DEFINISI DAN HUKUM PERNIKAHAN DALAM KACAMATA FIQIH ISLAM

Pembaca yang budiman, sebagaimana kita ketahui, nikah merupakan sebuah ibadah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah bagi mereka yang memiliki kemampuan untuk melaksanakannya.

Secara kebahasaan, nikah bermakna “berkumpul”. Sedangkan menurut istilah syariat, definisi nikah dapat kita simak dalam penjelasan Syekh Zakariya Al-Anshari dalam kitab Fathul Wahab berikut ini:

كتاب النكاح. هُوَ لُغَةً الضَّمُّ وَالْوَطْءُ وَشَرْعًا عَقْدٌ يَتَضَمَّنُ إبَاحَةَ وَطْءٍ بِلَفْظِ إنْكَاحٍ أَوْ نَحْوِهِ

Artinya, “Kitab Nikah. Nikah secara bahasa bermakna ‘berkumpul’ atau ‘bersetubuh’, dan secara syara’ bermakna akad yang menyimpan makna diperbolehkannya bersetubuh dengan menggunakan lafadz nikah atau sejenisnya,” (Lihat Syekh Zakaria Al-Anshari, Fathul Wahab, Beirut, Darul Fikr, 1994, juz II, halaman 38).

Dari sudut pandang hukum, Sa‘id Mushtafa Al-Khin dan Musthafa al-Bugha, Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhabil Imamis Syâfi’i menjelaskan:

حُكم النِكَاحِ شَرْعُا للنكاح أحكام متعددة، وليس حكماً واحداً، وذلك تبعاً للحالة التي يكون عليها الشخص

Artinya, “Hukum nikah secara syara’. Nikah memiliki hukum yang berbeda-beda, tidak hanya satu. Hal ini mengikuti kondisi seseorang (secara kasuistik),” (Lihat Sa‘id Musthafa Al-Khin dan Musthafa Al-Bugha, Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhabil Imamis Syâfi’i, Surabaya, Al-Fithrah, 2000, juz IV, halaman 17).

Dari keterangan tersebut, bisa dipahami bahwa hukum nikah akan berbeda disesuaikan dengan kondisi seseorang dan bersifat khusus sehingga hukumnya tidak bisa digeneralisasi. Lebih lanjut, Sa‘id Musthafa Al-Khin dan Musthafa Al-Bugha dalam kitab itu memerinci hukum-hukum tersebut sebagai berikut:

1. Sunah
Hukum nikah adalah sunah karena nikah sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Hukum asal nikah adalah sunah bagi seseorang yang memang sudah mampu untuk melaksanakannya sebagaimana hadits Nabi riwayat Al-Bukhari nomor 4779 berikut ini:

يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج، فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج، ومن لم يستطع فعليه بالصوم، فإنه له وجاءٌ

Artinya, “Wahai para pemuda, jika kalian telah mampu, maka menikahlah. Sungguh menikah itu lebih menenteramkan mata dan kelamin. Bagi yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa bisa menjadi tameng baginya.”

2. Sunah Ditinggalkan
Nikah dianjurkan atau disunahkan baiknya tidak dilakukan. Ini berlaku bagi seseorang yang sebenarnya menginginkan nikah, namun tidak memiliki kelebihan harta untuk ongkos menikah dan menafkahi istri.

Dalam kondisi ini sebaiknya orang tersebut menyibukkan dirinya untuk mencari nafkah, beribadah dan berpuasa sambil berharap semoga Allah mecukupinya hingga memiliki kemampuan. Hal ini senada dengan firman Allah SWT Surat An-Nur ayat 33:

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحاً حَتَّى يُغْنِيَهُمْ اللَّهُ مِن فَضْلِه ِ

Artinya, “Dan orang-orang yang tidak mampu menikah, hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sampai Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.”

Dalam konteks ini, jika orang tersebut tetap memaksakan diri menikah, maka ia dianggap melakukan tindakan yang dihukumi khilaful aula, yakni kondisi hukum ketika seseorang meninggalkan apa yang lebih baik untuk dirinya.

3. Makruh
Nikah adalah makruh. Ini berlaku bagi seseorang yang memang tidak menginginkan nikah, entah karena perwatakannya demikian, ataupun karena penyakit. Ia pun tidak memiliki kemampuan untuk menafkahi istri dan keluarganya. Jika dipaksakan menikah, dikhawatirkan bahwa hak dan kewajiban dalam pernikahan tidak dapat tertunaikan.

4. Lebih Utama Jika Tidak Menikah
Hal ini berlaku bagi seseorang yang sebenarnya memiliki kemampuan untuk menafkahi istri dan keluarganya, namun sedang dalam kondisi tidak membutuhkan nikah dengan alasan sibuk menuntut ilmu atau sebagainya.

5. Lebih Utama jika Menikah
Hal ini berlaku bagi seseorang yang memiliki kemampuan untuk menafkahi istri dan keluarganya, serta sedang tidak disibukkan menuntut ilmu atau beribadah. Maka orang tersebut sebaiknya melaksanakan nikah.

Demikian keterangan beberapa hukum nikah dan kondisinya kali ini, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Makna di Balik Perjanjian Agung Pernikahan

Janji untuk berumah tangga dalam ikatan pernikahan adalah perjanjian agung. Sebuah pernikahan yang didasarkan agama memberikan banyak pesan, khususnya dalam memperlakukan pasangan secara baik.

Pandangan ini disampaikan KH Farmadi Hasyim saat memberikan khotbah nikah di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Sabtu (19/3).

“Ulama besar asal Indonesia, Syekh Nawawi al-Jawi al-Bantani dalam karyanya Nihayatuz Zain mendifinisikan nikah sebagai dua hamba Allah yang diperbolehkan melaksanakan hubungan suami istri setelah menyatakan ijab dan qabul,” kata Kiai Farmadi, sapaan akrabnya.

Usai melafalkan kalimat ikrar tersebut di hadapan penghulu dan para saksi, setidaknya ada sejumlah tugas yang harus diemban. “Pertama, tugas seorang lelaki setelah melafalkan ijab dan qabul itu sangatlah berat,” ungkapnya.  Dalam pandangan Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah Nahdlatu Ulama Jawa Timur ini, Allah menyamakan ikrar tersebut sebagai mitsaqan ghalidhan atau perjanjian agung.

Bagi Kepala Seksi Haji dan Umrah Kementerian Agama Kota Surabaya ini, mitsaqan qhalidhan dalam Al-Quran disebut hingga tiga kali. “Dua ayat menerangkan keimanan, sedangkan yang satu menjelaskan akad nikah,” terangnya. Dengan demikian, akad nikah itu hampir sama dengan keimanan, lanjutnya.

Dengan menyitir salah satu hadits, Rasulullah bersabda bahwa apabila ada dua hamba Allah melaksanakan akad nikah, maka yang bersangkutan sudah menyempurnakan separuh agamanya. “Bagaimana separuhnya? bertaqwalah kepada Allah sebagai separuh sisanya,” katanya.

Sedangkan tugas kedua bagi lelaki yang telah berikrar harus menjadi imam yang baik dalam rumah tangga. “Ajak istri untuk shalat barjamaah serta shalat malam,” pesannya kepada kedua mempelai dan hadirian yang memadati masjid kebanggaan di kota pahlawan tersebut.

Bagi Kiai Farmadi, memimpin seorang istri itu seperti layaknya menghapus kaca yang berdebu. “Kaca buram tersebut harus dibersihkan secara perlahan dan jangan ditekan,” katanya memberi tamsil. Sebab kalau sampai ditekan, maka akan pecah. “Kalau sudah pecah,  tidak ada lem yang bisa merekatkan kembali seperti sedia kala,” terangnya.  Pesan ini juga membenarkan ungkapan Rasulullah agar setiap suami harus berperilaku baik kepada sang istri, lanjutnya.

Kepada pasangan yang sedang berikrar, kandidat doktor UIN Sunan Ampel Surabaya ini mengemukakan bahwa suami hebat dan terhormat adalah mereka yang mampu memosisikan istri sebagai istri yang sebenarnya. “Hal ini juga berlaklu sebaliknya, suami yang tidak hebat serta tak terhormat adalah mereka yang tidak menghargai bahkan melecehkan serta meremehkan istri, ” katanya.

Penceramah di berbagai radio, tv dan media ini mengingatkan pasangan baru akan tingginya angka perceraian. “Itu terjadi karena antara kedua belah pihak tidak mampu mengambil pesan yang digariskan agama,” pungkasnya.

HIKMAH DI BALIK AJARAN MAKAN DAN MINUMNYA ROSULULLOH SAW.

HIKMAH DI BALIK AJARAN MAKAN DAN MINUMNYA ROSULULLOH SAW.

  1. Berdoalah sebelum makan dan minum, agar makanan dan minuman kita mengandung berkah. “Bismillaahirrahmaanirrahiim, Allahumma baariklanaa fiimaa rozaqtanaa waqinaa adzaabannaar”.

 “Ya Allah berilah keberkahan dalam rizki (makanan) kami, dan selamatkanlah kami dari siksa neraka”.

  1. Makan dan minum sambil duduk , sebagaimana HR. Muslim dan Turmudzi dari Anas dan Qatadah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnyabeliau melarang seseorang minum sambil berdiri, Qotadah berkata: ”Bagaimana dengan makan?” beliau menjawab: “Itu lebih buruk lagi”. (HR. Muslim dan Turmidzi)

Bersabda Nabi SAW dari Abu Hurairah,“Jangan kalian minum sambil berdiri !Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan !” (HR. Muslim).

Hikmah yang diperoleh dari makan dan minum sambil duduk menurut Dr. Abdurrazaq Al-Kailani, b ahwa minum dan makan sambil duduk, lebih sehat, lebih selamat, dan lebih sopan, karena apa yang diminum  atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lembut. Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar, yang kemudian menyebabkan disfungsi pencernaan.

Dr. Ibrahim Al-Rawi  menegaskan bahwa manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna. Ini merupkan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat tepenting pada saat makan dan minum. Ketenangan ini bisa dihasilkan pada saat duduk, dimana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat.

Dr. Al-rawi menekankan bahwa makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus. Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf(Vagal Inhibition)yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak. Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus –menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung. Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa bebenturan dengan makanan atau minuman yang masuk. Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh spinchter.

