PENJELASAN AL-‘ADAT AL-MUHAKKAMAH “ADAT BISA DI JADIKAN HUKUM”

Kaidah Adat Dapat Dijadikan Pijakan Hukum

اَلْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ

  1. Pengertian Kaidah

al-‘aadah (اَلعَادَة) secara bahasa diambil dari kata al-‘aud (الْعَوْدُ) atau al-mu’awadah ( الْمُعَاوَدَة) yang artinya berulang (التَكْرَار)

‘Ali Ibn Muhammad al-Jurjani mendefinisikan al-‘aadah dalam kitabnya, at-ta’rifat:

 اَلْعَادَةُ مَا إِسْتَمَرَّ النَّفْسُ عَلَيْهِ عَلَى حُكْمِ الْمَعْقُوْلِ وَعَادُوْا اِلَيْهِ مَرَّةً بَعْدَ اُخْرَى

“Al-‘aadah ialah sesuatu yang terus menerus dilakukan oleh manusia, dapat diterima oleh akal, dan manusia mengulang-ulanginya terus menerus”.

Terkadang ulama menyamakan antara al-‘adad dengan al-‘uruf dengan alasan subtansinya sama, meskipun dengan ungkapan yang berbeda, sebagaimana yang didefinisi oleh ‘Ali Ibn Muh ammad al-Jurjani al-‘uruf dibawah ini:

اَلْعُرْفُ مَاإِسْتَقَرَّت ْالنُّفُوْسُ عَلَيْهِ بِشَهَادَة ِالْعُقُوْلِ وَتَلَقَّتْه ُالطَّبَائِعُ بِالْقُبُوْلِ وَهُوَ حُجَّةٌ أَيْضًا لَكِنَّهُ أَسْرَعُ اِلَى الْفَهْمِ بَعْدَ أُخْرَى

al-‘uruf ialah suatu perkara dimana jiwa merasakan ketenangan dalam mengerjakannya karena sudah sejalan dengan logika dan dapat diterima oleh watak kemanusiannya. Maka dari itu ia dapat dijadikan sebagai Hujjah, tetapi hal ini lebih cepat dimengerti.

Dari definisi diatas dapat diambil pengertian bahwa al-‘adad dan al-‘uruf adalah dua perkara yang, memiliki arti yang sama. Secara umum adat adalah sebuah kecenderungan yang berupa pekerjaan atau ungkapan pada satu perkara tertentu. Dan masih banyak definisi lain yang ditawarkan para ulama berkenaan al-‘aadah dan al-‘uruf, namun tidak penulis nukilkan di sini dikarenakan Fuqaha tidak membedakan anatara dua istilah tersebut, termasuk dalam mengkaji kaedah ini. Kemudian fuqaha mendefinisikan adat sebagai norma, aturan yang telah tertanam dalam hati akibat pengulangan sehingga diterima sebagai sebuah realitas yang rasional dan layak menurut penilaian logika, seperti kebenaran umum yang diciptakan, dijalankan dan disepakati oleh komunitas tertentu, sehingga menjadi semacam keharusan yang harus ditaati.

Dari defenisi di atas, ada dua hal yang penting yang dapat disimpulkan yaitu, al-‘adah ada unsur berulang–ulang dilakukan dan al- ‘uruf ada unsur al-‘ma’ruf dikenal dengan suatu yang baik. Kata-kata al-‘uruf ada hubungannya dengan tata nilai dalam masyarakat yang dianggap baik, sehingga al’adah lebih tepatnya didefinisikan dengan “Apa yang dianggap baik dan benar oleh manusia secara umum (al’adah al’ammah) yang dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan dan tidak menyimpang sebagaimana dijelaskan oleh Imam Jalaludin ‘Abdu Rahman di dalam kitab asybah wanazair dibawah ini:

إِنَّمَا تُعْتَبَرُ الْعَادَةُ إِذَا اِطَرَدَتْ فَإِنْ إِضْطَرَبَتْ فَلَا

Artinya: “adat atau kebiasaan dianggap sebagai pijakan hukum berulang, berlaku umum, jika menyimpang maka tidak bisa dijadikan pijakan huku”.

B.Sumber Pengambilan Kaidah

Para ulama usul fiqh mengemukakan beberapa sumber pengambilan dasar kaedah ini diataranya:

  1. Alquran
  2. Surat Al-Baqarah ayat 233

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ( البقرة : ٢٣٣

Artinya;”Dan kewajiban ayah memberi makanan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf”. (QS. Al-Baqarah: 233)

  1. Surat Al-‘Araf ayat 199

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ ( الأعرف : ۱٩٩

Artinya;”Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan makruf serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh”. (QS. Al-‘Araf: 199)

Menurut As- Suyuthi sebagaimana dikutip oleh Syaikh Yasin bin Ismail, beliau

menyebutkan bahwa kata al’uruf pada ayat di atas bisa diartikan sebagai kebiasaan atau adat. Ditegaskan pula oleh Syaikh Yasin, adat yang dimaksud disini adalah adat yang tidak bertentangan dengan syariat.

  1. Hadis

Banyak sekali hadis yang menjadi dasar terbentuknya kaedah ini diantaranya ialah sebagai berikut;

  1. Hadist riwayat Imam Ahmad

مَا رَآهُ الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ (رَوَاهُ إِمَامٌ أَحْمَدُ )

Artinya: “apa yang dipandang baik oleh orang-orang islam, maka baik pula di sisi Allah”. (HR. Imam Ahmad”

  1. Hadis riwayat Abu Daud

اَلْمِكْيَالُ مِكْيَالُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ ، وَالْوَزْنُ وَزْنُ أَهْلِ مَكَّة (رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُد

Artinya: “Ukuran berat (timbangan) yang dipakai adalah ukuran berat ahli Mekkah, sedangkan ukuran isi yang dipakai adalah ukuran isi ahli Madinah”. (RH. Abu Daud)

  1. Hadis riwayat Bukhari dari Aisyah

أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ، سَأَلَتِ النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ إِنِّي أَسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرْ أَفَأَدْفَعْ الصَّلَاة فَقَالَ لَا إِنَّ ذَلِكَ عرق عِرْقٌ، وَلَكِنْ دَعِي الصَّلاَةَ قَدْرَ الأَيَّامِ الَّتِي كُنْتِ تَحِيضِينَ فِيهَا، ثُمَّ اغْتَسِلِي وَصَلِّي (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ عَنِ الْعَئِشَةِ)

Artinya: “Fatimah binti Abi Hubasyi bertanya kepada nabi SAW, dia berkata: “saya ini berada dalam kondisi haidh yang tidak berhenti, apakah saya harus meninggalkan shalat?” nabi menjawab: “Tidak, itu adalah darah penyakit, tapi tinggalkanlah shalat berdasarkan ukuran hari-hari yang engkau biasa menstruasi. Kemudian mandilah dan shalatlah”. (HR. Al-Bukhari dari ‘Aisyah)

Dari hadis di atas, jelas bahwa kebiasaan wanita, baik itu menstruasi, nifas, dan menghitung waktu hamil terpanjang menjadi pegangan dalam penetapan hukum. Kata-kata qadra ayyam dan seterusnya menunjukkan bahwa ukuran- ukuran tertentu bagi wanita mengikuti yang biasa terjadi pada diri mereka.

  1. Aplikasi Kaidah Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa penerapan kaedah tersebut dalam hukum fiqh cukup banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ranah hukum ‘ubudiah maupun dalam transaksi-transaksi syar’i atau yang biasa disebut dengan muamalah. diantaranya ialah sebagai berikut:

    Penentuan kedewasaan seseorang menurut syaria’at diserahkan kepada adat kebiasaan yang berlaku disuatu negara. Syari’at hanya memberikan perkiraan saja.

    Pemberian uang muka kepada pegawai sebelum dana pensiunannya turun, atau sebagian honorarium mengajar kepada pengajar yang belum selesai menjalankan tugasnya adalah diperbolehkan, karena memang demikian adat yang sudah berlaku.

    Kadar minimal najis yang dima’afkan, untuk mengetahui ukuran sedikit dan banyaknya najis ini semuanya dikembalikana pada penilaian adat, jika dianggap sedikit maka dimaafkan, bila dianggap banyak maka tidak dimaafkan.

    Menurut kebiasaan yang berlaku makanan yang disuguhkan kepada tamu boleh dimakan tanpa harus membayar.

  1. Kaidah Cabang

Telah maklum bahwa setiap kaedah dasar pasti memiliki kaedah cabang yang senada dan miliki substansi sama walaupun berbeda dalam pengungkapannya. Pada kaedah al’adatu muhkamatun ini, terdapat beberapa kaedah cabang, diantaranya ialah sebagai berikut;

 1.

. إِنَّمَا تُعْتَبَرُ الْعَادَةُ إِذَا إِضْطَرَدَتْ أَوْ غَلَبَتْ

“Adat yang diangap (sebagai pertimbangan hukum) itu hanyalah adat yang terus menerus berlaku atau berlaku umum”.

Maksudnya ialah, tidak dianggap adat kebiasaan yang bisa diajadikan pertimbangan hukum, apabila adat dan kebiasaan itu hanya sekali-kali terjadi dan tidak berlaku umum. Kaidah ini sebenarnya merupakan dua syarat untuk bisa disebut adat, yaitu terus menerus dilakukan dan bersifat umum (keberlakuannya).

 2.

. اَلْعِبَرَةُ لِلْغَالِبِ الشَّائِعِ لَا لِلنَّادِرِ

“Adat yang diakui adalah adat yang umumnya terjadi yang dikenal oleh manusia bukan dengan yang jarang terjadi”

Contohnya, para ulama berbeda pendapat tentang waktu hamil terpanjang, tetapi bila menggunakan kaedah di atas, maka waktu hamil terpanjang tidak akan melabihi satu tahun. Demikian pula menentukan menopause wanita dengan 50 tahun.

 3.

اَلتَّعْيِيْنُ بِالْعُرْفِ كَالتَّعْيِيْنِ بِالنَّصِ

“ketentuan berdasarkan ‘uruf seperti ketentuan berdasarkan nash”

Maksud kaedah ini adalah sesuatu ketentuan berdasarkan ‘urf yang memenuhi syarat adalah mengikat dan kedudukannya seperti penetapan hukum berdasarkan nash. Contohnya, apabila seseorang menyewa rumah atau toko tanpa menjelaskan siapa yang bertempat tinggal di rumah atau toko tersebut, maka si penyewa bisa memanfaatkan rumah tersebut tanpa mengubah bentuk atau kamar-kamar rumah kecuali dengan izin orang yang menyewakan.

