KIAT DAN CARA AGAR REZEKI HALAL BERKAH DAN LANCAR

Rezeki banyak melimpah tidak sama konsepnya dengan rezeki yang halal dan berkah. Bisa jadi seoserang mempunyai rezeki yang banyak tetapi tidak terdapat keberkahan di dalamnya. Makna kata berkah sendiri berarti al-ziyadah yang artinya bertambah dan al-namaa’ yang artinya tumbuh berkembang.

Menurut Imam Al Baghawy, yang dimaksud dengan barakah adalah tetapnya kebaikan ilahiy dalam sesuatu. Maka di dalam Islam rezeki yang diinginkan adalah rezeki yang bertambah dan mengandung kebaikan di dalamnya. Sehingga bisa kita katakan, kalau seseorang mempunyai rezeki yang berkah, maka rezekinya bertambah-tambah di dalamnya dengan terdapat pula banyak kebaikan yang tiada berkurang.Adapun agar rezeki lancar , barokah dan halal sebagaimana tuntutan Rasulullah SAW Insya Allah sebagai berikut:

  1. Menjauhi pekerjaan yang haram dan syubhat.

Dalam arti kata taat kepadanya dan tidak melakukan dosa. Karena dosa menutup pintu rezeki. Rasulullah bersabada: “… dan seorang lelaki akan diharamkan baginya rezeki kerana dosa yang dibuatnya.” (Riwayat at-Tirmizi). Dekatkan diri kepada Allah dengan ibadah ma’dah tambahan seperti sholat Dhuha dan Tahajud

  1. Bekerja sungguh-sungguh.

Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hamba-Nya bersusah payah (kelelahan) dalam mencari rizki yang halal.” (HR. Adailami)

  1. Mengadukan masalah rezeki ini hanya kepada Allah SWT.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Barangsiapa tertimpa kemiskinan, kemudian ia mengadukannya kepada sesama manusia, maka tidak akan tertutup kemiskinannya itu. Namun, siapa saja yang mengadukannya kepada Allah, maka Allah akan memberinya rizki, baik segera ataupun lambat.”[HR. Abu Dawud dan Turmidziy, Abu ‘Isa berkata hadits ini hasan shahih gharib]

  1. Banyak membaca istighfar

Rasulullah saw bersabda,” Barangsiapa memperbanyak istighfar, maka Allah swt akan menjadikan setiap kesulitan kelapangan, dan setiap kesempitan jalan keluar, dan Allah akan memberinya rejeki dari jalan yang tidak pernah disangka-sangkanya.“ [HR. Imam Ahmad dalam Musnad]

  1. Sabar dan banyak membaca la hawla wa la quwwata illa billah.

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah, bahwasanya anak laki-laki ‘Auf bin Malik al-Asyja’iy yang bernama Salim, telah ditawan oleh orang-orang musyrik. Kemudian, ia mendatangi Rasulullah saw dan mengadukan kesedihannya kepada Rasulullah, sambil berkata, “Sesungguhnya, musuh telah menawan anaknya, dan ibunya menjadi sangat sedih. Lantas, apa yang engkau perintahkan kepadaku? Rasulullah saw menjawab, ” Bertaqwalah kepada Allah, bersabarlah, dan aku anjurkan agar kamu dan isterimu memperbanyak bacaan “La Haulah wa Laa Quwwata Illa bi al-Allah”. Lalu, ia kembali ke rumahnya dan berkata kepada isterinya,”Rasulullah saw telah memerintahkan aku dan kamu untuk memperbanyak bacaan “La Haulah wa Laa Quwwata Illa bi al-Allah”. Isterinya menjawab, “Baiklah.” Keduanya segera melaksanakan apa yang diperintahkan Rasulullah saw. Akhirnya, anaknya berhasil meloloskan diri dari musuh, dan menggiring ternak-ternak mereka. Kemudian, ia membawa ternak-ternak itu di hadapan ayahnya. Jumlah ternak itu adalah 4000 ekor kambing, dan Rasulullah saw memberikan ternak itu kepadanya.[Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, surat al-Thalaq:3]

  1. Tawwakal sepenuhnya kepada Allah SWT

“Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rejeki kepada kalian, sebagaimana Allah telah memberi rejeki kepada burung yang berangkat di pagi buta dengan perut kosong, dan kembali ke sarangnya dengan perut kenyang.”[HR. Bukhari]

  1. Bershadaqahlah dan Nafkahkanlah harta tersebut kepada yang berhak.

Rasulullah bersabda ”Ada tiga hal yang aku bersumpah kepadanya dan aku akan menyampaikan suatu berita kepadamu, maka perhatikan benar-benar. Tiadalah akan berkurang harta seseorang karena shadaqah….dan tiadalah seseorang membuka pintu meminta-minta melainkan Allah akan membukakan kepadanya pintu kemiskinan.”[HR. Turmudziyy] “Janganlah kamu menutup-nutupi apa yang kamu miliki, niscaya Allah akan menutupi rizkimu.”

Dalam riwayat lain dinyatakan, “Nafkahkanlah hartamu serta jangan kamu menghitung-hitungnya, maka Allah swt akan menghitung-hitungnya untukmu; dan janganlah kamu menakar-nakarnya, niscaya Allah Alah menakar-nakarnya untuk kamu.”[HR. Bukhari dan Muslim]

  1. Tolonglah Agama Allah dengan menegakkan Syariat Islam secara kaffah.

Allah SWT berfirman dalam surat Muhammad ayat 7:” Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu“.

Kiat yang terakhir inilah yang harus diperhatikan dengan serius oleh umat Islam pada saat sekarang ini.

Islam sebagai jalan kehidupan tidak tegak di masyarakat kita pada saat ini dengan tidak adanya Daulah Islam sebagai wadah tegaknya Syariat Islam. Sehingga membuat sistem perekonomian yang dimana umat mencari rezeki pada saat sekarang ini merupakan sistem perekonomian yang tidak mendukung mereka untuk mendapatkan rezeki yang banyak, lancar dan barokah.

Lihatlah bagaimana susahnya sebagian orang hanya untuk mendapatkan sesuap nasi sehari, dan kemudian tidak lepasnya setiap usaha dari riba, sehingga untuk memastikan apakah harta yang kita cari pada saat sekarang ini berkah dan halal, sangatlah susah sekali.

Sebenarnya Allah tidak memerlukan pertolongan karena Allah Maha Kaya, tetapi itulah cara bagi kita untuk menolong diri kita sendiri, mari kita tolong Agama Allah, agar rezeki kita banyak, lancar, halal dan Berkah.

Wallahua’alam Bishawwab

DOSA DOSA MENURUT IMAM IBNU HAJAR AL HAITAMY RAHIMAHULLOH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

الكَبِيْرَةُ الأُولىَ ؛ الشِّرْكُ الأَكْبَرُ

Dosa Besar Pertama ; Syirik Besar. menyekutukan Allah SWT

الكَبِيْرَةُ الثَّانِيَةُ ؛ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ وَهُوَ الرِّيَاءُ

Dosa Besar Kedua ; Syirik Kecil, yaitu Riya, ibadah bukan karena Allah.

الكَبِيْرَةُ الثَّالِثَةُ الغَضَبُ بِالبَاطِلِ وَالحِقْدُ وَالحَسَدُ

Dosa besar ketiga ; Marah yang batil, Dendam dan Dengki.

الكَبِيْرَةُ الرَّابِعَةُ ؛ الكِبْرُ وَالعُجْبُ وَالخُيَلاَءُ

Dosa besar keempat ; Takabur, Ujub dan Membesar-besarkan diri.

الكَبِيْرَةُ الخَامِسَةُ ؛ الغِشُّ

Dosa besar kelima ; Menipu.

الكَبِيْرَةُ السَّادِسَةُ ؛ النِّفَاقُ

Dosa besar keenam ; Munafiq.

الكَبِيْرَةُ السَّابِعَةُ ؛ البَغْيُ

Dosa besar ketujuh ; Berbuat jahat.

الكَبِيْرَةُ الثَّامِنَةُ ؛ الإِعْرَاضُ عَنْ الخَلْقِ اسْتِكْبَارًا وَاحْتِقَارًا لَهُمْ

Dosa besar kedelapan ; Berpaling atau menjuhkan diri dari Makhluk karena kesombongan dan menghinakan mereka.

الكَبِيْرَةُ التَّاسِعَةُ ؛ الخَوْضُ فِيْمَا لاَ يَعْنِي

Dosa besar kesembilan ; Tenggelam pada sesuatu yang tidak bermanfaat, seperti tenggelam dalam permainan.

الكَبِيْرَةُ العَاشِرَةُ ؛ الطَّمَعُ

Dosa besar kesepuluh ; Thoma, Rakus.

الكَبِيْرَةُ الحَادِيَةُ عَشْرَةَ ؛ خَوْفُ الفَقْرِ

Dosa besar kesebelas ; Takut akan kefakiran, takut jatuh miskin atau melarat.

الكَبِيْرَةُ الثَّانِيَةُ عَشْرَةَ ؛ سَخَطُ المَقْدُورِ

Dosa besar kedua belas ; Membenci sesuatu yang telah ditaqdirkan Allah SWT.

الكَبِيْرَةُ الثَّالِثَةُ عَشْرَةَ ؛ النَّظَرُ إِلىَ الأَغْنِياَءِ وَتَعْظِيْمُهُمْ لِغِنَاهُمْ

Dosa besar ketiga belas ; Memandang orang kaya dan mengagungkan mereka karena kekayaannya.

الكَبِيْرَةُ الرَّابِعَةُ عَشْرَةَ ؛ الإِسْتِهْزَاءُ بِالفُقَرَاءِ لِفَقْرِهِمْ

Dosa besar keempat belas ; Merendahkan orang fakir karena kefakirannya.

الكَبِيْرَةُ الخَامِسَةُ عَشْرَةَ ؛ الحِرْصُ

Dosa besar kelima belas ; Sibuk mencari dunia sehingga lupa ibadah.

الكَبِيْرَةُ السَّادِسَةُ عَشْرَةَ ؛ التَّنَافُسُ فيِ الدُّنْياَ وَالمُبَاهَاةُ بِهاَ

Dosa besar keenam belas ; Berlebihan dalam dunia dan bermewah-mewahan.

الكَبِيْرَةُ السَّابِعَةُ عَشْرَةَ ؛ التَّزَيُّنُ لِلْمَخْلُوقِيْنَ بِمَا يَحْرُمُ التَّزَيُّنُ بِهِ

Dosa besar ketujuh belas ; Berhias karena ingin dihormati oleh sesama makhluk dengan sesuatu yang diharamkan.

الكَبِيْرَةُ الثَّامِنَةُ عَشْرَةَ ؛ المُدَاهَنَةُ

Dosa besar kedelapan belas ; Takut untuk menegakkkan kebenaran.

الكَبِيْرَةُ التَّاسِعَةُ عَشْرَةَ ؛ حُبُّ المَدْحِ بِمَا لاَ يَفْعَلُهُ

Dosa besar kesembilan belas ; Senang pujian dengan sesuatu kebaikan yang tidak dilakukannya.

الكَبِيْرَةُ العِشْرُونَ ؛ الاِشْتِغَالُ بِعُيُوْبِ الخَلْقِ عَنْ عُيُوْبِ النَّفْسِ

Dosa besar kedua puluh ; Sibuk mencari aib orang lain, tidak sadar akan aib diri sendiri.

الكَبِيْرَةُ الحَادِيَةُ وَالعِشْرُونَ ؛ نِسْيَانُ النِّعْمَةِ

Dosa besar kedua puluh satu ; Melupakan nikmat Allah.

الكَبِيْرَةُ الثَّانِيَةُ وَالعِشْرُونَ ؛ الحَمِيَّةُ لِغَيْرِ دِيْنِ اللهِ

Dosa besar kedua puluh dua ; Mementingkan sesuatu yang tidak penting berdasar ajaran agama Allah SWT.

الكَبِيْرَةُ الثَّالِثَةُ وَالعِشْرُونَ ؛ تَرْكُ الشُّكْرِ

Dosa besar kedua puluh tiga ; Tidak bersyukur.

الكَبِيْرَةُ الرَّابِعَةُ وَالعِشْرُونَ ؛ عَدَمُ الرِّضَا بِالقَضَاءِ

Dosa besar kedua puluh empat ; Tidak ridlo akan ketentuan Allah SWT.

الكَبِيْرَةُ الخَامِسَةُ وَالعِشْرُونَ ؛ هَوَانُ حُقُوقِ اللهِ تَعَالىَ وَأَوَامِرِهِ عَلَى الإِنْسَانِ

Dosa besar kedua puluh lima ; Merendahkan hak Allah dan merendahkan perintahNya terhadap manusia.

الكَبِيْرَةُ السَّادِسَةُ وَالعِشْرُونَ ؛ سُخْرِيَتُهُ بِعِبَادِ اللهِ تَعَالىَ وَازْدِرَاؤُهُ لَهُمْ وَاحْتِقَارُهُ إيَّاهُمْ

Dosa besar kedua puluh enam ; Mentertawakan hamba Allah, menyinggung dan menghina mereka …. (menghakimi)

الكَبِيْرَةُ السَّابِعَةُ وَالعِشْرُونَ ؛ اتِّبَاعُ الهَوَى وَالإِعْرَاضُ عَنْ الحَقِّ

Dosa besar kedua puluh tujuh ; Menuruti hawa nafsu dan berpaling dari kebenaran.

الكَبِيْرَةُ الثَّامِنَةُ وَالعِشْرُونَ ؛ المَكْرُ وَالخِدَاعُ

Dosa besar kedua puluh delapan ; Berbuat makar dan licik.

الكَبِيْرَةُ التَّاسِعَةُ وَالعِشْرُونَ ؛ إرَادَةُ الحَياَةِ الدُّنْياَ

Dosa besar kedua puluh sembilan ; Menginginkan kehidupan senang di dunia, tanpa memperhatikan akhirat.

