MU’JIZAT NABI MUHAMMAD MENYAMBUNG TANGAN YANG TERPUTUS DAN LAPAR YANG SANGAT

Diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik ra; Suatu hari Nabi Muhammad SAW masuk ke rumah puterinya sayyidah Fatimah ra, sayidah Fatimah mengeuhkan rasa laparnya kepada Nabi, ia berkata : “wahai ayah, sudah tiga hari kami tidak memakan sesuatupun”.
Nabi menyibakkan baju beliau pada bagian perutnya, dan terlihat ada batu yang terikat dibagian perutnya (untuk menahan rasa lapar) “wahai Fathimah, jika kalian tiga hari belum menemukan makanan, maka ayahmu ini sudah empat hari.

(Mendengar sayidah Fatimah mengatakan sudah tiga hari tidak makan) maka Nabi SAW keluar rumah, namun rupanya yang sangat terbayang adalah kedua cucu beliau, hasan dan husain.
Nabi berjalan hingga sampai dipinggiran kota, dan ia menemukan seorang arobiy (arab baduy/pinggiran) yang akan menyirami dari sumur tsb dengan menimba.
Nabi berdiri dan arobiy tidak mengetahui bahwa beliau adalah Nabi Muhammad SAW.
Nabi : “wahai arobiy, apakah engkau butuh orang yang bisa engkau pekerjakan?”.”YA” jawab arobiy.
Nabi : “apa yang harus aku lakukan?”.
Arobiy : “menyirami dari sumur ini”. kemudian arobiy memberikan timbaan tsb pada Nabi, dan Nabi mendapat upah TIGA BUAH KURMA dari satu timbaan itu dan kemudian Nabi memakannya.

Kemudian Nabi melanjutkan timbaannya hingga mendapat DELAPAN TIMBAAN, dan ketika akan menggangkat TIMBAAN KESEMBILAN ternyata tali timbaannya putus sehingga timbaannya jatuh ke dalam sumur, dan Nabi pun merasa bingung
Datanglah si arobiy dengan keadaan marah dan ia menampar wajah mulia Nabi SAW dan memberikan upah DUA PULUH EMPAT BIJI KURMA, Nabi menerimanya kemudian Nabi merogohkan tangannya kedalam sumur (yang dalam) dan mengambil timbaan yang tadi putus, dan setelah dapat kemudian timbaan itu dilemparkan pada arobiy dan Nabi meninggalkan si arobiy.

Sejenak si arobiy tertegun dan berkata “Ini adalah seorang Nabi yang haq”.
Kemudian ia mengambil golok dan memotong tangan kanannya, tangan yang dipakai untuk menampar wajah Nabi SAW hingga ia pingsan, dan ia siuman ketika ada orang yang memercikan air kewajahnya.
Orang itu bertanya pada si arobiy : “Apa yang terjadi padamu?
Arobiy : “Tadi aku menampar wajah seseorang, dan aku sangat menyangka bahwa orang itu adalah Nabi Muhammad, aku takut terkena adzab, lalu aku memotong tanganku yang digunakan untuk menamparnya.

Lalu arobiy membawa tangan kanannya yang terputus dengan tangan kirinya, dan ia menuju mesjid dan berkata : “Wahai para sahabat Muhammad, dimanakah Muhammad berada?”.

Dalam mesjid ada sahabat Abu Bakr, Umar dan Utsman Rodliyallohu anhum yang sedang duduk, dan mereka bertanya kepada arobiy: “Ada gerangan apakah engkau menanyakan nabi Muhammad?”.
Arobiy ; “Aku mempunyai keperluan kepada-nya”.

Kemudian sahabat Salman menuntun tangan arobiy dan menuju rumah Fatimah ra.
Ketika itu Nabi Muhammad SAW sedang memangku kedua cucu beliau dirumah Fatimah, Hasan duduk diatas pangkuan paha Nabi sebelah kanan dan Husain diatas pangkuan paha sebelah kiri, dan beliau menyuapi keduanya dengan kurma hasil kerja beliau..

Diluar rumah arobiy memanggil “Wahai Muhammad”.

Nabi meminta pada Fatimah ra untuk melihat siapa yang memanggil beliau diluar, ketika Fatimah ra membuka pintu, ia melihat seorang arobiy yang sedang menenteng tangan kanannya dengan tangan kirinya dan terlihat darah masih terus menetes.
Kemudian Fatimah ra kembali dan mengabarkannya kepada Nabi SAW.

Lalu Nabi berdiri dan menemui arobiy, dan arobiy berkata :”Wahai Muhammad…maafkanlah aku, sungguh aku (tadi) tidak mengetahui bahwa engkau adalah Nabi”.
Nabi :”Mengapa engkau sampai memotong tanganmu?”.
Arobiy : “Aku tak akan membiarkan tanganku yang telah menampar wajahmu”.
Nabi: “Masuklah ke dalam islam, engkau selamat”.
Arobiy : “Wahai Muhammad, jika engkau seorang Nabi, obatilah/mashlahatkan tanganku”.

Kemudian Nabi mengambil tangan kanan arobiy yang terputus dan menempelkannya ke tempat asalnya kemudian Nabi mengusapnya, maka tangan itupun tersambung kembali, layaknya sediakala dengan idzin Allah, MAKA AROBIY PUN MASUK ISLAM.
Alhamdulillah

Dinukil dari kitab AN-NAWADIR IMAM QOLYUBI : 46-47.

