DAFTAR ULAMA DAN KEKASIH ALLOH SWT YANG TIDAK MENIKAH

Ulama dan kekasih Alloh rohimahumullahu yang lebih memilih Ilmu dan tidak menikah.

  1. Abdullah bin Abi Najih al-Maki, seorang taabi’ut tabi’in
  2. Al Adib an-Nahwiyi, Abu Abdirrohman Yunus bin Habib al-Bashriyyi (90-182 H)
  3. Husain bin Ali al-Ju’fiy (119-203 H)
  4. Al-Imam az-Zahid al-‘abid al-Muhdits al-Faqih Abu Nasyr, Bisyru bin Harits bin Abdirrohman Al-Marwaziy, terkenal dengan nama Bisyr al-haafiy  (150-227 H)
  5. Hannad bin as-Sariy (152-243 H)
  6. Al-Imam al-Mujtahid, Abu Ja’far, Muhammad bin Jarir ath-Thobary (224-310 H)
  7. Al-Imam Abu Bakr bin al-Anbaari, Muhammad bin al-Qosim binMuhammad (271-328 H)
  8. Al-Imam Abu Ali al-Farisi, al Hasan bin Ahmad (288-377H)
  9. Imamul Hadits wal Muhadditsin, Abu Nashr as Sajziy
  10. Al-Hadizh al-Faqih az-Zahid, Abu Sa’d as-Samaan ar-Rozi (371-445 H)
  11. Al Hafizh al anmathi, Abul Barokat Abdul Wahab bin Mubarok bin Ahmad al-Baghdadi (462-538 H)
  12. Al Imam Abul Qosim, Mahmud bin Umar az-Zamakhsyari (28 rojab 487-malam arofah 538 H)
  13. Al-Imam al Mufassir al Muhdits, Abu Muhammad bin al-Khosysyab al-Hanbali al-Baghdadi (492-567 H)
  14. Abul Fath, Nashihuddin al-Hanbali / Ibn Maniy (501-583 H)
  15. Al Wazir Jamaluddin Abul Hasan Ali bin Yusuf as-Syaibani al-Qifthi (567-646 H)
  16. Al Imam Ahlul Masyriqi wal maghrib, Syaikhul Islam, Alamul Auliya, Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syarof an-Nawawi asy-Syafi’i (Imam Nawawi) (631-rojab 676/45th)
  17. Imam Ibn Taymiyah al-Haroni ad-Dimasyqi (661-728 / 67th)
  18. Al Allamah al Faqih al Mufassir Syeikh Basyirul Ghozi al-halaby (1274-1339 H)
  19. Syeikh Abul Wafa` al-Afghani (1310-1395 H)
  20. Al Alimah al Muhadditsah al Kamilah, Karimah binti Ahmad bin Muhammad bin Hatim al-Marwaziyah (Marwa 365 – Mekkah 463 H)

رحمهم الله تعالى ، ونفعنا الله بهم بعلومهم وبركاتهم

Di nukil dari kitab ” Al ‘Ulama_u Al Uzzab, Alladzina Atsaruu al Ilma ‘ala al-Zawwaj” , karya Syeikh Abdul Fattah Abu Ghoddah.

Wallahu a’lam.

TERGODANYA NABI ADAM AS DAN SIFAT MAKSUMNYA SEBAGAI SEORANG ROSUL

TERGODANYA NABI ADAM ‘ALAIHIS SALAM

فأخرج إبليس مزمارا وزمر تزميرا مطربا فلما سمع آدم وحواء المزمار جاءا ليسمعا ذلك فلما وصلا الى شجرة الحنطة قال ابليس تقدم الى هذه الشجرة يآدم فقال إنى ممنوع فقال ابليس (وما نهاكما ربكما عن هذه الشجرة الا أن تكونا ملكين أو تكونا من الخالدين) فان من أكل من هذه الشجرة لا يشيب ولا يهرم ثم أقسم بالله أنها لا تضرهما وأنه لمن الناصحين لهما فظن آدم أنه لا يتجاسر أحد على أن يحلف بالله كاذبا وظن أنه من الناصحين

Kemudian iblis mengeluarkan seruling dan memainkannya dengan merdu, ketika adam dan hawa mendengarnya, me­reka langsung mendatanginya untuk mendengarkan/­menikmatinya,dis­aat mereka sampai dipohon gandum maka iblis berkata padanya,, wahai adam,mendekatla­h pada pohon ini,adam berkata, sesungg­uhnya aku dicegah untuk dekat dengan pohon itu, iblis berkata Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).”

Karena sesungguhnya siapa saja yang memakan biji dari pohon ini,dia tidak akan bisa tua dan pikun dan iblis juga bersumpah dengan nama ALLOH bahwa makan biji itu tidak akan membahayakan mereka berdua dan dia mengaku bahwa dia adalah pembawa nasihat bagi mereka berdua maka adam pun menyangka bahwa tiada yang berani mengucapkan sumpah dengan nama ALLOH pada kebohongan dan menyangka juga bahwa iblis tadi adalah malaikat pembawa nasihat.

فمن حرص حواء على الخلود فى الجنة تقدمت وأكلت فلما نظر آدم اليها حين أكلت ووجدها سالمة تقدم وأكل بعدها فلما وصلت الحبة الى جوفه طار التاج عن رأسه وطارت الحلل أيضا

Dari keinginan hawa untuk kekal disurga maka ia maju duluan dan memakannya ketika adam melihatnya makan dan selamat maka adam pun ikut maju dan memakannya,pada­ saat biji sampai ditenggorokan maka terbanglah mahkota yang ada dikepalanya bersama perhiasan-perhi­asan yang ada padanya

سؤال لأى شئ لما أكلت حواء من الشجرة لم تسقط الكسوة عنها فى الحال وآدم حين أكل سقطت عنه فى الحال الجواب لوسقطت فى الحال عن حواء لرجع آدم ولم يأكل وأيضا االدية على العاقلة ولان الأمر كان أولا لآدم

Pertanyaan, kenapa disaat hawa makan biji tersebut seluruh pakaiannya tidak terlepas seketika sedangkan adam pakaiannya terlepas seketika ? Jawab :Umpama lepas seketika maka adam akan kembali dan tidak mau ikut makan,begitu juga diyat/tebusan itu pada yang berakal dan karena sesungguhnya awal perkara itu untuk adam.

وقال بعض العلماء ان آدم أكل وهو ناس قال الله تعالى (ولقد عهدنا الى آدم من قبل فنسى)

Sebagian ulama’ berkata sesungguhnya adam memakannya itu dalam keadaan lupa Sebagaimana firman ALLOH : Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu). Qs.thoha ayat 115.

فلما أكل آدم من الشجرة أوحى الله تعالى الى جبرائيل عليه السلام بأن يقبض على ناصية آدم وحواء ويخرجهما من الجنة فأخرجهما جبرائيل من الجنة ونودى عليهما بالمعصية. قال فكان آدم وحواء عريانين فطافا على أشجار الجنة ليستترا بأوراقها فكانت الأشجار تنفر عنهما ورحمته شجرة التين فغطته فتستر بورقها وقيل غطته شجرة العود فلذلك أكرمها الله بالرائحة الطيبة وأكرم شجرة التين بالثمر الحلو الذى ليس له نوى وقيل غطته شجرة الحناء فلذلك صار أثرها طيبا مفرحا ولذلك سميت الحناء قال كعب الأحبار لما صار آدم عريانا أوحى الله تعالى اليه أن اخرج الىّ لأنظرك فقال آدم يارب لا أستطيع ذلك من حيائى منك وخجلى

Disaat adam makan dari biji gandum tersebut maka ALLOH memerintahkan jibril untuk mencabut ubun-ubun adam dan hawa dan mengeluarkannya­ dari surga dan dipanggil dengan sebutan maksiyat. Wahhab bin munabbih berkata, saat itu adam dan hawa dalam keadaan telanjang, mereka berputar pada pohon-pohon surga untuk mengambil daun untuk menutupi tubuh mereka tapi pohon-pohon itu pada kabur dari mereka, akhirnya ­ pohon tin iba pada mereka dan menutupi mereka dan diambillah daunnya untuk menutupi tubuh mereka.

Dikatakan bahwa yang menutupinya adalah pohon garu,oleh karena itu ALLOH memulyakannya dengan bau yang harum dan ALLOH memulyakan pohon tin dengan buah yang manis tanpa biji. Dikatakan juga bahwa yang menutupinya adalah pohon inai oleh karena itu jadilah baunya harum dan wangi dan dinamakan inai. Ka’ab alahbar berkata,ketika adam dalam keadaan telanjang, ALLOH­ berfirman padanya keluarlah kamu dariku, aku akan menunggumu maka adam berkata ya Tuhan sungguh aku tidak sanggup karena malu padamu.

QODAR ALLOH SWT DAN KEMA’SHUMAN NABI ADAM AS DARI DOSA

Salah satu yang wajib bagi para Rosul dan wajib bagi kita meyakininya adalah sifat amanah, yaitu terpeliharanya mereka daripada melakukan dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil, biak haram maupun makruh, baik sengaja maupun tidak. Untuk menyikapi masalah Nabi Adam, aku curhat dulu yach… aku pernah nonton tv film hidayah, disitu aku lihat ada orang jahat… banget sampai timbul rasa kebencian di hatiku kepadanya dan aku menjulukinya si penjahat berengsek….(hehe ma’af),  padahal kenyataanya apa.., ia (si penjahat) ternyata mendapat sambutan dan tepukan yang hangat dari sang sutradara bahkan mendapat uang (gaji) yang cukup besar…  yups…ia adalah pemain yang baik, secara shury (rupa / gambaran) ia adalah penjahat tetapi secara hakiky (yang sebenarnya) ia adalah seorang yang amat patuh kepada perintah atasan. Sama halnya dengan persoalan Nabi Adam as., lebih jelasnya coba kita intip tafsir showi juz 1:22

و الحق ان يقال ان ذلك من سر القدر فهي منهي عنه ظاهرا لا باطنا فانه بالباطن مأمور بالاولى من قصة الخضر مع موسى و اخوة يوسف معه على انه انبياء فان الله قال للملائكة اني جاعل في الارض خليفة كان قبل خلقه و هذا الامر مبرم يستحيل تخلفه فلما خلقه و اسكنه الجنة اعلمه بالنهي عن الشجرة صورة فهذا النهي صوري و اكله من الشجرة جبري لعلمه ان المصلحة مترتبة علي اكله و انما سمي معصية نظرا للنهي الظاهري فمن حيث الحقيقة لم يقع منه عصيان و من حيث الشريعة وقعت منه المخالفة و من ذلك قول ابن العربي لو كنت مكان ادم لاكلت الشجرة بتمامها لما ترتب علي اكله من الخير العظيم و ان لم يكن من ذلك الا وجود سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم لكفى

“Dan yang benar bahwa dikatakan sesungguhnya itu adalah sirrul qodar(rahasia taqdir), maka ia dilarang secara zhohir tetapi tidak secara batin. karena Nabi Adam as pada batinnya adalah diperintah terlebih utama dari kisahnya Nabi Khidir serta Nabi Musa dan saudara Nabi Yusuf beserta Nabi Yusuf apalagi mereka itu adalah para Nabi. Sesungguhnya Allah SWT saat berfirman kepada para malaikat “Seseungguhnya aku akan menjadikan di bumi seorang kholifah” adalah sebelum menciptakan Nabi Adam. Dan perkara ini adalah pasti dann mustahil salah. Lalu saat Allah menciptakannya dan menempatkannya di surga, diberi tahu dengan larangan makan buah pada rupanya(zohirnya). Larangan ini adalah larangan shury dann makan buahnya adalah jabary dengan sengaja, tahu dan sadar karena ia tahu bahwa kemaslahatan ada didalam memakannya. Dan itu disebut ma’siat karena memandang pada larangan yang dzohir. Dan dilihat dari sisi syari’at terjadi daripadanya suatu pelanggaran. Dan diantara ma’na ini apa yang dikatakan oleh Ibnul ‘Aroby : “Jika aku di tempat Nabi Adam maka aku akan makan buah itu dengan sempurna karena dalam memakannya itu ada kebaikan yang banyak, dan jika tak ada satu kebaikan pun selain wujudnya Sayyidina Muhammad SAW niscaya cukup”.

Lebih jelasnya liat lagi tafsir Showy pada juz dan halaman yang sama:

انه اجتهد فأخطأ فسمى الله خطأه معصية فلم يقع منه صغيرة ولا كبيرة انما هو من باب حسنات الابرار سيئات المقربين فلم يتعمد المخالفة

ومن نسب التعمد و العصيان له بمعنى فعل الكبيرة او الصغيرة فقد كفر و من نفى اسم العصيان عنه فقد كفر ايضا لنص الاية

“Bahwa sesungguhnya Adam berijtihad lalu salah ijtihadnya, maka Allah memberi nama kesalahannya itu dengan ma’siat padahal tak pernah terjadi dpdnya dosa kecil maupun dosa besar. Sesungguhnya ini termasuk dalam bab “hasanatul abror sayyiatul muqorrobin”(kebaikan orang abror adalah kejahatan orang muqorrobin).

BARANGSIAPA yang MEMBANGSAKAN SENGAJA DAN DOSA kepada NABI ADAM dengan MA’NA IA MELAKUKAN DOSA BESAR ATAU DOSA KECIL MAKA IA TELAH KAFIR, SEBAGAIMANA JUGA yang MENOLAK NAMA MA’SIYAT DARIPADANYA karena ADA NASH AYAT QUR’AN”.

Kema’siyatan Nabi Adam hanyalah sebuah skenario dari ALLAH tuk menurunkannya dari surga, karena sebelum ALLAH menciptakan Adam, ALLAH pernah berfirman ke para Malaikat untuk menjadikan seorang kholifah dibumi. Sedangkan Adam diciptakan disurga. lalu ALLAH membuat Adam makan buah khuldi sehingga tercapailah tujuan ALLAH menjadikan kholifah di bumi. Yang wajib kita i’tikadkan adalah NABI ADAM MA’SIAT HANYA SeCaRa DZOHIR/SYARI’ATNYA SAJA, SEDANGKAN SECARA HAKIKAT NABI ADAM ADALAH MA’SUM (TERPELIHARA dari MA’SIAT) bahkan Nabi Adam dikatakan ta’at karena sedang menjalankan skenario dari ALLAH.

Kenapa Allah tidak ciptakan saja langsung manusia di bumi sebagai khalifah? Artinya iblis yang kafir pun atas skenario Allah iblis pun diusir lalu mempengaruhi Adam-Hawa untuk makan buah terlarang? Karena Allah ta’ala lah yang berkehendak…bukan manusiannya…? Berhakkah manusia mempertanyakan kehendak-Nya?

Banyak hikmah-hikmah ALLAH tidak menciptakan manusia langsung di bumi… bisa dilihat dari proses yang terjadi pada nabi Adam AS sehingga diturunkan dari surga..

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

SHOLAWAT JAUHAROTUL KAMAL VERSI ARAB INDONESIA DAN ARTI SERTA SYARAT DAN HIKMAHNYA

Shalawat Jauharatul Kamal Fi Madh Khair al-Rijal

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّانِيَّةِ وَالْيَاقُوْتَةِ الْمُتَحَقِّقَةِ الْحَائِطَةِ بِمَرْكَزِ الْفُهُوْمِ وَالْمَعَانِيّ، وَنُوْرِ اْلأَكْوَانِ الْمُتَكَوِّنَةِ اْلأدَمِيِّ صَاحِبِ الْحَقِّ اْلرَّبَّانِيّ، اَلْبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزُوْنِ اْلأَرْبَاحِ الْمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ اْلبُحُوْرِ وَاْلأَوَانِي، وَنُوْرِكَ اللاَّمِعِ الَّذِيْ مَلأْتَ بِهِ كَوْنَكَ الْحَائِطَ بِأَمْكِنَةِ الْمَكَانِي، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَيْنِ الْحَقِّ الَّتِى تَتَجَلَّى مِنْهَا عُرُوْشُ الْحَقَائِقِ عَيْنِ الْمَعَارْفِ اْلأَقْـوَمِ صِرَاطِكَ التَّآمِّ اْلأَسْقَمِ، اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى طَلْعَةِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ اْلكَنْزِ اْلأَعْظَمِ إِفَاضَتِكَ مِنْكَ اِلَيْكَ إِحَاطَةِ النُّوْرِ الْمُطَلْسَمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ صَلاَةً تُعَرِّفُنَا بِهَا إِيَّاهُ  .

ALLOHUMMA SHOLLI WA SALLIM ‘ALA ‘AINIR ROHMATIR ROBBANIYYAH WAL YAQUTATIL MUTAHAQQIQOTIL HA ITHOH BI MARKAZIL FUHUMI WAL MA’ANI WA NURIL AKWANIL MUTAKAWWINATIL ADAMI SHOHIBIL HAQQIR ROBBANI AL BARQIL ASTO’I BI MUZUNIL ARBAHIL MALIATI LIKULLI MUTA’ARRIDIM MINAL BUHURI WAL AWANI WA NURIKAL LAMI’IL LADZI MALA’TA BIHI KAUNAKAL  HA ITHO BI AMKINATIL MAKANI ALLOHUMMA SHOLLI WA SALLIM ‘ALA ‘AINIL HAQQIL LATI TATAJALLA MINHA ‘URUSYUL HAQOIQ ‘AINIL MA’ARIFIL AQWAM SHIROTIKAT TAMMIL ASQOM ALLOHUMMA SHOLLI WA SALLIM ‘ALA THOL’ATIL HAQQI BIL HAQQIL KANZIL A’DZOM IFADLOTIKA MINKA ILAIKA IHATHOTIN NURIL MUTHOLSAM SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WA ‘ALA ALIH SHOLATAN TU’ARRIFUNA BIHA IYYAH

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada Nabi Muhammad. Ia adalah haqiqat rahmat sifat-sifat Tuhan, ia bagaikan mutiara yang yang mengetahui semua nama-nama (asma) dan sifat-sifat Allah, ia yang menjadi pusat pengetahuan yang mencakup seluruh pengetahuan yang diberikan kepada makhluk, ia yang menjadi penerang (cahaya) segala sesuatu yang ada termasuk manusia, ia yang membawa (mempunyai) agama Allah, ia adalah al-Haqiqat al-Muhammadiyyah (Hakikat Muhammad) yang bagaikan kilat bahkan lebih dari kilat yang dibuktikan dengan mengalir dan berlimpah rahmat Tuhan kepada setiap orang  yang menghadap-Nya. seperti halnya para nabi dan para wali, ia yang menjadi cahaya Tuhan yang menerangi seluruh makhluk di setiap tempat. Ya Allah ! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada Nabi Muhammad yang menjadi ‘ain al-Haqq (wujud keadilan, pemilik kebenaran)., telah tampak dari padanya seluruh Hakikat keadilan yang seperti ‘arsy sebagi sumber seluruh ilmu, yaitu ilmu Engkau yang terdahulu, jalan Engkau yang sempurna dan lurus. Ya Allah! limpahkanlah rahmat dan keselamtan-Mu kepada Nabi Muhammad yang merupakan mazhar (manifestasi) dan tajalli, ia yang menjadi gudang (tempat penyimpanan) ilmu dan rahmat-Mu Yang Maha Besar, ia tempat datangnya kasih-Mu, ia yang meliputi seluruh cahaya yang tersimpan. Semoga Allah memberikan rahmat kepadanya dan kepada keluarganya, yang dengan sebab rahmat tersebut kami bisa mengetahui haqiqat.”

