat Dirazia Polisi

Untuk mencegah terjadinya “uang damai” ini sebenarnya undang-undang yang diperlakukan oleh pemerintah sudah mengharuskan bagi setiap pengendara sepeda motor memiliki SIM dan bagi setiap pengendara sepeda motor di wajibkan mentaati peraturan ini karena di dalamnya ada kemaslahatan bersama.

)ولا تزع عن امره المبين (اي ول…ا تخرج عن امتثال امره الواضح الجاري علي القواعد الشرعية الي ان قال…. لكن لايطاع في الحرام والمكروه واما المباح فان كان فيه مصلحة عامة للمسلمين وجبت طاعته فيه والا فلا

“Janganlah keluar menyalahi aturan pemimpin yang nyata yang sesuai dengan kaidah-kaidah syariat… Tapi tidak boleh taat dalam urusan perkara haram dan makruh, sedang dalam masalah mubah bila memang terdapat unsur kebaikan dan kepentingan yang bersifat umum maka wajib juga taat, bila tidak ada maka tidak wajib mentaatinya”. (Jauharoh at-Tauhiid Hal. 119).

Keterangan di atas sama dengan apa yang diterangkan dalam Kitab Bughyah al-Mustarsyidiin I/189 :

(مسألة : ك) : يجب امتثال أمر الإمام في كل ما له فيه ولاية كدفع زكاة المال الظاهر ، فإن لم تكن له فيه ولاية وهو من الحقوق الواجبة أو المندوبة جاز الدفع إليه والاستقلال بصرفه في مصارفه ، وإن كان المأمور به مباحاً أو مكروهاً أو حراماً لم يجب امتثال أمره فيه كما قاله (م ر) وتردد فيه في التحفة ، ثم مال إلى الوجوب في كل ما أمر به الإمام ولو محرماً لكن ظاهراً فقط ، وما عداه إن كان فيه مصلحة عامة وجب ظاهراً وباطناً وإلا فظاهراً فقط أيضاً ، والعبرة في المندوب والمباح بعقيدة المأمور ، ومعنى قولهم ظاهراً أنه لا يأثم بعدم الامتثال ، ومعنى باطناً أنه يأثم اهـ. قلت : وقال ش ق : والحاصل أنه تجب طاعة الإمام فيما أمر به ظاهراً وباطناً مما ليس بحرام أو مكروه ، فالواجب يتأكد ، والمندوب يجب ، وكذا المباح إن كان فيه مصلحة كترك شرب التنباك إذا قلنا بكراهته لأن فيه خسة بذوي الهيئات ، وقد وقع أن السلطان أمر نائبه بأن ينادي بعدم شرب الناس له في الأسواق والقهاوي ، فخالفوه وشربوا فهم العصاة ، ويحرم شربه الآن امتثالاً لأمره ، ولو أمر الإمام بشيء ثم رجع ولو قبل التلبس به لم يسقط الوجوب اهـ.

Sedang mengenai memberi “uang damai” dalam pertanyaan di atas hukumnya juga haram.

قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ بْنُ عُمَرَ نَوَوِي الْجَاوِيُ: وَأَخْذُ الرِّشْوَةِ بِكَسْرِ الرَّاءِ وَهُوَ مَا يُعْطِيْهِ الشَّخْصُ لِحَاكِمٍ أَوْ غَيْرِهِ لِيَحْكُمَ لَهُ أَوْ يَحْمِلَهُ عَلىَ مَا يُرِيْدُ كَذَا فِي الْمِصْبَاحِ وَقَالَ صَاحِبُ التَّعْرِيْفَاتِ وَهُوَ مَا يُعْطَى لإِبْطَالِ حَقٍّ أَوْ لإِحْقَاقِ بَاطِلٍ اهـ مرقاة صعود التصديق ص 74.

Syaikh Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi (Syaikh Nawawi Banten) berkata: “Termasuk perbuatan maksiat adalah menerima suap / risywah. Suap adalah sesuatu yang diberikan kepada seorang hakim atau lainnya, agar keputusannya memihak si pemberi atau mengikuti kemauan pemberi, sebagaimana yang terdapat dalam kitab al-Mishbab. Pengarang kitab al-Ta’rifat berkata: “Suap adalah sesuatu yang diberikan karena bertujuan membatalkan kebenaran atau membenarkan kesalahan.” (Mirqat Shu’ud al-Tashidiq, hal. 74). Lihat juga Al-Bajuri II/333.

Lalu jika misal bekerja di suatu perusahaan yang memang tidak dapat menghindari suap menyuap dalam bisnisnya, apakah rejeki yang kita terima dari perusahaan tersebut termasuk rejeki yang haram ?

BILA KERJA PADA PEMERINTAHAN :

Gajinya HALAL bila meyakini bahwa gaji adalah bagian dari irzaaq, ihsaan atau musaamahah (tunjangan, insentif atau toleransi) dan bukan merupakan ijarooh (imbalan jasa kerja / upah) dari profesinya.

( نهاية المحتاج 5\291 )

وماجرت به العادة من جاكمية على ذلك فليس من باب الإجارة وانما هومن باب الارزاق والإحسان والمسامحة بخلاف الإجارة فانهامن باب المعاوضة

Tradisi yang berlaku pada pemberian gaji terhadap pegawai pemerintah tidak bias di golongkan sebagai ijaroh (imbalan jasa kerja/upah) akan tetapi merupakan bagian dari irzaaq, ihsaan atau musaamahah (tunjangan, insentif atau toleransi), berbeda dengan ijaroh yang merupakan bagian dari mu’aawadhoh (transaksi dengan pertukaran). [ Nihayah al-Muhtaaj V/291 ].

BILA KERJA PADA PERORANGAN / SWASTA :

Selama tidak meyakini / mengetahui secara pasti kalau gajinya dihasilkan juga dari barang suap maka uang gaji dan kerja di tempat seperti itu hukumnya makruh, bila yakin hukumnya haram berbeda dengan pendapat kalangan tashowwuf seperti Imam Ghozali yang menyatakan haram secara muthlak. Keterangan diambil dari :

– Asybah wa an-Nadhooir I/154 :

و الثالث : مثل معاملة من أكثر ماله حرام و لم يتحقق أن المأخوذ من ماله عين الحرام فلا تحرم مبايعته لإمكان الحلال و عدم تحقق التحريم و لكن يكره خوفا من الوقوع في الحرام انتهى

– Asnaa al-Mathoolib III/227 :

وَيُكْرَهُ إجَابَةُ من أَكْثَرُ مَالِهِ حَرَامٌ كما تُكْرَهُ مُعَامَلَتُهُ فَإِنْ عَلِمَ أَنَّ طَعَامَهُ حَرَامٌ حَرُمَتْ إجَابَتُهُ

– I’aanah at-Thoolibiin II/355 :

( فائدة ) قال في المجموع يكره الأخذ ممن بيده حلال وحرام  كالسلطان الجائر وتختلف الكراهة بقلة الشبهة وكثرتها ولا يحرم إلا أن تيقن أن هذا من الحرام  وقول الغزالي يحرم الأخذ ممن أكثر ماله حرام وكذا معاملته شاذ اه

(مسألة : ب ك) : مذهب الشافعي كالجمهور جواز معاملة من أكثر ماله حرام كالمتعاملين بالربا ، ومن لا يورّث البنات من المسلمين مع الكراهة ، وتشتدّ مع كثرة الحرام ، وتركها من الورع المهم ، زاد ب : قال ابن مطيران : من لم يعرف له مال وإن عهد بالظلم إذا وجد تحت يده مال لا يقال إنه من الحرام غايته أن يكون أكثر ماله حراماً ومعاملته جائزة ما لم يتيقن أنه من الحرام ، ومثل ذلك شراء نحو المطعومات من الأسواق التي الغالب فيها الحرام بسبب فساد المعاملات وإهمال شروطها ، وكثرة الربا والنهب والظلم ، ولا حرمة في ذلك ، وقد حقق ذلك الإمام السمهودي في شفاء الأشواق وغيره من الأئمة ، وحكموا على مقالة الحجة الغزالي بالشذوذ ، حيث رجح عدم جواز معاملة من أكثر ماله حرام اهـ

Bila mengukur skill sebenarnya dia memang sudah layak untuk memilik SIM hanya saja di persulit mendapatkannya oleh “pihak tertentu” maka boleh baginya menyuap dan mengendarai motornya juga boleh, berbeda bila sebaliknya, namun bagi “pihak tertentu” tersebut tetap haram menerima uang suap ini dalam kondisi keduanya.

