PENGUKUHAN KOTA MULIA TANAH HAROM DAN CINTA NABI SAW KEPADA MADINAH AL MUNAWWAROH

Anda dapat menyelami dalamnya cinta Rasulullah terhadap Madinah dalam setiap sabdanya tentang Madinah. Anda dapat merasakan hal tersebut dari do’a-do’a beliau agar Madinah diliputi kebaikan, beliau telah berdo’a kepada Allah agar Madinah menjadi kota yang mereka cintai :

“Ya Allah, berilah kami kecintaan terhadap Madinah seperti cinta kami terhadap Mekkah atau melebihinya. ” [HR.Bukhari no. 1889, HR.Muslim no. 1376]

Tidak diragukan lagi bahwa do ‘a beliau pasti terkabul.

Hadits-hadits yang mengisyaratkan akan kecintaan beliau terhadap Madinah sangat banyak, cobalah simak sabda beliau berikut ini:

“Madinah adalah tempat hijarahku, di sana tempat tinggalku, dari sana aku nanti di bangkitkan, penduduknya adalah tetanggaku, tentulah menjadi suatu kewajiban bagi umatku menjaga tetanggaku.” [Al- Firdaus oleh: Ad-Dailami no.6953]

Dalam hadits ini kita dapati betapa perasaan emosional dan rasa cinta Nabi begitu menyatu dengan Madinah tanpa perlu menggunakan argumen lagi.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas, rasa cinta ini lebih jelas dan lebih terfokus lagi, “Bahwa Nabi apabila datang dari safar (perjalanan) jauh dan melihat batas Madinah, beliau langsung memacu kendaraannya, dan jika beliau menunggang keledai beliau menggerakkannya (agar cepat sampai) karena besarnya rasa cinta beliau terhadap Madinah.” [HR. Bukhari no. 1886]

PENGUKUHAN MADINAH SEBAGAI TANAH HARAM

Pengukuhan Madinah sebagai tanah haram termasuk salah satu keutamaan kota ini, tapi sengaja pembahasannya dipisah, mengingat begitu pentingnya dan terkait dengan hukum-hukum syar’i. Pengukuhan Madinah sebagai tanah haram disebutkan dalam beberapa hadits shahih, diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid bin ‘ Ashim bahwa Nabi bersabda :

“Sesungguhnya Ibrahim telah menjadikan kota Mekkah sebagai tanah haram dan ia mendo ’akan para penduduknya, dan sesungguhnya aku menjadikan Madinah sebagai tanah haram seperti yang dilakukan oleh Ibrahim terhadap Mekkah, dan aku mendo’akan agar sha’ dan mud’-nya diberkahi dua kali lipat dari doa Ibrahim untuk penduduk Mekkah.” [HR. Bukhari no. 2129 dan HR. Muslim no. 1360]

Hadits di atas menjadi dalil bagi jumhur (mayoritas) ulama yang berpendapat bahwa Madinah adalah tanah haram. Juga hadits-hadits lain yang diriwayatkan dari sepuluh orang sahabat bahkan lebih.

Dalam shahihain diriwayatkan dari ‘ Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi bersabda :

“Madinah adalah tanah haram antara bukit ‘Air dan bukit Tsaur, maka siapa yang melakukan suatu perbuatan maksiat di sana atau memberikan tempat bagi pelaku maksiat, niscaya laknat Allah, malaikat dan semua manusia akan menimpanya, dan di hari kiamat Allah tidak akan menerima amalannya baik yang fardhu maupun sunnat.” [HR. Bukhari no. 1870 dan Muslim no. 1370]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata, “Andai aku melihat kijang di dalam Madinah sedang memakan rumput, niscaya aku tidak akan mengejutkannya, karena aku mendengar Rasulullah bersabda: “Antara dua (harra) bebatuan hitam adalah tanah haram.” [HR.Bukhari no. 1873 dan Muslim no. 1372]

Hadits diatas menunjukkan bahwa hewan buruan dan pepohonan di dalam Madinah haram di ganggu. Dalam hadits itu juga dijelaskan bahwa batas tanah haram adalah antara bukit Tsaur dan ‘Air; Tsaur yaitu: bukit kecil berwarna merah yang terletak di belakang bukit Uhud, kemiringan sisinya curam seolah-olah laksana orang berdiri. Saat ini kalau kita menuju Jeddah melalui jalan ke Airport akan melewati belakang bukit tersebut. Jalan ini sengaja dibuat sedikit jauh diluar batas tanah haram agar dapat di lalui oleh non muslim. Adapun ‘Air, yaitu: bukit besar yang berwama hitam terletak di sebelah tenggara Dzulhulaifah. [Lihat: Ad-durr ats-tsamin: oleh Syinqiti hal.16-17]

Pengukuhan tanah haram ini tentulah mengakibatkan berlakunya hukum: ‘hewannya tidak boleh diusik, pepohonannya tidak boleh ditebang, barang temuan (yang tercecer) disana tidak boleh diambil’. Hukum ini sama dengan hukum yang berlaku di tanah suci Mekkah.

Diriwayatkan dari ‘ Ali bin Abi Thalib, Rasulullah bersabda: “Rerumputannya (Madinah) tidak boleh dipotong, hewan buruannya tidak boleh dikejar, barang yang tercecer tidak boleh dipungut kecuali bagi orang yang ingin mencari pemiliknya, dan tidak pantas seorang laki-laki membawa senjata tajam untuk membunuh seseorang, dan tidak pantas dia memotong pepohonannya kecuali bagi orang yang ingin sekadar memberi makan untanya.” [HR.Abu Daud no.2035]

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah bersabda: “Tidak boleh diinjak dan dicabut rerumpatan di padang yang dilarang Rasulullah, tetapi boleh dipatahkan dengan cara yang lunak sekadamya.” [HR.Abu Daud no.2039]

Hadits-hadits di atas seluruhnya menguatkan pemyataan bahwa Madinah adalah tanah haram, berarti hewan buruan, pepohonan dan rerumputannya dilarang diusik, dan hadits-hadits tersebut kevalidan sanadnya tidak kalah dengan hadits-hadits yang mengharamkan Mekkah.

BUKIT ‘AIR

‘Air dengan harkat fathah ‘ain adalah sebuah bukit yang terletak di selatan Madinah Al Munawwarah. Bukit ini adalah batas tanah haram dari arah selatan. Nabi ketika datang hijrah ke Madinah melewati sebelah timur bukit ini. Bukit ini disebutkan dalam sebuah hadits Nabi, bahwa Nabi menjadikan tanah haram di antara bukit ‘Air dan bukit Tsaur, dari lereng sebelah timur bukit ini mengalir air ke dataran rendah Ranuna. [Lihat ad-Dur ats- Tsamin oleh Syinqithi hal. 252-253]

‘Iyadh rahimahullah berkata, “Perkataan orang yang mengingkari keberadaan bukit ‘Air di Madinah tidak perlu dibahas, karena bukit ini sangat populer, seperti juga bukit ini disebut-sebut dalam bait syair mereka”.

BUKIT TSAUR

Yang biasa dikenal, gua tempat persembunyian Rasulullah dan sahabatnya Abu Bakar As-Shiddiq berada di sebuah bukit yang dinamakan bukit Tsaur, yaitu di Mekkah seperti yang kita ketahui.

