EMPAT SOLUSI DARI EMPAT MASALAH KEHIDUPAN

Dalam menjalani kehidupan ini, kita sering kali mendapati orang yang bertumpuk dan banyak masalah, silih berganti selalu ada, tak henti hentinya mengganggu menguji. Mari kita koreksi dirikita dan pelajari hal yang menjadikan banyaknya keruwetan dalam kehidupan, kemudian melakukan solusi yang di nasihatkan.

EMPAT MASALAH dan SOLUSINYA

1.Jika anda diuji dengan syahwat dan hawa nafsu, Maka periksalah sholat anda.

Al-Quran :

ﻓَﺨَﻠَﻒَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻫِﻢْ ﺧَﻠْﻒٌ ﺃَﺿَﺎﻋُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ﻭَﺍﺗَّﺒَﻌُﻮﺍ ﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ۖ ﻓَﺴَﻮْﻑَ ﻳَﻠْﻘَﻮْﻥَ ﻏَﻴًّﺎ

“Maka datang sesudah mereka suatu keturunan yang mereka telah melalaikan sholat dan memperturutkan syahwat hawa nafsunya”

(QS. MARYAM 59)

2.Jika anda merasa keras hati, berperangai buruk , sial, sengsara dan tidak ada kemudahan, Maka periksalah hubunganmu dengan ibumu dan baktimu kepadanya

Al Qur’an :

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيا

“Dan (Dia jadikan aku) berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka”

(QS. Maryam: 32)

3.Jika anda merasa depresi, tertekan dan kesempitan dalam hidup , maka periksalah interaksimu dengan Al-Qur’an.

Al Qur’an :

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكا

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (Al-Qur’an- berdzikir), maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit”

(QS. Thaha: 124)

4.Jika anda merasa kurang tegar dan teguh di atas kebenaran dan gangguan kegelisahan, Maka periksalah bagaimana pelaksanaanmu terhadap nasehat yang engkau dengar.

Al Qur’an :

وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُواْ مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتاً

“Sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih meneguhkan (iman mereka)”

(QS. Annisa: 66)

KARENA MENJELASKAN DAKWAH SURURIYYAH MENJADI JELASLAH BAHWA WAHABI VS WAHABI

Apakah Sururiyyah itu beserta ciri-cirinya yang sangat jelas? Apakah hal ini adalah suatu yang nyata/benar-benar ada atau hanya sekedar imajinasi/khayalan seseorang saja?

Asy Syaikh Muqbil rahimahullah menjawab.

Jawaban :

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah, semoga shalawat serta salam atas nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga keluarganya dan para shahabatnya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, yang Satu dan tak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Amma ba’du,

Sururisme (sururiyyah) adalah suatu penisbatan yang ditujukan kepada Muhammad Surur Zainal ‘Abidin. Pada awalnya dia berdiam di Kuwait, dimana dia mengeluarkan (mengarang) beberapa kitab yang baik yang didalamnya menjelaskan tentang aqidah Syi’ah serta buku-buku bagus lainnya. Kemudian dia pindah ke Jerman lalu ke Inggris (United Kingdom,red), dimana akhirnya dia menetap disana.

Lalu disana dia memproduksi majalah berjudul “Al Bayan”, kami dulu benar-benar gembira akan hal itu. Kemudian dia pun memproduksi majalah lainnya, yaitu “As Sunnah”, dan kami pun bersikap sama. Dan pada waktu itu kami katakan, “Inilah jawaban yang selama ini kita tunggu-tunggu”. Beberapa saudara kita pun memuji majalah Al Bayan dan kami pun waktu itu memujinya dengan mengatakan : “Tidak didapati (majalah) yang dapat menyamainya”. Namun seperti itulah keadaan dari hizbiyyah, pada awalnya mereka seakan-akan berdakwah kepada Al Qur’an dan As Sunnah sehingga hati umat melekat pada mereka, dan kekuatan mereka pun bertambah meningkat. Ketika mereka (ummat) mengetahui ada bahwa ada kritikan atasnya, maka kritikan tersebut tidak berpengaruh apa-apa padanya, sehingga mereka menampakkan apa yang mereka sebenarnya ada diatasnya.

Majalah “As Sunnah”, atau lebih tepat disebut “Al Bid’ah”, menyerukan umat untuk menjauhi para ulama dan menuduh para ulama sebagai tidak proaktif, dibayar oleh pemerintah dan tidak mempunyai pemahaman terhadap hal-hal terkini (fiqhul waqi’).

Namun, Alhamdulillah, topeng dari sururi-sururi (pengikut paham sururiyyah,red) itu pun terbongkar pada masa perang Teluk. Ini adalah anugerah dari Allah ‘Azza wa Jalla. Saya ingat waktu itu membaca beberapa perkataan (di dalam majalah mereka) yang didalamnya terdapat celaan terhadap Syaikh Al Albani – rahimahullah – , dikarenakan beliau membuat sebuah ceramah yang direkam yang berjudul “Pertemuan dengan Sururi”. Kemudian di halaman yang lainnya mereka memberikan pujian kepada Syaikh Bin Baz. Maka aku pun sadar terhadap arti dari pujian ini, yaitu agar mereka tidak dikatakan “Mereka menyerang para ulama”.

Beberapa hari setelah dikeluarkannya fatwa Syaikh Bin Baz tentang diperbolehkannya membuat perjanjian damai dengan Yahudi, mereka pun melancarkan serangan terhadap beliau. Maka inilah fakta dalam rencana mereka yang sebelumnya dipendam dengan baik, dalam rangka menjauhkan umat dari para ulama!. Dan majalah Al Bayan dan As Sunnah telah memberikan kontribusi pemahaman bahwa saat ini lebih patut untuk menyerahkan kepada “Salafiyyin di Yaman” yang mengerti permasalahan krisis yang terjadi di Yaman.

Maka aku katakan “Hai kalian orang-orang miskin, siapakah yang tidak mengetahui tentang kondisi kaum muslimin? Justru kamilah yang menemukan diri-diri kami yang memperbaiki situasi ini semua. (miskin = orang membutuhkan uluran tangan orang lain, artinya orang yang rendah/hina, red)

Maka, apa yang menjadikan terjatuhnya kaum muslimin ke dalam kerugian, ketakutan dan penderitaan, yakni diakibatkan oleh dosa-dosa yang kita lakukan. Allah berfirman :

“وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ ءَامِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ ﴿١١٢﴾ [النحل: ١١٢]

(yang artinya ): “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari ni`mat-ni`mat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” [QS An Nahl: 112] .

Sehingga jika kita menyadari tentang adanya penyakit, lalu apakah obatnya? Allah berfirman :

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لاَ يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ﴿٥٥﴾ [النور: ٥٥]

(yang artinya ) : “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [QS An Nuur: 55]

Dosa inilah yang membawa kehinaan bagi kaum muslimin. Dan dosa-dosa itu diantaranya adalah mereka berurusan dengan hal yang menarik perhatian (harta, red), menghalalkan perzinaan di banyak negeri-negeri Islam, mereka gandrung dan menyerahkan diri pada hukum-hukum buatan manusia, yang dibuat dengan menurut cara para musuh Islam, dan banyak lagi yang bisa kita sebutkan…dan keluar dengan tanpa Hijab dan mempertontonkan hal-hal yang tidak senonoh,dan memcampuradukkan laki-laki dan wanita (ikhtilath) di sekolah-sekolah dan universitas-universitas.

Maka obat dari hal ini adalah kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kembali kepada para Ulama. Allah berfirman :

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً

(yang artinya ) : “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” [QS An Nisaa: 83]

Maka sudah menjadi keharusan bagi kita untuk kembali kepada para ulama.

وَتِلْكَ الأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلاَّ الْعَالِمُونَ

(yang artinya ) : “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” [QS Al ‘Ankabuut: 43]

Tapi apa yang kalian lihat, adalah seorang yang menghafal beberapa subyek/hal saja, lalu kemudian dia mengedarkannya berkeliling ke masjid-masjid, sambil menyeruduk dan membenturkan kepalanya (seperti banteng). Lalu teman-temannya memberikan julukan padanya “Syaikhul Islam!”. Inikah yang namanya ilmu? Padahal ilmu itu didapatkan dengan duduk diatas tikar dengan kebutuhanmu dilipat dibawahmu (mendengar langsung dari Syaikh), dengan bersabar dari kesusahan akibat perut yang lapar dan kosong. Sebagaimana bisa dilihat pada keadaan para shahabat Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – dan atas apa yang mereka dapatkan. Para Ulama’, merekalah yang mampu membawa segala sesuatu sesuai dengan kedudukannya, sebagaimana yang telah dijelaskan pada ayat sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

(yang artinya ) : “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” [QS Ar Ruum: 22]

Dan Allah berfirman :

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الأَلْبَابِ

(yang artinya ) : “Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”. [QS Ar Ro’d: 19]

Penderitaan yang kaum muslimin diuji dengannya adalah dikarenakan mereka bodoh terhadap agamanya. Oleh karenanya, ketika ada seseorang yang menghafal beberapa ayat dan hadits kemudian dia mulai berbicara dengannya, apalagi dia mempunyai kemampuan berbicara dengan lancar, maka orang-orang pun mengatakan “Inilah Syaikh!”.

Alhamdulillah, realita dari hal ini menjadi jelas, sebagaimana dikatakan (penyair, red),

“Jika kamu mendengar seseorang yang pintar berbicara itu mulai berbicara, jangan berikan dirimu padanya.

Sebab karena hal yang tak biasa adalah sesuatu yang dibuat-buat,

Puaskanlah dengan mengambil ilmu dan pemahaman, dan

Kepandaian bicaranya akan berakhir, tanpa ada perlawanan.”

Dan Allah berfirman menceritakan tentang kisah Qarun :

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَالَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ ﴿٧۹﴾ وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلاَ يُلَقَّاهَا إِلاَّ الصَّابِرُونَ ﴿۸۰﴾ فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ ﴿۸١﴾ وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلاَ أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ ﴿۸٢﴾ [القصص: ٧۹ – ۸٢]

(yang artinya ) : “Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. [80] Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar”. [81] Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). [82] Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu. berkata: “Aduhai. benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (ni`mat Allah)”. [QS Al Qoshosh: 79 – 82]

Oleh karena itu, adalah merupakan kewajiban bagi kita untuk kembali kepada Ahlul Ilmi (Ulama) dan menuntut ilmu (thalabul ilmi, red), sebagaimana jibril mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengajarkan para shahabat bagaimana cara menjawab pertanyaan-pertanyaan.

