TERNYATA SUDAH ADA BERITA HOAX DI ZAMAN NABI MUHAMMAD SAW.

Dua Imam besar di bidang hadis yang kedua kitabnya secara validitas dan akurasi berada di bawah Al-Qur’an, yaitu Imam Bukhari dan Imam Muslim mengabadikan dalam kedua kitab beliau tentang berita bohong dan penyebarannya diantara para Sahabat, berita bohong itu namanya adalah Haditsul Ifki. Zaman Now disebut dengan Hoax.

Yaitu peristiwa yang dialami oleh Sayidah Aisyah, istri Rasulullah Ummul Mukminin. Dengan tuduhan telah berbuat ‘serong’.

Sayidah Aisyah memulai dengan kronologi yang panjang. Kata beliau bahwa ketika perjalanan pulang dari peperangan Bani Mushtaliq, seperti biasanya Sayidah Aisyah diangkut di atas tumpangan unta yang ada tutupnya (Haudaj). Ketika berhenti di suatu tempat, Sayidah Aisyah turun karena gelangnya terputus, beliau pun mencarinya. Sahabat yang lain mengira beliau ada di tandu unta tadi. Rombongan Rasulullah pun berangkat menuju Madinah dan Sayidah Aisyah tertinggal.

Sayidah Aisyah berdiri di tempat beliau tertinggal, mengharap rombongan tadi kembali menyusulnya. Namun dari arah belakang ada Sahabat Shafwan bin Muathal As-Sulami, yang memiliki kebiasaan berjalan di belakang pasukan Rasulullah untuk menyisir hal-hal yang tertinggal. Kali ini Shafwan menemukan Sayidah Aisyah tertinggal dari rombongan.

Karena saat itu belum turun ayat tentang hijab maka ia mengenali Sayidah Aisyah. Ia pun menyuruh Sayidah Aisyah naik ke untanya dan ia yang menuntun sampai Madinah. Sayidah Aisyah berkata:

ﻭﻭاﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﻳﻜﻠﻤﻨﻲ ﻛﻠﻤﺔ ﻭﻻ ﺳﻤﻌﺖ ﻣﻨﻪ ﻛﻠﻤﺔ ﻏﻴﺮ اﺳﺘﺮﺟﺎﻋﻪ

Demi Allah, Shafwan tidak mengeluarkan sepatah katapun kepadaku dan tidak kudengar apa-apa darinya selain ajakan untuk pulang ke Madinah (HR Muslim)

Begitu tiba di Madinah langsung heboh, kabar tersiar kemana-mana. Penyebar pertama berita bohong adalah pemimpin kaum Munafikin Abdullah bin Ubay bin Salul. Suasana di Madinah tidak seperti biasanya. Sayidah Aisyah sampai sakit dan minta kepada Nabi agar sementara pulang berkumpul dengan ayahnya, Sayidina Abu Bakar. Wahyu dari Allah pun tak kunjung turun selama sebulan.

Setelah wahyu turun Allah menyatakan bahwa Aisyah suci dan tidak berbuat apa-apa dengan Shafwan. Allah mengawali wahyu tentang kebohongan berita dengan dengan firman-Nya yang artinya:

(An-Nūr: 11) “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga…”

Di akhir ayat ini Allah memberi ancaman kepada penyebar berita bohong:

ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“… Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.”

Tidak cukup sampai disana, Allah menegaskan kembali ancaman Azab bagi orang yang senang menyebarkan berita bohong:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَة فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

(An-Nūr: 19) – “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.”

Jika Al-Quran memberikan vonis berat pada pelaku dan orang yang senang menyebarkan berita bohong (Hoax), masihkah kita menjadi bagian dari mereka?

INILAH SUSUNAN BACAAN DALAM TAHLILAN

Susunan bacaan yang terdapat dalam tahlilan memiliki sumber dalil dan ijtihad para ulama. Sudah pasti yang namanya hasil ijtihad bukanlah sebuah perbuatan bid’ah.

Membaca Al-Fatihah, Al-Ikhlas, dan Al-Mu’awwidzatain dalam Tahlilan

   Surat al-Fatihah, al-Ikhlas dan al-Mu’awwidzatain bersumber dari fatwa Imam Ahmad:

( وَتُسْتَحَبُّ قِرَاءَةٌ بِمَقْبَرَةٍ ) قَالَ الْمَرُّوذِيُّ : سَمِعْتُ أَحْمَدَ يَقُولُ : إذَا دَخَلْتُمْ الْمَقَابِرَ فَاقْرَءُوا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ ، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ، وَاجْعَلُوا ثَوَابَ ذَلِكَ إلَى أَهْلِ الْمَقَابِرِ ؛ فَإِنَّهُ يَصِلُ إلَيْهِمْ ، وَكَانَتْ هَكَذَا عَادَةُ الْأَنْصَارِ فِي التَّرَدُّدِ إلَى مَوْتَاهُمْ ؛ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ

“Dianjurkan baca al-Quran di Kubur. Ahmad berkata: ”Jika masuk kubur bacalah Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas, hadiahkan untuk ahli kubur, maka akan sampai. Inilah kebiasaan sahabat Anshor yang bola-balik kepada orang yang meninggal untuk membaca al-Quran”[1]

Membaca Al-Baqarah saat Tahlilan

   Awal dan Akhir al-Baqarah bersumber dari hadis hasan:

عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْعَلاَءِ بْنِ اللَّجْلاَجِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ لِي أَبِي يَا بَنِيَّ إِذَا أَنَا مُتُّ فَأَلْحِدْنِي فَإِذَا وَضَعْتَنِي فِي لَحْدِي فَقُلْ بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللهِ ثُمَّ سِنَّ عَلَيَّ الثَّرَى سِنًّا ثُمَّ اقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِي بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ ذَلِكَ

“Dari Abdurrahman bin ‘Ala’ dari bapaknya, bahwa: Bapakku berkata kepadaku: Wahai anak-anakku Jika aku mati, maka buatkan liang lahat untukku. Setelah engkau masukkan aku ke liang lahat, bacalah: Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah. Kemudian ratakanlah tanah kubur perlahan, lalu bacalah di dekat kepalaku permulaan dan penutup surat al-Baqarah. Sebab aku mendengar Rasulullah bersabda demikian” (HR al-Thabrani No 15833)

Al-Hafidz al-Haitsami berkata:

وَرِجَالُهُ مُوَثَّقُوْنَ

“Perawinya dinilai sebagai orang-orang terpercaya”[2]

Membaca Surat Yasin dalam Tahlilan

   Surat Yasin bersumber dari Ijtihad sebagian ulama[3]

وَأَخْرَجَ أَبُوْ دَاوُدَ مِنْ حَدِيْثِ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ اِقْرَاءُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس وَهُوَ شَامِلٌ لِلْمَيِّتِ بَلْ هُوَ الْحَقِيْقَةُ فِيْهِ

“Hadis riwayat Abu Dawud dari Ma’qil, ‘Bacalah Yasin di dekat orang-orang yang meninggal’ ini. Mencakup pada orang yang telah meninggal, bahkan hakikatnya adalah untuk orang yang meninggal”. (Muhammad bin Ismail al-Shan’ani, Subul al-Salam Syarah Bulugh al-Maram II/119)

Kalimat Dzikir saat Tahlilan

   Kalimat-kalimat dzikir juga ijtihad dari banyak ulama termasuk Ibnu Taimiyah:

(وَسُئِلَ) عَنْ قِرَاءَةِ أَهْلِ الْمَيِّتِ تَصِلُ إلَيْهِ ؟ وَالتَّسْبِيْحُ وَالتَّحْمِيْدُ وَالتَّهْلِيْلُ وَالتَّكْبِيْرُ إذَا أَهْدَاهُ إلَى الْمَيِّتِ يَصِلُ إلَيْهِ ثَوَابُهَا أَمْ لاَ ؟ (فَأَجَابَ) يَصِلُ إلَى الْمَيِّتِ قِرَاءَةُ أَهْلِهِ وَتَسْبِيْحُهُمْ وَتَكْبِيْرُهُمْ وَسَائِرُ ذِكْرِهِمْ ِللهِ تَعَالَى إذَا أَهْدَوْهُ إلَى الْمَيِّتِ وَصَلَ إلَيْهِ وَاللهُ أَعْلَمُ

“Ibnu Taimiyah ditanya mengenai bacaan keluarga mayit yang terdiri dari tasbih, tahmid, tahlil dan takbir. Apabila mereka menghadiahkan kepada mayit apakah pahalanya bisa sampai atau tidak? Ibnu Taimiyah menjawab: Bacaan kelurga mayit bisa sampai, baik tasbihnya, takbirnya dan semua dzikirnya, karena Allah Ta’ala. Apabila mereka menghadiahkan kepada mayit, maka akan sampai kepadanya”[4]

[1] Mathalib Uli an-Nuha 5/9

[2] Majma’ al-Zawaid III/66

[3] Para ulama yang memperbolehkan membaca Yasin untuk orang yang telah wafat adalah al-Qurthubi, al-Hafidz al-Suyuthi, al-Syaukani dan sebagainya

[4] Majmu’ al-Fatawa, 24/165

RAHASIA KESUKSESAN SEORANG PEMIMPIN DI DALAM AL QUR’AN

Banyak kisah ditampilkan di dalam al-Quran mempunyai relevansi dengan kehidupan kita sekarang. Al-Quran telah menampilkan sejumlah figur positif dan figur negatif dengan segala akibatnya dalam masyarakat. Ada kisah pembela kebenaran seperti para Nabi dan Rasul serta ada juga tokoh pengumbar kezhaliman seperti Fir’aun, Tsamud, ‘Ad, dan Abraha.

Salah satu di antara figur yang akan dibahas di sini ialah cuplikan kisah Nabi Sulaiman dan Penguasa Saba’, yang diceritakan di dalam beberapa surah al-Quran, khususnya dalam surah an-Naml dan surah Saba’.

