MAKSIAT DAN TIDUR SHUBUH PENGHAMBAT REZEKI SERTA MASALAH BERSIN

Maksiat Dan Tidur Subuh Penyebab Fakir

Sungguh dosa yang dikerjakan adalah penyebab tertegah rezeki, lebih-lebih dosa yang dikerjakan adalah berbohong. Berbohong sangat berdampak besar bagi seseorang menjadi fakir.

Secara umum, dosa berefek kepada terhambatnya rezeki. Khusus pada berbohong tidak berefek pada terhambatnya rezeki saja, bahkan sampai bisa membuat seseorang jatuh miskin. Hal ini terbukti, dengan seseorang yang menipu orang lain di seluruh kehidupannya akhirnya ia akan terjatuh.

Orang yang bermodal bohong dalam mencari uang tidak lama kemudian ia akan jatuh miskin dan tidak memiliki apapun lagi. Khusus pada berbohong dapat berefek miskin ini ada hadist yang khusus.

Begitu juga tidur subuh dapat menghambat rezeki. Karena itu harus bangun di waktu subuh, walaupun dalam keadaan capek sekali.

Ini harus benar-benar dijaga. Apa lagi bagi seorang penuntut ilmu. Sedang belajar jangan sampai banyak penghambat rezeki. Jangan sampai seorang pelajar yang masih dalam perjalanan menuntut ilmu agama mesti menjadi buruh pada orang lain.

Banyak tidur juga dapat memberi dampak buruk seseorang menjadi miskin. Malam tidur, siang juga tidur, itu perbuatan yang tidak baik. Banyak tidur juga dapat menjadi penyebab miskinnya ilmu. Artinya, dua efek buruk sekaligus didapatkan sebab banyak tidur.

Berkatalah orang yang berkata “Kesenangan manusia itu pada memakai pakaian, dan mengumpulkan ilmu dengan kurang tidur.”

Nilai Positif Bersin bagi Tubuh

Deskripsi Masalah:

Bersin adalah cara tubuh menyingkirkan iritan pada hidung seperti debu. Pilek dan alergi sering kali membuat kita bersin.Terkadang terlintas dalam pikiran, bersin tidak berdampak sehat bagi tubuh sehingga akrab kali terdengar ucapan suruhan minum obat bagi yang bersin, bahkan terkadang ada sebagian kita yang menganggap bersin itu hal yang memalukan.

Pertanyaan:

  1. Benarkah bersin tidak berdampak positif bagi tubuh?
  2. Jika itu tidak menyehatkan tubuh, lantas kenapa disaat bersin dianjurkan menyucapkan Alhamdulillah?

Jawaban:

  1. Tidak benar, karena dari bersin itu terdapat nilai positif yang terpuji dalam agama yaitu meringankan badan dimana dengan ini seseorang akan gemar dalam berbeuat taat dan melemahkan syahwat (keinginan).

  1. Karena dampak dari bersin hal terpuji, berkata para Ulama “inilah hikmat dari disunnahkan bersyukur dengan mengucapkan Alhamdulillah saat bersin”

– Ianatuttalibin Juz 4 Hal 192 Cet, Haramain

قوله: فإنه) أي التشميت سنة، لما رواه أبو هريرة رضي الله عنه عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: إن الله يحب العطاس ويكره التثاؤب، فإذا عطس أحدكم وحمد الله تعالى، كان حقا على كل مسلم سمعه أن يقول له يرحمك الله، وأما التثاؤب فإنما هو من الشيطان، فإذا

تثاءب أحدكم فليرده ما استطاع، فإن أحدكم إذا تثاءب ضحك منه الشيطان.

قال العلماء: والحكمة في ذلك أن العطاس سببه محمود، وهو خفة الجسم التي تكون لقلة الاخلاط وتخفيف الغذاء، وهو أمر مندوب إليه، لانه يضعف الشهوة ويسهل الطاعة، والتثاؤب بضد ذلك.

HUKUM IMAM TAHLIL YANG MENAMBAHKAN SENDIRI DAFTAR AHLI KUBUR YANG DI HADIAHI PAHALA

*Deskeripsi Masalah*

Ada sebuah undangan tahlil mengundang masyarakat juga kyai yang dipasrahi memimpin acara. Muncul masalah dalam fungsi kyai dalam memimpin acara, yaitu menyelipkan nama-nama orang tua kyai yang tentunya tidak ditulis oleh tuan rumah.

 *Pertanyaan:*

  1. 1. Bagaimanakah hukumnya penyelipan nama-nama arwah selain yang ditentukan tuan rumah?.

  1. 2. Akad apakah yang terjadi antara kyai dan tuan rumah?

 *Jawaban:*

  1. 1. Menyelipkan nama selain yang ditentukan tuan rumah diperbolehkan, mengingat seorang kyai memimpin acara dengan sukarela tanpa adanya akad tertentu sebelumnya. Kecuali jika nama yang diselipkan tersebut termasuk orang yang dibenci tuan rumah, maka hukumnya tidak boleh diselipkan karena akan menyebabkan idaz’ (menyakiti hati) tuan rumah.

  1. 2. Mengingat tidak adanya transaksi sebelumnya, maka pemberian tuan rumah kepada kyai termasuk hadiah.

*Referensi:*

*حاشية الجمل ج3 ص 628*

ﻭﻟﻮ ﻋﻤﻞ ﻟﻐﻴﺮﻩ ﻋﻤﻼ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ اﺳﺘﺌﺠﺎﺭ ﻭﻻ ﺟﻌﺎﻟﺔ ﻓﺪﻓﻊ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﺎﻻ ﻋﻠﻰ ﻇﻦ ﻭﺟﻮﺑﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻟﻢ ﻳﺤﻞ ﻟﻠﻌﺎﻣﻞ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﻳﻌﻠﻤﻪ ﺃﻭﻻ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺒﺬﻝ ﺛﻢ اﻟﻤﻘﺒﻮﻝ ﻫﺒﺔ ﻟﻮ ﺃﺭاﺩ اﻟﺪاﻓﻊ ﺃﻥ ﻳﻬﺒﻪ ﻣﻨﻪ.

ﻭﻟﻮ ﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺒﺬﻝ ﻭﺩﻓﻌﻪ ﺇﻟﻴﻪ ﻫﺪﻳﺔ ﺣﻞ.

*إعانة الطالبين، ج ٣/ص ١٨٣*

*لو ﺃﻋﻄﻰ ﻓﻘﻴﺮا ﺩﺭﻫﻤﺎ ﺑﻨﻴﺔ ﺃﻥ ﻳﻐﺴﻞ ﺑﻪ ﺛﻮﺑﻪ، ﺃﻱ ﻭﻗﺪ ﺩﻟﺖ اﻟﻘﺮﻳﻨﺔ ﻋﻠﻴﻪ، ﺗﻌﻴﻦ ﻟﻪ*.

*وﻟﻮ ﺧﻄﺐ اﻣﺮﺃﺓ، ﺛﻢ ﺃﺭﺳﻞ ﺃﻭ ﺩﻓﻊ ﺇﻟﻴﻬﺎ، ﺑﻼ ﻟﻔﻆ ﻣﺎﻻ ﻗﺒﻞ اﻟﻌﻘﺪ، ﺃﻱ ﻭﻟﻢ ﻳﻘﺼﺪ اﻟﺘﺒﺮﻉ، ﺛﻢ ﻭﻗﻊ اﻹﻋﺮاﺽ ﻣﻨﻬﺎ ﺃﻭ ﻣﻨﻪ، ﺭﺟﻊ ﺑﻤﺎ ﻭﺻﻠﻬﺎ ﻣﻨﻪ.* اﻩ.

ﻗﺎﻝ ﻓﻲ اﻟﺘﺤﻔﺔ ﻫﻨﺎﻙ، ﺃﻱ ﻷﻥ ﻗﺮﻳﻨﺔ ﺳﺒﻖ اﻟﺨﻄﺒﺔ ﺗﻐﻠﺐ ﻋﻠﻰ اﻟﻈﻦ ﺃﻧﻪ ﺇﻧﻤﺎ ﺑﻌﺚ ﺃﻭ *ﺩﻓﻊ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﻟﺘﺘﻢ ﺗﻠﻚ اﻟﺨﻄﺒﺔ* . اﻩ

(ﻗﻮﻟﻪ: ﻓﺮﺩ ﻗﺒﻞ اﻟﻌﻘﺪ) ﺃﻱ ﻟﻢ ﻳﻘﺒﻞ، ﻭﻗﻮﻟﻪ ﺭﺟﻊ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺃﻗﺒﻀﻪ،

ﺃﻱ *ﻷﻧﻪ ﺇﻧﻤﺎ ﺩﻓﻊ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﻣﺎ ﺫﻛﺮ ﻷﺟﻞ اﻟﺘﺰﻭﻳﺞ، ﻭﻟﻢ ﻳﻮﺟﺪ* ،

ﻭﻓﻲ ﺣﺎﺷﻴﺔ اﻟﺠﻤﻞ، ﻓﻲ ﺑﺎﺏ اﻟﻨﻜﺎﺡ، ﻣﺎ ﻧﺼﻪ. (ﺳﺌﻞ ﻣ ﺭ) ﻋﻤﻦ ﺧﻄﺐ اﻣﺮﺃﺓ، ﺛﻢ ﺃﻧﻔﻖ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻧﻔﻘﺔ ﻟﻴﺘﺰﻭﺟﻬﺎ، ﻓﻬﻞ ﻟﻪ اﻟﺮﺟﻮﻉ ﺑﻤﺎ ﺃﻧﻔﻘﻪ ﺃﻡ ﻻ؟. (ﻓﺄﺟﺎﺏ) ﺑﺄﻥ ﻟﻪ اﻟﺮﺟﻮﻉ ﺑﻤﺎ ﺃﻧﻔﻘﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺩﻓﻊ ﻟﻪ، ﺳﻮاء ﻛﺎﻥ ﻣﺄﻛﻮﻻ، ﺃﻭ ﻣﺸﺮﻭﺑﺎ، ﺃﻡ ﻣﻠﺒﺴﺎ، ﺃﻡ ﺣﻠﻮا، ﺃﻡ ﺣﻠﻴﺎ، ﻭﺳﻮاء ﺭﺟﻊ ﻫﻮ، ﺃﻡ ﻣﺠﻴﺒﻪ، ﺃﻡ ﻣﺎﺕ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ، ﻷﻧﻪ ﺇﻧﻤﺎ ﺃﻧﻔﻘﻪ ﻷﺟﻞ ﺗﺰﻭﺟﻬﺎ، ﻓﻴﺮﺟﻊ ﺑﻪ ﺇﻥ ﺑﻘﻲ، ﻭﺑﺒﺪﻟﻪ ﺇﻥ ﺗﻠﻒ،

ﻭﻇﺎﻫﺮ ﺃﻧﻪ ﻻ ﺣﺎﺟﺔ ﺇﻟﻰ اﻟﺘﻌﺮﺽ ﻟﻌﺪﻡ ﻗﺼﺪﻩ اﻟﻬﺪﻳﺔ بل ﻷﺟﻞ ﺗﺰﻭﺟﻪ ﺑﻬﺎ، ﻷﻧﻪ ﺻﻮﺭﺓ اﻟﻤﺴﺄﻟﺔ،

ﺇﺫ ﻟﻮ ﻗﺼﺪ ﺫﻟﻚ، ﺃﻱ اﻟﻬﺪﻳﺔ، ﻻ ﻷﺟﻞ ﺗﺰﻭﺟﻪ ﺑﻬﺎ، ﻟﻢ ﻳﺨﺘﻠﻒ ﻓﻲ ﻋﺪﻡ اﻟﺮﺟﻮﻉ. اﻩ.

