HAL-HAL YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN SAAT BUANG HAJAT

Disebutkan dalam Kitab Bughyatul Al-Mustarsyidin Karya As-Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin Umar Al-Masyhur Ba’alawi, bahwasannya jika melakukan perkara-perkara di bawah ini ketika buang hajat akan menyebabkan sesuatu yang tidak kita inginkan terhadap diri kita yaitu sebagai berikut :

1. Meludah ke atas kotoran yang dikeluarkan akan menyebabkan orang itu suka was-was dan menyebabkan giginya kuning serta akan terkena penyakit yang berhubungan dengan darah.

2. Bersiwak/sikat gigi sambil buang hajat akan menyebakan penyakit lupa dan kebutaan.

3. Lama duduk ketika buang hajat akan menyebabkan penyakit hati dan wasir.

4. Mengeluarkan hingus ketika buang hajat akan menyebabkan ketulian.

5. Menggerakkan cincin ketika buang hajat akan menyebabkan syaitan tinggal di dalamnya.

6. Berbicara dengan pembicaraan yang tidak diperlukan ketika buang hajat akan menyebabkan kemurkaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

7. Mematikan kutu rambut saat buang hajat akan menyebabkan syaitan akan tinggal bersamanya selama 40 hari melalaikan dari Allah.

8. Memejamkan mata saat buang hajat akan menyebabkan kemunafikan.

9. Membuang batu istinja’ atau sejenisnya ke arah kotoran yang dikeluarkan, akan menyebabkan orang tersebut terkena penyakit angin.

10. Mengeluarkan gigi palsu saat buang hajat dan meletakkan kedua tangan di atas kepala ketika itu akan menyebabkan keras hati dan hilangnya rasa malu dan dapat menyebabkan penyakit lepra.

11. Bersandar ketika buang hajat akan menyebabkan hilangnya air muka dan dapat membesarkan perut.

والله أعلم بالصواب

Semoga bermanfaat dan mendapatkan keberkahannya.. Amiin…

NASIHAT IMAM GHOZALI RAH. TENTANG WAKTU DAN MENANGGAPI ORANG BODOH

Hendaknya engkau memakmurkan waktumu untuk kegiatan ibadah hingga tidak berlalu waktu malam dan siang kecuali engkau menjadikannya untuk aktifitas kebaikan, menghabiskan waktu untuk ibadah. Sehingga tampak keberkahan waktu, diperoleh manfaat dalam umur ini dan selalu semangat beribadah kepada الله. Dan luangkan waktu tertentu untuk aktifitas harian seperti makan, minum, dan bekerja.

Ketahuilah, Bahwa keadaan seseorang tidak akan bisa istiqomah apabila diiringi dengan ketidakseriusan. Dan hati tidak akan menjadi baik apabila diiringi dengan kelalaian.

Berkata Hujjatul Islam Imam Ghozali Rah.:

Hendaknya engkau membagi waktumu dan mengatur wirid-wiridmu.

Dan tentukanlah untuk setiap waktu ada aktifitas (wirid/ ibadah) yang tidak akan engkau tinggalkan ataupun mementingkan yang lainnya.

Adapun orang yang membiarkan dirinya sia-sia begitu saja, tak ubahnya seperti seekor binatang yang menyibukkan dirinya setiap saat. Ia berbuat apa saja yang ia mau dengan cara sesukanya, sehingga waktunya banyak habis sia-sia.

Ketahuilah, bahwasannya waktumu adalah umurmu, umurmu adalah modalmu, dan modal utama perdaganganmu. Dengannya engkau bisa mencapai kenikmatan abadi di sisi Allah Ta’ala.

Maka setiap nafasmu adalah permata yang tak ternilai harganya dan tidak dapat ditukar, jika ia telah terlewat tak akan pernah kembali lagi.

رسالة المعاونة والمظاهرة والمؤازرة:٣٥

Termasuk di antara nasehat Imam Ghozali kepada salah satu muridnya adalah berikut ini :

Ketahuilah sesungguhnya sakit karena bodoh itu ada empat macam, salah satu dari empat jenis sakit bodoh itu bisa diobati yang sisanya tidak bisa diobati :

  1. Orang bertanya dan mendebat yang melakukannya karena hasud dan benci kepada orang yang ditanya. Maka setiap kamu jawab pertanyaanya dengan jawaban yang jelas dan lengkap, maka ia tambah benci dan tambah memusuhimmu. Maka solusinya jangan kamu sibuk untuk menjawab pertanyaannya ( diamkan saja ), orang semisal ini tidak bisa disembuhkan, maka sepatutnya kamu berpaling darinya.

     Penyair Arab berkata : Segala bentuk permusuhan bisa diharapkan hilangnya # kecuali permusuhan orang yang memusuhi kamu karena dengki. Orang bertanya karena terlalu bodoh. Orang semisal ini juga tidak bisa disembuhkan, sebagaimana perkataan Nabi Isa AS                            ”Sesungguhnya aku mampu menghidupkan orang yang sudah mati, namun aku benar-benar tidak mampu mengobati orang yang terlalu bodoh”.

2. Nomer dua adalah contoh orang yang yang sibuk mencari ilmu dalam waktu yang singkat. Dia belajar ilmu logika dan syareat lalu dia bertanya dan ingin mendebat orang alim yang sudah menghabiskan banyak umurnya di dalam lautan ilmu logika dan syareat. Orang semisal ini menyangka apa yang rumit bagi dia pasti rumit juga bagi orang alim tersebut, ini disebabkan sangat bodohnya dia. Ketika kamu bertemu orang model seperti ini jangan sibukan dirimu untuk menjawab pertanyaannya.

3. Orang bertanya karena ingin mendapatkan petunjuk. Setiap dia tidak memahami kalam ulama-ulama besar dia sadar bahwa pemahamannya sangat dangkal, dan pertanyaan yang muncul dari dia adalah untuk mengambil faedah. Akan tetapi karena dia dangkal ilmu dan pemahamannya tidak bisa mencerna hakekat dari kalam ulama-ulama besar, maka sepatutnya juga kamu jangan sibuk menjawab pertanyaannya. Nabi Muhammad saw bersabda “Kami para nabi diperintahkan berkomunikasi dengan manusia sesuai ukuran akal mereka”

4. Sakit karena bodoh yang bisa diobati adalah dia bertanya karena ingin meminta petunjuk dan dia orang berakal, faham (tidak bodoh). Ia bertanya bukan karena hasad, bukan karena marah, bukan karena syahwat ingin bertanya dan bukan cinta kedudukan (ingin terkenal sebagai orang alim) dan dia memang ingin mencari yang benar, maka orang semisal ini bisa disembuhkan, maka boleh bagi kamu untuk menanggapi pertanyaannya dan menjawabnya, bahkan wajib bagi kamu untuk menjawabnya.

(Ayyuhal-walad.hal.32 )

PENYAKIT ORANG YANG SUDAH MENIKAH ADA TIGA:

1. Susah mencari rizqi yang halal di daerah sendiri.

2. Tidak sabar menghadapi tingkah laku yang tidak baik dari istrinya.

3. Adanya istri dan anak menjadikannya lalai kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Maka untuk menanggulanginya ada TIGA cara agar pasangan suami-istri langgeng:

1. Istiqomahkan NGAJI.

2. Perbanyak SEDEKAH.

3. Lazimkan Ibadah WAJIB dan SUNNAH.

Wallahu a’lam.

SHALAT TAHAJUD DAN KHAZANAH YANG TTAK TERHINGGA

Umar bin Abdil Aziz adalah seorang khalifah dari Dinasti Umayah yang dikenal adil. Begitu adilnya sehingga dia disejajarkan dengan Sayidina Umar bin Khattab r.a. Karena namanya sama, maka dia pun disebut dengan panggilan Umar II atau Umar Ats-Tsani. Selama memerintah, seluruh waktunya dia abdikan untuk kesejahteraan rakyat, baik kesejahteraan duniawi maupun ukhrawi.

Selain adil, dia juga sangat wara’. Dia begitu hati-hati dengan harta negara atau harta kaum muslimin, sehingga tak mau menyentuhnya barang sedikit pun.

Dia pun ahli ibadah. Siang hari dipakai melayani rakyat, malam hari untuk beribadah kepada Allah. Setiap malam dia selalu bangun dari tidurnya di kala semua orang terlelap dalam, lalu dia cari masjid yang ditinggalkan orang. Di situ dia melaksanakan salat tahajud sebanyak yang dia mampu.

Bila datang waktu sahur (penghujung malam, menjelang subuh), dia meletakkan dahi dan pipinya di atas tanah. Dia terus menangis sampai terbit fajar. Itulah kebiasaannya setiap malam.

Suatu kali dia melakukan hal demikian seperti biasa. Ketika dia mengangkat kepala, dan rampung dari salat serta memelasnya, dia mendapati secarik kertas berwarna hijau. Ada cahaya yang memancar dari langit pada kertas itu. Di situ tertulis, “Ini adalah pembebasan dari neraka untuk Umar bin Abdil Aziz dari Dzat Mahadiraja yang Mahaperkasa.”

Salat malam atau tahajud memang sarat rahasia. “Salat dua rakaat di malam hari adalah khazanah atau simpanan kekayaan di akhirat kelak,” tulis Zainuddin Ali Al-Malibari dalam kitabnya Hidayatul Atqiya’. Betapa tidak. Nabi SAW bersabda, “Manusia bakal dikumpulkan di satu tanah berdataran tinggi. Lalu terdengar seruan, ‘Di manakah orang-orang yang lambungnya menjauh dari pembaringan lalu melakukan salat (malam), sedang mereka tergolong orang yang sedikit.’ Kemudian masuklah mereka ke sorga tanpa dihisab.”

Khazanah atau simpanan kekayaan itu sangat kita butuhkan nantinya. Bakal menyelamatkan kita di hari tiada sanak, tiada anak. Alhasil, tiada siapapun yang mau menolong kita di hari itu, kecuali khazanah tersebut. Makanya, kata Syekh Zainuddin, “Perbanyaklah khazanah-khazanah lantaran kau pasti bakal membutuhkannya.”

Salat tahajud akan menyelamatkan kita dan memasukkan kita, dengan izin Allah, ke dalam sorga. Begitulah ditegaskan oleh Rasulullah SAW. “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berilah makan (orang miskin), sambunglah tali famili, dan lakukan salat malam sementara orang-orang tidur, niscaya kamu masuk sorga dengan selamat.”