Shalawat Jauharatul Kamal adalah salah satu shalawat yang menjadi Wazhifah (tugas rutin) dalam Thariqah Tijaniyyah selain shalawat al-Fatih yang dibaca secara berjamaah ataupun dalam keadaan sendiri. Redaksi shalawat Jauharatul Kamal diajarkan langsung oleh Sayyidul Wujud Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Sayyidi Syaikh al-Imam Ahmad Ibn Muhammad At-Tijany (1150-1230 H, 1737-1815 M) dalam keadaan sadar/jaga (bukan mimpi). Sebagaimana dijelaskan oleh Sayyidi Syaikh al-Imam Muhammad al-Arabiy al-Tijaniy:

جَوْهَرَةُ الْكَمَالِ مِنْ إِمْــلاَءِ

                            اِمَـامِ اْلاِرْسَـالِ وَاْلأَنْبِيَاءِ

عَلَى حَبِيْبِهِ الْوَلِـيِّ الْعَالِـمِ

                   قُطْبِ الْوَرَى أَحْمَـدَ نَجْلِ سَالِـمِ

Artinya:”Shalawat Jauharatul Kamal berasal dari ucapan Nabi Muhammad yang merupakan pemimpin para Rasul dan Nabi. Yang disampaikan kepada kekasihnya seorang wali yang A’lim, manusia terkemuka yaitu Syaikh al-Imam Ahmad al-Tijaniy merupakan keturunan syaikh Ibn Salim.”[1]

Syaikh Muhammad Fathan Ibn Abdul wahid al-Susiy al-Nazhifiy berkata:

وَمَنْ تَوَهَّمَ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنْقَطَـعُ جَمِيْعُ مَدَدِهِ عَلَى أُمَّتِهِ بِمَوْتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَسَائِرِ اْلأَمْوَاتِ ، فَقَدْ جَهِلَ رُتْبَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَسَاءَ اْلأَدَبَ مَعَهُ وَيُخْشَى عَلَيْهِ أَنْ يَمُوْتَ كَافِراً ، إِنْ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَذَا اْلاِعْتِقَادِ .

Artinya:” Siapa saja yang meragukan Rasulullah dengan mengatakan bahwa bantuan Rasulullah telah terputus kepada ummatnya dengan sebab wafatnya beliau sama seperti halnya mayyit yang lain, maka sungguh ia tidak mengenal sama sekali akan kedudukan Rasulullah dan ia telah melakukan adab yang buruk kepada Rasulullah, dikhawatirkan ia mati dalam keadaan kafir jika ia tidak bertaubat dari keyakinan seperti itu.”[2]

Redaksi Shalawat Jauharatul Kamal, tampaknya lebih menjelaskan atau menafsirkan kalimat yang terdapat dalam shalawat al-Fatih yakni pada kalimat ( اَلْفَاتِحِ لِمَا اُغْلِقَ   )  Misalnya, shalawat tersebut mengungkapkan sifat-sifat Nabi Muhammad, sebagai Hakikat rahmat dari sifat-sifat Tuhan, yang merupakan pusat pengetahuan. Kemudian dikatakan bahwa Nabi Muhammad, sebagai al-Haqiqat al-Muhammadiyyah yang memiliki sifat yang dipuji, yang mengalir dan menyinari keseluruh alam. Selanjutnya dikatakan bahwa Nabi Muhammad, sebagai wujud yang paling sempurna.

Makna  al-Fatih li ma Ughliqa pada intinya adalah :

1)      Nabi Muhammad adalah sebagai pembuka belenggu ketertutupan segala yang maujud (ada) di alam.

2)      Nabi muhammad sebagai pembuka keterbelengguan al-Rahmah al-Ilahiyyah (kasih saying Tuhan) bagi para makhluk di alam.

3)      Hadirnya Nabi Muhammad menjadi pembuka hati yang terbelenggu oleh Syirik.

Sedangkan makna al-Khatimi li ma Sabaq pada intinya adalah :

1)      Nabi Muhammad sebagai penutup kenabian dan kerasulan.

2)      Nabi Muhammad menjadi kunci kenabian dan kerasulan.

3)      tidak ada harapan kenabian dan kerasulan lagi bagi yang lainnya.

Pemikiran-pemikiran (faham) tasawuf Syaikh Ahmad al-Tijani terkandung dalam penafsirannya tentang makna al-Fatih Lima Ughliq dan al-Khatim Lima Sabaq. Syaikh Ahmad al-Tijani mengatakan bahwa al-Fatih li ma Ughliq mempunyai makna bahwa Nabi Muhammad merupakan pembuka segala ketertutupan al-Maujud (yang ada di alam). Alam pada mulanya terkunci (mughallaq) oleh ketertutupan batin (hujubaniyat al-Buthun). Wujud Nabi Muhammad menjadi “sebab”  atas terbukanya seluruh belenggu ketertutupan alam dan menjadi “sebab” atas terwujudnya alam dari “tiada” menjadi “ada”. Karena wujud Nabi Muhammad alam keluar dari “tiada” menjadi “ada”, dari ketertutupan sifat-sifat batin menuju terbukanya eksistensi diri alam (nafs al-Akwan) di alam nyata (lahir). Jika tanpa wujud Nabi Muhammad, Allah tidak akan menciptakan segala sesuatu yang wujud, tidak mengeluarkan alam ini dari “tiada” menjadi “ada”.

Imam Muhammad Ibn Said al-Bushiriy mengatakan dalam al-Burdah:

وَكَيْفَ تَدْعُوْ إِلَى الدُّنْيَا ضَرُوْرَةُ مَنْ

                     لَوْلاَهُ لَمْ تَخْرُجِ الدُّنْيَا مِنَ الْعَـدَمِ

Artinya:” Bagaimana mungkin kesusahan beliau dapat menyeru kepada dunia, padahal kalau bukan karena beliau dunia ini tidak tercipta.”

Ungkapan sifat-sifat Nabi Muhammad di atas, menunjukan bahwa Syaikh Ahmad al-Tijaniy merumuskan maqam Nabi Muhammad sebagaimana telah dikemukakan para sufi terdahulu, terutama dalam mensifati pemahaman mereka terhadap haqiqat (Hakikat) Nabi Muhammad, tidak dapat dibantah bahwa ia sependapat, bahkan ia menjelaskan konsep dasar tersebut.

Hal ini, menunjukan bahwa dari aspek pemikiran, Syaikh Ahmad al-Tijaniy menganut tasawuf falsafi sedangkan konsep-konsep dasar tasawufnya: Nur Muhammad, Ruh Muhammad, al-Haqiqat al-Muhammadiyyah. Dengan demikian, bahwa corak (paham) tasawuf yang digunakan oleh Syaikh Ahmad al-Tijaniy adalah corak (paham) tasawuf yang dikembangkan oleh Imam ‘Abdul Karim al-Jiliy dengan konsep dasar al-Insan al-Kamil, yang berasal dari Imam Ibn Arabiy dengan konsep Haqiqat al-Muhammadiyah. Terlepas apakah Syekh Ahmad al-Tijani terpengaruh oleh pemikiran filosofis Abd. Karim al-Jili  yang berasal dari Ibn. ‘Arabi atau tidak, corak pemikiran tasawuf demikian dikembangkan oleh dua sufi tersebut. Pemikiran Syaikh Ahmad al-Tijaniy “mengawinkan”, menyatukan kembali dua corak {faham} tasawuf  yakni tasawuf amali dan tasawuf falsafi yang telah “bercerai” sejak abad ketiga Hijriyah sehingga masing-masing mempunyai metodologi tersendiri.

Inilah yang dimaksud bahwa Thariqat Tijani merupakan thariqat yang terakhir dan seluruh thariqat akan masuk kedalam lingkup ajarannya, dalam arti seluruh amalan sufi {wali} dan seluruh corak pemikiran para sufi terakomodir dalan ajaran thariqat yang dikembangkannya, hal ini bisa dimengerti karena cahaya maqam wali khatm merupakan sumber seluruh cahaya kewalian. Sebagai perbandingan seluruh syari’at para nabi terakomodir kedalam syari’at Nabi Muhammad, karena syari’at para nabi bersumber dari cahaya Khatm an-Nabiyyin (penutup para nabi).

Keutamaan Shalawat Jauharatul Kamal

Diantara keutamaan membaca shalawat Jauharatul Kamal yang disebutkan langsung oleh Rasulullah kepada Imam Ahmad Ibn Muhammad al-Tijaniy sebagai berikut :

أَنَّ الْمَرَّةَ الْوَاحِدَةَ تَعْدِلُ تَسْبِيْحَ الْعَالَمِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Artinya:” Membaca shalawat Jauharatul Kamal sekali, pahalanya menyamai tiga kali lipat tasbihnya alam.”

أَنَّ مَنْ قَرَأَهَا سَبْعَ مَرَّاتٍ فَأَكْثَرَ يَحْضُرَهُ رُوْحُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْخُلَفَاءِ اْلأَرْبَعَةِ مَا دَامَ يَذْكُرُهَا

Artinya:” Siapa yang membacanya 7 kali atau lebih, maka akan didatangi Ruh Nabi Muhammad dan 4 khulafaur Rasyidin selama ia dalam keadaan membaca shalawat itu.”

أَنَّ مَنْ لاَزَمَهَا أَزْيَدَ مِنْ سَبْعِ مَرَّاتٍ يُحِبُّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَحَبَّةً خَاصَّةً وَلاَ يَمُوْتُ حَتَّى يَكُوْنَ مِنَ اْلأَوْلِيَاءِ

Artinya:” Siapa saja yang melazimi membacanya lebih dari 7 kali, maka ia akan sangat dicintai oleh Rasulullah sebenar-benar cinta khusus dan ia tidak akan meninggal dunia sehingga menjadi salah satu dari para kekasih Allah.”

Adapun keutamaan shalawat Jauharatul Kamal yang disebutkan oleh Imam Ahmad Ibn Muhammad al-Tijaniy adalah:

مَنْ دَاوَمَ عَلَيْهَا سَبْعًا عِنْدَ النَّوْمِ عَلَى طَهَارَةٍ كَامِلَةٍ وَفِرَاشٍ طَاهِرٍ يَرَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya:” Siapa saja yang konsisten membacanya 7 kali menjelang tidurnya dalam keadaan bersuci yang sempurna dan di tempat tidur yang suci (tidak ada najis), maka ia akan melihat Nabi Muhammad.”

قَالَ الشَّيْخُ أَحْمَدُ التِّجَانِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَعْطَانِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةً تُسَمَّى بِجَوْهَرَةِ الْكَمَالِ مَنْ ذَكَرَهَا اثْنَتَيْ عَشْرَةَ مَرَّةً وَقَالَ : هَذِهِ هَدِيَّةٌ مِنِّي اِلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ , فَكَأَنَّمَا زَارَهُ فِي رَوْضَتِهِ الشَّرِيْفَةِ, وَكَأَنَّمَا زَارَ أَوْلِيَاءَ اللهِ تَعَالَى وَالصَّالِحِيْنَ مِنْ أَوَّلِ الْوُجُوْدِ اِلَى وَقْتِهِ وَفِي رِوَايَةٍ اِلَى اْلأَبَـدِ

Artinya:” Syaikh Ahmad al-Tijaniy berkata: Rasulullah memberikan kepadaku redaksi shalawat yang dinamai Jauharatul kamal, siapa saja yang telah membacanya sebanyak 12 kali dan berkata: Shalawat ini aku hadiahkan kepada engkau Ya rasulullah. Maka seakan-akan ia menziarahi Rasulullah di Raudhahnya yang mulia dan seolah-olah ia telah menziarahi para wali Allah besera menziarahi orang-orang shalih dari sejak zaman Nabi Adam sampai waktu ia membacanya bahkan riwayat lain menyebutkan sampai dunia musnah.”

Syaikh Muhammad Fathan Ibn Abdul wahid al-Susiy al-Nazhifiy mengumpulkan keutamaan shalawat Jauharatul kamal dalam Nazham al-Durratul Kharidah:

بِسَابِعَةٍ مِنْهَا حُضُوْرُ نَبِيِّنَا

                  مَعَ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَقُدْوَتِي

Dengan membaca 7 kali Jauharatul kamal, akan hadir Nabi Muhammad beserta para Khulafaur Rasyidin dan Syekh Ahmad al-Tijaniy.

وَلَوْ دُمْتَ ذِكْرَهَا دُهُوْرًا طَوِيْلَةً

                  لَمَا فَارَقُوْكَ بِالذَّوَاتِ الْكَرِيْمَةِ

Seandainya engkau konsisten membacanya sampai masa yang lama, maka mereka semua tidak akan meninggalkan engkau dengan zat mereka yang mulia.

وَتَغْيِيْرُ جِلْسَةٍ بِهَا لِلتَّأَدُّبِ

                  جَرَى عَمَلٌ بِهِ لَدَا جُلِّ اِخْوَتِي

Mengubah posisi duduk kepada duduk yang lebih bagus lantaran menjalankan adab (atas kehadiran Nabi beserta para khalifah dan syaikh Ahmad al-Tijaniy). Adab seperti itu menjadi kebiasaan di sisi pembesar saudaraku (pengikut Tijaniyyah).

وَمَنْ دَامَ عِنْدَ النَّوْمِ سَبْعًا يَرَى النَّبِيّ

                 بِشَرْطِ الْوُضُوْءِ مَعْ طَهَارَةِ بُقْعَةِ

Siapa saja yang selalu membacanya ketika hendak tidur sebanyak 7 kali, maka ia akan melihat Nabi Muhammad, dengan syarat ia memiliki wudhu dan tempat tidurnya suci (tidak ada najis).

وَتَالٍ لَهَا اثْنَتَيْنِ مَعْ عَشْرَةٍ كَأَنَّ

                      مَا زَارَ أَحْمَدَ النَّبِيَّ بِرَوْضَةِ

Yang membacanya sebanyak 12 kali seakan-akan ia telah menziarahi Nabi Muhammad di Raudhah.

وَكُلِّ نَبِيٍّ مَعْ وَلِيٍّ مِنْ أَدَمَا

                 اِلَى وَقْتِ ذِكْرِهَا بِإِذْنِ الْوَسِيْلَةِ

Seolah-olah ia juga telah menziarahi seluruh Nabi dan para wali dari sejak zaman Nabi Adam sampai ketika ia membaca  shalawat tersebut dengan catatan bahwa ia telah mendapat izin dari Syaikh Ahmad al-Tijaniy dan pengikutnya.

وَبَعْدَ الْفَرَاغِ قُلْ بِقَلْبِ مَذَلَّةٍ

                   اِلَيْكَ رَسُوْلَ اللهِ هَذِى هَدِيَّتِي

Setelah selesai membaca jauharatul kamal maka katakanlah olehmu dengan hati yang penuh ketundukan dan khusyu’: “Aku hadiahkan shalawat ini kepada engkau Ya Rasulullah.

وَخَمْسًا وَسِتِّيْنَ اتْلُهَا عِنْدَ شِدَّةِ

                      وَلِلْخَيْرِ مَرَّةً بُعَيْدَ الْفَرِيْضَةِ

Bacalah jauharatul kamal sebanyak 65 kali ketika terjadi kesulitan dan kepelikan dan bacalah satu kali setiap selesai mengerjakan shalat fardhu untuk mendapatkan segala kebaikan.

Keutamaan-keutamaan Shalawat Jauharatul Kamal yang disebutkan di atas hanya akan diperoleh bagi orang yang telah melakukan baiat Thariqah Tijaniyah dan istiqamah mengamalkannya.

<<< Perhatian>>

Persyaratan membaca shalawat ini:

  1. wajib bersuci atau berwudhu dengan sempurna .. jika bertayammum tidak mencukupi syarat dan tidak diperkenankan membaca shalawat ini
  2. wajib suci tempat, pakean, badan dari najis dan hadas
  3. wajib dibaca pada tempat yg agak luas sekira muat 6 orang
  4. jangan dibaca saat di kendaraan baik darat, laut maupun udara.
  5. orang yg beristinja (cebok) pake tisu atau sejenisnya yang bukan menggunakan air maka ia tidak diperbolehkan membaca shalawat ini walaupun ia ketika berwudhu pakai air. lantaran bersuci yang ia lakukan tidak tahaqquq (sempurna) kata orang betawi kaga danta.
  6. Shalawat Jauharatul Kamal ini saya tidak ijazahkan secara umum, lantaran shalawat ini bagian Asrar dari Thariqah Tijaniyah dan hanya Khusush buat pengamal Thariqah Tijaniyah.

TOKOH SUFI MALIK BIN DINAR RAH. DAN KISAH KEHIDUPANYA

Masjid Jami’ yang luas seakan menjadi sempit lantaran padatnya kaum muslimin yang berkumpul disebabkan rasa cinta dan kagum terhadap Malik bin Dinar –tokoh besar dari kalangan ahli zuhud dan ahli ibadah. Beliau duduk di tempatnya dalam keadaan termenung, sesaat kemudian beliau mendongakkan kepalanya. Semua orang yang hadir ketika itu menyaksikan suatu pemandangan yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya apda diri Malik bin Dinar sang ahli fikih Irak, seorang imam, dan pemberi nasihat di Masjid Kufah.

Air mata beliau berlinangan membasahi jenggotnya karena rasa kagumnya terhadap antusiasme kaum muslimin yang datang untuk mendengarkan ceramahnya pada hari itu. Memang, pada hari sebelumnya beliau mengumumkan kepada mereka bahwa beliau akan menyampaikan sesuatu yang belum mereka ketahui dan hal-hal yang wajib mereka ketahui.

