MARI AMALKAN DO’A INI DI SAAT HARGA KEBUTUHAN NAIK DAN MAHAL

Tak bisa lagi disembunyikan, Kalangan menengah kebawah khususnya saudara-saudara kita yang hidup dalam kemiskinan dan kepapaan,mereka menjerit kala semua harga melejit, membelit dan seakan dunia menyempit, terhimpit dalam lingkaran pailit.

Mengubah kebijakan tak mungkin dilakukan, karena bukan golongan Elit.
Menurunkan kembali harga dirasa akan semakin Sulit.
Ya… karena kita hanya Wong Cilik yang tak punya kebijakan apa-apa…

Tapi ,Yakinlah rizqi dan karunia Allah akan selalu menghampiri sekalipun pada wong cilik , Tetaplah menjalankan ibadah , carilah dunia semampu yang bisa dilakukan dan tetaplah berdo’a. Karena Hanya Allah lah yang mencukupi kita dan Allah lah sebaik-baiknya yang diwakili.

Berikut saya share satu amalan dan do’a dari “Syeikh Al-Quthub Abi Al-Hasan ‘Ali Asy-Syadzili ” dalam sebuah karyanya ” Sirrul Jaliil Fii Khowaashi Hasbunallahu Wa Ni’mal Wakiil “.

Di baca/diamalkan/diwirid setelah setelah selesai sholat ashar :

حسبنا الله ونعم الوكيل (٤٥٠ )

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم يا كافي اكفني نوائب الدنيا ومصائب الدهر وذل الفقر . اللهم يا غني اغنني بغنائك عمن سواك وبجودك وبفضلك عن خلقك فإنك قلت وقولك الحق المبين ” ادعوني استجب لكم ” دعوناك كما امرتنا فاستجب منا كما وعدتنا
اللهم يا مغني اسألك غناك الدهر الي الابد
اللهم يا فتاح افتح لي باب رحمتك واصب علي ستر عنايتك وسخرلي خدام هذه الاسمآء بشيء استعين به علي معايشي وامر ديني ودنياي وأخرتي وعاقبة امري ، وسخره لي كما سخرت الريح والانس والجن والوحوش والطير لنبيك سليمان ابن داود عليهما السلام ، وب ” آهيا شراهيا ادوناي أصباؤت آل شداي ”
يا من امره بين الكاف والنون ، انما امره اذا اراد شيئا ان يقول له كن فيكون . فسبحان الذي بيده ملكوت كل شيء واليه ترجعون (٧)

سر الجليل في خواص حسبنا الله ونعم الوكيل _ الشيخ القطب ابي الحسن علي الشاذلي

Bacaan Latinnya :

Hasbunallhu Wa Ni’mal Wakiil (450x)

Do’a 7x : ” Bismillahir Rohmaanir Rohiim, Allahumma ya kaafi ikfini nawaaibad dunya wamashoibad dahri wa dzullal faqri.
Allahumma ya ghoniyyu ,aghnini bighina_ika ‘amman siwaka wabijudika wabifadhlika ‘an kholqika, fainnaka qulta waqoulukal haqqul mubin UD”UNI ASTAJIB LAKUM ,Da’aunaaka kama amartana fastajib minnaa kamaa wa’adtanaa.
Allahumma ya mughniyyu asaluka ghinaakad dahro ilal abadi. Allahumma ya fattahu iftahli baaba rohmatika washbi 'alayya sitro 'inaayatika ,wasakhkhirli khudaama hadzihil asmaa_i Bisyai_in asta;inu bihi 'ala ma'ayisyi wa amri diini wadunyaya wakhiroti wa'aqibati amri, Wasakhkhirhu li kama sakhortar riiha wal_insa waljinna walwuhusya waththoiro linabiyyika Sulaimana ibni Dawuda 'alaihimas salam, wa_bi_ "Ahyan Syarohiyan Adwanaya Ashbaut Al Syadaya". Ya Man Amruhu ainal kaafi wannun, innamaa amruhuidza aroda syaian an yaqula lahu Kun Fayakun. Fasubhaanal ladzi biyadihi malakutu kulli syai`in ,Wailaihi turja’un “

Terjemah do’a :
Ya Allah, Tuhan Yang Maha mencukupi, sudahilah ( Cukupkan ) kecelakaan dunia dan musibah sepanjang masa dan hinanya kefaqiran yang menimpaku. Wahai Tuhanku Yang Maha kaya, anugerahilah aku dengan kekayaan-MU, kedermawanan-MU dan kelebihan-MU. Sehingga aku tidak butuh bantuan dari selain-MU yang menjadi ciptaan-MU. Engkau telah berfirman dan firman-MU benar dan nyata ” Berdoalah kepada-KU niscaya aku kabulkan ( pinta )mu ” Kami pun memanjatkan doa kepada-MU sebagaimana yang telah Engkau perintahkan kepada kami, maka kabulkanlah doa kami sebagaimana janji-MU untuk mengabulkan kami.
Wahai Tuhan Yang Memberi Kekayaan, berilah aku kekayaan sepanjang masa dan selama lamanya.
Wahai Tuhan Dzat Yang Maha Pembuka, bukakanlah pintu rahmat-MU untukku dan hilangkanlah semua yang menutup pertolongan-MU serta tundukkanlah kepadaku Khadam ( penjaga ) doa ini dengan membawa sesuatu yang dapat menolongku atas masalah penghidupanku, agamaku, dunia dan akhiratku serta akibat semua permasalahanku. Tundukkanlah kepadaku sebagaimana Engkau tundukkan angin, manusia, jin, Binatang liar dan burung-burung tunduk kepada Nabi-MU Sulaiman putra Daud AS. Dan dengan wasilah / perantara penjaga doa ini yang bernama Ahiyan, Syarohiyan, Adunayan dan Asbawut Ali Sadaya.
Wahai Dzat yang perintahnya diantara huruf KAF dan NUN ” Sesungguhnya perintah-NYA hanyalah berkata ‘ JADILAH ‘ maka ‘ TERJADILAH ‘. Maka Maha Suci Allah yang di tangan-NYA Kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-NYA lah kamu dikembalikan.

*** Semoa melalui doa-do’a yang terpanjat dan usaha serta ikhtiyar yang dijalankan, Allah beri kemudahan kepada para pembaca dan muslimin muslimat , aamiin ya sami’ad du’a

ISTRI SHOLIHAH DALAM KACAMATA RUMUS MATEMATIKA


Al Khawarizimi, siapa yang tidak kenal beliau.
Ilmuwan muslim penemu angka NOL, nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Musa Al Khawarizmi. Ia lahir di Khawārizm (Khiva, Uzbekistan) sekitar tahun 780, selain ahli matematika, Al Khawarizmi juga ahli astronomi dan astrologi.

Suatu hari, Al Khawarizmi ditanya tentang calon istri terbaik. Penemu bilangan nol ini kemudian menjawab dengan menggunakan rumusnya.

“Agama itu nilainya 1, sedangkan hal lain nilainya 0.
Jika wanita itu shalihah dan baik agamanya, maka nilainya 1
Jika dia cantik, tambahkan 0 di belakangnya. Jadi nilainya 10
Jika dia kaya, tambahkan 0 lagi dibelakangnya. Jadi nilainya 100
Jika dia keturunan orang baik-baik dan terhormat, tambahkan 0 lagi. Jadi nilainya 1000
Sebaliknya jika dia cantik, kaya dan nasabnya baik tetapi tidak punya agama, nilainya hanya 0.
Berapapun 0 dihimpun, ia tetap 0”

Demikianlah jawaban hebat dengan matematika. Al Khawarizmi mengajarkan kepada kita, mencari istri hendaklah menjadikan agama sebagai pertimbangan utama. Jika agamanya baik, maka kelebihan-kelebihan yang lain akan menjadi kebaikan yang berlipat ganda. Namun jika agamanya tidak ada, tidak berguna segala kelebihan wanita.

Yang dimaksud dengan agama bukanlah sekedar pengetahuan. Bukan pula latar belakang pendidikan jurusan agama. Tetapi pemahaman dan pengamalannya. Agamanya baik, artinya ia memahami agama dan mengamalkannya. Agamanya baik, artinya akhlaknya baik. Agamanya baik, artinya karakternya baik.

Wanita cantik dan agamanya baik, ia akan menggunakan kecantikannya untuk melayani suami. Persis seperti gambaran istri membahagiakan dalam hadits Nabi; jika dipandang ia menyenangkan. Maka ketenangan dan kebahagiaan pun memenuhi kehidupan pernikahan.

Wanita kaya dan agamanya baik, ia akan menggunakan kekayaannya di jalan kebaikan. Seperti bunda Khadijah, ia membantu suami berdakwah, ia menggunakan hartanya untuk perjuangan Rasulullah.

Wanita dari nasab terhormat dan agamanya baik, ia menjadi kehormatan tersendiri bagi suami. Dan juga menjadi saham yang baik bagi anak-anaknya nanti.

Maka jika engkau bertanya wanita manakah yang terbaik untuk menjadi istri, sesuai rumus Al Khawarizmi, jawabannya adalah pertama-tama carilah wanita shalihah barulah engkau perhitungkan kelebihan-kelebihan lainnya.

