DI SAAT IMAM SYAFI’I RA MERAGUKAN ILMU FIRASATNYA DAN KISAH KESINISAN BELIAU

Ketika Imam Syafi’i Meragukan Ilmu Firasatnya

Dalam kitab Manaqib asy-Syafi’i lil Baihaqi diceritakan Imam Syafii sedang mencari penginapan untuk istirahat. Dalam pencarian itu, Imam Syafii bertemu dengan seorang lelaki.

Menurut ilmu firasatnya (selain menguasai ushul fikih dan fikih, Imam Syafii juga menguasai ilmu firasat), lelaki tersebut berperangai buruk.

 “Apakah di sini ada penginapan, Pak? Saya dalam perjalanan dan butuh penginapan,” kata Imam Syafii.

“Ya. Ada. Ini tempatnya. Monggo nginap di rumah saya,” jawab laki-laki itu.

Lelaki itu melayani dengan baik. Menghidangkan makanan lezat dan tempat singgah yang nyaman seolah sedang dalam hotel. Sikap yang ditunjukkan lelaki itu membuat Imam Syafii merasa ilmu firasatnya keliru.

Keesokan harinya saat hendak melanjutkan perjalanan, Imam Syafii berpamitan, “Pak, jika sedang pergi ke Makkah, mampirlah di rumah saya,” kata Imam Syafii dengan harapan agar bisa membalas kebaikan si lelaki.

Namun orang ini malah bertanya aneh, “Apakah engkau seorang budak ?

“Bukan, Pak. Saya bukan budak.”

“Lalu apakah aku memiliki kewajiban menanggung harta terhadapmu?”

“Tidak ada kewajiban, Pak. Memangnya mengapa?” tanya Imam Syafii.

“Bagus. Kalau begitu, berikan kepadaku bayaran atas apa yang aku berikan padamu tadi malam.” Jawab laki-laki itu.

“Hah? Apa itu, Pak?” tanya Imam Syafi’i.

“Kan aku sudah memberimu makanan dan penginapan. Itu semua ndak gratis, Saudara. Harga makanan yang kuberikan padamu itu dua dirham. Lauknya harganya sekian. Minyak wangi tiga dirham. Juga makanan untuk tungganganmu dua dirham. Sedangkan sewa alas tidur dan bantal dua dirham,” kata laki-laki itu memperinci.

Imam Syafii tersenyum sambil menghampiri lelaki itu. “Ada lagi yang lain ?”

“Ya. Ada. Biaya sewa rumah. Aku telah menyediakan untukmu sedangkan aku sendiri merasa kesempitan. Sini bayar!”

Melihat perilaku orang itu. Imam Syafii pun merasa dugaannya salah. Dan ilmu firasatnyalah yang benar. Lalu Imam Syafii membayar uang sebesar permintaan lelaki tersebut.

Imam Syafi’i juga Pernah Sinis

Pada awalnya, Imam Syafi’i selalu sinis kepada orang saleh yang kaya. Bahkan kepada salah satu gurunya, Imam Malik. Pengarang Kitab Muwatta‘ ini seorang ulama yang kaya raya di Madinah. Bajunya selalu bagus. Karpet di rumahnya mewah.

Melihat itu semua, sang Imam sempat janggal dan suudhon kepada gurunya. “Orang saleh kok memiliki harta banyak.” Kata Imam Syafi’i.

Imam Malik stay cool saja dengan buruk sangka muridnya.

Setelah belajar kitab Muwatta’ kepada Imam Malik, Imam Syafi’i bertanya, “Aku sudah selesai belajar dengan Panjenengan, Syaikh. Lalu kepada siapa lagi aku akan belajar?”

“Seandainya Imam Abu Hanifah masih hidup, belajarlah kepadanya. Tapi karena beliau sudah wafat, belajarlah kepada sahabatnya. Namanya Muhammad bin Hasan Al-Saibani di Irak,” jawab Imam Malik.

Imam Syafi’i patuh pada perintah Imam Malik. Ketika akan pergi belajar ke kediaman Muhammad bin Hasan di Irak, Imam Malik memberikan beberapa dinar kepada Imam Syafi’i sebagai bekal untuk belajar. Istilahnya sekarang mungkin beasiswa. Bila dihitung dengan kurs rupiah sekarang, uang yang diberikan oleh Imam Malik senilai kurang lebih enam puluh juta rupiah.

Akibat menerima beasiswa dari Imam Malik, Imam Syafi’i mulai berpikir, “Guru-guruku yang miskin tak pernah memberiku bekal seperti ini. Jangan-jangan orang saleh yang punya uang banyak itu memang lebih baik.”

Kendati demikian, Imam Syafi’i masih janggal pada orang saleh yang kaya. Dalam pikirannya, idealnya, orang saleh tak perlu memikirkan dunia dan hidup sederhana.

Sesampai di rumah Muhammad bin Hasan, Imam Syafi’i melihat di meja tamu rumah Muhammad bin Hasan, ada kepingan-kepingan emas. Muhammad bin Hasan biasa menghitung hartanya di ruang tamu.

Imam Syafii semakin janggal. Ternyata calon gurunya lebih kaya dari Imam Malik. Gelagat tidak senang Imam Syafi’i bisa dibaca oleh Muhammad bin Hasan.

“Kamu tak senang ada orang saleh yang kaya?” tanya Muhammad bin Hasan.

“Inggih. Saya kurang suka.”

“Ya sudah kalau begitu kuberikan saja hartaku ini kepada orang yang ahli maksiat. Bagaimana?”

“Waduh. Jangan begitu, Syaikh. Malah bahaya nanti kalau uangnya diberikan ke ahli maksiat.”

“Bila demikian. Berarti tak apa-apa kan bila ada hamba Allah yang saleh kaya?” tanya Muhammad bin Hasan lagi.

Imam Syafi’i mikir-mikir. Lalu dia bilang, “Iya. Tidak masalah, Syaikh. Dari pada diberikan kepada ahli maksiat malah digunakan hal-hal yang berdosa. Malah repot.”

Setelah kejadian itu, Imam Syafi’i tak lagi memiliki pikiran buruk kepada orang saleh yang kaya. Dia menyadari pikirannya yang keliru.

Cerita ini ada di dalam kitab Minan al-Kubro karya Imam Sya’roni..

ILMU FIRASAT IMAM SYAFI’I RA DALAM MEMBACA KARAKTER MANUSIA MELALUI WAJAH

Ketika Mata Laki-Laki Bernama Imam Syafi’i Membaca Perempuan

Imam Syafi’i dengan karyanya yang berjudul ar-Risalah pernah ditanya oleh seseorang, “Wahai Imam apa hukuman jika membunuh orang?”

Sang Imam pun menjawab bahwa membunuh orang adalah perbuatan haram yang dilarang agama, yang pelakunya tidak dimaafkan dan akan dimasukan kedalam neraka.

Beberapa hari kemudian ada orang yang bertanya lagi kepada Imam Syafi’i tentang pertanyaan yang sama. Kemudian Imam Syafi’i menjawab bahwa membunuh adalah perbuatan dosa, akan tetapi pelakunya bisa mendapatkan ampunan tuhan apabila bertaubat dengan sungguh-sungguh.

Murid Imam Syafi’i pun terheran-heran dengan gurunya ini, bagaimana mungkin pertanyaan yang sama dijawab dengan dua jawabanya berbeda. Yang satu pelakukanya tidak akan dimaafkan dan dimasukan kedalam neraka sedangkan yang satunya bisa mendapatkan ampunan.

Kemudian Imam Syafi’i menjawab, “Wahai muridku taukah engkau bahwa orang pertama yang menanyakan ini sedang menaruh dendam dan ingin melakukan pembunuhan. Makanya saya jawab dengan tegas bahwa pelaku pembunuhan tidak akan dimaafkan dan akan dimasukkan dalam neraka. Dengan jawaban ini semoga orang itu tidak akan melakukan pembunuhan.”

Sedangkan orang kedua yang menanyakan ini adalah orang yang pernah membunuh orang, sehingga saya jawab bahwasanya pelaku pembunuhan akan tetap mendapatkan ampunan asalkan mau bertaubat dengan sungguh-sungguh. Semoga dengan jawaban ini dia mau bertaubat dan mengerti bahwasanya ampunan Allah itu maha luas.

Kemudian Muridnya bertanya lagi, Wahai guru dari mana engkau bisa mengetahui hal itu, maka Imam Syafi’i menjawab saya melihat dari sorot matanya.

Ternyata dalam memberikan fatwa ini, Imam Syafi’i tidak hanya menggunakan pendekatan ilmu fikih saja akan tetapi juga menggunakan Ilmu firasat, yaitu suatu ilmu yang digunakan untuk membaca kharakter seseorang dengan melihat anggota tubuhnya.

Walaupun cerita mengenai ilmu firasat ini mashyur akan tetapi Imam Syafi’i tidak membukunya dalam sebuah buku. Imam Syafi’i hanya membukukan ilmu yang berkaitan dengan agama saja, seperti kitab al-Um dan ar-risalah.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Sedangkan ulama yang membukukan ilmu firasat ini adalah Imam ar-Razi dalam dalam kitabnya yang berjudul “Al-Firasat Daliluka Ila Makrifatil Ahlakinnas”. Dalam dunia modern ilmu firasat dinamakan dengan ilmu Fisiognomi.

Yang lebih menarik adalah ada naskah nusantara yang mencatat secara apik mengenai ilmu firasat Imam Syafi’i ini. Penulis menemukan ada dua naskah yang merekam ilmu firasat Imam Syafi’i ini. Naskah pertama dengan judul “Wirasat Sapi’i” dan naskah kedua berjudul “Pirasating Sujalma Miwah Katurangganing Wanita”.

Naskah pertama ini merupakan koleksi Perpustakaan Nasional, dengan nomor panggil Br 8. Naskah ini menggunakan bahasa Jawa dan beraksara Arab-Pegon. Dalam naskah ini bisa kita temukan ilmu firasat Imam Syafi’i untuk mengetahui kharakter seseorang, baik itu perempuan ataupun pria.

Naskah ini memberikan informasi yang cukup detil mengenai kharakter seseorang dilihat dari wajahnya. Ada delapan Aspek dalam wajah yang perlu dicermati untuk bisa menilai kharakter seseorang yaitu bentuk kepala, rambut, dahi, alis, telinga, mata, hidung dan bibir. Setiap bentuk dari delapan aspek ini akan menunjukan kharakter yang berbeda.

Agar lebih mudah berikut di sajikan salah satu aspek dari delapan wajah tersebut, yaitu aspek hidung.

    Hidung panjang menunjukan bahwa seseorang tersebut memiliki watak yang tidak karuan (irung kang pinur cita, wong kadewan irung, tanda budine belasar)

    Hidung tebal menunjukan bahwa orang tersebut bintar bercerita dan memainkan retorika kata-kata (irung kandel ing antara kang ireki tandane sugih cerita)

    Hidung lebar menandakan bahwa orang tersebut suka khawatir (irung jembar lang-langan nireki)

    Hidung agak menjorok kedalam menunjukan bahwa orang tersebut senang dalam syahwat (irung kalungsur asing ing sahwat)

    Hidung yang lebar ujungnya (mancung) menunjukan bahwa orang tersebut suka berbohong (irung kang jembar pucuke, iku tanda gadebus.

    Hidung yang berukuran sedang menunjukan orang tersebut memiliki perilaku yang baik (irung sedeng pertanda becik)

Sedangkan naskah kedua merupakan koleksi dari Perpustakaan Museum Kirti Griya Taman Siswa Yogyakarta dengan nomor panggil MTS.DKG.Bb.1073. Naskah ini ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa Krama dan dengan menggunakan aksara Jawa.

Dalam naskah ini diceritakan banyak kisah tentang Imam Syafi’i dalam menerapkan ilmu firasatnya. Di antaranya Imam Syafi’i bisa menjelaskan dua anak dari seorang perempuan, bahwa anak perempuan tersebut yang satu adalah hasil pernikahan yang sah dan yang satunya adalah sebab zina. Dalam naskah ini juga diceritakan ketika Imam Syafi’i sempat merasa bimbang karena ilmu firasat yang dimiliki meleset untuk mengetahui kharakter seseorang akan tetapi pada akhirnya memang benar bahwa Ilmu firasat Imam Syafi’i itu tepat.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Menurut hemat penulis bahwa ilmu firasat itu berasal dari ilmu titen atau ilmu pengamatan dengan menggunakan landasan kaidah fikih al-Adah muhakkamah (Adat bisa dijadikan hukum). Artinya ilmu ini telah diterapkan kepada banyak orang sehingga muncul suatu kesimpulan atau adat bahwa orang yang memiliki hidung panjang akan memiliki kharakter ini dan yang memiliki hidung pendek akan memiliki kharakter itu.

Dalam naskah ini diterangkan bahwa untuk mengetahui kharakter seseorang harus diperhatikan 18 aspek, berbeda dengan naskah pertama yang hanya menyebutkan delapan aspek saja. Kedelapan belas aspek ini adalah dimulai dari bentuk kepala, rambut, bulu, dahi, alis, telinga, mata, hidung, bibir, gigi, dagu, suara, jenggot, leher, bahu, dada, perut, serta betis.

Hal ini menunjukan bahwa naskah kedua memberikan informasi yang lebih komprhensif dalam menerangkan ilmu firasat daripada naskah yang pertama. Dalam naskah kedua ini juga ditambah ilmu firasat untuk mengetahui kharakter seorang perempuan.

Baca juga:  Al-Ma’mun dan Lelaki Berjenggot

Bahkan bisa dikatakan naskah ini cukup informatif dalam mengabarkan kharakter kaum Hawa ini, tentu saja ya, informasi ini dari sudut pandang laki-laki yang bisa dinilai amat misoginis (Imam Syafi’i laki-laki bukan?). Hal ini karena naskah ini menyajikan lebih dari tiga puluh aspek untuk mengetahui kharakter perempuan.

Sebagaimana contoh naskah ini menuliskan:

“Yen kuning pawakanipun, akas rema tur apanjang, ing pucuk lemes tur dadi, dhasar aking sakunira, punika estri kinaot, abener pangucap ira, iku wong estri srepen, ing candranipun pinunjul, ingaran retna kencana”

Terjemahan

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Kalau kuning badanya, rambut panjang dan lurus serta dipucuknya lembut dan pekat, kakinya kurus kecil itu istri yang baik yang diucapkan selalu berupa pengetahuan yang benar memiliki kelebihan yang disebut mutiara kencana.

Dalam halaman 30 naskah ini juga menerangkan bahwa perempuan yang mempunyai kulit putih banyak bicaranya serta memiliki rambut lurus dan panjang menunjukan bahwa kharakter perempuan yang banyak mendatangkan kenikmatan, banyak dikeberkahi tuhan serta khusuk dalam beragama.

Dan masih banyak aspek-aspek lainnya dalam naskah ini yang menggambarkan secara jelas kharakter perempuan. Bahkan dalam salah satu kitab yang berjudul “Fathul Izar”, wajah perempuan pun juga menunjukan bagaimana organ intimnya. Dalam kitab tersebut ditulisakan:

“Para ahli firasat berkata bila mulut seorang wanita lebar maka besar pula organ intimnya. Bila mulutnya kecil begitupun juga dengan organ intimnya. Bila kedua bibir wanita tebal maka tebal pula bibir organ intimnya.”

Dalam budaya patriarkis-misogonis, cukuplah laki-laki dengan bermodal ilmu ini untuk memilih perempuan yang mau dijadikan istrinya. Tapi apakah ilmu ini masih masuk akal sekarang? Apakah ilmu ini menghormati hak-hak perempuan untuk menerima atau menolak laki-laki, bahkan menolak “kodrat” perempuan menjadi istri seperti Rabiah al-Adawiyah?

INNALILLAH “SANGKAN PARANING DUMADI” MENURUT SUNAN KUDUS

    Yaitu ajaran bahwa Allah adalah Awal dan Akhir, Alfa dan Omega, Dekat sekaligus Transenden.

Tidak dimungkiri masuknya Islam telah memperkaya kebudayaan bangsa ini. Dalam hal bahasa, kosakata dari tradisi Islam–termasuk di dalamnya dari bahasa Arab, Persia, dan lainnya–mengalir deras dari mulut anak bangsa ini sejak sekian lama. Menjadikan kata-kata yang tadinya asing itu bahasa keseharian mereka. Menambah khazanah kata dalam bahasa Melayu dari bahasa dunia yang sebelumnya “didominasi” oleh bahasa Sanskerta.

Di antara ungkapan yang saya maksud di atas adalah “innalillahi wa innailaihirojiun”. Anak bangsa ini menggunakan frasa ini untuk ungkapan atas kesedihan atau kemalangan yang terjadi (KBBI, 2008). Namun, banyak pula ia diujarkan bukan karena memahami maknanya, tapi hanya wujud kekagetan atas segala kemalangan yang terjadi. Ada orang meninggal, innalillahi wa innailaihirojiun. Ada orang mengalami kecelakaan, innalillahi wa innailaihirojiun. Ada bencana alam, innalillahi wa innailaihirojiun.

