BOLEHKAH DALAM ISLAM MENGHUKUM MATI KORUPTOR

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Menteri Sosial RI, Juliari Batubara dan beberapa jajarannya sebagai tersangka kasus korupsi dana bantuan Covid-19 pada Ahad (6/12). Wacana hukuman mati pun menggaung di jagat media. Pasalnya, pasal 2 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi memungkinkan hal tersebut. Kemungkinan penerapan hukuman mati itu dipertegas dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 sebagai revisi atas UU Nomor 31 Tahun 1999. Pasal 2 ayat 2 memperjelas kondisi tertentu yang dimaksud di antaranya adalah korupsi dana penanggulangan keadaan bahaya.

Berikut selengkapnya. “Yang dimaksud dengan “keadaan tertentu” dalam ketentuan ini adalah keadaan yang dapat dijadikan alasan pemberatan pidana bagi pelaku tindak pidana korupsi yaitu apabila tindak pidana tersebut dilakukan terhadap dana-dana yang diperuntukkan bagi penanggulangan keadaan bahaya, bencana alam nasional, penanggulangan akibat kerusuhan sosial yang meluas, penanggulangan krisis ekonomi dan moneter, dan pengulangan tindak pidana korupsi.”

Nahdlatul Ulama juga telah menetapkan agar koruptor dihukum mati. Keputusan ini diambil saat Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama Nahdlatul Ulama Tahun 2012 di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat. Sebagaimana disebutkan dalam UU Nomor 20 Tahun 2001, NU juga memutuskan bahwa penerapan hukuman mati bisa dilakukan jika memenuhi dua hal, pertama, apabila telah melakukan korupsi berulang kali dan tidak jera dengan berbagai hukuman. Kedua, melakukannya dalam jumlah besar yang dapat membahayakan rakyat banyak.

Para kiai mendasari keputusannya pada berbagai rujukan kitab-kitab mu’tabar berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis. Di antara dasar keputusan tersebut adalah Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 33.

“Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya dan membuat kerusakan di bumi, hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar.”

Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir yang dikutip keputusan tersebut, para ulama salaf, di antaranya Said ibn al-Musayyab, menyebutkan bahwa korupsi merupakan bagian dari perbuatan merusak di bumi. Baca

Sementara itu, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan bahwa keputusan hukuman mati sudah ada aturannya sebagaimana disebutkan di atas. Namun, hakimlah yang akan memutuskannya. “Aturannya sudah ada, berbagai kemungkinan hukuman bisa dijatuhkan hakim, termasuk hukuman mati. Tapi biarlah hakim memutuskan. Berikan kebebasan dan kemerdekaan kepada hakim untuk memutus sesuatu. Jika memang layak dihukum mati, hakim sudah tahu itu,” katanya.

Salah satu isu yang diangkat Komisi Bahtsul Masail Diniyah Maudluiyah pada Muktamar Ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, 1-5 Agustus lalu adalah soal hukuman mati yang dikaitkan dengan hak asasi manusia (HAM) dan pandangan Islam. Dalam Islam, hukuman mati masuk dalam kategori qishash.

Komisi yang diketuai KH Afifuddin Muhajir ini merumuskan bahwa selain menjadi sanksi atas tindak kejahatan pembunuhan, hukuman mati juga diterapkan untuk berbagai tindak kejahatan berat tertentu.

Mengapa Islam menerapkan hukuman mati?

Dalam keputusan yang disahkan pada sidang pleno Muktamar Ke-33 NU, 5 Agustus, itu dijelaskan, hukuman mati merupakan bukti dari upaya serius syariat Islam untuk memberantas kejahatan berat yang menjadi bencana kemanusiaan, seperti pembunuhan. Sanksi tersebut dinilai setimpal dan menjadi pelajaran paling efektif bagi orang lain supaya tidak berbuat hal yang sama.

Muktamirin berpandangan, pada hakikatnya dimaksudkan untuk beberapa hal, antara lain

(1) memberantas tuntas kejahatan yang tidak dapat diberantas dengan hukuman yang lebih ringan,

(2) orang lain akan terkendali untuk tidak melakukannya karena mereka tidak akan mau dihukum mati,

(3) melindungi orang banyak dari tindak kejahatan itu.

Dengan berpijak pada dasar hakikat disyariatkannya hukuman mati ini, hukuman mati dinilai tak dapat dinyatakan melanggar HAM. Justru sebaliknya, hukuman tersebut untuk memberantas pelanggaran HAM dengan membela hak hidup banyak orang. Pandangan tersebut didasarkan pada argumen al-Qur’an, as-Sunnah, dan pendapat para ulama yang tersebar dalam berbagai literatur. Jauh sebelum muktamar, PBNU juga telah mengeluarkan imbauan penerapan hukuman mati bagi koruptor kelas berat dan gembong peredaran narkoba.

HUKUMAN MATI BAGI KORUPTOR

Korupsi atau jelasnya pencurian uang negara dan rakyat di Indonesia baik yang dilakukan secara terang-terangan atau terselubung sejak Republik ini berdiri tetap saja berlangsung. Bahkan nilainya semakin menggelembung, berlipat ganda. Akibatnya sangat merugikan bangsa dan negara. Rakyat jadi miskin, negara hampir bangkrut. Kekayaan dan aset negara terkuras dan tergadaikan. Dari data hasil survei lembaga Internasional PERC, Indonesia adalah negara terkorup di Asia dan menempati nomor satu. Padahal, Indonesia berpenduduk mayoritas Islam.

 Sebenarnya Bagaimana definisi atau konsep syariah mengenai korupsi?

Dalam pandangan syariat, korupsi merupakan pengkhianatan berat (ghulul) terhadap amanat rakyat. Dilihat dari cara kerja dan dampaknya, korupsi dapat dikategorikan sebagai pencurian (sariqah), dan perampokan (nahb).

Abdullah bin Husain Al-Ba’lawi dalam Is’ad al-Rafiq Syarh Matn Sulam al-Taufiq menerangkan: (Dan) di antara dosa besar adalah (sariqah -pencurian-), dengan dibaca fathah huruf sin dan kasrah huruf ra’nya. Yaitu mengambil harta -yang bukan miliknya) secara sembunyi-sembunyi. Menurut kesepakatan para ulama perbuatan pencurian termasuk dosa besar. Dalam al-Zawajir Ibn Hajar al-Haitami menyatakan: “Itu merupakan pernyataan yang sangat jelas dari beberapa hadits, semisal hadits: “Seorang pezina tidak melakukan perzinahan dalam kondisi ia beriman dan seorang pencuri tidak melakukan pencurian dalam kondisi ia beriman.“ Dalam riwayat lain dengan redaksi: “Jika ia melakukan hal tersebut maka ia telah menanggalkan hukum Islam dari dirinya. Jika ia bertobat maka Allah menerima tobatnya.” Dan hadits: “Allah melaknat seorang pencuri yang mencuri sebiji telur sehingga menyebabkan tangannya dipotong, dan yang mencuri seutas tali sehingga tangannya dipotong.“ Al-A’masy menjelaskan: “Para sahabat Nabi menilai harga telur (helm baja untuk perang) dan tali (kapal) sampai tiga dirham. Dan beberapa hadits lain yang cukup banyak. Ibn Hajar menjelaskan: “Yang jelas sungguh tidak ada perbedaan dalam hal pencurian itu merupakan dosar besar, antara pencurian yang mengakibatkan hukuman potong tangan dan yang tidak, jika yang diambil memang tidak halal baginya. Semisal ia mengambil tikar masjid, maka hukumnya haram, akan tetapi tidak mengakibatkan hukuman potong tangan, karena ia memiliki bagian hak dalam tikar masjid itu. Kemudian saya melihat al-Imam al-Harawi secara jelas menyatakan hal tersebut.” Karena ulama mengqiyaskan korupsi dengan mencur,i maka hukuman bagi pelakunya adalah potong tagan sampai dengan hukuman mati. sekaligus dituntut untuk mengembalikan apa yang telah dikorupnya.

Hal ini jelas diterangkan oleh Muhammad bin Mansur al-Jamal dalam Futuhat al-Wahhab bi Taudih Syarh Manhaj al-Thullab

Imam Malik berkata: “Jika pelaku tindak pencurian merupakan orang kaya, maka ia menanggung pengembaliannya, dan jika ia bukan orang kaya, maka tidak harus. Dan Hukuman potong tangan tetap berlaku pada semua kondisi. Bila ia mengembalikan harta curian ke tempat penyimpanan (semula), maka tidak menggugurkan hukuman potong tangan dan tanggungjawab mengembalikannya.

Begitu pula yang dijelaskan oleh Wahbah Zuhaili dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh

Dan kesimpulannya adalah sungguh boleh menghukum mati sebagai kebijakan bagi orang-orang yang sering melakukan tindakan kriminal, pecandu minuman keras, para penganjur tindak kejahatan, dan pelaku tindakan subversif yang mengancam keamanan negara dan semisalnya.

Mengani hal ini sangat baik untuk ditelaah kembali apa yang ditulis oleh Muhammad bin Abi bakar al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an

 Para ulama berkata: “Perbuatan khianat (korupsi) merupakan bagian dari dosa besar berdasarkan ayat ini. Dan hadits yang telah kami sebutkan dari riwayat Abu Hurairah Ra.; ”Sungguh ia akan memikul hutangnya di lehernya.“ Rasulullah Saw. Sungguh telah bersabda tentang Mid’am (seorang budak): “Aku bersumpah demi Dzat yang jiwaku ada dalam kekuasanNya. Sungguh selendang selimut yang ia ambil di hari peperangan Khaibar yang merupakan harta pampasan perang yang diambil oleh pegawai pembagian harta, akan menyalakan api neraka baginya.” Setelah mendengar penjelasan itu lalu ada yang datang kepada Rasulullah Saw. menyerahkan satu atau dua utas tali sandal, lalu beliau Saw. bersabda: “Seutas tali dan dua utas tali sandal dari itu dari api neraka.” Hadits itu diriwayatkan Imam Malik dalam kitab al-Muwaththa’.

Maka sumpah Nabi Saw. dengan kaliamat: “Demi Dzat yang jiwaku ada alam kekuasanNya.” dan penolakannya menyolati orang yang telah melakukan pengkhianatan (korupsi) merupakan dalil atas parahnya perbuatan tersebut, begitu besar dosanya, ia termasuk dosa besar yang terkait dengan hak-hak orang lain dan di dalamnya harus diberlakukan qishash terkait amal kebajikan dan amal jeleknya.

Yang diperlakuakan dalam ajaran islam bagi seorang KORUPTOR adalah :

1. Harus melunasi tanggungannya/mengembalikan harta yang ia korupsi

2. Dihukum dengan potong tangan bahkan hingga hukuman mati.

ثم رأيت فى منهاج العابدين للغزالى أن الذنوب التى بين العباد إما فى المال ويجب رده عند المكنة فإن عجز لفقر استحله فإن عجز عن استحلاله لغيبته أو موته وأمكن التصدق عنه فعله وإلا فليكثر من الحسنات ويرجع إلى الله ويتضرع إليه فى أن يرضيه عنه يوم القيامة اه

“Kemudian aku melihat dalam kitab Minhaj al-‘Aabidiin karya al-Ghozaly dikatakan : Bahwa dosa yang terjadi antar sesama hamba-hamba Allah adakalanya berhubungan dengan harta benda Dan wajib mengembalikan harta tersebut (pada pemilik harta) bila dalam kondisi berkemungkinan, bila tidak mampu karena kefakirannya maka mintalah halal darinya, bila tidak mampu meminta halal karena ketiadaannya atau telah meninggalnya dan (pemilik tanggungan) berkemungkinan bersedekah, maka bersedekahlah dengan atas namanya, dan bila masih tidak mampu maka perbanyaklah berbuat kebajikan, kembalikan segalanya pada Allah, rendahkanlah diri dihadapanNya agar kelak dihari kiamat Allah meridhoi beban tanggungan harta (yang masih belum tertuntaskan)”.Hasyatul Jamal V/388

التعزير هو التأديب بنحو حبس وضرب غير مبرح كصفح ونفى وكشف رأس وتسويد وجه – إلى أن قال – أما التعزير لوفاء الحق المالى فإنه يحبس إلى أن يثبت إعساره وإذا امتنع من الوفاء مع القدرة ضرب إلى أن يؤديه أو يموت لأنه كالصائل .اهـ

Ta’zir adalah bentuk pembelajajaran tatakrama agar bisa menimbulkan efek jera, dapat dilakukan dengan semacam memenjarakan, memukul dengan tanpa merusakkan anggauata tubuh seperti dengan menampar, mengisolisir, membuka penutup kepala dan mencorengi hitam mukanya… Sedang ta’zir yang diberlakukan atas pengembalian harta benda dilakukan dengan mengekangnya hingga ia jatuh miskin, bila dalam kondisi mampu namun tidak mau mengembalikan harta tanggungannya dengan dipukuli hingga menyakitkannya atau membuatnya mati karena ia seperti SHO’IL (orang yang menjarah hak orang lain).

Tanwirul Qulub hal. 392

وَقَالَ مَالِكٌ إنْ كَانَ غَنِيًّا ضَمِنَ وَإِلَّا فَلَا ، وَالْقَطْعُ لَازِمٌ بِكُلِّ حَالٍ وَلَوْ أَعَادَ الْمَالَ الْمَسْرُوقَ إلَى الْحِرْزِ لَمْ يَسْقُطْ الْقَطْعُ وَلَا الضَّمَانُ

Imam Malik berkata “Jika pelaku tindak pencurian merupakan orang kaya, maka ia menanggung pengembaliannyadan jika buka orang kaya maka tidak harus.Dan hukuman potongan tangan tetap berlaku pada semua kondisi, bila ia mengembalikan uang curia ketempat penyimpanan uang (semula) maka juga tidak menggugurkan hukuman potong tangan dan tanggiungjawab mengembalikannya.

Hasyiyah al-Jamal 21/188

والخلاصة: أنه يجوز القتل سياسة لمعتادي الإجرام ومدمني الخمر ودعاة الفساد ومجرمي أمن الدولة، ونحوهم

Dan kesimpulannya adalah sungguh boleh menghukum mati sebagai kebijakan bagi orang-orang yang sering melakukan tindakan kriminal, pecandu minuman keras, para penganjur tindakan kejahatan dan pelaku tindakan subversif yang mengancam keamanan negara dan semisalnya.

Al-Fiqh al-Islam VII/518

WALLOHU A’LAM….

TATA CARA AMALIYAH IBADAH BAGI PASIEN YANG SEDANG SAKIT

Wudhu Untuk Pasien

Tidak seperti orang yang sehat, para pasien sering mengalami berbagai kesulitan ketika hendak berwudhu. Kesulitan itu bisa berupa ketersediaan air, atau beberapa kesulitan teknis yang menyangkut tempat atau kesehatan pasien. Dalam hal ini, Islam memberikan keringanan kepada pasien untuk berwudhu dengan cara-cara sebagai berikut:

a. Apabila pasien masih mampu bergerak dan menurut dokter, air tidak berdampak negatif untuk proses penyembuhan, maka ia wajib berwudhu sendiri.

b. Jika pasien sudah tidak mampu bergerak, maka seseorang bisa membantunya untuk berwudhu.

c. Jika menurut dokter, air membahayakan atau memperlambat proses penyembuhan pasien, maka dia bertayamum sebagai ganti wudhu.

d. Jika pada bagian anggota badan yang wajib dibasuh atau diusap dalam wudhu terdapat luka, tapi masih memungkinkan dibasuh, maka dia tetap wajib membasuhnya. Jika beresiko, hendaknya dia mengusapnya sekali usapan dengan air. Jika mengusapnya beresiko pula, dia bisa membalutnya dengan gips atau plester dan mengusap balutannya. Jika masih tidak memungkinkan, maka dia boleh bertayamum. Untuk poin yang keempat ini bisa dilakukan setelah anggota badan telah suci baik dari hadats maupun najis. Cara bertayamum bagi anggota badan yang dibalut atau digips cukup mengusap bagian luarnya saja dengan debu.

e. Pasien yang tidak bisa menahan kencing, buang angin, keluar darah dan sebagainya secara terus-menerus, dia wajib berwudhu atau tayamum setelah masuk waktu shalat dan segera melakukan shalat. Ia wajib membersihkan pakaian dan tempat yang terkena najis setiap akan shalat berikutnya. Adapun najis yang tidak dapat dihindari selama berlangsungnya shalat, tidak menghalangi sahnya shalat karena keadaan yang amat darurat.

f. Jika pasien tidak bisa membersihkan badan, pakaian dan tempat serta tidak ada orang lain yang membantunya, menurut para ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah, ia tetap mengerjakan shalat dengan keadaan darurat serba najis karena ia telah terbebas dari tanggungjawab bersuci (shalat lihurmatil waqti). Akan tetapi ia wajib mengulanginya (i’adah) jika sudah sehat.

Mandi Untuk Pasien

a. Pasien yang berstatus junub artinya memiliki tanggungan hadats besar karena haid, nifas dan sebagainya, ia wajib mandi. Selama belum mandi, ia tidak boleh menjalankan shalat, menyentuh atau membaca al-Qur’an atau tinggal di masjid. Hal ini perlu menjadi catatan sebab banyak pasien yang ingin tetap memperbanyak ibadah untuk memohon kesembuhan dari Allah dengan membaca ayat-ayat al-Qur’an. Karena bacaan al-Qur’an itu telah menjadi kebiasaan yang bersangkutan sehari-hari. Ia tidak sadar atau tidak tahu bahwa bacaan itu diharamkan baginya selama ia belum suci dari hadats besar. Sebagai gantinya ia bisa berdzikir dengan bacaan apapun selain al-Qur’an atau diperbolehkan juga berdoa walaupun doa-doa itu terambil dari al-Qur’an. Misalnya bacaan salawat nabi, asmaul husna, tahlil (la ilaha illallah), tasbih (subahanallah), istighfar (astaghfirullah) atau doa para Nabi yang termaktub dalam al-Qur’an dan sebagainya.

b. Bagaimana pasien yang terkena kewajiban mandi namun menurut dokter tidak boleh terkena air atau tidak tersedia air, pasien yang demikian diperbolehkan tayamum sebagai pengganti mandi. Ia mendapatkan sejumlah keringanan sebagaimana keringanan tayamum sebagai pengganti wudhu seperti telah dijelaskan sebelumnya.

c. Masih banyak orang Islam yang salah paham dan menganggap tayamum hanya sebagai pengganti wudhu. Kesalahpahaman tersebut juga pernah terjadi pada zaman Nabi Saw, ketika ada orang yang lagi junub dan tidak tersedia air, maka shahabat itu menggelindingkan badannya di atas pasir. Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa tayamum bisa menjadi pengganti mandi dengan tata cara pelaksanaan yang sama dengan tayamum pengganti wudhu. Ketika tayamum, ia harus berniat untuk membersihkan hadats besar.

Tayamum Bagi Pasien

Pasien diizinkan tayamum jika mengalami hal-hal sebagai berikut:

a. Dinyatakan oleh dokter atau menurut keyakinan pasien sendiri bahwa sentuhan air berbahaya bagi kesehatannya atau memperlambat proses penyembuhan.

b. Tidak kuat secara fisik pergi ke tempat berwudhu atau adanya kesulitan lainnya.

c. Sebagian atau keseluruhan anggota badan yang wajib dibasuh untuk wudhu tidak boleh terkena air seperti ada balutan atau gips, luka dan lain-lain.

d. Kesulitan mendapat air. Misalnya air di Rumah Sakit sangat terbatas atau bahkan kehabisan karena macetnya saluran air, atau antrian panjang di tempat berwudhu sedangkan waktu shalat sudah hampir habis.

Tayamum dilakukan setelah masuknya waktu shalat dan menggunakan debu yang kering dan suci. Semua najis yang ada pada tubuhnya wajib dibersihkan terlebih dahulu sebelum tayamum. Bagaimana cara mendapatkan debu tersebut? Cukup mengusap tangan ke tembok atau benda di sekitarnya yang dianggap kering dan berdebu meskipun sedikit.

Bagi pasien yang berpendirian tayamum harus dengan debu yang benar-benar terlihat mata, maka keluarga pasien bisa menyediakan debu suci dari rumah. Jika cara ini yang dilakukan maka pasien dan keluarga harus memperhatikan kebersihan rumah sakit. Harus diusahakan agar debu yang dibawa dari luar rumah sakit benar-benar suci dan diupayakan tidak mengotori rumah sakit karena hal ini bisa juga beresiko terhadap kesehatan para pasien dan orang-orang yang tinggal di ruangan itu.

Tata cara tayamum adalah sebagai berikut:

a. Mengusapkan tangan ke tembok ataupun benda di sekitar pasien yang dianggap bersih dan suci serta tidak basah, atau pada debu yang disiapkan secara khusus dari rumah oleh pasien atau keluarganya.

b. Mengusapkan kedua telapak tangan tersebut pada muka dengan terlebih dahulu mengibaskan tangan atau meniupnya agar debu tidak membekas pada wajah.

c. Mengusapkan kedua tangan ke tembok atau debu sekali lagi.

d. Mengusap tangan kanan dan kemudian tangan kiri sampai ke siku. Jika ada kesulitan melepas lengan baju, atau alasan lain, maka boleh mengusap tangan sampai ke pergelangan saja.

e. Pasien yang tidak dapat melakukan wudhu dan tayamum sendiri, dapat dibantu oleh orang lain sesama jenis atau lain jenis yang mahram, misalnya anak, saudara kandung dan sebagainya.

Orang yang tidak bisa melakukan wudhu, mandi, maupun tayamum karena berbagai kesulitan, maka para ulama berbeda pendapat tentang kewajiban shalatnya.

a. Menurut ulama Malikiyah, dia tidak lagi terkena kewajiban shalat.

b. Menurut ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah, dia tetap shalat tanpa bersuci namun wajib mengulanginya jika sudah sehat. Shalat ini disebut shalat lihurmatil waqti yaitu shalat yang dilakukan semata-mata untuk menghormati kemuliaan waktu shalat.

c. Menurut ulama Hanabilah, dia shalat seperti biasa sekalipun tanpa bersuci dan tidak wajib mengulanginya.

Shalat Pasien

Islam adalah agama kemudahan. Orang yang mengalami kesulitan menjalankan ibadah karena kondisi tertentu, selalu diberi jalan kemudahan oleh agama. Demikian juga shalat bagi pasien baik di rumah sakit atau di rumah sendiri. Ia bisa menjalankan shalat dengan berdiri, duduk, terlentang dan dengan cara lain yang tidak menyulitkan baginya.