 Spinchter adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Spinchter lebih seperti gate/gerbang/seal windpipe yang berkontraksi,(menutup) dan relaxing (membuka) dan jumlah otot ini ada sekitar 50 otot tersebar di berbagai saluran lubang manusia. Berfungsi sebagai otot yang membuka dan menutup, sekresi, controlling substance in & out, semua sesuai fitrah manusia. Contoh ketika minum, sphincter di tenggorokan akan menutup agar tidak masuk ke saluran udara dan paru-paru. saat menerima fluid yang asam akan menutup hingga tidak kelebihan acid dalam lambung, ketika saluran kemih penuh, membuka sehingga bisa keluar urin,dll. Jika kita minum berdiri air yang kita minum tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan disaluran ureter. Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter.

 Inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang berbahaya. Susah kencing itu penyebabnya. Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum. Adapun Rasulullah berdiri, maka itu dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, bukan merupakan kebiasaan. Ingat hanya sekali karena darurat!  Begitu pula makan sambil berjalan, sama sekali tidak sehat, tidak sopan, tidak etis dan tidak pernah dikenal dalam Islam.

  1. Ketika minum jangan sambil menghembuskan nafas dalam gelas, cangkir atau tempat minuman lainnya dan jangan meneguk air lebih dari 3 kali. Hikmah yang diperoleh adalah agar proses penyaringan oleh spinchter berjalan seimbang karena tidak melebihi kapasitas juga dapat menimbulkan spinchter berfungsi dengan baik dalam penyaringan.

  1. Makanlah dengan tiga jari (ibu jari, telunjuk dan jari tengah), sesuai yang diajarkan Rasul SAW: Dari Anas: “Bahwasanya Rasul SAW, sewaktu makan menggunakan tiga jari”.

  1. Usahakan makanan jangan sampai jatuh dan sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Ketika suapan seseorang dari kamu jatuh, hendaklah diambil, dibersihkan dari kotorannya, lalu dimakan, jangan dibiarkan syetan yang makan.

  1. Makanlah sampai habis, karena mungkin berkahnya ada pada yang Anda sisakan. Dan Beliau Rasulullah SAW, menyuruh membersihkan sisa makanan di piring dengan sabdanya: “Kalian tiada mengetahui secara pasti di mana letak berkah pada makanan” (HR. Muslim).
  2. Makanlah dengan menggunakan tangan kanan, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW yang artinya: Makanlah dengan tangan kanan, karena syetan makan/minum dengan tangan kiri (HR Bukhari),

  1. Jangan meniup makanan/minuman (HR Tirmidzi). Hikmah yang dipetik dari hal ini adalah: a. Mencegah penyebaran kuman (penyakit) ke makanan yang berasal dari mulut.Menjaga kesehatan gigi, karena berti tidak boleh makan terlalu panas atau terlalu dingin.
  2. Setelah selesai makan, baca doa “Alhamdulillahi lladzii ath’amanaa wasaqoonaa wa ja’alanaa minal muslimiin”. Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum dan menjadikanku muslim. Inilah cara makan terbaik. Bukankah Rasul adalah teladan terbaik?

PEMBAHASAN KEWAJIBAN ORANG TUA DAN ANAK YANG SHOLIH SERTA CARA BELAJAR AL-QUR’AN

   KEWAJIBAN ORANG TUA TERHADAP ANAK

  1.  Anak mempunyai hak untuk hidup.

Allah berfirman:

‘Janganlah kamu membunuh anak anakmu karena takut miskin. Kami akan memberikan rizqi kepadamu dan kepada mereka.’ ( QS. Al-An’am: 151)

  1. Menyusui

Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QS AI Baqarah: 233)

Al ‘Allamah Siddiq Hasan Khan berkata, “Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. Maksudnya, adalah jumlah waktu selama itu dihitung dari mulai hamil sampai disapih.”

  1. Memberi Nama yang Baik

Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya kewajiban orang tua dalam memenuhi hak anak itu ada tiga, yakni: pertama, memberi nama yang baik ketika lahir. Kedua, mendidiknya dengan al-Qur’an dan ketiga, mengawinkan ketika menginjak dewasa.”

Berkenaan dengan nama-nama yang bagus untuk anak, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian, maka perbaguslah nama kalian.” (HR.Abu Dawud)

  1. Mengaqiqahkan Anak

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Tiap tiap seorang anak tergadai dengan ‘aqiqahnya. Disembelih (‘aqiqah) itu buat dia pada hari yang ketujuhnya dan di cukur serta diberi nama dia.’ (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Imam yang empat dan dishahihkan oleh At Tirmidzy, hadits dari Samurah ).

  1. Mendidik anak

Pada suatu kesempatan, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab kehadiran seorang tamu lelaki yang mengadukan kenakalan anaknya, “Anakku ini sangat bandel.” tuturnya kesal. Amirul Mukminin berkata, “Hai Fulan, apakah kamu tidak takut kepada Allah karena berani melawan ayahmu dan tidak memenuhi hak ayahmu?” Anak yang pintar ini menyela. “Hai Amirul Mukminin, apakah orang tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak?” Umar ra menjawab, “Ada tiga, yakni: pertama, memilihkan ibu yang baik, jangan sampai kelak terhina akibat ibunya. Kedua, memilihkan nama yang baik. Ketiga, mendidik mereka dengan al-Qur’an.”

  1. Memberi makan dan keperluan lainnya

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Cukup berdosa orang yang menyia nyiakan ( tanggung jawab) memberi makan keluarganya.’ ( HR Abu Daud )./1100;247/33.

  1. Memberi rizqi yang ‘thayyib’.

Dari Abu Rafi’ r.a., telah berkata; Telah bersabda Rasulullah s.a.w. ‘Kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah mengajarinya tulis baca, mengajarinya berenang dan memanah, tidak memberinya rizqi kecuali rizqi yang baik.’ HR Al Hakim/Depag;51.

  1. Mendidik anak tentang agama.

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Tiap bayi dilahirkan dalam kadaan suci ( fithrah Islamy ) . Ayah dan Ibunyalah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nashrany, atau Majusyi. HR Bukhary.;1100;243/15.

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Barang siapa mempunyai dua anak perempuan dan dia asuh dengan baik maka mereka akan menyebabkannya masuk sorga. ( HR Al Bukhary )/ 1100; 244/20.

  1. Mendidik anak untuk sholat.
  2. menyediakan tempat tidur terpisah antara laki laki dan perempuan.

Islam mengejarkan ‘hijab’ sejak dini. Meskipun terhadap sesama Muhrim , Bila telah berusia tujuh tahun tempat tidur mereka harus dipisahkan.

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Suruhlah anak anakmu sholat bila berumur tujuh tahun dan gunakan pukulan jika mereka sudah berumur sepuluh tahun dan pisahlah tempat tidur mereka ( putra putri ).

  1. Mendidi anak tentang adab yang baik.
  2. Memberi pengajaran dengan pelajaran yang baik;

Berkata shahabat ‘AlI r.a.; ‘Ajarilah anak anakmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dengan zamanmu.’ (Depag;19).

  1. Memberi pengajaran Al Quran.

Rasulullah s.a.w. bersabda;’Sebaik baik kalian adalah barang siapa yang belajar Al Qur aan dan mengajarkannya’.

Nabi s.a.w. bersabda; ‘Ilmu itu ada tiga macam. Selainnya adalah sekedar tambahan. Adapun yang tiga macam itu ialah; Ilmu tentang ayat ayat ( Al Qur aan) yang muhkamat, ilmu tentang Sunnah Nabi, dan ilmu tentang pembagian warits. ( HR Ibnu Majah ).

  1. Memberikan pendidikan dan pengajaran baca tulis .

Dari Abu Rafi’ r.a., telah berkata; Telah bersabda Rasulullah s.a.w. ‘Kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah mengajarinya tulis baca, mengajarinya berenang dan memanah, tidak memberinya rizqi kecuali rizqi yang baik.’ HR Al Hakim/Depag;51.

  1. Memberikan perawatan dan pendidikan kesehatan.

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Jagalah kebersihan* dengan segala usaha yang mampu kamu lakukan. Sesungguhnya Allah Ta’ala menegakkan Islam diatas prinsip kebersihan. Dan tak akan masuk sorga kecuali orang yang memelihara kebersihan.’ ( HR At Thabarany )/Depag; 57.

  1. Memberikan pengajaran ketrampilan.

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Sebaik baik makanan adalah hasil usaha tangannya sendiri’.

Dalam sabdanya yang lain beliau mengatakan; ‘Mengapa tidak kau ajarkan padanya ( anak itu ) menenun sebagaimana dia telah diajarkan tulis baca?’ ( HR An- Nasai ) /Depag; 52

  1. Memberikan kepada anak tempat yang yang baik dalam hati orang tua.

Seorang datang kepada Nabi s.a.w. dan bertanya; ‘Ya Rasulullah, apakah hak anakku ini? Nabi s.a.w. menjawab;’ Kau memberinya nama yang baik, memberi adab yang baik dan memberinya kedudukan yang baik ( dalam hatimu ) . ( HR At Tuusy )./1100;243/16.

  1. Memberi kasih sayang.

Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Bukanlah dari golongan kami yang tidak menyayangi yang lebih muda dan ( bukan dari golongan kami ) orang yang tidak menghormati yang lebih tua.’ ( HR At Tirmidzy ). Depag; 42

  1. Menikahkannya

 “Kawinkanlah anak-anak kamu (yang belum kawin) dan orang-orang yang sudah waktunya kawin dari hamba-hambamu yang laki-laki ataupun yang perempuan. Jika mereka itu orang-orang yang tidak mampu, maka Allah akan memberikan kekayaan kepada mereka dari anugerah-Nya.” (QS. An-Nur:32)

Rasulullah dalam hal ini bersabda, “Ada tiga perkara yang tidak boleh dilambatkan, yaitu: shalat, apabila tiba waktunya, jenazah apabila sudah datang dan ketiga, seorang perempuan apabila sudah memperoleh (jodohnya) yang cocok.” (HR. Tirmidzi)

  1. Mengarahkan anak

 “Sesungguhnya pemuda itu sedang tumbuh. Maka apabila dia lebih mengutamakan untuk duduk bersama orang-orang yang berilmu, hampir-hampir bisa dikata dia akan selamat. Namun bila dia cenderung pada selain mereka, hampir-hampir dia rusak binasa.” (Dinukil dari Lammud Durril Mantsur minal Qaulil Ma`tsur, bab Hukmus Salaf ‘alal Mar`i bi Qarinihi wa Mamsyahu no.517).

                                                              ANAK SHOLEH INVESTASI ORAG TUA

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)mereka” (An Nisa: 9).

