MEMAAFKAN ORANG YANG MENDZOLIMI KITA

Apakah hukum menjauhi saudara dengan cara jarang silaturahmi karena saudara kita itu telah sering mendzolimi kita atau berbuat jahat ke kita. Apakah saudara kita yang dzolim itu memang harus di jauhi atau bagaimana?

JAWABAN :

Dalam hubungan kekeluargaan,persahabatan dan bahkan kemasyarakatan , adakalanya terjadi perbedaan , pertengkaran , perselisihan yang berakibat putusnya tali silaturrahmi,perpecahan,saling benci satu sama lain,hingga jangankan duduk dalam satu majlis,bertemu pun rasanya tak berharap.Islam memandang hal tersebut (perbedaan,perselisihan) biasa terjadi dalam hal muamalah,namun islam juga mengajarkan cara yang baik untuk kembali merajut hubungan yang lebih harmonis.

Sumber : Kitab Shohih Muslim

Dalam sebuah haditsnya Rosulullah SAW bersabda :

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث ليال يلتقيان فيعرض هذا ويعرض هذا وخيرهما الذي يبدأ بالسلام”

Tidaklah halal (haram) bagi seorang muslim menghindar dari saudaranya lebih dari tiga hari/malam,dan ketika bertemu mereka saling memalingkan muka,dan sebaik-baik dari keduanya adalah ia yang memulai mengucapkan salam”.

Tiga hari menghindar dihukumi boleh dalam rangka colling down,meredakan kemarahan dan kebencian, saling introspeksi dan kemudian menyambung silaturrahmi kembali.

قوله صلى الله عليه وسلم : ( لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث ليال ) قال العلماء : في هذا الحديث تحريم الهجر بين المسلمين أكثر من ثلاث ليال ، وإباحتها في الثلاث الأول بنص الحديث ، والثاني بمفهومه . قالوا : وإنما عفي عنها في الثلاث لأن الآدمي مجبول على الغضب وسوء الخلق ونحو ذلك ; [ ص: 91 ] فعفي عن الهجرة في الثلاثة ليذهب ذلك العارض . وقيل : إن الحديث لا يقتضي إباحة الهجرة في الثلاثة ، وهذا على مذهب من يقول : لا يحتج بالمفهوم ودليل الخطاب

Dalam lain kesempatan Rosulullah dimintai nasihat oleh sahabat ‘Uqbah bin ‘aamir tentang amalan yang mempunyai keunggulan dan keutamaan, Rosul bersabda :

قال عقبة ثم لقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فابتدأته فأخذت بيده فقلت يا رسول الله أخبرني بفواضل الأعمال فقال يا عقبة صل من قطعك وأعط من حرمك وأعرض عمن ظلمك

“Wahai ‘uqbah , Jalin kembali hubungan dengan orang yang memutuskan silaturrahmi denganmu , Berilah orang yang kikir padamu , dan maafkan orang yang zdolim/aniaya padamu “.

Tiga perkara ini bukan hal yang mudah dilakukan bagi seseorang,akan tetapi jika ia mampu melakukannya,maka Allah telah menyediakan pahala dan ganjaran yang maha besar (di atas rata-rata).

sumber :- Musnad uqbqh bin amir

 (حديث مرفوع) حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ , حَدَّثَنَا ابْنُ عَيَّاشٍ , عَنْ أسند= بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْخَثْعَمِيِّ , عَنْ فَرْوَةَ بْنِ مُجَاهِدٍ اللَّخْمِيِّ , عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ , قَالَ : أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِي : ” يَا عُقْبَةُ بْنَ عَامِرٍ صِلْ مَنْ قَطَعَكَ , وَأَعْطِ مَنْ حَرَمَكَ , وَاعْفُ عَمَّنْ ظَلَمَكَ ” .

– Musnad Imam Ahmad 16883

حدثنا أبو المغيرة حدثنا معان بن رفاعة حدثني علي بن يزيد عن القاسم عن أبي أمامة الباهلي عن عقبة بن عامر قال لقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فابتدأته فأخذت بيده قال فقلت يا رسول الله ما نجاة هذا الأمر قال يا عقبة احرس لسانك وليسعك بيتك وابك على خطيئتك قال ثم لقيني رسول الله صلى الله عليه وسلم فابتدأني فأخذ بيدي فقال يا عقبة بن عامر ألا أعلمك خير ثلاث سور أنزلت في التوراة والإنجيل والزبور والفرقان العظيم قال قلت بلى جعلني الله فداك قال فأقرأني قل هو الله أحد وقل أعوذ برب الفلق وقل أعوذ برب الناس ثم قال يا عقبة لا تنساهن ولا تبيت ليلة حتى تقرأهن قال فما نسيتهن من منذ قال لا تنساهن وما بت ليلة قط حتى أقرأهن قال عقبة ثم لقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فابتدأته فأخذت بيده فقلت يا رسول الله أخبرني بفواضل الأعمال فقال يا عقبة صل من قطعك وأعط من حرمك وأعرض عمن ظلمك

Wallohu a’lam bis showab

ADAB ATAU AKHLAK TIDURNYA UMAT ISLAM

Lima Adab Sebelum Tidur

Pada dasarnya, tidur merupakan aktivitas harian yang bersifat fitrah dan alami yang dialami oleh setiap makhluk, tak terkecuali manusia. Seluruh manusia pasti akan melewati keadaan terjaga dan tidur sepanjang harinya. Tidur merupakan kebutuhan pokok seperti halnya makan dan minum bagi setiap manusia.

Dalam kitab Bidayah al-Hidayah, Abu Hamid al-Ghazali membuat bab khusus tentang tata cara tidur, yang disebut dengan adab al-Naum. Setidaknya, ada lima hal yang perlu dilakukan dan dipersiapkan sebelum tidur sebagimana telah dicontohkan dan diperintahkan Nabi Saw.

Pertama; menutup pintu dan mematikan api dan lampu. Hal ini sebagaimana anjuran Nabi Saw dalam hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dari Jabir bin Abdillah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

أَطْفِئُوا اْلمَصَابِيْحَ بِاللَّيْلِ إِذِا رَقَدْتُمْ، وَأَغْلِقُواْ اْلأَبْوَابَ

“Matikanlah lampu-lampu di waktu malam jika kalian hendak tidur, tutuplah pintu-pintu”.

Kedua; bersuci dengan melakukan wudhu sebelum tidur. Terdapat beberapa riwayat hadis Nabi Saw yang menganjurkan wudhu sebelum tidur, di antaranya adalah hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim dari al-Barra’ bin ‘Azib, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ

“Apabila engkau hendak tidur, berwudhulah sebagaimana wudhu ketika hendak shalat.”

Wudhu dianjurkan bagi siapa pun yang ingin hendak tidur, siang maupun malam. Hal ini sebagaimana dikatakan al-Imam al-Nawawi, agar terhindar dari gangguan setan selama dalam kondisi tidur. Bahkan anjuran wudhu sebelum tidur ini berlaku pula bagi orang junub, meskipun dia tetap tidak boleh shalat dan membaca alquran dengan wudhu ini. Dalam sebuah hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar, dia bercerita bahwa bapaknya Sayyidina Umar bertanya kepada Nabi Saw;

أَيَرْقُدُ أَحَدُنَا وَهْوَ جُنُبٌ قَالَ « نَعَمْ إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْقُدْ وَهُوَ جُنُبٌ

“Apakah salah seorang di antara kami boleh tidur sedangkan ia dalam keadaan junub? Nabi Saw menjawab, “Iya, jika salah seorang di antara kalian junub, hendaklah ia berwudhu lalu tidur.”

Ketiga; mengibas tempat tidur dengan sarung atau benda lainnya. Hal ini berdasarkan hadis riwayat al-Imam Muslim dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْينَفْض فِرَاشَهُ بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ، فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِيْ مَا خَلْفَهُ عَلَيْهِ

“Apabila salah seorang dari kalian hendak barbaring di tempat tidurnya hendaklah ia kibas-kibas tempat tidurnya itu dengan sarungnya. Karena dia tidak tahu apa yang terjadi pada tempat tidurnya setelah ia tinggalkan sebelumnya.”

Tujuan mengibas tempat tidur adalah membersihkan barangkali ada kuman, kotoran atau lainnya yang bersarang di tempat tidur. Karena itu, dianjurkan mengibas tempat tidur tiga kali sambil membaca basmalah, untuk memastikan kuman atau kotoran tersebut hilang.

Keempat; melakukan shalat witir sebelum tidur. Al-Imam Ahmad meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah, dia bercerita;

أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَبِالْوِتْرِ قَبْلَ النَّوْمِ وَبِصَلَاةِ الضُّحَى فَإِنَّهَا صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ

“Kekasihku, Nabi Saw, mewasiatkan kepadaku untuk berpuasa tiga hari dari setiap bulan, shalat witir sebelum tidur, dan dari shalat Dhuha, maka sungguh itu adalah shalatnya awwabin (shalatnya orang-orang yang banyak taat kepada Allah).”

Anjuran shalat witir sebelum tidur ini terutama sangat ditekankan kepada orang yang tidak yakin akan bangun di akhir malam supaya lebih memberi jaminan tidak meninggalkan shalat witir akibat ketiduran.

Kelima; menulis wasiat sebelum tidur jika ada hal penting yang perlu diwasiatkan. Menurut al-Imam al-Ghazali dalam kitab Bidayah al-Hidayah, hasil wasiat yang sudah ditulis hendaknya disimpan di bawah bantal atau kasur tempat tidur. Dalam hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim, Nabi Saw bersabda;

مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُرِيْدُ أَنْ يُوْصِيَ فِيْهِ يَبِيْتُ لَيْلَتَيْنِ إِلاَّ وَوَصِيِّتُهُ مَكْتُوْبَةٌ عِنْدَهُ

“Tidak pantas bagi seorang muslim yang memiliki sesuatu yang ingin ia wasiatkan untuk melewati dua malamnya melainkan wasiatnya itu tertulis di sisinya.

Tiga Adab Saat Tidur

Dalam kitab Bidayah al-Hidayah, al-Imam al-Ghazali berkata bahwa keadaan tidur serupa dengan keaadan mati. Hanya saja bagi orang yang tidur, Allah mengembalikan jiwa atau ruh ke dalam jasad pada saat sudah terbangun. Sementara bagi orang mati, Allah menggenggam dan menahan jiwa atau ruh tersebut dan tidak mengembalikan kembali pada jasad.

Karena itu, Nabi Saw mengajarkan kepada kita beberapa adab pada saat tidur yang perlu diperhatikan kita semua sebagai umatnya. Hal ini agar ketika kematian menjemput secara tiba-tiba pada saat tidur, kita berada dalam keadaan kesucian hati dengan mengingat Allah. Setidaknya ada tiga adab yang diajarkan Nabi Saw pada saat tidur.

Pertama; tidur dengan berbaring pada rusuk sebelah kanan. Dalam hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim, Nabi Saw berkata kepada al-Barra’ bin Azib;

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَأْ وُضُوءَكَ للصَلاةِ، ثُمَّ اضْطَّجِعْ على شِقِّكَ الأَيْمَنِ

“Jika engkau akan menuju pembaringanmu (tempat tidurmu), maka berwudhulah seperti engkau berwudhu untuk menunaikan shalat, kemudian berbaringlah dirusukmu sebelah kanan.”

Sedangkan tidur dengan posisi tengkurap sangat dilarang oleh Nabi Saw. Dalam hadis riwayat Abu Daud dari Abu Dzar, dia berkata;

مَرَّ بِىَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَأَنَا مُضْطَجِعٌ عَلَى بَطْنِى فَرَكَضَنِى بِرِجْلِهِ وَقَالَ : يَا جُنَيْدِبُ إِنَّمَا هَذِهِ ضِجْعَةُ أَهْلِ النَّارِ.

