KISAH KHIDMAH MELAYANI SAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKY AL-HASANY

Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki adalah orang yang super sibuk dengan kegiatan mengajar, mendidik, berdakwah, menulis, bersosialasi dan menemui banyak tamu. Bagi orang seperti beliau, waktu semenitpun sangat berarti sehingga sayang sekali bila digunakan untuk hal sepele. Jangankan Abuya, saya sendiri ketika sibuk dan fokus menulis kadang tidak sempat untuk makan seperti biasa karena dapat merusak konsentrasi, apalagi ketika sedang memeras otak dan menulis cepat agar tidak keburu lupa, sementara perut sudah lapar sekali, maka sayapun makan disuapi oleh istri atau oleh santri.

Siapapun akan merasa senang untuk berkhidmah pada orang seperti Abuya, misalnya mengurus pakaian dan makanan beliau. Maka, ketika kami berkhidmah pada beliau, itu bukan karena beliau memerlukan kami, melainkan kamilah yang memerlukan beliau, karena dengan berkhidmah pada beliau berarti kami berpartisipasi dalam semua kegiatan beliau.

Saya memiliki dua pengalaman gagal khidmah yang akhirnya tidak dipakai oleh Abuya. Namun sebelum menceritakan gagal khidmah saya itu, saya akan menceritakan macam-macam khidmah terhadap Abuya, setidaknya yang saya ingat saja, angka yang akan saya sebutkan bukan untuk membatasi, melainkan sekedar untuk merunut ingatan saya saja.

Pertama adalah khidmah mengurus keperluan pribadi Abuya, seperti makan minum, obat-obatan, pakaian, parfum dan sebagainya. Termasuk parfum adalah membakar bukhur gahru untuk ruangan, pakaian dan air galon yang diminum Abuya. Abuya itu serba wangi. Di zaman saya, yang berkhidmah dalam hal ini diantaranya adalah Habib Abdillah Assegaf (Solo), Kiyai Marzuqi (Madura), Kiyai Mawardi Makmun (Karongan Sampang) dan Kiyai Hisyam Subhani (Jakarta).

Kedua adalah khidmah mengurus peralatan Abuya, seperti tape recorder dan kamera untuk merekam kegiatan majlis, studio editing dan copy kaset rekaman majlis, baik audio maupun video. Di zaman saya, yang berkhidmah dalam hal ini adalah Kiyai Kamal Mukhlis (Gresik), beliau bahkan terkadang menemani Abuya keluar negri untuk khidmah pendokumentasian. Ketika itu, saya yang sudah menguasai komputer hampir menawarkan diri ke Abuya untuk berkhidmah dalam pengetikan dan setting lay out kitab-kita beliau, karena pengetikan dan editing kitab-kitab Abuya selalu diserahkan pada orang luar. Ketika itu saya sendiri bahkan sudah memiliki mesin ketik elektrik untuk keperluan menulis saya sendiri, karena saya sudah mulai menulis sejak sebelum ke Makkah. Saya meminta pendapat beberapa teman senior untuk mengajukan niat saya itu pada Abuya dan mereka mendukung. Namun niat itu tidak kesampaian karena saya keburu pulang.

Ketiga adalah khidmah mengurus kendaraan Abuya, baik nyetirin Abuya sendiri maupun nyetirin keluarga beliau. Di zaman saya, “supir” yang biasa dipakai Abuya sendiri diantaranya adalah Habib Ali Al-Habsyi (Probolinggo) dan Kiyai Nur Kholiq (adik ipar Kiyai Ihya’ Ulumiddin Malang).

Keempat adalah mengurus keperluan rumah tangga keluarga Abuya, yang berkhidmah dalam hal ini adalah Habib Idrus Alaydrus (Bangil Pasuruan) yang hingga kini menetap di Rushifah. Beliau merangkap sebagai “wakil” Abuya didalam mengurus santri, termasuk mengajar di kelas. Beliau adalah orang yang paling diperlukan oleh Abuya untuk membantu mengurus keluarga Abuya dan santri, sehingga beliau tidak pulang hingga sekarang.

Kelima adalah khidmah mengurus properti yang ditempati Abuya, yaitu kompleks yang terdiri dari tiga bangunan mencakup villa tempat tinggal keluarga Abuya, gedung tempat khusus Abuya dan semua barang keperluan sehari-hari beliau, serta gedung yang mencakup aula majlis dan asrama santri. Properti yang besar ini perlu perawatan setiap hari dengan menyapu, mengepel dan sebagainya. Di zaman saya, yang berkhidmah mengurus semua itu adalah Habib Musthofa Al-Jufri (Sumenep Madura), beliau yang menunjuk dan mengkoodinator santri untuk tugas tertentu.

Keenam adalah khidmah menulis atau menjadi katib Abuya. Ada yang digunakan sebagai katib imla’ (menulis dengan dikte), untuk ini biasanya katib senior, namun -Alhamdulillah- saya langsung menjadi katib imla’ walupun saya masih baru, ketika itu saya berumur dua puluh tahun. Diantara katib Abuya di zaman saya adalah Kiyai Abdul Malik Salam (Malang), Habib Zain Hasan Baharun (Dalwa Pasuruan), Kiyai Zubair Barmawi (Surabaya), Kiyai Zaki Kholili (Probolinggo), Kiyai Mundziri (Jepara), Kiyai Faizin (Situbondo) dan Almarhum Kiyai Yasin Abdullah Aqib (Pasuruan).

Ketujuh adalah khidmah dengan menjadi qori’ dan munsyid Abuya, melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dan qasidah di majlis Abuya, baik majlis besar maupun majlis santai. Di zaman saya, yang berkhidmah dalam hal ini adalah Kiyai Sholihin (Malang), Kiyai Amin (Gresik), ada juga Kiyai Haris yang hanya sesekali menjadi qori’, beliau hafal Al-Qur’an dengan qira’ah sab’ah.

