INILAH AMALAN DI AKHIR RAMADHAN DAN HARI RAYA IDUL FITRI

Yang harus dilakukan diakhir-akhir pelaksanaan ibadah puasa bulan Ramadhan, agar ibadah puasa yang sebulan dilakukan diterima oleh Allah SWT dan seluruh amal baik selama bulan Ramadhan.

  • PERTAMA : MEMPERBANYAK ISTIGHFAR (أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ)

Dikatakan olah Al-Imam Ibnu Rojab R.A (seorang pakar tafsir dan hadits) dalam kitabnya “LATHOIFUL MA’ARIF” setelah meneliti berbagai ayat dan sabda Rasulullah SAW, dikatakan :

اَلْاِسْتِغْفَارُ خِتَامُ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ كُلِّهَا فَيَخْتِمُ بِهِ الصَّلَاةَ وَالْحَجَّ وَقِيَامَ اللَّيْلِ وَيَخْتِمُ بِهِ الْمَجَالِسَ.

“Istighfar (memperbanyak baca istighfar) adalah penutup segala amal sholeh, menutup pelaksanaan ibadah sholat dengan istighfar begitu juga ibadah haji dan Qiyamullail serta mengakhiri Majelis-majelis (mengakhiri ibadah puasa) dengan memperbanyak istighfar”.

Dikatakan كَانَ كَالطَّابِعِ عَلَيْهَا langkah tersebut bagaikan “STEMPEL” untuk mengesah-kan (diterimanya) segala ibadah dan amal-amal sholeh.

JADI MEMPERBANYAK ISTIGHFAR DIAKHIR-AKHIR BULAN RAMADHAN ADALAH SUATU USAHA UNTUK DI-STEMPEL OLEH ALLAH, AGAR IBADAH PUASA BULAN RAMADHAN DAN BERBAGAI AMAL SHOLEH DIDALAMNYA DITERIMA OLEH ALLAH SWT.

  • KEDUA : MENGHIDUPKAN MALAM HARI RAYA.

Bersabda Rasulullah SAW :

مَنْ أَحْيَا لَيْلَةَ الْعِيْدَيْنِ، أَحْيَا اللهُ قَلْبَهُ يَوْمَ تَمُوْتُ الْقُلُوْبُ. (رواه ابن ماجه)

“Barngsiapa yang menghidupkan dua malam hari raya (malam hari raya ‘idul fitri dan malam hari raya ‘idul adha), Maka akan dihidupkan hatinya oleh Allah SWT dihari semua hati mati (hari kiamat)”. (HR. IBNU MAJAH)

Yang dimaksud menghidupkan malam hari raya bukan berarti tidak tidur semalam suntuk, akan tetapi ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan di malam hari raya :

  1. Dimalam hari raya sholat maghrib berjama’ah dan sholat ‘isya serta sholat shubuh berjama’ah.
  2. Memperbanyak dzikir, terutama takbir, tahlil dan tahmid dimalam hari raya. Sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah SAW : “Hiasilah hari raya-mu dengan baca’an takbir”.

(HR. ATH-THOBARONI)

JANGAN LALAI DIMALAM HARI RAYA, KARENA MALAM ITU SYETAN MULAI DILEPAS, BENTENGI-LAH DENGAN TAKBIR.

  1. Memperbanyak do’a dimalam hari raya. Sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Baihaqi bahwa : “Dimalam hari raya do’a tidak akan ditolak oleh Allah (Artinya pasti diterima)”.
  2. Diusahakan dimalam hari raya melakukan sholat tasbih.
  • KETIGA : PARA ULAMA MENGANJURKAN SETELAH SHOLAT SHUBUH BERJAMA’AH DI PAGI HARI RAYA, MEMBACA ISTIGHFAR 100x DIKATAKAN :

لَا يَبْقٰى فِيْ دِيْوَانِهِ شَيْءٌ مِنَ الذُّنُوْبِ إِلَّا مُحِيَ عَنْهُ، وَيَكُوْنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ آمِنًا مِنْ عَذَابِ اللهِ.

“Tidak akan tertinggal suatu dosa pada buku amalnya melainkan diampuni oleh Allah dan akan menjadikan dihari kiamat kelak aman dari siksaan Allah SWT”.

  • KEEMPAT : DISEBUTKAN DALAM KITAB “TUHFATUL IKHWAN” AL-IMAM AL-FASYNI R.A menyebutkan satu riwayat bahwa orang yang pada hari raya membaca : سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ tiga ratus kali dan setelah selesai membacanya mengatakan : ‘YA ALLAH, BACAAN-KU (سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ ) TIGA RATUS KALI, AKU KIRIMKAN (AKU HADIAHKAN) PAHALANYA UNTUK SAUDARA MUSLIMIN DAN MUSLIMAT YANG SUDAH DIALAM KUBUR”. Maka seluruh penduduk kubur muslimin muslimat kemasukkan PANCARAN CAHAYA TASBIH, dan merekapun senang dan bergembira sebagaimana yang masih hidup bergembira di hari raya. Dan orang yang membaca tasbih tersebut kelak nanti tempat yang akan menjadi kuburnya bercahaya dan para arwah saling mendo’akan orang yang melakukan hal itu, mereka mengatakan :

اِرْحَمْ عَبْدَكَ هذَا يَا اَللهُ ؟

“Curahkanlah Rahmat-Mu pada hamba-Mu ini, Ya Allah!”

Kelihatannya perbuatan ini ringan, akan tetapi istimewa balasannya, karena memasukkan rasa kegembiraan bagi ummat Nabi Muhammad SAW.

HIMBAUAN

Saya menulis hal ini agar saudara-saudaraku ummat islam jangan hanya semangat ketika datangnya bulan Ramadhan dengan ucapan “MARHABAN YAA RAMADHAN” selamat datang bulan Ramadhan. Tapi Pandai-pandailah dan bersemangat melepas kepergian bulan Ramadhan dengan melakukan (setidaknya) empat langkah diatas, AGAR :

 

  1. BULAN RAMADHAN MENINGGALKAN KITA DENGAN MENINGGALKAN BERKAH.
  2. BULAN RAMADHAN MENINGGALKAN KITA DENGAN MENINGGALKAN ROHMAT.
  3. BULAN RAMADHAN MENINGGALKAN KITA DENGAN MENINGGALKAN MAGHFIROH.
  4. BULAN RAMADHAN MENINGGALKAN KITA DENGAN MENINGGALKAN ‘ITQUN MINANNAR PEMBEBASAN DARI SIKSAAN API NERAKA.
  5. BULAN RAMADHAN MENINGGALKAN KITA DENGAN MENINGGALKAN KESEMANGATAN UNTUK MERUBAH HIDUP KITA LEBIH BAIK, DAN MERUPAKAN BENTENG AGAR TERLINDUNGI DARI JERATAN SYETAN TERUTAMA DIHARI RAYA DAN SEPANJANG KEHIDUPAN KITA. Amiiiin…

MEMAKNAI TERBELENGGUNYA SYAITAN DI BULAN RAMADHAN

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

“Jika masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu rahmat dibukan, pintu-pintu Jahannam ditutup dan setan-setan pun diikat dengan rantai.” (HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079).

Lantas bagaimana maksud hadits di atas? Banyak para ulama mengajukan penjelasan soal makna hadits tersebut. Di antara penjelasan yang tersedia adalah yang dihadirkan Abu Hasan Ali bin Khalaf bin Abdul Malik bin Baththal Al-Bakri Al-Qurthubi atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Baththal.

Menurut Ibnu Baththal, setidaknya ada dua penjelasan yang diajukan para ulama tentang makna sabda Rasulullah saw di atas. Pertama, ulama yang memahami secara literalis atau sesuai bunyi teks haditsnya. Pintu surga dibuka, dan setan dibelenggu dipahami dalam pengertian yang sebenarnya (al-haqiqi) sehingga intensitasnya dalam menggoda manusia berkurang pada bulan Ramadhan dibanding dengan bulan lainnya.

وَتَأَوَّلَ الْعُلَمَاءُ فِى قَوْلِهِ ( فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ ) ، مَعْنَيَيْنِ . أَحَدُهُمَا : أَنَّهُمْ يُسَلْسِلُونَ عَلَى الْحَقِيقَةِ ، فَيَقِلُّ أَذَاهُمْ وَوَسْوَسَتُهُمْ وَلَا يَكُونُ ذَلِكَ مِنْهُمْ كَمَا هُوَ فِى غَيْرِ رَمَضَانَ ، وَفَتْحُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ عَلَى ظَاهِرِ الْحَدِيثِ.

“Para ulama mentakwil atau menafsirkan sabda Rasulullah saw, ‘Pintu-pintu surga dibuka dan setan-setan dibelenggu’ dengan dua pendekatan. Pertama, pendekatan dengan makna hakiki, yaitu mereka (setan-setan) dibelenggu dalam pengertian secara hakiki sehingga intensitas mereka menggoda manusia menjadi berkurang, berbeda dengan yang dilakukan pada bulan selain Ramadhan. Sedangkan ‘dibukanya pintu-pintu surga’ juga dipahami sesuai bunyi teks haditsnya (zhahirul hadits),”

Kedua, memahami secara majazi. Dalam konteks ini dibukanya pintu-pintu surga dipahami bahwa Allah SWT membuka pintu-Nya dengan amal perbuatan yang dapat mengantarkan hamba-Nya ke surga seperti shalat, puasa, dan tadarus Al-Qur`an. Sehingga, jalan menuju surga di bulan Ramdhan lebih mudah dan amal-perbuatan tersebut lebih cepat diterima. Begitu juga maksud ditutupnya pintu neraka adalah mencegah mereka dari kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan yang mengantarkan ke neraka.

Selanjutnya, kita kembali ke pertanyaan di atas. Mengapa masih ada maksiat, jika setan telah dibelenggu?

Dalam Hasyiyah-nya (catatan) untuk sunan an-Nasai. disebutkan bahwa,

ولا ينافيه وقوع المعاصي، إذ يكفي وجود المعاصي شرارة النفس وخبائثها، ولا يلزم أن تكون كل معصية بواسطة شيطان، وإلا لكان لكل شيطان شيطان ويتسلسل، وأيضاً معلوم أنه ما سبق إبليس شيطان آخر، فمعصيته ما كانت إلا من قبل نفسه، والله تعالى أعلم

Hadis ‘setan dibelenggu’ tidak berarti meniadakan segala bentuk maksiat. Karena bisa saja maksiat itu muncul disebabkan pengaruh jiwa yang buruk dan jahat. Dan timbulnya maksiat, tidak selalu berasal dari setan. Jika semua berasal dari setan, berarti ada setan yang mengganggu setan (setannya setan), dan seterusnya bersambung. Sementara kita tahu, tidak ada setan yang mendahului maksiat Iblis. Sehingga maksiat Iblis murni dari dirinya. Allahu a’lam. (Hasyiyah Sunan an-Nasai,4/126).

Ulama Malikiyah – dalam Syarh Muwatha’,menjelaskan :

قوله وصفدت الشياطين يحتمل أن يريد به أنها تصفد حقيقة، فتمتنع من بعض الأفعال التي لا تطيقها إلا مع الانطلاق، وليس في ذلك دليل على امتناع تصرفها جملة، لأن المصفد هو المغلول العنق إلى اليد يتصرف بالكلام والرأي وكثير من السعي

Sabda beliau, ‘Setan dibelenggu’ bisa dipahami bahwa itu dibelenggu secara hakiki. Sehingga dia terhalangi untuk melakukan beberapa perbuatan yang tidak mampu dia lakukan kecuali dalam kondisi bebas. Dan hadis ini bukan dalil bahwa setan terhalangi untuk mengganggu sama sekali. Karena orang yang dibelenggu, dia hanya terikat dari leher sampai tangan. Dia masih bisa bicara, membisikkan ide maksiat, atau banyak gangguan lainnya.

Setan dibelenggu tapi dia masih bisa mengganggu. Hanya saja, dia tidak sebebas ketika dilepas. Karena makhluk yang dibelenggu hanya terikat bagian tangan dan lehernya. Sementara kakinya, lidahnya masih bisa berkarya.

Sejatinya setan tidak dibelenggu secara hakiki. Sifatnya hanya kiasan. Mengingat keberkahan bulan ramadhan, dan banyaknya ampunan Allah untuk para hamba-Nya selama ramadhan. Sehingga setan seperti terbelenggu.

Masih kita lanjutkan keterangan diatas

ويحتمل أن هذا الشهر لبركته وثواب الأعمال فيه وغفران الذنوب تكون الشياطين فيه كالمصفدة، لأن سعيها لا يؤثر، وإغواءها لا يضر…

Bisa juga kita maknai, bahwa mengingat bulan ini bulan pernuh berkah, penuh pahala amal, banyak ampunan dosa, menyebab setan seperti terbelenggu selama ramadhan. Karena upaya dia menggoda tidak berefek, dan upaya dia menyesatkan tidak membahayakan manusia… (al-Muntaqa Syarh al-Muwatha’, 2/75)

Berangkat dari penjelasan di atas, maka soal dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka, dan dibelenggunya setan, para ulama berbeda dalam memahaminya. Ada yang memahami dengan pendekatan makna hakiki sesuai bunyi teks haditsnya, dan ada juga yang memahami dengan pendekatan makna yang terdapat di balik bunyi teksnya (majazi).

MASALAH QADHA SHALAT DI JUMAT TERAKHIR BULAN RAMADHAN

Diriwayatakan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من فاتة صلاة فى عمرة ولم يحصها فليقم فى اخر جمعة من رمضان ويصلى اربع ركعات بتشهد واحد يقرا فى كل ركعة فاتحة الكتاب وسورة القدر خمسة عشر مرة وسورة الكوثر خمسة عشر مرة

Nabi Saw bersabda, “Barangsiapa selama hidupnya pernah meninggalkan shalat tetapi tak dapat menghitung jumlahnya, maka shalatlah di hari Jum’at terakhir bulan Ramadhan sebanyak 4 rakaat dengan 1 kali tasyahud, tiap rakaat membaca 1 kali Fatihah kemudian surat Al-Qadar 15 X dan surat Al-Kautsar 15 X.”