Keterangan dari : Nihayah az-Zain 370 :

وقبول الرشوة حرام وهي ما يبذل للقاضي ليحكم بغير الحق أو ليمتنع من الحكم بالحق وإعطاؤها كذلك لأنه إعانة على معصية أما لو رشي ليحكم بالحق جاز الدفع وإن كان يحرم على القاضي الأخذ على الحكم مطلقا أي سواء أعطي من بيت المال أم لا ويجوز للقاضي أخذ الأجرة على الحكم لأنه شغله عن القيام بحقه

Wallahu a’lam

FIQH KRIMINALITAS : MEMBUNUH, MELUKAI DAN MEMOTONG ANGGOTA BADAN

KITAB HUKUM-HUKUM KRIMINAL

Jinayat yang menjadi bentuk jama’ dari lafadz “jinayah” mencakup pada bentuk membunuh, memotong anggota badan atau  melukai.

جَمْعُ جِنَايَةٍ أَعَمُّ مِنْ أَنْ تَكُوْنَ قَتْلًا أَوْ قَطْعًا أَوْ جُرْحًا

Macam-Macam Pembunuhan

Pembunuhan ada tiga macam, tidak ada yang ke empat.

(الْقَتْلُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ) لَا رَابِعَ لَهَا

-pertama- pembunuhan ‘amdun mahdun (murni sengaja). Lafadz ‘amdun adalah bentuk masdar dari fi’il madli “’amida” satu wazan dengan lafadz “dlaraba”, dan maknanya adalah sengaja.

(عَمْدٌ مَحْضٌ) وَهُوَ مَصْدَرُ عَمَدَ بِوَزْنِ ضَرَبَ وَمَعْنَاهُ الْقَصْدُ

-kedua dan ketiga- khatha’ mahdlun (murni tidak sengaja), dan ‘amdun khatha’ (sengaja namun salah (خَطَأٌ مَحْضٌ وَعَمْدٌ خَطَأٌ)

Mushannif menjelaskan tafsiran al ‘amdu di dalam perkataan beliau,  

وَذَكَرَ الْمُصَنِّفُ تَفْسِيْرَ الْعَمْدِ فِيْ قَوْلِهِ

‘Amdun Mahdlun

Al ‘amdu al mahdu adalah pelaku sengaja memukul korban dengan menggunakan sesuatu yang biasanya bisa membunuh.

(فَالْعَمْدُ الْمَحْضُ هُوَ أَنْ يَعْمِدَ) الْجَانِيْ (إِلَى ضَرْبِهِ) أَيِ الشَّخْصِ (بِمَا) أَيْ بِشَيْئٍ (يَقْتُلُ غَالِبًا)

Dalam sebagian redaksi menggunakan bahasa, “di dalam kebiasaannya.”

وَفِيْ بَعْضِ النُّسَحِ فِيْ الْغَالِبِ

Dan pelaku sengaja untuk membunuh korban dengan sesuatu tersebut.

(وَيَقْصِدَ) الْجَانِيْ (قَتْلَهُ) أَيِ الشَّخْصِ (بِذَلِكَ) الشَّيْئِ

Dan ketika demikian, maka sang pelaku wajib di-qishash.

وَحِيْنَئِذٍ (فَيَجِبُ الْقَوَدُ) أَيِ الْقِصَاصُ (عَلَيْهِ) أَيِ الشَّخْصِ الْجَانِيْ

Penjelasan mushannif bahwa harus mempertimbangkan kesengajaan untuk membunuh adalah pendapat yang lemah. Sedangkan pendapat yang kuat adalah tidak perlu ada kesengajaan untuk membunuh.

وَمَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ مِنِ اعْتِبَارِ قَصْدِ الْقَتْلِ ضَعِيْفٌ وَالرَّاجِحُ خِلَافُهُ

Penetapan qishash disyaratkan bahwa orang yang terbunuh atau terpotong anggota badannya harus islam atau memiliki ikatan aman.

وَيُشْتَرَطُ لِوُجُوْبِ الْقِصَاصِ فِيْ نَفْسِ الْقَتِيْلِ أَوْ قَطْعِ أَطْرَافِهِ إِسْلَامٌ أَوْ أَمَانٌ

Sehingga untuk kafir harbi dan orang murtad, maka tidak ada kewajiban qishash ketika dibunuh oleh orang islam.

فَيُهَدَّرُ الْحَرْبِيُّ وَالْمُرْتَدُّ فِيْ حَقِّ الْمُسْلِمِ

Kemudian, jika korban memaafkan pelaku di dalam kasus ‘amdun mahdlun, maka pembunuh wajib membayar diyat mughaladhah (yang diberatkan) dengan seketika dan diambilkan dari harta si pembunuh.

(فَإِنْ عَفَا عَنْهُ) أَيْ عَفَا الْمَجْنِيُّ عَلَيْهِ عَنِ الْجَانِيْ فِيْ صُوْرَةِ الْعَمْدِ الْمَحْضِ (وَجَبَتْ) عَلَى الْقَاتِلِ (دِيَّةٌ مُغَلَّظَةٌ حَالَةً فِيْ مَالِ الْقَاتِلِ)

Mushannif akan menyebutkan tentang penjelasan taghlidh diyat tersebut,      

وَسَيَذْكُرُ الْمُصَنِّفُ بَيَانَ تَغْلِيْظِهَا

Khatha’ Mahdlun

Khatha’ mahdlun adalah seseorang melempar sesuatu seperti binatang buruan, namun kemudian mengenai seorang laki-laki hingga menyebabkan meninggal dunia.

(وَالْخَطَاءُ الْمَحْضُ أَنْ يَرْمِيَ إِلَى شَيْئٍ) كَصَيْدٍ (فَيُصِيْبُ رَجُلًا فَيَقْتُلُهُ

Maka tidak ada kewajiban qishash bagi orang yang melempar, akan tetapi ia wajib membayar diyat mukhaffafah (yang diringankan) yang dibebankan kepada ahli waris ashabah si pelaku dengan cara ditempo selama tiga tahun. Dan mushannif akan menyebutkan penjelasannya,

فَلَا قَوَدَ عَلَيْهِ) أَيِ الرَّامِيْ (بَلْ يَجِبُ عَلَيْهِ دِيَّةٌ مُخَفَّفَةٌ) وَسَيَذْكُرُ الْمُصَنِّفُ بَيَانَ تَخْفِيْفِهَا (عَلَى الْعَاقِلَةِ مُؤَجَّلَةٌ) عَلَيْهِمْ (فِيْ ثَلَاثِ سِنِيْنَ)

Setiap satu tahun dari masa itu diambil kira-kira sepertiga dari seluruh diyat.

يُؤْخَذُ آخِرَ كُلِّ سَنَةٍ مِنْهَا قَدْرُ ثُلُثِ دِيَّةٍ كَامِلَةٍ

Bagi waris ashabah yang kaya dan memiliki emas, maka setiap akhir tahun wajib membayar setengah dinar. Dan bagi yang memiliki perak wajib membayar enam dirham sebagaimana yang telah jelaskan oleh imam al mutawalli dan yang lain.

وَ عَلَى الْغَنِيِّ مِنَ الْعَاقِلَةِ مِنْ أَصْحَابِ الذَّهَبِ آخِرَ كُلِّ سَنَةٍ نِصْفُ دِيْنَارٍ وَمِنْ أَصْحَابِ الْفِضَّةِ سِتَّةُ دَرَاهِمَ كَمَا قَالَهُ الْمُتَوَلِّيُّ وَغَيْرُهُ

Yang dikehendaki dengan al ‘aqilah adalah ahli waris ashabah si pelaku, bukan orang tua atau anak-anaknya.

وَالْمُرَادُ بِالْعَاقِلَةِ عَصَبَةُ الْجَانِيْ لَا أَصْلُهُ وَفَرْعُهُ .

 

‘Amdul Khatha’

‘Amdul Khatha’ adalah pelaku sengaja memukul korban dengan menggunakan sesuatu yang biasanya tidak sampai membunuh seperti si pelaku memukul korban dengan tongkat yang ringan, namun kemudian korban yang dipukul meninggal dunia.

(وَعَمْدُ الْخَطَأِ أَنْ يَقْصِدَ ضَرْبَهُ بِمَا لَا يَقْتُلُ غَالِبًا) كَأَنْ ضَرَبَهُ بَعَصًا خَفِيْفَةً (فَيَمُوْتُ) الْمَضْرُوْبُ

Maka tidak ada kewajiban had atas si pelaku, akan tetapi wajib membayar diyat mughalladhah (diberatkan) yang dibebankan kepada waris ‘aqilah si pelaku dengan cara ditempo selama tiga tahun. Dan mushannif akan menyebutkan penjelasan sisi berat diyat tersebut.

