MENGENAL KREDIBILITAS HADITS MELALUI JARH WAT TA’DIL

Penelitian sebuah hadits tidak bisa dilepaskan dari penelitian terhadap pembawa haditsnya dalam hal ini adalah seorang perawi, terutama terkait kredibiltas, integritas, dan validitas. Lima syarat disepakati oleh ulama muhadditsin. Dua di antaranya harus dipastikan dalam diri perawi. Syarat tersebut adalah adil dan dhabit. Perpaduan antara adil dan dhabit ini biasa disebut sebagai tsiqah.

Untuk mengetahui keadilan dan kedhabitan seorang perawi, diperlukan tanshih (ketetapan) dari para ulama terhadap perawi tersebut. Ketetapan ulama tersebut memiliki berbagai maratib (derajat). Derajat-derajat itu dibagi menurut kata yang digunakan untuk memvonis (mentanshih) seorang perawi tersebut.

Maka dari itu, diperlukan ilmu jarh wa ta’dil untuk mengetahui derajat-derajat tersebut.

Secara ringkas, Imam Jalaluddin As-Suyuthi merangkum seluruh tingkatan jarh wa ta’dil dari beberapa imam sebelumnya, seperti Ibnu Shalah, Ad-Dzahabi, Al-Iraqi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani. As-Suyuthi merangkum enam tingkatan lafadz jarh dan enam tingkatan lafadz ta’dil. (As-Suyuthi, Tadribur Rawi fi Syarh Taqrib An-Nawawi, [Riyadh: Maktabah Riyadh Al-Haditsah, tanpa catatan tahun] halaman 342-348).

Hal ini juga dijelaskan oleh Mahmud Thahhan dalam Taysir Musthalah Hadits, (Riyadh: Maktabah Maarif, 2004 M, halaman 189-192).

Berikut enam tingkatan lafadz ta’dil:

Pertama, kata-kata yang menunjukkan mubalaghah (intensitas maksimal) yang berbentuk af’alut tafdhil dan sejenisnya. Seperti kata-kata أوثق الناس (yang paling tsiqat), أضبط الناس  (yang paling dhabith), ليس له نظير (tiada bandingannya), dan lain sebagainya.

Kedua, kata-kata yang mengukuhkan kualitas tsiqat dengan salah satu sifat di antara sekian sifat ‘adil dan tsiqat, yakni dengan mengulang kata yang sama secara lafal dan makna. Misalnya: ثقة ثقة , ثقة مأمون, ثقة حافظ, dan lain-lain.

Ketiga, kata-kata yang menunjukkan sifat ‘adil yang sekaligus menyiratkan kedhabithan seorang perawi tanpa taukid. Misalnya: ثبت, متقن , عدل إمام حجة, عدل ضابط، ثقة dan lain-lain.

Keempat, kata-kata yang menunjukkan sifat ‘adil, tetapi menggunakan kata yang tidak menyiratkan kedhabithan. Misalnya: صدوق , مأمون, لا بأس به . Namun pernyataan lâ ba’sa bihi jika diucapkan oleh Yahya bin Ma’in, maka artinya tsiqah.

Lafal yang tingkatannya setara dengan tingkat ini adalah kata-kata yang menunjukkan kejujuran perawi, tapi tidak menunjukkan kedhabithannya. Misalnya: محله الصدق , صالح الحديث. Sebagian ulama menyamakan kedua kata itu dengan tingkat keenam.

Keenam, kata-kata yang sedikit menyiratkan makna tajrih, seperti penyertaan kata-kata di atas dengan kalimat masyi’ah. Misalnya: شيخ ببعيد من الصواب, صويلح, صدوق أن شاء الله. Dan lain-lain.

Adapun hadits pada tingkatan pertama hingga ketiga bisa dijadikan hujjah. Sedangkan hadits pada tingkatan keempat dan kelima tidak bisa dijadikan hujjah, tetapi haditsnya boleh disampaikan, ditulis dan dijadikan i’tibar (dijadikan pendukung dari hadits lain).

Hadits pada tingkatan keenam hanya bisa dijadikan i’tibar, tidak bisa ditulis atau disampaikan apalagi dijadikan hujjah.

Tingkatan lafal jarh, para ulama muhadditsin juga membaginya menjadi enam. Urutan yang pertama lebih mendekati ta’dil daripada tingkatan-tingkatan setelahnya.

Pertama, menyifati perawi dengan sifat-sifat yang menunjukkan kedha’ifannya, akan tetapi dekat dengan ta’dil. Misalnya: ليس بذلك القوي, ليس بحجة, فيه مقال, فيه ضعف, dan غيره أوثق منه.

Kedua, kata-kata yang menunjukkan penilaian dha’if atas perawi atau kerancuan hafalannya. Misalnya: مضطرب الحديث, لا يحتج به, ضعفوه (ulama menilainya dha’if), له مناكير (ia memiliki hadits-hadits munkar), ضعيف. atau yang sejenis.

Ketiga, kata-kata yang menunjukkan bahwa perawi tersebut sangat dha’if. Misalnya: رد حديثه, ضعيف جدا, ليس بشيئ, طرح حديثه, dan لا يكتب حديثه. dan lain-lain.

Keempat, kata-kata yang menunjukkan bahwa seorang perawi tertuduh sebagai pendusta, pemalsu, atau yang sejenis. Misalnya متهم بالكذب, متهم بالوضع, يسرق الحديث. Disamakan dengan tingkat ini adalah kata-kata yang menunjukkan ditinggalkan haditsnya. Misalnya: متروك, هالك, ليس بثقة. dan lain-lain.

Kelima, jarh dengan kedustaan atau pemalsuan. Misalnya كذاب, وضاع. merupakan kata-kata yang menunjukkan mubalaghah tetapi masih lebih ringan daripada tingkatan di bawah.

Keenam, kata-kata yang menunjukkan mubalaghah dalam hal jarh. Misalnya أكذب الناس, ركن الكذب. dan lain-lain.

Para perawi yang dinilai dengan tingkatan pertama dan kedua, haditsnya tidak boleh dijadikan sebagai hujjah. Tetapi hadits ini bisa digunakan sebagai i’tibar. Sedangkan perawi yang tergolong tingkatan tiga hingga enam, tidak bisa dijadikan itibar, apalagi untuk disampaikan dan dijadikan hujjah. Wallahu a‘lam

MENGETAHUI SIAPA ITU IBLIS, SYAITAN DAN JIN

Intinya Jin ada dua : Jin Syarirun (jelek) dan berkelompok menjadi SYAITHON, dan IBLIS adalah abu syaithon, sedangkan AL JANNU adalah ABUL JINN (bapak moyang jin). Demikian adanya. Kalau jin makanannya tulang, seperti sabda Nabi SAW. Lihat i’anah bagian istijmar bil hajar. Syaithonul insi wa syaithonul jin, “Syetan dari jenis manusia dan dari jenis jin”. Jadi manusia yang berprilaku jelek (syarru) juga bisa disebut syetan.

 Al Furuqu al Lughowiyyah :

الفرق بين الشيطان والجن: أن الشيطان هو الشرير من الجن ولهذا يقال للانسان إذا كان شريرا شيطان ولا يقال جني لان قولك شيطان يفيد الشر ولا يفيده قولك جني، وإنما يفيد الاستتار ولهذا يقال على الاطلاق لعن الله الشيطان ولا يقال لعن الله الجني، والجني إسم الجنس والشيطان صفة.

الجانُّ هو أبو الجنِّ خُلِقَ من نار ثم خُلق منه نسله. وقال الليث في قول الله: )تَهتَزُّ كَأنّها جَان وَلّى مُدْبِراً(، الجانُّ: حية بيضاء الكتاب : تهذيب اللغة

وإبليس أبو الشياطين الكتاب : كتاب الكليات ـ لأبى البقاء الكفومى )

Kitab Tuhfatul Muhtaj :

تحفة المحتاج في شرح المنهاج (30/ 223)

الْجِنُّ أَجْسَامٌ هَوَائِيَّةٌ أَوْ نَارِيَّةٌ أَيْ يَغْلِبُ عَلَيْهِمْ ذَلِكَ فَهُمْ مُرَكَّبُونَ مِنْ الْعَنَاصِرِ الْأَرْبَعَةِ كَالْمَلَائِكَةِ عَلَى قَوْلٍ وَقِيلَ : أَرْوَاحٌ مُجَرَّدَةٌ وَقِيلَ نُفُوسٌ بَشَرِيَّةٌ مُفَارِقَةٌ عَنْ أَبْدَانِهَا وَعَلَى كُلٍّ فَلَهُمْ عُقُولٌ وَفَهْمٌ وَيَقْدِرُونَ عَلَى التَّشَكُّلِ بِأَشْكَالٍ مُخْتَلِفَةٍ وَعَلَى الْأَعْمَالِ الشَّاقَّةِ فِي أَسْرَعِ زَمَنٍ

Jin adalah jisim-jisim bangsa udara atau golongan api dalam arti cenderung pada itu, mereka tersusun dari 4 elemen sebagaimana malaikat menurut 1 pendapat. Dan dikatakan, jin adalah arwah-arwah yang menyendiri. Dan dikatakan lagi, jin adalah nyawa manusia yang pisah dari raganya dan di setiap satunya mempunyai beberapa akal dan mereka mampu berubah wujud jadi apapun dan perkasa/mampu/sanggup mengerjakan sesuatu yang berat dalam waktu sekejap

Kitab Bada’iz Zuhur hal 38 :

قال وهب بن منبه أول من أفشى السلام آدم وفي بعض الأخبار ما أفشى السلام قوم الا أمنوا من العذاب والنقمة ثم قالت الملائكة إلهنا هل خلقت خلقا أفضل منا فقال الله تعالى أنا الذي خلقته بيدي وقلت له كن فكان ثم ان الله تعالى أمرالملائكة أن يسجدوا لآدم فكان أول من سجد جبرائيل ثم ميكائيل ثم اسرافيل ثم عزرائيل ثم الملائكة المقربون صلوات الله وسلامه عليهم أجمعين ثم ان الله تعالى أمرابليس بالسجود لآدم فأبى وامتنع من السجود فقال الله تعالى له(ما منعك أن تسجد لما خلقت بيدي) فقال أبليس أنا خير منه خلقتني من نار وخلقته من طين وأنا الذي عبدتك دهرا طويلا قبل أن تخلقه فقال الله تعالى لقد علمت من سابق علمي منك المعصية فلم تنفعك العبادة أخرج من رحمتي مذموما مدحورا لأملأن جهنم منك وممن تبعك فقال ابليس عند ذلك ربي أنظرني الى يوم يبعثون قال انك من المنظرين فعند ذلك تغير خلقته وصار شيطانا رجيما وكان أسمه عزازيل وكان كبار الملائكة ما ترك بقعة من السماء والأرض الا وله فيها ركعة وسجدة ولكن بعصيانه لم تنفعه عبادته وسمى ابليس لأنه أبلس من رحمة الله أي أيس

Wahhab bin Munabbih berkata : Pertama kali yang mengumandangkan salam adalah nabi Adam dan disebagian kabar ada keterangan, tidaklah suatu kaum yang mengumandangkan salam kecuali mereka selamat dari siksa setelah itu malaikat bertanya,, Ya TUHAN kami, apakah engkau menciptakan mahluk yang lebih mulia dari pada kami ? ALLOH menjawab, Akulah  yang menciptakannya lewat tanganKu sendiri dan Aku berucap, Wujudlah, maka dia jadi wujud, setelah itu ALLOH Memerintah pada para malaikat untuk sujud pada Adam, dan yang pertama sujud adalah Jibril, lalu Mikail, lalu Isrofil lalu Izroil kemudian para malaikat Muqorrobin sholawatulloh wasalamuhu ajma’in, kemudian ALLOH memerintah pada iblis untuk sujud pada nabi Adam tapi iblis membangkang dan enggan untuk bersujud. ALLOH bersabda apa yang membuatmu tidak mau bersujud pada mahluk yang aku ciptakan lewat tanganku sendiri ? iblis menjawab, aku lebih mulia dari padanya, engkau menciptakanku dari api sedangkan ia engkau ciptakan dari tanah, dan saya telah beribadah kepadamu dulu dari masa yang sangat lama sebelum ia engkau ciptakan.

ALLOH menjawab : Dari dahulu aku telah mengetahui bahwa kamu akan durhaka padaku maka semua ibadah yang kamu lakukan tidak akan bermanfaat, mulai sekarang keluarlah dari rahmatku, sungguh aku akan memenuhi isi neraka jahannam darimu dan semua pengikutmu. Setelah itu iblis berkata, ya TUHAN tunggulah saya sampai hari kebangkitan, ALLOH berfirman ; Sungguh kamu tergolong orang-orang yang menunggu. Setelah kejadian itu iblis wujudnya berubah menjadi syetan yang terkutuk, nama asli iblis adalah azazil yang jadi pembesar para malaikat, tiada suatu tempat dilangit maupun di bumi kecuali disitu ia melakukan sujud ibadah pada ALLOH, tapi karena durhaka maka semua ibadahnya menjadi sia-sia. Dinamakan iblis karena ia telah ablas ­ambles – putus dari rahmat ALLOH.

Wallohu a’lam.