*تحفة المحتاج*

*ﻷﻥ اﻟﻘﺮﻳﻨﺔ ﻣﺤﻜﻤﺔ ﻫﻨﺎ* ﻭﻣﻦ ﺛﻢ ﻗﺎﻟﻮا ﻟﻮ ﺃﻋﻄﻰ ﻓﻘﻴﺮا ﺩﺭﻫﻤﺎ ﺑﻨﻴﺔ ﺃﻥ ﻳﻐﺴﻞ ﺑﻪ ﺛﻮﺑﻪ ﺃﻱ ﻭﻗﺪ ﺩﻟﺖ اﻟﻘﺮﻳﻨﺔ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺗﻌﻴﻦ ﻟﻪ ﻭﻟﻮ ﺷﻜﺎ ﺇﻟﻴﻪ ﺃﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﻮﻑ ﺃﺟﺮﺓ ﻛﺎﺫﺑﺎ ﻓﺄﻋﻄﺎﻩ ﺩﺭﻫﻤﺎ، ﺃﻭ ﺃﻋﻄﻰ ﻟﻈﻦ ﺻﻔﺔ ﻓﻴﻪ، ﺃﻭ ﻓﻲ ﻧﺴﺒﻪ ﻓﻠﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻴﻪ ﺑﺎﻃﻨﺎ ﻟﻢ ﻳﺤﻞ ﻟﻪ ﻗﺒﻮﻟﻪ ﻭﻟﻢ ﻳﻤﻠﻜﻪ

*ﻭﻳﻜﺘﻔﻲ ﻓﻲ ﻛﻮﻧﻪ ﺃﻋﻄﻰ ﻷﺟﻞ ﻇﻦ ﺗﻠﻚ اﻟﺼﻔﺔ ﺑﺎﻟﻘﺮﻳﻨﺔ* ﻭﻣﺜﻞ ﻫﺬا ﻣﺎ ﻳﺄﺗﻲ ﺁﺧﺮ اﻟﺼﺪاﻕ ﻣﺒﺴﻮﻃﺎ ﻣﻦ ﺃﻥ ﻣﻦ ﺩﻓﻊ ﻟﻤﺨﻄﻮﺑﺘﻪ، ﺃﻭ ﻭﻛﻴﻠﻬﺎ ﺃﻭ ﻭﻟﻴﻬﺎ ﻃﻌﺎﻣﺎ، ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻩ ﻟﻴﺘﺰﻭﺟﻬﺎ ﻓﺮﺩ ﻗﺒﻞ اﻟﻌﻘﺪ ﺭﺟﻊ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺃﻗﺒﻀﻪ ﻭﺣﻴﺚ ﺩﻟﺖ ﻗﺮﻳﻨﺔ ﺃﻥ ﻣﺎ ﻳﻌﻄﺎﻩ ﺇﻧﻤﺎ ﻫﻮ ﻟﻠﺤﻴﺎء ﺣﺮﻡ اﻷﺧﺬ ﻭﻟﻢ ﻳﻤﻠﻜﻪ ﻗﺎﻝ اﻟﻐﺰاﻟﻲ ﺇﺟﻤﺎﻋﺎ

PENGERTIAN PLASENTA ATAU MASYIMAH ATAU ARI-ARI BAYI

 MASYIMAH terbagi atas dua macam :

  1. Masyimah yang tersambung dengan pusar (ari-ari)
  2. Masyimah pembungkus bayi (uterus)

Masyimah hukumnya suci. Sedangkan hukumnya sebagai berikut :

1.Masyimah (ari-ari) sunah dikuburkan bila bayinya tidak mati seketika oada waktu pemotongan sedang bila bayinya mati sat pemotongan atau lahir sudah dalam keadaan mati maka hukumnya sama dengan bayinya (Wajib dikuburkan)

2.Masyimah pembungkus bayi (uterus) tidak terdapati kewajiban apapun.

Ketentuan di atas berpijak pada pendapat al-Batmawi

( وَالْجُزْءُ الْمُنْفَصِلُ ) بِنَفْسِهِ أَوْ بِفِعْلِ فَاعِلٍ ( مِنْ ) الْحَيَوَانِ ( الْحَيِّ ) ( كَمَيْتَتِهِ ) طَهَارَةً وَضِدَّهَا لِخَبَرِ { مَا قُطِعَ مِنْ حَيٍّ فَهُوَ مَيِّتٌ } فَالْيَدُ مِنْ الْآدَمِيِّ طَاهِرَةٌ وَلَوْ مَقْطُوعَةً فِي سَرِقَةٍ أَوْ كَانَ الْجُزْءُ مِنْ سَمَكٍ أَوْ جَرَادٍ وَمِنْ نَحْوِ الشَّاةِ نَجِسَةٌ ، وَمِنْهُ الْمَشِيمَةُ الَّتِي فِيهَا الْوَلَدُ طَاهِرَةٌ مِنْ الْآدَمِيِّ ، نَجِسَةٌ مِنْ غَيْرِهِ .

Bagian tubuh yang terpisah dengan sendirinya atau akibat perbuatan seseorang dari yang hidup hukumnya seperti bangkainya baik dalam kesucian atau kenajisannya berdasarkan hadits “Yang terpisah dari yang hidup seperti bangkai” maka tangan yang terpisah dari manusia hukumnya suci meskipun terpotong akibat pencurian atau bagian tubuh dari ikan air atau belalang (maka suci).Sedang yang terpotong dari semacam kambing maka najis.Termasuk masyimah yang didalamnya terdapati anak, bila dari manusia maka suci, bila dari selainnya maka najis. [ Hasyiyah as-Syibro Malisy II/15 ].

( فَرْعٌ ) آخَرُ هَلْ الْمَشِيمَةُ جُزْءٌ مِنْ الْأُمِّ أَمْ مِنْ الْمَوْلُودِ حَتَّى إذَا مَاتَ أَحَدُهُمَا عَقِبَ انْفِصَالِهَا كَانَ لَهُ حُكْمُ الْجُزْءِ الْمُنْفَصِلِ مِنْ الْمَيِّتِ فَيَجِبُ دَفْنُهَا ، وَلَوْ وُجِدَتْ وَحْدَهَا وَجَبَ تَجْهِيزُهَا وَالصَّلَاةُ عَلَيْهَا كَبَقِيَّةِ الْأَجْزَاءِ أَوَّلًا ؛ لِأَنَّهَا لَا تُعَدُّ مِنْ أَجْزَاءِ وَاحِدٍ مِنْهُمَا خُصُوصًا الْمَوْلُودَ فِيهِ نَظَرٌ فَلْيُتَأَمَّلْ .ا هـ .سم عَلَى الْمَنْهَجِ وَأَقُولُ الظَّاهِرُ أَنَّهُ لَا يَجِبُ فِيهَا شَيْءٌ ا هـ .ع ش عَلَى م ر .وَعِبَارَةُ الْبِرْمَاوِيِّ أَمَّا الْمَشِيمَةُ الْمُسَمَّاةُ بِالْخَلَاصِ فَكَالْجُزْءِ ؛ لِأَنَّهَا تُقْطَعُ مِنْ الْوَلَدِ فَهِيَ جُزْءٌ مِنْهُ وَأَمَّا الْمَشِيمَةُ الَّتِي فِيهَا الْوَلَدُ ، فَلَيْسَتْ جُزْءًا مِنْ الْأُمِّ وَلَا مِنْ الْوَلَدِ انْتَهَتْ .

[ CABANG ] Apakah masyimah bagian dari ibu atau anak hingga bila salah satu dari mereka meninggal setelah terpisahnya maka hukumnya seperti bagian tubuh yang terpisah dari mayat maka wajib menguburkannya, dan bila ia ditemukan sendirian maka wajib merawatnya serta menshalatinya sebagaimana bagian-bagian tubuh manusia lainnya ? Ataukah tidak diwajibkan apapun atas masyimah tersebut karena ia tidaj terhitung satu bagian tubuh dari mereka ? Didalamnya perlu pemikiran, maka berfikirlah..

Ahmad Bin Qoosim al-‘Ubbaadi berpendapat tidak ada kwajiban apapun atas masyimah sedang al-Barmawy menilai Masyimah yang juga dikenal dengan nama al-Khalash maka seperti bagian tubuh dari seseorang karena ia terpotong dari tubuh seorang anak maka ia bagian tubuhnya, sedang masyimah yang didalamnya terdapati anak maka bukanlah bagian tubuh dari ibu juga bukan bagian tubuh dari anak. [ Hasyiyah al-Jamal VII/142 ].

وَيُسَنُّ دَفْنُ مَا انْفَصَلَ مِنْ حَيٍّ لَمْ يَمُتْ حَالًا أَوْ مِمَّنْ شُكَّ فِي مَوْتِهِ كَيَدِ سَارِقٍ وَظُفْرٍ وَشَعْرٍ وَعَلَقَةٍ ، وَدَمِ نَحْوِ فَصْدٍ إكْرَامًا لِصَاحِبِهَا

Dan disunahkan menguburkan bagian yang terpisah dari orang hidup yang tidak mati seketika atau bagian tubuh yang terpisah dari orang yang diragukan kematiannya seperti potongan tangan pencuri, kuku, rambut dan segumpal darah serta darah yang keluar dari semacam bekam demi memuliakan pemilik potongan tubuh tersebut. [ Nihaayah al-Muhtaaj VI/24 ].

( وَلَوْ وُجِدَ جُزْءُ مَيِّتٍ مُسْلِمٍ ) غَيْرِ شَهِيدٍ ( صَلَّى عَلَيْهِ ) بَعْدَ غَسْلِهِ وَسَتْرِهِ بِخِرْقَةٍ وَدُفِنَ كَالْمَيِّتِ الْحَاضِرِ وَإِنْ كَانَ الْجُزْءُ ظُفُرًا أَوْ شَعْرًا فَقَدْ صَلَّى الصَّحَابَةُ عَلَى يَدِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَتَّابِ بْنِ أَسِيدٍ وَقَدْ أَلْقَاهَا طَائِرُ نَسْرٍ بِمَكَّةَ فِي وَقْعَةِ الْجَمَلِ وَقَدْ عَرَفُوهَا بِخَاتَمِهِ رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ

Bila ditemui bagian tubuh mayat muslim selain orang mati syahid maka wajib dishalatkan setelah dimandikan dan ditutupi dengan kain dan dikuburkan layaknya orang mati meskipun bagian tersebut hanyalah berupa kuku atau rambut karena para sahabat nabi pernah menshalati tangan sahabat Abdur rahman Bin ‘Attaaab yang terjatuh dari burung nasar dikota makkah saat perang al-Jamal, tangan tersebut dikenali para sahabat milik Abdur rahman karena cincin yang terdapat dijemarinya, diriwayatkan oleh as-syafi’i. [ Hasyiyah al-Jamal VII/140 ].

Wallaahu A’lamu Bis Showab.

KELUARGA BAHAGIA DUNIA SAMPAI AKHIRAT DAN HUKUM MENIKAHKAN DUA ANAK DALAM SATU TAHUN

Membangun Keluarga Sakinah Dunia-Akhirat

Setiap perkawinan yang dibangun oleh sepasang suami istri pasti dikehendaki untuk langgeng tanpa ada perceraian yang menimpa. Setiap keluarga yang dibina pasti diinginkan untuk tetap terus kokoh sampai kapan pun di mana terjalin ikatan lahir batin yang baik antar semua anggotanya.

Dalam sebuah kehidupan berkeluarga yang terbina dengan baik setiap anggotanya akan saling memperhatikan satu sama lain, berkeinginan untuk selalu berbagi dan bersama dalam suka dan duka.

Sebuah contoh kecil, seorang yang baik biasanya akan teringat orang tua, suami, istri dan anak-anaknya saat ia makan enak sendirian di sebuah restoran. Seenak apa pun makanan yang disajikan untuknya dirasa tak istimewa tanpa kehadiran anggota keluarga tercinta. Namun sebaliknya, sesederhana apa pun makanan yang disantap akan terasa nikmat bila dinikmati bersama seluruh anggota keluarga.

Gambaran kecil seperti itu bukan saja dialami oleh setiap manusia yang hidup di dunia, tapi bahkan saat di akhirat kelak seorang yang baik akan merasa kesepian bila ia menikmati hasil ketaatannya sendirian tanpa ditemani anggota keluarganya baik orang tua, suami, istri atau anak-anak keturunannya. Dengan demikian berkumpulnya semua anggota keluarga di dunia hingga akhirat dalam kebaikan mestinya menjadi cita-cita bagi setiap orang mukmin yang berkeluarga.

Dalam Surat An-Nisa ayat 11 Allah berfirman:

آباؤُكُمْ وَأَبْناؤُكُمْ لا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعاً

“Orang-otang tua dan anak-anak kalian, kalian tidak tahu manakah di antara mereka yang lebih dekat kemanfaatannya bagi kalian.”

Mengenai ayat tersebut sahabat Abdullah bin Abas mengatakan sebagimana dikutip oleh Syekh Nawawi Banten dalam kitab tafsirnya Al-Munir, bahwa kelak Allah akan memberi syafaat kepada orang-orang mukmin, di mana sebagian mereka akan memberi syafaat kepada sebagian yang lain. Siapa yang lebih taat kepada Allah maka dialah yang lebih tinggi derajatnya di surga. Maka bila ada orang tua yang lebih tinggi derajatnya di surga daripada anaknya, maka atas permintaan sang orang tua Allah akan menaikkan derajat anaknya sehingga orang tuanya akan merasa bahagia bisa kembali berkumpul dengan anaknya. Pun sebaliknya, bila sang anak lebih tinggi derajatnya di surga dibanding orang tuanya, maka Allah akan menaikkan derajat orang tuanya sehingga sang anak merasa senang dapat berkumpul kembali dengan orang tuanya.

Hal serupa juga disinggung dalam Surat At-Thur ayat 21 yang menyebutkan bahwa di akhirat kelak seorang mukmin akan ditemukan dengan anak-anak keturunannya yang sama-sama beriman.

