BERUSAHALAH HATAM AL-QUR’AN MINIMAL 40 HARI SEKALI

Ibnu Qudamah al-Hanbali mengatakan:

وَيُكْرَهُ أَنْ يُؤَخِّرَ خَتْمَةَ الْقُرْآنِ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا

“Dimakruhkan bagi seorang muslim tidak khatam baca al-Quran dalam 40 hari.” (Al-Mughni 2/611, Dar Alam al-Kutub)

Yang dimaksud khatam baca al-Quran adalah satu orang baca al-Quran dari surat al-Fatihah sampai an-Nas.

Jika 30 juz al-Quran dibagikan kepada 30 orang sehingga masing-masing orang hanya baca satu juz saja dalam satu hari tidaklah disebut khatam membaca Al-Quran.

Menurut Ibnu Qudamah minimal khatam baca al-Quran adalah sekali per 40 hari.

Ini adalah satu pendapat dalam masalah ini.

Pendapat patut kita jadikan bahan renungkan di Bulan Ramadhan ini yang merupakan bulan al-Quran.

Kita patut merenung seberapa kedekatan kita dengan al-Quran.

Mengapa banyak dari kita kesulitan untuk memenuhi standar minimal khatam baca al-Quran?

Jika standar minimal khatam baca al-Quran saja tidak bisa kita capai layakkah kita mengklaim sudah imbang dunia dan akhirat?

Jika standar minimal khatam baca al-Quran saja sulit untuk kita capai layakkah kita nasehati diri sendiri atau orang lain ‘jangan terlalu sibuk dengan akherat’?

Bukankah lebih tepat jika kita nasehati diri kita sendiri, “Wahai diri, jangan sibuk dengan dunia fana dan hal yang sia-sia karena ada akhirat yang jauh lebih utama.”

Semoga Allah memberikan maaf-Nya kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini akan keteledoran diri sehingga ‘jauh’ dari al-Quran, kitab suci. Aamiin.

MENGENAL SIAPAKAH SEBENARNYA WALI ALLOH SWT.

Kita sering mendengar kata “wali” atau “waliyullah” dalam khazanah keislaman, terutama pada kajian tasawuf. Kata ditafsirkan apa saja oleh orang banyak yang umumnya dimaknai sebagai orang yang melekat dengan karamah atau keramat. Abul Qasim Al-Qusyairi dalam karyanya Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah mengangkat pengertian wali. Ia menyebut dua kemungkinan kandungan makna kata tersebut.

Kata “wali” dapat ditarik ke dalam wazan mubalaghah atau wazan fa’īl dengan makna maf’ūl.

 فإن قيل فما معنى الولي قيل يحتمل أمرين: أحدهما أن يكون فعيلاً مبالغة من الفاعل؛ كالعليم، والقدير وغيره، فيكون معناه: من توالت طاعاته من غير تخلل معصية

Artinya, “Jika ditanya, ‘Apa makna wali?’ maka jawabnya, ia mempunyai dua kemungkinan. Pertama, kata ‘wali’ mengikuti wazan ‘fa‘īl’ sebagai mubalaghah dari fā’il, sejenis makna superlatif (sangat), seperti ‘alīm,’ ‘qadīr,’ dan semisalnya sehingga makna wali adalah orang yang ketaatannya terus menerus tanpa tercederai maksiat,” (Abul Qasim Al-Qusyairi, Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, [Kairo, Darus Salam: 2010 M/1431 H], halaman 191).

Kedua, kata “wali” bisa juga mengikuti wazan “fa‘īl” dengan makna maf‘ūl seperti kata “qatīl” dengan makna “maqtūl” (yang dibunuh) dan kata “jarīh” dengan makna “majrūh” (yang dilukai) sehingga makna wali adalah orang yang dilindungi oleh Allah dengan penjagaan dan pemeliharaan-Nya secara langgeng dan terus menerus. Allah tidak menciptakan baginya kehinaan yang tidak lain kemampuan maksiat. Allah senantiasa memberinya taufiq yang tidak lain kemampuan berbuat ketaatan.

Allah berfirman dalam Surat Al-A’raf ayat 196, “Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (Al-Qusyairi, 2010 M/1431 H: 191).

Dari pengertian ini, muncul istilah mahfūzh atau orang yang dilindungi oleh Allah bagi para wali, satu tingkat di bawah ma’shum, sejenis perlindungan bagi para nabi dan rasul. Secara umum para wali Allah dapat dikenali meski tidak mudah dipastikannya.

Syekh Zarruq menyebutkan tiga sifat utama para wali Allah. Menurutnya, orang yang memiliki tiga sifat ini mungkin wali Allah:

 ثم الولي يعرف بثلاث: إيثار الحق، والإعراض عن الخلق، والتزام السنة بالصدق

Artinya, “Tetapi waliyullah itu dapat dikenali dengan tiga tanda: mengutamakan Allah, (hatinya) berpaling dari makhluk-Nya, dan berpegang pada syariat Nabi Muhammad SAW dengan benar,” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 133). Adapun Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam-nya menyatakan bahwa wali Allah lebih sulit dikenali daripada Allah itu sendiri. Wali Allah selalu mengantarkan kita kepada Allah.

Sedangkan kewaliannya sendiri sulit diidentifikasi.

 قال رضي الله عنه سبحان من لم يجعل الدليل على أوليائه إلا من حيث الدليل عليه ولم يوصل إليهم إلا من أراد أن يوصله إليه

Artinya, “Mahasuci Allah yang tidak menjadikan tanda bagi para wali-Nya selain tanda yang menunjukkan ada-Nya. Mahasuci Allah yang tidak ‘mempertemukan’ kepada para wali selain orang yang dikehendaki sampai kepada-Nya.”

Adapun tugas kita di dunia ini memang bukan untuk melakukan sensus mana orang yang dapat disebut sebagai wali atau bukan. Tugas utama kita adalah beribadah kepada Allah dengan tetap menjaga hak-hak muslim lainnya sebagai hamba Allah, termasuk salah satunya husnuzzhan. Banyak dari kita mengikuti atau bahkan menyebarkan rumor terkait penentuan kewalian seseorang. Sebagian dari kita bersikap “lancang” mengukur kesalehan orang lain dengan menjatuhkan vonis kewalian dan ketidakwalian orang lain. Ini jelas bukan tugas utama kita. Tugas utama kita adalah ibadah kepada Allah (hablun minallāh) dan menjaga hak-hak muslim lainnya dan hak-hak dzimmi (hablun minan nās). Siapapun dia, kita memiliki kewajiban untuk menghormatinya.

Wallahu a’lam.

DERAJAT PARA WALI ALLOH SWT DI SANDINGKAN DENGAN DERAJAT NABI MUHAMMAD SAW DAN PARA NABI AS.

