DALIL SUAMI ISTRI BERCINTA DI MALAM JUM’AT

 VGF          Dalam kitab Musnad-nya Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadits berikut ini :

مَنْ غَسَّلَ وَاغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ، وَمَشَى، وَلَمْ يَرْكَبْ فَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ، فَاسْتَمَعَ، وَلَمْ يَلْغُ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا

“Barangsiapa yang bersuci dan mandi, kemudian bergegas berangkat denganberjalan, tidak dengan menaiki  dan  mendekat dengan imam, lalu mendengarkan khutbah dan tidak berbuat sia-sia, maka baginya bagi setiap langkah pahala satu tahun baik puasa dan shalat malamnya”

Imam Nawawi menjelaskan bahwa derajat hadits ini adalah Hasan, dan hadits ii diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abu Dawud, Imam At-Turmudzi, Imam Nasa’i , Imam Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad hasan.

Ulama’ berselisih pendapat mengenai harokat hurufsin pada kata “ghosala “, apakah ditasydid atau tidak sebagaimana mereka berselisih pendapat mengenai maksud dari kata tersebut. Namun, baik kata tersebut dibaca ghosala (tanpa tasydid) atau ghossala (dengan ditasydid) sebagian ulama’ menjelaskan bahwa maksud dari kata tersebut adalah menggauli istrinya sebagaimanan yang dikatakan oleh Az-Zamahsyari.

Jika kita mengikuti ulama’ yang membaca dengan ghossala (dengan tasydid) arti dari kata terebut adalah “memandikan”, maksutnya karena sang suami menjima’ istrinya dan menyebabkannya mandi jinabat, maka secara tidak langsung sang suami telah “memandikan” istrinya.Dan jika mengikuti riwayat dengan menggunakan kata ghosala (tanpa tasydid) menurut Imam Al Azhari artinya juga jima’. Ini hanyalah salah satu dari 3 pendapat mengenai arti dari kata tersebut, baik dibaca ghosala ataupun ghossala.

Kesimpulannya, hadits diatas dijadikan dalil oleh sebagian ulama’ tentang kesunatan menjima’ istri sebelum berangkat sholat jum’at.Nah, dikarenakan disunatkan untuk bergegas pergi kemasjid dipagi hari maka dipahami bahwa jima’ tersebut dilakukan dimalam hari, akhirnya disimpulkan hukum kesunatan menjima’ istri pada malam jum’at.

Kesimpulan hukum ini dikuatkan oleh satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman :

أَيعْجزُ أحدكُم أَن يُجَامع أَهله فِي كل يَوْم جُمُعَة قَالَ لَهُ أَجْرَيْنِ اثْنَيْنِ أجر غسله وَأجر غسل امْرَأَته

” Apakah seorang dari kalian tidak mampu untuk ‘mendatangi’ istrinya setiap jumat, sesungguhnya bagi dia dua pahala, pahala mandinya sendiri dan pahala memandikan istrinya “.

Adapun hikmah dari kesunatan menggauli istri sebelum pergi sholat jum’at adalah agar matanya tidak melihat hal-hal yang mengganggu pikirannya saat pergi kemasjid dan menjadikan hatinya tenang, sehingga sholatnya menjadi lebih khusu’, hikmah lainnya adalah membantu istrinya untuk memperoleh kesunatan mandi jum’at.

Referensi :
1. Al Majmu’, Juz : 4  Hal : 542-543
2. Nailul Author, Juz : 1  Hal : 295-296
3. Fathul Bari, Juz : 2  Hal : 366
4. Tanwirul Hawalik, Juz : 1  Hal : 93
5. Al Fiqhul Manhaji, Juz : 84-85

Ibarot :
Al Majmu’, Juz : 4  Hal : 542-543

قال المصنف رحمه الله : ويستحب أن لا يركب من غير عذر لما روى أوس بن اوس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال ” من غسل واغتسل يوم الجمعة وبكر وابتكر ومشى ولم يركب ودنا من الامام واستمع ولم يلغ كان له بكل خطوة أجر عمل سنة صيامها وقيامها
الشرح : هذا الحديث حسن رواه أحمد بن حنبل وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه وغيرهم بأسانيد حسنة قال الترمذي هو حديث حسن ورواية أوس بن أوس الثقفي وقال يحيى بن معين هو أوس بن أبي أوس والصواب الأول وروي غسل بتخفيف السين وغسل بتشديدها روايتان مشهورتان والأرجح عند المحققين بالتخفيف فعلى رواية التشديد في معناه ثلاثة أوجه (أحدها) غسل زوجته بأن جامعها فألجأها إلى الغسل واغتسل هو قالوا ويستحب له الجماع في هذا اليوم ليأمن أن يرى في طريقه ما يشغل قلبه (والثاني) أن المراد غسل أعضاءه في الوضوء ثلاثا ثلاثا ثم اغتسل للجمعة (والثالث) غسل ثيابه ورأسه ثم اغتسل للجمعة وعلى رواية التخفيف في معناه هذه الأوجه الثلاثة (أحدها) الجماع قاله الأزهري قال ويقال غسل امرأته إذا جامعها (والثاني)
غسل رأسه وثيابه (والثالث) توضأ وذكر بعض الفقهاء عسل بالعين المهملة وتشديد السين أي جامع شبه لذة الجماع بالعسل وهذا غلط غير معروف في روايات الحديث وإنما هو تصحيف والمختار ما اختاره البيهقي وغيره من المحققين أنه بالتخفيف وأن معناه غسل رأسه ويؤيده رواية لأبي داود في هذا الحديث من غسل رأسه يوم الجمعة واغتسل وروى أبو داود في سننه والبيهقي هذا التفسير عن مكحول وسعيد بن عبد العزيز قال البيهقي وهو بين في رواية أبي هريرة وابن عباس رضي الله عنهم عن النبي صلى الله عليه وسلم وإنما أفرد الرأس بالذكر لأنهم كانوا يجعلون فيه الدهن والخطمي ونحوهما وكانوا يغسلونه أولا ثم يغتسلون

Nailul Author, Juz : 1  Hal : 295-296

وعن أوس بن أوس الثقفي قال: سمعت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يقول: «من غسل واغتسل يوم الجمعة وبكر وابتكر ومشى ولم يركب ودنا من الإمام فاستمع ولم يلغ كان له بكل خطوة عمل سنة أجر صيامها وقيامها» . رواه الخمسة ولم يذكر الترمذي: ” ومشى ولم يركب ”
……………………………………………………………..

قوله: (غسل) روي بالتخفيف والتشديد، قيل أراد غسل رأسه، واغتسل أي غسل سائر بدنه، وقيل: جامع زوجته فأوجب عليها الغسل، فكأنه غسلها واغتسل في نفسه، وقيل: كرر ذلك للتأكيد، ويرجح التفسير الأول ما في رواية أبي داود في هذا الحديث بلفظ: «من غسل رأسه واغتسل» ، وما في البخاري عن طاوس قال: قلت لابن عباس: ذكروا أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: «اغتسلوا واغسلوا رءوسكم» الحديث، وقال صاحب المحكم: غسل امرأته يغسلها غسلا أكثر نكاحها. وقال الزمخشري ويقال: غسل المرأة بالتخفيف والتشديد إذا جامعها، وحكاه صاحب النهاية وغيره أيضا، وقيل: المراد غسل أعضاء الوضوء، واغتسل للجمعة، وقيل: غسل ثيابه واغتسل لجسده

Fathul Bari, Juz : 2  Hal : 366

وقيل فيه إشارة إلى الجماع يوم الجمعة ليغتسل فيه من الجنابة والحكمة فيه أن تسكن نفسه في الرواح إلى الصلاة ولا تمتد عينه إلى شيء يراه وفيه حمل المرأة أيضا على الاغتسال ذلك اليوم وعليه حمل قائل ذلك حديث من غسل واغتسل المخرج في السنن على رواية من روى غسل بالتشديد قال النووي ذهب بعض أصحابنا إلى هذا وهو ضعيف أو باطل والصواب الأول انتهى وقد حكاه بن قدامة عن الإمام أحمد وثبت أيضا عن جماعة من التابعين وقال القرطبي إنه أنسب الأقوال فلا وجه لادعاء بطلانه وإن كان الأول أرجح ولعله عنى أنه باطل في المذهب

Tanwirul Hawalik, Juz : 1  Hal : 93
من اغتسل يوم الجمعة غسل الجنابة قال الباجي يحتمل أن يريد به غسلا على صفة غسل الجنابة ويحتمل أن يريد به الجنب المغتسل بجنابته قال الحافظ بن حجر والأول قول الأكثر وفي رواية بن جريج عن سمي عند عبد الرزاق فاغتسل أحدكم كما يغتسل من الجنابة والثاني فيه إشارة إلى استحباب الجماع يوم الجمعة والحكمة فيه أن تسكن نفسه في الرواح إلى الصلاة ولا تمتد عينه إلى شيء يراه وفيه حمل المرأة أيضا على الاغتسال قلت ويؤيده حديث أيعجز أحدكم أن يجامع أهله في كل يوم جمعة قال له أجرين اثنين أجر غسله وأجر غسل امرأته أخرجه البيهقي في شعب الإيمان من حديث أبي هريرة

Al Fiqhul Manhaji, Juz : 84-85

يُسنّ الغسل يوم الجمعة لمن يريد حضور الصلاة، وإن لم تجب عليه الجمعة: كمسافرٍ أو امرأةٍ، أو صغير، وقيل: يسن الغسل لكل أحد، حضر الجمعة أم لا

APAKAH MAKSUD “SUNNAH ROSUL” DI MALAM JUM’AT

 VFG             Syekh Muallif menjelaskan, bahwa senggama dapat dilakukan setiap saat, baik siang maupun malam, kecuali pada waktu yang nanti akan dijelaskan, sebagaimana petunjuk yang terdapat dalam Al-Quran yaitu firman Allah Swt.: “Istri-istri kalian adalah (seperti) tempat tanah kalian bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam kalian itu bagaimana saja kalian kehendaki” (Qs. Al-Baqarah: 223).

Maksudnya, kapan saja kalian mau, baik siang maupun malam menurut beberapa tafsir atas ayat diatas. Ayat ini jugalah yang dimaksudkan oleh kata-kata Muallif, seperti penjelasan pada surat An-Nisa’, akan tetapi, bersenggama pada permulaan malam lebih utama. Oleh karena itu Syekh penazham mengingatkan dalam bait berikut ini : “Namun senggama diawal malam lebih utama, ambillah pelajaran ini, Pendapat lain mengatakan sebaliknya, maka yang awal itulah yang dipilih”.

Al-Imam Abu Abdullah bin Al-Hajji didalam kitab Al-Madkhal mengatakan, bahwa dipersilahkan memilih dalam melakukan senggama, baik diawal atau akhir malam. Akan tetapi, diawal malam lebih utama, sebab, waktu untuk mandi jinabat masih panjang dan cukup. Lain halnya kalau senggama dilakukan diakhir malam, terkadang waktu untuk mandi sangat sempit dan berjamaah shalat subuh terpaksa harus tertinggal, atau bahkan mengerjakan shalat subuh sudah keluar dari waktu yang utama, yaitu shalat diawal waktu. Disamping itu, senggama diakhir malam sudah barang tentu dilakukan sesudah tidur, dan bau mulut pun sudah berubah tidak enak, sehingga dikhawatirkan akan mendatangkan rasa jijik dan berkurangnya gairah untuk memadu cinta kasih. Akibatnya, senggama dilakukan hanya bertujuan senggama, lain tidak. Padahal maksud dan tujuan senggama tidaklah demikian, yaitu untuk menanamkan rasa ulfah dan mahabbah, rasa damai dan cinta, serta saling mengasihi sebagai buah asmara yang tertanam didalam lubuk hati suami istri.

Pendapat tersebut ditentang oleh Imam Al-Ghazali. Beliau berpendapat, bahwa senggama yang dilakukan pada awal malam adalah makruh, karena orang (sesudah bersenggama) akan tidur dalam keadaan tidak suci. Selanjutnya Syekh Muallif menjelaskan beberapa malam, dimana disunahkan didalamnya melakukan senggama, sebagaimana diuraikan pada bait nazham berikut ini: “Senggama dimalam Jumat dan Senin benar-benar di sunahkan, karena keutamaan malam itu tidak diragukan.”
Syekh Muallif menjelaskan, bahwa disunahkan bersenggama pada malam Jumat. Karena malam Jumat adalah malam yang paling utama diantara malam-malam lainya. Ini juga yang dimaksudkan Syekh penazham: bi lailatil ghuruubi dengan menetapkan salah satu takwil hadits berikut ini : “Allah Swt. memberi rahmat kepada orang yang karena dirinya orang lain melakukan mandi dan ia sendiri melakukannya”.

Syekh Suyuti mengatakan, bahwa hadits tersebut dikuatkan oleh hadits dari Abu Hurairah berikut ini : “Apakah seseorang diantara kalian tidak mampu bersenggama bersama istrinya pada setiap hari Jumat? Sebab, baginya mendapat dua macam pahala, pahala dia melakukan mandi dan pahala istrinya juga melakukan mandi.” (HR. Baihaqi).

Bersenggama itu disunahkan lebih banyak dilakukan dari pada hari-hari dan waktu yang telah disebutkan diatas. Hal itu dijelaskan oleh Syekh Muallif melalui nazhamnya berikut ini : “Senggama dilakukan setelah tubuh terangsang, hai pemuda, tubuh terasa ringan dan tidak sedang dilanda kesusahan”. Syekh penazham menjelaskan, bahwa termasuk kedalam tata krama bersenggama adalah senggama dilakukan setelah melakukan pendahuluan, misalnya bermain cinta, mencium pipi, tetek, perut, leher, dada, atau anggota tubuh lainnya, sehingga pendahuluan ini mampu membangkitkan nafsu dan membuatnya siap untuk memasuki pintu senggama yang sudah terbuka lebar dan siap menerima kenikmatan apapun yang bakal timbul. Hal ini dilakukan karena ada sabda Nabi Saw.: “Janganlah salah seorang diantara kalian (bersenggama) dengan istrinya, seperti halnya hewan ternak. Sebaiknya antara keduanya menggunakan perantara. Ditanyakan, ‘Apakah yang dimaksud dengan perantara itu?’ Nabi Saw. menjawab,’Yakni ciuman dan rayuan.”
Diantara tata krama senggama lainya adalah bersenggama dilakukan setelah perut terasa ringan dan tubuh benar-benar segar. Karena senggama dalam keadaan perut kenyang akan dapat menimbulkan rasa sakit, mengundang penyakit tulang, dan lain-lain. Oleh karena itu, bagi orang yang selalu menjaga kesehatan hal-hal seperti itu sebaiknya dihindari.
Dikatakan, bahwa ada tiga perkara yang terkadang dapat mematikan seseorang, yaitu:

  1. Bersetubuh dalam keadaan lapar.
  2. Bersetubuh dalam keadaan sangat kenyang.
  3. Bersetubuh setelah makan ikan dendeng kering.

Kata-kata Syekh penazham diatas diathafkan pada lafazh al-a’dhaa-u, yang berarti ringannya rasa susah, maksudnya, kesusahan tidak sedang melanda dirinya. Oleh karena itu sebenarnya susunan kata tersebut (ringannya rasa susah) tidak diperlukan lagi, karena ada kata-kata penazham: “Setelah tubuh terasa ringan”. Jadi seolah-olah susunan kata tersebut hanya untuk menyempurnakan bait nazham. [ Qurratul Uyun, Syarah Nazham Ibnu Yamun ].

JIMA’ DI MALAM JUMAT PAHALANYA SEPERTI MEMBUNUH ORANG KAFIR (JIHAD)

Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin disebutkan sebuah riwayat:

روي عن النبي صلى الله عليه وسلم إن الرجل ليجامع أهله فيكتب له بجماعه أجر ولد ذكر قاتل في سبيل الله فقتل.

Diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW bahwa “Sesungguhnya seorang suami yang menggauli (Jima’) istrinya, maka jima’nya itu dicatat memperoleh pahala seperti pahalanya anak lelaki yang berperang (dengan Kaum Kuffar) di jalan Allah lalu terbunuh”. Kitab Ihya’ Ulumiddin Lil Ghozali, Juz 2 Hlm. 326

Meskipun riwayat tsb dinilai ‘tidak ada asalnya’ (لم أجد له أصلا) oleh Al-Iraqi, tapi paling tidak riwayat dalam kitab ini yang menjadi pijakan masyarakat demi menggalakkan Jima’ yang juga salahsatu sunnah Rasul dimalam Jum’at, demikian seperti yang dijelaskan oleh Imam Ghazali di halaman lain kitab ini:

ومن العلماء من استحب الجماع يوم الجمعة وليلته تحقيقاً لأحد التأويلين من قوله صلى الله عليه وسلم: ” رحم الله من غسل واغتسل الحديث

Dan ada sebagian ulama yang menyukai jima’ pd hari dan malam jumat, sbg aplikasi dari salah satu takwil hadits; “Allah merahmati orang yang membersihkan dan mandi (pada hari jumat)”. Ibid, Ihya’, juz 2 hlm 324

Demikian juga dalam syarah Sunan At-Tirmidzy, disebutkan :

وبقوله اغتسل غسل سائر بدنه ، وقيل : جامع زوجته .

Dan dgn sabdanya “mandi” (pada hari jumat), yaitu memandikan seluruh badannya, dan dikatakan pula maknanya adalah menjima’ istrinya”. Tuhfatul Ahwadziy Lil Mubarakfuri, Juz 3 hlm 3

Keutamaan Menggauli Istri di Hari Jum’at

Jima’ atau hubungan seks dalam pandangan Islam bukanlah hal aib dan hina yang harus dijauhi oleh seorang muslim yang ingin menjadi hamba yang mulia di sisi Allah. Hal ini berbeda dengan pandangan agama lain yang menilai persetubuhan sebagai sesuatu yang hina. Bahkan, sebagian ajaran agama tertentu mewajibkan untuk menjauhi pernikahan dan hubungan seks guna mencapai derajat tinggi dalam beragama.

Diriwayatkan dalam shahihain, dari Anas bin Malik pernah menceritakan, ada tiga orang yang datang ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menanyakan tentang ibadah beliau. Ketika diberitahukan, seolah-olah mereka saling bertukar pikiran dan saling bercakap bahwa mereka tidak bisa menyamai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena dosa beliau yang lalu dan akan datang sudah diampuni. Lalu salah seorang mereka bertekad akan terus-menerus shalat malam tanpa tidur, yang satunya bertekad akan terus berpuasa setahun penuh tanpa bolong, dan satunya lagi bertekad akan menjauhi wanita dengan tidak akan menikah untuk selama-lamanya. Kabar inipun sampai ke telinga baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas beliu bersabda kepada mereka, “Apakah kalian yang mengatakan begini dan begitu? Adapun saya, Demi Allah, adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada Allah di bandingkan kalian, tapi saya berpuasa dan juga berbuka, saya shalat (malam) dan juga tidur, serta menikahi beberapa wanita. Siapa yang membenci sunnahku bukan bagian dari umatku.” (Muttafaq ‘alaih).

Bahkan dalam hadits lain disebutkan bahwa seks atau hubungan badan di jalan yang benar akan mendatangkan pahala besar. Diriwayatkan dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرًا

“Dan pada kemaluan (persetubuhan) kalian terdapat sedekah. Mereka (para sahabat) bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah salah seorang dari kami yang menyalurkan syahwatnya lalu dia mendapatkan pahala?’ Beliau bersabda, ‘Bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan pada tempat yang haram, bukankah baginya dosa? Demikianlah halnya jika hal tersebut diletakkan pada tempat yang halal, maka dia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim).

Di dalam perkawinan terdapat kesempurnaan hidup, kenikmatan dan kebaikan kepada sesama….

Ibnul Qayyim, sebagaimana yang dinukil oleh Al-Istambuli dalam Tuhfatul ‘Arus, mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajak kepada umatnya agar melaksanakan pernikahan, senang dengannya dan mengharapkan (padanya) suatu pahala serta sedekah bagi yang telah melaksanakannya. Di dalam perkawinan terdapat kesempurnaan hidup, kenikmatan dan kebaikan kepada sesama. Di samping itu, juga mendapatkan pahala sedekah, mampu menenangkan jiwa, menghilangkan pikiran kotor, menyehatkan menolak keinginan-keinginan yang buruk.”

Kesempurnaan nikmat dalam perkawinan dan jima’ akan diraih oleh orang yang mencintai dan dengan keridlaan Rabbnya dan hanya mencari kenikmatan di sisinya serta mengharapkan tambahan pahala untuk memperberat timbangan kebaikannya. Oleh karena itu yang sangat disenangi syetan adalah memisahkan suami dari kekasihnya dan menjerumuskan keduanya ke dalam tindakan yang diharamkan Allah.

Disebutkan dalam Shahih Muslim, bahwa Iblis membangun istana di atas air (tipu muslihat), kemudian menyebarkan istananya itu kepada manusia. Lalu iblis mendekatkan rumah mereka dan membesar-besarkan keinginan (hayalan) mereka. Iblis berkata, ‘Tidak ada perubahan kenikmatan sampai terjadi perzinaan’. Yang lainnya berkata, ‘Aku tidak akan berpaling sampai mereka berpisah dari keluarganya.’ Maka iblis menenangkannya dan menjadikan dirinya berseru, ‘Benarlah apa yang telah engkau lakukan’.

Kenapa Iblis begitu bersemangat untuk menjerumuskan orang ke dalam perzinaan dan perceraian? Karena pernikahan dan berjima dalam balutan perkawinan adalah sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya. Makanya hal ini sangat dibenci oleh musuh manusia. Ia selalu berusaha memisahkan pasangan yang berada berada dalam naungan ridla ilahi dan berusaha menghiasi mereka dengan segala sifat kemungkaran dan perbuatan keji serta menciptakan kejahatan di tengah-tengah mereka.

Untuk itu hendaknya bagi suami-istri agar mewaspai keinginan syetan dan usahanya dalam memisahkan mereka berdua. Ibnul Qayim berkata dalam menta’liq hadits anjuran menikah bagi pemuda yang sudah ba’ah, “Setiap kenikmatan membantu terhadap kenikmatan akhirat, yaitu kenikmatan yang disenangi dan diridlai oleh Allah.”

Seorang suami dalam aktifitasnya bersama istrinya akan mendapatkan kenikmatan melalui dua arah. Pertama, dari sisi kebahagiaan suami yang merasa senang dengan hadirnya seorang istri sehingga perasaan dan juga penglihatannya merasakan kenikmatan tersebut. Kedua, dari segi sampainya kepada ridla Allah dan memberikan kenikmatan yang sempurna di akhirat. Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi orang berakal untuk menggapai keduanya. Bukan sebaliknya, menggapai kenikmatan semu yang beresiko mendatangkan penyakit dan kesengsaraan serta menghilangkan kenikmatan besar baginya di akhirat. (Lihat: Ibnul Qayyim dalam Raudhatul Muhibbin, hal. 60).

Jima’ di hari Jum’at

Uraian keutamaan hubungan suami istri di atas sebenarnya sudah cukup menunjukkan pahala besar dalam aktifitas ranjang. Lalu adakah dalil khusus yang menunjukkan keutamaan melakukan jima’ di hari Jum’at dengan pahala yang lebih berlipat?