Kedelapan adalah khidmah megurus jamuan tamu dan jamaah majlis, temasuk membagi kurma, air minum dan kopi pada hadirin setiap majlis ba’da maghrib, saya sendiri bertugas dalam khidmah ini sebelum mulai fokus dengan khidmah menulis.

Kesembilan adalah khidmah dengan menjaga keamanan, termasuk menjaga pintu gerbang dan menyambut tamu. Saya sendiri memiliki jadwal tugas ini seminggu sekali setelah maghrib. Ketika itu salah satu pengajar kelas bernama Sayyid Ahmad Ar-Ruqaimi menitipkan kedua putra beliau yang masih SD pada saya, agar saya mengajari mereka baca Al-Qur’an dan menyimak pelajaran kelas mereka, sembari saya menjaga pintu gerbang setelah maghrib.

Kesepuluh adalah khidmah mengurus dapur, baik menjadi juru masak maupun pembantu, termasuk belanja ke pasar. Di zaman saya, ketua dapur adalah Kiyai Zubair Barmawi (Surabaya), jadi beliau merangkap tugas dapur dan katib, ketika itu beliau juga sudah mengarang kitab. Jadi jangan dikira orang yang memilih khidmah di dapur itu berarti tidak punya bakat dan kecerdasan intelektual. Sayyidina Ali bahkan mengurus sandal Rarasulullah SAW dan beliau dijuluki pintu kota ilmu. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya sendiri pernah khidmah di dapur beberapa bulan, sebelum saya disuruh fokus pada khidmah menulis. Diantara juru masak ketika itu adalah Kiyai Dawud Sholeh (Gondangledi Malang).

Kesebelas adalah khidmah mengurus gudang kitab-kitab karangan Abuya. Abuya memiliki gudang khusus untuk menyimpan kitab-kitab karya beliau, ada puluhan judul dan setiap judul biasanya dicetak lima ribu eksemplar dan kalau habis dicetak ulang. Kitab-kitab itu beliau bagikan cua-cuma pada tamu-tamu dari kalangan ulama’ dan pelajar, dikirim ke berbagai negara juga dengan cuma-cuma. Di zaman saya, secara umum, gudang kitab termasuk properti yang diurus oleh Habib Musthofa Al-Jufri, namun ada santri khusus bertugas merapikan kitab-kitab dan mengambilnya atas perintah Abuya. Abuya membuat paket-paket hadiah kitab, setiap paket ada namanya dan berisi kitab-kitab tertentu, yang berkhidmah dalam hal ini harus hafal nama paket dan isinya. Ketika itu, saya sendiri terkadang mengurus paket kitab itu. Seingat saya, yang sering mengurus kitab digudang diataranya Kiyai Mukhtar (Sampang) dan Almarhum Kiyai Syafi’i Fathullah (Bangkalan).

Keduabelas adalah khidmah memijat. Sebagai orang sibuk tapi banyak duduk, kesehatan Abuya perlu dijaga dengan banyak gerak, ketika beliau tidak memiliki waktu untuk olah raga maka gerakan badan beliau bisa dibantu dengan pijatan. Diperlukan tenaga yang kuat untuk memijat beberapa bagian badan beliau yang tinggi besar. Yang rutin, beliau dipijat menjelang tidur jam satu dini hari dan menjelang tidur jam tujuh pagi, beliau dipijat sampai ketiduran. Di zaman saya, yang berkhidmah dalam hal ini diantaranya Kiyai Malik Salam yang merangkap katib, Kiyai Masduqi (Lamongan) dan Kiyai Dawud Sholeh (Malang). Habib Zain Hasan Baharun juga sering memijat Abuya menjelang Abuya tidur, karena beliau termasuk santri yang sering diperlukan dan selalu didekat Abuya. Saya juga terkadang memijat Abuya bersama Habib Zain, yaitu setelah kami selesai menulis didekat Abuya dan beliau hendak istirahat pagi. Man Bini (Kiyai Ali Rahbini) juga mendapat jadwal memijat Abuya dua malam sekali. Kalau hanya pijatan ringan ketika beliau duduk santai, maka semua santri sering memijat Abuya, karena memijat beliau adalah bagian dari cara interaksi kami dengan beliau. Biasanya, Abuya sambil bertanya ini itu ketika dipijat, untuk membangun hubungan batin sebagi murobbi (pendidik).

Itulah jenis-jenis khidmah kepada Abuya yang saya ingat sampai saat ini, kalau ada lagi nanti akan saya susulkan.

Kembali pada gagal khidmah saya, bahwa saya gagal berkhidmah dalam dua hal, artinya saya tidak bisa melakukannya dengan baik dan akhirnya Abuya tidak menyuruh saya melakukan itu lagi.

Penulis: KH Ali Badri, Pasuruan, santri Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.

ABU DAHDAH DAN PERDAGANGAN YANG SANGAT MENGUNTUNGKAN

Diriwayatkan dari Tsabit bin al-Bunani dari Anas bahwasanya seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, Fulan mengakui pohon kurma sebagai miliknya, padahal pohon itu ada dalam kebun saya.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan supaya dia memberikan pohon itu kepadanya. Nabi bersabda, “Berikan kepadanya, kamu akan mendapatkan ganti pohon kurma di surga.” Sayang sekali, lelaki itu tidak mau mengikuti saran Nabi.

Tiba-tiba Abu Dahdah datang dia berkata, “Juallah pohon kurmamu kepadaku, aku tukar dengan kebunku.” Dia menyetujuinya. Lalu Abu Dahdah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, aku telah membeli pohon kurma itu, aku bayar dengan kebunku. Sekarang pohon kurma itu aku berikan kepadamu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Alangkah banyaknya tandan kurma yang harum baunya milik Abu Dahdah di surga kelak.” Rasulullah mengucapkan kalmiat tersebut berulang kali.

Abu Dahdah kemudian menemui isterinya, dia berkata, “Wahai Ummu Dahdah, infakkan hartaku, aku telah membelinya dengan pohon kurma di Surga.” Isterinya menjawab, “Alangkah beruntungnya jual beli (perniagaan) itu.” atau dia mengucapkan dengan kalimat yang sejenisnya.

