PENJELASAN QURBAN DALAM KITAB FATHUL QORIB

(Fasal) Menjelaskan hukum-hukum kurban.
(فَصْلٌ)

فِيْ أَحْكَامِ (الْأُضْحِيَّةِ)

Al udhiyah, dengan membaca dlammah huruf hamzahnya menurut pendapat yang paling masyhur, yaitu nama binatang ternak yang disembelih pada hari Raya Kurban dan hari At Tasyriq karena untuk mendekatkan diri pada Allah Swt.
بِضَمِّ الْهَمْزَةِ فِيْ الْأَشْهَرِ وَهُوَ اسْمٌ لِمَا يُذْبَحُ مِنَ النَّعَمِ يَوْمَ عِيْدِ النَّحْرِ وَأَيَّامَ التَّشْرِيْقِ تَقَرُّبًا إِلَى اللهِ تَعَالَى

Hukum Kurban

Al udhiyah hukumnya adalah sunnah kifayah mu’akadah.
(وَالْأُضْحِيِّةُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ)

عَلَى الْكِفَايَةِ

Sehingga, ketika salah satu dari penghuni suatu rumah telah adalah yang melaksanakannya, maka sudah mencukupi dari semuanya.
فَإِذَا أَتَى بِهَا وَاحِدٌ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ كَفَى عَنْ جَمِيْعِهِمْ

Al udhiyah tidak bisa wajib kecuali dengan nadzar.
وَلَا تَجِبُ الْأُضْحِيَّةُ إِلَّا بِنَذْرٍ

Binatang Kurban

Yang bisa mencukupi di dalam Al udhiyah adalah kambing domba yang berusia satu tahun dan menginjak dua tahun.
(وَيُجْزِئُ فِيْهَا الْجَذْعُ مِنَ الضَّأْنِ)

وَهُوَ مَا لَهُ سَنَةٌ وَطَعَنَ فِيْ الثَّانِيَةِ

Dan kambing kacang yang berusia dua tahun dan menginjak tiga tahun.
(وَالثَّنِيُّ مِنَ الْمَعْزِ)

وَهُوَ مَا لَهُ سَنَتَانِ وَطَعَنَ فِيْ الثَّالِثَةِ

Dan onta ats tsaniyah yang berusia lima tahun dan memasuki usia enam tahun.
(وَالثَّنِيُّ مَنَ الْإِبِلِ)

مَا لَهُ خَمْسُ سِنِيْنَ وَطَعَنَ فِيْ السَّادِسَةِ

Dan sapi ats tsaniyah yang berusia dua tahun dan memasuki usia tiga tahun.
(وَالثَّنِيُّ مِنَ الْبَقَرَةِ)

مَالَهُ سَنَتَانِ وَطَعَنَ فِيْ الثَّالِثَةِ

Untuk Siapa Kurban ???

Satu ekor onta cukup digunakan kurban untuk tujuh orang yang bersama-sama melakukan kurban dengan satu onta.
(وَتُجْزِئُ الْبَدَنَةُ عَنْ سَبْعَةٍ)

اشْتَرَكُوْا فِيْ التَّضْحِيَّةِ بِهَا

Begitu juga satu ekor sapi cukup digunakan kurban untuk tujuh orang.
(وَ)

تُجْزِئُ (الْبَقَرَةُ عَنْ سَبْعَةٍ) كَذَلِكَ

Satu ekor kambing hanya cukup digunakan kurban untuk satu orang. Dan satu ekor kambing lebih afdlal daripada bersama-sama dengan orang lain melakukan kurban dengan onta.
(وَ)

تُجْزِئُ (الشَّاةُ عَنْ) شَخْصٍ (وَاحِدٍ) وَهِيَ أَفْضَلُ مِنْ مُشَارَكَتِهِ فِيْ بَعِيْرٍ

Kurban yang paling utama adalah onta, kemudian sapi lalu kambing.
وَأَفْضَلُ أَنْوَاعِ الْأُضْحِيَّةِ إِبِلٌ ثُمَّ بَقَرٌ ثُمَّ غَنَمٌ

Binatang Yang Tidak Sah

Ada empat binatang, dalam sebagian redaksi menggunakan bahasa, “arba’atun” yang tidak mencukupi untuk dijadikan kurban
(وَأَرْبَعٌ)

وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ وَأَرْبَعَةٌ (لَا تُجْزِئُ فِيْ الضَّحَايَا)

Salah satunya adalah binatang yang buta satu matanya yang nampak jelas, walaupun bulatan matanya masih utuh menurut pendapat al ashah.
أَحَدُهَا (الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ) أَيْ ظَاهِرٌ (عِوَرُهَا) وَإِنْ بَقِيَتِ الْحَدَقَةُ فِيْ الْأَصَحِّ

Yang kedua adalah binatang pincang yang nampak jelas pincangnya, walaupun pincang tersebut terjadi saat menidurkan miring binatang itu karena untuk disembelih saat prosesi kurban sebab gerakan binatang tersebut.
(وَ)

الثَّانِيْ (الْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ عَرَجُهَا) وَلَوْ كَانَ حُصُوْلُ الْعَرَجِ لَهَا عِنْدَ إِضْجَاعِهَا لِلتَّضْحِيَّةِ بِهَا بِسَبَبِ اضْطِرَابِهَا

Yang ketiga adalah binatang sakit yang nampak jelas sakitnya.
(وَ)

الثَّالِثُ (الْمَرِيْضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا)

Dan tidak masalah jika hal-hal ini hanya sedikit saja.
وَلَا يَضُرُّ يَسِيْرُ هَذِهِ الْأُمُوْرِ

Yang ke empat adalah binatang al ‘ajfa’, yaitu binatang yang hilang bagian otaknya sebab terlalu kurus.
(وَ)

الرَّابِعُ (الْعَجْفَاءُ) وَهِيَ (الَّتِيْ ذَهَبَ مُخُّهَا) أَيْ ذَهَبَ دِمَاغُهَا (مِنَ الْهُزَالِ) الْحَاصِلِ لَهَا

Sudah dianggap cukup berkurban dengan binatang yang dikebiri, maksudnya binatang yang dipotong dua pelirnya, dan binatang yang pecah tanduknya jika memang tidak berpengaruh apa-apa pada dagingnya.
(وَيُجْزِئُ الْخَصِيُّ) أَيِ الْمَقْطُوْعُ الْخَصِيَّتَيْنِ (وَالْمَكْسُوْرُ القَرْنِ) إِنْ لَمْ يُؤَثِّرْ فِيْ اللَّحْمِ

Begitu juga mencukupi berkurban dengan binatang yang tidak memiliki tanduk, dan binatang seperti ini disebut dengan al jalja’.
وَيُجْزِئُ أَيْضًا فَاقِدَةُ الْقُرُوْنِ وَهِيَ الْمُسَمَّةُ بِالْجَلْجَاءِ

Tidak mencukupi berkurban dengan binatang yang terpotong seluruh telinganya, sebagiannya atau terlahir tanpa telinga.
(وَلَا تُجْزِئُ الْمَقْطُوْعَةُ)

كُلُّ (الْأُذُنِ) وَلَا بَعْضُهَا وَلَا الْمَخْلُوْقَةُ بِلَا أُذُنٍ

Dan tidak mencukupi binatang yang terpotong seluruh atau sebagian ekornya.
(وَ)

لَا الْمَقْطُوْعَةُ (الذَّنْبِ) وَلَا بَعْضِهِ

Waktu Pelaksanaan Kurban

Waktu penyembelihan kurban dimulai dari waktunya sholat Hari Raya, maksudnya Hari Raya Kurban.
(وَ) يَدْخُلُ (وَقْتُ الذَبْحِ) لِلْأُضْحِيَّةِ (مِنْ وَقْتِ صَلَاةِ الْعِيْدِ) أَيْ عِيْدِ النَّحْرِ

Ungkapan kitab ar Raudlah dan kitab asalnya, “waktu pelaksanaan kurban masuk ketika terbitnya matahari Hari Raya Kurban dan telah melewati kira-kira waktu yang cukup untuk melaksanakan sholat dua rakaat dan dua khutbah yang dilakukan agak cepat.” Ungkapan kitab ar Raudlah dan kitab asalnya telah selesai.
وَعِبَارَةُ الرَّوْضَةِ وَأَصْلِهَا يَدْخُلُ وَقْتُ التَّضْحِيَّةِ إِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ يَوْمَ النَّحْرِ وَمَضَى قَدْرُ رَكْعَتَيْنِ وَخُطْبَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ انْتَهَى

Waktu penyembelihan binatang kurban tetap ada hingga terbenamnya matahari di akhir hari at Tasyriq. Hari at Tasyriq adalah tiga hari yang bersambung setelahnya tanggal sepuluh Dzil Hijjah.
وَيَسْتَمِرُّ وَقْتُ الذَّبْحِ (إِلَى غُرُوْبِ الشَّمْسِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ) وَهِيَ الثَّلَاثَةُ الْمُتَّصِلَةُ بِعَاشِرِ الْحِجَّةِ

Kesunnahan Kurban

Disunnahkan melakukan lima perkara saat pelaksanaan kurban,
(وَيُسْتَحَبُّ عِنْدَ الذَّبْحِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ)

Salah satunya adalah membaca basmalah. Maka orang yang menyembelih sunnah mengucapkan, “bismillah”. Dan yang paling sempurna adalah, “bismillahirahmanirrahim.”
أَحَدُهَا (التَّسْمِيَّةُ) فَيَقُوْلُ الذَّابِحُ “بِسْمِ اللهِ” وَالْأَكْمَلُ “بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ”

Dan seandainya orang yang menyembelih tidak mengucapkan basmalah, maka binatang kurban yang disembelih hukumnya halal.
وَلَوْ لَمْ يُسَمِّ حَلَّ الْمَذْبُوْحُ

Yang kedua adalah membaca shalawat kepada baginda Nabi Saw.
(وَ)

الثَّانِيْ (الصَّلَّاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)

Dimakruhkan mengumpulkan diantara nama Allah dan nama Rasul-Nya.
وَيُكْرَهُ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ اسْمِ اللهِ وَاسْمِ رَسُوْلِهِ

Yang ketiga adalah menghadapkan binatang kurbannya ke arah kiblat.
(وَ)

الثَّالِثُ (اسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ) بِالذَّبِيْحَةِ

Maksudnya, orang yang menyembelih menghadapkan leher binatang yang disembelih kearah kiblat. Dan ia sendiri juga menghadap kiblat.
أَيْ يُوَجِّهُ الذَّابِحُ مَذْبَحَهَا لِلْقِبْلَةِ وَيَتَوَجَهُ هُوَ أَيْضًا.