(فَلَا قَوَدَ عَلَيْهِ بَلْ تَجِبُ دِيَّةٌ مُغَلَّظَةٌ عَلَى الْعَاقِلَةِ مُؤَجَّلَةٌ فِيْ ثَلَاثِ سِنِيْنَ) وَسَيَذْكُرُ الْمُصَنِّفُ بَيَانَ تَغْلِيْظِهَا

Kemudian mushannif beranjak menjelaskan tentang orang yang berhak mendapatkan qishash. Qishash diambil dari iqtishashul atsar yang bermakna meneliti jejak, karena sesugguhnya (keluarga) korban akan meneliti kasus kriminal kemudian akan mengambil balasan sepadannya. Mushannif berkata,

ثُمَّ شَرَعَ الْمُصَنِّفُ فِيْ ذِكْرِ مَنْ يَجِبُ عَلَيْهِ الْقِصَاصُ الْمَأْخُوْذُ مِنِ اقْتِصَاصِ الْأَثَرِ أَيْ تَتَبُّعِهِ لِأَنَّ الْمَجْنِيَّ عَلَيْهِ يَتَّبَعُ الْجِنَايَةَ فَيَأْخُذُ مِثْلَهَا فَقَالَ

Syarat Kewajiban Qishah

Syarat kewajiban qishash dalam kasus pembunuhan ada empat.          

(وَشَرَائِطُ وُجُوْبِ الْقِصَاصِ) فِيْ الْقَتْلِ (أَرْبَعَةٌ)

Di dalam sebagian redaksi dengan menggunakan bahasa, “(fasal) syarat-syarat wajibnya qishash ada empat.”

وَفِيْ بَعْضِ النُّسَحِ فَصْلُ وَشَرَائِطُ وُجُوْبِ الْقِصَاصِ أَرْبَعٌ

Pertama, si pembunuh sudah baligh. Sehingga tidak ada kewajiban qishash atas anak kecil.

الْأَوَّلُ (أَنْ يَكُوْنَ الْقَاتِلُ بَالِغًا) فَلَا قِصَاصَ عَلَى صَبِيٍّ

Seandainya si pembunuh berkata, “saya saat ini masih bocah (belum baligh)”, maka ia dibenarkan tanpa harus bersumpah.

وَلَوْ قَالَ أَنَا الْآنَ صَبِيٌّ صُدِّقَ بِلَا يَمِيْنٍ

Kedua, si pembunuh adalah orang yang berakal.

الثَّانِيْ أَنْ يَكُوْنَ الْقَاتِلُ (عَاقِلًا)

Sehingga qishash tidak boleh dilakukan pada orang gila kecuali gilanya terputus-putus, maka dia diqishash pada waktu sembuh.

فَيُمْتَنَعُ الْقِصَاصُ مِنْ مَجْنُوْنٍ إِلَّا إِنْ تَقَطَّعَ جُنُوْنُهُ فَيُقْتَصُّ مِنْهُ زَمَنَ إِفَاقَتِهِ

Qishash wajib dilaksanakan pada orang yang hilang akalny sebab meminum minumam memabukkan akibat kecorobohan saat meminumnya.

وَيَجِبُ الْقِصَاصُ عَلَى مَنْ زَالَ عَقْلُهُ بِشُرْبِ مُسْكِرٍ مُتَعَدٍّ فِيْ شُرْبِهِ

Maka mengecualikan orang yang tidak ceroboh, seperti ia meminum sesuatu yang ia kira tidak memabukkan, namun ternyata kemudian akalnya hilang, maka tidak ada kewajiban qishash atas dirinya

فَخَرَجَ مَنْ لَمْ يَتَعَدَّ بِأَنْ شَرِبَ شَيْئًا ظَنَّهُ غَيْرَ مُسْكِرٍ فَزَالَ عَقْلُهُ فَلَا قِصَاصَ عَلَيْهِ

Ketiga, si pembunuh bukan orang tua korban yang dibunuh.

(وَ) الثَّالِثُ (أَنْ لَا يَكُوْنَ) الْقَاتِلُ (وَالِدًا لِلْمَقْتُوْلِ)

Maka tidak ada kewajiban qishash atas orang tua yang membunuh anaknya sendiri, walaupun anak hingga ke bawah (cucu).

فَلَا قِصَاصَ عَلَى وَالِدٍ بِقَتْلِ وَلَدِهِ وَإِنْ سَفُلَ الْوَلَدُ

Ibn Kajj berkata, “seandainya seorang hakim memutuskan menghukum mati orang tua yang telah membunuh anaknya, maka putusan hukum hakim tersebut batal.”

قَالَ ابْنُ كَجٍّ وَلَوْ حَكَمَ حَاكِمٌ بِقَتْلِ وَالِدٍ بِوَلَدِهِ نُقِضَ حُكْمُهُ.

Ke empat, korban yang terbunuh statusnya tidak sebawah status si pembunuh, sebab  kafir atau status budak.

(وَ) الرَّابِعُ (أَنْ لَا يَكُوْنَ الْمَقْتُوْلُ أَنْقَصَ مِنَ الْقَاتِلِ بِكُفْرٍ أَوْ رِقٍّ)

Sehingga orang muslim tidak boleh dihukum mati sebab membunuh orang kafir harbi, dzimmi atau kafir mu’ahhad.

فَلَا يُقْتَلُ مُسْلِمٌ بِكَافِرٍ حَرْبِيًّا كَانَ أَوْ ذِمِّيًا أَوْ مُعَاهَدًا

Orang merdeka tidak boleh dihukum mati sebab membunuh seorang budak.

وَلَا يُقْتَلُ حُرٌّ بِرَقِيْقٍ

Seandainya korban yang terbunuh memiliki nilai kekurangan dibanding dengan si pembunuh sebab tua, kecil, tinggi, atau pendek semisal, maka semua itu tidaklah dianggap.

وَلَوْ كَانَ الْمَقْتُوْلُ أَنْقَصَ مِنَ الْقَاتِلِ بِكِبَرٍ أَوْ صِغَرٍ أَوْ طُوْلٍ أَوْ قَصْرٍ مَثَلًا فَلَا عِبْرَةَ بِذَلِكَ

Sekelompok orang wajib dihukum mati sebab membunuh satu orang, jika satu orang tersebut sepadan dengan status para pembunuhnya, dan perbuatan masing-masing dari mereka seandainya hanya sendirian niscaya akan bisa membunuh si korban.

(وَتُقْتَلُ الْجَمَاعَةُ بِالْوَاحِدِ) إِنْ كَافَأَهُمْ وَكَانَ فِعْلُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ لَوِ انْفَرَدَ كَانَ قَاتِلًا

Kemudian mushannif memberi isyarah satu bentuk kaidah dengan perkataan beliau,

ثُمَّ أَشَارَ الْمُصَنِّفُ لِقَاعِدَةٍ بِقَوْلِهِ

Setiap dua orang yang bisa terlaku hukum qishash di antara keduanya dalam kasus pembunuhan, maka hukum qishash-pun terlaku di antara keduanya dalam kasus pemotongan anggota badan.

(وَكُلُّ شَخْصَيْنِ جَرَى الْقِصَاصُ بَيْنَهُمَا فِيْ النَّفْسِ يَجْرِى بَيْنَهُمَا فِيْ الْأَطْرَافِ) الَّتِيْ لِتِلْكَ النَّفْسِ

Sebagaimana disyaratkan orang yang membunuh harus mukallaf, orang yang memotong anggota badan juga disyaratkan harus mukkalaf.

فَكَمَا يُشْتَرَطُ فِيْ الْقَاتِلِ كَوْنُهُ مُكَلَّفًا يُشْتَرَطُ فِيْ الْقَاطِعِ لِطَرَفٍ كَوْنُهُ مُكَلَّفًا

Kalau demikian, orang yang tidak dihukum mati sebab membunuh seseorang, maka tidak berhak dihukum potong sebab memotong anggota orang tersebut.

وَحِيْنَئِذٍ فَمَنْ لَا يُقْتَلُ بِشَخْصٍ لَا يُقْطَعُ بِطَرَفِهِ

Syarat Hukum Potong Anggota Badan

Syarat wajibnya qishash di dalam kasus memotong anggota badan ada dua, setelah mempertimbangkan juga syarat-syarat yang disebutkan di dalam qishash pembunuhan.