ABU UMAMAH BERSEDEKAH 3 DINAR DAN MENDAPATKAN BALASAN 300 DINAR

Dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir berkata, “Maula perempuan Abu Umamah menceritakan kepadaku, ‘Abu Umamah adalah orang yang suka bersedekah dan senang mengumpulkan sesuatu untuk kemudian disedekahkan. Dia tidak pernah menolak seorang pun yang meminta sesuatu kepadanya, sekali pun ia hanya bisa memberi sesiung bawang merah atau sebutir kurma atau sesuap makanan.

Pada suatu hari datang seorang peminta-minta kepadanya padahal ia sudah tidak memiliki itu semua, selain uang sebanyak 3 dinar. Orang itu tetap meminta juga, maka Abu Umamah memberikannya 1 dinar. Kemudian datang orang lain untuk meminta. Abu Umamah memberinya 1 dinar. Datang lagi satu orang, Abu Umamah memberinya 1 dinar juga.

Sudah barang tentu aku marah. Kemudian aku berkata, ‘Wahai Abu Umamah, engkau tidak menyisakan untuk kami suatu pun!’

Kemudian Abu Umamah berbaring untuk tidur siang. Ketika adzan Ashar dikumandangkan aku membangunkannya. Lalu ia berangkat ke masjid. Setelah itu aku bercakap-cakap dengan dia kemudian aku meninggalkannya untuk mempersiapkan makan malam dan memasang pelana kudanya.

Ketika aku masuk kamar untuk merapikan tempat tidurnya, tiba-tiba aku menemukan mata uang emas dan setelah aku hitung berjumlah 300 dinar.

Aku berkata dalam hatiku, ‘Tidak mungkin dia melakukan seperti apa yang dia perbuat kecuali sangat percaya dengan apa yang akan menjadi penggantinya.’

Setelah Isya’ dia masuk rumah. Dan ketika melihat makanan yang telah tersedia dan pelana kuda telah terpasang ia tersenyum lalu berkata, ‘Inilah kebaikan yang diberikan dari sisi-Nya.’

Aku berada di hadapannya sampai ia makan malam. Ketika itu aku berkata, ‘Semoga Allah senantiasa mengasihimu dengan infak yang engkau berikan itu sebenarnya engkau telah menyisihkan simpanan, tetapi mengapa engkau tidak memberitahu aku, sehingga aku dapat mengambilnya.’

Abu Umamah bertanya, ‘Simpanan yang mana? Aku tidak menyimpan apapun!’

Kemudian aku angkat kasurnya, tatkala Abu Umamah melihat dinar itu ia bergembira dan sangat heran.

Serta merta aku potong tali ikatku, sebuah tali yang menandakan aku seorang Majusi atau Nasrani, dan aku masuk Islam.”

Ibnu Jarir berkata, “Aku melihat wanita itu (bekas budak) menjadi guru kaum wanita di masjid Himsha yang mengajarkan Alquran, sunah dan ilmu faraidh.

CARA AGAR SUAMI ISTRI HARMONIS DALAM MENGARUNGI RUMAHTANGGA

⇦ حسن الخلق معهن واحتمال الاذا ترحما عليهن لقصور عقلهن. وقال الله: وعاشروهن بالمعروف

⇦ ان يزيد علي احتمال الاذي بالمداعبة والمزح والملاعبة، فهي التي تطيب قلوب النساء، وقد كان رسول الله يمزح معهن. قال رسول الله: اكمل المؤمنين ايمانا احسنهم خلقا والطفهم باهله

⇦ ان لا يتبسط في الدعابة وحسن الخلق والموافقة باتباع هواها الي حد يفسد خلقها ويسقط بالكلية هيبته عندها، بل يراعي الاعدال فيه. قال الحسن: والله ما اصبح رجل يطيع امراته فيما تهوي الا كبه الله في النار

⇦ الاعتدال في الغيرة. قال قلعم: ﺇِﻧِّﻲْ ﻟَﻐَﻴُﻮْﺭٌ ﻭَﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺍِﻣْﺮِﺉٍ ﻻَ ﻳُﻐَﺎﺭُ ﺇِﻻَّ ﻣَﻨْﻜُﻮْﺱُ ﺍﻟْﻘَﻠْﺐِ. قال صلعم: ﺇِﻥَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﻴْﺮَﺓِ ﻏَﻴْﺮَﺓٌ ﻳَﺒْﻐَﻀُﻬَﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻭَﻫِﻲَ ﻏَﻴْﺮَﺓُ

ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻫْﻠِﻪِ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺭِﻳْﺒَﺔ

⇦ الاعتدال في النفقة فلا ينبغي ان يقتر عليهن في الانفاق ولا ينبغي ان يسرف، بل يقتصد. قال تعالي: وكلو واشربوا ولا تسرفوا

⇦ ان يتعلم المتزوج من علم الحيض واحكمه ما يحترز به الاحتراز الواجب، ويعلم زوجته احكام الصلاة وما يقضي منها وما لا يقضي، فانه امر بان يقيها النار بقوله: قو انفسكم واهليكم نارا.

⇦ اذا كان له نسوة فينبغي اي يعدل بينهن ولا يميل الي بعضهن فان خرج الي السفر واراد استصحاب واحد اقرع بينهن

▶▶Berperangai baik serta bersabar atas sakit yang diterima dari isterinya dalam rangka berbelaskasih pada istri karena pendek akal/pemikirannya. Allah berfirman: Dan pergaulilah istri kalian dengan cara yang baik.

▶▶Tidak cukup engkau bersabar saja, melainkan juga perlu ber-cumbu rayu, ber-senda gurau, sebab itu akan melegakan/menyenangkan hati isteri, Rasulullah-pun juga bergurau bersama para isterinya.

Rasulullah bersabda: “Paling sempurna iman-nya orang mukmin adalah yang paling baik perangainya dan paling lemah lembut pada keluarganya.