Dan saya tidak akan lupa dengan apa yang dikatakan oleh si dungu ‘Abdul Qadir Asy Syaibani, “Kami akan mengirimkan beberapa saudara kami kepada Abi ‘Abdirrahman (yakni – kunyah – Syaikh Muqbil) untuk mendapatkan beberapa tegukan (ilmu) dalam waktu dua bulan, dan kemudian kami akan mengirimkannya ke beberapa markas (pusat dakwah) untuk mengambil alih markas tersebut dari Al Ikhwanul Muslimin”. Maka saya katakan “Dalam dua bulan, apakah mungkin bisa menghasilkan da’i ilallah?”

Jika kebodohan macam ini yang menguasai tujuan-tujuan dari berbagai kelompok dakwah, maka aku akan memberikan kabar akan hancurnya kelompok dakwah model itu. Maka, kita harus berkumpul dengan para ulama dan menimba ilmu dari mereka, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para ulama kita terdahulu. Salman Al Farisi duduk dan mencari ilmu kepada ulama yang dia temui pertama kali sampai ulama itu meninggal dan kemudian terhadap yang kedua dan ketiga sampai akhirnya dia bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti beliau (Shalallahu ‘alaihi wassalam). Dan hal ini juga ditempuh shahabat Mu’adz bin Jabal. Sebelum dia meninggal, mereka bertanya padanya, “Kepada siapa kami harus pergi (mencari ilmu setelah darimu)? Dia menjawab “Kepada Abdullah bin Mas’ud”.

Dan ketika salah seorang saudara kita meminta kepada seorang hizbiyyin untuk menuntut ilmu, dia berkata (dengan menukil ayat Al Qur’an),

مَا تُحِبُّونَ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الآخِرَةَ

(artinya) : “Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat.” [QS Aali ‘Imroon: 152]. Kemudian dia berkata, “Allah berfirman dalam ayat ini adalah berkaitan dengan para shahabat, maksudnya, mereka menyadari bahwa mereka tak mempunyai kesabaran dalam mencari ilmu dan menderita kelaparan. Mereka lebih memilih untuk hidup dengan orang-orang di rumah-rumah dan kendaraan-kendaraan dan dalam kehidupan dunia. Kemudian kami mendengar dari mereka, “Engkau menyerang organisasi-organisasi lain”, Lantas siapa yang mengatakan padamu bahwa kami menyerang oraganisasi-organisasi lain ? Ya, kami menyerang organisasi-oraganisasi yang didalamnya terdapat unsur hizbiyyah, berloyalitas terlarang, pencurian dan penyalahgunaan uang, organisasi semacam itulah yang kami kritisi dan kami menyerukan kepada umat agar menjauhinya”.

Inilah dakwah (yang dilancarkan hizbiyyah diatas, red) yang berbasis atas kedustaan dan muslihat, namun keadaan yang sebenarnya akan terbongkar nanti. Sebagaimana dakwahnya Ali bin Al Fadl yang telah terbongkar dengan sendirinya, begitu juga realita dengan dakwahnya Mu’tazilah, Syi’ah dan Sufi pun telah terlihat dengan nyata. Dan satu-satunya yang akan membongkar dan membuat keadaan asli mereka terlihat dengan nyata, dengan ijin Allah, adalah Ahlus Sunnah.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Ahlus Sunnah adalah satu-satunya yang selalu memeriksa dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada di umat muslim. Rasulullah bersabda “ Tidak akan hilang dari umatku sekelompok orang yang selalu menampakkan kebenaran, tidak akan merugikan mereka orang-orang yang menghinakan mereka, mereka tetap berada dalam kondisi yang demikian sampai datang keputusan Allah” (HR. Muslim) .

Maka Syaikh Rabi’ bin Hadi, semoga Allah menjaganya, membongkar kedok para hizbiyyin dan menjelaskan keyakinan-keyakinan yang mereka berada diatasnya. Sebagaimana Syaikh Abul Hasan * di Ma’rib (Penting untuk diketahui bahwa hal ini tertulis pada artikel yang dicetak pada edisi pertama tahun 2000 dari kitab Tuhfatul Mujiib. Sejak itu, yakni sejak meninggalnya Imam Muqbil Al Wadi’I rahimahullah, para Ulama’ memperingatkan dari kesalahan aqidah dan manhaj yang dianut dari pihak Abul Hasan al Ma’ribi. Sehingga seperti Syaikh Rabi al Madkhali, Syaikh Ahmad an Najmi dan Syaikh Ubaid all Jabiri mengingkarinya dan mentahdzirnya dan memperingatkan agar hati-hati atasnya, red), Syaikh Muhammad bin ‘Abdulwahhab di Hudaidah, Syaikh Muhammad Al Imam di Ma’bar, Syaikh Qasim dan Al Akh Muhammad As Sumali di Jami’ul Khair Shan’a.

Maka aku nasehatkan kepada saudara-saudara sekalian, sebab banyak dari mereka, alhamdulillah – segala puji bagi Allah -yang mau menerima (nasehat), untuk kembali kepada Alqur’an dan As Sunnah dan mendakwahkannya, dan tidak menyia-nyiakan kehidupan mereka untuk memuliakan syaikh anu dan anu. Dan jika mereka meninggalkan syaikh tertentu, maka mereka akan berkata “Hati-hatilah padanya, dia berasal dari Jama’at takfir” atau “dia adalah agen pemerintah”. Ini adalah perkataan-perkataan dari seseorang yang tidak takut pada Allah.

(Diterjemahkan secara bebas dari artikel Inilah Sururiyyah, berhati-hatilah darinya. Penulis Imam Muqbil bin Hadi al Wadi’I rahimahullah, dalam kitab beliau Tuhfat-ul-Mujib ‘alaa As’ilat-il-Haadir wal-Gharib (hal 179-18)

KEDUANYA ULAMA WAHABI SEMUA..

MENDO’AKAN UNTUK MAYIT KETIKA KITA BERTA’ZIYAH

Sering kali saat ada berita dukacita meninggalnya seorang Muslim atau Muslimah, banyak di antara masyarakat kita yang mengucapkan kata-kata doa baginya, “Semoga husnul khatimah.” Ucapan doa semacam ini tampaknya telah menjadi kebiasaan di masyarakat kita.

Pertama-tama yang penting dikemukakan adalah bahwa doa menempati posisi yang sangat penting dalam ajaran Islam.

 Disebutkan dalam sabda Nabi SAW, ”Doa itu ibadah” (HR Al-Bukhârî dan ashhâbus sunan).

Beliau juga bersabda, ”Doa adalah intisari ibadah” (HR At-Tirmîdzî dari Anas bin Mâlik). Rasulullah juga bersabda, ”Sungguh doa itu pedang (senjata) orang mukmin” (HR Abû Ya‘lâ).

Oleh karena itu, Syekh Muhammad ‘Alî As-Sâyis dalam kitabnya Tafsîr Âyâtil Ahkâm (Kairo, Muassasat al-Mukhtar: 2001, juz I, halaman 79), menegaskan pandangan ulama bahwa ”Doa itu tingkatan terpenting dalam ‘ubûdiyyah (ketaatan kepada Sang Khaliq).”

Selanjutnya, begitu pentingnya doa itu, Islam telah mengajarkan tuntunan berdoa, baik doa yang berkaitan dengan aktifitas individu sehari-hari, untuk diri sendiri dan/atau keluarga, dan doa yang diperuntukkan bagi orang lain, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia.

Bagaimana tuntunan Islam ketika ada seseorang yang meninggal dunia?

Ketika ada seseorang yang meninggal dunia, maka disunahkan untuk berta‘ziyah, yakni mendoakan bagi keluarga mayit agar diberikan pahala, kebaikan dalam masa sedih atau dukanya dan diberikan kesabaran dalam menghadapi musibah, dan tentu saja mendoakan maghfirah (ampunan) bagi si mayit. Untuk itu doa yang tepat ketika ada seseorang yang meninggal dunia adalah kandungan doa ta‘ziyah.

Ta‘ziyah berarti mendoakan kesabaran dan menyebutkan sesuatu yang bisa menghibur orang yang sedang berduka, meringankan kesedihannya dan membantu terhadap musibah yang dialaminya.

Imam Abû Bakr bin ‘Alî bin Muhammad Al-Haddâd Az-Zabîdî (wafat 800 H), seorang ulama mazhab Hanafiyyah, dalam kitabnya Al-Jauharatun Nayyirah menjelaskan tentang redaksi ta’ziyah:

لَفْظُ التَّعْزِيَةِ: عَظَّمَ اللهُ أَجْرَكَ، وَأَحْسَنَ عَزَاءَكَ، وَغَفَرَ لِمَيْتِكَ، وَأَلْهَمَكَ صَبْرًا، وَأَجْزَلَ لَنَا وَلَكَ بِالصَّبْرِ أَجْرًا، وَأَحْسَنُ مِنْ ذٰلِكَ: تَعْزِيَةُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم لِإِحْدَى بَنَاتِهِ كَانَ قَدْ مَاتَ لَهَا وَلَدٌ فَقَالَ: (إِنَّ لِهُِٰn مَا أُخِذَ، وَلَهُ مَا أُعْطِيَ، وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُّسَمَّى)

Artinya, ”Lafal Ta‘ziyah: ’Semoga Allah membesarkan pahala padamu, memperbaguskan dukamu, memberikan ampunan bagi mayitmu, dan membimbingmu bersabar, dan semoga Dia memperbesar pahala sebab kesabaran kepada kami dan kepadamu’. Redaksi yang lebih bagus dari redaksi tersebut adalah ucapan ta‘ziyah Rasulullah SAW kepada salah seorang putrinya yang berduka karena kematian putranya. Rasulullah bersabda, ’Sungguh bagi Allah apa yang Dia ambil, bagi-Nya apa yang telah Dia berikan, dan segala sesuatu yang ada pada sisi-Nya telah ditetapkan ajalnya.’” (Imam Az-Zabîdî, Al-Jauharatun Nayyirah Syarh Mukhtashar Al-Qudûrî fîl Furû‘il Hanafiyyah, [Beirut, Dârul Kutub Al-‘Ilmiyyah: 1971 M], halaman 274).

Sabda Nabi SAW yang berisi ungkapan ta‘ziyah tersebut sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhârî, Shahih Muslim dan Sunan An-Nasâ’î. Dalam mengomentari sabda Nabi SAW ini, Imam An-Nawawî (631-676 H) menyatakan bahwa hadits tersebut merupakan kaidah-kaidah Islam paling agung (min a‘zhami qawâ‘idil Islâm) yang mencakup hal-hal urgen tentang pokok-pokok dan cabang-cabang agama, (ajaran) adab, kesabaran ketika terjadi musibah, keprihatinan, sakit, dan lain sebagainya.