Dawuh Kanjeng Nabi Muhammad SAW;

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعِ خِصَالٍ : لِمَالِهَا وَجَمَالِهَا وَحَسَبِهَا وَدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ }

Rasulullah menjelaskan bahwasanya “wanita itu dinikahi atas empat perkara: adakalanya karena hartanya, karena kecantikannya, ada juga karena nasabnya, dan karena agamanya.”

Namun dalam hadits lanjutannya beliau berkata:

فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Maka nikahilah wanita karena agamanya, maka tanganmu akan dipenuhi dengan debu.
Wallahu a’lam.

ANTISIPASI KETIKA KESURUPAN JIN DAN SYAITAN

Semoga ini bisa membantu mengatasi fenomena kesurupan yang sering terjadi di sekitar kita

( فائدة ) من الشنواني ومما جرب لحرق الجن أن يؤذن في أذن المصروع سبعا ويقرأ الفاتحة سبعا والمعوذتين وآية الكرسي والسماء والطارق وآخر سورة الحشر من { لو أنزلنا هذا القرآن } إلى آخرها وآخر سورة الصافات من قوله { فإذا نزل بساحتهم } إلى آخرها وإذا قرئت آية الكرسي سبعا على ماء ورش به وجه المصروع فإنه يفيق اه

FAEDAH: Sebagian amalan yang dapat di coba di lakukan untuk membakar JIN (yang mengganggu manusia adalah : 1. Adzan di telinga penderita 2. Surat al-Faatihah 7X 3. Surat al-Mu’awwidzatain (alfalaq-annaas) 4. Ayat Kursi 5. Surat at-Thooriq (ayat 1-17) 6. 4 ayat terakhir dari Surat al-Hasyri (ayat 21-24) 7. 6 ayat terakhir dari Surat as-Shooffaat (ayat 177-182) Apabila ayat kursi di bacakan pada air kemudian di percikkan pada muka si penderita Insya Allah segera di beri kesadaran (Kitab I’aanah at-Thoolibiin I/230)

Anjuran mengumandangkan adzan untuk mengusir JIN berdasarkan hadits Nabi SAW.

وَإِذَا تَغَوَّلَتْ لَكُمْ الْغِيلَانُ فَنَادُوا بِالْأَذَانِ

Apabila hantu beraksi manakut-nakuti kamu, maka serukanlah adzan [HR Ahmad]

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ الْأَنْصَارِيِّ ثُمَّ الْمَازِنِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ قَالَ لَهُ إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ أَوْ بَادِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ بِالصَّلَاةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ فَإِنَّهُ لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلَا إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abdurrahman bin Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Abu Sha’sha’ah Al Anshari Al Mazini dari Bapaknya bahwa ia mengabarkan kepadanya, bahwa Abu Sa’id Al Khudri berkata kepadanya, “Aku lihat kamu suka kambing dan lembah (pengembalaan). Jika kamu sedang mengembala kambingmu atau berada di lembah, lalu kamu mengumandangkan adzan shalat, maka keraskanlah suaramu. Karena tidak ada yang mendengar suara mu’adzin, baik manusia, jin atau apapun dia, kecuali akan menjadi saksi pada hari kiamat.” Abu Sa’id berkata, “Aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” [HR Bukhori]

Anjuran mengumandangkan adzan untuk mengusir JIN berdasarkan hadits Nabi SAW.

وَإِذَا تَغَوَّلَتْ لَكُمْ الْغِيلَانُ فَنَادُوا بِالْأَذَانِ

Apabila hantu beraksi manakut-nakuti kamu, maka serukanlah adzan [HR Ahmad]

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ الْأَنْصَارِيِّ ثُمَّ الْمَازِنِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ قَالَ لَهُ إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ أَوْ بَادِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ بِالصَّلَاةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ فَإِنَّهُ لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلَا إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abdurrahman bin Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Abu Sha’sha’ah Al Anshari Al Mazini dari Bapaknya bahwa ia mengabarkan kepadanya, bahwa Abu Sa’id Al Khudri berkata kepadanya, “Aku lihat kamu suka kambing dan lembah (pengenmbalaan). Jika kamu sedang mengembala kambingmu atau berada di lembah, lalu kamu mengumandangkan adzan shalat, maka keraskanlah suaramu. Karena tidak ada yang mendengar suara mu’adzin, baik manusia, jin atau apapun dia, kecuali akan menjadi saksi pada hari kiamat.” Abu Sa’id berkata, “Aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” [HR Bukhori]

3.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila panggilan adzan telah selesai maka setan akan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi, lalu menyelinap masuk kepada hati seseorang seraya berkata, ‘Ingatlah ini dan itu’. Dan terus saja dia melakukan godaan ini hingga seseorang tidak menyadari berapa rakaat yang sudah dia laksanakan dalam shalatnya.” [HR Bukhori Muslim]…

KIAT KETIKA MEMPUNYAI TETANGGA YANG TIDAK BAIK

4 Cara Menyadarkan Tetangga yang Jahat

Islam memerintahkan untuk berbuat baik kepada tetangga. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan memuliakan tetangga tanda baiknya iman. Karenanya, setiap mukmin wajib menjadi warga yang baik bagi tetangga-tetangganya. Kehadirannya membahagiakan. Kepergiannya membuat tetangga merasa kehilangan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (Muttafaq Alaih)

Berbuat baik kepada tetangga bisa dengan perkataan dan perbuatan. Bentuknya sangat beragam, seperti mengunjungi tetangga dan menanyakan kondisinya, ikut gembira dengan kebahagiaannya, ikut sedih dengan musibah yang menimpanya, membantunya saat kekurangan, menolongnya saat kesusahan, menjenguknya dikala sakit, menguruskan jenazahnya, memenuhi undangannya, berbagi makanan, memberikan hadiah, dan sebagainya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

لا يَشْبَعُ الْمُؤْمِنُ دُونَ جَارِهِ

“Seorang mukmin tidak boleh kenyang (sendiri) sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Ahmad)

Dalam Shahih Muslim, dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu, berkata: Kekasihku mewasiatkan kepadaku,

إِذَا طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيرَانِكَ فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوفٍ

“Jika engkau memasak makanan berkuah, perbanyaklah kuahnya, kemudian lihatlah anggota keluarga dari tetanggamu, lalu bagikan kepada mereka dengan baik.”

Jangan Sakiti Tetangga!

Bentuk lain dari berbuat baik kepada tetangga adalah dengan menghindarkan diri dari menyakiti tetangga dan menimpakan keburukan kepada mereka. Setiap perkataan atau perbuatan yang bisa –atau biasanya- menyakiti tetangga wajib ditinggalkan seorang muslim.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda, “demi Allah, tidaklah beriman” beliau ulang sampai tiga kali. Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,

اَلَّذِيْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Orang yang tetangganya tidak aman dari keburukan-keburukannya.” (Muttafaq ‘Alaih) dalam riwayat muslim disebutkan,

لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Tidaklah masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari keburukan-keburukannya.”

Menyakiti saudara seiman dilarang dan berdosa. Namun larangan itu semakin kuat dan dosanya semakin besar jika ia berstatus sebagai tetangga. Tidak lain karena hak tetangga ini sangat besar dalam Islam.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah ditanya tentang dosa terbesar. Beliau menjawab, “Engkau membuat tandingan bagi Allah padahal Dia-lah yang telah menciptakanmu, kamu membunuh anakmu karena takut ikut makan bersamamu, dan engkau berzina dengan istri tetanggamua.” (Muttafaq ‘Alaih)

Sabar Hadapi Keburukan Tetangga

Bentuk lain berbuat baik kepada tetangga adalah dengan bersabar menghadapi keburukan tetangga kepada kita dan minimnya kebaikan dia kepada kita. Seorang mukmin haruslah menjadi ahli ihsan dan senantiasa memperlakukan tetangganya dengan baik. Tidak layak muslim menjadi orang bakhil dan pelit berbagi harta, wakti, perlakuan baik kepada tetangga.

. . . Seorang mukmin haruslah menjadi ahli ihsan dan senantiasa memperlakukan tetangganya dengan baik. . .

4 Cara Menyadarkan Tetangga yang Jahat

Kebahagiaan keluarga muslim akan terganggu dengan hadirnya tetangga yang jahat di sekitar tempat tinggalnya. Dirinya harus mencari solusi merubah kejahatan tetangganya tersebut.

Menyadarkan tetangga yang jahat. Ringkasnya, ada 4:

Pertama, jangan menjadi bagian dari kejahatan. Orang yang terjebak pada masalah tak akan bisa menyelesaikan masalah.

Kedua, balas kejahatannya dengan kebaikan. Karena kejahatan tidak akan berubah dengan kejahatan kita. Tapi kejahatan akan berubah dengan kebaikan.

Ketiga, Beri hadiah untuknya. Karena memberi hadiah bisa melembutkan jiwa. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga pernah bersabda bahwa memberi hadiah bisa menumbuhkan kecintaan.

Keempat, doakan kebaikan untuk tetangga kita, karena baiknya buruknya tetangga mengganggu kenyamanan keluarga kita. Wallahu A’lam.

PERBUATAN YANG MENUNJUKAN SIKAP BERBAKTI KEPADA DUA ORANG TUA SERTA CINTA ILMU

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Dari Abdullah bin Amr, dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ridha Allah tergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” (H.R. Bukhari).

– Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu dia berkata, Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sambil berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” Beliau menjawab, “Ibumu”, Dia bertanya lagi , “Kemudian siapa?”, Beliau menjawab, “Ibumu.”, Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?.” Beliau menjawab, “Ibumu.”, DIa bertanya lagi, “Kemudian siapa?.”, beliau menjawab, “Kemudian ayahmu.” (H.R. Bukhari)

Sikap dan perilaku yang menunjukkan birrul walidain

– Mengikuti segala nasihat yang baik dan berusaha menyenangkan hatinya.

– Selalu memohonkan ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

– Bergaul dengan kedua orang tua dengan cara yang baik.

– Merendahkan diri dan tidak bersikap sombong kepada keduanya.

– Apabila orang tua sudah meninggal, maka seorang anak harus memohonkan ampun kepada Allah, membayar hutang, melaksanakan wasiat dan menyambung silaturrahim kepada teman dan kerabat kedua orang tuanya.

– Membantu orang tua dalam segala hal, baik akal fikiran, tenaga maupun financial.

Menghormati guru

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Muliakanlah orang-orang yang telah memberikan pelajaran kepadamu.”

(H.R. Abu Hasan Mawardi).

Imam Al-Ghazali berkata,

“Seorang murid hendaklah memberikan sepenuh perhatian kepada gurunya, mendiamkan diri sewaktu guru sedang menyampaikan pelajaran dan menunjukkan minat terhadap apa yang disampaikan guru.”

Sikap dan perilaku yang menunjukkan hormat dan patuh/santun pada guru

– Memuliakan, tidak menghina atau mencaci guru.

– Mendatangi tempat belajar dengan ikhlas dan penuh semangat.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (H.R. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

– Ketika belajar hendaknya berpakaian rapi dan sopan

– Tidak mengobrol atau sibuk sendiri saat guru sedang menjelaskan pelajaran.

– Beranya kepada guru apabila ada sesuatu yang tidak dimengerti dengan cara yang baik.

– Saat bertanya menggunakan cara dan bahasa yang baik.

– Tidak menyeletuk atau bertanya yang tidak ada faedahnya yang sekedar mengolok-olok.

Pentingnya menuntut ilmu

– Wahyu pertama yang diterima Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah perintah menuntut ilmu. Qs. Al-Alaq/96:1-5.

– Allah mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.Qs. Al-Mujadilah/58:11.

Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menuntut ilmu.

– Qs. At-Taubah/9:122Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.

– Dari Anas radiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Menuntut ilmu adalah kewajiban atas semua orang Muslim.” (HR. Baihaqi).

– “Tuntutlah ilmu dari masa buaian sampai menjelang masuk liang kubur.” (HR. Bukhari).

Sikap orang yang bersemangat menuntut ilmu

– Ikhlas.

– Memiliki banyak teman yang memberinya motivasi untuk menuntut ilmu

– Hadir disekolah tepat waktu, mematuhi tata tertib sekolah, dan berdoa sebelum/sesudah belajar agar ilmu menjadi berkah.

– Sabar dalam menuntut ilmu

– Gemar membaca dan mencari ilmu.

NASEHAT IMAM SYAFI’I DALAM MENUNTUT ILMU

Dalam menuntut ilmu harus memenuhi 6 perkara,

PERTAMA Cerdas, artinya kemampuan untuk menangkap ilmu, bukan berarti IQ harus tinggi,walaupun dalam mencari ilmu IQ yang tinggi sangat menentukan sekali, asal akalnya mampu menangkap ilmu maka berarti sudah memenuhi syarat pertama ini, berbeda dengan orang gila atau orang yang idiot yang memang akalnya sudah tidak bisa menerima ilmu maka sulitlah mereka mendapatkan ilmu manfaat, namun perlu di ingat bahwa kecerdasan adalah bukan sesuatu yang tidak bisa meningkat,kalau menurut orang-orang tua, akal kita adalah laksana pedang,semakin sering di asah dan di pergunakan maka pedang akan semakin mengkilat dan tajam,adapun bila di diamkan maka akan karatan dan tumpul,begitupula akal kita semakin sering dibuat untuk berfikir dan mengaji maka akal kita akan semakin tajam daya tangkapnya dan bila di biarkan maka tumpul tidak akan mampu menerima ilmu apapun juga.

2. Semangat, artinya sungguh-sungguh dengan bukti ketekunan, mencari ilmu tanpa kesemangatan dan ketekunan tidak akan menghasilkan apa-apa,ilmu apalagi ilmu agama adalah sesuatu yang mulia yang tidak akan dengan mudah bisa di dapatkan,oleh karenanya banyak orang mencari ilmu tapi yang berhasil sangat sedikit di banding yang tidak berhasil,kenapa?..karena mencari ilmu itu sulit, apa yang kemarin di hafalkan belum tentu sekarang masih bisa hafal,padahal apa yang di hafal kemarin masih berhubungan dengan pelajaran hari ini, ahirnya pelajaran hari inipun berantakan karena hilangnya pelajaran kemarin,maka tanpa kesemangatan dan ketekunan sangat sulit kita mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan dalam tolabulilmi.

3. Sabar, artinya tabah menghadapi cobaan dan ujian dalam mencari ilmu, orang yang mencari ilmu adalah orang yang mencari jalan lurus menuju penciptanya, oleh karena itu syetan sangat membenci pada mereka,apa yang di kehendaki syetan adalah agar tidak ada orang yang mencari ilmu,tidak ada orang yang akan mengajarkan pada umat bagaimana cara beribadah dan orang yang akan menasehti umat agar tidak tergelincir kemaksiatan,maka syetan sangat bernafsu sekali menggoda pelajar agar gagal dalam pelajarannya,digodanya mereka dengan suka pada lawan jenis,dengan kemelaratan,dan lain-lain .

4. Biaya, artinya orang mengaji perlu biaya seperti juga setiap manusia hidup yang memerlukannya, tapi jangan di faham harus punya uang apalagi uang yang banyak,biaya disini hanya kebutuhan kita makan minum sandang dan papan secukupnya,pun tidak harus merupakan bekal materi, dalam sejarah kepesantrenan dari zaman sahabat nabi sampai zaman ulama terkemuka kebanyakan para santrinya adalah orang-orang yang tidak mampu,seperti Abu hurairoh sahabat Nabi seorang perawi hadist terbanyak adalah orang yang sangfat fakir,imam syafi’i adalah seorang yatim yang papa, dan banyak lagi kasus contohnya,biaya disini bisa dengan mencari sambil khidmah atau bekerja yang tidak mengganggu belajar,

5. Petunjuk ustadz, artinya orang mengaji harus digurukan tidak boleh dengan belajar sendiri,ilmu agama adalah warisan para nabi bukan barang hilang yang bisa di cari di kitab-kitab, dalam sebuah makalah [ saya tidak tahu apakah ini hadis atau sekedar kata-kata ulama] barang siapa belajar tanpa guru maka gurunya adalah syetan, dan ada pula makalah andai tidak ada sanad [pertalian murid dan guru] maka akan berkata orang yang berkata[tentang agama] sekehendak hatinya. Kita bisa melihat sejarah penurunan wahyu dan penyampaiannya kepada para sahabat,betapa Nabi setiap bulan puasa menyimakkan Al-Qur’an kepada jibril dan sebaliknya, kemudian Nabi menyampaikan kepada para sahabat,sahabat menyampaikan kepada para tabi’in, lalu para tabi’in menyampaikan pada tabi’i at-tabi’in dan seterusnya kepada ulama salaf,lalu ulama kholaf, lalu ulama mutaqoddimin lalu ulama muta’akhirin dan seterusnya sampai pada umat sekarang ini, jadi ilmu yang kita terima sekarang ini adalah ilmu yang bersambung sampai Nabi dan sampai kepada Allah subhanahu wa ta’ala, jadi sangat jelas sekali bahwa orang yang belajar harus lewat bimbingan seorang guru,guru yang bisa menunjukkan apa yang dikehendaki oleh sebuah pernyataan dalam sebuah ayat atau hadis atau ibarat kitab salaf, karena tidak semua yang tersurat mencerminkan apa yang tersirat dalam pernyatan,

6. Waktu yang Lama, artinya orang belajar perlu waktu yang lama,lama disini bukan berarti tanpa target,sebab orang belajar harus punya target,tanpa target akan hampa dan malaslah kita belajar.

BOLEH DAN TIDAKNYA HAJATAN 2 KALI DALAM SETAHUN

Bahwa menikah itu diwajibkan bagi orang yang memang sudah mampu, baik lahir maupun batin. Mengenai hukum menikahkan dua orang anak perempuan dalam tahun yang sama tak ditemukan dalil yang melarangnya. Penjelasan yang tersedia adalah mengenai soal waktu pelaksanaan akad nikah, yaitu sebaiknya dilakukan pada hari Jumat. Alasan yang bisa dikemukakan di sini adalah bahwa hari Jumat adalah hari yang paling mulia dan merupakan sayyid al-ayyam (penghulu hari). Di samping itu pelakasanaan akad nikah tersebut sebaiknya dilakukan pada pagi hari, karena terdapat hadits yang menceritakan tentang do’a Rasulullah saw yang meminta kepada Allah swt agar memberikan berkah kepada umatnya pada pagi hari.