الكَبِيْرَةُ الثَّلاَثُونَ ؛ مُعَانَدَةُ الحَقِّ

Dosa besar ketiga puluh ; Menentang kebenaran.

الكَبِيْرَةُ الحَادِيَةُ وَالثَّلاَثُونَ ؛ سُوءُ الظَّنِّ بِالمُسْلِمِ

Dosa besar ketiga puluh satu ; Buruk sangka terhadap sesama muslim.

الكَبِيْرَةُ الثَّانِيَةُ وَالثَّلاَثُونَ ؛ عَدَمُ قَبُولِ الحَقِّ إذَا جَاءَ بِمَا لاَ تَهْوَاهُ النَّفْسُ أَوْ جَاءَ عَلَى يَدِ مَنْ تَكْرَهُهُ وَتُبْغِضُهُ

Dosa besar ketiga puluh dua ; Tidak mau menerima kebenaran jika kebenaran itu datang tidak sesuai hawa nafsunya, atau kebenaran itu dari seseorang yang tidak disukainya.

الكَبِيْرَةُ الثَّالِثَةُ وَالثَّلاَثُونَ ؛ فَرَحُ العَبْدِ بِالمَعْصِيَةِ

Dosa besar ketiga puluh tiga ; Merasa gembira karena berbuat maksiat.

الكَبِيْرَةُ الرَّابِعَةُ وَالثَّلاَثُونَ ؛ الإِصْرَارُ عَلَى المَعْصِيَةِ

Dosa besar ketiga puluh empat ; Membiasakan diri berbuat maksiat.

الكَبِيْرَةُ الخَامِسَةُ وَالثَّلاَثُونَ ؛ مَحَبَّةُ أَنْ يُحْمَدَ بِمَا يَفْعَلُهُ مِنْ الطَّاعَاتِ

Dosa besar ketiga puluh lima ; Senang dipuji apabila melakukan suatu ibadah.

الكَبِيْرَةُ السَّادِسَةُ وَالثَّلاَثُونَ ؛ الرِّضَا بِالحَيَاةِ الدُّنْياَ وَالطُّمَأْنِيْنَةُ إلَيْهَا

Dosa besar ketiga puluh enam ; Ridlo dalam kehidupan dunia dan merasa nyaman di dunia, tanpa memperhatikan akhirat.

الكَبِيْرَةُ السَّابِعَةُ وَالثَّلاَثُونَ ؛ نِسْيَانُ اللهِ تَعَالىَ وَالدَّارِ الآَخِرَةِ

Dosa besar ketiga puluh tujuh ; Melupakan Allah SWT dan akhirat.

الكَبِيْرَةُ الثَّامِنَةُ وَالثَّلاَثُونَ ؛ الغَضَبُ لِلنَّفْسِ وَالاِنْتِصَارُ لَهَا بِالبَاطِلِ

Dosa besar ketiga puluh delapan ; Marah karena hawa nafsu serta menuruti-nya dalam kejahatan.

الكَبِيْرَةُ التَّاسِعَةُ وَالثَّلاَثُونَ ؛ الأَمْنُ مِنْ مَكْرِ اللهِ بِالِاسْتِرْسَالِ فيِ المَعَاصِيْ مَعَ الاِتِّكَالِ عَلَى الرَّحْمَةِ

Dosa besar ketiga puluh sembilan ; Merasa aman dari murka Allah, dengan bermaksiat yang bersandar pada rahmat Allah.

الكَبِيرَةُ الأَرْبَعُونَ ؛ اليَأْسُ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ

Dosa besar keempat puluh ; Putus asa dari rahmat Allah SWT.

الكَبِيرَةُ الحَادِيَةُ وَالأَرْبَعُونَ وَالثَّانِيَةُ وَالأَرْبَعُونَ ؛ سُوءُ الظَّنِّ بِللَّهِ تَعَالىِ وَالقُنُوطُ مِنْ رَحْمَتِهِ

Dosa besar keempat puluh satu dan empat puluh dua ; Buruk sangka kepada Allah dan putus asa dari rahmat Allah SWT.

الكَبِيْرَةُ الثَّالِثَةُ وَالأَرْبَعُونَ ؛ تَعَلُّمُ الْعِلْمِ لِلدُّنْياَ

Dosa besar keempat puluh tiga ; Mencari ilmu Agama untuk mendapatkan kehidupan dunia.

الكَبِيْرَةُ الرَّابِعَةُ وَالأَرْبَعُونَ ؛ كَتْمُ الْعِلْمِ

Dosa besar keempat puluh empat ; Menyembunyikan ilmu.

الكَبِيْرَةُ الخَامِسَةُ وَالأَرْبَعُونَ ؛ عَدَمُ العَمَلِ بِالْعِلْمِ

Dosa besar keempat puluh lima ; Tidak melakukan amal ibadah dengan berdasar ilmunya.

الكَبِيْرَةُ السَّادِسَةُ وَالأَرْبَعُونَ ؛ الدَّعْوَى فيِ الْعِلْمِ أَوْ الْقُرْآنِ أَوْ شَيْءٍ مِنَ العِبَادَاتِ زَهْوًا وَافْتِخَارًا بِغَيْرِ حَقٍّ وَلاَ ضَرُورَةٍ

Dosa besar keempat puluh enam ; Dakwah atau menyampaikan ajaran ilmu agama, alqur’an atau suatu ibadah, dengan keras (kasar) dan sombong yang tidak benar dan tidak dalam keadaan darurat.

الكَبِيْرَةُ السَّابِعَةُ وَالأَرْبَعُونَ ؛ إضَاعَةُ نَحْوِ العُلَمَاءِ وَالاِسْتِخْفَافُ بِهِمْ

Dosa besar keempat puluh tujuh ; Menyia-nyiakan Ulama dan merendahkan mereka.

الكَبِيْرَةُ الثَّامِنَةُ وَالتَّاسِعَةُ وَالأَرْبَعُونَ ؛ تَعَمُّدُ الْكَذِبِ عَلَى اللهِ تَعَالىَ أَوْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dosa besar keempat puluh delapan dan keempat puluh sembuilan ; Sengaja mendustakan Allah SWT dan Rasulullah SAW.

الكَبِيْرَةُ الخَمْسُونَ ؛ مَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً

Dosa besar kelima puluh ; Memberlakukan perbuatan buruk.

الكَبِيْرَةُ الحَادِيَةُ وَالخَمْسُونَ ؛ تَرْكُ السُّنَّةِ

Dosa besar kelima puluh satu ; Meninggalkan sunnah, (ingkar).

الكَبِيْرَةُ الثَّانِيَةُ وَالخَمْسُونَ ؛ التَّكْذِيْبُ بِالْقَدَرِ

Dosa besar kelima puluh dua ; Mendustakan qodar (taqdir Allah SWT).

الكَبِيْرَةُ الثَّالِثَةُ وَالخَمْسُونَ ؛ عَدَمُ الْوَفَاءِ بِالعَهْدِ

Dosa besar kelima puluh tiga ; Tidak memenuhi janji, tidak tepat janji.

الكَبِيْرَةُ الرَّابِعَةُ وَالخَامِسَةُ وَالخَمْسُونَ ؛ مَحَبَّةُ الظَّلَمَةِ أَوْ الْفَسَقَةِ بِأَيِّ نَوْعٍ كَانَ فِسْقُهُمْ ، وَبُغْضُ الصَّالِحِيْنَ

Dosa besar kelima puluh empat dan lima puluh lima ; Senang dolim atau fasiq berbuat apa saja dan benci orang soleh.

الكَبِيْرَةُ السَّادِسَةُ وَالخَمْسُونَ ؛ أَذِيَّةُ أَوْلِياَءِ اللهِ وَمُعَادَاتُهُمْ

Dosa besar kelima puluh enam ; Menyakiti wali Allah atau kekasih Allah dan menentangnya.

الكَبِيْرَةُ السَّابِعَةُ وَالخَمْسُونَ ؛ سَبُّ الدَّهْرِ مِنْ عَالَمٍ بِمَا يَأْتِي

Dosa besar kelima puluh tujuh ; Mencaci waktu atau keadaan alam, karena sesuatu yang akan terjadi.

الكَبِيْرَةُ الثَّامِنَةُ وَالخَمْسُونَ ؛ الكَلِمَةُ الَّتِي تَعْظُمُ مَفْسَدَتُهَا وَيَنْتَشِرُ ضَرَرُهَا مِمَّا يُسْخِطُ اللهَ تَعَالىَ

Dosa besar kelima puluh delapan ; Mengungkapkan kata yang tidak disukai Allah, bahayanya besar dan akan menyebar.

الكَبِيْرَةُ التَّاسِعَةُ وَالخَمْسُونَ ؛ كُفْرَانُ نِعْمَةِ المُحْسِنِ

Dosa besar kelima puluh sembilan ; Menginkari nikmat Allah SWT yang berbuat kebaikan.

الكَبِيْرَةُ السِّتُّونَ ؛ تَرْكُ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ سَمَاعِ ذِكْرِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dosa besar keenam puluh ; Tidak membaca sholawat kepada Nabi SAW disaat mendengar Nabi Shallallohu alaihi wasallam.

الكَبِيْرَةُ الحَادِيَةُ وَالسِّتُّونَ ؛ قَسْوَةُ الْقَلْبِ بِحَيْثُ تَحْمِلُ صَاحِبَهَا عَلَى مَنْعِ إطْعَامِ المُضْطَرِّ مَثَلاً

Dosa besar keenam puluh satu ; Keras hati sehingga tidak merasa tersentuh oleh keadaan orang miskin yang sangat membutuhkan.

الكَبِيْرَةُ الثَّانِيَةُ وَالثَّالِثَةُ وَالسِّتُّونَ ؛ الرِّضَا بِكَبِيْرَةٍ مِنَ الكَبَائِرِ أَوْ الإِعَانَةُ عَلَيْهَا بِأَيِّ نَوْعٍ كَانَ

Dosa besar keenam puluh dua dan enam puluh tiga ; Ridlo dengan dosa besar dan Membantu orang berbuat dosa.

الكَبِيْرَةُ الرَّابِعَةُ وَالسِّتُّونَ ؛ مُلاَزَمَةُ الشَّرِّ وَالفُحْشِ حَتَّى يَخْشَاهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِ

Dosa besar keenam puluh empat ; Membiasakan diri berbuat jahat dan buruk, sehingga orang mengkhawatirkan itu.

الكَبِيْرَةُ الخَامِسَةُ وَالسِّتُّونَ ؛ كَسْرُ الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيْرِ

Dosa besar keenam puluh lima ; Memecahkan uang emas dan uang perak atau pencucian uang.

الكَبِيْرَةُ السَّادِسَةُ وَالسِّتُّونَ ؛ ضَرْبُ نَحْوِ الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيْرِ عَلَى كَيْفِيَّةٍ مِنَ الغِشِّ الَّتِي لَوْ اطَّلَعَ عَلَيْهَا النَّاسُ لَمَا قَبِلُوْهاَ

Dosa besar keenam puluh enam ; Membuat seperti uang emas atau perak dengan tujuan menipu, apabila digunakan maka orang tidak akan menrimanya, pemalsuan uang.

الكَبِيْرَةُ السَّابِعَةُ وَالسِّتُّونَ ؛ الأَكْلُ أَوْ الشُّرْبُ فيِ آَنِيَةِ الذَّهَبِ أَوْ الفِضَّةِ

Dosa besar keenam puluh tujuh ; Makan atau minum di wadah yang terbuat dari emas atau perak.

الكَبِيْرَةُ الثَّامِنَةُ وَالسِّتُّونَ ؛ نِسْياَنُ الْقُرْآنِ أَوْ آَيَةٍ مِنْهُ بَلْ أَوْ حَرْفٍ

Dosa besar keenam puluh delapan ; Lupa bacaan Al-Qur’an atau salah satu ayatnya, bahkan satu huruf pun.

الكَبِيْرَةُ التَّاسِعَةُ وَالسِّتُّونَ ؛ الجِدَالُ وَالمِرَاءُ وَهُوَ المُخَاصَمَةُ وَالمُحَاجَجَةُ وَطَلَبُ الْقَهْرِ وَالغَلَبَةِ فيِ الْقُرْآنِ أَوْ الدِّينِ

Dosa besar keenam puluh sembilan ; Permusuhan, pertengkaran, pemaksaan, mengubah Al-Qur’an atau aturan agama.

الكَبِيْرَةُ السَّبْعُونَ ؛ التَّغَوُّطُ فيِ الطُّرُقِ

Dosa besar ketujuh puluh ; Buang hajat di jalan.

الكَبِيْرَةُ الحَادِيَةُ وَالسَّبْعُونَ ؛ عَدَمُ التَّنَزُّهِ مِنَ الْبَوْلِ فيِ البَدَنِ أَوْ الثَّوْبِ

Dosa besar ketujuh puluh satu ; Tidak menghidar dari buang air kecil mengenai badan atau baju.

الكَبِيْرَةُ الثَّانِيَةُ وَالسَّبْعُونَ ؛ تَرْكُ شَيْءٍ مِنْ وَاجِبَاتِ الوُضُوءِ

Dosa besar ketujuh puluh dua ; Meninggalkan salah satu kewajiban wudlu.

الكَبِيْرَةُ الثَّالِثَةُ وَالسَّبْعُونَ ؛ تَرْكُ شَيْءٍ مِنْ وَاجِبَاتِ الغُسْلِ

Dosa besar ketujuh puluh tiga ; Meninggalkan salah satu kewajiban mandi besar.

الكَبِيْرَةُ الرَّابِعَةُ وَالسَّبْعُونَ ؛ كَشْفُ العَوْرَةِ لِغَيْرِ ضَرُورَةٍ وَمِنْهُ دُخُولُ الحَمَّامِ بِغَيْرِ مِئْزَرٍ سَاتِرٍ لَهَا

Dosa besar ketujuh puluh empat ; Membuka aurat bukan darurat, seperti masuk WC umum (bersama-sama) tanpa pakaian.

