KARENA BAHAYA EMPAT HAL INI OBAT JUSTRU BISA MENJADI HARAM DI KONSUMSI

Di antara unsur dlarar produk adalah menimbulkan penyakit dan kerugian, serta efek buruk lainnya. Produk yang baik atau thayyib, tidak berbahaya untuk diri manusia. Thayyib menjadi salah satu penentu status halal suatu produk, karena Allah menghalalkan hal-hal yang baik. Kita pun mengenal istilah halalan thayyiban.

Allah berfirman:

 يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙ…

Artinya: “Mereka menanyakan padamu, “Apa yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah, dihalalkan bagi mereka thayyibat (segala yang baik)…” (QS Al Maidah ayat 4)

Menentukan produk itu thayyib perlu juga memastikan apakah ia berbahaya atau tidak. Dalam artian, produk yang berbahaya, niscaya tidak thayyib – dan produk yang tidak thayyib, bisa menjadi tidak halal.

Sebagai bagian dari kriteria halal-haram pangan, obat dan kosmetika, KH. Ali Mustafa Yaqub menjelaskan masalah keamanan produk dan dampak bahayanya melalui konsep adl-dlarar. Produk yang halal mesti tidak dlarar – membahayakan penggunanya.

Kaidah fiqih menyebutkan:

 الضرر يزال

Artinya: “Bahaya itu mesti dihilangkan.”

Secara kebahasaan, dlarar adalah turunan kata dari dlarra – yadlurru – dlurran wa dlarar, dengan makna “menimpakan kepada orang lain sesuatu yang menyakitkan dan tidak disukai”.

Lewat pemahaman makna ini, unsur dlarar produk adalah kandungan yang tidak disukai, menimbulkan penyakit dan kerugian, serta efek buruk lainnya.

Bahaya seperti apa yang dimaksud dapat memengaruhi status halal?

KH. Ali Mustafa Yaqub dalam bukunya Kriteria Halal -Haram Untuk Pangan, Obat dan Kosmetika Menurut Al Quran dan Hadits memerinci beberapa kategori dlarar yang mungkin terkandung dalam suatu barang atau produk.

Pertama, bahaya dari segi prinsip syariat Islam. Prinsip syariat Islam ini dikenal sebagai maqashid asy-syariah. Suatu produk dipandang mengandung dlarar jika membahayakan lima hal ini: agama, jiwa, keturunan, harta, akal. Kelima prinsip ini diperkenalkan oleh Imam Al-Syatibi dalam karyanya al-Muwafaqat sebagai al-kulliyat al khams (lima prinsip universal). Sebagai contoh, akan membahayakan agama jika kita mengonsumsi produk yang dilarang secara tegas oleh nash. Begitupun jiwa akan terancam jika kita menenggak racun yang membuat kita segera mati. Terkait keturunan, jika kita memakai produk yang dapat menimbulkan kecacatan pada janin, hal itu tidak dapat dibenarkan.

Kedua, kategori bahaya dari efek yang ditimbulkan. KH. Ali Mustafa Yaqub menjelaskan setidaknya ada dua jenis efek bahaya: yang muncul cepat dan lambat. Semisal pada konsumsi gula yang tinggi, efeknya dalam jangka panjang adalah kegemukan atau mungkin diabetes.

Ketiga, kategori dlarar berdasarkan kondisi penggunanya. Bahaya ini bisa bersifat mutlak karena efek kerusakannya yang nyata, dan dapat pula bersifat relatif, yaitu dalam kondisi-kondisi tertentu. Semisal pada penderita diabetes, konsumsi gula dikurangi. Begitupun pembatasan konsumsi air pada penderita gagal jantung. Air dan gula berlebihan, menjadi dlarar pada pasien tersebut.

Keempat, bahaya berdasarkan sifatnya. Dampak bahaya ada yang dapat diamati langsung secara indrawi, seperti kondisi sakit atau hilangnya akal. Selain itu, bahaya juga bisa bersifat “maknawi”, yakni berbahaya bagi kondisi agama seseorang – seperti makan daging babi yang tegas diharamkan untuk muslim. Setidaknya dapat dipahami bahwa unsur bahaya dalam suatu produk turut menentukan status halalnya. Jika produk itu tidak aman kendati halal secara dzat, ia bisa “diharamkan” pada kondisi tertentu. Status “haram” ini juga dapat ditetapkan akibat pengolahan produk yang berbahaya dan tidak aman karena menggunakan senyawa kimia yang tidak pada tempatnya. Bagi produsen pangan dan obat, penting dicermati bahwa ketika suatu bahan dan komposisi dipandang berbahaya untuk kesehatan masyarakat, mungkin bisa dikatakan bahwa senyawa ini halal. Tapi ketika ia tidak tepat guna, tidak sesuai standar dan prosedur, apalagi terlarang, bukankah membahayakan dan menyakiti orang itu tidak dibenarkan? Dari sudut pandang kriteria dlarar dan unsur bahaya dalam produk ini, apa yang baik dan buruk bagi diri seseorang mesti menjadi pertimbangan dalam memilih produk. Hal ini diharapkan memicu masyarakat untuk cermat dan tepat menggunakan pangan dan obat meskipun barangnya halal secara dzat serta telah dinyatakan aman dan halal oleh lembaga ahli terkait.

Wallahu a’lam.

JIHAD DAN SYAHIDKAH PELAKU BOM BUNUH DIRI

Urf Syar’i Tentang Jihad

(1) Apakah kecenderungan umum perletakan istilah jihad dalam ungkapan Al-Qur’an dan Hadits Nabawiy ?

Jawaban:

Pengertian jihad menurut bahasa : Mencurahkan segala kemampuan guna mencapai tujuan apapun.

Menurut istilah syari’at Islam : Mencurahkan segala kemampuan dalam upaya menegakkan masyarakat Islami dan agar kalimat Allah (kalimah tauhid dan dinul Islam) menjadi mulia, serta agar syari’at Allah dapat dilaksanakan di seluruh penjuru dunia.

Adapun istilah jihad dalam pengertian perang melawan kaum kuffar baru diperintahkan oleh Allah sesudah Rasulullah saw hijrah ke Madinah, sementara perintah jihad pada ayat-ayat makkiyah tertuju pada selain perang.

Ibarat :

الـفـقــه الـمـنـهـجـي عــلــى مــذهــب الإمــام الـشــافــعـي مجلد : 3 ص : 475، ف : دكتور مصطفى الخن, دكتور مصطفى البغا, على الشريجى , ط : دار القلم, دار الشامية دمشق, 1416 – 1996 وعبارته :

معــنى الـجــهــاد : الـجِـهَــادُ فِي اللّـُغَــةِ مَــصْــدَرُ جَــاهَـــدَ، اَيْ بَـــذَلَ جُــهْــدًا فِي سَـبِــيْـلِ الْــوُصُــوْلِ إِلىَ غَـايَــةٍ مَـا.

وَالْـجِـهَـادُ فِي اصْـطِــلاَحِ الـشَّــرِيْــعَــةِ ألإِسْــلاَمِـيَّــةِ : بَــذْلُ الْــجُــهْــدِ فِـي سَــبِـيْـلِ إِقـَـامَــةِ الْـمُـجْـتـَمَــعِ الإِْسْــلاَمِـيِّ ، وَأَنْ تـَـكُــوْنَ كـَـلِــمَـةُ اللهِ هِــيَ الْـعُـلْـيَـا ، وَأَنْ تـَـسْــوَدَّ شَــرِيـْـعَــةُ اللهِ فِىالْــعَـالَــمِ كُــلِّــهِ .

Terjemah :

Kata jihad yang merupakan bentu masdar dari kata kerja jaa-ha-da dalam pengertian bahasa adalah mencurahkan kesungguhan dalam mencapai tujuan apapun.

Kata jihad dalam istilah syariat Islam adalah mencurahkan kesungguhan dalam upaya menegakkan masyarakat yang Islami danm agar kalimah Allah (ajaran tauhid dinul Islam) menjadi mulia serta syari’at Allah dapat dilaksanakan diseluruh penjuru dunia.

الـــفــقــه الإســلامـي و أدلــتـــه ، ج : 8 ، ص : 5846 وعبارته :

وَأَنْـسَـبُ تـَـعْــرِيـْـفٍ لِلْـجِــهَــادِ شَــرْعـًـا أَنـَّـــهُ بَــذْلُ الْــوُسْــعِ وَالـَّطـاقـَـةِ فِـي قـَـتـْـلِ الْـكُــفَّــارِ وَمُــدَ ا فـَعَتِـهِــمْ بِـِالـنَّـفْــسِ وَالْـمَـالِ وَاللِّـسَــانِ

Terjemah :

Batasan jihad yang paling sesuai menurut istilah syari’at Islam mencurahkan kemampuan dan kekuatan guna memerangi dan menghadapi orang-orang kafir dengan jiwa, harta dan orasi.

تفسير القرطبي ج: 3 ص: 38 ف : محمد بت أحمد بت أبى بكر بن فرح القرطبى ابو عبد الله ط : دار الشعب قاهرة 1372

وَلَمْ يُؤْذَنْ لِلنَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْقِتَالِ مُدَّةَ إِقـَامَتِهِ بِمَكَّةَ فَلَمَّا هَاجَرَ أُذِنَ لَهُ فِي قِتـَالِ مَنْ يُقَاتِلُهُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ فَقَالَ تَعَالَى أُذِنَ لِلَّذِيْنَ يُقَاتَلُوْنَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوْا ثُمَّ أُذِنَ لَهُ فِي قِتَالِ الْمُشْرِكِيْنَ عَامَّةً

Terjemah :

Nabi Muhammad saw tidak diizinkan berperang selama beliau menetap tinggal di Makkah, lalu ketika beliau berhijrah barulah diizinkan memerangi (melawan) orang-orang musyrik yang (memulai) memerangi beliau. Allah berfirma (artinya) : “Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, sebab sesungguhnya mereka itu dianiaya” (al Hajj : 39). Kemudian Allah swt memberi izin kepada Nabi saw memerangi orang-orang musyrik secara umum.

أحكام القرآن للشافعي ج: 2 ص: 13- 14 ف : محمد بن ادريس الشافعى ابو عبد الله ط : دارالكتب العلمية بيروت 1400

قال الشافعي رحمه الله فأذن لهم بأحد الجهادين بالهجرة قبل أن يؤذن لهم بأن يبتدئوا مشركا بقتال ثم أذن لهم بأن يبتدئوا المشركين بقتال قال الله عز وجل أذن للذين يقاتلون بأنهم ظلموا وإن الله على نصرهم لقدير وأباح لهم القتال بمعنى أبانه في كتابه فقال وقاتلوا في سبيل الله الذين يقاتلونكم ولا تعتدوا

Terjemah :

Imam Syafi’i ra berkata : Allah memberi izin kepada umat Islam dengan salah satu dua jihad yaitu hijrah sebelum mengizini umat Islam memulai perang melawan orang musyrik, kemudian Allah memberi izin memulai berperang melawan orang-orang musyrik. Allah berfirma (artinya) : “Di izinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, sebab sesungguhnya mereka itu dianiaya, dan sesungguhnya Allah benar-benar menolong mereka”. Kemudian Allah memperbolehkan umat berperang dengan arti Allah menerangkan dalam kitabNya seraya berfirman (artinya) : ”Berperanglah kalian dijalan Allah melawan orang-orang yang memerangi kalian dan jangan melampaui batas”.

الـفـقــه الـمـنـهـجـي عــلــى مــذهــب الإمــام الـشــافــعـي مجلد : 3 ص : 119، ف : دكتور مصطفى الخن, دكتور مصطفى البغا, على الشريجى , ط : دار القلم, دار الشامية دمشق, 1416 – 1996 وعبارته :

اقام رسول الله فى مكة ثلاثة عشر عاما يدعو الى الله سلما لايقابل العدوان بمثله فلما هاجر عليه الصلاة والسلام الى المدينة شرع الله المرحلة الاولى من مراحل الجهاد وهي التصدى لرد عدوان المعتد ين اي القتال الدفاعى ونزل في تشريع ذلك قوله تعالى أذن للذين يقاتلون بأنهم ظلموا – الاية (الحج : 39) وقوله تعالى وقاتلوا في سبيل الله الذين يقاتلونكم ولا تعتدوا – (البقرة : 190) ثم شرع الله تبارك وتعالى لنبيه جهاد المشركين ابتداء بالقتال ثم شرع الله تعالى بعد ذلك القتال جهادا من غير تقيد بشرط زمان ولامكان

Terjemah :

Rasulullah saw tinggal di Makkah selama 13 tahun berda’wah secara damai dan tidak membalas permusuhan dengan sesamanya. Lalu ketika beliau berhijrah ke Madinah barulah Allah mensyariatkan tahapan pertama dari tahapan-tahapan jihad yaitu mengadakanperlawanan guna menangkal serang musuh yang menyerbu. Firman Allah tentang perang ini adalah (artinya) : “Di izinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, sebab sesungguhnya mereka itu dianiaya”.(al Hajj : 39) ”Berperanglah kalian dijalan Allah melawan orang-orang yang memerangi kalian dan jangan melampaui batas”.(al Baqarah :190) Kemudian Allah swt mensyariatkan berjihad melawan orang-orang musyrik dengan memulai penyerbuan, kemudian sesudah itu Allah mensyariatkan berjihad tanpa terikat oleh syarat masa dan tempat.

(2) Apa amaliyah nyata sebagai media mengekspresikan jihad bagi individu dan kelompok muslim ?

Jawaban :

Berdasarkan pengertian jihad diatas, maka amaliyah nyata yang dapat mengekpresikan tuntutan berjihad adalah :

Menunjukkan masyarakat kepada ajaran tauhid dan ajaran Islam, melalui penyelenggaraan pendidikan, diskusi, dan meluruskan pemikiran-pemikiran keagamaan yang dapat mengaburkan kemurnian aqidah umat Islam.

Membelanjakan harta untuk menjamin stabibitas keamanan kaum muslimin dalam uapaya membangun masyarakat Islami yang kuat.