Sebagaimana yang telah dimaklumi, kaedah ini merupakan sebuah kaedah aghlabiah, yakni tidak semua adat istiadat yang terjadi dalam masyarakat dapat dijadikan pijakan hukum, tetapi ada juga beberapa kebiasaan yang telah menjadi adat sebagian orang atau kelompok yang dikatakan dengan adat yang fasid, yaitu tradisi yang berlawanan dengan dalil syar’i, sehingga tidak dapat dijadikan pegangan hukum, diantaranya ialah sebagai berikut;

     Al-‘adah yang bertentangan dengan nash baik Al-Quran maupun Hadist, seperti shaum terus-menerus, atau empat puluh hari atau tujuh hari siang malam, kebiasaan judi, menyabung ayam, kebiasaan menanam kepala hewan korban waktu membuat jembatan, kebiasaan memelihara babi dan lain sebagainya.

    Al-‘adah tersebut tidak menyebabkan kemafsadatan atau menghilangkan kemaslahatan termasuk di dalamnya tidak mengakibatkan kesulitan atau kesukaran, seperti memboroskan harta, hura-hura dalam acara perayaan, memaksakan dalam menjual, dan lain sebagainya.

    Al-‘adah berlaku secara umum di kalangan kaum muslimin, dalam arti bukan hanya yang biasa dilakukan oleh beberapa orang saja., bila dilakukan oleh beberapa orang saja maka tidak dianggap adat.

  1. Kesimpulan

Dari sejumlah uraian yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa, ketika Islam datang membawa ajaran yang mengandung nilai-nilai uluhiyah (ketuhanan) dan nilai-nilai insaniyah (kemanusiaan) bertemu dengan nilai-nilai adat kebiasaan di masyarakat, di antaranya ada yang sesuai dengan nilai-nilai Islam meskipun aspek filosofisnya berbeda dan ada pula yang berbeda bahkan bertentangan dengan nilai-nilai keislaman, maka di sinilah para ulama membagi adat kebiasaan yang ada di masyarakat menjadi al-’adah al-sahihah (adat yang sahih, benar, baik) dan ‘adah al-fasidah (adat yang mafsadah, salah, rusak). Adat, kebiasaan suatu masyarakat memberi daya vitalitas dan gerak dinamis dari hukum Islam dengan tidak kehilangan identitasnya sebagai hukum Islam. Hukum Islam menerima adat yang baik (al-shahihah) selama adat tersebut membawa maslahat untuk diterapakan.

Hukum yang didasarkan pada adat akan berubah seiring perubahan waktu dan tempat, dalam artian bahwa hukum-hukum fiqh yang tadinya dibentuk berdasarkan adat istiadat yang baik itu akan berubah bilamana adat istiadat itu berubah. Adapun adat itu dapat dijadikan landasan hukum apabila:

    Tidak bertentangan dengan nash

    Berlaku umum

    Tidak menimbulkan kerusakan atau lemafsadatan, dan

    Adat itu sudah ada ketika terjadinya suatu peristiwa yang akan dilandaskan pada ‘uruf itu.

Sumber : Asybah Wan’nadhair

MAKSIAT DAN TIDUR SHUBUH PENGHAMBAT REZEKI SERTA MASALAH BERSIN

Maksiat Dan Tidur Subuh Penyebab Fakir

Sungguh dosa yang dikerjakan adalah penyebab tertegah rezeki, lebih-lebih dosa yang dikerjakan adalah berbohong. Berbohong sangat berdampak besar bagi seseorang menjadi fakir.

Secara umum, dosa berefek kepada terhambatnya rezeki. Khusus pada berbohong tidak berefek pada terhambatnya rezeki saja, bahkan sampai bisa membuat seseorang jatuh miskin. Hal ini terbukti, dengan seseorang yang menipu orang lain di seluruh kehidupannya akhirnya ia akan terjatuh.

Orang yang bermodal bohong dalam mencari uang tidak lama kemudian ia akan jatuh miskin dan tidak memiliki apapun lagi. Khusus pada berbohong dapat berefek miskin ini ada hadist yang khusus.

Begitu juga tidur subuh dapat menghambat rezeki. Karena itu harus bangun di waktu subuh, walaupun dalam keadaan capek sekali.

Ini harus benar-benar dijaga. Apa lagi bagi seorang penuntut ilmu. Sedang belajar jangan sampai banyak penghambat rezeki. Jangan sampai seorang pelajar yang masih dalam perjalanan menuntut ilmu agama mesti menjadi buruh pada orang lain.

Banyak tidur juga dapat memberi dampak buruk seseorang menjadi miskin. Malam tidur, siang juga tidur, itu perbuatan yang tidak baik. Banyak tidur juga dapat menjadi penyebab miskinnya ilmu. Artinya, dua efek buruk sekaligus didapatkan sebab banyak tidur.

Berkatalah orang yang berkata “Kesenangan manusia itu pada memakai pakaian, dan mengumpulkan ilmu dengan kurang tidur.”

Nilai Positif Bersin bagi Tubuh

Deskripsi Masalah:

Bersin adalah cara tubuh menyingkirkan iritan pada hidung seperti debu. Pilek dan alergi sering kali membuat kita bersin.Terkadang terlintas dalam pikiran, bersin tidak berdampak sehat bagi tubuh sehingga akrab kali terdengar ucapan suruhan minum obat bagi yang bersin, bahkan terkadang ada sebagian kita yang menganggap bersin itu hal yang memalukan.

Pertanyaan:

  1. Benarkah bersin tidak berdampak positif bagi tubuh?
  2. Jika itu tidak menyehatkan tubuh, lantas kenapa disaat bersin dianjurkan menyucapkan Alhamdulillah?

Jawaban:

  1. Tidak benar, karena dari bersin itu terdapat nilai positif yang terpuji dalam agama yaitu meringankan badan dimana dengan ini seseorang akan gemar dalam berbeuat taat dan melemahkan syahwat (keinginan).

  1. Karena dampak dari bersin hal terpuji, berkata para Ulama “inilah hikmat dari disunnahkan bersyukur dengan mengucapkan Alhamdulillah saat bersin”

– Ianatuttalibin Juz 4 Hal 192 Cet, Haramain

قوله: فإنه) أي التشميت سنة، لما رواه أبو هريرة رضي الله عنه عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: إن الله يحب العطاس ويكره التثاؤب، فإذا عطس أحدكم وحمد الله تعالى، كان حقا على كل مسلم سمعه أن يقول له يرحمك الله، وأما التثاؤب فإنما هو من الشيطان، فإذا

تثاءب أحدكم فليرده ما استطاع، فإن أحدكم إذا تثاءب ضحك منه الشيطان.

قال العلماء: والحكمة في ذلك أن العطاس سببه محمود، وهو خفة الجسم التي تكون لقلة الاخلاط وتخفيف الغذاء، وهو أمر مندوب إليه، لانه يضعف الشهوة ويسهل الطاعة، والتثاؤب بضد ذلك.

INILAH NASIHAT IMAM SYAFI’I RA UNTUK PARA PELAJAR PENUNTUT ILMU

Imam Syafi’i adalah seorang Ulama besar yang ilmunya sangat luas dan sudah di akui oleh semua ulama lain dari kalangan manapun, sehingga muridnya yang sangat terkenal, Imam Ahmad bin Hambal sampai berkata, “Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan pada setiap seratus tahun ada seseorang yang akan mengajarkan Sunnah dan akan menyingkirkan para pendusta terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam (seorang Mujaddid). Kami berpendapat pada seratus tahun yang pertama Allah mentakdirkan Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun berikutnya Allah menakdirkan Imam Asy-Syafi`i”.

Itulah tingkatan ketinggian Imam Syafi’i dalam perihal Ilmu pengetahuan, beliau telah berhasil meraih ilmu dan menyebarkannya. Sehingga kepada para penuntut ilmu yang ingin agar mendapatkan ilmu dengan penuh keberkahan dan bisa untuk mengembangkan ilmu kita dan menyebarkannya untuk sepatutnya kita memperhatikan nasehat-nasehat imam syafi’i kepada para penuntut ilmu. Berikut ini akan kami nukilkan beberapa nasehat penting imam syafie tentang menuntut ilmu.

Beberapa Nasehat Imam As-syafi’i untuk para pelajar :

    Belajarlah , karena tiada seorangpun yang di lahirkan dengan berilmu, dan jelas tiada sama orang yang berilmu dengen orang bodoh.

    Orang yang telah di tokohkan tapi kosong ilmu, akan tampak kecil dalam percaturan luas.

    Orang yang tidak terpandang namun berilmu. Akan tampak kebesaranya dalam pertemuan-pertemuan penting.

    Ilmu itu sulit di dapati bagi orng yang kehidupannya selalu di sibukkan urusan keluarga.

    Ilmu itu sulit di dapatkan kecuali bagi mareka yan terbebas dari kesibukan dan hal yang memerlukan penanganan.

    Dengan segala kelebihan, ilmu akan menjadikan semua manusia sebagai pelayan orang yang mau mengkhadam ilmu tersebut.

    Wajiblah ilmu itu dipelihara sebagaimana manusia menjaga darah dan kehormatan dirinya.

    Barang siapa mengobral ilmu pada yang bukan ahlinya, itu berarti menelantarkan ilmunya. Dan barang siapa menyimpan ilmu (tidak memberikan) kepada orang yang berkelayakan (penuntut ilmu) maka berarti ia zalim dan miskin kebajikan.

    Wahai saudaraku, anda tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengen enam syarat, akan kujelaskan rinciannya dengan amat singkat : Cerdas, semangat (antusias), bersungguh-sungguh, cukupnya dana, bimbingan guru dan waktu yang cukup.

    Bersabarlah terhadap kekerasan seorang guru , karena kegagalan dalam mencari ilmu terletak pada ketidak sanggupan menghadapi hal itu.

    Barangsiapa yang tidak pernah merasakan kepahitan ilmu walau sesaat, maka ia kan terjeremus dalam kebodohan yang hina selama hidupnya.

    Barang siapa yang tidak menggunakan masa muda untuk belajar, maka bacakan takbir sampai empat kali (itulah penyesalan seumur hidup ).

    Demi Allah, kehidupan seseorang pemuda itu mudah bila berbekal ilmu dan taqwa. Apabila kedua bekal itu tidak dimiliki, maka tak pantas di sebut pemuda .

Demikianlah beberapa nasehat yang sangat penting dari sang Imam untuk kita para pecinta ilmu pengetahuan, marilah sama-sama kita perhatikan sehingga kita bisa mengarungi perjuangan mencari ilmu dengan mudah dan penuh semangat agar bisa memperoleh ilmu yang bermanfaat bagi agama kita sebagaimana wasiat para ‘alim ulama dan para Guru-Guru kita. Amien..Ya Rabbal ‘Alamien.

Referensi : Kitab Diwan As-Syafi’i Halaman 15.

