AGAR MENJADI WANITA SHOLIHAH (2)

Bab 2.05 Adab-adab Ketika Berhubungan Dengan Suami

   Sunat wudhu sebelum berlimak dengan harapan ika dari

   perhubungan itu terjadi anak, mudah-mudahan anak tersebut

   berakhlak baik. Sunat juga berwudhu setelah bercinta.

  1. Sunat berwangi-wangian dan berhias agar membangkitkan

   keinginan bergabung.

  1. Sunat bersenda gurau sehingga melahirkan kasih sayang, bukan

   dengan paksaan. Ada ulama berpendapat anak yang lahir hasil

   dari hubungan suami istri yang tidak didahului dengan senda

   gurau akan menjadi kurang cerdas otaknya.

  1. Sunat memulai dengan Bismillah dan berdoa: Artinya: ‘Dengan nama Allah, jauhkan kami dari setan dan jauhkanlah setan dari karunia yang Engkau berikan kepada kam. “(Riwayat Bukhan dan Muslim) Ketika itu niatkanlah yang baik-baik, agar hubungan suami istri itu menghasilkan anak yang saleh, yang beriman dan yang bertakwa.
  1. Hindari dari memandang kemaluan suami
  2. Hindarkan dari bertelanjang bulat dan menghadap kiblat. Sunat berselimut, misalnya dengan kain selimut.
  3. Sunat bercinta pada malam Senin, Kamis dan Jum’at sebaliknya makruh melakukannya pada malam “yaumul’abid” (hari putih) yaitu pada 13, 14, 15 dan juga pada awal dan akhir bulan Qamariah.
  4. Makruh bercinta ketika dalam kondisi lapar atau terlalu kenyang.
  5. Haram hukumnya melakukan hubungan jenis ketika haid dan nifas.

   Artikel ini adalah bagian dari buku Panduan Wanita Solehah yang berisi panduan-panduan untuk wanita saleh dariAbuya Syeikh Ashaari bin Muhammad At Tamimi

Bab 2.06 Panduan Berhadapan Dengan Suami

   Ketika suami sedang berbicara, dengarlah dengan baik, diam dan tidak memotong pembicaraannya.

  1. Sikap suami harus diterima dengan syukur, tidak menjawab saat dimarahi dan bersabar ketika hati disakiti karena kadang-kadang dia sengaja ingin menguji kita. Anggaplah marahnya suami adalah karena dosa si istri. Karena Allah murkalah, maka Allah mendatangkan hukuman melalui suami.
  2. Cepat bertindak ketika suami berhalat ses, yaitu sekalipun sedang letih. Tegasnya, taat kepada kehendak suami kecuali kehendak yang melanggar syariat.
  3. Memenuhi kebutuhan suami dengan baik, mengutamakan kehendak suami dari kehendak anak-anak (disinilah tanda kasih sayang terhadap suami). Jika diijinkan bisa mendahulukan kehendak anak atau orang lain.
  4. Ketika berhadapan dengan suami, harus senantiasa berhias diri, bersihkan mulut, berwangi-wangian (di dalam rumah) dan berwajah manis.
  5. Memuliakan orang tua dan keluarga suami, menghormati isteri-isterinya (madu kita) dan melayani anak-anak suami (anak tiri kita) dengan baik.
  6. Menjaga ketentraman hati suami, membantu menyelesaikan masalah suami atau setidaknya menunjukkan rasa gembira dan simpati.
  7. Menjaga harta suami dengan baik dan jangan mengkhianatinya, menjaga kebersihan dan kerapian rumah.Menyediakan peralatan mandi atau pakaian sebelum suami ke kamar mandi.
  8. Menghormati suami, berdiri mengantar kepergian suami dan menyambut kepulangannya dengan senyuman.
  9. Harus sama-sama merasakan perasaan suami:

   o Senang kalau ia senang dan bersimpati kalau ia berduka.

   o Bergurau kalau ia bergurau, tenang kalau ia tenang.

   o Terhibur ketika menerima pemberian suami.

   o Tidak memperkecilkannya.

   o Tegasnya, dapat menyelami perasaan suami dan sanggup berkorban demi kesenangan suami.

  1. Memelihara martabat (kehormatan) suami.
  2. Memahami suami, jika dia pemimpin membantu dia dengan mengambil berat soal kebajikan anak-anak buahnya.Jika suami guru, kita harus melengkapi diri dengan ilmu. Harus kita siap dengan apa saja kondisi, posisi atau perbuatan suami.
  3. Senantiasa mendoakan suami dan tidak menyusahkan suami dengan kehendak pribadi. Senantiasa berakhlak baik dengan suami, tidak bertengkar di depan anak-anak. Harus membela suami atau keluarga suami jika terfitnah, walaupun hati sendiri yang terluka.
  4. Pastikan niat kita memperlakukan suami semata-mata mengharapkan keridhaan Allah, semoga suami kuat beribadah, berjuang keras pada jalan Allah, agar terjalin kasih sayang karena Allah dan mendapat keturunan yang banyak dan baik.
  5. Harus istri senantiasa bersikap malu kepada suaminya.
  6. Memelihara kehormatan ketika suami tidak ada di rumah.
  7. Merasa cukup dengan apa yang ada (qana’ah).
  8. Selalu bersikap belas kasihan serta merasa takut kepada suami dan senantiasa merasa diri kita yang bersalah.
  9. Merasakan suami memiliki kelebihan. Diantara sabda Rasulullah SAW berarti: “Allah Tabaraka wa Ta’ala membenci seorang istri yang tidak berterima kesih kepada suaminya, sedang ia memang membutuhkan suaminya.” (Riwayat An Nasai) “Siapa saja isteri yang keluar rumah tanpa ijin dari suaminya, tetaplah ia di dalam kemurkaan Allah sampai ia kembali atau suaminya redha kepadanya.” (Riwayat Al Khatib) “Apabila seorang wanita sholat lima waktu berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, mematuhi suaminya, maka dapatlah dia memasuki Surga. ” (Riwayat Al Bazzar)

Bab 2.07 Tanggung Jawab Istri Terhadap Suami

   Allah berfirman yang artinya: “Kaum laki-laki itu pemimpin wanita. Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) alas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan harta mereka. Maka wanita yang solehah adalah mereka yang taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada menurut apa yang Allah kehendaki. ” “Wanita-wanita yang kamu kuatirkan akan durhaka padamu, maka nasehatilah mereka (didiklah) mereka. Dan pisahkanlah dari tempat tidur mereka (jangan disetubuhi) dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu bersikap curang. Sesungguhnya Allah itu Maha Tinggi lagi Maha Besar. ” (An Nisa: 34)

  1. Nabi SAW bersabda: “Siapa saja isteri yang meninggal dunia, sedangkan suaminya redha terhadap kepergiannya, maka ia akan masuk Surga.” (Riwayat Tarmizi)
  1. Nabi SAW bersabda: “Bila seorang istri telah mendirikan sholat lima waktu dan berpuasa bulan Ramadhan dan memelihara kehormatannya dan mentaati suaminya, maka diucapkan kepadanya: Masuklah Surga dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki.” (Riwayat Ahmad dan Thabrani)
  1. Seorang perempuan datang ke hadapan Nabi SAW lalu berkata, ” Wahai Rasulullah, saya mewakili kaum wanita untuk menghadap tuan (untuk menanyakan tentang sesuatu). Berperang itu diwajibkan oleh Allah hanya untuk kaum laki-laki, jika mereka terkena luka, mereka mendapat pahala dan kalau terbunuh, maka mereka adalah tetap hidup di sisi Allah. lagi dicukupkan rezekinya (dengan buah-buahan Surga). Dan kami kaum perempuan selalu melakukan kewajiban terhadap mereka (yaitu melayani mereka dan membantu kebutuhan mereka) lalu apakah kami bisa ikut memperoleh pahala berperang itu ? ”

   Maka Rasulullah SAW bersabda: ” Sampaikanlah kepada perempuan-perempuan yang kamu jumpai bahwa taat kepada suami dengan penuh kesadaran maka pahalanya seimbang dengan pahala perang membela agama Allah. Tetapi sedikit sekali dari kamu sekalian yang menjalankannya . ”

  1. Sayidina Ali kwj berkata: ” Seburuk-buruk sifat untuk kaum laki laki itu adalah sebaik-baik sifat untuk kaum perempuan yaitu kikir dan bersikap keras dan takut. Karena sesungguhnya perempuan itu jika kikir, maka ia memelihara harta suaminya dan jika bersikap keras, maka ia menjaga diri dari berbicara kepada setiap orang dengan kata yang halus (ramah) yang menimbulkan sangkaan yang buruk, dan jika penakut. maka ia takut dari segala sesuatu, oleh karena itu ia tidak berani keluar dari rumahnya dan ia menjauhi tempat-tempat yang menimbulkan kecurigaan yang buruk karena takut kepada suaminya “.
  2. Seharusnya seorang istri mengetahui posisi dirinya seolah olah seorang ‘hamba’ perempuan yang dimiliki oleh suaminya atau sebagai ‘tawanan’ yang lemah. Oleh karena itu dia tidak bisa membelanjakan sedikit pun dari hartanya (sendiri) kecuali dengan seijin suaminya karena ia diumpamakan sebagai orang yang dalam kontrol (perhatian).
  3. Wajib untuk seorang istri:

   o Merendahkan pandangannya terhadap suaminya.

   o Tidak berkhianat terhadap suaminya ketika suaminya tidak ada termasuk juga hartanya.

   o Menunaikan hajat suami (jika diajak oleh suaminya) biarpun di waktu sibuk atau susah (ditamsilkan berada di punggung unta oleh Rasulullah).

   o Meminta ijin suami untuk keluar dari rumahnya. Kalau keluar rumah tanpa ijin suaminya maka dia dilaknati oleh malaikat sampai ia bertobat dan kembali.

  1. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda, artinya: “Sungguh-sungguh meminta ampun untuk seorang istri yang berbakti kepada suaminya yaitu burung di udara, ikan-ikan di air dan malaikat di langit selama ia selalu dalam kerelaan suaminya. Dan siapa saja dikalangan istri yang tidak berbakti kepada suaminya, maka ia mendapat laknat dari Allah dan malaikat serta semua manusia. ”
  2. Siapa saja di antara istri yang bermuka masam di hadapan suaminya, maka ia dalam kemurkaan Allah sampai ia dapat membuat suasana yang menyenangkan suaminya dan memohon kerelaannya.
  3. Aisyah r.ha berkata: “Wahai kaum wanita Seandainya kamu mengerti kewajiban terhadap suamimu, tentu seorang istri akan menyapu debu dari kedua telapak kaki suaminya dengan sebagian mukanya.”
  4. . Nabi SAW bersabda:

   ” Tiga orang yang tidak diterima shalatnya (tidak diberi pahala shalatnya) oleh Allah dan tidak diangkat kebaikan mereka ke langit adalah: hamba yang lari dari tuannya sampai dia kembali, seorang istri yang dimurkai oleh suaminya sampai dia memaafkannya, orang yang mabuk sampai ia sadar kembali. ”

  1. Nabi SAW bersabda:

   “Jika seorang istri berkata kepada suaminya: Tidak pernah aku melihat kebaikanmu sama sekali, maka hancur leburlah pahala amal kebaikannya.”

   Keterangan:

   Maksud Hadis ini adalah jika seorang istri menghargai usaha baik suaminya seperti dalam memberi nafkah dan memberi pakaian maka hancur leburlah pahala amal kebaikannya.

  1. Nabi Muhammad SAW bersabda, maksudnya:

   “Siapa saja isteri yang meminta cerai dari suaminya tanpa sebab-sebab yang sangat diperlukan, maka haramlah bau Surga ke atasnya.”

   Keterangan:

   Hal ini biasanya terjadi pada seorang istri yang tidak berminat kepada suaminya lagi kecuali kalau dia meminta cerai kepadanya karena kuatir tidak dapat menjalankan kewajiban terhadap suaminya untuk menghindarkan diri dari kekecewaan suaminya.

  1. Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya.” Keterangan: Hal ini biasa terjadi pada suami yang miskin dan isteri yang kaya. Lalu istri itu menafkahkan hartanya kepada suaminya, kemudian mengungkitnya.
  1. Nabi SAW bersabda: “Pertama urusan yang ditanyakan kepada isteri pada hari Kiamat nanti adalah tentang sholatnya dan mengenai urusan suaminya (apakah ia menjalankan kewajibannya terhadap suaminya atau tidak).”
  2. Nabi SAW bersabda: “Empat perempuan yang berada di neraka adalah: Perempuan yang kotor mulutnya terhadap suaminya. Jika suaminya tidak ada di rumah ia tidak menjaga dirinya dan jika suaminya bersamanya ia memakinva (memarahinya). Perempuan yang memaksa suaminya untuk memberi apa yang suami tidak mampu. Perempuan yang tidak menjaga auratnya dari kaum laki-laki dan memperlihatkan kecantikannya (untuk menarik kaum laki laki). Perempuan yang tidak memiliki tujuan hidup kecuali makan minum dan tidur, dan ia tidak mau berbakti kepada Allah dan tidak mau berbakti kepada Rasul -Nya dan tidak mau berbakti kepada suaminya. ” Keterangan: Seorang perempuan yang bersifat dengan sifat-sifat ini akan dilaknati kecuali jika dia bertobat.
  1. Al Hakim bercerita bahwa seorang perempuan berkata kepada Nabi SAW: “Sesungguhnya putra pamanku melamarku. Oleh karena itu berilah peringatan kepadaku apa kewajiban seorang isteri terhadap suaminya. Kalau kewajiban itu sesuatu yang bisa aku lakukan, maka aku bersedia dinikahkan.” Maka beliau bersabda: “Kalau mengalir darah dan nanah dari kedua lubang hidung suaminya lalu (isteri) menjilatnya, maka itu pun belum dianggap menjalankan kewajibannya terhadap suaminya. Seandainya diperbolehkan untuk manusia bersujud kepada manusia lain, tentu aku perintahkan: seorang istri bersujud kepada suaminya. ”

   Berkatalah perempuan itu, “Demi Tuhan yang mengutus Tuan, aku tidak akan menikah selama dunia ini masih ada.”