Perang defensif (الـقــتــال الــد فــاعـي), yaitu berperang demi mempertahankan diri dari serangan musuh.

Perang offensif (الــقــتــال الـهـجـــومـي), yaitu memulai peperangan melawan musuh.

Mobilisasi perang secara umum ( حــالــة الـنــفــيــر الــعــا م)

Tiga bentuk jihad yang terakhir ini, jika memang situasi menuntutnya serta imam sudah menginstruksikan untuk berperang.

Ibarat :

الـــفــقــه الإســلامـي و أدلــتـــه ، ج : 8 ، ص : 5846 وعبارته :

فـَالْـجِـهَــادُ يَـكُــوْنُ بـِالـتَّـعْـلِـيْــمِ وَتـَـعَــلُّـــمِ أَحْــكـَـامِ الإِْسْــلاَمِ وَنَــشْــرِهـَـا بَـيْـنَ الــنَّــاسِ وَبِـبَــذْلِ الْــمَـالِ وَبـِالْـمُـشَــارَكـَـةِ فِـي قِــتـَـالِ الأَعْـــدَاءِ إِذَا أَعْــلَــنَ الإِمَــامُ الْـجِـهَــادَ ، لِـقـَـوْلـِـهِ تـَـعـَـالَـى : ” جـَـاهِــدُوا الْـمُـشْــرِكِـيْــنَ بِـأَمْــوَالِــكُــمْ وَ اَنْـفُـسِــكُــمْ وَأَلْـسِــنَــتِــكُـــمْ ” .

Terjemah :

Jadi jihad bisa dilakukan dengan cara mengajar, mempelajari hukum-hukum Islam dan menyebarluaskannya, membelanjakan harta dan berpartisipasi berperang menghadapi musuh apabila imam / pimpinan telah meninstruksikan jihad (perang), karena berdasar firman Allah swt (artinya) : “Perangilah orang-orang musyrik dengan harta kalian, jiwa kalian dan lesan kalian”.

الـفـقــه الـمـنـهـجـي عــلــى مــذهــب الإمــام الـشــافــعـي مجلد : 3 ص : 475، ف : دكتور مصطفى الخن, دكتور مصطفى البغا, على الشريجى , ط : دار القلم, دار الشامية دمشق, 1416 – 1996 وعبارته :

مِنَ الــتـَّـعْــرِيْــفِ الَّـذِيْ ذَكـَـرْنـَـاهُ لِلْـجِـهَــادِ ، يـَـتـَّضِـحُ أَنَّ الْـجِـهَــادَ أَنْــوَاعٌ مِــنْــهَـا :

الـْـجِــهـَـادُ بِالـتـَّعْـلِــيْـمِ، وَنـَـشْــرِ الْــوَعْــيِ ألإِسْــلاَمِـيِّ ، وَرَدِّ الـشُّـبَـهِ الْـفِــكْــرِيـَّـةِ الـَّتـِي تـَعْـتـَـرِضُ سَـبِـيْـلَ الإِيْـمـَـانِ بِــهِ ، وَتـَـفـَهُّــمَ حَــقـَـائِــقِــهِ .

الْـجِـهـَـادُ بِـبَـــذْلِ الْـمَــالِ لِــتـَـأْمِــيْــنِ مَـا يَـحْـتـَـاجُ إِلـَـيْــهِ الْـمُـسْـلِـمُــوْنَ فِي إِقـَـامَــةِ مُـجْـتـَـمَـعِــهِــمُ الإِسـْـلاَمِـيِّ الْـمَـنْـشُــوْدِ .

الْـقِــتـَـالُ الــدِّفـَـاعِـيُّ : وَهـُــوَ الـَّـذِيْ يَـتـَـصَــدَّى بـِـهِ الْـمُـسْـلِـمُــوْنَ لِـمَــنْ يُــرِيـْـدُ أَنْ يَــنـَـالَ مِــنْ شَــأْنِ الْـمُـسْـلِـمِـيْـنَ فِـي دِيْــنِــهِــمْ .

الْــقِــتـَـالُ الْـهُـجُـــوْمِـيِّ : وَهُــوَ الـَّـذِيْ يـَـبْــدَؤُهُ الْـمُـسْـلِـمُــوْنَ عِــنْــدَ مـَا يَـتـَجَــهَّـــوْنَ بِـالــدَّعْــوَةِ الإِسْــلاَمِــيَّــةِ إِلَـى الأُمَـــمِ ألأُخْــرَى فِي بـِــلاَدِهـَـا ، فَـيَــصُــدُّهُــمْ حُــكـَّـامُــهـَـا عـَــنْ أَنْ يُـبَـلِّــغُـــوْا بِـكـَلِـمَـةِ الْــحَــقِّ سَــمْــعَ الـنـَّـاسِ .

حَــالـَـةُ الـنَّــفِــيْــرِ الْــعـَـام

Status Syahid Bagi Pelaku Bom Bunuh Diri

Apa sajakah kriteria agar terpenuhi status mati syahid dengan prospek masuk surga menurut pandangan ulama ahli syari’at ?

Jawaban :

Kriteria Syahid, dengan prospek masuk surga mencakup 2 golongan:

a) Syahid dunia akhirat:; adalah orang yang mati dalam medan peperangan melawan orang kafir dan dia mati sebab perang.

b) Syahid akhirat; adalah orang yang mati dengan sebab-sebab syahadah sebagaimana berikut: antara lain: tenggelam , sakit perut, tertimpa reruntuhan, dll

.المراجع: هامش القليوبى و عميره جز 1 ص : 337إعْلَمْ أَنَّ المُصَنِّفَ (النَّوَويَّ) رَحِمَه اللهُ ذَكرَ فِي ضَابِطِ الشَّهيدِ ثلاثَ قُيُودٍ المَوتَ حَالَ القِتالِ وَكَونَهُ قِتالُ كُفَّارٍ وكَونَهُ بِسَببِ قِتالٍ.

Terjemah :Ketahuilah bahwa sesungguhnya musonnif (Imam Nawawi) dalam hal definisi mati sahid menuturkan tiga syarat, yaitu mati ketika berperang, perangnya melawan kafir, dan matinya karena sebab berperang.

متن الشرقاوي جز 1 ص : 338 وَخَرَجَ بِشَهيدِ المَعْرِكَةِ غَيرُهُ مِن الشُّهَداءِ كَمَن مَاتَ مَبْطونًا أوْ مَحْدُودًا أوْ غَريْقًًا أوْ غَريْبًا أوْ مَقتُولاً ظُلْمًا أوْ طَالِبَ عِلمٍ فَيُغْسَلُ وَ يُصَليَّ عَليهِ وَ إنْ صَدَقَ عَليهِ إسْمُ الشَّهيدِ فَهُوَ شَهيدٌ فِي ثوَابِ الأخِرَةِ.

Terjemah :Dikecualikan dari status mati syahid dalam peperangan ialah para syuhada’ selain dalam peraperangan, seperti halnya mati karena sakit perut (mabtun), atau di had (hukum), atau tenggelam (ghoriq), atau diasingkan, atau dibunuh karena dzalim, atau daalam waktu mencari ilmu. Maka mereka semua itu di mandikan, dan disholati, meskipun bersetatus mati sahid, karena dia mati sahid dalam perhitungan pahala diakhirat.

2) Syahidkah jenazah gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari NKRI dan menciptakan negara Islam untuknya ?

3) Berstatus mati syahidkah pelaku teror di Indonesia yang berdasar hukum positif (UU Anti Terorisme) harus dieksekusi sesuai putusan majelis hakim yang mengadilinya ?

4) Karena dinyatakan bersalah secara hukum negara, benarkah terhadap jenazah teroris pasca eksekusi hukuman mati tidak perlu dishalatkan dengan pertimbangan aksi teror itu dosa besar dan fasiq terbukti korban yang terbunuh ternyata sesama muslim ?

Jawaban :

Mayit pelaku gerakan separatis bukan termasuk syuhada’, sehingga mayitnya tetap dimandikan dan dishalati seperti layaknya mayit muslim.

المراجع:مغني المحتاج معرفة الفاظ المنهاج للشيخ محمد بن احمد الشربيني الخطيب ، ج ك 2 ص : 35 ، مانصه:أمَّا إذَا كَانَ المَقتُولُ مِنْ أهْلِ البَغْىِ فَليْسَ بِشَهيدٍ جَزْمًا

Terjemah :Adapun orang yang terbunuh itu dari ahlul baghyi (pemberopntak) maka mereka bukan termasuk mati syahid dengan pasti.

روضة الطالبين للشيخ محي الدين يحي بن أبي زكريا النووي ، ج : 2 ، ص : 42 ، مانصه :النَّوعُ الثانِي الشُّهَداءُ العَارُونَ عَن جَمِيعِ الأوْصَافِ المَذْكُورَةِ كَالمَبْطُونِ وَالمَطْعُونِ وَالغَرِيقِ وَالغَرِيبِ وَالمَيّتِ عِشْقا وَالمَيّتَةِ فِي الطَّلْقِ وَمَن قَتَلَهُ مُسْلِمٌ أوْ ذِمِّيٌّ أوْ بَاغِ القِتالِ فَهُم كَسَائِرِ المَوتىَ يُغْسَلونَ وَيُصَلىَّ عَليْهِمْ وَإنْ وَرَد فِيهِمْ لفْظُ الشَّهادَةِ وَكذَا المَقتُولُ قِصَاصًا أوْ حَدّا لَيسَ بِشَهيدٍ

Terjemah :Macam yang kedua yaitu orang-orang yang mati syahid yang selain dari sifat-sifat tersebut diatas, seperti mati karena sakit perut, sakit tho’un (wabah), tenggelam, diasingkan, mati karena merindukan (kekasih), mati karena melahirkan dan orang yang mati karena dibunuh sesama muslim atau orang kafir dzimmy atau orang yang menentang berperang, maka mereka semua dihukumi seperti mati biasa, artinya harus disholati dan dimandikan. meskipun statusnya mati syahid (di akherat), begitu juga mati karena dihukum qisos atau dihukum had itu bukan mati syahid.

الموسوعة الفقهية ج : 8 ص : 152، مانصه :أما قتلى البغاة، فمذهب الملكية والشافعية والحنابلة : أنهم يغسلون ويكفنون ويصلي عليهم، لعموم قوله صلى الله عليه وسلم : (صلوا على من قال لا إله إلا الله ) ولأنهم مسلمون لم يثبت لهم حكم الشهادة، فيغسلون ويصلي عليهم ومثله الحنفية، سواء اكانت لهم فئة أم لم تكن لهم فئة على الرأي الصحيح عندهم وقد روي أن عليا رضي الله عنه لم يصل على أهل حروراء، ولكنهم يغسلون ويكفنون ويدفنون ولم يفرق الجمهور بين الخوارج وغيرهم من البغاة في حكم التغسيل والتكفين والصلاة .

Terjemah :Adapun orang-orang yang terbunuh dari para pembangkang (bughot) maka menurut ulama’madzab Maliki, Syaf’ii dan Hambali mereka itu harus dimandikan, dikafani dan sisholati karena keumuman sabda Rasulullah SAW (artinya) “Sholatilah orang-orang yang mati dan berkata Laa Ilaa Ha Illallaah”. Karena mereka adalah orang-orang Islam yang tidak berstatus mati syahid maka dia dimandikan dan disholati.Begitupula pendapata ulama’ madzab Hanafi, baik mereka itu mempunyai kelompok atau tidak, menurut pendapat yang sohih dikalangan ulam’ hanafiyyah. Diriwayatkan sesungguhnya sahabat Ali RA tidak melakukan sholat terhadap orang golongan Harurok, tetapi mereka itu dimandikan, dikafani dan dimakamkan ditempat pemakaman muslim. Juhur al ulama (kebanyakan ulama) tidak membedakan antara kaum khawarij dan lainnya dari golongan penentang pemerintahan yang sah di dalam hukum memandikan, mengkafani serta mensholati.

حاشية الجمل 2 وَتَجْهِيزُهُ أيِ المَيّتِ المُسْلِمِ غَيرِ الشَّهيدِ بِغَسْلِهِ وَ تكْفِينِهِ وَ حَمْلِه وَ الصَّلاةُ عَليْهِ وَدَفنِهِ وَ لَوْ قَاتلَ نَفْسَهُ فَرضُ كِفَايَةٍ.

Terjemah :Merawat jenazahnya orang Islam yang selain mati syahid dengan cara memandikan, mengkafani, membawa, menyolati dan mengkuburkan walaupun melakukan bunuh diri, hukumnya fardhu kifayah.

5) Bolehkah orang melakukan bunuh diri guna memperjuangkan sesuatu yang menjadi keyakinan pribadinya ?

Jawaban : Bunuh diri tidak dibenarkan dalam syariat sekalipun dalam rangka memperjuangkan kebenaran. Akan tetapi dalam peperangan yang dizinkan syara’ (jihad) menyerang musuh dengan keyakinan akan terbunuh untuk membangkitkan semangat juang kaum muslimin adalah diperbolehkan.

المراجعتفسير ابن كثير ج: 1 ص: 481عَنْ أبِي صَالِحٍ عَن أبِي هُرَيرَةَ قالَ قالَ رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَليهِ وَسَلمَ مَن قَتلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِها بَطْنَهُ يَوْمَ القِيامَةِ فِي نَارِ جَهَنمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أبَدًا وَمَن قتلَ نَفسَهُ بِسُمٍّ تَرَدَّى بِه فَسَمَّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنمَ خَالدًا مُخَلدًا فِيهَا أبَدًا وَهَذا الحَدِيثُ ثابِتٌ فِي الصَّحِيحَينِ خ م

Terjemah :Dari Abi Sholeh dari Abi hurairoh berkata : Rosululloh SAW. bersabda : Barang siapa melakukan bunuh diri dengan cara membenamkan besi keperutnya sendiri besuk pada hari kiamat akan masuk neraka Jahannam selam-lamanya.Dan barang siapa melakukan bunuh diri dengan cara menaruh racun di tangannya dengan menghirupnya maka akan masuk neraka jahanam selam-lamanya. Hadits ini telah ditetapkan dalam dua kitab Shohih.