KEISTIMEWAAN DAN KEUTAMAAN MELAKSANAKAN SHOLAT BERJAMA’AH

Imam al-Manawi berkata : Di antara hikmah disyariatkan shalat jama’ah adalah :

    Tercipta keakraban di antara sesama jama’ah. Oleh karena itu, anjuran utama pelaksanaan shalat jama’ah adalah dimesjid, hal ini dimaksudkan supaya tercipta persatuan sesama tetangga karena berjumpa disetiap waktu shalat.

    Supaya orang awam dapat belajar berbagai macam hukum jama’ah dari orang alim, karena status manusia berbeda-beda dalam hal ibadah. Karena shalat dikerjakan secara berjama’ah, maka keberkahan orang yang sempurna ibadah dapat mengalir kepada orang awam.

Banyak hadits-hadits yang menerangkan kelebihan shalat jama’ah, di antaranya :

وقد ورد في فضلها أحاديث كثيرة، منها: الخبر المتفق عليه الآتي، ومنها: ما رواه الطبراني عن أنس: « من مشى إلى صلاة مكتوبة في الجماعة فهي حجة، ومن مشى إلى صلاة تطوع فهي مرة تافلة «

Diriwayatkan dari Imam Tabrani dari Shahabat Anas : “Barang siapa yang berjalan untuk menunaikan shalat fardhu secara berjama’ah, maka shalat tersebut diberi ganjaran sama seperti haji dan barang siapa yang melakukan shalat sunat secara berjama’ah maka ia akan mendapat pahala seperti melakukan umrah sunat” (HR. Tabrani dari Anas).

ومنها: ما رواه الترمذي عن أنس أيضا: « من صلى أربعين يوما في جماعة يدرك الكبيرة الأولى كتب له براهتان: براءة من النار، وبراءة من النفاق ».

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Shahabat Anas : “Barang siapa yang shalat berjamaah selama 40 hari dan mendapat takbiratul pertama, maka ia dipastikan mendapat 2 kebebasan, yakni kebebasan dari neraka dan kebebasan dari kemunafikan” (HR. Tirmidzi dari Anas).

وفي المنح السنية على الوصية المتبولية للقطب الشعراني ما نصه: وقد كان السلف يعدون فوات صلاة الجماعة مصيبة. وقد وقع أن بعضهم خرج إلى حائط له يعني حديقة نخل فرجع وقد صلی الناس صلاة العصر، فقال: إنا لله، فانني صلاة الجماعة، أشهدكم على أن حائطى على المساكين صدقة.

Dalam kitab al-Minah as-Saniyyah ‘Ala al-Washiyyah al-Matbuliyyah disebutkan : “Ulama salaf menganggap luput shalat jama’ah sebagai musibah. Dahulu kala, ada sekelompok ulama pergi ke kebun kurma. Ketika kembali, mereka mendapati shalat jama’ah ashar sudah selesai dilaksanakan dan mereka tidak sempat mengikutinya. Lalu mereka berkata : “Inna lillahi, sungguh aku telah luput dari shalat jama’ah. Sekarang aku bersaksi kepada kalian semua bahwa kebun kurma milikku aku sedekahkan semuanya kepada orang miskin.””

. وفانت عبد الله بن عمر رضي الله عنهما صلاة العشاء في الجماعة، فصلى تلك الليلة حتى طلع الفجر جبرا لما فاته من صلاة العشاء في الجماعة.

    “Suatu ketika, Sayyidina Abdullah bin Umar pernah tertinggal shalat jama’ah isya’, lalu beliau shalat sepanjang malam untuk menebus jama’ah isya’ yang beliau tinggalkan.”

Syeikh Ubaidillah bin Umar al-Qawaririy Rahimahullah berkata : “Selama ini aku tidak pernah meninggalkan shalat jama’ah. Hingga suatu ketika rumahku kedatangan tamu. Karena sibuk melayani tamu yang datang, aku terlambat melakukan shalat jama’ah isya’ di mesjid. Lalu aku bergegas keluar untuk berjama’ah. Ketika tiba di mesjid, ternyata shalat jama’ah telah selesai dikerjakan dan pintu mesjid telah dikunci. Lalu aku kembali kerumah dengan perasaan sedih. Aku teringat sebuah hadits yang menerangkan kelebihan shalat jama’ah, yaitu “Shalat berjama’ah lebih utama 27 derajat daripada shalat sendirian”. Kemudian aku shalat isya’ 27 kali sampai tertidur. Dalam tidur aku bermimpi sedang menunggangi kuda bersama sekelompok kaum. Mereka berada didepanku dan aku memacu kudaku untuk mengejar mereka tetapi tidak berhasil. Lalu aku menoleh kepada salah seorang dari mereka dan dia berkata : “Kamu tidak akan sanggup mengejar kami. Usahamu hanya membuat kudamu kelelahan. Aku menyahut, kenapa wahai saudaraku ? ia menjawab : “Karena kami shalat isya’ secara berjama’ah, sedangkan engkau shalat sendirian. Lalu aku terbangun dan merasakan kesedihan yang luar biasa”.

وقال بعض السلف: ما فاتت أحدا صلاة الجماعة إلا بذنب أصابه.

Sebagian ulama salaf berkata : “Seseorang tidak akan pernah meninggalkan shalat jama’ah kecuali karena suatu dosa yang telah dilakukannya”.

وقد كانوا يعزون أنفسهم سبعة أيام إذا فاتت أحدهم صلاة الجماعة وقيل: ركعة، ويعزون أنفسهم ثلاثة أيام إذا فاتهم التكبيرة الأولى مع الإمام، فاعلم ذلك يا أخي. اه.

Mereka akan berduka selama 7 hari bila luput sekali shalat jama’ah. Dikatakan : Jika luput satu raka’at. Dan berduka selama 3 hari bila tidak sempat mengikuti takbiratul ihram beserta imam. Renungilah nasehat ini wahai saudaraku.

Diterjemahkan dari kitab I’anatutthalibin Juz 2 Hal 5-6.

PEMBAHASAN SALAM KEPADA NON MUSLIM DAN SALAM KE LAWAN JENIS

MEMBACA BISMILLAH SEBELUM SALAM

Bagaimanakah hukumnya  membaca  basmalah  sebelum mengucapkan salam ?

Jawaban :

Tidak sunnah bahkan bid’ah bila sampai meyakini bahwa basmalah sunnah diucapkan pada saat akan mengucapkan salam. Apabila hanya akan menimbulkan iham (sangkaan yang keliru) pada orang-orang awam bahwa hal itu disunahkan maka makruh .

Referensi :

    Al Bajuri juz 1 hal. 11

    Tuhfatul Murid ‘ala Jauharit Tauhid hal. 3

    Al Ihya’ Ulumuddin juz 2 hal. 225

    Al adzkarunnawawi hal 314.

    Bughyatul Mustarsyidin hal 37.

ويشترط أن لا يكون ذلك الأمر ذكرا محضا بأن لم يكن ذكرا أصلا أو كان ذكرا غير محض كالقرآن فتسن التسمية فيه بخلاف الذكر المحض كلا اله إلا الله وأن لا يجعل له الشارع مبدأ غير البسملة والحمدلة كالصلاة فإنه جعل لها مبدئ غير البسملة والحمدلة وهو التكبير اهـ

الباجورى الجزء الاول ص : 11

والمراد بالأمر ما يعم القول كالقراءة والفعل كالتأليف ومعنى ذي بال أي صاحب حال بحيث يهتم به شرعا أى بأن لا يكون من سفاسف الأمور وليس محرما ولا مكروها ويشترط أيضا أن لا يكون ذكرا محضا ولا جعل الشارع له مبدأ غير البسملة والحمدلة وخرج ما جعل الشارع له مبدأ غير البسملة والحمدلة كالصلاة فلا يبدأ بالبسملة ولا بالحمدلة بل بالتكبير مثلا اهـ

تحفة المريد على جوهر التوحيد ص : 3

ومنها أن يبدأ كل مسلم منهم بالسلام قبل الكلام ويصافحه عند السلام قال النبى من بدأ بالكلام قبل السلام فلا تجيبوه حتى يبدأ بالسلام اهـ

إحياء علوم الدين الجزء الثانى ص : 225

فصل أن السلام يبدأ بالسلام قبل كل كلام ( والأحاديث الصحيحة ) وعمل سلف الأمة وخلفها على وفق ذلك مشهورة فهذا هو المعتمد في دليل الفصل

الأذكار النووى  ص : 314

( مسئلة ب ) تسن الصلاة على النبى صلى الله عليه وسلم بعد الإقامة كالأذان ولا تتعين لها صيغة وقد استنبط ابن حجر تصلية ستأتى في الجمعة قال هى أفضل الكيفيات على الإطلاق فينبغى الإتيان بها بعدهما ثم اللهم رب هذه الدعوة التامة إلخ ونقل عن النووى واعتمده ابن زياد أنه يسن الإتيان بها قبل الإقامة وعن البكرى سنها قبلهما وأما الترضى عن الصحابة فلم يرد بخصوصه هنا كبين تسليمات التراويح بل هو بدعة إن أتى به بقصد أنه سنة في هذا المحل بخصوصه لا إن أتى به بقصد كونه سنة من حيث العموم لإجماع المسلمين على سن الترضى عنهم ولعل الحكمة في الترضى عنهم وعن العلماء والصلحاء التنويه بعلو شأنهم والتنبيه بعظم مقامهم إهـ

بغية المسترشدين ص : 37

Menjawab Titipan Salam via penyampai salam

        Hukum menjawab salamnya wajib bila salah satu antara si A (orang yang mengirimkan salam) dan si B  (utusan penyampai salam) saat menyampaikan salam ke si C(yang di beri salam) tersebut  menggunakan sighot (kalimat) salam.

        فرع : إذا أرسل السلام مع غيره إلى آخر ، فإن قال : سلم لي على فلان ، فقال الرسول : فلان يقول : السلام عليك أو السلام عليك من فلان وجب الرد ، وحاصل ذلك أنه لا بد في الاعتداد به لوجوب الرد من صيغة من المرسل أو الرسول ، فلو قال المرسل : سلم لي على فلان ، فقال الرسول لفلان : زيد يسلم عليك ، فلا اعتداد به ولا يجب به الرد

        Bughyah alMustarsyidiin I/540

        فرع إذا أرسل السلام مع غيره إلى أحد فإن قال له سلم لي على فلان فقال الرسول لفلان فلان يقول السلام عليك أو السلام عليك من فلان وجب الرد وكذا لو قال السلام على فلان فبلغه عني فقال الرسول لفلان زيد يسلم عليك وجب الرد وحاصله أنه لا بد في الاعتداد به ووجوب الرد من صيغة من المرسل أو الرسول بخلاف ما إذا لم توجد من واحد كأن قال له المرسل سلم لي على فلان فقال الرسول لفلان زيد يسلم عليك فلا اعتداد به ولا يجب الرد كذا نقله م ر عن والده واعتمده

        Hasyiyah aljamaal X/195

 

Cara menjawab salam via tulisan

Apa hukumnya tidak menjawab salam yang disampikan dengan  tulisan seperti sms, komentar status fb, WA  dsb?