(حكى) عن أنس بن مالك رضى الله عنه قال دخل سيدنا النبى صلى الله عليه وسلم منزلة فاطمة رضى الله عنها فشكت إليه الجوع وقالت : يا أبت لنا منذ ثلاثة أيام لم نذق طعاماً

فكشف النبى عن بطنه واذا عليه حجر مشدود وقال يافاطمة ان كان لكم ثلاثة أيام فلأبيك أربعة أيام ثم خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم من منزلها وهو يقول وأغمه بجوع الحسن والحسين

ولم يزل صلى الله عليه وسلم يمشى حتى خرج من سكك المدينة واذا هو باعرابى على بئر يستسقى الماءمنها فوقف صلى الله عليه وسلم عليه وهو لايعرف انه النبى صلى الله عليه وسلم

فقال له : يا اعرابى هل لك فى جير تستأجره قال نعم نستأجره فيماذا قال يستقى من هذا البئر فدفع الاعرابى له الدلو فاستقى له دلوا فدفع له ثلاث تمرات فاكلها صلى الله عليه وسلم ثم استقى له ثمانية أدلية فلما استقاء التسعة انقطع الرشا فوقع الدلو فى البئر فوقع سيدنا النبى صلى الله عليه وسلم متحيرا فجاء الاعرابى غضبان ولطم وجه سيدنا النبى صلى الله عليه وسلم ودفع له أربعة وعشرون تمرة

فاخذها منه ثم تناول الدلو من البئر بيده الشريفة ورماه للأعرابى وانطلق من عنده فتفكر الاعرابى ساعة

ثم قال ان هذا نبى حقا ثم أخذ مديه وقطع بها يمينه التى لطم بها سيدنا النبى صلى الله عليه وسلم فوقع مغشيا عليه فمر عليه ركب فرشوا عليه الماء حتى أفاق فقالوا ما أصابك فقال لطمت وجه إنسان ثم ظننت أنه محمد وأخاف أن تصيبنى العقوبة

فقطعت يدى التى لطمته بها ثم أخذ يده المقطوعه بيساره وأقبل الى المسجد ونادى ياأصحاب محمد أيم محمد وكان أبو بكر وعمر وعثمان قعودا فيه فقالوا له ماذا تسأل على محمد فقال لى إليه حاجةفجاء سليمان وأخذ بيد الاعرابى وأنطلق الى بيت فاطمة وكان النبى صلى الله عليه وسلم لما أخذ التمر جاء به الى بيتها وأجلس الحسن على فخذه الايمن والحسن على فخذه الايسر وصار يلقمهما من التمر الذى معه

فنادى الاعرابى يا محمد فقال لفاطمة انظرى من فى الباب فخرجت فوجدت الاعرابى ويده تقطر دما فرجعت اليه وأخبرته بما رأت فقام النبى صلى الله عليه وسلم

فلما رآه قال يامحمد أعذرنى فانى لا أعرفك فقال له لم قطعت يدك قال لم يكن لى أن أبقى على يد لطمت بها وجهك فقال له النبى أسلم تسلم فقال يامحمد ان كنت نبيا فأصلح يدى فأخذها النبى ووضعها فى مكانها وألصقها ومسحها بيده وتفل عليها وسمى فالتأمت بإذن الله تعالى فأسلم الاعرابى

Wallahu a’lam

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى اله واصحابه واهل بيته اجمعين

MENGAMBIL PELAJARAN DARI SUJUDNYA MALAIKAT KEPADA NABI ADAM AS.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menempatkan Adam dan anak keturunannya dalam kedudukan yang mulia, lebih mulia dari para makhluk-Nya yang lain. Salah satu bukti yang menunjukkan hal tersebut adalah setelah Allah menciptakan Adam, Allah perintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam ‘alaihi shalatu wa salam.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)

Peristiwa sujudnya para malaikat kepada Adam terkadang menimbulkan polemik di sebagian umat Islam atau memang isu ini sengaja dilemparkan ke tengah-tengah umat Islam untuk menebar kerancuan dengan mempertanyakan “Mengapa Allah meridhai makhluk-Nya sujud kepada selain-Nya? Bukankah ini sama saja melegitimasi kesyirikan? Dan Iblis adalah hamba Allah yang benar-benar mentauhidkannya karena menolak untuk sujud kepada Adam”. Kurang lebih demikian kalimat rancu yang sering dibesar-besarkan oleh sebagian kalangan.

Yang perlu kita ketahui adalah para ulama membagi sujud ke dalam dua bagian; pertama, sujud ibadah dan yang kedua sujud (tahiyah) penghormatan.

Sujud ibadah hanya boleh dipersembahkan kepada Allah semata tidak boleh kepada selain-Nya. Allah tidak pernah memerintahkan satu pun dari makhluk-Nya untuk bersujud kepada selain-Nya dalam rangka untuk beribadah kepada makhluk tersebut. Para malaikat Allah perintahkan sujud kepada Adam bukan dalam rangka sujud ibadah tetapi sujud penghormatan.

Sujud penghormatan merupakan bagian dari syariat umat-umat terdahulu, kemudian amalan ini diharamkan dengan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara contoh sujud penghormatan adalah sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam ‘alaihissalam. Demikian juga mimpi Nabi Yusuf yang ia ceritakan kepada Ayahnya Nabi Ya’qub lalu mimpi itu menjadi kenyataan. Di dalam surat Yusuf dikisahkan,

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (QS. Yusuf: 4)

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ

Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf, “Wahai ayahku inilah ta´bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan…” (QS. Yusuf: 100)

Inilah di antara contoh-contoh sujud penghormatan yang merupakan bagian dari syariat umat terdahulu.

