KASIH SAYANG ALLOH SWT DI BALIK MAKSIYAT KITA

ALLOH             Ingatlah hidup ini adalah sebuah perjalanan, dan perjalanan itu pasti ada tujuan dan tujuan utama perjalanan manusia ialah kembali kepada Sang Pencipta sehingga perjalanan kita dalam melaksanakan tugas hidup yang semakin lama semakin berat, semakin banyak rintangan, semakin besar ujian, semoga dilindungi dan dikasih sayangi bahkan diselamatkan oleh Allah SWT.

Sebab kalau kita melaksanakan kesalahan lahir, akan nampak dan diketahui orang dan suatu saat kita dihakimi dan dinyatakan salah tapi orang yang melakukan kesalahan lahir ini masih ada perasaan bersalah didalam hati oleh Allah diberi kesempatan kembali kepadaNYA.

Walaupun manusia sudah dicap sebagai tempat salah dan dosa bahkan sangat dholimdan sangat kufur tapi justru ini bentuk kasih sayang Allah kepada manusia, artinya manusia kalau sudah dikatan Allah sangat dholim dan sangat kufur itu harus ditancapkan didalam hati dan ini merupakan resep untuk mendapat kasih sayangnya Allah.

Maka tancapkanlah dihati kita ketika kita sholat, ketika kita mujahadah, katakan didalam hati kita “YAA ALLAH AKULAH YANG PALING DHOLIM DAN AKULAH MANUSIA YANG PALING KUFUR”, ini merupakan rahasia ayat Al Quran yang merupakan bentuk kasih sayang Allah.

Ternyata ketika ayat itu dimasukkan didalam hati sehingga si alim yang hafal kitab, dan si abid yang ahli ibadah, ketika tertancap “INNAL INSAANA LA DHOLUMUN KAFFAR”ini manusia tetap sebagai hamba, dan tidak lepas dari perasaan hamba karena sekali hati lepas dari perasaan hamba walaupun sedetik saat itulah iblis menguasi hati kita sehingga ditancapkan bendera aku didalam hati kita, ketika kita lepas dari perasaan dholim, perasaaan kufur, perasaan penuh dosa saat lepas satu detik saat itu hati dikuasai iblis, dia datang mengendap-endap kepada orang sholeh menunggu waktu kapan si sholeh, kapan orang-orang yang dekat dengan Allah lepas dari perasaan hamba, itu ditunggu dan tidak pernah berhenti!

KETIKA SI AHLI IBADAH DAN ORANG-ORANG YANG BENAR-BENAR MULIA MERASA BAIK SEDETIK, YA SAAT SEDETIK ITU BERSAMA IBLIS, TOLONG DIPERHATIKAN!

Maka perasaan rendah harus dilatih… dilatih… dan dilatih… dimanapun berada, perasaan dholim, rendah, kufur harus ditancapkan didalam hati karena ayat itu mengandung rahasia, artinya kalau kita menempati posisi perasaan rendah, kufur dan dholim merupakan sumber dan diharapkan oleh Allah akan menerima fadholNYA!

Karena fadholnya Allah diberikan kepada hati yang memiliki perasaan rendah “LIL KULU BI MUNKATSIROTI MUTAARIDHOTI LINAFAHATIL ILAAHIYYAH” hati yang merasa rendah, merasa dholim, merasa kufur tidak ada apa-apanya merasa penuh dosa dihadapan Allah, akan tetapi iblis sangat benci melihat hamba yang merasa dosa dan merasa rendah itu, oleh karena itu hikmah daripada kita melakukan dosa ternyata Allah memberikan kasih sayangnya sehingga membalik dosa-dosanya menjadi kebaikan.

Berapa hamba-hamba Allah yang dicintai itu asalnya adalah orang-orang yang bodoh? orang-orang yang sangat lemah dan orang-orang yang penuh dengan maksiat? orang-orang tiap hari ingkar kepada Allah?

Akan tetapi ketika datang hidayah sehingga menancap di hati maka orang itu dicintai oleh Allah walaupun asalnya orang itu rendah dan banyak dosa, orang itu penuh maksiat, dan orang itu lupa orang sehingga mengikuti syahwat nafsunya, akan tetapi orang itu diangkat oleh Allah menjadi kekasihNYA karena menancapnya ayat itu didalam jiwa!

MAKA WAHAI SAUDARAKU…

Tancapkan perasaan dholim itu karena sedetik perasaan itu terangkat ya sedetik itu iblis masuk kedalam hati kita, maka harus dilatih dan banyak menangis didunia ini, kalau tidak bisa menangis lahirnya ya hatinya harus menangis merasa rendah, banyaknya maksiat ini saya sumbernya!

Andaikan saya baik, doa saya pasti diterima dan orang-orang akan baik, harus dilatih itu jangan ada kesempatan merasa baik! merasa rendah, merasa dosa, merasa dholim, merasa diri kita tidak ada apa-apanya dan merasa kecil itu sumber pertolongan dan fadholnya Allah.

Maka latih… latih… perasaan itu, perasaan faqodholamtu abadaw warobbini, sebab Rasulullah tidak akan membimbing kalau si hamba belum benar-benar menyadari dan mengakui sungguh kami dholim selalu!

INI YANG HILANG DIHATINYA UMAT, SEHINGGA KITA HANYA BISA BERBICARA AKAN TETAPI TIDAK MENGETRAPKAN!

Walaupun mujahadah ditingkatkan, riyadhoh benar-benar ditingkatkan tapi apa jadinya semakin meningkat kita semakin merasa tepat, hancur sudah perasaan dholim selalu itu yang semestinya ada didalam hati kita! Inilah awal hilangnya rasa dholim dan kufur sehingga merasa pede dihadapan Allah!

Ingat…!!! sedikit kita merasa LILLAH BILLAH, seketika itu jauh dihadapan Allah (RUQYATUL QURBI.. BU’DUN)

PERHATIKAN kita tidak bisa NOL, itu adalah fadhol dari Allah, maka jangan sekali-kali pupuk rohani menuju kepada Allah “faqodholamtu abadaw warobbini” dan “Innal insana ladholumun kaffar” hilang, lebih-lebih di zaman ini harus kita tingkatkan.

Ingat zaman ini juga banyak penyakit, banyak orang yang tidak sakit tiba-tiba mati mendadak, banyak orang yang belum taubat tahu-tahu duduk dengan keluarga jatuh dan mati! kita bertanggung jawab dan masyarakat masih membutuhkan kita, walaupun kita ini miskin dan bodoh, justru bodoh miskin itu bawa itu sebagai komandan perjalanan menuju kepada Allah!

Katakan dihadapan Allah “Yaa Allah saya orang bodoh dan miskin, ahli maksiat, dan banyak dosa tidak pantas berjuang untuk kesadaran” itu jadikan menuju kepada Allah, akan tetapi jika perasaan itu sudah hilang jangan harap bisa bertemu dengan Allah untuk mengingat Allah pun sulit!

Masa kita mengingat Allah sambil bertolak pinggang?

Masa kita mengingat Allah dengan merasa suci?

Ini sunggguh terbalik, karena hakekat ingat kepada Allah harus merasa rendah! Karena yang kita ingat adalah SANG PENCIPTA, yang kita ingat adalah TUHAN YANG MAHA SUCI!

Masa dihadapan Allah kita syirik menyekutukan Allah dengan kebaikan kita bahkan dengan perasaan AKU yang disebut dengan ANANIYAH!

OLEH KARENA ITU WAHAI SAUDARAKU…

Latih… latih… perasaan rendah dengan perasaan dosa walaupun kita baik secara lahiriah tidak pernah maksiat, tapi bersujudlah dihadapannya katakan justru maksiat saya adalah merasa bangga dengan ibadah saya, merasa takabur sehingga banyak saudara-saudara kita mati belum taubat karena sebab saya Yaa Allah…. bahkan keluarga, ayah, ibu, anak belum kenal ilmu ini sebab karena saya dan itu harus terlatih!

Maka ingat saudara-saudaraku kitapun akan menyusul saudara-saudara kita yang sudah meninggal dunia, hidup kita hanya sekali dan sebentar lagi kita akan meninggalkan dunia yang fana’ tapi perjuangan rohani tidak boleh putus!

Akan tetapi siapa yang digadang dan diharap untuk meneruskan perjuangan rohani kalau pertama kali pondasinya perasaan dholim dan perasaan rendah-serendahnya tidak mampu, siapa yang akan meneruskan perjuangan yang agung ini?

Maka terjadi dimana-mana orang menolak ajaran suci “LILLAH BILLAH” sebab karena kita sendiri tidak bisa mencerminkan sifat dan sikap kasih sayang!

Maka tanamkan pupuk kesadaran kepada Allah, dan pupuk kesadaran ialah ketika kita merasa dholim, merasa rendah-serendahnya, merasa kufur, merasa penuh dosa jangan sampai hilang dihati kita!

Ingat satu detik hilang perasaan itu satu detik itu dimakan oleh iblis dan dibawa ke alam ananiyah saat itulah kita merasa aku!, maka terlempar dalam wilayah suci KETUHANAN, sehingga menjadi temannya iblis dan setan! Itu hanya satu detik apalagi sering, roh kita dikawal dengan iblis dan setan karena kita tidak bersih.

Alangkah sedihnya hidup ini yang hanya sekali ini, kita kembali berpulang kepada Allah melewati alam barzah dan alam ma’syar sedangkan posisi kita membawa perasaan aku dihadapan Tuhan!

Mari kita latih… latih perasaan rendah dan dholim ini karena itu pupuk kesadaran, kalau kesadaran itu sudah ada dihati otomatis hati kita ada perasaan NOL, tidak ada kemampuan apa-apa karena pandangan kita hanya satu Allah SWT sebagai kesadaran jiwa, INGAT itu adalah kesadaran jiwa!

Maka jadikan hidup yang hanya sekali ini benar-benar berarti menjadi seorang hamba mempunyai sifat rendah, banyak berlumuran dosa serta, serta tidak memiliki daya dan kekuatan melaikan “LAA HAULAA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH”, perasaan ini harus ditancap didalam jiwa nyawa keluar dari jasad.

LATIH… LATIH… LATIH PERASAAN RENDAH, HINA, DAN NOL SAMPAI MEREGANNYA NYAWA (AL WAJAL ILAL AJAL)

DALIL SUAMI ISTRI BERCINTA DI MALAM JUM’AT

 VGF          Dalam kitab Musnad-nya Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadits berikut ini :

مَنْ غَسَّلَ وَاغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ، وَمَشَى، وَلَمْ يَرْكَبْ فَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ، فَاسْتَمَعَ، وَلَمْ يَلْغُ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا

“Barangsiapa yang bersuci dan mandi, kemudian bergegas berangkat denganberjalan, tidak dengan menaiki  dan  mendekat dengan imam, lalu mendengarkan khutbah dan tidak berbuat sia-sia, maka baginya bagi setiap langkah pahala satu tahun baik puasa dan shalat malamnya”

Imam Nawawi menjelaskan bahwa derajat hadits ini adalah Hasan, dan hadits ii diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abu Dawud, Imam At-Turmudzi, Imam Nasa’i , Imam Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad hasan.