Di Madinah juga ada bukit yang juga bernama bukit Tsaur, penduduk Madinah baik di masa jahiliyah maupun di masa Islam mengenal bukit ini, yaitu sebuah bukit kecil berwama merah yang tegak berdiri seperti seekor lembu, berada di belakang bukit Uhud. Bila kata Tsaur disertakan dengan bukit, maka maksudnya adalah bukit Tsaur di Madinah, sedangkan bukit Tsaur yang di Mekkah biasa disebut tanpa menyertakan kata bukit, inilah perbedaan di antara dua bukit tersebut. [Lihat ad-Dur ats- Tsamin oleh Syinqithi hal. 252-253]

Diriwayatkan dalam hadits, bahwa Nabi telah mengukuhkan antara bukit Tsaur dan bukit ‘Air sebagai tanah haram. Orang yang ingin menuju ke Jeddah melewati jalan ke Airport akan melewati sebelah utara bukit Tsaur, jalan ini sengaja dibuat di belakang bukit, agar non Muslim bisa melewati jalan ini di luar batas Madinah.

HIKMAH MENGGEMBALA KAMBING DAN DI OPERASINYA ROSULULLOH SAW.

Pembedahan Dada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Jibril telah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala sedang bermain dengan anak-anak, kemudian Jibril mengambilnya dan membedah dadanya kemudian mengeluarkan jantungnya dan mengeluarkan darinya gumpalan darah, ia (Jibril) berkata, “Ini adalah jatah setan pada dirimu,” kemudian jantung itu dicuci dengan air zamzam pada bejana yang terbuat dari emas, kemudian dia kembalikan kepada tempatnya.

Kemudian anak-anak teman bermainnya itu menemui ibunya, mereka berkata, “Muhammad telah dibunuh.” Kemudian mereka menemuinya dan mendapati dia dalam kondisi pucat. Anas berkata, “Saya telah melihat melihat bekas jahitan pada dadanya.” [HR.Muslim 1/147, Kitab Al Iman, No.261]

Pada riwayat Abu Nu’aim dari Ibnu Katsir terdapat tambahan perincian, naskahnya sebagai berikut, “Perawat saya adalah wanita dari Bani Sa’ad bin Bakrah. Suatu saat saya dan anaknya pergi bersama domba-domba kami, sementara kami belum membawa bekal makanan, saya berkata , “Wahai saudaraku, pergilah minta bekal air ibunda kita.”

Saudara saya itu pergi dan saya menunggu disekitar domba-domba kami, kemudian datanglah dua makhluk terbang seakan-akan dua ekor burung elang, salah satu di antara keduanya berkata kepada temannya, “Apakah orang ini yang dimaksud?” Dia berkata, “Iya.” Kemudian keduanya mendatangi saya, merebahkan saya dan membedah dadaku, kemudian mengeluarkan jantungku dan mengeluarkan dua gumpalan darah berwarna hitam. Salah satu di antara keduanya berkata, “Berikan saya air salju, lalu mereka mencuci bagian dalam dadaku, kemudian dia berkata lagi, “Berikan saya air embun”, kemudian mereka berdua mencuci jantung saya. Dia berkata lagi, “Datangkan kemari sakinah (ketentraman).” Dia akhirnya menanam ketentraman itu dalam jantungku, kemudian dia berkata, “Jahit”, Dia menjahit dadaku dan memberikan stempel kenabian di atas dadaku.”

Ibunya cemas telah terjadi sesuatu dengannya, maka dengan segera dia membawanya ke ibunya di Mekah, Dia berkata, “Saya telah menunaikan amanah dan tugas saya.” Saya menceritakan kepadanya tentang apa yang telah terjadi, sedangkan ibunya Aminah, berkata dengan maksud menenangkan perasaan Halimah, “Saya telah melihat waktu saya mengandungnya terdapat cahaya yang keluar dari diri saya yang menerangi istana-istana yang ada di Syam.”

Pendapat yang rajih (kuat) adalah kejadian itu terjadi pada saat usia Rasulullah empat tahun, dan telah benar kejadiannya bahwa pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj seperti yang akan di bahas secara khusus telah terjadi pembedahan dada untuk yang kedua kalinya.

Hikmah menggembala kambing

~ Ibnu Hajar rahimahullah berkata, para ulama berkata, “Hikmah di balik penggembalaan kambing sebelum masa kenabian tiba adalah agar mereka terbiasa mengatur kambing yang nanti dengan sendirinya akan terbiasa menangani problematika manusia.”[Fathu Al Bari 1/144]

Para nabi berprofesi sebagai penggembala kambing semenjak kecil, agar mereka menjadi penggembala manusia pada waktu mereka besar. Sebagaimana Musa dan Muhammad serta para nabi lainnya shalawatullahi ‘Alaihim wa Salamuh, pada awal kehidupan mereka telah berhasil menjadi penggembala kambing yang baik, agar mengambil pelajaran setelah keberhasilan mengendalikan binatang ternak menuju keberhasilan mengurus anak cucu Adam dalam mengajak, memperbaiki dan mendakwahi mereka. Agar sang da’i bisa sukses dalam berdakwah, maka perlu memiliki pengetahuan tentang pentingnya kesinambungan dan praktik secara langsung.

~ Dalam pekerjaan mengembala kambing terdapat pelajaran membiasakan diri untuk sifat menyantuni dan mengayomi. Tatkala mereka bersabar dalam mengembala dan mengumpulkannya setelah terpencar di padang gembalaan, mereka mendapat pelajaran bagaimana memahami perbedaan tabiat umat, perbedaan kemampuan akal. Dengan perbedaan tersebut maka yang membangkang mesti ditindak tegas dan yang lemah mesti disantuni.

Hal ini memudahkan bagi yang memiliki pengalaman seperti itu untuk menerima beban dakwah dibandingkan yang memulai dari langsung dari awal. Itulah awal pembelajaran bagi para Nabi dengan cara menghadapi tabiat yang berbeda, ada yang lemah, ada yang pincang dan bermaksud mendaki gunung, ada yang tidak mampu untuk melintasi lembah. Dari situ, dia mempelajari bagaimana meraih keinginan yang beragam sebagai pengantar untuk mengenal manusia dengan tujuan dan maksud yang juga beragam.

~ Para Nabi mengembala kambing semenjak mereka kecil dan mereka menyandarkan kehidupan mereka melalui usaha mereka, memberikan pesan tentang pentingnya seorang da’i menggantungkan dirinya kepada Allah dan tidak menggantungkan hidupnya pada belas kasian orang lain.

Jika seorang menyandarkan dirinya kepada orang lain, maka akan terjadi basa basi, sementara dakwah tidak mengenal basa basi, dan seorang da’i mesti menjauhkan dirinya dari pemberian dan sedekah orang lain. Manusia tidak akan menerima dakwah orang yang pernah suatu hari menerima sedekah dan belas kasihannya, kemudian hari yang lain, dia menasehatinya dan memperingatinya agar tidak terlena dengan dunia. Oleh karena itu, rezeki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menjadi pembicaraan orang Quraisy, Rasulullah hidup di antara mereka dengan tidak meminta belas kasihan mereka, hal yang menyebabkan mereka setelah itu mengungkit jasa dan kebaikan mereka.