“Nabi Saw lewat di hadapanku dan ketika itu aku sedang tidur tengkurap. Beliau menggerak-gerakkanku dengan kakinya. Beliau pun bersabda, ‘Wahai Junaidib, tidur seperti itu seperti berbaringnya penduduk neraka.”

Kedua; meletakkan tangan di bawah pipi kanan. Dalam hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dari Hudzaifah, dia berkata;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ مِنْ اللَّيْلِ وَضَعَ يَدَهُ تَحْتَ خَدِّهِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا وَإِذَا اسْتَيْقَظَ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Apabila Nabi Saw hendak tidur di malam hari, beliau meletakkan tangannya di bawah pipi, kemudian beliau mengucapkan: Bismika amutu wa ahya (Dengan nama-Mu aku mati dan aku hidup). Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: Al Hamdulillahilladzii ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).”

Ketiga; membaca doa dari Nabi Saw. Di antara doa dari Nabi Saw sebagai berikut;

اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ

“Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan aku hidup. Ya Allah, aku tundukkan wajahku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, karena rasa takut dan penuh harap kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari hukuman-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus.”

Do’a Sebelum Tidur

Membaca doa sebelum tidur merupakan adab yang diajarkan oleh Rasulullah Saw kepada kita, umatnya. Agar kita menutup segala aktifitas sehari-hari dengan menyebut nama Allah. Sehingga jika kita tidak bangun lagi maka kita akan meninggal dalam keadaan khusnul khatimah, karena meninggal setelah menyebutkan nama Allah Saw. Berikut ini doa yang beliau ajarkan:

باسمِكَ اللَّهُمَ أَحْيا وأمُوتُ

Bismika allahumma ahyaa wa amuut(u)

Artinya; Dengan nama-Mu ya Allah, aku hidup dan aku mati

(Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari)

Tiga Adab Bangun Tidur

Mengetahui adab-adab bangun tidur termasuk perkara penting dalam Islam. Bahkan al-Imam al-Ghazali meletakkan faslun fi adabil istiqadz minan naum, pasal mengenai adab-adab bangun tidur, pada urutan kedua setelah penjelasan mengenai materi ketaatan kepada Allah. Hal ini, menurut al-Imam al-Ghazali, karena kita tidak bisa melaksanakan perintah Allah dengan baik dan sempurna kecuali kita mengatur waktu beribadah sejak dari bangun tidur sampai ke tempat tidur kembali.

Selajutnya al-Imam al-Ghazali menasehati agar ketika tidur malam hendaknya bangun sebelum terbitnya fajar. Namun secara umum, setidaknya ada tiga adab yang perlu dilakukan sesaat setelah bangun tidur, baik tidur malam maupun siang.

Pertama, membaca doa bangun tidur dan memperbanyak dzikir.

Dianjurkan ketika bangun tidur dan belum beranjak dari tempat tidur untuk membaca doa berikut ini.

اَلْحَمْدُ لِلهِ الذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْه النُشُوْرُ

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami. Dan kepada-Nya lah tempat kembali”

Kemudian dilanjutkan membaca zikir, bersegera wudhu dan melaksanakan shalat sehingga tidak terus tenggelam dalam rasa malas dan kantuk, khususnya setelah bangun tidur malam. Ketika bangun tidur kemudian dilanjutkan dengan zikir, wudhu dan shalat, maka akan membuat seseorang semangat dan baik raga dan jiwanya. Hal ini sebagaimana hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

يَعقِدُ الشَّيطانُ عَلى قافيَةِ رأسِ أَحدِكُم إذا هوَ نام ثَلاثَ عُقدٍ، يَضرِبُ كلَّ عُقدةٍ مَكانَها: عليكَ ليلٌ طويلٌ فارقُدْ، فإنِ استَيقظَ فذَكَر اللهَ انحلَّت عُقدةٌ، فإن تَوضَّأ انحلَّت عُقدةٌ، فإن صلَّى انحلَّت عُقدُه كلُّها، فأَصبحَ نَشيطًا طيِّبَ النَّفسِ، وإلَّا أَصبحَ خَبيثَ النَّفسِ كَسلانَ

“Setan mengikat tengkuk kepala seseorang di antara kalian ketika sedang tidur dengan tiga ikatan. Pada setiap ikatannya ia mengatakan: “malammu masih panjang, teruslah tidur”. Maka jika orang tersebut bangun, kemudian ia berzikir kepada Allah, terbukalah satu ikatan. Kemudian jika ia berwudhu terbukalah satu ikatan lagi. Kemudian jika ia shalat maka terbukalah seluruh ikatan. Sehingga ia pun bangun dalam keadaan bersemangat dan baik jiwanya. Namun jika tidak melakukan demikian, maka ia biasanya akan bangun dalam keadaan buruk jiwanya dan malas.”

Kedua, mencuci tangan dan wajah.

Ketika bangun tidur dianjurkan untuk mencuci wajah dan tangan sebelum memasukkan tangan tersebut ke dalam bejana atau melakukan aktifitas lainnya. Dalam hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Nabi Nabi Saw bersabda:

إذا استيقظ أحدُكم من نومِهِ، فلا يَغْمِسْ يدَه في الإناءِ حتى يغسلَها ثلاثًا . فإنه لا يَدْرِي أين باتت يدُه

“Jika salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka jangan mencelupkan tangannya ke dalam bejana sebelum ia mencucinya tiga kali. Karena ia tidak mengetahui di mana letak tangannya semalam.”

Ketiga, membersihkan mulut dan gigi dengan siwak atau sikat gigi.

Anjuran ini karena ketika tidur bau mulut biasanya berubah, disebabkan uap dari perut yang naik. Dan dalam keadaan ini, dengan bersiwak atau sikat gigi akan menghilangkan bau yang tidak sedap di mulut. Dalam hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim, Huzdaifah ibn al-Yaman bercerita;

كان النبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم إذا قام مِن الليلِ يَشُوصُ فاه بالسواكِ

“Biasanya Nabi Saw jika bangun di malam hari beliau menggosok-gosok mulutnya dengan siwak.”

 

Do’a Bangun Tidur

Berdoa ketika telah bangun tidur merupakan adab yang dicontohkan Rasul Saw., sekaligus sebagai tanda syukur kepada Allah SWT. karena masih diberikan umur panjang untuk memperbanyak ibadah dan berbuat baik. Berikut doa tersebut:

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذي أحْيانا بَعْدَما أماتَنا وإلَيْهِ النشُورُ

Alhamdu lillahil ladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur(u)

Segala puji Allah yang telah menghidupkan kami sesudah kami mati (membangunkan dari tidur) dan hanya kepada-Nya kami kembali. (Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari)

KELUARGA : RUMAH IDAMAN DAN DO’A MEMBANGUN RUMAH,MASUK RUMAH, KELUAR RUMAH.

Terkadang kebanyakan orang memiliki pemikiran bahwa rumah yang besar nan mewah, harta yang melimpah merupakan faktor pendorong adanya kebahagiaan dalam menjalin sebuah hubungan rumah tangga. Benarkah ini yang dinamakan rumah yang berkah?

Sebenarnya tidak, karena terbukti banyak keluarga yang tinggal dalam sebuah singgasana yang megah, kebutuhan ekonomi yang melimpah, tapi perselisihan dan percekcokan masih kerap terjadi, dan sebaliknya ada sebuah keluarga yang hidup di dalam rumah yang terkesan sederhana, ekonomi yang hanya dibilang berkecukupan, tapi keluarganya harmonis nan damai, tanpa adanya pertengkaran yang dapat merusak hubungan rumah tangga mereka.

Dari sini dapat kita jadikan sebuah acuan bahwa rumah tangga yang harmonis bukan bersumber dari rumah mewah, harta yang melimpah dan lain sebagainya, melainkan bersumber dari hati yang tenteram sebab terdapat cahaya keimanan yang terpancar dari rumah yang ditempatinya.

Lantas bagaimana cara menciptakan rumah yang penuh keberkahan, sehingga tercipta rumah tangga yang harmonis? Berikut kami rangkum dalam artikel di bawah ini.

Pertama, dijadikan sebagai tempat untuk salat sunah. Islam memang mengajarkan agar selalu salat berjamaah di masjid, karena dengan berjamaah di masjid langkah kaki kita terhitung sebagai ibadah, dan kita mendapatkan limpahan pahala sampai dua puluh tujuh derajat, tapi tidak dengan salat sunah.

Jika kita hendak melakukan salat sunah lebih baik jangan di masjid melainkan di rumah sendiri, kecuali salat yang disunahkan untuk berjamaah, seperti Tarawih dan lain sebagainya. Salat sunah di rumah itu dapat menjadikan rumah bercahaya, sehingga penghuninya diberikan ketenangan dan hati yang damai. Hal tersebut berkenaan dengan sabda Nabi saw:

عليكم بالصلاة في بيوتكم فان خير صلاة المرء في بيته الا الصلاة المكتوبة

“Hendaklah kalian mengerjakan salat di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik salat seseorang adalah di rumahnya, kecuali salat maktubah” (H.R. Muslim).

Kedua, sering dibacakan Alquran. Membaca Alquran merupakan ibadah yang berpotensi mendapatkan pahala meski tanpa disertai niat. Hadis-hadis yang menganjurkan untuk membaca Alquran sangat banyak sekali. Adapun tempat yang paling baik untuk membaca Alquran ialah di dalam masjid dengan alasan terjamin kesuciannya. Selain di masjid, membaca Alquran juga sangat dianjurkan di dalam rumah, sebagaimana atsar yang di ceritakan oleh Abu Hurairah:

البيت الذي تلي فيه كتاب الله اتسع بأهله وكثر خيره وحضرته الملائكة وخرجت منه الشياطين, والبيت الذي لا يتل فيه كتاب الله ضاق بأهله وقل خيره وتنكبت عنه الملائكة وحضره الشياطين.

“Rumah yang di dalamnya dibacakan kitab Allah (Alquran) akan memberikan kelapangan pada penghuninya, banyak keberkahannya, para malaikat berdatangan, dan setan-setan keluar, dan rumah yang di dalamnya tidak dibacakan Alquran memberikan kesempitan terhadap penghuninya, sedikit kebaikannya, keluarnya para malaikat, dan setan-setan berdatangan” (H.R. Ibnu Abi Syaibah )

Hadis di atas memberikan gambaran pentingnya membaca Alquran di dalam rumah, karena selain mendatangkan sebuah keberkahan dengan didatangi para malaikat, juga dapat mengusir setan-setan yang merupakan sumber dari segala kejelekan.

Ketiga, selalu dalam keadaan suci. Islam adalah agama yang mengajarkan terhadap penganutnya agar selalu bersih dan suci. Suci yang dimaksud ialah suci rumahnya secara lahirnya, dan suci orangnya sebagai penghuni rumah tersebut, yakni ketika orang tersebut memiliki hadas besar langsung bergegas untuk mandi junub, karena malaikat enggan masuk ke dalam rumah yang terdapat orang yang masih junub.

BACA JUGA : RAHASIA DAN KEUTAMAAN WAKTU MALAM

Doa’ di saat membangun rumah

Keberadaan bangunan rumah mempunyai fungsi yang sangat penting bagi setiap orang. Selain sebagai tempat berteduh dan berkumpul bersama keluarga, rumah juga berfungsi sebagai tempat ibadah kepada Allah. Oleh karena itu doa saat membangun rumah sangat penting artinya.