Orangtua diharuskan khawatir meninggalkan (mewariskan) kepada anak cucunya dhu’afa (kelemahan) dalam beberapa hal di antaranya :

  1. Lemah harta kekayaan
  2. Lemah fisik.
  3. Lemah ilmu.
  4. Lemah Aqidah.

إِذَا مَاتَ بْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ، صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ.

Artinya: “Jika wafat anak cucu Adam, maka terputuslah amalan-amalannya kecuali tiga: Sadaqah jariah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang selalu mendoakannya.” (HR.Muslim)

                                                      ANAK SHOLEH DAN MENCINTAI AL QURAN

إنَّ هَذَا الْقُرْآَنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

        Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar

( Al Isra ; 9 )

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

Dari Aisyah ra. Beliau berkata : “Bahwasannya Rasulullah bersabda : orang yang pandai membaca al Qur’an akan beserta para malaikat yang mulia. Dan orang yang terbata-bata dalam membacanya dan sangat kesulitan maka baginya ada dua pahala.” ( HR. Bukhori, Muslim dan Abu Dawud )

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

Bacalah al qur’an, maka sesungguhnya dia akan menjadi syafa’at bagi para sahabatnya di hari kiamat (HR. Muslim)

“Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

“Barang siapa membaca satu huruf dari Alquran, maka ia akan memperoleh kebaikan. Kebaikan itu berlipat sepuluh kali. Aku tidak mengatakan, Alif Laam Miim satu huruf, akan tetapi, Alif adalah huruf, Lam huruf, dan Mim huruf.” (At Tirmidzi. Nomor:3075).

 “Didiklah anak-anakmu dengan tiga perkara: mencintai Nabimu; mencintai ahlul baitnya; dan memba Al-Qur’an karena orang-orang yang memelihara Al-Qur’an itu berada dalam lingkungan singasana Allah pada hari ketika tidak ada perlindungan selain dari pada perlindungan-Nya; mereka beserta para Nabi-Nya dan orang-orang suci”. (HR. Ath Thabrani).

Menanamkan rasa cinta anak terhadap Al-Qur’an pertama kali harus dilakukan di dalam keluarga, yaitu dengan metode keteladanan. Karena jika kita menginginkan anak mencintai Al-Qur’an, maka jadikanlah keluarga kita sebagai suri teladan yang baik dengan cara berinteraksi secara baik dengan Al-Qur’an.

Metode-metode yang bisa digunakan agar anak kita mencintai Al-Qur’an diantaranya adalah:

  1. Bercerita /mendongengkan kepada anak dengan kisah-kisah yang diambil dari Al-Qur’an.

Mempersiapkan cerita untuk anak dapat menjadikannya mencintai Allah Ta’ala dan Al-Qur’an Al-Karim, karena dengan mendongeng anak tidak hanya sekedar mendengarkan isi cerita yang kita sampaikan namun mereka juga menggunakan imajinasinya dalam menyimak cerita yang kita bawakan. Terbangunnya sebuah imajinasi dalam pikiran anak akan melekat hingga ke alam bawah sadarnya. apalagi jika anak kita sampai tertidur mendengar cerita kita.

Menurut sebuah penilitian si fakultas psikologi Canada (dikutip dari detik news) fase tidur manusia terbagi dalam 4 fase :

  1. Fase menjelang tidur. dalam fase ini biasanya kesadaran kita masih diatas 75%. dalam fase ini otak mampu merekan hal2 yang terjadi disekitar kita.
  2. Fase menjelang tidur lelap. Dalam fase ini kesadaran yang bekerja adalah dibawah 30% dan kesadaran alam bawah sadar mulai bekerja hingga 70%. ini adalah fase yang sangat baik untuk menasehati dan menanamkan apapun dalam diri anak. sebuah penelitian yang tercatan 80% anak nakal / hiperaktif menjadi lebih baik setelah mendapat terapi nasehat dalam fase ini. selama 1-2bulan. Dan tingkat kecerdasan anak meningkat hinga 60% setelah mendapat masukan positive (pujian, lagu2 yang menenangkan dan ungkapan cinta orang tua).
  3. Fase tidur lelap. Dalam fase ini kesadaran bawah sadar kita bekerja 100%. Mimpi berlangsung pada fase ini.
  4. Fase post-tidur lelap. fase ini hampir sama dengan fase kedua, hanya saja tingkat kemampuan merespon masukan dari luar lebih lemah dibandingkan fase kedua.

Fase yang baik bagi manusia untuk memeperbaiki kualitas psikologis adalah pada fase dua dan empat. Jika kita ingin menanamkan kecintaan anak terhadap Al-Qur’an dan mengembangkan kualitas psikis anak kita maka pergunakanlah kedua fase terbaik ini untuk hal tersebut.

Akan lebih bagus jika kisah-kisah dogeng bagi anak-anak kita diambil dari Al-Qur’an secara langsung, seperti kisah tentang tentara gajah yang menghancurkan Ka’bah, kisah perjalanan nabi Musa dan nabi Khidir, kisah Qarun, kisah nabi Sulaiman bersama ratu Bilqis dan burung Hud-hud, kisah tentang Ashabul Kahfi, dan lain-lain.

Sebelum kita mulai bercerita kita katakan pada anak, “Sekarang saatnya untuk menjelajahi kisah-kisah seru yang ada di Al-Qur’an.” Sehingga rasa cinta anak terhadap cerita-cerita itu dengan sendirinya akan terikat dengan rasa cintanya pada Al-Qur’an. Namun, dalam menyuguhkan cerita pada anak harus diperhatikan pemilihan waktu yang tepat, pemilihan bahasa yang cocok, dan kalimat yang terkesan, dan alur yang merangsang imajinasi mereka. Sehingga hal ini akan memberi pengaruh yang kuat pada jiwa dan akal anak.

  1. Sabar dalam menghadapi anak.

Misalnya ketika anak belum bersedia menghafal pada usia ini, maka kita harus menangguhkannya sampai anak benar-benar siap. Jangan pernah memaksakan kehendak, karena ini dapat memberikan trauma pada anak. Anak-anak yang mengalami trauma akan sulit untuk menerima apapun. Bahkan dapat mengakibatkan kebencian dalam hati mereka. Namun kita harus selalu memperdengarkan bacaan Al-Qur’an kepadanya.

  1. Menggunakan metode pemberian penghargaan untuk memotivasi anak.

Misalnya jika anak telah menyelesaikan satu surat kita ajak ia untuk jalan-jalan/rekreasi, atau dengan menggunakan lembaran prestasi/piagam penghargaan, sehingga anak akan semakin terdorong untuk mengahafal Al-Qur’an.

  1. Menggunakan semboyan untuk mengarahkan anak mencintai Al-Qur’an.

Misalnya : Saya mencintai Al-Qur’an, Al-Qur’an Kalamullah, Allah mencintai anak yang cinta Al-Qur’an, Saya suka menghafal Al-Qur’an.

  1. Menggunakan sarana menghafal yang inovatif.

Hal ini disesuaikan dengan kepribadian dan kecenderungan si anak (cara belajarnya), misalnya :

  • Bagi anak yang dapat berkonsentrasi dengan baik melalui pendengarannya, dapat menggunakan sarana berupa kaset, atau program penghafal Al-Qur’an digital, agar anak bisa mempergunakannya kapan saja, serta sering memperdengarkan kepadanya bacaan Al-Qur’an dengan lantunan yang merdu dan indah.
  • Bagi anak yang peka terhadap sentuhan, memberikannya Al-Qur’an yang cantik dan terlihat indah saat di bawanya, sehingga ia akan suka membacanya, karena ia ditulis dalam lembaran-lembaran yang indah dan rapi.
  • Bagi anak yang dapat dimasuki melalui celah visual, maka bisa mengajarkannya melalui video, komputer, layer proyektor, melalui papan tulis, dan lain-lain yang menarik perhatiannya.
  1. Memilih waktu yang tepat untuk menghafal Al-Qur’an.

Hal ini sangat penting, karena kita tidak boleh menganggap anak seperti alat yang dapat dimainkan kapan saja, serta melupakan kebutuhan anak itu sendiri. Karena ketika kita terlalu memaksa anak dan sering menekannya dapat menimbulkan kebencian di hati anak, disebabkan dia menanggung kesulitan yang lebih besar. Oleh karena itu, jika kita ingin menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an di hati anak, maka kita harus memilih waktu yang tepat untuk menghafal dan berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Adapun waktu yang dimaksud bukan saat seperti di bawah ini:

  • Setelah lama begadang, dan baru tidur sebentar,
  • Setelah melakukan aktivitas fisik yang cukup berat,
  • Setelah makan dan kenyang,
  • Waktu yang direncanakan anak untuk bermain,
  • Ketika anak dalam kondisi psikologi yang kurang baik,
  • Ketika terjadi hubungan tidak harmonis anatara orangtua dan anak, supaya anak tidak membenci Al-Qur’an disebabkan perselisihan dengan orangtuanya.

Kemudian hal terakhir yang tidak kalah penting agar anak mencintai Al-Qur’an adalah dengan membuat anak-anak kita mencintai kita, karena ketika kita mencintai Al-Qur’an, maka anak-anak pun akan mencintai Al-Qur’an, karena mereka mengikuti orang yang dicintai.

Adapun beberapa cara agar anak-anak kita semakin mencintai kita antara lain:

  • Senantiasa bergantung kepada Allah, selalu berdo’a kepada Allah untuk kebaikan anak-anak. Dengan demikian Allah akan memberikan taufikNya dan akan menyatukan hati kita dan anak-anak.
  • Bergaul dengan anak-anak sesuai dengan jenjang umurnya, yaitu sesuai dengan kaedah, “Perlakukan manusia menurut kadar akalnya.” Sehingga kita akan dengan mudah menembus hati anak-anak.
  • Dalam memberi pengarahan dan nasehat, hendaknya diterapkan metode beragam supaya anak tidak merasa jemu saat diberi pendidikan dan pengajaran.
  • Memberikan sangsi kepada anak dengan cara tidak memberikan bonus atau menundanya sampai waktu yang ditentukan adalah lebih baik daripada memberikan sangsi berupa sesuatu yang merendahkan diri anak. Tujuannya tidak lain supaya anak bisa menghormati dirinya sendiri sehingga dengan mudah ia akan menghormati kita.
  • Memahami skill dan hobi yang dimiliki anak-anak, supaya kita dapat memasukkan sesuatu pada anak dengan cara yang tepat.
  • Berusaha dengan sepenuh hati untuk bersahabat dengan anak-anak, selanjutnya memperlakukan mereka dengan bertolak pada dasar pendidikan, bukan dengan bertolak pada dasar bahwa kita lebih utama dari anak-anak, mengingat kita sudah memberi makan, minum, dan menyediakan tempat tinggal. Hal ini secara otomatis akan membuat mereka taat tanpa pernah membantah.
  • Membereskan hal-hal yang dapat menghalangi kebahagiaan dan ketenangan hubungan kita dengan anak-anak.
  • Mengungkapkan rasa cinta kepada anak, baik baik dengan lisan maupun perbuatan

CARA MUDAH MENGAJARKAN DAN MENGHAFAL AL-QUR’AN UNTUK ANAK-ANAK.