Memang banyak pembicaran dan perbincangan yang mengarah ke sana bahwa seolah-olah malam Jum’at dan hari Jum’at adalah waktu yang cocok untuk melakukan hubungan suami-istri. Keduanya akan mendapatkan pahala berlipat dan memperoleh keutamaan khusus yang tidak didapatkan pada hari selainnya. Kesimpulan tersebut tidak bisa disalahkan karena ada beberapa dalil pendukung yang menunjukkan keutamaan mandi janabat pada hari Jum’at. Sedangkan mandi janabat ada dan dilakukan setelah ada aktifitas percintaan suami-istri.

Dari Abu Hurairah radliyallhu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

“Barangsiapa mandi di hari Jum’at seperti mandi janabah, kemudian datang di waktu yang pertama, ia seperti berkurban seekor unta. Barangsiapa yang datang di waktu yang kedua, maka ia seperti berkurban seekor sapi. Barangsiapa yang datang di waktu yang ketiga, ia seperti berkurban seekor kambing gibas. Barangsiapa yang datang di waktu yang keempat, ia seperti berkurban seekor ayam. Dan barangsiapa yang datang di waktu yang kelima, maka ia seperti berkurban sebutir telur. Apabila imam telah keluar (dan memulai khutbah), malaikat hadir dan ikut mendengarkan dzikir (khutbah).” (HR. Bukhari no. 881 Muslim no. 850).

Para ulama memiliki ragam pendapat dalam memaknai “ghuslal janabah” (mandi janabat). Sebagaian mereka berpendapat bahwa mandi tersebut adalah mendi janabat sehingga disunnahkan bagi seorang suami untuk menggauli istrinya pada hari Jum’at. karena hal itu lebih bisa membantunya untuk menundukkan pandangannya ketika berangkat ke masjid dan lebih membuat jiwanya tenang serta bisa melaksanakan mandi besar pada hari tersebut. Pemahaman ini pernah disebutkan oleh Ibnu Qudamah dari Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dan juga disebutkan oleh sekelompok ulama Tabi’in. Imam al-Qurthubi berkata, “sesungguhnya dia adalah pendapat yang peling tepat.” (Lihat: Aunul Ma’bud: 1/396 dari Maktabah Syamilah).

Pendapat di atas juga mendapat penguat dari riwayat Aus bin Aus radliyallah ‘anhu yang berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا

“Barangsiapa mandi pada hari Jum’at, berangkat lebih awal (ke masjid), berjalan kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam dan mendengarkan khutbahnya, dan tidak berbuat lagha (sia-sia), maka dari setiap langkah yang ditempuhnya dia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamulail setahun.” (HR. Abu Dawud no. 1077, Al-Nasai no. 1364, Ibnu Majah no. 1077, dan Ahmad no. 15585 dan sanad hadits ini dinyatakan shahih).

Menurut penjelasan dari Syaikh Mahmud Mahdi Al-Istambuli dalam Tuhfatul ‘Arus, bahwa yang dimaksud dengan mandi jinabat pada hadits di atas adalah melaksanakan mandi bersama istri. Ini mengandung makna bahwa sebelumnya mereka melaksanakan hubungan badan sehingga mengharuskan keduanya melaksanakan mandi. Hikmahnya, hal itu disinyalir dapat menjaga pandangan pada saat keluar rumah untuk menunaikan shalat Jum’at. Adapun yang dimaksud dengan bergegas pergi menuju ke tempat pelaksanaan shalat Jum’at pada awal waktu, adalah untuk memperoleh kehutbah pertama. (Lihat: Tuhfatul Arus hal. 175-176).

Wallahu a’lam.

YANG DI MAKSUD DENGAN FASIQ DALAM AGAMA

ngaji         “Mereka kemudian berbuat fasiq terhadap perintah Tuhan­nya.” (QS Al-Kahfi: 50).

         Fasiq berasal dari akar kata fasaqa-yafsuqu/yafsiqu-fisq-fusuq. Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi menyebutkan, seba­gai kata, kata fisq berarti keluar dari se­suatu (al-khurûj ‘an asy-syay’i). Demi­kian juga Ibnu Manzhur, dalam ensi­klopedi bahasa karyanya, Lisan Al-‘Arab, ia menjelaskan bahwa, sebagai kata, fasiq (al-fisq) maknanya adalah keluar (al-khurûj).

Sedangkan sebagai istilah, sebagai­mana menurut Imam Al-Jurjani dalam kitab At-Ta’rifat, orang fasiq (al-fasiq) ada­lah orang yang bersaksi dan me­nyaksikan (syari’at) tetapi tidak meyakini dan melaksanakannya.

Ibnu Manzhur menjelaskan, fasiq (al-fisq) bermakna maksiat, meninggalkan perintah Allah, dan menyimpang dari ja­lan yang benar. Fasiq juga berarti me­nyimpang dari agama dan cenderung pada kemaksiatan; sebagaimana iblis melanggar (fasaqa) perintah Allah, yakni menyimpang dari ketaatan kepada-Nya. Allah SWT berfirman, “Mereka kemudian berbuat fasiq terhadap perintah Tuhan­nya.” (QS Al-Kahfi: 50).

Dalam ayat di atas, frase “berbuat fa­siq terhadap perintah Tuhannya” arti­nya keluar dari ketaatan kepada-Nya.

Fasiq juga berarti keluar dari kebe­naran (al-khurûj ‘an al-haqq). Karena itu, fasiq kadang-kadang berarti syirik dan ka­dang-kadang berarti berbuat dosa. Sese­orang dikatakan fasiq (fâsiq/fasîq) jika ia sering melanggar aturan/perintah agama.

Fasiq juga berarti keluar dari sikap isti­qamah dan bermaksiat kepada Tu­han. Karena itu, seseorang yang gemar berbuat maksiat (al-‘âshî) disebut orang fasiq (Ibnu Manzhur, Lisân al-‘Arab, 10/38).

Fasiq berarti keluar dari aturan sya­ri’at. Fasiq lebih umum daripada kafir. Da­pat dikatakan bahwa semua kafir ada­lah fasiq, sedangkan tidak semua fasiq termasuk kafir. Dikatakan bahwa semua kafir adalah fasiq karena ia tidak melak­sanakan hukum sesuai yang telah di­tetapkan syari’at.

Menurut Ar-Raghib Al-Ishfahani, fusuq (kefasiqan) bisa disebabkan oleh dosa yang sedikit maupun dosa yang banyak. Namun fasiq konotasinya lebih sering kepada berbuat dosa yang ba­nyak. Dengan demikian, fasiq adalah orang yang mengetahui hukum syara’ dan mengakuinya tetapi tidak meng­amalkan hukum syara’, sedikit atau ba­nyak. Quraish Shihab memaparkan, se­seorang disebut fasiq karena ia telah ke­luar dari koridor agama, akibat melaku­kan dosa besar maupun melakukan dosa kecil.

Penggunaan kata fasiq dalam Al-Qur’an antara lain terdapat dalam surah Al-Hujurat ayat 6, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menim­pa­kan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Selain kafir secara umum, kafir nifâq atau munafik juga dapat dikategorikan sebagai fasiq. Hal ini ditegaskan oleh Al-Qur’an dalam surah At-Taubah ayat 68, “Orang-orang munafik, laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyu­ruh membuat yang munkar dan mela­rang berbuat yang ma`ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah me­lupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasiq.”

Orang-orang yang terus-menerus melakukan dosa besar digolongkan fasiq ini, karena menganggap dosa besar ada­lah hal yang biasa dan menolak untuk meninggalkannya.

Pembagian Fasiq

Sejumlah ulama membagi fasiq pada dua macam. Pertama, fasiq kecil, yaitu orang Islam yang sering berbuat maksiat namun masih memiliki iman dalam hati­nya. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) de­lapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat se­lama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasiq.” (QS An-Nur: 4).

Yang kedua, fasiq besar, yaitu orang kafir dan munafik, yang sudah tidak me­miliki iman dalam hatinya. Allah SWT ber­firman, “Dan adapun orang-orang yang fasiq (kafir), tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali hendak keluar dari­padanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada me­reka, ‘Rasakanlah siksa neraka yang da­hulu kamu mendustakannya’.” (QS As-Sajdah: 20).

Namun pada umumnya, jika para ula­ma menyebut istilah “fasiq” tanpa tam­bahan kata “besar” atau “kecil”, yang dimaksudkan ialah fasiq kecil, yakni di­tujukan kepada seorang muslim yang melanggar ketentuan Allah secara sengaja dan terus-menerus.

Menurut Abu Hasan Al-Asy’ari, orang fasiq tetap mukmin, karena imannya ma­sih ada. Dosa besar yang dilakukannya­lah yang menjadikan dia tergolong fasiq.

Imam Al-Ghazali menambahkan, orang yang mengaku beriman dengan hati­nya dan mengucap dua kalimah sya­hadat dengan lidahnya namun tidak mengiringinya dengan amal, orang ter­sebut tetap dipandang mukmin dan ke­lak akan masuk surga, tapi dimasukkan dulu ke neraka untuk menerima imbalan atas perbuatan buruk yang dikerjakan­nya. Al-Ghazali mendasarkan pendapat­nya ini dengan hadits yang berbunyi, “Akan keluar dari neraka orang yang ada iman di dalam hatinya walaupun sebesar biji sawi.” (HR Al-Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri).

IMAN DAN ISLAM DALAM PENGERTIAN SYARI’AT ISLAM

ALLOH         Dalam pandangan Islam, dalam diri manusia terdapat beberapa unsur yang diistimewakan Allah Swt, utamanya terkait dengan dengan keimanan. Sayangnya, hal itu tidak mendapat perhatian yang semestinya. Sering dilupakan bahwa perilaku keislaman harus didasari oleh keimanan yang teguh. Islam adalah perbuatan lahir yang harus berdasar keyakinan dan keimanan yang kuat. Fitrah manusia mendorongnnya berbuat sesuatu berdasarkan dorongan hati nurani dan dorongan manusiawi lainnya. Karenanya, tindakan manusia yang tidak memiliki motivasi yang benar pada akhirnya hanya akan melahirkan dampak buruk. Berpijak dari hal ini, sudah seharusnyalah iman menjadi landasan seluruh tingkah laku seorang muslim. Untuk memahami keduanya secara utuh dibutuhkan kajian yang paripurna, tulisan ini kiranya dapat menjadi pengantar menuju bacaan yang lebih mendalam.

Makna Iman
Arti iman dalam tinjauan bahasa adalah percaya, setia, melindungi, dan menempatkan sesuatu di tempat yang aman (baca: pada tempatnya). Terkait dengan akidah yang dimaksud adalah iman yang bermakna pembenaran terhadap suatu hal; pembenaran yang hakikatnya tidak dapat dipaksakan (intimidasi) oleh siapapun, karena iman terletak dalam hati yang hanya bisa dikenali dan dipahami secara pribadi. Seseorang tidak dapat mengetahui hakikat keimanan orang lain, apalagi memaksakannya. Dalam syara’, iman diartikan sebagai pembenaran terhadap ajaran Nabi Muhammad Saw, yakni beriman kepada Allah Swt, para Malaikat, para Nabi, para Rasul, hari kiamat, qadhâ’ dan qadar. Demikian makna iman menurut hadits Nabi Saw.

Dalam menjelaskan iman, beberapa ulama Ahlussunnah memiliki pandangan yang berbeda. Menurut Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, Awza’i, Ishaq bin al-Rahawayh, makna iman mencakup keyakinan dalam hati dan pengakuan dengan lisan bahwa ajaran yang dibawa oleh Nabi Saw. adalah kebenaran (haq) yang kemudian hal itu ditunjukkan dalam amal perbuatan. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, sebagaimana dikutip al-Thahawi, amal perbuatan tidak termasuk dalam iman. Menurut beliau iman adalah pengakuan lisan dan pembenaran hati. Sementara al-Maturidi berpendapat bahwa hakikat keimanan adalah pembenaran hati, sementara pengakuan lisan merupakan pilar (rukun) tambahan dalam keimanan, bukan merupakan unsur utama. Namun demikian, beberapa pandangan—yang nampak berbeda—sepakat bahwa orang yang tidak meyakini kebenaran Islam adalah orang kafir, sementara orang yang tidak menjalankan perintah agama adalah fasik. Sekalipun pandangan mayoritas ahli hadits adalah bahwa amal perbuatan merupakan bagian dari iman, dengan meninggalkannya tidak berarti seseorang menjadi kafir; namun ia kehilangan kesempurnaan iman. Dengan demikian substansi beberapa pendapat di atas adalah sama.

Dalam karyanya, al-Tawhid, al-Maturidi menguraikan bahwa pendapat yang benar mengenai keimanan ialah bahwa ia merupakan sesuatu yang tersimpan dalam hati. Pengertian ini ia dasari oleh dua argumen;

Pertama, berdasarkan penjelasan syara’:

(a). Sebuah ayat yang menerangkan orang Munafik. Dalam ayat ni diterangkan bahwa orang munafik ialah: ”Orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman,” padahal hati mereka belum beriman ’.

(b) Firman Allah Swt. ketika seorang suku Badui (A‘raby) mengaku telah beriman: ”Katakanlah (kepada mereka): ’Kamu belum beriman,’ tetapi katakanlah: ’Kami telah tunduk,’ karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu”. Dari kedua ayat al-Quran diatas terlihat jelas bahwa hakikat iman berada di dalam hati. Seandainya iman adalah bahasa lisan, tentu ketika Badui menyatakan keimanannya akan dibenarkan, tapi ternyata hal itu disangkal.

 Kedua, berdasarkan pendekatan nalar (aqli). Keimanan sebagai dasar agama mengharuskan kesinambungan antara nalar dan nurani.

Namun demikian, beriman dalam arti meyakini kebenaran syariat yang dibawa Nabi Saw. adalah adalah sesuatu yang bersifat qalbiyah an sich dan esoteris (batin) yang tidak dapat diketahui oleh sarana lahir. Untuk mengetahuinya diperlukan sarana yang membuatnya dapat dijangkau. Hal itu adalah mengucapkan kalimat syahadah yang kemudian dilanjutkan dengan pengamalan ajaran Islam. Kesempurnaan iman seseorang diukur melalui keteguhan hati, ucapan dan amal perbuatan yang sesuai dengan ajaran yang disampaikan Nabi Saw.

Perbedaan dalam memandang tiga komponen keimanan (pembenaran dengan hati, ungkapan dengan lisan dan pembuktian dengan pengamalan) berakibat pada perbedaan dalam memandang keselamatan seseorang di akhirat. Al-Ghazali menjelaskan secara baik dengan penjelasan bertingkat:

  1. Orang yang melakukan seluruh pilar keimanan, semua ulama sepakat bahwa di akhirat kelak ia akan memperoleh surga.
  2. Seseorang yang membenarkan dengan hati dan mengucapkan dengan lisan, namun hanya menjalankan sebagian perintah agama dan hanya menjauhi sebagian larangannya. Menurut Muktazilah, jika dia melakukan dosa besar berarti ia telah keluar dari keimanannya, berada diantara mukmin dan kafir. Bukan golongan beriman juga bukan golongan kafir. Dan di akhirat kelak ia berada di tengah-tengah antara dua posisi (manzilah bayn manzilatayn). Tapi menurut Ahlussunah Wal-Jamaah, keputusannya dikembalikan (diserahkan sepenuhnya) kepada Allah Swt. Manusia tidak mempunyai hak untuk menentukannya.
  3. Golongan yang membenarkan dalam hati dan bersaksi dengan lisan, akan tetapi sama sekali tidak menjalankan perintah agama. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. Abu Thalib al-Makki mengatakan bahwa amal perbuatan termasuk syarat iman. Dengan demikian, tidak ada iman tanpa amal, sebab amal adalah komponen iman. Pendapat Abu Thalib dilandasi oleh ayat: الذين أمنوا وعملوا الصالحات [orang-orang yang beriman dan beramal kebaikan] al-Ghazali berkomentar bahwa ayat ini justru menunjukkan pembedaan iman dan amal saleh. Dalam ayat ini, iman dan amal diposisikan dalam kerangka makna yang berbeda. Pendapat yang lain menyatakan, bahwa amal perbuatan bukan bagian integral dari iman, melainkan penyempurna saja. Artinya, seseorang yang beriman tapi tidak beramal keputusannya kembali pada kebijakan Allah Swt. di akhirat kelak. Sebab, menurut pendapat ini, jika amal dikategorikan sebagai bagian integral dari iman, tentu seseorang yang tidak beramal dinilai sebagai orang kafir, dan pelakunya berada di neraka selama-lamanya. Padahal orang berpendapat sebagaimana pandangan pertama tidak mengatakan demikian. Disamping itu, pendapat yang disebut belakangan adalah pandangan mayoritas ulama Ahlussunnah.
  4. Orang yang membenarkan dalam hati, namun sebelum sempat mengakui dengan ucapan ia terlebih dulu meninggal dunia. Menurut Ahlusunnah wal-Jamaah, dia mati dalam keadaan beriman di sisi Allah Swt. Berdasarkan firman Allah Swt. dalam hadits qudsi: ”Akan keluar dari neraka seseorang yang dalam hatinya masih tersimpan iman (meski) seberat semut.” Sementara kelompok kedua mengatakan bahwa dia bukan termasuk orang beriman dan akan kekal selamanya di neraka. Mereka berpandangan bahwa pengakuan dengan ucapan merupakan syarat mutlak bagi keimanan seseorang.
  5. Orang yang membenarkan (baca: beriman) tetapi menunda pengucapan syahadat. Padahal dia tahu bahwa syahadat adalah syarat seseorang dapat disebut seorang muslim. Orang seperti ini oleh Ahlussunnah disamakan dengan orang yang meninggalkan shalat. Di akhirat akan mendapat siksa walaupun tidak selamanya. Sedang Murji’ah berpandangan bahwa orang seperti itu tidak akan masuk neraka, tapi dipastikan masuk surga. Pendapat ini berbeda dengan pandangan mayoritas umat Islam.
  6. Seseorang yang mengucapkan syahadat, namun sebenarnya hatinya mengingkari. Orang yang melakukan tindakan ini diancam dengan neraka karena sebenarnya ia tergolong orang kafir. Jadi walaupun selama hidupnya dia diakui sebagai seorang muslim –karena telah mengucapkan dua kalimat syahadat, namun di akhirat kelak ia akan kekal di jurang jahanam. Orang yang memiliki karakteristik semacam ini dikenal sebagai orang munafik. Yakni seseorang yang menggunakan ungkapan syahadah untuk memperoleh keamanan duniawi semata.

Makna Islam
Islam secara lughawi bermakna ketundukkan, kepasrahan, atau kepatuhan. Dalam tataran syari’at, berpasrah diartikan sebagai manifestasi yang menunjukkan ketaatan, konsistensi, dan perilaku lurus-sejajar dengan norma-norma dasar syariat. Kemudian secara terminologis, menurut Husayn Afandi, Islam berarti tunduk dan patuh lahir-batin terhadap pesan-pesan yang diyakini datang dari Allah Swt. melalui Nabi-Nya. Dari definisi ini melahirkan keserupaan makna antara iman dan Islam. Hubungan keduanya sangat erat dan saling memberi arti. Kelekatan hubungan ini sangat logis, mengingat bahwa pembenaran terhadap Nabi akan mendorong sikap berserah diri dan patuh menjalankan ajaran yang dibawanya. Begitu juga orang yang patuh melaksanakan ajaran Nabi niscaya telah diawali dengan pembenaran dalam hati.

Namun ada pendapat yang menjelaskan status keislaman seseorang terwujud dalam bentuk dua syahadah (persaksian): bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Swt. dan bahwa Muhammad utusan-Nya; yang kemudian dijalankan melalui ketaatan yang menjadi pilar-pilar Islam (arkân al-Islâm), yakni mengerjakan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu.

Persaksian diatas merupakan syarat mutlak agar seseorang dapat dikatakan sebagai muslim. Ketentuan ini merujuk pada sebuah hadits yang menjadikan iman sebagai kunci keislaman, dan predikat keislaman harus didahului oleh syahadah; persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Pengucapan syahadah dijadikan sebagai sarana yang menunjukkan pembenaran atas ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad Saw.

Pertalian Iman dan Islam
Tertanamnya keimanan dalam hati akan melahirkan tata nilai ketuhanan (rabbâniyyah), yaitu tata nilai yang dijiwai oleh kesadaran bahwa hidup ini berasal dari Allah Swt. dan hanya menuju kepada-Nya (innâ liLlahi wa innâ ilayhi râji‘un. Sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nya lah kami kembali). Tata nilai ketuhanan itu akan bisa digapai melalui tumbuhnya keyakinan dalam hati tentang Kemahatunggalan Allah Swt. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia lah penguasa segala yang ada, dan Dia pula pengatur semua ciptaan-Nya. Dengan demikian, prinsip peng-esa-an Tuhan (tawhid) adalah inti dan dasar ajaran Islam.

Disamping itu, agama Islam juga mengajarkan kepada umat manusia untuk selalu berserah diri dengan sepenuh hati, tulus dan pasrah kepada Allah Swt. Sikap berserah diri ini merupakan buah yang dihasilkan dari pengakuan atas kemahatunggalan dan kemahakuasaan-Nya. Jadi, jika pengakuan atas Keesaan Allah Swt adalah inti ajaran Islam, maka sikap pasrah adalah pengejawantahan dari pengakuan tersebut, sikap pasrah yang diwujudkan dengan pengamalan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Saw. dalam kehidupan sehari-hari. Inilah prinsip keimanan yang sejati.

Iman sendiri merupakan landasan pokok bagi terbentuknya keislaman. Antara iman dan Islam bagaikan satu bangunan yang saling memperkuat satu sama lain. Iman tidak ada artinya tanpa amal shalih, dan amal shalih akan sia-sia jika tidak dilandasi keimanan. Oleh karena itu, dapat dikatakan setiap muslim pasti mukmin dan setiap mukmin pasti muslim. Logikanya, orang yang percaya tentang kenabian Muhammad Saw. tentu tunduk dan patuh pada pesan-pesan syari’atnya. Begitu pula orang yang patuh terhadapnya pasti didasari keyakinan dan kepercayaan atas kebenaran ajaran yang dibawanya. Dapat dikatakan, bahwa iman adalah perbuatan batin (akidah), sementara Islam adalah perbuatan lahir-nya.

Secara teologis ulama berbeda pandangan dalam memaknai Islam. Penulis Syarh Aqîdah al-Thahâwiyyah, mencatat tiga pengertian Islam menurut pandangan beberapa mutakallim yang berbeda:

 (1) Kelompok yang menganggap Islam sebagai sebuah sebutan;

(2) Aliran yang menggambarkan Islam sebagaimana keterangan hadits, ketika Nabi Saw. ditanya tentang makna Iman dan Islam, beliau menafsiri Islam dengan lima perbuatan lahir yang merupakan pilar ajaran Islam;

(3) Golongan yang menyamakan antara iman dan Islam.

Pendapat ketiga ini juga merujuk pada hadits yang menerangkan bahwa Islam adalah persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah Swt., mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu melaksanakannya.