Semua ulama bersepakat bahwa para wali memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Derajat para wali masuk ke dalam perbincangan ulama tasawuf. Tetapi sebagian orang mengagungkan kewalian sehingga yang tampak di mata awam bahwa kedudukan kewalian lebih tinggi dari para nabi. Dalam kajian tasawuf, para wali memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Tetapi para nabi tetap lebih tinggi di sisi Allah SWT. Kedudukan para nabi jauh lebih tinggi daripada kedudukan para wali. Sedangkan kedudukan para wali hanya seper sekian dari kemuliaan para nabi sebagaimana dikutip di dalam Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah berikut ini:

 فأما رتبة الأولياء فلا تبلغ ربتةَ الأنبياء عليهم السلام للإجماع المنعقد على ذلك

Artinya, “Ada kedudukan para wali tidak akan mencapai kedudukan para nabi alayhimus salam berdasarkan ijmak yang disepakati atas yang demikian,” (Abul Qasim Al-Qusyairi, Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, [Kairo, Darus Salam: 2010 M/1431 H], halaman 191).

Imam Al-Qusyairi mengutip perbandingan derajat para wali dan derajat para nabi yang dikemukakan oleh Abu Yazid Al-Busthami. Ia juga menyebut perbandingan derajat para wali dibandingkan kedudukan Nabi Muhammad SAW.

 وهذا أبو يزيد البسطامي سئل عن هذه المسألة فقال: مثل ما حصل للأنبياء عليهم السلام كمثل زق فيه عسل ترشح منه قطرة، فتلك القطرةُ مثل ما لجميع الأولياء، وما في الظرف مثل لنبينا صلى الله عليه وسلم

Artinya, “Abu Yazid Al-Busthami ketika ditanya perihal ini menjawab, ‘Apa (keutamaan dan derajat) yang hasil pada para nabi diumpamakan seperti kirbat (girbah) berisi madu yang memercik setetes darinya. Setetes itulah perumpamaan keutamaan yang dimiliki seluruh wali Allah dibandingkan para nabi. Sedangkan bejana itu juga diumpamakan dengan keutamaan dengan Nabi Muhammad SAW seorang”. (Al-Qusyairi, 2010 M/1431 H: 191).

Al-Ikshara’i Al-Hanafi dalam Kitab Al-Ihkam, Syarah Al-Hikam Al-Athaiyyah, mengatakan bahwa para rasul, para nabi, dan para wali memiliki kedudukan berbeda di sisi Allah. Setiap rasul dengan bekal mukjizat dikaruniai status kerasulan (risalah), kenabian (nubuwah), dan kewalian (wilayah). Setiap nabi dianugerahi status kenabian (nubuwah) dan kewalian (wilayah). Sedangkan setiap wali dengan bekal karamat diberikan status kewalian (wilayah). Al-Ikshara’i menambahkan, Allah telah menutup anugerah kerasulan (risalah) dan kenabian (nubuwwah) setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Dengan demikian, Allah tidak mengangkat orang menjadi nabi dan rasul sepeninggal Rasulullah SAW. Adapun terkait anugerah kewalian (wilayah), Allah masih membuka anugerah-Nya kepada orang-orang yang dikehendaki.

Wallahu a’lam.

DO’A ROBBIGHFIRLI SETELAH MEMBACA SUARAT AL-FATIHAH

Sudah maklum bahwa hal yang dianjurkan setelah selesai menyelesaikan bacaan surat Al-Fatihah pada saat shalat adalah membaca kata “âmîn”. Hal ini berlaku baik bagi orang yang membaca surat tersebut ataupun bagi orang yang mendengarkan.

Anjuran ini didasarkan pada salah satu hadits:

 عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ: {غَيْرِ المَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} فَقَالَ: «آمِينَ»، وَمَدَّ بِهَا صَوْتَهُ

“Diceritakan dari sahabat Wail bin Hujr, ia berkata: “Aku mendengar Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ‘Ghairil maghdlûbi ‘alaihim wa ladl-dhâllîn’ lalu Nabi Mengucapkan “âmîn” dengan mengeraskan bacaannya” (HR Tirmidzi).

Namun demikian, tidak jarang sebagian dari kita pernah menemui orang yang shalat, ketika setelah selesai membaca al-Fatihah, ia tidak hanya membaca kata “âmîn” saja, tapi juga menambahkan lafadz “rabbighfir lî amin”. Bukankah menyela-nyelai kalimat lain antara akhir surat Al-Fatihah dan kata “âmîn” adalah hal yang menghilangkan kesunnahan membaca “âmîn”? Lalu sebenarnya apakah menambahkan kata “rabbighfir lî” sebelum mengucapkan kata “âmîn” adalah hal yang dapat dibenarkan, atau bahkan dianjurkan? Kata rabbighfir lî sebenarnya merupakan sebuah doa yang memiliki arti “Wahai Tuhanku, semoga Engkau mengampuni (dosa)ku”.

Para ulama berpandangan bahwa membaca kata rabbighfir lî setelah selesai membaca surat Al-Fatihah saat shalat adalah hal yang tidak sampai menghilangkan kesunnahan membaca âmîn, sehingga kata âmîn sebaiknya dilafalkan setelah membaca kata tersebut. Hal demikian berdasarkan sebuah hadits Nabi, berikut penjelasan mengenai hal ini dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj:

 (تَنْبِيهٌ) أَفْهَمَ قَوْلُهُ عَقِبَ فَوْتَ التَّأْمِينِ بِالتَّلَفُّظِ بِغَيْرِهِ وَلَوْ سَهْوًا كَمَا فِي الْمَجْمُوعِ عَنْ الْأَصْحَابِ وَإِنْ قَلَّ، نَعَمْ يَنْبَغِي اسْتِثْنَاءُ نَحْوِ رَبِّ اغْفِرْ لِي لِلْخَبَرِ الْحَسَنِ «أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ عَقِبَ الضَّالِّينَ رَبِّ اغْفِرْ لِي آمِينَ»

“Penjelasan penting. Ucapan penulis “Hilangnya kesunnahan membaca âmîn dengan mengucapkan kalimat yang lain, walaupun dalam keadaan lupa, seperti dijelaskan dalam kitab al-MAjmu’ dari para pengikut Imam as-Syafi’I, meskipun hanya kalimat yang sedikit” hendaknya dikecualikan penambahan kalimat rabbighfir lî berdasarkan hadits hasan bahwa “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda setelah melafalkan ad-dhallîn adalah doa “rabbighfir lî âmîn” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 2, hal. 49)

Lebih lengkap lagi, Syekh Ali Syibramalisi menambahkan tambahan kata “Wa li wâlidayya wa li jamî’il muslimîn” agar doa semakin bertambah lengkap. Dalam kitab hasyiyahnya, beliau menjelaskan:

 وَيَنْبَغِي أَنَّهُ لَوْ زَادَ عَلَى ذَلِكَ وَلِوَالِدَيَّ وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ لَمْ يَضُرَّ أَيْضًا

“Hendaknya jika menambahkan kalimat Wa li wâlidayya wa li jamî’il muslimîn juga tidak masalah” (Syekh ‘Ali Syibramalisi, Hasyiyah as-Syibramalisi ‘ala Nihayah al-Muhtaj, juz 1, hal. 489).

Namun hal yang perlu diperhatikan, anjuran mengucapkan doa “rabbighfir lî” setelah membaca Al-Fatihah ini tidak sama seperti halnya anjuran membaca kata “âmîn” yang disunnahkan baik bagi orang yang membaca surat Al-Fatihah ataupun orang yang mendengarkan, sebab doa “rabbighfir lî” hanya disunnahkan bagi orang yang membaca surat Al-Fatihah saja, sehingga tidak berlaku bagi orang yang mendengarkan, seperti halnya bagi makmum yang mendengarkan Fatihah Imam, ataupun orang yang berada di sekitar orang yang membaca Al-Fatihah.