Saat membangun rumah selayaknya kita banyak memohon kepada Allah agar dijadikan tempat berteduh yang tenang, membawa kedamaian dan keberkahan. Salah satu doa saat membangun rumah adalah doa yang terdapat dalam surah Almu’minun ayat 29 berikut.

رَّبِّ أَنْزِلْنِيْ مُنْزَلًا مُّبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِيْنَ

Rabbi anzilni munzalan mubarakan wa anta khoirul munzalin

“Ya Allah, tempatkan aku di tempat yang berkah, dan Engkau adalah sebaik‐baik pemberi tempat.”

 

Lakukan Dua Hal Ini Ketika Akan Menempati Rumah Baru

Ketika menempati rumah baru, seseorang dianjurkan untuk melakukan dua hal ini sebagaimana dianjurkan oleh Rasulullah saw.

Pertama, berdoa. Barangsiapa yang menempati rumah baru, maka disunahkan baginya ketika memasuki rumah itu untuk mengucapkan doa berikut ini.

أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق

A’udzu bikalimatillahi al-taammaati min syarri laa khalaqa

Artinya: Aku berlindung dengan nama-nama Allah yang sempurna dari kejahatan sesuatu yang Dia ciptakan.

Anjuran berdoa ini berasal dari sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim berikut.

عن خولة بنت حكيم رضي الله عنهما قالت: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من نزل منزلاً ثم قال: أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق، لم يضره شيء حتى يرتحل من منزله ذلك.

Dari Khaulah Binti Hakim ra. Berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Barang siapa yang menempati rumah kemudian dia berkata a’udzu bikalimatillahi al-taammaati min syarri maa khalaqa, maka tidak ada sesuatu pun yang mencelakainya sehingga dia pergi dari rumahnya itu’”.

Doa ini juga berlaku untuk orang yang menginap saat bepergian, atau menempati rumah untuk bermukim lama di suatu tempat baik itu rumah milik sendiri atau sewa.

Selain doa di atas disunnahkan juga berdoa dengan doa berikut.

اللهم إني أسألك خير المولج وخير المخرج، باسم الله ولجنا، وباسم الله خرجنا، وعلى الله ربنا توكلنا

Allahumma innii asaluka khara al-maulaja wa khaira al-makhraja, bismillahi walajna bismillahi kharajna, wa ‘ala allahi rabbina tawakkalnaa

Artinya: Ya Allah aku memohon kepadamu sebaik-baiknya tempat masuk dan sebaik-baiknya tempat keluar, dengan nama Allah kami masuk dan dengan nama Allah kami keluar, dan hanya kepada Allah, Tuhan kami, kami berserah diri.

Doa di atas tidak khusus untuk saat menempati rumah baru dan memasukinya untuk pertama kali, akan tetapi hendaknya diucapkan setiap kali masuk rumah dan keluar.

Kedua. Ketika menempati rumah atau tempat tinggal baru disunahkan pula untuk membaca surah al-Baqarah untuk mengusir dan menjaga rumah tersebut dari keburukan dan setan yang terkutuk. Hal tersebut dilakukan karena Nabi mengatakan bahwa rumah yang tidak pernah dibacakan ayat Alquran seperti kuburan. Anjuran tersebut berdasarkan hadis berikut.

لا تجعلوا بيوتكم قبوراً، إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة

Artinya: Janganlah membuat rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surah al-Baqarah. (H.R. Muslim)

Anjuran membaca surah al-Baqarah ini sunnah dibaca baik ketika menempati rumah milik sendiri atau rumah sewaan.

Do’a di saat keluar rumah

Ketika keluar dari rumah dan hendak pergi ke suatu tempat, Rasulullah mengajarkan kita untuk membaca doa keluar rumah agar selama pergi kita terhindar dari bahaya dan kejelekan. Berikut doa tersebut;

باسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ على اللَّهِ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ باللَّهِ

Bismillahi tawakkaltu ‘alallaahi wa laa haula wa laa quwwata illaa billah(i)

Artinya: Dengan menyebut nama Allah. Aku bertawakkal kepada Allah, dan  tiada daya serta kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.

(Diriwayatlan oleh Imam Abu Daud, Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Majah)

 

Do’a di saat masuk rumah

Saat hendak memasuki rumah, kita dianjurkan untuk melafalkan doa di bawah ini agar rumah kita selalu diberkahi

اللَّهُمَّ إِنِّي أسألُكَ خَيْرَ المَوْلِجِ وَخَيْرَ المَخْرَجِ باسْمِ اللَّهِ وَلجْنا وباسْمِ اللَّهِ خَرَجْنا وَعَلى اللَّهِ رَبِّنا تَوَكَّلْنا

Allahumma inni as-aluka khairal maulaji wa khairal makhraji, bismillahi walajnaa wa bismillahi kharajnaa wa ‘alallaahi rabbinaa tawakkalnaa

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu baiknya tempat masuk dan baiknya tempat keluar. Dengan menyebut nama Allah kami masuk, dan dengan menyebut nama Allah kami keluar, dan kepada Allah, Tuhan kami, kami bertawakal.

(Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud)

BACA JUGA :

MENIUP DAN MENGIPASI MAKANAN YANG AKAN DI MAKAN

Wallahu a’lam bish sawab.

PENJELASAN MASALAH ‘IDDAH WANITA(MASA MENUNGGU KEKOSONGAN RAHIM)

BAB ‘IDDAH

(Fasal) menjelaskan hukum-hukum ‘iddah dan macam-macam mu’taddah (wanita yang menjalankan ‘iddah).

(فَصْلٌ) فِيْ أَحْكَامِ الْعِدَّةِ وَأَنْوَاعِ الْمُعْتَدَّةِ

‘Iddah secara bahasa adalah kalimat isim dari fi’il madli “i’tadda.”

وَهِيَ لُغَةً الْاِسْمُ مِنْ اعْتَدَّ

Dan secara syara’ adalah penantian seorang perempuan dalam jangka waktu yang bisa diketahui dalam rentan waktu tersebut bahwa kandungannya telah bersih, dengan beberapa masa suci, beberapa bulan atau melahirkan kandungan.

وَشَرْعًا تَرَبُّصُ الْمَرْأَةِ مُدَّةً يُعْرَفُ فِيْهَا بَرَاءَةُ رَحْمِهَا بِأَقْرَاءٍ أَوْ أَشْهُرٍ أَوْ وَضْعِ حَمْلٍ

 

Macam-Macam Mu’taddah (Wanita Yang Menjalankan ‘Iddah)

Wanita mu’taddah ada dua macam, yaitu mu’taddah mutawaffa ‘anha zaujuha (yang ditinggal mati suami) dan mu’taddah ghairu mutawaffa ‘anha zaujuha (yang tidak ditinggal mati suami).

(وَالْمُعْتَدَّةُ عَلَى ضَرْبَيْنِ مُتَوَفَّى عَنْهَا) زَوْجُهَا  (وَغَيْرُ مُتَوَفَّى عَنْهَا زَوْجُهَا

 

Mu’taddah Mutawaffa‘Anha Zaujuha

Untuk mu’taddah mutawaffa ‘anha zaujuha, jika berstatus merdeka dan sedang hamil, maka ‘iddahnya sebab wafatnya sang suami adalah dengan melahirkan kandungan secara utuh hingga kandungan yang berupa dua anak kembar dengan syarat dimungkinkan nasab sang anak bersambung pada suami yang meninggal dunia walaupun hanya kemungkinan saja seperti anak yang dinafikan dengan sumpah li’an.

فَالْمُتَوَفَّى عَنْهَا) زَوْجُهَا)إِنْ كَانَتْ) حُرَّةً (حَامِلًا فَعِدَّتُهَا) عَنْ وَفَاةِ زَوْجِهَا (بِوَضْعِ الْحَمْلِ) كُلِّهِ حَتَّى ثَانِيَ تَوْأَمَيْنِ مَعَ إِمْكَانِ نِسْبَةِ الْحَمْلِ لِلْمَيِّتِ وَلَوْ احْتِمَالًا كَمَنْفِيٍّ بِلِعَانٍ

Sehingga, seandainya ada anak kecil meninggal dunia yang tidak mungkin bisa memiliki keturunan dan meninggalkan istri yang sedang hamil, maka ‘iddahnya sang istri adalah dengan melewati beberapa bulan, tidak dengan melahirkan kandungan.

فَلَوْ مَاتَ صَبِيٌّ لَا يُوْلَدُ لِمِثْلِهِ عَنْ حَامِلٍ فَعِدَّتُهَا بِالْأَشْهُرِ لَا بِوَضْعِ الْحَمْلِ

Jika mu’taddah mutawaffa ‘anha zaujuha itu tidak dalam keadaan hamil, maka masa ‘iddahnya adalah empat bulan sepuluh hari sepuluh malam.

(وَإِنْ كَانَتْ حَائِلًا فَعِدَّتُهَا أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ وَعَشْرٌ) مِنَ الْأَيَّامِ بِلَيَالِيْهَا

Empat bulan tersebut dihitung sesuai dengan perhitungan tanggalan yang memungkinkan, dan untuk tanggal bulan yang tidak utuh, maka disempurnakan menjadi tiga puluh hari.

وَتُعْتَبَرُ الْأَشْهُرُ بِالْأَهِلَّةِ مَا أَمْكَنَ وَيُكَمَّلُ الْمُنْكَسِرِ ثَلَاثِيْنَ يَوْمًا

Mu’taddah Ghairu Mutawaffa ‘Anha Zaujuha

Untuk mu’taddah ghairu mutawaffa ‘anha zaujuha jika dalam keadaan hamil, maka ‘iddahnya dengan melahirkan kandungan yang bisa dihubungkan nasabnya pada suami yang memiliki ‘iddah tersebut.

(وَغَيْرُ الْمُتَوْفَى عَنْهَا) زَوْجُهَا (إِنْ كَانَتْ حَامِلًا فَعِدَّتُهَا بِوَضْعِ الْحَمْلِ) الْمَنْسُوْبِ لِصَاحِبِ الْعِدَّةِ.

Jika mu’taddah ghairu mutawaffa ‘anha zaujuha itu tidak dalam keadaan hamil dan ia termasuk golongan wanita yang memiliki / memungkinkan haidl, maka ‘iddahnya adalah tiga kali aqra’, yaitu tiga kali suci.

(وَإِنْ كَانَتْ حَائِلًا وَهِيَ مِنْ ذَوَاتِ) أَيْ صَوَاحِبِ (الْحَيْضِ فَعِدَّتُهَا ثَلَاثَةُ قُرُوْءٍ وَهِيَ الْأَطْهَارُ)

Jika ia tertalak saat dalam keadaan suci dengan arti setelah tertalak masih berada dalam waktu suci, maka ‘iddahnya habis dengan mengalami haidl yang ketiga.

وَإِنْ طُلِقَتْ طَاهِرًا بِأَنْ بَقِيَ مِنْ زَمَنِ طُهْرِهَا بَقِيَّةٌ بَعْدَ طَلَاقِهَا انْقَضَتْ عِدَّتُهَا بِالطَّعْنِ فِيْ حَيْضَةٍ ثَالِثَةٍ

Atau tertalak saat dalam keadaan haidl atau nifas, maka ‘iddahnya habis dengan mengalami haidl yang ke empat.

أَوْ طُلِقَتْ حَائِضًا أَوْ نُفَسَاءَ انْقَضَتْ عِدَّتُهَا بِطَعْنِهَا فِيْ حَيْضَةٍ رَابِعَةٍ

Sedangkan sisa masa haidlnya tidak terhitung masa suci.