Kalimat ini biasanya diterjemahkan dengan “Sesungguhnya kita berasal dr Allah dan akan kembali kepada-Nya” (KBBI, 2008). Terjemahan ini sebenarnya hanya memilih makna minimal dari betapa luasnya makna innalillahi wa innailaihirojiun. Sebelum ke maknanya, mari kita lihat dari mana kalimat ini sebenarnya berasal.

Dari Quran, surat al-Baqarah, ayat 156 frasa ini dan fungsinya diajarkan. Kalimat ini akan lebih lengkap dipahami dengan baik bila kita menyebutkan ayat sebelumnya. Allah berfirman dalam ayat 155 – yang salah satu maknanya – bersabda:

“Sungguh, Kami pasti akan terus-menerus menguji kamu berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang bersabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Innā lillāhi wa ‘innā ilaihi rāji‘ūn (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya)…” (Shihab 2009).

Jadi orang-orang yang sabar itu sabar atas beragam cobaan dari Allah. Bukan hanya hilangnya jiwa, baik dari keluarga, kawan karib, maupun kolega, namun juga kehadiran rasa takut, rasa lapar yang sangat, atau kemiskinan. Dalam kondisi malang semacam itu, mereka harus tetap berusaha melakukan amal kebaikan sesuai dengan tuntutan kondisi yang ada.

Bila mempertimbangkan ayat 154 yang berbicara tentang mereka yang gugur di perang di jalan Allah, maka mereka ini yang sahabat-sahabatnya telah gugur yakin bahwa mereka semua akan dipertemukan kembali di akhirat kelak.

    Habib Quraish Shihab menjelaskan “Kami milik Allah. Jika demikian, Dia melakukan apa saja sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi, Allah Maha Bijaksana… Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang, kami akan kembali kepada-Nya sehingga, ketika bertemu nanti, tentulah pertemuan itu adalah pertemuan dengan kasih sayang-Nya.” (Shihab 2009).

Dalam Tafsir Showi, “Innalillah” memiliki makna yang lebih luas dari sekira “kami milik Allah”. Innalillah bermakna manusia “dimiliki dan diciptakan oleh Allah, dan Allah menetapkan kepada manusia apa yang Dia kehendaki”.

Allah tidak berbuat zalim kepada manusia, maka manusia beriman hendaknya yakin bahwa sesuatu yang nampak sebagai kemalangan di mata mereka, memiliki hikmah yang besar di belakangnya.

“Wa innailaihirojiun” bermakna orang-orang yang sabar meyakini bahwa sejak di dunia ini mereka berada dalam proses kembali kepada Allah. Kembali kepada hakikat kemanusiaan yang sebenarnya, yaitu makhluk rohani. “Kembali” setelah berada di kehidupan duniawi artinya mereka yang beriman akan diganjar kelak di akhirat dengan nikmat yang belum pernah dilihat mata, belum didengar telinga, dan belum terbersit dalam hati. Maka dengan keyakinan ini, ujian dari Allah berupa ketakutan akan hukum-hukum-Nya, kelaparan karena puasa, kekurangan harta karena zakat dan sedekah, tertimpa penyakit, dan kematian sanak saudara dan teman karib, semua rasa sedih atas “malapetaka” itu menjadi hilang (Ibnu Ajibah, Tafsir Bahrul Madid, 1999).

Dalam tataran yang berbeda Sunan Kudus disebutkan mengajarkan pemaknaan “Innalillahi”. Ajaran ini terkandung di dalam MS. Or. 3050 halaman 21.

Baris 3. Fashlun. Punika kawikanana tegesing Innalillahi

Baris 4. wa innailaihirojiun. Tegese kang teka saking Pengeran. Lan

Baris 5. Mulihe maring Pengeran. Tegese iku sipta awit paninggaling mukminin

Baris 6. Kang utama. Ing martabat tauhid. ma’arifah. Anapun kang saking

Baris 7. Pengeran. Sekehing karya dinadeken kaya hiki cihnaning sipat

Baris 8. Afa’al Allah. Punika cermening mukminin. Sakathahe anggen ninga

Baris 9. was. Ingkang ngandikan. Jagat kabeh hiki. Iya iku tegesing

Baris 10. Pinungkan. Kabeh saking pengeran. Ing martabat ing mat tauhid

Baris 11. Ma’arifat. Anapun mukminin. Kang sampurna ang raji’ mali

Baris 12. Tingale. Ing sipating dzatullah. Iya iku reke tegese kang mulih maring

Baris 13. Pengeran. Mangka lenyep legot tannana kesuthe. Dening sampurna.

Baris 14. Ma’arifate. Ing Pengeran lan saking siheng Pengeran.

Terjemah:

Baris 3. Satu fasal. Ini adalah penjelasan mengenai Innalillahi

Baris 4. wa innailaihirojiun. Artinya yang datang dari Tuhan. Dan

Baris 5. Kembali kepada Tuhan. Maksudnya menyatakan cara pandang mendasar dari orang beriman

Baris 6. Yang paling utama. Inilah martabat Tauhid Makrifat. Adapun “Berasal dari

Baris 7. Tuhan” adalah semua karya yang diciptakan (oleh-Nya) misalnya semua wujud dari

Baris 8. Tindakan-tindakan Allah. Itulah cermin bagi orang yang beriman. Semua itu pasti jelasnya.

Baris 9. Perkataan “seluruh alam semesta” itulah yang dituju

Baris 10. Dari semua berasal dari Tuhan. Yaitu inilah martabat tauhid

Baris 11. Makrifat. Pastilah bahwa orang mukmin yang sempurna kembalinya kepada

Baris 12. Pandangan terhadap sifat hakikat Allah. Itulah yang kembali kepada

Baris 13. Tuhan. Maka sirna lepas tanpa penghalang menuju kesempurnaan

Baris 14. makrifat akan Tuhan dan (ini) berasal dari rahmat Tuhan.

Di sini ditegaskan bahwa bukan hanya innalillah adalah ucapan semata dari seorang muslim, ia sebenarnya adalah “sipat awit paningaling mukminin kang utama” (cara pandang mendasar dari orang beriman yang paling utama).

Innalillah adalah karakter sejati seorang mukmin. Dengan innalillah seorang mukmin hendaknya melihat dunia ini. Yaitu semuanya bersumber dari Allah dan kembali kepada Allah.

    Bahkan seorang mukmin yang sempurna adalah mereka yang sudah kembali kepada Allah. Maka mereka yang telah kembali itu sirna makrifatnya. Segera setelah menunjukkan yang paling sempurna dari tingkat makrifat ini, Sunan Kudus, mengingatkan agar seorang mukmin menyadari bahwa hal ini tidak terjadi kecuali karena anugerah dari Tuhan semata.

Bukan tidak mungkin bahwa penjelasan akan pentingnya kembali kepada Allah ini, terutama dengan ekspresi Jawa, melahirkan bahasa simbol “Sangkan Paraning Dumadi”. Yaitu ajaran bahwa Allah adalah Awal dan Akhir, Alfa dan Omega, Dekat sekaligus Transenden.

Wallahu a’lam.

PENCATATAN DAN PENGAMALAN SEBAGAI KUNCI ILMU BERMANFAAT

Kiat Meraih Ilmu Manfaat

Meraih ilmu yang bermanfaat tidaklah mudah. Ribuan aral melintang siap menghadang. Otak brilian bukanlah jaminan. Malahan, tak sedikit orang-orang pintar yang mendalami ilmu agama bukannya mendapatkan ilmu bermanfaat, melainkan menjadi oknum-oknum ulama yang justru merongrong akidah agama.

Oleh karena itu, seorang murid yang hendak melangkahkan kakinya untuk menuntut ilmu haruslah terlebih dahulu mengetahui metode belajar yang tepat. Dalam hal ini panduan dari orang tua, para guru, atau mereka yang telah sukses sangatlah diperlukan.

Faktor utama penyebab gagalnya seseorang murid meraih ilmu Rasulullah Saw adalah metode belajar yang keliru. Salah guru, salah kitab dan kesalahan lainnya akan menyebabkan seorang murid salah jalan pula. Berikut adalah panduan tepat dalam meraih ilmu yang bermanfaat  dari al-Imam Habib Ali bin Hasan al-Attas Shohib al-Masyhad.

“Ketahuilah sesungguhnya ilmu pengetahuan ibarat samudera yang tiada bertepi. Luqman al-Hakim pernah ditanya oleh puteranya, “Siapakah yang mampu menampung semua ilmu itu?” “Seluruh manusia” jawab al-Hakim. “Akan tetapi itu sebatas ilmu yang diberikan kepada manusia. Sedangkan Allah menurunkan ilmu di dunia ini dalam bagian yang sedikit saja.” Lanjutnya.

Oleh karena itu, dalam menuntut ilmu, prioritaskanlah ilmu-ilmu yang penting dan bersifat urgen. Mulailah dengan dengan mempelajari kitab-kitab ringkasan (Mukhtasar). Seperti ringkasan Abu Suja’ yang sudah diakui kualitasnya, disertai kitab Bidayatul Hidayah karya al-Ghazali, kitab al-Adzkar karya Imam an-Nawawi. Kemudian dilanjutkan dengan mempelajari kitab al-Minhaj karya an-Nawawi, disertai syarh-syarahnya juga apabila memungkinkan.

Setelah itu, pelajarilah kitab Risalah Qusyairiyah karya Syaikh Abdul Karim al-Qusyairi yang merupakan kitab pedoman bagi pengikut jalan ahlussunnah wal jama’ah. Demikian halnya kitab-kitab karya Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad. Karya-karyanya sangat bagus dan mendidik, terutama kitab an-Nashaih ad-Dinniyah. Kemudian pelajari pula kitab al-‘Awarif karya Syaikh Umar bin Muhammad as-Suhrawardi dan kita Ihya’ Ulumiddin karya Hujjatul Islam al-Ghazali.

Galilah ilmu-ilmu Al-Qur’an dan ilmu-ilmu alatnya yang akan membuatmu mengerti makna-makna yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Dan seandainya mampu, berusahalah menghafalkan Al-Qur’an. Karena terdapat keutamaan yang besar di dalam menghafalkannya. Rasulullah s.a.w bersabda, “Barangsiapa menghafalkan Al-Qur’an maka maqam nubuwah diturunkan ke dalam dirinya, hanya saja ia takkan pernah mendapatkan wahyu.” Bahkan Nabi Musa a.s pernah melukiskan sifat-sifat umat Nabi Muhammad s.a.w di dalam munajatnya. “kitab-kitab suci mereka ada di dalam dada mereka, sedangkan selain mereka membaca kitab suci melalui mushaf-mushaf.” Katanya. Imam Syafi’I berkata, “ apabila seseorang bersedekah dengan niat diberikan kepada qurra’ (orang yang ahli membaca Al-Qur’an), maka sedekah itu diberikan kepada orang-orang yang hafal Al-Qur’an. Dan apabila ada seseorang bersedekah dengan niat diberikan kepada orang yang paling berakal, maka sedekah itu diberikan kepada orang-orang yang berzuhud dari dunia.”

Diantara kitab-kitab tafsir yang sangat penting untuk dibaca dan dipelajari adalah tafsir karya Imam al-Husein bin Mas’ud al-Farra’ al-Baghawi. Tafsir al-Baghawi ini adalah bekal untuk menyelami lautan makna Kalamullah. Para imam Bani Alawi sangat menganjurkan para penuntut ilmu agar membaca tafsir al-Baghawi tersebut.

Jika memungkinkan, sempatkanlah diri mempelajari kitab-kitab adab seperti nahwu, lughot dan selainnya. Janganlah enggan membaca dan menelaahi kitab Maqaamaatul Hariri setelah mempelajarinya dan mendapatkan penjelasan dari seorang guru yang kompeten. Kitab tersebut menjadi referensi para salaf. Syaikh Ahmad bin ‘Ujail berkata, “Maqamatul Hariri adalah sepiring manisan. Kami telah mengambil manfaat yang sangat besar darinya.”

Bacalah pula karya al-Hariri yang lain, kitab al-Malhah. Sebagian ulama meyakini bahwa al-Hariri menyimpan sir-nya dalam kitab tersebut. Kitab ini disyarahi oleh Syaikh Abubakar bin Ali al-Qurasyi. Dan kitab mughni al-labib, karya Syaikh Jamaluddin Abdullah bin Yusuf bin Hisyam al-Anshori. Kitab mughni al-labib ini adalah kitab yang mengandung ilmu pengetahuan yang luas.

Dalam bidang sirah, bacalah kitab al-Iktifa’ karya al-Kula’i dan sirah karya Ibnu Sayid an-Nas.

Dalam bidang tarikh, bacalah kitab Mir’atul Janan wa ‘Ibratal Yaqdhan, karya Imam Abu Muhammad Abdullah bin As’ad bin Ali al-Yafi’i. dan kitab al-Khamis karya Imam Abul Hasan al-Bakrie dan kitab Thabaqat al-khawwas karya as-Syarji.

Dalam bidang hadits, bacalah kitab Shahih Bukhori dan Muslim, Sunan Abu Dawud, Turmudzi, an-Nasai, Ibnu Majah, al-Jami’ as-Shaghir karya  Imam as-Suyuti dan kitab Taisiirul Wusul karya ad-Diba’i al-Yamani.

Untuk mengetahui hak-haknya Nabi Saw, bacalah kitab as-Syifa’ karya al-Qhadi ‘Iyadh. Sedangkan untuk mengetahui hak-hak keluarga Nabi Saw, bacalah kitab al-Iqdun Nabawi karya Habib Syaikh bin Abdullah al-‘Aydrus, kitab al-Jawharus Saffaf karya Syaikh al-Khatib, kitab al-Masra’ur Rawi karya sayid Muhammad bin Abubakar as-Syilli, dan kitab al-‘Ainiyah karya Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi.

Selain kitab-kitab yang telah disebutkan, bacalah juga kumpulan-kumpulan kasidah yang dilazimi oleh para salaf. Diantaranya kasidah al-Hamaziyah dan Burdah karya Imam al-Bushiri beserta syarahnya yang ditulis oleh Syaikh Ibnu Hajar dan Imam al-Mahalli. Dan tatkala kalian mendapatkan permasalahan atau hujan yang tak kunjung diturunkan, bacalah kasidah al-Munfarijah karya Imam al-Bushiri. Maka dengan seizin Allah, segala permasalahan kalian akan mendapatkan jalan keluar dan hujan akan diturunkan.

Janganlah kalian menuntut ilmu kepada sembarangan orang. Akan tetapi carilah seorang guru (syaikh) yang memenuhi tujuh kriteria. Pertama, ilmu pengetahuannya luas. Kedua, sikapnya arif dan rendah hati. Ketiga, memiliki pemahaman yang dalam. Keempat, akhlak dan nasabnya mulia. Kelima, memiliki mata hati yang tajam. Keenam, berhati baik dan riwayat hidupnya baik. Ketujuh, memiliki mata rantai keilmuwan yang bersambung kepada rasulullah s.a.w. dan apabila ada seorang sayid (cucu nabi Saw) memenuhi tujuh kriteria tersebut , maka ia adalah seorang guru yang sempurna. Rasulullah s.a.w bersabda, “Ulama dari golongan Quraiys, ilmunya memenuhi seluruh penjuru bumi.”

Jika kalian mendapatkan seorang guru yang memenuhi kriteria di atas, maka serahkanlah diri kalian kepadanya, sandarkan semua urusan-urusanmu yang penting pada keputusannya, bersikaplah tawadhu kepadanya, jadikanlah ia sebagai perantara kalian untuk sampai kepada Allah, ambillah ijazah riwayat ilmu secara menyeluruh darinya, dapatkanlah ilbas khirqah dan talqin kalimat la ilaaha illallah darinya, ketahui dan penuhilah hak-haknya seperti yang tersebut dalam kitab Ihya’ ulumiddin karya Imam al-Ghozali dan kitab at-Tibyan karya Imam an-Nawawi.

Dan sudah sepantasnya apabila kalian menghormati guru kalian melebihi ulama-ulama yang lain. Dan janganlah sesekali menentang keputusan gurumu dalam setiap persoalan baik yang dhahir maupun yang bathin, agar kalian sampai ke tujuan. Abdullah bin Abbas berkata, “Aku menghinakan diri sewaktu menuntut ilmu, dan diriku menjadi mulia setelah meraihnya.” Bahkan ia tak malu mencium telapak kaki gurunya, Zaid bin Tsabit al-Khazraji.

Diceritakan pula bahwa kedua putera kesayangan Harun ar-Rasyid, al-Amin dan al-Makmun saling berebutan memasangkan sandal guru mereka, al-Kasa’i. sampai-sampai al-Kasa’i menengahi mereka dengan memberikan jalan keluar, yaitu masing-masing memasangkan satu sandal.