Dalam kitab Hasyiyah I’anah at-Thalibin dijelaskan:

 .وانظر هل الذي يقول ما ذكر القارئ فقط؟ أو كل من القارئ والسامع؟ والذي يظهر لي الأول، بدليل قوله في الحديث المار قال عقب: * (ولا الضالين) * أي قال عقب قراءته * (ولا الضالين) فليراجع

“Lihatlah, apakah yang (dianjurkan) mengucapkan lafadz tersebut (rabbighfir lî) adalah orang yang membaca al-Fatihah saja, atau juga bagi orang yang membaca dan mendengarkan? Hal yang tampak jelas bagiku adalah yang pertama (Orang yang membaca saja) dengan dalil dalam hadits yang telah dijelaskan berupa “setelah lafadz Waladdhallien” maksudnya setelah membaca lafadz Waladdhallien, maka perhatikan kembali” (Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz 1, hal. 173)

Meski demikian, jika ditinjau dari kekuatan hadits yang menjadi landasan anjuran membaca “Rabbighfir lî” rupanya para ulama hadits cenderung berselisih antara mengkategorikan hadits ini sebagai hadits hasan atau dhaif, mengingat salah satu perawi hadits yang menjelaskan mengenai hal ini cenderung didhaifkan (dianggap lemah) oleh para ulama ahli jarh wa ta’dil. Dua rawi yang dianggap bermasalah adalah Ahmad bin ‘Abdul Jabbar al-‘Utharidi dan Abu Bakr an-Nahsyali.

Mengenai rawi yang disebutkan pertama, Abu al-Hasan Nuruddin al-Haitsami menjelaskan:

 وَفِيهِ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ الْعُطَارِدِيُّ، وَثَّقَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَغَيْرُهُ، وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ: رَأَيْتُ أَهْلَ الْعِرَاقِ مُجْمِعِينَ عَلَى ضَعْفِهِ

“Di dalam perawi hadits terdapat Ahmad bin ‘Abdul Jabbar al-‘Utharidi, Imam ad-Daruquthni dan Imam lainnya menganggap perawi tersebut tsiqqah (Dapat dipercaya). Imam Ibnu ‘Adhi berkata: “Aku melihat para ulama iraq bersepakat mendlaifkannya” (Abu al-Hasan Nuruddin al-Haitsami, Majma’ az-Zawa’id wa Manba’ al-Fawaid, juz 2, hal. 293).

Maka dari itu, tidak bisa dipungkiri bahwa hadits yang menjadi landasan anjuran membaca “âmîn” cenderung lebih kuat dan shahih dibandingkan dengan hadits yang menjadi pijakan membaca kata “rabbighfir lî amin”. Kesimpulan inilah yang dijadikan pedoman oleh salah satu ulama hadits kenamaan Mesir, Syekh Abdullah bin Muhammad al-Ghumari dalam himpunan fatwanya:

 والحاصل: أن الحديث بدون زيادة: «رب اغفر لي» حسن صحيح كما قال ابن حجر وغيره، وهو بها ضعيف كما قال الحافظ العراقي، فظهر أن لا تناقض بين القولين لاختلاف موردهما وإن كان أصل الحديث واحد، وبالله التوفيق

“Kesimpulannya bahwa hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah tidak menambahkan kata rabbighfir lî dianggap hasan dan shahih, seperti yang dijelaskan Imam Ibnu Hajar al-‘Asyqalani dan Imam lainnya, sedangkan dengan menambahkan kata tersebut dihukumi dhaif, seperti yang diungkapkan al-Hafidz al-‘Iraqi, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada pertentangan diantara dua pendapat karena berbeda-bedanya dasar (hadits) dari keduanya, meskipun asal dari (dua) hadits tersebut tetaplah satu” (Abdullah bin Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari, Mausu’ah Abdullah al-Ghumari Fatawa wa Ajwibah, juz 16, hal. 181).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membaca kata “âmîn” saja setelah melafalkan surat al-Fatihah ketika shalat dipandang lebih utama, sebab berlandaskan pada dalil hadits yang lebih kuat. Meski begitu, orang yang menambahkan kata “rabbighfir lî” setelah membaca al-Fatihah, tidak bisa kita salahkan begitu saja, sebab amalan ini juga berlandaskan pada dalil yang dapat dijadikan pijakan dan memang terdapat ulama yang menyebut hadits tersebut sebagai hadits yang hasan, sehingga dapat diamalkan, terlebih membaca doa “rabbighfir lî” ini berada pada ranah fadha’ilul a’mal yang hadits dhaif pun juga bisa dijadikan sebagai pijakan, selama bukan berupa hadits maudlu’ dan hadits munkar. Wallahu a’lam.

MEMAHAMI JUAL BELI FISIK DAN INDEX TRADING

Jual beli di pasar tradisional merupakan jual beli yang mempertemukan secara langsung antara penjual (pemilik barang) dengan pembeli (pemilik harga) dalam suatu majelis akad. Majelis akad ini, adakalanya dalam bentuk tatap muka secara langsung, atau lewat perantara komunikasi media. Barang yang dibeli pun juga bisa dikategorikan menjadi 3, yaitu dengan melihat barang secara langsung, atau melalui wakil, atau melalui deskripsi yang disampaikan oleh penjual, dan sejenisnya. Opsi pembatalan atau melanjutkan akad jual beli juga bisa dilakukan baik secara langsung di majelis akad (khiyar majelis), atau dalam tempo yang disepakati (khiyar syarat) akibat melihat cacat (khiyar aib) yang terdapat pada barang dan berada di luar ketetapan yang disepakati. Yang paling penting untuk dicatat adalah bahwa jual beli sistem tradisional ini memiliki wasilah langsung berupa barang fisik yang diperdagangkan.

Dan ini yang membedakannya dengan sistem trading. Dalam trading, setiap barang yang diperjualbelikan diilustrasikan sebagai nilai-nilai indeks harga. Coba bayangkan, anda menghadapi sebuah barang berupa sepeda motor. Jika yang dihadapi adalah berupa fisik barang secara langsung, atau hal yang bisa disifati sesuai dengan wujud riil dari sepeda, maka ini adalah jual beli klasik (tradisional).

Namun, kesan akan bernilai lain, jika sepeda motor itu disampaikan dalam bentuk indeks. Misalkan, untuk sepeda motor yang masih baru, indeksnya adalah 5. Sepeda motor yang sudah pernah dipakai selama minimal 2 tahun, maka sepeda tersebut nilai indeksnya adalah 4. Sepeda motor minimal 4 tahun, maka sepeda tersebut nilai indeksnya adalah 3. Demikian seterusnya dengan kelipatan pemakaian bertambah 2 tahun, maka indeks semakin turun ke level 2 atau 1. Jika indeks pemakaian itu digabungkan dengan nilai indeks penampakan fisik barang, gores atau tidak catnya, pernah dipakai kecelakaan atau tidak, maka gabungan antara indeks lama pemakaian dengan indeks penampakan fisik sepeda, akan menghasilkan angka-angka berbasis statistik atau berbasis coding (pengkodean). Bisa jadi, indeks itu akan berwujud gambaran seperti angka 54. Angka ini bukan dibaca 54 sebagai urutan bilangan aljabar, akan tetapi merupakan kode, seperti 5 menggambarkan kondisi barang yang masih new. Sementara angka 4, menggambarkan kode referral bahwa barang tersebut masih perlu dirakit.

