MAKSUD TAWAKKAL DALAM URUSAN REZEKI

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupi (kebutuhan)nya” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Teks Hadits

عن عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ إِنَّهُ سَمِعَ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ((لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا)). رواه الترمذي، وَقالَ: (حديث حسن).

Artinya: Dari ‘Umar bin Khaththab rd bahwa beliau pernah mendengar Nabi bersabda: “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Dia (Allah) akan memberi kalian rizki sebagaimana Allah memberi rizki kepada burung, ia (burung) keluar di waktu pagi dalam keadaan perut kosong dan pulang di waktu sore dalam keadaan kenyang.”

(HR. Tirmidzi dan beliau berkata hadits ini hasan)

رقم الحديث: 24(حديث مرفوع) أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ بْنِ نَظِيفٍ الْفَرَّاءُ , قِرَاءَةً عَلَيْهِ , وَأَنَا أَسْمَعُ , قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي الْمَوْتِ , إِمْلاءً فِي سَنَةِ تِسْعٍ وَأَرْبَعِينَ وَثَلاثِ مِائَةٍ , قَالَ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ الصَّائِغُ , قَالَ : حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ , قَالَ : حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ , قَالَ : حَدَّثَنِي حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ , عَنْ بَكْرِ بْنِ عَمْرٍو , عَنْ أَبِي هُبَيْرَةَ , عَنْ أَبِي تَمِيمٍ الْجَيْشَانِيِّ , عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ : ” لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا ” .

Ibnu Rojab dalam Jami’ul ‘ulumi wal hikam

Hakikat Tawakal

وحقيقة التوكل : هو صدق اعتماد القلب على الله عز وجل في استجلاب المصالح ، ودفع المضار من أمور الدنيا والآخرة كلها ، وكلة الأمور كلها إليه ، وتحقيق الإيمان بأنه لا يعطي ولا يمنع ولا يضر ولا ينفع سواه .

Hakikat tawakal adalah hanya bersandar kepada Allah dalam usaha menarik kemanfaatan dan menolak kemadhoratan dari perkara yang sifatnya duniawi maupun ukhrowi.dengan landasan keimanan bahwa tidak ada yang bisa memberi,tidak bisa mencegah,tidak ada yang bisa mendatangkan madhorat dan tidak ada yang bisa memberi kemanfaatan kecuali Allah SWT.

واعلم أن تحقيق التوكل لا ينافي السعي في الأسباب التي قدر الله سبحانه المقدورات بها ، وجرت سنته في خلقه بذلك ، فإن الله تعالى أمر بتعاطي الأسباب مع أمره بالتوكل ، فالسعي في الأسباب بالجوارح طاعة له ، والتوكل بالقلب عليه إيمان به

Namun demikian,hakikat tawakal tidak menafikan makhluk dalam mencari sebab.karna Allah memerintahkan untuk mencari sebab dan memerintahkan bertawakalMencari sebab dengan badan adalah bagian taat kepada allah,sementara tawakal dalam hati sebagai bentuk keimanan kepada Allah

[ ص: 496 ] الحديث التاسع والأربعون . عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال : لو أنكم توكلون على الله حق توكله ، لرزقكم كما يرزق الطير ، تغدو خماصا ، وتروح بطانا رواه الإمام أحمد والترمذي والنسائي وابن ماجه وابن حبان في ” صحيحه ” والحاكم ، وقال الترمذي : حسن صحيح .

Syarah hadits

هذا الحديث خرجه هؤلاء كلهم من رواية عبد الله بن هبيرة ، سمع أبا تميم الجيشاني ، سمع عمر بن الخطاب يحدثه عن النبي – صلى الله عليه وسلم – ، وأبو تميم وعبد الله بن هبيرة خرج لهما مسلم ، ووثقهما غير واحد ، وأبو تميم ولد في حياة النبي – صلى الله عليه وسلم – ، وهاجر إلى المدينة في زمن عمر رضي الله عنه . وقد روي هذا الحديث من حديث ابن عمر عن النبي – صلى الله عليه وسلم – ، ولكن في إسناده من لا يعرف حاله . قاله أبو حاتم الرازي . وهذا الحديث أصل في التوكل ، وأنه من أعظم الأسباب التي يستجلب بها [ ص: 497 ] الرزق ، قال الله عز وجل : ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب ومن يتوكل على الله فهو حسبه [ الطلاق : 2 – 3 ] ، وقد قرأ النبي – صلى الله عليه وسلم – هذه الآية على أبي ذر ، وقال له : لو أن الناس كلهم أخذوا بها لكفتهم يعني : لو حققوا التقوى والتوكل ؛ لاكتفوا بذلك في مصالح دينهم ودنياهم . وقد سبق الكلام على هذا المعنى في شرح حديث ابن عباس : احفظ الله يحفظك . قال بعض السلف : بحسبك من التوسل إليه أن يعلم من قلبك حسن توكلك عليه ، فكم من عبد من عباده قد فوض إليه أمره ، فكفاه منه ما أهمه ، ثم قرأ : ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب وحقيقة التوكل : هو صدق اعتماد القلب على الله عز وجل في استجلاب المصالح ، ودفع المضار من أمور الدنيا والآخرة كلها ، وكلة الأمور كلها إليه ، وتحقيق الإيمان بأنه لا يعطي ولا يمنع ولا يضر ولا ينفع سواه . قال سعيد بن جبير : التوكل جماع الإيمان . وقال وهب بن منبه : الغاية القصوى التوكل . قال الحسن : إن توكل العبد على ربه أن يعلم أن الله هو ثقته . وفي حديث ابن عباس عن النبي – صلى الله عليه وسلم – ، قال : من سره أن يكون أقوى الناس ، فليتوكل على الله . [ ص: 498 ] وروي عنه – صلى الله عليه وسلم – أنه كان يقول في دعائه : اللهم إني أسألك صدق التوكل عليك ، وأنه كان يقول : اللهم اجعلني ممن توكل عليك فكفيته . واعلم أن تحقيق التوكل لا ينافي السعي في الأسباب التي قدر الله سبحانه المقدورات بها ، وجرت سنته في خلقه بذلك ، فإن الله تعالى أمر بتعاطي الأسباب م

Syarah Ringkas :

Tawakkal merupakan salah satu amalan hati yang agung lagi mulia yang mesti dimiliki oleh setiap muslim. Tawakkal berarti menyandarkan hati sepenuhnya kepada Allah dengan sebenar-benarnya dalam rangaka mendapatkan suatu manfaat atau meghindar dari suatu hal yang membahayakan dengan tidak mengabaikan sebab-sebab syar’i yang dapat mengantarkan kepada tujuan-tujuan tersebut. Jadi tawakkal itu tidak terlepas dari dua hal pokok yaitu menyandarkan hati sepenuhnya kepada Allah dan mengambil sebab-sebab yang dibolehkan oleh syari’at.

Dalam hadits di atas, Rasulullah telah menjelaskan dengan gamblang tentang pentingnya mengambil sebab-sebab untuk meraih suatu tujuan disamping kuatnya sandaran hati kepada Allah. Dimana beliau memberikan contoh dengan seekor burung yang keluar di waktu pagi dalam keadaan perut kosong kemudian pulang di waktu sore dalam keadaan kenyang. Artinya si burung telah mengambil sebab untuk medapatkan makanan yaitu keluarnya burung di waktu pagi.

Dan Rasulullah yang merupakan penghulunya orang-orang yang bertawakkal pun telah mempraktekkan tawakkal ini dalam bentuk nyata, seperti memakai baju besi ketika beliau ingin berperang, mengambil pemandu jalan, mengambil arah yang berbeda, bersembunyi di gua selama tiga hari ketika beliau hijarah ke Madinah. Semua itu beliau lakukan untuk menunjang dan melancarkan proses perjalanan hijrah beliau ke Madinah.

Faidah dan Hukum:

  1. Wajibnya bertawakkal kepada Allah dalam segala urusan kita.
  2. Penjelasan tentang hakikat tawakkal.
  3. Tawakkal adalah salah satu sarana untuk mendatangkan rizki.
  4. Allah adalah Rabb satu-satunya yang memberi dan mengelola rizki para makhluk-Nya.
  5. Tawakkal bukan berarti duduk berpangku tangan tanpa melakukan sebab yang kongkrit (nyata) seperti bekerja. Seperti burung yang keluar di waktu pagi dan kembali di waktu sore.

Wallohu a’lam bis showab

MENJILATI JARI SETELAH MAKAN DAN MAKAN SAMBIL MINUM

 INILAH ADAB-ADAB MAKAN

PERTANYAAN

Kalau sesudah makan kita disunatkan menjilati tangan kita, pertanyaannya :

  1. Memulai menjilatnya dari mana dulu, dari ibu jari dulu atau dari kelingking dulu ?

2. Bagaimana adab makan dan minum yang sesuai Rosululullah Shollallahu ‘alaihi wasallam ?

JAWABAN :

Ya, setelah makan sunnah menjilati jemari, DIAWALI JARI TENGAH, KEMUDIAN JARI TELUNJUK DAN TERAKHIR IBU JARI.

 BERIKUT BEBERAPA ADAB MAKAN :

  • Makan dengan jemari tangan

Disunahkan makan menggunakan tiga jemari tangan saat ia makan dengan memakai tangan, namun tidak masalah bila ia menggunakan alat semacam sendok atau lainnya.

  • Menjilat jemari seusai makan

Termasuk yang menjadi kesunahan setelah usai makan adalah menjilati jemari sebelum ia usap dengan sapu tangan (atau basuh dengan air) berdasarkan hadits :

1.Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Jika salah seorang diantaramu makan, maka hendaklah ia menjilati jari-jemarinya, sebab ia tidak mengetahui dari jemari mana munculnya keberkahan.” (HR. Muslim III/1607)

2.Bila salah seorang diantara kalian makan, Janganlah dia sapu tangannya dengan serbet sebelum dia jilati jarinya..” (HR. Bukhari-Muslim).

– Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah 45/272 :

الأَْكْل بِأَصَابِعِ الْيَدِ :

31 – يُسَنُّ الأَْكْل بِثَلاَثَةِ أَصَابِعَ ، هَذَا إِنْ أَكَل بِيَدِهِ ، وَلاَ بَأْسَ بِاسْتِعْمَال الْمِلْعَقَةِ وَنَحْوِهَا . (3)  وَالتَّفْصِيل فِي ( أَكْلٌ ف 17 ) .