Ke empat adalah membaca takbir tiga kali, maksudnya sebelum atau setelah membaca basmalah, sebagaimana yang dijelaskan oleh imam al Mawardi.
(وَ)

الرَّابِعُ (التَّكْبِيْرُ) أَيْ قَبْلَ التَّسْمِيَّةِ أَوْ بَعْدَهَا ثَلَاثًا كَمَا قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ

Yang ke lima adalah berdoa semoga diterima oleh Allah Swt.
(وَ)

الْخَامِسُ (الدُّعَاءُ بِالْقَبُوْلِ)

Maka orang yang menyembelih berkata, “ya Allah, ini adalah dari Engkau dan untuk Engkau, maka sudilah Engkau menerimanya.” Maksudnya, “binatang kurban ini adalah nikmat dari-Mu untukku, dan aku mendekatkan diri pada-Mu dengan binatang kurban ini, maka terimalah binatang kurban ini dariku.”
فَيَقُوْلُ الذَّابِحُ “اللهم هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ” أَيْ هَذِهِ الْأُضْحِيَّةُ نِعْمَةٌ مِنْكَ عَلَيَّ وَتَقَرَّبْتُ بِهَا إِلَيْكَ فَتَقَبَّلْهَا مِنِّيْ

Memakan Daging Kurban

Orang yang melaksanakan kurban tidak diperkenankan memakan apapun dari kurban yang dinadzari.
(وَلَا يَأْكُلُ الْمُضَّحِيْ شَيْئًا مِنَ الْأُضْحِيَّةِ الْمَنْذُوْرَةِ)

Bahkan bagi dia wajib mensedekahkan semua dagingnya.
بَلْ تَجِبُ عَلَيْهِ التَّصَدُّقُ بِجَمِيْعِ لَحْمِهَا

Kemudian, seandainya ia menunda untuk mensedekahkannya hingga rusak, maka wajib baginya untuk mengganti.
فَلَوْ أَخَّرَهَا فَتَلِفَتْ لَزِمَهُ ضَمَانُهُ

Ia diperkenankan memakan sepertiga dari binatang kurban yang sunnah menurut pendapat al Jadid.
(وَيَأْكُلُ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ الْمُتَطَوِّعَةِ بِهَا) ثُلُثًا عَلَى الْجَدِيْدِ

Sedangkan untuk dua sepertiganya, maka ada yang mengatakan harus disedekahkan, dan ini diunggulkan oleh imam an Nawawi di dalam kitab Tashhih at Tanbih.
وَأَمَّا الثُّلُثَانِ فَقِيْلَ يُتَصَدَّقُ بِهِمَا وَرَجَّحَهُ النَّوَوِيُّ فِيْ تَصْحِيْحِ التَّنْبِيْهِ

Dan ada yang mengatakan, bahwa ia menghadiahkan sepertiga dari dagingnya kepada kaum muslimin yang kaya dan mensedekahkan sepertiganya kepada kaum faqir.
وَقِيْلَ يُهْدِيْ ثُلُثًا لِلْمُسْلِمِيْنَ الْأَغْنِيَاءَ وَيَتَصَدَّقُ بِثُلُثٍ عَلَى الْفُقَرَاءِ مِنْ لَحْمِهَا

Di dalam kitab ar Raudlah dan kitab asalnya, imam an Nawawi tidak mengunggulkan salah satu dari dua pendapat ini.
وَلَمْ يُرَجِّحِ النَّوَوِيُّ فِيْ الرَّوْضَةِ وَأَصْلِهَا شَيْئًا مِنْ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ

Menjual Daging Kurban

Tidak boleh menjual, maksudnya bagi orang yang melaksanakan kurban diharamkan untuk menjual bagian dari binatang kurbannya, maksudnya dari daging, bulu atau kulitnya.
(وَلَا يَبِيْعُ) أَيْ يَحْرُمُ عَلَى الْمُضَّحِيْ بَيْعُ شَيْئٍ (مِنَ الْأُضْحِيَّةِ) أَيْ مِنْ لَحْمِهَا أَوْ شَعْرِهَا أَوْ جِلْدِهَا

Begitu juga haram menjadikan bagian dari binatang kurban sebagai ongkos untuk pejagal, walaupun berupa binatang kurban yang sunnah.
وَيَحْرُمُ أَيْضًا جَعْلُهُ أُجْرَةً لِلْجَزَارِ وَلَوْ كَانَتِ الْأُضْحِيَّةِ تَطَوُّعًا

Wajib memberi makan bagian dari binatang kurban yang sunnah kepada kaum faqir dan kaum miskin.
(وَيُطْعِمُ) حَتْمًا مِنَ الْأُضْحِيَّةِ الْمُتَطَوِّعَةِ بِهَا (الْفُقَرَاءَ وَالْمَسَاكِيْنَ)

Yang paling utama adalah mensedekahkan semuanya kecuali satu atau beberapa cuil daging yang dimakan oleh orang yang melakukan kurban untuk mengharapkan berkah. Karena sesungguhnya hal itu disunnahkan baginya.
وَالْأَفْضَلُ التَّصَدُّقُ بِجَمِيْعِهَا إِلَّا لُقْمَةً أَوْ لُقَمًا يَتَبَرَّكُ الْمُضَّحِيْ بِأَكْلِهَا فَإِنَّهُ يُسَنُّ لَهُ ذَلِكَ

Ketika ia memakan sebagian dan mensedekahkan yang lainnya, maka ia telah mendapatkan pahala berkurban semuanya dan pahala sedekah sebagiannya saja.
وَإِذَا أَكَلَ الْبَعْضَ وَتَصَدَّقَ بِالْبَاقِيْ حَصَلَ لَهُ ثَوَابُ التَّضْحِيَّةِ بِالْجَمِيْعِ وَالتَّصَدُّقِ بِالْبَعْضِ

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

APAKAH ORANG YANG BEREKREASI WISATA MENDAPATKAN KERINGANAN SHALAT QASHAR


Musim liburan baru saja usai, banyak masyarakat yang menyempatkan mendatangi tempat wisata bersama keluarga dan handai tolan yang hal tersebut tentunya membutuhkan waktu dan juga tempat wisata terkadang jauh dari rumah. hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan terkait keringanan sholat atau qashar.

Lalu bagaimanakah kalau berekreasi / piknik ke tempat wisata yang jaraknya dari rumah sudah 100 km lebih, apakah tetap disunahkan meng qashar sholat ?

Menurut Kalangan HANABILAH : Terdapat dua pendapat
فصل : وفي سفر التنزه والتفرج روايتان إحداهما تبيح الترخص وهذا ظاهر كلام الخرقي لأنه سفر مباح فدخل في عموم النصوص المذكورة وقياسا على سفر التجارة والثانية لا يترخص فيه قال أحمد : إذا خرج الرجل إلى بعض البلدان تنزها وتلذذا وليس في طلب حديث ولا حج ولا عمرة ولا تجارة فإنه لا يقصر الصلاة لأنه إنما شرع إعانة على تحصيل المصلحة ولا مصلحة في هذا والأول أولى
PASAL : Dalam bahasan perjalanan dengan tujuan tamasya dan plesir terdapat dua pendapat :

  1. Mendapatkan keringanan, ini yang di ambil dari pernyataan lahiriyah Imam Qarhy karena tujuan tamasya dan plesir termasuk perjalanan yang di bolehkan maka tercakup dalam dalil keumuman nash dan dianalogkan dengan perjalanan niaga.
  2. Tidak memperoleh keringanan, Imam Ahmad berkata “Bila seseorang bepergian kesejumlah daerah dengan tujuan tamasya dan mencari kenikmatan (refreshing) tidak untuk belajar hadits, haji, umroh tidak pula untuk perjalanan niaga maka tidak diperkenankan Qoshor sholat, karena Qoshor sholat diperlakukan guna menolong mendapatkan kemaslahatan sedang dalam perjalanan semacam ini tidak ada mashlahatnya. Pendapat pertama lebih bagus. [ Al-Mughni II/100 ].

Menurut Kalangan SYAFI’IYAH : Tergolong perjalanan yang dimubahkan (diperbolehkan) sehingga bisa mendapatkan keringanan Jama’ dan Qashar sholat.
وعدم المعصية سواء أكان السفر طاعة أم مكروها أم مباحا ولو سفر نزهة
“Dan bepergiannya tidak untuk maksiat, baik bepergian untuk hal ketaatan, hal makruh atau hal mubah meskipun bepergian untuk tujuan tamasya” . [ Nihaayatul Muhtaaj VI/156 ].

  • Syarh alkabiir li Arroofi’i IV/455 :
    (الثالثة) لو كان له إلى مقصده طريقان يبلغ احدهما مسافة القصر والثانى لا يبلغها فسلك الطريق الطويل نظر ان كان لغرض كخوف أو حزونة في القصير أو قصد زيارة أو عبادة في الطويل فله القصر ولو قصد التنزه فكذلك وعن الشيخ ابى محمد رحمه الله تعالى تردد في اعتباره وان قصد الترخص ولم يكن له غرض سواه ففى المسألة طريقان (اظهرهما) أن في الترخص قولين (احدهما) انه يترخص وبه قال أبو حنيفة والمزنى وهو نصه في الاملاء لانه سفر مباح فأشبه سائر الاسفار (واصحهما) انه لا يترخص لانه طول الطريق علي نفسه من غير غرض فصار كما لو سلك الطريق القصير وكان يذهب يمينا وشمالا وطول على نفسه حتي بلغت المرحلة مرحلتين فانه لا يترخص
    Bagi orang yang melakukan rekreasi juga diperbolehkan untuk mengqoshor sholatnya selama syarat qoshor telah terpenuhi, disini saya hanya menyebutkan ta’bir tentang kebolehan qoshor shalat sebab rekreasi lihat Hasyiyah Jamal ‘Alaa alMinhaj I/596 :
    وما يذكر معها للقصر شروط ثمانية أحدها سفر طويل وإن قطعه في لحظة في بر أو بحر إن سافر لغرض صحيح ولم يعدل عن قصير إليه أي الطويل أو عدل عنه إليه لغرض غير القصر كسهولة وأمن وعيادة وتنزه
    قوله وتنزه هو إزالة الكدرات البشرية وقال شيخنا ح ف هو رؤية ما تنبسط به النفس لإزالة هموم الدنيا ا ه

Wallohu a’lam.

TATA CARA SHOLAT SUNAH TSUBUTUL IMAN (AGAR DI TETAPKAN IMANYA)

Sholat Tsubutul Iman adalah sholat dua raka’at yang dikerjakan setelah sholat Maghrib dengan tujuan agar Alloh SWT memberikan ketetapan iman dan keteguhan hati untuk menjalankan perintah-perintahnya-Nya.

Rosululloh SAW bersabda: Siapa yang ingin imannya dijaga oleh Alloh SWT hendaklah ia sholat dua raka’at setelah sholat sunat ba’diyah maghrib dengan membaca surat Al-Fatihah pada setiap raka’at, dan surat Al-Ihlas 6 kali. (Dalam Kitab I’anatut Tholibin Juz I, hal 258)

Cara pelaksanaan sholat ini sangat sederhana: Usai mengerjakan sholat sunat maghrib dua raka’at atau biasa disebut sholat Ba’diyah Maghrib, seseorang berdiri lagi dan mengangkat tangan sambil membaca takbiratul ihrom ”Allahu Akbar” dengan n
iat melakukan sholat sunat Tsubutul Iman.
Atau sebelum bertakbir dia membaca lafadz niat: ”Usholli Sunnatan litsubutil imani rok’ataini lillahi ta’ala.”

Usai takbir dan membaca surat Al-Fatihah diteruskan dengan membaca surat Al-Ihlas: “Qul’ Huwalloohu Ahad…” masing-masing 6 kali setiap raka’at.
Adapun bacaan ketika melakukan ruku’ i’tidal, sujud duduk dan tasyahud seperti pada sholat-sholat biasanya.

Dalam hadits di atas, Nabi Muhammad SAW tidak memerintahkan sholat ini dikerjakan secara berjamaah.

Para ulama berbeda pendapat apakah sholat sunnat dikerjakan secara berjama’ah.

