MEMANEN BERKAH DARI BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA(BIRRUL WALIDAIN)

Syahdan, Pada suatu kamis pagi, Al-Qutub Habib Segaf bin Muhammad bin Umar as-Segaf, memberikan dars ilmiah bertema bakti kepada kedua orang tua di majlis taklimnya, di kubah Habib Abdullah bin Ali as-Segaf yang di simak bejibun orang.

Ia membuka darsnya dengan memberikan tahdir (peringatan) kepada hadirin, “Hati-hati. Jangan pernah mendurhakai kedua orang tua. Sebab amarah mereka memantik azab Allah SWT yang kontan, tidak ditunda. Jika mau, kutunjukkan kepada kalian orang-orang yang dulunya durhaka kepada orang tua agar kalian tahu bagaimana kenaasan kini selalu menggelayuti mereka.” Habib Segaf mengulang ancamannya ini berkali-kali dengan amat serius. Beliau terus melanjutkan, “Barangsiapa menghendaki kebahagiaan di dunia dan akhirat, hendaklah ia berbakti kepada kedua orang tuanya. Sungguh, aku telah merasakannya.” Kemudian beliau menyebut sejumlah nama dari orang-orang yang dikenal berbakti kepada orang tua disertai kisah bahagianya, berkat orang tua tentunya.

“Setiap perbuatan yang dilakukan seseorang terhadap kedua orang tuanya, kelak akan dibalas oleh anak-anaknya. Demi Allah, aku telah menyaksikan semua itu dengan jelas.” Jelas Habib Segaf.

HAKIKAT BIRRUL WALIDAIN

“Meminta yang berlebihan kepada kedua orang tua termasuk durhaka.” lanjut beliau. “Bakti dalam hati lebih utama dari bakti dengan tingkah laku. Maksudnya, rasa bakti dan hormat kepada orang tua harus terus bersemayam di hati, sedang lisan dan tubuh sekadar pelaksana. Dalam keyakinanku, bakti yang hakiki adalah menempatkan orang tua diatas diri kita sendiri, bahkan anak-anak kita. Hatta seumpama kita disuruh memilih, siapa yang sebaiknya meninggal, anak atau orang tua kita, Maka, meninggalnya anak kita lebih kita harap daripada meninggalnya orang tua kita. Nah inilah birrul walidain yang sejati.

Jangan sangsi, kebahagiaan abadi bakal diraih dengan bakti kepada orang tua. Mereka, para pemilik mata batin menyaksikan sendiri bukti shahihnya.

Coba perhatikan firman Allah SWT berikut ini,

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Lukman;14)

Di ayat ini Allah SWT memakai redaksi (wa) yang berarti “dan” sebagai konjungsi, bukan (tsumma) yang berarti “kemudian”. Maksudnya kurang lebih-wallahu a’lam, syukur kepada Allah SWT tidaklah cukup bila tidak beriring dengan syukur kepada kedua orang tua. Sebab mereka berdua berperan sebagai sebab wujudnya kita.

Barangsiapa menelaahi al-Qur’an dan mencermati kandungan ayat-ayatnya dengan seksama, ia akan yakin bahwa bakti kepada kedua orang tua adalah sumber segala kebajikan dan merupakan amal yang paling utama. Dalam risalah qusairiyah diceritakan, dahulu ada seorang lelaki yang suka berbuat nista. Hari-harinya selalu diisi dengan maksiat. Suatu hari ia sakit parah. Merasa ajalnya dekat, ia berwasiat kepada ibundanya. “Wahai ibuku, jika aku mati, jangan beritahu siapapun perihal kematianku, sebab semua orang sudah pasti bakal mencelaku. Aku mohon juga, injakkan kaki ibu di salah satu telingaku, lalu berujarlah, “ini balasan orang bejat yang suka bermaksiat.” Lalu bayarlah beberapa orang untuk memandikan, mengkafani lalu menguburkanku. Jika aku sudah di dalam kubur, berdirilah di kuburanku dan berserulah tiga kali, “Wahai tuhanku, sesungguhnya aku meridhai anakku ini. maka, ridhailah dia!”

Ketika si anak meninggal, sang ibu melaksanakan semua wasiatnya. Terakhir, ia berdiri di atas pusara buah hatinya dan menyerukan kalimat yang telah dipesankan seraya menengadahkan tangan. Tak dinyana, baru saja sang ibu selesai munajat, ia mendengar kumandang suara dari langit. “Aku ridha kepada anakmu”

Aku ketengahkan kisah ini kembali sebagai teladan bagi kalian yang mengharapkan kebahagiaan akhirat. Soalnya, kini kebanyakan dari kita sudah lupa akan nilai birrul walidain. Padahal, kebanyakan musibah dan bencana yang menimpa kita saat ini adalah akibat perbuatan durhaka kepada ibu-bapak. Ya, saat ini uququl walidain merajalela. Jadinya, orang-orang masa kini tak mendapatkan keberkahan, baik di dunia maupun akhirat.

Durhaka kepada kedua orang tua tergolong dosa besar. Tak ada amal yang bisa menebusnya, kecuali tobat yang benar-benar tulus. Maka, kuperingatkan diriku sendiri secara khusus, serta semua orang, agar berusaha sekuat tenaga berbakti kepada orang tua selagi masih ada, kedua-duanya atau salah satunya. Sebab tak lama lagi mereka akan meninggalkan kita. Mari manfaatkan kesempatan yang ada untuk berbakti, agar kita beruntung di dunia dan akhirat.

birr walidainHARTA ATAU IBU!

Suatu kali, aku berjalan mengiringi guruku, Habib Hamid bin Umar. Pada kesempatan itu, beliau membicarakan ihwal birrul walidain dengan panjang lebar. Kemudian beliau berkisah mengenai dua lelaki bersaudara dengan ibu mereka yang memiliki harta lumayan melimpah. Mereka berunding, kira-kira sang ibu yang kini menua akan tinggal bersama siapa. Salah satu dari mereka usul, “Begini saja. Ibu tinggal bersamamu. Sedang seluruh harta kubawa, atau sebaliknya. Mana yang kau pilih?” lelaki satunya dengan lugas menjawab, “Kamu bawa saja ibu. Sedang harta itu bersamaku.” Saudaranya menjawab, “Baiklah, terimakasih”

Usai sekian lama, lelaki yang membawa harta benda mengalami kebangkrutan hingga jatuh miskin, sedang lelaki yang merawat ibunya lambat laun menjadi kaya raya hingga mampu membeli seluruh harta ibunya yang diambil saudaranya. “Lihat, kini ibu beserta harta bersamaku. Sedang kamu, tak beribu dan tak berharta.” Selorohnya. Lihat dan camkan betapa agungnya berkah birrul walidain.

Bila kalian merasa durhaka kepada orang tua, sementara mereka telah meninggal dunia, kalian bisa menebusnya dengan menyambung tali kekerabatan mereka atau menganjangsanai sahabat-sahabat mereka. Bisa juga dengan bersedekah yang pahalanya diperuntukkan mereka, banyak-banyak beristighfar untuk mereka, dan menyesali perbuatan durhaka kalian dulu. Mudah-mudahan dengan semua itu kalian bisa dimaafkan oleh Allah SWT hingga dimasukkan dalam golongan orang-orang yang berbakti kepada orang tua.

Ayahandaku pernah berwasiat, “Anak-anakku. Yang kuberikan kepada kalian hanyalah niat yang baik. Aku tak pernah memukul atau menghardik kalian. Yang ditakdirkan baik, biarlah jadi baik. Tak pernah aku memerintahkan kalian, sekalipun untuk menuangkan air. Sebab aku takut dan iba, barangkali kalian akan enggan hingga bisa dinilai durhaka karenanya.”

Lihatlah bentuk rahmat dan kasih sayang para salaf kepada anak-anak mereka. Perhatikan, bagaimana tarbiyah mereka memupuk pekerti anak-anak agar benih-benih durhaka tidak bersemi di hati mereka sejak dini. Baginda Rasul SAW bersabda, “Allah SWT merahmati seorang ayah yang membantu putranya berbakti.” Dari hadis ini kita bisa menarik simpul kesadaran, bahwa perlu pula bagi orang tua untuk menjaga sikap dan mendidik anak-anak agar mereka tidak durhaka. Toh durhaka itu akan berimbas pada dirinya sendiri.” Siapa menanam, dia menuai.

SUAMI ADALAH MILIK IBU MERTUA

Pagi-pagi sekali, Sarah mengetuk pintu rumah ibunya. Ia menggendong anaknya dan membawa satu tas besar di tangan kanannya.

Dari matanya yang sembab dan merah, ibunya sudah tahu kalau Sarah

pasti habis bertengkar lagi dengan suaminya.

Meski heran, karena biasanya Sarah hanya sebatas menelpon sambil menangis jika bertengkar dengan suaminya. Ayah Sarah yang juga keheranan, segera menghampiri Sarah dan menanyakan masalahnya.

Sarah mulai menceritakan awal pertengkarannya dengan suaminya tadi malam.

Sarah kecewa karena suaminya telah membohongi Sarah selama ini.

Sarah menemukan buku rekening suaminya terjatuh didalam mobil.

Sarah baru tahu, kalau suaminya selalu menarik sejumlah uang setiap bulan, di tanggal yang sama.

Sementara Sarah tahu, uang yang Sarah terima pun sejumlah uang yang sama.

Berarti sudah 1 tahun lebih, suaminya membagi uangnya, setengah untuk Sarah, setengah untuk yang lain. Jangan-jangan ada wanita lain??

Ayah Sarah hanya menghela nafas, wajah bijaksananya tidak menampakkan rasa kaget atau pun marah.

*”Sarah…,*

*» Yang pertama, langkahmu datang ke rumah ayah sudah dilaknat Allah dan para MalaikatNya’,*

*karena meninggalkan rumah tanpa seizin suamimu”*

Kalimat ayah sontak membuat Sarah

kebingungan.

Sarah mengira ia akan mendapat dukungan dari ayahnya.

*» “Yang kedua,* *mengenai uang suamimu, kamu tidak berhak mengetahuinya.*

*Hakmu hanyalah uang yang diberikan suamimu ke tanganmu.*

*Itu pun untuk kebutuhan rumah tangga.*

Jika kamu membelanjakan uang itu tanpa izin suamimu, meskipun itu untuk sedekah, itu tak boleh”.

Lanjut ayahnya.

“Sarah.., suamimu menelpon ayah dan mengatakan bahwa sebenarnya uang itu memang diberikan setiap bulan untuk seorang wanita.

Suamimu tidak menceritakannya padamu, karena kamu tidak suka wanita itu sejak lama.

Kamu sudah mengenalnya, dan kamu merasa setelah menikah dengan suamimu, maka hanya kamulah wanita yang

memilikinya”.

“Suamimu meminta maaf kepada ayah karena ia hanya berusaha menghindari pertengkaran denganmu.

Ayah mengerti karena ayah pun sudah mengenal watakmu” mata ayah mulai berkaca-kaca.

*”Sarah…,*

*kamu harus tahu, setelah kamu menikah maka yang wajib kamu taati adalah suamimu.*

*Jika suamimu ridho pdmu,*

*maka Allah pun Ridho.*

*Sedangkan suamimu, ia wajib taat kepada ibunya.*

Begitulah Allah mengatur laki-laki untuk taat kepada ibunya.

Jangan sampai kamu menjadi

penghalang bakti suamimu kepada ibundanya”.

*”Suamimu, dan harta suamimu adalah milik ibu nya”.*

Ayah mengatakan itu dengan tangis. Air matanya semakin banyak membasahi pipinya.

Seorang ibu melahirkan anaknya dengan susah payah dan kesakitan.

• Kemudian ia membesarkannya hingga dewasa hingga anak laki-lakinya menikah, ia melepasnya begitu saja.

• Kemudian anak laki-laki itu akan sibuk dengan kehidupan barunya.

• Bekerja untuk keluarga barunya.

• Mengerahkan seluruh hidupnya untuk istri dan anak-anaknya.

• Anak laki-laki itu hanya menyisakan sedikit waktu untuk sesekali berjumpa dengan ibunya. sebulan sekali, atau bahkan hanya1 tahun sekali.

“Kamu yang sejak awal menikah tidak suka dengan ibu mertuamu.

Kenapa?

Karena rumahnya kecil dan sempit? Sehingga kamu merajuk kepada

suamimu bahwa kamu tidak bisa tidur disana.

Anak-anakmu pun tidak akan betah disana.

Sarah.., mendengar ini ayah sakit sekali”.

“Lalu, jika kamu saja merasa tidak nyaman tidur di sana.