        Bila ia membaca tulisan salam tersebut maka wajib segera menjawab salamnya dengan lafadz (ucapan) bukan menjawab secepatnya dengan tulisan..

        : وهذا الرد واجب على الفور وكذا لو بلغه سلام فى ورقة من غائب وجب عليه ان يرد السلام باللفظ على الفور إذا قرأه اهـ

        “Jawaban salam ini juga wajib secepatnya saat datang pada seseorang sebuah tulisan salam dari orang yang jauh, wajib baginya menjawab salam dengan lafadz secepatnya bila ia membacanya”

        Al-adzkaar li annawaawy 221

        Menjawab salam melalui tulisan bisa dengan tulisan juga bisa dengan ucapan. Sebagaimana keterangan dari kitab I’anatuth Thoolibiin.

 

Mengucap Salam Kepada Lawan Jenis

Bagaimana hukum pria salam ke wanita yang bukan mahrom dan bagaimana pula hukum menjawabnya?

JAWABAN

‎1. Antar lawan jenis yang terdapat hubungan suami istri. Karena hubungan di antara keduanya adalah legal, maka berucap salam di antara keduanya diperbolehkan. Bahkan, sunah untuk memulai salam dan wajib dalam menjawabnya, karena ada anjuran untuk menjaga keharmonisan di antara keduanya.

  1. Antar lawan jenis yang terdapat hubungan mahram (keharaman menikah di antara keduanya karena hubungan kekerabatan, sesusuan atau besanan). Dianjurkan ucapan salam di antara keduanya, sunah memulai salam, dan wajib menjawabnya.
  2. Antar lawan jenis ajnaby – ajnabiyyah, akan tetapi salah satu pihak berusia lanjut (‘ajuz). Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d radliyallahu anhu, dia berkata, ”Ada seorang wanita tua yang memunguti batang talas dan memasukkannya dalam tempayan, lalu membuat tepung dari gandum. Seusai salat Jum’at, kami berucap salam kepadanya dan dia menyuguhkan makanan itu pada kami,” (HR. Bukhari)
  3. Antar lawan jenis ajnaby – ajnabiyyah, akan tetapi salah satu pihak adalah sekumpulan orang. Yakni antara satu orang lelaki ajnabiy dan sekumpulan wanita ajnabiyyah. Atau sebaliknya, antara satu orang wanita ajnabiyyah dan sekumpulan lelaki ajnabiy, dengan syarat aman dari potensi fitnah. Diriwayatkan dari Asma’ binti Yazid radliyallahu anha, dia berkata, ”Rasulullah Saw lewat di depan kami beserta para perempuan, lalu beliau mengucapkan salam kepada kami,” (HR. Abu Dawud)
  4. Ucapan salam lelaki ajnaby kepada wanita ajnabiyyah di hadapan mahram dari wanita tersebut. Hal ini diperbolehkan, sebagaimana dituturkan Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Perincian hukum di atas adalah ketika salam diucapkan secara langsung atau face to face. Bagaimana jika ucapan salam antar lelaki ajnabiy dan wanita ajnabiyyah dilakukan melaui media tulisan atau titipan melalui orang lain? Dalam referensi Syafi’iyyah dipaparkan, bahwasanya disunahkan berucap salam lewat tulisan atau titipan kepada seseorang yang dianjurkan (masyru’) untuk diucapi salam secara langsung. Dan, sebagaimana paparan sebelumnya, ucapan salam antar lawan jenis ajnabiy – ajnabiyyah adalah bukan sesuatu yang dianjurkan, akan tetapi makruh bagi lelaki, dan haram bagi wanita.

Hanya saja, terdapat penjelasan secara sharih atau tekstual dari kalangan madzhab Hanbali, seperti dalam Kasysyâf al-Qinâ’, bahwa seorang lelaki yang menitipkan salam kepada wanita ajnabiyyah tidaklah mengapa. Karena dalam salam tersebut terdapat kemaslahatan (yakni kandungan doa) dengan pertimbangan ketiadaan sisi negatif yang berupa fitnah atau potensi zina dan pendahuluannya. Demikian referensi fiqh klasik memaparkan. Namun, dalam penerapan keseharian, hendaklah diperhatikan kemungkinan sisi negatif yang bakal ditimbulkan. Apalagi di zaman teknologi komunikasi yang serba canggih ini, sisi negatif akan lebih banyak merongrong interaksi antar lawan jenis. Sedangkan kaedah fiqh menyatakan bahwa dar’ul mafâsid muqaddam ‘ala jalb al-mashâlih, mengantisipasi dampak negatif harus diprioritaskan dari mengakomodir kemaslahatan.

Referensi:

1.As-Sayyid Abu Bakar al-Bakriy bin Muhammad Syatha, I’anah at-Thâlibîn, Surabaya: Al-Haramain, tt.

2.Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Al-Majmû’ Syarh al-Muhadzdzab, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2002.

3.Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Al-Adzkâr, Surabaya: Al-Hidayah, tt.

4.Muhammad bin ‘Alân, Al-Futûhât ar-Rabbâniyyah, Beirut: Dar al-Fikr, tt.

5.As-Sayyid ‘Alawiy bin Ahmad as-Saqqaf, Fath al-Allâm fî Ahkâm al-Salâm, dalam Sab’ah Kutub Mufîdah, Surabaya: Al-Hidayah, tt.

6.Muhammad Abdurrahman bin Abdirrahman al-Mubarakfuriy, Tuhfah al-Ahwadziy, Beirut: Darul Fikr,

MENGGANTI LAFADZ SALAM

Bagaimanakah hukum nya mengganti kalimat wa ‘alaikum salam warahmaullahi wabarakatuh menjadi wa alaikum sayang warahmacinta wabarakasih?

JAWABAN :

و اذا حييتم بتحية فحيوا باحسن منها او ردها ان الله كان على كل شئ حسيبا (النساء : ٨٦)

” Apabila kamu diberi suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan serupa). Sesungguhnya Allah selalu membuat perhitungan atas tiap-tiap sesuatu “.Q.S. An-Nisa :86

Salam adalah suatu do’a dan cita-cita atas keselamatan dari bahaya serta tetapnya kemanfaatan-kemanfaatan atasnya.Ketika seseorang mengucapkan salam pada seseorang,maka wajibla atas orang itu membalasnya dgn yg lebih baik, Yakni dgn menambahkan lafadz warohmatulloh bahkan yg lebih baik lg dgn menambahkan kata wabarokatuh.

Kata-kata salam yg baik,adalah kata-kata yg salam yg dijarkan oleh Rosululloh, bukan kata selamat pagi, selamat sore, atau selamat malam.Hukum mejawab salam adalah wajib ketika yg memberi salam adalah seorang yg muslim.Kewajiban membalas ini berlaku mesti kita sdg berkumpul dgn yg lain. Hanya saja ketika seorang memberi salam kepada suatu jama’ah,maka menjawabinya adalah fardlu kifayah dan yg lebih utama adalah manakala kumpulan jamaah itu menjawab semua.

و اما رد السلام فان كان المسلم عليه واحد تعين عليه الرد، و ان كانوا جماعة كان رد السلام فرض كفاية عليهم فان رد واحد منهم سقط الحرج عن الباقين و ان تركوه كلهم اثموا كلهم وان ردوا كلهم فهو النهاية فى الكمال و الفضيلة كذا قاله اصحابنا وهو ظاهر حسن

الاذكار ٢٨٠

Karena salam telah ada aturanya dalam Al-qur’an,hadis bahkan ijma’, maka dalam menjawabnya tidak boleh asal-asalan. Apalagi merubahnya dgn kata-kata yg tidak layak.Pengubahan ini haram hukumnya.Diterangkan dalam kitab Ihya juz IV dalam bab as-sama’

و لا يجوز فى القران الا التلاوة كما انزل ) و تلقفه الخلق عن السلف فتصرفه ومده و الوقف و الوصل و القطع فيه على خلاف ما تفتضيه التلاوة و التجويد حرام

“Tidak diperkenankan membaca Al-quran kecuali seperti yg diturunkan seperti yg diikuti orang2 salaf, Maka membaca panjang,berhenti.menyambung,memutuskan dg berbeda dg tuntunan tajwid adalah haram”

Dengan mengacu keterangan tsb,maka mengganti lafad salam adalah tidak boleh.karena hukum asal membalas salam adalah dari alqur’an dan diatur oleh hadis dan ijma’

Dengan mengaganti lafadz salam dgn kata kata yg jelek berarti kita telah melakukan kesalahan yg besar. Dan ini termasuk maksiat lisan

و كل قول يحث على محرم او بفتر عن واجب وكل كلام يقدخ فى الدين او فى احد من الانبياء او فى العلماء او العلم او الشرع او القران او فى شئ من شعائر الله…………و ترك رد السلام عليك الواجب.

سلم التوفيق ٧١_٧٢

 

 

Mengucap & Menjawab Salam Non Muslim

Bagaimana hukum nya memberi salam atau menjawab salam nya non muslim?

Jawaban :

Salam yang terjadi antara orang muslim dan non muslim berdasarkan Hadits Nabi Muhammad SAW berikut ini :

Memulai salam kepada Non Muslim

” لا تبدؤوا اليهود ولا النصارى بالسلام وإذا لقيتموهم في طريق فاضطروهم إلى أضيقه ” رواه الإمام مسلم في صحيحه

“Janganlah kamu memulai salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Apabila kamu bertemu mereka disuatu jalan, maka paksalah mereka kepada jalannya yang paling sempit.” (HR . Muslim )

Menjawab salam kepada Non Muslim

. وقال صلى الله عليه وسلم ” إذا سلم عليكم أهل الكتاب فقولوا وعليكم ” متفق عليه .

“Bila ahli kitab memberi salam kepada kalian maka jawablah WA ‘ALAIKUM’’ (HR. Mutafaq ‘Alaih)

Imam al’allamah Abu Hasan al mawardi dalam kitab haawy alkabiir nya merinci maksud dari dua hadits di atas sebagai berikut :

وَإِنْ كَانَ السَّلَامُ بَيْنَ مُسْلِمٍ وَكَافِرٍ فَضَرْبَانِ : أَحَدُهُمَا : أَنْ يَكُونَ الْكَافِرُ مُبْتَدِئًا بِالسَّلَامِ كيفة الرد عليه فَيَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ رَدُّ سَلَامِهِ ، وَفِي صِفَةِ رَدِّهِ وَجْهَانِ : أَحَدُهُمَا : أَنْ يَرُدَّ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُ فَيَقُولُ : وَعَلَيْكَ السَّلَامُ وَلَا يَزِيدُ عَلَيْهِ ” وَرَحْمَةُ اللَّهِ و بَرَكَاتُهُ ” .

