MEMPELAJARI PASUKAN ATAU LASKAR IBLIS SI LAKNATULLOH

Mereka terdiri dari dua belas menteri. Di bawah kekuasaan masing-masing menteri terdapat seratus ribu panglima. Kemudian di bawah kekuasaan masing-masing panglima ada seratus ribu prajurit. Setiap prajurit memiliki berbagai perilaku jahat.

Sebagaimana akal merupakan raja makrifat, maka hawa nafsu merupakan raja iblis.

Nama para menterinya yang berjumlah dua belas itu adalah sebagai berikut.

Pertama, Kirâm ibn Karîm. Ia pemilik akhlak terpuji dalam mencegah keburukan serta dalam memerintahkan dan melakukan kebaikan.

Kedua, Hâmah ibn Iblis. Ia penguasa dosa-dosa besar.

Ketiga, Syaithân ibn Sauqân. Ia adalah penguasa pasar yang memerintahkan pengurangan takaran. Keempat, al-Zuwayangh ibn Dâmigh, yang selalu berusaha mengadu domba dan menyebarkan fitnah. Kelima, Ummu Rawbin. Ia menjadi provokator peperangan antarmanusia dan yang selalu memerintahkan pembunuhan.

Keenam, Syaythath ibn Luwayth. Ia selalu menyerukan permusuhan dan perbuatan keji.

Ketujuh, Syawqath ibn Wahab. Ia yang mencampurbaurkan antarmanusia serta menanggalkan nasihat dan sikap istiqamah.

KEMUDIAN Kesebelas, Qabizh ibn Qawthil. Ia yang memerintahkan segala kejahatan, cacian, dan kebencian. Kedua belas, Azârîn Hasûb, penguasa tempat-tempat hiburan dan tempat minum-minuman keras. Ia berdiam di sana seraya memerintahkan kejahatan. Ia memiliki pasukan telanjang dan pekerja lain yang menggoda dan melenakan manusia lewat musik dan hiburan.

Dari menteri iblis yang kedua belas inilah berbagai macam jenis hiburan bermula. Ada nama pekerja, pemusik, dan pemilik tempat hiburan di antara iblis ini. Mereka adalah makhluk terlaknat yang paling utama. Salah satu di antara mereka adalah Abû Samlaqah. Abû Samlaqah inilah yang pertama kali memeras air hujan, lalu membuat ragi, meminum, dan bernyanyi. Ia pula yang pertama kali berkeringat. Dengan kedua telapak tangannya, ia memetik anggur, memerah air anggur, dan meminum dari air perasan anggur itu. Kemudian ia meletakkannya di bawah anggur, menutupi kepalanya dengan sebuah daun, dan beberapa hari kemudian kembali. Saat kembali, minuman tersebut tampak mengeluarkan busa. Ia meminumkan kepada saudaranya, Shihâb, hingga mabuk. Lalu ia bernyanyi. Oleh karena itulah, saudaranya disebut ‘Azâf alias Hafâf. Namanya sebelum itu adalah Masqash.

Wamzah ibn al-Harts, Pemain Barbath yang Pertama Kali

Suatu saat Wamzah mendatangi Hafâf. Lalu Hafâf memberinya minum dari minumannya. Seketika itu, ia terbang dan jatuh pada sebuah pulau di lautan. Ia menetap di dalamnya selama setahun dan berpikir tentang sesuatu yang bisa dilakukannya.

Tiba-tiba pada suatu hari, ia mendengar suara sendu dan indah. Ia mendengar suaranya dan tertarik padanya. Ia pun segera meraut sebatang kayu yang diikat dengan benang dari kulit pohon. Kemudian ia membentuknya menjadi seperti sebuah kecapi. Setelah itu, ia mengambil senar dari ekor kuda.

Lûqas ibn Lâqis, Pemain Seruling Pertama

Suatu hari ia melewati Hafâf yang sedang memainkan musik. Ia mendengar suara yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Ia pun mendekat dan meminum minuman yang tidak pernah ia minum sebelumnya. Akibatnya, ia melayang hingga menuju negeri Babil. Ia berdiam di sana selama setahun seraya berpikir untuk membuat sesuatu. Kemudian pada suatu malam ia mendengar suara lalat. Ia lalu mengambil sebatang bambu dan melubanginya. Setelah itu, ia meniupnya.

Abu Laysam, Pemain Gendang Pertama

Ia adalah yang pertama kali membuat gendang. Alkisah, pada suatu hari ia menghamparkan ekornya ke wadah kaca milik Hafâf. Lalu Hafâf memukul wadah tersebut dengan tangannya. Ternyata wadah tadi berbunyi. Mendengar itu, ia pun segera mengganti ekor tersebut dengan kulit.

Iblis yang Menghuni Tempat-tempat Tertentu

Iblis yang bernama al-Qashqâm ibn al-Qast menghuni tempat sampah. Ia memercikkan air kencing ke pakaian. Setan bernama Dafûf ibn al-Qârib menghuni dapur. Ia menyibukkan para wanita untuk membuat marah majikan dan suami, serta menghuni periuk dengan menggaraminya. Lalu al-Riyâdh ibn al-Damdân yang mengurusi harta dan simpanan. Al-Râqtib Syû menghuni kamar kecil. Al-Dahhâk ibn al-Maqthâb menghuni gang dan jalan dengan mengantar orang-orang yang mabuk menuju rumah mereka. al-‘Ashûf ibn al-Jadd menghuni tempat-tempat hiburan dan musik. Iblis Arabad dan Jasûr ibn al-Luth mencampurbaurkan antara laki-laki dan wanita. Al-Buhaits ibn al-Maqham menghuni pasar-pasar, serta al-Duwaif ibn al-Qalqal yang menghuni kedai-kedai minuman keras.[ Hadist Riwayat : Al-Hakim, Al-Tirmidzi ].

Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan Abi Daud dari Ubadah bin Shamit bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku tuturkan kepada kalian tentang Dajjal. Sehingga, aku khawatirkan kamu tidak mengerti apa yang aku tuturkan kepado kalian. Sesungguhnyo sepasang kaki Dajjal itu pendek. Kalau berjalan sepasang kakinyo itu direnggangkan, berambut keriting, matanya buta sebelah, tidak melihat, tidak cembung don tidak cekung. Jika kamu merasa dibuatnya kabur, ketahuilah bahwa Tuhanmu Yang Mahamulia lagi Mahaagung tidak buta sebelah.

Menurut para ulama, seperti yang dikutip oleh al-Hafizh Abul Khaththab alias Ibnu Dahiyat dalam kitabnya Maraj al-Bahrain Fi Fawa’id al-Musyriqin wal Maghribin, kalimat dajjal itu memiliki sepuluh makna.

Pertama, menurut al-Khalil dan lainnya, dajjal adalah pendusta. Disebut pendusta, karena ia memasukkan kebatilan pada kebenaran.

Kedua, menurut al-Ashmu’i, dajjal itu diambil dari kalimat dajjala yang berarti mengecat dengan ter. Ketiga, disebut demikian karena Dajjal melintasi pelosok-pelosok bumi.

Keempat, dajjal itu berarti menutupi. Soalnya, Dajjal itu menutupi atau menjelajah ke seluruh bumi. Kelima, disebut dajjal karena ia menjelajahi bumi ketika ia menginjak-injak seluuuh negeri kecuali Mekah dan Madinah.

Selanjutnya keenam, disebut dajjal karena ia suka menipu manusia dengan kejahatannya.

Ketujuh, kata dajjal itu sinonim dengan mukhoriq yang berarti orang yang merobek-robek atau yang mengoyak-oyak.

Kedelapan, menutur Tsa’labah, kata dajjal itu sinonim dengan al-mumawwih yang berarti orang yang melapis. Contohnya seperti kalimat soifun mudajjalun yang berarti pedang yang dilapis dengan emas. Kesembilan, kata dajjal berarti air emas yang dicatkan kepada sesuatu sehingga bagian luarnya kelihatan bagus namun dalamnya tidak. Disebut demikian, karena Dajjal memang suka memperindah sesuatu yang batil.

Kesepuluh, kata dajjal sama dengan farnad as-soif yang berarti batik-batik pada pedang.

JIHAD YANG MASUK NERAKA DAN HAKIM YANG MASUK NERAKA

JIHAD YANG MALAH MASUK NERAKA

Seorang lelaki dari kabilah Bani Zhafr bernama Quzman adalah seorang yang sangat mencintai kaumnya. Ketika sebagian besar dari mereka memeluk Islam sebagaimana mayoritas masyarakat Madinah, ia juga ikut memeluk Islam karena tidak ingin sendirian dengan agama jahiliahnya. Tetapi tidak ada penjelasan/riwayat bahwa ia termasuk dalam kelompok kaum munafik. Ketika terjadi perang Uhud, ia juga menerjunkan diri melawan pasukan kafir Quraisy dalam golongan kaum Anshar. Ia berjuang dengan perkasanya sehingga mengundang decak kagum kaum muslimin lainnya. Tidak kurang dari delapan orang musyrik yang tewas di tangannya, belum lagi yang luka dan tertawan.

Ketika peperangan usai, ia dalam keadaan luka parah dan merasa sangat kesakitan. Kerabat dan saudaranya dari Bani Zhafr membawanya pulang dan menghiburnya, memintanya untuk bersabar. Mereka memuji kepahlawanannya dan mendoakannya akan mendapat surga yang tertinggi. Tetapi di luar dugaan, tiba-tiba Quzman berkata, “Demi Allah, aku ikut berperang semata-mata karena pertimbangan kaumku. Kalau tidak karena itu, aku tidak akan sudi untuk berperang!!”

Kaum muslimin di sekitarnya, yang kebanyakan masih saudara-saudaranya itu menjadi sedih mendengarnya. Mereka merayunya untuk bertobat dan memohon ampunan kepada Allah, tetapi Quzman tidak bergeming. Bahkan karena ia tidak kuat dan tidak sabar menahan penderitaan dari luka-lukanya, ia bunuh diri. Ketika Nabi SAW diberitahu tentang keadaan Quzman tersebut, beliau bersabda, “Jika dia berkata (dan berbuat) seperti itu, maka ia termasuk penghuni (akan masuk) neraka!!”.

Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih :

مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح

وعن أبي هريرة رضي الله عنه ، قال : شهدنا مع رسول الله – صلى الله عليه وسلم – حنينا ، فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – لرجل ممن معه يدعي الإسلام : ( هذا من أهل النار ) فلما حضر القتال قاتل الرجل من أشد القتال ، وكثرت به الجراح ، فجاء رجل فقال : يا رسول الله ! أرأيت الذي تحدث أنه من أهل النار ، قد قاتل في سبيل الله من أشد القتال فكثرت به الجراح فقال : ( أما إنه من أهل النار ) فكاد بعض الناس يرتاب ، فبينما هو على ذلك إذ وجد .

الرجل ألم الجراح ، فأهوى بيده إلى كنانته ، فانتزع سهما فانتحر بها ، فاشتد رجال من المسلمين إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فقالوا : يا رسول الله ! صدق الله حديثك ، قد انتحر فلان وقتل نفسه . فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : ( الله أكبر أشهد أني عبد الله ورسوله ، يا بلال قم فأذن : لا يدخل الجنة إلا مؤمن ، وإن الله ليؤيد هذا الدين بالرجل الفاجر ) رواه البخاري .

– Syarh Nawawiy ‘ala Muslim :

شرح النووي على مسلم

وحدثنا محمد بن رافع وعبد بن حميد جميعا عن عبد الرزاق قال ابن رافع حدثنا عبد الرزاق أخبرنا معمر عن الزهري عن ابن المسيب عن أبي هريرة قال شهدنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم حنينا فقال لرجل ممن يدعى بالإسلام هذا من أهل النار فلما حضرنا القتال قاتل الرجل قتالا شديدا فأصابته جراحة فقيل يا رسول الله الرجل الذي قلت له آنفا إنه من أهل النار فإنه قاتل اليوم قتالا شديدا وقد مات فقال النبي صلى الله عليه وسلم إلى النار فكاد بعض المسلمين أن يرتاب فبينما هم على ذلك إذ قيل إنه لم يمت ولكن به جراحا شديدا فلما كان من الليل لم يصبر على الجراح فقتل نفسه فأخبر النبي صلى الله عليه وسلم بذلك فقال الله أكبر أشهد أني عبد الله ورسوله ثم أمر بلالا فنادى في الناس أنه لا يدخل الجنة إلا نفس مسلمة وأن الله يؤيد هذا الدين بالرجل الفاجر

– Syarh Fathul Baari :

 حدثنا أبو اليمان أخبرنا شعيب عن الزهري قال أخبرني سعيد بن المسيب أن أبا هريرة رضي الله عنه قال شهدنا خيبر فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم لرجل ممن معه يدعي الإسلام هذا من أهل النار فلما حضر القتال قاتل الرجل أشد القتال حتى كثرت به الجراحة فكاد بعض الناس يرتاب فوجد الرجل ألم الجراحة فأهوى بيده إلى كنانته فاستخرج منها أسهما فنحر بها نفسه فاشتد رجال من المسلمين فقالوا يا رسول الله صدق الله حديثك انتحر فلان فقتل نفسه فقال قم يا فلان فأذن أنه لا يدخل الجنة إلا مؤمن إن الله يؤيد الدين بالرجل الفاجر تابعه معمر عن الزهري وقال شبيب عن يونس عن ابن شهاب أخبرني ابن المسيب وعبد الرحمن بن عبد الله بن كعب أن أبا هريرة قال شهدنا مع النبي صلى الله عليه وسلم حنينا وقال ابن المبارك عن يونس عن الزهري عن سعيد عن النبي صلى الله عليه وسلم تابعه صالح عن الزهري وقال الزبيدي أخبرني الزهري أن عبد الرحمن بن كعب أخبره أن عبيد الله بن كعب قال أخبرني من شهد مع النبي صلى الله عليه وسلم خيبر قال الزهري وأخبرني عبيد الله بن عبد الله وسعيد عن النبي صلى الله عليه وسلم

قوله : ( وفي أصحاب رسول الله – صلى الله عليه وسلم – رجل ) وقع في كلام جماعة ممن تكلم على هذا الكتاب أن اسمه قزمان بضم القاف وسكون الزاي الظفري بضم المعجمة والفاء نسبة إلى بني ظفر بطن من الأنصار وكان يكنى أبا الغيداق بمعجمة مفتوحة وتحتانية ساكنة وآخره قاف ، ويعكر عليه ما تقدم

 

TIGA MACAM GOLONGAN HAKIM

عَنْ بُرَيْدَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلْقُضَاةُ ثَلَاثَةٌ: اِثْنَانِ فِي اَلنَّارِ, وَوَاحِدٌ فِي اَلْجَنَّةِ. رَجُلٌ عَرَفَ اَلْحَقَّ, فَقَضَى بِهِ, فَهُوَ فِي اَلْجَنَّةِ. وَرَجُلٌ عَرَفَ اَلْحَقَّ, فَلَمْ يَقْضِ بِهِ, وَجَارَ فِي اَلْحُكْمِ, فَهُوَ فِي اَلنَّارِ. وَرَجُلٌ لَمْ يَعْرِفِ اَلْحَقَّ, فَقَضَى لِلنَّاسِ عَلَى جَهْلٍ, فَهُوَ فِي اَلنَّارِ ) رَوَاهُ اَلْأَرْبَعَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

Dari Buraidah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Hakim itu ada tiga, dua orang di neraka dan seorang lagi di surga. Seorang yang tahu kebenaran dan ia memutuskan dengannya, maka ia di surga; seorang yang tahu kebenaran, namun ia tidak memutuskan dengannya, maka ia di neraka; dan seorang yang tidak tahu kebenaran dan ia memutuskan untuk masyarakat dengan ketidaktahuan, maka ia di neraka.”