قَوْلُهُ: وَيَوْمَ الْجُمُعَةِ- أَيْ وَأَنْ يَكُونَ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ لِاَنَّهُ أَشْرَفُ الْاَيَّامِ وَسَيِّدُهَا.وَقَوْلُهُ أَوَّلَ النَّهَارِ: أَيْ وَأَنْ يَكُونَ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ: لِخَبَرِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لِاُمَّتِي فِي بُكُورِهَا حَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ

“(Perkataan penulis: dan pada hari Jumat) maksudnya adalah adanya akad sebaiknya dilakukan pada hari Jumat karena merupakan hari yang paling mulia dan penghulu hari. Dan perkataan penulis pada awal siang (pagi hari, pent) maksudnya adalah sebaiknya akad nikah dilakukan pada awal siang karena ada hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah saw berdo’a, ‘Ya Allah berkati umatku pada pagi hari’. Hadits ini dianggap sebagai hadits hasan oleh at-Tirmidzi” (Al-Bakri Muhammad Syatha, I’anah ath-Thalibin, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, 3, h. 273)

Sedang mengenai bulannya disunnahkan pada bulan Syawal dan Shafar karena Rasulullah saw menikah dengan sayyidah Aisyah ra pada bulan Syawal, dan menikahkan putrinya yaitu sayyidah Fathimah dengan Ali bin Abu Thalib kw pada bulan Shafar. Hal ini sebagaima keterangan yang terdapat dalam kitab Nihayah az-Zain karya syaikh Nawawi al-Bantani.

وَيُسَنُّ أَنْ يَتَزَوَّجَ فِي شَوَّالٍ وَفِي صَفَرٍ لِأَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا فِي شَوَّالٍ وَزَوَّجَ ابنَتَهُ فَاطِمَةَ عَلِيًّا فِي شَهْرِ صَفَرٍ

“Dan sunnah pelaksanaan pernikahan pada bulan Syawal dan Shafar karena Rasulullah saw menikah dengan sayyidah Aisyah ra pada bulan Syawal, dan menikahkan putrinya sayyidah Fathimah ra pada bulan Shafar”. (Nawawi al-Bantani, Nihayah az-Zain, Bairut-Dar al-Fikr, tt, h. 200)

Dalam pandangan kami soal menikahkan dua orang anak perempuan dalam tahun yang sama kalau secara hukum itu sah saja dan malah lebih baik, hal itulebih merupakan sesuatu yang terkait dengan adat-istiadat, dan umumnya berlaku di dalam tradisi masyarakat Jawa. Di kampung kami juga para orang tua sering mewanti-wanti sebaiknya jangan menikahkan dua anak perempuan dalam tahun yang sama. Sedang pendekatan yang paling mudah untuk memahami larangan tersebut adalah dengan menggunakan pendekatan ekonomi. Pada umumnya kalau orang tua menikahkan anak perempuannya, mereka akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk hajatan pernikahan tersebut. Bahkan acapkali untuk keperluan hajatan mereka rela menghutang kesana-kemari. Dan setelah hajatan baru dibayar hutang-hutang tersebut. Jika kemudian di tahun yang sama menikahkan puterinya yang kedua tentunya ini akan membebani mereka. Beban menikahkan putri yang pertama belum selesai, tiba-tiba muncul beban baru. Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Dan sebaiknya dalam soal ini dibicarakan baik-baik dengan pihak keluarga, agar dikemudian hari tidak timbul masalah.

PENDIDIKAN SEKS BAGI ANAK-ANAK (SEX EDUCATION) MENURUT AGAMA ISLAM

Di tv ada berita seks edukasi, bagamana sebenarnya seks edukasi yang sesuai dengan islam ?
JAWABAN :
Bila dapat menimbulkan madhorot pada kejiwaan anak, seperti dikhawatirkan menimbulkan fitnah padanya maka dilarang namun bila ada manfaatnya maka boleh.
قالَ العلماءُ: ذِكْرُ مُجَرَّدِ الجِماعِ يُكْرَهُ لغيرِ حَاجَةٍ، ويُباحُ للحاجَةِ كذِكْرِه إعراضَها عنه، أو هي تَدَّعِي عليه العَجْزَ عن الجِماعِ، ونحوِ ذلك.
Para Alim Ulama berkata “Semata-mata membicarakan seks makruh bila tanpa ada kepentingan, dan boleh bila ada kepentingan seperti memberi kiat-kiat bagi yang berpaling dari seks, atau memberi tips-tips bagi yang lemah melakukannya atau yang lain sebagainya”. [ Taudhih al-Ahkam Hal 441 ].
تنبيه يجب الكتم وقد يجب الاظهار ففيما لا يحتمله عقل الطالب ويخشي عليه منه فتنة يجب الكتم وفي غيره وهو فرض عين اوفي حكمه وجب الاظهار والا ندب ما لم يكن وسيلة لمحظور
[ PERINGATAN ] Wajib disembunyikan dan terkadang wajib dijelaskan, maka dalam bahasan yang tidak dapat dipikul oleh akal pelajar dan dikhawatirkan terjadi fitnah padanya wajib disembunyikan dan pada masalah lainnya yang merupakan bahasan fardhu ain atau yang menempati kedudukannya wajib dijelaskan, bila bukan masalah fardhu ain hanya sunah kecuali dijadikan perantara pada hal yang dilarang maka haram. [ Is’adur Rafiq hal 94-95 ].

Subul as-Salam III/340-341

وعن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إن شر الناس عند الله منزلة يوم القيامة الرجل يفضي إلى امرأته” من أفضى الرجل إلى المرأة جامعها أو خلا بها جامع أو لا كما في القاموس “وتفضي إليه ثم ينشر سرها” أي وتنشر سره أخرجه مسلم إلا أنه بلفظ “إن من أشر الناس” قال القاضي عياض: وأهل النحو يقولون لا يجوز أشر وأخير وإنما يقال هو خير منه وشر منه قال وقد جاءت الأحاديث الصحيحة باللغتين جميعا وهي حجة في جوازهما جميعا وأنهما لغتان والحديث دليل على تحريم إفشاء الرجل ما يقع بينه وبين امرأته من أمور الوقاع
ووصف تفاصيل ذلك وما يجري من المرأة فيه من قول أو فعل ونحوه وأما مجرد ذكر الوقاع فإذا لم يكن لحاجة فذكره مكروه لأنه خلاف المروءة وقد قال صلى الله عليه وسلم: “من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت” فإن دعت إليه حاجة أو ترتبت عليه
فائدة بأن كان ينكر إعراضه عنها أو تدعي عليه العجز عن الجماع أو نحو ذلك فلا كراهة في ذكره كما قال صلى الله عليه وسلم: “إني لأفعله أنا” وهذه وقال لأبي طلحة “أعرستم الليلة” وقال لجابر: “الكيس الكيس” كذلك المرأة لا يجوز لها إفشاء سره وقد ورد به النص أيضا

BEBERAPA NILAI KEBAIKAN DALAM HAK DAN KEWAJIBAN SESAMA MUSLIM

‎7 nilai kebaikan yang menjadi hak dan kewajiban antar sesama mukmin, apa saja ?

  1. Menghormati dan Mengagungkan, Saat Memandang Mukmin Lainnya…

Sebab dalam Islam sangat mengajarkan membangun hubungan yang harmonis dalam interaksi sosial.

2. Mencintai Mukmin, dan Kecintaannya Lahir dari Hati yang Dalam.

Sebab dalam Setiap mukmin hendaknya memberikan rasa saling mencintai dengan rasa tulus dan ikhlas karena Alloh, bukan hiasan belaka.

3. Menolong Mukmin dengan Harta.

Yaitu Di dalam harta orang kaya terdapat hak orang miskin. Alloh SWT sangat mencela seseorang yang memiliki sifat bakhil (pelit). Untuk itu dianjurkan seorang mukmin menolong mukmin lainnya dengan hartanya.

4, . Dilarang Berbuat Ghibah Terhadap Sesama.

Islam sangat melarang berbuat ghibah atau menceritakan kejelakan dan keaiban orang lain. Nabi mengumpamakan bahwa menceritakan kejelekan / ke aiban orang lain, sama halnya dengan memakan bangkai saudaranya sendiri.

5. Saat Saudara Sakit, Menjenguklah .

Malaikat berkata kepada yang menjenguk orang sakit, “Engkau telah berbuat baik, jalan yang engkau tempuh adalah kebaikan dan engkau akan dibangunkan rumah di surga”.


‎6. Mengunjungi Keluarga yang Meninggal.

Saat ada temen, saudara atau orang yang kita kenal meninggal, kita dianjurkan untuk mengunjungi, mensholatkan dan mengantarkannya ke kuburan. Balasan bagi mereka yang melakukannya, Alloh akan memberikan pahala sama dengan satu qirat (setengah gunung uhud).

‎7. Dilarang Menceritakan Orang yang Meninggal, Kecuali Kebaikannya Saja.

Islam mengajurkan untuk menyebut kebaikan-kebaikan orang yang telah meninggal dunia agar tercipta kehidupan yang indah dan harmonis.