Masing-masing kelompok mendasarkan pandangan mereka pada hadits-hadits Nabi Saw. Beberapa hadits yang nampak bertentangan, kemudian ditafsiri secara berlainan oleh beberapa kelompok berbeda, sehingga melahirkan definisi yang berbeda pula. Namun setelah diteliti lebih dalam, ternyata tidak ada perbedaan mendasar dari masing-masing pendapat. Penulis Syarh Aqîdah al-Thahâwiyyah berkesimpulan bahwa ketiga definisi di atas memiliki titik temu, yakni bila dua kata, iman dan Islam, terkumpul (disebut bersamaan) keduanya memiliki pengertian yang berbeda; sebuah perbedaan yang terjadi hanya dalam tingkat pengertian (definisi), bukan merupakan perbedaan substantif; makna keduanya justru saling melengkapi. Namun bila keduanya disebutkan secara terpisah, masing-masing justru menunjuk pada pengertian yang sama (murâdif). Makna lain dari Islam adalah bahwa ia nama agama (al-din) yang diridlai Allah Swt. sebagaimana dalam al-Quran. Dalam hal ini, nampak perbedaan pengertian dan makna antara iman dan Islam.

Yang kemudian diperdebatkan adalah apakah iman cukup diyakini dalam hati, harus diucapkan, atau bahkan harus dibuktikan secara lahir dalam bentuk perbuatan. Lalu apa hubungannya dengan Islam, apakah keimanan cukup tertanam dalam hati, sementara keislaman berbentuk perbuatan lahir. Ketika menjawab pertanyaan ini, kalangan mutakallimin (teolog) berbeda pendapat. Perbedaan itu dilatarbelakangi oleh perbedaan penafsiran atas dalil yang menjadi landasan pendapat mereka. Apalagi dalil yang digunakan cenderung bersifat umum yang menimbulkan banyak penafsiran.

Bila kita merujuk pada al-Quran penjelasan seputar iman dapat kita temukan dalam ayat yang membicarakan sifat-sifat orang beriman (mu’minûn), seperti dalam surat al-Anfâl [8]: 2:

إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم وإذا تليت عليهم أيته زادتهم إيمانا وعلى ربهم يتوكلون
”Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, maka bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka mereka semakin bertambah iman, dan kepada Tuhanlah mereka pasrah ”

dalam ayat lain dijelaskan tentang karakteristik lain dari orang mukmin:

قد أفلح المؤمنون الذين في صلاتهم خاشعون والذين هم عن اللغو معرضون والذين هم للزكوة فاعلون والذين هم لفروجهم حفظون

”Sungguh beruntung orang-orang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat serta orang-orang yang menjaga kemaluannya ” (Q.S. al-Mu’minûn [23]: 1-5)

Dari dua kutipan ayat al-Quran di atas nampak bahwa dalam menerangkan iman, al-Quran menjelaskannya dengan penyebutan sifat-sifat yang dimiliki orang mukmin.

Penjelasan secara definitif mengenai pengertian iman, Islam dan ihsan dapat kita temukan dalam hadits Nabi Saw yang secara panjang lebar menguraikan ketiganya. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah;”Pada suatu hari Rasululah berada di hadapan para sahabatnya, kemudian ada seorang laki-laki yang mendatangi dan bertanya: ’apakah iman itu? ’. Nabi menjawab: ‘iman adalah percaya kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, percaya akan berjumpa dengan-Nya, percaya kepada para rasul dan kebangkitan hari akhir’. Setelah itu, orang tersebut juga menanyakan arti Islam. Nabi mengatakan: ’Islam adalah penyembahan terhadap Allah Swt dengan tidak menyekutukan-Nya, menjalankan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan haji ke baituLlah’ kemudian orang itu menanyakan tentang ihsan. Lalu Nabi menjawab: ’(yaitu) apabila kalian menyembah (beribadah) kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya maka apabila kamu tidak bisa melihat-Nya, seungguhnya Ia melihatmu.

Sekilas terlihat bahwa hadits diatas memunculkan disparitas (pembedaan) makna antara iman dan Islam. Islam diposisikan sebagai segala perbuatan yang berkaitan erat dengan aspek-aspek lahiriyah-fisik, baik berupa ucapan maupun tindakan. Sedangkan iman lebih ekslusif (tertutup) karena maknanya berada pada kepercayaan dalam hati. Oleh karenanya, sebagian ulama, yang menjadikan hadits ini sebagai argumennya, mengharuskan pengucapan dua kalimat syahâdah (kesaksian tawhid) untuk memastikan status keislaman seseorang, yang kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan ajaran Islam yang lain, seperti shalat, zakat, puasa Ramadlan, dan pergi haji. Iman tidak sempurna bila diartikan sebagai pembenaran dalam hati saja, tanpa amal perbuatan.

Pemaknaan iman dan Islam semacam itu didukung oleh riwayat lain. Sebuah hadits Nabi Saw. menyatakan: ”Orang muslim adalah seorang yang bisa melindungi keselamatan orang lain dari ucapan maupun perbuatannya”. Selain itu, ketika Nabi Saw. ditanya mengenai Islam yang baik, Nabi Saw. mengaitkannya dengan aktifitas lahiriyah. Beliau mengatakan: ”(Islam yang baik adalah) memberi makanan (kerabat), mengucapkan salam, baik kepada orang yang dikenal atau tidak.”

Dengan demikian, berpijak pada keterangan hadits-hadits di muka maka pengertian objektif kata iman dan Islam dibedakan. Islam adalah aktifitas lahir, dan iman aktifitas batin.

Namun, hal ini tidak dapat dijadikan sebuah kesimpulan akhir. Karena jika diteliti lebih lanjut, ternyata ada hadits lain yang menyamakan kedudukan iman dan Islam. Misalnya hadits riwayat Umar ibn ’Abasah. Ia berkata: ”Ada seorang laki-laki menemui Nabi Saw., lalu bertanya: ”Wahai Rasul, apa sebenarnya Islam itu?’. Nabi menjawab, (Islam adalah) berserah diri kepada Allah dalam hati dan menjamin ketenangan kaum muslimin dari ucapan maupun perbuatannya.” Dalam hadits ini Nabi Saw. memaknai Islam sebagai sikap berpasrah diri kepada Allah Swt., dimana sikap itu merupakan pekerjaan batin. Karenanya, terllihat ada pertentangan (ta‘ârudl) jika dikaitkan dengan beberapa hadits yang telah disebutkan sebelumnya. Terkadang pengertian iman dibedakan dengan Islam, tapi dalam kesempatan lain keduanya memiliki pengertian yang sama; murâdif. Sebagaimana pengertian kata fakir dan miskin, ketika disebutkan bersamaan keduanya memiliki pengertian yang berbeda. Namun ketika disebutkan secara terpisah keduanya memiliki makna serupa.

Sebagaimana telah disinggung di muka, fungsi ungkapan iman melalui sarana lisan adalah menyingkap keyakinan hati, yang berpengaruh pada pemberlakuan hukum lahiriyah. Karena itu, seorang yang membenarkan dalam hati dikategorikan sebagai orang beriman di sisi Allah Swt. Sementara yang membenarkan dalam hati sekaligus bersaksi dengan lisan tergolong mukmin di sisi Allah Swt dan hukum Islam berlaku padanya.

Kesimpulan ini didukung oleh al-Ghazali. Menurutnya, dalam pandangan syari’at, iman dan Islam memiliki keterkaitan dengan dua keputusan hukum, hukum dunia dan akhirat. Hukum duniawi menjadikan seseorang yang berstatus muslim mendapat hukum sesuai ketentuan agama, seperti perlindungan nyawa, harta, dan lain sebagainya. Dalam persoalan hukum akhirat ia akan terbebas dari ancaman neraka atau tidak selamanya di neraka.

Keimanan sebagai sesuatu yang esoteris berkaitan dengan hal-hal yang bersifat ukhrawi. Sementara sesuatu yang nampak adalah standar penilaian keislaman seseorang di dunia. Karenanya jika seseorang bersyahadah namun sebenarnya hatinya ingkar dalam kehidupan dunia ia disebut seorang muslim namun ia diancam siksa diakhirat kelak, ia disebut orang munafiq.

Iman Adalah Pembenaran, Pengakuan dan Amal

Pada periode awal (salaf) umat Islam, para ulama mendefinisikan iman sebagai suatu keyakinan, pernyataan dan pengamalan. Abu Hasan Asy’ari menjelaskan, yang dimaksud iman ialah ucapan sekaligus tindakan. Ucapan dan tindakan sebagai pengejawantahan keyakinan hati bisa saja bertambah dan bisa berkurang.

Kadar keimanan bisa bertambah dengan bertambahnya amal, dan amal pun dapat berkurang akibat menipisnya iman.

Dalam perkembangan selanjutnya, pengertian iman acapkali diposisikan berbeda dengan amal; amal adalah bagian tersendiri meskipun tetap menjadi penopang keimanan. Berikut beberapa pendapat mengenai pertautan iman dan amal:

1) Mu’tazilah dan Khawarij sepakat memasukan amaliah menjadi bagian integral dari keimanan. Sehingga menurut dua aliran ini, orang yang meninggalkan amaliah tidak dianggap beriman; menurut Khawarij ia menjadi kafir, sedangkan menurut Muktazilah ia ada pada posisi antara iman dan kafir (manzilah bayna al-manzilatain)

2) Murji’ah menganggap amaliah bukan termasuk pra-syarat iman. Persoalannya, keselamatan manusia terletak pada keyakinan. Sehingga kebahagiaan di akhirat tidak berkaitan dengan amaliah. Faktor yang terpenting menurut Murji’ah adalah soal kepercayaan hati.

3) Ahlusunnah Wal-Jamaah memilih sikap moderat. Amaliah bukanlah keniscayaan dalam menentukan status iman. Aliran ini menganggap bahwa seorang mukmin yang tidak melakukan amaliah adalah orang fasik, tapi tidak sampai menjadi kafir seperti tuduhan Khawarij. Dia hanya melakukan kemaksiatan sehingga dikategorikan fasik, namun imannya tidak sempurna sebagaimana pendapat Murji’ah.

Jika ditelisik lebih dalam, pendapat Khawarij, Muktazilah, dan Muktazilah memang problematis, disamping tidak sejalan dengan tradisi ulama salaf, khususnya ahli hadits (muhadditsîn). Pendapat Muktazilah cenderung inkosisten, karena menempatkan orang yang tidak beramal dalam posisi yang tidak jelas, tanpa status pasti; antara iman dan kafir. Sementara Khawarij tampak sangat ekstrim, karena mereka menklaim kafir pada orang yang amalnya setengah-setengah. Sebaliknya, Murji’ah terlalu toleran dengan menganggap bahwa orang yang beramal dengan yang tidak beramal sama saja.

Problematika Hubungan

Amal (Ibadah) dan Iman

Ibadah, yang dapat juga disebut sebagai ritus atau ritual, adalah bagian yang amat penting dari setiap agama. Sesuatu yang penting untuk diingat mengenai amal-ibadah ialah bahwa dalam melakukan amal perbuatan itu seseorang harus mengikuti petunjuk agama dengan merujuk kepada sumber-sumber suci (al-Quran dan sunah), tanpa sedikit pun hak bagi seseorang untuk menciptakan sendiri cara dan pola mengerjakannya.

Berkenaan dengan hubungan antara amal-ibadah dan iman, pertanyaan seringkali timbul: Apakah orang tidak cukup dengan iman dan berbuat baik tanpa harus beramal-ibadah? Bahkan Einstein, ilmuan handal penemu teori relativitas gerak, pernah menyatakan bahwa ia percaya kepada Tuhan dan keharusan berbuat baik, tapi tidak merasa perlu-karena menganggap tidak ada gunannya-memasuki agama formal seperti Yahudi dan Kristen. Hal ini menunjukkan adanya kegamangan dan keraguan akan peran agama. Praktek ritua agama dinilai sebagian kalangan sebagai unsur-unsur seremonial belaka, dan tidak memiliki peran penting dalam membentuk karakter kepribadian seseorang.

Kesempurnaan keimanan seseorang dalam pandangan Islam justru diukur dari kemantapan hati, ucapan, perbuatan, dan amal-ibadah. Kebaikan yang hakiki tidak dapat diraih tanpa panduan agama. Bahkan perintah beramal-ibadah merupakan motif utama penciptaan manusia. Sebagaimana firman Allah Swt. surat al-Dzâriyât [57]: 56: وما خلقت الجن والإنس إلا ليعدون“ [Dan tidaklah Kuciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu].

Beriman (mempercayai) dalam arti membenarkan syariat Nabi Muhammad Saw. Adalah sesuatu yang esoteris (bathin) dan tidak dapat diketahui orang lain. Untuk mengetahuinya, diperlukan sarana yang membuatnya dapat diketahui, mula-mula dengan lisan selanjutnya dengan perbuatan. Penilaian hati lebih ditekankan pada unsur-unsur keakhiratan karena berada di luar batas nalar manusia. Sementara untuk kepentingan hukum duniawi, keimanan hati itu perlu diungkapkan dengan kalimat syahâdat. Karena itu, yang mengaku beriman dengan bersyahadat padahal hatinya tidak beriman, untuk kehidupan dunia ia disebut mukmin, tapi di sisi Allah Swt. yang berlaku adalah sebaliknya.

Untuk mendapat status mukmin sempurna, seseorang harus benar-benar meyakini dalam hati terhadap kebenaran Islam, kemudian mengikrarkan keyakinan itu dengan media syahadat, dan disempurnakan dengan amal perbuatan. Jika demikian adanya, maka orang tersebut dalam tataran hukum formal (duniawi) dianggap mukmin, dan di sisi Allah Swt-pun juga mukmin.

Namun perlu diingat, ketika seseorang tidak mengatakan syahadat sebab beralasan (udzur), semisal bisu, atau tidak ada kesempatan karena terburu mati setelah sebelumnya percaya, atau kebetulan tidak mampu berkata-kata setelah beriman, maka orang-orang seperti ini tergolong mukmin dalam pandangan Allah Swt. dan termasuk selamat di akhiratnya. Berbeda dengan orang yang memang benar-benar tidak mau mengutarakan keimanannya sebab penginkaran, padahal telah diperintah bersyahadat, maka digolongkan kafir. Naudzu biLLah min dzalik. Golongan terakhir ini keyakinan hatinya tidak dipersoalkan, dengan alasan syariat telah menetapkan bagi siapa yang menentang ajakan bersyahadat berarti hatinya hampa dari keimanan. Maka pantas disebut kafir.

Dalam realitas hidup kekinian, bermunculan para pemikir kontemporer Islam yang mencoba menelaah kembali validitas ayat al-Quran dan hadits, utamanya yang bertalian dengan hukum yang dirasa menghalangi proses modernisasi, inklusifisme, pluralitas, egalitarianisme, dan isu-isu hangat lainnya. Mereka menolak al-Quran dan hadits didekati dai kerangka hukum formal, diposisikan sebagai kalam teosentris, apalagi dipahami secara tekstual. Mereka berupaya menalar semua pesan-pesan Tuhan dan Rasul-Nya dari sudut pandang kebutuhan manusia (antroposentris).

Karena itu perlu sekali pembentengam akidah, terutama dalam memahami kaidah iman dengan makna ayat-ayat al-Quran. Yang pasti, seseorang harus tunduk terhadap kandungan teks-teks yang jelas kehendak maknanya (nash qath’i), dan telah diyakini berasal Muhammad (hadits mutawatir). Juga larangan menjungkirbalikkan hukum, misalkan memanipulasi perintah shalat dengan menganggap shalat bukan sebuah kewajiban.

Keimanan yang ideal akan melahirkan sikap berserah diri dengan setulus hati terhadap perintah Allah Swt. melalui Nabi Muhamad Saw. Pelaksanaan amal-ibadah –disamping karena didasari perintah Allah Swt. serta berbeda dengan sistem ilmu dan filsafat yang hanya berdimensi rasionalitas- selalu memiliki dimensi spiritual yang mengekpresikan sikap kepasrahan yang berada diluar batas nalar kemanusiaan. Tindakan-tindakan kebaktian itu tidak hanya meninggalkan dampak memperkuat rasa kepercayaan dan memberi kesadaran lebih tinggi tentang implikasi iman dalam perbuatan, tetapi juga menyediakan pengalaman keruhanian yang tidak kecil artinya bagi rasa kebahagian.

Sistem amal-ibadah merupakan salah satu kelanjutan logis sistem iman. Jika tidak dikehendaki iman menjadi rumusan-rumusan abstrak, tanpa kemampuan memberi dorongan batin kepada individu untuk berbuat sesuatu dengan tingkat ketulusan sejati, maka keimanan itu harus dilembagakan dalam peribadatan sebagai ekspresi perhambaan seseorang kepada pusat tujuan hidupnya, yaitu Allah Swt.

Islam sebagai ajaran menetapkan puncak ketekunan amal-ibadah dengan tekhnis ihsan. Seseorang yang berihsan dalam praktek ibadah keseharian itu terkandung keimanan dan keislaman yang menyebabkan konsentrasi beribadah, ikhlas menghadap Allah Swt.

IHSAN; Puncak Relasi Manusia dengan Tuhan

Telah disinggung bahwa ajaran Islam sarat dengan kepentingan ama-ibadah yang berujung pada tekhnis ihsan. Ditinjau dari sisi bahasa, ihsan berarti berbuat baik. Sedangkan ihsan dipandang sebagai istilah -didefinisikan dalam sebuah hadits [Jibril]- adalah keadaan seseorang yang dalam beribadah kepada Allah Swt. seakan-akan melihat-Nya (dengan mata hati). Jika tidak bisa melihat-Nya, maka ia yakin bahwa sesungguhnya Allah Swt. melihatnya. Dengan demikian, ihsan berarti suasana hati dan perilaku seseorang untuk senantiasa merasa dekat dengan Tuhan, sehingga tindakannya sesuai dengan aturan dan hukum Allah Swt.

Pengertian ihsan dalam hadits di atas, ditarik makna-interpretatif oleh Jalal al-Din bahwa, ia adalah upaya merasa terhadap Allah Swt. selalu mengawasi dalam setiap amal-ibadah yang mencakup iman dan islam, karena dengan tekhnis ibadah semacam itu kesempurnaan ibadah dapat diraih; ikhlas, konsen dan fokus.

Tersebab, manusia terhalang menyaksikan Allah kecuali dengan renungan nalar (kontemplasi) nya semata, maka keyakinan seseorang terhadap-Nya melalui tekhnis ihsan (meyakini bahwa Allah melihatnya) merupakan purna penyaksian (musyahadat) terhadap Wujud Hakiki (al-haq). Dalam tingkatan musyahadah, seseorang membayangkan selalu terawasi oleh Allah sehingga menimbulkan dorongan rasa malu jika melaksakan ibadah melalaikan Tuhannya, meskipun dalam hatinya masih belum sempurna meninggalkan unsur lain selain Allah Swt. Ini berbeda dalam praktek amal-ibadah seseorang yang meyakini seakan-akan Allah melihatnya. Yang didapatkan dengan cara ini, pelaksanaan amal-ibadah menjadi murni disematkan terhadap Tuhan, namun belum dapat menarik pengaruh (atsar) positif terhadap pelakunya.

Dalam khazanah ilmu sufi, ihsan dijadikan sebagai motto orang-orang dalam menempuh kehidupan tasawufnya. Tasawuf bertujuan mendekatkan diri sedekat-dekatnya dengan Tuhan melalui akidah (keimanan), pengamalan syari’at Islam, dan akhlak. Akhlak inilah yang menjadi prinsip utama ihsan. Seorang sufi setelah melalui makam-makam, seperti taubat, zuhud, fakir, sabar, tawakal, ridha, mahabah, dan makrifat, dapat melihat Tuhan dengan mata hati (sirri) yang terdapat dalam ruh atau kalbu. Karena itu untuk memperoleh ihsan, sebagaimana digambarkan dalam hadits RasuluLlah Saw. diperlukan usaha intensif lagi tidak mudah. Namun pada dasarnya manusia dengan sirri-nya dapat dekat sekali dengan Tuhan. Karena, Tuhan Yang Maha Suci hanya bisa didekati oleh ruh, kalbu atau sirri yang suci.

Derajat Keimanan

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa keimanan bisa mengalami peningkatan sekaligus pengurangan, meskipun masalah ini menjadi medan kontroversi para teolog. Tapi diakui atau tidak, hal itu telah menjadi kenyataan yang dapat kita saksikan secara riil. Seseorang yang dulu beribadah ala kadarnya, yang penting gugur kewajiban, tiba-tiba berubah menjadi tekun dan khusyu’ (fokus ibadah). Begitu pula sebaliknya, ada sebagian orang yang dulunya tekun dan rajin beribadah, kini mulai memudar semangatnya dan menganggap ibadah hanya sebagai ornamen pelengkap hidup saja.

Para teolog pun menempatkan standar mins-plusnya keimanan seseorang pada aspek ketaatan praktisnya. Jadi wajar bila para mutakallim (teolog) menklasifikasi kapasitas keimanan dalam lima hal berikut ini.

  1. Tingkatan Awam, yaitu keimanan yang dihasilkan dengan cara mengambil keterangan (perkataan) seorang guru tanpa mengetahui dalil-dalilnya, atau biasa disebut taqlid.
  2. Tingkatan ashhab al-adillah, yakni seseorang yang keyakinannya dibangun atas dasar pengetahuan yang didapat dari penelisikan sebuah dalil-dalil yang mengukuhkan adanya Tuhan yang menciptakan.
  3. Tingkatan ahl al-muraqabah, yaitu ukuran keimanan yang timbul atas ketajaman pengawasan mata hatinya terhadap keesaan dan kebesaran Allah Swt., dimana setiap kali berpikir tidak pernah luput merenungi nilai-nilai Tuhan, senantiasa merasa segala gerakannya adalah atas kontrol Allah Swt.
  4. Tingkatan musyâhadah, ialah keimanan yang diperoleh sebab penyaksian mata hatinya kepada Tuhan.
  5. Tingkatan haqîqah, yakni keimanan yang berada pada posisi sudah tidak adanya hal lain kecuali Allah Swt. semata. Ini juga disebut maqam fana’ (posisi ketiadaan selain Allah Swt.), karena kelompok ini menganggap semuanya telah sirna kecuali Allah, sehingga yang ada hanya Dia semata. Inilah strata tertinggi yang mampu dicapai manusia. Namun di atas derajat ini masih terdapat strata lain yang lebih tinggi dan hanya dimiliki para Rasul. Akan tetapi, Allah Swt. tidak menunjukkan kepada kita tentang sarana menempuh derajat terakhir ini.