Penjelasan atas ayat tersebut dirasa penting untuk diperhatikan oleh setiap orang mukmin yang membina keluarga, baik pasangan suami istri baru atau pun yang telah lama membangun dan membina rumah tangga. Bahwa ikatan perkawinan bukan saja dirajut untuk membangun keluarga yang kokoh di dunia tapi juga diharapkan akan mampu mengumpulkan kembali setiap anggota keluarga di akhirat kelak di tempat penuh kenikmatan. Dan untuk mencapai itu mesti ada usaha dari setiap anggota keluarga untuk menjadi orang yang terbaik di hadapan Allah agar kelak ia bisa mengangkat derajat anggota keluarga yang lain.

Lebih khusus lagi bagi orang tua semestinya berusaha lebih kuat untuk bisa menciptakan generasi yang taat beragama. Pendidikan agama mesti lebih diperhatikan untuk diberikan kepada anak-anak agar tercipta generasi yang saleh lahir dan batin. Karena ia tidak tahu apakah dirinya atau anak-anaknya yang kelak lebih memberi manfaat meninggikan derajat yang lainnya di surga.

Referensi:

Tafsir Maroh Labid/Al-Munir, Syaikh Nawawi Al-Bantani

Hasyiyah As-Showy, Imam Ahmad As-Showy

Hukum Menikahkan Dua Orang Putri di Tahun yang Sama

Bahwa menikah itu diwajibkan bagi orang yang memang sudah mampu, baik lahir maupun batin. Mengenai hukum menikahkan dua orang anak perempuan dalam tahun yang sama tak ditemukan dalil yang melarangnya. 

 

Penjelasan yang tersedia adalah mengenai soal waktu pelaksanaan akad nikah, yaitu sebaiknya dilakukan pada hari Jumat. Alasan yang bisa dikemukakan di sini adalah bahwa hari Jumat adalah hari yang paling mulia dan merupakan sayyid al-ayyam (penghulu hari).

 

Di samping itu pelakasanaan akad nikah tersebut sebaiknya dilakukan pada pagi hari, karena terdapat hadits yang menceritakan tentang do’a Rasulullah saw yang meminta kepada Allah swt agar memberikan berkah kepada umatnya pada pagi hari.   

قَوْلُهُ: وَيَوْمَ الْجُمُعَةِ- أَيْ وَأَنْ يَكُونَ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ لِاَنَّهُ أَشْرَفُ الْاَيَّامِ وَسَيِّدُهَا.وَقَوْلُهُ أَوَّلَ النَّهَارِ: أَيْ وَأَنْ يَكُونَ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ: لِخَبَرِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لِاُمَّتِي فِي بُكُورِهَا حَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ

“(Perkataan penulis: dan pada hari Jumat) maksudnya adalah adanya akad sebaiknya dilakukan pada hari Jumat karena merupakan hari yang paling mulia dan penghulu hari. Dan perkataan penulis pada awal siang (pagi hari, pent) maksudnya adalah sebaiknya akad nikah dilakukan pada awal siang karena ada hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah saw berdo’a, ‘Ya Allah berkati umatku pada pagi hari’. Hadits ini dianggap sebagai hadits hasan oleh at-Tirmidzi” (Al-Bakri Muhammad Syatha, I’anah ath-Thalibin, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, 3, h. 273)

Sedang mengenai bulannya disunnahkan pada bulan Syawal dan Shafar karena Rasulullah saw menikah dengan sayyidah Aisyah ra pada bulan Syawal, dan menikahkan putrinya yaitu sayyidah Fathimah dengan Ali bin Abu Thalib kw pada bulan Shafar. Hal ini sebagaima keterangan yang terdapat dalam kitab Nihayah az-Zain karya syaikh Nawawi al-Bantani.

 وَيُسَنُّ أَنْ يَتَزَوَّجَ فِي شَوَّالٍ وَفِي صَفَرٍ لِأَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا فِي شَوَّالٍ وَزَوَّجَ ابنَتَهُ فَاطِمَةَ عَلِيًّا فِي شَهْرِ صَفَرٍ

“Dan sunnah pelaksanaan pernikahan pada bulan Syawal dan Shafar karena Rasulullah saw menikah dengan sayyidah Aisyah ra pada bulan Syawal, dan menikahkan putrinya sayyidah Fathimah ra pada bulan Shafar”. (Nawawi al-Bantani, Nihayah az-Zain, Bairut-Dar al-Fikr, tt, h. 200)

Dalam pandangan kami soal menikahkan dua orang anak perempuan dalam tahun yang sama lebih merupakan sesuatu yang terkait dengan adat-istiadat, dan umumnya berlaku di dalam tradisi masyarakat Jawa. Di kampung kami juga para orang tua sering mewanti-wanti sebaiknya jangan menikahkan dua anak perempuan dalam tahun yang sama.

Sedang pendekatan yang paling mudah untuk memahami larangan tersebut adalah dengan menggunakan pendekatan ekonomi. Pada umumnya kalau orang tua menikahkan anak perempuannya, mereka akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk hajatan pernikahan tersebut.

Bahkan acapkali untuk keperluan hajatan mereka rela menghutang kesana-kemari. Dan setelah hajatan baru dibayar hutang-hutang tersebut. Jika kemudian di tahun yang sama menikahkan puterinya yang kedua tentunya ini akan membebani mereka. Beban menikahan putri yang pertama belum selesai, tiba-tiba muncul beban baru.

WALLOU A’LAM BIS SHOWAB

WASIAT MENYAMA RATAKAN BAGIAN WARISAN DAN TIDAK SETUJUNYA SALAH SATU AHLI WARIS

Bagaimana hukumnya kalau warisan dibagi rata antara laki-laki dan perempuan, tapi sebelumnya sudah dimusyawarahkan dan disetujui oleh ahli waris.

Bila semua ahli warisnya tidak ada yang mahjur ‘alaih dan semua rela maka sah pembagian warisan dengan dibagi rata, bila semua ahli waris tersebut mengetahui bagiannya masing sebelum dibagi rata :

.وإن وقعت على خلاف الشرع بغير تراض بل بقهر أو حكم حاكم فباطلة إفرازا أو تعديلا أو ردا لأنها مهقور عليها___و إن وقعت بتراضيهم ولم يكن فيهما محجور مع علمهما بالحكم لكن إختارا خلافه صحت في غير الربوي مطلقا و فيه إن كانت القسمة إفرازا لأن الربا إنما يتصور جريانه في العقود دون غيرها كما في التحفة وإن كان ثم محجور فإن حصل له جميع حقه صحت وإلا فلا. بغية المسترشدين : ص : ٢٨١ : قول المتن أشترط الرضا الخ وظاهر أنه لا بد أن يعلم كل منهما ما صار إليه قبل رضاه. الشرواني ١٠/٢٠٨

Pola di masarakat kita ( Indonesia ) berbeda, di arab memang seorang laki-laki dituntut penuh menopang kebutuhan keluarga, sedangkan kita, kadang seorang suami ikut istri, kadang istri ikut suami, dan yang terjadi kebanyakan hukum bagi rata untuk harta milik orang tua, jadi tidak tepat disebut warisan, tapi hibbah, karena kebanyakan sudah dibagi-bagi sebelum orang tua meninggal.

Memang Allah menuntut setiap orang yang beriman untuk menerima semua aturan Allah dan Rasul-Nya dan mengedepankannya dari yang lainnya sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya. Dan barangsiapa yang membantah atau tidak menerimanya sesungguhnya orang itu telah berbuat maksiat terhadap Allah dan Rasul-Nya, sebagaiman firman-Nya :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

Artinya : “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab : 36)

Tentang hukum waris ini, Allah swt banyak membicarakannya di dalam Al Qur’an, di antaranya :

يُوصِيكُمُ اللّهُ فِي أَوْلاَدِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنثَيَيْنِ

Artinya : “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan.” (QS. An Nisaa : 11)

Hikmah dari bagian ahli waris laki-laki lebih banyak dari perempuan di antaranya adalah karena laki-laki punya beban tanggung-jawab menafkahi keluarga sedangkan perempuan tidak diwajibkan beban tersebut. Laki-laki punya beban kerja yang tidak mampu dilakukan perempuan seperti membajak sawah berperang dll….

 Lihat di HIKMATUT TASYRI’ WA FALSAFATUHU Juz 2 hal 264.

Adapun terkait dengan hibah maka hendaklah dibagi secara rata kepada seluruh anak-anaknya, sebagaimana pendapat jumhur ulama. Namun dibolehkan melebihkan bagian seorang anak tertentu dari anak-anak yang lainnya manakala memang hal itu diperlukan, seperti : untuk biaya pengobatannya, melunasi utang-utangnya, karena anaknya banyak, bekal pendidikannya atau yang lainnya, sebagaimana riwayat dari Ahmad (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz V hal 4014). Namun jika pembagian hibah kepada anak-anak tertentu tidak memiliki alasan yang dibenarkan maka harta hibah itu perlu kembali diperhitungkan.

JIKA AHLI WARIS TIDAK SETUJU WASIAT MEMBAGI RATA HARTA WARISAN ?

Dalam islam bab warisan telah diatur bagiannya masing2, untuk anak perempuan separuhnya laki2, tapi jika sebelum meninggal sang ortu berpesan untuk membagi hartanya dg rata.. setelah kejadian, saudara laki2 merasa kurang puas dan protes sementara yang perempuan tidak mau tahu dg dalih sudah amanat ortu untuk dibagi rata.

Bagaimana jalan keluar yang benar menurut syari’at islam ?

JAWABAN :

Kasus itu termasuk wasiat fasidah krn tidak ada takliq kematian atau sighot wasiat. Tapi umumunya cara seperti itu, dimasarakat dimakan hibah. Dan sah kalau diserah terimakan semasa hidupnya. Dan fasidah juga bila tidak serah terima dan tampa shighot. 

Jika pesannya “jika meninggal nanti…”  nah ini jelas wasiat. Namun wasiyat harus tidak lebih dr 1/3 tirkah, jika lebih, maka harus mendapat persetujuan ahli waris yang lain, jika ada yang tidak setuju maka pengadilan jalan keluarnya.

الكتب/823_كتاب-الأم-الإمام-الشافعي-ج-٤/الصفحة_118

Kalau wasiat sudah jelas tidak boleh lebih dari 1/3 tirkah, kecuali semua ahli waris ridho.

Sedang Syarat hibah pada anak2nya :

  1. Dilakukan saat sehat
  2. Meratakan pemberian.
  3. Tidak ada tujuan menghalang-halangi ahli waris.

وما روى عن النبي صلى الله عليه وسلم وما لم نعلم أهل العلم اختلفوا فيه يدل على هذا وإن كان يحتمل أن يكون وجوبها منسوخا وإذا أوصى لهم جاز وإذا أوصى للوالدين فأجاز الورثة فليس بالوصية أخذوا وإنما أخذوا بإعطاء الورثة لهم ما لهم لأنا قد أبطلنا حكم الوصية لهم فكان نص المنسوخ في وصية الوالدين وسمى معهم الأقربين جملة فلما كان الوالدان وارثين قسنا عليهم كل وارث

HIBBAH itu pemberian seseorang saat masih hidup dan membagi hartanya ketika ia masih hidup juga.. WASHIYAT itu pesan seseorang untuk memberikan sejumlah harta jika ia telah meninggal sehingga membagi hartanya setelah ia mati.  WARISAN itu peninggalan seseorang yang telah mati yang dibagikan otomatis pada ahli waris yang berhak setelah ia mati, sesuai faroidh.

Contoh wasiat : “nduk..! aku punya tabungan 10 M… sepeninggalku uang itu buat kamu untuk biaya sekolahmu dan biaya pernikahanmu nanti”.

Kalau contoh Hibbah : “nduk..! uang tabunganku 10 M itu sekarang aku berikan untuk kamu… ini kartu ATM nya dan ini no pinnya… jangan boros ya?”…

Jika jelas si ortu mengatakan 10 M dibagi rata untuk anak2nya setelah meninggal maka tergolong wasiat kepada ahliwaris yang tentunya harus disetujui oleh semua ahli waris.. maka :

  1. jika 10 M itu tidak lebih dari sepertiga (1/3) dari seluruh hartanya maka maka yang 10 M itu dibagi rata laki-laki perempuan.
  2. jika 10 M itu lebih dari sepertiga seluruh hartanya maka harus dikurangi menjadi sepertiga dan sisanya adalah tirkah yang harus dibagi secara faraidh / warisan.

Al-Iqna’ II / 221 :

حكم الوصية للوارث (ولا تجوز الوصية) أي تكره كراهة تنزيه (لوارث) خاص غير جائز بزائد على حصته لقوله صلى الله عليه وسلم: «لاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ» رواه أصحاب السنن (إلا أن يجيزها باقي الورثة) المطلقين التصرف لقوله صلى الله عليه وسلم: «لاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ إلاَّ أَنْ يُجِيزَهَا بَاقِي الوَرَثَة» رواه البيهقي بإسناد. قال الذهبي صالح وقياساً على الوصية لأجنبي بالزائد على الثلث،

Kifayatul Ahyar II / 33 :

وهل تصح الوصية للوارث؟ فيه خلاف: قيل لا تصح ألبتة لقوله عليه الصلاة والسلام (لا وصية لوارث) وهو حديث حسن صحيح. قاله الترمذي، والأصح الصحة، وتوقف على إجازة الورثة لقوله عليه الصلاة والسلام (لا تجوز الوصية لوارث إلا أن يشاء الورثة) رواه الدارقطني. قال عبدالحق: المشهور أنه منقطع ووصله بعضهم، فعلى الصحيح إجازة الورثة تنفيذ على الصحيح لا يحتاج إلى إيجاب وقبول وتكفي الإجازة والله أعلم

Intinya mengenai masalah wasiat kepada ahli waris hukumnya khilaf, namun menurut qoul asoh adalah sah wasiatnya .

