MENCONTOH NABI IBROHIM AS DALAM MEMULIAKAN TAMU

Saling berkunjung sesama kerabat, teman maupun sejawat merupakan kebiasaan yang tak bisa dihindari. Keinginan berkunjung dan dikunjungi selalu ada harapan. Demikianlah, suatu saat kita akan kedatangan tamu, baik diundang maupun tidak. Bahkan pada momen-momen tertentu, kedatangan tamu sangat gencar.

Islam mengajarkan bagi siapa saja yang menjadi tuan rumah, supaya menghormati tamu. Penghormatan itu tidak sebatas pada tutur kata yang halus untuk menyambutnya, akan tetapi, juga dengan perbuatan yang menyenangkan. Misalnya dengan memberikan jamuan, meski hanya sekedarnya.

Sikap memuliakan tamu, bukan hanya mencerminkan kemuliaan hati tuan rumah kepada tamu-tamunya. Memuliakan tamu, juga menjadi salah satu tanda tingkat keimanan seseorang kepada Allah dan Hari Akhir. Dengan jamuan yang disuguhkan, ia berharap pahala dan balasan dari Allah pada hari Kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya” [HR al-Bukhâri dan Muslim]

Imam Ahmad rahimahullah dan sejumlah ulama lainnya, seperti dikutip oleh Ibnu Katsîr rahimahullah, berpendapat wajibnya memberikan dhiyaafah (jamuan) kepada orang yang singgah (tamu). Hal ini berdasarkan ayat di atas dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [Lihat Tafsir Ibni Katsîr, 7/420].

Saking besarnya hak tamu, ada tarhîb bagi orang yang tidak mengindahkan tamunya. kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لاَ خَيْرَ فِيْمَنْ لَا يُضِيْفُ

“Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak menjamu tamu”. [HR Ahmad. Lihat ash-Shahîhah, no. 2434].

MENJAMU TAMU, MERUPAKAN SUNNAH NABI IBRAHIM

Memberi jamuan kepada tamu, merupakan kebiasaan sudah berkembang sejak lama, sebelum risalah Nabi Muhammad n diturunkan. Yang pertama kali melakukan perbuatan yang mulia ini, ialah Nabi Ibrâhiim Khalîlur Rahmân Alaihissalam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:

كان أول من ضيف الضيف ابراهيم

“Orang yang pertama kali memberi suguhan kepada tamu adalah Ibrâhîm. [Lihat ash-Shahîhah, 725].

Syaikh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Sesungguhnya memberi jamuan kepada tamu (dhiyâfah) termasuk sunnah (tradisi) Nabi Ibrâhîm yang Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan umatnya untuk mengikuti millah (ajaran) beliau. Di sini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan kisah ini (surat adz-Dzâriyât, Pen.) sebagai pujian dan sanjungan bagi beliau”. [1]

Memang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya, dititahkan untuk mengikuti ajaran-ajaran Nabi Ibrâhîm Alaihissalam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrâhîm seorang yang hanif,” dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb”. [an-Nahl/16:123].

BAGAIMANA NABI IBRAAHIIM ALAIHISSALAM MENJAMU TAMU?

Berikut ini, pemaparan singkat yang dilakukan oleh Nabi Ibraahim Alaihissalam saat memuliakan para tamunya. Imam Ibnu Katsiir rahimahullah secara khusus mengatakan: “Ayat-ayat ini mengatur tata-cara menjamu tamu”, dan mari kita perhatikan satu-persatu.

  1. Menjawab ucapan salam dari tamu dengan jawaban yang lebih sempurna.

  1. Nabi Ibrâhîm Alaihissalam tidak bertanya terlebih dahulu: “Apakah kalian mau hidangan dari kami?”

  1. Nabi Ibrâhîm Alaihissalam bersegera menyuguhkan makanan kepada tamu.

Dikatakan oleh Syaikh as-Sa’di bahwa sebaik-baik kebajikan ialah yang disegerakan. Karena itu, Nabi Ibrâhîm Alaihissalam cepat-cepat menyuguhkan jamuan kepada para tamunya.

  1. Menyuguhkan makanan terbaik yang beliau miliki, Yakni, daging anak sapi yang gemuk dan dibakar. Pada mulanya, daging tersebut tidak diperuntukkan untuk tamu. Akan tetapi, ketika ada tamu yang datang, maka apa yang sudah ada, beliau hidangkan kepada para tamu. Meski demikian, hal ini tidak mengurangi penghormatan Nabi Ibrâhîm Alaihissallam kepada tamu-tamunya.

  1. Menyediakan stok bahan di dalam rumah, sehingga beliau Alaihissallam tidak perlu membeli di pasar atau di tetangga.

  1. Nabi Ibrâhîm Alahissallam mendekatkan jamuan kepada para tamu dengan meletakkan jamuan makanan di hadapan mereka. Tidak menaruhnya di tempat yang berjarak dan terpisah dari tamu, hingga harus meminta para tamunya untuk mendekati tempat tersebut, dengan memanggil, -misalnya- “kemarilah, wahai para tamu”. Cara ini untuk lebih meringankan para tamu.

  1. Nabi Ibrâhîm Alaihissallam melayani tamu-tamunya sendiri. Tidak meminta bantuan orang lain, apalagi meminta tamu untuk membantunya, karena meminta bantuan kepada tamu termasuk perbuatan yang tidak etis.

  1. Bertutur kata sopan dan lembut kepada tamu, terutama tatkala menyuguhkan jamuan. Dalam hal ini, Nabi Ibrâhîm Alaihissallam menawarkannya dengan lembut: “Sudikah kalian menikmati makanan kami (silahkan kamu makan)?” Beliau Alaihissalam tidak menggunakan nada perintah, seperti: “Ayo, makan”. Oleh karena itu, sebagai tuan rumah, seseorang harus memilih tutur kata simpatik lagi lembut, sesuai dengan situasinya.

Intinya, tuan rumah seharusnya memuliakan tamu, yaitu dengan memberikan perlakuan yang baik kepada tamunya. Allah menceritakan perihal mereka di rumah Nabi Ibrâhîm Alaihissalam dengan sifat mukramûn (memperoleh kemuliaan).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ فَرَاغَ إِلَىٰ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrâhîm (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaman,” Ibrâhîm menjawab: “Salamun” (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka, dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrâhîm berkata: “Silahkan kamu makan”. [adz-Dzâriyât/51:24-27].

Demikianlah yang diajarkan oleh Nabiyyullah Ibrâhîm Alaihissalam kepada umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Alaihissalam pantas menjadi teladan bagi umat manusia. Allah memuji dalam firman-Nya:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ شَاكِرًا لِأَنْعُمِهِ ۚ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ وَآتَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

“Sesungguhnya Ibrâhîm adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Rabb), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar ternasuk orang-orang yang shalih”. [an-Nahl/16:120-122]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikuti ajaran-ajaran Nabi Ibrâhîm Alaihissalam :

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrâhîm seorang yang hanif,” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb”. [an-Nahl/16:123].

TIDAK MEMAKSAKAN DIRI DALAM MEMBERI JAMUAN KEPADA TAMU

Menjadi tuan rumah, memang seharusnya memberikan istimewa pelayanan kepada tamunya. Tetapi, jamuan yang disuguhkan kepada tamu, tidak sepantasnya dilakukan di luar batas kemampuannya. Sehingga sebagai tuan rumah tidak merasa berat atau memaksakan diri. Hingga mengusahakan ragam hidangan yang mungkin saja anggota keluarga belum pernah menikmatinya. Atau menikmatinya hanya saat momen-momen tertentu saja dan tidak sering.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang seseorang melakukan perbuatan yang dapat merepotkan diri sendiri. Melalui pemberitaan dari salah seorang sahabat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang takalluf dalam masalah ini. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لاَيَتَكّلَّفَنَّ أَحَدٌ لِضَيْفِهِ مَا لاَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ

“Janganlah seseorang memaksakan diri (untuk melayani) tamunya dengan sesuatu yang tidak ia sanggupi”. [Riwayat Abu Nu’aim, al Khathiib dan ad-Dailami. Lihat juga ash-Shahîhah, no. 2440)]

Pengertian takalluf sederhananya mengandung unsur pemaksaan diri dan pengusahaan di luar batas kemampuan.

Imam al-Hâkim meriwayatkan dari A’masy dari Syaqîq, ia berkata: Saya dan temanku mendatangi Salmân Radhiyallahu ‘anhu. Kemudian ia menyuguhkan roti dan garam kepada kami sembari berkata :

لَولاَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَانَا عَنِ التَّكَلُّفِ لََتَكّلْتُ لَكُمْ

“Seandainya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang kami untuk berbuat takalluf, niscaya saya akan mengusahakannya”.

Dikatakan oleh Syaikh al-Albâni rahimahullah, bahwasanya hadits-hadits di atas dikuatkan oleh makna umum hadits di bawah ini:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ فَقَالَ نُهِينَا عَنْ التَّكَلُّفِ

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Kami pernah bersama ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “Kami dilarang dari perbuatan yang memaksakan diri”. [HR al-Bukhâri, no. 6749].[3]

AWAS KEDUSTAAN DALAM PENYAMBUTAN!

Dalam point ini, perlu kiranya disampaikan sebuah tanbîh (catatan) bagi para tuan rumah yang sedang menjamu tamu-tamunya. Terutama kaum ibu. Karena terkadang, muncul gejala kedustaan saat menjamu tamu.

Misalnya, manakala tamu menyaksikan berbagai menu dan makanan tersaji di meja, kemudian sang tamu berkomentar –misalnya- “wah repot amat nih,” maka tuan rumah meresponnya dengan berkata: “wah tak repot,” padahal, tuan rumah benar-benar mengalami kerepotan dalam mempersiapkan sajian tersebut, bahkan sampai harus pergi ke pasar membeli bahan-bahan makanan, kalang-kabut dalam mempersiapkannya, dan lain-lain.

Atau ketika menyaksikan tamu bergegas mohon pamit padahal belum lama duduk, tuan rumah (ada yang) berkata: “Wah, belum dibuatkan minuman, kok sudah mau pulang?” Perkataan atau ungkapan sejenis ini, jika hanya sebatas buah bibir saja, maka perkataan tersebut sudah termasuk dalam kategori berbuat dusta.

Memang betul, tidak semua tuan rumah melakukan sebagaimana perbuatan ini. Namun, lantaran berkembangnya gejala basa-basi di sebagian daerah, permasalahan ini perlu untuk diperhatikan.

Wallahu a’lam

Sumber: https://almanhaj.or.id/2742-bercermin-kepada-nabi-ibrahim-dalam-menjamu-tamu.html

PERSELINGKUHAN SUAMI ISTRI DAN MASALAHNYA


الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Lelaki yang berzina tidak boleh menikahi melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dinikahi kecuali oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin. (QS. An-Nur: 3).

ثَلَاثَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ : الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ ، وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ ، وَالدَّيُّوثُ

“Tiga orang yang tidak akan Allah lihat mereka pada hari kiamat: Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita tomboi, dan lelaki dayuts.” (HR. Ahmad 5372, Nasai 2562, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth).

Dalam Musnad Imam Ahmad terdapat penjelasan siapakah Dayuts,

وَالدَّيُّوثُ الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخَبَثَ

“Lelaki dayuts yang membiarkan perbuatan keji pada keluarganya.” (Musnad Ahmad no. 6113).

