INILAH SYARAT AGAR TERCAPAI KELUARGA SAMAWA

KESALEHAN suami istri dalam membangun keluarga Islami, keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah (samawa) harus sama. Sehingga visi dan misi yang dimiliki sama-sama bertujuan untuk membangun keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Suami sebagai imam dalam keluarga memiliki tanggung jawab yang besar di dunia dan akhirat. Kebahagiaan keluarga banyak ditentukan oleh peran kepemimpinan suami. Karena itu suami harus menjadi imam yang shaleh.

Demikian juga istri yang menjadi sumber kebahagiaan suami dan menjadi sekolah bagi anak-anaknya. Keceriaan suami dan keberhasilan pendidikan anak-anak sangat bergantung pada peran ibu. Karena itu sebagai istri dan sekaligus sebagai ibu harus shalihah.

Allah telah menyebutkan karakteristik yang sama bagi suami shaleh dan istri shalihah di dalam Surat 33, QS Al Ahzab ayat 35,

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatan, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang shaum, laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya , laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.

Sebab turunnya ayat ini adalah suatu hari Ummu Salamah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: mengapa kami secara eksplisit tidak disebut dalam Al-Quran sebagaimana kaum laki-laki? Beliau tidak memperhatikan pertanyaan itu sampai suatu hari beliau memanggil diatas mimbar dan bersabda:

“Wahai manusia sesungguhnya Allah berfirman: ‘Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim,….’ sampai akhir ayat”. (HR Ahmad)

Dengan turunnya ayat ini maka Allah telah mengarahkan suami istri agar memiliki karakter yang sama dalam berkeluarga yaitu karakter orang yang shaleh agar bisa sukses membentuk keluarga yang Islami yang sakinah mawaddah wa rohmah.

Karakter yang harus dimiliki oleh suami shaleh dan istri shalihat yang sudah disebut dalam surat 33 Al Ahzab ayat 35 itu saling terkait sehingga bisa menjadi pribadi yang shaleh dan Islami yaitu Islam, iman, tunduk, benar (jujur), sabar, khusyuk, bersedekah, berpuasa, menjaga kehormatan, dan banyak berzikir kepada Allah.

Karakteristik Islam yang disebut dalam ayat itu adalah masuk ke dalam agama Islam disertai tunduk patuh dan mengamalkan syariatnya dalam kehidupan sehari- hari. Sebagaimana Rasulullah bersabda saat ditanya tentang Islam:

“Islam adalah hendaknya kamu bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, nabi Muhammad adalah Rasul Allah, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, shaum di bulan Ramadhan, dan pergi haji ke Baitullah bagi yang mampu.” (HR Muslim)

Karakteristik selanjutnya adalah iman, Rasulullah bersabda saat ditanya tentang iman, yaitu:

“Hendaknya kamu beriman kepada Allah, para malaikat, kitab- kitab, para Rasul-Nya, hari akhir dan takdir yang baik dan yang buruk.” (HR. Muslim)

Wallahu a’lam

KITA DAN KELUARGA AMAN APABILA MAQOSIDUS SYARI’AH DI TERAPKAN DI INDONESIA

Senjata bisa mengalahkan teroris, namun pendidikan bisa menghilangkan terorisme. Pendidikan menjadi titik pijak deradikalisasi jangka panjang. Bonus demografi kaum muda menjadi berkah sekaligus tantangan. Semangat religius orang muda saat ini semakin tinggi, namun sangat disayangkan ketika ghirah (semangat) ini timbul, banyak kelompok ekstremis yang memanfaatkannya. Dasar agama terbatas dan keluguan mereka dimanfaatkan sebagai ujung tombak ektremisme, radikalisme, dan terorisme. Dampak paling nyata atas salahnya memilih guru dan institusi pendidikan.

Menyikapi fenomena seperti ini, diharapkan para generasi muda yang mulai semangat belajar agama, agar lebih selektif memilih halaqah pengajian, organisasi, majelis ta’lim, sebaiknya yang berafiliasi dengan organisasi keislaman yang terbukti mampu merawat umat, seperti NU dan Muhammadiyah. Diharapkan para orang tua aktif memantau putra-putrinya. Jika mereka mengikuti organisasi keagamaan yang aneh dan mencurigakan, segera berikan pemahaman dan pengarahan untuk menghindarinya.

Maqasid Syariah, Solusi atas Terorisme

Tahir Ibn Asyur, Ahmad Ar-Raisuni dan Jasser Auda termasuk pemikir yang serius mengembangkan maqasid syariah. Usaha para ulama ini bukan tanpa alasan. Mereka ingin membumikan syariah melalui pemahaman komprehensif filsafat hukum Islam. Maqasid adalah ilmu yang didasarkan pada pertanyaan “kenapa?”. Kenapa ada anjuran jihad? Kenapa wajib zakat bagi orang kaya? Dan seterusnya. Kaum muslim diajak tidak hanya taqlid (mengikuti) buta pada hukum Islam, namun harus mengerti landasan teoritis pembentukan hukum Islam tersebut. Sebagian ulama memasukan maqasid syariah di bawah munasabatul qiyâs atau maslahah mursalah dalam ilmu usul fiqih.

Pembacaan kembali atas maqasid syariah urgen saat ini karena semakin memahami syariah, harus mengerti pula mana yang prioritas dan non-priorias dalam agama, baik dan buruk, benar dan salah, karena syariah bersumber dari Tuhan untuk kemaslahatan umat manusia, mengandung hikmah, kasih sayang, cinta dan keadilan. Apabila keluar dari kasih sayang, keadilan, hikmah dan cinta, maka dapat dipastikan bukan bagian dari syariah.

Maqasid yang semula dimaknai sebagai penjagaan terhadap agama (hifdhud-din), jiwa, akal, harta dan keturunan, dalam adl-dlaruriyatul-khamsah (lima prinsip keniscayaan) dinarasikan ulang sebagai tujuan syariah mengembangkan dan memuliakan hak asasi manusia (HAM). Dengan memuliakan HAM maka segala bentuk kriminal yang membahayakan hak asasi dilarang oleh syariah.

Perlu merenungkan kembali standar syariah yang dirumuskan oleh Ibn Qoyyim Al-Jauziah: bahwa Syariah didasarkan pada kebijaksanaan demi meraih keselamatan manusia di dunia dan akhirat. Syariah seluruhnya terkait dengan keadilan, kasih sayang, kebijaksanaan dan kebaikan. Jadi, hukum apapun yang mengganti keadilan, kasih sayang, kemaslahatan, dan kebijaksanaan, maka hukum tersebut dapat dipastikan bukan bagian dari Syariah.

Koreksi terhadap pemahaman primordial ini hanya bisa dilakukan melalui pendidikan, karena permasalahan fundamental dalam problem terorisme adalah distorsi terhadap interpretasi teks suci. Meskipun, para fundamentalis pun mengklaim sedang menegakkan syariah menurut interpretasinya, membunuh orang lian yang dianggap kafir, dengan ribuan argumentasi atau ratusan buku untuk pembenarannya. Jika keluar dari prinsip standar syariah di atas, dapat dipastikan bukan bagian dari syariah.

Kelompok muda memungkinkan menerima ide kebaruan dari maqasid syariah, menciptakan paradigma inklusif, tanpa menghilangkan khazanah lama, memberikan pemahaman yang benar tentang Islam. Merawat anak muda urgen saat ini karena mayoritas gerakan intoleransi, radikalisme, dan terorisme dimotori oleh generasi muda. Jika lalai merangkul dan mendidik pemuda, mereka bisa hilang arah, masuk ke dalam gerakan Islam yang cenderung memilih jalan radikal dalam menyebarkan ideologi dan paham keagamaannya.

Di tengah budaya kekerasan atas nama agama yang terus meningkat secara sporadis. Hal ini memalukan dan mengkhawatirkan, memalukan karena agama tidak pernah mengajarkan kekerasan, dan mengkhawatirkan karena paksaan dalam agama berarti sudah kehilangan akal sehat. Mata menjadi tidak lagi berguna ketika pikiran sudah buta.

Maqasid dalam Konteks Kekinian

Indonesia saatnya mengambil peran sentral dalam mengalahkan terorisme dunia, menjadi contoh negara lain dalam menangani ancaman teror. Tragedi Sarinah kemarin jelas membuktikan bahwa kita sebagai bangsa yang besar tidak bisa di teror oleh kelompok kecil teroris. Hal itu terbukti hanya tiga jam pasca-ledakan bom, warga mampu keluar dari ancaman teror, kelompok terorisme seperti apapun tidak akan mampu mengalahkan dan menciptakan teror bagi kita sebagai bangsa yang besar jika bersatu dan tetap waspada.

Indonesia adalah bangsa besar, rumah bagi umat muslim terbesar di dunia, memiliki potensi dan piranti menjadi pusat peradaban Islam dunia, wacana Islam Nusantara bisa dijadikan sebagai entry point upaya menjadikan Indonesia sebagai poros kebudayaan Islam dunia. Mari melestarikan khazanah masa lalu dan mengakomodir khazanah masa kini yang efektif. Maqasid Syariah sebagai khazanah klasik bernuansa kekinian, layak dijadikan diskursus baru bagi para guru, ustad, kiai, ulama dan orang awam, agar membawa perubahan terhadap masyarakat, memahami syariah secara kaffah, sehingga terbebas dari intoleransi, radikalisme dan terorisme.

Masyarakat diajak memahami tujuan Tuhan, memberikan syariah kepada umat manusia, sebagai jalan hidup untuk kemaslahatan manusia. Daya kritis terhadap syariah harus dibangun, dan akhirnya ketika kelompok fundamentalis mengklaim sedang menegakkan syariah, kita dengan mudah menjawab, syariah yang mana? Syariahnya siapa? Karena Tuhan tidak pernah menghendaki kehancuran umat manusia, melainkan untuk menjaga hak hidup, beragama, dan kebaikan hambanya.

Yang tidak kalah penting budaya Islam Nusantara seperti mengaji kitab di surau, majelis ta’lim, Yasinan, Tahlilan yang terbukti telah merawat umat perlu dilestarikan. Kelompok teroris tidak suka dengan ini. Dengan melakukan tradisi Islam Nusantara, juga sebuah langkah nyata melawan terorisme.

INILAH ADAB ADAB SUAMI KEPADA ISTERINYA DALAM AJARAN ISLAM

DI DALAM MEMBANGUN RUMAH TANGGA, UMAT ISLAM HARUS SANGAT BERHATI HATI. SEHINGGA SANG SUAMI SEBAGAI KEPALA RUMAH TANGGA HARUS BENAR BENAR TAHU AKAN ADAB ATAU ETIKA DI DALAM MEMPERGAULI ISTERINYA. BERIKUT ADALAH ADAB ADAB SUAMI KEPADA ISTERINYA DI DALAM AGAMA ISLAM, SEMOGA KITA BISA MENGAMALKANYA.