وَمَا بَقِيَ مِنْ حَيْضِهَا لَا يُحْسَبُ قُرْأً

Jika mu’taddah ghairu mutawaffa ‘anha zaujuha tersebut masih kecil atau sudah besar dan sama sekali belum pernah haidl dan belum mencapai usia ya’si (monupause), atau dia adalah wanita yang sedang mengalami mutahayyirah (bingung akan haidl dan sucinya) atau sudah mencapai usia monupause, maka ‘iddahnya adalah tiga bulan sesuai tanggal jika talaknya bertepatan dengan awal bulan.

(وَإِنْ كَانَتْ) تِلْكَ الْمُعْتَدَّةُ (صَغِيْرَةً) أَوْ كَبِيْرَةً لَمْ تَحِضْ أَصْلًا وَلَمْ تَبْلُغْ سِنَّ الْيَأْسِ أَوْ كَانَتْ مُتَحَيِّرَةً (أَوْ آيِسَةً فَعِدَّتُهَا ثَلَاثَةَ أَشْهُرٍ) هِلَالِيَّةٍ إِنِ انْطَبَقَ طَلَاقُهَا عَلَى أَوَّلِ الشَّهْرِ

Sehingga, jika ia tertalak di tengah bulan, maka ‘iddahnya adalah dua bulan setelahnya sesuai dengan tanggal dan untuk jumlah bulan yang tidak utuh disempurnakan menjadi tiga puluh hari dari bulan ke empat.

فَإِنْ طُلِقَتْ فِيْ أَثْنَاءِ شَهْرٍ فَبَعْدَهُ هِلَالَانِ وَيُكَمَّلُ الْمُنْكَسِرِ ثَلَاثِيْنَ يَوْمًا مِنَ الشَّهْرِ الرَّابِعِ

Jika mu’taddah ghairu mutawaffa ‘anha zaujuha -yang telah disebutkan ini- mengalami haidl di saat menjalankan ‘iddah dengan penghitungan bulan, maka wajib bagi dia melakukan ‘iddah dengan penghitungan masa suci

فَإِنْ حَاضَتِ الْمُعْتَدَةُ فِيْ الْأَشْهُرِ وَجَبَ عَلَيْهَا الْعِدَّةُ بِالْأَقْرَاءِ

Atau mengalami haidl setelah selesai menjalankan ‘iddah dengan penghitungan beberapa bulan, maka ia tidak wajib menjalankan ‘iddah lagi dengan penghitungan masa suci.

أَوْ بَعْدَ انْقِضَاءِ الْأَشْهُرِ لَمْ تَجِبِ الْأَقْرَاءُ.

Wanita yang tertalak sebelum sempat dijima’, maka tidak ada kewajiban ‘iddah bagi wanita tersebut  (وَالْمُطَلَّقَةُ قَبْلَ الدُّخُوْلِ بِهَا لَا عِدَّةَ عَلَيْهَا)

Baik sang suami sudah pernah berhubungan badan dengannya selain pada bagian farji ataupun tidak

سَوَاءٌ بَاشَرَهَا الزَّوْجُ فِيْمَا دُوْنَ الْفَرْجِ أَمْ لاَ

 

‘Iddahnya Budak Wanita

‘Iddahnya budak wanita yang sedang hamil ketika tertalak raj’i atau ba’in adalah dengan melahirkan kandungan dengan syarat anak tersebut bisa dihubungkan nasabnya pada lelaki yang memiliki ‘iddahnya (suami yang mentalak).

(وَعِدَّةُ الْأَمَّةِ) الْحَامِلِ إِذَا طُلِّقَتْ طَلَاقًا رَجْعِيًّا أَوْ بَائِنًا (بِالْحَمْلِ) أَيْ بِوَضْعِهِ بِشَرْطِ نِسْبَتِهِ إِلَى صَاحِبِ الْعِدَّةِ

Ungkapan mushannif “seperti ‘iddahnya wanita merdeka yang sedang hamil” maksudnya di dalam semua hukum yang telah dijelaskan di depan.

وَقَوْلُهُ (كَعِدَّةِ الْحُرَّةِ) الْحَامِلِ أَيْ فِيْ جَمِيْعِ مَا سَبَقَ

Dan jika ‘iddah dengan beberapa masa suci, maka budak wanita tersebut melaksanakan ‘iddah dengan dua kali masa suci.

(وَبِالْأَقْرَاءِ أَنْ تَعْتَدَّ بِقُرْأَيْنِ)

Budak wanita muba’adl, mukatab, dan ummu walad hukumnya seperti budak wanita yang murni

وَالْمُبَعَّضَةُ وَالْمُكَاتَبَةُ وَأُمُّ الْوَلَدِ كَالْأَمَّةِ.

Jika budak wanita tersebut melaksanakan ‘iddah dengan penghitungan bulan sebab ditinggal mati suami, maka ‘iddahnya dengan dua bulan lima hari.

(وَبِالشُّهُوْرِ عَنِ الْوَفَاةِ أَنْ تَعْتَدَّ بِشَهْرَينِ وَخَمْسِ لَيَالٍ

‘Iddahnya budak wanita sebab talak adalah ‘iddah dengan satu bulan setengah, yaitu separuh dari ‘iddahnya wanita merdeka

وَ) عِدَّتُهَا (عَنِ الطَّلَاقِ أَنْ تَعْتَدَّ بِشَهْرٍ وَ نِصْفٍ) عَلَى النِّصْفِ

Satu pendapat mengatakan bahwa ‘iddahnya adalah dua bulan, dan ungkapan imam al Ghazali menetapkan keunggulan pendapat ini

وَفِيْ قَوْلٍ شَهْرَانِ وَكَلَامُ الْغَزَالِيِّ يَقْتَضِيْ تَرْجِيْحَهُ

Sedangkan mushannif hanya menjadikan dua bulan sebagai bentuk yang lebih utama saja, sehingga beliau berkata, “sehingga, jika budak wanita itu melaksanakan ‘iddah dengan dua bulan, maka itu lebih utama.

وَأَمَّاالْمُصَنِّفُ فَجَعَلَهُ أَوْلَى حَيْثُ قَالَ (فَإِنِ اعْتَدَّتْ بِشَهْرَيْنِ كَانَ أَوْلَى)

Satu pendapat mengatakan bahwa ‘iddahnya adalah tiga bulan, dan ini adalah yang lebih hati-hati sebagaimana yang disampaikan oleh imam asy Syafi’i Ra.

وَفِيْ قَوْلٍ عِدَّتُهَا ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَهُوَ الْأَحْوَطُ كَمَا قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

Dan ini pendapat yang diikuti oleh beberapa golongan al ashhab

وَعَلَيْهِ جَمْعٌ مِنَ الْأَصْحَابِ

PENJELASAN SUMPAH LI’AN DAN QODZAF(MENUDUH ZINA) DALAM BERUMAH TANGGA

BAB LI’AN & QADZAF (MENUDUH ZINA)

(Fasal) menjelaskan hukum qadzaf dan li’an.

(فَصْلٌ) فِيْ أَحْكَامِ الْقَذَفِ وَاللِّعَانِ

Secara bahasa, li’an adalah bentuk kalimat masdar yang diambil dari lafadz “al la’nu” yang berati jauh.

وَهُوَ لُغَةً مَصْدَرٌ مَأْخُوْذٌ مِنَ اللَّعْنِ أَيِ الْبُعْدِ

Dan secara syara’ adalah beberapa kalimat tertentu yang dijadikan sebagai hujjah bagi orang yang terpaksa menuduh zina terhadap orang yang telah menodahi kehormatannya dan mempertemukan cacat padanya.

وَشَرْعًا كَلِمَاتٌ مَخْصُوْصَةٌ جُعِلَتْ حُجَّةً لِلْمُضْطَرِ إِلَى قَذَفِ مَنْ لَطَخَ فِرَاشَهُ وَ أَلْحَقَ الْعَارَ بِهِ

Ketika seorang laki-laki menuduh zina terhadap istrinya, maka wajib baginya untuk menerima had qadzaf, dan akan dijelaskan bahwa sesungguhnya had qadzaf adalah delapan kali cambukan.

(وَإِذَا رَمَى) أَيْ قَذَفَ الرَّجُلُ زَوْجَتَهُ بِالزِّنَا فَعَلَيْهِ حَدُّ الْقَذَفِ) وَسَيَأْتِيْ أَنَّهُ ثَمَانُوْنَ جَلْدَةً

Kecuali lelaki yang menuduh zina tersebut mampu mendatangkan saksi atas perbuatan zina wanita yang ia tuduh.

(إِلَّا أَنْ يُقِيْمَ) الرَّجُلُ الْقَاذِفُ (الْبَيِّنَةَ) بِزِنَا الْمَقْذُوْفَةِ

Atau lelaki tersebut melakukan sumpah li’an terhadap istrinya yang ia tuduh berzina.

(أَوْ يُلَاعِنَ) زَوْجَتَهُ الْمَقْذُوْفَةَ

Dalam sebagian redaksi menggunakan bahasa, “atau ia berkenan melakukan sumpah li’an dengan perintah seorang hakim atau orang yang hukumnya sama dengan hakim seperti muhakkam (orang yang diminta untuk menjadi juru hukum).

وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ أَوْ يَلْتَعِنُ بِأَمْرِ الْحَاكِمِ أَوْ مَنْ فِيْ حُكْمِهِ كَالْمُحَكِّ

 

Proses Li’an

Kemudian lelaki tersebut berkata di hadapan hakim di masjid jami’ di atas mimbar di hadapan sekelompok orang minimal empat orang, “aku bersaksi demi Allah bahwa sesungguhnya aku termasuk golongan yang jujur atas tuduhan zina yang telah aku tuduhkan terhadap istriku, fulanah yang sedang tidak berada di sini.”

(فَيَقُوْلُ عِنْدَ الْحَاكِمِ فِيْ الْجَامِعِ عَلَى الْمِنْبَرِ فِيْ جَمَاعَةٍ مِنَ النَّاسِ) أَقَلُّهُمْ أَرْبَعَةٌ (أَشْهَدُ بِاللهِ أَنَّنِيْ لَمِنَ الصَّادِقِيْنَ فِيْمَا رَمَيْتُ بِهِ زَوْجَتِيْ) الْغَائِبَةَ (فُلَانَةً مِنَ الزِّنَا)

Jika sang istri juga berada di tempat, maka lelaki itu memberi isyarah pada istrinya dengan ucapan, “istriku ini.”

وَإِنْ كَانَتْ حَاضِرَةً أَشَارَ لَهَا بِقَوْلِهِ زَوْجَتِيْ هَذِهِ

Jika di sana terdapat anak yang ia putus  dari nasabnya, maka iapun harus menyebutkan anak tersebut di dalam kalimat-kalimat sumpah li’an itu, maka ia berkata,

وَإِنْ كَانَ هُنَاكَ وَلَدٌ يَنْفِيْهِ ذَكَرَهُ فِيْ الْكَلِمَاتِ فَيَقُوْلُ:

“dan sesungguhnya anak ini hasil dari zina, bukan dari saya.”

(وَإِنَّ هَذَا الْوَلَدَ مِنَ الزِّنَا وَلَيْسَ مِنِّيْ)

Lelaki yang sumpah li’an tersebut harus mengucapkan kalimat-kalimat ini sebanyak empat kali.

وَيَقُوْلُ الْمُلَاعِنُ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ (أَرْبَعَ مَرَّاتٍ

Dan pada tahapan kelima, setelah hakim atau muhakkam menasihatinya dengan memperingatkannya atas siksaan Allah di akhirat dan sesungguhnya siksa Allah di akhirat jauh lebih pedih daripada siksa di dunia, maka sang suami mengatakan, “dan saya berhak mendapatkan laknat Allah swt jika saya termasuk orang-orang yang bohong atas tuduhan zina yang saya tuduhkan pada istriku ini.”