Selingkuh ringan artinya suami/isteri  melakukan Perbuatan   mendekati  zina belum zina yang sebenarnya  seperti : sms mesra , telpon mesra , chatting mesra,  ketemuan dan berduaan dengan laki / perempuan tanpa izin suami atau isterinya.

Syaikhul Islam, Dalam hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bahwa Allah ta’ala ketika menciptakan surga, Dia berfirman: ‘Demi keagungan dan kebesaran-Ku, tidak akan ada yang bisa memasukimu (surga), orang yang bakhil, pendusta, dan dayuts.” Dayuts adalah orang yang tidak memiliki rasa cemburu. Dalam hadis shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin memliki rasa cemburu, dan Allah juga cemburu. Cemburunya Allah adalah ketika ada seorang hamba melakukan apa yang Dia haramkan untuknya.”

Tanda Suami atau istri berselingkuh ?

Sering meninggalkan sholat  terutama subuh, mulai suka bohong  dan lupa akan tugas dan kewajibannya sebagai  suami /isteri dalam rumah tangga.
Dalam keseharian tidak perhatian dan tidak  mesra dalam hubungan suami isteri jika bicara suka berbantahan banyak alasan
Pergi Pagi Pulang Malam  dan suka berlama –lama di pekerjaan dengan alasan lembur jika pergi keluar kantor tidak izin suami / isteri
Mencari-cari alasan untuk bisa pergi keluar sendiri  dan tidak mau ditemani
Handpone di password  jika dihidupkan suara ringtone  di silence
Jika bepergian sulit dihubungi atau jika bisa dihubungi hanya sebentar dan mati lagi serta mempunyai no hp lain tanpa sepengetahuan suami / isteri
Tidak mau putus hubungan dengan Handphone dan internet
Sibuk SMS dimana saja tanpa kenal waktu dan pergi saat menerima  telpon, jika ada anda  gugup dan akan bilang nanti saya hubungi atau telpon langsung dimatikan tanpa dijawab
Jika pulang dari bepergian akan langsung kebelakang untuk menghilangkan jejak perselingkuhan
Biasanya cuek tapi tiba-tiba perhatian untuk menutupi perselingkuhan
Beli pakaian baru yang tidak biasa, suka berdandan dan  memakai minyak wangi

Hukum Menuduh atau berselingkuh ?

Dalam Al Qur’an, jika seorang suami menuduh istrinya selingkuh atau sebaliknya, jika tuduhan tidak dicabut maka keduanya harus menempuh sumpah yang mengandung laknat Allah jika berdusta (Lihat QS 24:6-9).
Jika seorang yang sudah pernah menikah selingkuh sampai zina dengan orang lain, maka orang ini seharusnya mendapatkan hukum rajam sampai mati.
Orang yang menuduh wanita baik-baik telah selingkuh dan tak dapat mendatangkan empat saksi, maka selain mendapatkan hukuman cambuk, juga kesaksiannya tak bisa diterima selama-lamanya.

Pendapat Ulama bagi istri yang berselingkuh ?

Pertama, istri bertaubat dan sangat menyesali perbuatannya, bahkan dia berusaha meminta maaf kepada suaminya, mengubah cara pergaulannya dan cara berpakaiannya. Dia menjadi wanita yang dekat dengan Allah, menutup aurat dan menghindari pergaulan dengan lelaki yang bukan mahram.

Untuk kondisi ini, suami boleh mempertahankan istrinya dan tidak menceraikannya. Dengan dua syarat,

Suami harus siap memaafkan istrinya dan tidak mengungkit masa lalunya, setelah dia bertaubat.
Suami siap merahasiakan kasus istrinya dan tidak menceritakannya kepada siapapun.

Dengan sikap ini, insyaaAllah akan menjadi sumber pahala bagi suami, karena ini termasuk bentuk kesabaran.

Pernyataan kami ‘suami boleh mempertahankan istrinya’ artinya bukan kewajiban. Suami bisa mempertimbangkan dampak baik dan buruknya, untuk menentukan pilihan, cerai ataukah dipertahankan. (Fatwa Islam, no. 162851)

Kedua, sang istri belum bertaubat dan tidak menunjukkan penyesalan, bahkan pergaulannya masih bebas seperti sebelumnya, meskipun bia jadi dia hanya meminta maaf kepada suaminya.

Untuk kondisi ini, ulama berbeda pendapat, apakah suami wajib menceraikan istrinya atakah boleh mempertahankannya.

Pendapat pertama, suami boleh mempertahankannya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Dr. Muhammad Ali Farkus mengatakan,

“Seperti yang telah dipahami dalam aturan syariat, bahwa zina yang dilakukan salah satu diantara suami istri, menjadi sebab ditegakkannya hukum rajam. Namun jika hukuman ini tidak bisa ditegakkan, karena persyaratan untuk itu tidak terpenuhi, ikatan nikah tidak difasakh (dibubarkan) disebabkan zina yang dilakukan salah satunya. Dan tidak wajib difasakh, baik kasus zina itu terjadi sebelum hubungan badan atau sesudahnya, menurut pendapat mayoritas ulama.”

Pendapat kedua, suami tidak boleh mempertahankan istrinya dan harus menceraikannya. Karena ketika sang suami mempertahankan istrinya, dia dianggap tidak memiliki rasa cemburu, dan tergolong suami dayuts. Dan sikap ini termasuk dosa besar.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ : الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ ، وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ ، وَالدَّيُّوثُ

“Tiga orang yang tidak akan Allah lihat mereka pada hari kiamat: Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita tomboi, dan lelaki dayuts.” (HR. Ahmad 5372, Nasai 2562, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth).

Dalam Musnad Imam Ahmad terdapat penjelasan siapakah Dayuts,

وَالدَّيُّوثُ الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخَبَثَ

“Lelaki dayuts yang membiarkan perbuatan keji pada keluarganya.” (Musnad Ahmad no. 6113).

Dan Allah telah berfirman:

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Lelaki yang berzina tidak boleh menikahi melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dinikahi kecuali oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin. (QS. An-Nur: 3).

Oleh karena itu, pendapat yang kuat di antara pendapat ulama, bahwa wanita pezina, tidak boleh dinikahi kecuali setelah dia bertaubat. Demikian pula ketika seorang istri berzina, tidak boleh bagi sang suami untuk tetap mempertahankannya, selama dia belum bertaubat dari zina, dan dia harus menceraikannya. Jika tidak, dia termasuk dayuts.”

(Majmu’ Fatawa, 32/141).

Menceraikan Istri selingkuh yang bertaubat ?

Secara syariah suami mempunyai hak untuk menceraikan sang istri kapan saja dia mau. Baik karena istri selingkuh (berzina) atau tidak. Suami cukup mengatakan “Aku ceraikan kamu” maka terjadilah perceraian itu secara agama. Walaupun secara negara perceraian semacam itu belum terjadi talak sampai pengadilan agama memutuskan.

Apabila suami-istri sudah dikaruniai anak, akan lebih ideal kal`u suami memaafkan istrinya yang berjanji taubat nasuha. Dengan pertimbangan demi masa depan anak. Apabila belum punya anak, seperti anjuran Nabi di atas, perceraian adalah solusi terbaik.

Istri juga harus sadar bahwa ketika berselingkuh dia tidak hanya mengkhianati suaminya dan Allah, tapi juga telah menghancurkan martabat, muruah dan harga diri suaminya.

Mendoakan Buruk pada Suami Berselingkuh ?

1. Hubungan suami istri yang harmonis akan terjadi apabila kedua belah pihak saling percaya dan saling manyayangi satu sama lain dengan tulus.

Cinta dapat meningkat apabila pasangan berusaha untuk mempekercil perbedaan dan memperbesar persamaan. Berusaha saling memberi, bukan saling menuntut. Saling meningkatkan tenggang rasa d`n sensitivitas.

Rasa sayang akan menurun dan kemudian pudar apabila spirit “memberi” tidak ada lagi. Pada poin ini, pertengkaran kecil akan mulai dan sering terjadi. Setiap satu pertengkaran, akan mereduksi dan bahkan menghilangkan satu buah cinta dari sanubari setiap pasangan. Apabila cinta yang ada tidak banyak, maka terjadilah defisit cinta. Peran cinta kemudian diganti oleh benci. Pada titik ini, tidak ada solusi kecuali bercerai. Inilah yang disebut irreconcilable differences (perbedaan yang tak dapat dipertemukan).

2. Hukumnya boleh bagi istri mendoakan buruk pada suami yang telah berlaku dzalim (selingkuh atau KDRT) asal tidak berlebihan. Dengan dalil sebagai berikut:

a. Allah berfirman dalam Quran Surah (QS) An-Nisa’ 4:148: لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ
Artinya: Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

b. Hadits riwayat Ibnu Abi Hatim, Nabi bersabda رُخِّصَ لَهُ أَنْ يَدْعَو عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَعْتَدِيَ
Artinya: Dibolehkan (diberi dispensasi) bagi seseorang untuk mendoakan (buruk) pada orang yang menzaliminya dengan tanpa berlebihan. (Lihat Tafsir Tabari IX/344).

c. Hadits riwayat Tirmidzi no. 1905, Nabi bersabda:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ : دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

Artinya: Tiga doa yang pasti istijabah (diterima oleh Allah): doa orang teraniaya, doa musafir, doa ayah pada anaknya.

KASIH SAYANG ALLOH SWT DI BALIK MAKSIYAT KITA

ALLOH             Ingatlah hidup ini adalah sebuah perjalanan, dan perjalanan itu pasti ada tujuan dan tujuan utama perjalanan manusia ialah kembali kepada Sang Pencipta sehingga perjalanan kita dalam melaksanakan tugas hidup yang semakin lama semakin berat, semakin banyak rintangan, semakin besar ujian, semoga dilindungi dan dikasih sayangi bahkan diselamatkan oleh Allah SWT.

Sebab kalau kita melaksanakan kesalahan lahir, akan nampak dan diketahui orang dan suatu saat kita dihakimi dan dinyatakan salah tapi orang yang melakukan kesalahan lahir ini masih ada perasaan bersalah didalam hati oleh Allah diberi kesempatan kembali kepadaNYA.

Walaupun manusia sudah dicap sebagai tempat salah dan dosa bahkan sangat dholimdan sangat kufur tapi justru ini bentuk kasih sayang Allah kepada manusia, artinya manusia kalau sudah dikatan Allah sangat dholim dan sangat kufur itu harus ditancapkan didalam hati dan ini merupakan resep untuk mendapat kasih sayangnya Allah.

Maka tancapkanlah dihati kita ketika kita sholat, ketika kita mujahadah, katakan didalam hati kita “YAA ALLAH AKULAH YANG PALING DHOLIM DAN AKULAH MANUSIA YANG PALING KUFUR”, ini merupakan rahasia ayat Al Quran yang merupakan bentuk kasih sayang Allah.