الكَبِيْرَةُ الخَامِسَةُ وَالسَّبْعُونَ ؛ وَطْءُ الحَائِضِ

Dosa besar ketujuh puluh lima ; Menggauli istri yang sedang haid.

الكَبِيْرَةُ السَّادِسَةُ وَالسَّبْعُونَ ؛ تَعَمُّدُ تَرْكِ الصَّلاَةِ

Dosa besar ketujuh puluh enam ; Sengaja meninggalkan shalat.

الكَبِيْرَةُ السَّابِعَةُ وَالسَّبْعُونَ ؛ تَعَمُّدُ تَأْخِيْرِ الصَّلاَةِ عَنْ وَقْتِهَا أَوْ تَقْدِيْمِهَا عَلَيْهِ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ كَسَفَرٍ أَوْ مَرَضٍ عَلَى الْقَوْلِ بِجَوَازِ الجَمْعِ بِهِ

Dosa besar ketujuh puluh tujuh ; Sengaja menunda atau mendahulukan shalat tanpa udzur, seperti dalam perjalanan, sakit atau menjalankan pendapat yang membolehkan shalat jama’.

الكَبِيْرَةُ الثَّامِنَةُ وَالسَّبْعُونَ ؛ النَّوْمُ عَلَى سَطْحٍ لاَ تَحْجِيْرَ بِهِ

Dosa besar ketujuh puluh delapan ; Tidur di tempat terbuka dan tidak memakai penutup badan.

الكَبِيْرَةُ التَّاسِعَةُ وَالسَّبْعُونَ ؛ تَرْكُ وَاجِبٍ مِنْ وَاجِبَاتِ الصَّلاَةِ المُجْمَعِ عَلَيْهَا أَوْ المُخْتَلَفِ فِيْهَا عِنْدَ مَنْ يَرَى الوُجُوبَ كَتَرْكِ الطُّمَأْنِينَةِ فيِ الرُّكُوعِ أَوْ غَيْرِهِ

Dosa besar ketujuh puluh sembilan ; Meninggalkan salah satu kewajiban shalat, baik wajib menurut sepakat Ulama atau wajib bukan sepakat, hanya memandang dari sisi Ulama yang menyatakan wajib. Seperti tidak Tumaninah dalam ruku’.

الكَبِيْرَةُ الثَّمَانُونَ ؛ الوَصْلُ وَطَلَبُ عَمَلِهِ

Dosa besar kedelapan puluh ; Menyambung rambut (kepala) dengan rambut lain dan mencari perbuatan itu.

الكَبِيْرَةُ الحَادِيَةُ وَالثَّمَانُونَ ؛ الوَشْمُ وَطَلَبُ عَمَلِهِ

Dosa besar kedelapan puluh satu ; Menusuk bagian tubuh dengan sejenis jarum, seperti susuk.

الكَبِيْرَةُ الثَّانِيَةُ وَالثَّمَانُونَ ؛ وَشْرُ الأَسْنَانِ أَيْ تَحْدِيْدُهَا وَطَلَبُ عَمَلِهِ

Dosa besar kedelapan puluh dua ; Membentuk gigi dengan besi untuk keindahan dan mencari perbuatan itu.

الكَبِيْرَةُ الثَّالِثَةُ وَالثَّمَانُونَ ؛ التَّنْمِيْصُ وَطَلَبُ عَمَلِهِ وَهُوَ جَرْدُ الْوَجْهِ

Dosa besar kedelapan puluh tiga ; Menghilangkan atau mencabut bulu muka, bulu alis dsb. dan mencari perbutan itu.

الكَبِيْرَةُ الرَّابِعَةُ وَالثَّمَانُونَ ؛ المُرُورُ بَيْنَ يَدَيْ المُصَلِّي

Dosa besar kedelapan puluh empat ; Melewat di hadapan orang shalat.

الكَبِيْرَةُ الخَامِسَةُ وَالثَّمَانُونَ ؛ إطْبَاقُ أَهْلِ القَرْيَةِ أَوْ البَلَدِ أَوْ نَحْوِهِمَا عَلَى تَرْكِ الجَمَاعَةِ فيِ فَرْضٍ مِنَ المَكْتُوبَاتِ الخَمْسِ وَقَدْ وُجِدَتْ فِيْهِمْ شُرُوطُ وُجُوبِ الجَمَاعَةِ

Dosa besar kedelepan puluh lima ; Semua punduduk suatu tempat tidak melaksanakan shalat fardu berjama’ah, sedang telah memenuhi syarat untuk berjama’ah.

الكَبِيْرَةُ السَّادِسَةُ وَالثَّمَانُونَ ؛ إمَامَةُ الإِنْسَانِ لِقَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ

Dosa besar kedelapan puluh enam ; Mendirikan seorang Imam, tetapi kaumnya tidak menyukainya.

الكَبِيْرَةُ السَّابِعَةُ وَالثَّمَانُونَ وَالكَبِيْرَةُ الثَّامِنَةُ وَالثَّمَانُونَ ؛ قَطْعُ الصَّفِّ وَعَدَمُ تَسْوِيَتِهِ

Dosa besar kedelapan puluh tujuh dan delapan puluh delapan ; Memutuskan barisan shalat dan tidak meluruskannya.

الكَبِيْرَةُ التَّاسِعَةُ وَالثَّمَانُونَ ؛ مُسَابَقَةُ الإِمَامِ

Dosa besar kedelapan puluh sembilan ; Berlomba-lomba untuk menjadi imam shalat.

الكَبِيْرَةُ التِّسْعُونَ وَالحَادِيَةُ وَالتِّسْعُونَ وَالثَّانِيَةُ وَالتِّسْعُونَ ؛ رَفْعُ الْبَصَرِ إلىَ السَّمَاءِ ، وَالالْتِفَاتُ فيِ الصَّلاَةِ ، وَالاِخْتِصَارُ

Dosa besar kesembilan puluh, sembilan puluh satu dan sembilan puluh dua ; Menaikkan pandangan ke langit saat shalat, memalingkan kepala saat shalat dan mempersingkat shalat.

الكَبِيْرَةُ الثَّالِثَةُ وَالرَّابِعَةُ وَالخَامِسَةُ وَالسَّادِسَةُ وَالسَّابِعَةُ وَالثَّامِنَةُ وَالتِّسْعُونَ ؛ اتِّخَاذُ القُبُورِ مَسَاجِدَ ، وَإِيقَادُ السُّرُجِ عَلَيْهَا ، وَاِتِّخَاذُهَا أَوْثَاناً ، وَالطَّوَافُ بِهَا ، وَاسْتِلاَمُهَا ، وَالصَّلاَةُ إلَيْهَا

Dosa besar kesembilan puluh tiga, sembilan puluh empat, sembilan puluh lima, sembilan puluh enam, sembilan puluh tujuh dan sembilan puluh delapan ; Menjadikan kuburan sebagai mesjid, Menyalakan penerangan di kuburan, Menyembah kuburan, Towaf di kuburan, Mencium dari jauh pada kuburan dan shalat diatas kuburan. (Tujuan menyembah kuburan).

الكَبِيْرَةُ التَّاسِعَةُ وَالتِّسْعُونَ ؛ سَفَرُ الإِنْسَانِ وَحْدَهُ

Dosa besar kesembilan puluh sembilan ; Berpergian sendiri (yang dipastikan akan membahyakan dirinya).

الكَبِيْرَةُ المِائَةُ ؛ سَفَرُ المَرْأَةِ وَحْدَهَا بِطَرِيْقٍ تَخَافُ فِيْهَا عَلَى بُضْعِهَا

Dosa besar keseratus ; Berpergian sendiri bagi wanita (yang dipastikan akan membahayakan kehormatan dirinya).

الزواجر عن اقتراف الكبائر للإمام ابن حجر الهيتمي رحمه الله تعالى

INILAH AMALAN AMALAN YANG BISA MENGHAPUSKAN DOSA

Manusia pasti berbuat dosa dan pasti butuh ampunan Allah. Oleh karena itu Allah memberikan keutamaan dan kemurahan kepada hambaNya dengan mensyariatkan amalan-amalan yang dapat menghapus dosa disamping taubat. Sebagiannya dijelaskan dalam Al Qur’an dan sebagiannya lagi dalam Sunnah Rasululloh.Diantaranya sebagai berikut:

  1. Menyempurnakan wudhu dan berjalan kemasjid, sebagaimana disampaikan Rasululloh:

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ

Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat. Mereka menjawab: ya wahai rasululloh. Beliau berkata: enyempurnakan wudhu ketika masa sulit dan memperbanyak langkah kemasjid serta menunggu sholat satu ke sholat yang lain, karena hal itu adlah ribath. (HR Muslim dan Al Tirmidzi).

Juga dalam sabda beliau yang lain:

إِذَا تَوَضَّأَ الرَّجُلُ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ لَا يُخْرِجُهُ أَوْ قَالَ لَا يَنْهَزُهُ إِلَّا إِيَّاهَا لَمْ يَخْطُ خُطْوَةً إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً

Jika seseorang berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya kemudian berangkat sholat dengan niatan hanya untuk sholat, maka tidak melangkah satu langkah kecuali Allah angkat satu derajat dan hapus satu dosa. (HR Al Tirmidzi).

  1. Puasa hari Arofah dan A’syura’ dengan dalil:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَ صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Nabi Bersabda: Puasa hari Arafah saya berharap dari Allah untuk menghapus setahun yangsebelumnya dan setahun setelahnya dan Puasa hari A’syura saya berharap dari Allah menghapus setahun yang telah lalu. (HR Al Tirmidzi dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami’ no. 3853)

  1. Sholat tarawih di Romadhon dengan dalil sabda Rasululloh:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang menegakkan romadhon (sholat tarawih) dengan iman dan mengharap pahala Allah maka diampunilah dosanya yang telah lalu. (Muttafaqun ‘Alaihi).

  1. Haji yang mabrur dengan dalil

مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَ لَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Siapa yang berhaji lalu tidak berkata keji dan berbuat kefasikan maka kembali seperti hari ibunya melahirkannya (HR Al Bukhori) dan sabda beliau:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Haji mabrur balasannya hanya syurga. (HR Ahmad).

  1. Memaafkan hutang orang yang sulit membayar dengan dalil

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ أُتِيَ اللَّهُ بِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِهِ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَقَالَ لَهُ مَاذَا عَمِلْتَ فِي الدُّنْيَا قَالَ يَا رَبِّ آتَيْتَنِي مَالَكَ فَكُنْتُ أُبَايِعُ النَّاسَ وَكَانَ مِنْ خُلُقِي الْجَوَازُ فَكُنْتُ أَتَيَسَّرُ عَلَى الْمُوسِرِ وَأُنْظِرُ الْمُعْسِرَ فَقَالَ اللَّهُ أَنَا أَحَقُّ بِذَا مِنْكَ تَجَاوَزُوا عَنْ عَبْدِي

Dari Hudzaifah beliau berkata Allah memanggil seorang hambaNya yang Allah karuniai harta. Maka Allah berkata kepadanya: Apa yang kamu kerjakan didunia? Ia menjawab: Wahai Rabb kamu telah menganugerahkanku hartaMu lalu aku bermuamalah dengan orang-orang. Dan dahulu akhlakku adalah memaafkan, sehingga aku dahulu mempermudah orang yang mampu dan menunda pembayaran hutang orang yang sulit membayar. Maka Allah berfirman: Aku lebih berhak darimu maka maafkanlah hambaKu ini (HR Muslim).

  1. melakukan kebaikan setelah berbuat dosa dengan dalil:

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, ikutilah kejelekan dengan kebaikan yang menghapusnya dan pergauli manusia dengan etika yang mulia. (HR Al Tirmidzi dan Ahmad dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami’ no. 97.)

  1. memberi salam dan berkata baik dengan dalil sabda Rasululloh:

إِنَّ كِمْ كُوْجِبَاتِ الْمَغْفِرَةِ بَذْلُ السَّلاَمِ وَ حُسْنُ الْكَلاَمِ

sesungguhnya termasuk sebab mendapatkan ampunan adalah memberikan salam dan berkata baik. (HR Al Kharaithi dalam Makarim Al Akhlak dan dishohihkan Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Al Shohihah no. 1035)

  1. Sabar atas musibah dengan dalil sabda Rasululloh:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ إِنِّي إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدًا مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنًا فَحَمِدَنِي عَلَى مَا ابْتَلَيْتُهُ فَإِنَّهُ يَقُومُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ مِنْ الْخَطَايَا

Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla berfirman: Sungguh Aku bila menguji seorang hambaKu yang mukmin, lalu ia memujiku atas ujian yang aku timpakan kepadanya, maka ia bangkit dari tempat tidurnya tersebut bersih dari dosa seperti hari ibunya melahirkannya (HR Ahmad dan dihasankan Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Al Shohihah no. 144).

  1. Menjaga sholat lima waktu dan jum’at serta puasa Romadhon dengan dalil sabda Rasululloh:

الصلوات الخَمْسُ وَ الجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَ رَمَضَان إِلَى رَمَضَان مُكَفِّرَاتُ مَا بَينَهُمَا إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

Sholat lima waktu dan jum’at ke jum’at dan Romadhon ke Romadhon adalah penghapus dosa diantara keduanya selama menjauhi dosa besar (HR Muslim)

  1. Adzaan dengan dalil sabda Rasululloh:

إِنَّ الْمُؤَذِّنَ يُغْفَرُ لَهُ مَدَى صَوْتِهِ

Seorang Muadzin diampuni dosanya sepanjang (gema) suaranya. (HR Ahmad dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih AL Jaami’ no. 1929)

  1. Sholat dengan dalil sabda Rasululloh:

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ قَالُوا لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا قَالَ فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا

Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di pintu yang digunakan untuk mandi setiap hari lima kali, pa yang kalian katakan apakah tersisa kotorannya? Mereka menjawab: Tidak sisa sedikitpun kotorannya. Beliau bersabda: sholat lima waktu menjadi sebab Allah hapus dosa-dosa. (HR Al Bukhori).