Alhasil, barang dengan contoh kode 54 di atas adalah fisiknya belum ada. Jika membeli barang tersebut, maka seolah pembeliannya merupakan pembelian dengan sistem inden (antri pembuatan) terlebih dulu. Akad yang dipergunakan dalam konteks syariah adalah akad bai’ al-amiri bi al-syira’, yaitu jual beli barang secara sistem pesan, dan bila barang sudah jadi, maka barang tersebut harus dibeli dan tidak boleh dibatalkan oleh pembeli.

Nah, faham, bukan? Apakah hal semacam di atas ini ada dalam praktik trading di pasar bursa?

Di dalam pasar Bursa Efek Indonesia, dikenal adanya 4 kode indeks, yaitu: (1) indeks headline, dan (2) indeks sektoral, (3) indeks thematic, dan (4) indeks faktor.

Kita akan ambil salah satu contoh penjelasannya saja, yaitu indeks headline. Indeks Headline, merupakan indeks yang dijadikan acuan utama untuk menggambarkan kinerja pasar modal. Indeks ini terdiri dari 4 kode referral, antara lain: a) komposit, b) papan (board), c) liquidity, dan d) Liquidity Co-Branding. Indeks komposit merupakan indeks harga saham gabungan (IHSG). Keberadaan IHSG dapat menggambarkan kondisi pasar modal di Indonesia. Indeks board, merupakan indeks yang dikelompokkan berdasarkan papan pencatatan yang ada di bursa.

Ada dua papan pencatatan di pasaran bursa, yaitu 1) papan pencatatan utama dan 2) papan pencatatan pengembangan. Indeks yang tercatat di papan pencatatan pengembangan, biasanya terdiri dari indeks yang dimiliki oleh para pelaku baru di pasaran bursa. Oleh karenanya fluktuasi (naik turun) harga sahamnya sangat besar, sehingga dikenal dengan istilah high risk (risiko tinggi). Jika diterima oleh pasar, maka membeli sahamnya, dapat menjadi ajang spekulasi yang menguntungkan. Namun, jika ditolak pasar, bisa jadi harga sahamnya akan berangsur jeblok dan turun sampai tak bersisa. Sementara itu, indeks yang tercatat pada papan pencatatan utama, merupakan indeks yang cenderung berisiko rendah (low risk). Misalnya, beberapa industri yang sudah mapan, seperti Semen Gresik, Gudang Garam, Bank Syariah, Bank Konvensional, Telkomsel, dan lain-lain.

Membeli saham perusahaan low risk, cenderung aman dari sisi keuangan, sebab fluktuasinya stagnan. Alhasil, berbeda jauh dengan saham pengembangan (IPO). Liquidity (LQ), merupakan kode indeks yang fisik barangnya bersifat liquid (mudah cair, dan mudah dijualbelikan). Anda bisa membayangkan bukan, bagaimana gambaran dari barang yang mudah laku itu? Segala sesuatunya dipengaruhi oleh pasar. Jika di pasar harganya turun, maka turun pula penghasilan para investor. Jika harganya naik, maka naik pula penghasilan investor. Itu terjadi bila barang fisik tiba-tiba harganya naik atau tiba-tiba harganya turun. Atau bisa jadi juga disebabkan faktor alam. Suatu misal, harga gandum beranjak naik, sebab di wilayah pemroduksi gandum sedang terjadi bencana besar yang memusnahkan ladang gandum dalam skala luas. Atau bisa jadi juga disebabkan karena faktor peperangan dan politik. Misalnya, minyak bumi naik harganya disebabkan negara penghasil minyak bumi sedang dalam kondisi perang sehingga barang yang ada di pasaran menurun. Saham minyak bumi, gandum, beras, emas, seluruhnya bisa masuk dalam indeks LQ ini.

Liquidity Co-Branding merupakan kode indeks barang yang mudah laku, akan tetapi kepemilikannya harus bekerjasama dengan pihak lain (co-branding). Contoh dari indeks saham kelompok Liquidity Co-Branding ini, adalah produsen laptop. Anda saksikan di laptop anda, adakah kode Intel? Apa merek Laptop anda? Bisa jadi, laptop anda bermerek Lenovo, Dell, Acer, Hawlett Packard (Hp), dan sejenisnya. Namun, prosesor yang digunakan ternyata adalah Intel. Itu artinya, pihak produsen laptop anda sedang menjalin kerjasama dengan produsen Intel. Alhasil, laptop anda adalah laptop hasil co-branding. Jika produsen laptop anda masuk ke pasaran bursa, maka indeksnya adalah indeks LQ Co-Branding. LQ untuk menunjukkan bahwa barangnya mudah laku di pasaran. Sementara Co-Branding, menunjukkan bahwa ada bagi hasil dengan pihak produsen intel.

Nah, paham, bukan? Dengan demikian, jika anda menemukan kode di pasaran bursa, kenali terlebih dulu, kode itu tercatat di papan utama, ataukah di papan pengembangan (IPO)! Setelah itu, anda lihat kode indeksnya! Jika kode indeks headline-nya adalah LQ45, itu berarti fisik barang yang sedang digambarkan dalam kode indeks adalah barang yang mudah laku dan masuk dalam daftar LQ45. Selanjutnya anda perlu mencari tahu, di mana daftar LQ45 itu, dan seberapa besar peminatnya! Tujuannya, untuk mengenali gambaran dari fisik yang dicatat dalam bentuk indeks itu, persis seperti kode indeks sepeda motor yang diilustrasikan oleh penulis di atas.

MENYESALI DOSA DAN TANDA DI TERIMANYA TAUBAT

Manusia tak luput dari perbuatan dosa, baik kecil maupun besar. Kemaksuman (keterjagaan dari dosa) di kalangan manusia hanya diberikan Allah kepada para nabi dan rasul. Meski demikian, nyatanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam rutin meminta ampunan kepada-Nya. Bila Nabi Muhammad saja—yang suci dan sudah dijamin masuk ke surga—masih memohon ampunan kepada Allah setiap harinya, bagaimana dengan kita yang lemah dan kerap lalai ini?

Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan:

 وعَنْ أبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي اليَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

Dari Abu Hurairah RA beliau berkata,“Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah aku sungguh memohon ampun dan bertobat kepada Allah setiap harinya lebih dari tujuh puluh kali” (HR. Al-Bukhari)

Meski hal yang niscaya bahwa manusia akan berbuat dosa, bukan berarti hal tersebut diperbolehkan oleh agama. Walaupun Allah selalu memberikan kesempatan kepada hambanya untuk bertobat, bukan berarti mengulang-ulang perbuatan maksiat adalah halal. Yang penting manusia lakukan adalah menyeimbangkan antara sifat khauf dan raja`.