Imam Al-Junaid adalah sufi yang mengisi malam-malamnya dengan salat tahajud. Setelah wafatnya, ada orang yang bermimpi melihat dia. “Apa yang diperbuat Allah kepada Guru?” tanya orang itu dalam mimpi.

Al-Junaid menjawab, “Sirna segala isyarat, hilang semua kata, punah seluruh ilmu, memuai segala perlambang. Tidak ada yang bermanfaat pada kami kecuali rakaat-rakaat kecil yang kami laksanakan di waktu sahur.”

Maksudnya, semua isyarat yang pernah diberikan Imam Al-Junaid kepada murid-murid, seluruhnya punah, binasa, dan tiada berpahala. Semua kata yang pernah dia ucapkan di kala mengajar hilang tak berbekas, tanpa menyisakan pahala. Perlambang-perlambang yang pernah dia sampaikan kepada murid-murid pemulanya, semua meranggas, dan Al-Junaid tak meraih pahala darinya. Pahala hanya dia peroleh dari salat-salat sunnah yang dia kerjakan di malam hari. Maksudnya, semua hal ini tidak dia dapatkan balasannya karena pada galibnya amal-amal demikian bercampur riya’ dan penyakit-penyakit hati lainnya, kecuali salat-salat sunnah di malam hari.

Imam Al-Junaid mengatakan hal itu, tidak lain, adalah untuk mendorong orang supaya bertahajud, di samping untuk menunjukkan keutamaan salat tahajud. Pasalnya, beliau adalah orang yang amalnya jauh dari kecampuran riya’ dan semacamnya. Betapa tidak, beliau adalah pemimpin para sufi.

Alhasil, salat tahajud sangat istimewa. Ibadah ini relatif lebih mudah untuk dilaksanakan dengan hati ikhlas karena Allah semata. Sebab, inilah amal yang tidak dilihat oleh orang lain. Jadi, kalau orang melakukan salat tahajud, dia mau pamer (riya’) kepada siapa? Tidak ada, karena semua orang sedang tertidur lelap.

Begitu istimewa sehingga inilah satu-satunya salat di luar salat lima waktu yang perintahnya ada dalam Al-Quran secara eksplisit – meski perintah itu ditujukan kepada Nabi SAW.

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا

“Wahai orang yang berselimut (Muhammad SAW.), beribadahlah kamu sepanjang malam kecuali sedikit saja (dari malam).” (Al-Muzzammil: 1-2)

Bagi Nabi SAW, salat malam hukumnya fardhu, sedang untuk umatnya adalah sunnah, yakni sunnah yang kuat. Begitu kuat kesunnahannya, sampai-sampai Nabi bersabda, “Seutama-utama salat setelah salat lima waktu ialah salat malam.”

Bukan hanya Nabi Muhammad SAW, para nabi sebelum beliau pun membiasakan salat malam ini. Bersabda beliau, “Hendaklah kalian melakukan salat malam karena itu merupaklan tradisi orang-orang saleh sebelum kalian.”

Imam Abu Yazid Al-Busthami punya cerita. Di masa kecilnya, beliau belajar di pesantren. Suatu kali, beliau membaca Al-Quran di rumah. Ketika sampai pada surah Al-Muzzammil, dia bertanya kepada ayahandanya, “Ayah, siapakah orang ini yang diperintah Allah supaya salat malam?”

Sang ayah menjawab, “Anakku, beliau adalah junjungan kita Nabi Muhammad SAW.”

Al-Junaid kecil bertanya lagi, “Lalu mengapa Ayah tidak mengerjakan apa yang dikerjakan Nabi Muhammad SAW?”

“Anakku, itu adalah kehormatan dari Allah untuk beliau.”

Al-Junaid meneruskan ngaji Qur’annya. Ketika dia sampai pada bacaan: “Wa thaa’ifatun minal ladziina ma’ak” (dan melakukan salat malam pula, sekelompok orang yang bersamamu ) di surah Al-Muzzammil, dia bertanya, “Ayah, siapakah mereka?”

“Mereka adalah para sahabat Nabi Muhammad SAW.”

“Ayah, mengapa Ayah tidak berbuat seperti mereka?”

“Anakku, Allah menguatkan mereka untuk beribadah malam.”

“Ayah, tidak ada kebajikan bagi orang yang tidak mau mencontoh Nabi Muhammad dan para sahabat beliau.”

Sejak itu ayah Al-Junaid terpanggil untuk selalu salat malam.  Suatu kali si anak berkata kepada bapaknya, “Ayah, tolong ajari aku salat malam.”

Tapi bapaknya melarang. “Anakku, kamu masih kecil.”

Si anak berkata, “Ayah, kelak kalau Allah mengumpulkan seluruh makhluk di hari kiamat, dan menyuruh para penghuni sorga supaya masuk ke dalamnya, aku akan melapor, ‘Tuhan, aku sudah hendak salat malam, lalu ayah saya mencegah saya’.”

Bapaknya mati kutu. “Anakku, berdirilah, mari salat malam.”

Para ulama dan para sufi juga sangat gemar melaksanakan salat malam ini. Sampai-sampai ada seorang sufi yang berkata, “Tak ada yang membuatku sedih kecuali mendengar azan subuh.”

Rabi’ah Al-Adawiyah, bila malam buta tiba, selalu menyempatkan diri untuk melakukan salat dan munajat. Dia beribadah malam dan bermunajat di malam hari dengan begitu “mesranya”. Seolah dia hanya berdua saja dengan-Nya, “ketika raja-raja telah menutup pintu gerbangnya.”

Salat malam memang bisa menjadi sarana yang sangat efektif untuk bertaqarrub atau mendekatkan diri pada Allah. Senyapnya suasana di malam buta bisa membantu kita untuk merasakan “kehadiran-Nya” dan untuk lebih khusyu’ dalam salat kita. Sabda Rasulullah SAW, “Salat malam juga taqarrub bagi kalian, media bagi kalian untuk mendekat dan berdialog dengan Tuhan kalian. Salat malam pun penebus bagi kesalahan-kesalahan, pencegah dosa-dosa, dan penghalau penyakit di badan.”

Oh ya, salat malam memang bisa menyembuhkan penyakit. Dr. Moh. Soleh, ahli kedokteran dari Unair Surabaya, telah membuktikan hal itu melalui penelitian ilmiyah untuk disertasinya yang berjudul “Terapi Salat Tahajud: Menyembuhkan Berbagai Penyakit.”  Dalam disertasi yang sekarang telah dibukukan itu dia menjelaskan salat tahajud itu positif dapat menyembuhkan dan menangkal berbagai penyakit, terutama penyakit jantung. Sebab, salat tahajud yang dilakukan dengan ikhlas dapat meningkatkan kekebalan tubuh terhadap berbagai penyakit.

PENTINGNYA ILMU DAN NIAT DALAM MENJALANKAN PERINTAH DAN MENJAUHI LARANGAN ALLOH SWT.

Pahala melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan bukan hanya semata dilakukan saja, tapi peran ilmu dan niat pun sangat penting, ketika seseorang mau melakukan maksiat, lantas di hatinya ada niatan untuk berhenti maka di situ ia mendapat PAHALA atas niatnya. Jadi mendapatkan pahala meninggalkan suatu keharaman itu ketika berniat taqorrub kepada Allah atau berniat melaksakan perintah Allah yaitu menjauhi keharaman, jika tidak berniat seperti itu maka tidak mendapat pahala.

Imam Qorofi berkata : “Tidak semua perkara wajib diberi pahala ketika melakukannya dan tidak semua perkara haram diberi pahala ketika meninggalkannya.”

Contoh pertama misalnya memberi nafkan istri, keluarga, hewan peliharaan, mengembalikan barang ghosob, mengembalikan titipan, membayar hutang, semua itu wajib hukumnya dan jika seseorang melakukan semua itu namun ia lupa tidak berniat melaksakan perintah Allah, maka cuma menjadi kewajiban yang sudah mencukupi dan terbebas dari tuntutan, hanya saja tidak mendapatkan pahala.

Begitu juga dengan perkara yang haram, jika seseorang tidak berniat melaksanakan perintah Allah dalam meninggalkannya maka tidak mendapatkan pahala, karena seseorang hanya dengan tidak melakukan keharaman maka ia telah keluar dari tanggung jawabnya walaupun dia tidak merasa apalagi bertujuan meninggalkannya.

Sesuatu yang haram, disebut juga ma’shiyah, dzambun (dosa), qabīh, dicela, dan terancam siksaan dari segi syara’, demikian menurut Imamul Haramain. Dan menurut beliau, meninggalkan perbuatan (haram) karena malu, atau karena terpaksa (tidak mampu), atau riya, atau karena takut makhluk maka tidak diberi pahala bahkan berdasarkan Satu Qil(pendapat ulama), saat itu juga malah berdosa. Karena mendahulukan takut kepada makhluk dibandingkan kepada Allah adalah haram.

Atau dia meninggalkannya tanpa tujuan (niat) apa pun maka dia tidak diberi pahala. Dan ditambahkan oleh beliau, orang yang meninggalkan yang haram akan diberi pahala jika berniat karena taqarrub kepada Allah. Jika tidak, maka tidak diberi pahala. Senada dengan hal itu pernyataan Imam Ibnu Rajab al Hambali.

Jadi, meninggalkan keharaman dapat berpahala, jika:

a. Karena ikhlas, tidak karena malu, karena riya, dan bukan karena terpaksa.

b. Tidak karena takut kepada makhluk, malah menurut sebagian jika karena takut makhluk dia berdosa seketika itu juga dari segi mendahulukan rasa takut kepada makhluk

c. Karena berniat taqarrub kepada Allah, dengan melaksanakan perintah-Nya.

Wallohu a’lam.