Suatu ketika Sufyan Tsauri ditanya, manakah yang engkau cintai orang yang berperang atau yang membaca Alquran? Ia berkata, membaca Alquran, karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya kepada orang lain”. Imam Abu Abdurrahman As-Sulami tetap mengajarkan Alquran selama empat puluh tahun di mesjid agung Kufah disebabkan karena ia telah mendengar hadis ini. Setiap kali ia meriwayatkan hadis ini, selalu berkata: “Inilah yang mendudukkan aku di kursi ini”.

Al Hafiz Ibnu Katsir dalam kitabnya Fadhail Quran halaman 126-127 berkata: [Maksud dari sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkan kepada orang lain” adalah, bahwa ini sifat-sifat orang-orang mukmin yang mengikuti dan meneladani para rasul. Mereka telah menyempurnakan diri sendiri dan menyempurnakan orang lain. Hal itu merupakan gabungan antara manfaat yang terbatas untuk diri mereka dan yang menular kepada orang lain.

Dari Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: Bacakan Alquran kepadaku. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, aku harus membacakan Alquran kepada baginda, sedangkan kepada bagidalah Alquran diturunkan? Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya aku senang bila mendengarkan dari orang selainku. Kemudian aku membaca surat An-Nisa’. Ketika sampai pada ayat yang berbunyi: {Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (umatmu).} Aku angkat kepalaku atau secara mendadak ada seseorang berada di sampingku. Dan ketika aku angkat kepalaku, aku melihat beliau mencucurkan air mata. (Sahih Muslim No: 1332)

Imam Nawawi berkata (Ada beberapa hal yang dapat dipetik dari hadis ini, di antaranya: sunat hukumnya mendengarkan bacaan Alquran, merenungi, dan menangis ketika mendengarnya, dan sunat hukumnya seseorang meminta kepada orang lain untuk membaca Al Quran agar dia mendengarkannya, dan cara ini lebih mantap untuk memahami dan mentadabburi Al Quran, dibandingkan dengan membaca sendiri).

Dari uraian diatas dapar kita pahami bahwa betapa pentingnya untuk mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an terutama kepada anak-anak. Dibawah ini ada beberapa fungsi mempelajari dan menajarkan serta mendorong kepada anak-anak untuk mempelajari Al-Qur’an diantaranya :

  • untuk mendapatkan ridho Allah
  • untuk mendapatkan ketenangan hidup.
  • karena Al Qur’an akan menjadi penolong (syafa’at) bagi para penghafalnya.
  • penghafal Al-Qur’an dapat memberikan syafaat bagi keluarganya
  • mendapatkan banyak kemuliaan dan pahala yang berlimpah

Prinsip-prinsip mengajarkan Al-Qur’an:

  • Tidak boleh memaksa anak ( kecuali dengan alasan, misalkan watak anak ‘pemalas’ )
  • Lakukan kegiatan dengan cara menyenangkan
  • Dimulai dari ayat-ayat yang mudah difahami
  • Keteladanan dan motivasi

Kunci keberhasilan mengajarkan anak untuk menghafal Al-Qur’an:

  • Suasana senang dan membahagiakan akan membantu anak untuk mengingat hafalannya dalam waktu yang lama, dengan demikian anak akan berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan perasaan cinta dan keterikatan terhadap Al-Qur’an.
  • Berulang dan kontinyu

Cara memelihara dan mengembangkan memori anak:

  • Ajari anak untuk fokus dan perhatian pada pendidiknya.
  • Faktor makanan adalah penentu untuk terpelihara kemampuan memori itu bekerja (zat-zat adiktif yang terdapat dalam makanan, perlahan tapi pasti akan merusak daya ingat anak-anak).
  • Memberi penjelasan pada anak-anak atas nilai-nilai yang terkandung dalam bacaan yang dihafalnya, maka memori akan bekerja lebih eksis.
  • Menghormati waktu bermain dan waktu istirahat anak.
  • Jauhkan unsur-unsur yang dapat mengancam psikologi anak-anak ; celaan dan tekanan.
  • Ciptakan motivasi-motivasi agar anak cenderung menyukai aktifitas menghafal

Waktu-waktu yang tepat untuk mengajarkan anak menghafal Al-Qur’an:

  • Tidak mengantuk
  • Tidak letih / kelelahan
  • Tidak kekenyangan atau sebaliknya, tidak sedang kelaparan
  • Tidak dalam keadaan capek belajar
  • Tidak sedang bermain
  • Tidak dalam keadaan sakit / bad mood

Yang perlu diperhatikan tentang bakat anak dalam menghafal:

  • Kenali bakat anak-anak dan hargai minat mereka.
  • Fahami keterbatasan daya ingat anak karena tiap anak itu beda kemampuannya
  • Kenali anak-anak yang memiliki kesulitan dalam belajar dan berinteraksi

TEKNIS PENGAJARAN

Bayi ( 0-2 tahun )

  • Bacakan Al-Qur’an dari surat Al-Fatihah
  • Tiap hari 4 kali waktu ( pagi, siang, sore, malam )
  • Tiap 1 waktu satu surat diulang 3x
  • Setelah hari ke-5 ganti surat An-Nas dengan metode yang sama
  • Tiap 1 waktu surat yang lain-lain diulang 1x 2.

Di atas 2 tahun

  • Metode sama dengan teknik pengajaran bayi. Jika kemampuan mengucapkan kurang, maka tambah waktu menghafalnya, misal dari 5 hari menjadi 7 hari.
  • Sering dengarkan murottal.

Di atas 4 tahun

  • Mulai atur konsentrasi dan waktu untuk menghafal serius
  • Ajari muroja’ah sendiri * Ajari mengahfal sendiri
  • Selalu dimotivasi supaya semangat selalu terjaga
  • Waktu menghafal 3-4x per hari

CARA MENJAGA HAFALAN

  • Mengulang-ulang secara teratur
  • Mendengarkan murottal
  • Mentadabburi dan menghayati makna
  • Menjauhi maksiat

HIKMAH DI BALIK PENYEMBELIHAN HEWAN UNTUK AQIQAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

المَالُ وَالبَنُونَ زِيْنَةُ الحَيَاةِ الدُّنْياَ وَالبَاقِياَتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. Al-Kahfi 46)

Aqiqah menurut bahasa ialah nama rambut kepala bayi. Aqiqah menurut istilah agama ialah nama hewan yang di sembelih pada hari ke tujuh, bertepatan dengan hari mencukur rambut bayi, untuk menamakan sang bayi dengan diringi dengan menyembelih hewan.

Islam memerintahkan Aqiqah bagi yang mampu, diantaranya berdasar sabda-sabda baginda Nabi SAW :

قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ T ؛ مَعَ الغُلاَمِ عَقِيْقَةٌ فَأَهْرِيْقُوْا عَنْهُ دَمَّهُ وَأَمِيْطُوْا عَنْهُ الأَذَى (رواه أبو داود) قَالَ T ؛ كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ ساَبِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى (رواه أبو داود) قَالَ T ؛ عَنِ الغُلاَمِ شاَتاَنِ مُكاَفِئَتاَنِ وَعَنِ الجاَرِيَّةِ شَاةٌ (رواه أبو داود) وَفيِ رِوَايَةٍ أُخْرَى لِحَدِيْثِ أُمِّ كَرْزٍ أَنَّهاَ سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ عَنِ العَقِيْقَةِ فَقاَلَ ؛ نَعَمْ عَنِ الغُلاَمِ شاَتاَنِ وَعَنِ الأُنْثَى وَاحِدَةٌ لاَيَضُرُّكُمْ ذَكَرَاناً أَمْ إِناَثاً (رواه أبو داود) وَعَنْ عاَئِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ T عَقَّ عَنِ الحَسَنِ وَالحُسَيْنِ وَقاَلَ ؛ قُوْلُوْا بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ أَللَّـهُمَّ لَكَ وَإِلَيْكَ هَذِهِ عَقِيْقَةُ فُلاَنٍ (رواه البيهقي)

Artinya :

Nabi SAW bersabda : Bersama anak terdapat aqiqah maka sembelihlah hewannya dan hilangkanlah noda sang anak. (HR. Abu Daud) Nabi SAW bersabda : Setiap anak kecil digadaikan dengan aqiqahnya, ia disembelih di hari ketujuh dari lahir,dicukur dan di beri nama. (HR. Abu Daud) Nabi SAW bersabda : Anak laki-laki dua ekor kambing dan anak perempuan cukup satu ekor kambing. (HR. Abu Daud) Dalam riwayat lain bahwa ummi Karz bertanya kepada Rasulullah SAW tentang aqiqah, Beliau menjawab : Betul anak laki-laki dua ekor dan anak perempuan cukup dua ekor, boleh hewan jantan atau betina. (HR. Abu Daud) Riwayat dari Aisyah, bahwa Nabi SAW ber-aqiqah untuk Hasan dan Husen, kemudian Nabi SAW bersabda : Bacalah oleh kalian “Dengan menyebut nama Allah, Allah maha besar, Ya Allah aqiqah ini .. bin .. adalah karenaMu dan kepadaMu”. (HR. Baehaqiy)

Banyak hikmah ketika aqiqah dijalankan, diantaranya :

Pertama : Rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat dikaruniai seorang anak. Memiliki anak adalah salah satu nikmat paling besar, anak ialah salah satu perhiasan kehidupan di dunia sebagaimana firman Allah SWT “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia”. Allah menjadikan manusia merasa bahagia dan senang ketika anaknya terlahir oleh karenanya ia pantas untuk mensyukurinya.