لَعْقُ الأَْصَابِعِ بَعْدَ الأَْكْل :

32 – ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّ لَعْقَ الأَْصَابِعِ بَعْدَ الأَْكْل وَقَبْل الْمَسْحِ بِالْمَنْدِيل سُنَّةٌ ؛ لِمَا وَرَدَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَال : ” إِذَا أَكَل أَحَدُكُمْ فَلْيَلْعَقْ أَصَابِعَهُ ، فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي فِي أَيَّتِهِنَّ الْبَرَكَةُ ” (1) .

وَلِمَا وَرَدَ أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال : إِذَا أَكَل أَحَدُكُمْ طَعَامَهُ فَلاَ يَمْسَحْ يَدَهُ حَتَّى يَلْعَقَهَا أَوْ يُلْعِقَهَا (2) .

 (3) الإنصاف 8 / 121 .

(1) حديث : ” إذا أكل أحدكم فليلعق أصابعه . . ” أخرجه مسلم ( 3 / 1607 ) من حديث أبي هريرة .

(2) حديث : ” إذا أكل أحدكم طعاما . . ” أخرجه البخاري ( فتح الباري 9 / 577 ) ومسلم ( 3 / 1605 ) من حديث

Menurut Imam at-Thabraani dalam kitab al-Ausaath dari hadits riwayat Ka’b Bin ‘Ajrah ra dituturkan tatacara menjilati tangan seusai makan. ”Aku melhat Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam makan dengan menggunakan tiga jemarinya, ibu jari dan dua jari yang menyandinginya, kemudian aku melihat beliau menjilati ketiga jemarinya sebelum dibersihkan dengan sapu tangan, mulai dari jari yang tengah kemudian jari yang menyandinginya (telunjuk) kemudian ibu jari.

Berkata Guru Kami (al-‘Iraaqy) dalam kitab Syarh at-Tirmidzi “Rahasianya adalah :

1.Karena jari tengah paling kotor saat makan sebab ia jemari paling panjang karena sisa makanan yang ada padanya lebih banyak ketimbang dijemari lainnya

2.Saat seseorang menjilati jemarinya kemungkinan perut jemari menghadap pada wajahnya, oleh karena panjangnya jari tengah saat ada sisa makanan yang jatuh dari jari tengah berpindah kejari arah kanannya (telunjuk) dan dari jari telunjuk berpindah kearah ibu jari.

– Fath al-Bari IX/579 :

وقع في حديث كعب بن عجرة عند الطبراني في الأوسط صفة لعق الأصابع ولفظه رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يأكل بأصابعه الثلاث بالإبهام والتي تليها والوسطى ثم رأيته يلعق أصابعه الثلاث قبل أن يمسحها الوسطى ثم التي تليها ثم الإبهام قال شيخنا في شرح الترمذي كأن السر فيه أن الوسطى أكثر تلويثا لأنها أطول فيبقى فيها من الطعام أكثر من غيرها ولانها لطولها أول ما تنزل في الطعام ويحتمل أن الذي يلعق يكون بطن كفه إلى جهة وجهه فإذا ابتدأ بالوسطى انتقل إلى السبابة على جهة يمينه وكذلك الإبهام والله أعلم

– Faidh al-Qadir I/482 :

قال ابن العربي : وقد كانوا يلعقون ويمسحون ثم يغسلون ، وقد لا وكذا تفعل العرب لا تغسل يدها حتى تمسح.

وحكمته أن الماء إذا رد على اليد قبل مسحها ترك ما عليها من زفر ودسم وزاد قذرا ، وإذا مسحها لم يبق إلا أثر قليل يزيله الماء.

Ibn ‘Arabi berkata “Adalah kebiasaan orang mereka seusai makan, menjilati tangan, mengusapnya dengan sapu tangan dan mencuci tangannya, begitu juga kebiasaan orang arab mereka tidak mencuci tangannya sebelum ia mengusapinya dengan serbet”. Hikmahnya saat air cucian mengenai tangan yang belum diusapi dengan serbet kotoran dari sisa makanan sangatlah banyak hingga membuat air semakin keruh dan tanganpun tidak bersih berbeda saat dilap dengan serbet sebelumnya kotoran yang tersisa tinggalah sedikit yang dapat dijamin bersih dengan dicuci memakai air.

Tidak boleh makan sambil minum

JAWABAN :

Dianjurkan untuk tidak minum sebelum makan atau di tengah tengah makan kecuali tersedak atau sangat haus. Dalam kitab at tibh annabawy minum sebelum makan atau di tengah tengah makan dihukumi makruh entah makruh syar’i atau irsyadi (menurut kedokteran) dalam kitab yang sama juga dijelaskan bahwa yang paling utama adalah minum 1-2 jam setelah makan karena menurut ahli hikmah hal ini bisa menambah kecerdasan.  Wallahu’alam bi showab.

– Sab’ah Kutub Mufidah 145 :

(تتمة :في آداب الأكل و الشرب)يسن-إلى أن قال-و أن لا يكثر الشرب أثناء الطعام إلا إذا غص أو صدق عطشه~سبعة كتب مفيدة ١٤٥

Wallaahu A’lamu Bis Showaab.

CARA MENJELASKAN MASALAH KEAGAMAAN KEPADA ANAK-ANAK KITA

Bagaimana menjelaskan fenomena keagamaan, lengkap dengan pelbagai ragam pandang dan cara orang orang menggunakannya? Sebelum ke sana, kita tentu saja harus sepakat bahwa agama merupakan salah satu hal yang tidak dapat terlepas dari kehidupan manusia. Sejak dini, manusia dikenalkan dengan agama. Kemudian, agama menjadi salah satu identitas yang melekat pada setiap diri manusia dan diwujudkan dalam berbagai bentuk ritual peribadatan dan doa. Meskipun agama berasal dari Tuhan dan diyakini kesempurnaannya, agama tetap tidak dapat terlepas dari masalah. Masalah ini muncul akibat dari agama diyakini dan dipraktikkan oleh manusia, dan manusia memiliki kapasitas yang berbeda-beda dalam menjalankan agama. Oleh karena itu, muncul banyak pendapat dalam satu permasalahan dalam agama.

Banyaknya penafsiran akan permasalahan agama ini kemudian memunculkan perdebatan. Terlebih ketika jaman sudah semakin menjauhi jaman Nabi, namun permasalahan keagamaan yang muncul semakin kompleks. Di era teknologi saat ini, perdebatan tidak dapat dielakkan. Dengan semakin mudahnya akses informasi menggunakan teknologi, tema-tema agama yang menjadi bahan perbincangan tersebut semakin mudah didapatkan, terlebih oleh anak-anak.

Ketika anak-anak mendapatkan informasi perdebatan tentang permasalahan agama namun tidak mendapatkan respons yang semestinya dari pihak orang dewasa, maka dikhawatirkan akan diserap secara kurang tepat. Penyerapan informasi yang kurang tepat tanpa adanya filter dan penjelasan, maka mengakibatkan kerentanan terhadap pembentukan sikap dan perilaku yang kurang bijak. Terlebih ketika mengingat salah satu karakteristik anak adalah mudah mengingat dan cenderung menganggap apapun yang masuk ke otaknya pertama kali sebagai bekal dan pedoman bertindak. Menurut Walter Houston Clark (1958) dalam bukunya yang berjudul The Psychology of Religion: An Introduction to Religious Experience and Behavior menjelaskan bahwa salah satu ciri sikap keagamaan anak adalah imitatif.

Artinya, anak suka meniru sikap keagamaan yang dilihatnya di kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, dibutuhkan pendampingan dan keterampilan dari pihak dewasa untuk dapat menjelaskan kepada anak. Untuk dapat menjelaskan, maka pihak dewasa hendaknya memahami karakteristik jiwa keagamaan pada anak terlebih dahulu.

Menurut Ernest Harms (1944) dalam artikel jurnal yang berjudul The Development of Religious Experience in Children bahwa perkembangan pengalaman beragama pada anak melalui tiga tahapan. Pertama, The Fairy-Tale Stage. Tahapan ini dimulai ketika anak berusia 3 tahun dan berakhir ketika anak berusia 6 tahun. Pada tahapan ini, konsep mengenai Tuhan dan agama lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi anak, sehingga anak membayangkan Tuhan dan agama layaknya dunia fisik. Kedua, The Realistic Stage. Tahapan ini dimulai ketika anak berkisar usia 7 tahun sampai usia remaja. Pada tahapan realistic, seorang anak sudah mengkonsepsikan Tuhan dan agama berdasarkan kenyataan akibat dari bimbingan orang di sekitarnya (misalkan orang tua dan keluarga) dan juga pengaruh lembaga-lembaga keagamaan. Ketiga, The Individual Stage. Pada tahapan ini, seorang anak memiliki kepekaan emosi yang paling optimal dibandingkan masa sebelumnya dan sesuai dengan perkembangan usia kronologisnya.

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka salah satu cara menjelaskan fenomena keagamaan pada anak adalah dengan menyesuaikan penjelasan fenomena keagamaan berdasarkan kapasitas dan kriteria perkembangan kognitif anak. Penyesuaian ini bisa dilakukan dengan cara menyederhanakan penjelasan tanpa mereduksi agama. Selain itu, menurut Jean Piaget (1954) dalam bukunya yang berjudul The Construction Of Reality In The Child dijelaskan bahwa perkembangan kognitif anak bersifat praoperasional (yang bersifat simbolik) dan operasional konkret (pemahaman yang berasal dari contoh atau hal konkret). Oleh karena itu, menjelaskan fenomena keagamaan bisa menggunakan cara pemisalan, atau mencontohkan peristiwa lain yang lebih sederhana namun memiliki unsur atau karakteristik yang sama.

Contoh, menjelaskan fenomena pembakaran bendera bertuliskan kalimat tahlil yang menjadi simbol bagi organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (yang diyakini sebagai rayah dan liwa’ oleh sebagian kelompok). Pihak dewasa hendaknya mencari unsur-unsur penting terlebih dahulu dari peristiwa tersebut. Misalkan, unsur pemakaian benda yang bukan miliknya untuk tujuan sendiri untuk menggambarkan ketidakpantasan sebagian kelompok yang menggunakan bendera tersebut untuk kepentingan kelompok. Unsur yang lain adalah memakai sesuatu bukan pada tempatnya untuk menggambarkan pemakaian bendera yang dianggap rayah dan liwa’ pada situasi damai (padahal penggunaan rayah dan liwa’ adalah dalam situasi perang). Setelah unsur-unsur tersebut ditemukan, maka pihak dewasa mencari perumpamaan peristiwa yang melibatkan kehidupan anak.