قال ابو بكر سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول هذة الصلاة كفارة اربعمائة سنة حتى قال على كرم الله وجهه هى كفارة الف سنة قالوا يا رسول الله صلى الله عليه وسلم ابن ادم يعيش ستين سنة او مائة سنة فلمن تكون الصلاة الزائدة قال تكون لابوية وزوجتة ولاولادة فاقاربة واهل البلد

Sayidina Abu Bakar berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda shalat tersebut sebagai kafaroh (pengganti) shalat 400 tahun. Dan menurut Sayidina Ali ibn Abi Tholib shalat tersebut sebagai kafaroh 1000 tahun. Maka bertanyalah para sahabat : “Umur manusia itu hanya 60 tahun atau 100 tahun, lalu untuk siapa kelebihannya?”. Rasulullah Saw menjawab, “Untuk kedua orang tuanya, untuk istrinya, untuk anaknya dan untuk sanak familinya serta orang-orang dilingkungannya.”

Perlu ditinjau ulang keshahihan hadis tersebut dan apakah syari’at agama mengajarkan dalam mengqadha shalat semudah itu?

Hadits di atas ternyata adalah hadis maudhu’. Yaitu hadits yang disandarkan pada Nabi dengan kebohongan dan sebenarnya tidak ada keterkaitan sanad dengan Nabi dan pada hakikatnya itu bukanlah hadits. Hanya saja penyebutannya sebagai hadits memandang anggapan dari perawinya.

Ketika amalan ibadah bersumber dari hadis maudhu’ (palsu) maka maka menurut para ulama hukumnya tidak boleh mengerjakan amalan tersebut. Berbeda ketika amalan yang bersumber dari hadis dha’if (lemah) maka masih diperbolehkan mengamalkan sebatas fadhailul amal. Dalam kitab Al Adzkar An Nawawi hal 14 dikatakan,

اعلم أنه ينبغي لمن بلغه شيء في فضائل الأعمال أن يعمل به ولو مرّة واحدة ليكون من أهله، ولا ينبغي أن يتركه مطلقاً بل يأتي بما تيسر منه، لقول النبي صلى اللّه عليه وسلم

“Sebaiknya seseorang yang mengetahui keutamaan amalan (fadhoilul amal) melakukan hal tersebut walaupun hanya sekali saja agar termasuk dikatakan golongan amal tersebut. Dan tidak dianjurkan untuk meninggalkan amal terssebut, akan tetapi berusaha melakukan dengan semampunya, karena berdasar hadis Nabi Saw.”

قال العلماءُ من المحدّثين والفقهاء وغيرهم: يجوز ويُستحبّ العمل في الفضائل والترغيب والترهيب بالحديث الضعيف ما لم يكن موضوعاً

Para Ulama dari Ahli Hadis, Ahli Fiqh dan lainnya mengatakan: “Boleh dan disunnahkan melakukan suatu amal/perbuatan yang bersumber dari hadis dha’if (lemah) selama bukan hadis maudlu’ (palsu)”.

Amalan atau ibadah yang bersumber dari hadits palsu (maudhu’) dan orang tersebut mengetahuinya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah mengingatkan dalam haditsnya:

مَنْ حَدَّثَ عَنِّي حَدِيْثًا وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الكَاذِبِيْنِ

“Barangsiapa yang menyampaikan hadits dariku dan dia mengetahui bahwasanya (hadits) tersebut adalah dusta maka ia adalah salah satu dari para pendusta.” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah)

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang dengan sengaja berdusta atas namaku, maka dia telah mempersiapkan tempat duduknya di dalam api neraka.” (HR. Bukhari Muslim)

Dan seumpama seperti itu adanya, yakni kemudahan mengqadha shalat yang ditinggalkan dalam waktu yang lama cukup ditebus (kafarat) hanya shalat sekali dalam setahun maka dikhawatirkan yang akan terjadi kebanyakan orang islam dengan mudahnya meninggalkan kewajiban sholat 5 waktu setiap hari dengan alasan nanti cukup melakukan sholat kafarat.

Syariat sudah mengajarkan bahwa apabila seseorang meninggalkan shalatnya baik itu disengaja ataupun tidak, maka dia berkewajiban mengganti (qadha) dengan shalat di lain waktu sejumlah shalat yang ditinggalkannya

Hukum Mengqadha Sholat.

Dari Anas bin Malik Rosululloh saw bersabda, “Barang siapa yang lupa (melaksanakan) suatu sholat atau tertidur dari (melaksanakan)nya, maka kifaratnya (tebusannya) adalah melakukannya (mengqadha) jika dia telah ingat.” (HR. Bukhori Muslim)

مباحث قضاء الصلاة الفائتة حكمه قضاء الصلاة المفروضة التي فاتت واجب على الفور سواء فاتت بعذر غير مسقط لها أو فاتت بغير عذر أصلا باتفاق ثلاثة من الأئمة ( الشافعية قالوا : إن كان التأخير بغير عذر وجب القضاء على الفور وإن كان بعذر وجب على التراخي

“Hukum mengqadha shalat fardhu menurut kesepakatan tiga madzhab (Hanafi, Maliki dan Hanbali) adalah wajib dan harus dikerjakan sesegera mungkin baik shalat yang ditinggalkan sebab adanya udzur (halangan) atau tidak.

Sedangkan menurut Imam Syafi’i qadha shalat hukumnya wajib dan harus dikerjakan sesegera mungkin bila shalat yang ditinggalkan tanpa adanya udzur dan bila karena udzur, qadha shalatnya tidak diharuskan dilakukan sesegera mungkin.” (Al-Fiqh ‘alaa Madzaahiba l-Arba’ah juz I hal 755)

Kesimpulan

– Shalat kafarat jika bersumber dari hadis palsu (maudhu’) maka untuk lebih berhati-hati tidak dilakukan meskipun ada beberapa yang mengamalkan. Kecuali jika yakin ada dalil yang jelas memperbolehkan dan tetap mengqadha shalat-shalat yang ditinggalkan (faitah) mungkin itu masih lebih bijak.

– Apabila orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun sampai lupa hitungan persisnya dan dia dalam keadaan sehat, maka tidaklah cukup atau lunas dengan hanya melakukan shalat kafarat.

– Hendaknya yang dilakukan adalah :

  1. bertaubat
  2. meng-qadha seluruh shalat yang ditinggal setiap hari semampunya sampai selesai.
  3. memperbanyak shalat sunnah dan amal-amal kebaikan untuk mengganti kekurangan.

INILAH CARA MELAKSANAKAN SHALAT KAFARAT DI JUM’AT TERAKHIR RAMADHAN

Di anjurkan melakukan sholat qodha, lima waktu (Dhuhur, Ashar, Magrib, Isya, dan Subuh) setelah shalat Jum’at terakhir di bulan Ramadhan.

Para salafus Shaleh berkata: “lakukanlah qodho’ sholat fhardu lima waktu pada hari Jum,at terakhir di bulan Ramadhan sebagaimana yang telah dilakukan oleh Al-Imam Al Qutub Syekh Abu Bakar Bin Salim ra (Wafat di kota Inat, Hadramaut, Yaman)”.

Adapun cara melaksanakannya adalah : di mulai dengan shalat Dzuhur, Kemudian Ashar , Magrib, Isya , dan terakhir Subuh , di anjurkan di laksanakan secara berjamaah dan boleh juga di lakukan secar Munfarid ( sendirian ).

Ketahuilah !! Syekh Abubakar Bin Salim ra berkata: “Tidak di perbolehkan dan termasuk dosa besar jika seorang sengaja meninggalkan shalat fardu selama setahun dengan niatan hanya ingin mengqodho’ nya pada hari Jum’at terkhir dalan bulan Ramadhan.

Ketahuilah !! Disamping shalat ini telah dilakukan oleh Salafus Shaleh yang mempunyai Ilmu yang sangat luas , dan ketakwaan yang sangat tinggi, serta rasa takut kepada Allah yang sangat dalam, juga mereka memiliki nilai yang tinggi dalam mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah SAW, Para fuqaha’ (Ahli ilmu fiqih juga menjelaskan bahwa di sunnahkan bagi seseorang muslim yang mempunyai semangat dalam beribadah untuk mengqodho’ shalat yang telah di tinggalkannya , semenjak lahir sampai baligh, agar seluruh umurnya dalam keadaan beribadah, sebagaimana yang di sebutkan di kitab-kitab para fuqoha’, di antaranya di sebutkan dalam kitab Busyrol Karim baba shalat:

وَيُسَنُّ قَضَاءُ مَا فَاتَهُمَا فِيْهِ وَلَوْ قَبْلَ التَّمْيِيْز

Artinya: “dan disunnahkan untuk mengqodho’ shalat yang di ringgalkan pada masa kecil, juga pada masa mumayyiz”

Yang pertama kali mencetuskan sholat qadha lima waktu pada hari jum’at terakhir bulan ramdhan adalah syekh Abu Bakar bin Salaim untuk para keturunnya dan para pecintanya, kemungkinan ada dari mereka shalt liama waktu yang belum terqadha maka pada saat itu menghadhanya berjama’ah

Banyak para ulama yang membahas tentang masalah ini dan dijadikan dalam satu kitab khusus

Paling bagusnya kitab yang membahas hal ini adalah kitab yang di susun oleh syeh Fadhal bin Abdurrahman Bafadhal yang bernama

القول المنقوض في الرد على من أنكر الخمس الفروض

Khulashah dari pembahasan dalam kitab diatas ada tiga masalah

Pertama : Haram bagi orang yang meyakini bahwa qadha lima waktu tersebut bisa mengqadha semua shalt yang dia tinggalkan

Kedua : Wajib bagi orang yang meyakini punya shalt yang perlu diqadha tapi tidak meyakini seperti keyakinan pertama, hanya shalt itu saja yang lain belum terqadhakan

Ketiga : Hati-hati bagi orang yang selalu shalat lima waktu tetapi punya keraguan mungkin dari shalt lima waktu yang dia kerjakan ada yang kurang dalam syarat dan rukunnya sehingga perlu di qadha

Para ulama menanggapi hal di atas ada yang mengatakan sah dan tidak sah

Bagi para pembaca terserah mau ikut yang mana mau dikerjakan ya boleh dan tidak dikerjakan maka tidak masalah

( diintisarikan dari fatwa sayyidil waalid al habib al allamah Salim bin Abdullah bin Umar As Syathiri hafidhahullah )

Didapatkan dr tulisan alfagih alimam almuhaddits ibrahim bin umar al Alawy diriwayatkan dr Rasulullah saw bersabda : barangsiapa yg melakukan qodho fardhu 5 wkt sholat di akhir jumat di bln ramadhan mj dpt menambal cacatnya sholat sepanjang umurnya smp 70 tahun, sebagaimana disebutkan dlm fatwa Alhabib Muhammad bin hadi Assegaf

لكن هذا القضاء لكل ما يختل في صلاته بوسواس و غير طهور و ذلك يفعل بعضهم بغير تعمد

Jadi qodho ini dilakukan dlm rangka bukan menutup satu tahun karena dia tidak sholat, akan tetapi dia tlh melakukan sholat 5 wkt dg baik selama ini, hanya saja barangkali dlm sela2 dia melakukan sholat ada yg kurang pas dlm kacamata syariat dsb, mk qodho akhir jumat di bln ini yg menambal kekurangan itu semuanya

Tata Cara Shalat Kafarat di Jum’at Terakhir Ramadhan

Mengenai shalat kafarat (mengqodlo sholat lima waktu) adalah kebiasaan yang dilakukan oleh beberapa sahabat, diantaranya oleh Ali bin Abi Thalib kw, dan terdapat sanad yang muttashil dan tsiqah kepada Ali bin Abi Thalib kw bahwa beliau melakukannya di Kufah.

Dan yang memproklamirkan kembali hal ini adalah AL Imam Al Hafidh Al Musnid Abubakar bin Salim rahimahullah, yaitu dilakukan pada setelah shalat jumat, padahari jumat terakhir di bulan ramadhan,meng Qadha shalat lima waktu,

Tujuannya adalah barangkali ada dalam hari hari kita shalat yang tertinggal, dan belum di Qadha, atau ada hal hal yang membuat batalnya shalat kita dan kita lupa akannya maka dilakukan shalat tersebut.

Mereka melakukan hal itu menilik keberkahan dan kemuliaan waktu hari jumat dan bulan Ramadhan. Adapun tatacaranya adalah sholat dengan niat qadha. pertama sholat dhuhur, kemudian setelah salam langsung bangun sholat ashar qadha dan begitu seterusnya sampai sholat subuh.

Tetapi jika tak dapat menghitung jumlahnya, dengan melakukan Shalat Sunnat kafarah.

Shalat kafarah Bersabda Rasulullah SAW : ” Barangsiapa selama hidupnya pernah meninggalkan sholat tetapi tak dapat menghitung jumlahnya, maka sholatlah di hari Jum’at terakhir bulan Ramadhan sebanyak 4 rakaat dengan 1x tasyahud (tasyahud akhir saja, tanpa tasyahud awal), tiap rakaat membaca 1 kali Fatihah kemudian surat Al-Qadar 15 X dan surat Al-Kautsar 15 X .

Niatnya: ” Nawaitu Usholli arba’a raka’atin kafaratan limaa faatanii minash-shalati lillaahi ta’alaa”

Sayidina Abu Bakar ra. berkata

“Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sholat tersebut sebagai kafaroh (pengganti) sholat 400 tahun dan menurut Sayidina Ali ra. sholat tersebut sebagai kafaroh 1000 tahun. Maka bertanyalah sahabat : umur manusia itu hanya 60 tahun atau 100 tahun, lalu untuk siapa kelebihannya ?”. Rasulullah SAW menjawab, “Untuk kedua orangtuanya, untuk istrinya, untuk anaknya dan untuk sanak familinya serta orang-orang yang didekatnya/ lingkungannya.”

MengQadha shalat tentunya wajib hukumnya bagi mereka yang meninggalkan shalat, namun tidak ada larangannya melakukan shalat fardhu kembali karena hukum shalat I’adah adalah hal yang diperbolehkan.

