MENURUT ULAMA SALAFIYAH KLASIK BUMI ITU BULAT BUKAN DATAR

Ilmuan Eropa, Galileo Galilei (1546-1642) mengatakan dengan tegas bahwa bumi berbentuk bulat. Pernyataannya ini oleh otoritas Gereja dianggap menyimpang sehingga dia harus dihadapkan pada hukuman mati.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebenaran pernyataan Galileo tersebut pun semakin jelas. Belakangan, tak sedikit orang yang beranggapan bahwa dialah orang pertama yang menemukan teori bulatnya bumi.

 

Bagaimana Pendapat Ulama Islam?

Sebenarnya jauh-jauh sebelum Galileo, sudah banyak ulama dan ilmuan yang mengatakan bahwa pelanet bumi ini berbentuk bulat.

Lebih jelasnya mari kita lihat beberapa perkataan ulama Islam berikut ini:

Ilmuan Islam, Ibnu Khaldun (1332 – 1406 M / 732H – 808 H):

“Ketahuilah, sudah jelas di kitab-kitab para ilmuan dan peneliti tentang alam bahwa bumi berbentuk bumi….” (Muqaddimah Ibnu Khaldun, Kairo).

Ulama Islam, Ibnu Taimiyah (1263-1328 M):

“Ketahuilah, bahwa mereka (para ulama) sepakat bahwa bumi berbentuk bulat. Yang ada di bawah bumi hanyalah tengah. Dan paling bawahnya adalah pusat….” (Al-Jawab Ash-Shahih li Man Baddala Din Al-Masih).

Bagi Qazuaini (seorang ilmuan), salah satu bukti bumi berbentuk bulat adalah bintang-bintang dan planet-planet yang berbentuk bulat (Atsar Al-Bilad wa Akhbar Al-Bilad).

Selain mereka, masih banyak ilmuan dan ulama Islam klasik yang menyebutkan di dalam bukunya bahwa bumi berbentuk bulat. Di antara buku tersebut adalah:

  1. Muruj Al-Dzahab wa Ma’adin Al-Jauhar, oleh Mas’udi Ali Husain Ali bin Husain (w. 346 H).
  2. Ahsan Taqasim fi Ma’rifah Al-Aqalim, oleh Al-Maqdisi (w. 375 H)
  3. Kitab Shurah Al-Ardh, oleh Ibnu Hauqal
  4. Al-Masalik wa Al-Mamalik, oleh Al-Ishthikhry
  5. Ruh Al-Ma’ani, oleh Imam Al-Alusi (ulama tafsir Al-Qur’an)
  6. Mafatih Al-Ghaib, oleh Fakhru Ar-Razi (ulama tafsir Al-Qur’an)

Dan lain-lain.

Apakah Pendapat Mereka Bertentangan dengan Al-Qur’an?

Tentu saja tidak. Justru Dr. Hadi bin Mar’i dalam bukunya “Mausu’ah Al-Ilmiyah fi I’jaz Al-Qur’anul Karim” (Penerbit Attawfiqiah, Kairo) mengambil dalil bumi berbentuk bulat dari isyarat Al-Qur’an. Demikian juga para ahli tafsir lainnya. Salah satu isyarat tersebut terdapat dalam QS. Az-Zumar ayat 5:

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى أَلَا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar. Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam dan menundukan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah Yang Mahamulia, Maha Pengampun.” (Al-Qur’an terjemahan Pena Pundi Aksara).

Bagaimana dengan QS. Qaf: 7, QS. Nuh: 19-20, dan QS. Az-Zukhruf: 10? Beberapa kalangan awam yang hanya berpatokan pada Al-Qur’an terjemahan, ayat-ayat tersebut sering disalahpahami dan dijadikan dalil bahwa bumi di dalam Al-Qur’an berbentuk datar ibarat meja. Sementara para ahli tafsir yang notabenenya lebih paham dengan makna dan isyarat-isyarat bahasa Arab tidak mengatakan seperti itu. Bagi mereka ayat-ayat tersebut lebih menunjukkan bahwa Allah SWT menciptakan bumi sebagai tempat kehidupan yang sesuai; manusia bisa berjalan di atasnya dengan seimbang, bercocok tanam, beternak, melakukan aktivitas dan lain sebagainya.

Wallahu a’lam….

 

AYAT AYAT AL QUR’AN YANG MENJELASKAN PENCIPTAAN NABI ADAM AS.

Berikut ini beberapa ayat Al Quran yang menjelaskan mengenai penciptaan Adam a.s.

 

Al Baqarah

  1. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” [Al Baqarah 30]
  2. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” [Al Baqarah 31]
  3. Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana [Al Baqarah 32]
  4. Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” [Al Baqarah 33]
  5. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. [Al Baqarah 34]
  6. Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. [Al Baqarah 35]
  7. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” [Al Baqarah 36]
  8. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. [Al Baqarah 37]
  9. Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” [Al Baqarah 38]
  10. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. [Al Baqarah 39]

 

Ali Imran

  1. Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. [Ali Imran 59]

 

An Nisa

  1. Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[264], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. [An Nisaa 1]

 

Al Hujurat

 

  1. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. [Al Hujuraat 13]

 

Al A’raf

 

  1. Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.” [Al A’raf 189]
  2. Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. [Al A’raf 11]
  3. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” [Al A’raf 12]
  4. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” [Al A’raf 13]
  5. Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.” [Al A’raf 14]
  6. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” [Al A’raf 15]
  7. Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, [Al A’raf 16]
  8. kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). [Al A’raf 17]
  9. Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya.” [Al A’raf 18]
  10. (Dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.” [Al A’raf 19]
  11. Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).” [Al A’raf 20]
  12. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”, [Al A’raf 21]
  13. maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” [Al A’raf 22]
  14. Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. [Al A’raf 23]
  15. Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.” [Al A’raf 24]
  16. Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. [Al A’raf 25]

 

Thaha

 

  1. Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain, [Thaaha 55]

 

Al Hijr

 

  1. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. [Al Hijr 26]
  2. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.
  3. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk
  4. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.
  5. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama,
  6. kecuali iblis. Ia enggan ikut besama-sama (malaikat) yang sujud itu.
  7. Allah berfirman: “Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?”
  8. Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”
  9. Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk,
  10. dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat.”
  11. Berkata iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan,
  12. Allah berfirman: “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh,
  13. sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan,
  14. Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,
  15. kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.”
  16. Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya).
  17. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.
  18. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya.
  19. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.

 

Al Isra’

 

  1. Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu semua kepada Adam”, lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: “Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?” [Al Isra 61]
  2. Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil.”
  3. Tuhan berfirman: “Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup.
  4. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka.
  5. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga.”

Al Kahfi

 

  1. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam[884], maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim. [Al Kahfi 50]

 

Thaha

 

  1. Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan[947] kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat. [Thaaha 115]
  2. Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang.
  3. Maka Kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka.
  4. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang,
  5. dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya.”
  6. Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi[948] dan kerajaan yang tidak akan binasa?”
  7. Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia[949].
  8. Kemudian Tuhannya memilihnya[950] maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.
  9. Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.
  10. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
  11. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”
  12. Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan.”

 

Shad

 

  1. Katakanlah: “Berita itu adalah berita yang besar, [Shaad 67]
  2. yang kamu berpaling daripadanya.
  3. Aku tiada mempunyai pengetahuan sedikitpun tentang al mala’ul a’la (malaikat) itu ketika mereka berbantah-bantahan.
  4. Tidak diwahyukan kepadaku, melainkan bahwa sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata.”
  5. (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.”
  6. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.”
  7. Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya,
  8. kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir.
  9. Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?.”
  10. Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”
  11. Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk,
  12. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.”
  13. Iblis berkata: “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.”
  14. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh,
  15. sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat).”
  16. Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya,
  17. kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.
  18. Allah berfirman: “Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan.”
  19. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya.
  20. Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da’wahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan.
  21. Al Quran ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.
  22. Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al Quran setelah beberapa waktu lagi.

LIMA MAKHLUK INI DI CIPTAKAN ALLOH TANPA AYAH DAN IBU

Allah s.w.t telah mencipta lima makhlukNya tanpa melalui proses perkawinan antara lelaki dan perempuan atau jantan dan betina. Makhluk ini adalah sebagai berikut:

   Nabi Adam a.s karena baginda dicipta dari tanah.

   Saidatina Hawa yakni isteri Nabi Adam yang dicipta dari tulang rusuk sebelah kiri Nabi Adam.

   Kibas (domba) yang menjadi ganti kepada Nabi Ismail yang didatangkan oleh Allah s.w.t daripada syurga.

   Unta Nabi Solleh a.s yang dikeluarkan Allah s.w.t daripada batu.

   Ular mukjizat Nabi Musa a.s yang dijadikan oleh Allah s.w.t dari tongkat baginda.

Di luar bumi, banyak makhluk yang diciptakan tanpa ayah ibu, seperti:

   Malaikat

   Bouraq kendaraan yang dipakai Isra’ Mi’raj

   Bidadari

   dan banyak lainnya

INILAH CARA CARA AGAR BISA MENDAPATKAN ILMU AGAMA

Kita lebih perlu kepada sedikit adab dari pada kepada banyak ilmu” demikian ungkapan penting yang dituturkan Ibnu al-Mubarak. Ungkapan itu sama sekali bukan ungkapan yang mengecilkan peran ilmu. Karena, ilmu memang penting, bahkan sangat penting. Sejak kecil kita telah dipesankan ihwal pentingnya ilmu dan kewajiban menuntutnya. Tentu kita sangat mengenal sabda Rasulullah saw, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim”.

Tetapi Islam tak hanya menekankan pentingnya ilmu. Akhlaq yang mulia juga sangat penting, bahkan lebih penting lagi. Sabda Nabi saw yang sangat terkenal menegaskan hal itu, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.” Perhatikanlah, tujuan Nabi Saw diutus pun, sebagaimana yang beliau ungkapkan sendiri, adalah menyempurnakan akhlaq yang mulia. Tentu dalam pengertian yang luas dan menyeluruh yang dimulai dengan akhlaq terhadap Allah swt.

Dari hadits tersebut kita dapat memahami betapa Islam sangat mementingkan akhlaq. Dalam pelaksanaannya, akhlaq yang bersifat global itu terwujud dalam adab adab yang khusus, mulai dari adab terhadap Allah, adab terhadap Nabi, adab terhadap orang tua, adab terhadap anak, adab terhadap guru, murid, adab terhadap keluarga, tetangga, terhadap tamu, dan sebagainya. Juga adab dalam melakukan berbagai perbuatan, baik ibadah ibadah maupun yang lainnya.

Demikian pentingnya perkara adab, sehingga Ibnu Al-Mubarak juga mengatakan, “Barangsiapa meremehkan adab, niscaya dihukum dengan tidak memiliki hal hal sunnah. Barang siapa meremehkan sunnah sunnah, niscaya dihukum dengan tidak memiliki (tidak mengerjakan) hal hal yang wajib. Dan barang siapa meremehkan hal hal yang wajib, niscaya dihukum dengan tidak memiliki makrifah.”

Karena itulah, seorang ulama berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, sungguh , engkau mempelajari satu bab adab lebih aku sukai daripada engkau mempelajari tujuh puluh bab ilmu.”

Apa yang dituturkan Abdurrahman bin al-Qasim berikut ini semakin menguatkan hal tersebut, “Aku mengabdi kepada Imam Malik selama 20 tahun, dua tahun diantaranya untuk mempelajari ilmu dan 18 tahun untuk mempelajari adab. Seandainya saja aku bisa jadikan seluruh waktu tersebut untuk mempelajari adab (tentu aku lakukan).”

Apa yang dikatakan oleh Ibnu Al-Mubarak diatas tidak berarti ilmu tidak penting, karena jika demikian berarti bertentangan dengan ajaran agama. Kalimat “Kita lebih perlu kepada sedikit adab daripada kepada banyak ilmu” artinya bagi orang yang memiliki banyak ilmu tetapi tidak memiliki adab sama sekali, sedikit adab baginya lebih penting dan lebih ia perukan daripada ilmunya yang banyak yang tak disertai adab. Jadi, bukan berarti kita hanya butuh adab yang sedikit, dan bukan pula berarti tidak butuh ilmu yang banyak. Kita tetap butuh adab yang banyak sekaligus ilmu yang banyak pula.

Suatu ketika Imam Syafi’i menuturkan apa yang pernah dikatakan oleh gurunya, Imam Malik kepadanya, “Wahai Muhammad (nama Imam Syafi’i), jadikanlah ilmumu bagus dan adabmu halus”.

Ya, jika kita ingin memiliki kebahagiaan di dunia dan di akhirat, ilmu dan adab memang sama sama harus dimiliki, tak boleh dipilih salah satu saja. Wajarlah jika kemudian ada ulama yang mengatakan, “Apabila seorang pengajar menggabungkan tiga hal (memiliki ketiganya), sempurnalah nikmat yang dirasakan oleh pelajar: Kesabaran, tawadhu’, dan akhlaq yang baik. Dan apabila seorang murid menggabungkan tiga hal (memiliki ketiganya), niscaya akan sempurnalah nikmat yang dirasakan oleh pengajar: akal, adab dan pemahaman yang baik.” Demikian dikutip dari kitab al-Ihya’.

Literatut literatur kita sangat kaya dengan kisah kisah adab para salaf dalam menuntut ilmu dan sangat banyak butiran mutiara hikmah yang dapat kita petik darinya. Uraian berikut akan memaparkan sebagian diantaranya, yang fokusnya pada adap terhadap ilmu dan terhadap guru, yang sebagian besar bahannya dikutip dari kitab Al-Manhaj As-Sawi, karya Habib Zein bin Ibrahim bin Smith.

Dihikayatkan bahwa suatu saat Abu Yazid Al-Busthami, tokoh sufi terkemuka, bermaksud mengunjungi seorang laki laki yang dikatakan memiliki kebaikan. Maka ia pun menunggunya di sebuah masjid.

Orang yang ditunggu itu pun keluar, kemudian meludah di masjid, yakni di dindingnya sebelah luar.

Menyaksikan hal itu, Al-Busthami pun pulang dan tidak jadi bertemu dengannya. Ia mengatakan “Tidak dapat dipercaya untuk menjaga rahasia Allah, orang yang tidak dapat memelihara adab syari’at.”

Sebelum memperhatikan perincian adab yang mesti dijaga saat menuntut ilmu, langkah pertama yang harus dilakukan oleh seorang penuntut ilmu adalah membersihkan hatinya. Mengenai hal ini, al-Imam An-Nawawi mengatakan dalam mukadimah kitab Syarh al-Muhadzdzab, “Semestinya seorang pelajar membersihkan hatinya dari kotoran agar layak untuk menerima ilmu, menghafalnya, dan mendapatkan buahnya.”

Masalah hati memang sangat ditekankan dalam islam, karena ia menjadi kunci terpenting dari segala sesuatu. Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, terdapat hadits Rasulullah saw yang menyebutkan, “Sesungguhnya didalam tubuh terdapat segumpal daging yang, apabila baik, baik pula seluruh tubuh, dan, apabila rusak, rusak juga seluruh tubuh. Ketahuilah itulah hati.”

Para ulama mengatakan, membersihkan hati untuk ilmu seperti membersihkan tanah untuk ditanami. Al-Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad membuat perumpamaan yang sangat tepat tentang hal itu. “Seandainya engkau datang membawa bejana yang kotor kepada seseorang yang engkau ingin mendapatkan minyak atau madu atau semacamnya dari orang itu, ia akan berkata kepadamu, “Pergilah, cucilah dulu”. Ini dalam urusan dunia, lalu bagaimana rahasia rahasia ilmu akan ditempatkan dalam hati yang kotor?”

Diriwayatkan ketika Imam Syafi’i mendatangi Imam Malik dan membaca kitab al-Muwaththa kepadanya dengan hafalan yang membuatnya kagum dan kemudian Imam Syafi’i menyertainya terus, Imam Malik berkata kepadanya, “Wahai Muhammad, bertaqwalah kepada Allah dan jauhilah perbuatan maksiat, karena sesungguhnya engkau akan memiliki sesuatu yang sangat penting.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Imam Malik berkata kepadanya, “Sesungguhnya Allah telah menempatkan cahaya didalam hatimu, maka janganlah engkau padamkan ia dengan perbuatan perbuatan maksiat.”

Imam Syafi’i, yang telah membuat kagum para gurunya, termasuk Imam Malik, pernah mengadukan perihal dirinya yang belum memuaskannya, “Aku mengadukan kepada Waki’ (nama salah seorang gurunya) buruknya hafalanku. Maka ia berikan petunjuk kepadaku untuk meninggalkan maksiat. Dan memberitahukan kepadaku bahwa ilmu itu cahaya. Dan cahaya Allah tak akan diberikan kepada yang melakukan maksiat.”

Sahl bin Abdullah, tokoh ulama lain, menambahkan, “Sulit bagi hati untuk dimasuki oleh cahaya jika didalamnya terdapat sesuatu yang dibenci oleh Allah”.

Seorang penuntut ilmu juga mesti memiliki niat yang baik dalam menuntut ilmu, karena niat itu merupakan pokok dalam semua perbuatan, berdasarkan sabda Nabi Saw, “Hanyasanya semua perbuatan itu tergantung niatnya,” Karena itu ia mesti bertujuan untuk mendapatkan keridhoan Allah, mengamalkan nya, menghidupkan syari’at, dekat dengan Allah, menghilangkan kejahilah dari dirinya dan dari semua orang yang bodoh, menghidupkan agama dan melestarikan ajaran Islam dengan melakukan amar ma’ruf nahi munkar terhadap dirinya dan orang lain semampu mungkin.