اسعاد الرفيق جز 2 ص : تتِمَّة مِنَ الكَبَائِرِ قَتلُ الإنْسَانِ نَفسَهُ لِقَولِه عَليْهِ الصَّلاةُ وَالسَّلامُ مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقتَلَ نَفْسَه فَهُو فِى نَارِ جَهَنّمَ يَترَدَّى فِيهَا خَالِدًا مُخَلدًا فِيهَا ابَدًا

Terjemah :Termasuk dosa besar adalah bunuh diri, sebagaimana sabda Nabi SAW. : “Barang siapa bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari ketinggian gunung maka akan masuk neraka jahanam dengan terlempar selama-lamanya.

الموسوعة الفقهية 6 ص : 285 – 286 الانتحار حرام بالاتفاق ويعتبر من اكبر الكبائر بعد الشرك بالله قال الله تعالى ولا تقتلوا النفس التى حرم الله الا بالحق وقال ولا تقتلوا انفسكم ان الله كان بكم رحيما وقد قرر الفقهاء ان المنتخر اعظم وزرا ممن قاتل غيره وهو فاسق وباغ على نفسه حتى قال بعضهم لايغسل ولايصلى عليه كالبغاة وقيل لاتقبل توبته تغليظا عليه كما ان ظاهر بعض الأحاديث يدل على خلوده في النار منها قوله من تردى من جبل فقتل نفسه فهو في نار جهنم يتردى فيها خالدا مخلدا فيها ابدا

Terjemah : Bunuh diri adalah harom denga kesepakatan para ulama’ dan dipandang dosa yang paling besar setelah syirik kepada Allah. Allah berfirman ( artinya ): “ Janganlah kalian semua membunuh jiwa yang diharomkan oleh Allah kecuali dengan jalan yang haq”, dan firman Allah ( artinya ): “Janganlah kalian membunuh dirimu sendiri sesungguhnya Allah maha penyayang terhadap kamu semua”. Para Fuqoha’ menetapkan bahwa orang yang melakukan bunuh diri lebih besar dosanya dari pada orang yang memerangi orang lain, dan dialah orang fasiq dan menganiaya dirinya, hingga sebagian ulama’ mengatakan bahwa dia tidak dimandikan dan disholati sebagaimana para pembangkang. Ada pendapat lain bahwa dia tidak diterima taubatnya karena memberatkan atas kesalahannya sebagaimana dlohirnya sebagian hadits menunjukkan keabadiannya dalam neraka.

الموسوعة الفقهية 6 ص : 285 – 286 ثانيا هجوم الواحد على صف العدو : 11 اختلف الفقهاء فى جوار هجوم رجل من المسلمين وحده على العدو مع التيقن بانه سيقتل فذهب الما لكية الى جواز اقدام الرجل المسلم على الكثير من الكفار ان كان قصده اعلاء كلمة الله وكان فيه قوة وظن تأثيره فيهم ولو علم ذهاب نفسه فلا يعتبر ذلك انتحارا – الى ان قال – وكذلك لو علم وغلب على ظنه انه يقتل لكن سينكى نكاية او سيبلى او يؤثر أثرا ينتفع به المسلمون ولا يعتبر هذا القاء النفس الى التهلكة المنهي عنه بقوله تعالى ولا تلقوا بأيديكم الى التهلكة – الى ان قال – كذلك قال ابن العربى والصحيح عندى جوازه لآن فيه اربعة اوجه الاول طلب الشهادة الثانى وجود النكاية الثالث تجرئة المسلمين عليهم الرابع ضعف نفوس الآعداء ليروا ان هذا صنع واحد منهم فما ظنك بالجميع

Artinya :Kedua masuknya seseorang pada barisan musuh. Para Fuqoha’ berselisih pendapat tentang bolehnya seorang diri kaum muslimin masuk kebarisan pasukan musuh dengan keyakinan dia akan terbunuh. Ulama’ madzhab Maliki berpendapat bahwa boleh seorang muslim mendatangi pasukan kafir dalam jumlah banyak apabila bertujuan meninggikan kalimah Allah dan dia mempunyai kekuatan dan persangkaan adanya pengaruh dikalangan orang-orang kafir walaupun dia yakin akan kehilangan nyawa, maka yang demikian itu tidak dianggap bunuh diri. – sampai perkataan Mushonnif- demikian pula jika ia yakin dan menyangka dengan kuat bahwa ia akan dibunuh akan tetapi dia akan benar-benar dapat mengalahkan/ menghancurkan/menimbulkan pengaruh yang dapat diambil manfaat oleh kaum muslimin. Tindakan seperti ini tidak dipandang mencampakkan diri pada kebinasaan yang dilarang oleh firman Allah ( artinya) : “ Janganlah kalian mencampakkan dirimu pada kehancuran “. – sampai perkataan Mushonnif- Ibnul ‘Arobi berkata : yang shohih menurut saya tindakan tersebut boleh karena mengandung empat aspek (1) Mengharapkan mati syahid (2)Adanya kemenangan (3) Memberanikan umat Islam melawan orang kafir dan (4) melemahkan mental musuh.

6) Hukuman bentuk apa dinilai tepat ditimpakan kepada promotor/pemberi indoktrinasi bunuh diri dengan pemahaman konsep jihad yang salah dan menanamkan keyakinan status mati syahid serta kepastian masuk surga kepada calon pelaku bom bunuh diri.

Jawaban :

Hukuman bagi promotor / pemberi indoktrinasi bunuh diri adalah ta’zir, bahkan bisa sampai hukuman mati , apabila dampak mafsadah dan madlaratnya merata dikalangan masyarakat luas serta hukuman ta’zir yang lain sudah tidak efektif lagi.

تفسير الطبري ج: 6 ص: 205 إنّمَا جَزَآءُ الذِينَ يُحَارِبُونَ اللهَ وَرسولَهُ وَيَسْعَونَ فِي الأرْضِ فَسَادًا أنْ يُقتلُوا أوْ يُصَلبُوا أوْ تُقَطَّع أيْدِيهِمْ وأرْجُلِهمْ مِنْ خِلافٍ أوْ يُنْفَوا مِنَ الأرْضِ ذَلكَ لَهُم خِزْيٌ فِي الدُنيَا وَلهُم فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظيمٌ

Terjemah :Balasan bagi orang yang memusuhi Alloh dan utusan-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi adalah dibunuh atau disalib atau dipotong kedua tangan dan kakinya secara bergantian (selang seling) atau disingkirkan dari muka bumi. Itu semua adalah balasan di dunia sedangkan balasan di akhirat adalah adzab yang sangat besar.

تفسير ابن كثير ج: 2 ص: 48المحاربة هي المضادة والمخالفة وهي صادقة على الكفر وعلى قطع الطريق وإخافة السبيل وكذا الإفساد في الأرض

Terjemah :Muharobah (memerangi) ialah : perlawanan dan menentang, yaitu sesuai (pas) dengan kufur dan tindakan perampokan dijalanan, dan menakut-nakuti di jalan, begitu juga membikin kerusakan dibumi.

تفسير الطبري ج: 6 ص: 211 وأما قوله ويسعون في الأرض فسادا فإنه يعني ويعملون في أرض الله بالمعاصي من إخافة سبل عباده المؤمنين به أو سبل ذمتهم وقطع طرقهم وأخذ أموالم ظلما وعدوانا والتوثب على جرمهم فجورا وفسوقا

Terjemah :Adapun pengertian firman Allah (artinya) : “ Dan mereka melakukan kerusakan di muka bumi.” Itu artinya : mereka melakukan kemaksiatan di muka bumi ini, dengan cara menakut-nakuti (terror/ancaman) jalannya orang-orang mukmin, atau jalannya tanggungan orang-orang mukmin, dan menghadang perjalanannya, merampas harta bendanya dengan cara dzalim dan ceroboh (aniaya) dan berani melukainya dengan cara keterlaluan dan fasiq.

تفسير القرطبي ج: 6 ص: 149إنّمَا جَزَآءُ الذِينَ يُحَارِبُونَ اللهَ وَرسولَهُ وَيَسْعَونَ فِي الأرْضِ فَسَادًا أنْ يُقتلُوا أوْ يُصَلبُوا الآية – الى ان قال – قال مالك والشافعي وأبو ثور وأصحاب الرأي الآية نزلت فيمن خرج من المسلمين يقطع السبيل ويسعى في الأرض بالفساد قال ابن المنذر قول مالك صحيح قال أبو ثور واحتج لهذا القول

Terjemah :Firman Allah (artinya) : “Seseungguhnya balasan orang-orang yang memerangi Alloh dan Rosul-Nya dan berbuat kerusakan di bumi agar supaya dibunuh, atau disalib”, dan seterusnya – sampai perkataan mufassir- Berkatalah Imam Malik, Imam Syafi-ie, Imam Abu Tsur, dan Para pakar pendapat : Ayat ini diturunkan buat orang Islam yang keluar memisahkan diri ikatan kelompoknya dan berbuat kerusakan di bum.Bberkatalah Ibnu Mundzir : Perkataan Imam Malik betul, Abu Tsaur berkata : Perkataan ini dapat dibuat hujjah / dasar.

تفسير القرطبي ج: 7 ص: 133ولا تقتلوا النفس التي حرم الله إلا بالحق – الى ان قال – من شق عصا المسلمين وخالف إمام جماعتهم وفرق كلمتهم وسعى في الأرض فسادا بانتهاب الأهل والمال والبغي على السلطان والامتناع من حكمه يقتل فهذا معنى قوله إلا بالحق

Terjemah :Firman Allah (artinya) : “Janganlah kalian semua membunuh seseorang yang diharamkan Alloh kecuali dengan haq” (cara yang benar). -sampai perkataan mufassir- : Barang siapa meretakkan persatuan kaum muslimin, menentang pimpinan kelompok umat Islam dan memisah-misahkan kalimah mereka dan berbuat kerusakan dimuka bumi dengan jalan melakukan perampokan / perampasan keluargadan harta, dan membangkang terhadap pengusa dan menolak keputusannya, maka orang tersebut boleh dibunuh. Ini lah makna firman Illa bi al Haq.

فتاوى الكبرى لابن تيمية 5\وَهَذَا التعْزِيرُ ليْسَ يُقَدَّرُ بَلْ يَنْتهِى اِلىَ القَتْلِ كَمَا فِى الصَّائِلِ فِى اَخْذِ المَالِ يَجُوْزُ اَنْ يُمْنَعَ مِن الأخْذِ وَلوْ بِالقتْلِ وَعلَى هَذا فَاِذا كَانَ المَقصُودُ دَفْعَ الفَسَادِ وَلمْ يَنْدَفِعْ إلاِّ بِالقتْلِ قُتِلَ. وَحِينئِذٍ فَمَن تَكَرَّرَ مِنهُ فِعْلَ الفَسَادِ وَلمْ يَرْتَدِعْ لِلحُدُودِ المُقَدَّرَةِ بَلِ اسْتَمَرَّ علىَ ذَلِكَ الفَسَادِ فَهُو كَالصَّائِلِ الذِّى لاَ يَنْدَفِعُ إلاّ بِالقتْلِ فَيُقتَلُ قِيلَ وَيُمْكِنُ انْ يُخْرَجَ شَارِبُ الخَمْرِ فِى الرَّابِعَةِ علىَ هَذا

Terjemah :Hukuman ta’zir (menjerakan) ini tidak ada kepastian bahkan bisa sampai kepada hukuman bunuh, sebagaimana dilakukan terhadap shoil (orang yang berbuat jahat) dalam mengambil harta, boleh menghadang dia dari mencuri harta meskipun dengan membunuh. Berdasarkan keterangan ini, ketika tujuan (ta’zir) adalah menolak kerusakan (bahaya) dan tidak tertangani kecuali dengan cara membunuh, ya dibunuh. Dengan demikian, orang yang berulang kali melakukan kejahatan, dan hukuman-hukuman yang diberikan tidak diindahkan, bahkan dia terus menerus berbuat jahat maka dia bagaikan shoil (penjahat) yang tidak bisa dihentikan kecuali dengan dibunuh, maka boleh dibunuh. Dikatakan, mungkin pemabuk menurut pendapat ini bisa dihukum sama dengan shoil (penjahat) dengan cara dibunuh.

الفقه الاسلامى 7\5354وَالعُقوبَاتُ التَّعْزِيرِيَّةُ : هِىَ التَّوْبِيخُ اوِ الزَّجْرُ بِالكَلاَمِ وَالحَبْسُ وَالنَّفْيُ عَنِ الوَطَنِ وَالضَّرْبُ وَقدْ يَكُونُ التَّعْزِيرُ بِالقتْلِ سِيَاسَةً فِى رَأيِ الحَنَفِيّةِ وَبَعضِ المَالِكِيّةِ وَبَعضِ الشَّافِعِيّةِ اِذَا كَانَتِ الجَرِيْمَةُ خَطِيرَةً تَمَسُّ اَمْنَ الدَّوْلَةِ اوِ النِّظَامَ العَامَّ فِى الاسْلامِ مِثلَ قَتْلِ المُفَرِّقِ جَماعَةَ المُسلِمِينَ اوِ الدَّاعِى الىَ غَيرِ كِتابِ اللهِ وَسُنّةِ رَسُولِهِ صلىَّ اللهُ عَليهِ وَسلّمَ اوِ التَّجَسُّسِ اوِ انْتِهَاكِ عِرْضِ امْرَأةٍ بِالإكْرَاهِ اذَا لمْ يَكُنْ هُناكَ وَسِيلةٌ اُخْرَى لِقَمْعِهِ وَزَجْرِهِ أهـ

Terjemah :Hukuman / sanksi ialah : mencela, atau mencegah dengan ucapan, menahan (memenjara), diasingkan jauh dari tanah kelahian dan dipukul. Bahkan terkadang ta’zir itu bisa terjadi dengan cara dibunuh karena kepentingan siyasah didalam pendapat Hanafiyah, sebagian Malikiyah, serta sebagian Syafi’iyah. Ketika Jarimah (pidana)itu membahayakan yang menyangkut keselamatan negara, atau aturan umum dalam Islam, seperti membunuh orang yang memecah belah kelompok orang-orang Islam, atau orang yang mengajak kepada selain aturan Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya SAW. atau meneror (menakut-nakuti), atau merusak harga diri perempuan dengan paksa ketika disana tidak ada cara lain untuk menanggulangi dan mencegahnya.