PENGERTIAN DAN PENJELASAN TENTANG DOSA

Dosa itu bahasa arabnya Itsmun.

Lebih jelasnya :

Definisi : Al-itsmu (dosa) secara bahasa (lughot) adalah adz-dzanbu (dosa). Dan dikatakan : Melakukannya seseorang akan apa yang tidak halal baginya.

Dan menurut istilah ahli sunnah : Itsm (dosa) adalah yang mempunyai haq (berhaq) dihukum (dibalas siksa).

Dan menurut mu’tazilah : Wajib dihukum (dibalas siksa).

Dan perbedaan antara kedua definisi ini ADALAH atas bisa dan tidaknya mendapat pengampunan menurut setiap dari dua golongan ini (Ahlussunnah dan mu’tazilah). Jadi dosa menurut aswaja adalah sesuatu yang pelakunya berhaq mendapat hukuman siksa dari Alloh Subhanahu Wata’ala. Dan bisa saja Alloh Subhanahu Wata’ala menghukum siksa, atau tidak menghukum (Alloh Subhanahu Wata’ala mengampuni), itu bergantung pada Alloh Subhanahu Wata’ala.

Dari an-Nawwas bin Sam’an al Anshoriy, ia berkata : Aku bertanya kepada Rosulillah SAW tentang al-Birr dan al-Itsm. Rosulullah menjawab : Al-Birr (baik) adalah baik akhlaq nya, dan Al-Itsm (dosa) adalah apa-apa yang bergemuruh di hatimu, dan engkau tidak ingin ada orang yang melihatnya,.

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ ………عَنْ النَّوَّاسِ بْنِ سِمْعَانَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ فَقَالَ “الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ” [مسلم: كِتَاب الْبِرِّ وَالصِّلَةِ وَالْآدَابِ بَاب تَفْسِيرِ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ]

Arti dari hadits di atas :  Kebaikan adalah akhlak yang terpuji, dan dosa adalah apa-apa yang bergemuruh di hatimu, dan engkau tidak ingin ada orang yang melihatnya“. (HR Muslim).

Kata SALAH (khotho’) lazimnya dikaitkan dengan perbuatan yang melanggar norma pergaulan / mu’amalah dengan sesama makhluk / hablum minan naas. Sedangkan Itsmu / dosa adalah perbuatan yang melanggar norma agama dan syariat dan mempunyai konsekwensi hukum sendiri di hadapan Allah.

Wallaahu a’lam

IBAROH:

الموسوعة الفقهية الكويتية

إِثْم التَّعْرِيفُ: ١ – الإِْثْمُ لُغَةً: هُوَ الذَّنْبُ. وَقِيل: أَنْ يَعْمَل مَا لاَ يَحِل لَهُ. (١) وَفِي اصْطِلاَحِ أَهْل السُّنَّةِ: الإِْثْمُ اسْتِحْقَاقُ الْعُقُوبَةِ. وَعِنْدَ الْمُعْتَزِلَةِ. لُزُومُ الْعُقُوبَةِ. وَالاِخْتِلاَفُ بَيْنَ التَّعْرِيفَيْنِ يَدُورُ عَلَى جَوَازِ الْعَفْوِ وَعَدَمِهِ عِنْدَ كُلٍّ مِنَ الْفَرِيقَيْنِ. (٢)

 (١) لسان العرب، والصحاح (أثم) . (٢) ابن عابدين ٣ / ٤٧ ط الأولى.

شرح النووي على مسلم قَوْلُهُ : ( فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْبِرُّ ) أَيْ أَعْظَمُ خِصَالِهِ أَوْ الْبِرُّ كُلُّهُ مُجْمَلًا ( حُسْنُ الْخُلُقِ ) قَالَ الْعُلَمَاءُ : الْبِرُّ يَكُونُ بِمَعْنَى الصِّلَةِ وَبِمَعْنَى اللُّطْفِ وَالْمَبَرَّةِ وَحُسْنِ الصُّحْبَةِ وَالْعِشْرَةِ ، وَبِمَعْنَى الطَّاعَةِ ، وَهَذِهِ الْأُمُورُ هِيَ مَجَامِعُ حُسْنِ الْخُلُقِ . ( وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي نَفْسِك ) · أَيْ تَحَرَّكَ فِيهَا وَتَرَدَّدَ ، وَلَنْ يَنْشَرِحْ لَهُ الصَّدْرُ وَحَصَلَ فِي الْقَلْبِ مِنْهُ الشَّكُّ ، وَخَوْفُ كَوْنِهِ ذَنْبًا . · وَقِيلَ يَعْنِي الْإِثْمُ مَا أَثَّرَ قُبْحُهُ فِي قَلْبِك أَوْ تَرَدَّدَ فِي قَلْبِك ، وَلَمْ تُرِدْ أَنْ تُظْهِرَهُ لِكَوْنِهِ قَبِيحًا. قَوْلِهِ : ( وَكَرِهْت أَنْ يَطَّلِعَ النَّاسُ عَلَيْهِ ) وَذَلِكَ لِأَنَّ النَّفْسَ بِطَبْعِهَا تُحِبُّ اِطِّلَاعَ النَّاسِ عَلَى خَيْرِهَا ، فَإِذَا كَرِهْت الِاطِّلَاعَ عَلَى بَعْضِ أَفْعَالِهَا فَهُوَ غَيْرُ مَا تَقَرَّبَ بِهِ إِلَى اللَّهِ ، أَوْ غَيْرُ مَا أَذِنَ الشَّرْعُ فِيهِ وَعَلِمَ أَنَّهُ لَا خَيْرَ فِيهِ وَلَا بِرَّ فَهُوَ إِذًا إِثْمٌ وَشَرٌّ

INILAH KEISTIMEWAAN BAGI ORANG YANG SUDAH BERUBAN RAMBUTNYA

Rambut adalah salah satu keindahan yang diberikan Allah pada tubuh manusia.  Dan mungkin tanpa kita sadari bahwa rambut sendiri sebenarnya juga menyimpan banyak sekali keistimewaan terutama rambut yang sudah putih atau beruban.

Nah sekiranya apa saja keistimewaan uban menurut agama islam, berikut ini bisa di simak ulasannya.

Menjadi Cahaya di Hari Kiamat Kelak

Dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَشِيبُ شَيْبَةً فِي الْإِسْلَامِ إِلَّا كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَة

“Janganlah mencabut uban. Tidaklah seorang muslim yang memiliki sehelai uban, melainkan uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat nanti.” (HR. Abu Daud 4204 dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Targhib wa Tarhib, 2091)

Dalam riwayat lain disebutkan,

أنه نور المؤمن

“Sesungguhnya uban itu cahaya bagi orang-orang mukmin”

Ka’b bin Murroh radhiallahu’anhu berkata,”Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ شَابَ شَيْبَةً فِي الإِسْلامِ كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang telah beruban dalam Islam, maka dia akan mendapatkan cahaya di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi no. 1634 dan diishahihkan oleh AL-Albany dalam shohih Tirmizi)

Berdasarkan dalil dan hadist di atas maka sebaiknya apabila kita telah memiliki uban sebaiknya jangan di cabut. Karena bagaimanapun dengan bertambahnya umur kita maka rambut kita juga akan memutih dan itu akan menjadi cahaya di hari akhir kelak.

Mengingatkan Akan Dekatnya Ajal

Selain kelak bakal menjadi cahaya di hari akhir, disebutkan pula dalam Al-quran bahwa uban seperti berikut :

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِير

“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun”. (QS. Fathir ayat 37).

Yang dimaksudkan dengan “datang kepada kamu pemberi peringatan?” dalam potongan ayat di atas adalah Uban.

Ibnu Katsir menerangkan dalam kitab tafsirnya bahwa para ulama tafsir lainnya seperti Ibnu Abbas, Ikrimah, Qatadan, Ibnu ‘Uyainah, dll, menjelaskan bahwa maksud Sang Pemberi peringatan dalam ayat di atas adalah uban. (Tafsir Ibnu Katsir 6/542).

Seperti yang kita tahu bahwa Uban menurut islam akan muncul pada rambut seseorang pada usia senja. Oleh karena itu uban bisa dijadikan pengingat manusia bahwa sebenarnya ia telah berada di penghujung kehidupan dan menanti tamu yang tiada seorangpun mengetahuinya kecuali Sang Maha Pencipta.

Nabi Muhammad SAW bersabda dalam hadist riwayat Imam Tirmizi:

أعمار أمتي ما بين الستين إلى لسبعين، وأقلهم من يجوز ذلك

“Umur umatku di antara 60 ke 70 tahun, dan tidak banyak yang melebihi daripada itu”. (HR. Imam Tirmizi)

Menjadikan Seseorang Tidak Lagi Serakah

Munculnya uban pada rambut seseorang mengingatkan bahwa tidak selamanya kita akan hidup di dunia. Karena waktu kita di dunia itu sangatlah sebentar sedangkan di akhirat adalah selamanya alias kekal.

Apabila kita coba bandingkan 1 hari di akhirat itu sama dengan 50 ribu tahun kita hidup di dunia ini. Oleh karena itu rasa keserakahan kita akan dunia harus kita kurangi dan alangkah baiknya jika menyibukkan diri dengan sesuatu hal yang lebih pasti.

Sufyan Ats-Tsauri berkata

الزهد في الدنيا قصر الأمل، ليس بأكل الغليظ ولا لبس العباء

“Zuhud terhadap dunia akan memupuskan Angan-angan kosong. Ia tak lagi berlebihan dalam hal makanan dan pakaian”.

Mendorong Untuk Terus Memperbanyak Amal Soleh

Dengan adanya uban, maka sudah sepatutnya kita memperbanyak amal saleh, memperbanyak ibadah dan memperbanyak hal positif khususnya dalam menjalankan perintah-Nya. Di samping itu kita juga harus semakin peka terhadap sesama manusia dan memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT. Demikianlah Uban menurut islam.

Karena waktu kita akan jauh lebih berharga jika kita gunakan untuk melakukan kebaikan dan beramal saleh.

Ibnu Abid Dun-ya meriwayatkan dari sanadnya bahwa Bakr bin Abdillah Al-Muzani berkata,

إذا أردت أن تنفعك صلاتك فقل: لعلي لا أصلي بعدها

“Bila Anda ingin mendapat manfaat dari shalat Anda, maka katakanlah pada diri Anda: Barangkali setelah ini aku tidak akan shalat lagi.”

Memancarkan Sikap Tabah dan Wibawa

Seorang yang telah beruban pada dasarnya memang terlihat lebih wibawa dan tentunya mereka bisa lebih tabah dalam menjalani kehidupan. Dengan usia yang tidak lagi muda, ditambah sikapnya yang lebih tenang, itulah mengapa dalam islam kita harus menghormati orang yang lebih tua.

Abu Musa Al-‘Asy’ari ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda

إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ

“Sesunguhnya termasuk dari pengagungan kepada Alloh ialah menghormati orang muslim yang sudah beruban (orang tua).” (HR. Abu Dawud dari hadits Abu Musa ra. Hadits hasan)

Riwayat lain menjelaskan dari Sa’id bin Musayyib berkata

كَانَ إِبْرَاهِيمُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلَ النَّاسِ ضَيَّفَ الضَّيْفَ وَأَوَّلَ النَّاسِ اخْتَتَنَ وَأَوَّلَ النَّاسِ قَصَّ الشَّارِبَ وَأَوَّلَ النَّاسِ رَأَى الشَّيْبَ فَقَالَ يَا رَبِّ مَا هَذَا فَقَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَقَارٌ يَا إِبْرَاهِيمُ فَقَالَ يَا رَبِّ زِدْنِي وَقَارًا

“Ibrahim adalah orang pertama yang menjamu tamu, orang pertama yang berkhitan, orang pertama yang memotong kumis, dan orang pertama yang melihat uban lalu berkata: Apakah ini wahai Tuhanku? Maka Allah berfirman: kewibawaan wahai Ibrahim. Ibrahim berkata: Wahai Tuhanku, tambahkan aku kewibawaan itu.” (HR. Bukhori dalam Al-Adabul Mufrod 120 dan Imam Malik dalam Al-Muwatto’ 9/58)

Jadi itulah beberapa keistimewaan seseorang yang telah memiliki uban menurut islam. Namun yang paling penting adalah uban sendiri bisa dijadikan sebagai pengingat kita akan kematian. Semoga bermanfaat.

PENGERTIAN TAUBAH, INABAH DAN AUBAH

Yang dimaksud dengan “tobat” (al-taubah) yang akan kita bahas dalam penjelasan sederhana dalam tulisan ini adalah: Bertawajuh kepada Allah dalam keadaan selalu kusut sembari mengakui semua kesalahan, meratap dalam penyesalan, dan tekad untuk meninggalkan kesalahan yang lalu.

Inilah tobat yang dimiliki para Ahli Hakikat (Ahl al-Haqiqah) berupa: pengerahan segenap usaha untuk mencapai al-muafaqât dan al-muthâbaqât di bawah bimbingan cahaya perintah serta larangan Allah s.w.t.., dan penyelamatan diri segala bentuk pelanggaran (al-mukhâlafât) yang dilakukan di hadapan Zat Allah s.a.w., baik dengan perasaan, pikiran, imajinasi, maupun perilaku (suluk).