وَالْوَجْهُ الثَّانِي : أَنْ يَقْتَصِرَ فِي رَدِّهِ عَلَيْهِ بِقَوْلِهِ وَعَلَيْكَ : لِأَنَّهُ رُبَّمَا نَوَى سُوءًا بِسَلَامِهِ وَإِنْ كَانَ الْمُسْلِمُ مُبْتَدِئًا بِالسَّلَامِ ، فَفِي جَوَازِ ابْتِدَائِهِ بِالسَّلَامِ وَجْهَانِ : أَحَدُهُمَا : يَجُوزُ أَنْ يَبْتَدِئَ بِالسَّلَامِ : لِأَنَّهُ لَمَّا كَانَ السَّلَامُ أَدَبًا وَسُنَّةً كَانَ الْمُسْلِمُ بِفِعْلِهِ أَحَقَّ ، فَعَلَى هَذَا يَقُولُ لَهُ الْمُسْلِمُ : ” السَّلَامُ عَلَيْكَ ” عَلَى لَفْظِ الْوَاحِدِ ، وَلَا يَذْكُرُهُ عَلَى لَفْظِ الْجَمْعِ كَالْمُسْلِمِ ، لِيَقَعَ بِهِ الْفَرْقُ بَيْنَ السَّلَامِ عَلَى الْمُسْلِمِ وَالْكَافِرِ .

وَالْوَجْهُ الثَّانِي : لَا يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ السلام على الكافر حَتَّى يُبْتَدَأَ بِهِ ، فَيُجَابُ لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} – أَنَّهُ قَالَ : لَا تَبْتَدِئُوا الْيَهُودَ بالسَّلَامِ ، فَإِنْ بَدَءُوكُمْ فَقُولُوا : وَعَلَيْكُمْ.

“Bila salam terjadi antara orang muslim dan Non Muslim maka ada dua macam :

  1. Bila Non Muslim mendahului salam hukum menjawab salamnya juga wajib hanya saja cara menjawab salamnya ada beberapa cara :
  2. Dijawab dengan WA ‘ALAIKA ASSALAAM dan jangan di tambah dengan kalimat WA ROHMATULLAAHI WA BAROKAATUH
  3. Cukup di jawab dengan kalimat WA ‘ALAIK karena bisa saja tujuan Non muslim memulai salam pada kita hanya berniat jelek (melecehkan, mengolok-olok atau bahkan mendoakan kejelekan seperti bila mereka mengucapkan ASSAAMMU ‘ALAIKUM maka jawablah ‘ALAIK atau ‘ALAIKA ASSAAM (Assaam = kematian)
  4. Bila muslim yang mendahului salam pada Non Muslium, dalam hukum di perbolehkannya ada dua pendapat :
  5. Boleh memulai salam pada mereka karena salam adalah bentuk sopan santun dan sunnah yang semestinya orang muslim lebih berhak ketimbang orang lain, hanya saja cara memulai salamnya dengan kalimat “ASSALAAMU ‘ALAIKA” dengan lafadz mufrad (tunggal) jangan memakai lafadz jamak (‘ALAIKUM) seperti layaknya salam pada sesama muslim supaya ada pembeda antara salam dengan sesama muslim dan dengan Non muslim
  6. Tidak boleh memulai slam pada non muslim hingga mereka memulai salam terlebih dulu seperti dhahirnya hadits “Janganlah kalian memualai salam pada orang yahudi namun bila mereka memulai salam jawablah WA ‘ALAIKUM’’

Alhawy alkabiir lil Mawardy XIV/319

HUKUM MENJAWAB SALAM TAMU TETANGGA

Wajibkah kita menjawab salam tamunya tetangga yang kita dengar? Dan Wajibkah mengulang-ngulang jawaban salam saat tamu itu mengulang-ngulang salamnya karena yang punya rumah lagi tidak ada?

Jawaban :

Dalam kitab Al-Adzkar lin Nawawi di jelaskan :

واتفق أصحابنا على أنه لو ردّ غيرُهم، لم يسقط الرد، بل يجب عليهم أن يردّوا، فإن اقتصروا على ردّ ذلك الأجنبيّ أثموا.

Ashab sepakat bahwasannya kalau selain mereka menjawab salam, maka tidak gugur kewajiban menjawab salam, tapi wajib menjawab salam atas mereka. maka jika mereka mereka merasa cukup dengan jawaban orang lain maka mereka dosa.

Dari ibaroh bisa disimpulkan bahwa kewajiban menjawab salam tidak menjadi gugur dengan jawaban orang lain yang tidak disalami.

Kewajiban menjawab salam tidak gugur disebabkan yang menjawab tidak punya kewajiban menjawab.

LEBIH UTAMA MENGGUNAKAN SALAMUN ‘ALAIKUM ATAU ASSALAMU’ALAIKUM

“ASSALAMU DAN SALAMUN”

Dalam mengucapkan salam, kita boleh memakai kata assalamu alaikum, salamun alaikum atau assalamu alaika

Hanya saja kata assalamu dgn alif dan lam diawalnya lebih utama.

و لو قال المبتدئ : سلام عليكم او قال السلام عليكم فللمجيب ان يقول فى الصورتين : سلام عليكم، وله ان يقول : السلام عليكم ، قال الله تعالى ” قالوا سلاما قال سلام ” قال الامام ابوا الحسن الواحدى من اصحابنا : انت فى تعريف السلام و تنكيره بالخيار ، قلت : و لكن الالف و للام اولى

الاذكار ٢١٩

Namun dalam masalah sholat penggunaan lafad salamun tidak diperkenankan menurut pendapat yg lebih soheh.

ثم الواجب من لفظ السلام ان يقول السلام عليكم و لو قال سلام عليكم لم يجزئه على الاصح ، و لو قال عليكم السلام اجزاه على الاصح، و لو قال السلام عليك او سلامى عليك او سلامى عليكم او سلام الله عليكم او سلام عليكم بغير تنوين او قال السلام عليهم لم يجزئه شئ من هذا بلا خلاف، و تبطل صلاته ان قاله عامدا عالما فى كل ذلك الا فى قوله السلام عليهم فانه لا تبطل صلاته به لانه دعاء

الاذكار ٦٦

Nihayatuzzain :

وصيغته التي يجب فيها الرد: السلام عليكم، أو سلام عليكم بتنوين سلام، ويكره عليكم السلام، وعليكم سلام وإن وجب الرد فيهما، ولا يكفي سلام عليكم بترك التنوين وأل، وكذا لو قال: وعليكم السلام بالواو أو اقترن بالصيغة ما هو من تحية الجاهلية، كأن قال: السلام عليكم صبحكم بالخير، أو صبحكم بالخير السلام عليكم فلا يجب الرد في ذلك

Dan bacaan salam yang wajib dijawab adalah Assalaamu ‘alaikum atau salamun ‘alaikum dan makruh ‘alaikumussalaam dan alaikum salaam meskipun tetap wajib menjawab untuk keduanya. Dan tidak cukup salaam ‘alaikum tanpa tanwinnya salam dan Al, demikian pula wa ‘alaikumussalaam dengan wawu (wa) atau menyertainya dengan ucapan penghormatan ala jahiliyyah semisal assalaamu ‘alaikum selamat pagi atau selamat pagi assalaamu ‘alaikum, maka tidak wajib menjawab dalam contoh2 tersebut.

وشروط التسليمة أحد عشر تعريفها بأل وكاف الخطاب وميم الجمع

Dan syarat salam (dalam shalat) ada 11, penyebutannya dengan AL dan KAF khithob dan MIM jama’ dst….

Karenanya salaamun nakiroh tanpa AL tidak memenuhi syarat sebagai salam shalat.

Lafazh Salam ada dua riwayat. Ada yang menggunakan tankiir (SALAAMUN) dan ada pula yang menggunakan ta’riif (ASSALAAMU)

Yang menggunakan tankiir adalah sebagaimana dalam hadits yang diiriwayatkan Imam Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya juz II halaman 246, hadits nomor 493

Berikut sanad dan matannya:

أخبرنا عمر بن محمد الهمداني قال : حدثنا محمد بن إسماعيل البخاري قال : حدثنا عبد العزيز بن عبد الله الأويسي قال : حدثنا محمد بن جعفر – يعني ابن أبي كثير – عن يعقوب بن زيد التيمي عن سعيد المقبري عن أبي هريرة أن رجلا مر على رسول الله صلى الله عليه و سلم وهو في مجلس فقال : سلام عليكم فقال : ( عشر حسنات ) ثم مر رجل آخر فقال : سلام عليكم ورحمة الله فقال : ( عشرون حسنة ) فمر رجل آخر فقال : سلام عليكم ورحمة الله وبركاته فقال : ( ثلاثون حسنة ) فقام رجل من المجلس ولم يسلم فقال النبي صلى الله عليه و سلم : ( ما أوشك ما نسي صاحبكم إذا جاء أحدكم إلى المجلس فليسلم فإن بدا له أن يجلس فليجلس فإن قام فليسلم فليست الأولى بأحق من الآخرة

Yang menggunakan ta’riif adalah sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Imam Abu Dawud dalam kitab Sunannya juz II halaman 771, hadits nomor 5195

Berikut sanad dan matannya:

حدثنا محمد بن كثير قال أخبرنا جعفر بن سليمان عن عوف عن أبي رجاء عن عمران بن حصين قال

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال السلام عليكم فرد عليه السلام ثم جلس فقال النبي صلى الله عليه و سلم ” عشر ” ثم جاء آخر فقال السلام عليكم ورحمة الله فرد عليه فجلس فقال ” عشرون ” ثم جاء آخر فقال السلام عليكم ورحمة الله وبركاته فرد عليه فجلس فقال ” ثلاثون

Adapun mana yang lebih utama, ulama berbeda pendapat.

– Menurut Imam Abul Hasan al Wahidi sebagaimana yang dikutip oleh Imam Nawawi adalah boleh memilih tankiir atau ta’riif

Namun Imam Nawawi mengatakan yang lebih utama ta’riif

(lihat al Adzkaar halaman 219 sebagaimana yang dikutip oleh Sandy Maulana)

– Menurut Imam Fakhruddin Ar Raazi dalam tafsirnya, tafsir al Kabiir, lebih utama tankiir.

