UMPATAN DAN MELAKNAT MENURUT HUJJATUL ISLAM IMAM GHOZALI RAH.

Di dalam Ihya Ulumiddin dan Kimiya al-Sa’adah, Imam Ghazali menyatakan bahwa mengumpat (ghibah) merupakan kejahatan lidah yang terbesar. Untuk memperkuat pendapatnya, beliau mengutip hadis yang mengatakan bahwa perbuatan mengumpat itu lebih berat dosanya dari tiga puluh kali perbuatan zina. Mengapa? Karena dosa mengumpat hanya diampuni jika mau meminta maaf kepada orang yang diumpat.

Mengumpat atau menggunjing atau ngerasani menurut Al-Ghazali ialah seseorang menceritakan kekurangan orang lain, yang kemungkinan orang yang dibicarakan tersebut tidak suka jika mengetahui atau mendengarkan bahwa kekurangannya dibeberkan kepada orang lain. Meskipun apa yang dikatakan tersebut sungguh benar adanya. Adapun jika mengatakan kekurangan orang lain yang tidak sesuai dengan kenyataan orang yang dibicarakan disebut dengan fitnah (buhtan) bukan mengumpat atau ghibah.

Kekurangan orang boleh jadi terletak pada tubuh, keturunan, akhlak, pekerjaan, bicara, urusan agama, pakaian, rumah, perhiasan dan seterusnya. Kekurangsempurnaan tubuh seperti pendeknya, tinggi atau sifat apa saja yang tidak ingin dibicarakan. Cacat keturunan seperti bapak orang yang berbuat dosa atau jahat. Kejelekan akhlak atau sifat tercela seperti kebakhilan dan sifat pengecut.

Cacat dalam urusan agama seperti mencuri, sujud salat yang salah dan lain-lain. Keburukan mengenai pakaian seperti kotor, kurang rapi dan sebagainya. Cacat dalam urusan dunia, contohnya kekasaran dalam bersikap atau makan terlalu banyak.

Umpatan tidak terbatas pada lisan saja, menyatakan kekurangan orang bisa dengan dengan berbagai cara, seperti tulisan, meniru-nirukan, isyarat dengan tangan, menggerakkan alis mata dan sebagainya. Menyebutkan kekurangan orang dengan menuliskannya dalam buku juga termasuk umpatan. Termasuk menuliskannya di status Facebook, di status Whatsapp, di story Instagram, dan sosial media lainnya. Umpatan seperti ini tidak diperbolehkan kepada siapa saja. Meskipun orangnya sudah meningggal.

Percaya kepada apa yang dikatakan si pengumpat terhitung mengumpat pula. Berdiam diri terhadap perbuatan mengumpat berarti turut ambil bagian, kecuali kalau tidak mampu mencegahnya atau meninggalkan tempat orang yang sedang mengumpat tersebut. Jika terpaksa berdiam diri tidak bisa meninggalkan, haruslah umpatan tersebut dibenci dalam batin. Tidak boleh rida pada umpatan orang.

Imam Ghazali juga membahas tentang umpatan dalam pikiran. Menurut beliau, mengumpat dengan pikiran ialah mempunyai sangkaan buruk (su’udzan) tentang seseorang. Buruk sangka kepada orang lain juga merupakan satu dosa. Menuduh orang lain buruk sebagaimana persangkaannya, bisa dibenarkan jika didasarkan atau diketahui dengan bukti yang jelas.

Satu akibat dari persangkaan buruk ialah orang akhirnya berhasrat memata-matai (tajassus) seseorang untuk mencocokkan dengan informasi yang telah diterima. Perbuatan ini menurut Imam Al-Ghazali juga merupakan dosa karena ada upaya untuk mengetahui apa yang dirahasiakan Allah tentang makhluk-Nya. Apalagi yang ingin diketahui adalah aibnya.

Mengatakan keburukan orang tertentu memang tidak salah, jika ini dilakukan untuk maksud yang baik. Misalnya untuk mencari keadilan atau bantuan seorang yang berwewenang, untuk menghilangkan kejahatan dengan memberitahukan orang-orang yang dapat menghapuskannya, untuk minta pendapat hukum dari seorang hakim mengenai hal itu, dan untuk membuat orang lain berhati-hati terhadap kejahatan itu. Menyebut seseorang dengan nama panggilan yang dikenal punya kekurangan orang itu bukanlah mengumpat.

Juga tidak termasuk mengumpat kalau mengatakan keburukan seseorang yang telah berbuat buruk, hanya sebatas yang telah diumumkannya sendiri, karena hal ini tidak menyakitinya, tambahan lagi orang semacam itu tidak layak mendapat penghargaan dari orang lain.

Mengumpat dapat disembuhkan dengan dua cara, satu di antaranya terdiri dari ilmu dan amal. Dengan ilmu berarti mengetahui dampak buruk mengumpat bagi kehidupan di akhirat. Dengan amal bisa dilakukan dengan menyelidiki kekurangan diri sendiri.

Kalau sudah menemukan kekurangan diri maka orang akan merasa malu dan tidak pantas menyalahkan orang lain. Dengan mempersalahkan diri sendiri bisa menyadarkan seseorang bahwa tidak ada seorang pun yang bisa bebas dari kekurangan.

Akhirnya, kadang kala seseorang berkata buruk tentang orang lain untuk membenarkan kejahatan yang ada pada dirinya sendiri. Tanpa disadari, membiasakan diri dengan kebiasaan jahat adalah hal yang menggelikan.

Melaknat

Dunia maya kini seolah menjadi media yang bisa mempermudah orang untuk melaknat orang lain yang tidak sepemikiran atau beda dukungan. Ironisnya, pelaknat dilakukan bukan hanya oleh orang yang tak berpendidikan. Orang yang berpendidikan tinggi pun melaknat orang lain dengan tulisan atau kata-katanya. Seolah perbuatannya tersebut benar dan diperbolehkan agama. Padahal Islam sangat melarangnya. Bagaimana pandangan Imam Ghazali dalam hal pelaknatan?

Menurut Imam Ghazali, melaknat apa pun yang diciptakan Allah merupakan perbuatan lidah yang buruk. Melaknat sesuatu berarti menganggap hal yang dilaknat seolah jauh dari Allah. Padahal Allah selalu melimpahkan rahmat kepada setiap makhluk-Nya. Sebab, melaknat makhluk, merupakan hak Allah. Manusia tidak bisa ikut campur tangan di dalamnya.

Imam Ghazali di dalam Ihya Ulumiddin juz tiga menegaskan agar orang berhati-hati dalam urusan laknat-melaknat. Beliau menyarankan agar orang tidak melaknat meskipun apa yang dikatakannya memang benar, karena tidak ada manfaat yang ditimbulkannya. Lidah seharusnya dibuat sibuk memuji Allah. Lidah juga sebaiknya dicegah dari berdoa kepada Allah untuk mencelakakan seseorang, walaupun ia seorang penindas.

MENGETAHUI KESESUAIAN NAMA BULAN JUMADIL ULA ATAU JUMADAL AWWAL

Sebagaimana diketahui, Jumadal Ula merupakan nama bulan ke-5 dalam kalender Hijriah. Banyak orang yang menyebutnya dengan Jumadil Ula, namun menurut morfologi Arab penyebutan itu dipandang lemah. Pasalnya, pola fu‘ali harus diakhiri dengan ha lazimah (sehingga menjadi jumadilah), seperti kata qurasiyah dan shurahiyah (Shalahuddin Khalil, Tashhih al-Tashif…hal. 215).

Ada pula yang menyebutnya dengan Jumadal Awwal. Namun, kata awwal yang berarti ‘pertama’, menurut gramatika Arab (nahwu) tidak bisa dipakai menyifati kata jumada, yang terkategori sebagai muannats (feminim) dan ditandai dengan alif ta’nits. Hal ini diperkuat oleh al-Farra yang menyatakan, semua nama bulan Arab terkategori mudzakkar (maskulin) kecuali Jumadal Ula dan Jumadal Akhirah. Sehingga bentuk kata sifat yang tepat untuk menyifati jumada bukan al-awwal, melainkan al-ula yang berbentuk muannats (Muhammad ibn al-Mustanir ibn Ahmad, al-Azminah wa Talbiyatul Jahiliyyah, hal. 45).

Seperti nama beberapa bulan Arab yang lain, menurut Abu Sa‘id, penamaan bulan Jumadal Ula juga dilatarbelakangi oleh musim yang terjadi pada bulan tersebut, yaitu musim dingin (syita). Jumada sendiri berasal dari kata jamada, yang berarti ‘beku’ sesuai dengan keadaan air yang beku di musim dingin (Ibnu Manzhur, Lisanul ‘Arab, jilid 3, hal. 130; dan al-Harawi, Tahdzib al-Lughah, jilid 10, hal. 358).

Asal-usul Penamaan dan Peristiwa Penting di Dalamnya Menurut Ibnu Duraid, pada zaman Jahiliyah, bulan Jumadal Ula disebut dengan al-Hanin, Rubba, Syaiban, dan Kanun al-Awwal. Sedangkan bulan berikutnya Jumadal Akhirah disebut dengan Milhan dan Kanun al-Akhir. Kata syaiban dan milhan ini dapat ditelusuri dari kata syaib yang berarti ‘uban’, dan kata milh yang berarti ‘garam.’ Keduanya menggambarkan keadaan salju di musim dingin yang putih seperti uban atau garam dan terjadi di bulan Jumadal Ula dan Jumadal Akhirah. (Abu al-Hasan, al-Mukhashish, jilid 2, hal. 387).

Umumnya musim itu terjadi selama dua bulan. Sehingga nama ini pun disematkan pada dua bulan terjadinya musim tersebut, yakni Jumadal Ula dan Jumadal Akhirah. Sebagaimana diketahui masyarakat Arab memiliki enam musim, yaitu ar-rabi al-awwal (musim semi pertama), shaif (musim panas), qaizh (puncak musim panas), al-rabi‘ al-tsani (musim semi kedua), kharif (musim gugur), dan syitha (musim dingin) (Ibnu Manzhur, Lisanul ‘Arab, jilid 8, hal. 102).

Sejumlah peristiwa penting yang terjadi di bulan Jumadal Ula—terutama pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam—di antaranya ialah beliau berperang melawan Bani Sulaim di Buhran; mengirim pasukan ekspedisi Zaid ibn Haritsah ke wilayah al-Ish pada tahun keenam Hijriah; bertempur melawan kaum Yahudi Khaibar pada tahun ketujuh Hijriah; mengirim utusan ke Mu’tah pada tahun kedelapan Hijriah; mengutus Khalid ibn Walid untuk mengajak bani al-Harits di Najran masuk Islam; dan masih banyak lagi peritiwa lainnya. Bahkan, menurut Muhammad ibn Ishaq, perang Dzat al-Riqa‘ juga terjadi pada bulan ini. Wallahu a’lam.

10 TANDA-TANDA KIAMAT YANG ADA DALAM HADITS SHAHIH

Tanda-tanda kiamat dibahas di dalam banyak hadits. Ada beberapa perbedaan pendapat mengenai tanda-tanda pasti kiamat sebagaimana yang disebutkan Rasul SAW dalam haditsnya. Perbedaan ini terjadi karena banyak sekali periwayatan hadits terkait tanda-tanda kiamat. Dalam hadits sendiri, banyak sekali redaksi hadits yang menyebutkan berbagai macam tanda-tanda kiamat dengan hal yang berbeda-beda setiap redaksinya. Ibnul Atsir (606 H) dalam Jāmiʽul Uṣūl fī Aḥādītsir Rasūl menyebutkan sekitar 40-an hadits yang berkaitan dengan tanda-tanda kiamat. Namun tidak semua hadits yang berkaitan dengan kiamat tersebut berstatus sahih. Beberapa di antaranya ada yang berstatus sahih dan daif. (Lihat Majduddin Ibnul Atsīr, Jāmiʽul Uṣūl fī Aḥādītsir Rasūl, [Tanpa keterangan tempat, Maktabah Dārul Bayān: 1972], juz X, halaman 398-415).

Di antara sekian banyak hadits yang berkaitan dengan tanda-tanda kiamat, hanya ada beberapa hadits yang dijadikan oleh ulama sebagai tanda kiamat seluruh alam yang pasti. Paling banyak hanya membahas tanda-tanda kiamat kecil, yang sebenarnya sudah mulai terjadi sejak diutusnya Rasul SAW, seperti wafatnya Rasul SAW, disia-siakannya amanat, penggembala menjadi kaya, banyak terjadi pembunuhan, dominasi fitnah, minim ilmu, dan berbagai macam yang lain. Namun tanda-tanda seperti ini tidak bisa dijadikan patokan pasti akan kedatangan kiamat setelahnya mengingat tanda-tanda ini sebenarnya sudah sering terjadi pada masa dahulu. Dan itu bisa jadi terulang masa sekarang dan juga masa-masa yang akan datang. Oleh karena itu, tanda-tanda tersebut belum bisa dijadikan tanda pasti.

Salah satu hadits sahih yang berkaitan dengan kiamat (as-sāʽah) yang pasti adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahihnya dan juga diriwayatkan oleh beberapa perawi hadits serta diakui oleh para ulama adalah hadits berikut.

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ أَسِيدٍ الْغِفَارِيِّ قَالَ اطَّلَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ فَقَالَ مَا تَذَاكَرُونَ قَالُوا نَذْكُرُ السَّاعَةَ قَالَ إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ فَذَكَرَ الدُّخَانَ وَالدَّجَّالَ وَالدَّابَّةَ وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَأَجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَثَلَاثَةَ خُسُوفٍ خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنْ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ

Artinya, “Dari Hudzaifah bin Asid Al Ghifari berkata, Rasulullah SAW menghampiri kami saat kami tengah membicarakan sesuatu. Ia bertanya, ‘Apa yang kalian bicarakan?’ Kami menjawab, ‘Kami membicarakan kiamat.’ Ia bersabda, ‘Kiamat tidaklah terjadi sehingga kalian melihat sepuluh tanda-tanda sebelumnya.’ Rasulullah menyebut kabut, Dajjal, binatang (ad-dābbah), terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa bin Maryam AS, Ya’juj dan Ma’juj, tiga gerhana; gerhana di timur, gerhana di barat dan gerhana di jazirah Arab dan yang terakhir adalah api muncul dari Yaman menggiring manusia menuju tempat perkumpulan mereka,” (Lihat Abul Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim An-Naisaburi, Al-Jāmi’us Ṣaḥīḥ, [Beirut, Dārul Afaq Al-Jadidah: tanpa tahun], juz VIII, halaman 178).

Tanda-tanda kiamat dalam hadits ini disebut sebagai tanda-tanda kiamat kubra (hari akhir). Ada sepuluh tanda kiamat yang disebutkan dalam hadits ini. Namun yang disebutkan dalam hadits tersebut hanya ada delapan:

Pertama, Munculnya kabut (dukhan). Kedua, Munculnya Dajjal. Ketiga, Munculnya Dabbah. Keempat, Terbitnya matahari dari barat. Kelima, Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj. Keenam, Munculnya Isa bin Maryam. Ketujuh, Adanya tiga gerhana, di timur. Kedelapan, gerhana di barat. Kesembilan, gerhana di jazirah Arab. Kesepuluh, adanya api yang muncul dari Yaman kemudian menggiring manusia menuju tempat berkumpul.

Terkait urutan terjadinya tanda-tanda kiamat tersebut, para ulama pun berbeda pendapat. Ada ulama yang mengatakan bahwa pertama adalah terbitnya matahari di barat. Hal ini disebutkan dalam riwayat Imam Muslim yang lain dari Abdullah bin Amr, berbeda dengan riwayat Hudzaifah di atas.

عن عبد الله بن عمرو قال حفظت من رسول الله يقول أول الآيات خروجا طلوع الشمس من مغربها

Artinya, “Dari Abdullah bin Amr, saya hafal dari Rasulullah SAW yang bersabda bahwa tanda kiamat yang pertama kali muncul adalah terbitnya matahari dari barat,” (Lihat Muslim bin Hajjaj bin Muslim An-Naisaburi, Al-Jāmi’us Ṣaḥīḥ, [Beirut, Dārul Afaq Al-Jadidah: tanpa tahun], juz VIII, halaman 202).

Ada juga yang menyebutkan yang lain. Dalam riwayat Imam Al-Bukhari, yang terjadi pertama kali di antara tanda-tanda tersebut adalah api yang menggiring manusia.

وَقَالَ أَنَسٌ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ نَارٌ تَحْشُرُ النَّاسَ مِنْ الْمَشْرِقِ إِلَى الْمَغْرِبِ

Artinya, “Anas RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Tanda kiamat yang pertama (muncul) adalah api yang menggiring manusia dari timur menuju barat,’” (Lihat Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ Al-Bukhari, (Beirut, Dār Tuq An-Najah, 1422 H], juz XVIII, halaman 20). Wallahu a’lam.