Tobat bukan hanya meninggalkan segala hal yang tidak disukai oleh hati dan perasaan dengan menghindarinya saja, melainkan juga dengan kembali kepada Allah s.w.t. dari segala hal yang tidak disukai dan tidak diridhai-Nya, termasuk hal-hal yang dianggap oleh akal sebagai sesuatu yang baik dan berguna.

Selain itu, kata “taubah” (tobat) sering disandingkan dengan kata “nashûh” sehingga menjadi “taubatan nashûhan” yang berarti “tobat yang benar-benar tulus” atau “tobat yang benar-benar murni”, karena tobat jenis ini terbit dari kedalaman relung hati. Dalam pengertian lain, “taubatan nashûhan” adalah: menambal yang retak, merekat yang pecah, dan membetulkan yang rusak tanpa meninggalkan sedikit pun celah sekecil apapun.

Jika semua pengertian di atas kita rangkum dengan menggunakan analisa, maka “al-taubah al-nashûh” berarti bahwa individu bertobat atas namanya sendiri, sesuai tingkatannya, dan tobat itu muncul dengan tulus dari kedalaman hatinya yang disertai niat yang tulus, hati yang ikhlas, dan tujuan yang baik.

Seseorang yang melakukan pertobatan sebaik ini dapat menjadi pemberi nasehat bagi orang lain. Ketika menyebutkan tentang tobat yang sesungguhnya (al-taubah al-haqîqiyyah), al-Qur`an menunjuk tobat jenis ini seperti yang difirmankan oleh Allah s.w.t.: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya (taubatan nashûhan).” (QS. al-Tahrîm [66]: 8).

Berdasarkan individu yang melakukan tobat dan kondisi mereka, para pakar telah membagi tobat menjadi tiga bagian sebagai berikut:

a.Tobat orang awam; yaitu mereka yang terhalang dari hakikat: Adalah perasaan tidak nyaman yang muncul disebabkan pelanggaran terhadap perintah Allah al-Haqq s.w.t. yang terasa menyusahkan di dalam hati. Orang yang bersangkutan mengetahui dosanya dengan munculnya persaan tadi di dalam hatinya, sehingga kemudian ia bergerak ke arah pintu Allah s.w.t. untuk menyampaikan kata-kata tobat dan kalimat-kalimat istighfar yang dikenal umum.

b.Kembalinya orang-orang khusus (khawash) yang mulai menyadari hakikat-hakikat yang ada di balik tirai. Pada saat itu mereka membentangkan sayap-sayap tekad, setelah melakukan berbagai gerakan, suara, dan pikiran yang menyimpang adab-adab al-hudhûr (kehadiran bersama Allah) dan al-ma’iyyah (kebersamaan dengan Allah). Tujuannya adalah demi meraih rahmat Allah al-Haqq s.w.t. serta berlindung di bawah pertolongannya, di hadapan berbagai kesalahan baik yang kecil maupun yang besar, yang menyesaki hati dan menutup cakrawala mata batin.

Setiap roh atau jiwa yang mengerahkan kekuatannya untuk melakukan kerja keras ini akan benar-benar mendapatkan sebuah hakikat yang dijelaskan oleh Rasulullah s.a.w. dalam hadits: “Orang yang bertobat dari suatu dosa sama seperti orang yang tidak berdosa. Jika Allah mencintai seorang hamba, niscaya si hama tidak akan tertimpa bahaya disebabkan dosanya.” Kemudian beliau merapalkan ayat: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri”. Rasulullah lalu ditanya: “Wahai Rasulullah, apakah gerangan tanda-tanda tobat?” Rasulullah menjawab: “Penyesalan.”[1]

c.Tawajuh yang dilakukan kaum khusus di antara yang khusus (Akhashsh al-Khawash) yang selalu menjalani hidup mereka dalam cakrawala “Sesungguhnya kedua mataku tidur, tapi hatiku tidak tidur.”[2] Mereka menanggalkan segala hal yang berhubungan dengan semua yang selain Allah s.w.t. yang menjadi tabir dalam hati mereka, dalam sirr mereka, dan dalam bagian paling tersembunyi dari diri mereka. Mereka menyingkirkan semua yang selain Allah dari keadalaman jiwa mereka, dan melemparkannya ke dalam lembah ketiadaan. Mereka selalu membiasakan diri merasakan hubungan mereka dengan sang Nur al-Anwâr sembari menunjukkan hakikat dari firman Allah s.w.t.: “Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (awwâb).” (Shâd: 44). Mereka selalu berjalan di sekitar poros “al-aub”.[3]

Tobat yang merupakan pembaruan yang dilakukan manusia terhadap dirinya sendiri secara berkesinambungan, atau kembalinya manusia kepada kejernihannya yang sejati dan kebersejalinannya dengan fitrah dirinya, setelah ia menghadapi berbagai penyimpangan pada karakter dan kondisi internal yang masing-masing tingkatannya mencakup beberapa hal di bawah ini:

1-Penyesalan dari kedalaman hati.

2-Mengingat semua kesalahan masa lalu dengan getar ketakutan.

3-Menghilangkan kezaliman dan mendukung kebenaran.

4-Menunaikan semua kewajiban dan tanggung jawab taklif seraya menajamkan pandangan pada tanggung jawab lain yang muncul kemudian.

5-Mengisi kekosongan yang terjadi disebabkan kesalahan-kesalahan dan berbagai kekeliruan yang terjadi di dalam roh dengan ibadah, ketaatan, dan rangkaian munajat di malam hari.

6-Bagi kalangan al-khawâsh dan akhash al-khawâsh: Menyesal dan menangisi kehidupan yang berlalu tanpa zikir, pikir, syukur, ratapan, rintihan, dan gemetar, yang dapat disusupi maksud selain Allah s.w.t. dalam perasaan dan pikiran.

Sesungguhnya seseorang yang di saat melakukan tobat tidak meratap atau merasa sakit atas kesalahan -sebesar apapun kesalahan itu-; tidak menyesali kekeliruan yang terjadi; tidak merasa jijik dan memandang hina terhadap kesalahan; tidak khawatir bahwa dirinya mungkin akan kembali terjatuh dari jalan lurus -walau apapun penyebabnya- disebabkan jauhnya dirinya dari Allah s.w.t.; serta tidak berusaha untuk melepaskan diri dari kesalahan dan kekeliruan dalam penghambaan untuk Allah (ubûdiyyah lillâh) karena kepura-puraan yang dilakukannya dalam beribadah…siapapun yang melakukan semua itu, maka tobatnya adalah dusta!

Tentang “al-nashûh” yang menjadi simbol tobat sejati, Maulana Jaluddin Rumi menyampaikan syair berikut ini:

توبه اى كردم حقيقت با خد نشكنم تا جان شدن اَزتَن جد

بعد ازان مِحْنَتْ كِرا بارِ دِكر با رَود سُوى خَطَر إِلا كه خَر4

Artinya: “Aku sudah bertobat kepada Allah dengan tobat sesungguhnya, ketika aku tidak lagi melakukannya sampai roh berpisah dari jasad. Tidaklah ada yang setelah terjadinya petaka itu, kembali kepada kebinasaan dan bahaya, selain keledai.”

Ya. Tobat memang merupakan sebuah sumpah atau janji yang mulia. Keteguhan untuk mempertahankan tobat adalah perjuangan yang berkaitan dengan tekad yang kuat. Siapapun yang menjaga akar tobat dan teguh berpegang padanya, maka ia memiliki derajat para syuhada. Demikianlah yang disampaikan oleh sang Sayyidul Awwabin s.a.w..[5] Beliau juga menyampaikan bahwa siapapun yang tidak sepenuhnya membebaskan diri dari dosa dan kesalahan, maka sebanyak apapun orang itu bertobat, maka sebenarnya dia sedang bergurau di ambang gerbang yang dituju oleh orang-orang yang bertobat (al-tawwâbûn dan al-awwâbûn).[6]

Ya. Sungguh tidaklah baik jika ada yang berkata “Aku takut Jahanam”, tapi ia tidak menghindari dosa-dosa; atau berkata “Aku merindukan surga”, tapi ia tidak mau beramal saleh; atau berkata “Aku mencintai Rasulullah s.a.w., tapi ia meremehkan Sunnah Nabawiyah. Demikian pula halnya menjadi sulit untuk menerima keikhlasan orang-orang yang selalu melanggar janji dan menghabiskan hidup mereka untuk melakukan kejahatan. Tobat yang mereka lakukan hanyalah tobat di bibir saja. Bahkan dapat dikatakan bahwa tobat mereka hanyalah semacam pemberhentian sejenak dari perbuatan maksiat.

Posisi pertama bagi seorang salik dan maqam pertama bagi pencari kebenaran adalah “tobat”. Sementara maqam kedua bagi mereka adalah “inabah”. Kita selalu menunjukkan sikap hormat kepada tindakan inabah yang dilakukan para sufi, yang telah menjadi akar, adab, dan tradisi yang diikuti dalam semua bentuk keikutsertaan pada mursyid manapun. Oleh sebab itu kami nyatakan:

Sebagaimana halnya di dalam tobat terdapat aktivitas mengarahkan perasaan, pikiran, dan perilaku dari berbagai penyimpangan ke arah kepatuhan, dan dari pembangkangan ke arah ketundukan. Di dalam inabah terkandung muhasabah dan upaya untuk mencari kebutuhan individu yang tepat. Kalau tobat dapat dianalogikan sebagai pengembaraan di cakrawala “perjalanan menuju Allah” (al-sair ilallâh), maka inabah adalah “perjalanan di dalam Allah” (al-sair fillâh), sementara aubah adalah tangga menuju ketinggian “perjalanan dari Allah” (al-sair minallâh).

Ketiga jalan ini dapat kita jelaskan sebagai berikut:

1-Tobat adalah: Berlindung kepada Allah karena takut dari hukuman-Nya;

2-Inabah adalah: Fana di dalam Allah dengan keinginan untuk menjaga berbagai maqam (al-maqâmât) dan derajat (al-darajât).

3-Aubah adalah: Menutup diri dari semua yang selain Allah s.w.t..

Jalan pertama: adalah sifat semua mukmin. Semboyan mereka adalah firman Allah s.w.t.: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (QS. Al-Nûr [24]: 31).

Jalan kedua: adalah sifat para auliya dan kaum al-muqarrabûn, yaitu orang-orang yang melakukan ibadah berdasarkan prinsip: “Dan kembalilah kalian (anîbû) kepada Tuhan kalian.” (QS. al-Zumar [39]: 54); yang penghujungnya adalah: “…dan dia datang dengan hati yang bertaubat.” (QS. Qâf [50]: 33).

Jalan ketiga: adalah keistimewaan milik para nabi dan rasul. Semboyan mereka adalah firman Allah s.w.t.: “Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (awwâb).” (Shâd: 44). Ini adalah penghargaan dan pemuliaan Ilahiah. Itulah sebabnya tobat saja tidaklah cukup bagi mereka yang selalu dalam kebersamaan dengan Allah (ma’iyyatullâh) di setiap saat, di mana pun mereka berada dan seperti apapun kondisi mereka, selain mereka merasakan perasaan kehadiran Ilahi meski hanya sesaat. Itulah sebabnya, kita hanya dapat memahami sabda sang Sayyidul Anam Muhammad Rasulullah s.a.w.: “Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali,”[7] dengan menggunakan perspektif seperti ini.

Dari sisi lain kita dapat melihat bahwa tobat adalah jalan yang ditempuh oleh mereka yang tidak mengetahui “kedekatan” (al-qurb) dan “kebersamaan” (al-ma’iyyah), karena orang-orang yang selalu menjalani hidup mereka di dalam cakrawala al-qurb (kedekatan), selalu menganggap bahwa tindakan kembali kepada Allah yang Maha-menguasai setiap aktivitas mereka, Maha-mengawasi segala yang mereka ketahui, dan sekaligus Maha-dekat kepada mereka dibandingkan apapun juga, merupakan -dalam pengertian kaum awam- sebuah kealpaan.

Akan tetapi, martabat semacam ini bukanlah martabat yang dimiliki para ahli Wihdah al-Wujûd, melainkan milik para ahli Wihdah al-Syuhûd. Bahkan martabat ini lebih tinggi dari keduanya, sebab martabat ini adalah milik mereka yang berjalan di bawah naungan misykat dan Sunnah Muhammad s.a.w..

Dari sini, orang-orang yang belum mampu mencapai martabat ini akan mengucapkan berbagai kata-kata ekstase yang tidak jelas. Mereka itulah orang-orang yang tenggelam dalam “semesta” (al-thabî’ah) dan “hilang” dalam entitas (al-wujûd). Zikir mereka adalah “al-aub” dan “al-inabah”, terlebih di penghujung dari maqam-maqam ini.

Wahai Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang beriman, bertobat, berbuat saleh, sesungguhnya Egkau Mahamengampun dan Mahapenyayang. Limpahkanlah selawat dan salam kepada Muhammad, Sayyid al-Mursalin dan kepada segenap keluarga serta sahabat beliau semuanya.