Dan janganlah lupa, apabila kalian telah mendapatkan ilmu, maka amalkanlah semampu kalian, disertai selalu memohon pertolongan kepada Allah Swt. “

 

Faedah Ilmu Terletak Pada Pengamalan dan Pencatatannya

Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi yang kita kenal sebagai penyusun kitab  Maulid Simthud Duror, memiliki kepedulian tinggi dan amat bangga terhadap para penuntut ilmu. Sehingga semasa hidupnya, tidak jarang beliau menyempatkan diri duduk di serambi rumahnya untuk menyaksikan para pelajar yang berlalu-lalang di depan kediamannya, berangkat menuju ke tempat mereka menunut ilmu.

Dalam kumpulan kalam beliau yang disusun Habib Umar bin Muhammad Maula Khela, berjudul “Jawahirul Anfas Fii Maa Yurdli Rabban Naas” disebutkan, karena begitu bangganya kepada para penuntut ilmu Al Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi Ra pernah berkata, “Aku doakan agar kalian berumur panjang dan memperoleh fath. Ketahuilah setiap orang yang mengajar sesuai dengan ilmu yang dimiliki, kelak di hari kiamat akan mendapatkan syafaat Rasulullah SAW”.

Habib Ali tak dapat menyembunyikan kegembiraannya bila melihat para pelajar, sampai-sampai beliau berucap, “Jika aku bertemu pelajar yang membawa bukunya, ingin aku mencium kedua matanya”.

Suatu ketika, tepatnya pada hari Ahad, 11 Syawal 1322 Hijriyah, Al- Habib Ali mengundang dan menjamu para pelajar di suatu tempat yang dikenal dengan nama Anisah, yakni tempat yang rindang dan sejuk karena banyaknya pepohonan, sekitar 2 Km dari kota Sewun. Kepada para pelajar itu beliau berkata, “Ketahuilah, hari ini aku mengundang kalian untuk membangkitkan semangat kalian menuntut ilmu. Giatlah belajar, semoga Allah memberkahi kalian”

Tidak itu saja, beliau mengajak para pelajar itu serius menuntut ilmu, sebagaimana dilakukan para salafus shaleh. Dikatakannya, “Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu. Perhatikan para salaf kalian, mereka menghafal berbagai matan (naskah). Mereka telah hafal kitab Az-Zubad, Mulkah I’rob dan Al-Fiyah di masa kecilnya. Setelah dewasa ada yang telah hafal kitab Al Minhaj, Ihya’ Ulumiddin, dan lainnya”.

Beliau mengingatkan agar ketika menuntut ilmu, para pelajar tidak melalaikan peralatan tulisnya. Sebab, itu sudah menjadi kelengkapan bagi seorang penuntut ilmu yang dapat mendatangkan banyak kemanfaatan. Bahkan, menurutnya, jika tidak memperhatikan kelengkapan tersebut bisa mendatangkan aib baginya.

“Aku ingin setiap pelajar membawa alat-alat tulisnya ketika mengikuti pelajaran. Ketahuilah, keuntungan (faedah) ilmu terletak pada pengamalan dan pencatatannya. Sebaliknya, menjadi aib bagi seorang pelajar jika saat mengikuti pelajaran (menuntut ilmu) ia tidak membawa buku dan peralatan tulis lainnya,” tandasnya.

Larang Remehkan Anak-anak

Pada kesempatan tersebut, Al-Habib Ali benar-benar ingin menuntaskan nasehatnya kepada para pelajar yang amat dicintainya itu. Termasuk tidak sekali pun meremehkan nasihat yang diucapkan anak-anak. Beliau menuturkan, “Pelajarilah cara membunuh atau mengendalikan hawa nafsu, adab dan tata krama. Tuntutlah ilmu baik dari orang dewasa maupun anak-anak. Jika yang mengajarkan ilmu jauh lebih muda dari mu janganlah berkata, “Kami tidak mau belajar kepadanya, aib bagi kami”.

Habib juga mengingatkan pelajar agar tidak segan-segan mengulang pelajaran yang telah diterima dari gurunya. Malah, sebaiknya para pelajar dianjurkan untuk membacanya berkali-kali, sebelum guru pembimbing datang mengajarkan ilmunya. “Pelajarilah pelajaran yang hendak kalian bacakan di hadapan guru. Dengan demikian kalian akan memetik manfaatnya. Tauladani apa yang telah dilakukan oleh kebanyakan salaf kita, saat menuntut ilmu,” ajak beliau.

Beliau juga mencontohkan beberapa ulama besar dari kalangan aslafunas shaleh ketika mereka menuntut ilmu, diantaranya Al Habib Ahmad bin Zein Al-Habsyi yang membaca pelajarannya sebanyak 25 kali sebelum mengikuti pelajaran yang disampaikan gurunya. Setelah itu mempelajari lagi sebanyak 25 kali seusai menerima pelajaran dari gurunya. Bahkan, syeikh Fakhrur Razi mengulang-ulang pelajarannya sebanyak 1000 kali. “Sementara kalian hanya (baru) membuka buku ketika berada di depan guru,” tambah beliau mengingatkan.

Di tengah-tengah para pelajar yang serius mengikuti nasehat-nasehatnya, beliau mengingatkan mereka agar menjauhi sifat dengki dan iri hati. Karena kedua sifat ini dapat mencabut keberkahan ilmu yang telah diperoleh. Beliau juga menceritakan pengalamannya ketika masih belajar.

“Ketika aku masih menuntut ilmu di Mekah. Setiap malam aku bersama kakakku Husein dan Alwi Assegaf mempelajari 12 kitab Syarah dari Al Mihaj, lalu menghafalkan semuanya. Pernah pada suatu hari saat nisful lail (akhir malam) ayahku Al Habib Muhammad keluar dari kamarnya dan mendapati kami sedang belajar. Beliau berkata, Wahai anak-anakku kalian masih belajar? Semoga Allah SWT memberkati kalian”.

 

Bahaya Makanan Haram

Pada kesempatan lain Habib Ali menggambarkan betapa gembira Rasulullah SAW jika melihat umatnya bersungguh-sungguh thalabul (mencari) ‘ilmu, kemudian mengamalkannya, dan menyampaikan (menyebarkannya) kepada saudaranya sesama umat Islam.

Beliau berkata, “Tidak ada yang lebih menggembirakan hati Rasulullah Muhammad SAW dari melihat upaya umat beliau menuntut ilmu, lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-harinya, dan menyebarkannya kepada saudaranya. Adakah yang lebih berharga dibandingkan kebahagiaan Habibi Muhammad SAW itu ? Dunia dan akhirat beserta segenap isinya tak mampu menyamai kebahagiaan beliau SAW”

Namun, beliau juga mengakui saat itu telah melihat gejala menurunnya semangat menuntut ilmu agama dan mengamalkan serta menyebarluaskannya di kalangan kaum muslimin. Menurutnya, semangat itu telah tidur terlalu lama, bahkan dikhawatirkan akan mati dalam tidurnya. Semangat itu telah hilang, cinta kepada ilmu telah menipis, keinginan berbuat kebajikan semakin melemah. Barangkali itu merupakan gejala awal rusaknya watak manusia. Putra Habib Muhammad Al-Habsyi ini menyatakan, penyebab utama semua itu adalah telah dikonsumsinya makanan haram oleh sebagian, atau bahkan kebanyakan umat Islam.

Diriwayatkan, bahwa Imam Haromain setiap kali ditanya seseorang selalu dapat menjawab. Imam Haromain adalah salah seorang yang menjadi rujukan (tempat bertanya) masyarakat di zamannya. Beliau menghafal ucapan guru beliau, Abu Bakar Al Baqillaniy yang tertulis dalam 12000 lembar kertas mengenai ilmu ushul. Sedangkan, Imam Sufyan bin Uyainah telah menghafal Al Qur’an dan menerangkan makna-maknanya di depan para ulama ketika ia masih usia 4 tahun. Kapan ia membaca Al Qur’an dan menghafalnya, serta kapan ia mempelajari makna-maknanya ?.

Namun suatu kali Imam Haromain ini tidak berkutik dan tidak dapat menjawab ketika menerima pertanyaan. Orang yang bertanya itu kemudian menanyakan mengapa sampai demikian, tidak biasanya beliau tak bisa menjawab. Lalu, Imam Haromain itu kemudian menjawab, “Mungkin ada susu yang masih tersisa di tubuhku”.

Sang penanya semakin penasaran apa yang dimaksud Imam Haromain. Dia kemudian bertanya lagi, “Apa maksudmu wahai Imam ?”. Beliau menjawab, “Dahulu ketika aku masih menyusui, ayahku sangat wara’ (berhati-hati) dalam menjaga kehalalan dan kebersihan minumanku. Beliau tidak membiarkan ibuku makan sesuatu kecuali yang benar-benar halal”.

Al Imam melanjutkan, “Suatu hari seorang budak wanita keluarga Fulan masuk ke rumah kami, tanpa sepengetahuan ibuku. Budak itu meletakkan aku di pangkuannya kemudian menyusuiku. Mengetahui hal itu ayahku sangat marah lalu memasukkan jari tangannya ke dalam mulutku, sehingga aku dapat memuntahkan semua susu yang baru saja kuminum dari budak itu. Namun, rupanya masih ada susu yang tersisa”.

Akhirnya Al Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi berwasiat kepada anak cucu dan keturunannya, termasuk kita semua, agar selalu meniru sikap dan tindakan para salaf ketika mencari ilmu dan beramal ibadah. Beliau berkata, “Wahai anak-anakku sekalian, jika kalian mau berusaha dengan sungguh-sunguh, maka bagimu kesempatan masih amat terbuka. Tauladani amal para salaf. Janganlah kalian menganggap mustahil mujahadah yang telah dilakukan orang-orang terdahulu, sebab mereka diberi kekuatan dhohir-bathin oleh Allah SWT”.

Beliau semakin menekankan perlunya mencontoh amal para salaf. Dituturkannya, “Mereka juga mempunyai niat dan tekad yang kuat untuk mencontoh para pendahulunya dalam berilmu dan beramal. Ketahuilah tidak ada yang menyebabkan manusia rugi, kecuali keengganan mereka mengkaji buku-buku sejarah kehidupan kaum sholihin. Jika riwayat hidup mereka dibacakan kepada orang mukmin, iman mereka akan semakin teguh kepada Allah SWT”.

KEAGUNGAN KISAH HIDUP PARA TOKOH SUFI

Imam Al-Ghazali, Hujjah Al-Islam

Karya Imam Al-Ghazali tidak hanya mendahului zamannya, tetapi juga melampui pengetahuan kontemporer mengenai masalah-masalah tersebut. Pada waktu opini disampaikan secara tertulis, dipisahkan apakah indoktrinasi (jelas maupun terselubung) diinginkan atau sebaliknya, juga apakah mutlak atau tidak.

Imam Al-Ghazali tidak hanya menjelaskan apakah orang-orang yang menciptakan kepercayaan, kemungkinan dalam keadaan terobsesi; dengan jelas ia menyatakan, sesuai dengan prinsip-prinsip Sufi, bahwa hal itu bukannya tidak dapat dielakkan secara mutlak, tetapi menegaskan bahwa hal itu esensial untuk manusia agar dapat mengenalinya.

Buku-bukunya dibakar oleh kaum fanatik Mediteranian dari Spanyol sampai Syria. Sekarang ini memang tidak dilempar ke dalam api, tetapi pengaruhnya, kecuali diantara kaum Sufi, mulai melemah; buku-buku tersebut tidak lagi banyak dibaca.

Menurutnya, perbedaan antara opini dan pengetahuan adalah sesuatu yang dapat hilang dengan mudah. Ketika hal ini terjadi, merupakan kewajiban atas mereka yang mengetahui perbedaan tersebut untuk menjelaskannya sebisa mungkin.

Kendati penemuan-penemuan, psikologi dan ilmu pengetahuan Imam Al-Ghazali, dihargai secara luas oleh bermacam kalangan akademis, tetapi tidak diperhatikan sebagaimana mestinya, karena ia (Al-Ghazali) secara spesifik menyangkal metode ilmiah atau logika sebagai sumber asli atau awal. Ia berada pada pengetahuannya melalui pendidikan Sufismenya, diantara kaum Sufi, dan melalui bentuk pemahaman langsung tentang kebenaran yang sama sekali tidak berhubungan dengan intelektual secara mekanis.

Tentu saja, hal ini membuatnya berada di luar lingkaran kalangan ilmuwan. Apa yang lebih menimbulkan penasaran adalah bahwa temuan-temuannya begitu menakjubkan hingga orang akan berpikir, bahwa para penyelidik ingin mengetahui bagaimana dia telah menempuh atau mendapatkannya.

‘Mistisisme’ dijuluki dengan sebutan yang buruk seperti seekor anjing dalam sebuah peribahasa, jika tidak dapat digantung, setidaknya boleh diabaikan. Ini merupakan ukuran pelajaran psikologi: terimalah penemuan seseorang jika engkau tidak dapat menyangkalnya, sebaliknya abaikan metodenya jika tidak mengikuti keyakinanmu akan metode.

Jika Imam Al-Ghazali tidak menghasilkan karya yang bermanfaat, secara alamiah ia akan dihargai hanya sebagai ahli mistik, dan membuktikan bahwa mistisisme tidak produktif, secara edukatif maupun sosial.

Pengaruh Imam Al-Ghazali pada pemikiran Barat diakui sangat besar dalam semua sisi. Tetapi pengaruh itu sendiri menunjukkan hasil suatu pengondisian; para filsuf Kristen abad pertengahan yang telah banyak mengadopsi gagasan Al-Ghazali secara sangat selektif, sepenuhnya mengabaikan bagian-bagian yang telah memperlakukan kegiatan indoktrinasi mereka.

Upaya membawa cara pemikiran al-Ghazali kepada audiens yang lebih luas, daripada kepada Sufi yang terhitung kecil jumlahnya, merupakan perbedaan final antara keyakinan dan obsesi. Ia menekankan peran pendidikan dalam penanaman keyakinan religius, dan mengajak pembacanya untuk mengamati keterlibatan suatu mekanisme.

Ia bersikeras pada penjelasan, bahwa mereka yang terpelajar, mungkin saja dan bahkan sering, menjadi bodoh fanatik, dan terobsesi. Ia menegaskan bahwa, disamping mempunyai informasi serta dapat mereproduksinya, terdapat suatu pengetahuan serupa, yang terjadi pada bentuk pemikiran manusia yang lebih tinggi.

Kebiasaan mengacaukan opini dan pengetahuan, adalah kebiasaan yang sering dijumpai setiap hari pada saat ini, Imam Al-Ghazali menganggapnya seperti wabah penyakit.

Dalam memandang semua ini, dengan ilustrasi berlimpah serta dalam sebuah atmosfir yang tidak kondusif bagi sikap-sikap ilmiah, Imam Al-Ghazali tidak hanya memainkan peranan sebagai seorang ahli diagnosa. Ia telah memperoleh pengetahuannya sendiri dalam sikap aufistik, dan menyadari bahwa pemahaman lebih tinggi—menjadi seorang Sufi—hanya mungkin bagi orang-orang yang dapat melihat dan menghindari fenomena yang digambarkannya.

Imam Al-Ghazali telah menghasilkan sejumlah buku dan menerbitkan banyak ajaran. Kontribusinya terhadap pemikiran manusia dan relevansi gagasan-gagasannya, ratusan tahun kemudian tidak diragukan lagi. Mari kita perbaiki sebagian kelalaian pendahulu-pendahulu kita, dengan melihat apa yang dikatakannya tentang metode. Apakah yang dimaksud dengan ‘Cara Al-Ghazali’? Apa yang harus dilakukan seseorang agar menyukainya, orang yang diakui sebagai salah seorang tokoh besar dunia bidang filsafat dan psikologi?

Menyinggung Tarekat, Imam Al-Ghazali berkata, “Seorang manusia bukanlah manusia jika tendensinya meliputi kesenangan diri, ketamakan, amarah dan menyerang orang lain.”

Ia mengatakan, seorang murid harus mengurangi sampai batas minimun, perhatiannya terhadap hal-hal biasa seperti masyarakat dan lingkungannya, karena kapasitas perhatian (sangatlah) terbatas.

Seorang murid, lanjut Al-Ghazali, haruslah menghargai guru seperti seorang dokter yang tahu cara mengobati pasien. Ia akan melayani gurunya. Kaum Sufi mengajar dengan cara yang tidak diharapkan. Seorang dokter berpengalaman akan menentukan sebuah perlakuan-perlakuan tertentu dengan benar. “Kendati pengamat luar mungkin saja sangat terpesona terhadap apa yang ia katakan dan lakukan; ia akan gagal melihat pentingnya atau relevansi prosedur yang diikuti,” ujarnya.