Shalat Berdiri

Pasien yang masih mampu berdiri dan tidak mengkhawatirkan sakitnya bertambah parah, wajib melaksanakan shalat dengan cara berdiri

Menurut Imam Hanafi dan Imam Hanbali, jika pasien masih kuat berdiri dengan bantuan tongkat atau bersandar pada tembok atau orang lain dan tidak mempengaruhi proses kesembuhan, ia masih tetap wajib berdiri.

Adapun shalat sunnah seperti shalat sebelum dan sesudah shalat wajib (shalat sunnah rawatib), shalat tahajud dan sebagainya boleh dikerjakan dengan duduk sekalipun ia sehat dan kuat berdiri. Sekalipun diizinkan, namun shalat sunnah sebaiknya dikerjakan dengan berdiri bagi orang yang masih sehat karena shalat dengan berdiri lebih utama daripada dengan duduk. Nabi Saw bersabda,”Jika seseorang melakukan shalat (sunnah) sambil berdiri, maka hal itu lebih baik, dan barang siapa shalat sambil duduk maka ia mendapat separo pahala shalat dengan berdiri, dan barang siapa yang shalat sambil terlentang maka ia mendapatkan separo pahala shalat dengan duduk.” (HR. Al-Bukhari)

Shalat Duduk

Dalam kondisi pasien tidak mampu melaksanakan shalat dengan berdiri, maka ia bisa shalat dengan duduk. Nabi Saw bersabda, ”Shalatlah dengan berdiri, jika engkau tidak mampu (dengan berdiri), maka shalatlah dengan duduk, jika engkau tidak mampu shalat (dengan duduk), maka shalatlah dengan berbaring.” (HR. Al-Bukhari)

Shalat fardhu (wajib) boleh dikerjakan dengan duduk jika:

a. Pasien tidak kuat berdiri, atau kuat namun tidak diizinkan menurut petunjuk dokter.

b. Tidak ada tempat lain selain tempat tidur pasien dan tidak memungkinkan berdiri di atasnya karena tempat tidur memantul, rapuh dan sebagainya. Kondisi inilah yang paling sering dialami oleh banyak pasien.

c. Pasien bertinggi badan yang tidak memungkinkan dia berdiri di tempat itu.

Adapun tata-caranya shalat duduk adalah:

a. Duduk menghadap kiblat dengan posisi iftirasy (duduk di atas mata kaki kiri, telapak kaki kanan ditegakkan, ujung jari kaki kanan ditekuk menghadap kiblat). Adapun cara duduknya bisa dengan bersila, iftirasy, atau menyelonjorkan kaki ke arah kiblat. Menurut kebanyakan ulama, duduk iftirasy lebih baik. Imam As-Subki dan Al-Adzra’i berpendapat lain, bahwa bersila lebih utama karena untuk membedakan antara duduk karena darurat lantaran tidak bisa berdiri dengan duduk iftirasy secara normal pada posisi tasyahud (duduk pada tasyahud awal atau duduk di antara dua sujud). Bagi perempuan lebih baik duduk bersila, agar auratnya lebih tertutup.

b. Berniat shalat dan kemudian menjalankan semua rukun (aturan wajib) shalat.

c. Ketika ruku’, badan dibungkukkan sedikit dan tangan diletakkan di atas paha.

d. Untuk posisi sujud, bisa dengan sujud sempurna jika kesehatan memungkinkan dan bisa dengan membungkukkan badan dengan posisi sedikit lebih rendah daripada posisi ruku’.

e. Untuk duduk tasyahud (duduk terakhir sebelum salam penutup shalat) bisa dengan tawarruk (seperti duduk iftirasy hanya saja telapak kaki kiri dikeluarkan ke kanan sehingga pantat duduk di atas alas shalat) atau dengan duduk istirasy jika fisik tidak memungkinkan.

Shalat Berbaring

Shalat dengan berbaring dilakukan bagi pasien yang tidak mampu shalat dengan berdiri ataupun duduk.

Adapun tata caranya adalah sebagai berikut:

a. Berbaring (miring) dengan bertumpu pada lambung kanan, kepala di sebelah utara, dada dan wajah menghadap kiblat.

b. Berniat shalat dan kemudian menjalankan semua rukun (aturan wajib) shalat.

c. Ketika ruku’ sedikit menundukkan kepala ke arah dada.

d. Ketika sujud, menundukkan kepala lebih menunduk daripada ketika ruku’.

e. Selanjutnya meneruskan rukun shalat sampai salam dalam posisi berbaring.

Shalat Terlentang

Apabila pasien tidak mampu melakukan shalat dengan duduk ataupun berbaring, maka ia bisa melakukan shalat dengan terlentang.

Adapun tata caranya, ialah:

a. Pasien tidur terlentang dengan kaki membujur ke arah kiblat, kepala diangkat sedikit tinggi dengan bantal atau lainnya dan wajah menghadap kiblat. Jika karena sesuatu hal sehingga tidak memungkinkan menghadapkan wajah ke arah kiblat, misalnya karena posisi tempat tidur, atau karena kepala tidak bisa diangkat lebih tinggi maka cukup dengan menghadapkan kedua telapak kaki saja kearah kiblat.

b. Ketika ruku’ sedikit menundukkan kepala ke arah dada.

c. Ketika sujud, menundukkan kepala sedikit lebih menunduk daripada ketika ruku’.

d. Selanjutnya meneruskan rukun sampai salam dalam keadaan terlentang.

Shalat Isyarat

Jika pasien tetap tidak bisa melakukan shalat dengan semua keringanan di atas, maka cara yang terakhir adalah shalat dengan isyarat.

Adapun tata caranya ialah:

a. Posisi badan bebas. Jika masih mungkin, tetap menghadap kiblat.

b. Semua gerakan shalat dilakukan hanya dengan isyarat anggota badan misalnya jari telunjuk tangan, kedipan mata atau lainnya.

c. Jika isyarat dengan anggota tubuh tidak mampu, maka cukup isyarat dengan hati demikian juga bacaan-bacaan shalat. Hanya pasien dan Allah yang dapat mengetahui shalat dengan cara ini. Inilah ikhtiar terakhir yang dilakukan oleh pasien dalam memenuhi kewajibannya sebagai hamba Allah.

d. Jika dengan isyarat hati tidak bisa, maka berarti pasien sudah tidak terbebani kewajiban apapun.

e. Untuk kemudahan dan konsentrasi shalat pasien, ia boleh dipandu gerakannya oleh orang lain, seperti perawat, anggota keluarga dan lain sebagainya.

MENINGGALKAN SHOLAT WITIR DAN KONSEKUENSI IMAM KETIKA DATANG MAKMUM BARU

1. Seputar Hukum meninggalkan sholat witir,

Ada hadist berbunyi, “Man tarokash sholata ‘andan faqod kafaro jiharon” – [Barang siapa meninggalkan sholat dengan sengaja maka kafirlah ia dengan nyata]. {Koreksi matan hadistnya kalo ada salah}

Namun dalam Mazhab Syafi’i tidak serta merta kafir jika ia masih berkeyakinan sholat itu adalah perintah, dan hanya dihukum dosa besar. Maka Jelas sudah hukum meninggalkan sholat wajib ini.

Ada lagi Hukum meninggalkan sholat, yaitu sholat witir, sholat ini hukumnya sunnah muakaddah, namun ada Hadist yang jelas dalam “HUKUM MENINGGALKAN SHOLAT WITIR” Yakni.. “Man Lam Yutiiru Falaisa Minna” – [“Barang Siapa tidak sholat Witir, maka ia bukan dari golongan kami”]. {Koreksi matan hadistnya kalo ada salah}

Bagaimana menyikapi hadist ini? Apakah kami yg hampir tidak pernah sholat witir tiap malamnya kecuali di bulan Ramadhan itu tidak termasuk dari golongan Nabi SAW?.

2. Seputar Sholat berjamaah,

Dalam sholat berjamaah, yang tadinya seorang imam dan seorang makmum, kedatangan masbuk lainnya (lebih dari 2 orang) – meski sudah diberi isyarat bagi simakmum sendiri tadi tetapi makmum tadi tetap tidak mau mundur untuk menjadikan shaf baru. Jika sudah demikian, apakah sang Imam boleh maju untuk memberikan jarak buat simasbuk yg baru datang, atau simasbuk tetap dibelakang imam dengan shaf yang tak teratur atau bagaimana yang harus dilakukan?

JAWABAN :

[1]  Makna hadits :

“ من ترك الصلاة متعمدا فقد كفر جهارا “

“Barang siapa meninggalkan shalat dengan sengaja, maka  dia telah kufur secara terang-terangan”

Jumhur ulama’ mengartikan dengan مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ مُتَعَمِّدًا جَاحِدًا بِوُجُوْبِهَا  yaitu meninggalkan shalat dengan mengingkari kewajibannya, maka dinyatakan kafir dengan terang-terangan karena dihukumi murtad. Akan tetapi jika meninggalkannya karena malas tidak dihukumi kafir akan tetapi berdosa besar. Atau hadits di atas sebagai tahdid (peringatan keras) bagi orang yang meninggalkan shalat. Dan masih banyak lagi ta’wil dari hadits di atas. Namun sebagian ulama’ mengartikan walaupun meninggalkan shalat wajib dengan malas, maka dihukumi kafir. Pendapat pertama lebih kuat dari pendapat kedua.

Adapun selain shalat lima waktu dan jumah, maka hukumnya sunnah termasuk shalat witir. Maksud hadits “من لم يوتر فليس منا ” , berarti ta’kid akan kesunahannya sama dengan hadits :

“من رغب عن سنتي فليس مني  ”

“ Barang siapa yang enggan (berpaling) mengerjakan sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku (bukanlah termasuk orang yang mengamalkan sunnah-sunnah-Ku)“

Atau sama dengan hadits :

ليس منا من لم يتغن بالقرآن

“  Bukanlah termasuk jalan-Ku (mengamalkan sunnah-sunnah-Ku) orang yang tidak memperindah bacaan Al-Qur’an “

[2]  Posisi shalat berjama’ah jika dengan makmum satu, makmum berdiri di sebelah kanan belakang imam. Jika datang lagi satu makmum masbuq, bediri di sebelah kiri imam. Namun jika yang datang dua atau lebih, maka mereka membuat shaf di belakang imam dan makmum pertama mundur menyatu dalam shaf tadi. Jika ia tidak berkenan mundur, maka diisyaratkan untuk mundur atau imam maju ke depan secukupnya untuk mereka membuat shaf yang lurus.

[1] تحفة الأحوذي – (ج 6 / ص 419)

أَمَّا حَدِيثُ أَنَسٍ فَأَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ بِإِسْنَادٍ لَا بَأْسَ بِهِ وَلَفْظُهُ : مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ مُتَعَمِّدًا فَقَدْ كَفَرَ جِهَارًا

فيض القدير – (ج 6 / ص 132)

(من ترك الصلاة متعمدا فقد كفر جهارا) أي استوجب عقوبة من كفر أو قارب أن ينخلع عن الإيمان بانحلال عروته وسقوط عماده كما يقال لمن قارب البلد إنه بلغها أو فعل فعل الكفار وتشبه بهم لأنهم لا يصلون أو فقد ستر تلك الأقوال والأفعال المخصوصة التي كلفه الله بأن يبديها

المجموع – (ج 18 / ص 22)

وقوله في الحديث ” فهو كما قال “.قال الحافظ في الفتح: يحتمل أن يكون المراد بهذا الكلام التهديد والمبالغة في الوعيد لا الحكم كأنه قال: فهو مستحق مثل عذاب من اعتقد ما قال ونظيره ” من ترك الصلاة فقد كفر ” أي استوجب عقوبة من كفر

العرف الشذي للكشميري – (ج 3 / ص 148)

– الحديث رقم: 1402

بعض الكلام في حديث الباب مر ولكن الكلام فيه أطول من حيث إدخالُ ما في الفقه من جواز قتل غير ما في حديث الباب ، من قطاع الطريق ومن تارك الصلاة عند غيرنا مثل الشافعية والحنابلة ، لكن القتل عند الحنابلة ارتداداً وفي كتاب لنا أن يقتل تارك الصلاة ، وفي عامة كتبنا أنه يضرب حتى يسيل الدم من بدنه ، فقيل في وجه إلحاق مثل هذين بما في الحديث بأنهم داخلون تحت النعت أي المفارق لجماعة ، وقيل بإدخالهم تحت المنعوت أيضاً أي التارك لدينه ، وورد في المعجم للطبراني : < من ترك الصلاة فقد كفر جهاراً > إلخ ، وهو متمسك الحنابلة وتمسك النووي بحديث فيه المقاتلة على قتل تارك الصلاة ، والحال أن بين القتال والقتل بوناً بعيداً حتى أن القتال قد يكون على ترك السنة أيضاً

شرح ابن بطال – (ج 4 / ص 205)

وقوله:  « من لم يوتر فليس منا » ، يقتضى الترغيب فيه، ومعناه: ليس بآخذ سُنتنا ولا مُقْتَدٍ بنا، كما قال:  « ليس منا من لم يتغن بالقرآن » ، ولم يرد إخراجه من الإسلام

شرح سنن النسائي – (ج 3 / ص 115)

حَاشِيَةُ السِّنْدِيِّ : قَوْله ( الْوِتْر حَقٌّ إِلَخْ )

قَدْ يَسْتَدِلُّ بِهِ مَنْ يَقُول بِوُجُوبِ الْوِتْر بِنَاء عَلَى أَنَّ الْحَقّ هُوَ اللَّازِم الثَّابِت عَلَى الذِّمَّة وَقَدْ جَاءَ فِي بَعْض الرِّوَايَات مَقْرُونًا بِالْوَعِيدِ عَلَى تَارِكِهِ وَيُجِيب مَنْ لَا يَرَى الْوُجُوب أَنَّ مَعْنَى حَقّ أَنَّهُ مَشْرُوع ثَابِت وَمَعْنَى لَيْسَ مِنَّا كَمَا فِي بَعْض الرِّوَايَات لَيْسَ مِنْ أَهْلِ سُنَّتِنَا وَعَلَى طَرِيقَتنَا أَوْ الْمُرَاد مَنْ لَمْ يُوتِر رَغْبَة عَنْ السُّنَّة فَلَيْسَ مِنَّا وَاَللَّه تَعَالَى أَعْلَمُ .

فيض القدير – (ج 1 / ص 207)

– (اجعلوا) من الجعل كما قال الحراني وهو إظهار أمر عن سبب وتصيير (آخر صلاتكم بالليل) يعني تهجدكم فيه (وترا) بالكسر والفتح وهو الفرد ما لم يشفع من العدد والمراد صلاة الوتر وذلك لأن أول صلاة الليل المغرب وهي وتر فناسب كون آخرها وترا والأمر للوجوب عند أبي حنيفة وللندب عند الشافعي بدليل ذكر صلاة الليل فإنها غير واجبة اتفاقا فكذا آخرها وخبر من لم يوتر فليس منا معناه غير عامل بسنتنا وفيه الأمر بجعل صلاة الوتر آخر الليل فتأخيره إلى آخره أفضل لمن وثق بانتباهه آخر الليل وتقديمه لغيره أفضل كما يصرح به خبر مسلم ” من خاف أن لا يقوم من آخر الليل فليوتر أوله ومن طمع أن يقوم آخره فليوتر آخر الليل فإن صلاة آخر الليل مشهودة أي تشهدها ملائكة الرحمة وعلى التفصيل تحمل الأحاديث المطلقة كخبر أوصاني خليلي أن لا أنام إلا على وتر (ق د) في الصلاة (عن ابن عمر) بن الخطاب وقضية صنيعه أنه لم يروه من الستة إلا هؤلاء الثلاثة والأمر بخلافه فإن النسائي رواه معهم

[2]  التقريرات السديدة / 294

كيفية الوقوف لصلاة الجماعة : ان يقف الذكر عن يمين الإمام، فاذا جاء آخر فعن يساره ، ثم يتقدم الإمام او يتأخران وهو الأفضل. وسقف خلف الإمام الرجال، ثم الصبيان، ثم الخناثى ، ثم النساء

حواشي الشرواني – (ج 2 / ص 305)

(أحرم عن يساره) أي ندبا ولو خالف ذلك كره وفاتت به فضيلة الجماعة كما أفتى به الوالد رحمه الله تعالى نعم إن عقب تحرم الثاني تقدم الامام أو تأخرهما نالا فضيلتها وإلا فلا تحصل لواحد منهما نهاية قال الرشيدي قوله وإلا فلا تحصل إلخ ظاهره أن فضيلة الجماعة تنتفي في جميع الصلاة وإن حصل التقدم أو التأخر بعد ذلك وهو مشكل وفي فتاوى والده في محل آخر ما يخالف ذلك فليراجع ا ه قول المتن (ثم يتقدم الامام) ظاهره استمرار الفضيلة لهما بعد تقدم الامام وإن داما على موقفهما من غير ضم أحدهما إلى الآخر وكذلك لو تأخرا ولا بعد فيه لطلبه منهما هنا ابتداء فلا يخالف ما سيأتي برماوي وعبارة العزيزي قوله أو يتأخران أي مع انضمامهما وكذا ينضمان لو تقدم الامام ا ه ويدل له قوله في الحديث فأخذ بأيدينا فأقامنا خلفه إلخ بجيرمي قوله: (في القيام) ومنه الاعتدال ع ش قول المتن (أفضل) أي من تقدم الامام مغني قوله: (وألحق به الركوع) أي كما بحثه شيخنا مغني ونهاية قوله: (وإلا) أي إن لم يمكن إلا أحدهما لضيق المكان من أحد الجانبين أو نحوه كما لو كان بحيث لو تقدم الامام سجد على نحو تراب يشوه خلقه أو يفسد ثيابه أو يضحك عليه الناس ع ش قوله: (تعين ما سهل منهما) يتردد النظر فيما لو ترك المتعين عليه ذلك فعله هل يكون مفوتا لفضيلة الجماعة بالنسبة إليه فقط لان الآخرين أو الآخر لا تقصير منهما أو منه أو بالنسبة للجميع لوجود الخلل في الجماعة في الجملة ولعل الاول أوجه بصري زاد ع ش وسئل الشهاب الرملي عما أفتى به بعض أهل العصر أنه إذا وقف صف قبل إتمام ما أمامه لم تحصل له فضيلة الجماعة هل معتمد أم لا فأجاب بأنه لا تفوته فضيلة الجماعة بوقوفة المذكور وفي ابن عبد الحق ما يوافقه وعليه فيكون هذا مستثنى من قولهم مخالفة السنن المطلوبة في الصلاة من حيث الجماعة مكروهة مفوتة للفضيلة

المجموع – (ج 4 / ص 292)

(احداها) السنة أن يقف المأموم الواحد عن يمين الامام رجلا كان أو صبيا قال اصحابنا ويستحب ان يتأخر عن مساواة الامام قليلا فان خالف ووقف عن يساره أو خلفه استحب له ان يتحول الي يمينه ويحترز عن افعال تبطل الصلاة فان لم يتحول استحب للامام ان يحوله لحديث ابن عباس فان استمر علي اليسار أو خلفه كره وصحت صلاته عندنا بالاتفاق (الثانية) إذا حضر امام ومامومان تقدم الامام واصطفا خلفه سوا كانا رجلين أو صبيين أو رجلا وصبيا: هذا مذهبنا ومذهب العلماء كافة الا عبد الله بن مسعود وصاحبيه علقمة والاسود فانهم قالوا يكون الامام والمأمومان كلهم صفا واحدا ثبت هذا عن ابن مسعود في صحيح مسلم دليلنا حديث جابر السابق قال اصحابنا فان حضر امام وماموم واحرم عن يمينه ثم جاء آخر احرم عن يساره ثم ان كان قدام الامام سعة وليس وراء المأمومين سعة تقدم الامام وان كان وراءهما سعة وليست قدامه تأخرا وان كان قدامه سعة ووراءهما سعة تقدم أو تأخرا وأيهما افضل فيه وجهان (الصحيح) الذى قطع به الشيخ أبو حامد والاكثرون تأخرهما لان الامام متبوع فلا ينتقل (والثاني) تقدمه قاله القفال والقاضى أبو الطيب لانه يبصر ما بين يديه ولانه فعل شخص فهو اخف من شخصين هذا إذا جاء المأموم الثاني في القيام فان جاء في التشهد والسجود فلا تقدم ولا تأخر حتي يقوموا ولا خلاف أن التقدم والتاخر لا يكون الا بعد احرام المأموم الثاني كما ذكرنا وقد نبه عليه المصنف بقوله ثم يتقدم الامام أو يتاخرا

تحفة المحتاج في شرح المنهاج  – (ج 8 / ص 132)

( وَيَقِفُ ) عَبَّرَ بِهِ هُنَا وَفِيمَا يَأْتِي لِلْغَالِبِ أَيْضًا ( الذَّكَرُ ) وَلَوْ صَبِيًّا لَمْ يَحْضُرْهُ غَيْرُهُ ( عَنْ يَمِينِهِ ) وَإِلَّا سُنَّ لِلْإِمَامِ تَحْوِيلُهُ لِلِاتِّبَاعِ ( فَإِنْ حَضَرَ آخَرُ أَحْرَمَ عَنْ يَسَارِهِ ) ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ بِيَسَارِهِ مَحَلٌّ أَحْرَمَ خَلْفَهُ ثُمَّ تَأَخَّرَ إلَيْهِ مَنْ هُوَ عَلَى الْيَمِينِ ( ثُمَّ ) بَعْدَ إحْرَامِهِ لَا قَبْلَهُ ( يَتَقَدَّمُ الْإِمَامُ أَوْ يَتَأَخَّرَانِ ) فِي الْقِيَامِ وَأَلْحَقَ بِهِ الرُّكُوعَ ( وَهُوَ ) أَيْ تَأَخُّرُهُمَا ( أَفْضَلُ ) لِلِاتِّبَاعِ أَيْضًا وَلِأَنَّ الْإِمَامَ مَتْبُوعٌ فَلَا يُنَاسِبُهُ الِانْتِقَالُ هَذَا إنْ سَهَّلَ كُلٌّ مِنْهُمَا لِسَعَةِ الْمَكَانِ وَإِلَّا تَعَيَّنَ مَا سَهُلَ مِنْهُمَا تَحْصِيلًا لِلسُّنَّةِ أَمَّا فِي غَيْرِ الْقِيَامِ ، وَالرُّكُوعِ فَلَا تَقَدُّمَ وَلَا تَأَخُّرَ لِعُسْرِهِ حَتَّى يَقُومُوا

تحفة المحتاج في شرح المنهاج  – (ج 8 / ص 134)

( قَوْلُهُ : فِي الْمَتْنِ ثُمَّ يَتَقَدَّمُ الْإِمَامُ أَوْ يَتَأَخَّرَانِ ) لَوْ لَمْ يَتَقَدَّمْ الْإِمَامُ وَلَا تَأَخَّرَا كُرِهَ وَفَاتَتْ فَضِيلَةُ الْجَمَاعَةِ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ لَكِنَّ هَذَا وَاضِحٌ بِالنِّسْبَةِ لِلْمَأْمُومِ أَمَّا الْإِمَامُ فَهَلْ تَثْبُتُ الْكَرَاهَةُ وَفَوَاتُ الْجَمَاعَةِ فِي حَقِّهِ أَيْضًا أَوْ لَا ؛ لِأَنَّ طَلَبَ التَّقَدُّمِ ، وَالتَّأَخُّرِ إنَّمَا هُوَ لِمَصْلَحَةِ الْمَأْمُومِ فِيهِ نَظَرٌ وَلَا يَبْعُدُ ثُبُوتُ ذَلِكَ فِي حَقِّهِ أَيْضًا حَيْثُ أَمْكَنَهُ التَّقَدُّمُ وَلَا نُسَلِّمُ أَنَّ طَلَبَ مَا ذَكَرَهُ لِمَصْلَحَةِ الْمَأْمُومِ فَقَطْ بَلْ لِمَصْلَحَتِهِ هُوَ أَيْضًا فَلْيُتَأَمَّلْ وَيَجْرِي التَّرَدُّدُ الْمَذْكُورُ فِيمَا لَوْ وَقَفَ الْمَأْمُومُ عَنْ يَسَارِهِ وَأَمْكَنَهُ تَحْوِيلُهُ إلَى الْيَمِينِ أَوْ انْتِقَالُهُ هُوَ بِحَيْثُ يَصِيرُ الْمَأْمُومُ عَنْ يَمِينِهِ

HUKUM TUKANG PIJAT KETIKA ADA PASIEN LAWAN JENIS

Berprofesi sebagai tukang pijat itu hukumnya boleh jika si tukang pijat dan pasien sama jenis kelaminnya. Jika berbeda jenis kelamin antara tukang pijat dan pasien maka harus :

– ada nya mahrom atau suami/istri yg menemani, tidak berdua-duaan

– tidak ada tukang pijat yang ahli di bidang nya selain lawan jenis

Dan menurut Imam Al Mawardi : Jadi tukang pijat harus disyaratkan aman dari fitnah.