Demikian klasifikasi strata keimanan seorang mukmin. Yang harus dicatat, dari pembagian lima tingkatan tersebut yang menjadi kewajiban setiap orang mukallaf hanya tingkatan pertama dan kedua. Tapi, sebenarnya para teolog berbeda pendapat dalam mengabsahkan keimanan dengan cara taklid;

1). Menurut Ibn al-’Arabi dan al-Sanusi, keimanan dengan cara taklid belum dianggap cukup (sah), sehingga bagi muqallid (pelaku) dihukumi kafir;

2). Menyesuaikan kemampuan nalar orangnya; dengan menganggap sah bentuk keimanan dengan taklid, hanya saja bagi orang yang memiliki keahlian berpikir dihukumi berdosa;

3). Sah secara mutlak. Karenanya, menurut pendapat ini Studi Ilmu Kalam tidak ada kepentingan dalam akidah sekaligus menghukumi haram mempelajarinya

SEPAK BOLA DAN MASALAHNYA DALAM KACAMATA HUKUM ISLAM

 HUO         Sepakbola adalah salah satu olah raga yang sangat terkenal bahkan di seluruh pelosok negeri dan sangatlah malang jika pada hari ini ada orang yang mengatakan “Saya tidak tahu tentang sepakbola”. Tidak sedikit orang yang rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain karena sepakbola mempunyai efek yang boleh dipertimbangkan seperti membuat tubuh anda bugar, menghilangkan rasa malas dan bisa meningkatkan stamina tubuh. Olah raga ini banyak digemari karena memang mudah cara melakukannya semisal, anda tinggal menendang bola saja kesana-kemari maka anda sudah bisa dikatakan bermain sepakbola meskipun disatu sisi anda juga harus mempelajari teknik-teknik bagaimana berinteraksi dengan bola yang baik sehingga anda bisa bermain secara maksimal. Apalagi jika anda tergabung dengan sebuah tim sepakbbola maka anda lebih dituntut untuk menguasai banyak teknik agar permainan anda menarik dan tidak menjadi tertawaan banyak orang karena betapa banyak pemain sepakbola yang menjadi bahan tertawaan hanya karena dia kurang menguasai bola.

Dan sesungguhnya, olah raga ini yaitu sepakbola hanyalah sarana untuk mengisi waktu luang anda, sarana untuk menghibur suasana hati yang keruh akibat terlalu banyak terpapar dengan urusan dunia yang menyibukkan dan olah raga ini adalah sarana untuk menambah stamina serta semangat anda untuk tetap kuat beribadah kepadaNya karena saya dan anda ini diciptakan supaya beribadah hanya kepada Alloh Subhanallohu Wa Ta’ala. Seperti dalam firmanNya dalam surat ad Dzariyat ayat 56:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”.

Jadi dalam setiap aktifitas, anda harus senantiasa mengkaitkan diri anda dengan syari’at islam atau bisa dikatakan anda harus mengetahui bagaimana syari’at islam memandang aktifitas anda atau bagaimana hukumnya dari aktifitas yang anda lakukan. Dalam syari’at islam ada lima hukum yang berlaku bagi aktifitas anda yang harus anda ketahui. Diantaranya:

1.Jika hukumnya wajib,
maka silahkan anda kerjakan dan janganlah sekali-kali anda tinggalkan.
Misalnya, sholat fardhu berjama’ah dimasjid bagi laki-laki, memelihara jenggot bagi laki-laki, berbakti kepada orang tua, makan dengan tangan kanan, dll.

2.Jika hukumnya sunnah,
maka anda boleh meninggalkannya namun anda lebih dituntut untuk melakukannya karena adanya keutamaan dalam perbuatan tsb.
Misalnya, sholat sunnah rowatib atau sholat sunnah yang mengiringi sholat fardhu, puasa sunnah, dll.

3.Jika hukumnya mubah,
maka anda boleh melakukannya dan anda juga boleh meninggalkannya jika memang mengandung manfaat yang besar.

Perkara mubah ini sangat luas cakupannya karena dalam keadaan tertentu sebuah perbuatan yang semula hukumnya mubah bisa berubah menjadi haram atau wajib atau hanya sebatas mubah saja. Jadi, berhati-hatilah dengan perkara yang mubah. Janganlah berlebihan melakukannya atau terlalu kurang dalam melakukannya akan tetapi lakukanlah hal mubah itu dalam sebaik-baik perkara yaitu yang pertengahan.
Misalnya, makan, minum, tidur, mencari hiburan, ngobrol, jalan-jalan santai, dll.

4.Jika hukumnya makruh,
maka anda boleh mengerjakannya namun anda lebih ditekankan untuk meninggalkannya karena perbuatan yang dikategorikan dalam makruh ini adalah perbuatan yang sifatnya tercela atau dibenci.
Misalnya, meminta do’a dari orang lain untuk kepentingan sendiri, dll.

5.Jika hukumnya haram,
maka anda harus meninggalkannya dan janganlah sekali-kali untuk melakukannya.
Misalnya, meminum minuman yang memabukkan, berjudi atau taruhan, durhaka kepada orang tua, menyontek, meninggalkan sholat fardhu, makan dengan tangan kiri, dll.

Kemudian bagaimana dengan hukum bermain sepakbola ??
Apakah masuk perkara yang wajib atau sunnah atau mubah atau yang lainnya??…

Maka bisa dijawab, dalam menanggapi permasalahan ini para ulama berbeda pendapat akan tetapi pendapat yang diunggulkan adalah boleh bermain sepakbola namun harus memenuhi beberapa syarat yaitu:

1.Harus menutup aurot dan para pemain sepakbola wajib menutup aurot.Aurot laki-laki adalah dari pusar sampai ke lutut.

2.Tidak meninggalkan kewajiban untuk sholat fardhu berjama’ah di masjid. Jika anda ingin bermain sepakbola sore hari di kampus ini, maka sholatlah asar berjama’ah di masjid terlebih dahulu kemudian silahkan berolah raga.

3.Tidak mengucapkan atau berteriak dengan kata-kata yang kotor atau kata-kata yang bisa menyakitkan hati sekalipun dengan bercanda. Semisal, ketika bermain sepakbola sesama pemain saling mencaci atau mencela sehingga timbul permusuhan diantara mereka. Maka bisa dikatakan “yang demikian itu tidak diperbolehkan (yaitu saling caci maki atau mencela)”.

4.Bermain sepakbola tidak menjadi kebiasaan artinya olah raga ini tidak menjadi rutinitas setiap sore sehingga banyak orang bisa menganggap bahwa seolah-olah tidak ada kegiatan lain selain sepakbola di sore hari.

5.Tidak melanggar perkara-perkara syari’at lainnya. Misalnya, menjadi sarana untuk berjudi atau taruhan tim manakah yang akan menang, menjadi sarana untuk pacaran, menggunakan jimat atau jampi-jampinya agar tendangannya tepat, dll.

Dalam kitab Bughyatul Musytaq fi Hukmil lahwi wal labi was sibaq disebutkan,

“Para ulama Syafiiyah telah mengisyaratkan diperbolehkannyabermain sepak bola, jika dilakukan tanpa taruhan (judi). Dan, mereka mengharamkannya jika pertandingan sepak bola dilakukan dengan taruhan. Dengan demikian, hukum bermain sepak bola dan yang serupa dengannya adalah boleh, jika dilakukan tanpa taruhan judi).”

As-Sayyid Ali Al-Maliki dalam kitabnya Bulughul Umniyah halaman 224 menjelaskan,

“Dalam pandangan syariat, hukum bermain sepak bola secara umum adalah boleh dengan dua syarat. Pertama, sepak bola harus bersih dari unsur judi. Kedua.permainan sepak bola diniatkan sebagai latihan ketahanan fisik dan daya tahan tubuh sehingga si pemain dapat melaksanakan perintah sang Khalik (ibadah) dengan baik dan sempurna.


Syekh Abu Bakar Al-Jazairi
dalam karyanya Minhajul Muslim halaman 315 berkata,

“Bermain sepak bola boleh dilakukan, dengan syarat meniatkannya untuk kekuatan daya tahan tubuh, tidak membuka aurat (bagian paha dan lainnya), serta si pemain tidak menjadikan permainan tersebut dengan alasan untuk menunda shalat. Selain itu,permainan tersebut harus bersih dari gaya hidup glamor yang berlebihan, perkataan buruk dan ucapan sia-sia, seperti celaan, cacian, dan sebagainya.”


Hukum bermain ataupun menonton sepakbola adalah mubah (boleh)
namun harus disertai lima syarat diatas akan tetapi jika tidak terpenuhi maka hukumnya haram bermain sepakbola. Pengharaman ini memang bermanfaat besar karena jika tidak maka akan timbul banyak masalah semisal:

a.Pertikaian antar sesama tim yang terkadang memakan korban nyawa atau minimal menimbulkan kebencian bagi sesama tim karena terlontarnya kata-kata yang kotor. Kejadian ini telah terbukti dalam beberapa pertandingan sepakbola di negeri kita.

b.Meninggalkan sholat fardhu berjama’ah di masjid yang tergolong perkara dosa besar.

c.Tidak menutup aurot yang menyebabkan masalah jika dilihat oleh lawan jenis.

d.Meninggalkan perkara-perkara yang lebih penting lainnya jika sepakbola dilakukan setiap sore seperti belajar, mengerjakan tugas, membantu pekerjaan orang tua bagi yang tidak ngekos, dll.

e.Menjadi ajang perjudian yang umat islam sepakat bahwa yang demikian itu adalah haram.

f.Dan perkara-perkara merugikan lainnya yang diluar perhitungan kita.

HUKUM Menonton Pertandingan Olahraga (Sepakbola)

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang beriman kepada hari akhir, maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”

Jika kita dilarang dari berucap kecuali yang baik-baik saja, maka terlebih lagi perbuatan. Maka menonton acara olahraga ini mengandung beberapa perkara yang berbahaya:

1. Menghabiskan Waktu. Orang yang kecanduan menonton pertandingan olahraga ini, kita lihat dia begitu ketagihan sampai-sampai dia habiskan waktu yang banyak. Terkadang dia luput dari shalat jama’ah, dan terkadang dia pun luput dari shalat pada waktunya.

2. Dia melihat sekelompok orang yang menyingkap pakaiannya sampai pertengahan pahanya. Menurut banyak ulama, paha adalah aurat. Demikian pula mereka berpendapat bahwa para para pemuda tidak boleh menampilkan bagian pahanya dan bagian apapun di atas lututnya.

3. Terkadang di hatinya muncul pengagungan terhadap si pemenang pertandingan, padahal yang menang adalah hamba Allah yang paling fasiq, atau bahkan hamba Allah yang paling kafir. Maka muncul di hatinya pengagungan terhadap seseorang yang sama sekali tidak pantas untuk dipuji. Dan tidak diragukan lagi bahwa ini adalah perkara yang membahayakan.

4. Memboroskan Harta. Di mana Televisi menggunakan listrik. Televisi menghabiskan listrik, meskipun cuma sedikit, ini menghabiskan biaya untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya untuk agamanya maupun kehidupan akhiratnya kelak. Oleh karena itu, perkara ini termasuk memboroskan harta saja.

5. Terkadang pertandingan ini menimbulkan saling mencerca dan permusuhan. Apabila sebagian orang menyemangati dan mendukung tim yang menang, di sisi lain orang yang lain menyokong dan mendukung tim musuhnya. Ini menyebabkan terjadinya permusuhan di antara mereka, serta perdebatan yang panjang.

Oleh karenanya dinasehatkan kepada para pemuda secara khusus dan yang selainnya secara umum agar mereka tidak menghabiskan waktu mereka untuk menonton acara olahraga, dan agar mereka memikirkan apa yang mereka peroleh dari menyaksikan acara-acara ini? Apa faedahnya?

Sebagai tambahan, kamu akan lihat mereka yang bertanding saling mendorong dan menjatuhkan satu sama lain. Terkadang pula mereka menunggangi pundak yang lain, dan perbuatan-perbuatan yang merendahkan muru’ah (kehormatan).

Apa HUKUM Memuji pemain bola profesional yang kafir, dan dia dipuji ketika dia menjadi sebab kemenangan timnya?

Tidaklah dia dipuji karena kekafirannya, dia dipuji karena permainan serta kelihaian dia dalam bermain.
Bagaimanapun juga, ini berbahaya dan menyebabkan dosa bagi orang yang memujinya, akan tetapi tidaklah perkara ini sampai kepada derajat kekufuran.

Seseorang menjadi kafir apabila dia memuji kekafiran, kesesatan, atau kesyirikannya, maka ini menyebabkan dia kafir.

Adapun apabila memujinya karena permainan sepak bola, atau karena kelihaian tekniknya, maka ini adalah pengagungan terhadap orang kafir. Ini adalah perkara dosa, namun tidaklah sampai pada derajat kekafiran.

DINAR DAN DIRHAM DALAM KAJIAN SEJARAH ISLAM 2

Penelitian Dan Timbangan Mitsqal Untuk Nishab Zakat Emas dan Perak Dalam Gram
NAR                        Ketahuilah bahwa terdapat persetujuan umum (ijma) sejak permulaan islam dan masa Para Nabi dan Rasul, masa Nabi Muhammad, Khulafa’ur rasyidun, sahabat-sahabat serta tabiin, tabiit tabiin bahwa dirham yang sesuai syariah adalah yang sepuluh kepingnya seberat 7 mistqal (dinar) emas. Berat 1 mistqal emas adalah 72 butir gandum, sehingga dirham yang nilainya 7/10 setara dengan 50 dan 2/5 butir. Ijma telah menetapkan dengan tegas seluruh ukuran ini (IbnuKhaldun dalam Muqaddimah)

Ijma semua madzhab fiih bahwa 1 mitsqal = 1 Dinar. Meskipun demikian banyak otoritas menyelisihi ijma ini sehingga 1 Dinar kurang dari 1 mitsqal. Ibnu Khaldun menulis dalam Al-Muqaddimah “Maka bersepakat banyak sekali fuqaha, berat (dalam bentuk emas) dari Dinar syar’i adalah tujuh-puluh-dua ukuran rata-rata biji gandum sya’ir atau barley dipotong kedua ujungnya” (p. 316)

Dalam beberapa tahun lalu Islamic Mint Nusantara (IMN) telah melakukan penelitian terkait sejarah dinar dan dirham Islam, ada pertanyaan tentang apa yang disebut sebagai standar mitsqal? untuk itu kami melihat dan meneliti kembali mitsqal yang terkait erat dengan standar dinar dan dirham melalui penelusuran berbagai sumber yaitu: al Quran, hadist, fikih, arkeologi, penelitian sejarah Islam dan dunia serta penimbangan langsung 72 bulir gandum (barley) ukurang sedang. Seperti diketahui bahwa penggunaan dinar dan dirham telah dimulai sejak jaman nabi Adam alaihis salam dan menjadi standar keuangan samapai masa Rasululullah shallalahu alaihi wassalam dan Khulafa’ur Rasyidun hingga akhirnya hilang setelah runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani (1924). IMN kemudian berinisiatif untuk berusaha menggali kembali penemuan standar mitsqal klasik tersebut. Oleh karena itu cara terbaik untuk menentukan standar adalah dengan melihat definisi atau penjelasan yang diberikan oleh para pendahulu awal Islam melalui ulama, kitab-kitab klasik Islam, hadist dan al Quran. Memang ada koin-koin yang ditemukan oleh arkeolog atau sekarang tersimpan di dalam museum, tapi tidak dapat diandalkan untuk tujuan ini karena koin tersebut umumnya telah keausan, rusak, berkurang berat atau mungkin terpotong.

Untuk mendapatkan kembali orisininalitas yang paling mendekati mitsqal awal Islam, maka kita perlu melihat kembali ke sumber awal Islam di Madinah, bukan sumber lain. Ibn Khaldun menyatakan bahwa sesuai ijma’ dan ketetapan Umar ibn Khattab RA, 1 mitsqal = 72 biji gandum barley (organik) ukuran sedang yang dipotong kedua ujung. Dapat dikatakan bahwa setara dengan berat sekitar 68-69 biji gandum utuh. Akan tetapi ada beberapa catatan yang mengatakan mitsqal di bawah berat 72 biji gandum barley, seperti 68 biji gandum barley ukuran sedang dipotong kedua ujung. Pendapat kedua ini tidak diterima karena sangat tidak populer.

Secara tradisional mengukur berat suatu benda didasarkan pada suatu standar berat suatu benda atau komoditas yang dianggap memiliki berat stabil secara relatif. Metodologi ini juga digunakan untuk menentukan berat dalam mitsqal (tradisional atau sunnah), sebagaimana pula digunakan sebagai standar untuk menghitung berat dalam gram (modern).

Ibn Khaldun dan banyak kitab fikih menetapkan mitsqal berdasarkan berat biji gandum barley. Dan banyak otoritas, amir, sultan, parameswara, prabu dan lain-lain memerintahkan master minter mereka untuk menimbang kembali berat biji gandum barley untuk menentukan standar mitsqal mereka. Dan mereka akan berkeputusan untuk menyetak sesuai atau tidak sesuai mitsqal tersebut.

Dengan demikian adalah sangat mungkin bagi kita saat ini menimbang biji gandum barley sebagaimana sunnah mengajarkan demikian. Dan dengan demikian pula, merupakan sesat metodologi apabila menentukan berat mitsqal hanya berdasarkan satu koin koleksi museum dan serta merta menjadikannya standar. Belum lagi koleksi yang dimaksud hanya satu dan diklaim tertua (padahal bukan) dengan fakta terdapat berbagai berat berat Dinar yang pernah ada dan beredar di berbagai wilayah negeri-negeri muslim.

Oleh karena itu, secara metodologi atau pendekatan, penimbangan biji gandum barley adalah metodologi utama, yang niscaya, sebagaimana amal Madinah. Yaitu untuk mengikuti “timbangan penduduk Madinah dan takaran penduduk Makkah”.

Adapun melakukan riset numismatik dari pelbagai koleksi koin, terutama koin-koin tertua adalah metode penunjang. Lebih penting untuk membaca kembali teks-teks fikih salaf (kuno) yang membahas mengenai nisab zakat, pasar, perdagangan, muamalat, uang dan alat pembayaran, juga mengenai mahar nikah, diyat dan lain lain. Karena dinar dan dirham harus berdasarkan syariah Islam bukan berdasarkan pendapat atau bukti numismatik semata. Ini yang menjadi pembeda dinar dan dirham dengan koin-koin numismatik.

Untuk memperkuat penelusuran dan sumber sejarah di atas dan juga terutama berdasarkan juga sumber dari, al Quran, Hadist, tafsir pendapat ulama masyur, fikih 4 Imam Madhab, tafsir, studi literatur, sejarah Islam, metalurgi dan bukti-bukti arkeologis maka kami lebih jauh lagi melakukan penelitian yang seksama mengenai timbangan mitsqal tersebut, karena itu kami telah melakukan penimbangan kembali gandum barley untuk mendapatkan orisinalitas timbangan mitsqal awal untuk kepntingan umum hari ini dalam satuan gram.

Melakukan Kembali Penimbangan Gandum Barley, Sebuah Jalan Mendapatkan Orisinalitas
Dalam mencari, mendekati dan mendapatkan kembali orisinalitas mitsqal dalam satuan hari ini yang dikenal dengan gram ataupun troy ounce, maka kami telah menimbangan gandum barley (organik) berdasarkan tiga hal yang :

  1. Berdasarkan Kadar (Kemurniaan)
    2. Berdasarkan Berat
    3. Nishab Nishab Zakat. (20 mistqal)

Tiga nishab zakat emas yang diketahui dan pernah digunakan adalah 89 gram, 93 gram, sedangkan nishab 85 gram baru dikenal belakangan ini. Konversi ke gram dengan cara penimbangan langsung 72 biji gandum organik (barley) ukuran sedang dan dipotong kedua ujungnya dilakukan pada Hari Sabtu, 12 Shafar 1432H bertepatan 16 Januari 2010, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

Penghitungan nishab 89 gram
24 x (89/20) = 106.8 gram (emas murni)
106.8 gram/22 = 4.85 gram (emas campuran)
106.8 gram /22.5 = 4.74 gram (emas campuran)
106.8 gram /23= 4.64 gram (emas campuran)
106.8 gram /24= 4.45 gram (emas murni) –
Di dapatkan timbangan berat rata-rata yang didapat adalah 4.467 gram

Penghitungan nishab 93 gram
24 x (93/20) = 111.6 gram (emas murni)
111.6 gram/22 = 5.07 gram (emas campuran)
111.6 gram /22.5 = 4.96 gram (emas campuran)
111.6 gram/23= 4.85 gram (emas campuran)
111.6 gram/24= 4.65 gram (campuran)

Penghitungan nishab 85 gram
24 x (85/20) = 102 gram (emas murni)
102 gram/22 = 4.63 gram (emas campuran)
102 gram /22.5 = 4.53 gram (emas campuran)
102 gram/23 = 4.43 gram (emas campuran)
102 gram/24 = 4.25 gram (emas murni) –
Didapatkan timbangan terendah adalah 4.377 gram

IMN-World Islamic Standard telah melakukan penimbangan kembali terhadap biji gandum barley untuk menguji satuan mitsqal sebagai satuan unit berat terhadap satuan berat yang menjadi kebiasaan hari ini yaitu gram, dan mendapatkan beberapa hal yang dijadikan landasan dan  perlu diketahui bersama, sebagai berikut:

  1. Dalam beberapa kali penimbangan diperoleh sebaran berat antara 4,377 gram hingga 4,566 g, dan dengan berat rata-rata 4,467 gram terhadap berat nishab zakat 89 gram, 91 gram, 93 gram dan nisab 85 gram baru datang kemudian, semua dalam emas murni.
  2. Berat terendah 4,377 gram didapatkan dengan memotong kedua ujung hingga sedikit merusak gandum tersebut, yang artinya pemotongan ujung dilakukan terlalu berlebihan.
  3. 1 Mitsqal berada pada 4,377 gram hingga 4,566 gram, dengan rata rata berat pada 4,467 gram.
  4. Berat dinar yang ada saat ini 4,25 g merupakan hipotesis yang didasarkan pada koin koleksi Museum Inggris tanpa riset mendalam, berdasarkan otoritas Abdul Malik ibn Marwan (dan dicetak oleh Al-Hajjaj), Khalifah Abdul Malik bin Marwan bukan orang pertama yang mencetak dinar dan dirham dalam sejarah Islam, dengan mengabaikan fakta koin-koin dinar yang ada pada masa sebelum itu. Perlu dicatat bahwa kedua tokoh tersebut tinggal di istana Damaskus, Suriah yang sangat jauh dengan Madinah, sehingga tidak dapat dikatakan sebagai Amal Madinah.
  5. Berat 4,25 gram seperti disebutkan di atas tidak dapat diperoleh kecuali benar-benar merusak biji gandum barley, meskipun dengan pengeringan yang maksimal. Jika kita melihat berat 1 Dinar = 4,25 gram (mengacu pada koin dinar yang beredar saat ini) tidak mungkin didapat tanpa merusak buliran gandum yang digunakan. Hal itu tidak mungkin dilakukan karena sama sekali tidak sesuai kaidah satuan mitsqal.
  6. Dari hasil penimbangan, didapatkan bahwa berat 72 bulir dipotong kedua ujungnya nilainya mendekati 1/7 Troy Ounce. Hal ini menuntun kepada petunjuk bahwa,

1 Troy Ounce = 7 Mitsqal
7 Mitsqal = 1 Troy Ounce
7 Mitsqal = 31,1034768 gram
1 Mitsqal = 4,443353828571429 gram

Dalam kitab Al-Muqaddimah, Ibn Khaldun menyebutkan bahwa berat 1 dinar = 1 mitsqal, berat 1 mitsqal = berat 72 bulir gandum barley ukuran sedang yang dipotong kedua ujungnya.