  1. Imam Thabrani menceritakan bahwa seorang isteri tidak dianggap menjalankan kewajibannya terhadap Allah hingga ia menjalankan kewajibannya terhadap suaminya, dan seandainya suami memintanya (untuk digauli) sedang ia (istri) pada belakang unta maka tidak bisa dia menolaknya.
  2. Sayidina Ali kwj berkata: “Aku masuk ke rumah Nabi SAW beserta Fatimah lalu aku mendapati beliau sedang menangis tersedu-sedu, kemudian aku berkata:” tebusan Tuan adalah ayahku dan ibuku ya Rasulullah, apakah yang membuat Tuan menangis ? “Beliau bersabda,” Wahai Ali! Pada malam aku diangkat ke langit aku melihat kaum perempuan dari umatku disiksa di Neraka dengan bermacam-macam siksaan, lalu aku menangis karena begitu berat siksaan mereka yang aku lihat. Aku melihat perempuan yang digantung dengan rambutnya serta mendidih otaknya. Dan aku melihat perempuan yang digantung dengan lidahnya sedangkan air panas dituangkan pada tenggorokannya.

   Dan aku melihat perempuan yang benar-benar diikat kedua kakinya sampai kedua susunya dan diikat kedua tangannya sampai ubun-ubunnya dan Allah mengarahkan ular ular dan kalajengking menyengatinya.Dan aku melihat seorang perempuan yang berkepala babi dan bertubuh keledai dan ia ditimpakan sejuta siksaan. Dan aku melihat seorang perempuan berbentuk anjing dan api masuk dari mulutnya dan keluar dari duburnya (jalan belakang) sementara malaikat memukul kepalanya dengan tongkat besar dari api neraka . “Lalu Sayidatina Fatimah Az Zahra r.ha berdiri dan berkata,” Wahai kekasihku dan cahaya mataku !Perbuatan apa yang dilakukan oleh mereka sampai ditimpa siksaan ini? “Maka Nabi SAW bersabda:” Wahai anakku! Adapun perempuan yang digantung rambutnya itu adalah karena dia tidak menutupi rambutnya dari pandangan kaum laki-laki ajnabi.

   Adapun perempuan yang digantung dengan lidahnya karena dia telah menyakiti suaminya.

   Adapun perempuan yang digantung kedua susunya karena dia telah mempersilahkan (orang lain) untuk menduduki tempat tidur suaminya.

   Adapun perempuan yang diikat kedua kakinya sampai keduadua susunya dan diikat kedua tangannya sampai ke ubun ubunnya dan Allah mengarahkan ular-ular untuk menggigitnya dan kalajengking untuk menyengatinya karena dia tidak mandi junub setelah haid dan dia mempermainkan (meninggalkan ) sholat.Adapun perempuan yang berkepala babi dan berbadan keledai karena dia adalah anggota adu domba dan pembohong. Adapun perempuan yang berbentuk anjing dan api masuk ke mulutnya dan keluar dari duburnya karena ia ahli umpat lagi penghasut.

   Anakku! Celaka untuk perempuan yang tidak berbakti kepada suaminya. ”

  1. Seorang istri harus menyadari bahwa seorang suami untuk istri adalah bagaikan ayah bagi seorang anak karena taatnya seorang anak kepada ayahnya dan meminta keredhaannya adalah wajib Seorang suami pula tidak wajib mentaati istri
  2. Menjadi pendorong serta penasehat dalam hal-hal kebaikan.
  3. Memahami hal-hal yang digemari dan yang dibenci oleh suami.
  4. Setiap perbuatannya harus menyenangkan hati suami.
  5. Senantiasa menambahkan ilmu agamanya serta amalan.amalannya dengan berbagai macam cara seperti membaca, mendengar kaset-kaset ceramah agama serta mengikuti majlis-majlis agama.
  6. Demi cinta terhadap suaminya seorang istri akan melakukan layanan dan bakti kepada suaminya cara hal yang sebesar. besarnya sampai hal yang sekecil-kecilnya seperti menggunting kuku, memotong kumis, dan meminyakkan rambut suami. Rasulullah SAW pernah berkata kepada Siti Fatimah: ” Ya Fatimah, apabila seorang wanita meminyakkan rambut suaminya dan janggutnya, memotong kumis dan memangkas kukunya maka Allah akan memberinya minum dari air Surga yang mengalir di sungai sungainya dan diringankan Allah baginya sakaratul maul dan akan didapatinya kubumya menjadi sebuah taman yang indah dan taman taman Surga.”
  7. Senantiasa menyediakan air di sisi suami. Selama ia berbuat yang demikian selama itulah ia didoakan keampunan oleh para malaikat.
  8. Memasak makanan menurut kesukaan atau selera suami.
  9. Menambal baju atau pakaiannya yang buruk.
  10. Siapkan barang-barang kebutuhan di dalam sakunya seperti sisir, celak, sikat gigi. cermin dan minyak wangi (ikut Sunnah).
  11. Ikut kemauan suami pada waktu bersenda gurau, memijat, mengipas dan sebagainya.

AGAR MENJADI WANITA SHOLIHAH (1)

Bab 1.01 Bahaya Pandang Memandang

Allah SWT berfirman:

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan mereka karena yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan jangan memperlihatkan perhiasan mereka. ” (An Nur: 30-31)

Rasulullah SAW bersabda

“Pandangan mata itu panah yang beracun dari panah-panah iblis. Oleh karena itu barang siapa yang meninggalkan pandangan karena takut dari siksa Allah serta iman, maka ia akan memperoleh kemanisan iman dalam hatinya.”

Berkata Isa as

“Takutlah kamu sekalian pada pandangan karena sesungguhnya ia dapat menumbuhkan syahwat di dalam hati dan dapat menimbulkan fitnah (godaan) karena pandangan itu.”

Sulaiman berkata kepada putranya:

“Hai anakku! Berjalanlah di belakang harimau dan ular-ular besar yang berwama hitam dan janganlah kamu berjalan di belakang seorang perempuan.”

Bab 1.02 Adab-adab Anak Perempuan Remaja

Di dalam rumah:

  1. Menghormati penjaganya dan menerima nasihat yang diberikan.
  2. Memperbaiki diri untuk menjadi wanita solehah.
  3. Menjaga nama baik penjaganya.
  4. Melatih diri dengan urusan rumah tangga seperti menjahit, memasak dan membereskan rumah.
  5. Banyak sholat dan puasa sunat.
  6. Jadikan Al Quran sebagai hiburan dan menghafaznya.
  7. Banyak mempelajari sejarah wanita-wanita utama salafushalih untuk dicontoh

Di luar rumah:

  1. Keluar bersama-sama penjaga atau muhramnya.
  2. Senantiasa menundukkan pandangan dan hindarkan dari memandang ke sana ke mari.
  3. Hiasilah diri dengan sifat malu.
  4. Berkata yang benar saat bertemu teman
  5. Jangan pergi ke tempat-tempat umum seperti pasar.
  6. Hindari dan bersahabat atau berdiskusi dengan laki-laki.
  7. Jangan bergaul dengan wanita-wanita fasik.
  8. Menuju langsung ke tempat yang dituju tanpa menyimpang ke tempat lain.
  9. Menjaga martabat.
  10. Menjaga aurat sebagaimana yang dituntut oleh syariat.

Bab 1.03 Adab-adab Wanita Yang dipinang

   Harus dia menyerahkan kepada orang tua dan keluarganya untuk:

  1. Menyelidiki laki-laki yang meminangnya yaitu tentang agamanya, kepahamannya, kepribadian dan ketetapan janjinya.
  2. Memperhatikan keluarga tunangannya itu dan penghuni penghuni rumahnya.

   iii. Memperhatikan ibadah laki-laki yang meminangnya seperti sholatnya secara individu dan secara berjamaah.

  1. Memperhatikan tujuan pemiagaan dan perusahaan atau tujuan dalam pekerjaan laki-laki yang meminangnya.

   Pada hari pertunangannya, harus ia mendorong tunangannya agar memperkuat agamanya dan bersikap zuhud.

  1. Harus bersama-sama berniat di atas satu dasar hidup yaitu hidup untuk Tuhan.
  2. Bersifat ‘ qanaah ‘(cukup dengan apa yang telah ada tanpa rasa tamak) dalam membangun rumah tangga. Setelah diterima peminangan harus dia mematuhi ketentuan-ketentuan calon suaminya itu untuk memperkuat hubungan dalam pergaulan dan mempertahankan cinta kasih setelah menikah nanti.
  3. Rasulullah SAW bersabda: “Bila seorang yang kamu puas pada agamanya dan perangainya datang meminang (anak gadis) kamu maka terimalah lamaran itu. Seandainya kamu menolak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi.” (Riwayat At Tarmizi)
  4. Pergaulan setelah pertunangan masih terbatas. Pertemuan harus diatur sesuai syariat dengan ditemani muhram atau penjaga.
  5. Jauhkan pergaulan bebas agar terpelihara dari dosa, fitnah dan salah sangka tunangnya.

Bab 1.04 Tanda-tanda Perempuan Yang Baik Kemuliaan Dan Akhlaknya

   Berakhlak dengan Allah seperti tekun dan bersungguh-sungguh beribadah. Sabar dalam menempuh kesusahan (ujian) dari Allah dan dalam mengerjakan perintah-perintah-Nya, senantiasa bersyukur dengan karunia Allah, tenang dalam menerima ketentuan Allah serta banyak mengingati Allah.

  1. Mentaati suaminya, redha dengan pemberian suami, melayan suami dengan baik, bersopan santun dalam segala percakapan dan perbuatan, menjaga aurat dan kehormatan diri serta memelihara kehormatan suami.
  2. Berakhlak dengan orang tua, memuliakan mereka serta membantu dan menyenangkan mereka. Senantiasa berusaha mengajak keluarga kepada kebaikan dan keredhaan Allah.
  3. Balk pergaulannya dengan teman, tetangga dan masyarakat sekitarnya. Tidak mengganggu dan menyakiti mereka, malah membantu dan memudahkan mereka sesuai dengan kemampuan.
  4. Fokus hatinya adalah untuk memperbaiki ibadah dan akhlaknya, mengurus rumah tangga dengan balk, nemelihara ibadah, menjaga hubungan dengan manusia dan senantiasa berusaha untuk menasihati dan mengajak orang lain melakukan kebaikan.

Bab 2.01 Sajak Istri Istri

Istri-istri itu adalah amanah Tuhan

yang harus dijaga, diawasi dan dibajai hatinya

mengambil alih kekuasaan dari orang tuanya di bawah nama suami

adakalanya menghibur hati pencerah pikiran dan penguat jiwa

adakalanya menyiksa jiwa

duri di pikiran pan racun pada hati neraka rumah tangga

akan tumbuh uban sebelum waktunya

akan jadi tua sebelum saatnya

didiklah dia, jangan marah-marah

lemah lembut dan berhemah

simpati dan perhatian

kita akan dapat tundukkannya

jangan biarkan sesuai kehendaknya

kecuali syariat memungkinkan

dia akan terus tersasul dan salah

dayus pada kita

neraka padahnya

Bab 2.02 Perkawinan Tujuan Dan Falsafahnya

Filsafat Perkawinan

Perkawinan atau mendirikan rumah tangga merupakan satu titik awal untuk terbentuknya sebuah masyarakat Islam. Dari rumah tangga yang menerapkan Islamlah akan terbentuknya sebuah masyarakat Islam.

Tujuan Perkawinan

  1. Oleh karena laki-laki ada nafsu kepada perempuan dan sebaliknya, maka untuk menyelamatkan kondisi, perkawinan adalah perlu untuk menghindarkan terjadinya perbuatan zina, ia memberi saluran yang halal untuk mereka untuk memenuhi kebutuhan nafsu masing-masing.
  2. Dapat melahirkan keturunan yang akan melanjutkan tugas manusia sebagai khalitah Allah yang harus berusaha untuk menegakkan agama Allah dan sebagai aset yang berharga di Akhirat kelak.
  3. Islam dapat direalisasikan datam suasana keluarga sebelum aksi masyarakat Islam yang lebih besar.
  4. Dapat meramaikan umat Islam dan ini menjadi kebanggaan Rasulullah saw di Akhirat kelak.
  5. Tidak terputus keturunan disamping niat untuk memberikan hiburan kepada pasangan masing-masing.

Bab 2.03 Rumah Tangga Yang Berkat (Barokah)

   Pilih pasangan yang beragama sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya: ° Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, karena agamanya. Pilihlah yang beragama agar kamu beruntung. ” (Riwayat Bukhan dan Muslim) Bagi pihak wanita, untuk mendapatkan calon suami beragama, perlu perempuan itu sendiri beragama, karena Allah berfirman: “Laki-laki yang balk Itu adalah untuk perempuan yang baik.” (An Nur: 26)

  1. Selama pertunangan, hindarilah pergaulan bebas. Kalaupun ingin bertemu. biarlah ditemani oleh muhram. Pertemuan menurut syariat bisa diatur. Adalah lebih baik dipercepat pernikahan.
  2. Majelis walimah yang berkat ialah majelis yang menurut syariat, terhindar daripergaulan bebas laki-laki dan perempuan, tidak ada adat persandingan dan pernbaziran belanja (apa lagi kalau sampai berhutang), tidak melewatkan waktu sholat dan tidak disertai dengan hal-hal yang melalaikan.
  3. Pernikahan yang berkat itu, murah mas kawinnya, dalam bulan Syawal, pada hari Jum’at, dalam perhimpunan orang-orang saleh dan dalam rumah Allah (masjid).
  4. Suami-istri harus ada kesepahaman dan berusaha melaksanakan tanggung jawab masing-masing dan saling redhameredhai, berdiskusi jika ada masalah dan mudah bertenggang rasa. Masing-masing henddaklah berusaha mencari keridhaan Allah dan doa mendoakan

Bab 2.04 Tugas Istri Di Dalam Rumah

   Senantiasa menjaga ibadah dan akhlaknya.