Ulama’ berselisih pendapat mengenai harokat hurufsin pada kata “ghosala “, apakah ditasydid atau tidak sebagaimana mereka berselisih pendapat mengenai maksud dari kata tersebut. Namun, baik kata tersebut dibaca ghosala (tanpa tasydid) atau ghossala (dengan ditasydid) sebagian ulama’ menjelaskan bahwa maksud dari kata tersebut adalah menggauli istrinya sebagaimanan yang dikatakan oleh Az-Zamahsyari.

Jika kita mengikuti ulama’ yang membaca dengan ghossala (dengan tasydid) arti dari kata terebut adalah “memandikan”, maksutnya karena sang suami menjima’ istrinya dan menyebabkannya mandi jinabat, maka secara tidak langsung sang suami telah “memandikan” istrinya.Dan jika mengikuti riwayat dengan menggunakan kata ghosala (tanpa tasydid) menurut Imam Al Azhari artinya juga jima’. Ini hanyalah salah satu dari 3 pendapat mengenai arti dari kata tersebut, baik dibaca ghosala ataupun ghossala.

Kesimpulannya, hadits diatas dijadikan dalil oleh sebagian ulama’ tentang kesunatan menjima’ istri sebelum berangkat sholat jum’at.Nah, dikarenakan disunatkan untuk bergegas pergi kemasjid dipagi hari maka dipahami bahwa jima’ tersebut dilakukan dimalam hari, akhirnya disimpulkan hukum kesunatan menjima’ istri pada malam jum’at.

Kesimpulan hukum ini dikuatkan oleh satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman :

أَيعْجزُ أحدكُم أَن يُجَامع أَهله فِي كل يَوْم جُمُعَة قَالَ لَهُ أَجْرَيْنِ اثْنَيْنِ أجر غسله وَأجر غسل امْرَأَته

” Apakah seorang dari kalian tidak mampu untuk ‘mendatangi’ istrinya setiap jumat, sesungguhnya bagi dia dua pahala, pahala mandinya sendiri dan pahala memandikan istrinya “.

Adapun hikmah dari kesunatan menggauli istri sebelum pergi sholat jum’at adalah agar matanya tidak melihat hal-hal yang mengganggu pikirannya saat pergi kemasjid dan menjadikan hatinya tenang, sehingga sholatnya menjadi lebih khusu’, hikmah lainnya adalah membantu istrinya untuk memperoleh kesunatan mandi jum’at.

Referensi :
1. Al Majmu’, Juz : 4  Hal : 542-543
2. Nailul Author, Juz : 1  Hal : 295-296
3. Fathul Bari, Juz : 2  Hal : 366
4. Tanwirul Hawalik, Juz : 1  Hal : 93
5. Al Fiqhul Manhaji, Juz : 84-85

Ibarot :
Al Majmu’, Juz : 4  Hal : 542-543

قال المصنف رحمه الله : ويستحب أن لا يركب من غير عذر لما روى أوس بن اوس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال ” من غسل واغتسل يوم الجمعة وبكر وابتكر ومشى ولم يركب ودنا من الامام واستمع ولم يلغ كان له بكل خطوة أجر عمل سنة صيامها وقيامها
الشرح : هذا الحديث حسن رواه أحمد بن حنبل وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه وغيرهم بأسانيد حسنة قال الترمذي هو حديث حسن ورواية أوس بن أوس الثقفي وقال يحيى بن معين هو أوس بن أبي أوس والصواب الأول وروي غسل بتخفيف السين وغسل بتشديدها روايتان مشهورتان والأرجح عند المحققين بالتخفيف فعلى رواية التشديد في معناه ثلاثة أوجه (أحدها) غسل زوجته بأن جامعها فألجأها إلى الغسل واغتسل هو قالوا ويستحب له الجماع في هذا اليوم ليأمن أن يرى في طريقه ما يشغل قلبه (والثاني) أن المراد غسل أعضاءه في الوضوء ثلاثا ثلاثا ثم اغتسل للجمعة (والثالث) غسل ثيابه ورأسه ثم اغتسل للجمعة وعلى رواية التخفيف في معناه هذه الأوجه الثلاثة (أحدها) الجماع قاله الأزهري قال ويقال غسل امرأته إذا جامعها (والثاني)
غسل رأسه وثيابه (والثالث) توضأ وذكر بعض الفقهاء عسل بالعين المهملة وتشديد السين أي جامع شبه لذة الجماع بالعسل وهذا غلط غير معروف في روايات الحديث وإنما هو تصحيف والمختار ما اختاره البيهقي وغيره من المحققين أنه بالتخفيف وأن معناه غسل رأسه ويؤيده رواية لأبي داود في هذا الحديث من غسل رأسه يوم الجمعة واغتسل وروى أبو داود في سننه والبيهقي هذا التفسير عن مكحول وسعيد بن عبد العزيز قال البيهقي وهو بين في رواية أبي هريرة وابن عباس رضي الله عنهم عن النبي صلى الله عليه وسلم وإنما أفرد الرأس بالذكر لأنهم كانوا يجعلون فيه الدهن والخطمي ونحوهما وكانوا يغسلونه أولا ثم يغتسلون

Nailul Author, Juz : 1  Hal : 295-296

وعن أوس بن أوس الثقفي قال: سمعت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يقول: «من غسل واغتسل يوم الجمعة وبكر وابتكر ومشى ولم يركب ودنا من الإمام فاستمع ولم يلغ كان له بكل خطوة عمل سنة أجر صيامها وقيامها» . رواه الخمسة ولم يذكر الترمذي: ” ومشى ولم يركب ”
……………………………………………………………..

قوله: (غسل) روي بالتخفيف والتشديد، قيل أراد غسل رأسه، واغتسل أي غسل سائر بدنه، وقيل: جامع زوجته فأوجب عليها الغسل، فكأنه غسلها واغتسل في نفسه، وقيل: كرر ذلك للتأكيد، ويرجح التفسير الأول ما في رواية أبي داود في هذا الحديث بلفظ: «من غسل رأسه واغتسل» ، وما في البخاري عن طاوس قال: قلت لابن عباس: ذكروا أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: «اغتسلوا واغسلوا رءوسكم» الحديث، وقال صاحب المحكم: غسل امرأته يغسلها غسلا أكثر نكاحها. وقال الزمخشري ويقال: غسل المرأة بالتخفيف والتشديد إذا جامعها، وحكاه صاحب النهاية وغيره أيضا، وقيل: المراد غسل أعضاء الوضوء، واغتسل للجمعة، وقيل: غسل ثيابه واغتسل لجسده

Fathul Bari, Juz : 2  Hal : 366

وقيل فيه إشارة إلى الجماع يوم الجمعة ليغتسل فيه من الجنابة والحكمة فيه أن تسكن نفسه في الرواح إلى الصلاة ولا تمتد عينه إلى شيء يراه وفيه حمل المرأة أيضا على الاغتسال ذلك اليوم وعليه حمل قائل ذلك حديث من غسل واغتسل المخرج في السنن على رواية من روى غسل بالتشديد قال النووي ذهب بعض أصحابنا إلى هذا وهو ضعيف أو باطل والصواب الأول انتهى وقد حكاه بن قدامة عن الإمام أحمد وثبت أيضا عن جماعة من التابعين وقال القرطبي إنه أنسب الأقوال فلا وجه لادعاء بطلانه وإن كان الأول أرجح ولعله عنى أنه باطل في المذهب

Tanwirul Hawalik, Juz : 1  Hal : 93
من اغتسل يوم الجمعة غسل الجنابة قال الباجي يحتمل أن يريد به غسلا على صفة غسل الجنابة ويحتمل أن يريد به الجنب المغتسل بجنابته قال الحافظ بن حجر والأول قول الأكثر وفي رواية بن جريج عن سمي عند عبد الرزاق فاغتسل أحدكم كما يغتسل من الجنابة والثاني فيه إشارة إلى استحباب الجماع يوم الجمعة والحكمة فيه أن تسكن نفسه في الرواح إلى الصلاة ولا تمتد عينه إلى شيء يراه وفيه حمل المرأة أيضا على الاغتسال قلت ويؤيده حديث أيعجز أحدكم أن يجامع أهله في كل يوم جمعة قال له أجرين اثنين أجر غسله وأجر غسل امرأته أخرجه البيهقي في شعب الإيمان من حديث أبي هريرة

Al Fiqhul Manhaji, Juz : 84-85

يُسنّ الغسل يوم الجمعة لمن يريد حضور الصلاة، وإن لم تجب عليه الجمعة: كمسافرٍ أو امرأةٍ، أو صغير، وقيل: يسن الغسل لكل أحد، حضر الجمعة أم لا

APAKAH MAKSUD “SUNNAH ROSUL” DI MALAM JUM’AT

 VFG             Syekh Muallif menjelaskan, bahwa senggama dapat dilakukan setiap saat, baik siang maupun malam, kecuali pada waktu yang nanti akan dijelaskan, sebagaimana petunjuk yang terdapat dalam Al-Quran yaitu firman Allah Swt.: “Istri-istri kalian adalah (seperti) tempat tanah kalian bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam kalian itu bagaimana saja kalian kehendaki” (Qs. Al-Baqarah: 223).

Maksudnya, kapan saja kalian mau, baik siang maupun malam menurut beberapa tafsir atas ayat diatas. Ayat ini jugalah yang dimaksudkan oleh kata-kata Muallif, seperti penjelasan pada surat An-Nisa’, akan tetapi, bersenggama pada permulaan malam lebih utama. Oleh karena itu Syekh penazham mengingatkan dalam bait berikut ini : “Namun senggama diawal malam lebih utama, ambillah pelajaran ini, Pendapat lain mengatakan sebaliknya, maka yang awal itulah yang dipilih”.

Al-Imam Abu Abdullah bin Al-Hajji didalam kitab Al-Madkhal mengatakan, bahwa dipersilahkan memilih dalam melakukan senggama, baik diawal atau akhir malam. Akan tetapi, diawal malam lebih utama, sebab, waktu untuk mandi jinabat masih panjang dan cukup. Lain halnya kalau senggama dilakukan diakhir malam, terkadang waktu untuk mandi sangat sempit dan berjamaah shalat subuh terpaksa harus tertinggal, atau bahkan mengerjakan shalat subuh sudah keluar dari waktu yang utama, yaitu shalat diawal waktu. Disamping itu, senggama diakhir malam sudah barang tentu dilakukan sesudah tidur, dan bau mulut pun sudah berubah tidak enak, sehingga dikhawatirkan akan mendatangkan rasa jijik dan berkurangnya gairah untuk memadu cinta kasih. Akibatnya, senggama dilakukan hanya bertujuan senggama, lain tidak. Padahal maksud dan tujuan senggama tidaklah demikian, yaitu untuk menanamkan rasa ulfah dan mahabbah, rasa damai dan cinta, serta saling mengasihi sebagai buah asmara yang tertanam didalam lubuk hati suami istri.