(HR. Imam Empat. Hadits shahih menurut Hakim).

As-Sunan al-Kubro Li al-Baehaqy III/263

فالذي في الجنّة رجلٌ عرف الحقّ” -وهذا الشرط الأوّل-, وقضى به. -وهذا الشرط الثاني-. وأمّا اللذان في النار فهما, رجل حكم بجهلٍ, -وهذا عند عدم الشرط الأوّل- ورجل عرف الحق ولم يقض به -وهذا عند عدم الشرط الثاني-, والله الموفق.

Hakim (pencetus hukum) untuk dapat meraih surga harus memenuhi dua persyaratan :

  1. Ia tahu akan suatu hal yang benar
  2. Ia memberi keputusan berdasarkan kebenaran tersebut.

Sedang bagi hakim yang tidak dapat meraih surga bahkan berada didalam jurang api neraka adalah Yang tidak tahu akan suatu kebenaran (tidak memenuhi syarat pertama) atau tidak menjalankan kebenaran yang ia ketahui (menyalahi persyaratan yang kedua).

Bahjah al-Qulub al-Abrar I/133

Wallohu a’lam.

DO’A BERBUKA PUASA DI GUGAT OLEH ALIRAN SESAT

اللهم لك صمت و بك امنت و على رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الراحمين

BENARKAH Do’a ini adalah hadits palsu, atau dengan kata lain, ini bukanlah hadits. Tidak terdapat di kitab hadits manapun. Sehingga kita tidak boleh meyakini doa ini sebagai hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.

JAWABAN : Derajat hadits tsb adalah MURSAL , namun di dhoifkan oleh muhadtis otodidak wahabi ( albani dlm al-jami’i al- shoghir, hati hati memang nama kitabnya hampir sama dengan jami’ish shoghir nya ASWAJA ).

Adalah terlalu berlebihan kalau menyatakan salah, apalagi bid’ah berdo’a dengan do’a tersebut. Karena sebagai do’a, asalkan maknanya tidak bertentangan dengan aqidah Islam dan tidak untuk maksiyat, maka disunnahkan berdo’a walaupun do’a buatan sendiri atau dengan bahasa non Arab sekalipun. Apalagi do’anya orang yang berpuasa tidak ditolak.

Rasulullah saw bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ تُحْمَلُ عَلَى الْغَمَامِ، وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاوَاتِ، وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

Tiga orang yang doa mereka tidak terhalang, yaitu imam (pemimpin) yang adil, orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan doa orang yang dizholimi. Doa mereka dibawa ke atas awan dan dibukakan pintu langit untuknya, lalu Allah Azza Wa Jalla berfirman: ‘Demi izzah-Ku, Aku akan menolongmu meski setelah beberapa waktu.” (HR Ahmad, dari Abu Hurairah, shahih lighairihi).

Apalagi ada hadits yang bahwa Rasulullah diriwayatkan juga berdo’a dengan do’a yang sebagian lafadznya seperti diatas:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، عَنْ حُصَيْنٍ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ، أَنَّهُ بَلَغَهُ ” أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: «اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ»

….Sesungguhnya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka membaca doa: Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu (HR. Abu Dawud, diriwayatkan juga oleh Al Baihaqi, Ath Thabarany, Ibnu Abi Syaibah)

Namun dalam catatan kaki Kitab Jâmi’ul Ushul, karya Ibnul Atsir (w. 606 H), dengan tahqiq Abdul Qadir Arna’uth dan disempurnakan Basyir ‘Uyûn, Maktabah Dârul Bayân, juz 6 hal.378 dinyatakan:

رقم (2358) في الصوم، باب القول عند الإفطار، مرسلاً، ولكن للحديث شواهد يقوى بها.

Nomor (2358) dalam (kitab) Puasa, bab perkataan saat berbuka, mursal, akan tetapi hadits ini memiliki syawâhid yang memperkuatnya.

Berikut beberapa redaksi do’a terkait:

1) Ath Thabarany dalam Mu’jam as Shaghir (2/133):

بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ , وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

2) Ath Thabarany dalam Ad Du’â, hal 286

بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، تَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

3) Dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (2/344), Ar Rabi’ bin Khutsaim ketika mau berbuka berdo’a:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَعَانَنِي فَصُمْتُ وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ

4) Dalam Tartîbul ‘Amâly, 1/344:

بِاسْمِ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ، تَقَبَّلْهُ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Juga diriwayatkan bahwa Ibnu ‘Umar ketika mau berbuka berdo’a:

يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ اغْفِرْ لِي

Wahai Dzat Yang luas ampunannya, ampuni aku (HR. Al Baihaqy)

Bagus juga berdo’a dengan do’a:

ذَهَبَ الظَّمأُ، وابْتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَبَتَ الأجرُ إِن شاءَ اللهُ

Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, dan telah tetap pahala, insya Allah (HR. Abu Daud, Ad Daruquthni menyatakan sanadnya hasan, Al Hakim menyatakan sanadnya shahih menurut Syaikhain/bukhori muslim)

Imam Thobrony menyatakan haditsnya marfu’

(حديث مرفوع) ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ شَبِيبٍ ، ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَمْرٍو الْبَجَلِيُّ ، ثنا دَاوُدُ بْنُ الزِّبْرِقَانِ ، عَنْ شُعْبَةَ ، عَنْ ثَابِتٍ ، عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ إِذَا أَفْطَرَ ، قَالَ : ” بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ ” .

Simak penjelasan keterangan berikut dari ulama lintas madzhab.

Kaum Muslimin di seluruh dunia termasuk di Indonesia apabila berbuka puasa biasa membaca do’a berikut:

اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَبِك آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ ، ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إنْ شَاءَ اللَّهُ .

Artinya: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman dan dengan rizki-Mu aku berbuka. Telah hilang rasa penatku dan basahlah tenggorokanku dan tetaplah pahala dicurahkan atasku, Insya Allah”.

Pembacaan do’a seperti ini – dengan fariasi tambahan dan pengurangan – merupakan warisan turun-temurun dari para Ulama Waratsatul Anbiya. Mereka yang menganjurkan membaca do’a ini adalah para Ahli Hadis dan Fuqaha dari berbagai Madzhab. Dari Ulama Madzhab Hanafi misalnya kita menemukan penjelasan dari Al Imam Fakhruddin Utsman bin Ali az Zaila’i:

وَمِنْ السُّنَّةِ أَنْ يَقُولَ عِنْدَ الْإِفْطَارِ اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَبِك آمَنْت وَعَلَيْك تَوَكَّلْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت .

Artinya: Di antara Sunnat adalah ketika berbuka puasa dianjurkan mengucapkan: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakkal dan dengan rizki-Mu aku berbuka. (Lihat kitab Tabyinul Haqa’iq Syarah Kanzud Daqa’iq karya Al Imam Az Zaila’i juz 4 halaman 178).

– Dari Ulama Madzhab Maliki antara lain disebutkan dalam Kitab Al Fawakih Ad Dawani Ala Risalah Ibni Abi Zaid Al Qirwani karya Syekh Ahmad bin Ghunaim bin Salim bin Mihna An Nafrawi :

وَيَقُولُ نَدْبًا عِنْدَ الْفِطْرِ : اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْت وَمَا أَخَّرْت ، أَوْ يَقُولُ : اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت ، ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إنْ شَاءَ اللَّهُ .

Artinya: Dan Sunnat ketika berbuka puasa mengucapkan: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka. Maka ampunilah dosaku yang lalu dan yang akan datang”. Atau mengucapkan: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka. Telah hilang rasa penatku dan basahlah tenggorokanku dan tetaplah pahala dicurahkan atasku, Insya Allah”. (Lihat pada Juz 3 halaman 386).

– Dari Madzhab Syafi’i antara lain dikemukakan Al Hafizh Al Imam An Nawawi dalam Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab:

والمستحب أن يقول عند إفطاره اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت لما روى أبو هريرة قال ” كان رسول الله صلي الله عليه وسلم إذا صام ثم أفطر قال اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت .

Artinya: Dan yang disunnahkan ketika berbuka puasa itu adalah mengucapkan: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka”. Berdasarkan Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW itu apabila berpuasa kemudian berbuka membaca “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka”. (Lihat Al Majmu’ Juz 6 halaman 363).

– Dari Madzhab Hanbali antara lain dikemukakan oleh Ibnu Qudamah Al Maqdisi.

ويستحب تعجيل الافطار وتأخير السحور، وأن يفطر على التمر وإن لم يجد فعلى الماء،وأن يقول عند فطره اللَّهُمَّ لَك صُمْت ، وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت ، سُبْحَانَك وَبِحَمْدِك ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّي إنَّك أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya: Dan disunnahkan menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Dianjurkan agar berbuka dengan kurma atau jika tidak ada, dengan air. Dan ketika berbuka hendaklah membaca, “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka”. Maha Suci Engkau ya Allah dan segala pujian bagi-Mu. Ya Allah, terimalah ibadahku sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Asy Syarh Al Kabir karya Ibnu Qudamah, juz 3, halaman 76)

Para Ulama itu mengamalkan do’a tersebut berdasarkan warisan ilmu yang diterima secara turun temurun dari generasi ke genarasi dan bermuara di generasi awal Ummat ini. Namun do’a tersebut pun terdapat pula catatannya di dalam kitab-kitab Hadis. Di antara buku Hadis yang mencantumkannya adalah buku karya Al Imam Abu Dawud, seorang penyusun buku Hadis bermadzhab Hanbali dalam Sunannya:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى أَبُو مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَلِىُّ بْنُ الْحَسَنِ أَخْبَرَنِى الْحُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ – يَعْنِى ابْنَ سَالِمٍ – الْمُقَفَّعُ – قَالَ رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقْبِضُ عَلَى لِحْيَتِهِ فَيَقْطَعُ مَا زَادَ عَلَى الْكَفِّ وَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ». (رواه ابو داود) قال الشيخ الألباني : حسن .

Artinya: Marwan bin Salim berkata; Aku melihat Ibnu Umar memegang jenggotnya dan memotong yang melebihi genggaman telapak tangannya dan berkata: Rasulullah SAW itu apabila berbuka puasa mengucapkan “Telah hilang rasa penatku dan basahlah tenggorokanku dan tetaplah pahala dicurahkan atasku, Insya Allah”. (HR Abu Dawud).

Al Imam Al Baihaqi, seorang penyusun kitab Hadis bermadzhab Syafi’i meriwayatkan dalam As Sunan Al Kubra – selain Hadis di atas – sebuah Hadis lain;

أَخْبَرَنَا أَبُو عَلِىٍّ الرُّوذْبَارِىُّ أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ دَاسَةَ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ حُصَيْنٍ عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ : أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ :« اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ ».(رواه البيهقي فالسنن الكبرى)

Artinya: Bahwasanya nabi Muhammad SAW itu apabila berbuka puasa membaca “Allahumma Laka Shumtu…” [Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka]. (HR Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra Juz 4 halaman 239)

 Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa membaca do’a “Allahumma laka Shumtu….” Sebagaimana yang biasa dilakukan Ummat Islam adalah Sunnah. Adapun adanya keterangan sebagian orang yang menilai Hadisnya lemah dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, lemahnya sebuah Hadis tidak serta merta terlarang mengamalkannya sebab kelemahan itu hanyalah pada penisbatannya kepada Rasulullah SAW, tidak ada kaitannya dengan boleh-tidaknya dibaca.

Kedua, Hadis “Allahumma Laka Shumtu…” sungguhpun dha’if namun ia melengkapi Hadis “Dzahabazh Zhama’u…”. yang yang Hasan itu. Bentuk kedua ini belum merupakan do’a sebab hanya bentuk berita atau ucapan biasa yang disampaikan Rasulullah SAW saat minum air. Bacaan ini baru menjadi do’a manakala disambungkan dengan kalimat “Allahumma…” yang berarti “Ya Allah”.

Ketiga, bacaan do’a tersebut telah diamalkan dan dianjurkan oleh semua Ulama Madzhab Empat Itu artinya membaca “Allahumma laka Shumtu” merupakan kesepakatan Ummat Islam.

Apabila ada orang awam yang melarang membaca “Allahumma Laka Shumtu…” maka orang tersebut dapat dikatakan menganut aliran sesat, sebab – selain menyalahi kesepakatan Ummat Islam – tidak ada dalil yang menjadi dasarnya. Bahkan, sabda Rasulullah SAW di atas menganjurkan kita memilih do’a sesuka kita. Lalu dengan alasan apa orang tersebut melarang membaca do’a “Allahumma Laka Shumtu..” ?. Bukankah dengan larangannya itu berarti ia telah membuat Syari’at baru?. Kalau saja membaca do’a yang terdapat dalam Hadis Shahih itu diharamkan, tanyakan kepada orang itu; “Pernahkan anda berdo’a dengan Bahasa Indonesia agar anak anda sukses sekolahnya?. Jika pernah, lalu apakah ada dalilnya bentuk do’a yang anda baca itu?. Lalu bagaimana anda melarang orang membaca do’a yang disepakati Ummat Islam dari dulu hingga sekarang hanya gara-gara “katanya” Hadisnya dha’if ?.

Para ulama menganjurkan membaca do’a tersebut, simak hadits yang mereka (Rohimahumullahu) takhrij :

Lihat dalam Taisiril Wushul ila Ahaaditsir Rosul

1 -كان إذا أفطر قال : اللهمَّ لك صمتُ وعلى رِزقِك أفطرتُ

الراوي: معاذ بن زهرة المحدث: أبو داود – المصدر: المراسيل – الصفحة أو الرقم: 203

خلاصة حكم المحدث: أورده في كتاب المراسيل

2 -أنّ النبيَّ صلى الله عليه وسلم كان إذا أفطر قال اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت

الراوي: معاذ بن زهرة المحدث: أبو داود – المصدر: سنن أبي داود – الصفحة أو الرقم: 2358

خلاصة حكم المحدث: سكت عنه [وقد قال في رسالته لأهل مكة كل ما سكت عنه فهو صالح

3 – كان النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم إذا أفطَر قال بِسْمِ اللهِ اللَّهمَّ لكَ صُمْتُ وعلى رِزْقِكَ أفطَرْتُ

الراوي: أنس بن مالك المحدث: الطبراني – المصدر: المعجم الأوسط – الصفحة أو الرقم: 7/298

خلاصة حكم المحدث: لم يرو هذا الحديث عن شعبة إلا داود بن الزبرقان تفرد به إسماعيل بن عمر

4 – اللهمَّ لكَ صُمْتُ وعلى رزقِكَ أفطرتُ

الراوي: أبو هريرة المحدث: النووي – المصدر: المجموع – الصفحة أو الرقم: 6/362

خلاصة حكم المحدث: غريب، ليس معروفا، وعن النبي صلى الله عليه وسلم مرسلا، ومن رواية ابن عباس مسنداً متصلاً بإسناد ضعيف

5 – أن النبيَّ _صلى الله عليه وسلم _كان إذا أفطرَ قال : اللهمَّ لكَ صمتُ، وعلى رِزْقِكَ أفطرتُ.