Tawadhu’ dan Mengabdi kepada Ulama

Semestinya seorang penuntut ilmu tidak menghinakan dirinya dengan perbuatan tamak dan menjaga diri dari perbuatan takabur. Imam Syafi’i mengatakan, “Tidak akan berbahagia seseorang yang mempelajari ilmu dengan kekuasaan dan tinggi hati, melainkan yang mempelajarinya dengan rendah hati, kehidupan yang sulit, dan mengabdi kepada ulama, dialah yang akan bahagia.”

Meraih ilmu memang sering kali tidak mudah, bahkan terkadang bisa membuat orang yang mengejarnya merasa rendah di hadapan orang yang ingin diambil ilmunya. Didalam suatu riwayat disebutkan, Ibnu Abbas mengatakan, “Aku hina ketika menuntut ilmu lalu mulia ketika menjadi orang yang dituntut ilmunya.”

Ibnu Abbas sering pergi ke rumah Ubay bin Ka’ab. Terkadang ia mendapati pintu rumah Ubay terbuka sehingga ia segera diizinkan masuk, dan terkadang pintunya tertutup sedangkan ia malu untuk mengetuknya. Maka ia berdiam saja sampai siang, tetap duduk di depan pintu rumah. Angin menerbangkan debu kearahnya sampai akhirnya ia menjadi tidak dapat dikenali karena banyaknya debu yang menempel ditubuhnya dan pakaiannya.

Lalu Ubay keluar dan melihatnya dalam keadaan demikian. Hal itu membuatnya merasa tidak enak. “Mengapa engkau tidak meminta izin?” tanyanya. Ibnu Abbas beralasan malu kepadanya.

Pernah terjadi juga, disuatu hari Ubay ingin menunggu kendaraan, maka Ibnu Abbas mengambil hewan kendaraanya sehingga Ubay menaikinya kemudian ia berjalan bersamanya. Maka berkatalah Ubay kepadanya, “Apa ini, wahai Ibnu Abbas?”

Ibnu Abbas menjawab, “Beginilah kami diperintahkan untuk menghormati ulama kami”

Ubay menaiki kendaraan sedangkan Ibnu Abbas berjalan dibelakang kendaraan Ubay. Ketika turun, Ubay mencium tangan Ibnu Abbas. Maka berkatalah Ibnu Abbas kepaanya, “Apa ini?”

Ubay menjawab, “Begitulah kami diperintahkan untuk menghormati ahlul bayt nabi kami.” Demikian disebutkan oleh al-Habib Al-Allamah Abdullah bin al-Hussain Bilfaqih sebagaimana tersebut dalam kitab Iqd Al-Yawaqit.

Pentingnya mengabdi kepada ulama dan taat kepada mereka juga dituturkan oleh Sufyan bin Uyaynah. Ia mengatakan, “Aku telah membaca al-Quran ketika berusia empat tahun dan menulis hadits ketika berusia tujuh tahun. Ketika usiaku sampai 15 tahun, ayahku berkata kepadaku, ‘Anakku, syari’at bagi anak anak telah terputus darimu. Maka bercampurlah dengan kebaikan. Niscaya engkau akan menjadi ahlinya. Ketahuilah, seseorang tidak akan berbahagia dengan ulama kecuali orang yang menaati mereka. Karena itu, taatilah mereka, niscaya engkau akan bahagia. Dan mengabdilah kepada mereka, niscaya engkau akan mendapatkan ilmu mereka’.

Maka aku mengikuti wasiat ayahku dan tidak pernah berpaling darinya.” Demikian dikutip oleh an-Nawawi dalam Tahdzib-nya.

Meskipun seorang murid harus taat, mengabdi, dan melayani gurunya, seorang guru pun akan mendapatkan kemuliaan bila melayani muridnya. Artinya, membantu segala sesuatu yang dapat memperlancar dan memudahkan murid belajar kepadanya. Mengenai ini, ada sebuah ucapan penting dari al-Imam Ja’far ash-Shadiq, “Ada empat hal yang tidak semestinya seorang yang mulia memandangnya rendah: bangun dari majelisnya untuk menyambut ayahnya, melayani tamunya, mengurusi kendaraannya, dan melayani orang yang belajar kepadanya.”

Ada sebuah perkataan penting dari Mujahid yang perlu kita simak. “Tidak akan dapat mempelajari ilmu, orang yang pemalu, dan tidak juga orang yang sombong.”

Ungkapan itu dijelaskan oleh Habib Zein bin Smith: Seorang yang pemalu tidak dapat mempelajarinya karena ia tercegah oleh rasa malunya untuk mempelajari agama dan menanyakan apa yang tidak diketahuinya, sedangkan orang yang sombong tercegah oleh sikap takaburnya dari mengambil manfaat dan belajar kepada orang yang lebih rendah derajatnya. Tidaklah seseorang menjadi alim sampai ia mengambil ilmu dari orang yang berada diatasnya, dari orang yang sama dengannya, dan dari orang yang berada dibawahnya.

Al-Habib Idrus bin Umar al-Habsyi mengatakan, “Semestinya penuntut ilmu mengambil manfaat yang bersifat ilmiyah dan adab yang baik dari mana saja ia dapatkan,baik dari orang dekat, orang jauh, orang yang tinggi kedudukannya, atau orang yang rendah kedudukannya, orang yang suka menampakkan diri ataupun orang yang suka menyembunyikan diri, dan tidak terbelenggu oleh kebodohan dan kebiasaan, serta tidak mencegah dirinya untuk mengambil ilmu dari orang yang tidak terkenal. Karena, jika mencegahnya, ia termasuk orang yang jahil dan lalai dari apa yang tersebut dalam hadits, “Hikmah itu adalah barang hilang kepunyaan setiap mukmin, dimana saja ia dapatkan, hendaklah ia ambil.”

Ia juga lalai dari apa yang dikatakan sebagian ahli hikmah, “Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan.”

Secara tegas, Abu al-Bakhtari mengatakan, “Bahwa aku berada disuatu kaum yang lebih alim daripada aku lebih aku sukai daripada aku berada di suatu kaum yang aku paling alim diantara mereka. Karena, jika aku orang yang paling alim diantara mereka, aku tidak dapat mengambil manfaat; sebaliknya jika aku berada bersama orang orang yang lebih alim dariku, niscaya aku dapat mengambil manfaat,” Demikian dikutip oleh Al-Yafi’i dalam Mir’at al-Jinan.

Mengejar ilmu, dan merasa diri belum bisa atau kurang menguasai, menjadi syarat penting untuk meraih ilmu, sebagaimana dikatakan Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, “Tidak dibukakan bagi seseorang mengenai suatu ilmu sampai ia mencarinya dan meyakini bahwa ia belum memilikinya.”

 

Sedikit Makan dan Tidur

Menahan diri dari banyak bersenang senang, terutama makan dan tidur, juga menjadi syarat penting seorang yang sedang berjuang untuk mendapatkan ilmu. Bagaimana mungkin seorang yang hidupnya selalu bersantai santai, rakus terhadap berbagai makanan, dan suka tidur, akan bisa mendapatkan ilmu yang banyak? Itulah sebabnya Sahnun mengatakan, “Ilmu itu tidak patut dimiliki orang yang biasa makan sampai kenyang.”

Luqman al-Hakim, seorang bijak yang namanya terabadikan dalam Al-Quran, menyampaikan hikmah penting kepada anaknya, “Wahai anakku, jika perut telah penuh, niscaya pikiran akan tidur, hikmah akan tuli, dan anggota anggota badan akan lumpuh dari ibadah.”

Itulah sebabnya, sejak dulu para ulama terkemuka disaat saat berburu ilmu senantiasa menjaga dirinya dari banyak makan. Diantaranya, sebagaimana yang dikemukakan Imam Syafi’i, “Aku tidak pernah kenyang sejak berusia 16 tahun, karena kenyang itu memberatkan badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, mendatangkan tidur, dan melemahkan dari ibadah.” Demikian dikutip dari kitab Hilyah al-Auliya.

Berkaitan dengan itu, penting kita perhatikan pesan Sayyidina Umar bin Khotthob berikut ini, “Jauhilah oleh kalian sifat rakus dalam makanan dan minuman, karena itu membawa kerusakan bagi tubuh, menyebabkan kegagalan, dan membuat malas dari melakukan sholat. Hendaklah kalian sederhana di dalam keduanya (makanan dan minuman), karena itu yang lebih baik bagi tubuh dan lebih menjauhkan dari pemborosan. Dan sesungguhnya Allah benci kepada seorang alim yang gemuk.” Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam ath-Thib an-Nabawi yang dikutip dalam kitab Kasyf al-Khafa.”

LAKUKANLAH CARA CARA INI AGAR BISA MENDAPATKAN ILMU

Adab terhadap Guru

Di dalam sebuah riwayat terdapat ungkapan berikut, “Pelajarilah ilmu dan pelajarilah untuk kepentingan ilmu itu, ketenangan dan kewibawaan, dan bertawadhu’lah kepada orang yang engkau belajar darinya.” Imam An-Nawawi mengatakan, “Semestinya seorang murid itu bersikap tawadhu’ kepada gurunya dan beradab terhadapnya sekalipun ia (gurunya) lebih muda usianya, lebih sedikit terkenalnya, lebih rendah nasabnya, dan lebih sedikit kebaikannya. Dengan sikap tawadhu’nya ia akan memahami ilmu.”

Pengertian tersebut juga tergambar dalam sebuah syair, yang artinya:

Ilmu itu memusuhi pemuda yang tinggi hati

Sebagaimana banjir memusuhi tempat yang tinggi

Seberapa banyak ilmu yang akan didapat seseorang dari gurunya diantaranya tergantung sejauh mana adabnya terhadap sang guru. Tokoh ulama Hadhramaut, Imam Ali bin Hasan Al-Attas, mengatakan, “Sesungguhnya yang diperoleh dari ilmu, pemahaman, dan cahaya, yakni terungkapnya hijab, adalah menurut ukuran adab terhadap guru. Sebagaimana ukurannya yang ada pada dirimu, demikian pula ukuran itu disisi Allah tanpa diragukan lagi.”

Ia juga mencontohkan bagaimana dimasa lalu anak anak, meskipun anak khalifah atau raja, dididik untuk menghormati dan melayani gurunya. “Al-Amin dan Al-Ma’mun, dua orang putra Harun Ar-Rasyid, saling berlomba untuk meraih sandal guru mereka, Al-Kisa’i, agar dapat memakaikan sandal itu kepada gurunya.

Maka berkatalah guru mereka kepada mereka pada saat itu, ‘Masing masing memegang satu’.

Ya, guru memang harus dilayani dan dihormati, karena ia bagaikan orangtua kita. Di dalam hadits dikatakan, “Ayahmu itu ada tiga: Ayah yang melahirkanmu (melalui ibumu), ayah yang menikahkanmu dengan putrinya (mertua), dan ayah yang mengajarimu, dan dialah yang paling utama.” Demikian keterangan dari kitab al-‘Athiyyah al-Haniyyah.

Mengenai hal itu, ada orang yang mengatakan, “Aku dahulukan guruku dibandingkan bakti kepada ayahku. Sekalipun aku mendapatkan kebaikan dan kasih sayang dari ayahku. Yang ini adalah pendidik jiwaku, dan jiwa itu adalah permata. Dan yang itu pendidik tubuhku dan ia bagaikan kerang baginya”.

Al-Imam Sya’rani mengatakan, “Telah sampai kepada kami ucapan dari Syaikh Bahauddin as-Subki, ‘Ketika aku sedang menaiki kendaraan bersama ayahku, yakni Syaikhul Islam Taqiyyuddin as-Subki, di suatu jalan di negeri Syam, tiba tiba ia mendengar seseorang dari kaum petani Syam mengatakan: Aku pernah bertanya kepada Al-Faqih Muhyiddin An-Nawawi tentang masalah ini dan itu.

Maka turunlah ayahku dari kudanya dan mengatakan: Demi Allah, aku tidak akan mengendarai tunggangan sedangkan mata melihat Muhyiddin berjalan!

Kemudian ia memintanya untuk mengendarai kuda, sedangkan beliau sendiri berjalan sampai memasuki negeri Syam’.”

Kemudian Asy-Sya’rani mengatakan, “Begitulah, wahai saudaraku, para ulama berlaku terhadap guru guru mereka meskipun ia tidak menjumpainya karena datang beberapa tahun setelah kematiannya.”

Betapa besarnya penghormatan dan kecintaan para tokoh ulama dahulu terhadap para gurunya dapat kita simak dari ucapan Abu Hanifah berikut ini, “Sejak Hammad (yakni gurunya) wafat, aku tidak pernah melakukan sholat melainkan aku mintakan ampunan untuk nya beserta kedua orang tuaku, dan sesungguhnya aku selalu memohonkan ampunan untuk orang yang aku belajar darinya suatu ilmu atau orang yang aku ajari ilmu,”

Abu Yusuf, murid Abu Hanifah, juga sangat mencintai gurunya itu, “Sesungguhnya aku mendoakan Abu Hanifah sebelum mendoakan ayahku, dan aku pernah mendengar Abu Hanifah mengatakan, ‘Sesungguhnya aku mendoakan Hammad bersama kedua orang tuaku’.” Demikian disebutkan dalam kitab Tahdzib al-Asma’, karya Imam Nawawi.

Apa yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i berikut ini mungkin akan membuat kita tercengang, “Aku senantiasa membuka kertas kitab di hadapan Malik dengan lembut agar ia tidak mendengarnya, karena hormat kepada beliau.” Bahkan Ar-Rabi’, sahabat asy-Syafi’i sekaligus muridnya, mengatakan, “Aku tidak berani minum air sedangkan Asy-Syafi’i melihatku, karena menghormatinya.”

Banyak lagi kisah yang mungkin akan membuat kita terheran heran dengan penghormatan mereka kepada para gurunya. Al-Imam Asy-Sya’rani mengatakan, “Telah sampai keterangan kepada kami mengenai Imam An-Nawawi bahwa suatu hari ia dipanggil oleh gurunya, Al-Kamal Al-Irbili, untuk makan bersamanya.

Maka ia mengatakan, “Wahai Tuanku, maafkan aku. Aku tidak dapat memenuhinya, karena aku mempunyai uzur syar’i. Dan ia pun meninggalkannya.

Kemudian seorang kawannya bertanya kepadanya, ‘Uzur apa itu?’

Ia menjawab, ‘Aku takut bila guruku lebih dahulu memandang suatu suapan tetapi aku yang memakannya sedangkan aku tidak menyadarinya.’

Apabila ia keluar untuk belajar dengan membaca kitab kepada gurunya, ia lebih dahulu bersedekah di jalan yang ia lakukan dengan niat untuk gurunya dan mengucapkan doa, “Ya Allah, tutupilah dariku aib guruku agar mataku tidak melihat kekurangannya dan agar tidak ada seorang pun yang menyampaikan kepadaku.” Perhatikanlah, sebegitu jauhnya perhatian dan kecintaan mereka kepada guru.

Diriwayatkan, Amirul Mu’minin, Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, “Diantara hak gurumu terhadapmu adalah engkau mengucapkan salam kepada orang secara umum dan mengucapkannya secara khusus kepadanya, engkau duduk didepannya, jangan menunjuk dengan tanganmu disisinya, dan jangan memberi isyarat dengan matamu, jangan pula engkau mengatakan, ‘Fulan mengatakan yang berbeda dengan yang Tuan katakan’, jangan mengghibah seseorang di hadapannya, jangan bermusyawarah dengan temanmu di majelisnya, jangan memegang bajunya apabila ia bangun, jangan mendesaknya apabila ia tampak sedang malas, dan jangan pula berpaling darinya.” Demikian disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam kitabnya, At-Tibyan fi Adabi Hamalah al-Qur’an.

Abu bakar bin Ayyasy mengatakan, “Ketika saudara Sufyan ats-Tsauri wafat, orang orang berkumpul menemuinya untuk berta’ziyah, lalu datanglah Abu Hanifah. Maka bangkitlah Sufyan kearahnya, memeluknya, mendudukkan di tempatnya, dan ia duduk dihadapannya.

Ketika orang orang telah bubar, para sahabat Sufyan mengatakan, ‘Kami melihatmu melakukan sesuatu yang mengherankan.’

Sufyan menjawab, ‘Orang ini adalah orang yang memiliki kedudukan dalam ilmu. Seandainya aku tidak bangun karena ilmunya, aku tetap akan bangun karena usianya. Sendainya aku tidak bangun karena usianya, aku tetap akan bangun karena kefaqihannya. Dan seandainya aku tidak bangun karena kefaqihannya, aku akan tetap bangun karena sifat wara’nya.”

Habib Ahmad bin Umar al-Hinduan mengatakan, “Yang membuat orang orang tidak mendapatkan ilmu hanyalah karena sedikinya penghormatan mereka terhadap orang orang yang berilmu,”

Dua belas Syarat

Syaikh Zakariya dalam kitabnya, al-Lu’lu’ an-Nazhim fi Rawum at-Ta’allum wa at-Ta’lim, mengatakan, “Syarat syarat mempelajari ilmu dan mengajarkannya ada dua belas (12) :

Pertama, mempelajarinya dengan maksud sebagaimana ilmu itu dibuat.