Maka perhitungan syar’i konversi berat tradisional mithqal (mitsqal) kepada gram adalah sebagai berikut:

1 mitsqal = 1 dinar. Berat 1 mitsqal = 72 biji gandum dipotong kedua ujungnya = 68-69 biji gandum utuh

Berat 1 mitsqal = 4.443353828571429 gram
, konversi dalam satuan gram dengan cara penghitungan standar 68 biji gandum utuh di dapatkan 4.40632588 gram;

Konversi dalam satuan gram dengan cara penghitungan standar 69 biji gandum utuh didapatkan 4.47112479 gram. Maka Berat 1 mitsqal adalah antara 4.40632588 – 4.47112479 gram

Mengikuti pendapat Al Maqrizi, dalam Ighotsah Imam Maqrizi, beliau mengatakan bahwa 1 mitsqal adalah 22 qirath. Dari pengetahuan umum yang ada 1 qirath = 200 mg, maka 
1 mitsqal = 22 x 200 mg = 4400 mg = 4.4 gram

Dalam beberapa studi literatur mengenai satuan-satuan berat logam mulia yang digunakan pada masa awal kekhalifahan, di dapatkan terminologi troy ounce dan grain. Troy ounce adalah satuan berat yang dikembangkan pertama kali di kota Trojes, Perancis. Troy ounce masyhur digunakan pada logam mulia bahkan hingga sekarang, sebagaimana mitsqal digunakan untuk timbangan khusus emas (murni), berdasarkan fakat sejarah bahwa kedua timbangan logam mulia ini yaitu mitsqal dan troy ounce di dasarkan kepada biji gandum barley.

Grain adalah satuan berat yang menggunakan bulir gandum utuh sebagai elemen penghitungannya, dimana
1 Troy Ounce = 480 grain
1 Grain = 64,79891 milligrams
1 Troy Ounce = 480 x 64.79891 milligrams
1 Troy Ounce = 31,1034768 gram

*lihat Grain (unit) dan berat troy ounce sesuai standard Internasional, antara mitsqal dan troy ounce keduanya menggunakan bulir gandum dalam perumusan timbangannya. Tentunya hal ini mendekati hasil penimbangan sebagaimana dijelaskan pada butir 1 hasil penelitian di atas.

Mitsqal (Mithqal)
Mitsqal secara bahasa adalah satu unit berat (the whole unit) sebagaimana disebutkan dalam al-Quran (99:7-8). Secara harfiah disebut berat, turunan dari akar kata semitik th-q-l (menimbang) dengan kata depan -mi- dari instrumentasi mithqal yang dibagi atas 24 bagian emas murni. Sumber lain mengatakan mithqal berasal dari bahasa Arab kuno yang berarti berat, satuan timbangan, dari fi’il atau kata kerja (thoqola) yang berarti menimbang, yang kemudian menjadi berat. Dalam bahasa Parsi, juga Urdu, dikenal mithqal. Pengertian secara bahasa istilah ini dapat di lihat dari berbagai literatur metrologi dinar dan dirham. 1 mitsqal adalah 22 qirath dikurangi satu biji atau 21 3/7 qirath (22 qirath dikurangi 1 biji yang dipotong kedua ujungnya). Istilah ini berasal dari peradaban Akkadia, siqlu dan kemudian diadaptasi ke seluruh dunia termasuk bahasa Arab dan bahasa Ibrani, istilah ini telah dipakai luas sejak 3,000 SM (Burns, 1927: p.250) Burns merujuk pada Hultsch, Metrologie, p.393.

Mitsqal adalah timbangan khusus untuk emas, dengan demikian adalah unit berat atau satuan timbangan sebagai satuan basis dalam ukuran-ukuran lain, dan diterapkan pada uang emas dan uang perak, sebagai uang komoditas yang telah dipakai berabad-abad. Namun mitsqal sebagai ukuran berat tidak mempertimbangkan bentuk fisik logam, desain muka maupun format.

Mitsqal sebagai unit berat ditetapkan berdasarkan berat biji gandum barley atau yang telah dipergunakan di Arab masa pra Islam maupun Romawi dan Persia hingga datangnya masa Islam. Dalam fikih Islam dan ijma’ dinyatakan bahwa 1 mitsqal adalah 72 biji gandum barley ukuran sedang dipotong kedua ujungnya. (Ibn Khaldun, Al-Muqaddimah).

Dalam satu catatan menyebutkan bahwa mitsqal tradisional di Timur Tengah mengandung 24 nakhuds. Dalam kehidupan hari ini berat dua puluh empat nakhuds setara dengan empat dan tiga-perlima gram [4 + 3/5 gram atau 4,6 g] (Kitab al-Aqdas).

Al Maqrizi menulis dalam bukunya Ighatsah bahwa mitsqal adalah 21 3/7 qirath (atau 22 dikurangi 1 biji gandum barley). Qirath dikenal sebagai kacang polong (carob). Qirath sebagai satuan berat diterjemahkan ke dalam gram, sesuai berat qirath Arab, yaitu 2% lebih kecil atau ringan dibanding qirath dari Syria (212 mg – 92%) = 207,5 mg.

Perhatikan dengan seksama beberapa jenis qirath di http://en.wikipedia.org/wiki/Carat_(mass). Pada masa-masa kemudian qirath digunakan sebagai kemurnian logam mulia berbasis 24 qirath yang telah disebutkan sebelumnya dan disebut Karat.

Sehingga berdasarkan penjelasan Al Maqrizi maka dapat dihitung berat 1 mitsqal = (21+3/7)*207.5 = 4446.428571428571 mg = 4.446 gram

Ada baiknya kita melihat beberapa catatan mengenai timbangan berat terhadap gram, fakta berasal dari sumber berbagai sumber referensi dan numismatik sebagai pembanding dari penimbangan yang telah dilakukan oleh IMN-World Islamic Standard, yang dapat dilihat sebagai berikut:

  1. Al Maqriziy menulis bahwa mitsqal adalah 21 3/7 qirath (atau 22 dikurangi 1 biji gandum barley). Qirath sebagai satuan berat diterjemahkan ke dalam gram. Secara umum berat 1 qirath adalah = 200 mg, sedangkan qirath di Mesir adalah 196 mg sedangkan yang ada di Syria beratnya adalah 212 mg, sedangkan di Arab 2% lebih kecil dari qirath Syria jadi beratnya adalah 207.76 mg. (Al-Maqriziy, Ighatsat al-Ummah bi-Kasyf al-Ghummah: Syudzur al-Uqud fii Dzikr al-Nuqud) 1 mitsqal = 21 3/7 x 207.76 mg = 4451.99 mg = 4.451 gram.
  2. Dalam satu catatan menyebutkan bahwa mitsqal tradisional di Timur Tengah mengandung 24 nakhuds. Dalam kehidupan hari ini berat dua puluh empat nakhuds setara dengan empat dan tiga-perlima gram artinya [4 + 3/5 gram atau 4,6 g] (Kitab al-Aqdas).
  3. Penggunaan gram sebagai satuan berat mulai diperkenalkan sekitar tahun 1586 dan menjadi standar pada 20 Mei 1875 (lihat link berikut, http://www.merriam-webster.com/mw/table/metricsy.htm dan http://lamar.colostate.edu/~hillger/) dan diadopsi oleh organisasi ISU (http://www.bipm.org/en/si/) sebagaimana dijelaskan sebagai berikut:1 gram (g) = 15,4323583529 biji gandum Barley (gram)
  4. 1 biji = 64.79891 mg = 1 biji (gr) = 0.06479891 gram (gram). Selanjutnya lihat konversi unit (http://www.chemie.fu-berlin.de/chemistry/general/units_en.html). Apabila biji gandum barley ukuran sedang dipotong kedua ujung akan mengurangi kurang lebih 5% dari berat biji utuh, sehingga beratnya sekitar 61,713247619047625 mg = 0.061713247619047625 gram. Berdasarkan penjelasan Internasional Metric System maka dapat di hitung berat 1 mitsqal adalah 72 x 0.06171 = 4.44312
  5. Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang mengatakan bahwa dirham buatan Khalifah Abdul Malik bin Marwan bobotnya kurang, maka perbandingannya bukan 7/10 mitsqal tetapi 7/10.5 mitsqal (disebutkan dalam kitab Adh-Dharaib Fi As Sawad, hal. 65), ini artinya 7 mitsqal = 10,5 x 2.97 gram = 31.1 gr atau 1 troy ounce, artinya berat 1 Dirham adalah 3.11 gram. Dari sini kita dapat tentukan 1 Dinar adalah 31.1 : 7 = 4.44285 gram.
  6. Khalifah Abdul Malik bin Marwan menurunkan timbangan mithqal dinar 4.44 gram menjadi 4.25 gram yang diksebut sebagai debasement (pemotongan) dapat dilihat pada catatan kaki dari buku As Sirah an-Nabawiyyah, Shaykh Abul Hasan ‘Ali al-Hasani an-Nadwi, hal 87). Dari penelusuran kami, diketahui bahwa peneliti orientalis (barat) yang menyebut Dinar dari Abdul Malik bin Marwan sebagai ‘standar’ Dinar Islam yang kemudian di ambil pakai oleh berbagai kita tulisan fikih kontemporer Islam (terutama perbankan Islam).
  7. Bank Faisal Islami di Sudan menentukan 1 Dinar adalah 4.457 gram.

Perhitungan Satuan Mitsqal Dan Troy Ounce Terhadap Nishab
Bagaimana melihat hubungan mitsqal dan troy ounce, hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Sejarah satuan troy ounce ini diambil dari kota Troyes, Perancis. Di kota Troyes ini dikenal sebagai tempat jual beli emas dan perak, dimana mereka terbiasa menggunakan timbangan apoteker berbasis bulir gandum (grain).
  2. Untuk mengetahui hubungan mitsqal, bulir gandum dan grain, maka hitungannya adalah 1 mitsqal =72 bulir gandum = 68,57 grain. Perbedaan ini dapat terjadi karena grain adalah satuan bulir gandum yang tidak dipotong kedua ujungnya atau perbedaan jenis gandum yang digunakan, karena selisihnya sedikit, yaitu: 72 – 68.57 = 3.43 bulir gandum
  3. Seperti sudah dikatakan di atas, perkataan Umar bin Abdul Aziz bahwa dirham buatan Abdul Malik bin Marwan bobotnya kurang, maka perbandingannya bukan 7/10 mitsqal tetapi 7/10.5 mitsqal (disebutkan dalam kitab Adh-Dharaib Fi As Sawad, hal. 65), ini artinya 7 mitsqal = 10,5 x 2.975 gr = 1 troy ounce = 31.1 gram arti 1 Dirham adalah 3.11 gram atau 7/10 mitsqal atau 1/10 troy ounce

Dari sini diketahui bahwa berat 1 troy ounce sebanding dengan 7 mitsqal, maka satuan mitsqal adalah 31,103 gram (1 troy ounce) : 7 = 4.4432 gram (9999). Mengacu kepada satuan troy ounce maka nishab zakat emas (20 mitsqal) menjadi 4.4432 gram x 20 = 88,864 gram emas (9999).

Maka dengan prinsip waznu sab’ah (7/10), dapat ditemukan berat 1 Dirham (9999) adalah 31,103 gram (troy ounce) : 10 = 3.1103 gram.
Dengan mengacu kepada ukuran troy ounce dapat dihitung nishab zakat perak adalah 3.11 gram x 200 = 622 gram perak murni.

Perbandingan 7/10 terhadap Troy Ounce adalah 31,103/4,4432 = 7 Dinar (9999) dan 31,103/3,11= 10 Dirham (9999).

Perhitungan Berat Dirham Dan Troy Ounce Terhadap Nishab Zakat Perak
Dengan mengetahui berat mitsqal tersebut maka didapat berat 1 Dirham (9999) adalah 31,103 gram (troy ounce) : 10 = 3.1103 gram. Dengan mengacu kepada ukuran troy ounce maka nishab zakat perak adalah 3.11 gram x 200 = 622 gram perak murni.

Hasil penelitian mithqal yang dilakukan olehkami pada awalnya bukan untuk mencari persamaan mithqal dengan troy ounce, tapi dalam perjalanan ini kami menemukan referensi bahwa asal mula troy ounce itu sendiri adalah dari penimbangan bulir gandum.

Kesimpulan
Jadi berdasarkan hal tersebut di atas, maka kita dapat memahami beberapa hal mendasar dalam yang perlu diluruskan dalam timbangan berat dan kadar dinar dan dirham yang kini telah beredar. Dan hari ini juga kami memutuskan solusi yang jelas dan tegas secara syar’i yang harus diambil untuk menyikapi hal ini, karena timbangan berat dan kadar ini terkait dengan pelaksanaan pilar Islam yaitu pelaksanaan rukun zakat, pasar , perdagangan islam, baitul mal, paguyuban, qirad, syirkah dan hal muamalat lainnya secara langsung, maka dengan ijin Allah kami akan memaklumatkan koreksi standar baru dari dinar dan dirham Islam baik ukuran dan kadar yang sesuai dengan penjelasan di atas. (Tulisan ini akan terus kami perbaharui dan dipertajam untuk keperluan kembalinya dinar dan dirham (murni) dalam muamalah Islam, insyaallah)

Footnote:
1 Allammah Abdurrahman bin Muhammad Ad-Dimasyqi, Fiqih Empat Madzhab, Bab Zakat Emas dan Perak.
2 Kitab Fiqih Hanafi, Bab Zakat Emas, halaman 119
3 Imam Asy-Syafi’I, Kitab Al-Umm, Volume 2, halaman 40
4 Ar-Raqim adalah nama mata uang emas, sebelum dinamakan menjadi dinar. Lihat Surah Al-Kahfi [18]: 9
5Abul Walid Muhammad bin Ahmad bin Rasyad Al-Qurthubi (w.450 H), Bab Kitab Zakat Adz-Dzahab Wa Al-Waraq, Beirut-Libanon: Penerbit Darul Gharbi Al-Islami, Cet.2, tahun 1988, Jilid 2, halaman 355- 422
6 Nabi Idris adalah Nabi pertama yang menemukan pertambangan emas dan perak, memiliki kejujuran yang tinggi dalam mencetak mata uang Islam, yaitu Raqim dan Wariq, hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Maryam [19]: 56; Juga dijelaskan dalam Surah Al-Anbiya’ [21]: 85. Nabi Idris sebagai penemu Mata Uang pertama Islam, yaitu mata uang emas dan perak, diriwayatkan oleh Wahhab bin Munabbih dalam Kitab Qishohul Anbiya’, karya Ibnu Katsir.
7 Ibnu Katsir, Kitab Qishohul Anbiya’, tt
8Tentang Dinar, terdapat dalam QS. Ali Imran [3]: 75, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: 75. Di antara Ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: “tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.
9 Tentang Dirham, Allah berfirman dalam surah Yusuf [12]: 20, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf
10Allammah Abdurrahman bin Muhammad Ad-Dimasyqi, Fiqih Empat Madzhab,, Bab Zakat Emas dan Perak. Dan Kitab Fiqih Hanafi, Bab Zakat Emas, halaman 119, juga bisa dibaca dalam Kitab Bidayatul Mujtahid Ibnu Ruysd dan Kitab Al-Umm Imam Syafi’I, Volume 2, halaman 39. Tentang Zakat Wariq, dan Al-Umm, Volume 2, tentang Zakat Emas, halaman 40
11 Muhammad, Quthub Ibrahim. 2003. Kebijakan Ekonomi Umar Bi Khaththab (As-Siyâsah al-Mâliyah li ‘Umar ibn al-Khaththâb). Terjemahan oleh Safarudin Saleh. Jakarta: Pustaka Azzam.
12 Bersumber pada kitab berikut ini: Al-Bidaayah Wan Nihaayah, Ibn Katsir; Tarikh Khulafa’, As-Suyuthi; Tarikh Bani Umayyah, Al-Mamlakah Su’udiyyah; Tarikh Islamy, Ibn Khaldun; Sejarah Bani Umayyah, Muhammad Syu’ub, Penerbit PT.Bulan Bintang
13 Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa`, Sejarah Para Penguasa Islam. Jakarta: AL-KAUTSAR, 2006. ISBN 979-592-175-4
14 Ahmed, Akbar S., Citra Muslim: Tinjauan Sejarah dan Sosiologi. Penerjemah: Nunding Ram dan Ramli Yakub. Jakarta: Erlangga, T.t; Ahmed, Akbar S. Rekonstruksi Sejarah Islam di Tengah Pluralitas Agama dan Peradaban. Penerjemah: Amru Nst. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2003.Armstrong, Karen. Sepintas Sejarah Islam. Penerjemah: Ira Puspito Rini. Surabaya: Ikon Teralitera, 2004. Hamur, Ahmad Ibrahim. Al-Hadhârah al-Islâmiyyah. T.tp: T.pn, 2002. Himayah, Mahmud Ali. Ibnu Hazm: Biografi, Karya, dan Kajiannya Tentang Agama-agama. Jakarta: Lentera Basritama, 2001. Hitti, Philip K. History of The Arabs. Penerjemah: Cecep Lukman Ysin dan Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2010. Khalîfah, Muhammad Muhammad dan Zaki Ali Suwailim. Al-Adab al-‘Arabî wa Târikhuh. Kairo: al-Ma‘âhid al-Azhariyyah, 1977. Lubis, Nabilah. al-Mu‘ayyan fi al-Adab al-‘Araby wa Târikhu. Ciputat: Fakultas Adab dan Humaniora, 2005. Syalbî, Ahmad. Mausû‘ah al-Târikh al-Islâmî wa al-Hadhârah al-Islâmiyyah. Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyyah, 1979. Sunanto, Musrifah. Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam. Jakarta: Prenada Media, 2004. Urvoy, Dominique. Perjalan Intelektual Ibnu Rusyd. Penerjemah: Achmad Syahid . Surabaya: Risalah Gusti, 2000. Utsman, Ahmadi dan Cahya Buana. al-Adab al-‘Arabî fî al-‘Ashr al-‘Abbâsî wa al-Andalûsî wa ‘Ashr al-Inhithâth. Ciputat: Fakultas Adab dan Humaniora, 2010.
15 Leslie Peirce “The Imperial Harem: Women and sovereignty in the Ottoman empire and Morality Tales: Law and gender in the Ottoman court of Aintab”; Asy-Syalabi, Ali Muhammad (25 Desember 2010). Bangkit dan Runtuhnya Khilafah ‘Utsmaniyah. Pustaka Al-Kautsar. hlm. 403-425. Mufradi, Ali (25 Desember 2010). Kerajaan Utsmani dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam. PT. Ichtiar Baru van Hoeve. hlm. 236-246. An-Nabhani, Taqiyyuddin (25 Desember 2010). Ad-Daulatul Islamiyyah . Darul Ummah. hlm. 139. Musthafa, Nadiyah Mahmud (25 Desember 1996). Al-’Ashrul ‘Utsmani minal Quwwatul Haimanah ila Bidayatul Mas’alatusy Syarqiyyah. Al-Ma’hadul ‘Alami lil Fikrul Islami. hlm. 94; Marjeh, Maufaq Bani (25 Desember 1996). Shahwatur Rajulul Maridh au as-Sulthan ‘Abdul Hamid ats-Tsani wal Khilafatul Islamiyyah. Darul Bayariq. hlm. 42; Harb, Muhammad (25 Desember 1998). Catatan Harian Sultan Abdul Hamid II. Darul Qalam. hlm. 68. Noer, Deliar (25 Desember 1973). Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. LP3ES. hlm. 242; Suryanegara, Ahmad Mansur (25 Desember 1998). Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia. Mizan. hlm. 227.
16. KH.Moehammad Dahlan, Haul Sunan Ampel Ke-555,halaman 1;
17. Syekh Muhyiddin Khayyat dalam “Durusut Tarekh Al-Islamiy” Juz V, dan Catatan Jarji Zaidan dalam Tarekh Tamaddun Al-Iskamiy, Juz III
18. Menurut Ibnu Khaldun dalam Mukaddimah, Allamah Muhammad bin Abdurrahman ad Dimasyqi dalam Fiqih 4 Madzhab.
19. Pendapat bahwa dinar 4.25  (22 karat atau 91.7) atau tidak murni datang dari orang yang bernama Vadillo, dengan dalih teknis bahwa emas murni lunak dan katanya hanya dapat bertahan selama tiga tahun, sedangkan bukti sejarah dan arkeologis di dapatkan bahwa koin emas murni telah bertahan hingga 700 tahun. Apa yang dinyatakan Vadillo sebagai ‘standar’ dinar tidak murni 4.25 gr (91.7) adalah pendapat pribadi, yang merupakan keputusan eksekutif perusahaan, jadi ini bukanlah keputusan fikih, keputusan atas bisnis koin. Pendapat pribadi Vadillo ini mengenai dinar tidak murni, jelas mengandung cacat fikih yang mendasar terhadap pelaksanaan nisab fikih zakat maal dalam zakat emas dan perak, dalam fikih semua 4 madhab dikatakan nisab zakat emas yang dimaksud adalah emas murni (dzhahab khalis). Dari hasil penelusuran kami selama beberapa puluh tahun terakhir ini diketahui ternyata dalih Vadillo atau WIM/WITO ini secara pragmatis di dasarkan kepada koin Abdul Malik bin Marwan yang tersimpan dalam British Museum di Inggris. Sedangkan sumber orisinal 1 mitsqal 4.25 gram (9999) ternyata datang dari penetapan fikih zakat kontemporer, jadi jelas gugur klaim atau dalih mengenai ‘standar’ atau otoritas atau otorisasi WIM/WITO yang digadang-gadang oleh Vadillo dan bonekanya sebagai badan dunia, selama ini sebuah opini atau ilusi dibangun oleh Vadiloo dan beberapa boneka yang mendapat informasi yang salah tentang hal itu, dan dia bukanlah seperti apa yang kamu lihat. Diketahui bahwa bukti arkeologis bahwa dinar dari Abdulmalik bin Marwan mempunyai kadar 97-98 persen bukan 91.7 persen seperti yang di katakan Vadillo, entah secara sengaja dan tidak orang ini membuat kekeliruan untuk mendukung dalih dinar tidak murni tersebut. Umar Vadillo dan beberapa bonekanya  secara tidak langsung mengikuti pendapat para ulama modernis dan perbankan Islam yang selama ini dia tentang, dan jelas ini bukan amal Madinah. Orang ini ingin dianggap dan menganggap dirinya seolah sebagai orang yang meneliti dan memulai ‘standar’ dinar 4.25 gram, dan seperti sudah kami jelaskan  bahwa ‘standar’ 1 mitsqal 4.25 gram (9999) bukanlah datang dari hasil penelitian Vadillo, itu sebuah ilusi yang terlanjur populer, kebohongan yang dianggap benar. Dari pengalaman langsung, seseorang secara pribadi pernah bertanya kepada Vadillo, ‘Bisakah saya melihat hasil penelitian kamu tentang standar mitsqal 4.25 gram? saya perlu mempelajarinya, jadi kita semua bisa mengetahui dan menjelaskan kepada publik’. Dia hanya diam dan menatap, tidak pernah menjawab pertanyaan itu secara jelas. Dan tampak ketidakpastian dari wajahnya. Sebagai pengetahuan untuk umum, bahwa gelar profesor ataupun doktor yang diambil pakaikan oleh orang ini, dan sering di tulis dalam berbagai acara dan di internet adalah gelar palsu, tidak ada hubungannya dengan badan formal akademis universitas manapun, sebuah kebohongan publik dibangun dan dibiarkan oleh dia dan orang disekelilingnya sejak lama.