  1. memperbanyak sujud dengan dalil sabda Rasululloh:

عَلَيْكَ بَكَثْرَنِ السُّجُوْدِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَ حَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيْئَةً

Hendaklah kamu memperbanyak sujud kepada Allah, karena tidaklah kamu sekali sujud kepada Allah kecuali Allah mengangkatmu satu derajat dan menghapus satu kesalahanmu (dosa) (HR Muslim).

  1. sholat malam dengan dalil

عَلَيْكَ بِقِيَامِ اللَيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ لَكُم لإِلَى رَبِّكُمْ وَ مُكَفِّرَةٌ للسَّيْئَاتِ وَ مَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِHendaklah kalian sholat malam, karena ia adalah adat orang yang sholeh sebelum kalian dan amalan yang mendekatkan diri kepada Robb kalian serta penghapus kesalahan dan mencegah dosa-dosa (HR Al Haakim dan dihasankan Al Albani dalam Irwa’ AL Gholil 2/199).

  1. berjihad dijalan Allah dengan dalil

يُغْفَرُ للشَّهِيْدِ كُلَّ ذَنْبٍ إلاَّ الدَّيْن

Senua dosa orang yang mati syahid diampuni kecuali hutang. (HR Muslim)

  1. mengiringi haji dengan umroh dengan dalil

تَابِعُوْا بَيْنَ الحَجِّ وَ الْعُمْرَةِ فَإِنَّ مُتَابَعَةَ بَيْنَهُمَا تَنْفِيْ الْفَقْرَ وَ الذُّنُوْبِ كَمَا تَنْفِيْ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ

Iringi antara haji dan umroh, karena mengiringi antara keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana AL Kier (alat pembakar besi) menghilangkan karat besai. (HR Ibnu Majah dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami’ no,2899)

  1. Shodaqah dengan dalil

إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيْرُُ لَّكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّئَاتِكُمْ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرُُ

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 2:271)Rasululloh pun bersabda:

الصَّدَقَةُ تُطْفِىءُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِىءُ الْمَاءُ النَّارَ

Shodaqah menghapus dosa seperti air memadamkan api (HR Ahmad, Al Tirmidzi dan selainnya dan dishohihkan Al Al Bani dalam Takhrij Musykilat Al faqr no. 117)

  1. Menegakkan hukum pidana dengan dalil

أَيُّمَا عَبْدٍ أَصَابَ شَيْئَاً مَمَا نَهَى اللهُ عَنْهُ ثُمَّ أُقِيْمَ عَلَيْهِ حَدُّهُ كَفَرَ عَنْهُ ذَلَكَ الذَّنْبُ

Siapa saja yang melanggar larangan Allah kemudian ditegakkan padanya hukum pidana maka dihapus dosa tersebut. (HR Al Haakim dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami’ no,2732)Demikian sebagian penghapus dosa, mudah-mudahan penjelasan ini bermanfaat.

BERSETUBUH MENGHADAP QIBLAT DAN MUHALLIL TALAK TIGA

Bersetubuh dengan menghadap qiblat

Jima (bersetubuh) menghadap qiblat di sahara,padang pasir/gurun atau di dalam bangunan (bangunan tempat tinggal) maka hukumnya tidak makruh ( yg artinya hukumnya mubah/boleh) menurut madzhab syafi’I dan mayoritas ulama’ kecuali sebagian ulama’ pengikut madzhab maliki maka hukumnya makruh.

ـ مسألة: هل يكره الجماع مستقبل القبلة في الصحراء أو في البنيان، وهل فيه خلاف لأحد من العلماء؟ الجواب: لا يكره ذلك، لا في الصحراء، ولا البنيان، هذا مذهب الشافعي والعلماء كافةً، إِلا بعضَ أصحاب مالك.

فتاوى الإمام النووي ص 190.

mas’alah apakah dimakruhkan bersetubuh menghadap qiblat di padang pasir/gurun/sahara,atau di dalam bangunan ,apakah itu ada perselisihan diantara ulama’jawab :

tidak dimakruhkan (diperbolehkan/mubah) bersetubuh menghadap qiblat dipadang pasir dan juga tidak di dalam bangunan ,ini,menurut madzhab syafi’I dan mayoritas ulama’ kecuali pendapat sebagian ashab maliki ( maka hukumnya makruh)

fatawa imam nawawi hal 190

Kalau muhallil talak tiga dengan zina apakah boleh?

Muhallil tidak boleh dengan zina. Bahkan jika dalam akad nikah, disyaratkan bahwa lelaki yang menjadi muhallil setelah melakukan persetubuhan telah menceraikan atau tidak ada lagi pernikahan dengan perempuan itu, maka persyaratan ini merusak terhadap nikah, sehingga tidak sah untuk kembali lagi kepada suaminya.

Perempuan yang sudah ditalak 3x (takal ba’in) tidak bisa ruju’ kembali kepada suaminya kecuali dengan adanya 5 syarat:

  1. Habisnya masa iddah dari suami yang menceraikan.
  2. Menikah dengan lelaki lain dengan pernikahan yang sah.
  3. Adanya persetubuhan, dengan masuknya kemaluan (dzakar/penis, minimal hasyafahnya) lelaki lain dalam keadaan ereksi pada kemaluan (farji/vagina) perempuan tersebut dalam pernikahan yang sah, dan lelaki tersebut bukan anak kecil.
  4. Diceraikan oleh lelaki tersebut.
  5. Habisnya masa iddah dari perceraian dengan lelaki tersebut.

Wallahu a’lam.

KISAH ORANG YANG DI PERBUDAK HARTA

Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.

Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya. Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan , tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah. Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi. Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah.

Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan.

Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuat si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris. “Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang.

Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan mati diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya…

Sebagai perenungan:

Tidakkah disadari, bahwa anak adalah harta yang sangat berharga, amanah dari Tuhan yang harus dijaga dan dibimbing dengan baik?

Tidakkah disadari, bahwa harta yang kita cari dan miliki itu kembali kepada keluarga sebagai wujud peribadatan melaksanakan amanah dari Tuhan dan sarana untuk pengabdian kepadaNya?

Tidakkah dicontoh, betapa besar kasih sayang Rasulullah saw kepada keluarga dan umatnya?

Sesunggunya Tuhan maha penyanyang kepada umatnya yang punya rasa sayang kepada mahkluk-Nya.

Ketahuilah, bahwa Tuhan kita itu Allah SWT, bukanlah Harta. Janganlah sampai kita di perbudak harta.

KISAH IBU YANG SUKA MENYUMPAHI ANAKNYA

Suatu hari ketika berjalan melewati perkampungan saya mendengar seorang ibu yang membentak anaknya “ojok nang embong kon ketabrak kapok kon” (jangan di jalan nanti ketabrak sukurin kamu-red), pernah juga kebetulan sedang membeli sesuatu di toko sebelah terdengar suara ibu penjaga toko “anak kok malasnya minta ampun, bodoh lagi”, dan masih banyak lagi contoh yang tidak mungkin saya sebutkan satu-satu.. saya sampai miris dan mbrebes mili melihat juga mendengarkan kata-kata kotor keluar dari mulut seorang ibu.. lalu dari sisi manakah surganya? yang seharusnya kata-katanya menyejukkan?

Ya.. Sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari seorang ibu yang jengkel atas kenakalan atau kesalahan anak-anaknya melaknat atau menyumpahi mereka. Baik dengan kata-kata yang kotor (tidak pantas) ataupun do’a yang tidak baik. Sehingga sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging. Sang ibu tidak pernah merasa bersalah ataupun berdosa atas perbuatannya tersebut. Sambil bersungut-sungut dan mengumpat ia pun berlalu, meninggalkan buah hatinya dalam keadaan menangis.

Memang profesi sebagai ibu rumah tangga mempunyai tugas yang seabrek-abrek, ibarat pekerja ibu mempunyai jam kerja yang tidak terbatas tidak seperti layaknya wanita karir kantoran yang mempunyai jadwal kerja antar 6-8 jam. Selepas itu ia bisa beristirahat dengan tenang. Sedangkan bagi ibu yang memiliki anak haruslah menjaga mereka 24 jam, belum melayani suami, memasak, mengurus rumah, menggosok pakaian, dan lain-lainnya duh capeknya!!!

Beruntunglah para ibu yang suaminya menyediakan khadimah atau pembantu di rumah untuk meringankan tugasnya. Bagaimana bila sang suami tidak mampu? Tentu dialah yang harus menyelesaikan tugas itu sendirian, dan biasanya bila sang ibu kelelahan kondisinya sangatlah labil sedikit saja buah hatinya melakukan hal-hal yang menurutnya tidak sewajarnya, maka terkadang tidak dapat mengontrol emosinya. Jadi buntut-buntutnya keluarlah cercaan, cacian, makian, laknat dan sumpah yang tidak baik kepada anak-anak mereka. Ironisnya sang ayah yang mendengar terkadang hanya diam saja. Lalu bagaimana sebenarnya islam memandang hal ini??

Memang jauhnya seseorang dari din yang mulia ini akan menyeret mereka dalam dosa dan maksiat bahkan terkadang mereka secara tak sadar telah menzhalimi hamba-hambaNya. Karena itu wajiblah bagi semua muslim dan juga muslimah mempelajari agama ini agar mereka terhindar dari apa yang di haramkan Allah dan mengerjakan apa yang di perintahNya.

Islam melarang orang tua melaknat anak-anak mereka, bukan hanya itu kitapun dilarang menyumpahi diri kita sendiri ketika kita marah karena sesungguhnya kita tidak mengetahui kapan saatnya perkataan ataupun do’a (baik maupun buruk) yang kita ucapkan akan di kabulkan.

Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu anhu, dia menceritakan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam telah bersabda:

”Janganlah kalian menyumpahi diri kalian, dan jangan pula menyumpahi anak-anak kalian dan harta kalian, kalian tidak mengetahui saat permintaan (do’a) dikabulkan sehingga Allah akan mengabulkan sumpah itu” (HR.Muslim)

Hadits diatas menjelaskan bahwa ada waktu-waktu baik yang didalamnya akan dikabulkan doa, karena itu hadits ini melarang kita untuk menyumpahi diri, putera-puteri kita, dan harta kekayaan kita, supaya sumpah itu tidak bertepatan dengan waktu pengabulan do’a sehingga selamat dari bahaya.

Tetapi sayangnya sebagaimana penulis paparkan diatas banyak dari kaum ibu yang melaknat dan menyumpahi anak-anak mereka. Mereka beralasan bahwa sebenarnya mereka tidak bermaksud demikian. Padahal sebagaimana kita ketahui alasan tersebut tidak dapat diterima karena larangannya telah jelas dan tegas.

Penulis mendapati pengalaman yang bisa dijadikan ibrah bersama, kisah nyata yang patut untuk dijadikan renungan bersama bagi para ibu-ibu.

Tak jauh lokasinya dari rumah penulis pada waktu itu ada tetangga ana mendapati seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia 9 tahun ditemukan tewas tersambar petir. Dus, berdatanganlah semua orang untuk melihatnya tak lama kemudian datanglah sang ibu yang menangis terisak-isak kemudian menjerit karena tidak mengira anaknya telah mati.

Setelah beberapa waktu kemudian penulis mendengar bahwa sebab kematian anaknya tersebut adalah akibat dari sumpah siibunya sendiri yang pada waktu ketika ia marah ia menyumpahi anaknya agar tersambar petir. wal iyyadzu billah…akhirnya sumpahnya tersebut dikabulkan Allah dan menyesallah sang ibu dengan penyesalan yang teramat mendalam. Nasi sudah menjadi bubur…..

Kisah lainnya yang tak jauh berbeda juga masih sama terjadi dekat lokasi penulis…. Seorang anak laki-laki berusia kira-kira 7 tahun ditemukan tewas tenggelam di sungai. Peristiwa ini belumlah lama terjadi kira-kira 4 bulan yang lalu kejadiannya pun demikian anak tersebut terkena sumpah ibunya.

Ibunya yang marah mendoakan kematian bagi anaknya tersebut. Dalam hujan gerimis anak itupun keluar bermain dengan kawan-kawannya ketika dia berjalan ditepian sungai malang kakinya tergelincir tenggelamlah ia kedalamnya. Kawan-kawannya tak kuasa menolongnya mereka berusaha mencari pertolongan orang dewasa, akhirnya sang anakpun terangkat ke tepi akan tetapi dia telah meninggal karena terlalu banyak menelan air sungai dan meraunglah sang ibu…..dengan ucapan bahwa dia tidak bersungguh-sungguh menyumpahi anaknya….semua orang yang hadir hanya lah terhenyak… ya … kiranya sumpah dan laknat telah menjadi budaya bagi kaum ibu-ibu kita. Sehingga sangatlah disesalkan anak-anak mereka menjadi korban.

Sungguh sangat tragis dan menyedihkan jauhnya kita dari agama ini membuat kita terjerumus dalam kesalahan yang fatal. Semoga Allah membimbing kita semua dan mengampuni dosa-dosa kita.

Sebenarnya banyak tips yang bisa di pelajari oleh para ibu rumah tangga agar mereka mampu mengontrol emosi mereka ketika marah.

Ketika ibu marah, ingatlah bahwa Allah selalu mengawasi kita dan ingatlah bahwa anak tidaklah langsung tumbuh menjadi dewasa, kita juga dulunya anak-anak yang terkadang nakal dan menjengkelkan orangtua kita.

