INILAH HAKIKAT PERHIASAN BAGI LELAKI SEJATI

Mendengar kata perhiasan, sebagian orang langsung membayangkan logam mulia, berlian, dan permata. Atau pakaian yang indah. Jam tangan mewah. Dan hal-hal lain yang bersifat materi. Padahal perhiasan itu juga termasuk karakter mulia dan akhlak yang baik. Seseorang yang mengenakan perhiasan materi mungkin akan dikenal hanya dalam satu resepsi. Setelah itu namanya tenggelam dilupakan. Atau paling lama sampai dia meninggal. Kemudian orang-orang melupakannya. Tapi akhlak yang mulia akan membuat orang dikenang sepanjang masa. Seorang penyair mengatakan,

وَإِنَّمَا الأُمَمُ الأَخْلاقُ مَا بَقِيَتْ ### فَإِنْ هُمُ ذَهَبَتْ أَخْلاقُهُمْ ذَهَبُوا

Suatu masyarakat akan teranggap selama mereka memiliki akhlak.

Apabila akhlak mereka telah hilang merekapun dilupakan.

Dan perhiasan seseorang yang merdeka adalah:

Bermanfaat Untuk Orang Lain

Menjadi seorang yang bermanfaat bisa dengan harta, tenaga, dan bisa pula dengan pemikiran. Orang yang bermanfaat untuk orang lain, ia akan dihormati. Hal ini berlaku sedari masa jahiliyah dulu.

Paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Thalib bin Abdul Muthalib, adalah seorang yang miskin. Di antara bukti yang menunjukkan kemiskinannya adalah beberapa putranya diasuh oleh orang lain. Karena ia tak mampu menafkahi mereka. Seperti Ali bin Abu Thalib dirawat oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ja’far bin Abu Thalib dirawat oleh saudaranya, Abbas bin Abdul Muthalib.

Walaupun Abu Thalib seorang yang miskin tapi ia seorang tokoh yang dihormati di masyarakat Quraisy. Suaranya dianggap. Perlindungannya dihormati. Karena itu ia mampu melindungi Nabi Muhammad. Padahal Nabi Muhammad dianggap telah melecehkan nenek moyang dan tradisi lokal masyarakat Quraisy. Ketika Abu Thalib melindunginya, tak ada yang berani menyentuh keponakannya itu.

Dengan kemiskinannya, Abu Thalib adalah seorang yang berjasa besar di tengah Quraisy. Ia mengurusi zam-zam yang bermanfaat bagi khalayak. Saat Ramadhan tiba, ia menaiki Gua Hira membagi-bagi makanan untuk orang miskin bahkan untuk hewan-hewan liar dan burung di sana. Dan jasa-jasa lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat umum. Karena memiliki peran dan manfaat di tengah masyarakatnya, ia pun dihormati.

Contoh lainnya adalah Abu Bakar ash-Shiddiq. Seorang yang terhormat di masyarakat Arab. Baik muslimnya maupun yang masih kafir. Ia bukanlah orang paling kaya di kalangan penduduk Mekah. Bukan pula di kalangan para sahabat. Tapi kemanfaatannya tersebar di tengah-tengah mereka. Karena itu, ia menjadi tokoh saat masa jahiliyah dan menjadi sahabat yang paling utama setelah Islam datang. Inilah perhiasan seorang laki-laki.

Kemampuan Mengendalikan Diri dan Emosi

Kemampuan mengendalikan diri dan emosi adalah akhlak yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memuji seseorang karena memiliki sifat ini.

إن فيكَ خصلتينِ يحبهُما اللهُ : الحلمُ والأناةُ

“sesungguhnya pada dirimu ada 2 hal yang dicintai Allah: sifat al hilm dan al aanah” (HR. Muslim no. 17).

ANAT adalah sabar tidak gegabah dalam bersikap.

Hilm adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan dirinya ketika marah. Ketika ia marah dan mampu memberikan hukuman, ia lebih memilih bersikap hilm dan tidak jadi memberikan hukuman.

Di antara contoh orang yang memiliki sifat hilm ini adalah Ahnaf bin Qais. Ahnaf bin Qais adalah seorang tabi’in. Tokoh Bani Tamim. Dinamai dengan Ahnaf karena ia memiliki kaki yang cekung ke dalam. Mirip bentuk huruf x. Perawakannya pendek. Dan parasnya jelek. Namun wibawanya begitu besar di tengah kaumnya. Kalau ia marah, maka ribuan pedang bisa terhunus membelanya tanpa perlu tahu apa alasan kemarahan Ahnaf.

Mengapa demikian? Karena Ahnaf adalah teladan dalam hilm. Kalau ia sudah marah berarti hal tersebut memang benar-benar sudah keterlaluan. Karena itu, kaumnya tak perlu tahu alasan untuk membelanya.

Untuk mengukur sifat hilm yang dimiliki Ahnaf, orang-orang pun mengutus seseorang untuk membuatnya marah. Seseorang mengatakan, “Aku akan membuatnya marah.” Kemudian yang lain menanggapi, “Kalau kau mampu, akan kami berikan sesuatu untukmu.” Orang tersebut mendekati Ahnaf yang sedang berjalan menuju perkampungannya. Mulailah orang tersebut mencaci dan mencelanya terus-menerus. Sementara Ahnaf seakan tak mendengar celaan tersebut.

Saat telah dekat di perkampungan kaumnya, Ahnaf berkata, “Hai anak saudaraku, kalau masih ada sesuatu pada dirimu yang ingin kau lampiaskan, katakanlah sekarang! Karena kita telah dekat pada suatu perkampuangan yang penduduknya tak akan mampu menahan diri dari celaanmu terhadapku sebagaimana aku tahan mendengar celaanmu.”

Maksudnya, kalau kaumku mendengar celaanmu terhadapku, akan terjadi sesuatu pada dirimu. Mereka tak akan sabar mendengar tokoh mereka dicela sebagaimana kesabaranku menghadapimu. Karena itu, keluarkan sekarang semua celaanmu sampai kau puas.

Ahnaf pernah ditanya, “Dari mana kau belajar hilm?” Ahnaf menjawab, “Aku belajar dari Qais bin Ashim. Pernah didatangkan padanya seorang yang membunuh anaknya. Melihat si pembunuh ini tertawan, Ahnaf berkata, ‘Kalian telah membuatnya takut’. Kemudian pembunuh ini dihadapkan padanya. Ahnah berkata padanya, ‘Hai anakku, engkau telah membuat anggota kaummu menjadi sedikit. Sehingga melemahlah kekuatannya. Rapuhlah kekokohannya. Kau buat musuh-musuhmu senang. Dan kau permalukan kaummu. Bebaskanlah dia!’ Kemudian Qais yang membayarkan diyat (harta tebusan) kepada ibu dari anaknya yang terbunuh itu (Jamal min Ansab al-Asyraf, 3/263).

Tentu kita mengatahui, diyat diberikan oleh pihak keluarga yang membunuh kepada keluarga korban. Si pembunuh anaknya Qais adalah seorang dari sukunya sendiri. Ia adalah bagian dari keluarganya. Karena itu, Qais sendiri yang memberi diyat atas prilaku si pembunuh kepada ibu korban.

Pelajaran

Pertama: Di antara menariknya mempelajari budaya masyarakat Arab adalah kisah-kisah tentang kehidupan mereka diriwayatkan dengan rapi. Sehingga nama-nama dan nasab-nasab mereka terjaga. Kebijaksanaan-kebijaksanaan masyarakat tempo dulu dari mereka teriwayatkan dengan baik. Hikmah kehidupan dan kondisi sosial mereka begitu terekam. Tentu ini memudahkan para ilmuan sosiologi dan antropologi untuk mengkaji kehidupan mereka. Kuncinya satu, kemampuan bahasa Arab untuk mengakses sumber-sumber berita mereka.

Namun sayang, karena lemahnya kemampuan bahasa Arab di tengah umat Islam dan derasnya konspirasi buruk tentang masyarakat Arab, sehingga umat Islam sendiri ketika mendengar kata Arab, konotasinya adalah negatif. Konotasinya adalah perang, gurun, tertinggal, tak beradab, badui, dll.

Kedua: Hendaknya seorang laki-laki berhias dengan sifat-sifat yang mulia. Mengubah persepsi dalam standar kemuliaan. Kemuliaan itu tidak semata-mata dengan harta. Harta yang tertumpuk karena tidak dibagi adalah aib. Mencari harta kemudian menjadikannya bermanfaat untuk orang lain, itulah perhiasan diri.

KISAH NYATA : ANAK SENGSARA MUNGKIN KARENA PERKATAAN BURUK IBUNYA

Alkisah seorang anak hidup dalam kederhanaan. Sebut saja ia dalam kisah nyata ini dengan inisial H. Ibunya pergi merantau dan dia tinggal bersama neneknya. Setiap bulan ibunya pulang untuk sekadar silaturahmi pada orang tuanya yang masih hidup dan bertemu anaknya. Selama ini saya pun juga tidak tau apa pekerjaan asli sang ibu itu.