Ternyata ketika ayat itu dimasukkan didalam hati sehingga si alim yang hafal kitab, dan si abid yang ahli ibadah, ketika tertancap “INNAL INSAANA LA DHOLUMUN KAFFAR”ini manusia tetap sebagai hamba, dan tidak lepas dari perasaan hamba karena sekali hati lepas dari perasaan hamba walaupun sedetik saat itulah iblis menguasi hati kita sehingga ditancapkan bendera aku didalam hati kita, ketika kita lepas dari perasaan dholim, perasaaan kufur, perasaan penuh dosa saat lepas satu detik saat itu hati dikuasai iblis, dia datang mengendap-endap kepada orang sholeh menunggu waktu kapan si sholeh, kapan orang-orang yang dekat dengan Allah lepas dari perasaan hamba, itu ditunggu dan tidak pernah berhenti!

KETIKA SI AHLI IBADAH DAN ORANG-ORANG YANG BENAR-BENAR MULIA MERASA BAIK SEDETIK, YA SAAT SEDETIK ITU BERSAMA IBLIS, TOLONG DIPERHATIKAN!

Maka perasaan rendah harus dilatih… dilatih… dan dilatih… dimanapun berada, perasaan dholim, rendah, kufur harus ditancapkan didalam hati karena ayat itu mengandung rahasia, artinya kalau kita menempati posisi perasaan rendah, kufur dan dholim merupakan sumber dan diharapkan oleh Allah akan menerima fadholNYA!

Karena fadholnya Allah diberikan kepada hati yang memiliki perasaan rendah “LIL KULU BI MUNKATSIROTI MUTAARIDHOTI LINAFAHATIL ILAAHIYYAH” hati yang merasa rendah, merasa dholim, merasa kufur tidak ada apa-apanya merasa penuh dosa dihadapan Allah, akan tetapi iblis sangat benci melihat hamba yang merasa dosa dan merasa rendah itu, oleh karena itu hikmah daripada kita melakukan dosa ternyata Allah memberikan kasih sayangnya sehingga membalik dosa-dosanya menjadi kebaikan.

Berapa hamba-hamba Allah yang dicintai itu asalnya adalah orang-orang yang bodoh? orang-orang yang sangat lemah dan orang-orang yang penuh dengan maksiat? orang-orang tiap hari ingkar kepada Allah?

Akan tetapi ketika datang hidayah sehingga menancap di hati maka orang itu dicintai oleh Allah walaupun asalnya orang itu rendah dan banyak dosa, orang itu penuh maksiat, dan orang itu lupa orang sehingga mengikuti syahwat nafsunya, akan tetapi orang itu diangkat oleh Allah menjadi kekasihNYA karena menancapnya ayat itu didalam jiwa!

MAKA WAHAI SAUDARAKU…

Tancapkan perasaan dholim itu karena sedetik perasaan itu terangkat ya sedetik itu iblis masuk kedalam hati kita, maka harus dilatih dan banyak menangis didunia ini, kalau tidak bisa menangis lahirnya ya hatinya harus menangis merasa rendah, banyaknya maksiat ini saya sumbernya!

Andaikan saya baik, doa saya pasti diterima dan orang-orang akan baik, harus dilatih itu jangan ada kesempatan merasa baik! merasa rendah, merasa dosa, merasa dholim, merasa diri kita tidak ada apa-apanya dan merasa kecil itu sumber pertolongan dan fadholnya Allah.

Maka latih… latih… perasaan itu, perasaan faqodholamtu abadaw warobbini, sebab Rasulullah tidak akan membimbing kalau si hamba belum benar-benar menyadari dan mengakui sungguh kami dholim selalu!

INI YANG HILANG DIHATINYA UMAT, SEHINGGA KITA HANYA BISA BERBICARA AKAN TETAPI TIDAK MENGETRAPKAN!

Walaupun mujahadah ditingkatkan, riyadhoh benar-benar ditingkatkan tapi apa jadinya semakin meningkat kita semakin merasa tepat, hancur sudah perasaan dholim selalu itu yang semestinya ada didalam hati kita! Inilah awal hilangnya rasa dholim dan kufur sehingga merasa pede dihadapan Allah!

Ingat…!!! sedikit kita merasa LILLAH BILLAH, seketika itu jauh dihadapan Allah (RUQYATUL QURBI.. BU’DUN)

PERHATIKAN kita tidak bisa NOL, itu adalah fadhol dari Allah, maka jangan sekali-kali pupuk rohani menuju kepada Allah “faqodholamtu abadaw warobbini” dan “Innal insana ladholumun kaffar” hilang, lebih-lebih di zaman ini harus kita tingkatkan.

Ingat zaman ini juga banyak penyakit, banyak orang yang tidak sakit tiba-tiba mati mendadak, banyak orang yang belum taubat tahu-tahu duduk dengan keluarga jatuh dan mati! kita bertanggung jawab dan masyarakat masih membutuhkan kita, walaupun kita ini miskin dan bodoh, justru bodoh miskin itu bawa itu sebagai komandan perjalanan menuju kepada Allah!

Katakan dihadapan Allah “Yaa Allah saya orang bodoh dan miskin, ahli maksiat, dan banyak dosa tidak pantas berjuang untuk kesadaran” itu jadikan menuju kepada Allah, akan tetapi jika perasaan itu sudah hilang jangan harap bisa bertemu dengan Allah untuk mengingat Allah pun sulit!

Masa kita mengingat Allah sambil bertolak pinggang?

Masa kita mengingat Allah dengan merasa suci?

Ini sunggguh terbalik, karena hakekat ingat kepada Allah harus merasa rendah! Karena yang kita ingat adalah SANG PENCIPTA, yang kita ingat adalah TUHAN YANG MAHA SUCI!

Masa dihadapan Allah kita syirik menyekutukan Allah dengan kebaikan kita bahkan dengan perasaan AKU yang disebut dengan ANANIYAH!

OLEH KARENA ITU WAHAI SAUDARAKU…

Latih… latih… perasaan rendah dengan perasaan dosa walaupun kita baik secara lahiriah tidak pernah maksiat, tapi bersujudlah dihadapannya katakan justru maksiat saya adalah merasa bangga dengan ibadah saya, merasa takabur sehingga banyak saudara-saudara kita mati belum taubat karena sebab saya Yaa Allah…. bahkan keluarga, ayah, ibu, anak belum kenal ilmu ini sebab karena saya dan itu harus terlatih!

Maka ingat saudara-saudaraku kitapun akan menyusul saudara-saudara kita yang sudah meninggal dunia, hidup kita hanya sekali dan sebentar lagi kita akan meninggalkan dunia yang fana’ tapi perjuangan rohani tidak boleh putus!

Akan tetapi siapa yang digadang dan diharap untuk meneruskan perjuangan rohani kalau pertama kali pondasinya perasaan dholim dan perasaan rendah-serendahnya tidak mampu, siapa yang akan meneruskan perjuangan yang agung ini?

Maka terjadi dimana-mana orang menolak ajaran suci “LILLAH BILLAH” sebab karena kita sendiri tidak bisa mencerminkan sifat dan sikap kasih sayang!

Maka tanamkan pupuk kesadaran kepada Allah, dan pupuk kesadaran ialah ketika kita merasa dholim, merasa rendah-serendahnya, merasa kufur, merasa penuh dosa jangan sampai hilang dihati kita!

Ingat satu detik hilang perasaan itu satu detik itu dimakan oleh iblis dan dibawa ke alam ananiyah saat itulah kita merasa aku!, maka terlempar dalam wilayah suci KETUHANAN, sehingga menjadi temannya iblis dan setan! Itu hanya satu detik apalagi sering, roh kita dikawal dengan iblis dan setan karena kita tidak bersih.

Alangkah sedihnya hidup ini yang hanya sekali ini, kita kembali berpulang kepada Allah melewati alam barzah dan alam ma’syar sedangkan posisi kita membawa perasaan aku dihadapan Tuhan!

Mari kita latih… latih perasaan rendah dan dholim ini karena itu pupuk kesadaran, kalau kesadaran itu sudah ada dihati otomatis hati kita ada perasaan NOL, tidak ada kemampuan apa-apa karena pandangan kita hanya satu Allah SWT sebagai kesadaran jiwa, INGAT itu adalah kesadaran jiwa!

Maka jadikan hidup yang hanya sekali ini benar-benar berarti menjadi seorang hamba mempunyai sifat rendah, banyak berlumuran dosa serta, serta tidak memiliki daya dan kekuatan melaikan “LAA HAULAA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH”, perasaan ini harus ditancap didalam jiwa nyawa keluar dari jasad.

LATIH… LATIH… LATIH PERASAAN RENDAH, HINA, DAN NOL SAMPAI MEREGANNYA NYAWA (AL WAJAL ILAL AJAL)

DALIL SUAMI ISTRI BERCINTA DI MALAM JUM’AT

 VGF          Dalam kitab Musnad-nya Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadits berikut ini :

مَنْ غَسَّلَ وَاغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ، وَمَشَى، وَلَمْ يَرْكَبْ فَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ، فَاسْتَمَعَ، وَلَمْ يَلْغُ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا

“Barangsiapa yang bersuci dan mandi, kemudian bergegas berangkat denganberjalan, tidak dengan menaiki  dan  mendekat dengan imam, lalu mendengarkan khutbah dan tidak berbuat sia-sia, maka baginya bagi setiap langkah pahala satu tahun baik puasa dan shalat malamnya”

Imam Nawawi menjelaskan bahwa derajat hadits ini adalah Hasan, dan hadits ii diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abu Dawud, Imam At-Turmudzi, Imam Nasa’i , Imam Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad hasan.

Ulama’ berselisih pendapat mengenai harokat hurufsin pada kata “ghosala “, apakah ditasydid atau tidak sebagaimana mereka berselisih pendapat mengenai maksud dari kata tersebut. Namun, baik kata tersebut dibaca ghosala (tanpa tasydid) atau ghossala (dengan ditasydid) sebagian ulama’ menjelaskan bahwa maksud dari kata tersebut adalah menggauli istrinya sebagaimanan yang dikatakan oleh Az-Zamahsyari.

Jika kita mengikuti ulama’ yang membaca dengan ghossala (dengan tasydid) arti dari kata terebut adalah “memandikan”, maksutnya karena sang suami menjima’ istrinya dan menyebabkannya mandi jinabat, maka secara tidak langsung sang suami telah “memandikan” istrinya.Dan jika mengikuti riwayat dengan menggunakan kata ghosala (tanpa tasydid) menurut Imam Al Azhari artinya juga jima’. Ini hanyalah salah satu dari 3 pendapat mengenai arti dari kata tersebut, baik dibaca ghosala ataupun ghossala.

Kesimpulannya, hadits diatas dijadikan dalil oleh sebagian ulama’ tentang kesunatan menjima’ istri sebelum berangkat sholat jum’at.Nah, dikarenakan disunatkan untuk bergegas pergi kemasjid dipagi hari maka dipahami bahwa jima’ tersebut dilakukan dimalam hari, akhirnya disimpulkan hukum kesunatan menjima’ istri pada malam jum’at.

Kesimpulan hukum ini dikuatkan oleh satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman :

أَيعْجزُ أحدكُم أَن يُجَامع أَهله فِي كل يَوْم جُمُعَة قَالَ لَهُ أَجْرَيْنِ اثْنَيْنِ أجر غسله وَأجر غسل امْرَأَته

” Apakah seorang dari kalian tidak mampu untuk ‘mendatangi’ istrinya setiap jumat, sesungguhnya bagi dia dua pahala, pahala mandinya sendiri dan pahala memandikan istrinya “.