  1. Suami hendaknya menyadari bahwa adalah suatu ujian dalam menjalankan agama.

Firman Allah “Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-aubah: 24)

  1. Seorang istri bisa menjadi musuh bagi suami dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya…………..

Firman Allah “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At-Taghabun: 14)

  1. Hendaknya senantiasa berdo’a kepada Allah meminta istri yang sholehah.

Firman Allah “Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (AI-Furqan: 74)

  1. Di antara kewajiban suami terhadap istri, ialah: membayar mahar, memberi nafkah (makan, pakaian, tempat tinggal), menggaulinya dengan baik, berlaku adil jika beristri lebih dari satu. (AI-Ghazali)
  1. Jika istri berbuat “Nusyuz(durhaka kepada suami dalam hal ketaatan kepada Allah)”, maka suami dibolehkan bertindak sebagai berikut secara berurutan: (a) Memberi nasehat, (b) Pisah kamar, (c) Memukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Firman Allah “…..Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya..”.(An-Nisa’: 34).
  1. Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik akhlaknya dan paling ramah terhadap istrinya/keluarganya. (Tirmudzi)
  1. Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan anaknya. Firmas Allah “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya….”.(Ath-Thalaq: 7)
  1. Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya. (Tirmidzi)
  2. Hendaklah jangan selalu mentaati istri dalam kehidupan rumah tangga. Sebaiknya terkadang menyelisihi mereka. Dalam menyelisihi mereka, ada keberkahan. (Baihaqi, Umar bin Khattab ra., Hasan Bashri)
  3. Suami hendaknya bersabar dalam menghadapi sikap buruk istrinya. (Abu Ya’la)
  1. Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang, tanpa kasar dan zhalim. Firman Allah “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata Dan bergaullah dengan mereka secara patut….”(An-Nisa’: 19)
  1. Suami wajib memberi makan istrinya apa yang ia makan, memberinya pakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menghinanya, dan tidak berpisah ranjang kecuali dalam rumah sendiri. (Abu Dawud).
  1. Suami wajib selalu memberikan pengertian, bimbingan agama kepada istrinya, dan menyuruhnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (AI-Ahzab: 34, At-Tahrim : 6, Muttafaqun Alaih)
  1. Suami wajib mengajarkan istrinya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan wanita (hukum-hukum haidh, istihadhah, dll.). (AI-Ghazali)
  1. Suami wajib berlaku adil dan bijaksana terhadap istri. Firman Allah “…jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil maka (kawinilah) seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki…..”(An-Nisa’:3)
  2. Suami tidak boleh membuka aib istri kepada siapapun. (Nasa’i)
  1. Apabila istri tidak mentaati suami (durhaka kepada suami), maka suami wajib mendidiknya dan membawanya kepada ketaatan, walaupun secara paksa. (AIGhazali)

KEISTIMEWAAN PAHALA SEORANG ISTERI YANG MEMBANTU SUAMINYA

Jumlah pahala Keutamaan atau keistimewaan seorang istri yang melayani suaminya, seperti memasak, mencuci pakaiannya, menyediakan minuman, menyambutnya, mencium tangan suami dan lain-lain. Adalah sebagaimana keterangan berikut :

Mencuci pakaian suami dicatat 2.000 kebaikan dan melebur 2.000 keburukan dan setiap makhluq beristighfar untuk istri tersebut, sebagaimana dijelaskn dalam kitab ‘Uqudul Lujjain :

عقود اللجين

وروي عن ابن مسعود رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم: {إِذَا غَسَلَتْ الْمَرْأَةُ ثِيَابَ زَوْجِهَا كَتَبَ اللهُ لَهَا أَلْفَيْ حَسَنَةٍ وَغَفَرَ لَهَا أَلْفَيْ سَيِّئَةٍ، وَاسْتَغْفَرَ لَهَا كُلُّ شَيْءٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَمْسُ}. وقالت عائشة رضي الله عنها: {صَرِيْرُ مِغْزَلِ المَرْأَةِ يَعْدِلُ التَكْبِيْرَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَأَيّمَا امْرَأَةٍ كَسَتْ زَوْجَهَا مِنْ غزْلِهَا كَانَ لَهَا بِكُلِّ سدىً مِائَةُ أَلْفِ حَسَنَةٍ}.

وقال النبيُّ صلى الله عليه وسلم: {مَنْ اشْتَرَى لِعِيَالِهِ شَيْئًا ثُمَّ حَمَلَهُ بِيَدِهِ إِلَيْهِمْ حَطَّ اللهُ عَنْهُ ذُنُوْبَ سَبْعِيْنَ سَنَةً}. وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ فَرَّحَ أُنْثَى فَكَأَنَّمَا يَبْكِى مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَمَنْ بَكَي مِنْ خَشْيَةِ اللهِ تَعَالَى حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النَّارِ}. وقال صلى الله عليه وسلم: {الْبَيْتُ الَّذِيْ فِيْهِ الْبَنَاتُ يُنْزِلُ اللهُ فِيْهِ كُلَّ يَوْمٍ اثْنَتَيْ عَشَرَةَ رَحْمَةً، وَلاَ تَنْقَطِعُ زِيَارَةُ المَلاَئِكَةِ مِنْ ذَلِكَ البَيْتِ وَيَكْتُبُوْنَ لأَبَوَيْهِنَّ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ عِبَادَةَ سَبْعِيْنَ سَنَةً

Lebih jauh bisa membaca penjelasannya :

ﺭﻭﻱ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ: } ﺩَﺧَﻞَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺫَﺍﺕ ﻳَﻮْﻡٍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﺑْﻨَﺘِﻪِ ﻓَﻄِﻤَﺔَ ﺍﻟﺰَّﻫْﺮَﺍﺀ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻋَﻨْﻬَﺎ، ﻓَﻮَﺟَﺪَﻫَﺎ ﺗَﻄْﺤَﻦُ ﺷَﻌِﻴْﺮًﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺮَّﺣَﺎ ﻭَﻫِﻲَ ﺗَﺒْﻜِﻰْ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻬَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ: “ ﻣَﺎ ﻳُﺒْﻜِﻴْﻚِ ﻳَﺎ ﻓَﺎﻃِﻤَﺔُ ؟، ﻻَ ﺃَﺑْﻜَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻚِ ﻋَﻴْﻨﺎً .” ﻓَﻘَﺎﻟَﺖْ: “ﻳَﺎ ﺃَﺑَﺖِ، ﺃَﺑْﻜَﺎﻧِﻲْ ﺣَﺠَﺮُ ﺍﻟﺮَّﺣَﺎ ﻭَﺷُﻐْﻞُ ﺍﻟﺒَﻴْﺖِ ” ، ﻓَﺠَﻠَﺲَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻋِﻨْﺪَﻫَﺎ، ﻓَﻘَﺎﻟَﺖْ: “ﻳَﺎ ﺃَﺑَﺖِ، ﻣِﻦْ ﻓَﻀْﻠِﻚَ، ﺗَﺴْﺄَﻝُ ﻋَﻠِﻴًّﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﺸْﺘَﺮِﻱَ ﻟِﻲْ ﺟَﺎﺭِﻳَﺔً ﻟِﺘُﻌِﻴْﻨَﻨِﻲْ ﻋَﻠَﻲ ﺍﻟﻄﺤِﻴْﻦِ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺷُﻐْﻞِ ﺍﻟﺒَﻴْﺖِ .” ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺳَﻤِﻊَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻛَﻼَﻣَﻬَﺎ ﻗَﺎﻡَ ﻭَﺟَﺎﺀَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺮَّﺣَﺎ ﻭَ ﺃَﺧَﺬَ ﺍﻟﺸَّﻌِﻴْﺮَ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﺍﻟْﻤُﺒَﺎﺭَﻛَﺔِ ﺍﻟﺸَّﺮِﻳْﻔَﺔِ ﻭَﻭَﺿَﻌَﻪُ ﻓِﻲْ ﺍﻟﺮَّﺣَﺎ،

Diriwayatkan dari Abi Hurairoh r.a : Suatu hari rosulullah datang kerumah puterinya Fathimah Azzahro,ia sedang menumbuk syair ditempat gilingan namun sambil menangis,Rosulullah bertanya : Apa yang yang menangis wahai fathimah ? ia menjawab : Wahai ayahku,aku menangis karena batu gilingan ini dan semua pekerjaan rumah. Kemudian Rosul duduk disamping Fathimah, fathimah berkata lagi : Wahai ayahku,mohonkanlah pada Ali untuk membelikan aku seorang jariyah untuk membantu ku memasak dan menyelesaikan pekerjaan rumah. Ketika Nabi perkataan fathimah, maka nabi mendatangi batu gilinganan tersebut dan nabi menaburkan syair dalam gilingan itu dengan tangan beliau yang berkah nan mulia.

ﻭَﻗَﺎﻝَ: “ ﺑﺴْﻢِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ ” ، ﻓَﺪَﺍﺭَﺕْ ﻭَﺣْﺪَﻫَﺎ ﺑِﺈِﺫْﻥِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ، ﻓَﺼَﺎﺭَ ﻳﺤﺒﻂ ﻟﻬﺎ ﺍﻟﺸَﻌِﻴْﺮَ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﺍﻟﻤُﺒَﺎﺭَﻛَﺔِ، ﻭَﻫِﻲَ ﺗَﺪُﻭْﺭُ ﻭَﺣْﺪَﻫَﺎ، ﻭﺗُﺴَﺒِّﺢُ ﺍﻟﻠﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰْ ﺑِﻠُﻐَﺎﺕٍ ﻣُﺨْﺘَﻠِﻔَﺔٍ ﺣَﺘَّﻰ ﻓَﺮَﻍَ ﺍﻟﺸَﻌِﻴْﺮُ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻟِﻠﺮَّﺣَﺎ: “ﺍﺳْﻜُﻨِﻲْ ﺑﺈﺫْﻥِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ” ، ﻓَﺴَﻜَﻨَﺖْ ﻭَﻧَﻄَﻘَﺖْ ﺑﺈﺫْﻥِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺃَﻧْﻄَﻖَ ﻛُﻞَّ ﺷَﻲْﺀٍ، ﻓَﻘَﺎﻟَﺖْ ﺑِﻠِﺴَﺎﻥٍ ﻓَﺼِﻴْﺢٍ ﻋَﺮَﺑِﻲٍّ: “ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱ ﺑَﻌَﺜَﻚَ ﺑِﺎﻟﺤَﻖِّ ﻧَﺒِﻴًّﺎ ﻭَﺳُﻮْﻻً، ﻟَﻮْ ﺃَﻣَﺮْﺗَﻨِﻲ ﺃَﻥْ ﺃَﻃْﺤَﻦَ ﺷَﻌِﻴْﺮَ ﺍﻟْﻤَﺸْﺮِﻕِ ﻭَﺍﻟﻤَﻐْﺮِﺏِ ﻟَﻄَﺤَﻨَﺘْﻪُ ﻛُﻠَّﻪُ، ﻭَﺇِﻧِّﻲْ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﻓِﻲْ ﻛِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟﻠﻪِ: }ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻗُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻫْﻠِﻴﻜُﻢْ ﻧَﺎﺭﺍً ﻭَﻗُﻮﺩُﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻭَﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺭَﺓُ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﻣَﻼﺋِﻜَﺔٌ ﻏِﻼﻅٌ ﺷِﺪَﺍﺩٌ ﻻَ ﻳَﻌْﺼُﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻣَﺎ ﺃَﻣَﺮَﻫُﻢْ ﻭَﻳَﻔْﻌَﻠُﻮﻥَ ﻣَﺎ ﻳُﺆْﻣَﺮُﻭﻥَ}،

Dan Nabi membaca basmalah,maka batu gilingan itu memutar dengan sendiri dengan izin Allah,Nabi mengumpulkan tepung syair itu dengan tangannya yang mulia,dan batu gilingan itu tetap berputar dengan sendiri, dan batu gilingan itu membaca tasbih dengan berbagai bahasa sehingga selesai menggiling semua syair.

Rosul berkata : Berhentilah dengan izin Allah,maka gilingan itu beerhenti dan berkata dengan izin Allah, dia berkata dengan bahasa arab yang fasih : Wahai Rosulullah, Demi dzat yang telah mengutusmu dengan Haq menjadi nabi Nabi dan Rosul,Jika engkau memerintahkanku untuk memasak seluruh syair di masyriq dan maghrib,maka aku akan lakukan itu semua.sesungguhnya aku mendengar dalam kitabullah, ayat :

{ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻗُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻫْﻠِﻴﻜُﻢْ ﻧَﺎﺭﺍً ﻭَﻗُﻮﺩُﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻭَﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺭَﺓُ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﻣَﻼﺋِﻜَﺔٌ ﻏِﻼﻅٌ ﺷِﺪَﺍﺩٌ ﻻَ ﻳَﻌْﺼُﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻣَﺎ ﺃَﻣَﺮَﻫُﻢْ ﻭَﻳَﻔْﻌَﻠُﻮﻥَ ﻣَﺎ ﻳُﺆْﻣَﺮُﻭﻥَ{ ﻓَﺨِﻔْﺖُ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺃَﻥْ ﺃَﻛُﻮْﻥَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺤِﺠَﺎﺭَﺓِ ﺍﻟﻼَّﺗِﻲْ ﻳَﺪْﺧُﻠْﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎَﺭ .” ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ: “ ﺃَﺑْﺸِﺮِﻱْ، ﻓَﺈﻧَّﻚِ ﻣِﻦْ ﺣِﺠَﺎﺭَﺓِ ﻗَﺼْﺮِ ﻓَﺎﻃِﻤَﺔَ ﺍﻟﺰَّﻫْﺮَﺍﺀ ﻓِﻲْ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ .” ﻓَﻌِﻨْﺪَ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺮِﺣَﺖْ ﺍﻟﺮَّﺣَﺎ ﻭَﺍﺳْﺘَﺒْﺸَﺮَﺕْ ﻭَﺳَﻜَﻨَﺖْ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻻِﺑْﻨَﺘِﻪِ ﻓَﺎﻃِﻤَﺔَ: “ ﻟَﻮْﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻳَﺎﻓَﺎِﻃَﻤُﺔ ﻟَﻄَﺤَﻨَﺖْ ﻟَﻚِ ﺍﻟﺮَّﺣَﺎ ﻭَﺣْﺪَﻫَﺎ،

Aku takut ya rosulallah menjadi bagian dari batu yang masuk neraka.Rosulullah berkata : Berbahagilah engkau, engkau termasuk batu milik fathimah yang masuk syurga. Dan ketika dijelaskan demikian batu gilingan itu merasa bahagia dan diam. Kemudian rosul berkata kepada puterinya : Jika Allah menghendaki, maka Batu gilingan ini akan menggiling sendiri.

ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ > ﺹ 13 < ﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﻜْﺘُﺐَ ﻟَﻚِ ﺍﻟﺤَﺴَﻨَﺎﺕِ، ﻭَﻳُﻜَﻔِّﺮَ ﻟَﻚِ ﺍﻟﺴﻴِّﺂﺕِ، ﻭَﻳَﺮْﻓَﻊَ ﻟَﻚِ ﺍﻟﺪَﺭَﺟَﺎﺕِ. ﻳَﺎ ﻓَﺎﻃِﻤَﺔُ، ﺃَﻳُّﻤَﺎ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﻃَﺤَﻨَﺖْ ﻟِﺰَﻭْﺟِﻬَﺎ ﻭَﺃَﻭْﻻَﺩِﻫَﺎ ﺇﻻَّ ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻬَﺎ ﺑِﻜُﻞِّ ﺣَﺒَّﺔٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻘَﻤْﺢِ ﺣَﺴَﻨَﺔً، ﻭَﻣَﺤَﺎ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﺳَﻴِّﺌَﺔً، ﻭَﺭَﻓَﻊَ ﻟَﻬَﺎ ﺩَﺭَﺟَﺔً . ﻳَﺎ ﻓَﺎﻃِﻤَﺔُ، ﺃَﻳُّﻤَﺎ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﻋَﺮِﻗَﺖْ ﻋِﻨْﺪَ ﻃَﺤِﻴْﻨِﻬَﺎ ﻟِﺰَﻭْﺟِﻬَﺎ ﺇﻻَّ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑَﻴْﻨَﻬَﺎ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﺳَﺒْﻊَ ﺧَﻨَﺎﺩِﻕَ. ﻳَﺎ ﻓَﺎﻃِﻤَﺔُ، ﺃَﻳُّﻤَﺎ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﺩَﻫَﻨَﺖْ ﺭُﺅُﻭْﺱَ ﺃَﻭْﻻَﺩِﻫَﺎ ﻭَﺳَﺮَّﺣَﺘْﻬُﻢْ ﻭَﻏَﺴَﻠَﺖْ ﺛِﻴَﺎﺑَﻬُﻢْ ﺇﻻَّ ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻬَﺎ ﺃَﺟْﺮَ ﻣَﻦْ ﺃَﻃْﻌَﻢَ ﺃَﻟْﻒَ ﺟَﺎﺋِﻊٍ ﻭَﻛَﺴَﺎ ﺃَﻟْﻒَ ﻋُﺮْﻳَﺎﻥ. ﻳَﺎ ﻓَﺎﻃِﻤَﺔُ، ﺃَﻳُّﻤَﺎ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﻣَﻨَﻌَﺖْ ﺣَﺎﺟَﺔَ ﺟِﻴْﺮَﺍﻧِﻬَﺎ ﺇﻻَّ ﻣَﻨَﻌَﻬَﺎ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺸُﺮْﺏِ ﻣِﻦْ ﺣَﻮْﺽِ ﺍﻟْﻜَﻮْﺛَﺮِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ. ﻳَﺎ ﻓَﺎﻃِﻤَﺔُ، ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﻣِﻦْ ﺫَﻟِﻚَ ﻛُﻠِّﻪِ ﺭِﺿَﺎﺍﻟﺰَّﻭْﺝِ ﻋَﻦْ ﺯَﻭْﺟَﺘِﻪِ، ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺯَﻭْﺟُﻚِ ﻏَﻴْﺮَ ﺭَﺍﺽٍ ﻋَﻨْﻚِ ﻣَﺎﻛُﻨْﺖُ ﺃَﺩْﻋُﻮْ ﻟَﻚِ ،

Tetapi (dengan mengerjakan semua ini) Allah menghendaki mencatat kebaikan untukmu dan melebur dosamu dan mengangkat derajatmu. Wahai fathimah seorang isteri mana saja yang memasak untuk suami dan anak-anaknya kecuali Allah menuliskan untuk setiap butirnya satu kebaikan dan melebur satu keburukan dan mengangkat satu derajat. Wahai fathimah isteri mana saja yang berkeringat saat memasak untuk suaminya kecuali Allah menjadikan diantara isteri tsb dan api neraka jarak tujuh khondaq. Wahai fathimah isteri mana saja yang meminyaki rambut kepala anak- anaknya dan menyisiri meereka dan mencuci pakaian mereka kecuali Allah menuliskan untuknya ganjaran seperti ganjaran orang yang memasak untuk seribu orang yang sedang lapar dan ganjaran seperti memberi pakaian kepada orang yang telanjang. Wahai fathimah isteri mana saja yang menolak hajat tetangganya kecuali Allah mencegah darinya untuk meminum air dari telaga kautsar pada hari qiamat. Wahai fathimah,yang lebih utama dari itu semua adalah ridho suaminya. Jika suamimu tidak ridho atasmu, maka aku takkan berdo’a untukmu.

ﺃَﻣَﺎ ﺗَﻌْﻠَﻤِﻴْﻦَ ﻳَﺎﻓَﺎﻃِﻤَﺔُ، ﺃَﻥَّ ﺭِﺿَﺎﺍﻟﺰَﻭْﺝِ ﻣِﻦْ ﺭِﺿَﺎﺍﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰْ، ﻭَﺳﺨَﻄُﻪُ ﻣِﻦْ ﺳَﺨَﻂِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰْ . ﻳَﺎ ﻓَﺎﻃِﻤَﺔُ، ﺇِﺫَﺍ ﺣَﻤَﻠَﺖْ ﺍﻟﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺑِﺎﻟْﺠَﻨِﻴْﻦِ ﻓِﻲْ ﺑَﻄْﻨِﻬَﺎ ﺍﺳْﺘَﻐْﻔَﺮَﺕْ ﻟَﻬَﺎ ﺍﻟﻤَﻼَﺋِﻜَﺔُ، ﻭَﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻬَﺎ ﻛُﻞَّ ﻳَﻮْﻡٍ ﺃَﻟْﻒَ ﺣَﺴَﻨَﺔٍ، ﻭَﻣَﺤَﺎ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﺃَﻟْﻒَ ﺳَﻴِّﺌَﺔٍ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺟَﺎﺀَﻫَﺎ ﺍﻟﻄَﻠْﻖُ ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻬَﺎ ﺛَﻮَﺍﺏَ ﺍﻟﻤُﺠَﺎﻫِﺪِﻳْﻦَ ﻓِﻲْ ﺳَﺒِﻴْﻞِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻭَﺿَﻌَﺖْ ﺣَﻤْﻠَﻬَﺎ ﺧَﺮَﺟَﺖْ ﻣِﻦْ ﺫُﻧُﻮْﺑِﻬَﺎ ﻛَﻴَﻮْﻡِ ﻭَﻟَﺪَﺗْﻬَﺎ ﺃُﻣُّﻬَﺎ. ﻳَﺎ ﻓَﺎﻃِﻤَﺔُ، ﺃَﻳُّﻤَﺎ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﺧَﺪَﻣَﺖْ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ ﺑِﻨِﻴَّﺔٍ ﺻَﺎﺩِﻗَﺔٍ ﺇﻻَّ ﺧَﺮَﺟَﺖْ ﻣِﻦْ ﺫُﻧُﻮْﺑِﻬَﺎ ﻛَﻴَﻮْﻡِ ﻭَﻟَﺪَﺗْﻬَﺎ ﺃُﻣُّﻬَﺎ، ﻭَﻟَﻢْ ﺗَﺨْﺮُﺝْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪُﻧْﻴَﺎ ﻭَﻋَﻠْﻴْﻬَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺬُﻧُﻮْﺏِ ﺷَﻲْﺀٌ، ﻭَﺗَﺠِﺪُ ﻗَﺒْﺮَﻫَﺎ ﺭَﻭْﺿَﺔً ﻣِﻦْ ﺭِﻳَﺎﺽِ ﺍﻟﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺃَﻋْﻄَﺎﻫَﺎ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺛَﻮَﺍﺏَ ﺃَﻟْﻒِ ﺣَﺠَّﺔٍ ﻭَﺃَﻟْﻒِ ﻋُﻤْﺮَﺓٍ، ﻭَﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُ ﻟَﻬَﺎ ﺃَﻟْﻒُ ﻣَﻠَﻚٍ ﺇِﻟَﻰ ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ.

Ketahuilah wahai fathimah, sesungguhnya ridho seorang suami adalah keridhoan Allah,dan kemarahannya adalah kemarahan allah.Wahai fathimah ,Jika seorang isteri sedang mengandung janin suaminya,maka malaikat memohonkan ampunan untuknya dan Allah menulis seribu kebaikan setiap harinya dan menghapus seribu keburukan/dosa,Dan ketika tiba Tholqu (sakit perut karena akan melahirkan) Allah mencatat untuknya ganjaran para mujahid yang berjuang dijalan Allah.Ketika jabang bayi sudah terlahir maka ia keluar dari dosa- dosanya laksana ia baru terlahir dari ibunya.Wahai fathimah, isteri mana saja yang berbakti pada suaminya dengan niat yang benar, maka ia laksana keluar dari dosa-dosanya seperti hari dimana ia dilahirkan ibunya,dan ia tidak keluar dari dunia (wafat) dengan membawa dosa sedikitpun,dan kuburnya adalah pertamanan syurga,dan Allah memberikan padanya ganjaran seribu haji dan seribu umroh dan memintakan ampun baginya seribu malaikat sampai hari qiamat.

ﻭﺃَﻳُّﻤَﺎ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﺧَﺪَﻣَﺖْ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﻭَﻟَﻴْﻠَﺔً ﺑِﻄِﻴْﺐِ ﻧَﻔْﺲٍ ﻭَﺇِﺧْﻼَﺹٍ ﻭَﻧِﻴَّﺔٍ ﺻَﺎﺩِﻗَﺔٍ ﺇِﻻَّ ﻏَﻔَﺮَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻬَﺎ ﺫُﻧُﻮْﺑَﻬَﺎ ﻛُﻠَّﻬَﺎ، ﻭَﺃَﻟْﺒَﺴَﻬَﺎ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺣُﻠَّﺔً ﺧَﻀْﺮَﺍﺀَ، ﻭَﻛَﺘَﺐَ ﻟَﻬَﺎﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻌْﺮَﺓٍ ﻓِﻲْ ﺟَﺴَﺪِﻫَﺎ ﺃَﻟْﻒَ ﺣَﺴَﻨَﺔٍ، ﻭَﺃَﻋْﻄَﺎﻫَﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻣِﺎﺋَﺔَ ﺣَﺠَّﺔٍ ﻭَﻋُﻤْﺮَﺓٍ. ﻳَﺎ ﻓَﺎﻃِﻤَﺔُ، ﺃَﻳُّﻤَﺎ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﺗَﺒَﺴَّﻤَﺖْ ﻓِﻲْ ﻭَﺟْﻪِ ﺯَﻭْﺟِﻬَﺎ ﺇِﻻَّ ﻧَﻈَﺮَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻬَﺎ ﺑِﻌَﻴْﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺔِ . ﻳَﺎ ﻓَﺎﻃِﻤَﺔُ، ﺃَﻳُّﻤَﺎ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﻓَﺮَﺷَﺖْ ﻟِﺰَﻭْﺟِﻬَﺎ ﺑِﻄِﻴْﺐِ ﻧَﻔْﺲٍ ﺇِﻻَّ ﻧَﺎﺩَﺍﻫَﺎ ﻣُﻨَﺎﺩٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ: ﺍﺳْﺘَﻘْﺒِﻠِﻲْ ﺍﻟﻌَﻤَﻞَ، ﻓَﻘَﺪْ ﻏَﻔَﺮَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻚِ ﻣَﺎﺗَﻘَﺪَّﻡَ ﻣِﻦْ ﺫَﻧْﺒِﻚَ ﻭَﻣَﺎ ﺗَﺄَﺧَّﺮَ .