Kifayatul Ahyar II / 34 :

ـ (فرع) الهبة للوارث كالواصية له وكذلك ضمان الدين عنه لأجنبي، وأطلق العراقيون أن الوصية لعبد الوارث كا لوصية له والله أعلم

Mengenai masalah salah satu ahli waris yang tidak setuju dalam Majmu’ An-Nawawi VI / 405  di jelaskan :

فصل : إذا أوصى أن يحجَّ عنه رجل بمائة درهم، ويدفع ما بقي من الثلث إلى آخر، وأوصى بالثلث لثالث وصيغتها عند الشافعي رحمه الله: «لو قال: أحجّوا عني رجلاً بمائة درهم، وأعطوا ما بقي من ثلثي فلاناً، وأوصى بثلث ماله لرجل بعينه، قال: «فللموصى له بالثلث نصف الثلث، وللحاج والموصى له بما بقي من الثلث نصف الثلث، ويحجّ عنه رجل بمائة درهم» . وهذا الرجل، أو الموصي قد أوصى بثلثي ماله. فإن أجاز الورثة ذلك، دفع ثلث المال إلى الموصى له بالثلث ولا يشاركه أحد، ودفع من الثلث الآخر مائة درهم إلى الموصى له بالحج، فإذا بقيت بعد المائة فضلة، دفعت إلى الموصى له بما بقي من الثلث. هذا حكم الوصية إذا أجازها الورثة.أمّا إذا لم يجز الورثة ذلك، ردَّت الوصايا إلى الثلث، فينظر: إذا كان الثلث مائة درهم فما دون، قسمت بين الموصى له بالثلث، وبين الموصى له بالمائة نصفين، لكل واحدٍ منهما خمسون، لاتفاقهما في قدر ما يستحقان، وهو المائة.

fokus

أمّا إذا لم يجز الورثة ذلك، ردَّت الوصايا إلى الثلث

PEMBAGIAN HARTA WARISAN KEPADA AHLI WARIS MENURUT ISLAM

Ahli Waris Laki-laki

  • Anak Laki-laki
  • Cucu L dari anak L
  • Bapak
  • Kakek (ayahnya ayah)
  • Saudara L (sekandung,seayah dan seibu)
  • Anak L dari saudara L sekandung/seayah
  • Paman (saudara sekandung dngn ayah/seayah dngn ayah)
  • Anak L paman (saudara sekandung dngn ayah/seayah dngn ayah)
  • Orang L yang memerdekakan
  • Suami

Ahli Waris Perempuan

  • Anak P
  • Cucu P dari anak L
  • Saudara P (sekandung, seayah, dan seibu)
  • Ibu
  • Nenek (ibunya ibu/ibunya ayah)
  • Perempuan yang memerdekakan
  • Istri

Furudul Muqoddaroh / Bagian Pasti: ½ ,1/4 ,1/8 , 1/3 , 1/6 , 2/3 , 1/3 sisa.

  • Ahli Waris Yang Mendapat Bagian 1/2:

1.Suami mendapat bagian ½ dengan syarat :

Tidak ada Furuk (anak, cucu, dst). Jika ada Furuk, maka Suami mendapat bagian 1/4.

2.Anak Perempuan mendapat bagian ½ dengan syarat :

  • Tidak ada Anak laki-laki yang mengashobahkannya. Jika ada anak laki-laki yang mengashobahkan, maka bersama-sama anak laki-laki tersebut mendapat Ashobah Bilghairi.
  • Hanya satu, jika lebih dari satu maka mendapat bagian 2/3.

3.Cucu perempuan dari anak laki-laki mendapat bagian ½ dengan syarat :

  • Tidak ada anak kandung. Jika ada anak laki-laki maka cucu perempuan Mahjub, jika ada anak perempuan satu maka mendapat bagian 1/6. Jika ada anak perempuan lebih dari satu maka Mahjub.
  • Tidak ada orang yang mengasobahkan ( cucu laki-laki dari anak laki-laki ).
  • Hanya satu, jika lebih dari satu, maka mendapat bagian 2/3.

4.Saudara perempuan sekandung mendapat bagian ½ dengan syarat :

  • Tidak ada Furuk; jika ada anak laki-laki atau cucu laki-laki maka Mahjub, jika ada anak perempuan satu atau cucu perempuan, maka mendapat asobah.
  • Tidak ada orang yang mengasobahkan ( saudara laki-laki sekandung ).
  • Tidak ada ayah, jika ada ayah maka suadara sekandung mahjubd. Hanya satu, jika lebih dari satu maka mendapat bagian 2/3.

5.Saudara perempuan seayah mendapat bagian ½ dengan syarat :

  • Tidak ada Furu’. Jika ada furuk laki-laki (anak laki-laki atau cucu laki-laki) maka Mahjub, dan jika ada furuk perempuan (anak perempuan satu atau cucu perempuan satu) maka mendapat bagian asobah .
  • Tidak ada orang yang mengasobahkan ( saudara laki-laki seayah ).
  • Tidak ada ayah, jika ada ayah maka mahjub.
  • Hanya satu, jika lebih dari satu maka mendapat bagian 2/3.
  • Tidak ada saudara sekandung, jika ada saudara laki-laki sekandung maka Mahjub. Jika ada saudara perempuan sekandung satu (mendapat bagian ½ ), maka mendapat bagian 1/6. Jika ada saudara perempuan sekandung lebih dari satu maka Mahjub. Jika saudara perempuan sekandung mendapat Asobah karena bersama -sama dengan anak perempuan atau cucu perempuan, maka saudara seayah Mahjub.

  • Ahli Waris Yang Mendapat Bagian ¼.
  • Suami dengan syarat ada furu’.
  • Istri dengan syarat tidak ada furu’, jika ada furu’ maka istri mendapat bagian 1/8.

  • Ahli Waris Yang Mendapat Bagian 1/8.
  • Istri baik satu atau lebih dengan syarat ada furu’.

  • Ahli Waris Yang Mendapat Bagian 2/3.
  • Anak perempaun dengan syarat: lebih dari satu dan syaratnya sama dngn ketika mendapat 1/2
  • Cucu perempuan dari anak laki-laki dengan syarat : lebih dari satu dan syaratnya sama dngn ketika mendapat 1/2
  • Saudara perempuan sekandung dengan syarat: lebih dari satu dan syaratnya sama dngn ketika mendapat 1/2
  • Saudara perempaun seayah dengan syarat: lebih dari satu dan syaratnya sama dngn ketika mendapat 1/2

  • Ahli Waris Yang Mendapat Bagian 1/3.
  • Ibu dengan syarat :
  • tidak ada furu’ ( anak atau cucu ), jika ada furu’ maka ibu mendapat bagian 1/6.
  • Tidak ada saudara lebih dari satu, jika ada saudara lebih dari satu, ibu mendapat bagian 1/6.
  • Suadara perempuan atau laki-laki seibu dengan syarat: lebih dari satu dan tidak ada orang yang memahjubkan ( Ayah, kakek, furuk ).

  • Ahli Waris Yang Mendapat Bagian 1/6.
  • Ayah dengan syarat tidak ada furu’. jika ada furuk laki-laki maka ayah mendapat bagian 1/6, jika ada furuk perempuan maka ayah mendapat bagian 1/6 dan sisa.
  • Ibu dengan syarat: ada furu’ dan ada saudara lebih dari satu.
  • Kakek dengan syarat:a. Tidak ada ayah, jika ada ayah maka kakek menjadi mahjubb. Ada furuk.
  • Cucu perempuan dari anak laki-laki (satu atau lebih) dengan syarat :
  • Ketika bersama-sama dengan anak perempuan yang mendapat bagian1/2.
  • Tidak ada orang yang mengasobahkan ( cucu laki-laki ), jika ada cucu laki-laki bersama-sama cucu laki-laki mendapat asobah bilgoiri.
  • Saudara perempuan seayah dengan syarat:
  • Ketika bersama-sama dengan saudara perempuan sekandung yang mendapat bagian ½
  • Jika ada saudara perempuan sekandung lebih dari satu dan ada anak perempuan/cucu perempuan (tidak mendapat bagian ½ artinya mendapat bagian 2/3, atau asobah), maka saudara perempuan seayah adalah mahjub.
  • Tidak ada orang yang mengasobahkan ( saudara laki-laki seayah ).
  • Nenek dengan syarat Tidak ada ibu, jika ada ibu maka nenek mahjub.
  • Suadara laki-laki atau perempuan seibu dengan syarat:
  • Hanya satu.
  • Tidak ada orang yang menghalangi ( furuk, bapak dan kakek ).

MENYEMBUHKAN PENYAKIT DENGAN BERSEDEKAH

Bersedekah dengan niat menyembuhkan penyakit malah dianjurkan oleh Rasululloh shollallohu alaihi wasallam, beliau bersabda : ” Obatilah orang-orang sakit kalian dengan bersedekah ….. “.

Rasululloh  shollallohu alaihi wasallam dulu mengobati penyakit dengan 3 macam  cara, dengan obat biasa, dengan obat ilahiyah salah satunya dengan  shodaqoh ini dan dengan gabungan antara obat biasa dengan obat ilahiyah.

Bersedekah  ketika lagi ada hajat hukumnya sunnah, orang-orang khusus bersedekah  terlebih dahulu sebelum menyampaikan hajatnya kepada Allah, seperti hajat mereka untuk menyembuhkan orang-orang sakit, tetapi hal ini tergantung ukuran besar kecil penyakitnya, bahkan ketika mereka hendak menyembuhkan orang yang tidak bisa membuka matanya maka mereka memberikan sesuatu yang tidak  diketahui oleh seorangpun.

Orang-orang yang faham tentang  Allah, ketika mereka mempunyai hajat dan berharap segera tercapai misal  seperti kesembuhan penyakit maka mereka memerintahkan untuk membuat  makanan dengan daging kambing yang sempurna kemudian mengundang orang-orang  fakir miskin.

Ada juga sebagian ulama’ yang berpendapat  untuk mensedekahkan barang yang paling berharga miliknya ketika ada orang yang paling penting baginya sedang sakit, mereka mensedekahkan harta  miliknya semisal budak, atau kuda dan harga harta tersebut disedekahkan  kepada fakir miskin.

Wallohu a’lam.

Referensi:

Faidhul qodir (3/515) :

دَاوُوا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ؛ فَإِنَّهَا تَدْفَعُ عَنْكُمُ الْأَمْرَاضَ؛ وَالْأَعْرَاضَ

قَالَ  فِي سِفْرِ السَّعَادَةِ: كَانَ الْمُصْطَفَى – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ – يُعَالِجُ الْأَمْرَاضَ بِثَلَاثَةِ أَنْوَاعٍ:  بِالْأَدْوِيَةِ الطَّبِيعِيَّةِ؛ وَبِالْأَدْوِيَةِ الْإِلَهِيَّةِ؛  وَهَذَا مِنْهَا؛ وَبِالْأَدْوِيَةِ الْمُرَكَّبَةِ مِنْهُمَا؛ وَقَالَ فِي  سِلْكِ الْجَوَاهِرِ: الصَّدَقَةُ أَمَامَ الْحَاجَةِ سُنَّةٌ مَطْلُوبَةٌ  مُؤَكَّدَةٌ؛ وَالْخَوَاصُّ يُقَدِّمُونَهَا أَمَامَ حَاجَاتِهِمْ إِلَى  اللَّهِ؛ كَحَاجَتِهِمْ إِلَى شِفَاءِ مَرِيضِهِمْ؛ لَكِنْ عَلَى قَدْرِ  الْبَلِيَّةِ فِي عِظَمِهَا؛ وَخِفَّتِهَا؛ حَتَّى إِنَّهُمْ إِذَا  أَرَادُوا كَشْفَ غَامِضٍ بَذَلُوا شَيْئًا لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهِ أَحَدٌ؛  وَكَانَ ذَوُو الْفَهْمِ عَنِ اللَّهِ إِذَا كَانَ لَهُمْ حَاجَةٌ  يُرِيدُونَ سُرْعَةَ حُصُولِهَا؛ كَشِفَاءِ مَرِيضٍ؛ يَأْمُرُونَ  بِاصْطِنَاعِ طَعَامٍ حَسَنٍ بِلَحْمِ كَبْشٍ كَامِلٍ؛ ثُمَّ يَدْعُونَ  لَهُ ذَوِي الْقُلُوبِ الْمُنْكَسِرَةِ؛ قَاصِدِينَ فِدَاءَ رَأْسٍ  بِرَأْسٍ؛ وَكَانَ بَعْضُهُمْ يَرَى أَنْ يُخْرِجَ مِنْ أَعَزِّ مَا  يَمْلِكُهُ؛ فَإِذَا مَرِضَ لَهُ مَنْ يَعِزُّ عَلَيْهِ تَصَدَّقَ  بِأَعَزِّ مَا يَمْلِكُهُ؛ مِنْ نَحْوِ جَارِيَةٍ؛ أَوْ عَبْدٍ؛ أَوْ  فَرَسٍ؛ يَتَصَدَّقُ بِثَمَنِهِ عَلَى الْفُقَرَاءِ مِنْ أَهْلِ الْعَفَافِ

HATI-HATI DENGAN LISANMU WAI KAUM IBU…. JAGALAH LISAN ITU

كنت في يوم من الايام انظف بيتي وجاء ابني وهو طفل واسقط تحفة من الزجاح فانكسرت

Suatu hari, saya sedang membersihkan rumah. Tiba-tiba anak lelaki saya datang, ia masih kecil waktu itu, ia menjatuhkan satu hiasan yang terbuat dari kaca, dan pecah.