[1] Al-Risâlah, al-Qusyairi 168. Kanz al-‘Ummâl, al-Muttaqi 4/261 nomor hadits 10438, dinukil dari Ibnu Najjar. Ada beberapa lafal lain yang diriwayatkan darinya. Misalnya lihat: Ibnu Majah, al-Zuhd, 30. al-Mu’jam al-Kabîr, al-Thabrani 10/150. Syi’b al-Îmân, al-Baihaqi 4/439. Nawâdir al-Ushûl, al-Hakim al-Tirmidzi 2/349.

[2] Al-Bukhari, at-Tahajjud, 16; Muslim, Shalât al-Musâfirîn, 125.

[3] Al-aubah: Kembali dari diri sendiri menuju Allah. Lihat: Sufi Terminology, Amatullah Armstrong, 1995. Penj-

[4] Matsnawi Ma’nawi, Maulana Jalaluddin Rumi versi Bahasa Persia, jilid 5, hlm. 805, bait 2324-2345.

[5] Lihat: al-Musnad al-Dailami 2/76.

[6] Lihat: Syi’b al-Îmân, al-Baihaqi 52/436, al-Musnad, al-Dailami 2/77.

[7] Al-Bukhari, al-Da’awât 3; Muslim, al-Dzikr 41; al-Tirmidzi, Tafsîr al-Qur`ân Sûrah Muhammad.

DO’A TAHUN BARU ISLAM DAN AMALIYAH DI TANGGAL 10 BULAN MUHARROM (‘ASYURO)

Tahun baru Hijriyyah, terdapat banyak sekali keutamaan di dalamnya. Muharrom adalah bulan termulia untuk berpuasa setelah Romadlon, kemudian baru bulan Rojab, lalu Dzul Hijjah, lalu Dzul Qo’dah dan baru kemudian Sya’ban.

Imam Ibnu Hajar al ‘Asqolani menyebutkan bahwa Rosululloh saw bersabda :

”Barangsiapa berpuasa satu hari di akhir bulan Dzul Hijjah dan satu hari di awal Muharrom maka Alloh menjadikan puasa itu sebagai pelebur dosa selama 50 tahun. Dan berpuasa satu hari pada bulan Muharrom sama dengan berpuasa selama 1 bulan penuh”.

 Imam Ghozali di dalam kitab Ihya mengatakan bahwa nabi saw bersabda :

“Barang siapa berpuasa tiga hari di bulan Muharrom, yaitu Kamis Jum’at dan Sabtu maka mendapatkan pahala ibadah 700 tahun”.

Sebelum membaca do’a awal tahun yang ma’tsur dari Rosululloh, maka di awali dengan membaca ayat kursyi sebanyak tigaratus enam puluh kali, dan selalu di awali dengan basmalah.  Di setiap selesai membaca  ayat kursyi tersebut membaca :

اللهم يآمحول الأحوآل حول حآلنآ لأحسن حآل

Syaikh Ahmad Zaini dahlan mengatakan : Para ulama menyebutkan bahwa membaca ayat kursyi di awali dengan basmalah sebanyak 360 kali di awal hari(maghrib) dari bulan muharrom, merupakan benteng dari tipu daya syaitan yang di laknati Alloh selama 1 tahun itu, dan banyak faidah yang tidak di sebutkan di sini. Dan guruku yaitu Syaikh Utsman Dimyati istiqomah melakukanya.

Dan pembacaan ini di lakukan sebelum membaca Do’a awal tahun, sebagaimana di bawah ini,

DOA AKHIR TAHUN & AWAL TAHUN

Dari Kitab :
كَنْزُ النَّجَاحِ وَالسُّرُوْرِ فِي الْأَدْعِيَةِ الَّتِيْ تَشْرَحُ الصُّدُوْرَ
halaman 12-14-17-114-115

Karya :
اَلشَّيْخُ عَبْدُ الْحَمِيْدِ بْنُ مُحَمَّدُ عَلِيٌّ قُدْسٌ

DOA AKHIR TAHUN

وَأَمَّا دُعَاءُ آخِرِ الْعَامِ وَهُوَ آخِرُ يَوْمٍ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ الْحَرَامِ، فَهُوَ هَذَا

Adapun doa akhir tahun, hari terakhir bulan Dzul Hijjah adalah sebagai berikut:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIMDengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

WASHALLALLAAHU ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALIHII WA SHAHBIHII WASALLAM

Semoga Allah mencurahkan rahmat dan salam atas junjungan kami Nabi Muhammad keluarga, dan para sahabat beliau.

اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي السَّنَةِ الْمَاضِيَةِ وَلَمْ تَرْضَهُ وَنَسِيْتُهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلُمْتَ عَنِّيْ مَعَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ بَعْدَ جَرَاءَتِيْ عَلَيْكَ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَغْفِرُكَ مِنْهُ فَاغْفِرْ لِيْ

ALLAAHUMMA MAA ‘AMILTU MIN ‘AMALIN FISSANATIL MAADHIYATI WALAM TARDHAHU WA NASIITUHUU WALAM TANSAHU WA HALUMTA ‘ANNII MA’A QUDRATIKA ‘ALAA ‘UQUUBATII WADA’AUTANII ILAT TAUBATI MINHU BA’DA JARAA`ATII ‘ALAIKA ALLAAHUMMA INNII ASTAGHFIRUKA MINHU FAGHFIR LII

Ya Allah, segala amal yang aku lakukan pada tahun yang telah berlalu, yang Engkau tidak meridhainya, aku melupakannya, Engkau memaafkanku padahal engkau berkuasa menyiksaku. Engkau menyeru aku bertaubat darinya sesudah aku lancang durhaka pada_Mu. Ya Allah, Sungguh aku mohon ampun kepada_MU darinya, Perkenankanlah Engkau mengampuniku

اَللَّهُمَّ وَمَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ وَالْغُفْرَانَ فَتَقَبَّلْهُ مِنِّيْ وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

WA MAA ‘AMILTU FIIHAA MIMMAA TARDHAAHU WA WA’ADTANII ‘ALAIHITS TSAWAABA WAL GHUFRAANA FATAQABBALHU MINNII WA LAA TAQTHA’ RAJAA-II MINKA YAA KARIIM YAA ARHAMARRAAHIMIIN

Ya Allah, segala apa yang aku lakukan dari hal-hal yang Engkau ridhoi, dan Engkau telah menjanjikan pahala dan pengampunan kepadaku, maka hendaklah Engkau terima dariku, janganlah Engkau memutuskan harapanku dari rahmat_Mu wahai Dzat Yang Mulia, Wahai Dzat Yang mengasihi diantara yang mengasihi

وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

WASHALLALLAAHU TA’AALAA ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALIHII WA SHAHBIHII WASALLAM

Semoga Allah Ta’ala mencurahkan rahmat dan salam atas junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga, dan shahabat beliau

يُقْرَأُ ثَلَاثًا؛ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَقُوْلُ: تَعِبْنَا مَعَهُ طُوْلَ السَّنَةِ، وَأَفْسَدَ فِعْلَنَا فِيْ سَاعَةٍ وَاحِدَةٍ

Dibaca tiga kali.Sesungguhnya syetan berucap: “Aku payah bersama dia sepanjang tahun, dia merusak pekerjaanku dalam sekejap”.

DOA AWAL TAHUN

(وَذَكَرَ الْعَلَّامَةُ الدَّيْرَبِيُّ) فِيْ فَوَائِدِهِ نَقْلًا عَنِ الْعَلَّامَةِ جَمَالِ الدِّيْنِ سِبْطِ ابْنِ الْجَوْزِيِّ عَنِ الشَّيْخِ عُمَرَ بْنِ قُدَامَةَ الْمَقْدِسِيِّ؛ دُعَاءً لِأَوَّلِ الْعَامِ وَدُعَاءً لِآخِرِهِ وَقَالَ: مَا زَالَ مَشَايِخُنَا يُوْصُوْنَ بِهِ وَيَقْرَءُوْنَهُ، وَمَا فَاتَنِيْ طُوْلَ عُمْرِيْ(فَأَمَّا دُعَاءُ أَوَّلِ الْعَامِ فَإِنَّهُ يَقُوْلُ)

Al Allamah Addairabi dalam Fawa`idnya, beliau mengutip dari al Allamah Jamaluddin, cucu Syeikh Ibnul Jauzi dari Syeikh Umar bin Qudamah al Maqdisi menuturkan doa awal tahun dan doa akhir tahun. Beliau berkata: Masyayikh kami selalu berpesan dengan doa tsb dan membacanya. Sepanjang umurku tidak pernah ketinggalan membaca doa tsb.Adapun doa awal tahun adalah sbb:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIMDengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

ALHAMDULILLAAHI RABBIL ‘AALAMIINsegala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلِى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ صَلَاةً تَمْلَأُ خَزَائِنَ اللهِ نُوْرًا

ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN SHALAATAN TAMLA`U KHAZAA`INALLAAHI NUURAN

Ya Allah limpahkanlah rahmat atas junjungan kami Nabi Muhammad, dengan limpahan rahmat yang penuh cahaya pada khaza`in Allah

وَتَكُوْنُ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ فَرَجًا وَفَرَحًا وَسُرُوْرًا

WA TAKUUNU LANAA WA LIL MUKMINIINA FARAJAN WA FARAHAN WA SURUURAN

Dan limpahan rahmat yang menjadikan kami dan orang-orang mukmin lapang, bahagia dan senang

وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهَ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

WA ‘ALAA AALIHII WA SHAHBIHII WA SALLIM TASLIIMAN KATSIIRAN

Juga keluarga beliau, shahabat beliau, dan curahkanlah salam yang banyak atas mereka

اَللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ الْأَوَّلُ ، وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ الْعَمِيْمِ الْمُعَوَّلِ ، وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ أَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ ، وَالْاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

ALLAAHUMMA ANTAL ABADIYYU ALQADIIMU AL AWWALU WA ‘ALAA FADHLIKAL ’AZHIIMI WA JUUDIKAL MU’AWWALI WA HAADZAA ‘AAMUN JADIIDUN QAD AQBALA, NAS`ALUKAL ’ISHMATA FIIHI MINASY SYAITHAANI WA AULIYAA-IHII WAL ‘AUNA ‘ALAA HAADZANNAFSIL AMMAARATI BISSUU`I WAL ISYTIGHAALA BIMAA YUQARRIBUNII ILAIKA ZULFAA YAA DZAL JALAALI WAL IKRAAMI

Wahai Allah, Engkaulah Dzat yang abadi, yang terdahulu,yang mula-mula. Atas Anugerah_Mu yang besar dan kemurahan_Mu yang dijadikan pegangan, inilah tahun baru telah datang. Kami mohon kepada_Mu pemeliharaan selama tahun ini dari setan, sahabat2, dan pasukannya. Dan pertolonganmu untuk melawan nafsuku ini yang selalu mengajak kepada kejahatan, serta sibukkanlah (aku) dalam melakukan amal yang dapat mendekatkan diriku kepada_Mu sedekat-dekatnya, Wahai Dzat yang memiliki kebesaran dan kemulyaan

وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

WASHALLALLAAHU TA’AALAA ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALIHII WA SHAHBIHII WASALLAM

Semoga Allah Ta’ala mencurahkan rahmat dan salam atas junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga, dan shahabat beliau

يَقْرَؤُهُ ثَلَاثًا، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَقُوْلُ: اِسْتَأْمَنَ عَلَى نَفْسِهِ، وَتُوُكِّلَ بِهِ مَلَكَانِ يَحْرُسَانِهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَتْبَاعِهِ

Dibaca tiga kali.Maka sesungguhnya syetan berkata: Orang tersebut memohon perlindungan atas dirinya, ditugaskan dua malaikat untuk menjaganya dari syetan dan pengikutnya

DO’A AWAL TAHUN IMAM GHAZALI

عَنِ الْإِمَامِ حُجَّةِ الْإِسْلَامِ مُحَمَّدٍ اَلْغَزَالِيِّ قَدَّسَ اللهُ تَعَالَى سِرَّهُ قَالَ:

Diceritakan dari Imam Hujatul Islam Muhammad Al Ghazali qaddasallaahu Ta’ala sirrahuu, beliau berkata:

كُنْتُ بِمَكَّةَ الْمُشَرَّفَةِ فِيْ أَوَّلِ يَوْمٍ مِنْ سَنَةٍ جَدِيْدَةٍ مِنْ سِنِي الْهِجْرَةِ طَائِفًا بِالْبَيْتِ الْحَرَامَ

Aku berada di Makkah Musyarrafah pada awal tahun baru Hijriyah dalam keadaan aku melakukan thawaf

فَخَطَرَ فِيْ نَفْسِيْ أَنْ أَرَى الخَضِرَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ

Maka terbisik dihatiku ingin melihat Nabi Khadhir ‘alaihissalam pada hari itu

وَأَلْهَمَنِيَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى اَلدُّعَاءَ

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengilhamkan kepadaku sebuah doa

فَدَعَوْتُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يَجْمَعَ بَيْنِيْ وَبَيْنَهُ فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ

Maka akupun berdoa kepada Allah Ta’ala agar mengumpulkan diriku dengan beliau pada hari itu

فَمَا فَرَغْتُ مِنْ دُعَائِيْ حَتَّى ظَهَرَ لِيْ اَلْخَضِرُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي الْمَطَافِ

Belum selesai aku berdoa muncullah kepadaku Nabi Khadhir ‘alaihissalam di tempat thawaf

فَجَعَلْتُ أَطُوْفُ مَعَهُ وَأَفْعَلُ فِعْلَهُ وَأَقُوْلُ قَوْلَهُ حَتَّى فَرَغَ مِنْ طَوَافِهِ وَانْقَضَى

Dan akupun berthawaf bersama beliau. Aku kerjakan apa yang beliau kerjakan. Aku ucapkan apa yang beliau ucapkan hingga beliau usai dari thawafnya

فَجَلَسْتُ مُشَاهِدًا لِلْبَيْتِ الشَّرِيْفِ،

Lalu aku duduk sambil memandangi Baitullah yang mulia

ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَيَّ وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، مَا الَّذِيْ دَعَاكَ إِلَى سُؤَالِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِيَجْمَعَ بَيْنِيْ وَبَيْنَكَ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ بِهَذَا الْحَرَمِ الشَّرِيْفِ؟

Kemudian beliau menoleh kepadaku seraya berkata: Wahai Muhammad, apa gerangan yang mendorongmu memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar mengumpulkan aku denganmu pada hari ini di tanah haram yang mulia ini?