Dalam Al-Mausuah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah (Ensiklopedi Fiqih), halaman 37/286 disimpulkan pendapat para ulama dari keempat madzhab sbb:

    Mayoritas ulama fiqih dari madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali (Hanabilah) berpendapat bahwa boleh bagi dokter muslim laki-laki, apabila tidak ada dokter perempuan, untuk mengobati pasien wanita bukan mahram yang muslimah dan melihat dan menyentuh tempat yang diperlukan untuk dilihat dan disentuh. Apabila tidak ada dokter perempuan dan tidak ada dokter muslim laki-laki maka boleh dokter non-muslim. Didahulukan dokter perempuan non-muslim dibanding dokter pria muslim karena pandangan wanita lebih ringan dibanding pria. Dan boleh bagi dokter perempuan melihat dan menyentuh pasien pria sesuai kebutuhan untuk dilihat dan disentuh apabila tidak ada dokter pria yang dapat mengobati pasien laki-laki. Ulama fikih menerapkan sejumlah syarat untuk hal ini.

    Madzhab Syafi’i menyatakan: Boleh melihat dan menyentuh untuk fashd, bekam dan pengobatan karena diperlukan akan tetapi harus di depan orang (ketiga) yang mencegah khalwat (berduaan) seperti mahram, suami, atau wanita yang bisa dipercaya karena bolehnya pertemuan satu laki-laki dengan dua perempuan yang bisa dipercaya. Al-Mawardi menyaratkan harus aman dari fitnah dan tidak membuka anggota tubuh kecuali yang diperlukan saja.

    Madzhab Syafi’i berkata: terkadang haram melihat tidak haram menyentuh seperti apabila memungkinkan bagi dokter mengetahui penyakit hanya dengan menyentuh saja. Madzhab Hanbali berkata: dokter boleh melihat dan menyentuh anggota tubuh yang perlu dilihat dan disentuh — berdasar teks Imam Ahmad bin Hanbal — sampai kemaluan dan bagian dalam karena itu tempat yang diperlukan walaupun dokternya non-muslim. Dan hal itu hendaknya ditemanioleh mahram atau suami karena khalwat tidak aman dari terjadinya perkara haram dan menutupi anggota tubuh yang selain yang diperlukan karena hukum aslanya adalah haram. Dan sama dengan dokter adalah orang yang bertugas menemani orang sakit saat wudhu dan istinja (cebok) dan lainnya dan seperti menyelamatkan orang dari tenggelam atau kebakaran dan lainnya. begitu juga apabila mencukur bulu kemaluan orang yang tidak bisa mencukurnya sendiri. Begitu juga untuk mengetahui keperawanan, janda atau baligh. Adapun menyentuh tanpa syahwat seperti menyentuh tangan untuk mengetahui penyakitnya maka itu tidak makruh (tidak dilarang) sama sekali.

Wallohu a’lam.

Referensi :

شرح المحلى على منهاج الطالبين بهامش حاشيتا قليوبي وعميرة ج ٣ ص ٢١٣

(وَيُبَاحَانِ) أَيْ النَّظَرُ وَالْمَسُّ (لِفَصْدٍ وَحِجَامَةٍ وَعِلَاجٍ) لِعِلَّةٍ لِلْحَاجَةِ إلَى ذَلِكَ وَلْيَكُنْ ذَلِكَ بَيْنَ الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ بِحُضُورِ مَحْرَمٍ، أَوْ زَوْجٍ وَيُشْتَرَطُ أَنْ لَا تُوجَدَ امْرَأَةٌ تُعَالِجُ الْمَرْأَةَ أَوْ رَجُلٌ يُعَالِجُ الرَّجُلَ، وَأَنْ لَا يَكُونَ ذِمِّيًّا مَعَ وُجُودِ مُسْلِمٍ

مغني المحتاج جـ ٤ صـ ٢١٥

(وَ) اعْلَمْ أَنَّ مَا تَقَدَّمَ مِنْ حُرْمَةِ النَّظَرِ وَالْمَسِّ هُوَ حَيْثُ لَا حَاجَةَ إلَيْهِمَا. وَأَمَّا عِنْدَ الْحَاجَةِ فَالنَّظَرُ وَالْمَسُّ (مُبَاحَانِ لِفَصْدٍ وَحِجَامَةٍ وَعِلَاجٍ) وَلَوْ فِي فَرْجٍ لِلْحَاجَةِ الْمُلْجِئَةِ إلَى ذَلِكَ؛ لِأَنَّ فِي التَّحْرِيمِ حِينَئِذٍ حَرَجًا، فَلِلرَّجُلِ مُدَاوَاةُ الْمَرْأَةِ وَعَكْسُهُ، وَلْيَكُنْ ذَلِكَ بِحَضْرَةِ مَحْرَمٍ أَوْ زَوْجٍ أَوْ امْرَأَةٍ ثِقَةٍ إنْ جَوَّزْنَا خَلْوَةَ أَجْنَبِيٍّ بِامْرَأَتَيْنِ، وَهُوَ الرَّاجِحُ كَمَا سَيَأْتِي فِي الْعَدَدِ إنْ شَاءَ اللَّهُ – تَعَالَى -. وَيُشْتَرَطُ عَدَمُ امْرَأَةٍ يُمْكِنُهَا تَعَاطِي ذَلِكَ مِنْ امْرَأَةٍ وَعَكْسُهُ كَمَا صَحَّحَهُ فِي زِيَادَةِ الرَّوْضَةِ، وَأَنْ لَا يَكُونَ ذِمِّيًّا مَعَ وُجُودِ مُسْلِمٍ، وَقِيَاسُهُ كَمَا قَالَ الْأَذْرَعِيُّ أَنْ لَا تَكُونَ كَافِرَةً أَجْنَبِيَّةً مَعَ وُجُودِ مُسْلِمَةٍ عَلَى الْأَصَحِّ، صَرَّحَ بِهِ فِي الْكِفَايَةِ، وَلَوْ لَمْ نَجِدْ لِعِلَاجِ الْمَرْأَةِ إلَّا كَافِرَةً وَمُسْلِمًا، فَالظَّاهِرُ كَمَا قَالَ الْأَذْرَعِيُّ أَنَّ الْكَافِرَةَ تُقَدَّمُ؛ لِأَنَّ نَظَرَهَا وَمَسَّهَا أَخَفُّ مِنْ الرَّجُلِ بَلْ الْأَشْبَهُ عِنْدَ الشَّيْخَيْنِ كَمَا مَرَّ أَنَّهَا تَنْظُرُ مِنْهَا مَا يَبْدُو عِنْدَ الْمَهْنَةِ بِخِلَافِ الرَّجُلِ

تَنْبِيهٌ رَتَّبَ الْبُلْقِينِيُّ ذَلِكَ، فَقَالَ: فَإِنْ كَانَتْ امْرَأَةٌ فَيُعْتَبَرُ وُجُودُ امْرَأَةٍ مُسْلِمَةٍ، فَإِنْ تَعَذَّرَتْ فَصَبِيٌّ مُسْلِمٌ غَيْرُ مُرَاهِقٍ، فَإِنْ تَعَذَّرَ فَصَبِيٌّ غَيْرُ مُرَاهِقٍ كَافِرٌ، فَإِنْ تَعَذَّرَ فَامْرَأَةٌ كَافِرَةٌ، فَإِنْ تَعَذَّرَتْ فَمَحْرَمُهَا الْمُسْلِمُ، فَإِنْ تَعَذَّرَ فَمَحْرَمُهَا الْكَافِرُ، فَإِنْ تَعَذَّرَ فَأَجْنَبِيٌّ مُسْلِمٌ، فَإِنْ تَعَذَّرَ فَأَجْنَبِيٌّ كَافِرٌ. اهـ

وَالْمُتَّجَهُ تَأْخِيرُ الْمَرْأَةِ الْكَافِرَةِ عَنْ الْمَحْرَمِ بِقِسْمَيْهِ، وَقَيَّدَ فِي الْكَافِي الطَّبِيبَ بِالْأَمِينِ فَلَا يُعْدَلُ إلَى غَيْرِهِ مَعَ وُجُودِهِ كَمَا قَالَهُ الزَّرْكَشِيُّ، وَشَرَطَ الْمَاوَرْدِيُّ أَنْ يَأْمَنَ الِافْتِتَانَ، وَلَا يَكْشِفَ إلَّا قَدْرَ الْحَاجَةِ كَمَا قَالَهُ الْقَفَّالُ فِي فَتَاوِيهِ، وَفِي مَعْنَى الْفَصْدِ وَالْحِجَامَةِ نَظَرُ الْخَاتِنِ إلَى فَرْجِ مَنْ يَخْتِنُهُ، وَنَظَرُ الْقَابِلَةِ إلَى فَرْجِ الَّتِي تُوَلِّدُهَا، وَيُعْتَبَرُ فِي النَّظَرِ إلَى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ مُطْلَقُ الْحَاجَةِ، وَفِي غَيْرِهِمَا مَا عَدَا السَّوْأَتَيْنِ تَأَكُّدُهَا بِأَنْ يَكُونَ مِمَّا يُبِيحُ التَّيَمُّمَ كَشِدَّةِ الضَّنَى كَمَا نَقَلَاهُ عَنْ الْإِمَامِ، وَقَضِيَّةُ هَذَا كَمَا قَالَ الزَّرْكَشِيُّ أَنَّهُ لَوْ خَافَ شَيْئًا فَاحِشًا فِي عُضْوٍ بَاطِنٍ امْتَنَعَ النَّظَرُ، وَفِيهِ نَظَرٌ، وَفِي السَّوْأَتَيْنِ مَزِيدُ تَأَكُّدِهَا بِأَنْ لَا يُعَدَّ التَّكَشُّفُ بِسَبَبِهَا هَتْكًا لِلْمُرُوءَةِ كَمَا نَقَلَاهُ عَنْ الْغَزَالِيِّ وَأَقَرَّاهُ

تحفة المحتاج جـ ٧ صـ ٢٠٢

(وَيُبَاحَانِ) أَيْ النَّظَرُ وَالْمَسُّ (لِفَصْدٍ وَحِجَامَةٍ وَعِلَاجٍ) لِلْحَاجَةِ لَكِنْ بِحَضْرَةِ مَانِعِ خَلْوَةٍ كَمَحْرَمٍ، أَوْ زَوْجٍ أَوْ امْرَأَةٍ ثِقَةٍ لِحِلِّ خَلْوَةِ رَجُلٍ بِامْرَأَتَيْنِ ثِقَتَيْنِ يَحْتَشِمُهُمَا وَلَيْسَ الْأَمْرَدَانِ كَالْمَرْأَتَيْنِ خِلَافًا لِمَنْ بَحَثَهُ؛ لِأَنَّ مَا عَلَّلُوا بِهِ فِيهِمَا مِنْ اسْتِحْيَاءِ كُلٍّ بِحَضْرَةِ الْأُخْرَى لَا يَأْتِي فِي الْأَمْرَدَيْنِ كَمَا صَرَّحُوا بِهِ فِي الرَّجُلَيْنِ. وَبِشَرْطِ عَدَمِ امْرَأَةٍ تُحْسِنُ ذَلِكَ كَعَكْسِهِ، وَأَنْ لَا يَكُونَ غَيْرَ أَمِينٍ مَعَ وُجُودِ أَمِينٍ وَلَا ذِمِّيًّا مَعَ وُجُودِ مُسْلِمٍ، أَوْ ذِمِّيَّةٍ مَعَ وُجُودِ مُسْلِمَةٍ وَبَحَثَ الْبُلْقِينِيُّ أَنَّهُ يُقَدَّمُ فِي الْمَرْأَةِ مُسْلِمَةٌ فَصَبِيٌّ مُسْلِمٌ غَيْرُ مُرَاهِقٍ فَمُرَاهِقٌ فَكَافِرٌ غَيْرُ مُرَاهِقٍ فَمُرَاهِقٌ فَامْرَأَةٌ كَافِرَةٌ فَمَحْرَمٌ مُسْلِمٌ فَمَحْرَمٌ كَافِرٌ فَأَجْنَبِيٌّ مُسْلِمٌ فَكَافِرٌ اهـ وَوَافَقَهُ الْأَذْرَعِيُّ عَلَى تَقْدِيمِ الْكَافِرَةِ عَلَى الْمُسْلِمِ وَفِي تَقْدِيمِهِ لَهَا عَلَى الْمَحْرَمِ نَظَرٌ ظَاهِرٌ وَاَلَّذِي يَتَّجِهُ تَقْدِيمُ نَحْوِ مَحْرَمٍ مُطْلَقًا عَلَى كَافِرَةٍ لِنَظَرِهِ مَا لَا تَنْظُرُ هِيَ وَمَمْسُوحٍ عَلَى مُرَاهِقٍ وَأَمْهَرَ وَلَوْ مِنْ غَيْرِ الْجِنْسِ وَالدَّيِّنُ عَلَى غَيْرِهِ وَوُجُودِ مَنْ لَا يَرْضَى إلَّا بِأَكْثَرَ مِنْ أُجْرَةِ الْمِثْلِ كَالْعَدَمِ فِيمَا يَظْهَرُ بَلْ لَوْ وُجِدَ كَافِرٌ يَرْضَى بِدُونِهَا وَمُسْلِمٌ لَا يَرْضَى إلَّا بِهَا احْتَمَلَ أَنَّ الْمُسْلِمَ كَالْعَدَمِ أَيْضًا أَخْذًا مِمَّا يَأْتِي أَنَّ الْأُمَّ لَوْ طَلَبَتْ أُجْرَةَ الْمِثْلِ وَوَجَدَ الْأَبُ مَنْ يَرْضَى بِدُونِهَا سَقَطَتْ حَضَانَةُ الْأُمِّ وَيَحْتَمِلُ الْفَرْقَ وَيَظْهَرُ فِي الْأَمْرَدِ أَنَّهُ يَتَأَتَّى فِيهِ نَظِيرُ ذَلِكَ التَّرْتِيبِ فَيُقَدَّمُ مَنْ يَحِلُّ نَظَرُهُ إلَيْهِ فَغَيْرُ مُرَاهِقٍ فَمُرَاهِقٌ فَمُسْلِمٌ ثِقَةٌ فَكَافِرٌ بَالِغٌ وَيُعْتَبَرُ فِي الْوَجْهِ وَالْكَفِّ أَدْنَى حَاجَةٍ وَفِيمَا عَدَاهُمَا مُبِيحُ تَيَمُّمٍ إلَّا الْفَرَجَ وَقَرِيبَهُ فَيُعْتَبَرُ زِيَادَةٌ عَلَى ذَلِكَ، وَهِيَ أَنْ تَشْتَدَّ الضَّرُورَةُ حَتَّى لَا يُعَدُّ الْكَشْفُ لِذَلِكَ هَتْكًا لِلْمُرُوءَةِ

ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﻋﻠﻰ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻮﺟﻴﺰ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ ﺹ : 482

ﻭﻣﻨﻬﺎ : ﺍﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﻭﺍﻟﻤﺲ ﻟﻠﻔﺼﺪ ﻭﺍﻟﺤﺠﺎﻣﺔ ﻭﺍﻟﻤﻌﺎﻟﺠﺔ ﻟﻌﻠﺔ ﻭﻟﻴﻜﻦ ﺫﻟﻚ ﺑﺤﻀﻮﺭ ﺍﻟﻤﺤﺮﻡ ﻭﻳﺸﺘﺮﻁ ﻓﻰ ﺟﻮﺍﺯ ﻧﻈﺮ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺃ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻫﻨﺎﻙ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﺗﻌﺎﻟﺞ ﻭﻓﻰ ﺟﻮﺍﺯ ﻧﻈﺮ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺃﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻫﻨﺎﻙ ﺭﺟﻞ ﻳﻌﺎﻟﺠﻪ ﻛﺬﻟﻚ ﺫﻛﺮﻩ ﺍﺑﻮ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺰﺑﻴﺮﻱ ﻭﺍﻟﻘﺎﺿﻰ ﺍﻟﺮﻭﻳﺎﻧﻲ ﺍﻳﻀﺎ ﻭﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﺎﺹ ﺧﻼﻓﻪ ﺛﻢ ﺍﺻﻞ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ ﻛﺎﻑ ﻓﻰ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻭﺍﻟﻴﺪﻳﻦ ﻭﻟﺬﻟﻚ ﺟﺎﺯ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺑﺴﺒﺐ ﺍﻟﺮﻏﺒﺔ ﻓﻰ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺍﻟﻰ ﺳﺎﺋﺮ ﺍﻷﻋﻀﺎﺀ ﻳﻌﺘﺒﺮ ﺍﻟﺘﺄﻛﺪ ﻭﺿﺒﻄﻪ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻓﻘﺎﻝ ﻣﺎﻳﺠﺎﻭﺯ ﺍﻹﻧﺘﻘﺎﻝ ﺑﺴﺒﺒﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﻭﻓﺎﻗﺎ ﺍﻭ ﺧﻼﻓﺎ ﻛﺸﺪﺓ ﺍﻟﻀﻨﻰ ﻭﻣﺎ ﻓﻰ ﻣﻌﻨﻬﺎ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺑﺴﺒﺒﻪ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﺴﻮﺀﺗﻴﻦ ﻳﻌﺘﺒﺮ ﻣﺰﻳﺪ ﺗﺄﻛﺪ ﻗﺎﻝ ﻓﻰ ﺍﻟﻮﺳﻴﻂ : ﻭﺫﻟﻚ ﺑﺄﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ ﺑﺤﻴﺚ ﻻﻳﻌﺪ ﺍﻟﺘﻜﺸﻒ ﺑﺴﺒﺒﻬﺎ ﻫﺘﻜﺎ ﻟﻠﻤﺮﻭﺀﺓ ﻭﻳﻌﺬﺭ ﻓﻰ ﺍﻟﻌﺎﺩﺍﺕ ﻭﺍﻟﻰ ﻫﺬﺍﺍﻟﺘﺮﺗﻴﺐ ﺍﺷﺎﺭ ﻓﻰ ﺗﺎﻛﺘﺎﺏ ﺑﻘﻮﻟﻪ : ﻭﻟﻴﻤﻦ النظر ﺍﻟﻰ ﺍﻟﺴﻮأتين ﻟﺤﺎﺟﺔ ﻣﺆﻛﺪﺓ