Kedua : Penebusan dan pembebasan anak dari hal buruk, sebagaimana Allah SWT membebaskan Nabi Ismail as dengan qurban hewan domba. Disebutkan bahwa orang Jahiliyyah pun melakukan penebusan anak ini, hanya saja mereka melumuri kepala sang anak dengan darah hewan sembelih. Islam menetapkan penebusan anak dengan menyembelih hewan dan melarang melumuri kepala anak dengan darah hewan sembelih. Nabi SAW mengabarkan bahwa aqiqah selayaknya disamakan dengan ibadah qurban dan jamuan makan, “Barangsiapa menyukai ibadah haji maka lakukanlah” artinya aqiqah disamakan dengan tebusan dalam kekurangan ibadah haji dan tebusan Nabi Ismail as. Dengan demikian aqiqah adalah penyebab mendapat keselamatan dan perlindungan anak semasa hidupnya dari kejahatn syetan, sehingga setiap anggota tubuh hewan menjadi penebus setiap anggota tubuh anak.

Ketiga : Memberitahukan bahwa seorang manusia telah dikaruniai anak dan menamakannya, sehingga sang anak dikenal dalam keluarga, para tetangga dan kawan-kawan. Banyak orang menghadiri acara pelaksanaan aqiqah sehingga dapat mempererat ikatan silaturrahmi dan kasih sayang diantara sesama muslim.

Terkait teknis pelaksanaan aqiqah, dalam ilmu fiqih dijelaskan :

وَقاَلَ الرَّافِعِيْ وَغَيْرُهُ وَلاَ تَفُوْتُ بِفَوَاتِ السّاَبِعِ وَفيِ العُدَّةِ وَالحاَوِيْ لِلْماَوِرْدِي أَنَّهاَ بَعْدَ السّاَبِعِ تَكُوْنُ قَضاَءً , وَالمُخْتاَرُ أَنْ لاَ يَتَجاَوَزَ بِهاَ النِّفاَسُ فَإِنْ تَجاَوَزَتْهُ فَيُخْتاَرُ أَنْ لاَ يَتَجاَوَزَ بِهاَ الرَّضاَعُ فَإِنْ تَجَاوَزَ فَيُخْتاَرُ أَنْ لاَ يَتَجاَوَزَ بِهاَ سَبْعَ سِنِيْنَ فَإِنْ تَجاَوَزَهاَ فَيُخْتاَرُ أَنْ لاَ يَتَجاَوَزَ بِهاَ البُلُوْغُ فَإِنْ تَجاَوَزَهُ سَقَطَتْ عَنْ غَيْرِهِ وَهُوَ المُخَيَّرُ فيِ العِقِّ عَنْ نَفْسِهِ فيِ الكِبَرِ (كفاية الأخيار – ج 1/ص 534)

Artinya :

Imam Ar-Rofei dan Ulama lain menyatakan bahwa tidak termasuk tertinggal aqiqah apabila tidak dilaksanakan tidak pada hari ke tujuh. Dalam ktab Al-‘Uddah dan kitab Al-Hawi Imam Al-Mawirdiy menyatakan bahwa aqiqah setelah hari ke tujuh adalah qodlo. Pendapat terpilih ialah jangan melewati masa nifas, apabila tidak, maka jangan melewati masa menyususi, apabila tidak, maka jangan melewati batas usia tujuh tahun, apabila tidak, maka jangan melewati batas balig, apabila tidak, maka tidak ditekankan oleh yang lain termasuk orang tuanya. Masa setelah balig aqiqah lebih ditekankan oleh dirinya sendiri. (Kifayatul Akhyar – Juz 1 hal. 534)

Kesimpulan : Hikmah aqiqah ialah Menyatakan kegembiraan, menampakkan rasa syukur dan memperkenalkan keturunan. Makna dari anak itu tergadaikan maksudnya ialah anak tidaklah akan tumbuh normal layaknya manusia terkecuali apabila diaqiqahkan,.sebagaimana tertuang dalam kitab I’anathutn-Thalibin berikut ini :

وَالحِكْمَةُ فِيْهاَ إِظْهاَرُ البَشَرِ وَالنِّعْمَةِ وَنَشْرِ النَّسَبِ . وَمَعْنَى مُرْتَهِنٌ بِهاَ قِيْلَ لاَ يَنْمُوْ نَمْوَ مِثْلِهِ حَتَّى يُعَقُّ عَنْهُ

RINGKASAN PENGERTIAN QURBAN DAN AQIQAH DALAM ISLAM

  

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqur­banlah.” (QS Al Kautsar : 1-2)

Qurban dan Aqiqah adalah ibadah yang memiliki kesamaan walaupun secara tujuan memiliki perbedaan. Perintah berkurban tentunya sangat disarankan bagi umat muslim sebagai bentuk latihan keikhlasan dan pengorbanan serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tentunya ini adalah bentuk pengamalan umat islam dari rukun iman dan rukun islam, serta fungsi agama islam.

Ibadah Qurban memiliki aspek pendidikan yaitu melangsungkan keikhlasan dan kemurnian ibadan hanya kepada Allah SWT. Orang yang beriman dan akanmengamalkan ibadah qurban tentu harus memiliki keikhlasan dalam mengorbankan sebagian hartanya untuk amaliah. Hal ini sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan juga Ismail. Merekalah sosok Ayah dan Anak yang memiliki ketaqwaan yang sangat tinggi kepada Allah SWT.

Begitupun dengan Aqiqah yang memiliki teknis ibadah sama seperti qurban, yaitu menyembelih hewan qurban. Berikut adalah penjelasan mengenai Ibadah Qurban dan Aqiqah.

Pelaksanaan Ibadah Qurban

Ibadah qurban memiliki hukun sunnah muakad yang artinya sunnah yang sangat dianjurkan. Untuk itu bagi mereka yang mampu sangat dianjurkan untuk berqurban dan memberikan sebagian hartanya untuk ibadah qurban. Namun bagi mereka yang tidak mampu dan belum bisa untuk berqurban tentu tidak lah menjadi berdosa.

Di sisi lain menurut ulama mahzab Imam Hanafi, Ibadah Qurban bisa berhukum wajib bagi mereka yang mampu. Hal ini didasari dengan hadist berikut, “Siapa yang memiliki kelapangan tapi tidak menyembelih qurban, janganlah mendekati tempat shalat kami.” (HR  Ahmad, Ibnu Majah dan Al Hakim).

Selain itu, pahala bagi yang berkurban juga tentunya sangat besar, apalagi merupakan ibadah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. “Zaid bin Arqam bertanya kepada Rasulullah saw.“Apakah yang kita peroleh dari berqurban? “Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya pada setiap bulu yang menempel di kulitnya terdapat kebaikan.”(HR Ahmad dan Ibnu Majah)ibadha

Adapun fungsi dari Ibadah Qurban adalah:

    Menjadikan bentuk bukti dan realisasi dari Ketaqwaan kita terhadap Allah

    Mendekatkan kepada Allah SWT dengan ibadah

    Mengenang dan kilas balik sejarah Nabi Ibrahim dan Putranya, Nabi Ismail

Untuk Ibadah yang dikurbankan tentu bisa bermacam-macam seperti unta, sapi,dan kambing. Hewan yang berkelamin jantan lebih diutamakan ketimbang hewan betina. Selain itu juga lebih utama dari hewan yang tidak dikebiri dibanidngkan hewan yang dikebiri.

Syarat-Syarat Penyembelihan Hewan Qurban

Hewan qurban maka hendaknya dilpilih dengan binatang yang baik. Rasulullah mengutamakan hewan jika kambing, adalah yang besar, gemuk, dan bertanduk. Sedangkan pemilihan hewan tidaklah boleh hewan yang cacat misalnya hewan yang buta, hewan yang sakit, pincang, kurus atau tidak  berdaging. Tentu hewan seperti itu tidak layak nantinya untuk dikonsumsi bagi manusia. Terkait usia hewan yang akan disembelih minimal 5 tahun untuk Unta, 1 tahun untuk kambing, dan 2 tahun untuk sapi.

Untuk hewan kambing maka ia telah merepresentasikan satu orang peng-qurban, dan jika untuk sapi atau kerbau maka untuk 7 orang peng-qurban. Seangkan untuk unta bisa untuk 10 orang. Tekait waktu penyembelihan maka dilakukan pada saat Idul Adha selepas shalat ied dilaksanakan, sampai tanggal 13 djulhidjah yaitu saat hari-hari tasyrik.

Adapun syarat orang yang akan menyembelih, adalah:

    Diutamakan disembelih oleh orang yang berqurban (shahibul qurban)

    Boleh juga shahibul qurban menyaksikan saja tanpa harus ikut menyembelih

    Pelaksanaan penyembelihan diutamakan oleh seorang laki-laki ataupun perempuan, namun yang muslim dan sudah baligh

 

Terkait adab penyembelihannya adalah sebagai berikut:

    Penyembelihan menggunakan alat yang tajam dan dapat langsung mengalirkan darah

    Penyembelihan tidak boleh menggunakan gigi atau kuku

    Pemotongan dilakukan pada urat nadi yang berada di leher, tenggorokan, atau kerongkorongan agar hewan cepat mati, tidak tersiksa

    Penyembelihan hewan hendaknya dihadapkankepada kiblat sambil membaca basmalah dan takbir

    Pada situasi terent yang membuat hewan menjadi liar atau bersembunyi dipebrolehkan untuk menggunakan benda tajam yan langsung mematikan

Setelah pelaksanaan penyembelihan maka dapat dilakukan pembagian qurban. Daging kurban dapat dibagikan untuk penyembelih qurban atau pengqurban atau shahibul qurban, fakir miskin, sahabat atau kolega dari shahibul qurban. Daging kurban hasil penyembelihan tidak boleh digunakan untuk upah baik untuk pemotong ataupun amil-nya. Bagian kulit, kepala, atau apapun dari tubuh hewan tidak boleh dijadikan sebagai upah, maka lebih baik diberikan upah dari harta yang lain di luar hal tersebut.

Pembagian hewan qurban juga lebih baik dibagikan dalam keadaan mentah atau belum dimasak, dan pembagian ini tidak dilarang untuk dibagikan kepada non muslim.