Pengalaman serupa juga pernah terjadi kepada Muadz bin Jabal tatkala melihat ahlul kitab di Syam. Tatkala pulang dari Syam, Muadz sujud di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

مَا هَذَا يَا مُعَاذُ قَالَ أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَقْتُهُمْ يَسْجُدُونَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ نَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا تَفْعَلُوا فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Apa-apaan ini, wahai Mu’adz?” Muadz menjawab, “Aku baru datang dari Syam. Yang kulakukan ini serupa dengan mereka, (orang-orang di sana) mereja sujud untuk uskup dan pendeta-pendeta mereka. Aku pun berkeinginan melakukannya kepadamu.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jangan kau lakukan. Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk bersujud, maka akan kuperintahkan istri untuk bersujud kepada suaminya.” (HR Ibnu Majah, No. 1853).

Apa yang dilakukan penduduk Syam adalah contoh dari syariat terdahulu yang masih mereka amalkan, mereka sujud kepada pemuka-pemuka agama dan tokoh-tokoh mereka sebagai penghormatan untuk para pembesar tersebut, bukan untuk menyembah mereka.

Di antara contoh lainnya juga, ada seekor hewan melata yang sujud kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau melarangnya karena sujud kepada makhluk, baik itu sujud penghormatan terlebih lagi sujud untuk ibadah, haram hukumnya dalam syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam timbangan syariat Muhammad (baca: syariat Islam) sujud penghormatan sama saja dengan sujud ibadah, haram hukumnya apabila dipersembahkan kepada selain Allah.

Pelajaran lainnya yang dapat kita petik dari peristiwa sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam ‘alaihissalam adalah, iblis termasuk dari bangsa jin bukan dari golongan malaikat sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang.

Malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan bangsa jin termasuk iblis, Allah ciptakan dari api. Allah berfirman,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya…” (QS. Al-Kahfi: 50)

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Saya lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al-A’raf: 12)

Dengan demikian iblis bukanlah dari golongan malaikat, saat itu ia hanya bersama dengan para malaikat Allah yang taat. Ada yang menyatakan, dahulu iblis adalah bangsa jin yang taat kepada Allah. Inilah alasannya ia dimuliakan dengan dikumpulkan bersama para malaikat walaupun ia bukan malaikat. Namun akhirnya sifat sombongnya terlihat di hadapan para malaikat, tatkala Allah mengujinya dengan memerintahkan untuk sujud kepada Adam.

KISAH LELAKI PECINTA MALAIKAT PENURUN HUJAN DAN NABI MUHAMMAD SAW.

Bulan November 2019 menjadi pembuka musim hujan pada beberapa kota di Indonesia. Hujan menjadi fenomena yang paling dirindukan oleh para petani padi, sebab padi membutuhkan asupan air yang berlimpah agar dapat tumbuh dengan bahagia. Di kota Banyuwangi, hingga diadakan salat istisqo’ dengan harapan Pemilik Semesta berkenan untuk memerintahkan malaikat Mikail menjalankan tugasnya di kota Banyuwangi.

Bagi pedamba hujan dan rizki, malaikat Mikail adalah malaikat yang paling dinanti sapanya, sebab tugasnya adalah menurunkan hujan dan membagi rezeki. Terkait dengan hujan dan Mikail, di dalam kitab Marah Labid Tafsir an-awawi atau Tafsir al-Munir karya Syekh Nawawi al-Bantani terdapat kisah seorang lelaki yang sangat mencintai malaikat Mikail, tetapi sangat membenci malaikat Jibril. Lelaki tersebut bernama Abdullah bin Shuriya. Berikut kisah lengkapnya.

Ketika Nabi Muhammad telah sampai di kota Madinah, seorang lelaki yang bernama Abdullah bin Shuriya mendatangi Nabi Muhammad dan bertanya, “Wahai Muhammad, ceritakan padaku bagaimana cara tidurmu sebagai seorang rasul di akhir zaman?”

Nabi Muhammad dengan sifat Fathonah-nya memberikan jawaban, “Ketahuilah, dua mataku memang tidur, tetapi tidak dengan hatiku!”

Abdullah bin Suriya mengomentari jawaban Nabi dengan ucapan, “Tepat sekali jawabanmu, wahai Muhammad. Selanjutnya, jelaskan padaku tentang warisan genetik seorang anak yang didapat dari ayah dan ibunya!”

Nabi Muhammad lagi-lagi berhasil menjawab pertanyaan (yang seharusnya diajukan pada seorang dokter atau ahli medis. Hal ini menunjukkan bahwa cakupan ilmu nabi Muhammad sangat luas) dengan jawaban cerdas:

“Tulang, urat syaraf, dan otot merupakan warisan genetik dari pihak laki-laki (ayah), sedangkan daging, darah, kuku, dan rambut adalah warisan genetik dari pihak perempuan (ibu).”

Abdullah bin Suriya dibuat tak berdaya dengan jawaban Nabi Muhammad, tetapi Abdullah tetap ingin memojokkan Nabi Muhammad, “Jawaban yang tepat sekali Muhammad. Selanjutnya, bagaimana pendapatmu tentang seorang lelaki yang lebih menyerupai paman (dari pihak ayah) daripada paman (dari pihak ibu) dan sebaliknya?”