SILAHKAN LIHAT JUGA VIDEO DI LINK INI : Zain M Channel

Suatu ketika tepatnya di bulan puasa Ramadhan, sang ibu itu pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga. Seperti biasa adat anak-anak Jawa, setiap bulan puasa tak lepas dari petasan yang menjadi mainan mereka. Banyak anak-anak yang main petasan di pinggir jalan, di depan rumah orang, tanpa berpikir apakah yang mereka lakukan mengganggu orang lain atau tidak. Yang namanya anak-anak, sudah diberi tahu beberapa kali pun seakan tak dihiraukan. Tepatnya di depan rumahku kejadian ini berawal. Setelah shalat tarawih banyak anak yang bermain di depan rumah termasuk si H. Kebetulan hari-hari itu kakekku sedang sakit. Kebetulan malam itu ibu si H sedang ada di dalam rumahku berniat menjenguk kakekku. “Anak-anak, kalian jangan sampai main petasan di depan rumah ini, ya! Kakek lagi sakit” teriak ibu H sambil keluar di depan rumah. Setelah itu si ibu pun masuk lagi ke rumah dan kembali ke kamar kakek.

Tak lama kemudian, “Daaaaaaaarrrrr….” suara petasan meletus hingga membuat yang di dalam rumah kaget. Bergegaslah ibunda H tadi keluar. “Siapa yang mainan petasan barusan” teriak ibu itu dengan muka merah. “H, Bu” sahut salah satu anak yang di depan tadi.

Seketika ibu itu juga teriak pada anaknya. Ucapan yang bernada marah terucap, “Ingat, Nak, kamu diatur sulit. Ingat ya, kamu tidak pernah akan bahagia selamanya karena kamu sulit diatur,” teriak ibu tadi pada anaknya. Saat itu aku berada di rumah dan dengan jelas mendengar langsung “doa” sang ibu tadi pada H.

Diriku merasa tercengang dengan perkataan ibu tadi. “Masyaallah, tega banget ibu tadi mendoakan anaknya sendiri seperti itu. Bukankah doa ibu pada anak itu mudah terkabul? Apalagi sang ibu dalam keadaan marah karena anaknya,” gumamku dalam hati. H memang tergolong anak yang lumayan nakal. Tapi menurutku justru nakal itu harus didoakan agar berubah dan nantinya menjadi baik.

Beberapa tahun kemudian… Kehidupan H selama ini memang tergolong yang tidak beruntung. Dia pernah jadi buronan polisi karena kasus pencurian di Surabaya. Dalam hal pernikahan, ia gagal karena berakhir perceraian. Nikah lagi, dan menghamili mertuanya sendiri. Diusirlah ia oleh warga kampung istrinya karena dianggap mencemarkan nama baik. Dan yang terakhir yang saya tahu, H hampir dikeroyok pemuda kampungnya sendiri karena mencuri. Dan sekarang dia pun lontang-lantung di rumah seakan membawa beban berat jika dilihat raut mukanya.

Ya Allah, seketika jika melihat kehidupanya saya teringat ucapan ibundanya sewaktu dia kecil dulu. Ucapan sang ibu yang mendoakan anaknya tidak akan bahagia selamanya. “Apakah ini yang dinamakan doa ibu yang selalu terkabul,” pikirku.

Dengan kisah ini semoga kita menjadi orang tua yang lebih santun di setiap ucapan. Tidak gampang mendoakan dengan doa yang buruk. Jika anak kita nakal, hendakaknya malah kita doakan semoga diberi kesadaran hingga mendapat kebaikan. Karena ridha Allah tergantung dengan ridha orang tua juga.” Menjadi orang tua memang sulit. Harus mengatur rumah tangga, juga mendidik anak-anak agar mempunyai akhlak baik. Bandelnya sang anak kadang memancing emosi mereka. Inilah gambaran orang tua. Tetapi, meskipun demikian hendaklah orang tua menjaga ucapan untuk anak-anak mereka. Sebandel dan senakal apapun anak jangan sampai orang tua terucap dari mulut suatu perkataan yang tidak baik pada anak apalagi mendoakan yang tidak baik. Na’udzubillah.

JANGANLAH BERKATA YANG BURUK KARENA PERKATAAN BURUKMU BISA MENJADI DO’A

Menjaga lisan dari perkataan buruk merupakan keharusan. Nabi Muhammad ﷺ biasa menghindari penyampaian sesuatu yang terkesan jorok, dengan tidak menyebutkannya secara eksplisit, melainkan menggunakan kata kiasan.

Misalnya pada kasus seperti terekam dalam hadits yang diceritakan oleh Abad bin Hamim:

 أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلُ الَّذِي يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَجِدُ الشَّيْءَ فِي الصَّلاَةِ؟ فَقَالَ: «لاَ يَنْفَتِلْ – أَوْ لاَ يَنْصَرِفْ – حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

Artinya: “Seorang laki-laki mengeluh kepada Rasulullah ﷺ bahwa ia seolah-olah merasakan sesuatu (seperti kentut) dalam shalatnya. Lalu Nabi menyarankan orang tersebut untuk tidak meninggalkan shalatnya sampai ia benar-benar mendengar suara atau mencium bau” (HR Bukhari).

SILAHKAN LIHAT JUGA VIDEO DI LINK INI : Zain M Channel

Hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi Muhammad tidak secara eksplisit menyebut kalimat misalnya “sampai dia mendengar suara atau bau kentut” tapi hanya dengan istilah “mendengar suara atau mencium bau” saja. Kebiasaan Nabi memang menghindari menyebutkan kalimat-kalimat yang terkesan jorok jika diucapkan apa adanya. Pernyataan-pernyataan yang kurang baik memang perlu dihindari. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar mengisahkan ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasul. Pertanyaan itu hanya perumpamaan saja, namun akibatnya ia malah mengalami sendiri.

Berikut haditsnya:

 يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ أَنْ لَوْ وَجَدَ أَحَدُنَا امْرَأَتَهُ عَلَى فَاحِشَةٍ، كَيْفَ يَصْنَعُ إِنْ تَكَلَّمَ تَكَلَّمَ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ؟ وَإِنْ سَكَتَ سَكَتَ عَلَى مِثْلِ ذَلِكَ، قَالَ: فَسَكَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُجِبْهُ، فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ أَتَاهُ، فَقَالَ: ” إِنَّ الَّذِي سَأَلْتُكَ عَنْهُ قَدِ ابْتُلِيتُ بِهِ

Artinya: “Ya Rasulallah, bagaimana menurut anda seumpama seseorang di antara kita ada yang mendapati istrinya sedang melakukan perzinahan (selingkuh)? Apa yang harus dilakukan? Kalau mau dibicarakan, mestinya dia akan membicarakan masalah besar. Namun kalau mau diam, kok dia ya mendiamkan masalah besar? Mendapati pertanyaan tersebut, Nabi Muhammad ﷺ hanya diam seribu bahasa. Beliau tidak berkenan menjawab. Setelah beberapa waktu, laki-laki yang pernah melontarkan pertanyaan pengandaian itu sowan kepada Nabi. Ia mengaku, pertanyaan yang pernah ia lontarkan ternyata menimpa dirinya. Ia mengaku mendapat ujian dari Allah bahwa istrinya malah selingkuh” (HR Muslim: 1493) .

Sebuah kisah yang diceritakan oleh Ibnu Abbas:

 أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أَعْرَابِيٍّ يَعُودُهُ، قَالَ: وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ عَلَى مَرِيضٍ يَعُودُهُ قَالَ: «لاَ بَأْسَ، طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ» فَقَالَ لَهُ: «لاَ بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ» قَالَ: قُلْتُ: طَهُورٌ؟ كَلَّا، بَلْ هِيَ حُمَّى تَفُورُ، أَوْ تَثُورُ، عَلَى شَيْخٍ كَبِيرٍ، تُزِيرُهُ القُبُورَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَنَعَمْ إِذًا

Artinya: “Nabi Muhammad ﷺ mendatangi seorang Badui yang sedang sakit. Setiap mengunjungi orang sakit, Nabi bersabda: ‘Tidak apa-apa, menjadi penghapus dosa. insyaallah.’ Begitu juga perkataan Nabi tersebut, beliau sampaikan kepada orang Badui yang sedang sakit. Reaksi Badui ketika mendapatkan doa, malah berkata: ‘Penghapus dosa? Sekali-kali tidak (tidak mungkin), sakit panas saya yang bergejolak ini memang menimpa orang tua yang sudah lanjut usia yang mengantarkannya ke alam kubur.’ Maka Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Iya sudah kalau begitu” (HR Al-Bukhari: 3616).

Setelah orang Badui mengatakan bahwa panas yang ia derita adalah panas yang menghantarkannya kepada kematian, menurut At-Thabarani, besok paginya si Badui meninggal dunia.

Cerita lain tentang ucapan yang menjadi kenyataan adalah kisah Nabi Yusuf kecil di saat ia diajak oleh saudara-saudaranya untuk pergi ke hutan, ayah Nabi Yusuf yang bernama Nabi Ya’qub berat melepaskan Yusuf kecil. Beliau sempat mengatakan:

 إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا بِهِ وَأَخَافُ أَنْ يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ وَأَنْتُمْ عَنْهُ غَافِلُونَ

Artinya: “Sesungguhnya aku atas kepergian kalian bersama Yusuf sangat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala sedang kalian lengah darinya” (QS Yusuf: 13).

Setelah saudara-saudaranya Nabi Yusuf pulang dari hutan, ternyata mereka tidak membawa pulang Nabi Yusuf. Walaupun berbohong, mereka mengaku kepada Nabi Ya’qub bahwa Yusuf dimakan serigala. Kekhawatiran yang terucapkan oleh Nabi Ya’qub, seolah-olah menjadi realitas. Walaupun nanti ada cerita panjang nan rumit yang kemudian bisa menyatukan kembali di antara mereka semua.