Contohnya, “bagaimana jika adik menggunakan pistol pak Polisi untuk merebut mainan teman adik?” (sebagai perumpamaan kelompok yang memakai bendera yang diyakini rayah dan liwa’ untuk tujuan mendirikan khilafah di dalam negara Indonesia), “bagaimana jika adik menggunakan mainan pedang ketika teman-teman adik sedang tidak bermain perang-perangan?” (sebagai perumpamaan penggunaan rayah dan liwa’ bukan dalam situasi perang), “jika ada tulisan orang yang berbeda dengan tulisan ayah/ ibu dan mengatakan itu tulisan ayah/ ibu, apakah adik percaya?” (untuk menggambarkan bahwa rayah dan liwa’ masa sekarang jelas berbeda dengan masa Nabi karena masa Nabi tipografi tulisan Arab belum seperti sekarang), “lebih mulia mana, membakar lembaran kalimat Allah sehingga hilang wujudnya, daripada menyimpannya tetapi tidak di tempat yang baik?” (untuk menggambarkan kebolehkan membakar kalimat Allah selama ada alasan yang maslahat).

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka pihak dewasa sudah saatnya untuk meningkatkan keterampilan komunikasi dan menyampaikan penjelasan kepada anak. Jika anak menerima informasi yang kurang tepat dan tidak ada penjelasan dari pihak lain, maka dikhawatirkan akan menjadi pola sikap. Sehingga, potensial membentuk sikap radikal, mudah menyalahkan, dan kurang bijak. Di sisi lain, pihak dewasa juga hendaknya membatasi akses anak pada teknologi atau sosial media untuk meminimalisir hal tersebut. Jika anak mendapatkan akses tanpa sepengetahuan dan mengakibatkan persepsi yang kurang tepat, maka pihak dewasa bertanggungjawab untuk menjelaskannya.

Wallâhu a’lam bishshawâb.

AJARILAH ANAK-ANAK KITA 6 HAL BERIKUT INI SEBELUM TIDUR

Sebelum tidur, biasanya beberapa orang tua ada yang gemar membacakan berbagai macam cerita dongeng untuk anaknya. Biasanya para orang tua berharap dongeng tersebut bisa menambah kecerdasan sang anak dan bisa membuat sang anak tertidur lelap tanpa merasa takut. Sebenarnya, membacakan dongeng sebelum tidur kepada anak sah-sah saja untuk dilakukan. Namun ada baiknya jika anak diajarkan tentang adab-adab sebelum tidur seperti yang diajarkan dalam Islam.

Lalu apa saja adab-adab sebelum tidur yang hendaknya diajarkan kepada anak?

Pertama, ajaklah anak untuk mengambil wudhu sebelum tidur seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, ajarkan anak untuk mengibas-ngibas tempat tidur sebelum naik ke tempat tidur dengan menggunakan kain atau sapu lidi sembari membaca basmallah. Pasalnya, setan dan jin biasanya menempati kasur atau tempat tidur yang tidak ditempati oleh manusia. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadist berikut, “Jika salah seorang di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil potongan kain dan mengibaskan tempat tidurnya dengan kain tersebut sambil mengucapkan, ‘bismillaah,’ karena ia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya tadi.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan Abu Dawud)

Ketiga, ajarkan anak untuk membaca tiga surat qul yaitu surat Al Ikhlash (qul huwallahu ahad), surat Al Falaq (qul a’udzu bi robbil falaq), dan surat An Naas (qul a’udzu bi robbinnaas) masing-masing satu kali. Setelah itu, usapkan kedua telapak tangan ke wajah dan bagian tubuh yang dapat dijangkau. Aisyah RA pernah berkata, “Nabi SAW ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari)

Keempat, membaca ayat kursi sebelum tidur agar selama tidur mendapat penjagaan malaikat. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskan aku menjaga harta zakat Ramadhan kemudian ada orang yang datang mencuri makanan namun aku merebutnya kembali, lalu aku katakan, “Aku pasti akan mengadukan kamu kepada Rasulullah SAW”. Lalu Abu Hurairah RA menceritakan suatu hadits berkenaan masalah ini. Selanjutnya orang yang datang kepadanya tadi berkata, “

Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al Kursi karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan syetan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Benar apa yang dikatakannya padahal dia itu pendusta. Dia itu syetan.” (HR. Bukhari)

Kelima, ajarkan anak membaca doa sebelum tidur. Dari Hudzaifah, ia berkata, “Apabila Nabi SAW hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu, Ya Allah aku mati dan aku hidup).’ Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).” (HR. Bukhari)

Keenam, ajarkan anak untuk tidur dengan posisi tidur menghadap ke sebelah kanan atau rusuk kanan sebagai tumpuan. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Demikianlah enam adab-adab sebelum tidur yang hendaknya diajarkan kepada anak sebelum tidur. Dengan begitu, anak pun insya Allah akan dapat tidur nyenyak tanpa mendapatkan gangguan dari jin dan setan.

KHULU’ ATAU PERCERAIAN DENGAN GANTI RUGI YANG DIKEHENDAKI

(Fasal) menjelaskan beberapa hukum khulu’.   

(فَصْلٌ فِيْ أَحْكَامِ الْخُلْعِ)

Lafadz “al khul’u’” dengan terbaca dlammah huruf kha’nya yang diberi titik satu di atas, adalah lafadz yang tercetak dari lafadz “al khal’u” dengan terbaca fathah huruf kha’nya. Dan lafadz “al khal’u” bermakna mencopot.

وَهُوَ بِضَمِّ الْخَاءِ الْمُعْجَمَةِ مُشْتَقٌّ مِنَ الْخَلْعِ بِفَتْحِهَا وَهُوَ النَّزَعُ

Secara syara’, khul’u adalah perceraian dengan menggunakan ‘iwadl (imbalan) yang maqsud (layak untuk diinginkan).

وَشَرْعًا فُرْقَةٌ بِعِوَضٍ مَقْصُوْدٍ

Maka mengecualikan khulu’ dengan ‘iwadl berupa darah dan sesamanya.

فَخَرَجَ الْخُلْعُ عَلَى دَمٍّ وَنَحْوِهَا

Syarat Khulu’

Khulu’ hukumnya sah dengan menggunakan ‘iwadl yang ma’lum dan mampu diserahkan.

(وَالْخُلْعُ جَائِزٌ عَلَى عِوَضٍ مَعْلُوْمٍ) مَقْدُوْرٍ عَلَى تَسْلِيْمِهِ

Sehingga, jika khulu’ menggunakan ‘iwadl yang tidak ma’lum seperti seorang suami melakukan khulu’ pada istrinya dengan ‘iwadl berupa pakaian yang tidak ditentukan, maka sang istri tertalak ba’in dengan memberikan ganti mahar mitsil.

فَإِنْ كَانَ عَلَى عِوَضٍ مَجْهُوْلٍ كَأَنْ خَالَعَهَا عَلَى ثَوْبٍ غَيْرِ مُعَيَّنٍ بَانَتْ بِمَهْرِ الْمِثْلِ

Konsekwensi Khulu’

Dengan khulu’ yang sah, maka seorang wanita berhak atas dirinya sendiri. Dan sang suami tidak bisa ruju’ pada wanita tersebut, baik ‘iwadl yang digunakan sah ataupun tidak.

(وَ) الْخُلْعُ الصَّحِيْحُ (تَمْلِكُ بِهِ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا وَلَا رَجْعَةَ لَهُ) أَيِ الزَّوْجِ (عَلَيْهَا) سَوَاءٌ كَانَ الْعِوَضُ صَحِيْحًا أَوْ لَا

Dan ungkapan mushannif, “kecuali dengan akad nikah yang baru” tidak tercantum di kebanyakan redaksi.

وَقَوْلُهُ (إِلَّا بِنِكَاحٍ جَدِيْدٍ) سَاقِطٌ فِيْ أَكْثَرِ النُّسَخِ

Khulu’ boleh dilakukan saat sang istri dalam keadaan suci dan dalam keadaan haidl, dan khulu’ yang dilakukan ini tidaklah haram.

(وَيَجُوْزُ الْخُلْعُ فِيْ الطُّهْرِ وَفِيْ الْحَيْضِ) وَلَا يَكُوْنُ حَرَامًا

Wanita yang telah dikhulu’ tidak bisa ditalak. Berbeda dengan istri yang tertalak raj’i, maka bisa untuk ditalak.

(وَلَا يَلْحَقُ الْمُخْتَلِعَةَ الطَّلَاقُ) بِخِلَافِ الرَّجْعِيَّةِ فَيَلْحَقُهَا.

MENGGILIR ISTRI YANG LEBIH DARI SATU DAN NUSYUZ YANG MENJADIKAN NAFAQOH GUGUR

(Fasal) menjelaskan hukum-hukum qasm (menggilir) dan Nusyuz (purik : jawa).

(فَصْلٌ) فِيْ أَحْكَامِ الْقَسْمِ وَالنُّشُوْزِ)

Yang pertama adalah dari suami dan yang kedua dari istri.

وَالْأَوَّلُ مِنْ جِهَّةِ الزَّوْجِ وَالثَّانِيْ مِنْ جِهَّةِ الزَّوْجَةِ

Makna nusuznya seorang istri adalah ia tidak mau melaksanakan hak yang wajib ia penuhi.

وَمَعْنَى نُشُوْزِهَا ارْتِفَاعُهَا عَنْ أَدَاءِ الْحَقِّ الْوَاجِبِ عَلَيْهَا

Ketika seorang laki-laki memiliki dua istri atau lebih, maka bagi dia tidak wajib menggilir diantara kedua atau beberapa istrinya.

وَإِذَا كَانَ فِيْ عِصْمَةِ شَخْصٍ زَوْجَتَانِ فَأَكْثَرَ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْقَسْمُ بَيْنَهُمَا أَوْ بَيْنَهُنَّ

Sehingga, seandainya dia berpaling dari istri-istrinya atau istri satu-satunya, dengan tidak berada di sisi mereka atau di sisi satu istrinya tersebut, maka dia tidak berdosa.

حَتَّى لَوْ أَعْرَضَ عَنْهُنَّ أَوْ عَنِ الْوَاحِدَةِ فَلَمْ يَبِتْ عِنْدَهُنَّ أَوْ عِنْدَهَا لَمْ يَأْثَمْ

Akan tetapi disunnahkan baginya untuk tidak mengosongkan jadwal menginap di sisi mereka, begitu juga di sisi istri satu-satunya. Dengan artian ia berada di sisi mereka atau di sisi istrinya tersebut.