Bagaimana dengan ibu mertuamu yang dibiarkan saja untuk tinggal disana?”

*”Uang itu diberikan untuk ibunya.* Suamimu ingin ayahnya berhenti berkeliling menjual gorengan.

Dari uang itu ibu suamimu hanya memakainya secukupnya saja, selebihnya secara rutin dibagikan ke anak-anak yatim dan orang-orang tidak mampu di kampungnya. Bahkan masih cukup untuk menggaji seorang guru ngaji di kampung itu” lanjut ayah.

Sarah membatin dalam hatinya, uang yang diberikan suaminya sering dikeluhkannya kurang. Karena Sarah butuh banyak pakaian untuk mengantar jemput anak sekolah.

Sarah juga sangat menjaga

penampilannya untuk merawat wajah dan tubuhnya di spa.

Berjalan-jalan setiap minggu di mall. Juga berkumpul sesekali dengan teman-temannya di restoran.

Sarah menyesali sikapnya yang tak ingin dekat-dekat dengan mertuanya yang hanya seorang tukang gorengan.

Tukang gorengan yang berhasil :

• Menjadikan suaminya seorang sarjana,

• mendapatkan pekerjaan yang di idam-idamkan banyak orang.

• Berhasil mandiri, hingga Sarah bisa menempati rumah yang nyaman dan mobil yang bisa ia gunakan setiap hari.

“Ayaaah, maafkan Sarah”, tangis sarah meledak.

Ibunda Sarah yang sejak tadi duduk di samping Sarah segera memeluk Sarah.

*”Sarah…*

*• kembalilah ke rumah suamimu.*

*Ia orang baik nak…*

*• Bantulah suamimu berbakti kepada orang tuanya.*

*• Bantu suamimu menggapai surganya,* *dan dengan sendirinya, ketaatanmu kepada suamimu bisa menghantarkanmu ke surga”.*

Ibunda sarah membisikkan kalimat itu ke telinga Sarah.

Sarah hanya menjawabnya dengan anggukan, ia menahan tangisnya.

Bathinnya sakit, menyesali sikapnya.

Sarahpun pulang menghadap suaminya dan sambil menangis memohon maaf kpd suaminya atas prasangka yg salah selama ini.

Di lain hari, sarahpun mengikiti suaminya bersilaturahmi kpd ibu kandung suaminya alias mertua dirinya.

Suaminya meneteskan air mata menatap istrinya yg di tangan istrinya tertenteng 4 liter minyak goreng untuk mertuanya.

Tetesan air mata suami bukan masalah jumlah liternya

tapi karena perubahan istrinya yg senang dan nampak ihlas hendak datang kpd orang tuanya alias mertua istrinya.

Seterusnya Sarah berjanji dalam hatinya, untuk menjadi istri yang taat pada suaminya.

Sesekali waktu, Sarah bukan mengajak suaminya ke Mall tapi minta anjangsana ke rumah mertuanya dan juga orang tuanya.

Subhanallah….

MUSTAJABNYA DO’A DI WAKTU HUJAN DAN DO’A IBU LEBIH MUSTAJAB DARIPADA DO’A WALI

Jika kita perhatikan ketika turun hujan, ada sebagian orang yang gelisah dan tidak senang. Hal ini disebabkan karena turunnya hujan itu  dirasa mengganggu aktivitas mereka, mungkin ada yang mau bekerja, ada janji dengan temannya atau karena sebab yang lainnya. Sehingga yang terjadi adalah mengeluh dan mengeluh.

Padahal jika kita merenung dan memahami hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, waktu hujan turun adalah saat mustajabnya do’a, artinya do’a kita semakin mudah terkabulkan.

Ibnu Qudamah dalam Al Mughni mengatakan:

”Dianjurkan untuk berdo’a ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ : عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ

“Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan :

[1] Bertemunya dua pasukan,

[2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan

[3] Saat hujan turun.”

Begitu juga terdapat hadits dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ

“Dua do’a yang tidak akan ditolak:

[1] do’a ketika adzan dan

[2] do’a ketika ketika turunnya hujan.”

Do’a yang amat baik dibaca kala itu adalah memohon diturunkannya hujan yang bermanfaat. Do’a yang dipanjatkan adalah:

اللَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً

“Allahumma shoyyiban naafi’aa [Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat].”

Itulah yang Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ucapkan ketika melihat turunnya hujan.

Hal ini berdasarkan hadits dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiyallahu ’anha,

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ « اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”.

Air hujan yang mengalir merupakan suatu karunia dan akan membawa berkah dan manfaat bagi kita. Oleh karena itu kita dianjurkan untuk berdo’a ketika turun hujan agar kebaikan, keberkahan dan kemanfaatan senantiasa meliputi diri kata..

Semoga dengan turunnya hujan semakin membuat kita bersyukur, bukan malah mengeluh. Manfaatkanlah moment tersebut untuk banyak memohon segala hajat pada Allah Ta’ala menyangkut urusan dunia dan akhirat. Jangan sia-siakan kesempatan untuk mendoakan kebaikan diri, istri, anak, kerabat serta kaum muslimin.

DOA IBU LEBIH MULIA DARI ULAMA BESAR SEKALIPUN.

Sekedar renungan,

Di Hadromaut (Yaman), Setiap orang yang datang menghadap Habib Salim atau Habaib Sepuh yang Alim di Tarim untuk minta di doakan, selalu mendapat pertanyaan yang sama :

Apakah kamu masih memiliki permata (Ibu) di rumahmu ?. Jika jawabannya, masih.

Maka beliau dengan halus mengatakan :

Tahukah kamu, bahwa doa ibu untukmu, lebih mulia dan Makbul dari pada Doa seorang Wali Besar sekalipun ?. Ketika Habib Umar Bin Hafidz dan

abangnya Habib Ali Masyhur Bin Hafidz masih bayi dan sering menangis,

Ibunda mereka Hubabah Zahra, akan memeluk dan membelai anak anaknya sambil mengusap kepala mereka.

Kepada Habib Ali Masyhur, beliau sering

berbisik “Mufti, Mufti”. dan sekarang Habib Ali Masyhur telah menjadi Mufti Yaman.

Kepada Habib Umar sang ibu selalu berdoa

“Da’i, Da’i”. Dan kini Habib Umar telah menjelma menjadi Da’i Islam terkenal di zaman ini.

Rasulullah ﷺ bersabda :

Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah, maka jangan sia-siakan pintu itu atau jagalah ia. (HR. TIRMIDZI). Saudaraku,

Ibu adalah pintu Surga bagi anak2-nya, dan Ayah adalah jembatan menuju kepadanya.

Air susu Ibu yg kita minum adalah saripati makanan hasil jerih payah, keringat Ayah yang mencari nafkah untuk keluarga.

Karena itu Muliakan Mereka.

Mau keluar rumah?. Jangan lupa cium tangan Ibu dan Ayah. (Ingatlah ketika kita masih kecil, kita selalu dipeluk dan diciumnya). Bila kita sudah bekerja/ berkeluarga, atau tak tinggal serumah, sering2-lah mengunjunginya.

Bila tidak memungkinkan,

Telponlah, agar beliau senang dan ridho, atas seluruh jerih payah dan setiap tetesan susu yang telah menjadi darah daging kita.

Setidaknya, memberikan hadiah berupa barang atau uang setiap bulannya.

Semoga ALLAH SWT Meridhoi kita dan keluarga tercinta. Amiin.

YANG BENAR THALAQ TIGA SEKALIGUS MAKA JATUH THALAQ TIGA BUKAN SATU

Disebutkan dalam fatwa MUI tertanggal 24 Oktober 1981 tentang Talak Tiga Sekaligus, bahwa thalaq tiga akan jatuh tiga, bahwa ini adalah pendapat Jumhur Sahabat dan Tabi’in serta Imam Mazhab al-Arba’ah, juga Ibnu Hazm dari Mazhab Zahiri. Sedangkan pendapat kedua mengatakan jatuh satu. Ini adalah pendapat Thawus, mazhab imamiyah, ahlu zahir, dan Ibnu Taimiyah. Lalu MUI mengunggulkan pendapat pertama berdasarkan kekuatan dalil.

Secara umum ini seperti sekian di antara ciri khas perbedaan aswaja-wahabi. Bila aswaja berkata jatuh thalaq tiga maka wahabi (mengacu pada Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim) akan berkata jatuh thalaq satu.

Namun selanjutnya muncul wacana yang mencoba mengambil sikap berbeda dengan semata menjadikannya khilafiyah. Bebas mau ikut pendapat jatuh thalaq tiga ataupun thalaq satu.

Pertanyaan : Apakah pendapat thalaq tiga sekaligus jatuh thalaq satu tersebut mu’tabar untuk diikuti ?

JAWABAN :

Bahwa di satu sisi benar telah terjadi khilafiyah pendapat mengenai thalak tiga jatuh satu dari golongan ulama generasi awal, para ahli zhahir, serta beberapa ulama dari lingkup madzhab empat. Namun di sisi lain khilafiyah tersebut tidak lantas jadi bebas untuk diikuti, bahkan tidak boleh taqlid ataupun memfatwakan thalaq tiga jatuh satu di masa sekarang. Sebab telah ditetapkan adanya ijma’ shahabat di masa Umar, qaul berbeda yang bermunculan setelah ijma’ menjadi tidak mu’tabar sebagaimana penegasan al-Hafidz Ibnu Hajar, serta tidak diketahui penentangan akan ijma’ tersebut selain oleh para ulama yang masih ‘dipertanyakan’ seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, ataupun para ulama kontemporer.  

Wallahu subhanahu wata’ala almuwaffiq lish shawab.

وعباراتنا

الكتاب : شرح النووي على صحيح مسلم ج10 ص70

وقد اختلف العلماء فيمن قال لامرأته أنت طالق ثلاثا فقال الشافعي ومالك وأبو حنيفة وأحمد وجماهير العلماء من السلف والخلف يقع الثلاث وقال طاوس وبعض أهل الظاهر لا يقع بذلك الا واحدة وهو رواية عن الحجاج بن أرطاة ومحمد بن إسحاق والمشهور عن الحجاج بن أرطاة أنه لا يقع به شيء وهو قول بن مقاتل ورواية عن محمد بن إسحاق

الكتاب : فتح الباري ج9 ص365

وفي الجملة فالذي وقع في هذه المسألة نظير ما وقع في مسألة المتعة سواء أعني قول جابر أنها كانت تفعل في عهد النبي صلى الله عليه و سلم وأبي بكر وصدر من خلافة عمر قال ثم نهانا عمر عنها فانتهينا فالراجح في الموضعين تحريم المتعة وايقاع الثلاث للاجماع الذي انعقد في عهد عمر على ذلك ولا يحفظ أن أحدا في عهد عمر خالفه في واحدة منهما وقد دل اجماعهم على وجود ناسخ وأن كان خفي عن بعضهم قبل ذلك حتى ظهر لجميعهم في عهد عمر فالمخالف بعد هذا الإجماع منابذ له والجمهور على عدم اعتبار من أحدث الاختلاف بعد الاتفاق والله أعلم وقد اطلت في هذا الموضع لالتماس من التمس ذلك مني والله المستعان

الكتاب : روائع البيان ج1 ص262

أقول ؛ كل ما استدل به الفريق الثاني لا يقوى على رد أدلة الجمهور وعلى إجماع الصحابة ، وكفى بهذا الإجماع حجة وبرهانا وهذا ما ندين الله عز وجل به . ونعتقد أنه الصواب ، لأن مخالفة إجماع الصحابة وإجماع الفقهاء ليس بأمر اليسير

الكتاب : بغية المسترشدين ص476

(مسألة : ب) : طلقها ثلاثاً في مجلس واحد وأراد تقليد القائل وهو ابن تيمية بأنها تحسب واحدة لم يجز له ذلك ، وقد غلطه العلماء وأجمعوا على عدم جوازه وهو من تجري جهلة العوام اهـ. وعبارة (ش) طلق ثلاثاً فسئل عن مذهبه فقال : شافعي ، ثم غاب أياماً وعاد وقال : قد راجعتها وأنا إسماعيل لم يقبل قوله مطلقاً لتكذيبه نفسه ، بل وإن صدق في دعواه الثانية وحكم له حاكم بذلك ، وهذا كما لو طلقت ثلاثاً ثم ثلاثاً ثم ثلاثاً وادعى أنه زيدي فاستفتى الزيدية فقالوا : تقع بالثلاث واحدة لأنه بكل ثلاث تقع واحدة ، بل لو فرض أن الكل بمجلس واحد فتقع الثلاث أيضاً ، ولا عبرة بقول الزيدية لخرقهم الإجماع الفعلي من البينونة الكبرى بالثلاث مطلقاً ، فيجب نقض الحكم في هذه كالتي قبلها على كل من قدر عليه ، بل من قدر على نقضه وردّه فلم يفعل فهو فاسق باعتقاده المنكر معروفاً لا سيما والزوجان شافعيان ، ولو ثبت تلفظه بالثلاث ثم ادعى أنه لم يشعر بذلك لم يتلفت إليه لثبوته بالبينة وهو الآن ناس أو متناس ، ويبعد أن يزول حسه أو ينام بعد تلفظه بالطلاق قبل الثلاث