Inilah mengapa, tidak mungkin bagi murid dapat mengajukan pertanyaan yang benar pada waktu yang tepat. Tetapi guru tahu apa dan kapan seseorang dapat mengerti.

Imam al-Ghazali menekankan pada hubungan dan juga perbedaan antara kontak sosial atau kontak yang bersifat pengalihan dari orang-orang, dan kontak yang lebih tinggi. “Apa yang menghalangi kemajuan individu dan sebuah kelompok orang-orang, dari permulaan yang patut dipuji, adalah proses stabilisasi mereka sendiri terhadap pengulangan (repetisi) dan basis sosial apa yang tersembunyi,” katanya.

Terkait dengan cinta dan ketertarikan diri, Al-Ghazali mengatakan, jika seseorang mencintai orang lain karena memberinya kesenangan, seharusnya ia tidak menganggap bahwa ia mencintai orang tersebut sama sekali. “Cinta pada kenyataannya adalah—kendati hal ini tidak disadari—ditujukan pada kesenangan.”

“Sumber kesenangan merupakan sasaran perhatian sekunder, dan hal itu dirasakan hanya karena persepsi mengenai kesenangan tidak cukup baik dikembangkan untuk mengenali dan menggambarkan perasaan yang sebenarnya,” jelasnya.

Umar Khayyam, Dikenang Tapi tak Dikenal

Umar Khayyam adalah seorang filsuf, ilmuwan dan pelatih penting dalam Sufisme. Namanya terkenal di dalam literatur Eropa, terutama karena Edward Fitzgerald, yang di zaman Victoria telah mempublikasikan beberapa kwartrin Umar dalam bahasa Inggris.

Perlu dicatat, Fitzgerald—seperti banyak para sarjana Timur lain—telah membayangkan bahwa karena Umar Khayyam pada masanya berbicara tentang pandangan-pandangan yang bertentangan secara luas. Ia sendiri adalah korban beberapa perubahan pemikiran.

Sikap ini, yang merupakan karakteristik beberapa akademisi, hanya seperti orang yang berpikir bahwa jika seseorang menunjukkan sesuatu kepadamu, ia harus percaya; dan bila ia menunjukkan beberapa hal kepadamu, ia harus menjadi subyek (sasaran) identifikasi dengan hal-hal tersebut.

Lebih jauh lagi, Fitzgerald sebenarnya bersalah karena miskinnya kapasitas berpikir. Penyisipan (interpolasi)-nya terhadap propaganda anti-Sufi dalam rujukannya tentang Umar Khayyam, tidak dapat dimaafkan bahkan oleh pendukung-pendukung utamanya. Akibatnya, mereka cenderung mengabaikan ketidakjujuran yang luar biasa ini, dan berteriak tentang hal lain.

Puisi-puisi ajaran Umar Khayyam, serta anggota lain dari sekolahnya yang akhirnya menerima materi ini, didasarkan pada terminologi dan kiasan-kiasan (alegori) khusus tentang Sufisme. Sebuah investigasi dan penerjemahan utuh telah dikerjakan oleh Swami Govinda Tirtha pada 1941, diterbitkan dengan judul The Nectar of Grace.

Buku ini sebenarnya merupakan kata akhir pertanyaan mengenai makna materi (sejauh hal itu dapat diubah urutannya dalam bahasa Inggris). Menarik untuk dicatat, bahwa beberapa (tidak banyak) para sarjana Barat telah memanfaatkan karya esensial ini dalam eksposisi mereka tentang Umar Khayyam.

Akibatnya, adalah bahwa secara efektif Umar Khayyam tetap dikenang tetapi tidak terkenal.

Rahasia harus tersimpan dari semua makhluk

Misteri harus tersembunyi dari semua orang bodoh

Lihat apa yang engkau lakukan kepada manusia

Sang Penglihat harus tersembunyi dari semua orang.

Lingkaran dunia ini seperti sebuah cincin

Tidak diragukan lagi kalau kita semua

adalah Naqsy, Rancangan ketetapannya.

Dalam bilik kecil dan beranda biara,

dalam biara Kristen dan gereja Yahudi

Di sini orang takut akan Neraka dan lainnya bermimpi tentang Surga.

Tetapi dia yang tahu rahasia-rahasia Tuhannya

Tidak menanam benih seperti ini dalam hatinya.

Aku minum anggur, dari kanan dan kiri mengatakan

“Minum tidak Minum karena itu adalah menentang Iman.”

Karena Aku tahu anggur menentang Iman,

Demi Tuhan, biarkan aku minum—darah musuh sah bagiku.

Kendati ‘anggur’ dilarang, ini menurut siapa yang meminumnya,

Seberapa banyak, juga dengan siapa mabuk.

Jika tiga syarat ini dipenuhi; bicara jujur

Lalu, jika Sang Bijak tidak minum ‘anggur’,

siapa yang harus?

Mereka yang mencoba mengasingkan diri dan

mereka yang menghabiskan malam dengan doa,

Tidak seorang pun berada di tanah kering, semua di laut.

Seorang terjaga, dan semua yang lain terlelap.

Aku tertidur, dan Sang Bijak mengatakan padaku

“Tidur, mawar kebahagiaan tidak pernah berkembang.

Mengapa kau melakukan sesuatu yang dekat kepada kematian?

Minumlah ‘anggur’, maka kau akan tidur panjang.”

Sahabat, jika engkau tetap berada dalam suatu pertemuan

Engkau harus banyak mengingat Sahabat.

Ketika engkau berhasil minum bersama,

Ketika giliranku tiba, ‘maka baliklah gelasnya’.

Mereka yang telah pergi sebelum kita, Wahai Pembawa cangkir,

Tidur dalam debu harga diri.

Pergilah, minum ‘anggur’, dan dengarkan dariku Kebenaran:

Apa yang mereka miliki hanya dikatakan dalam tangan kita,

Wahai Pembawa-cangkir

Engkau bukanlah emas, orang tidak peduli

Bahwa, sekali diletakkan di bumi, seseorang

Akan membawamu keluar lagi.

Tahukah engkau apakah manusia bumi itu, Khayyam

Sebuah lentera imajinasi, dan berada di dalam lampu.

Jangan Bertangan Hampa

Ambillah beberapa saripati dari Sini menuju Sana

Engkau tidak akan beruntung jika pergi dengan tangan hampa.

Setiap kelompok mempunyai teori tentang aku

Aku adalah diriku; apakah Aku, Aku.

 

Fariduddin Ath-Thar, Si Penyebar Wangi

Nama lengkapnya Fariduddin Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim, namun lebih dikenal dengan sebutan Ath-Thar, si penyebar wangi. Meskipun sedikit yang diketahui tentang riwayat hidupnya, dapat dikatakan bahwa ia dilahirkan pada 1120 Masehi dekat Nisapur, Persia. Berdasarkan catatan pribadinya yang tersebar di sejumlah tulisannya, Ath-Thar melewatkan tiga belas tahun masa mudanya di Meshed.

Suatu hari, konon Ath-Thar sedang duduk dengan seorang kawannya di depan pintu kedainya, ketika seorang darwis datang mendekat, singgah sebentar, mencium bau wangi, kemudian menarik nafas panjang dan menangis. Ath-Thar mengira darwis itu berusaha hendak membangkitkan belas kasihan mereka, lalu menyuruhnya pergi.

“Baik,” kata si darwis. “Tak ada satu pun yang menghalangi aku meninggalkan pintumu dan mengucapkan selamat tinggal pada dunia ini. Apa yang kupunya hanyalah khirka lusuh ini. Tetapi aku sedih memikirkanmu, Ath-Thar. Mana mungkin kau pernah memikirkan maut dan meninggalkan segala harta duniawi ini?”

Ath-Thar menjawab bahwa ia berharap akan mengakhiri hidupnya dalam kemiskinan dan kepuasan sebagai seorang darwis.

“Kita tunggu saja,” kata darwis itu, dan segera sesudah itu ia pun merebahkan diri dan mati.

Peristiwa ini menimbulkan kesan yang mendalam di hati Ath-Thar sehingga ia meninggalkan kedai ayahnya, menjadi murid Syekh Buknuddin yang terkenal, dan mulai mempelajari sistem pemikiran Sufi, dalam teori dan praktik.

Hampir 40 tahun lamanya ia mengembara ke berbagai negeri, belajar di pemukiman-pemukiman para syekh dan mengumpulkan tulisan-tulisan para sufi yang saleh, sekalian dengan legenda-legenda dan cerita-cerita mereka.

Setelah itu Ath-Thar kembali ke Nisapur, di mana ia melewatkan sisa hidupnya. Konon ia memiliki pengertian yang lebih dalam tentang alam pikiran sufi dibandingkan dengan siapa pun di zamannya. Ia menulis sekitar 200.000 sajak, 114 buku, termasuk masterpiece-nya, Musyawarah Burung.

Semasa hidupnya, selain menulis Musyawarah Burung, ia juga menulis prosa yang tak kurang tenarnya; Kenang-Kenangan Para Sufi dan Buku Bijak Bestari. Musyawarah Burung yang ditulis dalam gaya sajak alegoris ini, melambangkan kehidupan dan ajaran kaum sufi.

Kendati Ath-Thar merupakan salah seorang guru sufi besar dalam literatur klasik, dan pengilham Rumi, dongeng dan ajaran-ajaran guru-guru Sufi dalam karyanya Kenang-Kenangan Para Sufi, harus menunggu hampir tujuh setengah abad untuk diterjemahkan dalam bahasa Inggris.

Ath-Thar hidup sebelum Jalaluddin Rumi. Ketika ditanya siapa yang lebih pandai di antara keduanya itu, seorang menjawab, “Rumi membubung ke puncak kesempurnaan bagai rajawali dalam sekejap mata. Ath-Thar mencapai tempat itu juga dengan merayap seperti semut.

Padahal Rumi sendiri berkata, “Ath-Thar ialah jiwa itu sendiri.”

Ajaran-ajaran Ath-Thar banyak disertai gambaran-gambaran biografi, fabel, pepatah dan apologi, yang tidak hanya mengandung ajaran moral tetapi kiasan-kiasan yang menggambarkan tentang tahap-tahap khusus perkembangan manusia. Misalnya dalam Musyawarah Burung, ia membuat sketsa tahap-tahap individual dalam kesadaran manusia, meski hal ini direpresentasikan sebagai kejadian terhadap individu yang berbeda atau terhadap suatu komunitas seluruhnya.

Ath-Thar menggunakan tema suatu ‘perjalanan’ atau ‘pencarian’ sebagai analogi dari tahap-tahap keberhasilan jiwa manusia dalam mencari kesempurnaan.

Tradisi-tradisi sufisme menegaskan bahwa karya Ath-Thar sangat penting, karena dengan membaca secara keseluruhan akan membantu menegakkan struktur sosial dan standar etika Islam. Sementara seleksi-seleksi khususnya mengandung materi inisiator yang tersembunyi oleh bagian-bagian teologikal yang berat.

Ath-Thar menolak untuk menerima tanda jasa dari kaki tangan penjajah Mongolia, di Asia Tengah. Ia dikabarkan wafat di tangan tentara Jengis Khan, setelah membubarkan murid-muridnya—dengan mengirim mereka ke tempat-tempat aman—ketika memprediksi invasi Mongol pada abad ke-13. Ia diperkirakan meninggal dunia sekitar tahun 1230, dalam usia 110 tahun.

Syekh Abdul Qodir Jaelani, Berpegang pada Sunah

Nama Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani adalah Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qodir bin Abi Shalih Zango Dost Al-Jaelani. Ia lahir di Jailan atau Kailan pada 470 H/1077 M, sehingga di akhir namanya ditambahkan kata Al-Jaelani atau Al-Kailani atau juga Al-Jiliydan.

Dalam usia 8 tahun, Abdul Qodir sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada 488 H/1095 M. Ia tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang kala itu dipimpin Ahmad Al-Ghazali, menggantikan saudaranya Abu Hamid Al-Ghazali. Di Baghdad beliau belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khathat, Abul Husein Al-Farra’ dan juga Abu Sa’ad Al-Mukharrimi.

Ia menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut hingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama. Dengan kemampuan itu, Abu Sa’ad Al-Mukharrimi yang membangun sekolah kecil-kecilan di daerah Babul Azaj, menyerahkan pengelolaan sekolah itu sepenuhnya kepada Syekh Abdul Qodir Jaelani.

Ia mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memberikan nasihat kepada orang-orang di sekitar sekolah tersebut. Banyak orang yang bertaubat setelah mendengar nasihatnya. Banyak pula orang yang bersimpati kepadanya, lalu datang menimba ilmu hingga sekolah itu tidak mampu menampung lagi.

Murid-murid Syekh Abdul Qodir banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti Al-Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam, Syekh Qudamah, penyusun kitab fiqh terkenal Al-Mughni.

Syekh Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama beliau selama satu bulan sembilan hari. Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syekh Abdul Qodir sampai ia meninggal dunia.

Menurut Ibnu Qudamah, Syekh Abdul Qodir adalah seorang yang berilmu, berakidah Ahlus Sunnah, dan mengikuti jalan Salafush Shalih. “Beliau dikenal banyak memiliki karamah. Tetapi banyak (pula) orang yang membuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, tarekat (jalan) yang berbeda dengan jalan Rasulullah, para sahabatnya, dan lainnya,” kata Ibnu Qudamah.

Imam Ibnu Rajab juga berkata, “Syekh Abdul Qodir Jaelani memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu makrifat yang sesuai dengan sunnah.”

Beberapa karya Syekh Abdul Qodir Jaelani antara lain Al-Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq dan Futuhul Ghaib. Murid-muridnya mengumpulkan ihwal yang berkaitan dengan nasihat dari majelis-majelisnya. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang dengan sunah. Ia membantah dengan keras terhadap orang-orang yang menyelisihi sunah.

Syekh Abdul Qodir adalah seorang alim, salafi, sunni, namun banyak orang yang menyanjung dan membuat kedustaan atas namanya. Sedangkan ia berlepas diri dari semua kebohongan itu.

Syekh Abdul Qodir Jaelani adalah seorang ulama besar, yang juga dikenal sebagai pendiri sekaligus penyebar salah satu tarekat terbesar di dunia; Tarekat Qodiriyah.

Apabila sekarang ini banyak kaum Muslimin menyanjung-nyanjung dan mencintainya, maka itu adalah suatu kewajaran. Bahkan suatu keharusan. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan derajatnya di atas Rasulullah SAW, maka hal ini merupakan kekeliruan yang fatal. Karena Rasulullah SAW adalah Nabi dan Rasul yang paling mulia di antara para nabi dan rasul. Derajatnya tidak akan terkalahkan di sisi Allah oleh manusia manapun.

Adapun sebagian kaum Muslimin yang menjadikan Syekh Abdul Qodir Jaelani sebagai wasilah (perantara) dalam doa mereka, berkeyakinan bahwa doa seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah, kecuali dengan perantaraannya. Ini juga merupakan kesesatan.

Menjadikan orang yang meninggal sebagai perantara tidak ada syariatnya, dan ini diharamkan. Apalagi kalau ada orang yang berdoa kepada beliau. Ini adalah sebuah kesyirikan besar. Sebab doa merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak diberikan kepada selain Allah.

Allah SWT melarang mahluknya berdoa kepada selain Dia. “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya disamping (menyembah) Allah.” (QS Al-Jin: 18)

Sudah menjadi keharusan bagi setiap Muslim untuk memperlakukan para ulama dengan sebaik mungkin, namun tetap dalam batas-batas yang telah ditetapkan syariat.

Syekh Abdul Qodir Jaelani wafat Sabtu malam selepas Maghrib, pada 9 Rabiul Akhir 561 H/1166 M di daerah Babul Azaj, Baghdad.

Abu Nawas, Penyair Ulung Nan Jenaka

Tuhanku, hamba tidaklah pantas menjadi penghuni surga (Firdaus).

Namun, hamba juga tidak kuat menahan panas api neraka.

Maka perkenankanlah hamba bertobat dan ampunilah dosa-dosa hamba.

Karena sesungguhnya Engkau Pengampun dosa-dosa besar.

Dua bait syair di atas tentu sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia terutama kaum tradisionalis Islam. Beberapa saat menjelang shalat Magrib atau Subuh, jemaah di masjid-masjid atau musala di pedesaan biasanya mendendangkan syair tersebut dengan syahdu sebagai puji-pujian. Konon, kedua bait tersebut adalah hasil karya tokoh kocak Abu Nawas. Ia adalah salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Abu Nawas juga muncul beberapa kali dalam kisah 1001 Malam.

Bagi masyarakat Islam Indonesia, nama Abu Nawas atau Abu Nuwas juga bukan lagi sesuatu yang asing. Abu Nawas dikenal terutama karena kelihaian dan kecerdikannya melontarkan kritik-kritik tetapi dibungkus humor. Mirip dengan Nasrudin Hoja, sesungguhnya ia adalah tokoh sufi, filsuf, sekaligus penyair. Ia hidup di zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814 M).