  1. Harus senantiasa me, nbersihkan rumah menurut syariat Islam.
  2. Menyediakan makanan untuk suami tanpa disuruh atau diminta.
  3. Menyediakan makanan yaiig disukai oleh suami.
  4. Menjahit pakaian untuk su imi dan anak-anak.
  5. Mencuci pakaian suami dan anak-anak.
  6. Menyediakan kebutuhan-kebutuhan lain untuk Suami.
  7. Menjaga harta suami, tidak menyerahkannya kepada orang lain tanpa keijinannya.
  8. Mendidik anak-anak menjadi manusia yang beriman agar tidak membebankan ibu bapaknyaa di Akhirat kelak.
  9. Menjadi penghibur suami ketika dia berada di rumah dengan memberi layanan yang baik. Seorang istri harus menjadi kan rumah tangganya seperti surga buat suami dan anak-anak.

   Tanggung jawab wanita tersimpul dalam sebuah Hadis Rasulullah yang artinya:

   “Bila seorang wanita menunaikan kewajibannya terhadap Tuhannya, mentaati suaminya dan menggerakkan peralatan tenunannya, maka seolah-olah ia membaca tasbih kepada Allah terus-menerus. Dan selama langgeng alat tenunan itu pada tangannya maka seolah-olah ia sholat berjamaah. Bila ia menjerang panci unluk memberi makanan kepada anak-anaknya niscaya Allah menggugurkan semua dosanya (kecuali dosa besar). ”

 

PERISTIWA ISRA DAN MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW.

Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah salah satu peristiwa yang agung dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian orang meyakini kisah yang menakjubkan ini terjadi pada Bulan Rajab. Benarkah demikian? Bagaimanakah cerita kisah ini? Kapan sebenarnya terjadinya kisah ini? Bagaimana pula hukum merayakan perayaan Isra’ Mi’raj? Simak pembahasannya dalam tulisan yang ringkas ini.

Pengertian Isra’ Mi’raj

Isra` secara bahasa berasal dari kata ‘saro’ bermakna perjalanan di malam hari. Adapun secara istilah, Isra` adalah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Jibril dari Mekkah ke Baitul Maqdis (Palestina), berdasarkan firman Allah :

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha “ (Al Isra’:1)

Mi’raj secara bahasa adalah suatu alat yang dipakai untuk naik. Adapun secara istilah, Mi’raj bermakna tangga khusus yang digunakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk naik dari bumi menuju ke atas langit, berdasarkan firman Allah dalam surat An Najm ayat 1-18.

Kisah Isra’ Mi’raj

Secara umum, kisah yang menakjubkan ini disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam Al-Qur`an dalam firman-Nya:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Isra` : 1)

Juga dalam firman-Nya:

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى. مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى. وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى. عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى. ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى. وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى. ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى. فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى. فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى. مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى. أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى. وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى. إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى. مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى. لَقَدْ رَأَى مِنْ ءَايَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar”. (QS. An-Najm : 1-18)

Adapun rincian dan urutan kejadiannya banyak terdapat dalam hadits yang shahih dengan berbagai riwayat. Ada 16 shahabat yang meriwayatkan kisah ini. Mereka adalah: Anas bin Malik, Abu Dzar, Malik bin Sha’sha’ah, Ibnu ‘Abbas, Jabir, Abu Hurairah, Ubay bin Ka’ab, Buraidah ibnul Hushaib Al-Aslamy, Hudzaifah ibnul Yaman, Syaddad bin Aus, Shuhaib, Abdurrahman bin Qurath, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud, ‘Ali, dan ‘Umar radhiallahu ‘anhum ajma’in.

Di antara hadits shahih yang menyebutkan kisah ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya , dari sahabat Anas bin Malik :Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Didatangkan kepadaku Buraaq – yaitu yaitu hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dia meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya (maksudnya langkahnya sejauh pandangannya). Maka sayapun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, lalu saya mengikatnya di tempat yang digunakan untuk mengikat tunggangan para Nabi. Kemudian saya masuk ke masjid dan shalat 2 rakaat kemudian keluar . Kemudian datang kepadaku Jibril ‘alaihis salaam dengan membawa bejana berisi khamar dan bejana berisi air susu. Aku memilih bejana yang berisi air susu. Jibril kemudian berkata : “ Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah”.

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit (pertama) dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Adam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik ke langit kedua, lalu Jibril ‘alaihis salaam meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi:“Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kedua) dan saya bertemu dengan Nabi ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya shallawatullahi ‘alaihimaa, Beliau berdua menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit ketiga dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketiga) dan saya bertemu dengan Yusuf ‘alaihis salaam yang beliau telah diberi separuh dari kebagusan(wajah). Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit keempat dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit keempat) dan saya bertemu dengan Idris alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Allah berfirman yang artinya : “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi” (Maryam:57).

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit kelima dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kelima) dan saya bertemu dengan Harun ‘alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit keenam dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Musa. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit ketujuh dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad” Dikatakan, “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab, “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketujuh) dan saya bertemu dengan Ibrahim. Beliau sedang menyandarkan punggunya ke Baitul Ma’muur. Setiap hari masuk ke Baitul Ma’muur tujuh puluh ribu malaikat yang tidak kembali lagi. Kemudian Ibrahim pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buahnya seperti tempayan besar. Tatkala dia diliputi oleh perintah Allah, diapun berubah sehingga tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang sanggup mengambarkan keindahannya

Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam. Kemudian saya turun menemui Musa ’alaihis salam. Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu?”. Saya menjawab: “50 shalat”. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah menguji dan mencoba Bani Isra`il”. Beliau bersabda :“Maka sayapun kembali kepada Tuhanku seraya berkata: “Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk ummatku”. Maka dikurangi dariku 5 shalat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata:“Allah mengurangi untukku 5 shalat”. Dia berkata:“Sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka terus menerus saya pulang balik antara Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dan Musa ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah berfirman:“Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari semalam, setiap shalat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis(baginya) satu kejelekan”. Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa’alaihis salaam seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka sayapun berkata: “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai sayapun malu kepada-Nya”. (H.R Muslim 162)

Untuk lebih lengkapnya, silahkan merujuk ke kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2968 dan 3598 dan Shahih Muslim nomor 162-168 dan juga kitab-kitab hadits lainnya yang menyebutkan kisah ini. Terdapat pula tambahan riwayat tentang kisah ini yang tidak disebutkan dalam hadits di atas.

Kapankah Isra` dan Mi’raj?

Sebagian orang menganggap bahwa peristiwa ini terjadi pada tanggal 27 Rajab. Sedangkan, para ulama ahli sejarah berbeda pendapat tentang tanggal kejadian kisah ini. Ada beberapa perbedaan pendapat mengenai penetapan waktu terjadinya Isra’ Mi’raj , yaitu :

  1. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun tatkala Allah memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nubuwah (kenabian). Ini adalah pendapat Imam Ath Thabari rahimahullah.
  2. Perisitiwa tersebut terjadi lima tahun setelah diutus sebagai rasul. Ini adalah pendapat yang dirajihkan oleh Imam An Nawawi dan Al Qurthubi rahimahumallah.
  3. Peristiwa tersebut terjadi pada malam tanggal dua puluh tujuh Bulan Rajab tahun kesepuluh kenabian. Ini adalah pendapat Al Allamah Al Manshurfuri rahimahullah.
  4. Ada yang berpendapat, peristiwa tersebut terjadi enam bulan sebelum hijrah, atau pada bulan Muharram tahun ketiga belas setelah kenabian.
  5. Ada yang berpendapat, peristiwa tersebut terjadi setahun dua bulan sebelum hijrah, tepatnya pada bulan Muharram tahun ketiga belas setelah kenabian.
  6. Ada yang berpendapat, peristiwa tersebut terjadi setahun sebelum hijrah, atau pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ketiga belas setelah kenabian.

“Tiga pendapat pertama tertolak. Alasannya karena Khadijah radhiyallahu ‘anha meninggal dunia pada bulan Ramadhan tahun kesepuluh setelah kenabian, sementara ketika beliau meninggal belum ada kewajiban shalat lima waktu. Juga tidak ada perbedaan pendapat bahwa diwajibkannya shalat lima waktu adalah pada saat peristiwa Isra’ Mi’raj. Sedangakan tiga pendapat lainnya, aku tidak mengetahui mana yang lebih rajih. Namun jika dilihat dari kandungan surat Al Isra’ menunjukkan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada masa-masa akhir sebelum hijrah.”

Dapat kita simpulkan dari penjelasan di atas bahwa Isra` dan Mi’raj tidak diketahui secara pasti pada kapan waktu terjadinya. Ini menunjukkan bahwa mengetahui kapan waktu terjadinya Isra’ Mi’raj bukanlah suatu hal yang penting.

Sikap Seorang Muslim Terhadap Kisah Isra’ Mi’raj

Berita-berita yang datang dalam kisah Isra’ Miraj seperti sampainya beliau ke Baitul Maqdis, kemudian berjumpa dengan para nabi dan shalat mengimami mereka, serta berita-berita lain yang terdapat dalam hadits- hadits yang shahih merupakan perkara ghaib. Sikap ahlussunnah wal jama’ah terhadap kisah-kisah seperti ini harus mencakup kaedah berikut :

  1. Menerima berita tersebut.
  2. Mengimani tentang kebenaran berita tersebut.
  3. Tidak menolak berita tersebut atau mengubah berita tersebut sesuai dengan kenyataannya.

Kewajiban kita adalah beriman sesuai dengan berita yang datang terhadap seluruh perkara-perkara ghaib yang Allah Ta’ala kabarkan kepada kita atau dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hendaknya kita meneladani sifat para sahabt radhiyallahu ‘anhum terhadap berita dari Allah dan rasul-Nya. Dikisahkan dalam sebuah riwayat bahwa setelah peristiwa Isra’ Mi’raj, orang-orang musyrikin datang menemui Abu Bakar As Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Mereka mengatakan : “Lihatlah apa yang telah diucapkan temanmu (yakni Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam)!” Abu Bakar berkata : “Apa yang beliau ucapkan?”. Orang-orang musyrik berkata : “Dia menyangka bahwasanya dia telah pergi ke Baitul Maqdis dan kemudian dinaikkan ke langit, dan peristiwa tersebut hanya berlangsung satu malam”. Abu Bakar berkata : “Jika memang beliau yang mengucapkan, maka sungguh berita tersebut benar sesuai yang beliau ucapkan karena sesungguhnya beliau adalah orang yang jujur”. Orang-orang musyrik kembali bertanya: “Mengapa demikian?”. Abu Bakar menjawab: “Aku membenarkan seandainya berita tersebut lebih dari yang kalian kabarkan. Aku membenarkan berita langit yang turun kepada beliau, bagaimana mungkin aku tidak membenarkan beliau tentang perjalanan ke Baitul Maqdis ini?” (Hadits diriwayakan oleh Imam Hakim dalam Al Mustadrak 4407 dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha).

Perhatikan bagaimana sikap Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu terhadap berita yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau langsung membenarkan dan mempercayai berita tersebut. Beliau tidak banyak bertanya, meskipun peristiwa tersebut mustahil dilakukan dengan teknologi pada saat itu. Demikianlah seharusnya sikap seorang muslim terhadap setiap berita yang shahih dari Allah dan rasul-Nya.

Hikmah Terjadinya Isra`

Apakah hikmah terjadinya Isra`, kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak Mi’raj langsung dari Mekkah padahal hal tersebut memungkinkan? Para ulama menyebutkan ada beberapa hikmah terjadinya peristiwa Isra`, yaitu:

  1. Perjalanan Isra’ di bumi dari Mekkah ke Baitul Maqdis lebih memperkuat hujjah bagi orang-orang musyrik. Jika beliau langsung Mi’raj ke langit, seandainya ditanya oleh orang-orang musyrik maka beliau tidak mempunyai alasan yang memperkuat kisah perjalanan yang beliau alami. Oleh karena itu ketika orang-orang musyrik datang dan bertanya kepada beliau, beliau menceritakan tentang kafilah yang beliau temui selama perjalanan Isra’. Tatkala kafilah tersebut pulang dan orang-orang musyrik bertanya kepada mereka, orang-orang musyrik baru mengetahui benarlah apa yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Untuk menampakkan hubungan antara Mekkah dan Baitul Maqdis yang keduanya merupakan kiblat kaum muslimin. Tidaklah pengikut para nabi menghadapkan wajah mereka untuk beribadah keculali ke Baitul Maqdis dan Makkah Al Mukarramah. Sekaligus ini menujukkan keutamaan beliau melihat kedua kiblat dalam satu malam.
  3. Untuk menampakkan keutamaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan para nabi yang lainnya. Beliau berjumpa dengan mereka di Baitul Maqdis lalu beliau shalat mengimami mereka.

Faedah Kisah

Kisah yang agung ini sarat akan banyak faedah, di antaranya :

  1. Kisah Isra’ Mi’raj termasuk tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla.
  2. Peristiwa ini juga menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seluruh nabi dan rasul’alaihimus shalatu wa salaam
  3. Peristiwa yang agung ini menunjukkan keimanan para sahabat radhiyallahu’anhum. Mereka meyakini kebenaran berita tentang kisah ini, tidak sebagaimana perbuatan orang-orang kafir Quraisy.
  4. Isra` dan Mi’raj terjadi dengan jasad dan ruh beliau, dalam keadaan terjaga. Ini adalah pendapat jumhur (kebanyakan) ulama, muhadditsin, dan fuqaha, serta inilah pendapat yang paling kuat di kalangan para ulama Ahlus sunnah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya : “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Isra` : 1)

Penyebutan kata ‘hamba’ digunakan untuk ruh dan jasad secara bersamaan. Inilah yang terdapat dalam hadits-hadits Bukhari dan Muslim dengan riwayat yang beraneka ragam bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa salaam melakukan Isra` dan Mi’raj dengan jasad beliau dalam keadaan terjaga.