Imam An-Nawawî, pemuka mazhab Syafi’iyah, lebih lanjut dalam kitabnya Al-Adzkâr memberikan penjelasan mengenai lafal ta‘ziyah, dan ucapan-ucapan ta‘ziyah secara rinci sebagai berikut:

فَصْلٌ: وَأَمَّا لَفْظُ التَّعْزِيَةِ فَلَا حَجَرَ فِيْهِ، فَبِأَيِّ لَفْظٍ عَزَّاهُ حَصَلَتْ. وَاسْتَحَبَّ أَصْحَابُنَا أَنْ يَّقُوْلَ فِيْ تَعْزِيَةِ الْمُسْلِمِ بِالْمُسْلِمِ: أَعْظَمَ اللهُ أَجْرَكَ، وَأَحْسَنَ عَزَاءَكَ، وَغَفَرَ لِمَيْتِكَ. وَفِي الْمُسْلِمِ بِالْكَافِرِ: أَعْظَمَ اللهُ أَجْرَكَ، وَأَحْسَنَ عَزَاءَكَ؛ وَفِيْ الْكَافِرِ بِالْمُسْلِمِ: أَحْسَنَ اللهُ عَزَاءَكَ، وَغَفَرَ لِمَيْتِكَ؛ وَفِي اْلكَافِرِ بِالْكَافِرِ: أَخْلَفَ اللهُ عَلَيْكَ

Artinya, ”Fasal. Adapun ungkapan ta‘ziyah (belasungkawa, dukacita) maka tidak ada batasan baku sehingga dengan redaksi apapun yang menunjukkan rasa dukacita, maka ta‘ziyah itu tercapai. Para kolega kami menganjurkan seorang Muslim dalam ta‘ziyah kepada seorang Muslim sebab (keluarganya) seorang Muslim yang meninggal dunia, agar mendoakan, ’Semoga Allah membesarkan pahala Anda, memperbaguskan duka Anda, dan memberikan ampunan bagi mayit Anda.’ Dalam ta‘ziyah kepada seorang Muslim sebab keluarga non-Muslimnya yang meninggal dunia, agar mendoakan: ’Semoga Allah membesarkan pahala Anda, memperbaguskan duka Anda’. Dan dalam ta‘ziyah kepada seorang Non-Muslim sebab keluarganya seorang Muslim yang meninggal dunia, agar mendoakan: ’Semoga Tuhan memperbaguskan duka Anda, dan memberikan ampunan bagi mayit Anda’. Dan dalam ta‘ziyah kepada seorang Non-Muslim sebab keluarganya Non-Muslim yang meninggal dunia, agar mendoakan: ’Semoga Tuhan menggantikan kebaikan bagi Anda’.” (Imam An-Nawawî, Al-Adzkârun Nawawiyyah, [Riyad, Dâru ibn Khuzaimah: 2001 M], halaman 304).

Doa yang diperuntukkan bagi seorang Muslim yang meninggal dunia pada dasarnya berisi doa, sebagaimana doa yang dibaca dalam shalat jenazah, yaitu permohonan ampunan, rahmat (belas kasih), dan penghapusan dosa, sebagaimana telah maklum berikut ini:

 اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

 Artinya, ”Ya Allah curahkanlah ampunan kepadanya, limpahkanlah rahmat (kasih sayang) padanya, maafkanlah dia, dan hapuskanlah–dosa–darinya…”

Dengan demikian, ucapan dukacita yang lebih tepat disampaikan ketika ada seorang Muslim atau Muslimah yang meninggal dunia adalah ucapan berisi doa agar almarhum/almarhumah diberikan ampunan dan rahmah Allah Ta‘ala, dan agar keluarganya (yang beragama Islam) yang ditinggalkan tersebut diberikan pahala dan kesabaran. Intinya kita dianjurkan untuk mendoakan kebaikan, berupa ampunan dan rahmat bagi si mayit (Muslim/Muslimah), dan mendoakan agar keluarganya (yang beragama Islam) diberikan kesabaran dan pahala dalam menghadapi dukacita yang menimpanya.

Adapun ucapan semoga husnul khatimah itu lebih tepat diperuntukkan bagi orang yang belum meninggal dunia, misalnya yang sedang sakit keras, dan disampaikan kepada keluarganya, agar ketika ia meninggal dalam keadaan husnul khatimah (pungkasan yang baik).

Wallâhu a‘lam bis shawâb.

INILAH SALAH SATU DO’A NABI SAW UNTUK MERUQYAH

Nabi saw berdo’a :

اعوذ بكلمات الله التآمات من شر ما خلق

Aku berlindung dengan kalimat-kalimat  Allah yg sempurna dari setiap kejahatan makhkuq yg Ia ciptakan.

Apakah maksud dari kalimat yg sempurna itu?

Imam Nawawi berkata:

قيل معناه الكاملات التى لا يدخل فيها نقص ولاعيب وقيل النافعة الشافية وقيل المراد بالكلمات هنا القرآن والله أعلم

Ada ulama yg mengatakan maksudnya adalah kalimat yg tidak dimasuki oleh kekurangan dan aib,

Ada pula yg menyebutnya bermaksud kalimat yg bermanfaat dan menyembuhkan.

Ada pula yg menyebutkan maksudnya adalah al-qur’an.

Dalamkitab Faidhul qodir juga disebutkan:

1. Asmaul husna

2. Semua yg Allah turunkan kpd para Nabi

3. Sifat2 Allah yg mulia

4. Ilmu Allah dan Hikmah

Kelebihan zikir ini adalah:

1. Tidak akan dimudhoratkan apapun

(At tamhid dr Abu Hurairah, dibaca pagi-sore)

2. Dihilangkan kegelisahan dan mimpi buruk, juga tidur yg tidak nyenyak (Tamhid, kholid bin walid)

3. Dibaca jika singgah di suatu tempat, maka akan dijaga hingga pindah dr tmpat tersebut. (Dr haulah binti hakim)

4. Diselamatkan dari gigitan binatang berbisa (faidhul qodir)l dr abu hurairah..

5. Dibacakan sebagai penjaga anak kecil.

6. Sebagai ruqyah.

HUKUM RUQYAH DAN MENERIMA UPAH SETELAH MERUQYAH

Kajian Tafsir tentang Al-Qur’an sebagai ayat ruqyah

وننَزِّلُ مِنَ القرآنِ مَا هُوَ شفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ، وَلاَ يَزيْدُ الظالِمِيْنَ إلاَّ خَساراً

“Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian.” (QS. Al Isra’: 82)

Menurut Abu Bakar Al Jazairi, huruf MIN (من) pada ayat di atas berfungsi sebagai penjelas (مبينة) bagi huruf maushul ما, bukan ibtida’ atau zaidah. [Abu Bakar Jabir Al Jazairi, Aisaru Al Tafasir Li Kalam AL ‘Aliyyi Al Kabir. Kairo: Dar Al Hadits, 2006, Juz 2, hal. 249]

Sementara itu, Muhammad Sayyid Thanthawi mengatakan bahwa huruf MIN (من) pada ayat tersebut bukan unt tab’idh (للتبعيض) atau menunjukkan sebagian, melainkan al jins (للجنس).

Maka makna ayat وننزل من القران di atas adalah

وننزل من هذا الجنس الذي هو قرآن ما هو شفاء

Dengan demikian, ayat tersebut menegaskan bahwa semua kandungan Al Qur’an merupakan obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. [Muhammad Sayyid Thanthawi, Al Tafsir Al Wasit. Kairo: Dar Al Sa’adah, 2007, Jilid 8, hal. 416.]

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan adanya dua pendapat ulama tentang penyakit yang bisa disembuhkan dengan ayat Al-Qur’an.

Pendapat pertama, bahwa Al-Qur’an itu menyembuhkan hati (القلوب) dari penyakit KEBODOHAN dan KERAGUAN.

Pendapat kedua, menyembuhkan penyakit-penyakit JASMANI dengan cara RUQYAH, ta’awwudz dan sejenisnya. [Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Al Anshari Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkam Al Qur’an. Kairo, 1940, juz 10, hal 316]

Ketahuilah kenapa RUQYAH dimasukkan dalam KITAB FIQIH ada bahasan Thib bukan masuk dalam bab IBADAH.

Karena dalam thib dalam hal ini ruqyah memiliki unsur TAJRIBAH (hasil penelitian) yang berkembang sesuai dengan zaman juga memiliki unsur TA’ABUDIYAH dimana ada batasan syar’i (tidak syirik).

Kenapa Thib Ruqyah masuk dalam bab Fiqih bukan IBADAH, sebab ada ruang untuk ijtihad dan penelitian, itulah mengapa timbul beragam teknik pengobatan ruqyah. Sedangkan Jika masuk dalam bab ibadah maka wajib 100% menghilangkan inovasi sebab jatuhnya nanti bid’ah bahkan sesat.

Resikonya Thib Ruqyah dimasukkan ulama pada kitab FIQIH maka sampe KIAMAT pasti ada perbedaan pendapat juga pro dan kontra. Jika ada yang Tidak setuju dengan salah satu teknik hendaknya menghargai orang yang melakukannya sebab mereka juga punya dalil. Yang tidak boleh itu adalah berpecah belah dan saling bermusuhan karena hanya perbedaan pendapat dalam teknik ruqyah dari hasil tajribah yang ada sandaran ilmiyah dan syar’iyyah juga.

Saya melihat sekarang ini ada perpecahan dikalangan peruqyah dalam memahami metode ruqyah. Ada yang mengatakan bahwa ruqyah harus dengan ayat Al-Qur’an dan berbahasa arab dan katanya seorang peruqyah itu harus menguasai beragam disiplin ilmu syar’i. Sementara yang lain cara meruqyahnya memakai bahasa daerah yang tetap memohon kesembuhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan cara ini katanya TIDAK SYAR’I dan DILARANG.

Benarkah demikian? Baiklah kita kaji bersama tentang ruqyah tersebut.

Saat ini yang lagi ngetrend adalah acara ruqyah yang katanya paling NYUNNAH dan SYAR’IYAH, sementara yang lain adalah SESAT dan mengandung KEMUSYRIKAN. Dan hal inilah yang sebagian umat islam khususnya Ahlussunnah wal Jama’ah (ASWAJA) merasa perlu mengklarifikasi terkait ruqyah.

Ruqyah secara bahasa adalah sebuah terapi dengan membacakan jampi-jampi atau mantera-mantera. Sedangkan Ruqyah yang katanya syar’iyah yaitu sebuah terapi dengan cara membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan doa-doa perlindungan yang bersumber dari sunnah Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ruqyah dilakukan oleh seorang muslim, baik untuk tujuan penjagaan dan perlindungan diri sendiri atau orang lain, dari pengaruh buruk pandangan mata manusia dan jin (al-ain) kesurupan, pengaruh sihir, gangguan kejiwaan, dan berbagai penyakit fisik dan hati. Ruqyah juga bertujuan untuk melakukan terapi pengobatan dan penyembuhan bagi orang yang terkena pengaruh, gangguan dan penyakit tersebut.