Dalam kitab Nihayatuz Zain dijelaskan, beberapa ulama berpendapat, sholat yang tidak disyariatkan dilakukan dengan berjama’ah akan menyalahi keutamaannya. (Nihayatuz Zain, hal 99)

Pendapat lain yang lebih kuat dijelaskan dalam kitab yang sama bahwa tidak dilarang melaksanakan sholat sunat tsubutul iman secara berjamaah, bahkan keutamaan pahalanya kan semakin berlipat.
Sholat tsubutul iman yang dilakukan secara berjamaah, sebagaimana dilakukan oleh para jama’ah thoriqoh, melafadzkan bacaan secara pelan (sirri) meskipun dikerjakan dalam waktu waktu jahr (waktu-waktu yang diperintahkan untuk mengeraskan bacaan takbir, Al-Fathihah dan surat, serta salam ketika melakukan sholat berjamaah, yakni waktu Maghrib, Isya dan Subuh).

Cara pelaksanaan shalat ini sangat sederhana:
Usai mengerjakan shalat sunat maghrib dua raka’at atau biasa disebut shalat Ba’diyah Maghrib,, seseorang berdiri lagi dan mengangkat tangan sambil membaca takbiratul ihram “AllahuAkbar” dgn niat melakukan shalat sunat Tsubutul Iman..

Atau sebelum bertakbir membaca lafadz niat:
“Ushalli Sunnatan litsubutil imani rak’ataini lillahi ta’ala.”

Usai takbir dan membaca surat Al-Fatihah diteruskan dngan membaca surat Al- Ihlas : masing-masing 6 kali setiap rakaat.

Adapun bacaan ketika melakukan ruku’ i’tidal, sujud duduk dan tasyahud seperti pada shalat-shalat biasanya.

Dalam hadits di atas, Nabi Muhammad SAW. tidak memerintahkan shalat ini dikerjakn secara berjamaah.

Para ulama berbeda pendapat apakah shalat disunnatkan dikerjakan secara berjama’ah.

Dalam Nihayatuz Zain dijelaskan, beberapa ulama berpendapat,shalat yg tidak disyariatkan dilakukan dngn berjama’ah akan menyalahi keutamaannya..

(Nihayatuz Zain, hal 99)

Sholat tsubutul iman/ hifzul iman, dikerjakajn 2 rakaat ba’da magrib, Ditambah doa ketika sujud:
“Alloohumma inni astaudi’uka diinii wa iimaanii fahfazhumaa ‘alayya fii hayaatii wa ‘inda mamaatii waba’da wafaatii..
Ya Allah hamba titipka kpd-Mua agamaku & imanku, Peliharalah agama & imanku ketika aku hidup & ketika aku mati & stlh matiku”

I’anah ath tholibin 1/299:

فائدة ) قال الفشنى قال النبي صلى الله عليه و سلم من احب ان يحفظ الله عليه ايمانه فليصل ركعتين بعد سنة المغرب يقرا فى كل ركعة فاتحة الكتاب و قل هو الله احد ست مرات و المعوذتين مرة مرة.
و قال فى المسلك فاذا سلم رفع يديه وقال
بخضور قلب : اللهم انى استودعك ايماني فى حياتى و عند مماتي و بعد مماتى غاخفظ على انك على كل شئ قدير ثلاث

KETIDAK SEMPURNAAN ISTINJA ORANG YANG CACAT (DISABILITAS)

Islam menghendaki keringanan bagi mereka memiliki uzur melakukan ibadah secara sempurna. Tapi, syariat melarang tiap orang menggampangkan aturan agama. Di antara syarat utama melakukan ibadah adalah harus suci dari najis.

Hal ini menjadi pengetahuan umum umat Islam. Namun, kemudian timbullah pertanyaan dari penyandang disabilitas yang membuatnya sulit untuk beristinja’ (bersuci dari buang air) dengan sempurna. Bagaimanakah cara penyandang disabilitas yang mengalami kesulitan untuk beristinja’ secara sempurna ini agar tetap sah untuk beribadah? Dalam kitab fiqih diterangkan bahwa dia dapat beristinja’ dengan cara meminta bantuan pasangan halalnya (suami atau istri). Namun jika tidak ada orang tersebut, maka dengan cara apa pun yang memungkinkan. Kalaupun tidak sempurna sebab tidak ada pasangannya, maka ia boleh tetap melanjutkan shalat sesuai pendapat dalam mazhab Hanafi dan Maliki. Dalam mazhab Hanafi, bila seseorang tidak mampu untuk menghilangkan najis di tubuhnya dan shalat dengan cara itu, maka shalatnya sah dan tak perlu mengulang lagi meskipun terdapat orang lain yang dapat membantunya. Adapun dalam mazhab Maliki, menghilangkan najis merupakan kesunnahan dan bukan kewajiban sehingga tidak masalah meskipun shalat membawa najis, namun disarankan untuk mengulang shalatnya kembali apabila sudah memungkinkan untuk bersuci secara sempurna. Dalam kitab Râd al-Mukhtâr, salah satu rujukan utama Mazhab Hanafi, disebutkan:

فِي التَّتَارْخَانِيَّة: الرَّجُلُ الْمَرِيضُ إذَا لَمْ تَكُنْ لَهُ امْرَأَةٌ وَلَا أَمَةٌ وَلَهُ ابْنٌ أَوْ أَخٌ وَهُوَ لَا يَقْدِرُ عَلَى الْوُضُوءِ قَالَ يُوَضِّئُهُ ابْنُهُ أَوْ أَخُوهُ غَيْرَ الِاسْتِنْجَاءِ؛ فَإِنَّهُ لَا يَمَسُّ فَرْجَهُ وَيَسْقُطُ عَنْهُ وَالْمَرْأَةُ الْمَرِيضَةُ إذَا لَمْ يَكُنْ لَهَا زَوْجٌ وَهِيَ لَا تَقْدِرُ عَلَى الْوُضُوءِ وَلَهَا بِنْتٌ أَوْ أُخْتٌ تُوَضِّئُهَا وَيَسْقُطُ عَنْهَا الِاسْتِنْجَاءُ. اهـ. وَلَا يَخْفَى أَنَّ هَذَا التَّفْصِيلَ يَجْرِي فِيمَنْ شَلَّتْ يَدَاهُ؛ لِأَنَّهُ فِي حُكْمِ الْمَرِيضِ

“Dalam kitab Tatarkhaniyah disebutkan: Seorang laki-laki yang sakit yang tidak punya istri atau budak perempuan tetapi mempunyai anak laki-laki atau saudara laki-laki sedangkan dia sendiri tidak mampu untuk wudhu, maka anak dan saudaranya itu boleh membantunya berwudhu tetapi tidak boleh membantunya istinja’ sebab mereka tidak boleh memegang kemaluannya. Istinja’ itu sendiri gugur kewajibannya dari lelaki tersebut. Seorang perempuan yang sakit yang tidak mempunyai suami sedang dia tidak mampu untuk berwudhu tetapi dia mempunyai anak perempuan atau saudara perempuan, maka mereka boleh membantunya berwudu dan ia gugur kewajibannya untuk istinja’. Dan, sudah jelas bahwa perincian ini juga berlaku bagi orang yang terpotong kedua tangannya sebab dia sama hukumnya dengan orang sakit” (Ibnu Abidin, Hasyiyah Radd al-Mukhtar ‘ala ad-Durr al-Mukhtar, [Bairut: Dar al-Fikr, 1421 H/2000 M], juz, I, hlm. 341).

IBU TIRI MENYUSUI ANAK TIRI DAN STATUS MAHROM MENANTU TIRI

STATUS MAHRAM IBU MERTUA TIRI

1. Si A kawin bawa anak perempuan, apakah anak perempuannya jadi mahram mertua laki-laki si A?

2. Si A punya ibu tiri, dan juga punya anak perempuan, bila anak perempuannya menikah, apakah menantu si A mahram dengan ibu tiri si A?

Jawaban:

1. Tidak menjadi mahram karena tidak ada salah satu sebab mahram, baik nasab, radlak dan mushaharah.

2. Menantu si A bukan mahram ibu tiri si A. Karena tidak ada salah satu sebab mahram, baik nasab, radlak dan mushaharah.

*Referensi:*

*حاشية البجيرمي على الخطيب، ج ٣، ص ٤٢٥*

 وَلَا تَحْرُمُ بِنْتُ زَوْجِ الْأُمِّ وَلَا أُمُّهُ وَلَا بِنْتُ زَوْجِ الْبِنْتِ وَلَا أُمُّهُ وَلَا أُمُّ زَوْجَةِ الْأَبِ وَلَا بِنْتُهَا وَلَا أُمُّ زَوْجَةِ الِابْنِ وَلَا بِنْتُهَا *وَلَا زَوْجَةُ الرَّبِيبِ وَلَا زَوْجَةُ الرَّابِّ.*

الشرح:

(وَلَا أُمُّ زَوْجَةِ الْأَبِ إلَخْ) *وَلَوْ تَزَوَّجَ رَجُلٌ بِنْتًا وَابْنُهُ بِامْرَأَةٍ هِيَ أُمٌّ لِلْبِنْتِ الْمَذْكُورَةِ صَحَّ نِكَاحُ كُلٍّ مِنْهُمَا لِانْتِفَاءِ أَسْبَابِ التَّحْرِيمِ وَهِيَ الْقَرَابَةُ وَالرَّضَاعُ وَالْمُصَاهَرة*

IBU TIRI MENYUSUI ANAK TIRI

Zaid adalah duda punya anak satu berumur dua bulan. Dan Zainab adalah seorang janda punya anak satu berumur tiga bulan. Lalu Zaid dan Zainab menikah, kemudian anak Zaid disusui Zainab.

*Pertanyaan:*

1. Apakah anak Zaid jadi  anak rodok Zainab, sehingga mahram dengan anak zainab?

2. Kalau jadi rodok apakah tidak membatalkan pernikahan Zaid dengan Zainab?

*Jawaban:*

1. Anak Zaid menjadi anak rodok Zainab apabila telah memenuhi syarat-syarat yang berlaku dalam rodok. Sehingga anak Zaid menjadi mahram anak Zainab?

2. Status anak Zaid yang menjadi anak rodok Zainab tidak mempengaruhi pernikahan Zaid dengan Zainab. Karena kemahraman anak rodok hanya mengena kepada anak-anaknya anak rodok tidak pada saudara dan orang tuanya.

*Referensi:*

*حاشية إعانة الطالبين، ج ٣، ص ٣٣٢*

ﻭ‍ﺗ‍‍ﺼ‍‍ﻴ‍‍ﺮ ‍ﺍ‍ﻝ‍‍ﻣ‍‍ﺮ‍ﺿ‍‍ﻌ‍‍ﺔ ‍ﺃ‍ﻣ‍‍ﻪ‍, ‍ﻭ‍ﺫ‍ﻭ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﺒ‍‍ﻦ‍ ‍ﺃ‍ﺑ‍‍ﺎ‍ﻩ‍. ﻭ‍ﺗ‍‍ﺴ‍‍ﺮ‍ﻱ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺤ‍‍ﺮ‍ﻣ‍‍ﺔ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺮ‍ﺿ‍‍ﻴ‍‍ﻊ‍ ‍ﺇ‍ﻟ‍‍ﻰ ‍ﺃ‍ﺻ‍‍ﻮ‍ﻟ‍‍ﻬ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﻭ‍ﻓ‍‍ﺮ‍ﻭ‍ﻋ‍‍ﻬ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﻭ‍ﺣ‍‍ﻮ‍ﺍ‍ﺷ‍‍ﻴ‍‍ﻬ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﻧ‍‍ﺴ‍‍ﺒ‍‍ﺎ ‍ﻭ‍ﺭ‍ﺿ‍‍ﺎ‍ﻋ‍‍ﺎ, ﻭ‍ﺇ‍ﻟ‍‍ﻰ ‍ﻓ‍‍ﺮ‍ﻭ‍ﻉ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺮ‍ﺿ‍‍ﻴ‍‍ﻊ‍ – ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﺇ‍ﻟ‍‍ﻰ أصوله وحواشيه.