Referensi :

 الشرح الكبير على الورقات لإمام الحرمين أبى المعالي الجويني ط. دار الكتب العلمية ص ٥٨

(والمحظور) أي الحرام قال فى المحصول ويسمى الحرام – أيضا – معصية وذنبا وقبيحا ومزجور عنه ومتوعدا عليه أي من الشرع

 الشرح الكبير على الورقات لإمام الحرمين أبى المعالي الجويني ط. دار الكتب العلمية ص ٥٩

وإنما قيد الترك بقوله: إمتثالا ؛ لأن الترك لنحو حياء أو عجز أو رياء أو خوف من مخلوق لا يثاب عليه بل قيل يأثم حينئذ لأن تقديم خوف المخلوق على خوف الله – تعالى – محرم وكذا الرياء وكذا بلا قصد شيئ مطلقا لا يثاب عليه كما شمله قول التاج الفزاري ويزاد على هذا أن ترك الحرام إنما يثاب عليه تاركه إذا تركه بقصد التقرب إلى الله تعالى فأما من ترك الحرام من غير أن تحضره هذه النية فإنه لا يثاب على تركه _ انتهى

جامع العلوم والحكم ” ( ٢ / ٣٢١ )

قال ابن رجب رحمه الله : ” فأما إن همّ بمعصية ثم ترك عملها خوفا من المخلوقين ، أو مراءاة لهم ، فقد قيل : إنه يعاقب على تركها بهذه النية ؛ لأن تقديم خوف المخلوقين على خوف الله محرم ، وكذلك قصد الرياء للمخلوقين محرم فإذا اقترن به ترك المعصية لأجله عوقب على هذا الترك ” انته

Dan tertulis dalam hadits Qudsi dalam Shahih al Bukhari:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ إِذَا أَرَادَ عَبْدِي أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً فَلَا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ حَتَّى يَعْمَلَهَا فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا بِمِثْلِهَا

Fokus:

وَإِنْ تَرَكَهَا مِنْ أَجْلِي فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً _ رواه البخاري

“Dan jika ia meninggalkan kejelekan KARENA DEMI AKU maka tuliskanlah kepadanya sebagai kebajikan.”

Catat: لأجلي

Kitab Mukhtashor syarah ar roudhoh (1/352 ) :

تنبيه : قال القرافي : ليس كل واجب يثاب على فعله ، ولا كل محرم يثاب على تركه

أما الأول : فكنفقات الزوجات والأقارب والدواب ، ورد الغصوب والودائع والديون والعواري ، فإنها واجبة ، وإذا فعلها الإنسان غافلا عن امتثال أمر الله تعالى فيها وقعت واجبة ، مجزئة ، مبرئة ، ولا يثاب عليها

وأما الثاني : فلأن المحرمات يخرج الإنسان عن عهدتها بمجرد تركها ، وإن لم يشعر ، فضلا عن القصد إليها ، حتى ينوي امتثال أمر الله تعالى فيها ، فلا ثواب حينئذ

نعم متى اقترن قصد الامتثال في الجميع حصل الثواب

قلت : هذا الكلام موهم ، بل ظاهر في أن الواجب على ضربين : أحدهما يترتب عليه الثواب ، والآخر لا يترتب عليه الثواب

وكذلك الحرام ضربان : ما يترتب على تركه الثواب ، وما ليس كذلك . وعندي في هذا نظر

بل التحقيق أن يقال : الواجب هو المأمور به جزما ، وشرط ترتب الثواب عليه نية التقرب بفعله ، والحرام هو المنهي عنه جزما ، وشرط ترتب الثواب على تركه نية التقرب به

فترتب الثواب وعدمه في فعل الواجب وترك الحرام وعدمهما راجع إلى وجود شرط الثواب وعدمه ، وهو النية ، لا إلى انقسام الواجب والحرام في نفسهما

Mausuatul fiqih :

وَيَقُول النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم: إِنَّ اللَّهَ لاَ يظلم مُؤْمِنًا حَسَنَةً يُعْطَى بِهَا فِي الدُّنْيَا وَيُجْزَى بِهَا فِي الآْخِرَةِ لَكِنَّ فِعْل الْوَاجِبَاتِ والمندوبات وَتَرْكَ المحرمات والمكروهات لَيْسَ سَبَبًا فِي حَدِّ ذَاتِهِ – لِلثَّوَابِ – مَعَ أَنَّهُ قَدْ يَكُونُ الْفِعْل مُجْزِئًا وَمُبْرِئًا لِلذِّمَّةِ وَالتَّرْكُ كَافِيًا لِلْخُرُوجِ مِنَ الْعُهْدَةِ؛

fokus:

لأَِنَّهُ يُشْتَرَطُ لِحُصُول الثَّوَابِ فِي الْفِعْل وَالتَّرْكِ نِيَّةُ امْتِثَال أَمْرِ اللَّهِ تَعَالَى. بَل إِنَّ المباحات رَغْمَ أَنَّهَا لاَ تَفْتَقِرُ إِلَى نِيَّةٍ، لَكِنْ إِنْ أُرِيدَ بِهَا الثَّوَابُ بِجَعْلِهَا وَسِيلَةً لِلْعِبَادَةِ المشروعة افْتَقَرَتْ إِلَى نِيَّةٍ

وَمِنَ الْقَوَاعِدِ الْفِقْهِيَّةِ: لاَ ثَوَابَ إِلاَّ بِالنِّيَّةِ، قَال ابْنُ نُجَيْمٍ: قَرَّرَ المشايخ فِي حَدِيثِ. إِنَّمَا الأَْعْمَال بِالنِّيَّاتِ، أَنَّهُ مِنْ بَابِ المقتضى، إِذْ لاَ يَصِحُّ بِدُونِ تَقْدِيرٍ لِكَثْرَةِ وُجُودِ الأَْعْمَال بِدُونِهَا فَقَدَّرُوا مُضَافًا أَيْ حُكْمَ الأَْعْمَال، وَهُوَ نَوْعَانِ: أُخْرَوِيٌّ، وَهُوَ الثَّوَابُ وَاسْتِحْقَاقُ الْعِقَابِ، وَدُنْيَوِيٌّ وَهُوَ الصِّحَّةُ وَالْفَسَادُ، وَقَدْ أُرِيدَ الأُْخْرَوِيُّ بِالإِْجْمَاعِ لِلإِْجْمَاعِ عَلَى أَنَّهُ لاَ ثَوَابَ وَلاَ عِقَابَ إِلاَّ بِالنِّيَّةِ، وَسَاقَ ابْنُ نُجَيْمٍ الأَْمْثِلَةَ عَلَى ذَلِكَ فِي الأَْفْعَال وَالتُّرُوكِ، ثُمَّ قَال: وَلاَ تُشْتَرَطُ لِلثَّوَابِ صِحَّةُ الْعِبَادَةِ، بَل يُثَابُ عَلَى نِيَّتِهِ وَإِنْ كَانَتْ فَاسِدَةً بِغَيْرِ تَعَمُّدِهِ، كَمَا لَوْ صَلَّى مُحْدِثًا عَلَى ظَنِّ طَهَارَتِهِ

PENYEBAB MANUSIA TAKUT AKAN DATANGNYA KEMATIAN

Apakah takut mati itu adalah bentuk prasangka buruk kepada Alloh?

Nabi Muhammad saw diutus sebagai nabi yang basyiron wa nadziron,

Basyiron:  Membawa kabar gembira tentang kabar pahala & surga.

Nadziron: Menakut-nakuti dengan kabar siksaan neraka & kematian yang mana kematian adalah sebagai pemutus kenikmatan dunia.

Kalau takut siksaan neraka atau takut kematian maka wajar-wajar saja, memang ditakut-takuti oleh nabi Muhammad saw, dan itu tidak termasuk berburuk sangka kepada Allah swt.

MENGHILANGKAN TAKUT KEMATIAN

Dalam hal ini manusia terbagi dua keadaan, keadaan sebelum dan sesudah kematian

Keadaan sebelum kematian, sebaiknya seseorang senantiasa ingat akan kematian sebagaimana Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutusan kelezatan, yaitu kematian, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan kesempitan hidup, melainkan dia akan melapangkannya, dan tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan lapang, melainkan dia akan menyempitkannya.” (HR. Ibnu HIbban)

Dalam kondisi ini manusia banyak yang lalai biasanya ingat kematian hanya kalau tiba-tiba ada jenazah lewat di depannya. Seketika itu, ia membaca istirja’: ”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” namun, istirja’ yang dibaca itu hanyalah di mulut saja, karena ia tidak secara benar-benar ingin kembali kepada Allah dengan ibadah dan amal saleh.

Ingat kematian akan menimbulkan berbagai kebaikan. Di antaranya, membuat manusia tidak ngoyo dalam mengejar pangkat dan kemewahan dunia. Ia bisa menjadi legawa (qona’ah) dengan apa yang dicapainya sekarang, serta tidak akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisi pribadinya.

Kebaikan lain, manusia bisa lebih terdorong untuk bertaubat atau berhenti dari dosa-dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil. Lalu, kebaikan berikutnya, manusia bisa lebih giat dalam beribadah dan beramal saleh sebagai bekal untuk kebaikannya di akhirat kelak.

Beberapa alasan mengapa manusia takut terhadap kematian:

Pertama, karena ia ingin bersenang-senang dan menikmati hidup ini lebih lama lagi.

Kedua, ia tidak siap berpisah dengan orang-orang yang dicintai, termasuk harta dan kekayaannya yang selama ini dikumpulkannya dengan susah payah.

Ketiga, karena ia tidak tahu keadaan mati nanti seperti apa.

Keempat, karena ia takut pada dosa-dosa yang selama ini ia lakukan.

Alhasil, manusia takut kematian karena ia tidak pernah ingat akan datangnya kematian yang bisa hadir setiap saat dan tidak mau mempersiapkan diri dengan baik dalam menyambut kehadirannya.

Wallahu A’lamu Bis Showab.

Referensi :

ميزان العمل للغزالي ص ٣٩٥-٣٩٣

بيان نفي الخوف من الموت

للإنسان حالتان، حالة قبل الموت، وحالة بعد الموت. أما قبل الموت، فينبغي أن يكون الإنسان فيها دائم الذكر للموت، كما قال عليه السلام: ” أكثروا من ذكر هازم اللذات، فإنه ما ذكره أحد في ضيق إلا وسعه عليه، ولا في سعة إلا ضيقها عليه “. والناس فيها قسمان: غافل وهو الأحمق الحقيقي الذي لا يتفكر في الموت وما بعده إلا نظراً، في حال أولاده وتركاته عند موته، ولا ينظر ويتدبر في أحوال نفسه، ولكن لا يتذكر إلا إذا رأى جنازة فيقول بلسانه: (إنا لله وَإِنَّا إِليهِ راجِعُون) ، ولا يرجع إلى الله عز وجل بأفعاله إلا بأقواله، فيكون كاذباً في أقواله تحقيقاً

ومن ذكر الموت، تتولد القناعة بما رزق والمبادرة إلى التوبة، وترك المحاسدة والحرص على الدنيا والنشاط في العبادة

وأما الاغتمام لأجل الموت، فليس من العقل أيضاً، فإن ذلك الغم لا يخلو من أربعة أوجه: إما لشهوة بطنه وفرجه، وإما على ما يخلّفه من ماله، وإما على جهله بحاله بعد الموت وماله، وإما لخوفه على ما قدّمه من عصيانه

SUNNAH TIDUR SIANG QOILULAH BAGI YANG AHLI TAHAJJUD

Tidur Qoilulah hanya disunahkan bagi orang yang biasa shalat Tahajjud. Tidur qoilulah menurut keterangan di kitab Iqna’ adalah tidur siang sebelum tergelincirnya matahari /sebelum waktu dzuhur. Qoilulah itu seperti sahur, jadi orang yang puasa itu disunnahkan sahur, begitu juga orang tahajjud sunnahnya melakukan tidur qoilulah, antara qoilulah dan tahajud ada hubungannya, sehingga bagi yang tak ahli sholat tahajjud maka qoilulah tidak disunnahkan, tapi meski demikian tetap dianjurkan tidur qoilulah dengan niat nanti malam mau tahajjud supaya tidurnya berpahala.