Suatu ketika Nabi Sulaiman menyelenggarakan rapat lengkap, tetapi salah satu peserta rapat yang tidak hadir ialah Hud-hud, utusan bangsa burung; وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ (Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir? (QS. an-Naml [27]: 20). Nabi Sulaiman marah tetapi kemarahannya dikendalikan oleh kearifannya sebagai seorang pemimpin: لَأُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا شَدِيدًا أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya, kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang” (21). فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ (Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini, (22). Nabi Sulaiman mendengarkan dan menganalisis secara seksama alasan Hudhud: إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ (Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar (23). وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ (Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah, dan syetan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk (24).

Sebagai seseorang yang memiliki sense of priority, laporan-laporan dari staf Nabi Sulaiman tidak dipetieskan, tetapi langsung segera ditindaklanjuti: اذْهَبْ بِكِتَابِي هَذَا فَأَلْقِهِ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ (Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”). (28). Tidak lama kemudian, burung Hud-hud membawa surat itu kepada Ratu Balqis, pemimpin negeri Saba’ ketika itu. Sebagai seorang pemimpin tertinggi negeri Saba’, ia tidak mau gegabah dan mengambil tindakan sendiri, tetapi ia segera mengumpulkan para petingginya: قَالَتْ يَاأَيُّهَا الْمَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ (Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia). (29). Redaksi surat Nabi Sulaiman cukup singkat tetapi sarat dengan makna: إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ.أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (30). Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang berserah diri” (31).

Reaksi Pemimpin negeri Saba’ sangat hati-hati menanggapi surat Nabi Sulaiman. Ia meminta pendapat dan saran para pembesarnya mengenai langkah-langkah yang akan diambil: قَالَتْ يَاأَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي أَمْرِي مَا كُنْتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّى تَشْهَدُونِ (Berkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis-(ku)” (32). Pola kepemimpinan yang terbuka seorang pemimpin disambut dengan sikap tawadhu’ dari para petingginya: قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالْأَمْرُ إِلَيْكِ فَانْظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ (Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu, maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”). (33).

Sebagai seorang pemimpin yang punya visi dan kecerdasan yang tinggi, ia sepenuhnya sependapat dengan saran para pembesarnya untuk tidak menggunakan kekerasan di dalam menyikapi suatu persoalan, meskipun ia tidak menafikan kemungkinan itu. Ia menyampaikan strategi yang sebaiknya diambil: وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ (Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu). (35). Ia mengutamakan pendekatan diplomasi selama itu masih memungkinkan. Ia memutuskan untuk mengirimkan bingkisan yang bernilai tinggi kepada Nabi Sulaiman dengan harapan kedua negeri ini menghindari jalan kekerasan. Sementara di pihak lain, Nabi Sulaiman tidak kalah cerdas dan kayanya. Ia menukar bingkisan itu dengan sesuatu yang lebih berharga dengan cara-cara yang amat canggih, sehingga proses penukaran itu tidak sempat dideteksi oleh pasukan Ratu Balqis. Akhirnya, kedua kerajaan ini menyatu dan membangun sinergi dengan cara terhormat dan beradab.

Kecerdasan dan kearifan pemimpin negeri Saba’ mendapatkan pengakuan di dalam al-Quran: لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ (Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”). (Q.S. Saba’/34:15).

Figur Ratu Balqis, pemimpin negeri Saba’, selain memiliki singgasana besar (‘arsyun ‘azhim) negerinya juga dilukiskan sebagai Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur, yang merupakan obsesi setiap negeri muslim. Sayang sekali kejayaan negeri ini tidak dapat dipertahankan karena para penerusnya meninggalkan pola-pola ideal kepemimpinan para pendahulunya. فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ (Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr). (16).

Pelajaran berharga yang dapat diperoleh dari kisah di atas adalah sebagai berikut:

   Kejujuran, konsistensi, kecerdasan, kearifan, keterbukaan, dan sikap demokratis seorang pemimpin merupakan faktor kunci bagi pencapaian tujuan dan cita-cita sebuah bangsa. Sebaik apapun sebuah sistem tidak banyak gunanya tanpa kehadiran figur ideal seperti tadi;

   Figur yang berpotensi memiliki julukan pemilik ‘arsyun ‘azhim (singgasana besar) sebagai lambang supremasi kewibawaan sebuah negeri dan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur sebagai simbol ideal sebuah negeri, ternyata tidak hanya terdapat di negeri-negeri yang secara formal mencantumkan Islam sebagai dasar konstitusi, tetapi juga di sebuah bangsa yang secara substansial menerapkan prinsip-prinsip universal Islam;

   Pemimpin yang sukses tidak mesti hanya dari kalangan pria, tetapi kisah al-Quran di atas membuktikan adanya seorang perempuan, yakni Ratu Balqis, yang berhasil menjadi penguasa sukses;

   Pola kepemimpinan ideal tidak hanya bisa diterapkan di dalam masyarakat Islam, tetapi juga di dalam masyarakat pluralistik. Dengan kata lain, tanpa harus menunggu untuk menjadi Negara Islam, nilai-nilai dasar kepemimpinan Islami sudah dapat diterapkan. Masyarakat Saba’ yang pada awalnya adalah masyarakat penyembah matahari, tetapi mampu menciptakan sebuah masyarakat yang tangguh dan Islami;

   Langgengnya sebuah rezim di dalam suatu masyarakat ditentukan oleh seberapa jauh para penguasa dapat mempertahankan nilai-nilai luhur para pendahulunya. Modernitas dan perubahan merupakan sifat alamiah, tetapi mempertahankan nilai-nilai luhur yang masih relevan dan mengakomodir nilai-nilai baru yang lebih positif, itulah yang menjadi inti pola kepemimpinan profetik (kenabian), walaupun menurut Ibn Khaldun hal ini sulit dicapai karena setiap generasi adalah anak zamannya. Ada generasi perintis, ada generasi pembangun, ada generasi penikmat, dan akhirnya ada generasi perusak;

   Faktor lain ialah tingginya partisipasi dan dukungan masyarakat secara komprehensif, yang ditandai dengan hidupnya semangat musyawarah di dalam masyarakat. Hal ini sejalan dengan ayat: وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Āli ‘Imran [4]: 159);

   Figur pemimpin yang diwarnai dengan kecurangan, kerakusan, dan kezhaliman dalam kisah-kisah al-Quran semuanya berakhir dengan kondisi yang memprihatinkan. Sehebat apapun Fir’aun yang pernah melantik dirinya sebagai Tuhan (ana rabbukum al-a’la), tetapi akhirnya tersungkur di lautan kehinaan. Sebaliknya, pemimpin ideal yang bersahaja, memegang teguh amanah, menghargai konstituennya, dan menjauhi segala bentuk ketidakjujuran, semuanya berakhir dengan mengesankan, bahkan dipuji oleh sejarah.

Cuplikan kisah tersebut mudah-mudahan membawa inspirasi baru buat kita sebagai anggota masyarakat bangsa Indonesia yang kini sedang berusaha menciptakan model kepemimpinan yang sesuai dengan kondisi obyektif masyarakat kita. Kisah-kisah dalam al-Quran semestinya memberikan pelajaran kepada kita semua, baik sebagai pemimpin maupun sebagai anggota masyarakat. Pemimpin ideal dan masyarakat yang adil berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.

Kondisi bangsa kita yang pluralistik membutuhkan pengertian dan kearifan, baik sebagai pemimpin maupun sebagai rakyat. Kearifan dan kecerdasan seperti yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman dan Pemimpin Saba’ perlu juga dimiliki oleh para pemimpin bangsa ini. Para elit politik seharusnya banyak belajar tentang kisah jatuh-bangunnya sebuah rezim dan hidup matinya sebuah bangsa di dalam al-Quran. Perlu diketahui bahwa al-Quran telah memberikan warning (peringatan) bahwa ajal tidak hanya dipunyai oleh seorang individu tetapi juga kelompok masyarakat. Likulli ummatin ajalun (setiap ummat atau rezim mempunyai ajal). Panjang atau pendeknya sebuah rezim menurut al-Quran ditentukan seberapa jauh seorang pemimpin berpegang teguh kepada nilai-nilai ideal kemanusiaan dan kemasyarakatan, seperti yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul.

Wallahu a’lam.

ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF AL QUR’ANUL KARIM

Berbeda dengan kitab suci lainnya, Alquran memberikan apresiasi yang tinggi terhadap ilmu dan ulama. Dalam Perjanjian Lama, kitab suci yang diturunkan untuk komunitas dan waktu tertentu, perbincangan tentang ilmu belum mendapat tempat yang selayaknya, sebab ilmu dapat tumbuh dan berkembang dengan stabilitas ruhani, sosial dan dorongan spiritual untuk berkhidmat kepada manusia. Alih-alih mendukung perkembangan ilmu pengetahuan, yang terjadi justru pertentangan antara ilmu dan kitab suci. Pandangan ini dipengaruhi kitab suci yang menghilangkan sifat kemahatahuan dari Tuhan. Tuhan, seperti digambarkan dalam Kitab Kejadian 12 : 13, tidak memiliki kemampuan untuk sekadar membedakan hamba yang akan mendapat siksa dan yang tidak, sehingga meminta bangsa Israel untuk melulurkan darah di rumah mereka yang membedakannya dengan bangsa Mesir.

Tidak jauh berbeda tradisi dalam agama Kristen. Pertentangan antara akal dan agama begitu sengitnya dan memakan korban yang tidak sedikit. Galileo adalah salah satu contohnya. Pandangannya tentang perputaran bumi mengelilingi matahari, bukan sebaliknya seperti pandangan gereja, mengharuskannya menerima hukuman yang keji, dan baru pada tahun 1992 Vatikan membebaskannya dari hukuman kafir. Sikap tersebut sejalan dengan pandangan para penulis Perjanjian Baru terhadap alam raya yang menurut banyak ahli sangat tidak ilmiah. Karena itu, menurut Muhammad Asad, sangat keliru menisbatkan kemajuan yang dicapai dunia Kristen saat ini sebagai pengaruh dari kitab sucinya. Bahkan seperti ditengarai M. Abduh, seorang tokoh reformis Islam yang sempat berkelana di Eropa, barat yang Kristen maju karena para ilmuwan berhasil membatasi dominasi gerejawan dalam ruang publik, atau dengan kata lain maju karena meninggalkan ajaran agamanya.