*حاشية القليوبي وعميرة، ج ٣، ص ٢٤٣*

ﻗ‍‍ﻮ‍ﻟ‍‍ﻪ‍: (‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﺤ‍‍ﺮ‍ﻡ‍ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻴ‍‍ﻚ‍ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﺃ‍ﺭ‍ﺿ‍‍ﻌ‍‍ﺖ‍ ‍ﺃ‍ﺧ‍‍ﺎ‍ﻙ‍) ‍ﺃ‍ﻱ‍ ‍ﺃ‍ﻭ ‍ﺃ‍ﺭ‍ﺿ‍‍ﻌ‍‍ﺖ‍ ‍ﺃ‍ﺧ‍‍ﺘ‍‍ﻚ‍ ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﺃ‍ﺭ‍ﺿ‍‍ﻌ‍‍ﺖ‍ ‍ﻧ‍‍ﺎ‍ﻓ‍‍ﻠ‍‍ﺘ‍‍ﻚ‍ ‍ﺃ‍ﻱ‍ ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﺪ ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﺪ‍ﻙ‍ ‍ﺫ‍ﻛ‍‍ﺮ‍ﺍ, ‍ﻛ‍‍ﺎ‍ﻥ‍ ‍ﺃ‍ﻭ ‍ﺃ‍ﻧ‍‍ﺜ‍‍ﻰ, ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﻘ‍‍ﺎ‍ﻝ‍ ‍ﻟ‍‍ﻮ‍ﻟ‍‍ﺪ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺎ‍ﺑ‍‍ﻦ‍ ‍ﺣ‍‍ﻔ‍‍ﻴ‍‍ﺪ, ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﻮ‍ﻟ‍‍ﺪ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺒ‍‍ﻨ‍‍ﺖ‍ ‍ﺳ‍‍ﺒ‍‍ﻂ‍. ‍ﻗ‍‍ﻮ‍ﻟ‍‍ﻪ‍: (‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﺃ‍ﻡ‍‍ ﻣ‍‍ﺮ‍ﺿ‍‍ﻌ‍‍ﺔ ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﺪ‍ﻙ‍ ‍ﻭ‍ﺑ‍‍ﻨ‍‍ﺘ‍‍ﻬ‍‍ﺎ) *‍ﻭ‍ﺃ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﻣ‍‍ﺮ‍ﺿ‍‍ﻌ‍‍ﺔ ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﺪ‍ﻙ ‍‍ﻓ‍‍ﺘ‍‍ﺤ‍‍ﻞ‍ ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﻮ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻨ‍‍ﺴ‍‍ﺐ‍ ‍ﻓ‍‍ﺘ‍‍ﺄ‍ﻣ‍‍ﻞ*‍.

HUKUM TELPONAN DENGAN NON MAHROM DAN DENGAN TUNANGAN ATAU CALON ISTRI

Hidup di akhir zaman banyak fitnah yang terjadi. Halal dan haram banyak disepelekan. Dalam hal pergaulan, kita lihat banyak generasi kita yang sudah mengikuti budaya barat. Salah satu hal yang saat ini sering kita temukan adalah saat ketika seorang laki-laki sudah tunangan, ia bagaikan sudah menikah. Bahkan orang tua mereka tidak mencegah mereka lagi untuk berdua-duan.
sebagian orang yang lain, kadang masih mampu menjaga diri untuk tidak bertemu. Namun dengan adanya alat komunikasi saat ini, godaan akan semain besar, mereka bisa berhubungan lewat telpon dan chatingan tanpa harus bertemu. Nah bagaimana hukumnya telponan atau chatingan dengan tunangan? Syeikh Sa’id Ramadhan al-Buthy pernah di tanyakan hal serupa dalam halaman website yang beliau asuh. Berikut nash pertanyaan dan jawaban beliau disertai terjemahannya;

الاتصال بالمخطوبة قبل العقد عليها
هل يجوز للخطيب أن يتصل هاتفيا بخطيبنه أيام الخطوبة ؟ ولكم جزيل الشكر
لا مانع من المحادثة فى الهاتف للخطبية وغيرها إذا كان الخطاب تحقيقا لحاجة مشروعة وبطريقة مذهبة منضبطة والخطيبة كغيرها من النساء ما دام عقد الزواج لم يوجد بعد

Apakah boleh laki-laki yang bertunangan berbicara lewat telepon dengan wanita tunangannya selama dalam masa pertunangan?
Jawaban;
Tidak ada larangan untuk berbicara lewat telpon baik dengan wanita tunangan atau bukan apabila pembicaraan tersebut karena adanya hajat yang dibenarkan oleh syara’ dan dengan jalur terjaga. Wanita tunangan sama seperti wanita lainnya sebelum adanya akad pernikahan.
Kesimpulannya.
Dari jawaban Syeikh Ramadhan al-Buthi tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam hal berbicara wanita tunangan masih sama dengan wanita lainnya. Telponan dengan mereka hanya dibolehkan untuk sekadar keperluan saja dan dengan syarat tidak menimpulkan fitnah. Yang dibolehkan dengan wanita tunangan hanyalah memandang wajah dan telapak tangannya saja, sedangkan menyentuh atau berdua-duan tetap hukumnya adalah haram. Maka ketika ditakutkan terjatuh ke dalam fitnah, segeralah menikah demi menjaga agama kita. Semoga Allah menjaga kita dari fitnah di akhir zaman ini.

HukumTelponan Lawan Jenis Yang Bukan Mahram

Semakin dunia ini berkembang, maka teknologi juga akan terus berkembang menjadi semakin canggih, termasuk dibidang komunikasi. Jarak bukan lagi penghalang dalam berkomunikasi. Semua orang dapat berkomunikasi sekalipun tidak saling bertemu secara fisik. Telepon salah satunya, telepon adalah alat komunikasi yang masih digunakan hingga saat ini, sekalipun sudah ada media komunikasi lain yang lebih modern, efektif dan menyenagkan bahkan dengan biaya yang lebih murah. Namun tetap saja, telpon adalah komunikasi yang paling sering digunakan, karena dapat memberikan informasi secara langsung dan tak butuh waktu lama untuk menulis. Namun terkadang, pemakaian telepon itu sendiri juga tak terlepas dari hal hal yang tidak dibenarkan dalam agama, salah satunya adalah berbicara dengan lawan jenis yang bukan mahramnya.oleh karena itu Sayyid Abdullah bin Mahfudz al-haddad, pernah ditanyakan tentang hal ini. dalam kitabnya fatawa Tahummu al-Mar`ah beliau menjawab:

حكم تحدث الشاب مع الأجنبية عبر الهاتف
س : ما حكم لو قام شاب غير متزوج وتكلم مع شابة غير متزوجة في التلفون في غير حاجة؟
الجواب : اذا كان الإتصال بالتلفون لغير حاجة فإنه ينتج غيبة. وقد نهينا عن مواضع الريب قال تعالى ولكن لا تواعدوهن سرا الا ان تقولوا قولا معروفا البقرة : 235 و قد جاء هاذ في المعتدات ولكن يحسب حمله على غيرهن أيضا لمنع وخوف المواعدة السرية التي تنتخ عنها ما يحرم او يستقبح ، فإن كان لحاجة لا بأس ، كالحديث مباشرة في غير خلوة محرمة ، فإن كان لمجرد التلذذ فهو المحرم ، لأن الفتنة فيه أكبر و أعظم. والله أعلم.

Pertanyaan : bagaimana hukumnya seorang alki laki yang belum menikah berbicara lewat telepon dengan wanita yang belum menikah tanpa adanya hajat?

Jawab : Jika lawan jenis yang bukan mahram berhubungan melalui telepon tanpa ada hajat apapun maka akan menimbulkan kecurigaan dan fitnah. Dan kita dilarang untuk mendekat terhadap tempat-tempat yang dapat menimbulkan kecurigaan dan fitnah.

Allah ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah Ayat 150 :
… وَلكِنْ لا تُواعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلاَّ أَنْ تَقُولُوا قَوْلاً مَعْرُوفاً ….
Artinya: Akan tetapi janganlah kamu Mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) Perkataan yang ma’ruf.

Ayat ini memang konteksnya sedang membicarakan tentang wanita wanita yang sedang beriddah namun
ayat ini juga dapat dijadikan sebagai dalil dan maknanya meluas kepada penerapan makna kepada terhadap wanita wanita selain wanita yang beriddah, untuk mencegah dan mennghindari laki-laki memberi janji secara rahasia untuk menikahi seorang wanita karena akan menimbukan sesuatu yang diharamkan atau sesuatu yang keji dan buruk.

Namun jika berbicara melalui telepon karena terdapat suatu hajat maka hal ini diperbolehkan, seperti mengobrol secara langsung dalam kondisi tidak melakukan khalwat yang diharamkan. Namun jika tujuan berbicara melalui telepon hanya untuk menikmati dan memuaskan nafsu maka ini tergolong kedalam perbuatan haram, karena fitnah dari itu semua adalah fitnah yang besar dan keji.

Kesimpulan : Dari pemaparan beliau diatas, dapat disimpulkan bahwa berbicara lewat telepon sama seperti berbicara langsung, maka dapat diketahui bahwa hukum lawan jenis berbicara melalui telepon tanpa adanya keperluan adalah haram. Namun bila adanya keperluan dan tidak adanya khalwat maka hukumnya boleh.

Wallahu a`lam.

KUMPULAN HADITS : ANJURAN DZIKIR BA’DA SHOLAT DAN AYAT KURSYI

DZIKIR SETELAH SHALAT LIMA WAKTU

HADITS KE 262 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( مَنْ سَبَّحَ اَللَّهَ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اَللَّهِ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اَللَّهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتِلْكَ تِسْعٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ اَلْمِائَةِ : لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ اَلْمُلْكُ وَلَهُ اَلْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ لَهُ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ اَلْبَحْرِ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ.وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى : أَنَّ اَلتَّكْبِيرَ أَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang pada tiap-tiap usai sholat bertasbih (membaca subhanallah) sebanyak 33 kali bertahmid (membaca alhamdulillah) sebanyak 33 kali dan bertakbir (membaca Allahu akbar) sebanyak 33 kali maka jumlahnya 99 kali lalu menyempurnakannya menjadi 100 dengan bacaan: (artinya = tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya bagi-Nya kerajaan dan segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) maka diampunilah kesalahan-kesalahannya walaupun kesalahannya seperti buih air laut.” Hadits riwayat Muslim. Dalam riwayat lain: Bahwa takbirnya sebanyak 34 kali.