Adapun hikmah dari kesunatan menggauli istri sebelum pergi sholat jum’at adalah agar matanya tidak melihat hal-hal yang mengganggu pikirannya saat pergi kemasjid dan menjadikan hatinya tenang, sehingga sholatnya menjadi lebih khusu’, hikmah lainnya adalah membantu istrinya untuk memperoleh kesunatan mandi jum’at.

Referensi :
1. Al Majmu’, Juz : 4  Hal : 542-543
2. Nailul Author, Juz : 1  Hal : 295-296
3. Fathul Bari, Juz : 2  Hal : 366
4. Tanwirul Hawalik, Juz : 1  Hal : 93
5. Al Fiqhul Manhaji, Juz : 84-85

Ibarot :
Al Majmu’, Juz : 4  Hal : 542-543

قال المصنف رحمه الله : ويستحب أن لا يركب من غير عذر لما روى أوس بن اوس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال ” من غسل واغتسل يوم الجمعة وبكر وابتكر ومشى ولم يركب ودنا من الامام واستمع ولم يلغ كان له بكل خطوة أجر عمل سنة صيامها وقيامها
الشرح : هذا الحديث حسن رواه أحمد بن حنبل وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه وغيرهم بأسانيد حسنة قال الترمذي هو حديث حسن ورواية أوس بن أوس الثقفي وقال يحيى بن معين هو أوس بن أبي أوس والصواب الأول وروي غسل بتخفيف السين وغسل بتشديدها روايتان مشهورتان والأرجح عند المحققين بالتخفيف فعلى رواية التشديد في معناه ثلاثة أوجه (أحدها) غسل زوجته بأن جامعها فألجأها إلى الغسل واغتسل هو قالوا ويستحب له الجماع في هذا اليوم ليأمن أن يرى في طريقه ما يشغل قلبه (والثاني) أن المراد غسل أعضاءه في الوضوء ثلاثا ثلاثا ثم اغتسل للجمعة (والثالث) غسل ثيابه ورأسه ثم اغتسل للجمعة وعلى رواية التخفيف في معناه هذه الأوجه الثلاثة (أحدها) الجماع قاله الأزهري قال ويقال غسل امرأته إذا جامعها (والثاني)
غسل رأسه وثيابه (والثالث) توضأ وذكر بعض الفقهاء عسل بالعين المهملة وتشديد السين أي جامع شبه لذة الجماع بالعسل وهذا غلط غير معروف في روايات الحديث وإنما هو تصحيف والمختار ما اختاره البيهقي وغيره من المحققين أنه بالتخفيف وأن معناه غسل رأسه ويؤيده رواية لأبي داود في هذا الحديث من غسل رأسه يوم الجمعة واغتسل وروى أبو داود في سننه والبيهقي هذا التفسير عن مكحول وسعيد بن عبد العزيز قال البيهقي وهو بين في رواية أبي هريرة وابن عباس رضي الله عنهم عن النبي صلى الله عليه وسلم وإنما أفرد الرأس بالذكر لأنهم كانوا يجعلون فيه الدهن والخطمي ونحوهما وكانوا يغسلونه أولا ثم يغتسلون

Nailul Author, Juz : 1  Hal : 295-296

وعن أوس بن أوس الثقفي قال: سمعت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يقول: «من غسل واغتسل يوم الجمعة وبكر وابتكر ومشى ولم يركب ودنا من الإمام فاستمع ولم يلغ كان له بكل خطوة عمل سنة أجر صيامها وقيامها» . رواه الخمسة ولم يذكر الترمذي: ” ومشى ولم يركب ”
……………………………………………………………..

قوله: (غسل) روي بالتخفيف والتشديد، قيل أراد غسل رأسه، واغتسل أي غسل سائر بدنه، وقيل: جامع زوجته فأوجب عليها الغسل، فكأنه غسلها واغتسل في نفسه، وقيل: كرر ذلك للتأكيد، ويرجح التفسير الأول ما في رواية أبي داود في هذا الحديث بلفظ: «من غسل رأسه واغتسل» ، وما في البخاري عن طاوس قال: قلت لابن عباس: ذكروا أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: «اغتسلوا واغسلوا رءوسكم» الحديث، وقال صاحب المحكم: غسل امرأته يغسلها غسلا أكثر نكاحها. وقال الزمخشري ويقال: غسل المرأة بالتخفيف والتشديد إذا جامعها، وحكاه صاحب النهاية وغيره أيضا، وقيل: المراد غسل أعضاء الوضوء، واغتسل للجمعة، وقيل: غسل ثيابه واغتسل لجسده

Fathul Bari, Juz : 2  Hal : 366

وقيل فيه إشارة إلى الجماع يوم الجمعة ليغتسل فيه من الجنابة والحكمة فيه أن تسكن نفسه في الرواح إلى الصلاة ولا تمتد عينه إلى شيء يراه وفيه حمل المرأة أيضا على الاغتسال ذلك اليوم وعليه حمل قائل ذلك حديث من غسل واغتسل المخرج في السنن على رواية من روى غسل بالتشديد قال النووي ذهب بعض أصحابنا إلى هذا وهو ضعيف أو باطل والصواب الأول انتهى وقد حكاه بن قدامة عن الإمام أحمد وثبت أيضا عن جماعة من التابعين وقال القرطبي إنه أنسب الأقوال فلا وجه لادعاء بطلانه وإن كان الأول أرجح ولعله عنى أنه باطل في المذهب

Tanwirul Hawalik, Juz : 1  Hal : 93
من اغتسل يوم الجمعة غسل الجنابة قال الباجي يحتمل أن يريد به غسلا على صفة غسل الجنابة ويحتمل أن يريد به الجنب المغتسل بجنابته قال الحافظ بن حجر والأول قول الأكثر وفي رواية بن جريج عن سمي عند عبد الرزاق فاغتسل أحدكم كما يغتسل من الجنابة والثاني فيه إشارة إلى استحباب الجماع يوم الجمعة والحكمة فيه أن تسكن نفسه في الرواح إلى الصلاة ولا تمتد عينه إلى شيء يراه وفيه حمل المرأة أيضا على الاغتسال قلت ويؤيده حديث أيعجز أحدكم أن يجامع أهله في كل يوم جمعة قال له أجرين اثنين أجر غسله وأجر غسل امرأته أخرجه البيهقي في شعب الإيمان من حديث أبي هريرة

Al Fiqhul Manhaji, Juz : 84-85

يُسنّ الغسل يوم الجمعة لمن يريد حضور الصلاة، وإن لم تجب عليه الجمعة: كمسافرٍ أو امرأةٍ، أو صغير، وقيل: يسن الغسل لكل أحد، حضر الجمعة أم لا

APAKAH MAKSUD “SUNNAH ROSUL” DI MALAM JUM’AT

 VFG             Syekh Muallif menjelaskan, bahwa senggama dapat dilakukan setiap saat, baik siang maupun malam, kecuali pada waktu yang nanti akan dijelaskan, sebagaimana petunjuk yang terdapat dalam Al-Quran yaitu firman Allah Swt.: “Istri-istri kalian adalah (seperti) tempat tanah kalian bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam kalian itu bagaimana saja kalian kehendaki” (Qs. Al-Baqarah: 223).

Maksudnya, kapan saja kalian mau, baik siang maupun malam menurut beberapa tafsir atas ayat diatas. Ayat ini jugalah yang dimaksudkan oleh kata-kata Muallif, seperti penjelasan pada surat An-Nisa’, akan tetapi, bersenggama pada permulaan malam lebih utama. Oleh karena itu Syekh penazham mengingatkan dalam bait berikut ini : “Namun senggama diawal malam lebih utama, ambillah pelajaran ini, Pendapat lain mengatakan sebaliknya, maka yang awal itulah yang dipilih”.

Al-Imam Abu Abdullah bin Al-Hajji didalam kitab Al-Madkhal mengatakan, bahwa dipersilahkan memilih dalam melakukan senggama, baik diawal atau akhir malam. Akan tetapi, diawal malam lebih utama, sebab, waktu untuk mandi jinabat masih panjang dan cukup. Lain halnya kalau senggama dilakukan diakhir malam, terkadang waktu untuk mandi sangat sempit dan berjamaah shalat subuh terpaksa harus tertinggal, atau bahkan mengerjakan shalat subuh sudah keluar dari waktu yang utama, yaitu shalat diawal waktu. Disamping itu, senggama diakhir malam sudah barang tentu dilakukan sesudah tidur, dan bau mulut pun sudah berubah tidak enak, sehingga dikhawatirkan akan mendatangkan rasa jijik dan berkurangnya gairah untuk memadu cinta kasih. Akibatnya, senggama dilakukan hanya bertujuan senggama, lain tidak. Padahal maksud dan tujuan senggama tidaklah demikian, yaitu untuk menanamkan rasa ulfah dan mahabbah, rasa damai dan cinta, serta saling mengasihi sebagai buah asmara yang tertanam didalam lubuk hati suami istri.

Pendapat tersebut ditentang oleh Imam Al-Ghazali. Beliau berpendapat, bahwa senggama yang dilakukan pada awal malam adalah makruh, karena orang (sesudah bersenggama) akan tidur dalam keadaan tidak suci. Selanjutnya Syekh Muallif menjelaskan beberapa malam, dimana disunahkan didalamnya melakukan senggama, sebagaimana diuraikan pada bait nazham berikut ini: “Senggama dimalam Jumat dan Senin benar-benar di sunahkan, karena keutamaan malam itu tidak diragukan.”
Syekh Muallif menjelaskan, bahwa disunahkan bersenggama pada malam Jumat. Karena malam Jumat adalah malam yang paling utama diantara malam-malam lainya. Ini juga yang dimaksudkan Syekh penazham: bi lailatil ghuruubi dengan menetapkan salah satu takwil hadits berikut ini : “Allah Swt. memberi rahmat kepada orang yang karena dirinya orang lain melakukan mandi dan ia sendiri melakukannya”.

Syekh Suyuti mengatakan, bahwa hadits tersebut dikuatkan oleh hadits dari Abu Hurairah berikut ini : “Apakah seseorang diantara kalian tidak mampu bersenggama bersama istrinya pada setiap hari Jumat? Sebab, baginya mendapat dua macam pahala, pahala dia melakukan mandi dan pahala istrinya juga melakukan mandi.” (HR. Baihaqi).

Bersenggama itu disunahkan lebih banyak dilakukan dari pada hari-hari dan waktu yang telah disebutkan diatas. Hal itu dijelaskan oleh Syekh Muallif melalui nazhamnya berikut ini : “Senggama dilakukan setelah tubuh terangsang, hai pemuda, tubuh terasa ringan dan tidak sedang dilanda kesusahan”. Syekh penazham menjelaskan, bahwa termasuk kedalam tata krama bersenggama adalah senggama dilakukan setelah melakukan pendahuluan, misalnya bermain cinta, mencium pipi, tetek, perut, leher, dada, atau anggota tubuh lainnya, sehingga pendahuluan ini mampu membangkitkan nafsu dan membuatnya siap untuk memasuki pintu senggama yang sudah terbuka lebar dan siap menerima kenikmatan apapun yang bakal timbul. Hal ini dilakukan karena ada sabda Nabi Saw.: “Janganlah salah seorang diantara kalian (bersenggama) dengan istrinya, seperti halnya hewan ternak. Sebaiknya antara keduanya menggunakan perantara. Ditanyakan, ‘Apakah yang dimaksud dengan perantara itu?’ Nabi Saw. menjawab,’Yakni ciuman dan rayuan.”
Diantara tata krama senggama lainya adalah bersenggama dilakukan setelah perut terasa ringan dan tubuh benar-benar segar. Karena senggama dalam keadaan perut kenyang akan dapat menimbulkan rasa sakit, mengundang penyakit tulang, dan lain-lain. Oleh karena itu, bagi orang yang selalu menjaga kesehatan hal-hal seperti itu sebaiknya dihindari.
Dikatakan, bahwa ada tiga perkara yang terkadang dapat mematikan seseorang, yaitu:

  1. Bersetubuh dalam keadaan lapar.
  2. Bersetubuh dalam keadaan sangat kenyang.
  3. Bersetubuh setelah makan ikan dendeng kering.