وَلَكِنْ يُسْتَحَبُّ أَنْ لَا يُعَطِّلَهُنَّ مِنَ الْمَبِيْتِ وَلَا الْوَاحِدَةَ أَيْضًا بِأَنْ يَبِيْتَ عِنْدَهُنَّ أَوْ عِنْدَهَا

Minimal empat hari sekali berada bersama dengan satu orang istri.

وَأَدْنَى دَرَجَاتِ الْوَاحِدَةِ أَنْ لَا يُخَلِّيَهَا كُلَّ أَرْبَعِ لَيَالٍ عَنْ لَيْلَةٍ

Hukum Adil di Dalam Menggilir Istri

Menyetarakan giliran di antara istri-istri hukumnya wajib bagi sang suami.

(وَالتَّسْوِيَةُ فِيْ الْقَسْمِ بَيْنَ الزَّوْجَاتِ وَاجِبَةٌ)

Sama rata adakalanya dipandang dari tempat dan adakalanya dipandang dari waktunya.

وَتُعْتَبَرُ التَّسْوِيَّةُ بِالْمَكَانِ تَارَةً وَبِالزَّمَانِ اُخْرَى

Adapun ditinjau dari sisi tempat, maka hukumnya haram mengumpulkan dua orang istri atau lebih didalam satu rumah kecuali mereka rela.

أَمَّا الْمَكَانُ فَيَحْرُمُ الْجَمْعُ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ فَأَكْثَرَ مِنْ مَسْكَنٍ وَاحِدٍ إِلَّا بِالرِّضَا

Adapun dari sisi waktu, maka bagi suami yang tidak menjadi seorang penjaga (bekerja) di malam hari, maka inti giliran yang harus dia lakukan adalah di waktu malam, sedangkan untuk siangnya mengikut pada waktu malam.

وَأَمَّا الزَّمَانُ فَمَنْ لَمْ يَكُنْ حَارِسًا فَعِمَادُ الْقَسْمِ فِيْ حَقِّهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ تَبِعَ لَهُ

Dan bagi suami yang menjadi penjaga di malam hari, maka inti giliran yang harus ia lakukan adalah waktu siang, sedangkan untuk waktu malamnya hanya mengikut pada waktu siang tersebut.

وَمَنْ كَانَ حَارِسًا فَعِمَادُ الْقَسْمِ فِيْ حَقِّهِ النَّهَارُ وَاللَّيْلُ تَبِعَ لَهُ.

 

Tidak Boleh Melanggar Giliran

Bagi seorang suami tidak diperkenankan berkunjung di malam hari pada istri yang tidak mendapat giliran tanpa ada hajat.

(وَلَا يَدْخُلُ) الزَّوْجُ لَيْلًا (عَلَى غَيْرِ الْمَقْسُوْمِ لَهَا لِغَيْرِ حَاجَةٍ)

Jika berkunjungnya karena ada hajat seperti menjenguk istrinya yang sakit dan sesamanya, maka ia tidak dilarang untuk masuk pada istri tersebut.

فَإِنْ كَانَ لِحَاجَةٍ كَعِيَادَةٍ وَنَحْوِهَا لَمْ يُمْنَعْ مِنَ الدُّخُوْلِ

Dan ketika masuknya karena ada hajat, jika ia berada di sana dalam waktu yang cukup lama, maka wajib mengqadla’ seukuran waktu berdiamnya dari giliran istri yang telah ia kunjungi.

وَحِيْنَئِذٍ إِنْ طَالَ مُكْثُهُ قَضَى مِنْ نَوْبَةِ الْمَدْخُوْلِ عَلَيْهَا مِثْلَ مُكْثِهِ

Sehingga, jika ia sempat melakukan jima’ dengan istri yang ia kunjungi -yang bukan gilirannya-, maka wajib mengqadla’ masa jima’nya, bukan melakukan jima’nya, kecuali jika waktunya sangat pendek, maka tidak wajib untuk diqadla’i.

فَإِنْ جَامَعَ قَضَى زَمَنَ الْجِمَاعِ لَا نَفْسَ الْجِمَاعِ إِلَّا أَنْ يَقْصُرَ زَمَنُهُ فَلَا يَقْضِيْهِ

Ketika Hendak Bepergian

Ketika seorang laki-laki yang memiliki beberapa istri ingin bepergian, maka ia harus mengundi di antara istri-istrinya. Dan ia melakukan perjalanan bersama istri yang mendapatkan undian.

(وَإِذَا أَرَادَ) مَنْ فِيْ عِصْمَتِهِ زَوْجَاتٌ (السَّفَرَ أَقْرَعَ بَيْنَهُنَّ وَخَرَجَ) أَيْ سَافَرَ (بِالَّتِيْ تَخْرُجُ لَهَا الْقُرْعَةُ)

Dan bagi suami yang melakukan perjalanan tidak wajib menqadla’ lamanya masa perjalanan pada para istrinya yang tidak diajak bepergian / yang ditinggal di rumah.

وَلَا يَقْضِيْ الزَّوْجُ الْمُسَافِرُ لِلْمُتَخَلِّفَاتِ مُدَّةَ سَفَرِهِ ذِهَابًا

Jika ia sampai di tempat tujuan dan muqim di sana, dengan artian ia niat muqim yang bisa merubah status musafirnya di awal pemberangkatan, ketika sampai di tempat tujuan atau sebelum sampai, maka ia wajib mengqadla’i waktu muqimnya, jika istri yang menyertainya dalam perjalanan juga muqim bersamanya sebagai mana keterangan yang disampaikan oleh imam al Mawardi. Jika tidak demikian, maka tidak wajib mengqadla’i.

فَإِنْ وَصَلَ مَقْصِدَهُ وَصَارَ مُقِيْمًا بِأَنْ نَوَى إِقَامَةً مُؤَثِّرَةً أَوَّلَ سَفَرِهِ أَوْ عِنْدَ وُصُوْلِ مَقْصِدِهِ أَوْ قَبْلَ وُصُوْلِهِ قَضَى مُدَّةَ الْإِقَامَةِ إِنْ سَاكَنَ الْمَصْحُوْبَةَ مَعَهُ فِيْ السَّفَرِ كَمَا قَالَهُ الْمَاوَرْدِيُّ وَإِلَّا لَمْ يَقْضِ

Adapun waktu perjalanan pulang setelah muqimnya tersebut, maka bagi suami tidak wajib untuk mengqadla’inya.

أَمَّا مُدَّةُ الرُّجُوْعِ فَلَا يَجِبُ عَلَى الزَّوْجِ قَضَاؤُهَا بَعْدَ إِقَامَتِهِ .

 

Pengantin Baru

Ketika seorang suami menikahi wanita yang baru, maka ia wajib mengistimewakannya, walaupun istrinya adalah budak wanita, dan ia memiliki istri lama.

(وَإِذَا تَزَوَّجَ) الزَّوْجُ (جَدِيْدَةً خَصَّهَا) حَتْمًا وَلَوْ كَانَتْ أَمَّةً وَكَانَ عِنْدَ الزَّوْجِ غَيْرُ الْجَدِيْدَةِ

Suami harus menginap di sisi istri barunya tersebut selama tujuh malam berturut-turut, jika istri barunya tersebut masih perawan, dan tidak wajib mengqadla’ untuk istri-istri yang lain.

وَهُوَ يَبِيْتُ عِنْدَهَا (بِسَبْعِ لَيَالٍ) مُتَوَالِيَاتٍ (إِنْ كَانَتْ) تِلْكَ الْجَدِيْدَةُ (بِكْرًا) وَلَا يَقْضِيْ لِلْبَاقِيَاتِ

Dan mengkhususkan pada istri barunya tersebut dengan tiga malam berturut-turut, jika istri barunya tersebut sudah janda.

(وَ) خَصَّهَا (بِثَلَاثٍ) مُتَوَالِيَةٍ (إِنْ كَانَتْ) تِلْكَ الْجَدِيْدَةُ (ثَيِّبًا)

Sehingga, seandainya sang suami memisah malam-malam tersebut dengan tidur semalam di sisi sang istri baru, dan semalam tidur di masjid semisal, maka semua itu tidak dianggap.

فَلَوْ فَرَّقَ اللَّيَالِيَ بِنَوْمِهِ لَيْلَةً عِنْدَ الْجَدِيْدَةِ وَلَيْلَةً فِيْ مَسْجِدٍ مَثَلًا لَمْ يُحْسَبْ ذَلِكَ

Bahkan sang suami harus memenuhi hak istri barunya secara berturut-turut, dan mengqadla’i malam-malam yang telah ia pisah-pisah untuk istri-istri yang lain.

بَلْ يُوْفِيْ الْجَدِيْدَةَ حَقَّهَا مُتَوَالِيًا وَيَقْضِيْ مَا فَرَّقَهُ لِلْبَاقِيَاتِ.

 

Nusuz / Purik

Ketika sang suami khawatir istrinya nusuz, dalam sebagian redaksi dengan ungkapan, “ketika nampak bahwa sang istri nusuz”, maka suami berhak memberi nasihat dengan tanpa memukul dan tanpa diam tidak menyapanya.

(وَإِذَا خَافَ) الزَّوْجُ (نُشُوْزَ الْمَرْأَةِ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ وَإِذَا بَانَ نُشُوْزُ الْمَرْأَةِ أَيْ ظَهَرَ (وَعَظَهَا) زَوْجُهَا بِلَا ضَرْبٍ وَلَا هَجْرٍ لَهَا

Seperti ucapannya pada sang istri, “takutlah engkau pada Allah di dalam hak yang wajib bagimu untukku. Dan ketahuilah sesungguhnya nusuz bisa menggugurkan kewajiban nafkah dan menggilir.”

كَقَوْلِهِ لَهَا “اتَّقِيْ اللهَ فِيْ الْحَقِّ الْوَاجِبِ لِيْ عَلَيْكَ وَاعْلَمِيْ أَنَّ النُّشُوْزَ مُسْقِطٌ لِلنَّفَقَةِ وَالْقَسْمِ”

Mencela suami bukanlah termasuk nusuz, namun dengan hal itu sang istri berhak diberi pengajaran sopan santun oleh suami menurut pendapat al ashah, dan ia tidak perlu melaporkannya pada seorang qadli.

وَلَيْسَ الشَّتْمُ لِلزَّوْجِ مِنَ النُّشُوْزِ بَلْ تَسْتَحِقُّ بِهِ التَّأْدِيْبَ مِنَ الزَّوْجِ فِيْ الْأَصَحِّ وَلَا يَرْفَعُهَا إِلَى الْقَاضِيْ

Jika setelah dinasihati ia tetap nusuz, maka sang suami mendiamkannya di tempat tidurnya, sehingga ia tidak menemaninya di tempat tidur.