HIKMAH PENAMBAHAN ROBBIGHFIRLI DI AKHIR SURAT AL-FATIHAH

Syaikh Muhammad bin Umar an-Nawawi al-Bantani memberikan penjelasan sebagai berikut:

“Hendaknya janganlah engkau sambungkan bacaan Amin dengan bacaan Waladhdholliin. Akan tetapi keduanya dipisahkan dengan berhenti sejenak, untuk membedakan bacaan dzikr dengan bacaan al-Qur’an. Dan disunnahkan untuk membaca: ‘Rabbighfirlii’ (Wahai Tuhanku, ampunilah hamba)” (Syarh Maraqi al-‘Ubudiyyah halaman 48)

Mengenai bacaan “Rabbighfirlii” sebelum membaca “Amin” ini, Imam Jalaluddin as-Suyuthi menjelaskannya di dalam kitabnya ad-Durr al-Mantsur fi at-Tafsiir bi al-Ma’tsur:

“Diriwayatkan dari ibn Abi Syaibah dari Ibrahim an-Nakha’i ia berkata: “Disunnahkan pada saat imam membaca ayat { غير المغضوب عليهم ولا الضالين }, hendaknya mengucapkan do’a: { رب اغفرلي امين} ” (ad-Durr al-Mantsur fi at-Tafsiir bi al-Ma’tsur juz 1 halaman 92).

Syekh Thohir bin Husain mengatakan : Tidak dianjurkan bagi ma’mum ketika imam selesai membaca fatihah untuk mengucapkan “ROBBIGHFIRLI”, bagi ma’mum hanya dianjurkan untuk membaca amin. Sedangkan bacaan “ROBBIGHFIRLI” hanya dianjurkan bagi orang yang membaca fatihah saja. Tempatnya yaitu antara bacaan Al-Fatihah dan Amin

فائدة : قال الشريف العلامة طاهر بن حسين : لا يطلب من المأموم عند فراغ إمامه من الفاتحة قول رب اغفر لي ، وإنما يطلب منه التأمين فقط ، وقول ربي اغفر لي مطلوب من القارىء فقط في السكتة بين آخر الفاتحة وآمين اهـ

( Bughyatul Musytarsyidin, Hal : 90 )

Yang disunahkan membaca-
رب اغفر لي
– adalah bagi yang membaca saja bukan yang mendengar, jadi makmum tidak disunahkan membaca-
رب اغفر لي

Disunahkan juga ditambahi dengan lafadl-
ولوالديّ ولجميع المسلمين
sehingga menjadi
رب اغفر لي ولوالديّ ولجميع المسلمين

Keterangan diambil dari Kitab I’anah At-Tholibin I / 147

(قوله: ويسن تأمين) أي لقارئها في الصلاة وخارجها. واختص بالفاتحة لشرفها واشتمالها على دعاء فناسب أن يسأل الله إجابته. (قوله: والمد) أي أو القصر. وحكي التشديد مع القصر أو المد، ومعناها حينئذ: قاصدين. فتبطل الصلاة ما لم يرد قاصدين إليك وأنت أكرم من أن تخيب من قصدك، فلا تبطل، لتضمنه الدعاء. ولو لم يقصد شيئاً أصلاً بطلت، كما صرح به في التحفة. (قولـه: وحسن زيادة رب العالمين) أي بعد آمين لقارئها أيضاً. وعبارة الروض: ويستحب لقارئها أن يقول آمين، وحسن أن يزيد رب العالمين. (قولـه: عقبها) ظرف متعلق بتأمين. (قولـه: ولو خارج الصلاة) غاية لقولـه: ويسن تأمين. قولـه: بعد سكتة لطيفة أي بقدر سبحان اللـه، وهو متعلق بتأمين أيضاً. ولا يقال إن بين قولـه: عقبها، وقولـه: بعد سكتة لطيفة، تنافياً ظاهراً، لأنا نقول: المراد بالعقب أن لا يتخلل بينهما لفظ غير: رب اغفر لي. ويقال: إن تعقيب كل شيء بحسبه، كما في م ر. واشتراط عدم تخلل اللفظ لا ينافي سن تخلل السكتة المذكورة. (قولـه: ما لم يتلفظ بشيء) ما مصدرية لفظية متعلقة بتأمين، أي يسن تأمين مدة عدم تلفظه بشيء، وهذا هو معنى قولـه عقبها بناء على المراد السابق. فلو اقتصر أحدهما لكان أولى. (قولـه: سوى رب اغفر لي) أي أنه يستثنى من التلفظ بشيء التلفظ برب اغفر لي، فإنه لا يضر للخبر الحسن: أنه قال عقب {ولا الضالين} : «رب اغفر لي». وقال ع ش: وينبغي أنه لو زاد على ذلك: ولوالديّ ولجميع المسلمين. لم يضر أيضاً. اهـ. وانظر هل الذي يقول ما ذكر القارىء فقط؟ أو كل من القارىء والسامع؟ والذي يظهر لي الأول، بدليل قولـه في الحديث المار قال عقب: {ولا الضالين} أي قال عقب قراءته {ولا الضالين} ، فليراجع.

Focus

وانظر هل الذي يقول ما ذكر القارىء فقط؟ أو كل من القارىء والسامع؟ والذي يظهر لي الأول، بدليل قولـه في الحديث المار قال عقب: {ولا الضالين} أي قال عقب قراءته {ولا الضالين} ، فليراجع

BEBERAPA NILAI KEBAIKAN DALAM HAK DAN KEWAJIBAN SESAMA MUSLIM

‎7 nilai kebaikan yang menjadi hak dan kewajiban antar sesama mukmin, apa saja ?

  1. Menghormati dan Mengagungkan, Saat Memandang Mukmin Lainnya…

Sebab dalam Islam sangat mengajarkan membangun hubungan yang harmonis dalam interaksi sosial.

2. Mencintai Mukmin, dan Kecintaannya Lahir dari Hati yang Dalam.

Sebab dalam Setiap mukmin hendaknya memberikan rasa saling mencintai dengan rasa tulus dan ikhlas karena Alloh, bukan hiasan belaka.

3. Menolong Mukmin dengan Harta.

Yaitu Di dalam harta orang kaya terdapat hak orang miskin. Alloh SWT sangat mencela seseorang yang memiliki sifat bakhil (pelit). Untuk itu dianjurkan seorang mukmin menolong mukmin lainnya dengan hartanya.

4, . Dilarang Berbuat Ghibah Terhadap Sesama.

Islam sangat melarang berbuat ghibah atau menceritakan kejelakan dan keaiban orang lain. Nabi mengumpamakan bahwa menceritakan kejelekan / ke aiban orang lain, sama halnya dengan memakan bangkai saudaranya sendiri.

5. Saat Saudara Sakit, Menjenguklah .

Malaikat berkata kepada yang menjenguk orang sakit, “Engkau telah berbuat baik, jalan yang engkau tempuh adalah kebaikan dan engkau akan dibangunkan rumah di surga”.


‎6. Mengunjungi Keluarga yang Meninggal.

Saat ada temen, saudara atau orang yang kita kenal meninggal, kita dianjurkan untuk mengunjungi, mensholatkan dan mengantarkannya ke kuburan. Balasan bagi mereka yang melakukannya, Alloh akan memberikan pahala sama dengan satu qirat (setengah gunung uhud).

‎7. Dilarang Menceritakan Orang yang Meninggal, Kecuali Kebaikannya Saja.

Islam mengajurkan untuk menyebut kebaikan-kebaikan orang yang telah meninggal dunia agar tercipta kehidupan yang indah dan harmonis.

HIKMAH MENABURKAN TANAH TIGA KALI DI KUBURAN DAN DO’ANYA

Bila selesai acara pemakaman memang sunnah hukumnya menabur tanah 3 kali dengan bacaan minha kholakknaakum… dst. Hikmahnya, sebagaimana dikutip dalam Hasyiyah Syibromalisi yaitu hasyiyahnya kitab Nihayatul muhtaj : Bahwa hal yang paling penting dari perkara yang akan dihadapi mayit setelah dikubur adalah menghadapi pertanyaan malaikat munkar dan nakir. Maka seyogyanya memberikan talqin kepada mayit agar simayit mampu menjawab pertanyaan dari munkar dan nakir.
1.Maka setelah selesai pertanyaan, Ruh si mayit akan naik ketempat yang telah allah siapkan untuknya, maka nisbat pada hal tersebut, maka dianjurkan berdo’a agar pintu-pintu langit terbuka dengan kedatangan ruh si mayit.
2.Setelah mayit tetap dalam kuburnya, maka nisbat akan hal ini,dianjurkan berdo’a untuk mayit agar kedua sisi kuburnya tetap renggang (bumi tidak menggencetnya- dhommatul qobr ada dalam bentuk pelukan, ada dalam bentuk kebencian- wallohu a’lam).
3.Kemudian berdo’a kebaikan bagi mayit laki-laki atau pria.

لعل الحكمة في جعل هذا مع الأول ، وما بعده مع الثانية إلخ أن أهم أحوال الميت بعد وضعه في القبر سؤال الملكين فناسب أن يدعى له بتلقين الحجة ، وبعد السؤال تصعد الروح إلى ما أعد لها فناسب أن يدعى له بفتح أبواب السماء لروحه ، وبعده يستقر الميت في قبره فناسب أن يدعى له بمجافاة الأرض عن جنبيه ( قوله : عند المسألة ) أي السؤال ، وقوله حجته : أي ما يحتج به على صحة إيمانه ، وإطلاقه يشمل ما لو لم يكن الميت ممن يسأل كالطفل ، وإطلاقه يشمل أيضا ما لو قدم الآية على الدعاء أو أخرها ، وينبغي تقديم الآية على الدعاء أخذا من قوله زاد المحب إلخ ( قوله اللهم افتح أبواب السماء لروحه ) ولا ينافي هذا أن روحه يصعد بها عقب الموت ; لأنا نقول : ذاك الصعود للعرض ثم يرجع بها فتكون مع الميت إلى أن ينزل قبره فتلبسه للسؤال ثم تفارقه وتذهب حيث شاء الله .

Berikut ayat dan do’a pada masing-masing taburan tanah, sebagaimana dikutip dalam kitab Al mausu’ah :

  • Tebaran pertama minhaa kholaqnaakum dan do’anya :
    اﻟﻠﻬﻢ ﺟﺎﻑ اﻷﺭﺽ ﻋﻦ ﺟﻨﺒﻴﻪ
  • Tebaran kedua wa fiihaa nu’iidukum dan do’anya : اﻟﻠﻬﻢ اﻓﺘﺢ ﺃﺑﻮاﺏ اﻟﺴﻤﺎء ﻟﺮﻭﺣﻪ
  • Tebaran ketiga wa minhaa nukhrijukum taarotan ukhroo dan do’anya : bagi mayit laki-laki :
    اﻟﻠﻬﻢ ﺯﻭﺟﻪ ﻣﻦ اﻟﺤﻮﺭ اﻟﻌﻴﻦ
    bagi mayit perempuan :
    اﻟﻠﻬﻢ ﺃﺩﺧﻠﻬﺎ اﻟﺠﻨﺔ ﺑﺮﺣﻤﺘﻚ
  • Al Mausu’ah :

ﻭﻳﻘﻮﻝ ﻓﻲ اﻟﺤﺜﻴﺔ اﻷﻭﻟﻰ: {ﻣﻨﻬﺎ ﺧﻠﻘﻨﺎﻛﻢ} ، ﻭﻓﻲ اﻟﺜﺎﻧﻴﺔ: {ﻭﻓﻴﻬﺎ ﻧﻌﻴﺪﻛﻢ} ، ﻭﻓﻲ اﻟﺜﺎﻟﺜﺔ: {ﻭﻣﻨﻬﺎ ﻧﺨﺮﺟﻜﻢ ﺗﺎﺭﺓ ﺃﺧﺮﻯ} . ﻭﻗﻴﻞ: ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻲ اﻷﻭﻟﻰ: اﻟﻠﻬﻢ ﺟﺎﻑ اﻷﺭﺽ ﻋﻦ ﺟﻨﺒﻴﻪ، ﻭﻓﻲ اﻟﺜﺎﻧﻴﺔ: اﻟﻠﻬﻢ اﻓﺘﺢ ﺃﺑﻮاﺏ اﻟﺴﻤﺎء ﻟﺮﻭﺣﻪ، ﻭﻓﻲ اﻟﺜﺎﻟﺜﺔ: اﻟﻠﻬﻢ ﺯﻭﺟﻪ ﻣﻦ اﻟﺤﻮﺭ اﻟﻌﻴﻦ، ﻭﻟﻠﻤﺮﺃﺓ: اﻟﻠﻬﻢ ﺃﺩﺧﻠﻬﺎ اﻟﺠﻨﺔ ﺑﺮﺣﻤﺘﻚ

  • Al- Adzkar :

(باب ما يقوله بعد الدفن) 466 – السنة لمن كان على القبر أن يحثي في القبر ثلاث حثيات بيديه جميعا من قبل رأسه.قال جماعة من أصحابنا : يستحب أن يقول في الحثية الأولى : (منها خلقناكم) وفي الثانية : (وفيها نعيدكم) وفي الثالثة : (ومنها نخرجكم تارة أخرى) [ طه : 56 ]

  • Tuhfatul Muhtaj :

( ويحثو من دنا ) إلى القبر بأن كان على شفيره كما نص عليه ووقع في الكفاية أنه يسن لكل من حضر وقد يجمع بحمل الأول على التأكد ( ثلاث حثيات تراب ) بيديه جميعا من قبل رأس الميت للاتباع وسنده جيد ويقول في الأولى { منها خلقناكم } وفي الثانية { وفيها نعيدكم } وفي الثالثة { ومنها نخرجكم تارة أخرى }

  • Al Fiqh ‘Alal Madzahibil Arba’ah :

المالكية قالوا : إن دفن الميت في التابوت – الصندوق ونحوه خلاف الأولى ) ثم بعد دفن الميت في اللحد أو الشق وسد قبره باللبن ونحوه يستحب أن يحثو كل واحد ممن شهد دفنه ثلاث حثيات من التراب بيديه جميعا ويكون من قبل رأس الميت ويقول في الأولى : { منها خلقناكم } وفي الثانية : { وفيها نعيدكم } وفي الثالثة : { ومنها نخرجكم تارة أخرى } ثم يهال عليه بالتراب حتى يسد قبره

  • Kitab al-Jamal :

ﻭﻳﺴﻦ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻣﻊ اﻷﻭﻟﻰ {ﻣﻨﻬﺎ ﺧﻠﻘﻨﺎﻛﻢ} [ﻃﻪ: 55] ﻭﻣﻊ اﻟﺜﺎﻧﻴﺔ {ﻭﻓﻴﻬﺎ ﻧﻌﻴﺪﻛﻢ} [ﻃﻪ: 55] ﻭﻣﻊ اﻟﺜﺎﻟﺜﺔ {ﻭﻣﻨﻬﺎ ﻧﺨﺮﺟﻜﻢ ﺗﺎﺭﺓ ﺃﺧﺮﻯ} [ﻃﻪ: 55

  • Kitab al Mausu’ah :

ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﺣﺜﻴﻪ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﺭﺃﺳﻪ ﺛﻼﺛﺎ: ﻟﻤﺎ ﺭﻭﻱ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ: ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺻﻠﻰ ﻋﻠﻰ ﺟﻨﺎﺯﺓ، ﺛﻢ ﺃﺗﻰ اﻟﻘﺒﺮ ﻓﺤﺜﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﺭﺃﺳﻪ ﺛﻼﺛﺎ (2) . ﻭﻳﻘﻮﻝ ﻓﻲ اﻟﺤﺜﻴﺔ اﻷﻭﻟﻰ: {ﻣﻨﻬﺎ ﺧﻠﻘﻨﺎﻛﻢ} ، ﻭﻓﻲ اﻟﺜﺎﻧﻴﺔ: {ﻭﻓﻴﻬﺎ ﻧﻌﻴﺪﻛﻢ} ، ﻭﻓﻲ اﻟﺜﺎﻟﺜﺔ: {ﻭﻣﻨﻬﺎ ﻧﺨﺮﺟﻜﻢ ﺗﺎﺭﺓ ﺃﺧﺮﻯ} . ﻭﻗﻴﻞ: ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻲ اﻷﻭﻟﻰ: اﻟﻠﻬﻢ ﺟﺎﻑ اﻷﺭﺽ ﻋﻦ ﺟﻨﺒﻴﻪ، ﻭﻓﻲ اﻟﺜﺎﻧﻴﺔ: اﻟﻠﻬﻢ اﻓﺘﺢ ﺃﺑﻮاﺏ اﻟﺴﻤﺎء ﻟﺮﻭﺣﻪ، ﻭﻓﻲ اﻟﺜﺎﻟﺜﺔ: اﻟﻠﻬﻢ ﺯﻭﺟﻪ ﻣﻦ اﻟﺤﻮﺭ اﻟﻌﻴﻦ، ﻭﻟﻠﻤﺮﺃﺓ: اﻟﻠﻬﻢ ﺃﺩﺧﻠﻬﺎ اﻟﺠﻨﺔ ﺑﺮﺣﻤﺘﻚ. __ (1) اﺑﻦ ﻋﺎﺑﺪﻳﻦ 1 / 600، ﻭاﻟﺒﺪاﺋﻊ 1 / 319، ﻭاﻟﺰﺭﻗﺎﻧﻲ 2 / 99، ﻭﺭﻭﺿﺔ اﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ 2 / 134، ﻭاﻟﻤﻐﻨﻲ 2 / 500. (2) ﺣﺪﻳﺚ: ” ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺻﻠﻰ ﻋﻠﻰ ﺟﻨﺎﺯﺓ. . . ” ﻧﺠﺪﻩ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻭﺭﺩ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﺃﻣﺎﻣﺔ ﺑﻠﻔﻆ ﻣﻘﺎﺭﺏ، ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺃﺣﻤﺪ (5 / 254 – ﻃ اﻟﻤﻴﻤﻨﻴﺔ) ﻭﺿﻌﻔﻪ اﻟﻨﻮﻭﻱ ﻓﻲ اﻟﻤﺠﻤﻮﻉ (5 / 294 – ﻃ اﻟﻤﻨﻴﺮﻳﺔ).