ROSULULLOH SAW. MENYURUH WUDLU SELURUH SHOHABAT DEMI MENUTUPI AIB SATU ORANG YANG KENTUT

Suatu hari ketika para sabahat sedang berkumpul menikmati sajian daging unta di masjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, salah seorang dari mereka ada yang kentut. Bau tak sedap segera menghampiri hidung para sahabat dan hidung Rasulullah. Baunya sangat kuat hingga seorang sahabat berdiri seraya mengatakan siapa pun yang merasa telah kentut hendaknya berdiri. Tetapi tak seorang pun dari mereka bangkit dan berdiri. Mengetahui hal itu, Rasulullah tidak mendorong di antara para sahabat yang merasa telah kentut supaya berdiri. Beliau hanya diam sehingga bisa ditafsirkan bahwa beliau tidak mendukung upaya dari salah seorang sahabat yang hendak mencoba “mengusut” siapa telah kentut.

Percobaan itu semakin jelas ketika kemudian ia dan beberapa sahabat lainnya mengatakan: “Orang yang kentut pasti akan berwudhu setelah ini. Dan orang itulah yang kentut.”

Mendengar hal itu, Rasulullah mengajak para sahabat untuk berwudhu meskipun mereka semua belum batal wudhunya. Setelah itu semua orang yang berkumpul di masjid mengambil air wudhu atas seruan Rasulullah sebelum Bilal mengumandangkan adzan Isya’ sehingga tak diketahui siapa yang sebenarnya telah kentut karena semua orang mengambil air wudhu sebelum melaksanakan shalat itu.

Begitulah cara Rasulullah menunjukkan ketidaksetujuannya atas upaya “pengusutan” siapa telah kentut – tidak dengan melarangnya secara tegas – tetapi cukup dengan tidak membuka celah terungkapnya kasus itu dengan cara menyerukan semua orang berwudhu supaya tidak diketahui siapa yang sebenarnya telah kentut, hingga tidak ada di antara para sahabat yang harus menanggung malu. Bagaimanapun kentut di tengah kerumunan orang banyak adalah suatu aib.

Hal yang menarik dalam masalah ini adalah Rasulullah menyeru kepada para sahabat untuk berwudhu – meski belum batal – sebelum menunaikan shalat Isya’ saat itu. Rasulullah tidak secara langsung mengaitkan wudhu itu dengan percobaan pengusutan kasus siapa telah kentut yang dilakukan salah seorang sahabat, tetapi mengaitkannya dengan daging unta yang telah mereka makan bersama pada malam itu di masjid.

Seruan itu adalah sebagaimana hadits berikut ini:

 عن البراء بن عازب، قال: سُئل رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن الوضوء من لحوم الإبل، فقال: توضَّؤوا منها، وسُئِل عن لحوم الغنم، فقال: لا توضَّؤوا منها

Artinya: “Dari al-Barra’ bin Azib, dia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang status wudhu akibat (makan) daging unta. Maka beliau menjawab: “Berwudhulah kamu disebabkan daging unta. Beliau juga ditanya berkaitan daging kambing. Maka beliau menjawab: Jangan berwudhu disebabkan daging kambing” (HR. Abu Dawud).

Hadits tersebut ternyata dipahami secara berbeda di antara para sahabat dan tabiin sehingga menimbulkan perbedaan pendapat di antara mereka. Mereka yang melihat seruan itu sebagai hadits ahkam, yakni hadits yang memuat tentang hukum-hukum Islam, berpedapat bahwa makan daging unta membatalkan wudhu sehingga barang siapa hendak shalat dan sebelumnya telah makan daging unta supaya berwudhu terlebih dahulu.

Hal ini sebagaimana penjelasan Imam Nawawi sebagai berikut:

 فاختلف العلماء في أكل لحوم الجزور وذهب الاكثرون إلى أنه لاينقض الوضوء ممن ذهب إليه الخلفاء الأربعة الراشدون… وذهب إلى انتقاض الوضوء به أحمد بن حنبل وإسحاق بن راهويه ويحيى بن يحيى وأبو بكر بن المنذر وبن خزيمة واختاره الحافظ أبو بكر البيهقي

Artinya: “Ulama berbeda pendapat tentang status hukum makan daging unta. Mayoritas ulama berpendapat, makan daging unta tidak membatalkan wudhu. Di antara yang berpendapat demikian adalah empat Khulafa’ Rasyidin, sementara ulama yang berpendapat makan daging unta membatalkan wudhu, diantaranya adalah Imam Ahmad, Ishaq bin Rahuyah, Yahya bin Yahya, Ibnul Mundzir, Ibnu Khuzaimah, dan al-Hafidz al-Baihaqi as-Syafii. (lihat Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawiy, Dar al-Kitab al-‘Ilimiyyah, Beirut, Juz III, 1971, 42).

Jadi Imam Ahmad, Ishaq bin Rahuyah, Yahya bin Yahya, Ibnul Mundzir, Ibnu Khuzaimah, dan al-Hafidz al-Baihaqi as-Syafi’i berpendapat bahwa makan daging unta membatalkan wudhu karena mereka memahami hadits di atas sebagai hadits ahkam. Sedangkan Khulafaur Rasyidin dan mayoritas ulama memahaminya lebih sebagai hadits tarbawi, yakni hadits yang memuat tentang pendidikan, seperti pendidikan akhlak, dan sebagainya. Maksudnya adalah substansi hadits tersebut menganjurkan kepada para sahabat untuk menutup aib salah seorang di antara mereka karena telah kentut dalam suatu majelis di mana Rasulullah berada di situ dengan maksud agar pelakunya tidak kehilangan muka karena merasa sangat malu diketahui publik, khususnya oleh Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Upaya menutup aib itu dirasa penting sebab tidak masuk akal orang yang kentut tersebut bersengaja melakukan hal itu di tengah majelis yang di situ ada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimanapun orang tersebut adalah sahabat Rasulullah yang tidak perlu diragukan lagi kesalihan dan kemuliaan akhlaknya.

Oleh karena itu, para Khulafaur Rasyidin dan mayoritas ulama tidak memandang hadits di atas sebagai hadits ahkam sebab dengan memperhatikan asbabul wurud-nya, mereka lebih meyakini hadits itu adalah hadits tarbawi terutama jika dihubungkan dengan hadits lain tentang perlunya menutup aib sesama saudara seiman sebagai berikut:

 مَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Artinya: “Barang siapa menutupi (aib) seorang Muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah senantiasa menolong seorang hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Tirmidzi).

Kesimpulannya, barang siapa di antara orang-orang yang tidak diragukan lagi integritas dan moralitasnya telah kentut dalam suatu majelis, maka tidak perlu ada upaya pengusutan siapa telah kentut. Hal ini untuk menutup aib pelakunya yang diyakini tidak bersengaja telah kentut dengan niat tidak baik. Namun prinsip ini kurang tepat diberlakukan bagi kalangan orang-orang yang sedang dalam proses pendidikan karakter seperti para murid atau santri. Pengusutan siapa telah kentut di tengah majelis di kalangan mereka yang sedang menjalani masa pendidikan dirasa tetap perlu hingga batas-batas tertentu, termasuk dalam hal sanksi yang akan diberikan sebab terkadang memang ada di antara mereka yang sengaja kentut di tengah keramaian banyak orang sebagai iseng untuk menimbulkan kekacauan tertentu. Iseng seperti ini jelas tidak baik karena tidak sopan dan termasuk su’ul adab.