Isteri mana saja yang berbakti pada suaminya pada siang dan malam hari dengan senang hati dan ikhlas serta niat yang benar kecuali allah mengampuni semua dosanya,dan pada hari qiamat Allah memakaikan perhiasan yang hijau,Dan Allah mencatatkan untuk setiap rambut yang berada dijasadnya seribu kebaikan Dan Allah memberikan ganjaran seratus kali haji dan umroh.Wahai Fathimah,isteri mana saja yang tersenyum didepan suaminya kecuali Allah akan memandangnya dengan pandangan rohmat.Wahai fathimah,isteri mana saja yang melayani jima’ suaminya dengan senang hati,kecuali ada suara dari langit : Engkau telah mengerjakan amal dengan benar, Allah telah mengampunimu atas dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.

ﻳَﺎ ﻓَﺎﻃِﻤَﺔُ، ﺃَﻳُّﻤَﺎ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﺩَﻫَﻨَﺖْ ﺭَﺃْﺱَ ﺯَﻭْﺟِﻬَﺎ ﻭَﻟِﺤْﻴَﺘَﻪُ، ﻭَﻗَﺼَّﺖْ ﺷَﺎﺭِﺑَﻪُ، ﻭَﻗَﻠَﻤَﺖْ ﺃَﻇَﺎﻓِﺮَﻩُ ﺇِﻻَّ ﺳَﺎﻗَﺎﻫَﺎ ﺍﻟﻠﻪُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻖِ ﺍﻟﻤَﺨْﺘُﻮْﻡِ، ﻭﻣﻦ ﺃَﻧْﻬَﺎﺭِ ﺍﻟﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﻫَﻮَّﻥَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺳَﻜَﺮَﺍﺕِ ﺍﻟﻤَﻮْﺕِ، ﻭَﺗَﺠِﺪُ ﻗَﺒْﺮَﻫَﺎ ﺭَﻭْﺿًﺎ ﻣِﻦْ ﺭِﻳَﺎﺽِ ﺍﻟﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﻳَﻜْﺘُﺐُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻬَﺎ ﺑَﺮَﺍﺀَﺓً ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ، ﻭَﺍﻟﺠﻮَﺍﺯَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁِ .{ ﻭﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﺮﺣﻴﻖ : ﺍﻟﺨﻤﺮ ﺍﻟﺼﺎﻓﻴﺔ . ﻭﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﻤﺨﺘﻮﻡ: ﺍﻟﻤﻤﻨﻮﻉ ﻣﻦ ﺃﻥ ﺗﻤﺴﻪ ﻳﺪ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻳﻔﻚ ﺍﻷﺑﺮﺍﺭ ﺧﺘﻤﻪ، ﻭﺍﻟﻤﺨﺘﻮﻡ ﺃﺷﺮﻑ ﺍﻟﺠﺎﺭﻯ .

Wahai Fathimah, isteri mana saja yang meminyaki rambut dan janggut suaminya dan menggunting kumisnya dan memotong kukunya kecuali Allah memberikan minum padanya dari “Al-Rohiqil Makhtum*” dan dari sungai dalam syurga,Dan Allah memudahkan ketika ia sakarotul maut,dan menjadikan kuburnya pertamanan syurga,dan ditulis atasnya “terbebas dari api neraka”,dan selamat ketika menyebrangi jembatan (shiroth).

“Al- Rohiqil Makhtum” ( ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻖِ ﺍﻟﻤَﺨْﺘُﻮْﻡِ ) adalah minuman arak dari botol yang masih tersegel.

ﻭﺭﻭﻱ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ، ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : } ﺇِﺫَﺍ ﻏَﺴَﻠَﺖْ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺛِﻴَﺎﺏَ ﺯَﻭْﺟِﻬَﺎ ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻬَﺎ ﺃَﻟْﻔَﻲْ ﺣَﺴَﻨَﺔٍ ﻭَﻏَﻔَﺮَ ﻟَﻬَﺎ ﺃَﻟْﻔَﻲْ ﺳَﻴِّﺌَﺔٍ، ﻭَﺍﺳْﺘَﻐْﻔَﺮَ ﻟَﻬَﺎ ﻛُﻞُّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻃَﻠَﻌَﺖْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَﻤْﺲُ.{ ﻭﻗﺎﻟﺖ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ: }ﺻَﺮِﻳْﺮُ ﻣِﻐْﺰَﻝِ ﺍﻟﻤَﺮْﺃَﺓِ ﻳَﻌْﺪِﻝُ ﺍﻟﺘَﻜْﺒِﻴْﺮَ ﻓِﻲْ ﺳَﺒِﻴْﻞِ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻭَﺃَﻳّﻤَﺎ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﻛَﺴَﺖْ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﻏﺰْﻟِﻬَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻬَﺎ ﺑِﻜُﻞِّ ﺳﺪﻯً ﻣِﺎﺋَﺔُ ﺃَﻟْﻒِ ﺣَﺴَﻨَﺔٍ .{ ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲُّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : } ﻣَﻦْ ﺍﺷْﺘَﺮَﻯ ﻟِﻌِﻴَﺎﻟِﻪِ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺛُﻢَّ ﺣَﻤَﻠَﻪُ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﺣَﻂَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﺫُﻧُﻮْﺏَ ﺳَﺒْﻌِﻴْﻦَ ﺳَﻨَﺔً .{ ﻭﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: } ﻣَﻦْ ﻓَﺮَّﺡَ ﺃُﻧْﺜَﻰ ﻓَﻜَﺄَﻧَّﻤَﺎ ﻳَﺒْﻜِﻰ ﻣِﻦْ ﺧَﺸْﻴَﺔِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﻣَﻦْ ﺑَﻜَﻲ ﻣِﻦْ ﺧَﺸْﻴَﺔِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺟَﺴَﺪَﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ .{ ﻭﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: }ﺍﻟْﺒَﻴْﺖُ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﻓِﻴْﻪِ ﺍﻟْﺒَﻨَﺎﺕُ ﻳُﻨْﺰِﻝُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓِﻴْﻪِ ﻛُﻞَّ ﻳَﻮْﻡٍ ﺍﺛْﻨَﺘَﻲْ ﻋَﺸَﺮَﺓَ ﺭَﺣْﻤَﺔً، ﻭَﻻَ ﺗَﻨْﻘَﻄِﻊُ ﺯِﻳَﺎﺭَﺓُ ﺍﻟﻤَﻼَﺋِﻜَﺔِ ﻣِﻦْ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟﺒَﻴْﺖِ ﻭَﻳَﻜْﺘُﺒُﻮْﻥَ ﻷَﺑَﻮَﻳْﻬِﻦَّ ﻛُﻞَّ ﻳَﻮْﻡٍ ﻭَﻟَﻴْﻠَﺔٍ ﻋِﺒَﺎﺩَﺓَ ﺳَﺒْﻌِﻴْﻦَ ﺳَﻨَﺔً }.

Diriwayatkan dari Abi Mas’ud r.a, dari Rosulillah SAW : Tetkala seorang isteri mencucikan pakaian suaminya,maka Allah mencatat baginya dua ribu kebaikan dan mengampuni dua ribu keburukan,dan memohonkan ampun baginya setiap sesuatu yang tersinari matahari.

Rosulullah bersabda : Barangsiapa yang membelikan sesuatu untuk keluarganya dan membawa dengan tangannya,maka Allah menghapus darinya dosa tujuh puluh tahun.

Rosulullah bersabda : Barangsiapa (suami) yang memberikan kegembiraan pada isterinya seakan- akan ia menangis karena takut kepada Allah,dan barangsiapa yang menangis karena takut kepaa Allah maka Allah mengharamkan jasadnya masuk neraka.

Rosulullah bersabda : Sebuah rumah yang di dalamnya ada anak-anak perempuan,maka Allah menurunkan pada rumah tersebut dua belas rohmat setiap harinya,dan tak henti-hentinya para malaikat mengunjungi rumah tersebut, dan malaikat menuliskan disetiap pintunya ibadah selama tujuh puluh tahun. Wallahu a’lam.

MANAKAH YANG LEBIH UTAMA ANTARA MENJADI ORANG KAYA ATAU ORANG MISKIN?

Banyak orang berdoa agar Allah SWT memberinya rezeki yang luas sehingga memiliki banyak harta alias menjadi orang kaya; sementara Nabi Muhammad SAW sendiri berdoa agar dihidupkan dan diwafatkan dalam keadaan miskin. Kedua hal yang bertolak belakang ini kadang menimbulkan kebingungan di sebagian kalangan umat Islam sehingga memunculkan pertanyaan sebagaimana judul di atas.

Doa memohon keluasan rezeki memang ada contohnya, antara lain sebagai berikut:

اللّهُمَّ إنِّي أَسألُكَ أَنْ تَرْزُقَنِي رِزْقًا حَلَالًا وَاسِعًا طَيِّبًا مِنْ غَيْرِ تَعَبٍ وَلَا مِشْقَةٍ وَلَا ضَيْرٍ وَلَانِصْبٍ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ

Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu rezeki yang halal, luas, dan baik tanpa susah payah, tanpa kesulitan, tanpa kerusakan, dan tanpa penderitaan. Seungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Sedangkan doa Rasulullah SAW yang mengharapkan kemiskinan adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِيناً وَأَمِتْنِي مِسْكِيناً وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِيْن

Artinya: “Ya Allah, hidupkanlah dan matikanlah aku sebagai orang miskin dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang miskin.”(HR: At-Tirmidzi)

Pertanyaan sebagaimana judul di atas dapat ditemukan jawabannya dalam kitab An-Nafais Al-Uluwiyah fi Masailis Shufiyyah, karya Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad, bab Anit Tafdhil bainal Faqri wal Ghina, halaman 66, sebagai berikut:

بسم الله الرحمان الرحيم الحمد لله الذي جعل الفقر زينة لعباده الصالحين و حلية لخاصته المفلحين، وذالك اذا قارنه منهم الرضا والتسليم، والشكر والصبر على ما ابتلاهم به العزيزالعليم

Artinya: “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kemiskinan sebagai hiasan bagi hamba-Nya yang saleh dan mengkhusukannya bagi hamba-Nya yang beruntung, dengan syarat bahwa ujian kefakiran dari Allah Yang Maha Mulia dan Mengetahui diterimanya dengan ridha, tawakal, syukur dan sabar.”

Jadi menurut ulama pembaharu asal Hadhramaut abad 11 H tersebut, kefakiran sesugguhnya bukan merupakan kehinaan, apalagi adzab atau laknat dari Allah SWT, tetapi justru suatu hiasan yang indah bagi hamba-Nya yang saleh. Bahkan juga menjadi tanda keburuntungannya dengan catatan ia dapat menerima kefakiran itu dengan ridha, tawakal, syukur dan sabar.

Namun, jika seseorang tidak ridha menerima kefakirannya, bahkan banyak melakukan protes, maka kefakirannya akan menjadi musibah besar baginya dengan mendapatkan siksa dari Allah SWT. Hal ini seperti dijelaskan lebih lanjut dalam kitab tersebut (halaman 66-67) sebagai berikut:

فاما اذا قارنه الجزع والضجر والاعتراض على القضاء والقدر فهو من البلاء العظيم, المؤدي الى العذاب المقيم, فالمدح الواقع على الفقر كتابا و سنة, المراد به الفقر المقرون بالصبر والرضا وحسن الادب مع الله تعالى

Artinya: “Akan tetapi jika kefakiran itu diterima dengan gelisah, sedih, dan tidak ridha terhadap qadha dan qadar Allah SWT, maka kefakirannya akan beralih menjadi bencana yang dapat menyeretnya kepada siksa Allah SWT. Sedangkan menurut Al-Qur’an dan Sunnah, orang fakir yang terpuji adalah yang dapat menerimanya dengan sabar, ridha, dan adab yang baik kepada Alllah SWT.

Jadi bagi orang miskin yang tidak ridha terhadap ketetapan dan takdir Allah SWT, maka kefakirannya akan menjauhkan orang tersebut dari Allah SWT karena tidak bisa bersikap sabar atas ujian dari-Nya dan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Dalam hal seperti ini, menjadi orang miskin bukan sebuah keutamaan baginya sehingga ia harus berjuang melawan kefakirannya agar menjadi orang mampu yang bersyukur.

Kesimpulannya adalah menjadi orang miskin bisa lebih utama daripada menjadi orang kaya dengan syarat kemiskinannya mampu mendorongnya mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan kesabaran, keridhaan, tawakal, dan selalu bersyukur kepada Allah SWT. Jika syarat tersebut tidak terpenuhi, maka menjadi orang kaya akan lebih utama dengan syarat kekayaannya mampu mendorongnya mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan jalan syukur dan ketakwaan kepada-Nya. Jadi masalahnya adalah tergantung pada mana yang lebih efektif mendorong mendekatkan diri kepada Allah SWT.

KIAT DAN CARA AGAR REZEKI HALAL BERKAH DAN LANCAR

Rezeki banyak melimpah tidak sama konsepnya dengan rezeki yang halal dan berkah. Bisa jadi seoserang mempunyai rezeki yang banyak tetapi tidak terdapat keberkahan di dalamnya. Makna kata berkah sendiri berarti al-ziyadah yang artinya bertambah dan al-namaa’ yang artinya tumbuh berkembang.

Menurut Imam Al Baghawy, yang dimaksud dengan barakah adalah tetapnya kebaikan ilahiy dalam sesuatu. Maka di dalam Islam rezeki yang diinginkan adalah rezeki yang bertambah dan mengandung kebaikan di dalamnya. Sehingga bisa kita katakan, kalau seseorang mempunyai rezeki yang berkah, maka rezekinya bertambah-tambah di dalamnya dengan terdapat pula banyak kebaikan yang tiada berkurang.Adapun agar rezeki lancar , barokah dan halal sebagaimana tuntutan Rasulullah SAW Insya Allah sebagai berikut:

  1. Menjauhi pekerjaan yang haram dan syubhat.

Dalam arti kata taat kepadanya dan tidak melakukan dosa. Karena dosa menutup pintu rezeki. Rasulullah bersabada: “… dan seorang lelaki akan diharamkan baginya rezeki kerana dosa yang dibuatnya.” (Riwayat at-Tirmizi). Dekatkan diri kepada Allah dengan ibadah ma’dah tambahan seperti sholat Dhuha dan Tahajud

  1. Bekerja sungguh-sungguh.

Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hamba-Nya bersusah payah (kelelahan) dalam mencari rizki yang halal.” (HR. Adailami)

  1. Mengadukan masalah rezeki ini hanya kepada Allah SWT.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Barangsiapa tertimpa kemiskinan, kemudian ia mengadukannya kepada sesama manusia, maka tidak akan tertutup kemiskinannya itu. Namun, siapa saja yang mengadukannya kepada Allah, maka Allah akan memberinya rizki, baik segera ataupun lambat.”[HR. Abu Dawud dan Turmidziy, Abu ‘Isa berkata hadits ini hasan shahih gharib]

  1. Banyak membaca istighfar

Rasulullah saw bersabda,” Barangsiapa memperbanyak istighfar, maka Allah swt akan menjadikan setiap kesulitan kelapangan, dan setiap kesempitan jalan keluar, dan Allah akan memberinya rejeki dari jalan yang tidak pernah disangka-sangkanya.“ [HR. Imam Ahmad dalam Musnad]

  1. Sabar dan banyak membaca la hawla wa la quwwata illa billah.

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah, bahwasanya anak laki-laki ‘Auf bin Malik al-Asyja’iy yang bernama Salim, telah ditawan oleh orang-orang musyrik. Kemudian, ia mendatangi Rasulullah saw dan mengadukan kesedihannya kepada Rasulullah, sambil berkata, “Sesungguhnya, musuh telah menawan anaknya, dan ibunya menjadi sangat sedih. Lantas, apa yang engkau perintahkan kepadaku? Rasulullah saw menjawab, ” Bertaqwalah kepada Allah, bersabarlah, dan aku anjurkan agar kamu dan isterimu memperbanyak bacaan “La Haulah wa Laa Quwwata Illa bi al-Allah”. Lalu, ia kembali ke rumahnya dan berkata kepada isterinya,”Rasulullah saw telah memerintahkan aku dan kamu untuk memperbanyak bacaan “La Haulah wa Laa Quwwata Illa bi al-Allah”. Isterinya menjawab, “Baiklah.” Keduanya segera melaksanakan apa yang diperintahkan Rasulullah saw. Akhirnya, anaknya berhasil meloloskan diri dari musuh, dan menggiring ternak-ternak mereka. Kemudian, ia membawa ternak-ternak itu di hadapan ayahnya. Jumlah ternak itu adalah 4000 ekor kambing, dan Rasulullah saw memberikan ternak itu kepadanya.[Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, surat al-Thalaq:3]

  1. Tawwakal sepenuhnya kepada Allah SWT

“Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rejeki kepada kalian, sebagaimana Allah telah memberi rejeki kepada burung yang berangkat di pagi buta dengan perut kosong, dan kembali ke sarangnya dengan perut kenyang.”[HR. Bukhari]

  1. Bershadaqahlah dan Nafkahkanlah harta tersebut kepada yang berhak.

Rasulullah bersabda ”Ada tiga hal yang aku bersumpah kepadanya dan aku akan menyampaikan suatu berita kepadamu, maka perhatikan benar-benar. Tiadalah akan berkurang harta seseorang karena shadaqah….dan tiadalah seseorang membuka pintu meminta-minta melainkan Allah akan membukakan kepadanya pintu kemiskinan.”[HR. Turmudziyy] “Janganlah kamu menutup-nutupi apa yang kamu miliki, niscaya Allah akan menutupi rizkimu.”

Dalam riwayat lain dinyatakan, “Nafkahkanlah hartamu serta jangan kamu menghitung-hitungnya, maka Allah swt akan menghitung-hitungnya untukmu; dan janganlah kamu menakar-nakarnya, niscaya Allah Alah menakar-nakarnya untuk kamu.”[HR. Bukhari dan Muslim]

  1. Tolonglah Agama Allah dengan menegakkan Syariat Islam secara kaffah.

Allah SWT berfirman dalam surat Muhammad ayat 7:” Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu“.

Kiat yang terakhir inilah yang harus diperhatikan dengan serius oleh umat Islam pada saat sekarang ini.

Islam sebagai jalan kehidupan tidak tegak di masyarakat kita pada saat ini dengan tidak adanya Daulah Islam sebagai wadah tegaknya Syariat Islam. Sehingga membuat sistem perekonomian yang dimana umat mencari rezeki pada saat sekarang ini merupakan sistem perekonomian yang tidak mendukung mereka untuk mendapatkan rezeki yang banyak, lancar dan barokah.

Lihatlah bagaimana susahnya sebagian orang hanya untuk mendapatkan sesuap nasi sehari, dan kemudian tidak lepasnya setiap usaha dari riba, sehingga untuk memastikan apakah harta yang kita cari pada saat sekarang ini berkah dan halal, sangatlah susah sekali.

Sebenarnya Allah tidak memerlukan pertolongan karena Allah Maha Kaya, tetapi itulah cara bagi kita untuk menolong diri kita sendiri, mari kita tolong Agama Allah, agar rezeki kita banyak, lancar, halal dan Berkah.

Wallahua’alam Bishawwab

DOSA DOSA MENURUT IMAM IBNU HAJAR AL HAITAMY RAHIMAHULLOH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

الكَبِيْرَةُ الأُولىَ ؛ الشِّرْكُ الأَكْبَرُ

Dosa Besar Pertama ; Syirik Besar. menyekutukan Allah SWT

الكَبِيْرَةُ الثَّانِيَةُ ؛ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ وَهُوَ الرِّيَاءُ

Dosa Besar Kedua ; Syirik Kecil, yaitu Riya, ibadah bukan karena Allah.

الكَبِيْرَةُ الثَّالِثَةُ الغَضَبُ بِالبَاطِلِ وَالحِقْدُ وَالحَسَدُ

Dosa besar ketiga ; Marah yang batil, Dendam dan Dengki.

الكَبِيْرَةُ الرَّابِعَةُ ؛ الكِبْرُ وَالعُجْبُ وَالخُيَلاَءُ

Dosa besar keempat ; Takabur, Ujub dan Membesar-besarkan diri.

الكَبِيْرَةُ الخَامِسَةُ ؛ الغِشُّ

Dosa besar kelima ; Menipu.

الكَبِيْرَةُ السَّادِسَةُ ؛ النِّفَاقُ

Dosa besar keenam ; Munafiq.

الكَبِيْرَةُ السَّابِعَةُ ؛ البَغْيُ

Dosa besar ketujuh ; Berbuat jahat.

الكَبِيْرَةُ الثَّامِنَةُ ؛ الإِعْرَاضُ عَنْ الخَلْقِ اسْتِكْبَارًا وَاحْتِقَارًا لَهُمْ

Dosa besar kedelapan ; Berpaling atau menjuhkan diri dari Makhluk karena kesombongan dan menghinakan mereka.

الكَبِيْرَةُ التَّاسِعَةُ ؛ الخَوْضُ فِيْمَا لاَ يَعْنِي

Dosa besar kesembilan ; Tenggelam pada sesuatu yang tidak bermanfaat, seperti tenggelam dalam permainan.

الكَبِيْرَةُ العَاشِرَةُ ؛ الطَّمَعُ

Dosa besar kesepuluh ; Thoma, Rakus.

الكَبِيْرَةُ الحَادِيَةُ عَشْرَةَ ؛ خَوْفُ الفَقْرِ

Dosa besar kesebelas ; Takut akan kefakiran, takut jatuh miskin atau melarat.

الكَبِيْرَةُ الثَّانِيَةُ عَشْرَةَ ؛ سَخَطُ المَقْدُورِ

Dosa besar kedua belas ; Membenci sesuatu yang telah ditaqdirkan Allah SWT.

الكَبِيْرَةُ الثَّالِثَةُ عَشْرَةَ ؛ النَّظَرُ إِلىَ الأَغْنِياَءِ وَتَعْظِيْمُهُمْ لِغِنَاهُمْ

Dosa besar ketiga belas ; Memandang orang kaya dan mengagungkan mereka karena kekayaannya.

الكَبِيْرَةُ الرَّابِعَةُ عَشْرَةَ ؛ الإِسْتِهْزَاءُ بِالفُقَرَاءِ لِفَقْرِهِمْ

Dosa besar keempat belas ; Merendahkan orang fakir karena kefakirannya.

الكَبِيْرَةُ الخَامِسَةُ عَشْرَةَ ؛ الحِرْصُ

Dosa besar kelima belas ; Sibuk mencari dunia sehingga lupa ibadah.

الكَبِيْرَةُ السَّادِسَةُ عَشْرَةَ ؛ التَّنَافُسُ فيِ الدُّنْياَ وَالمُبَاهَاةُ بِهاَ

Dosa besar keenam belas ; Berlebihan dalam dunia dan bermewah-mewahan.

الكَبِيْرَةُ السَّابِعَةُ عَشْرَةَ ؛ التَّزَيُّنُ لِلْمَخْلُوقِيْنَ بِمَا يَحْرُمُ التَّزَيُّنُ بِهِ

Dosa besar ketujuh belas ; Berhias karena ingin dihormati oleh sesama makhluk dengan sesuatu yang diharamkan.

الكَبِيْرَةُ الثَّامِنَةُ عَشْرَةَ ؛ المُدَاهَنَةُ

Dosa besar kedelapan belas ; Takut untuk menegakkkan kebenaran.

الكَبِيْرَةُ التَّاسِعَةُ عَشْرَةَ ؛ حُبُّ المَدْحِ بِمَا لاَ يَفْعَلُهُ

Dosa besar kesembilan belas ; Senang pujian dengan sesuatu kebaikan yang tidak dilakukannya.

الكَبِيْرَةُ العِشْرُونَ ؛ الاِشْتِغَالُ بِعُيُوْبِ الخَلْقِ عَنْ عُيُوْبِ النَّفْسِ

Dosa besar kedua puluh ; Sibuk mencari aib orang lain, tidak sadar akan aib diri sendiri.

الكَبِيْرَةُ الحَادِيَةُ وَالعِشْرُونَ ؛ نِسْيَانُ النِّعْمَةِ

Dosa besar kedua puluh satu ; Melupakan nikmat Allah.

الكَبِيْرَةُ الثَّانِيَةُ وَالعِشْرُونَ ؛ الحَمِيَّةُ لِغَيْرِ دِيْنِ اللهِ

Dosa besar kedua puluh dua ; Mementingkan sesuatu yang tidak penting berdasar ajaran agama Allah SWT.

الكَبِيْرَةُ الثَّالِثَةُ وَالعِشْرُونَ ؛ تَرْكُ الشُّكْرِ

Dosa besar kedua puluh tiga ; Tidak bersyukur.

الكَبِيْرَةُ الرَّابِعَةُ وَالعِشْرُونَ ؛ عَدَمُ الرِّضَا بِالقَضَاءِ

Dosa besar kedua puluh empat ; Tidak ridlo akan ketentuan Allah SWT.

الكَبِيْرَةُ الخَامِسَةُ وَالعِشْرُونَ ؛ هَوَانُ حُقُوقِ اللهِ تَعَالىَ وَأَوَامِرِهِ عَلَى الإِنْسَانِ

Dosa besar kedua puluh lima ; Merendahkan hak Allah dan merendahkan perintahNya terhadap manusia.

الكَبِيْرَةُ السَّادِسَةُ وَالعِشْرُونَ ؛ سُخْرِيَتُهُ بِعِبَادِ اللهِ تَعَالىَ وَازْدِرَاؤُهُ لَهُمْ وَاحْتِقَارُهُ إيَّاهُمْ

Dosa besar kedua puluh enam ; Mentertawakan hamba Allah, menyinggung dan menghina mereka …. (menghakimi)

الكَبِيْرَةُ السَّابِعَةُ وَالعِشْرُونَ ؛ اتِّبَاعُ الهَوَى وَالإِعْرَاضُ عَنْ الحَقِّ

Dosa besar kedua puluh tujuh ; Menuruti hawa nafsu dan berpaling dari kebenaran.

الكَبِيْرَةُ الثَّامِنَةُ وَالعِشْرُونَ ؛ المَكْرُ وَالخِدَاعُ

Dosa besar kedua puluh delapan ; Berbuat makar dan licik.

الكَبِيْرَةُ التَّاسِعَةُ وَالعِشْرُونَ ؛ إرَادَةُ الحَياَةِ الدُّنْياَ

Dosa besar kedua puluh sembilan ; Menginginkan kehidupan senang di dunia, tanpa memperhatikan akhirat.

الكَبِيْرَةُ الثَّلاَثُونَ ؛ مُعَانَدَةُ الحَقِّ

Dosa besar ketiga puluh ; Menentang kebenaran.

الكَبِيْرَةُ الحَادِيَةُ وَالثَّلاَثُونَ ؛ سُوءُ الظَّنِّ بِالمُسْلِمِ

Dosa besar ketiga puluh satu ; Buruk sangka terhadap sesama muslim.

الكَبِيْرَةُ الثَّانِيَةُ وَالثَّلاَثُونَ ؛ عَدَمُ قَبُولِ الحَقِّ إذَا جَاءَ بِمَا لاَ تَهْوَاهُ النَّفْسُ أَوْ جَاءَ عَلَى يَدِ مَنْ تَكْرَهُهُ وَتُبْغِضُهُ

Dosa besar ketiga puluh dua ; Tidak mau menerima kebenaran jika kebenaran itu datang tidak sesuai hawa nafsunya, atau kebenaran itu dari seseorang yang tidak disukainya.

الكَبِيْرَةُ الثَّالِثَةُ وَالثَّلاَثُونَ ؛ فَرَحُ العَبْدِ بِالمَعْصِيَةِ

Dosa besar ketiga puluh tiga ; Merasa gembira karena berbuat maksiat.

الكَبِيْرَةُ الرَّابِعَةُ وَالثَّلاَثُونَ ؛ الإِصْرَارُ عَلَى المَعْصِيَةِ

Dosa besar ketiga puluh empat ; Membiasakan diri berbuat maksiat.

الكَبِيْرَةُ الخَامِسَةُ وَالثَّلاَثُونَ ؛ مَحَبَّةُ أَنْ يُحْمَدَ بِمَا يَفْعَلُهُ مِنْ الطَّاعَاتِ

Dosa besar ketiga puluh lima ; Senang dipuji apabila melakukan suatu ibadah.

الكَبِيْرَةُ السَّادِسَةُ وَالثَّلاَثُونَ ؛ الرِّضَا بِالحَيَاةِ الدُّنْياَ وَالطُّمَأْنِيْنَةُ إلَيْهَا

Dosa besar ketiga puluh enam ; Ridlo dalam kehidupan dunia dan merasa nyaman di dunia, tanpa memperhatikan akhirat.

الكَبِيْرَةُ السَّابِعَةُ وَالثَّلاَثُونَ ؛ نِسْيَانُ اللهِ تَعَالىَ وَالدَّارِ الآَخِرَةِ

Dosa besar ketiga puluh tujuh ; Melupakan Allah SWT dan akhirat.

الكَبِيْرَةُ الثَّامِنَةُ وَالثَّلاَثُونَ ؛ الغَضَبُ لِلنَّفْسِ وَالاِنْتِصَارُ لَهَا بِالبَاطِلِ

Dosa besar ketiga puluh delapan ; Marah karena hawa nafsu serta menuruti-nya dalam kejahatan.

الكَبِيْرَةُ التَّاسِعَةُ وَالثَّلاَثُونَ ؛ الأَمْنُ مِنْ مَكْرِ اللهِ بِالِاسْتِرْسَالِ فيِ المَعَاصِيْ مَعَ الاِتِّكَالِ عَلَى الرَّحْمَةِ

Dosa besar ketiga puluh sembilan ; Merasa aman dari murka Allah, dengan bermaksiat yang bersandar pada rahmat Allah.

الكَبِيرَةُ الأَرْبَعُونَ ؛ اليَأْسُ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ

Dosa besar keempat puluh ; Putus asa dari rahmat Allah SWT.

الكَبِيرَةُ الحَادِيَةُ وَالأَرْبَعُونَ وَالثَّانِيَةُ وَالأَرْبَعُونَ ؛ سُوءُ الظَّنِّ بِللَّهِ تَعَالىِ وَالقُنُوطُ مِنْ رَحْمَتِهِ

Dosa besar keempat puluh satu dan empat puluh dua ; Buruk sangka kepada Allah dan putus asa dari rahmat Allah SWT.

الكَبِيْرَةُ الثَّالِثَةُ وَالأَرْبَعُونَ ؛ تَعَلُّمُ الْعِلْمِ لِلدُّنْياَ

Dosa besar keempat puluh tiga ; Mencari ilmu Agama untuk mendapatkan kehidupan dunia.

الكَبِيْرَةُ الرَّابِعَةُ وَالأَرْبَعُونَ ؛ كَتْمُ الْعِلْمِ

Dosa besar keempat puluh empat ; Menyembunyikan ilmu.

الكَبِيْرَةُ الخَامِسَةُ وَالأَرْبَعُونَ ؛ عَدَمُ العَمَلِ بِالْعِلْمِ

Dosa besar keempat puluh lima ; Tidak melakukan amal ibadah dengan berdasar ilmunya.

الكَبِيْرَةُ السَّادِسَةُ وَالأَرْبَعُونَ ؛ الدَّعْوَى فيِ الْعِلْمِ أَوْ الْقُرْآنِ أَوْ شَيْءٍ مِنَ العِبَادَاتِ زَهْوًا وَافْتِخَارًا بِغَيْرِ حَقٍّ وَلاَ ضَرُورَةٍ

Dosa besar keempat puluh enam ; Dakwah atau menyampaikan ajaran ilmu agama, alqur’an atau suatu ibadah, dengan keras (kasar) dan sombong yang tidak benar dan tidak dalam keadaan darurat.

الكَبِيْرَةُ السَّابِعَةُ وَالأَرْبَعُونَ ؛ إضَاعَةُ نَحْوِ العُلَمَاءِ وَالاِسْتِخْفَافُ بِهِمْ

Dosa besar keempat puluh tujuh ; Menyia-nyiakan Ulama dan merendahkan mereka.

الكَبِيْرَةُ الثَّامِنَةُ وَالتَّاسِعَةُ وَالأَرْبَعُونَ ؛ تَعَمُّدُ الْكَذِبِ عَلَى اللهِ تَعَالىَ أَوْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dosa besar keempat puluh delapan dan keempat puluh sembuilan ; Sengaja mendustakan Allah SWT dan Rasulullah SAW.

الكَبِيْرَةُ الخَمْسُونَ ؛ مَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً

Dosa besar kelima puluh ; Memberlakukan perbuatan buruk.

الكَبِيْرَةُ الحَادِيَةُ وَالخَمْسُونَ ؛ تَرْكُ السُّنَّةِ

Dosa besar kelima puluh satu ; Meninggalkan sunnah, (ingkar).

الكَبِيْرَةُ الثَّانِيَةُ وَالخَمْسُونَ ؛ التَّكْذِيْبُ بِالْقَدَرِ

Dosa besar kelima puluh dua ; Mendustakan qodar (taqdir Allah SWT).

الكَبِيْرَةُ الثَّالِثَةُ وَالخَمْسُونَ ؛ عَدَمُ الْوَفَاءِ بِالعَهْدِ

Dosa besar kelima puluh tiga ; Tidak memenuhi janji, tidak tepat janji.

الكَبِيْرَةُ الرَّابِعَةُ وَالخَامِسَةُ وَالخَمْسُونَ ؛ مَحَبَّةُ الظَّلَمَةِ أَوْ الْفَسَقَةِ بِأَيِّ نَوْعٍ كَانَ فِسْقُهُمْ ، وَبُغْضُ الصَّالِحِيْنَ

Dosa besar kelima puluh empat dan lima puluh lima ; Senang dolim atau fasiq berbuat apa saja dan benci orang soleh.

الكَبِيْرَةُ السَّادِسَةُ وَالخَمْسُونَ ؛ أَذِيَّةُ أَوْلِياَءِ اللهِ وَمُعَادَاتُهُمْ

Dosa besar kelima puluh enam ; Menyakiti wali Allah atau kekasih Allah dan menentangnya.

الكَبِيْرَةُ السَّابِعَةُ وَالخَمْسُونَ ؛ سَبُّ الدَّهْرِ مِنْ عَالَمٍ بِمَا يَأْتِي

Dosa besar kelima puluh tujuh ; Mencaci waktu atau keadaan alam, karena sesuatu yang akan terjadi.

الكَبِيْرَةُ الثَّامِنَةُ وَالخَمْسُونَ ؛ الكَلِمَةُ الَّتِي تَعْظُمُ مَفْسَدَتُهَا وَيَنْتَشِرُ ضَرَرُهَا مِمَّا يُسْخِطُ اللهَ تَعَالىَ

Dosa besar kelima puluh delapan ; Mengungkapkan kata yang tidak disukai Allah, bahayanya besar dan akan menyebar.

الكَبِيْرَةُ التَّاسِعَةُ وَالخَمْسُونَ ؛ كُفْرَانُ نِعْمَةِ المُحْسِنِ

Dosa besar kelima puluh sembilan ; Menginkari nikmat Allah SWT yang berbuat kebaikan.

الكَبِيْرَةُ السِّتُّونَ ؛ تَرْكُ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ سَمَاعِ ذِكْرِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dosa besar keenam puluh ; Tidak membaca sholawat kepada Nabi SAW disaat mendengar Nabi Shallallohu alaihi wasallam.

الكَبِيْرَةُ الحَادِيَةُ وَالسِّتُّونَ ؛ قَسْوَةُ الْقَلْبِ بِحَيْثُ تَحْمِلُ صَاحِبَهَا عَلَى مَنْعِ إطْعَامِ المُضْطَرِّ مَثَلاً

Dosa besar keenam puluh satu ; Keras hati sehingga tidak merasa tersentuh oleh keadaan orang miskin yang sangat membutuhkan.

الكَبِيْرَةُ الثَّانِيَةُ وَالثَّالِثَةُ وَالسِّتُّونَ ؛ الرِّضَا بِكَبِيْرَةٍ مِنَ الكَبَائِرِ أَوْ الإِعَانَةُ عَلَيْهَا بِأَيِّ نَوْعٍ كَانَ

Dosa besar keenam puluh dua dan enam puluh tiga ; Ridlo dengan dosa besar dan Membantu orang berbuat dosa.

الكَبِيْرَةُ الرَّابِعَةُ وَالسِّتُّونَ ؛ مُلاَزَمَةُ الشَّرِّ وَالفُحْشِ حَتَّى يَخْشَاهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِ

Dosa besar keenam puluh empat ; Membiasakan diri berbuat jahat dan buruk, sehingga orang mengkhawatirkan itu.

الكَبِيْرَةُ الخَامِسَةُ وَالسِّتُّونَ ؛ كَسْرُ الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيْرِ

Dosa besar keenam puluh lima ; Memecahkan uang emas dan uang perak atau pencucian uang.

الكَبِيْرَةُ السَّادِسَةُ وَالسِّتُّونَ ؛ ضَرْبُ نَحْوِ الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيْرِ عَلَى كَيْفِيَّةٍ مِنَ الغِشِّ الَّتِي لَوْ اطَّلَعَ عَلَيْهَا النَّاسُ لَمَا قَبِلُوْهاَ

Dosa besar keenam puluh enam ; Membuat seperti uang emas atau perak dengan tujuan menipu, apabila digunakan maka orang tidak akan menrimanya, pemalsuan uang.

الكَبِيْرَةُ السَّابِعَةُ وَالسِّتُّونَ ؛ الأَكْلُ أَوْ الشُّرْبُ فيِ آَنِيَةِ الذَّهَبِ أَوْ الفِضَّةِ

Dosa besar keenam puluh tujuh ; Makan atau minum di wadah yang terbuat dari emas atau perak.

الكَبِيْرَةُ الثَّامِنَةُ وَالسِّتُّونَ ؛ نِسْياَنُ الْقُرْآنِ أَوْ آَيَةٍ مِنْهُ بَلْ أَوْ حَرْفٍ

Dosa besar keenam puluh delapan ; Lupa bacaan Al-Qur’an atau salah satu ayatnya, bahkan satu huruf pun.

الكَبِيْرَةُ التَّاسِعَةُ وَالسِّتُّونَ ؛ الجِدَالُ وَالمِرَاءُ وَهُوَ المُخَاصَمَةُ وَالمُحَاجَجَةُ وَطَلَبُ الْقَهْرِ وَالغَلَبَةِ فيِ الْقُرْآنِ أَوْ الدِّينِ

Dosa besar keenam puluh sembilan ; Permusuhan, pertengkaran, pemaksaan, mengubah Al-Qur’an atau aturan agama.

الكَبِيْرَةُ السَّبْعُونَ ؛ التَّغَوُّطُ فيِ الطُّرُقِ

Dosa besar ketujuh puluh ; Buang hajat di jalan.

الكَبِيْرَةُ الحَادِيَةُ وَالسَّبْعُونَ ؛ عَدَمُ التَّنَزُّهِ مِنَ الْبَوْلِ فيِ البَدَنِ أَوْ الثَّوْبِ

Dosa besar ketujuh puluh satu ; Tidak menghidar dari buang air kecil mengenai badan atau baju.

الكَبِيْرَةُ الثَّانِيَةُ وَالسَّبْعُونَ ؛ تَرْكُ شَيْءٍ مِنْ وَاجِبَاتِ الوُضُوءِ

Dosa besar ketujuh puluh dua ; Meninggalkan salah satu kewajiban wudlu.

الكَبِيْرَةُ الثَّالِثَةُ وَالسَّبْعُونَ ؛ تَرْكُ شَيْءٍ مِنْ وَاجِبَاتِ الغُسْلِ

Dosa besar ketujuh puluh tiga ; Meninggalkan salah satu kewajiban mandi besar.

الكَبِيْرَةُ الرَّابِعَةُ وَالسَّبْعُونَ ؛ كَشْفُ العَوْرَةِ لِغَيْرِ ضَرُورَةٍ وَمِنْهُ دُخُولُ الحَمَّامِ بِغَيْرِ مِئْزَرٍ سَاتِرٍ لَهَا

Dosa besar ketujuh puluh empat ; Membuka aurat bukan darurat, seperti masuk WC umum (bersama-sama) tanpa pakaian.

الكَبِيْرَةُ الخَامِسَةُ وَالسَّبْعُونَ ؛ وَطْءُ الحَائِضِ

Dosa besar ketujuh puluh lima ; Menggauli istri yang sedang haid.

الكَبِيْرَةُ السَّادِسَةُ وَالسَّبْعُونَ ؛ تَعَمُّدُ تَرْكِ الصَّلاَةِ

Dosa besar ketujuh puluh enam ; Sengaja meninggalkan shalat.

الكَبِيْرَةُ السَّابِعَةُ وَالسَّبْعُونَ ؛ تَعَمُّدُ تَأْخِيْرِ الصَّلاَةِ عَنْ وَقْتِهَا أَوْ تَقْدِيْمِهَا عَلَيْهِ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ كَسَفَرٍ أَوْ مَرَضٍ عَلَى الْقَوْلِ بِجَوَازِ الجَمْعِ بِهِ

Dosa besar ketujuh puluh tujuh ; Sengaja menunda atau mendahulukan shalat tanpa udzur, seperti dalam perjalanan, sakit atau menjalankan pendapat yang membolehkan shalat jama’.

الكَبِيْرَةُ الثَّامِنَةُ وَالسَّبْعُونَ ؛ النَّوْمُ عَلَى سَطْحٍ لاَ تَحْجِيْرَ بِهِ

Dosa besar ketujuh puluh delapan ; Tidur di tempat terbuka dan tidak memakai penutup badan.

الكَبِيْرَةُ التَّاسِعَةُ وَالسَّبْعُونَ ؛ تَرْكُ وَاجِبٍ مِنْ وَاجِبَاتِ الصَّلاَةِ المُجْمَعِ عَلَيْهَا أَوْ المُخْتَلَفِ فِيْهَا عِنْدَ مَنْ يَرَى الوُجُوبَ كَتَرْكِ الطُّمَأْنِينَةِ فيِ الرُّكُوعِ أَوْ غَيْرِهِ

Dosa besar ketujuh puluh sembilan ; Meninggalkan salah satu kewajiban shalat, baik wajib menurut sepakat Ulama atau wajib bukan sepakat, hanya memandang dari sisi Ulama yang menyatakan wajib. Seperti tidak Tumaninah dalam ruku’.

الكَبِيْرَةُ الثَّمَانُونَ ؛ الوَصْلُ وَطَلَبُ عَمَلِهِ

Dosa besar kedelapan puluh ; Menyambung rambut (kepala) dengan rambut lain dan mencari perbuatan itu.

الكَبِيْرَةُ الحَادِيَةُ وَالثَّمَانُونَ ؛ الوَشْمُ وَطَلَبُ عَمَلِهِ

Dosa besar kedelapan puluh satu ; Menusuk bagian tubuh dengan sejenis jarum, seperti susuk.

الكَبِيْرَةُ الثَّانِيَةُ وَالثَّمَانُونَ ؛ وَشْرُ الأَسْنَانِ أَيْ تَحْدِيْدُهَا وَطَلَبُ عَمَلِهِ

Dosa besar kedelapan puluh dua ; Membentuk gigi dengan besi untuk keindahan dan mencari perbuatan itu.

الكَبِيْرَةُ الثَّالِثَةُ وَالثَّمَانُونَ ؛ التَّنْمِيْصُ وَطَلَبُ عَمَلِهِ وَهُوَ جَرْدُ الْوَجْهِ

Dosa besar kedelapan puluh tiga ; Menghilangkan atau mencabut bulu muka, bulu alis dsb. dan mencari perbutan itu.

الكَبِيْرَةُ الرَّابِعَةُ وَالثَّمَانُونَ ؛ المُرُورُ بَيْنَ يَدَيْ المُصَلِّي

Dosa besar kedelapan puluh empat ; Melewat di hadapan orang shalat.

الكَبِيْرَةُ الخَامِسَةُ وَالثَّمَانُونَ ؛ إطْبَاقُ أَهْلِ القَرْيَةِ أَوْ البَلَدِ أَوْ نَحْوِهِمَا عَلَى تَرْكِ الجَمَاعَةِ فيِ فَرْضٍ مِنَ المَكْتُوبَاتِ الخَمْسِ وَقَدْ وُجِدَتْ فِيْهِمْ شُرُوطُ وُجُوبِ الجَمَاعَةِ

Dosa besar kedelepan puluh lima ; Semua punduduk suatu tempat tidak melaksanakan shalat fardu berjama’ah, sedang telah memenuhi syarat untuk berjama’ah.

الكَبِيْرَةُ السَّادِسَةُ وَالثَّمَانُونَ ؛ إمَامَةُ الإِنْسَانِ لِقَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ

Dosa besar kedelapan puluh enam ; Mendirikan seorang Imam, tetapi kaumnya tidak menyukainya.

الكَبِيْرَةُ السَّابِعَةُ وَالثَّمَانُونَ وَالكَبِيْرَةُ الثَّامِنَةُ وَالثَّمَانُونَ ؛ قَطْعُ الصَّفِّ وَعَدَمُ تَسْوِيَتِهِ

Dosa besar kedelapan puluh tujuh dan delapan puluh delapan ; Memutuskan barisan shalat dan tidak meluruskannya.

الكَبِيْرَةُ التَّاسِعَةُ وَالثَّمَانُونَ ؛ مُسَابَقَةُ الإِمَامِ

Dosa besar kedelapan puluh sembilan ; Berlomba-lomba untuk menjadi imam shalat.

الكَبِيْرَةُ التِّسْعُونَ وَالحَادِيَةُ وَالتِّسْعُونَ وَالثَّانِيَةُ وَالتِّسْعُونَ ؛ رَفْعُ الْبَصَرِ إلىَ السَّمَاءِ ، وَالالْتِفَاتُ فيِ الصَّلاَةِ ، وَالاِخْتِصَارُ

Dosa besar kesembilan puluh, sembilan puluh satu dan sembilan puluh dua ; Menaikkan pandangan ke langit saat shalat, memalingkan kepala saat shalat dan mempersingkat shalat.

الكَبِيْرَةُ الثَّالِثَةُ وَالرَّابِعَةُ وَالخَامِسَةُ وَالسَّادِسَةُ وَالسَّابِعَةُ وَالثَّامِنَةُ وَالتِّسْعُونَ ؛ اتِّخَاذُ القُبُورِ مَسَاجِدَ ، وَإِيقَادُ السُّرُجِ عَلَيْهَا ، وَاِتِّخَاذُهَا أَوْثَاناً ، وَالطَّوَافُ بِهَا ، وَاسْتِلاَمُهَا ، وَالصَّلاَةُ إلَيْهَا

Dosa besar kesembilan puluh tiga, sembilan puluh empat, sembilan puluh lima, sembilan puluh enam, sembilan puluh tujuh dan sembilan puluh delapan ; Menjadikan kuburan sebagai mesjid, Menyalakan penerangan di kuburan, Menyembah kuburan, Towaf di kuburan, Mencium dari jauh pada kuburan dan shalat diatas kuburan. (Tujuan menyembah kuburan).

الكَبِيْرَةُ التَّاسِعَةُ وَالتِّسْعُونَ ؛ سَفَرُ الإِنْسَانِ وَحْدَهُ

Dosa besar kesembilan puluh sembilan ; Berpergian sendiri (yang dipastikan akan membahyakan dirinya).

الكَبِيْرَةُ المِائَةُ ؛ سَفَرُ المَرْأَةِ وَحْدَهَا بِطَرِيْقٍ تَخَافُ فِيْهَا عَلَى بُضْعِهَا

Dosa besar keseratus ; Berpergian sendiri bagi wanita (yang dipastikan akan membahayakan kehormatan dirinya).