(Dikutip dari Bahtsul Mamail NU Jawa Timur th: 2006)

HIZIB NAWAWI DAN AYAT RUQYAH UNTUK GANGGUAN JIN DAN SANTET

Dari kajian tafsir Fathul Qadir. Diriwayatkan oleh Baihaqi dari Ubay bi Ka’b r.a. : Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah saw lalu data seorang badui berkata: Wahai Rasulullah aku punya saudara terkena sesuatu (seperti kesurupan). Seperti apa? Tanya Rasul. Orang itu menjawab: Seperti orang gila. Bawalah kemari, saran Rasul. Lalu orang itu dibawa ke Rasul dan diletakkan di depan beliau, lalu Rasulullah membacakannya:

1. Surah al-Fatihah;

سْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

2. 4 ayat pertama surat al-Baqoroh;

الم (1) ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ (3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4) أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5)

3. Ayat nomor 163 surah Al- Baqoroh;

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ (163)

4. Ayat Kursi;

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (255)

5. 3 ayat terakhir surah al-Baqoroh;

لِّلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِن تُبْدُوا مَا فِي أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ اللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَن يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (284) آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286)

6. Ali Imran 18;

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (18)

7. Al A’raf 54;

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (54)

8. Al Mukminun 116-118;

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (116) وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ (117) وَقُل رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ (118)

9. Al Jin 3;

وَأَنَّهُ تَعَالَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا (3)

10. 10 ayat pertama surah al Shaffat;

وَالصَّافَّاتِ صَفًّا (1) فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا (2) فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا (3) إِنَّ إِلَٰهَكُمْ لَوَاحِدٌ (4) رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَرَبُّ الْمَشَارِقِ (5) إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ (6) وَحِفْظًا مِّن كُلِّ شَيْطَانٍ مَّارِدٍ (7) لَّا يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلَإِ الْأَعْلَىٰ وَيُقْذَفُونَ مِن كُلِّ جَانِبٍ (8) دُحُورًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ (9) إِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ (10)

11. 3 ayat terakhir surah Al-Hasyr;

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ (22) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (24)

13. Al-ikhlash;

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)

14. Mu’awwizatain;

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِن شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَٰهِ النَّاسِ (3) مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)

Setelah itu orang yang yang sakit tadi tiba-tiba bangun seperti tidak kena apa-apa.”

Imam Syaukani mengatakan hadist tersebut ada beberapa riwayat lain yang menguatkan.

Inilah do’a Ruqyah paling kuat untuk menjaga diri dari gangguan mahluk halus, jin dan menyembuhkan orang yang terkena gangguan mereka. Amalan ini juga diyakini bisa menjaga diri dari orang yang berniat buruk. Selain amalan di atas juga baik untuk melakukan wirid harian Hizib Imam Nawawi. Hizib ini, konon selain untuk melindungi diri dan keluarga dari berbagai ancaman juga menjadikan diri kita disenangi banyak orang. Dibaca dua kali pagi dan sore, jika berat bisa dibaca sekali setelah sholat Subuh atau sebelum Sholat Subuh.

HIZB IMAM NAWAWI

بسم الله الرحمن الرحيم

بِسْمِ اللهِ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، أَقُولُ عَلَى نَفْسِي وَعَلَى دِينِي، وَعَلَى أَهْلِي وَعَلَى أَوْلَادِي، وَعَلَى مَالِي وَعَلَى أَصْحَابِي، وَعَلَى أَدْيَانِهِمْ وَعَلَى أَمْوَالِهِمْ أَلْفَ بِسْمِ اللهِ. اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، أَقُولُ عَلَى نَفْسِي وَعَلَى دِينِي، وَعَلَى أَهْلِي وَعَلَى أَوْلَادِي، وَعَلَى مَالِي وَعَلَى أَصْحَابِي، وَعَلَى أَدْيَانِهِمْ وَعَلَى أَمْوَالِهِمْ، أَلْفَ أَلْفِ بِسْمِ اللهِ. اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، أَقُولُ عَلَى نَفْسِي وَعَلَى دِينِي، وَعَلَى أَهْلِي وَعَلَى أَوْلَادِي وَعَلَى مَالِي وَعَلَى أَصْحَابِي وَعَلَى أَدْيَانِهِمْ وَعَلَى أَمْوَالِهِمْ أَلْفَ أَلْفِ لَا حَوْلَ وَلَا قُّوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ العَلِيِّ العَظِيمِ. بِسْمِ اللهِ وَبِاللهِ وَمِنَ اللهِ وَإِلَى اللهِ وَعَلَى اللهِ وَفِي اللهِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُّوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ العَلِيِّ العَظِيمِ، بِسْمِ اللهِ عَلَى دِينِي وعَلَى نَفْسِي وَعَلَى أَوْلَادِي، بِسْمِ اللهِ عَلَى مَالِي وَعَلَى أَهْلِي, بِسْمِ اللهِ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ أَعْطَانِيهِ رَبِّي، بِسْمِ اللهِ رَبِّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبِّ الأَرَضِينَ السَّبْعِ وَرَبِّ العَرْشِ العَظِيمِ. بِسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ ( ثَلَاثَاً). بِسْمِ اللهِ خَيْرِ الأَسْمَاءِ فِي الأَرْضِ وَفِي السَّمَاءِ، بِسْمِ اللهِ أَفْتَتِحُ وَبِهِ أَخْتَتِمُ. اللَّهُ اللَّهُ اللَّهُ، اللَّهُ رَبِّي لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئَاً، اللَّهُ اللَّهُ اللَّهُ، اللَّهُ رَبِّي لَا إلهَ إِلَا اللَّهُ، اللَّهُ أَعَزُّ وَأَجَلُ وَأَكْبَرُ مِمَّا أَخَافُ وَأَحْذَرُ. بِكَ اللَّهُمَّ أَعُوذُ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَمِنْ شَرِّ غَيرِي، وَمِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ رَبِّي وَذَرَأَ وَبَرَأَ، وَبِكَ اللَّهُمَّ أَحْتَرِزُ مِنْهُمْ، وَبِكَ اللَّهُمَّ أَعُوذُ مِنْ شُرُورِهِمْ، وَبِكَ اللَّهُمَّ أَدْرَأُ فِي نُحُورِهِمْ، وَأُقَدِّمُ بَينَ يَدَيَّ وَأَيدِيهِمْ:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4) (ثَلَاثَاً).

وَمِثْلُ ذَلِكَ عَنْ يَمِينِي وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ، وَمِثْلُ ذَلِكَ عَنْ شِمَالِي وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ، وَمِثْلُ ذَلِكَ مِنْ أَمَامِي وَأَمَامِهِمْ، وَمِثْلُ ذَلِكَ مِنْ خَلْفِي وَمِنْ خَلْفِهِمْ، وَمِثْلُ ذَلِكَ مِنْ فَوْقِي وَمِنْ فَوْقِهِمْ، وَمِثْلُ ذَلِكَ مِنْ تَحْتِي وَمِنْ تَحْتِهِمْ، وَمِثْلُ ذَلِكَ مُحِيطٌ بِي وَبِهِمْ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ لِي وَلَهُمْ مِنْ خَيرِكَ بِخَيرِكَ الَّذِي لَا يَمْلِكُهُ غَيرُكَ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي وَإِيَاهُمْ فِي عِبَادِكَ وَعِيَاذِكَ وَعِيَالِكَ وَجِوَارِكَ وَأَمْنِكَ وَحِزْبِكَ وَحِرْزِكَ وَكَنَفِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيطَانٍ وَسُلْطَانٍ وَإِنْسٍ وَجَانٍ وَبَاغٍ وَحَاسِدٍ وَسَبُعٍ وَحَيَّةٍ وَعَقْرَبٍ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ دَابَّةٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ. حَسْبِيَ الرَّبُ مِنَ المـَرْبُوبِينَ، حَسْبِيَ الخَالِقُ مِنَ المـَخْلُوقِينَ، حَسْبِيَ الرَّازِقُ مِنَ المـَرْزُوقِينَ، حَسْبِيَ السَّاتَرُ مِنَ المـَسْتُورِينَ، حَسْبِيَ النَّاصِرُ مِنَ الـمَنْصُورِينَ، حَسْبِيَ القَاهِرُ مِنَ الـمَقْهُورِينَ، حَسْبِي الَّذِي هُوَ حَسْبِي، حَسْبِي مَنْ لَمْ يَزَلْ حَسْبِي، حَسْبِي اللَّهُ وَنِعْمَ الوَكِيلُ، حَسْبِي اللَّهُ مِنْ جَمِيعِ خَلْقِهِ. إنَّ وليِّيَ اللهُ الذي نَزَّلَ الكِتابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالحين، وإذا قَرَأْتَ القُرْءانَ جعَلْنا بينك وبين الذينَ لا يُؤْمنونَ بالآخِرَةِ حجاباً مسْتوراً، وجعلنا على قُلُوبِهمْ أَكِنَّةً أنْ يَفْقَهُوهُ وفي ءاذانِهمْ وَقْراً، وإذا ذَكَرْتَ ربَّكَ في القُرْءانِ وَحْدَهُ وَلَّوْا علَى أدْبارِهِمْ نُفُوراً.

(فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ) (سبعاً).

وَلَا حَوْلَ وَلَا قُّوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ العَلِيِّ العَظِيمِ(ثَلَاثَاً). وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمَاً كَثِيرَاً إِلَى يَوْمِ الدِّينِ وَالحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ.

ثُمَّ يَنْفُثُ عَنْ يَمِينِهِ ثَلَاثَاً وعَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثَاً وَأَمَامَهُ ثَلَاثَاً وَخَلْفَهُ ثَلَاثَاً

خَبَّأْتُ نَفْسِي فِي خَزَائِنِ بِسْمِ اللهِ، أَقْفَالُهَا ثِقَتِي بِاللهِ، مَفَاتِيحُهَا لَا قُّوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، أَدْافَعُ بِكَ اللَّهُمَّ عَنْ نَفْسِي مَا أُطِيقُ وَمَا لَا أُطِيقُ، لَا طَاقَةَ لِمَخْلُوقٍ مَعَ قُدْرَةِ الخَالِقِ (ثَلَاثَاً). حَسْبِي اللَّهُ وَنِعْمَ الوَكِيلُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُّوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ العَلِيِّ العَظِيمِ. وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ

BERHARGANYA ILMU DAN HUKUM TAKLID PADA MASALAH TAUHID

Taklid pada Masalah Tauhid

Wajib kepada setiap Muslim yang Mukallaf untuk mengetahui itikad 50, dan pada setiap akidah tersebut wajib pula untuk mengetahui dalil Ijmali dan Tafshilinya. Wajib di sini bermakna dosa bila tidak dikerjakan.

Wajib mengetahui dalil Tafshili merupakan pendapat dari sebagian para Ulama, sedangkan menurut Jumhur Ulama Tauhid memadai dengan dalil Ijmali.

Contoh dari dalil Tafshili misalnya, seseorang ditanyakan “apa dalil wujud-nya Allah?”. Dia menjawab: “ini makhluk”. Kemudian ditanyakan lagi kepadanya: ”makhluk ini menunjuki kepada wujud allah dari aspek mungkin wujudnya atau dari aspek wujud dan tidak wujudnya”. Saat dia menjawab pertanyaan tersebut dengan baik dan benar, maka dia telah dianggap mengetahui dalil Tafshili. Sedangkan jika dia tidak dapat menjawabnya, maka syara’ cuma menganggapnya mengetahui dalil Ijmali. Demikianlah analogi singkat perbedaan dalil Ijmali dan Tafshili.

Sedangkan taklid adalah mengetahui itikad 50 dengan tidak mengetahui dalil Ijmali dan Tafshilinya.

Ulama berbeda pendapat tentang boleh dan tidaknya Taklid, sebagian dari mereka mengatakan tidak boleh Taklid, dan menghukum orang yang Taklid tersebut kepada kafir. Golongan Ulama yang tidak membolehkan Taklid seperti Imam Sanusi dan Ibnul Arabi. Walaupun demikian, ada beberapa riwayat yang menyebutkan kalau Imam Sanusi merevisi pendapat tersebut dan mengakui tentang kebolehan Taklid. Namun pengarang kitab Kifayatul Awam mnegakui kalau beliau tidak menemukan satupun dalam kitab Imam Sanusi yang membolehkan Taklid.

Pernyataan pengarang Kifayatul Awam yang tidak melihat dalam kitab Imam Sanusi tentang kebolehan taklid tidak serta merta menafikan tentang adanya pendapat tersebut dari Imam Sanusi, karena boleh jadi ada kitab Imam Sanusi yang tidak dilihat oleh beliau, demikian menurut Syaikh Imam Bajuri dalam Hasyiyah Kifayatul Awam.

Perbedaan dalil Tafsili dan Ijmali

Dalil Tafsili adalah dimana seseorang dengan berpegang pada dalil tersebut sanggup untuk menjelaskan bagaimana sebuah dalil mengarah/tertuju kepada maksud(tujuan) atau sanggup menolak/membedakan syubhat( kesamaan) di antara dalil-dalil tersebut, sehingga sanggup untuk membedakan sebuah dalil yang secara ekplisit cocok dan sangat pantas kepada sebuah hukum, padahal sebenarnya dalil itu bukan untuk hukum tersebut, dan sanggup untuk menjawab semua debatan yang datang kepada dalil tersebut. Sedangkan dalil Ijmali adalah tidak sanggup melakukan satu atau semua hal yang telah di sebutkan( Tahqiqul kalam ‘ala kifayatil awam/15).