Disunnahkan bagi orang yang tahajjud tidur siang dulu yaitu tidur sebelum tergelincirnya matahari,dan kesunahan tidur qoilulah ini kedudukannya sama dengan sahur bagi orang yang puasa, karena ada hadits Nabi saw. “Bantulah dirimu dengan qoilulah / tidur siang bagi yang qiyamul lail”. (HR. Abu Dawud).

Wallohu a’lam.

Referensi :

Kitab Nihayatuzzain :

ﻭﻳﺴﻦ ﻟﻠﻤﺘﻬﺠﺪ اﻝﻗﻴﻠﻮﻟﺔ ﻭﻫﻲ اﻟﻨﻮﻡ ﻗﺒﻞ اﻟﺰﻭاﻝ ﻭﻫﻲ ﻟﻠﻤﺘﻬﺠﺪ ﺑﻤﻨﺰﻟﺔ اﻟﺴﺤﻮﺭ ﻟﻠﺼﺎﺋﻢ ﻭﻳﻜﺮﻩ ﺗﺮﻙ اﻟﺘﻬﺠﺪ ﻟﻤﻌﺘﺎﺩﻩ ﺑﻼ ﻋﺬﺭ

الإقناع للشربيني (1/ 116)

ويسن للمتهجد القيلولة وهي النوم قبل الزوال وهي بمنزلة السحور للصائم لقوله صلى الله عليه وسلم استعينوا بالقيلولة على قيام الليل رواه أبو داود

مراقي العبودية

آداب الاستعداد لسائر الصلوات. ينبغي أن تستعد لصلاة الظهر قبل الزوال، فتقدم القيلولة إن كان لك قيام في الليل أو سهر في الخير، فإن فيها معونة على قيام الليل كما أن في السحور معونة على صيام النهار، والقيلولة من غير قيام بالليل كالسحور من غير صيام بالنهار

فيض القدير

وَعَمَلُ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ عَلَى أَنَّ الْقَيْلُولَةَ مَطْلُوبَةٌ لِإِعَانَتِهَا عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ قَالَ حُجَّةُ الْإِسْلَامِ: وَإِنَّمَا تُطْلَبُ الْقَيْلُولَةُ لِمَنْ يَقُومُ اللَّيْلَ وَيَسْهَرُ فِي الْخَيْرِ فَإِنَّ فِيهَا مَعُونَةً عَلَى التَّهَجُّدِ كَمَا أَنَّ فِي السَّحُورِ مَعُونَةً عَلَى صِيَامِ النَّهَارِ فَالْقَيْلُولَةُ مِنْ غَيْرِ قِيَامِ اللَّيْلِ كَالسَّحُورِ مِنْ غَيْرِ صِيَامِ النَّهَارِ

مغني المحتاج

ويسن للمتهجد القيلولة، وهو النوم قبل الزوال، وهو بمنزلة السحور للصائم لقوله (ص): استعينوا بالقيلولة على قيام الليل رواه أبو داود وابن ماجة

INILAH KEUTAMAAN FADILAH MEMBACA SHOLAWAT NARIYAH 4444 KALI

Perintah Bersholawat ada dalam Al-Qur’an.

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻣَﻠَﺎﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ۚ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺻَﻠُّﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴﻤًﺎ

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al-Ahzab ayat 56)

Shalawat Nariyyah disusun oleh Syaikh al-Arif Billah Sayyidi Ibrahim al-Tazi. Salah satu jenis shalawat yang sangat populer di kalangan ulama Ahlus Sunah wa al-Jama’ah. Barang siapa membacanya sebanyak 4444 kali kemudian meminta kepada Allah agar terpenuhi kebutuhannya, maka akan dikabulkan apapun permintaannya. (Sa’adah al-Darain, Syaikh Yusuf bin Isma’il al-Nabhani, hal.376, cetakan Dar al-Fikr).

Salah satu jenis shalawat yang mujarab untuk menjadi wasilah memenuhi kebutuhan. Ulama Maghribi (Maroko) menyebut shalawat ini dengan “Nariyah” yang berarti api, sebab ketika mereka menghendaki tercapainya sebuah tujuan atau agar dijauhkan dari bahaya, mereka berkumpul dalam satu majlis dan membaca shalawat ini sebanyak 4444 kali, dan atas barakah shalawat nariyah ini, apa yang mereka mohonkan mudah tercapai seperti api yang dengan cepat membakar benda yang mengenainya.

Al-Syaikh Muhammmad al-Tunisi mengatakan “Barang Siapa rutin membaca shalawat nariyah setiap hari sebanyak 11 kali, maka bagaikan mendapatkan rizki dari langit dan bumi”.

Al-Imam al-Dinawari mengatakan “Barang siapa membaca shalawat nariyah setiap setelah shalat sebanyak 11 kali dan menjadikannya sebagai wiridan, maka sesungguhnya Ia mendapatkan derajat yang luhur dan kecukupan dalam setiap perkaranya”.

Al-Imam al-Qurthubi mengatakan “Barang siapa menghendaki akan tercapainya urusan yang besar atau dihindarkan dari musibah yang agung, maka bacalah shalawat Tafrijiyyah/ Nariyah ini. Dan hendaknya Ia bertawassul kepada Rasulullah SAW lantaran shalawat nariyyah ini, dibaca sebanyak 4444 kali. Niscaya Allah mengkabulkan segala permintaannya”. (Khazinah al-Asrar, Syaikh Muhammad Haqqi al-Nazili, hal.202-203, cetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah).

WAKTU DAN KEADAAN TERBAIK UNTUK MEMBACA SHOLAWAT NABI

Sebagaimana diketahui bahwa membaca shalawat kepada Nabi merupakan kewajiban bagi orang mukmin. Hanya saja para ulama berbeda pendapat kapan kewajiban bershalawat dilakukan. Di antara mereka ada yang berpendapat kewajiban bershalawat minimal sekali seumur hidup. Ada juga yang berpendapat setiap kali membaca tasyahud akhir di dalam shalat. Juga ada yang berpendapat setiap kali disebutkan nama Rasulullah.

Selain kewajiban bershalawat ada juga waktu-waktu tertentu di mana seseorang dianjurkan untuk membaca shalawat. Pun para ulama juga berbeda pendapat saat kapan saja kesunahan bershalawat itu dilakukan.

Berikut adalah 20 (dua puluh) waktu yang disunahkan untuk membaca shalawat sebagaimana disampaikan oleh Sirajudin Al-Husaini di dalam kitabnya As-Shalâtu ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam (Damaskus: Maktabah Darul Falah, 1990).

Pertama, sunah membaca shalawat setelah selesai dikumandangkannya adzan.

Ada beberapa hadits yang menuturkan tentang hal ini di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

Artinya: “Bila kalian mendengar orang yang mengumandangkan adzan maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan, lalu bershalawatlah kepada karena orang yang bershalawat kepaku sekali maka dengan shalawat itu Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.”

Kedua, disunahkan membaca shalawat di awal, tengah dan akhir doa. Dengan membaca shalawat di ketiga tempat itu saat berdoa maka akan lebih kuat potensi dikabulkannya doa tersebut dan lebih banyak lipatan pahalanya.

Sebuah hadits riwayat Imam Turmudzi menjelaskan tentang membaca shalawat di dalam berdoa:

عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ، قَالَ: بَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدٌ إِذْ دَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى فَقَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَجِلْتَ أَيُّهَا الْمُصَلِّي، إِذَا صَلَّيْتَ فَقَعَدْتَ فَاحْمَدِ اللَّهَ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ، وَصَلِّ عَلَيَّ ثُمَّ ادْعُهُ. قَالَ: ثُمَّ صَلَّى رَجُلٌ آخَرُ بَعْدَ ذَلِكَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّهَا الْمُصَلِّي ادْعُ تُجَبْ

Artinya: “Dari Fudlalah bin Ubaid ia berkata, ketika Rasulullah sedang duduk tiba-tiba masuk seorang lelaki kemudian melakukan shalat dan berkata, “Ya Allah, ampuni aku dan kasihani aku.” Maka Rasulullah bersabda, “Engkau terburu-buru wahai orang yang shalat. Bila engkau selesai shalat kemudian duduk maka pujilah Allah sebagaimana mestinya dan bershalawatlah kepadaku kemudian berdoalah kepada Allah.” Fudlalah berkata, kemudian seorang laki-laki lain melakukan shalat, lalu memuji kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi. Maka Rasulullah bersabda, “Wahai orang yang shalat, berdoalah maka engkau akan diijabahi.”

Imam Al-Ghazali di dalam kitab Ihya-nya mengutip penjelasan dari Abu Sulaiman Ad-Darani yang mengatakan disunahkannya menjadikan doa berada di tengah-tengah antara dua shalawat (awal dan akhir) karena doa yang demikian tidak akan ditolak. Kiranya Allah yang mulia tak layak baginya mengabulkan dua sisi awal dan akhir sementara menolak sisi tengahnya.

Lebih lanjut Al-Husaini menegaskan bahwa yang lebih disukai dan lebih utama di dalam berdoa adalah dengan membaca shalawat di awal, tengah dan akhirnya, serta tidak meringkas bacaan shalawat hanya di akhir doa saja.

Ketiga, disunahkan membaca shalawat ketika memasuki masjid dan ketika keluar darinya.