  • Kitab Fathul Mu’in :

ﻭﻳﻨﺪﺏ ﻟﻤﻦ ﻋﻠﻰ ﺷﻔﻴﺮ اﻟﻘﺒﺮ ﺃﻥ ﻳﺤﺜﻲ ﺛﻼﺙ ﺣﺜﻴﺎﺕ ﺑﻴﺪﻳﻪ ﻗﺎﺋﻼ ﻣﻊ اﻷﻭﻟﻰ: {ﻣﻨﻬﺎ ﺧﻠﻘﻨﺎﻛﻢ} [20 ﺳﻮﺭﺓ ﻃﻪ اﻵﻳﺔ: 55] ﻭﻣﻊ اﻟﺜﺎﻧﻴﺔ: {ﻭﻓﻴﻬﺎ ﻧﻌﻴﺪﻛﻢ} [20 ﺳﻮﺭﺓ ﻃﻪ اﻵﻳﺔ: 55] ﻭﻣﻊ اﻟﺜﺎﻟﺜﺔ: {ﻭﻣﻨﻬﺎ ﻧﺨﺮﺟﻜﻢ ﺗﺎﺭﺓ ﺃﺧﺮﻯ} [20 ﺳﻮﺭﺓ ﻃﻪ اﻵﻳﺔ: 55] . ﻣ

HIKMAH MENGINGAT MATI DAN HIRUK-PIKUKNYA KUBUR

بسم الله الرحمن الرحيم

Bab Ke 37 Keutamaan Mengingat Mati
(الباب السابع والثلاثون): : في فضيلة ذكر الموت

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Kematian itu jembatan yang menyambungkan seorang kekasih kepada kekasihnya”}
وقال عليه السلام: {المَوْتُ جِسْرٌ يُوصلُ الحَبِيبَ إلى الحَبيبِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Kematian itu ada empat: kematian ulama, kematian orang kaya, kematian orang miskin dan kematian penguasa. Kematian ulama menimbulkan kekacauan dalam agama, kematian orang kaya menimbulkan penyesalan, kematian orang miskin menimbulkan ketenangan dan kematian penguasa menimbulkan fitnah.”}
وقال عليه السلام: {المَوْتُ أَرْبَعٌ مَوْتُ العُلَمَاءِ وَمَوْتُ الأَغْنِيَاءِ وَمَوْتُ الفُقَرَاءِ وَمَوْتُ الأُمَرَاءِ فَمَوْتُ العُلَمَاءِ ثُلمَةٌ في الدِّينِ وَمَوْتُ الأَغْنِيَاءِ حَسَرَةٌ وَمَوْتُ الفُقَرَاءِ رَاحَةٌ وَمَوْتُ الأُمَرَاءِ فِتْنَةٌ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Sesungguhnya para wali Allah itu tidak meninggal, mereka hanya berpindah dari satu negeri ke negeri lainnya.”}
وقال عليه السلام: {إنَّ أَوْلِيَاءَ الله لا يَمُوتُونَ وإنّما يَنْتَقِلُون مِنْ دَارٍ إلٰى دَارٍ أُخْرَى}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Sebaik-baik kematian adalah kenyamanan bagi orang mukmin”}
وقال عليه السلام: {نعم المَوْتُ رَاحَةُ المُؤْمِنِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Kematian ulama adalah kegelapan dalam agama”}
وقال عليه السلام: {مَوْتُ العُلَمَاءِ ظُلْمَةٌ في الدِّينِ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Jika anak adam mati maka terputuslah amalnya terkecuali tiga hal: sedekah jariyah atau ilmu yang dimanfaatkan atau anak sholeh yang mendoakannya.”}
وقال عليه السلام: {إذَا مَاتَ ابْنَ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَة جَارِيَة أَوْ عِلْم يَنْتَفعُ بِه أَوْ وَلَد صَالِح يدعو له}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Ingatlah penghancur kenikmatan, para sahabat bertanya, Nabi, apakah penghancur kenikmatan itu?’ Nabi menjawab: “Mati, mati, mati”.”}
وقال عليه السلام: {اذْكُرُوا هَاذِمَ اللَّذَّاتِ، قالوا: يا رَسُولُ الله وَمَا هَاذِمُ اللذات؟، قال: المَوْتُ المَوْتُ المَوْتُ} ثَلاَثا

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Jadikanlah dirimu di dunia seakan-akan seorang pengembara (orang asing) atau orang yang lewat dan anggaplah dirimu termasuk penghuni kubur.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {كُنْ في الدُّنْيا كأنَّكَ غَرِيبٌ أَوْعَابِر سَبِيلٍ وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ القُبُورِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Ketika seorang alim meninggal maka menangislah ahli langit dan bumi selama tujuhpuluh hari. Barangsiapa tidak sedih atas meninggalnya orang alim maka dia adalah orang munafik, munafik, munafik.”} Nabi mengatakannya tiga kali.
وقال عليه الصلاة والسلام: {إذا مَاتَ العَالِمُ بَكَتْ عَلَيْهِ أَهْلُ السَّمَوٰاتِ والأَرْضِ سَبْعِينَ يَوْما
مَنْ لَمْ يَحْزَنْ لِمَوْتِ العَالِمِ، فَهُوَ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ} قالها ثلاث مرات.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Ketika seseorang meninggal berkatalah para malaikat tentang apa yang telah dilakukannya dan berkatalah manusia tentang apa yang ditinggalkannya. “}
وقال عليه الصلاة والسلام: {إذا مَاتَ المَيِّتُ تَقُولُ المَلاَئِكَةُ ما قَدَّمَ وَيَقُولُ النَّاسُ مَا خَلَّفَ}

Bab Ke 38 Keutamaan Mengingat Kubur Dan Hiruk Pikuknya
(الباب الثامن والثلاثون): في فضيلة ذكر القبر وأهواله

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Kubur adalah salah satu taman dari taman-tamannya surga atau salah satu lubang dari lubang-lubangnya neraka.”}
قال النبي عليه الصلاة والسلام: {القَبْرُ رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الجَنَّةِ أو حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ النَّارِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Orang mukmin di dalam kuburnya itu berada dalam taman yang hijau, diluaskan kuburnya tujuhpuluh hasta dan bersinar bagaikan bulan purnama.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {المُؤْمِنُ في قَبْرِهِ فِي رَوْضَةٍ خَضْرَاءَ وَيُوَسَّعُ لَهُ قَبْرُهُ سَبْعِينَ ذِرَاعا وَيُضِيءُ حَتَّى يَكُونَ كالقَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Seandainya anak cucu adam tahu bagaimana siksa kubur, tentu tidak bermanfaatlah kehidupan dunia, maka mintalah perlindungan kepada Allah Yang Maha Mulia dari adzabnya kubur yang sangat buruk.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {لَوْ أنَّ بَنِي آدَمَ عَلِمُوا كَيْفَ عَذَابُ القَبْرِ مَا نَفَعَهُم العَيْشُ في الدُّنْيَا فَتَعَوَّذوا بالله الكَرِيمِ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ الوَخِيمِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Tidak seorangpun lewat di kuburan seorang laki-laki yang di kenalnya di dunia kemudian memberi salam terkecuali orang mati tersebut mengenalnya dan menjawab salamnya”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {مَا مِنْ عَبْدٍ يَمُرَّ بِقَبْرِ رَجُلٍ كَانَ يَعْرِفُهُ في الدُّنْيَا فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إلا عرفَهُ وردَّ عَلَيْه السَّلامَ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Tidaklah seorang muslim lewat kuburan muslim terkecuali ahli kubur berkata, “Hari pelupa seandainya kamu tahu apa yang kami tahu niscaya dagingmu hancur diatas jasadmu dan darahmu diatas badanmu.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {مَا مِنْ مُسْلِمٍ مَرَّ بِقَبْرٍ مِنْ مَقَابِرِ المُسْلِمِينَ إلاّ قَالَ لَهُ أَهْلُ القُبُورِ يَا غَافِلُ لَوْ عَلِمْتَ مَا نَعْلَمُ لَذَابَ لَحْمُكَ عَلَى جَسَدِكَ وَدَمُكَ عَلَى بَدَنِكَ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Ketika seorang mukmin diletakkan dan didudukan di kuburnya dan berkata para keluarganya, kerabatnya, kekasihnya dan anak-anaknya: “Aduhai tuanku, aduhai yang mulia, aduhai pimpinanku”
maka malaikat berkata: “Dengarlah apa yang mereka katakan, kamu dulunya tuan, yang mulia dan pemimpin”. Orang mati berkata:”Andaikan mereka tidak ada”.
Maka dia dihimpit sekali himpitan yang membuat tulang-tulang iganya berhimpitan.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {إنَّ العَبْدَ المُؤْمِنَ إذا وُضِعَ في القَبْرِ وَأُقْعِدَ وَقَالَ أهْلُهُ وأَقْرِبَاؤُهُ وأَحِبَّاؤُهُ وَأَبْنَاؤُه وَاسَيِّدَاهُ واشَريفَاهُ واأمِيرَاهُ قَالَ لَهُ الملكُ اسْمَعْ مَا يَقُولُونَ أَنْتَ كُنْتَ سَيِّدا وَأَنْتَ شَرِيفا وَأَنْتَ أميرا قَالَ المَيِّتُ: يا ليتَهُمْ لَمْ يَكُونُوا فَيَضْغَطُهُ ضَغْطَةً تَخْتَلِفُ بها أَضْلاَعُه}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Allah berfirman: “Wahai Isa banyak wajah yang bersinar, badan yang sehat dan lisan yang faseh besok berada diantara tingkatan neraka menjerit. Allah berfirman: “Wahai Isa banyak wajah yang bersinar, badan yang sehat dan lisan yang faseh besok berada diantara tingkatan neraka menjerit.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {قال الله تَعَالى يا عِيسى كَمْ مِنْ وَجْهٍ صَبيحٍ وَبَدَنٍ صحيحٍ وَلِسَانٍ فَصِيحٍ غدا بَيْنَ أَطْبَاقِ النِّيرانِ يَصِيحُ.}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Kubur itu tempat pertama dari tempat-tempat akherat dan tempat terakhir dari tempat-tempat dunia.”}
وقال عليه الصلاة والسلام:{ القَبْرُ أوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الآخِرَةِ وآخِرُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الدُّنْيا}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Kubur itu tempat yang harus disinggahi”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {القَبْرُ مَنْزِلٌ لاَ بُدَّ فِيهِ مِنَ النُّزُول}ِ.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Jika kalian sudah meninggal maka diperlihatkan tempat kalian di waktu pagi dan sore. Jika ahli surga maka termasuk ahli surga dan jika ahli neraka maka termasuk ahli neraka. Dikatakan kepadanya: “Inilah tempatmu hingga Allah membangkitkanmu ke tempat itu di hari kiamat”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {إذا مَاتَ أَحَدُكُمْ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بالغَدَاةِ والعَشِيِّ إنْ كَانَ مِنْ أهْلِ الجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ وإنْ كانَ مِنْ أهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ يُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ الله إلَيْهِ يَوْمَ القِيَامَةِ}