Dan selama hal ini pernah dilakukan oleh para sahabat maka pastilah Rasul saw yang mengajarkannya, mengenai tak teriwayatkannya pada hadits shahih maka hal itu tak bisa menafikan hal ini selama terdapat sanad yang tsiqah dan muttashil pada sahabat atau tabiin. Sebab hadits yg ada kini tak sampai 1% dari hadits hadits Rasul saw yg ada dizaman sahabat,

Anda bisa bayangkan Jika Imam Ahmad bin Hanbal telah hafal 1 juta hadits dengan sanad dan hukum matannya, namun ia hanya mampu menulis sekitar 20 ribu hadits pada musnadnya, sisanya tak tertulis, lalu kemana 980 ribu hadits lainnya?, sirna dan tak tertuliskan,

demikian pula Imam Bukhari yg hafal lebih dari 600 ribu hadit dg sanad dan hukum matannya namun beliau hanya mampu menuliskan sekitar 7000 hadits pada shahihnya dan beberapa hadits lagi pada buku2 beliau lainnya, lalu kemana 593 ribu hadits lainnya?. sirna dan tak sempat tertuliskan,

Namun ada tulisan tulisan dan riwayat sanad yang dihafal oleh murid-murid mereka, disampaikan pula pada murid murid berikutnya, nah demikianlah sanad yang sampai saat ini tanpa teriwayatkan dalam hadits shahih.

Tentunya jalur mereka yang tak sempat terdata secara umum, namun masih tersimpan jalurnya dengan riwayat tsiqah dan muttashil kepada para sahabat.

Hal ini merupakan Ikhtilaf, boleh mengamalkannya dan boleh meninggalkannya.

Setelah selesai Sholat membaca Istigfar 10 x :

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعِظِيْمِ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَ أتُبُوْا إِلَيْكَ

Kemudian baca sholawat 100 x :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا محمّد

Kemudian menbaca basmalah, hamdalah dan syahadat

Kemudian membaca Doa kafaroh 3 x:

اللهم يا من لا تنفعك طاعتى ولا تضرك معصيتى تقبل منى ما لا ينفعك واغفرلى ما لا يضرك يا من إذا وعد وفى وإذا توعد تجاوز وعفى. إغفر لعبد ظلم نفسه واسئلك. اللهم إنى أعوذبك من بطر الغنى وجهد الفقر إلهى خلقتنى ولم أكن شيئا ورزقتنى ولم أكن شيئا. واوتكبت المعاشى و إنى مقر لك بذنوبى فإن عفوت عنى فلا ينقص من ملكك شيئا وإن عذبتنى فلا يزيد في سلطانك شيئا. إلهى أنت تجد من تعذبه غيرى وأنا لا أجد من يرحمنى غيرك إغفرلى ما بينى وبينك واغفرلي ما بيني وبين خلقك يا أرحم الراحمين ويا رجاء السائلين ويا أمان الخائفين إرحمنى برحمتك الواسعة أنت أرحم الراحمين يا رب العالمين. اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات وتابع بيننا وبينهم بالخيرات. رب اغفر وارحم و أنت خير الراحمين وصل الله على سيدنا محمد و على أله وصحبه وسلم تسليما كثيرا أمين

Artinya;

Yaa Allah, yang mana segala ketaatanku tiada artinya bagiMu dan segala perbuatan maksiatku tiada merugikanMu. Terimalah diriku yang tiada artinya bagiMu. Dan ampunilah aku yang mana ampunanMu itu tidak merugikan bagiMu. Ya Allah, bila Engkau berjanji pasti Engkau tepati janjiMu. Dan apabila Engkau mengancam, maka Engkau mau mengampuni ancamanMu. Ampunilah hambaMu ini yang telah menyesatkan diriku sendiri, aku telah Engkau beri kekayaan dan aku mengumpat di saat aku Engkau beri miskin. Wahai Tuhanku Engkau ciptakan aku dan aku tak berarti apapun. Dan Engkau beri aku rizki sekalipun aku tak berarti apa-apa, dan aku lakukan perbuatan semua ma’siat dan aku mengaku padaMu dengan segala dosa-dosaku. Apabila Engkau mengampuniku tidak mengurangi keagunganMu sedikitpun, dan bila Kau siksa aku maka tidak akan menambah kekuasaanMu, wahai Tuhanku, bukankah masih banyak orang yang akan Kau siksa selain aku. Namun bagiku hanyaEnakau yang dapat mengampuniku. Ampunilah dosa-dosaku kepadaMu. Dan ampunilah segala kesalahanku di antara aku dengan hamba-hambaMu. Ya Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih dan tempat pengaduan semua pemohon dan tempat berlindung bagi orang yang takut. Kasihanilah aku dengan pengampunanMu yang luas. Engkau yang Maha Pengasih dan Penyayang dan Engkaulah yang memelihara seluruh alam yang ada. Ampunilah segala dosa-dosa orang mu’min dan mu’minat, muslimin dan muslimat dan satukanlah aku dengan mereka dalam kebaikan. Wahai Tuhanku ampunilah dan kasihilah. Sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Washollallahu ‘Ala sayyidina Muhammadin wa’ala alihi wasohbihi wasalim tasliiman kasiira. Amin.

Diambil dari kitab “Majmu’atul Mubarakah”, susunan Syekh Muhammad Shodiq Al-Qahhawi.

HUKUM SHALAT KAFARAT DI JUM’AT TERAKHIR RAMADHAN

PERTANYAAN:

Bagaimana tentang sholat kafarot di hari jum’at terakhir bulan ramadlan sebagai pengganti qodlo sholat yg telah lalu?.

JAWABAN:

ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ – ﺍﻟﺒﻜﺮﻱ ﺍﻟﺪﻣﻴﺎﻃﻲ – ﺝ ١ – ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ٣١٢ :ﻗﻮﻟﻪ: ﻓﺎﺋﺪﺓ: ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻓﺔ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﺮﻏﺎﺋﺐ ﺇﻟﺦ. ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻤﺆﻟﻒ ﻓﻲ ﺇﺭﺷﺎﺩ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ: ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﺍﻟﻤﺬﻣﻮﻣﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺄﺛﻢ ﻓﺎﻋﻠﻬﺎ ﻭﻳﺠﺐ ﻋﻠﻰ ﻭﻻﺓ ﺍﻻﻣﺮ ﻣﻨﻊ ﻓﺎﻋﻠﻬﺎ: ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺮﻏﺎﺋﺐ ﺍﺛﻨﺘﺎ ﻋﺸﺮﺓ ﺭﻛﻌﺔ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻌﺸﺎﺀﻳﻦ ﻟﻴﻠﺔ ﺃﻭﻝ ﺟﻤﻌﺔ ﻣﻦ ﺭﺟﺐ. ﻭﺻﻼﺓ ﻟﻴﻠﺔ ﻧﺼﻒ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻣﺎﺋﺔ ﺭﻛﻌﺔ، ﻭﺻﻼﺓ ﺁﺧﺮ ﺟﻤﻌﺔ ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺳﺒﻌﺔ ﻋﺸﺮ ﺭﻛﻌﺔ، ﺑﻨﻴﺔ ﻗﻀﺎﺀ ﺍﻟﺼﻠﻮﺍﺕ ﺍﻟﺨﻤﺲ ﺍﻟﺘﻲ ﻟﻢ ﻳﻘﻀﻬﺎ. ﻭﺻﻼﺓ ﻳﻮﻡ ﻋﺎﺷﻮﺭﺍﺀ ﺃﺭﺑﻊ ﺭﻛﻌﺎﺕ ﺃﻭ ﺃﻛﺜﺮ. ﻭﺻﻼﺓ ﺍﻷﺳﺒﻮﻉ، ﺃﻣﺎ ﺃﺣﺎﺩﻳﺜﻬﺎ ﻓﻤﻮﺿﻮﻋﺔ ﺑﺎﻃﻠﺔ، ﻭﻻ ﺗﻐﺘﺮ ﺑﻤﻦ ﺫﻛﺮﻫﺎ. ﺍﻫ

Disana dijelaskan bahwa sholat baroah adalah bid’ah madzmumah , dan berdosa jika dikerjakan , dan bagi pihak yang berwenang wajib untuk melarang melakukan praktek nya didalam kitab Fatawa Fiqhiyyah Al kubro tergolong dari pekerjaan yang termasuk kategori ” MUHARROMAH SYADIDAATU AT-TAHRIM ” sebab praktek semacam ini pada akhirnya ada yang meremehkan sholat.

هل تَجُوزُ صَلَاةُ الرَّغَائِب وَالْبَرَاءَةِ جَمَاعَةً أَمْ لَا فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ أَمَّا صَلَاةُ الرَّغَائِب فَإِنَّهَا كَالصَّلَاةِ الْمَعْرُوفَةِ لَيْلَةَ النِّصْفِ من شَعْبَانُ بِدْعَتَانِ قَبِيحَتَانِ مَذْمُومَتَانِ وَحَدِيثهمَا مَوْضُوعٌ فَيُكْرَهُ فِعْلُهُمَا فُرَادَى وَجَمَاعَةً وَأَمَّا صَلَاةُ الْبَرَاءَة فَإِنْ أُرِيدَ بها ما يُنْقَلُ عن كَثِيرٍ من أَهْلِ الْيَمَنِ من صَلَاةِ الْمَكْتُوبَاتِ الْخَمْسِ بَعْد آخِرِ جُمُعَةٍ في رَمَضَانَ مُعْتَقِدِينَ أنها تُكَفِّرُ ما وَقَعَ في جُمْلَةِ السَّنَةِ من التَّهَاوُن في صَلَاتِهَا فَهِيَ مُحَرَّمَةٌ شَدِيدَةُ التَّحْرِيم يَجِبُ مَنْعُهُمْ منها لِأُمُورٍ منها أَنَّهُ تَحْرُمُ إعَادَةُ الصَّلَاةِ بَعْدَ خُرُوجِ وَقْتِهَا وَلَوْ في جَمَاعَةٍ وَكَذَا في وَقْتِهَا بِلَا جَمَاعَةٍ وَلَا سَبَبٍ يَقْتَضِي ذلك وَمِنْهَا أَنَّ ذلك صَارَ سَبَبًا لِتَهَاوُنِ الْعَامَّةِ في أَدَاءِ الْفَرَائِض لِاعْتِقَادِهِمْ أَنَّ فِعْلَهَا على تِلْكَ الْكَيْفِيَّةِ يُكَفِّرُ عَنْهُمْ ذلك . وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَاب

Syaikh Zainuddin Al malibary yang juga tentunya dari kalangan Ulama Syafi’iiyah mengkategorikan hadits nya maudhu’ ..

Coba simak lagi ibarat yang ada di i’anah diatas , dan fokus pada ibarat ini

ﺃﻣﺎ ﺃﺣﺎﺩﻳﺜﻬﺎ ﻓﻤﻮﺿﻮﻋﺔ ﺑﺎﻃﻠﺔ، ﻭﻻ ﺗﻐﺘﺮ ﺑﻤﻦ ﺫﻛﺮﻫﺎ.

Sholat baro’ah yang dilakukan dihari jum’at terakhir dibulan romadlon yg mana dipercaya bisa melebur sholat 1 tahun yang telah lewat maka hukumnya haram bahkan sangat haram.

الفتاوى الفقهية الكبرى (1/ 217)

وَأَمَّا صَلَاةُ الْبَرَاءَة فَإِنْ أُرِيدَ بها ما يُنْقَلُ عن كَثِيرٍ من أَهْلِ الْيَمَنِ من صَلَاةِ الْمَكْتُوبَاتِ الْخَمْسِ بَعْد آخِرِ جُمُعَةٍ في رَمَضَانَ مُعْتَقِدِينَ أنها تُكَفِّرُ ما وَقَعَ في جُمْلَةِ السَّنَةِ من التَّهَاوُن في صَلَاتِهَا فَهِيَ مُحَرَّمَةٌ شَدِيدَةُ التَّحْرِيم يَجِبُ مَنْعُهُمْ منها لِأُمُورٍ منها أَنَّهُ تَحْرُمُ إعَادَةُ الصَّلَاةِ بَعْدَ خُرُوجِ وَقْتِهَا وَلَوْ في جَمَاعَةٍ وَكَذَا في وَقْتِهَا بِلَا جَمَاعَةٍ وَلَا سَبَبٍ يَقْتَضِي ذلك وَمِنْهَا أَنَّ ذلك صَارَ سَبَبًا لِتَهَاوُنِ الْعَامَّةِ في أَدَاءِ الْفَرَائِض لِاعْتِقَادِهِمْ أَنَّ فِعْلَهَا على تِلْكَ الْكَيْفِيَّةِ يُكَفِّرُ عَنْهُمْ ذلك وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Kesimpulannya sholat kafaroh itu bid’ah yang tercela dan haditsnya adalah palsu.

إعانة الطالبين (1/ 270)

( قوله فائدة أما الصلاة المعروفة ليلة الرغائب إلخ ) قال المؤلف في إرشاد العباد ومن البدع المذمومة التي يأثم فاعلها ويجب على ولاة الأمر منع فاعلها صلاة الرغائب اثنتا عشرة ركعة بين العشاءين ليلة أول جمعة من رجب وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة وصلاة آخر جمعة من رمضان سبعة عشر ركعة بنية قضاء الصلوات الخمس التي لم يقضها وصلاة يوم عاشوراء أربع ركعات أو أكثر وصلاة الأسبوع أما أحاديثها فموضوعة باطلة ولا تغتر بمن ذكرها

Ibaroh pendukung :

السؤال:

ما صحة الحديث الذى ورد فى فضل الصلاة فى آخر جمعة من شهر رمضان؟ حيث ورد فيه: “لمن فاته صلاة فى حياته عليه أن يصلى 4 ركعات بتشهد واحد، وأن يقرأ فاتحة الكتاب وسورة الكوثر والقدر 15 مرة فى كل ركعة، على أن تكون نيته كفارة لما فاته من صلوات، وعن فضلها: أنها مكفرة لـ 400 سنة، وقال الإمام على -رضى الله عنه وأرضاه-: إنها مكفرة لـ 1000 سنة”.