الكتاب : فتاوى ابن عليش ج1 ص426

(وَسُئِلَ ) رحمه الله تعالى عَنْ رَجُلٍ تَشَاجَرَ مَعَ زَوْجَتِهِ فَقَالَ لَهَا : أَنْت طَالِقٌ ثَلَاثًا , وَلَمْ تَكُنْ لَهُ نِيَّةٌ فِي شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ كُلِّهِ؟فَأَجَابَ إذَا كَانَ الْأَمْرُ عَلَى مَا وَصَفْت فَقَدْ بَانَتْ مِنْهُ بِثَلَاثِ تَطْلِيقَاتٍ , وَلَا سَبِيلَ لَهُ إلَيْهَا إلَّا بَعْدَ زَوْجٍ ا هـ . وَالطَّلَاقُ قَبْلَ الْبِنَاءِ كُلُّهُ بَائِنٌ , وَقَعَ عَلَى إسْقَاطٍ أَوْ غَيْرِهِ , وَأَمَّا الطَّلَاقُ الثَّلَاثُ فَإِنْ أَوْقَعَهُ طَلْقَةً بَعْدَ أُخْرَى مُفَرَّقًا فَلَا تَحِلُّ لَهُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ بِإِجْمَاعٍ , وَإِنْ جَمَعَ الثَّلَاثَ فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ , وَاخْتُلِفَ فِي هَذَا الطَّلَاقِ الَّذِي أَوْقَعَهُ ثَلَاثًا فِي كَلِمَةٍ فَقِيلَ : إنَّهُ يَلْزَمُهُ طَلْقَةٌ وَاحِدَةٌ فَإِنَّ اللَّهَ – تَعَالَى – إنَّمَا ذَكَرَ الثَّلَاثَ مُفَرَّقًا فَلَا يَصِحُّ إيقَاعُهُ إلَّا كَذَلِكَ , وَهُوَ قَوْلُ عَلِيٍّ وَابْنِ عَبَّاسٍ , وَجَمَاعَةٍ مِنْ الصَّدْرِ الْأَوَّلِ , وَقَالَ بِهِ أَهْلُ الظَّاهِرِ , وَطَائِفَةٌ مِنْ الْعُلَمَاءِ , وَأَخَذَ بِهِ جَمَاعَةٌ مِنْ شُيُوخِ قُرْطُبَةَ ابْنُ زِنْبَاعٍ وَابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ وَأَصْبَغُ بْنُ الْحُبَابِ , وَغَيْرُهُمْ مِنْ الْأَنْدَلُسِيِّينَ , وَقِيلَ : يَلْزَمُهُ الثَّلَاثُ فَلَا تَحِلُّ لَهُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ , وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ , وَعَلَيْهِ جُمْهُورُ فُقَهَاءِ الْأَمْصَارِ , وَجُلُّ الْعُلَمَاءِ ( وَسُئِلَ ) ابْنُ رُشْدٍ عَنْ , وَثِيقَةٍ بِرَجْعَةٍ مِنْ الطَّلَاقِ الْمَذْكُورِ دُونَ زَوْجٍ . فَقَالَ : هُوَ رَجُلٌ جَاهِلٌ ضَعِيفُ الدِّينِ فَعَلَ مَا لَا يَسُوغُ لَهُ بِإِجْمَاعٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ إذْ لَيْسَ مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ فَيَسُوغُ لَهُ مُخَالَفَةُ مَا أَجْمَعَ عَلَيْهِ فُقَهَاءُ الْأَمْصَارِ , وَإِنَّمَا يَجِبُ عَلَيْهِ تَقْلِيدُ الْعُلَمَاءِ فِي وَقْتِهِ , وَلَا يَسُوغُ لَهُ أَنْ يُخَالِفَهُمْ بِرَأْيِهِ فَالْوَاجِبُ أَنْ يُنْهَى عَنْ ذَلِكَ فَإِنْ لَمْ يَنْتَهِ أُدِّبَ , وَكَانَتْ جُرْحَةً فِيهِ تُسْقِطُ إمَامَتَهُ , وَشَهَادَتَهُ ا هـ مِنْ ابْنِ سَلْمُونٍ

الكتاب : تنوير القلوب ص361

ﻭﺍﻟﻘﻮﻝ ﺑﺄﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﺃﺟﻤﻊ ﺍﻟﺜﻼﺙ ﻓﻲ ﻛﻠﻤﺔ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﺍﻭ ﻣﺠﻠﺲ ﻭﺍﺣﺪ ﻳﻘﻊ ﺑﻪ ﻃﻠﻘﺔ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﺭﺟﻌﻴﺔ ﻣﺨﺎﻟﻒ ﻟﻠﻜﺘﺎﺏ ﻭﻟﺼﺮﻳﺢ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﻻﺟﻤﺎﻉ ﺍﻻﻣﺔ ﻭﻟﺬﻟﻚ ﺻﺮﺡ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻻﺭﺑﻌﺔ ﺑﺄﻧﻪ ﻳﻨﻘض ﻓﻴﻪ ﻗﻀﺎﺀ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﻟﻮ ﻗﻀﻰ ﺑﻪ

PENJELASAN HADITS TENTANG THALAQ TIGA SEKALIGUS

At-Tirmidzi berkata : Menceritakan kepada Kami Hannad, menceritakan kepada kami Qobidloh, dari jarir Ibn Hazim, beliau berkata : Menceritakan kepadakuAz-Zubair ibn Sa’id Al-hasyimiy, dari ‘Abdullah Ibn ‘Aliy Ibn Rukanah, dari ayahnya, dari kakeknya, berkata : “Aku mentholak istriku dengan tholak tiga.” Lalu Aku mendatangi Rosulullah SAW. Aku berkata : “Ya Rosulallah, sesungguhnya aku mentholak istriku dengan tholak tiga.” Beliau bertanya : “Apa yang engkau inginkan dengan hal ini?” Aku menjawab : “tholak satu.” Beliau bertanya lagi : “Apakah karena Allah?” Aku jawab : “Karena Allah.” Nabi bersabda lagi : “Maka itulah keinginanmu.”

Berikut petikan dalam kitab Tanqih At-Tahqiq juz 4 Hal. 405-407 Bahwa hadits ini mempunyai dua jalur, yaitu :

A. JALUR PERTAMA RIWAYAT AT-TIRMIDZIY.

بما رواه الترمذيُّ، قال: حدَّثنا هنَّاد ثنا قَبيصة عن جرير بن حازم قال: حدَّثني الزبير بن سعيد الهاشميُّ عن عبد الله بن عليِّ بن ركانة عن أبيه عن جدِّه قال: طلَّقت امرأتي البتَّة، فأتيت النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فقلت: يا رسول الله، إنِّي طلَّقت امرأتي البتَّة، قال: ” ما أردت بهذا؟ “. قلت: واحدة.ز: رواه أحمد وأبو داود وابن ماجه من رواية جرير عن الزبير، وعندهم: عبد الله بن عليِّ بن يزيد بن ركانة. ورواه ابن حِبَّان.والزبير: تكلَّم فيه يحيى والنسائيُّ وغيرهما.وعبد الله: قال العُقيليُّ: لا يتابع على حديثه، إسناده مضطربٌ.وعليٌّ: قال البخاريُّ: لم يصح حديثُه.

NO. HADITS 2820 : At-Tirmidzi berkata : Menceritakan kepada Kami Hannad, menceritakan kepada kami Qobidloh, dari jarir Ibn Hazim, beliau berkata : Menceritakan kepadakuAz-Zubair ibn Sa’id Al-hasyimiy, dari ‘Abdullah Ibn ‘Aliy Ibn Rukanah, dari ayahnya, dari kakeknya, berkata : “Aku mentholak istriku dengan tholak tiga.” Lalu Aku mendatangi Rosulullah SAW. Aku berkata : “Ya Rosulallah, sesungguhnya aku mentholak istriku dengan tholak tiga.” Beliau bertanya : “Apa yang engkau inginkan dengan hal ini?” Aku menjawab : “tholak satu.” Beliau bertanya lagi : “Apakah karena Allah?” Aku jawab : “Karena Allah.” Nabi bersabda lagi : “Maka itulah keinginanmu.”

Hadits ini diriwayatkan dalam banyak kitab sunan. Diantaranya :

1. Imam Ahmad dalam Kitab Musnad-nya : juz 5 Hal. 459 No. Hadits : 7548)

2. Ibnu Majah dalam Sunan Ibni Majah : Juz 1 Hal. 661 No. hadits : 2051, dari riwayat Jarir, dari Zubair. Dan dalam riwayat ini terdapat ‘Abdullah Ibn ‘Aliy Ibn yazid Ibn Rukanah.

3. Ibnu hibban dalam kitab Al-Ihsan Li Ibn Hibban Juz 10 Hal. 97 No. Hadits : 4274.

Namun dalam beberapa literatur dibutkan beberapa point penting, yaitu :

1. Terkait perowi Az-Zubair, juga disinggung oleh Syaikh Yahya dalam kitab Tarikh (juz 4 hal. 134 No. Hadits : 3603, 4888) dan dengan riwayat Ibn Al-Junaid (hal. 307 No. Hadits : 142) dan dengan riwayat Ibn Thomha (hal. 106 No. hadits : 335)

2. Terkait perowi ‘Abdullah, al-‘Uqoiliy berkata : “haditsnya tidak dapat diikuti, sanadnya mutthorrib.” (lihat Ad-Dlu’afa’ Al-Kabir juz 2 hal 282 No. Hadits 837)3.

Terkait perowi ‘Aliy, Al-imam Al-Bukhorit berkata : “Haditsnya tidak sah.” (lihat At-tarikh Al-Kabir juz 6 hal. 301 No. Hadits 2468)

B. JALUR KEDUA RIWAYAT YANG LAIN

طريق آخر: قال الدَّارَقُطْنِيُّ: حدَّثنا محمَّد بن يحيى بن مرداس ثنا أبو داود السجستانيُّ ثنا أحمد بن عمرو بن السرح وأبو ثور إبراهيم ابن خالد الكلبيُّ في آخرين قالوا: ثنا محمَّد بن إدريس الشافعيُّ قال: حدَّثني عمِّي محمَّد بن عليِّ بن شافع عن عبد الله بن عليِّ بن السائب عن نافع بن عجير ابن عبد يزيد عن ركانة أنَّه طلَّق امرأته سُهيمة البتَّة، فأخبر النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بذلك، فقال: ” والله ما أردت إلا واحدة؟ “. فقال: والله ما أردت إلا واحدة. فردَّها إليه رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فطلَّقها الثانية في زمن عمر، والثالثة في زمن عثمان.قال أبو داود: هذا الحديث صحيحٌ.قلنا: قد قال أحمد: حديث ركانة ليس بشيءٍ.ز: قال أبو داود: سُئل أحمد عن حديث ركانة لا تثبته- أنه طلق امرأته البتَّة-؟ قال: لا، لأنَّ ابن إسحاق يرويه عن داود بن الحُصين عن عكرمة عن ابن عبَّاس أنَّ ركانة طلَّق امرأته ثلاثًا. وأهل المدينة يسمُّون الثلاث: البتَّة.وقال أحمد بن أصرم: سئل أبو عبد الله عن حديث ركانة في البتَّة، قال: ليس بشيءٍ. ذكره أبو بكر في ” الشافي “

NO. HADITS 2821 : Jalur yang lain terkait hadits ini. Al-Imam Ad-Daruquthniy berkata : Telah menceritakan kepadaku Muhammad Ibn yahya Ibn Mirdas, menceritakan kepada kami Abu daud As-Sajstaniy, menceritakan kepada kami Ahmad Ibn ‘Amr Ibn As-Saroh dan Abu Tsur Ibrohim Ibn Kholid Al-kalabiy dalam riwayat yang lain. Mereka berkata : Menceritakan kepada kami Muhammad Ibn Idris as-Syafi’I, beliau berkata : Telah menceritakan kepadaku pamanku yaitu Muhammad Ibn ‘Aliy Ibn Syafi’, dari ‘Abdillah Ibn ‘Aliy Ibn As-Sa’ib, dari Nafi’ Ibn ‘Ujair, dari Rukanah, bahwasanya ia mentholak istrinya Suhaimah dengan tholak tiga. Kemudian dia mengabarkan kepada Rosulullah perihal itu. Beliau bertanya kepada Rukanah : “Apakah demi Allah engaku tidak bermaksud kecuali dengan tholak satu?” Dia menjawab : “Demi Allah aku tidak bermaksud kecuali tholak satu.” Lalu Rosulullah mengembalikan Suhaimah (istri Rukanah) kepadanya. Dan kemudian Rukanah mentholaknya untuk yang kedua kalinya pada masa Sayyidina ‘Umar ra. Dan mentholak ketiga kalinya pada masa Sayyidina ‘Utsman ra.