▶▶Jangan berlebihan dalam bersenda gurau, serta berperilaku baik dan jangan mengikuti segala keinginannya sampai pada batas dimana justru akan merusak akhlaknya, dan menggugurkan kewibaanmu dihadapannya.

Al-Hasan berkata: Demi Allah, tidaklah seorang lk (suami) yg taat pada isterinya dalam hal hawa (keinginan -nya) kecuali Allah akan melemparkannya ke dalam neraka.

▶▶Cemburu sewajarnya saja. Rasul bersabda: “Sesungguhnya aku adalah seorang pencemburu dan tidak ada seorang pun yang tidak cemburu pada istrinya kecuali dia adalah pria yang terbalik hatinya.”

Rasul bersabda: “Sesungguhnya di antara sifatcemburu, ada yang dibenci oleh Allah, yaitu cemburu pada istri tanpa ada kecurigaan.”

▶▶Sederhana dalam memberi nafkah (belanja), jangan terlalu hemat jangan berlebihan.

Allah berfirman: “Makanlah, minumlah tetapi jangan berlebihan”.

▶▶Belajar ilmu haid serta hukum-hukumnya, dan juga hal wajib yang berkaitan dengan haid. Mengajari isteri tentang sholat yang wajib di qada’ dan yang tidak. Sesungguhnya Allah memerintahkan suami untuk menjaga isterinya melalui firman-Nya “Jagalah dirimu serta keluargamu dari api neraka”.

▶▶Jika memiliki isteri lebih dari satu, hendaknya bersikap adil diantara keduanya, jangan condong pada salah satu dari mereka, jika hendak bepergian dengan isterinya, hendaklah mengundi diantara mereka, seperti itu yang dilakukan oleh Rasulullah.

Wallahu a’lam  Ihya’ Ulumuddin 2/55-62

KEBIJAKAN PEMERINTAH MEMPERTIMBANGKAN TIGA PESAN ROSULULLOH SAW.

Al-Wilayah (kekuasaan) adalah sebagian dari kenikmatan yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala jika digunakan untuk kemaslahatan umat manusia.

Maka, apabila seseorang diberi kenikmatan tersebut dalam hidupnya, akan tetapi tidak mengetahui hakikat nikmat tersebut dan justru sebalikanya ia berbuat dzalim dengan kekuasaannya serta mengikuti hawa nafsunya. Pemimpin yang demikian, kata Imam al-Ghazali, telah menempatkan posisinya sebagai musuh Allah Subhanahu Wata’ala.

 Jika seseorang telah menempatkan posisainya sebagai musuh Allah Subhanahu Wata’ala sebagaimana tersebut di atas, maka inilah titik bahaya seorang pemimpin.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam pernah mengingatkan, bahwa seorang pemimpin harus memperhatikan tiga perkara:

Pertama, apabila rakyat meminta/membutuhkan belas kasih, maka ia wajib berbagi kasih kepada mereka.

Kedua, apabila menghukumi mereka, maka berbuatlah adil.

Ketiga, laksanakan apa yang telah kamu katakan (tidak menyalahi janji)

ومما يدل على خطر الولاية ما روى عن ابن عباس ، أن رسوا الله صلى الله عليه وسلم اتى بعض الايام حلقة باب الكعبة وكان ف البيت نفر من قريش ، فقال : يا سادات قريش عاملوا رعاياكم واتباعكم بثلاثة اشياء : اذا سألوكم الرحمة فارحموهم ، واذا حكموكم فاعدلوا فيهم، واعملوا بما تقولون، فمن لم يعمل بهذافعليهلعنة الله وملئكته لايقبل الله منه فرضا ولا نفلا.

KITAB Al-Tibr al-Masbuk fii Nasihat al- Muluk, hal : 15 Karya : Hujjatul Islam al-Imam al-Ghozali RA

Wallahu a’lam

BAHWA MUSIBAH MENJADI CARA ALLOH SWT UNTUK MENDEKAT KAN HAMBANYA

Seseorang yang tidak mau menghadap kepada Allah Swt. dengan cara halus, maka Allah akan memaksanya dengan rantai ujian dan musibah. Jika Allah telah menentukan bahwa seseorang hamba akan mendekati dan sampai kepadanya, hamba tadi akan dibawa menghadap Allah melalui dua cara. Yakni dengan lemah lembut dan paksaan.

Dua Cara Allah

Cara pertama adalah dengan membujuknya secara lemah-lembut. Ia akan diberi rizki dan kemudahan oleh Allah Swt. hingga ia sampai kepada-Nya. Adapula yang secara enggan mendekat kepada Allah Swt. karena hatinya terikat oleh berbagai hal seperti harta, kekuasaan, perniagaan, dan sebagainya. Selagi semua hal itu mengikat, ia tidak akan mau mendekatkan dirinya kepada Allah.

Allah mengasihinya hingga kemudian memutus semua hubungan tersebut dengan cara mendatangkan ujian dan bencana. Ujian akan memisahkan hamba tadi dengan perkara yang memisahkan dirinya dengan Allah. Ujian itu akan membuatnya putus asa hingga akhirnya ia tidak mempunyai keinginan terhadap perkara tadi. Setelah keinginan itu hilang, barulah ia akan merasa tenang dan kakinya akan ringan untuk melangkah menuju Allah. Hatinya akan bisa bermunajat kepada Allah karena tidak ada lagi gangguan duniawi yang akan mengganggunya.

Allah Swt. berfirman:

وَلِلَّهِۤ يَسۡجُدُۤ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ طَوۡعٗا وَكَرۡهٗا

Artinya: “Dan kepada Allah jugalah sekalian makhluk yang ada di langit dan di bumi tunduk, baik dengan sukarela atau dengan terpaksa” (QS. Arra’du 15).

Allah Memimpin Hati Orang Mukmin

Kehalusan kepemimpinan Allah Swt. akan membuat hambanya mengatahui kekuasaan-Nya dan membuat hati yang keras menjadi lembut dan yang malas beribadah menjadi rajin beribadah.