الإجابة:الحمدُ للهِ، والصلاةُ والسلامُ على رسولِ اللهِ، وعلى آلِهِ وصحبِهِ ومن والاهُ، أمَّا بعدُ:فإن ما ذكره السائل، ليس حديثًا؛ فلا أصل له في كتب السنة، وعلامات الوضع ظاهرة عليه، وقد ذكر الشوكاني رحمه الله: حديثًا بهذا المعنى في كتابه “الفوائد المجموعة في الأحاديث الموضوعة” (ص 54)، ونصه: “من صلى في آخر جمعة من رمضان الخمس الصلوات المفروضة في اليوم والليلة، قضت عنه ما أخل به من صلاة سنته”.ثم قال رحمه الله: “هذا موضوع لا إشكال فيه، ولم أجده في شيء من الكتب التي جمع مصنفوها فيها الأحاديث الموضوعة، ولكنه اشتهر عند جماعة من المتفقهة بمدينة صنعاء، في عصرنا هذا، وصار كثير منهم يفعلون ذلك، ولا أدري من وضعه لهم؛ فقبح الله الكذابين”. انتهى.وراجع فتوى: “حكم العمل بالحديث الضعيف والموضوع”.ثم إن من فاتته صلوات لم يصلها لعذر، لا يكفرِّها إلا قضاؤها، فكيف بالصلاة المتروكة عمدًا والتي لا يكفرها إلا التوبة إلى الله – عز وجل – توبة نصوحًا؟”؛ وراجع: “حكم تارك الصلاة”، “حكم قضاء الصلاة التي تُركت عمدًا”،، والله أعلم

MENYIMPAN UANG DI LEMBARAN MUSHAF APAKAH DI LARANG

FATHUL MUIN hal 84

ووصع نحو درهم في مكتوبة ﻭﻋﻠﻢ ﺷﺮﻋﻲ. ﻭﻛﺬﺍ ﺟﻌﻠﻪ ﺑﻴﻦ ﺃﻭﺭﺍﻗﻪ -.

Dan haram meletakan semacam uang di tempat yang tertulis al quran atau ilmu syara.

I’ANATU THALIBIN1/49

ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﺿﻊ ﻧﺤﻮ ﺩﺭﻫﻢ ﺑﺎﻟﺮﻓﻊ، ﻣﻌﻄﻮﻑ ﺃﻳﻀﺎ ﻋﻠﻰ ﺗﻤﻜﻴﻦ. ﺃﻱ ﻭﻳﺤﺮﻡ ﻭﺿﻊ ﻧﺤﻮ ﺩﺭﻫﻢ. ﻭﻗﻮﻟﻪ: ﻓﻲ ﻣﻜﺘﻮﺑﻪ ﺃﻱ ﻓﻴﻤﺎ ﻛﺘﺐ ﻓﻴﻪ ﻣﺼﺤﻒ، ﺃﻱ ﻗﺮﺁﻥ، ﻛﻠﻪ ﺃﻭ ﺑﻌﻀﻪ. ﻭﻋﺒﺎﺭﺓ ﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ: ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺟﻌﻞ ﻧﺤﻮ ﺫﻫﺐ ﻓﻲ ﻛﺎﻏﺪ ﻛﺘﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ. ﺍﻩ. ﻗﺎﻝ ﻉ ﺵ: ﺃﻱ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻣﻦ ﻛﻞ ﻣﻌﻈﻢ. ﻛﻤﺎ ﺫﻛﺮﻩ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﺍﻻﺳﺘﻨﺠﺎﺀ.

ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻤﻌﻈﻢ ﻣﺎ ﻳﻘﻊ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻜﺎﺗﺒﺎﺕ ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ، ﻣﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﺍﺳﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻭ ﺍﺳﻢ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﻣﺜﻼ، ﻓﻴﺤﺮﻡ ﺇﻫﺎﻧﺘﻪ ﺑﻮﺿﻊ ﻧﺤﻮ ﺩﺭﺍﻫﻢ ﻓﻴﻪ. ﺍﻩ )ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻋﻠﻢ ﺷﺮﻋﻲ( ﺑﺎﻟﺠﺮ، ﻋﻄﻒ ﻋﻠﻰ ﺿﻤﻴﺮ ﻣﻜﺘﻮﺑﻪ. ﺃﻱ ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺃﻳﻀﺎ ﻭﺿﻊ ﻧﺤﻮ ﺩﺭﻫﻢ ﻓﻲ ﻣﻜﺘﻮﺏ ﻋﻠﻢ ﺷﺮﻋﻲ، ﺃﻱ ﻣﺎ ﻛﺘﺐ ﻓﻴﻪ ﻋﻠﻢ ﺷﺮﻋﻲ ﻛﺎﻟﺘﻔﺴﻴﺮ ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﺍﻟﻔﻘﻪ. ﻭﻟﻮ ﻗﺎﻝ: ﻛﻐﻴﺮﻩ ﻭﻛﻞ ﻣﻌﻈﻢ، ﻟﻜﺎﻥ ﺃﻭﻟﻰ.

ﺇﺫ ﻋﺒﺎﺭﺗﻪ ﺗﻘﺘﻀﻲ ﺃﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﻭﺿﻊ ﻓﻲ ﻣﻜﺘﻮﺏ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺸﺮﻋﻲ ﻣﻦ ﺑﻘﻴﺔ ﺍﻟﻌﻠﻮﻡ ﻛﺎﻟﻨﺤﻮ ﻭﺍﻟﺼﺮﻑ ﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﻣﻌﻈﻢ، ﻭﻟﻴﺲ ﻛﺬﻟﻚ. )ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻛﺬﺍ ﺟﻌﻠﻪ ﺑﻴﻦ ﺃﻭﺭﺍﻗﻪ( ﺃﻱ ﻭﻛﺬﺍ ﻳﺤﺮﻡ ﺟﻌﻞ ﻧﺤﻮ ﺩﺭﻫﻢ ﺑﻴﻦ ﺃﻭﺭﺍﻕ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﻭﻓﻴﻪ ﺃﻥ ﻫﺬﺍ ﻳﻐﻨﻲ ﻋﻨﻪ.

(qouluhu wadu dirhamin) dan haram menaruh semodel uang ,yakni yang di dalamnya ada tulisan al qur,an baik keseluruhan tau sebagian. dan ibarot dalam ktb nihayah: tidak boleh membuat semodel mas di jadikan semdel wadah di dalamnya bertulisan lafad basmalah. berkata ali sibromalisi: lain dari al quran setiap yang di agungkan. Sebagaimana telah di sebutkan ibnu hajar dalam bab istinja. termasuk yang di agungkan yang terletak di majalah atau semodelnya yang di dalamnya ada ada nama allah atau rosulnya, maka oleh karena itu haramnya untuk menghinanya semodel menaruh uang di atasnya.

Setiap bentuk perlakuan yang berunsur merendahkan al-Qur`an sangatlah dilarang oleh syari’at. Dan mayoritas ulama mengkategorikan sebagai praktik merendahkan derajat al-Qur`an ialah meletakkan uang di dalam Mushhaf / meletakkannya di antara lampiran-lampirannya dan menghukuminya haram.

Namun ada sebagian ulama yang membolehkan meletakkan uang di dalam Mushhaf dengan catatan tidak ada tujuan untuk merendahkan atau melecehkannya sebagaimana yang telah difatwakan oleh Imam al-Syihab al-Ramli.

ﺗﺤﻔﺔ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻨﻬﺎﺝ 1/154-155 :

ﻭﻭﺿﻊ ﻧﺤﻮ ﺩﺭﻫﻢ ﻓﻲ ﻣﻜﺘﻮﺑﻪ ﻭﺟﻌﻠﻪ ﻭﻗﺎﻳﺔ ﻭﻟﻮ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻗﺮﺁﻥ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻈﻬﺮ. ﺛﻢ ﺭﺃﻳﺖ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺑﺤﺚ ﺣﻞ ﻫﺬﺍ ﻭﻟﻴﺲ ﻛﻤﺎ ﺯﻋﻢ.

ﻗﻮﻟﻪ : ﻭﻭﺿﻊ ﻧﺤﻮ ﺩﺭﻫﻢ ﺇﻟﺦ ﻋﺒﺎﺭﺓ ﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺟﻌﻞ ﻧﺤﻮ ﺫﻫﺐ ﻓﻲ ﻛﺎﻏﺪ ﻛﺘﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ. ﺍﻫـ ﻗﺎﻝ ﻉ ﺵ ﺃﻱ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﻣﻦ ﻛﻞ ﻣﻌﻈﻢ ﻛﻤﺎ ﺫﻛﺮﻩ ﺍﺑﻦ ﺣﺞ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﺍﻻﺳﺘﻨﺠﺎﺀ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻤﻌﻈﻢ ﻣﺎ ﻳﻘﻊ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻜﺎﺗﺒﺎﺕ ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ ﻣﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﺍﺳﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﺳﻢ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﻣﺜﻼ ﻓﻴﺤﺮﻡ ﺇﻫﺎﻥﺗﻪ ﺑﻨﺤﻮ ﻭﺿﻊ ﺩﺭﺍﻫﻢ ﻓﻴﻪ. ﺍﻫـ

ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﺟﻌﻠﻪ ﻭﻗﺎﻳﺔ ﺇﻟﺦ. ﻫﺬﺍ ﻗﻴﺪ ﻳﻔﻴﺪ ﺣﺮﻣﺔ ﺟﻌﻞ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﺍﺳﻢ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻗﺎﻳﺔ ﻭﻟﻮ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻗﺮﺁﻥ ﺑﻨﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻗﻮﻟﻪ ﺍﻟﺴﺎﺑﻖ ﻛﻜﻞ ﺍﺳﻢ ﻣﻌﻈﻢ ﻣﻼﺣﻆ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﻌﻄﻮﻓﺎﺕ ﺃﻳﻀﺎ ﻓﻠﻴﺤﺮﺭ ﺳﻢ. ﻗﻮﻟﻪ: ﺛﻢ ﺭﺃﻳﺖ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺑﺤﺚ ﺣﻞ ﻫﺬﺍ . ﺃﻓﺘﻰ ﺑﻪ ﺷﻴﺨﻨﺎ ﺍﻟﺸﻬﺎﺏ ﺍﻟﺮﻣﻠﻲ . ﻓﻘﺎﻝ ﻳﺠﻮﺯ ﻭﺿﻊ ﻛﺮﺍﺱ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻓﻲ ﻭﺭﻗﺔ ﻛﺘﺐ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺍﻧﺘﻬﻰ. ﻭﻇﺎﻫﺮ ﺃﻥ ﻣﺤﻠﻪ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻘﺼﺪ ﺍﻣﺘﻬﺎﻧﻪ ﺃﻭ ﺃﻧﻪ ﻳﺼﻴﺒﻬﺎ ﺍﻟﻮﺳﺦ ﻻ ﺍﻟﻜﺮﺍﺱ ﻭﺇﻻ ﺣﺮﻡ ﺑﻞ ﻗﺪ ﻳﻜﻔﺮ. ﺍﻫـ ﺳﻢ

ﻋﺒﺎﺭﺓ ﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ ﻭﻟﻮ ﺟﻌﻞ ﻧﺤﻮ ﻛﺮﺍﺱ ﻓﻲ ﻭﻗﺎﻳﺔ ﻣﻦ ﻭﺭﻕ ﻛﺘﺐ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻧﺤﻮ ﺍﻟﺒﺴﻤﻠﺔ ﻟﻢ ﻳﺤﺮﻡ ﻛﻤﺎ ﺃﻓﺘﻰ ﺑﻪ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻟﻌﺪﻡ ﺍﻻﻣﺘﻬﺎﻥ ﻭﻟﻮ ﺃﺧﺬ ﻓﺄﻻ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﺟﺎﺯ ﻣﻊ ﺍﻟﻜﺮﺍﻫﺔ. ﻗﺎﻝ ﻉ ﺵ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻨﺤﻮ ﺍﻟﺒﺴﻤﻠﺔ ﻣﺎ ﻳﻘﺼﺪ ﺑﻪ ﺍﻟﺘﺒﺮﻙ ﻋﺎﺩﺓ. ﺃﻣﺎ ﺃﻭﺭﺍﻕ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﻓﻴﻨﺒﻐﻲ ﺣﺮﻣﺔ ﺟﻌﻠﻬﺎ ﻭﻗﺎﻳﺔ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻹﻫﺎﻧﺔ ﻟﻜﻦ ﻓﻲ ﺳﻢ ﻧﻘﻼ ﻋﻦ ﻭﺍﻟﺪ ﺍﻟﺸﺎﺭﺡ ﺟﻮﺍﺯﻩ ﻓﻠﻴﺤﺮﺭ. ﺍﻫـ

ومن تعظيم العلم: تعظيم الكتاب، فينبغى لطالب العلم أن لا يأخذ الكتاب إلا بطهارة.

Termasuk arti mengagungkan ilmu, yaitu memuliakan kitab, karena itu, sebaiknya pelajar jika mengambil kitabnya itu selalu dalam keadaan suci.

ومن التعظيم الواجب للعالم أن لا يمد الرجل إلى الكتاب ويضع كتاب التفسير فوق سائر الكتب [تعظيما] ولا يضع شيئا آخر على الكتاب.

Termasuk memuliakan yang harus dilakukan, hendaknya jangan membentangkan kaki kearah kitab. Kitab tafsir letaknya diatas kitab-kitab lain, dan jangan sampai menaruh sesuatu diatas kitab.

Ta’limul muta’alim

 

KEISTIMEWAAN DAN TANDA SERTA CARA MENDAPATKAN LAILATUL QADR

Lailatul Qadar

‘Lailatul Qadar (Arab: لیلة القدر‎) adalah satu malam yang khusus terjadi di bulan Ramadan. Ayat al-Qur’an yang pertama dipercayai diturunkan pada malam ini. Malam ini disebut di dalam al-Qur’an dalam surah Al-Qadr, dan diceritakan lebih baik daripada seribu bulan.

Saat pasti berlangsungnya malam ini tidak diketahui namun menurut beberapa hadis, malam ini jatuh pada 10 malam terakhir pada bulan Ramadan, tepatnya pada salah satu malam ganjil yakni malam ke-21, 23, 25, 27 atau ke-29. Malah ada sebahagian ulama yang menganggap ia berlaku pada malam genap seperti malam 24 Ramadan. Walau bagaimanapun, antara hikmah malam ini dirahsiakan agar umat Islam rajin beribadat di sepanjang malam khususnya di sepuluh malam yang terakhir. Sebahagian Muslim biasanya berusaha tidak melewatkan malam ini dengan menjaga diri agar berjaga pada malam-malam terakhir Ramadan sambil beribadah sepanjang malam.

LAILATUL QADAR MALAM YANG DINANTI OLEH MUKMIN

10 akhir Ramadhan adalah merupakan di antara malam-malam yang penuh dengan keberkatan dan kelebihan yang tertentu. Malam-malam ini adalah merupakan malam yang ditunggu-tunggu oleh seluruh orang mukmin. Bulan Ramadhan, Al Quran dan malam Lailatulqadar mempunyai hubungan yang rapat antara satu sama lain sebagaimana yang diterangkan di dalam kitab Allah dan hadis Rasulullah s.a.w. di antaranya firman Allah s.w.t.