(فَإِنْ أَبَتْ) بَعْدَ الْوَعْظِ (إِلَّا النُّشُوْزَ هَجَرَهَا) فِيْ مَضْجَعِهَا وَهُوَ فِرَاشُهَا فَلَا يُضَاجِعُهَا فِيْهِ

Mendiamkan tidak menyapanya dengan ucapan hukumnya haram dalam waktu lebih dari tiga hari.

وَهِجْرَانُهَا بِالْكَلَامِ حَرَامٌ فِيْمَا زَادَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ

Imam an Nawawi berkata di dalam kitab ar Raudlah, “sesungguhnya hukum haram tersebut adalah di dalam permasalan tidak menyapa tanpa ada udzur syar’i. Jika tidak demikian, maka hukumnya tidak haram lebih dari tiga hari.”

وَقَالَ فِيْ الرَّوْضَةِ أَنَّهُ فِيْ الْهَجْرِ بِغَيْرِ عُذْرٍ شَرْعِيٍّ وَإِلَّا فَلَا تَحْرُمُ الزِّيَادَةُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ

Jika sang istri tetap saja nusuz dengan berulang kali melakukannya, maka sang suami berhak tidak menyapa dan memukulnya dengan model pukulan mendidik pada sang istri.

(فَإِنْ أَقَامَتْ عَلَيْهِ) أَيِ النُّشُوْزِ بِتَكَرُّرِهِ مِنْهَا (هَجَرَهَا وَضَرَبَهَا) ضَرْبَ تَأْدِيْبٍ لَهَا

Dan jika pukulan tersebut menyebabkan kerusakan / luka / kematian, maka wajib bagi suami untuk mengganti rugi.

وَإِنْ أَفْضَى إِلَى التَّلَفِ وَجَبَ الْغَرْمُ

Sebab nusuz, giliran dan nafkah bagi sang istri menjadi gugur.

وَيَسْقُطُ بِالنُّشُوْزِ قَسْمُهَا وَنَفَقَتُهَا

Mengapa pacaran dilarang dalam Islam? dan Adab ketika berinteraksi dengan lawan jenis

Mengapa pacaran dilarang dalam Islam? Karena pacaran melanggar hukum dalam syariat Islam, di antaranya ;

Pertama:

Pacaran akan melanggar perintah “ghoddhul bashor”. Allah ﷻ memerintahkan dalam Al-Qur’an agar seorang mukmin menjaga pandangan matanya, sebagaimana Dia juga memerintahkan mukminah menjaga pandangan mata.

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ [النور: 30، 31

Artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.’”

Kedua:

Pacaran akan melanggar larangan menyentuh wanita yang tidak halal. Ath-Thobaroni meriwayatkan:

عَنْ أَبِي الْعَلاءِ، حَدَّثَنِي مَعْقِلُ بن يَسَارٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ”

Artinya: “Dari Abu Al-‘Ala’, Ma’qil bin Yasar memberitahu aku, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sungguh, kepala salah seorang di antara kalian ditusuk dengan jarum besi lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.’”

Ketiga:

Pacaran akan melanggar larangan khalwat. Yang dimaksud dengan khalwat adalah berduaan atau bersepi-sepian antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Rasulullah ﷺ melarang pergaulan seperti ini. Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

Artinya: “Perhatikan, tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali ketiganya adalah setan.”

Keempat:

Pacaran akan melanggar larangan mendekati zina. Dalam Islam, zina adalah dosa besar. Pelakunya dihukum rajam jika sudah menikah dan dihukum cambuk 100 kali jika belum menikah. Oleh karena itu, di dalam Al-Qur’an, kaum muslimin diingatkan untuk tidak mendekati zina. Redaksi yang dipakai adalah larangan mendekati zina. Pilihan kata ini lebih dalam dan kuat maknanya daripada langsung larangan berzina. Seakan-akan, demi memblokir semua pintu untuk berzina, maka mendekati saja sudah terlarang. Allah berfirman;

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا [الإسراء: 32

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

Kelima:

Pacaran akan melanggar larangan berzina. Allah ﷻ melarang berzina dalam sejumlah ayat. Di antaranya dalam surat Al-Furqon berikut ini:

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا [الفرقان68

Artinya: “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).”

Hal yang menyedihkan, pacaran adalah hubungan yang hampir selalu disertai perzinaan. Bisa dikatakan bahwa di antara sarana yang paling cepat mengantarkan dua anak manusia melakukan perzinaan adalah melalui pacaran

Ke enam:

Pacaran akan melanggar larangan tasyabbuh. Yang dimaksud tasyabbuh adalah menyerupai. Rasulullah ﷺ melarang umatnya untuk menyerupai jalan hidup, kebiasaan, tradisi, kepercayaan, dan adat-istiadat umat di luar Islam. Rasulullah ﷺ bahkan mengingatkan bahwa siapa pun yang melakukan tasyabbuh, maka dia tidak diakui sebagai umat Rasulullah ﷺ dan divonis termasuk ke dalam umat yang ditirunya itu. Abu Dawud meriwayatkan;

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ »

Artinya: “Dari Ibnu Umar  ia berkata: ‘Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Barangsiapa ber-tasyabbuh dengan suatu kaum, maka ia bagian dari mereka.’”

Telah disinggung di muka bahwa pacaran adalah budaya Barat, bukan budaya masyarakat muslim. Pacaran bukanlah jalan hidupnya para nabi, para rasul, para shahabat, para wali, para ulama dan orang-orang salih. Pacaran adalah budaya masyarakat Barat yang hedonis, tidak mengenal Tuhan dan tidak percaya pada hari akhir. Oleh karena itu, orang Islam yang berpacaran berarti melanggar larangan Rasulullah ﷺ untuk meniru kaum di luar umat Islam. .

Ketujuh:

Pacaran akan melanggar larangan fantasi seks. Beberapa pasangan pacaran berdalih tidak melanggar hal-hal yang dilarang oleh Islam ketika berpacaran dengan alasan hubungan mereka bersifat LDR (long distance relationship) alias terpisah jarak. Klaim ini tidak benar, karena meskipun LDR, tasyabbuh akan tetap dilanggar, larangan ghaddhul bashor juga tetap dilanggar saat melakukan video call, dan juga berfantasi seks yang kadang sampai level melakukan phone sex/PS (seks melalui telepon). Semuanya dihitung zina majasi yang dilarang Rasulullah ﷺ dan disebut sebagai dosa. Muslim meriwayatkan;

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَشْبَهَ بِاللَّمَمِ مِمَّا قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنْ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ النُّطْقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ

Artinya: “Dari Ibnu Abbas dia berkata; ‘Saya tidak mengetahui sesuatu yang paling dekat dengan makna lamam (dosa-dosa kecil) selain dari apa yang telah dikatakan oleh Abu Hurairah  dari Nabi ﷺ: ‘Sesungguhnya Allah `Azza wa Jalla telah menetapkan pada setiap anak cucu Adam bagiannya dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari. Maka zinanya mata adalah melihat, zinanya lisan adalah ucapan, sedangkan zinanya hati adalah berangan-angan dan berhasrat, tetapi kemaluanlah yang (menjadi penentu untuk) membenarkan hal itu atau mendustakannya .’’

Adab ketika berinteraksi dengan lawan jenis :

  1. Menundukkan pandangan

Pandangan merupakan awal terjadinya fitnah sehingga Allah memerintahkan kepada setiap laki-laki maupun perempuan untuk menjaga pandangannya. Sebagaimana firman Allah,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An Nur : 30)

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An Nur : 31)

Ada suatu kisah mengesankan dari seorang yang shalih. Suatu hari, ada seorang shalih berangkat ke tempat shalat. Ketika ia pulang, istrinya bertanya, “Berapa wanita cantik yang telah engkau lihat?”. Orang shalih itupun menjawab, “Demi Allah, semenjak aku berangkat hingga aku pulang, tidaklah aku melihat kecuali ibu jari kaki-kakiku!”

Pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah tadi adalah kesungguhannya dalam menjaga pandangannya dari hal-hal yang bukan menjadi haknya untuk dilihat. Lalu bagaimana dengan orang yang belum memiliki pasangan hidup? Seharusnya dia lebih berusaha keras untuk menjaga pandangannya.

  1. Menjaga diri agar tidak menjadi sumber fitnah

Baik laki-laki maupun perempuan harus senantiasa berusaha menjaga dirinya agar dia tidak menjadi fitnah bagi lawan jenisnya tatkala bergaul dengannya. Tidak dipungkiri lagi bahwasanya hati manusia sangatlah lemah.

Ketika seorang perempuan berbicara di depan laki-laki hendaklah tidak menggunakan nada yang mendayu-dayu, tetapi nada yang datar saja sebab dengan begitu si laki-laki tersebut tidak akan terfitnah dengan suara perempuan.

Begitu pula ketika berjalan dan bertingkah laku hendaknya tetap memperhatikan adab. Seringkali karena si perempuan saking senangnya mengobrol dengan temannya sampai-sampai dia tidak mempedulikan keadaan sekitar. Ternyata di dekatnya ada laki-laki yang sedang konsentrasi mengerjakan sesuatu tetapi karena mendengar suara perempuan yang begitu indah, konsentrasi si laki-laki menjadi buyar. Walhasil apa yang dia kerjakan menjadi kacau. Bahkan hafalan seseorang akan hilang seketika ketika melakukan maksiat, yaitu melihat apa-apa yang Allah larang untuk melihatnya.

Saudara kita mungkin merasa terganggu hatinya dengan sikap dan lisan kita. Mereka berusaha menjaga hati mereka dengan susah payah, tapi justru kita tak membantu mereka agar terjaga dari fitnah?Sungguh sayang jika kita tak peduli dengan saudara kita.

Laki-laki pun juga harus menjaga dirinya agar tidak menjadi sumber fitnah sama seperti halnya perempuan. Ketahuilah bahwa hati perempuan itu lemah semisal kaca, sebagaimana sabda Rasulullaah,

ارْفُقْ بِالْقَوَارِيرِ

“Lembutlah kepada kaca-kaca (para wanita)” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan ini lafazh miliknya)

Mereka akan mudah merasa GR kepada seorang laki-laki yang memberinya perhatian, mereka memiliki perasaan yang lebih sensitif. Oleh karena itu, jangan memberikan rayuan-rayuan pada perempuan yang bukan istrinya. Bersikaplah sewajarnya pada mereka karena dengan begitu mereka juga akan bersikap sewajarnya terhadap kalian. Intinya antara laki-laki dan perempuan hendaknya saling membantu bukan saling menjatuhkan.