Diantara tujuan ruqyah adalah menyembuhkan penyakit seperti yang dilakukan shahabat Anas radliyallahu ‘anhu yang mana beliau meruqyah Tsabit dengan ruqyah yang pernah digunakan Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam

Adzkar Nawawi hal 113

وروينا في ” صحيح البخاري ” عن أنس رضي الله عنه، أنه قال لثابت رحمه الله: ألا أرقيك برُقْيَة رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: بلى، قال: ” اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، مُذْهِبَ البأسِ، اشْفِ أنْتَ الشَّافِي، لا شافِيَ إِلاَّ أَنْتَ، شِفاءً لا يُغادِرُ سَقَماً “.

قلت: معنى لا يغادر: لا يترك، والبأس: الشدّة والمرض

Diantara tujuan ruqyah lagi adalah untuk membentengi seseorang dari bahaya sebagaimana yg dilakukan Rosulullah sholla Allahu ‘alaihi wa sallam terhadap kedua cucunya yaitu sayyidina Hasan dan sayyidina Husain

Al Adzkar An Nawawi hal 273

وروينا في ” صحيح البخاري ” حديث ابن عباس أن النبي (صلى الله عليه وسلم) كان يُعوِّذ الحسن والحسين: ” أُعِيذُكُمابِكَلِماتِ

اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطانٍ وَهامَّةِ وَمِنْ كُلّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ، ويقول: إنَّ أباكُما كانَ يعوّذ بهما إسماعيلَ وإسحاقَ

Ruqyah adalah terapi atau pengobatan yang sudah ada di masa JAHILIYAH. Dan ketika Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam diutus menjadi Rasulullah, maka ditetapkanlah Ruqyah yang dibolehkan dalam Islam. Allah menurunkan surat al-Falaq dan An-Naas salah satu fungsinya sebagai pencegahan dan terapi bagi orang beriman yang terkena sihir.

Diriwayatkan oleh ‘Aisyah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa membaca kedua surat tersebut dan meniupkannya pada kedua telapak tangannya, mengusapkan pada kepala dan wajah dan anggota badannya. Dari Abu Said bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dahulu senantiasa berlindung dari pengaruh mata jin dan manusia, ketika turun dua surat tersebut, Beliau mengganti dengan keduanya dan meninggalkan yang lainnya” (HR At-Tirmidzi).

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ كُنَّا فِي مَسِيرٍ لَنَا فَنَزَلْنَا فَجَاءَتْ جَارِيَةٌ فَقَالَتْ إِنَّ سَيِّدَ الْحَيِّ سَلِيمٌ (لذيغ) وَإِنَّ نَفَرَنَا غَيْبٌ فَهَلْ مِنْكُمْ رَاقٍ فَقَامَ مَعَهَا رَجُلٌ مَا كُنَّا نَأْبُنُهُ بِرُقْيَةٍ فَرَقَاهُ فَبَرَأَ فَأَمَرَ لَهُ بِثَلَاثِينَ شَاةً وَسَقَانَا لَبَنًا فَلَمَّا رَجَعَ قُلْنَا لَهُ أَكُنْتَ تُحْسِنُ رُقْيَةً أَوْ كُنْتَ تَرْقِي قَالَ لَا مَا رَقَيْتُ إِلَّا بِأُمِّ الْكِتَابِ قُلْنَا لَا تُحْدِثُوا شَيْئًا حَتَّى نَأْتِيَ أَوْ نَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ ذَكَرْنَاهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ وَمَا كَانَ يُدْرِيهِ أَنَّهَا رُقْيَةٌ اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ رواه البخاري ومسلم)

Dari Abu Said al-Khudri RA berkata, “Ketika kami sedang dalam suatu perjalanan, kami singgah di suatu tempat. Datanglah seorang wanita dan berkata, “ Sesungguhnya pemimpin kami terkena sengatan, sedangkan sebagian kami tengah pergi. Apakah ada di antara kalian yang biasa meruqyah?”

Maka bangunlah seorang dari kami yang tidak diragukan kemampuannya tentang ruqyah. Dia meruqyah dan sembuh. Kemudian dia diberi 30 ekor kambing dan kami mengambil susunya. Ketika peruqyah itu kembali, kami bertanya,

”Apakah Anda bisa? Apakah Anda meruqyah?“

Ia berkata, ”Tidak, saya tidak meruqyah kecuali dengan Al-Fatihah.”

Kami berkata, “Jangan bicarakan apapun kecuali setelah kita mendatangi atau bertanya pada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika sampai di Madinah, kami ceritakan pada nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam Dan beliau berkata,

“Tidakkah ada yang memberitahunya bahwa itu adalah ruqyah? Bagilah (kambing itu) dan beri saya satu bagian.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Auf bin Malik al-Asyja’i berkata,

”Dahulu kami meruqyah di masa jahiliyah, dan kami bertanya, “ Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu?”

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Perlihatkan padaku ruqyah kalian. Tidak apa-apa dengan ruqyah jika tidak mengandung kemusyrikan .” (HR Muslim)

Hukum Ruqyah

Para ulama berpendapat pada dasarnya ruqyah secara umum DILARANG.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya ruqyah (mantera), tamimah (jimat) dan tiwalah (pelet) adalah kemusyrikan.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Hakim).

مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ

“Barangsiapa menggantungkan sesuatu, maka dirinya akan diserahkan kepadanya.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud dan Al-Hakim)

عن عِمْرَان قَالَ: قَالَ نَبِيّ اللّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- : يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفاً بِغَيْرِ حِسَابٍ” قَالُوا: وَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللّهِ؟ قَالَ: “هُمُ الّذِينَ لاَ يَكْتَوُونَ، وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ وَلاَ يَسْتَرْقُونَ وَعَلَى رَبّهِمْ يَتَوَكّلُونَ

Dari Imran berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

” Akan masuk surga dari umatku 70 ribu dengan tanpa hisab”.

Sahabat bertanya, “Siapa mereka wahai Rasulullah ?”

Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” Mereka adalah orang yang tidak berobat dengan kay (besi), tidak minta diruqyah dan mereka bertawakkal pada Allah”. (HR Bukhari dan Muslim).

Para ulama banyak membicarakan hadits ini, di antaranya yang terkait dengan ruqyah. Ulama sepakat bahwa ruqyah secara umum DILARANG, kecuali tidak ada unsur kemusyrikan.

ما توكل من استرقى

“Tidaklah bertawakkal orang yang minta diruqyah.” (HR At-Tirmidzi)

Adapun selain itu, seperti berlindung dengan Al-Qur’an, Asma Allah Ta’ala dan ruqyah yang telah diriwayatkan (dalam hadits), maka itu TIDAK DILARANG. Dan dalam konteks ini Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang yang meruqyah dengan Al-Qur’an dan mengambil upah :

من أخذ برقية باطل فقد أخذتُ برقية حق

”Orang mengambil ruqyah dengan batil, sedang saya mengambil ruqyah dengan benar. ” (HR At-Tirmidzi)

“Jadi dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa meruqyah dengan ayat-ayat Al-Qur’an, Asma Allah atau dengan do’a-do’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak mengandung KEMUSRIKAN meskipun tidak dengan bahasa arab itu DIBOLEHKAN.”

Ruqyah Dzatiyah

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai kesempatan menyampaikan kepada para sahabatnya untuk melakukan ruqyah dzatiyah, yaitu seorang mukmin melakukan penjagaan terhadap diri sendiri dari berbagai macam gangguan jin dan sihir. Hal ini lebih utama dari meminta diruqyah org lain. Dan pada dasarnya setiap orang beriman dapat melakukan ruqyah dzatiyah.

Beberapa hadits di bawah adalah anjuran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang beriman untuk melakukan ruqyah dzatiyah

“من قرأ آية الكرسي في دبر الصلاة المكتوبة كان في ذمة الله إلى الصلاة الأخرى”

“Siapa yg membaca ayat Al-Kursi setelah shalat wajib, maka ia dalam perlindungan Allah sampai shalat berikutnya” (HR At-Tabrani).

عن عبد الله بن خُبَيْبٍ عن أَبيهِ قالَ: “خَرَجْنَا في لَيْلَةٍ مَطِيرَةٍ وظُلْمَةٍ شَدِيدَةٍ نَطْلُبُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يُصَلّي لَنَا قالَ فأَدْرَكْتُهُ فقالَ: قُلْ. فَلَمْ أَقُلْ شَيْئاً. ثُمّ قالَ: قُلْ فَلَمْ أَقُلْ شَيْئاً. قالَ قُلْ فَقُلْتُ مَا أقُولُ قال قُلْ: قُلْ {هُوَ الله أَحَدٌ} وَالمُعَوّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِي وتُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلّ شَيْء”.

Dari Abdullah bin Khubaib dari bapaknya berkata,

”Kami keluar di suatu malam, kondisinya hujan dan sangat gelap, kami mencari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengimami kami, kemudian kami mendapatkannya.”

Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ” Katakanlah”. “ Saya tidak berkata sedikit pun”.

Kemudian beliau berkata, “Katakanlah.”

“Sayapun tidak berkata sepatahpun.”

“Katakanlah, ”

Saya berkata, ”Apa yang harus saya katakan?“

Rasul bersabda, ”Katakanlah, qulhuwallahu ahad dan al-mu’awidzatain ketika pagi dan sore tiga kali, niscaya cukup bagimu dari setiap gangguan.” (HR Abu Dawud, At-tirmidzi dan an-Nasa’i)

مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

“Siapa yang membaca dua ayat dari akhir surat Al-Baqarah setiap malam, maka cukuplah baginya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

مَنْ نَزَلَ مَنْزلاً ثُمَّ قالَ: أعُوذُ بِكَلِماتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرّ مَا خَلَقَ، لَم يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذلكَ”.‏

“Siapa yang turun di suatu tempat, kemudian berkata, ‘A’udzu bikalimaatillahit taammaati min syarri maa khalaq’, niscaya tidak ada yang mengganggunya sampai ia pergi dari tempat itu.” (HR Muslim)

Oleh karena itu orang beriman harus senantiasa melakukan ruqyah dzatiyah dalam kesehariannya. Hal-hal yang harus dilakukan dengan ruqyah dzatiyah adalah:

1. Memperbanyak dzikir dan doa yang ma’tsur dari Nabi SAW, khususnya setiap pagi, sore dan setelah           selesai shalat wajib.