Tarik nafas dalam-dalam dan santai (relaks) diam sejenak pandang anak dengan wajah yang lain dari biasanya tunjukkan ketidak sukaan kita akan ulah mereka, bila ibu ingin melotot atau merenggutkan muka maka lakukanlah agar anak takut

Bila kedua cara diatas belum bisa menguasai emosi ibu segeralah ucapkan istighfar bila ibu ingin mengeraskan suara maka lakukanlah sehingga anak mendengar ucapan ibu, dan ingat ucapan istighfar itu akan terekam dalam otak anak-anak kita sehingga ketika mereka marah atau melakukan kesalahan secara otomatis mereka akan meniru kita sebagaimana yang penulis jelaskan diatas bahwa kondisi seseorang mudah marah terkadang karena kelelahan, kerjakanlah pekerjaan rumah tangga apa yang ibu sanggup jangan memaksakan diri, tidurlah segera ketika anak-anak tidur sehingga ibu mempunyai waktu untuk beristirahat, dan tentu saja kerjasama antara suami istri sangat penting sekali dalam rumah tangga. Berilah pengertian kepada suami mengapa ibu tidak bisa menyelesaikan tugas rumah tangga ibu dengan penjelasan yang baik dan cara yang hikmah insya Allah suami ibu akan mengerti. Sehingga kebiasaan yang buruk menyumpahi anak ketika marah insya Allah akan berkurang sedikit demi sedikit.

Jangan lupa berdo’alah kepada Allah agar Dia Yang Maha Kuasa merubah kebiasaan buruk ini sesungguhnya hati Ibu dalam genggamanNya. sesungguhnya doa tulus seorang ibu ibarat doa seorang nabi kepada ummatnya.. Insya Allah, kita tidak akan senang lagi menyumpahi anak-anak kita ketika marah.

Wallahu’alam bisshawwab

CARA MENSUCIKAN AIR KENCING BAYI

Air kencing bayi dalam keluarga muslim dari segi status kenajisan dan cara mensucikannya adalah problem yang umum terjadi dan akan senantiasa berulang selama pernikahan dan kelahiran terus terjadi. Bagi sebagian pasangan suami-istri yang memiliki bayi, hukum fikih terkait persoalan ini mungkin belum diketahui atau diketahui namun dalam bentuk yang samar-samar. Tulisan ini dimaksudkan memberikan sumbangan bagi mereka. Mudah-mudahan bermanfaat.

Air kencing bayi dihukumi najis tanpa membedakan apakah bayinya laki-laki maupun perempuan, masih menyusu maupun sudah disapih, hanya makan ASI saja maupun sudah makan makanan tambahan selain ASI. Semuanya dihukumi najis berdasarkan dua dalil, yaitu; dalil keumuman najisnya air kencing manusia dan dalil khusus najisnya air kencing bayi.

Dalil yang menunjukkan najisnya air kencing manusia diantaranya adalah hadis berikut;

صحيح البخاري (1/ 370)

عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ فَزَجَرَهُ النَّاسُ فَنَهَاهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ

dari Yahya bin Sa’id berkata, “Aku mendengar Anas bin Malik berkata, “Seorang ‘Arab badui datang lalu kencing di sudut Masjid, maka orang-orang pun melarangnya dengan bentakan, tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencegah mereka. Setelah orang itu selesai dari kencingnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan disediakan setimba air lalu disiramkan pada bekasnya.” (H.R.Bukhari)

Perintah Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam terhadap shahabat agar menuangi air kencing badui di dalam masjid menunjukkan tempat yang terkena air kencing tersebut harus disucikan. Keharusan mensucikan air kencing menunjukkan air kencing manusia dihukumi najis.

Adapun dalil khusus yang menunjukkan air kencing bayi najis diantaranya adalah hadis berikut;

مسند أحمد (56/ 12)

عَنْ أُمِّ كُرْزٍ الْخُزَاعِيَّةِ قَالَتْ

أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِغُلَامٍ فَبَالَ عَلَيْهِ فَأَمَرَ بِهِ فَنُضِحَ وَأُتِيَ بِجَارِيَةٍ فَبَالَتْ عَلَيْهِ فَأَمَرَ بِهِ فَغُسِلَ

dari Ummu Kurz Al Khuza’iyyah dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditangankan kepada beliau seorang bayi laki laki yang kemudian mengencinginya, beliau lalu memerintahkan untuk memercikinya, lantas sisa kencingnya itu pun diperciki air. Dan didatangkan kepada beliau pula seorang bayi perempuan, ketika bayi itu mengencinginya, beliau memerintahkan untuk mencucinya,.” (H.R.Ahmad)

Perintah Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam untuk memerciki air kencing bayi laki-laki dan mencuci/membasuh air kencing bayi perempuan yang mengenai beliau menunjukkan bahwa air kencing bayi dihukumi najis tanpa membedakan bayi laki-laki maupun perempuan.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa air kencing bayi suci dengan dalil bahwa Nabi hanya memerintahkan memerciki air kencing bayi laki-laki, bukan membasuhnya, maka argumentasi ini tidak bisa diterima karena perintah memerciki tidak menunjukkan suci namun hanya menunjukkan bahwa  najisnya Mukhoffafah (ringan). Lagipula Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan membasuh air kencing bayi perempuan, padahal dari segi bayi, tidak ada bedanya antara bayi laki-laki maupun perempuan. Tambahan lagi, Nash-Nash yang memerintahkan mensucikan badan, pakaian, dan tempat dari air kencing bersifat umum bagi semua air kencing dari segi air kencing manusia. Oleh karena itu air kencing bayi termasuk keumuman lafadznya sehingga dihukumi Najis.

Adapun cara mensucikannya, maka hal ini perlu diperinci.

Jika bayinya laki-laki, maka cara mensucikannya cukup dengan cara Nadh tanpa perlu dibasuh/dicuci. Maksud Nadh disini adalah; percikilah dengan air bagian yang terkena air kencing, kemudian usaplah dengan air semua bagian yang terkena najis dengan usapan yang lembut, tanpa menggosok, menekan keras, atau memeras.  Mencuci/membasuh selalu disertai mengalirnya air sementara Nadh tidak disertai mengalirnya air.

Dalil yang menunjukkan bahwa mensucikan air kencing bayi laki-laki cukup dengan Nadh (memerciki dan mengusap) adalah hadis yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu lafadz;

عَنْ أُمِّ كُرْزٍ الْخُزَاعِيَّةِ قَالَتْ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِغُلَامٍ فَبَالَ عَلَيْهِ فَأَمَرَ بِهِ فَنُضِحَ

dari Ummu Kurz Al Khuza’iyyah dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditangankan kepada beliau seorang bayi laki laki yang kemudian mengencinginya, beliau lalu memerintahkan untuk memercikinya, lantas sisa kencingnya itu pun diperciki air… (H.R.Ahmad)

Lafadz ini menunjukkan air kencing bayi laki-laki diperlakukan berbeda dengan air kencing bayi perempuan. Mensucikan air kencing bayi laki-laki cukup dengan cara Nadh, tidak perlu sampai membasuh/mencuci.

Dalil lain yang menguatkan adalah hadis riwayat Ahmad berikut;

مسند أحمد (2/ 7) صحيح البخاري (19/ 438)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ فَيَدْعُو لَهُمْ فَأُتِيَ بِصَبِيٍّ فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ فَدَعَا بِمَاءٍ فَأَتْبَعَهُ إِيَّاهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ

dari Aisyah bahwa pernah didatangkan kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam seorang anak kecil supaya beliau mentahniknya (mengunyahkan makanan lalu menyuapkannya-pent), lalu beliau mendudukkannya di kamar. Kemudian anak tersebut kencing di atasnya, lalu beliau meminta air dan mengusapkan air tersebut pada baju beliau dan tidak mencucinya.” (H.R.Ahmad)

Riwayat lain Ahmad yang menguatkan;

مسند أحمد (54/ 312)

عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ قَالَتْ

رَأَيْتُ كَأَنَّ فِي بَيْتِي عُضْوًا مِنْ أَعْضَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ فَجَزِعْتُ مِنْ ذَلِكَ فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ خَيْرًا تَلِدُ فَاطِمَةُ غُلَامًا فَتَكْفُلِينَهُ بِلَبَنِ ابْنِكِ قُثَمٍ قَالَتْ فَوَلَدَتْ حَسَنًا فَأُعْطِيتُهُ فَأَرْضَعْتُهُ حَتَّى تَحَرَّكَ أَوْ فَطَمْتُهُ ثُمَّ جِئْتُ بِهِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَجْلَسْتُهُ فِي حِجْرِهِ فَبَالَ فَضَرَبْتُ بَيْنَ كَتِفَيْهِ فَقَالَ ارْفُقِي بِابْنِي رَحِمَكِ اللَّهُ أَوْ أَصْلَحَكِ اللَّهُ أَوْجَعْتِ ابْنِي قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ اخْلَعْ إِزَارَكَ وَالْبَسْ ثَوْبًا غَيْرَهُ حَتَّى أَغْسِلَهُ قَالَ إِنَّمَا يُغْسَلُ بَوْلُ الْجَارِيَةِ وَيُنْضَحُ بَوْلُ الْغُلَامِ

dari Ummi Fadll dia berkata, “Aku melihat seakan-akan di rumahku ada bagian dari bagian tubuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga aku pun menjadi cemas, aku lalu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyebutkan akan hal itu, beliau lalu bersabda: “Kabar baik, Fatimah akan melahirkan seorang anak, lalu kamu yang mengasuhnya dengan susu anakmu, Qutsam.” Ummu Fadll berkata, “kemudian Fatimah melahirkan Hasan, kemudian aku memberinya, aku susui hingga ia bergerak -menyampihnya-, setelah itu bayi tersebut aku bawa ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku dudukkan di pangkuannya. Namun anak itu kencing hingga aku pun memukul antara kedua pundaknya, maka beliau pun bersabda: “Bersikap lembutlah kepada anakku semoga Allah merahmatimu -atau, semoga Allah memberikan kebaikan kepadamu-, kamu telah menyakiti cucuku.” Aku lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, lepaslah sarungmu dan pakailah kain yang lain hingga aku mencucinya, ‘ beliau bersabda: “Hanyasanya yang dicuci itu adalah dari kencing bayi perempuan, adapun bayi laki-laki maka cukup dipercikkan saja.” (H.R.Ahmad)

Riwayat Abu Dawud yang menguatkan;

سنن أبى داود – م (1/ 144)

 أَبُو السَّمْحِ قَالَ كُنْتُ أَخْدُمُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَكَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَ « وَلِّنِى قَفَاكَ ». فَأُوَلِّيهِ قَفَاىَ فَأَسْتُرُهُ بِهِ فَأُتِىَ بِحَسَنٍ أَوْ حُسَيْنٍ – رضى الله عنهما – فَبَالَ عَلَى صَدْرِهِ فَجِئْتُ أَغْسِلُهُ فَقَالَ « يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الْغُلاَمِ »

Dari Abu As Samh dia berkata; Saya pernah melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, apabila beliau hendak mandi, beliau bersabda: “Belakangilah aku”. Maka saya pun membelakangi beliau, lalu saya menutupi beliau (sewaktu mandi) dengan cara membelakangi beliau itu. Setelah itu dibawalah Hasan dan Husain radliallahu ‘anhuma kepada beliau, lalu mereka kencing di atas dada beliau. Maka saya datang untuk mencucinya, namun beliau bersabda: “Kencing anak perempuan itu di cuci, sedangkan kencing anak laki-laki cukup diperciki”. (H.R.Abu Dawud)

Riwayat Abu Dawud yang lain yang menguatkan;

سنن أبى داود (1/ 457)

 عَنْ لُبَابَةَ بِنْتِ الْحَارِثِ قَالَتْ

كَانَ الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي حِجْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَالَ عَلَيْهِ فَقُلْتُ الْبَسْ ثَوْبًا وَأَعْطِنِي إِزَارَكَ حَتَّى أَغْسِلَهُ قَالَ إِنَّمَا يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْأُنْثَى وَيُنْضَحُ مِنْ بَوْلِ الذَّكَرِ

dari Lubabah binti Al Harits dia berkata; Pernah Husain bin Ali radliallahu ‘anhu berada di pangkuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dia kencing di atas pangkuan beliau. Maka saya berkata; Pakailah (gantilah) pakaian, dan berikanlah aku kain sarungmu itu untuk saya cuci. Beliau bersabda: “Sesungguhnya yang dicuci hanya kencing anak perempuan, sedangkan kencing anak laki-laki, hanya di perciki”. (H.R.Abu Dawud)

Adapun pendapat yang menyatakan bahwa air kencing bayi laki-laki juga dibasuh sebagaimana air kencing manusia dewasa, maka pendapat ini tidak bisa diterima karena argumentasinya adalah mengqiyaskan pada air kencing manusia dewasa, bukan karena ada dalil tersendiri. Sementara dalil yang shahih telah menunjukkan perlakuan khusus pada air kencing bayi laki-laki, yaitu cukup diperciki dan diusap saja tanpa harus dibasuh/dicuci.

Hanya saja, disyaratkan bayi laki-laki tersebut belum makan makanan tambahan apapun selain air susu ibu (ASI). Jika bayi laki-laki tersebut telah memakan makanan tambahan selain ASI seperti pisang, bubur, roti, sayur dll maka perlakuan khusus tersebut dicabut dan hukum air kencingnya menjadi seperti air kencing pada umumnya yang hanya bisa disucikan dengan cara dibasuh/dicuci sampai hilang warna, bau dan rasanya.