Imam Malik bin Dinar pun bertutur kata. Beliau membuka pembicaraannya dengan suara yang menyentuh lubuk hati para pendengarnya dan orang-orang yang mengaguminya sehingga seolah-olah suara tersebut berasal dari tempat yang jauh. Beliau memuji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, membaca shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mendoakan orang-orang yang mendengar dan orang-orang yang mengenalnya agar mendapat kebaikan dan ampunan karena mereka telah berbaik sangka kepada beliau.

Beliau menuturkan, “Kemarin aku telah menyampaikan kepada kalian bahwa dengan izin Allah, besok aku akan bercerita mengenai seorang hamba yang butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, hamba yang kalian dengarkan ceramahnya, yakni mengenai Malik. Aku mengetahui pada diriku ada sesuatu yang tidak kalian ketahui, dan kalian selalu berbaik sangka kepada kepadaku. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kalian dengan kebaikan.”

“Ketika aku masih muda, aku adalah seorang polisi yang jahat. Waktu itu, aku diberi tugas untuk menjaga pasar. Tidak ada seorang pun yang selamat dari kejahatanku. Tidak ada seorang pun yang lepas dari kekejamanku. Betapa banyak orang yang telah kucelakakan dan kusakiti. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuniku. Aku tidak mengingat mereka lagi kecuali tambatan hatiku telah putus lantaran meratapi diriku sendiri. Seandainya bukan karena iman yang diliputi rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan karena rahmat-Nya pula, pastilah hari ini aku tidaklah seperti yang kalian lihat.”

“Wahai saudara-saudaraku! Dulu, aku sama sekali tidak pernah meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Aku meminum khamar, memukuli orang, ikut campur urusan orang-orang yang bukan urusanku, hingga dalam persoalan jual-beli. Aku membela orang yang menyenangkanku meskipun dia berbuat jahat.”

“Suatu hari aku sedang berjalan di pasar, tiba-tiba aku bertemu dua lelaki yang sedang bersengketa mengenai suatu perkara. Satu pihak membeli barang, sedangkan satu pihak lain menjual barang dan bersikeras mematok harga tertentu pada barang tersebut. Sedangkan si pembeli bahkan hampir saja aku memukulnya dengan tongkat aku andai tidak ada sesuatu yang tidak aku ketahui menghalangi aku. Kemudian aku termenung memandangi si pembeli tersebut, dan aku baru menyadari ternyata dia seorang yang rambutnya telah beruban. Dari raut mukanya tersirat bahwa dia orang yang baik. Dia mengisyaratkan kepadaku dengan tangannya agar aku diam terlebih dahulu sebelum menjatuhkan putusan. Dia menjelaskan letak perselisihan antara dirinya dengan si penjual.”

“Seumur-umur, baru kali inilah aku mau mendengarkan pengaduan seseorang. Dia menutup pembicaraannya dengan mengatakan bahwa dia pernah mendengar hadis dari junjungan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda mengenai hal ini, ‘Apabila salah seorang di antara kalain pergi ke pasar lalu dia membeli sesuatu yang dapat menggembirakan anak-anak perempuannya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat kepadanya.’ Kemudian dia melanjutkan, ‘Aku baru datang dari suatu perjalanan. Sebelum sampai rumah, aku ingin membeli oleh-oleh untuk menggembirakan ketiga putriku agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memandang kepadaku.”

“Cerita lelaki tersebut membekas di hatiku. Kemudian aku pun membelikan barang-barang yang diinginkannya dan kuberikan padanya. Aku baru meninggalkan orang tersebut setelah meminta kepadanya agar anak-anak perempuannya mau mendoakanku.”

“Meski telah berlalu beberapa hari, cerita lelaki tersebut masih saja terngiang di telingaku, hingga suatu saat aku melihat seorang gadis (budak) yang sangat cantik yang dijual di pasar. Aku jatuh hati padanya, aku mencintainya. Kubeli dia untuk kubebaskan kemudian kunikahi dan hidup bahagia dengannya selama beberapa waktu. Dia telah melupakan masa laluku yang kelabu. Aku mulai hidup istiqamah terutama pada saat kami telah dikaruniai anak perempuan yang cantik. Akan tetapi, setelah berlalu beberapa hari sejak kelahiran anakku, istriku meninggal dunia. Dia meninggalkan anak kami dalam keadaan yatim. Setelah itu, selama dua tahun aku hidup dalam keadaan tidak beristri. Perhatianku hanyalah mengurus anak perempuanku yang merupakan segala-galanya bagi di dunia ini.”

“Pada suatu hari, ketika aku pulang kerja, aku mendapati putriku sedang sakit. Dengan segera kucarikan obat untuknya, bahkan dari sekian banyak dokter. Akan tetapi, ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih cepat. Putriku telah tiada, meninggalkan aku seorang diri. Aku pun mendekapnya erat di dadaku sembari berharap agar dia hidup kembali. Tubuh putriku kuyup karena deraian air mataku. Aku memanggil-manggilnya dengan penuh lara disertai hati yang risau. Aku pun memasrahkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian aku menguburkan putri tunggalku.”

“Namun, setelah itu aku mendatangi kedai minuman keras sebagai tempat pelarian dari apa yang telah menimpa diri dan hidupku. Akhirnya aku kembali menenggak khamar dan menjadi pemabuk berat. Aku ingin melupakan kesedihan dalam kehidupanku. Meskipun aku menyadari apa yang terjadi, akan tetapi aku masih merasakan betapa berat musibahku dan kesendirianku.”

“Kekejaman dan kekerasanku terhadap orang-orang kambuh lagi. Seolah-olah aku ingin balas dendam kepada mereka, dan seakan-akan merekalah yang merampas istri, putri, dan kebahagianku. Suatu hari aku sedang berkeliling pasar. Kemudian aku melihat perempuan yang sedang membawa sedikit makanan, lalu aku merampasnya dengan paksa. Aku pun tidak menghiraukan tangisan dan jeritannya, bahkan ratapan anaknya yang masih kecil.”

“Malam itu aku pulang ke rumah lebih awal dan malam itu adalah malam nisfu Sya’ban. Ketika aku tertidur pulas, aku bermimpi bahwa kiamat telah datang, sangkakala telah ditiup, dan semua makhluk dikumpulkan jadi satu, termasuk juga diriku. Kemudian aku mendengar suara yang mengerikan dan menakutkan.”

“Lalu aku menoleh, dan tiba-tiba seekor ular besar berwarna hitam kebiru-biruan yang membuka mulutnya, percikan api pun berhamburan dari matanya. Ular itu pun menyerangku. Lalu aku lari karena takut padanya sehingga aku berjumpa dengan orang tua yang lemah.’

“Aku memanggilnya, ‘Tolonglah aku! Selamatkanlah aku dari ular ini! Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyelamatkanmu.”

“Tetapi, dia justru menangis di hadapanku dan mengeluhkan kelemahannya.”

“Dia berkata, ‘Cepatlah! Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatangkan sesuatu yang dapat menyelamatkanmu dari ular tersebut.”

“Kemudian aku berlari semakin kencang hingga aku naik ke puncak, tepi, dan ujung kiamat. Aku naik di atas tingkat neraka, dan hampir saja aku terjatuh ke dalamnya lantaran ketakutanku, sedangkan ular besar tersebut memburu di belakangku.”

“Tiba-tiba ada orang berteriak, ‘Kembalilah! Kamu bukan penduduk neraka.”

“Lalu aku kembali mencari pertolongan, sedangkan ular besar mencariku. Aku kembali mendatangi orang tua tersebut. Aku terus memohon belas kasihan kepadanya untuk kali kedua. Dia pun mengeluhkan ketidakmampuannya menghadapi binatang liar yang menakutkan itu.”

“Kemudian dia berkata, ‘Berjalanlah ke gunung itu, karena di dalamnya terdapat beberapa titipan kaum muslimin. Jika engkau mempunyai titipan di sana, maka dia akan menolongmu.”

“Lalu aku memandang sebuah gunung yang bersinar dan terbuat dari perak. Di tempat tersebut juga terlihat tabir-tabir yang tergantung di atas tiap-tiap tempat yang diberi daun pintu dari emas merah yang berkilau. Di atas tiap-tiap daun pintu terdapat tabir dari sutera yang keindahannya menyilaukan mata. Aku pun bergegas menuju tempat tersebut sedangkan ular besar tadi masih membuntuti di belakangku.”

“Ketika aku telah mendekat dengan tempat tersebut, sebagian malaikat berteriak, ‘Angkatlah tabir-tabir dan bukalah pintu-pintu’.”

“Kemudian aku melihat anak-anak kecil bak rembulan. Sedangkan ular besar mendekat kepadaku. Aku bingung menghadapi masalah ini. Lantas sebagian anak-anak kecil berteriak, ‘Celaka kamu! Naiklah kalian semua. Sungguh, musuhnya telah dekat dengannya.”

“Mereka pun berdatangan secara bergiliran. Tiba-tiba aku melihat putriku yang telah meninggal dunia. Dia melihatku seraya menangis dan berkata, ‘Ayahku, demi Allah.’

“Kemudian aku melompat bagaikan melesatnya anak panah ke dalam piringan neraca dari cahaya sehingga dia berada di sisiku. Tangan kirinya diulurkan ke tangan kananku dan aku bergantung padanya. Sedangkan tangan kanannya dibentangkan ke arah ular besar, maka si ular pun lari terbirit-birit. Dia mendudukkanku. Sungguh, aku telah mengalami kelelahan dan kecapekan. Aku mendekapnya dan mengecupnya. Air mata membasahi mataku seakan-akan aku khawatir kehilangannya lagi. Aku menarik tangannya ke janggutku dan aku ajak dia bergurau. Kedua matanya yang indah memandangku dengan pandangan kasih sayang dan cinta tulus. Dia berkata kepadaku, “Wahai ayahku!

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka).” (QS. Al-Hadid: 16)

Tatkala aku mendengar ayat ini, aku menangis. Tidak pernah aku menangis seperti ini sebelumnya.”

“Aku berkata kepadanya, ‘Kalian mengetahui Alquran?’”

“Dia menjawab, ‘Kami lebih tahu tentang Alquran daripada engkau.”

“Aku melanjutkan, ‘Jelaskan kepadaku tentang ular yang hendak membinasakanku.’ ‘Ular tersebut adalah amal burukmu yang keji yang engkau kokohkan sendiri. Dia berbalik menyerangmu dan menginginkanmu masuk ke dalam neraka,’ jawabnya.”

“Aku bertanya lagi, ‘Sedangkan kakek tua tersebut siapa?’”

“Dia menjawab, ‘Itu amal baikmu, dan engkau sendirilah yang melemahkannya hingga dia tidak mampu menolongmu.”

“Aku berkata, ‘Wahai anakku! Apa yang kalian lakukan di gunung ini?”

“Dia menjawab, ‘Anak-anak kaum muslimin berdiam di sini sampai hari kiamat datang. Kami menanti kalian datang dan kami memberi syafaat untuk kalian.”

“Tiba-tiba aku terkejut bukan kepalang hingga akhirnya aku terbangun dari tidurku. Keringat mengucur membasahiku bagai hujan lebat yang menenggeamkanku. Aku meraih tongkatku, lalu aku hancurkan alat-alat musik dan botol-botol minuman keras. Hati nuraniku terpanggil untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

“Setelah itu, hingga berhari-hari aku hanya bisa berbaring di tempat tidur. Aku tidak mampu bergerak. Dalam keadaan seperti ini, aku memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertaubat kepada-Nya, dan memohon rahmat-Nya. Aku bertekad untuk memurnikan niat menuju jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

“Pada hari-hari pertama taubatku, aku beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala disertai rasa takut yang luar biasa. Sebab, dalam sebagian besar waktu, aku selalu membayangkan sosok ular besar ada di hadapan aku dan hendak memangsaku.’

“Dalam kondisi yang sarat akan kekhawatiran dan ketakutan, aku pun membatasi diri dari banyak orang. Kebetulan ketika itu kami semua sedang mengalami paceklik, karena tidak pernah turun hujan, maka kami mulai memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Memang ketika itu, tidak pernah turun hujan, sehingga tanaman menjadi kering, dan kami mengalami kehasuan.”

“Pada suatu hari ketika orang-orang telah pergi dan tinggal aku sendirian yang tertinggal di mushalla, aku berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tiba-tiba muncul seorang laki-laki berkulit hitam yang kecil kedua betisnya dan buncit perutnya. Setelah memasuki musholla dia melaksanakan shalat dua rekaat. Kemudian dia menengadahkan kepala ke langit seraya berkata, ‘Rabbku, sampai berapa banyak Engkau menolak hamba-hamba-Mu meminta sesuatu yang tidak dapat mengurangi apa yang ada di sisi-Mu. Aku bersumpah kepada-Mu berkat cinta-Mu kepadaku agar Engkau memberi siraman hujan kepadaku sekarang.”

“Hampir-hampir dia belum selesai berdoa, langit pun menurunkan hujan bagaikan mulut sumur. Ketika lelaki tersebut hendak beranjak, segera aku menghampirinya dan berkata, ‘Apa kamu tidak malu mengatakan, ‘berkat cinta-Mu kepadaku.’ Apa kamu tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintaimu?’”

“Dia menjawab, ‘Wahai orang yang menyibukkan diri dengan diri sendiri dan melalaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Di manakah aku pada saat Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan hanya aku sendiri yang mengesakan-Nya. Tidak ada yang lain. Dia tidak melakukan hal itu melainkan cinta-Nya kepadaku. Bukankah engkau tahu bahwa Allah Maha Luas ampunan dan besar cinta-Nya kepada para hamba-Nya. Bukankah engkau pernah mendengar firman Allah berikut:

“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43)

Lalu dia meninggalkanku dalam keadaan bingung. Dan semenjak hari itu, aku benar-benar menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa dihantui ketakutan terhadap ular besar.”

Malik bin Dinar terdiam sejenak. Kemudian dia berkata dengan tegas dan khusyu’,

“Jamaah sekalian! Sungguh, Allah Maha Penyayang. Bergembiralah kalian dengan meraih rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sampaikanlah kabar gembira ini kepada orang-orang. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai kalian. Seandainya kalian mengetahuinya, pastilah kalian tidak berbuat maksiat kepada-Nya. Apakah kalian mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, wahai manusia? Jika demikian, ketahuilah bahwa tanda-tanda cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ialah selalu berdzikir kepada-Nya secara kontinyu. Sebab, orang yang cinta sesuatu, pastilah dia sering menyebut-nyebutnya. Barangsiapa tidak merasa nyaman berkomunikasi dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sungguh ilmunya dangkal dan sia-sialah umrnya. Bertaubatlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, wahai hamba-hamba Allah!”

Imam Malik bin Dinar berdiri dan orang-orang pun ikut bangkit berdiri serta mengulang-ulang taubat yang sebenar-benarnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga hari tersebut dijadikan “hari orang-orang bertaubat.”

BEBERAPA KEHAMILAN YANG LEBIH DARI 9 BULAN

Biasanya seorang ibu mengandung anaknya hanya 9 bulan, tapi ada beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa ada orang-orang luar biasa yang berada dalam kandungan melebihi 9 bulan bahkan tahunan, siapakah mereka? berikut lits-nya:

1)الإمام مالك بن انس إمام دار الهجرة (سنتان/ ثلاث سنين )

  1. Imam Malik bin Anas Imam Darul Hijrah (selama 2 atau 3 tahun dalam kandungan) (Kitab Siyar Adz-Dzahabi)

2)محمد بن عجلان ( ثلاث سنين/اربع سنوات) السير للذهبي

  1. Muhammad bin Ajlan (3 tahun atau 4 tahun dalam kandungan) (Kitab Siyar Adz-Dzahabi)

3)الضحاك بن مزاحم الهلالي تابعي جليل (سنتان) (البداية والنهاية لإبن كثير )

  1. Ad-Dahak bin Mazahim Al-Halali Tabi’i Jalil (2 tahun dalam kandungan) (kitab bidayatul hidayah Ibnu Katsir)

4)هرم بن حيان العبدي . قال الإمام الذهبي (سمي هرما لانه بقي حملا سنتين حتى طلعت أسنانه ) السير للذهبي

  1. Haramu ibnu Hayyan Al-‘Abidi. Ad-Dzahabi berkata dinamakan Haram krena berada dalam kandungan selama 2 tahun sampai tumbuh giginya. (kitab Siyar A’lam An-nubala’)

5)عطاء بن أبي مسلم (ثلاث سنوات ) صفة الصفوة لإبن الجوزي

  1. Atha’ bin Abi Muslim (3 tahun dalam kadungan). kitab Sifatus Shofwah Li Ibnil Jauzi

6)محمد بن نصر المروزي ( ثلاثون شهرا) صفة الصفوة

  1. Muhammad bin Nashir Al-Marwazi (30 bulan dalam kandungan) kitab Sifatus Shofwah Li Ibnil Jauzi

7) محمد بن عبدالله بن حسن بن حسن بن علي بن أبي طالب ( اربع سنوات) البداية والنهاية لإبن كثير .

  1. Muhammad bin Abdullah bin Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib (selama 4 tahun dalam kandungan) (kitab Bidayah Wan Nihayah Li Ibni Katsir)

BIOGRAFI ATAU MANAQIB SYAIKH AHMAD BIN MUHAMMAD AT TIJANY RA.

Syekh Ahmad al-Tijani (1150-1230 H, 1737-1815 M) dikenal di dunia Islam melalui ajaran thariqat yang dikembangkannya yakni Thariqat Tijaniyah. Untuk mengetahui kehidupan Syekh Ahmad al-Tijani, Penulis menelusurinya melalui Kitab-kitab yang memuat kehidupan dan ajaran Syekh Ahmad al-Tijani terutama kitab-kitab yang di tulis Khalifah Syekh Ahmad al-Tijani diantaranya kitab Jawahir al-Ma`ani (Mutiara-mutiara Ilmu). tulisan Syekh Ali Harazim.

Dalam kitab-kitab yang menulis kehidupan Syekh Ahmad al-Tijani, disepakati bahwa Syekh Ahmad al-Tijani, dilahirkan pada tahun 1150 H. (1737 M.) di `Ain Madi, sebuah desa di Al-jazair. Mengenai tanggal kelahirannya sampai sekarang belum diketahui secara pasti. Secara geneologis Syekh Ahmad al-Tijani memiliki nasab sampai kepada Rasulullah saw. lengkapnya adalah Abu al-Abbas Ahmad Ibn Muhammad Ibn Mukhtar Ibn Ahmab Ibn Muhammad Ibn Salam Ibn Abi al-Id Ibn Salim Ibn Ahmad al-`Alawi Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn Abbas Ibn Abd Jabbar Ibn Idris Ibn Ishak Ibn Zainal Abidin Ibn Ahmad Ibn Muhammad al-Nafs al-Zakiyyah Ibn Abdullah al-Kamil Ibn Hasan al-Musana Ibn Hasan al-Sibti Ibn Ali Ibn Abi Thalib, dari Sayyidah Fatimah al-Zahra putri Rasuluullah saw.