Selain cerdik, Abu Nawas juga dikenal dengan kenyentrikannya. Sebagai penyair, mula-mula ia suka mabuk. Belakangan, dalam perjalanan spiritualnya mencari hakikat Allah dan kehidupan sejati, ia menemukan kehidupan ruhaniahnya yang sejati meski penuh liku dan sangat mengharukan. Setelah mencapai tingkat spiritual yang cukup tinggi, inspirasi puisinya bukan lagi khamar, melainkan nilai-nilai ketuhanan. Ia tampil sebagai penyair sufi yang tiada banding.

Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang), dengan darah dari ayah Arab dan ibu Persia mengalir di tubuhnya. Ayahnya, Hani Al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.

Masa mudanya penuh yang kontroversi yang membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya juga sarat dengan nilai sprirtual, disamping cita rasa kemanusiaan dan keadilan.

Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga belajar Alquran kepada Ya’qub Al-Hadrami. Sementara dalam Ilmu Hadis, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said Al-Qattan, dan Azhar bin Sa’ad As-Samman.

Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab Al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah.

Di Kufah bakat Abu Nawas digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup bersama orang-orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa Arab.

Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di pusat peradaban Dinasti Abbasyiah inilah ia berkumpul dengan para penyair. Berkat kehebatannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan dengan para bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan para bangsawan inilah puisi-puisinya pada masa itu berubah, yakni cenderung memuja dan menjilat penguasa.

Dalam Al-Wasith fil Adabil ‘Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal di dunia intelektual. Ia hanya dipandang sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan tidak lazim. Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun Al-Rasyid. Melalui musikus istana, Ishaq Al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair istana (Sya’irul Bilad).

Sikapnya yang jenaka menjadikan perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia. Kedekatannya dengan kekuasaan juga pernah menjerumuskannya ke dalam penjara. Pasalnya, suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah. Tentu saja Khalifah murka, lantas memenjarakannya.

Setelah bebas, ia berpaling dari Khalifah dan mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia meninggalkan Baghdad setelah keluarga Barmak jatuh pada tahun 803 M. Setelah itu ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid Al-Ajami. Tetapi, ia kembali lagi ke Baghdad setelah Harun Al-Rasyid meninggal dan digantikan oleh Al-Amin.

Sejak mendekam di penjara, syair-syair Abu Nawas berubah, menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah. Dua bait syair di atas merupakan salah satu syairnya yang dapat dipahami sebagai salah satu ungkapan rasa spiritual yang dalam.

Memang, pencapaiannya dalam menulis puisi diilhami kegemarannya melakukan maksiat. Tetapi, justru di jalan gelap itulah, Abu Nawas menemukan nilai-nilai ketuhanan. Sajak-sajak tobatnya bisa ditafisrkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Meski dekat dengan Sultan Harun Al-Rasyid, Abu Nawas tak selamanya hidup dalam kegemerlapan duniawi. Ia pernah hidup dalam kegelapan—tetapi yang justru membawa keberkahan tersendiri.

Seorang sahabatnya, Abu Hifan bin Yusuf bin Dayah, memberi kesaksian, akhir hayat Abu Nawas sangat diwarnai dengan kegiatan ibadah. Beberapa sajaknya menguatkan hal itu. Salah satu bait puisinya yang sangat indah merupakan ungkapan rasa sesal yang amat dalam akan masa lalunya.

Mengenai tahun meningalnya, banyak versi yang saling berbeda. Ada yang menyebutkan tahun 190 H/806 M, ada pula yang 195H/810 M, atau 196 H/811 M. Sementara yang lain tahun 198 H/813 M dan tahun 199 H/814 M. Konon Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh seseorang yang disuruh oleh keluarga Nawbakhti—yang menaruh dendam kepadanya. Ia dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad.

Sejumlah puisi Abu Nawas dihimpun dalam Diwan Abu Nuwas yang telah dicetak dalam berbagai bahasa. Ada yang diterbitkan di Wina, Austria (1885), di Greifswald (1861), di Kairo, Mesir (1277 H/1860 M), Beirut, Lebanon (1301 H/1884 M), Bombay, India (1312 H/1894 M). Beberapa manuskrip puisinya tersimpan di perpustakaan Berlin, Wina, Leiden, Bodliana, dan Mosul.

Salah satu cerita menarik berkenaan dengan Abu Nawas adalah saat menejelang sakaratul mautnya. Konon, sebelum mati ia minta keluarganya mengkafaninya dengan kain bekas yang lusuh. Agar kelak jika Malaikat Munkar dan Nakir datang ke kuburnya, Abu Nawas dapat menolak dan mengatakan. “Tuhan, kedua malaikat itu tidak melihat kain kafan saya yang sudah compang-camping dan lapuk ini. Itu artinya saya penghuni kubur yang sudah lama.”

Tentu ini hanyalah sebuah lelucon, dan memang kita selama ini hanya menyelami misteri kehidupan dan perjalanan tohoh sufi yang penuh liku dan sarat hikmah ini dalam lelucon dan tawa.

Fatimah An-Nishaburiya

Gelimang harta tak mampu memikat hati Fatimah An-Nishaburiya. Perempuan asal Khurasan, Iran, itu melepaskan diri dari jerat materi dan lebih memilih untuk menyusuri jalan spiritual.

Padahal, ia adalah putri seorang pangeran. Ia mendalami tasawuf dan di kemudian hari menjadi sosok sufi perempuan yang bereputasi tinggi.

Pasangan hidupnya juga seorang sufi ternama, Ahmad bin Khudruya. Ia menawarkan dirinya untuk dinikahi sang sufi tersebut. Utusannya mengirim pesan kepada Ahmad agar melamarnya menjadi istrinya. Ahmad semula tak memberikan respons. Lalu, Fatimah kembali mengirimkan utusannya yang kedua kali.

Ahmad akhirnya tergerak menikahi Fatimah. Pernikahan mereka langgeng. Fatimah bersama suaminya di sepanjang hidupnya. Sementara itu, jalan sufi yang ditempuhnya mengantarkan Fatimah pada pertemuan mengesankan dengan sufi-sufi ternama. Ia bertemu Dzun-Nun Al-Misri, guru dari Mesir dan Bayazid Bistami.

Mereka menjalin serangkaian diskusi bagaimana menjalin cinta dengan Tuhan. Omaima Abou-Bakr, profesor bahasa Inggris dan perbandingan literatur dari Cairo University, mengatakan Dzun-Nun melontarkan pujian kepada Fatimah. Ia menyatakan bahwa Fatimah merupakan sosok sufi sejati, bahkan ia menyebut Fatimah sebagai gurunya.

Sadia Dehlvi dalam artikelnya, Mystic Women, menuliskan, saat seseorang bertanya kepada Dzun-Nun, siapa yang paling tinggi tingkatannya di antara para sufi, ia memberikan jawaban, “Seorang perempuan di Makkah bernama Fatimah An-Nishaburiyah, yang sangat memahami Alquran.”

Dengan cara yang sama, Bistami menyampaikan sanjungannya. “Dalam seluruh hidupku, aku hanya mengenal satu-satunya perempuan yang layak dipuji, dia adalah Fatimah.” Pujian ini didorong oleh kekaguman dan kekagetan Bistami setelah mengetahui ternyata Fatimah bukan hanya mengetahui stasiun-stasiun spiritual.

Fatimah juga telah mereguk pengalaman dari setiap stasiun-stasiun spiritual tersebut. Bistami menarik kesimpulan dari pengamatannya, sebelum Fatimah mengungkapkan soal pengetahuan dan pengalaman spiritualnya. Pemahamannya yang tinggi terhadap konsep tasawuf membuat Fatimah juga pernah mendebat sufi sekelas Dzun-Nun.

 

Suatu saat, Dzun-Nun pernah menolak sebuah pemberian yang dikirimkan Fatimah kepadanya. Ia menegaskan, tak bisa menerima hadiah yang diberikan seorang perempuan. Tak terima pemberiannya ditolak, dengan kata-kata bijaknya Fatimah membuat Dzun-Nun menanggung malu.

Ia meminta Dzun-Nun meninjau kembali konsep-konsep dasar tasawuf yang mungkin dia lupakan. “Seorang sufi sejati tak melihat penyebab sekunder, tetapi selalu mengacu pada pemberi yang abadi, yaitu Tuhan,” kata Fatimah. Dalam persahabatan yang dijalinnya dengan Bistami, Fatimah kerap membicarakan soal jalan-jalan spiritual.

Persahabatan itu terjalin erat hingga pada suatu hari ikatannya agak memudar. Ini bermula dari pertanyaan Dzun-Nun tentang inai pada sepasang tangan Fatimah. Menurut Annemarie Schimmel, dalam bukunya, Jiwaku adalah Wanita, sang sufi memerhatikan salah satu ciri kecantikan Fatimah berupa tahi lalat.

Sumber lain, jelas Schimmel, Dzun-Nun mempertanyakan soal sepasang tangannya yang berhiaskan inai. Lalu, Fatimah menimpali pertanyaan Dzun-Nun. Menurut dia, selama ini diskusi-diskusi yang ia bangun dengan Dzun-Nun diyakini sebagai persahabatan dua jiwa yang bersama-sama menyusuri jalan keilahian.

Namun, setelah Dzun-Nun mempertanyakan hiasan pada tangannya, Fatimah menganggap poros telah bergeser dan kemudian ia telah menjadi objek. Dengan demikian, perhatian tak lagi sepenuhnya pada hal-hal Ilahiah, tetapi juga pada penampilan fisik. Menurut dia, hal yang berbau duniawi telah mencemari persahabatan spiritual itu.

Secara tegas, Fatimah mengatakan pembicaraan spiritual yang bebas tak mungkin lagi bisa berlangsung. Bagi suaminya, Ahmad bin Khudruya, Fatimah juga akhirnya menjadi pembimbing spiritualnya.

Saat Ahmad menampakkan kecemburuan karena Fatimah membangun persahabatan dengan dua sufi lainnya, ia menyampaikan klarifikasinya. “Kau karib dengan diri alamiahku, sedangkan Bayazid dengan jalan spiritualku,” ujar Fatimah memberikan penjelasan kepada suaminya.

Omaima mengatakan, Fatimah merupakan perempuan yang mempunyai keteguhan hati, independen, percaya diri, dan mempelajari tradisi-tradisi sufi secara mendalam.

Di sisi lain, Fatimah pun meninggalkan sebuah paradigma sendiri dalam kehidupan sufi. Sebuah pernikahan tak membuatnya abai dengan jalan spiritual. Ia menjalani perannya sebagai seorang istri dan pejalan rohani dengan baik. Dua hal itu berjalan bersamaan dan tak saling menghapuskan satu sama lain.

Menurut Annemarie Schimmel, Fatimah adalah sosok sufi yang menonjol di antara perempuan sufi yang menikah. Menurut dia, keberadaan Fatimah menunjukkan bahwa para perempuan sufi tak menjalani hidup selibat atau tidak menikah. Ajal menjemput sufi perempuan ini pada 849 Masehi.

TELADAN KEGIGIHAN ULAMA SALAF DI SAAT MENCARI ILMU BELAJAR AGAMA

Kegigihan para ulama’ salaf ketika mencari ilmu

  1. Abu Yusuf berkata :

“Putraku meninggal dan aku tidak menghadiri pemakamannya, kutinggalkan dia kepada kerabat dan tetanggaku karena aku kuatir tertinggal pelajaran dari Abu Hanifah, dimana penyesalan karena tertinggal pelajaran tidak bisa hilang dariku. ”

#Manaqib Abu Hanifah (1/472)

 

  1. Abu Ja’far bin Nufail berkata :

“Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Ma’in mendatangi kami, kemudian Yahya merangkulku sambil bertanya :

“wahai abu ja’far apakah engkau pernah membaca didepan ma’qol bin ubaidillah dari dari ‘atho’, bahwa paling sedikitnya waktu orang yg haid adalah sehari ?”

Ahmad bin Hambal berkata : “Mengapa kau tidak duduk dulu !”

Yahya menjawab : “aku khawatir wafat sebelum mendengar jawaban dari Ja’far.”

#Tarikh dimasyqo (32/353)

 

  1. Muhammab bin Hubaib berkata :

“Kami dulu menghadiri majlisnya Abi Ishaq ibrahim bin ali al hujaimi untuk mendengarkan hadits, dan beliau biasanya duduk di teras atas rumahnya.

Jalan-jalan besar daerah Hujaim penuh sesak dengan manusia yg menghadiri majlis beliau utk mendengarkan haditsnya .

Biasanya saya bangun di waktu sahur dan ternyata di sana orang2 telah mendahuluiku dan mereka telah mengambil tempat masing2.

Tempat yg digunakan duduk oleh orang2 itu dihitung dan diperkirakan jumlahnya sekitar 30. 000 tempat duduk.”

#Al Jaami’ liakhlaqir rowi (2/57)

 

  1. Ibnu Syihab Az Zuhri berkata :

“Dalam jangka waktu 45 tahun aku sering pulang pergi antara negara Syam dan Hijaz, maka tidaklah ku temukan satu hadits yg kuangggap jauh tempatnya!”

#Hilyatul auliya’ (3/362)

 

  1. Yahya bin Sa’id al qotton berkata :

“Dulu biasanya aku berangkat belajar sebelum pagi dan aku tidak pulang dari belajar sampai waktu Isya’ ”

#Al Jami’ liakhlaqir rowi (1/150)

 

  1. Dikisahkan dari Tsa’lab -ahli bahasa- beliau tidak pernah berpisah dari kitab utk belajar. ketika seseorang mengundangnya utk hadir di rumahnya, maka beliau memberikan syarat yaitu disediakan tempat khusus yang agak luas agar bisa meletakkan kitab untuk membaca.

#Al hits ala tolabil ilmi ص76)

 

  1. Umar bin Hafs al asyqor berkata :

“Kami dulu bersama Al Bukhori di bashroh untuk menulis, kemudian dalam beberapa hari kami kehilangan beliau, lalu kami temukan beliau dalam sebuah rumah dalam keadaan telanjang dan telah habis semua miliknya, akhirnya kami mengumpulkan uang untuk beliau dan kami memberikan pakaian untuknya”

#Tarikh Dimasyqo (52/58)

 

  1. Al Hafidz abdurrahman bin Yusuf berkata :

“Aku pernah meminum air seniku sendiri sebanyak lima kali, ketika aku belajar hadits ”

al khotib berkata : “beliau melakukan hal itu karena darurat, dalam perjalanan dan tidak ada air sama sekali ”

#Tarikh Baghdad (10/280)

 

  1. Kholaf bin Hisyam berkata :

“Aku pernah kesulitan pada satu bab dari ilmu nahwu, maka ku infakkan uangku sebanyak 80.000 dirham hingga akhirnya aku mahir dalam bab yg sulit itu”

#Siyaru a’lamin nubala’ (10/578)

 

  1. Imam ahmad bin hambal berkata :

“Seringkali aku ingin berangkat pagi2 sekali ke majlis hadits tapi ibuku memegang bajuku dan berkata :

“Jangan pergi dulu sampai orang2 adzan dan sampai pagi menjelang ”

dan seringkali aku berangkat pagi2 sekali ke majlisnya Abi Bakar bin ‘iyasy dan selainnya. ”

#Al Jami’ liakhlaqir rowi (1/151)

 

DAFTAR ULAMA DAN KEKASIH ALLOH SWT YANG TIDAK MENIKAH

Ulama dan kekasih Alloh rohimahumullahu yang lebih memilih Ilmu dan tidak menikah.