Pendapat tersebut ditentang oleh Imam Al-Ghazali. Beliau berpendapat, bahwa senggama yang dilakukan pada awal malam adalah makruh, karena orang (sesudah bersenggama) akan tidur dalam keadaan tidak suci. Selanjutnya Syekh Muallif menjelaskan beberapa malam, dimana disunahkan didalamnya melakukan senggama, sebagaimana diuraikan pada bait nazham berikut ini: “Senggama dimalam Jumat dan Senin benar-benar di sunahkan, karena keutamaan malam itu tidak diragukan.”
Syekh Muallif menjelaskan, bahwa disunahkan bersenggama pada malam Jumat. Karena malam Jumat adalah malam yang paling utama diantara malam-malam lainya. Ini juga yang dimaksudkan Syekh penazham: bi lailatil ghuruubi dengan menetapkan salah satu takwil hadits berikut ini : “Allah Swt. memberi rahmat kepada orang yang karena dirinya orang lain melakukan mandi dan ia sendiri melakukannya”.

Syekh Suyuti mengatakan, bahwa hadits tersebut dikuatkan oleh hadits dari Abu Hurairah berikut ini : “Apakah seseorang diantara kalian tidak mampu bersenggama bersama istrinya pada setiap hari Jumat? Sebab, baginya mendapat dua macam pahala, pahala dia melakukan mandi dan pahala istrinya juga melakukan mandi.” (HR. Baihaqi).

Bersenggama itu disunahkan lebih banyak dilakukan dari pada hari-hari dan waktu yang telah disebutkan diatas. Hal itu dijelaskan oleh Syekh Muallif melalui nazhamnya berikut ini : “Senggama dilakukan setelah tubuh terangsang, hai pemuda, tubuh terasa ringan dan tidak sedang dilanda kesusahan”. Syekh penazham menjelaskan, bahwa termasuk kedalam tata krama bersenggama adalah senggama dilakukan setelah melakukan pendahuluan, misalnya bermain cinta, mencium pipi, tetek, perut, leher, dada, atau anggota tubuh lainnya, sehingga pendahuluan ini mampu membangkitkan nafsu dan membuatnya siap untuk memasuki pintu senggama yang sudah terbuka lebar dan siap menerima kenikmatan apapun yang bakal timbul. Hal ini dilakukan karena ada sabda Nabi Saw.: “Janganlah salah seorang diantara kalian (bersenggama) dengan istrinya, seperti halnya hewan ternak. Sebaiknya antara keduanya menggunakan perantara. Ditanyakan, ‘Apakah yang dimaksud dengan perantara itu?’ Nabi Saw. menjawab,’Yakni ciuman dan rayuan.”
Diantara tata krama senggama lainya adalah bersenggama dilakukan setelah perut terasa ringan dan tubuh benar-benar segar. Karena senggama dalam keadaan perut kenyang akan dapat menimbulkan rasa sakit, mengundang penyakit tulang, dan lain-lain. Oleh karena itu, bagi orang yang selalu menjaga kesehatan hal-hal seperti itu sebaiknya dihindari.
Dikatakan, bahwa ada tiga perkara yang terkadang dapat mematikan seseorang, yaitu:

  1. Bersetubuh dalam keadaan lapar.
  2. Bersetubuh dalam keadaan sangat kenyang.
  3. Bersetubuh setelah makan ikan dendeng kering.

Kata-kata Syekh penazham diatas diathafkan pada lafazh al-a’dhaa-u, yang berarti ringannya rasa susah, maksudnya, kesusahan tidak sedang melanda dirinya. Oleh karena itu sebenarnya susunan kata tersebut (ringannya rasa susah) tidak diperlukan lagi, karena ada kata-kata penazham: “Setelah tubuh terasa ringan”. Jadi seolah-olah susunan kata tersebut hanya untuk menyempurnakan bait nazham. [ Qurratul Uyun, Syarah Nazham Ibnu Yamun ].

JIMA’ DI MALAM JUMAT PAHALANYA SEPERTI MEMBUNUH ORANG KAFIR (JIHAD)

Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin disebutkan sebuah riwayat:

روي عن النبي صلى الله عليه وسلم إن الرجل ليجامع أهله فيكتب له بجماعه أجر ولد ذكر قاتل في سبيل الله فقتل.

Diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW bahwa “Sesungguhnya seorang suami yang menggauli (Jima’) istrinya, maka jima’nya itu dicatat memperoleh pahala seperti pahalanya anak lelaki yang berperang (dengan Kaum Kuffar) di jalan Allah lalu terbunuh”. Kitab Ihya’ Ulumiddin Lil Ghozali, Juz 2 Hlm. 326

Meskipun riwayat tsb dinilai ‘tidak ada asalnya’ (لم أجد له أصلا) oleh Al-Iraqi, tapi paling tidak riwayat dalam kitab ini yang menjadi pijakan masyarakat demi menggalakkan Jima’ yang juga salahsatu sunnah Rasul dimalam Jum’at, demikian seperti yang dijelaskan oleh Imam Ghazali di halaman lain kitab ini:

ومن العلماء من استحب الجماع يوم الجمعة وليلته تحقيقاً لأحد التأويلين من قوله صلى الله عليه وسلم: ” رحم الله من غسل واغتسل الحديث

Dan ada sebagian ulama yang menyukai jima’ pd hari dan malam jumat, sbg aplikasi dari salah satu takwil hadits; “Allah merahmati orang yang membersihkan dan mandi (pada hari jumat)”. Ibid, Ihya’, juz 2 hlm 324

Demikian juga dalam syarah Sunan At-Tirmidzy, disebutkan :

وبقوله اغتسل غسل سائر بدنه ، وقيل : جامع زوجته .

Dan dgn sabdanya “mandi” (pada hari jumat), yaitu memandikan seluruh badannya, dan dikatakan pula maknanya adalah menjima’ istrinya”. Tuhfatul Ahwadziy Lil Mubarakfuri, Juz 3 hlm 3

Keutamaan Menggauli Istri di Hari Jum’at

Jima’ atau hubungan seks dalam pandangan Islam bukanlah hal aib dan hina yang harus dijauhi oleh seorang muslim yang ingin menjadi hamba yang mulia di sisi Allah. Hal ini berbeda dengan pandangan agama lain yang menilai persetubuhan sebagai sesuatu yang hina. Bahkan, sebagian ajaran agama tertentu mewajibkan untuk menjauhi pernikahan dan hubungan seks guna mencapai derajat tinggi dalam beragama.

Diriwayatkan dalam shahihain, dari Anas bin Malik pernah menceritakan, ada tiga orang yang datang ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menanyakan tentang ibadah beliau. Ketika diberitahukan, seolah-olah mereka saling bertukar pikiran dan saling bercakap bahwa mereka tidak bisa menyamai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena dosa beliau yang lalu dan akan datang sudah diampuni. Lalu salah seorang mereka bertekad akan terus-menerus shalat malam tanpa tidur, yang satunya bertekad akan terus berpuasa setahun penuh tanpa bolong, dan satunya lagi bertekad akan menjauhi wanita dengan tidak akan menikah untuk selama-lamanya. Kabar inipun sampai ke telinga baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas beliu bersabda kepada mereka, “Apakah kalian yang mengatakan begini dan begitu? Adapun saya, Demi Allah, adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada Allah di bandingkan kalian, tapi saya berpuasa dan juga berbuka, saya shalat (malam) dan juga tidur, serta menikahi beberapa wanita. Siapa yang membenci sunnahku bukan bagian dari umatku.” (Muttafaq ‘alaih).

Bahkan dalam hadits lain disebutkan bahwa seks atau hubungan badan di jalan yang benar akan mendatangkan pahala besar. Diriwayatkan dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرًا

“Dan pada kemaluan (persetubuhan) kalian terdapat sedekah. Mereka (para sahabat) bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah salah seorang dari kami yang menyalurkan syahwatnya lalu dia mendapatkan pahala?’ Beliau bersabda, ‘Bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan pada tempat yang haram, bukankah baginya dosa? Demikianlah halnya jika hal tersebut diletakkan pada tempat yang halal, maka dia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim).

Di dalam perkawinan terdapat kesempurnaan hidup, kenikmatan dan kebaikan kepada sesama….

Ibnul Qayyim, sebagaimana yang dinukil oleh Al-Istambuli dalam Tuhfatul ‘Arus, mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajak kepada umatnya agar melaksanakan pernikahan, senang dengannya dan mengharapkan (padanya) suatu pahala serta sedekah bagi yang telah melaksanakannya. Di dalam perkawinan terdapat kesempurnaan hidup, kenikmatan dan kebaikan kepada sesama. Di samping itu, juga mendapatkan pahala sedekah, mampu menenangkan jiwa, menghilangkan pikiran kotor, menyehatkan menolak keinginan-keinginan yang buruk.”

Kesempurnaan nikmat dalam perkawinan dan jima’ akan diraih oleh orang yang mencintai dan dengan keridlaan Rabbnya dan hanya mencari kenikmatan di sisinya serta mengharapkan tambahan pahala untuk memperberat timbangan kebaikannya. Oleh karena itu yang sangat disenangi syetan adalah memisahkan suami dari kekasihnya dan menjerumuskan keduanya ke dalam tindakan yang diharamkan Allah.

Disebutkan dalam Shahih Muslim, bahwa Iblis membangun istana di atas air (tipu muslihat), kemudian menyebarkan istananya itu kepada manusia. Lalu iblis mendekatkan rumah mereka dan membesar-besarkan keinginan (hayalan) mereka. Iblis berkata, ‘Tidak ada perubahan kenikmatan sampai terjadi perzinaan’. Yang lainnya berkata, ‘Aku tidak akan berpaling sampai mereka berpisah dari keluarganya.’ Maka iblis menenangkannya dan menjadikan dirinya berseru, ‘Benarlah apa yang telah engkau lakukan’.

Kenapa Iblis begitu bersemangat untuk menjerumuskan orang ke dalam perzinaan dan perceraian? Karena pernikahan dan berjima dalam balutan perkawinan adalah sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya. Makanya hal ini sangat dibenci oleh musuh manusia. Ia selalu berusaha memisahkan pasangan yang berada berada dalam naungan ridla ilahi dan berusaha menghiasi mereka dengan segala sifat kemungkaran dan perbuatan keji serta menciptakan kejahatan di tengah-tengah mereka.

Untuk itu hendaknya bagi suami-istri agar mewaspai keinginan syetan dan usahanya dalam memisahkan mereka berdua. Ibnul Qayim berkata dalam menta’liq hadits anjuran menikah bagi pemuda yang sudah ba’ah, “Setiap kenikmatan membantu terhadap kenikmatan akhirat, yaitu kenikmatan yang disenangi dan diridlai oleh Allah.”

Seorang suami dalam aktifitasnya bersama istrinya akan mendapatkan kenikmatan melalui dua arah. Pertama, dari sisi kebahagiaan suami yang merasa senang dengan hadirnya seorang istri sehingga perasaan dan juga penglihatannya merasakan kenikmatan tersebut. Kedua, dari segi sampainya kepada ridla Allah dan memberikan kenikmatan yang sempurna di akhirat. Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi orang berakal untuk menggapai keduanya. Bukan sebaliknya, menggapai kenikmatan semu yang beresiko mendatangkan penyakit dan kesengsaraan serta menghilangkan kenikmatan besar baginya di akhirat. (Lihat: Ibnul Qayyim dalam Raudhatul Muhibbin, hal. 60).