‘URF SYAR’I TENTANG JIHAD DALAM BERBANGSA DAN BERNEGARA

Urf Syar’i Tentang Jihad
(1) Apakah kecenderungan umum perletakan istilah jihad dalam ungkapan Al-Qur’an dan Hadits Nabawiy ?
Jawaban:
Pengertian jihad menurut bahasa : mencurahkan segala kemampuan guna mencapai tujuan apapun.
Menurut istilah syari’at Islam : mencurahkan segala kemampuan dalam upaya menegakkan masyarakat Islami dan agar kalimat Allah (kalimah tauhid dan dinul Islam) menjadi mulia, serta agar syari’at Allah dapat dilaksanakan di seluruh penjuru dunia.
Adapun istilah jihad dalam pengertian perang melawan kaum kuffar baru diperintahkan oleh Allah sesudah Rasulullah saw hijrah ke Madinah, sementara perintah jihad pada ayat-ayat makkiyah tertuju pada selain perang.
Ibarat :
الـفـقــه الـمـنـهـجـي عــلــى مــذهــب الإمــام الـشــافــعـي مجلد : 3 ص : 475، ف : دكتور مصطفى الخن, دكتور مصطفى البغا, على الشريجى , ط : دار القلم, دار الشامية دمشق, 1416 – 1996 وعبارته :
معــنى الـجــهــاد : الـجِـهَــادُ فِي اللّـُغَــةِ مَــصْــدَرُ جَــاهَـــدَ، اَيْ بَـــذَلَ جُــهْــدًا فِي سَـبِــيْـلِ الْــوُصُــوْلِ إِلىَ غَـايَــةٍ مَـا.
وَالْـجِـهَـادُ فِي اصْـطِــلاَحِ الـشَّــرِيْــعَــةِ ألإِسْــلاَمِـيَّــةِ : بَــذْلُ الْــجُــهْــدِ فِـي سَــبِـيْـلِ إِقـَـامَــةِ الْـمُـجْـتـَمَــعِ الإِْسْــلاَمِـيِّ ، وَأَنْ تـَـكُــوْنَ كـَـلِــمَـةُ اللهِ هِــيَ الْـعُـلْـيَـا ، وَأَنْ تـَـسْــوَدَّ شَــرِيـْـعَــةُ اللهِ فِىالْــعَـالَــمِ كُــلِّــهِ .
Terjemah :
Kata jihad yang merupakan bentu masdar dari kata kerja jaa-ha-da dalam pengertian bahasa adalah mencurahkan kesungguhan dalam mencapai tujuan apapun.
Kata jihad dalam istilah syariat Islam adalah mencurahkan kesungguhan dalam upaya menegakkan masyarakat yang Islami danm agar kalimah Allah (ajaran tauhid dinul Islam) menjadi mulia serta syari’at Allah dapat dilaksanakan diseluruh penjuru dunia.
الـــفــقــه الإســلامـي و أدلــتـــه ، ج : 8 ، ص : 5846 وعبارته :
وَأَنْـسَـبُ تـَـعْــرِيـْـفٍ لِلْـجِــهَــادِ شَــرْعـًـا أَنـَّـــهُ بَــذْلُ الْــوُسْــعِ وَالـَّطـاقـَـةِ فِـي قـَـتـْـلِ الْـكُــفَّــارِ وَمُــدَ ا فـَعَتِـهِــمْ بِـِالـنَّـفْــسِ وَالْـمَـالِ وَاللِّـسَــانِ
Terjemah :
Batasan jihad yang paling sesuai menurut istilah syari’at Islam mencurahkan kemampuan dan kekuatan guna memerangi dan menghadapi orang-orang kafir dengan jiwa, harta dan orasi.
تفسير القرطبي ج: 3 ص: 38 ف : محمد بت أحمد بت أبى بكر بن فرح القرطبى ابو عبد الله ط : دار الشعب قاهرة 1372
وَلَمْ يُؤْذَنْ لِلنَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْقِتَالِ مُدَّةَ إِقـَامَتِهِ بِمَكَّةَ فَلَمَّا هَاجَرَ أُذِنَ لَهُ فِي قِتـَالِ مَنْ يُقَاتِلُهُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ فَقَالَ تَعَالَى أُذِنَ لِلَّذِيْنَ يُقَاتَلُوْنَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوْا ثُمَّ أُذِنَ لَهُ فِي قِتَالِ الْمُشْرِكِيْنَ عَامَّةً
Terjemah :
Nabi Muhammad saw tidak diizinkan berperang selama beliau menetap tinggal di Makkah, lalu ketika beliau berhijrah barulah diizinkan memerangi (melawan) orang-orang musyrik yang (memulai) memerangi beliau. Allah berfirma (artinya) : “Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, sebab sesungguhnya mereka itu dianiaya” (al Hajj : 39). Kemudian Allah swt memberi izin kepada Nabi saw memerangi orang-orang musyrik secara umum.
أحكام القرآن للشافعي ج: 2 ص: 13- 14 ف : محمد بن ادريس الشافعى ابو عبد الله ط : دارالكتب العلمية بيروت 1400
قال الشافعي رحمه الله فأذن لهم بأحد الجهادين بالهجرة قبل أن يؤذن لهم بأن يبتدئوا مشركا بقتال ثم أذن لهم بأن يبتدئوا المشركين بقتال قال الله عز وجل أذن للذين يقاتلون بأنهم ظلموا وإن الله على نصرهم لقدير وأباح لهم القتال بمعنى أبانه في كتابه فقال وقاتلوا في سبيل الله الذين يقاتلونكم ولا تعتدوا
Terjemah :
Imam Syafi’i ra berkata : Allah memberi izin kepada umat Islam dengan salah satu dua jihad yaitu hijrah sebelum mengizini umat Islam memulai perang melawan orang musyrik, kemudian Allah memberi izin memulai berperang melawan orang-orang musyrik. Allah berfirma (artinya) : “Di izinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, sebab sesungguhnya mereka itu dianiaya, dan sesungguhnya Allah benar-benar menolong mereka”. Kemudian Allah memperbolehkan umat berperang dengan arti Allah menerangkan dalam kitabNya seraya berfirman (artinya) : ”Berperanglah kalian dijalan Allah melawan orang-orang yang memerangi kalian dan jangan melampaui batas”.
الـفـقــه الـمـنـهـجـي عــلــى مــذهــب الإمــام الـشــافــعـي مجلد : 3 ص : 119، ف : دكتور مصطفى الخن, دكتور مصطفى البغا, على الشريجى , ط : دار القلم, دار الشامية دمشق, 1416 – 1996 وعبارته :
اقام رسول الله فى مكة ثلاثة عشر عاما يدعو الى الله سلما لايقابل العدوان بمثله فلما هاجر عليه الصلاة والسلام الى المدينة شرع الله المرحلة الاولى من مراحل الجهاد وهي التصدى لرد عدوان المعتد ين اي القتال الدفاعى ونزل في تشريع ذلك قوله تعالى أذن للذين يقاتلون بأنهم ظلموا – الاية (الحج : 39) وقوله تعالى وقاتلوا في سبيل الله الذين يقاتلونكم ولا تعتدوا – (البقرة : 190) ثم شرع الله تبارك وتعالى لنبيه جهاد المشركين ابتداء بالقتال ثم شرع الله تعالى بعد ذلك القتال جهادا من غير تقيد بشرط زمان ولامكان
Terjemah :
Rasulullah saw tinggal di Makkah selama 13 tahun berda’wah secara damai dan tidak membalas permusuhan dengan sesamanya. Lalu ketika beliau berhijrah ke Madinah barulah Allah mensyariatkan tahapan pertama dari tahapan-tahapan jihad yaitu mengadakanperlawanan guna menangkal serang musuh yang menyerbu. Firman Allah tentang perang ini adalah (artinya) : “Di izinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, sebab sesungguhnya mereka itu dianiaya”.(al Hajj : 39) ”Berperanglah kalian dijalan Allah melawan orang-orang yang memerangi kalian dan jangan melampaui batas”.(al Baqarah :190) Kemudian Allah swt mensyariatkan berjihad melawan orang-orang musyrik dengan memulai penyerbuan, kemudian sesudah itu Allah mensyariatkan berjihad tanpa terikat oleh syarat masa dan tempat.
(2) Apa amaliyah nyata sebagai media mengekspresikan jihad bagi individu dan kelompok muslim ?
Jawaban :
Berdasarkan pengertian jihad diatas, maka amaliyah nyata yang dapat mengekpresikan tuntutan berjihad adalah :
Menunjukkan masyarakat kepada ajaran tauhid dan ajaran Islam, melalui penyelenggaraan pendidikan, diskusi, dan meluruskan pemikiran-pemikiran keagamaan yang dapat mengaburkan kemurnian aqidah umat Islam.
Membelanjakan harta untuk menjamin stabibitas keamanan kaum muslimin dalam uapaya membangun masyarakat Islami yang kuat.
Perang defensif (الـقــتــال الــد فــاعـي), yaitu berperang demi mempertahankan diri dari serangan musuh.
Perang offensif (الــقــتــال الـهـجـــومـي), yaitu memulai peperangan melawan musuh.
Mobilisasi perang secara umum ( حــالــة الـنــفــيــر الــعــا م)
Tiga bentuk jihad yang terakhir ini, jika memang situasi menuntutnya serta imam sudah menginstruksikan untuk berperang.
Ibarat :
الـــفــقــه الإســلامـي و أدلــتـــه ، ج : 8 ، ص : 5846 وعبارته :
فـَالْـجِـهَــادُ يَـكُــوْنُ بـِالـتَّـعْـلِـيْــمِ وَتـَـعَــلُّـــمِ أَحْــكـَـامِ الإِْسْــلاَمِ وَنَــشْــرِهـَـا بَـيْـنَ الــنَّــاسِ وَبِـبَــذْلِ الْــمَـالِ وَبـِالْـمُـشَــارَكـَـةِ فِـي قِــتـَـالِ الأَعْـــدَاءِ إِذَا أَعْــلَــنَ الإِمَــامُ الْـجِـهَــادَ ، لِـقـَـوْلـِـهِ تـَـعـَـالَـى : ” جـَـاهِــدُوا الْـمُـشْــرِكِـيْــنَ بِـأَمْــوَالِــكُــمْ وَ اَنْـفُـسِــكُــمْ وَأَلْـسِــنَــتِــكُـــمْ ” .
Terjemah :
Jadi jihad bisa dilakukan dengan cara mengajar, mempelajari hukum-hukum Islam dan menyebarluaskannya, membelanjakan harta dan berpartisipasi berperang menghadapi musuh apabila imam / pimpinan telah meninstruksikan jihad (perang), karena berdasar firman Allah swt (artinya) : “Perangilah orang-orang musyrik dengan harta kalian, jiwa kalian dan lesan kalian”.
الـفـقــه الـمـنـهـجـي عــلــى مــذهــب الإمــام الـشــافــعـي مجلد : 3 ص : 475، ف : دكتور مصطفى الخن, دكتور مصطفى البغا, على الشريجى , ط : دار القلم, دار الشامية دمشق, 1416 – 1996 وعبارته :
مِنَ الــتـَّـعْــرِيْــفِ الَّـذِيْ ذَكـَـرْنـَـاهُ لِلْـجِـهَــادِ ، يـَـتـَّضِـحُ أَنَّ الْـجِـهَــادَ أَنْــوَاعٌ مِــنْــهَـا :
الـْـجِــهـَـادُ بِالـتـَّعْـلِــيْـمِ، وَنـَـشْــرِ الْــوَعْــيِ ألإِسْــلاَمِـيِّ ، وَرَدِّ الـشُّـبَـهِ الْـفِــكْــرِيـَّـةِ الـَّتـِي تـَعْـتـَـرِضُ سَـبِـيْـلَ الإِيْـمـَـانِ بِــهِ ، وَتـَـفـَهُّــمَ حَــقـَـائِــقِــهِ .
الْـجِـهـَـادُ بِـبَـــذْلِ الْـمَــالِ لِــتـَـأْمِــيْــنِ مَـا يَـحْـتـَـاجُ إِلـَـيْــهِ الْـمُـسْـلِـمُــوْنَ فِي إِقـَـامَــةِ مُـجْـتـَـمَـعِــهِــمُ الإِسـْـلاَمِـيِّ الْـمَـنْـشُــوْدِ .
الْـقِــتـَـالُ الــدِّفـَـاعِـيُّ : وَهـُــوَ الـَّـذِيْ يَـتـَـصَــدَّى بـِـهِ الْـمُـسْـلِـمُــوْنَ لِـمَــنْ يُــرِيـْـدُ أَنْ يَــنـَـالَ مِــنْ شَــأْنِ الْـمُـسْـلِـمِـيْـنَ فِـي دِيْــنِــهِــمْ .
الْــقِــتـَـالُ الْـهُـجُـــوْمِـيِّ : وَهُــوَ الـَّـذِيْ يـَـبْــدَؤُهُ الْـمُـسْـلِـمُــوْنَ عِــنْــدَ مـَا يَـتـَجَــهَّـــوْنَ بِـالــدَّعْــوَةِ الإِسْــلاَمِــيَّــةِ إِلَـى الأُمَـــمِ ألأُخْــرَى فِي بـِــلاَدِهـَـا ، فَـيَــصُــدُّهُــمْ حُــكـَّـامُــهـَـا عـَــنْ أَنْ يُـبَـلِّــغُـــوْا بِـكـَلِـمَـةِ الْــحَــقِّ سَــمْــعَ الـنـَّـاسِ .
حَــالـَـةُ الـنَّــفِــيْــرِ الْــعـَـام