Dengan tenang, Nabi Muhammad menjawab pertanyaan tersebut, “Sperma yang lebih dominan akan membuatnya serupa dengannya. Jika sperma ayah yang lebih dominan, maka lelaki tersebut akan lebih mirip dengan paman (dari pihak ayah). Begitu pula sebaliknya.”

Abdullah bin Suriya masih belum menyerah menguji kerasulan Nabi Muhammad, “Jelaskan padaku tentang makanan yang diharamkan oleh bani Israil untuk dirinya sendiri dan di dalam Taurat juga disebutkan seorang nabi akhir zaman yang menjelaskan hal tersebut.”

Nabi Muhammad untuk yang kesekian kalinya berhasil menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat rinci:

“Maha Besar Allah yang telah menurunkan Taurat kepada nabi Musa. Tidakkah engkau tahu bahwa bani israil menderita sakit yang sangat parah dalam kurun waktu yang cukup lama. Kemudian mereka bernadzar kepada Allah jika mereka diberikan kesembuhan, maka mereka akan melarang diri mereka sendiri untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang paling mereka sukai. Makanan dan minuman tersebut adalah daging unta dan susunya.”

Mendengar jawaban Nabi Muhammad dengan tingkat akurasi bertriliun persen, membuat Abdullah bin Suriya mengeluarkan jurus pamungkasnya, “Semua jawabanmu tepat sekali, Muhammad. Pertanyaan terakhir dariku dan jika kau berhasil menjawabnya, maka aku akan beriman kepadamu. Siapa malaikat yang menemuimu untuk menyampaikan wahyu dari Allah?”

Nabi Muhammad menjawab dengan mantap, “Jibril.”

Abdullah bin Suriyah mengelak dengan jawaban, “Ketahuilah, Jibril bagiku adalah musuh, sebab Ia turun dengan membawa peperangan dan kesusahan. Berbeda dengan Mikail. Ia datang dengan membawa kabar gembira dan kebahagiaan (rezeki dan hujan). Andai yang menemuimu untuk menyampaikan wahyu dari Allah adalah Mikail, maka Aku akan beriman kepadamu, Muhammad.”

Dari kisah tersebut kemudian Allah menurunkan surat al-Baqarah ayat 97-98.
Wallahu a’lam.

INILAH SEJARAH HIJRAHNYA PARA UTUSAN ALLOH SWT.

Selama ini, peristiwa hijrah sangant identik dengan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saja. Padahal, ketika kita membaca Alquran, tentu kita dapati bahwa para nabi dan rasul selain Nabi Muhammad pun mengalami babak baru dalam dakwah mereka dalam bentuk hijrah. Namun mungkin kita kurang menyadari bahwa itulah hijrah mereka, fase baru dakwahnya para utusan Allah.

Meskipun banyak nabi dan rasul yang mengalami hijrah, hijrah mereka berbeda dengan hijrahnya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara rasulullah yang mengalami peristiwa hijrah adalah:

Pertama: Nabi Ibrahim shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengenai hijrahnya Nabi Ibrahim, terdapat dua pendapat, kota mana yang menjadi tujuan Nabi Ibrahim setelah pergi dari negerinya Irak. (1) Ada yang mengatakan bahwa beliau hijrah ke Mekah dan (2) yang lainnya mengatakan bahwa beliau berpindah ke Syam, ke tanah Jerusalem, Palestina. Dan tidak diragukan lagi, Nabi Ibrahim memang memasuki kedua kota tersebut. Namun kota mana yang terlebih dahulu dikunjungi? Allahu a’lam.

Setidaknya ada tiga ayat yang menerangkan tentang hijrahnya Nabi Ibrahim ‘alaihi ash-shalatu wa as-salam.

فَآَمَنَ لَهُ لُوطٌ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَى رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Maka Luth membenarkan (kenabian)nya. Dan berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku); sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Ankabut: 26).

Ayat lainnya,

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ

Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. (QS. Ash-Shaffat: 99).

Dan firman Allah,

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَىٰ أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا

“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”. (QS. Maryam: 48).

Beliau menjauhkan diri dari peribadatan yang mereka lakukan dan juga menjauhkan diri dari tempat tersebut.

Kedua: Rasulullah Musa shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Peristiwa hijrahnya Nabi Musa berbeda dengan hijrahnya Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad. Ketika hijrah, Nabi Musa belum diangkat sebagai rasul. Adapun Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad telah diangkat sebagai rasul saat keduanya berhijrah.

Peristiwa hijrahnya Nabi Musa terjadi pada saat beliau membunuh seorang laki-laki Qibthi.

وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَىٰ قَالَ يَا مُوسَىٰ إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ

“Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: ‘Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu’.” (QS. Al-Qashash: 20).

Nabi Musa pun pergi menuju Madyan. Selama tinggal 10 tahun di Madyan, Nabi Musa menikahi seorang wanita putri dari laki-laki sepuh di wilayah tersebut.

Perbedaan lainnya antara hijrah Nabi Muhammad dan Nabi Musa adalah latar belakang hijrah. Jika hijrahnya Nabi Muhammad adalah karena orang-orang Mekah telah menutup rapat diri mereka dari hidayah Islam, sementara di Madinah eksistensi dakwah secara meluas dan tegaknya negeri Islam sangat mungkin digapai. Adapun Nabi Musa untuk menghindari kebengisan Firaun.