Berikutnya, saat Nabi Yusuf digoda oleh seorang wanita dan wanita-wanita lain, Nabi Yusuf sampai berdoa:

 رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Artinya: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh” (QS Yusuf: 33).

Doa pilihan Nabi Yusuf yang lebih memilih penjara daripada terjerumus bersama para wanita, akhirnya diijabahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang akhirnya memang Nabi Yusuf dipenjara namun ia juga bebas dari tipu daya wanita:

 فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Maka Tuhan memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (QS Yusuf: 34)

Dalam syair Majnunu Laila ­–yang artinya orang yang tergila-gila dengan Laila, bukan Laila Majnun yang berarti Laila yang gila–Qais melantunkan:

 فلو كنتُ أعمى أخبِط الأرضَ بالعصا ۞ أصمَّ فنادتني أجبتُ المناديا

Artinya: “Jika saja aku ini menjadi buta, akan aku hentakkan tongkatku di atas muka bumi. Dan apabila aku tuli pun, andai saja Laila mengundangku, aku akan datangi pengundang tersebut.” Sebagian perawi mengisahkan bahwa Qais di kemudian hari menjadi buta dan tuli setelah melantunkan syairnya tentang buta dan tuli.

Dengan cerita-cerita di atas, kita dapat mengambil pelajaran betapa pentingnya sebuah perkataan baik untuk pribadi sendiri maupun untuk keluarga misalnya dengan kalimat “saya tidak mungkin mampu” dan lain sebagainya. Apalagi untuk orang tua yang sedang kurang berkenan dengan anaknya, jangan sampai berbicara buruk kepada anak tersebut. Barangkali dengan ucapan buruk tersebut, Allah mengabulkan suatu saat nanti. Na’udzu billah. Wallahu a’lam.

WALI NIKAH TIDAK HADIR DI MAJLIS AKAD DAN BERADA DI TEMPAT YANG MENCAPAI DI BOLEHKANYA QOSHOR SHOLAT

Seorang penghulu dari Kantor Urusan Agama, calon pengantin laki-laki dan dua orang yang ditunjuk sebagai saksi administratif telah siap untuk melangsungkan ijab kabul. Tentunya sejumlah hadirin ikut pula menyaksikan prosesi akad nikah tersebut. Hanya saja satu hal bahwa wali nikah tidak berada di tempat dan penghulu yang juga menjabat sebagai Kepala KUA itu bertindak sebagai wali hakim.

Saat hal itu dimaklumkan kepada para hadirin, salah seorang saksi mempertanyakan perihal wali nikah yang diambil alih kepala KUA sebagai wali hakim. Ia tidak bisa menerima pengambilalihan posisi wali tersebut dengan alasan selain bapaknya si pengantin perempuan yang saat ini sedang merantau ke daerah yang jauh masih ada lagi pihak keluarga yang bisa menjadi wali menggantikan sang bapak. Menurutnya bila sang bapak tak bisa hadir maka hak perwalian bisa berpindah ke orang lainnya yang juga memiliki hak perwalian pada urutan berikutnya.

Atas klaim ini Kepala KUA berusaha untuk menjelaskan bagaimana aturan wali nikah yang seharusnya dijalankan. Namun demikian yang bersangkutan belum mau menerima dan memilih untuk tidak menjadi saksi pernikahan.

Kejadian semacam ini tidak jarang terjadi di masyarakat. Adu argumen seringkali terjadi antara masyarakat dengan petugas KUA perihal siapa yang berhak menjadi wali nikah ketika sang wali berada jauh dari tempat akad.

Lalu bagaimana ulama mengatur tentang hal ini?

Sebagaimana diketahui bahwa salah satu rukun nikah adalah adanya wali dari calon mempelai perempuan. Tidak adanya wali dalam pelaksanaan ijab kabul suatu pernikahan menjadikan pernikahan tersebut tidak sah. Adapun orang yang berhak menjadi wali secara berurutan adalah ayah, kakek dari ayah, saudara laki-laki seayah seibu, saudara laki-laki seayah, anak laki-lakinya saudara laki-laki seayah seibu, anak laki-lakinya saudara laki-laki seayah, paman, dan anak laki-lakinya paman.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Abu Bakar Al-Hishni di dalam kitabnya Kifâyatul Akhyâr:

وَأولى الْوُلَاة الْأَب ثمَّ الْجد أَبُو الْأَب ثمَّ الْأَخ للْأَب وَالأُم ثمَّ الْأَخ للْأَب ثمَّ ابْن الْأَخ للْأَب وَالأُم ثمَّ ابْن الْأَخ للْأَب ثمَّ الْعم ثمَّ ابْنه على هَذَا التَّرْتِيب

Artinya: “Wali yang utama adalah ayah, kemudian kakek dari ayah, saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki seayah, anak laki-lakinya saudara laki-laki seayah seibu, anak laki-lakinya saudara laki-laki seayah, paman, dan anak laki-lakinya paman, berdasarkan tertib urutan ini.” (Abu Bakar Al-Hishni, Kifâyatul Akhyâr, Bandung: Al-Ma’arif, tt., Juz II, h. 51)

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa para wali itu dapat berperan sebagai wali sesuai dengan urutan tersebut. Artinya bila masih ada orang yang urutannya lebih depan atau lebih dekat dengan mempelai perempuan (wali aqrab) maka orang yang ada pada urutan setelahnya (wali ab’ad) tidak bisa menjadi wali. Sebagai contoh bila masih ada ayah si mempelai perempuan maka kakek, saudara laki-laki dan lainnya tidak bisa menjadi wali nikah. Bila ini dilanggar maka tidak sah akad nikah yang dilakukan.

Permasalahannya sekarang adalah bagaimana ketika orang yang berhak menjadi wali masih ada namun tidak berada di tempat—sedang pergi di tempat yang jauh—ketika proses ijab kabul dilaksanakan seperti kasus di atas.

Dalam kasus yang demikian maka wali nikah berpindah kepada hakim, bukan kepada wali pada urutan berikutnya. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya hak perwalian masih melekat pada wali yang berhak tersebut. Selama ia masih ada maka hak perwalian tidak bisa pindah ke yang lain. Namun karena ia tidak bisa hadir maka hakim bertindak sebagai wali.

Ini sebagaimana dituturkan oleh Imam As-Syairazi di dalam kitab Al-Muhadzdzab:

وإن غاب الولي إلى مسافة تقصر فيها الصلاة زوجها السلطان ولم يكن لمن بعده من الأولياء أن يزوج لأن ولاية الغائب باقية ولهذا لو زوجها في مكانه صح العقد وإنما تعذر من جهته فقام السلطان مقامه كما لو حضر وامتنع من تزويجها

Artinya: “Bila wali pergi dalam jarak yang memperbolehkan mengqashar shalat maka penguasa mengawinkan (menjadi wali hakim, pen.) mempelai perempuan. Para wali yang berada pada urutan setelah wali tersebut tidak berhak mengawinkan, dikarenakan masih tetapnya hak perwalian wali yang pergi itu. Karenanya bila si wali mengawinkan mempelai perempuan di tempatnya maka sah akadnya. Namun ia berhalangan, maka penguasa menempati posisinya sebagaimana bila ia hadir namun tercegah untuk mengawinkan.” (As-Syairazi, Al-Muhadzdzab, Beirut: Darul Fikr, 2005, Juz. II, h. 52)

Ketentuan ini apabila sang wali berada pada jarak masâfatul qashri, jarak di mana diperbolehkan mengqashar shalat. Bagaimana bila perginya sang wali pada jarak yang tidak sampai masâfatul qashri? Lebih lanjut As-Syairazi menuturkan:

فإن كان على مسافة لا تقصر فيها الصلاة ففيه وجهان: أحدهما لا يجوز تزويجها إلا بإذنه لأنه كالحاضر والثاني يجوز للسلطان أن يزوجها لأنه تعذر استئذانه فأشبه إذا كان في سفر بعيد

Artinya: “Apabila sang wali berada pada jarak yang tidak diperbolehkan mengqashar shalat maka ada dua pendapat; pertama, penguasa tidak boleh mengawinkan kecuali dengan seijinnya karena dalam hal ini sang wali seperti orang yang hadir. Kedua, penguasa boleh mengawinkan karena kesulitan untuk meminta ijin sang wali, diserupakan dengan ketika sang wali berada pada jarak yang jauh yang diperbolehkan mengqashar shalat.”

Demikian fiqih—dalam madzhab Syafi’i—mengatur permasalahan ini.

Namun demikian, perkembangan tehnologi seperti sekarang ini di mana berbagai cara berkomunikasi dapat dilakukan dengan mudah kiranya keberadaan wali di tempat yang jauh tidak menghalangi baginya untuk tetap menjadi wali nikah bagi mempelai perempuan. Saat akad nikah dilaksanakan ia bisa tetap berstatus sebagai wali namun pelaksanaan ijab kabulnya diwakilkan kepada siapa saja yang ia kehendaki.

Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Agama nomor 19 tahun 2018 pada pasal 11 ayat (5) mengatur bahwa dalam hal wali tidak hadir pada saat akad, wali harus membuat surat taukil wali yang ditandatangani oleh wali, disaksikan oleh 2 (dua) orang saksi dan diketahui oleh Kepala KUA Kecamatan tempat tinggal wali.