Kata-kata Syekh penazham diatas diathafkan pada lafazh al-a’dhaa-u, yang berarti ringannya rasa susah, maksudnya, kesusahan tidak sedang melanda dirinya. Oleh karena itu sebenarnya susunan kata tersebut (ringannya rasa susah) tidak diperlukan lagi, karena ada kata-kata penazham: “Setelah tubuh terasa ringan”. Jadi seolah-olah susunan kata tersebut hanya untuk menyempurnakan bait nazham. [ Qurratul Uyun, Syarah Nazham Ibnu Yamun ].

JIMA’ DI MALAM JUMAT PAHALANYA SEPERTI MEMBUNUH ORANG KAFIR (JIHAD)

Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin disebutkan sebuah riwayat:

روي عن النبي صلى الله عليه وسلم إن الرجل ليجامع أهله فيكتب له بجماعه أجر ولد ذكر قاتل في سبيل الله فقتل.

Diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW bahwa “Sesungguhnya seorang suami yang menggauli (Jima’) istrinya, maka jima’nya itu dicatat memperoleh pahala seperti pahalanya anak lelaki yang berperang (dengan Kaum Kuffar) di jalan Allah lalu terbunuh”. Kitab Ihya’ Ulumiddin Lil Ghozali, Juz 2 Hlm. 326

Meskipun riwayat tsb dinilai ‘tidak ada asalnya’ (لم أجد له أصلا) oleh Al-Iraqi, tapi paling tidak riwayat dalam kitab ini yang menjadi pijakan masyarakat demi menggalakkan Jima’ yang juga salahsatu sunnah Rasul dimalam Jum’at, demikian seperti yang dijelaskan oleh Imam Ghazali di halaman lain kitab ini:

ومن العلماء من استحب الجماع يوم الجمعة وليلته تحقيقاً لأحد التأويلين من قوله صلى الله عليه وسلم: ” رحم الله من غسل واغتسل الحديث

Dan ada sebagian ulama yang menyukai jima’ pd hari dan malam jumat, sbg aplikasi dari salah satu takwil hadits; “Allah merahmati orang yang membersihkan dan mandi (pada hari jumat)”. Ibid, Ihya’, juz 2 hlm 324

Demikian juga dalam syarah Sunan At-Tirmidzy, disebutkan :

وبقوله اغتسل غسل سائر بدنه ، وقيل : جامع زوجته .

Dan dgn sabdanya “mandi” (pada hari jumat), yaitu memandikan seluruh badannya, dan dikatakan pula maknanya adalah menjima’ istrinya”. Tuhfatul Ahwadziy Lil Mubarakfuri, Juz 3 hlm 3

Keutamaan Menggauli Istri di Hari Jum’at

Jima’ atau hubungan seks dalam pandangan Islam bukanlah hal aib dan hina yang harus dijauhi oleh seorang muslim yang ingin menjadi hamba yang mulia di sisi Allah. Hal ini berbeda dengan pandangan agama lain yang menilai persetubuhan sebagai sesuatu yang hina. Bahkan, sebagian ajaran agama tertentu mewajibkan untuk menjauhi pernikahan dan hubungan seks guna mencapai derajat tinggi dalam beragama.

Diriwayatkan dalam shahihain, dari Anas bin Malik pernah menceritakan, ada tiga orang yang datang ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menanyakan tentang ibadah beliau. Ketika diberitahukan, seolah-olah mereka saling bertukar pikiran dan saling bercakap bahwa mereka tidak bisa menyamai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena dosa beliau yang lalu dan akan datang sudah diampuni. Lalu salah seorang mereka bertekad akan terus-menerus shalat malam tanpa tidur, yang satunya bertekad akan terus berpuasa setahun penuh tanpa bolong, dan satunya lagi bertekad akan menjauhi wanita dengan tidak akan menikah untuk selama-lamanya. Kabar inipun sampai ke telinga baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas beliu bersabda kepada mereka, “Apakah kalian yang mengatakan begini dan begitu? Adapun saya, Demi Allah, adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada Allah di bandingkan kalian, tapi saya berpuasa dan juga berbuka, saya shalat (malam) dan juga tidur, serta menikahi beberapa wanita. Siapa yang membenci sunnahku bukan bagian dari umatku.” (Muttafaq ‘alaih).

Bahkan dalam hadits lain disebutkan bahwa seks atau hubungan badan di jalan yang benar akan mendatangkan pahala besar. Diriwayatkan dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرًا

“Dan pada kemaluan (persetubuhan) kalian terdapat sedekah. Mereka (para sahabat) bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah salah seorang dari kami yang menyalurkan syahwatnya lalu dia mendapatkan pahala?’ Beliau bersabda, ‘Bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan pada tempat yang haram, bukankah baginya dosa? Demikianlah halnya jika hal tersebut diletakkan pada tempat yang halal, maka dia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim).

Di dalam perkawinan terdapat kesempurnaan hidup, kenikmatan dan kebaikan kepada sesama….

Ibnul Qayyim, sebagaimana yang dinukil oleh Al-Istambuli dalam Tuhfatul ‘Arus, mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajak kepada umatnya agar melaksanakan pernikahan, senang dengannya dan mengharapkan (padanya) suatu pahala serta sedekah bagi yang telah melaksanakannya. Di dalam perkawinan terdapat kesempurnaan hidup, kenikmatan dan kebaikan kepada sesama. Di samping itu, juga mendapatkan pahala sedekah, mampu menenangkan jiwa, menghilangkan pikiran kotor, menyehatkan menolak keinginan-keinginan yang buruk.”

Kesempurnaan nikmat dalam perkawinan dan jima’ akan diraih oleh orang yang mencintai dan dengan keridlaan Rabbnya dan hanya mencari kenikmatan di sisinya serta mengharapkan tambahan pahala untuk memperberat timbangan kebaikannya. Oleh karena itu yang sangat disenangi syetan adalah memisahkan suami dari kekasihnya dan menjerumuskan keduanya ke dalam tindakan yang diharamkan Allah.

Disebutkan dalam Shahih Muslim, bahwa Iblis membangun istana di atas air (tipu muslihat), kemudian menyebarkan istananya itu kepada manusia. Lalu iblis mendekatkan rumah mereka dan membesar-besarkan keinginan (hayalan) mereka. Iblis berkata, ‘Tidak ada perubahan kenikmatan sampai terjadi perzinaan’. Yang lainnya berkata, ‘Aku tidak akan berpaling sampai mereka berpisah dari keluarganya.’ Maka iblis menenangkannya dan menjadikan dirinya berseru, ‘Benarlah apa yang telah engkau lakukan’.

Kenapa Iblis begitu bersemangat untuk menjerumuskan orang ke dalam perzinaan dan perceraian? Karena pernikahan dan berjima dalam balutan perkawinan adalah sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya. Makanya hal ini sangat dibenci oleh musuh manusia. Ia selalu berusaha memisahkan pasangan yang berada berada dalam naungan ridla ilahi dan berusaha menghiasi mereka dengan segala sifat kemungkaran dan perbuatan keji serta menciptakan kejahatan di tengah-tengah mereka.

Untuk itu hendaknya bagi suami-istri agar mewaspai keinginan syetan dan usahanya dalam memisahkan mereka berdua. Ibnul Qayim berkata dalam menta’liq hadits anjuran menikah bagi pemuda yang sudah ba’ah, “Setiap kenikmatan membantu terhadap kenikmatan akhirat, yaitu kenikmatan yang disenangi dan diridlai oleh Allah.”

Seorang suami dalam aktifitasnya bersama istrinya akan mendapatkan kenikmatan melalui dua arah. Pertama, dari sisi kebahagiaan suami yang merasa senang dengan hadirnya seorang istri sehingga perasaan dan juga penglihatannya merasakan kenikmatan tersebut. Kedua, dari segi sampainya kepada ridla Allah dan memberikan kenikmatan yang sempurna di akhirat. Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi orang berakal untuk menggapai keduanya. Bukan sebaliknya, menggapai kenikmatan semu yang beresiko mendatangkan penyakit dan kesengsaraan serta menghilangkan kenikmatan besar baginya di akhirat. (Lihat: Ibnul Qayyim dalam Raudhatul Muhibbin, hal. 60).

Jima’ di hari Jum’at

Uraian keutamaan hubungan suami istri di atas sebenarnya sudah cukup menunjukkan pahala besar dalam aktifitas ranjang. Lalu adakah dalil khusus yang menunjukkan keutamaan melakukan jima’ di hari Jum’at dengan pahala yang lebih berlipat?

Memang banyak pembicaran dan perbincangan yang mengarah ke sana bahwa seolah-olah malam Jum’at dan hari Jum’at adalah waktu yang cocok untuk melakukan hubungan suami-istri. Keduanya akan mendapatkan pahala berlipat dan memperoleh keutamaan khusus yang tidak didapatkan pada hari selainnya. Kesimpulan tersebut tidak bisa disalahkan karena ada beberapa dalil pendukung yang menunjukkan keutamaan mandi janabat pada hari Jum’at. Sedangkan mandi janabat ada dan dilakukan setelah ada aktifitas percintaan suami-istri.

Dari Abu Hurairah radliyallhu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

“Barangsiapa mandi di hari Jum’at seperti mandi janabah, kemudian datang di waktu yang pertama, ia seperti berkurban seekor unta. Barangsiapa yang datang di waktu yang kedua, maka ia seperti berkurban seekor sapi. Barangsiapa yang datang di waktu yang ketiga, ia seperti berkurban seekor kambing gibas. Barangsiapa yang datang di waktu yang keempat, ia seperti berkurban seekor ayam. Dan barangsiapa yang datang di waktu yang kelima, maka ia seperti berkurban sebutir telur. Apabila imam telah keluar (dan memulai khutbah), malaikat hadir dan ikut mendengarkan dzikir (khutbah).” (HR. Bukhari no. 881 Muslim no. 850).

Para ulama memiliki ragam pendapat dalam memaknai “ghuslal janabah” (mandi janabat). Sebagaian mereka berpendapat bahwa mandi tersebut adalah mendi janabat sehingga disunnahkan bagi seorang suami untuk menggauli istrinya pada hari Jum’at. karena hal itu lebih bisa membantunya untuk menundukkan pandangannya ketika berangkat ke masjid dan lebih membuat jiwanya tenang serta bisa melaksanakan mandi besar pada hari tersebut. Pemahaman ini pernah disebutkan oleh Ibnu Qudamah dari Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dan juga disebutkan oleh sekelompok ulama Tabi’in. Imam al-Qurthubi berkata, “sesungguhnya dia adalah pendapat yang peling tepat.” (Lihat: Aunul Ma’bud: 1/396 dari Maktabah Syamilah).

