KISAH HIKMAH MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SAW.

Disebutkan dalam kitab Targhibul Musytaqin halaman 4 :

وَقَالَ عَبْدُاللهِ بْنُ عِيْسَى الْأَنْصَارِيُ كَانَتْ بِجِوَارِيْ اِمْرَأَةٌ صَالِحَةٌ وَلَهَا وَلَدٌ صَالِحٌ فَكَانَتْ فَقِيْرَةً لَاشَيْئَ لَهَا إِلَّا دِيْنَارٌ وَاحِدٌ مِنْ ثَمَنِ غَزْلِهَا فَمَاتَتْ وَكَانَ ذَلِكَ الْوَلَدُ يَقُوْلُ: هَذَا مِنْ ثَمَنِ غَزْلِ أُمِيْ وَاللهِ لَا أَصْرِفُهُ إِلَا فِيْ أَمْرِ الْآخِرَةِ

Syaikh Abdullah bin ‘Isa al-Anshari berkata : Adalah tetanggaku seorang wanita yang sholehah. Dia mempunyai seorang anak lelaki yang sholeh. Wanita yang sholehah ini tidak mempunyai harta selain satu dinar hasil kerja tenunnya. Tatkala wanita tersebut meninggal dunia, anaknya yang sholeh tersebut berkata kepada dirinya : “Uang satu dinar ini adalah hasil kerja ibuku. Demi Allah, aku tidak akan membelanjakannya kecuali untuk perkara akhirat.”

وَخَرَجَ ذَاتَ يَوْمٍ فِيْ حَاجَةٍ لَهُ فَمَرَ بِقَوْمٍ يَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ وَعَمِلُوْا مَوْلِدَ النَّبِيِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ فِيْ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ فَجَلَسَ عِنْدَهُمْ وَسَمِعَ ذَلِكَ

Pada suatu hari, pemuda anak perempuan sholehah tersebut keluar karena suatu keperluan, dia melewati satu perkumpulan orang sedang membaca al-Quran dan mengadakan Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pada bulan Rabi`ul Awwal. Lalu dia pun duduk bersama mereka dan mendengarkan Maulid tersebut.

ثُمَّ نَامَ فِيْ لَيْلَتِهِ فَرَأَى فِيْ مَنَامِهِ كَأَنَّ الْقِيَامَةَ قَدْ قَامَتْ وَكَأَنَّ مُنَادِيًا يُنَادِيْ: أَيْ فُلَانُ ‌بْنَ فُلَانٍ يَذْكُرُ جَمَاعَةً فَسَاقَهُمْ إِلَى الْجَنَةِ وَذَلِكَ الشَّابُّ مَعَهُمْ وَقَالَ الْمُنَادِيْ: إِنَّ اللهَ جَعَلَ لِكُلٍّ مِنْكُمْ قَصْرًا فِي‌ الْجَنَّةِ فَدَخَلَ ذَلِكَ الشَّابُّ قَصْرًا لَمْ ‌يَرَ أَحْسَنَ منه وَالْحُوْرُ الْعِيْنُ فِيْهِ كَثِيْرَةٌ وَعَلَى أَبْوَابِهِ خُدَّامٌ وَبَاقِي الْقُصُوْرِ أَلْطَفُ مِنَ الْقَصْرِ الَّذِيْ دَخَلَ فِيْهِ فَأَرَادَ الدُّخُوْلَ فِيْهِ فَلَمَّا هَمَّ بِالدُّخُوْلِ قَالَ لَهُ الْخَادِمُ : لَيْسَ هَذَا لَكَ وَإِنَّمَا هُوَ لِمَنْ عَمِلَ مَوْلِدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ

Pada malamnya, pemuda tersebut bermimpi seolah-olah kiamat telah tiba dan seorang penyeru menyeru: “Di manakah si fulan anak si fulan”, disebutnya nama-nama orang yang dalam satu rombongan lalu digiringlah mereka ke surga. Dan pemuda tersebut ikut bersama mereka.

Si penyeru tadi berkata: “Sesungguhnya Allah telah memberi bagi setiap kamu sebuah istana didalam surga.” Dan masuklah si pemuda tadi ke dalam sebuah istana, tidak pernah dia melihat istana yang seumpamanya dari segi keindahannya, ia dipenuhi bidadari dan pada segala pintunya dijaga oleh khadam. Pemuda tersebut melihat bahwa ada istana lain yang lebih elok daripada istana yang ia masuki. Lalu dia pun berkehendak untuk memasukinya. Tatkala terbesit dihatinya untuk memasuki istana tersebut, berkatalah khadam kepadanya: “Ini bukanlah untukmu, sesungguhnya ini diperuntukkan bagi orang yang mengadakan Maulid Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.”

فَلَمَّا أَصْبَحَ ذَلِكَ الشَّابُّ صَرَفَ ذَلِكَ الدِّيْنَارَ عَلَى مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ فَرْحًا بِرُؤْيَاهُ وَجَمَعَ الْفُقَرَآءَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالَى وَيَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ وَمَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ وَقَصَّ‌ عَلَى الْجَمَاعَةِ رُؤْيَاهُ فَفَرِحُوْا بِذَلِكَ وَنَذَرَ أَنْ لَايَقْطَعَ مَوْلِدَ‌ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ مَادَامَ حَيًّا

Keesokan harinya, pemuda tersebut menggunakan satu dinar (peninggalan ibunya) tersebut untuk mengadakan Maulid Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam karena kegembiraannya dengan mimpinya itu. Diapun mengumpulkan para faqir miskin untuk berzikir kepada Allah, membaca al-Quran dan membaca Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dia juga menceritakan tentang mimpinya itu kepada mereka, dan mereka merasa gembira mendengar ceritanya itu. Pemuda tersebut bernazar untuk tidak akan meninggalkan mengadakan Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasalla selama hayatnya.

ثُمَّ نَامَ فَرَأَى أُمَّهُ فِي الْمَنَامِ فِيْ هَيْئَةٍ حَسَنَةٍ وَفِيْ حُلَلٍ مِنْ حُلَلِ الْجَنَّةِ وَلَهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ وَقَبَّلَ يَدَهَا وَهِيَ قَبَّلَتْ رَأْسَهُ وَقَالَتْ : جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا يَا وَلَدِيْ لَقَدْ أَتَانِيْ مَلَكٌ وَأَعْطَانِيْ هَذِهِ ‌الْحُلَلَ فَقَالَ لَهَا: مِنْ أَيْنَ لَكِ هَذِهِ الْكَرَامَةُ فَقَالَتْ: لِأَنَكَ قَدْ صَنَعْتَ بِالدِّيْنَارِ الَّذِيْ وَرِثْتَهُ مِنِّيْ مَوْلِدَ سَيِّدِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ وَهَذَا جَزَاءُ مَنْ عَظَّمَ نَبِيَّهُ وَعَمِلَ مَوْلِدَهُ

Kemudiannya, si pemuda tidur. Dalam tidurnya dia bermimpi bertemu dengan ibunya. Ibunya berada dalam keadaan yang amat baik, berhias dengan segala perhiasan syurga dan berwangian dengan bau surga. Pemuda tersebut mencium tangan ibunya dan ibunya mengecup kepalanya lalu berkata: “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, wahai anakku, malaikat telah datang kepadaku membawa segala perhiasan ini.” Si pemuda bertanya kepada ibunya: “Dari manakah ibu memperoleh kemuliaan ini?” Sang ibu menjawab: “Karena engkau telah mempergunakan satu dinar yang engkau warisi dariku untuk mengadakan Maulid Junjungan orang-orang terdahulu dan orang-orang yang kemudian, dan inilah balasan bagi orang yang mengagungkan Nabinya dan mengadakan Maulid Baginda Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam”.

SEJARAH PENTING PARA NABI AS. DI HARI ASYURO 10 MUHARROM

Beberapa Peristiwa Penting Para Nabi pada 10 Muharram

Masa kebangkitan, keemasan, dan kehancuran suatu umat terjadi silih berganti, dari satu generasi ke generasi yang lain, dari suatu abad ke abad yang lainnya. Peristiwa-peristiwa itu terus bergulir dengan pasti, sesuai dengan sunnatullah. Semua peristiwa tersebut merupakan pelajaran yang amat berharga bagi kita dan bagi generasi yang akan datang, untuk memilih mana yang baik yang harus diikuti dan mana yang buruk yang harus dihindari.