ﺍﻟﺸﺮﻭﺍﻧﻰ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﺘﺎﺳﻊ ﺹ : 41-39

ﻭﻳﺒﺎﺣﺎﻥ ﺃﻱ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺍﻟﻤﺲ ﻟﻔﺼﺪ ﻭﺣﺠﺎﻣﺔ ﻭﻋﻼﺝ ﻟﻠﺤﺎﺟﺔ ﻟﻜﻦ ﺑﺤﻀﺮﺓ ﻣﺎﻧﻊ ﺧﻠﻮﺓ ﻛﻤﺤﺮﻡ ﺃﻭ ﺯﻭﺝ ﺃﻭ ﺇﻣﺮﺃﺓ ﺛﻘﺔ ﻟﺤﻞ ﺧﻠﻮﺓ ﺭﺟﻞ ﺑﺎﻣﺮﺃﺓ ﺛﻘﺔ ﻟﺤﻞ ﺧﻠﻮﺓ ﺭﺟﻞ ﺑﺎﻣﺮﺃﺗﻴﻦ ﺛﻘﺘﻴﻦ ﻳﺤﺘﺸﻤﻬﺎ، ﺇﻟﻰ ﺍﻥ ﻗﺎﻝ ﻭﺑﺸﺮﻁ ﻋﺪﻡ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﺗﺤﺴﻦ ﺫﻟﻚ ﻛﻌﻜﺴﻪ ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻏﻴﺮ ﺃﻣﻴﻦ ﻣﻊ ﻭﺟﻮﺩ ﺃﻣﻴﻦ ﻭﻻ ﺫﻣﻴﺎ ﻣﻊ ﻭﺟﻮﺩ ﻣﺴﻠﻢ ﺃﻭ ﺫﻣﻴﺔ ﻣﻊ ﻭﺟﻮﺩ ﻣﺴﻠﻤﺔ ﻭﺑﺤﺚ ﺍﻟﺒﻠﻘﻴﻨﻰ ﺇﻧﻪ ﻳﻘﺪﻡ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻣﺴﻠﻤﺔ ﻓﺼﺒﻰ ﻣﺴﻠﻢ ﻏﻴﺮ ﻣﺮﺍﻫﻖ ﻓﻤﺮﺍﻫﻖ ﻓﻜﺎﻓﺮ ﻏﻴﺮ ﻣﺮﺍﻫﻖ ﻓﻤﺮﺍﻫﻖ ﻓﺎﻣﺮﺃﺓ ﻛﺎﻓﺮﺓ ﻓﻤﺤﺮﻡ ﻣﺴﻠﻢ ﻓﻤﺤﺮﻡ ﻛﺎﻓﺮ ﻓﺄﺟﻨﺒﻲ ﻣﺴﻠﻢ ﻓﻜﺎﻓﺮ ﺍﻫـ ﻭﻭﺍﻓﻘﻪ ﺍﻷﺫﺭﻋﻯﻌﻠﻯﺘﻘﺪﻳﻢ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮﺓ على ﺎﻟﻤﺴلم ﻭﻓﻰ ﺗﻘﺪﻳﻢ ﺍﻟﻤﺤﺮﻡ ﻧﻈﺮ ، ﻭﺍﻟﺬﻯ ﻳﺘﺠﻪ ﺗﻘﺪﻳﻢ ﻧﺤﻮ ﻣﺤﺮﻡ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻋﻠﻰ ﻛﺎﻓﺮﺓ ﻟﻨﻈﺮﻩ ﻣﺎ ﻻ ﺗﻨﻈﺮ ﻫﻰ ﻭﻣﻤﺴﻮﺡ ﻋﻠﻰ ﻣﺮﺍﻫﻖ ﻭﺃﻣﻬﺮ ﻭﻟﻮﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﺠﻨﺲ ﻭﺍﻟﺪﻳﻦ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮﻩ ﻭﻭﺟﻮﺩ ﻣﻦ ﻻ ﻳﺮﺿﻰ ﺇﻻ ﺑﺄﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺃﺟﺮﺓ ﺍﻟﻤﺜﻞ ﻛﺎﻟﻌﺪﻡ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻈﻬﺮ ،ﺑﻞ ﻟﻮ ﻭﺟﺪ ﻛﺎﻓﺮ ﻳﺮﺿﻰ ﺑﺪﻭﻧﻬﺎ ﻭﻣﺴﻠﻢ ﻻ ﻳﺮﺿﻰ ﺇﻻ ﺑﻬﺎ ﺍﺣﺘﻤﻞ ﺍﻥ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﻛﺎﻟﻌﺎﺩﻡ ﺃﻳﻀﺎ

ذهب جمهور الفقهاء من الحنفية والمالكية والشافعية والحنابلة إلى أنه يجوز للطبيب المسلم إن لم توجد طبيبة أن يداوي المريضة الأجنبية المسلمة وينظر منها ويمس ما تلجئ الحاجة إلى نظره , ومسه فإن لم توجد طبيبة ولا طبيب مسلم جاز للطبيب الذمي ذلك , وتقدم المرأة الكافرة مع وجود طبيب مسلم لأن نظر الكافرة ومسها أخف من الرجل . ويجوز للطبيبة أن تنظر وتمس من المريض ما تدعو الحاجة الملجئة إلى نظره ومسه إن لم يوجد طبيب يقوم بمداواة المريض , وقد اشترط بعض الفقهاء شروطا لذلك

فقال الشافعية : ويباحان أي النظر والمس لفصد وحجامة وعلاج للحاجة لكن بحضرة مانع خلوة كمحرم أو زوج أو امرأة ثقة لحل خلوة رجل بامرأتين ثقتين , وشرط الماوردي أن يأمن الافتنان ولا يكشف إلا قدر الحاجة

وقال الشافعية كذلك : يحرم النظر دون المس كأن أمكن لطبيب معرفة العلة بالمس فقط . وقال الحنابلة : ولطبيب نظر ومس ما تدعو الحاجة إلى نظره ولمسه نص عليه , حتى فرجها وباطنه لأنه موضع حاجة وظاهره ولو ذميا , وليكن ذلك مع حضور محرم أو زوج , لأنه لا يأمن مع الخلوة مواقعة المحظور , ويستر منها ما عدا موضع الحاجة لأنها على الأصل في التحريم , وكالطبيب من يلي خدمة مريض أو مريضة في وضوء واستنجاء وغيرهما وكتخليصها من غرق وحرق ونحوهما , وكذا لو حلق عانة من لا يحسن حلق عانته , وكذا لمعرفة بكارة وثيوبة وبلوغ , وأما المس لغير شهوة كمس يدها ليعرف مرضها فليس بمكروه بحال

[2] حاشيتا قليوبي – وعميرة – (ج 3 / ص 213)

( وَيُبَاحَانِ ) أَيْ النَّظَرُ وَالْمَسُّ ( لِفَصْدٍ وَحِجَامَةٍ وَعِلَاجٍ ) لِعِلَّةٍ لِلْحَاجَةِ إلَى ذَلِكَ وَلْيَكُنْ ذَلِكَ بَيْنَ الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ بِحُضُورِ مَحْرَمٍ ، أَوْ زَوْجٍ وَيُشْتَرَطُ أَنْ لَا تُوجَدَ امْرَأَةٌ تُعَالِجُ الْمَرْأَةَ أَوْ رَجُلٌ يُعَالِجُ الرَّجُلَ ، وَأَنْ لَا يَكُونَ ذِمِّيًّا مَعَ وُجُودِ مُسْلِمٍ ،

فتاوى الأزهر (10/ 57

هل يجوز أن يتولى علاج المرأة وتوليدها رجل أجنبى؟

من القواعد الفقهية أن الضرورات تبيح المحظورات ، ومعلوم أن المرأة لا يجوز لها أن تكشف عن شىء من جسمها لرجل أجنبى-فيما عدا الوجه والكفين على تفصيل فى ذلك – وبالتالى لا يجوز اللمس بدون حائل ، أما عند الضرورة المصورة بعدم وجود زوج أو محرم أو امرأة مسلمة تقوم بذلك فلا مانع من النظر واللمس ، مع مراعاة القاعدة الفقهية الأخرى وهى: أن الضرورة تقدر بقدرها

ولهذا الاستثناء احتياطات وآداب نورد فيها بعض ما قاله العلماء

الإقناع فى شرح متن أبى شجاع” للشيخ الخطيب فى فقه الشافعية “ج 2 ص 120”

أن النظر للمداواة يجوز إلى المواضع التى يحتاج إليها فقط ، لأن فى التحريم حينئذ حرجا ، فللرجل مداواه المرأة وعكسه ، وليكن ذلك بحضرة محرم أو زوج أو امرأة ثقة إن جوزنا خلوة أجنبى بامرأتين وهو الراجح ، ويشترط عدم امرأة يمكنها تعاطى ذلك من امرأة ، وعكسه كما صححه كما فى زيادة “الروضة” وألا يكون ذميًا مع وجود مسلم ، وقياسه -كما قال الأذرعى- ألا تكون كافرة أجنبية مع وجود مسلمة على الأصح ، ولو لم نجد لعلاج المرأة إلا كافرة ومسلما فالظاهر أن الكافرة تقدم ، لأن نظرها ومسها أخف من الرجل ، بل الأشبه عند الشيخين أنها تنظر منها ما يبدو عند المهنة، بخلاف الرجل. وقيد -فى الكافى- الطبيب بالأمين ، فلا يعدل إلى غيره مع وجوده ، ثم قال :

وشرط الماوردى أن يأمن الافتتان ولا يكشف إلا قدر الحاجة ، وفى معنى ما ذكر نظر الخاتن إلى فرج من يختنه ، ونظر القابلة إلى فرج التى تولدها . ويعتبر فى النظر إلى الوجه والكفين مطلق الحاجة، وفى غيرهما -ما عدا السوأتين- تأكدها ، بأن يكون مما يبيح التيمم كشدة الضنا ، وفى السوأتين مزيد تأكدها ، بألا يعد التكشف بسببها هتكا للمروءة

البجيرمى على الخطيب ( ج ۱۰ ص ۹۰۔۹۱)

: (والضرب الخامس النظر للمداواة) كفصد وحجامة وعلاج ولو فى فرج (فيجوز إلى المواضع التى يحتاج إليها فقط) لأن فى التحريم حينئذ حرجا. فللرجل مداواة المرأة وعكسه. وليكن ذلك بحضرة محرم أو زوج أوامرأة ثقة إن جوزنا خلوة أجنبى بامرأتين وهو الراجح. ويشترط عدم امرأة يمكنها تعاطى ذلك من امرأة وعكسه كما صححه فى زيادة الروضة ـ إلى أن قال ـ وشرط الماوردى أن يأمن الإفتتان ولا يكشف إلا بقدر الحاجة. (قوله : والخامس النظر للمداوة إلخ) حاصل ما ذكره لأجل المداواة ستة : أن يقتصر على نظر محل الحاجة، واتحاد الجنس أو فقده مع حضور نحو محرم، وفقد مسلم فى حق مسلم والمعالج كافر، وأن يكون الطبيب أمينا، وأن يأمن الإفتتان، ووجود مطلق الحاجة فى الوجه والكفين وتأكدها فيما سوى السوأتين من غير الوجه والكفين ومزيد تأكدها فى السوأتين، وزيد سابع وهو أن لايكشف إلا قدر الحاجة ولا يحتاج إليه. لأن الأول يغنى عليه ـ إلى أن قال ـ (قوله : فيجوز إلى المواضع التى يحتاج إليها) وأما المس فإن احتاج إليه جاز وإلا فلا. إهــــ

نهاية المحتاج (ج ٦ ص ۱٩٦) :

يحل ويباحان أي النظر والمس لفصد وحجامة وعلاج للحاجة، لكن بحضرة مانع خلوة كمحرم أو زوج أو امرأة ثقة لحل خلوة رجل بامرأتين ثقتين، وليس الأمردان كالمرأتين على إطلاق المصنف وإن بحثه بعضهم لأن ما عللوا به فيهما من استحياء كل بحضرة الأخرى غير متأت في الأمردين كما صرحوا به في الرجلين. ويشترط فقد امرأة تحسن ذلك كعكسه، وأن لا يكون غير أمين مع وجود أمين، كما قاله الزركشي تبعا لصاحب الكافي، وشرط الماوردي أن يأمن الافتتان ولا يكشف إلا قدر الحاجة كما قاله القفال في فتاويه. إهــــ

شرح القواعد الفقهية للزرقا (ج ۱ ص ٢۰٨) :

الحاجة هى الحالة تستدعى تيسيرا أو تسهيلا لأجل الحصول على المقصود فهى دون الضرورة من هذه الجهة وإن كان الحكم الثابت لأجلها مستمرا والثابت للضرورة مؤقتا كما تقدم. إهــــ

KETERANGAN LENGKAP TENTANG SHOLAT WITIR

Termasuk shalat sunnah mu’akkad (sangat dianjurkan) adalah shalat witir.

Witir secara bahasa berarti ‘ganjil’. Karena shalat ini memang harus dilaksanakan dalam jumlah ganjil.

Shalat witir tidak dianjurkan berjama’ah kecuali witir pada bulan Ramadhan.

Meskipun witir boleh dilaksankan hanya satu raka’at (sebagai jumlah minimal) tetapi yang utama dilakukan tiga rakaat dan paling utama adalah lima raka’at, kemudian tujuh raka’at dan lalu sembilan raka’at dan yang paling sempurna adalah sebelas raka’at (sebagai jumlah maksimal). Tidak di perbolehkan shalat witir lebih dari jumlah tersebut.

Jika seseorang melaksanakan witir lebih tiga raka’at, maka dilakukan setiap dua raka’at salam dan ditutup dengan satu raka’at. Bila melaksanakan tiga raka’at boleh dilakukan langsung raka’at seperti shalat maghrib. Tetapi sebagian ulama melihat bahwa dipisah lebih utama, yaitu dua rakaat salam lalu satu rakaat, sebagaimana keterangan hadits “Janganlah menyamakan witirmu dengan Maghrib “. Namun demikian tiga raka’at berturu-turut lebih utama dibandingkan hanya satu rakaat.

Bila tidak memberatkan, shalat witir disunnahkan untuk dikerjakan setiap malam, Abu Ayyub al-Anshari r.a. menjelaskan:

ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍَﻟْﻮِﺗْﺮُ ﺣَﻖٌّ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ ﻓَﻤَﻦْ ﺍَﺣَﺐَّ ﺍَﻥْ ﻳُﻮْﺗِﺮَ ﺑِﺨَﻤْﺲٍ ﻓَﻠْﻴَﻔْﻌَﻞْ ﻭَﻣَﻦْ ﺍَﺣَﺐَّ ﺍَﻥْ ﻳُﻮْﺗِﺮَ ﺑِﺜَﻠَﺎﺙٍ ﻓَﻠْﻴَﻔْﻌَﻞْ ﻭَﻣَﻦْ ﺍَﺟَﺐَّ ﺍَﻥْ ﻳُﻮْﺗِﺮَ ﺑِﻮَﺍﺣِﺪَﺓٍ ﻓَﻠْﻴَﻔْﻌَﻞْ

Rasulullah s.a.w, bwesabda: “witir itu adalah hak setiap muslim, siapa yang lebih suka witir lima rakaat, maka kerjakanlah, dan barang siapa yang lebih suka witir satu rakaat, maka kerjakanlah”. (Hadits shahih, riwayat abu Daud: 1212 dan al-Nasa’i: 1693).

ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺍَﻥْ ﻳَﻔْﺮُﻍَ ﻣِﻦْ ﺻَﻠَﺎﺓِ ﺍﻟْﻌِﺸَﺎﺀِ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ﺍِﺣْﺪَﻯ ﻋَﺸْﺮَﺓَ ﺭَﻛْﻌَﺔً ﻳُﺴَﻠِّﻢُ ﺑَﻴْﻦَ ﻛُﻞِّ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻭَﻳُﻮﺗِﺮُ ﺑِﻮَﺍﺣِﺪَﺓٍ

Dari Aisyah r.a. menjelaskan: “Nabi s.a.w, shalat sebelas rakaat di antara shalat isya sampai terbit fajar. Beliau salam setiap dua rakaat dan mengerjakan shalat witir dengan satu rakaat “. (hadits shahih, riwayat Muslim: 1216)

Meskipun shalat witir disebut sebagai penutup shalat malam, namun demikian tidak berarti harus selalu dikerjakan pada akhir malam, bisa juga dikerjakan pada awal atau tengah malam.

Dalam hadits yang diriwayatkan Sayyidah Aisyah r.a, menyebutkan bahwa Rasulullah s.a.w, mengerjakan shalat witir pada setiap malam, pernah berwitir pada permulaannya, pertengahannyam atau penghabisannya.

ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻗَﺪْ ﺍَﻭْﺗَﺮَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻣِﻦْ ﺍَﻭَّﻝِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭَﺍَﻭْﺳَﻄِﻪِ ﻭَﺍَﺧِﺮِﻩِ ﻓَﺎﻧْﺘَﻬَﻰ ﻭِﺗْﺮُﻩُ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﺴَّﺤَﺮِ

Dari Aisyah r.a, menerangkan: “dari setiap malam, Nabi s.a.w, pernah mengerjakan shalat witir pada permulaan malam, pertengahannya dan akhirannya, dan berakhir pada waktu shubuh”. (hadits shahih, riwayat al-Bukhari:941 dan Muslim: 1230).

Bagi siapa yang khawatir tidak bangun di akhir malam, sebaiknya melakukan shalat witir sebelum tidur, sedangkan bagi mereka yang yakin bisa bangun di akhir malam untuk mengerjakan tahajjud, maka mengakhirkan shalat witir sebagai penutup shalat malam , cara inilah yang paling afdhal.

ﻋَﻦْ ﺟَﺎﺑِﺮٍ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﻦْ ﺧَﺎﻑَ ﺍَﻥْ ﻟَﺎ ﻳَﻘُﻮْﻡَ ﻣِﻦْ ﺍَﺧِﺮِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻓَﻠْﻴُﻮْﺗِﺮْ ﺍَﻭَّﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻃَﻤَﻊَ ﺍَﻥْ ﻳَﻘُﻮْﻡَ ﺍَﺧِﺮَﻩُ ﻓَﻠْﻴُﻮْﺗِﺮْ ﺍَﺧِﺮَﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻣَﺸْﻬُﻮْﺩَﺓً ﻭَﺫَﻟِﻚَ ﺍَﻓْﻀَﻞُ

Dari Jabir r.a, menuturkan, “rasulullah s.a.w, bersabda: “barang siapa yang merasa tidak akan sanggup bangun pada akhir malam, hendaklah ia menyegerakan shalat witir pada permulaan malam, siapa yang mersa sanggup bangun pada akhir malam, berwitirlah pada akhir malam, karena shalat pada akhir malam itu dihadiri (para malaikat), dan itulah yang paling utama”. (hadits shahih, riwayat Muslim: 1255, al-Tirmidzi:418, Ibn Majah: 1177 dan Ahmad: 13691).

Pada dasarnya witir merupakan shalat penutup bagi shalat malam. Artinya, witir sebaiknya dilaksanakan setelah melakukan berbagai shalat sunnah malam misalkan shalat tahajjud, hajat, istikharah dan lain sebagainya. Itulah fungsi longgarnya waktu shalat witir semenjak usai shalat Isya’ hingga menjelang waktu subuh, dengan harapan menjadikan witir sebagai pungkasan segala shalat malam.

Namun demikian, bagi mereka yang merasa khawatir tidak mampu melaksanakan witir di tengah atau akhir malam, hendaklah melaksanakannya setelah salat Isya’, atau setelah salat Tarawih pada bulan Ramadhan dengan bilangan ganjil (3, 5, atau 7). Dan jikalau ternyata di tengah malam kemudian mereka melaksanakan shalat malam lagi (tahajjud, hajat dll) maka hendaklah menutupnya dengan shalat witir dalam jumlah genap (2 atau 4) sehingga tetap terjaga keganjilannya.

Begitulah pesan Rauslullah saw. dalam sabdanya ” Tidak ada witir dua kali dalam semalam “, karena jikalau shalat witir (ganjil) di tambah witir (ganjil) lagi maka akan menjadi genap.

Adapun niat shalat witir untuk dua rakaat adalah:

“ushollii sunnatam minal witri rok’ataini lillaahhi ta’aalaa”.

“Aku niat sholat sunnat witir 2 roka’at karena Allah Ta’ala”.

Dan Niat yang 1 roka’at:

“ushollii sunnatal witri rok’atal lillaahhi ta’aalaa”.

“Aku niat sholat sunnat witir satu roka’at karena Allah Ta’ala”.

Adapun Surat yang disunnahkan dibaca sebagaimana yang diajarkan Rasulullah saw dalam witir yang tiga raka’at adalah Sabbih-isma Rabiika pada rekaat pertama dan Al-Kafiruun pada rekaat kedua.

Sedangkan untuk satu raka’at yang terpisah adalah surat al-Ikhlas , al-Falaq dan an-nas .

Sedangkan setelah sholat witir disunnahkan membaca do’a.

Do’a Shalat Witir:

ﺃَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧَّﺎ ﻧَﺴْﺎَﻟُﻚَ ﺇِﻳْﻤَﺎﻧًﺎ ﺩَﺍِﺋﻤًﺎ ﻭَﻧَﺴْﺄَﻟُﻚَ ﻗَﻠْﺒًﺎ ﺧَﺎﺷِﻌًﺎ ﻭَﻧَﺴْﺄَﻟُﻚَ ﻋِﻠْﻤًﺎ ﻧَﺎﻓِﻌًﺎ ﻭَﻧَﺴْﺄَﻟُﻚَ ﻳَﻘِﻴْﻨًﺎ ﺻَﺎﺩِﻗًﺎ ﻭَﻧَﺴْﺄَﻟُﻚَ ﻋَﻤَﻠًﺎ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﻭَﻧَﺴْﺄَﻟُﻚَ ﺩِﻳْﻨًﺎ ﻗَﻴِّﻤًﺎ ﻭَﻧَﺴْﺄَﻟُﻚَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ ﻭَﻧَﺴْﺄَﻟُﻚَ ﺍﻟْﻌَﻔْﻮَ ﻭَﺍﻟْﻌَﺎ ﻓِﻴَﺔَ ﻭَﻧَﺴْﺄَﻟُﻚَ ﺗَﻤَّﺎﻡَ ﺍﻟْﻌَﺎﻓِﻴَّﺔِ ﻭَﻧَﺴْﺄَﻟُﻚَ ﺍﻟﺸُّﻜْﺮَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻌَﺎﻓِﻴَّﺔِ ﻭَﻧَﺴْﺄَﻟُﻚَ ﺍﻟْﻐِﻨَﻰ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺃَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺗَﻘَﺒَّﻞْ ﻣِﻨَّﺎ ﺻَﻠَﺎﺗَﻨَﺎ ﻭَﺻِﻴَﺎ ﻣَﻨَﺎ ﻭَﻗِﻴَﺎ ﻣَﻨَﺎ ﻭَﺗَﺨَﺸُﻌَﻨَﺎ ﻭَﺗَﻀَﺮُّﻋَﻨَﺎ ﻭَﺗَﻌَﺒُّﺪَﻧَﺎ ﻭَﺗَﻤِّﻢْ ﺗَﻘْﺼِﻴْﺮَﻧَﺎ ﻳَﺎ ﺃَﻟﻠﻪُ ﻳَﺎﺃَﺭْﺣَﻢَ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺧَﻴْﺮِ ﺧَﻠْﻘِﻪِ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻪِ ﺃَﺟْﻤَﻌِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴْﻦَ

“Ya Allah, kami mohon pada-Mu, iman yang langgeng, hati yang khusyu’, ilmu yang bermanfaat, keyakinan yang benar,amal yang shalih, agama yang lurus, kebaikan yang banyak.kami mohon kepada-Muampunan dan kesehatan, kesehatan yang sempurna, kami mohon kepada-Mu bersyukur atas karunia kesehatan, kami mohon kepada-Mu kecukupan terhadap sesaama manusia. Ya Allah, tuhan kami terimalah dari kami: shalat, puasa, ibadah, kekhusyu’an, rendah diri dan ibadaha kami, dan sempurnakanlah segala kekurangan kami. Ya allah, Tuhan yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih. Dan semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada makhluk-Nya yang terbaik, Nabi Muhammad s.a.w, demikian pula keluarga dan para sahabatnya secara keseluruhan. Serta segala puji milik Allah Tuhan semestra alam.

SHALAT TAHAJJUD SETELAH WITIR

Kita semua tahu bahwa shalat Tahajjud adalah shalat malam yang dilakukan setelah tidur, sementara ada hadits nabi yang menerangkan bahwa shalat witir itu pelaksanaannya di penghujung shalat malam.