  1. Abdullah bin Abi Najih al-Maki, seorang taabi’ut tabi’in
  2. Al Adib an-Nahwiyi, Abu Abdirrohman Yunus bin Habib al-Bashriyyi (90-182 H)
  3. Husain bin Ali al-Ju’fiy (119-203 H)
  4. Al-Imam az-Zahid al-‘abid al-Muhdits al-Faqih Abu Nasyr, Bisyru bin Harits bin Abdirrohman Al-Marwaziy, terkenal dengan nama Bisyr al-haafiy  (150-227 H)
  5. Hannad bin as-Sariy (152-243 H)
  6. Al-Imam al-Mujtahid, Abu Ja’far, Muhammad bin Jarir ath-Thobary (224-310 H)
  7. Al-Imam Abu Bakr bin al-Anbaari, Muhammad bin al-Qosim binMuhammad (271-328 H)
  8. Al-Imam Abu Ali al-Farisi, al Hasan bin Ahmad (288-377H)
  9. Imamul Hadits wal Muhadditsin, Abu Nashr as Sajziy
  10. Al-Hadizh al-Faqih az-Zahid, Abu Sa’d as-Samaan ar-Rozi (371-445 H)
  11. Al Hafizh al anmathi, Abul Barokat Abdul Wahab bin Mubarok bin Ahmad al-Baghdadi (462-538 H)
  12. Al Imam Abul Qosim, Mahmud bin Umar az-Zamakhsyari (28 rojab 487-malam arofah 538 H)
  13. Al-Imam al Mufassir al Muhdits, Abu Muhammad bin al-Khosysyab al-Hanbali al-Baghdadi (492-567 H)
  14. Abul Fath, Nashihuddin al-Hanbali / Ibn Maniy (501-583 H)
  15. Al Wazir Jamaluddin Abul Hasan Ali bin Yusuf as-Syaibani al-Qifthi (567-646 H)
  16. Al Imam Ahlul Masyriqi wal maghrib, Syaikhul Islam, Alamul Auliya, Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syarof an-Nawawi asy-Syafi’i (Imam Nawawi) (631-rojab 676/45th)
  17. Imam Ibn Taymiyah al-Haroni ad-Dimasyqi (661-728 / 67th)
  18. Al Allamah al Faqih al Mufassir Syeikh Basyirul Ghozi al-halaby (1274-1339 H)
  19. Syeikh Abul Wafa` al-Afghani (1310-1395 H)
  20. Al Alimah al Muhadditsah al Kamilah, Karimah binti Ahmad bin Muhammad bin Hatim al-Marwaziyah (Marwa 365 – Mekkah 463 H)

رحمهم الله تعالى ، ونفعنا الله بهم بعلومهم وبركاتهم

Di nukil dari kitab ” Al ‘Ulama_u Al Uzzab, Alladzina Atsaruu al Ilma ‘ala al-Zawwaj” , karya Syeikh Abdul Fattah Abu Ghoddah.

Wallahu a’lam.

TERGODANYA NABI ADAM AS DAN SIFAT MAKSUMNYA SEBAGAI SEORANG ROSUL

TERGODANYA NABI ADAM ‘ALAIHIS SALAM

فأخرج إبليس مزمارا وزمر تزميرا مطربا فلما سمع آدم وحواء المزمار جاءا ليسمعا ذلك فلما وصلا الى شجرة الحنطة قال ابليس تقدم الى هذه الشجرة يآدم فقال إنى ممنوع فقال ابليس (وما نهاكما ربكما عن هذه الشجرة الا أن تكونا ملكين أو تكونا من الخالدين) فان من أكل من هذه الشجرة لا يشيب ولا يهرم ثم أقسم بالله أنها لا تضرهما وأنه لمن الناصحين لهما فظن آدم أنه لا يتجاسر أحد على أن يحلف بالله كاذبا وظن أنه من الناصحين

Kemudian iblis mengeluarkan seruling dan memainkannya dengan merdu, ketika adam dan hawa mendengarnya, me­reka langsung mendatanginya untuk mendengarkan/­menikmatinya,dis­aat mereka sampai dipohon gandum maka iblis berkata padanya,, wahai adam,mendekatla­h pada pohon ini,adam berkata, sesungg­uhnya aku dicegah untuk dekat dengan pohon itu, iblis berkata Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).”

Karena sesungguhnya siapa saja yang memakan biji dari pohon ini,dia tidak akan bisa tua dan pikun dan iblis juga bersumpah dengan nama ALLOH bahwa makan biji itu tidak akan membahayakan mereka berdua dan dia mengaku bahwa dia adalah pembawa nasihat bagi mereka berdua maka adam pun menyangka bahwa tiada yang berani mengucapkan sumpah dengan nama ALLOH pada kebohongan dan menyangka juga bahwa iblis tadi adalah malaikat pembawa nasihat.

فمن حرص حواء على الخلود فى الجنة تقدمت وأكلت فلما نظر آدم اليها حين أكلت ووجدها سالمة تقدم وأكل بعدها فلما وصلت الحبة الى جوفه طار التاج عن رأسه وطارت الحلل أيضا

Dari keinginan hawa untuk kekal disurga maka ia maju duluan dan memakannya ketika adam melihatnya makan dan selamat maka adam pun ikut maju dan memakannya,pada­ saat biji sampai ditenggorokan maka terbanglah mahkota yang ada dikepalanya bersama perhiasan-perhi­asan yang ada padanya

سؤال لأى شئ لما أكلت حواء من الشجرة لم تسقط الكسوة عنها فى الحال وآدم حين أكل سقطت عنه فى الحال الجواب لوسقطت فى الحال عن حواء لرجع آدم ولم يأكل وأيضا االدية على العاقلة ولان الأمر كان أولا لآدم

Pertanyaan, kenapa disaat hawa makan biji tersebut seluruh pakaiannya tidak terlepas seketika sedangkan adam pakaiannya terlepas seketika ? Jawab :Umpama lepas seketika maka adam akan kembali dan tidak mau ikut makan,begitu juga diyat/tebusan itu pada yang berakal dan karena sesungguhnya awal perkara itu untuk adam.

وقال بعض العلماء ان آدم أكل وهو ناس قال الله تعالى (ولقد عهدنا الى آدم من قبل فنسى)

Sebagian ulama’ berkata sesungguhnya adam memakannya itu dalam keadaan lupa Sebagaimana firman ALLOH : Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu). Qs.thoha ayat 115.

فلما أكل آدم من الشجرة أوحى الله تعالى الى جبرائيل عليه السلام بأن يقبض على ناصية آدم وحواء ويخرجهما من الجنة فأخرجهما جبرائيل من الجنة ونودى عليهما بالمعصية. قال فكان آدم وحواء عريانين فطافا على أشجار الجنة ليستترا بأوراقها فكانت الأشجار تنفر عنهما ورحمته شجرة التين فغطته فتستر بورقها وقيل غطته شجرة العود فلذلك أكرمها الله بالرائحة الطيبة وأكرم شجرة التين بالثمر الحلو الذى ليس له نوى وقيل غطته شجرة الحناء فلذلك صار أثرها طيبا مفرحا ولذلك سميت الحناء قال كعب الأحبار لما صار آدم عريانا أوحى الله تعالى اليه أن اخرج الىّ لأنظرك فقال آدم يارب لا أستطيع ذلك من حيائى منك وخجلى

Disaat adam makan dari biji gandum tersebut maka ALLOH memerintahkan jibril untuk mencabut ubun-ubun adam dan hawa dan mengeluarkannya­ dari surga dan dipanggil dengan sebutan maksiyat. Wahhab bin munabbih berkata, saat itu adam dan hawa dalam keadaan telanjang, mereka berputar pada pohon-pohon surga untuk mengambil daun untuk menutupi tubuh mereka tapi pohon-pohon itu pada kabur dari mereka, akhirnya ­ pohon tin iba pada mereka dan menutupi mereka dan diambillah daunnya untuk menutupi tubuh mereka.

Dikatakan bahwa yang menutupinya adalah pohon garu,oleh karena itu ALLOH memulyakannya dengan bau yang harum dan ALLOH memulyakan pohon tin dengan buah yang manis tanpa biji. Dikatakan juga bahwa yang menutupinya adalah pohon inai oleh karena itu jadilah baunya harum dan wangi dan dinamakan inai. Ka’ab alahbar berkata,ketika adam dalam keadaan telanjang, ALLOH­ berfirman padanya keluarlah kamu dariku, aku akan menunggumu maka adam berkata ya Tuhan sungguh aku tidak sanggup karena malu padamu.

QODAR ALLOH SWT DAN KEMA’SHUMAN NABI ADAM AS DARI DOSA

Salah satu yang wajib bagi para Rosul dan wajib bagi kita meyakininya adalah sifat amanah, yaitu terpeliharanya mereka daripada melakukan dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil, biak haram maupun makruh, baik sengaja maupun tidak. Untuk menyikapi masalah Nabi Adam, aku curhat dulu yach… aku pernah nonton tv film hidayah, disitu aku lihat ada orang jahat… banget sampai timbul rasa kebencian di hatiku kepadanya dan aku menjulukinya si penjahat berengsek….(hehe ma’af),  padahal kenyataanya apa.., ia (si penjahat) ternyata mendapat sambutan dan tepukan yang hangat dari sang sutradara bahkan mendapat uang (gaji) yang cukup besar…  yups…ia adalah pemain yang baik, secara shury (rupa / gambaran) ia adalah penjahat tetapi secara hakiky (yang sebenarnya) ia adalah seorang yang amat patuh kepada perintah atasan. Sama halnya dengan persoalan Nabi Adam as., lebih jelasnya coba kita intip tafsir showi juz 1:22

و الحق ان يقال ان ذلك من سر القدر فهي منهي عنه ظاهرا لا باطنا فانه بالباطن مأمور بالاولى من قصة الخضر مع موسى و اخوة يوسف معه على انه انبياء فان الله قال للملائكة اني جاعل في الارض خليفة كان قبل خلقه و هذا الامر مبرم يستحيل تخلفه فلما خلقه و اسكنه الجنة اعلمه بالنهي عن الشجرة صورة فهذا النهي صوري و اكله من الشجرة جبري لعلمه ان المصلحة مترتبة علي اكله و انما سمي معصية نظرا للنهي الظاهري فمن حيث الحقيقة لم يقع منه عصيان و من حيث الشريعة وقعت منه المخالفة و من ذلك قول ابن العربي لو كنت مكان ادم لاكلت الشجرة بتمامها لما ترتب علي اكله من الخير العظيم و ان لم يكن من ذلك الا وجود سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم لكفى

“Dan yang benar bahwa dikatakan sesungguhnya itu adalah sirrul qodar(rahasia taqdir), maka ia dilarang secara zhohir tetapi tidak secara batin. karena Nabi Adam as pada batinnya adalah diperintah terlebih utama dari kisahnya Nabi Khidir serta Nabi Musa dan saudara Nabi Yusuf beserta Nabi Yusuf apalagi mereka itu adalah para Nabi. Sesungguhnya Allah SWT saat berfirman kepada para malaikat “Seseungguhnya aku akan menjadikan di bumi seorang kholifah” adalah sebelum menciptakan Nabi Adam. Dan perkara ini adalah pasti dann mustahil salah. Lalu saat Allah menciptakannya dan menempatkannya di surga, diberi tahu dengan larangan makan buah pada rupanya(zohirnya). Larangan ini adalah larangan shury dann makan buahnya adalah jabary dengan sengaja, tahu dan sadar karena ia tahu bahwa kemaslahatan ada didalam memakannya. Dan itu disebut ma’siat karena memandang pada larangan yang dzohir. Dan dilihat dari sisi syari’at terjadi daripadanya suatu pelanggaran. Dan diantara ma’na ini apa yang dikatakan oleh Ibnul ‘Aroby : “Jika aku di tempat Nabi Adam maka aku akan makan buah itu dengan sempurna karena dalam memakannya itu ada kebaikan yang banyak, dan jika tak ada satu kebaikan pun selain wujudnya Sayyidina Muhammad SAW niscaya cukup”.

Lebih jelasnya liat lagi tafsir Showy pada juz dan halaman yang sama:

انه اجتهد فأخطأ فسمى الله خطأه معصية فلم يقع منه صغيرة ولا كبيرة انما هو من باب حسنات الابرار سيئات المقربين فلم يتعمد المخالفة

ومن نسب التعمد و العصيان له بمعنى فعل الكبيرة او الصغيرة فقد كفر و من نفى اسم العصيان عنه فقد كفر ايضا لنص الاية

“Bahwa sesungguhnya Adam berijtihad lalu salah ijtihadnya, maka Allah memberi nama kesalahannya itu dengan ma’siat padahal tak pernah terjadi dpdnya dosa kecil maupun dosa besar. Sesungguhnya ini termasuk dalam bab “hasanatul abror sayyiatul muqorrobin”(kebaikan orang abror adalah kejahatan orang muqorrobin).

BARANGSIAPA yang MEMBANGSAKAN SENGAJA DAN DOSA kepada NABI ADAM dengan MA’NA IA MELAKUKAN DOSA BESAR ATAU DOSA KECIL MAKA IA TELAH KAFIR, SEBAGAIMANA JUGA yang MENOLAK NAMA MA’SIYAT DARIPADANYA karena ADA NASH AYAT QUR’AN”.

Kema’siyatan Nabi Adam hanyalah sebuah skenario dari ALLAH tuk menurunkannya dari surga, karena sebelum ALLAH menciptakan Adam, ALLAH pernah berfirman ke para Malaikat untuk menjadikan seorang kholifah dibumi. Sedangkan Adam diciptakan disurga. lalu ALLAH membuat Adam makan buah khuldi sehingga tercapailah tujuan ALLAH menjadikan kholifah di bumi. Yang wajib kita i’tikadkan adalah NABI ADAM MA’SIAT HANYA SeCaRa DZOHIR/SYARI’ATNYA SAJA, SEDANGKAN SECARA HAKIKAT NABI ADAM ADALAH MA’SUM (TERPELIHARA dari MA’SIAT) bahkan Nabi Adam dikatakan ta’at karena sedang menjalankan skenario dari ALLAH.

Kenapa Allah tidak ciptakan saja langsung manusia di bumi sebagai khalifah? Artinya iblis yang kafir pun atas skenario Allah iblis pun diusir lalu mempengaruhi Adam-Hawa untuk makan buah terlarang? Karena Allah ta’ala lah yang berkehendak…bukan manusiannya…? Berhakkah manusia mempertanyakan kehendak-Nya?

Banyak hikmah-hikmah ALLAH tidak menciptakan manusia langsung di bumi… bisa dilihat dari proses yang terjadi pada nabi Adam AS sehingga diturunkan dari surga..

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

SHOLAWAT JAUHAROTUL KAMAL VERSI ARAB INDONESIA DAN ARTI SERTA SYARAT DAN HIKMAHNYA

Shalawat Jauharatul Kamal Fi Madh Khair al-Rijal

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّانِيَّةِ وَالْيَاقُوْتَةِ الْمُتَحَقِّقَةِ الْحَائِطَةِ بِمَرْكَزِ الْفُهُوْمِ وَالْمَعَانِيّ، وَنُوْرِ اْلأَكْوَانِ الْمُتَكَوِّنَةِ اْلأدَمِيِّ صَاحِبِ الْحَقِّ اْلرَّبَّانِيّ، اَلْبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزُوْنِ اْلأَرْبَاحِ الْمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ اْلبُحُوْرِ وَاْلأَوَانِي، وَنُوْرِكَ اللاَّمِعِ الَّذِيْ مَلأْتَ بِهِ كَوْنَكَ الْحَائِطَ بِأَمْكِنَةِ الْمَكَانِي، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَيْنِ الْحَقِّ الَّتِى تَتَجَلَّى مِنْهَا عُرُوْشُ الْحَقَائِقِ عَيْنِ الْمَعَارْفِ اْلأَقْـوَمِ صِرَاطِكَ التَّآمِّ اْلأَسْقَمِ، اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى طَلْعَةِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ اْلكَنْزِ اْلأَعْظَمِ إِفَاضَتِكَ مِنْكَ اِلَيْكَ إِحَاطَةِ النُّوْرِ الْمُطَلْسَمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ صَلاَةً تُعَرِّفُنَا بِهَا إِيَّاهُ  .

ALLOHUMMA SHOLLI WA SALLIM ‘ALA ‘AINIR ROHMATIR ROBBANIYYAH WAL YAQUTATIL MUTAHAQQIQOTIL HA ITHOH BI MARKAZIL FUHUMI WAL MA’ANI WA NURIL AKWANIL MUTAKAWWINATIL ADAMI SHOHIBIL HAQQIR ROBBANI AL BARQIL ASTO’I BI MUZUNIL ARBAHIL MALIATI LIKULLI MUTA’ARRIDIM MINAL BUHURI WAL AWANI WA NURIKAL LAMI’IL LADZI MALA’TA BIHI KAUNAKAL  HA ITHO BI AMKINATIL MAKANI ALLOHUMMA SHOLLI WA SALLIM ‘ALA ‘AINIL HAQQIL LATI TATAJALLA MINHA ‘URUSYUL HAQOIQ ‘AINIL MA’ARIFIL AQWAM SHIROTIKAT TAMMIL ASQOM ALLOHUMMA SHOLLI WA SALLIM ‘ALA THOL’ATIL HAQQI BIL HAQQIL KANZIL A’DZOM IFADLOTIKA MINKA ILAIKA IHATHOTIN NURIL MUTHOLSAM SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WA ‘ALA ALIH SHOLATAN TU’ARRIFUNA BIHA IYYAH

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada Nabi Muhammad. Ia adalah haqiqat rahmat sifat-sifat Tuhan, ia bagaikan mutiara yang yang mengetahui semua nama-nama (asma) dan sifat-sifat Allah, ia yang menjadi pusat pengetahuan yang mencakup seluruh pengetahuan yang diberikan kepada makhluk, ia yang menjadi penerang (cahaya) segala sesuatu yang ada termasuk manusia, ia yang membawa (mempunyai) agama Allah, ia adalah al-Haqiqat al-Muhammadiyyah (Hakikat Muhammad) yang bagaikan kilat bahkan lebih dari kilat yang dibuktikan dengan mengalir dan berlimpah rahmat Tuhan kepada setiap orang  yang menghadap-Nya. seperti halnya para nabi dan para wali, ia yang menjadi cahaya Tuhan yang menerangi seluruh makhluk di setiap tempat. Ya Allah ! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada Nabi Muhammad yang menjadi ‘ain al-Haqq (wujud keadilan, pemilik kebenaran)., telah tampak dari padanya seluruh Hakikat keadilan yang seperti ‘arsy sebagi sumber seluruh ilmu, yaitu ilmu Engkau yang terdahulu, jalan Engkau yang sempurna dan lurus. Ya Allah! limpahkanlah rahmat dan keselamtan-Mu kepada Nabi Muhammad yang merupakan mazhar (manifestasi) dan tajalli, ia yang menjadi gudang (tempat penyimpanan) ilmu dan rahmat-Mu Yang Maha Besar, ia tempat datangnya kasih-Mu, ia yang meliputi seluruh cahaya yang tersimpan. Semoga Allah memberikan rahmat kepadanya dan kepada keluarganya, yang dengan sebab rahmat tersebut kami bisa mengetahui haqiqat.”