MAKNA HADITS :

Hadis ini mempunyai latar belakang bahwa sejumlah kaum muslimin hartawan hidup dengan penuh kenikmatan dan kesejahteraan. Mereka mendapat pahala karena sedekah mereka. Inilah yang membuat kaum fakir miskin merasa keberatan, lalu mereka menceritakan kepada Nabi (s.a.w) apa yang bergejolak di

dalam hati mereka dan mereka berkata kepada Rasulullah (s.a.w): “Sesungguhnya orang kaya dapat bersedekah dan memerdekakan hamba sedangkan kami tidak

mempunyai apa-apa harta untuk mengimbangi pahala yang mereka peroleh.” Mendengar itu, Rasulullah (s.a.w) memberitahukan mereka bahwa apabila mereka mengamalkan bacaan tasbih, tahmid, dan takbir serta tahlil setiap kali selesai mengerjakan solat fardu, nescaya mereka mendapat ganjaran pahala yang sama dengan orang yang menyedekahkan hartanya. Tidak seorang pun yang lebih utama dari mereka kecuali orang yang berbuat amal yang serupa. Dosa-dosa

mereka diampuni, betapa pun besarnya dan kemurahan Allah itu memangMaha Luas. Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“`

FIQH HADITS :

1. Para sahabat sangat mengambil berat perkara kebaikan. Mereka memiliki keinginan yang sungguh-sungguh untuk mengerjakan amal soleh dan berlomba untuk mengerjakannya.

2. Berlomba dalam amal soleh menjadikan seseorang berada di kedudukan yang tinggi dan memperoleh fadhilah yang dengannya memperoleh pahala.

3. Keutamaan bertasbih, bertahmid, bertakbir, dan bertahlil serta menjelaskan bilangannya mengikut ketentuan yang telah dinukil dari Nabi (s.a.w).

ANJURAN MEMBACA AYAT KURSI SETELAH SHALAT LIMA WAKTU

HADITS KE 264 :

وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَنْ قَرَأَ آيَةَ اَلْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ اَلْجَنَّةِ إِلَّا اَلْمَوْتُ ) رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَزَادَ فِيهِ اَلطَّبَرَانِيُّ : ( وَقُلْ هُوَ اَللَّهُ أَحَدٌ )

Dari Abu Umamah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “barangsiapa membaca ayat kursi setiap selesai sholat fadlu maka tiada yang menghalanginya masuk syurga kecuali maut.” Diriwayatkan oleh Nasa’i dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban. Thabrani menambahkan: “Dan bacalah surat al-Ikhlas.”

MAKNA HADITS :

Sebagian al-Qur’an mempunyai kelebihan ke atas sebagian yang lain. Ayat al-Kursi merupakan ayat paling mulia karena di dalamnya mengandungi asas-asas yang mengesakan Allah, mengagungkan-Nya, dan menyebut asma-asma serta

sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi.

Di dalam ayat al-Kursi disebutkan bahwa hanya Allah yang mempunyai sifat uluhiyah. Dia Maha Hidup lagi Maha Suci dari segala bentuk tempat dan bertempat tinggal dan Maha Suci dari perubahan. Dialah yang menguasai alam sejagat, yang mempunyai pembalasan yang keras, yang maha mengetahui segala sesuatu yang jelas dan yang samar, secara keseluruhan atau secara terperinci. Kekuasaan dan kerajaan-Nya Maha Luas, Maha Tinggi dari segala sesuatu yang

tidak layak bagi-Nya lagi Maha Besar. Semua akal dan fikiran tidak akan mampu mengetahui hakikat zat dan sifat-sifat-Nya.

Surah al-Shamad yakni al-Ikhlas, meskipun pendek tetapi isinya mencakupi sifat-sifat Allah Yang Maha Esa dan ia merupakan ayat yang meniadakan segala

sesuatu yang tidak layak bagi keagungan-Nya, seperti anak, ibu bapa dan tandingan. Tiada yang mencegah-Nya karena tidak ber ibu bapak, dan tiada yang

menyamai-Nya karena tiada tandingan, serta tiada yang membantu-Nya karena tidak beranak.

FIQH HADITS :

1. Keutamaan ayat al-Kursi adalah di dalamnya terdapat makna tauhid yang tidak terdapat pada ayat yang lain. Keistimewaannya ialah apabila dibaca di dalam rumah yang terdapat jin, maka jin itu akan keluar meninggalkan rumah itu.

2. Keutamaan Surah al-Ikhlas ialah di dalamnya terdapat makna menyucikan Allah dari segala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya.

Wallahu a’lam bisshowab..

KAJIAN BAB SUJUD SAHWI, TILAWAH DAN SYUKUR : MEMBERITAHU KETIKA IMAM LUPA DALAM SHOLATNYA

MEMBERI TAU IMAM KETIKA LUPA DALAM SHALAT

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR

HADITS KE 272 :

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ : ( صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَلَمَّا سَلَّمَ قِيلَ لَهُ : يَا رَسُولَ اَللَّهِ أَحَدَثَ فِي اَلصَّلَاةِ شَيْءٌ ؟ قَالَ : وَمَا ذَلِكَ ؟ قَالُوا : صَلَّيْتَ كَذَا قَالَ : فَثَنَى رِجْلَيْهِ وَاسْتَقْبَلَ اَلْقِبْلَةَ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ : إِنَّهُ لَوْ حَدَثَ فِي اَلصَّلَاةِ شَيْءٌ أَنْبَأْتُكُمْ بِهِ وَلَكِنْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَتَحَرَّ اَلصَّوَابَ فلْيُتِمَّ عَلَيْهِ ثُمَّ لِيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ : ( فَلْيُتِمَّ ثُمَّ يُسَلِّمْ ثُمَّ يَسْجُدْ )

وَلِمُسْلِمٍ : ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سَجَدَ سَجْدَتَيْ اَلسَّهْوِ بَعْدَ اَلسَّلَامِ وَالْكَلَامِ )

وَلِأَحْمَدَ وَأَبِي دَاوُدَ وَالنَّسَائِيِّ ; مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ بْنِ جَعْفَرٍ مَرْفُوعاً : ( مَنْ شَكَّ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ بَعْدَمَا يُسَلِّمُ ) وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sholat Ketika beliau salam dikatakan kepadanya: Ya Rasulullah apakah telah terjadi sesuatu dalam sholat؟ Beliau bersabda: Apa itu? Mereka berkata: Baginda sholat begini begitu Abu Mas’ud berkata: Lalu mereka merapikah kedua kakinya dan menghadap kiblat lalu sujud dua kali kemudian salam Beliau kemudian menghadap orang-orang dan bersabda: Sesungguhnya jika terjadi sesuatu dalam sholat aku beritahukan padamu tapi aku hanyalah manusia biasa seperti kamu sekalian yang dapat lupa seperti kalian Maka apabila aku lupa ingatkanlah aku dan apabila seseorang di antara kamu ragu dalam sholatnya hendaknya ia meneliti benar kemudian menyempurnakannya lalu sujud dua kali. (Muttafaq Alaihi)

Dalam suatu hadits riwayat Bukhari: “Hendaknya ia menyempurnakan lalu salam kemudian sujud.

Dalam riwayat Muslim: “Bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah sujud sahwi dua kali setelah salam dan bercakap-cakap”.

Menurut riwayat Ahmad Abu Dawud dan Nasa’i dari hadits Abdullah Ibnu Ja’far yang diterima secara marfu’: “Barangsiapa ragu dalam sholatnya hendaknya ia bersujud dua kali sesudah salam Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) tidak pernah lupa karena baginda dipelihara dari dipedaya syaitan, tetapi adakalanya baginda mengalaminya sebagai satu syariat kepada umatnya dan memberi pengajaran kepada orang yang lupa apa yang mesti dilakukannya apabila dia lupa ketika mengerjakan ibadah. Didalam hadis yang lain disebutkan:

إني لا أَنْسَى ولكن أُنَسَّى لأُشَرِّع

“Sesungguhnya aku tidak lupa, melainkan aku dilupakan untuk menetapkan syariat.”

Lupa merupakan salah satu ciri khas manusia apabila dibandingkan dengan kedudukan Allah Yang Maha Tinggi. Oleh itu, Allah Maha Suci dari sifat lupa. Allah (s.w.t) berfirman:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا (64)

“Dan tidaklah Tuhanmu lupa…” (Surah Maryam: 64)

Dalam ayat yang lain Allah berfirman:

فِي كِتَابٍ ۖ لَّا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى (52)

“… Di dalam sebuah kitab, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa.” (Surah Taha: 52)

Demikianlah rahsia sabda Nabi (s.a.w) yang mengatakan:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ

“Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu. Aku bisa lupa sebagaimana kamu juga lupa.”

Namun, ada perbedaan antara lupa baginda dengan lupa mereka. Lupa baginda memuatkan ketentuan hukum dan syariat buat umatnya. Ini terjadi atas kehendak dan rahmat Allah (s.w.t). Allah (s.w.t) berfirman:

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰ (6) إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ

“Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad). Maka kamu tidak akan lupa kecuali kalau Allah menghendaki…” (Surah al-A‟la: 6-7)

Adapun lupa yang dialami oleh selain baginda, itu bersumber dari kelalaian dan godaan syaitan.

FIQH HADITS :

1. Makmum mesti mengikuti imam, dan solat makmum batal apabila dia meyakini yang imam solat telah melakukan kesalahan dan dia tetap bermakmum kepadanya. Rasulullah (s.a.w) tidak menyuruh para sahabat untuk mengulangi solat, padahal mereka telah meyakini adanya tambahan rakaat. Ini karena pada zaman Rasulullah (s.a.w) ada kemungkinan terjadi perubahan dan nasakh hukum. Oleh itu, mereka bertanya: “Apakah telah terjadi suatu perubahan dalam solat?”

2. Pengikut hendaklah mengingatkan orang yang diikutinya mengenai perkara-perkara yang telah dilakukannya. Ini tidak boleh dihambat oleh kebesaran orang yang dianutinya itu.

3. Dianjurkan berpegang teguh kepada apa yang diyakininya dalam solat dan membuang keraguan.

4. Menjelaskan bahwa apa yang diperlukan tidak boleh terlambat dari waktu yang diperlukan, karena Nabi (s.a.w) bersabda: “Seandainya terjadi suatu perubahan dalam masalah solat, niscaya aku akan memberitahukannya kepada kamu,” yakni sebelum datangnya waktu yang diperlukan.

5. Ada kalanya Nabi (s.a.w) mengalami lupa dalam sesetengah pekerjaan dengan tujuan menetapkan hukum syariat buat umatnya.

6. Percakapan orang yang lupa dan salamnya tidak membatalkan solat.

7. Percakapan yang disengajakan untuk kepentingan solat tidak membatalkan solat. Buktinya, Nabi (s.a.w) tidak menyuruh mereka mengulangi solatnya.

8. Disyariatkan melakukan sujud sahwi sesudah salam. Hukum sujud sahwi masih diperselisihkan di kalangan ulama.

Imam Ahmad mengatakan bahwa sujud sahwi wajib kerana berlandaskan kepada perintah yang terdapat di dalam sabda Nabi (s.a.w): “Hendaklah dia melakukan sujud dua kali.” Oleh karena makna asal perintah menunjukkan makna wajib, maka jika seseorang meninggalkannya dengan sengaja, maka solat yang telah dikerjakannya menjadi batal apabila dia sebelum mengucapkan salam, tetapi tidak batal apabila dia telah salam. Sebab dia telah berada di luar solat dan sujud itu hanya berfungsi untuk menutupi kekurangan yang ada padanya. Jika meninggalkan sujud ini karena lupa sebelum salam atau sesudahnya, maka dia mesti mengerjakannya selagi jarak pemisahnya tidak terlalu lama menurut ukuran kebiasaan, sekalipun dia telah berpaling dari arah kiblat atau telah berbincang-bincang. Jika jarak pemisah terlalu lama atau dia telah keluar meninggalkan masjid atau telah hadas, maka tidak perlu lagi melakukan sujud sahwi dan solatnya tetap dianggap sah.