Beberapa catatan peting tentang hadits ini yaitu :

1. Abu Daud mengomentari hadits ini sebagai hadits shohih (Lihat Sunan Ad-DaruQuthniy juz 4 hal. 33) Aku berkata (mushannif, yaitu Syaikh Syamsuddin Muhammad ibn Ahmad Ibn Abdil Hadi Al-hanbaliy, wafat tahun 744 H.) : “Hadits Rukanah ini tidak ada apa-apanya.”

2. Abu Daud berkata : Imam Ahmad ditanya tentang hadits Rukanah yang tidak ditetapkannya. Bahwa Rukanah telah mentholak istrinya dengan tholak tiga (menggunakan redaksi Al-battatah, bukan tsalatsan). Beliau menjawab : “Tidak, sebab Ibn Ishaq meriwayatkannya dari Daud Ibn Al-Hushoin, dari ‘Ikrimah, dari Ibn ‘Abbas, bahwa Rukanah mentholak istrinya dengan tholak tiga (disini menggunakan redaksi tslatsan, bukan al-battatah), sementara penduduk madinah mengistilahkan tholaq tiga (tsalatsan) dengan redaksi al-battatah.” (Lihat Masa’ilu Abi daud, hal. 236 No. Hadits : 1129)

3. Ahmad Ibn Ashrom berkata : “Abu ‘Abdillah ditanya tentang hadits Rukanah ini, beliau menjawab : “tidak ada apa-apanya”, demikian disinggung oleh Syaikh Abi Bakr dalam kitab As-Syafi.

Bila dalam kitab Tanqih at-Tahqiq dikatakan diriwayatkan dalam dua jalur, mungkin yang dimaksud adalah -wallahu a’lam- dua jalur hadits Abu Rukanah yang memakai redaksi ‘albattata’. Sebab hadits tentang Rukanah sendiri sebenarnya memiliki banyak jalur isnad dan juga banyak versi matan, sehingga imbasnya antara lain disebut sebagai hadits mudhtharrab. Berikut sekedar ditambahkan beberapa catatan selain yang telah disebutkan di atas.

TINJAUAN HADITS

Hadits riwayat Abu Dawud dengan redaksi thallaqtuhaa tsalatsan, selengkapnya adalah sebagai berikut:

Telah menceritakan kepada kami Ahmad ibn Shalih, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah mengkhabarkan kepadaku Ibnu Juraij, telah mengkhabarkan kepadaku sebagian orang Bani Abu Rafi’ hamba sahaya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dari Ikrimah hamba sahaya Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas berkata: Abdu Yazid -ayah dari Rukanah dan para saudaranya- menthalaq Ummu Rukanah, lalu menikahi wanita dari Muzainah. Lantas wanita Muzainah itu menghadap pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: Dia [Abu Rukanah] sudah tidak mampu lagi mencukupiku selain sekedar kemampuan satu helai rambut ini – dari rambut yang wanita itu cabut dari kepalanya, maka pisahkanlah aku darinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam murka setelahnya, lalu memanggil Rukanah dan para saudaranya, serta bertanya pada para sahabat yang duduk di sekelilingnya: Apakah kamu semua melihat anak ini serupa dengan Abu Yazid ayahnya, juga apakah anak yang ini serupa dengannya?. Mereka menjawab: Benar demikian. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata pada Abdu Yazid: Ceraikanlah wanita itu. Hal itu dilakukannya, lalu Nabi berkata lagi kepadanya: Rujuklah pada istrimu -Ibu dari Rukanah dan para saudaranya. Dia menjawab: Aku telah menthalaqnya tiga kali wahai Rasulullah. Nabi berkata: Aku sudah tahu, tetap kembalilah pada istrimu. Lalu Nabi membacakan ayat ‘Wahai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada [waktu mereka dapat menghadapi] iddahnya. (HR. Abu Dawud)

Hadits tentang Abu Rukanah tersebut sebenarnya memiliki banyak versi matan. Setidaknya ada tiga versi redaksi matan hadits itu:

Pertama, dengan menggunakan redaksi thallaqtuhaa tsalatsan (aku menthalaqnya tiga kali).

Kedua, dengan menggunakan redaksi thallaqa imra’atahu albattata (dia menthalaq sama sekali istrinya -sesuai terjemahan albattata dari kamus al-Munawwir).

Ketiga, dengan menggunakan redaksi thallaqa Abu Rukanah imra’atahu fi majlisin wahidin tsalatsan (Abu Rukanah menthalaq istrinya tiga kali di tempat yang sama).

Hadits pertama (redaksi tsalatsan), adalah hadits yang dicantumkan terjemahnya dari Abu Dawud di atas. Al-Hafidz al-Mundziri berkata, bahwa al-Hafidz al-Khaththabi berkata: Isnad hadits ini menjadi bahan pembicaraan, sebab Ibnu Juraij meriwayatkan secara majhul dari sebagian bani Abu Rafi’, hadits majhul tidak bisa dijadikan hujjah. Disebut juga bahwa Ahmad ibn Hanbal mendhaifkan seluruh rawi dari hadits ini. Abu Dawud setelah menuliskan hadits itu memberikan catatan tambahan jalur lain dari hadits Abu Rukanah dengan redaksi ‘albattata’ sebagai penguat sekaligus penjelas konteks dari hadits tersebut. Namun konsekuensinya, sebagaimana pada konteks hadits Ahmad, tsalatasan tersebut akan ditakwili sebagai albattata. Yakni, Abu Rukanah sebenarnya bukan berkata ‘aku menthalaqmu tiga kali’, melainkan ‘aku menthalaqmu albattata’ (ihtimal antara satu kali atau tiga kali).

Hadits kedua (redaksi albattata), telah diulas panjang lebar dalam Tanqih at-Tahqiq. Khilafiyah tentang status hadits ini cukup masyhur. Hadits dengan redaksi demikian diriwayatkan oleh Muhammad ibn Idris as-Syafi’i, Abu Dawud, Daraquthni, Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Hakim.Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan Hakim menshahihkan hadits ini.Ibnu Katsir berkata: Abu Dawud telah mendatangkan wajah dan jalur lain dari hadits ini, maka insya Allah haditsnya hasan.Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan bahwa jalur riwayat ini lebih baik dari jalur Abu Dawud dengan redaksi tsalatsan. Ibnu Hajar menggunakan hadits ini untuk mentafsiri (memadukan) hadits thalaq tsalatsan pada riwayat Ahmad, sebagaimana Abu Dawud juga melakukan hal serupa pada hadits thalaq tsalatsan yang diriwayatkan olehnya.Namun di sisi lain at-Tirmidzi menyebutkan, aku bertanya pada al-Bukhari tentang hadits ini lalu dijawab olehnya: hadits ini mudhtharrab.Ibnu Abdil Barr dalam kitab at-Tamhid berkata: para ulama banyak memperbincangkan kualitas hadits ini.Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ berkata: hadits ini dha’if, tidak hanya satu ulama yang mendhaifkan hadits ini.

Hadits ketiga (redaksi tsalatsan fi majlis wahid), diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengomentari bahwa hadits semacam ini tergolong nash sharih dalam masalah thalaq sekaligus tiga serta tidak membutuhkan takwil sebagaimana lafadz albattata. Imbasnya Mula Ali al-Qari menetapkan bahwa hadits ini munkar, dan yang lebih shahih adalah hadits thalaq yang menggunakan redaksi kata albattata.

Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar menuliskan empat bantahan atas hadits Ahmad tersebut, lalu dikuatkan olehnya bantahan ketiga bahwa hadits Ahmad ini sesungguhnya dilatarbelakangi oleh hadits Abu Dawud. Yakni perkataan thalaq tsalatsan merupakan tafsiran pribadi dari perawi dan lafadz aslinya dimungkinkan adalah thalaq albattata. Terjemahan bebas ‘albattata’ adalah ‘sama sekali’. Namun dalam kosakata Arab albattata merupakan kata yang ihtimal antara thalaq satu dan thalaq tiga. Pengucapan ‘aku menthalaqmu albattata’ bisa diartikan ‘aku menthalaqmu satu kali’ atau ‘aku menthalaqmu tiga kali’. Di sisi lain Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim berpegangan pada hadits Ahmad ini, lalu memfatwakan thalaq tiga jatuh satu yang akhirnya memicu kontroversi luar biasa di kalangan masyarakat muslim masa itu.

 :وعباراتنا

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِى بَعْضُ بَنِى أَبِى رَافِعٍ مَوْلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ عِكْرِمَةَ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ طَلَّقَ عَبْدُ يَزِيدَ – أَبُو رُكَانَةَ وَإِخْوَتِهِ – أُمَّ رُكَانَةَ وَنَكَحَ امْرَأَةً مِنْ مُزَيْنَةَ فَجَاءَتِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَتْ مَا يُغْنِى عَنِّى إِلاَّ كَمَا تُغْنِى هَذِهِ الشَّعْرَةُ. لِشَعْرَةٍ أَخَذَتْهَا مِنْ رَأْسِهَا فَفَرِّقْ بَيْنِى وَبَيْنَهُ فَأَخَذَتِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- حَمِيَّةٌ فَدَعَا بِرُكَانَةَ وَإِخْوَتِهِ ثُمَّ قَالَ لِجُلَسَائِهِ « أَتَرَوْنَ فُلاَنًا يُشْبِهُ مِنْهُ كَذَا وَكَذَا مِنْ عَبْدِ يَزِيدَ وَفُلاَنًا يُشْبِهُ مِنْهُ – كَذَا وَكَذَا ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- لِعَبْدِ يَزِيدَ « طَلِّقْهَا ». فَفَعَلَ ثُمَّ قَالَ « رَاجِعِ امْرَأَتَكَ أُمَّ رُكَانَةَ وَإِخْوَتِهِ ». فَقَالَ إِنِّى طَلَّقْتُهَا ثَلاَثًا يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « قَدْ عَلِمْتُ رَاجِعْهَا ». وَتَلاَ (يَا أَيُّهَا النَّبِىُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ ). قَالَ أَبُو دَاوُدَ وَحَدِيثُ نَافِعِ بْنِ عُجَيْرٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَلِىِّ بْنِ يَزِيدَ بْنِ رُكَانَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رُكَانَةَ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ الْبَتَّةَ فَرَدَّهَا إِلَيْهِ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- أَصَحُّ لأَنَّ وَلَدَ الرَّجُلِ وَأَهْلَهُ أَعْلَمُ بِهِ أَنَّ رُكَانَةَ إِنَّمَا طَلَّقَ امْرَأَتَهُ الْبَتَّةَ فَجَعَلَهَا النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَاحِدَةً. (رواه ابو داود)

وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : – طَلَّقَ أَبُو رُكَانَةَ أُمَّ رُكَانَةَ . فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ” رَاجِعِ امْرَأَتَكَ ” , فَقَالَ : إِنِّي طَلَّقْتُهَا ثَلَاثًا. قَالَ : ” قَدْ عَلِمْتُ , رَاجِعْهَا – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَوَفِي لَفْظٍ لِأَحْمَدَ : – طَلَّقَ أَبُو رُكَانَةَ اِمْرَأَتَهُ فِي مَجْلِسٍ وَاحِدٍ ثَلَاثًا , فَحَزِنَ عَلَيْهَا , فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ” فَإِنَّهَا وَاحِدَةٌ – وَفِي سَنَدِهَا اِبْنُ إِسْحَاقَ , وَفِيهِ مَقَالٌ .وَقَدْ رَوَى أَبُو دَاوُدَ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ أَحْسَنَ مِنْهُ : – أَنَّ رُكَانَةَ طَلَّقَ اِمْرَأَتَهُ سُهَيْمَةَ اَلْبَتَّةَ , فَقَالَ : “وَاَللَّهِ مَا أَرَدْتُ بِهَا إِلَّا وَاحِدَةً, فَرَدَّهَا إِلَيْهِ اَلنَّبِيُّ -صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