Shalawat Jauharatul Kamal adalah salah satu shalawat yang menjadi Wazhifah (tugas rutin) dalam Thariqah Tijaniyyah selain shalawat al-Fatih yang dibaca secara berjamaah ataupun dalam keadaan sendiri. Redaksi shalawat Jauharatul Kamal diajarkan langsung oleh Sayyidul Wujud Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Sayyidi Syaikh al-Imam Ahmad Ibn Muhammad At-Tijany (1150-1230 H, 1737-1815 M) dalam keadaan sadar/jaga (bukan mimpi). Sebagaimana dijelaskan oleh Sayyidi Syaikh al-Imam Muhammad al-Arabiy al-Tijaniy:

جَوْهَرَةُ الْكَمَالِ مِنْ إِمْــلاَءِ

                            اِمَـامِ اْلاِرْسَـالِ وَاْلأَنْبِيَاءِ

عَلَى حَبِيْبِهِ الْوَلِـيِّ الْعَالِـمِ

                   قُطْبِ الْوَرَى أَحْمَـدَ نَجْلِ سَالِـمِ

Artinya:”Shalawat Jauharatul Kamal berasal dari ucapan Nabi Muhammad yang merupakan pemimpin para Rasul dan Nabi. Yang disampaikan kepada kekasihnya seorang wali yang A’lim, manusia terkemuka yaitu Syaikh al-Imam Ahmad al-Tijaniy merupakan keturunan syaikh Ibn Salim.”[1]

Syaikh Muhammad Fathan Ibn Abdul wahid al-Susiy al-Nazhifiy berkata:

وَمَنْ تَوَهَّمَ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنْقَطَـعُ جَمِيْعُ مَدَدِهِ عَلَى أُمَّتِهِ بِمَوْتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَسَائِرِ اْلأَمْوَاتِ ، فَقَدْ جَهِلَ رُتْبَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَسَاءَ اْلأَدَبَ مَعَهُ وَيُخْشَى عَلَيْهِ أَنْ يَمُوْتَ كَافِراً ، إِنْ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَذَا اْلاِعْتِقَادِ .

Artinya:” Siapa saja yang meragukan Rasulullah dengan mengatakan bahwa bantuan Rasulullah telah terputus kepada ummatnya dengan sebab wafatnya beliau sama seperti halnya mayyit yang lain, maka sungguh ia tidak mengenal sama sekali akan kedudukan Rasulullah dan ia telah melakukan adab yang buruk kepada Rasulullah, dikhawatirkan ia mati dalam keadaan kafir jika ia tidak bertaubat dari keyakinan seperti itu.”[2]

Redaksi Shalawat Jauharatul Kamal, tampaknya lebih menjelaskan atau menafsirkan kalimat yang terdapat dalam shalawat al-Fatih yakni pada kalimat ( اَلْفَاتِحِ لِمَا اُغْلِقَ   )  Misalnya, shalawat tersebut mengungkapkan sifat-sifat Nabi Muhammad, sebagai Hakikat rahmat dari sifat-sifat Tuhan, yang merupakan pusat pengetahuan. Kemudian dikatakan bahwa Nabi Muhammad, sebagai al-Haqiqat al-Muhammadiyyah yang memiliki sifat yang dipuji, yang mengalir dan menyinari keseluruh alam. Selanjutnya dikatakan bahwa Nabi Muhammad, sebagai wujud yang paling sempurna.

Makna  al-Fatih li ma Ughliqa pada intinya adalah :

1)      Nabi Muhammad adalah sebagai pembuka belenggu ketertutupan segala yang maujud (ada) di alam.

2)      Nabi muhammad sebagai pembuka keterbelengguan al-Rahmah al-Ilahiyyah (kasih saying Tuhan) bagi para makhluk di alam.

3)      Hadirnya Nabi Muhammad menjadi pembuka hati yang terbelenggu oleh Syirik.

Sedangkan makna al-Khatimi li ma Sabaq pada intinya adalah :

1)      Nabi Muhammad sebagai penutup kenabian dan kerasulan.

2)      Nabi Muhammad menjadi kunci kenabian dan kerasulan.

3)      tidak ada harapan kenabian dan kerasulan lagi bagi yang lainnya.

Pemikiran-pemikiran (faham) tasawuf Syaikh Ahmad al-Tijani terkandung dalam penafsirannya tentang makna al-Fatih Lima Ughliq dan al-Khatim Lima Sabaq. Syaikh Ahmad al-Tijani mengatakan bahwa al-Fatih li ma Ughliq mempunyai makna bahwa Nabi Muhammad merupakan pembuka segala ketertutupan al-Maujud (yang ada di alam). Alam pada mulanya terkunci (mughallaq) oleh ketertutupan batin (hujubaniyat al-Buthun). Wujud Nabi Muhammad menjadi “sebab”  atas terbukanya seluruh belenggu ketertutupan alam dan menjadi “sebab” atas terwujudnya alam dari “tiada” menjadi “ada”. Karena wujud Nabi Muhammad alam keluar dari “tiada” menjadi “ada”, dari ketertutupan sifat-sifat batin menuju terbukanya eksistensi diri alam (nafs al-Akwan) di alam nyata (lahir). Jika tanpa wujud Nabi Muhammad, Allah tidak akan menciptakan segala sesuatu yang wujud, tidak mengeluarkan alam ini dari “tiada” menjadi “ada”.

Imam Muhammad Ibn Said al-Bushiriy mengatakan dalam al-Burdah:

وَكَيْفَ تَدْعُوْ إِلَى الدُّنْيَا ضَرُوْرَةُ مَنْ

                     لَوْلاَهُ لَمْ تَخْرُجِ الدُّنْيَا مِنَ الْعَـدَمِ

Artinya:” Bagaimana mungkin kesusahan beliau dapat menyeru kepada dunia, padahal kalau bukan karena beliau dunia ini tidak tercipta.”

Ungkapan sifat-sifat Nabi Muhammad di atas, menunjukan bahwa Syaikh Ahmad al-Tijaniy merumuskan maqam Nabi Muhammad sebagaimana telah dikemukakan para sufi terdahulu, terutama dalam mensifati pemahaman mereka terhadap haqiqat (Hakikat) Nabi Muhammad, tidak dapat dibantah bahwa ia sependapat, bahkan ia menjelaskan konsep dasar tersebut.

Hal ini, menunjukan bahwa dari aspek pemikiran, Syaikh Ahmad al-Tijaniy menganut tasawuf falsafi sedangkan konsep-konsep dasar tasawufnya: Nur Muhammad, Ruh Muhammad, al-Haqiqat al-Muhammadiyyah. Dengan demikian, bahwa corak (paham) tasawuf yang digunakan oleh Syaikh Ahmad al-Tijaniy adalah corak (paham) tasawuf yang dikembangkan oleh Imam ‘Abdul Karim al-Jiliy dengan konsep dasar al-Insan al-Kamil, yang berasal dari Imam Ibn Arabiy dengan konsep Haqiqat al-Muhammadiyah. Terlepas apakah Syekh Ahmad al-Tijani terpengaruh oleh pemikiran filosofis Abd. Karim al-Jili  yang berasal dari Ibn. ‘Arabi atau tidak, corak pemikiran tasawuf demikian dikembangkan oleh dua sufi tersebut. Pemikiran Syaikh Ahmad al-Tijaniy “mengawinkan”, menyatukan kembali dua corak {faham} tasawuf  yakni tasawuf amali dan tasawuf falsafi yang telah “bercerai” sejak abad ketiga Hijriyah sehingga masing-masing mempunyai metodologi tersendiri.

Inilah yang dimaksud bahwa Thariqat Tijani merupakan thariqat yang terakhir dan seluruh thariqat akan masuk kedalam lingkup ajarannya, dalam arti seluruh amalan sufi {wali} dan seluruh corak pemikiran para sufi terakomodir dalan ajaran thariqat yang dikembangkannya, hal ini bisa dimengerti karena cahaya maqam wali khatm merupakan sumber seluruh cahaya kewalian. Sebagai perbandingan seluruh syari’at para nabi terakomodir kedalam syari’at Nabi Muhammad, karena syari’at para nabi bersumber dari cahaya Khatm an-Nabiyyin (penutup para nabi).

Keutamaan Shalawat Jauharatul Kamal

Diantara keutamaan membaca shalawat Jauharatul Kamal yang disebutkan langsung oleh Rasulullah kepada Imam Ahmad Ibn Muhammad al-Tijaniy sebagai berikut :

أَنَّ الْمَرَّةَ الْوَاحِدَةَ تَعْدِلُ تَسْبِيْحَ الْعَالَمِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Artinya:” Membaca shalawat Jauharatul Kamal sekali, pahalanya menyamai tiga kali lipat tasbihnya alam.”

أَنَّ مَنْ قَرَأَهَا سَبْعَ مَرَّاتٍ فَأَكْثَرَ يَحْضُرَهُ رُوْحُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْخُلَفَاءِ اْلأَرْبَعَةِ مَا دَامَ يَذْكُرُهَا

Artinya:” Siapa yang membacanya 7 kali atau lebih, maka akan didatangi Ruh Nabi Muhammad dan 4 khulafaur Rasyidin selama ia dalam keadaan membaca shalawat itu.”

أَنَّ مَنْ لاَزَمَهَا أَزْيَدَ مِنْ سَبْعِ مَرَّاتٍ يُحِبُّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَحَبَّةً خَاصَّةً وَلاَ يَمُوْتُ حَتَّى يَكُوْنَ مِنَ اْلأَوْلِيَاءِ

Artinya:” Siapa saja yang melazimi membacanya lebih dari 7 kali, maka ia akan sangat dicintai oleh Rasulullah sebenar-benar cinta khusus dan ia tidak akan meninggal dunia sehingga menjadi salah satu dari para kekasih Allah.”

Adapun keutamaan shalawat Jauharatul Kamal yang disebutkan oleh Imam Ahmad Ibn Muhammad al-Tijaniy adalah:

مَنْ دَاوَمَ عَلَيْهَا سَبْعًا عِنْدَ النَّوْمِ عَلَى طَهَارَةٍ كَامِلَةٍ وَفِرَاشٍ طَاهِرٍ يَرَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya:” Siapa saja yang konsisten membacanya 7 kali menjelang tidurnya dalam keadaan bersuci yang sempurna dan di tempat tidur yang suci (tidak ada najis), maka ia akan melihat Nabi Muhammad.”

قَالَ الشَّيْخُ أَحْمَدُ التِّجَانِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَعْطَانِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةً تُسَمَّى بِجَوْهَرَةِ الْكَمَالِ مَنْ ذَكَرَهَا اثْنَتَيْ عَشْرَةَ مَرَّةً وَقَالَ : هَذِهِ هَدِيَّةٌ مِنِّي اِلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ , فَكَأَنَّمَا زَارَهُ فِي رَوْضَتِهِ الشَّرِيْفَةِ, وَكَأَنَّمَا زَارَ أَوْلِيَاءَ اللهِ تَعَالَى وَالصَّالِحِيْنَ مِنْ أَوَّلِ الْوُجُوْدِ اِلَى وَقْتِهِ وَفِي رِوَايَةٍ اِلَى اْلأَبَـدِ

Artinya:” Syaikh Ahmad al-Tijaniy berkata: Rasulullah memberikan kepadaku redaksi shalawat yang dinamai Jauharatul kamal, siapa saja yang telah membacanya sebanyak 12 kali dan berkata: Shalawat ini aku hadiahkan kepada engkau Ya rasulullah. Maka seakan-akan ia menziarahi Rasulullah di Raudhahnya yang mulia dan seolah-olah ia telah menziarahi para wali Allah besera menziarahi orang-orang shalih dari sejak zaman Nabi Adam sampai waktu ia membacanya bahkan riwayat lain menyebutkan sampai dunia musnah.”

Syaikh Muhammad Fathan Ibn Abdul wahid al-Susiy al-Nazhifiy mengumpulkan keutamaan shalawat Jauharatul kamal dalam Nazham al-Durratul Kharidah:

بِسَابِعَةٍ مِنْهَا حُضُوْرُ نَبِيِّنَا

                  مَعَ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَقُدْوَتِي

Dengan membaca 7 kali Jauharatul kamal, akan hadir Nabi Muhammad beserta para Khulafaur Rasyidin dan Syekh Ahmad al-Tijaniy.

وَلَوْ دُمْتَ ذِكْرَهَا دُهُوْرًا طَوِيْلَةً

                  لَمَا فَارَقُوْكَ بِالذَّوَاتِ الْكَرِيْمَةِ

Seandainya engkau konsisten membacanya sampai masa yang lama, maka mereka semua tidak akan meninggalkan engkau dengan zat mereka yang mulia.

وَتَغْيِيْرُ جِلْسَةٍ بِهَا لِلتَّأَدُّبِ

                  جَرَى عَمَلٌ بِهِ لَدَا جُلِّ اِخْوَتِي

Mengubah posisi duduk kepada duduk yang lebih bagus lantaran menjalankan adab (atas kehadiran Nabi beserta para khalifah dan syaikh Ahmad al-Tijaniy). Adab seperti itu menjadi kebiasaan di sisi pembesar saudaraku (pengikut Tijaniyyah).

وَمَنْ دَامَ عِنْدَ النَّوْمِ سَبْعًا يَرَى النَّبِيّ

                 بِشَرْطِ الْوُضُوْءِ مَعْ طَهَارَةِ بُقْعَةِ

Siapa saja yang selalu membacanya ketika hendak tidur sebanyak 7 kali, maka ia akan melihat Nabi Muhammad, dengan syarat ia memiliki wudhu dan tempat tidurnya suci (tidak ada najis).

وَتَالٍ لَهَا اثْنَتَيْنِ مَعْ عَشْرَةٍ كَأَنَّ

                      مَا زَارَ أَحْمَدَ النَّبِيَّ بِرَوْضَةِ

Yang membacanya sebanyak 12 kali seakan-akan ia telah menziarahi Nabi Muhammad di Raudhah.

وَكُلِّ نَبِيٍّ مَعْ وَلِيٍّ مِنْ أَدَمَا

                 اِلَى وَقْتِ ذِكْرِهَا بِإِذْنِ الْوَسِيْلَةِ

Seolah-olah ia juga telah menziarahi seluruh Nabi dan para wali dari sejak zaman Nabi Adam sampai ketika ia membaca  shalawat tersebut dengan catatan bahwa ia telah mendapat izin dari Syaikh Ahmad al-Tijaniy dan pengikutnya.

وَبَعْدَ الْفَرَاغِ قُلْ بِقَلْبِ مَذَلَّةٍ

                   اِلَيْكَ رَسُوْلَ اللهِ هَذِى هَدِيَّتِي

Setelah selesai membaca jauharatul kamal maka katakanlah olehmu dengan hati yang penuh ketundukan dan khusyu’: “Aku hadiahkan shalawat ini kepada engkau Ya Rasulullah.

وَخَمْسًا وَسِتِّيْنَ اتْلُهَا عِنْدَ شِدَّةِ

                      وَلِلْخَيْرِ مَرَّةً بُعَيْدَ الْفَرِيْضَةِ

Bacalah jauharatul kamal sebanyak 65 kali ketika terjadi kesulitan dan kepelikan dan bacalah satu kali setiap selesai mengerjakan shalat fardhu untuk mendapatkan segala kebaikan.

Keutamaan-keutamaan Shalawat Jauharatul Kamal yang disebutkan di atas hanya akan diperoleh bagi orang yang telah melakukan baiat Thariqah Tijaniyah dan istiqamah mengamalkannya.