فَقُلْتُ: يَا سَيِّدِيْ، هَذِهِ سَنَةٌ جَدِيْدَةٌ، وَأَحْبَبْتُ أَنْ أَتَأَسَّى بِكَ فِيْ إِقْبَالِهَا بِشَيْءٍ مِنْ تَعَبُّدَاتِكَ وَتَضَرُّعَاتِكَ

Maka akupun menjawab: Wahai tuanku, ini adalah tahun baru. Aku ingin agar bisa mengikutimu dalam menyambutnya dengan sebagian dari ta’abbud dan tadharru’mu

قَالَ: أَجَلْ، ثُمَّ قَالَ: فَارْكَعْ بِرُكُوْعٍ تَامٍّ

Beliau berkata: Ya. Beliau berkata lagi: Shalatlah dengan sempurna

فَقُمْتُ وَصَلَّيْتُ مَا أَمَرَنِيْ بِهِ

Maka akupun berdiri melakukan shalat sebagaimana yang beliau perintahkan kepadaku

فَلَمَّا فَرَغْتُ مِنْ ذَلِكَ قَالَ: فَادْعُ بِهَذَا الدُّعَاءِ الْمَأْثُوْرِ الْجَامِعِ لِلْخَيْرَاتِ وَالْبَرَكَاتِ، وَهُوَ هَذَا:

Ketika aku usai dari semuanya, beliau berkata: Berdoalah dengan doa ma`tsur ini, doa yang mengumpulkan kebaikan dan keberkahan. Yaitu:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIMDengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

اَلْحَمْدُ لهِل رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

ALHAMDULILLAAHI RABBIL ‘AALAMIINsegala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِكَ أَنْ تُصَلِّيَ وَتُسَلِّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى سَائِرِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِمْ وَصَحْبِهِمْ أَجْمَعِيْنَ

ALLAAHUMMA INNII AS`ALUKA BIKA AN TUSHALLIYA WA TUSALLIMA ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA ‘ALAA SAA`IRIL ANBIYAA`I WAL MURSALIIN WA ‘ALAA AALIHIM WA SHAHBIHIM AJMA’IIN

Ya Allah, aku memohon_Mu dengan_Mu supaya Engkau mencurahkan rahmat dan salam atas junjungan kami Nabi Muhammad, dan semua para Nabi dan para Rasul keluarga mereka dan shahabat mereka semuanya

وَأَنْ تَغْفِرَ لِيْ مَا مَضَى وَتَحْفَظَنِي فِيْمَا بَقِيَ يَا أَرْحَم الرَّاحِمِيْنَ

WA AN TAGHFIRA LII MAA MADHAA WA TAHFAZHANII FIIMAA BAQIYAYAA ARHAMARRAAHIMIIN

Dan supaya Engkau mengampuniku dosa yang telah lalu, dan menjagaku dari apa ya ng tersisa. Wahai Dzat Yang mengasihi diantara yang mengasihi

اَللَّهُمَّ هَذِهِ سَنَةٌ جَدِيْدَةٌ مُقْبِلَةُ لَمْ أَعْمَلْ فِي ابْتِدَائِهَا عَمَلًا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى غَيْرَ تَضَرُّعِيْ إِلَيْكَ

ALLAAHUMMA HAADZIHII SANATUN JADIIDATUN MUQBILATUN LAM A’MAL FIBTIDAA`IHAA ‘AMALAN YUQARRIBUNII ILAIKA ZULFAA GHAIRA TADHARRU’II ILAIKA

Ya Allah, ini adalah tahun yang baru datang, sementara aku pada awal tahun tsb sama sekali tidak melakukan amal yang dapat mendekatkan diriku kepada_Mu sedekat-dekatnya kecuali permohonanku kepada_MU

فَأَسْأَلُكَ أَنْ تُوَفِّقَنِيْ لِمَا يُرْضِيْكَ عَنِّيْ مِنَ الْقِيَامِ بِمَا لَكَ عَلَيَّ مِنْ طَاعَتِكَ

FA AS’ALUKA AN TUWAFFIQANII LIMAA YURDHIIKA ‘ANNII MINAL QIYAAMI BIMAA LAKA ‘ALAYYA MIN THAA’ATIKA

Maka aku bermohon kepada_Mu agar supaya Engkau berkenan menolongku kapada apa-apa yang menjadikan keridha`an_Mu kepadaku yaitu menjalankan kewajiban taat kepada_Mu

وَأَلْزِمْنِيَ الْإِخْلَاصَ فِيْهِ لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ فِيْ عِبَادَتِكَ

WA ALZIMNIYAL IKHLAASHA FIIHI LIWAJHIKAL KARIIMI FII ‘IBAADATIKA

Dan tetapkanlah aku ikhlas dalam menjalankannya hanya karena Dzat_Mu yang Mulia didalam beribadah kepada_Mu

وَأَسْأَلُكَ إِتْمَامَ ذَلِكَ عَلَيَّ بِفَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ

WA AS`ALUKA ITMAAMA DZAALIKA ‘ALAYYA BIFADHLIKA WA RAHMATIKA

Dan aku memohon kepada_Mu dapat menyelesaikannya dengan anugerah dan rahmat_Mu

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ السَّنَةِ الْمُقْبِلَةِ يُمْنَهَا وَيُسْرَهَا وَأَمَانَهَا وَسَلَامَتَهَا

ALLAAHUMMA INNII AS`ALUKA KHAIRA HAADZIHISSANATIL MUQBILATI YUMNAHAA WA YUSRAHAA WA AMAANAHAA WA SALAAMATAHAA

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadam_Mu kebaikan ini tahun yang datang, kanan dan kirinya, keaman dan keselamatannya

وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شُرُوْرِهَا وَصُدُوْرِهَا وَعُسْرِهَا وَخَوْفِهَا وَهَلَكَتِهَا

WA A’UUDZU BIKA MIN SYURUURIHAA WA SHUDUURIHAA WA ‘USRIHAA WA KHAUFIHAA WA HALAKATIHAA

Dan aku berlindung dengan_Mu dari keburukan, permulaan, kesulitan, ketakutan dan kerusakan tahun ini

وَأَرْغَبُ إِلَيْكَ أَنْ تَحْفَظَ عَلَيَّ فِيْهَا دِيْنِيَ الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِيْ

WA ARGHABU ILAIKA AN TAHFAZHA ‘ALAYYA FIIHAA DIINIYALLADZII HUWA ‘ISHMATU AMRII

Aku bersungguh-sungguh memohon kepada_Mu agar Engkau menjaga untukku pada tahun ini agamaku yang merupakan penjaga urusanku

وَدُنْيَايَ الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشِيْ

WA DUNYAAYALLATII FIIHAA MA’AASYII

Dan duniaku yang menjadi tempat matapencaharianku

وَتُوَفِّقَنِيْ فِيْهَا إِلَى مَايُرْضِيْكَ عَنِّيْ فِيْ مَعَادِيْ

WA TUWAFFIQANII FIIHAA ILAA MAA YURDHIIKA ‘ANNII FII MA’AADII

Dan Engkau menolongku didalam tahun ini apa-apa yang meridhakan_Mu terhadapku di tempat kembaliku

يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

YAA AKRAMAL AKRAMIIN WA YAA ARHAMARRAAHIMIIN

Wahai Dzat Yang paling Mulia diantara yang mulia. Wahai Dzat Yang mengasihi diantara yang mengasihi

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

WA SHALLALLAAHU ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALIHII WA SHAHBIHII WA SALLAM

Semoga Allah mencurahkan rahmat dan salam atas junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga, dan shahabat beliau

دَعْوَاهُمْ فِيْهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيْهَا سَلاَمٌ

DA’WAAHUM FIIHAA SUBHAANAKALLAAHU WA TAHIYYATUHUM FIIHAA SALAAM

Doa mereka (penghuni surga) adalah SUBHAANAKALLAAHUMMA (maha suci Engkau wahai Allah) dan salam penghormatan mereka ialah SALAAM

وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

WA AAKHIRU DA’WAAHUM ANIL HAMDULILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN

  1. 12 AMALAN PADA HARI ASYURO’1. Sholat (yang paling utama adalah mengerjakan sholat tasbih)

    2. Puasa

    3. Sedekah

    4. Memberikan kelapangan kepada keluarga

    5. Mandi

    6. Bertamu kepada orang ‘alim yang sholih

    7. Menjenguk orang sakit

    8. Mengusap kepala anak yatim

    9. Memakai celak

    10. Memotong kuku

    11. Membaca surat ikhlas, sebanyak 1000 kali

    12. Silaturrahim.

    Keterangan dari kitab NIHAYATUZ ZEN, Hal: 196

    وَنقل عَن بعض الأفاضل أَن الْأَعْمَال فِي يَوْم عَاشُورَاء اثْنَا عشر عملا الصَّلَاة وَالْأولَى أَن تكون صَلَاة التَّسْبِيح وَالصَّوْم وَالصَّدَََقَة والتوسعة على الْعِيَال والاغتسال وزيارة الْعَالم الصَّالح وعيادة الْمَرِيض وَمسح رَأس الْيَتِيم والاكتحال وتقليم الْأَظْفَار وَقِرَاءَة سُورَة الْإِخْلَاص ألف مرّة وصلَة الرَّحِم

DZIKIR SUNNAH BERHENTI DEMI MENJAWAB DZIKIR YANG LAIN

Sunnah menghentikan kegiatan belajar mengajar di saat mendengar adza, karena belajar waktunya masih lama, berbeda dengan menjawab adzan yang hilang seiring terdiamnya suara muadzdzin. Keterangan di atas diambil dari Imam an-Nawaawy dalam kitab al-Adzkaar :

قال النووي رحمه الله في الأذكار: فصل: في أحوال تعرض للذاكر يستحب له قطع الذكر بسببها ثم يعود إليه بعد زوالها منها: إذا سلم عليه رد السلام ثم عاد إلى الذكر، وكذا إذا عطس عنده عاطس شمته ثم عاد إلى الذكر، وكذا إذا سمع الخطيب، وكذا إذا سمع المؤذن أجابه في كلمات الأذان والإقامة ثم عاد إلى الذكر، وكذا إذا رأى منكرًا أزاله، أو معروفًا أرشد إليه، أو مسترشدًا أجابه ثم عاد إلى الذكر، وكذا إذا غلبه النعاس أو نحوه. وما أشبه هذا كلها .انتهى.

[ PASAL ] Hal-hal yang disunahkan bagi seorang sedang berdzikir menghentikan dzikirnya kemudian meneruskannya kembali setelah hal-hal tersebut berlalu :

  • Saat ada seseorang memulai salam padanya
  • Saat ada seseorang bersin di dekatnya
  • Saat mendengar khutbah seorang khothib
  • Saat mendengar adzan dan iqamah dikumandangkan, sunah baginya menjawabnya dan setelahnya meneruskan kembali dzikirnya
  • Saat melihat kemungkaran yang dapat ia singkirkan
  • Saat ia mampu menunjukkan hal-hal kebaikan
  • Saat dimintai petunjuk kebaikan oleh orang lain
  • Saat rasa kantuk sangat menguasainya
  • Dan hal-hal sejenis tersebut di atas

Hukum Adzan Dan hukum menjawab Adzan menurut madzhab 4., TA’BIR :

_________إتقق الأئمة على ان الأذان سنة مؤكد : ماعد الحنابلة ، فانهم قالوا : إنه فرض كفاية بمعنى انه اذا أتي به أحد فقد سقط عن الباقين الخ

( الفقه على المذاهب الاربعة – ص ٢٤٥ )

Para imam sepakat atas bahwa hukum Adzan itu sunnah mu’akkad. ( sunnah yang kuat ) Selain ulama’ hanabilah. Mereka Berpendapat bahwa Adzan hukum Nya fardlu kifayah dengan artian jika Ada 1. Orang yang melaksanakan maka gugur Atas kewajiban yang lain ( Fiqhih Alaa madzahibil Arba’ah -245 ).