Hal seperti di atas tidak terjadi dalam Islam. Kitab suci Alquran yang berfungsi sebagai hudan (petunjuk) memberikan berbagai kemungkinan bagi manusia untuk melakukan tugas sebagai khalifah Tuhan di muka bumi, termasuk dengan memberinya akal yang menghasilkan ilmu. Karena itu perbincangan tentang ilmu dan penghargaan terhadap ilmuwan (ulama) banyak ditemukan dalam paparannya.

Memang Alquran bukan buku ilmiah, tetapi tidak satu ayat pun di dalamnya yang menghambat perkembangan ilmu pengetahuan. Bahkan terdapat hampir 750 ayat yang bersinggungan, secara langsung atau tidak, dengan berbagai bidang keilmuan seperti kosmologi, kedokteran, geologi dan sebagainya. Selain itu juga terdapat sekian ayat yang merangsang manusia untuk berkarya dan beraktifitas ilmiah.

Ilmu dan Ulama dalam Alquran

Apresiasi Alquran terhadap ilmu tidak hanya tergambar dari penyebutan kata al-`ilm dan derivasinya yang mencapai 823 kali, tetapi terdapat sekian ungkapan yang bermuara pada kesamaan makna seperti al-`aql, al-fikr, al-nazhr, al-bashar, al-tadabbur, al-i`tibâr dan al-dzikr. Kata al-`ilm dan derivasinya, menurut pakar Alquran Raghib al-Ashfahani, bermakna pengetahuan akan hakikat sesuatu. Padanannya adalah al-ma`rifah. Kendati keduanya bermakna pengetahuan tetapi para pakar bahasa Arab menggunakan kata al-ma`rifah sebagai ungkapan untuk pengetahuan yang diperoleh melalui proses pemikiran dan perenungan terhadap gejala atau fenomena sesuatu yang dicermati. Karena itu dalam bahasa Arab pengetahuan Tuhan akan makhluk-Nya digambarkan dengan ungkapan `alima, bukan `arafa. Sebaliknya, pengetahuan manusia akan Tuhannya diungkapkan dengan kata `arafa karena diperoleh melalui perenungan terhadap tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Pengetahuan, apapun bentuknya, diperoleh melalui sebuah proses mencermati, membaca dan menganalisa yang dilakukan oleh akal, indera (al-bashar) dan kalbu (al-bashîrah). Proses ini biasa disebut dengan berfikir. Melalui dua unit wahyu yang pertama, lima ayat pertama surah al-‘alaq dan awal surah al-qalam, Alquran telah mengajak manusia untuk bergegas menghasilkan ilmu pengetahuan. Sebab hanya dengan ilmu pengetahuan manusia dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi dengan baik. Karena itu yang diajarkan pertama kali kepada Adam AS ketika turun ke bumi adalah pengetahuan tentang nama-nama benda (Q.,s. Al-Baqarah :   31).

Kedua unit wahyu pertama menekankan pentingnya membaca yang disimbolkan dengan kata iqra’ dan menulis yang disimbolkan dengan al-qalam (pena atau alat tulis lainnya). Keduanya menjadi simbol kemajuan peradaban manusia. Dengan membaca akan tercipta ilmu, dan dengan menulis proses transformasi ilmu dapat berjalan secara berkesinambungan.

Pada unit wahyu pertama, kata iqra’ yang mengandung arti membaca, mengumpulkan, menganalisa sehingga menjadi satu himpunan yang padu, tidak disebutkan objeknya. Sesuai dengan kaidah ilmu tafsir, redaksi seperti ini menunjukkan bahwa objeknya bersifat umum. Dari sini, Alquran tidak mengenal dikotomi ilmu pengetahuan ; ilmu agama dan umum, ilmu dunia dan akhirat. Dalam pandangannya ilmu mencakup segala macam pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam menunjang kelangsungan hidupnya, baik masa kini maupun masa depan; fisika atau metafisika. Kesan ini diperkuat dengan dikaitkannya perintah iqra’ dengan sifat rubûbiyah Tuhan yang maha mencipta, bismi rabbika alladzî khalaq.

Kata rabb yang sering diartikan Tuhan mengandung makna pemeliharaan dengan segala kelazimannya. Kaidah ilmu tafsir lain mengatakan, penyebutan suatu perintah yang disertai dengan suatu sifat menunjukkan keterkaitan perintah tersebut dengan sifat yang menyertainya. Dengan kata lain ayat pertama ini berpesan, “bacalah dengan nama Tuhan pemelihara yang telah mencipta, segala apa saja yang dapat memelihara kelangsungan hidupmu.” Dan jika kita merujuk kepada asal makna kata ism yang berarti tanda yang dapat mengenalkan identitas pemiliknya, maka dapat ditangkap kesan lain bahwa objek perintah iqra` pada ayat ini secara khusus tertuju pada tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang terbentang di alam luas ini.

Dari sini tidak berlebihan jika ada yang mengatakan sejak awal agama Islam telah bercirikan ilmiah dan rasional. Ciri tersebut sejalan dengan substansi ajaran Islam yang menuntut seseorang yang mengimaninya untuk terlebih dahulu memiliki ilmu pengetahuan.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Ketahuilah, sesungguhnya tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah” (Q.,s. Muhammad : 19).

Karena itu, tidak berlebihan jika Abbas Mahmud al-Aqqad, seorang cendekiawan terkemuka Mesir, mengatakan, berpikir dalam rangka mencari kebenaran merupakan bagian dari kewajiban Islam (al-tafkîr farîdhah islâmiyyah).

Kehidupan seorang Muslim harus selalu ditandai dengan peningkatan ilmu pengetahuan.

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Katakan, ‘Wahai Tuhanku tambahkanlah ilmu pengetahuanku’.” (Q.,s. Thaha : 114), demikian doa yang harus selalu dipanjatkan oleh seorang Muslim. Sebab pasti berbeda antara orang yang memiliki ilmu pengetahuan dengan yang tidak.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يعلمون

Katakan, tidaklah sama orang yang tahu dengan yang tidak tahu (Q.,s. Al-Zumar : 9).

Orang yang berilmu akan ditempatkan oleh Tuhan pada posisi yang terpuji dan amat termuliakan (Q.,s. Al-Mujadilah : 11). Sebaliknya, orang yang tidak menggunakan akal dan kalbunya untuk mendapatkan pengetahuan tentang kebenaran akan diturunkan derajatnya sampai pada tingkatan terendah, yaitu seperti binatang atau yang lebih hina darinya (Q.,s. Al-A`raf : 179).

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Q.,s. Al-Mujadilah : 11)

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Q.,s. Al-A`raf : 179)

Dengan ilmu manusia menjadi berbeda dengan makhluk lainnya. Al-Ghazali berkata, “Ilmulah yang membedakan manusia dari binatang. Dengan ilmu ia menjadi mulia, bukan dengan kekuatan fisiknya, sebab dari sisi ini onta jauh lebih kuat, dan bukan dengan kebesaran tubuhnya, sebab gajah pasti melebihinya, juga bukan dengan keberaniannya, sebab singa lebih berani darinya…. Manusia diciptakan hanya untuk ilmu”.

Sekali lagi, ketika berbicara ilmu pengetahuan Alquran tidak mengkhususkan pada ilmu tertentu, agama misalnya, tetapi mencakup segala bentuk pengetahuan yang dicapai manusia melalui upaya mencermati langit dan bumi beserta isinya.

أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ

Tidakkah kalian perhatikan dan cermati kerajaan langit dan bumi serta segala sesuatu yang diciptakan Allah (Q.,s. Al-A`râf : 185).

Berbeda dengan tradisi keilmuan di barat yang materialistis, Islam membimbing agar ilmu pengetahuan dapat mengantarkan manusia pada pemilik rahasia alam raya ini, bukan sekadar ilmu untuk ilmu. Tujuan akhirnya adalah :

وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى

Sesungguhnya kepada Tuhanmu segala sesuatu bermuara (Q.,s. Al-Najm : 42)

Dengan demikian, segala proses mencari ilmu pengetahuan, apapun jenisnya, selama untuk kemaslahatan manusia dan berakhir pada upaya menemukan Tuhan akan bernilai ibadah dan merupakan bagian dari hijrah kepada Allah Swt. Ilmu harus selalu dibimbang dengan iman, dan sebaliknya iman harus ditopang dengan ilmu.

Ilmu sebagai pijakan iman dan amal

Di muka telah diurai dalam Islam tidak dikenal pertentangan antara ilmu dan iman seperti yang terjadi di bumi Eropa pada abad pertengahan. Tidak satu pun ayat Alquran memperkenankan pertentangan itu terjadi. Bahkan keduanya berjalan secara beriringan. Karena itu keimanan yang benar harus dilandasi oleh bukti yang dicapai melalui proses pemikiran dan penghayatan, bukan sekadar ikut-ikutan atau sangkaan dan dugaan. Sekian ayat dalam Alquran menjelaskan kecaman terhadap mereka yang beriman dengan membebek kepada ajaran nenek moyang (Q.,s. Al-Ma`idah : 104), atau mengikuti ajaran berdasarkan dugaan yang belum tentu benar Q.,s. Al-Najm : 23).

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ ءَابَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ ءَابَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (Q.,s. Al-Ma`idah : 104)

إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَءَابَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى

Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. (Q.,s. Al-Najm : 23).

Tantangan Alquran kepada orang yang berseberangan dengan ajarannya jelas,

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Katakanlah, datangkanlah bukti-bukti kalian jika kalian merasa benar (Q.,s. Al-Baqarah : 111).