Pelaksanaan Aqiqah

Aqiqah hampir sama pelaksanaannya sebagaimana kurban. Yang menjadi perbedaan aqiqah adalah sembelihan untuk bayi yang baru dilahirkan sebagai bentuk kesyukuran akan nikmat dan karunia dari Allah SWT. Aqiqah sendiri menurut Imam Syafii dan Hambali adalah sunnah muakad, yaitu yang dianjurkan. Hal ini sebagaimana dalam hadist Rasul,

“Anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR Tirmidzi)

Pelaksanaan aqiqah menurut Imam Malik adalah, “Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) atas dasar anjuran, maka sekiranya menyembelih pada hari ke 4 (empat) ke 8 (delapan), ke 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah itu telah cukup. Karena prinsip ajaran Islam adalah memudahkan bukan menyulitkan sebagaimana firman Allah Swt.: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. (QS Al Baqarah : 185)

Untuk pelaksanaan aqiqah berbeda dengan qurban, bahwa lebih baik daging aqiqah dibagikan dalam kondisi yang sudah dimasak, sebagaimana hadist Rasulullah SAW.

“Sunahnya dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh.” (HR  Baihaqi)

Untuk bayi laki-laki maka disunnahkan sebanyak dua ekor kambing sedangkan untuk perempuan adalah satu ekor kambing. Hal ini juga disampaikan Rasulullah SAW, “Bagi anak laki-laki dua ekor kambing yang sama, sedangkan bagi anak perempuan satu ekor kambing.” (HR Tirmidzi dan Ahmad)

Doa ketika menyembelih hewan aqiqah adalah sebagai berikut:

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin. Dengan nama Allah, ya Allah terimalah (kurban) dari Muhammad dan keluarga Muhammad serta dari umat Muhammad.”(HR Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud)

SALING MAAF MEMAAFKAN DALAM BINGKAI HALAL BI HALAL

Marilah kita mencoba memaknai saling maaf memaafkan dan halal bi halal sesama umat manusia. Alloh berfirman :

وَلِتُكْمِلُوْا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوْا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ﴿البقرة : 185﴾
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan Ramadlan dan hendaklah kamu (bertakbir) mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (al-Baqarah: 185)

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُواْ إِلاَّ بِحَبْلٍ مِّنَ اللهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ …. ﴿ال عمران : ١١٢﴾
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia…” (Ali Imran: 112)

عَنْ سَخْبَرَةَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنِ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ وَأُعْطِيَ فَشَكَرَ وَظُلِمَ فَغَفَرَ وَظَلَمَ فَاسْتَغْفَرَ أُوْلَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُوْنَ (رواه الطبراني في الكبير رقم 6482 والبيهقي في شعب الايمان رقم 4117)
“Diriwayatkan dari Sakhbarah bahwa Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa diberi cobaan kemudian bersabar, diberi nikmat kemudian bersyukur, dianiaya kemudian memaafkan, dan berbuat dzalim kemudian meminta maaf, maka merekalah yang mendapatkan kedamaian dan merekalah yang mendapat hidayah” (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 6482 dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 4117)

Muqaddimah
ADA sebuah tradisi kreatif khas masyarakat Muslim Tanah Air, yaitu Halal bi Halal. Satu kebiasaan yang hanya ada di negeri kita. Halal bi Halal muncul sebagai ungkapan saling menghalalkan kesalahan dan kekhilafan. Saling memaafkan satu sama lain. Setiap orang sadar tidak ada yang lepas dari kesalahan. Manusia tempatnya salah dan lupa. Idul Fitri dengan kegiatan Halal bi Halal-nya, membuat umat Islam melebur kesalahannya dengan berbagi maaf tanpa sekat yang membatasi.
Asal Muasal Halal bi Halal ?
Jika ditinjau secara etimologis Bahasa Arab, hemat penulis, istilah Halal bi Halal tidaklah patut disalahkan. Meskipun istilah ini asli made in Indonesia dan tidak di kenal di dunia Arab, apalagi di dunia Islam lainnya, namun tidaklah meniscayakan istilah ini tidak benar secara Arabic. Dalam ilmu Bahasa Arab sering dijumpai teori izhmâr (sisipan spekulatif pada kalimat). Setidaknya ada dua cara agar istilah Halal bi Halal ini benar secara bahasa dengan pendekatan teori tersebut.

Pertama Halal bi Halal menjadi: thalabu halâl bi tharîqin halâl; mencari kehalalan dengan cara yang halal. Kedua, halâl “yujza’u” bi halâl; kehalalan dibalas dengan kehalalan. Untuk yang kedua ini hampir sepadan dengan redaksi ayat al-Qur’an saat berbicara hukum qishâs “anna al-nafsa bi al-nafsi, wa al-‘aina bi al-‘aini; sesungguhnya jiwa dibalas dengan jiwa dan mata dibalas dengan mata” (QS. Al-Maidah: 45).
Merujuk kepada keterangan Prof Dr Quraish Shihab, bahwa istilah Halal bi Halal adalah bentuk kata majemuk yang pemaknaannya dapat ditinjau dari dua sisi: sisi hukum dan sisi bahasa. Pada tinjauan hukum, halal adalah lawan dari haram. Jika haram adalah sesuatu yang dilarang dan mengundang dosa, maka halal berarti sesuatu yang diperbolehkan dan tidak mengundang dosa. Dengan demikian, Halal bi Halal adalah menjadikan sikap kita terhadap pihak lain yang tadinya haram dan berakibat dosa, menjadi halal dengan jalan mohon maaf.
Pada perkembangannya, kegiatan ini ditiru oleh Ormas-Ormas Islam dengan nama Halal bi Halal. Kemudian ditiru juga oleh instansi-instansi tertentu. Kegiatan ini mulai ramai berkembang setelah pasca-Kemerdekaan RI. Dan biasanya dilaksanakan tidak hanya pada tanggal 1 Syawal saja, melainkan juga pada hari-hari berikutnya yang masih hangat dengan nuansa Idul Fitri.

Sedangkan pada tinjauan bahasa, kata halal yang darinya dapat terbentuk beberapa bentuk kata memiliki varian makna, antara lain: “menyelesaikan masalah”, “meluruskan benang kusut”, “melepaskan ikatan”, “mencairkan yang beku”, dan “membebaskan sesuatu”. Bahkan jika langsung dikaitkan dengan kata dzanbin; halla min dzanbin, akan berarti “mengampuni kesalahan”. Jika demikian, ber-Halal bi Halal akan menjadi suatu aktivitas yang mengantarkan pelakunya untuk menyelesaikan masalah dengan saudaranya, meluruskan hubungan yang kusut, melepaskan ikatan dosa dari saudaranya dengan jalan memaafkan, mencairkan hubungan yang beku sehingga menjadi harmonis, dan seterusnya. Kesemuanya ini merupakan tujuan diselenggarakannya Halal bi Halal.
Halal bi halal adalah salah satu bukti keluwesan ajaran Islam dalam implementasi nilai-nilai universalitasnya. Nilai universalitas silaturrahmi yang diajarkan bisa menjelma menjadi beragam acara sesuai dengan kearifan lokal masing-masing daerah, dengan catatan tetap mengindahkan norma-norma Islam yang sudah ditentukan. Maka tidak boleh tercampuri kemaksiatan apa pun dalam implementasinya.
Hikmahnya ?
Ada tiga pelajaran yang bisa kita petik dari kegiatan Halal Bi Halal.
Pelajaran pertama adalah pembersihan diri dari segala bentuk kesalahan. Ibarat pemudik yang pulang ke kampung halamannya setelah sekian tahun merantau ke negeri seberang. Dalam perjalanan itu tidak sedikit ia isi dengan kesalahan, seperti lupa salat, lalai menunaikan janji setia kepada Allah, lupa berdzikir, bersikap angkuh atau berlaku aniaya kepada diri sendiri.
Pelajaran kedua dari Halal bi Halal adalah membersihkan hati dari rasa benci kepada sesama. Pada suatu hari, ketika Nabi SAW tengah duduk-duduk dengan para sahabatnya, ada seorang pria asing berjalan di hadapan mereka. Orang itu berjalan lalu pergi entah ke mana.
Setelah pria asing itu berlalu, Nabi berkata kepada para sahabat, “Dialah ahli surga.” Kalimat itu beliau ucapkan tiga kali. Sahabat Abdullah bin Umar penasaran tentang amal perbuatan yang dikerjakannya sampai sampai Nabi menyematinya sebagai ahli surga. Abdullah memutuskan untuk menyusul si “ahli surga” di kediamannya. Abdullah minta izin menginap selama 3 hari di rumahnya. Pria ini memberinya izin. Ternyata selama 3 hari itu Abdullah tidak melihat amalan-amalannya yang istimewa. Abdullah semakin penasaran.
Akhirnya ia bertanya, “Wahai saudaraku, sewaktu engkau lewat di hadapan kami, Rasulullah berkata bahwa engkau adalah ahli surga. Amalan apa yang engkau kerjakan sehingga Rasul sangat memuliakanmu?” Pria sederhana ini menjawab, “Sesungguhnya aku tidak pernah melakukan apa-apa. Aku tidak punya ilmu dan harta yang bisa kusedekahkan. Aku hanya punya rasa cinta kepada Allah, Rasulullah dan sesama manusia. Setiap malam menjelang tidur, aku selalu berusaha menguatkan rasa cinta itu sekaligus berusaha menghilangkan rasa benci terhadap siapa saja.”
Pelajaran ketiga adalah memupuk kepedulian dan kebersamaan. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas dari pergaulan dan kebersamaan yang dibangun lewat sikap tolong-menolong. Muslim yang kaya membantu saudaranya yang miskin. Sepatutnya rasa gembira seseorang juga memberikan bentuk kenikmatan yang lain, yaitu kenikmatan bersyukur dengan berupaya membagi kebahagiaan itu kepada sesamanya. Kini, saatnya setiap Muslim membumikan berkah-berkah kesalehan Ramadhan dengan menebar rasa bahagia ke setiap orang, memupuknya, merawat dan menjaga agar mendapatkan buah indahnya ikatan persaudaraan.
Ikhtitam
Jika semua itu bisa kita lakukan, Allah berjanji dalam hadits Qudsi: “Cinta-Ku berhak (diperoleh) bagi orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, cinta-Ku berhak diperoleh bagi orang-orang mau saling memberi karena-Ku, cinta-Ku berhak diperoleh bagi orang-orang yang mau saling tolong menolong karena-Ku, cinta-Ku berhak diperoleh bagi orang-orang yang saling berlaku adil karena-Ku dan cinta-Ku berhak bagi orang-orang yang saling berziarah karena-Ku.”
Dengan deikian, hikmah halal bi halal dapat kita ambil hikmahnya baik ketika hidup di dunia maupun di akhirat kelak. Ketika di dunia hikmahnya adalah kehidupan di lingkungan masyarakat menjadi aman, damai dan menciptakan ketertiban dalam beragama dan bernegara. Ketika di akhirat, akan meringankan beban kita dari hak-hak dan kewajiban terhadap sesama manusia.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H. Mohon maaf lahir dan batin.