إجابة المؤذن مندوبة لمن يسمع الأذان ، ولو كان جنبا او كانت حائضا او نفسها ، فيندب ان يقول مثل مايقول المؤذن الا عند قول (( حي على الصلاة )) ،ا(( حى على الفلاح )) فإنه يجيبه فيها بقول لا حول ولا قوة الا بالله ، وهذا الحكم متفق عليه ، الا أن الحنفية اشترطوا أن لا تكون حائضا او نفساء ، فإن كانت فلا تندب لها الاجابة ،بخلاف باقي الأئمة والحنابلة اشترطوا الا يكون قد صلى الفرض الذي يؤذن له الخ ( الفقه على المذاهب الأربعة – ص، ٢٤٩ )

Menjawab Adzan hukum Nya sunnah bagi yang mendengar Adzan . Walaupun sedang ke Ada’an junub ( Hadast besar ) Dan ke Ada’an haid / nifas .maka sunnah menjawab seperti yang dikatakan mu’adzdzin ( orang yang Adzan ) kecuali baca’an (( hayyaa ‘alassholah Dan hayyaa ‘alalfalaah )) maka dijawab dengan baca’an ( laa hawala wala Quwwata illa billah, Dan hukum ini Sudah disepakati Oleh semua ulama’ ..Kecuali ulama’ Hanafiah mensyaratkan harus tidak dalam ke Ada’an haid Dan nefas Maka tidak disunnah kan menjawab Nya beda dengan imam-imam yang lain. Dan ulama’ hanabilah mensyaratkan dalam kesunnahan menjawab Adzan tidak mendirikan sholat fardhu dengan Adzan tersebut jika Melaksanakan sholat fardhu dengan Adzan tersebut maka tidak sunnah mejawab, karena jama’ah sholat fardhu itu tidak dipanggil dengan Adzan tersebut. ( fiqhih ala madzahibil 4. Hal – 249 ). Wallohu a’lam.

BEBERAPA PERMASALAHAN SEPUTAR ADZAN DAN ALASAN KENAPA NABI SAW TIDAK MENGUMANDANGKAN ADZAN

KEUTAMAAN MENGUMANDANGKAN ADZAN TEPAT WAKTU

Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj juz 5 hal 51 :

( وَإِنَّمَا يُشْرَعَانِ لِلْمَكْتُوبَةِ ) دُونَ الْمَنْذُورَةِ وَصَلَاةِ الْجِنَازَةِ ، وَالنَّفَلِ وَإِنْ شُرِعَتْ لَهُ الْجَمَاعَةُ فَلَا يُنْدَبَانِ ، بَلْ يُكْرَهَانِ لِعَدَمِ وُرُودِهِمَا فِيهَا نَعَمْ قَدْ يُسَنُّ الْأَذَانُ لِغَيْرِ الصَّلَاةِ كَمَا فِي آذَانِ الْمَوْلُودِ

Bila memungkinkan shalat dua kali maka lakukanlah, yang pertama demi meraih keutamaan shalat diawal waktu meskipun shalat sendirian, yang kedua demi meraih keutamaan berjamaah meskipun harus mengakhirkannya.  Bila hanya berkeinginan shalat sekali, maka ambillah jalan tengah dari beberapa pendapat yang berkembang dikalangan pengikut as-Syafi’i : “Bila memang mengakhirkannya dirasa berat maka lebih baik didahulukan, bila tidak berat (ringan) maka menunggu jamaah lebih utama”.

(فرع) اختلف كلام الاصحاب في تأخير الصلاة عن أول الوقت الي أثنائه لانتظار الجماعة فقطع أبو القاسم الداركي وابو علي الطبري وصاحب الحاوى وآخرون من كبار العراقيين باستحباب التأخير وتفضيله على فضيلة أول الوقت وقطع أكثر الخراسانيين بان تقديم الصلاة منفردا أفضل ونقل امام الحرمين والغزالي في البسيط انه لا خلاف فيه ونقل جماعات من الاصحاب انه ان رجا الجماعة في آخر الوقت ولم يتحققها ففى استحباب التأخير وجهان بناء على القولين في التيمم وحكي صاحبا الشامل والبيان هذا عن الاصحاب مطلقا ونقل الروياني عن القاضي أبى علي البندنيجى انه قال قال الشافعي في الام التقديم أول الوقت منفردا أفضل وقال في الاملاء التأخير للجماعة أفضل وقال القاضي أبو الطيب حكم الجماعة حكم التيمم إن تيقن الجماعة آخر الوقت فالتأخير أفضل وان تيقن عدمها فالتقديم أفضل وان رجا الامرين فعلي القولين وهذا الذى حكاه عن القاضي أبي الطيب هو الذى ذكره أبو على البندنيجى في جامعه كذا رأيته في نسخة معتمدة منه فهذا كلام الاصحاب في المسألة وقد ثبت في صحيح مسلم ان النبي

صلى الله عليه وسلم اخبر انه سيجئ أئمة يؤخرون الصلاة عن أول وقتها قال فصلوا الصلاة لوقتها واجعلوا صلاتكم معهم نافلة فالذي نختاره أنه يفعل ما أمره به النبي صلى الله عليه وسلم فيصلى مرتين مرة في أول الوقت منفردا لتحصيل فضيلة أول الوقت ومرة في آخره مع الجماعة لتحصيل فضيلتها وقد صرح أصحابنا باستحباب الصلاة مرتين على ما ذكرناه في باب صلاة الجماعة وسنبسطه هناك ان شاء الله تعالي فان اراد الاقتصار علي صلاة واحدة فان تيقن حصول الجماعة آخر الوقت فالتأخير أفضل لتحصيل شعارها الظاهر ولانها فرض كفاية على الصحيح في مذهبنا وفرض عين على وجه لنا وهو قول ابن خزيمة من أصحابنا وهو مذهب احمد ابن حنبل وطائفة ففى تحصيلها خروج من الخلاف ولم يقل أحد يأثم بتأخيرها ويحتمل أن يقال ان فحش التأخير فالتقديم افضل وان خف فالانتظار أفضل والله أعلم

[ SUB BAHASAN ] Ulama-ulama pengikut Madzhab Syafi’i berbeda pendapat dalam hal “mengakhirkan shalat dari awal waktunya hingga ditengah waktu” guna menunggu jamaah,

Imam Abu Qasim, Ad-Daraky, Abu Ali at-Thobry, pengarang kitab al-Haawy dan ulama-ulama pembesar irak menyatakan kesunahan dan mengutamakan mengakhirkan shalat ketimbang shalat diawal waktu demi tujuan diatas sedang kebanyakan ulama-ulama Khurasaan justru memilih sebaliknya.

Imam al-Haramain dan al-Ghozali menukil dalam kitab al-Basiith bahwa dalam hal tersebut sebenarnya tidak terdapat perbedaan.

Sebagian kalangan pengikut madzhab syafi’i menilai sesungguhnya bila ia mengharapkan keberadaan shalat jamaah diakhir waktu dan ternyata tidak terealita maka dalam mengakhirkan shalatnya terdapat dua pendapat berdasarkan dua pendapat yang berkembang dalam bab TAYAMMUM….

Imam ar-Rauyaani menyadur pernyataan al-Qadhi Abu Ali al-Bandanijy, ia berkata : “Imam as-Syafi’i dalam kitab al-Umm menyatakan mengerjakannya diawal waktu meskipun dengan shalat sendirian lebih utama, sedang dalam kitab al-Imlaa menyatakan mengakhirkan demi jamaah lebih utama”.

al-Qadhi Abu Thayyib berkata : “Hukum berjamaah sama halnya dengan hukum bertayammum, bila ia yakin berjamaah diakhir waktu maka mengakhirkan shalat lebih utama, bila tidak, maka mendahulukan diawal waktu lebih utama, bila ia berharap keduanya maka terdapat dua pendapat”.

Pernyataan al-Qadhi Abu Thayyib tersebut juga disebutkan oleh al-Bandanijy dalam kitab Jami’nya dalam sebuah teks yang autentik.

Demikianlah pendapat yang berkembang dikalangan para pengikut as-Syafi’i, dalam kitab shahih Muslim terdapat sabda Nabi Muhammad SAW : “Akan datang segolongan umat yang gemar mengakhirkan shalat dari awal waktunya, maka shalatlah kalian tepat waktunya dan jadikan shalat kalian bersama mereka sebagai shalat sunah”.

Bila menilik hadits diatas, maka kami memilih melakukan shalat dalam kondisi yang demikian dengan dua kali, sekali diawal waktu dengan sendiri demi mendapatkan keutamaan shalat diawal waktu dan sekali lagi diakhir waktu demi mendapatkan keutamaan berjamaah.

Para ulama pengikut as-Syafi’i telah menjelaskan tentang kesunahan shalat dua kali seperti keterangan yang telah kami tuturkan dalam BAB SHALAT JAMAAH dan Insya Allah juga akan kami panjang lebarkan keterangannya.

Bila hanya berkeinginan shalat satu kali maka bila ia yakin mengakhirkannya dapat mengerjakannya secara berjamaah maka mengakhirkannya lebih utama dengan berbagai pertimbangan :

  • Demi menjaga syiar Islam
  • Hukum shalat berjamaah menurut pendapat yang shahih dikalangan kami (syafi’iyyah) adalah fardhu kifayah, dan bahkan sebagian kami yakni Ibn Khuzaimah menyatakan Fardhu ainnya seperti pendapat dikalangan madzhab Ibn Hanbal dan sebagian golongan lainnya maka mengerjakannya dengan berjamaah (meskipun diakhir waktu) berarti keluar dari perbedaan pendapat dikalangan ulama
  • Tidak terdapati seorangpun yang menyatakan berdosa mengakhirkan shalat

Dan pendapat ini dapat disimpulkan “Bila memang mengakhirkannya dirasa berat maka lebih baik didahulukan, bila tidak berat (ringan) maka menunggu jamaah lebih utama”. Wallaahu A’lamu Bis Showaab. [ Al-Majmuu’ ala Syarh al-Muhadzdzab II/262-263 ].

أما تعجيل المتوضىء وغيره الصلاة في أول الوقت منفردا وتأخيرها لانتظار الجماعة ففيه ثلاثة طرق قيل التقديم أفضل وقيل التأخير وقيل وجهان قلت قطع معظم العراقيين بأن التأخير للجماعة أفضل ومعظم الخراسانيين بأن التقديم منفردا أفضل وقال جماعة هو كالتيمم فإن تيقن الجماعة آخر الوقت فالتأخير أفضل وإن ظن عدمها فالتقديم أفضل وإن رجاها فقولان وينبغي أن يتوسط فيقال إن فحش التأخير فالتقديم أفضل وإن خف فالتأخير أفضل

Sedang menyegerakannya orang yang wudhu dan selainnya dalam mengerjakan shalat diawal waktu dengan sendirian dan mengakhirkannya tapi dilakukan secara berjamaah maka terdapat tiga jalur pendapat, ada yang berpendapat lebih baik mendahulukan, ada yang berpendapat lebih baik mengakhirkan dan ada yang mengatakan dua wajah.

Aku berkata “Sebagian besar Ulama Iraq memilih mengakhirkannya demi berjamaah lebih utama sedang para ulama khurrasaan memilih keutamaan mendahulukannya meskipun dengan shalat sendiri, sebagian golongan menyatakan, hukumnya seperti tayammum bila yakin yakin mengerjakannya secara berjamaah diakhir waktu maka lebih baik mengakhirkan bila tidak lebih baik mendahulukan sedang bila ia berharap maka terdapat dua pendapat”.

Dan sebaiknya dalam hal ini dapat diambil jalan tengah “Bila memang mengakhirkannya dirasa berat maka lebih baik didahulukan, bila tidak berat (ringan) maka menunggu jamaah lebih utama”. [ Raudhah at-Thoolibiin I/95 ].

Tinggal kita mau menggunakan QAUL QADIM atau QAUL JADID. Menurut QAUL JADID adzan adalah HAQQUN LIL WAQTI, Sementara menurut QAUL QADIM adzan adalah HAQQUN LIL FARIIDHAH. Syeikh Sulaiman al Jamal dalam hasyiyah Manhaj juz I halaman 167 (maktabah syamilah) menerangkan :

لِأَنَّ الْأَذَانَ حَقٌّ لِلْوَقْتِ عَلَى هَذَا الْقَوْلِ وَعَلَى الْقَوْلِ الْقَدِيمِ الْأَصَحِّ هُوَ حَقٌّ لِلْفَرِيضَةِ كَمَا فِي شَرْحِ م ر

Imam Nawawi dalam kitab Majmu 3/84 (maktabah syamilah) menerangkan :

قال اصحابنا الاذان في الجديد حق الوقت وفى القديم حق الفريضة وفى الاملاء حق الجماعة

QAALA ASH_HAABUNAA : AL ADZAAN FIL JADIID HAQQUL WAQTI  WA FIL QADIIM HAQQUL FARIIDHAH  WA FII AL IMLAA` HAQQUL JAMAA’AH.