Nama al-Tijani diambil dari suku Tijanah yaitu suatu suku yang hidup di sekitar Tilimsan, Aljazair; dari pihak ibu, dan Syekh Ahmad al-Tijani berasal dari suku tersebut. Keluarga Syekh Ahmad Al-Tijani adalah keluarga yang dibentuk dengan tradisi taat beragama. Dikatakan, bahwa ayah Syekh Ahmad al-Tijani adalah seorang ulama yang disiplin menjalankan ajaran agama. Ketika Syekh Ahmad al-Tijani memasuki usia balig dinikahkan oleh ayahnya. Sejak usia berapa tahun beliau menikah? Dalam kitab-kitab yang menulis riwayat hidup Syekh Ahmad al-Tijani tidak dijelaskan. Namun apabila dihubungkan dengan tahun meninggal kedua orang tuanya, mereka meninggal berturut-turut pada tahun yang sama yakni tahun 1166 H. Diduga beliau nikah antara usia 15-16 tahun, sebab beliau lahir pada tahun 1150 H. Dari hasil pernikahannya beliau mempunyai dua orang putra yakni Muhammad al-Habib dan Muhammad al-Kabir yang kelak secara berturut-turut memimpin zawiyah (pesantren Sufi yang beliau dirikan). Mengenai tempat meninggalnya, dalam kitab-kitab yang menulis Syekh Ahmad al-Tijani, disepakati bahwa beliau wafat di kota Fez Maroko. Hal ini bisa dimengerti karena sebagaimana akan dilihat nanti, di kota ini Syekh Ahmad al-Tijani mempunyai kesempatan untuk mengembangkan ajarannya dengan dukungan penguasa. Dengan demikian tidak ada alasan bagi beliau untuk meninggalkan Maroko. Sebagaimana tempat wafatnya, tahun wafatnya pun disepakati, yakni beliau wafat pada tahun 1230 H., dengan demikian beliau wafat dalam usia 80 tahun, karena beliau lahir pada tahun 1150 H. Demikian juga mengenai hari dan tanggal wafatnya, disepakati bahwa beliau wafat pada hari Kamis, tanggal 17 Syawal dan dimakamkan di kota Fez Maroko.

Landasan dan Rumusan tasawuf Syekh Ahmad al-Tijani

Dasar-dasar tasawuf Syekh Ahmad al-Tijani di bangun di atas landasan dua corak tasawuf, yakni tasawuf amali dan tasawuf falsafi. Dengan kata lain, Syekh Ahmad al-Tijani menggabungkan dua corak tasawuf, dimaksud dalam ajaran thariqatnya. Pengkajian menyangkut tasawuf falsafi, bukan sesuatu hal yang sederhana, sebab pengkajian ini sudah masuk dalam wilayah pemikiran; dan kaum thariqat, terlebih ummat Islam pada umumnya yang mempunyai kemauan dan kemampuan untuk memasuki wilayah ini sangat terbatas. Keterbatasn ini, ditunjukan dalam sejarah pekembangan pemikiran Islam khusunya bidang tasawuf, banyak ummat Islam, menilai, bahwa tasawuf falsafi dianggap sebagai pemikiran yang menyimpang dari ajaran syari’at Islam. Dasar-dasar tasawuf falsafi yang dikembangkan Syekh Ahmad at-Tijani adalah tentang maqam Nabi Muhammad saw., sebagai al-Haqiqat al-Muhammadiyyah dan rumusan wali Khatam. Dua hal ini telah dibahas oleh sufi-sufi filusuf, seperti al-Jilli, ibn al-Farid dan ibn Arabi. Tentang pemikiran sufi-sufi ini, Syekh Ahmad al-Tijani mengembangkan dalam amalan shalawat wirid thariqatnya, yakni : shalawat fatih dan shalawat jauhrat al-Kamal. Konsep dasar haqiqat al-Muhammadiyyah ini disamping kontroversial, ia juga complicated. Atas dasar ini, tidaklah mengherankan apabila Syekh Ahmad al-Tijani memberikan “aba-aba” kepada setiap orang, termasuk muridnya yang ingin memasuki secara lebih jauh tentang diri dan thariqatnya. Untuk itu Syekh Ahmad al-Tijani menegaskan

“Apabila kamu mendengar apa saja dariku, maka timbanglah ia dengan neraca (mizan) syari’at. Apabila ia cocok, kerjakanlah dan apabila menyalahinya, maka tinggalkanlah”Menurut KH. Fauzan, penegasan Syekh Ahmad al-Tijani ini merupakan pertanggung jawaban yang terbuka, lapang dada dan menyeluruh terhadap ajaran yang dikembangkannya, Sedangkan KH. Badruzzaman melihat bahwa penegasan Syekh Ahmad al-Tijani tadi menunjukan pertaggung jawabannya bahwa segala sesuatu yang diungkapkannya mempunyai dasar-dasar syari’at. Hemat penulis, penegasan Syekh Ahmad al-Tijani di atas dilatar belakangi dua hal : Pertama; Ia sendiri menyadari banyak ungkapan-ungkapan pengalaman spiritual dan fatwanya, akan sulit dijangkau oleh pemahaman masyarakat umum. Untuk itu, beliau menekankan untuk senantiasa mengembalikan kepada tatanan dasar syair’at. Dengan kata lain, secara terbuka dan tegas ia mengharuskan setiap orang yang akan meneliti ajarannya untuk senantiasa terlebih dahulu memahami petunjuk-petunjuk al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad saw., secara menyeluruh dan mendalam. Kedua; Penegasan tersebut, dikarenakan “kekhawatirannya”, akan terjadi salah atau kurang tepat dalam memahami pengalaman spiritual dan fatwanya-fatwanya, sehingga tidak sesuai atau salah alamat dari apa yang dimaksudkan oleh dirinya. Kekhawatiran ini, didasarkan atas upaya penggabungan dua corak tasawuf yang dirumuskan dalam bentuk bacaan thariqatnya sebagai mana telah disebutkan. Sejak abad ke- Hijri, ajaran tasawuf terpisah menjadi dua corak yakni tasawuf amali dan tasawuf falsafi yang dalam sejarah perkembangannya masing-masing mempunyai metode tersendiri. Sebagai wali yang mengaku memperoleh maqam wali khatm, al-Quthb al-Maktum, ia menyatukan kembali dan atau mengutuhkan kembali dua corak tasawuf tersebut. Hemat penulis, disinilah keunggulan Syekh Ahmad al-Tijani. Dan diduga peran inilah yang dimaksud dengan ungkapannya : “Dua kakiku ini di atas tengkuk semua Waly Allah Swt.”

Agaknya, hal tersebut di atas, sangat diantisipasi oleh KH. Badruzzaman, ia menegaskan, bahwa dalam melihat dan memahami fatwa-fatwa Syekh Ahmad al-Tijani, senantiasa harus melihatnya melalui petunjuk al-Qur’an dan sunnah secara menyeluruh dan mendalam, lahiriyah dan batiniyah. Penegasan KH. Badruzzaman ini, didasarkan atas pengalaman dirinya dalam menganalisis Syekh Ahmad al-Tijani dan Thariqatnya; dimana sebelum merintis pengembangan ajaran thariqat tijaniyah, ia adalah “penentang yang gigih” terhadap thariqat ini. Landasan tasawuf Syekh Ahmad al-Tijani, sebagai mana telah dijelaskan membangun rumusan tasawufnya. Ada dua rumusan tasawuf yang dikemukakannya.

:

  1. Tentang definisi tasawuf; menurut Syekh Ahmad al-Tijani, tasawuf adalah :

“Patuh mengamalkan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik lahir maupun batin, sesuai dengan ridha-Nya bukan sesuai dengan ridha’mu”. Melalui rumusan definisi di atas, Syekh Ahmad al-Tijani ingin menunjukan bahwa pada dasarnya, ajaran tasawuf merupakan pengamalan syari’at Islam secara utuh, sebagai sarana menuju Tuhan dan menyatu dalam kehendak-Nya. Keterpaduan dalam tasawuf yang diajarkan Syekh Ahmad al-Tijani antara amaliah lahir dan amaliah batin, adalah sebagai wujud pengamalan syari’at Islam secara keseluruhan. Sebab pada bagian lain ia menyatakan bahwa ilmu tasawuf adalah : “Ilmu yang terpaut dalam qalbu para wali yang bercahaya karena mengamalkan al-Qur’an dan sunnah.

Sejalan dengan pendapat ini, al-Tusturi (w. 456 H.) mengatakan bahwa ilmu tasawuf dibangun melalui kekuatan keterikatan terhadap Qur’an dan Sunnah. Sebagai wujud keterikatan Syekh Ahmad Al-Tijani dan thariqatnya terhadap syari’at, ia mengatakan bahwa syarat utama bagi orang yang mau mengikuti ajarannya adalah memelihara shalat lima waktu dan segala urusan syari’at. Dalam mengomentari landasan tasawuf yang diajarkan Syekh Ahmad al-Tijani, Muhammad al-Hapidz dalam ahzab wa awrad, mengatakan: “Landasan pokok Thariqat Tijaniyah yang menjadi asas penopangnya adalah menjaga syari’at yang mulia, baik ilmiyah maupun alamiyah”Sedangkan KH. Badruzzaman, mengatakan bahwa landasan pokok Thariqat tijaniyah adalah memelihara syari’at yang mulia baik yang berhubungan dengan amaliah kalbu seperti khusyu (khusyuk), ikhlas (ikhlas) dan tawadha (rendah hati).

  1. Tentang penegasan ajaran tasawufnya Sebagai wujud penekanan keterikatan ajarannya terhadap syari’at, Syekh al-Tijani menegaskan bahwa patokan utama pengembangan ajarannya adalah al-Qur’an dan sunnah. Lebih tegas ia menyatakan : “Kami hanya mempunyai satu pedoman (Kaidah) sebagai sumber semua pokok persoalan (ushul), bahwasanya tidak ada hukum kecuali kepunyaan Allah dan Rasul-Nya, tidak ada ibarat dalam hukum kecuali firman Allah swt., dan sabda Rasul-Nya. Penekanan Syekh Ahmad al-Tijani ini, dimaksudkan untuk menegaskan keterikatan ajarannya terhadap syari’at (al-Qur’an dan sunnah). Syeikh Ahmad bin Muhammad Al-Hasani lahir pada Hari Kamis, 13 Shafar 1150 H. di Ain Madhi atau disebut juga dengan Madhawi, di Sahara Timur Maroko. Dari keluarga besar/Kabilah Tijan. Kabilah ini banyak melahirkan ulama-ulama dan wali-wali yang shaleh. Dari garis ayah adalah Ahmad bin Muhammad bin Mukhtar bin Ahmad bin Muhammad Salim bin Al ‘id bin Salim bin Ahmad Al-‘Alwani bin Ahmad bin Ali bin Abdulloh bin Al-Abbas bin Abdul Jabbar bin Idris bin Ishaq bin Ali Zainal Abidin bin Ahmad bin Muhammad An-Nafsiz Zakiyah bin Abdulloh bin Hasan Al-Mutsanna bin Hasan As-Sibthi bin Ali bin Abi Tholib dan Sayyidah Fatimatuzzahra binti Rasulullah Muhammad SAW. Dari garis ibu adalah Ahmad binti Sayyidah Aisyah binti Abu Abdillah Muhammad bin As-Sanusi At-Tijani Al-Madhawi. Keabsahan silsilah ini berdasarkan beberapa keterangan garis keturunannya secara turun temurun. Juga dinyatakan langsung oleh Rasululloh SAW: “Engkau benar-benar anakku (Anta waladi haqqan). Nasabmu melalui Hasan bin Ali adalah shahih.” Kedua orang tuanya mengasuh dengan didikan beberapa etika sunah, rahasia syari’at dan cahaya kebenaran. Sehingga masa kecilnya sangat terjaga. Beliau pun tumbuh dalam kebesaran akhlak muhammadiyah. Pada umur 7 tahun telah hafal Alqur’an dalam qira’at Imam Nafi’ dengan baik di bawah bimbingan gurunya, Sayid Muhammad bin Hamawi At-Tijani. Seorang guru yang alim dan terkenal keshalehan serta kewaliannya. Al-Hamawi terkenal sebagai pendidik anak-anak di Ain Madhi. Diceritakan bahwa Sayid Muhammad bin Hamawi mimpi bertemu Allah SWT dan membaca Alqur’an dalam Qira’at Imam Warasy sehingga khatam. Allah SWT berfirman kepadanya: “Demikianlah Alqur’an diturunkan.” Beliau meninggal pada tahun 1162 H. Pendidikannya dilanjutkan dengan mempelajari beberapa ilmu yang bermanfaat. Seperti: Ilmu Usul, Furu’ dan Adab. Orang tua Syeikh Ahmad sangat mempercayakan pendidikan masa kecil Syeikh kepada Al-Hamawi. Syeikh banyak mempelajari cabang ilmu dari Al-Hamawi. Dengan kecerdasannya Beliau cepat menguasai beberapa ilmu dengansempurna.

           Di samping Al-Hamawi, Syeikh Ahmad menyelesaikan Al-Mukhtasor karya Imam Kholil, Ar-Risalah karya Ibnu Rusyd dan Al-Muqaddimah karya Imam al-Akhdhari dari gurunya yang lain, Sayid Al-Mabruk bin Bu Afiyah At-Tijani. Tahun 1166 H. kedua orang tuanya meninggal pada hari yang bersamaan, karena penyakit tho-un/lepra yang mewabah. Yaitu ketika Syeikh Ahmad berumur 16 tahun. Dalam usia yang relatif muda, Syeikh telah menunjukkan kelebihannya dan keluasan ilmunya. Dunia ilmu pendididikan terus dijalaninya. Sejak kedua orang tuanya meninggal, Syeikh tetap aktif dalam membaca ilmu, mengajar, menulis dan memberi fatwa. Pada tahun 1171 Syeikh mulai memasuki dunia sufi. Dalam salah satu fatwanya Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani berkata: “Dalam nash syara’ hanya diterangkan kewajiban tiap orang untuk memenuhi beberapa hak Alloh secara penuh, lahir dan batin. Tanpa adanya alasan apa pun. Tidak ada alasan apa pun untuknya dari hawa nafsu dan kelemahannya. Dalam syara’ hanya mewajibkan hal tersebut dan mengharamkan lainnya. Karena adanya siksa. Tidak ada kewajiban mencari guru selain guru ta’lim yang mengajarkan tata cara perkara syara’ yang dituntut untuk dilaksanakan seorang hamba. Baik berupa perintah yang harus dikerjakan dan larangan yang harus ditinggalkan. Tiap orang bodoh harus mencari guru ini. Tidak ada keluasan atau alasan meninggalkannya. Ada pun guru-guru lainnya setelah guru ta’lim tidak ada kewajiban mencarinya menurut syara’. Akan tetapi wajib mencarinya dari sisi nadhar. Seperti halnya orang yang sakit dan kehilangan kesehatannya. Apabila dia keluar untuk mencari kesembuhannya, maka mencarinya adalah wajib. Kami katakan wajib mencari dokter yang ahli dalam mendiagnosa penyakit, asalnya, obatnya, cara memperolehnya.

Jawaban Syeikh ini memberikan kejelasan dalam masalah pencarian guru. Karena sebagian ulama telah mengatakan bahwa meninggalkan pencarian terhadap guru tarbiyah dianggap maksiat.

Dari sini dapat diketahui bahwa masuknya Syeikh dalam dunia sufi tidak dikarenakan mengikuti kebanyakan manusia yang dilakukan zaman sekarang. Mereka memasuki sebuah jalan tujuan, tanpa adanya pertimbangan berdasarkan pengetahuan tentang sesuatu yang sedang mereka masuki. Mereka memasuki jalan tidak lebih karena anggapan sebagian orang yang menilainya dengan keindahan luarnya belaka. Syeikh memasuki dunia sufi berdasarkan pemikiran dan pengetahuan pada sesuatu yang dikehendakinya dan memantapkannya. Sebagai bukti seorang murid (pencari kebenaran) yang shadiq. Murid yang mengetahui keagungan Rububiyah dan hak-hak Ilahiyah. Mengetahui bagian yang ada dalam dirinya, berupa kelemahan, kemalasan, menyukai kenikmatan, dan meninggalkan amal shaleh. Di mana jika keadaan itu terus ada dalam dirinya akan menyebabkannya tidak dapat memperoleh puncak tujuan dunia-akhirat. Itu pun dilakukan setelah menguasai cabanng-cabang ilmu. Pengetahuannya membawa dirinya untuk segera kembali dengan tekad, semangat dan kemantapan; mencari seorang yang dapat membuka belenggu syahwatnya dan menunjukkannya kepada jalan untuk sampai ke hadapan Robnya.Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani berkata: “Ini adalah ciri murid shadiq (pencari kebenaran sejati). Adapun lainnya hanya murid thalib atau pencari biasa. Terkadang dia dapat mendapatkan hasil. Terkadang tidak mendapatkan apa-apa.” Oleh karenanya sebagian ulama mengatakan bahwa setiap orang yang awalnya kokoh, maka akhirnya akan sempurna.

Menginjak usia 21 tahun Syeikh melakukan berbagai kunjungan ke beberapa daerah di Fas. Melakukan banyak diskusi dengan beberapa ahli kebaikan, agama, rehabilitasi jiwa, dan penemu kebahagian hakiki. Lawatan itu mengantarkannya ke Gunung Zabib dan bertemu dengan seorang wali kasyaf yang memberikan isyarat agar kembali ke negeri atau daerahnya, yaitu Ain Madhi. Wali tersebut memeberitahukan akhir kedudukan yang akan dicapainya. Tanpa harus menetap di daerah lain. Kemudian Syeikh segera kembali ke daerahya. Orang yang paling banyak mewarnai corak kehidupan Syeikh adalah Sayid Abdul Qadir bin Muhammad. Seorang kutub yang tinggal di ‘negeri putih’ (Baladul Abyadh) Shahara Dzar. Daerah ini agaknya tidak jauh di Ain Madhi. Karena di sela-sela pengabdiannya, Syeikh sering pulang ke rumahnya. Syeikh menetap di Zawiyahnya 5 tahun untuk menuntut ilmu, mengajar dan beribadah. Selanjutnya Syeikh tetap tinggal di Ain Madhi sesuai dengan petunjuk wali kasyaf di Gunung Zabib.