وَيَقُوْلُ فِيْ) الْمَرَّةِ (الْخَامِسَةِ بَعْدَ أَنْ يَعِظَهُ الْحَاكِمُ) أَوِ الْمُحَكَّمُ بِتَخْوِيْفِهِ لَهُ مِنْ عَذَابِ اللهِ فِيْ الْآخِرَةِ وَأَنَّهُ أَشَدُّ مِنْ عَذَابِ الدُّنْيَا (وَعَلَيَّ لَعْنَةُ اللهِ إِنْ كُنْتُ مِنَ الْكَاذِبِيْنَ) فِيْمَا رَمَيْتُ بِهِ هَذِهِ مِنَ الزِّنَا

Dan ungkapan mushannif, “di atas mimbar di hadapan jama’ah” adalah sesuatu yang tidak wajib dilakukan di dalam li’an bahkan hal itu hukumnya adalah sunnah.

وَقَوْلُ الْمُصَنِّفِ عَلَى الْمِنْبَرِ فِيْ جَمَاعَةٍ لَيْسَ بِوَاجِبٍ فِيْ اللِّعَانِ بَلْ هُوَ سُنَّةٌ .

Konsekwensi Li’an

Li’an yang dilakukan oleh seorang suami walaupun sang istri tidak melakukan sumpah li’an, berhubungan dengan lima hukum :

(وَيَتَعَلَّقُ بِلِعَانِهِ) أَيِ الزَّوْجِ وَإِنْ لَمْ تُلَاعِنِ الزَّوْجَةُ (خَمْسَةُ أَحْكَامٍ:)

Yang pertama, gugurnya had dari sang suami maksudnya had qadzaf yang dimiliki oleh istri yang dili’an, jika memang sang istri adalah wanita yang muhshan (terjaga), dan gugurnya ta’zir jika sang istri bukan wanita yang muhshan.

أَحَدُهَا (سُقُوْطُ الْحَدِّ) أَيْ حَدِّ الْقَذَفِ لِلْمُلَاعِنَةِ (عَنْهُ) إِنْ كَانَتْ مُحْصَنَةً وَسُقُوْطُ التَّعْزِيْرِ عَنْهُ إِنْ كَانَتْ غَيْرَ مُحْصَنَةٍ

Yang kedua, tetapnya hukum had atas sang istri, maksudnya had zina baginya, baik ia wanita muslim ataupun kafir jika ia tidak melakukan sumpah li’an

(وَ) الثَّانِيْ (وُجُوْبُ الْحَدِّ عَلَيْهَا) أَيْ حَدِّ زِنَاهَا مُسْلِمَةً كَانَتْ أَوْ كَافِرَةً إِنْ لَمْ تُلَاعِنْ

Yang ketiga, hilangnya hubungan suami istri.

(وَ) الثَّالِثُ (زَوَالُ الْفِرَاشِ)

Selain mushannif mengungkapkan hal ini dengan bahasa “perceraian untuk selama-lamanya”. Perceraian tersebut hukumnya sah / hasil dhahir batin, walaupun sang suami yang melakukan sumpah li’an tersebut mendustakan dirinya.

وَعَبَّرَ عَنْهُ غَيْرُ الْمُصَنِّفِ بِالْفُرْقَةِ الْمُؤَبَّدَةِ وَهِيَ حَاصِلَةٌ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا وَإِنْ كَذَّبَ الْمُلَاعِنُ نَفْسَهُ

Yang ke empat, memutus hubungan anak dari suami yang melakukan sumpah li’an.

(وَ) الرَّابِعُ (نَفْيُ الْوَلَدِ) عَنِ الْمُلَاعِنِ

Sedangkan untuk istri yang melakukan sumpah li’an, maka nasab sang anak tidak bisa terputus dari dirinya.

أَمَّا الْمُلَاعِنَةُ فَلَا يَنْتَفِيْ عَنْهَا نَسَبُ الْوَلَدِ

Yang kelima, mengharamkan sang istri yang melakukan sumpah li’an untuk selama-lamanya.

(وَ) الْخَامِسُ التَّحْرِيْمُ) لِلزَّوْجَةِ الْمُلَاعِنَةُ (عَلَى الْأَبَدِ)

Sehingga bagi lelaki yang melakukan sumpah li’an tidak halal menikahinya lagi dan juga tidak halal mewathinya dengan alasan milku yamin, walaupun wanita tersebut berstatus budak yang ia beli.

فَلَا يَحِلُّ لِلْمُلَاعِنِ نِكَاحُهَا وَلَا وَطْؤُهَا بِمِلْكِ الْيَمِيْنِ وَ لَوْ كَانَتْ أَمَّةً وَاشْتَرَاهَا

Di dalam kitab-kitab yang panjang penjelasannya terdapat keterangan tambahan atas kelima hal ini

وَفِيْ الْمُطَوَّلَاتِ زِيَادَةٌ عَلَى هَذِهِ الْخَمْسَةِ

Di antaranya adalah gugurnya status muhshan sang wanita bagi sang suami jika memang sang wanita tidak melakukan sumpah li’an juga.

مِنْهَا سُقُوْطُ حَصَانَتِهَا فِيْ حَقِّ الزَّوْجِ إِنْ لَمْ تُلَاعِنْ

Sehingga, seandainya setelah itu sang suami menuduhnya berbuat zina lagi, maka sang suami tidak berhak dihad.

حَتَّى لَوْ قَذَفَهَا بِزِنَا بَعْدَ ذَلِكَ لَا يُحَدُّ

Li’annya Sang Istri

Had zina bisa gugur dari sang istri dengan cara ia membalas sumpah li’an, maksudnya melakukan sumpah li’an terhadap sang suami setelah li’an sang suami sempurna.

(وَيَسْقُطُ) الْحَدُّ (عَنْهَا بِأَنْ تَلْتَعِنَ) أَيْ تُلَاعِنَ الزَّوْجَ بَعْدَ تَمَامِ لِعَانِهِ

Di dalam li’annya dan sang suami hadir, maka sang istri berkata, “saya bersaksi demi Allah bahwa sesungguhnya fulan ini sungguh termasuk dari orang-orang yang dusta atas tuduhan zina yang ia tuduhkan padaku.”

(فَتَقُوْلُ) فِيْ لِعَانِهَا إِنْ كَانَ الْمُلَاعِنُ حَاضِرًا (أَشْهَدُ بِاللهِ أَنَّ فُلَانًا هَذَا لَمِنَ الْكَاذِبِيْنَ فِيْمَا رَمَانِيْ بِهِ مِنَ الزِّنَا)

Wanita tersebut mengulangi ucapannya ini sebanyak empat kali.

وَتُكَرِّرُ الْمُلَاعِنَةُ هَذَا الْكَلَامَ (أَرْبَعَ مَرَّاتٍ

Pada tahapan kelima dari li’annya setelah hakim atau muhakkam menasihatinya dengan memperingatkan padanya akan siksaan Allah Swt di akhirat dan sesungguhnya siksa-Nya di akhirat jauh lebih pedih daripada siksaan di dunia, maka wanita tersebut berkata, “dan saya berhak mendapat murka Allah Swt jika dia termasuk orang-orang yang jujur atas tuduhan zina yang ia tuduhkan padaku.”

وَتَقُوْلُ فِيْ الْمَرَّةِ الْخَامِسَةِ) مِنْ لِعَانِهَا (بَعْدَ أَنْ يَعِظَهَا الْحَاكِمُ) أَوِ الْمُحَكَّمُ بِتَخْوِيْفِهِ لَهَا مِنْ عَذَابِ الله ِفِيْ الْآخِرَةِ وَأَنَّهُ أَشَدُّ مِنْ عَذَابِ الدُّنْيَا (وَعَلَيَّ غَضَبُ اللهِ إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِيْنَ) فِيْمَا رَمَانِيْ بِهِ مِنَ الزِّنَا

Perkataan yang telah dijelaskan di atas tempatnya adalah bagi orang yang bisa bicara.

وَمَا ذُكِرَ مِنَ الْقَوْلِ الْمَذْكُوْرِ مَحَلُّهُ فِيْ النَّاطِقِ

Adapun orang bisu, maka ia melakukan sumpah li’an dengan menggunakan isyarah yang bisa memahamkan orang lain.

أَمَّا الْأَخْرَسُ فَيُلَاعِنُ بِإِشَارَةٍ مُفْهِمَةٍ

Seandainya di dalam kalimat-kalimat li’an tersebut, ia mengganti lafadz “asy sahadah” dengan lafadz “al halfu” seperti ucapan orang yang melakukan sumpah li’an, “saya bersumpah demi Allah”, atau mengganti lafadz “al ghadlab” dengan lafadz “al la’nu”, atau sebaliknya seperti ucapan wanita yang melakukan sumpah li’an, “laknat Allah wajib atas diriku” dan ucapan lelaki yang sumpah li’an, “murka Allah atas diriku”, atau masing-masing dari lafadz “al ghadlab” dan “al la’nu” diucapkan sebelum  empat kalimat sahadat sempurna, maka li’an dalam semua permasalahan ini tidak sah.

وَلَوْ أَبْدَلَ فِيْ كَلِمَاتِ اللِّعَانِ لَفْظَ الشَّهَادَةِ بِالْحَلْفِ كَقَوْلِ الْمُلَاعِنِ أَحْلِفُ بِاللهِ أَوْ لَفْظَ الْغَضَبِ بِاللَّعْنِ أَوْ عَكْسِهِ كَقَوْلِهَا لَعْنَةُ اللهِ عَلَيَّ وَقَوْلِهِ غَضَبُ اللهِ عَلَيَّ أَوْ ذُكِرَ كُلٌّ مِنَ الْغَضَبِ وَاللَّعْنِ قَبْلَ تَمَامِ الشَّهَادَاتِ الْأَرْبَعِ لَمْ يَصِحَّ فِيْ الْجَمِيْعِ .

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

PENJELASAN SUMPAH DZIHAR DALAM KEHIDUPAN BERUMAH TANGGA

BAB DHIHAR

(Fasal) di dalam menjelaskan hukum-hukum dhihar.

(فَصْلٌ) فِيْ بَيَانِ أَحْكَامِ الظِّهَارِ

Dhihar secara bahasa diambil dari kata “adh dhahru” (punggung). Dan secara syara’ adalah perkataan suami yang menyerupakan istrinya yang tidak tertalak ba’in dengan wanita yang tidak halal dinikahi oleh sang suami tersebut.

وَهُوَ لُغَةً مَأْخُوْذٌ مِنَ الظَّهْرِ وَشَرْعًا تَشْبِيْهُ الزَّوْجِ زَوْجَتَهُ غَيْرَ الْبَائِنِ بِأُنْثًى لَمْ تَكُنْ حِلاًّ لَهُ

Praktek Dhihar

Dhihar adalah ucapan seorang laki-laki pada istrinya, “engkau bagiku seperti punggung ibuku.

(وَالظِّهَارُ أَنْ يَقُوْلَ الرَّجُلُ لِزَوْجَتِهِ أَنْتِ عَلَيَّ كَظَهْرِ اُمِّيْ)

Ungkapan dhihar tertentu pada kata “adh dhahru (punggung)” bukan perut semisal, karena sesungguhkan  punggung adalah tempat menunggang dan istri adalah tunggangan sang suami.