Pendapat di atas juga mendapat penguat dari riwayat Aus bin Aus radliyallah ‘anhu yang berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا

“Barangsiapa mandi pada hari Jum’at, berangkat lebih awal (ke masjid), berjalan kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam dan mendengarkan khutbahnya, dan tidak berbuat lagha (sia-sia), maka dari setiap langkah yang ditempuhnya dia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamulail setahun.” (HR. Abu Dawud no. 1077, Al-Nasai no. 1364, Ibnu Majah no. 1077, dan Ahmad no. 15585 dan sanad hadits ini dinyatakan shahih).

Menurut penjelasan dari Syaikh Mahmud Mahdi Al-Istambuli dalam Tuhfatul ‘Arus, bahwa yang dimaksud dengan mandi jinabat pada hadits di atas adalah melaksanakan mandi bersama istri. Ini mengandung makna bahwa sebelumnya mereka melaksanakan hubungan badan sehingga mengharuskan keduanya melaksanakan mandi. Hikmahnya, hal itu disinyalir dapat menjaga pandangan pada saat keluar rumah untuk menunaikan shalat Jum’at. Adapun yang dimaksud dengan bergegas pergi menuju ke tempat pelaksanaan shalat Jum’at pada awal waktu, adalah untuk memperoleh kehutbah pertama. (Lihat: Tuhfatul Arus hal. 175-176).

Wallahu a’lam.

SEPAK BOLA DAN MASALAHNYA DALAM KACAMATA HUKUM ISLAM

 HUO         Sepakbola adalah salah satu olah raga yang sangat terkenal bahkan di seluruh pelosok negeri dan sangatlah malang jika pada hari ini ada orang yang mengatakan “Saya tidak tahu tentang sepakbola”. Tidak sedikit orang yang rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain karena sepakbola mempunyai efek yang boleh dipertimbangkan seperti membuat tubuh anda bugar, menghilangkan rasa malas dan bisa meningkatkan stamina tubuh. Olah raga ini banyak digemari karena memang mudah cara melakukannya semisal, anda tinggal menendang bola saja kesana-kemari maka anda sudah bisa dikatakan bermain sepakbola meskipun disatu sisi anda juga harus mempelajari teknik-teknik bagaimana berinteraksi dengan bola yang baik sehingga anda bisa bermain secara maksimal. Apalagi jika anda tergabung dengan sebuah tim sepakbbola maka anda lebih dituntut untuk menguasai banyak teknik agar permainan anda menarik dan tidak menjadi tertawaan banyak orang karena betapa banyak pemain sepakbola yang menjadi bahan tertawaan hanya karena dia kurang menguasai bola.

Dan sesungguhnya, olah raga ini yaitu sepakbola hanyalah sarana untuk mengisi waktu luang anda, sarana untuk menghibur suasana hati yang keruh akibat terlalu banyak terpapar dengan urusan dunia yang menyibukkan dan olah raga ini adalah sarana untuk menambah stamina serta semangat anda untuk tetap kuat beribadah kepadaNya karena saya dan anda ini diciptakan supaya beribadah hanya kepada Alloh Subhanallohu Wa Ta’ala. Seperti dalam firmanNya dalam surat ad Dzariyat ayat 56:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”.

Jadi dalam setiap aktifitas, anda harus senantiasa mengkaitkan diri anda dengan syari’at islam atau bisa dikatakan anda harus mengetahui bagaimana syari’at islam memandang aktifitas anda atau bagaimana hukumnya dari aktifitas yang anda lakukan. Dalam syari’at islam ada lima hukum yang berlaku bagi aktifitas anda yang harus anda ketahui. Diantaranya:

1.Jika hukumnya wajib,
maka silahkan anda kerjakan dan janganlah sekali-kali anda tinggalkan.
Misalnya, sholat fardhu berjama’ah dimasjid bagi laki-laki, memelihara jenggot bagi laki-laki, berbakti kepada orang tua, makan dengan tangan kanan, dll.

2.Jika hukumnya sunnah,
maka anda boleh meninggalkannya namun anda lebih dituntut untuk melakukannya karena adanya keutamaan dalam perbuatan tsb.
Misalnya, sholat sunnah rowatib atau sholat sunnah yang mengiringi sholat fardhu, puasa sunnah, dll.

3.Jika hukumnya mubah,
maka anda boleh melakukannya dan anda juga boleh meninggalkannya jika memang mengandung manfaat yang besar.

Perkara mubah ini sangat luas cakupannya karena dalam keadaan tertentu sebuah perbuatan yang semula hukumnya mubah bisa berubah menjadi haram atau wajib atau hanya sebatas mubah saja. Jadi, berhati-hatilah dengan perkara yang mubah. Janganlah berlebihan melakukannya atau terlalu kurang dalam melakukannya akan tetapi lakukanlah hal mubah itu dalam sebaik-baik perkara yaitu yang pertengahan.
Misalnya, makan, minum, tidur, mencari hiburan, ngobrol, jalan-jalan santai, dll.

4.Jika hukumnya makruh,
maka anda boleh mengerjakannya namun anda lebih ditekankan untuk meninggalkannya karena perbuatan yang dikategorikan dalam makruh ini adalah perbuatan yang sifatnya tercela atau dibenci.
Misalnya, meminta do’a dari orang lain untuk kepentingan sendiri, dll.

5.Jika hukumnya haram,
maka anda harus meninggalkannya dan janganlah sekali-kali untuk melakukannya.
Misalnya, meminum minuman yang memabukkan, berjudi atau taruhan, durhaka kepada orang tua, menyontek, meninggalkan sholat fardhu, makan dengan tangan kiri, dll.

Kemudian bagaimana dengan hukum bermain sepakbola ??
Apakah masuk perkara yang wajib atau sunnah atau mubah atau yang lainnya??…

Maka bisa dijawab, dalam menanggapi permasalahan ini para ulama berbeda pendapat akan tetapi pendapat yang diunggulkan adalah boleh bermain sepakbola namun harus memenuhi beberapa syarat yaitu:

1.Harus menutup aurot dan para pemain sepakbola wajib menutup aurot.Aurot laki-laki adalah dari pusar sampai ke lutut.

2.Tidak meninggalkan kewajiban untuk sholat fardhu berjama’ah di masjid. Jika anda ingin bermain sepakbola sore hari di kampus ini, maka sholatlah asar berjama’ah di masjid terlebih dahulu kemudian silahkan berolah raga.

3.Tidak mengucapkan atau berteriak dengan kata-kata yang kotor atau kata-kata yang bisa menyakitkan hati sekalipun dengan bercanda. Semisal, ketika bermain sepakbola sesama pemain saling mencaci atau mencela sehingga timbul permusuhan diantara mereka. Maka bisa dikatakan “yang demikian itu tidak diperbolehkan (yaitu saling caci maki atau mencela)”.

4.Bermain sepakbola tidak menjadi kebiasaan artinya olah raga ini tidak menjadi rutinitas setiap sore sehingga banyak orang bisa menganggap bahwa seolah-olah tidak ada kegiatan lain selain sepakbola di sore hari.

5.Tidak melanggar perkara-perkara syari’at lainnya. Misalnya, menjadi sarana untuk berjudi atau taruhan tim manakah yang akan menang, menjadi sarana untuk pacaran, menggunakan jimat atau jampi-jampinya agar tendangannya tepat, dll.

Dalam kitab Bughyatul Musytaq fi Hukmil lahwi wal labi was sibaq disebutkan,

“Para ulama Syafiiyah telah mengisyaratkan diperbolehkannyabermain sepak bola, jika dilakukan tanpa taruhan (judi). Dan, mereka mengharamkannya jika pertandingan sepak bola dilakukan dengan taruhan. Dengan demikian, hukum bermain sepak bola dan yang serupa dengannya adalah boleh, jika dilakukan tanpa taruhan judi).”

As-Sayyid Ali Al-Maliki dalam kitabnya Bulughul Umniyah halaman 224 menjelaskan,

“Dalam pandangan syariat, hukum bermain sepak bola secara umum adalah boleh dengan dua syarat. Pertama, sepak bola harus bersih dari unsur judi. Kedua.permainan sepak bola diniatkan sebagai latihan ketahanan fisik dan daya tahan tubuh sehingga si pemain dapat melaksanakan perintah sang Khalik (ibadah) dengan baik dan sempurna.


Syekh Abu Bakar Al-Jazairi
dalam karyanya Minhajul Muslim halaman 315 berkata,

“Bermain sepak bola boleh dilakukan, dengan syarat meniatkannya untuk kekuatan daya tahan tubuh, tidak membuka aurat (bagian paha dan lainnya), serta si pemain tidak menjadikan permainan tersebut dengan alasan untuk menunda shalat. Selain itu,permainan tersebut harus bersih dari gaya hidup glamor yang berlebihan, perkataan buruk dan ucapan sia-sia, seperti celaan, cacian, dan sebagainya.”


Hukum bermain ataupun menonton sepakbola adalah mubah (boleh)
namun harus disertai lima syarat diatas akan tetapi jika tidak terpenuhi maka hukumnya haram bermain sepakbola. Pengharaman ini memang bermanfaat besar karena jika tidak maka akan timbul banyak masalah semisal:

a.Pertikaian antar sesama tim yang terkadang memakan korban nyawa atau minimal menimbulkan kebencian bagi sesama tim karena terlontarnya kata-kata yang kotor. Kejadian ini telah terbukti dalam beberapa pertandingan sepakbola di negeri kita.

b.Meninggalkan sholat fardhu berjama’ah di masjid yang tergolong perkara dosa besar.

c.Tidak menutup aurot yang menyebabkan masalah jika dilihat oleh lawan jenis.

d.Meninggalkan perkara-perkara yang lebih penting lainnya jika sepakbola dilakukan setiap sore seperti belajar, mengerjakan tugas, membantu pekerjaan orang tua bagi yang tidak ngekos, dll.

e.Menjadi ajang perjudian yang umat islam sepakat bahwa yang demikian itu adalah haram.

f.Dan perkara-perkara merugikan lainnya yang diluar perhitungan kita.

HUKUM Menonton Pertandingan Olahraga (Sepakbola)

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang beriman kepada hari akhir, maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”

Jika kita dilarang dari berucap kecuali yang baik-baik saja, maka terlebih lagi perbuatan. Maka menonton acara olahraga ini mengandung beberapa perkara yang berbahaya:

1. Menghabiskan Waktu. Orang yang kecanduan menonton pertandingan olahraga ini, kita lihat dia begitu ketagihan sampai-sampai dia habiskan waktu yang banyak. Terkadang dia luput dari shalat jama’ah, dan terkadang dia pun luput dari shalat pada waktunya.

2. Dia melihat sekelompok orang yang menyingkap pakaiannya sampai pertengahan pahanya. Menurut banyak ulama, paha adalah aurat. Demikian pula mereka berpendapat bahwa para para pemuda tidak boleh menampilkan bagian pahanya dan bagian apapun di atas lututnya.