فغضبت عليه اشد الغضب لانها غالية جداً واهدتني اياها امي فأحبها ، واحب ان احافظ عليها …

Saya benar-benar marah ketika itu. Karena hiasan itu amat mahal harganya. Ibu saya telah menghadiahkannya dan saya amat menyukainya, maka saya menjaganya dengan amat baik…

ومن شدة الغضب دعوت عليه قلت :

( عسى ربي يطيح عليك جدار يكسر عظامك )

Karena terlalu marah, saya melontarkan kata-kata: “semoga kamu tertimpa dinding bangunan dan tulang-belulangmu hancur!”

مرت السنين ونسيت تلك الدعوة ولم اهتم لها ولم اعلم انها قد ارتفعت الى السماء …

Beberapa tahun berlalu, saya lupa akan doa itu, saya pun tak menganggapnya penting, dan saya tidak tau bahwa ternyata doa itu telah naik ke atas langit…

كبر ابني مع اخوانه واخواته ..

وكان هو احب ابنائي الى قلبي ؛

اخاف عليه من نسمة الهواء …

ويبر فيَّ اكثر من اخوانه واخواته …

درس وتخرج وتوظف واصبحت ابحث له عن زوجة

Anak lelakiku itu dan saudara-saudarinya yang lain semakin besar. Rasanya, dialah yang paling saya cintai dari anak2ku yang lain. Dialah yang paling saya khawatirkan. Ia pula yang paling berbakti kepadaku dibandingkan saudara/i nya yang lain. Dia telah tamat belajar, bekerja, dan sudah waktunya untuk saya mencarikannya pasangan…

. . .

وكان عند والده عمارة قديمة ويريدون هدمها وبناءها من جديد

Ayahnya memiliki sebuah gedung tua yang hendak direnovasi.

.

ذهب ابني مع والده للعمارة وكان العمال يستعدون للهدم

Maka pergilah anakku bersama ayahnya ke gedung itu. Para pekerja sudah siap-siap untuk merenovasinya..

وفي منتصف عملهم ذهب ابني بعيداً عن والده ولم ينتبه له العامل فسقط الجدار عليه ..

Ditengah-tengah aktivitas mereka, anakku pergi agak jauh dari ayahnya, para pekerja tidak mengetahui bahwa ada ia disana, bangunan yang sengaja dirobohkan untuk direnovasi itu jatuh menimpanya…

وصرخ ابني … ثم اختفى صوته …

توقف العمال ، واصبح الجميع في قلق وخوف …

Anakku berteriak hingga suaranya tak terdengar lagi. Semua pekerja berhenti. Mereka ketakutan! Mereka khawatir!

ازالوا الجدار عنه بصعووووبة وحضر الاسعاف

ولم يستطيعوا حمله لانه اصبح كالزجاح اذا سقط وتكسر …

Mereka menyingkirkan dinding yang menghimpit anakku itu dengan susah payah dan segera memanggil ambulans. Mereka tidak bisa mengangkat badan anakku. Ia remuk. Seperti kaca yang jatuh, pecah berkeping-keping…

حملوه بصعوبة ونقلوه للعناية …

وعندما اتصل والده ليخبرني

كأن الله اعاد امام عيني تلك الساعة التي دعوت فيها على ابني وهو طفل … وتذكرت تلك الدعوة …

Mereka membawanya dengan amat sulit dan segera memindahkannya untuk pertolongan lebih lanjut.. . Ketika ayahnya menghubungi saya untuk mengabarkan hal itu, seakan Allah menghadirkan kembali apa yang telah saya doakan untuknya dahulu ketika ia kecil…

بكيت حتى فقدت وعيي ..

واستيقظت في المستشفى … وطلبت رؤية ابني …

Saya menangis hingga jatuh pingsan. Ketika sadar, saya berada di rumah sakit.. Dan saya meminta untuk melihat anak saya…

رأيته ، وليتني لم اره في تلك الحالة ..!

رأيته وكأن الله يقول :

هذه دعوتك … استجبتها لك بعد سنين طويلة ؛لأن دعوة الوالدين مستجابة … والان سأخذه من الدنيا

Ketika melihatnya, ah! Andaikan aku tidak melihatnya dalam keadaan seperti itu … Saya melihatnya, seakan-akan Allah berkata “nih, ini doamu kan? Sudah saya kabulkan setelah sekian lama; doa orang tua itu mustajab, dan sekarang Aku akan mengambilnya…”

وفي تلك اللحظات توقف جهاز القلب …

Ketika itu, jantung saya seakan berhenti berdetak…

ولفظ ابني انفاسه الاخيرة ..

Anak saya menghembuskan nafas terakhirnya…

صرخت وبكيت وانا اقول :

Sembari berteriak dan menangis saya berkata:

ليته يعود للحياة .. ويكسر تحف البيت جميعها …

Andaikan ia hidup lagi! Tidak mengapa jika dia hancurkan semua perabot rumah…

ولا افقده ..

Asalkan saya tidak kehilangan ia…

ليت لساني انقطع ولا دعوت عليه تلك الدعوة ..!

Andaikan saja lidah saya ini terpotong dan tidak mendoakannya seperti itu!

ليت وليت وليت ولكن ………. لي

TETAPI ITU TIDAK MUNGKIN BAGIKU….

PENJELASAN HUKUM ZIARAH KUBUR MENJELANG BULAN RAMADHAN

Diantara tradisi menjelang bulan Ramadhan (akhir Sya’ban) adalah ziarah kubur. Sebagian mengistilahkan tradisi ini sebagaiarwahan, nyekar (sekitar Jawa Tengah),kosar (sekitar JawaTimur), munggahan(sekitar tatar Sunda) dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang, hal ini menjadi semacam kewajiban yang bila ditinggalkan serasa ada yang kurang dalam melangkahkan kaki menyongsong puasa Ramadhan.

Memang, pada masa awal-awal Islam, Rasulullah saw memang pernah melarang umat Islam berziarah ke kuburan, mengingat kondisi keimanan mereka pada saat itu yang masih lemah. Serta kondisi sosiologis masyarakat arab masa itu yang pola pikirnya masih didominasi dengan kemusyrikan dan kepercayaan kepada para dewa dan sesembahan. Rasulullah saw mengkhawatirkan terjadinya kesalah pahaman ketika mereka mengunjungi kubur baik dalam berperilaku maupun dalam berdo’a.

Akan tetapi bersama berjalannya waktu, alasan ini semakin tidak kontekstual dan Rasulullahpun memperbolehkan berziarah kubur. Demikian keterangan Rasulullah saw dalam Sunan Turmudzi no 973

حديث بريدة قال : قال رسول الله صلى الله علية وسلم :”قد كنت نهيتكم عن زيارة القبور فقد أذن لمحمد في زيارة قبر أمه فزورها فإنها تذكر الآخرة”رواة الترمذي (3/370

Hadits dari Buraidah ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda “Saya pernah melarang berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad telah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang berziarahlah..! karena hal itu dapat mengingatkan kamu kepada akhirat. 

Demikianlah sebenarnya hukum dasar dibolehkannya ziarah kubur dengan illat (alasan) ‘tazdkiratul akhirah’ yaitu mengingatkan kita kepada akhirat. Oleh karena itu dibenarkan berziarah ke makam orang tua dan juga ke makam orang shalih dan para wali. Selama ziarah itu dapat mengingatkan kita kepada akhirat. Begitu pula ziarah ke makam para wali dan orang shaleh merupakan sebuah kebaikan yang dianjurkan, sebagaimana pendapat Ibnu Hajar al-Haytami dalam kitab ‘al-fatawa al-fiqhiyah al-kubra’. Inilah yang menjadi dasar para ustadz dan para jama’ah mementingkan diri berziarah ke maqam para wali ketika usai penutupan ‘tawaqqufan’kegiatan majlis ta’lim.

وسئل رضي الله عنه عن زيارة قبور الأولياء فى زمن معين مع الرحلة اليها هل يجوز مع أنه يجتمع عند تلك القبور مفاسد كاختلاط النساء بالرجال وإسراج السرج الكثيرة وغير ذلك فأجاب بقوله زيارة قبور الأولياء قربة مستحبة وكذا الرحلة اليها.

Beliau ditanya tentang berziarah ke makam para wali pada waktu tertentu dengn melakukan perjalanan khusus ke makam mereka. Beliau menjawab, berziarah ke makam para wali adalah ibadah yang disunnahkan. Demikian pula perjalanan ke makam mereka.

Adapun mengenai hikmah ziarah kubur Syaikh Nawawi al-Bantani telah menuliskannya dalamNihayatuz Zain demikian keterangannya “disunnahkan untuk berziarah kubur, barang siapa yang menziarahi makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari jum’at, maka Allah mengampuni dosa-dosanya dan dia dicatat sebagai anak yang taat dan berbakti kepada kedua orang tuanya”…

Demikianlah hikmah di balik ziarah kubur, betapa hal itu menjadi kesempatan bagi siapa saja yang merasa kurang dalam pengabdian kepada orang tua semasa hidupnya. Bahkan dalam keteragan seanjutnya masih dalam kitab Nihayatuz Zain diterangkan “barang siapa menziarahi kubur kedua orang tuanya setiap hari jum’at pahalanya seperti ibadah haji”

Apa yang dikatakan Syaikh Nawawi dalam Nihayuatuz Zain juga terdapat dalam beberapa kitab lain, bahkan lengkap dengan urutan perawinya. Seperti yang terdapat dalam al-Mu’jam al-Kabir lit Tabhrani juz 19.

حدثنا محمد بن أحمد أبو النعمان بن شبل البصري, حدثنا أبى, حدثنا عم أبى محمد بن النعمان عن يحي بن العلاء البجلي عن عبد الكريم أبى أمية عن مجاهد عن أبى هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “من زار قبر أبويه أو احدهما فى كل جمعة غفر له وكتب برا 

Rasulullah saw bersabda “barang siapa berziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari jum’at maka Allah mengampuni dosa-dosanya dan dia dicatat sebagai anak yang ta’at dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Adapun mengenai pahala haji yang disediakan oleh Allah swt kepada mereka yang menziarahi kubur orang tuanya terdapat dalam kitab Al-maudhu’at berdasar pada hadits Ibn Umar ra.

أنبأنا إسماعيل بن أحمد أنبأنا حمزة أنبأنا أبو أحمد بن عدى حدثنا أحمد بن حفص السعدى حدثنا إبراهيم بن موسى حدثنا خاقان السعدى حدثنا أبو مقاتل السمرقندى عن عبيد الله عن نافع عن ابن عمر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” من زار قبر أبيه أو أمه أو عمته أو خالته أو أحد من قراباته كانت له حجة مبرورة, ومن كان زائرا لهم حتى يموت زارت الملائكة قبره

Rasulullah saw bersabda “Barang siapa berziarah ke makam bapak atau ibunya, paman atau bibinya, atau berziarah ke salah satu makam keluarganya, maka pahalanya adalah sebesar haji mabrur. Dan barang siapa yang istiqamah berziarah kubur sampai datang ajalnya maka para malaikat akan selalu menziarahi kuburannya”

Akan tetapi tidak demikian hukum ziarah kubur bagi seorang muslimah. Mengingat lemahnya perasaan kaum hawa, maka menziarahi kubur keluarga hukumnya adalah makruh. Karena kelemahan itu akan mempermudah perempuan resah, gelisah, susah hingga menangis di kuburan. Itulah yang dikhawatirkan dan dilarang dalam Islam. Seperti yang termaktub dalam kitabI’anatut Thalibin. Sedangkan ziarah seorang muslimah ke makam Rasulullah, para wali dan orang-orang shaleh adalah sunnah.