Hari sepuluh Muharram atau hari Asyura merupakan hari bersejarah. Menurut beberapa riwayat disebutkan, banyak peristiwa penting terjadi di hari itu pada masa yang lalu, di antaranya disebutkan sebagai berikut:

(1) Nabi Adam ‘alaihissalam bertobat kepada Allah dari dosa-dosanya dan tobat tersebut diterima oleh-Nya.

 (2) Berlabuhnya kapal Nabi Nuh di bukit Zuhdi dengan selamat, setelah dunia dilanda banjir yang menghanyutkan dan membinasakan.

(3) Selamatnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dari siksa Namrud, berupa api yang membakar.

(4) Nabi Yusuf ‘alaihissalam dibebaskan dari penjara Mesir karena terkena fitnah.

(5) Nabi Yunus ‘alaihissalam selamat, keluar dari perut ikan hiu.

(6) Nabi Ayyub ‘alaihissalam disembuhkan Allah dari penyakitnya yang menjijikkan.

(7) Nabi Musa ‘alaihissalam dan umatnya kaum Bani Israil selamat dari pengejaran Fir’aun di Laut Merah. Beliau dan umatnya yang berjumlah sekitar lima ratus ribu orang selamat memasuki gurun Sinai untuk kembali ke tanah leluhur mereka.

Banyak lagi peristiwa lain yang terjadi pada hari sepuluh Muharram itu, yang menunjukkan sebagai hari yang bersejarah, yang penuh kenangan dan pelajaran yang berharga.

Sayyidah Aisyah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam menyatakan bahwa hari Asyura adalah hari orang-orang Quraisy berpuasa di masa Jahiliyah, Rasulullah juga ikut mengerjakannya. Setelah Nabi berhijrah ke Madinah beliau terus mengerjakan puasa itu dan memerintahkan para sahabat agar berpuasa juga. Setelah diwajibkan puasa dalam bulan Ramadhan, Nabi s.a.w. menetapkan:

مَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكَهُ فَلْيَتْرُكْهُ

“Barangsiapa yang menghendaki berpuasa Asyura puasalah dan siapa yang tidak suka boleh meninggalkannya.” (HR. Bukhari, No: 1489; Muslim, No: 1987)

Ibnu Abbas seorang sahabat, saudara sepupu Nabi yang dikenal sangat ahli dalam tafsir al-Qur’an meriwayatkan bahwa saat Nabi berhijrah ke Madinah, beliau menjumpai orang-orang Yahudi di sana mengerjakan puasa Asyura. Nabi pum bertanya tentang alasan mereka berpuasa. Mereka menjawab:

هُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Allah telah melepaskan Musa dan Umatnya pada hari itu dari (musuhnya) Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Musa berpuasa pada hari itu, dalam rangka bersyukur kepada Allah”. Nabi bersabda : “Aku lebih berhak terhadap Musa dari mereka.” Maka Nabi pun berpuasa pada hari itu dan menyuruh para sahabatnya agar berpuasa juga.” (HR. Bukhari; No: 1865  & Muslim, No: 1910)

Abu Musa al-Asy’ari mengatakan:

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَتَتَّخِذُهُ عِيدًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوهُ أَنْتُمْ

“Hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan dijadikan oleh mereka sebagai hari raya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Berpuasalah kamu sekalian pada hari itu.” (H.R. Bukhari, No: 1866; Muslim, No: 1912)

Dari uraian di atas nyatalah bagi kita, bahwa hari Asyura merupakan hari bersejarah yang diagungkan dari masa ke masa. Kita hendaknya menyambut hari itu dengan banyak mengambil pelajaran yang bermanfaat dari sejarah masa lalu. Kita menyambutnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah, agar senantiasa berada dalam bimbingannya, yaitu dengan jalan:

Pertama, mengerjakan puasa sunnah pada hari Asyura atau tanggal 10 Muharram.

Keutamaan puasa pada hari ini diantaranya disebutkan dalam hadits Nabi:

سُئِلَ عَنْ صِياَمِ يَوْمِ عَاشُوْرآءَ؟ قَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari Asyura, beliau menjawab: “Puasa pada hari Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim, No: 1977)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah menjelaskan:

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ

“Sesungguhnya shalat yang terbaik setelah shalat fardhu adalah shalat tengah malam dan sebaik-baiknya puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah yang kamu menyebutnya bulan Muharram.” (HR. Nasa’i, No: 1614)

Kedua, mengerjakan puasa Tasu’a atau puasa sunnah hari kesembilan di bulan Muharram.

Mengenai puasa ini Ibnu Abbas meriwayatkan:

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه مسلم وأبو داود)

“Pada waktu Rasulullah dan para sahabatnya mengerjakan puasa Asyura, para sahabat menginformasikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bahwa hari Asyura diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Maka Nabi bersabda : “Tahun depan Insya Allah kami akan berpuasa juga pada hari kesembilan”. kata Ibnu Abbas, akan tetapi sebelum mencapai tahun depan Rasulullah s.a.w. wafat”. (H.R. Muslim, No: 1916, Abu Daud, No: 2089).

Dengan demikian, kita melakukan puasa Asyura dengan menambah satu hari sebelumnya yaitu hari Tasu’a, atau tanggal 9 di bulan Muharram. Kita disunnahkan berpuasa selama 2 hari, yaitu tanggal 9 dan 10 Muharram.

Ketiga, memperbanyak sedekah.

Dalam menyambut bulan Muharram diperintahkan agar memperbanyak pengeluran dari belanja kita sehari-hari untuk bersedekah, membantu anak-anak yatim, membantu keluarga, kaum kerabat, orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan. Semua itu hendaknya dilakukan dengan tidak memberatkan diri sendiri dan disertai keikhlasan semata-mata mengharap keridhaan Allah.

Mengenai hal ini Rasulullah bersabda:

مَنْ وَسَّعَ عَلى عِيَالِهِ وَ أَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ

“Siapa yang meluaskan pemberian untuk keluarganya atau ahlinya, Allah akan meluaskan rizki bagi orang itu dalam seluruh tahunnya.” (HR Baihaqi, No: 3795)

Dengan memperingati hari Asyura, kita dapat mengambil pelajaran dari perjuangan para Nabi dan Rasul terdahulu. Misi mereka pada dasarnya adalah sama menegakkan aqidah Islamiyah, meyakini ke-Esaan Allah subhanahu wata’ala yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Peristiwa masa lalu merupakan cermin bagi kita untuk berusaha memisahkan kebenaran dan kebathilan, memisahkan yang baik dan buruk, agar dapat meratakan jalan bagi kita untuk menjangkau masa depan. Semua peristiwa dan kejadian-kejadian yang ada dalam alam semesta ini merupakan pelajaran yang bermanfaat bagi orang-orang yang mempergunakan akalnya. Pergantian siang dan malam, pergantian musim dan pada segala sesuatu di alam ini terdapat tanda, bahwa sesungguhnya Allah itu adalah Maha Esa dan Maha Kuasa.

KISAH PERAHUNYA NABI NUH AS DI MASUKI IBLIS LAKNATULLOH

Tercatat dalam Tarikh Al-Khatib al-Baghdadi bahwa, Nuh adalah rasul ketiga yang diutus ke muka bumi setelah Adam dan Idris. Putra Lamik ini menjadi orang yang pertama diutus dengan syariatnya dan mengganti syariat Adam. Beliau memiliki umur yang cukup panjang, namun tidak banyak umat yang mengikutinya sebagaimana Kanjeng Nabi Muhammad.