Di antara beberapa guru yang ditemui Syeikh dalam perjalanan ke Fas dan sekitarnya adalah wali kutub yang terkenal, Maulana Ahmad As-Shaqali Al-Idrisiyah, salah seorang ternama dalam Thariqat Khalwatiyah di Fas. Dalam pertemuannya ini As-shaqali tidak banyak melakukan pembahasan. Syeikh pun tidak mengambil apa pun darinya. Kemudian Syeikh bertemu dengan Sayid Muhammad bin Hasan Al-Wanjali. Salah seorang wali kasyf di sekitar Gunung Zabib. Ketika bertemu, sebelum mengucapkan apa pun, Al-Wanjali berkata kepada Syeikh Ahmad Attijani:

“Dirimu pasti akan menemukan kedudukan al-quthbul kabir Maulana Abil Hasan.”

Agaknya Al-Wanjali merupakan salah seorang tokoh dari Thariqat Syadziliyah. Karena isyarat yang diberikan olehnya menunjukkan bahwa Syeikh akan mencapai kedudukan Abil Hasan Asy-Syadzili. Menurut Al-Wanjali perjalanan yang telah ditempuh oleh Syeikh dari daerahnya (Ain Madhi) sampai ke Fas Al-Idrisiyah dan beberapa daerah Maghribi lainnya untuk mencari seseorang yang dapat mengantarkannya kepada Makrifat Billah adalah bukti kehendaknya untuk mencapai keinginan tersebut. Al-Wanjali banyak menyingkap rahasia yang tersimpan dalam diri Syeikh dan memberitahukan kedudukan yang akan diperolehnya. Meskipun tidak mengambil wirid dari Al-Wanjali, akan tetapi penyingkapan yang telah disampaikannya memiliki andil dalam memperkuat cita-cita Syeikh. Sehingga akhirnya semua itu menjadi kenyataan. Al-Wanjali meninggal sekitar tahun 1185 H.

Wali Kutub lain yang ditemui Syeikh adalah Maulana At-Thayib bin Muhammad bin Abdillah bin Ibrahim Al-Yamlahi. Sejarah hidup keluarganya sangat terkenal dan banyak ditulis oleh para pengikutnya sebagai orang besar di Fas. Legenda keluarganya secara beberapa generasi telah memperoleh kedudukan kutub. Maulana At-Thayib mewarisi kekhilafahan para pendahulunya dalam memberikan petunjuk kepada manusia di jalan Alloh dan kesempurnaan makrifatnya. Ia menjadi khalifah menggantikan saudaranya Maulana At-Tihami yang menggantikan Sayid Muhammad yang menggantikan Maulana Abdulloh. Diceritakan bahwa Maulana Abdulloh (w. th. 1089 H.), kakek At-Thayib adalah orang pertama yang menetap di Wazin. Agaknya keluarga At-Thayib secara turun-temurun memegang Thariqat Jazuliyah. Hal ini terbukti bahwa kakeknya telah berkhidmah kepada Ahmad bin Ali Ash-Sharsori, salah seorang tokoh Thariqat Jazuliyah. Ciri pokok tarekat ini adalah dengan memperbanyak shalawat. Ayah At-Thoyib, Sayid Muhammad yang juga mencapai kedudukan kutub mengatakan: “Seseorang tidak akan memperoleh derajat tertinggi, melainkan dengan banyak membaca shalawat kepada Nabi SAW.” Sayid Muhammad meninggal pada Malam Jum’at, tanggal 29 Muharam 1120 H.

Dalam pertemuannya dengan Ath-Thayib Syeikh mengambil wirid darinya. Bahkan dalam ijazahnya, At-Thayib telah memberikan izin kepada Syeikh untuk memberikan talkin pada orang yang hendak mengambil wiridnya. Akan tetapi Syeikh menolak hak talkin tersebut karena pada saat itu masih mempunyai cita-cita sendiri dan belum berminat untuk memegang salah satu jenisnya. Di sini Syeikh menunjukkan ketinggian cita-citanya berdasarkan asal fitrahnya. Di samping itu Syeikh belum mengetahui akhir kedudukannya pada waktu tersebut. At-Thayib adalah salah satu guru yang diakui oleh Syeikh pada awal perjalannya. Beliau wafat pada Hari Ahad, Bulan Rabiuts Tsani, tahun 1181 H. Selanjutnya, Syeikh bertemu dengan Sayid Abdulloh bin Al-Arabi bin Ahmad bin Muhammad bin Abdulloh Al-Andalusi di Fas. Thariqatnya bercorak Isyrak (konsep cahaya). Pertemuan ini banyak memperbincangkan beberapa masalah. Meskipun tidak mengambil sesuatu darinya, Al-Arabi memberikan doa yang sangat berarti dalam perjalanan Syeikh selanjutnya. Al-Arabi mendoakan kebaikan dunia dan akhirat dan pada akhir perjumpaannya berkata: “Alloh akan menuntun tanganmu (menolongmu). “Alloh akan menuntun tanganmu (menolongmu). “Alloh akan menuntun tanganmu(menolongmu).”

Al-Arabi wafat pada tahun 1188 H. Syeikh juga pernah mengambil Thariqat Qadiriyahnya Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani di Fas dari seseorang yang mempunyai izin untuk mentalkinkannya. Hanya saja kemudian ditinggalkan. Thariqat lainnya yang pernah diambil oleh Syeikh adalah Thariqat Nashiriyah dari Sayid Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah An-Nazani. Tidak berapa lama thariqat ini pun ditinggalkan. Kemudian Thariqat Sayid Muhammad Al-Habib bin Muhammad, seorang kutub yang masyhur dengan Al-Ghamari As-sijlimasi Ash-Shadiqi (w. th. 1165 H.) melalui orang yang telah mendapatkan izin. Thariqat ini pun ditinggalkan. Selanjutnya Syeikh mengambil ijazah dari Tokoh Malamatiyah, Sayid Abul Abbas Ahmad Ath-Thawas di Tazah. Ath-Thawas mengajarkan salah satu isim (nama ilahi) kepadanya dan berkata:

“Tetaplah khalwat, menyendiri dan dzikir. Sabarlah, sehingga Alloh memberikan futuh kepadamu. Sesungguhnya dirimu akan memperoleh kedudukan yang agung.”

           Perkataan At-Thawas agaknya tidak ditanggapi oleh Syeikh Ahmad Tijani, sehingga ia mengulangi perkataannya: “Tetapkanlah dzikir ini dan abadikan, tanpa harus kholwah dan meyendiri. Maka Alloh akan memberikan futuh kepadamu atas keadaan tersebut.”

Perkataan At-Thawas yang kedua ini tidak banyak dikutip. Justeru perkataan pertama yang banyak ditulis. Padahal perkataan yang kedualah yang menunjukkan pokok dasar pemikiran Syeikh At-Tijani yang kemudian menjadi ciri utama Thariqatnya. Di samping itu, Ath-Thawas juga memberikan isyarat dari kedudukan yang akan diperoleh Syeikh. Beliau melakukan dzikir tersebut tidak lama, kemudian meninggalkannya. At-Thawas meninggal pada tanggal 18 Jumadil Ula 1204 H di Tazah. Dalam proses pencarian ini, Syeikh banyak mengetahui beberapa aliran Thariqat dan mengamalkannya. Meskipun kemudian tidak diteruskan. Karena adanya Inayah Robbaniyah untuk menolaknya dan tidak mengambilnya. Kecuali dari Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sebagai kekhasan seorang yang mempunyai cita-cita tinggi.

Sebagaimana telah diterangkan terdahulu, bahwa setelah melakukan lawatannya ke Fas, Syeikh menetap di Zawiyahnya Sayid Abdul Qadir bin Muhammad di Shahara Dzar, tidak jauh dari Ain Madhi. Sebagaimana petunjuk yang diperoleh sebelumnya. Bahwa futuhnya akan diperoleh di sana.

Syeikh memasuki Tunisia pada tahun 1180 H. Di daerah Azwawi, Al-Jazair Syeikh menemui seorang guru besar yang arif, Sayid Abu Abdillah Muhammad bin Abdurrohman Al-Azhari. Syeikh mengambil Thariqat Khalwatiyah darinya. Al-Azhari meninggal pada permulaan Muharam tahun 1180 H. Selanjutnya Syeikh menuju ke Tilmisan pada tahun 1181 dan menetap di sana. Syeikh mengabdikan dirinya dengan ibadah dan membaca ilmu. Terlebih Ilmu Hadits dan Tafsir. Syeikh terus-menerus melakukan taqarrub dengan bertawajjuh pada keagungan rububiyah dengan menyatakan ke-shidiq-an ubudiyahnya. Memberikan kemanfaatan kepada manusia dengan keluasan ilmunya. Sehingga mulai terlihat kefutuhan yang membuka beberapa hijab yang menghalangai antara seorang hamba dan Alqudus (Alloh). Syeikh menyatakaan hijab yang tersingkap adalah 165.000 hijab. Maka batinnya dipenuhi oleh cahaya Tauhid dan Irfan.

Setelah memperoleh banyak penyingkapan di Tilmisan Syeikh pergi melaksanakan haji dan ziarah kepada Nabi Muhammad SAW. Syeikh berangkat dari Tilmisan pada tahun 1186 H.

Dalam perjalanannya Syeikh berhenti di Tunisia dan menetap di Susah, selama setahun. Syeikh berjumpa dan bersahabat baik dengan seorang wali yang terkenal, Sayid Abdus Shamad Ar-Rahawi, salah seorang dari 4 murid wali kutub negeri tersebut. Wali kutub itu sendiri tidak dapat ditemui oleh siapa pun, kecuali seorang di antara 4 orang muridnya. Pertemuan tersebut hanya dilakukan pada malam hari, khususnya Malam Jum’at dan Senin. Hal itu disebabkan untuk menutupi kedudukannya. Syeikh meminta supaya Sayid Abdus Shamad berkenan mempertemukan dan mengenalkannya. Yang pada akhirnya Beliau pun dapat berjumpa dengannya.

Thariqat Tijaniyah adalah Thariqat yang dikembangkan oleh Syeikh Ahmad bin Muhammad. Mengambil dari nama kabilahnya. Thariqat ini juga masyhur dengan nama Thariqat Al-Muhammadiyah. Thariqat ini diterima langsung dari Rasululloh SAW dalam keadaan jaga. Bukan dalam keadaan tidur. Memang sebelum mendapatkan ijazah langsung dari Rasululloh SAW, Syeikh Ahmad pernah mengambil beberapa jalur Thariqat dari beberapa Syeikh lain. Seperti Thariqat Khalwatiyah dari Abi Abdillah bin Abdur Rahman Al-Azhari.

Pada usia 46 tahun (tahun 1196 H.), Beliau dianugerahi berjumpa dengan Rasululloh SAW dalam keadaan Yaqdhah (terjaga). Dan sejak saat itu Rasululloh SAW selalu mendampinginya dan tidak pernah hilang dari pandangannya. Keadaan inilah yang disebut dengan Al-Fathul Akbar (terbukanya tirai yang menghalangi antara seseorang dan Rasululloh). Rasululloh SAW selalu membimbing Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani dan memerintahkan kepada Syeikh untuk meninggalkan sandaran kepada guru-gurunya. Karena gurunya sekarang adalah Rasululloh SAW secara langsung. Sehingga Beliau selalu berkata dengan menyandarkannya kepada Rasululloh SAW. Ketika itu, Rasululloh SAW mentalkin (mengajarkan) dzikir/wirid berupa Istighfar dan Shalawat. Masing-masing dibaca 100 kali. Pengajaran dzikir ini disempurnakan oleh Rasululloh SAW pada tahun 1200 H. dengan tambahan Hailalah 100 kali. Dzikir inilah yang diperintahkan oleh Rasululloh SAW untuk disebarluaskan dan diajarkan kepada seluruh umat manusia dan jin. Ketika Syeikh Ahmad bin Muhammad berusia 50 tahun. Pada Bulan Muharam, tahun 1214 H Syeikh Ahmad bin Muhammad telah sampai pada martabat Al-Quthub AL-Kamil, Al-Quthbul Al-Jami’ dan Al-Quthbul Udzhma. Pengukuhan ini dilakukan di Padang Arafah, Makah Al-Mukaramah.

Pada tahun yang sama, hari ke-18 Bulan Shafar, Beliau dianugerahi sebagai Al-Khatmu Al-Auliya Al-Maktum (Penutup para wali yang tersembunyi). Hari inilah yang kemudian diperingati oleh Jamaah, Ikhwan, dan para muhibbin Thariqat Tijaniyah sebagai Idul Khatmi. Beliau meninggal di Faz, Maroko, tahun 1230 H.

Kitab Jawahirul Ma’ani, Sayyid Ali Harazim bin Arabi.

 

KISAH WALI WALI ALLOH SWT.

Suatu hari Shaikh Abdul Qadir al Jaelani dan beberapa murid-muridnya sedang dalam perjalanan di padang pasir dengan telanjang kaki. Saat itu bulan Ramadhan dan padang pasirnya panas. Beliau mengatakan, “Aku sangat haus dan luar biasa lelahnya. Murid-muridku berjalan di depanku. Tiba-tiba awan muncul di atas kami, seperti sebuah payung yang melindungi kami dari panasnya matahari. Di depan kami muncul mata air yang memancar dan sebuah pohon kurma yang sarat dengan buah yang masak. Akhirnya datanglah sinar berbentuk bulat, lebih terang dari matahari dan berdiri berlawanan dengan arah matahari.

Dia berkata, “Wahai para murid Abdul Qadir, aku adalah Tuhan kalian. Makan dan minumlah karena telah aku halalkan bagi kalian apa yang aku haramkan bagi orang lain!” Murid-muridku yang berada di depanku berlari ke arah mata air itu untuk meminumnya, dan ke arah pohon kurma untuk dimakannya. Aku berteriak kepada mereka untuk berhenti, dan aku putar kepalaku ke arah suara itu dan berteriak, “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk!”

“Awan, sinar, mata air dan pohon kurma semuanya hilang. Iblis berdiri dihadapan kami dalam rupanya yang paling buruk. Dia bertanya, “Bagaimana kamu tahu bahwa itu aku?” Aku katakan pada Iblis yang terkutuk yang telah dikeluarkan Allah dari rahmatNya bahwa firman Allah bukan dalam bentuk suara yang dapat didengar oleh telinga ataupun datang dari luar. Lebih lagi aku tahu bahwa hukum Allah tetap dan ditujukan kepada semua. Allah tidak akan mengubahnya ataupun membuat yang haram menjadi halal bagi siapa yang dikasihiNya.

Mendengar ini, Iblis berusaha menggodanya lagi dengan memujinya, “Wahai Abdul Qadir,” katanya, “Aku telah membodohi tujuh puluh nabi dengan tipuan ini. Pengetahuanmu begitu luar dan kebijakanmu lebih besar daripada nabi-nabi itu!” Kemudian menunjuk kepada murid-muridku dia melanjutkan, “Hanya sekian banyak orang-orang bodoh saja yang menjadi pengikutmu? Seluruh dunia harusnya mengikutimu, karena kamu sebaik seorang nabi.”

Aku mengatakan, “Aku berlindung darimu kepada Tuhanku yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Karena bukanlah pengetahuanku ataupun kebijakanku yang menyelematkan aku darimu, tetapi hanya dengan rahmat dari Tuhanku.”

Wali Di Tuduh Mencuri

Kisah ini di cerikakan oleh Zin-Nun rahimahlah di mana pada suatu hari beliau bercadang untuk pergi ke seberang laut untuk mencari barang yang di hajatinya. Setelah persiapan diatur, beliau telah membeli tiket untuk menaiki kapal untuk menuju ke tempat yang dihajatinya. Kapal yang di naiki oleh Zin-Nun penuh sesak dengan orang ramai. Di antara penumpang-penumpang yang menaiki kapal tersebut, ada seorang pemuda yang sangat kacak paras rupanya, wajahnya bersinar cahaya. Pemuda itu duduk di tempat duduk dengan tenang sekali, tidak seperti penumpang lain yang kebanyakkannya mudar-mandir di atas kapal itu.

Keadaan di dalam kapal tersebut agak panas kerana suasana di dalam kapal tersebut penuh sesak dengan orang ramai. Pada peringkat permulaan pelayaran, keadaannya berjalan dengan lancar sekali kerana keadaan laut tidak bergelombang dan angain bertiup tidak terlalu kencang. Suasana di dalam kapal ketika itu sangat tenang, kerana penumpang dengan hal masing-masing, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan pengumuman yang di buat oleh kapten kapal tersebut bahawa dia telah kehilangan satu barang yang sangat berharga. Satu pemeriksaan akan dijalankan sedikit masa lagi. Semua penumpang di ingatkan supaya duduk di tempat masing-masing.

Keadaan di dalam kapal tersebut telah menjadi hingar-bingar kerana penumpang sibuk bercakap dan berpandangan di antara satu sama lain. Masing-masing membuat andaian tersendiri mengenai kehilangan barang tersebut. Tidak berapa lama kemudian, pemeriksaan di lakukan seorang demi seorang, semua beg, barang-barang digelidah tetapi tidak menjumpai barang yang di cari. Akhirnya sampai kepada pemuda yang disebutkan oleh Zin- Nun. Oleh kerana pemuda itu orang terakhir yang di periksa, pada anggapan orang ramai dan pegawai pemeriksa sudah tentu pemuda ini yang mencuri barang tersebut. Maka pemuda itu di perlakukan dengan kasar sekali di dalam pemeriksaan tersebut, pemuda itu memprotes di atas tindakan kasar yang di lakukan oleh pegawai pemeriksa sambil berkata, bahawa dia bukannya seorang pencuri, Dengan protes tersebut, ia menambahkan lagi syak wasangka pegawai dan kapten tersebut.

Oleh kerana tidak tahan dengan kekasaran yang di lakukan oleh pemeriksa tersebut, maka pemuda itu terjun ke laut, yang menghairankan orang ramai yang memerhatikan tingkah laku pemuda itu ialah pemuda itu tidak tenggelam di dalam laut, mala ia duduk di atas permukaan air. Pemuda itu berdoa kepada Allah dengan suara yang keras sekali “Ya Allah, mereka sekalian menuduhku pencuri, demi ZatMu, wahai tuhan yang membela orang teraniaya, perintahkan ikan-ikan di laut supaya timbul dan membawa permata-mata berharga di mulutnya”.