Jima’ di hari Jum’at

Uraian keutamaan hubungan suami istri di atas sebenarnya sudah cukup menunjukkan pahala besar dalam aktifitas ranjang. Lalu adakah dalil khusus yang menunjukkan keutamaan melakukan jima’ di hari Jum’at dengan pahala yang lebih berlipat?

Memang banyak pembicaran dan perbincangan yang mengarah ke sana bahwa seolah-olah malam Jum’at dan hari Jum’at adalah waktu yang cocok untuk melakukan hubungan suami-istri. Keduanya akan mendapatkan pahala berlipat dan memperoleh keutamaan khusus yang tidak didapatkan pada hari selainnya. Kesimpulan tersebut tidak bisa disalahkan karena ada beberapa dalil pendukung yang menunjukkan keutamaan mandi janabat pada hari Jum’at. Sedangkan mandi janabat ada dan dilakukan setelah ada aktifitas percintaan suami-istri.

Dari Abu Hurairah radliyallhu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

“Barangsiapa mandi di hari Jum’at seperti mandi janabah, kemudian datang di waktu yang pertama, ia seperti berkurban seekor unta. Barangsiapa yang datang di waktu yang kedua, maka ia seperti berkurban seekor sapi. Barangsiapa yang datang di waktu yang ketiga, ia seperti berkurban seekor kambing gibas. Barangsiapa yang datang di waktu yang keempat, ia seperti berkurban seekor ayam. Dan barangsiapa yang datang di waktu yang kelima, maka ia seperti berkurban sebutir telur. Apabila imam telah keluar (dan memulai khutbah), malaikat hadir dan ikut mendengarkan dzikir (khutbah).” (HR. Bukhari no. 881 Muslim no. 850).

Para ulama memiliki ragam pendapat dalam memaknai “ghuslal janabah” (mandi janabat). Sebagaian mereka berpendapat bahwa mandi tersebut adalah mendi janabat sehingga disunnahkan bagi seorang suami untuk menggauli istrinya pada hari Jum’at. karena hal itu lebih bisa membantunya untuk menundukkan pandangannya ketika berangkat ke masjid dan lebih membuat jiwanya tenang serta bisa melaksanakan mandi besar pada hari tersebut. Pemahaman ini pernah disebutkan oleh Ibnu Qudamah dari Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dan juga disebutkan oleh sekelompok ulama Tabi’in. Imam al-Qurthubi berkata, “sesungguhnya dia adalah pendapat yang peling tepat.” (Lihat: Aunul Ma’bud: 1/396 dari Maktabah Syamilah).

Pendapat di atas juga mendapat penguat dari riwayat Aus bin Aus radliyallah ‘anhu yang berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا

“Barangsiapa mandi pada hari Jum’at, berangkat lebih awal (ke masjid), berjalan kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam dan mendengarkan khutbahnya, dan tidak berbuat lagha (sia-sia), maka dari setiap langkah yang ditempuhnya dia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamulail setahun.” (HR. Abu Dawud no. 1077, Al-Nasai no. 1364, Ibnu Majah no. 1077, dan Ahmad no. 15585 dan sanad hadits ini dinyatakan shahih).

Menurut penjelasan dari Syaikh Mahmud Mahdi Al-Istambuli dalam Tuhfatul ‘Arus, bahwa yang dimaksud dengan mandi jinabat pada hadits di atas adalah melaksanakan mandi bersama istri. Ini mengandung makna bahwa sebelumnya mereka melaksanakan hubungan badan sehingga mengharuskan keduanya melaksanakan mandi. Hikmahnya, hal itu disinyalir dapat menjaga pandangan pada saat keluar rumah untuk menunaikan shalat Jum’at. Adapun yang dimaksud dengan bergegas pergi menuju ke tempat pelaksanaan shalat Jum’at pada awal waktu, adalah untuk memperoleh kehutbah pertama. (Lihat: Tuhfatul Arus hal. 175-176).

Wallahu a’lam.

SEPAK BOLA DAN MASALAHNYA DALAM KACAMATA HUKUM ISLAM

 HUO         Sepakbola adalah salah satu olah raga yang sangat terkenal bahkan di seluruh pelosok negeri dan sangatlah malang jika pada hari ini ada orang yang mengatakan “Saya tidak tahu tentang sepakbola”. Tidak sedikit orang yang rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain karena sepakbola mempunyai efek yang boleh dipertimbangkan seperti membuat tubuh anda bugar, menghilangkan rasa malas dan bisa meningkatkan stamina tubuh. Olah raga ini banyak digemari karena memang mudah cara melakukannya semisal, anda tinggal menendang bola saja kesana-kemari maka anda sudah bisa dikatakan bermain sepakbola meskipun disatu sisi anda juga harus mempelajari teknik-teknik bagaimana berinteraksi dengan bola yang baik sehingga anda bisa bermain secara maksimal. Apalagi jika anda tergabung dengan sebuah tim sepakbbola maka anda lebih dituntut untuk menguasai banyak teknik agar permainan anda menarik dan tidak menjadi tertawaan banyak orang karena betapa banyak pemain sepakbola yang menjadi bahan tertawaan hanya karena dia kurang menguasai bola.

Dan sesungguhnya, olah raga ini yaitu sepakbola hanyalah sarana untuk mengisi waktu luang anda, sarana untuk menghibur suasana hati yang keruh akibat terlalu banyak terpapar dengan urusan dunia yang menyibukkan dan olah raga ini adalah sarana untuk menambah stamina serta semangat anda untuk tetap kuat beribadah kepadaNya karena saya dan anda ini diciptakan supaya beribadah hanya kepada Alloh Subhanallohu Wa Ta’ala. Seperti dalam firmanNya dalam surat ad Dzariyat ayat 56:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”.

Jadi dalam setiap aktifitas, anda harus senantiasa mengkaitkan diri anda dengan syari’at islam atau bisa dikatakan anda harus mengetahui bagaimana syari’at islam memandang aktifitas anda atau bagaimana hukumnya dari aktifitas yang anda lakukan. Dalam syari’at islam ada lima hukum yang berlaku bagi aktifitas anda yang harus anda ketahui. Diantaranya:

1.Jika hukumnya wajib,
maka silahkan anda kerjakan dan janganlah sekali-kali anda tinggalkan.
Misalnya, sholat fardhu berjama’ah dimasjid bagi laki-laki, memelihara jenggot bagi laki-laki, berbakti kepada orang tua, makan dengan tangan kanan, dll.

2.Jika hukumnya sunnah,
maka anda boleh meninggalkannya namun anda lebih dituntut untuk melakukannya karena adanya keutamaan dalam perbuatan tsb.
Misalnya, sholat sunnah rowatib atau sholat sunnah yang mengiringi sholat fardhu, puasa sunnah, dll.

3.Jika hukumnya mubah,
maka anda boleh melakukannya dan anda juga boleh meninggalkannya jika memang mengandung manfaat yang besar.

Perkara mubah ini sangat luas cakupannya karena dalam keadaan tertentu sebuah perbuatan yang semula hukumnya mubah bisa berubah menjadi haram atau wajib atau hanya sebatas mubah saja. Jadi, berhati-hatilah dengan perkara yang mubah. Janganlah berlebihan melakukannya atau terlalu kurang dalam melakukannya akan tetapi lakukanlah hal mubah itu dalam sebaik-baik perkara yaitu yang pertengahan.
Misalnya, makan, minum, tidur, mencari hiburan, ngobrol, jalan-jalan santai, dll.

4.Jika hukumnya makruh,
maka anda boleh mengerjakannya namun anda lebih ditekankan untuk meninggalkannya karena perbuatan yang dikategorikan dalam makruh ini adalah perbuatan yang sifatnya tercela atau dibenci.
Misalnya, meminta do’a dari orang lain untuk kepentingan sendiri, dll.

5.Jika hukumnya haram,
maka anda harus meninggalkannya dan janganlah sekali-kali untuk melakukannya.
Misalnya, meminum minuman yang memabukkan, berjudi atau taruhan, durhaka kepada orang tua, menyontek, meninggalkan sholat fardhu, makan dengan tangan kiri, dll.

Kemudian bagaimana dengan hukum bermain sepakbola ??
Apakah masuk perkara yang wajib atau sunnah atau mubah atau yang lainnya??…

Maka bisa dijawab, dalam menanggapi permasalahan ini para ulama berbeda pendapat akan tetapi pendapat yang diunggulkan adalah boleh bermain sepakbola namun harus memenuhi beberapa syarat yaitu:

1.Harus menutup aurot dan para pemain sepakbola wajib menutup aurot.Aurot laki-laki adalah dari pusar sampai ke lutut.

2.Tidak meninggalkan kewajiban untuk sholat fardhu berjama’ah di masjid. Jika anda ingin bermain sepakbola sore hari di kampus ini, maka sholatlah asar berjama’ah di masjid terlebih dahulu kemudian silahkan berolah raga.

3.Tidak mengucapkan atau berteriak dengan kata-kata yang kotor atau kata-kata yang bisa menyakitkan hati sekalipun dengan bercanda. Semisal, ketika bermain sepakbola sesama pemain saling mencaci atau mencela sehingga timbul permusuhan diantara mereka. Maka bisa dikatakan “yang demikian itu tidak diperbolehkan (yaitu saling caci maki atau mencela)”.

4.Bermain sepakbola tidak menjadi kebiasaan artinya olah raga ini tidak menjadi rutinitas setiap sore sehingga banyak orang bisa menganggap bahwa seolah-olah tidak ada kegiatan lain selain sepakbola di sore hari.

5.Tidak melanggar perkara-perkara syari’at lainnya. Misalnya, menjadi sarana untuk berjudi atau taruhan tim manakah yang akan menang, menjadi sarana untuk pacaran, menggunakan jimat atau jampi-jampinya agar tendangannya tepat, dll.

Dalam kitab Bughyatul Musytaq fi Hukmil lahwi wal labi was sibaq disebutkan,

“Para ulama Syafiiyah telah mengisyaratkan diperbolehkannyabermain sepak bola, jika dilakukan tanpa taruhan (judi). Dan, mereka mengharamkannya jika pertandingan sepak bola dilakukan dengan taruhan. Dengan demikian, hukum bermain sepak bola dan yang serupa dengannya adalah boleh, jika dilakukan tanpa taruhan judi).”

As-Sayyid Ali Al-Maliki dalam kitabnya Bulughul Umniyah halaman 224 menjelaskan,

“Dalam pandangan syariat, hukum bermain sepak bola secara umum adalah boleh dengan dua syarat. Pertama, sepak bola harus bersih dari unsur judi. Kedua.permainan sepak bola diniatkan sebagai latihan ketahanan fisik dan daya tahan tubuh sehingga si pemain dapat melaksanakan perintah sang Khalik (ibadah) dengan baik dan sempurna.


Syekh Abu Bakar Al-Jazairi
dalam karyanya Minhajul Muslim halaman 315 berkata,

“Bermain sepak bola boleh dilakukan, dengan syarat meniatkannya untuk kekuatan daya tahan tubuh, tidak membuka aurat (bagian paha dan lainnya), serta si pemain tidak menjadikan permainan tersebut dengan alasan untuk menunda shalat. Selain itu,permainan tersebut harus bersih dari gaya hidup glamor yang berlebihan, perkataan buruk dan ucapan sia-sia, seperti celaan, cacian, dan sebagainya.”