<<< Perhatian>>

Persyaratan membaca shalawat ini:

  1. wajib bersuci atau berwudhu dengan sempurna .. jika bertayammum tidak mencukupi syarat dan tidak diperkenankan membaca shalawat ini
  2. wajib suci tempat, pakean, badan dari najis dan hadas
  3. wajib dibaca pada tempat yg agak luas sekira muat 6 orang
  4. jangan dibaca saat di kendaraan baik darat, laut maupun udara.
  5. orang yg beristinja (cebok) pake tisu atau sejenisnya yang bukan menggunakan air maka ia tidak diperbolehkan membaca shalawat ini walaupun ia ketika berwudhu pakai air. lantaran bersuci yang ia lakukan tidak tahaqquq (sempurna) kata orang betawi kaga danta.
  6. Shalawat Jauharatul Kamal ini saya tidak ijazahkan secara umum, lantaran shalawat ini bagian Asrar dari Thariqah Tijaniyah dan hanya Khusush buat pengamal Thariqah Tijaniyah.

TOKOH SUFI MALIK BIN DINAR RAH. DAN KISAH KEHIDUPANYA

Masjid Jami’ yang luas seakan menjadi sempit lantaran padatnya kaum muslimin yang berkumpul disebabkan rasa cinta dan kagum terhadap Malik bin Dinar –tokoh besar dari kalangan ahli zuhud dan ahli ibadah. Beliau duduk di tempatnya dalam keadaan termenung, sesaat kemudian beliau mendongakkan kepalanya. Semua orang yang hadir ketika itu menyaksikan suatu pemandangan yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya apda diri Malik bin Dinar sang ahli fikih Irak, seorang imam, dan pemberi nasihat di Masjid Kufah.

Air mata beliau berlinangan membasahi jenggotnya karena rasa kagumnya terhadap antusiasme kaum muslimin yang datang untuk mendengarkan ceramahnya pada hari itu. Memang, pada hari sebelumnya beliau mengumumkan kepada mereka bahwa beliau akan menyampaikan sesuatu yang belum mereka ketahui dan hal-hal yang wajib mereka ketahui.

Imam Malik bin Dinar pun bertutur kata. Beliau membuka pembicaraannya dengan suara yang menyentuh lubuk hati para pendengarnya dan orang-orang yang mengaguminya sehingga seolah-olah suara tersebut berasal dari tempat yang jauh. Beliau memuji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, membaca shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mendoakan orang-orang yang mendengar dan orang-orang yang mengenalnya agar mendapat kebaikan dan ampunan karena mereka telah berbaik sangka kepada beliau.

Beliau menuturkan, “Kemarin aku telah menyampaikan kepada kalian bahwa dengan izin Allah, besok aku akan bercerita mengenai seorang hamba yang butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, hamba yang kalian dengarkan ceramahnya, yakni mengenai Malik. Aku mengetahui pada diriku ada sesuatu yang tidak kalian ketahui, dan kalian selalu berbaik sangka kepada kepadaku. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kalian dengan kebaikan.”

“Ketika aku masih muda, aku adalah seorang polisi yang jahat. Waktu itu, aku diberi tugas untuk menjaga pasar. Tidak ada seorang pun yang selamat dari kejahatanku. Tidak ada seorang pun yang lepas dari kekejamanku. Betapa banyak orang yang telah kucelakakan dan kusakiti. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuniku. Aku tidak mengingat mereka lagi kecuali tambatan hatiku telah putus lantaran meratapi diriku sendiri. Seandainya bukan karena iman yang diliputi rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan karena rahmat-Nya pula, pastilah hari ini aku tidaklah seperti yang kalian lihat.”

“Wahai saudara-saudaraku! Dulu, aku sama sekali tidak pernah meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Aku meminum khamar, memukuli orang, ikut campur urusan orang-orang yang bukan urusanku, hingga dalam persoalan jual-beli. Aku membela orang yang menyenangkanku meskipun dia berbuat jahat.”

“Suatu hari aku sedang berjalan di pasar, tiba-tiba aku bertemu dua lelaki yang sedang bersengketa mengenai suatu perkara. Satu pihak membeli barang, sedangkan satu pihak lain menjual barang dan bersikeras mematok harga tertentu pada barang tersebut. Sedangkan si pembeli bahkan hampir saja aku memukulnya dengan tongkat aku andai tidak ada sesuatu yang tidak aku ketahui menghalangi aku. Kemudian aku termenung memandangi si pembeli tersebut, dan aku baru menyadari ternyata dia seorang yang rambutnya telah beruban. Dari raut mukanya tersirat bahwa dia orang yang baik. Dia mengisyaratkan kepadaku dengan tangannya agar aku diam terlebih dahulu sebelum menjatuhkan putusan. Dia menjelaskan letak perselisihan antara dirinya dengan si penjual.”

“Seumur-umur, baru kali inilah aku mau mendengarkan pengaduan seseorang. Dia menutup pembicaraannya dengan mengatakan bahwa dia pernah mendengar hadis dari junjungan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda mengenai hal ini, ‘Apabila salah seorang di antara kalain pergi ke pasar lalu dia membeli sesuatu yang dapat menggembirakan anak-anak perempuannya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat kepadanya.’ Kemudian dia melanjutkan, ‘Aku baru datang dari suatu perjalanan. Sebelum sampai rumah, aku ingin membeli oleh-oleh untuk menggembirakan ketiga putriku agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memandang kepadaku.”

“Cerita lelaki tersebut membekas di hatiku. Kemudian aku pun membelikan barang-barang yang diinginkannya dan kuberikan padanya. Aku baru meninggalkan orang tersebut setelah meminta kepadanya agar anak-anak perempuannya mau mendoakanku.”

“Meski telah berlalu beberapa hari, cerita lelaki tersebut masih saja terngiang di telingaku, hingga suatu saat aku melihat seorang gadis (budak) yang sangat cantik yang dijual di pasar. Aku jatuh hati padanya, aku mencintainya. Kubeli dia untuk kubebaskan kemudian kunikahi dan hidup bahagia dengannya selama beberapa waktu. Dia telah melupakan masa laluku yang kelabu. Aku mulai hidup istiqamah terutama pada saat kami telah dikaruniai anak perempuan yang cantik. Akan tetapi, setelah berlalu beberapa hari sejak kelahiran anakku, istriku meninggal dunia. Dia meninggalkan anak kami dalam keadaan yatim. Setelah itu, selama dua tahun aku hidup dalam keadaan tidak beristri. Perhatianku hanyalah mengurus anak perempuanku yang merupakan segala-galanya bagi di dunia ini.”

“Pada suatu hari, ketika aku pulang kerja, aku mendapati putriku sedang sakit. Dengan segera kucarikan obat untuknya, bahkan dari sekian banyak dokter. Akan tetapi, ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih cepat. Putriku telah tiada, meninggalkan aku seorang diri. Aku pun mendekapnya erat di dadaku sembari berharap agar dia hidup kembali. Tubuh putriku kuyup karena deraian air mataku. Aku memanggil-manggilnya dengan penuh lara disertai hati yang risau. Aku pun memasrahkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian aku menguburkan putri tunggalku.”

“Namun, setelah itu aku mendatangi kedai minuman keras sebagai tempat pelarian dari apa yang telah menimpa diri dan hidupku. Akhirnya aku kembali menenggak khamar dan menjadi pemabuk berat. Aku ingin melupakan kesedihan dalam kehidupanku. Meskipun aku menyadari apa yang terjadi, akan tetapi aku masih merasakan betapa berat musibahku dan kesendirianku.”

“Kekejaman dan kekerasanku terhadap orang-orang kambuh lagi. Seolah-olah aku ingin balas dendam kepada mereka, dan seakan-akan merekalah yang merampas istri, putri, dan kebahagianku. Suatu hari aku sedang berkeliling pasar. Kemudian aku melihat perempuan yang sedang membawa sedikit makanan, lalu aku merampasnya dengan paksa. Aku pun tidak menghiraukan tangisan dan jeritannya, bahkan ratapan anaknya yang masih kecil.”

“Malam itu aku pulang ke rumah lebih awal dan malam itu adalah malam nisfu Sya’ban. Ketika aku tertidur pulas, aku bermimpi bahwa kiamat telah datang, sangkakala telah ditiup, dan semua makhluk dikumpulkan jadi satu, termasuk juga diriku. Kemudian aku mendengar suara yang mengerikan dan menakutkan.”

“Lalu aku menoleh, dan tiba-tiba seekor ular besar berwarna hitam kebiru-biruan yang membuka mulutnya, percikan api pun berhamburan dari matanya. Ular itu pun menyerangku. Lalu aku lari karena takut padanya sehingga aku berjumpa dengan orang tua yang lemah.’

“Aku memanggilnya, ‘Tolonglah aku! Selamatkanlah aku dari ular ini! Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyelamatkanmu.”

“Tetapi, dia justru menangis di hadapanku dan mengeluhkan kelemahannya.”

“Dia berkata, ‘Cepatlah! Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatangkan sesuatu yang dapat menyelamatkanmu dari ular tersebut.”

“Kemudian aku berlari semakin kencang hingga aku naik ke puncak, tepi, dan ujung kiamat. Aku naik di atas tingkat neraka, dan hampir saja aku terjatuh ke dalamnya lantaran ketakutanku, sedangkan ular besar tersebut memburu di belakangku.”

“Tiba-tiba ada orang berteriak, ‘Kembalilah! Kamu bukan penduduk neraka.”

“Lalu aku kembali mencari pertolongan, sedangkan ular besar mencariku. Aku kembali mendatangi orang tua tersebut. Aku terus memohon belas kasihan kepadanya untuk kali kedua. Dia pun mengeluhkan ketidakmampuannya menghadapi binatang liar yang menakutkan itu.”

“Kemudian dia berkata, ‘Berjalanlah ke gunung itu, karena di dalamnya terdapat beberapa titipan kaum muslimin. Jika engkau mempunyai titipan di sana, maka dia akan menolongmu.”

“Lalu aku memandang sebuah gunung yang bersinar dan terbuat dari perak. Di tempat tersebut juga terlihat tabir-tabir yang tergantung di atas tiap-tiap tempat yang diberi daun pintu dari emas merah yang berkilau. Di atas tiap-tiap daun pintu terdapat tabir dari sutera yang keindahannya menyilaukan mata. Aku pun bergegas menuju tempat tersebut sedangkan ular besar tadi masih membuntuti di belakangku.”

“Ketika aku telah mendekat dengan tempat tersebut, sebagian malaikat berteriak, ‘Angkatlah tabir-tabir dan bukalah pintu-pintu’.”

“Kemudian aku melihat anak-anak kecil bak rembulan. Sedangkan ular besar mendekat kepadaku. Aku bingung menghadapi masalah ini. Lantas sebagian anak-anak kecil berteriak, ‘Celaka kamu! Naiklah kalian semua. Sungguh, musuhnya telah dekat dengannya.”

“Mereka pun berdatangan secara bergiliran. Tiba-tiba aku melihat putriku yang telah meninggal dunia. Dia melihatku seraya menangis dan berkata, ‘Ayahku, demi Allah.’

“Kemudian aku melompat bagaikan melesatnya anak panah ke dalam piringan neraca dari cahaya sehingga dia berada di sisiku. Tangan kirinya diulurkan ke tangan kananku dan aku bergantung padanya. Sedangkan tangan kanannya dibentangkan ke arah ular besar, maka si ular pun lari terbirit-birit. Dia mendudukkanku. Sungguh, aku telah mengalami kelelahan dan kecapekan. Aku mendekapnya dan mengecupnya. Air mata membasahi mataku seakan-akan aku khawatir kehilangannya lagi. Aku menarik tangannya ke janggutku dan aku ajak dia bergurau. Kedua matanya yang indah memandangku dengan pandangan kasih sayang dan cinta tulus. Dia berkata kepadaku, “Wahai ayahku!

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka).” (QS. Al-Hadid: 16)

Tatkala aku mendengar ayat ini, aku menangis. Tidak pernah aku menangis seperti ini sebelumnya.”

“Aku berkata kepadanya, ‘Kalian mengetahui Alquran?’”

“Dia menjawab, ‘Kami lebih tahu tentang Alquran daripada engkau.”

“Aku melanjutkan, ‘Jelaskan kepadaku tentang ular yang hendak membinasakanku.’ ‘Ular tersebut adalah amal burukmu yang keji yang engkau kokohkan sendiri. Dia berbalik menyerangmu dan menginginkanmu masuk ke dalam neraka,’ jawabnya.”

“Aku bertanya lagi, ‘Sedangkan kakek tua tersebut siapa?’”

“Dia menjawab, ‘Itu amal baikmu, dan engkau sendirilah yang melemahkannya hingga dia tidak mampu menolongmu.”

“Aku berkata, ‘Wahai anakku! Apa yang kalian lakukan di gunung ini?”

“Dia menjawab, ‘Anak-anak kaum muslimin berdiam di sini sampai hari kiamat datang. Kami menanti kalian datang dan kami memberi syafaat untuk kalian.”

“Tiba-tiba aku terkejut bukan kepalang hingga akhirnya aku terbangun dari tidurku. Keringat mengucur membasahiku bagai hujan lebat yang menenggeamkanku. Aku meraih tongkatku, lalu aku hancurkan alat-alat musik dan botol-botol minuman keras. Hati nuraniku terpanggil untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

“Setelah itu, hingga berhari-hari aku hanya bisa berbaring di tempat tidur. Aku tidak mampu bergerak. Dalam keadaan seperti ini, aku memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertaubat kepada-Nya, dan memohon rahmat-Nya. Aku bertekad untuk memurnikan niat menuju jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

“Pada hari-hari pertama taubatku, aku beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala disertai rasa takut yang luar biasa. Sebab, dalam sebagian besar waktu, aku selalu membayangkan sosok ular besar ada di hadapan aku dan hendak memangsaku.’

“Dalam kondisi yang sarat akan kekhawatiran dan ketakutan, aku pun membatasi diri dari banyak orang. Kebetulan ketika itu kami semua sedang mengalami paceklik, karena tidak pernah turun hujan, maka kami mulai memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Memang ketika itu, tidak pernah turun hujan, sehingga tanaman menjadi kering, dan kami mengalami kehasuan.”

“Pada suatu hari ketika orang-orang telah pergi dan tinggal aku sendirian yang tertinggal di mushalla, aku berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tiba-tiba muncul seorang laki-laki berkulit hitam yang kecil kedua betisnya dan buncit perutnya. Setelah memasuki musholla dia melaksanakan shalat dua rekaat. Kemudian dia menengadahkan kepala ke langit seraya berkata, ‘Rabbku, sampai berapa banyak Engkau menolak hamba-hamba-Mu meminta sesuatu yang tidak dapat mengurangi apa yang ada di sisi-Mu. Aku bersumpah kepada-Mu berkat cinta-Mu kepadaku agar Engkau memberi siraman hujan kepadaku sekarang.”

“Hampir-hampir dia belum selesai berdoa, langit pun menurunkan hujan bagaikan mulut sumur. Ketika lelaki tersebut hendak beranjak, segera aku menghampirinya dan berkata, ‘Apa kamu tidak malu mengatakan, ‘berkat cinta-Mu kepadaku.’ Apa kamu tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintaimu?’”

“Dia menjawab, ‘Wahai orang yang menyibukkan diri dengan diri sendiri dan melalaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Di manakah aku pada saat Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan hanya aku sendiri yang mengesakan-Nya. Tidak ada yang lain. Dia tidak melakukan hal itu melainkan cinta-Nya kepadaku. Bukankah engkau tahu bahwa Allah Maha Luas ampunan dan besar cinta-Nya kepada para hamba-Nya. Bukankah engkau pernah mendengar firman Allah berikut:

“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43)

Lalu dia meninggalkanku dalam keadaan bingung. Dan semenjak hari itu, aku benar-benar menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa dihantui ketakutan terhadap ular besar.”

Malik bin Dinar terdiam sejenak. Kemudian dia berkata dengan tegas dan khusyu’,

“Jamaah sekalian! Sungguh, Allah Maha Penyayang. Bergembiralah kalian dengan meraih rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sampaikanlah kabar gembira ini kepada orang-orang. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai kalian. Seandainya kalian mengetahuinya, pastilah kalian tidak berbuat maksiat kepada-Nya. Apakah kalian mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, wahai manusia? Jika demikian, ketahuilah bahwa tanda-tanda cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ialah selalu berdzikir kepada-Nya secara kontinyu. Sebab, orang yang cinta sesuatu, pastilah dia sering menyebut-nyebutnya. Barangsiapa tidak merasa nyaman berkomunikasi dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sungguh ilmunya dangkal dan sia-sialah umrnya. Bertaubatlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, wahai hamba-hamba Allah!”

Imam Malik bin Dinar berdiri dan orang-orang pun ikut bangkit berdiri serta mengulang-ulang taubat yang sebenar-benarnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga hari tersebut dijadikan “hari orang-orang bertaubat.”