الراوي: معاذ بن زهرة المحدث: الذهبي – المصدر: المهذب – الصفحة أو الرقم: 4/1616

خلاصة حكم المحدث: مرسل

6 – أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ كان إذا أفطرَ قال : اللَّهُمَّ لكَ صُمتُ وعلى رِزقِكَ أفْطَرتُ

الراوي: معاذ بن زهرة المحدث: ابن الملقن – المصدر: البدر المنير – الصفحة أو الرقم: 5/710

خلاصة حكم المحدث: إسناده حسن لكنه مرسل

 7 – بلغَه أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ كانَ إذا أفطرَ قالَ اللَّهمَّ لَكَ صمتُ وعلى رزقِك أفطرتُ

الراوي: معاذ بن زهرة المحدث: ابن الملقن – المصدر: شرح البخاري لابن الملقن – الصفحة أو الرقم: 13/400خلاصة حكم المحدث: مرسل [وروي] من حديث أنس مرفوعاً بإسناد فيه ضعف

8 -أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ تعالَى عليه وسلم كان إذا أفطر قال : اللهمَّ لك صمتُ وعلى رِزقكَ أفطرتُ

الراوي: معاذ بن زهرة المحدث: ابن الملقن – المصدر: خلاصة البدر المنير – الصفحة أو الرقم: 1/327

خلاصة حكم المحدث: إسناده حسن لكنه مرسل

9 – أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ كان إذا أفطرَ قال اللهمَّ لك صمتُ وعلى رزقك أفطرتُ

الراوي: معاذ بن زهرة المحدث: ابن الملقن – المصدر: تحفة المحتاج – الصفحة أو الرقم: 2/96

خلاصة حكم المحدث: مرسل

10 -اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت فتقبل منا إنك أنت السميع العليم

الراوي: [عبدالله بن عباس] المحدث: ابن القيم – المصدر: زاد المعاد – الصفحة أو الرقم: 2/49

خلاصة حكم المحدث: لا يثبت

11 -أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم كان إذا أفطَر قال اللهُم لكَ صمتُ ، وعلى رزقِكَ أفطَرتُ

الراوي: معاذ بن زهرة المحدث: ابن كثير – المصدر: إرشاد الفقيه – الصفحة أو الرقم: 289/1

خلاصة حكم المحدث: مرسل، ومن حديث ابن عباس ونحوه، ولا يصح سنده

12 -أن النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ كان إذا أفطر قال اللهمَّ لك صمتُ وعلى رزقِك أفطرتُ

الراوي: معاذ بن زهرة المحدث: محمد المناوي – المصدر: تخريج أحاديث المصابيح – الصفحة أو الرقم: 2/169

خلاصة حكم المحدث: مرسل

13 -كانَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم إذا أفْطَرَ قال بسمِ اللهِ اللهمَّ لَكَ صمْتُ وعلَى رِزْقِكَ أفْطَرْتُ

الراوي: أنس بن مالك المحدث: الهيثمي – المصدر: مجمع الزوائد – الصفحة أو الرقم: 3/159

خلاصة حكم المحدث: فيه داود بن الزبرقان وهو ضعيف

14 -أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم كان إذا أفطر قال : اللَّهمَّ لك صُمتُ ، وعلى رزقِك أفطرتُ

الراوي: معاذ بن زهرة المحدث: ابن حجر العسقلاني – المصدر: التلخيص الحبير – الصفحة أو الرقم: 2/801

خلاصة حكم المحدث: مرسل

15 – كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم إذا أفطر قال : بسمِ اللهِ اللَّهمَّ لك صُمتُ، وعلى رزقِك أفطرتُ

الراوي: أنس بن مالك المحدث: ابن حجر العسقلاني – المصدر: التلخيص الحبير – الصفحة أو الرقم: 2/802

خلاصة حكم المحدث: إسناده ضعيف

Melihat pandangan ahli hadits diatas ,derajat hadits nya khilaf (marfu’ , mursal dan dhoif ) kalaupun dhoif namun secara ma’na hasan , Imam ghozali saja yang tingkatannya ” Hujjatul Islam” dalam banyak kitabnya mengutarakan amalan-amalan yang sumbernya dari hadits dho’if sbgai “Fadhoilul a’mal”.

Dan“terlalu berlebihan kalo ada orang atau golongan yang tidak memperbolehkan do’a tsb diatas dengan berdasarkan “sanad hadits nya lemah” ta’dzimnya aswaja dengan menggabungkan keduanya.

اللهم لك صمت و بك امنت و على رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الراحمين ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الل

HADITH INI HASAN dan MA’MUL BIH (bisa diamalkan) termuat dalam : Asnal Mathalib

ﻭﻳﻨﺒﻐﻲ ﻟﻪ ﺃَﻥْ ﻳَﻘُﻮﻝَ ﺑَﻌْﺪَ ﻭﻓﻲ ﻧُﺴْﺨَﺔٍ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟْﺈِﻓْﻄَﺎﺭِ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻟﻚ ﺻُﻤْﺖ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺭِﺯْﻗِﻚ ﺃَﻓْﻄَﺮْﺕ ﻟِﻠِﺎﺗِّﺒَﺎﻉِ ﺭَﻭَﺍﻩُ ﺃﺑﻮ ﺩَﺍﻭُﺩ ﺑِﺈِﺳْﻨَﺎﺩٍ ﺣَﺴَﻦٍ ﻟَﻜِﻨَّﻪُ ﻣُﺮْﺳَﻞٌ ﻭَﺭُﻭِﻱَ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﺃَﻧَّﻪُ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﺣِﻴﻨَﺌِﺬٍ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺫَﻫَﺐَ ﺍﻟﻈَّﻤَﺄُ ﻭَﺍﺑْﺘَﻠَّﺖْ ﺍﻟْﻌُﺮُﻭﻕُ ﻭَﺛَﺒَﺖَ ﺍﻟْﺄَﺟْﺮُ ﺇﻥْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺃﺳﻨﻰ ﺍﻟﻤﻄﺎﻟﺐ

Raudhatul Muhadditsin Abdul Qadir Al-Arnauth menyatakan : “Namun hadits ini memiliki syawahid(jalur lain) yang menguatkannya.”

ﺭﻭﺿﺔ ﺍﻟﻤﺤﺪﺛﻴﻦ – )ﺝ / 10 ﺹ 304 ( – 4729 ﻋﻦ ﻣﻌﺎﺫ ﺑﻦ ﺯﻫﺮﺓ ﺃﻧﻪ ﺑﻠﻐﻪ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻥ ﺇﺫﺍ ﺃﻓﻄﺮ ﻗﺎﻝ ” : ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻟﻚ ﺻﻤﺖ ﻭ ﻋﻠﻰ ﺭﺯﻗﻚ ﺃﻓﻄﺮﺕ . ” ﺩ ) ﺍﻷﺫﻛﺎﺭ 162/1 ( ﻣﺮﺳﻞ* ﺗﻌﻘﻴﺐ : ﻗﺎﻝ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻘﺎﺩﺭ ﺍﻷﺭﻧﺎﺅﻭﻁ : 162 / 1 ﻭ ﻟﻜﻦ ﻟﻪ ﺷﻮﺍﻫﺪ ﻳﻘﻮﻯ ﺑﻬﺎ

KETERANGAN DAN PENJELASAN ZAKAT FITRAH LENGKAP

Syarat wajib zakat fitrah :

  1. Islam
  2. Merdeka (bukan budak, hamba sahaya)
  3. Mempunyai kelebihan makanan atau harta dari yang diperlukan di hari raya dan malam hari raya. Maksudnya mempunyai kelebihan dari yang diperlukan untuk dirinya sendiri dan orang-orang yang wajib ditanggung nafkahnya, pada malam dan siang hari raya. Baik kelebihan itu berupa makanan, harta benda atau nilai uang.
  4. Menemui waktu wajib mengeluarkan zakat fitrah. Artinya menemui sebagian dari bulan Ramadhan dan sebagian dari awalnya bulan Syawwal (malam hari raya).

Keterangan:

Yang dimaksud “ mempunyai kelebihan di sini “ adalah kelebihan dari kebutuhan pokok sehari-harinya. Maka barang yang menjadi kebutuhan sehari-hari, seperti rumah yang layak, perkakas rumah tangga yang diperlukan, pakaian sehari-hari dan lain-lain tidak menjadi perhitungan. Artinya, jika tidak mampu membayar zakat fitrah, harta benda di atas tidak wajib dijual guna mengeluarkan zakat.

Jenis dan kadar zakat fitrah :

  1. Berupa bahan makanan pokok daerah tersebut (bukan uang)
  2. Sejenis. Tidak boleh campuran
  3. Jumlahnya mencapai satu Sho’ untuk setiap orang. ( 1 Sho’ = 4 mud = kurang lebih 3 Kilogram )
  4. Diberikan di tempatnya orang yang dizakati.

Misalnya, seorang ayah yang berada di Surabaya dengan makanan pokok beras, menzakati anaknya yang berada di Kediri dengan makanan pokok jagung. Maka jenis makanan yang digunakan zakat adalah jagung dan diberikan pada faqir miskin di Kediri.

Catatan :

– Menurut Imam Abu Hanifah, zakat fitrah boleh dikeluarkan dalam bentuk qimah atau uang.

– Jika tidak mampu 1 sho’, maka semampunya bahkan jika tidak mempunyai kelebihan harta sama sekali, maka tidak wajib zakat fitrah.

Waktu mengeluarkan zakat fitrah

Waktu pelaksanaan mengeluarkan zakat fitrah terbagi menjadi 5 kelompok :

  1. Waktu wajib : Yaitu, ketika menemui bulan Ramadhan dan menemui sebagian awalnya bulan Syawwal. Oleh sebab itu orang yang meninggal setelah maghribnya malam 1 Syawwal, wajib dizakati. Sedangkan bayi yang lahir setelah maghribnya malam 1 Syawwal tidak wajib dizakati.
  2. Waktu jawaz : Yaitu, sejak awalnya bulan Ramadhan sampai memasuki waktu wajib.
  3. Waktu Fadhilah : Yaitu, setelah terbit fajar dan sebelum sholat hari raya.
  4. Waktu makruh : Yaitu, setelah sholat hari raya sampai menjelang tenggelamnya matahari pada tanggal 1 Syawwal kecuali jika ada udzur seperti menanti kerabat atau orang yang lebih membutuhkan, maka hukumnya tidak makruh.
  5. Waktu haram : Yaitu, setelah tenggelamnya matahari tanggal 1 Syawwal kecuali jika ada udzur seperti hartanya tidak ada ditempat tersebut atau menunggu orang yang berhak menerima zakat, maka hukumnya tidak haram. Sedangkan status dari zakat yang dikeluarkan tanggal 1 Syawwal adalah qodho’.

Syarat sahnya zakat :

  1. Niat.

Harus niat di dalam hati ketika mengeluarkan zakat, memisahkan zakat dari yang lain, atau saat memberikan zakat kepada wakil untuk disampaikan kepada yang berhak atau antara memisahkan dan memberikan.

– Niat zakat untuk diri sendiri :

نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنْ نَفْسِي / هَذَا زَكاَةُ مَالِي اْلمَفْرُوْضَةْ

” Saya niat mengeluarkan zakat untuk diriku / ini adalah zakat harta wajibku “

Jika niat zakat fitrah atas nama orang lain, hukumnya diperinci sebagai berikut :

  1. Jika orang lain yang dizakati termasuk orang yang wajib ditanggung nafkah dan zakat fitrahnya, seperti istri, anak-anaknya yang masih kecil, orang tuanya yang tidak mampu dan setrusnya, maka yang melakukan niat adalah orang yang mengeluarkan zakat tanpa harus minta idzin dari orang yang dizakati. Namun boleh juga makanan yang akan digunakan zakat diserahkan oleh pemilik kepada orang-orang tersebut supaya diniati sendiri-sendiri.
  2. Jika mengeluarkan zakat untuk orang yang tidak wajib ditanggung nafkahnya, seperti orang tua yang mampu, anak-anaknya yang sudah besar (kecuali jika dalam kondisi cacat atau yang sedang belajar ilmu agama), saudara, ponakan, paman atau orang lain yang tidak ada hubungan darah dan seterusnya, maka disyaratkan harus mendapat idzin dari orang-orang tersebut. Tanpa idzin dari mereka , maka zakat yang dikeluarkan hukumnya tidak sah.

– Niat atas nama anaknya yang masih kecil :

نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنْ وَلَدِي الصَّغِيْرِ…

“ Saya niat mengeluarkan zakat atas nama anakku yang masih kecil…”

– Niat atas nama ayahnya :

نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنْ اَبِي …

“ Saya niat mengeluarkan zakat atas nama ayahku…”

– Niat atas nama ibunya :

نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنء اُمِّي …

“ Saya niat mengeluarkan zakat atas nama ibuku…”

– Niat atas nama anaknya yang sudah besar dan tidak mampu :

نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنْ وَلَدِي اْلكَبِيْرِ…

“ Saya niat mengeluarkan zakat atas nama anakku yang sudah besar…”

  1. Dikeluarkan kepada orang-orang yang berhak menerima zakat

Orang-orang yang berhak menerima zakat :

Ada 8 golongan yang berhak menerima zakat dalam Al-Quran Allah Swt berfirman :

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ.

  1. Faqir

Faqir adalah orang yang tidak mempunyai harta atau pekerjaan sama sekali, atau orang yang mempunyai harta atau pekerjaan namun tidak bisa mencukupi kebutuhannya. Misalnya dalam sebulan ia butuh biaya sebesar Rp; 500.000, namun penghasilannya hanya mendapat Rp; 200.000 (tidak mencapai separuh yang dibutuhkan). Yang dimaksud dengan harta dan pekerjaan di sini adalah harta yang halal dan pekerjaan yang halal dan layak. Dengan demikian yang termasuk golongan faqir adalah :

1.Tidak mempunyai harta dan pekerjaan sama sekali

2.Mempunyai harta, namun tidak mempunyai pekerjaan. Sedangkan harta yang ada sangat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan selama umumnya usia manusia.