(وَشَرَائِطُ وُجُوْبِ الْقِصَاصِ فِيْ الْأَطْرَافِ بَعْدَ الشَّرَائِطِ الْمَذْكُوْرَةِ) فِيْ قِصَاصِ النَّفْسِ (اثْنَانِ)

Salah satunya adalah isytirak (sama) di dalam nama khusus bagi anggota yang dipotong.

أَحَدُهُمَا (الْاِشْتِرَاكُ فِيْ الْاِسْمِ الْخَاصِّ) لِلطَّرَفِ الْمَقْطُوْعِ

Mushannif menjelaskan hal itu dengan perkataan beliau, “ anggota sebelah kanan dipotong sebab anggota yang kanan juga, maksudnya anggota sebelah kanan semisal telinga, tangan, atau kaki harus dipotong sebab memotong sebelah kanan dari anggota-anggota badan tersebut. Dan bagian kiri dari anggota-anggota badan itu berhak dipotong sebab memotong bagian kiri dari anggota-anggota badan tersebut.

وَبَيَّنَهُ الْمُصَنِّفُ بِقَوْلِهِ (الْيُمْنَى بِالْيُمْنَى) أَيْ تُقْطَعُ الْيُمْنَى مَثَلًا مِنْ أُذُنٍ أَوْ يَدٍّ أَوْ رِجْلٍ بِالْيُمْنَى مِنْ ذَلِكَ (وَالْيُسْرَى) مِمَّا ذُكِرَ (بِالْيُسْرَى) مِمَّا ذُكِرَ

Kalau demikian, maka anggota sebelah kanan tidak boleh dipotong sebab telah memotong anggota sebelah kiri, dan tidak boleh juga sebaliknya.

وَحِيْنَئِذٍ فَلَا تُقْطَعُ يُمْنَى بِيُسْرَى وَلَا عَكْسُهُ.

Yang kedua, salah satu dari dua anggota yang dipotong tidak bermasalah (masih berfungsi).

(وَ) الثَّانِيْ (أَنْ لَا يَكُوْنَ بِأَحَدِ الطَّرَفَيْنِ شَلَلٌ)

Sehingga tangan atau kaki yang sehat tidak boleh dipotong sebab memotong tangan atau kaki yang syala’. Anggota yang syala’ adalah anggota badan yang sudah tidak berfungsi.

فَلَا تُقْطَعُ يَدٌّ أَوْ رِجْلٌ صَحِيْحَةٌ بِشَلاَّءٍ وَهِيَ الَّتِيْ لَا عَمَلَ لَهَا

Adapun anggota badan yang syala’ berhak dipotong sebab memotong anggota yang sehat menurut pendapat al masyhur.

أَمَّا الشَّلاَّءُ فَتُقْطَعُ بِالصَّحِيْحَةِ عَلَى الْمَشْهُوْرِ

Kecuali jika ada dua orang adil dari ahli khubrah (pakar ahli) yang berkata bahwa sesungguhnya anggota yang tidak berfungsi tersebut ketika dipotong maka darahnya tidak akan berhenti, bahkan ujung-ujung urat akan terbuka dan tidak bisa tertutup dengan di cos.

إِلَّا أَنْ يَقُوْلَ عَدْلَانِ مِنْ أَهْلِ الْخُبْرَةِ إِنَّ الشَّلاَّءَ إِذَا قُطِعَتْ لَا يَنْقَطِعُ الدَّمُّ بَلْ تَنْفَتِحُ أَفْوَاهُ الْعُرُوْقِ وَلَا تَنْسَدُّ بِالْحَسْمِ

Di samping hal ini, orang yang berhak atas anggota tersebut mau menerima dan tidak menuntut ganti rugi karena cacatnya anggota tersebut.

وَيُشْتَرَطُ مَعَ هَذَا أَنْ يَقْنَعَ بِهَا مُسْتَوْفِيْهَا وَلَا يَطْلُبُ أُرْشًا لِلشَّلَلِ

 

Kemudian mushannif memberi isyarah suatu bentuk kaidah dengan perkataan beliau,               

ثُمَّ أَشَارَ الْمُصَنِّفُ لِقَاعِدَةٍ بِقَوْلِهِ.

Setiap anggota badan yang bisa diambil, maksudnya dipotong dari persendian seperti siku dan pergelangan tangan, maka pada anggota tersebut berlaku hukum qishash.

(وَكُلُّ عُضْوٍ اُخِذَ) أَيْ قُطِعَ (مِنْ مَفْصَلٍ) كَمِرْفَقٍ وَكُوْعٍ (فَفِيْهِ الْقِصَاصُ)

Sedangkan anggota yang tidak memiliki persendian, maka tidak berlaku hukum qishash pada anggota badan tersebut.

وَمَا لَا مَفْصَلَ لَهُ لَا قِصَاصَ فِيْهِ

Luka di Wajah dan Kepala

Ketahuilah sesungguhnya luka di kepala dan wajah ada sepuluh macam.

وَاعْلَمْ أَنَّ شُجَاجَ الرَّأْسِ وَالْوَجْهِ عَشْرَةٌ

Harishah dengan menggunakan huruf-huruf yang tidak memiliki titik. Harishah adalah luka yang menyobek kulit sedikit.

حَارِصَةٌ بِمُهْمَلَاتٍ وَهِيَ مَا تَشُقُّ الْجِلْدَ قَلِيْلًا

Damiyah, yaitu luka yang mengeluarkan darah di kulit.

وَدَامِيَّةٌ تُدْمِيْهِ

Badli’ah, adalah luka yang hingga memotong daging.

وَبَاضِعَةٌ تَقْطَعُ اللَّحْمَ

Mutalahimah, yaitu luka yang hingga masuk ke dalam daging.

وَمُتَلاَحِمَةٌ تَغُوْصُ فِيْهِ

Simhaq, yaitu luka yang sampai hingga ke kulit diantara daging dan tulang.

وَسِمْحَاقٌ تَبْلُغُ الْجِلْدَةَ الَّتِيْ بَيْنَ اللَّحْمِ وَالْعَظْمِ

Mudlihah, yaitu luka yang hingga menampakkan tulang yang berada di balik daging

وَمُوْضِحَةٌ تُوْضِحُ الْعَظْمَ مِنَ اللَّحْمِ

Hasyimah, yaitu luka yang hingga memecahkan tulang, baik sampai menampakkan tulang ataupun tidak.

وَهَاشِمَةٌ تَكْسُرُ الْعَظْمَ سَوَاءٌ أَوْضَحَتْهُ أَمْ لاَ

Munaqqilah, yaitu luka yang memindahkan posisi tulang dari satu tempat ke tempat yang lain.

وَمُنَقِّلَةٌ تُنَقِّلُ الْعَظْمَ مِنْ مَكَانٍ إِلَى مَكَانٍ آخَرَ

Ma’munah, yaitu luka yang sampai ke kantong otak yang disebut dengan ummu ra’s (pusat kepala)

وَمَأْمُوْنَةٌ تَبْلُغُ خَرِيْطَةَ الدِّمَاغِ الْمُسَمَّةَ اُمَّ الرَّأْسِ

Damighah dengan huruf ghin yang diberi titik satu di atasnya, yaitu luka yang sampai membenyobek kantong otak tersebut dan sampai hingga ke ummu ra’s.

وَدَامِغَةٌ بِغَيْنٍ مُعْجَمَةٍ تُخْرِقُ تِلْكَ الْخَرِيْطَةَ وَتَصِلُ إِلَى أُمِّ الرَّأْسِ

Dari sepuluh bentuk luka ini, mushannif mengecualikan apa yang terangkum di dalam perkataan beliau,

وَاسْتَثْنَى الْمُصَنِّفُ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرَةِ مَا تَضَمَّنَهُ قَوْلُهُ

Tidak ada hukum qishash di dalam kasus luka, maksudnya luka-luka yang telah disebutkan di atas, kecuali luka mudlihah saja, tidak yang lainya dari sepuluh luka tersebut.

(وَلَا قِصَاصَ فِيْ الْجُرُوْحِ) أَيْ الْمَذْكُوْرَةِ (إِلَّا فِيْ الْمُوْضِحَةِ) فَقَطْ لَا فِيْ غَيْرِهَا مِنْ بَقِيَّةِ الْعَشْرَةِ.