Imam Abu Hanifah dan begitu pula murid-muridnya mengatakan bahwa sujud sahwi itu wajib dan berdosa bagi orang yang meninggalkannya, tetapi solatnya tidak batal. Dia mesti mengulangi lagi solatnya untuk membebaskan dirinya dari dosa.

Mazhab al-Syafi’i mengatakan bahwa sujud sahwi hukumnya sunat. Inilah pendapat yang masyhur di kalangan mereka.

Mazhab Maliki mengatakan, tidak ada bedanya antara sujud yang dilakukan oleh orang yang belum salam dengan yang sudah salam. Sebahagian mereka mengatakan wajib melakukan sujud sahwi bagi orang yang belum salam.

Wallahu a’lam bisshowab..

SOLUSI UNTUK DUA JUM’ATAN DALAM SATU DESA (TA’ADUDUL JUM’AT)

Tiap ibadah memang harus memenuhi ketentuan dan prosedur yang ditetapkan syari’at, tak terkecuali dalam pelaksanaan shalat Jumat. Salah satu permasalahan yang sering diperbincangkan adalah mengenai pendirian shalat Jumat lebih dari satu dalam satu desa, atau lebih dikenal dengan ta’addud al-jumat (berbilangnya Jumat). Motif dua jumatan dalam satu desa bermacam-macam, adakalanya karena keterbatasan daya tampung masjid, karena konflik di antara penduduk desa, atau sebatas meneruskan tradisi yang berlaku. Bagaimana pendapat para ulama dalam menyikapi hal tersebut?

Dalam permasalahan ini terdapat tiga pendapat sebagai berikut:

Pendapat pertama, yaitu pendapat yang kuat dalam madzhab Syafi’i, dua jumatan dalam satu desa tidak diperbolehkan kecuali ada hajat. Pendapat ini bertendensi bahwa Nabi dan khulafa’ al-Rasyidin setelahnya tidak menjalankan Jumat kecuali dalam satu tempat. Nabi sendiri memerintahkan agar umatnya melakukan shalat sebagaimana shalat beliau.

Syekh abu al-Husain Yahya bin Abi al-Khair al-‘Umrani mengatakan:

 دليلنا أن النبي – صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – والخلفاء من بعده، ما أقاموا الجمعة إلا في موضع واحدٍ، وقد قال النبي – صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «صلوا كما رأيتموني أصلي».

“Dalil kita adalah bahwa Nabi dan para khalifah setelahnya tidak mendirikan Jumat kecuali dalam satu tempat, dan sesungguhnya Nabi bersabda, shalatlah sebagaimana kalian melihat caraku melakukan shalat.” (Syekh Abu al-Husain Yahya bin Abi al-Khair al-‘Umrani, al-Bayan, juz 2, halaman 620).

Sedangkan jika terdapat hajat, maka diperbolehkan. Hajat yang memperbolehkan berdirinya lebih dari satu Jumat dalam satu desa ada tiga.

Pertama, sempitnya tempat shalat sekiranya tidak dapat menampung seluruh jamaah Jumat.

Kedua, konflik internal di antara penduduk desa.

Ketiga, jauhnya jarak menuju tempat Jumatan, adakalanya karena berada pada sebuah tempat yang tidak dapat terdengar azan Jumat di tempat tersebut, atau berada pada tempat yang seandainya seseorang berangkat dari tempat tersebut setelah terbit fajar, maka ia tidak dapat menemui Jumat.

Sayyid Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur menegaskan:

 والحاصل من كلام الأئمة أن أسباب جواز تعددها ثلاثة : ضيق محل الصلاة بحيث لا يسع المجتمعين لها غالباً ، والقتال بين الفئتين بشرطه ، وبعد أطراف البلد بأن كان بمحل لا يسمع منه النداء ، أو بمحل لو خرج منه بعد الفجر لم يدركها ، إذ لا يلزمه السعي إليها إلا بعد الفجر اهـ

“Kesimpulan dari statemen para imam, sebab-sebab diperbolehkannya berbilangnya jumat ada tiga. Pertama, sempitnya tempat shalat, dengan sekira tidak dapat menampung jamaah jumat menurut keumumannya. Kedua, pertikaian di antara kedua kubu sesuai dengan syaratnya. Ketiga, jauhnya sisi desa, dengan sekira berada pada tempat yang tidak terdengar azah atau di tempat yang seandainya seseorang keluar dari tempat tersebut setelah fajar, ia tidak akan menemui jumat, sebab tidak wajib baginya menuju tempat jumat, kecuali setelah terbit fajar subuh.” (Sayyid Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur, Bughyah al-Mustarsyidin, Beirut, Dar al-Fikr, 1995, halaman 51)

Pendapat kedua, versi Syekh Abdul Wahhab al-Sya’rani yang menetapkan hukum boleh dengan syarat tidak menimbulkan fitnah. Syekh al-Sya’rani berargumen bahwa ‘illat mengapa para sahabat dan khalifah terdahulu tidak melaksanakan dua Jumat satu desa karena khawatir menimbulkan fitnah, sebab keadaan pada waktu itu menuntut orang Islam bersatu dalam satu komando imam besar, sehingga apabila ada kelompok yang membuat jumatan tandingan, maka akan menimbulkan stigma negatif dan kekacauan bahwa ada kelompok yang membelot dari al-imam al-A’zham. Potensi fitnah yang demikian seiring berjalannya waktu, sudah hilang, dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan bila diadakan dua jumatan dalam satu desa. Maka, menurut al-Sya’rani pendirian dua Jumatan dalam satu desa sah-sah saja sepanjang tidak menimbulkan fitnah. Di sisi yang lain, menurut al-Sya’rani, tidak ada dalil yang secara tegas melarang pendirian dua jumat dalam satu tempat.

Beliau menegaskan:

 فلما ذهب هذا المعنى الذى هو خوف الفتنة من تعدد الجمعة جاز التعدد على الأصل في إقامة الجماعة ولعل ذلك مراد داود بقوله إن الجمعة كسائر الصلوات ويؤيده عمل الناس بالتعدد في سائر الأمصار من غير مبالغة في التفتيش عن سبب ذلك ولعله مراد الشارع ولو كان التعدد منهيا عنه لا يجوز فعله بحال لورود ذلك ولو في حديث واحد فلهذا نفذت همة الشارع في التسهيل على أمته في جواز التعدد في سائر الأمصار حيث كان أسهل عليهم من الجمع في مكان واحد فافهم

 “Saat substansi pelarangan ini hilang, yaitu kekhawatiran fitnah, maka diperbolehkan berbilangnya jumat sesuai dengan hukum asal pendirian shalat jamaah. Yang demikian ini barang kali yang dikehendaki Imam Daud dalam statemennya, sesungguhnya Jumat seperti shalat-shalat lainnya. Kesimpulan ini dikuatkan dengan fakta bahwa terjadi berbilangnya jumatan di sekian tempat tanpa berlebihan dalam meneliti penyebabnya, barangkali ini yang dikehendaki syari’at. Andaikan berbilangnya Jumat dilarang, niscaya tidak diperkenankan sama sekali, karena ada hadits yang melarangnya, meski hanya satu hadits. Dari pertimbangan ini, terlihat jelas esensi syariat untuk memudahkan umat Islam dalam kebolehan berbilangnya jumat di seluruh penjuru dunia, sekiranya hal tersebut lebih memudahkan mereka dibandingkan dengan berkumpul dalam satu tempat Jumat. Maka pahamlah akan hal tersebut.” (Syekh Abdul Wahhab al-Sya’rani, al-Mizan al-Kubra, Semarang, Toha Putera, tt., juz 1, halaman 209)

Pendapat ketiga, versi Syekh Isma’il Zain diperbolehkan asalkan jamaah tidak kurang dari 40 orang di masing-masing tempat.

Syekh Isma’il al-Zain, ulama bermadzhab Syafi’i dari Yaman berargumen bahwa tidak ada dalil yang tegas atau bahkan yang mendekati tegas, yang melarang pendirian dua Jumat dalam satu desa. Bahkan semakin banyak pendirian Jumat dalam satu desa justru semakin membesarkan syi’ar Islam. Hanya saja, kebolehan pendirian dua jumat atau lebih tersebut disyaratkan masing-masing Jumat terdiri dari minimal 40 jamaah, sebab jumlah tersebut adalah yang sesuai dengan tuntunan hadits Nabi.

Dalam fatwanya, Syekh Isma’il al-Zain mengatakan:

 مسألة – ما قولكم في تعدد الجمعة في بلدة واحدة أو قرية واحدة مع تحقق العدد المعتبر في كل مسجد من مساجدها فهل تصح جمعة الجميع أو فيه تفصيل فيما يظهر لكم ؟ (الجواب) أما مسألة تعدد الجمعة فالظاهر جواز ذلك مطلقا بشرط أن لا ينقص عدد كل عن أربعين رجلا فإن نقص عن ذلك إنضموا إلى أقرب جمعة إليهم إذ لم ينقل عن النبي (أنه جمع بأقل من ذلك وكذلك سلف الصالح من بعده) والقول بعدم الجواز إلا عند تعذر الاجتماع في مكان واحد ليس عليه دليل صريح ولا ما يقرب من الصريح لا نصا ولا شبهه بل أن سر مقصود الشرع هو في إظهار الشعار في ذلك اليوم وأن ترفع الأصوات على المنابر بالدعوة إلى الله والنصح للمسلمين فكلما كانت المنابر أكثر كانت الشعارات أظهر وتبارزت عزة دين الإسلام في آن واحد في أماكن متعدد إذا كان كل مسجد عامرا بأربعين فأكثر هذا هو الظاهر لي والله ولى التوفيق اهـ

“Sebuah permasalahan, apa pendapat anda mengenai berbilangnya jumat dalam satu desa ketika sudah terpenuhinya jumlah minimal jamaah jumat di setiap masjidnya?. Apakah sah jumat mereka atau ada perincian? Beliau menjawab, permasalahan berbilangnya jumat, pendapat yang jelas menurutku adalah diperbolehkan secara mutlak dengan syarat jumlah jamaah masing-masing jumat tidak kurang dari 40 laki-laki, apabila kurang dari jumlah tersebut, maka harus dikumpulkan dengan tempat jumat terdekat, sebab tidak pernah dikutip dari Nabi dan salaf al-Shalih setelahnya bahwa Jumat kurang dari jumlah tersebut. Adapun pendapat yang tidak memperbolehkan berbilangnya jumat dalam satu tempat kecuali saat sulitnya berkumpul, tidak memiliki dalil yang tegas bahkan yang mendekati tegaspun tidak ada, baik berupa dalil nash atau yang serupanya. Bahkan rahasia dari maksud syariat berada pada memperlihatkan syiar Islam pada hari jumat tersebut dan suara-suara dinyaringkan di atas mimbar-mimbar dengan mengajak kepada Allah dan memberi nasehat kepada kaum muslimin. Saat mimbar-mimbar semakin banyak, niscaya syi’ar-syi’ar Islam semakin tampak dan kemuliaan agama Islam terlihat jelas dalam satu waktu di beberapa tempat apabila setiap masjid diramaikan dengan 40 jamaah atau lebih. Inilah pendapat yang jelas menurutku”. (Syekh Isma’il al-Zain, Qurrah al-‘Ain bi Fatawa Isma’il al-Zain, halaman 83).

Demikian ikhtilaf ulama dalam masalah pendirian dua Jumat atau lebih dalam satu desa. Masing-masing memiliki tendensi dan dalil sesuai dengan ijtihadnya. Penerapannya tinggal disesuaikan dengan yang paling mashlahat sesuai daerahnya masing-masing.