2. Membaca Al-Qur’an rutin setiap hari

3. Meningkatkan ibadah dan pendekatan diri kepada Allah.

4. Menjauhi tempat-tempat maksiat

5. Mengikuti majelis ta’lim dan duduk bersama orang-orang  sholeh

Mengambil Upah dari Ruqyah

Para ulama sepakat membolehkan mengambil upah dari mengobati dengan cara ruqyah syar’iyah. Bahkan dalam hadits terkenal tentang para sahabat yang meruqyah kepala suku yang terkena bisa ular, Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “ Saya tidak bersedia meruqyah sampai kalian memberiku upah”. Sehingga dalam kitab Shahih Al-Bukhari, salah satunya memasukkan hadits ini dalam bab al-ijarah. Dalam ujung hadits Abu Said Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ

“Bagilah (upah itu), dan beri aku satu bagian.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Sedangkan upaya menjadikan pengobatan ruqyah sebagai usaha rutin dan tafarrugh, maka hukumnya sama dengan mengambil upah dari pengobatan yang lainnya. Hal ini karena pengobatan ruqyah membutuhkan waktu yang cukup dan dilakukan secara profesional. Begitu juga para peruqyah dituntut senantiasa meningkatkan ilmu dan keikhlasan.

Namun demikian karena pengobatan ruqyah adalah bagian dari fardhu kifayah dan kebutuhan ummat, maka sebaiknya jangan dijadikan sarana komersial atau bisnis murni, demikian halnya dengan pengurusan jenazah, khutbah, imam shalat, adzan dan iqomah, mengajarkan Al-Qur’an, bimbingan haji dan lain-lain.

Penutup

Demikian Bayan dan Panduan Ruqyah Koordinator Sarkub Jakarta Timur dibuat untuk membentengi para kader, anggota dan simpatisan dari berbagai macam penyimpangan syariah yang mengatasnamakan pemurni tauhid dewasa ini.

والله أعلم بالصـواب ,وهو الموفق إلى أقوم الطريق ,والحمد لله

PENJELASAN SHALAT SUNNAH TAHAJUD DAN DLUHA SERTA TASBIH

SHALAT TASBIH

Shalat tashbih adalah sunah. Pendapat ini dikemukakan oleh sebagian ulama penganut mazhab Syafi’e. Dinamakan tasbih karena pelaku shalat akan membaca kalimat tasbih “Subhanallah wal hamdu lillahi walaa ilaaha illallahu wallahu akbar” sebanyak 300 kali yang dilakukan sebanyak 4 raka’at, setiap raka’at 75 kali tasbih. Shalat ini diajarkan Rasulullah saw kepada pamannya yakni Abbas bin Abdul Muthallib ra. Hikmah shalat ini adalah dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, tentu saja jika dilakukan dengan hati yang ikhlas.

Shalat tasbih boleh dilakukan kapan saja baik siang hari atau malam hari dan dan lebih baik jika dilakukanya malam hari, dan akan lebih baik lagi jika dilakukan pada bulan Ramadhan setelah shalat tarawih. Shalat ini dilakukan 4 raka’at dengan dua salam sebagaimana shalat biasa dengan tambahan bacaan tasbih pada saat saat:

    Setelah pembacaan surat fatihah dan surat al-Qur’an saat berdiri 15 kali

    Di waktu ruku’ 10 Kali

    Di waktu I’tidal (bangung dari ruku’) 10 Kali

    Di waktu sujud pertama 10 Kali

    Di waktu duduk di antara dua sujud 10 Kali

    Di waktu sujud kedua 10 Kali

    Di waktu duduk istirahat sebelum berdiri (atau sebelum salam tergantung pada raka’at keberapa) 10 Kali.

            Jumlah tasbih dalam satu raka’at 75

            Maka jumlah tasbih dalam empat raka’at 4 X 75 = 300 kali

SHOLAT TAHAJUD

Allah berfirman;

وَمِنَ الْلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَاماً مَّحْمُوداً – الإسراء ﴿٧٩

Artinya: “Dan pada sebagian malam hari bertahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” (Qs Al Isra’ ayat: 79).

Shalat tahajjud atau shalat malam adalah sunah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa dan mengangkat derajat ke tempat yang terpuji. Shalat ini termasuk ibadah yang berat, karena di saat kita terlelap tidur dan masih mengantuk kita harus bangun untuk shalat. Waktunya yang paling utama adalah pada sepertiga malam yang terakhir. Pada saat ini doa akan dikabulkan oleh Allah.

عَنْ أَبِي هرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : يَنْزِلُ رَبّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَىَ كُلّ لَيْلَةٍ إِلَىَ السّمَاءِ الدّنْيَا حِينَ يَبْقَىَ ثُلُثُ اللّيْلِ الاَخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرُ لَهُ (رواه الشيخان)

Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah ra bahwasannya Nabi pernah bersabda: “Allah turun ke langit dunia setiap malam pada sepertiga malam terakhir. Allah lalu berfirman, Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan! Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri. Siapa yang meminta ampun kepada-Ku tentu Aku ampuni.Demikianlah keadaannya hingga terbit fajar.” (HR Bukhari Muslim)

Bilangan raka’at shalat tahajjud sekurang-kurangnya dua raka’at dan Tidak ada batas maksimal jumlah rakaatnya, tergantung dari kemampuan dan keluasan orang yang menunaikannya.

SHALAT DLUHA

Shalat ini hukumnya sunah, sedikit dua raka’at dan sempurnanya 8 raka’at, dan waktunya setelah terbit matahari sampai tergelincirnya matahari,

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى (رواه مسلم)

Dari Abu Dzarr ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: Setiap sendi seorang di antaramu adalah sadaqah, maka satu tasbih (subhanallah) adalah sadaqah, setiap satu tahmid (alhamdulillah) adalah sadaqah, setiap satu tahlil (la ilaha illallah) adalah sadaqah, setiap amar ma’ruf adalah sadakah dan setiap nahi munkar adalah sadakah. Dan dua raka’at shalat dhuha sudah cukup untuk menggantikan semua itu.” (HR Muslim)

عَنْ أُمِّ هَانِي بِنْتِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَّهَا ثَمَانِ رَكَعَاتٍ (رواه الشيخان)

Hadits Rasulallah saw dari Ummu Hani binti Abi Thalib bahwa Rasulallah saw shalat dhuha 8 raka’at (HR Bukhari Muslim)

Do’a setelah shalat dhuha

اَللّهُمَّ اِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاءُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَائُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ اَللّهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَاءِ فَاَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَاَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وإِنْ كَانَ قَلِيْلاً فَكَثِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وإِنْ كَانَ حَلاَلاً فَبَارِكْ لِي فِيْهِ وإِنْ كَانَ مَوْقُوْفًا فَأَجْرِهِ وإِنْ كَانَ مَعْدُوْمًا فَأَوْجِدْهُ بِحَقِّ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ وَعِصْمَتِكَ وَبِحَقِّ حَبِيْبِكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّم اَتِنِى أَفْضَلَ مَااَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ وصلى الله على سيدنا محمد وآله وصحبه وسلم

Artinya: “Ya Allah, bahwasannya waktu pagi adalah waktuMu dan keagungan adalah keagunganMU, dan keindahan adalah keindahanMU, dan kekuatan adalah kekuatanMU, dan kekuasaan adalah kekuasaanMU, dan perlindungan adalah perlindunganMU. Ya Allah, jika rizkiku ada di atas langit, maka turunkanlah. Jika ada di dalam bumi, maka keluarkanlah. Jika sukar, maka mudahkanlah. Jika sedikit, maka banyakanlah.  Jika jauh, maka dekatkanlah. Jika (ternyata) haram, maka sucikanlah. Jika halal, maka berkahkanlah. Jika berhenti, maka jalankanlah. Jika kosong, maka adakanlah, dengan berkat pagiMU, keagunganMU, keindahanMU, kekuatanMU, kekuasaanMU, dan perlidunganMu dan dengan berkat kekasihmua Muhammad saw, limpahkanlah kepadaku segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hambaMU yang sholeh.”

PENJELASAN TENTANG SHOLAT SUNNAH

Shalat sunnah ialah sholat yang tidak wajib dilakukan oleh setiap muslim tapi sunnah (berpahala) jika dilakukannya. Sesuatu yang sunnah akan lebih baik jika dilaksanakan karena bisa menambal sulam kekurangan ibadah kita.

Shalat sunah terbagi atas 2 bagian

A- Shalat sunah rawatib

Sholat sunnah rawatib: ialah sholat sunnah yang dilakukan sebelum dan sesudah shalat fardhu (shalat lima waktu).

B- Shalat sunah bukan rawatib

Sholat sunnah bukan rawatib: ialah sholat sunah yang mempunyai waktu-waktu tersendiri, sebab-sebab tersendiri dan tidak ada hubungannya dengan sholat fardhu (shalat lima waktu).

A- Shalat sunah rawatib

Ia dibagi 2 bagian:

1. Shalat sunah rawatib mu’akkadah

Muakkadah: yaitu sholat sunah yang selalu dilakukan oleh Nabi saw. Sholat ini jumlahnya ada 10 raka’at

    Dua raka’at sebelum shalat Dhuhur

    Dua raka’at setelah shalat Dhuhur

    Dua raka’at setelah shalat Maghrib

    Dua raka’at setelah shalat Isya’

    Dua raka’at sebelum shalat shubuh

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ, رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْر, وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا, وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ, وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ, وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ (رواه الشيخان)

Dari Ibnu Umar ra, ia berkata: saya ingat sepuluh raka’at dari (tuntunan) Nabi saw,  yaitu: dua raka’at sebelum dhuhur, dua raka’at sesudahnya, dua raka’at setelah maghrîb di rumah. dua raka’at setelah ‘isya di rumah. Dan dua raka’at sebelum shalat shubuh. (HR Bukhari Muslim)

2. Shalat sunah rawatib bukan mu’akkadah

Bukan Mu’akkadah: yaitu shalat sunnah yang kadang kadang ditinggalkan atau tidak dilakukan oleh Nabi saw. Shalat ini jumlahnya ada 12 raka’at,  yaitu:

    Dua raka’at sebelum sholat dzuhur

    Dua raka’at sesudah shalat dzuhur

    Empat raka’at sebelum sholat Ashar

    Dua raka’at sebelum sholat Maghrib

    Dua raka’at sebelum sholat Isya’

عَنْ أُمِّ حَبِيْبَة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُا أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ  : مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ (حسن صحيح الترمذي و أبو داود)

Dari Umu Habibah ra, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang menjaga empat rakaat sebelum dzuhur dan empat rakaat sesudahnya, Allah mengharamkannya dari api Neraka.” (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi, hadits hasan shahih)

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِالتَّسْلِيمِ عَلَى الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُؤْمِنِينَ (حسن الترمذي)