Berharganya Ilmu Ketimbang Harta

Setiap manusia pasti mengiginkan kehidupan yang  sempurna,  yang  jauh dari  segala prolematika dan lika-liku kehidupan.Tetapi, tidak sedikit di antara manusia  yang menjadikan  standar kebahagiaan dalam hidupnya adalah bergelimang dengan material dan kekayaan. Pada dasarnya segala pemberian dari Allah SWT kepada hambanya berupa harta yang banyak dan  kekayaan yang berlelimpah  itu juga merupakan  salah satu bentuk ujian  yang Allah swt berikan kepada hambanya ,  seperti dalam firmannya:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَ

“Adapun manusia apabila Tuhannya Mengujinya lalu dimuliakanya dan diberinya Kesenangan, maka dia berkata, Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila tuhannya mengujinya, lalu membatasi rizkinya, maka dia berkata “ Tuhanku menghinaku “. ( Qs. Al-Fajr [ 89 ]: 15-17 )

Maksudnya, tidaklah setiap orang yang dimuliakan dan diberi nikmat oleh Allah di dunia itu Allah benar-benar memberikan nikmat kepadanya. Bisa jadi hal itu merupakan ujian dan cobaan dari Allah bagi manusia. Dan tidaklah setiap yang  Allah sempitkan rizkinya, dengan memberikan rizki sekedar kebutuhannya dan tidak dilebihkan, berarti Allah menghinanya. Akan tetapi, Allah menguji hambanya dengan kenikmatan sebagai mana Allah juga menguji hambanya dengan kesulitan (kesempitan) .

Oleh karena itu, para sahabat terdahulu mereka tidak mau kalau ilmu agamanya itu ditukar dengan harta benda. Mereka tidak mau kalau ilmu agama  yang mereka miliki  ditukar dengan sesuatu yang lebih rendah nilainya.  Dengan berbagai macam alasannya , diantaranya adalah

فإن العلم يبقى والمال يفنى

“Ilmu itu Abadi, sedang harta adalah Musnah”

Dan juga  seperti apa yang dikemukakan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib:

رضينا قسمة الجبار فينا لنا علم وللأعداء مال

 فإن المال يفني عن قريب وإن العلم يبقي لا يزال

Kami rela, bagian Allah untuk kami

Ilmu untuk kami, harta buat musuh kami

Dalam waktu singkat, harta jadi musnah

Namun ilmu, abadi tak akan sirna.

( Ta’lim Muta’alim…Hal.25 )

TUNTUNAN TATA CARA SHOLAT ISTISQO MEMOHON HUJAN KEPADA ALLOH SWT.

Kemarau panjang mengurangi persediaan air minum atau air untuk sawah. Kemarau panjang juga membawa serta debu pada angin di jalan-jalan dan di rumah. Pada saat kemarau panjang ini kita dianjurkan untuk berdoa kepada Allah dan melakukan shalat untuk turunnya hujan.

Syekh Abdullah Bafadhal Al-Hadhrami menyebut cara shalat istisqa dua rakaat serupa dengan shalat dua rakaat shalat Id. Hanya saja, cara shalat keduanya berbeda sedikit dalam hal penempatan khutbah, pembacaan takbir, dan arah khatib pada khutbah kedua. Selebihnya kedua shalat ini secara umum sama.

ويصلون ركعتين كالعيد بتكبيراته ويخطب خطبتين أو واحدة وبعدها أفضل واستغفر الله بدل التكبير ويدعو في الأولى جهرا ويستقبل القبلة بعد ثلث الخطبة الثانية وحول الإمام والناس ثيابهم حينئذ وبالغ فيها في الدعاء سرا وجهرا ثم استقبل الناس

Artinya, “Mereka shalat istisqa sebanyak dua rakaat seperti shalat Id berikut takbirnya. Seseorang yang menjadi khatib kemudian menyampaikan khutbah dua atau sekali. Khutbah setelah shalat lebih utama. Khatib beristighfar dalam khutbah sebagai pengganti takbir pada khutbah Id. Khatib berdoa dengan jahar (lantang), lalu menghadap kiblat setelah lewat sepertiga pada khutbah kedua. Khatib dan jamaah memutar pakaian (selendang atau sorban) ketika itu. Pada saat itu, khatib meningkatkan kesungguhan berdoa sirr (rahasia) dan jahar (lantang), setelah itu ia kembali menghadap ke arah jamaah,” (Lihat Syekh Abdullah Bafadhal Al-Hadhrami, Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah pada Hamisy Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 365-366).

Sebagaimana shalat Id, orang yang shalat istisqa juga dianjurkan bertakbir dan mengangkat kedua tangan sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua.

كصلاته فيكبر في أول الأولى سبعا وأول الثانية خمسا يقينا ويأتي بجميع ما مر ثم

Artinya, “Cara shalat istisqa sama seperti cara shalat Id. Seseorang bertakbir sebanyak tujuh kali (di luar takbiratul ihram) pada rakaat pertama, dan lima kali pada rakaat kedua. Selebihnya ia mengerjakan semua apa yang sudah ditentukan lalu di sana,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 365).

Setelah shalat dua rakaat, khatib menyampaikan khutbah shalat istisqa. Hanya saja khitb mengganti lafal takbir dengan lafal istighfar karena lafal ini lebih sesuai dibandingkan lafal takbir dalam konteks meminta hujan.

ويخطب خطبتين كخطبتي العيد فيما مر فيهما لكن يجوز هنا خطبتان  أو واحدة على ما مر في الكسوف وكونها قبل الصلاة وبعدها أفضل لأنه أكثر من فعله صلى الله عليه … وفي أنه إذا خطب هنا استغفر الله بدل التكبير قبل الخطبة الأولى تسعا وقبل الثانية سبعا يقينا لأنه اللائق

Artinya, “(Khatib kemudian menyampaikan khutbah dua) seperti khutbah shalat Id sebagaimana telah lalu. Tetapi di sana boleh disampaikan dua kali khutbah (atau sekali) sebagaimana telah lalu pada shalat gerhana. Khutbah dilakukan sebelum dan (setelah shalat lebih utama) karena khutbah setelah lebih sering dilakukan oleh Rasulullah SAW… (Khatib beristighfar dalam khutbah) di sana (sebagai pengganti takbir) sebelum khutbah pertama sebanyak sembilan kali dan sebelum khutbah kedua sebanyak tujuh kali dengan yakin karena itu yang layak,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 365).

Berikut ini ringkasan tata cara shalat istisqa:

  1. Shalat dua rakaat.
  2. Rakaat pertama takbir tujuh kali sebelum membaca surat Al-Fatihah.
  3. Rakaat kedua takbir lima kali sebelum membaca surat Al-Fatihah.
  4. Khutbah dua atau sekali sebelum (atau setelah) shalat. Khutbah setelahshalat lebih utama.
  5. Sebelum masuk khutbah pertama khatib membaca istighfar sembilan kali.
  6. Sebelum masuk khutbah kedua khatib membaca istighfar tujuh kali.
  7. Perbanyak doa dalam khutbah kedua.

Wallahu a‘lam.

MANFAAT BERSIN BAGI TUBUH DAN HAL BERBAHAYA KETIKA BUANG HAJAT

Bersin adalah cara tubuh menyingkirkan iritan pada hidung seperti debu. Pilek dan alergi sering kali membuat kita bersin.Terkadang terlintas dalam pikiran, bersin tidak berdampak sehat bagi tubuh sehingga akrab kali terdengar ucapan suruhan minum obat bagi yang bersin, bahkan terkadang ada sebagian kita yang menganggap bersin itu hal yang memalukan.

Pertanyaan:

  1. Benarkah bersin tidak berdampak positif bagi tubuh?
  2. Jika itu tidak menyehatkan tubuh, lantas kenapa disaat bersin dianjurkan mengucapkan Alhamdulillah?

Jawaban:

  1. Tidak benar, karena dari bersin itu terdapat nilai positif yang terpuji dalam agama yaitu meringankan badan dimana dengan ini seseorang akan gemar dalam berbeuat taat dan melemahkan syahwat (keinginan).

  1. Karena dampak dari bersin hal terpuji, berkata para Ulama “inilah hikmah dari disunnahkanya bersyukur dengan mengucapkan Alhamdulillah saat bersin”.

I’anatut Thalibin Juz 4 Hal 192.

قوله: فإنه) أي التشميت سنة، لما رواه أبو هريرة رضي الله عنه عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: إن الله يحب العطاس ويكره التثاؤب، فإذا عطس أحدكم وحمد الله تعالى، كان حقا على كل مسلم سمعه أن يقول له يرحمك الله، وأما التثاؤب فإنما هو من الشيطان، فإذا

تثاءب أحدكم فليرده ما استطاع، فإن أحدكم إذا تثاءب ضحك منه الشيطان.

قال العلماء: والحكمة في ذلك أن العطاس سببه محمود، وهو خفة الجسم التي تكون لقلة الاخلاط وتخفيف الغذاء، وهو أمر مندوب إليه، لانه يضعف الشهوة ويسهل الطاعة، والتثاؤب بضد ذلك.

Hal yang berbahaya ketika buang hajat

Syaikh Sayed Abu Bakar Syata kitab Hasyiah I’anatatu Thalibin menulis banyak hikmah selain hukum-hukum baik ibadah, munakahat, mua’malah dan hudud. Beliau menyebutkan beberapa efek negatif yang disebabkan oleh beberapa hal yang berkaitan dengan Qadha hajat. yaitu:

1. Barang siapa banyak berbicara ketika qadha hajat akan menyebabkan gila.
2. Barang siapa melihat kepada najis yang keluar akan menyebabkan gigi kuning.
3. Barang siapa membuang ingus akan menyebabkan bisu.
4. Barang siapa yang makan ketika qadha hajat akan menyebabkan fakir.
5. Barang siapa banyak memalingkan kepadanya akan dibalakan dengan penyakit was-was.

Hasyiah I’anatu Thalibin Juz 1 hal.112

( فائدة ) من أكثر من الكلام خشي عليه من الجان ومن أدام نظره إلى ما يخرج منه ابتلي بصفرة الأسنان ومن امتخط عند قضاء الحاجة ابتلي بالصمم ومن أكل عند قضائها ابتلي بالفقر ومن أكثر من التلفت ابتلي بالوسوسة

والله أعلم

KEUTAMAAN DARI PENGLIHATAN ATAU JUGA PENDENGARAN

Manakah yang lebih Baik antara Penglihatan dan Pendengaran?

Penglihatan dan pendengaran adalah dua panca indra yang sangat penting dan merupakan nikmat yang sangat besar bagi manusia dalam menjalani kehidupan sosialnya. Dengan penglihatan seseorang bisa melihat nikmat dan karunia yang telah Allah ciptakan, sedangkan dengan pendengaran seseorang bisa berinteraksi dengan mendengar pembicaraan, nasehat, ilmu dan lain sebagainya. Namun jika di bandingkan antara keduanya, manakah yang lebih baik?

Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Fatawa Hadisiyah menjelaskan secara panjang lebar tentang hal tersebut. Jawabannya adalah Khilaf, pendapat yang kuat menurut kebanyakan Fuqaha’, pendengaran lebih baik dari penglihatan karena beberapa alasan, yaitu:

    Dalam al-Quran Allah menyertakan penyebutan mendengar dengan akal dalam firmannya Allah swt “dan sebagian dari mereka itu adalah orang-orang yang mendengar perkataanmu dan engkau mendengar perkataan mereka, walaupun mereka itu tidak berakal”. Dan tidak seperti demikian pada penglihatan.

    Akal mengambil faedah dari mendengar lebih banyak daripada mengambil faedah dari melihat.

    Pada kebiasaan ayat al-Quran, penyebutan mendengar didahulukan daripada penyebutan melihat. Disebut terdahulu merupakan tanda kalau ia lebih baik.

    Menurut satu pendapat, buta terjadi pada sebagian nabiyullah walaupun pendapat kuat adalah sebaliknya. Sedangkan tuli sepakat para Ulama tidak ada pada nabiyullah. ijma’ ulama menegaskan bahwa tuli Mustahil bagi nabi. berbeda dengan buta yang berbeda pendapat Ulama, karena jika tuli mereka tidak akan bisa mendengar pertanyaan umat yang mana demikian akan menghambat penyampaian syariat yang mereka bawa.

    Kekuatan pendengaran bisa memperdapat jihat yang enam (depan, belakang, kiri, kanan, atas dan bawah) saat dalam terang atau gelap, berbeda dengan penglihatan yang hanya bisa memperdapat yang di hadapannya dalam kondisi terang. Sesuatu yang lebih umum manfaatnya di bandingkan yang lebih sedikit manfaatnya tentu lebih baik bukan?

    Hakikat insan yang membedakannya dengan lainnya adalah Natiq (secara bahasa maksudnya berbicara), yang mana Natiq tersebut hanya diperdapatkan oleh telinga bukan mata. Fungsi telinga adalah untuk mendengar pembicaraan yang mana merupakan pembeda antara manusia dengan lainnya. Sedangkan Fungsi mata adalah untuk melihat warna dan bentuk yang mana keduanya bukan pembeda manusia dan lainnya karena keduanya bukan hanya ada pada manusia. Jelaslah bahwa sesuatu yang bisa menjadi pembeda lebih baik dari yang tidak bisa jadi pembeda.

    Manusia mengenal dan mengetahui kerasulan nabinya adalah dengan mendengar apa yang mereka sampaikan bukan dengan semata-mata melihat fisik mereka. Ya walaupun untuk membuktikan kerasulan salah satunya adalah dengan melihat mukjizat yang ada pada mereka, tapi ini merupakan hal kedua setelah mereka mendengar apa yang rasul as sampaikan.

Dari beberapa alasan di atas jelaslah bahwa mendengar lebih baik dari melihat. Sedangkan menurut satu kaum penglihatan lebih baik dari pendengaran, karena alasan berikut ini:

    Alat atau sebab untuk melihat adalah cahaya sedangkan untuk mendegar adalah hawa/udara yang mana cahaya lebih baik dari udara.

    Salah satu keajaiban yang ada pada mata adalah mata diciptakan dari 7 lapisan, 3 cairan dan dari beberapa tulang/otot yang beraneka macam jenisnya. Karena diciptakan dari beberapa jenis yang beraneka ragam tentu menujukkan kalau mata adalah lebih baik

    Mata bisa melihat bintang di langit yang jaraknya sangat jauh. Sedangakan telinga bahkan tidak bisa mendengar suara lebih dari satu farsakh.