  1. Jangan berdua-duaan (berkhalwat)

Rasulullah mengingatkan kepada kita dengan sabda beliau,

لَا يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا

“Janganlah salah seorang di antara kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaithan menjadi orang ketiga di antara mereka berdua.” (HR. Ahmad)

Sungguh mereka akan diancam dengan ancaman yang pedih sebagaimana dalam sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ

“Tertusuknya kepala salah seorang di antara kalian dengan jarum besi, lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”(HR. Thabrani)

HUKUM UANG ISTRI DI HABISKAN SUAMI DAN ISTRI MENTASHARUFKAN HARTANYA TANPA IZIN SUAMI

UANG HASIL KERJA ISTRI DI PAKAI OLEH SUAMI

Saya seorang ibu rumah tangga уαηg sekarang sedang mengadu nasib di timur tengah (TKW). Dulu uang hasil kerja saya selama 5 tahun hampir di habisin suami saya (tanpa saya tahu uang itu di pake buat apa). Karena bercita-cita ingin mempunyai rumah, saya pergi lagi dan kepergian saya уαηg ke 2x ini (3 tahun) uang nya juga habis sama suami saya ( karena saya di haruskan kirim uang pada suami dengan alasan anak saya).

Pertanyaan :

– Apakah seorang suami berhak atas uang hasil peras keringat istrinya ?

– Apa hukumnya kalau saya minta cerai ? ( Karena saya merasa didzolimi sama suami saya )

J A W A B A N :

Maaf .. Banyak nasehat untuk menjauhi perceraian ..  Tapi di sisi lain kita hormati apa yang disampaikan oleh penanya. Sedang Tentang  kewajiban suami pada keluarganya , Kalau suami mengijinkan istrinya jadi TkW, dan hasil jerih payah istri dihabiskan tanpa pertanggungjawaban yang jelas, maka tindakan suami juga tidak benar .

Suami tidak punya hak atas harta istri, dalam kasus diatas istri boleh minta cerai..

  أسنى المطالب في شرح روض الطالب – (ج 3 / ص 441) فَرْعٌ لو نَكَحَتْهُ عَالِمَةً بِإِعْسَارِهِ أو رَضِيَتْ بِالْمُقَامِ معه ثُمَّ نَدِمَتْ فَلَهَا الْفَسْخُ لِأَنَّ النَّفَقَةَ تَجِبُ يَوْمًا فَيَوْمًا وَالضَّرَرُ يَتَجَدَّدُ وَلَا أَثَرَ لِقَوْلِهَا رَضِيت بِإِعْسَارِهِ أَبَدًا لِأَنَّهُ وَعْدٌ لَا يَلْزَمُ الْوَفَاءُ بِهِ كما في نَظِيرِهِ في الْإِيلَاءِ قال الزَّرْكَشِيُّ وَيُسْتَثْنَى يَوْمُ الرِّضَا فَلَا خِيَارَ لها فيه كما أَفْتَى بِهِ الْبَغَوِيّ وَحَكَاهُ ابن الرِّفْعَةِ عن الْبَنْدَنِيجِيِّ وَيُجَدِّدُ الْإِمْهَالَ إذَا طَلَبَتْ الْفَسْخَ بَعْدَ الرِّضَا وَلَا يُعْتَدُّ بِالْمَاضِي لِتَعَلُّقِ الْإِمْهَالِ بِطَلَبِهَا فَيَسْقُطُ أَثَرُهُ بِرِضَاهَا وَفَارَقَ نَظِيرَهُ في الْإِيلَاءِ حَيْثُ لَا يُجَدِّدُ الْإِمْهَالَ بِطُولِ مُدَّتِهِ ثُمَّ وَبِعَدَمِ تَوَقُّفِهَا على طَلَبِهَا لِلنَّصِّ عليها ثُمَّ بِخِلَافِهَا هُنَا وَلَهَا في مُدَّةِ الْإِمْهَالِ مُدَّةُ الرِّضَا بِإِعْسَارِهِ الْخُرُوجُ من الْمَنْزِلِ لِلِاكْتِسَابِ لِلنَّفَقَةِ نَهَارًا بِتِجَارَةٍ أو غَيْرِهَا فَلَيْسَ له مَنْعُهَا من ذلك وَإِنْ قَدَرَتْ على الْإِنْفَاقِ بِمَالِهَا أو الْكَسْبِ في بَيْتِهَا لِأَنَّهُ إذَا لم يُوَفِّ ما عليه لَا يَمْلِكُ الْحَجْرَ عليها وَعَلَيْهَا الْعَوْدُ إلَى الْمَنْزِلِ لَيْلًا لِأَنَّهُ وَقْتُ الْإِيوَاءِ دُونَ الِاكْتِسَابِ وَلَوْ مَنَعَته الِاسْتِمْتَاعُ نَهَارًا جَازَ لَكِنْ تَسْقُطُ نَفَقَةُ مُدَّةِ مَنْعِهَا إنْ مَنَعَتْهُ لَيْلًا عن ذِمَّةِ الزَّوْجِ بِخِلَافِ ما إذَا لم تَمْنَعْهُ لَا يَسْقُطُ شَيْءٌ من نَفَقَتِهَا

Seorang suami tidak boleh menggunakan atau menyembunyikan harta milik istri tanpa seizin istri. malahan seorang suami wajib menafkahi istri sekalipun si istri tsb seorang yg kaya.

Hmmm…. jangan buru2 minta talak… seandainya kalau istri pulang berkumpul dengan suami menjadikan suami baik (tidak lagi mengambil kiriman uang istri) maka itulah yang harus dilakukan oleh istri demi kebaikan keluarga, ketaatan dan adab kehidupan si istri bersama suami… demikian juga perlu difikirkan nasib anak anaknya kalau sampai terjadi talak.

Dari awal  sudah dapat diduga, si suami tidak bertanggung jawab atas hak-haknya sebagai suami, karena biaya anaknya saja minta sama istri.

 Bagaimana kalau nanti bersama istri ?

Bahkan, andaikan ada seorang istri tidak dinafkahi oleh suami, maka boleh istri keluar rumah untuk mencari biaya hidup sekalipun TANPA IZIN SUAMI.

Ibarot dukungan dari Imam Nawawi :

(فصل)

وان اختارت المقام بعد الاعسار لم يلزمها التمكين من الاستمتاع ولها أن تخرج من منزله، لان التمكين في مقابلة النفقة، فلا يجب مع عدمها.

وان اختارت المقام معه على الاعسار ثم عن لها أن تنفسخ فلها أن تنفسخ، لان النفقة يتجدد وجوبها في كل يوم فتجدد حق الفسخ.

وان تزوجت بفقير مع العلم بحاله ثم أعسر بالنفقة فلها أن تنفسخ، لان حق الفسخ يتجدد بالاعسار بتجدد النفقة.  (AL-MAJMU’)

Inti terjemahan ta’bir diatas : Menjadi suami jangan sok kalau memang keadaannya tidak memungkinkan untuk membiayai istri (apalagi orangnya masih muda sehat)… Mustinya suami dalam hal ini harus bersukur jika si istri rela mencari nafkah sendiri…

Dalam kitab syarah al Muhadzab di katakan bahwa seorang istri tidak wajib menyiapkan sandang, papan dst. Juga tidak wajib memasak, mencuci,dst. Kewajiban istri hanya di ranjang.

ذهب جمهور الفقهاء – الحنفيّة والشّافعيّة وهو الرّاجح عند الحنابلة – إلى أنّ المرأة البالغة الرّشيدة لها حقّ التّصرّف في مالها ، بالتّبرّع ، أو المعاوضة ، سواء أكانت متزوّجةً ، أم غير متزوّجة .

وعلى ذلك فالزّوجة لا تحتاج إلى إذن زوجها في التّصدّق من مالها ولو كان بأكثر من الثّلث والدّليل على ذلك ما ثبت عن النّبيّ صلى الله عليه وسلم أنّه قال للنّساء : » تصدّقن ولو من حليّكنّ ، فتصدّقن من حليّهنّ « ولم يسأل ولم يستفصل ، فلو كان لا ينفذ تصرّفهنّ بغير إذن أزواجهنّ لما أمرهنّ النّبيّ صلى الله عليه وسلم بالصّدقة ، ولا محالة أنّه كان فيهنّ من لها زوج ومن لا زوج لها ، كما حرّره السّبكيّ .

ولأنّ المرأة من أهل التّصرّف ، ولا حقّ لزوجها في مالها ، فلم يملك الحجر عليها في التّصرّف بجميعه ، كما علّله ابن قدامة Al Mausu’atul Fiqhiyyah 2/9428

FOKUS :

ولأنّ المرأة من أهل التّصرّف ، ولا حقّ لزوجها في مالها ، فلم يملك الحجر عليها في التّصرّف بجميعه ، كما علّله ابن قدامة ‘bahwa Wanita pun termasuk ahli tashorruf (mendayagunakan harta). Tidak ada hak untuk suami dari harta istrinya, maka suami tidak memiliki hak untuk MENGHALANGI istri dalam pentashoruafan harta miliknya.

 

HUKUM ISTRI MENGHIBAHKAN UANG TANPA SEPENGETAHUAN SUAMI

Seorang istri menghibbahkan/mentashorrufkan uang tanpa sepengetahuan suami, Akan tetapi uang tersebut di dapat atas hasil kerja sang istri. apakah suami juga punya hak atas uang tersebut ?

Jawabanya adalah : Suami tIdak punya hak dan istri tidak wajib minta izin, bila kondisinya seperti itu.

I’anah 4/95

نعم: إن كان المسكن ملكها لم يمنع شيئا من ذلك.

Betul, apa bila rumah itu adalah milik si istri maka suami tidak punya hak sedikitpun untuk melarangnya

khusus bagi suami yg tidak mencukupi  nafakahnya…

Roudlotut Tolibin 3/295

لمسألة الثانية يجوز لها الخروج في مدة الإمهال لتحصيل النفقة بكسب أو تجارة أو سؤال وليس له منعها من الخروج وقيل له منعها وقيل إن قدرت على الإنفاق بمالها أو كسب في بيتها كالخياطة والغزل فله منعها وإلا فلا والصحيح المنصوص أنه ليس له منعها مطلقاً لأنه إذا لم يوف ما عليه لا يملك الحجر قال الروياني وعليها أن تعود إلى منزله بالليل.ولو أراد الإستمتاع بها قال الروياني ليس لها المنع وقال البغوي لها المنع وهو أقرب ولا شك أنها إذا منعت نفسها منه لا تستحق نفقة مدة الإمتناع فلا تثبت ديناً عليه

//والصحيح المنصوص أنه ليس له منعها مطلقاً لأنه إذا لم يوف ما عليه لا يملك الحجر//

Suami tidak berhak melarang apapun dari istri secara muthlaq manakala suami tidak bisa menafkahi istrinya. Sebab ketika suami tidak bisa memenuhi kewajibannya maka dia tidak punya hak untuk melarang (istrinya).