 

DINAR DAN DIRHAM DALAM KAJIAN SEJARAH ISLAM

NAR
Jauh sebelum kenabian, penduduk Makkah telah biasa berniaga dengan berbagai negeri dan dari berbagai tempat (QS Quraisy). Makkah adalah pusat transit perdagangan dan terhubung antara jalur sutera laut dan jalur sutera darat sejak berabad-abad. Oleh karena itu mereka telah mengenal timbangan seperti ratl, uqiyah, nasy, nawah, mitsqal, danaq, qirath dan habbah. Uang yang digunakan adalah uang emas dan uang perak atau dikenal dengan sebutan dinar dan dirham. Bahkan Imam Suyuthi dalam Kitab Ad-Durrul Mantsur fi Tafsir bil Ma’tsur mengutip sebuah riwayat yang menyatakan bahwa manusia pertama yang menggunakan dinar dan dirham adalah Nabi Adam AS. (Jilid I hal.326) yang disusun oleh Imam Jalaluddin Suyuthi mengatakan, (dikeluarkan oleh Ibn Abi Syuibah dalam Kitab Al-Mushonnaf).

Uang dalam terminologi Islam merupakan alat barter, tolok ukur, sarana perlindungan kekayaan dan alat pembayaran hutang dan pembayaran tunai. Perniagaan dan pasar ataupun muamalah secara luas yang kuat bersandar kepada uang yang kuat. Dalam hal ini uang yang dimaksud adalah emas dan perak atau dalam Islam dikenal dengan sebutan dinar dan dirham yang murni.

Hakikat uang secara umum merujuk kepada pendapat fuqaha tradisional yang menyatakan uang adalah dinar dan dirham, mereka berpendapat Allah menciptakan emas dan perak untuk menjadi dua mata uang yang dapat dijadikan tolok ukur nilai. Iman Al Ghazali berkata tentang emas dan perak, “Di antara nikmat Allah Ta’ala adalah penciptaan dinar dan dirham, dan dengan keduanya tegaklah dunia. Keduanya adalah batu yang tiada manfaat dalam jenisnya, tapi manusia sangat membutuhkan kepada keduanya”.

Ibn Qudamah berkata, “Sesungguhnya harga emas dan perak adalah nilai harta dan modal dagang, yang dengan itu terjadilah mudharabah dan syirkah, dan ia diciptkan untuk itu. Maka disebabkan keasliannya dan penciptaannya terjadilah perdagangan yang dipersiapkan untuknya”.

Kekuatan uang bersandar kepada pasar dan perdagangan tanpa riba, dan sebaliknya pasar dan perdagangan yang kuat bersandar kepada uang yang kuat, sehingga Islam menetapkan kaidah-kaidah keuangan yang menjamin interaksi perdagangan dan pasar yang bebas dari berbagai praktek riba seperti penimbunan, monopoli, manipulasi, kecurangan timbangan, penipuan, spekulasi dan berbagai bentuk ketidak adilan dalam jual beli. Sesungguhnya nilai dinar dan dirham adalah nilai harta dan modal dagang ygang dengan itu terjadilah mudharabah dan syarikah dan kedua logam ini diciptakan untuk hal itu. Maka disebabkan keasliannya dan penciptaan emas dan perak terjadilah perdagangan yang dipersiapkan untuknya. Islam merlarang cara apapun yang berdampak mudharat terhadap uang, walaupun terjadi perubahan waktu dan tempat.

Orang yang tidak yakin kepada Allah menjadikan fulus sebagai uang adalah bid’ah yang mereka ada-adakan dan kerusakan yang mereka ciptakan tidak ada dasarnya sama sekali dalam ajaran Nabi, dan dalam menjalankannya tidak bersandarkan pada sistem syariah. Membuat uang dari selain emas dan perak adalah yang menjadikan rusaknya segala urusan, kehancuran segala keadaan, dan menyebabkan manusia kepada ketiadaan dan kebinasaan. Dengan Merusak nilai uang (mengganti kepada selain emas dan perak) merugikan orang yang memiliki hak, mahalnya harga, terputusnya suplai dan bentuk-bentuk kerusakan yang lain.

Al Maqrizi mengatakan, “Sesungguhnya uang yang menjadi harga barang-barang yang dijual dan nilai pekerjaan adalah hanya emas dan perak saja. Tidak diketahui dalam riwayat yang shahih dan yang lemah dari umat yang manapun dan kelompok manusia manapun, bahwa mereka dalam masa lalu dan masa kini selalau menggunakan uang selain keduanya, dinar dan dirham”.

Sebelum masa Islam datang, orang arab, bangsa Quraisy telah memiliki hubungan dagang dengan beberapa negara tetangga. Meskipun demikian, mereka tidak memiliki mata uang sendiri yang dicetak, dimana uang emas berasal dari Romawi dan uang perak berasal dari Persia, dan hanya sedikit dirham yang berasal dari Yaman.

Kemudian pada masa Islam, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menetapkan dinar dan dirham sebagai mata uang yang sah dalam perdagangan atau perniagaan (uang sunnah). Adalah Arqam ibn Abi Arqam, sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang ahli menempa emas dan perak membantu beliau dalam penetapan timbangan.

Sanad pencetakan (dan mitsqal)  tidak pernah terputus dari masa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam hingga hari ini, dan sanad tersebut bukan di ambil dari buku. Dengan adanya sanad tersebut ilmupun menjadi terjaga, Ibnu Mubarak berkata, “Isnad termasuk agama, tanpa isnad orang akan berkata sekehendaknya.” Sufyan Ats-Tsaury mengatakan, “Sanad adalah senjatanya orang mukmin.”

Adapun para sahabat nabi Muhammad yang ahli di bidang mencetak dinar dan dirham adalah:

  1. Abu Bakar Ash-Shiddiq
    2. Umar bin Khattab
    3. Utsman bin Affan
    4. Ali bin ABi Thalib
    5. Abdurrahman bin ‘Auf
    6. Sa`d bin Abî Waqâs
    7. Arqam bin Abil Arqam
    8. Thalhah bin Ubaidillah
    9. Zubair bin Awwam

Diriwayatkan oleh Baladzuriy dari ‘Abdulllah bin Tsa’labah bin Sha’ir: “Dinar Hiraklius (Romawi) dan Dirham Persia biasa digunakan oleh penduduk Makkah pada masa Jahiliyah. Mereka sudah mengetahui timbangan mitsqal. Dan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menetapkan hal itu. Begitu pula Abubakar meneruskannya, juga ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali. Saat itu kaum muslim telah menggunakan dinar Hiraklius dan dirham Kisra pada masa Rasulullah Abubakar dan pada permulaan masa ‘Umar. Pada masa ‘Umar (*sekitar tahun 642-651M), beliau mencetak dirham yang baru berdasarkan dirham Sasanid di mana bentuknya mengacu kepada dirham Kisra, gambarnya bermotif Bahlawiyah dengan ditambahkan tulisan Arab kufi, dengan nama Allah dan dengan nama Allah Tuhanku

Al Qur’an menyebutkan uang dinar sudah digunakan oleh Kaum Ahli Kitab sebelum Nabi Muhammad (Al Quran, Ali ‘Imran 75). Demikian pula uang dirham telah dipakai pada masa Nabi Yusuf (Al Quran, Yusuf 20).

Rasululllah shalallahu alaihi wassalam menetapkan timbangan dinar sama dengan satu mitsqal dan setiap 10 (sepuluh) dirham itu 7 (tujuh) mitsqal. ‘Umar bin Khattab menselaraskan pelbagai berat drachma menjadi dirham syar’i (yaitu 6 dawaniq) sesuai timbangan Makkah pada masa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam

Pada tahun 682M gubernur Iraq (Mush’ab ibn Az- Zubayr) mencetak dinar. Dan dua tahun kemudian, 684M, Abdul Malik ibn Marwan, Khalifah Bani Umayyah di Damaskus mencetak dinar dengan berat 4,4 gram sesuai timbangan mitsqal (seberat 72 butir gandum). Pada tahun 695 M berat dinarnya dikurangi oleh Hajjaj ibn Yusuf (Gubernur Iraq) menjadi 4,2 gram (seberat 65-66 butir gandum) dan melakukan reformasi keuangan. Namun kemudian dikoreksi kembali oleh Khalifah Harun Al Rasyid karena tidak sesuai timbangan (wazan) yang ditetapkan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, yaitu mitsqal.

Hal ini diperkuat juga dengan pernyataan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang mengatakan bahwa dirham buatan Khalifah Abdul Malik bin Marwan bobotnya kurang, maka perbandingannya bukan 7/10 mitsqal tetapi 7/10.5 mitsqal (disebutkan dalam kitab Adh-Dharaib Fi As Sawad, hal. 65), ini artinya 7 mitsqal = 10,5 x 2.97 gram = 31.1 gr atau 1 troy ounce, artinya berat 1 Dirham adalah 3.11 gram. Dari sini kita dapat tentukan 1 Dinar adalah 31.1 : 7 = 4.44285 gram.

Dinar yang beredar di negeri-negeri muslim berada dalam rentang mitsqal 4.4 – 4.55 gram. Berbagai jenis dinar dapat kita lihat di dalam buku Coinage Of Islam.

Pada masa Kekhalifahan Turki Utsmani ditemukan juga sistem perdagangan menggunakan dinar dan dirham beberapa catatan perniagaan Kesultanan Turki Utsmani mempunyai perdagangan yang kuat dan menjalin hubungan dagang dengan berbagai negara di Eropa, India, Yaman, Cina dan lain lain. Dan dalam sejarah perdagangan Kekhalifahan Turki Utsmani beredar berbagai jenis uang emas dan perak seperti Ducat emas, Gulden emas dan perak, Florin emas, dan Cruzados. Kekhalifahan Turki mencetak koin emas yang disebut Khurus dan koin perak yang disebut Akche (Acke) atau dirhem. Timbangan dan berat yang umum pada saat itu digunakan yaitu ratl, okka, ukiya dan kirat.

Dan dari hal ini diketahui berat dirham dimasa itu, yaitu rata-rata antara 3.0898 – 3.207 gram. seperti yang di jelaskan di bawah ini:

  • Dirham atau Dirhem atau Akche (Acke) = 16 kirat = 64 dang = 3.207 gram.
    • Dirham Bizantium dan awal Islam = 3.125 gr.
    • Dirham menurut shariah dan kanonikal = 3.125 gram.
    • Dirham di Kairo = 3.0898 gram.
    • Dirham di Dimishki = 3.086 gram.
    • Dirham di Tabriz = 3.072 gram.

Hal yang menjadi dasar utam dari kita semua kembali mengamalkan dinar dan dirham adalah kepada keimanan dan ketakwaan, bukan yang lain, karena ini bagian dari perintah Allah yang merupakan urusan akidah Islam dan berkaitan erat dengan salah satu rukun Islam yaitu tiang zakat maal, dimana semua 4 Ulama Madhab menyatakan bahwa zakat maal harus ditarik sebanyak 20 Mitsqal untuk Zakat Emas dan 200 Dirham untuk Zakat Perak, dan kesemuanya dihitung bahan emas dan perak murni[1]

Imam Hanafi mengatakan tentang hal ini:
“Bahwa ukuran Nisab Zakat yang disepakati ulama’ bagi emas adalah 20 Mitsqal, dan telah mencapai haul (1 tahun) dan bagi perak adalah 200 dirham”[2]

Imam Asy-Syafi’I berkata dalam Kitab Al-Umm, Volume 2:
“Rabi’ meriwayatkan bahwasanya Imam Asy-Syafi’I berkata: Tidak ada perbedaan pendapat (ikhtilaf) bahwasanya Dalam Zakat Emas itu adalah 20 Mitsqal (Dinar)”.[3]

Penggunaan dinar dan dirham sebenarnya sudah terjadi sekian lama, jauh sebelum Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam lahir, yaitu yang pertama kali menggunakan dinar dan dirham adalah Nabi Adam alaihis salam, dapat di lihat dalam Tafsir ad-Durrul Mantsur fi Tafsir bil Ma’tsur (Vol. I hal, 326) yang disusun oleh Imam Jalaluddin Suyuthi mengatakan, (dikeluarkan oleh Ibn Abi Syuibah dalam Kitab Al-Mushonnaf). Pada masa Nabi Idris ‘alaihis salam, 9000 tahun Sebelum Masehi, sebagai Rasul Ke-2 yang pertama kali hidup menetap, mengenal tambang emas dan perak, dan mengolahnya menjadi sebuah mata uang yang diberi nama raqim [4] untuk mata uang emas, dan wariq [5] untuk mata uang perak.

Sejarah mata uang raqim dan wariq ini, berlangsung cukup lama mulai dari periode Nabi Idris [6], dilanjutkan ke periode Nabi Nuh, ke periode Hud, ke periode Nabi Sholih, ke periode Nabi Dzulqarnain, ke periode Ashabulkahfi, ke periode Nabi Ibrahim, ke periode Nabi Luth, ke periode Nabi Isma’il dan ke periode Nabi Ishaq. Peristiwa penting ini secara implisit dijelaskan dalam Al-Qur’an di 403 ayat dalam Al-Qur’an.[7]

Penamaan Dinar sebagai mata uang emas, dan Dirham sebagai mata uang perak, baru terjadi Periode Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf. Hal ini termaktub dalam Surah Ali-Imran (3): 75, [8] dan Surah Yusuf 12: 20.[9]

Standarisasi ukuran dinar dan dirham pada masa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam sama dengan ukuran raqim dan wariq pada masa Nabi Idris sampai Nabi Ishaq, dan sama pula ukurannya dengan dinar dan dirham pada masa Nabi Ya’qub sampai Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam. Ukuran ini adalah ukuran yang telah disepakati oleh Jumhur Ulama’. Yaitu: nisab zakat harta yang harus ditarik sebanyak 20 Dinar untuk Zakat Emas dan 200 Dirham untuk Zakat Perak.[10]

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, menerapkan kaidah timbangan dinar dan dirham ini sesuai dengan “(berat) 7 dinar harus setara dengan (berat) 10 dirham”. Sunnah dinar dan dirham ini kemudian diikuti oleh para Khulafâ’ur Rasyidun yang berlangsung selama 30 tahun, yaitu sejak tahun 11 H sampai 40 H, berlangsung di Madinah yaitu Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, Khalifah Umar bin Khattab, Khalifah Utsman bin ‘Affan dan Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib.[11]

Standarisasi dinar dan dirham di atas juga dijaga tradisinya pada masa Bani Umayyah, berjalan selama 92 tahun, sejak tahun 40 H sampai 132 H. dengan 14 orang Khalifah yang berpusat di Damaskus. Khalifah-Khalifah itu yaitu: Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Yazid bin Mu’awiyyah, Mu’awiyyah II bin Yazid, Marwan bin Al-Hakam, Abdul Malik bin Marwan, Walid bin Abdul Malik, Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul ‘Aziz, Yazid II bin Abdul Malik, Hisyam bin Abdul Malik, Walid II bin Yazid, Yazid III bin Walid, Ibrahim bin Walid dan Marwan II bin Ja’diy.[12]

Standarisasi dinar dan dirham di atas juga dijaga tradisinya pada masa Bani ‘Abbasiyyah, berjalan selama 518 tahun, sejak tahun 132 H sampai 656 H. dengan 37 orang Khalifah yang berpusat di Baghdad. Khalifah-Khalifah itu yaitu: Abul ‘Abbas As-Saffah, Abu Ja’far Al-Manshur, Mahdi bin Al-Manshur, Hadi bin Mahdi, Harun ar-Rasyid bin Mahdi, Al-Amin bin Harun Ar-Rasyid, Al-Ma’mun bin Harun Ar-Rasyid, Al-Mu’tashim bin Harun Ar-Rasyid, Al-Watsiq bin Mu’tasyim, Al-Mutawakkil bin Mu’tashim, Al-Mutashir bin Al-Mutawakkil, Al-Musta’in bin Mu’tashim, Al-Mu’tazz bin Mutawakkil, Muhtadi bin Al-Watsiq, Mu’tamid bin Mutawakkil, Mu’tadid bin Al-Muwaffiq, Muktafi bin Mustadhid, Ar-Radhi bin Muqtadir, Al-Muqtaqi bin Muqtadir, Mustaqfi bin Mustaqfi, Al-Mu’thi bin Muqtadir, At-Ta’bin Al-Mu’thi, Al-Qadir bin Ishaq, Al-Qaim bin Al-Qadir, Muqtadi bin Muhammad, Mustazhir bin Muqtadi, Murtashid bin Mustashir, Ar-Rashid bin Murtasyid, al-Muqtafi bin Mu’atshir, Mustanjid bin Muqtafi, Mustadi bin Al-Muqtadi, An-Nashir bin Muatahdi, Az-Zhahir bin An-Nashir, Mustanshir bin Az-Zhahir, Musta’sihim bin Mustansir.[13]

Standarisasi dinar dan dirham di atas juga dijaga tradisinya pada masa kerajaan-kerajaan kecil (Mulukut Thawâif), baik di benua Timur maupun di benua Barat (Andalusia) yang masuk menyelusup di masa Bani ‘Abbasiyyah, yaitu dari tahun 321 H sampai 685 H berjalan selama 350 tahun.[14]

Standarisasi dinar dan dirham di atas juga dijaga tradisinya pada masa Turki Utsmani, berjalan selama 666 tahun, sejak tahun 687 H sampai 1343 H (1924 M) dengan 38 orang Sultan yang berpusat di Istanbul (Kontantinopel).[15]

Bahkan pada masa Sultan Muhammad II Al-Fatah (Sultan Ke-7 dari Kesultanan Turki Utsmani), tahun 855H/ 1451M, Dinar dan Dirham dibawa oleh Duta Muballigh Islam yang dikenal dengan “Walisongo” melalui perdagangan bersistem Dinar Dirham di Wilayah Nusantara (Asia Tenggara).[16]

Dalam catatan Syekh Muhyiddin Khayyat dalam “Durusut Tarekh Al-Islamiy” Juz V, dan Catatan Jarji Zaidan dalam Tarekh Tamaddun Al-Iskamiy, Juz III, menyebutkan bahwa: Standarisasi Dinar dan Dirham di atas juga dijaga tradisinya di beberapa negara-negara Islam, seperti Kesultanan Umayyah di Adaluzie Eropa, mulai tahun 138 H = 755M sampai 407 H/ 1016 M. Juga diterapkan di Kesultanan Fathimiyyah di Afrika Utara dan Mesir sejak tahun 279 H/ 909 M sampai 567H/ 1171M, juga diterapkan di Kesultanan Ayyubiyyah di Mesir dan Syiria sejak tahun 567H/1171 M sampai 657H/1260 M, juga diterapkan di Kerajaan Geznewiyah di Afghanistan dan India sejak tahun 366 H/976M sampai 579H/1183M. Dan di Kesultanan Mongolia di India sejak tahun 932H/1526M sampai 1274 H/1857M.[17]

Mitsqal, Timbangan Berat Dan Kadar Dinar Dan Dirham Dalam Fikih Islam
Berdasarkan rumus “(berat) 7 Dinar harus setara dengan (berat) 10 Dirham”. Wahyu Allah menyebut emas dan perak serta mengaitkannya dengan berbagai hukum , misalnya zakat, perkawinan, hudud dan lain-lain.

Menurut Ibnu Khaldun dalam Mukaddimah, Allamah Muhammad bin Abdurrahman ad Dimasyqi dalam fikih 4 Madzhab, menyatakan bahwa : Berdasarkan wahyu Allah, Emas dan Perak harus nyata dan memiliki ukuran dan penilaian tertentu (untuk zakat dan lainnya) yang mendasari segala ketentuannya, bukan atas sesuatu yang tak berdasarkan syari’ah (kertas dan logam lainnya). Ketahuilah bahwa terdapat persetujuan umum (ijma) sejak permulaan Islam dan masa Para Nabi dan Rasul, masa Nabi Muhammad, Khulafa’ur Rasyidun, Sahabat serta tabi’in, tabi’it tabi’in bahwa dirham yang sesuai syari’ah adalah yang sepuluh kepingnya seberat 7 mitsqal (bobot dinar) emas. Berat 1 mitsqal emas adalah 72 butir gandum, sehingga dirham yang bobotnya 7/10-nya setara dengan 50-2/5 butir. Ijma telah menetapkan dengan tegas seluruh ukuran ini.[18]

Rujukan di atas adalah salah satu prinsip yang menjadi jalan pembuka untuk kami mengkaji ulang mengenai mitsqal untuk berat dan kadar dinar dan dirham terhadap fikih zakat maal emas dalam hal ini adalah  nishab zakat emas dan perak. Dengan berbagai pertemuan, pembicaraan dan masukan formal dan informal yang kami lakukan baik dengan beberapa kolega kami di Indonesia, Amerika, Afrika Selatan, Malaysia baik secara langsung ataupun tidak langsung, meneliti berbagai literatur sejarah Islam dan dunia dan berbagai catatan dan bukti arkeologi baik langsung dan tidak langsung, maka kami akan mengemukakan beberapa hal penting terkait dengan standar dinar dan dirham terutama terhadap perhitungan nisab zakat emas dan perak di Nusantara dan dunia, yang tentunya hal ini kami niatkan untuk kepada keimanan, ketakwaan dan kelurusan dalam mengamalkan dinar dirham dalam muamalat Islam secara benar dan tepat sesuai dengan syari’at Islam (kitabullah dan sunnah Rasulullah).

Hal lain yang menjadi prinsip dan perhatian dalam menuntun kami sampai kepada  orisinalitas ini adalah, melihat kembali catatan terdahulu dari berbagai sumber kitab Islam yang diketahui bahwa nishab zakat emas adalah 89 (88.8), 91 dan 93 gram kesemuanya dalam emas murni (dzahab khalis), sedangkan nishab zakat emas  85 gram (juga dalam emas murni)  baru muncul dan dikenal kemudian hari yang banyak ditemui dalam buku-buku fikih zakat  kontemporer atau ekonomi Islam, yang menjadi salah satu rujukan fikih zakat kontemporer ini termasuk dalam buku Shaykh Utsaimin dan Dr. Yusuf Qardhawi, yang menyatakan pendapat nishab 85 gram (emas murni), atau dengan kata lain mengambil berat yang teringan (Buku Fikih Islam, Prof Dr. Wahbah Az-Zuhaili), hal ini digunakan untuk mengakomodir ‘fikih’ zakat profesi dari perbankan Islam (zakat profesi sendiri tidak pernah ada dalam Islam). Shaykh Utsaimin dan Dr. Yusuf Qardhawi dan kebanyakan ‘ulama’ kontemporer hari ini menyamakan dinar dan dirham dengan uang kertas, apa yang dilakukan oleh mereka ini bukanlah kehati-hatian dan bukan pula berdasarkan apa yang sudah kami jelaskan di atas.