3. Terkadang di hatinya muncul pengagungan terhadap si pemenang pertandingan, padahal yang menang adalah hamba Allah yang paling fasiq, atau bahkan hamba Allah yang paling kafir. Maka muncul di hatinya pengagungan terhadap seseorang yang sama sekali tidak pantas untuk dipuji. Dan tidak diragukan lagi bahwa ini adalah perkara yang membahayakan.

4. Memboroskan Harta. Di mana Televisi menggunakan listrik. Televisi menghabiskan listrik, meskipun cuma sedikit, ini menghabiskan biaya untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya untuk agamanya maupun kehidupan akhiratnya kelak. Oleh karena itu, perkara ini termasuk memboroskan harta saja.

5. Terkadang pertandingan ini menimbulkan saling mencerca dan permusuhan. Apabila sebagian orang menyemangati dan mendukung tim yang menang, di sisi lain orang yang lain menyokong dan mendukung tim musuhnya. Ini menyebabkan terjadinya permusuhan di antara mereka, serta perdebatan yang panjang.

Oleh karenanya dinasehatkan kepada para pemuda secara khusus dan yang selainnya secara umum agar mereka tidak menghabiskan waktu mereka untuk menonton acara olahraga, dan agar mereka memikirkan apa yang mereka peroleh dari menyaksikan acara-acara ini? Apa faedahnya?

Sebagai tambahan, kamu akan lihat mereka yang bertanding saling mendorong dan menjatuhkan satu sama lain. Terkadang pula mereka menunggangi pundak yang lain, dan perbuatan-perbuatan yang merendahkan muru’ah (kehormatan).

Apa HUKUM Memuji pemain bola profesional yang kafir, dan dia dipuji ketika dia menjadi sebab kemenangan timnya?

Tidaklah dia dipuji karena kekafirannya, dia dipuji karena permainan serta kelihaian dia dalam bermain.
Bagaimanapun juga, ini berbahaya dan menyebabkan dosa bagi orang yang memujinya, akan tetapi tidaklah perkara ini sampai kepada derajat kekufuran.

Seseorang menjadi kafir apabila dia memuji kekafiran, kesesatan, atau kesyirikannya, maka ini menyebabkan dia kafir.

Adapun apabila memujinya karena permainan sepak bola, atau karena kelihaian tekniknya, maka ini adalah pengagungan terhadap orang kafir. Ini adalah perkara dosa, namun tidaklah sampai pada derajat kekafiran.

BERSHOLAWAT MENDAPATKAN SEPULUH KEISTIMEWAAN

وَقَدْ قِيْلَ فِيْ بَعْضِ الرِّوَايَاتِ أِنَّ لِلْمُصَلِّيْنَ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ عَشْرَ كَرَمَاتِMU:
/ WA-QAD QIILA FII BA`DLI RIWAAYAATI INNA LIL-MUSHALLIINA `ALAA SAYYIDIL MURSALIINA `ASYRA KARAMAATIN = Dan benar-benar telah dikatakan di dalam sebagian dari beberapa riwayat, bahwa bagi orang-orang yang bershalawat atas Nabi Muhammad, junjungan para rasul, sepuluh karamah (kemulian), kayak dituturkan dalam kitab “KIFAAYATUL ATQIYAA`” sebagai mendatang :

أِحْدَاهُنَّ صَلاَةُ اْلمَلِكِ الْغَفَّارِ ؛

‎/ IHDAAHUNNA SHALAATUL MALIKIL GHAFFAAR ; = Pertama yaitu mendapatkan shalawat (Allah`s Willing/Kemauan Baik dari Allah/Allah beri pertolongan kepada pembaca, sanggup berbakti kepada-Nya), Tuhan, Yang Menjadi Raja, Yang Maha Pengampun;

اَلثَّانِيَةُ شَفَاعَةُ النَّبِيِّ اْلمُخْتَارِ ؛

/ ATS-TSAANIYATU SYAFAA`ATUN NABIYYIL MUKHTAARI ; = Yang kedua adalah mendapatkan syafaat/pertolongan dari Baginda Nabi Muhammad, seorang nabi terpilih/pilihan, shallallaahu `alayhi wa-sallama wa-baaraka wa-aalihii, aamiin!

اَلثَّالِثَةُ اْلأِقْتِدَاءُ بِالْمَلاَئِكَةِ اْلأَبْرَارِ ؛

/ ATS-TSAALITSATUL IQTIDAA-U BIL-MALAAIKATI ABRAARI ; = Yang ketiga yaitu dipandu/dikawal/dikuti para malak (malaikat), yang baik-baik/taat-taat/shalih-shalih/berbakti-berbakti kepada Allah Ta`ala;

اَلرَّابِعَةُ مُخَالَفَةُ اْلمُنَافِقِيْنَ وَالْكُفَّارِ ؛

/ AR-RAABI`ATU MUKHAALAFATUL MUNAAFIQIINA WAL-KUFFAARI ; = Yang keempat adalah Berlawanan/membedai/tidak menyerupai  dengan orang-orang munafik dan orang-orang kafir (membedai terhadap berbagai karakter mereka);

اَلْخَامِسَةُ مَحْوُ اْلخَطَايَا وَاْلأَوْزَارِ ؛

/ AL-KHAAMISATU MAHWUL KHATHAAYAA WAL-AWZAARI ; = Yang kelima adalah terhapus/terampuni-nya berbagai kesalahan dan dosa;

اَلسَّادِسَةُ قَضَاءُ الْحَوَائِجِ وَاْلأَوْطَارِ ؛

/ AS-SAADISATU QADLAA-UL HAWAA-IJI WAL-AWTHAARI ; = Yang keenam ialah terpenuhinya beragam hajat dan keinginan ;

اَاَلسَّابِعَةُ تَنْوِيْرُ الظَّوَاهِرِ وَاْلأَسْرَارِ ؛

/ AS-SAABI`ATU TANWIIRUDH DHAWAAHIRI WAL-ASRAARI ; = Yang ketujuh yaitu tersinarinya hal-hal yang lahir dan hal-hal yang sir/rahasia ;

اَلثَّامِنَةُ النَّجَاةُ مِنَ النَّارِ ؛

/ ATS-TSAAMINATUN NAJAATU MINAN-NAARI ; = Yang kedelapan adalah keselamatan dari api neraka ;

التَّاسِعَةُ دُخُوْلُ دَارِ الْقَرَارِ ؛

/ AT-TAASI`ATU DUKHUULU DAARIL QARAARI ; = Yang kesembilan ialah masuk surga “DAARUL QARAAR” (Kampung/Negeri/Persinggahan/Tempat tinggal yang kekal) ;

اَلعَاشِرَةُ سَلاَمُ الْعَزِيْزِ.

/ AL-`AASYIRATU SALAAMUL `AZIIZ ; = Yang kesepuluh adalah mendapatkan ucapan salam dari Tuhan Allah Yang Maha Perkasa.

فَيَنْبَغِيْ لِلْعَاقِلِ أَنْ يَجْعَلَ جُلَّ أَوْقَاتِهِ لِلصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِيَمًا التَّكْثِيْرُ مِنْهَا يَقُوْمُ مَقَامَ شَيْخِ التَّرْبِيَةِ لِمَا قَالُوْا الْمُرْشِدُ فِيْ آخِرِ الزَّمَانِ مِثْلُ الْكِبْرِيْتِ اْلأحْمَرِ ، وَتَكْثِيْرُ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْمُ مُقَامَ ذَلِكَ. وَفَّقَنَا اللهُ وَالْمُسْلِمِيْنَ لِلتَّكْثِيْرِ مِنَ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَمَرِّ الدُّهُوْرِ وَاْلأَيَّامِ آمِيْنْ .

Maka sayogyanya bagi wong intelek hendaklah dia menjadikan sebagian besar waktunya buat bershalawat atas Nabi Muhammad, shallallaahu `alayhi wa-sallama, apalagi memperbanyak bacaan shalawat adalah menempati kedudukan syekh tarbiyah, berdasarkan apa yang oleh para ahli Tashawwuf (para guru kaum sufi) katakan, bahwa AL-MURSYID di akhir zaman adalah semacam “KIBRIIT AHMAR”/”PERMATA MERAH”/MIRAH” (langkanya), sementara itu memperbanyak bacaan shalawat atas Nabi Muhammad, `ALAYHISH SHALAATU WAS-SALAAMU adalah berpeluang menduduki kedudukan tersebut. Moga Allah Ta`ala akan berkenan memberikan taufik/q (pertolongan) kepada kita dan umat Islam untuk memperbanyak bacaan shalawat atas nabi Muhammad, `alayhish shalaatu was-salaamu sepanjang masa dan hari, aamiin!

HATI HATI BERMAIN DENGAN ANJING, KARENA ITU KEBIASAAN SYAITAN

 AANJ               Salah satu hewan yang dihukumi najis mughalladhah adalah anjing. Cara menyucikan najis anjing adalah dengan menyamaknya, yaitu membasuh tujuh kali basuhan air, salah satunya telah dicampur dengan tanah yang suci. Tentang dalil dan cara menyucikan najis anjing bisa dibaca dalam tulisan kami sebelumnya cara menyucikan najis mughalladhah. Lalu apa hikmah dibalik Allah menghukumi anjing sebagai hewan bernajis? Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami pernah ditanyakan tentang hal ini, yang diikuti dengan pertanyaan tentang najiskan racun hewan berbisa seperti ular?. Berikut jawaban beliau;

وسئل – أمدنا الله من مدده – ما الحكمة في تنجس الكلب؟

وهل سم الحيات ونحوها نجس؟

فأجاب – أفاض الله علي من فيض مدده – الحكمة في تنجس الكلب التنفير مما كان يعتاده أهل الجاهلية من القبائح كمؤاكلة الكلاب، وزيادة إلفها ومخالطتها مع ما فيها من الدناءة والخسة المانعة لذوي المروآت وأرباب العقول من معاشرة من تحلى بهما ومن ثم حرم الجلوس على نحو جلد النمور والسباع لأن ذلك كان فعل المتكبرين من الجاهلية؛ فنهى الشارع عن التأسي بهم في ذلك فلما لم يكن في التأسي بهم هنا ما ليس فيه من الدناءة ثم كان ثم حرمة ونجاسة، وهنا حرمة فقط. وسم نحو الحيات نجس كما صرح به جمع متقدمون ومتأخرون والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب

Ditanyakan terhadap Ibnu Hajar Al-Haitami: Apakah hikmah dibalik Allah menghukumi Anjing sebagai hewan bernajis ?

dan Apakah racun ular dan hewan sejenisnya adalah najis ?

Beliau menjawab: Hikmah dibalik bernajisnya anjing adalah untuk menghindari apa yang telah menjadi kebiasaan jahiliyah yang melakukan perbuatan keji seperti makan anjing, dan bermain-main dengan anjing. Hal tersebut merupakan perbuatan keji dan hina dan kondisi tersebut sangat menentang dengan sikap orang yang memiliki muruah dan karisma untuk bergaul dengan orang-orang yang memiliki sikap tersebut, karena itu diharamkan duduk diatas kulit macan dan binatang buas lainnya., karena hal tersebut merupakan perbuatan orang takabbur, maka agama melarang mengikuti tingkah laku mereka.

Sedangkan racun ular dan umpanya adalah najis sebagaimana diterangkan oleh ulama Mutaqaddimun dan Mutaakhirun. Wallahu A’lam.