3.Mempunyai harta dan pekerjaan, harta saja atau pekerjaan saja namun harta atau pekerjaan tersebut haram menurut agama. Bagi orang yang mempunyai harta yang melimpah atau pekerjaan yang menjanjikan, namun haram menurut agama, maka orang tersebut termasuk faqir sehingga berhak dan boleh menerima zakat.

4.Tidak mempunyai harta dan mempunyai pekerjaan, namun tidak layak baginya. Seperti pekertjaan yang bisa merusak harga diri, kehormatan dan lain-lain.

  1. Miskin.

Miskin adalah orang yang mempunyai harta atau pekerjaan yang tidak bisa mencukupi kebutuhannya dan orang-orang yang ditanggung nafkahnya. Misalnya dalam sebulan ia butuh biaya sebesar Rp; 500.000, namun penghasilannya hanya mendapat Rp; 400.000 (mencapai separuh yang dibutuhkan).

  1. Amil.

Amil zakat yaitu orang-orang yang diangkat oleh Imam atau pemerintah untuk menarik zakat kepada orang yang berhak menerimanya dan tidak mendapat bayaran dari baitul mal atau Negara. Amil zakat meliputi bagian pendataan zakat, penarik zakat, pembagi zakat dan lain-lain. Jumlah zakat yang diterima oleh amil disesuaikan dengan pekerjaan yang dilakukan alias memakai standart ujroh mistly (bayaran sesuai tugas kerjaannya masing-masing).

Syarat-syarat amil zakat :

1.Islam

2.Laki-laki

3.Merdeka

4.Mukallaf

5.Adil

6.Bisa melihat

7.Bisa mendengar

8.Mengerti masalah zakat (faqih / menguasai)

  1. Muallaf

Secara harfiyah, muallaf qulubuhum adalah orang-orang yang dibujuk hatinya. Sedangkan orang-orang yang termasuk muallaf, yang nota bene berhak menerima zakat adalah :

  1. Orang yang baru masuk Islam dan Iman (niat) nya masih lemah
  2. Orang yang baru masuk Islam dan imannya sudah kuat, namun dia mempunyai kemuliaan dikalangan kaumnya. Dengan memberikan zakat kepadanya, diharapkan kaumnya yang masih kafir mau masuk Islam.
  3. Orang Islam yang melindungi kaum muslimin dari gangguan dan keburukan orang-orang kafir
  4. Orang Islam yang membela kepentingan kaum muslimin dari kaum muslim yang lain yang dari golongan anti zakat atau pemberontak dan orang-orang non Islam.

Semua orang yang tergolong muallaf di atas berhak menerima zakat dengan syarat Islam. Sedangakan membujuk non muslim dengan menggunakan harta zakat itu tidak boleh.

  1. Budak mukatab

Budak mukatab yaitu budak yang dijanjikan merdeka oleh tuannya apabila sudah melunasi sebagian jumlah tebusan yang ditentukan dengan cara angsuran. Tujuannya untuk membantu melunasi tanggungan dari budak mukatab.

  1. Ghorim (orang yang berhutang)

Ghorim terbagi menjadi 3 bagian :

  1. Orang yang berhutang untuk mendamaikan dua orang atau dua kelompok yang sedang bertikai.
  2. Orang yang berhutang untuk kemaslahatan diri sendiri dan keluarga.
  3. Orang yang berhutang untuk kemaslahatan umum, seperti berhutang untuk membangun masjid, sekolah, jembatan dan lain-lain.

4.Orang yang berhutang untuk menanggung hutangnya orang lain.

  1. Sabilillah

Sabilillah yaitu orang yang berperang di jalan Allah dan tidak mendapatkan gaji. Sabilillah berhak menerima zakat untuk seluruh keperluan perang. Sejak berangkat sampai kembali, sabilillah dan keluarganya berhak mendapatkan tunjangan nafkah yang diambilkan dari zakat. Sedangkan yang berhak memberikan zakat untuk sabilillah adalah imam (penguasa) bukan pemilik zakat.

Keterangan :

Dikalangan ulama terdapat khilaf tentang makna fii sabilillah; Ada pendapat mengatakan bahwa yang dimaksud fii sabilillah tiada lain adalah orang-orang yang menjadi sukarelawan untuk berperang di jalan Allah Swt dan tidak mendapatkan gaji, dan inilah pendapat mayoritas para ulama (pendapat yang kuat). Sebagian ulama mengatakan bahwa fii sabilillah adalah semua aktifitas yang menyangkut kebaikan untuk Allah sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Qaffal, seperti untuk sarana-sarana pendidikan dan peribadatan Islam. Dan pendapat ini adalah lemah.

  1. Ibnu sabil (musafir)

Ibnu sabil yaitu orang yang memulai bepergian dari daerah tempat zakat atau musafir yang melewati daerah tempat zakat dengan syarat :

  1. Bukan bepergian untuk maksyiat
  2. Membutuhkan biaya atau kekurangan biaya. Walaupun ia mempunyai harta di tempat yang ia tuju.

Orang-orang yang tidak berhak menerima zakat :

  1. Orang kafir atau murtad
  2. Budak / hamba sahaya selain budak mukatab
  3. Keturunan dari bani Hasyim dan Bani Muthalib (para habaib), sebagaimana hadits shohih, Nabi Saw bersabda :

إِنَّ هَذِهِ الصَّدَقَاتِ إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ وَإِنَّهَا لَا تَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلَا لِآلِ مُحَمَّدٍ

“ Sesungguhya shodaqah ini (zakat) adalah kotoran manusia dan tidak dihalalkan bagi Muhammad dan keluarga Muhammad “.

  1. Orang kaya. Yaitu orang yang penghasilannya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya.
  2. Orang yang ditanggung nafkahnya. Artinya, orang yang berkewajiban menanggung nafkah, tidak boleh memberikan zakatnya kepada orang yang ditanggung tersebut.

Mekanisme pembagian zakat

Apabila zakat dibagikan sendiri oleh pemilik atau wakilnya, maka perinciannya sebagai berikut :

– Jika orang yang berhak menerima zakat terbatas (bisa dihitung), dan harta zakat mencukupi, maka mekanisme mengeluarkan zakatnya harus mencakup semua golongan penerima zakat yang ada di daerah tempat kewajiban zakat. Dan dibagi rata antar golongan penerima zakat.

– Jika orang yang berhak menerima zakat tidak terbatas atau jumlah harta zakat tidak mencukupi, maka zakat harus diberikan pada minimal tiga orang untuk setiap golongan penerima zakat.

Pemilik zakat tidak boleh membagikan zakatnya pada orang-orang yang bertempat di luar daerah kewajiban zakat. Zakat harus diberikan pada golongan penerima yang berada di daerah orang yang dizakati meskipun bukan penduduk asli wilayah tersebut.

Sedangkan jika pembagian dilakukan oleh Imam (penguasa), baik zakat tersebut diserahkan sendiri oleh pemilik kepada Imam atau diambil oleh Imam, maka harus dibagi dengan cara sebagai berikut :

  1. Semua golongan penerima zakat yang ada harus mendapat bagian
  2. Selain golongan amil, semua golongan mendapat bagian yang sama.
  3. Masing-masing individu dari tiap golongan penerima mendapat bagian (jika harta zakat mencukupi)
  4. Jika hajat dari masingf-masing individu sama, maka jumlah yang diterima juga harus sama.

Catatan :

Menurut pendapat Imam Ibnu Ujail Rh adalah :

  1. Zakat boleh diberikan pada satu golongan dari beberapa golongan yang berhak menerima zakat.
  2. Zakatnya satu orang boleh diberikan pada satu yang berhak menerima zakat.
  3. Boleh memindah zakat dari daerah zakat.

Tiga pendapat terakhir boleh kita ikuti (taqlid) walaupun berbeda dengan pendapat dari Imam Syai’i . Mengingat sulitnya membagi secara rata pada semua golongan, apalagi zakat fitrah yang jumlahnya tidak begitu banyak.

Tanya jawab seputar masalah zakat :

♦ Soal : Sah kah panitia zakat / amil yang dibentuk oleh kelurahan ?

Jawab : Jika memenuhi persyaratan-persyaratannya seperti diangkat oleh Imam dan panitia itu termasuk orang yang menguasai bab zakat, maka dapat disebut amil zakat. ( Buka kitab Al-Bajury, jilid 1 hal: 290 ).

♦ Soal : Apakah pengurus panitia zakat yang didirikan oleh suatu organisasi Islam itu termasuk amil menurut Syare’at, ataukah tidak ?

Jawab : Panitia pembagian zakat yang ada pada waktu ini tidak termasuk amil zakat menurut agama Islam, sebab mereka tidak diangkat oleh Imam (kepala negara). (Buka kitab Al-Bajuri 1/283 dan At-Taqrirat : 424).

♦ Soal : Bolehkah zakat fitrah dijual oleh panitia zakat dan hasil penjualannya dipergunakan menurut kebijaksanaan panitia ?

Jawab : Zakat fitrah tidak boleh dijual kecuali oleh mustahiqnya. (Buka kitab Al-Anwar juz 1 bab zakat)

♦ Soal : Bolehkah zakat atau sebagiannya dijadikan modal usaha bagi panitia-panitia zakat atau badan-badan sosial tersebut ?

Jawab : Tidak boleh zakat atau sebagiannya dijadikan modal usaha bagi panitia-panitia atau badan-badan sosial. (Buka kitab Al-Muhadzdzab, jilid 1 hal : 169)

Referensi :

  1. Bulughul Maram
  2. Fathul Qorib
  3. Tanwirul Qulub
  4. Hasyiah Al-Bajuri
  5. Bughyatul Mustarsyidin
  6. I’anah At-Tholibin
  7. Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab
  8. Tuhfatul Muhtaj
  9. Ihya Ulumuddin
  10. Ahkamul Fuqaha

POLEMIK IMAM DAN MAKMUM DALAM BACAAN KETIKA I’TIDAL

Mohon bimbingan dan Minta pencerahannya. Sering saya jumpai saat sholat berjama’ah, banyak ma’mum yang ketika berdiri dari ruku’ menuju (i’tidal) tidak membaca “SAMI’ALLOHU LIMAN HAMIDAH” melainkan langsung membaca “ROBBANAA WALAKALHAMDU dst…

” Yang ingin saya tanyakan”

-Apakah membaca “SAMI’ALLOHU LIMAN HAMIDAH” tetap sunnah bagi ma’mum?

-Manakah yang lebih afdhol bagi ma’mum, membaca “SAMI’ALLOHU LIMAN HAMIDAH  Atau langsung “ROBBANAA LAKALHAMDU…?

JAWABAN :

Dalam kitab al Hawi Imam Mawardi disebutkan :

وقال أبو حنيفة يختص الإمام بقول سمع الله لمن حمده والمأموم بقول ربنا ولك الحمداستدلالا برواية سمي عن أبي صالح عن أبي هريرة أن رسول الله قال : إذا قال الإمام سمع الله لمن حمده فقولوا اللهم ربنا ولك الحمد

Menurut syafi’iyah, sunnah dua dua nya membaca dua-dua nya, Tapi yang afdholnya sami’allah liman hamidah itu di pisah dengan rabbana walakalhamdu, karena alasan intiqal..

Bacaan SAMI’A ALLAAHU LIMAN HAMIDAHU menurut kitab-kitab kalangan SYAFI’IYYAH disunahkan bagi imam, makmum, muballigh ataupun orang yang sedang shalat sendirian.

وَيُسْتَحَبُّ له أَنْ يَرْفَعَ يَدَيْهِ كما سَبَقَ في تَكْبِيرِ الْإِحْرَامِ حين يَرْفَعُ رَأْسَهُ من الرُّكُوعِ بِأَنْ يَكُونَ ابْتِدَاءُ رَفْعِهِمَا مع ابْتِدَاءِ رَفْعِهِ قَائِلًا في ارْتِفَاعِهِ لِلِاعْتِدَالِ سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ لِلِاتِّبَاعِ رَوَاهُ الشَّيْخَانِ مع خَبَرِ صَلُّوا كما رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي وَسَوَاءٌ في ذلك الْإِمَامُ وَغَيْرُهُ وَأَمَّا خَبَرُ إذَا قال سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا لَك الْحَمْدُ فَمَعْنَاهُ قُولُوا ذلك مع ما عَلِمْتُمُوهُ من سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ لِعِلْمِهِمْ بِقَوْلِهِ صَلُّوا كما رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي مع قَاعِدَةِ التَّأَسِّي بِهِ مُطْلَقًا

“Dan disunahkan mengangkat kedua tangannya seperti saat takbiratul ihram saat ia mengangkat kepalanya dari rukuk, dalam artian awal mengangkat kedua tangannya berbarengan dengan awal mengangkat kepalanya seraya membaca ‘SAMI’A ALLAAHU LIMAN HAMIDAHU’ berdasarkan itba’ Nabi pada hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim ‘Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat shalatku’.Ketentuan diatas sama bagi seorang imam dan lainnya (makmum, orang yang shalat sendirian).

Sedang hadits ‘bila imam membaca ‘SAMI’A ALLAAHU LIMAN HAMIDAHU’ maka ucapkanlah oleh kalian ‘RABBANAA LAKA AL-HAMDU’ artinya adalah ucapkanlah ‘RABBANAA LAKA AL-HAMDU’ bersama dengan ucapan yang telah kalian ketahui yakni ‘SAMI’A ALLAAHU LIMAN HAMIDAHU’ sebab para sahabat telah mengetahui bacaan ‘SAMI’A ALLAAHU LIMAN HAMIDAHU’ dari shalat yang dikerjakan oleh nabi dengan kaidah taassy secara mutlak”. [ Asna al-Mathoolib I/158 ].

ويجهر الامام بسمع الله لمن حمده، ويسر بربنا لك الحمد ويسر غيره بهما.نعم المبلغ يجهر بما يجهر به الامام ويسر بما يسر به كما قاله في المجموع لانه ناقل

“Dan bagi imam bacalah dengan keras bacaan ‘SAMI’A ALLAAHU LIMAN HAMIDAHU’ dan bacalah dengan pelan bacaan ‘RABBANAA LAKA AL-HAMDU’, sedang bagi selain imam (makmum, orang yang shalat sendirian) bacalah pelan keduanya”Hanya saja bagi seorang muballigh (perantara bacaan imam) bacalah keras bacaan yang dikeraskan imam dan bacalah pelan bacaan yang dipelankan oleh imam sebagaimana yang diterangkan dalam kitab al-majmuu’ karena kedudukannya sebagai pemindah bacaan dari imam”. [ Al-Iqnaa I/133 ].

ثم يرفع من ركوعه قائلا سمع الله لمن حمده ويرفع يديه حذم منكبيه فإذا اعتدل قائما قال ربنا لك الحمد ملء السموات وملء الأرض ما شئت من شيء اماما كان أو مأموما أو منفردا

Kemudian bangkitlah ia dari rukukmya seraya mengucapkan ‘SAMI’A ALLAAHU LIMAN HAMIDAHU’ dan angkatlah kedua tangaanya selaras dengan kedua bahunya, kemudian saat ia telah tegak nerdiri ucapkan ‘RABBANAA LAKA AL-HAMDU MIL-US SAMAAWAATI WA MIL-UL ARDHI WA MIL-U MAA SYI’TA MIN SYAIIN’ baik ia seorang imam, makmum ataupun shalat sendiri”. [ Iqnaa Li al-Mawardy I/39 ].