Kedua, mencari ilmu yang dapat diterima oleh tabi’atnya, karena tidak setiap orang layak untuk mempelajari berbagai ilmu, dan tidak semua yang layak mempelajarinya, layak untuk semuanya, melainkan setiap orang hanya dimudahkan untuk sesuatu yang ia diciptakan (ditakdirkan) untuk itu.

Ketiga, mengetahui tujuan ilmu itu agar yakin dengan perkaranya.

Keempat, menguasai ilmu itu dari awal sampai akhir.

Kelima, mencari kitab kitab yang baik yang mencakup semua disiplin.

Keenam, membaca kepada seorang guru yang dapat memberikan bimbingan dan seorang terpercaya yang dapat memberikan nasihat, dan tidak berkeras kepala dengan dirinya dan kecerdasannya.

Ketujuh, bermudzakarah dengan teman temannya untuk mencari pertahqiqan, bukan untuk mencari kemenangan, melainkan untuk menolong memberikan manfaat dan mengambil manfaat.

Kedelapan, apabila telah mengetahui ilmu itu, jangan menyia nyiakannya dengan mengabaikannya, dan jangan pula mencegahnya dari orang yang patut mendapatkannya, berdasarkan hadits, “Barang siapa mengetahui suatu ilmu yang bermanfaat lalu ia menyembunyikannya, niscaya Allah pada hari Kiyamat memasangkan kendali pada dirinya denga kendali dari neraka.” Tapi jangan pula memberikannya kepada orang yang tak layak menerimanya, sebagaimana yang terdapat dalam perkataan para nabi, “Janganlah kalian ikatkan permata pada leher babi.” Artinya, janganlah kalian berikan ilmu kepada orang yang tak layak menerimanya. Dan hendaknya mencatat apa yang dapat disimpulkan.

Kesembilan, jangan meyakini dalam suatu ilmu bahwa telah mendapatkan darinya dalam ukuran yang tidak dapat bertambah lagi, karena itu suatu kekurangan.

Kesepuluh, mengetahui bahwa setiap ilmu itu ada batasnya, maka janganlah melampauinya dan jangan pula kurang darinya.

Kesebelas, janganlah memasukkan suatu ilmu pada ilmu yang lain, baik dalam belajar maupun dalam diskusi, karena hal itu dapat membingungkan pemikiran.

Kedua belas, setiap murid dan guru hendaknya memperhatikan hak yang lainnya, terutama pihak pertama (murid), karena gurunya bagaikan ayahnya bahkan lebih agung, karena ayahnya telah mengeluarkan dia ke negeri fana (dunia) sedangkan gurunya menunjukkannya ke negeri yang kekal. Demikian dikutip dari kitab Mathlab al-Iqazh fi Ghurar al-Alfazh, karya al-Allamah ‘Abdullah bin Husain Bilfaqih.

Yang Wajib dan Tak Wajib

Ar-Rabi’ bin Sulaiman mengatakan, “Aku mendengar Asy-Syafi’i mengatakan, ‘Penuntut ilmu butuh tiga perkara: Usia yang panjang, harta dan kecerdasan.’” Hal itu juga ia katakan dalam sebuah syair:

saudaraku…

kau tak akan mendapat ilmu

kecuali dengan enam perkara

Aku akan memberitahukan engkau

dengan penjelasan yang terperinci

Kecerdasan, kemauan, kesungguhan, biaya

juga petunjuk guru dan masa yang lama

Imam Ahmad bin Zain al-Habsyi mengatakan, “Bagi orang yang ingin mendapatkan manfaat dengan ilmu untuk dirinya saja tanpa memperhatikan apakah ilmu itu bermanfaat untuk orang lain atau tidak, hendaklah ia mengutamakan ilmu yang lebih berpengaruh terhadap hatinya dan lebih dapat melembutkannya. Dan hendaklah ia mengikatnya dengan menulis, mengulang ulangi dan semacamnya, yang dapat membuatnya bertambah kukuh. Karena, hal itu lebih bermanfaat bagi dirinya dibandingkan banyak ilmu yang tidak membuatnya mendapatkan pengaruh, kelembutan, dan kekhusyu’an. Demikian pula dalam semua perbuatan, keadaan, dan sebagainya, hendaklah seseorang mencari yang paling layak untuknya meskipun tidak layak dan tidak sesuai bagi orang lain. Ini bagi orang yang menginginkan mendapatkan manfaat untuk dirinya saja.

Adapun orang yang menginginkan dapat memberikan manfaat kepada orang lain dengan ilmunya, hendaklah ia menjadi seperti seorang dokter yang memperhatikan penyakit, sebab sebabnya, materinya, dan memberikan kepada orang yang sakit itu obat yang sesuai dengan penyakitnya. Mungkin saja ada orang yang datang kepadanya yang memiliki penyakit yang sama, lalu ia memberikannya obat yang lain, tidak seperti obat yang diberikannya kepada orang yang sebelumnya (meskipun penyakitnya sama), karena ia tahu bahwa sebab yang menyebabkan penyakitnya berbeda dengan sebab yang menyebabkan penyakit orang lain.

Demikian pula dengan ilmu ilmu, ia berikan kepada setiap orang yang patut menerimanya dan tidak mengukur orang dengan ukuran yang sesuai bagi dirinya. Ini juga berlaku pada orang yang ingin membuat karangan dan semacamnya.” Demikian dikutip oleh Al-Imam Muhammad bin Zain bin Semith dalam kitab Qurrah al-‘Ain wa Jila’ ar-Rayn.

Al-Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad mengatakan, “Hendaklah seseorang menguasai suatu disiplin ilmu sampai ia dinisbahkan dengan ilmu itu dan dikenal dengannya.”

Sayyidina Ali mengatakan, “Barang siapa banyak dalam sesuatu, ia akan dikenal dengannya.” Dan hendaklah ia mengambil sekadarnya dalam setiap ilmu yang lainnya dan menguasainya secara global, sehingga, apabila ditanya tentang sesuatu, ia memiliki pengetahuan tentang itu dan tidak jahil (bodoh).

Karena itu, Imam As-Suyuti mengarang kitab An-Nuqayah (kitab yang mengulas intisari empat belas ilmu) dan mensyarahkannya. Dan apabila menghafal (menguasai sesuatu ilmu), ia menguasai semua ilmu yang berhubungan dengannya.

“Jika engkau memiliki ilmu tersebut sekadarnya, dalam ilmu ilmu yang berkaitan dengannya juga cukup menguasai sekadarnya, dan lebih baik bagimu menguasai sepuluh masalah dengan sebaik baiknya daripada membaca sebuah kitab dengan sempurna tetapi tidak menguasainya.” Demikian yang dikatakan Imam Abdullah Al-Haddad.

Ia juga mengatakan, “Ilmu ushul itu ada dua. Pertama, ilmu ushuluddin, seperti masalah masalah aqidah. Seseorang harus mengabil ilmu ini sesuai dengan kebutuhannya, seperti aqidah yang dijelaskan oleh Imam al-Ghazali. Kedua, ilmu ushul fiqih. Ilmu ini sulit dan tidak mudah dipahami, ia tidak wajib bagi setiap orang. Maka semestinya seseorang mengambil dari kedua ilmu ushul tadi sesuai dengan kebutuhannya yang mendesak. Kemudian ia mengambil kitab kitab yang dapat melembutkan hatinya, menggemarkannya kepada akhirat, dan membuatnya zuhud di dunia.

Kemudian ia beribadah dan bersungguh sungguh dalam melakukannya, dan banyak membaca al-Quran dengan kesungguhan. Apabila tidak memungkinkannya melakukan itu di sebagian waktu, hendaklah banyak berzikir dan melazimkannya dalam setiap keadaannya, karena umur itu singkat dan orang yang menganggur menyia nyiakan sebagian besarnya. Dan hendaklah puncak perhatian dan muthala’ahnya adalah pada masalah masalah yang penting dari hal hal tersebut tadi. Jadi, ia melakukan muthala’ah hal hal yang penting dan menghafal hal hal yang penting. Jika ia ingin melakukan muthala’ah mengenai yang lain, ia dapat melakukan nya kadang kadang saja.” Demikian dikutip dari kitab Tatsbit al-Fuad.

Al-Imam Ahmad bin Zain al-Habsyi mengatakan, “Hendaknya seorang penuntut jalan akhirat senantiasa mencari cari manfaat dimanapun berada, baik kepada orang yang ahli maupun bukan ahli, mau mengambil dari setiap orang bagaimana pun ia, baik ia orang alim maupun orang awam. Karena, terkadang akhlaq yang bagus ia dapati pada sebagian orang awam dan tidak ia dapati pada yang lainnya dan juga tidak pada dirinya. Diantara keadaan seorang yang benar adalah mengambil dari teman bergaulnya segala yang baik yang ia lihat terdapat padanya baik, ucapan maupun perbuatan, dan meninggalkan apa yang buruk darinya. Apabila ia mengambil manfaat yang ia dapatkan padanya, janganlah ia mengambil kerusakan dan penyimpangan yang ada pada orang itu.” Demikian dari kitab Qurrah al-‘Ain.

Ia juga mengatakan, “Pemahaman itu bagi yang memilikinya merupakan nikmat yang sangat besar, tetapi mereka terkadang tidak merasakannya sebagai nikmat, karena mereka memandang hal itu bisa diperoleh dari membaca kitab, misalnya. Dan orang yang melakukan muthala’ah kitab kitab hendaknya memohon pertolongan kepada Allah agar memudahkan pemahaman baginya dan dapat membayangkannya sehingga ia dapat memperoleh apa yang dituntut dan Allah membukakan baginya pemahaman dalam agama.” Demikian keterangan dari kitab Qurrah al-‘Ain.

Al-Imam Ahmad bin Hasan Al-Attas mengatakan, “Ada dua perkara yang baik untuk diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu: Pertama, ia tidak masuk pada sesuatu dari ilmu ilmu dan amal amalnya melainkan dengan niat yang baik. Kedua, ia memperhatikan buah dari hasilnya. Apabila tidak memperhatikan ini, ia tidak mendapatkan manfaat.”

Ia juga mengatakan, “Apabila seorang penuntut ilmu membaca suatu kaidah dan ia ingin menghafalnya tetapi tidak ada padanya tinta dan tidak ada pula pena, hendaklah ia menulisnya dengan jarinya pada tangannya atau pada lengannya.”

Diriwayatkan, suatu ketika Imam Syafi’i sempai di Madinah dan duduk di halaqah Imam Malik. Ketika itu Imam Malik sedang mendiktekan kitab Al-Muwathta’ kepada orang orang yang ada disana. Imam Malik mendiktekan 18 hadits sedangkan Imam Syafi’i berada dibarisan belakang. Imam Malik menatapnya dengan pandangannya ketika Imam Syafi’i menulis dengan jarinya pada punggung tangannya.

Ketika jama’ah majelis telah bubar, Imam Malik memanggilnya dengan bertanya kepadanya tentang negerinya dan nasabnya.

Maka Imam Syafi’i pun memberitahukannya.

Lalu Imam Malik berkata kepadanya, “Aku melihatmu memain mainkan tanganmu di punggung telapak tanganmu.”

Imam Syafi’i menjawab, “Tidak, melainkan apabila Tuan mendiktekan sebuah hadits, saya menulisnya diatas punggung tangan saya. Jika tuan mau, saya akan ulangi apa yang tuan diktekan kepada kami.”

Imam Malik berkata, “Bacakanlah.”

Maka Imam Syafi’i pun mendiktekan 18 hadits yang semula didiktekan oleh imam Malik.

Melihat itu, Imam Malik pun mendekatkannya kepada dirinya.

HATI HATI DALAM MEMILIH DAN MENENTUKAN GURU ILMU AGAMA

Diriwayatkan bahwa Sayyidina Abdullah bin Abbas Ra, ketika ia wafat terdengar suara dari dalam kuburnya, suara ayat itu tanpa wujud, Para Mufassirin (Ahli Tafsir) menjelaskan ayat ini, turun kepada para salihin untuk memberi kabar kepada mereka, hajad-hajad mereka, “Wahai yang mempunya jiwa yang tenang, kembalilah kepada Pemilikmu dengan ridho dan diridhoi, maka masuklah dalam kelompok para pengabdi Ku, dan masuklah sorga Ku”

Siapa jiwa yang tenang? Jiwa yang sering berdzikir kepada Allah, Menunjukan jiwa yang tenang itu adalah jiwa yang banyak berdzikir kepada Allah, Kembalilah, kembalilah kepada Allah dan tinggalkanlah kehinaan menuju keluhuran dalam keadaan Rido dan kau akan di redoi oleh Allah, jangan mau mengabdi kepada Tuhan selainKu, masuk kedalam kelompok orang yang beribadah kepadaKu, dan masuklah kedalam Surgaku, orang-orang yang berjuang untuk mencapai itu, maka sebelum ia wafat ia sudah mendapatkan kabar itu.

semoga tidak satupun dari kita ketika wafat kecuali sebelumnya kita dengar ayat ini,

Semua kita yang hadir, semoga nanti waktunya kalau akan wafat, sudah mendengar seruan ini lebih dahulu sebelum ia menghembuskan nafas yang terakhir, Amin Amin ya Rabbal’alamin, maka ia akan disambut oleh Allah dengan hangat dan Indah.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, Allah subhanahu wata’ala memberikan anugrah kepada kita GURU, guru adalah panutan yang layak kita panut dan kita muliakan, guru adalah ayah Ruh, sedangkan ayah kita adalah ayah Jasad, guru adalah pewaris para Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, selama guru itu berjalan di jalan yang benar dan dia memanut gurunya, jadi banyak pertanyaan kepada saya tentang bagaimana caranya menjadi guru yang baik.

Hadirn hadirat, guru yang baik itu adalah guru yang berusaha mengamalkan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan banyak para murid yang tidak mengerti, perbuatan gurunya itu sebenarnya perbuatan sunnah Rasul yang tidak di ketahui karna ia tidak tau, maka itu dia bertanya pada gurunya “guru setau saya di hadits begini, kenapa guru begini?” oh begini ada Hadits lain, ini kenapa saya memilih ini” hal seperti itu penting, dan ikuti guru yang mengikuti gurunya, kalau sudah guru tidak mengikuti gurunya, maka hati-hati guru ini dapat guru dari mana? sedangkan gurunya dapat dari yang lain, siapa guru yang lain.

Hadirin hadirat yang dimulikan Allah, Jangan-jangan gurunya Syaitan, diliat gurunya mengikuti gurunya, berarti dia bisa belajar kepada guru dari gurunya, gurunya siapalagi diatasnya lagi, oh Imam anu, Syekh anu, dari anu, besar sanat gurumu 3 saja cukup apalagi Sanatnya sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. sekarang banyak guru yang mengaku “saya bersambung kepada Rasulullah, tapi mengikuti gurunya tidak?

Kalau dia tidak mengikuti gurunya maka tentunya kita juga berfikir, walaupun kau punya seribu sanat, kalau tidak mengikuti gurunya berarti siapa, sanatnya kemana.

Hadirin hadirat yang dimulikan Allah,Hati-hati mengikuti guru, kalian itu kalau berguru itu seakan-akan sedang makan untuk ruh kalian itu, kitakan kalau makan kita lihat apa yang kita makan, apakan makanan itu halal atau haram, apakah yang kita makanan ini racun apakan makanan yang bermanfaat,

kalau jasad saja begitu, lebih-lebih ruh, di dalam mencari guru yang benar, guru yang baik mengikuti ahlusunah waljamaah, yang memang tidak berbeda dengan guru yang lain sama tuntunannya, baik orangnya yang mengamalkan amalan-amalan sunnah, dan walaupun tidak sempurna, tiada manusia yang sempurna, dia mengikuti gurunya, mencintai gurunya, di cintai gurunya, demikian gurunya juga orang mulia, gurunya lagi juga berguru pada gurunya.

Demikian Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, Kita Insya Allah sanat kita bersambung kepada Guru Mulia al Musnid Al alamah Al Habib Umar bin Hafidz, beliau ini tentunya sama sanatnya dengAn para imam-imam besar, di Jakarta maupun di seluruh Indonesia, dari para Habaib, dan para Ulama, dan Para Khiyai, sanatnya bersambung kepada Syekh Tabbani, Al Habib Ali bin Muhammad Abdurrahman Al Habsyi kwitang, kepada Habib Salim bin Jindan, kepada Habib syekh Ali allatos, kepada Habib Umar bin Hud, Habib Salim alathos, pada Salafushalihin, banyak para-para ulama dan khiyai, yang sanatnya satu persatu bersambung dan bersambung kembali kepada satu sanat hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadirin hadirat, Nabiallah Musa As, yang Allah subhanahu wata’ala beri teguran, Nabi Musa berkata“adakah yang lebih alim dari engkau?” tidak ada “aku orang yang paling alima”

Maka Allah menurunkan Jibril “ada orang yang lebih alim dari engkau wahai Musa”

siapa tunjukan

“ Khidir As”

“dimana bisa kutemukan?”

di pecahan antara dua laut,

Maka Nabi Musa pun mencarinya, di dalam surat Al Kahfi, jumpa dengan Nabiallah Khidir, bagaimana adab seorang Rasul, Nabi Musa lebih tinggi derajatnya dari Nabi Khidir dihadapan Allah, karna Nabi Musa adalah Rasul, Nabi Khidir adalah Nabi, Nabi Musa lebih tinggi derajatnya namun karna ingin belajar ia berkata,

“bolehkah aku ikut engkau untuk mendapatkan ilmu yang telah Allah berikan padamu”,

ini ucapan seorang Rasulullah As, Nabi Khidir yang padahal derajatnya di bawahnya, di dalam kedekatan kepada Allah, namun Nabi Khidir mempunya ilmu-ilmu yang tidak di ketahui Nabi Musa, Nabi Musa ingin belajar

“bolehkah aku ikut denganmu tuk belajar ilmu-ilmu yang Allah berikan kepadamu”,

Maka Nabi Khidir as berkata : kau tidak akan bisa sampai ikut aku, kenapa karna beda jalannya, Nabiallah Khidir di jalan Makrifah, Nabiallah Musa dengan jalan syari’ah sebagai Rasul As, Namun kita lihat adab seorang Rasul, bahkan seorang Nabi ingin belajar kepada yang dibawah derajatnya.