Sebagai contoh, bila tempat pelaksanaan akad nikah berada di Kota Tegal sedangkan orang yang berhak menjadi wali berdomisili di Sumatera misalnya dan tidak dapat hadir saat akad, maka ia tetap bisa menjadi wali dengan cara membuat surat taukil (mewakilkan) wali yang ditandatangani oleh dirinya, dua orang saksi dan Kepala KUA Kecamatan dimana ia tinggal. Dalam surat itu disebutkan kepada siapa ia sebagai wali mewakilkan pelaksanaan ijab kabulnya. Dengan demikian maka yang menjadi wali dalam akad nikah tersebut tetap orang yang semestinya, bukan wali hakim. Hanya saja pelaksanaan ijab kabulnya diwakilkan kepada orang lain yang dikehendaki.

TIRKAH YANG REMEH DAN MANAKAH YANG DI DAHULUKAN ANTARA HAQQULLOH DENGAN HAQQUL ADAMI MAYIT?

Harta tirkah tidak semua berupa harta yang berharga, ada juga harta yang seperti baju bekas, buku bekas, kitab, dll. Terkadang mayit punya tanggungan yg beraneka macam, haji, zakat, hutang, dll.

Pertanyaan:

1. Tanggungan yang manakah harus didahulukan umpama tirkahnya tidak mencukupi untuk dibuat membayar semua.

2. Apakah ahli waris wajib membayar tanggungan mayit umpama tirkahnya tidak cukup.

3. Baju bekas dan semacamnya masih tetap wajibkah diwaris? Atau bagaimana?

Jawaban:

1. Yang pertama harus ditunaikan dari tanggungan mayit adalah tanggungan yang berkaitan dengan haqqullah, seperti zakat, kafarat, nadzar, haji dls. Dan dari haqqullah, tanggungan yang berkaitan dengan tirkah langsung seperti zakat. Kemudian tanggungan haqqul adami seperti hutang dengan dibagi sesuai prosentase jumlah hutang.

2. Ahli waris tidak wajib menanggung hutang mayit di luar tirkah. Meski tetap dianjurkan untuk menanggung dan meminta kerelaan pemilik piutang untuk dialihkan pada ahli waris.

3. Baju bekas dan benda remeh lainnya tetap termasuk tirkah yang wajib dibagi. Dan boleh diberikan pada satu orang kalau semua ahli waris setuju, setelah mengetahui terlebih dahulu prosentase bagian masing-masing melalui hitungan ilmu waris (faroid).

Referensi:

*[البكري الدمياطي ,إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين ,2/203]*

(فرع) تقدم الزكاة ونحوها من تركة مديون ضاقت عن وفاء ما عليه من حقوقه الآدمي وحقوق الله كالكفارة، والحج والنذر والزكاة -. كما إذا اجتمعتا على حي لم يحجر عليه

ولو اجمتعت فيها حقوق الله

فقط قدمت الزكاة إن تعلقت بالعين، بأن بقي النصاب، وإلا بأن تلف بعد الوجوب والتمكن استوت مع غيرها، فيوزع عليها

الشرح:

(قوله: تقدم الزكاة الخ) يعني إذا اجتمع في تركة حق الله – كزكاة، وحج، وكفارة، ونذر، – وحق آدمي – كدين – قدم حق الله على حق الآدمي، للخبر الصحيح: فدين الله أحق بالقضاء

ولأنها – ما عدا الحج – تصرف للآدمي، ففيها حق آدمي مع حق الله تعالى

*وقيل: يقدم حق الآدمي، لأنه مبني على المضايقة.*

*وقيل يستويان، فيوزع المال عليهما.* (قوله: ونحوها) أي كحج وكفارة، ونذر. (قوله: من تركة مديون) متعلق بتقدم، أي تقدم الزكاة ونحوها، أي استيفاؤهما من تركة مديون على غيرهما من حقوق الآدمي

(قوله: ضاقت عن وفاء ما عليه) أي ضاقت التركة ولم تف بجيمع ما على الميت. (قوله: حقوق الآدمي وحقوق الله) بيان لما. (قوله: كالكفارة إلخ) تمثيل لحقوق الله تعالى

(قوله: كما إذا الخ) الكاف للتنظير، أي وذلك نظير ما إذا اجتمعتا – أي حقوق الله وحقوق الآدمي – على حي لم يحجر عليه، فإن الزكاة ونحوها تقدم في ماله الذي ضاق عنهما

وخرج بقوله لم يحجر عليه: ما إذا حجر عليه، فإنه يقدم حق الآدمي جزما

وعبارة التحفة: وخرج بتركة: اجتماع ذلك على حي ضاق ماله، فإن لم يحجر عليه قدمت الزكاة جزما، وإلا قدم حق الآدمي جزما، ما لم تتعلق هي بالعين، فتقدم مطلقا.اه

(قوله: ولو اجتمعت فيها) أي في التركة. (قوله: حقوق الله فقط) أي كزكاة، وكفارة. (قوله: وإن تعلقت) أي الزكاة. (وقوله: بالعين) أي بعين المال

والمراد بها ما قابل الذمة بدليل تصويره فدخل زكاة مال التجارة فإنها – وإن تعلقت بالقيمة – لكن ليست في الذمة. (وقوله: بأن بقي النصاب) تصوير لتعلقها بالعين. (قوله: وإلا) أي وإن لم تتعلق بالعين، بل بالذمة. (وقوله: بأن تلف) أي النصاب. وهو تصوير لعدم تعلقها بالعين. ومعنى استوائهما: أنه لا يقدم أحدهما على الآخر. (قوله: بعد الوجوب) أي وجوب الزكاة في النصاب بأن حال عليه الحول وهو موجود. (وقوله: والتمكن) أي وبعد التمكن، أي من أداء الزكاة، وهو يكون بما سبق ذكره. وذكر الوجوب لا يغني عن ذكر التمكن، لأن وجوب الزكاة بتمام الحول، وإن لم يتمكن من الأداء

(قوله: استوت) أي الزكاة. (وقوله: مع غيرها) أي من حقوق الله، كالكفارة، والحج، والنذر. (قوله: فيوزع) أي التركة. وذكر الضمير على تأويلها بالمال. (وقوله: عليها) أي على الحقوق المتعلقة بالله المجتمعة

وفي نسخة فتوزع – بالتاء الفوقية – عليهما – بضمير التثنية – فيكون عائدا على الزكاة على غيرها

*والمراد بتوزيعها عليهما: تقسيمها بينهما بالقسط، فيدفع ما خص الزكاة لها، وما خص الحج له*

قال في النهاية وهذا عند الإمكان اه

قال ع ش: أما إذا لم يكن التوزيع، كأن كان ما يخص الحج قليلا بحيث لا يفي به، فإنه يصرف للممكن منهما.اه. وقال في البجيرمي: وحاصل ذلك أن قوله فيستويان: أي في التعلق، أي لا يقدم أحدهما على الآخر، وبعد ذلك يوزع المال الموجود على قدرهما بالنسبة. فإذا كان قدر الزكاة خمسة، والحج أجرته عشرة، فالمجموع خمسة عشر، فالزكاة ثلث فيخصها الثلث، والحج الثلثان. وبعد ذلك لا شئ يجب في الزكاة سوى ذلك. وأما الحج: فإن كان الذي خصه يفي بأجرته فظاهر، وإن كان لا يفي فيحفظ إلى أن يحصل ما يكمله ويحج به، ولا يملكه الوارث.هكذا قرر بعضهم. اه.

*بغية المسترشدين ص : ١٣٧-١٣٨*

لو مات ميت وعليه دين لم يجب على وليه قضاؤه من ماله فإن تطوع بذلك تأدى الدين عنه

*بغية المسترشدين؛ ص ٧٧*

(ﻣﺴﺄﻟﺔ): ﻣﺎﺕ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﺩﻳﻦ ﻓﻀﻤﻦ ﺑﻌﺾ اﻟﻮﺭﺛﺔ ﻟﻠﻤﺴﺘﺤﻖ ﺟﻤﻴﻊ اﻟﺪﻳﻦ اﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ﺻﺢ اﻟﻀﻤﺎﻥ اﺗﻔﺎﻗﺎ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ اﻟﺮﻭﺿﺔ، ﻓﻠﻮ ﻣﺎﺕ اﻟﻀﺎﻣﻦ ﻓﻄﻠﺐ اﻟﻤﻀﻤﻮﻥ ﻟﻪ ﺇﺑﻘﺎء اﻟﺪﻳﻦ ﻣﻦ ﺗﺮﻛﺘﻪ ﺃﺟﻴﺐ، ﻭﻻ ﻳﺼﺢ ﺗﺼﺮﻑ اﻟﻮﺭﺛﺔ ﻓﻲ ﺷﻲء ﻣﻦ اﻟﺘﺮﻛﺔ ﻗﺒﻞ ﺑﺮاءﺓ ﻣﻮﺭﺛﻬﻢ. ﻗﻠﺖ: ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻻ ﻳﺼﺢ اﻟﺘﺼﺮﻑ ﻓﻲ ﺗﺮﻛﺔ اﻟﻤﻀﻤﻮﻥ ﻋﻨﻪ، ﻓﻼ ﺗﺒﺮﺃ ﺫﻣﺘﻪ ﺇﻻ ﺑﺎﻷﺩاء، ﻭﻻ ﻳﻜﻮﻥ اﻟﻀﻤﺎﻥ ﻣﺠﻮﺯا ﻟﻠﺘﺼﺮﻑ ﻛﻤﺎ ﺫﻛﺮﻩ ﻏﻴﺮﻩ، ﻭﺗﻘﺪﻡ ﻓﻲ اﻟﺠﻨﺎﺋﺰ ﻧﺤﻮﻩ.