Imam Ramli dalam kitab Nihayah 1/405 :

والأذان حق للفريضة على القديم الأصح وعلى الجديد للوقت

WA AL ADZAANU HAQQUN LIL FARIIDHAH ‘ALAL QADIIM AL ASHAHHI WA ‘ALAL JADIID LIL WAQTI

 

HUKUM ADZAN DAN IQOMAH YANG DILAKUKAN OLEH DUA ORANG

Dalam kitab al Muhadzdzab (Majmu’ 3/121) diterangkan:

وَالْمُسْتَحَبُّ أَنْ يَكُونَ الْمُقِيمُ هُوَ الْمُؤَذِّنُ لِأَنَّ زِيَادَ بْنَ الْحَارِثِ الصُّدَائِيَّ أَذَّنَ فَجَاءَ بِلَالٌ لِيُقِيمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” إنَّ أَخَا صُدَاءٍ أَذَّنَ وَمَنْ أَذَّنَ فَهُوَ يقيم ” فان اذن واحد وَأَقَامَ غَيْرُهُ جَازَ لِأَنَّ بِلَالًا أَذَّنَ وَأَقَامَ عبد الله بن زيد

Sunnahnya orang yang iqomah adalah orang yang adzan, karena Ziyad ibn al Harits ash Shuda`i melakukan adzan, kemudian datanglah Bilal untuk iqomah, maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya saudara Shuda` telah adzan, barang siapa adzan maka dia yang iqomah. Jika satu orang adzan dan satu orang lainnya iqomah maka itu boleh karena Bilal azdan sementara Abdullah ibn Zaid iqomah.

MENGAPA NABI TIDAK MENGUMANDANGKAN ADZAN SHALAT ?

Nabi tidak pernah adzan shalat karena sibuk dengan sesuatu yang lebih penting dari kemashlatan orang-orang islam yang mana mashlahat tersebut bisa putus / tertinggal sebab adzan dan bila nabi adzan niscaya orang yang mendengarnya wajib hadir / shalat jama’ah walaupun orang tersebut punya udzur [ Bajuri 1/160 ].

– I’anah At-Tholibin I / 228 :

واعلم أن الأذانَ والإقامةَ من خصوصيات هذه الأمةِ كما قال السيوطى وشُرِعا فى السَنة الأولى من الهجرة كما فى ع ش وهما مُجْمَع عليهما ، والأذانُ أفضل من الإقامةِ وإن ضمت اليها الإمامة على الراجح ، فإن قيل أنه صلى الله عليه وسلم كان يؤمّ ولم يؤذّن أُجيب بأنه عليه السلام كان مشغولا بما هوأهمّ أو أنه لو أذن لَوَجَبَ الحضور على كل من سمِعه . وإنما كان الأذان أفضل من الإمامة لأنه ورد أن المؤذّن أمين والإمام ضمين والأمين أشرف ـ اهـ إعانة الطالبين الجزء الأول ص ٢٢٨

Fokus :

فإن قيل أنه صلى الله عليه وسلم كان يؤمّ ولم يؤذّن أُجيب بأنه عليه السلام كان مشغولا بما هوأهمّ أو أنه لو أذن لَوَجَبَ الحضور على كل من سمِعه

“Apabila dikatakan bahwa sesungguhnya Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam mengimami sholat namun tidak mengumandangkan adzan dijawab bahwa sesungguhnya Kanjeng Nabi sibuk oleh sesuatu / perkara yang lebih penting atau dijawab bahwaa sesungguhnya bila seandainyaa Kanjeng Nabi melakukan / mengumandangkan adzaan maka niscaya wajib menghadiri (jama’ah:ed) bagi siapapun yang mendengarnya”. Ibaroh serupa juga bisa ditemukan di :

– Tuhfatul Habib – Marji’ul Akbar :

فإن قيل: إنه كان يؤمّ ولم يؤذن. قيل لأنه كان مشغولاً بما هو أهم، وأنه لو أذن لوجب الحضور على كل من سمعه حتى الذي يخبز في التنور وإن أدى الحضور إلى تلف الخبز،

– Hasyiyah Al-Bujairimi ‘Alal Khothib – Marji’ul Akbar :

فَإِنْ قِيلَ: إنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَؤُمُّ وَلَمْ يُؤَذِّنْ. قِيلَ لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ مَشْغُولًا بِمَا هُوَ أَهَمُّ, وَأَنَّهُ لَوْ أَذَّنَ لَوَجَبَ الْحُضُورُ عَلَى كُلِّ مَنْ سَمِعَهُ حَتَّى الَّذِي يَخْبِزُ فِي التَّنُّورِ وَإِنْ أَدَّى الْحُضُورُ إلَى تَلَفِ الْخُبْزِ

– Bajuri dari percetakan darul ilmiyah juz 1 hal 309 :

فان قيل انه صلى الله عليه و سلم اشتغل بالامامة و لم يشتغل بالاذان و الاقامة و مثله الخلفاء بعده ؟ ،اجيب بانه كان مشغولا بما هو اهم من مصالح المسلمين و لو اذن لفائت بالاذان و كذا الخلفاء الراشدون بعده على انه لو اذن نفسه صلى الله عليه و سلم لوجب الخضور على كل من سمعه حتى المعذور كالذى يخبز فى التنور و لو ادى حضوره الى تلف الحبز و هذا فيه حرج و ضيق شديد

NB : Untuk selain adzan shalat, ada riwayat Nabi pernah mengumandangkan. Al Hafizh Ibn Hajar dalam kitab “at Talkhiishil Habiir” 4/272 menjelaskan tentang hadits tersebut sebagai berikut (lihat Dok no. 1756) :

حديث : { أنه صلى الله عليه وسلم أذن في أذن الحسين حين ولدته فاطمة }. أحمد وأبو داود والترمذي ، والحاكم والبيهقي من حديث أبي رافع ، ورواه الطبراني وأبو نعيم من حديثه بلفظ : { أذن في أذن الحسن والحسين }. ومداره على عاصم بن عبيد الله وهو ضعيف .

Hadits bahwasanya Rasulullah Shallalloohu ‘alaihi wasallam adzan di telinga al Husain ketika dilahirkan oleh Fathimah diriwayatkan oleh Ahmad, Abu dawud, Tirmidzi, Hakim dan Baihaqi dari haditsnya Abu Rafi’. Pokok permasalahannya adalah pada ‘Aashim ibn ‘Ubaidillah. Dia dha’if. Wallohu a’lam.

MENGUMANDANGKAN ADZAN DI LUAR WAKTU SHOLAT

Dalam kitab-kitab fiqih disebutkan : Sunnah hukumnya ADZAN untuk orang yang akan bepergian. Contoh : Berangkat haji.

Pertanyaan : Bagaimanakah hukumny adzan tersebut?

JAWABAN :

 Meskipun secara nash tidak tertemukan dalil dalam hal ini, kalangan Syafi’iyyah mensunahkan mengumandangkan adzan pada beberapa kondisi di antaranya saat melepas kepergian seseorang. Hal ini karena tidak ada di antara para imam madzhab empat yang menentang keberadaannya.

قَدْ يُسَنُّ الْأَذَانُ لِغَيْرِ الصَّلَاةِ كَمَا فِي آذَانِ الْمَوْلُودِ ، وَالْمَهْمُومِ ، وَالْمَصْرُوعِ ، وَالْغَضْبَانِ وَمَنْ سَاءَ خُلُقُهُ مِنْ إنْسَانٍ ، أَوْ بَهِيمَةٍ وَعِنْدَ مُزْدَحَمِ الْجَيْشِ وَعِنْدَ الْحَرِيقِ قِيلَ وَعِنْدَ إنْزَالِ الْمَيِّتِ لِقَبْرِهِ قِيَاسًا عَلَى أَوَّلِ خُرُوجِهِ لِلدُّنْيَا لَكِنْ رَدَدْته فِي شَرْحِ الْعُبَابِ وَعِنْدَ تَغَوُّلِ الْغِيلَانِ أَيْ تَمَرُّدِ الْجِنِّ لِخَبَرٍ صَحِيحٍ فِيهِ ، وَهُوَ ، وَالْإِقَامَةُ خَلْفَ الْمُسَافِرِ ( قَوْلُهُ : خَلْفَ الْمُسَافِرِ ) يَنْبَغِي أَنَّ مَحَلَّ ذَلِكَ مَا لَمْ يَكُنْ سَفَرَ مَعْصِيَةٍ فَإِنْ كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يُسَنَّ ع ش

Terkadang adzan disunahkan dikerjakan bukan untuk waktunya shalat seperti adzan untuk orang yang sedang ditimpa kesusahan, ketakutan, sedang marah, orang atau hewan yang jelek perangainya, saat perang berkecamuk, kebakaran, menurut sebagian pendapat saat mayat diturunkan dalam kuburan dengan mengqiyaskan diberlakukannya adzan saat ia terlahir didunia namun aku menolak yang demikian dalam Syarh al-‘Ubaab, dan saat terdapat gangguan jin dan adzan dan iqamah bagi seseorang yang hendak bepergian. (Keterangan bagi seseorang yang hendak bepergian) semestinya letak kesunahannya bukan pada bepergian yang maksiat bila bepergiannya demikian maka tidak disunahkan. [ Tuhfah al-Muhtaaj V/51 ].

وزاد ابن حجر في التحفة الأذان والإقامة خلف المسافر

Imam Ibn Hajar menambahkan dalam kitab at-Tuhfah adzan dzn iqamah juga dikerjakan bagi seseorang yang hendak bepergian. [ Hasyiyah ar-Rodd al-Mukhtaar I/413 ].

ويسن الأذان والإقامة أيضاً خلف المسافر، ويسن الأذان في أذن دابة شرسة وفي أذن من ساء خلقه وفي أذن المصروع اهــــ ق ل

Dan disunahkan juga adzan dan iqamah bagi seseorang yang hendak bepergian, ditelinga binatang yang jelek perangainya, orang yang jelek akhlaknya dan ditelinga orang yang ketakutan. [ Tuhfah al-Habiib I/893 ].

وَيُسَنُّ الْأَذَانُ وَالْإِقَامَةُ أَيْضًا خَلْفَ الْمُسَافِرِ, وَيُسَنُّ الْأَذَانُ فِي أُذُنِ دَابَّةٍ شَرِسَةٍ وَفِي أُذُنِ مَنْ سَاءَ خَلْقُهُ وَفِي أُذُنِ الْمَصْرُوعِ. ا هـ. ق ل.

Dan disunahkan juga adzan dan iqamah bagi seseorang yang hendak bepergian, ditelinga binatang yang jelek perangainya, orang yang jelek akhlaknya dan ditelinga orang yang ketakutan.  [ Hasyiyah al-Bujairomi V/65 ].

الأذان لغير الصلاة.  هذا ويندب الأذان لأمور غير الصلاة: منها الأذان في أذُن المولود اليمنى عند ولادته، كما تندب الإقامة في اليسرى لأنه صلّى الله عليه وسلم ْذَّن في أذ ُن الحسن حين ولدته فاطمة (2) . ومنها الأذان وقت الحريق ووقت الحرب، وخلف المسافر.

[ ADZAN DI LAIN WAKTU SHALAT ] Dan disunahkan adzan diselain shalat dibeberapa kondisi :

1.Diantaranya ditelinga kanan bayi saat baru dilahirkan sebagaimana disunahkan iqamah ditelinga kirinya karena baginda Nabi SAW mengadzani telinga Hasan saat ia dilahirkan Fathimah,

2.Diantaranya saat kebakaran, saat perang, dan bagi seseorang yang hendak bepergian. [ Al-Fiqh al-Islaam I/635 ].

الأذان لغير الصلاة :

51 – شرع الأذان أصلا للإعلام بالصلاة إلا أنه قد يسن الأذان لغير الصلاة تبركا واستئناسا أو إزالة لهم طارئ والذين توسعوا في ذكر ذلك هم فقهاء الشافعية فقالوا : يسن الأذان في أذن المولود حين يولد ، وفي أذن المهموم فإنه يزيل الهم ، وخلف المسافر ، ووقت الحريق ، وعند مزدحم الجيش ، وعند تغول الغيلان وعند الضلال في السفر ، وللمصروع ، والغضبان ، ومن ساء خلقه من إنسان أو بهيمة ، وعند إنزال الميت القبر قياسا على أول خروجه إلى الدنيا .

وقد رويت في ذلك بعض الأحاديث منها ما روى أبو رافع : رأيت النبي صلى الله عليه وسلم أذن في أذن الحسن حين ولدته فاطمة (1) ، كذلك روي أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : من ولد له مولود فأذن في أذنه اليمنى وأقام في اليسرى لم تضره أم الصبيان (2) . وروى أبو هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : إن الشيطان إذا نودي بالصلاة أدبر (3) . . ” إلخ .

وقد ذكر الحنابلة مسألة الأذان في أذن المولود فقط ونقل الحنفية ما ذكره الشافعي ولم يستبعدوه ، قال ابن عابدين : لأن ما صح فيه الخبر بلا معارض مذهب للمجتهد وإن لم ينص عليه

ADZAN DI LAIN WAKTU SHALAT

Pada dasarnya adzan hanya disyariatkan untuk tanda akan shalat hanya saja terkadang disunahkan juga untuk selain shalat dengan tujuan mencari keberkahan, sebagai pelipur atau menghilangkan hal-hal yang tidak disukai.