وَخُصَّ الظَّهْرُ دُوْنَ الْبَطْنِ مَثَلًا لِأَنَّ الظَّهْرَ مَوْضِعُ الرُّكُوْبِ وَالزَّوْجَةُ مَرْكُوْبُ الزَّوْجِ

Konsekwensi Dhihar

Ketika sang suami mengatakan hal itu pada istrinya, maksudnya kata “engkau bagiku seperti punggung ibuku”, dan ia tidak melanjutkan langsung dengan talak, maka ia dianggap kembali pada sang istri. Dan kalau demikian, maka wajib membayar kafarat.

(فَإِذَا قَالَ لَهَا ذَلِكَ) أَيْ أَنْتِ عَلَيَّ كَظَهْرِ أُمِّيْ (وَلَمْ يُتْبِعْهُ بِالطَّلَاقِ صَارَ عَائِدًا) مِنْ زَوْجَتِهِ (وَلَزِمَتْهُ) حِيْنَئِذٍ (الْكَفَارَةُ)

Kafarat tersebut bertahap. Mushannif menyebutkan penjelasan tentang tahapan pelaksanaan kafarat tersebut di dalam perkataan beliau,

وَهِيَ مُرَتَّبَةٌ وَذَكَرَ الْمُصَنِّفُ بَيَانَ تَرْتِيْبِهَا فِيْ قَوْلِهِ

Kafarat Dhihar

Kafarat dhihar adalah memerdekakan budak mukmin yang beragama islam walaupun sebab islamnya salah satu dari kedua orang tuanya, yang selamat / bebas dari aib yang bisa mengganggu / membahayakan pekerjaan dengan gangguan yang begitu jelas.

(وَالْكَفَارَةُ عِتْقُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ) مُسْلِمَةٍ وَلَوْ بِإِسْلَامِ أَحَدِ أَبَوَيْهَا (سَلِيْمَةٍ مِنَ الْعُيُوْبِ الْمُضِرَّةِ بِالْعَمَلِ وَالْكَسْبِ) ضِرَارًا بَيِّنًا .

Kemudian, jika orang yang melakukan dhihar tidak menemukan budak yang telah disebutkan, dengan gambaran ia tidak mampu mendapatkan budak secara kasat mata atau secara tinjauan syara’, maka wajib melaksanakan puasa dua bulan berturut-turut.

(فَإِنْ لَمْ يَجِدْ) الْمُظَاهِرُ الرَّقَبَةَ الْمَذْكُوْرَةَ بِأَنْ عَجَزَ عَنْهَا حِسًّا أَوْ شَرْعًا (فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ)

Yang dibuat acuan menghitung dua bulan tersebut adalah hitungan tanggal, walaupun masing-masing kurang dari tiga puluh hari.

وَيُعْتَبَرُ الشَّهْرَانِ بِالْهِلَالِ وَلَوْ نَقَصَ كُلٌّ مِنْهُمَا عَنْ ثَلَاثِيْنَ يَوْمًا

Puasa dua bulan tersebut disertai dengan niat kafarat di malam hari.

وَيَكُوْنُ صَوْمُهُمَا بِنِيَّةِ الْكَفَارَةِ مِنَ اللَّيْلِ

Tidak disyaratkan niat tatabu’ (berturut-turut) menurut pendapat al ashah.

وَلَا يُشْتَرَطُ نِيَّةُ تَتَابُعٍ فِيْ الْأَصَحِّ

Kemudian, jika orang yang melakukan sumpah dhihar tidak mampu berpuasa dua bulan atau tidak mampu melaksanakannya secara terus menerus / berturut-turut, maka wajib memberi makan enam puluh orang miskin atau orang faqir.

(فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ) الْمُظَاهِرُ صَوْمَ الشَّهْرَيْنِ أَوْ لَمْ يَسْتَطِعْ تَتَابُعَهُمَا (فَإِطْعَامُ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا) أَوْ فَقِيْرًا

Setiap orang miskin atau faqir mendapatkan satu mud dari jenis biji-bijian yang dikeluarkan di dalam zakat fitri.

(كُلُّ مِسْكِيْنٍ) أَوْ فَقِيْرٍ (مُدٌّ) مِنْ جِنْسِ الْحَبِّ الْمُخْرَجِ فِيْ زكَاَةِ الْفِطْرِ

Kalau demikian, maka jenis biji-bijian tersebut diambilkan dari makanan pokok negara orang yang membayar kafarat seperti gandum putih dan gandum merah, tidak berupa tepung dan sawiq  (sagu)

وَحِيْنَئِذٍ فَيَكُوْنُ مِنْ غَالِبِ قُوْتِ بَلَدِ الْمُكَفِّرِ كَبُرٍّ وَشَعِيْرٍ لَا دَقِيْقٍ وَ سَوِيْقٍ

Ketika orang yang wajib membayar kafarat tidak mampu melaksanakan ketiga-tiganya, maka kewajiban kafarat masih menjadi tanggungannya.

وَإِذَا عَجَزَ الْمُكَفِّرُ عَنِ الْخِصَالِ الثَّلَاثِ اسْتَقَرَّتِ الْكَفَارَةُ فِيْ ذِمَّتِهِ

Sehingga, ketika setelah itu ia mampu melaksanakan salah satunya, maka wajib ia laksanakan.

فَإِذَا قَدَرَ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى خَصْلَةٍ فَعَلَهَا

Seandainya ia hanya mampu melaksanakan sebagian dari salah satu kafarat seperti hanya mampu memberikan satu mud atau setengah mud saja, maka wajib ia keluarkan.

وَلَوْ قَدَرَ عَلَى بَعْضِهَا  كَمُدِّ طَعَامٍ أَوْ بَعْضِ مُدٍّ أَخْرَجَهُ

Bagi laki-laki yang melakukan dhihar maka tidak diperkenankan mewathi istrinya yang telah ia dhihar, hingga ia melaksanakan kafarat yang telah disebutkan.

(وَلَا يَحِلُّ لِلْمُظَاهِرِ وَطْؤُهَا) أَيْ زَوْجَتِهِ الَّتِيْ ظَاهَرَ مِنْهَا (حَتَّى يُكَفِّرَ) بِالْكَفَارَةِ الْمَذْكُوْرَةِ

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

RAHIM DAN KETURUNAN SERTA CIRI WANITA YANG TIDAK MANDUL

Rahim perempuan

و الرحم جلدة داخل الفرج يدخل فيها المني ثم تنكمش عليه فلا تقبل منيا غيره و لهذا جرت عادة الله لا يخلق ولدا من ماءين الى ان قال ثم رأين في نزهة المتأمل ما نصه و اما صفة رحم المرأة فإن خلقتها من المرأة كالكيس و هي عضلة و عروق و راس عصبها في الدماغ و لها فم و لها قرنان شبه الخناجر تجذب بهما النطفة لقبولها فإن الله تعالى اودع فيها قوتين قوة انبساط تنبسط بها عند ورود مني الرجل عليها فتأخذه يختلط مع منيها و قوة انقباض تقبضها لئلا ينزل منه شيئ فإن المني ثقيل بطبعه و فم الرحم منكوس و اودع في مني الرجل قوة الفعل و في مني المرأة قوة الإنفعال فعند الإمتواج يصير مني الرجل كالأنفحة الممتزجة باللن

Rahim adalah sepotong kulit yang berada didalam vagina perempuan yang air sperma masuk kedalamnya kemudian rahim akan menyusut untuknya sehingga rahim tidak bisa menerima air sperma yang lain. Oleh karenanya, berlakulah hukum Allah ta’ala yang tidak akan menciptakan anak dari dua air sperma, kemudian aku melihat dalam Al-Nuzhat yang nashnya, adapun bentuk rahim seorang perempuan adalah bentuknya seperti kantong. Rahim itu terdiri dari urat dan otot dan ujung urat syarafnya adalah pada otak. Rahim mempunyai mulut dan mem-punyai dua tanduk yang menyerupai pisau belati yang dengan-nya rahim bisa menarik air sperma untuk diterima. Sesungguh-nya Allah ta’ala telah menitipkan pada rahim dua kekuatan, yaitu kekuatan untuk membuka yang dengan kekuatn itu rahim bisa melebar ketika datang air sperma lelaki sehingga rahim akan mengambil sperma itu dan mencampurnya dengan air sperma perempuan, dan kekuatan untuk menutup yang dengan kekuatan itu rahim akan menutupnya sehingga tidak ada air sperma yang terjatuh atau keluar, karena air sperma adalah berat secara tabiatnya dan mulut rahim adalah terbalik. Dan Allah telah menitipkan pada air sperma lelaki kekuatan untuk berbuat atau bergerak dan pada air sperma perempuan untuk dibuahi. Sehingga ketika terjadi percampuran maka aier sperma lelaki akan menjadi seperti zat yang digunakan untuk membuat keju bercampur dengan susu. (Bujaerami ‘Ala Al-Khathib, juz 1 hal 339).

Yang pertama dibuat pada janin

و اختلف في اول ما يتشكل من الجنين فقيل قلبه لأنه الأساس و قيل الدماغ لأنه مجمع الحواس و جمع بينهما بأن اول ما يتشكل منه من الباطن القلب و من الظاهر الدماغ و قيل اول ما يتشكل منه السرة و قيل الكبد لأن منه النموّ المطلوب اولاً و رجحه بعضهم و في ايجاده على هذا الترتيب العجيب و انتقاله من طور الى طور مع قدرته تعالى على ايجاده كاملا كسائر المخلوقات في طرفة عين فوائد الأولى انه لو خلقه دفعة واحدة لشق على الأم لكونها لم تكن معتادة لذلك و ربما لم تطقه فجعل اولاً نطفة لتعتادها مدة ثم علقة مدة و هلم جرا الى الولادة و لذا قال الخطابي الحكمة في تأخير كل اربعين يوماً ان يعتاده الرحم اذ لو خلق دفعة لشق على الأم و ربما تظنه علة الثانية اظهار قدرته تعالى و تعليمه لعباده التأني في امورهم الثالثة اعلام الإنسان بأن حصول الكمال المعنوي له تدريجي نظير حصول الكمال الظاهر له اهـ شبرخيتي مع زيادة

Ada perbedaan pendapat mengenai perkara pertama yang dibentuk dari janin. Ada yang mengatakan yang pertama di-bentuk adalah jantungnya, karena jantung adalah sebagai materi dasarnya. Ada yang mengatakan otaknya, karena otak adalah tempat atau pusat dari semua indera. Dari kedua pendapat itu bisa dikumpulkan bahwa perkara pertama yang dibentuk bagian dalam adalah jantung dan bagian luarnya adalah otak. Ada yang mengatakan bahwa yang pertama kali dibentuk adalah pusarnya dan ada yang mengatakan hatinya yang pertama, karena pertumbuhan yang dimaksud pertama kali adalah darinya. Sebagian ulama’ merajihkannya.

Dalam penciptaan janin dengan urutan yang men-kagumkan seperti itu dan perpindahannya dari satu fase kefase lainnya beserta mampunya Allah ta’ala untuk menciptakannya secara sempurna seperti makhluk-makhluk yang lain hanya sekejap mata terdapat beberapa faidah, pertama, Seandainya Dia menciptakannya seketika sempurna maka itu akan membuat berat atau sengsara sang ibu karena dia belum terbiasa dengannya. Dan terkadang dia tidak kuat untuk memikulnya. Sehingga pertama kali diciptakan berupa air sperma supaya dia bisa membiasakannya untuk beberapa saat lalu menjadi se-gumpal darah untuk beberapa saat dan seterusnya sampai dia melahirkan. Oleh karenanya, Al- Khathabi berkata, “Hikmah mengakhirkan masing-masing fase selama empat puluh hari adalah supaya rahim bisa terbiasa, karena seandainya janin diciptakan seketika sempurna maka akan memberatkan sang ibu, dan terkadang dia menyangkanya sebagai penyakit.”