Memahami Kekeliruan  Mendasar Dari Dinar 4.25 (91.7) atau Tidak Murni
Kekeliruan mendasar yang selama ini terjadi diberbagai buku dikatakan bahwa dinar itu tidak murni, perlu disadari bahwa dinar dan dirham yang di minta dalam ketentuan syariah dinyatakan berbahan murni atau semurni mungkin (dzahab khalis) yang dalam bahasa al Quran disebut kayla (kadar), dan ini tidak ada perubahan dalam hal itu, mengenai hal kemurnian ini yang dikatakan dalam fikih 4 Imam Madhab terkait pelaksanaan penarikan zakat maal untuk emas dan perak. Dan bahwa alasan bahwa emas murni lunak sehingga dibuatlah dinar berbahan campuran (tidak murni), adalah pendapat yang lemah dan semata disandarkan oleh alasan pragmatis dan teknis, ini dibangun dari sebuah pendapat pribadi dan bukanlah terkait hukum Islam. Dapat diketahui dari fakta, bukti sejarah dan arkeologis koin-koin emas murni yang ditemukan telah dapat bertahan hingga 700 tahun bahkan lebih, jadi bukan tiga tahun seperti dalih seorang penggiat dinar dan dirham.

Mengenai adanya kekhawatiran koin tersebut rusak atau beratnya berkurang itu adalah sesuatu yang alamiah, maka yang justru perlu dilakukan adalah mendukung pencetakan dinar dan dirham mandiri seperti Islamic Mint Nusantara (IMN) yang dapat dibantu dan berjalan atas pembiayaan wakaf dari umat muslim, agar koin-koin yang telah rusak atau aus dan berkurang beratnya karena digunakan dalam muamalah dapat ditarik, dilebur dan diganti dengan yang koin baru.

Penjelasan mengenai kadar berdasarkan perintah zakat maal tersebut adalah yang membedakan dinar dengan koin emas lain, jadi penelitian dan penjelasan ini dibuat bukan karena ingin berbeda tapi untuk mendapati kesempurnaan dalam timbangan (adil) yang terkait dengan muamalah Islam secara luas.

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa banyak dinar yang telah beredar saat ini mempunyai berat 4.25 (91.7) atau tidak murni, lalu dimana letak kekeliruannya? secara mendasar kita dapat melihat kekeliruan itu dalam perhitungan nishab zakat maal sebesar 20 dinar, yang akan di jelaskan sebagai berikut:

85 gram : 20 mitsqal= 4.25 gr (dzahab khalis)
Nishab adalah 4.25 gr x 20 = 85 gr (dzahab khalis)

Dalam 1 Dinar 4.25 (91.7) hanya mengandung 3.89 gram emas murni,
nishab adalah 3.89 gram x 20 = 77.8 gram (9999)

Jadi diketahui 20 Dinar (tidak murni) sama dengan 77.8 gram, yang sangat jauh dari fikih zakat kontemporer dengan nishab 85 gram emas (dzahab khalis), apalagi kepada fikih tradisional 89 (88.8), 91 dan 93 gram yang kesmuanya dalam emas murni.

Dari penjelasan di atas menjadi jelas bahwa nishab 85 gram emas murni tidak tercapai dari 20 dinar 4.25 gram berbahan campuran atau tidak murni, artinya jika konsisten mengikuti fikih kontemporer aspek kesempurnaan berat dan kadar terabaikan, karena dinar ini yang dimaksud menurut jumhur Ulama yang adalah emas murni (dzahab khalis) bukan emas campuran ataupun sengaja di campur, tentu hal ini tidak bisa diterima dan tidak bisa diabaikan, dalam praktek perhitungan mitsqal emas campuran bukan lagi menjadi 20 Dinar melainkan menjadi 22 Dinar (tentu kita tidak dapat merubah ketetapan hukum zakat emas sebanyak 20 mitsqal tersebut), artinya jika tetap menggunakan dinar 4.25 (91.7) atau 22 karat maka perhitungannya berat 1 mitsqal menjadi berbeda, yang dapat di jelaskan  berikut:

(24/22) x (85/20)= 4.63 gr (91.7)
nishab emas campuran menjadi 4,63 gr x 20 = 92.6 gr

Sekarang dapat dilihat perbedaan timbangan mitsqal dari 1 Dinar (22K/917) = 4.63 gr dan 1 Dinar (24K/9999) = 4.25 gr jadi kesimpulannya adalah, kalau nishab zakat emas dihitung dalam dengan standar 1 dinar = 4.25 gr (22K) hanya terkandung 77.8 gr emas (murni), dimana ini tidak mencapai nishab zakat mal yang seharusnya adalah 85 gram emas (murni) dalam penetapan fikih zakat kontemporer seperti yang telah dijelaskan di atas.

Dan mengenai pendapat (pribadi) yang menyatakan dinar 4.25 gram adalah 22 karat (91.7) atau tidak murni menyelisihi dan tidak mengikuti 4 madzhab yang mutabar, dan tentu pendapat ini sangat lemah karena tidak berdasarkan kepada nash-nash syar’i, hanya semata karena alasan teknis dan kepraktisan saja. [19] .

Dalam Catatan sejarah, nishab zakat emas dan perak yang dapat kami temui adalah 89, 91 dan 93 sedangkan nishab zakat 85 gram adalah baru dikenal pada abad 20 yang di dukung oleh pendapat Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin dan Dr Yusuh Qardhawi, Fiqh al-Zakah, jilid I. Sumber nishab zakat 93 gram lihat Ibn Qayyim al Jawziyyah, Zad al Ma’ad fi Hadyi Khayr al’ibad (Makkah: al-Maktabah al-’ilmiyyah) jilid I, hh 147-148. Sumber nishab 89 gram lihat Al Isyadat-us Saniyah fi al ahkam il Fiqiyah, bahagian ke-2 halaman 157).

Bersambung…….

SEJARAH PEMBUKUAN HADITS HADITS NABAWY

SEJARAH PEMBUKUAN HADITS

ILMUn

BAB I

HADITS SESUDAH ZAMAN SAHABAT SAMPAI SEKARANG

 

A.Pendahuluan

Sejarah penulisan hadits sering kali menjadi bahan kontroversi di kalangan sebagian kaum muslim maupun non muslim. Ada sebagian yang menolak untuk menerima otentisitas hadist Nabi lantaran mereka berargumen bahwa hadist Nabi ditulis dan dibukukan dua abad sesudah wafatnya Nabi Muhammad saw, suatu rentang waktu yang agak lama berlalu sehingga dapat menyebabkan timbulnya perubahan dan pergeseran lafazh serta makna hadist yang bersangkutan. Mereka ini beranggapan hanya berdasarkan asumsi rasional semata dan tidak melihat serta meneliti berbagai argumen yang bisa diterima oleh syari’at Islam serta tidak mengkaji serta menelaah sejarah penulisan dan pembukuan  dengan benar.Sementara di sisi yang lain ada sebagian kaum yang secara tekstual menerima begitu saja hadist Nabi tanpa mempedulikan kesahihan dan ketidaksahihannya.Pada makalah ini penulis mencoba berusaha secara ringkas untuk mengemukakan penjelasan yang benar tentang penulisan dan pembukuan hadist Nabi sejak mulai abad ke 2 H sampai dengan abad ke 7 H hingga sekarang.

Ø  Penulisan dan Pembukuan Hadist Secara Resmi (Abad ke 2 H)

Pada periode ini Hadist-hadist Nabi saw mulai ditulis dan dikumpulkan secara resmi. Adapun Khalifah yang memerintah pada saat itu adalah Umar ibn Abdul Aziz dari Dinasti Umayyah. Umar ibn Abdul Aziz mempunyai kepentingan di dalam kepemimpinannya untuk menulis dan membukukan hadis secara resmi, hal ini didadasarkan pada beberapa riwayat, Umar ibn Abdul Aziz khawatir akan hilangnya hadist dan wafatnya para ulama hadist. Para sahabat telah berpencar di berbagai daerah, bahkan tidak sedikit jumlahnya yang sudah meninggal dunia. Sementara hadist-hadist yang ada di dada mereka belum tentu semuanya sempat diwariskan

 kepada generasi berikutnya. Karena itu, khalifah yang terkenal wara’ dan takwa ini mengupayakan pengumpulan dan penulisan hadist.

Ada perbedaan dalam penghimpunan hadist dengan al-Qur’an. hadist mengalami masa yang lebih panjang sekitar tiga abad dibanding dengan al-Qur’an yang hanya memerlukan waktu relatif lebih pendek. Yang dimaksud dengan periodeisasi penghimpunan hadist disini adalah fase-fase yang telah ditempuh dan dialami dalam sejarah pembinaan dan perkembangan hadist, sejak Rasulullah saw masih hidup sampai terwujudnya kitab-kitab hadist yang dapat disaksikan sekarang ini.

Pada masa pemerintahan Umar ibn Abdul Aziz,Islam sudah meluas sampai ke daerah-daerah yang tentunya pemahaman dan pemikiran mereka khususnya tentang keislaman itu sendiri adalah hadist.Khalifah berinisiatif untuk mengumpulkan hadist-hadist tersebut dikarenakan semakin meluasnya perkembangan Islam yang umumnya orang-orang yang baru memeluk agama Islam butuh dengan pengajaran yang didasarkan pada hadist-hadist Nabi. Selain itu gejolak politik yang terjadi di kalangan umat Islam, ada beberapa kelompok yang mencoba menyelewengkan sabda-sabda Rasulullah saw yang akhirnya akan merusak ajaran kemurnian Islam itu sendiri. Oleh karena itu Umar ibn Abdul Aziz telah menyusun suatu gerakan yang penuh semangat dalam rangka penyebarluasan dakwah Islamiyah.

Menurut Ajjaj al-Khathib bahwa kegiatan pembukuan hadist telah diprakarsai oleh ayahnya Khalifah Umar, yaitu Abdul Aziz yang ketika itu menjabat sebagai gubernur Mesir. Akan tetapi karena jabatannya sebagai gubernur maka jangkauannya tidak menyeluruh, oleh karena itu diteruskan oleh Umar setelah diangkat menjadi Khalifah. Tentunya pengkodifikasian hadist begitu cepat merambah ke daerah-daerah yang dikuasai oleh gubernur dan langsung memberikan instruksi agar menulis dan mengumpulkan hadist yang ada pada sahabat dan seterusnya disebarluaskan. Begitu juga ia mengutus para ulama untuk mengumpulkan hadist-hadist Rasulullah, hadist yang dipercaya kebenarannya ialah hadis yang telah diriwayatkan oleh orang-orang yang memiliki sifat menjauhkan diri dari dosa dan takwa.

Jika kita teliti kemampuan ilmiah umat Islam, sebenarnya telah memungkinkan mereka untuk melakukan penulisan terhadap hadist-hadist Nabi, Tetapi pendapat yang dominan di kalangan para sarjana dan ilmuan adalah bahwa hadist-hadist itu hanya disebarkan lewat mulut ke mulut sampai akhir abad pertama. Perlu kita ketahui bahwa kecintaan dan kepatuhan para sahabat kepada Nabi saw sungguh demikian mendalam, karenanya dalam menuliskan risalah ajaran Islam, mereka melakukannya secara lisan seperti Nabi lakukan terhadap mereka. Kondisi seperti itu secara tidak langsung mengajarkan kepada kita bahwa hal kepatuhan juga sebagian dari agama. Adapun pandangan para orientalis tentang penulisan pertama hadist yang dilakukan oleh al-Zuhri atas perintah Umar ibn Abdul Aziz adalah palsu. Karena mereka merujuk pada hadist-hadist fikih yang menurut pandangan para orientalis baru muncul sesudah zaman Umar ibn Abdul Aziz. Pendapat ini tentunya tidak mengkaji tentang sejarah Islam dari awal, yang mana ungkapan-ungkapan Nabi saw yang belum ditulis hanya dengan lisan dianggap sebagai ucapan biasa saja. Padahal bila kita rujuk pada pengertian hadist itu sendiri bahwa segala sesuatu yang lahir dari perilaku Nabi secara keseluruhan itu merupakan bahan yang menjadi hukum atau pelajaran pada generasi sesudahnya. Terkait dengan pengertian tersebut maka kitab al Muwaththa’ karya ibn Malik merupakan salah satu kitab yang mencatat hadist Nabi saw dan fatwa ulama awal di Madinah yang menganut pengertian tersebut,sehingga kitab tersebut disusun berdasarkan pola yang diawali dengan atsar dan baru kemudian fatwa yang memuat penjelasan-penjelasan hukum yang berkaitan dengan perkataan, perbuatan yang dilakukan Nabi dan pendapat hukum para sahabat, tabi’in serta fatwa ulama.

Ø  Masa Pemurnian dan Penyempurnaan Penulisan Hadist ( Abad ke 3 H )

Menurut ahli hadist,yang menjadi masalah pokok yang menyebabkan keterlambatan sampai seratus tahun lebih dalam pembukuan hadist adalah karena hanya mengikuti pendapat populer di kalangan mereka tanpa meneliti sumber-sumber yang menunjukkan bahwa hadist sudah dibukukan pada masa yang lebih awal. Sedangkan sebab lain kenapa hadis belum disusun dan dibukukan pada masa sahabat dan tabi’in dikarenakan adanya larangan Nabi dalam shahih Muslim, khawatir akan bercampur dengan al-Qur’an, sebab lain hafalan mereka sangat kuat dan mereka juga cerdas, di samping umumnya mereka tidak dapat menulis. Baru pada masa akhir tabi’in, hadist-hadist Nabi disusun dan dibukukan.

Masa pemurnian dan penyempurnaan hadist berlangsung sejak pemerintahan al-Ma’mun sampai awal pemerintahan al-Muqtadir dari khalifah Dinasti Abbasiyah. Ulama-ulama hadist memusatkan pemeliharaan pada keberadaan hadist, terutama kemurnian hadist Nabi saw, sebagai antisipasi mereka terhadap kegiatan pemalsuan hadist yang semakin marak.[11] Dalam setiap ajaran agama bagi para pemeluknya, tentunya sangat bervariasi dalam mengamalkan ajaran itu sendiri. Ini sesuai dengan kondisi sejauh mana pemahaman mereka tentang agama serta pengaruh yang dapat mengubah pola pikir seseorang menjadi taat, fanatik, atau acuh tak acuh. Perkembangan ilmu pengetahuan sudah dimulai pada abad ke-2 dengan lahirnya para imam mujtahid di berbagai bidang fikih dan ilmu kalam. Perselisihan dan perbedaan pendapat di kalangan imam mujtahid menjadi khazanah ilmu yang terus dikembangkan dan dihargai, tetapi lain halnya yang dipahami oleh para pengikut imam tersebut. Dikarenakan faktor ingin benar dan menang sendiri maka pendapat ulama lainnya dianggap tidak benar. Fanatik menjadi ciri khas mereka yang akhirnya menciptakan hadis-hadist palsu dalam rangka mendukung mazhabnya dan menjatuhkan mazhab lawannya. Kegiatan pemalsuan hadist mengalami masa yang begitu lama, sejak dari pemerintahan al-Ma’mun, al-Mu’tasim dan Wastiq, yang mereka sangat mendukung kaum Mu’tazilah. Momentum pertentangan mazhab juga dimanfaatkan oleh kaum kafir Zindiq yang memusuhi Islam untuk menciptakan hadist-hadist palsu dan menyesatkan kaum muslimin dan tidak ketinggalan para pengarang cerita juga memanfaatkan situasi tersebut.

Ulama Mu’tazilah tidak saja mempengaruhi pikiran khalifah untuk bertindak keras terhadap ahli hadist,bahkan mereka melepaskan caci maki kepada ahli hadist serta menuduh ahli hadist bodoh dan dungu. Oleh sebab itu para ulama berupaya agar pelestarian yang berbentuk hadist dapat terus dipertahankan dan diabadikan tentunya dengan menyeleksi satu demi satu hadist yang telah masuk ataupun penemuan baru yang hubungan keakuratannya adalah bisa dipertanggungjawabkan serta memang benar-benar datang dari Nabi saw. Maka para ulama melakukan kunjungan ke daerah-daerah untuk menemui para perawi hadist yang jauh dari pusat kota. Di antara mereka adalah Imam Bukhari yang telah melakukan perjalanan selama 16 tahun dengan mengunjungi kota Mekkah, Madinah dan kota-kota lain. Seterusnya mereka juga melakukan pengklasifikasian hadist yang disandarkan kepada Nabi (marfu’), dan yang disandarkan kepada para sahabat (mawquf), serta yang disandarkan kepada tabi’in (maqthu‘), serta penyeleksian hadist kepada hadist shahih, hasan, dan dha’if.

Adapun bentuk penyusunan kitab hadist pada periode ini adalah:

  1. a) Kitab Shahih, kitab ini hanya menghimpun hadis-hadist Shahih, sedangkan yang tidak Shahih tidak dimasukkan ke dalamnya. Yang termasuk dalam kitab shahih adalah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
  2. b) Kitab Sunan, di dalam kitab ini selain dijumpai hadist-hadist Shahih, juga dijumpai hadist yang berkualitas Dha’if dengan syarat tidak terlalu lemah dan tidak munkar. Yang termasuk dalam kitab ini antara lain Sunan Abi Dawud, Sunan at Turmudzi, Sunan al Nasa’I dan Sunan ibn Majah.
  3. c) Kitab Musnad, di dalam kitab ini dijumpai hadis-hadist disusun berdasarkan urutan kabilah, seperti mendahulukan Bani Hasyim dari yang lainnya, ada yang menurut urutan lainnya seperti huruf hijaiyah dan lain sebagainya. Yang termasuk kitab ini adalah Musnad Ahmad ibn Hanbal.

Penyusunan ketiga bentuk kitab Hadis tersebut merupakan kebutuhan untuk menyeleksi bahwa hadist tersebut bersumber atau murni dari Nabi SAW dengan sanad dan perawi yang dapat dipertanggungjawabkan, dengan otentesitas hadist tersebut maka hadist tersebut dapat dijadikan sumber hukum dan hujjah sekaligus.

Ø  Masa Pemeliharaan, Penertiban dan Penambahan Dalam Penulisan Hadist (Abad 4 s/d 7 H)

Sebelum datangnya agama Islam, bangsa Arab tidak dikenal dengan kemampuan membaca dan menulis, sehingga mereka lebih dikenal sebagai bangsa yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis). Namun demikian, ini tidak berarti bahwa di antara mereka tidak ada seorangpun yang bisa menulis dan membaca. Keadaan ini hanya sebagai ciri keadaan dari mereka. Sejarah telah mencatat bahwa sejumlah orang yang di antara mereka ada yang mampu membaca dan yang menulis, Adiy bin Zaid al-Abbay (w. 35 sebelum hijrah) misalnya, sudah belajar menulis hingga menguasainya, dan merupakan orang yang pertama yang mampu menulis dengan bahasa Arab yang ditujukan kepada Kisra. Sebagian orang Yahudi juga mengajarkan anak-anak di Madinah menulis Arab. Kota Mekkah dengan pusat perdagangannya sebelum kenabian, menjadi saksi adanya para penulis dan orang-orang yang mempu membaca.

Pada masa setelah sahabat kegiatan pengumpulan hadist sudah menjadi suatu keharusan sejak abad ke-2, hal ini didasari karena perkembangan Islam semakin meluas dan diperlukannya rujukan-rujukan hukum yang mudah untuk didapatkan argumennya. Maka pemeliharaan hadist sudah menjadi tanggungjawab para penguasa pada saat itu. Dimulai dari khalifah al-Muqtadir sampai pada al-Mu’tashim, walaupun kekuasaan Islam sudah mulai melemah pada abad ke 7 akibat serangan Holagu Khan cucu dari Jengis Khan, namun kegiatan para ulama hadist dalam rangka memeliharannya dan mengembangkannya berlangsung sebagaimana pada periode sebelumnya. Hanya saja hadist yang dihimpun tidaklah sebanyak masa sebelumnya. Adapun kitab-kitab hadist yang dihimpun adalah:

  1. Al-Shahih, oleh ibn Khujaimah (313 H).
  2. Al-Anwa’wa al-Taqsim, oleh ibn Hibban (354 H).
  3. Al-Musnad, oleh Abu Awanah (316 H).
  4. Al-Muntaqa, oleh ibn Jarud.
  5. Al-Muhtarah, oleh Muhammad ibn Abd al-Maqdisi.

Kitab-kitab di atas merupakan bahan rujukan bagi para ulama hadist, sekaligus mempelajari, menghafal dan memeriksa serta menyelidiki sanad-sanadnya. Selanjutnya menyusun kitab baru dengan tujuan memelihara, menertibkan dan menghimpun sanad dan matannya yang saling berhubungan serta yang telah termuat secara terpisah dalam kitab-kitab yang telah ada tersebut.

Adapun bentuk-bentuk penyusunan kitab hadist pada periode ini memperkenalkan sistem baru, yaitu:

  1. Kitab Athraf, di dalam kitab ini penyusunnya hanya menyebutkan sebagian dari matan hadist tertentu kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan itu, baik sanad yang berasal dari kitab hadist yang dikutip matannya ataupun dari kitab-kitab lainnya.
  2. Kitab Mustakhraj, kitab ini memuat matan hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari atau Muslim, atau keduanya atau yang lainnya, dan selanjutnya penyusunan kitab ini meriwayatkan matan hadist tersebut dengan sanadnya sendiri.
  3. Kitab Mustadrak, kitab ini menghimpun hadis-hadist yang memiliki syarat-syarat Bukhari dan Muslim atau yang memiliki salah satu syarat dari keduanya.
  4. Kitab Jami’, kitab ini menghimpun hadis-hadist yang termuat dalam kitab-kitab yang telah ada, seperti:
    1. Yang menghimpun hadist-hadist shahih Bukhari dan Muslim.
    2. Yang menghimpun hadist-hadist dari al-Kutub al-Sittah.
    3. Yang Menghimpun hadist-hadist Nabi dari berbagai kitab hadist.