Demikian pula adab Al Imam Fakhrul wujud Abu Bakar Bin Salim alaihi rahmatullah, ketika dikatakan oleh gurunya bahwa “siapa itu Fakhrul wujud?, fakhrul wujud Abu bakar bin salim tidak menyamai seujung kukuku ini..!!, seperti ujung kukuku..!!” ini kata gurunya, maka sampai kabar kepada al Imam Fakhrul wujud Abu Bakar bin Salim, Abu Bakar bin Salim sujud sukur, lalau dia berkata, ditanya oleh murid muridnya :

“koq sujud syukur Kau di hina oleh gurumu?, dikatakan kau seujung kukunya” dia berkata “aku bersyukur pada Allah sujud, aku sudah seujung kuku guruku, itu kemuliaan besar bagiku” demikian adab dari Imam Fakhrul Wujud Abu Bakar Bin Salim alaihi Rahmatullah kepada gurunya, sehingga dia memuliakan oleh Allah subhanahu wata’ala, melebihi gurunya hingga Allah memuliakan dia hingga dia melebihi gurunya.

Demikian indahnya, Juga Imam Ahmad bin Hambal alaihi Rahmatullah berkata 30 tahun aku mendo’a guruku itu, yaitu Al Imam Syafi’i, tiap malam selama 30 tahun mendoakan guruku, sehingga ia akhirnya sampai kepada kelompok Huffadhudduniya (orang-orang yang paling banyak hafalan haditsnya), di seluruh dunia ini diantaranya Imam Ahmad bin Hambal alaihi Rahmatullah, hadirin hadirat banyak contoh akan hal ini, banyak kemuliaan akan hal ini.

Kita semua masing-masing mempunyai guru, masing-masing memilih guru, di wilayah-wilayah kalian, namun hati-hati memilih guru, siapa gurunya apakah ia mengikuti gurunya, apakah gurunya Cuma Google atau yahoo.com hati-hati pada guru-guru yang seperti itu, akhirnya semuanya Bid’ah, semuanya syirik dan lain sebagainya, padahal Cuma nukil-nukil saja di internet, guru yang seperti itu tidak usah dijadikan guru, dijadikan teman saja, boleh nasehati dengan baik.

Demikian Hadirin hadirat yang dimulikan Allah, Kita Mohon Rahmatnya Allah subhanahu wata’ala dengan keberkahan, agar Allah subhanahu wata’ala melimpahkan Rahmatnya kepada kita, Wahai Rabbiy kalau seandainya kami terlalu banyak berbuat dosa dan tidak pantas mendapatkan kasih sayang Mu, maka sungguh itu dari segi kami, namun dari segi Engkau, Engkau telah berfirman :

“Rahmat Ku sampai kepada segala sesuatu”

Kami adalah bagian dari sesuatu, maka kami telah Kau janjikan mendapatkan Rahmat Mu,

CERAMAH AL HABIB MUNDZIR AL MUSAWWA

BAHASA YANG DI GUNAKAN MALAIKAT DALAM PERTANYAAN KUBUR

Bahasa apakah yang di gunakan malaikat dalam menanyai mayit, serta apakah yang di siksa jasadnya tau ruhnya?

Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada yang berpendapat bahwa bahasa yang mereka (malaikat Munkar Nakir) gunakan adalah bahasa Arab, walaupun manusia yang ditanya bukanlah orang Arab. Dan hal tersebut bukanlah suatu kemustahilan karena waktu itu merupakan waktu yang luar biasa dan tidak biasa. Sedangkan menurut versi lain mengatakan bahwa bahasa yang digunakan adalah bahasa Suryani. Namun menurut pendapat yang shahih seperti yang dijelaskan oleh pengarang Bughyah al-Mustarsyidin bahwa bahasa yang digunakan adalah bahasanya orang yang meninggal itu sendiri.

ﺍﻟﻔﺘﺎﻭﻯ ﺍﻟﺤﺪﻳﺜﻴﺔ ﻻﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﺍﻟﻬﻴﺘﻤﻲ ﺻﻔﺤﺔ 6 - 7 :

ﻭﺍﻟﺤﺎﺻﻞ ﺍﻷﺧﺬ ﺑﻈﺎﻫﺮ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻫﻮ ﺃﻥ ﺍﻟﺴﺆﻝ ﻟﺴﺎﺋﺮ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﺎﻟﻌﺮﺑﻴﺔ ﻧﻈﻴﺮ ﻣﺎ ﻣﺮ ﺃﻧﻪ ﻟﺴﺎﻥ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﺇﻻ ﺇﻥ ﺛﺒﺖ ﺧﻼﻑ ﺫﻟﻚ ﻭﻻ ﻳﺴﺘﺒﻌﺪ ﺗﻜﻠﻢ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻌﺮﺑﻲ ﺑﺎﻟﻌﺮﺑﻴﺔ ﻷﻥ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻭﻗﺖ ﺗﺨﺮﻕ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻌﺎﺩﺍﺕ - ﺍﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ- ﺛﻢ ﺭﺃﻳﺖ ﺷﻴﺦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺻﺎﻟﺤﺎ ﺍﻟﺒﻠﻘﻴﻨﻲ ﺃﻓﺘﻰ ﺑﺄﻥ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺒﺮ ﺑﺎﻟﺴﺮﻳﺎﻧﻲ ﻟﻜﻞ ﻣﻴﺖ ،

ﺑﻐﻴﺔ ﺍﻟﻤﺴﺘﺮﺷﺪﻳﻦ 96:

ﻓﺎﺋﺪﺓ : ﺳﺆﺍﻝ ﺍﻟﻤﻠﻜﻴﻦ ﻋﺎﻡ ﻟﻜﻞ ﺃﺣﺪ ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻘﺒﺮ ﻛﺎﻟﺤﺮﻳﻖ ﻭﺍﻟﻐﺮﻳﻖ- ﺍﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ -ﻭﻳﺴﺄﻻﻥ ﻛﻞ ﺃﺣﺪ ﺑﻠﻐﺘﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ، ﻭﻗﻴﻞ ﺑﺎﻟﺴﺮﻳﺎﻧﻲ ، ﻭﻟﺬﻟﻚ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻲ :

ﻭﻣﻦ ﻋﺠﻴﺐ ﻣﺎ ﺗﺮﻯ ﺍﻟﻌﻴﻨﺎﻥ~ﺃﻥ ﺳﺆﺍﻝ ﺍﻟﻘﺒﺮ ﺑﺎﻟﺴﺮﻳﺎﻧﻲ

ﺃﻓﺘﻰ ﺑﺬﺍﻙ ﺷﻴﺨﻨﺎ ﺍﻟﺒﻠﻘﻴﻨﻲ~ﻭﻟﻢ ﺃﺭﻩ ﻟﻐﻴﺮﻩ ﺑﻌﻴﻨﻲ

ﻭﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺑﺄﻧﻪ ﺑﺎﻟﺴﺮﻳﺎﻧﻲ ﺃﺭﺑﻊ ﻛﻠﻤﺎﺕ ﻭﻫﻲ : ﺃﺗﺮﻩ ﺃﺗﺮﺡ ﻛﺎﺭﻩ ﺳﺎﻟﺤﻴﻦ ، ﻓﻤﻌﻨﻰ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﻗﻢ ﻳﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ. ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻓﻴﻤﻦ ﻛﻨﺖ. ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻣﻦ ﺭﺑﻚ ﻭﻣﺎ ﺩﻳﻨﻚ. ﻭﺍﻟﺮﺍﺑﻌﺔ ﻣﺎ ﺗﻘﻮﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺍﻟﺬﻱ ﺑﻌﺚ ﻓﻴﻜﻢ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ. ﻭﻗﺪ ﻭﺭﺩ ﺃﻥ ﺣﻔﻆ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻜﻠﻤﺎﺕ ﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺣﺴﻦ ﺍﻟﺨﺎﺗﻤﺔ ﻛﻤﺎ ﺑﺨﻂ ﺍﻟﻤﻴﺪﺍﻧﻲ ﺍﻫـ ﺑﺎﺟﻮﺭﻱ.

Namun menurut pernyataan Imam Ibnu Hajar -seperti yang dikutip oleh al-‘Asqalani dikitabnya “al-Imta’ bil Arba’in al-Mutabayinah al-Sima’- ketika ditanya prihal bahasa yang digunakan malaikat untuk menguji mayat, beliau menjawab : “Apa-apa yang berhubungan dengan perihal bahasa saya belum pernah tahu adanya dalil tentangnya, namun hal yang dapat dipastikan adalah malaikat itu mengerti terhadap bahasanya orang yang dipasrahinya. Sedangkan bahasa yang digunakan malaikat Munkar Nakir secara lahiriyah, mafhum hadits shahih ialah dengan bahasa Arab, kendatipun demikian mafhum tersebut bisa diarahkan bahwa komunikasi itu menggunakan bahasanya orang atau mayat yang ditanya”.

ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ : ﺍﻹﻣﺘﺎﻉ ﺑﺎﻷﺭﺑﻌﻴﻦ ﺍﻟﻤﺘﺒﺎﻳﻨﺔ ﺍﻟﺴﻤﺎﻉ
ﺍﻟﻤﺆﻟﻒ : ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺍﻟﻜﻨﺎﻧﻲ ﺍﻟﻌﺴﻘﻼﻧﻲ
ﺍﻟﻨﺎﺷﺮ : ﺩﺍﺭ ﺍﻟﻜﺘﺐ ﺍﻟﻌﻠﻤﻴﺔ – ﺑﻴﺮﻭﺕ ﺍﻟﻄﺒﻌﺔ ﺍﻷﻭﻟﻰ 1997 ،
ﺗﺤﻘﻴﻖ : ﺃﺑﻲ ﻋﺒﺪﺍﻟﻠﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺣﺴﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺣﺴﻦ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ

ﻭﻣﻤﺎ ﺳﺌﻞ ﻋﻨﻪ ﺷﻴﺨﻨﺎ ﺷﻴﺦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺆﺍﻝ ﺍﻟﻤﻠﻜﻴﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺒﺮ ﻫﻞ ﻫﻮ ﺑﺤﺴﺐ ﻟﻐﺘﻪ ﻭﻟﺴﺎﻧﻪ ﻛﺎﻟﺘﺮﻛﻲ ﻭﺍﻟﺘﻜﺮﻭﺭﻱ ﻣﺜﻼ ﺃﻡ ﻻ ﻳﺴﺄﻝ ﺇﻻ ﺑﻠﺴﺎﻥ ﺍﻟﻌﺮﺏ ﻭﻳﻠﻬﻢ ﺍﻟﻤﺴﺆﻭﻝ ﻣﻌﺮﻓﺔ ﺍﻟﻌﺮﺑﻲ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﻭﻋﻦ ﺍﻟﻤﻠﻜﻴﻦ ﺍﻟﻜﺎﺗﺒﻴﻦ ﻫﻞ ﻳﻜﺘﺒﺎﻥ ﻣﺎ ﻳﻘﻊ ﻣﻦ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻋﺮﺑﻴﺎ ﻛﺎﻥ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻩ ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﻭﻳﺪﻭﻧﺎﻧﻪ ﻛﺬﻟﻚ ﻭﻋﻦ ﺍﻟﺼﻐﻴﺮ ﻫﻞ ﻳﺤﺼﻞ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﺟﺰﻉ ﻭﺭﻋﺐ ﻭﺇﻥ ﻗﻞ ﻭﻋﻦ ﺍﻟﺤﺴﺎﺏ ﻟﻸﻃﻔﺎﻝ ﻫﻞ ﻳﻌﻤﻢ ﺑﻪ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻷﻃﻔﺎﻝ ﺃﻡ ﻳﺨﺘﺺ ﺑﺎﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ

ﻓﺄﺟﺎﺏ: ﺃﻣﺎ ﻣﺎ ﻳﺘﻌﻠﻖ ﺑﺎﻟﻠﺴﺎﻥ ﻓﻼ ﺃﻋﺮﻑ ﻓﻴﻪ ﻧﻘﻼ ﺇﻻ ﺃﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻘﻄﻊ ﺑﻪ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﺎﻓﻈﻴﻦ ﻳﻌﺮﻓﺎﻥ ﻟﺴﺎﻥ ﻣﻦ ﻭﻛﻼ ﺑﻪ

ﻭﺃﻣﺎ ﻛﺘﺎﺑﺘﻬﻤﺎ ﻟﺬﻟﻚ ﻓﻴﺤﺘﻤﻞ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺑﺬﻟﻚ ﺍﻟﻠﺴﺎﻥ ﻭﻳﺤﺘﻤﻞ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺑﻐﻴﺮﻩ ﻭﻭﺭﺩ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺿﻌﻴﻒ ﺃﻥ ﻟﺴﺎﻥ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻋﺮﺑﻲ // ﻣﻮﺿﻮﻉ // ﻓﻴﻤﻜﻦ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﺄﻧﺲ ﺑﻪ ﻟﻜﻮﻥ ﺍﻟﻤﻠﻜﻴﻦ ﻳﻌﺮﻓﺎﻥ ﻣﺎ ﻳﻜﺘﺒﺎﻧﻪ

ﻭﺃﻣﺎ ﺳﺆﺍﻝ ﺍﻟﻤﻠﻜﻴﻦ ﻓﻈﺎﻫﺮ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﺃﻧﻪ ﺑﺎﻟﻌﺮﺑﻲ ﻷﻥ ﻓﻴﻪ ﺃﻧﻬﻤﺎ ﻳﻘﻮﻻﻥ ﻟﻪ ﻣﺎ ﻋﻠﻤﻚ ﺑﻬﺬﺍ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺇﻟﻰ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﻳﺤﺘﻤﻞ ﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺧﻄﺎﺏ ﻛﻞ ﺃﺣﺪ ﺑﻠﺴﺎﻧﻪ

ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻷﻃﻔﺎﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻓﻼ ﺣﺴﺎﺏ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﺃﻣﺎ ﺃﻃﻔﺎﻝ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ﻓﺎﻟﺨﻼﻑ ﻓﻴﻬﻢ ﻣﺸﻬﻮﺭ ﻓﻤﻦ ﻳﻘﻮﻝ ﺃﻥ ﺣﻜﻤﻬﻢ ﺣﻜﻢ ﺃﻃﻔﺎﻝ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻓﻘﻀﻴﺘﻪ ﺃﻧﻪ ﻳﻠﺤﻘﻬﻢ ﺑﻬﻢ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻭﻣﻦ ﻳﻘﻮﻝ ﺑﺨﻼﻑ ﺫﻟﻚ ﻓﻘﻀﻴﺘﻪ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﺇﻥ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﺤﺴﺎﺏ ﻭﻭﺭﺩ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﻗﻮﻱ ﺃﻥ ﻣﻦ ﻟﻢ ﺗﺒﻠﻐﻪ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻳﻤﺘﺤﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺮﺽ ﻭﺍﻷﻭﻟﻰ ﻓﻲ ﻣﺜﻞ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺍﻟﺘﻮﻗﻒ ﺣﺘﻰ ﻳﻮﺟﺪ ﻣﺎ ﻳﺠﺐ ﺍﻟﺮﺟﻮﻉ ﺇﻟﻴﻪ ﻭﻓﻲ ﺍﻻﻫﺘﻤﺎﻡ ﺑﻔﺮﻭﺽ ﺍﻟﻌﻴﺎﻥ ﺷﻐﻞ ﺷﺎﻏﻞ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ

Sedangkan mengenai siksa, apakah ruh saja yang disiksa atau hanya jasad yang disiksa? Maka dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat :

Sebagian ada yang berpendapat hanya ruhnya saja yang disiksa, dan sebagian yang lain berpendapat bahwa yang disiksa adalah jasad dan ruhnya sesuai kesepakatan Ahlus Sunnah, pendapat terakhir ini ditegaskan oleh Imam Suyuthi yang mengikuti rekomendasi gurunya, yakni Imam Ibnu Hajar.

ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﺸﺎﻣﻠﺔ – ﺍﻟﻔﻮﺍﻛﻪ ﺍﻟﺪﻭﺍﻧﻲ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﺎﻟﺔ ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺯﻳﺪ ﺍﻟﻘﻴﺮﻭﺍﻧﻲ 1/357-358 :

ﻭﺍﻟﺘﻨﻌﻴﻢ ﻭﺍﻟﺘﻌﺬﻳﺐ ﺇﻣﺎ ﻟﻠﺠﺴﺪ ﻛﻠﻪ ﺃﻭ ﻟﺠﺰﺋﻪ ﺑﻌﺪ ﺇﻋﺎﺩﺓ ﺍﻟﺮﻭﺡ ﻓﻴﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ، ﻓﻘﻮﻝ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ : ﻭﺃﺭﻭﺍﺡ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻌﺎﺩﺓ . . . ﺇﻟﺦ ﺗﺒﻊ ﻓﻴﻪ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﺑﻦ ﺣﺰﻡ ﻭﺍﺑﻦ ﻫﺒﻴﺮﺓ ﺍﻟﻘﺎﺋﻠﻴﻦ ﺑﺄﻥ ﺍﻟﺘﻨﻌﻴﻢ ﻭﺍﻟﺘﻌﺬﻳﺐ ﻟﻠﺮﻭﺡ ﻓﻘﻂ . ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺠﻼﻝ ﺗﺒﻌﺎ ﻟﺸﻴﺨﻪ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ : ﻋﺬﺍﺏ ﺍﻟﻘﺒﺮ ﻭﻫﻮ ﻋﺬﺍﺏ ﺍﻟﺒﺮﺯﺥ ﺃﺿﻴﻒ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻘﺒﺮ ؛ ﻷﻧﻪ ﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ : ﻭﻣﺤﻠﻪ ﺍﻟﺮﻭﺡ ﻭﺍﻟﺒﺪﻥ ﺟﻤﻴﻌﺎ ﺑﺎﺗﻔﺎﻕ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ، ﻭﻛﺬﺍ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻌﻴﻢ ، ﻭﻳﻤﻜﻦ ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﺑﺄﻧﻪ ﺇﻧﻤﺎ ﺃﺳﻨﺪ ﺍﻟﻨﻌﻴﻢ ﻭﺍﻟﻌﺬﺍﺏ ﻟﻸﺭﻭﺍﺡ ﻟﻤﺎ ﺗﻘﺮﺭ ﻣﻦ ﺃﻧﻬﺎ ﻣﺘﺼﻠﺔ ﺑﺎﻷﺟﺴﺎﺩ ، ﻓﻴﻠﺰﻡ ﻣﻦ ﺗﻌﺬﻳﺐ ﺃﻭ ﺗﻨﻌﻴﻢ ﺍﻷﺭﻭﺍﺡ ﺗﻨﻌﻴﻢ ﺃﻭ ﺗﻌﺬﻳﺐ ﺍﻷﺟﺴﺎﺩ ، ﻓﻠﻢ ﻳﺨﺮﺝ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻋﻦ ﻛﻼﻡ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ .

ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﺸﺎﻣﻠﺔ – ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺍﻟﺮﻣﻠﻲ 6/285 :

ﺳُﺌِﻞَ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﺄَﻧْﺒِﻴَﺎﺀِ ﻫَﻞْ ﻳُﺴْﺄَﻟُﻮﻥَ ﻛَﺂﺣَﺎﺩِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺃَﻡْ ﻟَﻬُﻢْ ﺳُﺆَﺍﻝٌ ﻣَﺨْﺼُﻮﺹٌ ﺑِﻬِﻢْ ﻭَﻫَﻞْ ﺍﻟﺸُّﻬَﺪَﺍﺀُ ﻛَﺎﻟْﻤَﻘْﺘُﻮﻝِ ﺑِﺎﻟﻄَّﻌْﻦِ ﺃَﻭْ ﺍﻟْﺒَﻄْﻦِ ﺃَﻭْ ﺍﻟْﺤَﺮْﻕِ ﺃَﻭْ ﺍﻟْﻐَﺮَﻕِ ﺃَﻭْ ﻧَﺤْﻮِ ﺫَﻟِﻚَ ﻳُﺴْﺄَﻟُﻮﻥَ ﻓِﻲ ﻗُﺒُﻮﺭِﻫِﻢْ ﺃَﻭْ ﻟَﺎ ؟ ﻓَﺄَﺟَﺎﺏَ ﺑِﺄَﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳُﺴْﺄَﻝُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻴُّﻮﻥَ ﻓِﻲ ﻗُﺒُﻮﺭِﻫِﻢْ ﻭَﻛَﺬَﻟِﻚَ ﺷَﻬِﻴﺪُ ﺍﻟْﻤَﻌْﺮَﻛَﺔِ.

ﺍﻟﻔﺘﺎﻭﻯ ﺍﻟﺤﺪﻳﺜﻴﺔ ﻻﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﺍﻟﻬﻴﺘﻤﻲ ﺻﻔﺤﺔ6 :

ﻭﻣﻨﻪ ﻳﺆﺧﺬ ﺍﻧﺘﻔﺎﺀ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﻓﻲ ﺣﻘﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻓﻲ ﺣﻖ ﺳﺎﺋﺮ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ،

Sedangkan mengenai kapan dimulainya “pertanyaan kubur”, dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di antara ulama :

– Menurut Imam al-Turmudzi dan Ibni ‘Abdi al-Barr bahwa “pitakon kubur” ini merupakan bagian dari keistemewaan atau khususiyah ummat Nabi Muhammad saw. (lantas bila kita ambil mafhumnya, maka pitakon kubur itu ada sejak masa nubuwwah Nabi saw.)

– Menurut golongan ulama yang lain di antaranya Imam Ibnu al-Qayyim, bahwa “pitakon kubur” itu juga terjadi di alami oleh ummat sebelum ummat Nabi Muhammad saw. (lantas bila kita ambil mafhumnya, maka pitakon kubur itu ada jauh sebelum masa nubuwwat Nabi saw. Atau mudahnya kita katakan, sejak pertama kali ada orang mati dari ummat terdahulu maka sejak itulah pitakon kubur itu dimulai).

ﺍﻟﻔﺘﺎﻭﻯ ﺍﻟﺤﺪﻳﺜﻴﺔ ﻻﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﺍﻟﻬﻴﺘﻤﻲ ﺻﻔﺤﺔ6 :

ﻭﺟﺰﻡ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﺍﻟﺤﻜﻴﻢ ﻭﺍﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺒﺮ ﺃﻳﻀﺎ ﺑﺄﻥ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﻣﻦ ﺧﻮﺍﺹ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻣﺔ ﻟﺤﺪﻳﺚ ﻣﺴﻠﻢ : ﺇﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻣﺔ ﺗﺒﺘﻠﻰ ﻓﻲ ﻗﺒﻮﺭﻫﺎ. ﻭﺧﺎﻟﻔﻬﻤﺎ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﻨﻬﻢ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻴﻢ ﻭﻗﺎﻝ : ﻟﻴﺲ ﻓﻲ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻣﺎ ﻳﻨﻔﻲ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﻋﻤﻦ ﺗﻘﺪﻡ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﻢ ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺃﺧﺒﺮ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻣﺘﻪ ﺑﻜﻴﻔﻴﺔ ﺍﻣﺘﺤﺎﻧﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺒﻮﺭ ، ﻻ ﺃﻧﻪ ﻧﻔﻰ ﺫﻟﻚ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ ﻭﺗﻮﻗﻒ ﺁﺧﺮﻭﻥ ﻭﻟﻠﺘﻮﻗﻒ ﻭﺟﻪ ﻷﻥ ﻗﻮﻟﻪ : ﺇﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻣﺔ. ﻓﻴﻪ ﺗﺨﺼﻴﺺ ، ﻓﺘﻌﺪﻳﺔ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﻟﻐﻴﺮﻫﻢ ﺗﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻰ ﺩﻟﻴﻞ ، ﻭﻋﻠﻰ ﺗﺴﻠﻴﻢ ﺍﺧﺘﺼﺎﺻﻪ ﺑﻬﻢ ، ﻓﻬﻮ ﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﺩﺭﺟﺎﺗﻬﻢ ﻭﻟﺨﻔﺔ ﺃﻫﻮﺍﻝ ﺍﻟﻤﺤﺸﺮ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﻔﻴﻪ ﺭﻓﻖ ﺑﻬﻢ ، ﻭﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻫﻢ ، ﻷﻥ ﺍﻟﻤﺤﻦ ﺇﺫﺍ ﻓﺮﻗﺖ ﻫﺎﻥ ﺃﻣﺮﻫﺎ ، ﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﺗﻮﺍﻟﺖ ﻓﺘﻔﺮﻳﻘﻬﺎ ﻟﻬﺬﻩ ﺍﻷﻣﺔ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﻮﺕ ، ﻭﻓﻲ ﺍﻟﻘﺒﻮﺭ ، ﻭﺍﻟﻤﺤﺸﺮ ، ﺩﻟﻴﻞ ﻇﺎﻫﺮ ﻋﻠﻰ ﺗﻤﺎﻡ ﻋﻨﺎﻳﺔ ﺭﺑﻬﻢ ﺑﻬﻢ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻫﻢ ، ﻭﻛﺎﻥ ﺍﺧﺘﺼﺎﺻﻬﻢ ﺑﺎﻟﺴﺆﺍﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺒﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺨﻔﻴﻔﺎﺕ ﺍﻟﺘﻲ ﺍﺧﺘﺼﻮﺍ ﺑﻬﺎ ﻋﻦ ﻏﻴﺮﻫﻢ ﻟﻤﺎ ﺗﻘﺮﺭ ﻓﺘﺄﻣﻞ ﺫﻟﻚ ،

MALAIKAT YANG MENEMUI AHLI KUBUR SEBELUM MUNKAR DAN NAKIR


روي عن عيدالله بن سلام يدخل على الميت ملك قبل أن يدخل منكر ونكير يتلألأوجهه كالشمس,اسمه رومان يدخل على الميت ثم يقعد فيقول له اكتب ما عملت من حسنة ومن سيئة فيقول له باى شئى أكتب أين قلمى ومدادى ودواتى فيقول له ريقك مدادك وقلمك أصبعك فيقول على اى شئ أكتب وليس لى صحيفة

Diriwatkan dari Abdillah bin Salam : Sebelum malaikat Mungkar lan Nakir masuk kepada mayit, ada malaikat yang mendatanginya dengan wajah yang bercahaya bagaikan matahari, malaikat itu bernama Ruman. Dia masuk dan menemui mayit dan mendudukkannya lalu berkata : “Tulislah amalmu yang terbaik sampai yang terjelek!” mayit berkata: “Dengan apa aku menulis, mana pena, tinta dan tempatnya?”
Malaikat menjawab : “Tintanya adalah lidahmu dan penanya adalah jarimu”
mayit berkata : “Dimana aku harus menulis sedangkan aku tidak mempunyai selembar kertaspun”.

قال عليه الصلاة والسلام فيقطع من كفنه قطعة فيناوله فيقول هذه صحيفتك فاكتب فيكتب ماعمل فى الدنيامن خير فاذا بلغ سيئة استحيامنه فيقول له ياخطئ لم لاتستحي من خالقك حيث عملتها فى الدنيا وتستحي منى الآن فيرفع الملك عمودا فيضربه فيقول العبد ارفع عنى حتى أكتبها فيكتب فيها جميع حسناته وسيئاته ثم يأمره أنيطويها ويختمها فيكويها ويقول بأى شئ أختمها وليس معى خاتم فيقول اختمها بظفرك فيختمها بظفرها ويعقلها فى عنقه الى يوم القيامة

Nabi SAW. bersabda : “Maka malaikat Ruman memotong kain kafannya sepotong dan diberikan padanya.” Malaikat Ruman berkata : “Inilah lembaranya dan tulislah” Maka iapun menulis apa yang pernah diperbuatnya ketika didunia dari amal yang baik, ketika sampai pada amal jeleknya dia merasa isin”malu”.
Malaikat Ruman berkata kepadanya : “Hai orang yang lalai (durhaka), kenapa engkau tidak malu pada penciptamu ketika engkau melakukannya di dunia dan sekarang engkau merasa malu kepadaku.”
Malaikat lalu mengangkat gada dan memukulnya. Maka berkatalah si mayit: “Angkatlah gada itu dariku sehingga aku bisa menulisnya.”
Kemudian dia diperintah untuk melipat dan memberinya cap tanda tangan. Maka diapun melipatnya dan berkata: “Dengan apa aku memberi cap, sedangkan aku tidak mempunyai cap.”
Malaikat berkata : “Berilah cap dengan kukumu.” maka diapun memberi cap dengan kukunya dan mengalungkan pada lehernya sampai hari kiamat.

كما قال الله تعالى”وكلّ انسان ألزمناه طائره فى عنقه وتخرج له يوم القيامة كتابا يلقاه منشورا”

Sebagaimana firman ALLAH :
“Dan pada setiap manusia telah Kami tetapkan anak perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang akan dijumpainya dalam keadaan terbuka.”
(Q.S. Al-Israa’: 13).

ثم يدخل بعد ذالك منكر ونكير كذالك واذارأى العاصى كتابه يوم القيامة فاذاأمره الله تعالى بالقراءة يقرأحسناته فاذابلغ الى سيئاته سكت فيقول الله تعالى لم لاتقرأفيقول أستحي منك.فيقول الله تعالى لم لاتستحى فى الدنيا ةلآن استحيت منى فيندم العبد ولا ينفعه الندم فيقول

Setelah itu masuklah malaikat Munkar dan Nakir, maka apabila orang tsb. ahli maksiat dia akan melihat bukunya pada hari kiamat dan diperintahkan ALLAH untuk membacanya. Dia membaca kebaikannya dan ketika sampai pada kejelekannya dia diam, maka ALLAH SWT. berfirman : “Kenapa engkau tidak membacanya ?”
Dia berkata : “Saya malu kepada Engkau Ya ALLAH.”
ALLAH SWT.berfirman lagi : “Kenapa engkau tidak malu kepadaKu saat engkau di dunia dan sekarang engkau malu kepadaKu”
Maka menyesallah hamba itu tapi penyesalan tiada berguna

KITAB DAQOIQUL AKHBAR HAL. 16

PENJELASA MENGENAI MASALAH MA’RIFAT KEPADA ALLOH SWT (1)

Istilah Ma’rifat berasal dari kata “Al-Ma’rifah” yang berarti mengetahui atau mengenal sesuatu. Dan apabila dihubungkan dengan pengamalan Tasawuf, maka istilah ma’rifat di sini berarti mengenal Allah ketika Shufi mencapai maqam dalam Tasawuf.

Kemudian istilah ini dirumuskan definisinya oleh beberapa Ulama Tasawuf; antara lain:

  1. Dr. Mustafa Zahri mengemukakan salah satu pendapat Ulama Tasawuf yang mengatakan:

“Marifat adalah ketetapan hati (dalam mempercayai hadirnya) wujud yang wajib adanya (Allah) yang menggambarkan segala kesempurnaannya.”

  1. b. Asy-Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Al-Kadiriy mengemukakan pendapat Abuth Thayyib As-Saamiriy yang mengatakan:

“Ma’rifat adalah hadirnya kebenaran Allah (pada Shufi)…dalam keadaan hatinya selalu berhubungan dengan Nur Ilahi…”

  1. Imam Al-Qusyairy mengemukakan pendapat Abdur Rahman bin Muhammad bin Abdillah yang mengatakan:

“Ma’rifat membuat ketenangan dalam hati, sebagaimana ilmu pengetahuan membuat ketenangan (dalam akal pikiran). Barangsiapa yang meningkat ma’rifatnya, maka meningkat pula ketenangan (hatinya).”

Marifat arti secara umum adalah yang dilakukan orang alim yang sesuai dengan maksud dan tujuan ilmu sendiri.

Ma‘rifat menurut ahli fiqh adalah ilmu . setiap ilmu itu ma’rifat, ma‘rifat itu ilmu, setiap orang alim arif dan setiap ‘arif itu alim.

Ma‘rifat menurut ahli shufi ialah rasa kesadaran kepada Alloh akan sifat dan AsmaNYA

Marifat menurut bahasa adalah menggetahui Allah SWT

Marifat menurut istilah adalah sadar kepada Allah SWT, yakni : hati menyadari bahwa segala sesuatu, termasuk gerak-gerik dirinya lahir batin seperti : melihat, mendengar, merasa, menemukan, bergerak, berdiam, berangan-angan ,berfikir dan sebagainya semua adalah Alloh SWT , yang menciptakan dan yang mengerakan. Jadi semuanya dan segala sesuatu adalah Billah

Ma’rifat, sebagai pengetahuan yang hakiki dan meyakinkan, menurut al-Gazali, tidak didapat lewat pengalaman inderawi, juga tidak dicapai lewat penalaran rasional, tetapi lewat kemurnian qalbu yang mendapat ilham atau limpahan n­ur dari Tuhan sebagai pengalaman sufistik. Di sini, tersingkap segala realitas yang tidak dapat ditangkap oleh indera dan tidak terjangkau oleh akal (rasio).

Teori pengetahuan kasyfiy atau ‘irfaniy yang tidak menekankan peran indera dan rasio dipandang telah ikut melemahkan semangat seseorang untuk bergelimang dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. Orang lari dari dunia nyata yang obyektif ke dunia gaib yang tidak dapat ditangkap oleh indera dan nalar. Orang lebih mementingkan kebahagiaan diri sendiri daripada kebahagiaan dan keselamatan umat manusia. Karenanya, orang lebih tertarik pada sikap hidup isolatif daripada sikap hidup partisipatif. Sikap hidup seperti ini berakibat pada banyaknya persoalan kemanusiaan tidak terurus yang sebenarnya menjadi tugas manusia.