KEUTAMAAN HADITS : KEUTAMAAN ISTERI YANG BERBAKTI KEPADA SUAMINYA

(قَالَتْ) أم المؤمنين (عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ لَوْ تَعْلَمنَّ بِحَقِّ أَزْوَاجِكُنَّ لَجُعِلَتْ الْمَرْأَةُ مِنْكُنَّ تَمْسَحُ الْغُبَارَ عَنْ قَدَمَي زَوْجِهَا بِحُرِّ وَجْهِهَا} أي بعض وجهها. وفي الصحاح: وحر الوجه بضم الحاء: ما بدا من الوجنة. وروى البزار عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت: {سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النَّاسِ أَعْظَمُ حَقًّا عَلَى الْمَرْأَةِ ؟، قَالَ: زَوْجُهَا. قُلْتُ: فَأَيُّ النَّاسِ أَعْظَمُ حَقًّا عَلىَ الرَّجُلِ ؟، قَالَ: أُمُّهُ}.r

Berkata sayyidatuna ‘Aisyah Ummul mu’minin : Wahai para isteri,jika kalian mengetahui benar hak suami kalian,maka kalian akan ridho mengusap debu yang menempel pada kedua telapak kaki suami kalian dengan pipi? tulang pipi kalian. Dan diriwayatkan dari Al-Bazzari dari ‘Aisyah r.a beliau berkata : Aku bertanya kepada Rosulillah SAW : Siapakah manusia yang paling besar haq nya bagi seorang isteri ? Rosul menjawab :”Suaminya”, Aku bertanya lagi : Siapakah manusia yang paling besar haq nya bagi seorang laki-laki ? Rosul menjawab : “Ibunya”.

  (وَقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ثَلاَثَةٌ لاَ يَقْبَلُ  اللهُ لَهُمْ صَلاَةً) أي لا يثيبهم عليها (وَلاَ تُرْفَعُ لَهُمْ إِلَى  السَّمَاءِ حَسَنَةٌ: الْعَبْدُ) وكذا الأمة (الآبِقُ) أي الهارب بلا عذر  (مِنْ سَيِّدِهِ حَتَّى يَرْجِعَ) وفي رواية: {حَتَّىْ يَرْجِعَ إِلَى  مَوَالِيْهِ} (وَالْمَرْأَةُ السَّاخِطُ عَلَيْهَا زَوْجُهَا) لنحو نشوز  (حَتَّى يَرْضَىْ) عنها زوجها (وَالسَكْرَانُ) أي المتعدى بسكره (حَتَّى  يَصْحُوَ) من سكره رواه ابن ماجه وابن حبان والبيهقي عن جابر.

Rosulullah SAW bersabda : Ada tiga golongan yang Allah tidak menerima sholat mereka dan tidak terangkat kebaikannya ke langit. Pertama, seorang hamba sahaya (aabid/amat) yang kabur dari sayidnya tanpa ada udzur sehingga ia kembali pada sayidnya. Kedua, seorang isteri yang marah kepadanya suaminya,sehingga suaminya ridho. Ketiga, pemabuk sehingga ia tersadar dari mabuknya/terbebas dari pengaruh mabuknya. (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hiban dan Baihaqi dari Jabir).

 (وَقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا قَالَتْ المَرْأَةُ  لِزَوْجِهَا: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ، فَقَدْ حُبِطَ عَمَلُهَا)  أي إذا أنكرت ما تقدم لهمن الإحسان، فتجازى بإبطال عملها أي بحرمانها  الثواب، إلا أن تعود وتعترف بإحسانه. نعم إن كانت على حقيقتها فلا لوم  عليها. ومثل المرأة الأمة القائلة لسيدها ذلك. كذا قاله العزيزي. رواه ابن  عدي وابن عساكر عن عائشة.  وقال طلحة بن عبيد الله رضي الله عنهما، سمعتُ  رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: {أَيُّمَا امْرَأَةٍ قَالَتْ  لِزَوْجِهَا: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ، إِلاَّ آيَسَهَا اللهُ  تَعَالى مِنْ رَحْمَتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ}.

Rosulullah bersabda : “Jika seorang isteri berkata kepada suaminya “Aku tidak melihat kebaikan padamu sama sekali”,Maka terhapuslah amal isteri tersebut (tidak mengakui kebaikan yang diberikan suaminya) sehingga ia kembali dan mengakui kebaikan suaminya. (jika memang keadaannya benar seperti yang diucapkan isteri,maka tidak ada keburukan padanya. Berkata Tholhah bin Ubaidillah r.a : Aku mendengar rosulallah bersabda : Siapa saja isteri yang mengatakan pada suaminya “Aku tidak melihat kebaikan padamu sama sekali”,Maka Allah memutuskan rahmat-Nya pada hari qiamat.

(وَقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلَاقَ مِنْ غَيْرِ مَا بَأْسٍ) بزيادة ما للتأكيد أي من غبر شدة حاجة إلى ذلك. وقال ابن رسلان: بأن تخاف أن لا تقيم حدود الله فيما يجب عليها من حسن الصحبة، وجميل العِشْرَةِ، لكراهتها له، بأن يضارها (فَحَرَامٌ) أي ممنوع (عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ) رواه الإمام أحمد وأبو داود والترمذي وابن ماجه وابن حبان والحاكم عن ثوبان، عتيق رسول الله صلى الله عليه وسلم. قال أبو بكر الصديق رضي الله عنه، سمعتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يقول: {إِذَا قَالَتْ الْمَرْأَةُ لِزَوْجِهَا طَلِّقْنِيْ جَاءَتْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَوَجْهُهَا لاَ لَحْمَ فِيْهِ وَلِسَانُهَا خَارِجٌ مِنْ قَفَاهَا وَتُهْوَى إِلَى قَعْرِ جَهَنَّمَ وَ إِنْ كَانَتْ تَصُوْمُ النَّهَارَ وَتَقُوْمُ اللَّيْلَ دَائِمًا}.

Rosulullah SAW bersabda : Siapa saja isteri yang memohon Tholaq pada suaminya tanpa ada kemadhoratan,Maka di haramkan atasnya mencium harumnya syurga. [ HR Imam Ahmad,Abu Dawud, Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Hiban, Hakim dari Tsauban (abid yang dimerdekakan oleh Rosulillah) ].
Ibnu Ruslan berkata : Isteri merasa sangat takut/khawatir tidak bisa melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang isteri dengan baik karena isteri sangat membenci / tidak suka pada suaminya. Berkata Abu Bakr Ash-Shiddiq r.a : Aku mendengar Rosulillah bersabda : “Jika seorang isteri berkata pada suaminya ” Tholaq lah aku “, Maka ia akan datang pada hari qiamat dengan wajah tanpa daging dan lidahnya terjulurdan dilemparkan ke neraka jahanam, walaupun ketika didunia isteri tersebut melakukan puasa pada siang harinya dan melaksanakan tahajud di malam harinya.

(وَقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ زَوْجَهَا}. وقال صلى الله عليه وسلم: {لاَ يَنْظُرُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ زَوْجَهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِيْ عَنْهُ}. و قال أبو هريرة رضي الله عنه: سمعتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يقول:{لَوْ أَنَّ لِلْمَرْأَةِ مِنَ الْمَالِ مِثْلَ مُلْكِ سُلَيْمَانَ بْنِ دَاوُدَ عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ، وَأَكَلَهُ زَوْجُهَا، ثُمَّ قَالَتْ: لَهُ أَيْنَ مَالِيْ ؟ إِلاَّ أَحْبَطَ اللهُ عَمَلَهَا أَرْبَعِيْنَ سَنَةً}. وقال عثمان ابن عفان رضي الله عنه: سمعتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يقول: {لَوْ أَنَّ الْمَرْأَةَ مَلَكَتْ الدُنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا، وَأَنْفَقَتْ الْجَمِيْعَ عَلَىْ زَوْجِهَا، ثُمَّ مَنَّتْ عَلَيْهِ بَعْدَ حِيْنٍ إِلاَّ أَحْبَطَ اللهُ عَمَلَهَا وَحَشَرَهَا مَعَ قَارُوْنَ}.

Rosulullah bersabda : Sesungguhnya Allah tidak melihat dengan pandangan rohmat kepada seorang isteri yang tidak bersyukur kepada suaminya. Abu Hurairoh r.a berkata, Aku mendengar Rosulallah bersabda : Jika ada seorang isteri yang memiliki harta seperti hartanya nabi Sulaiman Bin Dawus A.S, Namun ia mengatakan kepada suaminya ” Mana hartaku ? “, Maka Allah akan menghapus kebaikannya selama empat puluh tahun.
Berkata Utsman Bin Affan r.a : Aku mendengar Rosulallah bersabda : Jika sesungguhnya seorang isteri memiliki dunia dan pengisinya dan ia nafkahkan semuanya kepada suaminya, kemudian pada suatu saat ia mengungkit-ngungkit pemberianya, kecuali Allah akan menghapus amalnya dan mengumpulkannya bersama qorun. Na’udzu bilahi.

Wallahu A’lam.

MENGERIKAN!!! INILAH BEBERAPA MUSIBAH AGUNG DALAM SAKARATUL MAUT

Dalam Kitab
إحياءُ علومِ الدين ٤ ص ٤٤٨ مكتبة دار احياء
فإن دواهي الموت ثلاث. الأول شدة النزع كما ذكرناه

Makna; Bencana-bencana besar dalam mengalami kematian ada tiga : yang pertama adalah dasyatnya pencabutan ruh. Seperti apa yang telah kami sebutkan.

Dalam kitab ihya karya Imam Alghozali diterangkan, ada tiga bencana besar yang akan kita hadapi ketika ajal menjemput.

Yang pertama adalah dasyatnya pencabutan ruh. Bencana-bencana ini belum ditambah bencana yg dibikin sendiri oleh orang-orang seperti sakitnya berpisah dari istri yang masih cantik, harta yang melimpah dll.