Dalil yang menunjukkan bahwa belum memakan makanan adalah syarat perlakuan khusus pada air kencing bayi laki-laki adalah hadis riwayat Bukhari berikut;

صحيح البخاري (1/ 373)

عَنْ أُمِّ قَيْسٍ بِنْتِ مِحْصَنٍ

أَنَّهَا أَتَتْ بِابْنٍ لَهَا صَغِيرٍ لَمْ يَأْكُلْ الطَّعَامَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَجْلَسَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجْرِهِ فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ فَدَعَا بِمَاءٍ فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ

dari Ummu Qais binti Mihshan, bahwa dia datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa anaknya yang masih kecil dan belum makan makanan. Rasulullah lalu mendudukkan anak kecil itu dalam pangkuannya sehingga ia kencing dan mengenai pakaian beliau. Beliau kemudian minta diambilkan air lalu memercikkannya dan tidak mencucinya.” (H.R.Bukhari)

Qotadah memperjelas syarat ini sebagaimana dalam hadis yang diriwatkan At-Tirmidzi berikut ini;

سنن الترمذى (2/ 495)

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي بَوْلِ الْغُلَامِ الرَّضِيعِ يُنْضَحُ بَوْلُ الْغُلَامِ وَيُغْسَلُ بَوْلُ الْجَارِيَةِ

قَالَ قَتَادَةُ وَهَذَا مَا لَمْ يَطْعَمَا فَإِذَا طَعِمَا غُسِلَا جَمِيعًا

dari Ali bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda mengenai air kencing bayi yang masih menyusu: ” Pakaian yang terkena air kencing bayi laki-laki cukup diperciki air sedangkan jika terkena air kencing bayi perempuan maka harus dicuci.” Qatadah berkata, hal ini jika keduanya belum memakan makanan, jika sudah memakan makanan maka keduanya harus dicuci. (H.R.At-Tirmidzi)

Menurut Ibnu Syihab Az-Zuhri, ketentuan ini telah menjadi Sunnah yang berlaku dan dilaksanakan generasi Awal. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan;

مصنف ابن أبي شيبة (1/ 121)

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ ، قَالَ : مَضَتِ السُّنَّةُ أَنَّهُ يُرَشُّ بَوْلُ مَنْ لَمْ يَأْكُلَ الطَّعَامَ ، وَمَضَتِ السُّنَّةُ بِغَسْلِ بَوْلِ مَنْ أَكَلَ الطَّعَامَ مِنَ الصِّبْيَانِ.

“Dari Ibnu Syihab beliau berkata; Telah berlaku Sunnah bahwasanya air kencing bayi yang belum makan makanan diperciki, dan telah berlaku Sunnah  untuk membasuh/mencuci air kencing bayi yang telah memakan makanan” (H.R. Ibnu Abi Syaibah)

Yang dimaksud belum makan makanan dalam hadis tersebut adalah belum memakan makanan tambahan selain air susu, atau makanan tambahan yang tidak dimaksudkan sebagai makanan dan berfungsi seperti makanan. Ibnu Hajar Al-‘Asqolani berkata dalam Fathu Al-Bari;

فتح الباري لابن حجر (1/  351)

قَوْله : ( لَمْ يَأْكُلْ الطَّعَامَ )

الْمُرَاد بِالطَّعَامِ مَا عَدَا اللَّبَن الَّذِي يَرْتَضِعُهُ وَالتَّمْر الَّذِي يُحَنَّكُ بِهِ وَالْعَطَل الَّذِي يَلْعَقُهُ لِلْمُدَاوَاةِ وَغَيْرهَا فَكَانَ الْمُرَاد أَنَّهُ لَمْ يَحْصُلْ لَهُ الِاغْتِذَاء بِغَيْرِ اللَّبَنِ عَلَى الِاسْتِقْلَالِ

Ucapan: “belum memakan makanan” (dalam hadis tersebut) maksudnya adalah makanan selain susu yang disusuinya dan kurma yang digunakan untuk mentahniknya, dan madu yang dijilatnya untuk pengobatan atau selainnya. Jadi yang dimaksud (dalam hadis tersebut) adalah bahwa bayi itu belum makan selain susu (ASI) saja. (Fathu Al-Bari vol 1, hlm 351)

Untuk susu formula seperti susu krim, susu kedelai atau susu dari hewan, maka semuanya dihukumi makanan tambahan yang membuat tercabut perlakuan khusus terhadap air kencing bayi laki-laki. Artinya, jika bayi laki-laki selain minum asi juga diberi susu formula atau susu hewan, maka air kencingnya tidak mendapat perlakuan khusus lagi untuk mensucikannya,dan disucikan sebagaimana cara mensucikan air kencing biasa. Alasannya, tiruan sesuatu bukanlah sesuatu itu sendiri, meskipun terdapat kesamaan. Tiruan daging bukanlah daging itu sendiri sehingga dihukumi Tho’am (makanan-tambahan) yang disebutkan dalam hadis.

Adapun air kencing bayi wanita, maka berdasarkan Nash-Nash yang telah dipaparkan sebelumnya, tidak ada perlakuan khusus terkait cara mensucikannya sehingga dihukumi sebagaimana air kencing biasa yakni dibasuh/dicuci sampai hilang warna, rasa dan baunya.

Jika bayinya berkelamin ganda, maka harus ditahqiq (diteliti) untuk memutuskan jenis kelaminnya. Keharusan Tahqiq ini dikarenakan Syara tidak mengakui kelamin banci, sehingga pada kasus bayi berkelamin ganda maka harus diputuskan berdasarkan faktanya apakah lebih cenderung ke laki-laki ataukah perempuan, misalnya dengan melihat dari mana air kencing keluar, organ-organ reproduksi dalam, hormon dll.

Untuk mensucikan harus dengan air, tidak cukup panas matahari, setrika, angin, atau mesin pengering. Hal itu dikarenakan Nash yang ada menunjukkan bahwa alat penyuci yang syar’I hanyalah air, kecuali ada Nash lain yang mengkhususkan seperti cara menyucikan jilatan anjing pada bejana atau mensucikan kulit bangkai. Wallahua’lam.

 

APA YANG HARUS DI LAKUKAN WANITA JIKA JATUH CINTA

Bagaimana seharusnya sikap muslimah bila ia jatuh cinta pada seorang lelaki?

Jawaban :

Jika seorang Muslimah merasakan hatinya jatuh cinta kepada seorang laki-laki, maka selama ada jalan hendaknya diusahakan untuk menikah dengannya. Jika tidak ada jalan yang memungkinkan menikahinya, maka muslimah tersebut wajib Shobr (tabah hati), sampai Allah menggantikan dengan lelaki yang lebih baik, atau Allah “menyembuhkannya” dari “sakit” cinta tersebut, atau Allah mewafatkannya. Inilah solusi yang lebih dekat dengan petunjuk Nash-Nash Syara’ dan lebih menjaga kehormatan serta dien Muslimah tersebut.

Jatuh cinta kepada lawan jenis, dari segi jatuh cinta itu sendiri bukanlah aib dan juga bukan dosa. Jatuh cinta adalah hal yang manusiawi dan menjadi naluri yang ada secara alamiah pada setiap manusia normal. Nabi, orang suci, orang shalih, dan ulama mengalami jatuh cinta kepada lawan jenis sebagaimana manusia pada umumnya. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ cinta kepada Khadijah dan Aisyah, ibnu Umar cinta yang sangat kepada istrinya, Ibnu Hazm cinta pada wanita yang sampai membuatnya menjadi ulama besar, Sayyid Quthub mencintai wanita namun gagal menikahinya, dll semuanya adalah contoh bagaimana perasaan itu adalah perasaan yang normal, wajar, natural, dan biasa.

Adapun mengapa orang yang jatuh cinta perlu mengusahakan menikah dengan orang yang dicintai, maka hal tersebut dikerenakan Syara’ menunjukkan bahwa solusi cinta terhadap lawan jenis adalah dengan menikah dengannya. Di zaman Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ada seorang lelaki yang jatuh cinta setengah mati dengan seorang wanita. Lelaki tersebut bernama Al-Mughits dan wanitanya bernama Bariroh. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang mengetahui cinta tersebut merekomendasikan kepada Bariroh agar berkenan menikah dengan Al-Mughits. Rekomendasi Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ini menunjukkan bahwa solusi jatuh cinta adalah menikah.

Bukhari meriwayatkan;

صحيح البخاري (16/ 332)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ

أَنَّ زَوْجَ بَرِيرَةَ كَانَ عَبْدًا يُقَالُ لَهُ مُغِيثٌ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ يَطُوفُ خَلْفَهَا يَبْكِي وَدُمُوعُهُ تَسِيلُ عَلَى لِحْيَتِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعبَّاسٍ يَا عَبَّاسُ أَلَا تَعْجَبُ مِنْ حُبِّ مُغِيثٍ بَرِيرَةَ وَمِنْ بُغْضِ بَرِيرَةَ مُغِيثًا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ رَاجَعْتِهِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَأْمُرُنِي قَالَ إِنَّمَا أَنَا أَشْفَعُ قَالَتْ لَا حَاجَةَ لِي فِيهِ

Dari Ibnu Abbas bahwasanya suami Bariroh adalah seorang budak. Namanya Mughits. (setelah keduanya bercerai) Sepertinya aku melihat ia selalu menguntit di belakang Bariroh seraya menangis hingga air matanya membasahi jenggot. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abbas, tidakkah kamu ta’ajub akan kecintaan Mughits terhadap Bariroh dan kebencian Bariroh terhadap Mughits?” Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “andai saja kamu mau meruju’nya kembali (menikah dengannya).” Bariroh bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau menyuruhku?” beliau menjawab, “Aku hanya menyarankan.” Akhirnya Bariroh pun berkata, “Sesungguhnya aku tak butuh sedikit pun padanya.” (H.R. Bukhari)

Pernah juga ada kejadian, seorang lelaki yang mencintai seorang wanita dan wanita tersebut mencintai lelaki itu. Lalu keduanya ingin menikah, namun dihalang-halangi oleh kakak wanita tersebut. Ternyata Allah melarang sikap sang kakak dan memerintahkan agar menikahkan mereka berdua. Kisah ini juga menunjukkan bahwa jatuh cinta antara dua anak manusia solusinya tetap dikembalikan pada pernikahan selama masih memungkinkan. Bahkan Allah mencela sikap menghalang-halangi pernikahan jika kedua belah pihak telah saling ridha.

At-Tirmidzi meriwatkan kisahnya;

سنن الترمذى – مكنز (11/ 217، بترقيم الشاملة آليا)

عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّهُ زَوَّجَ أُخْتَهُ رَجُلاً مِنَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَكَانَتْ عِنْدَهُ مَا كَانَتْ ثُمَّ طَلَّقَهَا تَطْلِيقَةً لَمْ يُرَاجِعْهَا حَتَّى انْقَضَتِ الْعِدَّةُ فَهَوِيَهَا وَهَوِيَتْهُ ثُمَّ خَطَبَهَا مَعَ الْخُطَّابِ فَقَالَ لَهُ يَا لُكَعُ أَكْرَمْتُكَ بِهَا وَزَوَّجْتُكَهَا فَطَلَّقْتَهَا وَاللَّهِ لاَ تَرْجِعُ إِلَيْكَ أَبَدًا آخِرُ مَا عَلَيْكَ قَالَ فَعَلِمَ اللَّهُ حَاجَتَهُ إِلَيْهَا وَحَاجَتَهَا إِلَى بَعْلِهَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ) إِلَى قَوْلِهِ (وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ) فَلَمَّا سَمِعَهَا مَعْقِلٌ قَالَ سَمْعًا لِرَبِّى وَطَاعَةً ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ أُزَوِّجُكَ وَأُكْرِمُكَ.

Dari Ma’qil bin Yasar bahwa pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia menikahkan saudarinya dengan seorang lelaki dari kaum muslimin, lalu saudarinya tinggal bersama suaminya beberapa waktu, setelah itu dia menceraikannya begitu saja, ketika masa Iddahnya usai, ternyata suaminya cinta kembali kepada wanita itu begitu sebaliknya, wanita itu juga mencintainya, kemudian dia meminangnya kembali bersama orang-orang yang meminang, maka Ma’qil berkata kepadanya; hai tolol, aku telah memuliakanmu dengannya dan aku telah menikahkannya denganmu, lalu kamu menceraikannya, demi Allah dia tidak akan kembali lagi kepadamu untuk selamanya, inilah akhir kesempatanmu.” Perawi berkata; “Kemudian Allah mengetahui kebutuhan suami kepada istrinya dan kebutuhan isteri kepada suaminya hingga Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan ayat: “Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya.” QS Al-Baqarah: 231 sampai ayat “Sedang kamu tidak Mengetahui.” Ketika Ma’qil mendengar ayat ini, dia berkata; “Aku mendengar dan patuh kepada Rabbku, lalu dia memanggilnya (mantan suami saudarinya yang ditolaknya tadi) dan berkata; “Aku nikahkan kamu dan aku muliakan kamu.” (At-Tirmidzi)

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sendiri bahkan mengajarkan kepada kita bahwa menikah adalah obat yang paling mujarab bagi dua orang yang saling mencintai. Ibnu Majah meriwayatkan;

سنن ابن ماجه (5/ 440)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ

Dari Ibnu Abbas ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kami belum pernah melihat (obat yang mujarab bagi ) dua orang yang saling mencintai sebagaimana sebuah pernikahan.” (H.R.Ibnu Majah)

Nash-Nash ini, dan yang semakna dengannya menunjukkan bahwa menikah adalah solusi Syar’i bagi orang yang jatuh cinta.