( و ) يسن لكل مصل ( التكبير للانتقال من ركن إلى آخر….( إلا في الاعتدال ) ولو لثاني قيام الكسوف ( فيقول ) إماما كان أو منفردا أو مأموما مبلغا أو غيره ( سمع الله لمن حمده ) للاتباع أي تقبل الله منه حمده ويحصل أصل السنة بقوله من حمد الله سمعه

“Disunahkan bagi setiap orang yang shalat membaca takbir pada perpindahan gerakan-gerakan yang terdapat pada satu rukun shalat pada gerakan lainnya……Kecuali saat ia i’tidal meskipun pada saat berdiri yang kedua sewaktu shalat gerhana, maka ucapkanlah ‘SAMI’A ALLAAHU LIMAN HAMIDAHU’ baik ia seorang imam, shalat sendirian, makmum, muballigh ataupun lainnya berdasarkan itba’ pada nabi dengan hadits “semoga Allah mendengar pujian darinya”.Dan kesunahan terdapatkan juga dengan membaca “MAN HAMIDAHU ALLAAHU, SAMI’AHUU’’. [ Al-Minhaj al-Qawiim I/201 ]. Wallaahu A’lamu Bis showaab.

وَأَمَّا خَبَرُ إذَا قال سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا لَك الْحَمْدُ فَمَعْنَاهُ قُولُوا ذلك مع ما عَلِمْتُمُوهُ من سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ لِعِلْمِهِمْ بِقَوْلِهِ صَلُّوا كما رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي مع قَاعِدَةِ التَّأَسِّي بِهِ مُطْلَقًا

Sedang hadits ‘bila imam membaca ‘SAMI’A ALLAAHU LIMAN HAMIDAHU’ maka ucapkanlah oleh kalian ‘RABBANAA LAKA AL-HAMDU’ artinya adalah ucapkanlah ‘RABBANAA LAKA AL-HAMDU’ bersama dengan ucapan yang telah kalian ketahui yakni ‘SAMI’A ALLAAHU LIMAN HAMIDAHU’ sebab para sahabat telah mengetahui bacaan ‘SAMI’A ALLAAHU LIMAN HAMIDAHU’ dari shalat yang dikerjakan oleh nabi dengan kaidah taassy secara mutlak”.

Fokus : Sebab para sahabat telah mengetahui bacaan ‘SAMI’A ALLAAHU LIMAN HAMIDAHU’ dari shalat yang dikerjakan oleh nabi dengan kaidah taassy secara mutlak.

la’allashshawaab : sebab para sahabat telah mengetahui (bacaan SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH) dengan sabda beliau SHALLUU KAMAA RA`ATUMUUNII USHALLII (shalatlah kamu sebagaimana kamu mengetahui aku shalat) serta kaidah TAASSY (menjadikan beliau sebagai uswah) secara mutlak .

Wallaahu A’lam.

KEBOLEHAN TIDAK MEMBACA AL-FATIHAH DI SETIAP SHOLAT

Apakah ada imam yang tidak mewajibkan membaca fatihah pada tiap-tiap sembahyang?

JAWABAN :

Ada imam yang tidak mewajibkan membaca fatihah pada tiap-tiap sembahyang, kalangan Hanafiyah tidak mengharuskan membaca FATIHAH, yang menjadi keharusan menurut mereka bagi orang yang tengah menjalankan shalat adalah membaca surat manapun dalam al-Quran yang baginya mudah berdasarkan firman Allah “Maka bacalah oleh kalian apa-apa yang mudah dari al-Quran”. Sedang tiga madzhab besar lainnya (Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah) mengharuskan adanya bacaan fatihah dalam shalat. Keterangan diambil dari :

وقال الجمهور (4) (غير الحنفية): ركن القراءة الواجبة في الصلاة: هو الفاتحة، لقوله صلّى الله عليه وسلم : «لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب» وقوله أيضاً: «لا تجزئ صلاة لا يقرأ فيها بفاتحة الكتاب» (1) ، ولفعله صلّى الله عليه وسلم كما في صحيح مسلم، مع خبر البخاري: «صلوا كما رأيتموني أصلي»

 (4) الشرح الصغير:309/1، بداية المجتهد:119/1 ومابعدها، الشرح الكبير مع الدسوقي:236/1، مغني المحتاج:156/1-162، المغني:376/1-491، 562-568، كشاف القناع:451/1، المهذب:72/1، المجموع:285/3 ومابعدها، حاشية الباجوري:153/1-156.

(1) رواه ابنا خزيمة وحبان في صحيحيهما.

Mayoritas Ulama Fiqh selain kalangan Hanafiyyah menyatakan, Rukun bacaan yang wajib dibaca dalam shalat adalah FATIHAH berdasarkan hadits Nabi “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca fatihahnya al-Quran” dan sabda Nabi lainnya “Tidak mencukupi shalat yang didalamnya tidak dibaca Fatihahnya al-Quran” dan berdasarkan apa yang telah dilakukan oleh Nabi sebagimana keterangan dalam shahih Bukhari-Muslim “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku mengerjakan shalat”. [ Al-Fiqh al-Islaam II/24 ].

حُكْمُ قِرَاءَةِ سُورَةِ الْفَاتِحَةِ فِي الصَّلاَةِ :

5 – ذَهَبَ الْجُمْهُورُ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ ، وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ إِلَى أَنَّ قِرَاءَةَ الْفَاتِحَةِ رُكْنٌ فِي كُل رَكْعَةٍ ، لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ : لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ . إِلاَّ أَنَّ الشَّافِعِيَّةَ قَالُوا : هِيَ رُكْنٌ مُطْلَقًا ، وَالرَّاجِحُ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ : أَنَّهَا فَرْضٌ لِغَيْرِ الْمَأْمُومِ فِي صَلاَةٍ جَهْرِيَّةٍ وَفِي الْمَذْهَبِ عِدَّةُ أَقْوَالٍ .

وَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِلَى أَنَّ قِرَاءَةَ الْفَاتِحَةِ فِي الصَّلاَةِ لَيْسَتْ بِرُكْنٍ ، وَلَكِنِ الْفَرْضُ فِي الصَّلاَةِ عِنْدَهُمْ قِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ . لِقَوْلِهِ تَعَالَى : { فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ } .

وَوَجْهُ الاِسْتِدْلاَل بِهَذِهِ الآْيَةِ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَمَرَ بِقِرَاءَةِ مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ مُطْلَقًا ، وَتَقْيِيدُهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ زِيَادَةٌ عَلَى مُطْلَقِ النَّصِّ ، وَهَذَا لاَ يَجُوزُ ؛ لأَِنَّهُ نُسِخَ فَيَكُونُ أَدْنَى مَا يُطْلَقُ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ فَرْضًا لِكَوْنِهِ مَأْمُورًا بِهِ .

HUKUM SURAT FATIHAH DALAM SHALAT

Mayoritas Ulama Fiqh Kalangan Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah menilai surat Fatihah adalah rukun dalam setiap rokaatnya shalat berdasarkan hadits Nabi “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca fatihahnya al-Quran” namun tiga madzhab diatas kemudian berbeda pendapat dalam pelaksanaan pembacaan surat al-Fatihah.

Kalangan Syafi’iyyah memilih bahwa surat fatihah adalah rukun shalat secara muthlak disetiap rokaat shalat baik bagi makmum ataupun imam sedangkan pendapat yang kuat dikalangan Malikiyyah menilai surat fatihah adalah rukunnya shalat kecuali bagi orang yang menjadi makmum dari shalat jamaah yang bacaan imammya dikeraskan.

Sedangkan Kalangan Hanafiyyah justru menilai bahwa surat fatihah bukanlah rukun shalat, yang menjadi keharusan bagi orang yang tengah menjalankan shalat adalah membaca surat manapun dalam al-Quran yang baginya mudah berdasarkan firman Allah “Maka bacalah oleh kalian apa-apa yang mudah dari al-Quran”. [ Al-Mausuuah al-Fiqhiyyah 25/288 ].

Wallahu A’lamu Bis Showab.

PENJELASAN HUKUM-HUKUM DALAM ISLAM DAN PEMBAGIANYA

Dalam kitab Jauharoh Al Tauhid disebutkan :

ﺍﻟﺤﻜﻢ ﻫﻮ ﺇﺛﺒﺎﺕ ﺃﻣﺮ ﻷﻣﺮ ﺃﻭ ﻧﻔﻴﻪ ﻋﻨﻪ ﻭ ﻫﻮ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻗﺴﺎﻡ : ﺣﻜﻢ ﺷﺮﻋﻲ ﻭ ﺣﻜﻢ ﻋﺎﺩﻱ ﻭ ﺣﻜﻢ ﻋﻘﻠﻲ

ﺣﻜﻢ ﺍﻟﺸﺮﻋﻲ : ﻫﻮ ﻛﻼﻡ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻤﺘﻌﻠﻖ ﺑﻔﻌﻞ ﺍﻟﺸﺨﺺ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﺍﻟﺘﻜﻠﻴﻒ ﺃﻭ ﺍﻟﻮﺿﻊ ﻭ ﻫﻮ ﺧﻤﺴﺔ ﺃﻗﺴﺎﻡ : ﻭﺍﺟﺐ ﻭ ﺣﺮﺍﻡ ﻭ ﻣﻨﺪﻭﺏ ﻭ ﻣﻜﺮﻭﻩ ﻭ ﻣﺒﺎﺡ .

ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺍﻟﻌﺎﺩﻱ : ﻫﻮ ﺇﺛﺒﺎﺕ ﺃﻣﺮ ﻷﻣﺮ ﺃﻭ ﻧﻔﻴﻪ ﻋﻨﻪ ﺑﻮﺍﺳﻄﺔ ﺍﻟﺘﻜﺮﺍﺭ .

ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺍﻟﻌﻘﻠﻲ : ﻫﻮ ﺇﺛﺒﺎﺕ ﺃﻣﺮ ﻷﻣﺮ ﺃﻭ ﻧﻔﻴﻪ ﻋﻨﻪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺗﻮﻗﻒ ﻋﻠﻰ ﻭﺿﻊ ﻭﺍﺿﻊ ﺃﻭ ﺗﻜﺮﺍﺭ

ﺃﻗﺴﺎﻡ ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺍﻟﻌﻘﻠﻲ : ﻳﻨﻘﺴﻢ ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺍﻟﻌﻘﻠﻲ ﺍﻟﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺍﻗﺴﺎﻡ : ﻭﺍﺟﺐ ﻭ ﻣﺴﺘﺤﻴﻞ ﻭ ﺟﺎﺋﺰ .

ﺍﻟﻮﺍﺟﺐ : ﻫﻮ ﺍﻷﻣﺮ ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﻳﻘﺒﻞ ﺍﻻﻧﺘﻔﺎﺀ ﻟﺬﺍﺗﻪ ﻭ ﻫﻮ ﻗﺴﻤﺎﻥ : ﺿﺮﻭﺭﻱ ﻛﺎﻟﺘﺤﻴﺰ ﻟﻠﺠﺮﻡ ﻭ ﻧﻈﺮﻱ ﻛﺎﻟﻘﺪﻡ ﻟﻠﻤﻮﻟﻰ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ .

ﺍﻟﻤﺴﺘﺤﻴﻞ : ﻫﻮ ﺍﻷﻣﺮ ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﻳﻘﺒﻞ ﺍﻟﺜﺒﻮﺕ ﻟﺬﺍﺗﻪ ﻭ ﻫﻮ ﻗﺴﻤﺎﻥ : ﺿﺮﻭﺭﻱ ﻛﺨﻠﻮ ﺍﻟﺠﺮﻡ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺮﻛﺔ ﻭ ﺍﻟﺴﻜﻮﻥ ﻭ ﻧﻈﺮﻱ ﻛﻮﺟﻮﺩ ﺍﻟﺸﺮﻳﻚ ﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ .

ﺍﻟﺠﺎﺋﺰ : ﻫﻮ ﺍﻷﻣﺮ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻘﺒﻞ ﺍﻻﻧﺘﻔﺎﺀ ﻭ ﺍﻟﺜﺒﻮﺕ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﻨﺎﻭﺏ ﻓﻴﺴﺘﻮﻱ ﺇﻣﻜﺎﻥ ﻭﺟﻮﺩﻩ ﻭ ﻋﺪﻣﻪ . ﻭ ﻫﻮ ﻗﺴﻤﺎﻥ ﺿﺮﻭﺭﻱ ﻛﺤﺮﻛﺔ ﺍﻟﺠﺮﻡ ﺃﻭ ﺳﻜﻮﻧﻪ ﻭ ﻧﻈﺮﻱ ﻛﻘﻠﺐ ﺍﻟﺤﺠﺮ ﺫﻫﺒﺎ ﻭ ﺍﻧﻘﻼﺏ ﺍﻟﻌﺼﺎ ﺛﻌﺒﺎﻧﺎ ﺑﻘﺪﺭﺓ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺣﺪﻭﺙ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ : ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺣﺎﺩﺙ ﻻﻧﻪ ﻣﻜﻮﻥ ﻣﻦ ﺃﺟﺮﺍﻡ ﻭ ﺃﻋﺮﺍﺽ ، ﻓﺎﻷﻋﺮﺍﺽ ﻛﺎﻟﺤﺮﻛﺔ ﻭ ﺍﻟﺴﻜﻮﻥ ﻭ ﺍﻷﻟﻮﺍﻥ ﺣﺎﺩﺛﺔ ﻻﻧﻬﺎ ﻣﺘﻐﻴﺮﺓ ﻭ ﺍﻷﺟﺮﺍﻡ ﻛﺎﻟﺬﻭﺍﺕ ﺣﺎﺩﺛﺔ ﻻﻧﻬﺎ ﻣﻼﺯﻣﺔ ﻟﻸﻋﺮﺍﺽ ﺍﻟﺤﺎﺩﺛﺔ ﻭ ﻣﻼﺯﻡ ﺍﻟﺤﺎﺩﺙ ﺣﺎﺩﺙ ﻓﺎﻟﻌﺎﻟﻢ ﺣﺎﺩﺙ .

Hukum artinya adalah sekumpulan peraturan yang menetapkan suatu perbuatan dan melarang suatu perbuatan. Jika seseorang telah melanggar salah satu dari hukum peraturan tersebut, maka ia akan dikenakan sanksi, atau diambil tindakan oleh undang-undang yang tertera dan tercatat di dalam peraturan itu sendiri.

Hukum yang dibicarakan di sini terbagi atas tiga bagian:

  1. Hukum Syar’i (Syari’at / Fiqih) :Hukum yang berkaitan dengan perintah dan larangan Allah.
  2. Hukum ‘Adi (Adat/Kebiasaan) : Hukum yang berkaitan dengan adat atau kebiasaan manusia.
  3. Hukum ‘Aqli: Hukum yang berkaitan dengan akal manusia.