فَفَرَرْتُ مِنْكُمْ لَمَّا خِفْتُكُمْ فَوَهَبَ لِي رَبِّي حُكْمًا وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُرْسَلِينَ

“Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul.” (QS. AS-Syuara: 21).

Dan masih banyak nabi dan rasul lainnya yang mengalami hijrah, seperti Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf, dll. Kesimpulannya, hijrah para nabi berbeda dengan hijrahnya Nabi Muhammad. Hijrah beliau memiliki kedudukan yang begitu mulia dan juga sangat berat dalam praktiknya. Hijrah beliau tidak dilator-belakangi lari dari siksa atau adzab kaumnya.

TIDAK BENAR KALAU NABI NUH AS. TIDAK SABAR TERHADAP KAUMNYA

Sebagian orang ada yang menuduh Rasulullah Nuh ‘alaihissalam bukanlah seorang Rasul yang sabar menghadapi kaumnya, padahal Allah sendiri menggelarinya ulul azmi di antara para rasul. Alasan orang-orang yang menuduh Nabi Nuh tidak sabar karena Nabi Nuh memintakan adzab kepada Allah untuk kaumnya.

Mari pahami alur kisahnya, mengapa Nabi Nuh mengucapkan demikian, sehingga kita tidak berburuk sangka kepada utusan Allah yang mulia.

Kaum Nuh AS adalah kaum yang ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak hanya melakukan kekufuran, mereka juga senantiasa menantang Nabi Nuh untuk mendatangkan adzab sebagai bukti kebenaran dakwahnya itu. Mereka mengatakan,

يَا نُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Hud: 32)

Namun Nabi Nuh tetap bersabar dan tidak membalas perkataan mereka dengan meng-iya-kannya atau meanggapinya dengan ancaman, beliau hanya mengatakan bahwa keputusan adzab bukanlah kehendaknya, melainkan hanya kehendak Allah semata.

قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ إِنْ شَاءَ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ

Nuh menjawab, “Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri”. (QS. Hud: 33)

Nabi Nuh yang telah berdakwah selama 950 tahun, tidak hanya di siang hari namun juga di malam hari beliau tidak berhenti menyeru kaumnya. Selama masa yang panjang itu pula beliau bersabar atas gangguan fisik maupun psikis yang ia terima.

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا

Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam, namun seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). (QS. Nuh: 6-7)

Tidak hanya menolak seruan Nabi Nuh, mereka pun mengejeknya dengan menutupi telinga-telinga mereka.

وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا

“Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.” (QS. Nuh: 8)

Allah Ta’ala pun menanggapi kaum Nuh yang sangat melampaui batas ini dengan berfirman, mengabarkan kepada Rasulullah Nuh ‘alaihi ash-shalatu wa as-salam bahwa tidak ada lagi kaumnya yang akan beriman kepadanya.

وَأُوحِيَ إِلَىٰ نُوحٍ أَنَّهُ لَنْ يُؤْمِنَ مِنْ قَوْمِكَ إِلَّا مَنْ قَدْ آمَنَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Hud: 36)

Artinya, tidak akan ada lagi yang akan beriman kepada seruanmu setelah 9 orang yang telah mengikutimu.

Mendengar firman Allah ini, Nuh AS sadar Allah akan segera menurunkan adzab-Nya kepada kaumnya.

وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا. إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا

“(Jika demikian) Rabb-ku, maka jangan engkau sisakan seorang pun orang kafir di atas bumi ini. Jika Engkau membiarkan mereka, pastilah mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu (yang lain), dan mereka pun akan melahirkan keturunan yang senantiasa berbuat dosa dan kekufuran.” (QS. Nuh: 26-27)

Demikianlah syariat terdahulu, ketika sebuah kaum melakukan dosa dan melampaui batas, maka Allah akan menurunkan adzab-Nya langsung di dunia dengan membinasakan mereka. Lihatlah kaum ‘Add umat Nabi Hud, ketika mereka ingkar dan terus-menerus menyomobongkan diri, Allah binasakan mereka dengan angin topan. Umat Nabi Luth, Allah buat mereka binasa dengan menghujani batu api dari langit kemudian membalikkan bumi yang mereka pijak.  Bangsa Madyan, umat Nabi Syuaib Allah hancurkan mereka dengan suara guntur yang menggelgar sehingga mereka tewas seketika seolah-olah tidak pernah ada orang yang tinggal di daerah itu sebelumnya. Firaun, Qarun, dll. Allah segerakan adzab mereka di dunia dan nanti adzab yang lebih besar di akhirat.

Berbeda dengan umat Nabi Muhammad yang Allah utamakan atas umat lainnya, Allah tunda adzab-Nya di akhirat kelak, dan memperpanjang masa bagi umat Muhammad agar berpikir dan bertaubat. Semua itu Allah lakukan dengan hikmah dan ilmu-Nya, dan hendaknya kita bersyukur atas hal ini.

Dan akhirnya adzab yang mereka nanti-nantikan itu datang, langit menurunkan air yang sangat deras dan bumi pun mengeluarkan air yang melimpah. Bumi pun menjadi lautan yang sangat besar, yang ombaknya saja setinggi gunung.

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ

“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung.” (QS. Hud: 42)

Demikianlah Allah menetapkan takdir untuk kaum Nabi Nuh.