Fatawa Fiqhiyah Kubra Ibn Hajar al-Haitami, Jld. 1 hal 28. Cet. Dar Fikr tt

Kesimpulannya, hikmah Allah menghukumkan najisnya anjing adalah supaya umat muslim menjauhi bersentuhan dengan anjing yang bisa meruntuhkan muruah dan kehormatan seseorang.

Sedangkan hukum racun hewan berbisa seperti ular adalah najis.

CINTAI AKU KARENA ALLOH SWT.

 HEART             Sering kita jumpai kata2 yang digunakan jurus oleh para perayu dunia maya ataupun dunia sinetron yaitu ” aku akan mencintaimu karena Allah ”  ..Nah, sebenarnya bagaimana sih konsep mencintai krna Allah dlm literarur Kitab Kuning?
Dalam beberapa pembahasan diuraikan sebagai berikut:

Pertama dalam kitab Ihya’ Ulumiddin Juz 2 Hal 163

. . إحياء علوم الدين لمحمد الغزالي – (2 / 163)
من نكح امرأة صالحة ليتحصن بها عن وسواس الشيطان يصون بها دينه أو ليولد منها له ولد صالح يدعو له وأحب زوجته لأنها آلة إلى هذه المقاصد الدينية فهو محب في الله

Seorang laki – laki yang menikahi perempuan yg sholihah , dengan tujuan agar terhindar dari gangguan syetan, agar agamanya terjaga, atau dengan tujuan agar mendapatkan anak yang sholih yg bisa mnedo’akannya, , dia cinta pada istrinya , ,karena istrinya bisa menjadi sarana untuk ibadah . .ini juga di kategorikan CINTA KARENA ALLOH , ,

Kedua dalam kitab Faidh al-Qadir Juz 6 Hal 38
(
ﻣﻦ ﺃﺣﺐ ﻟﻠﻪ ( ﺃﻱ ﻷﺟﻠﻪ ﻭﻟﻮﺟﻬﻪ ﻣﺨﻠﺼﺎ ﻟﻤﻴﻞ ﻗﻠﺒﻪ ﻭﻫﻮﻯ ﻧﻔﺴﻪ)ﻭﺃﺑﻐﺾ ﻟﻠﻪ ( ﻹﻳﺬﺍﺀ ﻣﻦ ﺃﺑﻐﻀﻪ ﻟﻪ ﺑﻞ ﻟﻜﻔﺮﻩ ﺃﻭ ﻋﺼﻴﺎﻧﻪ )ﻭﺃﻋﻄﻰ ﻟﻠﻪ ( ﺃﻱ ﻟﺜﻮﺍﺑﻪ ﻭﺭﺿﺎﻩ ﻟﻤﻴﻞ ﻧﻔﺴﻪ )ﻭﻣﻨﻊ ﻟﻠﻪ ( ﺃﻱ ﻷﻣﺮ ﻟﻠﻪ ﻛﺄﻥ ﻟﻢ ﻳﺼﺮﻑ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﻟﻜﺎﻓﺮ ﻟﺨﺴﺘﻪ ﻭﺇﻻ ﻟﻬﺎﺷﻤﻲ ﻟﺸﺮﻓﻪ ﺑﻞ ﻟﻤﻨﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻬﻤﺎ ﻣﻨﻬﺎ ﻭﺍﻗﺘﺼﺎﺭ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﻳﺆﺫﻥ ﺑﺄﻥ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻟﻴﺲ ﺇﻻ ﻛﺬﻟﻚ ﺑﻞ ﺳﻘﻂ ﻫﻨﺎ ﺟﻤﻠﺔ ﻭﻫﻲ ﻗﻮﻟﻪ ﻭﻧﻜﺢ ﻟﻠﻪ ، ﻫﻜﺬﺍ ﺣﻜﺎﻩ ﻫﻮ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ ﻓﻲ ﻣﺨﺘﺼﺮ ﺍﻟﻤﻮﺿﻮﻋﺎﺕ )ﻓﻘﺪ ﺍﺳﺘﻜﻤﻞ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ( ﺑﻤﻌﻨﻰ ﺃﻛﻤﻠﻪ ، ﺫﻛﺮﻩ ﺍﻟﻤﻈﻬﺮ

(Mencintai karena Allah) artinya cinta yang ada padanya semata-mata karena Allah tidak timbul dari dorongan hati dan hawa nafsunya. (Membenci karena Allah) artinya perasaan benci pada sesuatu yang ada padanya akibat sesuatu tersebut memang dibenci oleh Alllah bukan karena sakit hati yang ia terima dari orang yang ia benci. (Memberi karena Allah) artinya memberi sesuatu pada lainnya dengan harapan dapat meraih ridho dan pahala dari Allah bukan karena kecondongan hatinya pada yang ia beri. (Menolak karena Allah) artinya penolakan yang ia lakukan atas dasar perintah Allah seperti saat ia tidak mau memberikan zakat pada orang non muslim karena tiada kemuliaan darinya atau pada keturunan bani Hasyim karena keagungan derajatnya.

Ketiga juga Dalam Kitab Ihya’ Ulumiddin Juz 2 Hal 163

إحياء علوم الدين لمحمد الغزالي – (2 / 163)

 القسم الثالث أن يحبه لا لذاته بل لغيره وذلك الغير ليس راجعا إلى حظوظه في الدنيا بل يرجع إلى حظوظه في الآخرة فهذا أيضا ظاهر لا غموض فيه وذلك كمن يحب أستاذه وشيخه لأنه يتوصل به إلى تحصيل العلم وتحسين العمل و مقصوده من العلم و العمل الفوز في الآخرة فهذا من جملة المحبين في الله

  Dalam ibarot diatas dijelaskan, seseorang yang mencintai orang lain, bukan karena fisik/ dzatnya, tapi karena tujuan lain yg yang berkaitan dgn akhirot mk itulah yg disebut cinta karena Alloh, , Contohnya cinta seorang santri kepada ustadznya, karena berkat jasa ustadznya lah, dia bisa mendapatkan ilmu, dan dengan ilmu itulah, dia mendapatkan kebahagiaan di akherat kelak . . Cinta yg semacam ini yg bisa di kategorikan CINTA KARENA ALLAH.

 

INILAH DO’A DO’A KETIKA BERCINTA SUAMI ISTERI DALAM ISLAM

KKKA

Allah SWT. Berfirman :

وَقَدِّمُوْا لأَِنْفُسِكُمْ الأية

Artinya : “Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu.” (QS. Al-Baqarah : 223)
Maksud dari ayat ini adalah : Carilah pahala yang tersediakan untuk kamu semua seperi membaca basmalah dan berniat mendapatkan anak ketika melakukan senggama. Telah diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda :

مَنْ قَالَ بِسْمِ اللهِ عِنْدَ الْجِمَاعِ فَأَتَاهُ وَلَدٌ فَلَهُ حَسَنَاتٌ بِعَدَدِ أَنْفَاسِ ذَلِكَ الْوَلَدِ وَعَدَدِ عَقِبِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Artinya : “Barangsiapa yang membaca basmalah ketika akan melakukan senggama kemudian dari senggama itu dia dikaruniai seorang anak maka dia memperoleh pahala sebanyak nafas anak tersebut dan keturunannya sampai hari kiamat.
Dan Nabi bersabda :

:خِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

Artinya : “Manusia yang paling baik diantara
kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya.”
Dalam masalah ini para Ulama” memiliki urut-urutan yang mengagumkan, yaitu ketika suami akan menyetubuhi isterinya hendaknya terlebih dulu ia mengucapkan :

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ يَا بَابَ الرَّحْمنِ

Lantas isteri menjawab :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ يَا سَيِّدَ اْلأَمِيْنِ

Artinya : “Keselamatan atas kamu pula, hai tuan yang dipercaya.”
Selanjutnya suami meraih kedua tangan isterinya seraya mengucap :

رَضِيْتُ بِا للهِ رَبَّا

Artinya : “Aku telah ridho Allah sebagai Tuhanku.”
Kemudian ia meremas-remas kedua payudara isterinya sembari mengucapkan :

أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Dilanjutkan mengecup kening isterinya besertaan mengucapkan :

يَا لَطِيْفُ اَلله نُوْرُ عَلَى نُوْرٍ شَهِدَ النُّوْرَ عَلَى مَنْ يَشَاءُ

Artinya : “Wahai Dzat Yang Maha Halus, Cahaya Allah Di atas segala cahaya. Cahaya itu telah menerangi siapa saja yang dikehendakinya.”
Setelah itu suami memiringkan kepala isteri ke kiri sambil mencium dan meniup telinga sebelah kanan, dilanjutkan memiringkan kepala isteri ke kanan sambil mencium dan meniup telinga yang sebelah kiri.Keduanya dengan membaca:

فِىْ سَمْعِكِ الله ُسَمِيْعٌ

Artinya : “Di dalam pendengaranmu, Allah Maha Mendengar.”
Sesudah itu ia mengecup kedua mata isterinya mulai dari mata sebelah kanan kemudian mata sebelah kiri sambilmembaca do’a :

اَللّهُمَّ إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِيْنًا

Artinya : ”Ya Allah,sesungguhnya kami bukakan untukmu kemenangan yang nyata.” (QS. Al-Fath : 1)
Selanjutnya suami mencium kedua pipi isteri dimulai pipi sebelah kanan kemudian sebelah kiri sambil membaca :

يَا كَرِيْمُ يَا رَحْمنُ يَا رَحِيْمُ يَا اَللهُ

Artinya : ”Wahai Dzat Yang Maha Mulia,Wahai Dzat Yang Maha Pengasih, Wahai Dzat Yang Maha Penyayang. Ya Allah.”
Kemudian mengecup hidungnya sembari membaca :

فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَّجَنَّةُ نَعِيْمٍ

Artinya : ”Maka dia memperoleh ketentraman dan rezeki serta surga kenikmatan.” (QS. Al-Waqi’ah : 89 )
Sesudah itu mengecup pundaknya sambil membaca :

يَا رَحْمنَ الدُّنْيَا يَا رَحِيْمَ اْلأَخِرَةِ

Artinya : “Wahai Dzat Yang Maha Pengasih di dunia, Wahai Dzat Yang Maha Penyayang di akhirat.”

Setelah itu mengecup lehernya beserta membaca :

اَللهُ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ

Artinya : “Allah itu cahaya langit dan bumi.”
(QS. An-Nur : 35)

Selanjutnya mengecup dagunya dan berdo’a:

نُوْرُ حَبِيْبِ الإِيْمَانِ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ

Artinya : “Cahaya kekasih seiman di antara hamba-hamba-Mu yang saleh.”

Kemudian mengecup kedua telapak tanganya, dimulai sebelah kanan dan dilanjutkan sebelah kiri sambil membaca :

مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى

Artinya : “Hatinya tiada berdusta terhadap apa yang dilihatnya.” (QS. Anajm : 11)

Berikutnya mengecup bagian diantara kedua payudara sembari membaca :

وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّيْ

Artinya : “Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang daripada-Ku.”(QS. Thoha : 39)
Dan kemudian mengecup dadanya bagian kiri tepat pada hatinya besertaan mengucap :

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ

Artinya : “Wahai Dzat Yang Maha Hidup, Wahai Dzat Yang berdiri pada dirinya sendiri.