Khauf adalah takut terhadap siksa, juga rasa bersalah dan menyesal ketika melakukan perbuatan dosa. Adapun raja` adalah rasa penuh harap akan karunia berupa surga sebagai balasan dari ketaatan yang dilakukan. Manusia tak jarang dihinggapi kesulitan untuk meninggalkan maksiat. Usai berbuat dosa, bisa jadi ia menyesal, tapi di hari-hari berikutnya perbuatan itu terulang kembali, kemudian menyesal lagi, dan begitu seterusnya. Ketika dalam keadaan demikian, maka jalannya adalah tobat lagi dan lagi, tak ada lain, dan jangan lupa untuk meyakinkan bahwa hal ini tidak terulang kembali. Jangan berlarut-larut dalam kesedihan,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 لَوْلَا أَنَّكُمْ تُذْنِبُونَ لَخَلَقَ اللهُ خَلْقًا يُذْنِبُونَ يَغْفِرُ لَهُمْ

“Seandainya kamu sekalian tidak mempunyai dosa sedikit pun, niscaya Allah akan menciptakan suatu kaum yang melakukan dosa untuk diberikan ampunan kepada mereka” (HR. Muslim)

Hadits di atas seakan adalah sabda penghibur bagi hati yang sedang diselimuti lara dan kesedihan akibat penyesalan dosa. Pernyataan Rasulullah tersebut secara implisit menegaskan bahwa Allah adalah Maha Pengampun. Syekh Sa’id Ramadhan al-Buthi dalam ceramahnya sering sekali memberikan tausyiah terkait luasnya pintu ampunan Allah subhanahu wata’ala. Beliau selalu menyampaikan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang tak terbatas, hinga beliau menyarankan bagi seseorang jika terjatuh dalam kubangan maksiat hendaknya menyesal dengan sangat, menangislah sebisanya, kemudian memohon ampun sembari merenung:

 يَا رَبِّي أَنَا ضَعِيْفٌ، أَنَا لَا أَمْلِكُ مِنْ أَمْرِ نَفْسِي شَيْئاً، مَا عَصَيْتُكَ حِيْنَ عَصَيْتُكَ اسْتِكَبَاراً عَلَى أَمْرِكَ وَلَكِنْ لِسَابِقَةٍ سَبَقَ بِهَا قَضَاؤُكَ، هَا أَنَا ذَا بَيْنَ يَدَيْكَ، تُبْتُ إِلَيْكَ لَكِنْ أَعِنِّي يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، أُبْتُ إليك لَكِنْ خُذْنِي إِلَيْكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، خُذْنِي مِنْ نَفْسِي يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، إِنَّ نَفْسِي الأَمَّارَةَ تَغَلَّبَتْ عَلَيَّ، أَجَلْ وَفِّقْنِيَ اللَّهُمَّ لِلتَّغَلُّبِ عَلَيْهَا

“Wahai Tuhanku, aku lemah, aku tidak dapat menguasai diriku sama sekali. Tidaklah aku mendurhakai-Mu karena kesombonganku kepada-Mu, melainkan karena peristiwa yang Engkau tetapkan atasku. Inilah aku di hadapan-Mu, aku bertobat kepada-Mu, akan tetapi tolonglah diriku wahai Tuhan semesta alam, aku bertobat kepada-Mu, tuntunlah aku menuju Engkau, wahai Tuhan semesta alam, tuntunlah diriku dari nafsuku wahai Tuhan semesta alam, sesungguhnya nafsuku dapat mengalahkanku. Ya Allah bantulah aku untuk mengatasinya” (Diambil dari khutbah Shalat Istisqa` Syekh Sa’id Ramadhan al-Buthi, 23/10/2009).

Semoga kita dapat senantiasa memohon ampun kepada Allah SWT, dan menjadi orang yang baik. Sebagaimana dawuh KH Maimun Zubair, “Orang yang baik itu tidak menyepelekan dosa meskipun kecil dan tidak sombong ketika punya amal meskipun banyak.”

6 Tanda Diterimanya Tobat Seorang Hamba

Tobat secara bahasa berarti kembali. Pada proses ini seseorang diuji komitmen dan konsistensinya dalam menapaki jalan kebenaran dan kebaikan. Mengutip pernyataan seorang ahli hikmah, Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Hajar al-‘Asqalani dalam kitabnya al-Munabbihat ‘ala al-Isti ‘dad li Yaumil Mi‘ad, menyebutkan tidak ada yang bisa memastikan apakah tobat seorang hamba diterima atau tidak. Namun, setidaknya ada enam hal yang menandakan tobat seseorang diterima oleh Allah subhanahu wata’ala (Syekh Nawawi, Nasha’ih al-‘Ibad, hal. 49).

Pertama, dalam hati seorang yang bertobat lahir kesadaran bahwa dirinya tidak terpelihara dari dosa. Ini berarti, kapan pun dirinya bisa terjerumus lagi ke dalam perbuatan dosa, baik dosa yang telah ditobati maupun dosa yang berbeda. Atas dasar itu, dia selalu berhati-hati menghadapi hal-hal yang sekiranya bisa mengantarkan dirinya jatuh lagi pada kubangan yang sama dan kembali berbuat nista.

Kedua, mendapati hatinya sedikit gembira, dan banyak bersedih. Bagaimana hatinya bisa bergembira karena senantiasa mempersiapkan dan memikirkan masa depan akhiratnya yang belum mendapat jaminan apa-apa. Apakah hidupnya berakhir dengan membawa iman? Itulah yang selalu direnungkan seorang yang bertobat, sehingga tak berani meluapkan kegembiraannya secara berlebihan, sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

 مَنْ أَكْثَرَ ذِكْرَ الْمَوْتِ قَلَّ فَرَحُهُ، وَقَلَّ حَسَدُهُ

Artinya, “Siapa saja yang banyak mengingat kematian akan sedikit gembiranya dan sedikit rasa hasudnya,” (HR. Ibnu al-Mubarak).

Ketiga, lebih dekat dengan orang-orang yang saleh, dan jauh dari orang-orang yang jahat dan buruk perangainya. Di saat yang sama, dia menyadari bahwa dekat dengan orang-orang baik dapat mempertahankan kebaikan dirinya dan bisa diingatkan manakala berbuat kesalahan. Sebaliknya, bergaul dengan orang-orang jahat membuka kesempatan bagi dirinya tergerus oleh keburukan mereka, walaupun dia berusaha tidak melakukannya. Benar apa yang disampaikan Rasulullah saw.:

 مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Teman yang baik dan teman yang buruk dibaratkan seperti pembawa minyak wangi dan peniup selongsong api. Pembawa minyak wangi akan menghembuskan aroma wangi kepadamu. Sehingga engkau membeli minyak wanginya atau mencium aromanya. Sedangkan peniup selongsong api akan membakar pakaianmu atau engkau mencium bau asap darinya,” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Keempat, melihat perkara dunia yang sedikit sebagai sesuatu yang banyak di hadapannya. Sedangkan melihat perkara akhirat yang banyak sebagai sesuatu yang sedikit. Sang hamba yang bertobat ingat bahwa sesedikit apa pun kekayaan dunia, yang halalnya akan dihisab dan dipertanggungjawabkan, sedangkan yang haramnya akan disiksa. Lebih berat lagi, pertanyaan tentang harta lebih berat daripada pertanyaan tentang yang lain. Soal ilmu misalnya, hanya ditanya, untuk apa ilmu itu dipergunakan, sedangkan soal harta akan ditanya, dari mana harta itu didapatkan dan untuk apa harta itu dibelanjakan.