WALLOHU ALAM

KISAH HIKMAH MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SAW.

Disebutkan dalam kitab Targhibul Musytaqin halaman 4 :

وَقَالَ عَبْدُاللهِ بْنُ عِيْسَى الْأَنْصَارِيُ كَانَتْ بِجِوَارِيْ اِمْرَأَةٌ صَالِحَةٌ وَلَهَا وَلَدٌ صَالِحٌ فَكَانَتْ فَقِيْرَةً لَاشَيْئَ لَهَا إِلَّا دِيْنَارٌ وَاحِدٌ مِنْ ثَمَنِ غَزْلِهَا فَمَاتَتْ وَكَانَ ذَلِكَ الْوَلَدُ يَقُوْلُ: هَذَا مِنْ ثَمَنِ غَزْلِ أُمِيْ وَاللهِ لَا أَصْرِفُهُ إِلَا فِيْ أَمْرِ الْآخِرَةِ

Syaikh Abdullah bin ‘Isa al-Anshari berkata : Adalah tetanggaku seorang wanita yang sholehah. Dia mempunyai seorang anak lelaki yang sholeh. Wanita yang sholehah ini tidak mempunyai harta selain satu dinar hasil kerja tenunnya. Tatkala wanita tersebut meninggal dunia, anaknya yang sholeh tersebut berkata kepada dirinya : “Uang satu dinar ini adalah hasil kerja ibuku. Demi Allah, aku tidak akan membelanjakannya kecuali untuk perkara akhirat.”

وَخَرَجَ ذَاتَ يَوْمٍ فِيْ حَاجَةٍ لَهُ فَمَرَ بِقَوْمٍ يَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ وَعَمِلُوْا مَوْلِدَ النَّبِيِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ فِيْ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ فَجَلَسَ عِنْدَهُمْ وَسَمِعَ ذَلِكَ

Pada suatu hari, pemuda anak perempuan sholehah tersebut keluar karena suatu keperluan, dia melewati satu perkumpulan orang sedang membaca al-Quran dan mengadakan Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pada bulan Rabi`ul Awwal. Lalu dia pun duduk bersama mereka dan mendengarkan Maulid tersebut.

ثُمَّ نَامَ فِيْ لَيْلَتِهِ فَرَأَى فِيْ مَنَامِهِ كَأَنَّ الْقِيَامَةَ قَدْ قَامَتْ وَكَأَنَّ مُنَادِيًا يُنَادِيْ: أَيْ فُلَانُ ‌بْنَ فُلَانٍ يَذْكُرُ جَمَاعَةً فَسَاقَهُمْ إِلَى الْجَنَةِ وَذَلِكَ الشَّابُّ مَعَهُمْ وَقَالَ الْمُنَادِيْ: إِنَّ اللهَ جَعَلَ لِكُلٍّ مِنْكُمْ قَصْرًا فِي‌ الْجَنَّةِ فَدَخَلَ ذَلِكَ الشَّابُّ قَصْرًا لَمْ ‌يَرَ أَحْسَنَ منه وَالْحُوْرُ الْعِيْنُ فِيْهِ كَثِيْرَةٌ وَعَلَى أَبْوَابِهِ خُدَّامٌ وَبَاقِي الْقُصُوْرِ أَلْطَفُ مِنَ الْقَصْرِ الَّذِيْ دَخَلَ فِيْهِ فَأَرَادَ الدُّخُوْلَ فِيْهِ فَلَمَّا هَمَّ بِالدُّخُوْلِ قَالَ لَهُ الْخَادِمُ : لَيْسَ هَذَا لَكَ وَإِنَّمَا هُوَ لِمَنْ عَمِلَ مَوْلِدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ

Pada malamnya, pemuda tersebut bermimpi seolah-olah kiamat telah tiba dan seorang penyeru menyeru: “Di manakah si fulan anak si fulan”, disebutnya nama-nama orang yang dalam satu rombongan lalu digiringlah mereka ke surga. Dan pemuda tersebut ikut bersama mereka.

Si penyeru tadi berkata: “Sesungguhnya Allah telah memberi bagi setiap kamu sebuah istana didalam surga.” Dan masuklah si pemuda tadi ke dalam sebuah istana, tidak pernah dia melihat istana yang seumpamanya dari segi keindahannya, ia dipenuhi bidadari dan pada segala pintunya dijaga oleh khadam. Pemuda tersebut melihat bahwa ada istana lain yang lebih elok daripada istana yang ia masuki. Lalu dia pun berkehendak untuk memasukinya. Tatkala terbesit dihatinya untuk memasuki istana tersebut, berkatalah khadam kepadanya: “Ini bukanlah untukmu, sesungguhnya ini diperuntukkan bagi orang yang mengadakan Maulid Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.”

فَلَمَّا أَصْبَحَ ذَلِكَ الشَّابُّ صَرَفَ ذَلِكَ الدِّيْنَارَ عَلَى مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ فَرْحًا بِرُؤْيَاهُ وَجَمَعَ الْفُقَرَآءَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالَى وَيَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ وَمَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ وَقَصَّ‌ عَلَى الْجَمَاعَةِ رُؤْيَاهُ فَفَرِحُوْا بِذَلِكَ وَنَذَرَ أَنْ لَايَقْطَعَ مَوْلِدَ‌ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ مَادَامَ حَيًّا

Keesokan harinya, pemuda tersebut menggunakan satu dinar (peninggalan ibunya) tersebut untuk mengadakan Maulid Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam karena kegembiraannya dengan mimpinya itu. Diapun mengumpulkan para faqir miskin untuk berzikir kepada Allah, membaca al-Quran dan membaca Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dia juga menceritakan tentang mimpinya itu kepada mereka, dan mereka merasa gembira mendengar ceritanya itu. Pemuda tersebut bernazar untuk tidak akan meninggalkan mengadakan Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasalla selama hayatnya.