Banyak sekali riwayat mengenai usia nabi Nuh. Kebanyakan meriwayatkan bahwa beliau berumur 950 tahun. Sebagian riwayat menyebutkan beliau diutus saat berumur 50 tahun, berdakwah di tengah kaumnya selama 950 tahun, dan hidup setelah mereka binasa selama 200 tahun. Total umur beliau adalah 1200 tahun. Bahkan, riwayat lain mengatakan usia beliau adalah 1450 tahun. Pendapat terakhir ini mengatakan bahwa Nuh lahir saat Adam masih hidup.

Perkara yang paling identik dengan Nabi Nuh adalah bahtera besar yang dibuatnya untuk menyelamatkan diri dan populasi makhluk atas adzab yang Allah turunkan. Kronologi awal adzab itu karena doa Nuh yang terus-menerus melihat kezaliman yang dilakukan umatnya.

 رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا

Artinya : “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. (QS. Nuh: 26)

Allah menjawab doa tersebut, namun sebelumnya Dia memerintahkan beliau membuat bahtera. Allah mengutus malaikat Jibril untuk mengajarkan proses pembuatan kapal. Terlebih dahulu Nuh harus menanam pohon untuk bahan atau kayu. Sekitar 20 tahun kemudian pohon bisa dipakai untuk papan kapal, ada yang mengatakan 40 tahun.

Abu Bakar, Ahmad bin Ali menyebutkan bahwa panjang safinah nuh adalah 80 hasta dan lebarnya 50 hasta. Ada yang mengatakan panjangnya 300 hasta. Riwayat lain menyebutkan panjangnya 600 hasta, lebar 60 hasta dan tinggi 30 hasta. Kapal ini terbuat dari kayu dalb (jenis kayu), ada yang mengatakan dari kayu saj (jati),  dan ada juga yang menyebutkan dari kayu syamsyad (jenis kayu).

Bahtera Nuh terdiri dari tiga lantai; lantai paling atas ditempati manusia, lantai tengah untuk spesies  burung, dan lantai bawah dihuni hewan buas, hewan melata dan hewan ternak. Namun, Wahab bin Munabbih berkata, “Tingkat atas ditempati manusia, tingkat tengah ditempati makanan dan barang-barang dan tingkat bawah untuk hewan-hewan.”

Karena kapasitas kapal yang terbatas, Nuh diperintah Allah agar menaikan para pengikutnya, sepasang dari semua jenis hewan, semua jenis tanaman, biji-bijian dan pepohonan. Nabi Nuh juga membawa jasad Nabi Adam sebagaimana wasiat ayah seluruh manusia ini kepada anak turunnya.

Nabi Nuh memasukkan hewan satu demi satu, hingga hewan terakhir, yakni khimar atau keledai. Saat itu, iblis masuk ke kapal Nuh dengan cara bergantungan di ekor hewan ini. Ketika nabi Nuh melihatnya, beliau berkata, “Hai Musuh Allah, siapa yang memperbolehkanmu masuk?”

“Saat kau berkata kepada khimar, masuklah meskipun setan bersamamu.”

“Keluarlah dari sini!”

“Tolong biarkanlah diriku, sesungguhnya aku telah ditangguhkan.”

Maka Nuh menyuruhnya duduk di sebuah ruangan.

Sebagian riwayat mengatakan, azab Allah mengirimkan azabnya, para setan juga terhempas oleh badai sampai berterbangan di antara langit dan bumi. Banyak sekali setan yang meninggal saat petaka itu berlangsung.

Demikian Imam Khatib Al-Baghdadi mencatat adanya iblis yang masuk ke bahtera Nuh. Adanya iblis yang yang naik ke bahtera Nuh juga terdapat dalam kitab Ihya Ulumiddin, karangan Imam Ghazali. Dalam riwayat ini Nabi Nuh menjumpai iblis dalam wujud orang tua yang tidak dikenalnya, dan memberi nasehat yang sangat berguna bagi manusia.

“Kenapa kamu masuk ke sini?” Tanya beliau.

“Aku akan merebut hati para pengikutmu, sehingga hati mereka bersamaku dan badannya bersamamu.”

“Keluarlah, hai musuh Allah, sesungguhnya kamu telah dilaknat.”

“Lima perkara yang akan merusak manusia, tiga di antaranya akan aku ceritakan kepadamu dan dua di antaranya tidak akan aku ceritakan.”

Setelah itu Allah memberi Wahyu kepada Nuh bahwa tiga perkara tidaklah dibutuhkan, yang dibutuhkannya adalah dua perkara yang disimpannya.

Nabi Nuh pun memaksa iblis menceritakan dua perkara tersebut.

Baca juga:  Adu Kecerdasan antara Al-Baqillani dengan Raja Romawi

“Apa dua perkara tadi?” Tanya nabi Nuh.

“Yakni dua perkara yang tidak akan kamu dustakan atau ingkari, yakni manusia akan rusak sebab sifat hirs (ingin) dan hasud. Sebab hasud, aku dilaknat dan dijadikan setan rajim (diusir) dan sebab hirs (ingin) aku bisa menarik hati Adam, sehingga dia memakan buah yang dilarang di surga. Padahal dia diperbolehkan makan apa pun kecuali buah pohon tersebut.”

NABI MUSA AS MENCARI BERBAGAI CARA DALAM BERSYUKUR

Dalam kitab al-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal mencatat sebuah riwayat tentang Nabi Musa ‘alaihissalam yang kebingungan bersyukur. Berikut riwayatnya:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا أبِي، أَخْبَرَنَا هَاشِمٌ، أَخْبَرَنَا صَالِحٌ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ، عَنْ أَبِي الْجَلْدِ قَالَ: قَالَ مُوسَى: إِلَهِي، كَيْفَ أَشْكُرُكَ وَأَصْغَرُ نِعْمَةٍ وَضَعْتَهَا عِنْدِي مِنْ نِعَمِكَ لَا يُجَازِي بِهَا عَمَلِي كُلُّهُ؟ قَالَ: فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ أَنْ يَا مُوسَى، الْآنَ شَكَرْتَنِي

Abdullah bercerita, Ayahku mengabarkan, Hasyim mengabarkan, Shalih mengabarkan, dari Abu ‘Imran, dari Abu al-Jald, ia berkata:

“Musa berkata: “Tuhanku, bagaimana cara(ku) bersyukur kepada-Mu, sedangkan nikmat terkecil yang Kau letakkan di sisiku, termasuk nikmat-nikmat-Mu yang tidak mungkin berbalas dengan semua amalku?”

Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa, (Allah berfirman): “Wahai Musa, sekarang ini kau sudah bersyukur kepada-Ku.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 85)

Dalam beragama banyak hal yang perlu diperbincangkan, termasuk “syukur”. Allah berfirman (QS. Ibrahim: 7):

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ, وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ

“Dan (ingatlah juga) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami tambah nikmat kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sungguh azab-Ku sangat pedih.”

Namun, banyak orang yang tidak tahu bagaimana seharusnya ekspresi syukur itu, karena kadar nikmat yang Allah berikan kepada kita tidak mungkin diimbangi dengan semua amal baik kita. Belum lagi dosa yang semakin menjauhkan kita. Sampai Nabi Musa ‘alaihissalam bingung bagaimana cara mensyukuri nikmat Allah yang sedemikian banyak, bahkan yang terkecilnya saja tidak sanggup diimbangi oleh semua amalnya.

Di sinilah Allah menunjukkan kasih sayangNya. Salah satu nama-Nya (al-Asmâ’ al Husnâ) adalah, “al-Syakûr—Yang Maha Mensyukuri”, yaitu Allah mengapresiasi semua amal yang dilakukan hambaNya. Bahasa zaman sekarangnya, Allah itu Maha Mengapresiasi, dan menerima amal hamba-Nya, sekecil apapun itu. Dalam sebuah hadits diceritakan (HR. Imam Muslim):

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلي الله عليه وسلم قَالَ: بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِى بِطَرِيْقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ فَاَخَّرَهُ، فَشَكَرَ اللهُ لَهُ، فَغَفَرَ اللهُ لَهُ

“Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata: “Suatu ketika ada laki-laki yang berjalan di sebuah jalan, ia menemukan dahan berduri lalu menyingkirkannya. Maka Allah berterima kasih kepadanya (menerima amalnya), kemudian Allah mengampuninya.”