Oleh karena itu seorang muslimah yang jatuh cinta kepada seorang lelaki bisa memulai mengusahakan menikah dengan lelaki tersebut dengan cara menawarkan dirinya untuk dinikahi. Cara ini lebih tegas, Syar’i, solutif, dan terhormat. Menawarkan diri kepada lelaki untuk dinikahi bukan perbuatan hina dan tercela. Justru wanita yang menawarkan dirinya kepada seorang lelaki adalah wanita yang mengerti solusi Syar’i terhadap problemnya, tegas dalam mengambil keputusan, terhormat karena tahu cara menjaga kehormatannya dengan ikatan pernikahan yang suci, dan mulia karena mengetahui kepada siapa dia harus mempersembahkan bakti. Khadijah adalah contoh wanita mulia yang tahu persis kepada siapa beliau mempersembahkan bakti, dan siapa yang pantas jadi imamnya dalam rumah tangga. Dengan ketegasan sikap beliau, maka Khadijah mendapatkan lelaki yang terbaik di alam ini. Justru sikap yang menjauhi ketakwaan jika seorang wanita mencintai seorang lelaki, lalu perasaan tersebut dipendamnya seraya mengotori hatinya dengan angan-angan tercela. Sesungguhnya angan-angan hati ada yang terkategori dosa sebagaimana yang dinyatakan dalam hadis dibawah ini;

صحيح مسلم (13/ 124)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَشْبَهَ بِاللَّمَمِ مِمَّا قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنْ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ النُّطْقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ

Dari Ibnu Abbas dia berkata; ‘Saya tidak mengetahui sesuatu yang paling dekat dengan makna Lamam (dosa dosa kecil) selain dari apa yang telah dikatakan oleh Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam: “Sesungguhnya Allah `Azza Wa Jalla telah menetapkan pada setiap anak cucu Adam bagiannya dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari. Maka zinanya mata adalah melihat, zinanya lisan adalah ucapan, sedangkan zinanya hati adalah berangan-anga dan berhasrat, namun kemaluanlah yang (menjadi penentu untuk) membenarkan hal itu atau mendustakannya.” (H.R.Muslim)

Wanita yang menawarkan diri lebih tegas dan jelas sikapnya. Jika hal tersebut bisa berlanjut ke pernikahan, maka hal itu kebahagiaan baginya, namun jika tidak mungkin berlanjut, sikapnya juga sudah jelas dan tinggal menyelesaikan problem sisanya. Wanita yang memendam rasa sambil berfantasi justru berpeluang untuk lebih menderita dan dekat dengan pelanggaran Syara’, kecuali wanita-wanita yang dirahmati Allah.

Terkait teknis melakukannya, maka wanita bebas memilihnya diantara berbagai cara yang dianggap paling mudah. Bisa melalui perantara atau langsung dirinya sendiri. Bisa secara lisan, bisa juga melalui tulisan. Bisa sekedar memulai untuk menawarkan atau langsung memulai dengan lafadz pinangan.

Hanya saja, solusi menikah ini tidak bermakna bolehnya memaksa lelaki untuk menikahinya. Hal itu dikarenakan memilih istri adalah hak lelaki yang merupakan pilihan baginya. Sebagaimana wanita berhak memilih calon suami, maka lelaki juga berhak memilih calon istri manapun yang dikehendakinya. Tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa lelaki wajib menikahi wanita yang mencintainya. Kisah cinta Al Mughits kepada Bariroh menunjukkan hal tersebut. Betapapun Al-Mughits sangat mencintai Bariroh, dan Nabi juga merekomendasikan Bariroh untuk menikah dengan Al-Mughits, namun Nabi tidak memaksa Bariroh untuk menikah dengan Al-Mughits. Namun, jika cinta itu memang sangat kuat (cinta setengah mati), memang dianjurkan pihak yang dicintai menikahinya sebagai bentuk rohmah, meskipun dia sendiri belum mencintainya.

Jika pihak yang dicintai belum berkenan menikahi dan tertutup semua jalan/kemungkinan untuk menikahi, maka tidak ada jalan bagi muslimah tersebut selain Shobr (tabah hati). Hal itu dikarenakan Syara’ memerintahkan Shobr pada semua bentuk musibah yang menyedihkan hati secara mutlak dan berjanji memberikan ganjaran yang besar atasnya. Shobr ini terus dilakukan sambil berdoa sampai Allah memberikan ganti lelaki yang lebih baik, atau Allah menghilangkan perasaan tersebut, atau Allah mewafatkannya.

Dengan cara penyikapan seperti ini, maka seorang muslimah akan senantiasa dalam keadaan beramal. Mendapat nikmat suami bisa beramal Syukur, dan jika gagal bisa beramal Shobr. Semuanya adalah kebaikan baginya.

Hanya saja, jika lelaki yang dicintai tersebut haram dinikahi, seperti Mahram, atau musyrik, atau yahudi, atau nasrani, maka Muslimah tersebut tidak boleh menurutinya dan harus menghilangkannya karena menikah dengan mereka hukumnya haram dan tidak sah.

Wallahua’lam.

PENDIDIKAN ANAK YANG ISLAMY (2)

Anak merupakan amanah dari Allah SWT yang harus dibina, dipelihara, dan diurus secara seksama serta sempurna agar kelak menjadi insan kamil, berguna bagi agama, bangsa dan negara, dan secara khusus dapat menjadi pelipur lara orang tua dan penenang hati ayah dan bunda serta kebanggaan keluarga.

 

Semua pengharapan yang positif dari anak tersebut tidaklah dapat terpenuhi tanpa adanya bimbingan yang memadai, selaras dan seimbang dengan tuntunan dan kebutuhan fitrah manusia secara kodrati. Dan semua itu tidak akan didapatkan secara sempurna kecuali pada ajaran Islam, karena bersumber pada wahyu illahi yang paling mengerti tentang hakikat manusia sebagai makhluq ciptaan-Nya.

 

‘Tarbiyyatul Aulad fil Islam’ karya DR. Abdullah Nashih Ulwan memberikan panduan yang lengkap bagi terwujudnya tata pola asuhan yang sempurna, karena selain memuat dalil naqli yang mengacu langsung kepada nash-nash Alquran dan hadits yang sahih, juga dilengkapi bukti-bukti ilmiah dan rasional.

Pada kesempatan kali ini saya ingin menyampaikan ‘ringkasan’ yang berkaitan dengan berbagai pendidikan yang harus diberikan kepada anak-anak kita yaitu: Pendidikan moral, Pendidikan fisik, Pendidikan kejiwaan dan Pendidikan sosial. Berikut ringkasannya:

 

Pendidikan Moral

1.Menjauhi dusta

“Jauhilah perbuatan dusta. Sebab dusta itu dapat mengakibatkan perbuatan lacur dan sesungguhnya perbuatan lacur itu menyeret ke neraka. Selama hamba itu dusta dan terus menerus berdusta, maka Allah mencatatnya sebagai pendusta” (H.R. Bukhari dan Muslim)

“Ada tiga macam manusia yang tidak akan diajak berbicara oleh Allah di hari kiamat, tidak akan disucikan dan tidak akan diperhatikan. Mereka akan mendapat siksa yang pedih. Yaitu kakek-kaket yang berzina, raja pendusta dan orang miskin yang sombong” (H.R. Muslim)

 

2.Menjauhi perbuatan mencuri

3.Menjaui sifat suka mencela dan mencemooh

“Orang mukmin itu tidak suka mencaci, tidak suka melaknat, tidak suka berkata keji serta tidak suka berkata kotor” (H.R. Tirmidzi)

“Mencaci maki muslim itu adalah perbuatan durhaka, sedangkan membunuh perbuatan kufur” (H.R. Muslim)

 

4.Menjauhi musik dan lagu-lagu porno

“Barangsiapa yang duduk mendengar nyanyian biduanita, maka Allah akan menuangkan air timah yang meleleh ke telinganya pada hari kiamat” (Riwayat Ibnu Asakir)

 

5.Menjauhi pergaulan bebas dan memandang hal-hal yang diharamkan Allah

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (Q.S. An-Nur: 24)

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Q.S. An-Nur: 25)

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Ahzab:59)

 

6.Tidak bersikap dan bergaya menyerupai lawan jenis kelamin

“Sesungguhnya Allah mengutuk para lelaki yang besikap dan bergaya seperti wanita, dan para wanita yang bersikap dan bergaya seperti laki-laki” (H.R. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmidzi)

 

Pendidikan Fisik

1.Mengikuti aturan yang sehat dalam makan, minum dan tidur

“Janganlah kalian minum dengan sekali teguk seperti minumnya unta, tetapi minumlah dengan dua atau tiga kali teguk. Ucapkanlah Bismillah ketika hendak minum dan ucapkanlah Alhamdulillah ketika selesai” (H.R. Tirmizi)

“Janganlah salah seorang diantara kamu minum sambil berdiri. Dan Barangsiapa yang lupa maka hendaklah ia menyemburkannya” ( H.R. Muslim)

“Apabila kamu hendak tidur maka terlebih dahulu berwudhulah sebagaimana kamu berwudhu untuk shalat. Kemudian, berbaringlah di atas sisi badanmu sebelah kanan…” (H.R. Bukhari dan Muslim)

 

2.Melindungi diri dari penyakit menular

“Larilah dari orang yang berpenyakit kusta sebagimana engkau lari dari singa” (H.R. Bukhari)

 

3.Membiasakan olah raga dan ketangkasan

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Q.S. Al-Anfaal:60)

“Segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan zikir (menyebut) nama-nama Allah, maka itu adalah senda gurau belaka, kecuali empat perkara: Berjalannya seseorang dengan tujuan (untuk memanah), latihan menunggang kuda, bermain dengan keluarganya dan belajar berenang” (Riwayat Durqathani)

 

4.Menjauhi merokok, onani, minuman keras, narkotika, zina dan homoseksual

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Q.S. Al-Ma’idah:90)

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. (Q.S. Almu’minun: 1-6)

Diriwayatkan bahwa salah seorang sahabat Ibnu Abbas yang bernama Atha’ berkata:

“Aku pernah mendengar bahwa ada suatu kaum dikumpulkan, sedangkan tangan-tangan mereka terikat dengan tali. Aku mengira kaum itu adalah mereka (yaitu orang-orang yang melakukan onani)”

Sa’id bin Jubair, dari golongan tabi’in, mengatakan:

“Allah akan mengazab suatu umat yang mempermainkan kemaluan mereka”

Diriwayatkan pula:

“Ada tujuh golongan yang tidak akan diperhatikan (Allah) diantaranya adalah orang yang menikahi tangannya (onani)

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (Q.S. Al-Ishraa:32)

“Dan (ingatlah) ketika Luth berkata pepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu”.Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”.” (Al-Ankabuut:28-29)

 

Pendidikan Kejiwaan

1.Menjauhi watak dan sikap minder

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (Q.S. Ali-imran: 139)

 

2.Tidak penakut

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Q.S. At-Taubah:40)

 

3.Menjauhi sifat rendah diri

4.Menjauhi hasud

“Hindarilah perbuatan hasud oleh kalian. Karena perbuatan itu dapat memakan kebaikan sebagimana api memakan kayu bakar” (H.R. Abu Dawud)

 

5.Menjauhi marah

Al-Bukhari meriwayatkan, bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi Saw: ‘Berilah aku wasiat. Beliau bersabda: ”Janganlah marah”. Laki-laki itu mengulanginya lagi berkali-kali da beliau bersabda, “Jangan Marah!”

“Barangsiapa dapat menahan marah, dan dia menguasainya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di atas kepala makhluk-makhluk sampai Dia memberitahukannya, bidadari mana yang ia sukai” (H.R. Bukhari)

 

 

Pendidikan Sosial

Memelihara hak orang lain

1.Hak terhadap orang tua

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (Q.S. Al-Israa:23)

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Q.S. Al-Israa:24)

 

 

Contoh-contoh sikap anak terhadap orang tua (Ulwan, Nashih. DR.):

  • Menta’ati perintah ibu dan ayah kecuali dalam hal yang sifatnya maksiat.
  • Berbicara kepada mereka dengan penuh kelembutan dan sopan santun.
  • Berdiri, ketika mereka masuk atau menghampiri anak.
  • Mencium kedua tangannya.
  • Memelihara nama baik, harta dan kehormatan mereka berdua.
  • Memuliakan keduanya, memberikan segala yang mereka minta.
  • Mengajak mereka bermusyawarah di dalam setiap pekerjaan dan perkara.
  • Banyak berdo’a dan mohon ampun untuk mereka.
  • Apabila keduanya kedatangan tamu, hendaklah anak duduk di dekat pintu dan memperhatikan pandangan mereka. Karena barangkali mereka hendak memerintahkan sesuatu.
  • Melakukan perbuatan yang membuat mereka senang. Tanpa diperintah terlebih dahulu.
  • Tidak mengeraskan suara di depan keduanya.
  • Tidak memutus perkataan ketika mereka berbicara.
  • Tidak keluar dari rumah sebelum meminta izin.
  • Tidak mengejutkan mereka ketika tidur.
  • Tidak lebih mementingkan istri dan anak daripada mereka.
  • Tidak mencela apabila mereka melakukan pekerjaan yang tidak disenangi.
  • Tidak tertawa di depan mereka apabila tidak ada sesuatu yang pantas ditertawakan.
  • Tidak makan sebelum mereka makan.
  • Tidak mengulurkan tangan mengambil makanan sebelum mereka.
  • Tidak tidur atau berbaring ketika mereka duduk, kecuali apabila mereka memberi izin.
  • Tidak menjolorkan kaki di depan mereka.
  • Tidak masuk sebelum mereka atau berjalan didipen mereka.
  • Segera memenuhi panggilan mereka.
  • Menghormati teman-teman semasa mereka masih hidup dan setelah meninggal.
  • Mendo’akan mereka, terutama setelah mereka meninggal.