Allah berfirman:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ

Artinya: “Tidak ada bencana yang menimpa (seseorang) kecuali karena izin Allah. Dan siapa yang beriman kepada Allah, Allah akan memimpin hatinya. Dan allah maha mengetahui tiap-tiap segala sesuatu” (QS. At-Taghobun 11).

Orang yang beriman akan senantiasa di karena ujian itu membawa berbagai ganjaran, nikmat, dan karunia dari Allah Swt. Dengan hal itu Allah menyucikan hamba dan meninggikan derajat di sisi-Nya. Allah melakukan hal itu melalui perkara-perkara yang dekat dengan hambanya, seperti keluarga dan harta. Allah berfirman:

إِنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ

Artinya: “Sesungguhnya harta benda dan anak-anakmu hanyalah sebagai fitnah (ujian). Dan di sisi Allah (terdapat) pahala yang besar” (QS. At-Taghabun 15).

MENILIK SISI SYARI’AH DALAM “NGALAP BERKAH”

Berkah berasal dari bahasa arab ‘Barakah’ yang artinya az ziyadah wa an-nama’ min haitsu la yujadu bi al-hissi dhahiran (bertambah banyak dan meningkat yang tidak bisa ditemukan dengan panca indra secara nyata). Atau dalam istilah lain didefinisikan dengan Khoirun Ilahiyun Aldzi Yatazayyad (Kebaikan Tuhan yang selalu bisa bertambah banyak). Dengan demikian secara umum berkah itu akan selalu bisa bertambah dan meningkat menjadi banyak dan tidak bisa ditebak.

Ngalap berkah sendiri adalah salah salah satu dari bentuk bertawasul kepada Allah, yakni membuat perantara menuju Allah agar doa dan permohonannya dikabulkan. Ngalap berkah sendiri adalah termasuk salah satu hal yang dikerjakan oleh para sahabat sejak zaman Nabi Saw. dan diteruskan oleh para salaf as-saleh sampai pada masa sekarang ini. Ajaran ngalap berkah tidaklah bertentangan dengan ajaran Rasulullah saw, karena banyak sekali hadis-hadis yang memperbolehkan praktik ini terutama ngalap berkah dari orang-orang saleh. Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dalam Shahihnya juz 5 hal. 2245 yang artinya:

“Dari Sahal bin Sa’ad ia berkata : Datanglah seorang perempuan menghadap Rasulullah saw dengan membawa sebuah kain burdah, Sahal berkara kepada para sahabat apakah kalian tahu apa itu burdah? Sahabat berkata : Burdah adalah mantel Sahal berkata : burdah adalah mantel yang dijahit ujungnya. Perempuan itu berkata : Wahai Rasulullah aku memberikanmu burdah ini. Nabi saw kemudian mengambilannya dalam keadaan membutuhkan burdah tersebut, kemudian beliau memakainya. Salah seorang lelaki dari golongan sahabat yang melihat Rasulullah saw memakainya lalu berkata : Wahai Rasulullah saw, Sungguh bagus sekali burdah ini, pakaikanlah aku dengannya. Rasulullah berkata : Ya. Ketika Nabi saw berdiri, teman-teman sahabat bersebut mencemoohnya, mereka berkata : Apa yang dapat memperbaiki dirimu ketika kamu melihat Nabi saw mengambilnya burdah tersebut karena membutuhkan, lalu kamu memintanya padahal kami sendiri mengetahui bahwa Nabi saw tidak pernah dimintai sesuatu kemudian beliau menolaknya. Laki-laki tersebut berkata : Aku berharap berkah burdah tersebut ketika dipakai Nabi saw, mungkin aku akan dikafani dengannya.”

Imam Muslim dalam Shahihnya meriwayatkan dari Yahya bin Yahya Sesungguhnya Asma’ binti Abi Bakar as Shiddiq dalam satu sebuah hadits berkata: “Ini adalah jubah Rasulullah Saw, kemudian ia mengeluarkan sebuah jubah kebesaran Kisra kemudian berkata: Jubah ini dulu ada pada ‘Aisyah dan ketika ia wafat, maka aku rawat jubah tersebut, kami membasuhnya mengambil air bekas basuhan untuk orang-orang yang sakit, kami memohon kesembuhan melalui jubah itu (HR. Imam Muslim).
Dalam satu riwayat Imam Muslim menyebutkan:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ بَيْتَ أُمِّ سُلَيْمٍ فَيَنَامُ عَلَى فِرَاشِهَا وَلَيْسَتْ فِيهِ – قَالَ – فَجَاءَ ذَاتَ يَوْمٍ فَنَامَ عَلَى فِرَاشِهَا فَأُتِيَتْ فَقِيلَ لَهَا هَذَا النَّبِىُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَامَ فِى بَيْتِكِ عَلَى فِرَاشِكِ – قَالَ – فَجَاءَتْ وَقَدْ عَرِقَ وَاسْتَنْقَعَ عَرَقُهُ عَلَى قِطْعَةِ أَدِيمٍ عَلَى الْفِرَاشِ فَفَتَحَتْ عَتِيْدَتَهَا فَجَعَلَتْ تُنَشِّفُ ذَلِكَ الْعَرَقَ فَتَعْصِرُهُ فِى قَوَارِيرِهَا فَفَزِعَ النَّبِىُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ « مَا تَصْنَعِينَ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ ». فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا قَالَ « أَصَبْتِ ». (صحيح مسلم ج 7 / ص 81)
Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Saw masuk ke rumah Ummu Sulaim lalu beliau tidur ditikar milik Ummu Sulaim yang saat itu sedang tidak ada di rumah. Anas berkata : Suatu hari Nabi saw datang lalu tidur di atas tikar milik Ummu Sulaim, lalu Ummu Sulaim didatangkan dan dikatakan padanya “Ini adalah Nabi saw, beliau tidur dalam rumahmu di atas tikar milikmu. Anas berkata : Lalu Ummu Sulaim datang dan Nabi saw saat itu berkeringat dan keringatnya menetes di potongan kain yang berada di tikar, lalu ia membuka kotak kecil miliknya, kemudian ia menyeka keringat Rasulullah saw, lalu memerasnya ke dalam botol-botol miliknya. Rasulullah saw kaget dan bertanya: Untuk apa, wahai Ummu Sulaim? Ia menjawab, Ya Rasulullah, kami mengharapkan berkahnya untuk anak-anak kecil kami. Rasulullah bersabda : Kamu benar.” (HR. Muslim)