Dalam hadits di atas, ada kalimat, “syakarallahu lahu—Allah berterima kasih kepadanya,” yang mengindikasikan diterimanya amal laki-laki tersebut. Artinya, setiap kali ada hamba-Nya yang beramal, Allah akan berterima kasih dengan cara menerima amalnya. Dan, kisah di atas merupakan gambaran termudah dari sifat “al-Syakûr” Allah.

Kita pun harus tahu, bahwa kebingungan Sayyidina Musa adalah kebingungan yang bernilai tinggi. Kebingungan yang berasal dari ketaatan dan kesalehannya. Bukan kebingungan sembarangan. Karena tidak banyak orang yang memandang dirinya terlebih dahulu sebelum bersyukur. Mereka hanya bersyukur saja, tanpa repot mentafakkuri begitu melimpahnya nikmat Allah, yang jika dibahasakan tidak ada kalimat yang bisa melukiskan keberlimpahannya.

Dalam kebingungannya itu, Sayyidina Musa ‘alaihissalam menampilkan penghambaannya. Karena ia tahu begitu banyak nikmat Allah di sekelilingnya, hingga ia merasa tak pantas “berterima kasih”. Jika yang terkecil saja masih terlalu besar andai ditimbang dengan semua amalnya, apalagi nikmat-Nya yang terbesar. Inilah yang dimaksud kebingungan yang berasal dari kesalehan, karena orang saleh terbiasa mengukur dirinya sendiri terlebih dahulu; apakah ia laik atau tidak. Oleh sebab itu, tidak sedikit para wali yang kebingungan dalam bersyukur, hingga sebagian dari mereka berdoa:

اللهمّ إِنَّكَ تَعْمَلُ عَجْزِي عَنْ مَوَاضِعِ شُكْرِكَ، فَاشْكُرْ نَفْسَكَ عَنِّي

“Ya Allah, sungguh Kau mengetahui ketidak-mampuanku bersyukur sesuai dengan (semua karunia)-Mu, maka bersyukurlah pada DiriMu sendiri sebab (ketidak-mampuan)ku (itu).” (Imam Abu Bakr Muhammad al-Kalabadzi, Kitâb al-Ta’arruf li Madzhab Ahl al-Tashawwuf, Kairo: Maktabah al-Khanji, tt, h. 71)

Akan tetapi, bukan berarti kita berhenti bersyukur. Kita harus tetap bersyukur atas nikmat-nikmat Allah. Jika kita berhenti bersyukur karena alasan di atas, artinya kita telah menyamakan diri kita dengan Nabi Musa; kita telah menyamakan kualitas kesalehan kita dengannya. Padahal, Nabi Musa, dalam kisah di atas, sedang mempersembahkan syukur dalam level tertingginya. Hadirnya perasaan “tak pantas” yang dirasakannya bukanlah rekayasa, dibuat-buat atau dipelajari, melainkan ketulusan rasa yang dihasilkan dari tafakkur diri dan sekitarnya.

Paling tidak, kita bisa mensyukuri nikmat Allah dengan berusaha istiqamah mengingat-Nya di hati, lisan dan perbuatan; mengenali pemberian-Nya dan memanfaatkannya di jalan kebaikan, seperti yang dikatakan Imam Ibnu Mandhur, “’irfânul ihsân wa nasyruhu—(syukur adalah) mengetahui kebaikan dan menyebarkannya.” (Imam Abu al-Fadl Jamaluddin Muhammad bin Mandhur al-Anshari, Lisân al-‘Arab, Kairo: Darul Ma’arif, tt, juz 4, h. 2305). Dalam bahasa hadits dikatakan, “khairunnâs anfa’uhum linnâs—sebaik-baiknya mansuia adalah yang paling bermanfaat untuk lainnya.”

Sebagai penutup, kita perlu menghayati doa Nabi Musa di bawah ini, karena bedoa juga termasuk bentuk syukur kepada Allah. Bila perlu, kita seringkan membaca doa di bawah ini:

اللَّهُمَّ لَيِّنْ قَلْبِي بِالتَّوْبَةِ، وَلَا تَجْعَلْ قَلْبِي قَاسِيًا كَالْحَجَرِ

“Ya Allah, lunakkan hatiku dengan taubat, dan jangan jadikan hatiku mengeras seperti batu.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, 1992, h. 85)

MENELADANI NABI IBROHIM AS DALAM BERDO’A

Nabi Ibrahim as melakukan serangkaian perjalanan bolak-balik antara Palestina dan Makkah sebanyak empat kali.

Pertama, ketika membawa isterinya, Hajar, dan anaknya, Ismail, yang masih bayi. Di waktu inilah air Zamzam keluar.

Kedua, perjalanan ketika Ismail beranjak dewasa. Keduanya kemudian membangun membangun Ka’bah.

Ketiga, ketika Ismail sudah beristeri pertama dengan perempuan dari suku Jurhum.

Keempat, ketika Ismail beristeri baru setelah menceraikan isteri pertama karena ketidakcocokan dan atas desakan ayahnya karena ketidakcocokan itu.

Ketika Nabi Ibrahim pertama kali datang ke satu lembah yang tandus yang masih belum ada penduduk, Ismail masih kecil. Nabi Ibrahim berdoa dengan dua permintaan, pertama, agar  kawasan di lembah itu pada satu saat nanti menjadi satu kota yang aman. (lihat redaksi Al-Qur’an: baladan tanpa al atau lam ta’rif)

Permintaan kedua, agar penduduknya baik muslim maupun kafir mendapat limpahan rezeki. (lihat Al-Baqarah: 126).

Doa ini dikabulkan oleh Allah sehingga kawasan ini menjadi kota yang  ramai (lihat redaksi Al-Balad dengan al atau lam ta’rif) dengan pendatang baru yang penduduknya heterogen, di antara mereka banyak  orang-orang musyrik.

Ketika itu anaknya  Ismail sudah beranjak dewasa,  pada saat itulah Nabi Ibrahim berdoa lagi kepada Allah dengan enam permintaan (Ibrahim : 35).

Pertama, agar kota Makkah menjadi aman dan tenteram.

Kedua, keluarganya dijauhkan dari kemusyrikan.

Ketiga, mereka selalu melaksanakan shalat.

Keempat, hati manusia cenderung untuk datang ke Makkah.

Kelima, penduduknya diberi rezeki berupa buah-buahan.

Keenam, dosa-dosanya, dosa kedua orang tuanya dan dosa senua kaum mukmin diampuni.

Dari doa yang dipanjatkan ini, kelihatan sosok Nabi Ibrahim sebagai seorang hamba Allah yang sangat taat yang rela membawa istri dan anaknya ditempatkan di satu kawasan yang masih baru sama sekali.

Kering, tandus dan tak ada pepohonan. semua karena perintah Allah. Sosok ayah dan pemimpin yang  sangat peduli kepada keluarganya dan masyarakatnya baik dalam soal keyakinan,  kesejahteraan hidup atau keamanan, ketenteraman jiwa dan raga.

Tiga pokok unsur kehidupan ini ( keimanan, keamanan dan kesejahteraan lahir) ini jika  bisa diraih oleh seseorang, itulah satu kebahagiaan yang diidam-idamkan oleh setiap orang.

Atas ketaatan, kepatuhan dan ikhlasnya dalam berdoa, semua doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim dikabulkan oleh Allah.

 

Do’a nabi Ibrohim as agar di karuniai anak

Anak adalah karunia Allah yang menjadi idaman utama pasangan suami-istri (pasutri). Karena sebuah karunia, kehadiran momongan tidak bisa dijadwalkan manusia. Untuk itu, setiap pasutri dianjurkan berdoa untuk diberikan bukan hanya anak, tetapi juga keturunan yang saleh.

Pasutri yang belum dikaruniakan momongan tidak perlu cemas atau frustasi karena anak adalah hak penuh Allah. Sementara anugerah-Nya tidak berkaitan dengan kesalehan pasutri yang bersangkutan. Banyak orang saleh, kiai, ulama, bahkan rasul yang tidak dikaruniai anak atau dikaruniakan di akhir hayatnya.