Maksudnya: “Sesungguhnya kami menurunkan Al-Quran pada malam Lailatulqadar dan apakah yang menyebabkan engkau mengerti apa itu Lailatulqadar. Lailatulqadar lebih baik daripada 1000 bulan. Pada malam itu, para malaikat dan Jibril turun dengan keizinan daripada Tuhan mereka untuk setiap urusan. Malam ini sejahtera hingga terbit fajar”.

Sebab turun surah al-Qadr

Lailatulqadar mempunyai kelebihan yang begitu besar. Ianya lebih baik dari 1000 bulan yang lain. Sebab diturunkan ayat tersebut diriwayatkan daripada Mujahid dikatakan sebab turun ayat tersebut ialah Nabi s.a.w. telah menyebut tentang seorang lelaki daripada Bani Israel yang telah menggunakan alat senjatanya untuk berperang pada jalan Allah maka orang Islam pun kagum di atas perbuatan itu lalu Allah menurunkan ayat di atas.

Riwayat yang lain pula dari Ali bin Aurah pada satu hari Rasulullah telah menyebut 4 orang Bani Israel yang telah beribadah kepada Allah selama 80 tahun. Mereka sedikitpun tidak derhaka kepada Allah lalu para sahabat kagum dengan perbuatan mereka itu. Jibril datang memberitahu kepada Rasulullah bahawa Allah w.s.t. menurunkan yang lebih baik dari amalan mereka. Jibril pun membaca surah Al Qadar dan Jibril berkata kepada Rasulullah ayat ini lebih baik daripada apa yang engkau kagumkan ini menjadikan Rasulullah s.a.w. dan para sahabat amat gembira.

Daripada ayat di atas dapatlah kita ketahui bagaimana besar kelebihan orang yang beribadah pada malam lailatulqadar. Ianya satu malam menyamai beramal 1000 bulan.

Dalam hadis Rasulullah s.a.w. menyebut

Maksudnya: “Rasulullah bersungguh-sungguh beribadah pada 10 akhir bulan Ramadhan lebih daripada yang lainnya”

Rasulullah s.a.w. melakukan ibadah pada malam itu bukan hanya setakat baginda sahaja tetapi baginda menyuruh ahli keluarga bangun bersama beribadah. Kata Aisyah r.a.

Maksudnya: “Nabi s.a.w. apabila masuk 10 akhir bulan Ramadhan baginda mengikat kainnya. Menghidupkan malam dengan beribadah dan membangunkan keluarganya untuk sama-sama beribadah. Mengikat kainnya bermaksud bersungguh-sungguh mengerjakan ibadah.”

 

Kelebihan Menghayati Malam Lailatulqadar

Kerana mulianya Lailatulqadar, Rasulullah s.a.w. menganjurkan supaya umatnya bersedia menyambut dan menghayati malam yang berkat itu dengan pelbagai jenis amalan dan ibadah yang diterangkan di antaranya hadis yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a.

Maksudnya: “Barangsiapa menghayati malam Lailatulqadar dengan mengerjakan sembahyang dan berbagai jenis ibadat yang lain sedang ia beriman dan mengharapkan rahmat Allah taala nescaya ia diampunkan dosanya yang terdahulu.

Rasulullah s.a.w. sendiri menjadi contoh yang baik yang menghayati malam lailatulqadar terutama 10 malam yang akhir daripada bulan Ramadhan dengan beriktikaf di Masjid mengerjakan pelbagai amal ibadah untuk menyambut malam Lailatulqadar yang mulia.

Ini diterangkan di dalam satu hadis diriwayatkan daripada Aishah r.a. Katanya:

Maksudnya: “Biasanya Rasulullah s.a.w. berusaha dengan bersungguh-sungguh memperbanyakan amal ibadah pada 10 malam yang akhir daripada bulan Ramadhan berbanding dengan masa yang lain.”

Dalam hadis yang lain Aishah juga meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda bersedialah dengan bersungguh-sungguh untuk menemui malam Lailatulqadar pada malam-malam yang ganjil dalam 10 malam yang akhir daripada bulan Ramadhan.

Malam-malam yang ganjil yang tersebut ialah malam 21, 23, 25, 27 & 29 dari bulan Ramadhan. Dalam pada itu terdapat juga beberapa hadis yang menyatakan bahawa malam Lailatulqadar itu pernah ditemui dalam zaman Rasulullah s.a.w. pada malam 21 Ramadhan. Pernah juga ditemui pada malam 23 Ramadhan.

Terdapat juga hadis yang mengatakan bahawa baginda Rasulullah s.a.w. menjawab pertanyaan seorang sahabat yang bertanya mengenai masa Lailatulqadar supaya ianya bersedia dan menghayatinya. Baginda menjelaskan malam Lailatulqadar itu adalah malam 27 Ramadhan. Dari keterangan-keterangan di atas dapatlah kita membuat kesimpulan bahawa malam Lailatulqadar itu berpindah dari satu tahun ke satu tahun yang lain di dalam lingkungan 10 malam yang akhir dari bulan Ramadhan.

Yang pastinya bahawa masa berlakunya malam Lailatulqadar itu tetap dirahsiakan oleh Allah s.w.t. supaya setiap umat Islam menghayati 10 malam yang akhir daripada Ramadhan dengan amal ibadat. Kerana dengan cara itulah sahaja mudah-mudahan akan dapat menemuinya dan dapat pula rahmat yang diharapkan yang akan menjadikan seseorang itu hidup bahagia di dunia mahupun di akhirat.

Doa-malam-lailatul-Qodar

Doa tersebut diterangkan di dalam hadis berikut

  1. Hadis yang diriwayatkan daripada Aishah r.a.

Maksudnya: “Saya pernah bertanya kepada Rasulullah s.a.w. bagimana kiranya saya mengetahui malam Lailatulqadar dengan tepat. Apa yang saya akan doakan pada saat itu. Baginda menjawab berdoalah dengan doa yang berikut”

Maksudnya: “Ya Allah ya Tuhanku sesungguhnya engkau sentiasa memaafkan salah silaf hamba lagi suka memaafkan oleh itu maafkanlah salah silafku. Terdapat juga beberapa doa yang disar ankan oleh para alim ulamak kita melakukannya seperti membaca doa

Orang yang beribadah pada 10 malam yang tersebut akan mendapat rahmat yang dijanjikan dan telah sabit di dalam hadis-hadis yang sahih bahawa malam Lailatulqadar ujud pada salah satu malam yang 10 itu terutama pada malam 21, 23, 25, 27 dan 29. Orang-orang yang tekun beribadah di dalam masa tersebut untuk menemui malam Lailatulqadar akan mendapat rahmat yang dijanjikan itu samada ia dapat menemui atau tidak dan tidak melihat apa-apa kerana yang penting yang tersebut di dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim ialah:

  1. Menghayati malam tersebut dengan beribadah.
  2. Beriman dengan yakin bahawa malam Lailatulqadar itu adalah benar dan dituntut menghayatinya dengan amal ibadah.
  3. Amal ibadah itu dikerjakan kerana Allah semata-mata dengan mengharapkan rahmatnya dan keredaannya.

Adalah diharapkan sebelum daripada kita beramal ibadat di malam Lailatulqadar hendaklah kita bertaubat dengan sebenar-benarnya iaitu taubat nasuha dan terus beristiqamah tetap teguh mengerjakan suruhan Allah dan meninggalkan segala larangannya.

 

Tanda Malam Lailatulqadar

Para alim ulama r.h. menyebutkan beberapa tanda atau alamat berhubung dengan malam Lailatulqadar :

– Ada yang berkata orang yang menemui malam Lailatulqadar ia melihat nur yang terang benderang di segenap tempat hingga di segala cerok yang gelap gelita.

– Ada pula yang berkata ia mendengar ucapan salam dan kata-kata yang lain dari Malaikat.

– Ada juga yang berkata ia melihat segala benda termasuk pohon-pohon kayu rebah sujud.

– Ada pula yang berkata doa permohonannya makbul.

Imam Tabari r.h. memilih kaul yang menegaskan bahawa semuanya itu tidak lazim dan tidak semestinya ia dapat melihatnya kerana tidak disyaratkan melihat sesuatu atau mendengarnya untuk menemui malam Lailatulqadar.

 

MALAM LAILATUL-QADAR

Malam Lailatul-Qadar sunat dicari, kerana malam ini merupakan suatu malam yang diberkati serta mempunyai kelebihan dan diperkenankan doa oleh Allah S.W.T. Malam Lailatul-Qadar adalah sebaik- baik malam mengatasi semua malam termasuk malam Jumaat. Allah S.W.T. berfirman dalam Surah Al-Qadr 97: Ayat 3.

Maksudnya:

” Malam Lailatul – Qadar lebih baik daripada seribu malam “

Ertinya menghidupkan malam Lailatul-Qadar dengan mengerjakan ibadah adalah lebih baik daripada beribadah pada seribu bulan yang tidak ada Lailatul-Qadar seperti sabda Nabi s.a.w.:

Maksudnya:

” Sesiapa menghidupkan malam Lailatul-Qadar kerana beriman serta mencari pahala yang dijanjikan akan mendapat pengampunan daripada dosa-dosa yang telah lalu “

Diriwayatkan daripada Saiyidatina Aisyah r.a bahawa Rasulullah s.a.w. apabila tiba 10 hari terakhir bulan ramadhan, Baginda menghidupkan malam-malamnya dengan membangunkan isi rumah dan menjauhi daripada isteri-isterinya. Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan:

Maksudnya:

” Rasulullah s.a.w. berusaha sedaya upaya dalam malam-malam sepuluh akhir Ramadhan melebihi usahanya daripada malam-malam lain. “

Malam Lailatul-Qadar berlaku pada 10 akhir daripada malam ganjil bulan Ramadhan. Rasulullah s.a.w. bersabda:

Maksudnya:

” Carilah malam Lailatul-Qadar pada sepuluh akhir bulan Ramadhan dalam malam ganjil. “

Pendapat yang terkuat mengikut para ulama’ bahawa malam Lailatul Qadar terkena pada malam 27 Ramadhan. Menurut Abu Ka’ab katanya, “Demi Allah sesungguhnya ibn Mas’ud telah meyakinkan bahawa malam Lailatul-Qadar jatuh dalam bulan Ramadhan manakala Lailatul-Qadar pula terjatuh pada malam 27, akan tetapi dia enggan memberitahu kepada kami (malam yang tepat) kerana bimbangkan kamu tidak lagi berusaha mencarinya.”

Dari Riwayat Mu’awiyah:

Maksudnya:

” Bahawa Nabi Muhammad s.a.w telah bersabda dalam malam lailatul-qadar iaitu malam ke-27. “

Riwayat ini disokong oleh pendapat Ibn Abbas yang mengatakan bahawa surah Al-Qadr mempunyai 30 perkataan. Perkataan yang ke-27 bagi surah itu terjatuh kepada dhamir(hia) yang kembalinya kepada Lailatul-Qadar.

Imam Ahmad telah meriwayatkan sebuah Hadith daripada Ibn Umar r.a yang berbunyi:

Maksudnya:

” Sesiapa yang mencari Lailatul-Qadar , dia hendaklah mencarinya pada malam yang ke-27, carilah kamu malam Lailatul-Qadar pada malam yang ke-27. “

Aisyah r.a. bertanya kepada Rasulullah, katanya, “Ya Rasulullah s.a.w. andainya aku mendapati malam Lailatul-Qadar, apakah doa yang patut aku bacakan? Rasulullah s.a.w. berdoa dengan doa:

Maksudnya:

” Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, oleh itu berilah keampunan-Mu untukku. “

ANTARA TANDA-TANDA LAILATUL QADAR

 

Lailatul Qadar merupakan satu malam yang mempunyai kelebihan lebih seribu bulan yang lain. Ini dapat kita lihat daripada apa yang telah dinukilkan oleh Allah di dalam al-Quran dalam surah al-Qadar. Begitu juga dengan apa yang telah diberitahukan oleh Rasulullah S.A.W dalam beberapa hadis yang sohih.

Kita disuruh untuk menghidupkan malam lailatul qadar dan tidak membiarkannya berlalu begitu saja. Rasulullah S.A.W telah bersabda dalam hadis muttafaq ‘alaih daripada Abu Hurairah yang artinya : Sesiapa yang menghidupkan malam lailatul qadar penuh keimanan dan keikhlasan akan diampun baginya dosa yang telah lalu.

Menurut imam Fakhrurrazi bahwa Allah menyembunyikan malam lailatul qadar dari pengetahuan kita sebagaimana Dia menyembunyikan segala sesuatu yang lain. Dia menyembunyikan keredhaanNya pada setiap ketaatan sehingga timbul dalam diri kita keinginan untuk melakukan semua ketaatan atau ibadat itu.

Begitu juga Dia menyembunyikan kemurkaanNya pada setiap perkara maksiat agar kita berhati-hati dan menjauhi segala maksiat dan tidak memilih antara dosa besar dan kecil untuk melakukannya kerana dosa kecil jika terus dilakukan secara berterusan akan menjadi dosa besar jika kita tidak bertaubat dan berusaha meninggalkannya.

Dia menyembunyikan wali-waliNya agar manusia tidak terlalu bergantung kepada mereka dalam berdoa sebaliknya berusaha sendiri dengan penuh keikhlasan dalam berdoa untuk mendapatkan sesuatu daripadaNya kerana Allah menerima segala doa orang yang bersungguh-sungguh dan tidak mudah berputus asa.

Dia menyembunyikan masa mustajab doa pada hari Jumaat supaya kita berusaha sepanjang harinya. Begitulah juga Allah menyembunyikan penerimaan taubat dan amalan yang telah dilakukan supaya kita sentiasa istiqamah dan ikhlas dalam beramal dan sentiasa bersegera dalam bertaubat.

Demikianlah juga dengan penyembunyian malam lailatul qadar agar kita membesarkan dan menghidupkan keseluruhan malam Ramadhan dalam mendekatkan diri kepadaNya bukan hanya sekadar menunggu malam lailatu qadar sahaja untuk beribadat dan berdoa.

Tetapi inilah penyakit besar yang menimpa umat Islam yang menyebabkan malam-malam Ramadhan lesu kerana mereka hanya menanti malam yang dianggap malam lailatul qadar sahaja untuk beribadat. Kerana mengejar kelebihan lailatul qadar yang mana kita tidak mengetahui masanya yang tertentu menyebabkan kita terlepas dengan kelebihan Ramadhan itu sendiri yang hanya datang setahun sekali.