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

BAB HADLANAH : HAK MENGASUH ANAK BAGI PASANGAN SUAMI ISTRI

BAB HADLANAH (MENGASUH ANAK)

(Fasal) menjelaskan hukum-hukum hadlanah.

فَصْلٌ) فِيْ أَحْكَامِ الْحَضَانَةِ

Secara bahasa, hadlanah diambil dari lafadz “al hadln” dengan terbaca kasrah huruf ha’nya, yaitu bermakna lambung. Karena ibu yang merawat anak kecil akan menempelkan anak tersebut ke lambung sang ibu.

وَهِيَ لُغَةً مَأْخُوْذَةٌ مِنَ الْحِضْنِ بِكَسْرِ الْحَاءِ وُهَوَ الْجَنْبُ لِضَمِّ الْحَاضِنَةِ الطِّفْلَ إِلَيْهِ

Dan secara syara’ adalah menjaga anak yang belum bisa mengurusi dirinya sendiri dari hal-hal yang bisa menyakitinya karena belum tamyiz seperti anak kecil dan orang dewasa yang gila.

وَشَرْعًا حِفْظُ مَنْ لَا يَسْتَقِلُّ بِأَمْرِ نَفْسِهِ عَمَّا يُؤْذِيْهِ لِعَدَمِ تَمْيِيْزِهِ كَطِفْلْ وَكَبِيْرٍ مَجْنُوْنٍ

Ketika seorang lelaki bercerai dengan istrinya dan ia memiliki anak dari istri tersebut, maka sang istri lebih berhak untuk merawat sang anak.

(وَإِذَا فَارَقَ الرَّجُلُ زَوْجَتَهُ وَلَهُ مِنْهَا وَلَدٌ فَهِيَ أَحَقُّ بِحَضَانَتِهِ)

Maksudnya merawat sang anak dengan sesuatu yang positif padanya dengan mengurusi makanan, minuman, memandikan, mencuci pakaian, merawatnya saat sakit dan hal-hal positif yang lain bagi sang anak.

أَيْ بِتَرْبِيَتِهِ بِمَا يُصْلِحُهُ بِتَعَهُّدِهِ بِطَعَامِهِ وَشَرَابِهِ وَغَسْلِ بَدَنِهِ وَثَوْبِهِ وَتَمْرِيْضِهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ مَصَالِحِهِ

 

Biaya Asuh

Biaya hadlanah ditanggung oleh orang yang wajib menafkahi anak tersebut

وَمُؤْنَةُ الْحَضَانَةِ عَلَى مَنْ عَلَيْهِ نَفَقَةُ الطِّفْلِ

Ketika sang istri enggan merawat anaknya, maka hak asuh berpindah pada ibu sang istri.

وَإِذَا امْتَنَعَتِ الزَّوْجَةُ مِنْ حَضَانَةِ وَلَدِهَا انْتَقَلَتِ الْحَضَانَةُ لِأُمَّهَاتِهَا

 

Masa Asuh

Hak asuh sang istri terus berlangsung hingga melewati usia tujuh tahun.

وَتَسْتَمِرُّ حَضَانَةُ الزَّوْجَةِ (إِلَى) مُضِيِّ (سَبْعِ سِنِيْنَ)

Mushannif mengungkapkan tujuh tahun karena sesungguhnya tamyiz biasanya sudah wujud pada usia tersebut, akan tetapi intinya adalah hingga tamyiz, baik wujudnya sebelum tujuh tahun atau setelahnya.

وَعَبَّرَ بِهَا الْمُصَنِّفُ لِأَنَّ التَّمْيِيْزَ يَقَعُ فِيْهَا غَالِبًا لَكِنِ الْمَدَارُ إِنَّمَا هُوَ عَلَى التَّمْيِيْزِ سَوَاءٌ حَصَلَ قَبْلَ سَبْعِ سِنِيْنَ أَوْ بَعْدَهَا

Kemudian setelah itu, bocah yang sudah tamyiz tersebut disuruh memilih di antara kedua orang tuanya. Mana yang dia pilih, maka sang anak diserahkan padanya.

(ثُمَّ)

بَعْدَهَا (يُخَيَّرُ) الْمُمَيِّزُ (بَيْنَ أَبَوَيْهِ فَأَيَّهُمَا اخْتَارَ سُلِّمَ إِلَيْهِ)

Lalu, jika salah satu dari kedua orang tuanya memiliki kekurangan seperti gila, maka sang anak diserahkan pada orang tua yang satunya selama sifat kurang tersebut masih ada pada orang tua yang satu itu.

فَإِنْ كَانَ فِيْ أَحَدِ الْأَبَوَيْنِ نَقْصٌ كَجُنُوْنٍ فَأُلْحِقَ لِلْآخَرِ مَا دَامَ النَّقْصُ قَائِمًا بِهِ

Jika ayahnya sudah tidak ada, maka sang anak disuruh memilih di antara kakek dan ibunya.

وَإِذَا لَمْ يَكُنِ الْأَبُّ مَوْجُوْدًا خُيِّرَ الْوَلَدُ بَيْنَ الْجَدِّ وَالْأُمِّ

Begitu juga sang anak disuruh memilih di antara ibu dan orang-orang yang masih memiliki hubungan nasab dari jalur samping seperti saudara atau paman dari ayah.

وَكَذَا يَقَعُ التَّخْيِيْرُ بَيْنَ الْأُمِّ وَمَنْ عَلَى حَاشِيَةِ النَّسَبِ كَأَخٍّ وَعَمٍّ..

Syarat-Syarat Hadlanah

Syarat-syarat hadlanah ada tujuh :

(وَشَرَائِطُ الْحَضَانَةِ سَبْعٌ)

Salah satunya adalah berakal. Sehingga tidak ada hak asuh bagi orang gila, baik gilanya terus menerus atau terputus-putus.

أَحَدُهَا (الْعَقْلُ) فَلَا حَضَانَةَ لِمَجْنُوْنٍ أَطْبَقَ جُنُوْنُهَا أَوْ تَقَطَّعَ

Lalu, jika gilanya sang istri hanya sebentar seperti sehari dalam satu tahun, maka hak asuhnya tidak batal sebab penyakit tersebut.

فَإِنْ قَلَّ جُنُوْنُهَا كَيَوْمٍ فِيْ سَنَةٍ لَمْ يَبْطُلْ حَقُّ الْحَضَانَةِ بِذَلِكَ

Yang kedua adalah merdeka. Sehingga tidak hak asuh bagi seorang budak wanita walaupun majikannya memberi  izin padanya untuk mengasuh.

 الثَّانِيْ (الْحُرِّيَّةُ) فَلَا حَضَانَةَ لِرَقِيْقَةٍ وَإِنْ أَذِنَ لَهَا سَيِّدُهَا فِيْ الْحَضَانَةِ

Yang ketiga adalah agama. Sehingga tidak ada hak asuh bagi wanita kafir atas anak yang beragama islam.

 الثِّالِثُ (الدِّيْنُ) فَلَا حَضَانَةَ لِكَافِرَةٍ عَلَى مُسْلِمٍ

Yang ke empat dan kelima adalah ‘iffah (terhormat) dan amanah. Sehingga tidak ada hak asuh bagi wanita fasiq.

 الرَّابِعُ وَالْخَامِسُ (الْعِفَّةُ وَالْأَمَانَةُ) فَلَا حَضَانَةَ لِفَاسِقَةٍ

Di dalam hak asuh, sifat adil yang bathin tidak disyaratkan harus nampak nyata, bahkan sudah cukup dengan sifat adil yang dhohir saja.

فَلَا يُشْتَرَطُ فِيْ الْحَضَانَةِ تَحَقُّقُ الْعَدَالَةِ الْبَاطِنَةِ بَلْ تَكْفِيْ الْعَدَالَةُ الظَّاهِرَةُ.

Yang ke enam adalah bermuqim di daerah sang anak. Dengan artian kedua orang tuanya muqim di satu daerah.

(وَ)

السَّادِسُ (الْإِقَامَةُ) فِيْ بَلَدِ الْمُمَيِّزِ بِأَنْ يَكُوْنَ أَبَوَاهُ مُقِيْمَيْنِ فِيْ بَلَدٍ وَاحِدٍ

 

Sehingga, seandainya salah satu dari keduanya ingin bepergian karena ada hajat seperti haji dan berdagang, baik jarak perjalanannya jauh atau dekat, maka anak yang sudah tamyiz atau belum diserahkan kepada orang yang muqim dari kedua orang tuanya hingga yang sedang bepergian telah kembali.