الكتاب : بُلُوغُ اَلْمَرَامِ ص423-422

وأما حديث ركانة بن عبد الله فقد أخرجه الشافعي وابو داود والدارقطني، وقال أبو داود: هذا حديث حسن صحيح. وكذلك اخرجه الترمذي وصححه أيضا ابن حبان والحاكم. وقال الترمذي: لا يعرف الا من هذا الوجه، وسألت محمدا عنه، يعنى البخاري فقال: فيه اضطراب. اهقلت: وقد جاء اسناده ضعيفا ولذلك لم يخرجه البخاري ولا مسلم لان في اسناده الزبير بن سعيد الهاشمي.وقد ضعفه غير واحد.قال ابن كثير: لكن قد رواه ابو داود من وجه آخر وله طرق أخر فهو حسن ان شاء الله. وقال ابن عبد البر في التمهيد: تكلموا في هذا الحديث اه

الكتاب : المجموع شرح المهذب ج17 ص85

قال المنذري قال الخطابي في إسناد هذا الحديث مقال لأن بن جريج إنما رواه عن بعض بني أبي رافع ولم يسمه والمجهول لا تقوم به الحجة. وحكى أيضا أن الإمام أحمد بن حنبل كان يضعف طرق هذا الحديث كلها انتهى

الكتاب : عون المعبود شرح سنن أبي داود ج6 ص193

أقول ؛ كل ما استدل به الفريق الثاني لا يقوى على رد أدلة الجمهور وعلى إجماع الصحابة ، وكفى بهذا الإجماع حجة وبرهانا وهذا ما ندين الله عز وجل به . ونعتقد أنه الصواب ، لأن مخالفة إجماع الصحابة وإجماع الفقهاء ليس بأمر اليسير -الي أن قال-وأما حديث ركانة فقيل ؛ إنه حديث مضطرب منقطع لا يستند من وجه من يحتج به ، وهو من عكرمة عن ابن عباس وفيه ؛ «أن ركانة طلق امرأته ثلاثا فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم ؛ أرجعها»ـوالثابت أن ركانة طلق امرأته البتة فاستحلفه رسول الله صلى الله عليه وسلم ما أراد به ؟ فحلف ما أراد إلا واحدة فردها إليهفهذا اضطراب في الاسم والفعل ولا يحتج بشيء من مثل هذاوالخلاصة إن رأي الجمهور يبقى أقوى دليلا ، وأمكن حجته ، لا سيما وقد تعزز بإجماع الصحابة والأئمة المجتهدين والله أعلم

الكتاب : روائع البيان ج1 ص263-262

ومن القائلين بالتحريم واللزوم من قال إذا طلق ثلاثا مجموعة وقعت واحدة وهو قول محمد بن إسحاق صاحب المغازي واحتج بما رواه عن داود بن الحصين عن عكرمة عن بن عباس قال طلق ركانة بن عبد يزيد امرأته ثلاثا في مجلس واحد فحزن عليها حزنا شديدا فسأله النبي صلى الله عليه و سلم كيف طلقتها قال ثلاثا في مجلس واحد فقال النبي صلى الله عليه و سلم إنما تلك واحدة فارتجعها أن شئت فارتجعها وأخرجه أحمد وأبو يعلى وصححه من طريق محمد بن إسحاق وهذا الحديث نص في المسألة لا يقبل التأويل الذي في غيره من الروايات الآتي ذكرها وقد أجابوا عنه بأربعة أشياء -الي أن قال-الثالث أن أبا داود رجح أن ركانة إنما طلق امرأته البتة كما أخرجه هو من طريق آل بيت ركانة وهو تعليل قوي لجواز أن يكون بعض رواته حمل البتة على الثلاث فقال طلقها ثلاثا فبهذه النكتة يقف الاستدلال بحديث بن عباس

الكتاب : فتح الباري ج9 ص363-362

وأما ما روى ابن اسحاق عن عكرمة عن ابن عباس رحمهم الله تعالى قال طلق ركانة ابن عبد يزيد زوجته ثلاثا في مجلس واحد فحزن عليها حزنا شديدا فسأله كيف طلقتها قال طلقتها ثلاثا في مجلس واحد قال إنما تملك طلقة واحدة فارتجعها فحديث منكر والأصح ما رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه إن ركانة طلق زوجته البتة فحلفه رسول الله أنه ما أراد إلا واحدة فردها إليه وطلقها الثانية في زمان عمر والثالثة في زمان عثمان رضي الله عنهما قال أبو داود وهذا أصح ا ه

الكتاب : مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح ج10 ص224

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Kitab Musnadnya juz I halaman 318, nomorhadits 2387:

حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ، حَدَّثَنَا أَبِي , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ ، حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ الْحُصَيْنِ ، عَنْ عِكْرِمَةَ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : طَلَّقَ رُكَانَةُ بْنُ عَبْدِ يَزِيدَ أَخُو بني مُطَّلِبِ امْرَأَتَهُ ثَلَاثًا فِي مَجْلِسٍ وَاحِدٍ ، فَحَزِنَ عَلَيْهَا حُزْنًا شَدِيدًا ، قَالَ : فَسَأَلَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” كَيْفَ طَلَّقْتَهَا ؟ ” , قَالَ : طَلَّقْتُهَا ثَلَاثًا , قَالَ : فَقَالَ : ” فِي مَجْلِسٍ وَاحِدٍ ؟ ” , قَالَ : نَعَمْ , قَالَ : ” فَإِنَّمَا تِلْكَ وَاحِدَةٌ فَارْجِعْهَا إِنْ شِئْتَ ” , قَالَ : فَرَجَعَهَا , فَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَرَى أَنَّمَا الطَّلَاقُ عِنْدَ كُلِّ طُهْرٍ

Telah menceritakan kepada kami Sa’d bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad bin Ishaq telah menceritakan kepadaku Dawud bin Al Hushain dari Ikrimah mantan budak Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rukanah bin Abdu Yazid, saudara Al Muththalib, menceraikan istrinya tiga kali talak dalam satu waktu. Maka ia merasa sedih terhadap isterinya itu. Ibnu Abbas berkata; Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya padanya: “Bagaimana engkau mentalaknya?” Ia menjawab; “Aku mentalaknya tiga kali.” Ibnu Abbas berkata; “Kemudian beliau bertanya lagi: “Apakah dalam satu waktu (majlis)?” Ia menjawab; “Ya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya itu terhitung sekali, bila engkau mau maka rujuklah dia.” Ibnu Abbas berkata; “Maka ia merujuknya.” Lalu Ibnu Abbas berpendapat bahwasannya Talak itu setiap kali dalam keadaan suci.

Catatan:Syeikh Syuaib Al Arnauth dalam Ta’liq Musnad Ahmad 1/265 berkata:إسناده ضعيف

Isnadnya dha’if

Imam Abu Dawud dalam Kitab Sunannya juz II halaman 225 nomor hadits 2198 meriwayatkan:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِى بَعْضُ بَنِى أَبِى رَافِعٍ مَوْلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ عِكْرِمَةَ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ طَلَّقَ عَبْدُ يَزِيدَ – أَبُو رُكَانَةَ وَإِخْوَتِهِ – أُمَّ رُكَانَةَ وَنَكَحَ امْرَأَةً مِنْ مُزَيْنَةَ فَجَاءَتِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَتْ مَا يُغْنِى عَنِّى إِلاَّ كَمَا تُغْنِى هَذِهِ الشَّعْرَةُ. لِشَعْرَةٍ أَخَذَتْهَا مِنْ رَأْسِهَا فَفَرِّقْ بَيْنِى وَبَيْنَهُ فَأَخَذَتِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- حَمِيَّةٌ فَدَعَا بِرُكَانَةَ وَإِخْوَتِهِ ثُمَّ قَالَ لِجُلَسَائِهِ « أَتَرَوْنَ فُلاَنًا يُشْبِهُ مِنْهُ كَذَا وَكَذَا مِنْ عَبْدِ يَزِيدَ وَفُلاَنًا يُشْبِهُ مِنْهُ – كَذَا وَكَذَا ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- لِعَبْدِ يَزِيدَ « طَلِّقْهَا ». فَفَعَلَ ثُمَّ قَالَ « رَاجِعِ امْرَأَتَكَ أُمَّ رُكَانَةَ وَإِخْوَتِهِ ». فَقَالَ إِنِّى طَلَّقْتُهَا ثَلاَثًا يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « قَدْ عَلِمْتُ رَاجِعْهَا ». وَتَلاَ (يَا أَيُّهَا النَّبِىُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ )

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku sebagian anak-anak Abu Rafi’ mantan budak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dari Ikrimah mantan budak Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas, ia berkata; Abdu Yazid? dan saudara-saudaranya yaitu Abu Rukanah telah mencerai Ummu Rukanah dan menikahi seorang wanita dari Muzainah, kemudian wanita tersebut datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; ia tidak memberiku kepuasan kecuali seperti sehelai rambut ini. Ia mengambil sehelai rambut dari kepalanya. Maka Kemudian beliau berkata kepada orang-orang yang duduk bersamanya: “Apakah kalian melihat Fulan menyerupai demikian dan demikian dari Abdu Yazid? dan Fulan menyerupai darinya demikian dan demikian?” Mereka mengatakan; ya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abdu Yazid?: “Ceraikan dia!” Lalu ia melakukan hal tersebut, kemudian beliau berkata: “Kembalilah kepada isterimu yaitu Ummu Rukanah!” Ia berkata; sesungguhnya aku telah mencerainya tiga kali wahai Rasulullah. Beliau berkata: “Aku telah mengetahui, kembalilah kepadanya!” Dan beliau membacakan ayat: “Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar).”

قَالَ أَبُو دَاوُدَ وَحَدِيثُ نَافِعِ بْنِ عُجَيْرٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَلِىِّ بْنِ يَزِيدَ بْنِ رُكَانَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رُكَانَةَ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ الْبَتَّةَ فَرَدَّهَا إِلَيْهِ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- أَصَحُّ لأَنَّ وَلَدَ الرَّجُلِ وَأَهْلَهُ أَعْلَمُ بِهِ أَنَّ رُكَانَةَ إِنَّمَا طَلَّقَ امْرَأَتَهُ الْبَتَّةَ فَجَعَلَهَا النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَاحِدَةً

Abu Daud berkata; dan hadits Nafi’ bin ‘Ujair, Abdullah bin Ali bin Yazid? bin Rukanah dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rukanah telah isterinya sama sekali, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengembalikannya kepada Rukanah, hadits tersebut lebih shahih karena anak seseorang dan keluarganya lebih mengetahuinya. Sesungguhnya Rukanah telah mencerai isterinya sama sekali dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikannya sebagai satu kali talak.

Imam Al Khaththabi dalam Kitab Ma’alimussunan, syarh Sunan Abu Dawud juz III halaman 236, berkata:

في إسناد هذا الحديث مقال لأن ابن جريج إنما رواه عن بعض بني أبي رافع ولم يسمعه والمجهول لا يقوم به الحجة. وكان أحمد بن حنبل يضعف طرق هذه الأحاديث كلها

Ada penilaian dalam sanad hadits ini, karena sesungguhnya Ibn Juraij hanya meriwayatkannya dari sebagian Bani Abi Rafi’ padahal dia tidak mendengarnya. Rawi majhul tidak menguatkan hujjah. Adalah Imam Ahmad mendha’ifkan semua jalan hadits-hadits ini.

Imam Nawawi dalam Al Minhaj, Syarah Muslim 5/221 menjelaskan:

وَأَمَّا الرِّوَايَة الَّتِي رَوَاهَا الْمُخَالِفُونَ ، أَنَّ رُكَانَة طَلَّقَ ثَلَاثًا فَجَعَلَهَا وَاحِدَة ، فَرِوَايَة ضَعِيفَة عَنْ قَوْم مَجْهُولِينَ

Adapun riwayat yang orang yang berbeda, bahwasanya Rukanah mentalak tiga dan Nabi menjadikannya satu, maka itu adalah riwayat dha’if dari orang-orang majhul

Syeikh Kamaluddin bin Abdul Wahid, yang terkenal dengan sebutan Ibn Humam dalam kitab Fat_hul Qadier juz VII halaman 461 menerangkan:

وَأَمَّا حَدِيثُ رُكَانَةَ فَمُنْكَرٌ ، وَالْأَصَحُّ مَا رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ أَنَّ رُكَانَةَ طَلَّقَ زَوْجَتَهُ أَلْبَتَّةَ

Adapun hadits Rukanah adalah munkar. Yang lebih shahih adalah hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibn Majah bahwasanya Rukanah mentalak isterinya dengan al battah (sama sekali)

Albattah alih bahasanya yang luwes dalam bahasa Indonesia adalah ‘sama sekali’.