ثُمَّ نَامَ فَرَأَى أُمَّهُ فِي الْمَنَامِ فِيْ هَيْئَةٍ حَسَنَةٍ وَفِيْ حُلَلٍ مِنْ حُلَلِ الْجَنَّةِ وَلَهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ وَقَبَّلَ يَدَهَا وَهِيَ قَبَّلَتْ رَأْسَهُ وَقَالَتْ : جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا يَا وَلَدِيْ لَقَدْ أَتَانِيْ مَلَكٌ وَأَعْطَانِيْ هَذِهِ ‌الْحُلَلَ فَقَالَ لَهَا: مِنْ أَيْنَ لَكِ هَذِهِ الْكَرَامَةُ فَقَالَتْ: لِأَنَكَ قَدْ صَنَعْتَ بِالدِّيْنَارِ الَّذِيْ وَرِثْتَهُ مِنِّيْ مَوْلِدَ سَيِّدِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ وَهَذَا جَزَاءُ مَنْ عَظَّمَ نَبِيَّهُ وَعَمِلَ مَوْلِدَهُ

Kemudiannya, si pemuda tidur. Dalam tidurnya dia bermimpi bertemu dengan ibunya. Ibunya berada dalam keadaan yang amat baik, berhias dengan segala perhiasan syurga dan berwangian dengan bau surga. Pemuda tersebut mencium tangan ibunya dan ibunya mengecup kepalanya lalu berkata: “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, wahai anakku, malaikat telah datang kepadaku membawa segala perhiasan ini.” Si pemuda bertanya kepada ibunya: “Dari manakah ibu memperoleh kemuliaan ini?” Sang ibu menjawab: “Karena engkau telah mempergunakan satu dinar yang engkau warisi dariku untuk mengadakan Maulid Junjungan orang-orang terdahulu dan orang-orang yang kemudian, dan inilah balasan bagi orang yang mengagungkan Nabinya dan mengadakan Maulid Baginda Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam”.

SEJARAH PENTING PARA NABI AS. DI HARI ASYURO 10 MUHARROM

Beberapa Peristiwa Penting Para Nabi pada 10 Muharram

Masa kebangkitan, keemasan, dan kehancuran suatu umat terjadi silih berganti, dari satu generasi ke generasi yang lain, dari suatu abad ke abad yang lainnya. Peristiwa-peristiwa itu terus bergulir dengan pasti, sesuai dengan sunnatullah. Semua peristiwa tersebut merupakan pelajaran yang amat berharga bagi kita dan bagi generasi yang akan datang, untuk memilih mana yang baik yang harus diikuti dan mana yang buruk yang harus dihindari.

Hari sepuluh Muharram atau hari Asyura merupakan hari bersejarah. Menurut beberapa riwayat disebutkan, banyak peristiwa penting terjadi di hari itu pada masa yang lalu, di antaranya disebutkan sebagai berikut:

(1) Nabi Adam ‘alaihissalam bertobat kepada Allah dari dosa-dosanya dan tobat tersebut diterima oleh-Nya.

 (2) Berlabuhnya kapal Nabi Nuh di bukit Zuhdi dengan selamat, setelah dunia dilanda banjir yang menghanyutkan dan membinasakan.

(3) Selamatnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dari siksa Namrud, berupa api yang membakar.

(4) Nabi Yusuf ‘alaihissalam dibebaskan dari penjara Mesir karena terkena fitnah.

(5) Nabi Yunus ‘alaihissalam selamat, keluar dari perut ikan hiu.

(6) Nabi Ayyub ‘alaihissalam disembuhkan Allah dari penyakitnya yang menjijikkan.

(7) Nabi Musa ‘alaihissalam dan umatnya kaum Bani Israil selamat dari pengejaran Fir’aun di Laut Merah. Beliau dan umatnya yang berjumlah sekitar lima ratus ribu orang selamat memasuki gurun Sinai untuk kembali ke tanah leluhur mereka.

Banyak lagi peristiwa lain yang terjadi pada hari sepuluh Muharram itu, yang menunjukkan sebagai hari yang bersejarah, yang penuh kenangan dan pelajaran yang berharga.