Berikut teks selengkapnya:

المسألة السادسة : إن شاء قال : سلام عليكم ، وإن شاء قال : السلام عليكم ، قال تعالى في حق نوح : ( قيل يانوح اهبط بسلام منا ) [ هود : 48 ] وقال عن الخليل : ( قال سلام عليك سأستغفر لك ربي ) [ مريم : 47 ] وقال في قصة لوط : ( فقالوا سلاما قال سلام ) [ الذاريات : 25 ] وقال عن يحيى : ( وسلام عليه ) [مريم : 15 ] وقال عن محمد صلى الله عليه وسلم : ( قل الحمد لله وسلام على عباده ) [ النمل : 59 ] وقال عن الملائكة : ( والملائكة يدخلون عليهم من كل باب سلام عليكم ) [ الرعد : 23 ] وقال عن رب العزة : ( سلام قولا من رب رحيم ) [ يس : 58 ] وقال : ( فقل سلام عليكم ) [ الأنعام : 54 ]

وأما بالألف واللام فقوله عن موسى عليه السلام : ( فأرسل معنا بني إسرائيل ولا تعذبهم قد جئناك بآية من ربك والسلام على من اتبع الهدى ) [ طه : 47 ] وقال عن عيسى عليه السلام : ( والسلام علي يوم ولدت ويوم أموت ) [ مريم : 33 ] فثبت أن الكل جائز ،

وأما في التحليل من الصلاة فلا بد من الألف واللام بالاتفاق

واختلفوا في سائر المواضع أن التنكير أفضل أم التعريف ؟ فقيل التنكير أفضل ، ويدل عليه وجوه :

الأول : أن لفظ السلام على سبيل التنكير كثير في القرآن فكان أفضل .

الثاني : أن كل ما ورد من الله والملائكة والمؤمنين فقد ورد بلفظ التنكير على ما عددناه في الآيات ، وأما بالألف واللام فإنما ورد في تسليم الإنسان على نفسه قال موسى صلى الله عليه وسلم : ( والسلام على من اتبع الهدى ) [ طه : 47 ] وقال عيسى عليه [ ص: 170 ] الصلاة والسلام : ( والسلام علي ) .

والثالث : وهو المعنى المعقول أن لفظ السلام بالألف واللام يدل على أصل الماهية ، والتنكير يدل على أصل الماهية مع وصف الكمال ، فكان هذا أولى .

KEDUDUKAN HUKUM POSITIF DALAM HUKUM SYARI’AT ISLAM

Posisi hukum positif dihadapan hukum syar’i ada beberapa kemungkinan :

  1. Hukum positif menetapkan sesuatu yang tidak diperoleh petunjuk nash al-Qur’an secara sharih (eksplisit), bahkan kadang-kadang sengaja didiamkan oleh Syari’, dan itu mengimplisitkan kreasi mengatur “al-maskut ‘anhu” oleh ummat Muhammad SAW, maka hukum positif seperti ini bisa diterima dan diikuti, sesuai dengan penegasan Usman ibn Affan ra. :

الأثر :

قال عبد المحسن العباد :

وقد بين أمير المؤمنين عثمان بن عفان رضي الله عنه عظم منـزلة السلطان وما يترتب على وجوده من الخير الكثير، ومن حصول المصالح ودرء المفاسد، وذلك في قوله رضي الله عنه: “إن الله ليزع بالسلطان ما لا يزع بالقرآن”، لأن من الناس من يقرأ القرآن ويرى القوارع والزواجر ومع ذلك لا تحرك ساكنا في قلبه، ولا تؤثر عليه، ولكنه يخاف من سلطة السلطان، ومن بطش وقوة السلطان. (شرح سنن أبي داود، عبد المحسن العباد، ج 1، ص 2)

القاعدة :

“تَصَرُّفُ الْإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالْمَصْلَحَة”، هذه القاعدة نص عليها الشافعي وقال: “مَنْزِلَةُ اْلإِمَامِ مِنْ الرَّعِيَّةِ مَنْزِلَةَ الْوَلِيِّ مِنْ الْيَتِيمِ”. قلت: وأصل ذلك ما أخرجه سعيد بن منصور في سننه، قال: حدثنا أبو الأحوص عن أبي إسحاق عن البراء بن عازب قال: قال عمر رضي الله عنه: “إنِّي أَنْزَلْتُ نَفْسِي مِنْ مَالِ اللهِ بِمَنْزِلَةِ وَالِي الْيَتِيمِ، إنْ احْتَجْتُ أَخَذْتُ مِنْهُ فَإِذَا أَيْسَرْتُ رَدَدْتُهُ فَإِنْ اسْتَغْنَيْتُ اسْتَعْفَفْتُ”. (الأشباه والنظائر، عبد الرحمن بن أبي بكر السيوطي، بيروت، دار الكتب العلمية، سنة 1403 هـ.، طبعة 1،ج 1، ص 121)

2.Hukum positif menetapkan sesuatu yang bertentangan dengan hukum syar’i, maka dalam posisi ini harus ditolak.

السنة المطهرة :

عن عبد الله رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ” (متفق عليه – واللفظ للبخاري، رقم 6725، بيروت، دار ابن كثير, سنة 1407 هـ. / 1987 مـ.، طبعة 3، ج 6، ص 2612، )

قال ابن حجر العسقلاني :

قوله (فيما أحب وكره) في رواية أبي ذر “فيما أحب أو كره”. قوله (ما لم يؤمر بمعصية) هذا يقيد ما أطلق في الحديثين الماضيين من الأمر بالسمع والطاعة ولو لحبشي, ومن الصبر على ما يقع من الأمير مما يكره, والوعيد على مفارقة الجماعة. قوله (فإذا أمر بمعصية فلا سمع ولا طاعة) أي لا يجب ذلك بل يحرم على من كان قادرا على الامتناع, وفي حديث معاذ عند أحمد “لا طاعة لمن لم يطع الله”. وعنده وعند البزار في حديث عمران بن حطين والحكم ابن عمرو الغفاري “لا طاعة في معصية الله” وسنده قوي, وفي حدث عبادة بن الصامت عند أحمد والطبراني “لا طاعة لمن عصى الله تعالى” وقد تقدم البحث في هذا الكلام على حديث عبادة في الأمر بالسمع والطاعة “إلا أن تروا كفرا بواحا” بما يغني عن إعادته وهو في “كتاب الفتن” وملخصه أنه ينعزل بالكفر إجماعا” فيجب على كل مسلم القيام في ذلك, فمن قوي على ذلك فله الثواب, ومن داهن فعليه الإثم, ومن عجز وجبت عليه الهجرة من تلك الأرض. (فتح الباري شرح صحيح البخاري، أحمد بن علي بن حجر العسقلاني، بيروت، دار المعرفة، ج 13, ص 123)

عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ حَقٌّ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِالْمَعْصِيَةِ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ”. (رواه البخاري)

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ” (رواه الطبراني عن عمران بن حصين رضي الله عنه، المعجم الكبير, رقم 381, بيروت, دار الفكر، ج 18، ص 170)

  1. Apabila hukum positif menetapkan dan menganjurkan sesuatu yang tidak bertentangan dengan hukum syar’i, atau hukum positif menetapkankan sesuatu yang ditetapkan hukum syar’i baik dalam perkara wajib atau mandub, maka wajib ditaati, sedang jika menetapkan sesuatu yang mubah, apabila bermanfaat bagi kepentingan umum maka juga wajib ditaati, tetapi kalau tidak bermanfaat untuk umum maka tidak wajib ditaati.

قال محمد نووي الجاوي :

إذا أمر بواجب تأكد وجوبه، وإن أمر بمندوب وجب، وإن أمر بمباح فإن كان فيه مصلحة عامة وجب، بخلاف ما إذا أمر بمحرم أو مكروه أو مباح لا مصلحة فيه عامة. (نهاية الزين، محمد بن عمر بن علي بن نووي الجاوي، بيروت، دار الفكر، ج 1، ص 112)

قال الدسوقي :

واعلم أن محل كون الإمام إذا أمر بمباح أو مندوب تجب طاعته إذا كان ما أمر به من المصالح العامة. (حاشية الدسوقي على الشرح الكبير، محمد عرفه الدسوقي، بيروت، دار الفكر، ج 1، ص 407)

Wallahu A’lamu Bis Showab

MEMAHAMI PENGERTIAN DARI BERFARIASINYA IBADAH (TANAWWU’ FIL IBADAH)

Tanawwu’ fi al-ibâdah ialah keberagaman praktek ibadah tertentu yang diajarkan oleh Rasulullah akan tetapi antara yang satu dengan yang lain terdapat perbedaan, bukan pertentangan, sehingga menggambarkan keberagaman dalam pelaksanaan ibadah tersebut. Hadis tanawwu’ al-ibadah ialah hadis-hadis yang menerangkan praktik ibadah tertentu yang dilakukan atau diajarkan oleh Rasulullah saw, akan tetapi antara satu dan lainnya terdapat perbedaan sehingga menggambarkan adanya keberagaman ajaran dalam pelaksanaan ibadah tersebut. Perbedaan atau keberagaman ajaran yang dimaksudkan adakalanya dalam bentuk tatacara pelaksanaan (perbuatan) dan adakalanya dalam bentuk ucapan atau bacaan-bacaan yang dibaca. Hadis-hadis tanawu’ ini juga disebut sebagai hadis-. hadis mukhtalif dalam arti umum”.

Adapun Mengenai istilah hadis-hadis tanawu’ al-badah ini adalah hasil dari upaya Imam al-Syafi’i dalam menyelesaikan hadits hadits yang dianggap sebagian ulama sebagai hadits-hadits yang bertentangan atau tidak sejalan. Menurut al-Syafi’i, hadits-hadits yang kelihatan tidak sejalan itu sebenarnya tidak mengandung pertentangan, karena dapat dipertemukan dan dikompromikan satu sama lain. Imam Syafi’i memberikan sebuah batasan bahwa hadis-hadis yang di golongkan sebagai al ikhtilaf al mubah ini adalah hadis-hadis mukhtalif yang tidak mengandung hukum-hukum yang berbeda atau berlawanan sehingga salah satunya harus ditinggalkan. Imam Syafi’i berkata: “ Dua hadis tidak disebut ikhtilaf selama keduanya masih ditemukan jalan untuk sama-sama mengamalkan keduanya. Disebut ikhtilaf jika tidak dapat mengamalkan yang satu tanpa meninggalkan yang lain, seperti hadis dalam kasus yang sama, yang satu menghalalkan dan yang lain mengharamkan”.