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Lum’atul I’tiqad “… Contohnya hadits Isra` dan Mi’raj, beliau mengalaminya dalam keadaan terjaga, bukan dalam keadaan tidur, karena (kafir) Quraisy mengingkari dan sombong terhadapnya (peristiwa itu), padahal mereka tidak mengingkari mimpi”

Imam Ath Thahawi rahimahullah berkata : “Mi’raj adalah benar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa salaam telah melakukan Isra` dan Mi’raj dengan tubuh beliau dalam keadaan terjaga ke atas langit…”

  1. Penetapan akan ketinggian Allah Ta’ala dengan ketinggian zat-Nya dengan sebenar-benarnya sesuai dengan keagungan Allah, yakni Allah tinggi berada di atas langit ketujuh, di atas ‘arsy-Nya. Ini merupakan akidah kaum muslimin seluruhnya dari dahulu hingga sekarang.
  2. Mengimani perkara-perkara ghaib yang disebutkan dalam hadits di atas, seperti: Buraaq, Mi’raj, para malaikat penjaga langit, adanya pintu-pintu langit, Baitul Ma’mur, Sidratul Muntaha beserta sifat-sifatnya, surga, dan selainnya.
  3. Penetapan tentang hidupnya para Nabi ‘alaihimus salaam di kubur-kubur mereka, akan tetapi dengan kehidupan barzakhiah, bukan seperti kehidupan mereka di dunia. Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam Mi’raj menemui ruh para Nabi kecuali Nabi Isa ‘alaihis salaam. Nabi menemui jasad Nabi Isa karena jasad dan ruh beliau dibawa ke langit dan beliau belum wafat.
  4. Banyaknya jumlah para malaikat dan tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah.
  5. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga adalah kalimur Rahman (orang yang diajak bicara langsung oleh Ar Rahman).
  6. Allah Ta’ala memiliki sifat kalam (berbicara) dengan pembicaraan yang sebenar-benarnya.
  7. Tingginya kedudukan shalat wajib dalam Islam, karena Allah langsung yang memerintahkan kewajiban ini.
  8. Kasih sayang dan perhatian Nabi Musa’alaihis salaam terhadap umat Islam, ketika beliau menyuruh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diringankan kewajiban shalat.
  9. Penetapan adanya nasakh (penghapusan hukum) dalam syariat Islam, serta bolehnya me-nasakh suatu perintah walaupun belum sempat dikerjakan sebelumnya, yakni tentang kewajiban shalat yang awalnya lima puluh rakaat menjadi lima rakaat.
  10. Surga dan neraka sudah ada sekarang, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihat keduanya ketika Mi’raj.
  11. Para ulama berbeda pendapat apakah Nabi melihat Allah pada saat Mi’raj. Ada tiga pendapat yang populer : Nabi melihat Allah dengan penglihatan, Nabi melihat Allah dengan hati, dan Nabi tidak melihat Allah namun hanya mendengar kalam Allah.
  12. Pendapat yang benar bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj hanya berlangusng satu kali saja dan tidak berulang.
  13. Barangsiapa yang mengingkari Isra`, maka dia telah kafir, karena dia berarti menganggap Allah berdusta. Barangsiapa yang mengingkari Mi’raj maka tidak dikafirkan kecuali setelah ditegakkan padanya hujjah serta dijelaskan padanya kebenaran.

 

FADHILAH ATAU KEUTAMAAN BELAJAR AL-QUR’AN

Artinya : “ Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al Quran dan mengajarkannya”HR Imam Bukhari , Abu Daud, Tirmidzi , Ibnu Majah

Artinya : “ Orang yang ahli Al Quran akan bersama para malaikat –malikat pencatat yang mulia dan lurus sedangkan orang yang terbata-bata dalam membaca Al Quran tetapi ia tetap bersusah payah mempelajarinya akan mendapat pahala dua kali lipat.”HR Imam Bukhari, Daud, Nasa’i, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah.

Artinya : “Tidak boleh iri hati kecuali dalam dua hal : seseorang diberi oleh Allah kemampuan membaca Al Quran dan ia membacanya siang dan malam, dan orang yang diberi oleh Allah harta yang banyak dan ia menyedekahkannya siang dan malam.”HR. Imam Bukhari, Tirmidzi, Nasa’i.

Artinya : “Allah mengangkat derajat beberapa kaum dengan kitab ini ( Al Quran ) dan merendahkan beberapa kaum lainnya dengan kitab ini juga.”HR. Imam Muslim
Artinya : “ Belajarlah Al Quran dan bacalah ia karena orang yang belajar Al Quran dan menyebutkannya dalam shalat tahajjud adalah seumpama sebuah wadah yang terbuka dan penuh kasturi, baunya semerbak merebak ke seluruh tempat dan seseorang yang telah belajar Al Quran tetapi ia tidur dan Al Quran didalam hatinya adalah seumpama sebuah wadah yang penuh dengan kasturi tetapi tertutup.” HR. Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah, Ibnu Hiban.

Artinya: “ Wahai Abu Dzar, jiak kamu pergi pada suatu pagi dan mempelajari satu ayat dari kitab Allah yaitu Al Quran, maka lebih baik daripada mengerjakan sholat nafil seratus rakaat dan jika kamu mempelajari satu bab dari ilmu apakah dapat diamalkan ataupun tidak maka lebih baik bagimu daripada mengerjakan seribu rakaat shalat nafil. “ HR Ibnu Majah.

FADHILAH MEMBACA AL QURAN

Artinya: “ Barang siapa membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginay stu hasanah ( kebaikan ) dan satu hasanah adalah sama dengan sepuluh kali lipat pahalanya.Dan saya tidak mengatakan ا لم ( alif lam mim ) itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” HR Tirmidzi

Artinya : “ Barang siapa membaca Al Quran dan mengamalkan isi kandungannya maka kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota pada hari kiamat, yang sinarnya lebih terang daripda sinar matahari jika sekiranya matahari itu berada di rumah-rumah kalian di dunia. Bagaimana menurut perkiraan kalian mengenai irang yang mengamalkannya sendiri.” HR Ahmad dan Abu Daud.

Artinya: “ Membaca Al Quran didalam shalat lebih utama dari pada di luar shalat, membaca Al Quran di luar shalat lebih utama dari pada tasbih dan takbir, tasbih lebih utama daripada sedekah, sedekah lebih utama daripada puasa dan puasa adalah penghalang dari api neraka.”HR. Baihaqi)

Artinya : “ Rasulullah bertanya kepada kami : Sukakah salah seorang diantara kamu jika kembali ke rumahnya mendapati tiga ekor unta betina yang hamil dan gemuk? Kami menjawab tentu kami menyukainya kemudian Rasulullah bersabda : Tiga potong ayat yang kamu baca dalam shalat adalah lebih utama daripada tiga ekor unta betina yang hamil dan gemuk. “ ( HR Muslim)
haq
Artinya:” Dari Abu Dzar r.a meriwayatkan,’’Saya berkata,Wahai Rasulullah,berilah nasihat kepada saya’Rasulullah saw bersabda;Hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah SWT.karna taqwa adalah akar dari setiap urusan.Saya berkata lagi’Wahai Rasulullah’tambahkan lagi nasihat untuk saya’Rasulullah pun bersabda,’Teruslah membaca Al Quran karma Al Quran adalah nur untuk (kehidupan) kamu diatas muka bumi da’Rasulullah n bekal yang disimpan dilangit (untuk hari akhirat).’’(HR Ibnu Habban)
Artinya:’’ Saw bersabda,’’Wahai ahli- ahli Al Quran,janganlah kalian menggunakan Al Quran sebagai bantal tetapi hendaknya kamu membacanya dengan teratur siang dan malam,sebarkanlah kitab suci itu,bacalah dengan suara yang merdudan pikirkanlah isi kandungannya!Dengan begini kamu akan mendapat kejayaan,Janganlah kamu minta di segerakan ganjarannya(dalam dunia) karna ia mempunyai ganjaran (yang sangat besar di akhirat),’’(HR.Imam Baihaqi)
Artinya:’’Dari Abdullah Ibnu Umar r.a meriwayatkan,’’Sesungguhnya hati ini dapat berkarat sebagaimana berkaratnya besi bila terkena air,’’Beliau ditanya,”Wahai Rasulullah,bagaimana cara membersihkannya?”Rasulullah saw bersabda,’’Memperbanyak mengingat maut dan membaca Al Quran,”(HR Imam Baihaqi)
Artinya:”Rasulullah saw bersabda,”Barang siapa membaca sepuluh ayat dalam satu malam,maka ia tidak akan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang lalai.’’(HR Imam hakim)
Artinya:’’Rasulullah saw bersabda,’’Barangsiapa menjaga lima kali sholatnya,maka ia tidak dimasukkan kedalam golongan orang-orang lalai,dan barangsiapa membaca seratus ayat dalam satu malam,maka ia akan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang taat.(HR.Ibnu Khuzaimah)

FADHILAH MEMBACA AL QUR’AN
Artinya:”Rasulullah saw bersabda,”Pada hari kiamat kelak akan diseru kepada ahli Al Qur’an,’’teruskanlah baca Quranmu dan teruskanlah menaiki Surga tingkat demi tingkat dan bacalah dengan tartil seperti yang telah engkau baca di dunia,karna sesungguhnya tempat terakhirmu adalah dimana engkau telah sampai pada ayat terakhir yang kamu baca.’’(HR.Ahmad,Tirmidzi,Abu Dawud,Nasai,Ibnu Majah,dan Ibnu Habban).
Artinya:”Rasulullah saw bersabda,’’Barangsiapa membaca Al Quran dan menghafalnya,menganggap halal apa yang di halalkan di dalam Al Quran,dan menganggap haram apa yang di haramkannya,maka Allah Swt.akan memasukkannya kedalam Surga dan Allah menjaminnya untuk memberi syafa’at kepada sepuluh orang ahli keluarganya yang akan dicampakkan ke dalam api neraka.’’(HR.Imam Ahmad dan Tirmidzi).
Artinya:”Rasulullah saw bersabda,”Seseorang yang tidak ada sedikit pun Al Quran di dalam hatinya adalah seperti rumah kosong.’’(HR.Tirmidzi)
Artinya:”Rasulullah saw bersabda,’’Membaca Al Quran dari hafalan mendapat seribu derajat pahala,sedangkan membaca Al Quran dengan melihat mushaf mendapatkan dua ribu derajat.’’(HR Imam Baihaqi)
Artinya:”Rasulullah saw bersabda,’’Sesungguhnya bagi Allah dari kalangan manusia ini,ada sebagian bagi mereka sebagai ahlinya.’’Para sahabat bertanya,’’Siapakah mereka itu?’’Rasulullah saw menjawab,’’Ahlul Quran (orang-orang Al Quran),merekalah ahli-ahli Allah dan orang-orang istimewa Nya.’’(HR Imam Hakim dan Ahmad)

 

INILAH DZIKIRNYA ULAMA SALAFUS SHALIH

Berikut ini adalah amalan-amalan dzikir yang biasa diamalkan oleh para ulama salafusshalih yang bersumber dari Shahih Bukhari, Muslim, dan At Tirmidzi:

عن سمرة بن جندب قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((أحب الكلام إلى الله أربع: سبحان الله, والحمد لله, ولا إله إلا الله, والله أكبر, لا يضرك بأيهن بدأت)) [رواه مسلم]

Artinya: “Samurah bin Jundub berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Ada empat kalimat yang paling disukai Allah: ’subhanallah, wal hamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar’ (mahasuci Allah, dan segala puji bagi Allah, serta tidak ada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Agung), maka kamu tidak akan diganggu apapun, dengan kalimat mana saja kamu memulainya” (HR. Muslim).

عن أبي ذر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إن أحب الكلام إلى الله سبحان الله وبحمده)) .وفى رواية: سئل: أي الكلام أفضل؟ قال: ((ما اصطفى الله لملائكته أو لعباده سبحان الله وبحمده)) [رواه مسلم]

Artinya: “Abu Dzar berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Kalimat yang paling disukai oleh Allah adalah: ’subhaanallaah wabihamdih’ (mahasuci Allah dan dengan segala pujian kepadaNya)”. Dalam riwayat lain dikatakan: Rasulullah SAW ditanya: “Kalimat apa yang paling baik?” Rasulullah SAW bersabda: “Kalimat yang Allah pilihkan untuk para malaikat dan hambaNya, yaitu ’subhaanallaah wabihamdih’ (mahasuci Allah dan dengan segala pujian kepadaNya)” (HR. Muslim).

عن جابر بن عبد الله قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (( أفضل الذكر: لا إله إلا الله, وأفضل الدعاء: الحمد لله)) [رواه الترمذى وقال: حديث حسن غريب].

Artinya: “Jabir bin Abdullah berkata: “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik bacaan dzikir adalah: Laa ilaaha illallaah (tidak ada Tuhan selain Allah). Dan sebaik-baik doa adalah: alhamdulillaah (segala puji bagi Allah)” (HR. Turmudzi dan Imam Turmudzi berkata: “Haditsnya Hasan Gharib”).