(قوله فتكره) أي الزيارة لأنها مظنة لطلب بكائهن ورفع أصواتهن لما فيهن من رقة القلب وكثرة الجزع

Dimakruhkan bagi wanita berziarah kubur karena hal tersebut cenderung membantu pada kondisi yang melemahkan hati dan jiwa.

 

Dalam kitab tarikh baghdad halaman 445 jilid 1, Pengarang nya adalah imam abu bakar ahmad bin ali bin tsabit al bagdad, beliau dikenal dengan khatib bagdad, seorang hafizh, bahkan kata ulama bagdad, tidak ada lagi yang lebih hafizh di negeri bagdad setelah wafat imam daruqutni selain khatib bagdad, Ini riwayat nya :

أخبرني أبو إسحاق إبراهيم بن عمر البرمكي قال حدثنا أبو الفضل عبيد الله بن عبد الرحمن بن محمد الزهري قال سمعت أبي يقول : قبر معروف الكرخي مجرب لقضاء الحوائج ويقال : إنه من قرأ عنده مائة مرة قل هو الله أحد وسأل الله ما يريد قضى الله له حاجته

Khatib baghdad telah mengatakan riwayat ini shohih,Setelah ku teliti ternyata memang shohih, Simak penjelasan keshohihan riwayat ini yang akan aku bahas Rawi 1 :

أبو إسحاق إبراهيم بن عمر البرمكي

Abu ishaq ibrahim bin umar albarmaki ,Dalam siyar a’lam nubala imam zahabi mengatakan, beliau ini adalah seorang imam, mufti, musnid dunia, ahli faraidh, zuhud, sholeh, dengan smua sifat di atas, maka dapat disimpulkan semua riwayat beliau dapat dpercaya 1 juta persen

Rawi 2 :

أبو الفضل عبيد الله بن عبد الرحمن بن محمد الزهري

Abul fadhl, ubaidullah bin abdurrahman bin muhammad azzuhri, Imam hadist daruqutni mengatakan bahwa beliau adalah seorang tsiqoh, dipercaya, dan banyak punya karangan, Dalam siyar a’lam nubala imam zahabi mengatakan beliau seorang tsiqoh, musnid, ahli ibadah, Beliau adalah cucu abdurrahman bin auf. Jadi dari keterangan di atas, riwayat dari beliau dapat dpercaya 1 juta persen,

Rawi 3 :

عبد الرحمن بن محمد بن عبيد الله بن سعد بن إبراهيم بن سعد بن إبراهيم بن عبد الرحمن بن عوف الصحابي

Ayah beliau yaitu abdurrahman bin muhammad, Imam khatib bagdad mengatakan beliau tsiqoh dalam riwayat hadist, Dan riwayat beliau dapat diterima juga 1 juta persen,

أخبرني أبو إسحاق إبراهيم بن عمر البرمكي

Imam khatib bagdad mengatakan telah mengkhabarkan kepada kami seorang yang sholeh abu ishaq ibrahim bin umar albarmaki

قال حدثنا أبو الفضل عبيد الله بن عبد الرحمن بن محمد الزهري

Abu ishaq mengatakan telah mengkhabarkan kepada kami abulfadhli ubaidullah bin abdurrahman bin muhammad azzuhri

قال سمعت أبي

Beliau mengatakan aku mendengar ayahku abdurrahman bin muhammad azzuhri

يقول : قبر معروف الكرخي مجرب لقضاء الحوائج

Beliau selalu (fi’il mudhari lil istimror) mengatakan : bermula kuburan wali besar ma’ruf al karkhi, sangat mujarrab untuk menunaikan segala hajat

ويقال : إنه من قرأ عنده مائة مرة قل هو الله أحد وسأل الله ما يريد قضى الله له حاجته

Dan dikatakan orang : sesungguhnya (hal wasyan) siapapun yang membaca (fi’il syarat) di sisi kuburan ma’ruf alkarkhi surah al ikhlas 100 x, beserta (waw ma’iyyah) ia meminta kepada Allah apa saja yang ia hendaki, (jawab syarat ) maka PASTI ALLAH QABULKAN HAJAT nya,

Dari sini dalil disuruhnya kita menziarahi kuburan para wali jika ada hajat dunia atau akhirat,

Kemudian dalam riwayat di atas, nama ma’ruf alkarkhi tidak menjadi qaid, dan tidak terhenti fahaman cuma sampai pada beliau saja, tapi menziarahi kubur semua para wali-wali Allah dan minta berkah dan hajat dikuburan itu sama saja, akan diqabulkan Allah juga hajatnya,

Adapun hadist shohih yang diriwayatkan oleh imam bukhari

حدثنا عبد الله بن مسلمة عن مالك عن ابن شهاب عن سعيد بن مسيب عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : قاتل الله اليهود اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

Rasul bersabda : mudah-mudahan Allah membunuh, melaknat qaum yahudi, yang mereka menjadikan quburan para nabi mereka itu TEMPAT TEMPAT SUJUD, MASAJID itu jamak dari isim makan MASJID, MASJIDUN MASJIDAANI MASAAJIDU.

Adapun jika kita tidak menjadikan kuburan itu tempat sujud atau arah sujud, atau sujud dengan tidak ada niat menujukan ke kuburan itu,maka lepaslah dari laknat Allah seperti Allah melaknat yahudi di atas. Kuburan para wali dan para nabi adalah sumber berkah, kita disuruh sekedar ziarah, dan ngambil berkah di sana.

BOLEHKAH MEMBACA AL-QUR’AN DI KUBURAN?

Membaca Al-Quran di kuburan (pemakaman) merupakan salah satu SUNNAH yang biasa dilakukan oleh umat Islam. Dalam HADITS HASAN SAHIH Rasulullah SAW bersabda,:

“Jika salah seorang di antara kalian ada yang meninggal, maka jangan tunda-tunda pemakamannya, akan tetapi segera hantarkan ia ke kubur. Dan hendaknya di makamnya, di dekat kepalanya DIBACAKAN FATIHATUL KITAB ( Surat Al-Fatihah) dan di dekat kakinya DIBACAKAN PENUTUP SURAT AL-BAQARAH.” (Hadits Hasan Sahih Riwayat Thabrani dan Baihaqi)

 

HUKUM MEMBERI DAN MENGUSAPKAN MINYAK WANGI PADA NISAN KUBURAN

Hukumnya boleh, disamakan dengan air mawar yang wangi sebagaimana jawaban dari kang Imam Tontowi :
Hasyiyah Al-Jamal ‘Alal Minhaj II / 38
ـ (قَوْلُهُ وَيُكْرَهُ رَشُّهُ بِمَاءِ الْوَرْدِ) أَيْ ; لِأَنَّهُ إضَاعَةُ مَالٍ وَإِنَّمَا لَمْ يَحْرُم ; لِأَنَّهُ يُفْعَلُ لِغَرَضٍ صَحِيحٍ مِنْ إكْرَام الْمَيِّت وَإِقْبَالِ الزُّوَّارِ عَلَيْهِ لِطِيبِ رِيحِ الْبُقْعَةِ بِهِ فَسَقَطَ قَوْلُ الْإِسْنَوِيِّ, وَلَوْ قِيلَ بِتَحْرِيمِهِ لَمْ يَبْعُدْ وَيُؤَيِّدُ مَا ذَكَرَهُ قَوْلُ السُّبْكِيّ لَا بَأْسَ بِالْيَسِيرِ مِنْهُ إذَا قُصِدَ حُضُورُ الْمَلَائِكَةِ ; لِأَنَّهَا تُحِبُّ الرَّائِحَةَ الطَّيِّبَةَ ا هـ. شَرْحُ م ر (قَوْلُهُ وَوَضْعُ حَصًى) أَيْ صِغَارٍ ا هـ. شَرْحُ م ر (قَوْلُهُ وَنَحْوُهُمَا) أَيْ مِنْ الْأَشْيَاءِ الرَّطْبَةِ فَيَدْخُلُ فِيهِ الْبِرْسِيمُ وَنَحْوُهُ مِنْ جَمِيعِ النَّبَاتَاتِ الرَّطْبَةِ ا هـ. عِ ش عَلَى م ر
(Keterangan ucapan “dimakruhkan memercikinya dengan air mawar”) maksudnya karena hal itu termasuk menyia-nyiakan harta. Adapun alasan kenapa tidak haram, karena hal itu dikerjakan sebab tujuan yang bisa dibenarkan (shahih) seperti memuliakan mayyit, dan mengarahkan para peziarah (datang) ke situ sebab wanginya bau bidang tanah tersebut, sehingga gugurlah pendapat imam Asnawi. Andai dikatakan harampun itu tidak jauh berbeda. Namun pendapat imam Subki menguatkan tidak mengapa (hukumnya boleh) jika sedikit dan bertujuan agar para malaikat hadir, karena mereka suka bau wewangian.

Dari keterangan panjang ini, maka tradisi berziarah kubur tetaplah perlu dilestarikan karena tidak bertentangan dengan syari’ah Islam. Bahkan malah dapat mengingatkan akan kehidupan di akhirat nanti. Apalagi jika dilakukan di akhir bulan Sya’ban. Hal ini merupakan modal yang sangat bagus untuk mempersiapkan diri menyongsong bulan Ramadhan.

PENJELASAN LENGKAP NIAT, DO’A DAN ETIKA DALAM BINGKAI PERNIKAHAN

TUJUAN UTAMA PERNIKAHAN

Tujuan terpenting dari sebuah pernikahan adalah at-ta’abbud (beribadah), attaqarrub

(mendekatkan diri), mengikuti sunnah Nabi saw, dan mengusahakan anak dan

keturunan.

NIAT NIKAH

Niat diucapkan dengan lisan dan dimantapkan dalam hati sebelum atau saat

dimulainya prosesi akad-nikah. Berikut adalah niat lengkap yang dicontohkan ulama salaf

dalam kitab kuning saat seseorang akan melaksanakan pernikahan.

نَوَيْتُ بِهَذَا التَّزْوِيْجِ مَحَبَّةَ اللهِ عزّ وجلّ وَالسَّعْيَ فيِ تَحْصِيْلِ الْوَلَدِ لِبَقَاءِ جِنْسِ الإنْسَانِ وَمَحَبَّةَ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم فيِ تَحْصِيْلِ مَنْ بِهِ مُبَاهَاتُهُ وَالتَّبَرُّكَ بِدُعَاءِ الْوَلَدِ الصَّالِحِ بَعْدِيْ وَطَلَبَ الشَّفَاعَةِ بِمَوْتِهِ صَغِيْرًا إذَا مَاتَ قَبْلِي وَالتَّحَصُّنَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَكَسْرَ التَّوْقَانِ وَدَفْعَ غَوَائِلِ الشَّرِّ وَغَضَّ الْبَصَرِ وَقِلَّةَ الْوَسْوَاسِ وَحِفْظَ الْفَرْجِ مِنَ الْفَوَاحِشِ وَتَرْوِيْحَ النَّفْسِ وَإِيْنَاسَهَا بِالْمُجاَلَسَةِ وَالنَّظَرِ وَالْمُلاَعَبَةِ وَإرَاحَةً لِلْقَلْبِ وَتَقْوِيَةً لَهُ عَلَى الْعِبَادَةِ وَتَفْرِيْغَ الْقَلْبِ عَنْ تَدْبِيْرِ الْمَنْزِلِ وَالتَّكَفُّلَ بِشُغْلِ الطَّبْخِ وَالْكَنْسِ وَالْفَرْشِ وَتَنْظِيْفِ الأَوَانِي وَتَهْيِئَةِ أسْبَابِ الْمَعِيْشَةِ وَمُجَاهَدَةَ النَّفْسِ وَرِيَاضَتَهَا بِالرِّيَاسَةِ وَالْوِلاَيَةِ وَالْقِيَامَ بِحُقُوْقِ الأَهْلِ وَالصَّبْرَ عَلَى أَخْلاَقِهِنَّ وَاحْتِمَالَ الأَذَى مَنْهُنَّ وَالسَّعْيَ فِي إصْلاَحِنَّ وَإرْشَادِهِنَّ إلَى طَرِيْقِ الْخَيْرِ وَالإجْتِهَادَ فِي طَلَبِ الْحَلالِ لأَجْلِهِنَّ وَالاَمْرَ بِتَرْبِيَةِ الأَوْلاَدِ وَطَلَبَ الرِّعَايَةِ مِنَ اللهِ عَلَى ذَلِكَ وَنَوَيْتُ هَذَا وَغَيْرَهُ مِنْ جَمِيْعِ مَا أتَصَرَّفُ وَأقُوْلُهُ وَأَفْعَلُهُ فِي هَذَا التَّزْوِيْجِ لِلّهِ تَعَالَى وَنَوَيْتُ مَا نَوَاهُ عِبَادُ اللهِ الصَّالِحُوْنَ وَالْعُلَمَاءُ الْعَامِلُوْنَ . اللّهُمَّ وَفِّقْنَا كَمَا وَفَّقْتَهُمْ وَأَعِنَّا كَمَا أَعَنْتَهُمْ