La yaf’aluhu albattah = Dia tidak melakukannya sama sekali.Thallaqaha albattah = Dia menceraikannya sama sekali (memang terdengar agak janggal, dan saya juga jarang menemui albattah pada kalam itsbat, biasanya kalam nafi).

Albattah merupakan isim mashdar, secara akar bahasa berasal dari fi’il madhi batta = Menetapkan, Mengukuhkan, Memutuskan. Maka bila dialihbahasakan secara kasar: Batta fulanun ‘adama fi’lihi = La yaf’aluhu albattah = Dia telah mengukuhkan bahwa dia tidak melakukannya. Batta fulanun ‘thallaqa imaraatihi = Thallaqaha albattah = Dia telah mengukuhkan bahwa dia menceraikannya. Singkat kata, albattah adalah mashdar muakkid.

Kesemua hal di atas adalah makna tekstual (lughotan). Sedangkan makna kontekstualnya (murodan) ketika orang Arab berucap ‘thallaqtuha albattah’ maka kalamnya ihtimal antara hendak menthalaq satu atau menthalaq tiga.

وَلَفْظ ( الْبَتَّة ) مُحْتَمَل لِلْوَاحِدَةِ وَلِلثَّلَاثِ

Dalam Kitab Al Umm juz V halaman 139 (5/149, Darul Fikr) :

قال الشَّافِعِيُّ ) فَإِنْ قال أَنْتِ طَالِقٌ البتة يَنْوِي ثَلَاثًا فَهِيَ ثَلَاثٌ وَإِنْ نَوَى وَاحِدَةً فَوَاحِدَةٌ

Imam Syafi’i berkata: Jika seseorang berkata: Engkau talak battah, dia berniat tiga maka battah tsb adalah tiga. Jika dia berniat satu maka ya satu

Wallahu A’lam

NAFKAH BATHIN PASUTRI SEBAGAI SYARAT RUMAH TANGGA YANG SAKINAH SEJAHTERA

Salah satu ciri rumah tangga yang bahagia sejahtera adalah terpenuhinya nafkah batin masing-masing dari suami – istri.

وقوله : { وَعَاشِرُوهُنَّ بِالمَعْرُوفِ } : أي بتعاليم الدين والتأدب بأخلاق المسلمين وحُسْنِ الصحبة على كراهة النفس ، وأن تحتمل أذاهن ولا تحملهن كلف خدمتك ، وتتعامى عن مواضع خجلتهن

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. 4:19)Artinya dengan mengajari mereka agama, norma-norma islam, memperbaiki kebersamaan dan keharmonisan menjauhi hal yang tiada disuka hati, sabar menanggung beban saat istri menyakiti, tidak memberikan beban padanya di luar kemampuan pelayanan dan membutakan diri atas hal-hal yang membuat mereka minder serta malu. [ Tafsir al-Qusyairi II/464 ].

وقوله: { وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ } أي: طيِّبُوا أقوالكم لهن، وحَسّنُوا أفعالكم وهيئاتكم بحسب قدرتكم، كما تحب ذلك منها، فافعل أنت بها مثله، كما قال تعالى: { وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ } [البقرة:228] وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأهْلِهِ، وأنا خَيْرُكُم لأهْلي” (5) وكان من أخلاقه صلى الله عليه وسلم أنه جَمِيل العِشْرَة دائم البِشْرِ، يُداعِبُ أهلَه، ويَتَلَطَّفُ بهم، ويُوسِّعُهُم نَفَقَته، ويُضاحِك نساءَه، حتى إنه كان يسابق عائشة أم المؤمنين يَتَوَدَّدُ إليها بذلك. قالت: سَابَقَنِي رسولُ الله صلى الله عليه وسلم فَسَبَقْتُهُ، وذلك قبل أن أحملَ اللحم، ثم سابقته بعد ما حملتُ اللحمَ فسبقني، فقال: “هذِهِ بتلْك” (6) ويجتمع نساؤه كل ليلة في بيت التي يبيت عندها رسول الله صلى الله عليه وسلم، فيأكل معهن العشاء في بعض الأحيان، ثم تنصرف كل واحدة إلى منزلها. وكان ينام مع المرأة من نسائه في شعار واحد، يضع عن كَتِفَيْه الرِّداء وينام بالإزار، وكان إذا صلى العشاء يدخل (7) منزله يَسْمُر مع أهله قليلا قبل أن ينام، يُؤانسهم بذلك صلى الله عليه وسلم وقد قال الله تعالى: { لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ } [الأحزاب: 21]

“Dan bergaulah dengan mereka secara patut.” (QS. 4:19)Artinya perbaikilah perkataanmu pada mereka, bagusilah perbuatan dan tinggah lakumu semaksimalmu pada mereka sebagaimana engkau juga suka mereka melakukannya padamu, jalnilah apa yang engkau suka ia juga menjalaninya padamu sebagaimana firman Allah “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.” (QS. 2:228).

Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda “Sebaik-baiknya kalian adalah yang terbaik pada keluarganya dan aku yang terbaik dari kalian pada keluargaku” (HR. Ibn Majah).

Adalah sebagian sikap Rasulullah bahwa beliau baik sekali cara bergaulnya dengan keluarganya, selalu tersenyum, berseri-seri roman mukanya, senang bermain-main dengan mereka, lemah lembut, memberi kelapangan nafkahnya, tertawa bersama istri-istrinya bahkan beliau sering mengajak ‘Aisyah ra berlomba lari “Nabi mengajakku berlomba denganku dan aku mampu mendahuluinya, itu sebelum aku membawa daging (belum gemuk, masih langsing) dan saat aku telah gemuk beliau mengajakku berlomba dan beliau yang mendahuluinya, dan beliau berkata : Ini balasan dari perlombaan yang dulu.” ujar Aisyah. (HR, An-Nasai dan Ibn Majah).

Beliau mengumpulkan istri-istrinya setiap malam di tempat yang beliau bermalam bersama istrinya, mengajak makan malam bersama sebelum istri-istrinya pulang kerumah masing-masing.

Beliau tidur bersama istrinya dalam satu selimut, beliau tanggalkan selendangnya dari kedua bahunya dan tidur memakai selimut. Setelah shalat Isya, beliau pulang ke rumah untuk bergaul, bercanda dengan istri, tidak lama kemudian beliau tidur.

Inilah sikap Rasulullah SAW. bersama istri-istrinya, bagaimana dengan KITA?

Padahal Allah berfirman “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. 33:21). [ Tafsir Ibn Katsir II/242 ].

Wallahu A’lamu Bis Showab

YANG PERTAMA DI HISAB DI AKHIRAT BAGI SUAMI ISTRI

(وَقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوَّلُ مَا تُسْأَلُ الْمَرْأَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَنْ صَلاَتِهَا، وَعَنْ بَعْلِهَا}. وقال رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: {أَوَّلُ  مَا يُحَاسَبُ الرَّجُلُ عَلَى صَلاَتَهِ ثُمَّ عَنْ نِسَائِهِ وَمَا مَلَكَتْ يَمِيْنُهُ إِنْ أَحْسَنَ عشْرَتَهُ مَعَهُمْ وَأَحْسَنَ إِلَيْهِمْ أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْهِ. وَأَوَّلُ مَا تُحَاسَبُ الْمَرْأَةُ عَلَى صَلاَتِهَا ثُمَّ عَنْ حَقِّ زَوْجِهَا}. وقال رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لِمُزوِّجةٍ: {فَأَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، قَالَتْ: مَا آلُوْهُ فِيْ خِدْمَتِهِ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ، قَالَ فَكَيْفَ أَنْتِ لَهُ، فَإِنَّهُ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ}

Rosulullah SAW bersabda : Perkara pertama yang ditanyakan pada seorang wanita di hari qiamat adalah tentang sholatnya dan tentang suaminya. Rosulullah SAW bersabda : Perkara pertama yang ditanyakan pada seorang laki-laki adalah tentang sholatnya kemudian tentang isteri-isterinya,dan tentang amat (hamba sahayanya). Jika laki-laki itu baik dalam menggauli mereka maka allah akan berbuat baik pula kepada laki-laki tsb,dan yang pertama dihisab bagi seorang isteri adalah sholatnya kemudian tentang hak suaminya.

(وَجَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: أَرْبَعَةٌ مِنَ النِّسَاءِ فِيْ الجَنَّةِ، وَأَرْبَعَةٌ فِيْ النَارِ، وَذَكَرَ) صلى الله عليه وسلم (مِنَ الأَرْبَعَةِ اللَّوَاتِيْ فِيْ الْجَنَّةِ: امْرَأَةً عَفِيْفَةً) أي كافة عن الحرام (طَائِعَةً للهِ وَلِزَوْجِهَا، وَلُوْدًا) أي كثير الولد (صَابِرَةً، قَانِعَةً) أي راضية (بِالْيَسِيْرِ مَعَ زَوْجِهَا)

Diriwayatkan,Nabi SAW bersabda : Empat golongan dari wanita jadi ahli syurga, dan empat golongan wanita jadi ahli neraka. Empat golongan yang disurga adalah : Wanita yang memelihara agamanya yang taat pada Allah dan suaminya,wanita yang mempunyai banyak keturunan,wanita yang sabar,wanita yang qona’ah menerima pemberian dari suaminya walaupun sedikit

قال سعد اين أبي وقاص رضي الله عنه: سمعتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يقول: {إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا لَمْ تَفْرِجْ عَنْ زَوْجِهَا فِيْ ضِيْقِهِ لَعَنَهَا اللهُ تَعَالَى وَغَضِبَ عَلَيْهَا وَلَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ أَجْمَعُوْنَ}

Berkata Sa’ad Bin Abi Waqosh : aku mendengar rosulallah bersabda: Sesungguhnya seorang isteri jika tidak tetap merasa bahagia dalam keadaan suaminya terpuruk Maka Allah melaknat dan marah kepadanya,dan ia dilaknat oleh seluruh malaikat.

(ذَات حَيَاءٍ، وَإِنْ غَابَ عَنْهَا زَوْجُهَا حَفِظَتْ نَفْسَهَا وَمَالَهُ)

أي الزوج

قال سلمان الفارسي رضي الله عنه: سمعتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يقول: {مَا نَظَرَتْ امْرَأَةٌ إِلَى غَيْرِ زَوْجِهَا بِشَهْوَةٍ إِلاَّ سمرت عَيْنَاهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ}

Dan wanita yang mempunyai/memelihara rasa malu. Jika suaminya tidak berada dirumah maka ia memelihara diri dan kehormatan serta harta suaminya. Berkata Salman Al-Farisi,aku mendengar Rosulallah bersabda : Tidaklah seorang isteri melihat kepada selain suaminya dengan disertai syahwat kecuali akan dipaku kedua matanya pada hari qiamat.

وقال أيوب الأنصاري رضي الله عنه: سمعتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يقول: {خَلَقَ اللهُ تَعَالَى فِيْ سَمَاءِ الدُنْيَا سَبْعِيْنَ أَلْفَ مَلَكٍ يَلْعَنُوْنَ كُلَّ امْرَأَةٍ تخون زّوْجَهَا فِيْ مَالِهِ، وَكَانَتْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ السَّحَرَةِ وَالْكَهَنَةِ وَإِنْ أَفْنَتْ عُمْرَهَا فِيْ خِدْمَةِ زَوْجِهَا}

Berkata Ayub Al-Anshory,Aku mendengar rosulallah bersabda : Allah menciptakan tujuh puluh ribu malaikat dilangit dunia,mereka melaknat isteri yang khianat pada harta suaminya,dan di hari qiamat ia dikumpulkan bersama tukang sihir dan para dukun,walaupun ia menghabiskan sisa umurnya ketika di dunia dengan mengabdi pada suaminya.

وقال معاوية: إني سمعتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يقول: {أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَخَذَتْ مِنْ مَالِ زَوْجِهَا بِغَيْرِ إِذْنِهِ إِلاَّ كَانَ عَلَيْهَا وِزْرُ سَبْعِيْنَ أَلْفَ سَارِقٍ}. (وَإِنْ حَضَرَ) أي الزوج (أَمْسَكَتْ لِسَانَهَا عَنْهُ)

Berkata Mu’awiyah : Aku mendengar Rosulallah bersabda : Siapa saja isteri yang mengambil harta suaminya tanpa izinnya kecuali isteri itu mendapat dosa seperti tujuh puluh ribu pencuri,dan jika hadir suaminya (berada dirumah) isteri itu diam tidak bicara.