Alquran tidak pernah khawatir seruannya untuk menggunakan akal dan ilmu pengetahuan akan berdampak memprakporandakan bangunan keimanan. Sebab dalam pandangan Islam, hakekat keagamaan tidak akan bertentangan dengan hakekat yang dicapai ilmu pengetahuan. Dalam tradisi keilmuan Islam dikenal sebuah kaidah, “teks-teks keagamaan yang sahih tidak mungkin bertentangan dengan nalar yang jernih dan benar”. Jika secara lahir keduanya terkesan bertentangan pasti salah satunya ada yang keliru atau lemah.

Alquran berpandangan ilmu yang benar akan membawa kepada keimanan yang teguh. Sebaliknya, keimanan yang teguh akan menumbuhsuburkan lahan tempat ilmu tumbuh dan berkembang. Dalam sebuah ayat Allah berfirman ;

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ

Dan supaya mereka yang berilmu itu tahu bahwa Alquran itu benar berasal dari Allah sehingga mereka mengimaninya dan hati mereka menjadi tunduk kepada ajarannya. (Q.,s. Al-Hajj : 54)

Ada tiga hal yang saling berkaitan pada ayat di atas; ilmu (al-`ilm), iman (al-Îmân) dan ketundukan (al-Ikhbât). Ilmu diikuti tanpa jarak, sesuai dengan kata penghubung fa, dengan keimanan (liya`lamû fayu`minû), dan selanjutnya keimanan akan membuahkan gerakan hati yang terpancar melalui ketundukan dan kekhusyukan kepada Allah Swt. Karena itu, menurut Ibnu Mas`ud, ukuran sebuah ilmu bukan pada banyaknya, tetapi sejauh mana ilmu tersebut dapat mengantarkan kepada kekhusyukan (laysa al-`ilm bikatsrat al-riwâyati, innama al-`ilmu khasyyatullâh).

Pada ayat lain Allah menjelaskan, ““Sesungguhnya hanya hamba-hamba-Ku yang berilmulah yang dapat tunduk dan khusyuk kepada-Ku dengan baik”, demikian kurang lebih makna firman-Nya dalam surah Fâthir ayat 28. Dilihat dari kontek rangkaian penyebutannya, ayat ini didahului dengan penyebutan tanda-tanda kekuasaan Allah yang berupa turunnya hujan yang kemudian menghasilkan buah-buahan dengan berbagai warna dan rasa, gunung yang berwarna-warni dan perbedaan warna yang ada pada bintang dan manusia. Suatu hal yang mengisyaratkan tingginya nilai ilmu yang didasari atas pengamatan terhadap alam. Sungguh benar apa yang pernah dikatakan Albert Einstein: “Tiada ketenangan dan keindahan yang dapat dirasakan hati melebihi saat-saat ketika memperhatikan keindahan rahasia alam raya. Sekali pun rahasia itu tidak terungkap, tetapi di balik itu ada rahasia yang dirasa lebih indah lagi, melebihi segalanya, dan jauh di atas bayang-bayang akal kita. Menemukan rahasia dan merasakan keindahan ini tidak lain adalah esensi dari bentuk penghambaan.” Hal senada sebelumnya juga diungkapkan oleh al-Razi, seorang pakar tafsir Alquran kenamaan. Ia mengomentari ayat di atas dengan mengatakan, “Semakin dalam seseorang menyelami lautan ciptaan Tuhan semakin tahu ia akan kebesaran dan keagungan-Nya.”

Seorang yang berilmu benar tidak akan cepat merasa puas dan menyombongkan diri. Perhatikan kisah Dzul Qarnain yang diberi kekuatan oleh Allah Swt untuk menaklukkan musuh dan membangun bendungan yang maha dahsyat dengan ilmu yang dimilikinya. Selesai membangun ia berkata,

قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي

“Inilah bentuk kasih sayang dari Tuhanku” (Q.,s. Al-Kahf : 98).

Ilmu yang menghasilkan kebenaran dan keimanan dalam bahasa Alquran disebut al-hikmah. Pakar bahasa Alquran, Raghib al-Ashfahaniy, mengartikannya sebagai menemukan kebenaran melalui ilmu dan akal[14]. Ilmu hikmah inilah yang diajarkan Tuhan kepada para Nabi seperti Yahya AS (Q.,s. Maryam : 12), dan orang bijak seperti Luqman (Q.,s. Luqman : 12).

وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا

Dan barangsiapa diberi hikmah sesungguhnya ia telah diberikan kebaikan yang banyak, demikian firman Allah dalam Q.,s. Al-Baqarah : 269. Kebaikan itu tidak hanya ketika di dunia tetapi juga di akhirat kelak. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda : Innal jannata lil muhakkimîn. Hadis ini oleh sebagian ulama dipahami sebagai menjelaskan balasan surga bagi sebuah kaum yang diberi pilihan antara mati terbunuh dalam keadaan Islam atau keluar dari Islam (murtadd), lalu mereka memilih yang pertama. Tetapi ulama lain memahami balasan surga dalam hadis ini diperuntukkan bagi orang-orang yang diberi al-hikmah.

Al-hikmah dititipkan oleh Allah Swt dalam bentuk ayat-ayat-Nya yang bersifat tanzîliyyah (Alquran) dan kawniyyah (yang tersimpan di jadat raya). Seseorang dapat menemukannya dari mana dan di mana saja. Hikmah, seperti diumpamakan dalam sebuah hadis, seperti barang hilang yang dapat ditemukan oleh siapa dan di mana saja, termasuk dari musuh atau orang-orang yang berseberangan dengan kita. Seorang sufi besar, Ibu Arabi pernah berpesan, “Wahai para penuntut ilmu agama, jangan sampai Anda menolak sebuah wacana (ilmu kalam) dari seorang filosof lantaran dia tidak beragama. Itu sikap orang yang tidak berilmu, sebab tidak semua ucapan mereka keliru, apalagi jika tidak bertentangan dengan ajaran agama”. Agaknya, pandangan inilah yang mendasari sebagian kalangan yang berpendapat perlu berbijak dalam menyikapi karya-karya orientalis (non muslim) terutama produk ilmiah yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas ilmu, iman dan amal. Mungkinkah itu terjadi?

Kendati sejarah membuktikan bahwa kajian keislaman dan kearaban oleh orientalis tidak terlepaskan dari misi kristenisasi dan kolonialisasi, tetapi diakui ada sedikit kalangan yang melakukannya demi berkhidmat pada ilmu pengetahuan. Namun yang perlu dicermati, Islam menganut three in one ; satu kesatuan ilmu, iman dan amal. Tradisi keilmuan Islam dibangun atas dasar kesatuan tersebut. Karena itu pendidikan dan pengajaran Islam harus berujung pada mengenal Tuhan dan memupuk rasa penghambaan kepada Yang kuasa.

Ulama besar India, Wahiduddin Khan, mengkritik pedas sistem pendidikan Islam yang hanya mengkaji ilmu-ilmu keislaman sekadar memenuhi dahaga intelektual. Dalam bukunya Tajdîd `Ulûm al-Dîn (pembaruan ilmu-ilmu agama) ia mengatakan, lembaga-lembaga pendidikan Islam belum lagi meletakkan unsur khasyyah (kekhusyukan pada Tuhan) dan taqwa sebagai dasar pengajaran, tetapi baru sekadar mengajarkan disiplin ilmu. Maka yang dihasilkan hanyalah para ahli di bidang ilmu-ilmu keislaman, bukan seorang ulama yang tahu dan mengimani serta mengamalkan nilai-nilai agama sepenuhnya. Untuk itu perlu diteladani generasi pertama Islam yang teguh berpegang pada Alquran dan sunah. Wahiduddin mengusulkan agar pendidikan Islam tidak terfokus pada teori-teori teknis keilmuan, tetapi kembali kepada Alquran dan sunah.

Wahiduddin benar, tetapi mempertahankan khazanah turats Islam yang dibangun atas dasar pandangan hidup Islam adalah sebuah keniscayaan untuk mempertahankan identitas Islam di tengah gempuran globalisasi yang amat dahsyat. Kembali kepada Alquran dan sunnah adalah sebuah jargon yang perlu mendapat penjabaran lebih jauh; kayfa (bagaimana) dan limâdza (mengapa).

Bagaimana sosok ulama yang ideal, mari kita perhatikan ungkapan yang sering diklaim sebagai sabda Rasulullah Saw yang berbunyi :

Manusia akan berada dalam kehancuran kecuali mereka yang berilmu. Yang berilmu pun akan binasa kecuali yang mengamalkan ilmu. Dan yang mengamalkannya juga akan binasa kecuali mereka melakukannya dengan ikhlas.

MEMAHAMI ARTI SYARI’AT ISLAM DAN HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANYA

Arti Syariat

Syari’at bisa disebut syir’ah. Artinya secara bahasa adalah sumber air mengalir yang didatangi manusia atau binatang untuk minum. Perkataan “syara’a fiil maa’i” artinya datang ke sumber air mengalir atau datang pada syari’ah.

Kemudian kata tersebut digunakan untuk pengertian hukum-hukum Allah yang diturunkan untuk manusia.

Kata “syara’a” berarti memakai syari’at. Juga kata “syara’a” atau “istara’a” berarti membentuk syari’at atau hukum. Dalam hal ini Allah berfirman, “Untuk setiap umat di antara kamu (umat Nabi Muhammad dan umat-umat sebelumnya) Kami jadikan peraturan (syari’at) dan jalan yang terang.” [QS. Al-Maidah (5): 48]

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) tentang urusan itu (agama), maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang yang tidak mengetahui.” [QS. Al-Maidah (5): 18].

“Allah telah mensyari’atkan (mengatur) bagi kamu tentang agama sebagaimana apa yang telah diwariskan kepada Nuh.” [QS. Asy-Syuuraa (42): 13].

Sedangkan arti syari’at menurut istilah adalah “maa anzalahullahu li ‘ibaadihi minal ahkaami ‘alaa lisaani rusulihil kiraami liyukhrijan naasa min dayaajiirizh zhalaami ilan nuril bi idznihi wa yahdiyahum ilash shiraathil mustaqiimi.” Artinya, hukum-hukum (peraturan) yang diturunkan Allah swt. melalui rasul-rasulNya yang mulia, untuk manusia, agar mereka keluar dari kegelapan ke dalam terang, dan mendapatkan petunjuk ke jalan yang lurus.