*[ابن حجر الهيتمي، تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي، ١٨١/٣]*

فإن لم يكن بالتركة جنس الدين أي أو كان ولم يسهل القضاء منه فورا فيما يظهر سأل ندبا الولي غرماءه أن يحتالوا به عليه وحينئذ فتبرأ ذمته بمجرد رضاهم بمصيره في ذمة الولي وإن لم يحللوه كما يصرح به كلام الشافعي والأصحاب بل صرح به كثير منهم وذلك للحاجة والمصلحة وإن كان ذلك ليس على قاعدة الحوالة ولا الضمان قاله في المجموع قال الزركشي وغيره أخذا من الحديث الصحيح «أنه – صلى الله عليه وسلم – امتنع من الصلاة على مدين حتى قال أبو قتادة علي دينه» وفي رواية صحيحة «أنه لما ضمن الدينارين اللذين عليه جعل – صلى الله عليه وسلم – يقول هما عليك والميت منهما بريء قال نعم فصلى عليه» أن الأجنبي كالولي في ذلك وأنه لا فرق في ذلك بين أن يخلف الميت تركة وأن لا وينبغي لمن فعل ذلك أن يسأل الدائن تحليل الميت تحليلا صحيحا ليبرأ بيقين وليخرج من خلاف من زعم أن المشهور أن ذلك التحمل والضمان لا يصح قال جمع وصورة ما قاله الشافعي والأصحاب من الحوالة أن يقول للدائن أسقط حقك عنه أو أبرئه وعلي عوضه فإذا فعل ذلك برئ الميت ولزم الملتزم ما التزمه لأنه استدعاء مال لغرض صحيح اهـ وقولهم أن يقول إلى آخره مجرد تصوير لما مر عن المجموع أن مجرد تراضيهما بمصير الدين في ذمة الولي يبرئ الميت فيلزمه وفاؤه من ماله وإن تلفت التركة وبحث بعضهم أن تعلقه بها لا ينقطع بمجرد ذلك بل يدوم رهنها بالدين إلى الوفاء لأن في ذلك مصلحة للميت أيضا ونوزع فيه ويجاب بأن احتمال أن لا يؤدي الولي يساعده ولا ينافيه ما مر من البراءة بمجرد التحمل لأن ذلك قطعيا بل ظنيا فاقتضت مصلحة الميت والاحتياط له بقاء الحجر في التركة حتى يؤدي ذلك الدين

*[ابن حجر الهيتمي، تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي، ١٠١/٣]*

قال البجيرمي: الدخاريص جمع دخريص بالكسر وهي المسماة بالنيافق ورءوسها هي الخياطة التي في أسفل الكم ولا يحتاج لإذن الوارث اكتفاء بإذن الشارع ولما فيه من المصلحة للميت من عدم كشف عورته ع ش اهـ

وفي الكردي على بافضل وفي الإيعاب ظاهر كلامهم أن الغاسل لا يحتاج إلى استئذان الورثة في الفتق وإن نقصت به القيمة وفيه ما فيه ثم قال: نعم ينبغي أن محله حيث لم يكن في الورثة محجور عليه وإلا لم يجز فتقه المنقص لقيمته اهـ

*بغية المسترشدين؛ صحـ : 360 مكتبة دار الفكر*

( مَسْأَلَةٌ ي ) اَلْقِسْمَةُ إِنْ وَقَعَتْ عَلَى وِفْقِ الشَّرْعِ كَمَا لَوِ اخْتَلَفَ فِي مَالِ الزَّوْجَيْنِ فَقِسْمٌ عَلَى التَّفْصِيْلِ الآتِي فِي الدَّعْوَى مِنْ تَقْدِيْمِ الْبَيِّنَةِ ثُمَّ الْيَدِّ ثُمَّ مِنْ حَلَفٍ ثُمَّ جَعَلَهُ أِنْصَافاً عِنْدَ عَدَمِ مَا ذُكِرَ فَصَحِيْحَةٌ *وَإِنْ وَقَعَتْ عَلَى خِلافِ الشَّرْعِ بِغَيْرِ تَرَاضٍ بَلْ بِقَهْرٍ أَوْ حُكْمِ حَاكِمٍ فَبَاطِلَةٌٌ* إِفْرَازاً أَوْ تَعْدِيْلاً أَوْ رَدًّا لانَّهَا مَقْهُوْرٌ عَلَيْهَا فَلا رِضَا وَالْقَهْرُ الشَّرْعِيُّ كَالْحِسِّي *وَهَذَا كَمَا لَوْ وَقَعَتْ بِتَرَاضٍ مِنْهُمَا مَعَ جَهْلِهِمَا أَوْ أَحَدِهِمَا بِالْحَقِّ الَّذِي لَهُ لانَّهَا إِنْ كَانَتْ إِفْرَازاً فَشَرَّطَهَا الرِّضَا بِالتَّفَاوُتِ وَإِذَا كَانَ أَحَدُهُمَا يَعْتَقِدُ أَنَّ حَقَّهُ الثُّلُثُ لا غَيْرُ وَلَهُ أَكْثَرُ شَرْعاً فَهُوَ لَمْ يَرْضَ بِالتَّفَاوُتِ إِذْ رِضَاهُ بِأَخْذِ الآخَرِ شَيْئاً مِنْ حَقِّهِ مَا يَكُوْنُ إِلا بَعْدَ عِلْمِهِ بِأَنَّهُ يَسْتَحِقُّهُ* وَإِنْ كَانَتْ تَعْدِيْلاً أَوْ رَدًّا فَكَذِلَكَ أَيْضاً لانَّهُمَا بَيْعٌ وَشَرْطُهُ الْعِلْمُ بِقَدْرِ الْمَبِيْعِ وَقَدْ أَفْتَى أَبُوْ مَخْرَمَة بِعَدَمِ صِحَّةِ الْبَيْعِ فِيْمَا لَوْ بَاعَ الْوَرَثَةُ أَوْ بَعْضُهُمْ التِّرْكَةَ قَبْلَ مَعْرِفَةِ مَا يَخُصُّ كُلاًّ حَالَ الْبَيْعِ وَإِنْ أَمْكَنَهُمْ مَعْرِفَتُهَا بَعْدُ *وَإِنْ وَقَعَتْ بِتَرَاضِيْهِمْ وَلَمْ يَكُنْ فِيْهِمَا مَحْجُوْرٌ مَعَ عِلْمِهِمَا بِالْحُكْمِ لَكِنِ اخْتَارَا خِلافَهُ صَحَّتْ فِي غَيْرِ الرِّبَوِيّ مُطْلَقاً وَفِيْهِ إِنْ كَانَتِ الْقِسْمَةُ إِفْرَازاً* لانَّ الرِّبَا إِنَّمَا يُتَصَوَّرُ جِرْيَانَهُ فِي الْعُقُوْدِ دُوْنَ غَيْرِهَا كَمَا فِي التُّحْفَةِ وَإِنْ كَانَ ثَمَّ مَحْجُوْرٌ فَإِنْ حَصَلَ لَهُ جَمِيْعُ حَقِّهِ صَحَّتْ وَإِلا فَلا اهـ

DISKRIMINASI DAN STIGMA BURUK HARAM BAGI PENYANDANG DISABILITAS

alam perspektif Islam, penyandang disabilitas identik dengan istilah dzawil âhât, dzawil ihtiyaj al-khasṣah ataudzawil a’zâr: orang-orang yang mempunyai keterbatasan, berkebutuhan khusus, atau mempunyai uzur. Hal ini memunculkan pertanyaan apakah dengan demikian penyandang disabilitas harus didiskriminasi atau dikucilkan?

Tentu tidak, karena penyandang disabilitas juga manusia yang mempunyai hak yang sama untuk bermasyarakat dan bergaul dengan semua orang. Apalagi bila dilihat dari sudut pandang Islam, manusia yang paling mulia di hadapan Allah adalah yang paling bertakwa, seperti ditegaskan dalam firman-Nya berikut:

يَآأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Ḥujurât/49: 13)

Dalam haditst Nabi Muhammad SAW juga ditegaskan:

إِنَّ الله لا يَنْظُرُ إِلى أَجْسامِكْم، وَلا إِلى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى صَدْرِهِ (رواه مسلم)

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kamu sekalian, tetapi Allah melihat kepada hati kamu sekalian Rasulullah menujuk ke dadanya” (HR. Muslim)

Oleh sebab itu, stigma terhadap penyandang disabilitas sebagai kutukan dan penderitanya adalah orang-orang yang terkutuk harus segera dihentikan. Sebaliknya kita perlu menyebarkan pandangan yang positif, yang membuka wawasan masyarakat agar mau menumbuhkan penghormatan dan empati terhadap penyandang disabilitas. Dalam hal ini, kita harus menghindari prasangka buruk (su’udh dhann) kepada penyandang disabilitas. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, hindarilah banyak prasangka, karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa.” (QS. Al-Ḥujurât/49: 12)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW. bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ (متفق عليه)

Jauhkan dirimu dari prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling bohong” (HR.Bukhari Muslim)

Bahkan, terhadap orang yang jelas menyimpang, caci maki tidak boleh dilakukan. Dalam menafsirkan firman Allah SWT., “lâ yaskhar qawmun min qawmin”, Syaikh Ibn Zaid berkata:

لاَ يَسْخَرْ مَنْ سَتَرَ اللهُ عَلَيْهِ ذُنُوْبَهُ مِمَنْ كَشَفَهُ اللهُ، فَلَعَلَّ إِظْهَارُ ذُنُوْبِهِ فِي الدُّنْيَا خَيْرٌ لَهُ فِي اْلآخِرَةِ

“Janganlah orang yang telah ditutupi dosanya oleh Allah SWT.. Mengolok-olok orang yang telah dibuka dosanya oleh Allah SWT boleh jadi terbukanya dosanya di dunia lebih baik baginya daripada terbuka dosanya di akhirat” (Al-Qurthubi, Al-Jami` li Ahkami Al-Quran, Tahqiq Hisyam Samir Al-Bukhori, [Rayadh: Dar `Alami Al-Kutub, 1423 H/ 2003 M], vol. XVI, hal. 325).