Dari Ali ra. ia berkata, “Nabi saw biasa shalat empat raka’at sebelum ashar, beliau membaginya menjadi dua dengan ucapan salam kepada para malaikat yang selalu dekat dengan Allah dan kepada orang-orang yang mengikuti mereka dari kalangan kaum muslimin dan mukminin.” (HR Hasan Tirmidzi).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بِنْ مُغْفَل رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : صَلُّوا قَبْلَ الْمَغْرِبِ ثُمَّ قَالَ : صَلُّوا قَبْلَ صَلاةِ الْمَغْرِبِ  ثُمَّ قَالَ عِنْدَ الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً (رواه البخاري)

Dari Abdullah bin Mughaffal ra, Rasulallah saw bersabda: “Shalatlah kalian sebelum Maghrib (beliau mengulangnya tiga kali). Diakhirnya beliau bersabda: Bagi siapa saja yang mau melaksankannya. Beliau takut hal tersebut dijadikan oleh orang-orang sebagai sunnah. (HR Bukhori)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بِنْ مُغْفَل رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ  بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ (رواه الشيخان)

Dari Abdullah bin Mughaffal ra ia berkata: Nabi saw bersabda: “Diantara adzan dan iqomah ada sholat, diantara adzan dan iqomah ada sholat (kemudian ketiga kalinya beliau berkata:) bagi siapa yang mau” (HR Bukhari Muslim)

B- Shalat Sunnah Bukan Rawatib

Shalat ini terbagi atas 2 bagian:

1-     Sholat sunnah bukan rawatib yang tidak dilakukan berjama’ah

    Shalat Witir (Shalat Ganjil)

    Shalat Dhuha

    Shalat Tahiyatul Masjid

    Shalat Setelah Wudhu’

    Shalat Istikharah

    Shalat tahajjud

    Shalat tasbih

    Shalat Awwabin

    Shalat hajat

    Shalat sunnah ihram

    Shalat setelah tawaf

2- Shalat Sunah Bukan Rawatib Yang Dilakukan Secara Berjama’ah

    Sholat Tarawih

    Sholat Hari Raya (Iedul Fitri & Iedul Adha)

    Sholat Gerhana

    Shalat Istisqa’ (Minta Hujan)

PERGUNAKAN MALAM ASYURO UNTUK MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLOH SWT.

Malam ini adalah malam tanggal 10 Muharrom, yaitu Asyuro. Di mana banyak di terangkan amalan amalan yang hendaknya di lakukan pada hari asyuro di dalam kitab klasik seperti Nihayatuz Zain dan Kanzun Najah was Surur.

Mari kita tingkatkan kualitas dan kuantitas ibadah di hari asyuro tahun ini, agar kita tergolong orang yang bisa mensyukuri nikmat Alloh swt.

Nabi saw bersabda :

خَصْلَتَانِ مَنْ كَانَتَا فِيْهِ كَتَبَهُ اللهُ شَاكِرًا صَابِرًا، وَمَنْ لَمْ تَكُوْنَا فِيْهِ لَمْ يَكْتُبْهُ اللهُ شَاكِرًا صَابِرًا, مَنْ نَظَرَ فِى دِيْنِهِ إِلىٰ مَنْ هُوَ فَوْقَهُ فَاقْتَدٰى بِهِ، وَنَظَرَ فِى دُنْيَاهُ إِلىٰ مَنْ هُوَ دُوْنَهُ فَحَمِدَ اللهَ عَلىٰ مَا فَضَّلَهُ بِهِ عَلَيْهِ كَتَبَهُ اللهُ شَاكِرًا صَابِرًا، وَمَنْ نَظَرَ فِى دِيْنِهِ إِلىٰ مَنْ هُوَ دُوْنَهُ وَنَظَرَ فِى دُنْيَاهُ إِلىٰ مَنْ هُوَ فَوْقَهُ فَأَسِفَ عَلىٰ مَا فَاتَهُ لَمْ يَكْتُبْهُ اللهُ شَاكِرًا وَلاَ صَابِرًا. (رواه الترمذى)

“Dua hal (dua sebab), jika keduanya dimiliki seseorang maka Allah mencatatnya sebagai orang yang syukur dan sabar, orang yang tidak memiliki dua-duanya maka Allah tidak mencatatnya sebagai orang yang syukur dan sabar, yaitu barang siapa membandingkan kualitas agama dirinya dengan orang yang berkualitas lebih tinggi lalu meningkatkan diri, dan membandingkan dunianya dengan orang yang lebih rendah, kemudian memuji Allah atas kelebihan yang dimilikinya itu, maka Allah akan mencatatnya sebagai orang yang syukur dan sabar. Barang siapa membandingkan kualitas agama dirinya dengan orang yang lebih rendah dan membandingkan dunianya dengan orang yang lebih tinggi, kemudian merasa gundah karena belum memperoleh setinggi (dunia itu), maka Allah tidak mencatatnya sebagai orang yang bersyukur dan sabar.” (H.R. AT-TURMUDZI)

 Kemudian Rosul juga bersabda tentang orang yang berusaha fokus pada amalan akhirat sebagaimana berikut ini :

مَنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ اْلآخِرَةَ جَمَعَ اللهُ شَمْلَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا رَاغِمَةً، وَمَنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ الدُّنْيَا فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَهُ. (رواه ابن ماجه)

“Barang siapa memfokuskan segala niatnya untuk memperoleh kesuksesan akhirat, maka Allah menghimpunkan potensinya, membuatnya kaya jiwa dan duniapun datang melimpah kepadanya, tapi barang siapa memfokuskan segala niatnya memperoleh dunia, maka Allah mencerai beraikan urusannya, membuat kemelaratan di depan matanya dan tidak memperoleh dunia kecuali apa yang telah ditentukannya.” (H.R. IBNU MAJAH)

Dalam menjalani kehidupan, kita harus punya sikap, sebab orang yang tidak punya sikap hidup bagaikan orang yang berjalan tidak punya tujuan, akan sia-sia dan akibatnya rugi. Inilah dua sabda Nabi kita Muhammad SAW. yang menuntun kita untuk menyikapi hidup.

Dan berikut ini adalah 12 AMALAN PADA HARI ASYURO’

1. Sholat (yang paling utama adalah mengerjakan sholat tasbih)

2. Puasa

3. Sedekah

4. Memberikan kelapangan kepada keluarga

5. Mandi

6. Bertamu kepada orang ‘alim yang sholih

7. Menjenguk orang sakit

8. Mengusap kepala anak yatim

9. Memakai celak

10. Memotong kuku

11. Membaca surat ikhlas, sebanyak 1000 kali

12. Silaturrahim.

Keterangan dari kitab NIHAYATUZ ZEN, Hal: 196

وَنقل عَن بعض الأفاضل أَن الْأَعْمَال فِي يَوْم عَاشُورَاء اثْنَا عشر عملا الصَّلَاة وَالْأولَى أَن تكون صَلَاة التَّسْبِيح وَالصَّوْم وَالصَّدَقَة والتوسعة على الْعِيَال والاغتسال وزيارة الْعَالم الصَّالح وعيادة الْمَرِيض وَمسح رَأس الْيَتِيم والاكتحال وتقليم الْأَظْفَار وَقِرَاءَة سُورَة الْإِخْلَاص ألف مرّة وصلَة الرَّحِم

AMALAN AGAR CEPAT MAMPU MELUNASI HUTANG

Tawasul ke :

Nabi Muhammad SAW.

Nabi Sulaiman

Nabi Khidir

Sayyidina Alii karromallohu wajhah

Syekh Abdul Qodir al jailani

Wali songo

(Orang yang memberi ijazah)

LAA ILAHA ILALLOHUL ‘ADZIIMUL HALIIM

LAA ILAHA ILALLOHU ROBBUL ‘ARSYIL ‘ADZIIM

LAA ILAHA ILLALLOHU ROBBUSSAMAWATI WAROBBUL ARDLU

WAROBBUL ‘ARSYIL KARIIM

Diamalkan sehabis sholat 5 waktu sebanyak 100x

Pada pukul 12 malam amalan dibaca 1500x

Amalan tersebut dibaca sampai ada petunjuk khusus buat dapat jalan keluarnya,kalau belum ya diulang ulang tiap hari buat membacanya,biar cepet dapat petunjuk boleh dipuasai apa saja plus siang harinya banyakin shodaqoh ke orang yang gak mampu atau ke masjid.

Wallohu alam bis showab

PERINTAH SUPAYA MENJADI IMAM DALAM SHOLAT

“Shalatlah kalian bersama imam, jika shalat imam itu benar, kalian mendapat pahala. Jika shalat imam itu salah, kalian tetap mendapat pahala dan sang imam yang menanggung kesalahannya.” (HR. Bukhari no. 662).

 Anjuran menjadi Imam Sholat, riwayat Haditsnya:

أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: مرني بعمل أعمله، قال: كن إمام قومك، قال: فإن لم أقدر، قال: فكن مؤذنهم (رواه سعيد)

Sesungguhnya ada seorang laki-laki mendatangi Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, perintahkan aku untuk melakukan suatu amalan yang aku akan mengamalkannya. Nabi bersabda: jadilah engkau imam bagi kaummu. Ia berkata, jika aku tidak mampu? Nabi menjawab: maka jadilah muadzin bagi mereka. (Diriwayatkan oleh Sa’id).

Redaksi lain Dari Salim bin Marwan dari seorang lelaki penduduk Syam berkata : Seorang lelaki datang kepada Nabi shollallohu alaihi wasallam kemudian mengucapkan salam dan berkata : “beritahukan kepadaku satu amalan yang bisa memasukkanku ke dalam syurga ?

Beliau menjawab : ” jadilah muadzinnya kaummu, agar mereka berkumpul kepadamu utk sholat mereka.”

“Wahai Rasululoh, bagaimana jika saya tidak mampu ?”

Beliau menjawab :”jadilah imamnya kaummu yang denganmu menjadi sempurna sholat mereka.”

“Bagaimana jika saya tidak mampu?”

Beliau menjawab :”sholatlah di shof awwal.”

Mengenai pemahaman hadits ini, menurut imam Nawawi: Ashab Syafi’i berbeda pendapat, Apakah yang afdhol seseorang mempersiapkan dirinya sendiri untuk adzan ataukah untuk menjadi imam ? Ada bebrapa wajah pendapat :

1. yang ashoh adalah mempersiapkan diri sendiri untuk adzan lebih utama.

2. mempersiapakan diri sendiri untuk menjadi imam lebih utama.

3. keduanya sama saja.

4. jika dirinya tahu bahwa dia bisa menegakkan hak-haknya seorang imam dan pekertinya maka menjadi imam lebih utama, jika tdak bisa maka mu’adzin saja,

5. jadi imam sekaligus mu’adzin, ini yang dianjurkan menurut pendapat yang ashoh.