Tidak lama kemudian, dengan kuasa Allah beribu-ribu ikan timbul dan kelihatan di mulutnya batu-batu permata yang berkilauan cahayanya. Semua orang yang berada di atas kapal bersorak dan menepuk tangan kepada pemuda itu. kapten kapal dan pegawainya sungguh terperanjat dan bingung seolah-oleh tidak percaya apa yang telah mereka telah lihat.

Pemuda itu berkata “Apakah kamu sekalian masih menuduhku sebagai pencuri pada hal perbendaharaan Allah ada di tanganku dan jika mahu aku boleh mengambilnya”. Kemudian pemuda itu menyuruh ikan-ikan tersebut kembali ke tempat asal mereka dan pemuda itu berdiri dan berlari di atas air dengan cepat sekali sambil menyebut ayat ke- 4 surah Al Fatihah yang bermaksud ‘Hanya kepada Mu lah aku menyembah dan hanya kepada Mu pula aku meminta bantuan’.

Wali Solat Diatas Air

Sebuah kapal yang sarat dengan muatan dan bersama 200 orang temasuk ahli perniagaan berlepas dari sebuah pelabuhan di Mesir. Apabila kapal itu berada di tengah lautan maka datanglah ribut petir dengan ombak yang kuat membuat kapal itu terumbang-ambing dan hampir tenggelam. Berbagai usaha dibuat untuk mengelakkan kapal itu dipukul ombak ribut, namun semua usaha mereka sia-sia sahaja. Kesemua orang yang berada di atas kapal itu sangat cemas dan menunggu apa yang akan terjadi pada kapal dan diri mereka.

Ketika semua orang berada dalam keadaan cemas, terdapat seorang lelaki yang sedikitpun tidak merasa cemas. Dia kelihatan tenang sambil berzikir kepada Allah S.W.T. Kemudian lelaki itu turun dari kapal yang sedang terumbang-ambing dan berjalanlah dia di atas air dan mengerjakan solat di atas air.
Beberapa orang peniaga yang bersama-sama dia dalam kapal itu melihat lelaki yang berjalan di atas air dan dia berkata, “Wahai wali Allah, tolonglah kami. Janganlah tinggalkan kami!” Lelaki itu tidak memandang ke arah orang yang memanggilnya. Para peniaga itu memanggil lagi, “Wahai wali Allah, tolonglah kami. Jangan tinggalkan kami!”

Kemudian lelaki itu menoleh ke arah orang yang memanggilnya dengan berkata, “Apa hal?” Seolah-olah lelaki itu tidak mengetahui apa-apa. Peniaga itu berkata, “Wahai wali Allah, tidakkah kamu hendak mengambil berat tentang kapal yang hampir tenggelam ini?”
Wali itu berkata, “Dekatkan dirimu kepada Allah.”
Para penumpang itu berkata, “Apa yang mesti kami buat?”
Wali Allah itu berkata, “Tinggalkan semua hartamu, jiwamu akan selamat.”
Kesemua mereka sanggup meninggalkan harta mereka. Asalkan jiwa mereka selamat. Kemudian mereka berkata, “Wahai wali Allah, kami akan membuang semua harta kami asalkan jiwa kami semua selamat.”

Wali Allah itu berkata lagi, “Turunlah kamu semua ke atas air dengan membaca Bismillah.”
Dengan membaca Bismillah, maka turunlah seorang demi seorang ke atas air dan berjalan menghampiri wali Allah yang sedang duduk di atas air sambil berzikir. Tidak berapa lama kemudian, kapal yang mengandungi muatan beratus ribu ringgit itu pun tenggelam ke dasar laut.
Habislah kesemua barang-barang perniagaan yang mahal-mahal terbenam ke laut. Para penumpang tidak tahu apa yang hendak dibuat, mereka berdiri di atas air sambil melihat kapal yang tenggelam itu.

Salah seorang daripada peniaga itu berkata lagi, “Siapakah kamu wahai wali Allah?”
Wali Allah itu berkata, “Saya ialah Awais Al-Qarni.”
Peniaga itu berkata lagi, “Wahai wali Allah, sesungguhnya di dalam kapal yang tenggelam itu terdapat harta fakir-miskin Madinah yang dihantar oleh seorang jutawan Mesir.”
WaliAllah berkata, “Sekiranya Allah kembalikan semua harta kamu, adakah kamu betul-betul akan membahagikannya kepada orang-orang miskin di Madinah?”
Peniaga itu berkata, “Betul, saya tidak akan menipu, ya wali Allah.”

Setelah wali itu mendengar pengakuan dari peniaga itu, maka dia pun mengerjakan solat dua rakaat di atas air, kemudian dia memohon kepada Allah S.W.T.  agar kapal itu ditimbulkan semula bersama-sama hartanya.
Tidak berapa lama kemudian, kapal itu timbul sedikit demi sedikit sehingga terapung di atas air. Kesemua barang perniagaan dan lain-lain tetap seperti asal. Tiada yang kurang.
Setelah itu dinaikkan kesemua penumpang ke atas kapal itu dan meneruskan pelayaran ke tempat yang dituju. Apabila sampai di Madinah, peniaga yang berjanji dengan wali Allah itu terus menunaikan janjinya dengan membahagi-bahagikan harta kepada semua fakir miskin di Madinah sehingga tiada seorang pun yang tertinggal. Wallahu a’alam.

Penjual Kipas

Kisah ini diceritakan oleh seorang Wali Allah di mana dia mempunyai seorang kawan yang sangat baik paras rupanya dan berbudi luhur. Dia mempunyai seorang isteri dan hidup dalam keadaan sederhana tetapi sangat bahagia. Kerjanya setiap hari adalah membuat kipas dari bulu burung dan menjualnya di pasar.

Saya sering menziarahinya disamping mengharapkan doanya. Setiap kali saya menziarahinya saya dapati banyak bulu-bulu burung yang cantik dan jarang dijumpai berselerak di atas lantai. Pada suatu hari saya bertanya kepada kawan saya, “Wahai saudaraku, dari mana engkau memperolehi bulu-bulu burung itu sedangkan saya tidak pernah melihat saudara keluar mencarinya”.

Kawan saya menjawab dengan tersenyum, katanya, “Allah s.w.t telah menugaskan malaikatNya untuk mengirimku bulu-bulu burung ini setiap hari Jumaat, sebagai rezeki untuk keluargaku” sambungnya lagi ” Dari bulu-bulu burung inilah aku membuat kipas dan menjualnya di pasar kepada sesiapa yang memerlukannya.

Setelah beberapa lama saya tidak berjumpa dengan dia terasa pula rindu untuk bertemu dengannya. Pada suatu hari saya pergi ke pasar dengan tujuan untuk menziarahi kawan saya itu. Setelah tiba di sana saya dapati kawan saya tidak ada di tempat ia selalu menjaja dagangannya. Puas saya mencari di sana sini tetapi tidak berjumpa, lalu saya bertanya kepada orang-orang yang berjaja di situ, mereka berkata bahawa kawan saya itu telah lama tidak datang untuk menjual dagangannya.

Saya begitu kecewa kerana tidak dapat bertemu dengannya. Saya mengambil keputusan untuk pergi ke rumahnya. Tiba di rumahnya saya dapati keadaan sunyi sepi dan saya memberanikan diri untuk mengetuk pintu dan memberi salam. Tidak lama kemudian saya mendengar suara isterinya bertanya “Siapa di luar itu?” saya menjawab “Sahabat dari suami kamu, saya amat rindu untuk bertemu dengannya”. “Adakah ia berada dirumah?” tanya saya lagi. Isterinya menjawa “Ia, dia ada di dalam, tetapi sedang sibuk berzikir dengan Allah Azzawajalla”.

Isterinya membuka pintu dan mempersila masuk. Saya merayu supaya mengizinkan saya bertemu dengannya kerana saya amat rindu sekali dengannya. Isterinya pun segera masuk dan mendapatkan suaminya dan tidak lama kemudian ia kembali seraya berkata “Masuklah”. Saya masuk dan menuju tempat yang di tunjukkan oleh isterinya. Saya melihat kawan saya berada di suatu tempat yang khusus di bina untuk beramal ibadat. Apabila melihatku segeranya bangun dan memeluku dengan erat sekali, kelihatan sekali di wajahnya nur dan cahaya kebahagian.

Kami pun berbual agak lama juga dan tidak lama kemudian saya di hidang dan di jamu dengan makanan yang sungguh lazat rasanya. Belum pernah saya merasa minuman dan makanan yang sedemikian lazat kerana saya tidak pernah melihat makanan sedemikian di dunia ini. Saya berfikir mungkin makanan ini didatangkan khusus dari syurga.

Setelah lama berbual saya memberanikan diri untuk bertanya “Kenapakah kamu tidak lagi berjaja daganganmu di pasar, apakah ia tidak laku lagi?” Kawan saya tersenyum dan berkata “Tidak, tidak bukan kerana itu” “Habis kenapa? Dengan tidak sabar lagi saya bertanya keran ingin mengetahui keadaan sebenarnya”. “Sebenarnya saya mengalami suatu peristiwa aneh” katanya. “Peristiwa aneh, apakah yang dimaksudkan oleh saudara” saya terus mendesak.

“Begini ceritanya” jawab kawan saya. Dia pun mula bercerita. Pada suatu hari saya pergi ke pasar seperti biasa untuk menjual kipas daripada bulu-bulu burung, tetapi tidak satu pun yang laku. Sedangkan pada hari itu saya benar-benar tidak mempunyai apa-apa pun untuk menyara hidup keluarga saya. Saya mengambil keputusan untuk menjaja dangangan saya ke sebuah kampung tempat tinggal orang-orang kaya, tiba-tiba saya terdengar suara orang memanggil, saya mencari-cari suara itu dan mendapati ianya datang dari sebuah bangunan yang tinggi dan saya terus mendongak dan mendapati seorang wanita memanggil untuk melihat kipas buatan saya.

Saya terus mengikuti perempuan itu dan dibawanya naik ke tingkat atas sekali bangunan itu. Saya dapati hiasan di dalamnya sungguh cantik, lantainya di alas dengan karpet yang tebal sekali,dan bau ruangan itu sungguh harum. Ditengah-tengan ruangan itu terdapat sebuah katil yang di ukir indah dan bertatah dengan intan permata. Kelambunya berbunga emas dan perak.

Tiba-tiba saya terkejut ditegur oleh seorang wanita yang sungguh cantik, seluruh tubuh badannya dihiasi dengan bermacam-macam perhiasan. Wanita itu merenung saya dan seluruh badan saya menjadi gementar lalu saya memejamkan mata kerana tidak sanggup bertentang mata dengannya. “Selamat datang wahai tamuku” kata wanita itu “Mulai malam ini kamu akan di layan selama tiga hari tiga malam, aku akan memberi kepuasan kepada kamu dengan pelbagai kenikmatan yang kamu tidak akan bertemu sepanjang hayatmu” sambung wanita itu lagi.

“Apa maksudmu?” tanya saya. “Aku akan memberi kepuasan syurga, yang anda tidak akan menyesal seumur hidup anda” jawab wanita itu. Saya merasa takut sekali dan meminta supaya Allah menjauhkan aku daripada pekerjaan terkutuk ini. Saya cuba mencari helah namun dia terus memaksa saya supaya menuruti kehendahnya. Saya tidak dapat mengelak lagi dan akhirnya saya terpaksa bersetuju dengan kehendaknya.

Saya meminta izin dari wanita itu untuk naik kebumbung bangunan itu, dan berjanji akan kembali lagi selepas itu. Wanita itu berkata ” Biarlah saya menemani dan membantu anda, jika ingin membuang air” “Tidak” jawab saya dengan tegas. “Saya cuma ingin melihat dan meninjau keadaaannya saja” sambung saya lagi. Wanita itu berkata “Anda tidak boleh pergi ke mana-mana kerana semua pintu telah di kunci “. Saya terus memujuk dan berjanji akan kembali lagi. Lama kelamaan wanita itu bersetuju dan membenarkan saya naik.

Saya terus naik ke atas dan mendapati bangunan itu sungguh tinggi sekali dan saya terus berdoa “Ya Allah, Engkau amat mengetahui tentang urusanku, mati adalah lebih baik bagiku daripada melakukan maksiat yang terkutuk terhadapMu”. Saya berfikir sejenak, lalu saya mengambil keputusan dan terus terjun daripada bangunan yang tinggi itu. Tiba-tiba datang satu lembaga telah menyambut dan saya jatuh di atas sayapnya. Lembaga itu tidak lain tidak bukan adalah malaikat yang di utuskan Allah untuk menyelamatkan saya. Dalam sekelip mata saya telah berada di rumah saya. Saya bersyukur kepada Allah s.w.t atas pertolonganNya dan menyelamatkan saya daripada pekerjaan yang terkutuk itu.

 

MENGENAL WALI ALLOH DAN DALIL KEBERADAANYA (2)

  1. Dalil Aqli (rasio)

 

Di antara dalil aqli dan qat’i yang berkaitan dengan kemungkinan munculnya karamah adalah:

 

Dalil 1

 

Sesungguhnya hamba Allah adalah wali-Nya, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya,

 

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak merasa takut dan sedih” (QS Yunus [10]: 62).

 

Allah juga wali hamba-Nya, seperti dinyatakan dalam firman-Nya,

 

“Allah itu pelindung (wali) orang-orang beriman” (QS Al-Baqarah [2]: 257).

“Dia terus-menerus melindungi orang-orang yang saleh” (QS al-A’raf [7]: 196).

“Sesungguhnya penolong kalian (waliyyukum) adalah Allah dan Rasul-Nya” (QS Al-Maidah [5]: 55).

“Engkaulah Penolong kami (maulana)” (QS Al-Baqarah [2]: 286).

“Demikianlah, sesungguhnya Allah menjadi pelindung (maula) orang-orang beriman” (QS Muhammad [47]: 11).

 

Jadi, jelaslah bahwa Allah adalah wali hambaNya dan hamba adalah wali Allah. Begitu juga Allah adalah kekasih hamba, sebaliknya hamba adalah kekasih Allah, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya,

 

“Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya” (QS Al-Maidah [5]: 54).

“Orang-orang yang beriman sangat mencintai Allah” (QS Al-Baqarah [2]: 165).

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang menyucikan diri “(QS al-Baqarah [2]: 222).

 

Jadi, bisa dikatakan bahwa jika seorang hamba telah mencapai ketaatan, maka ia akan terdorong untuk melaksanakan segala yang diperintahkan Allah dan semua hal yang diridhai-Nya, dan akan meninggalkan semua perbuatan yang dilarang dan dicegah olehNya. Bagaimana mungkin ia tidak melaksanakan perbuatan yang dikehendaki Tuhan Yang Maha Penyayang lagi Maha Mulia sekali saja, padahal hanya Tuhanlah yang utama baginya, karena hamba sesungguhnya tidak berdaya dan lemah ketika mengerjakan semua hal yang dikehendaki dan dititahkan Allah, sedangkan Tuhan Yang Maha Penyayang melakukan hal-hal utama yang dikehendaki hamba-Nya dalam sekali hitungan saja. Hal ini berdasarkan pada firman Allah,

 

“Penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu.” (QS Al-Baqarah [2]: 40)

 

Dalil 2

 

Jika ketidakmunculan karamah membuat manusia menuduh Allah tidak ahli melakukan perbuatan seperti itu, maka itu termasuk mencela kekuasaan Allah dan dihukumi kufur. Atau jika ketidakmunculan karamah membuat manusia menuduh seorang mukmin tidak patut dikaruniai karamah oleh Allah, alasan ini tidak sah, karena mengetahui zat, sifat, perbuatan, hukum-hukum dan nama-nama Allah, cinta dan ketaatan kepada-Nya, serta terus-menerus menyucikan, mengagungkan, dan menyambut gembira nama-Nya dan membacakan tahlil untuk-Nya itu jauh lebih mulia daripada hanya memberikan sepotong kue untuk menundukkan ular atau harimau. Ketika Allah menganugerahi seorang mukmin ma’rifat, mahabbah, zikir, dan syukur tanpa permohonan, hal itu lebih utama daripada hanya memberi sepotong kue sebagai hidangan.

 

Dalil 3

 

Nabi Muhammad Saw. bersabda bahwa Allah berfirman,

 

“Tidak ada yang lebih mendekatkan seorang hamba kepada-Ku yang sebanding dengan menunaikan semua kewajiban yang Kuperintahkan dan senantiasa mendekati-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga Aku mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya, maka aku menjadi pendengaran, penglihatan, lidah, hati, tangan, dan kakinya. Ia mendengar melalui Aku, ia melihat melalui Aku, ia berbicara melalui Aku, dan berjalan melalui Aku.’

 

Khabar ini menunjukkan tidak adanya ruang dalam pendengaran mereka untuk selain Allah, tidak juga dalam penglihatan dan keseluruhan anggota tubuhnya. Sebab kalau masih ada ruang untuk selain Allah, tentunya Allah tidak akan berkata, “Aku mendengar dan melihat-Nya.” Maka tidak ada keraguan lagi bahwa inilah maqam yang lebih mulia daripada kemampuan menundukkan ular dan binatang buas, atau memberi sepotong roti, setangkai anggur dan segelas air kepada seseorang yang kelaparan dan kehausan di padang tandus. Ketika Allah dengan rahmat-Nya mengantarkan hamba-Nya sampai derajat yang tinggi, maka apa susahnya memberi sepotong roti atau air minum di padang tandus kepada seseorang?

 

Dalil 4

 

Nabi Muhammad Saw. menceritakan bahwa Allah berfirman, “Barangsiapa menyakiti wali-Ku, maka ia benar-benar menyatakan peperangan dengan-Ku.” Menyakiti wali sama dengan menyakiti Allah, hal ini sesuai dengan firman-Nya:

 

“Orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah” (QS Al-Fath [48]: 10).

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin (untuk memilih ketetapan lain), apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan” (QS Al-Ahzab [33]: 36).

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya akan dilaknat oleh Allah di dunia dan akhirat” (QS Al-Ahzab [33]: 57).

 

Berjanji setia (bai’at) kepada Nabi Muhammad Saw. berarti berjanji setia kepada Allah, ridha kepada Nabi Muhammad Saw. berarti ridha kepada Allah, menyakiti Nabi Muhammad Saw. berarti menyakiti Allah. Tidak diragukan lagi, derajat Muhammad adalah derajat tertinggi. Inilah arti dari firman Allah dalam sebuah hadis qudsi, “Barangsiapa menyakiti wali-Ku, maka ia telah menyatakan peperangan dengan-Ku.” Hadis qudsi ini menunjukkan ketetapan Allah bahwa menyakiti wali sama dengan menyakiti-Nya.