Kelima, melihat diri dan hatinya sibuk dengan perkara-perkara yang dibebankan Allah kepada dirinya, sedangkan terhadap perkara-perkara yang telah dijamin oleh Allah, tak sedikit pun meresahkannya. Di antara perkara yang dibebankan Allah adalah tuntutan syariat-Nya (taklif), baik tuntutan untuk dilaksanakan maupun tuntutan untuk ditinggalkan, baik yang bersifat wajib maupun yang bersifat sunnah. Sedangkan perkara yang telah dijamin di antaranya rezeki, umur, jodoh, kematian, dan sebagainya. Baca: Ini Tiga Syarat Tobat menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Keenam, selalu menjaga lisan. Hal ini lahir dari kesadaran bahwa banyak membicarakan perkara yang tidak berguna, sama dengan mengantarkan dirinya kepada pintu kemaksiatan, sebagaimana yang diingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:

 أَكْثَرُ النَّاسِ ذُنُوبًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ كَلَامًا فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ

Artinya, “Sesungguhnya, manusia yang paling banyak dosanya pada hari Kiamat adalah manusia yang paling banyak bicaranya dalam kemaksiatan kepada Allah,” (HR. Ibnu Abi Syaibah). Karenanya, tak mengherankan bila menjaga lisan termasuk amal yang paling dicintai Allah, sebagaimana dalam hadits, “Amal yang paling dicintai Allah adalah menjaga lisan,” (HR. Al-Baihaqi).

Demikian beberapa tanda orang yang diterima tobat. Semoga kita termasuk di dalamnya. Wallahu a’lam.

DISKRIMINASI DAN STIGMA BURUK HARAM BAGI PENYANDANG DISABILITAS

alam perspektif Islam, penyandang disabilitas identik dengan istilah dzawil âhât, dzawil ihtiyaj al-khasṣah ataudzawil a’zâr: orang-orang yang mempunyai keterbatasan, berkebutuhan khusus, atau mempunyai uzur. Hal ini memunculkan pertanyaan apakah dengan demikian penyandang disabilitas harus didiskriminasi atau dikucilkan?

Tentu tidak, karena penyandang disabilitas juga manusia yang mempunyai hak yang sama untuk bermasyarakat dan bergaul dengan semua orang. Apalagi bila dilihat dari sudut pandang Islam, manusia yang paling mulia di hadapan Allah adalah yang paling bertakwa, seperti ditegaskan dalam firman-Nya berikut:

يَآأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Ḥujurât/49: 13)

Dalam haditst Nabi Muhammad SAW juga ditegaskan:

إِنَّ الله لا يَنْظُرُ إِلى أَجْسامِكْم، وَلا إِلى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى صَدْرِهِ (رواه مسلم)

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kamu sekalian, tetapi Allah melihat kepada hati kamu sekalian Rasulullah menujuk ke dadanya” (HR. Muslim)

Oleh sebab itu, stigma terhadap penyandang disabilitas sebagai kutukan dan penderitanya adalah orang-orang yang terkutuk harus segera dihentikan. Sebaliknya kita perlu menyebarkan pandangan yang positif, yang membuka wawasan masyarakat agar mau menumbuhkan penghormatan dan empati terhadap penyandang disabilitas. Dalam hal ini, kita harus menghindari prasangka buruk (su’udh dhann) kepada penyandang disabilitas. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, hindarilah banyak prasangka, karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa.” (QS. Al-Ḥujurât/49: 12)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW. bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ (متفق عليه)

Jauhkan dirimu dari prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling bohong” (HR.Bukhari Muslim)

Bahkan, terhadap orang yang jelas menyimpang, caci maki tidak boleh dilakukan. Dalam menafsirkan firman Allah SWT., “lâ yaskhar qawmun min qawmin”, Syaikh Ibn Zaid berkata:

لاَ يَسْخَرْ مَنْ سَتَرَ اللهُ عَلَيْهِ ذُنُوْبَهُ مِمَنْ كَشَفَهُ اللهُ، فَلَعَلَّ إِظْهَارُ ذُنُوْبِهِ فِي الدُّنْيَا خَيْرٌ لَهُ فِي اْلآخِرَةِ

“Janganlah orang yang telah ditutupi dosanya oleh Allah SWT.. Mengolok-olok orang yang telah dibuka dosanya oleh Allah SWT boleh jadi terbukanya dosanya di dunia lebih baik baginya daripada terbuka dosanya di akhirat” (Al-Qurthubi, Al-Jami` li Ahkami Al-Quran, Tahqiq Hisyam Samir Al-Bukhori, [Rayadh: Dar `Alami Al-Kutub, 1423 H/ 2003 M], vol. XVI, hal. 325).

Nabi Muhammad SAW juga menegaskan:

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ (أخرجه الترمذي)

Barang siapa yang mencerca saudaranya sebab suatu dosa, maka dia tidak akan mati sehingga dia melakukan dosa tersebut (HR. Tirmidzi).

Bila kepada yang berdosa saja kita dilarang merendahkan, apalagi kepada orang-orang yang sekadar berbeda kemampuan secara fisik. Hal ini menunjukkan penghormatan Islam yang tinggi terhadap manusia tanpa memandang dari segi keanekaragaman kemampuan atau keterbatasan fisik. Setiap manusia pada dasarnya setara, dan memiliki hak-hak yang setara. Standar kemuliaan dalam Islam adalah ketakwaan, bukan kemampuan fisik atau mental.

===
Artikel ini dinukil dari buku “Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas” yang disusun dan diterbitkan oleh tim Lembaga Bahtsul Masail PBNU, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), serta Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Unibraw.

DOKTER ROHANI UNTUK 4 PENYAKIT KEBODOHAN

Imam Al-Ghazali mengilustrasikan pertanyaan yang diajukan oleh orang yang tidak tahu sebagai keterangan penyakit yang diajukan oleh pasien kepada dokter. Sedangkan jawabannya diumpamakan sebagai upaya dokter dalam menyembuhkan penyakit tersebut. Orang bodoh adalah pasien yang sakit. Sedangkan ulama adalah dokternya. Ulama yang kurang memenuhi syarat tidak layak menjadi dokter. Mereka yang layak mengobati penyakit kebodohan adalah ulama yang memenuhi syarat kesempurnaan (al-alimul kamil) karena ia dapat mengetahui hakikat penyakit. Ketika penyakit terlalu parah dan tidak mungkin dapat diobati, seorang dokter yang sangat ahli dan berpengalaman sekalipun kadang tidak berupaya mengobati penyakit pasien.

Seorang ulama tidak selalu menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh masyarakat karena kebodohan terbagi empat jenis kata Imam Al-Ghazali.