Kedua, memperlihatkan kekuasaan Allah ta’ala dan meng-ajarkannya Dia kepada hamba-hamba-Nya untuk berhati-hati dalam semua urusan mereka.

Ketiga, memberi tahu manusia bahwa tercapainya kesempurnaan yang sempurna adalah dengan sedikit demi sedikit, seperti halnya tercapainya kesempurnaan yang dzahir. Telah selesai Syabarkhiti dengan diberi tambahan. (Bujaerami, juz 1 hal 352).

Ingin anak laki-laki

(فائدة) رأيت بخط الأزرق عن رسول الله صلى الله عليه و سلم ان من اراد ان تلد امرأته ذكرا فإنه يضع يده على بطنها في اول الحمل و يقول بسم الله الرحمن الرحيم اللهم اني اُسمي ما في بطنها محمداً فاجعله لي ذكراً فإنه يولد ذكرا ان شاء الله تعالى مجرب اهـ و قد جربناه كثيرا لغير واحد فصدق و الحمد لله على صحة ذلك و قيل ان المرأة اذا جومعت و هي قائمة فإن شالت رجلها اليمنى اذكرت و ان شالت رجلها اليسرى انثت قال الفخر الرازي جرت ثلاث مرات فصح اهـ

Aku telah melihat dengan tulisannya Al Azraq dari Rasulullah Saw, “Barang siapa menginginkan isterinya melahir-kan anak laki-laki, maka taruhlah tangannya diperut isterinya dimasa awal kehamilannya dan berdo’alah, “Bismillahirrahmaa-nirrahim, ya Allah sesungguhnya aku memberi nama apa yang ada didalam perutnya (isteri) dengan nama Muhammad, maka jadikanlah dia laki-laki untukku,” maka dia akan mendapatkan anak laki-laki, insya Allah.” mujarrab. Dan aku telah mencoba-nya berkali-kali tidak hanya sekali dan ternyata benar al-hamdulillah. Dikatakan, sesungguhnya perempuan ketika disetubuhi dalam keadaan dia berdiri, maka jika dia mengangkat kaki kanannya maka dia akan dianugerahi anak laki-laki, dan jika dia mengangkat kaki kirinya maka dia akan dianugerahi anak perempuan. Al Fakhru Al Razi berkata, “Aku telah men-cobanya sebanyak tiga kali dan ternyata benar.” (Bujaerami, juz 1 hal 352).

Mempermudah melahirkan

(فائدة) لو وضع الحمل يكتب في إناء جديد اُخرج ايها الولد من بطن ضيقة الى سعة هذه الدنيا اُخرجْبقدرة الله الذي جعلك (في قرار مكين الى قدر معلموم)* المؤمنون 13 (لو انزلنا هذا القرآن) *الحشر 21 الى آخر السورة (و ننزا من القرآن ما هو شفاء و رحمة للمؤمنين) *الإسراء 88 و تمحى بماء و تشرب النفساء او يرش على وجهها مجرب

Ketika kandungan akan dikeluarkan atau melahirkan, maka ditulis pada wadah yang masih baru,

اُخرج ايها الولد من بطن ضيقة الى سعة هذه الدنيا اُخرجْبقدرة الله الذي جعلك (في قرار مكين الى قدر معلموم) (لو انزلنا هذا القرآن) الى آخر السورة (و ننزا من القرآن ما هو شفاء و رحمة للمؤمنين)

Kemudian tulisan itu diguyur dengan air dan airnya diminum oleh orang yang nifas (yang akan melahirkan) atau dipercikkan kemukanya, (maka dia akan mudah melahirkan), mujarrab. (Bujaerami, juz 1 hal 352).

CARA MENGETAHUI WALUUD (dapat memberikan keturunan banyak) seorang wanita  :

* Dilihat dari keluarganya, tergolong keluarga yang subur atau bukan

* Menurut al-Ghozali juga dapat dilihat dari kesehatan dan kemudaannya

وَيُسْتَحَبُّ وَلُودٌ وَدُودٌ لِخَبَرِ تَزَوَّجُوا الْوَلُودَ الْوَدُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ يوم الْقِيَامَةِ رَوَاهُ أبو دَاوُد وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَ إسْنَادَهُ وَيُعْرَفُ كَوْنُ الْبِكْرِ وَلُودًا وَدُودًا بِأَقَارِبِهَا نَسِيبَةٌ

Dan dianjurkan menikahi wanita yang subur dan penyayang berdasarkan hadits : “Nikahilah wanita yang penyayang lagi memiliki banyak keturunan, maka sesungguhnya aku akan berbangga-bangga dengan banyaknya kalian di depan umat lainnya pada hari Kiamat.” (HR. Abu Daud, an-Nasa`i dan Ahmad- Isnadnya shahih). Penyayang serta kesuburan seorang gadis dapat diketahui dengan melihat kerabat-kerabatnya yang senasab. [ Asnaa al-Mathaalib III/197 ].

2ً – أن تكون ولوداً، لحديث: «تزوجوا الودود الولود، فإني مكاثر بكم الأمم يوم القيامة» (2) . ويعرف كون البكر ولوداً بكونها من نساء يعرفن بكثرة الأولاد.

Hendaknya ia mampu memberikan banyak keturunan berdasarkan hadits “Nikahilah wanita yang penyayang lagi memiliki banyak keturunan, maka sesungguhnya aku akan berbangga-bangga dengan banyaknya kalian di depan umat lainnya pada hari Kiamat.” (HR. Abu Daud, an-Nasa`i dan Ahmad- Isnadnya shahih). Seorang gadis dapat diketahui mampu memberikan keturunan dilihat dari keberadaannya dari kalangan wanita yang mampu banyak memberi keturunan. [ Al-Fiqh al-Islaam IX/7 ].

قال صلى الله عليه و سلم عليكم بالولود الودود // حديث عليكم بالودود الولود أخرجه أبو داود والنسائي من حديث معقل بن يسار تزوجوا الودود الولود وإسناده صحيح //

فإن لم يكن لها زوج و لم يعرف حالها فيراعى صحتها وشبابها فإنها تكون ولودا في الغالب مع هذين الوصفين

Baginda Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Nikahilah oleh kalian wanita-wanita yang penyayang dan berperanakan subur,” (HR. Abu Daud dan an-Nasaa-i dari Ma’qil Bin Yasar dengan sanad yang shahih). Bila seorang wanita belum pernah bersuami dan tidak diketahui keberadaan ‘kesuburannya’ maka cukup dengan mencermati kesehatan dan kemudaannya karena pada umumnya wanita dengan dua sifat tersebut adalah wanita yang subur. [ Ihyaa ‘Uluumiddiin II/41 ].

KETIKA ISTRI MEMINTA NAFKAH BERLEBIHAN PADA SUAMI

Dalam surat At Tolak ayat 7 Allah ta’ala berfirman :

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya.Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”

Maksudnya, seorang suami hendaklah memberikan nafkah kepada istri dan anaknya yang kecil berdasarkan ukuran kemampuannya jika dia mampu, jika suami tersebut faqir maka wajibnya seukuran kefakirannya tersebut, maka ukuran nafkah berdasarkan hitungan keadaan orang yang menafkahi dan kebutuhan orang yang dinafkahi dengan cara berijtihad berdasarkan kebiasaan hidup yang berlaku. Allah tidak membebani orang yang faqir sebagaimana Allah membebani orang yang kaya.

Kitab Tafsir al Qurtby (18/158-160) :

قوله تعالى : ” لينفق ” أي لينفق الزوج على زوجته وعلى ولده الصغير على قدر وسعه حتى يوسع عليهما إذا كان موسعا عليه . ومن كان فقيرا فعلى قدر ذلك . فتقدر النفقة بحسب الحالة من المنفق والحاجة من المنفق عليه بالاجتهاد على مجرى حياة العادة

الي ان قالقوله تعالى : لا يكلف الله نفسا إلا ما آتاها أي لا يكلف الفقير مثل ما يكلف الغني .

Kitab Tafsir at Tahrir wat Tanwir Ibnu Asyur (29/331) :

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا

” Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya.”

والمقصود منه إقناع المنفق عليه بأن لا يطلب من المنفق أكثر من مقدرته . ولهذا قال علماؤنا : لا يطلق على المعسر إذا كان يقدر على إشباع المنفق عليها وإكسائها بالمعروف ولو بشظف ، أي دون ضر

Maksud ayat tersebut adalah merasa cukupnya orang yang diberi nafkah misalnya dengan tidak meminta kepada orang yang menafkahi melebihi kemampuannya, oleh sebab itulah ulama’ kami berpndapat bahwa orang yang dalam keadaan sempit/miskin tidak ditalak jika dia masih mampu mengenyangkan orang yang dinafkahi dan memberikan pakaian dengan ma’ruf walaupun dengan kesulitan, maksudnya tidak sampai menjadikan madhorot.

المعتمد ج ٤ ص ٢٨٠.

إن نفقة الزوجة مقدرة بحسب حال الزوج في اليسار و الإعسار دون الإعتبار لحال الزوجة لأن النفقة تتبع الإستطاعة و هي عائدة إلى حال المنفق لا إلى حال المنفق عليه لقوله تعالى : لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا  و الله أعلم.

Nafkah itu dilihat dari sisi si pemberi nafkah bukan dari sisi yang di nafkahi karena itu , jika si suami tidak mampu memberi nafkah lebih, maka dia tidak berdosa dan tidak ada hak pula bagi si istri untuk menuntut nafkah lebih kepada suaminya. Sebagaimana di dalam al quran : Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. Surah At-Talaq (65:7).

Wallohu a’lam bis showab.

APAKAH SHALAT SUNNAH BISA MENJADI PENYEMPURNA SHALAT WAJIB?