لَا تَجُوز لِامْرَأَةٍ عَطِيَّةٌ إِلَّا بِإِذْنِ زَوْجهَا )

: أَيْ صَرَاحَة أَوْ دَلَالَة . قَالَ الْخَطَّابِيُّ : عِنْد أَكْثَرِ الْفُقَهَاء هَذَا عَلَى مَعْنَى حُسْن الْعِشْرَة وَاسْتِطَابَة نَفْس الزَّوْج بِذَلِكَ ، إِلَّا أَنْ يَكُون ذَلِكَ فِي غَيْر الرَّشِيدَة . وَقَدْ ثَبَتَ عَنْ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلنِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ ، فَجَعَلَتْ الْمَرْأَة تُلْقِي الْقُرْط وَالْخَاتَم وَبِلَال يَتَلَقَّاهَا بِكِسَائِهِ ، وَهَذِهِ عَطِيَّة بِغَيْرِ إِذْن أَزْوَاجهنَّ اِنْتَهَى . قَالَ الْمُنْذِرِيُّ : وَأَخْرَجَهُ النَّسَائِيُّ وَابْن مَاجَهْ

 Aunul Ma’bud

قَالَ صَاحِبُ عَوْنِ الْمَعْبُودِ :

( لَا يَجُوز لِامْرَأَةٍ أَمْر )

: أَيْ عَطِيَّة مِنْ الْعَطَايَا

( فِي مَالهَا )

: أَيْ فِي مَال فِي يَدهَا لِزَوْجِهَا أُضِيفَ إِلَيْهَا مَجَازًا لِكَوْنِهِ فِي تَصَرُّفهَا فَيَكُون النَّهْي لِلتَّحْرِيمِ ، أَوْ الْمُرَاد مَال نَفْسهَا لِكَوْنِهِنَّ نَاقِصَات الْعَقْل فَلَا يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تَتَصَرَّف فِي مَالهَا إِلَّا بِمَشُورَةِ زَوْجهَا أَدَبًا وَاسْتِحْبَابًا ، فَالنَّهْي لِلتَّنْزِيهِ ، كَذَا قَالَهُ بَعْض الْعُلَمَاء .

وَفِي النَّيْل : وَقَدْ اُسْتُدِلَّ بِهَذَا الْحَدِيث عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوز لِلْمَرْأَةِ أَنْ تُعْطِي عَطِيَّة مِنْ مَالهَا بِغَيْرِ إِذْن زَوْجهَا وَلَوْ كَانَتْ رَشِيدَة ، وَقَدْ اُخْتُلِفَ فِي ذَلِكَ ، فَقَالَ اللَّيْث : لَا يَجُوز لَهَا ذَلِكَ مُطْلَقًا لَا فِي الثُّلُث وَلَا فِيمَا دُونه إِلَّا فِي الشَّيْء التَّافِه . وَقَالَ طَاوُسٌ وَمَالِك : إِنَّهُ يَجُوز لَهَا أَنْ تُعْطِيَ مَالهَا بِغَيْرِ إِذْنه فِي الثُّلُث لَا فِيمَا فَوْقه فَلَا يَجُوز إِلَّا بِإِذْنِهِ . وَذَهَبَ الْجُمْهُور إِلَى أَنَّهُ يَجُوز لَهَا مُطْلَقًا مِنْ غَيْر إِذْن مِنْ الزَّوْج إِذَا لَمْ تَكُنْ سَفِيهَة ، فَإِنْ كَانَتْ سَفِيهَة لَمْ يَجُزْ . قَالَ فِي الْفَتْح : وَأَدِلَّة الْجُمْهُور مِنْ الْكِتَاب وَالسُّنَّة كَثِيرَة . اِنْتَهَى مَا فِي النَّيْل

Aunul  Ma’bud 8/45

ذهب جمهور الفقهاء – الحنفيّة والشّافعيّة وهو الرّاجح عند الحنابلة – إلى أنّ المرأة البالغة الرّشيدة لها حقّ التّصرّف في مالها ، بالتّبرّع ، أو المعاوضة ، سواء أكانت متزوّجةً ، أم غير متزوّجة .

وعلى ذلك فالزّوجة لا تحتاج إلى إذن زوجها في التّصدّق من مالها ولو كان بأكثر من الثّلث والدّليل على ذلك ما ثبت عن النّبيّ صلى الله عليه وسلم أنّه قال للنّساء : » تصدّقن ولو من حليّكنّ ، فتصدّقن من حليّهنّ « ولم يسأل ولم يستفصل ، فلو كان لا ينفذ تصرّفهنّ بغير إذن أزواجهنّ لما أمرهنّ النّبيّ صلى الله عليه وسلم بالصّدقة ، ولا محالة أنّه كان فيهنّ من لها زوج ومن لا زوج لها ، كما حرّره السّبكيّ .

ولأنّ المرأة من أهل التّصرّف ، ولا حقّ لزوجها في مالها ، فلم يملك الحجر عليها في التّصرّف بجميعه ، كما علّله ابن قدامة

 Al Mausu’atul fiqhiyyah 2/9428.

STATUS PEMBERIAN SUAMI KEPADA SEORANG ISTRI

Bagaimana status pemberian suami terhadap istrinya?

Jawaban :

Di Tafshil :

Harta pemberian suami menjadi miliknya istri apabila memang suami memberikannya entah dengan berupa ungkapan atau sekedar adanya tujuan.

Sehingga apabila harta tersebut sudah di hibahkan (dengan redaksi atau dengan tujuan) pada istri maka harta tersebut menjadi miliknya istri sepenuhnya. Sehingga apabila uang tersebut terdapat sisa setelah belanja kebutuhan maka sisanya tetap menjadi pemiliknya (istri).

Tetapi apabila pemberian suami tidak di sertai sebagaimana ketentuan di atas (berupa redaksi atau tujuan menghadiahkan) maka harta tersebut masih miliknya suami sehingga istri tidak boleh mentashorrufkannya sisa uang Nafkah tersebut kecuali atas izin suami.

Kecuali apabila diketahui menurut kebiasaan bahwa ia (suami) ridho dengan apa yang di lakukan istri (Bersedaqoh) artinya suami memiliki sifat dermawan maka dengan begitu diperoleh izinnya walaupun ia (suami) tidak mengucapkannya.

Namun apabila kebiasaan suami tidak tetap dan diragukan keridhoannya atau suami tersebut termasuk seorang yang pelit, dan itu diketahui atau diragukan dari keadaannya, maka istri tidak boleh menggunakan hartanya (untuk di infakkan kepada yang membutuhkan) kecuali mendapatkan izin yang jelas dari suami.

توشيح على ابن قاسم :

ولو اشترى الزوج لزوجته حليا للتزين به ما دامت عنده، لم تملكه إلا بصيغة ويصدق في ذلك، وكذا لو زين به ولده الصغير من غير صيغة، حتى لو مات الولد لم ترث منه أمه، لأنه باق على ملك أبيه. إهـ.

نهاية الزين :

أَن مَا يُعْطِيهِ الزَّوْج مصلحَة أَو صباحية كَمَا اُعْتِيدَ بِبَعْض الْبِلَاد لَا يملك إِلَّا بِلَفْظ أَو قصد إهداء

شرح النووي على المسلم :

واعلم أنه لا بد للعامل – وهو الخازن – وللزوجة والمملوك من إذن المالك في ذلك ، فإن لم يكن إذن أصلا فلا أجر لأحد من هؤلاء الثلاثة ، بل عليهم وزر بتصرفهم في مال غيرهم بغير إذنه . والإذن ضربان : أحدهما : الإذن الصريح في النفقة والصدقة ، والثاني : الإذن المفهوم من اطراد العرف والعادة كإعطاء السائل كسرة ونحوها مما جرت العادة به واطرد العرف فيه ، وعلم بالعرف رضاء الزوج والمالك به ، [ ص: 93 ] فإذنه في ذلك حاصل وإن لم يتكلم ، وهذا إذا علم رضاه لاطراد العرف وعلم أن نفسه كنفوس غالب الناس في السماحة بذلك والرضا به ، فإن اضطرب العرف وشك في رضاه أو كان شخصا يشح بذلك وعلم من حاله ذلك أو شك فيه لم يجز للمرأة وغيرها التصدق من ماله إلا بصريح إذنه

PENJELASAN FIQIH TENTANG MAHAR PERNIKAHAN ATAU MAS KAWIN

BAB MAS KAWIN

(Fasal) menjelaskan hukum-hukum mas kawin.               

(فَصْلُ) فِيْ أَحْكَامِ الصَّدَاقِ

Lafadz “shadaq” dengan terbaca fathah huruf shadnya adalah bacaan yang lebih fasih daripada dibaca kasrah, dan dicetak dari lafadz “ash shadq” dengan terbaca fathah huruf shadnya. Dan ash shadq adalah nama sesuatu yang sangat keras.

وَهُوَ بِفَتْحِ الصَّادِ أَفْصَحُ مِنْ كَسْرِهَا مُشْتَقٌّ مِنَ الصَّدْقِ بِفَتْحِ الصَّادِ وُهَوَ اسْمٌ لِشَدِيْدِ الصُّلْبِ

Dan secara syara’, shadaq adalah nama harta yang wajib diberikan oleh seorang laki-laki sebab nikah, wathi’ syubhat atau meninggal dunia.

وَشَرْعًا اسْمٌ لِمَالٍ وَاجِبٍ عَلَى الرَّجُلِ بِنِكَاحٍ أَوْ وَطْءِ شُبْهَةٍ أَوْ مَوْتٍ

Disunnahkan menyebutkan mas kawin di dalam akad nikah, walaupun pernikahan seorang budaknya majikan dengan budak wanitanya majikan tersebut.