    Kalam Allah bisa didengar di dunia dan tidak dilihat oleh seorangpun. Dan akan bisa dilihat di akhirat, hal ini menegaskan betapa istimewanya melihat Kalam karena hanya ada di akhirat.

Kedua pendapat di atas tentunya tidak sunyi dari krtitikan dan peninjauan. Dari alasan-alasan yang dikemukakan oleh kedua belah pihak dapat disimpulkan bahwa alasan atau dalil pendapat yang pertama lebih kuat karena semuanya berhubungan dengan masalah agama berbeda dengan mata pada pihak kedua. Mata dengan sendirinya tidak ada yang berhungan dengan agama kecuali jika bersama pendengaran.

Jika diteliti lebih jauh pada masalah kalam Allah yang tidak bisa dilihat di dunia sebagai dalil mata lebih baik, seharusnya justru menjadi dalil kepada pendengaran lebih baik, karena sesungguhnya karena keistimewaannya, telinga bisa mendengar Kalam Allah di dunia dan tidak bisa dilihat oleh mata. Ini menjadi kelebihan tersendiri bagi telinga karena di dunia saja ia sudah bisa mendengar kalam Allah swt.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalil yang dikemukakan pihak pertama lebih kuat dari pihak kedua, sehingga telinga lebih baik dari mata. Telepas dari khilafiyah tersebut kita harus benar-benar mensyukurinya karena Allah anugrahkan keduanya. Semoga dengan keduanya bisa menuntun dan membimbing kita untuk terus menjaga agama yang Rasulullah amanahkan sampai saat Allah mengambilnya kembali hari kiamat kelak. Wallahua’lam.

Sumber : Fatawa Haditsiyah hal 57.

MEMBANDINGKAN KEUTAMAAN BELAJAR ILMU AGAMA DAN ILMU UMUM

Menurut Imam Syafi’i belajar ilmu itu lebih baik ketimbang shalat sunat.

ومن اعظم الطاعات ( ومن ثم وجهوا قول الشافعي رضي الله عنه الاشتغال بالعلم افضل من صلاة النافلة بان الاشتغال بالعلم فرض كفاية وهو افضل من النفل وياءتي علي ما ذكرته بناء علي ان فرض الصدقة افضل من فرض الحج ونفلها افضل من نفله وهو ما يدل عليه كثير من العبارات فيما فهم منها كلام العمادي في زيادته من ان حج التطوع افضل من صدقة التطوع

Dan diantara amal-amal ketaatan yang paling besar dan ini sesuai dengan pernyataan Imam Syafi’I ra. adalah Belajar ilmu agama itu lebih utama dibandingkan shalat sunah karena belajar ilmu itu fardu kifaayah dan lebih utama ketimbang perkara sunah, Kewajiban bersedekah itu lebih utama ketimbang kewajiban haji dan sedekah sunah itu lebih utama ketimbang haji sunah. Menurut al’Ibaadi bahwa orang yang berhaji dengan haji sunah itu lebih utama ketimbang sedekah sunah. [ Iidhooh fi Muhyi as-Sunnah li Ibni Hajar alHaitamy Hal. 5 ].

( وقوله خلافا للقاضي ) أي فإنه قال إن الحج أفضل منها أي ومن غيرها من سائر العبادات أي لاشتماله على المال والبدن ولأنا دعينا إليه ونحن في الأصلاب كما أخذ علينا العهد بالإيمان حينئذ ولأن الحج يجمع معاني العبادات كلها فمن حج فكأنما صام وصلى واعتكف وزكى ورابط في سبيل الله وغزا كما قاله الحليمي قال العلامة عبد الرؤوف والظاهر أن قول القاضي هو أفضل مفروض في غير العلم

Sebagaimana telah dijelaskan dalam bab shalat sunah yang dikutip dari alQaadi alHusain bahwa haji sunah itu adalah ibadah yang paling afdhal karena mencakup harta dan badan. Alhulaimy berpendapat, haji itu menghimpun seluruh pengertian ibadah, maka orang yang berhaji ia seakan-akan sekaligus melaksanakan shalat, puasa, I’tikaf zakat dan berjuang dijalan Allah. Menurut al-‘allaamah Abdurrauf al-munaawy, yang jelas bahwa pendapat alQaadi alHusain tersebut selain yang terkait dengan masalah ilmu. [ I’aanah at-Thoolibiin II/277 ].

طلب العلم فريضة على كل مسلم) مكلف وهو العلم الذي لا يقدر المكلف بالجهل يه كمعرفة الصانع وما يجب له وما يستحيل عليه ومعرفة رسله وكيفية الفروض العينية

أخرجه ابن عبد البر في الجامع ( 1 / 7 – ط المنيرية ) وحسنه المزي كما في المقاصد الحسنة للسخاوي ( ص 276 – ط الخانجي ) .

Mencari ilmu diwajibakan bagi setiap muslim (HR. Ibnu Abdul Barr). Yang dimaksud adalah ilmu yang tidak boleh baginya tidak mengetahuinya seperti ilmu untuk mengetahui terhadap Sang Pencipta, sifat wajib, mustahi bagiNya, mengetahui para utusanNya dan ilmu untuk menjalani tata cara ibadah fardhu ain baginya. [ Faidh alQadiir I/693 ].

Syaikh Muhammad Jibril berkata, semua ilmu di Hadapan Allah sama. Tidak ada ilmu agama, tidak ada ilmu umum. Semua bagaimana niat kita. Belajar Tafsir kalau untuk agul-agulan atau dibilang syaikh, jelas tidak termasuk ilmu agama. Tapi belajar Fisika untuk mengamalkan surat Al Ghasyiyah : 18, jelas menjadi amal bernilai ibadah (Kulliyatul Qur an wa Ulumuhu, Jami’ah Azhar el Syarif Qahirah, 2009).

Sebagian  dari kita mungkin tak paham kenapa kita mencari ilmu kesana kesini tapi belum juga dapat hasilnya…alias belum bermamfaat, apakah yang diwajibkan itu cuma mencari tanpa wajib bisanya ???

Kewajiban kita hanya mencari dan belajar masalah hasil hak hak preogratif Allah. 

Sedikit tentang keluhan Imam Syafi’i pada guru beliau tentang sulitnya masuknya ilmu.

شكوت إلى وكيع سوء حفظي * * فأرشـدني إلى ترك المعـاصي

…وأخــبرني بأن العلــم نور * * ونور الله لا يهــدى لعاصي

Aku mengeluh kepada guruku Imam Waki’ tentang buruknya hafalanku, maka guruku memberi petunjuk untuk meninggalkan kemaksiatan. Dan memberitahukan bahwasanya ilmu itu cahaya… sedangkan cahaya Allah tidaklah diberikan kepada orang yang bermaksiat.

قوله: قال وكيع) هو شيخ الامام الشافعي رضي الله عنه)

(Imam waki’ ) beliau adalah Guru imam Syafi’i radhia Allaahu anhu. [ I’aanatut Thoolibiin II/190 ].

Ilmu yang wajib dipelajari sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ghazali dalam kitab Ihya juz I halaman 15 ialah:

أن العلم كما قدمناه في خطبة الكتاب ينقسم إلى علم معاملة وعلم مكاشفة، وليس المراد بهذا العلم إلا علم المعاملة. والمعاملة التي كلف العبد العاقل البالغ العمل بها ثلاثة: اعتقاد، وفعل، وترك؛ فإذا بلغ الرجل العاقل بالاحتلام أو السن ضحوة نهار مثلاً فأول واجب عليه تعلم كلمتي الشهادة وفهم معناهما وهو قول “لا إله إلا الله، محمد رسول الله” وليس يجب عليه أن يحصل كشف ذلك لنفسه بالنظر والبحث وتحرير الأدلة، بل يكفيه أن يصدق به ويعتقده جزماً من غير اختلاج ريب واضطراب نفس، وذلك قد يحصل بمجرد التقليد والسماع من غير بحث ولا برهان؛ إذ اكتفى رسول الله صلى الله عليه وسلم من أجلاف العرب بالتصديق والإقرار من غير تعلم دليل. فإذا فعل ذلك فقد أدى واجب الوقت وكان العلم الذي هو فرض عين عليه في الوقت تعلم الكلمتين وفهمهما، وليس يلزمه أمر وراء هذا في الوقت، بدليل أنه لو مات عقيب ذلك مات مطيعاً لله عز وجل غير عاص له، وإنما يجب غير ذلك بعوارض تعرض وليس ذلك ضرورياً في حق كل شخص بل يتصور الانفكاك وتلك العوارض إما أن تكون في الفعل وإما في الترك وإما في الاعتقاد.

أما الفعل: فبأن يعيش من ضحوة نهاره إلى وقت الظهر فيتجدد عليه بدخول وقت الظهر تعلم الطهارة والصلاة، فإن كان صحيحاً وكان بحيث لو صبر إلى وقت زوال الشمس لم يتمكن من تمام التعلم والعمل في الوقت بل يخرج الوقت لو اشتغل بالتعلم، فلا يبعد أن يقال: الظاهر بقاؤه فيجب عليه تقديم التعلم على الوقت. ويحتمل أن يقال: وجوب العلم الذي هو شرط العمل بعد وجوب العمل فلا يجب قبل الزوال، وهكذا في بقية الصلوات فإن عاش إلى رمضان تجدد بسببه وجوب تعلم الصوم: وهو أن وقته من الصبح إلى غروب الشمس؛ وأن الواجب فيه النية والإمساك عن الأكل والشرب والوقاع، وأن ذلك يتمادى إلى رؤية الهلال أو شاهدين؛ فإن تجدد له مال أو كان له مال عند بلوغه لزمه تعلم ما يجب عليه من الزكاة، ولكن لا يلزمه في الحال إنما يلزمه عند تمام الحول من وقت الإسلام؛ فإن لم يملك إلا الإبل لم يلزمه إلا تعلم زكاة الإبل، وكذلك في سائر الأصناف، فإذا دخل في أشهر الحج فلا يلزمه المبادرة إلى علم الحج مع أن فعله على التراخي فلا يكون تعلمه على الفور، ولكن ينبغي لعلماء الإسلام أن ينبهوه على أن الحج فرض على التراخي على كل من ملك الزاد والراحلة إذا كان هو مالكاً حتى ربما يرى الحزم لنفسه في المبادرة فعند ذلك إذا عزم عليه لزمه تعلم كيفية الحج ولم يلزمه إلا تعلم أركانه وواجباته دون نوافله، فإن فعل ذلك نفل فعلمه أيضاً نفل فعلمه أيضاً نفل فلا يكون تعلمه فرض عين وفي تحريم السكوت عن التنبيه على وجوب أصل الحج في الحال نظر يليق بالفقه، وهكذا التدريج في علم سائر الأفعال التي هي فرض عين. وأما التروك فيجب تعلم علم ذلك بحسب ما يتجدد من الحال، وذلك يختلف بحال الشخص إذ لا يجب على الأبكم تعلم ما يحرم من الكلام، ولا على الأعمى تعلم ما يحرم من النظر، ولا على البدوي تعلم ما يحرم الجلوس فيه من المساكن، فذلك أيضاً واجب بحسب ما يقتضيه الحال، فما يعلم أنه ينفك عنه لا يجب تعلمه وما هو ملابس له يجب تنبيهه عليه كما لو كان عند الإسلام لابساً للحرير، أو جالساً في الغصب، أو ناظراً إلى غير ذي محرم، فيجب تعريفه بذلك وما ليس ملابساً له ولكنه بصدد التعرض له على القرب كالأكل والشرب فيجب تعليمه، حتى إذا كان في بلد يتعاطى فيه شرب الخمر وأكل لحم الخنزير فيجب تعليمه ذلك وتنبيهه عليه، وما وجب تعليمه وجب عليه تعلمه. وأما الاعتقادات وأعمال القلوب فيجب علمها بحسب الخواطر، فإن خطر له شك في المعاني التي تدل عليها كلمتا الشهادة فيجب عليه تعلم ما يتوصل به إلى إزالة الشك. فإن لم يخطر له ذلك ومات قبل أن يعتقد أن كلام الله سبحانه قديم وأنه مرئي وأنه ليس محلاً للحوادث إلى غير ذلك مما يذكر في المعتقدات، فقد مات على الإسلام إجماعاً

Ringkasan:

Ilmu yang wajib dipelajari terdiri dari:

– I’tiqad (keyakinan)

– Fi’lu (Perbuatan)

-Tarku (Meninggalkan)

Adapun I’tiqad adalah ketika seseorang masuk batas usia baligh maka yang pertama wajib ialah mempelajari dua kalimah Syahadat serta memahami maknanya.

Adapun Fi’liu misalnya dia masuk waktu Dhuhur maka dia wajib mempelajari tata cara thaharah dan tata cara shalat. Jika menjelang Ramadhan, maka dia wajib mempelajari tata cara berpuasa. Dan jika dia mempunyai harta dan wajib ditunaikan zakatnya, maka dia wajib mempelajari tata cara zakat yang berkaitan dengan harta yang dimilikinya .

Adapun Tarku adalah kondisional, disesuaikan dengan kondisi orangnya. Orang yang bisu tidak diwajibkan mempelajari apa-apa yang haram dalam berbicara.

 Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad Saw berkata “Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah)”. Tidak ada Nabi lain yang begitu besar perhatian dan penekanannya pada kewajiban menuntut ilmu sedetail nabi Muhammad Saw. Maka bukan hal yang asing jika waktu itu kita mendengar bahwa Islam memegang peradaban penting dalam ilmu pengetahuan. Semua cabang ilmu pengetahuan waktu itu didominasi oleh Islam yang dibangun oleh para ilmuwan Islam pada zaman itu yang berawal dari kota Madinah, Spanyol, Cordova dan negara-negara lainnya. Itulah zaman yang kita kenal dengan zaman keemasan Islam, walaupun setelah itu Islam mengalami kemunduran. Di zaman itu, di mana negara-negara di Eropa belum ada yang membangun perguruan tinggi, negara-negara Islam telah banyak membangun pusat-pusat studi pengetahun. Sekarang tugas kita untuk mengembalikan masa kejayaan Islam seperti dulu melalui berbagai lembaga keilmuan yang ada di negara-negara Islam.

Dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan bahwa orang yang mulia di sisi Allah hanya karena dua hal; karena imannya dan karena ketinggian ilmunya. Bukan karena jabatan atau hartanya. Karena itu dapat kita ambil kesimpulan bawa ilmu pengetahuan harus disandingkan dengan iman. Tidak bisa dipisahkan antara keduanya. Perpaduan antara ilmu pengetahuan dan iman akan menghasilkan peradaban yang baik yang disebut dengan Al-Madinah al-Fadhilah.

Ilmu yang wajib dituntut, secara umum ada tiga:

(1) Ilmu Tauhid

(2) Ilmu Sirry (tasawuf). Yakni, ilmu yang berhubungan dengan urusan dan pekerjaan hati.

(3) Ilmu Syari’at.

Adapun batasan masing-masing ketiga ilmu yang wajib dituntut tersebut :

1. Yang wajib dari ilmu tauhid, garis besarnya adalah mengetahui pokok-pokok ajaran agama. Yakni, bahwa engkau hanya memiliki satu Tuhan Yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Berkehendak, Maha Hidup, Maha Berbicara, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Esa tiada sekutu pun bagi Dia, memiliki sifat-sifat Kesempurnaan, Suci dari segala kekurangan, kehancuran dan dari hal-hal yang menunjukkan kebaharuan, Maha Bersendiri dengan sifat Qidam (Maha Terdahulu) dari semua yang baru (makhluk), bahwa Muhammad SAW. adalah hamba dan rasul-Nya yang membawakan ajaran kebenaran dari sisi Allah SWT. dan suci segala apa yang diucapkan lewat lisannya tentang perkara-perkara akhirat. Kemudian, wajib pula engkau mengetahui persoalan-persoalan yang diitikadkan oleh ahlus-sunnah. Sekali-kali engkau ambillah ijtihad dalam urusan agama Allah tentang perkara yang tidak disebutkan oleh kitab Al-Qur’an maupun hadits, niscaya Allah SWT. mengangkatmu ke derajat yang tinggi.

Adapun dalil-dalil ilmu tauhid, semuanya sudah tercantum di dalam kitab Al-Qur’an. Begitu pula guru-guru kita dahulu telah menjelaskannya di dalam kitab-kitab karangan mereka tentang pokok-pokok ajaran agama. Pokoknya, setiap perkara yang engkau tidak merasa aman dari kesesatan karena tidak mengetahuinya, maka wajiblah engkau menuntut ilmu hal itu, tidak boleh ditinggalkan. Demikianlah perkara ini, dan kepada Allah kita memohon taufiq.

2. Yang wajib dari ilmu sirry, secara garis besar adalah mengetahui kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan bagi hati sehingga engkau dapat benar-benar mengagungkan Allah SWT., memiliki hati ikhlas, niat suci dan mencapai keselamatan dalam perbuatan.

3. Yang wajib dari ilmu Syari’at, secara garis besar adalah setiap kewajiban yang fardhu mengerjakannya, maka wajiblah bagimu menuntut ilmunya, agar engkau dapat melaksanakan kewajiban itu. Seperti: thaharah, salat, puasa. Ada pun kewajiban menunaikan haji, mengeluarkan zakat dan jihad, jika memang sudah merupakan kewajibanmu (yakni mampu), maka wajib pula engkau menuntut ilmunya, agar engkau dapat melaksanakan. Jika tidak demikian keadaanmu, maka itu tidak perlu. Referensi : Minhajul ‘Abidin

Sebenarnya, tak ada yang berbeda antara ilmu agama dan ilmu umum, karena dalam Islam, semua ilmu adalah ilmu agama. Belajar Matematika kalau tujuannya tahu cara menghitung zakat, maka nilainya sama dengan belajar Fiqh. Belajar Kimia, olahraga dan Biologi kalau untuk mengetahui cara mensyukuri nikmat kesehatan, itu juga sama nilainya dengan belajar Al Qur an Surah Al Ghasyiyah. Belajar Fisika kalau untuk mengetahui ru’yah dan hisab, jelas sama nilainya sengan belajar syarat-syarat wajib puasa. jadi, semua ilmu hanya berbeda nama saja. Dikotomi ilmu itu dalam sejarah muncul setelah Van Deer Plas, untuk memecah belah Muslimin Indonesia. Dalam sejarah juga dijelaskan, betapa banyak Cendikiawan Muslim yang ahli dalam berbagai macam disiplin Ilmu, Al Khawarizmi yang ahli matematika, Ibnu Sina dan Al Zahrawi yang ahli kedokteran, Ibnu Khaldun yang ahli Fisika astronomi, Ibnu Tulun yang ahli Geografi, Abbas Ibnu Firnas yang ahli Aerodinamika, Fatimah Al Firhi yang ahli pendidikan, Al Khaitan yang ahli Fisika Optik, Al Jazari yang ahli Otomasi, dan masih banyak lagi seperti Thariq Ibnu Ziyad, Zaid Ibn Tsabit, Quthaibah ibn Muslim, mereka adalah tokoh-tokoh besar dunia yang kualitas Batin dan imannya jauh di atas level kita! Kalau sekarang kita masih berkutat tentang apa itu ilmu yang wajib, apa itu ilmu yang tidak wajib dipelajari, kapan kita akan mengeksplorasi jagad raya seperti yang diperintahkan Allah dalam banyak ayat? Sedangkan kata Al Qur an kita adalah Khaira ummah? kualitas apakah yang ada pada kita sehingga kita bisa mencapai label Khairal Umam?

Yang Pertama kali, pelajarilah ilmu yang ada kaitannya dengan kewajibanmu sebagai seorang hamba sehari-hari (ibadah yaumiyah).

 WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

 

PENGERTIAN MACAM DAN BENTUK AYAT PEMBUKA SURAT (MAFATIHUS SUWAR)

Fawatih al-Suwar (pembuka surah-surah)

Kata Fawatih al-Suwar  berasal dari bahasa Arab, sebuah kalimat yang terdiri dari susunan dua kata, fawatih dan al-Suwar. Memahami ungkapan ini, sebaiknya kita urai terlebih dahulu kepada pencarian makna kata perkata.

Kata فواتح yang berarti pembuka adalah jamak Taksir dari (فاتحة), yang mempunyai arti permulaan, pembukaan, dan pendahuluan. Sedangkan السور adalah jamak dari سورة yang secara etimologi mempunyai banyak arti, yaitu: tingkatan atau martabat, tanda atau alamat, gedung yang tinggi nan indah, susunan sesuatu atas lainnya yang bertingkat tingkat.

Secara terminologi surah dimaknai secara berbeda, menurut Manna’ al-Qaththan bahwa surah adalah sekumpulan ayat ayat al-Quran yang mempunyai tempat bermula dan sekaligus tempat berhenti. Sebaliknya al-Ja’barimengatakan bahwa surah adalah sebagian al-Qur’an yang mencakup beberapa ayat yang memiliki permulaan dan penghabisan (penutup), paling sedikit tiga ayat.

Dari pengertian diatas maka dapat dipahami dari segi makna fawatih al-suwar berarti pembuka-pembuka surah karena posisinya yang mengawali perjalanaan teks-teks setiap surah. Sebahagian Ulama ada yang mengidentikkan fawatih al-suwar dengan huruf al-muqatta’ah atau huruf-huruf yang terpisah dalam al-Quran. Seperti misalnya, Manna’ Khalil al-Qaththan dalam bukunya”Mabahis Fi Ulum al-Quran”. Namun bila diteliti lebih jauh, sesungguhnya keduanya sama sekali berbeda. Sebab huruf al-muqatta’ah ini tidak terdapat pada semua awal surah yang jumlahnya 114 dalam al-Qur’an. Ia tak lebih hanya merupakan salah satu bagian dari beberapa bentuk “fawatih al-Suwar ” yang ada dalam al-Qur’an.

Menurut Ibn Abi al-Ishba`, istilah fawatih adalah jenis-jenis perkataan yang membuka surah-surah dalam al-Qur’an. Jenis jenis perkataan itu dibagi menjadi sepuluh, yaitu: Jumlah khabariyyah, Qasam, Syarat, Perintah, Pertanyaan, Doa, Ta’lil,  Pujian kepada Allah, Nida’, dan yang terakhir huruf huruf tahajji (huruf-huruf muqatta’ah), atau yang biasa disebut al- fawatih.

Macam-macam Bentuk dan Redaksi Fawatih al-Suwar

Menurut kajian yang dilakukan oleh Imam al-Qasthalany, bahwa terdapat sepuluh macam bentuk fawatih al-suwar dalam al-Qur’an. Kesepuluh macam bentuk fawatih al-suwar tersebut sebagai berikut:

  1. Istiftah bi al-Sana’ (Pembukaan dengan memakai pujian kepada Allah). Terdapat pada 14 surah, yang terbagi menjadi dua yaitu:

Isbat li sifat al-Madh (penetapan untuk sifat-sifat terpuji) seperti lafadz tahmid terdapat pada 5 surah (surah ke- (1), (6), (18), (34), dan (35). dan

Lafadz tabarak, terdapat pada dua surah (surah ke- (25) dan (67).

  1. Istiftah bi al-Huruf al-Muqatta’ah (Pembukaan dengan memakai huruf huruf hijaiyyah yang terputus-putus). Pembukaan seperti ini terdapat di 29 surat dalam al-Qur’an, yang disusun dalam 14 rangkaian huruf sebagai berikut:

Terdiri dari satu huruf (Sad, Qaf, dan Nun), terdapat pada tiga surah, yaitu: surah ke- 38, 60, dan 68.

Terdiri dari dua huruf, terdapat pada sepuluh surah. Tujuh surah diantaranya dinamakan haamim, karena surah-surah ini dimulai dengan huruf ha dan mim. yaitu surah ke (40), (41), (42), (43), (44), (45), (46). Tiga surah yang lainnya adalah surah ke- (20) yang diawali dengan (طه), surah ke-27 yang diawali dengan طس dan surah ke-28. (يس) Terdiri dari tiga huruf yang berjumlah tiga belas surah., yaitu surah ke- (2), (3), (29), (30), (31), dan (32). Adapun lima surah. Yaitu surah ke- (10), (11), (12), (14), (15).  Dua buah surah lainnya yang diawali dengan tiga huruf adalah surah ke-(26) dan (28).

Terdiri dari empat huruf, yaitu surah al-A’raf , dan surah al- Ra’ad Terdiri dari lima huruf, yaitu surah Maryam (19).

  1. Istiftah bi al-Nida’ (Pembukaan dengan memakai kata-kata panggilan atau seruan) yang terdapat pada 10 surah. Panggilan ini ada dua macam, yaitu:

Panggilan untuk Nabi terdapat pada surah ke-(33), (65), (66), (73), (74).

Panggilan untuk umat manusia terdapat pada surah ke-(4), (5), (22), (49), (60).

  1. Istiftah bi al-Jumal al-Khabariyyah (Pembukaan dengan memakai kalimat berita). Adapun struktur kalimat berita yang dipakai pada awal surat ada dua macam:

Struktur Jumlah Ismiyah, yang menjadi pembukaan 11 surah, yaitu surah ke- (9), (24), (39), (47), (48), (55), (69), (71), (97), (101), (108).

Jumlah Fi’liyah, yang menjadi pembuka 12 surah sebagai berikut: surah ke-(8), (16), (21), (23), (54), (58), (70), (75), (80), (90), (98), (102).

  1. Istiftah bi al-Qasam (Pembukaan dengan memakai kata-kata sumpah). Sumpah yang digunakan dalam al-Qur’an ada tiga macam, yaitu:

Sumpah dengan benda-benda angkasa, terdapat pada 8 surah, yaitu: surah ke-(37), (53), (77), (79), (85), (86), (89), dan (91).

Sumpah dengan benda-benda yang ada di bumi, terdapat pada 4 surah yaitu: surah ke- (51), (52), (95), (100).

Sumpah dengan waktu, terdapat pada tiga surah, yaitu surah ke- (92), (93), (103).

  1. Istiftah bi al-Syart (Pembukaan dengan memakai kata-kata syarat)

Pembukaan surat dengan menggunakan kata syarat dapat dijumpai di 7 surat dalam al-Qur’an, yaitu surah ke- (56), (63), (81), (82), (84), (99), (110)

  1. Istiftah bi al-Amr (Pembukaan dengan menggunakan kata kerja perintah)

Menurut penelitian para ahli, ada enam kata kerja perintah yang dipakai dalam pembukaan al-Qur’an, yaitu: Qul, dan Iqra’. Terdapat pada 6 surah, yaitu: surah ke- (72), (96), (109), (112), (113), (114).

  1. Istiftah bi al-Istifham (Pembukaan dengan pertanyaan). Bentuk pertanyaan ini ada dua macam, yaitu:

Pertanyaan positif, bentuk pertanyaan dengan kalimat positif, terdapat  pada 4 surah yaitu surah ke- (76), (78), (88), (107).

Pertanyaan negatif, bentuk pertanyaan dengan kalimat negatif, terdapat pada dua surah yaitu surah ke-( 94), dan surah ke- (105),

  1. Istiftah bi al-Du’a’ (Pembukaan dengan doa)

Pembukaan dengan doa ini terdapat dalam tiga surah, yaitu: surah ke-(83), (104), (111)

  1. Istiftah bi al-Ta’lil (Pembukaan dengan alasan)

Pembukaan dengan alasan ini hanya terdapat dalam satu surat saja, yaitu surah ke-(106).

AYAT MUTASYABBIHAT DALAM PENGERTIAN MACAM DAN HIKMAHNYA

Pengertian Ayat Mutasyabih

Mutasyabih berasal dari kata syabaha, yang menurut bahasa berarti keserupaan, yaitu bila salah satu dari dua hal serupa dengan yang lain. Syubhat adalah keadaan dimana satu dari dua hal itu tidak dapat dibedakan dari yang lain karena adanya kemiripan di antara keduanya secara konkrit atau abstrak. Seperti firman Allah kepada penghuni surga, Q.S, surah al-Baqarah/2:25.