BEGINILAH RUPA MALAIKAT MAU KETIKA AKAN MENCABUT NYAWA MANUSIA

Nabi Ibrahim ‘alaihi sallam adalah orang pertama yang Allah sebut sebagai hanif. Dia dianugerahi perkataan yang memiliki kekuatan hujah dalam hal tauhid. Dianugerahkan pula baginya, tutur kata yang baik di tengah umat-umat akhir zaman.

Nabi Ibrahim juga termasuk orang yang mendapat berbagai macam cobaan dan orang yang terbukti setia, orang yang dikenal sebagai bapak para nabi, orang yang terkenal di kalangan para hanif, dan orang pertama yang mengenakan pakaian pada hari disingkapkannya tabir.

Bersamaan dengan semua anugerah itu, dia senantiasa mengingat kematian, sehingga Malaikat Maut pun merasa kasihan terhadapnya.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bercerita bahwa Ibrahim ‘alaihi sallam sahabat karib Ar-Rahmati, meminta kepada Malaikat Maut agar ia memperlihatkan cara mencabut nyawa orang mukmin.

Malaikat Maut berkata, “Palingkanlah wajahmu dariku!”

Ibrahim pun memalingkan wajahnya. Lalu, ketika dia menengok, ternyata Malaikat Maut sudah dalam rupa seorang pemuda tampan berpakaian bagus, beraroma harum, dan berkulit mulus. Ibrahim pun berkata, “Demi Allah, seandainya seorang mukmin tidak pernah menjumpai sedikit pun kebahagiaan selain melihat wajahmu, tentu itu sudah cukup (membahagiakan).”

Kemudian Ibrahim berkata, “Perlihatkanlah kepadaku bagaimana engkau mencabut nyawa orang kafir?”

Malaikat Maut menukas, “Engkau tidak akan sanggup melihatnya.”

Ibrahim berkata, “Tentu sanggup. Perlihatkanlah kepadaku.”

Malaikat Maut berkata, “Palingkanlah wajahmu dariku!”

Nabi Ibrahim pun memalingkan wajahnya. Lalu ketika dia menengok, ternyata Malaikat Maut sudah dalam rupa sesosok orang berkulit hitam legam, kedua kakinya di tanah, kepalanya di langit, seperti rupa terburuk yang pernah engkau lihat. Di bawah setiap helai rambut tubuhnya ada kobaran api.

Ibrahim berkata, “Demi Allah, seandainya seorang kafir tidak pernah menjumpai kesengsaraan selain melihat sosokmu, tentulah itu saja sudah cukup (menyengsarakan).”

MU’JIZAT NABI MUHAMMAD MENYAMBUNG TANGAN YANG TERPUTUS DAN LAPAR YANG SANGAT

Diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik ra; Suatu hari Nabi Muhammad SAW masuk ke rumah puterinya sayyidah Fatimah ra, sayidah Fatimah mengeuhkan rasa laparnya kepada Nabi, ia berkata : “wahai ayah, sudah tiga hari kami tidak memakan sesuatupun”.
Nabi menyibakkan baju beliau pada bagian perutnya, dan terlihat ada batu yang terikat dibagian perutnya (untuk menahan rasa lapar) “wahai Fathimah, jika kalian tiga hari belum menemukan makanan, maka ayahmu ini sudah empat hari.

(Mendengar sayidah Fatimah mengatakan sudah tiga hari tidak makan) maka Nabi SAW keluar rumah, namun rupanya yang sangat terbayang adalah kedua cucu beliau, hasan dan husain.
Nabi berjalan hingga sampai dipinggiran kota, dan ia menemukan seorang arobiy (arab baduy/pinggiran) yang akan menyirami dari sumur tsb dengan menimba.
Nabi berdiri dan arobiy tidak mengetahui bahwa beliau adalah Nabi Muhammad SAW.
Nabi : “wahai arobiy, apakah engkau butuh orang yang bisa engkau pekerjakan?”.”YA” jawab arobiy.
Nabi : “apa yang harus aku lakukan?”.
Arobiy : “menyirami dari sumur ini”. kemudian arobiy memberikan timbaan tsb pada Nabi, dan Nabi mendapat upah TIGA BUAH KURMA dari satu timbaan itu dan kemudian Nabi memakannya.

Kemudian Nabi melanjutkan timbaannya hingga mendapat DELAPAN TIMBAAN, dan ketika akan menggangkat TIMBAAN KESEMBILAN ternyata tali timbaannya putus sehingga timbaannya jatuh ke dalam sumur, dan Nabi pun merasa bingung
Datanglah si arobiy dengan keadaan marah dan ia menampar wajah mulia Nabi SAW dan memberikan upah DUA PULUH EMPAT BIJI KURMA, Nabi menerimanya kemudian Nabi merogohkan tangannya kedalam sumur (yang dalam) dan mengambil timbaan yang tadi putus, dan setelah dapat kemudian timbaan itu dilemparkan pada arobiy dan Nabi meninggalkan si arobiy.

Sejenak si arobiy tertegun dan berkata “Ini adalah seorang Nabi yang haq”.
Kemudian ia mengambil golok dan memotong tangan kanannya, tangan yang dipakai untuk menampar wajah Nabi SAW hingga ia pingsan, dan ia siuman ketika ada orang yang memercikan air kewajahnya.
Orang itu bertanya pada si arobiy : “Apa yang terjadi padamu?
Arobiy : “Tadi aku menampar wajah seseorang, dan aku sangat menyangka bahwa orang itu adalah Nabi Muhammad, aku takut terkena adzab, lalu aku memotong tanganku yang digunakan untuk menamparnya.

Lalu arobiy membawa tangan kanannya yang terputus dengan tangan kirinya, dan ia menuju mesjid dan berkata : “Wahai para sahabat Muhammad, dimanakah Muhammad berada?”.

Dalam mesjid ada sahabat Abu Bakr, Umar dan Utsman Rodliyallohu anhum yang sedang duduk, dan mereka bertanya kepada arobiy: “Ada gerangan apakah engkau menanyakan nabi Muhammad?”.
Arobiy ; “Aku mempunyai keperluan kepada-nya”.

Kemudian sahabat Salman menuntun tangan arobiy dan menuju rumah Fatimah ra.
Ketika itu Nabi Muhammad SAW sedang memangku kedua cucu beliau dirumah Fatimah, Hasan duduk diatas pangkuan paha Nabi sebelah kanan dan Husain diatas pangkuan paha sebelah kiri, dan beliau menyuapi keduanya dengan kurma hasil kerja beliau..

Diluar rumah arobiy memanggil “Wahai Muhammad”.

Nabi meminta pada Fatimah ra untuk melihat siapa yang memanggil beliau diluar, ketika Fatimah ra membuka pintu, ia melihat seorang arobiy yang sedang menenteng tangan kanannya dengan tangan kirinya dan terlihat darah masih terus menetes.
Kemudian Fatimah ra kembali dan mengabarkannya kepada Nabi SAW.

Lalu Nabi berdiri dan menemui arobiy, dan arobiy berkata :”Wahai Muhammad…maafkanlah aku, sungguh aku (tadi) tidak mengetahui bahwa engkau adalah Nabi”.
Nabi :”Mengapa engkau sampai memotong tanganmu?”.
Arobiy : “Aku tak akan membiarkan tanganku yang telah menampar wajahmu”.
Nabi: “Masuklah ke dalam islam, engkau selamat”.
Arobiy : “Wahai Muhammad, jika engkau seorang Nabi, obatilah/mashlahatkan tanganku”.