  1. HUKUM SYAR’I

Hukum Syar’i adalah hukum yang berkaitan dengan perintah dan larangan Allah terhadap manusia. Hukum syar’i tentu bidangnya lebih lengkap dan luas. Kelengkapan ini timbul karena hukum syar’i

tidak dibuat oleh manusia dan tidak dipengaruhi oleh perbuatan manusia, murni dari Allah. Hukum ini dibuat dan ditentukan oleh syara’ atau agama. Maka tidak ada suatu apapun dari kehidupan manusia yang tidak diatur oleh agama Islam.

Hukum Syar’i ialah hukum-hukum Islam yang merupakan perintah dan larangan Allah dan setiap muslim mukallaf yakni yang sudah akil baligh dan ber’akal sehat wajib baginya untuk mengetahui hukum-hukum tersebut.

PEMBAGIAN HUKUM SYAR’I

Hukum Syar’i dibagai menjadi 5 bagian :

1. WAJIB (FARDLU)

Wajib merupakan suatu hal yang wajib atau harus dilakukan atas diri setiap muslim mukallaf (akil dan baligh) baik laki- laki atau perempuan. Wajib atau Fardhu ialah suatu hukum yang apabila dilakukan mendapat pahala atau balasan baik dari Allah dan jika ditinggalkan maka akan berdosa dan mendapat ganjaran siksaan di akhirat. Wajib ada dua macam:

  1. WAJIB / FARDLU ’AIN

Wajib ‘Ain atau Fardhu ‘Ain: ialah wajib yang harus dilakukan atas diri setiap muslim mukalaf (berakal sehat dan baligh) baik ia laki-laki atau perempuan. Karena ia mengandung wajib yang berat, maka harus dilakukan dan tidak boleh ditinggalkan terkecuali memiliki udzur yang kuat, itupun wajib dilakukan walaupun dengan isyarat, atau menggantinya pada hari yang lain, atau membayar fidhyah.

Contohnya sholat lima waktu sehari semalam. Sholat ini wajib dilakukan oleh setiap muslim akil dan baligh, laki laki atau perempuan dalam keadaan apapun sholat ini wajib dilakukan, jika memiliki udhur sholatnya wajib atau harus dilakukan, walaupun dengan isyarat hukum sholat ini wajib atau harus dilakukan. Jika sudah tidak mampu sama sekali untuk dilakukan maka wajib diganti dengan membayar fidyah. Begitu pula puasa pada bulan Ramadhan, membayar zakat setelah sampai nisabnya dan melaksanakan ibadah haji jika mampu dan lain sebagainya.

  1. WAJIB / FARDLU KIFAYAH

Wajib Kifayah atau Fardhu Kifayah: yaitu pekerjaan yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim mukallaf (berakal sehat dan baligh). Tetapi jika sudah ada satu diantara sekian banyak orang yang sanggup melaksanakannya, maka terlepaslah kewajibannya untuk dilakukan.

Contohnya: mendirikan sholat jenazah. Sholat ini wajib dilakukan oleh setiap muslim. Jika tidak dilakukan sholat bagi mayat maka semua muslim akan berdosa dan jika salah seorang telah melakukanya maka terlepaslah kewajiban bagi semuanya.

2. HARAM

Haram ialah suatu larangan yang apabila ditinggalkan mendapat pahala dan jika dilakukan akan berdosa. Setiap pelanggaran dari perbuatan yang dilarang itu dinamakan perbuatan ma’siat dan dosa, diantaranya: minum arak, berzina, membunuh, berjudi, berdusta, menipu, mencuri, mencaci maki dan masih banyak lagi contoh contoh lainnya. Dengan sangsi, jika seorang muslim mati dan belum sempat bertaubat, menurut hukum syara’ ia akan disiksa karena dosa-dosa yang telah diperbuatnya.

3. MANDUB (SUNNAH)

Mandub atau Sunnah ialah suatu pekerjaan yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa.

Sesuatu yang mandub atau sunnah akan lebih baik jika dilaksanakan karena bisa menambal sulam kekurangan ibadah kita. Mandub atau Sunnat ini sering juga disebut Mustahab yaitu sesuatu perbuatan yang dicintai Allah dan Rasul Nya.

Hukum Mandub /Sunnat terbagi 4 bagian :

1.Sunnah Hai-at atau Sunnat ‘Ain: yaitu suatu perbuatan yang dianjurkan untuk dilaksanakan oleh setiap muslim, seperti sholat sunat rawatib. (sebelum atau sesudah sholat fardhu), sholat tahajjut, sholat tasbih, sholat dhuha dan sholat- sholat yang banyak lagi.

2.Sunnah Kifayah: yaitu suatu pekerjaan yang dianjurkan untuk dilaksanakan oleh setiap muslim, namun sunnah ini cukup jika telah dilaksanakan oleh satu orang. Misalnya memberi salam, menjawab orang yang bersin dan lain-lain.

3.Sunnah Muakkadah yaitu suatu pekerjaan yang selalu dilaksanakan oleh Rasulullah saw seperti sholat Idul Fitri dan sholat Idul Adhha dan sebagainya.

4.Sunnah Ghairu Muakkadah: yaitu segala sunat yang tidak selalu dikerjakan oleh Rasulullah saw, misalnya puasa tasua’ pada tanggal 9 Muharram yang ingin dilaksanakan oleh Nabi saw namun belum sempat dilakukannya beliau keburu wafat, kemudian para sahabat melanjutkannya berpuasa pada tanggal tersebut. Dan masih banyak lagi yang kita bisa cari dalam kitab fiqih

Hikmah Dan Atsar:

Ada yang perlu diketahui bahwa di dalam Wajib ada yang terkandung Sunnah, contohnya, sebelum shalat dianjurkan untuk berwudhu’. Dan berwudhu’ itu wajib hukumnya, adapun meratakan air keempat anggota wudhu’ adalah sunah. Begitu pula sebaliknya di dalam Sunnah ada yang terkandung Wajib. Contohnya: jika seseorang melaksanakan sholat sunnat tanpa wudhu’, maka sudah pasti sholatnya tidak sah. Karena wudhu’ merupakan perbuatan yang wajib dilakukan oleh seseorang sebelum melaksanakan sholat, tidak perduli apakah itu sholat sunnat atau sholat wajib. Sebagaimana wajib Berwudhu’, wajib pula menghadap kiblat, wajib pula membaca surat Fatihah dalam sholat, wajib pula ruku’ dan sujud dan wajib pula salam. Demikian seterusnya.

4. MAKRUH

Makruh ialah sesuatu perbuatan yang dibenci di dalam agama Islam, tetapi tidak berdosa jika dilakukan, dan berpahala jika ditinggalkan, misalnya memakan makanan yang membuat mulut menjadi bau seperti memakan bawang putih, jengkol dan petai, juga merokok dan lain sebagainya.

5. MUBAH

Mubah dalam Syara’ ialah sesuatu pekerjaan yang boleh dilakukan atau boleh juga ditinggalkan. Jika ditinggalkan tidak berdosa dan jika dikerjakan tidak berpahala, misalnya makan, minum, tidur, mandi dan masih banyak lagi contoh contoh lainya. Mubah dinamakan juga Halal atau Jaiz. Namun, kadang-kadang yang mubah itu, bisa menjadi sunnah. Umpamanya, kita makan tetapi diniatkan untuk menguatkan tubuh agar lebih giat beribadah kepada Allah, atau berpakaian yang bagus dengan niat untuk menambah bersihnya dalam beribadah kepada Allah, bukan untuk ria’ atau menunjukkan kesombongan dalam berpakaian, dan lain sebagainya.

  1. HUKUM ’ADI (HUKUM ADAT/KEBIASAAN)

Hukum ‘Adi atau Hukum Adat/Kebiasaan ialah menetapkan sesuatu bagi sesuatu yang lain, atau menolak sesuatu karena sesuatu itu sudah ada karena kejadian yang berulang-ulang. Misalnya api itu panas dan dapat membakar kertas. Jika orang berpegang teguh pada kebiasaan yang telah diketahui secara berulang-ulang itu, maka ditetapkan suatu hukum bahwa setiap api itu panas dan mesti dapat membakar segala macam kertas. Dan apabila dikatakan sebaliknya maka adalah muhal atau mustahil, atau hal yang aneh atau tidak bisa dipercaya dan tidak diterima oleh akal. Kejadian diatas merupakan kepastian dari kebiasaan yang telah terbukti kepatiannya dengan berulang kali. Adapun menurut pendapat akal, kejadian itu masih harus disebut hal yang mungkin saja terjadi, dan mungkin saja tidak terjadi. Maka dari itu, jelas bahwa hukum adat/ kebiasaan tidak sama dengan hukum akal. Menurut akal, masih perlu diselidiki apakah yang menyebabkan adanya adat atau kebiasaan itu? Apakah yang menyebabkan api itu panas dan dapat membakar? Dan apakah yang menyebabkan air mengalir ke tempat yang rendah? Dan apa yang menyebabkan tiap-tiap zat mempunyai sifat dan tabiat yang berlainan? Demikian seterusnya.

  1. HUKUM ‘AQLI (HUKUM AKAL)

Arti hukum Akal itu, adalah menetapkan sesuatu keadaan untuk adanya sesuatu. Atau mentiadakan sesuatu karena ketidakadaanya sesuatu itu. Misalnya, tidak mungkin ada sebuah rumah jika tidak ada tukang pembuat rumah tersebut. Maka jatuhlah hukum mustahil adanya. Karena tidak mungkin rumah itu bisa membentuk dirinya sendiri. Jadi harus ada yang membentuk rumah itu. Rumah merupakan bukti nyata akan keberadaanya tukang pembuat rumah.

Demikian pula kayu tidak mungkin akan bisa menjadi kursi dengan sendirinya jika tidak ada tukang kayu yang memotong kayu lalu membuatnya menjadi kursi. Jadi kursi merupakan bukti nyata akan keberadaannya tukan kayu.

Demikianlah suatu contoh pengambilan hukum akal. Dan kita bisa mengkiyaskan dengan contoh contoh yang lainya sehingga selanjutnya menjadi berkembang pengertiannya yang kemudian menjadi suatu cabang ilmu yang sangat penting bagi masyarakat.Dari contoh contoh diatas kita bis menggambil bukti akan keberadaan Allah.

Allah itu ada karena adanya ciptaan yang diciptakan-Nya. Adanya langit, bumi dan seisi isinya merupakan bukti kuat akan keberadaan Allah. Tidak mungkin langit, bumi dan seisi isinya jadi dengan sedirinya. Sudah pasti ada yang menciptakannya.yaitu Allah.

Hikmah Dan Atsar

Ada satu kisah menarik. Seorang Arab Badui (Arab dari pegunungan) ditanya ”Dari mana kamu mengetahui bahwa Allah itu ada” . kebetulan di muka orang Badui tadi ada segunduk kotoran unta. Badui itu menjawab ”Kamu lihat kotoran unta ini! Setiap ada kotoran unta pasti ada untanya”.

Jadi yang dinamakan Akal yang sempurna ialah suatu cahaya yang gemilang dan terletak didalam hati seorang mukmin dan dengan Akal yang jernih itu kita akan bisa membagi Hukum Akal ini menjadi tiga bagian:

1. WAJIB

Wajib yaitu sesuatu yang tidak dapat diterima oleh akal akan ketidakberadaanya. Wajib di sini terbagi atas dua bagian:

Wajib Dharuri

Yaitu sesuatu yang bisa dimengerti tanpa bukti, atau sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akal akan ketidakberadaanya tanpa memerlukan dalil atau keterangan secara rinci. Contohnya setiap dzat yang hidup itu wajib ada nyawanya, jika tidak bernyawa maka sudah pasti ia tidak akan bisa hidup alias mati.

Wajib Nadhari

Yaitu sesuatu yang bisa dimengerti setelah menggunakan bukti, atau sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akal akan ketidakberadaanya dengan bersenderkan kepada dalil atau  keterangan. Misalnya Allah itu wajib ada. Hal ini memerlukan dalil dan keterangan yang kuat.

2. MUSTAHIL

Mustahil merupakan kebalikan dari wajib yaitu sesuatu yang tidak bisa diterima akal akan keberadaanya. Mustahil juga dibagi menjadi dua bagian:

Mustahil Dharuri

Yaitu sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akal akan keberadaanya tanpa memerlukan dalil atau keterangan. Misalnya mustahil seorang anak melahirkan Ibunya. Mustahil keberadaan sang ibu berasal dari anaknya. Bukankah ini sesuatu yang mustahil? Sudah pasti ini merupakan hal yang mustahil terjadi tanpa menggunakan dalil atau keterangan.

Mustahil Nadhari

Yaitu suatu yang tidak bisa diterima oleh akal akan keberadanyandengan memerlukan dalil atau keterangan. nMisalnya Allah itu mustahil mempunyai anak. Ini memerlukan dalil dan keterangan yang kuat.

3. JAIZ (MUNGKIN)

Jaiz yaitu sesuatu yang mungkin saja ada atau mungkin tidak adanya. Jaiz ini pula dibagi dua:

Jaiz Dharuri

Yaitu jaiz yang tidak memerlukan dalil atau keterangan, contohnya, ada seorang ibu melahirkan anak kembar sebanyak 4. Kejadian seperti ini mungkin saja bisa terjadi atau mungkin saja tidak terjadi tanpa menggunakan dalil atau keterangan lebih dahulu.

Jaiz Nadhari

Yaitu Jaiz yang memerlukan dalil atau keterangan yang kuat. Contohnya sebuah batu mungkin bisa berobah menjadi emas. Hal ini memerlukan dalil dan keterangan yang kuat. Contoh lainya sebuah tongkat mungkin bisa berobah mejadi ular. Kemungkinan ini memerlukan dalil dan keterangan yang kuat. Tentu semua ini terjadi dengan seizin Allah tapi harus menggunakan dalil dan keterangan yang kuat.

Yang tertera di atas adalah pengambilan contoh pada Hukum Akal. Dan kita bisa mengembangkannya jauh lebih luas lagi, sehingga benar-benar bisa menjadi pelajaran yang mendalam tentang ilmu tauhid.

Hikmah Dan Atsar

Jika ada orang mengatakan wajib atas tiap tiap Mukallaf (akil dan baligh) maksudnya adalah wajib menurut hukum syara’. Dan jika orang mengatakan wajib bagi Allah dan Rasul-Nya maksudnya adalah wajib menurut hukum akal. Dan jika orang mengatakan wajib bagi makhluk Nya, maksudnya adalah wajib menurut hukum ‘adi atau hukum adat/kebiasaan, dan seterusnya.

Walahu A’lam.

CARA DARI IMAM ABU HASAN AS-SADZILY AGAR KITA TIDAK WAS-WAS KETIKA SHOLAT

CARA MENCEGAH WAS-WAS DARI IMAM ABUL HASAN AS SYADZILI

Untuk mencegah was was sebagaimana yang di ajarkan syeh Syadzili kepada sahabat sahabat beliau adalah dengan meletakkan tangan kanan di dada kemudian mengucapkan :

”Subhaanal malikil quddus al khollaaaq al fa’aal “ sebanyak tujuh kali kemudian membaca surat fathir ayat 16 dan 17, ini dilakukan sebelum takbirotul ikhrom.