Nabi Muhammad SAW juga menegaskan:

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ (أخرجه الترمذي)

Barang siapa yang mencerca saudaranya sebab suatu dosa, maka dia tidak akan mati sehingga dia melakukan dosa tersebut (HR. Tirmidzi).

Bila kepada yang berdosa saja kita dilarang merendahkan, apalagi kepada orang-orang yang sekadar berbeda kemampuan secara fisik. Hal ini menunjukkan penghormatan Islam yang tinggi terhadap manusia tanpa memandang dari segi keanekaragaman kemampuan atau keterbatasan fisik. Setiap manusia pada dasarnya setara, dan memiliki hak-hak yang setara. Standar kemuliaan dalam Islam adalah ketakwaan, bukan kemampuan fisik atau mental.

===
Artikel ini dinukil dari buku “Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas” yang disusun dan diterbitkan oleh tim Lembaga Bahtsul Masail PBNU, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), serta Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Unibraw.

MEMBACA SELEKSI ALAM DALAM GELAGAT KEHIDUPAN

Anak kami yang berusia dua setengah tahun kini sudah mulai pandai bermain gawai. Entah sekadar memutar saluran Youtube lagu-lagu untuk bayi, melihat koleksi foto maupun video, atau lainnya. Saya yakin, banyak anak seusia dia yang juga sudah mulai akrab dengan perangkat serupa. Bayangkan, anak seusia segitu sudah bisa bermain gawai, bagaimana dengan yang seusia kakaknya, tentu sudah lebih mahir lagi. Bahkan beberapa sudah bisa bermain game daring.

 Awalnya, saya dan mungkin banyak orang tua, mencoba menjauhkan anak-anak dan gawai. Tapi, selama berada di rumah dalam rentang waktu yang lama, mau tidak mau, suka tidak suka, sekeras apa pun usaha kita, pada akhirnya anak akan berkenalan dengan gawai. Banyak alasan. Seperti supaya anteng tidak “mengganggu” ketika kita kerja di rumah, mengerjakan tugas sekolah untuk kakak-kakaknya, orang tua bisa merapikan rumah, dan sederet alasan lain. Situasi sudah memaksa kita mengenalkan anak pada gawai. Sialnya, candu atau sihir gawai demikian dahsyat. Sekali pegang, anak kita akan merekam dengan baik dan selalu berusaha untuk memainkannya.

Situasi ini tidak terbayangkan sebelumnya dan kita tidak bisa menolak. Usaha terbaik adalah kita beradaptasi dengan situasi baru ini. Ya, situasi yang selama wabah ini berlangsung, orang “dipaksa” hidup secara berbeda tiap harinya, dengan sebelum adanya wabah. Dan, kehidupan baru ini terjadi secara cepat atau revolusioner. Semua aspek kehidupan manusia berubah secara drastis. Dari ekonomi, politik, agama, bahkan ilmu pengetahuan. Semuanya menyesuaikan dengan situasi baru yang dihadapi—untuk jangka waktu yang belum pasti. Dalam skala kecil misalnya, kini tukang sayur yang biasa keliling rumah untuk menjajakan dagangannya, sudah menggunakan teknologi. Ibu-ibu tinggal kirim daftar belanjaan, nanti tukang sayur akan mengantar atau meletakkan belanjaan di depan pintu. Rapat, baik yang sifatnya resmi maupun informal, sudah menggunakan aplikasi yang disediakan dalam gawai. Jadwal ditentukan, kemudian pada saatnya semua bisa ketemu di langit maya. Bahkan, doa bersama pun kini sudah dilakukan dengan menggunakan aplikasi dan jaringan internet, tanpa perlu berkumpul seperti lazimnya.

Fenomena ini mengingatkan kita pada Thomas Kuhn melalui karyanya The Structure of Scientific Revolutions (1962), yang menyebutkan suatu temuan baru ilmu pengetahuan akan menggeser paradigma, bukan secara gradual melainkan dalam bentuk percepatan. Temuan terkini ilmu pengetahuan akan mengguncang pemikiran untuk sesaat, lalu data, fakta-fakta lama pun ditafsir ulang supaya sesuai dengan paradigma terbarukan, selain tentunya ada fakta-fakta kiwari yang ditemukan.

Demikian juga dengan adanya wabah virus kali ini. Sejatinya, serangan pada pernapasan seperti Corona sudah ada lebih dulu. Tetapi kemunculan Covid-19 mencuatkan sederet fenomena dengan deretan fakta-fakta dan teori saintifik baru. Nah, paradigma baru ditambah fenomena baru, menghasilkan banyak pertanyaan yang bersumber dari data lama, untuk menyelesaikan sejumlah teka-teki dari paradigma sebelumnya—yang mengubah “peta” dan aturan main. Semua serbabaru. Perubahan yang terjadi secara drastis tersebut pun, memantik banyak pertanyaan, tidak saja terkait Covid-19, melainkan kehidupan sosial manusia yang berusaha beradaptasi dan menghadapinya.

Apakah sains akan berhasil mengatasi hal ini? Lalu, bagaimana kehidupan sosial berikutnya setelah orang terbiasa hidup di rumah?

Jika ditelusuri “asbabul wurud”-nya, memang bermula dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Virus Corona sudah lama ada dan banyak jenisnya, tetapi untuk sekarang, secara saintifik ditemukan fakta-fakta baru. Banyak orang, di hampir semua negara yang terkena berusaha menyesuaikan dengan temuan ilmu pengetahuan terkait Covid-19. Walaupun bermula dari persoalan ilmu pengetahuan, tetapi kini yang kita hadapi sudah sedemikian kompleks dan mengubah semua aspek kehidupan manusia. Mungkin Kuhn pun tidak membayangkan akan ada kejadian yang sedemikian cepat, mengakar, dan meliputi semua penyokong kehidupan kita. Yang pasti, manusia dipaksa hidup secara berbeda sama sekali. Kita sedang berada di ujung suatu era, dan sedang memulai secara pelahan sebuah era baru yang belum ada presedennya. Pengorbanan Beberapa bulan belakangan kita lazim mendengar-melihat sebuah keadaan miris tentang para pejuang kesehatan yang berguguran satu demi satu. Dengan segala jerih payah, akhirnya merelakan diri sendiri menjadi martir demi menyelamatkan sesama saudara yang diserang keganasan Covid-19. Entah mereka juga terpapar atau memang karena kelelahan, sudah tak lagi penting kita bincangkan.

Intinya, nama mereka telah harum sebagai pahlawan kemanusiaan. Fenomena tersebut menarik untuk kita amati. Sejauh ini, sains tidak dapat menjelaskan secara gamblang apa itu pengorbanan, dan mengapa ada banyak makhluk hidup di dunia ini yang rela berkorban. Sedari hewan-hewan kecil, hingga makhluk pelik seperti manusia, pengorbanan akan selalu ada dan terjadi. Beberapa spesies—misalikan salmon—kebanyakanakan mati setelah mereka bertelur. Perjuangan mereka dalam mencari tempat yang aman untuk anak-anaknya, harus dibayar mahal, yakni kematian induk salmon. Apakah hewan memiliki empati dan perasaan mengasihi yang begitu dalam? Apakah itu merupakan bawaan genetika semata? Namun jika itu empati, bagaimana cara seekor hewan merasakan empati yang luar biasa sehingga ia harus berkorban demi anak-anaknya? Sejauh ini sains hanya menjelaskan bahwa itu semua adalah naluri bertahan hidup. Faktanya, naluri bertahan hidup justru tidak akan membuat organisme mengorbankan diri, malah sebaliknya. Laman Eurek Alert mencatat bahwa hormon oksitosin diduga kuat sebagai penyebab mengapa organisme dapat berkorban demi anak-anaknya. Meskipun begitu, nyatanya para ilmuwan dan ahli satwa juga tidak dapat menjawab dengan gamblang bagaimana dugaan tersebut bisa terjadi. Beberapa ilmuwan lain justru menyatakan bahwa peran hormon oksitosin sebagai “hormon cinta” sangat sulit dikaitkan dengan pengorbanan. Artinya, berkorban merupakan suatu hal yang berada di luar nalar manusia, dan itu sulit dijelaskan oleh sains.