Hukum bermain ataupun menonton sepakbola adalah mubah (boleh)
namun harus disertai lima syarat diatas akan tetapi jika tidak terpenuhi maka hukumnya haram bermain sepakbola. Pengharaman ini memang bermanfaat besar karena jika tidak maka akan timbul banyak masalah semisal:

a.Pertikaian antar sesama tim yang terkadang memakan korban nyawa atau minimal menimbulkan kebencian bagi sesama tim karena terlontarnya kata-kata yang kotor. Kejadian ini telah terbukti dalam beberapa pertandingan sepakbola di negeri kita.

b.Meninggalkan sholat fardhu berjama’ah di masjid yang tergolong perkara dosa besar.

c.Tidak menutup aurot yang menyebabkan masalah jika dilihat oleh lawan jenis.

d.Meninggalkan perkara-perkara yang lebih penting lainnya jika sepakbola dilakukan setiap sore seperti belajar, mengerjakan tugas, membantu pekerjaan orang tua bagi yang tidak ngekos, dll.

e.Menjadi ajang perjudian yang umat islam sepakat bahwa yang demikian itu adalah haram.

f.Dan perkara-perkara merugikan lainnya yang diluar perhitungan kita.

HUKUM Menonton Pertandingan Olahraga (Sepakbola)

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang beriman kepada hari akhir, maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”

Jika kita dilarang dari berucap kecuali yang baik-baik saja, maka terlebih lagi perbuatan. Maka menonton acara olahraga ini mengandung beberapa perkara yang berbahaya:

1. Menghabiskan Waktu. Orang yang kecanduan menonton pertandingan olahraga ini, kita lihat dia begitu ketagihan sampai-sampai dia habiskan waktu yang banyak. Terkadang dia luput dari shalat jama’ah, dan terkadang dia pun luput dari shalat pada waktunya.

2. Dia melihat sekelompok orang yang menyingkap pakaiannya sampai pertengahan pahanya. Menurut banyak ulama, paha adalah aurat. Demikian pula mereka berpendapat bahwa para para pemuda tidak boleh menampilkan bagian pahanya dan bagian apapun di atas lututnya.

3. Terkadang di hatinya muncul pengagungan terhadap si pemenang pertandingan, padahal yang menang adalah hamba Allah yang paling fasiq, atau bahkan hamba Allah yang paling kafir. Maka muncul di hatinya pengagungan terhadap seseorang yang sama sekali tidak pantas untuk dipuji. Dan tidak diragukan lagi bahwa ini adalah perkara yang membahayakan.

4. Memboroskan Harta. Di mana Televisi menggunakan listrik. Televisi menghabiskan listrik, meskipun cuma sedikit, ini menghabiskan biaya untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya untuk agamanya maupun kehidupan akhiratnya kelak. Oleh karena itu, perkara ini termasuk memboroskan harta saja.

5. Terkadang pertandingan ini menimbulkan saling mencerca dan permusuhan. Apabila sebagian orang menyemangati dan mendukung tim yang menang, di sisi lain orang yang lain menyokong dan mendukung tim musuhnya. Ini menyebabkan terjadinya permusuhan di antara mereka, serta perdebatan yang panjang.

Oleh karenanya dinasehatkan kepada para pemuda secara khusus dan yang selainnya secara umum agar mereka tidak menghabiskan waktu mereka untuk menonton acara olahraga, dan agar mereka memikirkan apa yang mereka peroleh dari menyaksikan acara-acara ini? Apa faedahnya?

Sebagai tambahan, kamu akan lihat mereka yang bertanding saling mendorong dan menjatuhkan satu sama lain. Terkadang pula mereka menunggangi pundak yang lain, dan perbuatan-perbuatan yang merendahkan muru’ah (kehormatan).

Apa HUKUM Memuji pemain bola profesional yang kafir, dan dia dipuji ketika dia menjadi sebab kemenangan timnya?

Tidaklah dia dipuji karena kekafirannya, dia dipuji karena permainan serta kelihaian dia dalam bermain.
Bagaimanapun juga, ini berbahaya dan menyebabkan dosa bagi orang yang memujinya, akan tetapi tidaklah perkara ini sampai kepada derajat kekufuran.

Seseorang menjadi kafir apabila dia memuji kekafiran, kesesatan, atau kesyirikannya, maka ini menyebabkan dia kafir.

Adapun apabila memujinya karena permainan sepak bola, atau karena kelihaian tekniknya, maka ini adalah pengagungan terhadap orang kafir. Ini adalah perkara dosa, namun tidaklah sampai pada derajat kekafiran.

BERSHOLAWAT MENDAPATKAN SEPULUH KEISTIMEWAAN

وَقَدْ قِيْلَ فِيْ بَعْضِ الرِّوَايَاتِ أِنَّ لِلْمُصَلِّيْنَ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ عَشْرَ كَرَمَاتِMU:
/ WA-QAD QIILA FII BA`DLI RIWAAYAATI INNA LIL-MUSHALLIINA `ALAA SAYYIDIL MURSALIINA `ASYRA KARAMAATIN = Dan benar-benar telah dikatakan di dalam sebagian dari beberapa riwayat, bahwa bagi orang-orang yang bershalawat atas Nabi Muhammad, junjungan para rasul, sepuluh karamah (kemulian), kayak dituturkan dalam kitab “KIFAAYATUL ATQIYAA`” sebagai mendatang :

أِحْدَاهُنَّ صَلاَةُ اْلمَلِكِ الْغَفَّارِ ؛

‎/ IHDAAHUNNA SHALAATUL MALIKIL GHAFFAAR ; = Pertama yaitu mendapatkan shalawat (Allah`s Willing/Kemauan Baik dari Allah/Allah beri pertolongan kepada pembaca, sanggup berbakti kepada-Nya), Tuhan, Yang Menjadi Raja, Yang Maha Pengampun;

اَلثَّانِيَةُ شَفَاعَةُ النَّبِيِّ اْلمُخْتَارِ ؛

/ ATS-TSAANIYATU SYAFAA`ATUN NABIYYIL MUKHTAARI ; = Yang kedua adalah mendapatkan syafaat/pertolongan dari Baginda Nabi Muhammad, seorang nabi terpilih/pilihan, shallallaahu `alayhi wa-sallama wa-baaraka wa-aalihii, aamiin!

اَلثَّالِثَةُ اْلأِقْتِدَاءُ بِالْمَلاَئِكَةِ اْلأَبْرَارِ ؛

/ ATS-TSAALITSATUL IQTIDAA-U BIL-MALAAIKATI ABRAARI ; = Yang ketiga yaitu dipandu/dikawal/dikuti para malak (malaikat), yang baik-baik/taat-taat/shalih-shalih/berbakti-berbakti kepada Allah Ta`ala;

اَلرَّابِعَةُ مُخَالَفَةُ اْلمُنَافِقِيْنَ وَالْكُفَّارِ ؛

/ AR-RAABI`ATU MUKHAALAFATUL MUNAAFIQIINA WAL-KUFFAARI ; = Yang keempat adalah Berlawanan/membedai/tidak menyerupai  dengan orang-orang munafik dan orang-orang kafir (membedai terhadap berbagai karakter mereka);

اَلْخَامِسَةُ مَحْوُ اْلخَطَايَا وَاْلأَوْزَارِ ؛

/ AL-KHAAMISATU MAHWUL KHATHAAYAA WAL-AWZAARI ; = Yang kelima adalah terhapus/terampuni-nya berbagai kesalahan dan dosa;

اَلسَّادِسَةُ قَضَاءُ الْحَوَائِجِ وَاْلأَوْطَارِ ؛

/ AS-SAADISATU QADLAA-UL HAWAA-IJI WAL-AWTHAARI ; = Yang keenam ialah terpenuhinya beragam hajat dan keinginan ;

اَاَلسَّابِعَةُ تَنْوِيْرُ الظَّوَاهِرِ وَاْلأَسْرَارِ ؛

/ AS-SAABI`ATU TANWIIRUDH DHAWAAHIRI WAL-ASRAARI ; = Yang ketujuh yaitu tersinarinya hal-hal yang lahir dan hal-hal yang sir/rahasia ;

اَلثَّامِنَةُ النَّجَاةُ مِنَ النَّارِ ؛

/ ATS-TSAAMINATUN NAJAATU MINAN-NAARI ; = Yang kedelapan adalah keselamatan dari api neraka ;

التَّاسِعَةُ دُخُوْلُ دَارِ الْقَرَارِ ؛

/ AT-TAASI`ATU DUKHUULU DAARIL QARAARI ; = Yang kesembilan ialah masuk surga “DAARUL QARAAR” (Kampung/Negeri/Persinggahan/Tempat tinggal yang kekal) ;

اَلعَاشِرَةُ سَلاَمُ الْعَزِيْزِ.

/ AL-`AASYIRATU SALAAMUL `AZIIZ ; = Yang kesepuluh adalah mendapatkan ucapan salam dari Tuhan Allah Yang Maha Perkasa.

فَيَنْبَغِيْ لِلْعَاقِلِ أَنْ يَجْعَلَ جُلَّ أَوْقَاتِهِ لِلصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِيَمًا التَّكْثِيْرُ مِنْهَا يَقُوْمُ مَقَامَ شَيْخِ التَّرْبِيَةِ لِمَا قَالُوْا الْمُرْشِدُ فِيْ آخِرِ الزَّمَانِ مِثْلُ الْكِبْرِيْتِ اْلأحْمَرِ ، وَتَكْثِيْرُ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْمُ مُقَامَ ذَلِكَ. وَفَّقَنَا اللهُ وَالْمُسْلِمِيْنَ لِلتَّكْثِيْرِ مِنَ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَمَرِّ الدُّهُوْرِ وَاْلأَيَّامِ آمِيْنْ .

Maka sayogyanya bagi wong intelek hendaklah dia menjadikan sebagian besar waktunya buat bershalawat atas Nabi Muhammad, shallallaahu `alayhi wa-sallama, apalagi memperbanyak bacaan shalawat adalah menempati kedudukan syekh tarbiyah, berdasarkan apa yang oleh para ahli Tashawwuf (para guru kaum sufi) katakan, bahwa AL-MURSYID di akhir zaman adalah semacam “KIBRIIT AHMAR”/”PERMATA MERAH”/MIRAH” (langkanya), sementara itu memperbanyak bacaan shalawat atas Nabi Muhammad, `ALAYHISH SHALAATU WAS-SALAAMU adalah berpeluang menduduki kedudukan tersebut. Moga Allah Ta`ala akan berkenan memberikan taufik/q (pertolongan) kepada kita dan umat Islam untuk memperbanyak bacaan shalawat atas nabi Muhammad, `alayhish shalaatu was-salaamu sepanjang masa dan hari, aamiin!