Jika ditambah kata “Islam” di belakangnya, sehingga menjadi frase Syari’at Islam (asy-syari’atul islaamiyatu), istilah bentukan ini berarti, ” maa anzalahullahu li ‘ibaadihi minal ahkaami ‘alaa lisaani sayyidinaa muhammadin ‘alaihi afdhalush shalaati was salaami sawaa-un akaana bil qur-ani am bisunnati rasuulillahi min qaulin au fi’lin au taqriirin.” Maksudnya, syari’at Islam adalah hukum-hukum peraturan-peraturan) yang diturunkan Allah swt. untuk umat manusia melalui Nabi Muhammad saw. baik berupa Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi yang berwujud perkataan, perbuatan, dan ketetapan, atau pengesahan.

Terkadang syari’ah Islam juga dimaksudkan untuk pengertian Fiqh Islam. Jadi, maknanya umum, tetapi maksudnya untuk suatu pengertian khusus. Ithlaaqul ‘aammi wa yuraadubihil khaashsh (disebut umum padahal dimaksudkan khusus).

Pembagian Syari’at Islam

Hukum yang diturunkan melalui Nabi Muhammad saw. untuk segenap manusia dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. Ilmu Tauhid, yaitu hukum atau peraturan-peraturan yang berhubungan dengan dasar-dasar keyakinan agama Islam, yang tidak boleh diragukan dan harus benar-benar menjadi keimanan kita. Misalnya, peraturan yang berhubungan dengan Dzat dan Sifat Allah swt. yang harus iman kepada-Nya, iman kepada rasul-rasul-Nya, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan iman kepada hari akhir termasuk di dalamnya kenikmatan dan siksa, serta iman kepada qadar baik dan buruk. Ilmu tauhid ini dinamakan juga Ilmi Aqidah atau Ilmu Kalam.

  1. Ilmu Akhlak, yaitu peraturan-peraturan yang berhubungan dengan pendidikan dan penyempurnaan jiwa. Misalnya, segala peraturan yang mengarah pada perlindungan keutamaan dan mencegah kejelekan-kejelekan, seperti kita harus berbuat benar, harus memenuhi janji, harus amanah, dan dilarang berdusta dan berkhianat.

  1. Ilmu Fiqh, yaitu peraturan-peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya dan hubungan manusia dengan sesamanya. Ilmu Fiqh mengandung dua bagian: pertama, ibadah, yaitu yang menjelaskan tentang hukum-hukum hubungan manusia dengan Tuhannya. Dan ibadah tidak sah (tidak diterima) kecuali disertai dengan niat. Contoh ibadah misalnya shalat, zakat, puasa, dan haji. Kedua, muamalat, yaitu bagian yang menjelaskan tentang hukum-hukum hubungan antara manusia dengan sesamanya. Ilmu Fiqh dapat juga disebut Qanun (undang-undang).

Definisi Fiqh Islam

Fiqh menurut bahasa adalah tahu atau paham sesuatu. Hal ini seperti yang bermaktub dalam surat An-Nisa (4) ayat 78, “Maka mengapa orang-orang itu (munafikin) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (pelajaran dan nasihat yang diberikan).”

Nabi Muhammad saw. bersabda, “Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan, maka Allah akan memahamkannya di dalam perkara agama.”

Kata Faqiih adalah sebutan untuk seseorang yang mengetahui hukum-hukum syara’ yang berhubungan dengan perbuatan orang mukallaf, hukum-hukum tersebut diambil dari dalil-dalilnya secara terperinci.

Fiqh Islam menurut istilah adalah ilmu pengetahuan tentang hukum-hukum Allah atas perbuatan orang-orang mukallaf, hukum itu wajib atau haram dan sebagainya. Tujuannya supaya dapat dibedakan antara wajib, haram, atau boleh dikerjakan.

Ilmu Fiqh adalah diambil dengan jalan ijtihad. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya menulis, Fiqh adalah pengetahuan tentang hukum-hukum Allah, di dalam perbuatan-perbuatan orang mukallaf (yang dibebani hukum) seperti wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah. Hukum-hukum itu diambil dari Al-Qur’an dan Sunnah serta dari sumber-sumber dalil lain yang ditetapkan Allah swt. Apabila hukum-hukum tersebut dikeluarkan dari dali-dalil tersebut, maka disebut Fiqh.

Para ulama salaf (terdahulu) dalam mengeluarkan hukum-hukum dari dalil-dalil di atas hasilnya berbeda satu sama lain. Perbedaan ini adalah suatu keharusan. Sebab, pada umumnya dalil-dalil adalah dari nash (teks dasar) berbahasa Arab yang lafazh-lafazhnya (kata-katanya) menunjukkan kepada arti yang diperselisihkan di antara mereka.

Fiqh Islam terbagi menjadi enam bagian:

  1. Bagian Ibadah, yaitu suatu bagian yang membicarakan hukum-hukum yang dipakai untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. dan untuk mengagungkan kebesaran-Nya, seperti shalat, zakat, puasa, dan haji.
  2. Bagian Ahwal Syakhshiyah (al-ahwaalu asy-syakhsyiyyatu), yaitu suatu bagian yang membicarakan hukum-hukum yang berhubungan dengan pembentukan dan pengaturan keluarga dan segala akibat-akibatnya, seperti perkawinan, mahar, nafkah, perceraian (talak-rujuk), iddah, hadhanah (pemeliharaan anak), radha’ah (menyusui), warisan, dan lain-lain. Oleh kebanyakan para mujtahidin, bagian kedua ini dimasukkan ke dalam bagian mu’amalah.
  3. Bagian Mu’amalah (hukum perdata), yaitu suatu bagian yang membicarakan hukum-hukum yang mengatur harta benda hak milik, akad (kontrak atau perjanjian), kerjasama sesama orang seperti jual-beli, sewa menyewa (ijarah), gadai (rahan), perkonsian (syirkah), dan lain-lain yang mengatur urusan harga benda seseorang, kelompok, dan segala sangkut-pautnya seperti hak dan kekuasaan.
  4. Bagian Hudud dan Ta’zir (hukum pidana), yaitu bagian yang membicarakan hukum-hukum yang berhubungan dengan kejahatan, pelanggaran, dan akibat-akibat hukumnya.
  5. Bagian Murafa’at (hukum acara), yaitu bagian yang membicarakan hukum-hukum yang mengatur cara mengajukan perkara, perselisihan, penuntutan, dan cara-cara penetapkan suatu tuntutan yang dapat diterima, dan cara-cara yang dapat melindungi hak-hak seseorang.
  6. Bagian Sirra wa Maghazi (hukum perang), yaitu bagian yang membicarakan hukum-hukum yang mengatur peperangan antar bangsa, mengatur perdamaian, piagam perjanjian, dokumen-dokumen dan hubungan-hubungan umat Islam dengan umat bukan Islam.

Jadi, Fiqh Islam adalah konsepsi-konsepsi yang diperlukan oleh umat Islam untuk mengatur kepentingan hidup mereka dalam segala segi, memberikan dasar-dasar terhadap tata administrasi, perdagangan, politik, dan peradaban. Artinya, Islam memang bukan hanya akidah keagamaan semata-mata, tapi akidah dan syariat, agama dan negara, yang berlaku sepanjang masa dan sembarang tempat.

Dalam Al-Qur’an ada 140 ayat yang secara khusus memuat hukum-hukum tentang ibadah, 70 ayat tentang ahwal syakhshiyah, 70 ayat tentang muamalah, 30 ayat tentang uqubah (hukuman), dan 20 ayat tentang murafa’at. Juga ada ayat-ayat yang membahas hubungan politik antara negara Islam dengan yang bukan Islam. Selain Al-Qur’an, keenam tema hukum tersebut di atas juga diterangkan lewat hadits-hadits Nabi. Sebagian hadits menguatkan peraturan-peraturan yang ada dalam ayat-ayat Al-Qur’an, sebagian ada yang memerinci karena Al-Qur’an hanya menyebutkan secara global, dan sebagian lagi menyebutkan suatu hukum yang tidak disebutkan dala mAl-Qur’an. Maka, fungsi hadits adalah sebagai keterangan dan penjelasan terhadap nash-nash (teks) Al-Qur’an yang dapat memenuhi kebutuhan (kepastian hukun) kaum muslimin.

Hukum Syara’

Hukum syara’ adalah “maa tsabata bi khithaabillahil muwajjahi ilaal ‘ibaadi ‘alaa sabiilith thalabi awit takhyiiri awil wadh’i”. Maksudnya, sesuatu yang telah ditetapkan oleh titah Allah yang ditujukan kepada manusia, yang penetapannya dengan cara tuntutan (thalab), bukan pilihan (takhyir), atau wadha’.

Contoh hukum syara’, perintah langsung Allah swt., “Tegakkahlah shalat dan berikanlah zakat!” [QS. Al-Muzzamil (73): 20]. Ayat ini menetapkan suatu tuntutan berbuat, dengan cara tuntutan keharusan yang menunjukkan hukum wajib melakukan shalat dan zakat.

Firman Allah swt., “Dan janganlah kamu mendekati zina!” [QS. Al-Isra’ (17): 32]. Ayat ini menetapkan suatu tuntutan meninggalkan, dengan cara keharusan yang menunjukkan hukum haram berbuat zina.

Firman Allah swt., “Dan apabila kamu telah bertahallul (bercukur), maka berburulah.” [QS. Al-Maidah (5): 2]. Ayat ini menunjukkan suatu hukum syara’ boleh berburu sesudah tahallul (lepas dari ihram dalam haji). Orang mukallaf boleh memilih antara berbuat berburu atau tidak.

Yang dimaksud dengan wadha’ adalah sesuatu yang diletakkan menjadi sebab atau menjadi syarat, atau menjadi pencegah terhadap yang lain. Misalnya, perintah Allah swt. “Pencuri lelaki dan wanita, potonglah tangan keduanya.” [QS. Al-Maidah (5): 38]. Ayat ini menunjukkan bahwa pencurian adalah dijadikan sebab terhadap hukum potong tangan.