Ulama yang menilai adzan dapat dipergunakan semacam ini adalah kalangan Syafi’iyyah, mereka berpendapat “Disunahkan adzan ditelingan bayi saat ia dilahirkan, ditelinga orang yang kesusahan sebab dapat menghilangkan kegelisahannya, bagi seseorang yang hendak bepergian, saat kebakaran, saat perang berkecamuk, saat terdapat gangguan jin, saat tersesat dalam perjalanan, untuk orang yang ketakutan, marah, orang atau hewan yang jelek perangainya dan saat mayat diturunkan dalam kuburan dengan mengqiyaskan diberlakukannya adzan saat ia terlahir di dunia.

Dan telah teriwayatkan hadits-hadits mengenai hal tersebut, diantaranya hadits riwayat Abu Rofi’ : “Aku melihat baginda Nabi SAW adzan ditelingan Hasan saat ia dilahirkan oleh Fathimah” (HR. At-Tirmidzi)

Juga hadits bahwa Nabi SAW bersabda “Barangsiapa terlahirkan anak untuknya, kemudian ia adzan ditelinga kanannya dan iqamah ditelinga kirinya maka tidak akan membahayakan bagi anaknya gangguan Ummu as-Shibyaan/Jin wanita yang suka mengganggu anak kecil.” (HR. Abu Ya’la dan al-Baehaqi).

Abu Hurairah ra juga meriwayatkan sebuah hadits bahwa nabi SAW bersabda “Sesungguhnya syetan saat dikumandangkan seruan shalat akan menyingkir….. dst” (HR. Mutafaq ‘Alaih).

Kalangan Hanabilah memberlakukan adzan diselain shalat hanya untuk anak yang baru dilahirkan sedang kalangan Hanafiyah juga menukil keterangan Imam Syafi’i mengenai hal tersebut dan mereka juga tidak menentangnya. Ibn ‘Aabidiin berkata “Karena keautentikan khabar yang tidak terdapat pertentangan berarti menjadi aliran keyakinan bagi para mujtahid meskipun tidak terdapati dalil nash tentangnya”. [ Al-Mausuu’ah al-Foqhiyyah II/372 ].

وفي حاشية البحر للخير الرَّمْلي : رأيت في كتب الشَّافعية أنه قد يسن الأذان لغير الصلاة، كما في أذن المولود، والمهموم، والمصروع، والغضبان، ومن ساء خلقه من إنسان أو بهيمة، وعند مزدحم الجيش، وعند الحريق، قيل وعند إنزال الميت القبر قياساً على أول خروجه للدنيا، لكن رده ابن حجر في شرح العباب، وعند تغوّل الغيلان، أي عند تمرد الجن لخبر صحيح فيه. أقول؛ ولا بعد فيه عندنا ا هـ: أي لأن ما صح فيه الخبر بلا معارض فهو مذهب للمجتهد وإن لم ينص عليه، لما قدمناه في الخطبة عن الحافظ ابن عبد البرّ ، والعارف الشعراني عن كل من الأئمة الأربعة أنه قال: إذا صح الحديث فهو مذهبي، على أنه في فضائل الأعمال يجوز العمل بالحديث الضعيف كما مر أول كتاب الطهارة، هذا، وزاد ابن حجر في التحفة الأذان والإقامة خلف المسافر. قال المدني : أقول: وزاد في شرعة الإسلام لمن ضل الطريق في أرض قفر: أي خالية من الناس. وقال المنلا علي في شرح المشكاة: قالوا: يسن للمهموم أن يأمر غيره أن يؤذن في أذنه فإنه يزيل الهم، كذا عن عليّ رضي الله عنه، ونقل الأحاديث الواردة في ذلك فراجعه ا هـ.

Dalam Hasyiyah al-Bahr Li al-khair ar-Ramly tersirat : “Aku melihat dibeberapa kitab syafi’iyyah tertulis, sesungguhnya adzan terkadang diunahkan diselain shalat seperti adzan ditelingan anak, ditelingan orang yang kesusahan, ketakukan, marah, orang atau hewan yang jelek perangainya, saat perang berkecamuk, kebakaran, menurut sebagian pendapat saat mayat diturunkan dalam kuburan dengan mengqiyaskan diberlakukannya adzan saat ia terlahir didunia namun aku menolak yang demikian dalam Syarh al-‘Ubaab, dan saat terdapat gangguan jin dan adzan dan iqamah bagi seseorang yang hendak bepergian”.

Aku (Imam Romly) berkata : “Yang demikian bagi kami tidaklah asing, karena keautentikan khabar yang tidak terdapat pertentangan berarti menjadi aliran keyakinan bagi para mujtahid meskipun tidak terdapati dalil nash tentangnya, sebagaimana khutbah pembukaan kitab yang kami ambil dari al-Hafidh Ibn Abdil Bar dan al-‘Arif as-Sya’roni dari masing Imam Madzhab empat menyatakan “Bila sebuah hadits dinyatakan shahih berarti menjadi madzhab kami, hanya saja dalam hal keutamaan-keutamaan amal diperbolehkan amal dengan bersandar pada hadits dhaif seperti urauan kami di bab THOHARAH”.

Ibn Hajar dalam at-Tuhfah menambahkan “Dan sunah adzan serta iqamah dibelakang orang yang bepergian”.

al-Madani berkata “Dan dalam Kitab Syar’ah al-Islam terdapat tambahan, dan bagi orang yang tersesat jalan didaerah terpencil”.

al-Manlaa ‘Ali dalam Syarh al-Misykaat berkata “Ulama berfatwa, bagi orang yang sedang kesusahan disunahkan memerintahkan untuk mengumandangkan adzan ditelinganya karena yang demikian dapat menghilangkan rasa sedihnya, demikian yang diambil dari sahabat Ali ra. [ Hasyiyah ar-Rodd al-Mukhtaar I/413 ].

MANFAAT DAN TATA CARA ADZAN DI SELAIN SHALAT

وَمِمَّا جُرِّبَ أَنَّ الْأَذَانَ فِي أُذُنِ الْمَحْزُونِ يَصْرِفُ حُزْنَهُ, وَإِذَا أُذِّنَ خَلْفَ الْمُسَافِرِ رَجَعَ, وَإِذَا أُذِّنَ فِي أُذُنِ مَنْ خُلُقُهُ سَيِّئٌ حَسُنَ خُلُقُهُ, وَمِمَّا جُرِّبَ لِحَرْقِ الْجِنِّ أَوْ يُؤَذِّنُ فِي أُذُنِ الْمَصْرُوعِ سَبْعًا, وَيَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ سَبْعًا, وَيَقْرَأُ الْمُعَوِّذَتَيْنِ وَآيَةَ الْكُرْسِيِّ وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ, وَآخِرَ الْحَشْرِ وَالصَّافَّاتِ, وَإِذَا قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ سَبْعًا عَلَى مَاءٍ, وَرَشَّهُ عَلَى وَجْهِ الْمَصْرُوعِ فَإِنَّهُ يُفِيقُ

Termasuk yang dapat dicoba dijalankan :

1.Adzan di telinga orang yang kesusahan menghilangkan kesedihannya

2.Adzan di belakang orang yang bepergian ia akan kembali

3.Adzan di telinga orang yang tabiatnya akan membaik akhlaknya

4.Juga dapat dicoba untuk membakar JIN atau orang yang ketakukan sebanyak tujuh kali, membaca al-Fatihah 7X, surat al-Mu’awwidzatain 7X, Ayat Kursi dan Was Samaa-i Wat Thooriq, akhir surat al-Hasyr dan as-Shooffaat..

5.Bila ayat kursi dibaca 7X pada air kemudian dipercikkan diwajah orang yang ketakutan, Insya Allah ia akan segera sadar.  [ Mathoolib Ulin Nuha III/11 ].

ومن فضائل الأذان أنه لو أذن خلف المسافر فإنه يكون في أمان إلى أن يرجع. وإن أذن في أذن الصبي وأقيم في أذنه الأخرى إذا ولد فإنه أمان من أم الصبيان وإذا وقع هذا المرض أيضاً وكذا إذا وقع حريق أو هجم سيل أو برد أو خاف من شيء كما في «الأسرار المحمدية» والأذان إشارة إلى الدعوة إلى الله حقيقة والداعي هو الوارث المحمدي يدعو أهل الغفلة والحجاب إلى مقام القرب ومحل الخطاب فمن كان أصم عن استماع الحق استهزأ بالداعي ودعوته لكمال جهالته وضلالته ومن كان ممن ألقى السمع وهو شهيد يقبل إلى دعوة الله العزيز الحميد وينجذب إلى حضرة العزة ويدرك لذات شهود الجمال ويغتنم مغانم أسرار الوصال

Diantara keutamaan adzan adalah, sesungguhnya bila dikumandangkan dibelakang orang yang bepergian sesungguhnya ia akan aman hingga kembali pulang, bila dikumandangkan ditelinga bayi dan diiqamahkan ditelinga lainnya saat dilahirkan maka ia akan aman dari gangguan Ummi Syibyaan, begitu juga saat terdapat orang sakit, kebakaran, bercucuran keringat dingin, atau takut akan sesuatu seperti keterangan yang diambil dari kitab al-Asraar al-Muhammadiyyah.

Adzan hakikatnya adalah ajakan pada Allah, yang menyeru adalah pewaris ajaran Muhammad, mengajak orang-orang yang lalai, tertutup untuk mendekat dan merapat pada hadratillah. Barangsiapa yang tuli mendengarkan kebenaran maka ia akan mentertawakan seruan dan penyerunya sebab kebodohan dan kesesatannya sudah dalam tahapan yang sempurna. Tapi barangsiapa yang dapat tersentuh pendengarannya dan ia bersaksi maka ia akan menerima ajakan Allah, merapat kehadhirat-Nya, menemukan kelezatan kesaksian kesempurnaan serta meraih rahasia-rahasia wushul (sampai) dihadhirat Allah. [ Ruuh al-Bayaan II/361 ]. Wallaahu A’lamu Bis Showaab.

MEMAHAMI HAJI MABRUR DALAM PENGERTIAN AJARAN ISLAM

Istilah Haji Mabrur sudah seringkali kita dengar, Setiap orang yang pergi berhaji pasti mencita-citakan hajinya bisa menjadi mabrur. Haji Mabrur bukan hanya sekedar haji yang menggugurkan kewajiban. Bisa jadi haji seseorang sah sehingga kewajiban berhaji baginya telah gugur, namun belum tentu hajinya diterima oleh Allah SWT.

Imam Nawawi dalam Syarah Muslim: “Haji Mabrur ialah haji yang tidak dikotori oleh dosa, atau haji yang diterima Allah SWT, yang tidak ada riya’, tidak ada sum’ah, tidak rafats (mengeluarkan perkataan yang menimbulkan birahi/bersetubuh),  dan tidak berbuat fasik.”

Sekarang yang menjadi pertanyaan, bagaimana mengetahui mabrurnya haji seseorang? Apa perbedaan antar haji yang mabrur dengan yang tidak mabrur? Tentunya yang menilai mabrur tidaknya haji seseorang adalah Allah semata. Kita tidak bisa memastikan bahwa haji seseorang adalah haji yang mabrur atau tidak.

Para ulama menyebutkan ada tanda-tanda mabrurnya haji, berdasarkan keterangan didalam al-Quran dan al-Hadits, namun itu tidak bisa memberikan kepastian mabrur tidaknya haji seseorang. Di antara tanda-tanda Haji Mabrur yang telah disebutkan para ulama adalah:

Pertama: Mengerjakan amalan haji dengan ikhlas dan baik, sesuai dengan tuntunan Nabi SAW. Paling tidak, rukun-rukun dan kewajibannya harus dipenuhi, dan semua larangan harus ditinggalkan. Jika sampai terjadi kesalahan, maka hendaknya segera membayar Dam (tebusan yang telah ditentukan).

Kedua: Tidak berbuat maksiat selama ihram. Maksiat dilarang dalam agama kita dalam semua kondisi. Dalam kondisi ihram, larangan tersebut menjadi lebih tegas, dan  jika dilanggar, maka haji mabrur yang diimpikan kemungkinian besar tidak akan tercapai. Allah SWT berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang diketahui, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan-bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, fusuq dan berbantah-bantahan selama mengerjakan haji.”

Ketiga: Tanda terakhir diterimanya amal seseorang di sisi Allah adalah diberikan taufik untuk melakukan kebaikan lagi setelah pulang dari haji. Sebaliknya, jika setelah beramal saleh melakukan perbuatan buruk, maka itu adalah tanda bahwa Allah tidak menerima amalannya.

Orang yang hajinya mabrur menjadikan ibadah hajinya sebagai sarana untuk membuka lembaran baru dalam menggapai ridlo Allah Ta’ala. Ia akan semakin mendekat ke akhirat dan menjauhi dunia.

Kesimpulannya, yang menilai mabrur tidaknya haji seseorang adalah Allah semata. Para ulama hanya menjelaskan tanda-tandanya sesuai dengan ilmu yang telah Allah berikan kepada mereka. Jika tanda-tanda ini ada dalam ibadah haji anda, maka hendaknya anda bersyukur atas taufik dari Allah. Anda boleh berharap ibadah anda diterima oleh Allah, dan teruslah berdoa agar ibadah anda benar-benar diterima. Adapun jika tanda-tanda itu tidak ada, maka anda harus memperbanyak istighfar dan memperbaiki amalan anda. Wallahu A’lam.