HATI HATI BERMAIN DENGAN ANJING, KARENA ITU KEBIASAAN SYAITAN

 AANJ               Salah satu hewan yang dihukumi najis mughalladhah adalah anjing. Cara menyucikan najis anjing adalah dengan menyamaknya, yaitu membasuh tujuh kali basuhan air, salah satunya telah dicampur dengan tanah yang suci. Tentang dalil dan cara menyucikan najis anjing bisa dibaca dalam tulisan kami sebelumnya cara menyucikan najis mughalladhah. Lalu apa hikmah dibalik Allah menghukumi anjing sebagai hewan bernajis? Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami pernah ditanyakan tentang hal ini, yang diikuti dengan pertanyaan tentang najiskan racun hewan berbisa seperti ular?. Berikut jawaban beliau;

وسئل – أمدنا الله من مدده – ما الحكمة في تنجس الكلب؟

وهل سم الحيات ونحوها نجس؟

فأجاب – أفاض الله علي من فيض مدده – الحكمة في تنجس الكلب التنفير مما كان يعتاده أهل الجاهلية من القبائح كمؤاكلة الكلاب، وزيادة إلفها ومخالطتها مع ما فيها من الدناءة والخسة المانعة لذوي المروآت وأرباب العقول من معاشرة من تحلى بهما ومن ثم حرم الجلوس على نحو جلد النمور والسباع لأن ذلك كان فعل المتكبرين من الجاهلية؛ فنهى الشارع عن التأسي بهم في ذلك فلما لم يكن في التأسي بهم هنا ما ليس فيه من الدناءة ثم كان ثم حرمة ونجاسة، وهنا حرمة فقط. وسم نحو الحيات نجس كما صرح به جمع متقدمون ومتأخرون والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب

Ditanyakan terhadap Ibnu Hajar Al-Haitami: Apakah hikmah dibalik Allah menghukumi Anjing sebagai hewan bernajis ?

dan Apakah racun ular dan hewan sejenisnya adalah najis ?

Beliau menjawab: Hikmah dibalik bernajisnya anjing adalah untuk menghindari apa yang telah menjadi kebiasaan jahiliyah yang melakukan perbuatan keji seperti makan anjing, dan bermain-main dengan anjing. Hal tersebut merupakan perbuatan keji dan hina dan kondisi tersebut sangat menentang dengan sikap orang yang memiliki muruah dan karisma untuk bergaul dengan orang-orang yang memiliki sikap tersebut, karena itu diharamkan duduk diatas kulit macan dan binatang buas lainnya., karena hal tersebut merupakan perbuatan orang takabbur, maka agama melarang mengikuti tingkah laku mereka.

Sedangkan racun ular dan umpanya adalah najis sebagaimana diterangkan oleh ulama Mutaqaddimun dan Mutaakhirun. Wallahu A’lam.

Fatawa Fiqhiyah Kubra Ibn Hajar al-Haitami, Jld. 1 hal 28. Cet. Dar Fikr tt

Kesimpulannya, hikmah Allah menghukumkan najisnya anjing adalah supaya umat muslim menjauhi bersentuhan dengan anjing yang bisa meruntuhkan muruah dan kehormatan seseorang.

Sedangkan hukum racun hewan berbisa seperti ular adalah najis.

CINTAI AKU KARENA ALLOH SWT.

 HEART             Sering kita jumpai kata2 yang digunakan jurus oleh para perayu dunia maya ataupun dunia sinetron yaitu ” aku akan mencintaimu karena Allah ”  ..Nah, sebenarnya bagaimana sih konsep mencintai krna Allah dlm literarur Kitab Kuning?
Dalam beberapa pembahasan diuraikan sebagai berikut:

Pertama dalam kitab Ihya’ Ulumiddin Juz 2 Hal 163

. . إحياء علوم الدين لمحمد الغزالي – (2 / 163)
من نكح امرأة صالحة ليتحصن بها عن وسواس الشيطان يصون بها دينه أو ليولد منها له ولد صالح يدعو له وأحب زوجته لأنها آلة إلى هذه المقاصد الدينية فهو محب في الله

Seorang laki – laki yang menikahi perempuan yg sholihah , dengan tujuan agar terhindar dari gangguan syetan, agar agamanya terjaga, atau dengan tujuan agar mendapatkan anak yang sholih yg bisa mnedo’akannya, , dia cinta pada istrinya , ,karena istrinya bisa menjadi sarana untuk ibadah . .ini juga di kategorikan CINTA KARENA ALLOH , ,

Kedua dalam kitab Faidh al-Qadir Juz 6 Hal 38
(
ﻣﻦ ﺃﺣﺐ ﻟﻠﻪ ( ﺃﻱ ﻷﺟﻠﻪ ﻭﻟﻮﺟﻬﻪ ﻣﺨﻠﺼﺎ ﻟﻤﻴﻞ ﻗﻠﺒﻪ ﻭﻫﻮﻯ ﻧﻔﺴﻪ)ﻭﺃﺑﻐﺾ ﻟﻠﻪ ( ﻹﻳﺬﺍﺀ ﻣﻦ ﺃﺑﻐﻀﻪ ﻟﻪ ﺑﻞ ﻟﻜﻔﺮﻩ ﺃﻭ ﻋﺼﻴﺎﻧﻪ )ﻭﺃﻋﻄﻰ ﻟﻠﻪ ( ﺃﻱ ﻟﺜﻮﺍﺑﻪ ﻭﺭﺿﺎﻩ ﻟﻤﻴﻞ ﻧﻔﺴﻪ )ﻭﻣﻨﻊ ﻟﻠﻪ ( ﺃﻱ ﻷﻣﺮ ﻟﻠﻪ ﻛﺄﻥ ﻟﻢ ﻳﺼﺮﻑ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﻟﻜﺎﻓﺮ ﻟﺨﺴﺘﻪ ﻭﺇﻻ ﻟﻬﺎﺷﻤﻲ ﻟﺸﺮﻓﻪ ﺑﻞ ﻟﻤﻨﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻬﻤﺎ ﻣﻨﻬﺎ ﻭﺍﻗﺘﺼﺎﺭ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﻳﺆﺫﻥ ﺑﺄﻥ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻟﻴﺲ ﺇﻻ ﻛﺬﻟﻚ ﺑﻞ ﺳﻘﻂ ﻫﻨﺎ ﺟﻤﻠﺔ ﻭﻫﻲ ﻗﻮﻟﻪ ﻭﻧﻜﺢ ﻟﻠﻪ ، ﻫﻜﺬﺍ ﺣﻜﺎﻩ ﻫﻮ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ ﻓﻲ ﻣﺨﺘﺼﺮ ﺍﻟﻤﻮﺿﻮﻋﺎﺕ )ﻓﻘﺪ ﺍﺳﺘﻜﻤﻞ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ( ﺑﻤﻌﻨﻰ ﺃﻛﻤﻠﻪ ، ﺫﻛﺮﻩ ﺍﻟﻤﻈﻬﺮ

(Mencintai karena Allah) artinya cinta yang ada padanya semata-mata karena Allah tidak timbul dari dorongan hati dan hawa nafsunya. (Membenci karena Allah) artinya perasaan benci pada sesuatu yang ada padanya akibat sesuatu tersebut memang dibenci oleh Alllah bukan karena sakit hati yang ia terima dari orang yang ia benci. (Memberi karena Allah) artinya memberi sesuatu pada lainnya dengan harapan dapat meraih ridho dan pahala dari Allah bukan karena kecondongan hatinya pada yang ia beri. (Menolak karena Allah) artinya penolakan yang ia lakukan atas dasar perintah Allah seperti saat ia tidak mau memberikan zakat pada orang non muslim karena tiada kemuliaan darinya atau pada keturunan bani Hasyim karena keagungan derajatnya.

Ketiga juga Dalam Kitab Ihya’ Ulumiddin Juz 2 Hal 163

إحياء علوم الدين لمحمد الغزالي – (2 / 163)

 القسم الثالث أن يحبه لا لذاته بل لغيره وذلك الغير ليس راجعا إلى حظوظه في الدنيا بل يرجع إلى حظوظه في الآخرة فهذا أيضا ظاهر لا غموض فيه وذلك كمن يحب أستاذه وشيخه لأنه يتوصل به إلى تحصيل العلم وتحسين العمل و مقصوده من العلم و العمل الفوز في الآخرة فهذا من جملة المحبين في الله

  Dalam ibarot diatas dijelaskan, seseorang yang mencintai orang lain, bukan karena fisik/ dzatnya, tapi karena tujuan lain yg yang berkaitan dgn akhirot mk itulah yg disebut cinta karena Alloh, , Contohnya cinta seorang santri kepada ustadznya, karena berkat jasa ustadznya lah, dia bisa mendapatkan ilmu, dan dengan ilmu itulah, dia mendapatkan kebahagiaan di akherat kelak . . Cinta yg semacam ini yg bisa di kategorikan CINTA KARENA ALLAH.

 

INILAH DO’A DO’A KETIKA BERCINTA SUAMI ISTERI DALAM ISLAM

KKKA

Allah SWT. Berfirman :

وَقَدِّمُوْا لأَِنْفُسِكُمْ الأية

Artinya : “Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu.” (QS. Al-Baqarah : 223)
Maksud dari ayat ini adalah : Carilah pahala yang tersediakan untuk kamu semua seperi membaca basmalah dan berniat mendapatkan anak ketika melakukan senggama. Telah diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda :

مَنْ قَالَ بِسْمِ اللهِ عِنْدَ الْجِمَاعِ فَأَتَاهُ وَلَدٌ فَلَهُ حَسَنَاتٌ بِعَدَدِ أَنْفَاسِ ذَلِكَ الْوَلَدِ وَعَدَدِ عَقِبِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Artinya : “Barangsiapa yang membaca basmalah ketika akan melakukan senggama kemudian dari senggama itu dia dikaruniai seorang anak maka dia memperoleh pahala sebanyak nafas anak tersebut dan keturunannya sampai hari kiamat.
Dan Nabi bersabda :

:خِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

Artinya : “Manusia yang paling baik diantara
kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya.”
Dalam masalah ini para Ulama” memiliki urut-urutan yang mengagumkan, yaitu ketika suami akan menyetubuhi isterinya hendaknya terlebih dulu ia mengucapkan :

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ يَا بَابَ الرَّحْمنِ

Lantas isteri menjawab :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ يَا سَيِّدَ اْلأَمِيْنِ

Artinya : “Keselamatan atas kamu pula, hai tuan yang dipercaya.”
Selanjutnya suami meraih kedua tangan isterinya seraya mengucap :

رَضِيْتُ بِا للهِ رَبَّا

Artinya : “Aku telah ridho Allah sebagai Tuhanku.”
Kemudian ia meremas-remas kedua payudara isterinya sembari mengucapkan :

أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Dilanjutkan mengecup kening isterinya besertaan mengucapkan :

يَا لَطِيْفُ اَلله نُوْرُ عَلَى نُوْرٍ شَهِدَ النُّوْرَ عَلَى مَنْ يَشَاءُ

Artinya : “Wahai Dzat Yang Maha Halus, Cahaya Allah Di atas segala cahaya. Cahaya itu telah menerangi siapa saja yang dikehendakinya.”
Setelah itu suami memiringkan kepala isteri ke kiri sambil mencium dan meniup telinga sebelah kanan, dilanjutkan memiringkan kepala isteri ke kanan sambil mencium dan meniup telinga yang sebelah kiri.Keduanya dengan membaca:

فِىْ سَمْعِكِ الله ُسَمِيْعٌ

Artinya : “Di dalam pendengaranmu, Allah Maha Mendengar.”
Sesudah itu ia mengecup kedua mata isterinya mulai dari mata sebelah kanan kemudian mata sebelah kiri sambilmembaca do’a :

اَللّهُمَّ إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِيْنًا

Artinya : ”Ya Allah,sesungguhnya kami bukakan untukmu kemenangan yang nyata.” (QS. Al-Fath : 1)
Selanjutnya suami mencium kedua pipi isteri dimulai pipi sebelah kanan kemudian sebelah kiri sambil membaca :

يَا كَرِيْمُ يَا رَحْمنُ يَا رَحِيْمُ يَا اَللهُ

Artinya : ”Wahai Dzat Yang Maha Mulia,Wahai Dzat Yang Maha Pengasih, Wahai Dzat Yang Maha Penyayang. Ya Allah.”
Kemudian mengecup hidungnya sembari membaca :

فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَّجَنَّةُ نَعِيْمٍ

Artinya : ”Maka dia memperoleh ketentraman dan rezeki serta surga kenikmatan.” (QS. Al-Waqi’ah : 89 )
Sesudah itu mengecup pundaknya sambil membaca :

يَا رَحْمنَ الدُّنْيَا يَا رَحِيْمَ اْلأَخِرَةِ

Artinya : “Wahai Dzat Yang Maha Pengasih di dunia, Wahai Dzat Yang Maha Penyayang di akhirat.”