Untuk itu inilah pembahasan bencana dasyat yang pertama

واعلم أن شدة الألم في سكرات الموت لا يعرفها بالحقيقة إلا من ذاقها ومن لم يذقها فإنما يعرفها إلا بالقياس إلى الآلام التي أدركها وإما الاستدلال بأحوال الناس في النزع على شدة ما هم فيه

Makna; Ketahuilah olehmu : Sungguh dasyatnya kesakitan dalam sakarotul maut itu orang tidak bisa mengetahuinya secara nyata kecuali orang yang merasakannya (mengalaminya). Dan orang yang tidak merasakannya, maka dia tidak bisa mengetahuinya kecuali dengan qiyas kepada kesakitan-kesakitan yang dia bisa menyaksikannya. Dan adakalanya mengetahui dengan mengambil petunjuk pada keadaan-keadaan manusia ketika dalam naza’ (pencabutan ruh oleh malaikat) atas dasyatnya apa yang mereka sedang alami.

فأما القياس الذي يشهد له فهو أن كل عضو لا روح فيه فلا يحس بالألم فإذا كان فيه الروح فالمدرك للألم هو الروح فمهما أصاب العضو جرح أو حريق سرى الأثر إلى الروح فيقدر ما يسري إلى الروح يتألم والمؤلم يتفرق على اللحم والدم وسائر الأجزاء فلا يصيب الروح إلا بعض الألم فإن كان في الآلام ما يباشر نفس الروح ولا يلاقي غيره فما أعظم ذلك الألم وما أشده

Makna; Maka adapun qiyas yang bisa disaksikan darinya adalah bahwa sungguh setiap anggota badan yang tidak ada ruh di dalamnya maka tidak akan merasa sakit, Maka ketika ada ruh didalamnya (maka baru bisa merasakan sakit), maka yang merasakan sakit dia adalah RUH. Maka kala anggota tubuh terkena luka ataupun terbakar, maka dampaknya (sakitnya) akan menjalar kepada ruh. Maka seukuran apa yang menjalar kepada ruh, maka ruh mengalami / merasa sakit. Dan yang merasakan sakit terpisah-pisah kepada daging, darah, dan seluruh bagian tubuh. Maka tidaklah mengenai ruh kecuali hanya sebagian kesakitan. Maka jika yang mengalami kesakitan-kesakitan ini adalah yang langsung bersentuhan dengan diri ruh itu sendiri dan tidak mengenai yang lain maka betapa besarnya rasa kesakitan itu, dan betapa dasyatnya.

والنزع عبارة عن مؤلم نزل بنفس الروح فاستغرق جميع أجزائه حتى لم يبق جزء من أجزاء الروح المنتشر في أعماق البدن إلا وقد حل به الألم فلو أصابته شوكة فالألم الذي يجده إنما يجري في جزء من الروح يلاقي ذلك الموضع الذي أصابته الشوكة وإنما يعظم أثر الاحتراق لأن أجزاء النار تغوص في سائر أجزاء البدن فلا يبقى جزء من العضو المحترق ظاهرا وباطنا إلا وتصيبه النار فتحسه الأجزاء الروحانية المنتشرة في سائر أجزاء اللحم

Makna; Naza’ (pencabutan ruh) adalah tetembungan dari sesuatu yang menyakitkan yang turun pada pribadi ruh kemudian menenggelamkan seluruh bagian ruh, sehingga tidak tersisa satu bagianpun dari bagian-bagian ruh yang menjalar menyebar jauh dalam badan kecuali sungguh benar-benar kesakitan menempatinya.

Andai sebuah duri mengenai badan maka kesakitan yang menemuinya sungguh hanya berjalan pada satu bagian ruh yang bagian ruh tersebut terhubung pada tempat yang terkena duri.

Dan sungguh dampak terbakar (jika tubuh terbakar) menjadi besar karena sungguh bagian-bagian api menyelam masuk ke dalam semua bagian-bagian tubuh maka tidak tersisa satu bagianpun dari anggota badan -yang terbakar- baik dzohir dan bathin kecuali api mengenainya, maka bagian-bagian ruhaniyah yang tersebar diseluruh bagian-bagian daging merasakan kesakitan dari pembakaran api ini.

وأما الجراحة فإنما تصيب الموضع الذي مسه الحديد فقط فكان لذلك ألم الجرح دون ألم النار

Makna; Dan adapun terluka bedah (misal terbabat) maka sungguh hanya mengenai tempat yang besi mengenainya saja, maka derita sakit luka karenanya lebih rendah (ringan) dari terbakar api.

فألم النزع يهجم على نفس الروح ويستغرق جميع أجزائه فإنه المنزوع المجذوب من كل عرق من العروق وعصب من الأعصاب وجزء من الأجزاء ومفصل من المفاصل ومن أصل كل شعرة وبشرة من الفرق إلى القدم فلا تسأل عن كربة وألمه حتى قالوا إن الموت لا شد من ضرب بالسيف ونشر بالمناشير وقرض بالمقاريض لأن قطع البدن بالسيف إنما يؤلم لتعلقه بالروح فكيف إذا كان المتناول المباشر نفس الروح

Makna; Maka Sakit pedihnya naza’ (dicabutnya ruh) menyerbu Ruh itu sendiri dan menenggelamkan seluruh bagiannya maka sungguh Ruh dicabut ditarik dari setiap urat dari urat-urat nadi tubuh, Ruh ditarik dicabut dari setiap syaraf dari syaraf-syaraf tubuh dan dari setiap bagian dari bagian-bagian tubuh, dan dari setiap sambungan dari sambungan-sambungan tubuh, dan dari pangkal tiap rambut dan kulit dari belahan rambut sampai telapak kaki. Maka janganlah kamu bertanya tentang penderitaan dan kesakitannya.

Sehingga mereka (ulama) berkata : “Sungguh kematian itu LEBIH DASYAT DARIPADA DIPOTONG DENGAN PEDANG, LEBIH DASYAT DARI PADA DIGOROK-GOROK (dimutilasi) DENGAN BANYAK GERGAJI, lebih dasyat daripada digunting-gunting dengan banyak gunting. Karena sungguh terpotongnya badan oleh pedang itu sungguh hanya menyakiti karena badan (yang terpotong) tertaut dengan ruh, bagaimana ketika yang direnggut yang ditandangi langsung adalah Ruh itu sendiri?

وإنما يستغيث المضروب ويصيح لبقاء قوته في قلبه وفي لسانه وإنما انقطع صوت الميت وصياحه من شدة ألمه لأن الكرب قد بالغ فيه وتصاعد على قلبه وبلغ كل موضع منه فهد كل قوة وضعف كل جارحة فلم يترك له قوة الاستغاثة أما العقل فقد غشيه وشوشه وأما اللسان فقد أبكمه وأما الأطراف فقد ضعفها

Makna; Dan sesungguhnya orang yang ditebas masih mampu meminta tolong dan menjerit itu karena masih bertahan kekuatan di dalam hatinya dan di dalam lisannya. Dan sesungguhnya terputusnya suara orang yang sedang mengalami kematian dan terputus jeritannya (tidak menjerit-jerit berteriak-teriak) itu karena dari dasyatnya dia merakan sakit. Karena sungguh penderitaan benar-benar dia telah sampai puncak dalam penderitaan. Dan terus naik penderitaan itu pada hatinya dan sampai pada setiap tempat darinya. Maka dasyatnya penderitaan naza’ telah memusnahkan segala kekuatan dan melemahkan segala anggota badan, maka tidak tersisa baginya kekuatan untuk meminta tolong. Adapun akal, maka dasyatnya penderitaan naza’ telah benar-benar menghilangkan kesadarannya dan membingungkannya. Dan adapun lisan, maka dasyatnya penderitaan naza’ telah benar-benar membisukannya. Dan adapun anggota-anggota badan, maka dasyatnya penderitaan naza’ telah benar-benar melemahkannya.

ويود لو قدر على الاستراحة بالأنين والصياح والاستغاثة ولكنه لا يقدر على ذلك فإن بقيت فيه قوة سمعت له عند نزع الروح وجذبها خوارا وغرغرة من حلقه وصدره وقد تغير لونه واربد حتى كأنه ظهر منه التراب الذي هو أصل فطرته وقد جذب منه كل عرق على حياله فالألم منتشر في داخله وخارجه حتى ترتفع الحدقتان إلى أعالي أجفانه وتتقلص الشفتان ويتقلص اللسان إلى أصله وترتفع الأنثيان إلى أعالي موضعهما وتخضر أنامله

Makna; Dia (orang yg sedang naza’) ingin andai dia kuasa untuk beristirahat dengan jalan merintih, mengerang dan berteriak menjerit dan meminta tolong, akan tetapi dia tidak kuasa melakukan itu semua. Maka jika masih tersisa kekuatan padanya (orang yang sedang naza’), maka anda mendengar darinya -ketika dicabutnya ruh dan ditariknya ruh- suara lenguhan dan suara berkumur dari tenggorokan (ngorok ditenggorokannya) dan dadanya. Dan benar-benar telah berubah warna (kulit) nya dan berubah warna seperti debu, sehingga seperti sungguh muncul debu darinya. Debu yang adalah asal penciptaanya. Dan telah ditarik darinya semua urat dengan daya kekuatannya. Maka rasa sakitnya menyebar di bagian dalamnya dan luarnya sampai naik ke kedua bola matanya sampai kedua pelupuk atas kedua matanya dan menyusut kedua bibirnya dan lidahnya mengkerut keasalnya. Dan naik kedua testis (prejilan) nya ke bagian atas tempat keduanya. Dan jadi hijau (menghitam) ujung jari-jarinya.