Sebagian ahli makrifat menerangkan bahwa hikmah mengambil berkah orang-orang saleh lewat pakaian, tempat dan hal-hal yang berhubungan dengan mereka adalah dikarenakan tempat dan pakaian mereka melekat dekat dengan jasad para orang saleh tersebut, dalam jasad mereka melekat hati dan dalam hati mereka melekat dekat dengan Allah swt, artinya ketika Allah memberkahi diri mereka, maka Allah Swt. juga akan memberikan berkah terhadap apapun yang berhubungan dengan mereka. Sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Quran surat Thaha: 95-96 yang artinya:
Berkata Musa: “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) Hai Samiri?” Samiri menjawab: “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, Maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku”(QS.Thaha 95-96).

Dalam kitab tafsir menurut sebagian besar ahli tafsir “Yang dimaksud dengan jejak Rasul di sini ialah bekas jejak telapak kuda malaikat Jibril a.s. sewaktu naik ke langit setelah menghancurkan Fir’aun dan tentaranya. Samiri mengambil segumpal tanah dari jejak itu lalu dilemparkannya ke dalam logam yang sedang dibakar dijadikan sehingga logam itu berbentuk anak sapi yang mengeluarkan suara”. Ayat ini mengisahkan asal mula anak sapi emas ciptaan Musa Samiri bisa bersuara. Ternyata anak sapi emas bisa bersuara sebab berkah dilempari bekas telapak kaki kuda malaikat Jibril.

Akhirnya kita bisa menyimpulkan bahwa ngalap berkah adalah suatu hal baik yang tidak bertentangan dengan ajaran syari’ah yang harus kita lestarikan dan amalkan. Wallahu A’lam.
[Disarikan dari Kitab Ajwibah al-Ghaliyah]

KETIKA DAKWAH BERDAMPINGAN SEIRING DENGAN BUDAYA MASYARAKAT

Ketika orang-orang musyrik mendapatkan seruan dan nasehat agar mengikuti al-Qur’an yang telah diturunkan Allah kepada Rasulullah SAW, mereka sertamerta menolak. Mereka juga bersikeras tidak mau meninggalkan kesesatan dan moral yang buruk.Mereka berdalih apa yang dilakukan hanyalah menjalankan kepercayaan dan tradisi turun temurun warisan nenek moyang.

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah! Mereka menjawab: (tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami. (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun dan tidak pula mendapatkan petunjuk?”(QS. al-Baqarah: 170)

Begitulah sejarah dakwah padaumat terdahulu. Ketika diajak beranjak dari kepercayaan yang salah tentang Sang Pencipta, mereka menolak dengan alasan bahwa keyakinan itu sama seperti nenek moyang. Seperti umat Nabi Ibrahim AS yang ketika dilarang dari menyembah berhala dan agar menyembah Allah, mereka menjawab:“(Bukan karena itu) tetapi kami telah mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”(QS.As-Syu’ara’:74).

Hal serupa dilakukan bangsa Mesir yang ketika diserukan oleh Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS supaya meninggalkan tradisi paganisme maka justru menuduh kepada kekasih Allah SWT itu. “Mereka mengatakan; Apakah kamu datang kepada kami hanya untuk memalingkan kami dari apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami,dan lalu kalian berdua akan memperoleh kekuasaan di muka bumi, dan (sungguh) kami tidak akan pernah beriman kepada kalian berdua”(QS. Yunus:78)

Para da’i juga pasti akan menemui tradisi maupun budaya yang salah dan berlawanan dengan prinsip-prinsip Islam. Ketika dakwah disampaikan supaya tradisi atau budaya salah tersebut ditinggalkan, niscaya mereka menolaknya. Bahkan sembari menyampaikan alasan yang sama sekali tidak menggunakan nalar dan akal sehat. Biasanya mereka berujar, tradisi ini sudah turun temurun dan itu baik sehingga tidak perlu dipermasalahkan.

Allah azza wajalla telah berfirman:

وَإِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً قَالُوْا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا وَاللهُ أَمَرَنَا بِهَا…

“Dan ketika melakukan perbuatan yang buruk maka mereka mengatakan: Kami telah mendapati nenek moyang kami menetapinya (yang berarti) Allah juga memerintahkannya kepada kami…”(QS al-A’raf:28)

Dakwah sering kali tidak bisa menghindari kondisi ditolak oleh kepercayaan yang sudah menjadi tradisi. Pemikiran dan budaya yang sudah berurat berakar yang diwarisi dari nenek moyang, membuat obyek dakwah bersikap tertutup. Mereka tidak mau menerima kepercayaan baru. Sebaliknya, mereka berlaku kolot dan emoh menerima masukan serta penjelasan sesuai syariat Islam. Akibatnya, mereka bersikap fanatik dan tidak sudi menerima hal baru yang berbeda dengan tradisi mereka.

Para da’i adalah pewaris para nabi alaihimussalaam. Dakwah adalah menjalankan aktifitas dan tugas sebagaimana arahan nabi. Maka para da’i harus terus belajar memiliki rasa optimisme tinggi dan kesabaran bahwa tradisi yang menolak dakwah, suatu saat dan dengan cara yang tepat dan bijaksana pasti akan bisa dikalahkan. Syaikh Abdurrahman Hasan Habannakah al-Maidani dalam Ghazwun fi as–shamim hal 147-148 menyebutkan cara-cara dakwah merubah tradisi yang ringkasan dan kesimpulannya adalah sebagaimana berikut:

“Dan termasuk halangan yang merintangi dakwah adalah tradisi dan budaya dimana hal demikian ini dimaklumi sangat susah membebaskan jiwa-jiwa yang telah terkungkung di dalamnya. Karena itulah diperlukan metode-metode yang bijaksana dan efektif.”