Sabda Nabi SAW. :

ﺍِﺟْﻌَﻠُﻮْﺍ ﺁﺧِﺮَ ﺻَﻼَﺗِﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭِﺗْﺮًﺍ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻭﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ‏( ﺍﻟﺠﺎﻣﻊ ﺍﻟﺼﻐﻴﺮ ﺹ : 10 ‏)

Artinya :

“Lakukanlah shalat yang paling akhir di waktu malam berupa shalat witir”. HR. Baihaqi dan Abu Dawud.

Hadits ini difahami oleh sebagian orang bahwa setelah shalat witir pada saaat malam itu sudah tidak ada shalat sunat lagi.

Sehubungan dengan hal tersebut, sering muncul pertanyaan : apabila kita sudah melaksanakan shalat witir setelah tarawih sebagaimana yang biasa bita lakukan setiap malam di bulan ramadlan kemudian kita tidur dan nanti menjelang pagi kita bangun, bolehkah kita melakukan shalat tahajjud? Jika hal itu boleh apakah kita masih disunatkan melakukan shalat witir lagi?

Mengenai masalah ini, para fuqaha’ memahami bahwa kata perintah ﺍﺟﻌﻠﻮﺍ dalam hadits Nabi di atas adalah perintah sunat, bukan perintah wajib.

Maka pengertiannya : shalat witir itu sebaiknya dilakukan pada akhir shalat malam. Bagi mereka yang biasa melakukan shalat tahajjud, shalat witirnya diakhirkan setelah tahajjud. Andai kata mereka sesudah melakukan shalat witir kemudian tidur dan nanti bangun malam kemudian melakukan shalat tahajjud, yang demikian itu juga boleh, yang penting mareka tidak melakkukan shalat witir lagi.

Ketentuan hukum seperti tersebut telah difatwakan oleh Syaikh Ibrahim Al-Bajuri dalam kitabnya Hasyiyah Al-Bajuri juz I hal. 132 :

ﻭَﺍﻟْﻮَﺍﺣِﺪَﺓُ ﻫِﻲَ ﺃَﻗَﻞُّ ﺍﻟْﻮِﺗْﺮِ …. ﻭَﻭَﻗْﺘُﻪُ ﺑَﻴْﻦَ ﺻَﻼَﺓِ ﺍﻟْﻌِﺸَﺎﺀِ ﻭَﻃُﻠُﻮْﻉِ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ …. ﻭَﻳُﺴَﻦُّ ﺟَﻌْﻠُﻪُ ﺁﺧِﺮَ ﺻَﻼَﺓِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻟِﺨَﺒَﺮِ ﺍﻟﺼَّﺤِﻴْﺤَﻴْﻦِ : ﺍِﺟْﻌَﻠُﻮْﺍ ﺁﺧِﺮَ ﺻَﻼَﺗِﻜُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭِﺗْﺮًﺍ . ﻓَﺈِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﺗَﻬَﺠُّﺪٌ ﺃَﺧَّﺮَ ﺍﻟْﻮِﺗْﺮَ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻬَﺠَّﺪَ، ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﻭْﺗَﺮَ ﺛُﻢَّ ﺗَﻬَﺠَّﺪَ ﻟَﻢْ ﻳُﻨْﺪَﺏْ ﻟَﻪُ ﺇِﻋَﺎﺩَﺗُﻪُ، ﺑَﻞْ ﻻَ ﻳَﺼِﺢُّ، ﻟَﺨَﺒَﺮِ : ﻻَ ﻭِﺗْﺮَﺍﻥِ ﻓِﻲْ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ . ﺍﻫـ

Artinya :

“Shalat witir itu minimal satu rakaat, waktunya antara waktu shalat Isya’ sampai terbit fajar. Disunatkan melaksanakan shalat witir pada akhir shalat malam. Dalilnya hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim : Lakukanlah shalatmu yang paling akhir di waktu malam itu berupa shalat witir. Apabila seseorang biasa bertahajjud, maka witirnya diakhirkan setelah tahajjud dan andai kata dia melakukan witir lebih dulu kemudian baru melakukan shalat tahajjud, maka dia tidak disunatkan mengulang shalat witir, bahkan tidak sah jika diulang. Dalilnya hadits nabi : tidak ada pelaksanaan shalat witir dua kali pada satu malam”.

Demikian fatwa syaikh Ibrahim Al-Bajuri. Tidak berbeda dengan fatwa tersebut syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Abd. Rahman Ad-Dimasyqi As-Syafi’i dalam kitabnya “Rahmatul Ummah” hal. 55 juga menulis sebagai berikut :

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺃَﻭْﺗَﺮَ ﺛُﻢَّ ﺗَﻬَﺠَّﺪَ ﻟَﻢْ ﻳُﻌِﺪْﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﺍْﻷَﺻَﺢِّ ﻣِﻦْ ﻣَﺬْﻫَﺐِ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲِّ ﻭَﻣَﺬْﻫَﺐِ ﺃَﺑِﻲْ ﺣَﻨِﻴْﻔَﺔَ

Artinya :

“Apabila seseorang sudah melakukan shalat witir kemudian dia bertahajjud, maka witirnya tidak usah diulang. Demikian menurut pendapat yang paliang shahih dalam madzhab Imam Syafi’i dan madzhab Imam Abi Hanifah”.

Juga disebutkan dalam hadits:

ﻋِﻨْﺪَ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ ﻣِﻦْ ﻃَﺮِﻳﻖِ ﺃَﺑِﻲ ﺳَﻠَﻤَﺔَ ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﺃَﻧَّﻪُ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻮِﺗْﺮِ ﻭَﻫُﻮَ ﺟَﺎﻟِﺲٌ ﻭَﻗَﺪْ ﺫَﻫَﺐَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺑَﻌْﺾُ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻭَﺟَﻌَﻠُﻮﺍ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮَ ﻓِﻲ ﻗَﻮْﻟِﻪِ : ﺍﺟْﻌَﻠُﻮﺍ ﺁﺧِﺮَ ﺻَﻠَﺎﺗِﻜُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭِﺗْﺮًﺍ ﻣُﺨْﺘَﺼًّﺎ ﺑِﻤَﻦْ ﺃَﻭْﺗَﺮَ ﺁﺧِﺮَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭَﺃَﺟَﺎﺏَ ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﻘُﻞْ ﺑِﺬَﻟِﻚَ ﺑِﺄَﻥَّ ﺍﻟﺮَّﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﺍﻟْﻤَﺬْﻛُﻮﺭَﺗَﻴْﻦِ ﻫُﻤَﺎ ﺭَﻛْﻌَﺘَﺎ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ﻭَﺣَﻤَﻠَﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮَﻭِﻱُّ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻧَّﻪُ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻌَﻠَﻪُ ﻟِﺒَﻴَﺎﻥِ ﺟَﻮَﺍﺯِ ﺍﻟﺘَّﻨَﻔُّﻞِ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻮِﺗْﺮِ ﻭَﺟَﻮَﺍﺯِ ﺍﻟﺘَّﻨَﻔُّﻞِ ﺟَﺎﻟِﺴًﺎ

Hadits Imam Malik dari Abi Salamah, dari Aisyah: Rasulullah pernah shalat 2 rakaat sesudah shalat witir, dia mengerjakannya sambil duduk. Sebagian pakar ada yang berpendapat, dan mereka menjadikan persoalan ini dalam kaitannya hadits: Tutuplah akhir shalat sunnahmu di malam hari dengan shalat witir, terutama bagi anda yang suka witir di akhir malam. Imam an-Nawawi memberi komentar bahwa nabi telah mengerjakannya, dan itu tentu saja menunjukkan diperbolehkannya shalat sunnah sesudah witir sekaligus memperkenankan menjalankan shalat sunnah sambil duduk. (Lihat Fath. Al-Bari Syarh al-Bukhari, Juz III, hal. 33)

Dalam kitab Nail al-Authar, Juz III, hal. 54 diterangkan:

“Mengenai hadits riwayat Abu Bakar dan Umar hadir dari ragam jalur, sampai keterangan: Bila tambahan ini dipandang shahih, yakni tentang apa yang dipaparkan Khaththaby, maka patut juga dijadikan alasan terhadap pendapat diperbolehkannya shalat sunnah sesudah witir.”

Dalam kitab Nihayat al-Zain, hal. 102 diterangkan:

“Disunnahkan bagi seorang yang mengerjakan shalat malam/Tahajjud, hendaknya shalat witir dijalankan yang paling akhir. Hal ini bila memang yang bersangkuta yakin bisa bangun tengah malam. Dan jika tidak yakin, sebaiknya menyegerakannya, artinya shalat witir dijalankan sesudah shalat fardlu (Isya’). Apabila orang itu telah mengerjakan shalat witir di awal malam (setelah isya’), lalu ia bangun di akhir malam, baginya tidak perlu menjalankan shalat witir karena ada hadits: Tidak ada dua witir dalam satu malam.”

Qunut Didalam Shalat Witir Pada Pertengahan Akhir Ramadhan

Qunut merupakan do’a yang dilakukan didalam shalat pada tempat tertentu ketika berdiri. Qunut, selain disunnahkan dilakukan pada setiap shalat shubuh dan ketika terjadi mushibah yang menimpa umat Islam (qunut nazilah), juga disunnahkan dikerjakan pada shalat witir di pertengahan terakhir bulan Ramadhan.

Imam Al-Baihaqi didalam kitabnya Ma’rifatus Sunani wal Atsar dan As-Sunanul Kubro pada “Bab Man Qaala Laa Yaqnut fil Witri Illaa Fin Nishfil Akhiri Min Ramadhan (Bab komentar Orang-orang yang tidak berqunut kecuali pada pertengahan terakhir bulan Ramadhan) menyebutkan beberapa riwayat, diantaranya Imam Al-Syafi’i rahimahullah berkata :

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ : ﻭﻳﻘﻨﺘﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺗﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﺍﻵﺧﺮ ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻛﺎﻥ ﻳﻔﻌﻞ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ، ﻭﻣﻌﺎﺫ ﺍﻟﻘﺎﺭﻱ

“Mereka berqunut didalam shalat witir pada pertengahan akhir bulan Ramadhan, seperti itulah yang dilakukan oleh Ibnu ‘Umar dan Mu’adz Al-Qari”

ﻋﻦ ﻧﺎﻓﻊ، ‏« ﺃﻥ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻛﺎﻥ ﻻ ﻳﻘﻨﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺗﺮ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ

“Dari Nafi’ : Bahwa Ibnu ‘Umat tidak berqunut didalam shalat witir, kecuali pada pertengahan dari bulan Ramadhan (pertengahan akhir, penj)”

ﺃﻥ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ‏« ﺟﻤﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺃﺑﻲ ﺑﻦ ﻛﻌﺐ، ﻓﻜﺎﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﻟﻬﻢ ﻋﺸﺮﻳﻦ ﻟﻴﻠﺔ ﻭﻻ ﻳﻘﻨﺖ ﺑﻬﻢ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﺍﻟﺒﺎﻗﻲ ‏» . ﻓﺈﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻷﻭﺍﺧﺮ ﺗﺨﻠﻒ ﻓﺼﻠﻰ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ، ﻓﻜﺎﻧﻮﺍ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ : ﺃﺑﻖ ﺃﺑﻲ

“Sesungguhnya Umar bin Khaththab mengumpulkan jama’ah shalat tarawih pada Ubay bin Ka’ab, mereka shalat selama 20 malam, dan mereka tidak berqunut kecuali pada pertengahan terakhir bulan Ramadhan. Ketika masuk pada 10 akhir Ubay memisahkan diri dan shalat dirumahnya, maka mereka mengira dengan mengatakan : Ubay telah bosan”.

ﻋَﻦْ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻫُﻮَ ﺍﺑْﻦُ ﺳِﻴﺮِﻳﻦَ، ﻋَﻦْ ﺑَﻌْﺾِ ﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻪِ ” ﺃَﻥَّ ﺃُﺑَﻲَّ ﺑْﻦَ ﻛَﻌْﺐٍ ﺃَﻣَّﻬُﻢْ، ﻳَﻌْﻨِﻲ ﻓِﻲ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳَﻘْﻨُﺖُ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨِّﺼْﻒِ ﺍﻟْﺄَﺧِﻴﺮِ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ

“Dari Muhammad bin Sirin, dari sebagian sahabatnya, bahwa Ubay bin Ka’ab mengimami mereka, yakni pada bulan Ramadhan, ia berqunut pada pertengahan terakhir bulan Ramadhan”

ﻋَﻦِ ﺍﻟْﺤَﺎﺭِﺙِ، ﻋَﻦْ ﻋَﻠِﻲٍّ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ” ﺃَﻧَّﻪُ ” ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻘْﻨُﺖُ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨِّﺼْﻒِ ﺍﻟْﺄَﺧِﻴﺮِ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ

“Dari Al-Harits, dari ‘Ali radliyallahu ‘anh, bahwa ia berqunut pada pertengahan terakhir dari bulan Ramadhan”

ﻋﻦ ﺳَﻠَﺎﻡ ﻳَﻌْﻨِﻲ ﺍﺑْﻦَ ﻣِﺴْﻜِﻴﻦٍ، ﻗَﺎﻝَ : ” ﻛَﺎﻥَ ﺍﺑْﻦُ ﺳِﻴﺮِﻳﻦَ ﻳَﻜْﺮَﻩُ ﺍﻟْﻘُﻨُﻮﺕَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻮِﺗْﺮِ ﺇِﻟَّﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨِّﺼْﻒِ ﺍﻟْﺄَﻭَﺍﺧِﺮِ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ

“Ibnu Miskin berkata : Ibnu Sirin tidak menyukai qunut didalam shalat witir, kecuali pada pertengahan akhir shalat bulan Ramadhan

ﻋﻦ ﻗَﺘَﺎﺩَﺓ ﻗَﺎﻝَ : ” ﺍﻟْﻘُﻨُﻮﺕُ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨِّﺼْﻒِ ﺍﻟْﺄَﻭَﺍﺧِﺮِ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ

“Dari Qatadah : qunut dilakukan pada pertengahan akhir bulan Ramadhan”

Imam An-Nawawi rahimahullah didalam kitabnya Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menjelaskan dengan panjang lebar dan adil sebagai berikut,

“Madzhab bahwa sunnah melakukan qunut pada raka’at terakhir shalat witir pada pertengahan terakhir bulan Ramadhan adalah pendapat masyhur didalam madzhab Syafi’iyah dan Imam Al-Syafi’i telah menyatakan hal tersebut; Pada satu pendapat disebutkan bahwa disunnahkan pada seluruh bulan Ramadhan dan itu madzhab Imam Malik, dan satu pendapat pula dikatakan bahwa disunnahkan didalam shalat witir sepanjang tahun dan pendapat ini juga ada pada 4 ulama besar kami yakni Abdullah Az-Zubairiy, Abul Walid Al-Nasaiburiy, Abul Fadll bin ‘Abdan dan Abu Manshur bin Mahran, pendapat yang ini dikuatkan didalam dalil hadits Al-Hasan bin ‘Ali radliyallahu ‘anhuma yang telah berlalu penjelasannya pada masalah qunut, akan tetapi yang masyhur didalam madzhab Syafi’iyah adalah pendapat yang sebelumnya yakni bahwa disunnahkan berqunut pada pertengahan akhir bulan Ramadhan, inilah yang dipegang oleh jumhur ulama Syafi’iyah. Bahkan Imam Al-Rafi’I berkata ; dhohir perkataan Imam Al-Syafi’I rahimahullah adalah makruh berqunut pada selain pertengahan akhir dibulan Ramadhan, sehingga seandainya meninggalkannya maka disunnahkan sujud sahwi, namun jika langsung berqunut seketika itu maka tidak disunnahkan sujud syahwi.

Al-Ruyani menghikayatkan sebuah pendapat bahha berqunut sepanjang tahun (dalam shalat witir) tidak makruh dan tidak perlu sujud sahwi bila meninggalkannya pada selain pertengahan akhir bulan Ramadhan, ia mengatakan, inilah yang hasan, dan inilah pendapat yang dipilih oleh para masyayikh Thabaristan”.

Menurut Imam Al-‘Imraniy, seorang ulama Syafi’i, didalam kitabnya Al-Bayan, mengatakan bahwa dalil qunut didalam shalat witir pada pertengahan akhir bulan Ramadhan adalah berdasarkan ijma para sahabat,

“Dalil kami adalah ijma’ sahabat (kesepakatan para sahabat Nabi), bahwa Khalifah ‘Umar bin Khaththab mengumpulkan jama’ah tarawih untuk bermakmum kepada Ubay bin Ka’ab, mereka shalat tarawih selama 20 malam, dan tidak berqunut kecuali pada pertengahan terakhir (kedua) Ramadhan, kemudina ia shalat sendirian di rumahnya, maka dikatakan : “Ubay telah bosan”. Kejadian ini dengan dihadiri (disaksikan) oleh para sahabat, dan tidak ada satu pun sahabat yang mengingkarinya”.

Imam Ahmad Al-Mahamiliy didalam Al-Lubab berkomentar mengenai qunut didalam shalat witir tersebut,

“Tidak ada qunut didalam shalat witir, kecuali ada pertengahan terakhir bulan Ramadhan, adapuan pada shalat Shubuh, berqunut selamanya, apabila Imam berqunut maka orang yang mengikutinya meng-amin-kannya”.

Imam Al-Qaffal Al-Faquriy didalam Hilyatul ‘Ulama’ fiy Ma’rifati Madzahibil Fuqaha’

“Sunnah melakukan qunut pada pertengahan terakhir bulan Ramadhan didalam shalat witir, ini juga pendapat yang dipegang oleh Imam Malik, namun riwayat yang lain darinya menyatakan tidak disunnahkan pada bulan Ramadhan.

Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Ahmad berpendapat disunnahkan qunut didalam shalat witir sepanjang tahun, ini juga qaul Abdullah Az-Zubairy dari ulama kami, namun posisinya setelah ruku’. Dari ulama kami juga ada yang menyatakan bahwa tempatnya qunut pada shalat witir adalah sebelum ruku’ berbeda dengan shalat shubuh. Akan tetapi yang dipegang didalam madzhab Syafi’i adalah yang pertama”

Terkait tempat dilakukan qunut pada shalat witir, menurut Imam An-Nawawi adalah dilakukan setelah ruku’ berdasarkan pendapat yang masyhur dan shahih, serta tanpa melakukan takbir.

Dan lafadznya pun sebagaimana qunut pada shalat shubuh yakni

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻫﺪﻧﻲ ﻓﻲ ﻣﻦ ﻫﺪﻳﺖ ﻭﻋﺎﻓﻨﻲ ﻓﻲ ﻣﻦ ﻋﺎﻓﻴﺖ، ﻭﺗﻮﻟﻨﻲ ﻓﻲ ﻣﻦ ﺗَﻮَﻟَّﻴْﺖَ، ﻭﺑَﺎﺭِﻙْ ﻟِﻲ ﻓﻲ ﻣﺎ ﺃَﻋْﻄَﻴْﺖَ، ﻭَﻗِﻨﻲ ﺷَﺮَّ ﻣﺎ ﻗَﻀَﻴْﺖَ، ﻓﺈﻧَّﻚَ ﺗَﻘْﻀِﻲ ﻭَﻻ ﻳُﻘْﻀَﻰ ﻋَﻠَﻴْﻚَ، ﻭَﺇِﻧَّﻪُ ﻻ ﻳَﺬِﻝُّ ﻣَﻦْ ﻭَﺍﻟَﻴْﺖَ ﻭﻻ ﻳﻌﺰ ﻣﻦ ﻋﺎﺩﻳﺖ ﺗَﺒَﺎﺭَﻛْﺖَ ﺭَﺑَّﻨﺎ ﻭَﺗَﻌﺎﻟَﻴْﺖَ

Redaksi ini berdasarkan hadits hasan, dan Imam Al-Turdmizi berkata “kami tidak mengetahui redaksi qunut yang berasal dari Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam yang lebih bagus dari ini”. Lafadz “wa laa Ya’izzu Man ‘Adaiyt” merupakan kombinasi yang berdasarkan riwayat yang lain. Dianjurkan pula mengiringi qunut diatas dengan shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam karena hukumnya sunnah.

Atau boleh juga sebagaimana qunut Sayyidina ‘Umar bin Khaththab berikut ini,

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇﻧَّﺎ ﻧَﺴْﺘَﻌِﻴﻨُﻚَ، ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ، ﻭَﻻَ ﻧَﻜْﻔُﺮُﻙَ، ﻭَﻧُﺆْﻣِﻦُ ﺑِﻚَ، ﻭَﻧَﺨْﻠَﻊُ ﻣَﻦْ ﻳَﻔْﺠُﺮُﻙَ؛ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇﻳَّﺎﻙَ ﻧﻌﺒﺪُ، ﻭﻟَﻚَ ﻧُﺼﻠﻲ ﻭَﻧَﺴْﺠُﺪ، ﻭَﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻧَﺴْﻌَﻰ ﻭَﻧﺤْﻔِﺪُ، ﻧَﺮْﺟُﻮ ﺭَﺣْﻤَﺘَﻚَ ﻭَﻧَﺨْﺸَﻰ ﻋَﺬَﺍﺑَﻚَ، ﺇﻥَّ ﻋَﺬَﺍﺑَﻚَ ﺍﻟْﺠِﺪَّ ﺑﺎﻟﻜُﻔَّﺎﺭِ ﻣُﻠْﺤِﻖٌ . ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻋَﺬّﺏِ ﺍﻟﻜَﻔَﺮَﺓَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺼُﺪُّﻭﻥَ ﻋَﻦْ ﺳَﺒِﻴﻠِﻚَ، ﻭﻳُﻜَﺬِّﺑُﻮﻥَ ﺭُﺳُﻠَﻚَ، ﻭَﻳُﻘﺎﺗِﻠُﻮﻥَ ﺃﻭْﻟِﻴَﺎﺀَﻙَ . ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭﺍﻟﻤﺆﻣﻨﺎﺕ ﻭﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﺍﻟﻤُﺴْﻠِﻤﺎﺕِ، ﻭﺃﺻْﻠِﺢ ﺫَﺍﺕَ ﺑَﻴْﻨِﻬِﻢْ، ﻭﺃَﻟِّﻒْ ﺑَﻴْﻦَ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢْ، ﻭَﺍﺟْﻌَﻞْ ﻓِﻲ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢ ﺍﻹِﻳﻤَﺎﻥَ ﻭَﺍﻟﺤِﻜْﻤَﺔَ، ﻭَﺛَﺒِّﺘْﻬُﻢْ ﻋﻠﻰ ﻣِﻠَّﺔِ ﺭﺳﻮﻟِﻚ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭَﺃَﻭْﺯِﻋْﻬُﻢْ ﺃﻥْ ﻳُﻮﻓُﻮﺍ ﺑِﻌَﻬْﺪِﻙَ ﺍﻟَّﺬﻱ ﻋﺎﻫَﺪْﺗَﻬُﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ، ﻭَﺍﻧْﺼُﺮْﻫُﻢْ ﻋﻠﻰ ﻋَﺪُّﻭَﻙَ ﻭَﻋَﺪُﻭِّﻫِﻢْ، ﺇِﻟﻪَ ﺍﻟﺤَﻖّ، ﻭَﺍﺟْﻌَﻠْﻨﺎ ﻣﻨﻬﻢ

Bahkan boleh dengan do’a apa saja bila tidak hafal redaksi do’a qunut diatas, dan itu sudah hasil sebagai qunut. Hal ini, menurut Imam Nawawi adalah pendapat yang mukhtar (yang dipilih dalam madzhab Syafi’iyah). Dianjurkan juga bersamaan antara imam dan makmum dalam mengucapkan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa didalam qunut, karena tidak ada “amin” pada rentan waktu tersebut sehingga mengucapkan bersamaan itu lebih utama.