Satu sama lain juga tidak perlu saling menyalahkan karena tidak ada yang salah pada masing-masing dari keduanya. Yang diperlukan adalah keduanya berdoa dan mendekatkan diri selalu kepada Allah.

Berikut ini doa Nabi Ibrahim AS ketika mengharapkan kehadiran momongan.

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ

Rabbi hab lî minas shâlihîn

Artinya: Tuhanku, berikanlah aku seorang anak yang saleh’ (Surat As-Shaffat ayat 100)

Doa ini menjadi alternatif sebagaimana dijelaskan Syekh Nawawi Banten dalam Marahu Labid li Kasyfi Ma‘na Quranin Majid, juz II, halaman 221, Darul Fikr, 1980

لما هاجر إلى الأرض المقدسة أراد الولد فقَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ أي ولدا من المرسلين فاستجبنا له

Artinya, “Ketika hijrah menuju tanah suci, Nabi Ibrahim AS merindukan kehadiran seorang anak. Kala itu ia berdoa, ‘Tuhanku, berikan lah aku seorang anak yang saleh’ (Surat As-Shaffat ayat 100). Maksudnya seorang anak dari kalangan rasul. Lalu Kami kabulkan permohonannya.”

 

Belajar dari Cara Nabi Ibrahim as Berdo’a

Imam Abu Bakr Muhammad bin al-Walid al-Thurthusyi al-Andalusi (450/451-520 H) menulis sebuah kitab berisi kumpulan doa dari Rasulullah, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu. Kitab ini ditulis sekitar satu setengah abad sebelum al-Adzkar karya Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf al-Nawawi (631-676 H). Dalam bab ketiga, Imam Abu Bakr menjelaskan soal adab-adab berdoa kepada Allah (fî adâb al-du’â lillah). Ia menulis:

فمن آدابه أن تعلم أن سيرة الأنبياء والمرسلين والأولياء الصالحين، (إن) أرادوا استقصاء حاجة عند مولاهم، أن يبادروا قبل السؤال فيقوموا بين يدي ربهم فيصفوا أقدامهم ويبسطوا أكفهم ويرسلوا دموعهم علي خدودهم، فيبدؤوا بالتوبة من معاصيهم والتنصل من مخالفتهم، ويستبطنوا الخشوع في قلوبهم

“Sebagian dari adab berdoa, kau harus mengetahui cara para nabi, rasul, dan wali yang saleh. (Jika) hendak memohon hajat kepada Tuhannya, mereka bergegas (menyiapkan diri) sebelum meminta, bersimpuh di hadapan Tuhannya, menata (posisi) kaki, membentangkan telapak tangan, mengalirkan air mata di pipi mereka. Kemudian, mereka memulainya dengan tobat dari kemaksiatan dan membebaskan (diri) dari pelanggaran, memasukan kekhusyu’an di hati mereka yang terdalam.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, h. 17)

Kemudian, Imam Abu Bakr menjadikan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sebagai contoh. Ketika berdoa, Nabi Ibrahim memulainya dengan memuji Tuhannya (bada’a bits tsanâ’i ‘ala rabbihi qabla su’âlihi). Dalam surat al-Syu’ara: 78-82 dikatakan:

الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ، وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ، وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ، وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ، وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

“(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakanku, dan Dialah yang memberi petunjuk (kepada)ku. Dan Tuhan yang memberi makan dan minum kepadaku. Dan Ketika aku sakit, Dia menyembuhkanku. Dan Tuhan yang akan mematikanku, kemudian menghidupkanku (kembali). Dan Tuhan yang sangat kuinginkan mengampuni kesalahanku di hari kiamat (kelak).”

Ayat tersebut merupakan ucapan Nabi Ibrahim sebelum berdoa kepada Allah, karena di ayat berikutnya Nabi Ibrahim berdoa (QS. Al-Syu’ara: 83): “rabbi hab lî hukman wa alhiqnî bish shâlihîn” (Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh). Sebelum berdoa, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memuji Allah dengan lima pujian. Imam Abu Bakr al-Thurthusyi menjelaskan:

فأثني علي الله سبحانه بخمسة أثنية: أنه الخالق الهادي، المطعم المسقي، الشافي من الأوصاب، والمحيي والمميت، والغافر

“Nabi Ibrahim memuji Allah subhanahu (wa ta’ala) dengan lima pujian: (1) Sang Pencipta yang memberikan petunjuk, (2) Sang Pemberi makan dan minum, (3) Sang Penyembuh segala penyakit, (4) Yang maha menghidupkan dan mematikan, dan (5) Maha mengampuni.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 18)

Hal ini menunjukkan bahwa pujian sebelum berdoa sangat penting. Para nabi, rasul dan wali terdahulu melakukannya. Contohnya Nabi Musa, ketika beliau memohon kepada Allah, beliau mendahuluinya dengan kalimat (QS. Al-A’raf: 155), “anta waliyyunâ faghfir lanâ war hamnâ” (Engkau adalah Pemimpin kami, maka ampunilah [dosa-dosa] kami dan rahmatilah kami). Mereka biasa mendahului doa-doa mereka dengan pujian, penyucian, pengagungan dan seterusnya. Imam Abu Bakr al-Thurthusyi menulis:

فيبدؤون بالثناء علي معبودهم وتقديسه وتنزيهه وتعظيمه والثناء عليه بما هو اهله ثم يرغبون في الدعاء

“Mereka mendahului (doanya) dengan pujian kepada Tuhan yang disembah, menguduskan-Nya, menyucikan-Nya, mengagungkan-Nya, dan memuji-Nya dengan pujian yang berhak diberikan kepadaNya, kemudian (mengajukan) permohonan dalam doa (mereka).” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 17)

Untuk memperkuat pentingnya memuji Allah sebelum berdoa, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi mengutip hadits syafaat yang diriwayatkan Imam al-Bukhari. Dalam hadits tersebut diceritakan bahwa banyak orang akan meminta syafaat kepada para nabi di hari kiamat kelak. Setiap nabi menceritakan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya dan meminta mereka meminta kepada nabi lainnya. Kemudian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فأقول أنا لها فأستأذن علي ربّي، فإذا رأيته وقعت ساجدا فيدعني ما يشاء ثم يقال: ارفع رأسك وسل تعطه وقل تسمع، واشفع تشفع، فيلهمني محامد أحمده بها، فأحمده بتلك المحامد

“Aku berkata: Aku memiliki syafaat. Aku telah minta izin kepada Tuhanku. Saat aku melihat-Nya aku lekas bersujud, dan Allah membiarkanku (dalam keadaan ini selama) yang Dia kehendaki. Kemudian Dia berfirman: ‘Angkatlah kepalamu. Mintalah maka kau akan diberi. Berkatalah maka kau akan didengar. Berikanlah syafaat maka kau akan diberi syafaat. Kemudian Allah mewahyukan kepadaku pujian-pujian (untuk) aku memuji-Nya dengan itu, maka aku memuji-Nya dengan pujian-pujian tersebut.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 18-19)

Dalam riwayat di atas, Allah mengajarkan langsung pujian-pujian untuk-Nya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Artinya. Allah menghendaki hamba-hamba-Nya untuk memuji-Nya. Karena itu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar seseorang berdoa tanpa memuji Allah dan bershalawat kepadanya, Rasulullah mengatakan: “’ajjala hadza” (ini tergesa-gesa). Kemudian beliau memanggilnya dan mengatakan (HR. Imam Abu Daud dan Imam al-Tirmidzi):

إذا صلي أحدكم فليبدأ بتحميد ربّه والثناء عليه ثمّ يصلي علي النبيّ صلي الله عليه وسلم, ثمّ يدعو بعد بما شاء

“Jika salah satu dari kalian berdoa, maka dahuluilah dengan bertahmid kepada Tuhannya dan memujiNya, kemudian bershalawatlah atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berdoa setelahnya dengan apa yang ia maui.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 19)

WALLOHUA’LAM BIS SHOWAB

ROSULULLOH SAW DI TOLAK OLEH ALLOH SWT PENGADUANYA

Pagi itu matahari mulai tinggi. Teriknya sudah terasa. Lima puluh pasukan pemanah Islam satu demi satu menaiki bukit kecil di samping Gunung Uhud. Rebana sudah berbunyi, bersahut-sahutan. Ini pertanda perang antara umat Islam dan orang musyrik Mekah sebentar lagi akan terjadi.