Minal ‘Aidin wal Faizin, Amin

KEUTAMAAN KEUTAMAAN NIKAH DALAM HADITS NABI SAW.

{الباب الخامس والعشرون}:

في فضيلة النكاح

 قال النبي عليه الصلاة والسلام: {التَّزْويجُ بَرَكةٌ والوَلدُ رَحْمَةٌ  فَأَكْرموا أوْلاَدَكُمْ فإنَّ كَرَامَةَ الأولادِ عِبَادَةٌ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Nikah itu berkah dan anak itu rahmat maka mulyakanlah anak-anak  kalian karena sesungguhnya memulyakan anak itu adalah ibadah.”

وقال عليه الصلاة والسلام: {النِّكَاحُ سُنَّتِي فَمنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فليس مني}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Nikah itu sunnahku maka barangsiapa benci sunnahku maka tidak termasuk golonganku.”

وقال عليه الصلاة والسلام: {الحَرَائِرُ صَلاحُ البَيْتِ والإماءُ فَسَادُ البَيْتِ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Wanita-wanita merdeka itu kemaslahatan rumah. Wanita-wanita budak itu kehancuran rumah. “

وقال عليه الصلاة والسلام: {مَنْ أرَادَ أنْ يَلْقَى الله طَاهِرا مُطَهَّرا فَلْيَتَزَوَّجِ الحَرائِرَ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa ingin berjumpa Allah dalam keadaan suci dan disucikan maka nikahilah wanita-wanita merdeka.”

وقال عليه الصلاة والسلام: {التَمِسُوا الرِّزْقَ بالنِّكَاحِ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Carilah rizki dengan menikah “

وقال عليه الصلاة والسلام: {مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدْ أُعْطي نِصْفَ العِبَادَةِ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : ” Barang siapa menikah maka dia benar-benar telah diberi separuh ibadah.”

وقال عليه الصلاة والسلام: {شِرَارُكُمْ عُزَّابُكُم}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : ” Seburuk-buruk kalian adalah kebujangan kalian. “.

وقال صلى الله عليه وسلم: {شِرَارُكُمْ عُزَّابُكُمْ وَأَرَاذِلُ مَوْتَاكُمْ عُزَّابُكُمْ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : ” Seburuk-buruk kalian adalah kebujangan kalian dan sehina-hina kematian kalian adalah mati membujang “.

وقال عليه الصلاة والسلام: {شِرَارُكُمْ عُزَّابُكُمْ رَكْعَتَانِ مِنْ  مُتَأَهّلٍ خَيْرٌ مِنْ سَبْعِينَ رَكْعَةً مِنْ غَيْر مُتَأَهِّلٍ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : ” Seburuk-buruk kalian adalah kebujangan kalian, Dua raka`at dari  orang yang berkeluarga lebih baik daripada tujuhpuluh raka`at dari orang  yang tidak berkeluarga”.

وقال عليه الصلاة والسلام: {مَا أطْعَمْتَ زَوجَتَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Makanan yang engkau berikan kepada istrimu adalah sedekah bagimu”.

Wallohu a’lam.

MAHAR NIKAH DALAM KETENTUAN SYARI’AT ISLAM

Tidak ada ketentuan syara’ dalam ukuran maksimal atau minimal jumlah mahar, yang menjadi pertimbangan dalam kadarnya adalah kerelaan dan kesepakatan sepasang calon suami istri meski kadarnya kemudian dianggap lebih rendah atau lebih tinggi dari kadar mahar mitsil namun yang paling baik ukurannya adalah yang sewajarnya.

فَصْلٌ : فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ أَقَلَّ الْمَهْرِ وَأَكْثَرَهُ غَيْرُ مُقَدَّرٍ ، فَهُوَ مُعْتَبَرٌ بِمَا تَرَاضَى عَلَيْهِ الزَّوْجَانِ مِنْ قَلِيلٍ وَكَثِيرٍ ، وَسَوَاءٌ كَانَ أَكْثَرَ مِنْ مَهْرِ الْمِثْلِ أَوْ أَقَلَّ ، إِذَا كَانَتِ الزَّوْجَةُ جَائِزَةَ الْأَمْرِ . فَإِنْ كَانَتْ صَغِيرَةً زَوَّجَهَا أَبُوهَا هل يجوز أَنْ يُزَوِّجَهَا بِأَقَلَّ مِنْ مَهْرِ مِثْلِهَا ، لَمْ يَجُزْ أَنْ يُزَوِّجَهَا بِأَقَلَّ مِنْ مَهْرِ مِثْلِهَا : لِأَنَّهُ مُعَاوِضٌ فِي حَقِّ غَيْرِهِ فَرُوعِيَ فِيهِ عِوَضُ الْمِثْلِ كَمَا يُرَاعَى فِي بَيْعِهِ لِمَالِهَا ثَمَنُ الْمِثْلِ ، وَإِنْ لَمْ يُرَاعِ ذَلِكَ فِي بَيْعِهَا لِنَفْسِهَا . وَالْأَوْلَى أَنْ يَعْدِلَ الزَّوْجَانِ عَنِ التَّنَاهِي فِي الزِّيَادَةِ الَّتِي يَقْصُرُ الْعُمُرُ عَنْهَا ، وَعَنِ التَّنَاهِي فِي النُّقْصَانِ الَّذِي لَا يَكُونُ لَهُ فِي النُّفُوسِ مَوْقِعٌ ، وَخَيْرُ الْأُمُورِ أَوْسَاطُهَا . وَأَنْ يُقْتَدَى بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مُهُورِ نِسَائِهِ طَلَبًا لِلْبَرَكَةِ فِي مُوَافَقَتِهِ ، وَهُوَ خَمْسُمِائَةِ دِرْهَمٍ عَلَى مَا رَوَتْهُ السَّيِّدَةُ عَائِشَةُ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا . وَقَدْ جَعَلَ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ مَرْوَانَ مُهُورَ الشَّرِيفَاتِ مِنْ نِسَاءِ قَوْمِهِ أَرْبَعَةَ آلَافِ دِرْهَمٍ : اقْتِدَاءً بِصَدَاقِ أُمِّ حَبِيبَةَ . وَقَدْ رَوَى مُجَاهِدٌ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : خَيْرُهُنَّ أَيَسَرُهُنَّ صَدَاقًا . وَرُوِيَ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : ” أَعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أَحْسَنُهُنَّ وَجْهًا وَأَقَلُّهُنَّ مَهْرًا ” .

PASAL

Tidak terdapat ketentuan pada kadar minamal dan maksimal pada mahar, yang menjadi pertimbangan dalam kadarnya adalah kerelaan dan kesepakatan sepasang calon suami istri meski kadarnya kemudian lebih rendah atau tinggi dari kadar mahar mitsil (mahar yang menjadi ukuran keluarga mempelai wanita yang dijadikan standar dalam akad nikah).

Yang demikian bila memang calon istri termasuk orang yang mendapatkan kewenangan dalam mengurusi perkaranya, sedang bila ia masih kecil dan dinikahkan oleh walinya maka tidak diperkenankan walinya menikahkannya dengan menggunakan mahar yang paling rendah dari mahar mitsil…

Yang lebih utama dalam penentuan mahar hendaknya dengan berbagai pertimbangan berikut :

  1. Tidak terlampau tinggi hingga tidak mungkin mahar tersebut terwujud meskipun dengan usaha semaksimal mungkin dan menghabiskan masa hidup
  2. Tidak terlampau rendah hingga tidak akan pernah terjadi kadar mahar yang ditentukan selain pada pernikahan mereka, tentukan mahar dengan ukuran sewajarnya dan kadar yang sedang karena paling utamanya sesuatu adalah yang paling sedang
  3. Mengikuti kadar mahar rasulullah SAW saat menikahi ‘Aisyah Ra, yaitu 500 Dirham (1 Dirham = -+ Rp 2.462,37)
  4. Adalah Abdul malik Bin Marwan menentukan 4000 Dirham saat berkeinginan menikahi wanita-wanita Syarifah dikalangannya dengan mengikuti maharnya Umi Habibah
  5. Diriwayatkan dari Mujahid dari Ibn Abbas ra, Rasulullah SAW bersabda “Paling baiknya mereka (kaum wanita) adalah yang paling ringan mas kawinnya”, beliau juga bersabda “Paling agungnya keberkahan pada diri kaum wanita adalah yang elok parasnya dan sedikit mas kawinnya”.

Al-Haawy Fi Fiqh as-Syaafi’i IX/400

SUNNAH MEMBERIKAN MAHAR LEBIH DARI 10 DIRHAM

وَيُسْتَحَبُّ أَنْ لَا يَنْقُصَ عَنْ عَشَرَةِ دَرَاهِمَ خَالِصَةٍ، لِأَنَّ أَبَا حَنِيفَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – لَا يُجَوِّزُ أَقَلَّ مِنْهَا، وَأَنْ لَا يُزَادَ عَلَى خَمْسِمِائَةِ دِرْهَمٍ خَالِصَةٍ صَدَاقِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِأَزْوَاجِهِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ عَنْ عَائِشَةَ

Dalam memberikan mahar itu di sunahkan tidak kurang dari 10 dirham murni, (1 dirham = 2,7 gram perak),Karena menurut imam Abu Hanifah mahar tidak boleh kurang dari 10 dirham, dan di sunahkan tidak melebihi 500 dirham murni, yaitu mahar Rosululloh untuk istri-istrinya sebagaimana yang ada dalam haditsnya imam Muslim dari Sayyidah ‘Aisyah.

Ibarot dari al-Mahalli 3/277,

Sebelum ibarot itu di katakan, bahwa :

Apa saja yang boleh di jual belikan maka boleh di jadikan sebagai mahar.

Wallu a’lam

MENGENAL LEBIH JAUH ANTARA SHILATURRAHIM DAN SHILATURRAHMI

Ibnu Jarin berkata :

Bahwa Rosululloh Saw. Menjelaskan tentang firman Alloh yang berbunyi :

“Apabila telah di tunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Alloh”.(QS. Al Jumu’ah ayat 10)

Lalu Rosululloh Saw bersabda :

“Bukan untuk mencari harta, akan tetapi untuk menjenguk orang sakit, menghadiri jenazah dan berkunjung ke rumah saudara kita seiman”.