Disunnahkan juga mengangkat kedua tangan ketika berqunut tanpa mengusap muka, menurut pendapat yang lebih shahih, namun tidak apa-apa bila mengusap muka, tapi sebagian ulama ada yang memakruhkan mengusap muka ketika qunut.

Qunut dianjurkan di-jahrkan (dinyaringkan) apabila shalat witir secara berjama’ah dan makmum meng-amin-kannya, sedangkan apabila sendirian maka dianjurkan di-lirihkan (sir), hal ini berdasarkan pendapat shahih yang dipilih dan banyak dipegang oleh mayoritas ulama.

USTADZ YANG DI GAJI APAKAH MASIH MENDAPATKAN PAHALA

Apakah guru agama yang mengajar dengan sistem digaji misal per minggu Rp 2 juta, masih mendapatkan pahala ?

YA, Masih mendapatkan pahala, jika memang ketika mereka mengharapkan gaji dengan niat untuk memenuhi nafkah keluarga, sama dengan pekerjaan yang lain. Hal ini berdasarkan apa yang difatwakan oleh “ MAJMA’ AL Fiqh al Islami ; “ jika tidak mengambil upah niscaya mereka tidak akan mempunyai sumber untuk menghidupi kehidupan mereka…”.

Imam Ibn Hajar dalam Kitab Hasyiyah Manasik “al Idlah” halaman 40, cetakan Daar al hadits Beirut mengatakan:

… أَمَّا لَوْ قَصَدَهَا لِكِفَايَةِ عِيَالِهِ فَيَنْبَغِيْ أَنْ يَحْصُلَ لَهُ الثَّوَابُ

Artinya: Adapun jika bertujuan untuk mencukupi keluarganya, maka seyogyanya dia mendapatkan pahala.

Adapun kegiatan mengajarnya, itu tergantung baitsnya (الباعث) motifnya / pendorongnya, kalau seumpama meskipun tidak digaji ia tetap mengajar maka dari sini baitsnya adalah keihklasan mengajar, atau lebih dominan baitsnya mengajar meskipun ia juga berharap gaji tersebut, itu tetap mendapat pahala mengajar. Wallohu a’lam.

Referensi :

 Ihya’ Ulumiddin :

ﻭﺃﻣﺎ اﻟﺜﺎﻧﻲ ﻓﻬﻮ ﺃﻥ ﻳﺠﺘﻤﻊ ﺑﺎﻋﺜﺎﻥ ﻛﻞ ﻭاﺣﺪ ﻣﺴﺘﻘﻞ ﺑﺎﻹﻧﻬﺎﺽ ﻟﻮ اﻧﻔﺮﺩ

ﻭﻣﺜﺎﻟﻪ ﻣﻦ اﻟﻤﺤﺴﻮﺱ ﺃﻥ ﻳﺘﻌﺎﻭﻥ ﺭﺟﻼﻥ ﻋﻠﻰ ﺣﻤﻞ ﺷﻲء ﺑﻤﻘﺪاﺭ ﻣﻦ اﻟﻘﻮﺓ ﻛﺎﻥ ﻛﺎﻓﻴﺎً ﻓﻲ اﻟﺤﻤﻞ ﻟﻮ اﻧﻔﺮﺩ ﻭﻣﺜﺎﻟﻪ ﻓﻲ ﻏﺮﺿﻨﺎ ﺃﻥ ﻳﺴﺄﻟﻪ ﻗﺮﻳﺒﻪ اﻟﻔﻘﻴﺮ ﺣﺎﺟﺔ

ﻓﻴﻘﻀﻴﻬﺎ ﻟﻔﻘﺮﻩ ﻭﻗﺮاﺑﺘﻪ ﻭﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻟﻮﻻ ﻓﻘﺮﻩ ﻟﻜﺎﻥ ﻳﻘﻀﻴﻬﺎ ﺑﻤﺠﺮﺩ اﻟﻘﺮاﺑﺔ ﻭﺃﻧﻪ ﻟﻮﻻ ﻗﺮاﺑﺘﻪ ﻟﻜﺎﻥ ﻳﻘﻀﻴﻬﺎ ﺑﻤﺠﺮﺩ اﻟﻘﺮاﺑﺔ ﻭﺃﻧﻪ ﻟﻮﻻ ﻗﺮاﺑﺘﻪ ﻟﻜﺎﻥ ﻳﻘﻀﻴﻬﺎ ﺑﻤﺠﺮﺩ اﻟﻔﻘﺮ ﻭﻋﻠﻢ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﻧﻔﺴﻪ ﺑﺄﻧﻪ ﻳﺤﻀﺮﻩ ﻗﺮﻳﺐ ﻏﻨﻲ ﻓﻴﺮﻏﺐ ﻓﻲ ﻗﻀﺎء ﺣﺎﺟﺘﻪ ﻭﻓﻘﻴﺮ ﺃﺟﻨﺒﻲ ﻓﻴﺮﻏﺐ ﺃﻳﻀﺎً ﻓﻴﻪ

ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻣﻦ ﺃﻣﺮﻩ اﻟﻄﺒﻴﺐ ﺑﺘﺮﻙ اﻟﻄﻌﺎﻡ ﻭﺩﺧﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﻓﺼﺎﻡ ﻭﻫﻮ ﻳﻌﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﻟﻜﺎﻥ ﻳﺘﺮﻙ اﻟﻄﻌﺎﻡ ﺣﻤﻴﺔ ﻭﻟﻮﻻ اﻟﺤﻤﻴﺔ ﻟﻜﺎﻥ ﻳﺘﺮﻛﻪ ﻷﺟﻞ ﺃﻧﻪ ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﻭﻗﺪ اﺟﺘﻤﻌﺎ ﺟﻤﻴﻌﺎً ﻓﺄﻗﺪﻡ ﻋﻠﻰ اﻟﻔﻌﻞ

FAROIDL : PENGKLASIFIKASIAN AHLI WARIS MENJADI EMPAT KELOMPOK

Adapun ahli waris ada empat kelompok, sebagaimana berikut.

1) Kelompok yang hanya mendapatkan bagian pasti (furudh). Kelompok ini ada tujuh orang, yaitu suami, istri, ibu, nenek dari ibu, nenek dari ayah, saudara seibu, dan saudari seibu. Ringkasnya mereka adalah ibu dan kedua anaknya, kakek nenek, dan suami istri.

2) Kelompok yang hanya mendapatkan sisa (ashabah). Kelompok ini ada dua belas orang, yaitu ashabah bin nafsi selain ayah dan kakek, tuan yang telah memerdekakan dan tuan perempuan yang memerdekakan.

3) Kelompok yang kadangkala mendapatkan bagian pasti dan kadang pula sisa bahkan kadangkala secara bersamaan. Kelompok ini ada dua orang yaitu ayah dan kakek yang menerima sisa. Keduanya mendapatkan warisan seperenam jika bersamaan dengan anak laki atau cucu dari anak laki-laki. Mereka menerima sisa ketika mayat tidak meninggalkan keturunan. Dan mereka mendapatkan bagian pasti dan sisa apabila bersama ahli waris perempuan.

4. Kelompok yang kadang mendapatkan bagian pasti dan juga mendapatkan sisa, namun keduanya tidak bisa didapatkan secara bersama pada waktu yang sama. Mereka ada empat orang, yaitu anak perempuan, anak perempuan dari anak laki-laki, saudari kandung, dan saudari seayah. Kelompok ini akan mendapatkan bagian pasti bila tidak ada ahli waris yang mengakibatkannya mendapatkan sisa.

■ Klasifikasi Hak Waris Laki-Laki dan Perempuan

a. Hak Waris Ayah

Ayah mendapatkan seperenam bila bersama anak laki atau cucu lelaki dari anak laki-laki. Bila tidak terdapat cucu lelaki dari anak laki-laki, ayah mendapatkan ashabah. Lebih jelasnya sebagaimana berikut.

1) Ayah mendapatkan seperenam sebagai bagian pastinya dan memperoleh seperenam ketika ada keturunan laki-laki yang mendapatkan warisan seperti anak laki-laki atau cucu laki-laki dari anak laki-laki, walau ke bawah. Allah SWT berfirman, “ Untuk kedua ibu bapak, bagian masing-masing seperenam dari harta yang ditinggalkan jika dia (yang meninggal) mempunyai anak ,” (QS. an-Nisa’ [4]: 11).

2) Ayah mendapatkan ashabah saja dan memperoleh semua harta peninggalan jika tidak ada ahli waris sama sekali, laki-laki atau perempuan. Misalnya seseorang meninggal dunia dan ahli warisnya hanyalah ayah. Ayah dalam hal ini menjadi ashabah bin nafsi. Ayah mendapatkan sisa setelah harta warisan dibagikan kepada ahli waris yang mendapatkan bagian pasti, contoh seseorang wafat meninggalkan ayah dan istri. Maka, istri mendapatkan seperempat dan ayah mendapatkan sisa tirkah.

3) Ayah mendapatkan seperenam dan sekaligus mendapatkan ashabah ketika bersama keturunan yang berhak mendapatkan warisan dari kalangan perempuan, baik anak perempuan, cucu perempuan dari anak laki-laki walau ke bawah. Misalnya, seseorang wafat meninggalkan ayah dan anak perempuan maka anak perempuan itu mendapatkan seperdua, ayah seperenam dan sisa.

b. Hak Waris Kakek

Kakek yang mendapatkan ashabah adalah kakek yang jalur nasabnya sampai kepada mayat tidak melalui perempuan. Jika jalur nasab kakek kepada mayat melalui jalur perempuan maka tidak mendapatkan warisan. Kakek itu seperti ayah, ketika tidak ada ayah dan tidak terdapat saudara atau saudari kandung.

Apabila kakek tidak bersama dengan beberapa saudara atau saudari, dia mendapatkan seperenam jika bersama dengan anak laki atau cucu laki-laki dari anak laki-laki. Kakek mendapatkan warisan melalui jalur ashabah bila tidak ada anak laki-laki atau cucu laki dari anak laki-laki.

• Kakek dan Para Saudara

Jika kakek bersama beberapa saudara dan saudari kandung atau seayah, maka kadangkala kakek mendapatkan bagian pasti dan kadang mendapatkan ashabah. Penjelasannya sebagai berikut.

1) Jika tidak ada ahli waris yang mendapatkan bagian pasti selain kakek dan para saudara dan saudari, maka mereka mendapatkan sama rata. Ahli waris perempuan mendapatkan sisa kalau memang harta warisan itu tidak berkurang dari sepertiga dari seluruh harta yang ada. Namun, bila kurang yang dari itu, kakek hanya mendapatkan sepertiga dan sisanya diberikan kepada para saudara dan saudari dengan acuan bahwa bagian laki-laki dua kali lipat dari bagian perempuan.

Contoh: (1) kakek bersama satu saudari atau lebih. (2) kakek bersama satu saudara atau lebih, dan satu saudari atau lebih. Maka dalam hal ini, harta warisan dibagikan dengan sama rata (muqasamah) dengan acuan bahwa bagian laki-laki dua kali lipat dari bagian perempuan.

2) Apabila kakek bersama ahli waris yang mendapatkan bagian pasti atau bersama ahli waris berjumlah lebih dari satu, maka ahli waris itu diberikan haknya yaitu mendapatkan bagian pasti dan sisanya diberikan kepada kakek setelah pembagian untuk ahli waris lainnya selesai.

Adapun cara penyelesaian permasalahan ini dengan menggunakan tiga cara; muqasamah (dibagi rata), sepertiga sisa, dan atau mendapatkan seperenam dari seluruh tirkah.

Contohnya sebagai berikut.

• Suami, kakek, dan saudara. Maka cara pembagian dengan menggunakan muqasamah adalah yang terbaik. Asal masalahnya adalah dua dan tashihul masalahnya empat dengan perincian sebagai berikut. Suami mendapatkan seperdua, kakek apabila menggunakan muqasamah mendapatkan seperempat, dan itu lebih sempurna daripada mendapatkan seperenam dari semua harta dan sepertiga dari sisa tirkah.

• Dua anak perempuan, dua saudara, dan kakek. Seperenam lebih baik bagi kakek karena asal masalahnya adalah enam. Seperenam dari enam asal masalah lebih baik baginya. Dengan demikian kakek mendapatkan satu, dua anak perempuan mendapatkan empat, dan dua saudara mendapatkan satu. Dari bilangan seperdua menjadi terpecah, maka bilangan dua dikalikan dengan asal masalah hasilnya dua belas. Dengan demikian kakek mendapatkan seperenam, yaitu dua dan itu lebih baik baginya daripada muqasamah karena seperenam merupakan pengganti dari satu sepertiga, dan begitu juga sepertiga dari sisa.

• Istri, tiga saudara, dan kakek. Mendapatkan sepertiga sisa dari harta warisan lebih baginya.

• Dua anak perempuan, ibu, kakek, dan tiga saudara atau lebih. Maka penyelesaiannya adalah sebagai berikut. Dua anak perempuan mendapatkan sepertiga, ibu seperenam, kakek seperenam, dan para saudara tidak mendapatkan bagian.

Apabila para saudara kandung dan saudara seayah berkumpul, maka penyelesaiannya adalah ketika diselesaikan dengan muqasamah para saudara kandung mengambil bagian kakek dan saudara seayah. Contoh kakek, saudara kandung dan saudara seayah. Maka pembagiannya adalah kakek mendapatkan sepertiga, saudara kandung mendapatkan dua p e rtiga; sepertiga dengan cara muqasamah dan sepertiga lainnya didapatkan dari bagian saudara seayah karena bagiannya terhalangi oleh saudara kandung, maka haknya dikembalikan kepada mereka.

Namun, jika saudari kandung itu sendirian, dia mendapatkan seperdua. Sisanya diberikan kepada saudara seayah. Dan bila tidak terdapat saudara seayah maka saudari kandung mendapatkan sepertiga yang diambil dari bagian kakek. Apabila ada saudara seayah maka bagian kakek dikembalikan kepadanya. Asal masalah adalah lima dengan menghitung jumlah bilangan kepala (‘adadi ar-ru’us ).

Tashihul masalahnya menjadi sepuluh. Maka, saudari itu mendapat dua p e rtiga dari bagian muqasamah, saudara mendapatkan empat tapi yang diberikan hanya tiga, dan saudara seayah mendapatkan bagian satu saja.

Saudari kandung atau seayah ketika tidak ada saudara dan bersama dengan kakek tidak boleh diberikan bagian pasti terkecuali dalam masalah akdariyah , yaitu suami, ibu, kakek, dan saudari kandung. Maka, suami mendapatkan seperdua, ibu mendapatkan sepertiga, dan kakek mendapatkan seperenam. Harta warisan menjadi habis terbagi, padahal dalam pewarisan itu, tidak ada ahli waris yang menghalangi saudari kandung. Solusinya adalah dengan meninggikan (‘aul) asal masalah agar saudari kandung terpenuhi haknya. Asal masalah yang pada mulanya enam menjadi sembilan, dinaikkan tiga. Maka, suami mendapatkan tiga, ibu dua, dan sisanya untuk saudari dan kakek dengan ketentuan bahwa bagian laki-laki dua kali lipat dari bagian perempuan. Sisa tersebut dipecah menjadi tiga dan dikalikan dengan sembilan sehingga tashihul masalahnya duapuluh tujuh.

c. Hak Waris Nenek

Nenek adalah ibunya ibu atau ibu dari ibunya ibu dan begitu seterusnya, ibunya ayah atau ibu dari ibunya ayah dan begitu seterusnya, atau ibu dari ayahnya ibu dan begitu seterusnya mendapatkan seperenam harta warisan. Jika ada dua nenek dengan derajat yang sama maka mereka mendapatkan seperenam. Misalnya, ibunya ayah dan ibunya ibu atau ibu dari ibunya ayah dan ibu dari ayahnya ayah.

Bila salah satu dari mereka lebih dekat dengan orang yang mewariskannya, dan kedekatan itu dari jalur ibu, maka dia bisa menggugurkan bagian nenek yang jauh. Semisal ibunya ibu dengan ibu dari ibunya ayah. Apabila kedekatan itu dari jalur ayah, maka dia tidak bisa menggugurkan bagian nenek lainnya, bahkan keduanya mendapatkan seperenam dengan dibagi rata. Misalnya ibunya ayah dengan ibu dari ibunya ibu. Sedangkan ¡bu dari ayahnya ibu tidak mendapatkan hak waris karena mereka termasuk dzawill arham yaitu orang-orang yang tidak mempunyai hak waris.

d. Hak Waris Suami

Suami mendapatkan bagian pasti, yaitu seperdua bila tidak terdapat anak atau cucu dari anak laki-laki. Suami mendapatkan seperempat bila bersama salah satu dari dua ahli waris tersebut. Allah SWT berfirman, “ Bagian kalian (suami-suami) adalah seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian jika mereka tidak mempunyai anak. Jika mereka (istri-istri kalian) itu mempunyai anak, maka kalian mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya setelah (dipenuhi) wasiat yang mereka buat atau (dan setelah dibayar) utangnya ,” (QS. an-Nisa’ [4]: 12).

e. Hak Waris Istri

Istri mendapatkan bagian pasti seperempat bila suami tidak mempunyai anak atau cucu dari anak laki-laki atau keturunan yang mempunyai hak waris. Dia mendapatkan seperdelapan bila ada salah satu dari ahli waris tersebut. Allah SWT berfirman, “ Para istri memperoleh seperempat harta yang kalian tinggalkan jika kalian tidak mempunyai anak. Jika kalian mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kalian tinggalkan (setelah dipenuhi) wasiat yang kalian buat atau (dan setelah dibayar) utang-utang kalian ,” (QS. an-Nisa’ [4]: 12).

f. Hak Waris Ibu

Ibu mendapatkan bagian pasti, yaitu sepertiga kalau memang tidak terdapat anak atau cucu dari anak laki-laki, perempuan atau laki-laki, dan tidak ada dua saudara dan saudari kandung, seayah atau seibu dan tidak dalam masalah umariyah atau ghura’ , yaitu ahli waris terdiri dari suami kedua orang tua, atau istri dan kedua orang tua. Allah SWT berfirman, “ Jika dia (yang meninggal) tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh kedua ibu bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga,” (QS. an-Nisá’ [4]-11). Ibu mendapatkan bagian pasti seperenam bila ternyata terdapat anak atau cucu dari anak laki-laki, dua saudara, atau dua saudari. Allah SWT berfirman, “ Jika dia (yang meninggal) mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam,” (QS. an-Nisá’ [4]: 11).

Ibu mendapatkan sepertiga sisa dari pembagian suami istri yang disebut dalam masalah gharawain , yaitu komposisi ahli waris sebagai berikut: ibu, ayah, dan suami; atau istri, ibu, dan ayah. Maka untuk komposisi yang pertama, suami mendapatkan seperdua, yaitu tiga dari enam. Ayah mendapatkan sisa (ashabah).

Sedangkan ibu mendapatkan sepertiga sisa yang diperoleh dari sisa suami, yaitu satu bagian dari asal masalah (enam).

Adapun penyelesaian komposisi yang kedua adalah sebagai berikut. Istri mendapatkan seperempat dari asal masalah (dua belas) karena tidak ada ahli waris lainnya seperti anak, ayah mendapatkan sisa dari dua belas yaitu enam, ibu mendapatkan sepertiga sisa dari ayah, dan istri tiga bagian.

g. Hak Waris Anak Perempuan

Hak waris anak perempuan semata wayang adalah seperdua. Allah SWT berfirman, “ Jika dia (anak perempuan) itu seorang saja, maka dia memperoleh setengah(harta yang ditinggalkan) ,” (QS.an-.Nisá’[4]: 11). Dia mendapatkan dua p e rtiga apabila mereka berjumlah dua atau lebih. Allah SWT berfirman, “ Jika anak itu semuanya perempuan yang jumlahnya lebih dari dua, maka bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan ,” (QS. an-Nisá’ [4]: 11).

Terkadang anak perempuan mendapatkan sisa karena ahli waris lainnya (ashabah bi ghairiha ) yaitu anak laki-laki. Maka, anak laki-laki memperoleh dua kali lipat bagian anak perempuan. Allah SWT berfirman, “ Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepada kalian tentang (pembagian warisan untuk) anak-anak kalian, (yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan ,” (QS. an-Nisá’ [4]: 11).

h. Hak Waris Cucu Perempuan dari Anak Laki-laki

Cucu perempuan, satu atau lebih memperoleh seperenam apabila bersama anak perempuan orang yang meninggal sebagai penyempurna dari dua p e rtiga. Hal ini mengacu pada keputusan Ibnu Mas’ud ra. Namun, bila cucu perempuan bersama dengan dua anak perempuan atau lebih, maka cucu perempuan tidak memperoleh sama sekali atau hak warisnya gugur. Ketika cucu perempuan lebih dari satu dan tidak ada anak perempuan, mereka memperoleh dua pe rtiga. Misalnya dalam komposisi berikut ini, ayah dan dua cucu perempuan, maka ayah memperoleh sisa sedangkan mereka memperoleh dua pertiga.

Terkadang cucu perempuan juga mendapatkan sisa bila bersama ahli waris yang mengakibatkan dia memperoleh sisa, yaitu cucu laki-laki dari anak laki-laki (muashib bi ghairiha ) dengan ketentuan bahwa cucu laki-laki memperoleh dua kali lipat bagian yang diperoleh cucu perempuan.