“Dengan pernikahan ini aku berniat karena mencintai Allah azza wa jalla, mengusahakan

terlahirnya anak agar jenis manusia tetap berlengsung di muka bumi, karena mencintai Rasulullah saw untuk menghasilkan keturunan yang menjadi kebanggaan Beliau, mengharap berkah dari doa anak sholih setelah aku mati, mencari syafaat dari kematian anak semasa kecil yang mati sebelumku, mambentengi dari syetan, melenyapkan kerinduan dan keinginan bersetubuh, menolak ancaman perkara buruk, menjaga pandangan, meminimalisir was-was, menjaga kemaluan dari perbuatan melewati batas, menghibur dan menenangkan hati dengan duduk, memandang dan bercengkrama, merehatkan dan menguatkan hati untuk beribadah, mengurangi beban hati dari mengatur rumah, mengurangi tanggungan kesibukan memasak, menyapu,

mengatur alas, membersihkan perabotan, menyiapkan perangkat pencaharian, melatih dan meriyadlohi nafsu dengan kepemimpinan dan penguasaan, menjalankan kewajiban dan hak keluarga, bersabar atas akhlak mereka, menahan perbuatan menyakiti dari mereka, berusaha memperbaiki dan menunjukkan mereka menuju jalan kebaikan, berusaha keras mencari rizki halal untuk mereka, mendidik anak-anak dan meminta penjagaan Allah swt atas semuanya. Aku juga berniat atas hal ini dan selainnya dari apa yang aku usahakan, ucapkan, dan perbuat dalam pernikahan ini karena Allah swt. Aku berniat dengan apa yang diniati hamba-hamba Allah swt yang sholih dan ulama-ulama yang mengamalkan ilmunya. Semoga Engkaumenunjukkan jalan pada kami sebagaimana Engkau telah menunjukkan jalan pada mereka, dan menolong kami, sebagaimana Engkau telah menolong mereka”.

Pepiling…!

  1. Al-Habib Abdulloh al-Haddad dalam kitab Tatsbitul Fuad mengingatkan, bahwa

banyaknya anak-anak mati di usia dini adalah kemungkinan disebabkan

beberapa faktor, di antaranya;

  1. Adanya syubhat (jika bukan perzinahan) dalam pernikahan.
  2. Tidak mensucikan (berdoa dan menjalankan adab) saat berhubungan intim.
  3. Lupa mengingat Allah swt saat berhubungan intim.

Beliau juga mengatakan, manusia sekarang sangat melupakan hal tersebut.

Dalam pernikahan mereka tidak memiliki niat menjalankan sunnah, menjaga diri

dan menjaga pandangan, mereka hanya berkeinginan melampiaskan syahwat,

hingga mengakibatkan anak-anak mereka menjadi penyebab mereka melupakan

Allah swt, naudzu billah min dzalik.

DOA SAAT DIPERTEMUKAN DENGAN ISTRI SETELAH AKAD

Dibaca sambil menyentuh ubun-ubun isterinya. Sambil bersalaman dengan posisi

tangan suami di atas dan tangan istri di bawah. Sebelum membaca do’a ini supaya terlebih

dahulu membaca Surat Al Kautsar satu kali.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْ أَهْلِيْ وَبَارِكْ لِأَهْلِيْ فِيَّ وَارْزُقْهُمْ مِنِّيْ وَارْزُقْنِيْ مِنْهُمْ وَاجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ فِيْ خَيْرٍ وَفَرِّقْ بَيْنَنَا مَا فَرَّقْتَ فِيْ خَيْرٍ بَارَكَ اللهُ لِكُلٍّ مِنَّا فِىْ صَاحِبِهِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَ مِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ اللَّهُمَّ إِنَّيْ أُعِيْذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

ETIKA DASAR SEPUTAR BERHUBUNGAN INTIM

  1. Bagi istri tidak diperkenankan menolak ajakan hubungan intim. Rasulullah SAW

bersabda: Jika seorang istri dipanggil oleh suaminya karena hajat biologisnya, maka

hendaknya segera datang, meski dirinya sedang sibuk (HR Turmudzi).

Dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda: Allah melaknat wanita yang menunda-nunda, yaitu seorang istri ketika diajak suaminya ke tempat tidur, tetapi ia

berkata, ‘nanti dulu’, sehingga suaminya tidur sendirian (HR Khatib).

Dalam hadis lain dituturkan: Jika suami mengajak tidur istrinya, lalu sang istri menolak, yang menyebabkan sang suami marah kepadanya, maka malaikat akan melaknat istri

tersebut sampai pagi tiba (HR Bukhari dan Muslim).

  1. Berhias diri, di antaranya:
  2. Mandi dan membersihkan bagian tubuh yang merupakan lima organ fitrah,

sebagaimana dituturkan Rasulullah SAW: Lima hal yang termasuk fitrah (sesuci),

yakni mencukur kumis, mencukur bulu ketiak, memotong kuku, mencukur bulu

kemaluan, dan khitan.

  1. Menggunakan wewangian, yang paling utama adalah kasturi.
  2. Memakai celak, dan jenis celak terbaik ialah yang terbuat dari bahan itsmid.

  1. Mencari waktu yang tepat. Imam As-Syafi’i mengatakan, waktu yang baik adalah

malam Senin, Kamis dan Jum’at, karena Nabi saw melakukan pada malam-malam itu.

Waktu ideal adalah waktu setelah shalat Isya’ dan setelah shalat subuh dan waktu

senggang lainnya. Makruh berhubungan intim di awal, tengah dan akhir bulan, karena

syaitan hadir dalam tiga malam tersebut.

  1. Mencari tempat yang nyaman dan merahasiakan apa yang terjadi diantara suami istri

pada waktu hubungan intim. Dalam sebuah hadis riwayat Abu Said Khudri, ia

menuturkan, Rasulullah SAW bersabda: “Selazimnya bagi kaum lelaki diantara kalian

yang hendak memenuhi hajat biologisnya, mencari tempat yang nyaman, jauh dari

hiruk pikuk keluarganya, dan menutup pintu rapat-rapat, serta mengenakan sehelai

kain, barulah hubungan intim (bersetubuh). Kemudian apabila telah selesai hubungan

intim, hendaknya tidak menceritakan hubungan badannya kepada orang lain”.

  1. Memperhatikan kondisi fisik. Usahakan melakukan hubungan badan saat kondisi fisik

dalam keadaan fit (segar bugar), yakni pencernaan makanan lancar, tensi tubuh

seimbang antara panas dan dingin, kondisi perut tidak kenyang dan tidak lapar.

ADAB SUAMI ISTRI SAAT MENGHENDAKI DAN DI TENGAH HUBUNGAN BADAN

Dalam menjalani hubungan ‘intim’ antara suami istri, islam mengajarkan berbagai

macam etika yang telah diatur berdasarkan hadits-hadits Nabi dan termaktub dalam kitabkitab

kuning, di antaranya :

  1. Mencari waktu seusai shalat
  2. Menata hati sebersih mungkin sebelum melakukan hubungan intim.
  3. Berwudhu, bendandan dan memakai wangi-wangian terlebih dahulu.
  4. Disunahkan bagi seorang suami dimalam pengantin saat berkeinginan menjalani

hubungan intim, terlebih dahulu memegang rambut depan (ubun-ubun) istrinya sambil

berdoa :

اللَهمَ إنِّي أسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ ، وَأعُوْذُ بك مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada mu kebaikannya (isteri) dan kebaikan

apa yang saya ambil dari padanya, serta aku berlindung kepadaMu dari kejahatannya

dan kejahatan apa yang aku ambil daripadanya” (HR. Ibn Majah dan Abu Dawud dari

Umar Bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nail al-Authaar VI/189).

  1. Disunahkan membaca Basmalah sebelum menjalani hubungan intim kemudian

membaca Al-Ihlash dilanjutkan dengan membaca takbir (Allaahu Akbar), tahlil (Laa

Ilaaha Illallaah) dan disunnahkan meskipun kecil harapan mendapatkan keturunan dari

hubungan intimnya untuk berdoa :

 بِاسْمِ اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، اللّهمّ اجْعَلْهَا ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً، إنْ كُنْتَ قَدَرْتَ أنْ تُخْرِجَ ذَلِكَ مِنْ صُلْبِي » « اللّهمّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَارَزَقْتَنَا

“Dengan menyebut nama Allah yang agung, Ya Allah, jadikanlah ia anak yang baik bila

Engkau takdirkan ia lahir dari keturunanku, jauhkanlah kami dari syaitan dan

jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau karuniakan kepada kami” (HR. Abu

Daud).

  1. Meminta istri tidur di samping kanan dari suami saat memulai hubungan intim, karena

saat hubungan intim dimulai dari arah kanan, insyaAllah dikaruniai anak laki-laki.

  1. Diawali dengan cumbuan, sentuhan dan ciuman.

  1. Posisi istri tidur terlentang, kaki diangkat dan pantat diganjal dengan bantal kecil serta

suami berada di atasnya.

  1. Berpaling dari arah kiblat, jangan menghadap kiblat saat menjalani hubungan intim

sebagai bentuk penghormatan pada kiblat.

  1. Melucuti semua pakaian, namun menutupi tubuh suami-istri dengan memakai penutup

tipis, dan jangan melakukan hubungan intim dengan telanjang tanpa penutup, karena

ini hukumnya makruh. Seperti sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam “Bila salah

seorang diantara kalian hendak mendatangi istrinya, pakailah penutup dan janganlah kalian berdua telanjang seperti telanjangnya keledai” (HR. Ibn Maajah).

  1. Dimakruhkan terlalu banyak pembicaraan saat melakukan hubungan intim.

  1. Saat akan mengeluarkan sperma, berdoa dalam hati tanpa menggerakkan bibir;

الحمد لله الّذي خلق من الماء بشرا، فجعله نسبا وصهرا وكان ربك قديرا

  1. Dan disunahkan juga untuk selalu dzikir kepada Alloh SWT dalam hati selama besetubuh, mengingat para Nabi atau wali-wali Allah swt agar anaknya bisa seperti

Mereka

  1. Saat seorang suami telah mencapai orgasme (mengeluarkan sperma), jangan berlalu

begitu saja, hantarkan secara perlahan-lahan istrinya dalam mencapai orgasme karena

terkadang pencapaian klimaks seorang wanita datangnya belakangan.

  1. Bila tanpa adanya ‘udzur (halangan), jangan biarkan empat malam sekali berlalu tanpa

hubungan badan.

  1. Saat istri tengah datang bulan, sementara keinginan berhubungan tak dapat

tertahankan, untuk menghindari keharaman sebaiknya istri memakai kain penutup

pada anggota tubuh antara pusar dan lutut saat mencumbuinya.

  1. Bagi yang menginginkan mengulangi hubungan intim untuk yang kesekian kalinya

sebaiknya terlebih dahulu dicuci kelaminnya.

  1. Apabila menghendaki tidur dan makan, maka sunnah berwudhu seperti wudhu ketika

hendak melaksanakan shalat.

  1. Apabila mimpi basah, maka janganlah langsung berhubungan badan, sebelum

membasuh kemaluannya atau kencing terlebih dahulu.

  1. Apabila menghendaki kembali ke tempat tidur, seyogyanya dibersihkan permukaannya

dengan diusap atau di-kebut-kan.

  1. Haram dan dosa besar menyetubuhi istri pada liang dubur (anal sek)

MANDI WAJIB SETELAH BERHUBUNGAN INTIM

Rukun-rukun mandi

Ada 2 (dua) yaitu:

  1. Niat pada saat awal membasuh anggota badan. Yaitu niat menghilangkan hadats sesuai

dengan hadats yang dialami (haid dll), atau juga bisa dengan niat mandi wajib. Dan

tidak cukup dengan hanya niat mandi saja. Tempatnya niat adalah dalam hati,

sedangkan mengucapkan niat seperti:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الأكْبَرِ فَرْضًا لله تعالى

hukumnya adalah sunah.

Sebaiknya niat dilaksanakan bersamaan dengan membasuh bagian qubul atau dubur

yang tampak ketika jongkok diwaktu buang hajat. Hal ini perlu diperhatikan, karena

bagian anggota tersebut wajib dibasuh, dan sering terlupakan.

  1. Mengalirkan air pada seluruh bagian tubuh yang terlihat (anggota dzahir), kulit

maupun rambut, baik tebal atau tipis. Oleh karena itu, wajib untuk mengurai rambut

yang digelung atau diikat, agar air bisa sampai ke dalam. Termasuk bagian tubuh yang

harus dibasuh adalah kuku, kulit yang ada dibawah kuku, bagian farji atau dubur yang

terlihat ketika jongkok saat buang hajat. dan kemaluan bagian dalam laki laki yang

belum khitan. Hendaknya orang yang mandi meneliti bagian tubuhnya. Terutama

lipatan–lipatan tubuh. Hal ini demi untuk memastikan bahwa air telah sampai pada

seluruh bagian tubuh.