Dengan kalimat lain, yang dimaksud dengan Mutasyabih adalah kata yang dipakai oleh Alquran untuk menunjuk ayat-ayat yang bersifat global (mujmal) yang membutuhkan takwil dan sukar dipahami, sebab ayat-ayat yang mujmal membutuhkan rincian, ayat-ayat yang muawal (perlu ditakwil) baru diketahui maknanya setelah ditakwilkan.

Pendapat Ulama tentang Ayat Muhkam dan Mutasyabih

Secara terminologi, para ulama berbeda pendapat dalam merumuskan defenisi muhkam dan mutasyabih. Al-Zarqani mengemukakan 11 defenisi yang sebagiannya dikutip dari as-Suyuthi. Diantaranya defenisi yang dikemukakan al-Zarqani adalah berikut ini.

Muhkam adalah ayat yang jelas maksudnya lagi nyata yang tidak mengandung kemungkinan nasakh. Mutasyabih ialah ayat yang samar (tidak jelas) maknanya baik secara aqli maupun naqli, dan inilah ayat-ayat yang hanya Allah mengetahuinya, seperti datangnya hari kiamat, huruf-huruf muqatta’ pada awal surah. Pendapat ini disandarkan kepada oleh al-Alusy kepada mazhab Hanafi.

Muhkam ialah ayat yang diketahui maksudnya, baik secara nyata maupun melalui takwil. Mutasyabih ialah ayat yang hanya Allah mengetahui maksudnya, seperti datangnya hari kiamat, keluarnya dajjal dan huruf-huruf muqatta’ diawal surah. Pendapat ini disandarkan kepada ahlussunnah sebagai pendapat yang terkuat dikalangan mereka.

Muhkam ialah ayat yang hanya dapat ditakwil dengan satu kemungkinan makna takwil. Mutasyabih ialah ayat yang mengandung banyak makna takwil. Pendapat ini disandarkan pada Ibnu Abbas dan kebanyakan ahli ushul fiqih.

Muhkam ialah ayat yang berdiri sendiri dan tidak memerlukan keterangan. Mutasyabih ialah ayat yang tidak berdiri sendiri, tapi memerlukan keterangan karena adanya perbedaan takwil yang beragam. Pendapat ini disandarkan pada Imam Ahmad bin Hanbal.

Muhkam ialah ayat yang memiliki susunan dan urutan yang baik sehingga membawa kepada makna yang tepat tanpa pertentangan. Mutasyabih ialah ayat yang tidak terjangkau ilmu bahasa manusia kecuali bila ada bersamanya indikasi atau tanda-tanda yang menjelaskannya. Pendapat ini disandarkan pada Imam al-Haramain.

Muhkam ialah ayat yang jelas maknanya hingga tidak mengakibatkan kesulitan arti. Mutasyabih ialah ayat yang tidak dapat dipahami maknanya sehingga mengakibatkan kemusykilan atau kesukaran. Pendapat ini disandarkan pada Imam Ath-Thibi.

Muhkam ialah ayat yang tunjukkan maknanya kuat baik secara lafal nash atau lafal zhahir. Mutasyabih ialah ayat yang tunjukkan maknanya tidak kuat (lemah) yaitu lafal mujmal, muawwal, musykil. Pendapat ini disandarkan pada Imam al-Razidan banyak peneliti yang memilihnya.

Muhkam ialah lafal yang isi maknanya dapat diamalkan, karena sudah jelas dan tegas. Mutasyabih ialah lafal yang isi maknanya tidak perlu diamalkan melainkan cukup diyakini. Pendapat ini disandarkan pada Ikrimah dan Qatadah.

Muhkam ialah ayat yang maknanya rasional artinya dengan akal manusia saja pengertian ayat itu sudah dapat ditangkap. Mutasyabih mengandung pengertian yang tidak dapat dirasionalkan.

Muhkam ialah yang tidak berulang-ulang lafal-lafalnya dan mutasyabih ialah yang berulang-ulang lafalnya.

Muhkam ialah lafal yang tidak dinasakh atau tidak dihapuskan isi hukumnya, dan mutasyabih ialah lafal yang sudah dinasakh hukumnya sehingga tidak berlaku lagi.

Menurut al-Zarqani bahwa defenisi-defenisi ini tidak bertentangan bahkan diantaranya terdapat persamaan dan kedekatan makna. Namun, menurut dia, pendapat Imam al-Razi lebih jelas karena masalah ihkam dan tasyabuh sebenarnya kembali kepada persoalan jelas atau tidaknya makna yang dimaksud Allah dari kalam yang diturunkannya. Defenisi yang dikemukakan Imam al-Razi merupakan defenisi yang jami’ (mencakup person-personnya) dan mani’ (menolak segala yang diluar person-personnya).

Sebab-Sebab Adanya Ayat Mutasyabihat

Secara rinci, adanya ayat-ayat mutasyabihat dalam al-Quran adalah disebabkan tiga hal; yaitu karena kesamaran pada lafal, pada makna, dan pada lafal dan maknanya.

Kesamaran pada Lafal

Sebagian adanya ayat-ayat mutasyabihat dalam al-Quran itu disebabkan karena kesamaran pada lafal, baik lafal yang masih mufrad ataupun yang sudah murakab.

Kesamaran pada lafal mufrad, maksudnya adalah ada lafal-lafal mufrad yang artinya tidak jelas,baik disebabkan lafalnya yang gharib (asing), atau musytarak (bermakna ganda). Contoh lafal mufrad seperti kata أَبًّا dalam ayat 31 surah Abasa : وَفاَكِهَةً وَأَبًّا (dan buah-buahan serta rerumputan). Kata abban tersebut jarang terdapat dalam al-Quran, sehingga asing. Kalau tidak ada penjelasan dari ayat berikutnya sulit dimengerti.

Adapun kesamaran lafal mufrad bermakna ganda, seperti lafal اليَمِيْنِ dalam ayat 93 surah al-Shaad : فَرَاغَ عَلَيْهِمْ ضَرْبًا بِاليَمِيْنِ (lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kananya/dengan kuatnya/sesuai dengan sumpahnya).

Kesamaran pada lafal murakab disebabkan karena lafal-lafal murakab itu terlalu ringkas atau terlalu luas, atau karena susunan kalimatnya kurang tertib. Contoh lafal murakab yang ringkas Q.S. an-Nisa/3:4.3

Tentunya sukar memahami terjemahan ayat tadi. Karena takut tidak dapat berlaku adil terhadap anak yatim, lalu mengapa disuruh kawin wanita yang baik-baik, dua, tiga, atau empat. Contoh lafal murakab yang terlalu luas QS asy-Syuura/42:11.

Pengertian Allah tidak menjadikan kebengkokan dalam al-Quran dan menjadikannya lurus, tentu merupakan hal yang sukar dipahami. Hal itu disebabkan karena dalam ayat tersebut susunan kalimatnya ada yang kurang tertib.

Kesamaran pada Makna Ayat

Terkadang terjadinya ayat mutasyabihat itu disebabkan karena adanya kesamaran pada makna ayat. Contohnya seperti makna dari sifat-sifat Allah swt, makna ihwal hari kiamat, kenikmatan surga, siksa kubur dan siksa neraka. Akal pikiran manusia tidak akan bisa menjangkau semua hal tersebut, sehingga maknanya sulit ditangkap. Hal ini seperti hadis Nabi saw :

مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ وَلاَ اُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَرٌ فِى قَلْبِ اْلبَشَرِ

Kesamaran dalam hal-hal tersebut, tidak karena lafalnya yang asing, bermakna ganda, atau karena tertibnya melainkan karena makna dari lafal-lafalnya tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia.

Kesamaran pada Lafal dan Makna Ayat

Terkadang adanya ayat mutasyabihat terjadi disebabkan kesamaran dalam lafal dan makna ayat-ayat itu. Contoh Q.S. al-Baqarah/2:189.

Orang yang tidak mengerti adat istiadat bangsa Arab pada masa jahiliah, tidak akan paham pada maksud ayat tersebut. Sebab kesamaran dalam ayat tersebut terjadi pada lafalnya, karena terlalu ringkas, juga terjadi pula pada maknanya, karena termasuk adat kebiadaan khusus orang Arab, yang tidak mudah diketahui oleh bangsa-bangsa lain.

Macam-macam Ayat Mutasyabihat

Sesuai dengan sebab-sebab adanya ayat mutasyabihat dalam al-Quran, maka macam-macam ayat-ayat mutasyabih dapat dibagi tiga macam:

Ayat-ayat yang kandungannya mustahil diketahui manusia kecuali Allah swt, seperti ayat-ayat yang berbicara tentang sifat-sifat Allah, waktu kedatangan hari kiamat dan hal-hal gaib lainnya. Seperti Q.S. Lukman/ 31:34.

    “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Ayat-ayat yang dapat diketahui maksudnya melalui penelitian dan pengkajian seksama, seperti ayat-ayat yang kandungannya bersifat umum, atau yang kesamarannya lahir dari singkatnya redaksi dan atau susunan kata-katanya. Seperti dalam Q.S. an-Nisa/4:3.

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Ayat-ayat mutasyabihat yang maksudnya dapat diketahui oleh Allah Swt dan para ulama tertentu yang sangat mendalam ilmu pengetahuan dengan melakukan ijtihad dan tadabbur terhadap al-Quran. Ayat-ayat semacam ini tidak terungkap maknanya hanya dengan menggunakan nalar semata-mata. Seperti keterangan Q.S. Ali Imran/3:7.

    “Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya.”

Dengan adanya tiga kelompok ayat-ayat mutasyabih yang kami sebutkan seperti ini bertujuan sekurang-kurangnya bagi kelompok yang pertama untuk menyadarkan manusia tentang keterbatasan ilmu mereka disamping menjadi semacam ujian tentang kepercayaan manusia terhadap informasi Allah swt. Sementara itu, untuk ayat-ayat kelompok kedua dan ketiga ia merupakan dorongan untuk lebih giat melakukan pembahasan dan penelitian, sekaligus untuk menunjukkan peringkat pengetahuan dan kedudukan ilmiah seseorang.

Hikmah Ayat Muhkam dan Ayat Mutasyabih

Ayat-ayat al-Quran baik yang muhkam maupun yang mutasyabih semuanya bersumber dari Allah swt. Jika yang muhkam maknanya jelas dan mudah dipahami sementara yang mutasyabih maknanya samar dan tidak semua orang dapat manangkapnya, mengapa tidak sekalian saja diturunkan muhkam sehingga semua orang dengan mudah memahaminya. Oleh karena itu para ulama berusaha melakukan pengkajian untuk mengetahui rahasia dan hikmah tersebut.

Adapun hikmah keberadaan ayat-ayat mutasyabih dalam al-Quran diantaranya :

Ayat-ayat mutasyabih mengharuskan upaya yang lebih banyak untuk mengungkap maksudnya dengan jalan lebih giat belajar, tekun mengkaji sehingga menambah pahala bagi orang yang mengkajinya.

Sekiranya al-Quran seluruhnya muhkam tentunya hanya ada satu mazhab. Sebab, kejelasannya akan membatalkan semua mazhab diluarnya. Sedangkan yang demikian tidak dapat diterima semua mazhab dan tidak memanfaatkannya. Akan tetapi jika al-Quran mengandung muhkam dan mutasyabih maka masing-masing dari penganut mazhab akan mendapatkan dalil yang menguatkan pendapatnya.

Ayat-ayat mutasyabihat merupakan rahmat Allah swt bagi manusia yang lemah yang tidak mampu mengetahui segala sesuatu.

Keberadaan ayat-ayat ini juga merupakan cobaan dan ujian bagi manusia, apakah mereka percaya atau tidak tentang hal-hal ghaib berdasarkan berita yang disampaikan oleh orang benar.

Sebagai bukti atas kelemahan dan kebodohan manusia. Bagaimanapun besar kesiapan dan banyak ilmunya, namun Tuhan sendirilah yang mengetahui segala-galanya.

Adanya ayat-ayat mutasyabih dalam al-Quran merupakan sebuah bukti kemukjizatannya.

Mempermudah orang menghafal dan memeliharanya. Sebab setiap lafal yang mengandung banyak penafsiran yang berakibat pada ketidakjelasan akan menunjuk banyak makna. Sekiranya makna-makna tersebut diungkapkan dengan lafal secara langsung niscaya al-Quran menjadi berjilid-jilid. Hal ini tentunya menyulitkan untuk menghafal dan memeliharanya.

Memberikan ruang kepada manusia untuk menggunakan potensi yang ada yaitu akal disamping dalil-dalil yang naqli. Untuk berperan dalam mengemukakan argumen sehingga ia bebas dari taqlid.

Hikmah Ayat-ayat Muhkamat

Adanya ayat-ayat muhkamat dalam al-Quran jelas banyak hikmahnya bagi umat manusia, diantaranya sebagai berikut :

Menjadi rahmat bagi manusia, khususnya orang yang kemampuan bahasa Arabnya lemah. Dengan adanya ayat-ayat muhkam yang sudah jelas arti maksudnya, sangat besar arti dan faedahnya bagi mereka.

Memudahkan manusia mengetahui arti dan maksudnya. Juga memudahkan mereka dalam mengahayati makna maksudnya agar mudah mengamalkan pelaksanaan ajaran-ajarannya.

Mendorong umat agar giat memahami, menghayati, dan mengamalkan isi kandungan al-Quran.

Menghilangkan kesulitan dan kebingungan umat dalam mempelajari isi ajarannya, karena lafal ayat-ayat dengan sendirinya sudah dapat menjelaskan arti maksudnya.

Memperlancar usaha penafsiran atau penjelasan maksud kandungan ayat-ayat al-Quran.

Membantu para guru, dosen, muballigh, dan juru dakwah dalam usaha menerangkan isi ajaran kitab al-Quran dan tafsiran ayat-ayatnya kepada masyarakat.

Mempercepat usaha tahfidzul Qur’an (penghafalan al-Quran).

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB