SOLUSI AL-QUR’AN UNTUK MASALAH PASANGAN DALAM KELUARGA

Surat Al Anbiya menjawab Permasalahan Suami Istri

1. Pertanyaan : “Mengapa jika ia marah, lantas memukul diriku ?”

Jawaban Al Anbiya ayat 3 :

لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ

” Hati Mereka Dalam Keadaan Lalai ”

( Biasanya orang yang marah dan emosional dengan pelampiasan secara fisik, maka hatinya dalam keadaan lalai mengingat Allah )

2. Pertanyaan : ” Mengapa istriku/suamiku marah-marah terus kepada-ku, tanpa permasalahan yang mendasar/masalah yang sepele?”

Jawaban Al Anbiya ayat 20 :

يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ

“Mereka malaikat-malaikat bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang”

( Jawaban saat kita kena marah dari pasangan paling tepat adalah berdzikir/tasbih kepada Allah baik lisan maupun hati ).

3. Pertanyaan : “Mengapa Allah memberiku jodoh , orang seperti dia yang memiliki banyak kekurangan & kelemahan ? ”

Jawaban Al Anbiya ayat 23 :

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Allah tidak ditanya tentang apa yang Allah kerjakan, tapi kamulah yang akan ditanya ”

( Karena Kehendak Allah menjadikan suami/istri kita dengan kelebihan dan kekurangannya maka jangan tanya mengapa Allah berbuat seperti ini kepada kita, tapi nanti kita yang akan ditanya , sebenarnya apa yang telah kita kerjakan untuk memperbaiki sifat buruk pasangan kita, dan kita sendiri sebenarnya bukan mahluk sempurna. Maka “JANGAN TANYA APA YANG ALLAH PERBUAT TAPI ENGKAU YANG AKAN DITANYA ALLAH, APA YANG SUDAH KAU PERBUAT)

4. Pertanyaan : “Mengapa Allah terus mengujiku dengan perangai suami/istriku yang tidak sesuai agama ?”

Jawaban Al Anbiya ayat 35 :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan kepada kami”

( Bukankah hidup berarti adalah masalah?, jika tidak mau ada masalah, jangan hidup. Maka keburukan pasangan kita hendaknya kita sikapi dengan kesabaran dan teruslah berdoa agar Allah memberi petunjuk hidayah pada pasangan kita. Ajak pasangan kita untuk mau menghadiri pengajian, shalat tarawih jamaah di masjid, menjenguk orang sakit di rumah sakit, melihat/ziarah kubur dengan niat untuk banyak mengingat kematian. Semoga Al Quran dan kematian bisa menjadi nasihat baik buat pasangan kita)

5. Pertanyaan : ” Apa yang harus kulakukan saat ini, pasanganku marah dan pergi dari rumah, tak ada kabar ?”

Jawaban Al Anbiya ayat 87

:وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِباً فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan ingatlah kisah Zun Nun (nabi Yunus as) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa kepada Allah dalam keadaan yang gelap,”Laa Ilaaha illaa anta Subhanaka Inni Kuntu minadholiimiin ”

( Jika pasangan kita nusyuz (pergi dari rumah karena marah) sebaiknya kita banyak berdoa kepada Allah seperti doa Nabi Yunus saat berada di dalam perut ikan , di dalam dasar laut dan di kegelapan malam, yakni Laa Ilaaha illaa anta subhanaka Inni Kuntu minadholiimiin “)

6. Pertanyaan : “Doa Apa yang harus kami baca bila saat ini kami belum memiliki keturunan ? ”

Jawaban Al Anbiya ayat 89 :

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْداً وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

“Dan ingatlah ketika Zakaria berdoa kepada Allah, “Ya Tuhanku , janganlah Engkau biarkan aku seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik”

Al Anbiya ayat 90 :

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Maka Kami kabulkan doanya dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sungguh mereka selalu bersegera melakukan kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada kami”.

CARA AGAR ANAK KITA MAU MENGERJAKAN SHALAT DENGAN ISTIQOMAH

گيف تجعل أبنائك يصلون من أنفسھم

بدون خصام أو تذكير

Bagaimana Membuat Anak2 Anda Sholat dengan Kesadaran Mereka Sendiri Tanpa Berdebat dan Tanpa Perlu Diingatkan?

أولادك لا يصلون أو أتعبوك من أجل أن يصلوا ؟

تعالوا لتروا كيف تغيرونهم بإذن الله تعالى

Anak2 anda tidak mau sholat? atau mereka sampai membuat anda capek saat mengingatkan untuk sholat?

Mari kita lihat bagaimana kita bisa merubah ini semua ~ biidznillah

عن إحدى الأخوات

تقول اقول لكم قصة وقعت معي انا

Salah seorang akhwat berkisah: “Aku akan menceritakan satu kisah yg terjadi padaku”

كانت بنتي بالخامس ابتدائي

Saat itu, anak perempuanku duduk di kelas 5 SD

و الصلاة ثقيلة عليها.. لدرجة اني قلت لها يوما قومي صلي وراقبتها

فوجدتها أخذت السجادة ورمتها على الأرض وجاءتني

سألتها هل صليت قالت نعم.. صدقوني بدون شعور صفعت وجھا

أعرف أني أخطأت.. ولكن الموقف ضايقني وبكيت وخاصمتها ولمتها وخوفتها من الله

ولم ينفع معها كل هذا الكلام

Sholat baginya adalah hal yg sangat berat…sampai2 suatu hari aku berkata kepadanya: “Bangun!! Sholat!!”, dan aku mengawasinya..

Aku melihatnya mengambil sajadah, kemudian melemparkannya ke lantai…Kemudian ia mendatangiku…

Aku bertanya kepadanya: “Apakah kamu sudah sholat?”

Ia menjawab: ” Sudah”

Kemudian aku MENAMPARNYA

Aku tahu aku salah Tetapi kondisinya mmg benar2 sulit…

Aku menangis..

Aku benar2 marah padanya, aku rendahkan dia dan aku menakut2inya akan siksa Allah…

Tapi….ternyata semua kata2ku itu tidak ada manfaatnya…

لكن في يوم من الأيام … قالت لي إحدى الصديقات قصة.. منقولة ..وهي

Suatu hari, seorang sahabatku bercerita suatu kisah…

انها زارت قريبة لها عادية (ليست كثيرة التدين)، لكن عندما حضرت الصلاة

قام أولادها يصلون بدون أن تناديهم

Suatu ketika ia berkunjung kerumah seorang kerabat dekatnya (seorang yg biasa2 saja dari segi agama) , tapi ketika datang waktu sholat, semua anak2nya langsung bersegera melaksanakan sholat tanpa diperintah….

تقول .. قلت لها : كيف يصلي أولادك من أنفسهم بدون خصام وتذكير ؟

Ia berkata: Aku berkata padanya “Bagaimana anak2mu bisa sholat dg kesadaran mereka tanpa berdebat dan tanpa perlu diingatkan?

قالت والله ليس عندي شي اقوله لك الا اني قبل أن أتزوج ادعو الله بهذا الدعاء وإلى يومنا هذا ادعو به

Ia menjawab: Demi Allah, aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa sejak jauh sebelum aku menikah aku selalu memanjatkan DO’A ini…dan sampai saat ini pun aku masih tetap bedo’a dg DO’A tersebut

انا بعد نصيحتها هذه لزمت هذا الدعاء .. في سجودي وقبل التسليم وفي الوتر .. وفي

كل اوقات الاجابه

Setelah aku mendengarkan nasehatnya, aku selalu tanpa henti berdoa dg do’a ini..

Dalam sujudku…

Saat sebelum salam…

Ketika witir…

Dan disetiap waktu2 mustajab…

والله يا اخواتي.. ان بنتي هذه الآن بالثانوي.. من اول مابدأت الدعاء وهي

التي توقظنا للصلاة وتذكرنا بها

واخوانها كلهم ولله الحمد حريصون على الصلاة

Demi Allah wahai saudara2ku…

Anakku saat ini telah duduk dibangku SMA..

Sejak aku memulai berdoa dg doa itu, anakkulah yg rajin membangunkan kami dan mengingatkan kami untuk sholat…

Dan adik2nya, Alhamdulillah..mereka semua selalu menjaga sholat!!!

حتى امي زارتني ونامت عندي ولفت انتباهها ان بنتي تستيقظ وتدور علينا توقظنا

للصلاة !!

Sampai2…saat ibuku berkunjung dan menginap dirumah kami, ia tercengang melihat anak perempuanku bangun pagi, kemudian membangunkan kami satu persatu untuk sholat…

أعرف .. أنكم الآن متشوقون لتعرفوا هذا الدعاء

الدعاء موجود في سورة ابراهيم

Aku tahu anda semua penasaran ingin mengetahui doa apakah itu?

Yaaa..doa ini ada di QS.Ibrahim: 40

والدعاء هو

      ( رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء

 (إبراهيم ، 40)

Doa ini adalah…

“Ya Robbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yg tetap melaksanakan sholat… Ya Robb kami, perkenankanlah doaku”(QS. Ibrahim: 40)

فالدعاء الدعاء الدعاء

وكما تعلمون الدعاء سلاح المؤمن

Yaa…Doa…Doa…dan Doa… Sebagaimana anda semua tahu bahwa doa adalah senjata seorang mukmin

إرسلوها للكل حتى تعم الفائدة

Kirimkan tulisan ini agar lebih banyak orang yg mengambil manfaat…

إذا أعجبك الموضوع فلا ت

قل شكـراً

قل :(رحم الله من نقلها لي ونقلها عني وجعلها بميزان حسناتكم

Jika anda terkesan dg tulisan ini, jangan katakan Syukron…

Tapi katakan: “Semoga Allah merahmati orang yang bersedia men-share (tulisan ini), kemudian menjadikannya pemberat bagi timbangan kebaikannya”

اقرأ هذا الدعاء لأبنائك و سيبقون بحفظ الله …. ورعايته

Baca selalu doa ini untuk anak2mu, biidznillah mereka akan selalu berada dalam penjagaan

BerTAMBAH MASALAH ITU TERGANTUNG DENGAN SIAPA ANDA DUDUK BERGAUL

Orang- orang bijak berkata : “Barang siapa sering duduk bersama 8 orang kelompok manusia, Allah akan menambahinya 8 perkara:

  1. Barangsiapa duduk bersama orang-orang kaya, Allah akan menambahi cinta kepada dunia dan semangat untuk mendapatkan dunia.
  2. Barangsiapa duduk bersama orang-orang miskin, Allah akan menambahi perasaan syukur dan ridho atas pemberian Allah.
  3. Barangsiapa duduk dengan para pemimpin/raja, Allah akan menambahi perasaan sombong dan kerasnya hati.
  4. Barangsiapa duduk dengan perempuan, Allah akan menambahi kebodohan, syahwat dan condong kepada akal perempuan.
  5. Barangsiapa duduk dengan anak-anak kecil, Allah akan menambahi lalai dan senda gurau.
  6. Barangsiapa duduk dengan orang-orang fasik, Allah akan menambahi berani berbuat dosa dan maksiat kemudian menunda-nunda taubat.
  7. Barangsiapa yang duduk dengan orang-orang soleh, Allah akan menambah perasaan cinta kepada amalan-amalan taat serta menjauhi hal-hal terlarang.
  8. Barangsiapa yang duduk dengan para ulama’, Allah akan menambahkan ilmu dan wara’”

قَالَ الْحُكَماءُ : مَنْ جَلَسَ مَعَ ثَمَانِيَةِ أَصْنَافٍ مِنَ النَّاسِ، زَادَهُ اللَّهُ ثَمَانِيَةَ أَشْيَاءَ

مَنْ جَلَسَ مَعَ الْأَغْنِيَاءِ، زَادَهُ اللَّهُ حُبَّ الدُّنْيَا وَالرَّغْبَةَ فِيهَا

وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الْفُقَرَاءِ، زَادَهُ اللَّهُ الشُّكْرَ وَالرِّضَا بِقِسْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى

وَمَنْ جَلَسَ مَعَ السُّلْطَانِ، زَادَهُ اللَّهُ الْكِبْرَ، وَقَسَاوَةَ الْقَلْبِ

وَمَنْ جَلَسَ مَعَ النِّسَاءِ، زَادَهُ اللَّهُ الْجَهْلَ، وَالشَّهْوَةَ، وَالْمَيْلَ إِلَى عُقُولِهِنَّ

وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الصِّبْيَانِ، زَادَهُ اللَّهُ اللَّهْوَ وَالْمِزَاحَ

وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الْفُسَّاقِ، زَادَهُ اللَّهُ الْجُرْأَةَ عَلَى الذُّنُوبِ، وَالْمَعَاصِيَ وَالْإِقْدَامَ عَلَيْهَا، وَالتَّسْوِيفَ فِي التَّوْبَةِ

وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الصَّالِحِينَ، زَادَهُ اللَّهُ الرَّغْبَةَ فِي الطَّاعَاتِ وَاجْتِنَابَ الْمَحَارِمَ

وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الْعُلَمَاءِ، زَادَهُ اللَّهُ الْعِلْمَ وَالْوَرَعَ

JIKA ISTRIMU TUKANG NGOPI DAN MEROKOK

Jika Istri Punya Kebiasaan Ngopi dan Merokok, maka Termasuk kewajiban bagi suami adalah memberi nafaqoh kepada istri yang taat. Bagi suami yang longgar secara ekonomi (muusir) wajib baginya adalah memenuhi kebutuhan makanan yang menjadi kebiasaan istri, wajib juga memberi lauk pauk, pakaian, dan apapun yang sudah menjadi kebiasaan istri.

Bahkan umpamanya jika si istri punya kebiasaan NGOPI dan MEROKOK, maka bagi suami yang longgar ekonominya (muusir), wajib memenuhi kebutuhan ngopi dan merokok istrinya tersebut.

– kitab Hasyiah al-Bajuri Dar el-Fikr juz 2 hlm 276-277 :

ويجب لها أيضا الفاكهة التي تغلب في أوقاتها كخوخ ومشمش وتين ونحو ذلك. وما جرت به العادة من الكعك والسمك والنقل في العيد والحبوب في العشر, وما يفعل في أربعاء أيوب ويوم صباغ البيض والقهوة والدخان ان اعتادت شربهما…

Perhatikan poin ini  :

والقهوة والدخان ان اعتادت شربهما

Hukum merokok ada beberapa pendapat di kalangan ulama’ :

1. Boleh/mubah, dengan pertimbangan tidak ada dalil yang mengharamkannya dengan jelas dan tidak berbahaya pada kesehatan serta bukan termasuk muskir (perkara yang memabukkan) atau mukhoddir (merusak pikiran).

2. Makruh, dengan pertimbangan tidak ada dalil yang mengharamkannya dengan jelas, hanya bau yang tidak sedap dari mulut orang yang mengkonsumsinya sebagaimana bawang merah atau bawang putih yang mentah.

3. Wajib, jika membahayakan jiwa ketika tidak merokok.

4. Haram, dengan pertimbangan sebagai berikut :

a. Rokok dapat membahayakan kesehatan, menurut kesepakatan para dokter menyebabkan kanker, jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Ajaran islam memerintahkan untuk selalu menjaga diri dan meninggalkan segala yang membahayakan, sebagaimana firman Allah SWT :

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (195)

“ dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (al-baqarah :195)

Dan hadits Rasulullah SAW :

” لَا ضَرَرَ وَلَا ضَرَارَ “.

“ Tidak boleh ada bahaya, dan tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan”

b. Pembelanjaan harta untuk sesuatu yang tidak bermanfaat bahkan membahayakan kesehatan. Hal ini adalah bentuk isrof atau tabdzir (pemborosan) harta yang diharamkan, sebagaimana firman Allah SWT :

:وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (27)

“ Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”, (al-Isra’ : 26-27)

c. Dapat merubah mental dan watak pecandunya.

KETERANGAN :

Pendapat pertama, rokok adalah mubah karena tidak membahayakan kesehatan, maka telah menjadi maklum secara medis bahwa rokok sangat berbahaya untuk kesehatan baik dalam jangka waktu dekat atau lama. Sedangkan mengkonsumsi sesuatu yang membahayakan kesehatan haram menurut kesepakatan ulama’.

Pendapat kedua, rokok adalah makruh karena tidak ada dalil tegas yang mengharamkannya. Oleh karena itu, jika membahayakan, maka berubah hukum menjadi haram, bahkan wudhu’ yang wajib pun menjadi haram jika membahayakan.

Pendapat ketiga, rokok wajib ketika membahayakan jika ditinggalkan. Sesungguhnya pendapat ini hanyalah wacana yang berlaku ketika benar-benar terjadi sebagaimana keadaan di atas. Oleh karena itu, tidak bisa digunakan sebagai dalil kebolehan merokok, bahkan makan bangkai menjadi wajib jika tidak memakannya akan mati.

Pendapat terakhir, rokok haram. Pendapat ini menurut kami lebih berhati-hati (ihtiyath) dan untuk menjaga kesehatan, nikmat yang teramat mahal, serta menghindari dari pemborosan (isrof). Allah SWT berfirman :

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ (215)

“ Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (al-baqarah: 215).

Oleh karena itu, alangkah indah dan elok bagi orang yang tidak merokok, utamanya kalangan ustadz, ulama’ dan tokoh agama untuk menjadi contoh bagi awam meninggalkan hal-hal yang tidak berguna bahkan merugikan diri, agama dan harta. Rasulullah SAW bersabda :

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ ، رواه الترمذي واحمد

“ Termasuk kesempurnaan islam pada seseorang adalah meninggalkan segala yang tidak manfaat (dalam agama) baginya “ (H.R. Tirmidzi dan Ahmad).

Namun sangatlah ironis sekali pada zaman sekarang, orang-orang yang menjadi uswah / tauladan bagi umat memberikan contoh yang tidak positif dan tidak bernilai ibadah bahkan karena, mereka anak-anak yang belum baligh pun dengan bebasnya menghisap rokok. Siapakah yang akan bertanggung jawab di hadapan Allah nanti di hari kiamat ? Al Habib Abdullah bin Umar as-Syathiri berkata :

تَسْتَحْسِنُ التُّنْــبَاكَ فِي فِيْكَ وَتَسْـ # تَحْيِي بِأَنْ تَسْتَعْمِلَ الْمِسْوَاكَا

Kamu menilai bagus rokok di mulutmu, namun kamu malu menggunakan siwak.

وَالشَّرْعُ ثُمَّ الطِّبُّ قَدْ نَهَيَاكَ عَنْ # ذَاكَ الْأَذَى وَبِفِعْلِ ذَا اَمَــرَاكَا

Padahal syari’at dan medis benar-benar telah melarangmu dari penyakit (rokok) itu, dan dengan menggunakan siwak keduanya (syari’at dan medis) menganjurkanmu.

لَوْ كُنْتَ تَعْكِسُ فِي الْقَضِيَّةِ كَانَ اَوْ # لَى مِنْكَ لَكِنَّ اللَّعِيْنَ اَغْـوَاكَا

Jika kamu membalik kejadian di atas, maka lebih baik bagimu, namun yang terkutuk (syetan) telah menyesatkanmu.

فَلكَمْ اَضَعْـتَ بِهِ نَفِيْسَ اْلمـَالِ لَوْ # اَنْفَقْتَهُ يَا صَاحِ فِي اُخْـَـراكَا

Berapa banyak engkau hamburkan harta yang bernilai, seandainya saja engkau sedekahkan -wahai sahabatku- untuk kebahagiaan akhiratmu.

260/بغية المسترشدين(مسألة) : التنباك معروف من أقبح الحلال إذ فيه إذهاب الحال والمال، ولا يختار استعماله أكلاً أو سعوطاً أو شرباً لدخانه ذو مروءة من الرجال، وقد أفتى بتحريمه أئمة من أهل الكمال كالقطب سيدنا عبد الله الحداد والعلامة أحمد الهدوان، كما ذكره القطب أحمد بن عمر بن سميط عنهما وغيرهم من أمثالهم، بل أطال في الزجر عنه الحبيب الإمام الحسين ابن الشيخ أبي بكر بن سالم وقال: أخشى على من لم يتب عنه قبل موته أن يموت على سوء الخاتمة والعياذ بالله تعالى. وقد أشبع الفصل فيه بالنقل العلامة عبد الله باسودان في فيض الأسرار وشرح الخطبة وذكر من ألف في تحريمه كالقليوبي وابن علان وأورد فيه حديثاً، وقال الحساوي في تثبيت الفؤاد من كلام القطب الحداد أقول: ورأيت معزواً لتفسير المقنع الكبير قال النبي : «يا أبا هريرة يأتي أقوام في آخر الزمان يداومون هذا الدخان وهم يقولون نحن من أمة محمد وليسوا من أمتي ولا أقول لهم أمة لكنهم من السوام» قال أبو هريرة: وسألته : كيف نبت؟ قال: «إنه نبت من بول إبليس، فهل يستوي الإيمان في قلب من

يشرب بول الشيطان؟ ولعن من غرسها ونقلها وباعها» . قال عليه الصلاة والسلام: «يدخلهم الله النار وإنها شجرة خبيثة» اهـ ملخصاً اهـ. ورأيت بخط العلامة أحمد بن حسن الحداد على تثبيت الفؤاد: سمعت بعض المحبين قال: إن والدي يشرب النتن خفية وكان متعلقاً ببعض أكابر آل أبي علوي، فلما مات رأيته فسألته: ما فعل الله بك؟ قال: شفع فيَّ فلان المتقدم إلا في التنباك فهو يؤذيني وأراني في قبره ثقباً يجيء منه الدخان يؤذيه وقال له: إن شفاعة الأولياء ممنوعة في شرب التنباك. وقال لي بعضهم: رأيت والدي وكان صالحاً لكنه كان ينشق التنباك، فرأيته بعد موته قال: إن الناشق للتنباك عليه نصف إثم الشارب فالحذر منه اهـ. وقال الولي المكاشف للشريف عبد العزيز الدباغ: أجمع أهل الديوان من الأولياء على حرمة هذا النتن الخ

فائدة : قال السيوطي في الأشباه والنظائر: قال بعضهم مراتب الأكل خمس: ضرورة، وحاجة، ومنفعة، وزينة، وفضول. فالضرورة بلوغه إلى حدّ إذا لم يتناول الممنوع هلك أو قارب وهذا يبيح تناول الحرام. والحاجة كالجائع الذي لو لم يجد ما يأكله لم يهلك غير أنه يكون في جهد ومشقة وهذا لا يبيح الحرام. والزينة والمنفعة كالمشتهي الحلوى والسكر والثوب المنسوج بالحرير والكتان. والفضول كالتوسع بأكل الحرام والشبهات

الموسوعة الطبية الفقهية ص 183- 184أحكام تدخين التبغ :مشروعية التدخين : لقد ذهب الفقهاء في حكم تدخين التبغ مذاهب شتى لأنه لا نص فيه, وذلك على النحو الأتي :

تحريم التدخين : ذهب بعضهم إلى تحريمه لأنه يسكر في ابتداء تعاطيه إسكارا سريعا, ثم لايزال في كل مرة ينقص شيئا فشيئا حتى يطول الأمد جدا فيصير لايحس به, لكنه يجد نشوة وطربا أحسن عنده من السكر, وأنه يترتب على شربه الإضرار بالبدن, وأن الأطباء أجمعوا على ضرره وثبت عندهم أنه يسبب الكثير من الأمراض مثل سرطانات الرئة والحنجرة واللسان والشفتين والمثانة, كما يسبب الضعف الجنسي, وفيه إضاعة للمال وتبذير منهي عنه .. وقد نص المالكية على تحريمه وكذلك فعل المؤتمر العالمي الإسلامي لمكافحة المسكرات والمخدرات, الذي عقد في الجامعة الإسلامية بالمدينة المنورة في 30/ 5/ 1402 هـ حيث أصدر فتوى بحرمة استعمال التبغ للأضرار التي ذكرناها

إباحة التدخين : وذهب بعضهم إلى إباحته لأنه لم يثبت إسكاره ولاتخديره, مع أن الذي يشربه في البداية يصيبه شيئ من الغشي لكنه لايوجب التحريم, لأن الأصل في الأشياء الإباحة حتى يرد نص بالتحريم فيكون التبغ مباحا جريا على قواعد الشرع وعمومياته

كراهة التدخين : وذهب أكثرهم إلى كراهته لعدم ثبوت أدلة التحريم, وكرهوه لكراهة رائحته قياسا على البصل النيئ والثوم ونحوه.

أما من الوجهة الطبية فإننا نميل إلى كراهته كراهة تحريم لما ثبت من أضراره الشديدة على صحة الفرد والمجتمع, وجريا على قاعدة : لا ضرر ولاضرار, ولأنه لم يثبت أن له أية فوائد صحية, وأما ما يدعيه المدخنون من فوائد نفسية للتدخين وأنه يريح الأعصاب ويبهج النفس وغير ذلك من الدعاوى الباطلة فلا تعدو أن تكون أوهاما وتزيينا من الشيطان الذي لايكف عن الكيد لبني أدم ليرديهم ويوقعهم في الإثم والضرر

مع الناس / 2/ 39 للشيخ محمد سعيد رمضان البوطيما حكم بيع الدخان ؟ حكم التبغ من حيث تعاطيه والتعامل المالي به يتبع قرار الأطباء في اثره على جسم الإنسان ومن المعلوم ان اطباء العالم متفقون على انه يسبب اضرارا متنوعة في جسم الشخص الذي يتعاطاه اذن فالشرع يقرر وجوب تجنبه وحرمة استعماله، وكل ما حرم بيعه وشراؤه والقاعدة الشرعية في ذلك وهي حديث رسول الله r ” لا ضرر ولا ضرار

حاشية البجيرمي على الخطيب – (ج 6 / ص 440)

قَوْلُهُ : ( وُصُولُ دُهْنٍ ) وَمِنْهُ دُخَانٌ لَا عَيْنَ فِيهِ كَالْبَخُورِ ، بِخِلَافِ مَا فِيهِ عَيْنٌ كَالدُّخَانِ الْمَشْهُورِ الْآنَ ق ل . وَعِبَارَةُ عَبْدِ الْبَرِّ : وَمِنْهُ يُؤْخَذُ أَنَّ وُصُولَ الدُّخَانِ الَّذِي فِيهِ رَائِحَةُ الْبَخُورِ أَوْ غَيْرِهِ إلَى جَوْفِهِ لَا يَضُرُّ وَإِنْ تَعَمَّدَ فَتْحَ فِيهِ لِذَلِكَ ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ عَيْنًا ، أَيْ فِي الْعُرْفِ ، وَأَمَّا الدُّخَانُ الْحَادِثُ الْآنَ الْمُسَمَّى بِالنَّتِنِ لَعَنَ اللَّهُ مِنْ أَحْدَثَهُ فَإِنَّهُ مِنْ الْبِدَعِ الْقَبِيحَةِ ، فَقَدْ أَفْتَى شَيْخُنَا الزِّيَادِيُّ أَوَّلًا بِأَنَّهُ لَا يُفْطِرُ لِأَنَّهُ إذْ ذَاكَ لَمْ يَكُنْ يَعْرِفُ حَقِيقَتَهُ ، فَلَمَّا رَأَى أَثَرَهُ بِالْبُوصَةِ الَّتِي يَشْرَبُ بِهَا رَجَعَ وَأَفْتَى بِأَنَّهُ يُفْطِرُ

حاشية البجيرمي على الخطيب – (ج 13 / ص 200)

( وَيَحْرُمُ مَا يَضُرُّ الْبَدَنَ أَوْ الْعَقْلَ ) وَمِنْهُ يُعْلَمُ حُرْمَةُ الدُّخَانِ الْمَشْهُورِ لِمَا نُقِلَ عَنْ الثِّقَاتِ أَنَّهُ يُورِثُ الْعَمَى وَالتَّرَهُّلَ وَالتَّنَافِيسَ وَاتِّسَاعَ الْمَجَارِي . ا هـ . ق ل وَقَوْلُهُ : مَا يَضُرُّ الْبَدَنُ قَالَ الْأَذْرَعِيُّ : الْمُرَادُ الضَّرَرُ الْبَيِّنُ الَّذِي لَا يُحْتَمَلُ عَادَةً لَا مُطْلَقُ الضَّرَرِ شَوْبَرِيٌّ .

تحفة الأحوذي – (ج 4 / ص 416)

تَنْبِيهٌ : اِعْلَمْ أَنَّ بَعْضَ أَهْلِ الْعِلْمِ قَدْ اِسْتَدَلَّ عَلَى إِبَاحَةِ أَكْلِ التُّنْبَاكِ وَشُرْبِ دُخَانِهِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى { وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا } وَبِالْأَحَادِيثِ الَّتِي تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْأَصْلَ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةُ . قَالَ الْقَاضِي الشَّوْكَانِيُّ فِي إِرْشَادِ السَّائِلِ إِلَى أَدِلَّةِ الْمَسَائِلِ بَعْدَمَا أَثْبَتَ أَنَّ كُلَّ مَا فِي الْأَرْضِ حَلَالٌ إِلَّا بِدَلِيلٍ مَا لَفْظُهُ : إِذَا تَقَرَّرَ هَذَا عَلِمْت أَنَّ هَذِهِ الشَّجَرَةَ الَّتِي سَمَّاهَا بَعْضُ النَّاسِ التُّنْبَاكَ وَبَعْضُهُمْ التوتون لَمْ يَأْتِ فِيهَا دَلِيلٌ يَدُلُّ عَلَى تَحْرِيمِهَا وَلَيْسَتْ مِنْ جِنْسِ الْمُسْكِرَاتِ وَلَا مِنْ السُّمُومِ وَلَا مِنْ جِنْسِ مَا يَضُرُّ آجِلًا أَوْ عَاجِلًا ، فَمَنْ زَعَمَ أَنَّهَا حَرَامٌ فَعَلَيْهِ الدَّلِيلُ وَلَا يُفِيدُ مُجَرَّدُ الْقَالِ وَالْقِيلِ اِنْتَهَى .

بغية المسترشدين(مسألة: ك): قال: لم يرد في التنباك حديث عنه ولا أثر عن أحد من السلف، وكل ما يروى فيه من ذلك لا أصل له، بل مكذوب لحدوثه بعد الألف، واختلف العلماء فيه حلاً وحرمة، وألفت فيه التآليف، وأطال كل في الاستدلال لمدعاه، والخلاف فيه واقع بين متأخري الأئمة الأربعة، والذي يظهر أنه إن عرض له ما يحرمه بالنسبة لمن يضره في عقله أو بدنه فحرام، كما يحرم العسل على المحرور والطين لمن يضره، وقد يعرض له ما يبيحه بل يصيره مسنوناً، كما إذا استعمل للتداوي بقول ثقة أو تجربة نفسه بأنه دواء للعلة التي شرب لها، كالتداوي بالنجاسة غير صرف الخمر، وحيث خلا عن تلك العوارض فهو مكروه، إذ الخلاف القوي في الحرمة يفيد الكراهة

Kami sebenarnya ada di tengah-tengah di antara dua pendapat mengenai rokok. Menerima yang mengharamkan sekaligus yang membolehkan. Mengapa kami selalu lampirkan ibarah, kisah tentang keburukan merokok karena Jika menanyakan sebuah hukum yang khilafiyyah semacam ini maka kedua sisi mesti seimbang, dan kami rasa hanya kami yang menyertakan sisi-sisi keharamnnya, mengapa kami kekeh demikian, karena pertanyaan SAIL nantinya pun mesti dirumuskan jawabannya sesuai dengan kenyataan KHILAF nya merokok. Keseimbangan demikian yang kami inginkan. Kami takutnya nanti hanya disimpulkan dari sisi makruh dan jaiz nya saja, ini tentu tidak bisa diterima.

Kami menerima kedua-dua pendapat baik yang membolehkan ataupun yang mengharamkan. Karena kedua -duanya keluar dari para ulama yang mu’taman yang meskipun bukan mujtahid tetapi pendapat para ulama yang rutbahnya Mufti bisa dipegang, sebagaimana seorang mufti tiada sah menjadi mufti kecuali telah mengusai asas-asas dalam mazhabnya..

Pendapat bahwa mufti setelah era Ibnu Hajar itu tidaklah lebih dari seorang Naaqil Qaul ‘Anil Madzhab, itu baru asumsi sebagian ulama mengenai rutbatul ifta’, malah dalam ranah ijtihad mutlaq pun ulama berbeda pendapat apakah telah hilang ataupun tidak ? Sesungguhnya derajat Mufti bukanlah sekedar naqlul aqwal saja, jika kita banyak mengenal sosok-sosok yang diutarakan dalam Kitab-Kitab semacam NURUS SAFIR atau kitab mutakhirin yang lain. Alhabib Abibakar bin Abdullah Al Aidarus Al Adaniy menyatakan dirinya mencapai Rutbatul Ijtihad. Suatu saat ketika seorang murid mengisykali pendapat Alhabib Thahir bin Husan dan si murid berkata : Ya Syeikh, pendapat tuan itu bertentangan dengan pendapat Ibnu Hajar. Alhabib berkata : Kamu itu lebih memilih pendapatnya Ibnu HAJAR atau IBNU BASYAR ? Intinya Wafauqo dzu ‘ilmin ‘alim, di atas langit masih ada langit.

Kalau kita bisa menerima pendapat Syeikh Ibnu Hajar alHaytami mengapa kita tidak menerima pendapat Al Adaniy ? Mereka satu zaman, sama-sama mumpuni keilmuannya ? Artinya dalam derajat kita menerima pendapat yang membolehkan merokok pada saat yang sama dan derajat yang sama pula kita mesti menerima pendapat yang mengharamkannya. Dan keduanya ini sama-sama populer di kalangan ulama. Tetapi di kalangan mutaakhirin Syafi’iyyah memang lebih condong mengharamkannya. Adapun ulama kontemporer di zaman global ini seperti Abuya al Malikiy, Shulthonul Ulama As Syathiriy mereka dengan keras mengharamkannya, sebagaimana fatwa guru-guru mereka…

Yang bikin rokok berbahaya bukan nikotinnya, tetapi zat additifnya, kenikmatannya yang memabukkan hati, jika hati sudah termabukkan oleh selain Alloh maka hati tiada kan bisa mengenal Alloh, wainna abadan nasi laqolbun qosi. Jadi jika anda merokok tetapi hati anda tidak taalluq, cinta dan tergantung wa termabukkan dengan rokok maka silahkan, tetapi jika tidak, anda dalam bahaya yang teramat besar, sedikit sekali seseorang yang bisa terhindar dari candu rokoknya, karena demi Alloh, rokok itu nikmat sekali bagi pecandunya…

Nilai lebih Hukum MAKHDHUR buat Rokok dibanding Jaiz. Jika ulama yang memperbolehkan merokok dengan dasar kaedah-kaedah Fikih maka pada manhaj yang sama Ulama yang mengharamkan rokok pun dengan kaedah-kaedah fikihnya pula. Tetapi nilai plus yang mengharamkan adalah : MEREKA DIDUKUNG OLEH PARA ULAMA YANG TELAH DIYAKINI KEDEKATANNYA DENGAN ALLOH [ para Auliya’ Agung] seperti Al Haddad, muallif Nashoih, Ad Dabbagh [ Seorang Aqthob dari Maghrib] dan masih banyak lagi. Dan juga yang melarang rokok pun dikuatkan oleh mimpi-mimpi shadiqoh yang menyatakan Rasululloh tidak menyukai rokok dan hal sedemikian itu tidak ditemukan di kalangan yang memperbolehkannya.

KISAH SEPUTAR ROKOK DAN ULAMA

Pengarang Is’adur Rafiq Syaikh Sa’id Babushail menyatakan bahwa siapa yang merokok dan 40 hari sebelum meninggal dunia dia belum bertaubat dari dosa merokoknya maka dihawatirkan dia meninggal dalam keadaan SU’Il KHOTIMAH.

Qola Sayyidiy : Wa roaytun nabi Shallollohu alaihi wasallama khorijan min ba’dhil buyut fi Syiwun fasaltuhu faqola Ji’u liakhdhura maulidan fi hadhad dari lakin Roaytu fihit Tambak fakhorojtu. Al Imam Ahmad bin Hasan Al Athos berkata : aku bermimpi melihat Rasululloh SAW keluar dari satu rumah di kota Sewun lalu aku bertanya apa sebab, beliau menjawab : ” Aku datang ke rumah ini untuk mengikuti Maulidan, tetapi aku lihat di situ ada rokok maka akupun keluar “. [ KITAB TAZKIRUNNAS hal 270 ]. Bersedekah kok sesuatu yang tidak disukai kanjeng nabi ? Bersedekah mestinya yang baik-baik saja. YAA AYYUHAL LADHINA AMANU ANFIQUU MIN THOYYIBATI MA ROZAQNAKUM.

Masih tentang rokok : Suatu saat seorang syarif memasuki Kubbatul Hadhro dan hendak berziarah ke makam datuknya yakni Baginda nabi SAW, begitu ziarah, tiba-tiba datang sang juru kunci dan berkata kepadanya : “Tuan, saya baru saja tertidur dan bermimpi bertemu dengan Rasululloh SAW. beliau berkata kepada saya : Ya Fulan, bangkit dan bilang kepada cucuku yang sedang berziarah itu, Aku, Kakeknya tidak akan pernah menerima kehadiran dirinya sampai dia membuang bungkus rokok dari dalam saku bajunya..”. Maka mendengar perkataan itu Sang Syarif menangis hebat dan serta-merta membuang rokok nya dan bertaubat atas kesalahannya. Bagi dirinya, tiada kemuliaan apapun jika Rasululloh enggan bersama nya. ternyata meskipun Rokok itu makruh hukumnya, Rasululloh tidak meridhoinya. Jadi sesungguhnya yang jadi masalah itu bukan masalah makruh haramnya, tetapi RASULULLOH tidak menyukainya. Ah, Adakah sesuatu itu berharga jika Rasululloh tidak menyukainya ?

Mengapa ROKOK tidak ada Nash yang shorih sebagaimana KHAMR, karena keberadaan rokok baru ditemukan sesudah abad ke 10 hijriyyah. Qola as Syaikh Abdulloh Ba saudan rohimahullohu ta’ala, Wakullu ma dhukiro fil KHASYI_SYI minal khoba-its wal ‘ilali yadh-haru ‘ala musta’malit tanbaqi warubbama LAU ADROKAS SYAIKH IBNU HAJAR ROHIMAHULLOHU KHUDU-TSAHU LAQODHO BIHA ‘ALAYHI, idh lam yukhdats illa ba’dal Qornil ‘assyir. [ Is’adurrofiq Juz 2 Hal 63 ]. Kata Syaikh Basaudan, Andai Imam Ibnu Hajar Alhaytami menemui masa ditemukannya rokok maka beliau akan MENGHARAMKANNYA, karena rokok baru muncul sesudah abad ke 10.

Diceritakan, suatu Saat Al Habib Abdulloh bin Umar bin Yahya saat beliau sampai ke Makkah dan beliau melihat seorang Ulama yang merokok di sana beliau menegur : ” Hal semacam ini tidak patut dilakukan oleh seorang Ahli Ilmu. Merokok ini bid’ah yang buruk. Hati-hati yang muthmainnah pasti menolaknya. Dan akal yang sehat pun tiada bisa menerimanya.” Ulama itu membantah : ” Qahwah yang kalian anjurkan itupun Bid’ah!”. Habib menjawab : ” Baiklah kamu berkata begitu. Sekarang mari kita bersama-sama menuju Hijir Isma’il. Masing-masing kita mengeluarkkan bid’ah kita masing-masing. Saya akan menyeduh kopi di sana dan engkau menghisaplah rokok disana pula. Maka dimana para kaum muslimin akan mengingkari dan tidak menyukai perbuatan di antara kita maka perbuatan dialah yang keliru…” Dan Habib pun mengalahkan hujjah Ulama tersebut dengan hujjah-hujjah ‘aqliyyah belaka dan membuat sang ulama kembali ke jalan lurus sesudahnya. [ Tazkirun Nas Hal 270 ].

Ada Cerita nyata lain : Beliau adalah seorang Ulama, yang mana beliau selalu Istiqomah melakukan sholat malam (Tahajud), beliau mulai tidur jam 23.00 dan bangun jam 02.00, namun sebelum tidur Beliau menyiapkan SESUATU, supaya waktu Bangun badan seger dan tidak merasa ngantuk lagi dan dapat menjalankan Sholat malam tersebut dengan penuh KHUSYU’, nah apakah sesuatu itu..!? sesuatu itu adalah KOPI dan TEMBAKAU LINTINGAN. Beliau adalah Ulama Besar era tahun 70, yang membuat Konsep “al istiqoomah khoiru min alfi karoomah”. Jangankan mimpi, dalam keadaan nyata pun diriwayatkan Beliau Sering ditemui Rosululloh saw.

MEMILIH CALON ISTRI MENURUT KH. BISRI MUSTHOFA DALAM KITAB TAFSIR AL-IBRIZ

Tips Memilih Istri Menurut Tafsir Al-Ibriz

فِيْ هِنَّ قَاصِرَاتُ الطَرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ اِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَ لَا جَآنٌّ(56)

Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah disentuh manusia maupun jin sebelumnya. (QS. Al Rahman: 56)

Dalam menafsiri ayat tersebut, KH Bisri Musthofa Rembang, berkata dalam kitab tafsirnya yang berjudul Al Ibriz li Ma’rifati Tafsiri Al Quran Al ‘Aziz sebagai berikut:

Ana ing suwarga, ana ing panggung-panggunge lan gedung-gedunge, ana wadon-wadon kang ngeringkes paningal (ateges wadon-wadon kang tresna banget marang kakunge. Ora wadon-wadon kang mata keranjang). Selawase ora tahu kagepok dening menungsa sadurunge ahli suwarga, lan ora kagepok dening jin.

Ya, tafsir nusantara yang berbahasa jawa bertuliskan arab pegon itu berbunyi:

Di surga, di panggung-panggung dan gedung-gedungnya, ada wanita-wanita (bidadari) yang membatasi pandangannya (maksudnya, wanita-wanita yang sangat mencintai suaminya, tidak wanita yang mata keranjang). Selama-lamanya (wanita itu) tidak pernah tersentuh oleh manusia sebelum ahli surga, dan tidak (pernah) tersentuh oleh jin.

Kiai Bisri menafsiri bahwa para bidadari-bidadari surga itu saking cintanya yang besar dan tulus terhadap suaminya. Maka mereka semua membatasi pandangannya, tidak pernah melirik sedikitpun terhadap suami ahli surga yang lainnya.

Tidak pernah tergiur akan kegantengan suami ahli surga lainnya. Dan kesucian wanita-wanita surga itu pun juga terjamin, karena mereka sebelumnya tak pernah tersentuh oleh satu makhluk pun, baik dari golongan manusia maupun jin.

Yang menarik dari tafsir ini, adalah tentang pendapat Kiai Bisri tentang wanita di dunia yang  ia paparkan kemudian dalam kalam muhimmatun (penting) selanjutnya:

Wong-wong wadon dunya iku biasane lan umume yen banget ayune iku cok bisa gampang kepincut marang wong lanang kang den anggep bagus utawa luwih bagus katimbang kakunge.

Ia menjelasakan bahwa wanita-wanita dunia itu biasanya dan bahkan umumnya, jika kecantikannya di atas rata-rata terkadang mudah terpikat kepada laki-laki lain yang menurutnya ganteng, atau lebih rupawan dari pada suaminya sendiri.

Lebih lanjut dijelaskan:

Sebab wadon kang banget ayune iku sasat angger wong kepingin nyawang, mengko yen kebeneran penyawange wong lanang bagus iku bisa pas tatapan karo panglirike wadon, biasane banjur kaya ana setrume.

Kiai Bisri kemudian memberikan analoginya. Wanita yang cantiknya di atas rata-rata, sewajarnya setiap manusia memiliki keinginan untuk memandang elok wajahnya. Nah, nanti jika kebetulan bersamaan antara pandangan laki-laki rupawan dengan lirikan mata wanita itu biasanya akan timbul getaran yang menyerupai aliran listrik. Kalau sudah begitu, apa yang terjadi?

Mula wadon nuli arang-arang kang kuat naggulangi coba, mula banjur kedadean kang ora bagus.

Jika sudah seperti demikian. Sudah timbul getaran nafsu antara laki-laki rupawan dengan wanita yang cantik pula. Sangat jarang sekali di dunia ini, didapati wanita yang kuat menanggulangi cobaan berupa getaran nafsu tersebut.

Maka dari itu, di kemudian hari sering ditemui hal yang kurang baik. Bisa jadi hubungan di luar pernikahan, bagi yang masih perawan. Atau bahkan perselingkuhan bagi wanita yang sudah bersuami. Na’udzubillah.

Ulama kenamaan asal Rembang yang juga ayahanda dari KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) tersebut, kemudian memberikan anjuran kepada para pria dalam tafsirnya:

Mulane para kakung yen milih bojo, aja namung rupa. Senajan mungguhing rupa bijine namung nenem utawa pitu kurang, nanging yen atine patut dibiji songo, sak ora-orane wolu utawa pitu, mungguh aku luwih utama katimbang rupane bijine songo, nanging atine biji lima utawa papat, utawa katimbang rupane biji sepuluh, nanging mata keranjang. Wallahu a’lam.

Oleh karena itu, para lelaki jika memilih seorang istri jangan hanya menilai tingkat kecantikannya saja. Jika dikalkulasikan, andai ada seorang wanita kecantikannya hanya bernilai enam atau tuju kurang, tapi jika hatinya patut dinilai sembilan atau setidaknya delapan atau tujuh, menurutnya lebih utama.

Daripada kecantikannya bernilai sembilan, tapi hatinya bernilai lima atau empat. Atau bahkan kerupawanannya bernilai sempurna, sepuluh misalnya, tapi mata keranjang. (itu lebih hina), wallahu a’lam.

Hal tersebut ternyata juga senada dengan hadits Rasulullah:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعِ خِصَالٍ : لِمَالِهَا وَجَمَالِهَا وَحَسَبِهَا وَدِينِهَا

Rasulullah menjelaskan bahwasannya wanita itu dinikahi atas empat perkara: adakalanya karena hartanya, karena kecantikannya, ada juga karena nasabnya, dan karena agamanya. Namun dalam hadits lanjutannya beliau berkata:

فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Maka nikahilah wanita karena agamanya, maka tanganmu akan dipenuhi dengan debu.

Wanita, memang memiliki sejuta daya tarik terhadap pria. Setiap jengkal sisi tubuhnya, memiliki tingkat ketertarikan bagi kaum adam. Tidak hanya itu, kehidupannya yang penuh warna pun menjadikan daya tarik tersendiri bagi pria.

Meskipun demikian, tetap para pria hanya dianjurkan untuk memilih wanita atas dasar agama sebagai kesimpulannya, tidak berdasar kecantikannya. Bagaimanapun, kecantikan akan pudar pada masanya.

DO’A BIRRUL WALIDAIN (UNTUK MEMBAHAGIAKAN KEDUA ORANG TUA)

دعأ بر الوالدين

للعارف بالله الشيخ محمد بن احمد بن ابي الحب الحضرمي التريمي

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، وَاَفْضَلُ الصَّلاَةِ وَاَتَمُّ التَّسْلِيْمِ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَليٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ

Bismillahir rahmaanir rahiim, wa afdhalush shalati wa atammut tasliimi alaa sayidinaa Muhammadin wa ‘alaa alihi wa shahbihi ajma’iin

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Shalawat dan salam yang paling afdlol semoga tercurahkan pada Sayyidina Muhammad, beserta keluarga, dan para sahabatnya.

أَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِشُكْرِ الْوَالِدَيْنِ وَالْإِحْسَانِ إِلَيْهِمَا، وَحَثَّناَ عَلَى اغْتِنَامِ بِرِّ هِمَا وَاصْطِنَاعِ الْمَعْرُوْفِ لَدَيْهِمَا، وَنَدَبْنَآ إِلىٰ خَفْضِ الْجَنَاحِ مِنَ الرَّحْمَةِ لَهُمَا إِعْظَامًا وَّإِكْبَارًا، وَوَصَّانَا بِالتَّرَحُّمِ عَلَيْهِمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَاراً

Alhamdulillaahil-ladzii amaronaa bisyukril waalidaini wal-ihsaani ilahimaa, Wa hats-tsanaa ‘alaghtinaami birrihimaa wash-thinaa’il ma’ruufi ladainimaa, Wa nadabanaa ilaa khofdhil-janaahi minar-rohmati lahumaa i’zhooman wa ikbaaroo, Wa aushoonaa bit-tarohhumi ‘alaihimaa kamaa robbayaanaa shighooroo

Segala puji bagi Allah, Tuhan yang memerintahkan kami untuk bersyukur dan berbuat baik kepada kedua orang tua, yang telah mendorong kami untuk meraih kemuliaan berbakti dan berbuat baik di hadapan mereka, yang telah menganjurkan kami untuk merendahkan diri kepada mereka dengan penuh kasih sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan, serta mewasiatkan kami untuk memohonkan kasih sayang Allah bagi mereka sebagaimana mereka mendidik dan membimbing kami sewaktu kecil.

اَللّٰهُمَّ فَارْحَمْ وَالِدِيْنَا، اَللّٰهُمَّ فَارْحَمْ وَالِدِيْنَا، اَللّٰهُمَّ فَارْحَمْ وَالِدِيْنَا، وَاغْفِرْ لَهُمْ، وَارْضَ عَنْهُمْ رِضًا تُحِلُّ بِهِ عَلَيْهِمْ جَوَامِعَ رِضْوَانِكَ، وَتُحِلُّهُمْ بِهِ دَارَ كَرَامَتِكَ وَأَمَانِكَ، وَمَوَاطِنَ عَفْوِكَ وَغُفْرَانِكَ، وَاَدِرَّ بِهِ عَلَيْهِمْ لَطَآئِفَ بِرِّكَ وَإِحْسَانِكَ

Alloohumma far-ham waalidiinaa (3x) waghfirlahum warhamhum, Wardho’anhum ridhon tuhillu bihi’alaihim jawaami’a ridhwaanik, Wa mawaathina ‘afwika wa ghufroonik, Watuhilluhum bihi daaro karoomatika wa amaanik, Wa adirro bihi ‘alaihim lathoo’ifa birrika wa ihsaanik

Ya Allah, sayangilah kedua orang tua kami.Ya Allah, sayangilah kedua orang tua kami. Ya Allah, sayangilah kedua orang tua kami. Ampuni, rahmati, dan ridhoilah mereka dengan keridhoan yang mengantarkan mereka  pada semua jenis keridhaan-Mu, membawa mereka ke tempat-tempat yang mendatangkan maaf dan ampunan-Mu, serta meletakan mereka di negeri yang mulia dan aman (surga), kemudian hidangkanlah kepada mereka berbagai kebaikan dan kedermawaan-Mu.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ مَغْفِرَةً جَامِعَةً تَمْحُوْ بِهَا سَالِفَ أَوْزَارِهِمْ، وَسَيِّءَ إِصْرَارِهِمْ، وَارْحَمْهُمْ رَحْمَةً تُنِيْرُ لَهُمْ بِهَا الْمَضْجَعَ فِيْ قُبُوْرِهِمْ، وَتُؤَمِّنُهُمْ بِهَا يَوْمَ الْفَزَعِ عِنْدَ نُشُوْرِهِمْ

Allahummaghfir lahum maghfirotan jaami’atan, Tamhuu bihaa saalifa auzaarihim wa sayyi’a ishroorihim, Warhamhum rohmatan tuniiru lahum bihal-madhji’a fii qubuurihim, Watu’minuhum bihaa yaumal-faza’I ‘inda nusyuurihim

Ya Allah, ampunilah mereka dengan pengampuan menyeluruh yang menghapus dosa-dosa mereka terdahulu dan keburukan yang selalu mereka lakukan, dan rahmatilah mereka dengan rahmat yang mampu menerangi pembaringan mereka di dalam kubur, serta menyelamatkan mereka pada saat kebangkitan di hari yang menakutkan.

اَللّٰهُمَّ تَحَنَّنْ عَلىٰ ضَعْفِهِمْ كَمَا كَانُوْا عَلىٰ ضَعْفِنَا مُتَحَنِّنِيْنَ، وَارْحَمِ انْقِطَاعَهُمْ إِلَيْكَ كَمَا كَانُوْا لَنَا فِيْ حَالِ انْقِطَاعِنَا إِلَيْهِمْ رَاحِمِيْنَ، وَتَعَطَّفْ عَلَيْهِمْ كَمَا كَانُوْا عَلَيْنَا فِيْ حَالِ صِغَرِنَا مُتَعَطِّفِيْنَ، اَللّٰهُمَّ احْفَظْ لَهُمْ ذٰلِكَ الْوُدَّ الَّذِيْ أَشْرَبْتَهُ قُلُوْبَهُمْ، وَالْحَنَانَةَ الَّتِيْ مَلَأْتَ بِهَا صُدُوْرَهُمْ، وَاللُّطْفَ الَّذِيْ شَغَلْتَ بِهِ جَوَارِحَهُمْ، وَاشْكُرْ لَهُمْ ذٰلِكَ الْجِهَادَ الَّذِيْ كَانُوْا بِهِ فِيْنَا مُجَاهِدِيْنَ، وَلَا تُضَيِّعْ لَهُمْ ذٰلِكَ الْاِجْتِهَادَ الَّذِيْ كَانُوْا بِهِ  فِيْنَا مُجْتَهِدِيْنَ، وَجَازِهِمْ عَلىٰ ذٰلِكَ السَّعْيِ الَّذِيْ كَانُوْا بِهِ  فِيْنَا سَاعِيْنَ، وَالرَّعْيَ الَّذِيْ كَانُوْا  بِهِ لَنَا رَاعِيْنَ، أَفْضَلَ مَاجٰزَيْتَ بِهِ السُّعَاةَ الْمُصْلِحِيْنَ، وَالرُّعَاةَ النَّاصِحِيْنَ

Allahumma tahannan ‘alaa dho’ifihim kamaa kaanuu ‘alaa dho’finaa mutahanniniin, Warhamin-qithoo’ihim ilaika kamaa kaanuu fii haalin qithoo’inaa ilaihim roohimin, Wata’aththof ‘alaihim kamaa kaanuu ‘alainaa fii haali shighorinaa muta’aththifiin, Allaahummah-fazh lahum dzaalikal-wuddal-ladzii asyrobtahu quluubahum, Wal-hanaanatal-latii mala’ta bihaa shuduurohum, Wal-luthfal-ladzii syagholta bihi jawaarihahum, Wasykur lahum dzaalikal-jihaadal-ladzii kaanuu fiinaa mujaahidiin, Walaa tudhoyyi’ lahum dzaalikal-ijtihaadal-ladzii kaanu fiinaa mujtahidiin, Wajaazihim ‘alaa dzaalikas-sa’yil-ladzii kaanuu fiinaa saa’iin, Warro’yil-ladzii kaanuu lanaa roo’iin, Afdhola maa jazaita bihis-su’aatal-mushlihiin, War-ru’aatan-naashihiin

Ya Allah, sayangilah (maklumilah) kelemahan mereka sebagaimana mereka dahulu menyayangi (memaklumi) kelemahan kami, dan hargailah usaha mereka untuk beribadah kepada-Mu sepanjang waktu sebagaiman mereka dahulu juga menghargai usaha kami untuk berbakti kepada mereka sepanjang masa, dan kasihanilah mereka sebagaimana mereka mengasihi kami sewaktu  kami kecil. Ya Allah, peliharalah rasa cinta yang Engkau letakan dalam hati mereka, kasih sayang yang Engkau penuhi dada mereka dengannya, dan kelembutan yang Engkau sibukkan anggota tubuh mereka dengannya. Karuniailah mereka dengan pahala atas perjuangan mereka dahulu dalam mendidik kami, jangan sia-siakan perjuangan mereka tersebut. Balaslah usaha mereka untuk menghidupi dan memelihara kami dengan sebaik-baik balasan yang Engkau berikan kepada mereka yang suka berbuat baik dan memberi nasihat.

اَللّٰهُمَّ بِرَّ هُمْ أَضْعَافَ مَا كَانُوْا يَبُرُّوْنَنَا، وَانْظُرْ إِلَيْهِمْ بِعَيْنِ الرَّحْمَةِ كَمَا كَانُوْا يَنْظُرُوْنَنَا

Allaahumma barrohum adh’aafa maa kaanuu yabarruunanaa

Ya Allah, berbuat baiklah kepada mereka dengan kebaikan yang jauh lebih banyak dari semua kebaikan mereka kepada kami, dan pandanglah mereka dengan pandangan kasih sebagaimana dahulu mereka memandang kami.

اَللّٰهُمَّ هَبْ لَهُمْ مَا ضَيَّعُوْا مِنْ حَقِّ رُبُوْبِيَّتِكَ بِمَا اشْتَغَلُوْا بِهِ مِنْ حَقِّ تَرْبِيَّتِنَا، وَتَجَاوَزْ عَنْهُمْ مَا قَصَّرُوْا فِيْهِ مِنْ حَقِّ خِدْمَتِكَ بِمَا آثَرُوْنَا بِهِ فِيْ حَقِّ خِدْمَتِنَا، وَاعْفُ عَنْهُمْ مَا ارْتَكَبُوْا مِنَ الشُّبُهَاتِ مِنْ أَجْلِ مَا اكْتَسَبُوْا مِنْ أَجْلِنَا، وَلَا تُؤَاخِذْهُمْ بِمَا دَعَتْهُمْ إِلَيْهِ الْحَمِيَّةُ مِنَ الْهَوٰى لِمَا غَلَبَ عَلىٰ قُلُوْبِهِمْ مِنْ مَحَبَّتِنَا، اَللّٰهُمَّ وَتَحَمَّلْ عَنْهُمُ الظُّلُمَاتِ الَّتِي ارْتَكَبُوْهَا فِيْمَا اجْتَرَحُوْا لَنَا وَسَعَوْا عَلَيْنَا، وَالْطُفْ بِهِمْ فِيْ مَضَاجِعِ الْبِلىٰ لُطْفًا يَّزِيْدُ عَلىٰ لُطْفِهِمْ فِيْ أَيَّامِ حَيَاتِهِمْ بِنَا

Allaahumma barrohum adh’aafa maa kaanuu yabarruunanaa, Wanzhur ilaihim bi’ainir-rohmati kamaa kaanuu yanzhuruunanaa, Allaahumma hablahum maa dhoyya’uu min haqqi rubuubiyyatika, Bimasy-tagholuu bihi fii haqqi tarbiyatinaa, Watajaawaz ‘anhum maa qoshshoruu fihii min haqqi khidmatika, Bimaa aatsaruunaa fiihi min haqqi khidmatinaa, Wa’fu’anhum martakabuu minasy-syubuhaati min ajli maktasabuu min ajlinaa, Walaa tu’aakhidz-hum bimaa da’at-hum ilaihil-hamiyyatu minal-hawaa, Limaa gholaba ‘alaa quluubbihim min mahabbatinaa, Watahammal ‘anhumuzh-zhulamaatil-latir-takabuuhaa, Fimaj-tarohuu lanaa wa sa’au ‘alainaa, Wal-thuf bihim madhooji’il-bilaa luthfan yaaziidu, ‘alaa luthfihim fii ayyaami hayaatihim binaa

Ya Allah, berilah mereka pahala beribadah kepada-Mu yang tidak sempat mereka lakukan karena sibuk mendidik kami, dan maafkanlah segala kekurangan mereka dalam mengabdi kepada-Mu karena sibuk melayani kami, dan ampunilah mereka atas hal-hal syubhat yang mereka lakukan demi menghidupi kami, dan jangan siksa mereka karena rasa cinta mereka kepada kami yang menggelora, dan selesaikanlah permasalahan-permasalahan mereka dengan sesama manusia yang mereka lakukan demi menghidupi kami, dan bersikap lembutlah kepada mereka dipembaringan kubur dengan kelembutan yang melebihi sikap lembut mereka kepada kami di masa hidup mereka dahulu.

اَللّٰهُمَّ وَمَا هَدَيْتَنَا لَهُ مِنَ الطَّاعَاتِ، وَيَسَّرْتَهُ لَنَا مِنَ الْحَسَنَاتِ، وَوَفَّقْتَنَالَهُ مِنَ الْقُرُبَاتِ، فَنَسْأَلُكَ اللّٰهُمَّ أَنْ تَجْعَلَ لَهُمْ مِنْهَا حَظًّا وَّنَصِيْبًا، وَمَا اقْتَرَفْنَاهُ مِنَ السَّيِّئاَتِ، وَاكْتَسَبْنَاهُ مِن الْخَطِيْئَاتِ، وَتَحَمَّلْنَاهُ مِنَ التَّبِعَاتِ، فَلَا تُلْحِقْ بِهِمْ مِنَّا بِذٰلِكَ حَوْبًا، وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْهِمْ مِنْ ذُنُوْبِنَا ذُنُوْبًا

Allaahumma wamaa hadaitanaa lahu minath-thoo’aat, Wa yassartahu lanaa minal-hasanaat, Wawafaqqtanaa lahu minal-qurubaat, Fa nas-alukallaahumma antaj’ala lahum minhaa hazhzhon wa nashiiba, Wamaqtarofnaahu minas-sayyi’aat, Waktasabnaahu minal-khothii’aat, Wa tahammalnaahu minat-tabi’aat, Falaa tulhiqhum minnaa bidzaalika huubaa, Walaa tahmil ‘alaihim min dzunuubinaa dzunuubaa

Ya Allah, atas setiap ketaatan yang Engkau hidayahkan kepada kami, kebaikan yang Engkau mudahkan kami untuk melakukannya, dan amal saleh yang Engkau beri kami taufik untuk mengerjakannya, kami mohon Engkau beri mereka pahala pula, dan jika ada keburukan yang kami lakukan, kesalahan yang kami perbuat, dan permasalahan dengan sesama manusia yang harus kami pertanggungjawabkan, jangan Engkau bebani mereka dengannya dan jangan tambahkan dosa kami ke dalam catatan dosa mereka.

اَللّٰهُمَّ وَكَمَا سَرَرْتَهُمْ بِنَا فِي الْحَيَاةِ، فَسُرَّهُمْ بِنَا بَعْدَ الْوَفَاةِ (ثَلَاثًا)

Allaahumma wakamaa sarortahum binaa fil-hayaati, Fasurrohum binaa ba’dal-wafaah (3x)

Ya Allah, sebagaimana Engkau senangkan mereka dengan kami semasa hidup, maka senangkan pula mereka dengan kami setelah mati. (3x)

اَللّٰهُمَّ وَلَا تُبْلِغْهُمْ مِنْ أَخْبَارِنَا مَا يَسُوْءُهُمْ، وَلَا تُحَمِّلْهُمْ مِنْ أَوْزَارِنَا مَايَنُوْءُهُمْ، وَلَا تُخْزِهِمْ بِنَا فِيْ عَسْكَرِ الْأَمْوَاتِ بِمَا نُحْدِثُ مِنَ الْمُخْزِيَاتِ وَنَأْتِيْ مِنَ الْمُنْكَرَاتِ، وَسُرَّ أَرْوَاحَهُمْ بِأَعْمَالِنَا فِيْ مُلْتَقَى الْأَرْوَاحِ، إِذَا سُرَّ أَهْلُ الصَّلَاحِ بِأَبْنَآءِ الصَّلَاحِ، وَلَا تُقِفْهُمْ بِسَبَبِنَا عَلىٰ مَوْقِفِ افْتِضَاحٍ بِمَا نَجْتَرِحُ مِنْ سُوْءِ الْاِجْتِرَاحِ

Allaahumma walaa tuballigh-hum min akhbaarinaa maa yasuu’uhum, Walaa tuhammilhum min auzaarinaa maa yanuu’uhum, Walaa tukhzihim binaa fii ‘askaril-amwaat, Bimaa nuhditsu minal-mukhziyaati wana’tii minal-mukaroot, Wasurro arwaahahum bi a’amaalinaa fii multaqol arwaah, Idzaa surro ahlush-sholaahi bi abnaa ‘ish-sholaah, Walaa tuwaqqifhum minnaa ‘alaa mauqifil-iftidhooh, Bimaa najtarihu min suu’il-ijtirooh

Ya Allah, jangan sampaikan berita-berita tentang diri kami yang akan membuat mereka kecewa, dan jangan bebankan kesalahan kami kepada mereka, dan jangan hinakan mereka di hadapan orang-orang yang sudah meninggal dunia dengan perbuatan-perbuatan hina dan mungkar yang kami lakukan, dan senangkanlah ruh mereka dengan amal-amal baik kami di tempat pertemuan para arwah, ketika orang-orang yang saleh bergembira dengan putra-putra mereka, dan jangan jadikan mereka ternoda oleh perbuatan-perbuatan buruk yang kami lakukan.

اَللّٰهُمَّ وَمَا تَلَوْنَا مِنْ تِلَاوَةٍ فَزَكَّيْتَهَا، وَمَا صَلَّيْنَا مِنْ صَلَاةٍ فَتَقَبَّلْتَهَا، وَمَا تَصَدَّقْنَا مِنْ صَدَقَةٍ فَنَمَّـيْتَهَا، وَمَا عَمِلْنَا مِنْ أَعْمَالٍ صَالِحَةٍ فَرَضِيْتَهَا، فَنَسْأَلُكَ اللّٰهُمَّ أَنْ تَجْعَلَ حَظَّهُمْ مِنْهَآ أَكْبَرَ مِنْ حُظُوْظِنَا ، وَقِسْمَهُمْ مِنْهَآ أَجْزَلَ مِنْ أَقْسَامِنَا، وَسَهْمَهُمْ مِنْ ثَوَابِهَآ أَوْفَرَ مِنْ سِهَامِنَا، فَإِنَّكَ وَصَّيْتَنَا بِبِرِّهِمْ، وَنَدَبْتَنَآ إِلىٰ شُكْرِهِمْ، وَأَنْتَ أَوْلىٰ بِالْبِرِّ مِنَ الْبَآرِّيْنَ، وَأَحَقُّ بِالْوَصْلِ مِنَ الْمَأْمُوْرِيْنَ

Allaahumma wamaa talaunaa min tilaawatin fazakkaitahaa, Wamaa shollainaa min sholaatin fataqobbaltahaa, Wamaa ‘amilnaa min a‘maalin shoolihatin farodhiitahaa, Wamaa tashoddaqnaa min shodaqotin fanammaitahaa, Fa nas’alukallaahumma an taj’ala hazhzhohum minhaa akbaro min huzhuuzhinaa, Waqosmahum minhaa ajzala min aqsaaminaa, Wasahmahum min tsawaabihaa aufaro min sihaaminaa, Fa’innaka washshoitanaa bibirrihim wanadabtanaa ilaa syukrihim, Wa anta aulaa bil-birri minal-baariin, Wa ahaqqu bil washli minal ma’muurin

Ya Allah, bagi setiap ayat suci yang kami baca, shalat kami yang Engkau terima, amal saleh kami yang Engkau ridhai, serta sedekah kami yang Engkau lipatgandakan pahalanya, tolong ya Allah, berilah mereka bagian yang lebih banyak dari bagian kami, dan pahala yang jauh lebih besar dari pahala kami sebab Engkaulah yang mewasiatkan agar kami berbakti dan berbuat baik kepada mereka. Sesungguhnya, Engkaulah yang lebih pantas untuk berbuat baik kepada mereka dari semua yang berbakti kepada orang tuanya, dan Engkaulah yang lebih berhak untuk melakukan kebajikan tersebut daripada mereka yang Engkau perintahkan.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا لَهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ يَّوْمَ يَقُوْمُ الْأَشْهَادِ، وَأَسْمِعْهُمْ مِنَّآ أَطْيَبَ النِّدَآءِ يَوْمَ التَّنَادِ، وَاجْعَلْهُمْ بِنَا مِنْ أَغْبَطِ الْآبَآءِ بِالْأَوْلَادِ (ثَلَاثًا).. حَتَّى تَجْمَعَنَا وَإِيَّاهُمْ وَالْمُسْلِمِيْنَ جَمِيْعًا فِيْ دَارِ كَرَامَتِكَ، وَمُسْتَقَرِّ رَحْمَتِكَ، وَمَحَلِّ أَوْلِيَآئِكَ، مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ، وَحَسُنَ أُولَـٰئِكَ رَفِيْقًا، ذٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفٰى بِاللهِ عَلِيْمًا

Allaahummaj’alnaa lahum qurrota a’yunin yauma yaquumul asyhaad, Wa asmi’hum minnaa ath-yaban nidaa’i yaumat-tanaad, Waj’al hum binaa min aghbathil-aabaa’i bil-aulaad, Hatta tajma’anaa wa iyyaahum wal-muslimiina jamii’aa, Fii daari karoomatika wa mustaqorri rohmatika wa mahalli auliyyaa’ik, Ma’al-ladziina an’amta ‘alaihim minan-nabiyyiina washshidiiqiin, Wasy-syuhadaa’i wash-shaalihiin, Wa hasuna ulaa’ika rofiiqoo, Dzaalikal fadhlu minallaahi wa kafaa billaahi ‘aliimaa

Ya Allah, jadikanlah kami penyejuk hati mereka di hari para saksi berdiri sebagai saksi, dan perdengarkanlah kepada mereka sebaik-baik seruan ketika sang penyeru berseru, dan jadikanlah mereka sebagai ayah yang merasa paling senang dengan anak-anaknya, (3x). Kemudian pertemukanlah kami dengan mereka dan seluruh kaum muslimin di negeri yang mulia, di tempat curahan rahmat-Mu, dan kediaman para wali-Mu bersama orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, yaitu para Nabi, shiddiqin, syuhada, dan sholihin. Merekalah sebaik-baik teman. Itulah karunia Allah dan cukuplah Allah sebagai Dzat Yang Maha Mengetahui.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّايَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ

Subhaana robbika robbil-‘izzati ‘ammaa yashifuun, Wa salaamun ‘alal-mursaliin, Wal-hamdu lillaahi robbil-‘aalamiin, Wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa aalihi wa shohbihi wa sallam

Maha Suci Allah, Tuhan Yang Perkasa, Mulia dan Agung dari segala tuduhan-tuduhan yang tidak layak dan patut bagi-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Semoga shalawat dan salam Allah selalu tercurah kepada  Sayyidina Muhammad beserta keluarga dan para sahabat beliau.

NASIHAT MULIA UNTUK ANAK-ANAK KITA AGAR MENJADI ANAK YANG SHOLIH SHOLIHAH

نِصيحة الأستاذ لتلميذه

يا بني : أرشدك الله ووفقك لصالح الأعمال انك منى بمنزلة الولد من أبيه : يسرنى أن اراك صحيح البنية, قوي الادراك, زكي القلب, مهذب الأخلاق, محافظا على الآداب, بعيدا عن الفحش في القول, لطيف المعاشرة, محبوبا من اخوانك, تواسى الفقراء, وتشفق على الضعفاء, تغفر الزلات, وتعفو عن السيئات, ولا تفرط في صلاتك, ولا تهمل في عبادتك ربك

Pelajaran Pertama

Nasehat Guru kepada Muridnya

Wahai Anakku!

Semoga Allah memberi petunjuk dan taufik kepadamu dalam melaksanakan amal saleh.

Engkau bagiku bagaikan seorang anak bagi ayahnya. Aku senang bila melihatmu sehat badannya, cerdas otaknya, bersih hatinya, mulia akhlaknya, santun prilakunya, jauh dari perkataan buruk, baik dengan teman-teman, disukai oleh teman-teman, menyayangi orang faqir, membantu orang lemah, mengampuni orang yang jahat, memaafkan kesalahan orang lain, tidak meninggalkan shalat dan tidak menggampangkan ibadah kepada Tuahnmu.

يا بني : ان كنت تقبل نصيحة ناصح فأنا أحق من تقبل نصيحته. أنا استاذك ومعلمك ومرب روحك. لا تجد احدا احرص على منفعتك وصلاحك مني

Wahai Anakku!

Bila kamu mau menerima nasehat orang lain, maka akulah orang yang paling berhak kamu terima nasehatnya. Akulah ustadzmu, akulah gurumu dan akulah murabbi ruhmu. Kamu tidak akan mendapati orang yang paling menginginkan kebaikan dan kesuksesan kamu lebih dariku

من النصائح, واعمل به في حضورى وبينك وبين اخوانك وبينك وبين نفسك

Wahai anakku!

Bagimu, aku adalah penasehat yang terpercaya. Ambillah semua nasehat yang aku berikan kepadamu. Laksanakanlah nasehat itu dikala kamu sedang berada dihadapanku, dikala kamu sedang bersama teman-temanmu dan dikala dalam kesendirianmu

يا بني : اذا لم تعمل بنصيحتى في خلوتك فقلما تحافظ عليها بين اخوانك

Wahai anakku!

Bila kamu tidak melaksanakan nasehatku dalam kesendirianmu, maka sulit bagimu melaksanakan nasehat itu jika sedang bersama teman-temanmu

يا بني : اذا لم تتخذنى قدوة فبمن تقتدى؟ وعلام تجهد نفسك فى الجلوس أمامى؟

Wahai anakku!

Bila kamu tidak menjadikanku sebagai panutan? Maka siapa lagi panutanmu? Bagaimana perasaanmu bila sedang duduk dihadapanku

يا بني : ان الأستاذ لا يحب من تلاميذه الا الصالح المؤدب فهل يسرك أن يكون أستاذك ومربيك غير راض عنك, ولا طامع في صلاحك؟

Wahai anakku!

Sesungguhnya seorang guru tidak menginginkan muridnya kecuali menjadi seorang yang baik dan sopan. Maukah kamu tidak diridhai oleh gurumu atau tidak disukai oleh murabbimu? Maukah gurumu dan murabbimu tidak peduli lagi kepadamu

ايصال الخير اليك بالطاعة والامتثال لما امرك به من مكارم الأخلاق

Wahai anakku!

Aku senang kamu menjadi seorang yang baik-baik. Banggakan aku dengan kebaikanmu, dengan ketaatanmu, dengan kesungguhanmu melaksanakan setiap perintah demi kemuliaan ahlakmu

وبين اخوانك واهله وعشيرته. فكن حسن الخلق يحترمك الناس ويحبوك

Wahai anakku!

Ahlaq yang baik adalah sebuah kebanggaan bagi dirinya, bagi teman-temannya dan bagi keluarganya. Maka jadilah kamu orang yang baik ahlaqnya, sehingga orang-orang akan memuliakanmu dan akan akan menyayangimu

علمك اضر عليك من جهلك, فان الجاهل معذور بجهله, ولا عذر للعالم عند الناس اذا لم يتجمل بمحاسن الشيم

Wahai anakku!

Bila kamu tidak menghiasi ilmumu dengan ahlak yang mulia, maka kepandaianmu lebih membahayanku daripada kebodohanmu. Karena orang bodoh bisa dimaklumi sedangkan manusia biasanya tidak memaklumi orang pandai bila tidak memiliki ahlak mulia

يا بني : لا تعتمد على مراقبتى لك, فان مراقبتك لنفسك أفضل وأنفع لك من مراقبتى لك

Wahai anakku!

Janganlah kamu tergantung pada pengawasanku. Karena pengawasan dari dirimu lebih utama dari pngawasanku padamu

يا بني : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ان الله استخلص هذا الدين لنفسه ولا يصلح لدينكم الا السخاء و حسن الخلق ألا فزينوا دينكم بهما. (رواه : الطبران عن عمران بن حصين. واشار البويطى الى انه حديث ضعيف)

Wahai anakku!

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

ان الله استحلص هذا الدين لنفسه ولا يصلح لدينكم الا السخاء وحسن الخلق ألا فزينوا دينكم بهما

Artinya: Sesungguhnya Allah memurnikan agama ini untuk diri-Nya. Tidak akan baik agamamu kecuali kamu berlaku dermawan dan berahlak baik. Maka hiasilah agamamu dengan kedua sikap tersebut

الدرس الثاني

في الوصية بتقوى الله

يا بنى : ان ربك يعلم ما تكنه في صدرك, وما تعلنه بلسانك, ومطلع على جميع اعمالك, فاتق الله. يا بنى- واخذر ان يراك على حالة لاترضيه

Pelajaran Kedua Wasiat Taqwa Kepada Allah

Wahai anakku!

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui isi hatimu, mengetahui ucapanmu dan mengawasi semua perbuatanmu. Maka bertaqwalah kepada Allah Wahai anakku! Dan upayakan jangan sampai Dia melihatmu melakukan perbuatan yang tidak disukai-Nya

اخذر ان يسخط عليك ربك الذى خلقك ورزقك ووهبك العقل الذى تتصرف به في سؤونك. كيف يكون حالك اذا اطلع عليك أبوك وأنت تفعل أمرا نهاك عنه؟ أما تخشى أن يشدد عليك العقوبة؟ فليكن حالك مع الله كذالك لأنه يراك من حيث لا تراه. فلا تفرط في شيئ امرك به, ولاتمدد يدك الى شيئ نهاك عنه

Jagalah dirimu dari murka Tuhanmu, Dialah yang telah menciptakanmu, Dialah yang telah memberi rizki kepadamu dan Dialah yang memberimu akal sehingga kamu memanfaatkan akal tersebut untuk menyelesaikan masalahmu.

Bayangkan bagaimana perasaanmu bila ayahmu melihatmu melakukan suatu padahal dia telah melarangnya? Bukankah kamu merasa takut, ayahmu akan memberi hukuman kepadamu? Begitulah sebaiknya sikapmu kepada Allah, karena Allah selalu melihatmu meskipun kamu tidak melihat-Nya. Janganlah kamu meninggalkan perintah-Nya. Dan janganlah kamu menerjang larangan-Nya

يا بنى : ان ربك شديد العقاب, فاخذر –يا بنى- واتق غضبه وسخطه, ولا يغرنك حلمه فان الله يملى للظالم حتى اذا اخذه لم يفلته”

Wahai anakku!

Sesungguhnya Tuhanmu amat kuat tamparan-Nya dan amat dahsyat azab-Nya. Maka takutlah -Wahai anakku!-. Jagalah dirimu dari murka-Nya. Janganlah kamu terbuai oleh bijaksana-Nya. Karena Allah telah menyiapkan siksaan bagi orang yang zalim, sehingga bila siksaan itu telah menimpanya, dia tidak bisa menghindar darinya

يا بنى : ان في طاعة الله من اللذة والراحة ما لا يعرف الا بالتجربة –فيا بنى- استعمل طاعة مولاك على سبيل التجربة أياما لتدرك هذه اللذة, وتشعر بهذه الراحة وتعلم اخلاصى لك في النصيحة

Wahai anakku!

Sesungguhnya didalam ketaatan kepada Allah terdapat suatu kenikmatan dan ketenangan. Dimana kenikmatan dan ketenangan itu diperoleh bila melalui suatu ujian/cobaan. Oleh karena itu Wahai anakku! Lewatilah ujian-ujian ketaatan kepada Rajamu beberapa hari dulu agar kamu bisa mendapatkan kelezatan ini, agar kamu bisa merasakan ketenangan ini dan kamu baru tahu betapa ihlasnya nasehatku

يا بنى : انك ستجد في طاعة الله ثقلا على نفسك أول الأمر فاحتمل هذا الثقل, واصبر عليه, حتى تصير الطاعة عندك من العادات التى تألفها

Wahai anakku!

Sesungguhnya dirimu akan menjumpai keletihan dan kecapaian dalam melakukan ketaatan sewaktu pertama memulai. Maka bertahanlah dalam keletihan dan kecapaian ini. Bersabarlah menerima hal ini sampai ketaatan menjadi kebiasaan/pola hidupmu

تتعلم القراءة والكتابة, وتؤمر بحفظ القران الكريم غيبا ألم تكن اذ ذاك تكره المكتب والمعلم, وتتمنى ان تكون مطلق السراح فها انت اليوم قد بلغت الدرجة التى عرفت بها فائدة الصبر على التعلم في المكتب, وعلمت أن معلمك كان ساعيا في مصلحتك

Wahai anakku!

Lihatkah dirimu sewaktu belajar di Sekolah Dasar. Kamu belajar membaca dan menulis, kamu diwajibkan menghafal alquranul karim diluar kepala. Bukankah waktu itu kamu merasa tidak senang dengan Sekolah dan juga tidak suka kepada guru, kamu waktu itu berharap ingin keluar dan bersantai-santai saja. Kini kamu telah melewati sekolah dasar itu. Kamu pun tahu manfaat kesabaran sewaktu belajar di Sekolah Dasar. Kamu pun sekarang tahu bahwa gurumu menyuruh demi kebaikanmu

فيا بنى : اسمع نصيحتى, واصبر على طاعة الله كما صبرت على التعلم في المكتب وسوف تعلم فائدة هذه النصيحة وتظهر لك جليا اذا ساعدتك العناية الالهية على العمل بنصيحة استاذك

Wahai anakku!

Dengarkan nasehatku, bersabarlah dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah sebagaimana kesabaranmu sewaktu belajar di Sekolah. Kamu akan tahu manfaat nasehatku dan akan muncul kebesaranmu bila kamu dibantu oleh pertolongan ilahi dalam melaksanakan nasehat gurumu

يا بنى : اياك أن تنظن أن تقوى الله هي الصلاة والصيام ونحوهما من العبادات فقط: ان تقوى الله تدخل في كل شيئ فاتق الله في عبادة مولاك. لا تفرط فيها. واتق الله في اخوانك: لا تؤذ أحدا منهم. واتق الله في بلدك : لا تخنه ولا تسلط عليه عدوا. واتق الله في نفسك لا تهمل في صحتك, ولا تتخلق بسوى الأخلاق الفاضلة

Wahai anakku!

Janganlah mengira bahwa Taqwa kepada Allah hanya sebatas melaksanakan shalat, puasa dan yang sama dengan keduanya saja. Ajan tetapi taqwa kepada Allah berada dalam segala hal. Bertaqwalah kepada Allah dalam beribadah kepada Tuhanmu, janganlah kamu meninggalkannya. Bertaqwalah kepada Allah dalam pertemanan, jangan kamu sakiti satupun dari mereka. Bertaqwalah kepada Allah dalam bernegara, jangan kamu berkhianat dan jangan berkolaborasi dengan musuh. Bertaqwalah kepada Allah dalam dirimu sendiri, janganlah kamu sia-siakan kesehatanmu dan janganlah berprilaku selain prilaku dengan ahlak mulia

يا بنى : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم”اتق الله حيثما كنت, وأتبع السيئة الحسنة تمحها, وخالق الناس بخلق حسن

Wahai anakku!

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Bertaqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan yang akan menghapusnya. Dan berahlaklah kepada manusia dengan ahlak yang baik.

WALHAMDULILLAAHIROBBIL’AALAMIIN

INILAH HAKIKAT PERHIASAN BAGI LELAKI SEJATI

Mendengar kata perhiasan, sebagian orang langsung membayangkan logam mulia, berlian, dan permata. Atau pakaian yang indah. Jam tangan mewah. Dan hal-hal lain yang bersifat materi. Padahal perhiasan itu juga termasuk karakter mulia dan akhlak yang baik. Seseorang yang mengenakan perhiasan materi mungkin akan dikenal hanya dalam satu resepsi. Setelah itu namanya tenggelam dilupakan. Atau paling lama sampai dia meninggal. Kemudian orang-orang melupakannya. Tapi akhlak yang mulia akan membuat orang dikenang sepanjang masa. Seorang penyair mengatakan,

وَإِنَّمَا الأُمَمُ الأَخْلاقُ مَا بَقِيَتْ ### فَإِنْ هُمُ ذَهَبَتْ أَخْلاقُهُمْ ذَهَبُوا

Suatu masyarakat akan teranggap selama mereka memiliki akhlak.

Apabila akhlak mereka telah hilang merekapun dilupakan.

Dan perhiasan seseorang yang merdeka adalah:

Bermanfaat Untuk Orang Lain

Menjadi seorang yang bermanfaat bisa dengan harta, tenaga, dan bisa pula dengan pemikiran. Orang yang bermanfaat untuk orang lain, ia akan dihormati. Hal ini berlaku sedari masa jahiliyah dulu.

Paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Thalib bin Abdul Muthalib, adalah seorang yang miskin. Di antara bukti yang menunjukkan kemiskinannya adalah beberapa putranya diasuh oleh orang lain. Karena ia tak mampu menafkahi mereka. Seperti Ali bin Abu Thalib dirawat oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ja’far bin Abu Thalib dirawat oleh saudaranya, Abbas bin Abdul Muthalib.

Walaupun Abu Thalib seorang yang miskin tapi ia seorang tokoh yang dihormati di masyarakat Quraisy. Suaranya dianggap. Perlindungannya dihormati. Karena itu ia mampu melindungi Nabi Muhammad. Padahal Nabi Muhammad dianggap telah melecehkan nenek moyang dan tradisi lokal masyarakat Quraisy. Ketika Abu Thalib melindunginya, tak ada yang berani menyentuh keponakannya itu.

Dengan kemiskinannya, Abu Thalib adalah seorang yang berjasa besar di tengah Quraisy. Ia mengurusi zam-zam yang bermanfaat bagi khalayak. Saat Ramadhan tiba, ia menaiki Gua Hira membagi-bagi makanan untuk orang miskin bahkan untuk hewan-hewan liar dan burung di sana. Dan jasa-jasa lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat umum. Karena memiliki peran dan manfaat di tengah masyarakatnya, ia pun dihormati.

Contoh lainnya adalah Abu Bakar ash-Shiddiq. Seorang yang terhormat di masyarakat Arab. Baik muslimnya maupun yang masih kafir. Ia bukanlah orang paling kaya di kalangan penduduk Mekah. Bukan pula di kalangan para sahabat. Tapi kemanfaatannya tersebar di tengah-tengah mereka. Karena itu, ia menjadi tokoh saat masa jahiliyah dan menjadi sahabat yang paling utama setelah Islam datang. Inilah perhiasan seorang laki-laki.

Kemampuan Mengendalikan Diri dan Emosi

Kemampuan mengendalikan diri dan emosi adalah akhlak yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memuji seseorang karena memiliki sifat ini.

إن فيكَ خصلتينِ يحبهُما اللهُ : الحلمُ والأناةُ

“sesungguhnya pada dirimu ada 2 hal yang dicintai Allah: sifat al hilm dan al aanah” (HR. Muslim no. 17).

ANAT adalah sabar tidak gegabah dalam bersikap.

Hilm adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan dirinya ketika marah. Ketika ia marah dan mampu memberikan hukuman, ia lebih memilih bersikap hilm dan tidak jadi memberikan hukuman.

Di antara contoh orang yang memiliki sifat hilm ini adalah Ahnaf bin Qais. Ahnaf bin Qais adalah seorang tabi’in. Tokoh Bani Tamim. Dinamai dengan Ahnaf karena ia memiliki kaki yang cekung ke dalam. Mirip bentuk huruf x. Perawakannya pendek. Dan parasnya jelek. Namun wibawanya begitu besar di tengah kaumnya. Kalau ia marah, maka ribuan pedang bisa terhunus membelanya tanpa perlu tahu apa alasan kemarahan Ahnaf.

Mengapa demikian? Karena Ahnaf adalah teladan dalam hilm. Kalau ia sudah marah berarti hal tersebut memang benar-benar sudah keterlaluan. Karena itu, kaumnya tak perlu tahu alasan untuk membelanya.

Untuk mengukur sifat hilm yang dimiliki Ahnaf, orang-orang pun mengutus seseorang untuk membuatnya marah. Seseorang mengatakan, “Aku akan membuatnya marah.” Kemudian yang lain menanggapi, “Kalau kau mampu, akan kami berikan sesuatu untukmu.” Orang tersebut mendekati Ahnaf yang sedang berjalan menuju perkampungannya. Mulailah orang tersebut mencaci dan mencelanya terus-menerus. Sementara Ahnaf seakan tak mendengar celaan tersebut.

Saat telah dekat di perkampungan kaumnya, Ahnaf berkata, “Hai anak saudaraku, kalau masih ada sesuatu pada dirimu yang ingin kau lampiaskan, katakanlah sekarang! Karena kita telah dekat pada suatu perkampuangan yang penduduknya tak akan mampu menahan diri dari celaanmu terhadapku sebagaimana aku tahan mendengar celaanmu.”

Maksudnya, kalau kaumku mendengar celaanmu terhadapku, akan terjadi sesuatu pada dirimu. Mereka tak akan sabar mendengar tokoh mereka dicela sebagaimana kesabaranku menghadapimu. Karena itu, keluarkan sekarang semua celaanmu sampai kau puas.

Ahnaf pernah ditanya, “Dari mana kau belajar hilm?” Ahnaf menjawab, “Aku belajar dari Qais bin Ashim. Pernah didatangkan padanya seorang yang membunuh anaknya. Melihat si pembunuh ini tertawan, Ahnaf berkata, ‘Kalian telah membuatnya takut’. Kemudian pembunuh ini dihadapkan padanya. Ahnah berkata padanya, ‘Hai anakku, engkau telah membuat anggota kaummu menjadi sedikit. Sehingga melemahlah kekuatannya. Rapuhlah kekokohannya. Kau buat musuh-musuhmu senang. Dan kau permalukan kaummu. Bebaskanlah dia!’ Kemudian Qais yang membayarkan diyat (harta tebusan) kepada ibu dari anaknya yang terbunuh itu (Jamal min Ansab al-Asyraf, 3/263).

Tentu kita mengatahui, diyat diberikan oleh pihak keluarga yang membunuh kepada keluarga korban. Si pembunuh anaknya Qais adalah seorang dari sukunya sendiri. Ia adalah bagian dari keluarganya. Karena itu, Qais sendiri yang memberi diyat atas prilaku si pembunuh kepada ibu korban.

Pelajaran

Pertama: Di antara menariknya mempelajari budaya masyarakat Arab adalah kisah-kisah tentang kehidupan mereka diriwayatkan dengan rapi. Sehingga nama-nama dan nasab-nasab mereka terjaga. Kebijaksanaan-kebijaksanaan masyarakat tempo dulu dari mereka teriwayatkan dengan baik. Hikmah kehidupan dan kondisi sosial mereka begitu terekam. Tentu ini memudahkan para ilmuan sosiologi dan antropologi untuk mengkaji kehidupan mereka. Kuncinya satu, kemampuan bahasa Arab untuk mengakses sumber-sumber berita mereka.

Namun sayang, karena lemahnya kemampuan bahasa Arab di tengah umat Islam dan derasnya konspirasi buruk tentang masyarakat Arab, sehingga umat Islam sendiri ketika mendengar kata Arab, konotasinya adalah negatif. Konotasinya adalah perang, gurun, tertinggal, tak beradab, badui, dll.

Kedua: Hendaknya seorang laki-laki berhias dengan sifat-sifat yang mulia. Mengubah persepsi dalam standar kemuliaan. Kemuliaan itu tidak semata-mata dengan harta. Harta yang tertumpuk karena tidak dibagi adalah aib. Mencari harta kemudian menjadikannya bermanfaat untuk orang lain, itulah perhiasan diri.

KISAH NYATA : ANAK SENGSARA MUNGKIN KARENA PERKATAAN BURUK IBUNYA

Alkisah seorang anak hidup dalam kederhanaan. Sebut saja ia dalam kisah nyata ini dengan inisial H. Ibunya pergi merantau dan dia tinggal bersama neneknya. Setiap bulan ibunya pulang untuk sekadar silaturahmi pada orang tuanya yang masih hidup dan bertemu anaknya. Selama ini saya pun juga tidak tau apa pekerjaan asli sang ibu itu.

SILAHKAN LIHAT JUGA VIDEO DI LINK INI : Zain M Channel

Suatu ketika tepatnya di bulan puasa Ramadhan, sang ibu itu pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga. Seperti biasa adat anak-anak Jawa, setiap bulan puasa tak lepas dari petasan yang menjadi mainan mereka. Banyak anak-anak yang main petasan di pinggir jalan, di depan rumah orang, tanpa berpikir apakah yang mereka lakukan mengganggu orang lain atau tidak. Yang namanya anak-anak, sudah diberi tahu beberapa kali pun seakan tak dihiraukan. Tepatnya di depan rumahku kejadian ini berawal. Setelah shalat tarawih banyak anak yang bermain di depan rumah termasuk si H. Kebetulan hari-hari itu kakekku sedang sakit. Kebetulan malam itu ibu si H sedang ada di dalam rumahku berniat menjenguk kakekku. “Anak-anak, kalian jangan sampai main petasan di depan rumah ini, ya! Kakek lagi sakit” teriak ibu H sambil keluar di depan rumah. Setelah itu si ibu pun masuk lagi ke rumah dan kembali ke kamar kakek.

Tak lama kemudian, “Daaaaaaaarrrrr….” suara petasan meletus hingga membuat yang di dalam rumah kaget. Bergegaslah ibunda H tadi keluar. “Siapa yang mainan petasan barusan” teriak ibu itu dengan muka merah. “H, Bu” sahut salah satu anak yang di depan tadi.

Seketika ibu itu juga teriak pada anaknya. Ucapan yang bernada marah terucap, “Ingat, Nak, kamu diatur sulit. Ingat ya, kamu tidak pernah akan bahagia selamanya karena kamu sulit diatur,” teriak ibu tadi pada anaknya. Saat itu aku berada di rumah dan dengan jelas mendengar langsung “doa” sang ibu tadi pada H.

Diriku merasa tercengang dengan perkataan ibu tadi. “Masyaallah, tega banget ibu tadi mendoakan anaknya sendiri seperti itu. Bukankah doa ibu pada anak itu mudah terkabul? Apalagi sang ibu dalam keadaan marah karena anaknya,” gumamku dalam hati. H memang tergolong anak yang lumayan nakal. Tapi menurutku justru nakal itu harus didoakan agar berubah dan nantinya menjadi baik.

Beberapa tahun kemudian… Kehidupan H selama ini memang tergolong yang tidak beruntung. Dia pernah jadi buronan polisi karena kasus pencurian di Surabaya. Dalam hal pernikahan, ia gagal karena berakhir perceraian. Nikah lagi, dan menghamili mertuanya sendiri. Diusirlah ia oleh warga kampung istrinya karena dianggap mencemarkan nama baik. Dan yang terakhir yang saya tahu, H hampir dikeroyok pemuda kampungnya sendiri karena mencuri. Dan sekarang dia pun lontang-lantung di rumah seakan membawa beban berat jika dilihat raut mukanya.

Ya Allah, seketika jika melihat kehidupanya saya teringat ucapan ibundanya sewaktu dia kecil dulu. Ucapan sang ibu yang mendoakan anaknya tidak akan bahagia selamanya. “Apakah ini yang dinamakan doa ibu yang selalu terkabul,” pikirku.

Dengan kisah ini semoga kita menjadi orang tua yang lebih santun di setiap ucapan. Tidak gampang mendoakan dengan doa yang buruk. Jika anak kita nakal, hendakaknya malah kita doakan semoga diberi kesadaran hingga mendapat kebaikan. Karena ridha Allah tergantung dengan ridha orang tua juga.” Menjadi orang tua memang sulit. Harus mengatur rumah tangga, juga mendidik anak-anak agar mempunyai akhlak baik. Bandelnya sang anak kadang memancing emosi mereka. Inilah gambaran orang tua. Tetapi, meskipun demikian hendaklah orang tua menjaga ucapan untuk anak-anak mereka. Sebandel dan senakal apapun anak jangan sampai orang tua terucap dari mulut suatu perkataan yang tidak baik pada anak apalagi mendoakan yang tidak baik. Na’udzubillah.

JANGANLAH BERKATA YANG BURUK KARENA PERKATAAN BURUKMU BISA MENJADI DO’A

Menjaga lisan dari perkataan buruk merupakan keharusan. Nabi Muhammad ﷺ biasa menghindari penyampaian sesuatu yang terkesan jorok, dengan tidak menyebutkannya secara eksplisit, melainkan menggunakan kata kiasan.

Misalnya pada kasus seperti terekam dalam hadits yang diceritakan oleh Abad bin Hamim:

 أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلُ الَّذِي يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَجِدُ الشَّيْءَ فِي الصَّلاَةِ؟ فَقَالَ: «لاَ يَنْفَتِلْ – أَوْ لاَ يَنْصَرِفْ – حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

Artinya: “Seorang laki-laki mengeluh kepada Rasulullah ﷺ bahwa ia seolah-olah merasakan sesuatu (seperti kentut) dalam shalatnya. Lalu Nabi menyarankan orang tersebut untuk tidak meninggalkan shalatnya sampai ia benar-benar mendengar suara atau mencium bau” (HR Bukhari).

SILAHKAN LIHAT JUGA VIDEO DI LINK INI : Zain M Channel

Hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi Muhammad tidak secara eksplisit menyebut kalimat misalnya “sampai dia mendengar suara atau bau kentut” tapi hanya dengan istilah “mendengar suara atau mencium bau” saja. Kebiasaan Nabi memang menghindari menyebutkan kalimat-kalimat yang terkesan jorok jika diucapkan apa adanya. Pernyataan-pernyataan yang kurang baik memang perlu dihindari. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar mengisahkan ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasul. Pertanyaan itu hanya perumpamaan saja, namun akibatnya ia malah mengalami sendiri.

Berikut haditsnya:

 يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ أَنْ لَوْ وَجَدَ أَحَدُنَا امْرَأَتَهُ عَلَى فَاحِشَةٍ، كَيْفَ يَصْنَعُ إِنْ تَكَلَّمَ تَكَلَّمَ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ؟ وَإِنْ سَكَتَ سَكَتَ عَلَى مِثْلِ ذَلِكَ، قَالَ: فَسَكَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُجِبْهُ، فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ أَتَاهُ، فَقَالَ: ” إِنَّ الَّذِي سَأَلْتُكَ عَنْهُ قَدِ ابْتُلِيتُ بِهِ

Artinya: “Ya Rasulallah, bagaimana menurut anda seumpama seseorang di antara kita ada yang mendapati istrinya sedang melakukan perzinahan (selingkuh)? Apa yang harus dilakukan? Kalau mau dibicarakan, mestinya dia akan membicarakan masalah besar. Namun kalau mau diam, kok dia ya mendiamkan masalah besar? Mendapati pertanyaan tersebut, Nabi Muhammad ﷺ hanya diam seribu bahasa. Beliau tidak berkenan menjawab. Setelah beberapa waktu, laki-laki yang pernah melontarkan pertanyaan pengandaian itu sowan kepada Nabi. Ia mengaku, pertanyaan yang pernah ia lontarkan ternyata menimpa dirinya. Ia mengaku mendapat ujian dari Allah bahwa istrinya malah selingkuh” (HR Muslim: 1493) .

Sebuah kisah yang diceritakan oleh Ibnu Abbas:

 أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أَعْرَابِيٍّ يَعُودُهُ، قَالَ: وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ عَلَى مَرِيضٍ يَعُودُهُ قَالَ: «لاَ بَأْسَ، طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ» فَقَالَ لَهُ: «لاَ بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ» قَالَ: قُلْتُ: طَهُورٌ؟ كَلَّا، بَلْ هِيَ حُمَّى تَفُورُ، أَوْ تَثُورُ، عَلَى شَيْخٍ كَبِيرٍ، تُزِيرُهُ القُبُورَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَنَعَمْ إِذًا

Artinya: “Nabi Muhammad ﷺ mendatangi seorang Badui yang sedang sakit. Setiap mengunjungi orang sakit, Nabi bersabda: ‘Tidak apa-apa, menjadi penghapus dosa. insyaallah.’ Begitu juga perkataan Nabi tersebut, beliau sampaikan kepada orang Badui yang sedang sakit. Reaksi Badui ketika mendapatkan doa, malah berkata: ‘Penghapus dosa? Sekali-kali tidak (tidak mungkin), sakit panas saya yang bergejolak ini memang menimpa orang tua yang sudah lanjut usia yang mengantarkannya ke alam kubur.’ Maka Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Iya sudah kalau begitu” (HR Al-Bukhari: 3616).

Setelah orang Badui mengatakan bahwa panas yang ia derita adalah panas yang menghantarkannya kepada kematian, menurut At-Thabarani, besok paginya si Badui meninggal dunia.

Cerita lain tentang ucapan yang menjadi kenyataan adalah kisah Nabi Yusuf kecil di saat ia diajak oleh saudara-saudaranya untuk pergi ke hutan, ayah Nabi Yusuf yang bernama Nabi Ya’qub berat melepaskan Yusuf kecil. Beliau sempat mengatakan:

 إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا بِهِ وَأَخَافُ أَنْ يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ وَأَنْتُمْ عَنْهُ غَافِلُونَ

Artinya: “Sesungguhnya aku atas kepergian kalian bersama Yusuf sangat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala sedang kalian lengah darinya” (QS Yusuf: 13).

Setelah saudara-saudaranya Nabi Yusuf pulang dari hutan, ternyata mereka tidak membawa pulang Nabi Yusuf. Walaupun berbohong, mereka mengaku kepada Nabi Ya’qub bahwa Yusuf dimakan serigala. Kekhawatiran yang terucapkan oleh Nabi Ya’qub, seolah-olah menjadi realitas. Walaupun nanti ada cerita panjang nan rumit yang kemudian bisa menyatukan kembali di antara mereka semua.

Berikutnya, saat Nabi Yusuf digoda oleh seorang wanita dan wanita-wanita lain, Nabi Yusuf sampai berdoa:

 رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Artinya: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh” (QS Yusuf: 33).

Doa pilihan Nabi Yusuf yang lebih memilih penjara daripada terjerumus bersama para wanita, akhirnya diijabahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang akhirnya memang Nabi Yusuf dipenjara namun ia juga bebas dari tipu daya wanita:

 فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Maka Tuhan memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (QS Yusuf: 34)

Dalam syair Majnunu Laila ­–yang artinya orang yang tergila-gila dengan Laila, bukan Laila Majnun yang berarti Laila yang gila–Qais melantunkan:

 فلو كنتُ أعمى أخبِط الأرضَ بالعصا ۞ أصمَّ فنادتني أجبتُ المناديا

Artinya: “Jika saja aku ini menjadi buta, akan aku hentakkan tongkatku di atas muka bumi. Dan apabila aku tuli pun, andai saja Laila mengundangku, aku akan datangi pengundang tersebut.” Sebagian perawi mengisahkan bahwa Qais di kemudian hari menjadi buta dan tuli setelah melantunkan syairnya tentang buta dan tuli.

Dengan cerita-cerita di atas, kita dapat mengambil pelajaran betapa pentingnya sebuah perkataan baik untuk pribadi sendiri maupun untuk keluarga misalnya dengan kalimat “saya tidak mungkin mampu” dan lain sebagainya. Apalagi untuk orang tua yang sedang kurang berkenan dengan anaknya, jangan sampai berbicara buruk kepada anak tersebut. Barangkali dengan ucapan buruk tersebut, Allah mengabulkan suatu saat nanti. Na’udzu billah. Wallahu a’lam.