Kemudian Nabi mengambil tangan kanan arobiy yang terputus dan menempelkannya ke tempat asalnya kemudian Nabi mengusapnya, maka tangan itupun tersambung kembali, layaknya sediakala dengan idzin Allah, MAKA AROBIY PUN MASUK ISLAM.
Alhamdulillah

Dinukil dari kitab AN-NAWADIR IMAM QOLYUBI : 46-47.

(حكى) عن أنس بن مالك رضى الله عنه قال دخل سيدنا النبى صلى الله عليه وسلم منزلة فاطمة رضى الله عنها فشكت إليه الجوع وقالت : يا أبت لنا منذ ثلاثة أيام لم نذق طعاماً

فكشف النبى عن بطنه واذا عليه حجر مشدود وقال يافاطمة ان كان لكم ثلاثة أيام فلأبيك أربعة أيام ثم خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم من منزلها وهو يقول وأغمه بجوع الحسن والحسين

ولم يزل صلى الله عليه وسلم يمشى حتى خرج من سكك المدينة واذا هو باعرابى على بئر يستسقى الماءمنها فوقف صلى الله عليه وسلم عليه وهو لايعرف انه النبى صلى الله عليه وسلم

فقال له : يا اعرابى هل لك فى جير تستأجره قال نعم نستأجره فيماذا قال يستقى من هذا البئر فدفع الاعرابى له الدلو فاستقى له دلوا فدفع له ثلاث تمرات فاكلها صلى الله عليه وسلم ثم استقى له ثمانية أدلية فلما استقاء التسعة انقطع الرشا فوقع الدلو فى البئر فوقع سيدنا النبى صلى الله عليه وسلم متحيرا فجاء الاعرابى غضبان ولطم وجه سيدنا النبى صلى الله عليه وسلم ودفع له أربعة وعشرون تمرة

فاخذها منه ثم تناول الدلو من البئر بيده الشريفة ورماه للأعرابى وانطلق من عنده فتفكر الاعرابى ساعة

ثم قال ان هذا نبى حقا ثم أخذ مديه وقطع بها يمينه التى لطم بها سيدنا النبى صلى الله عليه وسلم فوقع مغشيا عليه فمر عليه ركب فرشوا عليه الماء حتى أفاق فقالوا ما أصابك فقال لطمت وجه إنسان ثم ظننت أنه محمد وأخاف أن تصيبنى العقوبة

فقطعت يدى التى لطمته بها ثم أخذ يده المقطوعه بيساره وأقبل الى المسجد ونادى ياأصحاب محمد أيم محمد وكان أبو بكر وعمر وعثمان قعودا فيه فقالوا له ماذا تسأل على محمد فقال لى إليه حاجةفجاء سليمان وأخذ بيد الاعرابى وأنطلق الى بيت فاطمة وكان النبى صلى الله عليه وسلم لما أخذ التمر جاء به الى بيتها وأجلس الحسن على فخذه الايمن والحسن على فخذه الايسر وصار يلقمهما من التمر الذى معه

فنادى الاعرابى يا محمد فقال لفاطمة انظرى من فى الباب فخرجت فوجدت الاعرابى ويده تقطر دما فرجعت اليه وأخبرته بما رأت فقام النبى صلى الله عليه وسلم

فلما رآه قال يامحمد أعذرنى فانى لا أعرفك فقال له لم قطعت يدك قال لم يكن لى أن أبقى على يد لطمت بها وجهك فقال له النبى أسلم تسلم فقال يامحمد ان كنت نبيا فأصلح يدى فأخذها النبى ووضعها فى مكانها وألصقها ومسحها بيده وتفل عليها وسمى فالتأمت بإذن الله تعالى فأسلم الاعرابى

Wallahu a’lam

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى اله واصحابه واهل بيته اجمعين

MENGAMBIL PELAJARAN DARI SUJUDNYA MALAIKAT KEPADA NABI ADAM AS.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menempatkan Adam dan anak keturunannya dalam kedudukan yang mulia, lebih mulia dari para makhluk-Nya yang lain. Salah satu bukti yang menunjukkan hal tersebut adalah setelah Allah menciptakan Adam, Allah perintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam ‘alaihi shalatu wa salam.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)

Peristiwa sujudnya para malaikat kepada Adam terkadang menimbulkan polemik di sebagian umat Islam atau memang isu ini sengaja dilemparkan ke tengah-tengah umat Islam untuk menebar kerancuan dengan mempertanyakan “Mengapa Allah meridhai makhluk-Nya sujud kepada selain-Nya? Bukankah ini sama saja melegitimasi kesyirikan? Dan Iblis adalah hamba Allah yang benar-benar mentauhidkannya karena menolak untuk sujud kepada Adam”. Kurang lebih demikian kalimat rancu yang sering dibesar-besarkan oleh sebagian kalangan.

Yang perlu kita ketahui adalah para ulama membagi sujud ke dalam dua bagian; pertama, sujud ibadah dan yang kedua sujud (tahiyah) penghormatan.

Sujud ibadah hanya boleh dipersembahkan kepada Allah semata tidak boleh kepada selain-Nya. Allah tidak pernah memerintahkan satu pun dari makhluk-Nya untuk bersujud kepada selain-Nya dalam rangka untuk beribadah kepada makhluk tersebut. Para malaikat Allah perintahkan sujud kepada Adam bukan dalam rangka sujud ibadah tetapi sujud penghormatan.

Sujud penghormatan merupakan bagian dari syariat umat-umat terdahulu, kemudian amalan ini diharamkan dengan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara contoh sujud penghormatan adalah sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam ‘alaihissalam. Demikian juga mimpi Nabi Yusuf yang ia ceritakan kepada Ayahnya Nabi Ya’qub lalu mimpi itu menjadi kenyataan. Di dalam surat Yusuf dikisahkan,

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (QS. Yusuf: 4)

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ

Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf, “Wahai ayahku inilah ta´bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan…” (QS. Yusuf: 100)

Inilah di antara contoh-contoh sujud penghormatan yang merupakan bagian dari syariat umat terdahulu.

Pengalaman serupa juga pernah terjadi kepada Muadz bin Jabal tatkala melihat ahlul kitab di Syam. Tatkala pulang dari Syam, Muadz sujud di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

مَا هَذَا يَا مُعَاذُ قَالَ أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَقْتُهُمْ يَسْجُدُونَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ نَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا تَفْعَلُوا فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Apa-apaan ini, wahai Mu’adz?” Muadz menjawab, “Aku baru datang dari Syam. Yang kulakukan ini serupa dengan mereka, (orang-orang di sana) mereja sujud untuk uskup dan pendeta-pendeta mereka. Aku pun berkeinginan melakukannya kepadamu.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jangan kau lakukan. Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk bersujud, maka akan kuperintahkan istri untuk bersujud kepada suaminya.” (HR Ibnu Majah, No. 1853).

Apa yang dilakukan penduduk Syam adalah contoh dari syariat terdahulu yang masih mereka amalkan, mereka sujud kepada pemuka-pemuka agama dan tokoh-tokoh mereka sebagai penghormatan untuk para pembesar tersebut, bukan untuk menyembah mereka.

Di antara contoh lainnya juga, ada seekor hewan melata yang sujud kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau melarangnya karena sujud kepada makhluk, baik itu sujud penghormatan terlebih lagi sujud untuk ibadah, haram hukumnya dalam syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam timbangan syariat Muhammad (baca: syariat Islam) sujud penghormatan sama saja dengan sujud ibadah, haram hukumnya apabila dipersembahkan kepada selain Allah.