Tak lama kemudian, perang sudah berlangsung. Walau jumlah pasukan umat Islam hanya 700 orang melawan tiga ribuan pasukan musyrik, tanda-tanda kemenangan Islam sesungguhnya sudah mulai kelihatan. Ratusan tentara musyrik lari tunggang langgang. Hindun, istri Jenderal Abu Sufyan ibn Harb, terbirit-birit sehingga betisnya yang putih tampak dari kejauhan.

Namun, tentara Islam tak sabar. Pasukan pemanah bergegas menuruni bukit, memungut dan berebut barang ghanimah yang berserakan. Di sinilah kisah pilu itu bermula. Tanpa diduga, pasukan berkuda pimpinan Khalid ibn Walid dan Ikrimah menaiki bukit kecil itu. Mereka dengan cepat melesatkan anak-anak panahnya ke pasukan Islam. Tentara Islam kucar-kacir.

Banyak pasukan inti Islam gugur. Mulai dari Abu Dujanah hingga Hamzah, paman Nabi. Bahkan, Nabi pun terluka. Abdullah ibn Shihab berhasil melukai kening Nabi. Ibnu Qami’ah menghunjamkan pedang ke bahu kanan dan pelipis Nabi SAW. Dua pecahan baja menusuk pelipisnya. Muka Nabi SAW berlumuran darah.

Nabi SAW marah. Beliau mengadu pada Allah, “bagaimana suatu kaum akan berbahagia jika melumuri wajah nabinya dengan darah”. Allah SWT tak menggubris seruannya. Ia justru menegur Nabi SAW, “itu bukan urusanmu (Muhammad), apakah Allah menerima tobat mereka atau mengazabnya karena mereka adalah orang-orang zalim”. (QS, Ali Imran [3]: 128).

Apa yang dikhawatirkan Nabi SAW tak terjadi. Banyak pasukan musyrik yang terlibat dalam perang Uhud itu yang dalam perkembangan kemudian justru masuk Islam. Di antaranya adalah Abu Sufyan, Khalid ibn Walid, Ikrimah ibn Abi Jahal.

Abu Sufyan kelak dikenal sebagai jenderal besar yang memperjuangkan Islam. Khalid ibn Walid mendapat julukan “saif Allah” (pedang Allah). Ikrimah pun bukan hanya kesohor sebagai panglima perang yang hebat. Ia juga dikenal sebagai intelektual yang dahsyat, banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi SAW.

TERGODANYA NABI ADAM AS DAN SIFAT MAKSUMNYA SEBAGAI SEORANG ROSUL

TERGODANYA NABI ADAM ‘ALAIHIS SALAM

فأخرج إبليس مزمارا وزمر تزميرا مطربا فلما سمع آدم وحواء المزمار جاءا ليسمعا ذلك فلما وصلا الى شجرة الحنطة قال ابليس تقدم الى هذه الشجرة يآدم فقال إنى ممنوع فقال ابليس (وما نهاكما ربكما عن هذه الشجرة الا أن تكونا ملكين أو تكونا من الخالدين) فان من أكل من هذه الشجرة لا يشيب ولا يهرم ثم أقسم بالله أنها لا تضرهما وأنه لمن الناصحين لهما فظن آدم أنه لا يتجاسر أحد على أن يحلف بالله كاذبا وظن أنه من الناصحين

Kemudian iblis mengeluarkan seruling dan memainkannya dengan merdu, ketika adam dan hawa mendengarnya, me­reka langsung mendatanginya untuk mendengarkan/­menikmatinya,dis­aat mereka sampai dipohon gandum maka iblis berkata padanya,, wahai adam,mendekatla­h pada pohon ini,adam berkata, sesungg­uhnya aku dicegah untuk dekat dengan pohon itu, iblis berkata Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).”

Karena sesungguhnya siapa saja yang memakan biji dari pohon ini,dia tidak akan bisa tua dan pikun dan iblis juga bersumpah dengan nama ALLOH bahwa makan biji itu tidak akan membahayakan mereka berdua dan dia mengaku bahwa dia adalah pembawa nasihat bagi mereka berdua maka adam pun menyangka bahwa tiada yang berani mengucapkan sumpah dengan nama ALLOH pada kebohongan dan menyangka juga bahwa iblis tadi adalah malaikat pembawa nasihat.

فمن حرص حواء على الخلود فى الجنة تقدمت وأكلت فلما نظر آدم اليها حين أكلت ووجدها سالمة تقدم وأكل بعدها فلما وصلت الحبة الى جوفه طار التاج عن رأسه وطارت الحلل أيضا

Dari keinginan hawa untuk kekal disurga maka ia maju duluan dan memakannya ketika adam melihatnya makan dan selamat maka adam pun ikut maju dan memakannya,pada­ saat biji sampai ditenggorokan maka terbanglah mahkota yang ada dikepalanya bersama perhiasan-perhi­asan yang ada padanya

سؤال لأى شئ لما أكلت حواء من الشجرة لم تسقط الكسوة عنها فى الحال وآدم حين أكل سقطت عنه فى الحال الجواب لوسقطت فى الحال عن حواء لرجع آدم ولم يأكل وأيضا االدية على العاقلة ولان الأمر كان أولا لآدم

Pertanyaan, kenapa disaat hawa makan biji tersebut seluruh pakaiannya tidak terlepas seketika sedangkan adam pakaiannya terlepas seketika ? Jawab :Umpama lepas seketika maka adam akan kembali dan tidak mau ikut makan,begitu juga diyat/tebusan itu pada yang berakal dan karena sesungguhnya awal perkara itu untuk adam.

وقال بعض العلماء ان آدم أكل وهو ناس قال الله تعالى (ولقد عهدنا الى آدم من قبل فنسى)

Sebagian ulama’ berkata sesungguhnya adam memakannya itu dalam keadaan lupa Sebagaimana firman ALLOH : Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu). Qs.thoha ayat 115.

فلما أكل آدم من الشجرة أوحى الله تعالى الى جبرائيل عليه السلام بأن يقبض على ناصية آدم وحواء ويخرجهما من الجنة فأخرجهما جبرائيل من الجنة ونودى عليهما بالمعصية. قال فكان آدم وحواء عريانين فطافا على أشجار الجنة ليستترا بأوراقها فكانت الأشجار تنفر عنهما ورحمته شجرة التين فغطته فتستر بورقها وقيل غطته شجرة العود فلذلك أكرمها الله بالرائحة الطيبة وأكرم شجرة التين بالثمر الحلو الذى ليس له نوى وقيل غطته شجرة الحناء فلذلك صار أثرها طيبا مفرحا ولذلك سميت الحناء قال كعب الأحبار لما صار آدم عريانا أوحى الله تعالى اليه أن اخرج الىّ لأنظرك فقال آدم يارب لا أستطيع ذلك من حيائى منك وخجلى

Disaat adam makan dari biji gandum tersebut maka ALLOH memerintahkan jibril untuk mencabut ubun-ubun adam dan hawa dan mengeluarkannya­ dari surga dan dipanggil dengan sebutan maksiyat. Wahhab bin munabbih berkata, saat itu adam dan hawa dalam keadaan telanjang, mereka berputar pada pohon-pohon surga untuk mengambil daun untuk menutupi tubuh mereka tapi pohon-pohon itu pada kabur dari mereka, akhirnya ­ pohon tin iba pada mereka dan menutupi mereka dan diambillah daunnya untuk menutupi tubuh mereka.