Ø  Pensyarahan, penghimpunan, pentakhiran dan pembahasan Hadist (Abad 7 H s/d sekarang)

  1. Kegiatan periwayatan hadist

Berawal dari penaklukan yang dilakukan oleh tentara Tartar terhadap pemerintahan Abbasiyah yang kemudian dihidupkan kembali oleh dinasti Mamluk setelah berhasil menaklukkan bangsa mongol. Akan tetapi Dinasti Mamluk mempunyai maksud tertentu dengan membai’at khalifah. Hanyalah sekedar simbol agar daerah-daerah Islam lain mau mengakui daerah Mesir sebagai pusat pemerintahan Islam yang akhirnya umat akan tunduk kepada Mesir sebagai pemerintahan Islam, setelah itu lahirlah pengakuan pada Dinasti Mamluk sebagai penguasa dunia Islam. Setelah masa berlalu, kekuasaan Dinasti Mamluk sudah mulai surut, masuklah abad ke-8 H, Usman Kajuk mendirikan kerajaan di Turki atas peninggalan Bani Saljuk di Asia Tengah sambil menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil yang ada disekitarnya dan selanjutnya membangun Daulah Utsmaniah yang berpusat di Turki. Setelah menaklukkan Konstantinopel dan Mesir (runtuhnya Khalifah Abbasiyah), maka berpindahlah pusat kekuasaan Islam ke Konstantinopel pada abad ke-13 H, Mesir yang dipimpin oleh Muhammad Ali mulai bangkit untuk mengembalikan kejayaan Mesir masa silam. Namun Eropa bertambah kuat menguasai dunia, secara bertahap mereka mulai menguasai daerah-daerah Islam, sehingga pada abad ke-19 M sampai abad ke-20 M hampir seluruh wilayah Islam dijajah oleh bangsa Eropa. Kembangkitan kembali umat Islam baru dimulai pada pertengahan abad ke-20 M. Sejalan dengan kondisi Islam di atas, maka periwayatan hadist pada periode ini lebih banyak dilakukan dengan cara ijazahi dan mukatabah. Sedikit sekali dari ulama hadist. pada periode ini melakukan periwayatan hadist secara hafalan sebagaimana yang dilakukan oleh ulama yang terdahulu di antaranya:

  1. Al-‘Iraqi (w. 806 H/ 1404 M). Dia berhasil mendiktekan hadist secara hafalan kepada 400 majelis sejak tahun 796 H / 1394 M, serta menulis beberapa kitab hadist.
  2. Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H / 1448 M), seorang penghafal hadist yang tiada tandingannya pada masanya. Ia telah mendiktekan hadist kepada 1000 majelis dan menulis sejumlah kitab yang berkaitan dengan hadist.
  3. Al-Sakhawi (w. 902 H / 1497 M), ia merupakan murid Ibnu Hajar, yang telah mendiktekan hadist kepada 1000 majelis dan menulis sejumlah kitab.

 Pada masa ini, para ulama hadist pada umumnya mempelajari kitab-kitab hadist yang sudah ada dan selanjutnya mengembangkannya dan meringkasnya sehingga menghasilkan jenis-jenis karya seperti kitab Syarah, Mukhtashar, Zawa’id, Takhrij dan lain sebagainya. Tentunya tidak terlepas dari pengkaji hadist pada saat sekarang, selain mengkaji Matan (isi) hadist tersebut dapat dijadikan sebagai rujukan dan bacaan pada generasi baru dan tidak hanya menerima bahwa hadist tersebut shahih atau tidak shahih. Akan tetapi kita telah mendapatkan suatu pengetahuan dasar untuk mencari dan memastikan sebab musabab hadist tersebut beroperasi, yang tentunya tidak terlepas dari perjalanan menyelamatkan hadist dari orang-orang yang ingin menyelewengkannya.Dalam hal ini kita tidak terlepas dari ilmu Tarikhir-Ruwah yang membicarakan hal ihwal para rawi hadist baik yang bersangkutan dengan umur dan tanggal kapan mereka dilahirkan, dimana domisili mereka dan kapan mereka menerima hadist dari guru-guru mereka.

Ø  Bentuk penyusunan kitab hadist

Pada periode ini, umumnya para ulama hadist mempelajari kitab-kitab hadist yang telah ada, kemudian mengembangkan dan meringkaskannya sehingga menjadi sebuah karya sebagai berikut:

  1. Kitab Syarah. Yaitu kitab yang memuat uraian dan penjelasan kandungan hadist dari kitab tertentu dan hubungannya dengan dalil-dalil lain yang bersumber dari al-Qur’an dan hadist, ataupun kaidah-kaidah syara’ lainnya. Di antara contohnya adalah:
    1. Fath al-Bari, oleh Ibn Hajar al-Asqalani, yaitu syarah kitab Shahih al-Bukhari.
    2. Al-Minhaj, oleh al-Nawawi, yang mensyarahkan kitab Shahih Muslim.
    3. Aun al-Ma’bud, oleh Syams al-Haq al-Azhim al-Abadi, syarah sunan Abu Dawud.
  1. Kitab Mukhtashar. Yaitu kitab yang berisi ringkasan dari suatu kitab hadist, seperti Mukhtashar Shahih muslim, oleh Muhammad fu’ad abd al-Baqi.
  2. Kitab Zawa’id. Yaitu kitab yang menghimpun hadist-hadist dari kitab-kitab tertentu yang tidak dimuat kitab tertentu lainnya. Di antara contohnya adalah Zawa’id al-sunan al-Kubra, oleh al-Bushiri, yang memuat hadist-hadist riwayat al-Baihaqi yang tidak termuat dalam al-Kutub al-Sittah.
  3. Kitab petunjuk (kode indeks) hadist. Yaitu, kitab yang berisi petunjuk-petunjuk praktis yang mempermudah mencari matan hadist pada kitab-kitab tertentu. Contohnya, Miftah Kunuz al-Sunnah, oleh A.J. Wensinck, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh M. Fu’ad ‘Abd al-Baqi.
  4. Kitab Takhrij. Yaitu kitab yang menjelaskan tempat-tempat pengambilan hadist-hadist yang memuat dalam kitab tertentu dan menjelaskan kualitasnya. Contohnya adalah, Takhrij Ahadits al-Ihya’, oleh Al-‘Iraqi. Kitab ini men-takhrij hadist-hadist yang terdapat di dalam kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din karya Imam al-Ghazali.

  1.  Kitab Jami’. Yaitu kitab yang menghimpun hadist-hadist dari berbagai kitab hadist tertentu, seperti al-Lu’lu’ wa al-Marjan, karya Muhammad fu’ad al-Baqi. Kitab ini menghimpun hadist-hadist Bukhari dan Muslim.
  2. Kitab yang membahas masalah tertentu, seperti masalah hukum. Contohnya, Bulugh al-Maram min Adillah al-Hakam, oleh Ibn Hajar al-‘Asqalani dan koleksi Hadis-hadis Hukum oleh T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy.

Dengan adanya karya-karya besar para ahli hadist tersebut, maka dapatlah mempermudah generasi sekarang ini dalam mempelajari serta mentelusuri hadist-hadist yang ada sekarang, sehingga dapat mengetahui kualitas hadist-hadist tersebut, dan menghindarkan diri dari pengamalan hadist-hadist yang daif. Penulisan dan Pembukuan Hadits pada abad ke II H
Pembukuan hadits diprakarsai oleh Umar bin Abdul Aziz salah seorang Bani Umayyah. Adapun yang mendorong beliau untuk membukukan hadits adalah para perawi/ penghafal hadits kian lama kian banyak yang meninggal dunia.

Ø  Kitab-kitab hadits yang disusun pada abad ke II H Ialah :

           (1) Al Muwatto karya Imam Malik.

(2) Al Maroghi, karya Muhammad bin Ishaq.

(3) Al Jami’, karya Abdurrazad.

(4) Al Musannaf, karya Al Auza’i.

(5)Al-Musnad,karyaAsy-Syafi’

                                                                      BAB II

MASA-MASA PERKEMBANGAN HADIST

Ø  Masa Pembentukan Hadist

Masa pembentukan hadist tiada lain masa kerasulan Nabi Muhammad itu sendiri, ialah lebih kurang 23 tahun. Pada masa ini hadist belum ditulis, dan hanya berada dalam benak atau hafalan para sahabat saja. perode ini disebut al wahyu wa at takwin. periode ini dimulai sejak Nabi Muhammad diangkat sebagai Nabi dan Rasul hingga wafatnya (610 M-632 M)

Ø  Masa Penggalian

Masa ini adalah masa pada sahabat besar dan tabi’in, dimulai sejak wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 11 H atau 632 M. Pada masa ini kitab hadist belum ditulis ataupun dibukukan. Seiring dengan perkembangan dakwah, mulailah bermunculan persoalan baru umat Islam yang mendorong para sahabat saling bertukar hadist dan menggali dari sumber-sumber utamanya.

Ø  Masa Penghimpunan

Masa ini ditandai dengan sikap para sahabat dan tabi’in yang mulai menolak menerima hadist baru, seiring terjadinya tragedi perebutan kedudukan kekhalifahan yang bergeser ke bidang syari’at dan ‘aqidah dengan munculnya hadist palsu. Para sahabat dan tabi’in ini sangat mengenal betul pihak-pihak yang melibatkan diri dan yang terlibat dalam permusuhan tersebut, sehingga jika ada hadist baru yang belum pernah dimiliki sebelumnya diteliti secermat-cermatnya siapa-siapa yang menjadi sumber dan pembawa hadist itu. Maka pada masa pemerintahan Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz sekaligus sebagai salah seorang tabi’in memerintahkan penghimpunan hadist. Masa ini terjadi pada abad 2 H, dan hadist yang terhimpun belum dipisahkan mana yang merupakan hadist marfu’ dan mana yang mauquf dan mana yang maqthu’.

Ø  Masa Pendiwanan dan Penyusunan

Abad 3 H merupakan masa pendiwanan (pembukuan) dan penyusunan hadist. Guna menghindari salah pengertian bagi umat Islam dalam memahami hadist sebagai prilaku Nabi Muhammad, maka para ulama mulai mengelompokkan hadist dan memisahkan kumpulan hadist yang termasuk marfu’ (yang berisi perilaku Nabi Muhammad), mana yang mauquf (berisi prilaku sahabat) dan mana yang maqthu’ (berisi prilaku tabi’in). Usaha pembukuan hadist pada masa ini selain telah dikelompokkan (sebagaimana dimaksud diatas) juga dilakukan penelitian Sanad dan Rawi-rawi pembawa beritanya sebagai wujud tash-hih (koreksi/verifikasi) atas hadist yang ada maupun yang dihafal. Selanjutnya pada abad 4 H, usaha pembukuan hadist terus dilanjutkan hingga dinyatakannya bahwa pada masa ini telah selesai melakukan pembinaan mahligai hadist. Sedangkan abad 5 hijriyah dan seterusnya adalah masa memperbaiki susunan kitab hadist seperti menghimpun yang terserakan atau menghimpun untuk memudahkan mempelajarinya dengan sumber utamanya kitab-kitab Hadis abad 4 H.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Pengumpulan hadist secara resmi telah dimulai sejak Khalifah Umar ibn Abdul Aziz, yaitu awal abad ke 2, hal ini dilakukan dalam rangka melestarikan hadist agar hadist tersebut tidak hilang bersama penghafal hadist, di samping itu merupakan tuntutan kondisi umat Islam semakin banyak dan wilayahnya semakin luas, sehingga diperlukan suatu rujukan hukum berupa hadist setelah al-Qur’an

Sesudah itu, penulisan dan pembukuan hadist melewati beberapa proses yang semuanya bertujuan mencapai kesempurnaan dan penjagaan atas keaslian hadist-hadist tersebut.

Dalam pemilahan hadist yang shahih dan yang palsu, kiranya kita harus melihat sanad dan matannya, dan yang terlebih lagi hadist tersebut tidak mempunyai pertentangan dan tidak menjadi kepentingan politik golongan tertentu pada masa silam sehingga dilestarikannya dengan hadist pemalsuan.

  1. Kritik dan Saran

Sesuai dengan hadist Nabi SAW :

تركت فيكم امرين لن تضل ابدا,ما ان تمسكتم بهما كتاب الله وسنة رسوله

Artinya : Telah aku tinggalkan kepada kalian dua perkara,jika sekiranya kalian berpegan atas keduanya maka tidak akan sesat selamanya yaitu Kitab ALLAH dan sunata Rasulihi.

DEFINISI DARI RIJALUL HADITS ATAU RAWI HADITS

ILMUnRIJALUL HADITS (RAWI)

  1. DEFINISI RAWI

الراوي في لغة : الذى يروي الحديث و نحوه( المنوز: ٥٩٠

Kata rawi atau ar-rawi berarti orang yang meriwayatkan atau memberikan hadits ( naqil al-hadits).

             Sebenarnya, sanad dan rawi itu merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Sanad-sanad hadits pada tiap tabaqah-nya, juga disebut rawi, jika yang dimaksud dengan rawi adalah orang yang meriwayatkan dan memindahkan hadits. Akan tetapi, yang membedakan antara rawi dan sanad terletak pada pembukuan atau pen-tadwin-an hadits. Orang yang menerima hadits dan kemudian menghimpunnya dalam suatu kitab tadwin disebut perawi. Dengan demikian, maka perawi dapat disebut mudawwin (orang yang membukukan dan menghimpun hadits).

  1. CONTOH RAWI

حدثنا محمد بن معمر بن ربعي القيس، حدثنا أبو هشام المحزومي عن عبد الواحد وهو ابن زياد حدثنا عثمان بن حكيم حدثنا محمد ابن المنكدر عن عمران عن عثمان بن عفان قال ؛ قال رسول الله صلي الله عليه و سلم ؛ من توضأ فأحسن الوضوء خرجت خطاياه من جسده حتي تخرج من تحت أظفاره.(رواه مسلم)

Artinya:

“ Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ma’mur bin Rabi’i al-Qaisi, katanya telah menceritakan kepadaku Abu Hisyama al-Mahzumi dari Abu Al-Wahid yaitu Ibnu Ziyad, katanya telah menceritakan kepadaku ‘Utsman bin Hakim, katanya telah menceritakan kepadaku Muhammad al-Munqadir, dari ‘Amran, dari ‘Utsman bin Affan r.a. ia berkata” Barang siapa yang berwudu’ dengan sempurna (sebaik-baiknya wudu’), keluarlah dosa-dosanya dari seluruh badannya, bahkan dari bawah kukunya”(H.R. MUSLIM).

Dari nama Muhammad bin Ma’mur bin Rabi’il al-Qaisi sampai dengan ‘Utsman bin ‘Affan ra. adalah sanad dari hadits tersebut. Mulai kata “man tawadha’a” sampai dengan kata “tahta azhfarihi”, adalah matannya, sedangkan Imam Muslim yang dicatat diujung hadits adalah perawinya, yang juga disebut mudawwin.

  1. SYARAT-SYARAT RIJALUL HADITS
  2. Islam
  3. Baligh
  4. ‘Adil
  5. Dhabith

ILMU RIJAL AL-HADITS

  1. DEFINISI ILMU RIJAL AL-HADITS

‘Ilmu rijal al-hadits ( (علم رجال الحديثialah:

علم رجال الحديث هو علم يعرف به رواة الحديث من حيث أنهم رواة للحديث   

Ilmu untuk mengetahui para perawi hadits dalam kapasitasnya sebagai perawi hadits.

Maksudnya ialah ilmu yang membicarakan seluk beluk dan  sejarah kehidupan para perawi, baik dari generasi sahabat, tabi’in maupun tabi’it tabi’in.

Dari pengertian tersebut, dapat diambil pemahaman bahwa kedudukan ilmu ini sangat penting, mengingat obyek kajiannya pada “matan” dan “sanad”, sebab kemunculan ilmu rijal al-hadits bersama-sama dengan periwayatan hadits dan bahkan sudah mengambil porsi khusus untuk mempelajari persoalan-persoalan di sekitar sanad. Oleh sebab itu mempelajari ilmu ini sangat penting, sebab nilai suatu hadits sangat dipengaruhi oleh karakter dan perilaku serta biografi perawi itu sendiri.

            Adapun para perawi yang menjadi obyek kajian ilmu rijal al-hadits ini adalah:

a). Para sahabat, sebagai penerima pertama dan sebagai kelompok yang dikenal dengan sebutan thabaqat awwal ( generasi pertama) atau dikenal sebagai sanad terakhir lantaran sebagai penerima langsung dari sumber asalnya, yaitu Nabi Saw.

b).  Para tabi’in, dikenal sebagai thabaqat tsani ( generasi kedua).

c).  Para muhadhramin (المحضرمين), yaitu orang-orang yang mengalami hidup pada masa Jahiliyyah dan masa Nabi Saw. dalam kondisi islam, tetapi tidak sempat menemuinya dan mendengarkan hadits darinya.

d). Para mawalliy, yaitu para perawi hadits dan ulama yang pada awalnya berstatus budak.

Sedang kitab yang membahas persoalan sejarah para perawi hadits secara periodik dari generasi ke generasi (thabaqat) adalah:

a). Thabaqat al-kubra (  طبقات الكبرى), karyaMuhammad bin Sa’ad (w. 230 H).

b). Thabaqat al-ruwwat ( طبقات الرواة ), karya Kalifah bin ‘Ashfariy (240 H).

Dalam perkembangan selanjutnya, muncullah dari kedua kitab tersebut pembahasan lanjutan yang memang sudah terbahas di dalamnya, yaitu ilmu jarh wal al-ta’dil dan ilmu tarikh ar-ruwwat, sebagaimana kitab-kitab yang orientasi pembahasannya pada disiplin ilmu rijal-hadits sebagai berikut ini:

  1. a) “رجال صحيح مسلم” karya Ibnu Manjawaih ( 428 H. )
  2. b) “رجال الموطئ”karya Iman al-Suyuthiy ( 911 H. )
  3. c)   السنن الأربعة “رجال”karya Ahmad bin Muhammad al-Kurdi (763 H.)
  4. d) “رجال صحيح البخاري”karya Muhammad bin Dawud al-Kurdiy (925H.)

Dengan ilmu ini dapatlah kita mengetahui keadaan para perawi yang menerima hadits dari Rasulullah dan keadaan para perawi yang menerima hadits dari sahabat dan seterusnya. Di dalam ilmu ini diterangkan tarikh ringkas dari riwayat hidup para perawi, mahzhab yang dipegang oleh para perawi dan keadaaan-keadaaan para perawi itu dalam menerima hadits.

KESIMPULAN

           Sanad secara etimologi berarti sandaran atau tempat bersandar atau tempat berpegang. Adapun secara terminologi ialah silsilah para perawi yang menukilkan hadits dari sumbernya yang pertama.

Matan secara etimologi berarti berarti tanah yang tinggi. Adapun  secara terminologi ialah lafal-lafal hadits yang mengandung makna-makna tertentu. Dapat disimpulkan bahwa matan adalah isi hadits.

Rawi secara etimologi berarti orang yang meriwayatkan atau memberikan hadits ( naqil al-hadits). Adapun secara terminologi ialah orang yang meriwayatkan hadis , baik dari sahabat, tabi’in, maupun dari angkatan sesudahnya.

Adapun syarat-syarat rijalul hadits yaitu:

 1). islam, 2). baligh, 3). ‘adil, 4). dhabith

‘Ilmu rijal al-hadits ialah:

علم رجال الحديث هو علم يعرف به رواة الحديث من حيث أنهم رواة للحديث   

Ilmu untuk mengetahui para perawi hadits dalam kapasitasnya sebagai perawi hadits”.

ADAB MENUNAIKAN DAN LARANGAN-LARANGAN ZAKAT

ADAB MENUNAIKAN DAN LARANGAN-LARANGAN ZAKAT

NGAJI              Setiap kali orang melakukan ibadah, tentu harapannya diterima oleh Allah swt, sebagai amal baik, mendapat pahala berlipat ganda, yang akan ia petik di akherat kelak. Dan tak seorangpun mukmin menginginkan ibadahnya sia-sia. Apalagi bila ibadah itu berkaitan dengan yang sifatnya mengorbankan harta, maka harapan itu semakin tinggi, seiring dengan rasa “eman” yang merekatkan hubungan antara hati dan harta pada umumnya manusia. Zakat adalah ibadah fardhu yang utama dalam konteks ini. Demi mencapai kualitas ibadah zakat yang sempurna, mutlak harus diperhatikan syarat sah zakat dan adab menunaikan serta larangan-larangan yang berhubungan dengan pelaksanaan zakat.

Syarat sah zakat

Pemahaman dan pengalaman terhadap syarat sah ini mutlak diperlukan, karena hal ini menjadi penentu sah atau tidaknya zakat, dimana tidak sahnya zakat berarti belum gugurnya kewajiban, yang berakibat kepada wajibnya penunaian ulang zakat tersebut. Tentu yang demikian ini tidak perlu terjadi, karena hanya akan memberatkan muzakki. Syarat-syarat itu adalah:

  1. Niat

Semua ulama sepakat bahwa niat merupakan syarat sah zakat. Hal ini berdasar kepada sabda Rasulullah saw :

“sesungguhnya sahnya sebuah amal tergantung kepada niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang diniatkan…”(HR. Bukhari : 1)

Pada sisi lain, zakat adalah ibadah wajib yang berwujut mengeluarkan sebagian harta dan mempunyai perserupaan dengan bentuk pengeluaran harta yang lain, baik itu ibadah seperti shodaqah, maupun yang bukan ibadah, seperti hibah bukan karena Allah, sedangkan fungsi niat adalah membedakan antara ibadah dengan yang bukan, begitu pula yang membedakan ibadah yang satu dengan yang lain.

Ulama juga bersepakat bahwa tempat niat itu di dalam hati, dan tidak satupun diantara mereka yang menyaratkan niat dalam bentuk ucapan. Walaupun tidak ada larangan untuk mengucapkannya. Sebagai contoh niat dalam hati itu bila diungkapkan adalah seperti “ini adalah zakat fitrahku”, yang ini zakat fitrah anakku Ahmat” atau “ini zakat hartaku“ dan sebagainya.

Adapun kapan muzakki berniat, ini bisa dilakukan pada saat menyerahkan kepada amil atau langsung kepada mustahiq, waktu menyerahkan kepada wakilnya dan bisa pula ketika ia menyisihkan hartanya untuk zakat. Pada dua waktu niat yang tersebut di akhir, bila niat telah dilakukan pada salah satu dari keduanya, maka tidak perlu mengulangi niat ketika menyerahkan zakat kepada amil atau secara langsung kepada mustahiq.

  1. Memberikan hak kepemilikan

Maksud dari syarat ini adalah orang yang hendak berzakat harus nyata-nyata menyerahkan hartanya baik kepada amil , langsung kepada mustahiq atau melalui wakil. Tidak dibenarkan penunaian zakat itu dalam bentuk mempersilahkan orang lain mengambil sebagian hartanya atau memakannya lalu ia menganggap itu sebagai zakat.

Pada kasus dimana zakat itu akan diberika kepada anak kecil atau gila maka diserahkan pada wali atau orang yang diserahi untuk memeliharanya. Syarat yang kedua ini didasarkan kepada ayat “wa aatuzzakaah” (Al Baqarah : 110) yang artinya” Dan berikanlah zakat”, memberikan berarti menyerahkan kepemilikan kepada pahak lain. Hal ini diperkuat dengan ayat “innamashadaqaatu lil fuqara” (At Taubah : 60) yang mana “lil” dalam ayat itu berfungsi menunjukkan makna kepemilikan.

Larangan-larangan dalam zakat

Hal yang mungkin kurang popular adalah adanya larangan-larangan terkait dengan ibadah zakat. Walaupun pada ibadah lain semisal sholat, puasa dan haji telah mendapat porsi pembahasan yang memadahi.

Ibnu Jauzy ulama madzhab maliki menyebutkan larangan-larangan itu ada tiga. Sebagian disetujui ulama yang lain ada pula yang tidak. Secara global tiga larangan tersebut ialah:

  1. membatalkan dengan cara menyebut-nyebut atau mengungkit-ungkit pemberian                   zakatnya. Begitu pula bila penunaian itu dibarengi dengan sikap yang menyakitkan kepada mustahiq penerima zakat.
  2. membeli zakatnya kembali.
  3. mengumpulkan para mustahiq untuk dibagikan zakat kepadanya.