Kitab Nihayatuz Zain imam Nawawi.

وَكَانَ الْأُسْتَاذ أَبُو الْحسن الشاذلي يعلم أَصْحَابه لدفع الوسواس والخواطر الرَّديئَة وَيَقُول لَهُم من أحس بذلك فليضع يَده الْيُمْنَى على صَدره وَليقل سُبْحَانَ الْملك القدوس الخلاق الفعال سبع مَرَّات ثمَّ يقل {إِن يَشَأْ يذهبكم وَيَأْتِ بِخلق جَدِيد وَمَا ذَلِك على الله بعزيز} 35 فاطر الْآيَة 16 17 يَقُول ذَلِك الْمُصَلِّي قبل الْإِحْرَام

 

PENJELASAN TENTANG 3 UNSUR  NIAT SHOLAT

فصل في صفة الصلاة ( أركان الصلاة ) أي فروضها أربعة عشر بجعل الطمأنينة في محالها ركنا واحدا أحدها ( نية ) وهي القصد بالقلب لخبر إنما الأعمال بالنيات ( فيجب فيها ) أي النية ( قصد فعلها ) أي الصلاة لتتميز عن بقية الأفعال ( وتعيينها ) من ظهر أو غيرها لتتميز عن غيرها فلا يكفي نية فرض الوقت

PASAL : SIFAT SHALAT

Rukun shalat ada 14 dengan menjadikan THUMA’NINAH satu rukun

  1. Niat yaitu memiliki kesengajaan didalam hati berdasarkan hadits “sesungguhnya sahnya suatu amal perbuatan tergantung niatnya”

Maka diwajibkan dalamniat memiliki kesengajaan mengerjakan shalat agar membedakan shalat dengan perbuatan-perbuatan lainnya serta menta’yinnya seperti dengan ditentukan shalat ‘dhuhur’ atau lainnya agar membedakan dengan shalat lainnya, maka tidaklah cukup sekedar niat mengerjakan shalat wajib waktu (sekarang) misalnya.

Fath al-Mu’iin I/127

Keterangan :

Didalam melakukan niat shalat fardlu, diwajibkan memenuhi unsur-unsur sebagai berikut ;

  • Qashdul fi’li (قصد فعل) yaitu menyengaja mengerjakannya, lafadznya seperti (أصلي /ushalli/”aku menyengaja”)
  • Ta’yin (التعيين) maksudnya adalah menentukan jenis shalat, seperti Dhuhur atau Asar atau Maghrib atau Isya atau Shubuh.
  • Fardliyah (الفرضية) maksudnya adala menyatakan kefardhuan shalat tersebut, jika memang shalat fardhu. Adapun jika bukan shalat fardhu (shalat sunnah) maka tidak perlu Fardliyah (الفرضية).

Jadi berniat, semisal

(اُصَلِّى فَرْضَ الظُّهْرِ اَدَاءً للهِ تَعاَلى

”Sengaja aku shalat fardhu dhuhur karena Allah”,  itu saja sudah cukup.

 

Pengertian Mukallaf atau Taklif

Mukallaf secara bahasa adalah berbentuk ism al-maf’ûl dari fi’il al-mâdli “kallafa” (كَلَّفَ), yang bermakna membebankan. Maka, kata mukallaf berarti orang yang dibebani.

Secara istilah, mukallaf adalah :

 الإنسان الذي تعلق بفعله خطاب الشارع أو حكمه”

“Seorang manusia yang mana perlakuannya itu bergantungan dengan ketentuan al-Syâri’ atau hukumnya”.

Dari sini, dapat difahami bahwa mukallaf adalah orang yang telah dianggap mampu bertindak hukum, baik yang berhubungan dengan perintah Allah SWT maupun larangan-Nya. Semua tindakan hukum yang dilakukan mukallaf akan diminta pertanggung-jawabannya, baik di dunia maupun di akhirat. Pahala akan didapatkan kalau ia melakukan perintah Allah SWT, dan dosa akan dipikulnya kalau ia meninggalkan perintah Allah SWT, begitu seterusnya sesuai dengan krateria hukum taklîfî yang sudah diterangkan.

Sebagian besar ulama Usul Fiqh mengatakan bahwa dasar adanya taklîf (pembebanan hukum) terhadap seorang mukallaf adalah akal (العقل) dan pemahaman (الفهم). Seorang mukallaf dapat dibebani hukum apabila ia telah berakal dan dapat memahami taklîf secara baik yang ditujukan kepadanya. Oleh karena itu, orang yang tidak atau belum berakal tidak dikenai taklîf karena mereka dianggap tidak dapat memahami taklîf dari al-Syâri’. Termasuk ke dalam kategori ini adalah orang yang sedang tidur, anak kecil, gila, mabuk, khilaf dan lupa. Pendapat ini berdasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW:

رفع القلم عن ثلاث: عن النائم حتي يستيقظ و عن الصبي حتي يحتلم وعن المجنون حتي يفيق

رواه البخاري وأبو داوود والترمذي والنسائ وابن ماجة والدارقطني

“Diangkat pembebanan hukum dari tiga (orang); orang tidur sampai bangun, anak kecil sampai baligh, dan orang gila sampai sembuh”

رفع أمتي عن الخطأ والنسيان وما استكره له  رواه ابن ماجة والطبراني

“Beban hukum diangkat dari umatku apabila mereka khilaf, lupa dan terpaksa”.

Dari sini, ulama Usul Fiqh memberi kesimpulan bahwa syarat seseorang itu dikenai taklîf atau masuk sebagai predikat mukallaf terdapat dua syarat:

  1. Orang tersebut harus mampu memahami dalil-dalil taklîf. Ini dikarenakan taklîf itu adalah khitâb, sedangkan khitâb orang yang tidak memiliki akal dan tidak faham itu jelas tidak mungkin (محال). Kemampuan memahami itu hanya dengan akal, karena akal itu adalah alat untuk memahami dan menemukan ide (الإدراك). Hanya saja akal itu adalah sebuah perkara yang abstrak (الخفية). Maka al-Syâri’ sudah menentukan batas taklîf dengan perkara lain yang jelas dan berpatokan (منضبط) yaitu sifat baligh seseorang. Sifat baligh itu adalah tempat pemikiran akal yaitu mengetahui baik, buruk, manfaat, dan bahaya. Maka orang yang gila dan anak kecil tidak termasuk mukallaf karena tidak memiliki kemampuan akal yang mencukupi untuk memahami dalil taklîf. Begitu juga dengan orang yang lupa, tidur, dan mabuk seperti hadis yang di atas.
  2. Seseorang telah mampu bertindak hukum/mempunyai kecakapan hukum (أهلية).

Secara istilahi, ahliyyah didefinisikan sebagai: “Kepatutan seseorang untuk memiliki beberapa hak dan melakukan beberapa transaksi”.

Ta’rif yang disampaikan Imam Auza’i (ushul Fiqh)

المكلفين : الإنسان البالغ العاقل الذي بلغته الدعوة

Mukallaf adalah orang yang baligh serta berakal dan sampai kepadanya da’wah islam

Ibadah MAHDHOH dan GROIRU MAHDHOH

MAHDHOH dan GROIRU MAHDHOH yang terdapat dalam Madzhab Syafi’i adalah sebuah istilah yang digunakan oleh Ulama Fuqohaa’ (ahli Fiqh) dalam rangka memudahkan mengkelompokkan ibadah-ibadah yang di syariatkan dalam islam, sedang kitab yang menerangkan istilah tersebut juga banyak, di antaranya ibaroh (redaksi kitab) berikut ini :

والحاصل أن العبادة على ثلاثة أقسام إما أن تكون بدنية محضة فيمتنع التوكيل فيها إلا ركعتي الطواف تبعا

وإما أن تكون مالية محضة فيجوز التوكيل فيها مطلقا وإما أن تكون مالية غير محضة كنسك فيجوز التوكيل فيها بالشرط المار

KESIMPULAN :

Ibadah terbagi atas tiga macam :

1.Adakalanya ibadah tersebut bersifat BADANIYAH MAHDHOH (murni dilakukan oleh badan, seperti sholat, puasa dll.) maka tidak diperkenankan diwakilkan pada orang lain kecuali dua rokaat thowaf karena itba’

2.Adakalanya bersifat MALIYAH MAHDHOH (murni berbentuk harta seperti shodaqoh, zakat dll.) maka boleh diwakilkan secara muthlak

3.Adakalanya bersifat MALIYAH GHOIRU MAHDHOH (berbentuk harta yang tidak murni, masih menggunakan badan dalam realisasinya seperti haji) maka boleh juga diwakilkan bila memenuhi sarat-sarat yang telah lewat.

I’anah at-Tholibin III/87

Wallahu a’lamu bisshowab

ARTI RAMADHAN DAN ORANG YANG TIDAK MENDAPATKAN AMPUNAN DI DALAMNYA

PERSIAPAN ROMADHON AGAR MENDAPAT AMPUNAN.

Romadhon adalah bulan yang istimewa, bulan barokah dan bulan ampunan, Nabi Muhammad saw membagi hari-hari romadhon menjadi 3 fase, beliau bersabda : fase pertama ( malam 1 – malam 11) adalah rohmatnya Allah swt, fase ke dua ( malam 11 – malam 21 ) adalah ampunan Allah swt, fase ke tiga ( malam 21 – malam idul fitri ) adalah malam pembebasan dari api neraka.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : رمضان اوله رحمة واوسطه مغفرة واخره عتق من النار.

Akan tetapi para ulama’ berpendapat ada empat orang yang tidak akan mendapatkan ampunan Allah swt baik di bulan ampunan ( romadhon ) dan di bulan-bulan lainnya :

Anak yang durhaka kepada orang tuanya.

Orang yang memutus tali silatur-rohim.

Orang yang menyimpan kedengkian kepada saudara muslimnya.

Dan pecandu minuman keras / narkoba.

Mudah-mudahan kita tidak termasuk dari salah satu kategori diatas sehingga kita bisa mendapatkan ampunan Allah swt… Amiin

Sumber : Nafakhatur-Romadhoniyyah  Hal.14

 

Arti Dan Makna Ramadhan

Makna dari kalimat “Romadhon” adalah cuaca yang sangatlah panas.

‎( يَجِبُ صَوْمُ رَمَضَانَ ) إجْمَاعًا وَهُوَ مَعْلُومٌ مِنْ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ مِنْ الرَّمْضِ وَهُوَ شِدَّةُ الْحَرِّ ؛ لِأَنَّ وَضْعَ اسْمِهِ عَلَى مُسَمَّاهُ وَافَقَ ذَلِكَ وَكَذَا فِي بَقِيَّةِ الشُّهُورِ كَذَا قَالُوهُ وَهُوَ إنَّمَا يَأْتِي عَلَى الضَّعِيفِ أَنَّ اللُّغَاتِ اصْطِلَاحِيَّةٌ .

أَمَّا عَلَى أَنَّهَا تَوْقِيفِيَّةٌ أَيْ أَنَّ الْوَاضِعَ لَهَا هُوَ اللَّهُ تَعَالَى وَعَلَّمَهَا جَمِيعًا لِآدَمَ عِنْدَ قَوْلِ الْمَلَائِكَةِ لَا عِلْمَ لَنَا فَلَا يَأْتِي ذَلِكَ وَهُوَ أَفْضَلُ الْأَشْهُرِ حَتَّى مِنْ عَشْرِ الْحِجَّةِ لِلْخَبَرِ الصَّحِيحِ

(Wajib puasa ramadhan) menurut kesepakatan ulama, puasa ramadhan merupakan perkara yang diketahui secara pasti oleh masyarakat umum.

Ramadhan berasal dari kata ar-romadh yaitu panas yang terik, hal ini karena kebiasaan penamaan oleh orang-orang arab atas nama-nama bulan dalam setahun.

Sedang pendapat lain menyatakan penamaan ramadhan bersifat tauqify, yang menamainya langsung Allah sendiri dan diajarkan pada Adam AS.

Tuhfah alMuhtaaj XIII/178

( لأن وضع اسمه الخ ) عبارة المغني والنهاية لأن العرب لما أرادت أن تضع أسماء الشهور وافق أن الشهر المذكور كان في شدة الحر فسمي بذلك كما سمي الربيعان لموافقتهما زمن الربيع اه قوله ( وكذا في بقية الشهور ) عبارة المصباح في مادة ج م د ويحكى أن العرب حين وضعت الشهور وافق الوضع الأزمنة فاشتق للشهور معان من تلك الأزمنة ثم كثر حتى استعملوها في الأهلة وإن لم توافق ذلك الزمان فقالوا رمضان لما ارمضت الأرض من شدة الحر وشوال لما شالت الإبل بأذنابها للظروف وذو القعدة لما ذللوا القعدان للركوب وذو الحجة لما حجوا والمحرم لما حرموا القتال أو التجارة والصفر لما غزوا وتركوا ديار القوم صفرا وشهر ربيع لما أربعت الأرض وأمرعت وجمادى لما جمد الماء ورجب لما رجبوا الشجر وشعبان لما أشعبوا مثل العود انتهت اه ع ش

Keterangan dalam kitab al Mughni dan an-Nihayah “Karena kebiasaan orang arab saat menamai bulan disesuaikan dengan keadaan zamannya, mereka menamai ramadhan karena bulan ini bertepatan dengan masa terik panas seperti mereka menamai dua bulan robii’ (robiiul awal dan robii’us tsani) karena bertepatan dengan musim semi, begitu juga bulan-bulan lain meskipun kenyataannya pada musim-musim tertentu tidak sesuai dengan apa yang mereka namai.

  1. Ramadhan = saat bumi terbakar karena panas yang terik
  2. Syawwal = saat unta menaikkan ekornya pada wadah
  3. Dzul Qa’dah = saat merendahkan kendaran untuk dinaiki
  4. Dzul hijjah = saat menjalani haji
  5. Muharram = saat diharamkan peperangan atau niaga
  6. Shofar = saat orang arab meninggalkan rumah mereka dalam keadaan kosong
  7. dan 8. Robii’ (awal dan tsani) = saat musim semi

9 dan 10. Jumada (ula dan tsani) = saat air membeku

  1. Rojab = saat pepohonan berduri
  2. Sya’ban = saat mereka meninggalkan untuk selama-lamanya seperti kembali

SUMBER : Hawasyi as-syarwany III/371

PENJELASAN HUKUM ZIARAH KUBUR MENJELANG BULAN RAMADHAN

Diantara tradisi menjelang bulan Ramadhan (akhir Sya’ban) adalah ziarah kubur. Sebagian mengistilahkan tradisi ini sebagaiarwahan, nyekar (sekitar Jawa Tengah),kosar (sekitar JawaTimur), munggahan(sekitar tatar Sunda) dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang, hal ini menjadi semacam kewajiban yang bila ditinggalkan serasa ada yang kurang dalam melangkahkan kaki menyongsong puasa Ramadhan.