Makrifat, menurut al-Gazali, ialah pengetahuan yang meyakinkan, yang hakiki, yang dibangun di atas dasar keyakinan yang sempurna (haqq al-yaqin). Ia tidak didapat lewat pengalaman inderawi, juga tidak lewat penalaran rasional, tetapi semata lewat kemurnian qalbu yang mendapat ilham atau limpahan nur dari Tuhan sebagai pengalaman kasyfiy atau ‘irfaniy. Teori pengetahuan ala sufi ini dipandang telah ikut melemahkan semangat seseorang untuk aktif dalam kehidupan nyata secara seimbang antara tuntutan pribadi dan sosial, antara jasmani dan ruhani.

Makrifat merupakan ilmu yang tidak menerima keraguan (العلم الذى لا يقبل الشك) yaitu ”pengetahuan” yang mantap dan mapan, yang tak tergoyahkan oleh siapapun dan apapun, karena ia adalah pengetahuan yang telah mencapai tingkat haqq al-yaqin. Inilah ilmu yang meyakinkan, yang diungkapkan oleh al-Gazali dengan rumusan sebagai berikut:

ان علم اليقين هو الذي هو الذى ينكشف فيه المعلوم انكشافا لا يبقى معه ريب ولا يقالانه امكان الغلط والوهم ولا يتسع القلب لتقدير ذلك

“Sesungguhnya ilmu yang meyakinkan itu ialah ilmu di mana yang menjadi obyek pengetahuan itu terbuka dengan jelas sehingga tidak ada sedikit pun keraguan terhadapnya; dan juga tidak mungkin salah satu keliru, serta tidak ada ruang di qalbu untuk itu”.

Secara definitif, makrifat menurut al-Gazali ialah:

الإطلاع على أسرار الربوبية والعلم بترتب الأمور الإلهية المحيطة بكل الموجودات.

“Terbukanya rahasia-rahasia Ketuhanan dan tersingkapnya hukum-hukum Tuhan yang meliputi segala yang ada”.

Dari definisi di atas, dapat dikatakan bahwa obyek makrifat dalam ajaran tasawuf al-Gazali tidak hanya terbatas pada pengenalan tentang Tuhan, tetapi juga mencakup pengenalan tentang segala hukum-hukum-Nya yang terdapat pada semua makhluk. Lebih jauh, dapat pula diartikan bahwa orang yang telah mencapai tingkat makrifat (al-‘arif) mampu mengenal hukum-hukum Allah atau sunnah-Nya yang hanya tampak pada orang-orang tertentu–para ’arifin–. Karena itu, adanya peristiwa-peristiwa “luar biasa”, seperti karamah, kasyf dan lain-lain yang dialami oleh orang-orang sufi, sebenarnya, tidaklah keluar dari sunnah Allah dalam arti yang luas, karena mereka mampu menjangkau sunnah-Nya yang tak dapat dilihat atau dijangkau oleh orang-orang biasa. Karena itu, dapat dikatakan, bahwa obyek makrifat dalam pandangan al-Gazali mencakup pengenalan terhadap hakikat dari segala realitas yang ada. Meskipun demikian, pada kenyataannya, al-Gazali lebih banyak membahas atau mengajarkan tentang cara seseorang memperoleh pengetahuan tentang Tuhan, yang memang tujuan utama dari setiap ajaran sufi. Dengan demikian, al-Gazali mendefinisikan makrifat dengan. (النظر الى وجه الله تعالى) (memandang kepada wajah Allah ta’ala).

Perlu disadari, betapapun tingginya pengenalan (al-makrifat) seseorang terhadap Allah, ia tidak akan mungkin dapat mengenal-Nya dengan sempurna, sebab manusia itu bersifat terbatas (finite), sedangkan Allah bersifat tak terbatas (infinite).

Makrifat dalam arti yang sesungguhnya, menurut al-Gazali, tidak dapat dicapai lewat indera atau akal, melainkan lewat n­ur yang diilhamkan Allah ke dalam qalbu. Melalui pengalaman sufistik seperti inilah, didapat pengetahuan dalam bentuk kasyf. Dengan kata lain, makrifat bukanlah pengetahuan yang dihasilkan lewat membaca, meneliti, atau merenung, tetapi ia adalah apa yang disampaikan Tuhan kepada seseorang (sufi) dalam pengalaman sufistik langsung.

Makrifat sebagai ilmu mukasyafah, kata al-Gazali, tidak bisa dikomunikasikan kepada orang yang belum pernah mengalaminya, atau belum mencapai tingkat kualifikasi yang mampu mengerti pengalaman sufistik semacam itu. Setiap pengalaman pribadi antara seorang sufi dengan Tuhannya, jika diungkapkan dengan kata-kata, sudah dapat dipastikan salah paham dari pendengar yang tak mampu melepaskan ikatan duniawi. Paling-paling seorang sufi hanya mencoba mengungkapkannya secara simbolik dan metaforik, karena tidak ada bahasa yang dapat menuturkan secara tepat, tidak ada ungkapan yang tidak mengandung penafsiran ganda.

Selain itu Al-Gazali juga sangat menentang orang yang tidak peduli terhadap hukum-hukum syariah karena menganggap telah mencapai tingkat tertinggi (wali) dan telah memperoleh pengetahuan langsung dari sumbernya, yaitu Allah SWT. berupa pengetahuan kasyfi, yang membawanya tidak terikat lagi pada hukum-hukum taklifiy. Kenyataan ini, menurut ‘Abd. al-¦alim Mahm­d, adalah tindakan bid’ah yang sangat menyesatkan, yang lahir dari orang-orang yang sama sekali tidak mengerti agama (Islam), terutama tentang hakikat tasawuf. Jika ada orang berkata, demikian Ibnu Taimiyah, bahwa ia telah menerima pengetahuan berdasarkan kasyf, tetapi bertentangan dengan sunnah Rasul, maka kita wajib menolaknya. Menurut Ab­ al-A’la al-Maud­diy, antara syariah dan tasawuf terdapat hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Jika syariah (fiqh) mengatur aspek lahir, maka tasawuf berhubungan dengan aspek batin untuk kesempurnaan ibadah kepada Allah SWT.

Salah satu perbedaan lain antara ma’rifat dan jenis pengetahuan lain adalah cara memperolehnya. Jenis pengetahuan biasa diperoleh melalui usaha keras; belajar keras; merenung keras; berpikir keras. Akan tetapi ma’rifat tidak bisa sepenuhnya diusahakan manusia. Pada tahap akhir semuanya bergantung pada kemurahan Allah Swt. Manusia hanya bisa melakukan persiapan (isti’dad) dengan cara membersihkan diri dari segala dosa dan penyakit-penyakit hati atau akhlak tercela lainnya.

Adapun Tanda-Tanda bagi adanya ma’rifat adalah hidupnya hati beserta Allah Ta’ala. Ditulis oleh al-Ghazali, bahwasanya pernah terjadi dialog antara Allah dan Nabi Daud A.S. dimana Daud ditanya oleh Allah, “Adakah Engkau tahu apakah ma’rifat kepadaku ?”, Daud menjawab, “Tidak”. Dijelakan oleh Allah, “Ia itu adalah hidupnya hati dalam musyahadah (menyaksikan) kepadaku.

Ma’rifat hakiki terdapat dalam maqam ru’yat wa al–musyahadah bi sirr al-qalb. Orang yang ma’rifat melihat sekedar hanya untuk mengetahui. Karena ma’rifat yang hakiki ada di dalam (bathin) iradah Allah. Allah, ketika ini, hanya membuka sebagian hijab sehingga memungkinkan hambanya untuk mengenali–Nya. Akan tetapi, Ia tidak membuka seluruh hijab, agar yang melihat-Nya tidak terbakar.

Tanda adanya ma’rifat hakiki pada diri seseorang adalah jika di hatinya telah tidak dijumpai tempat untuk lain selain Allah. Ini erat kaitannya dengan apa yang dikatakan sebagian para Ulama tentang hakikat ma’rifat bahwa hakikatnya adalah menyaksikan (musyahadat) al-haqq dengan tanpa perantaraan, tidak bisa digambarkan, dan tanpa ada kesamaran. (37) Potret dan contoh figur yang telah sampai pada tingkatan ini, sebagaimana dicontohkan oleh al-Ghazali, misalnya Ali bin Abi Thalib, Ja’far Shadiq.

Ketika Ali ditanya oleh seseorang, “Wahai Amir al-Mu’minin, apakah engkau menyembah seseuatu yang engkau lihat atau sesuatu yang tidak engkau lihat ?”, Ali menjawab, “Tidak, bahkan aku menyembah dzat yang aku lihat tidak dengan mata kepalaku, tetapi dengan mata hatiku”. Demikian juga ketika Ja’far al-Shadiq R.A. ditanya “Apakah engkau melihat Allah ?”, ia menjawab, “Apakah aku menyembah tuhan yang tidak bisa aku lihat”. Lalu ia ditanya lagi, “Bagaimana engkau dapat melihatnya pada-hal Ia (Tuhan) adalah sesuatu yang tidak terjangkau oleh peng-lihatan”. Ja’far Shadiq menegaskan, “Mata tidak bisa melihat Tuhan dengan penglihatannya, tetapi hati bisa melihat-Nya dengan hakikat iman. Ia tidak mungkin dapat diindera oleh pan-caindera dan dipersamakan dengan manusia. (38)

Dalam pandangan al-Ghazali, rahasia serta “ruh” yang terkandung dalam ma’rifat adalah tauhid, yaitu penyucian sifat hayat ‘ilmu, qudrat, iradat, sam’, bashar, dan kalam Allah dari penyerupaan.

 

Adapun sumber ma’rifat menurut al-Ghazali ada empat yaitu :

  1. Pancaindera; Menurut al-Ghazali, pancaindera adalah termasuk juga sumber ma’rifat. Akan tetapi bekerjanya hanya dalam beberapa sumber, akan tetapi tidak dalam yang lain.

  1. Akal; Sebagaimana pancaindera, akal juga adalah merupakan salah satu sumber ma’rifat dalam beberapa sumber. Tetapi sekali lagi, ditegaskan bahwa ia bukanlah segala-galanya. Menganggap dan memberikan cakupan yang luas bagi akal sebagai sumber ma’rifat dapat menyebabkan penyepelean terhadap al-Qur’an sebagai utama.

  1. Wahyu; Menurut al-Ghazali, wahyu adalah sumber terbesar bagi Ma’rifat. Wilayah cakupannya sangat luas, sesuai dengan posisinya sebagai sumber pertama dan utama bagi ajaran Islam.

  1. Kasyf; yang dimaksud dengan kasyf oleh al-Ghazali adalah cahaya yang dihunjamkan ke dalam hati hamba, sehingga hati dapat melihat dan merasakan sesuatu dengan ‘ain al-yaqin. Kasyf adalah sumber kedua bagi ma’rifat yang terbesar setelah wahyu.

Tingkatan ma’rifat, menurut al-Ghazali berjenjang sesuai dengan tingkatan iman seseorang. Karena itu, tingkatan ma’rifat dibagi menjadi tiga sesuai dengan tingkatan iman seseorang.

Tiga tingkatan tersebut yaitu :

  1. Tingkatan pertama; imannya orang awam. Iman dalam tingkatan ini adalah iman taqlid yang murni.

  1. Tingkatan kedua; Imannya para ahli kalam. Mereka adalah orang-orang yang mengaku ahli akal dan berpikir atau mengaku sebagai tokoh penelitian dan istidlal.

  1. Tingkatan ketiga; Imannya para ‘arifin yaitu orang-orang yang menyaksikan dengan ‘ainul yaqin. (41)

Berkaitan dengan jalan perolehan ma’rifat ini Imam Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari dalam al-Hikam menulis:

“Apabila Tuhan membukakan jalan bagimu untuk Ma’rifat, maka jangan hiraukan amalmu yang masih sedikit itu, karena Allah tidak membuka jalan tadi melainkan Dia (sendiri yang) berkehendak memperkenalkan diri-Nya kepada kamu. Tidakkah anda ketahui bahwa perkenalan itu adalah pemberian Allah pada anda. Sedangkan amal-amal (yang anda kerjakan) anda berikan amal-amal itu untuk Allah, dan dimanakah fungsi pemberian anda kepada Allah apabila dibandingkan pada apa yang didatangkan Allah atas anda ?”

Salah satu pendidikan yang dapat ditemukan dari laku lampah Dunia Ruhani bahwa setiap penempuh jalan ruhani dituntut agar melihat kecil apa yang datang dari hamba dan betapa besar apa yang dikurniakan oleh Allah. Ruhani yang terdidik seperti ini akan membentuk sikap beramal tanpa melihat kepada amal itu sendiri, sebaliknya melihat amal itu sebagai kurnia Allah yang wajib disyukuri. Orang yang terdidik seperti ini tidak lagi membuat tuntutan kepada Allah tetapi membuka hati nuraninya untuk menerima hidayah dan taufik dari Allah.

Orang yang hatinya suci bersih akan menerima pancaran Sirr dan mata hatinya akan melihat kepada hakikat bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Mulia, Maha Suci dan Maha Tinggi. Ia tidak mungkin ditemui dan dikenali kecuali jika Dia (sendiri yang) mau untuk ditemui dan dikenali.

Tidak ada ilmu dan amal yang mampu menyampaikan seseorang kepada Allah. Tidak ada jalan untuk mengenal Allah. Allah hanya (dapat) dikenali apabila Dia memperkenalkan ‘diri-Nya’.

Penemuan kepada hakikat (bahwa tidak ada jalan yang terluhur kepada gerbang makrifat) merupakan puncak yang dapat dicapai oleh ilmu. Ilmu tidak mampu berjalan lebih jauh dari itu. Apabila seseorang mengetahui dan mengakui bahwa tidak ada jalan atau tangga yang dapat mencapai Allah, maka seseorang itu tidak lagi bersandar kepada ilmu dan amalnya, apa lagi kepada ilmu dan amal orang lain. Sampai disini seseorang tidak ada pilihan lagi melainkan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.

Ada orang yang mengetuk pintu gerbang ma’rifat dengan doanya. Jika pintu itu tidak terbuka maka semangatnya akan menurun hingga membuatnya putus asa.

Ada pula orang yang berpegang dengan janji Allah bahwa Dia akan membuka jalan-Nya kepada hamba-Nya yang berjuang pada jalan-Nya.

Kuatlah dia beramal dengan harapan dirinya layak untuk menerima kurnia Allah sebagaimana janji-Nya. Dia menggunakan kekuatan amalnya untuk mengetuk pintu gerbang makrifat. Bila pintu tersebut tidak terbuka juga maka dia menjadi ragu-ragu.

Dalam perjalanan menggapai ma’rifat seseorang tidak terlepas dari perasaan ragu, lemah semangat dan berputus asa. Jika dia masih bersandar kepada sesuatu selain Allah Swt, si hamba tidak ada pilihan lain kecuali berserah kepada Allah Swt.

Ma’rifat menurut Drs Imron Rosadi MA, adalah pengetahuan, dan dalam arti umum ialah ilmu atau pengetahuan yang diperoleh melalui akal. Dalam kajian ilmu tasawuf “Ma’rifat adalah mengetahui Tuhan dari dekat, sehingga hati sanubari dapat melihat Tuhan”. Inilah yang dikemukakan Harun Nasution dalam Falsafat & Mistisisme dalam Islam.

Lewat hati sanubari seorang sufi dapat melihat Tuhan. Dan kondisi seperti itu (Ma’rifat) diungkapkan para sufi dengan menyatakan “Kalau mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka, maka kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah SWT”.

Kondisi Ma’rifat dijelaskan dalam Ensiklopedi Islam (jilid tiga) bahwa Ma’rifat merupakan cermin. Jika seorang sufi melihat ke cermin, maka yang akan dilihatnya hanya Allah SWT. Artinya bahwa yang dilihat orang Arif sewaktu tidur maupun bangun hanya Allah SWT. Dengan ungkapan ini terlihat begitu dekatnya seorang sufi dengan Tuhannya, dan kondisi Ma’rifat ini mengisyaratkan bahwa Ma’rifat adalah anugerah dari Tuhan. Tuhanlah yang berkenan memberikan pengetahuan langsung dengan mengenugerahkan kemampuan kepada orang yang dikehendaki untuk menerima Ma’rifat. Ma’rifat merupakan cahaya yang memancar ke dalam hati, menguasai yang ada dalam diri manusia dengan sinarnya yang menyilaukan. Sekiranya Ma’rifat mengambil bentuk materi, semua orang yang melihat akan mati karena tak tahan melihat kecantikan serta keindahannya, dan semua cahaya akan menjadi gelap di samping cahaya keindahannya yang gilang gemilang.

Sufi pertama yang menonjolkan konsep Ma’rifat dalam tasawufnya adalah ZUNNUN al-MISRI (Mesir, 180 H / 796 M – 246 H / 860 M). Ia disebut “Zunnun” yang artinya “Yang empunya ikan Nun”, karena pada suatu hari dalam pengembaraannya dari satu tempat ke tempat lain ia menumpang sebuah kapal saudagar kaya. Tiba-tiba saudagar itu kehilangan sebuah permata yang sangat berharga dan Zunnun dituduh sebagai pencurinya. Ia kemudian disiksa dan dianiaya serta dipaksa untuk mengembalikan permata yang dicurinya. Saat tersiksa dan teraniaya itu Zunnun menengadahkan kepalanya ke langit sambil berseru: ”Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Tahu”. Pada waktu itu secara tiba-tiba muncullah ribuan ekor ikan Nun besar ke permukaan air mendekati kapal sambil membawa permata di mulut masing-masing. Zunnun mengambil sebuah permata dan menyerahkannya kepada saudagar tersebut.