Status Syahid Bagi Pelaku Bom Bunuh Diri
Apa sajakah kriteria agar terpenuhi status mati syahid dengan prospek masuk surga menurut pandangan ulama ahli syari’at ?
Jawaban :
Kriteria Syahid, dengan prospek masuk surga mencakup 2 golongan:
a) Syahid dunia akhirat:; adalah orang yang mati dalam medan peperangan melawan orang kafir dan dia mati sebab perang.
b) Syahid akhirat; adalah orang yang mati dengan sebab-sebab syahadah sebagaimana berikut: antara lain: tenggelam , sakit perut, tertimpa reruntuhan, dll
.المراجع: هامش القليوبى و عميره جز 1 ص : 337إعْلَمْ أَنَّ المُصَنِّفَ (النَّوَويَّ) رَحِمَه اللهُ ذَكرَ فِي ضَابِطِ الشَّهيدِ ثلاثَ قُيُودٍ المَوتَ حَالَ القِتالِ وَكَونَهُ قِتالُ كُفَّارٍ وكَونَهُ بِسَببِ قِتالٍ.
Terjemah :Ketahuilah bahwa sesungguhnya musonnif (Imam Nawawi) dalam hal definisi mati sahid menuturkan tiga syarat, yaitu mati ketika berperang, perangnya melawan kafir, dan matinya karena sebab berperang.
متن الشرقاوي جز 1 ص : 338 وَخَرَجَ بِشَهيدِ المَعْرِكَةِ غَيرُهُ مِن الشُّهَداءِ كَمَن مَاتَ مَبْطونًا أوْ مَحْدُودًا أوْ غَريْقًًا أوْ غَريْبًا أوْ مَقتُولاً ظُلْمًا أوْ طَالِبَ عِلمٍ فَيُغْسَلُ وَ يُصَليَّ عَليهِ وَ إنْ صَدَقَ عَليهِ إسْمُ الشَّهيدِ فَهُوَ شَهيدٌ فِي ثوَابِ الأخِرَةِ.
Terjemah :Dikecualikan dari status mati syahid dalam peperangan ialah para syuhada’ selain dalam peraperangan, seperti halnya mati karena sakit perut (mabtun), atau di had (hukum), atau tenggelam (ghoriq), atau diasingkan, atau dibunuh karena dzalim, atau daalam waktu mencari ilmu. Maka mereka semua itu di mandikan, dan disholati, meskipun bersetatus mati sahid, karena dia mati sahid dalam perhitungan pahala diakhirat.
2) Syahidkah jenazah gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari NKRI dan menciptakan negara Islam untuknya ?
3) Berstatus mati syahidkah pelaku teror di Indonesia yang berdasar hukum positif (UU Anti Terorisme) harus dieksekusi sesuai putusan majelis hakim yang mengadilinya ?
4) Karena dinyatakan bersalah secara hukum negara, benarkah terhadap jenazah teroris pasca eksekusi hukuman mati tidak perlu dishalatkan dengan pertimbangan aksi teror itu dosa besar dan fasiq terbukti korban yang terbunuh ternyata sesama muslim ?
Jawaban :
Mayit pelaku gerakan separatis bukan termasuk syuhada’, sehingga mayitnya tetap dimandikan dan dishalati seperti layaknya mayit muslim.
المراجع:مغني المحتاج معرفة الفاظ المنهاج للشيخ محمد بن احمد الشربيني الخطيب ، ج ك 2 ص : 35 ، مانصه:أمَّا إذَا كَانَ المَقتُولُ مِنْ أهْلِ البَغْىِ فَليْسَ بِشَهيدٍ جَزْمًا
Terjemah :Adapun orang yang terbunuh itu dari ahlul baghyi (pemberopntak) maka mereka bukan termasuk mati syahid dengan pasti.
روضة الطالبين للشيخ محي الدين يحي بن أبي زكريا النووي ، ج : 2 ، ص : 42 ، مانصه :النَّوعُ الثانِي الشُّهَداءُ العَارُونَ عَن جَمِيعِ الأوْصَافِ المَذْكُورَةِ كَالمَبْطُونِ وَالمَطْعُونِ وَالغَرِيقِ وَالغَرِيبِ وَالمَيّتِ عِشْقا وَالمَيّتَةِ فِي الطَّلْقِ وَمَن قَتَلَهُ مُسْلِمٌ أوْ ذِمِّيٌّ أوْ بَاغِ القِتالِ فَهُم كَسَائِرِ المَوتىَ يُغْسَلونَ وَيُصَلىَّ عَليْهِمْ وَإنْ وَرَد فِيهِمْ لفْظُ الشَّهادَةِ وَكذَا المَقتُولُ قِصَاصًا أوْ حَدّا لَيسَ بِشَهيدٍ
Terjemah :Macam yang kedua yaitu orang-orang yang mati syahid yang selain dari sifat-sifat tersebut diatas, seperti mati karena sakit perut, sakit tho’un (wabah), tenggelam, diasingkan, mati karena merindukan (kekasih), mati karena melahirkan dan orang yang mati karena dibunuh sesama muslim atau orang kafir dzimmy atau orang yang menentang berperang, maka mereka semua dihukumi seperti mati biasa, artinya harus disholati dan dimandikan. meskipun statusnya mati syahid (di akherat), begitu juga mati karena dihukum qisos atau dihukum had itu bukan mati syahid.
الموسوعة الفقهية ج : 8 ص : 152، مانصه :أما قتلى البغاة، فمذهب الملكية والشافعية والحنابلة : أنهم يغسلون ويكفنون ويصلي عليهم، لعموم قوله صلى الله عليه وسلم : (صلوا على من قال لا إله إلا الله ) ولأنهم مسلمون لم يثبت لهم حكم الشهادة، فيغسلون ويصلي عليهم ومثله الحنفية، سواء اكانت لهم فئة أم لم تكن لهم فئة على الرأي الصحيح عندهم وقد روي أن عليا رضي الله عنه لم يصل على أهل حروراء، ولكنهم يغسلون ويكفنون ويدفنون ولم يفرق الجمهور بين الخوارج وغيرهم من البغاة في حكم التغسيل والتكفين والصلاة .
Terjemah :Adapun orang-orang yang terbunuh dari para pembangkang (bughot) maka menurut ulama’madzab Maliki, Syaf’ii dan Hambali mereka itu harus dimandikan, dikafani dan sisholati karena keumuman sabda Rasulullah SAW (artinya) “Sholatilah orang-orang yang mati dan berkata Laa Ilaa Ha Illallaah”. Karena mereka adalah orang-orang Islam yang tidak berstatus mati syahid maka dia dimandikan dan disholati.Begitupula pendapata ulama’ madzab Hanafi, baik mereka itu mempunyai kelompok atau tidak, menurut pendapat yang sohih dikalangan ulam’ hanafiyyah. Diriwayatkan sesungguhnya sahabat Ali RA tidak melakukan sholat terhadap orang golongan Harurok, tetapi mereka itu dimandikan, dikafani dan dimakamkan ditempat pemakaman muslim. Juhur al ulama (kebanyakan ulama) tidak membedakan antara kaum khawarij dan lainnya dari golongan penentang pemerintahan yang sah di dalam hukum memandikan, mengkafani serta mensholati.
حاشية الجمل 2 وَتَجْهِيزُهُ أيِ المَيّتِ المُسْلِمِ غَيرِ الشَّهيدِ بِغَسْلِهِ وَ تكْفِينِهِ وَ حَمْلِه وَ الصَّلاةُ عَليْهِ وَدَفنِهِ وَ لَوْ قَاتلَ نَفْسَهُ فَرضُ كِفَايَةٍ.
Terjemah :Merawat jenazahnya orang Islam yang selain mati syahid dengan cara memandikan, mengkafani, membawa, menyolati dan mengkuburkan walaupun melakukan bunuh diri, hukumnya fardhu kifayah.
5) Bolehkah orang melakukan bunuh diri guna memperjuangkan sesuatu yang menjadi keyakinan pribadinya ?
Jawaban : Bunuh diri tidak dibenarkan dalam syariat sekalipun dalam rangka memperjuangkan kebenaran. Akan tetapi dalam peperangan yang dizinkan syara’ (jihad) menyerang musuh dengan keyakinan akan terbunuh untuk membangkitkan semangat juang kaum muslimin adalah diperbolehkan.
المراجعتفسير ابن كثير ج: 1 ص: 481عَنْ أبِي صَالِحٍ عَن أبِي هُرَيرَةَ قالَ قالَ رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَليهِ وَسَلمَ مَن قَتلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِها بَطْنَهُ يَوْمَ القِيامَةِ فِي نَارِ جَهَنمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أبَدًا وَمَن قتلَ نَفسَهُ بِسُمٍّ تَرَدَّى بِه فَسَمَّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنمَ خَالدًا مُخَلدًا فِيهَا أبَدًا وَهَذا الحَدِيثُ ثابِتٌ فِي الصَّحِيحَينِ خ م
Terjemah :Dari Abi Sholeh dari Abi hurairoh berkata : Rosululloh SAW. bersabda : Barang siapa melakukan bunuh diri dengan cara membenamkan besi keperutnya sendiri besuk pada hari kiamat akan masuk neraka Jahannam selam-lamanya.Dan barang siapa melakukan bunuh diri dengan cara menaruh racun di tangannya dengan menghirupnya maka akan masuk neraka jahanam selam-lamanya. Hadits ini telah ditetapkan dalam dua kitab Shohih.
اسعاد الرفيق جز 2 ص : تتِمَّة مِنَ الكَبَائِرِ قَتلُ الإنْسَانِ نَفسَهُ لِقَولِه عَليْهِ الصَّلاةُ وَالسَّلامُ مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقتَلَ نَفْسَه فَهُو فِى نَارِ جَهَنّمَ يَترَدَّى فِيهَا خَالِدًا مُخَلدًا فِيهَا ابَدًا
Terjemah :Termasuk dosa besar adalah bunuh diri, sebagaimana sabda Nabi SAW. : “Barang siapa bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari ketinggian gunung maka akan masuk neraka jahanam dengan terlempar selama-lamanya.
الموسوعة الفقهية 6 ص : 285 – 286 الانتحار حرام بالاتفاق ويعتبر من اكبر الكبائر بعد الشرك بالله قال الله تعالى ولا تقتلوا النفس التى حرم الله الا بالحق وقال ولا تقتلوا انفسكم ان الله كان بكم رحيما وقد قرر الفقهاء ان المنتخر اعظم وزرا ممن قاتل غيره وهو فاسق وباغ على نفسه حتى قال بعضهم لايغسل ولايصلى عليه كالبغاة وقيل لاتقبل توبته تغليظا عليه كما ان ظاهر بعض الأحاديث يدل على خلوده في النار منها قوله من تردى من جبل فقتل نفسه فهو في نار جهنم يتردى فيها خالدا مخلدا فيها ابدا
Terjemah : Bunuh diri adalah harom denga kesepakatan para ulama’ dan dipandang dosa yang paling besar setelah syirik kepada Allah. Allah berfirman ( artinya ): “ Janganlah kalian semua membunuh jiwa yang diharomkan oleh Allah kecuali dengan jalan yang haq”, dan firman Allah ( artinya ): “Janganlah kalian membunuh dirimu sendiri sesungguhnya Allah maha penyayang terhadap kamu semua”. Para Fuqoha’ menetapkan bahwa orang yang melakukan bunuh diri lebih besar dosanya dari pada orang yang memerangi orang lain, dan dialah orang fasiq dan menganiaya dirinya, hingga sebagian ulama’ mengatakan bahwa dia tidak dimandikan dan disholati sebagaimana para pembangkang. Ada pendapat lain bahwa dia tidak diterima taubatnya karena memberatkan atas kesalahannya sebagaimana dlohirnya sebagian hadits menunjukkan keabadiannya dalam neraka.
الموسوعة الفقهية 6 ص : 285 – 286 ثانيا هجوم الواحد على صف العدو : 11 اختلف الفقهاء فى جوار هجوم رجل من المسلمين وحده على العدو مع التيقن بانه سيقتل فذهب الما لكية الى جواز اقدام الرجل المسلم على الكثير من الكفار ان كان قصده اعلاء كلمة الله وكان فيه قوة وظن تأثيره فيهم ولو علم ذهاب نفسه فلا يعتبر ذلك انتحارا – الى ان قال – وكذلك لو علم وغلب على ظنه انه يقتل لكن سينكى نكاية او سيبلى او يؤثر أثرا ينتفع به المسلمون ولا يعتبر هذا القاء النفس الى التهلكة المنهي عنه بقوله تعالى ولا تلقوا بأيديكم الى التهلكة – الى ان قال – كذلك قال ابن العربى والصحيح عندى جوازه لآن فيه اربعة اوجه الاول طلب الشهادة الثانى وجود النكاية الثالث تجرئة المسلمين عليهم الرابع ضعف نفوس الآعداء ليروا ان هذا صنع واحد منهم فما ظنك بالجميع
Artinya :Kedua masuknya seseorang pada barisan musuh. Para Fuqoha’ berselisih pendapat tentang bolehnya seorang diri kaum muslimin masuk kebarisan pasukan musuh dengan keyakinan dia akan terbunuh. Ulama’ madzhab Maliki berpendapat bahwa boleh seorang muslim mendatangi pasukan kafir dalam jumlah banyak apabila bertujuan meninggikan kalimah Allah dan dia mempunyai kekuatan dan persangkaan adanya pengaruh dikalangan orang-orang kafir walaupun dia yakin akan kehilangan nyawa, maka yang demikian itu tidak dianggap bunuh diri. – sampai perkataan Mushonnif- demikian pula jika ia yakin dan menyangka dengan kuat bahwa ia akan dibunuh akan tetapi dia akan benar-benar dapat mengalahkan/ menghancurkan/menimbulkan pengaruh yang dapat diambil manfaat oleh kaum muslimin. Tindakan seperti ini tidak dipandang mencampakkan diri pada kebinasaan yang dilarang oleh firman Allah ( artinya) : “ Janganlah kalian mencampakkan dirimu pada kehancuran “. – sampai perkataan Mushonnif- Ibnul ‘Arobi berkata : yang shohih menurut saya tindakan tersebut boleh karena mengandung empat aspek (1) Mengharapkan mati syahid (2)Adanya kemenangan (3) Memberanikan umat Islam melawan orang kafir dan (4) melemahkan mental musuh.
6) Hukuman bentuk apa dinilai tepat ditimpakan kepada promotor/pemberi indoktrinasi bunuh diri dengan pemahaman konsep jihad yang salah dan menanamkan keyakinan status mati syahid serta kepastian masuk surga kepada calon pelaku bom bunuh diri.
Jawaban :
Hukuman bagi promotor / pemberi indoktrinasi bunuh diri adalah ta’zir, bahkan bisa sampai hukuman mati , apabila dampak mafsadah dan madlaratnya merata dikalangan masyarakat luas serta hukuman ta’zir yang lain sudah tidak efektif lagi.
تفسير الطبري ج: 6 ص: 205 إنّمَا جَزَآءُ الذِينَ يُحَارِبُونَ اللهَ وَرسولَهُ وَيَسْعَونَ فِي الأرْضِ فَسَادًا أنْ يُقتلُوا أوْ يُصَلبُوا أوْ تُقَطَّع أيْدِيهِمْ وأرْجُلِهمْ مِنْ خِلافٍ أوْ يُنْفَوا مِنَ الأرْضِ ذَلكَ لَهُم خِزْيٌ فِي الدُنيَا وَلهُم فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظيمٌ
Terjemah :Balasan bagi orang yang memusuhi Alloh dan utusan-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi adalah dibunuh atau disalib atau dipotong kedua tangan dan kakinya secara bergantian (selang seling) atau disingkirkan dari muka bumi. Itu semua adalah balasan di dunia sedangkan balasan di akhirat adalah adzab yang sangat besar.
تفسير ابن كثير ج: 2 ص: 48المحاربة هي المضادة والمخالفة وهي صادقة على الكفر وعلى قطع الطريق وإخافة السبيل وكذا الإفساد في الأرض
Terjemah :Muharobah (memerangi) ialah : perlawanan dan menentang, yaitu sesuai (pas) dengan kufur dan tindakan perampokan dijalanan, dan menakut-nakuti di jalan, begitu juga membikin kerusakan dibumi.
تفسير الطبري ج: 6 ص: 211 وأما قوله ويسعون في الأرض فسادا فإنه يعني ويعملون في أرض الله بالمعاصي من إخافة سبل عباده المؤمنين به أو سبل ذمتهم وقطع طرقهم وأخذ أموالم ظلما وعدوانا والتوثب على جرمهم فجورا وفسوقا
Terjemah :Adapun pengertian firman Allah (artinya) : “ Dan mereka melakukan kerusakan di muka bumi.” Itu artinya : mereka melakukan kemaksiatan di muka bumi ini, dengan cara menakut-nakuti (terror/ancaman) jalannya orang-orang mukmin, atau jalannya tanggungan orang-orang mukmin, dan menghadang perjalanannya, merampas harta bendanya dengan cara dzalim dan ceroboh (aniaya) dan berani melukainya dengan cara keterlaluan dan fasiq.
تفسير القرطبي ج: 6 ص: 149إنّمَا جَزَآءُ الذِينَ يُحَارِبُونَ اللهَ وَرسولَهُ وَيَسْعَونَ فِي الأرْضِ فَسَادًا أنْ يُقتلُوا أوْ يُصَلبُوا الآية – الى ان قال – قال مالك والشافعي وأبو ثور وأصحاب الرأي الآية نزلت فيمن خرج من المسلمين يقطع السبيل ويسعى في الأرض بالفساد قال ابن المنذر قول مالك صحيح قال أبو ثور واحتج لهذا القول
Terjemah :Firman Allah (artinya) : “Seseungguhnya balasan orang-orang yang memerangi Alloh dan Rosul-Nya dan berbuat kerusakan di bumi agar supaya dibunuh, atau disalib”, dan seterusnya – sampai perkataan mufassir- Berkatalah Imam Malik, Imam Syafi-ie, Imam Abu Tsur, dan Para pakar pendapat : Ayat ini diturunkan buat orang Islam yang keluar memisahkan diri ikatan kelompoknya dan berbuat kerusakan di bum.Bberkatalah Ibnu Mundzir : Perkataan Imam Malik betul, Abu Tsaur berkata : Perkataan ini dapat dibuat hujjah / dasar.
تفسير القرطبي ج: 7 ص: 133ولا تقتلوا النفس التي حرم الله إلا بالحق – الى ان قال – من شق عصا المسلمين وخالف إمام جماعتهم وفرق كلمتهم وسعى في الأرض فسادا بانتهاب الأهل والمال والبغي على السلطان والامتناع من حكمه يقتل فهذا معنى قوله إلا بالحق
Terjemah :Firman Allah (artinya) : “Janganlah kalian semua membunuh seseorang yang diharamkan Alloh kecuali dengan haq” (cara yang benar). -sampai perkataan mufassir- : Barang siapa meretakkan persatuan kaum muslimin, menentang pimpinan kelompok umat Islam dan memisah-misahkan kalimah mereka dan berbuat kerusakan dimuka bumi dengan jalan melakukan perampokan / perampasan keluargadan harta, dan membangkang terhadap pengusa dan menolak keputusannya, maka orang tersebut boleh dibunuh. Ini lah makna firman Illa bi al Haq.
فتاوى الكبرى لابن تيمية 5\وَهَذَا التعْزِيرُ ليْسَ يُقَدَّرُ بَلْ يَنْتهِى اِلىَ القَتْلِ كَمَا فِى الصَّائِلِ فِى اَخْذِ المَالِ يَجُوْزُ اَنْ يُمْنَعَ مِن الأخْذِ وَلوْ بِالقتْلِ وَعلَى هَذا فَاِذا كَانَ المَقصُودُ دَفْعَ الفَسَادِ وَلمْ يَنْدَفِعْ إلاِّ بِالقتْلِ قُتِلَ. وَحِينئِذٍ فَمَن تَكَرَّرَ مِنهُ فِعْلَ الفَسَادِ وَلمْ يَرْتَدِعْ لِلحُدُودِ المُقَدَّرَةِ بَلِ اسْتَمَرَّ علىَ ذَلِكَ الفَسَادِ فَهُو كَالصَّائِلِ الذِّى لاَ يَنْدَفِعُ إلاّ بِالقتْلِ فَيُقتَلُ قِيلَ وَيُمْكِنُ انْ يُخْرَجَ شَارِبُ الخَمْرِ فِى الرَّابِعَةِ علىَ هَذا
Terjemah :Hukuman ta’zir (menjerakan) ini tidak ada kepastian bahkan bisa sampai kepada hukuman bunuh, sebagaimana dilakukan terhadap shoil (orang yang berbuat jahat) dalam mengambil harta, boleh menghadang dia dari mencuri harta meskipun dengan membunuh. Berdasarkan keterangan ini, ketika tujuan (ta’zir) adalah menolak kerusakan (bahaya) dan tidak tertangani kecuali dengan cara membunuh, ya dibunuh. Dengan demikian, orang yang berulang kali melakukan kejahatan, dan hukuman-hukuman yang diberikan tidak diindahkan, bahkan dia terus menerus berbuat jahat maka dia bagaikan shoil (penjahat) yang tidak bisa dihentikan kecuali dengan dibunuh, maka boleh dibunuh. Dikatakan, mungkin pemabuk menurut pendapat ini bisa dihukum sama dengan shoil (penjahat) dengan cara dibunuh.
الفقه الاسلامى 7\5354وَالعُقوبَاتُ التَّعْزِيرِيَّةُ : هِىَ التَّوْبِيخُ اوِ الزَّجْرُ بِالكَلاَمِ وَالحَبْسُ وَالنَّفْيُ عَنِ الوَطَنِ وَالضَّرْبُ وَقدْ يَكُونُ التَّعْزِيرُ بِالقتْلِ سِيَاسَةً فِى رَأيِ الحَنَفِيّةِ وَبَعضِ المَالِكِيّةِ وَبَعضِ الشَّافِعِيّةِ اِذَا كَانَتِ الجَرِيْمَةُ خَطِيرَةً تَمَسُّ اَمْنَ الدَّوْلَةِ اوِ النِّظَامَ العَامَّ فِى الاسْلامِ مِثلَ قَتْلِ المُفَرِّقِ جَماعَةَ المُسلِمِينَ اوِ الدَّاعِى الىَ غَيرِ كِتابِ اللهِ وَسُنّةِ رَسُولِهِ صلىَّ اللهُ عَليهِ وَسلّمَ اوِ التَّجَسُّسِ اوِ انْتِهَاكِ عِرْضِ امْرَأةٍ بِالإكْرَاهِ اذَا لمْ يَكُنْ هُناكَ وَسِيلةٌ اُخْرَى لِقَمْعِهِ وَزَجْرِهِ أهـ
Terjemah :Hukuman / sanksi ialah : mencela, atau mencegah dengan ucapan, menahan (memenjara), diasingkan jauh dari tanah kelahian dan dipukul. Bahkan terkadang ta’zir itu bisa terjadi dengan cara dibunuh karena kepentingan siyasah didalam pendapat Hanafiyah, sebagian Malikiyah, serta sebagian Syafi’iyah. Ketika Jarimah (pidana)itu membahayakan yang menyangkut keselamatan negara, atau aturan umum dalam Islam, seperti membunuh orang yang memecah belah kelompok orang-orang Islam, atau orang yang mengajak kepada selain aturan Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya SAW. atau meneror (menakut-nakuti), atau merusak harga diri perempuan dengan paksa ketika disana tidak ada cara lain untuk menanggulangi dan mencegahnya.