وذكر صلى الله عليه وسلم من الأربعة: (امْرَأَةً مَاتَ زَوْجُهَا وَلَهَا أَوْلاَدٌ صِغَار، فَحَبَسَتْ نَفْسَهَا عَلَى أَوْلاَدِهَا وَرَبَتْهُمْ وَأَحْسَنَتْ إِلَيْهِمْ وَلَمْ تَتَزَوَّجْ خَشْيَةَ أَنْ يُضَيِّعُوْا) قال صلى الله عليه وسلم: {حَرَّمَ اللهُ عَلَى كُلِّ آدَمِيٍّ الْجَنَّةَ يَدْخُلُهَا قَبْلِي غَيْرَ أَنِّي أَنْظُرُ عَنْ يَمِيْنِيْ فَإذًا امْرَأَةٌ تُبَادِرُنِي إِلَى بَابِ الجَنَّةِ فَأَقُوْلُ: مَا لهَذِهِ تُبَادِرُنِيْ ؟ فَيُقَالُ لِيْ: يَا مُحَمَّد، هَذِهِ امْرَأَةٌ كَانَتْ حَسْنَاءَ جَمِيْلَةً، وَكَانَ عِنْدَهَا يَتَامَى لَهَا، فَصَبَرَتْ عَلَيْهِنَّ حَتَّى بَلَغَ أَمْرُهُنَّ الَّذِي بَلَغَ، فَشَكَرَ اللهُ لَهَا ذَلِكَ}

Dan rosulullah menyebutkan kembali wanita yang jadi ahli syurga : Seorang isteri yang ditinggal wafat suaminya dan ia mempunyai putera dan puteri yang masih kecil,ia tetap menjaga kehormatan dirinya,ia mendidik agama dan akhlaq yang baik kepada anak-anaknya,dan ia tidak menikah dengan laki-laki lain karena ia takut amanat (anak-anaknya) akan tersia-sia.

Rosulullah SAW bersabda : Allah telah mengharamkan syurga bagi anak adam untuk memasukinya sebelum aku memasukinya,selain bahwa aku melihat ke arah kananku,tiba-tiba ada seorang wanita yang mendahuluiku menuju pintu syurga, maka aku bertanya : Apakah perihal wanita ini sehingga ia mendahului aku untuk masuk syurga.

Maka aku mendapat jawaban : “Wahai Muhammad, wanita ini adalah wanita yang sholihah dan cantik akhlaqnya,ia mempunyai banyak anak-anak yatim ia sabar dalam mengurus dan mendidiknya sehingga anak-anaknya mencapai usia baligh dan ia bersyukur atasnya.

(ثُمَّ قَالَ)

صلى الله عليه وسلم

(وَأَمَّا الأَرْبَعَةُ اللَّوَاتِيْ فِيْ النَّارِ فَامْرَأَةٌ بَذِيَّةُ اللِّسَانِ) أي فاحشته (عَلَى زَوْجِهَا، إِنْ غَابَ عَنْهَا زَوْجُهَا لَمْ تَصُنْ نَفْسَهَا، وَإِنْ حَضَرَ آذَتْهُ) بمد الهمزة أي أغضبته من غير ذنب (بِلِسَانِهَا)

Kemudian Rosul bersabda : Adapun empat macam wanita ahli neraka adalah,wanita yang buruk lisan dan ucapannya kepada suaminya,jika suaminya tidak berada dirumah,ia tidak memelihara kehormatannya,jika suaminya ada di rumah ia menyakitinya dengan lisannya.

قال عمر بن الخطاب: إن رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يقول: {أَيُّمَا امْرَأَةٍ رَفَعَتْ صَوْتَهَا عَلَى زَوْجِهَا إِلاّ لَعَنَهَا كُلُّ شَيْئٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَمْسُ} (وَامْرَأَةٌ تُكَلِّفُ زَوْجَهَا مَا لاَ يُطِيْقُ)

Berkata Abu Dzar,sesungguhnya Rosulallah bersabda : Isteri mana saja yang mengeraskan suaranya atas suaminya kecuali ia dilaknat oleh segala sesuatu yang tersinari matahari,dan seorang isteri yang meminta sesuatu yang diluar kemampuan suaminya.

قال أبو ذر: سمعتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يقول: {إِنَّ امْرَأَةً عبدت عِبَادَةَ أَهْلِ السَمَاوَاتِ وَ أَهْلِ الأَرْضِ، ثُمَّ أُدْخِلَتْ عَلَى زَوْجِهَا الغم مِنْ جِهَةِ النَفَقَةِ إِلاّ جَاءَتْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَدُهَا مَغْلُوْلَةٌ إِلَى عُنُقِهَا وَرُجْلُهَا مُقَيَّدَةٌ وَ سترُهَا مَهْتُوْكٌ وَوَجْهُهَا كَالِحٌ وَتعلق بِهَا مَلاَئِكَة غِلاَظٌ شداد يهوون بها فِيْ النَارِ}

Berkata Abu Dzar,Aku mendengar Rosulallah bersabda : Sesungguhnya seorang isteri jika ia beribadah seperti ibadahnya ahli langit dan ahli bumi,kemudian ia membuat bingung dan gelisah atas suaminya tentang nafaqoh,kecuali ia akan datang pada hari qiamat dalam keadaan kedua tangannya terbelenggu ke leher belakannya,dan kakinya terikat wajahnya sangat murung,dan malaikat menggantungnya kemudia diturunkan kedalam api neraka.

(وَامْرَأَةٌ لاَ تَسْتُرُ نَفْسَهَا مِنَ الرِّجَالِ وَتَخْرُجُ مِنْ بَيْتِهَا مُتَبَرِّجَةً) أي مظهرة لزينتها ومحاسنها للرجال

Dan isteri yang tidak menutupi diri dan auratnya dari pandangan laki-laki lain,dan keluar rumah dengan tidak menutup aurat (namun ia menampakkan perhiasannya dan dan kecantikannya kepada laki-laki lain).

قال سلمان الفارسي رضي الله عنه: سمعتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يقول: {أَيُّمَا امْرَأَةٍ تَزَيَّنَتْ وَتَطَيَّبَتْ وَخَرَجَتْ مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَا بِغَيْرِ إِذْنِهِ فَإِنَّهَا تَمْشِيْ فِيْ سُخْطِ اللهِ وَغَضَبِهِ حَتَّى تَرْجِعَ}

Berkata Salman Al-Farisy,Aku mendengar Rosulallah bersabda : siapa saja isteri yang berhias dan menggunakan wewangian kemudian ia keluar rumah suaminya tanpa seizinnya,ketahuilah bahwa isteri tersebut berjalan dalam kemarahan Allah dan kemarahan suaminya hingga ia kembali.

وقال صلى الله عليه وسلم: {أيُّمَا امْرَأَةٍ نَزَعَتْ ثِيَابَهَا فِيْ غَيْرِ بَيْتِهَا خَرقَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا سِتْرَهُ}. رواه الإمام أحمد والطبراني والحاكم والبيهقي

Rosul bersabda : Siapa saja isteri yang melepas penutup aurat diluar rumahnya,maka allah membakar penutup api neraka darinya.

(وَامْرَأَةٌ لَيْسَ لَهَا هَمٌّ إِلاَّ الأَكْلُ وَالشُرْبُ وَالنَّوْمُ، وَلَيْسَ لَهَا رُغْبَةٌ) أي إرادة (فِيْ صَلاَةٍ، وَلاَ فِيْ طَاعَةِ اللهِ، وَلاَ فِيْ طَاعَةِ رَسُوْلِهِ) صلى الله عليه وسلم (وَلاَ فِيْ طَاعَةِ زَوْجِهَا. فَالمَرْأَةُ إِذَاكَانَتْ بِهَذِهِ الصِّفَاتِ) أي الأربعة المذمومة (كَانَتْ مَلْعُوْنَةً) أي مبعدة عن الخير (مِنْ أَهْلِ النَّارِ إِلاَّ أَنْ تَتُوْبَ) أي من ذلك كله

Dan wanita yang kebingungannya hanya dalam masalah makan,minum,dan tidur.Ia tidak punya keinginan melaksanakan sholat, tidak pula ada keinginan taat kepada Allah dan Rosul-Nya,dan tidak pula kepada suaminya. Maka bila ada wanita dengan sifat-sifat yang telah disebutkan (sifat yang tercela),Maka wanita seperti itu terlaknat (Dijauhkan dari kebaikan) dan ia menjadi ahli neraka kecuali ia bertaubat dari segala perbuatan tercelanya. Wallahu A’lam.

BERBAKTI DAN MENAFKAHI ORANG TUA KITA ADALAH PINTU MENUJU SURGA ALLOH SWT.

Birrul walidain atau berbuat baik kepada kedua orang tua adalah amal kebaikan yang sangat mulia di dalam Islam. Kedudukannya disandingkan dengan perintah tauhid dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Ini menjadi bukti kuat keagungan amal ini. Ditambah keterangan, bahwa bakti kita kepada orang tua ini sebagai bentuk syukur atas jasa-jasa keduanya sejak kita berada dalam kandungan hingga kita menjadi besar dan dewasa.

Allah swt berfirman dalam AlQur’an:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah perintahkan, supaya engkau tidak menyembah melainkan kepadaNya semata-mata, dan hendaklah engkau berbuat baik kepada ibu bapak…”. (Q.S: Al-Isra’: 23)

|وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا

Dan Kami wasiatkan (perintahkan) kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. (Q.S: Al-Ahqaf: 15)

Jika kita perhatikan beberapa ayat diatas bahwa setelah Allah swt. mewajibkan manusia untuk beribadah kepada-Nya dan untuk tidak menyukutukan-Nya, Allah swt juga mewajibkan kepada kita untuk berbuat baik kepada orang tua.

Dan termasuk perbuatan baik kepada orang tua adalah dengan memberikan nafkah atau menanggung nafkah keduanya terlebih lagi jika orang tuanya tersebut sudah lanjut usia dan tidak mampu lagi untuk bekerja.

Sebab, anak adalah orang yang paling dekat kepada orang tuanya. Jika seorang anak yang berkecukupan menanggung nafkah kedua orang tuanya, maka itu merupakan kewajiban yang sangat penting dan memiliki pahala yang besar di sisi Allah swt.

Disebutkan dalam hadits dari sahabat Abdullah bin Amr, bahwa salah seorang sahabat mendatangi Nabi dan bertanya tentang harta yang ia miliki namun ia mempunyai orang tua yang tidak mampu mencari nafkahnya sendiri, apakah ia wajib menafkahi? Lalu Nabi saw menjawab:

أَنْتَ وَمَالُكَ لِوَالِدِكِ ، إِنَّ أَوْلاَدَكُمْ مَنْ أَطْيَبِ كَسْبِكُمْ ، فَكُلُوا مِنْ كَسْبِ أَوْلاَدِكُم

ْ

“sesunggunya kamu dan hartamu adalah milik orang tua mu. Dan anak-anakmu adalah bagian dari penghasilanmu yang baik, maka makanlah dari penghasilan anak-anakmu” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Kalau penghasilan anak itu terhitung sebagai penghasilan orang tuanya, maka menafkahi orang tua pun menjadi kewajiban anaknya, karena itu bagian dari penghasilan mereka.

Ulama 4 madzhab sepakat, bahwa anak punya kewajiban menafkahi orang tua kandungnya jika memang mereka sudah tidak mampu lagi bekerja, sehingga tidak punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Bahkan Imam Ibnu Al-Munzir mengatakan bahwa itu adalah sebuah Ijma’ (konsesus) bahwa seorang anak wajib menafkahi orang tuanya di saat orang tua tidak mampu lagi bekerja untuk mencukupi kebutuhannya.

Sebagaimana dikutip oleh Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni:

فَحَكَى ابْنُ الْمُنْذِرِ قَالَ : أَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ عَلَى أَنَّ نَفَقَةَ الْوَالِدَيْنِ الْفَقِيرَيْنِ اللَّذَيْنِ لا كَسْبَ لَهُمَا , وَلا مَالَ , وَاجِبَةٌ فِي مَالِ الْوَلَد

“para ulama telah berijma’ bahwasanya orang tua yang fakir dan tidak punya penghasilan serta tak punya harta, wajib bagi anaknya memberikan nafkah untuk mereka dari hartanya” (Al-Mughni 11/373)

Meski demikian kewajiban seorang anak berbakti kepada orang tua tidak lantas gugur karena kewajiban menafkahi ini, karena berbakti kepada orang tua tidak hanya sebatas memberi nafkah semata. Tetapi juga menjaga, berkomunikasi, dan melayani mereka.