 

Antara tanda-tanda dalam mengetahui malam lailatul qadar adalah berdasarkan beberapa hadis di bawah :

  1. Abi Ibnu Ka’ab telah meriwayatkan bahawa Rasulullah S.A.W telah bersabda mengenai lailatul qadar yang artinya : Sesungguhnya matahari yang keluar pada hari itu tidak begitu bercahaya (suram). – Hadis riwayat imam Muslim dalam kitab puasa –

  1. Telah diriwayatkan daripada Nabi S.A.W bahawa baginda telah bersabda yang artinya : Sesungguhnya tanda-tanda lailatul qadar, bahawa malamnya bersih suci seolah-olah padanya bulan yang bersinar, tenang sunyi, tidak sejuk padanya dan tidak panas, tiada ruang bagi bintang untuk timbul sehingga subuh, dan sesungguhnya tanda-tandanya matahari pada paginya terbit sama tiada baginya cahaya seperti bulan malam purnama tidak membenarkan untuk syaitan keluar bersamanya pada hari itu. – Hadis riwayat imam Ahmad dengan isnad jayyid daripada Ibadah bin As-Somit –

  1. Dalam Mu’jam At-Tobarani Al-Kabir daripada Waailah bin Al-Asqa’ daripada Rasulullah S.A.W telah bersabda yang artinya : Malam lailatul qadar bersih, tidak sejuk, tidak panas, tidak berawan padanya, tidak hujan, tidak ada angin, tidak bersinar bintang dan daripada alamat siangnya terbit matahari dan tiada cahaya padanya(suram).

  1. Telah meriwayat Al-Barraz dalam musnadnya daripada Ibn Abbas bahawa Rasulullah S.A.W telah bersabda yang artinya : Malam lailatul Qadar bersih tidak panas dan tidak pula sejuk.

Qadhi ‘Iyad telah mengatakan ada dua pendapat mengenai matahari yang terbit tanpa cahaya iaitu:

1) Ia merupakan tanda penciptaan Allah SWT.

2) Menunjukkan bahawa kerana terlalu banyak para malaikat yang berzikir kepada Allah pada malamnya dan mereka turun ke bumi yang menyebabkan sayap-sayap dan tubuh mereka yang halus menutupi dan menghalangi matahari dan cahayanya.

KESIMPULAN :

  • Pada malamnya keadaan bersih dengan cuaca tidak sejuk dan tidak pula panas.
  • Malamnya tenang yang mana terang dan angin tidak bertiup sebagaimana biasa dan awan agak nipis.
  • Malamnya tidak turun hujan dan bintang pula tidak bercahaya seolah-olah tidak timbul.
  • Pada siangnya pula matahari terbit dalam keadaan suram.

Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar

Diantara kita mungkin pernah mendengar tanda-tanda malam lailatul qadar yang telah tersebar di masyarakat luas. Sebagian kaum muslimin awam memiliki beragam khurafat dan keyakinan bathil seputar tanda-tanda lailatul qadar, diantaranya: pohon sujud, bangunan-bangunan tidur, air tawar berubah masin, anjing-anjing tidak menyalak, dan beberapa tanda yang jelas batil dan rosak.

Maka dalam masalah ini keyakinan tersebut tidak boleh diyakini kecuali berdasarkan atas dalil, sedangkan tanda-tanda di atas sudah jelas kebatilannya kerana tidak adanya dalil baik dari al-Quran ataupun hadis yang menjelaskannya. Maka bagaimanakah tanda-tanda yang sebenar berkenaan dengan malam yang mulia ini ?

 

Nabi sollallahu’alaihi wa sallam pernah menggambarkan kita di beberapa sabda beliau tentang tanda-tandanya, iaitu:

  1. Udara dan suasana pagi yang tenang

Ibnu Abbas radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah sollahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang suria terbit dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadist hasan)

 

  1. Cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat keesokannya

Dari Ubay bin Ka’ab radliyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah sollahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar terang” (HR Muslim)

  1. Terkadang terbawa dalam mimpi

Seperti yang terkadang dialami oleh sebagian sahabat Nabi radliyallahu’anhum

 

  1. Bulan nampak separuh bulatan

Abu Hurairah radliyallahu’anhu pernah berkata: Kami pernah berbincang tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah solallahu’alaihi wa sallam, beliau berkata,

“Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan.”(HR. Muslim)

 

  1. Malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang

Sebagaimana sebuah hadit, dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:

“Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi syaitan)” (HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan)

  1. Orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan lazatnya ibadah, ketenangan hati dan kenikmatan bermunajat kepada Rabb-nya tidak seperti malam-malam lainnya.

Wallahu a’lam

PENJELASAN MASALAH GADAI ATAU RAHN

  1. Latar Belakang Masalah

Pada saat ini gadai adalah hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari namun pada nyatanya masih banyak orang yang belum mengetahui hukum gadai dalam islam. Tuntutan hidup yang semakin keras membuat banyak orang memilih mendapatkan uang dengan cepat meski tidak mengetahui hukum-hukumnya dalam islam. Oleh karena itu penulis tertarik untuk menelaah lebih lanjut mengenai hukum gadai dalam islam.

  1. Rumusan Masalah

Adanya praktek gadai dalam kehidupan sehari-hari merupakan tanda tanya besar tentang perannya dalam agama islam. Dalam membahas persoalan ini penulis merumuskan beberapa masalah, yaitu:

   Seperti apa peranan gadai dalam islam ?

   Seperti apakah hukum gadai dalam islam?

  1. Manfaat dan Tujuan

Dengan mempelajari gadai dalam islam maka kita akan mengetahui seperti apakah hukum gadai itu sebenarnya sehingga kita memahami dan dapat mengaplikasikan hukum tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Hukum Rahn/ Gadai

Ar-Rahn merupakan mashdar dari rahana-yarhanu-rahnan; bentuk pluralnya rihân[un], ruhûn[un] dan ruhun[un]. Secara bahasa artinya adalah ats-tsubût wa ad-dawâm (tetap dan langgeng); juga berarti al-habs (penahanan).[1]

Secara syar‘i, ar-rahn (agunan) adalah harta yang dijadikan jaminan utang (pinjaman) agar bisa dibayar dengan harganya oleh pihak yang wajib membayarnya, jika dia gagal (berhalangan) menunaikannya.

Ar-Rahn disyariatkan dalam Islam. Allah Swt. Berfirman (TQS al-Baqarah [2]: 283):

Artinya : “Jika kalian dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai), sementara kalian tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).”

Aisyah ra. menuturkan: “Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo (kredit) dan beliau mengagunkan baju besinya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Anas ra. juga pernah menuturkan: “Sesungguhnya Nabi Shalallahu alaihi wasalam pernah mengagunkan baju besinya di Madinah kepada orang Yahudi, sementara Beliau mengambil gandum dari orang tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga Beliau.” (HR al-Bukhari).

Ar-Rahn boleh dilakukan baik ketika safar maupun mukim. Firman Allah, in kuntum ‘alâ safarin (jika kalian dalam keadaan safar), bukanlah pembatas, tetapi sekadar penjelasan tentang kondisi. Riwayat Aisyah dan Anas di atas jelas menunjukkan bahwa Nabi Shalallahu alaihi wasalam melakukan ar-rahn di Madinah dan beliau tidak dalam kondisi safar, tetapi sedang mukim. [QS al-Baqarah ayat 283 menjelaskan bahwa dalam muamalah tidak secara tunai ketika safar dan tidak terdapat penulis untuk menuliskan transaksi itu maka ar-rahn dalam kondisi itu hukumnya sunnah. Dalam kondisi mukim hukumnya mubah.[2]

Imam Al Qurthubi mengatakan : “Tidak ada seorangpun yang melarang Ar- Rahn pada keadaan tidak safar, kecuali Mujahid, Al Dhahak dan Dawud (Ad Dzohiri) [AbhatsHai’at Kibar Ulama 6/107]. Demikian juga Ibnu Hazm.

Adapun Ibnu Qudamah, beliau mengatakan : Diperbolehkan Ar-rahn dalam keadaan tidak safar (menetap) sebagaimana diperbolehkan dalam keadaan safar (bepergian).

Sedangkan Ibnul Mundzir mengatakan : Kami tidak mengetahui seorangpun yang menyelisihi hal ini kecuali Mujahid. Menurutnya, Ar-Rahn tidak ada kecuali dalam keadaan safar, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).

  1. Rukun (ketentuan pokok) Ar-rahn

   Shighat (ijab dan qabul)

Al-‘aqidan (dua orang yang melakukan akad ar-rahn), yaitu pihak yang mengagunkan (ar-râhin) dan yang menerima agunan (al-murtahin). Al-ma’qud ‘alaih (yang menjadi obyek akad), yaitu barang yang diagunkan (al-marhun) dan utang (al-marhun bih). Selain ketiga ketentuan dasar tersebut, ada ketentuan tambahan yang disebut syarat, yaitu harus ada qabdh (serah terima).

Jika semua ketentuan tadi terpenuhi, sesuai dengan ketentuan syariah, dan dilakukan oleh orang yang layak melakukan tasharruf, maka akad ar-rahn tersebut sah.

Dalam akad jual-beli kredit, barang yang dibeli dengan kredit tersebut tidak boleh dijadikan agunan. Tetapi, yang harus dijadikan agunan adalah barang lain, selain barang yang dibeli (al-mabî’) tadi.

Atas dasar ini, muamalah kredit motor, mobil, rumah, barang elektronik, dsb saat ini-yang jika pembeli (debitor) tidak bisa melunasinya, lalu motor, mobil, rumah atau barang itu diambil begitu saja oleh pemberi kredit (biasanya perusahaan pembiayaan, bank atau yang lain), jelas menyalahi syariah. Muamalah yang demikian adalah batil, karenanya tidak boleh dilakukan.

   Waktu Ar-Rahn (Gadai) Menjadi Keharusan

Para ulama berselisih pendapat dalam masalah keharusan Ar-Rahn. Apakah langsung seketika saat transaksi, ataukah setelah serah terima barang gadainya

Dalam masalah ini terdapat dua pendapat.

  1. Serah terima adalah menjadi syarat keharusan terjadinya Ar-Rahn. Demikian pendapat Madzhab Hanafiyah, Syafi’iyah dan riwayat dalam madzhab Ahmad bin Hambal serta madzhab Dzohiriyah.
  2. Ar-Rahn langsung terjadi setelah selesai transaksi. Dengan demikian bila pihak yang menggadaikan menolak menyerahkan barang gadainya maka ia pun dipaksa untuk menyerahkannya. Demikian pendapat madzhab Malikiyah dan riwayat dalam madzhab Al Hambaliyah.

Menurut Prof. DR. Abdullah Al Thoyyar, yang rajih, bahwasanya Ar-Rahn menjadi keharusan dengan adanya akad transaksi, karena hal itu dapat merealisasikan faidah Ar-Rahn, yaitu berupa pelunasan hutang dengannya atau dengan nilainya, ketika (hutangnya) tidak mampu dilunasi.

   Waktu Serah Terima Ar-Rahn Dianggap Sah

Barang gadai adakalanya berupa barang yang tidak dapat dipindahkan seperti rumah dan tanah, Maka disepakati serah terimanya dengan mengosongkannya untuk murtahin tanpa ada penghalangnya.

Ada kalanya berupa barang yang dapat dipindahkan. Bila berupa barang yang ditakar maka disepakati serah terimanya dengan ditakar pada takaran, bila barang timbangan maka disepakati serah terimanya dengan ditimbang pada takaran. Bila barang timbangan, maka serah terimanya dengan ditimbang dan dihitung, bila barangnya dapat dihitung. Serta dilakukan pengukuran, bila barangnya berupa barang yang diukur.

Namun bila barang gadai tersebut berupa tumpukan bahan makanan yang dijual secara tumpukan, dalam hal ini perselisihan pendapat tantang cara serah terimanya. Ada yang berpendapat dengan cara memindahkannya dari tempat semula, dan ada yang menyatakan cukup dengan ditinggalkan pihak yang menggadaikannya, sedangkan murtahin dapat mengambilnya.

   Hukum-Hukum Setelah Serah Terima.

Ada beberapa ketentuan dalam gadai setelah terjadinya serah terima yang berhubungan dengan pembiayaan (pemeliharaan), pertumbuhan barang gadai dan pemanfaatan serta jaminan pertanggung jawaban bila rusak atau hilang.

  1. Pemegang Barang Gadai

Barang gadai tersebut berada ditangan Murtahin selama masa perjanjian gadai tersebut, sebagaimana firman Allah:

“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). [Al-Baqarah : 283]

Dan sabda beliau “Hewan yang dikendarai dinaiki apabila digadaikan. Dan susu (dari hewan) diminum apabila hewannya digadaikan. Wajib bagi yang mengendarainya dan yang minum, (untuk) memberi nafkahnya.” [Hadits Shohih riwayat Al Tirmidzi].

  1. Pembiayaan, Pemeliharaan, Pemanfaatan Barang Gadai

Pada asalnya barang, biaya pemeliharaan dan manfaat barang yang digadaikan adalah milik orang yang menggadaikan (Rahin). Adapun Murtahin, ia tidak boleh mengambil manfaat barang gadaian tersebut, kecuali bila barang tersebut berupa kendaraan atau hewan yang diambil air susunya, maka boleh menggunakan dan mengambil air susunya apabila ia memberikan nafkah (dalam arti pemeliharaan barang tersebut). Pemanfaatan barang gadai tesebut, tentunya sesuai dengan besarnya nafkah yang dikeluarkan dan memperhatikan keadilan. Hal ini di dasarkan sabda Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Hewan yang dikendarai dinaiki apabila digadaikan dan susu (dari hewan) diminum apabila hewannya digadaikan. Wajib bagi yang mengendarainya dan yang minum, (untuk) memberi nafkahnya. [Hadits Shahih riwayat At-Tirmidzi].

  1. Pertumbuhan Barang Gadai

Pertumbuhan atau pertambahan barang gadai setelah digadaikan adakalanya bergabung dan adakalanya terpisah. Bila tergabung seperti, (bertambah) gemuk, maka ia masuk dalam barang gadai dengan kesepakatan ulama. Sedangkan jika terpisah, maka dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan yang menyepakatinya memandang pertambahan atau pertumbuhan barang gadai yang terjadi setelah barang gadai ditangan Murtahin, maka ikut kepada barang gadai tersebut.