Dalam pandangan umum Zunnun sering memperlihatkan sikap dan perilaku yang aneh-aneh dan sulit dipahami masyarakat umum. Karena itulah ia pernah dituduh melakukan Bid’ah sehingga ditangkap dan dibawa ke Baghdad untuk diadili di hadapan Khalifah al-Mutawakkil (Khalifah Abbasiyah, memerintah tahun 232 H / 847 M – 247 H / 861 M). Zunnun dipenjara selama 40 hari. Selama di dalam penjara, saudara perempuan Zunnun setiap hari mengirimkan sepotong roti, namun setelah dibebaskan, di kamarnya masih didapati 40 potong roti yang masih utuh.

Dzunun Al-Mishriy yang mengatakan; alat untuk mencapat ma’rifat ada 3 macam; yakni: Qalby (hati), Sirr (perasaan) dan Ruh. Sedangkan tanda-tanda yang dimiliki oleh Shufi bila sudah sampai kepada tingkatan ma’rifat, antara lain:

  1. Selalu memancar cahaya ma’rifat padanya dalam segala sikap dan perilakunya. Karena itu, sikap wara’ selalu ada pada dirinya.
  2. Tidak menjadikan keputusan pada sesuatu yang berdasarkan fakta yang bersifat nyata, karena hal-hal yang nyata menurut ajaran Tasawuf, belum tentu benar.

  1. Tidak menginginkan nikmat Allah yang banyak buat dirinya, karena hal itu bisa membawanya kepada perbuatan yang haram.

Dari sinilah kita dapat melihat bahwa seorang Shufi tidak membutuhkan kehidupan yang mewah, kecuali tingkatan kehidupan yang hanya sekedar dapat menunjang kegiatan ibadahnya kepada Allah SWT., sehingga Asy-Syekh Muhammad bin Al-Fadhal mengatakan bahwa ma’rifat yang dimiliki Shufi, cukup dapat memberikan kebahagiaan batin padanya, karena merasa selalu bersama-sama dengan Tuhan-nya.

Begitu rapatnya posisi hamba dengan Tuhan-nya ketika mencapai tingkat ma’rifat, maka ada beberapa Ulama yang melukiskannya sebagai berikut:

  1. Imam Rawiim mengatakan, Shufi yang sudah mencapai tingkatan ma’rifat, bagaikan ia berada di muka cermin; bila ia memandangnya, pasti ia melihat Allah di dalamnya. Ia tidak akan melihat lagi dirinya dalam cermin, karena ia sudah larut (hulul) dalam Tuhan-nya. Maka tiada lain yang dilihatnya dalam cermin, kecuali hanya Allah SWT saja.
  2. Al-Junaid Al-Bahdaadiy mengatakan, Shufi yang sudah mencapai tingkatan ma’rifat, bagaikan sifat air dalam gelas, yang selalu menyerupai warna gelasnya. Maksudnya, Shufi yang sudah larut (hulul) dalam Tuhan-nya selalu menyerupai sifat-sifat dan kehendak-Nya. Lalu dikatakannya lagi bahwa seorang Shufi, selalu merasa menyesal dan tertimpa musibah bila suatu ketika ingatannya kepada Allah terputus meskipun hanya sekejap mata saja.
  3. Sahal bin Abdillah mengatakan, sebenarnya puncak ma’rifat itu adalah keadaan yang diliputi rasa kekagumam dan keheranan ketika Shufi bertatapan dengan Tuhan-nya, sehingga keadaan itu membawa kepada kelupaan dirinya.

PENJELASA MENGENAI MASALAH MA’RIFAT KEPADA ALLOH SWT (2)

Keempat tahapan yang harus dilalui oleh Shufi ketika menekuni ajaran Tasawuf, harus dilaluinya secara berurutan; mulai dari Syariat, Tarekat, Hakikat dan Ma’rifat. Tidak mungkin dapat ditempuh secara terbalik dan tidak pula secara terputus-putus.Dengan cara menempuh tahapan Tasawuf yang berurutan ini,seorang hamba tidak akan mengalami kegagalan dan tiak pula mengalami kesesatan.

Menurut Abu Bakar al-Kalabazi (W. 380 H / 990 M) dalam al-Ta’aruf li Mazahib Ahl at Tasawwuf (Pengenalan terhadap mazhab-mazhab Ahli Tasawuf), Zunnun telah sampai pada tingkat Ma’rifat yaitu maqam tertinggi dalam Tasawwuf setelah menempuh jalan panjang melewati maqam-maqam: Taubat, Zuhud, Faqir, Sabar, Tawakal, Ridha dan cinta atau Mahabbah. Kalau Ma’rifat adalah mengetahui Tuhan dengan hati sanubari, maka Zunnun telah mencapainya. Maka, ketika ditanya tentang bagaimana Ma’rifat itu diperoleh ia menjawab : “Araftu rabbi bi rabbi walau la rabbi lama araftu rabbi”. (Aku mengetahui Tuhanku karena Tuhanku, dan sekiranya tidak karena Tuhanku, niscaya aku tidak akan mengetahui Tuhanku). Kata-kata Zunnun ini sangat populer dalam kajian ilmu Tasawwuf.

Zunnun mengetahui bahwa Ma’rifat yang dicapainya bukan semata-mata hasil usahanya sebagai sufi, melainkan lebih merupakan anugerah yang dilimpahkan Tuhan bagi dirinya. Ma’rifah tidak dapat diperoleh melalui pemikiran dan penalaran akal, tetapi bergantung pada kehendak dan rahmat Tuhan. Ma’rifat adalah pemberian Tuhan kepada Sufi yang sanggup menerimanya.

Selanjutnya ketika mengungkapkan tokoh Zunnun, Ensiklopedi Islam menjelaskan bahwa Zunnun membagi Ma’rifat ke dalam tiga tingkatan yaitu:

Tingkat awam. Orang awam mengenal dan mengetahui Tuhan melalui ucapan Syahadat.

Tingkat Ulama. Para Ulama, cerdik – pandai mengenal dan mengetahui Tuhan berdasarkan logika dan penalaran akal.

Tingkat Sufi. Para Sufi mengetahui Tuhan melalui hati sanubari.

Ma’rifat yang sesungguhnya adalah Ma’rifat dalam tingkatan Sufi, sedangkan Ma’rifat pada tingkat awam dan tingkat ulama lebih tepat disebut ilmu. Zunnun membedakan antara ilmu dan Ma’rifat.

Ciri-ciri orang ‘Arif atau orang yang telah sampai kepada Ma’rifat adalah

  • Cahaya Ma’rifatnya yang berupa ketaqwaan tidak pernah padam dalam dirinya.
  • Tidak meyakini hakikat kebenaran suatu ilmu yang menghapuskan atau membatalkan Zahirnya.
  • Banyaknya nikmat yang dianugerahkan Tuhan kepadanya tidak membuatnya lupa dan melanggar aturan Tuhan.

Dijelaskan bahwa akhlaq Sufi tidak ubahnya dengan akhlaq Tuhan. Ia baik dan lemah lembut serta senantiasa berusaha agar seluruh sikap dan perilakunya mencerminkan sifat-sifat Tuhan.

Namun demikian untuk mencapai tingkat ini tidaklah mudah meskipun selintas dapat dipahami bahwa Ma’rifat didapat dengan ikhlas beribadah dan sungguh-sungguh mencintai dan mengenal Tuhan, sehingga Allah SWT berkenan menyingkap tabir dari pandangan Sufi untuk menerima cahaya yang dipancarkan, yang pada akhirnya Sufi dapat melihat keindahan dan keesaan-Nya. Jalan yang dilalui seorang Sufi tidaklah mulus dan mudah. Sulit sekali untuk pindah dari satu maqam ke maqam yang lain. Untuk itu seorang Sufi memang harus melakukan usaha yang berat dan waktu yang panjang, bahkan kadang-kadang ia masih harus tinggal bertahun-tahun di satu maqam.

Dalam pada itu Ma’rifatpun harus dicapai melalui proses yang terus-menerus. Semakin banyak seorang Sufi mencapai Ma’rifat, semakin banyak yang diketahui tentang rahasia-rahasia Tuhan, meskipun demikian tidak mungkin Ma’rifatullah menjadi sempurna, karena manusia sungguh amat terbatas, sementara Tuhan tidak terbatas. Karena itu al-Junaid al-Baghdadi, seorang tokoh Sufi modern berkomentar tentang keterbatasan manusia dengan mengatakan “Cangkir teh takkan mungkin menampung semua air laut”.

Paham Ma’rifat Zunnun dapat diterima al-Ghazali sehingga paham ini mendapat pengakuan Ahlussunah wal Jama’ah. Al-Ghazali sebagai figur yang berpengaruh di kalangan Ahlussunah wal Jama’ah diakui dapat menjadikan Tasawwuf diterima kaum syari’at. Sebelumnya para ulama memandang Tasawuf seperti yang diajarkan al-Bustami (W. 261 H / 874 M) dan al-Hallaj (244 – 309 H / 858 – 922 M) khususnya menyimpang dengan paham Hulul / Ittihad / penyatuan yang dalam pemahaman “Kejawen” dikenal dengan “Manunggaling Kawulo Gusti”

Ma’rifat menurut al-Ghazali adalah maqam kedekatan (qurb) itu sendiri yakni maqam yang memiliki daya tarik dan yang memberi pengaruh pada kalbu, yang lantas berpengaruh pada seluruh aktivitas jasmani (jawarih). `Ilm (ilmu) tentang sesuatu adalah seperti “melihat api” sebagai contoh, sedangkan ma`rifat adalah “menghangatkan diri dengan api”.

Menurut bahasa, ma`rifat adalah pengetahuan yang tidak ada lagi keraguan di dalamnya. Adapun menurut istilah yang sering dipakai menunjukkan ilmu pengetahuan tentang apa saja (nakirah). Menurut istilah Sufi, ma`rifat adalah pengetahuan yang tidak ada lagi keraguan, apabila yang berkaitan dengan objek pengetahuan itu adalah Dzat Allah swt. dan Sifat-sifat-Nya. Jika ditanya, `Apa yang disebut ma`rifat Dzat dan apa pula ma’rifat Sifat?” Maka dijawab bahwa ma’rifat Dzat adalah mengetahui bahwa sesungguhnya Allah swt. adalah Wujud Yang Esa, Tunggal, Dzat dan “sesuatu” Yang Mahaagung, Mandiri dengan Sendiri-Nya dan tidak satu pun yang menyerupai-Nya.

Sedangkan ma’rifat Sifat adalah mengetahui sesungguhnya Allah swt. Mahahidup, Maha Mengetahui, Mahakuasa, Maha Mendengar dan Maha Melihat, dan seluruh Sifat-sifat Keparipurnaan lainnya.

Kalau ditanya, `Apa rahasia ma`ri fat?” Rahasia dan ruhnya adalah tauhid. Yaitu, jika anda telah menyucikan sifat-sifat Mahahidup, Ilm (Ilmu), Qudrah, Iradah, Sama ; Bashar dan Kalam Allah dari segala keserupaan dengan sifat-sifat makhluk [dengan penegasan bahwa tiada satu pun yang menyamai-Nya].

Lalu, apa tanda-tanda ma`rifat? Tanda-tandanya adalah hidupnya kalbu bersama Allah swt. Allah swt. mewahyukan kepada Nabi Dawud a.s., “Mengertikah engkau, apakah ma’rifat-Ku itu?” Dawud menjawab, “Tldak.”Allah berfirman, “Hidupnya kalbu dalam musyahadah kepada-Ku. “

Kalau ditanya, “Tahap atau maqam manakah yang dapat disahkan sebagai ma `rifat yang hakiki?” [Jawabnya] adalah tahap musyahadah (penyaksian) dan ru’yat (melihat) dengan sirr qalbu. Hamba melihat untuk mencapai ma’rifat. Karena ma’rifat yang hakiki ada dalam dimensi batin pada iradah, kemudian Allah swt. menghilangkan sebagian tirai (hijab), lantas kepada mereka diperlihatkan nur Dzat-Nya dan Sifat-sifat-Nya dari balik hijab itu agar mereka sampai pada ma’rifat kepada Allah swt. Hijab itu tidak dibukakan seluruhnya, agar yang melihat-Nya tidak terbakar.

Sang Sufi bersyair dengan ungkapan pencapaian pada tahap spiritual tertentu :

Seandainya Aku tampak tanpa hijab

Pastilah seluruh makhluk sempurna

Namun hijab itu amat halus

Agar merevitalisasi kalbu para hamba yang `asyiq.

Ketahuilah, bahwa manifestasi (tajalli) keagungan melahirkan rasa takut (khauf) dan keterpesonaan (haibah). Sedangkan manifestasi keelokan (al-Hasan) dan Keindahan (al-Jamal) melahirkan keasyikan. Sementara manifestasi Sifat-sifat Allah melahirkan mahabbah. Dan manifestasi Dzat meniscayakan lahirnya penegasan keesaan (tauhid).

Sebagian ahli ma’rifat berkata, “Demi Allah, tidak seorang pun yang mencari dunia, selain orang itu dibutakan kalbunya oleh Allah, dan dibatalkan amalnya. Sesungguhnya Allah menciptakan dunia sebagai kegelapan, dan menjadikan matahari sebagai cahaya. Allah menjadikan kalbu juga gelap, lalu dijadikan ma’rifat sebagai cahayanya. Apabila awan telah tiba, cahaya matahari akan terhalang. Begitupun ketika kecintaan dunia tiba, cahaya ma’rifat akan terhalang dari kalbu.”

Ada pula yang mengatakan, “Hakikat ma’rifat adalah cahaya yang dikaruniakan di dalam kalbu Mukmin, dan tiada yang lebih mulia dalam khazanah kecuali ma’rifat.”

Sebagian Sufi berkata, “Matahari kalbu Sang `Arif lebih terang dan bercahaya dibandingkan matahari di siang hari. Karena matahari pada siang hari kemungkinan menjadi gelap karena gerhana, sedangkan matahari kalbu tiada pernah mengalami peristiwa gerhana (kusuf). Matahari siang tenggelam ketika malam, namun tidak demikian pada matahari kalbu.” Mereka mendendangkan syair:

Matahari siang tenggelam di waktu senja

matahari kalbu tiada pernah tenggelam

Siapa yang mencintai Sang Kekasih

`Kan terbang sayap rindunya

menemui Kekasihnya.

Dzun Nun berkata bahwa hakikat ma’rifat adalah penglihatan al-Haq atas rahasia-rahasia relung kalbu melalui perantaraan (muwashalah) Kilatan-kilatan lembut (latha’if) cahaya-cahaya:

Bagi orang `arifin, terdapat kalbu-kalbu yang diperlihatkan

Cahaya Ilahi dengan rahasia di atas rahasia

Yang terdapat dalam berbagai hijab

Tuli dari makhluk, buta dari pandangan mereka

Bisu dari berucap dalam klaim-klaim dusta.

Sebagian di antara mereka ditanyai, “Kapankah seorang hamba mengetahui bahwa dia telah mencapai ma’rifat yang hakiki?” Dijawab, “Tatkala dia mencapai tahapan tidak menemukan dalam kalbunya sedikit pun ruang bagi selain Tuhannya.”

Sebagian Sufi ada pula yang berkata, “Hakikat ma’rifat adalah musyahadah kepada Yang Haq tanpa perantara, tanpa bisa diungkapkan, tanpa ada keraguan (syubhah).” Seperti ketika Amirul-Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a. ditanya, “Wahai Amirul-Mukminin, apakah yang anda sembah itu yang dapat anda lihat atau tidak dapat anda lihat?” “Bukan begitu, bahkan aku menyembah Yang aku lihat, bukan dengan penglihatan mata, tetapi penglihatan kalbu,” jawab Ali.

Ja’far ash-Shadiq ditanya, “Apakah anda pernah melihat Allah swt.?”

“Aku tidak menyembah Tuhan yang tidak bisa kulihati” Ditanyakan lagi, “Bagaimana anda melihat-Nya, padahal Dia tidak dapat dilihat mata?”

Ja’far menjawab, “Mata penglihatan fisik tidak bisa melihat-Nya, tetapi mata batin (al-qulub) dapat melihat-Nya melalui hakikat iman. Tidak diketahui melalui penginderaan dan tidak pula dianalogikan dengan manusia.”

Sebagian `arifin ditanya seputar hakikat ma’rifat. Mereka berkata, “Menyucikan sirr (rahasia) kalbu dari segala kehendak ‘ dan meninggalkan kebiasaan sehari-hari, tentramnya kalbu kepada Allah swt. tanpa ada ganjalan (`alaqah), berhenti dari sikap berpaling dari Allah swt. dan menuju selain Allah swt. Mustahil, ma’rifat kepada substansi Dzat-Nya dan Sifat-sifat-Nya, dan tidak akan diketahui siapa Dia, kecuali melalui Dia sendiri, Yang Mahaluhur, Mahatinggi, serta Kemuliaan hanya kepada Diri-Nya saja.”