Seorang tabi’in yang mulia Iyas bin Mu’awiyah menangis sejadi-jadinya ketika meninggal salah satu dari orang tuanya,maka dikatakan pada beliau :

“Mengapa anda menangis sedemikian rupa” ?,

Maka beliau menjawab :

“Tidaklah aku menangis karena kematian, karena yang hidup pasti akan mati, akan tetapi yang membuatku menangis karena dahulu aku memiliki dua pintu ke surga, maka tertutuplah satu pintu pada hari ini dan tidak akan di buka sampai hari kiamat, aku memohon pada Allah Ta’ala agar aku bisa menjaga pintu yang ke dua”.

Saudaraku !!,

Kedua orang tua adalah dua pintu menuju surga, yang kita dapat menikmati bau harumnya setiap pagi dan petang,

Rasulullah Shallahu ‘ alaihi wasallam bersabda :

الوالد أوسط أبواب الجنة فأضع ذلك الباب أو احففظه

“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah, maka jgn sia-siakanlah pintu itu atau jagalah ia”.

(HR. Tirmidzi rohimahullah).

Pintu surga yang paling tengah, yang paling indahnya,yang paling eloknya.

Maka masihkah engkau sia-siakan pintu itu ?

Bahkan engkau haramkan dirimu tuk memasukinya ? Dengan mengangkat suaramu di hadapanya ? Dengan membentaknya di kala tulang-tulangnya semakin lemah karena di makan usia,

Sementara tubuhmu yang berotot kekar dahulu telah di basuh kotoranmu dengan tangannya yang kini tak bertenaga.

Duhai sungguh ruginya.

Celaka ! Celaka ! Celaka !

Jika kau berani durhaka !

Rasulullah Shallahu ‘ alaihi wa Sallam bersabda :

“Celaka,celaka,celaka ! , dikatakan pada beliau, siapa wahai Rasulullah ?,

Maka beliau bersabda :

“Siapa saja yang menjumpai kedua orang tuanya, baik salah satu atau kedua-duanya di kala mereka lanjut usia, akan tetapi (perjumpaan tersebut) tidak memasukannya ke surga. (HR.Muslim).

اللهم ارزقنا البر بوالدينا و اجمعنا بهم في جنات النعيم

“Ya Allah, berilah kami rizki untuk berbakti kepada kedua orang tua kami ,dan kumpulkanlah kami bersama mereka di surgaMu yang penuh kenikmatan.

SOLUSI AL-QUR’AN UNTUK MASALAH PASANGAN DALAM KELUARGA

Surat Al Anbiya menjawab Permasalahan Suami Istri

1. Pertanyaan : “Mengapa jika ia marah, lantas memukul diriku ?”

Jawaban Al Anbiya ayat 3 :

لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ

” Hati Mereka Dalam Keadaan Lalai ”

( Biasanya orang yang marah dan emosional dengan pelampiasan secara fisik, maka hatinya dalam keadaan lalai mengingat Allah )

2. Pertanyaan : ” Mengapa istriku/suamiku marah-marah terus kepada-ku, tanpa permasalahan yang mendasar/masalah yang sepele?”

Jawaban Al Anbiya ayat 20 :

يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ

“Mereka malaikat-malaikat bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang”

( Jawaban saat kita kena marah dari pasangan paling tepat adalah berdzikir/tasbih kepada Allah baik lisan maupun hati ).

3. Pertanyaan : “Mengapa Allah memberiku jodoh , orang seperti dia yang memiliki banyak kekurangan & kelemahan ? ”

Jawaban Al Anbiya ayat 23 :

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Allah tidak ditanya tentang apa yang Allah kerjakan, tapi kamulah yang akan ditanya ”

( Karena Kehendak Allah menjadikan suami/istri kita dengan kelebihan dan kekurangannya maka jangan tanya mengapa Allah berbuat seperti ini kepada kita, tapi nanti kita yang akan ditanya , sebenarnya apa yang telah kita kerjakan untuk memperbaiki sifat buruk pasangan kita, dan kita sendiri sebenarnya bukan mahluk sempurna. Maka “JANGAN TANYA APA YANG ALLAH PERBUAT TAPI ENGKAU YANG AKAN DITANYA ALLAH, APA YANG SUDAH KAU PERBUAT)

4. Pertanyaan : “Mengapa Allah terus mengujiku dengan perangai suami/istriku yang tidak sesuai agama ?”

Jawaban Al Anbiya ayat 35 :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan kepada kami”

( Bukankah hidup berarti adalah masalah?, jika tidak mau ada masalah, jangan hidup. Maka keburukan pasangan kita hendaknya kita sikapi dengan kesabaran dan teruslah berdoa agar Allah memberi petunjuk hidayah pada pasangan kita. Ajak pasangan kita untuk mau menghadiri pengajian, shalat tarawih jamaah di masjid, menjenguk orang sakit di rumah sakit, melihat/ziarah kubur dengan niat untuk banyak mengingat kematian. Semoga Al Quran dan kematian bisa menjadi nasihat baik buat pasangan kita)

5. Pertanyaan : ” Apa yang harus kulakukan saat ini, pasanganku marah dan pergi dari rumah, tak ada kabar ?”

Jawaban Al Anbiya ayat 87

:وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِباً فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan ingatlah kisah Zun Nun (nabi Yunus as) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa kepada Allah dalam keadaan yang gelap,”Laa Ilaaha illaa anta Subhanaka Inni Kuntu minadholiimiin ”

( Jika pasangan kita nusyuz (pergi dari rumah karena marah) sebaiknya kita banyak berdoa kepada Allah seperti doa Nabi Yunus saat berada di dalam perut ikan , di dalam dasar laut dan di kegelapan malam, yakni Laa Ilaaha illaa anta subhanaka Inni Kuntu minadholiimiin “)

6. Pertanyaan : “Doa Apa yang harus kami baca bila saat ini kami belum memiliki keturunan ? ”

Jawaban Al Anbiya ayat 89 :

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْداً وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

“Dan ingatlah ketika Zakaria berdoa kepada Allah, “Ya Tuhanku , janganlah Engkau biarkan aku seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik”

Al Anbiya ayat 90 :

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Maka Kami kabulkan doanya dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sungguh mereka selalu bersegera melakukan kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada kami”.

CARA AGAR ANAK KITA MAU MENGERJAKAN SHALAT DENGAN ISTIQOMAH

گيف تجعل أبنائك يصلون من أنفسھم

بدون خصام أو تذكير

Bagaimana Membuat Anak2 Anda Sholat dengan Kesadaran Mereka Sendiri Tanpa Berdebat dan Tanpa Perlu Diingatkan?

أولادك لا يصلون أو أتعبوك من أجل أن يصلوا ؟

تعالوا لتروا كيف تغيرونهم بإذن الله تعالى

Anak2 anda tidak mau sholat? atau mereka sampai membuat anda capek saat mengingatkan untuk sholat?

Mari kita lihat bagaimana kita bisa merubah ini semua ~ biidznillah

عن إحدى الأخوات

تقول اقول لكم قصة وقعت معي انا

Salah seorang akhwat berkisah: “Aku akan menceritakan satu kisah yg terjadi padaku”

كانت بنتي بالخامس ابتدائي

Saat itu, anak perempuanku duduk di kelas 5 SD

و الصلاة ثقيلة عليها.. لدرجة اني قلت لها يوما قومي صلي وراقبتها

فوجدتها أخذت السجادة ورمتها على الأرض وجاءتني

سألتها هل صليت قالت نعم.. صدقوني بدون شعور صفعت وجھا

أعرف أني أخطأت.. ولكن الموقف ضايقني وبكيت وخاصمتها ولمتها وخوفتها من الله

ولم ينفع معها كل هذا الكلام

Sholat baginya adalah hal yg sangat berat…sampai2 suatu hari aku berkata kepadanya: “Bangun!! Sholat!!”, dan aku mengawasinya..

Aku melihatnya mengambil sajadah, kemudian melemparkannya ke lantai…Kemudian ia mendatangiku…

Aku bertanya kepadanya: “Apakah kamu sudah sholat?”

Ia menjawab: ” Sudah”

Kemudian aku MENAMPARNYA

Aku tahu aku salah Tetapi kondisinya mmg benar2 sulit…

Aku menangis..

Aku benar2 marah padanya, aku rendahkan dia dan aku menakut2inya akan siksa Allah…

Tapi….ternyata semua kata2ku itu tidak ada manfaatnya…

لكن في يوم من الأيام … قالت لي إحدى الصديقات قصة.. منقولة ..وهي

Suatu hari, seorang sahabatku bercerita suatu kisah…

انها زارت قريبة لها عادية (ليست كثيرة التدين)، لكن عندما حضرت الصلاة

قام أولادها يصلون بدون أن تناديهم

Suatu ketika ia berkunjung kerumah seorang kerabat dekatnya (seorang yg biasa2 saja dari segi agama) , tapi ketika datang waktu sholat, semua anak2nya langsung bersegera melaksanakan sholat tanpa diperintah….

تقول .. قلت لها : كيف يصلي أولادك من أنفسهم بدون خصام وتذكير ؟

Ia berkata: Aku berkata padanya “Bagaimana anak2mu bisa sholat dg kesadaran mereka tanpa berdebat dan tanpa perlu diingatkan?

قالت والله ليس عندي شي اقوله لك الا اني قبل أن أتزوج ادعو الله بهذا الدعاء وإلى يومنا هذا ادعو به

Ia menjawab: Demi Allah, aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa sejak jauh sebelum aku menikah aku selalu memanjatkan DO’A ini…dan sampai saat ini pun aku masih tetap bedo’a dg DO’A tersebut

انا بعد نصيحتها هذه لزمت هذا الدعاء .. في سجودي وقبل التسليم وفي الوتر .. وفي

كل اوقات الاجابه

Setelah aku mendengarkan nasehatnya, aku selalu tanpa henti berdoa dg do’a ini..

Dalam sujudku…

Saat sebelum salam…

Ketika witir…

Dan disetiap waktu2 mustajab…

والله يا اخواتي.. ان بنتي هذه الآن بالثانوي.. من اول مابدأت الدعاء وهي

التي توقظنا للصلاة وتذكرنا بها

واخوانها كلهم ولله الحمد حريصون على الصلاة

Demi Allah wahai saudara2ku…

Anakku saat ini telah duduk dibangku SMA..

Sejak aku memulai berdoa dg doa itu, anakkulah yg rajin membangunkan kami dan mengingatkan kami untuk sholat…

Dan adik2nya, Alhamdulillah..mereka semua selalu menjaga sholat!!!

حتى امي زارتني ونامت عندي ولفت انتباهها ان بنتي تستيقظ وتدور علينا توقظنا

للصلاة !!

Sampai2…saat ibuku berkunjung dan menginap dirumah kami, ia tercengang melihat anak perempuanku bangun pagi, kemudian membangunkan kami satu persatu untuk sholat…

أعرف .. أنكم الآن متشوقون لتعرفوا هذا الدعاء

الدعاء موجود في سورة ابراهيم

Aku tahu anda semua penasaran ingin mengetahui doa apakah itu?

Yaaa..doa ini ada di QS.Ibrahim: 40

والدعاء هو

      ( رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء

 (إبراهيم ، 40)

Doa ini adalah…

“Ya Robbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yg tetap melaksanakan sholat… Ya Robb kami, perkenankanlah doaku”(QS. Ibrahim: 40)

فالدعاء الدعاء الدعاء

وكما تعلمون الدعاء سلاح المؤمن

Yaa…Doa…Doa…dan Doa… Sebagaimana anda semua tahu bahwa doa adalah senjata seorang mukmin

إرسلوها للكل حتى تعم الفائدة

Kirimkan tulisan ini agar lebih banyak orang yg mengambil manfaat…

إذا أعجبك الموضوع فلا ت

قل شكـراً

قل :(رحم الله من نقلها لي ونقلها عني وجعلها بميزان حسناتكم

Jika anda terkesan dg tulisan ini, jangan katakan Syukron…

Tapi katakan: “Semoga Allah merahmati orang yang bersedia men-share (tulisan ini), kemudian menjadikannya pemberat bagi timbangan kebaikannya”

اقرأ هذا الدعاء لأبنائك و سيبقون بحفظ الله …. ورعايته

Baca selalu doa ini untuk anak2mu, biidznillah mereka akan selalu berada dalam penjagaan