Dikatakan bahwa yang menutupinya adalah pohon garu,oleh karena itu ALLOH memulyakannya dengan bau yang harum dan ALLOH memulyakan pohon tin dengan buah yang manis tanpa biji. Dikatakan juga bahwa yang menutupinya adalah pohon inai oleh karena itu jadilah baunya harum dan wangi dan dinamakan inai. Ka’ab alahbar berkata,ketika adam dalam keadaan telanjang, ALLOH­ berfirman padanya keluarlah kamu dariku, aku akan menunggumu maka adam berkata ya Tuhan sungguh aku tidak sanggup karena malu padamu.

QODAR ALLOH SWT DAN KEMA’SHUMAN NABI ADAM AS DARI DOSA

Salah satu yang wajib bagi para Rosul dan wajib bagi kita meyakininya adalah sifat amanah, yaitu terpeliharanya mereka daripada melakukan dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil, biak haram maupun makruh, baik sengaja maupun tidak. Untuk menyikapi masalah Nabi Adam, aku curhat dulu yach… aku pernah nonton tv film hidayah, disitu aku lihat ada orang jahat… banget sampai timbul rasa kebencian di hatiku kepadanya dan aku menjulukinya si penjahat berengsek….(hehe ma’af),  padahal kenyataanya apa.., ia (si penjahat) ternyata mendapat sambutan dan tepukan yang hangat dari sang sutradara bahkan mendapat uang (gaji) yang cukup besar…  yups…ia adalah pemain yang baik, secara shury (rupa / gambaran) ia adalah penjahat tetapi secara hakiky (yang sebenarnya) ia adalah seorang yang amat patuh kepada perintah atasan. Sama halnya dengan persoalan Nabi Adam as., lebih jelasnya coba kita intip tafsir showi juz 1:22

و الحق ان يقال ان ذلك من سر القدر فهي منهي عنه ظاهرا لا باطنا فانه بالباطن مأمور بالاولى من قصة الخضر مع موسى و اخوة يوسف معه على انه انبياء فان الله قال للملائكة اني جاعل في الارض خليفة كان قبل خلقه و هذا الامر مبرم يستحيل تخلفه فلما خلقه و اسكنه الجنة اعلمه بالنهي عن الشجرة صورة فهذا النهي صوري و اكله من الشجرة جبري لعلمه ان المصلحة مترتبة علي اكله و انما سمي معصية نظرا للنهي الظاهري فمن حيث الحقيقة لم يقع منه عصيان و من حيث الشريعة وقعت منه المخالفة و من ذلك قول ابن العربي لو كنت مكان ادم لاكلت الشجرة بتمامها لما ترتب علي اكله من الخير العظيم و ان لم يكن من ذلك الا وجود سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم لكفى

“Dan yang benar bahwa dikatakan sesungguhnya itu adalah sirrul qodar(rahasia taqdir), maka ia dilarang secara zhohir tetapi tidak secara batin. karena Nabi Adam as pada batinnya adalah diperintah terlebih utama dari kisahnya Nabi Khidir serta Nabi Musa dan saudara Nabi Yusuf beserta Nabi Yusuf apalagi mereka itu adalah para Nabi. Sesungguhnya Allah SWT saat berfirman kepada para malaikat “Seseungguhnya aku akan menjadikan di bumi seorang kholifah” adalah sebelum menciptakan Nabi Adam. Dan perkara ini adalah pasti dann mustahil salah. Lalu saat Allah menciptakannya dan menempatkannya di surga, diberi tahu dengan larangan makan buah pada rupanya(zohirnya). Larangan ini adalah larangan shury dann makan buahnya adalah jabary dengan sengaja, tahu dan sadar karena ia tahu bahwa kemaslahatan ada didalam memakannya. Dan itu disebut ma’siat karena memandang pada larangan yang dzohir. Dan dilihat dari sisi syari’at terjadi daripadanya suatu pelanggaran. Dan diantara ma’na ini apa yang dikatakan oleh Ibnul ‘Aroby : “Jika aku di tempat Nabi Adam maka aku akan makan buah itu dengan sempurna karena dalam memakannya itu ada kebaikan yang banyak, dan jika tak ada satu kebaikan pun selain wujudnya Sayyidina Muhammad SAW niscaya cukup”.

Lebih jelasnya liat lagi tafsir Showy pada juz dan halaman yang sama:

انه اجتهد فأخطأ فسمى الله خطأه معصية فلم يقع منه صغيرة ولا كبيرة انما هو من باب حسنات الابرار سيئات المقربين فلم يتعمد المخالفة

ومن نسب التعمد و العصيان له بمعنى فعل الكبيرة او الصغيرة فقد كفر و من نفى اسم العصيان عنه فقد كفر ايضا لنص الاية

“Bahwa sesungguhnya Adam berijtihad lalu salah ijtihadnya, maka Allah memberi nama kesalahannya itu dengan ma’siat padahal tak pernah terjadi dpdnya dosa kecil maupun dosa besar. Sesungguhnya ini termasuk dalam bab “hasanatul abror sayyiatul muqorrobin”(kebaikan orang abror adalah kejahatan orang muqorrobin).

BARANGSIAPA yang MEMBANGSAKAN SENGAJA DAN DOSA kepada NABI ADAM dengan MA’NA IA MELAKUKAN DOSA BESAR ATAU DOSA KECIL MAKA IA TELAH KAFIR, SEBAGAIMANA JUGA yang MENOLAK NAMA MA’SIYAT DARIPADANYA karena ADA NASH AYAT QUR’AN”.

Kema’siyatan Nabi Adam hanyalah sebuah skenario dari ALLAH tuk menurunkannya dari surga, karena sebelum ALLAH menciptakan Adam, ALLAH pernah berfirman ke para Malaikat untuk menjadikan seorang kholifah dibumi. Sedangkan Adam diciptakan disurga. lalu ALLAH membuat Adam makan buah khuldi sehingga tercapailah tujuan ALLAH menjadikan kholifah di bumi. Yang wajib kita i’tikadkan adalah NABI ADAM MA’SIAT HANYA SeCaRa DZOHIR/SYARI’ATNYA SAJA, SEDANGKAN SECARA HAKIKAT NABI ADAM ADALAH MA’SUM (TERPELIHARA dari MA’SIAT) bahkan Nabi Adam dikatakan ta’at karena sedang menjalankan skenario dari ALLAH.

Kenapa Allah tidak ciptakan saja langsung manusia di bumi sebagai khalifah? Artinya iblis yang kafir pun atas skenario Allah iblis pun diusir lalu mempengaruhi Adam-Hawa untuk makan buah terlarang? Karena Allah ta’ala lah yang berkehendak…bukan manusiannya…? Berhakkah manusia mempertanyakan kehendak-Nya?

Banyak hikmah-hikmah ALLAH tidak menciptakan manusia langsung di bumi… bisa dilihat dari proses yang terjadi pada nabi Adam AS sehingga diturunkan dari surga..

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

INILAH KISAH CINTA SEJATI MANUSIA PILIHAN DAN MULIA

Sekian ratus tahun yang lalu…

Di malam yang sunyi, di dalam rumah sederhana yang tidak seberapa luasnya… seorang istri tengah menunggu kepulangan suaminya. Tak biasanya sang suami pulang larut malam. Sang istri bingung…. hari sudah larut dan ia sudah sangat kelelahan dan mengantuk. Namun, tak terlintas sedikitpun dalam benaknya untuk segera tidur dan terlelap di tempat tidur suaminya. Dengan setia ia ingin tetap menunggu… namun, rasa ngantuk semakin menjadi-jadi dan Sang suami tercinta belum juga datang.

Tak berapa lama kemudian….

seorang laki-laki yang sangat berwibawa lagi luhur budinya tiba di rumahnya yang sederhana.

Laki-laki ini adalah suami dari sang istri tersebut.

Malam ini beliau pulang lebih lambat dari biasanya, kelelahan dan penat sangat terasa.

Namun, ketika akan mengetuk pintu… terpikir olehnya Sang istri yang tengah terlelap tidur…. ah, sungguh ia tak ingin membangunkannya.

Tanpa pikir panjang, ia tak jadi mengetuk pintu dan seketika itu juga menggelar sorbannya di depan pintu dan berbaring diatasnya.