Sebuah hadits riwayat Imam Turmudzi dari Sayyidatina Aisyah radliyallâhu ‘anhâ:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ صَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَلَّمَ وَقَالَ: رَبِّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، وَإِذَا خَرَجَ صَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَلَّمَ وَقَالَ: رَبِّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ

Artinya: “Adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam ketika memasuki masjid beliau bershalawat dan bersalam untuk Muhammad dan berdoa Rabbi ighfir lî dzunûbî waftah lî abwâba rahmatika. Dan ketika keluar beliau bershalawat dan bersalam kepada Muhammad serta berdoa Rabbi ighfir lî dzunûbî waftah lî abwâba fadllika.”

Keempat, disunahkan membaca shalawat ketika bertemunya seorang muslim dengan sesama muslim.

Abu Ya’la Al-Mushili meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah:

مَا مِنْ عَبْدَيْنِ مُتَحَابَّيْنِ فِي اللَّهِ يَسْتَقْبِلُ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ فَيُصَافِحُهُ وَيُصَلِّيَانِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا لَمْ يَفْتَرِقَا حَتَّى تُغْفَرَ ذُنُوبُهُمَا مَا تَقَدَّمَ مِنْهُمَا وَمَا تَأَخَّرَ

Artinya: “Tidaklah dua orang hamba yang saling mencintai di jalan Allah salah satunya menemui saudaranya kemudian menyalaminya dan keduanya bershalawat kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam kecuali keduanya tidak berpisah sampai diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang kemudian.”

Kelima, membaca shalawat disunahkan ketika berkumpul di suatu majelis.

Disunahkan bagi kaum muslimin ketika mereka berkumpul di suatu majelis untuk menghiasi majelis mereka dengan membaca shalawat.

Ibnu Umar meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

زينوا مجالسكم بالصلاة علي فان صلاتكم علي نور لكم يوم القيامة

Artinya: “Hiasilah majelis-majelis kalian dengan bershalawat kepadaku. Karena shalawat kalian kepadaku adalah cahaya bagi kalian di hari kiamat.”

Adapun hadits yang mengingatkan untuk tidak meninggalkan bacaan shalawat di majelis di antaranya hadits riwayat Imam Ahmad:

مَا قَعَدَ قَوْمٌ مَقْعَدًا لَا يَذْكُرُونَ فِيهِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، وَيُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَإِنْ دَخَلُوا الْجَنَّةَ لِلثَّوَابِ

Artinya: “Tidaklah sekelompok orang duduk di suatu tempat di mana mereka tidak berdzikir kepada Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam kecuali hal itu menjadi kerugian bagi mereka di hari kiamat meskipun mereka masuk surga, karena besarnya pahala (bershalawat ketika berkumpul, penulis).”

Keenam, disunahkan menuliskan shalawat ketika menulis nama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Di antara dalil yang menganjurkan hal ini adalah hadits riwayat Imam Thabrani dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah pernah bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي كِتَابٍ لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تَسْتَغْفِرُ لَهُ مَا دَامَ اسْمِي فِي ذَلِكَ الْكِتَابِ

Artinya: “Barang siapa yang bershalawat kepadaku di dalam sebuah buku (tulisan) maka para malaikat tidah henti-hentinya memintakan ampun baginya selama namaku masih ada di dalam buku itu.”

Ketujuh, membaca shalawat disunahkan ketika membuka setiap ucapan baik yang memiliki tujuan tertentu disamping juga disunahkan membukanya dengan hamdalah dan pujian kepada Allah.

Sebuah riwayat dari Ibnu Mandah menyatakan:

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه بذكر الله ثم بالصلاة عليّ فهو أقطع أكتع ممحوق البركة

Artinya: “Setiap perkara yang memiliki tujuan yang tidak diawali dengan dzikir kepada Allah dan shalawat kepadaku maka perkara itu terputus terhapus keberkahannya.”

Kedelapan, disunahkan membaca shalawat dalam membuka nasehat, peringatan dan mengajarkan ilmu, terlebih ketika membaca sebuah hadits.

Imam Nawawi di dalam kitab Al-Adzkâr menuturkan bahwa disunahkan bagi orang yang membaca hadits dan selainnya ketika menyebut Rasulullah untuk mengeraskan suaranya dalam bershalawat, namun kerasnya suara itu jangan sampai berlebihan.

Kesembilan, sunah membaca shalawat di waktu pagi dan sore hari.

Sebuah riwayat dari Abu Darda bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernh bersabda:

من صلى علي حين يصبح عشرا وحين يمسي عشرا أدركته شفاعتي يوم القيامة

Artinya: “Barang siapa yang bershalawat kepadaku di waktu pagi sepuluh kali dan di waktu sore sepuluh kali maka syafaatku akan mendapatinya di hari kiamat.”

Kesepuluh, Membaca shalawat juga disunahkan ketika hendak tidur.

Dari Abu Qirshafah, ia mengatakan pernah mendengar Rasulullah bersabda bahwa barang siapa yang menuju tempat tidurnya (hendak tidur) kemudian ia membaca surat Tabâraka (Al-Mulk) kemudian ia membaca sebanyak empat kali:

اللَّهُمَّ رَبَّ الْحِلِّ وَالْحَرَامِ، وَرَبَّ الْبَلَدِ الْحَرَامِ وَرَبَّ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ، وَرَبَّ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ، وَبِحَقِّ كُلِّ آيَةٍ أَنْزَلْتَهَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، بَلِّغْ رُوحَ مُحَمَّدٍ مِنِّي تَحِيَّةً وَسَلَامًا

Maka Allah akan mewakilkan kepada dua malaikat hingga keduanya datang kepada Nabi Muhammad dan mengatakan kepada beliau perihal yang dilakukan orang tersebut. Maka kemudian Rasulullah menjawab, “untuk Fulan bin Fulan salam dariku dan rahmat serta keberkahan Allah.”

Kesebelas, sunah membaca shalawat bagi orang yang baru saja bangun dari tidur malamnya.

Imam Nasai dalam kitab As-Sunan Al-Kubra meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud:

يَضْحَكُ اللهُ إِلَى رَجُلَيْنِ: ….وَرَجُلٍ قَامَ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ لَا يَعْلَمُ بِهِ أَحَدٌ، فَتَوَضَّأَ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ حَمِدَ اللهَ وَمَجَّدَهُ، وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاسْتَفْتَحَ الْقُرْآنَ، فَذَلِكَ الَّذِي يَضْحَكُ اللهُ إِلَيْهِ يَقُولُ: انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي قَائِمًا لَا يَرَاهُ أَحَدٌ غَيْرِي

Artinya: “Allah ‘tertawa’ terhadap 2 orang; …. dan orang yang bangun di tengah malam di mana tak ada seorang pun yang mengetahuinya, lalu ia berwudlu dan menyempurnakannya, kemudian memuji kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan memulai membuka Al-Qur’an. Yang demikian itu Allah ‘tertawa’ kepadanya. Ia berfirman, “Lihatlah hamba-Ku sedang berdiri shalat, tak ada seorang pun yang melihatnya selain Aku.”

Kedua belas, membaca shalawat kepada Nabi disunahkan ketika telinga berdengung.

Abu Rofi’ meriwayatkan sabda Rasulullah:

إِذا طَنَّتْ أُذُنُ أحدِكُمْ فَلْيَذْكُرْنِي ولْيُصَلِّ عَلَيَّ ولْيَقُلْ ذَكَرَ الله مَنْ ذَكَرَنِي بِخَيْرٍ

Artinya: “Apabila telinga salah seorang di antara kalian berdengung maka ingatlah aku dan bershalawatlah kepadaku serta ucapkan dzakarallâhu man dzakaranî bi khair (semoga Allah mengingat orang yang mengingatku dengan kebaikan).”

Al-Munawi di dalam kitab Faidlul Qadîr menjelaskan bahwa yang dimaksud “ingatlah aku” pada hadits tersebut adalah mengucapkan kalimat Muhammad Rasulullâh.

Ketiga belas, sunah membaca shalawat ketika lupa akan suatu perkataan.

Ibnu Sunni dengan sanad dari Usman bin Abi Harb Al-Bahili meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يُحَدِّثَ بِحَدِيثٍ فَنَسِيَهُ، فَلْيُصَلِّ عَلَيَّ؛ فَإِنَّ صَلَاتَهُ عَلَيَّ خَلَفًا مِنْ حَدِيثِهِ، وَعَسَى أَنْ يَذْكُرَهُ

Artinya: “Barang siapa yang hendak mengatakan suatu perkataan kemudian ia lupa akan perkataan itu maka bershalawatlah kepadaku, karena shalawatnya kepadaku itu sebagai pengganti ucapannya, semoga ia bisa mengingatnya.”

Keempat belas, membaca shalawat juga disunahkan stelah selesai melakukan shalat.

Sebuah hikayat menceritakan, satu hari Muhammad bin Umar bersama Abu Bakr bin Mujahid. Kemudian datang Syekh As-Syibli. Melihat kedatangan As-Syibli ini Abu Bakr bin Mujahid segera bangkit menyambutnya. Ia peluk As-Syibli dan mencium di tengah kedua matanya.

Melihat hal ini Muhammad bin Umar bertanya kepada Abu Bakr, “Tuan, engkau lakukan ini kepada As-Syibli, sedangkan engkau dan orang-orang menggambarkan ia sebagai orang yang gila?”

Abu Bakr menjawab bahwa ia lakukan ini meniru apa yang dilakukan oleh Rasulullah kepada As-Syibli. Ia menceritakan bahwa ia telah bermimpi Rasulullah bangun menyambut kedatangan As-Syibli lalu memeluk dan mencium di tengah kedua matanya. Dalam mimpinya itu Abu Bakr bertanya kepada Rasul, “Ya Rasul, engkau lakukan ini kepada As-Syibli?”

Rasulullah menjawab, “Orang ini setelah shalat selalu membaca ayat laqad jâakum rasûlun min anfusikum….. kemudian meneruskannya dengan bershalawat kepadaku.”

Kelima belas, disunahkan membaca shalawat kepada Nabi ketika khatam membaca Al-Qur’an.

Ketika khatam membaca Al-Qur’an dianjurkan untuk bershalawat kepada Nabi mengingat saat itu adalah saatnya berdoa di mana doa setelah khatam Al-Qur’an akan dikabulkan.

Keenam belas, disunahkan membaca shalawat ketika sedang mengalami kegundahan, keresahan, dan hal-hal yang berat.