فلا تسل عن بدن يجذب منه كل عرق من عروقه ولو كان المجذوب عرقا واحدا لكان ألمه عظيما فكيف والمجذوب نفس الروح المتألم لا من عرق واحد بل من جميع العروق ثم يموت كل عضو من أعضائه تدريجا فتبرد أولا قدماه ثم ساقاه ثم فخذاه ولكل عضو سكرة بعد سكرة وكربة بعد كربة حتى يبلغ بها إلى الحلقوم فعند ذلك ينقطع نظره عن الدنيا وأهلها ويغلق دونه باب التوبة وتحيط به الحسرة والندامة وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تقبل توبة العبد ما لم يغرغر

Makna; Maka jangan anda bertanya tentang badan yang ditarik dicabut darinya seluruh urat dari urat-urat badan. Dan andaikan yang ditarik dicabut hanya satu urat, maka sungguh rasa sakitnya sangat besar. Maka Bagaimana yang ditarik dicabut adalah ruh itu sendiri, yang menderita rasa sakit bukan hanya satu urat tapi semua/seluruh urat-urat tubuh. Kemudian matilah setiap anggota badan dari anggota-anggota badannya secara bertahap, maka menjadi dingin -pada permulaannya- kedua telapak kakinya kemudian kedua betisnya, kemudian kedua pahanya. Dan pada tiap anggota badan ini mengalami sekarat pati setelah sekarat pati, dan penderitaan setelah penderitaan, sehingga sampai sekarat pati ini ke tenggorokan. Maka ketika itu berlangsung maka terputuslah penglihatannya dari dunia dan ahlinya. Dan ditutup baginya pintu taubat , dan duka cita -kegagalan- dan penyesalan menyelimutinya. Dan telah bersabda Rosululloh saw : “Diterima taubat seorang hamba selagi hamba itu belum berkumur-kumur dalam tenggorokan (ngorok ditenggorokan karena sakarotul maut)”.

إحياءُ علومِ الدين ج ٤ ص ٤٤٦ – ٤٤٨ مكتبة دار احياء الكتب العربية
وقال مجاهد في قوله تعالى وليست التوبة للذين يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إني تبت الآن قال إذا عاين الرسل فعند ذلك تبدو له صفحة وجه ملك الموت فلا تسأل عن طعم مرارة الموت وكربه عند ترادف سكراته ولذلك كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول اللهم هون على محمد سكرات الموت

Makna; Dan telah berkata Mujahid mengenai firman Alloh Subhanahu Wata’ala QS Annisa 18 :

وَلَيْسَتِ ٱلتَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ حَتَّىٰٓ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ إِنِّى تُبْتُ ٱلْـَٔـٰنَ

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”.

Mujahid berkata : “Ketika dia (orang yang akan dicabut nyawanya) melihat langsung para utusan (yaitu malaikat maut) maka ketika itu jelaslah baginya luasnya wajah malaikat maut , maka jangan kamu bertanya perihal rasa pahitnya maut dan penderitaannya ketika bertubi-tubi (datang berturut-turut) sekarat pati”. Oleh karena demikian itulah Rosululloh ﷺ berdoa : ” Duhai Alloh mohon ringankanlah sekarat pati pada Muhammad”.

والناس إنما لا يستعيذون منه ولا يستعظمونه لجهلهم به فإن الأشياء قبل وقوعها إنما تدرك بنور النبوة والولاية ولذلك عظم خوف الأنبياء عليهم السلام والأولياء من الموت حتى قال عيسى عليه السلام يا معشر الحواريين ادعوا الله تعالى أن يهون على هذه السكرة يعني الموت فقد خفت الموت مخافة أوقفني خوفي من الموت على الموت

Makna; Dan manusia (awam) sungguh mereka tidak minta perlindungan dari sekarat pati dan mereka tidak menganggap dasyatnya sekarat pati, itu karena mereka bodoh tentang sekarat pati. Karena sungguh sesuatu yang blm terjadi bisa diketahui dengan nur kenabian dan kewalian, oleh karena itu besar kekuatiran para Nabi -‘alaihim assalam- dan kekuatiran para Wali Alloh dari perihal kematian ini. Sampai-sampai Nabi ‘Isa A.S berkata : “Hai ma’syarolhawariyyin (sekumpulan sahabat Nabi ‘isa as) berdoalah kalian pada Alloh ta’ala agar Alloh meringankan atasku sekarat yaitu sekarat pati. Karena benar-benar aku kuatir pada almaut dengan kuatir yang sungguh-sungguh. Kekuatiranku menghentikanku dari kematian ke kematian.

وروى أن نفرا من إسرائيل مروا بمقبرة فقال بعضهم لبعض لو دعوتم الله تعالى أن يخرج لكم من هذه المقبرة ميتا تسألونه فدعوا الله تعالى فإذا هم برجل قد قام وبين عينيه أثر السجود قد خرج من قبر من القبور فقال يا قوم ما أردتم مني لقد ذقت الموت منذ خمسين سنة ما سكنت مرارة الموت من قلبي

Makna: Dan diceritakan bahwa sungguh ada rombongan dari bani israil mereka melewati sebuah pekuburan. Maka berkata sebagian mereka kepada sebagian yang lain : ” Mbok yo kalian berdoa pada Alloh ta’ala agar Alloh mengeluarkan -untuk kalian dari kuburan ini- seorang mayyit agar kalian bisa menanyainya.”

Maka mereka berdoa pada Alloh ta’ala. Tiba-tiba di depan mereka telah berdiri seorang laki-laki dan di antara kedua matanya ada bekas sujud. Laki-laki ini keluar dari kubur dari kubur-kubur dipekuburan itu. Laki-laki yang keluar dari kubur berkata : “Hai kaum apa yang kalian inginkan dari ku? Sungguh benar-benar aku telah merasakan dicabutnya nyawa sejak lima puluh tahun (akan tetapi) tidak hilang rasa pahitnya kematian tersebut dari hatiku”.

وقالت عائشة رضي الله عنها لا أغبط أحد يهون عليه الموت بعد الذي رأيت من شدة مَوْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وروي أنه عليه السلام كان يقول اللهم إنك تأخذ الروح من بين العصب والقصب والأنامل اللهم فأعني على الموت وهونه علي (٣) وعن الحسن أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر الموت وغصته وألمه فقال هو قدر ثلثمائة ضربة بالسيف (٤) وسئل صلى الله عليه وسلم عن الموت وشدته فقال إن أهون الموت بمنزلة حسكة في صوف فهل تخرج الحسكة من الصوف إلا ومعها صوف (٥) ودخل صلى الله عليه وسلم على مريض ثم قال إني أعلم ما يلقى ما منه عرق إلا ويألم للموت على حدته

Makna; Telah berkata ‘Aisyah -semoga Alloh meridhoinya- : ” Saya tidak lagi menginginkan seperti oranglain yang diringankan atas dia pencabutan ruh setelah yang telah saya lihat yaitu dasyatnya kewafatan Rosululloh ﷺ “.

Diriwayatkan sungguh Nabi ﷺ beliau berdoa : ” Duhai Alloh, sungguh Engkau mengambil ruh dari otot-otot kecil / urat syaraf dan ruas-ruas dan dari ujung jari-jari, Duhai Alloh tolonglah saya untuk menghadapi kematian dan mohon ringankanlah kematian atas diri saya”.

Dan dari Hasan Sungguh Rosululloh ﷺ menyebutkan kematian dan kesusahannya dan kesakitannya maka Nabi ﷺ bersabda : “Itu seukuran tiga ratus tebasan dengan pedang”.

Dan Nabi ﷺ telah ditanya dari perihal kematian dan kedasyatannya, maka Nabi ﷺ bersabda : ” Sungguh YANG PALING RINGAN dari kematian itu seperti kayu penuh duri dalam bulu domba (wol), maka tidaklah kayu ini keluar dari bulu kecuali membawa serta bulu domba”.

Nabi ﷺ menjenguk orang sakit kemudian Nabi ﷺ bersabda : “Sungguh saya mengetahui apa yang dia alami. Tidak ada darinya satu uratpun kecuali merasakan sakit karena kematian atas tajamnya kematian”.

وكان علي كرم الله وجهه يحض على القتال ويقول إن لم تقتلوا تموتوا والذي نفسي بيده لألف ضربة بالسيف أهون علي من موت على فراش

Makna; Dan ‘Ali krw Merangsek dimedan peperangan sambil berkata : “Jika kalian tidak membunuh maka kalian terbunuh, dan demi Yang jiwaku di dalam kekuasaannya, sungguh seribu tebasan perang lebih ringan bagiku daripada mati diatas tempat tidur”.

وقال الأوزاعي بلغنا أن الميت يجد ألم الموت ما لم يبعث من قبره وقال شداد بن أوس الموت افظع هول في الدنيا والآخرة على المؤمن وهو أشد من نشر بالمناشير وقرض بالمقاريض وغلى في القدور ولو أن الميت نشر فأخبر أهل الدنيا بالموت ما انتفعوا بعيش ولا لذوا بنوم

Makna; Dan telah berkata Al-Auza’i : ” Telah sampai pada kami bahwa sungguh mayit merasakan derita sakitnya pati selagi belum dibangkitkan dari kuburnya”.