Dalam kitab Al-Umm disebutkan Menjadi imam sholat itu Makruh, karena beratnya tanggung jawab yang diembannya. Namun menurut Imam Ibnu Hajar Al Haitamiy : maksud makruh dalam dawuh Imam Syafi’i rohimahulloh itu bukan makruh syar’i tapi makruh dalam arti sesuatu yang tidak beliau sukai, karena menjadi imam sholat termasuk kekuasaan yang beliau tidak suka dengan kekuasaan.

Di sisi yang lain, menjadi imam sholat itu hukumnya FARDHU KIFAYAH, sebagaimana hukum mendirikan jamaah sholat, yang jamaah sholat tidak akan berdiri tanpa adanya orang yang menjadi imamnya.

Referensi :

  • Kitab sal watul arifiin (1/198) :

عن سالم بن مروان عن رجل من أهل الشام قال : جاء رجل إلى النبي صلي الله عليه وسلم فسلم وقال : أخبرني بعمل واحد ادخل به الجنة ؟ قال كن مؤذن قومك يجتمعون بك لصلواتهم قال يا رسول الله فان لم اطق قال كن امام قومك يتمون بك صلواتهم قال وان لم اطق قال فعليك بصف الاول

قال النووي : واختلف أصحابنا هل الأفضل للإنسان أن يرصد نفسه للأذان أم للإمامة على أوجه

أصحها الأذان أفضل ، وهو نص الشافعي – رضي الله عنه – في الأم ، وقول أكثر أصحابنا ،

والثاني الإمامة أفضل وهو نص الشافعي أيضا ،

والثالث هما سواء ،

والرابع إن علم من نفسه القيام بحقوق الإمامة وجميع خصالها فهي أفضل ، وإلا فالأذان . قاله أبو علي الطبري ، وأبو القاسم بن كج ، والمسعودي ، والقاضي حسين من أصحابنا

وأما جمع الرجل بين الإمامة والأذان فإن جماعة من أصحابنا يستحب ألا يفعله . وقال بعضهم : يكره ، وقال محققوهم وأكثرهم : أنه لا بأس به ، بل يستحب ، وهذا أصح . والله أعلم

الحاوي للفتاوي ج ٢ ص ١٣١

وَقَالَ الشَّافِعِيُّ: وَأَنَا أَكْرَهُ الْإِمَامَةَ ; لِأَنَّهَا وِلَايَةٌ وَأَنَا أَكْرَهُ سَائِرَ الْوِلَايَاتِ، فَلَيْسَ مُرَادُ الشَّافِعِيِّ بِذَلِكَ الْكَرَاهَةَ الَّتِي هِيَ أَحَدُ أَقْسَامِ الْحُكْمِ الْخَمْسَةِ الدَّاخِلَةِ فِي قِسْمِ الْقَبِيحِ، كَيْفَ وَالْإِمَامَةُ فَرْضُ كِفَايَةٍ ; لِأَنَّ بِهَا تَنْعَقِدُ الْجَمَاعَةُ الَّتِي هِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ، والرافعي يَقُولُ: إِنَّهَا أَفْضَلُ مِنَ الْأَذَانِ وَفِي كُلٍّ مِنْهُمَا فَضْلٌ وَذَلِكَ مُنَافٍ لِلْكَرَاهَةِ قَطْعًا، وَإِنَّمَا مُرَادُ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ لَا يُحِبُّ الدُّخُولَ فِيهَا وَلَا يَخْتَارُهُ لِلْمَعْنَى الَّذِي ذَكَرَهُ فَهِيَ كَرَاهَةٌ إِرْشَادِيَّةٌ لَا شَرْعِيَّةٌ، فَلَوْ فَعَلَهَا لَمْ يُوصَفْ فِعْلُهُ بِقُبْحٍ بَلْ هُوَ آتٍ بِعِبَادَةٍ فِيهَا فَضْلٌ إِجْمَاعًا، إِمَّا فَضْلٌ يَزِيدُ عَلَى فَضْلِ الْآذَانِ كَمَا هُوَ رَأْيُ الرافعي، أَوْ يَنْقُصُ عَنْهُ كَمَا هُوَ رَأْيُ النووي، وَلَوْ كَانَتِ الْإِمَامَةُ مَكْرُوهَةً كَرَاهَةً شَرْعِيَّةً لَمْ يَكُنْ فِيهَا فَضْلٌ الْبَتَّةَ ; لِأَنَّ الْكَرَاهَةَ وَالثَّوَابَ لَا يَجْتَمِعَانِ، وَكَذَلِكَ قَوْلُ القرافي، وَكَرِهَ مالك مَا ذَكَرَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ أَحَبَّ وَاخْتَارَ أَنْ لَا يَفْعَلَ ذَلِكَ لِلْمَعْنَى الَّذِي ذَكَرَهُ فَهُوَ أَمْرٌ إِرْشَادِيٌّ، وَلَيْسَ مُرَادُهُ الْكَرَاهَةَ الَّتِي يَدْخُلُ مُتَعَلِّقُهَا فِي قِسْمِ الْقَبِيحِ،

الفتاوى الفقهية الكبرى ج ١ ص ١٥٢

وَنَظِيرُهُ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ: – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – وَأَنَا أَكْرَهُ الْإِمَامَةَ؛ لِأَنَّهَا وِلَايَةٌ، وَأَنَا أَكْرَهُ سَائِرَ الْوِلَايَاتِ لَمْ يُرِدْ الْكَرَاهَةَ الشَّرْعِيَّةَ لِأَنَّهَا مِنْ قِسْمِ الْقَبِيحِ. وَالْإِمَامَةُ فَرْضُ كِفَايَةٍ لِتَوَقُّفِ الْجَمَاعَةِ الَّتِي هِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ عَلَيْهَا بَلْ هِيَ أَفْضَلُ مِنْ الْأَذَانِ عِنْدَ كَثِيرِينَ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَمُرَادُهُ أَنَّهُ لَا يُحِبُّ الدُّخُولَ فِيهَا وَلَا يَخْتَارُهُ، وَلَا أَنَّهُ لَا ثَوَابَ فِيهَا إذْ الْكَرَاهَةُ وَالثَّوَابُ لَا يَجْتَمِعَانِ

حاشية الشبراملسي على نهاية المحتاج ج ٢ ص ١٤١-١٤٢

لَوْ تَعَارَضَ كَوْنُهُ إمَامًا مَعَ جَمْعٍ قَلِيلٍ وَمَأْمُومًا مَعَ جَمْعٍ كَثِيرٍ فَهَلْ يَسْتَوِي الْفَضِيلَتَانِ وَتُجْبَرُ فَضْلُ الْكَثْرَةِ الْإِمَامَةَ فَيُصَلِّي إمَامًا أَوْ لَا فَيُصَلِّي مَأْمُومًا؟

فِيهِ نَظَرٌ، وَالْأَقْرَبُ الْأَوَّلُ لِمَا فِي الْإِمَامَةِ مِنْ تَحْصِيلِ الْجَمَاعَةِ لِغَيْرِهِ، بِخِلَافِ الْمَأْمُومِ فَإِنَّ الْجَمَاعَةَ حَاصِلَةٌ بِغَيْرِهِ، فَالْمَنْفَعَةُ فِي قُدْوَتِهِ عَائِدَةٌ عَلَيْهِ وَحْدَهُ

تحفة المحتاج

( ، والإمامة أفضل منه في الأصح ) لمواظبته صلى الله عليه وسلم وخلفائه الراشدين عليها ولأن الصحابة احتجوا بتقديم الصديق للإمامة على أحقيته بالخلافة ولم يقولوا بذلك في بلال وغيره

مغني المحتاج

. (والإمامة أفضل منه) أي الاذان (في الأصح) لمواظبته (ص) وخلفائه رضي الله تعالى عنهم عليها، ولان القيام بالشئ أولى من الدعاء إليه. واختار هذا السبكي مع قوله إن السلامة في تركها، ونقل في الاحياء عن بعض السلف أنه قال: ليس بعد الأنبياء أفضل من العلماء ولا بعد العلماء أفضل من الأئمة المصلين لأنهم قاموا بين الله وبين خلقه: هؤلاء بالنبوة، وهؤلاء بالعلم، وهؤلاء بعماد الدين

روضة الطالبين

فرع: الاذان، والإمامة، كلاهما فيه فضل، وأيهما أفضل، فيه أوجه

أصحها وهو المنصوص: الإمامة أفضل. والثاني: الاذان. والثالث: هما سواء

والرابع: إن علم من نفسه القيام بحقوق الإمامة، وجمع خصالها، فهي أفضل، وإلا، فالاذان. قاله أبو علي الطبري، والقاضي ابن كج، والقاضي حسين، والمسعودي

قلت: كذا رجح الرافعي أيضا في كتابه (المحرر) الإمامة، والأصح:

ترجيح الاذان، وهو قول أكثر أصحابنا. وقد نص الشافعي رحمه الله في (الام) على كراهة الإمامة، فقال: أحب الاذان، لقول رسول الله (ص): (اللهم اغفر للمؤذنين) وأكره الإمامة للضمان وما على الامام فيها، هذا نصه. والله أعلم

وأما الجمع بين الاذان، والإمامة، فليس بمستحب. وأغرب ابن كج، فقال: الأفضل لمن صلح لهما، الجمع بينهما. ولعله أراد الاذان لقوم، والإمامة لآخرين

قلت: صرح بكراهة الجمع بينهما، الشيخ أبو محمد، والبغوي. وصرح باستحباب جمعهما، أبو علي الطبري، والماوردي، والقاضي أبو الطيب، وادعى الاجماع عليه، فحصل ثلاثة أوجه. الأصح: استحبابه، وفيه حديث حسن في الترمذي . والله أعلم

مصنف إبن أبي شيبة

“أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ أَعْمَلُهُ، قَالَ: «كُنْ إِمَامَ قَوْمِكَ، فَإِنْ لَمْ تَسْطِعْ فَكُنْ مُؤَذِّنَهُمْ» قَالَ: فَإِنْ لَمْ أَسْتَطِعْ؟ قَالَ: «فَكُنْ فِي الصَّفِّ الْأَوَّلِ»

الأم للإمام الشافعي جـ ١- صـ ٨٥

[كَرَاهِيَةُ الْإِمَامَةِ]