Sunah-sunah mandi

Di antara sunah-sunah mandi adalah:

  1. Membaca Basmalah.
  2. Wudlu secara sempurna sebelum mandi, dengan niat manghilangkan hadats kecil, jika

punya hadats kecil. Dan niat sunah mandi, jika tidak punya hadats kecil. Sedangkan

bentuk niatnya adalah:

نَوَيْتُ الْوُضُوءَ لِسُنَّةِ الْغُسْلِ لله تعالى

  1. Menggosok-gosokkan tangan pada anggota yang terjangkau.
  2. Muwalah, yaitu membasuh anggota badan, ketika anggota badan yang dibasuh

sebelumnya, masih basah atau belum kering.

  1. Mendahulukan anggota kanan dari pada anggota kiri, baik tubuh bagian depan atau

belakang.

  1. Kencing bagi yang penyebab hadats besarnya keluar sperma. Supaya sisa sperma yang

masih ada di dalam bisa keluar.

  1. Sunah untuk tidak memotong kuku, rambut dan lain-lain dari anggota badan saat

haidl/nifas. Karena ada keterangan, kelak di akhirot anggota badan yang belum

disucikan akan kembali kepemiliknya masih dalam keadaan jinabat (belum disucikan)

akan tetapi bila terlanjur di potong maka yang wajib dibasuh adalah tempat (bekas)

anggota yang dipotong bukan potongan dari anggota itu.

MASA KEHAMILAN

  1. Do’a hamil dibaca setiap hari dan ditiupkan pada pusarnya istri yang hamil mulai bulan

ketiga sampai 4

بسم الله الرحمن الرحيم . اللّهمّ احْفَظْ وَلَدَ زَوْجَتِيْ مَادَامَ فَي بَطْنِهَا  وَاشْفِهِ مَعَ أُمِّهِ . أنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا وَلاَ ألَمًا . اللَهمّ صَوِّرْهُ صُوْرَةً حَسَنَةً جَمِيْلَةً كَامِلَةً وَثَبِّتْ قَلْبَهُ إيْمَانًَا بِكَ وَبِرَسُوْلِكَ مَادَامَ حَيَاتِهِ فِي الدُّنْيَا وَالأخِرَةِ. اللّهمّ أخْرِجْهُ مِنْ بَطْنِهَا فِيْ وَقْتِ وِلاَدَتِهَا سَهْلاً وَسَلاَمًا  وَسَيِّدًا فِي الدُّنْيَا وَالأخِرَةِ. اللّهمّ تَقَبَّلْ دُعَاَءَنَا كَمَا تَقَبَّل دُعَاءَ نَبَيِّكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم

  1. Surat yang dibaca ketika istri hamil 3-4 bulan

يس- محمد- واقعة- الرحمن-الملك- يوسف- الكهف- النساء- سجدة

  1. Surat yang dibaca 7 bulan:

التوبة- محمد- يس

Diiringi do’a:

اللّهمّ احْفَظْ وَلَدَ ….. ناما إيستري ………. زَوْجَتِيْ مَادَامَ فَي بَطْنِهَا  وَاشْفِهِ مَعَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم نَبِيُّكَ وَرَسُوْلُكَ . أنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إلاَّ شِفَاؤُكَ عَاجِلاً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا. اللَهمّ صَوِّرْهُ فِيْ بَطْنِهَا صُوْرَةً حَسَنَةً جَمِيْلَةً كَامِلَةً وَثَبِّتْ قَلْبَهُ إيْمَانًَا بِكَ وَبِرَسُوْلِكَ مَادَامَ حَيَاتِهِ فِي الدُّنْيَا وَالأخِرَةِ. اللّهمّ أخْرِجْهُ مِنْ بَطْنِهَا فِيْ وَقْتِ وِلاَدَتِهَا سَهْلاً وَتَسْلِيْمًا فِي الدُّنْيَا وَالأخِرَةِ. اللّهمّ تَقَبَّلْ دُعَاَءَنَا كَمَا دُعَاءَ نَبَيِّكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم . اللّهمّ احْفَظِ الْوَلَدَ الذِيْ أخْرَجْتَ مِنْ عَالَمِ الظُّلْمِ إلَى عَالَمِ النُّوْرِ وَاجْعَلْهُ صَحِيْحًا كَامِلاً عَاقِلاً لَطِيْفًا . اللّهمّ اجْعَلْهُ شَهِيْدًا مُبَارَكًا وَحَافِظًا مِنْ كَلاَمِكَ الْمَكْنُوْنِ وَكِتَابِكَ الْمَحْفُوْظِ. اللّهمّ طَوِّلْ عُمْرَهُ وَصَحِّحْ جَسَدَهُ وَافْصَحْ لِسَانَهُ بِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالْحَدِيْثِ. اللّهمّ اجْعَلْهُ صَبْرًا مِنَ الْمَرَضِ وَالأَسْقَامِ وَالْعَطْسِ بِبَرَكَةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَجَمِيْعِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالْمَلاَئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ . اللّهمّ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

  1. Ketika mulai hamil sampai melahirkan sebaiknya membaca sholawat 313 atau 1000 kali

kemudian ditiupkan pada pusar sang istri.

  1. Surat yang dibaca ketika neloni dan mitoni

Dibaca oleh istri:

  1. Kahfi 1 kali
  2. Thoha 1 kali
  3. luqman 41 kali
  4. waqi’ah 3 kali
  5. Al-mulk 3kali

Dibaca suami :

  1. Maryam 3 kali
  2. Yusuf 3 kali
  3. Setiap malam jum’at dibacakan sholawat minimal 313 kali tangan kiri sambil

memegang pusar istrinya kemudian disuwukkan.

Faidah

Ø Asma “ Ya Mubdi’u(ياَمُبْدِئُ  ) ” bila dibacakan pada istri yang sedang hamil pada waktu sahur sebanyak 29 kali, insyaAllah kandungannya diberi keselamatan, tidak keguguran.

MELAHIRKAN

Beberapa hal yang disunahkan setelah bayi lahir antara lain.

  1. Sebelum dimandikan, sunah diadzani pada telinga sebelah kanan.
  2. Setelah adzan sebelum diiqamahi, pada telinga sebelah kanan dibacakan;

– Surat al-Quraisy 3/7/11 kali

– Surat Al-Ikhlash 3 kali & Mu’awidzatain di sela-sela membaca al-Quraisy di atas.

– Surat إنَّا أنْزَلْنَاهُ في لَيْلَةِ الْقَدْرِ

agar oleh Allah selama hidupnya tidak ditaqdirkan berzina.

– Doa:

إِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

– Kemudian baru diiqamahi telinga kirinya. Dengan adzan dan iqamah, insya Allah

anak yang terlahir tidak akan diganggu oleh syaitan. Dan supaya pelajaran tauhid

adalah merupakan suara pertama kali yang masuk ke telinganya. Di samping untuk

mengikuti sunah Rasulullah ketika mengadzani telinga Sayyid Hasan saat dilahirkan

oleh Sayyidah Fathimah Az-Zahro.

  1. Diolesi dengan kurma (jawa: dicetaki).

Caranya: Kurma dikunyah terlebih dulu, kemudian dimasukkan ke mulut bayi dengan

menggosokkannya kelangit-langit mulu, sehingga ada sebagian kurma yang tertelan.

Kalau tidak ada kurma, maka bisa dengan makanan yang manis dan tidak dimasak

dengan api. Seyogyanya dicarikan orang yang sholeh, agar si bayi mendapat barokah

dengan menelan ludahnya.

  1. Diaqiqahi dengan menyembelih dua ekor kambing untuk bayi laki-laki dan satu ekor

untuk bayi perempuan. Persyaratan kambing yang digunakan aqiqah sama dengan

kambing untuk qurban. Dan hal ini dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran bayi.

  1. Diberi nama yang baik, pada hari ketujuh kelahirannya. Rasulullah bersabda:

إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ

 “Sesungguhnya di hari kiamat kamu sekalian akan dipanggil dengan nama-nama kamu

sekalian dan nama-nama bapak kamu sekalian. Maka buatlah nama yang baik bagi kamu

sekalian ”. (HR. Abu Daud).

Adapun nama yang paling baik adalah Abdullah, lalu Abdurrohman. Kemudian “Abdu”

yang dirangkai dengan salah satu asma-asma Allah SWT. Seperti Abdul Mu’id, Abdul

Qoyyum, Abdurrozaq dll. Kemudian Muhammad dan selanjutnya Ahmad.

  1. Mencukur keseluruhan rambut bayi, pada hari ke tujuh kelahirannya dan setelah

diaqiqahi. Kemudian disunahkan bershodaqoh emas atau perak seberat rambut yang

dicukur ataupun dengan nilai krusnya.

TIPS DAN FAIDAH KHUSUS

  1. Rahasia mendapatkan anak laki-laki

Resep 01 : Membaca basmalah sebelum berhubungan intim, membaca surat ihlash,

takbir, tahlil dan berdoa dengan doa :

بِاسْمِ اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، اللّهمّ اجْعَلْهَا ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً، إنْ كُنْتَ قَدَرْتَ أنْ تُخْرِجَ ذَلِكَ مِنْ صُلْبِي » « اللّهمّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَارَزَقْتَنَا

Kemudian memerintahkan istrinya tidur miring dengan posisi lambung kanan di bawah.

Resep 02 : Dalam kitab hasyiah bujairami dari Nabi saw, bahwa yang menghendaki

anak laki-laki, hendaknya pada awal kehamilan, meletakkan tangan di perut istri dan

berdoa :

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ اللَّهُمَّ إنِّي أُسَمِّي مَا فِي بَطْنِهَا مُحَمَّدًا فَاجْعَلْهُ لِي ذَكَرًا

Resep 03 : Meminta istri tidur di samping kanan dari suami saat memulai hubungan

intim, karena saat hubungan intim dimulai dari arah kanan, insyaAllah dikaruniai anak

laki-laki.

Resep 04 : Dari Ja’far Shadiq ra : jika kamu hendak melakukan hubungan badan dan

telah siap melakukannya, letakkanlah tangan kananmu pada arah kanan pusar istri dan

bacalah surat  إنَّا أنْزَلْنَاهُ في لَيْلَةِ الْقَدْرِ 7 x, niscaya akan mendapatkan anak laki-laki.

Resep 05 : Dari kitab makarimul akhlaq hal 82, jika istri kamu hamil hadapkanlah kiblat

dan bacakanlah ayat kursi kemudian suwukkanlah pada jidatnya dan berdoa:

اللّهمّ قَدْ سَمَّيْتُهُ مُحَمَّدًا

maka Allah akan menjadikan anak laki-laki.

  1. Rahasia memperoleh anak hebat

Saat akan keluar sperma, membaca dalam hati ayat :

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Maka anak akan dikaruniai ilmu, budi pakerti dan amal melebihi dari kedua orang

tuanya.

  1. Doa saat melahirkan.

Seorang Ibu yang sedang melahirkan, sunah untuk dibacakan disampingnya bacaan dan

doa sbb:

v    أيَة الكرسي

v    المعوذتين

v    {إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ } [الأعراف: 54]

v    لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

v    {لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ } [الأنبياء: 87]

Keterangan:Do’a nomor empat dan lima sunah dibaca sebanyak-banyaknya.

  1. Tips agar diberi kelancaran dan kemudahan melahirkan
  2. Suami mencari wadah yang baru seperti piring atau mangkok, kemudian ditulisi:

اُخْرُجْ أَيُّهَا الْوَلَدُ مِنْ بَطْنٍ ضَيِّقَةٍ إلَى سَعَةِ هَذِهِ الدُّنْيَا ، اُخْرُجْ بِقُدْرَةِ اللَّهِ الَّذِي جَعَلَك : { فِي قَرَارٍ مَكِينٍ إلَى قَدَرٍ مَعْلُومٍ } {لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (21) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (22) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (24) } [الحشر: 21 – 24] { وَنُنَزِّلُ مِنْ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ }

Kemudian dilebur dengan air, lalu diminumkan dan dipercikkan pada wajahnya

Doa yang dibaca istri ;

{ يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ } [الحج: 2]

Lalu ditiupkan dalam gelas berisi air dan diminum.

Doa yang dibaca suami ;

بسم الله الرحمن الرحيم حَنَّةْ وَلَدَتْ مَرْيَمَ وَمَرْيَمُ وَلَدَتْ عِيْسَى أُخْرُجْ أيُّهَا الْمَوْلُودُ بِقُدْرَةِ الْمَلِكِ الْمَعْبُوْدِ

Ditiupkan pada air dalam wadah, diminumkan istri dan diusapkan perut.

Apabila mempunyai air zamzam, bagus untuk diminumkan istri saat memulai sakit

menjelang melahirkan. Sebelum diminum membaca basmalah dan dalam hati

meminta agar istri diberi kemudahan melahirkan serta selamat lahir bathin

bersama dengan jabang bayi yang lahir.