فَلَوْ أَرَادَ أَحَدُهُمَا سَفَرَ حَاجَةٍ كَحَجٍّ وَتِجَارَةٍ طَوِيْلًا كَانَ السَّفَرُ أَوْ قَصِيْرًا كَانَ الْوَلَدُ الْمُمَيِّزُ وَغَيْرُهُ مَعَ الْمُقِيْمِ مِنَ الْأَبَوَيْنِ حَتَّى يَعُوْدَ الْمُسَافِرُ مِنْهُمَا

Seandainya salah satu dari kedua orang tuanya ingin pindah daerah, maka sang ayah lebih berhak daripada sang ibu untuk mengasuh, sehingga sang anak diambil oleh sang ayah dari tangan sang ibu.

وَلَوْ أَرَادَ أَحَدُ الْأَبَوَيْنِ سَفَرَ نُقْلَةٍ فَالْأَبُّ أَوْلَى مَنَ الْأُمِّ بِحَضَانَتِهِ فَيَنْزِعُهُ مِنْهَا

Syarat ketujuh adalah sepi, maksudnya sepinya ibu sang anak yang tamyiz dari seorang suami yang bukan termassuk dari mahramnya sang anak.

(وَ)

الشَّرْطُ السَّابِعُ (الْخُلُوُّ) أَيْ خُلُوُّ أُمِّ الْمُمَيِّزِ (مِنْ زَوْجٍ) لَيْسَ مِنْ مَحَارِمِ الطِّفْلِ

Sehingga, jika sang ibu menikah dengan seorang lelaki dari mahramnya sang bocah seperti paman, anak laki-laki paman, atau anak laki-laki saudara laki-laki sang bocah, dan masing-masing dari mereka rela dengan sang bocah, maka hak asuh ibunya tidak bisa gugur sebab pernikahan.

فَإِنْ نَكَحَتْ شَخْصًا مِنْ مَحَارِمِهِ كَعَمِّ الطِّفْلِ أَوِ ابْنِ عَمِّهِ أَوِ ابْنِ أَخِيْهِ وَرَضِيَ كُلٌّ مِنْهُمْ بِالْمُمَيِّزِ فَلَا تَسْقُطُ حَضَانَتُهُ بِذَلِكَ

Jika salah satu tujuh syarat tersebut tidak terpenuhi oleh sang ibu, maka hak asuhnya menjadi gugur sebagaimana penjelasan yang telah diperinci.

(فَإِنِ اخْتَلَّ شَرْطٌ مِنْهَا)

أَيِ السَّبْعَةِ فِيْ الْأُمِّ (سَقَطَتْ) حَضَانَتُهَا كَمَا تَقَدَّمَ شَرْحُهُ مُفَصَّلًا .

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

MENELITI DAN MEMAHAMI AKAD TRANSAKSI YANG SEDANG BERLANGSUNG

Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa niat memegang peranan penting terhadap perjalanan hukum fiqih. Sebagaimana kaidah:

الأمور بمقاصدها

“Bahwa segala perbuatan adalah bergantung lada maksudnya (niat).”

Kaidah ini dibangun berdasarkan hadits yang sangat terkenal bahwa sesungguhnya sahnya suatu amal harus disertai dengan niat. Maksud dari hadits ini adalah bahwasannya balasan atau pahala suatu amal adalah tergantung pada niat. Demikian juga, sah atau tidaknya suatu amal adalah tergantung pula pada niat.

Seseorang mengambil barang hilang di jalan, yang ternyata kemudian barang tersebut rusak di tangannya, atau bahkan hilang. Apakah ia berkewajiban mengganti barang yersebut? Maka, dalam kasus seperti ini, memecahkannya adalah dikembalikan lagi pada niat awal ketika orang tersebut mengambil barangnya. Jika niat awal mengambilnya adalah untuk diserahkan kepada pemilik asli barang, atau agar orang lain tahu bahwa barang tersebut ada di tangannya , dan sewaktu-waktu pemiliknya mencari, barang itu akan ia serahkan, maka dalam hal ini pelaku adalah seorang yang memang amanah sehingga ia tidak dikenakan atas ganti rugi terhadap barang yang hilang atau rusak tersebut.

Namun bila, niat awal mengambil barang tersebut adalah untuk dimilikinya, sementara di kemudian hari ternyata pemilik sebenarnya datang mencari dan menemui orang yang mengambil tersebut, maka bila barang itu hilang atau rusak, dengan demikian ia wajib untuk menggantinya. Mengapa? Karena akibat perbedaan niat awal tersebut, pelaku yang mengambil bisa dihukumi dengan dua sudut pandang fiqih yang berbeda. Pertama, ia dihukumi sebagai orang yang amanah, dan yang kedua ia dihukumi sebagai pencuri. Inilah konsistensi fiqih, yang memandang pekerjaan yang sama namun dengan dua hukum yang berbeda, karena niatnya berbeda. Sikap konsistensi fiqih ini kemudian digambarkan dalam sebuah kaidah:

العبرة  بخصوص السبب لا بعموم اللفظ

“Pada hakikatnya hukum itu tergantung pada sebab, bukan pada keumuman lafadh.”

Kaidah fiqih ini jika diterapkan pada bentuk terapan dalam wilayah akad/transaksi, sebenarnya masih terlalu umum. Karena tidak semua sebab adalah niat, dan tidak semua niat adalah sebab. Misalnya pernyataan “padinya dimakan tikus”, untuk menjelaskan bahwa tikus merupakan sebab, sehingga suatu padi di dalam petak gagal untuk dijual.

Jika ada suatu hadiah diberikan, namun dilengkapi dengan adanya syarat dan ketentuan sehingga hadiah tersebut gagal diterima bila syarat dan ketentuan tersebut tidak dilengkapi, maka pada dasarnya hadiah tersebut bukanlah hadiah, meskipun ia disebut sebagai hadiah. Lebih tepatnya hal itu bisa disebut sebagai akad jual beli sehingga bukan tempatnya jika ia disebut sebagai hadiah. Nah, sampai di sini, manakah yang disebut sebagai sebab, dan mana yang disebut sebagai niat?

Untuk itulah kemudian ulama mengembangkan sebuah kaidah lain dengan berangkat dari lafadh sebab khusus dan lafadh umum, sebagaimana kaidah di atas.

العبرة في العقود للمقاصد والمعاني لا للألفاظ والمباني

“Hukum di dalam akad tergantung pada niat dan makna sehingga bukan bergantung pada lafadh dan bentuknya.”

Sesuai dengan kaidah ini, meskipun pemberian di atas dinamakan hadiah, tetapi karena dalam praktiknya ada syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi oleh yang diberi, serta hadiah tersebut bisa batal untuk diberikan manakala tidak dipenuhi persyaratannya, maka hadiah tersebut sejatinya bukan hadiah, melainkan jual beli.

Contoh kasus yang lain adalah pada praktik pengalihan hutang (hawalah). Jika merujuk pada pola hawalah, maka seharusnya bagi pihak yang mengalihkan hutang adalah sudah bebas dari hutangnya dan ia sudah tidak memiliki tanggung jawab lagi terhadap hutang tersebut. Akan tetapi, bila ternyata dalam praktiknya, orang yang mengalihkan ternyata masih harus menanggung beban pembayaran dari orang yang menggantinya, maka meskipun akad tersebut pada awalnya disebut sebagai hawalah namun pada dasarnya, ia bukanlah hawalah, melainkan kafalah.

Kesimpulannya, “sebab” yang sebelumnya merupakan niat dan soko utama dalam akad/transaksi, menjadi diperinci kembali, apakah benar ia sebagaimana yang diniatkan, ataukah sebagaimana yang dimaksudkan? Jika dalam praktiknya ia harus dikembalikan kepada sebagaimana yang dimaksudkan dalam maknanya shighat, maka harus ada penelitian kembali terhadap jenis akad yang berlangsung sehingga tidak terjadi salah sebut akad.

GIRO BANK SYARI’AH DI TINJAU DARI SEGI FIQH

Pada kesempatan ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk meneliti tentang akad giro bank syariah. Sebelum masuk kepada pembahasan, terlebih dahulu, kita harus mengenal, apakah yang dimaksud dengan giro, dan apa prinsip penyelenggaraan bank terhadap giro tersebut?