Memang, pada masa awal-awal Islam, Rasulullah saw memang pernah melarang umat Islam berziarah ke kuburan, mengingat kondisi keimanan mereka pada saat itu yang masih lemah. Serta kondisi sosiologis masyarakat arab masa itu yang pola pikirnya masih didominasi dengan kemusyrikan dan kepercayaan kepada para dewa dan sesembahan. Rasulullah saw mengkhawatirkan terjadinya kesalah pahaman ketika mereka mengunjungi kubur baik dalam berperilaku maupun dalam berdo’a.

Akan tetapi bersama berjalannya waktu, alasan ini semakin tidak kontekstual dan Rasulullahpun memperbolehkan berziarah kubur. Demikian keterangan Rasulullah saw dalam Sunan Turmudzi no 973

حديث بريدة قال : قال رسول الله صلى الله علية وسلم :”قد كنت نهيتكم عن زيارة القبور فقد أذن لمحمد في زيارة قبر أمه فزورها فإنها تذكر الآخرة”رواة الترمذي (3/370

Hadits dari Buraidah ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda “Saya pernah melarang berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad telah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang berziarahlah..! karena hal itu dapat mengingatkan kamu kepada akhirat. 

Demikianlah sebenarnya hukum dasar dibolehkannya ziarah kubur dengan illat (alasan) ‘tazdkiratul akhirah’ yaitu mengingatkan kita kepada akhirat. Oleh karena itu dibenarkan berziarah ke makam orang tua dan juga ke makam orang shalih dan para wali. Selama ziarah itu dapat mengingatkan kita kepada akhirat. Begitu pula ziarah ke makam para wali dan orang shaleh merupakan sebuah kebaikan yang dianjurkan, sebagaimana pendapat Ibnu Hajar al-Haytami dalam kitab ‘al-fatawa al-fiqhiyah al-kubra’. Inilah yang menjadi dasar para ustadz dan para jama’ah mementingkan diri berziarah ke maqam para wali ketika usai penutupan ‘tawaqqufan’kegiatan majlis ta’lim.

وسئل رضي الله عنه عن زيارة قبور الأولياء فى زمن معين مع الرحلة اليها هل يجوز مع أنه يجتمع عند تلك القبور مفاسد كاختلاط النساء بالرجال وإسراج السرج الكثيرة وغير ذلك فأجاب بقوله زيارة قبور الأولياء قربة مستحبة وكذا الرحلة اليها.

Beliau ditanya tentang berziarah ke makam para wali pada waktu tertentu dengn melakukan perjalanan khusus ke makam mereka. Beliau menjawab, berziarah ke makam para wali adalah ibadah yang disunnahkan. Demikian pula perjalanan ke makam mereka.

Adapun mengenai hikmah ziarah kubur Syaikh Nawawi al-Bantani telah menuliskannya dalamNihayatuz Zain demikian keterangannya “disunnahkan untuk berziarah kubur, barang siapa yang menziarahi makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari jum’at, maka Allah mengampuni dosa-dosanya dan dia dicatat sebagai anak yang taat dan berbakti kepada kedua orang tuanya”…

Demikianlah hikmah di balik ziarah kubur, betapa hal itu menjadi kesempatan bagi siapa saja yang merasa kurang dalam pengabdian kepada orang tua semasa hidupnya. Bahkan dalam keteragan seanjutnya masih dalam kitab Nihayatuz Zain diterangkan “barang siapa menziarahi kubur kedua orang tuanya setiap hari jum’at pahalanya seperti ibadah haji”

Apa yang dikatakan Syaikh Nawawi dalam Nihayuatuz Zain juga terdapat dalam beberapa kitab lain, bahkan lengkap dengan urutan perawinya. Seperti yang terdapat dalam al-Mu’jam al-Kabir lit Tabhrani juz 19.

حدثنا محمد بن أحمد أبو النعمان بن شبل البصري, حدثنا أبى, حدثنا عم أبى محمد بن النعمان عن يحي بن العلاء البجلي عن عبد الكريم أبى أمية عن مجاهد عن أبى هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “من زار قبر أبويه أو احدهما فى كل جمعة غفر له وكتب برا 

Rasulullah saw bersabda “barang siapa berziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari jum’at maka Allah mengampuni dosa-dosanya dan dia dicatat sebagai anak yang ta’at dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Adapun mengenai pahala haji yang disediakan oleh Allah swt kepada mereka yang menziarahi kubur orang tuanya terdapat dalam kitab Al-maudhu’at berdasar pada hadits Ibn Umar ra.

أنبأنا إسماعيل بن أحمد أنبأنا حمزة أنبأنا أبو أحمد بن عدى حدثنا أحمد بن حفص السعدى حدثنا إبراهيم بن موسى حدثنا خاقان السعدى حدثنا أبو مقاتل السمرقندى عن عبيد الله عن نافع عن ابن عمر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” من زار قبر أبيه أو أمه أو عمته أو خالته أو أحد من قراباته كانت له حجة مبرورة, ومن كان زائرا لهم حتى يموت زارت الملائكة قبره

Rasulullah saw bersabda “Barang siapa berziarah ke makam bapak atau ibunya, paman atau bibinya, atau berziarah ke salah satu makam keluarganya, maka pahalanya adalah sebesar haji mabrur. Dan barang siapa yang istiqamah berziarah kubur sampai datang ajalnya maka para malaikat akan selalu menziarahi kuburannya”

Akan tetapi tidak demikian hukum ziarah kubur bagi seorang muslimah. Mengingat lemahnya perasaan kaum hawa, maka menziarahi kubur keluarga hukumnya adalah makruh. Karena kelemahan itu akan mempermudah perempuan resah, gelisah, susah hingga menangis di kuburan. Itulah yang dikhawatirkan dan dilarang dalam Islam. Seperti yang termaktub dalam kitabI’anatut Thalibin. Sedangkan ziarah seorang muslimah ke makam Rasulullah, para wali dan orang-orang shaleh adalah sunnah.

(قوله فتكره) أي الزيارة لأنها مظنة لطلب بكائهن ورفع أصواتهن لما فيهن من رقة القلب وكثرة الجزع

Dimakruhkan bagi wanita berziarah kubur karena hal tersebut cenderung membantu pada kondisi yang melemahkan hati dan jiwa.

 

Dalam kitab tarikh baghdad halaman 445 jilid 1, Pengarang nya adalah imam abu bakar ahmad bin ali bin tsabit al bagdad, beliau dikenal dengan khatib bagdad, seorang hafizh, bahkan kata ulama bagdad, tidak ada lagi yang lebih hafizh di negeri bagdad setelah wafat imam daruqutni selain khatib bagdad, Ini riwayat nya :

أخبرني أبو إسحاق إبراهيم بن عمر البرمكي قال حدثنا أبو الفضل عبيد الله بن عبد الرحمن بن محمد الزهري قال سمعت أبي يقول : قبر معروف الكرخي مجرب لقضاء الحوائج ويقال : إنه من قرأ عنده مائة مرة قل هو الله أحد وسأل الله ما يريد قضى الله له حاجته

Khatib baghdad telah mengatakan riwayat ini shohih,Setelah ku teliti ternyata memang shohih, Simak penjelasan keshohihan riwayat ini yang akan aku bahas Rawi 1 :

أبو إسحاق إبراهيم بن عمر البرمكي

Abu ishaq ibrahim bin umar albarmaki ,Dalam siyar a’lam nubala imam zahabi mengatakan, beliau ini adalah seorang imam, mufti, musnid dunia, ahli faraidh, zuhud, sholeh, dengan smua sifat di atas, maka dapat disimpulkan semua riwayat beliau dapat dpercaya 1 juta persen

Rawi 2 :

أبو الفضل عبيد الله بن عبد الرحمن بن محمد الزهري

Abul fadhl, ubaidullah bin abdurrahman bin muhammad azzuhri, Imam hadist daruqutni mengatakan bahwa beliau adalah seorang tsiqoh, dipercaya, dan banyak punya karangan, Dalam siyar a’lam nubala imam zahabi mengatakan beliau seorang tsiqoh, musnid, ahli ibadah, Beliau adalah cucu abdurrahman bin auf. Jadi dari keterangan di atas, riwayat dari beliau dapat dpercaya 1 juta persen,

Rawi 3 :

عبد الرحمن بن محمد بن عبيد الله بن سعد بن إبراهيم بن سعد بن إبراهيم بن عبد الرحمن بن عوف الصحابي

Ayah beliau yaitu abdurrahman bin muhammad, Imam khatib bagdad mengatakan beliau tsiqoh dalam riwayat hadist, Dan riwayat beliau dapat diterima juga 1 juta persen,

أخبرني أبو إسحاق إبراهيم بن عمر البرمكي

Imam khatib bagdad mengatakan telah mengkhabarkan kepada kami seorang yang sholeh abu ishaq ibrahim bin umar albarmaki

قال حدثنا أبو الفضل عبيد الله بن عبد الرحمن بن محمد الزهري

Abu ishaq mengatakan telah mengkhabarkan kepada kami abulfadhli ubaidullah bin abdurrahman bin muhammad azzuhri

قال سمعت أبي

Beliau mengatakan aku mendengar ayahku abdurrahman bin muhammad azzuhri

يقول : قبر معروف الكرخي مجرب لقضاء الحوائج

Beliau selalu (fi’il mudhari lil istimror) mengatakan : bermula kuburan wali besar ma’ruf al karkhi, sangat mujarrab untuk menunaikan segala hajat

ويقال : إنه من قرأ عنده مائة مرة قل هو الله أحد وسأل الله ما يريد قضى الله له حاجته

Dan dikatakan orang : sesungguhnya (hal wasyan) siapapun yang membaca (fi’il syarat) di sisi kuburan ma’ruf alkarkhi surah al ikhlas 100 x, beserta (waw ma’iyyah) ia meminta kepada Allah apa saja yang ia hendaki, (jawab syarat ) maka PASTI ALLAH QABULKAN HAJAT nya,

Dari sini dalil disuruhnya kita menziarahi kuburan para wali jika ada hajat dunia atau akhirat,

Kemudian dalam riwayat di atas, nama ma’ruf alkarkhi tidak menjadi qaid, dan tidak terhenti fahaman cuma sampai pada beliau saja, tapi menziarahi kubur semua para wali-wali Allah dan minta berkah dan hajat dikuburan itu sama saja, akan diqabulkan Allah juga hajatnya,

Adapun hadist shohih yang diriwayatkan oleh imam bukhari

حدثنا عبد الله بن مسلمة عن مالك عن ابن شهاب عن سعيد بن مسيب عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : قاتل الله اليهود اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

Rasul bersabda : mudah-mudahan Allah membunuh, melaknat qaum yahudi, yang mereka menjadikan quburan para nabi mereka itu TEMPAT TEMPAT SUJUD, MASAJID itu jamak dari isim makan MASJID, MASJIDUN MASJIDAANI MASAAJIDU.

Adapun jika kita tidak menjadikan kuburan itu tempat sujud atau arah sujud, atau sujud dengan tidak ada niat menujukan ke kuburan itu,maka lepaslah dari laknat Allah seperti Allah melaknat yahudi di atas. Kuburan para wali dan para nabi adalah sumber berkah, kita disuruh sekedar ziarah, dan ngambil berkah di sana.

BOLEHKAH MEMBACA AL-QUR’AN DI KUBURAN?

Membaca Al-Quran di kuburan (pemakaman) merupakan salah satu SUNNAH yang biasa dilakukan oleh umat Islam. Dalam HADITS HASAN SAHIH Rasulullah SAW bersabda,:

“Jika salah seorang di antara kalian ada yang meninggal, maka jangan tunda-tunda pemakamannya, akan tetapi segera hantarkan ia ke kubur. Dan hendaknya di makamnya, di dekat kepalanya DIBACAKAN FATIHATUL KITAB ( Surat Al-Fatihah) dan di dekat kakinya DIBACAKAN PENUTUP SURAT AL-BAQARAH.” (Hadits Hasan Sahih Riwayat Thabrani dan Baihaqi)

 

HUKUM MEMBERI DAN MENGUSAPKAN MINYAK WANGI PADA NISAN KUBURAN

Hukumnya boleh, disamakan dengan air mawar yang wangi sebagaimana jawaban dari kang Imam Tontowi :
Hasyiyah Al-Jamal ‘Alal Minhaj II / 38
ـ (قَوْلُهُ وَيُكْرَهُ رَشُّهُ بِمَاءِ الْوَرْدِ) أَيْ ; لِأَنَّهُ إضَاعَةُ مَالٍ وَإِنَّمَا لَمْ يَحْرُم ; لِأَنَّهُ يُفْعَلُ لِغَرَضٍ صَحِيحٍ مِنْ إكْرَام الْمَيِّت وَإِقْبَالِ الزُّوَّارِ عَلَيْهِ لِطِيبِ رِيحِ الْبُقْعَةِ بِهِ فَسَقَطَ قَوْلُ الْإِسْنَوِيِّ, وَلَوْ قِيلَ بِتَحْرِيمِهِ لَمْ يَبْعُدْ وَيُؤَيِّدُ مَا ذَكَرَهُ قَوْلُ السُّبْكِيّ لَا بَأْسَ بِالْيَسِيرِ مِنْهُ إذَا قُصِدَ حُضُورُ الْمَلَائِكَةِ ; لِأَنَّهَا تُحِبُّ الرَّائِحَةَ الطَّيِّبَةَ ا هـ. شَرْحُ م ر (قَوْلُهُ وَوَضْعُ حَصًى) أَيْ صِغَارٍ ا هـ. شَرْحُ م ر (قَوْلُهُ وَنَحْوُهُمَا) أَيْ مِنْ الْأَشْيَاءِ الرَّطْبَةِ فَيَدْخُلُ فِيهِ الْبِرْسِيمُ وَنَحْوُهُ مِنْ جَمِيعِ النَّبَاتَاتِ الرَّطْبَةِ ا هـ. عِ ش عَلَى م ر
(Keterangan ucapan “dimakruhkan memercikinya dengan air mawar”) maksudnya karena hal itu termasuk menyia-nyiakan harta. Adapun alasan kenapa tidak haram, karena hal itu dikerjakan sebab tujuan yang bisa dibenarkan (shahih) seperti memuliakan mayyit, dan mengarahkan para peziarah (datang) ke situ sebab wanginya bau bidang tanah tersebut, sehingga gugurlah pendapat imam Asnawi. Andai dikatakan harampun itu tidak jauh berbeda. Namun pendapat imam Subki menguatkan tidak mengapa (hukumnya boleh) jika sedikit dan bertujuan agar para malaikat hadir, karena mereka suka bau wewangian.

Dari keterangan panjang ini, maka tradisi berziarah kubur tetaplah perlu dilestarikan karena tidak bertentangan dengan syari’ah Islam. Bahkan malah dapat mengingatkan akan kehidupan di akhirat nanti. Apalagi jika dilakukan di akhir bulan Sya’ban. Hal ini merupakan modal yang sangat bagus untuk mempersiapkan diri menyongsong bulan Ramadhan.