 واعلم أن مرض الجهل أربعة أقسام: ثلاثة لاعلاج لها وواحد يمكن علاجه

Artinya, “Ketahuilah, penyakit kebodohan ada empat jenis. Tiga di antaranya tidak dapat disembuhkan. Tetapi satu lainnya kemungkinan dapat disembuhkan,” (Lihat Imam Al-Ghazali, Khulashatut Tashanif fit Tashawwuf pada Majmu’atu Rasa’ilil Imam Al-Ghazali, [Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah: tanpa tahun] halaman 189).

Pertama, pertanyaan atau keterangan pengantar yang bersumber dari hasad atau kedengkian. Hasad adalah penyakit yang (hampir-hampir) tidak dapat disembuhkan. Setiap kali pertanyaan ini dijawab dengan beragam penjelasan dan jawaban sebaik apapun, maka jawaban itu hanya menambah hasad orang yang bertanya. Hasad orang itu akan menambah kesombongan pasien.

Al-Imam Al-Ghazali menyarankan kita untuk tidak menjawab pertanyaan jenis ini. Ia mengutip syair sebagai berikut:

 كلُّ العداوة قد ترجى إزالتها إلا عداوة من عاداك من حسد

Artinya, “Setiap permusuhan terkadang dapat diharapkan hilang (padam) kecuali permusuhan yang memusuhimu karena hasad,” (Lihat Imam Al-Ghazali, Khulashatut Tashanif fit Tashawwuf: 189).

Al-Imam Al-Ghazali menyarankan kita untuk mengabaikan dan berpaling dari pertanyaan orang dengki sebagai bentuk pengamalan Surat An-Najm ayat 29. Penjelasan dan upaya penyembuhan ketidaktahuan seseorang yang dilatari kedengkian hanya akan menyalakan api kedengkiannya. Pasalnya, pertanyaan yang dilontarkan memang bukan diniatkan untuk mengobati ketidaktahuannya, tapi karena kedengkiannya.

 فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

Artinya, “Berpalinglah dari orang yang berpaling dari mengingat Kami; dan yang tidak menginginkan selain kehidupan dunia,” (Surat An-Najm ayat 29).

Kedua, penyakit yang bersumber dari kedunguan dan kebebalan (al-hamaqah atau al-ahmaq). Penyakit ini hampir tidak dapat disembuhkan. Nabi Isa AS mengatakan, “Aku berdaya untuk menghidupkan orang mati. Tetapi aku tidak berdaya memperbaiki orang bebal.” Orang dungu atau bebal adalah orang yang mempelajari satu dua hari satu bab sebuah ilmu dan belum masuk sama sekali mempelajari ilmu aqli (salah satunya ilmu kalam, ilmu tauhid, atau ilmu logika) dan ngeyelnya setengah mati. Orang seperti ini dijelaskan juga tidak mau mengerti karena bawaan ilmu segenggam atau seujung kuku. Tetapi nahasnya dengan bekal ilmu sehari atau dua hari itu, ia mengajukan pertanyaan (sejenis sanggahan atau penolakan) kepada ulama yang menghabiskan usianya untuk mempelajari dan memperdalam berbagai ilmu pengetahuan yang serumpun. Orang dungu atau bebal tidak menyadari penolakan atau sanggahan seorang pelajar pemula kepada seorang alim (guru) besar bersumber dari kebodohan dan ketidaktahuan. Ia tidak menyadari kemampuan dirinya dan kapasitas keilmuan guru besar tersebut karena kedunguan dan kebebalannya. Oleh karena itu, kita disarankan untuk berpaling dan mengabaikan jawaban untuk orang seperti ini. (Lihat Imam Al-Ghazali, Khulashatut Tashanif fit Tashawwuf: 189).

Pada kesempatan lain, Imam Al-Ghazali mengatakan, orang dungu atau bebal adalah orang yang menuntut sedikit (kurang dari satu bab) dari bagian ilmu sebentar atau instan (zamanan qalilan) baik ilmu aqli maupun ilmu syariat. Ia mencoba mengajukan pertanyaan kepada seorang ulama besar yang menghabiskan umurnya untuk ilmu aqli dan ilmu sya’ri. Tetapi konyolnya, ia menyangka bahwa sebuah materi pengetahuan yang problematik (musykil) menurutnya juga musykil menurut si alim besar. (Lihat Imam Al-Ghazali, Ayyuhal Walad pada Majmu’atu Rasa’ilil Imam Al-Ghazali, [Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah: tanpa tahun] halaman 283).

Ketiga, penyakit orang yang melontarkan pertanyaan karena kelemahan daya pikir atau IQ rendah (baladah atau balid). Orang ini meminta penjelasan atas ucapan ulama. Tetapi ia sebenarnya tidak memiliki kecakapan untuk memahami hakikat ucapan ulama karena keterbatasan daya pikirnya. Ia menanyakan pandangan-pandangan dan pokok pikiran ulama yang pelik, jelimet, rumit, abstrak, atau “tinggi” lagi-lagi karena keterbatasan daya jangkau pikirannya. Tetapi ia tidak menyadari kapasaitas daya pikirnya.

Untuk orang ini, Imam Al-Ghazali menyarankan kita untuk mengabaikan pertanyaan mereka sesuai sabda Nabi Muhammad SAW berikut ini:

 نحن معاشر الأنبياء أمرنا بأن نكلم الناس على قدر عقولهم

Artinya, “Kami para nabi diperintahkan untuk berbicara kepada umat manusia sesuai kapasitas daya pikir mereka.”

Keempat, penyakit orang yang mencari petunjuk dan ia memiliki kecerdasan, kecakapan, dan kapasitas serta daya pikir yang bagus untuk menerima pelajaran. Ia tidak terpengaruh dan terbawa hanyut oleh marah, syahwat, hasad, kerakusan pada harta, dan nafsu gila kekuasaan. Ia adalah orang yang mencari jalan kebenaran. Ia melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak membingungkan. Pasien seperti ini, kata Al-Imam Al-Ghazali, dapat disembuhkan. Upaya pengobatan terhadap orang seperti ini layak bahkan wajib ditempuh. Wallahu a’lam.

LAFADZ TAKBIR DI HARI RAYA FITRI JUGA ADHA

Lafal takbir yang sering dibaca masyarakat sebagai berikut tidak masalah. Lafal takbir itu cukup baik untuk dibaca. Berikut ini adalah lafal takbir yang dianjurkan untuk dibaca pada malam dan hari raya id.

Takbir dilafalkan sebanyak tiga kali sebagaimana penjelasan Imam An-Nawawi dalam Kitab Al-Majmu’, Syarhul Muhadzdzab:

 اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ

Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Artinya, “Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar.”

Selain tiga takbir ini, kita menambahkannya dengan zikir sebagai berikut sebagaimana zikir-takbir Rasulullah SAW di bukit Shafa yang diriwayatkan Imam Muslim:

 اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ اِلَّا اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الاَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ

Allāhu akbar kabīrā, walhamdu lillāhi katsīrā, wa subhānallāhi bukratan wa ashīlā, lā ilāha illallāhu wa lā na‘budu illā iyyāhu mukhlishīna lahud dīna wa law karihal kāfirūn, lā ilāha illallāhu wahdah, shadaqa wa‘dah, wa nashara ‘abdah, wa hazamal ahzāba wahdah, lā ilāha illallāhu wallāhu akbar.