Dan telah berkata Syadad bin Aus : “Dicabutnya ruh adalah kengerian yang paling mengerikan di dunia dan akhirat atas orang mukmin. Itu lebih dasyat dari pada dipotong-potong dengan banyak gergaji dan dicincang dengan banyak gunting dan digodog (dimasak) dalam kendi-kendi”.

Dan andai sungguh ada mayyit yang bangkit kemudian mengabarkan kepada ahli dunya (orang yang masih hidup) tentang pedihnya kematian, maka mereka tidak akan mengambil manfaat dengan kehidupan dan tidak pula mereka merasakan enak tidur.

وعن زيد بن أسلم عن أبيه قال إذا بقي على المؤمن من درجاته شيء لم يبلغها بعمله شدد عليه الموت ليبلغ بسكرات الموت وكربه درجته في الجنة وإذا كان للكافر معروف لم يجز به هون عليه في الموت ليستكمل ثواب معروفه فيصير إلى النار

Makna; Dan dari Zaid bin Aslam dari bapaknya , beliau berkata : “Ketika masih tersisa atas seorang mukmin sedikit dari derajatnya yang dia tidak bisa mencapai dengan amal (sholihnya) maka diperberat atasnya sakitnya kematian agar tercapai derajatnya di surga dengan sebab sakarotul maut dan penderitaannya. Dan ketika ada kebaikan yang dilakukan oleh orang kafir yang belum terbalas maka diringankan atas dia dalam sakitnya kematian agar sempurna balasan kebaikannya (di dunia) maka masuklah dia (kelak) di neraka”.

(Note : Jadi kita tidak boleh buruk sangka, ada kalanya orang alim, banyak ibadah tapi menjelang wafat beliau sakit yang parah atau sangat menderita dalam kematiannya. Itu kemungkinan karena derajatnya tinggi di surga nanti, sedang amalnya belum mencukupi, sehingga dicukupi dengan penderitaan).

وعن بعضهم أنه كان يسأل كثيرا من المرضى كيف تجدون الموت فلما مرض قيل له فأنت كيف تجده فقال كأن السموات مطبقة على الأرض وكأن نفسي يخرج من ثقب إبرة

Makna; Dan dari sebagian ulama, sungguh beliau bertanya pada orang banyak -dari orang-orang yang sedang sakit- bagaimana mereka mengalami kematian. Maka tatkala beliau sakit ditanyakan padanya : ” bagaimana anda mengalaminya?”. Maka beliau menjawab : “Sungguh seakan tujuh langit den krungkebaken ingatase bumi (ditabrakkan dan ditutupkan ke bumi) dan sungguh seakan diri ini keluar dari lubang jarum”.

وقال صلى الله عليه وسلم موت الفجأة راحة للمؤمن وأسف على الفاجر

Makna; Dan telah bersabda Nabi ﷺ mati mendadak adalah kenyamanan/ketentraman bagi orang beriman dan prihatin (kesedihan yang mendalam) bagi orang yang fajir (banyak maksiyat).

وروى عن مكحول عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلم أنه قال لو أن شعرة من شعر الميت وضعت على أهل السموات والأرض لماتوا بإذن الله تعالى لأن في كل شعرة الموت ولا يقع الموت بشيء إلا مات

Makna; Diriwayatkan dari Makhul dari Nabi ﷺ sungguh beliau telah bersabda: ” Andaikan sungguh sehelai rambut dari rambutnya mayyit dijatuhkan diatas penghuni tujuh langit dan bumi maka tentu mereka akan mati dengan idzin Alloh ta’ala , karena sungguh dalam tiap helai rambut ada kematian. Dan tidaklah kematian menimpa sesuatu kecuali sesuatu itu (ikut) mati.

ويروى لو أن قطرة من ألم الموت وضعت على جبال الدنيا كلها لذابت

Makna; Dan diriwayatkan : ” Andai sungguh satu tetes saja dari sakitnya kematian diletakkan di atas seluruh gunung-gunung di dunia, niscaya lelehlah gunung-gunung itu semua”.

وروى إن إبراهيم عليه السلام لما مات قال الله تعالى له كيف وجدت الموت يا خليلي قال كسفود جعل في صوف رطب ثم جذب فقال أما إنا قد هونا عليك

Makna; Dan diriwayatkan Sungguh Nabi Ibrohim a.s manakala telah wafat maka Alloh Subhanahu Wata’ala bertanya padanya : “Bagaimana kamu menemui (mengalami) kematian hai kekasihku?”. Nabi Ibrohim a.s menjawab : ” Bagai besi yang untuk membakar daging (sujen sate) diletakkan pada bulu domba yang basah kemudian ditarik “. Maka Alloh berfirman : ” ingatlah, sungguh Kami telah benar-benar Kami ringankan kematian itu atasmu”.

وروى عن موسى عليه السلام أنه لما صارت روحه إلى الله تعالى قال له ربه يا موسى كيف وجدت الموت قال وجدت نفسي كالعصفور حين يقلى على المقلى لا يموت فيستريح ولا ينجو فيطير. وروى عنه أنه قال وجدت نفسي كشاة حية تسلخ بيد القصاب

Makna; Dan diriwayatkan dari Nabi Musa a.s Sungguh Musa a.s tatkala Ruhnya telah menghadap Alloh Subhanahu Wata’ala maka Alloh Subhanahu Wata’ala bertanya padanya : “Hai musa bagaimana anda mengalami kematian ? “. Musa a.s menjawab : ” Saya menemukan diri saya bagaikan ‘usfur (sejenis burung kutilang) ketika digoreng diatas penggorengan, yang tidak mati (yang andaikan mati) maka bisa beristirahat, dan tidak pula selamat (yang andaikan selamat) maka bisa terbang”.
Dan diriwayatkan dari beliau sungguh beliau (Musa a.s) menjawab : “Saya menemukan diri saya bagaikan kambing yang masih hidup yang dibeset-beset (dikuliti) di tangan para tukang jagal”.

وروي عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كان عنده قدح من ماء عند الموت فجعل يدخل يده في الماء ثم يمسح بها وجهه ويقول اللهم هون علي سكرات الموت وفاطمة رضي الله عنها تقول واكرباه لكربك يا أبتاه وهو يقول لا كرب على أبيك بعد اليوم

Makna; Dan diriwayatkan dari Nabi ﷺ sungguh Nabi ﷺ di sisinya ada bejana terisi air ketika dekat kewafatan, kemudian Nabi ﷺ memasukkan tangannya ke dalam air, kemudian beliau membasuh wajahnya dengan air seraya berdoa : ” Duhai Alloh mohon ringankan sekarat pati atasku.”
Sedang Fathimah r.a berkata : “Duh sedihnya (aku), karena penderitaan Engkau wahai Abahku”. Dan Nabi ﷺ menjawab: ” Tidak akan lagi ada penderitaan atas abahmu ini setelah hari ini”.

وقال عمر رضي الله عنه لكعب الأحبار يا كعب حدثنا عن الموت فقال نعم يا أمير المؤمنين إن الموت كغصن كثير الشوك أدخل في جوف رجل وأخذت كل شوكة بعرق ثم جذبه رجل شديد الجذب فأخذ ما أخذ وأبقى ما أبقى

Makna; Dan telah berkata Umar r.a pada Ka’ab Al-Ahbar : “Ya Ka’ab ceritakan pada kami perihal kematian”. Maka Ka’ab menjawab : ” Iya, ya Amirolmukminin , Sungguh kematian itu seperti cabang / dahan besar yang banyak sekali durinya, yang dimasukkan kedalam bagian dalam tubuh seorang laki laki dan setiap duri mendapatkan satu urat, kemudian seorang laki-laki lain menarik dahan penuh duri ini dengan tarikan yang sangat kuat, maka terambil apa yang terambil, dan tersisa apa yang tersisa (modal madil dedel duel).

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ العبد ليعالج كرب الموت وسكرات الموت وإن مفاصله ليسلم بعضها على بعض تقول عليك السلام تفارقني وأفارقك إلى يوم القيامة

Makna; Dan bersabda Nabi ﷺ : “Sungguh seorang hamba subgguh akan menghadapi penderitaan-penderitaan kematian dan sakarotulmaut dan sendi-sendinya sungguh sebagiannya akan mengucapkan salam pada sebagian lain dengan ucapannya : “keselamatan semoga atasmu (ucapan selamat tinggal) engkau berpisah dariku dan aku berpisah darimu sampai hari kiyamat”.

فهذه سكرات الموت على أولياء الله وأحبابه فما حالنا ونحن المنهمكون في المعاصي وتتوالى علينا مع سكرات الموت بقية الدواهي فإن دواهي الموت ثلاث

Makna; Maka inilah sakarotulmaut atas para Waliyulloh Subhanahu Wata’ala dan orang-orang yang dicintai oleh Alloh, maka bagaimana dengan kita, sedangkan kita adalah orang-orang yang tekun dalam bermaksiyat dan akan berturut-turut menimpa kita -beserta sakarotulmaut- bencana-bencana besar lainnya dalam kematian.

Wallohu a’lam.