Shalat lima waktu merupakan kewajiban yang selalu melekat bagi seorang Muslim. Ia juga salah satu rukun Islam sehingga Muslim yang menjalankannya sama dengan menenegakkan agama dan yang meninggalkannya sama dengan menghancurkan agama.
Pada hari kiamat kelak, shalat merupakan amal yang akan dihisab pada urutan pertama. Setiap Muslim yang melakukan shalat lima waktu pasti berharap shalatnya sempurna dan diterima sisi Allah SWT. Namun, kita tidak tahu apakah shalat yang kita kerjakan masuk dalam kategori sempurna atau tidak.
Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa Allah SWT menitahkan para malaikat untuk melihat bagaimana shalat para hamba-Nya, apakah sempurna atau justru malah sebaliknya. Ketika malaikat menemukan kekurangan shalat manusia, maka Allah memerintahkan mereka untuk melihat apakah hamba tersebut memiliki amalah ibadah shalat sunnah.
Jika ternyata ia memiliki amalan ibadah shalat sunnah, maka Allah meminta malaikat untuk mengambil amal ibadah shalat sunnahnya untuk menambal kekurangan sempurna shalat fardhunya. Demikian sebagaimana dikemukakan dalam riwayat Abu Dawud berikut ini:
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلَاةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلَائِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِي صَلَاةِ عَبْدِي أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِي فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ. ثُمَّ تُؤْخَذُ الْأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ
Artinya, “Dari Rasulullah SAW ia bersabda, ‘Sungguh kelak pada hari kiamat amal manusia yang dihisab pertama kali adalah shalat.’ Rasulullah SAW bersabda kembali, ‘Tuhan kami berfirman kepada para malaikat-Nya—dan Dia lebih mengetahui—; ‘Lihatlah shalat (fardhu, pent) hamba-Ku, apakah sempurna atau tidak?’ Jika shalatnya sempurna maka dicatat baginya kesempurnaan shalatnya. Bila kurang sedikit, maka ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amal ibadah shalat sunnah?’ jika ia punya maka, ‘Sempurnakanlah untuk hamba-Ku shalat fardhu yang kurang dengan amal ibadah shalat sunnahnya itu’. Kemudian amal ibadah shalat sunnah tersebut diambil untuk menambal kekurangan sempurnaan shalat fardhunya,” (HR Abu Dawud).
Muhammad Syamsul Haq sebagai pensyarah kitab Sunan Abi Dawud menuturkan komentar Zainuddin Al-‘Iraqi mengenai hadits tersebut. Menurut Al-Iraqi sebagaimana dikemukakan dalam Syarhi Sunan At-Tirmidzi, hadits tersebut merupakan hadits yang hadir sebagai penjelasan mengenai penyempurnaan kekurangan shalat fardhu.
قَالَ العِرَاقِيُّ فِي شَرْحِ التِّرْمِذِيِّ هَذَا الَّذِي وَرَدَ مِنْ إِكْمَالِ مَا يَنْتَقِصُ الْعَبْدُ مِنَ الْفَرِيضَةِ
Artinya, “Al-‘Iraqi di dalam anotasinya atas kitab Sunan At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hadir untuk menjelaskan tentang penyempurnaan kekurangan shalat fardhu seorang hamba,” (Lihat Muhammad Syamsul Haq Al-‘Azhim Abadi, ‘Aun al-Ma’bud Syarhu Sunani Abi Dawud, [Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah], 1415 H], juz II, halaman 82).
Sampai di sini tidak ada persoalan berarti, namun tidak bisa dielakkan munculnya pertanyaan apakah ada hal lain yang dapat menyempurnakan atau menambal ibadah shalat fardlu selain shalat sunnah?
Para ulama setidaknya telah menjelaskan beberapa hal kesunahan yang terkait dengan shalat fardhu. Seperti bersemangat menjalan shalat ketika masuk waktu, khusyuk, dan berzikir serta berdoa secara pelan setelah shalat, tetapi diperbolehkan juga dilakukan dengan suara yang jelas (keras) untuk mengajarkan zikir dan doa kepada para jamaah atau selainnya.
وَ سُنَّ (ذِكْرٌ وَدُعَاءٌ سِرًّا عَقِبَهَا) أَيْ الصَّلَاةِ لَكِنْ يَجْهَرُ بِهِمَا مَنْ يُرِيدُ تَعْلِيمَ النَّاسِ مَأْمُومًا كَانَ أَوْ غَيْرَهُ
Artinya, “(Dan) disunnahkan (berdzikir dan berdoa secara pelan setelahnya) maksudnya adalah setelah shalat, akan tetapi boleh mengeraskanya bagi orang yang ingin megajarkan dzikir dan doa orang lain, baik orang lain sebagai makmum atau bukan”. (Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah: 1422 H/2002 M], cetakan pertama, halaman 76).
Dari penjelasan ini maka dapat dipahami bahwa shalat sunnah yang kita lakukan termasuk di dalamnya adalah shalat Dhuha dapat menutupi kekurangan yang bisa terjadi dalam ibadah shalat fardhu kita. Begitu juga dengan zikir yang dilakukan setelah shalat fardhu karenanya status hukumnya adalah sunnah sebagaimana juga status hukum shalat sunnah.

MAKSUD TAWAKKAL DALAM URUSAN REZEKI

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupi (kebutuhan)nya” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Teks Hadits

عن عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ إِنَّهُ سَمِعَ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ((لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا)). رواه الترمذي، وَقالَ: (حديث حسن).

Artinya: Dari ‘Umar bin Khaththab rd bahwa beliau pernah mendengar Nabi bersabda: “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Dia (Allah) akan memberi kalian rizki sebagaimana Allah memberi rizki kepada burung, ia (burung) keluar di waktu pagi dalam keadaan perut kosong dan pulang di waktu sore dalam keadaan kenyang.”

(HR. Tirmidzi dan beliau berkata hadits ini hasan)

رقم الحديث: 24(حديث مرفوع) أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ بْنِ نَظِيفٍ الْفَرَّاءُ , قِرَاءَةً عَلَيْهِ , وَأَنَا أَسْمَعُ , قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي الْمَوْتِ , إِمْلاءً فِي سَنَةِ تِسْعٍ وَأَرْبَعِينَ وَثَلاثِ مِائَةٍ , قَالَ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ الصَّائِغُ , قَالَ : حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ , قَالَ : حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ , قَالَ : حَدَّثَنِي حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ , عَنْ بَكْرِ بْنِ عَمْرٍو , عَنْ أَبِي هُبَيْرَةَ , عَنْ أَبِي تَمِيمٍ الْجَيْشَانِيِّ , عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ : ” لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا ” .

Ibnu Rojab dalam Jami’ul ‘ulumi wal hikam

Hakikat Tawakal

وحقيقة التوكل : هو صدق اعتماد القلب على الله عز وجل في استجلاب المصالح ، ودفع المضار من أمور الدنيا والآخرة كلها ، وكلة الأمور كلها إليه ، وتحقيق الإيمان بأنه لا يعطي ولا يمنع ولا يضر ولا ينفع سواه .

Hakikat tawakal adalah hanya bersandar kepada Allah dalam usaha menarik kemanfaatan dan menolak kemadhoratan dari perkara yang sifatnya duniawi maupun ukhrowi.dengan landasan keimanan bahwa tidak ada yang bisa memberi,tidak bisa mencegah,tidak ada yang bisa mendatangkan madhorat dan tidak ada yang bisa memberi kemanfaatan kecuali Allah SWT.

واعلم أن تحقيق التوكل لا ينافي السعي في الأسباب التي قدر الله سبحانه المقدورات بها ، وجرت سنته في خلقه بذلك ، فإن الله تعالى أمر بتعاطي الأسباب مع أمره بالتوكل ، فالسعي في الأسباب بالجوارح طاعة له ، والتوكل بالقلب عليه إيمان به

Namun demikian,hakikat tawakal tidak menafikan makhluk dalam mencari sebab.karna Allah memerintahkan untuk mencari sebab dan memerintahkan bertawakalMencari sebab dengan badan adalah bagian taat kepada allah,sementara tawakal dalam hati sebagai bentuk keimanan kepada Allah

[ ص: 496 ] الحديث التاسع والأربعون . عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال : لو أنكم توكلون على الله حق توكله ، لرزقكم كما يرزق الطير ، تغدو خماصا ، وتروح بطانا رواه الإمام أحمد والترمذي والنسائي وابن ماجه وابن حبان في ” صحيحه ” والحاكم ، وقال الترمذي : حسن صحيح .

Syarah hadits

هذا الحديث خرجه هؤلاء كلهم من رواية عبد الله بن هبيرة ، سمع أبا تميم الجيشاني ، سمع عمر بن الخطاب يحدثه عن النبي – صلى الله عليه وسلم – ، وأبو تميم وعبد الله بن هبيرة خرج لهما مسلم ، ووثقهما غير واحد ، وأبو تميم ولد في حياة النبي – صلى الله عليه وسلم – ، وهاجر إلى المدينة في زمن عمر رضي الله عنه . وقد روي هذا الحديث من حديث ابن عمر عن النبي – صلى الله عليه وسلم – ، ولكن في إسناده من لا يعرف حاله . قاله أبو حاتم الرازي . وهذا الحديث أصل في التوكل ، وأنه من أعظم الأسباب التي يستجلب بها [ ص: 497 ] الرزق ، قال الله عز وجل : ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب ومن يتوكل على الله فهو حسبه [ الطلاق : 2 – 3 ] ، وقد قرأ النبي – صلى الله عليه وسلم – هذه الآية على أبي ذر ، وقال له : لو أن الناس كلهم أخذوا بها لكفتهم يعني : لو حققوا التقوى والتوكل ؛ لاكتفوا بذلك في مصالح دينهم ودنياهم . وقد سبق الكلام على هذا المعنى في شرح حديث ابن عباس : احفظ الله يحفظك . قال بعض السلف : بحسبك من التوسل إليه أن يعلم من قلبك حسن توكلك عليه ، فكم من عبد من عباده قد فوض إليه أمره ، فكفاه منه ما أهمه ، ثم قرأ : ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب وحقيقة التوكل : هو صدق اعتماد القلب على الله عز وجل في استجلاب المصالح ، ودفع المضار من أمور الدنيا والآخرة كلها ، وكلة الأمور كلها إليه ، وتحقيق الإيمان بأنه لا يعطي ولا يمنع ولا يضر ولا ينفع سواه . قال سعيد بن جبير : التوكل جماع الإيمان . وقال وهب بن منبه : الغاية القصوى التوكل . قال الحسن : إن توكل العبد على ربه أن يعلم أن الله هو ثقته . وفي حديث ابن عباس عن النبي – صلى الله عليه وسلم – ، قال : من سره أن يكون أقوى الناس ، فليتوكل على الله . [ ص: 498 ] وروي عنه – صلى الله عليه وسلم – أنه كان يقول في دعائه : اللهم إني أسألك صدق التوكل عليك ، وأنه كان يقول : اللهم اجعلني ممن توكل عليك فكفيته . واعلم أن تحقيق التوكل لا ينافي السعي في الأسباب التي قدر الله سبحانه المقدورات بها ، وجرت سنته في خلقه بذلك ، فإن الله تعالى أمر بتعاطي الأسباب م

Syarah Ringkas :

Tawakkal merupakan salah satu amalan hati yang agung lagi mulia yang mesti dimiliki oleh setiap muslim. Tawakkal berarti menyandarkan hati sepenuhnya kepada Allah dengan sebenar-benarnya dalam rangaka mendapatkan suatu manfaat atau meghindar dari suatu hal yang membahayakan dengan tidak mengabaikan sebab-sebab syar’i yang dapat mengantarkan kepada tujuan-tujuan tersebut. Jadi tawakkal itu tidak terlepas dari dua hal pokok yaitu menyandarkan hati sepenuhnya kepada Allah dan mengambil sebab-sebab yang dibolehkan oleh syari’at.

Dalam hadits di atas, Rasulullah telah menjelaskan dengan gamblang tentang pentingnya mengambil sebab-sebab untuk meraih suatu tujuan disamping kuatnya sandaran hati kepada Allah. Dimana beliau memberikan contoh dengan seekor burung yang keluar di waktu pagi dalam keadaan perut kosong kemudian pulang di waktu sore dalam keadaan kenyang. Artinya si burung telah mengambil sebab untuk medapatkan makanan yaitu keluarnya burung di waktu pagi.

Dan Rasulullah yang merupakan penghulunya orang-orang yang bertawakkal pun telah mempraktekkan tawakkal ini dalam bentuk nyata, seperti memakai baju besi ketika beliau ingin berperang, mengambil pemandu jalan, mengambil arah yang berbeda, bersembunyi di gua selama tiga hari ketika beliau hijarah ke Madinah. Semua itu beliau lakukan untuk menunjang dan melancarkan proses perjalanan hijrah beliau ke Madinah.

Faidah dan Hukum:

  1. Wajibnya bertawakkal kepada Allah dalam segala urusan kita.
  2. Penjelasan tentang hakikat tawakkal.
  3. Tawakkal adalah salah satu sarana untuk mendatangkan rizki.
  4. Allah adalah Rabb satu-satunya yang memberi dan mengelola rizki para makhluk-Nya.
  5. Tawakkal bukan berarti duduk berpangku tangan tanpa melakukan sebab yang kongkrit (nyata) seperti bekerja. Seperti burung yang keluar di waktu pagi dan kembali di waktu sore.

Wallohu a’lam bis showab