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (( من قال لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيئ قدير, فى يوم مائة مرة, كانت له عدل عشر رقاب, وكتبت له مائة حسنة, ومحيت عنه مائة سيئة, وكانت له حرزا من الشيطان يومه ذلك حتى يمسى, ولم يأت أحد أفضل مما جاء به, إلا أحد عمل أكثر من ذلك. ومن قال: سبحان الله وبحمده فى يوم مائة مرة, حطت خطاياه, ولو كانت مثل زبد البحر)) [رواه البخارى ومسلم]

Artinya: “Dari Abu Hurairah, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mengatakan (berdzikir): ‘Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syaiing qadiir’ (tidak ada tuhan selain Allah, Tuhan yang satu, tidak ada sekutu bagiNya, bagiNya seluruh kekuasaan, dan bagiNya juga seluruh pujian, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), setiap harinya seratus kali, maka pahalanya sama dengan membebaskan sepuluh orang budak belian, serta akan dicatat seratus kebaikan, dihapuskan seratus kesalahan, serta akan terjaga dari gangguang setan pada hari itu sampai waktu sore tiba. Tidak ada satu orang pun yang dapat melebihi pahala dan kebaikannya, kecuali orang yang membacanya lebih dari itu (lebih dari seratus). Barangsiapa yang membaca ’subhaanallaah wabihamdih’ (mahasuci Allah dan dengan segala pujian kepadaNya), setiap hari seratus kali, maka kesalahan-kesalahannya akan dihapuskan sekalipun kesalahan-kesalahannya itu sebanyak buih lautan” (HR. Bukhari Muslim).

عن أبي أيوب الأنصارى عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (( من قال: لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيئ قدير, عشر مرات كان كمن أعتق أربعة أنفس من ولد إسماعيل)) [رواه البخارى ومسلم]

Artinya: “Dari Abu Ayyub al-Anshari, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca: ‘Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syaiing qadiir’ (tidak ada tuhan selain Allah, Tuhan yang satu, tidak ada sekutu bagiNya, bagiNya seluruh kekuasaan, dan bagiNya juga seluruh pujian, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), sebanyak sepuluh kali, maka pahalanya sama dengan orang yang membebaskan empat orang dari keturunan Isma’il” (HR. Bukhari Muslim).

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((كلمتان خفيفتان على اللسان, ثقيلتان فى الميزان, حبيبتان إلى الرحمن: سبحان الله وبحمده, سبحان الله العظيم)) [رواه البخارى ومسلم]

Artinya: “Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua kalimat yang ringan apabila diucapkan, akan tetapi sangat berat timbangan kebaikannya dan sangat disukai oleh Allah yang Maha Pengasih: ’subhaanallaah wabihamdihi subhaanallaahil azhiim, (mahasuci Allah dan dengan segala pujian kepadaNya, maha suci Allah yang Maha Agung,)” (HR. Bukhari Muslim).

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((من قال حين يصبح وحين يمسي: سبحان الله وبحمده, مائة مرة, جاء يوم القيامة بأفضل ما جاء به أحد, إلا أحد قال مثل ما قال, أو زاد عليه)) [رواه مسلم]

Artinya: “Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang membaca (berdzikir) ketika pagi dan sore hari: ‘Subhaanallaah wa bihamdih’ (mahasuci Allah dan dengan segala pujian kepadaNya) sebanyak seratus kali, ia akan datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala kebaikan) yang melebihi apa yang dibawa orang lain. Kecuali apabila orang lain tersebut juga mengatakan sebanyak itu, atau lebih banyak lagi dari itu” (HR. Muslim).

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((لأن أقول: سبحان الله, والحمد لله, ولا إله إلا الله, والله أكبر, أحب إلي مما طلعت عليه الشمس)) [رواه مسلم]

Artinya: “Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Aku berdzikir dengan membaca: ’subhanallah, wal hamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar’ (mahasuci Allah, dan segala puji bagi Allah, serta tidak ada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Agung), lebih aku sukai dari pada terbitnya matahari” (HR. Muslim).

عن سعد بن أبي وقاص قال: كان عند رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: ((أيعجز أحدكم أن يكسب كل يوم ألف حسنة؟)) فسأله سائل من جلسائه: كيف أحدنا ألف حسنة؟ قال: ((يسبح مائة تسبيحة, فيكتب له ألف حسنة, أو يحط عنه ألف خطيئة)) [رواه مسلم].

Artinya: “Sa’ad bin Abi Waqash berkata, ‘Suatu hari ia berada di samping Rasulullah SAW yang sedang bersabda: “Apakah kalian merasa berat untuk melakukan seribu kebaikan setiap hari?” Salah seorang sahabat bertanya: “Bagaimana caranya kami dapat melakukan seribu kebaikan tersebut?” Rasulullah SAW bersabda: “Membaca tasbih/ Subhanallah (mahasuci Allah) sebanyak seratus kali, maka pahalanya sama dengan melakukan seribu kebaikan, atau Allah akan menghapuskan seribu kesalahannya” (HR. Muslim).

KEISTIMEWAAN YANG DI DAPAT DENGAN BERWUDLU

Wudhu memiliki keajaiban yang sangat berpengaruh baik bagi diri kita yang selalu berwudhu baik itu sebagai kewajiban ketika akan melaksanakan shalat fardhu dan sunnah juga ibadah lainnya.

Rasulullah bersabda, “Tetaplah dalam wudhu, sehingga dua malaikat penjaga mencintaimu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga sering kali mengatakan dalam doa-doanya, “Wahai Tuhan, sucikan hatiku dari kemunafikan.”

Dalam kitab Ihya al-Ulumiddin, Hujjah al-Islam Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa wudhu merupakan bagian dari cara kita menyucikan diri. Dan bersuci itu sendiri memiliki empat tahap:

    Membersihkan jasmani dari hadas

    Membersihkan anggota badan dari kejahatan dan perbuatan dosa

    mMmbersihkan hati dari akhlak tercela

    Membersihkan batin dari selain Allah Subhaanahu wata’ala

Dari keajaiban yang diberikan wudhu, terdapat tiga kekuatan wudhu yang dimiliki oleh wudhu. Ketiga kekuatan tersebut adalah sebagai berikut:

Membersihkan tubuh

Wudhu bisa membersihkan tubuh sebab wudhu berkaitan dengan air. Wudhu sesungguhnya merupakan pengolahan, pengakumulasian, dan pemusatan kekuatan air ke dalam tubuh kita. Tidak tanggung-tanggung, air wudhu adalah air yang suci dan menyucikan, yang dalam istilah fiqh-nya disebut sebagai “air mutlaq”.

Renungkanlah kedahsyatan ajaran Islam tentang wudhu ini! Dengan terang dan gamblang, Islam mengajarkan bahwa ketika Anda akan berwudhu, Anda harus mengetahui dan memahami apakah air yang akan Anda gunakan untuk berwudhu itu suci dan menyucikan atau tidak. Islam tidak hanya mengatakan, “Air wudhu antum harus bersih..” Tidak hanya bersih saja, tetapi suci, yakin suci dari hadas, najis, atau kotoran. Sekarang renungkanlah, air yang paling sehat ketimbang air yang suci dan menyucikan?!

Air yang demikian itulah yang kita pergunakan untuk berwudhu. Dengan demikian, apabila Anda ingin mendapatkan salah satu keajaiban dari wudhu berupa kebersihan tubuh, Anda tidak bisa sembarangan dalam menggunakan air. Islam tidak pernah mengajarkan pada Anda untuk menggunakan di sekitar Anda terdapat air yang bersih. Islam mengajarkan kebersihan, dan wudhu adalah cara untuk menjaga kebersihan Anda.

Menyehatkan emosi

Saya ingatkan sekali lagi tentang pengalaman wudhu Imam Ali Zawnal ABidin, yaitu ketiak beliau mau mengambil air wudhu, tiba-tiba raut wajah beliau berubah. Pancaran cahaya spiritual tampak di wajah beliau. Hla itu terjadi, sebab beliau menyadari betul bahwa sebentar lagi – usai melakukan wudhu – beliau akan menghadap Pemberi Chaya Spiritual, yaitu Allah Subhaanahu wata’ala.

Selain dapat membersihkan tubuh, wudhu juga akan dapat membersihkan emosi Anda. Wuhdu bisa menyehatkan emosi, sebab air wudhu yang suci akan meresap masuk ke dalam akal dan hati kita, menyejukkan akal dan hati kita, menyejukkan akal dan hati kita sedemikian rupa sehingga gejolak emosi dapat tertata dengan baik aibat air wudhu tersebut. Terlebih lagi, apabila kita menyadari bahwa Allah terus-menerus melihat kita dalam berwudhu tersebut. Wudhu dapat mengosongkan emosi kita dari pengaruh-pengaruh yang buruk, sekaligus dapat melesatkan emosi positif dalam diri ktia.

Menyucikan jiwa

Puncak kekuatan wudhu adalah kesucian jiwa. Jiwa yang suci adalah jiwa yang hanya memiliki kecenderungan ke arah ruh. Jiwa yang demikian adalah jiwa yang selalu mendapatkan rihda Allah Subhaanahu wata’ala. Jiwa yang bisa seperti itu, karena jiwa hanya bergantung kepada Allah; tidak menduakan-Nya, tidak membutuhkan selain-Nya, dan tidak pernah berpaling dari-Nya. Wudhu bisa memberikan Anda keadaan jiwa seperti ini.

Kita akan mengkaji masing-masing kekuatan di atas dalam tempatnya masing-masing dalam buku ini. Cukuplah, untuk sementara saya menunjukkan pokok-pokok pemikiran tentang tiga kekuatan wudhu seperti di atas.

ILMU ILMU YANG HARUS DI KUASAI AHLI TAFSIR AL QUR’AN

jal               Sayyidina Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Jika kalian menginginkan ilmu, maka pikirkanlah dan renungkanlah makna-makna Al Qur’an, karena di dalamnya terkandung ilmu orang-orang dahulu dan sekarang. Namun, untuk dapat memahami maknanya, kita mesti menunaikan syarat dan adab-adabnya terlebih dahulu.” Jangan seperti zaman kita sekarang ini, hanya bermodalkan pengetahuan tentang beberapa lafadz bahasa Arab, bahkan yang lebih parah lagi hanya sekadar melihat terjemahan Al-Qur’an, seseorang berani berpendapat mengenai Al-Qur’an. Para ulama berkata, “Dalam menafsirkan Al-Qur’an diperlukan keahlian dalam lima belas bidang ilmu.”

  1. Ilmu Lughat

Ilmu Lughat, (ilmu untuk mengetahui makna setiap kata dalam bahasa Arab). Syaikh Mujahid Rahmatullah ‘alaih berkata, “Barangsiapa beriman kepada Allah Subhaanahu wata’ala dan hari akhir, ia tidak layak berkomentar tentang ayat-ayat Al-Qur’an tanpa mengetahui ilmu lughat. Sedikit pengetahuan tentang ilmu lughat tidaklah cukup. Karena kadangkala satu lafadz mengandung beberapa makna, sedangkan jika seseorang hanya mengetahui satu atau dua makna saja, padahal kenyataannya, yang dimaksud adalah makna yang lain, maka tentu dia akan salah memahaminya.

  1. Ilmu Nahwu

Ilmu Nahwu, (yaitu ilmu untuk mengetahui makna dan bentuk susunan kalimat dalam bahasa Arab). Amat penting mengetahui ilmu Nahwu, karena sedikit saja i’rab (bacaan akhir kata) berubah, akan mengubah arti kata tersebut. Sedangkan pengetahuan tentang i’rab hanya didapat dalam ilmu Nahwu.

  1. Ilmu Sharaf

Ilmu Sharaf (ilmu untuk mengetahui perubahan suatu kata dalam bahasa Arab dan keadaannya sebelum tersusun). Mengetahui ilmu sharaf penting sekali, sebab perubahan sedikit bentuk suatu kata akan mengubah maknanya. Syaikh Ibnu Faris Rahmatullah ‘alaih berkata, “Jika seseorang tidak mendapatkan ilmu Sharaf, berarti ia telah kehilangan banyak sekali.” Dalam kitab U’jubat Tafsir, Syaikh Zamakhsyari Rahmatullah ‘alaih menulis bahwa ada seseorang yang menerjemahkan ayat Al-Qur’an yang berbunyi:

يَوۡمَ نَدۡعُواْ ڪُلَّ أُنَاسِۭ بِإِمَـٰمِهِمۡ‌ۖ…

    “(Ingatlah) suatu hari, (yang ketika itu) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya.” (Q.S. Al-Isra'[17]: 71)

  1. Ilmu Isytiqaq

Ilmu Isytiqaq (yaitu ilmu tentang asal usul kata). Mengetahui ilmu Istiqaq sangatlah penting. Dengan ilmu tersebut dapat diketahui asal-usul kata. Ada beberapa kata yang berasal dari dua kata yang berbeda, sehingga berbeda maknanya. Seperti kata masiih berasal dari kata mash yang artinya mengusapkan tangan yang basah ke atas sesuatu. Bisa juga kata masiih berasal dari kata misaahah yang berati ukuran.

  1. Ilmu Ma’ani

Ilmu Ma’ani (ilmu tentang susunan kalimat dari segi maknanya). Ilmu Ma’ani amat penting diketahui. Dengan ilmu ini susunan kalimat dapat dipahami maknanya.

  1. Ilmu Bayaan

Ilmu Bayaan, yaitu ilmu yang mempelajari makna kata yang zhahir dan tersembunyi. Ilmu ini juga mempelajari kiasan dan permisalan kata.

  1. Ilmu Badi

Ilmu Badi, yaitu ilmu yang mempelajari keindahan bahasa. Ketiga bidang ilmu di atas (Ilmu Ma’ani, Bayaan, dan Badi) disebut juga sebagai cabang ilmu balaghah. Ilmu ini sangat penting dikuasai oleh para ahli tafsir, karena Al-Qur’an adalah mukjizat yang agung. Dengan ilmu-ilmu di atas, kemukjizatan Al-Qur’an dapat dipahami.

  1. Ilmu Qira’at

Ilmu Qira’at (ilmu yang mempelajari tentang macam-macam bacaan Al-Qur’an). Ilmu ini sangat penting dipelajari, karena perbedaan bacaan dapat mengubah makna ayat. Ilmu ini membantu menentukan makna yang paling tepat di atntara makna-makna suatu karta.