Bashirah, Mukasyafah, Musyahadah dan Mu’ayanah

Bashirah, Mukasyafah, Musyahadah dan Mu`ayanah merupakan term-term yang sinonim. Perbedaannya pada tataran makna penjelasannya yang utuh, bukan pada tataran makna asalnya. Kedudukan bashirah (mata batin) pada akal sama dengan kedudukan cahaya mata (batin) pada mata penglihatan (fisik). Kedudukan ma’rifat pada bashirah adalah seperti kedudukan bola matahari yang berpijar pada cahaya mata, sehingga dengan sinar itu, objek-objek yang jelas dan yang tidak tampak dapat dikenali.

Di dalam kehidupan (hayah) itu sendiri, Tauhid dapat diketahui.Allah swt. berfirman: “Bukankah orang yang sudah mati, kemudian dia Kami hidupkan?” (Q. s. al-An’am:122).

Sedangkan al-yaqin -ketahuilah – keyakinan (al-i`tiqad) dan ilmu, apabila telah bersemayam dalam kalbu dan tidak ada yang menjadi penghalang (ma’aridh) bagi masing-masing, akan membuahkan ma`rifat dalam kalbu. Dan ma’rifat tersebut dinamakan al-yaqin. Karena hakikat yakin adalah kejernihan ilmu yang didapatkan (acquired) melalui perolehan karunia (muktasab), sehingga menjadi seperti ilmu aksiomatik, dan kalbu menyaksikan keseluruhan, sebagaimana dikabarkan oleh syariat, baik dalarn persoalan dunia maupun akhirat. Dikatakan, `Air menjadi jelas ketika bersih dari kekeruhannya.”

Ilham adalah pencapaian (hushul) ma’rifat tersebut tanpa disertai sebab dan upaya, tetapi dengan ilham langsung dari Allah swt. setelah kalbu menjadi jernih dari segala sikap memandang baik (istihsan) dua jagad – jagad dunia maupun akhirat.

Sementara firasat adalah pengetahuan akan perlambang dari Allah swt., antara Dia dan hamba-Nya, yang memberi petunjuk pada segi esoterik (sisi paling dalam) hukum-hukumNya. Firasat tidak akan hadir, kecuali pada derajat taqarrub. Tetapi dia berada di bawah ilham. Karena ilham tidak membutuhkan alamat-alamat. Namun firasat membutuhkan alamat atau tanda perlambang, baik bersifat umum maupun khusus

Abu Said al Kharraz rahimahullah pernah ditanya tentang ma’rifat. Lalu ia menjawab, “Ma’rifat itu datang lewat dua sisi: Pertama, dari anugerah Kedermawanan Allah langsung, dan kedua, dari mengerahkan segala kemampuan atau yang lebih dikenal sebagai usaha (kasab) seorang hamba.”

Sementara itu Abu Turab an-Nakhsyabi – rahimahullah – ditanya tentang sifat orang yang arif, lalu ia menjawab, “Orang arif adalah orang yang tidak terkotori oleh apa saja, sementara segala sesuatu akan menjadi jernih karenanya.”

Ahmad bin ‘Atha’ – rahimahullah – berkata, “Ma’rifat itu ada dua: Ma’rifat al-Haq dan ma’rifat hakikat. Adapun ma’rifat al-Haq adalah ma’rifat (mengetahui) Wahdaniyyah-Nya melalui Nama-nama dan Sifat-sifat yang ditampakkan pada makhluk-Nya. Sedangkan ma’rifat hakikat, tak ada jalan untuk menuju ke sana. Sebab tidak memungkinkannya Sifat Shamadiyyah (Keabadian dan Tempat ketergantungan makhluk)-Nya, dan mengaktualisasikan Rububiyyah (Ketuhanan)-Nya. Karena Allah telah berfirman:

“Sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi (memahami secara detail) Ilmu-Nya”.” (Q.s. Thaha: 110).

Syekh Abu Nashr as-Sarraj – rahimahullah – menjelaskan:

Makna ucapan Ahmad bin’Atha’, “Tak ada jalan menuju ke sana,” yakni ma’rifat (mengetahui) secara hakiki. Sebab Allah telah menampakkan Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya kepada makhluk-Nya, dimana Dia tahu bahwa itulah kadar kemampuan mereka. Sebab untuk tahu dan ma’rifat secara hakiki tidak akan mampu dilakukan oleh makhluk. Bahkan hanya sebesar atom pun dari ma’rifat-Nya tidak akan sanggup dicapai oleh makhluk. Sebab alam dengan apa yang ada di dalamnya akan lenyap ketika bagian terkecil dari awal apa yang muncul dari Kekuasaan Keagungan-Nya. Lalu siapa yang sanggup ma’rifat (mengetahui) Dzat Yang salah satu dari Sifat-sifat-Nya sebagaimana itu?

Oleh karenanya ada orang berkata, “Tak ada selain Dia yang sanggup mengetahui-Nya, dan tak ada yang sanggup mencintai-Nya selain Dia sendiri. Sebab Kemahaagungan dan Keabadian (ash-Shamadiyyah) tak mungkin dapat dipahami secara detail. Allah swt. berfirman:

“Dan mereka tidak mengetahui apa apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya”.” (Q.s. al-Baqarah: 255).

Sejalan dengan makna ini, ada riwayat dari Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. yang pernah berkata, “Mahasuci Dzat Yang tidak membuka jalan untuk ma’rifat-Nya kecuali dengan menjadikan seseorang tidak sanggup mengetahui-Nya.”

Asy-Syibli – rahimahullah – pernah ditanya, “Kapan seorang arif berada dalam tempat kesaksian al-Haq?”

Ia menjawab, “Tatkala Dzat Yang menyaksikan tampak, dan bukti-bukti fenomena alam yang menjadi saksi telah fana’ (sirna) indera dan perasaan pun menjadi hilang.”

“Apa awal dari masalah ini dan apa pula akhirnya?”

Ia menjawab, “Awalnya adalah ma’rifat dan ujungnya adalah mentauhidkan-Nya.”

Ia melanjutkan, “Salah satu dari tanda ma’rifat adalah melihat dirinya berada dalam ‘Genggaman’ Dzat Yang Mahaagung, dan segala perlakuan Kekuasaan Allah berlangsung menguasai dirinya. Dan ciri lain dari ma’rifat adalah rasa cinta (al-Mahabbah). Sebab orang yang ma’rifat dengan-Nya tentu akan mencintai-Nya.”

Abu Nazid Thaifur bin Isa al-Bisthami – rahimahullah – pernah ditanya tentang sifat orang arif, lalu ia menjawab, “Warna air itu sangat dipengaruhi oleh warna tempat (wadah) yang ditempatinya. Jika air itu anda tuangkan ke dalam tempat yang berwarna putih maka anda akan menduganya berwarna putih. Jika Anda tuangkan ke dalam tempat yang berwarna hitam, maka Anda akan menduganya berwarna hitam. Dan demikian pula jika Anda tuangkan ke dalam tempat yang berwarna kuning dan merah, ia akan selalu diubah oleh berbagai kondisi. Sementara itu yang mengendalikan berbagai kondisi spiritual adalah Dzat Yang memiliki dan menguasainya.”

Syekh Abu Nashr as-Sarraj – rahimahullah – menjelaskannya: Artinya, – hanya Allah Yang Mahatahu – bahwa kadar kejernihan air itu akan sangat bergantung pada sifat dan warna tempat (wadah) yang ditempatinya. Akan tetapi warna benda yang ditempatinya tidak akan pernah berhasil mengubah kejernihan dan kondisi asli air itu. Orang yang melihatnya mungkin mengira, bahwa air itu berwarna putih atau hitam, padahal air yang ada di dalam tempat tersebut tetap satu makna yang sesuai dengan aslinya. Demikian pula orang yang arif dan sifatnya ketika “bersama” Allah Azza wa jalla dalam segala hal yang diubah oleh berbagai kondisi spiritual, maka rahasia hati nuraninya “bersama” Allah adalah dalam satu makna.

Al-junaid – rahimahullah – pernah ditanya tentang rasionalitas orang-orang arif (al-’arifin). Kemudian ia menjawab, “Mereka lenyap dari kungkungan sifat-sifat yang diberikan oleh orang-orang yang memberi sifat.”

Sebagian dari para tokoh Sufi ditanya tentang ma’rifat. Lalu ia menjawab, “Adalah kemampuan hati nurani untuk melihat kelembutan-kelembutan apa yang diberitahukan-Nya, karena ia telah menauhidkan-Nya.”

Al-Junaid – rahimahullah – ditanya, “Wahai Abu al-Qasim, (nama lain dari panggilan al-junaid, pent.). apa kebutuhan orang-orang arif kepada Allah?”

Ia menjawab, “Kebutuhan mereka kepada-Nya adalah perlindungan dan pemeliharaan-Nya pada mereka.”

Muhammad bin al-Mufadhdhal as-Samarqandi – rahimahullah – berkata, “Akan tetapi mereka tidak membutuhkan apa-apa dan tidak ingin memilih apa pun. Sebab tanpa membutuhkan dan memilih, mereka telah memperoleh apa yang semestinya mereka peroleh. Karena apa yang bisa dilakukan orang-orang arif adalah berkat Dzat Yang mewujudkan mereka, kekal dan fananya juga berkat Dzat Yang mewujudkannya.”

Muhammad bin al-Mufadhdhal juga pernah ditanya, ” Apa yang dibutuhkan orang-orang arif?”

Ia menjawabnya, “Mereka membutuhkan moral (akhlak) yang dengannya semua kebaikan bisa sempurna, dan ketika moral tersebut hilang, maka segala kejelekan akan menjadi jelek seluruhnya. Akhlak itu adalah istiqamah.”

Yahya bin Mu’adz – rahimahullah – ditanya tentang sifat orang arif, maka ia menjawab, “Ia bisa masuk di kalangan orang banyak, namun ia terpisah dengan mereka.”

Dalam kesempatan lain ia ditanya lagi tentang orang yang arif, maka ia menjawab, “Ialah seorang hamba yang ada (di tengah-tengah orang banyak) lalu ia terpisah dengan mereka.”

Abu al-Husain an-Nuri – rahimahullah – ditanya, “Bagaimana Dia tidak bisa dipahami dengan akal, sementara Dia tidak dapat diketahui kecuali dengan akal”

Ia menjawab, “Bagaimana sesuatu yang memiliki batas bisa memahami Dzat Yang tanpa batas, atau bagaimana sesuatu yang memiliki kekurangan bisa memahami Dzat Yang tidak memiliki kekurangan dan cacat sama sekali, atau bagaimana seorang bisa membayangkan kondisi bagaimana terhadap Dzat Yang membuat kemampuan imajinasi itu sendiri, atau bagaimana orang bisa menentukan ‘di mana’ terhadap Dzat Yang menentukan ruang dan tempat itu sendiri. Demikian pula Yang menjadikan yang awal dan mengakhirkan yang terakhir, sehingga Dia disebut Yang Pertama dan Terakhir. Andaikan Dia tidak mengawalkan yang awal dan mengakhirkan yang terakhir tentu tidak bisa diketahui mana yang pertama dan mana yang terakhir.”

Kemudian ia melanjutkannya, “Al-Azzaliyyah pada hakikatnya hanyalah al-Abadiyyah (Keabadian), di mana antara keduanya tidak ada pembatas apa pun. Sebagaimana Awwaliyyah (awal) adalah juga Akhiriyyah (akhir) dan akhir adalah juga awal. Demikian pula lahir dan batin, hanya saja suatu saat Dia menghilangkan Anda dan suatu saat menghadirkan Anda dengan tujuan untuk memperbarui kelezatan dan melihat penghambaan (‘ubudiyyah). Sebab orang yang mengetahui-Nya melalui penciptaan makhluk-Nya, ia tidak akan mengetahui-Nya secara langsung. Sebab penciptaan makhluk-Nya berada dalam makna firman-Nya, ‘Kun’ (wujudlah). Sementara mengetahui secara langsung adalah menampakkan kehormatan, dan sama sekali tidak ada kerendahan.”

Saya (Syekh Abu Nashr as Sarrai) katakan: Makna dan ucapan an-Nuri, “mengetahui-Nya secara langsung,” ialah langsung dengan yakin dan kesaksian hati nurani akan hakikat-hakikat keimanan tentang hal-hal yang gaib.

Syekh Abu Nashr as-Sarraj – rahimahullah – melanjutkan penjelasannya: Makna dari apa yang diisyaratkan tersebut – hanya Allah Yang Mahatahu – bahwa menentukan dengan waktu dan perubahan itu tidak layak bagi Allah swt. Maka Dia terhadap apa yang telah terjadi sama seperti pada apa yang bakal terjadi. Pada apa yang telah Dia firmankan sama seperti pada apa yang bakal Dia firmankan. Sesuatu yang dekat menurut Dia sama seperti yang jauh, begitu sebaliknya, sesuatu yang jauh sama seperti yang dekat. Sedangkan perbedaan hanya akan terjadi bagi makhluk dari sudut penciptaan dan corak dalam masalah dekat dan jauh, benci dan senang (ridha), yang semua itu adalah sifat makhluk, dan bukan salah satu dari Sifat-sifat al-Haq swt. – dan hanya Allah Yang Mahatahu-.

Ahmad bin Atha’ – rahimahullah – pernah mengemukakan sebuah ungkapan tentang ma’rifat. Dimana hal ini konon juga diceritakan dari Abu Bakar al-Wasithi. Akan tetapi yang benar adalah ungkapan Ahmad bin ‘Atha’, “Segala sesuatu yang dianggap jelek itu akan menjadi jelek hanya karena tertutupi hijab-Nya (tidak ada nilai-nilai Ketuhanan). Sedangkan segala Sesuatu yang dianggap baik itu menjadi baik hanya karena tersingkap (Tajalli)-Nya (terdapat nilai-nilai Ketuhanan). Sebab keduanya merupakan sifat yang selalu berlaku sepanjang masa, sebagaimana keduanya berlangsung sejak azali. Dimana tampak dua ciri yang berbeda pada mereka yang diterima dan mereka yang ditolak. Mereka yang diterima, benar-benar tampak bukti-bukti Tajalli-Nya pada mereka dengan sinar terangnya, sebagaimana tampak jelas bukti bukti tertutup hijab-Nya pada mereka yang tertolak dengan kegelapannya. Maka setelah itu, tidak ada manfaatnya lagi warna-warna kuning, baju lengan pendek, pakaian serba lengkap maupun pakaian-pakaian bertambal (yang hanya merupakan simbolis semata, pent.).”

Saya katakan, bahwa apa yang dikemukakan oleh Ahmad bin Atha’ maknanya mendekati dengan apa yang dikatakan oleh Abu Sulaiman Abdurrahman bin Ahmad ad-Darani – rahimahullah – dimana ia berkata, “Bukanlah perbuatan-perbuatan (amal) seorang hamba itu yang menjadikan-Nya senang (ridha) atau benci. Akan tetapi karena Dia ridha kepada sekelompok kaum, kemudian Dia jadikan mereka orang-orang yang berbuat dengan perbuatan (amal) orang-orang yang diridhai-Nya. Demikian pula, karena Dia benci pada sekelompok kaum, kemudian Dia jadikan mereka orang-orang yang berbuat dengan perbuatan orang-orang yang dibenci-Nya.”

Sedangkan makna ucapan Ahmad bin Atha’, “Segala sesuatu yang dianggap jelek itu akan menjadi jelek hanya karena tertutupi hijab-Nya.” Maksudnya adalah karena Dia berpaling dari kejelekan tersebut. Sementara ucapannya yang menyatakan, “Segala sesuatu yang dianggap baik itu menjadi baik hanya karena tersingkap (Tajalli)-Nya.” Maksudnya adalah karena Dia menyambut dan menerimanya. Makna semua itu adalah sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah Hadis:

Dimana Rasulullah saw. pernah keluar, sementara di tangan beliau ada dua buah Kitab: Satu kitab di tangan sebelah kanan, dan satu Kitab yang lain di tangan sebelah kiri. Kemudian beliau berkata, “Ini adalah Kitab catatan para penghuni surga lengkap dengan nama-nama mereka dan nama bapak-bapak mereka. Sementara yang ini adalah Kitab catatan para penghuni neraka lengkap dengan nama-nama mereka beserta nama bapak-bapak mereka.” (H.r. Tirmidzi dari Abdullah bin Amr bin Ash. Hadist ini Hasan Shahih Gharib. Juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani, dari Ibnu Umar).

Ketika Abu Bakar al-Wasithi – rahimahullah – mengenalkan dirinya kepada kaum elite Sufi, maka ia berkata, “Diri (nafsu) mereka (kaum arif telah sirna, sehingga tidak menyaksikan kegelisahan dengan menyaksikan fenomena-fenomena alam yang menjadi saksi Wujud-Nya al-Haq, sekalipun yang tampak pada mereka hanya bukti-bukti kepentingan nafsu.”

Demikian juga orang yang memberikan sebuah komentar tentang makna ini. Artinya – dan hanya Allah Yang Maha tahu -, “Sesungguhnya orang yang menyaksikan bukti-bukti awal pada apa yang telah ia ketahui, melalui apa yang dikenalkan Tuhan Yang disembahnya, ia tidak menyaksikan kegelisahan dengan hanya menyaksikan apa yang selain Allah (yakni fenomena alam), dan juga tidak merasa senang dengan mereka (makhluk).”