Jelas terlihat dalam batasan makna yang dikemukakan Imam Syafi’i diatas bahwa dua hadis disebut mukhtalif jika keduanya mengandung makna yang bertentangan, misalnya antara halal dan haram atau makruh dan sunat. Jika ada pertentangan seperti ini, maka hadis-hadis tersebut dapat dikatakan mukhtalif dan perlu dilakukan penyelesaiaan dengan pendekatan-pendekatan ilmu ikhtilaf al hadis. Selama tidak ada pertentangan seperti itu, hadis-hadis yang tampak ikhtilaf tersebut dikategorikan sebagai hadis al ikhtilaf al mubah, artinya semua hadis tentang ibadah yang beragam ini dapat diamalkan dan tidak perlu dilakukan nasakh atau tarjih.

Di antara hadits Nabi saw yang terkadang tampak tidak sejalan satu dengan yang lain adalah hadits-hadits tentang tata cara pelaksanaan ibadah. Hadits-hadits semacam ini disebut dengan istilah “Hadits-hadits tanawu’ al-ibadah”, yaitu hadits hadits yang menerangkan praktik ibadah tertentu, yang dikerjakan Nabi saw, tetapi antara hadits hadits tersebut terdapat perbedaan, sehingga menggambarkan adanya keragaman bentuk peribadatan. Di antara sekian banyak hadis yang menjelaskan tentang keberagaman dalam praktek ibadah adalah tata cara pelaksanaan wudhuk, tata cara pelaksanaan tayamum, tentang keberagaman bacaan dalam rukû’ dan sujûd. Oleh sebab itu makalah ini disusun untuk mendiskusikan bagaimana memahami dan menyikapi hadits-hadits tersebut, supaya memperoleh pengertian yang semestinya terkait dengan keragaman hadits tentang tata cara peribadatan(Tanawu’ fil ibadah) yang bisa menimbulkan kesan adanya perbedaan, dan bahkan pertentangan antara satu ketentuan dengan ketentuan lainnya.

Contoh-contoh Hadis Tanawwu’ fi Al-ibadah

  1. Contoh hadis tanawwu’ fi ibadah menyangkut tata cara pelaksanaan wudhu’.

عَنْ اِبْنُ عَبَّاْسٍ،قَالَ: أَلَا أَخْبِرُكُمْبِوُضُوءِ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَتَوَضَّأَمَرَّةً مَرَّةً

Artinya: Dari Ibnu Abbas, diaberkata, Maukah kalian aku kabarkan tentang cara wudhuk Rasulullah SAW ? Beliau SAW berwudhu satu kali-satu kali (untuk tiap anggota wudhu’).

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمّنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى قاَلَرَأَيْتُ عَلِيًّا رَضِي اللَّهُم عَنْهُم تَوَضَّأَ فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَ ثًاوَغَسَلَ ذِرَاعَيْهِ ثَلاَ ثًا وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ وَاحِدَةً ثُمَّ قَالَهَكَذَا تَوَضَّأَ رَسُوْلُ اللَّهِ لَلَّهُمَّ وَسَلَّمَ

Artinya: Dari Abdirrahman bin Abu Laila, dia berkata, “saya pernah melihat Ali RA berwudhu’, maka dia mencuci mukanya tiga kali,mencuci kedua lengannya tiga kali, dan menyapu kepalanya satu kali, kemudian berkata, “Demikianlah Rasulullah SAW berwudhu.

عَنْ عَبْدِاللَّهِ بْنِ عُمَرَ،أَنَّهُ تَوَضَّأَ ثَلاَثًاثَلاَثًا،يُسْنِدُ ذَلِكَ اِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya: Dari Abdullah bin Umar bahwa beliau berwudhu tiga kali-tiga kali. Dia menyandarkan hal itu kepada Rasulullah SAW.

Tiga buah hadis di atas sama-sama menerangkan tata cara berwudhu’ Rasulullah,khususnya dalam membasuh anggota wudhu’nya. Akan tetapi satu dengan yang lainnya mengandungi ajaran yang berbeda sehingga dapat menimbulkan kesan sebagai tidak adanya ketegasan dalam masalah tersebut. Cara penyelesainnya di atas adalah semua hadis-hadis tanawwu’ al-ibadah boleh diikuti dan diamalkan, tetapi yang manakah diantaranya lebih baik “afdhal”untuk diikuti dan diamalkan, jawabannya adalah yang lebih sempurna. Diantarnya,khusus menyangkut hadis-hadis tentang tata cara berwudhu’ Rasulullah, dikatakan oleh Syafi’i bahwa dari ketiga hadis tersebut sebenarnya dapat ditarik suatu ajaran bahwa cara minimal yang dituntut untuk sahnya wudhu’ adalah membasuh anggota wudhu’ masing-masing satu kali (berdasarkan hadis Ibn Abbas), dan sempurnanya, adalah dengan membasuh masing-masing tiga kali (bersasarkan hadis Abdullah bin Umar). Jadi, yang afdhal untuk didahulukan mengamalkan yang lebih sempurna diantaranya sesuai dengan penjelasan diatas yakni, hadis riwayat Abdullah bin Umar.

  1. Contoh hadis mengenai tata cara pelaksanaan tayamum :

عَنْسَعِيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى عَنْ أَبِيْهِ قَالَ:جَاءَ رَجُلُالَى عْمَرَبْنِ الخُطاَّ بِ فَقَالَ: اِنِّي أَجْنَبْتُ فَلَمْ أُصِبِ المَاءَ،فَقَالَ عَمَّارُبْنُ ياَسِرٍ لِعُمَرَبْنِ الخَطاَّبِ،أَمَا تَذْكُرُأَنَّاكُنَّا فِي سَفَرٍ أَنَا وأَنْتَ،فَأَمَّا أَنْتَ فَلَمْ تُصَلِّ وَأَمَّ أَنَافَتَمَعُّكْتُ فَصَلَّيْتُ،فَذَكَرْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِوَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيِّ: (اِنَّما كَانَ يكْفِيْكَ هَكَذَا) فَضَرَبَالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَفَّيْهِ الآَرْضَ وَنَفَخَفِيهِمَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ.

Artinya: Diriwayatkan dari Said bin Abdurrahman bin Abza dari ayahnya ia berkata,seorang mendatangi Umar bin Khathtab dan berkata, Aku junub dan tidak menemukan air. Maka Ammar bin Yasir berkata kepada Umar bin khathtab, “Apakah anda tidak ingat ketika kita dalam suatu perjalanan (saya dan engkau), maka engkau tidak salat, adapun aku berguling-guling ditanah kemudian salat, kemudian aku menyebutkan hal itu kepada Nabi SAW. Maka beliau SAW berkata, Hanya saja cukup bagimu begini, lalu Nabi SAW memukul tanah dengan kedua telapak tangannya dan meniupnya, kemudian mengusap muka dan kedua tangannya dengan keduanya.

Hadis ke dua mengenai tayamum :

وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِصلى الله عليه وسلم التَّيَمُّمُ ضَرْبَتَانِ ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ, وَضَرْبَةٌلِلْيَدَيْنِ إِلَى اَلْمِرْفَقَيْنِ – رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ, وَصَحَّحَاَلْأَئِمَّةُ وَقْفَه.

Artinya: Daripada Ibn‘Umar RA katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tayammum itu dua kali tepuk satu untuk muka dan satu untuk kedua-dua tangan sampai kesiku. (al-Daruqutni. Para imam hadis mengatakan yang sahih adalah mawquf).

Sudut pertentangan

Hadis ‘Ammar di atas menunjukkan tayammum itu sah dilakukan dengan satu tepukan ke muka dan tangan sampai kepada pergelangan tangan manakala hadis Ibn ‘Umar menyatakan tayammum hendaklah dilakukan dengan dua tepukan satu untuk muka dan satu untuk tangan hingga ke siku.

Wallohu a’lam.

INNALILLAH “SANGKAN PARANING DUMADI” MENURUT SUNAN KUDUS

    Yaitu ajaran bahwa Allah adalah Awal dan Akhir, Alfa dan Omega, Dekat sekaligus Transenden.

Tidak dimungkiri masuknya Islam telah memperkaya kebudayaan bangsa ini. Dalam hal bahasa, kosakata dari tradisi Islam–termasuk di dalamnya dari bahasa Arab, Persia, dan lainnya–mengalir deras dari mulut anak bangsa ini sejak sekian lama. Menjadikan kata-kata yang tadinya asing itu bahasa keseharian mereka. Menambah khazanah kata dalam bahasa Melayu dari bahasa dunia yang sebelumnya “didominasi” oleh bahasa Sanskerta.

Di antara ungkapan yang saya maksud di atas adalah “innalillahi wa innailaihirojiun”. Anak bangsa ini menggunakan frasa ini untuk ungkapan atas kesedihan atau kemalangan yang terjadi (KBBI, 2008). Namun, banyak pula ia diujarkan bukan karena memahami maknanya, tapi hanya wujud kekagetan atas segala kemalangan yang terjadi. Ada orang meninggal, innalillahi wa innailaihirojiun. Ada orang mengalami kecelakaan, innalillahi wa innailaihirojiun. Ada bencana alam, innalillahi wa innailaihirojiun.

Kalimat ini biasanya diterjemahkan dengan “Sesungguhnya kita berasal dr Allah dan akan kembali kepada-Nya” (KBBI, 2008). Terjemahan ini sebenarnya hanya memilih makna minimal dari betapa luasnya makna innalillahi wa innailaihirojiun. Sebelum ke maknanya, mari kita lihat dari mana kalimat ini sebenarnya berasal.

Dari Quran, surat al-Baqarah, ayat 156 frasa ini dan fungsinya diajarkan. Kalimat ini akan lebih lengkap dipahami dengan baik bila kita menyebutkan ayat sebelumnya. Allah berfirman dalam ayat 155 – yang salah satu maknanya – bersabda:

“Sungguh, Kami pasti akan terus-menerus menguji kamu berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang bersabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Innā lillāhi wa ‘innā ilaihi rāji‘ūn (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya)…” (Shihab 2009).

Jadi orang-orang yang sabar itu sabar atas beragam cobaan dari Allah. Bukan hanya hilangnya jiwa, baik dari keluarga, kawan karib, maupun kolega, namun juga kehadiran rasa takut, rasa lapar yang sangat, atau kemiskinan. Dalam kondisi malang semacam itu, mereka harus tetap berusaha melakukan amal kebaikan sesuai dengan tuntutan kondisi yang ada.

Bila mempertimbangkan ayat 154 yang berbicara tentang mereka yang gugur di perang di jalan Allah, maka mereka ini yang sahabat-sahabatnya telah gugur yakin bahwa mereka semua akan dipertemukan kembali di akhirat kelak.

    Habib Quraish Shihab menjelaskan “Kami milik Allah. Jika demikian, Dia melakukan apa saja sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi, Allah Maha Bijaksana… Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang, kami akan kembali kepada-Nya sehingga, ketika bertemu nanti, tentulah pertemuan itu adalah pertemuan dengan kasih sayang-Nya.” (Shihab 2009).