Dan mereka mendapatkan seperdua ketika sendirian dan tidak terdapat anak perempuan lainnya atau anak laki-laki, dan juga tidak terdapat ayah. Misalnya ayah, cucu perempuan dari anak laki-laki, dan ibu. Maka, cucu perempuan itu mendapatkan seperdua, ibu mendapatkan seperenam, dan sisanya diperuntukkan ayah sebagai ahli waris ashabah dan bagian pasti. Hak waris cucu perempuan dari anak laki-laki terhalangi dengan adanya anak laki-laki, atau dua anak perempuan terkecuali ada ahli waris yang menyebabkan cucu perempuan itu mendapatkan sisa, yaitu cucu laki-laki dari anak laki-laki atau ke bawah yang mempunyai hak waris.

i. Hak Waris Saudari Kandung

Saudari memperoleh seperdua dengan syarat tidak ada ahli waris yang sederajat dengannya atau tidak ada ahli waris yang membuat dia memperoleh sisa, yaitu saudara sendiri atau saudara kandung. Firman Allah SWT, “ Jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudari, maka bagiannya (saudarinya itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya,” (QS. an-Nisa’ [4]: 176). Saudari mendapatkan dua p e rtiga apabila berjumlah dua atau lebih serta tidak terdapat saudara kandung. Allah SWT berfirman, “ Tetapi jika saudari itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan ,” (QS. an-Nisa’ [4]: 176). Saudari memperoleh sisa (ashabah) apabila bersama dengan saudara kandung (muashib bi ghairiha ) dengan acuan bahwa hak saudara kandung dua kali lipat dari bagian yang diperoleh saudari. Dan saudari juga memperoleh sisa (ashabah) sebab bersama dengan anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki (muashib ‘ala ghairiha ).

Ini bersandarkan pada kaidah fiqhiyah: jadikanlah anak perempuan sebagai penyebab saudari kandung memperoleh sisa. Dalam Nail al-Authar dijelaskan bahwa ini adalah keputusan Ibnu Mas’ud dalam masalah ahli waris dengan komposisi sebagai berikut. Anak perempuan memperoleh seperdua, cucu perempuan dari anak laki-laki memperoleh seperenam sebagai penyempurna dari dua p e rtiga, dan sisanya diberikan kepada saudari. Hadits ini diriwayatkan oleh ulama hadits kecuali Muslim.

Saudari tidak mempunyai hak waris apabila terdapat keturunan laki-laki yang menerima waris, yaitu anak, cucu walau ke bawah, dan bila bersama ayah. Begitulah keputusan yang disepakati oleh para ulama.

j. Hak Waris Saudari Seayah

Saudari seayah memperoleh seperdua dengan syarat sebagai berikut.

(1) Tidak ada saudari lainnya.

(2) Tidak ada ahli waris yang mengakibatkan dia mendapatkan sisa, yaitu saudara seayah.

(3) Tidak ada saudari kandung. Hal ini mengacu pada pembagian waris yang diterima oleh saudari kandung ketika sendirian.

Saudari, dua atau lebih mendapatkan dua pe rtiga ketika tidak terdapat saudara seayah, atau beberapa saudari yang sekandung. Saudari seayah, dua atau lebih memperoleh seperenam apabila ada saudari kandung karena menyempurnakan bagian dua p e rtiga. Saudari seayah memperoleh sisa (ashabah) apabila bersama saudara seayah. Dia juga mendapat ashabah apabila bersama anak perempuan, cucu perempuan dari anak laki-laki dan keduanya bersamaan, baik satu orang atau lebih.

k. Hak Waris Saudara, Laki-Laki atau Perempuan yang Seibu (Auladul Umm )

Mereka mendapatkan seperenam ketika mayat tidak meninggalkan anak atau orang tua. Allah SWT berfirman, “ Jika seseorang meninggal, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara (seibu) atau seorang saudari (seibu), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta ,” (QS. an-Nisa’ [4]: 12)

Mereka mendapatkan sepertiga apabila berjumlah dua atau lebih ketika mayat tidak meninggalkan anak atau orang tua. Allah SWT berfirman, “ Tetapi jika saudara-saudari seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersama-sama dalam bagian yang sepertiga itu ,” (QS. an-Nisa’ [4]: 12). Mereka tidak mempunyai hak waris apabila bersama keturunan yang menerima waris (anak, dan cucu dari anak laki-laki, walau ke bawah) dan terdapat pula orang tua yang menerima waris (ayah dan kakek yang mendapatkan hak waris sisa). Karena mereka semua termasuk kelompok kalalah . Begitulah pendapat yang disepakati oleh ulama. Allah SWT berfirman, “ Katakanlah, ‘Allah memberi fatwa kepada kalian tentang kalalah (yaitu), jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudari ,’” (QS. an-Nisa’ [4]: 176). Saudara yang dimaksud adalah saudara seibu.

FAROIDL : PENJELASAN RAD, ‘AUL DAN HAJB

Rad, Aul dan Hajb

1. Rad

Pengembalian [rad) kepada ahli waris yang mempunyai bagian pasti terjadi manakala harta peninggalan melebihi perolehan para ahli waris. Rad (lawan kata ‘aul) adalah kelebihan pembagian waris dan kekurangan siham yang akan dibagikan. Bagian ahli waris yang memperoleh dengan jalur bagian pasti memperoleh rad, selain suami istri, dengan melihat siham mereka masing-masing.

Menurut fatwa ulama muta’akhirin Syafi’iyah yang merupakan pendapat para sahabat dan tabi’in, seperti ahli waris yang mempunyai bagian pasti selain suami istri memperoleh rad dari ahli waris lainnya sesuai bagian pasti masing-masing. Allah SWT berfirman, “ Orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi),” (QS. al-Ahzab [33]: 6). Ayat tersebut menunjukkan bahwa kerabat orang yang meninggal lebih utama untuk mendapatkan harta peninggalannya daripada selainnya, dan lebih utama daripada baitul mal yang diperuntukkan bagi kaum muslimin.

Dalam hadits dijelaskan bahwa seorang perempuan datang kepada Nabi saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya bersedekah kepada ibu dengan seorang budak perempuan yang masih gadis, lalu ibu meninggal dan budak itu masih hidup.” Kemudian Nabi saw berkata, “ Itu hakmu dan itu adalah warisan untukmu .” Beliau memberikan budak tersebut kepada perempuan itu. Dengan demikian, jika tidak ada rad, maka perempuan itu mendapatkan seperdua.

Adapun contoh-contohnya adalah sebagai berikut.

• Seseorang wafat dengan meninggalkan dua anak perempuan, atau dua saudari, atau dua kakek. Maka asal masalahnya adalah dua, dan masing-masing mendapat seperdua dan rad. Ini contoh ahli waris dari satu golongan.

• Seseorang wafat dengan meninggalkan ahli waris kakek dan saudari seibu. Masing-masing mendapatkan seperenam dari asal masalah (enam). Bagian (siham) mereka jika dijumlah sama dengan dua. Maka, asal masalah (enam) diganti dengan asal masalah baru (dua), yaitu hasil penjumlahan bagian dua ahli waris tersebut. Ini contoh ahli waris yang lebih dari satu golongan dan tidak terdiri dari suami atau istri yang tidak mendapat rad.

• Seseorang wafat dengan meninggalkan istri atau suami dan tiga saudari kandung atau tiga anak perempuan. Asal masalahnya empat: istri memperoleh bagian pasti seperempat, yaitu satu bagian pada masalah pertama. Suami pada masalah kedua mendapatkan seperempat beserta adanya beberapa anak perempuan. Sisanya tiga bagian dibagikan kepada beberapa saudari atau para anak perempuan sebagai bagian pasti dan rad.

• Seseorang wafat dengan meninggalkan istri, ibu, dan dua saudara seibu. Asal masalahnya empat: istri mendapatkan bagian pasti seperempat, satu bagian dan sisanya (tiga) diberikan kepada ibu dan dua saudara seibu, yaitu dari seperenam sampai sepertiga (dari satu bagian sampai dua bagian). Ini contoh pewarisan terdiri dari dua kelompok atau lebih dan terdapatnya ahli waris yang tidak mendapat rad, suami atau istri. Dengan demikian, bila ahli waris penerima rad itu hanya satu kelompok ahli waris yang mendapatkan bagian pasti, maka penyelesaiannya sebagai berikut. Bilamana ahli waris itu hanya seorang, dia memperoleh bagian pasti dan sisa sebagai rad, misalnya anak perempuan. Di samping dia mendapatkan bagian pasti, seperdua, dia juga mendapatkan sisa sebagai rad. Jika ahli waris berupa kelompok, mereka memperoleh rad sesuai bagian pasti masing-masing. Apabila ahli waris terdiri dari dua kelompok, mereka mendapatkan radnya berdasarkan mereka masing-masing.

2. ‘Aul

Menurut jumhur sahabat dan Empat Mazhab, ‘aul adalah nilai siham melebihi asal masalah dalam pembagian kepada ahli waris. Orang yang pertama kali memutuskan teori ‘aul adalah Umar bin Khathab ra. Yaitu dalam kasus ahli waris sebagai berikut: suami dan dua saudari; atau suami, ibu dan saudari kandung. Umar memutuskan hal itu karena mengacu pada pernyataan Ibnu Abbas dan Zaid bin Tsabit “a’ilu al-faraid” (berikanlah kepada ahli waris dengan sama rata). Dalam hal ini, yang dimaksud adalah dua saudari kandung, dan dalam permasalahan yang lain adalah beberapa anak perempuan.

Adapun asal masalah yang menimbulkan ‘aul adalah enam, dua belas, dan dua puluh empat.

Asal masalah enam kadang ‘aul menjadi tujuh dalam komposisi ahli waris sebagai berikut: suami dan dua saudari kandung. Suami memperoleh bagian pasti seperdua, tiga bagian dan dua saudari kandung memperoleh dua pertiga, empat bagian. Dengan demikian, asal masalah yang awalnya enam ‘aul menjadi tujuh.

Asal masalah enam kadang ‘aul menjadi delapan dalam komposisi ahli waris sebagai berikut: suami, dua saudari kandung, dan ibu (ahli waris ini dikenal dengan ñama mubahalah ).

Suami mendapatkan seperdua, tiga bagian; dua saudari kandung mendapatkan dua pe rtiga, empat bagian; dan ibu memperoleh seperenam, satu bagian. Dengan demikian, asal masalah yang awalnya enam ‘aul menjadi delapan.

Asal masalah enam kadang ‘aul menjadi sembilan dalam permasalahan

murawaniyah, yaitu ahli waris yang terdiri dari suami, saudari kandung, dan dua saudari seibu. Suami memperoleh seperdua, tiga bagian; dua saudari kandung memperoleh dua pertiga, empat bagian; dan dua saudari seibu mendapatkan sepertiga, satu bagian.

Dengan demikian, asal masalah yang awalnya enam ‘aul menjadi sembilan.

Asal masalah enam kadang ‘aul menjadi sepuluh dalam permasalahan syarihiyah atau ummul furukh karena banyaknya ahli waris yang terlibat dalam ‘aul. Adapun komposisi ahli warisnya sebagai berikut: suami, dua saudari kandung, dua saudari seibu, dan ibu. Suami memperoleh seperdua, tiga bagian; dua saudari kandung memperoleh dua p e rtiga, empat bagian dan dua saudari seibu mendapatkan sepertiga, dua bagian; dan ibu mendapatkan seperenam, satu bagian. Dengan demikian, asal masalah yang awalnya enam ‘aul menjadi sepuluh.

Asal masalah dua belas kadang ‘aul menjadi tiga belas dalam komposisi ahli waris sebagai berikut: istri, dua saudari kandung, dan saudari seibu. Istri mendapatkan seperempat, tiga bagian; dua saudari kandung mendapatkan dua pertiga, delapan bagian; dan saudari seibu mendapatkan seperenam, dua bagian. Dengan demikian, asal masalah yang awalnya dua belas ‘aul menjadi tiga belas.

Asal masalah dua belas kadang ‘aul menjadi lima belas dalam komposisi ahli waris sebagai berikut: suami, dua anak perempuan, ibu, dan ayah. Suami mendapatkan seperempat, tiga bagian; dua anak perempuan mendapatkan dua pe rtiga, delapan bagian; ibu mendapatkan seperenam, dua bagian; dan ayah mendapatkan seperenam, dua bagian. Dengan demikian, asal masalah yang awalnya dua belas ‘aul menjadi lima belas.

Asal masalah dua belas kadang ‘aul menjadi tujuh belas dalam komposisi ahli waris sebagai berikut: istri, dua saudari kandung, dua saudari seibu dan ibu. Istri mendapatkan seperempat, tiga bagian; dua saudari kandung mendapatkan dua pe rtiga, delapan bagian; dua saudari seibu mendapatkan sepertiga, empat bagian; dan ibu mendapatkan seperenam, dua bagian. Dengan demikian, asal masalah yang awalnya dua belas ‘aul menjadi tujuh belas.

Asal masalah dua puluh empat hanya ‘aul menjadi dua puluh tujuh dalam masalah minbariyah. Adapun komposisi ahli warisnya sebagai berikut: istri, dua anak perempuan, ayah, dan ibu. Istri mendapatkan seperdelapan, tiga bagian; dua anak perempuan mendapatkan dua pe rtiga, enam belas bagian; ayah mendapatkan seperenam, empat bagian; dan ibu mendapatkan seperenam, empat bagian. Dengan demikian, asal masalah yang awalnya duapuluh empat ‘aul menjadi dua puluh tujuh.

3. Hajb

Hajb, secara bahasa bermakna terlarang dan secara syara’ adalah tercegah menerima hak waris, baik secara keseluruhan atau sebagian saja. Hajb terbagi menjadi dua bagian yaitu hajb bil hirman dan hajb bi an-nuqshan

Hajb hirman adalah seseorang tidak berhak mendapatkan warisan sama sekali, bukan karena oleh dirinya sendiri seperti karena membunuh dan berbeda agama. Akan tetapi disebabkan oleh orang lain, yang derajatnya lebih dekat kepada mayat. Misalnya, kakek terhalangi oleh ayah, cucu laki-laki dan anak laki-laki terhalangi oleh anak laki-laki, dan saudara seibu terhalangi oleh ayah atau anak.

Hajb hirman ada tujuh, yaitu kakek, nenek saudari kandung, dua saudari seibu, dua saudari seayah, cucu perempuan dari anak laki-laki, dan cucu laki-laki dari anak laki-laki, dengan penjelasan sebagai berikut.

1) Kakek terhalangi oleh ayah.

2) Nenek terhalangi oleh ibu.

3) Dua saudari kandung terhalangi oleh anak laki-laki, atau cucu laki-laki dari anak laki-laki dan atau oleh ayah, berdasarkan ijma’ ulama.

4) Dua saudari seibu terhalangi oleh ayah, kakek, dan keturunan yang menerima waris, seperti anak laki-laki, anak perempuan, cucu laki-laki dari anak laki-laki, dan cucu perempuan dari anak laki-laki.

5) Dua saudari seayah terhalangi oleh dua saudari kandung apabila mereka tidak bersama muashshib -nya, yaitu saudaranya.

6) Cucu perempuan dari anak laki-laki terhalangi oleh dua atau lebih anak perempuan apabila mereka tidak bersama muashshib -nya, yaitu cucu laki-laki.

7) Cucu laki-laki dari anak laki-laki terhalangi oleh anak laki-laki.

• Hajb Nuqshan

Hajb nuqshan adalah berkurangnya bagian ahli waris karena ada ahli waris lainnya. Hal ini ada lima macam, sebagaimana berikut.

1) Berkurangnya bagian pasti, seperti suami yang mendapatkan seperdua, berkurang menjadi seperempat sebab terdapat anak; ibu yang mendapatkan sepertiga berkurang menjadi seperenam sebab adanya anak atau beberapa saudara/saudari; cucu perempuan dari anak laki-laki yang mendapatkan seperdua berkurang menjadi seperenam sebab terdapat satu anak perempuan.

2) Berkurangnya bagian ahli waris ashabah menjadi bagian yang lebih sedikit. Misalnya, saudari kandung atau seayah yang bersama anak perempuan atau bersama cucu perempuan dari anak laki-laki. Hal ini apabila mereka bersama saudaranya (saudara kandung dan seayah). Bisa diartikan bahwa mereka yang semula mendapatkan warisan sebagai ashabah ma’al ghair -yaitu karena bersama anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki- berubah menjadi mendapatkan warisan sebagai ashabah bin nafsi . Dan ini berakibat pada perolehan bagian mereka pula.

3) Berkurang bagian ahli waris, yaitu mereka semula mendapatkan bagian pasti menjadi bagian ashabah. Misalnya, anak perempuan yang bersama anak laki-laki. Bagiannya berkurang dari bagian pasti, seperdua, menjadi ashabah yang lebih sedikit.

4) Berkurangnya bagian ahli waris, yang semula mendapatkan ashabah, berubah mendapatkan bagian pasti. Misalnya, ayah atau kakek yang semula mendapatkan ashabah, berubah menjadi bagian pasti karena bersama anak laki atau cucu laki dari anak laki-laki.

5) Banyaknya ahli waris yang memperoleh bagian pasti, seperti telah disebutkan dalam kasus ‘aul di depan.

FAROIDL: PENJELASAN AHLI WARIS ASHOBAH DAN HAWASYI

■ Ahli Waris Hawasyi dan Ashabah

1. Ahli Waris Hawasyi

Ahli waris hawasyi yaitu saudara dan saudari kandung, jika tidak terdapat saudara dan saudari seayah mereka mendapatkan hak waris sama seperti anak kandung. Artinya saudara yang sendirian atau lebih mendapatkan seluruh harta peninggalan; satu saudari mendapatkan seperdua; dan dua saudari atau iebih mendapatkan duapertiga. Jika dua kelompok ini (saudara-saudari) ada maka saudara mendapatkan dua kali lipat bagian saudari.

Saudari dan saudara seayah berhak menerima waris seperti anak kandung

(walad ash-shulbi) bila tidak terdapat saudara-saudari kandung, kecuali dalam masalah musyarakah yang ahli warisnya terdiri dari suami/istri, ibu, kakek, dua saudara atau lebih yang seibu, dan saudara sekandung.

Saudara kandung mendapatkan bagian yang sama dengan saudara seibu, yaitu sepertiga yang dibagi sama rata. Seandainya di sana terdapat saudara seayah (bukan saudara kandung) maka bagian saudara seibu gugur.

Bilamana dua kelompok tersebut ada, yaitu saudara kandung dan saudara seayah, hukumnya sama seperti ketika anak kandung berkumpul dengan cucu dari anak laki-laki. Apabila di antara saudara kandung itu terdapat laki-laki meski ada yang perempuan maka hak waris saudara seayah gugur. Bila saudara/saudari seayah tersebut terdiri dari seorang perempuan, dia mendapatkan seperdua, dan sisanya diberikan kepada saudara seayah. Jika mereka terdiri dari beberapa saudara dan saudari seayah maka laki-laki memperoleh dua kali lipat bagian perempuan. Bilamana saudara seayah itu hanya seorang atau dua orang perempuan, dia atau mereka mendapatkan seperenam sebagai penyempurna bagian dua pertiga.

Apabila saudari kandung itu hanya terdiri dari dua orang atau lebih, keduanya atau mereka mendapatkan bagian dua pertiga, dan sisanya hanya diberikan kepada saudara seayah. Namun, jika mereka terdiri dari beberapa laki-laki dan perempuan maka khusus bagi perempuan tidak berhak menerima warisan bila ada dua saudari kandung atau lebih.

Hanya saja, cucu perempuan dari anak laki-laki mendapatkan sisa harta warisan jika terdapat orang yang sederajat dengannya (yaitu cucu laki-laki dari anak laki-laki) atau orang yang berada pada derajat nasab di bawahnya. Yang membuat saudari mendapatkan sisa harta warisan adalah saudaranya, bukan anak laki-lakinya saudara bukan pula anak laki-lakinya paman dari ayah.

Bila seseorang wafat dengan meninggalkan dua saudari kandung, satu saudari seayah, dan anak laki-lakinya saudara seayah, maka dua saudari mendapatkan dua pertiga dan sisanya untuk anak laki-lakinya saudara. Dia tidak meng-ashabahi saudari seayah karena dia sendiri tidak bisa mengakibatkan saudarinya mendapatkan ashabah, tidak pula meng-ashabahi bibinya dari pihak ibu.

a. Saudara dan Saudari Seibu

Satu saudara/saudari seibu mendapatkan bagian seperenam; sedangkan dua atau lebih saudara/saudari seibu mendapatkan sepertiga. Allah SWT berfirman, “Jika seseorang meninggal, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara (seibu) atau seorang saudari (seibu), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudari seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersama-sama dalam bagian yang sepertiga itu,” (QS. an-Nisa’ [4]: 12).

b. Ashabah ma’al Ghair

Saudari kandung atau seayah bila bersama dengan beberapa anak perempuan atau beberapa cucu perempuan dari anak laki-laki, mereka mendapatkan sisa harta warisan (ashabah), sama seperi saudaranya. Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud ra ditanya tentang hak waris anak perempuan, cucu perempuan dari anak laki-laki, dan saudari, dia menjawab, “Dalam kasus ini aku pasti menghukumi sesuai keputusan yang telah dikeluarkan oleh Rasulullah, yaitu anak perempuan mendapatkan seperdua, cucu perempuan dari anak laki-laki seperenam, dan sisanya diberikan kepada saudari mayat.”

Sisi positif saudari kandung mendapatkan sisa harta warisan yaitu, apabila saudari kandung berkumpul dengan anak perempuan kandung atau cucu perempuan dari anak laki-laki, atau bersama keduanya dan beberapa saudari seayah, maka dia menggugurkan hak waris beberapa saudari seayah, seperti halnya saudara kandung.

c. Anak Laki-Laki Saudara (Keponakan)

Hak waris anak laki-laki saudara kandung atau seayah sama seperti ayahnya, baik ketika berkumpul maupun sendiri. Perbedaannya adalaha sebagai berikut.

Pertama, keberadaan mereka tidak mengubah warisan ibu dari sepertiga menjadi seperenam. Karena, Allah SWT memberikan ibu bagian sepertiga jika tidak terdapat para saudara, dan mereka tidak sama dengan anak-anaknya.

Kedua, anak laki-laki saudara kandung tidak berhak menerima warisan bila terdapat kakek, justru hak warisnya gugur oleh kakek. Sebaliknya ayah mereka mendapatkan warisan bersama kakek, karena kakek seperti saudara, mengingat keduanya memperoleh bagian yang sama rata saat ada.

Ketiga, anak laki-laki saudara kandung tidak berhak menerima waris dalam kasus musyarakah, lain halnya dengan ayah mereka yang sekandung. Sebab, landasan tasyrik adalah kerabat ibu.