  1. Ilmu Aqa’id

Ilmu Aqa’id, yaitu ilmu yang mempelajari dasar-dasar keimanan. Mempelajari ilmu ini sangat penting karena kadang kala ada satu ayat Al-Qur’an yang arti zhahirnya tidak layak diperuntukkan bagi Allah Subhaanahu wata’ala. Untuk memahaminya, diperlukan takwil ayat tersebut, seperti ayat:

    “Tangan Allah di atas tangan mereka.” (Takwilnya, orang yang berjanji kepada Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam, sama juga dengan berjanji kepada Allah Subhaanahu wata’ala).

  1. Ilmu Ushul Fiqih

Ilmu Ushul Fiqih (Ilmu yang mempelajari cara pengambilan hukum dari dalil-dalil syariat secara garis besar). Mempelajari ilmu Ushul Fiqih sangat penting. Dengan ilmu ini dapat diambil kesimpulan hukum dari sutau ayat.

  1. Ilmu Asbabun Nuzul

Ilmu Asbabun Nuzul, yang ilmu untuk mengetahui sebab-sebab turunya ayat Al-Qur’an. Dengan mengetahui sebab-sebabnya, maksud suatu ayat menjadi lebih jelas.

  1. Ilmu Nasikh Mansukh

Ilmu Nasikh Mansukh (Ilmu untuk mengetahui hukum-hukum yang telah dihapus dan hukum-hukum yang berlaku). Dengan ilmu ini dapat dipelajari suatu hukum yang sudah dihapus dan hukum yang masih tetap berlaku.

  1. Ilmu Fiqih

Ilmu Fiqih (Ilmu yang mempelajari hukum-hukum dalam syari’at). Ilmu ini penting sekali dipelajari. karena dengan mengetahui hukum-hukum fiqih secara rinci, akan mudah dipahami kaidah-kaidah umum yang ada dalam Al-Qu’ran yang menjadi dasar hukum tersebut.

  1. Ilmu Hadits

Ilmu Hadits. Ilmu yang sangat penting dipelajari untuk mengetahui hadits-hadits yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an

  1. Ilmu Wahbi

Ilmu Wahbi, yaitu ilmu khusus yang diberikan Allah Subhaanhu wata’ala kepada hamba-Nya yang istimewa, sebagaimana sabda baginda Nabi Shallallahu’ alaihai wasallam:

    Barangsiapa meengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah Subhaanahu wata’ala akan memberikan kepadanya. ilmu yang tidak ia ketahui

[Kitab Fadhilah Al-Qur’an, Syaikh Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi. Hal 609-611]

MEMAKNAI DAN MEMAHAMI BAROKAH DAN TABARRUK

BER
BAROKAH

A. Definisi Barokah,

البركة: هي الزيادة والنماء من حيث لا يوجد بالحس ظاهرا

قال الرّاغب الأصفهانيّ: البركة ثبوت الخير الإلهيّ في الشّيء.

Barokah adalah : adanya kebaikan yang sifatnya ilahi dalam suatu perkara atau tindakan. Dengan demikian barakah tidak bisa terlihat langsung secara indrawi dan lahiriah namun terkadang bisa terasakan. Sesuatu yang dirasakan mempunyai nilai tambah padahal lahirnya tidak atau malah berkurang, dikatakan mempunyai barokah. Contohnya harta yang dizakati, lahirnya ia berkurang namun pada hakekatnya ia mempunyai barakah atau diberkati, karena kekurangan tersebut terkadang secara tidak langsung mendatangkan rizki yang lain.
Seorang yang mempunyai ilmu meskipun sedikit tapi bermanfaat bagi masyarakat, ini termasuk tanda-tanda ilmu tersebut diberkati. Demikian juga harta yang bisa termanfaatkan untuk kemasalahatan yang lebih banyak merupakan tanda-tanda diberkahi.

Ketika bayi nabi Muhammad SAW lahir, ia disusui oleh seorang ibu dari Bani Sa’ad bernama Halimah Sa’diyah. Bani Sa’ ad adalah salah satu marga dari suku Quraish di Makkah. Sebelum kehadiran bayi Muhammad SAW, kondisi kehidupan Bani Sa’ad dalam keadaan paceklik yang tergambarkan pada kurusnya binatang ternak, keringnya kantong susu, ketidak­suburan tanah dan minimnya hasil tanaman.
Setelah bayi Muhammad SAW dibawa oleh Halimah ke kampung Bani Sa’ad, ternak berangsur gemuk, kantong susu ternak pun menjadi penuh, dan tanah berubah menjadi subur. Terutama kehidupan keluarga Halimah menjadi sejahtera.
Perubahan kondisi yang terjadi, diakui bahwa kehadiran bayi Muhammad SAW di Bani Sa’ ad telah membawa barokah.

B. Beberapa Ayat al Qur’an mengenai Barokah :

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Maha Suci (Maha Barokah) Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

وَهَـذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan Al-Qur’an ini adalah kitab barokah (yang diberkati) yang Kami turunkan, maka ikutilah (ajaran)nya, dan bertaqwalah agar kamu disayangi (oleh Allah).

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah komi anugerahkan barokah pada negeri/tempat sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari landa-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Isro’ ayat 1)

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكاً وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ

Sesunguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Makkah) yang dianugernhi barokah, dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (QS. Ali Imron ayat 96).

Barokah itu suatu norma yang apanya, dimana dan bagaimananya sudah digariskan sedemikian rupa oleh Alloh serta dipraktekkan oleh Rasululloh SAW. Barokah itu bersifat universal, artinya semua pihak punya hak untuk diberi, punya kewajiban untuk meminta baik langsung atau dengan perantara. Oleh karena itu, ada dua cara  bagaimana kita mendapatkkan barokah, yaitu :

1.    Secara langsung, yaitu kita secara langsung memohon kepada Alloh,sebagaimana dianjurkan oleh Rasululoh dalam suatu hadits : أدع بالبركة    ( Berdoalah untuk mendapatkan barokah).(salah satu contoh do’a minta barokah dibawah ini :

اللهم بارك لنا فيما رزقتنا وقنا عذاب النار

  1. Tidak  langsung (perantara). Sebagaimana yang dicontohkan oleh para sahabat kepada rasululloh dalam rangka mendapatkan barokah (Hal ini akan dikaji dalam penjelasan tentang Tabarruk).C. Pentingnya Barokah dalam kehidupan.

    Kadang-kadang diantara kita kurang banyak memperhatikan pentingnya barokah dalam kehidupan, sehingga kehidupannya kurang begitu berarti, tidak bahagia, tidak msesuai dengan harapan  hanya karena faktor yang menurut kita hal yang sepele. Marilah kita kaji bersama beberapa ungkapan dari ulama’ dibawah ini :

ما أكثر الناس الذين عندهم المال الكثير وهم في عداد الفقراء لماذا؟ لأنهم لا ينتفعون بما لهم، تجد عندهم من الأموال ما لا يحصى، لكن يقصر على أهله في النفقة، وعلى نفسه ولا ينتفع بماله، والغالب أن من كانت هذه حاله وبخل بما يجب عليه، أن يسلط الله على أمواله آفات تذهبها، كثير من الناس عنده أولاد لكن أولاده لم ينفعوه، عندهم عقوق واستكبار على الأب، حتى أنه ـ أي الولد ـ يجلس إلى صديقه الساعات الطويلة يتحدث إليه ويأنس به ويفضي إليه أسراره ـ لكنه إذا جلس عند أبيه، فإذا هو كالطير المحبوس في القفص ـ والعياذ بالله ـ لا يأنس بأبيه، ولا يتحدث إليه، ولا يفضي إليه بشيء من أسراره، ويستثقل حتى رؤية والده: فهؤلاء لم يبارك لهم في أولادهم.
أما البركة في العلم فتجد بعض الناس قد أعطاه الله علماً كثيراً لكنه بمنزلة الأمي فلا يظهر أثر العلم عليه في عباداته، ولا في أخلاقه ولا في سلوكه، ولا في معاملاته مع الناس، بل قد يكسبه العلم استكباراً على عباد الله وعلوًّا عليهم واحتقاراً لهم، وما علم هذا أن الذي منَّ عليه بالعلم هو الله، وإن الله لو شاء لكان مثل هؤلاء الجهال.
تجده قد أعطاه الله علماً، ولكن لم ينتفع الناس بعلمه. لا بتدريس ولا بتوجيه، ولا بتأليف، بل هو منحصر على نفسه، لم يبارك الله له في العلم، وهذا بلا شك حرمان عظيم، مع أن العلم من أبرك ما يعطيه الله العبد؛ لأن العلم إذا علمته غيرك، ونشرته بين الأمة، أجرت على ذلك من عدة وجوه:
أولاً: أن في نشرك العلم نشراً لدين الله ـ عز وجل ـ فتكون من المجاهدين، فالمجاهد في سبيل الله يفتح البلاد بلداً بلداً حتى ينشر فيها الدين، وأنت تفتح القلوب بالعلم حتى تنشر فيها شريعة الله ـ عز وجل ـ

ثانياً: من بركة نشر العلم وتعليمه، أن فيه حفظاً لشريعة الله وحماية لها؛ لأنه لولا العلم لم تحفظ الشريعة، فالشريعة لا تحفظ إلا برجالها رجال العلم، ولا يمكن حماية الشريعة إلا برجال العلم، فإذا نشرت العلم، وانتفع الناس بعلمك، حصل في هذا حماية لشريعة الله، وحفظ لها.
ثالثاً: فيه أنك تُحسن إلى هذا الذي علمته؛ لأنك تبصره بدين الله ـ عز وجل ـ فإذا عبد الله على بصيرة؛ كان لك من الأجر مثل أجره؛ لأنك أنت الذي دللته على الخير، والدال على الخير كفاعل الخير، فالعلم في نشره خير وبركة لناشره ولمن نُشر إليه.
رابعاً: أن في نشر العلم وتعليمه زيادة له، علم العالم يزيد إذا علم الناس؛ لأنه استذكار لما حفظ، وانفتاح لما لم يحفظ، وما أكثر ما يستفيد العالم من طلبة العلم، فطلابه الذين عنده أحياناً يأتون له بمعان ليست له على بال، ويستفيد منهم وهو يعلمهم، وهذا شيء مشاهد.

Beberapa Faktor ilmu Barokah dan manfaat

Marilah kita kaji beberapa ungkapan ulama’ di bawah ini tentang bagaimana kita harus selalu hati-hati dalam proses pencarian ilmu sehingga ilmu kita bisa barokah :

روح العلم بركته، وإذا أراد الله عز وجل بعبده خيراً بارك له في علمه، وتظهر بركة العلم إذا استجمع الإنسان أسباب البركة، وأول سبب وأول علامة على أن الإنسان أنه سيبارك له في علمه أن يجد توفيق الله له بالإخلاص، فإذا وجد أنه يذهب إلى حلق العلماء مخلصاً لوجه الله عز وجل ولا يريد شيئاً سوى ذلك، وأنه يريد به وجه الله والدار الآخرة، فهو موفق، ومن كان كذلك كان سعيه مشكوراً، والله عز وجل شكر سعيه فيضع له البركة في علمه. وكم من أناسٍ تعلموا القليل بإخلاص فرزقهم الله السداد والخلاص وفتح عليهم وبارك في أقوالهم، وبارك في علومهم، ونفع بهم الإسلام وأهله
!
الأمر الثاني: من الدلائل التي تدل على بركة العلم أن يحرص الإنسان على أخذ هذا العلم عن أهله، فكل علم ورث من العلماء العاملين فهو مبارك؛ لأن السلسلة متصلة، وكما بورك للعلماء السالفين ليباركن الله للعلماء اللاحقين ما داموا على نهجهم، وساروا على طريقهم. ومما يبارك الله به للعالم في علمه تقواه لله عز وجل؛ لأن التقوى سبب البركة، ومعنى ذلك: أن يكون علمه مشهوداً بالطاعات وبالأعمال الصالحة، فكل من تعلم العلم فوجد أن العلم يهذبه في أخلاقه، ويقومه في سلوكه، وأنه بهذا العلم يجد سريرة نقية تقية سوية ترضي الله عز وجل، ويجد سيرة محمودة عند الله وعند عباده، يحرص فيها على الفضائل واكتساب الأعمال الصالحة والأخلاق الحميدة الفاضلة والتواضع، وحب الخير للمسلمين، وصفاء القلب، ونقاء السريرة، والبعد عن الحسد والبغضاء، وانتقاص الناس، واحتقارهم، جميع  والابتعاد عن الغيبة والنميمة، والسب والشتم؛ فإن الله لا يبارك له في أمره وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ [الأعراف:96 ،

قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ { مَنْ عَلَّمَ عَبْدًا آيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى فَهُوَ مَوْلَاهُ } وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَخْذُلَهُ وَلَا يُؤْثِرَ عَلَيْهِ أَحَدًا وَمِنْ أَسْبَابِ انْقِرَاضِ الْعِلْمِ عَدَمُ مُرَاعَاةِ حَقِّ الْمُعَلِّمِ قِيلَ مَنْ تَأَذَّى مِنْهُ أُسْتَاذُهُ يُحْرَمُ بَرَكَةَ الْعِلْمِ وَلَا يَنْتَفِعُ بِهِ إلَّا قَلِيلًا وَيَنْبَغِي أَنْ يُقَدِّمَ حَقَّ مُعَلِّمِهِ عَلَى حَقِّ أَبَوَيْهِ .
كَمَا رُوِيَ أَنَّ الْحَلْوَانِيَّ حِينَ خُرُوجِهِ مِنْ بُخَارَى زَارَتْهُ تَلَامِذَتُهُ إلَّا الزنجري قَالَ مَنَعَتْنِي عَنْ الزِّيَارَةِ خِدْمَةُ أُمِّي قَالَ الشَّيْخُ تُرْزَقُ الْعُمُرَ وَلَا تُرْزَقُ الدَّرْسَ
قَالَ عَلِيٌّ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ أَنَا عَبْدُ مَنْ عَلَّمَنِي حَرْفًا إنْ شَاءَ بَاعَ وَإِنْ شَاءَ اسْتَرَقَّ وَقَدْ أَنْشَدَ رَأَيْت أَحَقَّ الْحَقِّ حَقَّ الْمُعَلِّمِ وَأَوْجَبَهُ حِفْظًا عَلَى كُلِّ مُسْلِمِ لَقَدْ حَقًّ أَنْ يُهْدَى إلَيْهِ كَرَامَةً لِتَعْلِيمِ حَرْفٍ وَاحِدٍ أَلْفُ دِرْهَمِ وَمَنْ عَلَّمَك حَرْفًا مِمَّا تَحْتَاجُ إلَيْهِ فِي الدِّينِ فَهُوَ أَبُوك فِي الدِّينِ وَمِنْ تَوْقِيرِ الْمُعَلِّمِ أَنْ لَا يَمْشِيَ أَمَامَهُ وَلَا يَجْلِسَ مَكَانَهُ وَلَا يَبْدَأَ الْكَلَامَ عِنْدَهُ وَلَا يَسْأَلَ شَيْئًا عِنْدَ مَلَالَتِهِ وَيُرَاعِيَ الْوَقْتَ وَلَا يَدُقَّ الْبَابَ وَيَطْلُبَ رِضَاهُ وَيَجْتَنِبَ سَخَطَهُ وَيَمْتَثِلَ أَمْرَهُ فِي غَيْرِ مَعْصِيَةٍ وَمِنْ تَوْقِيرِهِ تَوْقِيرُ أَوْلَادِهِ وَقَرَابَتِهِ وَخُدَّامِهِ ثُمَّ قَالَ فَمَنْ يُؤْذِي أُسْتَاذَه يُحْرَمُ بَرَكَةَ الْعِلْمِ وَلَا يَنْتَفِعُ بِهِ إلَّا قَلِيلًا انْتَهىَ

Kesimpulan dari ungkapan bhs arab diatas bahwa ilmu bisa barokah atau tidak  apabila bisa memenuhi beberapa kriteria dibawah ini : Yaitu :
a.    Niat ikhlas karena Allah
b.    Mencari ilmu dari ahlinya (ulama’)
c.    Hormat kepada guru
d.    Tidak menyakiti seorang guru
e.    tekun belajar dan tekun mengamalkannya, serta rajin beribadah.
f.    Tidak meremehkan wali-wali Allah
g.    Taqwa kepada Allah
h.    Menjauhi dari sifat-sifat tercela seperti Hasud, dengki,ngerasani orang,mengadu domba antar sesame,  meremehkan orang lain dan lain-lain.

TABARRUK
Definisi Tabarruk

التّبرّك لغةً: طلب البركة
فالمعنى الاصطلاحيّ للتّبرّك هو: طلب ثبوت الخير الإلهيّ في الشّيء
، والتّبريك: الدّعاء للإنسان بالبركة
والتّبريك في الاصطلاح : الدّعاء بالبركة وهي الخير الإلهيّ الّذي يصدر من حيث لا يحسّ ، وعلى وجه لا يحصى ولا يحصر ، ولذا قيل

Tabarruk ialah : Dari sisi bahasa, kata ‘tabarruk’ berarti “mencari berkah”.  Sedangkan definisi tabarruk dari sisi istilah adalah; “Mengharap berkah dari sesuatu ataupun hal-hal lain yang Allah swt telah memberikan keistimewaan dan kedudukan khusus kepadanya.
Adapun Tabriik adalah mendo’akan seseorang agar mendapatkan keberkahan. Contohnya :
بارك اللّه عليك

Dalam surat al-Baqarah ayat 248 Allah swt telah mengisakan tentang pengambilan berkah (Tabarruk) Bani Israil terhadap tabut (peti ) yang didalamnya tersimpan barang-barang sakral milik kekasih Allah, Nabi Musa as. Allah swt berfirman:
‘Peti’ itu adalah peti dimana Musa kecil telah diletakkan oleh ibunya ke sungai Nil dan mengikuti aliran sungai sehingga ditemukan oleh istri Firaun, untuk diasuh. Para Bani Israil mengambil peti itu sebagai obyek untuk mencari berkah (tabarruk). Setelah Nabi Musa as meninggal dunia, peti itu disimpan oleh washi (patner) beliau yang bernama Yusya’, dan di dalamnya disimpan beberapa peninggalan Nabi Musa yang masih berkaitan dengan tanda-tanda kenabian Musa. Setelah sekian lama, Bani Israil tidak lagi mengindahkan peti tersebut, hingga menjadi bahan mainan anak-anak di jalan-jalan. Sewaktu peti itu masih berada di tengah-tengah mereka, Bani Israil masih terus dalam kemuliaan. Namun setelah mereka mulai melakukan banyak maksiat dan tidak lagi mengindahkan peti itu, maka Allah swt menyembunyikan peti tersebut dengan mengangkatnya ke langit. Sewaktu mereka diuji dengan kemunculan Jalut mereka mulai merasa gunda. Kemudian mereka mulai meminta seorang Nabi yang diutus oleh Allah swt ke tengah-tengah mereka. Lantas Allah swt mengutus Tholut. Melalui dialah para malaikat pesuruh Allah mengembalikan peti yang selama ini mereka remehkan.

b. Beberapa bentuk Tabarruk Para Sahabat terhadap Nabi Muhammad SAW

1). Tabarruk para sahabat dengan rambut dan kuku nabi

Para sahabat biasa berebut rambut Nabi sall-Allahu álayhi wasallam. Tidak hanya itu, bahkan mereka memakainya sebagai sarana penyembuhan. Bila ada orang yang sakit, mereka meminumkan air yang sebelumnya telah dialirkan ke bejana yang berisi beberapa helai rambut Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Di antara sahabat bahkan ada yang menginginkan rambut Nabi ditaruh bersama jenazah mereka saat mereka dikubur, serta ada pula yang menaruh rambut Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam di turban mereka, yang dengan barakah rambut ini, dengan izin Allah, mereka selalu memperoleh kemenangan di medan perang.

Umm Salama memiliki beberapa helai rambut Nabi dalam sebuah botol perak. Jika orang jatuh sakit, mereka akan pergi dan mendapat barokah lewat rambut-rambut itu dan mereka akan sembuh dengan sarana barokah itu. Jika seseorang terkena penyakit mata atau penyakit apa saja, dia akan mengirim istrinya ke Umm Salama dengan sebuah mikhdaba atau ember air, dan dia (Umm Salama) akan mencelupkan rambut itu ke dalam air, dan orang yang sakit itu meminum air tersebut dan dia akan sembuh, setelah itu mereka mengembalikan rambut tsb ke dalam jiljal.”

2). Tabarruk para sahabat dengan saliva (air ludah) nabi

كان النّبيّ صلى الله عليه وسلم لا يبصق بصاقاً ولا يتنخّم نخامةً إلاّ تلقّوها ، وأخذوها من الهواء ، ووقعت في كفّ رجل منهم ، فدلكوا بها وجوههم وأجسادهم ، ومسحوا بها جلودهم وأعضاءهم تبرّكاً بها » .

« وكان يتفل في أفواه الأطفال ، ويمجّ ريقه في الأيادي ، وكان يمضغ الطّعام فيمجّه في فم الشّخص » ، « وكان الصّحابة يأتون بأطفالهم ليحنّكهم النّبيّ صلى الله عليه وسلم رجاء البرك

3). Tabarruk para sahabat dengan tangan dan kaki suci nabi sallallahu ‘alayhi wasallam

Umm Aban. putri al-Wazi’ ibn Zari’ meriwayatkan bahwa kakeknya Zari’ al-’Abdi, yang adalah anggota utusan ‘Abd al-Qays, berkata: “Ketika kami datang ke Madinah, kami berlomba untuk menjadi yang pertama meraih dan mencium tangan dan kaki Nabi Allah …

4). Tabarruk para sahabat dengan kulit rasulullah yang terberkati

Buhaysah al-Fazariyyah meriwayatkan: “Ayahku meminta izin dari Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Kemudian beliau datang mendekatinya dan mengangkat bajunya, dan mulai mencium beliau dan memeluknya karena mencintainya… ”

5). Tabarruk para sahabat dengan cangkir nabi

Hajjaj ibn Hassan berkata: “Kami berada di rumah Anas dan dia membawa cangkir Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dari suatu kantong hitam. Dia (Anas) menyuruh agar cangkir itu diisi air dan kami minum air dari situ dan menuangkan sedikit ke atas kepala kami dan juga ke muka kami dan mengirimkan solawat kepada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam.”

6). Tabarruk para sahabat dengan mimbar nabi

Ibn ‘Umar radiyAllahu ‘anhu sering memegang tempat duduk Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam di mimbar dan menempelkan wajahnya untuk barokah

7). Tabarruk para sahabat dengan uang yang diberikan oleh rasulullah

Jabir menjual seekor unta ke Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dan beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam memerintahkan Bilal untuk menambahkan seqirat (1/12 dirham) atas harga yang disepakati. Jabir berkata: “Tambahan yang diberikan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam tidak akan pernah meninggalkanku,” dan dia menyimpannya setelah peristiwa itu.

8). Tabarruk para sahabat dengan tongkat milik rasulullah

Ketika ‘Abdullah bin Anis kembali dari suatu peperangan setelah membunuh Khalid ibn Sufyan ibn Nabih, Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam memberi hadiah kepadanya berupa sebuah tongkat dan bersabda kepadanya: “Itu akan menjadi tanda di antara kau dan aku di hari kebangkitan.” Setelah itu, ‘Abdullah ibn Anis tidak pernah berpisah dari tongkat itu dan tongkat itu dikubur dengannya setelah wafatnya.

9). Tabarruk para sahabat dengan baju rasulullah

Jabir berkata: “Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam datang setelah ‘Abdullah bin Ubay dikuburkan dalam makamnya. Beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam memerintahkan agar mayatnya diangkat lagi. Beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam menaruh kedua tangannya pada kedua lutut ‘Abdullah, bernafas atasnya dan mencampurnya dengan air liurnya serta mengenakan pakaian beliau padanya.”

10). Tabarruk para sahabat dengan jubah rasulullah

فعن أسماء بنت أبي بكر رضي الله عنهما: « أنّها أخرجت جبّةً طيالسةً وقالت: إنّ رسول اللّه صلى الله عليه وسلم كان يلبسها فنحن نغسلها للمرضى يستشفى به

11). Tabarruk para sahabat dan ummat dengan sandal nabi

Al-Qastallani dalam kitabnya Mawahib al-Laduniyya berkata bahwa Ibn Mas’ud adalah salah seorang pembantu Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam dan biasa membawakan bantal (wisada) kepada beliau, juga sikat gigi (siwak) beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam, dua sandalnya (na’layn) dan air untuk wudhu’nya. Ketika Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam bangun, ia (Ibn Mas’ud) akan memakaikan sandal beliau pada beliau, dan ketika beliau duduk, ia akan membawa sandal itu dengan tangannya sampai beliau bangun dari duduknya.

Qastallani menyebutkan riwayat berikut dari salah satu Tabi’in terbesar: Abu Ishaq (al-Zuhri) berkata, “al-Qasim ibn Muhammad (ibn Abu Bakr al-Shiddiq) berkata, “Salah satu barokah dari memiliki sandal yang serupa dengan sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam adalah barangsiapa memilikinya untuk tabarruk, akan terjaga dari hasutan pemberontak dan dari penguasaan musuh, dan akan menjadi penghalang terhadap mata jahat orang yang hasud. Jika seorang hamil membawanya dengan tangan kanannya, akan dimudahkan proses persalinannya dengan kekuasaan Allah.”

12). Mengambil Berkah dari Pusara (Kuburan) Rasul)

Seorang Tabi’in bernama Ibnu al-Munkadir pun pernah melakukannya (bertabarruk kepada kubur Rasul). Suatu ketika, di saat beliau duduk bersama para sahabatnya, seketika lidahnya kelu dan tidak dapat berbicara. Lantas beiau langsung bangkit dan menuju pusara Rasul dan meletakkan dagunya di atas pusara Rasul kemudian kembali. Melihat hal itu, seseorang mempertanyakan perbuatannya. Lantas beliau menjawab: “Setiap saat aku mendapat kesulitan, aku selalu mendatangi kuburan Nabi”.

13). Tabarruk dengan sisa makanan dan minuman Nabi.

ثبت أنّ الصّحابة رضي الله عنهم كانوا يتنافسون في سؤره صلى الله عليه وسلم ليحوز كلّ واحد منهم البركة الّتي حلّت في الطّعام أو الشّراب من قبل الرّسول صلى الله عليه وسلم.

فعن سهل بن سعد رضي الله عنه: « أنّ رسول اللّه أتي بشراب فشرب منه وعن يمينه غلام ، وعن يساره الأشياخ فقال للغلام: أتأذن لي أن أعطي هؤلاء ؟ فقال الغلام: – وهو ابن عبّاس رضي الله عنهما -: واللّه يا رسول اللّه لا أوثر بنصيبي منك أحداً ، فتلّه رسول اللّه صلى الله عليه وسلم في يده

14). Tabarruk sahabat dari air wudhu Rasulullah saw:

Dari Abu Juhfah, beliau berkata: “Aku mendatangi Nabi sewaktu beliau berada di Qubbah Hamra’ dari Adam. Kulihat Bilal (al-Habasyi) mengambil air wudhu Nabi. Lantas orang-orang bergegas untuk berwudhu juga. Barangsiapa yang mendapatkan sesuatu dari air wudhu tadi maka akan menggunakannya sebagai air basuhan. Namun bagi siapa yang tidak mendapatkannya maka ia akan mengambil dari basahan (sisa wudhu) yang berada di tangan temannya”.

c. Tabarruk dengan Wali dan Orang-orang Shaleh

Adapun bertabarruk dengan selain Rasulullah (Ulama’, Wali dan Orang-orang Shaleh)  maka hukumnya juga diperbolehkan.

.     Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: bahwa Para shahabat berebut mendapatkan sisa air wudhu’ Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam untuk digunakan membasuh muka mereka.