Pengertian Giro

Produk-produk perbankan syariah yang termasuk ke dalam produk penghimpunan dana (funding) salah satunya adalah giro. Pengertian giro dalam Wikipedia diartikan sebagai istilah perbankan untuk suatu cara pembayaran yang hampir merupakan kebalikan dari sistem cek, berupa “surat perintah untuk memindahbukukan sejumlah uang dari rekening seseorang kepada rekening lain yang ditunjuk surat tersebut.” Bedanya dengan cek, jika cek diberikan kepada pihak penerima pembayaran (payee) yang menyimpannya di bank mereka, sementara giro diberikan oleh pihak pembayar (payer) ke banknya, yang selanjutnya akan mentransfer dana kepada bank pihak penerima, langsung ke akun mereka.

Perbedaan tersebut termasuk jenis perbedaan sistem ‘dorong dan tarik’ (push and pull). Cek merupakan transaksi ‘tarik’: menunjukkan cek akan menyebabkan bank penerima pembayaran mencari dana ke bank sang pembayar yang jika tersedia akan menarik uang tersebut. Jika tidak tersedia, maka cek akan “terpental” dan dikembalikan dengan pesan bahwa dana tak mencukupi.

Sebaliknya, giro adalah transaksi ‘dorong’, yaitu pembayar memerintahkan banknya untuk mengambil dana dari akun yang ada dan mengirimkannya ke bank penerima pembayaran sehingga penerima pembayaran dapat mengambil uang tersebut. Karenanya, suatu giro tidak dapat “terpental”, karena bank hanya akan memproses perintah jika pihak pembayar memiliki daya yang cukup untuk melakukan pembayaran tersebut. Namun ini juga berarti pihak pembayar tidak mendapatkan keuntungan dari “float”.

Menurut UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan, giro didefinisikan sebagai simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah bayar lainnya, atau dengan pemindahbukuan.

Dalam situs BNI Syariah, giro syariah didefinisikan sebagai titipan dana dari pihak ketiga yang dikelola berdasarkan prinsip syariah dengan akad wadi’ah yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan pemindahbukuan.

Bagaimana Pengertian Giro menurut MUI?

Dewan Syariah Nasional telah mengeluarkan fatwa Nomor 01/DSN-MUI/VI/2000 tentang giro, bahwa giro yang dibenarkan secara syariah adalah giro yang dijalankan berdasarkan prinsip wadi’ah (titipan) dan mudharabah (bagi hasil). Berdasarkan hal di atas, berikut ini keputusan Fatwa DSN-MUI No. 1/DSN-MUI/IV/2000 tentang giro adalah sebagai berikut:

Giro terdiri dari dua jenis, yakni:

  1. Giro yang tidak dibenarkan secara syariah, yaitu giro yang berdasarkan perhitungan bunga.
  2. Giro yang dibenarkan secara syari’ah, yaitu giro yang berdasarkan prinsip mudharabah dan wadi’ah.

Masih berdasarkan Fatwa DSN MUI, disebutkan bahwa ketentuan umum giro berdasarkan sistem mudharabah adalah sebagai berikut:

  1. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana, dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana.
  2. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya, termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain.
  3. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan bukan piutang.
  4. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening.
  5. Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional giro dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.
  6. Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan.

Adapun ketentuan umum giro berdasarkan wadi’ah, adalah sebagai berikut:

 

  1. Bersifat titipan.
  2. Titipan bisa diambil kapan saja (on call).
  3. Tidak ada imbalan yang disyaratkan, kecuali dalam bentuk pemberian (‘athaya) yang bersifat sukarela dari pihak bank.

Menimbang Giro menurut Literatur Fiqih Wadi’ah Terapan

Sebagaimana dapat dimafhum bahwa prinsip wadi’ah dalam literatur keislaman klasik adalah diartikan sebagai titipan murni. Ia merupakan amanah/titipan dari nasabah kepada pihak yang dipercaya yaitu bank. Titipan ini adalah dalam kerangka keamanan barang yang dititipkan. Dalam prinsip titipan berlaku akad tanpa adanya ketentuan layaknya kewajiban yang harus dijalankan oleh pihak yang diberi amanah. Dengan demikian, dalam prinsip wadi’ah berlaku ketentuan:

  • Jika terjadi kerusakan pada barang yang dititipkan, yang diakibatkan oleh bukan kecerobohan pihak yang dititipi, maka pihak yang diberi amanah (bank) tidak memiliki tanggung jawab atau kewajiban untuk mengganti baramg titipan tersebut.
  • Ciri lain dari wadi’ah adalah barang yang dititipkan tidak bisa digunakan oleh pihak yang dititipi.
  • Kewajiban pihak yang dititipi adalah ia harus mengembalikan barang yang sama dengan yang disimpankan/dititipkan kepadanya.
  • Wadi’ah merupakan bentuk akad yang tidak mengikat sehingga salah satu dari dua pihak yang berakad, bisa mengakhiri akad mereka. Cara mengakhiri akad adalah dengan cukup memberitahu pihak yang dititipi terhadap pemberhentian akad tersebut.

Dengan demikian, berdasarkan pedoman bahwa pihak yang dititipi tidak bisa mengambil manfaat terhadap barang yang dititipkan, maka penggunaan barang oleh pihak yang dititipi dapat dihukumi sebagai ghashab. Adapun bila penggunaan barang melewati mekanisme izin terlebih dahulu kepada pemilik, maka menurut al-Kasany, pada dasarnya akad tersebut bukanlah akad wadi’ah, melainkan akad hutang, syirkah, atau mudharabah.

Lantas, Bagaimana Pola Tasharruf Giro di Bank Syariah?

Jika kita terapkan aturan wadi’ah di atas terhadap giro di bank syariah, maka kita temukan beberapa hal yang sejatinya berbeda dengan prinsip wadi’ah.

  • Bank Syariah menggunakan uang yang dititipkan yang sejatinya tidak diperbolehkan dalam kasus wadi’ah
  • Bank Syariah mencampuradukkan titipan dengan berbagai jenis uang tabungan lain
  • Bank Syariah selalu menjamin pengembalian uang nasabah dengan aman, yang sejatinya ia tidak memiliki tanggung jawab dalam hal ini. Singkatnya adalah bank menanggung semua kewajiban dan risiko terkait dengan uang yang dititipkan oleh nasabah kepada bank.
  • Bank Syariah tidak mengembalikan jenis uang yang sama ketika dititipkan melainkan dengan uang yang berbeda, namun dengan jumlah uang yang sama.

Bilamana nominal uang yang sama yang dipentingkan oleh pihak nasabah atau bank, serta bank bisa memanfaatkan uang tersebut, maka sekali lagi bahwa hal tersebut sejatinya bukan wadi’ah, melainkan hutang piutang atau mudharabah.

Jika uang titipan tersebut dianggap sebagai hutang, maka bila pengembalian uang ada ketentuan adanya bonus sekian persennya kepada pihak nasabah, maka bonus tersebut bisa dihukumi sebagai riba. Inilah kemudian yang menjadi alasan pihak perbankan syariah tidak menganggapnya sebagai hutang, akan tetapi lebih diarahkan kepada mudharabah (bagi hasil).

WALLOHU ‘ALAM BIS SHOWAB

CARA MENCUCI PAKAIAN KETIKA KITA KEKURANGAN AIR

Bagi Anda yang belum tahu, ibadah salat itu bisa sah menurut syariat ketika memenuhi segala persyaratannya. Juga melakukan rukun-rukun dan tidak melakukan hal-hal yang bisa membatalkan salat. Dan satu diantara enam syarat sahnya salat adalah menutup aurat. Menutup aurat sebenarnya bisa dengan apa saja, karung beras sekalipun. Namun saat kondisi wajar, kiranya muslim Indonesia semuanya mampu menutup aurat dengan pakaian.

Ketika kita salat, pakaian yang kita kenakan haruslah suci dari segala macam najis. Dan di saat kemarau yang berkepanjangan seperti sekarang ini, sebagian daerah tentu akan kesulitan mendapatkan air bersih. Jangankan untuk mencuci baju dan perabotan rumah tangga, untuk mandi dan minum saja susah.

Melihat kenyataan yang demikian, kita tentu harus berhati-hati. Karena bisa jadi, keadaan seperti itu akan memaksa kita, entah sengaja atau tidak, melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Misalnya, kita lalai menjaga kesucian pakaian.