 

Hal ini diperkuat dengan khabar masyhur yang menyatakan bahwa pada hari kiamat nanti Allah Swt. berfirman,

 

“Aku sakit, tetapi kau tidak menjengukku. Aku meminta minum tetapi kau tidak memberiku mimun. Aku meminta makan kepadamu tapi kau tidak memberiku makan.” Orang-orang bertanya, “Ya Tuhan, bagaimana kami melakukan hal ini, sementara Engkau adalah Tuhan Penguasa alam?” Allah menjawab, “Sesungguhnya hamba-Ku si Fulan sedang sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Apakah kamu tidak tahu kalau saja kamu menjenguknya, maka kamu akan menemukan Aku di sisinya.”

 

Demikian juga ketika kita memberi minum dam makan wali-Nya berarti kita juga memberi minum dan makan Allah. Seluruh khabar di atas membuktikan bahwa para wali Allah telah mencapai derajat ini.

 

Dalil 5

 

Kita melihat bahwa dalam kebiasaan, seseorang yang diangkat sebagai pelayan khusus oleh seorang raja dan diizinkan masuk ke ruang untuk bersenang-senang, maka ia juga diberi kekhususan untuk melakukan apa yang tidak bisa dilakukan orang lain. Bahkan akal sehat juga menyaksikan bahwa kedekatan dengan seorang raja akan menimbulkan naiknya pangkat (kedudukan). Kedekatan adalah asal atau pokok, sementara kedudukan adalah pengiring. Sedangkan Raja Paling Agung adalah Tuhan Penguasa alam. Jika Allah memuliakan seorang hamba dengan mengantarkannya ke pintu pengabdian dan derajat karamah, menganugerahinya rahasia ma’rifat dan kemampuan menyingkap hijab antara Allah dan dirinya, serta mendudukkannya dalam kedekatan, maka tidak ada kesulitan baginya untuk menampakkan sebagian karamah di dunia ini.

 

Dalil 6

 

Tidak diragukan lagi bahwa yang menguasai perbuatan adalah ruh, bukan badan. Begitu juga penguasaan Allah atas ruh sama dengan penguasaan ruh atas badan, berdasarkan penafsiran kami atas firman Allah, “Dia menurunkan malaikat dengan (membawa) ruh (wahyu) berupa perintah-Nya” (QS Al-Nahl [16]: 2). Rasulullah Saw. bersabda, “Aku bermalam di sisi Tuhanku yang memberiku makan dan minum.” Dari hadis ini, kita tahu bahwa semakin banyak pengetahuan seseorang tentang alam gaib, maka semakin kuat hatinya dan semakin sedikit kelemahannya. Karena itu, ‘Ali bin Abi Thalib berkata, “Demi Allah, gerbang Khaibar itu tidak aku dobrak dengan kekuatan jasadiah, tetapi gerbang itu terlepas dengan kekuatan rabbaniyyah.” Hal tersebut karena pada waktu perang Khaibar, ‘Ali memutus pandangannya dengan alam jasad, dan malaikat memancarkan cahaya alam keagungan, sehingga ruh ‘Ali menjadi kuat dan menyerupai subtansi ruh malaikat serta memancarkan kilauan cahaya alam kesucian dan keagungan. Maka ‘Ali memiliki kemampuan seperti malaikat yang tidak dimiliki oleh orang lain. Demikian pula hamba lain yang terus-menerus taat, ia akan tiba pada maqam yang difirmankan Allah dalam sebuah hadis qudsi, “Aku menjadi pendengaran dan penglihatannya.” Ketika cahaya keagungan Allah menjadi pendengarannya, maka ia mampu mendengar suara yang dekat maupun yang jauh. Ketika cahaya Allah menjadi tangannya, maka ia memiliki kemampuan untuk menyelesaikan persoalan yang sulit maupun mudah, jauh maupun dekat.

 

Dalil 7

 

Menurut hukum akal, subtansi ruh bukanlah raga yang fana, rusak, dapat dipisah-pisah, dan dipotong-potong. Namun ruh adalah substansi malaikat, penghuni langit, sesuatu yang kudus dan suci. Hanya saja ketika ruh terikat dengan tubuh dan terbelenggu dengan kehendaknya, maka ia akan melupakan negeri asal dan tempat tinggalnya yang lama, dan secara keseluruhan ia serupa dengan tubuh yang rusak, kekuatannya melemah, kekokohannya lenyap hingga ia tidak kuasa melakukan apa-apa. Ketika ruh senang dengan ma’rifat dan mahabbah kepada Allah, serta jarang mengikuti kehendak tubuh, maka ruh-ruh penghuni langit dan ‘arsy akan memancarkan kilauan cahaya mereka atasnya dan menyelubunginya, kemudian ia akan diberi kekuatan hingga mampu menguasai alam materi, seperti ruh-ruh penghuni langit, dan inilah yang disebut karamah.

 

Menurut mazhab kami, ruh manusia berbeda dengan benda-benda cair. Ruh manusia mengandung kekuatan dan kelemahan, cahaya dan kegelapan, kehormatan dan kehinaan, demikian juga ruh-ruh falakiyah (wilayah langit). Tidakkah kau lihat Jibril, ketika Allah menyifatinya dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman Allah yang dibawa oleh utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi Allah Pemilik ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya” (QS Al-Takwir [81]: 19-21). Allah berfirman tentang sekelompok malaikat lainnya, dan berapa banyak malaikat di langit yang syafa’atnya tidak berguna kecuali setelah Allah memberikan izin kepada yang dikehendaki dan diridhai-Nya.

 

Demikianlah, ketika jiwa berpadu dengan kekuatan yang suci dan mendasar, cahaya substansi, keluhuran tabiat, ditambah dengan berbagai macam riyadhah (olah spiritual) yang membersihkan debu dunia wujud dan kerusakan dari wajahnya, maka jiwanya akan bercahaya, berkilauan, dan mampu menguasai alam nyata dan fana dengan bantuan cahaya ma’rifat yang mulia dan kekuatan cahaya Sang Maha Perkasa lagi Maha Mulia. Penjelasan yang mulia ini mengandung rahasia-rahasia terselubung dan fenomena-fenomena yang mendalam, karenanya kita memohon pertolongan Allah agar dapat memahaminya. Barangsiapa tidak bisa mencapainya, berarti ia tidak meyakininya.

 

Para penyangkal adanya karamah memiliki beberapa argumen:

 

Para penyangkal karamah berlaku tidak adil dan menyesatkan karena berpendapat bahwa munculnya peristiwa luar biasa merupakan bukti kenabian, kalau muncul di tangan selain nabi, maka bukti ini menjadi batal. Adanya bukti tetapi tidak ada yang dibuktikan akan menodai eksistensi bukti tersebut dengan demikian bukti tersebut menjadi batal.

Mereka berpegang pada sabda Rasulullah dalam sebuah hadis qudsi yang menceritakan tentang Allah, “Orang-orang yang mendekat kepada-Ku itu tidak akan pernah dekat kepada-Ku, hingga mereka menunaikan hal-hal yang Ku-wajibkan atas mereka.” Mereka mengatakan hadis ini adalah bukti bahwa mendekat kepada Allah dengan cara menjalankan semua perintah-perintah-Nya yang wajib lebih agung daripada mendekat kepada-Nya dengan menjalankan perbuatan sunnah. Jika orang yang mendekat kepada-Nya karena menjalankan perbuatan wajib saja tidak memperoleh karamah apa pun, maka apalagi orang yang mendekat kepada Allah dengan menjalankan perbuatan sunnah tidak patut memperoleh karamah.

Mereka berpegang pada firman Allah, “Dan dia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang tidak sanggup kamu capai kecuali dengan kesukaran-kesukaran yang memayahkan diri”(QS Al-Nahl [16]: 7). Pendapat mereka yang menyatakan bahwa wali itu pindah dari satu negeri ke negeri yang jauh tidak sesuai bahkan bertentangan dengan ayat ini. Demikian juga. Nabi Muhammad Saw. tidak akan bisa berjalan dari Mekah ke Madinah kecuali dalam tempo yang lama dengan disertai kepayahan-kepayahan. Bagaimana mungkin dapat dipahami bahwa seorang wali meninggalkan negerinya untuk beribadah haji dalam waktu satu hari saja?

Mereka bertanya apakah wali yang memperlihatkan karamah karena mengharapkan uang dari manusia bisa dituntut untuk menunjukkan bukti kewaliannya atau tidak? Kalau kita menuntutnya untuk menunjukkan bukti, maka itu sia-sia belaka, karena tampaknya karamah menunjukkan bahwa ia tidak berdusta. Sudah ada dalil meyakinkan mengapa harus mencari dalil perkiraan, tetapi kalau kita tidak menuntutnya untuk menunjukkan bukti, berarti kita telah mengabaikan Sabda Nabi SAW. yang berbunyi, “Bukti itu ada pada orang yang menyatakannya.” Ini menunjukkan bahwa pendapat yang mengatakan adanya karamah itu batil.

Apabila karamah bisa muncul pada sebagian wali, maka ia juga bisa terjadi pada orang lain. Jika karamah sudah begitu banyak sampai menjadi hal yang tak luar biasa lagi, maka akan sama dengan adat. Apabila kemunculan karamah begitu sering, maka karamah itu menjadi biasa saja, dan hal inilah yang akan menodai mukjizat dan karamah.

 

Jawaban atas argumen yang pertama:

 

Umat muslim berbeda pendapat tentang apakah seorang wali boleh menyatakan kewaliannya?

 

 

Kelompok Al-Muhaqqiqun (orang-orang yang menyatakan kebenaran) tidak membolehkannya. Berdasarkan pendapat ini, kita bisa membedakan antara mukjizat dan karamah. Mukjizat muncul setelah pengakuan kenabian, sementara karamah tidak muncul setelah pengakuan kewalian. Karena perbedaan inilah, para nabi diutus kepada makhluk untuk menyeru dari kekufuran kepada keimanan, dari maksiat kepada ketaatan. Kalau pengakuan kenabian tidak dinyatakan, maka kaum mereka tidak akan beriman, dengan kata lain tetap kufur. Jika para nabi menyatakan kenabian dan menampakkan mukjizat mereka, maka kaum yang diserunya akan mempercayai mereka. Langkah-langkah Nabi Muhammad Saw. menyatakan kenabiannya bukan bertujuan untuk mengagungkan diri, tetapi untuk menunjukkan kasih sayangnya kepada makhluk, agar mereka hijrah (beralih) dari kufur menuju iman. Adapun pernyataan kewalian seseorang tidak menyebabkan orang yang tidak mengakui kewalian-nya menjadi kafir atau menyebabkan orang yang mengakui kewalian-nya menjadi beriman. Jadi, pengakuan kewalian dinyatakan karena nafsu, oleh karenanya Nabi wajib menyatakan secara jelas pengakuan kenabiannya, sedangkan wali tidak diperkenankan menyatakan pengakuan kewaliannya, sehingga tampaklah perbedaan antara keduanya.

 

Sementara orang yang berpendapat bahwa seorang wali boleh menyatakan pengakuan kewaliannya, menyebutkan perbedaan mukjizat dan karamah ditinjau dari beberapa segi:

 

1) Kemampuan melakukan hal-hal luar biasa menunjukkan pelakunya bebas dari maksiat. Adapun peristiwa luar biasa yang diiringi dengan pengakuan kenabian menunjukkan pengakuan kenabiannya itu benar, sedangkan peristiwa luar biasa yang diiringi dengan pengakuan kewalian menunjukkan pengakuan kewaliannya itu benar. Dengan demikian, jelas bahwa mengakui adanya karamah para wali tidak berarti menyangkal mukjizat para nabi.

2) Nabi Saw. menunjukkan mukjizatnya dan meyakinkan dirinya, sedangkan wali ketika menunjukkan karamahnya tidak untuk meyakinkan dirinya. Karena mukjizat wajib ditampakkan, sementara karamah tidak.

3) Melawan orang-orang yang menyangkal mukjizat itu wajib, sedangkan para penyangkal karamah tidak wajib dilawan.

4) Seorang wali tidak boleh memperlihatkan karamahnya ketika ia menyatakan pengakuan kewaliannya, kecuali jika untuk memper kuat dakwah agama Nabi Saw. Bila hal ini terjadi, maka karamah itu menjadi mukjizat bagi Nabi dan mengukuhkan risalahnya. Dengan demikian, tindakan memperlihatkan karamah tidak berarti menyangkal kenabian seorang nabi, tetapi justru menjadi penguat kenabiannya.

 

Jawaban atas argumen yang kedua: Taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) dengan melakukan amalan-amalan wajib tentu lebih sempurna daripada taqarrub dengan amalan-amalan sunnah. Seorang wali hanya akan menjadi wali ketika ia menunaikan ibadah fardhu dan sunnah. Tidak diragukan lagi, kondisi ini lebih baik daripada orang yang membatasi diri pada hal-hal yang fardhu semata. Jadi, jelaslah perbedaannya.

 

Jawaban atas argumen yang ketiga: Firman Allah dalam QS Al-Nahl [16]: 7 yang berbunyi, “Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang tidak sanggup kamu capai kecuali dengan kesukaran kesukaran yang memayahkan diri”, mencakup kebiasaan-kebiasaan umum. Sedangkan karamah para wali adalah fenomena yang langka, pengecualian dari kebiasaan-kebiasaan umum.

 

Jawaban atas argumen yang keempat: Berpegang pada Sabda Nabi Saw. yang menyatakan, “Bukti itu ada pada orang yang mengaku.”

 

Jawaban atas argumen yang kelima: Orang-orang yang taat itu sedikit jumlahnya, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah, “Dan sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang bersyukur/taat”(QS Saba’ [34]: 13). Dan seperti yang dikatakan iblis dalam firman-Nya, “Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur/taat” (QS Al-A’raf [7]: 17). Jadi, ketika orang yang memperlihatkan karamah sangat sedikit, maka itu berarti berbeda dengan kebiasaan.

MENGENAL WALI ALLOH DAN DALIL KEBERADAANYA

 Ada dua penjelasan tentang makna wali.

Pertama, kata al-wali merupakan bentuk superlatif dari subyek (fa’il), seperti kata al-‘alim bermakna yang sangat alim dan kata al-qadir bermakna yang sangat berkuasa. Maka kata al-wali bermakna orang yang sangat menjaga ketaatan kepada Allah tanpa tercederai oleh kemaksiatan atau memberi kesempatan pada dirinya untuk berbuat maksiat.

Kedua, kata al-wali merupakan subjek bermakna objek, seperti kata al-qatil bermakna yang terbunuh dan al-jarih bermakna yang terluka. Maka kata al-wali bermakna orang yang dijaga dan dilindungi oleh Allah Swt, dijaga terus-menerus dari berbagai macam maksiat dan selamanya mendapat pertolongan Allah untuk selalu berbuat taat.

Perlu diketahui bahwa kata al-wali diambil dari firman Allah Swt,:

   “Allah adalah pelindung (wali) orang-orang yang beriman” (QS Al-Baqarah [2]: 257).

   “Dan dia melindungi (yatawalla) orang-orang yang saleh “(QS Al-A’raf [7]: 196).

   “Engkaulah Penolong kami (maulana), maka tolonglah kami dari kaum yang kafir “(QS Al-Baqarah [2]: 286).

   “Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung (maula) orang-orang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung” (QS Muhammad [47]: 11).

   “Dan firman-Nya, Sesungguhnya penolong kamu (waliyyukum) adalah Allah dan Rasul-Nya” (QS Al-Maidah [5]: 55)

Menurut saya, ditinjau dari segi etimologis, al-wali berarti yang dekat. Ketika seorang hamba dekat kepada Allah karena ketaatan dan keikhlasannya, maka Allah akan senantiasa dekat kepadanya, dengan limpahan rahmat, keutamaan, dan kebaikan, hingga mencapai jenjang al-wilayah (kewalian).

Dalil Dalil Tentang Adanya Karamah Wali

Ketetapan adanya karamah para wali dinyatakan oleh dalil-dalil dari Al-Qur’an, khabar, atsar, dan dalil aqli (rasio).

  1. Dalil Al-Qur’an

Ada banyak ayat yang dijadikan pegangan mengenai hal ini:

Dalil 1

Kisah Maryam dalam QS Ali ‘Imran [3]: 37 di atas, sebagaimana telah dijelaskan di muka maka tidak akan kami ulangi lagi di sini.

Dalil 2

Kisah ashabul kahfi yang tertidur selama 309 tahun, namun tetap selamat dari malapetaka. Allah melindungi mereka dari panas matahari, seperti termaktub dalam firman Allah, Dan kamu mengira mereka itu terjaga, padahal sebenarnya mereka tidur (QS Al-Kahfi [18]: 18). Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong ke arah kanan gua (QS Al-Kahfi [18]: 17).

Sebagian orang menetapkan adanya karamah wali berdasarkan firman Allah, Berkatalah seorang yang memiliki ilmu dari Al-Kitab, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Padahal orang yang memiliki ilmu dari Al-Kitab dalam ayat tersebut adalah Nabi Sulaiman a.s., maka tidak benar mengambil dalil dengan ayat ini.

Al-Qadhi menanggapi masalah ini, “Di antara ashabul kahfi atau pada zaman mereka pasti ada seorang nabi, karena tidur mereka yang begitu lama bertentangan dengan kebiasaan manusia, sebagaimana seluruh mukjizat yang ada.” Menurut saya, tidurnya ashabul kahfi yang begitu lama mustahil merupakan mukjizat salah seorang nabi, karena tidur bukanlah kejadian yang luar biasa untuk disebut sebagai mukjizat. Banyak orang tidak mempercayai kejadian ini, karena mereka tidak mengetahui bahwa ashabul kahfi adalah orang yang jujur dalam pengakuannya kecuali bahwa mereka tinggal di dalam gua selama itu. Orang-orang mengetahui bahwa mereka yang datang pada masa itu telah tertidur selama 309 tahun. Keseluruhan syarat ini tidak terpenuhi, jadi tidak mungkin mengklasifikasikan kejadian tersebut dalam kategori mukjizat salah satu nabi, cukuplah dianggap sebagai karamah dan ihsan para wali.