Bersabda Rasulullah saw., “Allah swt. tidak menerima shalat yang tidak dengan bersuci.” Hadits ini menunjukkan bahwa bersuci adalah dijadikan syarat untuk shalat.

Contoh yang lain, sabda Rasulullah saw., “Pembunuh tidak bisa mewarisi sesuatu.” Hadits ini menunjukkan bahwa pembunuhan adalah pencegah seorang pembunuh mewarisi harta benda si terbunuh.

Dari keterangan-keterangan di atas, kita paham bahwa hukum syara’ dibagi menjadi dua, yaitu hukum taklifi dan hukum wadh’i.

Hukum taklifi adalah sesuatu yang menunjukkan tuntutan untuk berbuat, atau tuntutan untuk meninggalkan, atau boleh pilih antara berbuat dan meninggalkan.

Contoh hukum yang menunjukkan tuntutan untuk berbuat: “Ambilah sedekah dari sebagian harta mereka!” [QS. At-Taubah (9): 103], “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya.” [QS. Al-Imran (3): 97].

Contoh hukum yang menunjukkan tuntutan untuk meninggalkan: “Janganlah di antara kamu mengolok-olok kaum yang lain.” [QS. Al-Hujurat (49): 11], “Diharamkan bagimu memakan bangkai, darah, dan daging babi.” [QS. Al-Maidah (5): 3].

Contoh hukum yang menunjukkan boleh pilih (mudah): “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi.” [QS. Al-Jumu’ah (62): 10], “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalat.” [QS. An-Nisa’ (4): 101].

Hukum wadh’i adalah yang menunjukkan bahwa sesutu telah dijadikan sebab, syarat, dan mani’ (pencegah) untuk suatu perkara.

Contoh sebab: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku-siku.” [QS. Al-Maidah (5): 6]. Kehendak melakukan shalat adalah yang menjadikan sebab diwajibkannya wudhu.

Contoh syarat: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya.” [QS. Ali Imran (3): 97]. Kemampuan adalah menjadi syarat diwajibkannya haji.

Contoh mani’ (pencegah): Rasulullah saw. bersabda, “Pena diangkat (tidak ditulis dosa) dari tiga orang, yaitu dari orang tidur sampai ia bangun, dari anak kecil sampai ia dewasa, dan dari orang gila sampai ia sembuh (berakal).” Hadits ini menunjukkan bahwa gila adalah pencegah terhadap pembebanan suatu hukum dan menjadi pencegah terhadap perbuatan yang sah.

Hukum taklifi terbagi menjadi dua, yaitu azimah dan rukhshah. Azimah adalah suatu hukum asal yang tidak pernah berubah karena suatu sebab dan uzur. Seperti shalatnya orang yang ada di rumah, bukan musafir. Sedangkan rukhshah adalah suatu hukum asal yang menjadi berubah karena suatu halangan (uzur). Seperti shalatnya orang musafir.

Azimah meliputi berbagai macam hukum, yaitu:

  1. Wajib. Suatu perbuatan yang telah dituntut oleh syara’ (Allah swt.) dengan bentuk tuntutan keharusan. Hukum perbuatan ini harus dikerjakan. Bagi yang mengerjakan mendapat pahala dan bagi yang meninggalkan mendapat siksa. Contohnya, puasa Ramadhan adalah wajib. Sebab, nash yang dipakai untuk menuntut perbuatan ini adalah menunjukkan keharusan. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa.” [QS. Al-Baqarah (2): 183]

  1. Haram. Haram adalah sesutu yang telah dituntut oleh syara’ (Allah swt.) untuk ditinggalkan dengan bentuk tuntutan keharusan. Hukumnya bila dikerjakan adalah batal dan yang mengerjakannya mendapat siksa. Contohnya, tuntutan meninggalkan berzina, tuntutan meninggalkan makan bangkai, darah, dan daging babi.

  1. Mandub (sunnah). Mandub adalah mengutamakan untuk dikerjakan daripada ditinggalkan, tanpa ada keharusan. Yang mengerjakannya mendapat pahala, yang meninggalkannya tidak mendapat siksa, sekalipun ada celaan. Mandub biasa disebut sunnah, baik sunnah muakkadah (yang dikuatkan) atau ghairu (tidak) muakkadah (mustahab).

  1. Makruh. Makruh adalah mengutamakan ditinggalkan daripada dikerjakan, dengan tidak ada unsur keharusan. Misalnya, terlarang shalat di tengah jalan. Yang melaksanakannya tidak mendapat dosa sekalipun terkadang mendapat celaan.

  1. Mubah. Mubah adalah si mukallaf dibolehkan memilih (oleh Allah swt.) antara mengerjakan sesuatu atau meninggalkannya, dalam arti salah satu tidak ada yang diutamakan. Misalnya, firman Allah swt. “Dan makan dan minumlah kamu sekalian.” Tegasnya, tidak ada pahala, tidak ada siksa, dan tidak ada celaan atas berbuat atau meninggalkan perbuatan yang dimubahkan.

Apabila Allah swt. menuntut kepada seorang mukallaf untuk melakukan sesuatu perbuatan lalu perbuatan tersebut dikerjakannya sesuai dengan yang dituntut darinya dengan terpenuhi syarat rukunnya, maka perbuatan tersebut disebut shahih. Tetapi apabila salah satu syarat atau rukunnya rusak, maka perbuatan tersebut disebut ghairush shahiih.

Ash-shahiih adalah sesuatu yang apabila dikerjakan mempunyai urutan akibatnya. Contohnya, bisa seorang mukallaf mengerjakan shalat dengan sempurna, terpenuhi syarat rukunnya, maka baginya telah gugur kewajiban dan tanggungannya.

Ghairush-shahiih adalah sesuatu yang dilakukannya tidak mempunya urutan akibat-akibat syara’. Contohnya, seorang mukallaf mengerjakan shalat tidak terpenuhi syarat rukunnya, seperti shalat tanpa rukuk. Kewajiban mukallaf mengerjakan shalat tersebut belum gugur. Demikian pula kalau shalat dikerjakan tidak pada waktunya atau mengerjakannya tanpa wudhu. Perbuatan-perbuatan yang dikerjakan tidak sesuai dengan tuntutan Allah swt. dianggap tidak ada atau tidak mengerjakan apa-apa.

INILAH CARA SUJUD DI SAAT MELAKSANAKAN SHOLAT

Para ulama fiqih mendifinisikan shalat sebagai tindakan-tindakan dan ucapan-ucapan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Tindakan-tindakan dan ucapan-ucapan itu selanjutnya dinamakan rukun dan pemenuhannya menjadi satu keharusan. Berarti, bila tidak dikerjakan mengakibatkan shalatnya batal. Atau disebut sunnah jika berfungsi sebagai pelengkap dan penyempurnaan saja. Sehingga, kalau ditinggalkan, tidak sampai berakibat membatalkan shalat.

Rukun shalat secara keseluruhan ada tujuh belas, yang merupakan satu kesatuan utuh, sehingga pelaksanaannya harus berkesinambungan. Akibatnya, bila ada salah satu saja dari rukun itu ditinggalkan atau dilaksanakan secara terpisah, seseorang belum dianggap melaksanakan shalat. Dalam bahasa ahli ushul fikih, belum bebas dari uhdatul wujub, atau belum bias mengugurkan at-ta’abbud.

Setiap rukun mempunyai aturan dan cara-cara tertentu. Mulai dari cara membaca fatihah, ruku’, sujud, I’tidal dan seterusnya semua itu berdasar pada cara shalat Rasulullah saw semasa hidup. Sebagaimana perintah beliau dalam sebuah hadits:

صلوا كما رأيتموني أصلي -رواه البخاري

Artinya: shalatlah kamu seperti yang kamu lihat saat aku mengerjakannya (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Cara dan aturan-aturan tersebut telah diterangkan oleh ulama dengan panjang lebar, melalui proses ijtihad secara serius, dalam karya mereka berupa kitab-kitab fiqih.

Dalam berijtihad mereka senantiasa berpedoman pada al-qur’an, hadits, ijma’ dan qiyas serta metode-metode istinbath yang lain. Karena itu dengan berpedoman pada kitab-kitab fiqih, bukan berarti kita tidak atau kurang mengamalkan al-Qur’an dan hadits seperti anggapan minor sebagian kalangan tertentu.

Dengan demikian shalat yang dipraktikkan umat Islam, secara umum sama, karena berangkat dari sumber yang sama pula. Semua berdiri, membaca fatihah, ruku’ dan sbagainya. Tapi di balik kesamaan-kesamaan tersebut, ada perbedaan-perbedaan kecil yang tidak begitu prinsip . Jangan sampai terjadi, perbedaan kecil itu merusak ukhuwah islamiyah di kalangan muslimin.