الزواجر عن اقتراف الكبائر للإمام ابن حجر الهيتمي رحمه الله تعالى

INILAH AMALAN AMALAN YANG BISA MENGHAPUSKAN DOSA

Manusia pasti berbuat dosa dan pasti butuh ampunan Allah. Oleh karena itu Allah memberikan keutamaan dan kemurahan kepada hambaNya dengan mensyariatkan amalan-amalan yang dapat menghapus dosa disamping taubat. Sebagiannya dijelaskan dalam Al Qur’an dan sebagiannya lagi dalam Sunnah Rasululloh.Diantaranya sebagai berikut:

  1. Menyempurnakan wudhu dan berjalan kemasjid, sebagaimana disampaikan Rasululloh:

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ

Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat. Mereka menjawab: ya wahai rasululloh. Beliau berkata: enyempurnakan wudhu ketika masa sulit dan memperbanyak langkah kemasjid serta menunggu sholat satu ke sholat yang lain, karena hal itu adlah ribath. (HR Muslim dan Al Tirmidzi).

Juga dalam sabda beliau yang lain:

إِذَا تَوَضَّأَ الرَّجُلُ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ لَا يُخْرِجُهُ أَوْ قَالَ لَا يَنْهَزُهُ إِلَّا إِيَّاهَا لَمْ يَخْطُ خُطْوَةً إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً

Jika seseorang berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya kemudian berangkat sholat dengan niatan hanya untuk sholat, maka tidak melangkah satu langkah kecuali Allah angkat satu derajat dan hapus satu dosa. (HR Al Tirmidzi).

  1. Puasa hari Arofah dan A’syura’ dengan dalil:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَ صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Nabi Bersabda: Puasa hari Arafah saya berharap dari Allah untuk menghapus setahun yangsebelumnya dan setahun setelahnya dan Puasa hari A’syura saya berharap dari Allah menghapus setahun yang telah lalu. (HR Al Tirmidzi dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami’ no. 3853)

  1. Sholat tarawih di Romadhon dengan dalil sabda Rasululloh:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang menegakkan romadhon (sholat tarawih) dengan iman dan mengharap pahala Allah maka diampunilah dosanya yang telah lalu. (Muttafaqun ‘Alaihi).

  1. Haji yang mabrur dengan dalil

مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَ لَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Siapa yang berhaji lalu tidak berkata keji dan berbuat kefasikan maka kembali seperti hari ibunya melahirkannya (HR Al Bukhori) dan sabda beliau:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Haji mabrur balasannya hanya syurga. (HR Ahmad).

  1. Memaafkan hutang orang yang sulit membayar dengan dalil

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ أُتِيَ اللَّهُ بِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِهِ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَقَالَ لَهُ مَاذَا عَمِلْتَ فِي الدُّنْيَا قَالَ يَا رَبِّ آتَيْتَنِي مَالَكَ فَكُنْتُ أُبَايِعُ النَّاسَ وَكَانَ مِنْ خُلُقِي الْجَوَازُ فَكُنْتُ أَتَيَسَّرُ عَلَى الْمُوسِرِ وَأُنْظِرُ الْمُعْسِرَ فَقَالَ اللَّهُ أَنَا أَحَقُّ بِذَا مِنْكَ تَجَاوَزُوا عَنْ عَبْدِي

Dari Hudzaifah beliau berkata Allah memanggil seorang hambaNya yang Allah karuniai harta. Maka Allah berkata kepadanya: Apa yang kamu kerjakan didunia? Ia menjawab: Wahai Rabb kamu telah menganugerahkanku hartaMu lalu aku bermuamalah dengan orang-orang. Dan dahulu akhlakku adalah memaafkan, sehingga aku dahulu mempermudah orang yang mampu dan menunda pembayaran hutang orang yang sulit membayar. Maka Allah berfirman: Aku lebih berhak darimu maka maafkanlah hambaKu ini (HR Muslim).

  1. melakukan kebaikan setelah berbuat dosa dengan dalil:

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, ikutilah kejelekan dengan kebaikan yang menghapusnya dan pergauli manusia dengan etika yang mulia. (HR Al Tirmidzi dan Ahmad dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami’ no. 97.)

  1. memberi salam dan berkata baik dengan dalil sabda Rasululloh:

إِنَّ كِمْ كُوْجِبَاتِ الْمَغْفِرَةِ بَذْلُ السَّلاَمِ وَ حُسْنُ الْكَلاَمِ

sesungguhnya termasuk sebab mendapatkan ampunan adalah memberikan salam dan berkata baik. (HR Al Kharaithi dalam Makarim Al Akhlak dan dishohihkan Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Al Shohihah no. 1035)

  1. Sabar atas musibah dengan dalil sabda Rasululloh:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ إِنِّي إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدًا مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنًا فَحَمِدَنِي عَلَى مَا ابْتَلَيْتُهُ فَإِنَّهُ يَقُومُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ مِنْ الْخَطَايَا

Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla berfirman: Sungguh Aku bila menguji seorang hambaKu yang mukmin, lalu ia memujiku atas ujian yang aku timpakan kepadanya, maka ia bangkit dari tempat tidurnya tersebut bersih dari dosa seperti hari ibunya melahirkannya (HR Ahmad dan dihasankan Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Al Shohihah no. 144).

  1. Menjaga sholat lima waktu dan jum’at serta puasa Romadhon dengan dalil sabda Rasululloh:

الصلوات الخَمْسُ وَ الجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَ رَمَضَان إِلَى رَمَضَان مُكَفِّرَاتُ مَا بَينَهُمَا إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

Sholat lima waktu dan jum’at ke jum’at dan Romadhon ke Romadhon adalah penghapus dosa diantara keduanya selama menjauhi dosa besar (HR Muslim)

  1. Adzaan dengan dalil sabda Rasululloh:

إِنَّ الْمُؤَذِّنَ يُغْفَرُ لَهُ مَدَى صَوْتِهِ

Seorang Muadzin diampuni dosanya sepanjang (gema) suaranya. (HR Ahmad dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih AL Jaami’ no. 1929)

  1. Sholat dengan dalil sabda Rasululloh:

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ قَالُوا لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا قَالَ فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا

Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di pintu yang digunakan untuk mandi setiap hari lima kali, pa yang kalian katakan apakah tersisa kotorannya? Mereka menjawab: Tidak sisa sedikitpun kotorannya. Beliau bersabda: sholat lima waktu menjadi sebab Allah hapus dosa-dosa. (HR Al Bukhori).

  1. memperbanyak sujud dengan dalil sabda Rasululloh:

عَلَيْكَ بَكَثْرَنِ السُّجُوْدِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَ حَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيْئَةً

Hendaklah kamu memperbanyak sujud kepada Allah, karena tidaklah kamu sekali sujud kepada Allah kecuali Allah mengangkatmu satu derajat dan menghapus satu kesalahanmu (dosa) (HR Muslim).

  1. sholat malam dengan dalil

عَلَيْكَ بِقِيَامِ اللَيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ لَكُم لإِلَى رَبِّكُمْ وَ مُكَفِّرَةٌ للسَّيْئَاتِ وَ مَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِHendaklah kalian sholat malam, karena ia adalah adat orang yang sholeh sebelum kalian dan amalan yang mendekatkan diri kepada Robb kalian serta penghapus kesalahan dan mencegah dosa-dosa (HR Al Haakim dan dihasankan Al Albani dalam Irwa’ AL Gholil 2/199).

  1. berjihad dijalan Allah dengan dalil

يُغْفَرُ للشَّهِيْدِ كُلَّ ذَنْبٍ إلاَّ الدَّيْن

Senua dosa orang yang mati syahid diampuni kecuali hutang. (HR Muslim)

  1. mengiringi haji dengan umroh dengan dalil

تَابِعُوْا بَيْنَ الحَجِّ وَ الْعُمْرَةِ فَإِنَّ مُتَابَعَةَ بَيْنَهُمَا تَنْفِيْ الْفَقْرَ وَ الذُّنُوْبِ كَمَا تَنْفِيْ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ

Iringi antara haji dan umroh, karena mengiringi antara keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana AL Kier (alat pembakar besi) menghilangkan karat besai. (HR Ibnu Majah dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami’ no,2899)

  1. Shodaqah dengan dalil

إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيْرُُ لَّكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّئَاتِكُمْ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرُُ

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 2:271)Rasululloh pun bersabda:

الصَّدَقَةُ تُطْفِىءُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِىءُ الْمَاءُ النَّارَ

Shodaqah menghapus dosa seperti air memadamkan api (HR Ahmad, Al Tirmidzi dan selainnya dan dishohihkan Al Al Bani dalam Takhrij Musykilat Al faqr no. 117)

  1. Menegakkan hukum pidana dengan dalil

أَيُّمَا عَبْدٍ أَصَابَ شَيْئَاً مَمَا نَهَى اللهُ عَنْهُ ثُمَّ أُقِيْمَ عَلَيْهِ حَدُّهُ كَفَرَ عَنْهُ ذَلَكَ الذَّنْبُ

Siapa saja yang melanggar larangan Allah kemudian ditegakkan padanya hukum pidana maka dihapus dosa tersebut. (HR Al Haakim dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami’ no,2732)Demikian sebagian penghapus dosa, mudah-mudahan penjelasan ini bermanfaat.

BERSETUBUH MENGHADAP QIBLAT DAN MUHALLIL TALAK TIGA

Bersetubuh dengan menghadap qiblat

Jima (bersetubuh) menghadap qiblat di sahara,padang pasir/gurun atau di dalam bangunan (bangunan tempat tinggal) maka hukumnya tidak makruh ( yg artinya hukumnya mubah/boleh) menurut madzhab syafi’I dan mayoritas ulama’ kecuali sebagian ulama’ pengikut madzhab maliki maka hukumnya makruh.

ـ مسألة: هل يكره الجماع مستقبل القبلة في الصحراء أو في البنيان، وهل فيه خلاف لأحد من العلماء؟ الجواب: لا يكره ذلك، لا في الصحراء، ولا البنيان، هذا مذهب الشافعي والعلماء كافةً، إِلا بعضَ أصحاب مالك.

فتاوى الإمام النووي ص 190.

mas’alah apakah dimakruhkan bersetubuh menghadap qiblat di padang pasir/gurun/sahara,atau di dalam bangunan ,apakah itu ada perselisihan diantara ulama’jawab :

tidak dimakruhkan (diperbolehkan/mubah) bersetubuh menghadap qiblat dipadang pasir dan juga tidak di dalam bangunan ,ini,menurut madzhab syafi’I dan mayoritas ulama’ kecuali pendapat sebagian ashab maliki ( maka hukumnya makruh)

fatawa imam nawawi hal 190

Kalau muhallil talak tiga dengan zina apakah boleh?

Muhallil tidak boleh dengan zina. Bahkan jika dalam akad nikah, disyaratkan bahwa lelaki yang menjadi muhallil setelah melakukan persetubuhan telah menceraikan atau tidak ada lagi pernikahan dengan perempuan itu, maka persyaratan ini merusak terhadap nikah, sehingga tidak sah untuk kembali lagi kepada suaminya.

Perempuan yang sudah ditalak 3x (takal ba’in) tidak bisa ruju’ kembali kepada suaminya kecuali dengan adanya 5 syarat:

  1. Habisnya masa iddah dari suami yang menceraikan.
  2. Menikah dengan lelaki lain dengan pernikahan yang sah.
  3. Adanya persetubuhan, dengan masuknya kemaluan (dzakar/penis, minimal hasyafahnya) lelaki lain dalam keadaan ereksi pada kemaluan (farji/vagina) perempuan tersebut dalam pernikahan yang sah, dan lelaki tersebut bukan anak kecil.
  4. Diceraikan oleh lelaki tersebut.
  5. Habisnya masa iddah dari perceraian dengan lelaki tersebut.

Wallahu a’lam.

KISAH ORANG YANG DI PERBUDAK HARTA

Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.

Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya. Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan , tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah. Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi. Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah.

Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan.

Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuat si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris. “Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang.

Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan mati diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya…

Sebagai perenungan:

Tidakkah disadari, bahwa anak adalah harta yang sangat berharga, amanah dari Tuhan yang harus dijaga dan dibimbing dengan baik?

Tidakkah disadari, bahwa harta yang kita cari dan miliki itu kembali kepada keluarga sebagai wujud peribadatan melaksanakan amanah dari Tuhan dan sarana untuk pengabdian kepadaNya?

Tidakkah dicontoh, betapa besar kasih sayang Rasulullah saw kepada keluarga dan umatnya?

Sesunggunya Tuhan maha penyanyang kepada umatnya yang punya rasa sayang kepada mahkluk-Nya.

Ketahuilah, bahwa Tuhan kita itu Allah SWT, bukanlah Harta. Janganlah sampai kita di perbudak harta.