ِ (قَالَ الشَّافِعِيُّ) : – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى – رَوَى صَفْوَانُ بْنُ سُلَيْمٍ عَنْ ابْنِ الْمُسَيِّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «يَأْتِي قَوْمٌ فَيُصَلُّونَ لَكُمْ فَإِنْ أَتَمُّوا كَانَ لَهُمْ وَلَكُمْ وَإِنْ نَقَصُوا كَانَ عَلَيْهِمْ وَلَكُمْ» (قَالَ الشَّافِعِيُّ) : أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «الْإِمَامُ ضَامِنٌ وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ اللَّهُمَّ فَأَرْشِدْ الْأَئِمَّةَ وَاغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِينَ» (قَالَ الشَّافِعِيُّ) : فَيُشْبِهُ قَوْلُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ – إنْ أَتَمُّوا فَصَلُّوا فِي أَوَّلِ الْوَقْتِ وَجَاءُوا بِكَمَالِ الصَّلَاةِ فِي إطَالَةِ الْقِرَاءَةِ وَالْخُشُوعِ وَالتَّسْبِيحِ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ وَإِكْمَالِ التَّشَهُّدِ وَالذِّكْرِ فِيهَا؛ لِأَنَّ هَذِهِ غَايَةُ التَّمَامِ وَإِنْ أَجْزَأَ أَقَلَّ مِنْهُ فَلَهُمْ وَلَكُمْ وَلَا فَعَلَيْهِمْ تَرْكُ الِاخْتِيَارِ بِعَمْدِ تَرْكِهِ وَلَكُمْ مَا نَوَيْتُمْ مِنْهُ فَتَرَكْتُمُوهُ لِاتِّبَاعِهِ بِمَا أُمِرْتُمْ بِاتِّبَاعِهِمْ فِي الصَّلَاةِ فِيمَا يُجْزِئُكُمْ وَإِنْ كَانَ غَيْرُهُ أَفْضَلَ مِنْهُ فَعَلَيْهِمْ التَّقْصِيرُ فِي تَأْخِيرِ الصَّلَاةِ عَنْ أَوَّلِ الْوَقْتِ وَالْإِتْيَانِ بِأَقَلَّ مَا يَكْفِيهِمْ مِنْ قِرَاءَةٍ وَرُكُوعٍ وَسُجُودٍ دُونَ أَكْمَلِ مَا يَكُونُ مِنْهَا وَإِنَّمَا عَلَيْكُمْ اتِّبَاعُهُمْ فِيمَا أَجْزَأَ عَنْكُمْ وَعَلَيْهِمْ التَّقْصِيرُ مِنْ غَايَةِ الْإِتْمَامِ وَالْكَمَالِ وَيُحْتَمَلُ ضُمَنَاءُ لِمَا غَابُوا عَلَيْهِ مِنْ الْمُخَافَتَةِ بِالْقِرَاءَةِ وَالذِّكْرِ فَأَمَّا أَنْ يَتْرُكُوا ظَاهِرًا أَكْثَرَ الصَّلَاةِ حَتَّى يَذْهَبَ الْوَقْتُ، أَوْ لَمْ يَأْتُوا فِي الصَّلَاةِ بِمَا تَكُونُ مِنْهُ الصَّلَاةُ مُجْزِئَةً فَلَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ اتِّبَاعُهُمْ وَلَا تَرْكُ الصَّلَاةِ حَتَّى يَمْضِيَ وَقْتُهَا وَلَا صَلَاتُهَا بِمَا لَا يُجْزِئُ فِيهَا

ما على الإمام

وَعَلَى النَّاسِ أَنْ يُصَلُّوا لِأَنْفُسِهِمْ، أَوْ جَمَاعَةً مَعَ غَيْرِ مَنْ يَصْنَعُ هَذَا مِمَّنْ يُصَلِّي لَهُمْ فَإِنْ قَالَ قَائِلٌ: مَا دَلِيلُ مَا وَصَفْت قِيلَ: قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: {أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ} [النساء: 59] وَيُقَالُ نَزَلَتْ فِي أُمَرَاءِ السَّرَايَا وَأُمِرُوا إذَا تَنَازَعُوا فِي شَيْءٍ وَذَلِكَ اخْتِلَافُهُمْ فِيهِ أَنْ يَرُدُّوهُ إلَى حُكْمِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ حُكْمِ الرَّسُولِ فَحُكْمُ اللَّهِ ثُمَّ رَسُولِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ يُؤْتَى بِالصَّلَاةِ فِي الْوَقْتِ وَبِمَا تُجْزِئُ بِهِ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «مَنْ أَمَرَكُمْ مِنْ الْوِلَايَةِ بِغَيْرِ طَاعَةِ اللَّهِ فَلَا تُطِيعُوهُ» فَإِذَا أَخَّرُوا الصَّلَاةَ حَتَّى يَخْرُجَ وَقْتُهَا، أَوْ لَمْ يَأْتُوا فِيهَا بِمَا تَكُونُ بِهِ مُجْزِئَةً عَنْ الْمُصَلِّي فَهَذَا مِنْ عَظِيمِ مَعَاصِي اللَّهِ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ تُرَدَّ إلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ وَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ لَا يُطَاعَ وَالٍ فِيهَا وَأُحِبُّ الْأَذَانَ لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «اغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِينَ» ، وَأَكْرَهُ الْإِمَامَةَ لِلضَّمَانِ وَمَا عَلَى الْإِمَامِ فِيهَا وَإِذَا أَمَّ رَجُلٌ انْبَغَى لَهُ أَنْ يَتَّقِيَ اللَّهَ عَزَّ ذِكْرُهُ وَيُؤَدِّيَ مَا عَلَيْهِ فِي الْإِمَامَةِ فَإِذَا فَعَلَ رَجَوْت أَنْ يَكُونَ خَيْرًا حَالًا مِنْ غَيْرِهِ

ِ (قَالَ الشَّافِعِيُّ) : – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى – وَرُوِيَ مِنْ وَجْهٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: «لَا يُصَلِّي الْإِمَامُ بِقَوْمٍ فَيَخُصُّ نَفْسَهُ بِدَعْوَةٍ دُونَهُمْ» ، وَيُرْوَى عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ مِثْلُهُ، وَكَذَلِكَ أُحِبُّ لِلْإِمَامِ فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ وَأَدَّى الصَّلَاةَ فِي الْوَقْتِ أَجْزَأَهُ وَأَجْزَأَهُمْ وَعَلَيْهِ نَقْصٌ فِي أَنْ خَصَّ نَفْسَهُ دُونَهُمْ، أَوْ يَدَعَ الْمُحَافَظَةَ عَلَى الصَّلَاةِ فِي أَوَّلِ الْوَقْتِ بِكَمَالِ الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ

الفتاوى الفقهية الكبرى جـ ١- صـ ١٥٢

(وَسُئِلَ) – فَسَّحَ اللَّهُ فِي مُدَّتِهِ – عَمَّا قِيلَ إنَّ الْقِرَاءَةَ بِالتَّرْقِيقِ فِي الصَّلَاةِ مَكْرُوهَةٌ لِإِذْهَابِهَا الْخُشُوعَ، صَحِيحٌ أَمْ لَا؟

(فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ: لَيْسَ بِصَحِيحٍ؛ إذْ لَا بُدَّ لِلْكَرَاهَةِ مِنْ نَهْيٍ خَاصٍّ أَوْ قِيَاسٍ صَحِيحٍ، وَزَعْمُ إذْهَابِهَا الْخُشُوعَ مَمْنُوعٌ؛ لِأَنَّهُ إنْ كَانَ مِنْ جِهَةِ الْفِكْرِ فِي أَدَاءِ تِلْكَ الْهَيْئَةِ – فَجَمِيعُ هَيْئَاتِ الْأَدَاءِ كَذَلِكَ

وَالْفِكْرُ فِي أَدَاءِ الْأَلْفَاظِ الْقُرْآنِيَّةِ عَلَى الْهَيْئَةِ الَّتِي نَزَلَتْ عَلَيْهَا لَا يُنَافِي الْخُشُوعَ؛ لِأَنَّهُ مَأْمُورٌ بِهِ حَتَّى فِي الصَّلَاةِ، وَإِنَّمَا الْمُنَافِي لِلْخُشُوعِ الْفِكْرُ فِي الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ، وَأَيْضًا الْقِرَاءَةُ بِالْأَحْرُفِ الثَّابِتَةِ فِي السَّبْعَةِ فَرْضُ كِفَايَةٍ إجْمَاعًا، فَكَيْفَ يُوصَفُ مَا هُوَ فَرْضُ كِفَايَةٍ بِأَنَّهُ مَكْرُوهٌ؟ وَكَأَنَّ مَا فِي السُّؤَالِ تَوَهُّمٌ مِنْ قَوْلِ مَالِكٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: وَأَكْرَهُ التَّرْقِيقَ وَالتَّفْخِيمَ وَالرَّوْمَ وَالْإِشْمَامَ فِي الصَّلَاةِ؛ لِأَنَّهَا تُشْغِلُ عَنْ أَحْكَامِ الصَّلَاةِ

وَلَيْسَ ذَلِكَ التَّوَهُّمُ بِصَحِيحٍ؛ لِأَنَّ الْمُجْتَهِدِينَ قَدْ يُطْلِقُونَ الْكَرَاهَةَ عَلَى الْإِرْشَادِيَّةِ الَّتِي لَا ثَوَابَ فِي تَرْكِهَا وَلَا قُبْحَ فِي فِعْلِهَا

وَنَظِيرُهُ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ: – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – وَأَنَا أَكْرَهُ الْإِمَامَةَ؛ لِأَنَّهَا وِلَايَةٌ، وَأَنَا أَكْرَهُ سَائِرَ الْوِلَايَاتِ لَمْ يُرِدْ الْكَرَاهَةَ الشَّرْعِيَّةَ لِأَنَّهَا مِنْ قِسْمِ الْقَبِيحِ

وَالْإِمَامَةُ فَرْضُ كِفَايَةٍ لِتَوَقُّفِ الْجَمَاعَةِ الَّتِي هِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ عَلَيْهَا بَلْ هِيَ أَفْضَلُ مِنْ الْأَذَانِ عِنْدَ كَثِيرِينَ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَمُرَادُهُ أَنَّهُ لَا يُحِبُّ الدُّخُولَ فِيهَا وَلَا يَخْتَارُهُ، وَلَا أَنَّهُ لَا ثَوَابَ فِيهَا إذْ الْكَرَاهَةُ وَالثَّوَابُ لَا يَجْتَمِعَانِ؛ فَكَذَلِكَ مُرَادُ مَالِكٍ بِذَلِكَ أَنَّهُ أَحَبَّ وَاخْتَارَ أَنْ لَا يَفْعَلَ ذَلِكَ فِي الصَّلَاةِ لِلْمَعْنَى الَّذِي ذَكَرَهُ لَا أَنَّ ذَلِكَ مَكْرُوهٌ شَرْعًا؛ لِأَنَّهُ مِنْ حَيِّزِ الْقَبِيحِ، وَالْقِرَاءَةُ الْمَذْكُورَةُ لَا تُوصَفُ بِذَلِكَ قَطْعًا