أَخْرَج ابنُ جرين قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم في قَوْلِهِ تَعَالَى ( فَإِذَاقُضِيَةِ الصّلَاةُ فَانْتَشِرُوْافِي الْأَرْضِ) قَالَ لَيْسَ لِطَلِبِ دِيْنَارٍ لَكِنْ لِعِيَادَةِ مَرِيْضٍ وَحُضُوْرِ جَنَازَةٍ وَزِيَارَةِ أَخٍ فِيْ اللهِ

ada ayat al-qur’an yang menganjurkan pentingnya silaturrahim

(( إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْأِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ)) (النحل:90).

وقال سبحانه وتعالى : (( فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ * أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ)) (محمد:23).

Adapun shilaturrohmi atau shilaturrohim mana yang benar keduanya sama-sama benar.

Essensinya sama yakni shilah (صلة) menyambung dan rahim (الرحيم ) jamaknya arham. Bisa dirujuk ke ilmu bahasa ada polisemi, hipernim dan hiponim.

Misalnya poliseninya kue, maka hipernimnya donat, kucur, jemblem dan lain-lain. odol misalnya, hipernimnya pepsodent, ritadent, dll.من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليصل رحمه man kaana yu’minu billahi wal yaumil akhir fal yashil rahimau (sesiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir maka hendaklah silaturrahim) hadis riwayat bukhoriمن احب ان يـبسط له فى رزقه وينسأ له فى اثره فليصل رحمه (متفقن عليه)

Artinya: Sesiapa yang ingin dimurahkan rezkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia bersilaturrahmi

penjelasan kata ro, ha, mim (رحم )

Ada dua bacaan (1) dibaca rohm dan (2) rihm

Menurut Ibn Manzur dalam lisan al-arab jilid 12, hal. 232, makna رحم adalah kerabat dekat, adapun menurut al-Raghib adalah peranakan tempat bersemanyamnya anak.

(١) قال ابن منظور في لسان العرب ١٢ / ٢٣٢: الرحم (بفتح الراء وكسر الحاء) أسباب

القربة، وأصلها الرحم التي هي منبت الولد، وهي الرحم (بكسر الراء وسكون الحاء)

. الجوهري: الرحم القرابة، والرحم بالكسر مثله.

Dari berbagai sumber kamus bahasa makna ro, ha’ mim, mengandungi 22 makna

(1)

رحم:

ر ح م: الرَّحْمَةُ الرقة والتعطف و المَرْحَمَةُ مثله وقد رَحِمَهُ بالكسر رَحْمَةً و مَرْحَمَةً أيضا و تَرَحَّمَ عليه و تَرَاحَمَ القوم رَحِمَ بعضهم بعضا و الرَّحَمُوتُ من الرحمة يقال رهبوت خير من رحموت أي لأن تُرهَب خير من أن تُرحَم و الرَّحِمُ القرابة والرحم أيضا بوزن الجسم مثله و الرَّحْمنُ الرَّحِيمُ اسمان مشتقان من الرحمة ونظيرهما نديم وندمان وهما بمعنى ويجوز تكرير الاسمين إذا اختلف اشتقاقهما على وجه التأكيد كما يقال فلان جاد مجد إلا أن الرحمن اسم مختص بالله تعالى ولا يجوز أن يسمى به غيره ألا ترى أنه سبحانه وتعالى قال {قل ادعوا الله أو ادعوا الرحمن} فعادل به الاسم الذي لا يشركه فيه غيره وكان مسيلمة الكذاب يقال له رَحْمَانُ اليمامة و الرَّحِيمُ قد يكون بمعنى المرحوم كما يكون بمعنى الراحم و الرُّحْمُ بالضمة الرحمة قال الله تعالى {وأقرب رحما} و الرُّحُمُ بضمتين مثله

المعجم: مختار الصحاح

(2)

رحم : مرحوم:

اسم مفعول من رحِمَ.

  • المرحوم: الميِّت (تفاؤلاً بتمتعه برحمة الله وعفوه) “ذكرى وفاة المرحوم فلان”.

المعجم: اللغة العربية المعاصر

(3)

رحم : رُحْمى:

رحمة، رقَّة القلب وعطف يقتضي المغفرة والإحسان “رُحْماك ياربّ: ارحمني”.

المعجم: اللغة العربية المعاصر

(4)

رحم : رحِمَ يَرحَم، رَحمةً ورُحْمًا، فهو راحِم، والمفعول مَرْحوم:

  • رحِم يتيمًا

رقَّ له وعطَف عليه “ضربه بلا رحمة ولا شفقة- كان يوم فتح مكة يوم الرَّحمة- ارْحَمُوا مَنْ فِي الأرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ [حديث]- {كَتَبَ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ}: أوجبها على نفسه كرمًا منه وفضلاً- {وَأَقْرَبَ رُحْمًا} “.

  • رحِم اللهُ فلانًا: تعطَّف عليه وأحسن إليه ورزقه ” {وَإلاَّ تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ} ” ° رحِمه الله/ الله يرحمه: دعاء للميِّت- يرحمك الله: تشميت للعاطس.

المعجم: اللغة العربية المعاصر

(5)

رحم : رُحْم:

1 – مصدر رحِمَ.

2 – علاقة القرابة وسببها ” {فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا} “.

المعجم: اللغة العربية المعاصر

(6)

رحم : رَحيم:

ج رحيمون ورُحَماء: صيغة مبالغة من رحِمَ: كثير الرّحمة والشفقة “أبٌ/ شيخٌ رحيم- إنه حاكم عادل بين الناس، رحيم بالضعفاء- {أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ} “.

  • الرَّحيم: اسم من أسماء الله الحسنى، ومعناه: الرَّفيق بالمؤمنين، والعاطف على خلقه بالرِّزق، والمثيب على العمل ” {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} “.
  • القتل الرَّحيم: إنهاء حياة المرضى الميئوس من شفائهم طبِّيًّا.

المعجم: اللغة العربية المعاصر

(7)

رحم : رَحْمَن:

  • الرَّحمن

1 – اسم من أسماء الله الحسنى، ومعناه: ذو الرَّحمة التي لا غايةَ بعدها في الرّحمة، الذي وسعت رحمتُه كلَّ شيء، الذي يُزيح العلل ويُزيل الكروب، العطوفُ على عباده بالإيجاد أوّلاً، وبالهداية إلى الإيمان وأسباب السّعادة ثانيًا، وبالإسعاد في الآخرة ثالثًا، المنعِمُ بما لا يُتصوَّر صدورُ جنسه من العباد ” {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} “.

2 – اسم سورة من سور القرآن الكريم، وهي السُّورة رقم 55 في ترتيب المصحف، مدنيَّة، عدد آياتها ثمانٍ وسبعون آية.

المعجم: اللغة العربية المعاصر

(8)

رحم : رَحْمَة:

ج رَحَمات (لغير المصدر) ورَحْمات (لغير المصدر):

1 – مصدر رحِمَ ° الرَّحمة: نداء لالتماس المغفرة والصفح أو لاستثارة الشفقة- تغمَّده الله برحمته/ انتقل إلى رحمة الله: تُوفِّي، مات- ملائكة الرَّحمة: كناية عن الممرِّضات- وضَعه تحت رحمته/ جعله تحت رحمته: تحكَّم فيه.

2 – خير ونعمة ” {وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ} “.

المعجم: اللغة العربية المعاصر

(9)

رحم : رَحِميَّة:

اسم مؤنَّث منسوب إلى رَحِم: “أواصر/ التهابات رحميّة”.

  • نزعة رحمِيَّة: نزعة تميل إلى إيجاد علاقة قويَّة ومتينة تجمع بين الأشخاص أو الأشياء.

المعجم: اللغة العربية المعاصر

(10)

رحم : رَحِم:

ج أَرحام، مؤ رَحِم، ج مؤ أَرحام:

1 – قرابة أو أسبابها “ونحن في الشرق والفصحى بنو رحمٍ … ونحن في الجُرح والآلام إخوانُ- إِنَّ أَعْمَالَ بَنِي آدَمَ تُعْرَضُ كُلَّ خَمِيسٍ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَلاَ يُقْبَلُ عَمَلُ قَاطِعِ رَحِمٍ [حديث]- {فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ} ” ° أولو الأرحام/ ذوو الأرحام: الأقارب الذين ليسوا من العَصَبة ولا من ذوي الفروض، كبنات الإخوة وبنات الأعمام- صِلَة الرَّحِم: زيارة الأقارب والإحسان إليهم، وعكسها قطيعة الرَّحم.

2 – (حي، شر) عضو عضليّ أجوف غليظ الجدار يوجد في بطن الثدييات، وفيه يتكوّن الجنين وينمو إلى أن يُولد (يذكَّر ويؤنَّث) ” {هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ} “.

  • حلقتا الرَّحم: (طب) حلقة على فم الفرج عند طرفه والحلقة الأخرى تنضمّ على الماء وتنفتح للحَيْض.

المعجم: اللغة العربية المعاصر

(11)

رحم : رَحُوم:

صيغة مبالغة من رحِمَ: كثير الرَّحمة (للمذكر والمؤنث).

المعجم: اللغة العربية المعاصر

(12)

رحم : رَحَموت:

شفقة ورحمة عظيمة “رَهبوتٌ خيرٌ لك من رَحَمُوت [مثل]: لأن تُرهَبَ خيرٌ لك من أن تُرْحَمَ لأن الذي يخافه النَّاس يقتضي أن يكون ع

Adapun pecahan kalimat ro’ ha’ mim ( رحم ) sebagai berikut :

(1) الرَّحْمة (2) المرْحَمَةُ (3) مَرْحومٌ (4)الرَّحْمَنُ (5)الرحيم(6)راحِمٌ (7) رَحِمٌ (8) رُحُماً (9) الرِحْمُ (10) الرُّحْمُ

Kesimpulannya, dari aspek semiotika-leksikografi perkataan silaturahmi mempunyai arti sama dengan silaturahim hanya saja penyebutan silaturahmi kurang tepat dan yg tepat silaturrahim.sungguhpun ini hanya ijtihad lughawi, klau lepat mohon ngapuro. suwun.

Adapun perkataan silah (صلة) asal kata وصل يصل وصلا atau وصل يصل صلة yang bermakna sambung ( الوصل) lawan darpada putus (ضد القطع).

 Pada pendapat Ibn Athir yang dimaksud dgn صلة الرحم adalah berbaik-baik kepada kerabat dekat yang masih ada hubungan keluarga

( يقول الإمام ابن الأثير : صلة الرحم هي الإحسان الى الأقربين من ذوي النسب