Demikianlah tiga titik perbedaan antara anak laki-laki saudara dan ayah mereka.

d. Paman dari Ayah (‘Amm)

Hak waris paman dari ayah (‘amm) yang sekandung atau seayah sama dengan saudara dari dua sisi, baik ketika berkumpul maupun sendiri. Hak waris anak laki-laki paman dari ayah yang sekandung atau seayah sama seperti ‘amm sekandung atau seayah, asalkan dia tidak ada, seperti halnya anak-anak saudara.

Ahli waris ashabah lainnya seperti anak laki-laki dari anak laki-lakinya ‘amm, anak laki-laki dari anak lakinya saudara, dan seterusnya bisa diqiyaskan dengan paman dari ayah.

2. Ahli Waris Ashabah

Ashabah secara bahasa adalah jalur kekerabatan laki-laki pada ayahnya seperti paman dari ayah dan anak laki-laki paman dari ayah. Secara syara’ ashabah adalah orang yang tidak mendapatkan bagian pasti (fardan) yang telah ditentukan, melainkan mendapatkan sisa harta warisan. Ahli waris ashabah kadang berhak memperoleh seluruh tirkah (harta warisan) bila jika ahli warisnya hanya dia seorang diri, dan kadang mendapatkan sisa tirkah yang telah dibagikan kepada ashhabul furudh sesuai ketentuan syara’.

Ashabah ada dua macam; sababiyah dan nasabiyah.

a. Ashabah Sababiyah

Ashabah sababiyah adalah hak waris ashabah yang dimiliki oleh tuan karena telah memerdekakan budaknya. Hak waris ini terus berlanjut kepada ahli waris ashabah bin nafsi majikannya secara berurutan. Inilah yang dinamakan waris ‘. Yaitu bila seseorang (mantan hamba sahaya) meninggal dan tidak mempunyai ahli waris ashabah dari jalur nasab namun masih ada tuan yang memerdekannya, maka tuan ini, baik laki-laki maupun perempuan, berhak memperpleh seluruh tirkah atau sisa tirkah yang telah dibagikan kepada ashabul furudh.

Ketentuan di atas mengacu pada hadits yang bersifat umum, “Wala’ bagi tuan yang memerdekakan, Pemberian hak merdeka kepada budak bisa dilakukan oleh tuan laki-laki atau perempuan, karena itu hak mereka dalam waris wala’ pun sama, sesuai ijma’ ulama.

Penerimaan hak waris wala’ ini disyaratkan tidak terdapat ahli waris ashabah dari jalur nasab, sesuai hadits,

“Wala’ adalah segenggam daging seperti daging nasab.” Dalam hadits ini wala’ diserupakan dengan nasab, dan kita tahu bahwa bahwa obyek yang diserupakan (musyabah) bukanlah obyek yang diserupai (musyabah bih) .

b. Ashabah Nasabiyah

Yaitu hak waris ashabah yang murni melalui jalur nasab. Mereka adalah para kerabat laki-laki mayat yang silsilah nasabnya tidak dipisahkan oleh perempuan, semisal anak laki-laki, ayah, saudara, dan paman dari ayah, saudari dengan saudaranya, dan saudari bersama seorang anak perempuan.

Ketentuannya mereka memperoleh sisa tirkah yang telah dibagikan kepada ashabui furudh.

Apabila dalam silsilah nasab kepada mayat ditengahi oleh perempuan, mereka masuk dalam kelompok dzawil arham, seperti ayahnya ibu (kakek), anak laki-laki dari anak perempuan (cucu) atau termasuk ashabul furudh, seperti saudaranya ibu (paman).

Dasar hukum waris ashabah yaitu firman Allah SWT, “Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepada kalian tentang (pembagian warisan untuk) anak-anak kalian, (yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan,” (QS. an-Nisa’ [4]: 11). Kemudian Allah SWT menjelaskan bagian yang diperoleh oleh ayah, ibu, dan lainnya. Penjelasan tersebut mengindikasikan bahwa anak mendapatkan sisa tirkah setelah ayah dan ibu memperoleh bagiannya.

• Ashabah nasabiyah ada tiga macam

Pertama, ashabah bin nafsi yaitu setiap laki-laki yang mempunyai hubungan kekerabatan yang dekat kepada mayat dan dalam jalur nasabnya tidak diselingi oleh perempuan.

Ashabah bin nafsi ada empat jalur yang derajatnya tidak sama.

Mereka semua berjumlah dua belas orang, dengan perincian sebagai berikut :

(i) Jalur anak (bunuwwah), yaitu keturunan mayat yang mencakup anak laki-laki, anak laki-laki dari anak laki-laki (cucu laki-laki), dan seterusnya ke bawah.

(ii) Jalur ayah (ubuwwah), yaitu orang tua mayat yang meliputi ayah, ayahnya ayah (kakek) dan seterusnya ke atas.

(iii) Jalur saudara (ukhuwwah), yaitu anak-anak dan ayahnya mayat yang mencakup saudara kandung atau seayah dan anak laki-lakinya saudara kandung atau seayah (keponakan).

(iv) Jalur paman (umumah), keturunan dari kakeknya mayat mencakup paman dari ayah yang sekandung atau seayah, anak laki-laki paman dari ayah yang sekandung atau seayah, dan seterusnya ke bawah. Selanjutnya adalah paman dari ayah yang sekandung atau seayah, anak laki-laki paman dari ayah yang sekandung atau seayah, anak laki-laki paman dari ayahnya (anaknya kakek) dari jalur ayah yang sekandung atau seayah kemudian pamannya kakek (buyut) dari jalur ayah lalu anak laki-lakinya.

Secara prioritas ashabah dari jalur anak didahulukan dari jalur bapak, lalu dari jalur saudara, dan terakhir dari jalur paman.

Standar prioritas yang digunakan untuk menentukan ahli waris ashabah mana yang lebih berhak pertama adalah jihhah (kerabat yang bernasab kepada mayat melalui jalur), lalu kedua bi qurbil darajah (kerabat yang bernasab kepada mayat berdasarkan kedekatan derajatnya), dan kemudian bi quwwatil qarabah (kerabat yang bernasab kepada mayat berdasarkan kekuatan kedekatan dengan mayat).

Kedua, ashabah bil ghair yaitu setiap ahli waris perempuan yang mendapatkan bagian pasti dan mendapatkan sisa karena bersama dengan ahli waris laki-laki yang sederajat dengannya.

Ashabah bil ghair ini terjadi pada ahli waris perempuan yang mendapatkan seperdua ketika sendirian dan dua pertiga ketika jumlahnya lebih dari satu orang.

Mereka ada empat kelompok yaitu;

(i) anak perempuan bersama anak laki-laki yang sederajat;

(ii) anak perempuan dari anak laki-laki (cucu perempuan) bersama anak laki-laki dari anak laki-laki (cucu laki-laki) yang sederajat,

(iii) saudari kandung bersama saudara kandung, dan

(iv) saudari seayah bersama saudara seayah.

Ketiga, ashabah ma’al ghair, setiap perempuan yang mendapatkan sisa tirkah karena bersama ahli waris perempuan lainnya.

Ashabah ma’al ghair mempunyai dua pola;

(i) saudari kandung bersama dengan anak perempuan atau anak perempuannya anak laki-laki (cucu perempuan); dan

(ii) saudari seayah bersama dengan anak perempuan atau anak prempuannya anak laki-laki (cucu perempuan).

Dalam kasus ini perempuan kandung berhak atas warisan bersama

mu’ashib -nya seperti, saudara seayah, dan menghalangi hak waris saudara-saudara seayah. Demikian pula, saudari seayah mendapat hak waris ashabah bersama mu’ashib -nya seperti saudara seayah, dan menghalangi hak waris anak laki-lakinya saudara kandung dan ahli waris setelahnya.

G. Hak Waris Dzawil Arham

Dzawil arham adalah seluruh kerabat yang tidak mendapatkan bagian pasti dan sisa. Mereka adalah:

1) Kakek dan nenek yang tidak menerima waris karena dihalangi oleh ahli waris lainnya

2) Anak-anak dari anak perempuan (cucu)

3) Anak-anak saudari (keponakan)

4) Anak laki-lakinya saudara seibu

5) Paman dari ayah yang seibu

6) Anak perempuannya paman dari ayah

7) Bibi dari ayah, saudari, dan bibi dari ibu.

Mengenai pewarisan dzawil arham masih diperselisihkan para ulama. Setidaknya ada tiga pendapat tentang masalah ini, yaitu sebaga berikut.

1) Sebagian ulama mengacu pada Madzhab Ahli Tanzil (selain Madzhab Hanafiyah menurut pendapat ma’tamad) bahwa dzawil arham menerima waris dengan cara menempatkan mereka di posisi orang tua (ushul) mereka yang berhak menerima warisan yaitu bapak/ibu, kakek, dan lainnya Dzawil arham memperoleh bagian tirkah atas nama orang tua nya seolah mereka masih hidup, berdasarkan prinsip firman Allah,

“Bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan,” (QS.an-Nisa’ [4]: 11).

2) Ulama lainnya mengacu pada Madzhab Ahli Qarabah, yaitu Madzhab Hanafiyah. Madzhab ini memprioritaskan kerabat terdekat mayatlah yang lebih berhak atas waris, kemudian orang yang setelahnya, diqiyaskan dengan ahli waris ashabah. Pewarisan dalam madzhab ini berdasarkan derajat kedekatan kepada mayat sebagaimana ahli waris ashabah. Tata cara yang kedua ini diberi nama Ahli Qarabah karena yang menerima warisan adalah mereka yang paling dekat kerabatnya, kemudian diikuti oleh ahli waris yang setelahnya.

3) Sebagian ulama lainnya mengacu pada Madzhab Ahli Rahim atau Madzhab Taswiyah yaitu seluruh dzawil arham mendapatkan harta peninggalan secara sama rata. Tidak ada perbedaan antara kerabat yang dekat atau jauh, laki-laki atau perempuan, karena mereka menerima waris atas dasar rahimiyah yang dalam nal ini mereka semua sama.

Imam Nawawi menyatakan bahwa pendapat yang paling benar dan paling tepat qiyasnya adalah Madzhab Ahli Tanzil. Wallahu a’lam.

Ulama sepakat bahwa dzawil arham, dari jalur anak dan jalur saudara mendapatkan seluruh harta peninggalan mayat ketika sendirian, baik laki-laki maupun perempuan. Perbedaan hanya terjadi manakala dzawil arham lebih dari satu orang.

Madzhab Ahli Tanzil mengecualikan

dzawil arham paman dari ibu dan bibi dan ibu. Menurutnya, mereka menempati posisi ibu. Begitu juga paman dari ayah dan bibi dari ayah menempati posisi ayah. Jika seseorang yang wafat dengan meninggalkan bibi dari ibu dan bibi dari ayah, bibi dari ibu mendapatkan sepertiga dengan menempati posisi ibu dan bibi dari ayah mendapatkan dua pertiga dengan mengganti posisi ayah yang juga mendapatkan sisa tirkah.

Kaidah Ahli Tanzil berkonsekuensi menempatkan anaknya anak perempuan (cucu) pada posisi anak perempuan, anak saudara di posisi saudara, dan anak paman diposisi paman. Contoh kasus, orang yang wafat meninggalkan anak perempuannya anak perempuan (cucu perempuan), anak perempuannya saudara, dan anak perempuannya paman dari ayah. Maka, menurut kaidah ini, berarti mayat meninggalkan anak perempuan, saudara, dan paman dari ayah. Jadi, harta peninggalan hanya dibagi kepada anak perempuan dan saudara saja sebab paman tidak berhak menerima waris karena terhalang oleh saudara. Artinya, cucu perempuan mendapat bagian ibunya yaitu seperdua dan anak perempuannya saudara memperoleh bagian ayahnya: seperdua sebagai ashabah.

Seseorang yang wafat dengan meninggalkan anak laki-lakinya anak perempuan (cucu laki-laki), anak perempuan dari anak perempuannya anak laki-laki (cicit perempuan), anak perempuannya saudari kandung, anak perempuannya saudari seayah. Maka, asal masalahnya enam karena kita mengumpamakan mayat meninggalkan anak perempuan, anak perempuannya anak laki-laki (cucu perempuan), saudari kandung, dan saudari seayah.

Anak perempuan mendapatkan seperdua, tiga bagian; cucu perempuan mendapatkan seperenam, satu bagian; dan saudari kandung mendapatkan sisa, dua bagian; sedangkan saudari seayah tidak memperoleh bagian. Seluruh bagian tersebut dibagikan kepada anak-anak mereka (dzawil arham ), seolah mereka wafat dengan meninggalkan anak-anaknya.

FAROIDL: PENYEBAB TIDAK MENDAPAT WARISAN, RADD DAN DZAWIL ARHAM

■ Pengembalian Harta Warisan (Radd) dan Dzawil Arham

Jika mayat tidak mempunyai ahli waris maka harta peninggalan tidak boleh diberikan kepada dzawil arham.

Apabila harta peninggalan itu masih bersisa maka tidak boleh diberikan kepada orang-orang yang mendapatkan bagian pasti. Akan tetapi, harta peninggalan harus diberikan kepada baitul mal.

Namun, kalangan ulama mutaakhirin berpendapat, jika baitul mal masih belum bekerja dengan baik karena pemimpin yang tidak jujur maka harta peninggalan itu diberikan kepada ahli waris yang mendapatkan bagian pasti selain suami atau istri. Pengembalian itu berdasarkan pada bagian-bagian mereka yang telah ditentukan dan dipastikan. Apabila mereka semua tidak ada maka harta peninggalan diberikan kepada dzawil arham karena mengacu pada hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah dari al-Miqdam bin Ma’di Yakrib ra, “ Siapa saja yang meninggal dunia maka ahli warisnya berhak mendapatkan harta peninggalannya, dan aku adalah ahli waris bagi mayat yang tidak mempunyai ahli waris sebagai denda darinya. Bibi dari ibu adalah ahli waris bagi mayat yang tidak mempunyai ahli waris,sebagai denda darinya dan dia pun berhak mendapatkan warisannya. “

Alasan dzawil arham didahulukan dalam hal pengembalian sisa warisan karena kerabat yang berhak atas bagian pasti itu lebih utama. Jika mereka mendapatkan harta warisan maka cara pembagiannya adalah dengan sama rata. Adapun dzawil arham , yaitu selain kerabat yang telah mendapatkan harta warisan.

Jumlahnya ada sepuluh kelompok, sebagai berikut.

1) Ayahnya ibu.

2) Kakek atau nenek yang tidak mendapatkan harta warisan, seperti ayahnya ayah dari ibu dan ibunya ayah dari ibu. Mereka tergolong dalam satu kelompok.

3) Anak-anak dari anak perempuan sekandung seperti cucu perempuan dari anak perempuan atau dari anak laki-laki seperti anak perempuannya anak perempuan dari anak laki-laki, baik mereka dari kalangan laki-laki maupun perempuan.

4) Anak-anak perempuan dari saudara kandung, seayah atau seibu.

5) Anak-anak dari saudari sekandung, seayah atau seibu.

6) Anak laki-laki dan perempuan dari saudara seibu.

7) Paman dari ayah yang seibu.

8) Anak perempuan paman dari ayah kandung, seayah atau seibu dan juga anak laki-lakinya paman dari ayah yang seibu.

9) Bibi dari ayah.

10) Paman dan bibi dari ibu.

Termasuk dzawil arham yaitu mereka yang garis keturunannya melalui kelompok yang telah disebutkan di atas selain dari kakek dan nenek karena terkadang orang yang melalui jalur kakek atau nenek bisa menerima warisan.

■ Faktor-Faktor Penyebab Terhalangnya Pewarisan

Adapun penyebab terhalangnya pewarisan ada empat, yaitu sebagai berikut.

1) Membunuh. Yaitu, pembunuhan yang dilakukan oleh ahli waris kepada orang yang mewariskannya dengan alasan dan cara apa pun, baik pembunuhan itu karena menjalankan qishas, hudud, dan selainnya; lupa atau sengaja; secara langsung atau menggunakan penyebab lain.

Singkatnya ahli waris tidak berhak mendapatkan warisan bila terlibat dalam hal yang menyebabkan orang yang akan mewariskan meninggal dunia.

Adapun dalilnya adalah sabda Rasulullah saw, “ Pembunuh tidak berhak mendapatkan warisan dari orang yang dibunuh .” Sebab, jika seorang pembunuh mendapatkan warisan bisa jadi mereka akan berusaha untuk membunuh orang yang akan mewariskannya. Pelarangan warisan ini untuk kemaslahatan, sebab pembunuhan bisa mempercepat kematian yang merupakan salah satu unsur diperolehnya warisan.

2) Berbeda agama atau kafir. Orang Islam tidak boleh menerima warisan dari orang kafir begitu juga sebaliknya. Menurut pendapat yang masyhur kafir harbi (orang kafir yang berperang dengan kaum muslimin) tidak boleh mewariskan kepada kafir harbi atau kafir dzimmi (orang kafir yang hidup berdampingan dengan orang Islam dan di bawah kekuasaan pemerintahan Islam). Orang murtad tidak boleh mewarisi dan mewariskan. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Burdah dikatakan, “Rasullullah memerintahkan aku untuk menghukum mati orang yang mengawini ibu tirinya, kemudian membagi lima hartanya karena dia termasuk orang yang telah murtad.”

Orang kafir boleh mewarisi orang yang kafir pula, seperti kafir mu’ahid, dzimmi, dan musta’min walaupun keduanya berbeda agama, seperti Yahudi dari Nasrani dan juga sebaliknya; Nasrani dari Majusi; Majusi dari orang yang menyembah berhala (Paganisme) dan juga sebaliknya karena semua agama itu dikelompokkan dalam satu agama yaitu sama-sama agama batal. Allah SWT berfirman, “ Maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan ,” (QS. Yunus [10]: 32).

Ketentuan itu berlaku baik salah satu dari mereka berada di negara Islam dan yang satunya berada di negara kafir maupun tidak.

Adapun dasar atau dalil yang melarang pewarisan beda agama adalah hadits Rasulullah saw, “ Orang kafir tidak boleh menerima waris dari orang Islam dan juga sebaliknya ,” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

3) Budak. Budak atau hamba sahaya tidak berhak mewariskan dan mewarisi karena budak tidak mempunyai hak milik. Allah SWT berfirman, “ Allah membuat perumpamaan seorang hamba sahaya di bawah kekuasaan orang lain, yang tidak berdaya berbuat sesuatu ,” (QS. an-Nahl [16]: 75). Budak muba’adh yaitu budak yang sebagiannya merdeka dan sebagian yang lain masih berstatus budak, ia juga tidak berhak menerima waris.

4) Mati misterius. Apabila ada dua orang bersaudara meninggal dunia karena tenggelam, tertimpa sesuatu, atau raib serta tidak diketahui siapa yang meninggal lebih dulu, maka salah satunya tidak berhak menerima warisan dari yang lain. Harta yang ditinggalkan oleh mereka berdua diberikan kepada ahli waris lainnya.

Sedangkan pembagian warisan bagi orang yang dipenjara atau orang hilang (mafqud ) ditangguhkan sehingga diperoleh informasi yang valid tentang mereka berdua. Apabila dia telah nyata meninggal yang dibuktikan dengan saksi atau dengan perkiraan bahwa orang yang semasa dengan orang yang menghilang telah meninggal maka hakim boleh memutuskan kematiannya. Bila hakim telah memutuskan kematian orang hilang tersebut, maka warisan diberikan kepada ahli waris yang berhak pada saat dia dinyatakan meninggal, bukan pada saat dia dinyatakan hilang.

Jika orang hilang itu mempunyai hak waris maka hak warisnya ditangguhkan dulu sebelum didapatkan informasi akurat bahwa dia masih hidup di saat orang yang mewariskannya meninggal atau telah meninggal lebih dulu. Untuk ahli waris yang lain, lakukanlah kemungkinan yang paling benar. Ahli waris yang terhalang oleh orang hilang itu (mafqud), tidak boleh menerima warisan hingga keberadaan mafqud telah ditemukan. Ahli waris yang berkurang pembagian warisannya karena mafqud masih hidup, maka perkirakanlah bahwa mafqud masih hidup. Bila ahli waris berkurang pembagian warisannya karena mafqud sudah mati, maka perkirakanlah bahwa mafqud sudah meninggal dunia. Sedangkan ahli waris yang bagian warisannya tidak terpengaruh oleh hidup dan matinya mafqud maka berikanlah haknya, seperti anak lakinya mafqud, anak perempuannya, dan suaminya karena suami dalam kondisi apa pun tetap mendapatkan seperempat.

Bilamana mafqud meninggalkan istri yang sedang hamil, maka anak tersebut berhak menerima warisan dengan cara memperkirakan jenis kelaminnya, lelaki atau perempuan. Hal ini dilakukan untuk menjaga hak janin dan hak orang lain sebelum anak itu lahir. Apabila anak itu lahir dalam keadaan hidup sampai masa mafqud dinyatakan telah meninggal dunia, semisal bayi itu lahir prematur (kurang dari enam bulan) dalam status perkawinan masih belum dinyatakan cerai atau lahir kurang dari masa maksimal kehamilan pada waktu perkawinan telah putus, maka bayi itu masih berhak menerima warisan dari mafqud, karena bayi itu masih mempunyai hubungan nasab dengannya. Berbeda halnya jika yang terjadi adalah sebaliknya.

Pewarisan yang berhubungan dengan khunsa musykil -waria yang sulit ditentukan kelaminnya. Khunsa musykil ada dua macam, yaitu sebagai berikut:

1) Khunsa yang tidak berkelamin laki-laki dan perempuan, namun hanya mempunyai lubang yang berfungsi mengeluarkan air seni dan tidak menyerupai kemaluan laki-laki atau perempuan.

2) Khunsa yang mempunyai dua kemaluan laki-laki atau perempuan. Inilah yang sering terjadi di kalangan kaum waria.

Adapun hukumnya yaitu apabila hak warisnya sama baik laki-laki maupun perempuan seperti saudara seibu, maka proses pewarisannya sudah jelas. Namun, bila bagian hak warisnya berbeda, maka selesaikanlah pewarisan itu dengan mengacu pada kelamin yang diyakini.

Bila masih diragukan, maka proses pewarisan ditangguhkan sampai jenis kelaminnya dapat diketahui dengan pasti, baik dari informasi dari dirinya sendiri, haid, atau bisa dilihat dari kecenderungannya pada saat keluar sperma. Selain itu, dapat pula diketahui dengan cara melihatnya pada saat mengeluarkan air kencing. Apabila di saat buang air kecil seperti laki-laki, yaitu air kencingnya memancar ke depan, berarti dia laki-laki.

Apabila di saat buang air kecil seperti perempuan, yaitu berjongkok, maka dia adalah perempuan.