Wallahu a’lam.

HUKUM PENARIKAN PAJAK OLEH NEGARA PADA RAKYATNYA

Sebenarnya pemasukan kas negara(pemerintah) yang diperoleh dari rakyat, itu hanya berasal dari dua sektor :

1. Dari orang-orang kafir yang meliputi : jizyah, ghonimah, harta fai’ dan khoroj (pajak tanah) dengan segala ketentuannya.

2. Dari orang-orang Islam yang meliputi : warisan yang tidak diketahui ahli warisnya, mal al-Dlo’i’, zakat, khoroj dan para ahli ma’siat dalam rangka menghentikan kema’siatannya.

Namun dalam keadaan khajat/dlorurat (seperti kondisi Indonesia saat ini) pemerintah boleh mengusahakan pemasukan negara lewat pungutan dari semua lapisan masyarakat Islam yang kaya, demikian menurut madzhab Syafi’i sedangkan menurut madzhab Malikiyah , dalam keadaan hajat pemerintah boleh menarik pajak, baik aset bergerak atau tidak bergerak dengan syarat :

– Betul-betul ada kebutuhan yang mendesak.

– Ditashorufkan untuk kepentingan muslimin.

– Ditashorufkan dengan pertimbangan kemaslahatan.

– Dibebankan kepada orang-orang yang mampu, sekiranya tidak mengakibatkan dloror dari pajak yang dikenakan.

– Kekosongan Baitul mal itu tidak mungkin tertutupi pada waktu dekat dari sektor lain.

Catatan :

Penggunaan fasilitas umum tidak boleh dikenakan pajak/restribusi.

Dalam pembebanan pajak, pemerintah harus mempertimbangkan kondisi riil masyarakat dan kebutuhan negara.

Batasan orang kaya (mampu) yang dikenakan pajak dalam madzhab Syafi’I adalah orang yang aset maliyahnya mampu memenuhi kebutuhan keluarga yang menjadi tanggungannya selama satu tahun.

المعيار المعزب الجزء غخدى عشرة ص 127-138

حكم فرض الخراج على الرعية) وسئل القاضي أبو عمر ابن منظور بما نصه : الحمد لله والصلاة السلام على رسول الله صلى الله عليه وسلم سيدنا رضي الله عنكم تفضلوا بجوابكم الشافي عن مسئلة وهي أن الوظائف الموظفة على الأرضين بجزيرة الأندلس المسماة بالمعونة كانت موضوعة في القديم على نسبة الدراهيم السبعينية بل على الستينية وظفت عليها لتقوم بها مصالح الوطن ووظف أيضا على الكسب في ذلك العهد بنسبة درهم ونصف إلى رأس من الغنم ثم إن السكة تبدلت ونقصت على ما في عملكم ثم ظهر الآن المعيار الحق وهي السكة الجديدة فهل يوخذون بها إذا ظهر ما قد كان لزمهم في قديم الأزمان بعد أن تحط عنهم الأجعال وما لزمهم من الملازم الثقل وما أحدث بعد تلك الأعصار أو يتركون على ما هم عليه من أخذ الدرهم باسمه دون معناه وحقيقته ؟ بينوا لنا ما الحكم في ذلك مأجورين مثابين بفضل الله تعالى ؟ والسلام على سيادتكم ورحمة الله تعالى وبركاته (فأجاب) الجواب وبالله التوفيق إن الأصل أن لا يطالب المسلمون بمغاريم غير واجبة بالشرع وإنما يطالبون بالزكاة وما أوجبه القرآن والسنة كالفيئ والركاز وإرث من يرثه بيت المال وهذا ما أمكن به حمل الوطن وما يحتاج له من جند ومصالح المسلمين وسد ثلم الإسلام فإذا عجز بيت المال عن أرزاق الجند وما يحتاج إليه من آلة حرب وعدة فيوزع على الناس ما يحتاج إليه من ذلك وعند ذلك يقال يخرج هذا الحكم ويستنبط من قوله تعالى قالوا يا ذالقرنين إن يأجوج ومأجوج مفسدون في الأرض فهل نجعل لك خرجا الآية لكن لا يجوز هذا إلا بشروط (الأول) أن تتعين الحاجة فلو كان في بيت المال ما يقوم به لم يجز أن يفرض عليهم شيء لقوله صلى الله عليه وسلم ليس على المسلمين جزية وقال صلى الله عليه وسلم لا يدخل الجنة صاحب مكر وهذا يرجع إلى إغرام المال ظلما (الثاني) أن يتصرف فيه بالعدل ولا يجوز أن يستأثر به دون المسلمين ولا أن ينفقه في شرف ولا أن يعطى من لا يستحق ولا يعطي أحدا أكثر مما يستحق (الثالث) أن يصرف مصرفه بحسب المصلحة والحاجة لا بحسب الغرض (الرابع) أن يكون الغرم على ما كان قادرا من غير ضرر ولا إجحاف ومن لا شيء له أو له شيء قليل فلا يغرم شيئا (الخامس) أن يتفقد هذا في كل وقت فربما جاء وقت لا يفتقر فيه لزيادة علىما في بيت المال فلا يوزع وكما يتعين المال في التوزيع، فكذلك إذا تعينت الضرورة للمعونة بلأبدان، ولم يكف المال، فإن الناس يجبرون على التعاون على الأمر الداعي للمعونة، بشرط القدرة وتعين المصلحة والافتقار إلى ذلك فإذا تقرر هذا فتقول في المسألة المسؤلة عنها :إذا جزم أمير المسلمين نصره الله وعزم على رفع الظلمات وأخذ على أيدي الأخذين للأجعال ورفع ما احدث في هذا الأزمان الفارطة القريبة مما لا خفاء بظلمه ولا ريب في جوره، وسلك باالمأخوذ الشروط التي ذكرناها حتى يعلم الناس أنهم لا يطالبون إلا ما جرت به العوائد وسلك بهم مسلك العدل في الحكم ولا يزال أيده الله يتفقد رعيته وولاته حتى يسيروا على نهج قومهم. فله أن يوزع من المال على النسبة المفسرة وما يراه صوابا ولا إجحاف فيه، حسبما ذكرناه أصلح الله أموره وكان له وجعله من الأئمة الراشدين-إلى أن قال- فإن قيل روي أن عمر بن الخطاب رضي الله عنه شاطر خالد بن الوليد في ماله حتى أخذ رسوله فرد نعله وشطر عمامته.(قلنا) المظنون بعمر أنه لم يبدع العقاب بأخذ المال على خلاف المألوف من الشرع وإنما ذلك لعلمه باختلاط ماله بالأموال المستفادة من الولاية، واحاطته بتوسعه فيه ولقد كان عمر يراقب الولاة يعين كالية ساهرة فلعله ظن الأمر فرأى شطر ماله من فوائد الولاية وثمراتها فيكون ذلك كالاسترجاع للحق بالرد إلى نصابه، فأما أخذ المال المستخلص للرجل عقابا على جناية شرع الشرع فيها عقوبة سوى أخذ المال فهي مصلحة غريبة لا تلائم قواعد الشرع فتبين بهذا المثال أن إبداع أمر في الشرع لا عهد به لا وجه له وأنا في اتباع المصالح تتردد على ضوابط الشرع ومراسمه وقد ذهب إلى تجويز ذلك ذاهبون ولا وجه له انتهى

الغياثي ص 130جواز مصادرة أموال العصاة عند حاجة الدولة لها411-

نعم لا يبعد أن يعتني الإمام عند المسيس الحاجات بأموال العتاة، وهذا فيه أكمل مردع ومقمع، فإن العتاة العصاة إذا علموا ترصد الإمام لأموالهم لاضططراب حالاتهم عند اتفاقإضاقة أعوان المسلمين وحاجاتهم كان ذلك وازعالهم عن مخازيهم وزلاتهم412- فإن قيل أليس عمر بن الخطاب رضي الله عنه شاطر خلدر بن الوليد ماله، وشاطر عمرو بن العاص ماله حتى أخذ رسوله إليه نصف عمامته وفرد نعله ؟ قلنا ما فعله رضي الله عنه محمول على محمل سائغ واضح وسبيل بين لائح وهو أنهما كانا خامرا في إمرأة الأجناد والبلاد أموالا لله وكان لا يشد عنه رضي الله عنه مجاري أحوال مستخلفيه فلعله رآهما مجاوزين حدود الاستحقاق ثم أنعم النظر وأطال الفكر وقدم الرأي وأخر فرأى ما أمضى وشهد وغبنا وقدره أجل وأعلى من أنيتجاوز ويتعدى

جواز مصادرة أموال العصاة عند حاجة الدولة لها411- نعم لا يبعد أن يعتني الإمام عند المسيس الحاجات بأموال العتاة، وهذا فيه أكمل مردع ومقمع، فإن العتاة العصاة إذا علموا ترصد الإمام لأموالهم لاضططراب حالاتهم عند اتفاقإضاقة أعوان المسلمين وحاجاتهم كان ذلك وازعالهم عن مخازيهم وزلاتهم412- فإن قيل أليس عمر بن الخطاب رضي الله عنه شاطر خلدر بن الوليد ماله، وشاطر عمرو بن العاص ماله حتى أخذ رسوله إليه نصف عمامته وفرد نعله ؟ قلنا ما فعله رضي الله عنه محمول على محمل سائغ واضح وسبيل بين لائح وهو أنهما كانا خامرا في إمرأة الأجناد والبلاد أموالا لله وكان لا يشد عنه رضي الله عنه مجاري أحوال مستخلفيه فلعله رآهما مجاوزين حدود الاستحقاق ثم أنعم النظر وأطال الفكر وقدم الرأي وأخر فرأى ما أمضى وشهد وغبنا وقدره أجل وأعلى من أنيتجاوز ويتعدى

إحياء علوم الدين الجزء الثاني ص 134 مكتبة الهداية سورابايا

و كل ما يحل للسلطان سوى الأحياء وما يشترك فيه الرعية قسمان مأخوذ من الكفار وهو الغنيمة المأخوذة بالقهر والفيء وهو الذي حصل من مالهم في يده من غير قتال والجزية وأموال المصالحة وهي التي تؤخذ بالشروط والمعاقدة والقسم الثاني المأخوذ من المسلمين فلا يحل منه إلا قسمان المواريث وسائر الأمور الضائعة التي لا يتعين لها مالك والأوقاف التي لا متولى لها أما الصدقات فليست توجد في هذا الزمان وما عدا ذلك من الخراج المضروب على المسلمين و المصادرات وأنواع الرشوة كلها حرام فإذا كتب لفقيه أو غيره إدرار أو صلة أو خلعة على جهة فلا يخلو من أحوال ثمانية فانه أما أن يكتب له ذلك على الجزية أو على المواريث أو على الأوقاف أو على ملك أحياء السلطان أو على ملك اشتراه أو على عامل خراج المسلمين أو على بياع من جملة التجار أو على الخزانة فالأول هو الجزية وأربعة أخماسها للمصالح وخمسها لجهات معينة فما يكتب على الخمس من تلك الجهات أو على الأخماس الأربعة لما فيه مصلحة وروعي فيه الاحتياط في القدر فهو حلال بشرط أن لا تكون الجزية إلا مضروبة على وجه شرعى ليس فيها زيادة على دينار أو على أربعة دنانير فإنه أيضا في محل الاجتهاد وللسلطان أن يفعل ما هو في محل الاجتهاد وبشرط أن يكون الذمي الذي تؤخذ الجزية منه مكتسبا من وجه لا يعلم تحريمه فلا يكون عامل سلطان ظالما ولا بياع خمر ولا صبيا ولا امرأة إذ لا جزية عليهما فهذه أمور تراعى في كيفية ضرب الجزية ومقدارها وصفة من تصرف إليه ومقدار ما يصرف فيجب النظر في جميع ذلك الثاني المواريث والأموال الضائعة فهي للمصالح و النظر أن الذي خلفه هل كان ماله كله حراما أو أكثره أو أقله وقد سبق حكمه فان لم يكن حراما بقى النظر في صفة من يصرف إليه بأن يكون في الصرف إليه مصلحة ثم في المقدار المصروف الثالث الأوقاف وكذا يجرى النظر فيها كما يجري في الميراث مع زيادة أمر وهو شرط المواقف حتى يكون المأخوذ موافقا له في جميع شرائطه الرابع ما أحياه السلطان وهذا لا يعتبر فيه شرط إذ له أن يعطى من ملكه لمن شاء أي قدر شاء وإنما النظر في أن الغالب انه أحياه بإكراه الأجراء أو بأداء أجرتهم من حرام فإن الأحياء يحصل بحفر القناة و الأنهار وبناء الجدران وتسوية الأرض ولا يتولاه السلطان بنفسه فإن كانوا مكرهين على الفعل لم يملكه السلطان وهو حرام وان كانوا مستأجرين ثم قضيت أجورهم من الحرام فهذا يورث شبهة قد نبهنا عليها في تعلق الكرامة بالأعواض يقين حرام فهو موضع توقفنا فيه كما سبق