Artinya, “Allah maha besar. Segala puji yang banyak bagi Allah. Maha suci Allah pagi dan sore. Tiada tuhan selain Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya, memurnikan bagi-Nya sebuah agama meski orang kafir tidak menyukainya. Tiada tuhan selain Allah yang esa, yang menepati janji-Nya, membela hamba-Nya, dan sendiri memorak-porandakan pasukan musuh. Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar.”

Adapun lafal takbir yang sering dibaca masyarakat sebagai berikut tidak masalah. Lafal takbir itu cukup baik untuk dibaca.

 اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Allāhu akbar wa lillāhil hamdu. Artinya, “Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar. Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar. Segala puji bagi-Nya.” Imam An-Nawawi menjelaskan sifat takbir pada malam dan hari raya.

Imam An-Nawawi menyebut tiga takbir berturut-turut yang dikutip dari Imam As-Syafi‘i dan ulama syafiiyah:

 صفة التكبير المستحبة الله اكبر الله اكبر الله اكبر هذا هو المشهور من نصوص الشافعي في الام والمختصر وغيرهما وبه قطع الاصحاب

Artinya, “Sifat takbir yang dianjurkan, ‘Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar.’ Ini (takbir 3 kali) yang masyhur dari nash Imam As-Syafi’i dalam Kitab Al-Umm, Al-Mukhtashar, dan selain keduanya. Sifat ini yang dipegang ulama ashab,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, [Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah: 2010 M], juz V, halaman 42).

Adapun berikut ini adalah penjelasan Imam An-Nawawi terkait lafal takbir yang lazim dibaca oleh masyarakat.

 قال صاحب الشامل والذي يقوله الناس لا بأس به أيضا وهو الله اكبر الله اكبر الله اكبر لا اله الا الله والله اكبر الله اكبر ولله الحمد

Artinya, “Penulis Kitab As-Syamil mengatakan, lafal takbir yang dibaca masyarakat selama ini tidak masalah, yaitu ‘Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Allāhu akbar wa lillāhil hamdu,’” (Lihat Imam An-Nawawi, 2010 M: V/42-43).

Sebagian ulama mazhab As-Syafi’i menambahkan lafal takbir berdasarkan pandangan Imam As-Syafi’i pada qaul qadim:

 اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا اللهُ اَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا وَالحَمْدُ للهِ عَلَى مَا أَوْلَانَا وَأَبْلَانَا

Allāhu akbar kabīrā, walhamdu lillāhi katsīrā, Allāhu akbar ‘alā mā hadānā, wal hamdu lilāhi ‘alā mā awlānā wa ablānā. Artinya, “Allah maha besar, segala puji yang banyak bagi Allah. Allah maha besar atas hidayah-Nya kepada kita. Segala puji bagi Allah atas nikmat dan ujian-Nya untuk kita.” Wallahu a’lam.

PENJELASAN SUJUD TERAKHIR YANG LAMA DAN PANJANG

Pada saat sujud, kita dianjurkan untuk banyak berdoa kepada Allah. Dengan memperbanyak doa itu, sujud kita menjadi tampak lama. Anjuran ini tercatat dalam beberapa kitab hadits sebagai berikut:

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Artinya, “Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ‘Momentum terdekat seorang hamba dan Tuhannya adalah ketika sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah doa saat itu,’” (HR Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i).

Namun demikian, tindakan memperlama durasi sujud untuk diisi dengan banyak doa dipahami oleh ulama sebagai pemberlakuan pada saat shalat sendiri atau shalat sunnah yang tidak disyariatkan berjamaah. Adapun pada shalat berjamaah, imam dianjurkan untuk membaca surat-surat pendek Al-Qur’an dalam shalat berjamaahnya dan tetap menyempurnakan rukuk, itidal, dan sujud melalui tuma’ninah serta bacaan yang dianjurkan sebagaimana lazimnya.

Keringanan shalat ini dipesan oleh Rasulullah untuk mereka yang mengimami di tengah banyak orang yang memiliki beragam kondisi pribadinya, mulai dari orang tua, orang lemah, orang sakit, atau orang yang memiliki keperluan lain.

 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِلنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنَّ فِي النَّاسِ الضَّعِيفَ وَالسَّقِيمَ وَذَا الْحَاجَةِ وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ ، فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Bila salah seorang kamu mengimami orang banyak hendaknya ia meringangkan karena di tengah jamaah terdapat orang dhaif, orang sakit, dan orang yang berhajat (orang lansia pada lain riwayat). Tetapi jika ia melakukan shalat sendiri, bolehlah ia melamakan shalat sesuai kehendaknya,’” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud).

 Pembahasan ini pernah diangkat oleh KHM Syafi’i Hadzami (Rais Syuriyah PBNU 1994-1999 M) dalam kumpulan fatwanya, Kitab Taudhihul Adillah, juz II, yang kami kutip sebagai berikut: “Memang sunnah hukumnya melamakan sujud untuk berdoa di dalamnya karena sujud itu adalah suatu keadaan yang terdekat seorang hamba kepada Tuhannya, tetapi tidak ada takhshish yang menentukannya pada sujud yang terakhir,” (KHM Syafi’I Hadzami, Taudhihul Adillah, [Kudus, Menara Kudus: 1982 M], juz II, 134-135). “Akan tetapi bagi imam suatu kaum yang tidak terbatas, atau yang terbatas yang tidak diketahui keridhaan mereka untuk memanjangkan sembahyang, janganlah hendaknya imam melebihkan tasbih dalam sujudnya dari tiga kali, dan tidak sunnah menambahkan doa-doa apapun juga, bahkan hendaklah diperingannya sembahyang itu, untuk mera’ikan makmum yang lemah, yang sakit, yang tua, dan orang-orang yang mempunyai keperluan atau kerja yang mesti diselesaikannya, maka dalam hal ini disunnahkan bagi imam meringankan sembahyangnya,” (KHM Syafi’i Hadzami, 1982 M: II/135).

Pengamalan untuk memperbanyak doa di waktu sujud agak problematik untuk dipraktikkan dalam shalat berjamaah karena kondisi makmum berbeda-beda. Di samping itu, tidak semua makmum mengerti anjuran doa dan mengetahui bacaan doa apa saja sehingga dapat menimbulkan was-was di hati jamaah, baik diamalkan pada setiap sujud, sujud awal, maupun sujud terakhir.

Rasulullah sendiri ketika mengimami memperhatikan jamaah yang menjadi makmumnya agar tidak shalat dalam keadaan was-was karena imam melamakan shalatnya atau salah satu bagian dari shalatnya.

 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَدْخُلُ الصَّلَاةَ أُرِيدُ إِطَالَتَهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأُخَفِّفُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ بِهِ

Artinya, “Dari sahabat Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh aku memasuki sebuah sembahyang, ingin melamakan sembahyang itu, tetapi aku mendengar tangisan anak kecil, lalu kuringankan sembahyang itu dari karena beratnya perasaan ibu Karen tangis tersebut,’” (HR Bukhari dan Muslim).