Najis sendiri kalau menurut bahasa adalah perkara yang menjijikan. Sedangkan menurut syariat adalah benda yang dianggap menjijikan yang mencegah keabsahan salat seandainya terbawa saat sedang salat. Ada dua jenisnya, najis hukmiyah dan ainiyah. Najis hukmiyah adalah najis yang tidak berbentuk (tidak tampak secara kasat mata) dan tidak mempunyai sifat bentuk (tidak berasa, tidak berwarna dan berbau). Cara menyucikan najis ini dengan mengalirkan air (meskipun hanya sekali aliran) secara merata pada bagian suatu benda yang terkena najis. Sedangkan najis ainiyah adalah najis yang memiliki bentuk dan satu dari beberapa sifatnya bentuk (rasa, warna dan bau). Jenis najis ini ada tiga: muhoffafah, mutawassithoh dan mugholladhoh.

Tulisan ini akan fokus bagaimana tips dan trik kita menggunakan air yang terbatas itu untuk membersihkan pakaian dari najis ainiyyah yang bersifat mutawassithoh atau najis yang terbilang ringan: seperti darah, kotoran manusia dan hewan (termasuk cicak), dll.

Para ulama memberi aturan cara mensucikan najis jenis ini adalah dengan terlebih dahulu menghilangkan bentuk dan sifat-sifatnya, kemudian dibasuh (dialirkan air). Ketika tersisa warna atau baunya najis saja (tidak bersamaan) dan sulit dihilangkan, maka benda tersebut dihukumi suci. Batasan sulit dihilangkan sendiri setelah kita berupaya menghilangkannya (digosok berulang kali disertai basuhan.

Semisal contoh pakaian kita terkena kotoran ayam. Maka yang harus dilakukan adalah, terlebih dahulu kita hilangkan bentuk kotorannya (kalau kotoran itu basah, setelah kotoran hilang keringkan pakaian dahulu agar najis tidak malah menyebar), kemudian baru kita bilas dengan air yang suci serta mensucikan.

Harus diakui, kenyataan yang terjadi di masyarakat saat ini banyak dari ibu atau pembantu rumah tangga, atau bahkan pegawai laundry, mengesampingkan hal ini. Dan disayangkan pula, banyak kepala rumah tangga yang tidak mencoba mengetahui bagaimana orang rumah membersihkan pakaiannya. Itu juga kalau tidak dibersihkan sendiri.

Mengenai hal ini, setidaknya beberapa tips dan trik bisa dilakukan.

Pertama, pisahkan pakaian yang hanya kotor dan pakaian yang selain kotor juga terkena najis.

Kedua, saat mencuci pakaian, upayakan tidak mencampur semua pakaian dalam satu bak (kecuali sudah dalam keadaan suci).

Ketiga, meskipun akan sedikit boros air, upayakan tetap mengalirkan air ke pakaian demi kesuciannya (kalau air benar-benar terbatas, taruhlah bak di bawah pakaian guna menampung air bekas bilasan. Air bekas ini bisa digunakan untuk kebutuhan lain, misalnya membasuh perabotan rumah tangga). Keempat, jika Anda menggunakan mesin cuci, usahakan pakaian yang masuk ke dalamnya sudah dalam keadaan suci.

Mudah-mudahan paparan singkat ini memahamkan dan apa itu mencuci dan bagaimana itu me-suci-kan pakaian kiranya pembaca dapat membedakannya.

MENGENAL TATA CARA DALAM MENGHILANGKAN NAJIS

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap individu manusia tidak terlepas dari interaksi dengan apapun yang ada di sekitarnya. Sebagaimana kehidupan, perubahan bukanlah hal asing lagi, tak terkecuali status najis. Sehingga apabila terjadi kontak langsung dengan najis atau perkara yang terkena najis maka akan berpengaruh terhadap keabsahan ibadah yang dilakukan. Maka dari itu, cara menghilangkan najis (izalatun najasah) yang baik dan benar sangat perlu untuk diketahui.

Pengertian Najis

Najis menurut arti bahasa adalah seseuatu yang menjijikkan, sedangkan menurut istilah syariat adalah sesuatu yang dianggap menjijikkan yang mencegah sahnya sholat (seandainya mengenai atau terbawa dalam sholat) dengan tanpa adanya suatu hal yang memperkenankan (dispensasi).[1]

Najis dibagi menjadi dua, yaitu najis Hukmiyah artinya najis yang tidak ada bentuk (jirim), rasa, warna atau bau. Kedua, najis ‘Ainiyah artinya najis yang memiliki salah satu dari (jirim) bentuk, rasa, warna atau bau.[2]

Cara menghilangkan Najis Hukmiyah terbagi menjadi tiga teori:

Pertama, Hukmiyah Mukhoffafah (hukum ringan)

Yakni berupa kencingnya anak laki-laki yang belum mencapai usia 2 tahun dan belum makan atau minum selain air susu ibunya sebagai makanan pokok. Dengan catatan najis tersebut telah hilang bentuk (jirim), rasa, warna atau baunya. Cara Menghilangkannya adalah dengan memercikkan air di permukaan sesuatu yang terkena najis sampai merata, sekalipun tidak sampai mengalir.

Kedua, Hukmiyah Mutawasithoh (hukum sedang)

Yakni selain najis mukhoffafah di atas dan selain najis anjing dan babi. Seperti darah, nanah, dan lain-lain. Dengan catatan najis tersebut telah hilang bentuk (jirim), rasa, warna atau baunya. Cara Menghilangkannya adalah cukup hanya dengan mengalirkan air pada sesuatau yang terkena najis, sekalipun hanya sekali asalkan airnya merata.

Ketiga, Hukmiyah Mugholadloh (hukum berat)

Yakni najis yang berasal dari anjing atau babi serta keturunannya. Dengan catatan najis tersebut telah hilang bentuk (jirim), rasa, warna atau baunya. Cara Menghilangkannya adalah dibasuh sebanyak tujuh kali, salah satu basuhan dicampur dengan debu, lumpur, atau pasir yang mengandur debu. Dan basuhannya harus merata ke seluruh tempat yang terkena najis.[3]

Adapun cara menghilangkan Najis ‘Ainiyah terbagi menjadi tiga teori:

Pertama, ‘Ainiyah Mukhoffafah (hukum ringan)

Yakni berupa kencingnya anak laki-laki yang belum mencapai usia 2 tahun dan belum makan atau minum selain air susu ibunya sebagai makanan pokok. Dengan catatan najis tersebut masih terdapat bentuk (jirim), rasa, warna atau baunya. Cara Menghilangkannya adalah dengan menghilangkan bentuk, rasa, warna atau baunya. Kemudian melakukan cara seperti hukmiyah mukhoffafah di atas.[4]

Kedua, ‘Ainiyah Mutawasithoh (hukum sedang)

Yakni selain najis mukhoffafah di atas dan selain najis anjing dan babi. Seperti darah, nanah, dan lain-lain. Dengan catatan najis tersebut masih terdapat bentuk (jirim), rasa, warna atau baunya. Cara Menghilangkannya adalah adalah dengan menghilangkan bentuk dan semua sifat-sifatnya (warna, rasa, dan bau). Kemudian melakukan cara seperti hukmiyah mutawasithoh di atas.[5]

Ketiga, ‘Ainiyah Mugholadloh (hukum berat)

Yakni najis yang berasal dari anjing atau babi serta keturunannya. Dengan catatan najis tersebut masih terdapat bentuk (jirim), rasa, warna atau baunya. Cara Menghilangkannya adalah dengan menghilangkan bentuk dan semua sifat-sifatnya (warna, rasa, dan bau). Kemudian melakukan cara seperti hukmiyah mugholadloh di atas.[6]

    Kotoran di Lantai Mushalla

Caranya adalah dengan menghilangkan bentuk (jirim) dan sifat-sifat najis dengan semisal kulit kelapa, kain, atau yang lain. Sehingga najis berubah dari status ‘ainiyah menjadi hukmiyah. Setelah itu cukup mengalirkan air di atas permukaan lantainya.

    Baju Terkena Jilatan Anjing

Siramlah bagian baju yang terkena najis menggunakan air campuran debu tersebut. Setelah itu, dilanjutkan dengan membasuh menggunakan air sebanyak enam kali.[]

WaAllahu a’lam

[1] Fathul Mu’in Hamisy I’anah at-Thalibin, I/81-82, cet. Al-Hidayah

[2] Hasyiyah al-Bajuri, I/102, cet. Al-Hidayah

[3] Hasyiyah al-Jamal, I/188-191, cet. Dar al-Fikr

[4] Nihayatuz Zain, hal. 45, cet. Al-Hidayah

[5] Hasyiyah al-Jamal, I/188-189, cet. Dar al-Fikr

[6] Hasyiyah al-Bajuri, I/105-106, cet. Al-Hidayah