Jihad Dalam Kehidupan Bernegara & Bermasyarkat
1) Dapatkah dibenarkan menurut ajaran Islam bila dilakukan jihad terhadap Pemerintah RI dengan tuduhan sebagai negara kafir karena tidak menjalankan syari’at Islam sebagai hukum positif ?
Jawaban :
Berjihad terhadap Pemerintah RI dengan tuduhan sebagai negara kafir tidak bisa dibenarkan, karena NKRI sudah memenuhi tuntutan kreteria sebagai dar al-Islam, disamping dalam pasal 29 ayat (2) UUD 1945 bahwa negara menjamin kebebasan beragama bagi warga negaranya. Ibarat :
حاشية ســلـيــمــان الـجـمــل ، ج : 7 ، ص : 208، مــا نــصـــه :ثـُـمَّ رَأيْــتُ الـــرَّافِــعِــي وَغَـيْــرَهُ ذَكـَــرُوا نَــقـْـلاً عَــنِ الأصْــحَــابِ أنَّ دَارَ الإسْــلاَمِ ثـَـلاَثـَـةُ أقـْـسَــامٍ : قِــسْــمٌ يـَـسْــكُــنُــهُ الـمُـسْـلِـمُــونَ ، وَقِـسْــمٌ فـَـتـَـحُــوهُ وَأقـَـرُّوا أهْــلَــهُ عَــلَــيْــهِ بِــجـِـزْيـَــةٍ مَـلـَـكُــوهُ أوْ لاَ ، وَقِــسْــمٌ كـَـانُــوا يَــسْــكُــنُــونَــهُ ثـُـمَّ غَــلَــبَ عَــلَــيْــهِ الــكُــفـَّـارُ . قـَـالَ الــرَّافِــعِــيُّ : وَعـَــدُّهُــمُ الــقِــسْــمَ الـثـَّـانِـي يُــبَــيِّــنُ أنـَّـهُ يَــكْــفِـي فِــي كَــوْنـِـهـَـا دَارَ الإسْــلاَمِ كـَـوْنُـــهَــا تـَـحْــتَ إسْــتِـــيْــلاءِ ألإمَــامِ وَإنْ لَــمْ يَــكـُـنْ فِــيــهَــا مُــسْــلِــمٌ . قـَـالَ : وَأمـَّـا عَــدُّهـُـمُ الــثـَّـالِــثَ فَــقـَـدْ يُــوْجَــدُ فِـي كـَـلاَمِــهِــمْ مَــا يُــشْــعِــرُ بِــأنَّ الإسْــتِـــيْــلاءَ الــقـَـدِيـْـمَــةَ يَــكْــفِـي لاسْــتِــمْــرَارِ الــحُــكْــمِ . اهـ
Terjemah :Kemudian saya melihat Imam Rafi’i dan yang lain menuturkan pendapat yang dinukil dari para ulama’madzhab Syafi”i bahwa dar al-Islam (negara Islam) itu ada tiga bagian : Negara yang dihuni umat Islam. Negara yang ditaklukkan umat Islam dan menetapkan penduduknya untuk tetap tinggal disana dengan membayar jizyah baik mereka itu memilikkannya atau tidak. Negara yang dihuni oleh umat Islam kemudian dikuasai oleh orang-orang kafir.Imam Rafi’i berkata : Para ulama’ menggolongkan bagian kedua sebagai negara Islam, hal itu menjelaskan bahwa tentang penganggapan sebagai negara Islam cukup adanya negara itu dibawah kekuasaan seorang imam walaupun disana tidak terdapat satupun orang muslim. Imam Rafi’i berkata : Adapun para ulama’ menggolongkan bagian ketiga sebagai negara Islam karena terkadang dijumpai dalam perbincangan para ulama’ suatu pendapat yang memberikan pengertian bahwa penguasaan yang sudah berlalu cukuplah untuk melestarikan hukum sebagai negara Islam.
بغية المسترشدين ص : 254(مسئلة ى) كل محل قدر مسلم ساكن به على الامتناع من الحربيين فى زمن من الازمان يصير دار اسلام تجرى عليه احكام فى ذلك الزمان وما بعده وان انقطع امتناع المسلمين باستيلاء الكفار عليهم ومنعهم من دخوله واخراجهم منه وحينئذ فتسميته دار حرب صورة لا حكما فعلم أن أرض بتاوي بل وغالب أرض جاوة دار اسلام لاستيلاء المسلمين عليها سابقا قبل الكفار
Terjemah :Setiap tempat dimana penduduk muslim disana kuasa mempertahankan dari ancaman orang-orang kafir harby pada suatu masa dari beberapa masa jadilah tempat itu dar al-Islam (negara Islam) yang boleh diberlakukan hukum-hukum Islam pada zaman itu dan sesudahnya sekalipun pertahanan kaum muslimin terputus sebab orang-orang kafir telah menguasai umat Islam, menghalangi memasuki negara itu dan mengusir umat Islam dari sana. Dalam keadaan seperti diatas maka tempat itu dinamakan dar al-harb secara de facto dan bukan dar al-harb secara de jure. Jadi bisa diketahui bahwa Betawi bahkan kebanyakan tanah Jawa adalah negara Islam karena umat Islam telah menguasainya jauh sebelum orang-orang kafir.
الجهاد فى الاسلام 81 ويلاحظ من معرفة هذه الاحكام أن تطبيق احكام الشريعة الاسلامية ليس شرطا لاعتبار الدار دار الاسلام ولكنه حق من حقوق دار الاسلام فى اعناق المسلمين فاذا قصر المسلمون فى إجراء الاحكام الاسلامية غلى اختلافها فى دارهم التى أورثهم الله اياها فان هذا التقصير لا يخرجها عن كونها دار اسلام ولكنه يحمل المقصرين ذنوبا واوزارا.
Terjemah :Dilihat dari mengetahui hukum-hukm ini bahwa menerapkan hukum syariat Islam bukan suatu syarat bagi negara dianggap sebagai negara Islam, akan tetapi merupakan salah satu dari hak-hak negara Islam yang menjadi tanggung jawab umat Islam. Jadi apabila umat Islam ceroboh dalam menjalankan hukum Islam atas cara yang berbeda-beda dinegara yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadanya, maka kecerobohan ini tidak merusak adanya negara dinamakan negara Islam, akan tetapi kecorobohan itu membebani mereka dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan.
(2) Bolehkah dilaksanakan jihad dengan target mengganti NKRI yang berdasar Pancasila dan UUD 1945 menjadi dawlat Islamiyah ?
Jawaban : Jihad dengan target mengganti NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dengan daulah Islamiyyah tidak bisa dibenarkan, karena jika hal itu dilakukan sudah pasti menimbulkan kekacauan dalam berbagai aspek kehidupan bernegara dan bermasyarakat dimana-mana dan bahkan bisa terjadi perang saudara yang justru semakin jauh dari target jihad yang dicita-citakan.Ibarat :
الإمــامــة الــعــظــمـى عند اهل السنة والجماعة ، ص : 502، مــا نــصـــه :ذَهَـــبَ غَــالِــبُ أهْـــلِ الــسُّــنـَّـةِ وَالــجَــمَــاعَــةِ إلَـَى أنـَّــهُ لا يَــجُــوزُ الــخُـــرُوجُ عَــلـَـى أئِــمَّــةِ الــظُّـلْــمِ وَالــجَــوْرِ بِــالــسَّــيْــفِ مَــا لـَـمْ يَـصِــلْ بِــهِــمْ ظُــلـْـمُــهُــمْ وَجَـــوْرُهـُـمْ إلـَى الـكـُـفْــرِ البـَـوَاحِ أوْ تـَـرْكِ الــصَّــلاةِ وَالــدَّعـْـــوَةِ إلـَـيــهَــا أوْ قِــيـَـادَةِ الأُمـَّـةِ بِــغـَـيْــرِ كِــتـَـابِ اللهِ تـَــعــالـَى كـَـمـَـا نـَـصَّــتْ عَــلَــيــهـَـا الأحَــادِيــثُ الــسَّــابِـــقـَـةُ فَِــي أسْــبَــابِ الــعَـــزْلِِ
Terjemah :Mayoritas golongan ahlussunnah wal jama’ah berpendapat bahwa tidak diperbolehkan membangkang terhadap pemimpin-pemimpin yang dhalim dan menyeleweng dengan jalan memerangi selama kedhaliman dan penyelewengannya tidak sampai kepada kekufuran yang jelas atau meninggalkan shalat dan da’wah kepadanya atau memimpin umat tanpa berdasarkan kitab Allah sebagaimana dijelaskan oleh hadits-hadits yang sudah lalu dalam menerangkan sebab-sebab pemecatan imam.
التشريع الجنائ الاسلامى جز 2 ص :677 , ف : الشيخ عبد القادر عودة , ط : مؤسسة الرسالة ومع ان العدالة شرط من شروط الامامة الا ان الرأي الراجح في المذاهب الاربعة ومذهب الشيعة الزيدية هو تحريم الخروج على الامام الفاسق الفاجر ولو كان الخروج للامر بالمعروف والنهي عن المنكر لان الخروج على الامام يؤدي عادة الى ماهو انكر مما فيه وبهذا يمتنع النهي عن المنكر لان مشروطه لايؤدي الانكار الى ماهو انكر من ذلك الى الفتن وسفك الدماء وبث الفساد واضطراب البلاد واضلال العباد وتوهين الامن وهدم النظام
Terjemah :Memang sikap adil merupakan salah satu syarat-syarat menjadi imam / pemimpin, hanya saja pendapat yang rajih (unggul) dalam kalangan madzhab empat dan madzhab Syi’ah Zaidiyyah mengharamkan bertindak makar terhadap imam yang fasik lagi curang walaupun makar itu dengan dalih amar ma’ruf nahi munkar. Karena makar kepada imam biasanya akan mendatangkan suatu keadaan yang lebih munkar dari pada keadaan sekarang. Dan sebab alasan ini maka tidak diperbolehkan mencegah kemungkaran, karena persyaratan mencegah kemungkaran harus tidak mendatangkan fitnah, pembunuhan, meluasnya kerusakan, kekacauan negara, tersesatnya rakyat, lemah keamanan dan rusaknya stabilitas.
(3) Adakah perintah jihad melawan WNA yang tinggal di Indonesia dalam jangka waktu lama/sementara dengan alasan negara asal mereka mengintimidasi umat Islam ?
Jawaban : Bila yang dimaksud jihad adalah qital (memerangi) maka tidak ada perintah untuk jihad dan bahkan ada kewajiban atas kita untuk berupaya menciptakan rasa aman bagi mereka.Ibarat :
قــرة الـعـيـــن للــعــلامــة الـشـيــخ مـحــمــد سـلـيـمــان الــكــردي الــمــدني الـشــافــعــي ص : 208-209 ، مــا نــصـــه :اَلـَّـذِيْ يَــظْــهَــرُ لِلْـفَـقِــيْــرِ أَنَّــهُــمْ حَــيْــثُ دَخَــلُــوْا بَــلَــدَنـَـا لِلـتـِّـجـَـارَةِ مُـعْـتـَمِــدِيـْـنَ عَــلَـى الْـعَـادَةِ الْـمُـطَّــرِدَةِ مِــنْ مَــنْــعِ الـسُّــلْـطَـانِ مِــنْ ظُــلْـمِــهِــمْ وَأَخْـــذِ أَمْــوَالِــهِــمْ وَقـَـتـْـلِ نُــفُــوْسِــهِــمْ وَظَـنُّـــوْا أَنَّ ذَلِــكَ عَــقـْـدَ أَمَــانٍ صَــحِــيْــحٍ لاَ يـَـجُـــوْزُ إِغْــتِــيـَـالـُـهُــمْ ، بَــلْ يَــجِــبُ تـَـبْــلِــيْـغـُـهُـــمُ ألْـمَـأْمَــنَ … لأَِنَّ الـسُّـلْـطَــانَ فِـيْــهَــا جـَــرَتْ عَـــادَتـُــهُ بِــالــذَّبِّ عَــنْــهُــمْ، وَهُـــوَ عَــيْــنُ الأَمـَـانِ .
Terjemah :Apa yang tampak bagi al Faqir (Syekh Muhammad Sulaiman al Kurdi) bahwa mereka (orang-orang kafir) sekiranya memasuki negara kita (umat Islam) untuk berbisnis dengan berpedoman pada adat yang berlaku yaitu larangan pemerintah menganiaya mereka, merampas hartanya, membunuh jiwanya dan mereka menduga bahwa hal yang demikian itu merupakan bentuk jaminan keamanan yang sah, maka tidak diperbolehkan menyerang mereka bahkan wajin berupaya menciptakan rasa aman pada mereka …. Karena adat kebiasaan pemerintah sudah berlaku melindungi mereka dan itulah hakikat jaminan keamanan.
(4) Layakkah senjata organik TNI/Kepolisian RI distatuskan sebagai harta fa’i dan boleh dilucuti dalam kerangka jihad ?
Jawaban :
Tidak layak menjadi harta faik (rampasan), karena tidak memenuhi ktreteria sebagai harta fai’.Ibarat :
اسعاد الرفيق جز 1 ص : 66 الفَيْءُ فِى اللُّغَةِ الرُّجُوعُ وَاصْطِلاحًا هُوَ المَالُ الَّذِي يُؤْخَذُ مِنَ الحَرْبِيِّينَ مِنْ غَيْرِ قِتَالٍ اي بِطَرِيقِ الصُّلْحِ كَالجِزْيَةِ وَالخَرَاجِ
Terjemah :Fai’ menurut bahasa berati kembali dan menurut istilah adalah harta yang diambil dari orang-orang kafir harby (musuh) dengan tanpa melalui peperangan yakni denagn jalan damai seperti jizyah dan penghasilan.
الــبـيــان فــي فــقــه الإمــام الــشــافــعــي . ج : 12 ، ص : 187، ف : العمرانى مــا نــصـــه :الــفــيء هــو الــمــال الــذي يــأخــذه الـمـسـلـمــون مــن الــكــفــار بــغــيــر قــتــال ، ســمـي بــذلــك لأنـــه يــرجــع مــن الـمــشــركــيــن إلـى الـمـسـلـمـيــن – الى ان قال- والــفـيء يــنــقــســم قــســمــيــن : أحــدهــمــا أن يــتــخــلـى الــكــفــار عــن أوطــانــهــم خــوفــا مــن الـمـسـلـمـيــن ويـتـــركــوا فــيــهــا أمــوالا فــيــأخــذهــا الـمـسـلـمـــون، أو يــبــذلــوا أمــوالا للـكــف عــنــهــم ، فــهـــذا يــخــمــس ويـــصــرف خــمــســه إلـى مــن يــصــرف إلــيــه خــمــس الــغــنــيــمــة عــلــى مــا مــضى . والـــثــانـي : الــجــزيــة الـتــي تـــؤخــذ مــن أهــل الــذمــة وعـــشــور تــجــارة أهــل الــحــرب إذا دخــلــوا دار الإســلام ومــال مــن مــات مــنــهـــم فـي دار الإســلام ولا وارث لـــه ، ومــال مــن مــات أو قــتــل عــلــى الــردة.
Terjemah :Fai’ adalah harta yang diambil oleh kaum muslimin tidak dengan jalan perang. Dinamakan fai’ karena harta itu kembali dari orang-orang musyrik kepada kaum muslimin –sampai perkataan muallif- Fai’ ada dua bagian yaitu : (1) terjadi ketika orang-orang kafir mengosongkan tempat-tempat tinggal mereka karena takut terhadap kaum muslimin dan mereka meninggalkan hartanya lalu kaum muslimin mengambilnya atau mereka menyerahkan hartanya agar mereka mendapatkan perlindungan. Harta ini dibagi lima bagian dan yang seperlima ditasarufkan kepada orang-orang yang mendapat seperlima bagian dari harta rampasan perang sesuai keterang terdahulu. (2) jizyah (upeti) yang dipungut dari golongan kafir ahli dzimmah, sepersepuluh dari perdagangan golongan kafir harby apabila mereka masuk negara Islam, harta orang kafir yang mati dinegara Islam sementara mereka tidak mempunyai ahli waris dan harta orang yang mati atau dibunuh dalam keadaan murtad.
(5) Wajibkah diupayakan terbentuk pemerintahan internasional berasas Islam dengan sistem kepemimpinan khalifah dan negara-negara yang berpenduduk muslim diberlakukan sebagai negara federal (manthiqi) pada masa sekarang?
Jawaban :
Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama :

Tidak boleh terjadi lebih dari satu pemimpin (imam) bahkan hanya ada satu pemimpin untuk seluruh dunia. Pada pendapat pertama ini masih terjadi perbedaan lagi, yaitu :
·Tidak memperbolehkan secara mutlak, baik adanya wilayah kedaulatan Islam semakin meluas maupun tidak.
·Tidak memperbolehkan jika memang tidak terdapat halangan untuk bersatu atas seorang pemimpin (imam). Jadi jika terdapat halangan seperti makin meluasnya kawasan yang dihuni umat Islam yang tidak hanya satu pulau saja bahkan sampai pada pulau yang berbeda-beda yang tentu akan semakin jauh dari pengawasan imam, maka dalam kondisi seperti ini diperbolehkan membentuk pemimpin (imam) lebih dari satu orang.