Dalam Tafsir Showi, “Innalillah” memiliki makna yang lebih luas dari sekira “kami milik Allah”. Innalillah bermakna manusia “dimiliki dan diciptakan oleh Allah, dan Allah menetapkan kepada manusia apa yang Dia kehendaki”.

Allah tidak berbuat zalim kepada manusia, maka manusia beriman hendaknya yakin bahwa sesuatu yang nampak sebagai kemalangan di mata mereka, memiliki hikmah yang besar di belakangnya.

“Wa innailaihirojiun” bermakna orang-orang yang sabar meyakini bahwa sejak di dunia ini mereka berada dalam proses kembali kepada Allah. Kembali kepada hakikat kemanusiaan yang sebenarnya, yaitu makhluk rohani. “Kembali” setelah berada di kehidupan duniawi artinya mereka yang beriman akan diganjar kelak di akhirat dengan nikmat yang belum pernah dilihat mata, belum didengar telinga, dan belum terbersit dalam hati. Maka dengan keyakinan ini, ujian dari Allah berupa ketakutan akan hukum-hukum-Nya, kelaparan karena puasa, kekurangan harta karena zakat dan sedekah, tertimpa penyakit, dan kematian sanak saudara dan teman karib, semua rasa sedih atas “malapetaka” itu menjadi hilang (Ibnu Ajibah, Tafsir Bahrul Madid, 1999).

Dalam tataran yang berbeda Sunan Kudus disebutkan mengajarkan pemaknaan “Innalillahi”. Ajaran ini terkandung di dalam MS. Or. 3050 halaman 21.

Baris 3. Fashlun. Punika kawikanana tegesing Innalillahi

Baris 4. wa innailaihirojiun. Tegese kang teka saking Pengeran. Lan

Baris 5. Mulihe maring Pengeran. Tegese iku sipta awit paninggaling mukminin

Baris 6. Kang utama. Ing martabat tauhid. ma’arifah. Anapun kang saking

Baris 7. Pengeran. Sekehing karya dinadeken kaya hiki cihnaning sipat

Baris 8. Afa’al Allah. Punika cermening mukminin. Sakathahe anggen ninga

Baris 9. was. Ingkang ngandikan. Jagat kabeh hiki. Iya iku tegesing

Baris 10. Pinungkan. Kabeh saking pengeran. Ing martabat ing mat tauhid

Baris 11. Ma’arifat. Anapun mukminin. Kang sampurna ang raji’ mali

Baris 12. Tingale. Ing sipating dzatullah. Iya iku reke tegese kang mulih maring

Baris 13. Pengeran. Mangka lenyep legot tannana kesuthe. Dening sampurna.

Baris 14. Ma’arifate. Ing Pengeran lan saking siheng Pengeran.

Terjemah:

Baris 3. Satu fasal. Ini adalah penjelasan mengenai Innalillahi

Baris 4. wa innailaihirojiun. Artinya yang datang dari Tuhan. Dan

Baris 5. Kembali kepada Tuhan. Maksudnya menyatakan cara pandang mendasar dari orang beriman

Baris 6. Yang paling utama. Inilah martabat Tauhid Makrifat. Adapun “Berasal dari

Baris 7. Tuhan” adalah semua karya yang diciptakan (oleh-Nya) misalnya semua wujud dari

Baris 8. Tindakan-tindakan Allah. Itulah cermin bagi orang yang beriman. Semua itu pasti jelasnya.

Baris 9. Perkataan “seluruh alam semesta” itulah yang dituju

Baris 10. Dari semua berasal dari Tuhan. Yaitu inilah martabat tauhid

Baris 11. Makrifat. Pastilah bahwa orang mukmin yang sempurna kembalinya kepada

Baris 12. Pandangan terhadap sifat hakikat Allah. Itulah yang kembali kepada

Baris 13. Tuhan. Maka sirna lepas tanpa penghalang menuju kesempurnaan

Baris 14. makrifat akan Tuhan dan (ini) berasal dari rahmat Tuhan.

Di sini ditegaskan bahwa bukan hanya innalillah adalah ucapan semata dari seorang muslim, ia sebenarnya adalah “sipat awit paningaling mukminin kang utama” (cara pandang mendasar dari orang beriman yang paling utama).

Innalillah adalah karakter sejati seorang mukmin. Dengan innalillah seorang mukmin hendaknya melihat dunia ini. Yaitu semuanya bersumber dari Allah dan kembali kepada Allah.

    Bahkan seorang mukmin yang sempurna adalah mereka yang sudah kembali kepada Allah. Maka mereka yang telah kembali itu sirna makrifatnya. Segera setelah menunjukkan yang paling sempurna dari tingkat makrifat ini, Sunan Kudus, mengingatkan agar seorang mukmin menyadari bahwa hal ini tidak terjadi kecuali karena anugerah dari Tuhan semata.

Bukan tidak mungkin bahwa penjelasan akan pentingnya kembali kepada Allah ini, terutama dengan ekspresi Jawa, melahirkan bahasa simbol “Sangkan Paraning Dumadi”. Yaitu ajaran bahwa Allah adalah Awal dan Akhir, Alfa dan Omega, Dekat sekaligus Transenden.

Wallahu a’lam.

KEISTIMEWAAN DAN KEUTAMAAN ORANG YANG MENCARI ILMU

Setiap Manusia yang belajar satu bab ilmu maka lebih baik dari pada shalat seratus rakaat. Itulah yang dikatakan oleh KH Abdussalam Mujib, Pengasuh Ponpes Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo saat menerangkan isi kitab Kifayatul Atqiya di Kantor Ikatan Alumni Al-Khoziny Cabang Surabaya, Selasa (1/8).

“Nabi Muhammad SAW bersabda barang siapa berangkat pagi hanya untuk menuntut satu bab ilmu maka lebih baik dari pada sholat 100 rakaat, diriwayatkan oleh Imam Ibn Abdul Barr,” kata Kiai Abdussalam Mujib mengutip karya Sayyid Bakri Al-Makki Ibnu Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi.

Imam Syafi’i mengatakan mencari ilmu itu lebih utama daripada shalat sunnah. “Lebih banyak pahalanya mencari ilmu yang manfaat dari pada shalat sunnah,” lanjut Kiai Salam.

Keutamaan lainnya adalah apabila orang yang menuntut ilmu tersebut meninggal dunia maka itu dikatakan mati syahid. Hal itu sesuai dengan yang disabdakan oleh Rasulullah diriwayatkan Ibnu Munir dalam kitab Shahih bukhori.

“Hadist ini untuk memberi semangat kepada tholabul ilmi dan memberi penyemangat,” tutur terang Mustasyar PCNU Sidoarjo ini.

Imam Malik guru dari Imam Syafi’i bercerita ada seorang santri (orang yang belajar ilmu) yang ingin belajar kepada Imam Malik. Namanya Yahya, sang Imam pun langsung berkata, kalau menuntut ilmu janganlah tidur terus.

“Seorang santri harus betah melek malam. Kurangi tidur terutama di waktu malam,” terang Kiai Salam.

Diceritakan ada seorang pemuda yang bermimpi bertemu dengan santri yang meninggal di pondok. Semasa hidupnya dihabiskan di pesantren untuk belajar satu bab Ilmu. Saya melihat Allah SWT mengangkat satu drajat di surga. Lalu Allah berkata kepada malaikatNya agar menambai derajat itu dengan warisan para nabi.

Selain keutamaannya, Kiai Salam juga membacakan kitab di halaman 64, yang diterangkan, barang siapa yang mencari ilmu agar menyaingi atau mau mengalahkan orang lain atau memalingkan wajahnya dari manusia atau ingin punya pengaruh. Maka Allah akan memasukkan ke dalam neraka.

“Manusia itu memiliki dua jatah yaitu di surga atau di neraka. Kalau ada manusia yang seperi ini maka dia mengambil jatahnya di neraka,” pungkas Kiai Salam. (Rof Maulana/Fathoni)

Keutamaan Menuntut Ilmu dalam Kitab Kifayatul Atqiya

Surabaya, NU Online

Setiap Manusia yang belajar satu bab ilmu maka lebih baik dari pada shalat seratus rakaat. Itulah yang dikatakan oleh KH Abdussalam Mujib, Pengasuh Ponpes Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo saat menerangkan isi kitab Kifayatul Atqiya di Kantor Ikatan Alumni Al-Khoziny Cabang Surabaya, Selasa (1/8).

“Nabi Muhammad SAW bersabda barang siapa berangkat pagi hanya untuk menuntut satu bab ilmu maka lebih baik dari pada sholat 100 rakaat, diriwayatkan oleh Imam Ibn Abdul Barr,” kata Kiai Abdussalam Mujib mengutip karya Sayyid Bakri Al-Makki Ibnu Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi.

Imam Syafi’i mengatakan mencari ilmu itu lebih utama daripada shalat sunnah. “Lebih banyak pahalanya mencari ilmu yang manfaat dari pada shalat sunnah,” lanjut Kiai Salam.

Keutamaan lainnya adalah apabila orang yang menuntut ilmu tersebut meninggal dunia maka itu dikatakan mati syahid. Hal itu sesuai dengan yang disabdakan oleh Rasulullah diriwayatkan Ibnu Munir dalam kitab Shahih bukhori.

“Hadist ini untuk memberi semangat kepada tholabul ilmi dan memberi penyemangat,” tutur terang Mustasyar PCNU Sidoarjo ini.

Imam Malik guru dari Imam Syafi’i bercerita ada seorang santri (orang yang belajar ilmu) yang ingin belajar kepada Imam Malik. Namanya Yahya, sang Imam pun langsung berkata, kalau menuntut ilmu janganlah tidur terus.

“Seorang santri harus betah melek malam. Kurangi tidur terutama di waktu malam,” terang Kiai Salam.

Diceritakan ada seorang pemuda yang bermimpi bertemu dengan santri yang meninggal di pondok. Semasa hidupnya dihabiskan di pesantren untuk belajar satu bab Ilmu. Saya melihat Allah SWT mengangkat satu drajat di surga. Lalu Allah berkata kepada malaikatNya agar menambai derajat itu dengan warisan para nabi.

Selain keutamaannya, Kiai Salam juga membacakan kitab di halaman 64, yang diterangkan, barang siapa yang mencari ilmu agar menyaingi atau mau mengalahkan orang lain atau memalingkan wajahnya dari manusia atau ingin punya pengaruh. Maka Allah akan memasukkan ke dalam neraka.

“Manusia itu memiliki dua jatah yaitu di surga atau di neraka. Kalau ada manusia yang seperi ini maka dia mengambil jatahnya di neraka,” pungkas Kiai Salam.