أحكام السلطانية ص 147

أرض الخراج تتميز عن أرض العشر في الملك والحكم والأرضون كلها تنقسم أربعة أقسام أحدها ما استأنف المسلمون إحياءه فهو أرض عشر لا يجوز أن يوضع عليها خراج والكلام فيها يذكر في إحياء الموات من كتابنا هذا والقسم الثاني ما أسلم عليه أربابه فهم أحق به فتكون على مذهب الشافعي رحمه الله أرض عشر ولا يجوز أن يوضع عليها خراج وقال أبو حنيفة الإمام مخير بين أن يجعلها خراجا أو عشرا فإن جعلها خراجا لم يجز أن تنقل إلى العشر وإن جعلها عشرا جاز أن تنقل إلى الخراج والقسم الثالث ما ملك من المشركين عنوة وقهرا فيكون على مذهب الشافعي رحمه الله غنيمة تقسم بين الغانمين وتكون أرض عشر لا يجوز أن يوضع عليها خراج وجعلها مالك وقفا على المسلمين بخراج يوضع عليها وقال أبو حنيفة يكون الإمام مخيرا بين الأمرين والقسم الرابع ما صولح عليه المشركون من أرضهم فهي الأرض المختصة بوضع الخراج عليها وهي على ضربين: أحدهما ما خلا عنها أهلها فحصلت للمسلمين بغير قتال فتصير وقفا على مصالح المسلمين ويضرب عليها الخراج ويكون أجرة تقر على الأبد وإن لم يقدر بمدة لما فيها من عموم المصلحة ولا يتغير بإسلام ولا ذمة ولا يجوز بيع رقابها اعتبارا لحكم الوقوف والضرب الثاني ما أقام فيه أهله وصولحوا على إقراره في أيديهم بخراج يضرب عليهم فهذا على ضربين : أحدهما أن ينزلوا عن ملكها لنا عند صلحنا فتصير هذه الأرض وقفا على المسلمين كالذي انجلى عنه أهله ويكون الخراج المضروب عليهم أجرة لا تسقط بإسلامهم ولا يجوز لهم بيع رقابها ويكونون أحق بها ما أقاموا على صلحهم ولا تنتزع من أيديهم سواء أقاموا على شركهم أم أسلموا كما لا تنتزع الأرض المستأجرة من يد مستأجرها ولا يسقط عنهم بهذا الخراج جزية رقابهم إن صاروا أهل ذمة مستوطنين وإن لم ينتقلوا إلى الذمة وأقاموا على حكم العهد لم يجز أن يقروا فيها سنة وجاز إقرارهم فيها دونها بغير جزية والضرب الثاني : أن يستبقوها على أملاكهم ولا ينزلوا عن رقابها ويصالحوا عنها بخراج يوضع عليها فهذا الخراج جزية تؤخذ منهم ما أقاموا على شركهم وتسقط عنهم بإسلامهم ويجوز أن لا يؤخذ منهم جزية رقابهم ويجوز لهم بيع هذه الأرض على من شاءوا منهم أو من المسلمين أو من أهل الذمة فإن تبايعوها فيما بينهم كانت على حكمها في الخراج وإن بيعت على مسلم سقط عنه خراجها وإن بيعت على ذمي احتمل أن لا يسقط عنه خراجها لبقاء كفره واحتمل أن يسقط عنه خراجها بخروجه بالذمة عن عقده من صولح عليها ثم ينظر في هذا الخراج الموضوع عليها فإن وضع على مسائح الجربان بأن يؤخذ من كل جريب قدر من ورق أو حب فإن سقط عن بعضها بإسلام أهله كان ما بقي على حكمه ولا يضم إليه خراج ما سقط بالإسلام

بغية المسترشدين ص 271

(فائدة) حكم العرف والعادة حكم منكر ومعارضة لأحكام الله ورسوله صلى الله عليه وسلم وهو من بقايا الجاهلية فى كفرهم بما جاء به نبينا محمد عليه الصلاة والسلام بإبطاله فمن استحله من المسلمين مع العلم بتحريمه حكم بكفره وارتداده واستحق الخلود فى النار نعوذ بالله من ذلك إهـ فتاوى بامخرمة ومنها تجب أن تكون الأحكام كلها بوجه الشرع الشريف وأما أحكام السياسة فما هى إلا ظنون وأوهام فكم فيها من مأخوذ بغير جناية وذلك حرام وأما أحكام العادة والعرف فقد مر كفر مستحله ولو كان موضع من يعرف الشرع لم يجز له أن يحكم أو يفتى بغير مقتضاه فلو طلب أن يحضر عند حاكم يحكم بغير الشرع لم يجز له الحضور هناك بل يأثم بحضوره. اهـ

بغية المسترشدين ص 271

(مسألة ك) من الحقوق الواجبات شرعا على كل غنى وحده من ملك زيادة على كفاية سنة له ولممونه ستر عورة العارى وما يقى بدنه من مبيح تيمم وإطعام الجائع وفك أسير مسلم وكذا ذمى بتفصيله وعمارة سور بلد وكفاية القائمين بحفظها والقيام بشأن نازلة نزلت بالمسلمين وغير ذلك إن لم تندفع بنحو زكاة ونذر وكفارة ووقف ووصية وسهم المصالح من بيت المال لعدم شىء فيه أو منع متوليه ولو ظلما فإذا قصر الأغنياء عن تلك الحقوق بهذه القيود جاز للسلطان الأخذ منهم عند وجود المقتضى وصرفه فى مصارفه.

إسعاد الرفيق الجزء الثاني ص 57

ومن معاصي البطن أكل الربا –إلى أن قال- (و) منها أكل ما يذخل على الشخص بسب (المكس) وهو ما ترتبه الظلمة من السلاطين فى أموال الناس بقوانين ابتدعوها، وقد عد في الزواجر جباية المكوس والدخول في شيء من توابعها كالكتابة عليها إلا بقصد حفظ حقوق الناس إلى أن ترد عليهم ان تيسر من الكبائر. قال فيها : هو داخل في آية “إنما السبيل على الذين يظلمون” الأية. والمكس بسائر أنواعه من جاني المكس وكاتبه وشاهده ووازنه وكائله وغيرها من أكبر أنواع الظلمة بل هو منهم

العزيز الجزء السادس ص 223

(تعليق)قال النووي في زيادته : وليس للإمام ولا غيره من الولاة أن يأخذ ممن يرتفق بالجلوس والبيع ونحوه في الشوارع عوضا بلا خلاف وتعقبه البكري في حاشيته على الروضة فقال قال الشيخ البلقيني ما نصه في النهاية في آخر باب الشفعة عن أبي إسحاق المروزي أنه قال ثلاث مسائل أخالف فيها الأصحاب المصلحة عن حق الشفعة وحد القدف ومقاعد الأسواق منع أصحابي أخذ العوض في هذه الأسباب وأنا أجوز أخذ العوض عنها. انتهى فيرد هذا نفي الخلاف

تحفة المحتاج وحواشي الشرواني الجزء الثامن ص 30 دار الكتب العلمية(فصل) في بيان حكم منفعة الشارع وغيرها من المنافع المشتركة (منفعة الشارع) الأصلية (المرور) فيه لأنه وضع له (ويجوز الجلوس) والوقوف (به) ولو لذمي (لاستراحة ومعاملة ونحوهما) كانتظار (إذا لم يضيق على المارة) لخبر {لا ضرر ولا ضرار في الإسلام} وصح النهي عن الجلوس فيه لنحو حديث {إلا أن يعطيه حقه من غض بصر وكف أذى وأمر بمعروف}(ولا يشترط) في جواز الانتفاع به ولو لذمي (إذن الإمام) لإطباق الناس عليه بدون إذنه من غير نكير وسيأتي في المسجد أنه إذا اعتيد إذنه تعين فيحتمل أن هذا كذلك ويحتمل الفرق بأن من شأن الإمام النظر في أحوال العلماء ونحوهم دون الجالسين في الطرق ولا يجوز لأحد أخذ عوض ممن يجلس به مطلقا ومن ثم قال ابن الرفعة فيما يفعله وكلاء بيت المال من بيع بعضه زاعمين أنه فاضل عن حاجة الناس لا أدري بأي وجه يلقى الله تعالى فاعل ذلك (قوله : مطلقا) أي سواء أكان ببيع أم لا لاستدعاء البيع تقدم الملك وهو منتف ولو جاز ذلك لجاز بيع الموات ولا قائل به نهاية ومغني ( قوله : زاعمين أنه ) أي ما أخذوا عوضه . ا هـ . ع ش والأولى أي ذلك البعض

تصرف الامام على الرعية منوط بالمصلحة

“Seluruh kebijakan dan tindakan pemimpin terhadap rakyat haruslah selalu bersumber kepada kepentingan mereka”.

Guna mencapai suatu masyarakat yg adil dan makmur,maka pemerintah perlu mengadakan penataan dan pemberdayaan disegala bidang.oleh karena itulah butuh yg dinamakan keuangan negara.Telah diterangkan dalam Al-qur’an bahwa Allah telah memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk,atas nama Allah,memungut uan dari rakyat yang mampu sebagai sumbepu utma keuangan negara.Dalam istilah syariat,pajak atas warga negara muslim disebut “zakat” dan bagi warga negara non muslim disebut “jizyah”.

خذ من اموالهم صدقة تطهرهم و تزكيهم التوبة : ١٠٣

قاتلوا الذين لا يؤمنون بالله ولا باليوم الاخر……..حتى يعطوا الجزية عن يد وهم صاغرونالتوبة : ٣٠

Dengan demikian dalam pandangan islam,uang negara pada hakekatnya adalah uang Allah yg diamanatkan kepada pemerintah/negara,bukan untk penguasa melainkan untk ditasarufkan bg sebesar-besarnya kemaslahatan seluruh rakyat.

انما الصدقات للفقراء والمساكن و العاملين……….التوبة : ٦٠

Dengan demikian, pajak adalah suatu kewajiban,maka sebagai warga yang baik,taatilah pajak.