Memperbolehkan adanya lebih dari satu pemimpin (imam) secara mutlak. Ibarat :
الإمــامــة الــعــظــمـى عند اهل السنة والجماعة ، ص : 551-561، ط : دار الفكر , مــا نــصـــه :وَمِــنْ خِـــلالِ هَــذِهِ الــدِّرَاسَــةِ إتـَّـضَــحَ أنَّ فِـي الـمَـسْـئَـلَــةِ مَــذْهَــبَــيْــنِ : الـمَــذْهَــبُ الأوَّلُ ، وَهُــوَ مَــذْهَــبُ جَــمَــاهِــيْــرِ الـمُـسْـلِـمِـيْــنَ مِـنْ أهْــلِ الــسُّــنـَّـةِ وَالـجَـمَـاعَــةِ وَغَــيْــرِهِــمْ قـَـدِ يــمًـا وَحـَـدِيـْـثـًـا، وَهُـــوَ أنـَّـهُ لاَيَــجُــوْزُ تـَـعَـــدُّدُ الأئِـمَّــةِ فِـي زَمـَـانِ وَاحِــدٍ وَفِـي مَــكَـانٍ وَاحِــدٍ . قـَـالَ الـمَـاوَرْدِي : إذَا عُــقِــدَتْ الإمَــامَــةُ لإمَامَــيْــنِ فِـي بَــلَــدَيْــنِ لـَـمْ تـَـنْــعَــقِــدْ إمَــامَـتـُـهـُـمَـا ِلأنـَّــهُ لاَ يَــجُــوزُ أنْ يَــكُــونَ لِلأمَّـــةِ إمَـامَـانِ فِـي وَقـْـتٍ وَاحِــدٍ وَإنْ شَــذَّ قـَــوْمٌ فَــجَـــوَّزُوْهُ . وَقـَـالَ الـنـَّـوَوِيُّ : إتـَّـفَــقَ الــعُــلَــمَــاءُ عَــلـَى أنـَّـهُ لاَ يَــجُــوزُ أنْ يُــعْــقـَـدَ لِــخَـلِـيْـفَـتَـيْــنِ فِــي عَــصْــرٍ وَاحِــدٍ، وَهَـــؤُلاَءِ الـقـَـائِــلُــونَ بـِـالـمَــنْــعِ عـَـلـَى مَــذْهَــبَــيْــنِ : قـَــوْمٌ قـَـالـُـوا بِــالــمَــنْــعِ مـُـطْــلَــقـًـا سَــوَاءٌ إتـَّـسَــعَــتْ رَقـْـعَــةُ الــدَّوْلـَـةِ الإسْــلاَمِــيَّــةِ أمْ لاَ ، وَإلـَى هـَــذَا الــقـَـوْلِ ذَهَــبَ أكْــثـَـرُ أهْــلِ الـسُّـنـَّـةِ وَالـجَـمَـاعَــةِ وَبَــعْــضُ الـمُـعْــتـَـزِلـَـةِ حَــتـَّى زَعَــمَ ألــنَّــوَوِيُّ إتـِّـفـَـاقَ الـعُــلَــمَــاءِ عَــلَــيْــهِ وَهـُـنَــاكَ مَــنْ قـَـالَ بِــالــمَــنْــعِ إلاَّ أنْ يَــكُــوْنَ هُــنَــاكَ سَــبَــبٌ مَــانِــعٌ مِــنَ الإِتـِّـحـَـادِ عَــلَـى إمَــامٍ وَاحِــدٍ وَيَــقـْـتـَـضِـي هَــذَا الــسَّــبَــبُ الــتـَّـعَــدُّدَ . وَفِـي هَــذِهِ الــحَـالَــةِ يَــجُــوْزُ الـتـَّعَــدُّدُ وَذَكـَـرَ إمَــامُ الــحَــرَمَــيْــنِ الــجُــوَيْــنِـيُّ أَهَــمُّ هَــذِهِ الأسْــبَــابِ فِـي (قَــوْلـِـهِِ مِــنْــهَـا إِتـِّـسَــاعُ الـخِــطَّـةِ وَانْـسِــحَــابِ ألإسْــلاَمِ عَــلـَى أقـْـطَــارٍ مُــتـَـبَــايـِـنَــةٍ وَجَــزَائِــرَ فِـي لـُـجَــجٍ مُــتـَـقـَـاذِفـَـةٍ . وَقـَـدْ يَــقـَـعُ قـَـوْمٌ مِــنَ الـنـَّـاسِ نـُـبْــذَةً مِــنَ الــدُّنـْـيـَا لاَ يَـنْــتـَـهِـي إلـَـيْــهـِـمْ نَــظَــرُ الإمَــامُ وَقـَـدْ يَــتـَـوَلـَّـجُ خَــطُّ مِــنْ دِيـَـارِ الــكـُـفـْـرِ بَــيْــنَ خِــطَّــةِ الإسْــلاَمِ وَيَــنْـقـَـطِــعُ بِــسَـبَــبِ ذَلـِـكَ نَــظَــرُ الإمَـامِ عَــنِ الـَّـذِيــنَ وَرَاءَهُ مِــنَ الـمُـسْـلِـمِـيــنَ . قـَـالَ : فَــإذَا اتـَّـفَــقَ مَـاذَكـَـرْنَــاهُ فَــقـَـدْ صَــارَ صَــائِــرُونَ عِــنْــدَ ذَلِــكَ إِلـَـى تـَـجْــوِيــزِ نَـصْــبِ الإمَــامِ فِـي الــقـُـطْــرِ الـَّـذِي لاَ يَـبْـلـُـغُــهُ اَثـَـرُ نـَـظَــرِ الإمَــامِ . وَعَـــزَا الــجُــوَيْـنِـيُّ هـَـذَا الــقـَـوْلَ إلَـى شَــيْــخِــهِ أبِـي الـحَـسَــنِ الأشْــعَـــرِيِّ وَالأسْــتـَـاذِ أبِـي إسْــحَــاقَ الإسْــفِــرَايِـيْـنِيِّ وَهُــوَ وَجْــهٌ لِـبَـعْــضِ أصْــحَـابِ الـشَّــافِــعِــيِّ وَرَجَّــحَــهُ أبُـو مَــنْـصُــوْرُ الـبَـغْــدَادِيُّ ، وَإلـَى ذَلِـكَ ذَهَــبَ الــقـُـرْطُـبِـيُّ فِـي تـَـفْــسِـيْـرِهِ فَــقـَـالَ : لـَـكِــنْ إذَا تـَـبـَـاعَــدَتِ الأقـْـطَــارُ وَتـَـبـَـايَــنَــتْ كـَالأنْــدَلـُـسِ وَ خُــرَسـَـانَ جَــازَ ذَلِــكَ ، لـَـكِــنْ يـُـلاَحَــظُ مِــنْ أقـْـوَالِ الـمُـجِـيْـزِيـْـنَ عِــنْــدَ اتـِّـسَــاعِ الــرِّقـْـعَــةِ إنـَّـمـَا ذَلِــكَ بِـسَـبَـبِ الــضَّــرُورَةِ ، وَإلاَّ فَــإنَّ وَحْــدَة َالإمَــامَــةِ هِــيَ الأصْــلُ ، وَإنَّ الـتـَّـعَــدُّدَ إنـَّـمَــا أُبِــيْــحَ عَــلـَى سَـبِـيــلِ الإسْـتِـثـْـنـَـاءِ الـمَـحْـضِ وَلِــضَــرُورَاتٍ تـُـجِــيْــزُهُ ، وَالــضَّــرُورَةُ تـُـقـَـدَّرُ بـِـقـَـدْرِهـَـا وَإذَا زَالـَـتِ الــضَّــرُورَةُ زَالَ حُــكْــمُــهَـا وَبَــقِـيَ الأصْــلُ . الــمَــذْهـَـبُ الــثـَّـانِـي الــقـَـائِــلـُـونَ بِــجَــوَازِ الــتـَّـعـَـدُّدِ مُـطْــلـَـقـًـا ، وَإلـَى ذَلِــكَ ذَهـَـبَ بـَـعـْـضُ الـمُـعْـتـَـزِلـَـةُ كـَالـجـَاحِــظِ وَبَـعْــضُ الــكَــرَامِــيـَّـةِ وَعَــلَـى رَأسِــهِـــمْ مُـحَـمَّــدُ بْــنُ كـَـرَامٍ الـسَـجَــسْـتـَـانِيُّ الـَّـذِي يَــنْــتَـسِـبـُـونَ إلـَـيـْـهِ ، وَكـَـذلِــكَ أبُـو الـصَّــبـَـاحِ الـسَـمَــرْقـَـنـْـدِيُّ .
Khulasoh :Tentang boleh tidaknya imam lebih dari satu orang terdapat dua madzhab dikalangan para ulama’ : Madzhab mayoritas umat Islam dari golongan ahlussunnah wal jama’ah dan yang lain dimasa lalu dan sekarang, bahwa tidak diperbolehkan adanya pemimpin berbilangan dalam satu masa tempat. Madzhab pertama ini terpecah menjadi dua sub madzhab
(1) tidak memperbolehkan secara mutlak. Pendapat ini disampaikan oleh al Mawardi, an Nawawi, kebanyakan kalangan ahlussunnah wal jama’ah dan sebagain golongan mu’tazilah, dan
(2) tidak memperbolehkan terjadi lebih dari dari satu imam, kan tetapi dalam realitanya yang demikian itu tidak memungkinkan karena beberapa sebab yang menuntut adanya imam lebih dari satu orang.
Sebab-sebab itu antara lain semakin meluasnya daerah Islam, tersebarnya agama Islam sampai pada kawasan yang berbeda-beda dan pulau-pulau yang berjauhan sampai bahkan terpisahkan oleh negara kafir serta terputusnya jangkauan pantauan imam. Menurut pendapat kedua ini pada dasarnya imam itu harus satu, tetapi karena realita menuntut adanya imam lebih satu maka bolehlah hal itu dilakukan sebatas yang diperlukan. Pendapat ini disampaikan antara lain Imam Haramain, Abu Hasan al Asya’ari, Abu Ishaq al Isfirayini, Abu Manshur al Baghdadi dan al Qurthubi. Madzhab golongan yang memperbolehkan lebih dari stu imam secara mutlak. Pendapat ini didukung oleh sebagian kelompok mu’tazilah, sebagian kelompok Karamiyyah dan juga Abu Shabah as Samarqandi
.السيل الجرار جز 4 ص : 512 ف : الشيخ محمد بن على بن محمد الشوكانى واما بعد انتشار الاسلام واتساع رقعته وتباعد اطرافه فمعلوم انه قد صار لكل قطر او اقطار الولاية الى امام او سلطان وفى القطر الاخر او الاقطار كذلك ولاينفذ لبعضهم امر ولانهي في القطر الاخر واقطاره التى رجعت الى ولايته فلا بأس بتعدد الائمة واسلاطين ويجب الطاعة لكل واحد منهم بعد البيعة له على اهل القطر الذي ينقذ فيه اوامره ونواهيه وكذلك صاحب القطر الاخر فاذا قام من ينازعه فى القطر الذي قد ثبتت فيه ولايته وبايعه اهله كان الحكم فيه ان يقتل اذا لم يتب ولايجب على اهل القطر الاخر طاعته ولاالدخول تحت ولايته لتباعد الاقطار وانه قد لايبلغ الى ما تباعد منها خبر امامها او سلطانها ولا يدرى من قام منهم او مات فالتكليف بالطاعة والحال هذه تكليف بما لايطاق وهذا معلوم لكل من له اطلاع على احوال العباد والبلاد فان اهل الصين والهند لايدرون بمن له الولاية فى ارض المغرب فضلا عن ان يتمكنوا من طاعته وهكذا العكس وكذلك اهل ما وراء النهر لايدرون بمن له الولاية في اليمن وهكذا العكس فاعرف هذا فانه المناسب للقواعد الشرعية والمطابق لما تدل عليه الادلة ودع عنك ما يقال فى مخالفته فان الفرق بين ما كانت عليه الولاية الاسلامية فى اول الاسلام وما هي عليه الآن اوضح من شمس النهار ومن انكر هذا فهو مباهت لايستحق ان يخاطب بالحجة لانه لايعقل
Khulasoh : Tersebarnya agama Islam, meluasnya kawasan Islam dan semakin jauhnya jarak daerah-daerah Islam menuntut adanya seorang imam/pemimpin disetiap kawasan. Konsekwensinya setiap umat Islam dikawasan itu berkewajiban menta’ati pemimpinnya dan siapa saja yang menentangnya layak dihukum bunuh jika ia tidak bertaubat. Keharusan umat Islam sedunia hanya dipimpin oleh seorang imam/khalifah adalah tuntutan yang tak mungkin direalisasikan mengingat lasan-alasan diatas. Realita yang seperti inilah yang sesuai dengan kaidah-kaidah syar’iyyah, berbeda halnya dengan wilayah kekuasaan Islam pada masa awal perkembangannya. Jadi barang siapa mengingkari kenyataan yang jelas-jelas berbeda dengan keadaan masa lalu, inilah orang yang tak pantas lagi diajak bicara dengan argumen-argumen karena dia itu tidak berakal.
(6) Apakah terhadap warga negara Indonesia yang menganut keyakinan / agama lain harus diposisikan sebagai musuh atau lawan dalam mengimplementasikan konsep jihad ?
Jawaban :
Kita tidak diperkanankan memposisikan warga negara non muslim sebagai musuh yang boleh kita perangi, akan tetapi malah kita berkewajiban untuk mengupayakan mereka tetap merasa aman hidup berdampingan dengan kita.Ibarat :
فـي قــرة الـعـيـــن للــعــلامــة الـشـيــخ مـحــمــد سـلـيـمــان الــكــردي الــمــدني الـشــافــعــي ص : 208-209 ، مــا نــصـــه :اَلـَّـذِيْ يَــظْــهَــرُ لِلْـفَـقِــيْــرِ أَنَّــهُــمْ حَــيْــثُ دَخَــلُــوْا بَــلَــدَنـَـا لِلـتـِّـجـَـارَةِ مُـعْـتـَمِــدِيـْـنَ عَــلَـى الْـعَـادَةِ الْـمُـطَّــرِدَةِ مِــنْ مَــنْــعِ الـسُّــلْـطَـانِ مِــنْ ظُــلْـمِــهِــمْ وَأَخْـــذِ أَمْــوَالِــهِــمْ وَقـَـتـْـلِ نُــفُــوْسِــهِــمْ وَظَـنُّـــوْا أَنَّ ذَلِــكَ عَــقـْـدَ أَمَــانٍ صَــحِــيْــحٍ لاَ يـَـجُـــوْزُ إِغْــتِــيـَـالـُـهُــمْ ، بَــلْ يَــجِــبُ تـَـبْــلِــيْـغـُـهُـــمُ ألْـمَـأْمَــنَ … لأَِنَّ الـسُّـلْـطَــانَ فِـيْــهَــا جـَــرَتْ عَـــادَتـُــهُ بِــالــذَّبِّ عَــنْــهُــمْ، وَهُـــوَ عَــيْــنُ الأَمـَـانِ .
Terjemah : Apa yang tampak bagi al Faqir (Syekh Muhammad Sulaiman al Kurdi) bahwa mereka (orang-orang kafir) sekiranya memasuki negara kita (umat Islam) untuk berbisnis dengan berpedoman pada adat yang berlaku yaitu larangan pemerintah menganiaya mereka, merampas hartanya, membunuh jiwanya dan mereka menduga bahwa hal yang demikian itu merupakan bentuk jaminan keamanan yang sah, maka tidak diperbolehkan menyerang mereka bahkan wajib berupaya menciptakan rasa aman pada mereka. Karena adalah merupakan kewajiban bagi pemerintah melindungi mereka dan itulah hakikat jaminan keamanan.

MENILIK JIHAD ATAU PERANG? IRAN VS AMERIKA DAN INDONESIA VS CHINA

Jihad menurut bahasa : mencurahkan segala kemampuan guna mencapai tujuan apapun.
Menurut istilah syari’at Islam : mencurahkan segala kemampuan dalam upaya menegakkan masyarakat Islami dan agar kalimat Allah (kalimah tauhid dan dinul Islam) menjadi mulia, serta agar syari’at Allah dapat dilaksanakan di seluruh penjuru dunia.

Adapun istilah jihad dalam pengertian perang melawan kaum kuffar baru diperintahkan oleh Allah sesudah Rasulullah saw hijrah ke Madinah, sementara perintah jihad pada ayat-ayat makkiyah tertuju pada selain perang.

الـفـقــه الـمـنـهـجـي عــلــى مــذهــب الإمــام الـشــافــعـي مجلد : 3 ص : 475، ف : دكتور مصطفى الخن, دكتور مصطفى البغا, على الشريجى , ط : دار القلم, دار الشامية دمشق, 1416 – 1996

معــنى الـجــهــاد :
الـجِـهَــادُ فِي اللّـُغَــةِ مَــصْــدَرُ جَــاهَـــدَ، اَيْ بَـــذَلَ جُــهْــدًا فِي سَـبِــيْـلِ الْــوُصُــوْلِ إِلىَ غَـايَــةٍ مَـا.
وَالْـجِـهَـادُ فِي اصْـطِــلاَحِ الـشَّــرِيْــعَــةِ ألإِسْــلاَمِـيَّــةِ : بَــذْلُ الْــجُــهْــدِ فِـي سَــبِـيْـلِ إِقـَـامَــةِ الْـمُـجْـتـَمَــعِ الإِْسْــلاَمِـيِّ ، وَأَنْ تـَـكُــوْنَ كـَـلِــمَـةُ اللهِ هِــيَ الْـعُـلْـيَـا ، وَأَنْ تـَـسْــوَدَّ شَــرِيـْـعَــةُ اللهِ فِىالْــعَـالَــمِ كُــلِّــهِ .

Kata jihad yang merupakan bentuK masdar (kata dasar) dari kata kerja jaa-ha-da dalam pengertian bahasa adalah mencurahkan kesungguhan dalam mencapai tujuan apapun.
Kata jihad dalam istilah syariat Islam adalah mencurahkan kesungguhan dalam upaya menegakkan masyarakat yang Islami dan agar kalimah Allah (ajaran tauhid dinul Islam) menjadi mulia serta syari’at Allah dapat dilaksanakan diseluruh penjuru dunia.

الـــفــقــه الإســلامـي و أدلــتـــه ، ج : 8 ، ص : 5846

وَأَنْـسَـبُ تـَـعْــرِيـْـفٍ لِلْـجِــهَــادِ شَــرْعـًـا أَنـَّـــهُ بَــذْلُ الْــوُسْــعِ وَالـَّطـاقـَـةِ فِـي قـَـتـْـلِ الْـكُــفَّــارِ وَمُــدَ ا فـَعَتِـهِــمْ بِـِالـنَّـفْــسِ وَالْـمَـالِ وَاللِّـسَــانِ

Batasan jihad yang paling sesuai menurut istilah syari’at Islam mencurahkan kemampuan dan kekuatan guna memerangi dan menghadapi orang-orang kafir dengan jiwa, harta dan orasi.

تفسير القرطبي ج: 3 ص: 38 ف : محمد بت أحمد بت أبى بكر بن فرح القرطبى ابو عبد الله ط : دار الشعب قاهرة 1372

وَلَمْ يُؤْذَنْ لِلنَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْقِتَالِ مُدَّةَ إِقـَامَتِهِ بِمَكَّةَ فَلَمَّا هَاجَرَ أُذِنَ لَهُ فِي قِتـَالِ مَنْ يُقَاتِلُهُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ فَقَالَ تَعَالَى أُذِنَ لِلَّذِيْنَ يُقَاتَلُوْنَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوْا ثُمَّ أُذِنَ لَهُ فِي قِتَالِ الْمُشْرِكِيْنَ عَامَّةً

Nabi Muhammad saw tidak diizinkan berperang selama beliau menetap tinggal di Makkah, lalu ketika beliau berhijrah barulah diizinkan memerangi (melawan) orang-orang musyrik yang (memulai) memerangi beliau. Allah berfirma (artinya) : “Diizinkan(berperang) bagi orang-orang yang diperangi, sebab sesungguhnya mereka itu dianiaya” (al Hajj : 39). Kemudian Allah swt memberi izin kepada Nabi saw memerangi orang-orang musyrik secara umum.
أحكام القرآن للشافعي ج: 2 ص: 13- 14 ف : محمد بن ادريس الشافعى ابو عبد الله ط : دارالكتب العلمية بيروت 1400

قال الشافعي رحمه الله فأذن لهم بأحد الجهادين بالهجرة قبل أن يؤذن لهم بأن يبتدئوا مشركا بقتال ثم أذن لهم بأن يبتدئوا المشركين بقتال قال الله عز وجل أذن للذين يقاتلون بأنهم ظلموا وإن الله على نصرهم لقدير وأباح لهم القتال بمعنى أبانه في كتابه فقال وقاتلوا في سبيل الله الذين يقاتلونكم ولا تعتدوا

Imam Syafi’i ra berkata : Allah memberi izin kepada umat Islam dengan salah satu dua jihad yaitu hijrah sebelum mengizini umat Islam memulai perang melawan orang musyrik, kemudian Allah memberi izin memulai berperang melawan orang-orang musyrik. Allah berfirma (artinya) : “Di izinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, sebab sesungguhnya mereka itu dianiaya, dan sesungguhnya Allah benar-benar menolong mereka”. Kemudian Allah memperbolehkan umat berperang dengan arti Allah menerangkan dalam kitabNya seraya berfirman (artinya) : ”Berperanglah kalian dijalan Allah melawan orang-orang yang memerangi kalian dan jangan melampaui batas”.

الـفـقــه الـمـنـهـجـي عــلــى مــذهــب الإمــام الـشــافــعـي مجلد : 3 ص : 119، ف : دكتور مصطفى الخن, دكتور مصطفى البغا, على الشريجى , ط : دار القلم, دار الشامية دمشق, 1416 – 1996

اقام رسول الله فى مكة ثلاثة عشر عاما يدعو الى الله سلما لايقابل العدوان بمثله فلما هاجر عليه الصلاة والسلام الى المدينة شرع الله المرحلة الاولى من مراحل الجهاد وهي التصدى لرد عدوان المعتد ين اي القتال الدفاعى ونزل في تشريع ذلك قوله تعالى أذن للذين يقاتلون بأنهم ظلموا – الاية (الحج : 39) وقوله تعالى وقاتلوا في سبيل الله الذين يقاتلونكم ولا تعتدوا – (البقرة : 190) ثم شرع الله تبارك وتعالى لنبيه جهاد المشركين ابتداء بالقتال ثم شرع الله تعالى بعد ذلك القتال جهادا من غير تقيد بشرط زمان ولامكان

Rasulullah saw tinggal di Makkah selama 13 tahun berda’wah secara damai dan tidak membalas permusuhan dengan sesamanya. Lalu ketika beliau berhijrah ke Madinah barulah Allah mensyariatkan tahapan pertama dari tahapan-tahapan jihad yaitu mengadakanperlawanan guna menangkal serang musuh yang menyerbu. Firman Allah tentang perang ini adalah (artinya) : “Di izinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, sebab sesungguhnya mereka itu dianiaya”.(al Hajj : 39) ”Berperanglah kalian dijalan Allah melawan orang-orang yang memerangi kalian dan jangan melampaui batas”.(al Baqarah :190) Kemudian Allah swt mensyariatkan berjihad melawan orang-orang musyrik dengan memulai penyerbuan, kemudian sesudah itu Allah mensyariatkan berjihad tanpa terikat oleh syarat masa dan tempat.

Berdasarkan pengertian jihad diatas, maka amaliyah nyata yang dapat mengekpresikan tuntutan berjihad adalah :

Menunjukkan masyarakat kepada ajaran tauhid dan ajaran Islam, melalui penyelenggaraan pendidikan, diskusi, dan meluruskan pemikiran-pemikiran keagamaan yang dapat mengaburkan kemurnian aqidah umat Islam.

Membelanjakan harta untuk menjamin stabilitas keamanan kaum muslimin dalam uapaya membangun masyarakat Islami yang kuat.

Perang defensif (الـقــتــال الــد فــاعـي), yaitu berperang demi mempertahankan diri dari serangan musuh.

Perang offensif (الــقــتــال الـهـجـــومـي), yaitu memulai peperangan melawan musuh.

Mobilisasi perang secara umum ( حــالــة الـنــفــيــر الــعــا م)
Tiga bentuk jihad yang terakhir ini, jika memang situasi menuntutnya serta imam sudah menginstruksikan untuk berperang.

الـــفــقــه الإســلامـي و أدلــتـــه ، ج : 8 ، ص : 5846

فـَالْـجِـهَــادُ يَـكُــوْنُ بـِالـتَّـعْـلِـيْــمِ وَتـَـعَــلُّـــمِ أَحْــكـَـامِ الإِْسْــلاَمِ وَنَــشْــرِهـَـا بَـيْـنَ الــنَّــاسِ وَبِـبَــذْلِ الْــمَـالِ وَبـِالْـمُـشَــارَكـَـةِ فِـي قِــتـَـالِ الأَعْـــدَاءِ إِذَا أَعْــلَــنَ الإِمَــامُ الْـجِـهَــادَ ، لِـقـَـوْلـِـهِ تـَـعـَـالَـى : ” جـَـاهِــدُوا الْـمُـشْــرِكِـيْــنَ بِـأَمْــوَالِــكُــمْ وَ اَنْـفُـسِــكُــمْ وَأَلْـسِــنَــتِــكُـــمْ ” .

Jadi jihad bisa dilakukan dengan cara mengajar, mempelajari hukum-hukum Islam dan menyebarluaskannya, membelanjakan harta dan berpartisipasi berperang menghadapi musuh apabila imam / pimpinan telah meninstruksikan jihad (perang), karena berdasar firman Allah swt (artinya) : “Perangilah orang-orang musyrik dengan harta kalian, jiwa kalian dan lesan kalian”.

الـفـقــه الـمـنـهـجـي عــلــى مــذهــب الإمــام الـشــافــعـي مجلد : 3 ص : 475، ف : دكتور مصطفى الخن, دكتور مصطفى البغا, على الشريجى , ط : دار القلم, دار الشامية دمشق, 1416 – 1996

مِنَ الــتـَّـعْــرِيْــفِ الَّـذِيْ ذَكـَـرْنـَـاهُ لِلْـجِـهَــادِ ، يـَـتـَّضِـحُ أَنَّ الْـجِـهَــادَ أَنْــوَاعٌ مِــنْــهَـا :
الـْـجِــهـَـادُ بِالـتـَّعْـلِــيْـمِ، وَنـَـشْــرِ الْــوَعْــيِ ألإِسْــلاَمِـيِّ ، وَرَدِّ الـشُّـبَـهِ الْـفِــكْــرِيـَّـةِ الـَّتـِي تـَعْـتـَـرِضُ سَـبِـيْـلَ الإِيْـمـَـانِ بِــهِ ، وَتـَـفـَهُّــمَ حَــقـَـائِــقِــهِ .
الْـجِـهـَـادُ بِـبَـــذْلِ الْـمَــالِ لِــتـَـأْمِــيْــنِ مَـا يَـحْـتـَـاجُ إِلـَـيْــهِ الْـمُـسْـلِـمُــوْنَ فِي إِقـَـامَــةِ مُـجْـتـَـمَـعِــهِــمُ الإِسـْـلاَمِـيِّ الْـمَـنْـشُــوْدِ .
الْـقِــتـَـالُ الــدِّفـَـاعِـيُّ : وَهـُــوَ الـَّـذِيْ يَـتـَـصَــدَّى بـِـهِ الْـمُـسْـلِـمُــوْنَ لِـمَــنْ يُــرِيـْـدُ أَنْ يَــنـَـالَ مِــنْ شَــأْنِ الْـمُـسْـلِـمِـيْـنَ فِـي دِيْــنِــهِــمْ .
الْــقِــتـَـالُ الْـهُـجُـــوْمِـيِّ : وَهُــوَ الـَّـذِيْ يـَـبْــدَؤُهُ الْـمُـسْـلِـمُــوْنَ عِــنْــدَ مـَا يَـتـَجَــهَّـــوْنَ بِـالــدَّعْــوَةِ الإِسْــلاَمِــيَّــةِ إِلَـى الأُمَـــمِ ألأُخْــرَى فِي بـِــلاَدِهـَـا ، فَـيَــصُــدُّهُــمْ حُــكـَّـامُــهـَـا عـَــنْ أَنْ يُـبَـلِّــغُـــوْا بِـكـَلِـمَـةِ الْــحَــقِّ سَــمْــعَ الـنـَّـاسِ .
حَــالـَـةُ الـنَّــفِــيْــرِ الْــعـَـامِّ وَذَلِــكَ عِــنْــدَ مـَا يَــقـْـتـَـحِــمُ أَعْــدَاءُ الْـمُـسْلِـمِـيْـنَ دِيـَـارَهـُــمْ مُــعْــتـَـدِّيـْـنَ بِــذَلِــكَ عَـــلـَى دِيـْـنِــهِــمْ وَاَرْضِـــهِـــمْ وَحُــرِيـَّـةِ إِعْــتِـــقـَـادِهـِــمْ

Dari definisi yang telah kami tuturkan tentang jihad telah jelas bahwa jihad itu bermacam-macam, diantaranya :

Jihad dengan menyelenggarakan pendidikan, menyebarluaskan persatuan Islam, menangkal pemikiran-pemikiran mengkaburkan yang dapat menghalangi jalan menuju iman dan memahami hakikat iman.

Jihad dengan dengan membelanjakan harta guna memenuhi keperluan umat Islam dalam menegakkan masyarakat Islam yang dicita-citakan.

Peperangan pertahanan, yaitu peperangan yang dilakukan kaum muslimin guna menghadapi musuh yang ingin mendapatkan urusan kaum muslimin dalam bidang agamanya.

Peperangan penyerangan, yaitu peperangan yang dimulai oleh pihak kaum muslimin ketika mereka menyampaikan da’wah Islam kepada umat lain dinegaranya lalu hakim-hakim negara itu menghalangi umat Islam dari penyampaian kalimah yang benar ke telinga para manusia.

Peperangan umum, yaitu ketika musuh-musuh Islam telah memasuki daerah-daerah umat Islam dengan melancarkan serbuan kepada agama, bumi dan kemerdekaan berkeyakinan.

HUKUM JIHAD

الفقه الاسلامى وادلته : مجلد 8 ص : 5850 , ت : الدكتور وحبة الزحيلى

فَالْجِهَادُ فَرْضُ كِفَايَةٍ وَمَعْنَاهُ اَنَّهُ يُفْتـَرَضُ عَلىَ جَمِيْعِ مَنْ هُوَ اَهْلُ الْجِهَا دِ لَكِنْ اِذَا قـَامَ بِهِ الْبَعْضُ سَقـَطَ عَنِ الْبَاقِيْنَ

Jihad hukumnya fardlu kifayah, maksudnya jihad diwajibkan atas semua orang yang layak untuk berjihad. Tetapi jika sudah ada sebagian yang melaksanakannya maka gugurlah kewajiban itu dari yang lain.

كشاف القناع ج: 3 ص: 34

وَمِنْ فُرُوْضِ الْكَفَايَاتِ الأَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ

Diantara fardlu kifayah yaitu memerintahkan kebajikan dan melarang kemungkaran.

قــرة الـعـيـــن للــعــلامــة الـشـيــخ مـحــمــد سـلـيـمــان الــكــردي الــمــدني الـشــافــعــي ، ص : 208-209،

اَلـَّـذِيْ يَــظْــهَــرُ لِلْـفَـقِــيْــرِ أَنَّــهُــمْ حَــيْــثُ دَخَــلُــوْا بَــلَــدَنـَـا لِلـتـِّـجـَـارَةِ مُـعْـتـَمِــدِيـْـنَ عَــلَـى الْـعَـادَةِ الْـمُـطَّــرِدَةِ مِــنْ مَــنْــعِ الـسُّــلْـطَـانِ مِــنْ ظُــلْـمِــهِــمْ وَأَخْـــذِ أَمْــوَالِــهِــمْ وَقـَـتـْـلِ نُــفُــوْسِــهِــمْ وَظَـنُّـــوْا أَنَّ ذَلِــكَ عَــقـْـدَ أَمَــانٍ صَــحِــيْــحٍ لاَ يـَـجُـــوْزُ إِغْــتِــيـَـالـُـهُــمْ ، بَــلْ يَــجِــبُ تـَـبْــلِــيْـغـُـهُـــمُ ألْـمَـأْمَــنَ … لأَِنَّ الـسُّـلْـطَــانَ فِـيْــهَــا جـَــرَتْ عَـــادَتـُــهُ بِــالــذَّبِّ عَــنْــهُــمْ، وَهُـــوَ عَــيْــنُ الأَمـَـانِ .

Apa yang tampak bagi al Faqir (Syekh Muhammad Sulaiman al Kurdi) bahwa mereka (orang-orang kafir) sekiranya memasuki negara kita (umat Islam) untuk berbisnis dengan berpedoman pada adat yang berlaku yaitu larangan pemerintah menganiayamereka, merampas hartanya, membunuh jiwanya dan mereka menduga bahwa hal yang demikian itu merupakan bentuk jaminan keamanan yang sah, maka tidak diperbolehkan menyerang mereka bahkan wajin berupaya menciptakan rasa aman pada mereka …. Karena adat kebiasaan pemerintah sudah berlaku melindungimereka dan itulah hakikat jaminan keamanan.

WALLOHU A’LAM

KETENTUAN LIBURAN MENURUT AJARAN AGAMA ISLAM

Kalender Pendidikan Jawa Barat 2018-2019

Dalam kegiatan belajar mengajar, ada waktu libur atau istirahat sebagaimana yang baru terjadi di hari yang telah lalu, hal tersebut di sebabkan karena akhir semeseter atau juga kenaikan kelas atau juga karena hari besar lainya.bahkan dalam dunia pendidikan sudah ada ketetapan libur dalam kalendernya.

Sebenarnya Dalam dunia islam baik mengaji atau belajar apakah ada ketentuan libur sebagaimana yang terjadi sekarang ini?

Dalam kitab Bugyatul Musytarsyidin halaman 83 di terangkan :

[فائدة]:
المتجة جواز ترك التعليم يوم الجمعة، لأنه يوم عيد مأمور فيه بالتبكير والتنظيف وقطع الأوساخ والروائح الكريهة، والدعاء إلى غروب الشمس رجاء ساعة الإجابة اهـ فتاوى ابن حجر. وفي : أن عمر رضي الله عنه طالت غيبته مدة حتى اشتاق إليه أهل المدينة، فلما قدم خرجوا للقائه، فأول من سبق إليه الأطفال، فجعل لهم ترك القرآن من ظهر يوم الخميس إلى يوم السبت، ودعا على من يغير ذلك اهـ ش ق.

Ini mungkin terjadi disetiap lembaga islam baik pondok pesantren atau tempat pengajian anak-anak disetiap tempat bahwa jika hari kamis sore atau malam jum’at pengajian diliburkan, inilah bedanya dengan pendidikan formal yang libur pada hari minggu, kenapa?
Menurut pendapat yang diunggulkan,boleh berlibur pada hari jum’at, Karena hari tersebut adalah salah satu hari raya umat islam, dianjurkan tabkir (berangkat untuk sholat jum’at lebih pagi), juga melakukan bersih-bersih seperti mencukur rambut, memotong kuku dll.

Termasuk kegiatan untuk menghilangkan aroma atau bau yang tidak sedap baik pada badan atau tempat,ada juga anjuran untuk memperbanyak berdo’a sampai matahari terbenam dihari jum’at dengan harapan bertepatan dengan waktu ijabah,Demikian tertulis dalam Fatawi Ibni Hajar.

Dan dalam kitab al-I’ab di jelaskan :

Bahwa Sayyidina Umar rodhiyallohu anhu suatu ketika melakukan perjalanan waktu yang lama, sehingga penduduk madinah merasa rindu,dan ketika Sayyidina Umar tiba kembali, penduduk Madinah keluar untuk menyambut beliau, dan yang pertama menyambut beliau adalah anak-anak kecil, maka beliau meliburkan mereka untuk ta’lim belajar Al-quran mulai waktu dzuhur dihari Kamis sampai hari Sabtu.

Wallohu a’lam bis showab