Sedangkan Imam Syafi’i dan Ibnu Hazm dan yang menyepakatinya memandang, pertambahan atau pertumbuhan bukan ikut barang gadai, tetapi menjadi milik orang yang menggadaikannya. Hanya saja Ibnu Hazm berbeda dengan Syafi’i menyangkut barang gadai yang berupa kendaraan dan hewan menyusui. Ibnu Hazm berpendapat, dalam kendaraan dan hewan yang menyusui, (pertambahan dan pertumbuhannya) milik yang menafkahinya.

  1. Perpindahan Kepemilikan Dan Pelunasan Hutang Dengan Barang Gadai

Barang gadai tidak berpindah kepemilikannya kepada Murtahin apabila telah selesai masa perjanjiannya, kecuali dengan izin orang yang menggadaikannya (Rahin), dan rahin tidak mampu melunasinya

Demikianlah keindahan Islam dalam permasalah gadai. Penyelesaian dan pelunasan hutang dilakukan secara adil. Tidak seperti yang dilakukan di tengah masyarakat kebanyakan. Yakni terjadinya tindak kezhaliman yang dilakukan pemilik piutang, dengan cara menyita barang gadai, walau nilainya lebih besar dari hutangnya, bahkan mungkin berlipat-lipat. Perbuatan semacam ini, sangat jelas merupakan perbuatan Jahiliyah dan perbuatan zhalim yang harus dihilangkan. Semoga kita terhindar dari perbuatan ini.

   Unsur dan Rukun Rahn

Dalam prakteknya, gadai secara syariah ini memilikibeberapa unsur:

  1. Pertama: Ar-Rahin

Yaitu orang yang menggadaikan barang atau meminjam uang dengan jaminan barang

  1. Kedua: Al-Murtahin

Yaitu orang yang menerima barang yang digadaikan atau yang meminjamkan uangnya.

  1. Ketiga: Al-Marhun/ Ar-Rahn

Yaitu barang yang digadaikan atau dipinjamkan

  1. Keempat: Al-Marhun bihi

Yaitu uang dipinjamkan lantaran ada barang yang digadaikan

   Rukun Gadai

Sedangkan dalam praktek gadai, ada beberapa rukun yang menjadi kerangka penegaknya. Dintaranya adalah

  1. Al-’Aqdu yaitu akad atau kesepaktan untuk melakukan transaksi rahn Sedangkan yang termasuk rukun rahn adalah hal-hal berikut:
  2. Adanya Lafaz yaitu pernyataan adanya perjanjian gadai. Lafaz dapat saja dilakukan secara tertulis maupun lisan, yang penting di dalamnya terkandung maksud adanya perjanjian gadai di antara para pihak.
  3. Adanya pemberi dan penerima gadai

Pemberi dan penerima gadai haruslah orang yang berakal dan balig sehingga dapat dianggap cakap untuk melakukan suatu perbuatan hukum sesuai dengan ketentuan syari’at Islam.

  1. Adanya barang yang digadaikan

Barang yang digadaikan harus ada pada saat dilakukan perjanjian gadai dan barang itu adalah milik si pemberi gadai, barang gadaian itu kemudian berada di bawah pengasaan penerima gadai.

  1. Adanya Hutang

Hutang yang terjadi haruslah bersifat tetap, tidak berubah dengan tambahan bunga atau mengandung unsur riba.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Gadai dalam islam adalah hal yang diperbolehkan. Karena secara sistematikanya gadai menyerupai utang-piutang, namun bedanya dalam gadai ada barang yang dijadikan jaminan dan dibawa saat transaksi. Dalam prakteknya, gadai secara syariah ini memiliki beberapa unsur: : Ar-Rahin (orang yang menggadaikan), Al-Murtahin (orang yang menerima barang gadai), Al-Marhun/ Ar-Rahn (barang yang digadaikan atau dipinjamkan), Al-Marhun bihi (uang yang dipinjamkan). Adapun beberapa rukun gadai yakni: Al-’Aqdu, adanya lafaz, adanya pemberi dan penerima gadai, adanya barang yang digadaikan, adanya hutang. Dengan adanya hal-hal diatas maka syahlah sebuah transaksi gadai.

ISYHAD ATAU KESAKSIAN DALAM TAKZIYAH

Ada yang mamberi sambutan dalam rangka mengantar jenazah dengan mengatakan: “Jenazah ini baik atau tidak baik hadirin?”. Atau “Jenazah ini isi syurga atau isi neraka ?” Kemudian para hadirin serempak menjawab “baik!” atau “Isi syurga” Biasanya bahkan diulang sampai tiga kali. Persaksian semacam ini masih sering kita dengar di kalangan masyarakat kita. Mengenai isyhad yang kita bicarakan ini. Dasar hukumnya adalah :

 

  1. Dari Anas bin Malik berkata :

 

ُ مَرُّوا بِجَنَازَةٍ فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَبَتْ ثُمَّ مَرُّوا بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا فَقَالَ وَجَبَتْ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَا وَجَبَتْ قَالَ هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا فَوَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ

 

Artinya : Orang-orang melewati jenazah (di hadapan Nabi ), lalu mereka memujinya dengan kebaikan. Lantas Nabi bersabda, “Pasti.” Kemudian mereka melewati jenazah lain, tapi mereka mengucapkan keburukan atasnya. Maka, beliau bersabda, “Pastilah.”. Kemudian Umar ibnul Khatab bertanya kepada beliau, ‘Apakah yang pasti itu?’ Beliau menjawab, ‘Ini kamu puji dengan kebaikan, maka pastilah surga baginya. Sedangkan, ini yang kamu katakan buruk atasnya, maka pastilah neraka baginya. Kalian adalah saksi Allah di bumi. (H.R. Bukhari)[1]

 

  1. Dari Abu al-Aswad berkata :

 

َقَدِمْتُ الْمَدِينَةَ وَقَدْ وَقَعَ بِهَا مَرَضٌ فَجَلَسْتُ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَمَرَّتْ بِهِمْ جَنَازَةٌ فَأُثْنِيَ عَلَى صَاحِبِهَا خَيْرًا فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَجَبَتْ ثُمَّ مُرَّ بِأُخْرَى فَأُثْنِيَ عَلَى صَاحِبِهَا خَيْرًا فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَجَبَتْ ثُمَّ مُرَّ بِالثَّالِثَةِ فَأُثْنِيَ عَلَى صَاحِبِهَا شَرًّا فَقَالَ وَجَبَتْ فَقَالَ أَبُو الْأَسْوَدِ فَقُلْتُ وَمَا وَجَبَتْ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ قَالَ قُلْتُ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا مُسْلِمٍ شَهِدَ لَهُ أَرْبَعَةٌ بِخَيْرٍ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ فَقُلْنَا وَثَلَاثَةٌ قَالَ وَثَلَاثَةٌ فَقُلْنَا وَاثْنَانِ قَالَ وَاثْنَانِ ثُمَّ لَمْ نَسْأَلْهُ عَنْ الْوَاحِد

 

Artinya : Aku datang di Madinah dan di situ sedang terjangkit penyakit yang mengenai orang banyak. Aku lalu duduk di dekat Umar ibnul Khatab. Kemudian ada jenazah lewat, lalu jenazah itu dipuji. Umar berkata, “Pastilah.” Kemudian lewat lagi jenazah lain, jenazah itu juga dipuji orang, maka Umar berkata : “Pastilah”. Kemudian setelah itu, lewat jenazah lain lagi, jenazah itu dicaci, Umar berkata : “Pastilah”. Lalu Abul Aswad bertanya kepada Umar ibnul Khatab, “Wahai Amirul Mu’minin, apa yang pasti?” Umar ibnul Khatab berkata, “Aku mengatakan sebagaimana yang di katakan Nabi SAW yang bersabda, ‘Muslim mana pun yang disaksikan oleh empat orang bahwa dia baik, maka Allah memasukkannya ke surga.’ Kami bertanya, ‘Tiga orang?’ Beliau menjawab, ‘Ya, tiga orang.’ Kami bertanya, ‘Dua orang?’ Beliau menjawab, ‘Ya, dua orang.’ Kemudian kami tidak menanyakan tentang seorang. (H.R. Bukhari)[2]

 

  1. Sabda Nabi SAW :

 

اذكروا محاسن موتاكم وكفوا عن مساويهم

 

Artinya : Sebutlah kebaikan seorang yang meninggal dunia dan hindari membuka aibnya.(H.R. Abu Daud[3] dan Turmidzi[4])

 

[1] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Dar Thauq al-Najh, Juz. II, Hal. 97, No. Hadits : 1367

 

[2] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Dar Thauq al-Najh, Juz. II, Hal. 97, No. Hadits 1368

 

[3] Abu Daud, Sunan Abu Daud, Darul Fikri, Beirut, Juz. II, Hal. 692, No. Hadits : 4900

 

[4] Turmidzi, Sunan al-Turmidzi, Thaha Putra, Semarang, Juz. II, Hal. 242, No. Hadits : 1024

MENGENAL WALI ALLOH DAN DALIL KEBERADAANYA (2)

  1. Dalil Aqli (rasio)

 

Di antara dalil aqli dan qat’i yang berkaitan dengan kemungkinan munculnya karamah adalah:

 

Dalil 1

 

Sesungguhnya hamba Allah adalah wali-Nya, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya,

 

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak merasa takut dan sedih” (QS Yunus [10]: 62).

 

Allah juga wali hamba-Nya, seperti dinyatakan dalam firman-Nya,

 

“Allah itu pelindung (wali) orang-orang beriman” (QS Al-Baqarah [2]: 257).

“Dia terus-menerus melindungi orang-orang yang saleh” (QS al-A’raf [7]: 196).

“Sesungguhnya penolong kalian (waliyyukum) adalah Allah dan Rasul-Nya” (QS Al-Maidah [5]: 55).

“Engkaulah Penolong kami (maulana)” (QS Al-Baqarah [2]: 286).

“Demikianlah, sesungguhnya Allah menjadi pelindung (maula) orang-orang beriman” (QS Muhammad [47]: 11).

 

Jadi, jelaslah bahwa Allah adalah wali hambaNya dan hamba adalah wali Allah. Begitu juga Allah adalah kekasih hamba, sebaliknya hamba adalah kekasih Allah, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya,

 

“Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya” (QS Al-Maidah [5]: 54).

“Orang-orang yang beriman sangat mencintai Allah” (QS Al-Baqarah [2]: 165).

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang menyucikan diri “(QS al-Baqarah [2]: 222).

 

Jadi, bisa dikatakan bahwa jika seorang hamba telah mencapai ketaatan, maka ia akan terdorong untuk melaksanakan segala yang diperintahkan Allah dan semua hal yang diridhai-Nya, dan akan meninggalkan semua perbuatan yang dilarang dan dicegah olehNya. Bagaimana mungkin ia tidak melaksanakan perbuatan yang dikehendaki Tuhan Yang Maha Penyayang lagi Maha Mulia sekali saja, padahal hanya Tuhanlah yang utama baginya, karena hamba sesungguhnya tidak berdaya dan lemah ketika mengerjakan semua hal yang dikehendaki dan dititahkan Allah, sedangkan Tuhan Yang Maha Penyayang melakukan hal-hal utama yang dikehendaki hamba-Nya dalam sekali hitungan saja. Hal ini berdasarkan pada firman Allah,

 

“Penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu.” (QS Al-Baqarah [2]: 40)

 

Dalil 2

 

Jika ketidakmunculan karamah membuat manusia menuduh Allah tidak ahli melakukan perbuatan seperti itu, maka itu termasuk mencela kekuasaan Allah dan dihukumi kufur. Atau jika ketidakmunculan karamah membuat manusia menuduh seorang mukmin tidak patut dikaruniai karamah oleh Allah, alasan ini tidak sah, karena mengetahui zat, sifat, perbuatan, hukum-hukum dan nama-nama Allah, cinta dan ketaatan kepada-Nya, serta terus-menerus menyucikan, mengagungkan, dan menyambut gembira nama-Nya dan membacakan tahlil untuk-Nya itu jauh lebih mulia daripada hanya memberikan sepotong kue untuk menundukkan ular atau harimau. Ketika Allah menganugerahi seorang mukmin ma’rifat, mahabbah, zikir, dan syukur tanpa permohonan, hal itu lebih utama daripada hanya memberi sepotong kue sebagai hidangan.

 

Dalil 3

 

Nabi Muhammad Saw. bersabda bahwa Allah berfirman,

 

“Tidak ada yang lebih mendekatkan seorang hamba kepada-Ku yang sebanding dengan menunaikan semua kewajiban yang Kuperintahkan dan senantiasa mendekati-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga Aku mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya, maka aku menjadi pendengaran, penglihatan, lidah, hati, tangan, dan kakinya. Ia mendengar melalui Aku, ia melihat melalui Aku, ia berbicara melalui Aku, dan berjalan melalui Aku.’

 

Khabar ini menunjukkan tidak adanya ruang dalam pendengaran mereka untuk selain Allah, tidak juga dalam penglihatan dan keseluruhan anggota tubuhnya. Sebab kalau masih ada ruang untuk selain Allah, tentunya Allah tidak akan berkata, “Aku mendengar dan melihat-Nya.” Maka tidak ada keraguan lagi bahwa inilah maqam yang lebih mulia daripada kemampuan menundukkan ular dan binatang buas, atau memberi sepotong roti, setangkai anggur dan segelas air kepada seseorang yang kelaparan dan kehausan di padang tandus. Ketika Allah dengan rahmat-Nya mengantarkan hamba-Nya sampai derajat yang tinggi, maka apa susahnya memberi sepotong roti atau air minum di padang tandus kepada seseorang?

 

Dalil 4

 

Nabi Muhammad Saw. menceritakan bahwa Allah berfirman, “Barangsiapa menyakiti wali-Ku, maka ia benar-benar menyatakan peperangan dengan-Ku.” Menyakiti wali sama dengan menyakiti Allah, hal ini sesuai dengan firman-Nya:

 

“Orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah” (QS Al-Fath [48]: 10).

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin (untuk memilih ketetapan lain), apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan” (QS Al-Ahzab [33]: 36).

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya akan dilaknat oleh Allah di dunia dan akhirat” (QS Al-Ahzab [33]: 57).