Pelajaran lainnya yang dapat kita petik dari peristiwa sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam ‘alaihissalam adalah, iblis termasuk dari bangsa jin bukan dari golongan malaikat sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang.

Malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan bangsa jin termasuk iblis, Allah ciptakan dari api. Allah berfirman,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya…” (QS. Al-Kahfi: 50)

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Saya lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al-A’raf: 12)

Dengan demikian iblis bukanlah dari golongan malaikat, saat itu ia hanya bersama dengan para malaikat Allah yang taat. Ada yang menyatakan, dahulu iblis adalah bangsa jin yang taat kepada Allah. Inilah alasannya ia dimuliakan dengan dikumpulkan bersama para malaikat walaupun ia bukan malaikat. Namun akhirnya sifat sombongnya terlihat di hadapan para malaikat, tatkala Allah mengujinya dengan memerintahkan untuk sujud kepada Adam.

KISAH LELAKI PECINTA MALAIKAT PENURUN HUJAN DAN NABI MUHAMMAD SAW.

Bulan November 2019 menjadi pembuka musim hujan pada beberapa kota di Indonesia. Hujan menjadi fenomena yang paling dirindukan oleh para petani padi, sebab padi membutuhkan asupan air yang berlimpah agar dapat tumbuh dengan bahagia. Di kota Banyuwangi, hingga diadakan salat istisqo’ dengan harapan Pemilik Semesta berkenan untuk memerintahkan malaikat Mikail menjalankan tugasnya di kota Banyuwangi.

Bagi pedamba hujan dan rizki, malaikat Mikail adalah malaikat yang paling dinanti sapanya, sebab tugasnya adalah menurunkan hujan dan membagi rezeki. Terkait dengan hujan dan Mikail, di dalam kitab Marah Labid Tafsir an-awawi atau Tafsir al-Munir karya Syekh Nawawi al-Bantani terdapat kisah seorang lelaki yang sangat mencintai malaikat Mikail, tetapi sangat membenci malaikat Jibril. Lelaki tersebut bernama Abdullah bin Shuriya. Berikut kisah lengkapnya.

Ketika Nabi Muhammad telah sampai di kota Madinah, seorang lelaki yang bernama Abdullah bin Shuriya mendatangi Nabi Muhammad dan bertanya, “Wahai Muhammad, ceritakan padaku bagaimana cara tidurmu sebagai seorang rasul di akhir zaman?”

Nabi Muhammad dengan sifat Fathonah-nya memberikan jawaban, “Ketahuilah, dua mataku memang tidur, tetapi tidak dengan hatiku!”

Abdullah bin Suriya mengomentari jawaban Nabi dengan ucapan, “Tepat sekali jawabanmu, wahai Muhammad. Selanjutnya, jelaskan padaku tentang warisan genetik seorang anak yang didapat dari ayah dan ibunya!”

Nabi Muhammad lagi-lagi berhasil menjawab pertanyaan (yang seharusnya diajukan pada seorang dokter atau ahli medis. Hal ini menunjukkan bahwa cakupan ilmu nabi Muhammad sangat luas) dengan jawaban cerdas:

“Tulang, urat syaraf, dan otot merupakan warisan genetik dari pihak laki-laki (ayah), sedangkan daging, darah, kuku, dan rambut adalah warisan genetik dari pihak perempuan (ibu).”

Abdullah bin Suriya dibuat tak berdaya dengan jawaban Nabi Muhammad, tetapi Abdullah tetap ingin memojokkan Nabi Muhammad, “Jawaban yang tepat sekali Muhammad. Selanjutnya, bagaimana pendapatmu tentang seorang lelaki yang lebih menyerupai paman (dari pihak ayah) daripada paman (dari pihak ibu) dan sebaliknya?”

Dengan tenang, Nabi Muhammad menjawab pertanyaan tersebut, “Sperma yang lebih dominan akan membuatnya serupa dengannya. Jika sperma ayah yang lebih dominan, maka lelaki tersebut akan lebih mirip dengan paman (dari pihak ayah). Begitu pula sebaliknya.”

Abdullah bin Suriya masih belum menyerah menguji kerasulan Nabi Muhammad, “Jelaskan padaku tentang makanan yang diharamkan oleh bani Israil untuk dirinya sendiri dan di dalam Taurat juga disebutkan seorang nabi akhir zaman yang menjelaskan hal tersebut.”

Nabi Muhammad untuk yang kesekian kalinya berhasil menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat rinci:

“Maha Besar Allah yang telah menurunkan Taurat kepada nabi Musa. Tidakkah engkau tahu bahwa bani israil menderita sakit yang sangat parah dalam kurun waktu yang cukup lama. Kemudian mereka bernadzar kepada Allah jika mereka diberikan kesembuhan, maka mereka akan melarang diri mereka sendiri untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang paling mereka sukai. Makanan dan minuman tersebut adalah daging unta dan susunya.”

Mendengar jawaban Nabi Muhammad dengan tingkat akurasi bertriliun persen, membuat Abdullah bin Suriya mengeluarkan jurus pamungkasnya, “Semua jawabanmu tepat sekali, Muhammad. Pertanyaan terakhir dariku dan jika kau berhasil menjawabnya, maka aku akan beriman kepadamu. Siapa malaikat yang menemuimu untuk menyampaikan wahyu dari Allah?”

Nabi Muhammad menjawab dengan mantap, “Jibril.”

Abdullah bin Suriyah mengelak dengan jawaban, “Ketahuilah, Jibril bagiku adalah musuh, sebab Ia turun dengan membawa peperangan dan kesusahan. Berbeda dengan Mikail. Ia datang dengan membawa kabar gembira dan kebahagiaan (rezeki dan hujan). Andai yang menemuimu untuk menyampaikan wahyu dari Allah adalah Mikail, maka Aku akan beriman kepadamu, Muhammad.”

Dari kisah tersebut kemudian Allah menurunkan surat al-Baqarah ayat 97-98.
Wallahu a’lam.

INILAH SEJARAH HIJRAHNYA PARA UTUSAN ALLOH SWT.

Selama ini, peristiwa hijrah sangant identik dengan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saja. Padahal, ketika kita membaca Alquran, tentu kita dapati bahwa para nabi dan rasul selain Nabi Muhammad pun mengalami babak baru dalam dakwah mereka dalam bentuk hijrah. Namun mungkin kita kurang menyadari bahwa itulah hijrah mereka, fase baru dakwahnya para utusan Allah.

Meskipun banyak nabi dan rasul yang mengalami hijrah, hijrah mereka berbeda dengan hijrahnya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara rasulullah yang mengalami peristiwa hijrah adalah:

Pertama: Nabi Ibrahim shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengenai hijrahnya Nabi Ibrahim, terdapat dua pendapat, kota mana yang menjadi tujuan Nabi Ibrahim setelah pergi dari negerinya Irak. (1) Ada yang mengatakan bahwa beliau hijrah ke Mekah dan (2) yang lainnya mengatakan bahwa beliau berpindah ke Syam, ke tanah Jerusalem, Palestina. Dan tidak diragukan lagi, Nabi Ibrahim memang memasuki kedua kota tersebut. Namun kota mana yang terlebih dahulu dikunjungi? Allahu a’lam.