Suatu waktu Ubay bin Ka’b menyampaikan beberapa kalimat kepada Rasulullah. Di antaranya ia menyampaikan:

أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا قَالَ: «إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ، وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ

Artinya: “Aku jadikan seluruh doaku sebagai shalawat kepadamu, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, “Kalau begitu akan dicukupi keresahanmu dan akan diampuni dosamu.” (HR. Imam Turmudzi)

Ketujuh belas, sunah membaca shalawat ketika berdoa tentang suatu hajat.

من كان له الى الله عز وجل حاجة أو الى احد من بني أدم فليتوضأ وليحسن وضوءه وليصل ركعتين ثم ليثن على الله عز وجل وليصل على النبي صلى الله عليه وسلم ثم ليقل لا اله الا الله الحليم الكريم لا اله الا الله سبحان الله رب العرش العظيم والحمد لله رب العالمين أسألك موجبات رحمتك وعزائم مغفرتك والغنيمة من كل بر والسلامة من كل ذنب لا تدع لي ذنبا الا غفرته ولا هما الا فرجته ولا حاجة هي لك رضا الا قضيتها يا أرحم الراحمين

Artinya: “Barang siapa yang memiliki hajat kepada Allah atau kepada seseorang maka berwudlulah dan baguskanlah wudlunya serta lakukanlah shalat dua rakaat. Kemudian pujilah Allah dan bershalawatlah kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, lalu ucapkanlah: lâ ilâha illallâh al-halîmul karîm, lâ ilâha illallâh subhânallâhi rabbil ‘arsyil ‘adhîm, walhamdu lillâhi rabbil ‘âlamîn, as-aluka mûjibâti rahmatika, wa ‘azâima maghfiratika, wal ghanîmata min kulli birin, was salâmata min kulli dzanbin, lâ tada’ lî dzanban illâ ghafartahu, wa lâ hamman illâ farrajtahu, wa lâ hâjatan hiya laka ridlan illâ qadlaitahâ, yâ arhamar râhimîn.”

Kedelapan belas, disuahkan membaca shalawat ketika seorang laki-laki meminang seorang perempuan untuk dinikahi.

Imam Nawawi di dalam kitab Al-Adzkâr menuturkan, disunahkan orang yang meminang mengawalinya dengan mengucapkan hamdalah dan memuji kepada Allah serta bershalawat kepada Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, kemudian mengucapkan asyhadu allâ ilâha illallâhu wahdahû lâ syarîkalah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhû wa rasûluhû…

Kesembilan belas, disunahkan memberpanyak membaca shalawat kepada Nabi pada hari dan malam Jum’at.

Ada banyak hadits dari banyak sahabat di mana Rasulullah menganjurkan untuk memperbanyak membaca shalawat pada hari dan malam Jum’at. Beliau juga menjelaskan bahwa pada hari Jumat shalawat dilaporkan kepada beliau secara khusus dan hari Jum’at memiliki kondisi khusus pula.

Kedua puluh, disunahkan memperbanyak membaca shalawat ketika sedang melaksanakan ibadah haji dan umrah.

Orang yang sedang melaksanakn ibadah haji dan umrah dianjurkan untuk memperbanyak membaca shalawat nabi di berbagai kegiatan manasik haji, baik setelah membaca talbiyah, ketika thawaf, sa’i, wukuf dan lain sebagainya. Wallâhu a’lam.

CARA PENGUASA DAN PENGUSAHA MENJADI “SALIK” PENCARI TUHAN

ﻭﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺮﻳﺪ ﻟﺤﺮﺙ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﺍﻟﺴﺎﻟﻚ ﻟﻄﺮﻳﻘﻬﺎ ﻻ ﻳﺨﻠﻮ ﻋﻦ ﺳﺘﺔ ﺃﺣﻮﺍﻝ؛ ﺇﻣﺎ ﻋﺎﺑﺪ ﺃﻭ ﻋﺎﻟﻢ ﺃﻭ ﻣﺘﻌﻠﻢ ﺃﻭ ﻣﺤﺘﺮﻑ ﺃﻭ ﻭﺍﻝ ﺃﻭ ﻣﻮﺣﺪ ﻣﺴﺘﻐﺮﻕ ﺑﺎﻟﻮﺍﺣﺪ ﺍﻟﺼﻤﺪ ﻋﻦ ﻏﻴﺮﻩ

Ketahuilah bahwa orang yg menghendaki kehidupan akhirat yg menempuh jalan untuk mencapainya setidaknya ada enam bagian keadaan; Adakalanya seorang ahli ibadah, orang yg berilmu, pelajar, pengusaha, penguasa, atau orang yg menyatukan diri dg Dzat yg maha tunggal nan tak butuh selain-Nya.

ﻓﺎﻟﻌﺎﺑﺪ ﻫﻮ ﺍﻟﻤﺘﺠﺮﺩ ﻟﻠﻌﺒﺎﺩﺓ ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﺷﻐﻞ ﻟﻪ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﺃﺻﻼ، ﻭﻟﻮ ﺗﺮﻙ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻟﺠﻠﺲ ﺑﻄﺎﻻ، ﻓﺎﻷﻧﺴﺐ ﻟﻪ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﻐﺮﻕ ﺃﻛﺜﺮ ﺃﻭﻗﺎﺗﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ

Orang yg ahli ibadah adalah seseorang yg melulu melakukan peribadatan yg sama sekali tidak ada kesibukan baginya selain beribadah, dan andai dia tidak beribadah maka dia akan (merasa) nganggur. Maka patutlah baginya untuk menghabiskan lebih banyak waktunya dalam peribadatan.

ﻭﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻨﻔﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﻌﻠﻤﻪ ﻓﻲ ﻓﺘﻮﻯ ﺃﻭ ﺗﺪﺭﻳﺲ ﺃﻭ ﺗﺼﻨﻴﻒ، ﻓﺈﻥ ﺃﻣﻜﻨﻪ ﺇﺳﺘﻐﺮﺍﻕ ﺍﻷﻭﻗﺎﺕ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻓﻬﻮ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﺎ ﻳﺸﺘﻐﻞ ﺑﻪ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻤﻜﺘﻮﺑﺎﺕ ﻭﺭﻭﺍﺗﺒﻬﺎ، ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﻤﻘﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻫﻮ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺮﻏﺐ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﻭﻳﺰﻫﺪﻫﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﻳﻌﻴﻨﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺳﻠﻮﻙ ﻃﺮﻳﻖ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﺇﺫﺍ ﻗﺼﺪ ﺑﺎﻟﺘﻌﻠﻢ ﺍﻹﺳﺘﻌﺎﻧﺔ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺴﻠﻮﻙ

Orang yg berilmu adalah seseorang yg memberikan kemanfaatan terhadap manusia dg ilmu pengetahuannya, baik dalam bentuk fatwa, pembelajaran, atau tersaji dalam bentuk karya.

Lantas apabila memungkinkan baginya untuk menghabiskan waktunya dalam hal tersebut, maka demikian merupakan kesibukan yg lebih utama setelah kefardhuan lima waktu dan rawatibnya.

Sedangkan yg dimaksud dg “Ilmu Pengetahuan” adalah ilmu yg menjadi pijakan untuk beribadah; ialah ilmu pengetahuan yg membuat manusia senang dalam kehidupan akhirat, menjauhkannya dari kesenangan duniawi, dan menolongnya menempuh jalan ke akhirat bilamana tujuan pembelajaran tersebut adalah menjadikan ilmu sebagai penolong untuk bisa menempuh perjalanan spiritualnya.

ﻭﺍﻟﻤﺘﻌﻠﻢ ﻫﻮ ﺍﻟﻘﺎﺻﺪ ﺑﺎﻟﺘﻌﻠﻢ ﻭﺟﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻓﺈﺷﺘﻐﺎﻟﻪ ﺑﺎﻟﺘﻌﻠﻢ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﻦ ﺇﺷﺘﻐﺎﻟﻪ ﺑﺎﻷﺫﻛﺎﺭ ﻭﺍﻟﻨﻮﺍﻓﻞ، ﺑﻞ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻮﺍﻡ ﻓﺤﻀﻮﺭ ﻣﺠﺎﻟﺲ ﺍﻟﻮﻋﻆ ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﻦ ﺇﺷﺘﻐﺎﻟﻪ ﺑﺎﻷﻭﺭﺍﺩ

Pelajar adalah seseorang yg belajar ilmu pengetahuan bertujuan karena Allah, maka kesibukannya dg belajar itu lebih utama dari pada kesibukannya dg berdzikir dan melakukan ibadah sunnah, bahkan andai dia dari golongan orang-orang awam maka keikutsertaannya di majlis pengajian dan pembelajaran itu lebih utama dari pada kesibukannya dg berwirid.
ﻭﺍﻟﻤﺤﺘﺮﻑ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺤﺘﺎﺝ ﻟﻠﻜﺴﺐ ﻟﻌﻴﺎﻟﻪ ﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﺃﻥ ﻳﻀﻴﻊ ﺍﻟﻌﻴﺎﻝ ﻭﻳﺴﺘﻐﺮﻕ ﺍﻷﻭﻗﺎﺕ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ، ﺑﻞ ﻭﺭﺩﻩ ﻓﻲ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﺼﻨﺎﻋﺔ ﺣﻀﻮﺭ ﺍﻟﺴﻮﻕ ﻭﺍﻹﺷﺘﻐﺎﻝ ﺑﺎﻟﻜﺴﺐ، ﻭﻟﻜﻦ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻨﺴﻰ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺻﻨﺎﻋﺘﻪ ﺑﻞ ﻳﻮﺍﻇﺐ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﺴﺒﻴﺤﺎﺕ ﻭﺍﻷﺫﻛﺎﺭ ﻭﻗﺮﺃﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﺈﻥ ﺫﻟﻚ ﻳﻤﻜﻦ ﺃﻥ ﻳﺠﺘﻤﻊ ﻣﻊ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﻭﻻ ﻳﻔﻮﺗﻪ، ﻭﻣﻬﻤﺎ ﻓﺮﻍ ﻣﻦ ﺗﺤﺼﻴﻞ ﻛﻔﺎﻳﺘﻪ ﻳﻌﻮﺩ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ

Pengusaha atau Pekerja adalah orang yg membutuhkan usaha untuk menghidupi keluarganya, tidak diperkenankan baginya untuk mensia-siakan keluarganya dan menghabiskan waktunya dalam peribadatan,

tapi bahkan di waktunya bekerja wiridannya adalah datang ke pasar dan menyibukkan diri dg pekerjaan, namun seyogyanya dia tidak lupa berdzikir pada Allah dalam aktivitasnya, dan bahkan tetap atas bacaan tasbih, dzikir, dan membaca al-Qur`an,

karena demikian masih bisa dilakukan seraya beraktivatas dan hendaklah tidak mengenyampingkannya. Dan manakala dia telah selesai dari menghasilkan kebutuhannya maka hendaklah kembali untuk beribadah.