  1. Khabar Nabi Saw.

Khabar 1

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Saw. bersabda,

   “Hanya ada tiga bayi yang bisa bicara, yaitu Isa a.s., bayi pada masa Juraij (seorang ahli ibadah), dan seorang bayi lainnya.” Kisah Nabi Isa a.s. telah diketahui secara luas. Sementara Juraij adalah seorang ahli ibadah di kalangan Bani Israil yang memiliki seorang ibu. Pada suatu hari ketika Juraij sedang shalat, sang ibu mengetuk pintu dan memanggilnya, “Juraij!” Juraij kebingungan, “Tuhan, manakah yang lebih baik, melanjutkan shalat atau menjawab panggilan ibu?” Juraij memutuskan untuk tetap melanjutkan shalatnya. Sang ibu lalu memanggil untuk kedua kalinya, tetapi Juraij tetap melanjutkan shalatnya. Sampai panggilan ketiga, Juraij tetap kukuh melanjutkan shalatnya dan tidak menghiraukan panggilan ibunya.

   Sang ibu marah, lalu berdoa, “Ya Allah, jangan biarkan dia mati, sampai ia bertemu seorang pelacur.” Di tempat Juraij tinggal, ada seorang pelacur yang berkata pada beberapa orang, “Aku akan menggoda Juraij, sampai ia mau berzina denganku.” Pelacur itu mendatangi Juraij tetapi ia tidak mampu berbuat apa-apa. Suatu malam, seorang penggembala beristirahat di gubugnya. Ketika lelah, pelacur itu merayu penggembala, dan terjadilah perzinaan antara keduanya. Pelacur itu kemudian melahirkan seorang bayi dan mengaku, “Ini anak Juraij.” Bani Israil lalu mendatangi Juraij, menghancurkan rumahnya dan mencaci-makinya. Kemudian Juraij shalat dan memanjatkan doa, hingga bergeraklah bayi itu.

   Abu Hurairah berkata, “Sepertinya aku melihat Nabi Saw. bercerita dengan mengacungkan tangan ketika beliau berkata, “Hai bocah, siapa ayahmu?” Bayi itu menjawab, “Penggembala itu.” Akhirnya Bani Israil menyesali perbuatan mereka terhadap Juraij dan mengucapkan janji, “Kami akan membangun rumahmu dari emas atau perak.” Akan tetapi Juraij menolak tawaran mereka dan membangun rumahnya seperti semula.

   Bayi lain yang bisa bicara adalah seorang bayi yang sedang menyusu kepada ibunya. Lalu lewatlah seorang pemuda tampan berparas elok. Sang ibu berdoa, “Ya Allah, jadikan anakku seperti dia.” Kemudian bayi itu menyahut, “Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia.” Lewat lagi seorang perempuan yang diisukan sebagai pencuri, pezina, dan residivis. Sang ibu berdoa, “Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dia.” Bayi itu menimpali, “Ya Allah, jadikan aku seperti dia.” Sang ibu bertanya-tanya tentang celoteh anaknya. Si bayi berkata, “Pemuda itu orang yang suka bertindak sewenang-wenang, aku tidak ingin jadi seperti dia. Sementara perempuan yang diisukan sebagai pelacur itu bukanlah seorang pelacur, ia diisukan sebagai seorang pencuri, padahal ia bukan pencuri, dan ia hanya berkata, “Cukuplah Allah sebagai pelindungku.”

Khabar 2

Khabar tentang sebuah gua yang terkenal dalam kitab-kitab sahih. Al-Zuhri meriwayatkan dari Salim dari Ibnu ‘Umar bahwa Rasulullah Saw. bercerita, “Dulu, ada tiga orang sedang menempuh suatu perjalanan, kemudian mereka berlindung dan bermalam di dalam gua. Lalu sebuah batu besar menggelinding dari atas gunung dan menutupi pintu gua. Mereka berkata, ‘Demi Allah, kami tidak akan selamat dalam gua ini, kecuali kami memohon kepada Allah dengan perbuatan baik yang telah kami lakukan’

Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Aku memiliki dua orang tua yang lanjut usia, sebelumnya aku tidak pernah membuatkan mereka minuman. Suatu hari, mereka tertidur di bawah sebatang pohon, aku tidak memindahkan mereka. Aku memerah susu sebagai minuman sore hari untuk keduanya, aku membawakannya untuk mereka, tetapi mereka tetap tidur. Aku tidak berniat membangunkan mereka juga tidak mendahului meminumnya. Sambil berdiri dengan menenteng gelas di tangan, aku tunggui mereka hingga terjaga sampai fajar merekah. Selanjutnya mereka bangun, dan meminumnya.Ya Allah, apabila aku lakukan semua” itu karena mencari ridha-Mu, maka keluarkan kami dari hadangan batu besar ini/’ Kemudian batu itu bergeser sedikit sehingga terbuka celah kecil, namun mereka belum bisa keluar dari gua.

Orang kedua berkata, ‘Aku memiliki sepupu perempuan yang sangat mencintaiku. Kemudian ia merayuku, tetapi aku menolak, hingga aku menyakiti dirinya selama beberapa tahun. Akhirnya ia menemuiku dan aku berikan harta yang banyak agar dia mau meninggalkanku. Waktu itu ia berkata, ‘Tidak mungkin kamu bisa melepaskan cincin ini, kecuali dengan cara yang benar.’ Lalu aku meninggalkannya bersama hartanya. Ya Allah, apabila aku lakukan hal itu karena mencari ridha-Mu, maka bebaskan kami dari pintu gua ini.’ Bergeserlah batu besar itu, tetapi mereka belum juga bisa keluar dari sana.

Orang ketiga berkata, ‘Ya Allah, aku telah mempekerjakan orang. Aku beri mereka upah, dan hanya ada satu orang yang belum kuberi karena ia meninggalkan pekerjaannya, kemudian pergi. Aku membungakan upahnya hingga menjadi kekayaan yang berlipat-lipat. Pada suatu saat, ia mendatangiku dan berkata, ‘Hai ‘Abdullah, saya mau minta upah.’ Aku menjawab, ‘Seperti apa yang kamu lihat, semua upahmu berupa unta, kambing, dan budak.’ Dia berkata, ‘Hai’Abdullah, engkau mengolok-olok saya?’ Aku menjawab, ‘Aku tidak mengolok-olokmu, ambillah semua upahmu dan gunakan untuk makan/ Ya Allah, apabila hamba melakukan semua itu karena mencari ridha-Mu, maka lepaskan kami dari padang pasir ini.’ Akhirnya terbukalah batu itu dari gua. Mereka keluar dan berjalan bersama-sama.” (HR Bukhari dan Muslim dengan kualitas hasan sahih)

Khabar 3

Sabda Rasulullah Saw., “Ya Allah, aku sudah membuat kusut dan mengotori kain lusuh dengan debu. Jika aku bersumpah dengan nama Allah, niscaya kain itu akan rapih dan bersih kembali.” Tidak ada sesuatu pun yang dapat menyangkal sumpah Nabi Muhammad Saw. atas nama Allah.

Khabar 4

Sa’id bin Musayyab meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Saw., “Suatu hari, ada seorang laki-laki yang sedang menggiring seekor sapi dengan beban berat. Sapi itu menoleh ke arah laki-laki itu dan berkata, ‘Aku diciptakan bukan untuk ini, tetapi untuk membajak.’ Beberapa orang berseru, ‘Maha suci Allah, seekor sapi bisa bicara.’ Aku, Abu Bakar, dan ‘Umar mempercayai kejadian itu.”

Khabar 5

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda, “Suatu hari seseorang mendengar petir, tanda musim hujan, yang akan mengairi kebun Fulan. Aku bergegas menuju kebun itu, pada waktu itu, ada seorang laki-laki berdiri di sana, dan aku bertanya, ‘Siapa namamu?’ Dia menjawab, ‘Fulan bin Fulan bin Fulan.’ Aku bertanya lagi, ‘Apa yang kau kerjakan di kebun ketika panen tiba?’ Dia balik bertanya, ‘Kenapa kau tanyakan hal itu?’ Jawabku, ‘Karena aku mendengar suara petir yang akan mengairi kebun Fulan.’ Dia berkata, ‘Jika benar apa yang kau katakan, maka aku akan membaginya menjadi tiga, sepertiga untukku dan keluargaku, sepertiga untuk orang-orang miskin dan musafir, dan sepertiga lagi akan aku nafkahkan.'”

  1. Atsar Sahabat

Kita mulai dengan mengutip beberapa karamah yang muncul dari Khulafa’ur Rasyidin dan para sahabat Nabi Saw. lainnya. Di sini saya mengutip sebagian karamah Khulafa’ur Rasyidin dari Al-

Razi, dan mengutip karamah para sahabat Nabi lainnya dari periwayat lain. Al-Razi berkata, “Beberapa kitab sufi membahas hal ini berupa riwayat-riwayat yang tak terhitung jumlahnya. Siapa yang ingin mempelajarinya, silakan mengkajinya.”

BERSAMBUNG….

FATHUL MU’IN SEBAGAI KITAB BAROKAH DI DUNIA PESANTREN

MUIN            Dikalangan santri, terutama para pemerhati Turots Islami tentunya tidak asing lagi sebuah kitab yang bernama Fathul Mu’in, sebuah kitab yang dikarang oleh seorang Ulama yang begitu Alim dan tokoh Shufi yang terkenal manjur Do’anya yaitu Syeh Zainuddin bin Muhammad al Ghozaly al Malibary .
Kitab Fathul Mu’in merupakan salah satu karya monumental ulama muta’akhirin dari kalangan Syafi’iyah yang menjadi standar kitab bagi pesantren di Indonesia. Bahkan di beberapa pesantren, kitab tersebut sebagai tolok ukur santri dalam penguasaan kitab Salaf. Sebuah Kitab kecil yang banyak sekali memiliki keunggulan dibanding kitab-kitab lain dan diajarkan hampir di semua pesantren yang berhaluan Ahli Sunnah syafi’iyah di Dunia ini.
Kitab Fathul Mu’in adalah Kitab Syarah Qurrotul ‘Ain Fi Muhimmatu al Din, sebuah Syarah yang menjelaskan ma’na murod, menghasilkan maksud dan menjelaskan bebarapa faidah, sebagaimana di jelaskan dalam muqoddimah kitab tersebut.
Kitab Qurrotul ‘Ain sendiri merupakan karya Syeh Zaenudin al Malibari sendiri, sebuah kitab yang sangat barokah, sebagaimana pengakuan dari Syeh Bakri Satho dalam Hasyah I’anahnya, karena kitab ini telah di do’akan oleh pengarangnya yang mustajab do’anya supaya kitab ini membawa menfaat bagi para pembacanya

Syekh Zainuddin Al-Malibari
Syeh Zeinuddin al Malibari merupakan ulama’ yang di lahirkan di daerah Malabar, India Selatan. Tak diketahui secara persis, kapan Syekh Zainuddin Al-Malibari lahir. Bahkan, wafatnya pun muncul berbagai pendapat. Beliau diperkirakan meninggal dunia sekitar tahun 970-990 H dan di makamkan di pinggiran kora Ponani, India. Tepatnya terletak di samping masjid Agung Ponani atau Funani.
Beliau adalah cucu dari Syeh Zeinuddin bin Ali pengarang kitab Hidayatul Adzkiya’ (I’anah I/151), sejak kecil, Syeh Zaenuddin al malibari telah terdidik oleh keluarga agamis, selain sekolah di al Madrasy yang didirikan oleh kakek beliau, beluau juga berguru kepada beberapa Ulama’ Arab, termasuknya adalah Ibnu Hajar al Haitami dan Ibnu Ziad.
Perlu di ketahui, bahwa sesungguhnya nama ayah beliau bukanlah Abdul Aziz sebagaimana tertulis dalam kitab I’anatut Tholibin (I’anah I/7), melainkan nama ayahnya adalah Muhammad al Ghozali, dan Abdul Aziz adalah paman beliau sebagaimana pengakuan beliau dalam Muqoddimah Kitab al Ajwibah . Dan penggunaan paman sebagai Ayah adalah hal yang sangat lumrah.
Syekh Zainuddin Al-Malibari, selain dikenal sebagai ulama fikih yang mengikuti madzhab Syafi’i, beliau juga dikenal sebagai ahli tasawuf, sejarah dan sastra. Beliau mempunya beberapa karya dalam beberapa literarur Ilmu, dan di antara karya-karya beliau adlah Fath al-Mu’in syarah atas kitab karyanya sendiri Qurrat al-Ayn Fi Muhimmati al Din, Hidayat al-Azkiya ila Thariq al-Auliya, serta Irsyad Al-Ibad ila Sabili al-Rasyad, dan Tuhfat al-Mujahidin.
Seperti kebanyakan ulama lainnya, Syekh Zainuddin Al-Malibari juga dikenal sebagai ulama yang sangat tegas, kritis, konsisten, dan memiliki pendirian yang teguh. Ia pernah menjadi seorang hakim dan penasehat kerajaan, dan diplomat.

Manhaj kitab.
Kitab Fathul Mu’in ini tak jauh beda dengan kitab-kitab fiqh yang lain, yaitu membahas semua permasalahan Fiqhiyah, mulai dari Ubudiyah, Mu’amalah, Munakahah dan juga Jinayah dengan di klasifikasikan sesuai dengan bab-babnya.
Tapi dalam kitab fathul Mu’in ini, terkadang tidak menyebutkan sebuah pembahasan yang sebenarnya sangat penting untuk di sebutkan, sehingga, sering sekali Syeh Abu Bakar al Syatho dalam Hasyiyah I’anatu al Tholibin mengkritik tentang tidak adanya penyebutan tersebut, sebagaimana dalam permasaahan Ijtihad (I’anah I/45) Istihadloh (I’anah I/90), Istikhlaf (I’anah II/111) Ju’alah (I’anah III/146), atau penyebutan yang kurang sempurna. Bahkan ada sebuah masalah yang telah di sebutkan dalam judul ternyata tidak masuk dalam pembahasan, yaitu masalah menjual buah-buahan “Bai’u al Tsimar”.
Hal di atas karena permasalahan tersebut di anggap tidak penting oleh pengarang, karena jarang terjadi pada masa itu atau kurang diperhatikan di kalangan awam, hal itu tercermin dari jawaban beliau ketika ditanya “kenapa hanya sedikit membahas tentang Haid (tidak membahas Istihadloh)? Beliau menjawab: “orang laki-laki tidak haid, dan orang perempuan tidak bertanya”. Dari jawaban beliau di atas, memnunjukkan bahwa beliau mengarang kitab fathul Mu’in memang di peruntukkan oleh orang-orang yang membutuhkan, bukan sekedar untuk di kaji.
Jika kitab-kitab Fiqh biasanya memulai pembahasan dengan Kitab Thoharoh, sebagai intrumen penting sebelum melakukan Ibadah Sholat, tetapi kitab Fathul Mu’in ini mengawali pembahasan langsung ke Kitab Sholat, sebagai Ibadah yang paling fital dalam agama Islam, dengan Mangawali pembahasan Sholat, secara otomatis juga membahas Thoharoh, karena Sholat tidak akan Shah kecuali dengan Thoharoh.
Dalam pembahasan Sholat, kitab ini lebih enak untuk di telaah, karena dalam membahas kaifiyah atau tata cara Sholat, kitab Fathul Mu’in ini lebih runtut di banding dengan kitab lain, karena dalam penyebutan, tidak di klasifikasikan sesuai dengan Fardlu dan Sunahnya, melainkan di sebutkan sesuai dengan letak kaifiyah itu, metode seperti ini juga di terapkan dalam pembahasan Haji dan Umroh.
Terkadang dalam kitab ini juga terjadi pengulangan pembahasan, sebagaimana dalam masalah membaca keras didalam masjid, masalah ini sempat di bahas dua kali yang pertama pada Fashl Fi Shifati Sholat dan pada Fasl Fi Sholati al Jama’ah. Mungkin hal ini untuk lebih memperjelas masalah yang ada, terbuki, dalam pembahasan yang kedua, beliau lebih memerinci pembahasan dengan menampilkan perkhilafan antara Imam Nawwawi dan Ibnu Hajar.
Dalam kitab Fathul mu’in ini juga terdapat banyak sekali praktek perselisihan (mukhosamah), baik dalam bab Mu’amalah maliyah atau dalam Bab Munakahah, yang sebenarnya jika kita teliti, pembahasan antara yang satu dan lain tidaklah jauh berbeda. Hal ini di dasari oleh banyaknya kejadian Mukhoshomah pada masa itu atau karena itu merupakan perkara yang trend di kalangan pelajar dan banyak di tanyakan pada ulama’. Walaupun begitu, pengarang tetap berusaha menampilkan hal-hal tersebut dengan ibarat yang sangat ringkas tetapi tetap mengena.
Dan termasuk keistimewaan kitab Fathul Mu’in ini adalah menyebutkan beberapa perkhilafan di antara ulama’ dan di ambil dari kitab-kitab mereka yang mu’tabar dengan mentarjih pendapat mereka baik secara Shorih/jelas atau malah melatih kecerdasan pembaca dengan hanya memberikan Isyarat atau ibarat yang samar. Dan kebanyakan, pendapat yang di ikuti oleh pengarang adalah pendapat guru belau yaitu Syeh Ibnu Hajar al Haitamy, dan guru inilah yang di kehendaki ketika pengarang menyebut Guruku (Syekhuna).
Penggunaan Istilah Syekhuna untuk sang maha guru yaitu Ibnu Hajar, ini memunjukkan betapa beliau sangat menghormati gurunya ini dan mengenggapnya sebagai orang yang paling berpengaruh dalam kehidupan intelektual beliau.

Kesimpulan
Kitab fathul Mu’in ini adalah kitab yang sangat barokah sekali, dengan format dan manhaj yang ditawarkan tentunya mempunyai sebuah rahasia yang tidak bisa di mengerti oleh orang lain. Sehingga banyak sekali ulama’ yang mengaguminya, bahakan ada yang mengatakan bahwa kitab fathul Mu’in ini adalah Kitab al Tuhfah al Tsani atau Kitab Tuhfah yang kedua, selain karena pengarang adalah murid dari pengarang kitab Tuhfah, juga karena kitab Fathul Mu’in ini juga banyak sekali mengadopsi masalah dari kitab al Tuhfah.
Tulisan ini bukanlah untuk mengkritik atau mencari kesalahan-kesalahan yang ada, walaupun secara gamblang pengarang memperbolehkan siapapun untuk mengoreksi kitab beliau asal dengan cara yang tepat, tapi bagaimana pun kita tetap harus berbaik sangka dengan pengarang, karena hanya dengan itu kita bisa mengambil manfaat:
وكل من لم يعتقد لن ينتفع
Dan tulisan ini hanya bentuk analisa dari penulis dengan di gabunggan dengan literatur yang kami miliki, jadi bila terjadi kesalahan dalam analisa kami mohon untuk koreksi bersama.