Dari hadits diatas Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim berkata: “riwayat-riwayat ini merupakan bukti/hujjah untuk mencari barokah dari bekas-bekas para wali” (fihi al-tabarruk bi atsar al-salihin).

– قَوْله : ( فَخَرَجَ بِلَال بِوُضُوءٍ فَمِنْ نَائِل وَنَاضِح فَخَرَجَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَوَضَّأَ )فِيهِ تَقْدِيم وَتَأْخِير تَقْدِيره فَتَوَضَّأَ فَمِنْ نَائِل بَعْد ذَلِكَ وَنَاضِح تَبَرُّكًا بِآثَارِهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ جَاءَ مُبَيَّنًا فِي الْحَدِيث الْآخَر : ( فَرَأَيْت النَّاس يَأْخُذُونَ مِنْ فَضْل وَضُوئِهِ ) ، فَفِيهِ التَّبَرُّك بِآثَارِ الصَّالِحِينَ وَاسْتِعْمَال فَضْل طَهُورهمْ وَطَعَامهمْ وَشَرَابهمْ وَلِبَاسهمْ

– روى الحافظ الخطيب البغدادي أن الإمام الشافعي قال (إني أجيء قبر أبي حنيفة متبركا وما عرضت لي حاجة فصليت عنده ركعتين ثم دعوت الله إلا و تقضى لي حاجتي

  .
d. Fatwa-Fatwa Ulama Ahlusunah tentang Legalitas Tabarruk

1.    Fatwa Ulama Mazhab Hanafi

– Syeikh Syihabuddin al-Khoffaji al-Hanafi menyatakan berkaitan dengan ungkapan yang mengatakan: “Dimakruhkan menyentuh, mencium dan menempelkan dada”. Beliau menjawab dengan menfatwakan: “Hal ini (hukum makruh) tidak ada kesepakatan padanya. Atas dasar itulah Ahmad dan Thabari mengatakan bahwa; tidak mengapa mencium dan menyentuhnya

2.    Fatwa Ulama Mazhab Maliki

– Syeikh Az-Zarqoni al-Maliki menfatwakan: “Mencium kuburan hukumnya makruh, kecuali jika bertujuan untuk tabarruk maka tidak makruh”

3.    Fatwa Ulama Mazhab Syafi’i

– Syeikh Ibnu Hajar berfatwa: “Sebagian menggali dasar hukum dari legalitas mencium Hajar Aswad dengan diperbolehkannya mencim segala yang memiliki potensi untuk diagungkan dari manusia ataupun selainnya (benda).

– Syeikh Ibrahim al-Bajuri berfatwa: “Dimakruhkan mencium kuburan dan menyentuhnya kecuali untuk bertabarruk maka tidak makruh”
– Syeikh Muhibbuddin at-Thabari berfatwa: “Diperbolehkan mencium dan menyentuh kuburan. Itu merupakan perbuatan para ulama dan orang-orang saleh”
– Syeikh ar-Ramli as-Syafi’i berfatwa: “Jika kuburan Nabi, wali atau seorang alim disentuh ataupun dicium untuk tujuan tabarruk maka tidak mengapa”

4.     Fatwa Ulama Mazhab Hambali

– Dinukil dari Ibnu Jamaah (as-Syafi’i) yang menyatakan; Abdullah bin Ahmad bin Hambal pernah menceritakan perihal ayahnya. Ia (Abdullah) meriwayatkan: Aku pernah bertanya kepada ayahku tentang seseorang yang menyentuh mimbar Rasul dan bertabarruk dengan mengusap-usap juga menciumnya. Dan melakukan kuburan sebagaimana hal tadi (mengusap dan mencium) dengan tujuan mengharap pahala Allah. Beliau menjawab: “Tidak mengapa”

Ini adalah contoh-contoh dari fatwa para ulama Ahlusunnah yang jauh bertentangan dengan fatwa para ulama Wahabisme yang mengambil fatwanya dari Muhammad bin Abdul Wahhab dimana iapun mengadopsi fatwa-fatwa Ibnu Taimiyah. Semoga ini bermanfaat dan dapat dijadikan suatu landasan berfikir kita dalam menannggapi pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan ahlussunnah wal jamaah. Amin.

 

KITAB DASAR DALAM DUNIA PESANTERN SALAF

SAL             Dalam dunia pesantren khususnya pesantren salaf, kitab kuning menjadi rujukan utama. Yang menarik, kitab kuning yang diajarkan telah memiliki umur yang cukup lama, hingga ratusan tahun tetap terjaga keasliannya. Berikut akan kami share tujuh kitab dasar yang dipelajari di pesantren salaf dari berbagai macam cabang ilmu agama.<>

  1. Kitab Al-Ajurumiyah

Salah satu kitab dasar yang mempelajari ilmu nahwu. Setiap santri yang menginginkan belajar kitab kuning wajib belajar dan memahami kitab ini terlebih dahulu. Karena tidak mungkin bisa membaca kitab kuning tanpa belajar kitab Jurumiyah, ppedoman dasar dalam ilmu nahwu. Adapun tingkatan selanjutnya setelah Jurumiyah adalah Imrithi, Mutamimah, dan yang paling tinggi adalah Alfiyah. Al-Jurumiyah dikarang oleh Syekh Sonhaji dengan memaparkan berbagai bagian di dalamnya yang sistematis dan mudah dipahami.

  1. Kitab  Amtsilah At-Tashrifiyah

Jika nahwu adalah bapaknya, maka shorof ibunya. Begitulah hubungan kesinambungan antara dua jenis ilmu itu. Keduanya tak bisa dipisahkan satu sama yang lainnya dalam mempelajari kitab kuning. Salah satu kitab yang paling dasar dalam mempelajari ilmu shorof adalah Kitab Amtsilah Tashrifiyah yang dikarang salah satu ulama Indonesia, beliau KH. Ma’shum ‘Aly dari Jombang. Kitab tersebut sangat mudah dihafalkan karena disusun secara rapi dan bisa dilagukan dengan indah.

  1. Kitab Mushtholah Al-hadits 

Kitab dasar selanjutnya adalah Kitab Mushtholah Al-Hadits yang mempelajari ilmu mengenai seluk beluk ilmu hadits. Mulai dari macam-macam hadits, kriteria hadits, syarat orang yang berhak meriwayatkan hadits dan lain-lain dapat dijadikan bukti kevalidan suatu matan hadits. Kitab ini dikarang oleh al-Qodhi abu Muhammad ar-Romahurmuzi yang mendapatkan perintah dari Kholifah Umar bin Abdul Aziz karena pada waktu itu banyak orang yang meriwayatkan hadist-hadist palsu.

  1. Kitab Arba’in Nawawi

Pada kitab yang telah disebutkan di atas merupakan kitab dasar dalam menspesifikasikan kedudukan hadits. Berbeda lagi dengan kitab matan hadits yang harus dipelajari di dunia pesantren, yaitu Kitab Arba’in Nawawi karangan Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Murri Al Nizami An-Nawawi yang berisi 42 matan hadits. Selain itu beliau juga mengarang berbagai kitab antara lain Riyadhus Sholihin,  Al-Adzkar, Minhajut Tholibin, Syarh Muslim, dan lain-lain. Muatan tema yang dihimpun dalam kitab ini meliputi dasar-dasar agama, hukum, muamalah, dan akhlak

  1. Kitab At-Taqrib

Fiqh merupakan hasil turunan dari Al-Quran dan Al-Hadist setelah melalui berbagai paduan dalam ushul fiqh. Kitab Taqrib yang dikarang oleh Al-Qodhi Abu Syuja’ Ahmad bin Husain bin Ahmad Al-Ashfahaniy adalah kitab fiqh yang menjadi rujukan dasar dalam mempelajari ilmu fiqh. Di atas Kitab Taqrib ada Kitab Fathul Qorib, Tausyaikh, Fathul Mu’in, dan semuanya itu syarah atau penjelasan dari At-Taqrib.

  1. Kitab Aqidatul Awam

Hal mendasar dalam agama adalah kepercayaan atau aqidah. Apabila aqidah sudah mantap, kuat dan benar maka dalam menjalani syariat agama tidak akan menyeleweng dari aturan syariat yang telah ditentukan. Kitab dasar aqidah yang dipelajari dipesantren adalah kitab Aqidatul Awam karangan Syaikh Ahmad Marzuqi Al-Maliki berisi 57 bait nadzom. Kitab ini dikarang atas perintah Rasulullah yang mendatangi sang pengarang melalui mimpinya. Hingga beliau mampu menyelesaikan kitab tersebut sebagai acuan sumber literasi ilmu Aqidah di berbagai tempat.

  1. Kitab Ta’limul Muta’alim

Sepandai apapun manusia serta sebanyak apapun ilmu yang dikuasainya, semuanya tidak akan bisa menghasilkan sarinya ilmu tanpa adanya akhlaq. Hal dasar bagi para pencari ilmu agar ilmunya manfaat dan barokah adalah harus mengutamakan akhlaq. Kitab dasar yang menerangkan mengenai akhlaq di dunia pesantren adalah kitab Ta’limul-Muta’alim karangan Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji. Setiap awal proses belajar di pesantren sesuai adatnya pasti mempelajari kitab ini ataupun kitab lain yang seakar dengan Ta’limul Muta’alim, seperti kitab Adabul ‘alim wal Muta’alim karangan ulama’ besar Indonesia, Pahlawan Nasional sekaligus pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari. Kedua kitab ini pun juga menjadi kurikulum wajib bagi pesantren yang ada di Indonesia bahkan hingga luar negeri.

Sungguh kaya khazanah ilmu pengetahuan Islam yang ada di dunia pesantren. Ada sekitar 200 judul kitab dipelajari di pesantren menurut data yang pernah dikemukakan oleh Gus Dur. Kalangan pesantren terus berupaya agar kebudayaan pesantren ini dapat eksis di tengah perubahan zaman dan globalisasi. Literasi kebudayaan salaf ini mampu menunjukkan kiprah para ulama sebagai warotsatul ambiya’ (pewaris para Nabi).

 

PENJELASAN HADITS MA’RUF DAN HADITS MUNKAR

HAHadits Ma’ruf

Pengertiannya

Al-Ma’ruf artinya yang dikenal atau yang terkenal, dan menurut bahasa berbentuk isim maf’ul.

Dan hadits ma’ruf menurut istilah adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah, yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang dla’if (kebalikan dari hadits munkar).

Contohnya

Hadits yang diriwayatkan sebagian perawi tsiqah pada hadits Habib bin Habib Az-Zayyat – yang telah disebutkan sebelumnya – dari Abu Ishaq, dari Al-Aizar bin Harits, dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma secara mauquf (hanya sampai kepada shahabat), tidak dimarfu’kan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Artinya, bahwa perkataan ini tidak dinisbatkan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, tetapi dinisbatkan kepada Ibnu ‘Abbas.

Maka, Habib tidak tsiqah, dan ia telah memarfu’kan hadits, lalu menjadikannya sebagai perkataan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, sedangkan sebagian perawi tsiqah menjadikannya sebagai hadits mauquf. Maka terjadilah perselisihan.

Berdasarkan contoh ini, maka hadits yang datang dari jalur perawi tsiqah dinamakan Ma’ruf, sedangkan yang datang dari jalur tidak tsiqah dinamakan Munkar.

Hadits Munkar

Apabila sebab kecacatan perawi adalah karena banyaknya kesalahan, sering lupa, atau kefasiqan,; maka hadistnya dinamakan hadits Munkar.

Pengertiannya

Munkar menurut bahasa adalah isim maf’ul dari kata al-inkaar, lawan dari kata al-iqraar.

Adapaun hadits munkar menurut istilah, para ulama mendefiniskannya dengan dua pengertian berikut ini :

Pertama : yaitu sebuah hadits dengan perawi tunggal yang banyak kesalahan atau kelalaiannya, atau nampak kefasiqannya atau lemah ke-tsiqahannya.

Contohnya :

Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Ibnu Majah dari riwayat Abi Zakir Yahya bin Muhammad bin Qais, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari bapaknya, dari ‘Aisyah secara marfu’ : “Makanlah balah (kurma mentah) dengan tamr (kurma matang), karena syaithan akan marah jika anak Adam memakannya”.

An-Nasa’i berkata,”Ini hadits munkar, Abu Zakir meriwayatkannyasendiri, dia seorang syaikh yang shalih. Imam Muslim meriwayatkannya dalam mutaba’at. Hanya saja ia tidak sampai pada derajat perawi yang dapat meriwayatkan hadits secara sendiri”.

Kedua : yaitu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang lemah dan bertentangan dengan riwayat perawi yang tsiqah.

Perbedaan Antara Munkar dan Syadz Adalah :

  1. Syadz adalah hadits yang diriwayatkan perawi yang maqbul yang bertentangan hadits yang diriwayatkan perawi yang lebih utama darinya.
  2. Munkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh perawi dla’if yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi tsiqah.
  3. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa keduanya terdapat kesamaan dalam hal : “menyelisihi riwayat yang lebih kuat darinya”. Namun terdapat perbedaan dimana hadits syadz perawinya masih maqbul, sedangkan hadits munkar perawinya adalah dla’if.ContohnyaDiriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalur Habib bin Habib Az-Zayyat – tidak tsiqah – dari Abu Ishaq dan Aizar bin Harits, dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda : Barangsiapa yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, berpuasa, dan menghormati tamu, dia masuk surga”.

Abu Hatim berkata,”Hadits ini munkar, karena para perawi tsiqah selain (Habib bin Zayyat) meriwayatkannya dari Abu Ishaq hanya sampai kepada shahabat (mauqif), dan riwayat inilah yang dikenal”.

Dan hadits munkar sangat lemah, menempati urutan setelah matruk.

Dan karena definisi kedua dari hadits munkar adalah lawan dari hadits ma’ruf, maka berikut ini akan diuraikan pula tentang penjelasan hadits ma’ruf, meskipun ia termasuk bagian dari hadits maqbul yang dapat dijadikan hujjah.