(وَيُسْتَحَبُّ تَسْمِيَّةُ الْمَهْرِ) فِيْ عَقْدِ (النِّكَاحِ) وَلَوْ فِيْ نِكَاحِ عَبْدِ السَّيِّدِ أَمَّتَهُ

Sudah dianggap cukup menyebutkan mas kawin berupa apapun, akan tetapi disunnahkan mas kawinnya tidak kurang dari sepuluh dirham dan tidak lebih dari lima ratus dirham murni.

وَيَكْفِيْ تَسْمِيَّةُ أَيِّ شَيْئٍ كَانَ وَلَكِنْ يُسَنُّ عَدَمُ النَّقْصِ عَنْ عَشْرَةِ دَرَاهِمَ وَعَدَمُ الزِّيَادَةِ عَلَى خَمْسِ مِائَةِ دِرْهَمٍ خَالِصَةٍ

Dengan ungkapannya, “disunnahkan”, mushannif memberikan isyarah bahwa boleh melakukan akad nikah tanpa menyebutkan mas kawin, dan hukumnya memang demikian.

وَأَشْعَرَ بِقَوْلِهِ يُسْتَحَبُّ بِجَوَازِ إِخْلَاءِ النِّكَاحِ عَنِ الْمَهْرِ وَهُوَ كَذَلِكَ

At Tafwidl (Memasrahkan)

Sehingga, jika di dalam akad nikah tidak disebutkan mas kawinnya, maka hukum akad nikah tersebut sah. Dan inilah yang dimaksud dengan at tafwidl (memasrahkan).

(فَإِنْ لَمْ يُسَمَّ) فِيْ عَقْدِ النِّكَاحِ مَهْرٌ (صَحَّ الْعَقْدُ) وَهَذَا مَعْنَى التَّفْوِيْضِ

Tafwidl adakalanya dari mempelai wanita yang sudah baligh dan rasyid, seperti ucapan wanita tersebut pada walinya, “nikahkanlah aku dengan tanpa mas kawin”, atau “dengan tanpa mas kawin yang akan aku miliki”, kemudian sang wali menikahkannya dan mentiadakan mas kawin atau diam tidak mengucapkan mas kawin.

وَيَصْدُرُ تَارَةً مِنَ الزَّوْجَةِ الْبَالِغَةِ الرَّشِيْدَةِ كَقَوْلِهَا لِوَلِيِّهَا زَوِّجْنِيْ بِلَا مَهْرٍ أَوْ عَلَى أَنْ لَا مَهْرَ لِيْ فَيُزَوِّجُهَا الْوَلِيُّ وَيُنْفِيْ الْمَهْرَ أَوْ يَسْكُتُ عَنْهُ

Begitu juga seandainya majikan budak wanita berkata pada seseorang, “aku nikahkan engkau dengan budak wanitaku”, dan sang majikan mentiadakan mas kawin atau diam tidak menyebutkannya.

وَكَذَا لَوْ قَالَ سَيِّدُ الْأَمَّةِ لِشَخْصٍ زَوَّجْتُكَ أَمَّتِيْ وَنَفَى الْمَهْرَ أَوْ سَكَتَ.

 

Konsekwensi Tafwidl

Ketika tafwidl telah sah, maka mas kawin menjadi wajib / tetap dalam permasalahan ini sebab tiga perkara.

(وَ) إِذَا صَحَّ التَّفْوِيْضُ (وَجَبَ الْمَهْرُ) فِيْهِ (بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ)

Tiga perkara tersebut adalah sang suami memastikan mas kawin yang akan ia berikan dan sang istri setuju dengan mas kawin yang telah ditetapkan oleh sang suami.

وَهِيَ (أَنْ يُفَرِّضَهُ الزَّوْجُ) عَلَى نَفْسِهِ وَتَرْضَى الزَّوْجَةُ بِمَا فَرَّضَهُ

Atau seorang hakim memastikan mas kawin yang dibebankan terhadap sang suami. Dan yang dipastikan oleh seorang hakim pada sang suami adalah mahar mitsil.

(أَوْ يُفَرِّضُهُ الْحَاكِمُ) عَلَى الزَّوْجِ وَيَكُوْنُ الْمَفْرُوْضُ عَلَيْهِ مَهْرَ الْمِثْلِ

Dan disyaratkan hakim harus mengetahui ukuran mahar mitsil tersebut.

وَيُشْتَرَطُ عِلْمُ الْقَاضِيْ بِقَدْرِهِ

Tidak disyaratkan adanya persetujuan dari kedua mempelai terhadap apa yang telah ditentukan oleh seorang hakim.

أَمَّا رِضَا الزَّوْجَيْنِ بِمَا يُفَرِّضُهُ فَلَا يُشْتَرَطُ

Atau sang suami telah menjima’ sang istri, maksudnya istri yang telah tafwidl sebelum ada ketentuan dari sang suami tersebut atau seorang hakim. Sehingga bagi sang istri berhak memiliki mahar mitsil sebab jima’ tersebut.

(أَوْ يَدْخُلَ) أَيِ الزَّوْجُ (بِهَا) أَيِ الزَّوْجَةِ الْمُفَوِّضَةِ قَبْلَ فَرْضٍ مِنَ الزَّوْجِ أَوِ الْحَاكِمِ (فَيَجِبُ) لَهَا (مَهْرُ الْمِثْلِ) بِنَفْسِ الدُّخُوْلِ

Mahar mitsil yang dijadikan ukuran adalah mahar mitsil saat akad nikah menurut pendapat al ashah.

وَيُعْتَبَرُ هَذَا الْمَهْرُ بِحَالِ الْعَقْدِ فِيِ الْأَصَحِّ

Jika salah satu dari suami istri meninggal dunia sebelum ada kepastian ukuran mas kawinnya dan sebelum terjadi jima’, maka sang suami wajib memberikan mahar mitsli menurut pendapat al adlha

وَإِنْ مَاتَ أَحَدُ الزَّوْجَيْنِ قَبْلَ فَرْضٍ وَوَطْءٍ وَجَبَ مَهْرُ مِثْلٍ فِيْ الْأَظْهَرِ

Yang dikehendaki dengan mahar mitsil adalah ukuran mas kawin yang disetujui / disukai oleh wanita yang selevel dengan istri tersebut secara adatnya.

وَالْمُرَادُ بِمَهْرِ الْمِثْلِ قَدْرُ مَا يُرْغَبُ بِهِ فِيْ مِثْلِهَا عَادَةً

 

Ukuran Mas Kawin

Tidak ada batasan tertentu di dalam ukuran minimal mas kawin. Dan juga tidak ada batasan tertentu di dalam ukuran maksimal mas kawin.

(وَلَيْسَ لِأَقَلِّ الصَّدَاقِ) حَدٌّ مُعَيَّنٌ فِيْ قِلَّةٍ (وَلَا أَكْثَرِهِ حَدٌّ) مُعَيَّنٌ فِيْ الْكَثْرَةِ

Bahkan batasan dalam hal itu adalah, sesungguhnya setiap sesuatu yang sah dijadikan sebagai tsaman, baik berupa benda atau manfaat, maka sah dijadikan sebagai mas kawin.

بَلِ الضَّابِطُ فِيْ ذَلِكَ أَنَّ كُلَّ شَيْئٍ صَحَّ جَعْلُهُ ثَمَنًا مِنْ عَيْنٍ أَوْ مَنْفَعَةٍ صَحَّ جَعْلُهُ صَدَاقًا

Namun telah dijelaskan bahwa sesungguhnya mas kawin yang disunnahkan adalah tidak kurang dari sepuluh dirham dan tidak lebih dari lima ratus dirham

وَسَبَقَ أَنَّ الْمُسْتَحَبَّ عَدَمُ النَّقْصِ عَنْ عَشْرَةِ دَرَاهِمَ وَعَدَمُ الزِّيَادَةِ عَلَى خَمْسِ مِائَةِ دِرْهَمٍ

Bagi seorang laki-laki diperkenankan menikahi seorang wanita dengan mas kawin berupa manfaat yang diketahui/maklum, seperti mengajari Al Qur’an pada wanita tersebut.

(وَيَجُوْزُ أَنْ يَتَزَوَّجَهَا عَلَى مَنْفَعَةٍ مَعْلُوْمَةٍ) كَتَعْلِيْمِهَا الْقُرْآنَ

Hukum Mas Kawin

Separuh dari mas kawin menjadi gugur sebab terjadi talak sebelum melakukan jima’.

(وَيَسْقُطُ بِالطَّلَاقِ قَبْلَ الدُّخُوْلِ نِصْفُ الْمَهْرِ)

Sedangkan talak yang terjadi setelah jima’ walaupun satu kali saja, maka seluruh mas kawin berhak diberikan pada sang istri, walaupun jima’ yang dilakukan hukumnya haram seperti sang suami menjima’ istrinya saat sang istri melakukan ihram atau saat haidl.

أَمَّا بَعْدَ الدُّخُوْلِ وَلَوْ مَرَّةً وَاحِدَةً فَيَجِبُ كُلُّ الْمَهْرِ وَلَوْ كَانَ الدُّخُوْلُ حَرَامًا كَوَطْءِ الزَّوْجِ زَوْجَتَهُ حَالَ إِحْرَامِهَا أَوْ حَيْضِهَا

Sebagaimana keterangan didepan bahwa seluruh mas kawin wajib diberikan pada sang istri sebab salah satu dari suami istri meninggal dunia. Dan mas kawin belum wajib sebab telah berduaan dengan sang istri menurut qaul jadid.

وَيَجِبُ كُلُّ الْمَهْرِ كَمَا سَبَقَ بِمَوْتِ أَحَدِ الزَّوْجَيْنِ لَا بِخَلْوَةِ الزَّوْجِ بِهَا فِيْ الْجَدِيْدِ

Ketika seorang istri yang merdeka bunuh diri sebelum sang suami berhubungan intim dengannya, maka mas kawin wanita tersebut tidak gugur.

وَإِذَا قَتَلَتِ الْحُرَّةُ نَفْسَهَا قَبْلَ الدُّخُوْلِ بِهَا لَا يَسْقُطُ مَهْرُهَا

Berbeda dengan permasalahan ketika seorang istri budak wanita yang melakukan bunuh diri atau dibunuh oleh majikannya sendiri sebelum sang suami melakukan jima’ dengannya, maka sesungguhnya mas kawinnya menjadi gugur.

بِخِلَافِ مَا لَوْ قَتَلَتِ الْأَمَّةُ نَفْسَهَا أَوْ قَتَلَهَا سَيِّدُهَا قَبْلَ الدُّخُوْلِ فَإِنَّهُ يَسْقُطُ مَهْرُهَا .

( Kitab Fathul Qorib)