ﻭﺍﻟﻮﺍﻟﻲ ﻣﺜﻞ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻭﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﻭﻛﻞ ﻣﺘﻮﻝ ﻟﻤﺼﺎﻟﺢ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﺤﺎﺟﺎﺕ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﺃﻏﺮﺍﺿﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﻭﻓﻖ ﺍﻟﺸﺮﻉ، ﻭﻗﺼﺪ ﺍﻹﺧﻼﺹ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﻦ ﺇﺷﺘﻐﺎﻟﻪ ﺑﺎﻷﻭﺭﺍﺩ، ﻓﺤﻘﻪ ﺃﻥ ﻳﺸﺘﻐﻞ ﺑﺤﻘﻮﻕ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻧﻬﺎﺭﺍ ﺃﻭ ﻳﻘﺘﺼﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻜﺘﻮﺑﺎﺕ ﻭﻳﻘﻢ ﺍﻷﻭﺭﺍﺩ ﻟﻴﻼ

Dan penguasa, seperti pemimpin negara, pemutus hukum, dan setiap orang yg mengurus kemashlahatan orang muslim, adalah pengatur kebutuhan orang-orang Islam sesuai tuntunan syari’at dan menjalaninya dg ikhlas itu lebih utama dari pada kesibukannya dg berwirid.

Maka sudah sepatutnya dia menyibukkan diri dg mengurus hak-hak manusia di waktu siang, atau meringkas kefardhuan shalat lima waktunya dan melakukan wiridan di malam hari.

ﻭﺍﻟﻤﻮﺣﺪ ﺍﻟﻤﺴﺘﻐﺮﻕ ﺑﺎﻟﻮﺍﺣﺪ ﺍﻟﺼﻤﺪ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﺻﺒﺢ ﻭﻫﻤﻮﻣﻪ ﻫﻢ ﻭﺍﺣﺪ ﻓﻼ ﻳﺤﺐ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻻ ﻳﺨﺎﻑ ﺇﻻ ﻣﻨﻪ ﻭﻻ ﻳﻨﺘﻈﺮ ﺍﻟﺮﺯﻕ ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻩ، ﻓﻤﻦ ﺇﺭﺗﻔﻌﺖ ﺭﺗﺒﺘﻪ ﺇﻟﻰ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺪﺭﺟﺔ ﻟﻢ ﻳﻔﺘﻘﺮ ﺇﻟﻰ ﺗﻨﻮﻳﻊ ﺍﻷﻭﺭﺍﺩ ﻭﺇﺧﺘﻼﻓﻬﺎ، ﺑﻞ ﻭﺭﺩﻩ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻤﻜﺘﻮﺑﺎﺕ ﻭﺍﺣﺪ، ﻭﻫﻮ ﺣﻀﻮﺭ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﻣﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺣﺎﻝ، ﻓﻼ ﻳﺨﻄﺮ ﺑﻘﻠﺒﻪ ﺃﻣﺮ ﻭﻻ ﻳﻘﺮﻉ ﺳﻤﻌﻪ ﻗﺎﺭﻉ ﻭﻻ ﻳﻠﻮﺡ ﻟﺒﺼﺮﻩ ﻻﺋﺢ ﺇﻻ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﻓﻴﻪ ﻋﺒﺮﺓ ﻭﻓﻜﺮﺓ ﻭﻣﺰﻳﺪ، ﻓﻬﺬﺍ ﺟﻤﻴﻊ ﺃﺣﻮﺍﻟﻪ ﺗﺼﻠﺢ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺳﺒﺒﺎ ﻹﺯﺩﻳﺎﺩﻩ. ﻭﻫﺬﻩ ﻣﻨﺘﻬﻰ ﺩﺭﺟﺎﺕ ﺍﻟﺼﺪﻳﻘﻴﻦ، ﻭﻻ ﻭﺻﻮﻝ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﺇﻻ ﺑﻌﺪ ﺗﺮﺗﻴﺐ ﺍﻷﻭﺭﺍﺩ ﻭﺍﻟﻤﻮﺍﻇﺒﺔ ﻋﻠﻴﻬﺎ

Orang yg menyatukan diri dg Dzat yg maha tunggal nan menjadi tumpuannya adalah seseorang yg dalam hidupnya hanya mempunyai satu tujuan keinginan. Maka dia hanya cinta pada Allah, hanya takut terhadap-Nya, dan tidak menanti rezeki dari selain-Nya.Lantas barangsiapa yg berhasil mencapai kedudukan ini maka dia tidak lagi butuh pada wiridan yg beragam dan berbeda-beda, tapi bahkan setelah shalat lima waktu wiridannya hanya satu; ialah hadirnya hati bersama Allah dalam setiap keadaan. Maka tak ada sesuatupun yg terbesit dihatinya, tak ada suara apapun yg mengganggu pendengarannya, dan tak ada berkas cahaya apapun yg mampu mengalihkan pandangannya, kecuali dia sedang meniti sebuah pembelajaran nan tauladan dan berada di satu titik pusat pemikiran dalam hatinya. Semua ini adalah keadaannya yg patut menjadi sebab bertambahnya imannya, dan ini merupakan puncak kedudukan orang-orang yg shiddiq, dan kedudukan tersebut hanya bisa dicapai setelah melakukan wiridan dan merutinkannya.

ــــــــــ والله تعالى أعلم ــــــــــ

ﺍﻟﺜﻤﺎﺭ ﺍﻟﻴﺎﻧﻌﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻳﺎﺽ ﺍﻟﺒﺪﻳﻌﺔ ﻟﻸﺳﺘﺎﺫ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺍﻟﻌﺎﻣﻞ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﺤﻤﺪ ﻧﻮﻭﻱ ﺍﻟﺠﺎﻭﻱ

BOLEHKAH DALAM ISLAM MENGHUKUM MATI KORUPTOR

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Menteri Sosial RI, Juliari Batubara dan beberapa jajarannya sebagai tersangka kasus korupsi dana bantuan Covid-19 pada Ahad (6/12). Wacana hukuman mati pun menggaung di jagat media. Pasalnya, pasal 2 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi memungkinkan hal tersebut. Kemungkinan penerapan hukuman mati itu dipertegas dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 sebagai revisi atas UU Nomor 31 Tahun 1999. Pasal 2 ayat 2 memperjelas kondisi tertentu yang dimaksud di antaranya adalah korupsi dana penanggulangan keadaan bahaya.

Berikut selengkapnya. “Yang dimaksud dengan “keadaan tertentu” dalam ketentuan ini adalah keadaan yang dapat dijadikan alasan pemberatan pidana bagi pelaku tindak pidana korupsi yaitu apabila tindak pidana tersebut dilakukan terhadap dana-dana yang diperuntukkan bagi penanggulangan keadaan bahaya, bencana alam nasional, penanggulangan akibat kerusuhan sosial yang meluas, penanggulangan krisis ekonomi dan moneter, dan pengulangan tindak pidana korupsi.”

Nahdlatul Ulama juga telah menetapkan agar koruptor dihukum mati. Keputusan ini diambil saat Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama Nahdlatul Ulama Tahun 2012 di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat. Sebagaimana disebutkan dalam UU Nomor 20 Tahun 2001, NU juga memutuskan bahwa penerapan hukuman mati bisa dilakukan jika memenuhi dua hal, pertama, apabila telah melakukan korupsi berulang kali dan tidak jera dengan berbagai hukuman. Kedua, melakukannya dalam jumlah besar yang dapat membahayakan rakyat banyak.

Para kiai mendasari keputusannya pada berbagai rujukan kitab-kitab mu’tabar berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis. Di antara dasar keputusan tersebut adalah Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 33.

“Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya dan membuat kerusakan di bumi, hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar.”

Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir yang dikutip keputusan tersebut, para ulama salaf, di antaranya Said ibn al-Musayyab, menyebutkan bahwa korupsi merupakan bagian dari perbuatan merusak di bumi. Baca

Sementara itu, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan bahwa keputusan hukuman mati sudah ada aturannya sebagaimana disebutkan di atas. Namun, hakimlah yang akan memutuskannya. “Aturannya sudah ada, berbagai kemungkinan hukuman bisa dijatuhkan hakim, termasuk hukuman mati. Tapi biarlah hakim memutuskan. Berikan kebebasan dan kemerdekaan kepada hakim untuk memutus sesuatu. Jika memang layak dihukum mati, hakim sudah tahu itu,” katanya.

Salah satu isu yang diangkat Komisi Bahtsul Masail Diniyah Maudluiyah pada Muktamar Ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, 1-5 Agustus lalu adalah soal hukuman mati yang dikaitkan dengan hak asasi manusia (HAM) dan pandangan Islam. Dalam Islam, hukuman mati masuk dalam kategori qishash.

Komisi yang diketuai KH Afifuddin Muhajir ini merumuskan bahwa selain menjadi sanksi atas tindak kejahatan pembunuhan, hukuman mati juga diterapkan untuk berbagai tindak kejahatan berat tertentu.

Mengapa Islam menerapkan hukuman mati?

Dalam keputusan yang disahkan pada sidang pleno Muktamar Ke-33 NU, 5 Agustus, itu dijelaskan, hukuman mati merupakan bukti dari upaya serius syariat Islam untuk memberantas kejahatan berat yang menjadi bencana kemanusiaan, seperti pembunuhan. Sanksi tersebut dinilai setimpal dan menjadi pelajaran paling efektif bagi orang lain supaya tidak berbuat hal yang sama.

Muktamirin berpandangan, pada hakikatnya dimaksudkan untuk beberapa hal, antara lain

(1) memberantas tuntas kejahatan yang tidak dapat diberantas dengan hukuman yang lebih ringan,

(2) orang lain akan terkendali untuk tidak melakukannya karena mereka tidak akan mau dihukum mati,

(3) melindungi orang banyak dari tindak kejahatan itu.