Setidaknya ada tiga ayat yang menerangkan tentang hijrahnya Nabi Ibrahim ‘alaihi ash-shalatu wa as-salam.

فَآَمَنَ لَهُ لُوطٌ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَى رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Maka Luth membenarkan (kenabian)nya. Dan berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku); sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Ankabut: 26).

Ayat lainnya,

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ

Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. (QS. Ash-Shaffat: 99).

Dan firman Allah,

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَىٰ أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا

“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”. (QS. Maryam: 48).

Beliau menjauhkan diri dari peribadatan yang mereka lakukan dan juga menjauhkan diri dari tempat tersebut.

Kedua: Rasulullah Musa shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Peristiwa hijrahnya Nabi Musa berbeda dengan hijrahnya Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad. Ketika hijrah, Nabi Musa belum diangkat sebagai rasul. Adapun Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad telah diangkat sebagai rasul saat keduanya berhijrah.

Peristiwa hijrahnya Nabi Musa terjadi pada saat beliau membunuh seorang laki-laki Qibthi.

وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَىٰ قَالَ يَا مُوسَىٰ إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ

“Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: ‘Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu’.” (QS. Al-Qashash: 20).

Nabi Musa pun pergi menuju Madyan. Selama tinggal 10 tahun di Madyan, Nabi Musa menikahi seorang wanita putri dari laki-laki sepuh di wilayah tersebut.

Perbedaan lainnya antara hijrah Nabi Muhammad dan Nabi Musa adalah latar belakang hijrah. Jika hijrahnya Nabi Muhammad adalah karena orang-orang Mekah telah menutup rapat diri mereka dari hidayah Islam, sementara di Madinah eksistensi dakwah secara meluas dan tegaknya negeri Islam sangat mungkin digapai. Adapun Nabi Musa untuk menghindari kebengisan Firaun.

فَفَرَرْتُ مِنْكُمْ لَمَّا خِفْتُكُمْ فَوَهَبَ لِي رَبِّي حُكْمًا وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُرْسَلِينَ

“Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul.” (QS. AS-Syuara: 21).

Dan masih banyak nabi dan rasul lainnya yang mengalami hijrah, seperti Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf, dll. Kesimpulannya, hijrah para nabi berbeda dengan hijrahnya Nabi Muhammad. Hijrah beliau memiliki kedudukan yang begitu mulia dan juga sangat berat dalam praktiknya. Hijrah beliau tidak dilator-belakangi lari dari siksa atau adzab kaumnya.

TIDAK BENAR KALAU NABI NUH AS. TIDAK SABAR TERHADAP KAUMNYA

Sebagian orang ada yang menuduh Rasulullah Nuh ‘alaihissalam bukanlah seorang Rasul yang sabar menghadapi kaumnya, padahal Allah sendiri menggelarinya ulul azmi di antara para rasul. Alasan orang-orang yang menuduh Nabi Nuh tidak sabar karena Nabi Nuh memintakan adzab kepada Allah untuk kaumnya.

Mari pahami alur kisahnya, mengapa Nabi Nuh mengucapkan demikian, sehingga kita tidak berburuk sangka kepada utusan Allah yang mulia.

Kaum Nuh AS adalah kaum yang ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak hanya melakukan kekufuran, mereka juga senantiasa menantang Nabi Nuh untuk mendatangkan adzab sebagai bukti kebenaran dakwahnya itu. Mereka mengatakan,

يَا نُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Hud: 32)

Namun Nabi Nuh tetap bersabar dan tidak membalas perkataan mereka dengan meng-iya-kannya atau meanggapinya dengan ancaman, beliau hanya mengatakan bahwa keputusan adzab bukanlah kehendaknya, melainkan hanya kehendak Allah semata.

قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ إِنْ شَاءَ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ

Nuh menjawab, “Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri”. (QS. Hud: 33)

Nabi Nuh yang telah berdakwah selama 950 tahun, tidak hanya di siang hari namun juga di malam hari beliau tidak berhenti menyeru kaumnya. Selama masa yang panjang itu pula beliau bersabar atas gangguan fisik maupun psikis yang ia terima.

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا

Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam, namun seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). (QS. Nuh: 6-7)

Tidak hanya menolak seruan Nabi Nuh, mereka pun mengejeknya dengan menutupi telinga-telinga mereka.

وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا

“Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.” (QS. Nuh: 8)

Allah Ta’ala pun menanggapi kaum Nuh yang sangat melampaui batas ini dengan berfirman, mengabarkan kepada Rasulullah Nuh ‘alaihi ash-shalatu wa as-salam bahwa tidak ada lagi kaumnya yang akan beriman kepadanya.

وَأُوحِيَ إِلَىٰ نُوحٍ أَنَّهُ لَنْ يُؤْمِنَ مِنْ قَوْمِكَ إِلَّا مَنْ قَدْ آمَنَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Hud: 36)

Artinya, tidak akan ada lagi yang akan beriman kepada seruanmu setelah 9 orang yang telah mengikutimu.

Mendengar firman Allah ini, Nuh AS sadar Allah akan segera menurunkan adzab-Nya kepada kaumnya.

وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا. إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا

“(Jika demikian) Rabb-ku, maka jangan engkau sisakan seorang pun orang kafir di atas bumi ini. Jika Engkau membiarkan mereka, pastilah mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu (yang lain), dan mereka pun akan melahirkan keturunan yang senantiasa berbuat dosa dan kekufuran.” (QS. Nuh: 26-27)

Demikianlah syariat terdahulu, ketika sebuah kaum melakukan dosa dan melampaui batas, maka Allah akan menurunkan adzab-Nya langsung di dunia dengan membinasakan mereka. Lihatlah kaum ‘Add umat Nabi Hud, ketika mereka ingkar dan terus-menerus menyomobongkan diri, Allah binasakan mereka dengan angin topan. Umat Nabi Luth, Allah buat mereka binasa dengan menghujani batu api dari langit kemudian membalikkan bumi yang mereka pijak.  Bangsa Madyan, umat Nabi Syuaib Allah hancurkan mereka dengan suara guntur yang menggelgar sehingga mereka tewas seketika seolah-olah tidak pernah ada orang yang tinggal di daerah itu sebelumnya. Firaun, Qarun, dll. Allah segerakan adzab mereka di dunia dan nanti adzab yang lebih besar di akhirat.

Berbeda dengan umat Nabi Muhammad yang Allah utamakan atas umat lainnya, Allah tunda adzab-Nya di akhirat kelak, dan memperpanjang masa bagi umat Muhammad agar berpikir dan bertaubat. Semua itu Allah lakukan dengan hikmah dan ilmu-Nya, dan hendaknya kita bersyukur atas hal ini.

Dan akhirnya adzab yang mereka nanti-nantikan itu datang, langit menurunkan air yang sangat deras dan bumi pun mengeluarkan air yang melimpah. Bumi pun menjadi lautan yang sangat besar, yang ombaknya saja setinggi gunung.

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ

“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung.” (QS. Hud: 42)

Demikianlah Allah menetapkan takdir untuk kaum Nabi Nuh.

WALLOHU ALAM

KISAH HIKMAH MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SAW.