Misalnya dalam hal sujud, para ulama sendiri terbagi dalam dua elompok, antara yang mendahulukan tangan dan yang mengakhirkannya setelah meletakkan lutut. Keduanya memiliki dasar masing-masing. Kalau ditelusuri perbedaan pendapat tersebut berpangkal pada dua hadits yang termaktub dalam bulughul maram, karangan Ibnu hajar al-Asqalani.Hadits pertama riwayat dari sahabat Abu Hurairoh ra yang menyatakan bahwasannya rasulullah saw bersabda;

إذا سجد أحدكم فلايبرك كمايبرك البعير وليضع يديه قبل ركبتيه – رواه أبوداود والترمذي والنسائي

Artinya: jika salah satu dari kalian bersujud, janganlah menderum seperti unta menderum, letakkanlah kedua tangan sebelum lutut. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i)

Dalam hadits tersebut jelas kita diperintahkan untuk mendahulukan tangan. Sebuah pengertian yang berlawanan dengan hadits kedua riwayat sahabat Wail bin Hajar ra yang mengatakan:

رأيت النبي صلى الله عليه وسلم إذا سجد وضع ركبتيه قبل يديه ركبتيه -رواه أبوداود والترمذي والنسائي وابن ماجه

Artinya: saya melihat Rasulullah saw ketika sujud meletakkan (menjatuhkan) lutut sebelum tangannya. (HR. abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I dan Ibnu Majah)

Ketika ada dua hadits yang tampak bertentangan seperti itu, para ulama akan memilih mana yang lebih kuat; yang sahih didahulukan dari pada yang dhaif. Kalau kedudukannya sama, sebisa mungkin dikompromikan agar sejalan dan tidak saling bertentangan . Jika langkah tersebut tidak mungkin dicapai, hadist yang terdahulu dirombak (dinasikh) oleh yang terakhir. Dengan catatan sejarah keduanya diketahui. Bila waktunya tidak jelas, sikap yang mereka ambil adalah al-waaf. Maksudnya kedua hadits tersebut tidak diamalkan, lalu beralih pada dalil lain. Solusi seperti itu diketemukan dalam kitab-kitab ushul fikih, seperti tashit Thuraqat, Irsayadul Fukhul dan al-Luma’.Yang menjadi permasalahan adalah para ulama sering berbeda menilai sebuah hadits. Hadits yang dianggap sahih oleh seorang ahli (muhadditsun) tertentu, pada saat yang sama kadang diklaim tidak sahih oleh ulama lain. Pada gilirannya, mereka cenderung berpendapat sesuai dengan hasil ijtihad masing-masing.

Pada kasus sujud Imam Malik dan Imam Auzai memilih hadits yang pertama. Sedangkan madzhab Syafi’I dan Hanafi cenderung mengamalkan hadits kedua. Dalam kaitan itulah mengapa khiaf tidak terelakkan. Apalagi jika hadits hanya diketahui oleh satu pihak saja. Namun yang pasti, ulama terdahulu telah berupaya semaksimal mungkin mendekati setiap kebenaran. Yang benar memporel dua pahala yang salah memperoleh satu pahala. Dengan syarat mereka benar-benar mempunyai kompetensi untuk berijtihad. Dalam arti, melengkapi diri dengan berbagai disiplin keilmuan yang diperlukan untuk tugas mulia yang sangat berat itu. Sekarang kita tinggal pilih sesuai dengan kemnatapan dan keyakinan masing-masing. Kalangan pesantren yang akrab dengan kitab-kitab Imam syafi’I dalam hal sujud mungkin mendahulukan lutut. Tetapi kalangan yang lain bisa saja mendahulukan tangan.

Para ulama fiqih mendifinisikan shalat sebagai tindakan-tindakan dan ucapan-ucapan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Tindakan-tindakan dan ucapan-ucapan itu selanjutnya dinamakan rukun dan pemenuhannya menjadi satu keharusan. Berarti, bila tidak dikerjakan mengakibatkan shalatnya batal. Atau disebut sunnah jika berfungsi sebagai pelengkap dan penyempurnaan saja. Sehingga, kalau ditinggalkan, tidak sampai berakibat membatalkan shalat.

Rukun shalat secara keseluruhan ada tujuh belas, yang merupakan satu kesatuan utuh, sehingga pelaksanaannya harus berkesinambungan. Akibatnya, bila ada salah satu saja dari rukun itu ditinggalkan atau dilaksanakan secara terpisah, seseorang belum dianggap melaksanakan shalat. Dalam bahasa ahli ushul fikih, belum bebas dari uhdatul wujub, atau belum bias mengugurkan at-ta’abbud.

Setiap rukun mempunyai aturan dan cara-cara tertentu. Mulai dari cara membaca fatihah, ruku’, sujud, I’tidal dan seterusnya semua itu berdasar pada cara shalat Rasulullah saw semasa hidup. Sebagaimana perintah beliau dalam sebuah hadits:

صلوا كما رأيتموني أصلي -رواه البخاري

Artinya: shalatlah kamu seperti yang kamu lihat saat aku mengerjakannya (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Cara dan aturan-aturan tersebut telah diterangkan oleh ulama dengan panjang lebar, melalui proses ijtihad secara serius, dalam karya mereka berupa kitab-kitab fiqih.

Dalam berijtihad mereka senantiasa berpedoman pada al-qur’an, hadits, ijma’ dan qiyas serta metode-metode istinbath yang lain. Karena itu dengan berpedoman pada kitab-kitab fiqih, bukan berarti kita tidak atau kurang mengamalkan al-Qur’an dan hadits seperti anggapan minor sebagian kalangan tertentu.

Dengan demikian shalat yang dipraktikkan umat Islam, secara umum sama, karena berangkat dari sumber yang sama pula. Semua berdiri, membaca fatihah, ruku’ dan sbagainya. Tapi di balik kesamaan-kesamaan tersebut, ada perbedaan-perbedaan kecil yang tidak begitu prinsip . Jangan sampai terjadi, perbedaan kecil itu merusak ukhuwah islamiyah di kalangan muslimin.

Misalnya dalam hal sujud, para ulama sendiri terbagi dalam dua elompok, antara yang mendahulukan tangan dan yang mengakhirkannya setelah meletakkan lutut. Keduanya memiliki dasar masing-masing. Kalau ditelusuri perbedaan pendapat tersebut berpangkal pada dua hadits yang termaktub dalam bulughul maram, karangan Ibnu hajar al-Asqalani.Hadits pertama riwayat dari sahabat Abu Hurairoh ra yang menyatakan bahwasannya rasulullah saw bersabda;

إذا سجد أحدكم فلايبرك كمايبرك البعير وليضع يديه قبل ركبتيه – رواه أبوداود والترمذي والنسائي

Artinya: jika salah satu dari kalian bersujud, janganlah menderum seperti unta menderum, letakkanlah kedua tangan sebelum lutut. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i)

Dalam hadits tersebut jelas kita diperintahkan untuk mendahulukan tangan. Sebuah pengertian yang berlawanan dengan hadits kedua riwayat sahabat Wail bin Hajar ra yang mengatakan:

رأيت النبي صلى الله عليه وسلم إذا سجد وضع ركبتيه قبل يديه ركبتيه -رواه أبوداود والترمذي والنسائي وابن ماجه

Artinya: saya melihat Rasulullah saw ketika sujud meletakkan (menjatuhkan) lutut sebelum tangannya. (HR. abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I dan Ibnu Majah)

Ketika ada dua hadits yang tampak bertentangan seperti itu, para ulama akan memilih mana yang lebih kuat; yang sahih didahulukan dari pada yang dhaif. Kalau kedudukannya sama, sebisa mungkin dikompromikan agar sejalan dan tidak saling bertentangan . Jika langkah tersebut tidak mungkin dicapai, hadist yang terdahulu dirombak (dinasikh) oleh yang terakhir. Dengan catatan sejarah keduanya diketahui. Bila waktunya tidak jelas, sikap yang mereka ambil adalah al-waaf. Maksudnya kedua hadits tersebut tidak diamalkan, lalu beralih pada dalil lain. Solusi seperti itu diketemukan dalam kitab-kitab ushul fikih, seperti tashit Thuraqat, Irsayadul Fukhul dan al-Luma’.Yang menjadi permasalahan adalah para ulama sering berbeda menilai sebuah hadits. Hadits yang dianggap sahih oleh seorang ahli (muhadditsun) tertentu, pada saat yang sama kadang diklaim tidak sahih oleh ulama lain. Pada gilirannya, mereka cenderung berpendapat sesuai dengan hasil ijtihad masing-masing.

Pada kasus sujud Imam Malik dan Imam Auzai memilih hadits yang pertama. Sedangkan madzhab Syafi’I dan Hanafi cenderung mengamalkan hadits kedua. Dalam kaitan itulah mengapa khiaf tidak terelakkan. Apalagi jika hadits hanya diketahui oleh satu pihak saja. Namun yang pasti, ulama terdahulu telah berupaya semaksimal mungkin mendekati setiap kebenaran. Yang benar memporel dua pahala yang salah memperoleh satu pahala. Dengan syarat mereka benar-benar mempunyai kompetensi untuk berijtihad. Dalam arti, melengkapi diri dengan berbagai disiplin keilmuan yang diperlukan untuk tugas mulia yang sangat berat itu. Sekarang kita tinggal pilih sesuai dengan kemnatapan dan keyakinan masing-masing. Kalangan pesantren yang akrab dengan kitab-kitab Imam syafi’I dalam hal sujud mungkin mendahulukan lutut. Tetapi kalangan yang lain bisa saja mendahulukan tangan.

JANGAN LUPA NIATKAN IBADAH KETIKA NGOPI

Tentunya kopi dan teh tidak asing lagi di telinga masyarakat khususnya di dunia pesantren dan begitu pula kopi dan teh sering di sajikan di majelis pengajian khususnya di Indonesia bahkan di dalam suatu makalah Habib Ahmad Bin hasan Alattas mengatakan bahwa Said Ahmad bin Ali Bahri Alqadimi beliau bernah berjumpa sama kanjeng nabi Beliau Sayyid mengatakan kepada nabi SAW, ya Rasulullah saya mau mendengarkan hadis langsung sama engkau tanpa perantara maka nabi menjawab saya akan memberikan Engkau tiga hadist salah satunya:

مازال ريح قهوة البن في الإنسان تستغفرله الملائكة

“ malaikat akan senatiasa memohon ampun untuk orang yang selalu beraroma kopi di mulutnya”

Para peneliti mengemukakan bahwa minuman kopi juga berkhasiat dan berenergi disamping itu kopi mempunyai aroma yang menarik juga mempunyai cita rasa tersendiri. Sejarah mencatat bahwa kopi pertama kali di temukan oleh bangsa Etophia yang bertempat di benua Afrika kurang lebih pada tahun 1000 M.

Pertanyaan:

Bagaimanakah niat yang di anjurkan dan menikmati kopi dan teh?

Jawaban:

Disebutkan dalam kitab Anniyat bahwasanya niat minum kopi dan teh ada lima :

  1. Mengikuti perbuatan sebahagian ulama salaf dalam minum kopi dan teh
  2. Sebagai pembangkit dalam menjalani ibadah
  3. Menampakan kesenangan bagi seumpama rumah yang dikunjungi
  4. Mengaplikasi adab dan
  5. Sunnah minum

الاقتداء ببض السلف الصالح في شربهم له النشاط للعبادة إدخال السرور لصاحب البيت المزار تطبيق الآداب والسنن للشرب

Referensi: kitab Anniyat halaman 136 Cet Darul shalih mesir karangan Alhabib Sa’ad Muhammad bin Alawy Al Aidarusy Alhadramy wafat pada tahun 1432 hijriah

PENJELASAN TENTANG KEKALNYA KEHIDUPAN DI SURGA DAN NERAKA

Kehidupan dan kematian adalah mutlak berada ditangan Allah, tidak ada yang mengetahui kapan dan dimana kita hendak kembali menghadap-Nya. Ya, di dunia ini kita hanya diperintahkan untuk mencari keridhaan-Nya dengan senantiasa berbuat ibadah dan ta’at serta menjauhkan segala larangan-Nya dalam segala aspek kehidupan hingga akhirnya kelak kita akan memperoleh kebahagiaan yang abadi, kehidupan yang tidak berbatas waktu dengan kenikmatan yang tiada bandingannya di dunia ini, kenikmatan surga yang telah dijanjikan-Nya dalam Al-qur’an bagi siapa saja yang berbuat ta’at dalam dunia ini dan juga pedihnya siksa Neraka bagi siapa saja yang berbuat maksiat semasa hidup di dunia.

Kehidupan di dalam Surga dan Neraka adalah fase terakhir yang dilalui oleh setiap manusia setelah beberapa fase sebelumnya semenjak manusia berada dalam alam zuriyyat. Dalam keyakinan Ahlussunnah Wal Jama’ah bahwa keberadaan Surga dan Neraka adalah dua hal yang tak bisa dipungkiri dan bersifat kekal selama-lama tanpa berbatas waktu. Kekalnya seluruh penduduk surga dan neraka sebagai bentuk balasan terhadap masing-masing amalan mereka semasa hidup di dunia.

Ada kisah menarik tentang kenapa seluruh penduduk surga dan neraka kekal di dalamnya tanpa pernah merasakan lagi yang namanya kematian sebagai akhir kehidupan seperti halnya hidup di dunia. Kisah tersebut berdasarkan hadits yang kami nuqil dari sebuah kitab karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi yaitu kitab Ad Durarul Hisan fil Ba’tsi wa Na’imil Jinan. Berikut kisahnya:

Ketika seluruh penghuni surga sudah menempati surga dan penghuni neraka sudah menempati neraka maka kala itu didatangkanlah “kematian” yang berbentuk seekor kibas yang berwarna putih kehitaman sehingga diposisikan tepat dihadapan seluruh penghuni surga dan neraka. Dan diserulah kepada penduduk surga, “wahai penduduk Surga, apakah kalian kenal makhluk apakah ini.??” Mereka serentak menjawab, “itu adalah kematian, sembelihlah supaya kami tidak pernah mati lagi selama-lama.” Dan kemudian diserulah kepada seluruh penduduk neraka, “wahai penduduk neraka, apakah kalian kenal makhluk apakah ini ??”. mereka serentak menjawab “itu adalah kematian, janganlah kalian menyembelinya, mudah-mudahan kami dimatikan kembali oleh Allah dan kami bisa beristirahat sejenak dari pedihnya siksa neraka”. Kala itu disembelihlah kematian tersebut diantara penghuni surga dan neraka, kemudian diserukan, “wahai penghuni surga, kalian kekal selamanya tanpa ada lagi kematian dan wahai penduduk neraka, kalian kekal selamanya tanpa ada lagi kematian”. Maka pada ketika itu, bergembiralah seluruh penduduk surga karena kenikmatan yang mereka peroleh tidak berbatas waktu dan seluruh penduduk neraka merasa sedih yang tiada tara karena siksa yang berkepanjangan yang selalu mereka peroleh.

Terjadi perbedaan pendapat tentang siapa yang menyembelih kibas (kematian) tersebut. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa yang menyembelihnya adalah Yahya bin Zakaria dan ada yang berpendapat bahwa yang menyembelihnya adalah Jibril as. Wallahu a’lam bishshawab.

Referensi :

Durarul Hisan fil Ba’tsi wa Na’imil Hisan (hamisy daqaiqul akhbar) Hal. 30

إذا استقر أهل الجنة فى الجنة وأهل النار فى النار يؤتي بالموت كأنه كبش أملح يقف بين الجنة والنار وينادي مناد يا أهل الجنة هل تعرفون هذا؟ فيقولون بأجمعهم هذا الموت! فاذبحوه حتى لا نموت أبدا وينادي مناد يا أهل النار هل تعرفون هذا؟ فيقولون هذا الموت! لا تذبحوه عسى الله أن يقضي علينا بالموت فتستريح من العذاب قال فيذبح بين الجنة والنار ثم ينادي مناد يا أهل الجنة خلود بلا موت و يا أهل النار خلود بلا موت فحينئذ يفرح أهل الجنة بالخلود فيها ويغتم أهل النار لطول العذاب فيها. وأختلف فيمن يذبحه فقيل يحي ابن زكريا وقيل جبريل عليه السلام

INILAH BACAAN DO’A SEBELUM MEMBACA AL QUR’AN YANG BERUPA NADZOM

Do’a Sebelum Membaca Al-Qur’an

كَــلاَ مٌ قَدِ يمٌ لاَ يُمَلُّ سَمَــا عُـــهُ #تَنَــزَّهَ عَن قَو لٍ وَفِعلٍ وَنِيَّــــةٍ

Al-Qur’an adalah Kalamullah yang Qadim yang tidak ada kebosanan untuk didengarkan   # Yang disucikan dari ucapan, perbuatan dan kehendak

بِهِ اَشتـَفِى مِن كُلِّ دَا ءٍ وَنُو رُهُ # دَ لِيــلٌ لِقَلبِي عِندَ جَهــلِى وَحَيرَ تِى

Dengan Al-Qur’an itu aku minta kesembuhan dari segala penyakit dan cahaya Al-Qur’an   # itu menjadi petunjuk hatiku ketika aku dalam kebodohan dan kebingungan

فَيَـا رَبِّ مَتِّعــنِي بِسِرِّ حُرُفِهِ # وَنَوِّر بِهِ قَلبِي وَسَمعِــى وَمُقلَــتِى

Wahai Tuhanku, anugerahilah aku dengan rahasia dalam huruf Al-Qur’an #

dan berilah cahaya dihatiku, pendengaranku dan mataku dengan berkah Al-Qur’an

وَيَارَبِّ يَا فَتَّاح اِفتَح قُلُوبَنَا # وَفَهِّم بِهِ قَلبِى عُلُومَ الشَّرِيعَةِ

Tuhanku yang Maha Pembuka, bukakanlah hati kami   # dan fahamkanlah hati ini dengannya ilmu-ilmu syari’ah

وَصَلِّ وَسَلِّم يَا اِلهِى لِمُنذِرِ # عَدَدَ حُرُوفٍ بِالقُرانِ وَالسًّورَةٍ

Berilah shalawat (rahmat takdhim) serta keselamatan ya Tuhanku kepada penyeru (Nabi Muhammad saw) # sebanyak bilangan huruf-huruf dan surat-surat.

Wa Allahu a’lam…

TATA CARA BILAL DI SAAT SHOLAT GERHANA BULAN

KAIFIYYAH BILAL SHOLAT GERHANA

  1. Membaca Istighfar bersama-sama;

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ ×٣
مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ عَظِيْم.

  1. Ketika dirasa siap untuk dilaksanakan sholat gerhana, _bilal_ mengumandangkan bacaan tanda dimulainya sholat, yakni membaca:

“اَلصَّلَاةُ جَامِعَة !!”

  1. Pelaksanaan sholat gerhana.
  2. Selesai sholat, _bilal_ maju mengambil tongkat kemudian menghadap ke jama’ah dan dilanjutkan membaca:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ،
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ،
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ..
الَّذِيْ لَا إِلٰهَ إلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّوْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ.

يَامَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ وَزُمْرَةَ الْمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ..
رُوِيَ عَنِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ: إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ، لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذٰلِكَ فَصَلُّوْا وَادْعُوْا حَتَّى يَنْكَشِفَ مَا بِكُمْ.

أَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ،
أَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا آجَرَكُمُ اللهُ،
أَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ..

  1. _Khotib_ maju untuk menerima tongkat kemudian berhenti dengan posisi menghadap ke arah _qiblat_.
  2. Kemudian _bilal_ membaca do’a:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ،
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.
اَللّٰهُمَّ قَوِّ الْإسْلَامَ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءَ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى مُعَانِدِي الدِّيْنِ، يَارَبِّ اخْتِمْ لَنَا مِنْكَ بِالْخَيْرِ، وَ يَاخَيْرَ النَّاصِرِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارَكَ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

  1. Setelah itu, _Khotib_ mengucapkan salam kepada jama’ah.
  2. Kemudian _Khotib_ duduk sejenak dan _bilal_ membaca istighfar dengan suara yang keras (dalam keadaan duduk):

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ،
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ،
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ..
الَّذِيْ لَا إِلٰهَ إلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّوْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ.

  1. Selanjutnya _khotib_ melaksanakan khutbah. Setelah selesai khutbah pertama, _khotib_ duduk sebentar, lalu _bilal_ membaca istighfar dengan suara yang keras. Bacaan istighfar itu seperti:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ،
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ،
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ..
الَّذِيْ لَا إِلٰهَ إلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّوْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ.

  1. Kemudian _khotib_ berdiri untuk meneruskan khutbah kedua sampai selesai.

*Keterangan:* _Dalam khutbah gerhana, tidak disyaratkan Muwalah, namun hanya disunnahkan saja._

(Sullamul Futuhāt, karya KH. Abdul Hannan Ma’shum, juz 20, hlmn 44 s/d 47)