Dengan berpijak pada dasar hakikat disyariatkannya hukuman mati ini, hukuman mati dinilai tak dapat dinyatakan melanggar HAM. Justru sebaliknya, hukuman tersebut untuk memberantas pelanggaran HAM dengan membela hak hidup banyak orang. Pandangan tersebut didasarkan pada argumen al-Qur’an, as-Sunnah, dan pendapat para ulama yang tersebar dalam berbagai literatur. Jauh sebelum muktamar, PBNU juga telah mengeluarkan imbauan penerapan hukuman mati bagi koruptor kelas berat dan gembong peredaran narkoba.

HUKUMAN MATI BAGI KORUPTOR

Korupsi atau jelasnya pencurian uang negara dan rakyat di Indonesia baik yang dilakukan secara terang-terangan atau terselubung sejak Republik ini berdiri tetap saja berlangsung. Bahkan nilainya semakin menggelembung, berlipat ganda. Akibatnya sangat merugikan bangsa dan negara. Rakyat jadi miskin, negara hampir bangkrut. Kekayaan dan aset negara terkuras dan tergadaikan. Dari data hasil survei lembaga Internasional PERC, Indonesia adalah negara terkorup di Asia dan menempati nomor satu. Padahal, Indonesia berpenduduk mayoritas Islam.

 Sebenarnya Bagaimana definisi atau konsep syariah mengenai korupsi?

Dalam pandangan syariat, korupsi merupakan pengkhianatan berat (ghulul) terhadap amanat rakyat. Dilihat dari cara kerja dan dampaknya, korupsi dapat dikategorikan sebagai pencurian (sariqah), dan perampokan (nahb).

Abdullah bin Husain Al-Ba’lawi dalam Is’ad al-Rafiq Syarh Matn Sulam al-Taufiq menerangkan: (Dan) di antara dosa besar adalah (sariqah -pencurian-), dengan dibaca fathah huruf sin dan kasrah huruf ra’nya. Yaitu mengambil harta -yang bukan miliknya) secara sembunyi-sembunyi. Menurut kesepakatan para ulama perbuatan pencurian termasuk dosa besar. Dalam al-Zawajir Ibn Hajar al-Haitami menyatakan: “Itu merupakan pernyataan yang sangat jelas dari beberapa hadits, semisal hadits: “Seorang pezina tidak melakukan perzinahan dalam kondisi ia beriman dan seorang pencuri tidak melakukan pencurian dalam kondisi ia beriman.“ Dalam riwayat lain dengan redaksi: “Jika ia melakukan hal tersebut maka ia telah menanggalkan hukum Islam dari dirinya. Jika ia bertobat maka Allah menerima tobatnya.” Dan hadits: “Allah melaknat seorang pencuri yang mencuri sebiji telur sehingga menyebabkan tangannya dipotong, dan yang mencuri seutas tali sehingga tangannya dipotong.“ Al-A’masy menjelaskan: “Para sahabat Nabi menilai harga telur (helm baja untuk perang) dan tali (kapal) sampai tiga dirham. Dan beberapa hadits lain yang cukup banyak. Ibn Hajar menjelaskan: “Yang jelas sungguh tidak ada perbedaan dalam hal pencurian itu merupakan dosar besar, antara pencurian yang mengakibatkan hukuman potong tangan dan yang tidak, jika yang diambil memang tidak halal baginya. Semisal ia mengambil tikar masjid, maka hukumnya haram, akan tetapi tidak mengakibatkan hukuman potong tangan, karena ia memiliki bagian hak dalam tikar masjid itu. Kemudian saya melihat al-Imam al-Harawi secara jelas menyatakan hal tersebut.” Karena ulama mengqiyaskan korupsi dengan mencur,i maka hukuman bagi pelakunya adalah potong tagan sampai dengan hukuman mati. sekaligus dituntut untuk mengembalikan apa yang telah dikorupnya.

Hal ini jelas diterangkan oleh Muhammad bin Mansur al-Jamal dalam Futuhat al-Wahhab bi Taudih Syarh Manhaj al-Thullab

Imam Malik berkata: “Jika pelaku tindak pencurian merupakan orang kaya, maka ia menanggung pengembaliannya, dan jika ia bukan orang kaya, maka tidak harus. Dan Hukuman potong tangan tetap berlaku pada semua kondisi. Bila ia mengembalikan harta curian ke tempat penyimpanan (semula), maka tidak menggugurkan hukuman potong tangan dan tanggungjawab mengembalikannya.

Begitu pula yang dijelaskan oleh Wahbah Zuhaili dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh

Dan kesimpulannya adalah sungguh boleh menghukum mati sebagai kebijakan bagi orang-orang yang sering melakukan tindakan kriminal, pecandu minuman keras, para penganjur tindak kejahatan, dan pelaku tindakan subversif yang mengancam keamanan negara dan semisalnya.

Mengani hal ini sangat baik untuk ditelaah kembali apa yang ditulis oleh Muhammad bin Abi bakar al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an

 Para ulama berkata: “Perbuatan khianat (korupsi) merupakan bagian dari dosa besar berdasarkan ayat ini. Dan hadits yang telah kami sebutkan dari riwayat Abu Hurairah Ra.; ”Sungguh ia akan memikul hutangnya di lehernya.“ Rasulullah Saw. Sungguh telah bersabda tentang Mid’am (seorang budak): “Aku bersumpah demi Dzat yang jiwaku ada dalam kekuasanNya. Sungguh selendang selimut yang ia ambil di hari peperangan Khaibar yang merupakan harta pampasan perang yang diambil oleh pegawai pembagian harta, akan menyalakan api neraka baginya.” Setelah mendengar penjelasan itu lalu ada yang datang kepada Rasulullah Saw. menyerahkan satu atau dua utas tali sandal, lalu beliau Saw. bersabda: “Seutas tali dan dua utas tali sandal dari itu dari api neraka.” Hadits itu diriwayatkan Imam Malik dalam kitab al-Muwaththa’.

Maka sumpah Nabi Saw. dengan kaliamat: “Demi Dzat yang jiwaku ada alam kekuasanNya.” dan penolakannya menyolati orang yang telah melakukan pengkhianatan (korupsi) merupakan dalil atas parahnya perbuatan tersebut, begitu besar dosanya, ia termasuk dosa besar yang terkait dengan hak-hak orang lain dan di dalamnya harus diberlakukan qishash terkait amal kebajikan dan amal jeleknya.

Yang diperlakuakan dalam ajaran islam bagi seorang KORUPTOR adalah :

1. Harus melunasi tanggungannya/mengembalikan harta yang ia korupsi

2. Dihukum dengan potong tangan bahkan hingga hukuman mati.

ثم رأيت فى منهاج العابدين للغزالى أن الذنوب التى بين العباد إما فى المال ويجب رده عند المكنة فإن عجز لفقر استحله فإن عجز عن استحلاله لغيبته أو موته وأمكن التصدق عنه فعله وإلا فليكثر من الحسنات ويرجع إلى الله ويتضرع إليه فى أن يرضيه عنه يوم القيامة اه

“Kemudian aku melihat dalam kitab Minhaj al-‘Aabidiin karya al-Ghozaly dikatakan : Bahwa dosa yang terjadi antar sesama hamba-hamba Allah adakalanya berhubungan dengan harta benda Dan wajib mengembalikan harta tersebut (pada pemilik harta) bila dalam kondisi berkemungkinan, bila tidak mampu karena kefakirannya maka mintalah halal darinya, bila tidak mampu meminta halal karena ketiadaannya atau telah meninggalnya dan (pemilik tanggungan) berkemungkinan bersedekah, maka bersedekahlah dengan atas namanya, dan bila masih tidak mampu maka perbanyaklah berbuat kebajikan, kembalikan segalanya pada Allah, rendahkanlah diri dihadapanNya agar kelak dihari kiamat Allah meridhoi beban tanggungan harta (yang masih belum tertuntaskan)”.Hasyatul Jamal V/388

التعزير هو التأديب بنحو حبس وضرب غير مبرح كصفح ونفى وكشف رأس وتسويد وجه – إلى أن قال – أما التعزير لوفاء الحق المالى فإنه يحبس إلى أن يثبت إعساره وإذا امتنع من الوفاء مع القدرة ضرب إلى أن يؤديه أو يموت لأنه كالصائل .اهـ

Ta’zir adalah bentuk pembelajajaran tatakrama agar bisa menimbulkan efek jera, dapat dilakukan dengan semacam memenjarakan, memukul dengan tanpa merusakkan anggauata tubuh seperti dengan menampar, mengisolisir, membuka penutup kepala dan mencorengi hitam mukanya… Sedang ta’zir yang diberlakukan atas pengembalian harta benda dilakukan dengan mengekangnya hingga ia jatuh miskin, bila dalam kondisi mampu namun tidak mau mengembalikan harta tanggungannya dengan dipukuli hingga menyakitkannya atau membuatnya mati karena ia seperti SHO’IL (orang yang menjarah hak orang lain).

Tanwirul Qulub hal. 392

وَقَالَ مَالِكٌ إنْ كَانَ غَنِيًّا ضَمِنَ وَإِلَّا فَلَا ، وَالْقَطْعُ لَازِمٌ بِكُلِّ حَالٍ وَلَوْ أَعَادَ الْمَالَ الْمَسْرُوقَ إلَى الْحِرْزِ لَمْ يَسْقُطْ الْقَطْعُ وَلَا الضَّمَانُ

Imam Malik berkata “Jika pelaku tindak pencurian merupakan orang kaya, maka ia menanggung pengembaliannyadan jika buka orang kaya maka tidak harus.Dan hukuman potongan tangan tetap berlaku pada semua kondisi, bila ia mengembalikan uang curia ketempat penyimpanan uang (semula) maka juga tidak menggugurkan hukuman potong tangan dan tanggiungjawab mengembalikannya.

Hasyiyah al-Jamal 21/188

والخلاصة: أنه يجوز القتل سياسة لمعتادي الإجرام ومدمني الخمر ودعاة الفساد ومجرمي أمن الدولة، ونحوهم

Dan kesimpulannya adalah sungguh boleh menghukum mati sebagai kebijakan bagi orang-orang yang sering melakukan tindakan kriminal, pecandu minuman keras, para penganjur tindakan kejahatan dan pelaku tindakan subversif yang mengancam keamanan negara dan semisalnya.

Al-Fiqh al-Islam VII/518

WALLOHU A’LAM….