 

2.Hak terhadap saudara

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (An-Nisa:36)

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (Q.S. Al_Israa:26)

 

3.Hak terhadap tetangga

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya” (H.R. Bukhari dan Muslim)

 

4.Hak terhadap guru

“Pelajarilah ilmu, pelajarilah ilmu(yang dapat menumbuhkan) ketenangan dan kehormatan dan rendahkanlah terhadap orang yang engkau ambil ilmunya (guru) “ (Riwayat Tabrani)

 

5.Hak terhadap teman

 

Contoh hak-hak seorang teman (muslim) adalah sbb:

  • Mengucapkan salam (Assalamu’alaikum ) ketika bertemu.
  • Menjenguknya ketika sakit
  • Mendo’akan ketika bersin
  • Menziarahinya dijalan Allah
  • Menolong ketika susah
  • Memenuhi undangan
  • Saling memberi hadiah pada waktu-waktu tertentu

 

6.Hak terhadap orang yang lebih tua

“Tidaklah seorang pemuda itu memuliakan orang tua karena usianya, kecuali Allah menghadirkan baginya seseorang yang akan memuliakannya pada usia tuanya (H.R. Tirmidzi)

 

 

Melaksanakan etika sosial

 

1.Etika makan dan minum

 

Etika makan:

  • Mencuci tangan sebelum makan
  • Membaca basmallah sebelum makan dan hamdallah sesudahnya
  • Tidak mencela makanan yang disajikan kepadanya
  • Makan dengan tangan kanan danmengambil makanan yang dekat
  • Tidak makan sambil bersandar
  • Dianjurkan berbincang-bincang ketika makan
  • Mendo’akan tuan rumah sesudah makan
  • Mendahulukan orang yang lebih tua
  • Tidak menyia-nyiakan nikmat

 

Etika minum:

  • Membaca basmallah sebelum minum dan hamdallah sesudahnya
  • Minum dengan beberapa tegukan
  • Makruh minum langsung dari mulut nejana (poci)
  • Makruh bernafas di dalam tempat minum
  • Dianjurkan ketika makan dan minum
  • Tidak minum dari bejana yang terbuat dari emas dan perak
  • Tidak makan dan minum terlalu kenyang

 

2.Etika memberi salam

“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya” (Q.S. An-Nur:61)

 

3.Etika Meminta Izin

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (Q.S. An-Nur:27)

 

4.Etika Didalam majelis

  • Menjabat tangan orang yang ditemui di majelis kecuali bukan muhrim.
  • Duduk di tempat yang telah ditentukan tuan rumah
  • Duduk sejajar dengan khalayak bukan ditengah-tengah mereka.
  • Dilarang duduk diantara dua orang kecuali meminta izin sebelumnya.
  • Orang yang datang terakhir duduk di tempat terakhir.
  • Dilarang berbisik-bisik didepan orang ketiga.
  • Dilarang menempati tempat duduk yang ditinggalkan oleh orangnya sementara.
  • Meminta izin sebelum keluar dari majelis
  • Membaca do’a kifarat majelis

 

5.Etika Berbicara

  • Berbicara dengan bahasa Arab yang fasih
  • Berbicara dengan tidak tergesa-gesa.
  • Dilarang memaksakan diri untuk berbicara secara fasih (difasih-fasihkan)
  • Pembicaraan harus dapat dipahami
  • Jangan mempersingkat dan memperpanjang pembicaraan
  • Memperhatikan sepenuhnya kepada pembicara
  • Pandangan pembicara harus tertuju pada hadirin
  • Memberi kelonggaran kepada hadirin ketika dan setelah berbicara.

 

6.Etika Bergurau

  • Tidak berlebihan
  • Tidak menyakiti seseorang dengan bercanda
  • Menghidari kebohongan dan kebatilan

 

7.Etika Mengucapkan selamat

  • Menampakkan kegembiraan dan perhatian ketika memberikan selamat
  • Mengucapkan selamat dengan bahasa yang lembut dan menggunakan bahasa do’a

 

8.Etika Mengunjungi orang sakit

  • Bersegera menjenguknya
  • Mendoakan
  • Mengingatkan si sakit untuk meletakkan tangannya di atas anggota badan yang sakit dan menbaca doa yang ma’tsur.
  • Dianjurkan bertanya kepada keluarga sisakit tentang keadaannya.
  • Duduk di dekat kepala si sakit.
  • Anjuran menenangkan jiwa si sakit dengan kesembuhan dan usia yang panjang
  • Anjuran kepada pengunjung untuk meminta doa dari si sakit
  • Mengingatkannya dengan kalimat Laaillaha illalaah jika ajal hamper tiba

 

9.Etika Ta’ziyah (mengunjungi yang meninggal)

  • Hendaknya mengucapkan kalimat yang atsar
  • Anjuran membuat makanan untuk keluarga mayat
  • Menampakkan duka kepada keluarga mayat.

 

10.Etika Bersin dan menguap

  • Mengucapkan hamdalah, rahmah dan hidayah
  • Menutup mulut dengan tangan atau sapu tangan dan merendahkan suara
  • Mendo’akan sampai tiga kali
  • Mendo’akan non muslim dengan “Semoga Allah memberikan petunjuk kepadamu”

PENDIDIKAN ANAK YANG ISLAMY

Pendidikan anak adalah perkara yang sangat penting di dalam Islam. Di dalam Al-Quran kita dapati bagaimana Allah menceritakan petuah-petuah Luqman yang merupakan bentuk pendidikan bagi anak-anaknya. Begitu pula dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kita temui banyak juga bentuk-bentuk pendidikan terhadap anak, baik dari perintah maupun perbuatan beliau mendidik anak secara langsung.

Seorang pendidik, baik orangtua maupun guru hendaknya mengetahui betapa besarnya tanggung-jawab mereka di hadapan Allah ‘azza wa jalla terhadap pendidikan putra-putri islam.

Tentang perkara ini, Allah azza wa jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (At-Tahrim: 6)

Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban”

Untuk itu -tidak bisa tidak-, seorang guru atau orang tua harus tahu apa saja yang harus diajarkan kepada seorang anak serta bagaimana metode yang telah dituntunkan oleh junjungan umat ini, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa tuntunan tersebut antara lain:

  • Menanamkan Tauhid dan Aqidah yang Benar kepada Anak

Suatu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa tauhid merupakan landasan Islam. Apabila seseorang benar tauhidnya, maka dia akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, tanpa tauhid dia pasti terjatuh ke dalam kesyirikan dan akan menemui kecelakaan di dunia serta kekekalan di dalam adzab neraka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni yang lebih ringan daripada itu bagi orang-orang yang Allah kehendaki” (An- Nisa: 48)

Oleh karena itu, di dalam Al-Quran pula Allah kisahkan nasehat Luqman kepada anaknya. Salah satunya berbunyi,

يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”.(Luqman: 13)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah memberikan contoh penanaman aqidah yang kokoh ini ketika beliau mengajari anak paman beliau, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dengan sanad yang hasan. Ibnu Abbas bercerita,

“Pada suatu hari aku pernah berboncengan di belakang Nabi (di atas kendaraan), beliau berkata kepadaku: “Wahai anak, aku akan mengajari engkau beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah. kalaupun seluruh umat (jin dan manusia) berkumpul untuk memberikan satu pemberian yang bermanfaat kepadamu, tidak akan bermanfaat hal itu bagimu, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan bermanfaat bagimu). Ketahuilah. kalaupun seluruh umat (jin dan manusia)berkumpul untuk mencelakakan kamu, tidak akan mampu mencelakakanmu sedikitpun, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan sampai dan mencelakakanmu). Pena telah diangkat, dan telah kering lembaran-lembaran”.

Perkara-perkara yang diajarkan oleh Rasulllah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ibnu Abbas di atas adalah perkara tauhid.

Termasuk aqidah yang perlu ditanamkan kepada anak sejak dini adalah tentang di mana Allah berada. Ini sangat penting, karena banyak kaum muslimin yang salah dalam perkara ini. Sebagian mengatakan bahwa Allah ada dimana-mana. Sebagian lagi mengatakan bahwa Allah ada di hati kita, dan beragam pendapat lainnya. Padahal dalil-dalil menunjukkan bahwa Allah itu berada di atas arsy, yaitu di atas langit. Dalilnya antara lain,

“Ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy” (Thaha: 5)

Makna istiwa adalah tinggi dan meninggi sebagaimana di dalam riwayat Al-Bukhari dari tabi’in.

Adapun dari hadits,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada seorang budak wanita, “Dimana Allah?”. Budak tersebut menjawab, “Allah di langit”. Beliau bertanya pula, “Siapa aku?” budak itu menjawab, “Engkau Rasulullah”. Rasulllah kemudian bersabda, “Bebaskan dia, karena sesungguhnya dia adalah wanita mu’minah”. (HR. Muslim dan Abu Daud).

  • Mengajari Anak untuk Melaksanakan Ibadah

Hendaknya sejak kecil putra-putri kita diajarkan bagaimana beribadah dengan benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mulai dari tata cara bersuci, shalat, puasa serta beragam ibadah lainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Al-Bukhari).

“Ajarilah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika mereka berusia sepuluh tahun (bila tidak mau shalat-pen)” (Shahih. Lihat Shahih Shahihil Jami’ karya Al-Albani).

Bila mereka telah bisa menjaga ketertiban dalam shalat, maka ajak pula mereka untuk menghadiri shalat berjama’ah di masjid. Dengan melatih mereka dari dini, insya Allah ketika dewasa, mereka sudah terbiasa dengan ibadah-ibadah tersebut.

  • Mengajarkan Al-Quran, Hadits serta Doa dan Dzikir yang Ringan kepada Anak-anak

Dimulai dengan surat Al-Fathihah dan surat-surat yang pendek serta doa tahiyat untuk shalat. Dan menyediakan guru khusus bagi mereka yang mengajari tajwid, menghapal Al-Quran serta hadits. Begitu pula dengan doa dan dzikir sehari-hari. Hendaknya mereka mulai menghapalkannya, seperti doa ketika makan, keluar masuk WC dan lain-lain.

  • Mendidik Anak dengan Berbagai Adab dan Akhlaq yang Mulia

Ajarilah anak dengan berbagai adab Islami seperti makan dengan tangan kanan, mengucapkan basmalah sebelum makan, menjaga kebersihan, mengucapkan salam, dll.

Begitu pula dengan akhlak. Tanamkan kepada mereka akhlaq-akhlaq mulia seperti berkata dan bersikap jujur, berbakti kepada orang tua, dermawan, menghormati yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda, serta beragam akhlaq lainnya.

  • Melarang Anak dari Berbagai Perbuatan yang Diharamkan

Hendaknya anak sedini mungkin diperingatkan dari beragam perbuatan yang tidak baik atau bahkan diharamkan, seperti merokok, judi, minum khamr, mencuri, mengambil hak orang lain, zhalim, durhaka kepada orang tua dan segenap perbuatan haram lainnya.

Termasuk ke dalam permasalahan ini adalah musik dan gambar makhluk bernyawa. Banyak orangtua dan guru yang tidak mengetahui keharaman dua perkara ini, sehingga mereka membiarkan anak-anak bermain-main dengannya. Bahkan lebih dari itu –kita berlindung kepada Allah-, sebagian mereka menjadikan dua perkara ini sebagai metode pembelajaran bagi anak, dan memuji-mujinya sebagai cara belajar yang baik!

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda tentang musik,

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ اَلْحِرَ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

“Sungguh akan ada dari umatku yang menghalalkan zina, sutra, khamr dan al-ma’azif (alat-alat musik)”. (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Abu Daud).

Maknanya: Akan datang dari muslimin kaum-kaum yang meyakini bahwa perzinahan, mengenakan sutra asli (bagi laki-laki, pent.), minum khamar dan musik sebagai perkara yang halal, padahal perkara tersebut adalah haram.

Dan al-ma’azif adalah setiap alat yang bernada dan bersuara teratur seperti kecapi, seruling, drum, gendang, rebana dan yang lainnya. Bahkan lonceng juga, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Lonceng itu serulingnya syaithan”. (HR. Muslim).

Adapun tentang gambar, guru terbaik umat ini (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) telah bersabda,

كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ، يَجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُوْرَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ

“Seluruh tukang gambar (mahluk hidup) di neraka, maka kelak Allah akan jadikan pada setiap gambar-gambarnya menjadi hidup, kemudian gambar-gambar itu akan mengadzab dia di neraka jahannam”(HR. Muslim).

إِنِّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَاباً عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اَلْمُصَوِّرُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang paling keras siksanya di sisi Allah pada hari kiamat adalah para tukang gambar.” (HR. Muslim).

Oleh karena itu hendaknya kita melarang anak-anak kita dari menggambar mahkluk hidup. Adapun gambar pemandangan, mobil, pesawat dan yang semacamnya maka ini tidaklah mengapa selama tidak ada gambar makhluk hidupnya.

  • Menanamkan Cinta Jihad serta Keberanian

Bacakanlah kepada mereka kisah-kisah keberanian Nabi dan para sahabatnya dalam peperangan untuk menegakkan Islam agar mereka mengetahui bahwa beliau adalah sosok yang pemberani, dan sahabat-sahabat beliau seperti Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali dan Muawiyah telah membebaskan negeri-negeri.

Tanamkan pula kepada mereka kebencian kepada orang-orang kafir. Tanamkan bahwa kaum muslimin akan membebaskan Al-Quds ketika mereka mau kembali mempelajari Islam dan berjihad di jalan Allah. Mereka akan ditolong dengan seizin Allah.

Didiklah mereka agar berani beramar ma’ruf nahi munkar, dan hendaknya mereka tidaklah takut melainkan hanya kepada Allah. Dan tidak boleh menakut-nakuti mereka dengan cerita-cerita bohong, horor serta menakuti mereka dengan gelap.

  • Membiasakan Anak dengan Pakaian yang Syar’i

Hendaknya anak-anak dibiasakan menggunakan pakaian sesuai dengan jenis kelaminnya. Anak laki-laki menggunakan pakaian laki-laki dan anak perempuan menggunakan pakaian perempuan. Jauhkan anak-anak dari model-model pakaian barat yang tidak syar’i, bahkan ketat dan menunjukkan aurat.

Tentang hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang meniru sebuah kaum, maka dia termasuk mereka.” (Shahih, HR. Abu Daud)

Untuk anak-anak perempuan, biasakanlah agar mereka mengenakan kerudung penutup kepala sehingga ketika dewasa mereka akan mudah untuk mengenakan jilbab yang syar’i.

Demikianlah beberapa tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mendidik anak. Hendaknya para orang tua dan pendidik bisa merealisasikannya dalam pendidikan mereka terhadap anak-anak. Dan hendaknya pula mereka ingat, untuk selalu bersabar, menasehati putra-putri Islam dengan lembut dan penuh kasih sayang. Jangan membentak atau mencela mereka, apalagi sampai mengumbar-umbar kesalahan mereka.