Dengan kelembutan hati yang tak ingin membangunkan istri terkasihnya, Sang suami lebih memilih tidur di luar rumah..

di depan pintu…

dengan udara malam yang dingin melilit…

hanya beralaskan selembar sorban tipis.

Penat dan lelah beraktifitas seharian, dingin malam yang menggigit tulang ia hadapi..

karena tak ingin membangunkan istri tercinta. Subhanallah…

Dan ternyata, di dalam rumah..

persis dibalik pintu tempat sang suami menggelar sorban dan berbaring diatasnya..

Sang istri masih menunggu, hingga terlelap dan bersandar sang istri di balik pintu.

Tak terlintas sedikitpun dalam pikirinnya tuk berbaring di tempat tidur, sementara suaminya belum juga pulang.

Namun, karena khawatir rasa kantuknya tak tertahan dan tidak mendengar ketukan pintu Sang suami ketika pulang, ia memutuskan tuk menunggu Sang suami di depan pintu dari dalam rumahnya.

malam itu… tanpa saling mengetahui, sepasang suami istri tersebut tertidur berdampingan di kedua sisi pintu rumah mereka yang sederhana… karena kasih dan rasa hormat terhadap pasangan.. Sang Istri rela mengorbankan diri terlelap di pintu demi kesetiaan serta hormat pada Sang suami dan Sang suami mengorbankan diri tidur di pintu demi rasa kasih dan kelembutan pada Sang istri.

dan Nun jauh di langit….

ratusan ribu malaikat pun bertasbih….

menyaksikan kedua sejoli tersebut…

SUBHANALLAH WABIHAMDIH

betapa suci dan mulia rasa cinta kasih yang mereka bina

terlukis indah dalam ukiran akhlak yang begitu mempesona…

saling mengasihi, saling mencintai, saling menyayangi dan saling menghormati…

Tahukah Anda… siapa mereka..?

Sang suami adalah Muhammad bin Abdullah, Rasulullah SAW dan Sang istri adalah Sayyidatuna Aisyah RA binti Abu Bakar As-Sidiq.

Merekalah sepasang kekasih teladan, suami istri dambaan, dan merekalah pemimpin para manusia, laki-laki dan perempuan di dunia dan akhirat.

Semoga rahmat ALLAH senantiasa tercurah bagi keduanya, dan mengumpulkan jiwa kita bersama Rasulullah SAW dan Sayyidatuna Aisyah RA dalam surgaNYA kelak.

dan Semoga ALLAH SWT memberi kita taufiq dan hidayah tuk bisa meneladani kedua manusia mulia tersebut.

Amiin…amiin ya rabbal’alamiin….

KISAH NABI IDRIS AS. DI SAAT MENGUNJUNGI NERAKA DAN SURGA

Nabi Idris as di masa hidupnya, Allah SWT telah mengaruniakan untuk mengunjungi surga maupun neraka. DI kedua tempat itu, Nabi Idris as pingsan begitu melihat pemandangan yang dilihat dikedua tempat itu.

Kisahnya;

Nabi Idris as adalah seorang Nabi yang kuat sekali ibadahnya, bahkan malaikat sangat kagum atas kesalehan beliau. Pada suatu saat, Malaikat Izrail dan Nabi Idris as beribadah bersama-sama. Nah, pada kesempatan itu Nabi Idris as mengajukan permintaan kepada Malaikat Izrail untuk dapat melihat surga dan neraka.

Malaikat Izrail tidak dapat memutuskan permintaan Nabi Idris as. Namun Allah SWT Maha Mendengar dan Maha Melihat, dan karenanya Nabi Idris as diizinkan berkunjung ke neraka dan ke surga ditemani Malaikat Izrail.

Pertama-tama Nabi Idris as mengunjungi neraka.

“Wahai Nabiyullah, kenapa ingin melihat neraka? Bahkan para malaikat pun takut melihatnya,” tanya Malaikat Izrail.

Dijawab olah Nabi Idris as,

“Sebenarnya saya takut sekali kepada azab Allah SWT. Tapi mudah-mudahan iman saya menjadi tebal setelah melihatnya.”

Begitu mereka sudah sampai agak dekat dengan neraka, Nabi Idris as pun tersungkur pingsan. Penjaga neraka adalah malaikat yang sangat menakutkan. Malaikat itu menyeret dan menyiksa manusia-manusia yang durhaka kepada Allah SWT semasa hidupnya. Nabi Idris as tak mampu menyaksikan berbagai siksaan yang sangat mengerikan.

Api neraka berkobar sangat dahsyat, bunyinya bergemuruh menakutkan dan tak ada pemandangan yang lebih mengerikan dibanding dengan neraka.

“Astaghfirullah…Astaghfirullah…Astaghfirullah…,”berkali kali terucap dari mulut beliau sesaat setelah tersadar ari pingsannya.

(Seorang nabi saja sampai pingsan melihat neraka, bagaimana dengan manusia biasa seperti kita?).

Setelah siuman, dengan tubuh yang masih lemas Nabi Idris as melanjutkan perjalanan ke surga ditemani Malaikat Izrail juga. Di pintu surga beliau disambut Malaikat Ridwan yang menjaga Surga. Malaikat Ridwan dengan penuh lemah lembut mempersilahkan Nabi Idris as untuk memasuki tempat yang mulia penuh kenikmatan tersebut.

Begitu masuk ke dalam surga, lagi-lagi Nabi Idris as tersungkur lagi karena penuh takjub.

Semua yang ada di dalamnya begitu indah dan menakjubkan bagi siapa yang memandangnya. Namun Nabi Idris as pingsan hanya sebentar saja. Tanpa bisa berkata apa-apa selain ucapan,

“Subhanallah….Subhanallah…Subhanallah…,”berkali-kali keluar dari mulut beliau.

KISAH NABI ISA AS DAN PENGIKUTNYA YANG BISA MENGHIDUPKAN YANG SUDAH MATI

Diceritakan oleh Sang Guru Jalaludin Rumi dan yang lain-lain, pada suatu hari Isa, putra Mariam, berjalan-jalan di padang pasir dekat Baitulmukadis bersama-sama sekelompok orang yang masih suka mementingkan diri sendiri.

Mereka meminta dengan sangat agar Isa memberitahukan kepada mereka Kata Rahasia yang telah dipergunakannya untuk menghidupkan orang mati. Isa berkata, “Kalau kukatakan itu padamu, kau pasti menyalahgunakannya.”

Mereka berkata, “Kami sudah siap dan sesuai untuk pengetahuan semacam itu; tambahan lagi, hal itu akan menambah keyakinan kami.”

“Kalian tak memahami apa yang kalian minta,” katanya -tetapi diberitahukannya juga Kata Rahasia itu.

Segera setelah itu, orang-orang tersebut berjalan di suatu tempat yang terlantar dan mereka melihat seonggok tulang yang sudah memutih. “Mari kita uji keampuhan Kata itu,” kata mereka, Dan diucapkanlah Kata itu.

Begitu Kata diucapkan, tulang-tulang itupun segera terbungkus daging dan menjelma menjadi seekor binatang liar yang kelaparan, yang kemudian merobek-robek mereka sampai menjadi serpih-serpih daging.

 

Mereka yang dianugerahi nalar akan mengerti. Mereka yang nalarnya terbatas bisa belajar melalui kisah ini.

Catatan

Isa dalam kisah ini adalah Yesus, putra Maria. Kisah ini mengandung gagasan yang sama dengan yang ada dalam Magang Sihir, dan juga muncul dalam karya Rumi, di samping selalu muncul dalam dongeng-dongeng lisan para darwis tentang Yesus. Jumlah dongeng semacam itu banyak sekali.

Yang sering disebut-sebut sebagai tokoh yang suka mengulang-ngulang kisah ini adalah salah seorang di antara yang berhak menyandang sebutan Sufi, Jabir putra al-Hayan, yang dalam bahasa Latin di sebut Geber, yang juga penemu alkimia Kristen.

Ia meninggal sekitar 790. Aslinya ia orang Sabia, menurut para pengarang Barat, ia membuat penemuan-penemuan kimia penting.