Syaikh Abdurrahman Hasan menyebutkan beberapa hal penting tersebut, antara lain menggunakan cara-cara yang bisa membuat obyek dakwah percaya bahwa apa yang didakwahkan kepadanya adalah lebih baik, lebih banyak menguntungkan dan lebih menentramkan jiwanya di dunia dan akhirat dari pada tradisi dan budaya dalam lingkungannya atau ia mewarisi dari nenek moyangnya.

Metode lainnya adalah menggunakan cara-cara tidak langsung. Dalam hal ini adalah memberikan teladan yang baik. Hal ini bisa terjadi jika seorang da’i berada dekat dengan obyek dakwah, hidup dan berinteraksi bersama mereka dan tidak mengambil jarak. Pada akhirnya tanpa sadar obyek dakwah telah mengambil pelajaran dan arahan secara langsung. Tanpa mereka merasa bahwa pelajaran dan arahan tersebut didapatkan oleh mereka dari seorang guru, penasehat atau orang yang memerintah dan melarang.

Agar dakwah bisa efektif juga dengan berusaha menyenangkan hati obyek dakwah melalui sarana-sarana yang diperbolehkan oleh syariat Islam. Hal tersebut bisa menjadi pelipur atau pengganti dari kesenangan dan hobi obyek dakwah sebelumnya. Selanjutnya juga tak henti berusaha mendesak dan menggeser tradisi dan budaya lama dengan tradisi dan budaya baru yang selaras dengan dakwah.

Dengan demikian, lambat laun obyek dakwah menjadi akrab dan menyenangi tradisi dan budaya baru tersebut. Sekali lagi hal ini terjadi apabila da’i dan obyek dakwah memiliki hubungan dekat pertemanan dan kebersamaan. Pada gilirannya, da’i mengambil langkah untuk memindahkan atau menjauhkan obyek dakwah dari lingkungan mereka semula menuju lingkungan dan suasana lain. Sehingga kemudian mereka melupakan secara total tradisi dan budaya lama yang bertentangan dengan syariat Islam tersebut.

TEKAD SAYYIDINA UMAR BIN ABDUL AZIZ RA. BAHWA HARI ESOK HARUS LEBIH BAIK DARI HARI INI

Raja’ bin Hayat (seorang menteri Umar bin Abdul Aziz yang ikhlas) bercerita, “Saya pernah bersama Umar bin Abdul Aziz ketika beliau menjadi penguasa Madinah. Beliau mengutus saya untuk membelikan pakaian untuknya. Lantas saya membelikan pakaian untuknya seharga lima ratus dirham. Ketika beliau melihatnya, lantas beliau berkomentar, ‘Ini bagus, tapi sayang harganya murah.’

Dan ketika beliau telah menjadi khalifah, beliau pernah mengutusku untuk membelikan pakaian untuknya. Lalu saya membelikan pakaian untuknya seharga lima dirham. Ketika beliau melihat pakaian tersebut, beliau berkomentar. ‘Ini bagus, hanya saja mahal harganya.”

Raja’ melanjutkan kisahnya, “Tatkala saya mendengar perkataan tersebut kontan saya pun menangis. Lantas Umar bertanya, ‘Apa yang membuatmu menangis, hai Raja’?’ Saya menjawab, ‘Saya teringat pakaianmu beberapa tahun yang lalu dan komentarmu mengenai pakaian tersebut.’ Kemudian Umar mengungkap rahasia hal tersebut kepada Raja’ bin Hayat. Beliau berkata, ‘Wahai Raja’! Sungguh, saya mempunyai jiwa ambisius. Jika saya telah berhasil merealisasikan sesuatu pastilah saya ingin sesuatu yang di atasnya lagi. Saya mempunyai hasrat untuk menikahi putri pamanku, Fatimah binti Abdul Malik. Saya pun berhasil menikahinya. Kemudian saya ingin memegang kepemimpinan. Saya pun berhasil memegang kekuasaan. Kemudian saya ingin memegang khilafah. Saya pun berhasil menjadi khalifah. Dan sekarang wahai Raja’’, saya ingin mendapat surga, maka aku berharap termasuk ahli surga.”

Umar bin Abdul Aziz mendengar kabar bahwa salah seorang putranya membuat cincin dan memasang batu mata cincin seharga seribu dirham. Lantas beliau menulis surat kepada putranya tersebut, “Saya dengar bahwa engkau membeli batu cincin untuk cincinmu seharga seribu dirham. Oleh karena itu, juallah lalu uangnya gunakan untuk membuat kenyang seribu orang yang kelaparan. Buatlah cincin dari besi serta tuliskan di atasnya, “Semoga Allah merahmati orang yang menyadari posisi dirinya sendiri.”

HEBAT, TERNYATA PILOT WANITA PERTAMA TNI AD MERUPAKAN PUTRI SEORANG SOPIR

Purna sudah perjuangan Letda CPN (K) Puspita Ladiba untuk meraih cita-cita menjadi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Wanita asal Medan yang merupakan anak seorang penjual jagung bakar ini kini telah menjabat sebagai Co Pilot TNI AD.

Perjuangan untuk mencapai cita-cita itu, Letnan Ladiba (begitu sapaannya) patut diacungi jempol dan dijadikan inspirasi. Pasalnya, tidak mudah bagi seorang perempuan menjadi seorang pilot di TNI AD. Apalagi ia terlahir di dalam keluarga yang penuh dengan kesederhanaan.

Ingin tahu kisahnya? Sebagaimana Laduni.id kutip dari laman merdeka.com, berikut disajikan untuk pembaca.

Letnan Ladiba adalah alumni taruni angkatan pertama ini berasal dari keluarga sederhana. Ia menjadi anggota Paskibraka menjadi titik balik kehidupannya saat itu. Berikut cerita lengkap Letnan Ladiba, pilot wanita pertama TNI AD yang berhasil kami rangkum.