 

Berjanji setia (bai’at) kepada Nabi Muhammad Saw. berarti berjanji setia kepada Allah, ridha kepada Nabi Muhammad Saw. berarti ridha kepada Allah, menyakiti Nabi Muhammad Saw. berarti menyakiti Allah. Tidak diragukan lagi, derajat Muhammad adalah derajat tertinggi. Inilah arti dari firman Allah dalam sebuah hadis qudsi, “Barangsiapa menyakiti wali-Ku, maka ia telah menyatakan peperangan dengan-Ku.” Hadis qudsi ini menunjukkan ketetapan Allah bahwa menyakiti wali sama dengan menyakiti-Nya.

 

Hal ini diperkuat dengan khabar masyhur yang menyatakan bahwa pada hari kiamat nanti Allah Swt. berfirman,

 

“Aku sakit, tetapi kau tidak menjengukku. Aku meminta minum tetapi kau tidak memberiku mimun. Aku meminta makan kepadamu tapi kau tidak memberiku makan.” Orang-orang bertanya, “Ya Tuhan, bagaimana kami melakukan hal ini, sementara Engkau adalah Tuhan Penguasa alam?” Allah menjawab, “Sesungguhnya hamba-Ku si Fulan sedang sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Apakah kamu tidak tahu kalau saja kamu menjenguknya, maka kamu akan menemukan Aku di sisinya.”

 

Demikian juga ketika kita memberi minum dam makan wali-Nya berarti kita juga memberi minum dan makan Allah. Seluruh khabar di atas membuktikan bahwa para wali Allah telah mencapai derajat ini.

 

Dalil 5

 

Kita melihat bahwa dalam kebiasaan, seseorang yang diangkat sebagai pelayan khusus oleh seorang raja dan diizinkan masuk ke ruang untuk bersenang-senang, maka ia juga diberi kekhususan untuk melakukan apa yang tidak bisa dilakukan orang lain. Bahkan akal sehat juga menyaksikan bahwa kedekatan dengan seorang raja akan menimbulkan naiknya pangkat (kedudukan). Kedekatan adalah asal atau pokok, sementara kedudukan adalah pengiring. Sedangkan Raja Paling Agung adalah Tuhan Penguasa alam. Jika Allah memuliakan seorang hamba dengan mengantarkannya ke pintu pengabdian dan derajat karamah, menganugerahinya rahasia ma’rifat dan kemampuan menyingkap hijab antara Allah dan dirinya, serta mendudukkannya dalam kedekatan, maka tidak ada kesulitan baginya untuk menampakkan sebagian karamah di dunia ini.

 

Dalil 6

 

Tidak diragukan lagi bahwa yang menguasai perbuatan adalah ruh, bukan badan. Begitu juga penguasaan Allah atas ruh sama dengan penguasaan ruh atas badan, berdasarkan penafsiran kami atas firman Allah, “Dia menurunkan malaikat dengan (membawa) ruh (wahyu) berupa perintah-Nya” (QS Al-Nahl [16]: 2). Rasulullah Saw. bersabda, “Aku bermalam di sisi Tuhanku yang memberiku makan dan minum.” Dari hadis ini, kita tahu bahwa semakin banyak pengetahuan seseorang tentang alam gaib, maka semakin kuat hatinya dan semakin sedikit kelemahannya. Karena itu, ‘Ali bin Abi Thalib berkata, “Demi Allah, gerbang Khaibar itu tidak aku dobrak dengan kekuatan jasadiah, tetapi gerbang itu terlepas dengan kekuatan rabbaniyyah.” Hal tersebut karena pada waktu perang Khaibar, ‘Ali memutus pandangannya dengan alam jasad, dan malaikat memancarkan cahaya alam keagungan, sehingga ruh ‘Ali menjadi kuat dan menyerupai subtansi ruh malaikat serta memancarkan kilauan cahaya alam kesucian dan keagungan. Maka ‘Ali memiliki kemampuan seperti malaikat yang tidak dimiliki oleh orang lain. Demikian pula hamba lain yang terus-menerus taat, ia akan tiba pada maqam yang difirmankan Allah dalam sebuah hadis qudsi, “Aku menjadi pendengaran dan penglihatannya.” Ketika cahaya keagungan Allah menjadi pendengarannya, maka ia mampu mendengar suara yang dekat maupun yang jauh. Ketika cahaya Allah menjadi tangannya, maka ia memiliki kemampuan untuk menyelesaikan persoalan yang sulit maupun mudah, jauh maupun dekat.

 

Dalil 7

 

Menurut hukum akal, subtansi ruh bukanlah raga yang fana, rusak, dapat dipisah-pisah, dan dipotong-potong. Namun ruh adalah substansi malaikat, penghuni langit, sesuatu yang kudus dan suci. Hanya saja ketika ruh terikat dengan tubuh dan terbelenggu dengan kehendaknya, maka ia akan melupakan negeri asal dan tempat tinggalnya yang lama, dan secara keseluruhan ia serupa dengan tubuh yang rusak, kekuatannya melemah, kekokohannya lenyap hingga ia tidak kuasa melakukan apa-apa. Ketika ruh senang dengan ma’rifat dan mahabbah kepada Allah, serta jarang mengikuti kehendak tubuh, maka ruh-ruh penghuni langit dan ‘arsy akan memancarkan kilauan cahaya mereka atasnya dan menyelubunginya, kemudian ia akan diberi kekuatan hingga mampu menguasai alam materi, seperti ruh-ruh penghuni langit, dan inilah yang disebut karamah.

 

Menurut mazhab kami, ruh manusia berbeda dengan benda-benda cair. Ruh manusia mengandung kekuatan dan kelemahan, cahaya dan kegelapan, kehormatan dan kehinaan, demikian juga ruh-ruh falakiyah (wilayah langit). Tidakkah kau lihat Jibril, ketika Allah menyifatinya dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman Allah yang dibawa oleh utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi Allah Pemilik ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya” (QS Al-Takwir [81]: 19-21). Allah berfirman tentang sekelompok malaikat lainnya, dan berapa banyak malaikat di langit yang syafa’atnya tidak berguna kecuali setelah Allah memberikan izin kepada yang dikehendaki dan diridhai-Nya.

 

Demikianlah, ketika jiwa berpadu dengan kekuatan yang suci dan mendasar, cahaya substansi, keluhuran tabiat, ditambah dengan berbagai macam riyadhah (olah spiritual) yang membersihkan debu dunia wujud dan kerusakan dari wajahnya, maka jiwanya akan bercahaya, berkilauan, dan mampu menguasai alam nyata dan fana dengan bantuan cahaya ma’rifat yang mulia dan kekuatan cahaya Sang Maha Perkasa lagi Maha Mulia. Penjelasan yang mulia ini mengandung rahasia-rahasia terselubung dan fenomena-fenomena yang mendalam, karenanya kita memohon pertolongan Allah agar dapat memahaminya. Barangsiapa tidak bisa mencapainya, berarti ia tidak meyakininya.

 

Para penyangkal adanya karamah memiliki beberapa argumen:

 

Para penyangkal karamah berlaku tidak adil dan menyesatkan karena berpendapat bahwa munculnya peristiwa luar biasa merupakan bukti kenabian, kalau muncul di tangan selain nabi, maka bukti ini menjadi batal. Adanya bukti tetapi tidak ada yang dibuktikan akan menodai eksistensi bukti tersebut dengan demikian bukti tersebut menjadi batal.

Mereka berpegang pada sabda Rasulullah dalam sebuah hadis qudsi yang menceritakan tentang Allah, “Orang-orang yang mendekat kepada-Ku itu tidak akan pernah dekat kepada-Ku, hingga mereka menunaikan hal-hal yang Ku-wajibkan atas mereka.” Mereka mengatakan hadis ini adalah bukti bahwa mendekat kepada Allah dengan cara menjalankan semua perintah-perintah-Nya yang wajib lebih agung daripada mendekat kepada-Nya dengan menjalankan perbuatan sunnah. Jika orang yang mendekat kepada-Nya karena menjalankan perbuatan wajib saja tidak memperoleh karamah apa pun, maka apalagi orang yang mendekat kepada Allah dengan menjalankan perbuatan sunnah tidak patut memperoleh karamah.

Mereka berpegang pada firman Allah, “Dan dia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang tidak sanggup kamu capai kecuali dengan kesukaran-kesukaran yang memayahkan diri”(QS Al-Nahl [16]: 7). Pendapat mereka yang menyatakan bahwa wali itu pindah dari satu negeri ke negeri yang jauh tidak sesuai bahkan bertentangan dengan ayat ini. Demikian juga. Nabi Muhammad Saw. tidak akan bisa berjalan dari Mekah ke Madinah kecuali dalam tempo yang lama dengan disertai kepayahan-kepayahan. Bagaimana mungkin dapat dipahami bahwa seorang wali meninggalkan negerinya untuk beribadah haji dalam waktu satu hari saja?

Mereka bertanya apakah wali yang memperlihatkan karamah karena mengharapkan uang dari manusia bisa dituntut untuk menunjukkan bukti kewaliannya atau tidak? Kalau kita menuntutnya untuk menunjukkan bukti, maka itu sia-sia belaka, karena tampaknya karamah menunjukkan bahwa ia tidak berdusta. Sudah ada dalil meyakinkan mengapa harus mencari dalil perkiraan, tetapi kalau kita tidak menuntutnya untuk menunjukkan bukti, berarti kita telah mengabaikan Sabda Nabi SAW. yang berbunyi, “Bukti itu ada pada orang yang menyatakannya.” Ini menunjukkan bahwa pendapat yang mengatakan adanya karamah itu batil.

Apabila karamah bisa muncul pada sebagian wali, maka ia juga bisa terjadi pada orang lain. Jika karamah sudah begitu banyak sampai menjadi hal yang tak luar biasa lagi, maka akan sama dengan adat. Apabila kemunculan karamah begitu sering, maka karamah itu menjadi biasa saja, dan hal inilah yang akan menodai mukjizat dan karamah.

 

Jawaban atas argumen yang pertama:

 

Umat muslim berbeda pendapat tentang apakah seorang wali boleh menyatakan kewaliannya?

 

 

Kelompok Al-Muhaqqiqun (orang-orang yang menyatakan kebenaran) tidak membolehkannya. Berdasarkan pendapat ini, kita bisa membedakan antara mukjizat dan karamah. Mukjizat muncul setelah pengakuan kenabian, sementara karamah tidak muncul setelah pengakuan kewalian. Karena perbedaan inilah, para nabi diutus kepada makhluk untuk menyeru dari kekufuran kepada keimanan, dari maksiat kepada ketaatan. Kalau pengakuan kenabian tidak dinyatakan, maka kaum mereka tidak akan beriman, dengan kata lain tetap kufur. Jika para nabi menyatakan kenabian dan menampakkan mukjizat mereka, maka kaum yang diserunya akan mempercayai mereka. Langkah-langkah Nabi Muhammad Saw. menyatakan kenabiannya bukan bertujuan untuk mengagungkan diri, tetapi untuk menunjukkan kasih sayangnya kepada makhluk, agar mereka hijrah (beralih) dari kufur menuju iman. Adapun pernyataan kewalian seseorang tidak menyebabkan orang yang tidak mengakui kewalian-nya menjadi kafir atau menyebabkan orang yang mengakui kewalian-nya menjadi beriman. Jadi, pengakuan kewalian dinyatakan karena nafsu, oleh karenanya Nabi wajib menyatakan secara jelas pengakuan kenabiannya, sedangkan wali tidak diperkenankan menyatakan pengakuan kewaliannya, sehingga tampaklah perbedaan antara keduanya.

 

Sementara orang yang berpendapat bahwa seorang wali boleh menyatakan pengakuan kewaliannya, menyebutkan perbedaan mukjizat dan karamah ditinjau dari beberapa segi:

 

1) Kemampuan melakukan hal-hal luar biasa menunjukkan pelakunya bebas dari maksiat. Adapun peristiwa luar biasa yang diiringi dengan pengakuan kenabian menunjukkan pengakuan kenabiannya itu benar, sedangkan peristiwa luar biasa yang diiringi dengan pengakuan kewalian menunjukkan pengakuan kewaliannya itu benar. Dengan demikian, jelas bahwa mengakui adanya karamah para wali tidak berarti menyangkal mukjizat para nabi.

2) Nabi Saw. menunjukkan mukjizatnya dan meyakinkan dirinya, sedangkan wali ketika menunjukkan karamahnya tidak untuk meyakinkan dirinya. Karena mukjizat wajib ditampakkan, sementara karamah tidak.

3) Melawan orang-orang yang menyangkal mukjizat itu wajib, sedangkan para penyangkal karamah tidak wajib dilawan.

4) Seorang wali tidak boleh memperlihatkan karamahnya ketika ia menyatakan pengakuan kewaliannya, kecuali jika untuk memper kuat dakwah agama Nabi Saw. Bila hal ini terjadi, maka karamah itu menjadi mukjizat bagi Nabi dan mengukuhkan risalahnya. Dengan demikian, tindakan memperlihatkan karamah tidak berarti menyangkal kenabian seorang nabi, tetapi justru menjadi penguat kenabiannya.

 

Jawaban atas argumen yang kedua: Taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) dengan melakukan amalan-amalan wajib tentu lebih sempurna daripada taqarrub dengan amalan-amalan sunnah. Seorang wali hanya akan menjadi wali ketika ia menunaikan ibadah fardhu dan sunnah. Tidak diragukan lagi, kondisi ini lebih baik daripada orang yang membatasi diri pada hal-hal yang fardhu semata. Jadi, jelaslah perbedaannya.

 

Jawaban atas argumen yang ketiga: Firman Allah dalam QS Al-Nahl [16]: 7 yang berbunyi, “Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang tidak sanggup kamu capai kecuali dengan kesukaran kesukaran yang memayahkan diri”, mencakup kebiasaan-kebiasaan umum. Sedangkan karamah para wali adalah fenomena yang langka, pengecualian dari kebiasaan-kebiasaan umum.

 

Jawaban atas argumen yang keempat: Berpegang pada Sabda Nabi Saw. yang menyatakan, “Bukti itu ada pada orang yang mengaku.”

 

Jawaban atas argumen yang kelima: Orang-orang yang taat itu sedikit jumlahnya, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah, “Dan sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang bersyukur/taat”(QS Saba’ [34]: 13). Dan seperti yang dikatakan iblis dalam firman-Nya, “Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur/taat” (QS Al-A’raf [7]: 17). Jadi, ketika orang yang memperlihatkan karamah sangat sedikit, maka itu berarti berbeda dengan kebiasaan.