Disebutkan dalam kitab Targhibul Musytaqin halaman 4 :

وَقَالَ عَبْدُاللهِ بْنُ عِيْسَى الْأَنْصَارِيُ كَانَتْ بِجِوَارِيْ اِمْرَأَةٌ صَالِحَةٌ وَلَهَا وَلَدٌ صَالِحٌ فَكَانَتْ فَقِيْرَةً لَاشَيْئَ لَهَا إِلَّا دِيْنَارٌ وَاحِدٌ مِنْ ثَمَنِ غَزْلِهَا فَمَاتَتْ وَكَانَ ذَلِكَ الْوَلَدُ يَقُوْلُ: هَذَا مِنْ ثَمَنِ غَزْلِ أُمِيْ وَاللهِ لَا أَصْرِفُهُ إِلَا فِيْ أَمْرِ الْآخِرَةِ

Syaikh Abdullah bin ‘Isa al-Anshari berkata : Adalah tetanggaku seorang wanita yang sholehah. Dia mempunyai seorang anak lelaki yang sholeh. Wanita yang sholehah ini tidak mempunyai harta selain satu dinar hasil kerja tenunnya. Tatkala wanita tersebut meninggal dunia, anaknya yang sholeh tersebut berkata kepada dirinya : “Uang satu dinar ini adalah hasil kerja ibuku. Demi Allah, aku tidak akan membelanjakannya kecuali untuk perkara akhirat.”

وَخَرَجَ ذَاتَ يَوْمٍ فِيْ حَاجَةٍ لَهُ فَمَرَ بِقَوْمٍ يَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ وَعَمِلُوْا مَوْلِدَ النَّبِيِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ فِيْ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ فَجَلَسَ عِنْدَهُمْ وَسَمِعَ ذَلِكَ

Pada suatu hari, pemuda anak perempuan sholehah tersebut keluar karena suatu keperluan, dia melewati satu perkumpulan orang sedang membaca al-Quran dan mengadakan Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pada bulan Rabi`ul Awwal. Lalu dia pun duduk bersama mereka dan mendengarkan Maulid tersebut.

ثُمَّ نَامَ فِيْ لَيْلَتِهِ فَرَأَى فِيْ مَنَامِهِ كَأَنَّ الْقِيَامَةَ قَدْ قَامَتْ وَكَأَنَّ مُنَادِيًا يُنَادِيْ: أَيْ فُلَانُ ‌بْنَ فُلَانٍ يَذْكُرُ جَمَاعَةً فَسَاقَهُمْ إِلَى الْجَنَةِ وَذَلِكَ الشَّابُّ مَعَهُمْ وَقَالَ الْمُنَادِيْ: إِنَّ اللهَ جَعَلَ لِكُلٍّ مِنْكُمْ قَصْرًا فِي‌ الْجَنَّةِ فَدَخَلَ ذَلِكَ الشَّابُّ قَصْرًا لَمْ ‌يَرَ أَحْسَنَ منه وَالْحُوْرُ الْعِيْنُ فِيْهِ كَثِيْرَةٌ وَعَلَى أَبْوَابِهِ خُدَّامٌ وَبَاقِي الْقُصُوْرِ أَلْطَفُ مِنَ الْقَصْرِ الَّذِيْ دَخَلَ فِيْهِ فَأَرَادَ الدُّخُوْلَ فِيْهِ فَلَمَّا هَمَّ بِالدُّخُوْلِ قَالَ لَهُ الْخَادِمُ : لَيْسَ هَذَا لَكَ وَإِنَّمَا هُوَ لِمَنْ عَمِلَ مَوْلِدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ

Pada malamnya, pemuda tersebut bermimpi seolah-olah kiamat telah tiba dan seorang penyeru menyeru: “Di manakah si fulan anak si fulan”, disebutnya nama-nama orang yang dalam satu rombongan lalu digiringlah mereka ke surga. Dan pemuda tersebut ikut bersama mereka.

Si penyeru tadi berkata: “Sesungguhnya Allah telah memberi bagi setiap kamu sebuah istana didalam surga.” Dan masuklah si pemuda tadi ke dalam sebuah istana, tidak pernah dia melihat istana yang seumpamanya dari segi keindahannya, ia dipenuhi bidadari dan pada segala pintunya dijaga oleh khadam. Pemuda tersebut melihat bahwa ada istana lain yang lebih elok daripada istana yang ia masuki. Lalu dia pun berkehendak untuk memasukinya. Tatkala terbesit dihatinya untuk memasuki istana tersebut, berkatalah khadam kepadanya: “Ini bukanlah untukmu, sesungguhnya ini diperuntukkan bagi orang yang mengadakan Maulid Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.”

فَلَمَّا أَصْبَحَ ذَلِكَ الشَّابُّ صَرَفَ ذَلِكَ الدِّيْنَارَ عَلَى مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ فَرْحًا بِرُؤْيَاهُ وَجَمَعَ الْفُقَرَآءَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالَى وَيَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ وَمَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ وَقَصَّ‌ عَلَى الْجَمَاعَةِ رُؤْيَاهُ فَفَرِحُوْا بِذَلِكَ وَنَذَرَ أَنْ لَايَقْطَعَ مَوْلِدَ‌ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ مَادَامَ حَيًّا

Keesokan harinya, pemuda tersebut menggunakan satu dinar (peninggalan ibunya) tersebut untuk mengadakan Maulid Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam karena kegembiraannya dengan mimpinya itu. Diapun mengumpulkan para faqir miskin untuk berzikir kepada Allah, membaca al-Quran dan membaca Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dia juga menceritakan tentang mimpinya itu kepada mereka, dan mereka merasa gembira mendengar ceritanya itu. Pemuda tersebut bernazar untuk tidak akan meninggalkan mengadakan Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasalla selama hayatnya.

ثُمَّ نَامَ فَرَأَى أُمَّهُ فِي الْمَنَامِ فِيْ هَيْئَةٍ حَسَنَةٍ وَفِيْ حُلَلٍ مِنْ حُلَلِ الْجَنَّةِ وَلَهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ وَقَبَّلَ يَدَهَا وَهِيَ قَبَّلَتْ رَأْسَهُ وَقَالَتْ : جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا يَا وَلَدِيْ لَقَدْ أَتَانِيْ مَلَكٌ وَأَعْطَانِيْ هَذِهِ ‌الْحُلَلَ فَقَالَ لَهَا: مِنْ أَيْنَ لَكِ هَذِهِ الْكَرَامَةُ فَقَالَتْ: لِأَنَكَ قَدْ صَنَعْتَ بِالدِّيْنَارِ الَّذِيْ وَرِثْتَهُ مِنِّيْ مَوْلِدَ سَيِّدِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ وَهَذَا جَزَاءُ مَنْ عَظَّمَ نَبِيَّهُ وَعَمِلَ مَوْلِدَهُ

Kemudiannya, si pemuda tidur. Dalam tidurnya dia bermimpi bertemu dengan ibunya. Ibunya berada dalam keadaan yang amat baik, berhias dengan segala perhiasan syurga dan berwangian dengan bau surga. Pemuda tersebut mencium tangan ibunya dan ibunya mengecup kepalanya lalu berkata: “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, wahai anakku, malaikat telah datang kepadaku membawa segala perhiasan ini.” Si pemuda bertanya kepada ibunya: “Dari manakah ibu memperoleh kemuliaan ini?” Sang ibu menjawab: “Karena engkau telah mempergunakan satu dinar yang engkau warisi dariku untuk mengadakan Maulid Junjungan orang-orang terdahulu dan orang-orang yang kemudian, dan inilah balasan bagi orang yang mengagungkan Nabinya dan mengadakan Maulid Baginda Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam”.