Ladiba menceritakan bagaimana awalnya ia diberi kesempatan untuk masuk akmil. Semua berawal ketika ia lolos menjadi anggota Paskibraka Kota Medan. Karena kegigihannya, Ladiba muda berhasil mewakili Sumatra Utara untuk menjadi Paskibraka tingkat nasional di Istana Negara. Ladiba mengungkap bagaimana bangganya ia saat itu.

“Di TV itu, inilah putra putri terbaik bangsa, langsung dari itu saja udah senang banget mendengarnya,” ungkap Diba, panggilan akrab Letda Puspita Diba.

Ibu Penjual Jagung Bakar, Ayah Berprofesi sebagai Sopir

Pada saat masuk Akademi Militer (Akmil), latar belakang taruna-taruni dipertanyakan. Ladiba tak pernah malu dengan pekerjaan orang tuanya, sang ayah bekerja sebagai sopir dan ibunya berjualan jagung bakar.

Ketika mengungkapkan pekerjaan orang tuanya, banyak yang meragukan. Bahkan, ada yang menyebut Diba berbohong.

“Ayah saya sopir, ibu saya jual jagung. Bohong kamu, mana bisa anak sopir (masuk taruni),” ungkap Diba. Walau hidup dalam kesederhanaan, orang tua Diba selalu berusaha memenuhi kebutuhan sekolah anak-anaknya.

“Saya waktu itu cuma sopir rental, gak ada pekerjaan tetap. Istri saya jualan di pinggir jalan. Tapi kami selalu berusaha memenuhi kebutuhan sekolah anak,” cerita ayah Ladiba, Herry Naldi Febri sambil menahan tangis.

Sempat Diragukan Asal-usulnya

Saat diwawancarai Tim Humas TNI AD, Diba menceritakan bagaimana dulu orang-orang di Akmil meragukan asal-usulnya. Tidak hanya teman seangkatan dan pelatihnya saja, tapi juga petugas kebersihan di Akmil meragukannya.

“Banyak yang gak percaya, sampai yang tukang bersih-bersih di Akmil saat saya beritahu tidak percaya. Saya pernah mengobrol dengan petugas kebersihan di Akmil, dan beberapa OB di Akmil,” ungkap Diba.

Walau diragukan, Diba tidak pernah merasa minder dengan latar belakang orang tuanya. Diba mengaku berusaha untuk tidak mempermasalahkan pendapat orang lain.

“Kalau orang lain bilang begitu, ya sudah, inikah hidup saya, ya terserah,” imbuh kopilot TNI AD ini.

Saking Susahnya Sampai Tak Punya HP

Masa sekolah Diba dilalui dengan penuh kesederhanaan. Saat SMA, di mana teman-teman sebayanya sudah memiliki handphone, Diba tidak pernah meminta orang tua untuk membelikan ponsel.

“Saya menyadari dengan keterbatasan kemampuan orang tua. Untuk handphone, Diba gak berani minta orang tua. Teman-teman sudah punya handphone, Diba belum punya sendiri di kelas,” cerita Diba.

Kesederhanaan Diba membawa pada nasib baik. Setelah menjalankan tugasnya sebagai Paskibraka, Diba mendapat uang saku dari sponsor. Uang saku tersebut dipergunakan Diba untuk membeli teknologi dan sebagian diberikan kepada orang tua.

“Setelah dapat itu, baru saya pakai untuk beli teknologi. Notebook dan handphone, sebagian dikasih ke orang tua,” jelas Diba.

Lolos Masuk Akmil

Pengalaman di Paskibraka membuka lebar kesempatan Diba untuk masuk ke Akmil. Ia menceritakan bagaimana bisa masuk ke Akmil angkatan taruni pertama.

“Awalnya untuk taruni memang tidak ada, itu usulan dari almarhumah ibu Ani Yudhoyono… Kita direkrut dari anggota paskibraka nasional dan sekolah unggulan,” cerita Diba.

Diba yang direkrut karena prestasinya menjadi Paskibraka, awalnya tidak menyangka bisa lolos dan lulus Akmil. Serangkaian proses perekrutan sudah dilalui Diba, dan akhirnya bisa lulus cumlaude tahun 2017 lalu.

Jadi Pilot Perempuan Pertama di TNI AD

Setelah lulus dari Akmil, Diba direkrut untuk menjadi penerbang di TNI AD. Wanita asal Medan ini mengaku awalnya tidak tahu ada korps penerbang di TNI AD.

“Awalnya saya tidak tahu ada korps penerbang angkatan darat, jadi para penerbang angkatan darat dan diberi kesempatan untuk jadi pilot wanita pertama,” ungkap Diba.

Menjadi penerbang wanita pertama di angkatan darat adalah kebanggaan tersendiri bagi Diba, terlebih sosok wanita di korps penerbang AD belum pernah ada. Walau begitu, kemampuan Diba menjadi bukti, dan kini ada pilot wanita lain yang bergabung di korps penerbang AD.

Ladiba Masih Suka Membantu Orang Tua

Hingga kini, sudah hampir dua tahun Diba ditempatkan di korps penerbang TNI AD. Tugasnya pun juga tak bisa dianggap remeh, karena ialah yang bertanggung jawab untuk mempersiapkan segala hal sebelum terbang, dari mengecek mesin hingga briefing ke rekan satu tim.

Menurutnya, bekerja keras di pekerjaan memang menjadi hal utama. Bagi Diba, rumah tetap menjadi yang terpenting. Saat liburan atau ada kesempatan cuti, Diba lebih memilih untuk pulang ke Medan dan membantu kedua orang tuanya.

“Lebaran kemarin ibu saya masih jualan jagung, pas libur saya bantuin, ngangkat jagung. Daripada cuti untuk liburan ke mana-mana, saya lebih memilih pulang. Selama kedua orang tua masih hidup, saya lebih baik pulang,” pungkas Ladiba.