Setelah itu mengecup lehernya beserta membaca :

اَللهُ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ

Artinya : “Allah itu cahaya langit dan bumi.”
(QS. An-Nur : 35)

Selanjutnya mengecup dagunya dan berdo’a:

نُوْرُ حَبِيْبِ الإِيْمَانِ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ

Artinya : “Cahaya kekasih seiman di antara hamba-hamba-Mu yang saleh.”

Kemudian mengecup kedua telapak tanganya, dimulai sebelah kanan dan dilanjutkan sebelah kiri sambil membaca :

مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى

Artinya : “Hatinya tiada berdusta terhadap apa yang dilihatnya.” (QS. Anajm : 11)

Berikutnya mengecup bagian diantara kedua payudara sembari membaca :

وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّيْ

Artinya : “Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang daripada-Ku.”(QS. Thoha : 39)
Dan kemudian mengecup dadanya bagian kiri tepat pada hatinya besertaan mengucap :

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ

Artinya : “Wahai Dzat Yang Maha Hidup, Wahai Dzat Yang berdiri pada dirinya sendiri.

INILAH CARA BERCINTA SUAMI ISTRI YANG ISLAMY

ISUSeorang penyair arab lewat gubahan Rojaznya mengungkapkan :

وَنِعَمُ الدُّنْيَا ثَلاَثٌ تُعْتَبَرُ # لَمْسٌ وَ تَقْبِيْلٌ وَإِدْخَالُ الذَّ كّرِ

“Kenikmatan dunia ada tiga macam yaitu menyentuh, mencium dan memasukkan penis”. Penyair lain mengungkapkan:

وَنِعَمُ الدُّنَْيَا ثَلاَثٌ تُحْصَرُ #دمَيْك كُوْلِيْت عَامْبُوْع كَارَوْبَارعْ تُرُوْ

“Kenikmatan dunia itu teringkas menjadi tiga yaitu menyentuh kulit, mencium dan tidur bersama (dengan isteri).

Sekilas syair diatas seakan ungkapan yang porno dan tidak pantas dibahas, namun urusan paling pono pun perlu dibahas jika ada kaitannya dengan kehidupan rumah tangga agar harmonis, sakinah dan mawaddah, untuk itu saya tampilkan terjemah Qurratul Uyun yang khusus membahas tata cara bersenggama lengkap tak tersisa, selamat menikmati 🙂

                                  بيان تدبير الحرث

قال الامام العالم العلامة جلال الدين عبد الرحمن السيوطي في الرحمة: إعلم ان الجماع لايصلح الا عند هيجان الشهوة مع استعداد المني فينبغي أن يخرجه في الحال كما يخرج الفضلة الرديئة بالإستفراغات كالمسهلات فان في حبسه عند ذلك ضررا عظيما والمكثر من الجماع لايخفى هرمه سريعا وقلة قوته وظهور الشيب فيه 

TATACARA DAN ETIKA BERSENGGAMA
Dalam Kitab Ar-Rahmah, Imam Jalaluddin Abdurrahman Al-Suyuti berkata: “Ketahuilah bahwa senggama tidak baik dilakukan kecuali bila seseorang telah bangkit syahwatnya dan bila keberadaan sperma telah siap difungsikan. Maka dalam keadaan demikian hendaknya sperma itu segera dikeluarkan layaknya mengeluarkan semua kotoran atau air besar yang dapat menyebabkan sakit perut, karena dengan menahan sperma ketika birahi sedang memuncak dapat menyebabkan bahaya yang besar.
Adapun efek samping terlalu sering melakukan senggama ialah dapat mempercepat penuaan, melemahkan tenaga dan menyebabkan tumbuhnya uban.

وللجماع كيفية وهي ان تستلقى المرأة على ظهرها ويعلوها الرجل من أعلاها ولا خير في ما عدا ذلك من الهيئات ثم يلاعبها ملاعبة خفيفة من الضم والتقبيل ونحو ذلك حتى اذا حضرت شهوتها اولج وتحرك فاذا صب المني فلاينزع بل يصبر ساعة مع الضم الجيد لها فاذا سكن جسمه سكونا عظيما نزع ومال على يمينه حين النزع فقد ذكروا ان ذلك مما يكون به الولد ذكر ويمسحان فرجهما بحرقتين نظيفتين للرجل واحدة وللمرأة واحدة ولايمسحان بحرقة واحدة فان ذلك يورث الكراهة واحسن الجماع ما يعقبه نشاط وطيب نفس وباقى سهوة وشره ما يعقبه رعدة وضيق نفس وموت أعضاء وغشيان وبغض الشخص المنكوح فان كان محبوبا فهذا القدر كاف في تدبير الأصلح من الجماع.

Tata Cara bersenggama

Diantaranya adalah isteri tidur terlentang dan suami berada di atasnya. Posisi ini merupakan cara yang paling baik dalam bersenggama. Selanjutnya suami melakukan cumbuan ringan (Foreplay) berupa mendekap, mencium dan lain sebagainya sampai ketika isteri bangkit birahinya maka kemudian suami memasukkan dzakar dan menggesek – gesekkannya pada liang vagina (penetrasi).

Nah, pada saat suami sudah mengalami ejakulasi maka jangan mencabut dulu dzakarnya, melainkan menahannya beberapa saat disertai mendekap isteri dengan mesra.Baru setelah kondisi tubuh suami sudah tenang cabutlah dzakar dari vagina dengan mendoyongkan tubuhnya kesamping kanan.Menurut para ulama’ tindakan demikian merupakan penyebab anak yang dilahirkan kelak berjenis kelamin laki-laki.

Selesai bersenggama hendaknya keduanya mengelap alat kelamin masing-masing dengan dua buah kain, satu untuk suami dan yang lain untuk isteri. Jangan sampai keduanya menggunakan satu kain karena hal itu dapat memicu pertengkaran.

Bersenggama yang paling baik adalah senggama yang diiringi dengan sifat agresif, kerelaan hati dan masih menyisakan syahwat. Sedangkan senggama yang jelek adalah senggama yang diiringi dengan badan gemetar, gelisah, anggota badan terasa mati, pingsan, dan istri merasa kecewa terhadap suami walaupun ia mencintainya. Demikian inilah keterangan yang sudah mencukupi terhadap tatacara senggama yang paling benar.

واداب الجماع ثلاثة قبله وثلاثة حاله وثلاثة بعده

Etika Bersenggama

Terdapat beberapa etika bersenggama yang harus diperhatikan oleh suami.Meliputi tiga macam sebelumnya, tiga macam ketika melakukannya dan tiga macam sesudahnya.

اما الثلاثة التي قبله فتقديم الملاعبة ليطيب قلب الزوجة ويتيسر مرادها حتى اذا علا نفسا وكثر قلقها وطلبت إلتزام الرجل دنا منها والثانية مراعاة حال الجماع فلايأتيها وهي باركة لأن ذلك يشق عليها او على جنبها لأن ذلك يورث وجع الحاصرة ولايجعلها فوقه لأن ذلك يورث الإعتقار بل مستلقية رافعة رجليها فإنه أحسن هيئات الجماع والثالثة مراعاة وقت الجماع اي وقت الإيلاج بالتعويذ والتسمية وحك الذكر بجوانب الفرج وغمز الثديين ونحو ذلك مما يحرك شهوتها

  1. Etika Sebelum Bersenggama

    1. Mendahului dengan bercumbu (Foreplay) supaya hati isteri tidak tertekan dan mudah melampiaskan hasratnya. Sampai ketika nafasnya naik turun serta tubuhnya menggeliat dan ia minta dekapan suaminya, maka pada waktu itu rapatkanlah tubuh (suami) ke tubuh isteri.

    2. Menjaga tatakrama pada waktu bersenggama. Maka janganlah menyutubuhi isteri dengan posisi berlutut, karena hal demikian sangat memberatkannya.Atau dengan posisi tidur miring karena hal demikian dapat menyebabkan sakit pinggang.Dan juga jangan memposisikan isteri berada di atasnya, karena dapat mengakibatkan kencing batu.Akan tetapi posisi senggama yang paling bagus adalah meletakkan isteri dalam posisi terlentang dengan kepala lebih rendah daripada pantatnya.Dan pantatnya diganjal dengan bantal serta kedua pahanya diangkat dan dibuka lebar-lebar.Sementara suami mendatangi isteri dari atas dengan bertumpu pada sikunya.Posisi inilah yang dipilih oleh fuqoha’ dan para dokter.

    3. Bertatakrama pada saat memasukkan dzakar. Yaitu dengan membaca ta’awudz dan basmalah. Disamping itu juga menggosok-gosokkan penis di sekitar farji, meremas payudara dan hal lain yang dapat membangkitkan syahwat isteri.

واما اللاتي في حال الجماع فأولها كون الجهد برياضة في صمت وتوفق الثانية في التمهل عند بروز شهوته حتى يستوفي إنزالها فإن ذلك يورث المحبة في القلب الثالثة ان لايسرع بإخراج الذكر عند إحساسه بمائها فإنه يضعف الذكر ولايعزل عنها ماءه لأن ذلك يضر بها


  1. Etika Senggama Sedang Berlangsung

    1. Senggama dilakukan secara pelan-pelan dan tidak tergesa-gesa (ritmis).

    2. Menahan lebih dulu keluarnya mani (ejakulasi) pada saat birahinya mulai bangkit menunggu sampai isteri mengalami inzal (orgasme). Karena yang demikian dapat menciptakan rasa cinta di hati.

    3. Tidak terburu-buru mencabut dzakar ketika ia merasa isteri akan keluar mani, karena hal itu dapat melemahkan ketegangan dzakar. Juga jangan melakukan ‘azl (mengeluarkan mani di luar farji) karena yang demikian itu merugikan pihak isteri.