Pandemi memang tampak berhasil mengubah perilaku kita dalam beberapa hal. Ada pranata baru yang saat ini juga sedang tersusun secara acak. Kita takkan bisa menampiknya meski dengan segala cara. Jalan hidup memang sudah waktunya berubah. Tapi ketahuilah, Saudara tercinta. Pengorbanan, sebagaimana yang telah kami terakan di bagian atas, takkan surut oleh waktu. Sebab itu merupakan kodrat manusia. Bawaan dasar yang tak bisa dihapuskan. Tanpa pengorbanan begitu banyak orang, mustahil kita bisa melewati hantaman pandemi dan tetap hidup hingga hari ini. Selalu saja ada para pemberani yang menyelamatkan nyawa begitu banyak orang. Jika ibu-ibu di pasar enggan keluar rumah untuk menjual sayur-mayur, atau berdagang sembako, niscaya riwayat kita sudah tamat. Bilamana para petani tak lagi mau menggarap sawahnya—lantaran harus kerja dari rumah, lantas kita mau makan nasi dari mana? Secara taksa, apa yang mereka lakukan itu, setidaknya di Indonesia kita, merupakan bentuk sembah Hyang (sembahyang). Sebuah persembahan agung pada Dzat Penguasa segala. Cara paling ultim untuk tetap merawat kehidupan yang dianugerahkan-Nya pada kita selama ini. Sesungguhnya semua dari kita berpeluang melakukan hal serupa. Hanya saja, tak setiap kita bisa memantik kesadaran seperti itu dan mengejawantahkannya di atas panggung raya kehidupan.

Semoga kita tak terjebak menjadi manusia angkuh yang hanya mementingkan diri sendiri, dan abai pada sesama yang keadaannya jauh lebih memprihatinkan ketimbang kita. Semoga pula kita bisa menghiasi perubahan yang diakibatkan pandemi, dengan warna-warni indah tata salira, dan tentu—harus mempertahankan apa yang memang harus bertahan. Demi kehidupan yang puspawarna ini, terkadang hidup kita pun perlu dikorbankan dengan segenap jiwa-raga.

Mati karena diserang pandemi hanya salah satu cara dari sekian banyak proses kematian, termasuk barangkali dengan cara berkorban itu. Pelajaran berharga mahal ini bisa kita petik dari (QS. az Zumar [39]: 42), yang berbunyi :

ٱللَّهُ يَتَوَفَّى ٱلْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَٱلَّتِى لَمْ تَمُتْ فِى مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ ٱلَّتِى قَضَىٰ عَلَيْهَا ٱلْمَوْتَ وَيُرْسِلُ ٱلْأُخْرَىٰٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Allah menggenggam jiwa (manusia) ketika matinya dan (menggenggam) jiwa (manusia) yang belum mati pada waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (manusia) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.”

Jadi pahamilah, bahwa dalam hidup ini memang harus ada yang berubah dan tetap sebagaimana adanya. Demikian…

PENTING SEKALI : PENGARUH MAKANAN YANG TIDAK HALAL

Perilaku yang salah berdampak buruk tak hanya secara fisik tapi juga rohani. Tidak ada yang sia-sia dalam perkara yang telah ditetapkan Allah. Termasuk dalam larangan mengonsumsi makanan yang tak halal. Tidak halal di sini, baik dalam pengertian haram maupun syubhat. Mengapa yang syubhat juga harus dihindari?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengemukakan alasannya.

Kemudian, sedikitnya ada empat bahaya yang ditimbulkan dari makanan yang tak halal.

Pertama, energi tubuh yang lahir dari makanan haram cenderung untuk dipakai maksiat.

Sahabat Sahl radhiyallahu ‘anhu mengatakan :

من أكل الحرام عصت جوارحه شاء أم أبى

 “Siapa saja yang makan makanan yang haram, maka bermaksiatlah anggota tubuhnya, mau tidak mau” (al-Ghazali, Ihya ‘Ulum al-Din, jilid 2, hal. 91).

Pantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan, “Tidaklah yang baik itu mendatangkan sesuatu kecuali yang baik pula” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Secara tidak langsung, hadits ini mengatakan, “Tidaklah yang buruk itu mendatangkan sesuatu kecuali yang buruk.” Lebih berat lagi, makanan tidak halal itu menjadi darah daging keturunan kita atau diberikan kepada keturunan kita, maka kemungkinan keturunan kita menjadi keturunan saleh menjadi kecil.

Tak heran jika para ulama akhlak mempersyaratkan diterimanya suatu amal ditopang dengan makanan yang halal. Hal ini dianalogikan kepada hadits tentang sedekah, di mana sedekah tidak diterima kecuali yang berasal dari usaha yang halal.

 إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَا يَقْبَلُ صَلَاةً بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةً مِنْ غُلُولٍ

“Sesungguhnya tabaraka wata‘ala tidak menerima suatu shalat tanpa bersuci dan tidak menerima sebuah sedekah yang berasal dari ghulul (khianat/curang).” (HR Abu Dawud).

Kedua, terhalangnya doa. Hal itu berdasarkan pesan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabat Sa‘d radliyallahu ‘anhu.

 يَا سَعْدُ أَطِبْ مَطْعَمَكَ تَكُنْ مُسْتَجَابَ الدَّعْوَةِ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنَّ الْعَبْدَ لَيَقْذِفُ اللُّقْمَةَ الْحَرَامَ فِي جَوْفِهِ مَا يُتَقَبَّلُ مِنْهُ عَمَلَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا

“Wahai Sa‘d, perbaikilah makananmu, niscaya doamu mustajab. Demi Dzat yang menggenggam jiwa Muhammad, sesungguhnya seorang hamba yang melemparkan satu suap makanan yang haram ke dalam perutnya, maka tidak diterima amalnya selama empat puluh hari” (Sulaiman ibn Ahmad, al-Mu‘jam al-Ausath, jilid 6, hal. 310).

Selain makanan yang baik, amal perbuatan yang baik dan ketaatan secara umum juga dapat menjadi pintu cepat terkabulnya doa.

Ketiga, sulitnya menerima ilmu Allah. Ketahuilah ilmu adalah cahaya, sedangkan cahaya tidak akan diberikan kepada ahli maksiat. Itu pula yang pernah dikeluhkan oleh al-Syafi‘i kepada gurunya Imam Waki‘, sebagaimana yang populer dalam sebuah syairnya:

 شكوت إلى وكيع سوء حفظي * فأرشدني إلى ترك المعاصي وقال اعلم بأن العلم نور * ونور الله لا يؤتاه عاصي

Aku mengeluhkan buruknya hapalanku kepada Imam Waki‘ Beliau menyarankan kepadaku untuk meninggalkan maksiat Dan beliau berkata, ketahuilah ilmu ialah cahaya Sedangkan cahaya Allah tak diberikan kepada ahli maksiat Walau as-Syafi‘i tidak menyebutkan sulitnya menerima ilmu akibat makan makanan yang tak halal, tetapi dapat dipahami bahwa makan makanan tak halal itu termasuk perbuatan maksiat. (Lihat: Muhammad ibn Khalifah, Thalibul ‘Ilmi bainal Amanah wat-Tahammul, [Kuwait: Gharas]: 2002, Jilid 1, hal. 18).

Makanan tak halal, kemaksiatan, dan perbuatan dosa secara umum juga berdampak pada malasnya beribadah, sebagaimana yang pernah dirasakan oleh Imam Sufyan al-Tsauri, “Aku terhalang menunaikan qiyamullail selama lima bulan karena satu dosa yang telah aku perbuat.” (Lihat: Abu Nu‘aim, Hilyatul Auliya, [Beirut: Darl KItab], 1974, Jilid 7, hal. 17I).

Keempat, ancaman keras di akhirat. Bentuk ancamannya apalagi jika bukan siksa api neraka. Ancaman ini jelas disampaikan dalam Al-Quran dan hadits. Di antaranya ancaman api nereka bagi orang yang makan harta anak yatim dan harta riba.

 إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوالَ الْيَتامى ظُلْماً إِنَّما يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ ناراً وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيراً

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka), (QS al-Nisa’ [4]: 10).

Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya,” (QS Al-Baqarah [2]: 275).

Ancaman siksa neraka yang bersifat umum akibat makanan tak halal juga disampaikan Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam:

 كُلُّ لَحْمٍ وَدَمٍ نَبَتَا مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِمَا

“Setiap daging dan darah yang tumbuh dari perkara haram, maka neraka lebih utama terhadap keduanya,” (HR Al-Thabrani).

Maka marilah kita berusaha semaksimal mungkin menghindari perkara yang tak halal, baik yang haram maupun yang syubhat. Mengapa yang syubhat juga harus dihindari? Karena menghindari yang syubhat merupakan benteng dalam menjauhi yang haram. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah berpesan, “Siapa saja yang jatuh kepada perkara syubhat, maka ia akan terjatuh kepada perkara haram.” (HR Muslim).

Kaitan menghindari perkara syubhat, kita ingat kepada kisah Abu Bakar yang memuntahkan makanan yang telah ditelannya.

Berikut adalah kisah lengkapnya. Pada suatu hari, Abu Bakar dibawakan makanan oleh pelayannya. Beliau pun menyantapnya. Lantas ditanya oleh si pelayan, “Apakah engkau tahu makanan itu? Beliau menjawab, “Memangnya makanan apa itu? Dijawab oleh si pelayan, “Pada zaman Jahiliah aku biasa meramal untuk seseorang. Aku sendiri tak mumpuni soal ramalan, sehingga aku sering mengelabuinya. Saat itu pun orang itu datang menemuiku dan memberiku makanan itu. Dan makanan itu pula yang engkau makan.” Mendengar demikian, Abu Bakar langsung memasukkan jarinya (ke mulut), dan memuntahkan semua yang sudah masuk ke dalam perutnya (HR Al-Bukhari).

Dari empat poin di atas, dapat dipahami bahwa betapa bahayanya makanan yang tak halal bagi kita, baik terhadap diterimanya amal, dikabulkannya doa, dibukanya cahaya Allah, maupun terhadap keselamatan kita di akhirat.

Demikian semoga bermanfaat.