واما الثلاثة التي بعده فاولها أمر الزوجة بالنوم على يمينه ليكون الولد ذكرا ان شاء الله وان نامت على الأيسر يكون الولد أنثى حسب ما اقتضته التجربة الثانية ان يقول الذكر الوارد عند ذلك في نفسه وهو الحمد لله الذي خلق من الماء بشرا فجعله نسبا وصهرا وكان ربك قديرا. الثالثة الوضوء اذا اراد ان ينام وهو سنة وغسل ذكره اذا اراد ان يعود اليها. وذكر عن بعض الثقات ان من قدم اسم الله تعالى عند الجماع اي جماع زوجته وسورة الإخلاص الى آخرها وكبر وهلل وقال بسم الله العلي العظيم اللهم اجعلها ذرية طيبة  ان كنت قدرت ان تخرج من صلبي اللهم جنبني الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتني ثم يأمر الزوجة بالإضطجاع على جنبها الأيمن فإن حملها يكون ذكرا بإذن الله تعالى ان قدر الله تعالى حملها من ذلك الجماع. ولازمت هذا الذكر والصفة فوجدته صحيحا لاريب فيه وبالله التوفيق اهـ محذوفا بعضه. قال بعض المشايخ من اتى زوجته فقال في نفسه حين احس بالإنزال لايدركه الأبصار وهو يدرك الأبصار وهو اللطيف الخبير يكون الولد ان قدر الله تعالى من ذلك فائقا على والديه علما وشأنا وعملا ان شاء الله تعالى. قال في حاشية البجيرمي على الخطييب

  1. Etika Sesudah Senggama

    1. Menyuruh isteri supaya tidur miring ke arah kanan agar anak yang dilahirkan kelak berjenis laki-laki, insya Allah.Bila isteri tidur miring ke arah kiri maka anak yang dilahirkan kelak berjenis kelamin perempuan.Hal ini menurut hasil sebuah percobaan.

    2. Suami mengucapkan dzikir di dalam hati sesuai yang diajarkan Nabi yaitu ;

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصَهْرًا وَكَانَ رُبُّكَ قَدِيْرًا (الفرقان : 54)

Artinya : “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dari air, untuk kemudian menjadikannya keturunan dan mushoharoh. Dan adalah Tuhanmu itu maha kuasa.” (QS. Al- Furqon : 54)

3. Berwudlu ketika hendak tidur ( wudlu ini hukumnya sunah) dan membasuh dzakar bila hendak mengulangi bersenggama.
Dikutip dari sebagian Ahli Tsiqoh (orang yang dapat dipercaya) bahwa barangsiapa ketika menyetubuhi isterinya didahului dengan membaca basmalah, surat Ikhlas, takbir, dan tahlil s.erta membaca :

بِسْمِ اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ اَللّهُمَّ اجْعَلْهَا ذُرّ ِيَّةً طَيِّبَِةً إِنْ كُنْتَ قَدَّرْتَ أَنْ تُخْرِجَ مِنْ صَلْبِىْ اَللّهُمَّ جَنِّبْنِىْ الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشّيَْطَانَ مَا رَزَقْتَنِىْ

Kemudian suami menyuruh isterinya tidur miring kearah kanan. Maka jika dari hasil jima’ itu Allah mentakdirkan isteri mengandung, maka anak yang lahir nanti akan berjenis kelamin laki-laki dengan izin Allah. Dan saya telah mengamalkan dzikir serta teori ini.Dan sayapun menemukan kebenarannya tanpa ada keraguan.Dan hanya dari Allah lah pertolongan itu.Demikian penggalan komentar Imam As-Suyuthi.
Sebagian Masyayikh mengatakan: “Barangsiapa menyetubuhi isterinya lalu ketika ia merasa akan keluar mani (ejakulasi) ia membaca dzikir :

لاَ يُدْرِكُهُ اْلأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ اْلأَبْصَارَوَهُوَ اللَّطِيْفُ اْلخَبِيْرُ.

maka apabila Allah mentakdirkan, anak yang dilahirkan kelak akan mengungguli kedua orang tuanya dalam hal ilmu, sikap, dan amalnya, Insya Allah.”

(فائدة) رأيت بخط الأزرق عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ان من اراد ان تلد إمرأته ذكرا فإنه يضع على بطنها في أول الحمل ويقول بسم الله الرحمن الرحيم اللهم اني أسمي ما في بطنها محمدا فاجعله لي ذكرا فإنه يولد ذكرا ان شاء الله مجرب اهـ

Penulis kitab hasyiah Bujairomi alal Khotib tepatnya dalam sebuah faidah menyatakan :”Saya melihat tulisan Syekh Al-Azroqy yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW di sana tertulis bahwa seseorang yang menghendaki isterinya melahirkan anak laki-laki, maka hendaknya ia meletakkan tangannya pada perut isterinya di awal kehamilannya sembari membaca do’a:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ اَللهُمَّ إِنِّي أُسَمِّيْ مَا فِيْ بَطْنِهَا مُحَمَّدًا فَاجْعَلْهُ لِيْ ذَكَرًا.

maka kelak anak yang dilahirkan akan berjenis kelamin laki-laki. Insya Allah mujarab.

بيان أدعية الحرث

قال تعالى وقدموا لأنفسكم الآية اي قدموا ما يدخر لكم من الثواب كالتسمية عند الجماع وطلب الولد، روي أن النبي صلى الله عليه وسلم قال من قال بسم الله عند الجماع فأتاه ولد فله حسنات بعدد انفاس ذلك الولد وعدد عقبه الى يوم القيامة، وقال صلى الله عليه وسلم خياركم خياركم لنسائهم الحديث او كما قال، ولبعضهم فيها ترتيب عجيب وهو أن الرجل اذا اراد ان يجامع زوجته ينبغي ان يقول اولا السلام عليكم يا باب الرحمن فتقول زوجته مجيبة له وعليكم السلام يا سيد الأمين فيأخذ يديها  ويقول رضيت بالله ربا ثم يغمز ثدييها ويقول اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد ثم يقبل ناصيتها قائلا يا لطيف الله نور على نور شهد النور على من يشاء ثم بعد ذلك يميل رأسها  الى الجانب الأيسر ويقول في سمعك الله سميع مقبلا ونافخا أذنها اليمنى نفخا يسيرا ثم يميل رأسها إمالة لطيفة الى الأيمن ويقول ما ذكر في أذنها اليسرى كذلك ثم يقبل عينيها اليمنى فاليسرى قائلا اللهم انا فتحنا لك فتحا مبينا ثم يقبل خديها اليمنى فاليسرى يقول يا كريم يا رحمن يا رحيم يا الله ثم يقبل أنفها قائلا عند ذلك فروح وريحان وجنة نعيم ثم يقبل كتفها ويقول يا رحمن الدنيا يا رحيم الآخرة ثم يقبل رقبتها ويقول الله نور السموات والأرض ثم يقبل ذقنها ويقول نور حبيب الإيمان من عبادك الصالحين ثم يقبل راحتيها اليمنى فاليسرى قائلا عند ذلك ما كذب الفؤاد ما رأى ثم يقبل ما بين ثدييها ويقول وألقيت عليك محبة مني ثم يقبل صدرها اليسرى بحذاء قلبها ويقول يا حي يا قيوم ثم

WANITA YANG TIDAK BAIK DI JADIKAN SEBAGAI ISTERI

CIAN           Menikah merupakan jalan keluar dua insan untuk merealisasikan rasa cinta yang bergejolakl dalam hatinya, mencari kebahagiaan dan untuk melestarikan keturunan. Setiap orang pastinya menginginkan pasangan hidup yang baik dan ideal, prilakunya, agamis, dan menyenangkan  pastinya.

Imam Al-Ghazali  dalam karangan fenomenalnya kitab Ihya Ulumuddin memberikan beberapa tips agar kita tidak salah dalam memilih perempuan, karena pilihan yang baik tentu akan membawa hasil yang baik pula. Berikut ini beberapa kriteria sosok perempuan yang tidak pantas dijadikan sebagai istri.

  1. Al-Ananah

أما الأنانة فهي التي تكثر الأنين والتشكي وتعصب رأسها كل ساعة

Al-Ananah (suka mengeluh) adalah perempuan yang banyak mengeluh dan mengadu, selalu membalut kepalanya sebagai tanda sakit. Ini dilakukan untuk memberitahu kepada orang-orang bahwa dia merasa terbebani dengan tugasan hariannya  karena malas atau memang sifat bawaan yang dimilikinya. Perempuan seperti ini bawaannya  suka mengeluh walaupun disebabkan perkara kecil. Perempuan tersebut berpura-pura sakit supaya suaminya tidak membebaninya dengan tugas harian. Menikahi perempuan yang sengaja buat-buat sakit tidak ada faedah sama sekali.

  1. Al-Mananah

والمنانة التي تمن على زوجها فتقول فعلت لأجلك كذا وكذا

Al-Mananah yaitu perempuan yang memberikan sesuatu kepada suaminya  tetapi suka mengungkit-ungkit pemberian tersebut. Seringkali saat berbicara dia selalu mengungkitnya, lebih-lebih lagi saat terjadi suatu masalah, dia selalu merasa bahwa pemberian suaminya tidak sebanding dengan apa yang telah diberikannya.

  1. Al-Hananah

والحنانة التي تحن إلى زوج آخر أو ولدها من زوج آخر وهذا أيضا مما يجب اجتنابه

Al-Hananah adalah perempuan yang suka merindui, mengungkit-ungkit dan mengingati bekas suami atau anaknya dari suaminya dulu. (Perempuan seperti ini tidak akan menghargai suaminya walaupun suaminya berusaha memuaskan segala kemauannya)

  1. Al-Haddaqah

والحداقة التي ترمي إلى كل شيء بحدقتها فتشتهيه وتكلف الزوج شراءه

Al-Haddaqah yaitu perempuan yang menginginkan apa saja yang dilihatnya saat berbelanja (boros) sehingga membebankan dan memberatkan suaminya dalam ekonomi.

  1. Al-Baraqah

والبراقة تحتمل معنيين أحدهما أن تكون طول النهار في تصقيل وجهها وتزيينه ليكون لوجهها بريق محصل بالصنع والثاني أن تغضب على الطعام فلا تأكل إلا وحدها

Al-Baraqah mempunyai dua makna. Pertama, suka berhias sepanjang waktu (melampau atau melebihi  batas wajar) supaya wajahnya nampak lebih anggun dan mempersona. Kedua, perempuan yang tidak mau makan dalam keramaian, dan dia tidak akan makan kecuali jika sendirian, dia juga akan menyimpan bagian tertentu untuk dirinya sendiri.

  1. Al-Syaddaqah

والشداقة المتشدقة الكثيرة الكلام ومنه قَوْلَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تعالى يبغض الثرثارين المتشدقين

Al-Syaddaqah adalah perempuan yang banyak berbicara, melebihi kadar keperluan lebih-lebih berbicara hal yang tidak penting. Suka mengupat siapa saja bahkan suaminya sendiri. Sebagaimana sabda Nabi saw, bahawa Allah murka kepada wanita yang banyak bicara hal yang tidak penting. Wallahua’lam.

Referensi: Ihya Ulumiddin juz 2 hal 61