MENCARI HIKMAH DAN MEMAKNAI RAMADLAN DENGAN TIDUR SEHARIAN

Dalam menjalani hidup di dunia yang fana dan diisi penuh makhluk dengan berbagai macam karakter ini, kita tidak bisa terus berharap segala sesuatunya akan berjalan sesuai ekspektasi. Terkadang, atau bahkan sering kali, apa yang kemudian terjadi sama sekali jauh dari apa yang kita harapkan dan bayangkan sebelumnya.

Hal ini bisa terjadi dengan sendirinya, kadang pula digagalkan oleh sosok yang tidak ingin semua berjalan sesuai rencana kita. Dalam dunia perfilman, sosok tersebut biasa disebut dengan tokoh antagonis. Son Goku dan kawan-kawannya mungkin bisa dengan mudah mengumpulkan sembilan Dragon Ball yang tersebar di penjuru dunia, jika tidak dihalangi oleh Iblis Buu. Uzumaki Naruto pun pastinya bisa melenggang mulus menjadi Hokage, bila tidak ada perlawanan dari Orochimaru, Obito, atau Madara. Nankatsu dengan Kapten Tsubatsa-nya juga tidak perlu susah payah memenangi kejuaraan nasional tingkat sekolah, kalau saja tidak ada Toho dengan Hyuga-nya.

Coba bayangkan, jika tidak ada sosok-sosok antagonis itu. Perjalanan para ‘pahlawan’ kita tidak akan segereget kisah yang selama ini kita baca. Semua kisah akan cenderung membosankan, karena tidak adanya perjuangan berarti.

Itu juga yang terjadi saat kita menjalani ibadah. Hubungan tidak hanya terjadi antara makhluk dengan tuhannya, tapi juga melibatkan sosok antagonis bernama setan.

Sama seperti di dunia film, Allah pun menciptakan setan di dunia agar perjuangan para hamba-Nya dalam beribadah jauh lebih keras. Allah menciptakan setan untuk menguji dan menampakkan perbedaan antara hamba-Nya yang beriman dan yang tidak. Sebab, tanpa adanya setan, para manusia bisa dengan mudahnya menjalankan ajaran dan perintah Allah.

Persis seperti sabda Rasulullah SAW, “Jika seandainya tidak ada setan yang berkeliling di hati manusia, niscaya manusia akan bisa melihat alam malakut” (H.R. Abu Hurairah).

Maka, sudah menjadi kewajiban kita sebagai hamba Allah untuk berperang melawan ‘sosok antagonis’ tersebut. Cara yang paling ampuh, tentu dengan berpuasa. Mengapa demikian? Sebab, cara yang sama yang selalu dilakukan berulang kali oleh setan untuk menggoda manusia, adalah melalui syahwat. Syahwat merupakan sesuatu yang membuat manusia tidak setaat malaikat kepada Allah. Syahwat adalah alasan kenapa manusia masih berbuat maksiat. Dan syahwat akan terus hidup dalam diri manusia, sepanjang ia masih menuruti keingininannya, seperti makan dan minum. Dengan menahan diri dari makan dan minum, maka orang tersebut telah mengalahkan syahwatnya. Yang juga berarti telah mempersempit ruang bagi masuknya setan ke dalam dirinya.

Selain demi menangkal masuknya setan ke dalam tubuh, dalam haditsnya, Rasulullah SAW pun menggambarkan lapar dan haus sebagai bentuk usaha kita mengetuk pintu surga.

“Teruslah kalian mengetuk pintu surga! Hingga pintu itu dibuka”. Lalu Aisyah r.a bertanya, “Bagaiman caranya?”. Rasulullah menjawab, “Dengan menahan lapar dan haus”. Jadi, bisa dipahami, bahwa disamping bentuk ketaatan kita kepada Yang Mahakuasa, puasa juga bisa menjadi bentuk perlawanan kita terhadap setan, sosok yang selalu menghalangi langkah kita mendekat kepada-Nya.

Bulan Ramadhan sebagai momentum kita menabuh genderang perang kepada setan, harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Kapanlagi lapar dan haus kita bisa diapresiasi sebagai ibadah oleh Allah, sekaligus perjuangan kita melawan musuh-Nya, ‘kan?

Saat kita bisa memahami makna puasa sebagai peperangan melawan musuh Allah, maka sudah seharusnya momen ini diisi dengan penuh semangat, dan bukannya malah bermalas-malasan. Banyak dari kita yang bermalas-malasan di saat Bulan Ramadhan, dan bersembunyi di balik perisai hadits, “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah”.

Bagi mereka kaum rebahan, hadits tersebut bagai oase di tengah kegersangan. Hadits itu seakan menjadi pembenaran bagi mereka untuk bermalas-malasan. Lebih parahnya lagi, banyak orang yang meninggalkan amal-amal baik di Bulan Ramadhan ini, seperti berzikir, membaca Al-Qur’an, mengikuti kajian keislaman, demi mengejar ‘ibadah’ sebagaimana dalam hadits.

Hadits di atas sudah terlanjur meluas dan familiar di telinga masyarakat. Padahal jika ditelaah lebih dalam, kita bisa temukan masalah di dalamnya. Imam Bukhari mengatakan bahwa hadits ini tergolong hadits matruk alias semi palsu, dikarenakan adanya perawi yang dianggap daif dalam runtutan sanadnya, yakni Sulaiman Ibn Amr al-Nakha’i. Bahkan Imam Ahmad Ibn Hanbal menyebut Sulaiman sebagai pembohong, dan salah satu sosok yang sering memalsukan hadits. Ini tentu menjadi masalah besar bagi orisinalitas sebuah hadits.

Saya jadi teringat penjelasan dalam salah satu syarh Alfiyah Ibn Malik, Hasyiyah Shabban, pada bab tamyiz. Menurut penulisnya, Muhammad Ibn Ali al-Shabban, beberapa tamyiz berasal dari kata yang semula menjadi fa’il, maf’ul bih, atau mubtada’, yang kemudian ditempatkan di akhir kalam. Penempatan tamyiz di akhir kalam itu memiliki satu tujuan penting, yakni justru agar kalimat tersebut lebih misterius dan sulit dipahami. Sehingga ketika kalimat itu berhasil dipahami, pemahaman tersebut akan lebih terpatri dalam pikiran. Beliau mengatakan,“Karena sesuatu yang dihasilkan melalui usaha keras akan jauh lebih bermakna dibanding hal lain yang diraih tanpa usaha”.

Saya yakin setiap orang pasti akan lebih menghargai perjuangan seseorang yang menjalani puasa dengan dibarengi kerja keras dari pagi hingga sore hari, dibanding puasa seseorang yang tidur seharian dan bahkan baru bangun 15 menit sebelum azan maghrib.

Ehem… Memang tidak ada salahnya tidur di bulan Ramadhan. Apalagi bila itu diniati demi menghindarkan diri dari stalking mantan yang makin hari makin terlihat memesona, maka tidur akan menjadi sangat baik. Namun sekali lagi, apa itu yang kita sebut perang melawan setan? Apa tidak sayang moment di mana semua amal ibadah akan dilipat gandakan pahalanya lewat begitu saja, sementara kita sibuk ‘mengejar mimpi’? Saya hanya ingin mengingatkan bahwa, setan akan melakukan segalanya demi membuatmu meninggalkan ibadah. Mungkin bantal yang sedang merayumu untuk tidur itu adalah, setan?

PERAN ORANG TUA DALAM KEBERHASILAN PEMBELAJARAN JARAK JAUH

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau pembelajaran di rumah saat masa pandemi Corona ini membuat orang tua harus tampil sebagai pendamping putra-putrinya dalam melaksanakan hal tersebut.

Psikolog Seto Mulyadi menyampaikan bahwa sekarang bukan lagi zamannya orang tua melakukan perintah-perintah. Namun, orang tua harus bisa memosisikan diri sebagai sahabat untuk putra putrinya. Hal tersebut disampaikan saat menjadi narasumber pada Webinar Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (5/5).

Perlakuan diri orang tua sebagai sahabat bagi anak-anaknya, menurutnya, dapat menjadikan E-Learning berjalan dengan baik. Dalam hal ini, orang tua harus dapat menyesuaikan putra-putrinya, dalam memahami teknologi sebagai media pembelajaran, hingga memahami mata pelajaran mereka.

Sebagai sahabat, orang tua juga, lanjutnya dapat lebih membuka perbincangan, bercengkerama ataupun berolahraga bersama guna mengurangi setres anak.

“Bagaimanapun karena kondisi saat ini, banyak hal positif yang kita bisa ambil, salah satunya menumbuhkan kesadaran orangtua yang mengambil alih cara mendidik putra putrinya, dan harus memahami beberapa materi dari pelajaran anak,” ujar pria yang akrab disapa Kak Seto itu.

Senada dengan Seto, anggota DPR RI Komisi X Muhammad Khadafi mengatakan bahwa peran stakeholder pendidikan siswa harus mampu menyesuaikan diri dan dapat menyesuaikan keadaan. “Dengan keterbatasan SDM dan fasilitas, orang tua juga punya tanggung jawab yang besar,” dalam webinar yang digelar oleh Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) pada Sabtu (2/5).

Andaikan saja guru itu seperti orang tua dan orang tua seperti guru, katanya, maka pendidikan akan berkembang dengan baik.

Sementara itu, Dosen UIN Walisongo Semarang Rikza Hamami menyatakan bahwa semua orang menjadi guru. Ia pun harus mendidik tiga anaknya. “Masing-masing di antara kita memiliki tanggung jawab landasan pendidikan kita,” ujarnya.