Sayyidah Aisyah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam menyatakan bahwa hari Asyura adalah hari orang-orang Quraisy berpuasa di masa Jahiliyah, Rasulullah juga ikut mengerjakannya. Setelah Nabi berhijrah ke Madinah beliau terus mengerjakan puasa itu dan memerintahkan para sahabat agar berpuasa juga. Setelah diwajibkan puasa dalam bulan Ramadhan, Nabi s.a.w. menetapkan:

مَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكَهُ فَلْيَتْرُكْهُ

“Barangsiapa yang menghendaki berpuasa Asyura puasalah dan siapa yang tidak suka boleh meninggalkannya.” (HR. Bukhari, No: 1489; Muslim, No: 1987)

Ibnu Abbas seorang sahabat, saudara sepupu Nabi yang dikenal sangat ahli dalam tafsir al-Qur’an meriwayatkan bahwa saat Nabi berhijrah ke Madinah, beliau menjumpai orang-orang Yahudi di sana mengerjakan puasa Asyura. Nabi pum bertanya tentang alasan mereka berpuasa. Mereka menjawab:

هُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Allah telah melepaskan Musa dan Umatnya pada hari itu dari (musuhnya) Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Musa berpuasa pada hari itu, dalam rangka bersyukur kepada Allah”. Nabi bersabda : “Aku lebih berhak terhadap Musa dari mereka.” Maka Nabi pun berpuasa pada hari itu dan menyuruh para sahabatnya agar berpuasa juga.” (HR. Bukhari; No: 1865  & Muslim, No: 1910)

Abu Musa al-Asy’ari mengatakan:

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَتَتَّخِذُهُ عِيدًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوهُ أَنْتُمْ

“Hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan dijadikan oleh mereka sebagai hari raya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Berpuasalah kamu sekalian pada hari itu.” (H.R. Bukhari, No: 1866; Muslim, No: 1912)

Dari uraian di atas nyatalah bagi kita, bahwa hari Asyura merupakan hari bersejarah yang diagungkan dari masa ke masa. Kita hendaknya menyambut hari itu dengan banyak mengambil pelajaran yang bermanfaat dari sejarah masa lalu. Kita menyambutnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah, agar senantiasa berada dalam bimbingannya, yaitu dengan jalan:

Pertama, mengerjakan puasa sunnah pada hari Asyura atau tanggal 10 Muharram.

Keutamaan puasa pada hari ini diantaranya disebutkan dalam hadits Nabi:

سُئِلَ عَنْ صِياَمِ يَوْمِ عَاشُوْرآءَ؟ قَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari Asyura, beliau menjawab: “Puasa pada hari Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim, No: 1977)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah menjelaskan:

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ

“Sesungguhnya shalat yang terbaik setelah shalat fardhu adalah shalat tengah malam dan sebaik-baiknya puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah yang kamu menyebutnya bulan Muharram.” (HR. Nasa’i, No: 1614)

Kedua, mengerjakan puasa Tasu’a atau puasa sunnah hari kesembilan di bulan Muharram.

Mengenai puasa ini Ibnu Abbas meriwayatkan:

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه مسلم وأبو داود)

“Pada waktu Rasulullah dan para sahabatnya mengerjakan puasa Asyura, para sahabat menginformasikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bahwa hari Asyura diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Maka Nabi bersabda : “Tahun depan Insya Allah kami akan berpuasa juga pada hari kesembilan”. kata Ibnu Abbas, akan tetapi sebelum mencapai tahun depan Rasulullah s.a.w. wafat”. (H.R. Muslim, No: 1916, Abu Daud, No: 2089).

Dengan demikian, kita melakukan puasa Asyura dengan menambah satu hari sebelumnya yaitu hari Tasu’a, atau tanggal 9 di bulan Muharram. Kita disunnahkan berpuasa selama 2 hari, yaitu tanggal 9 dan 10 Muharram.

Ketiga, memperbanyak sedekah.

Dalam menyambut bulan Muharram diperintahkan agar memperbanyak pengeluran dari belanja kita sehari-hari untuk bersedekah, membantu anak-anak yatim, membantu keluarga, kaum kerabat, orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan. Semua itu hendaknya dilakukan dengan tidak memberatkan diri sendiri dan disertai keikhlasan semata-mata mengharap keridhaan Allah.

Mengenai hal ini Rasulullah bersabda:

مَنْ وَسَّعَ عَلى عِيَالِهِ وَ أَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ

“Siapa yang meluaskan pemberian untuk keluarganya atau ahlinya, Allah akan meluaskan rizki bagi orang itu dalam seluruh tahunnya.” (HR Baihaqi, No: 3795)

Dengan memperingati hari Asyura, kita dapat mengambil pelajaran dari perjuangan para Nabi dan Rasul terdahulu. Misi mereka pada dasarnya adalah sama menegakkan aqidah Islamiyah, meyakini ke-Esaan Allah subhanahu wata’ala yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Peristiwa masa lalu merupakan cermin bagi kita untuk berusaha memisahkan kebenaran dan kebathilan, memisahkan yang baik dan buruk, agar dapat meratakan jalan bagi kita untuk menjangkau masa depan. Semua peristiwa dan kejadian-kejadian yang ada dalam alam semesta ini merupakan pelajaran yang bermanfaat bagi orang-orang yang mempergunakan akalnya. Pergantian siang dan malam, pergantian musim dan pada segala sesuatu di alam ini terdapat tanda, bahwa sesungguhnya Allah itu adalah Maha Esa dan Maha Kuasa.

KISAH PERAHUNYA NABI NUH AS DI MASUKI IBLIS LAKNATULLOH

Tercatat dalam Tarikh Al-Khatib al-Baghdadi bahwa, Nuh adalah rasul ketiga yang diutus ke muka bumi setelah Adam dan Idris. Putra Lamik ini menjadi orang yang pertama diutus dengan syariatnya dan mengganti syariat Adam. Beliau memiliki umur yang cukup panjang, namun tidak banyak umat yang mengikutinya sebagaimana Kanjeng Nabi Muhammad.

Banyak sekali riwayat mengenai usia nabi Nuh. Kebanyakan meriwayatkan bahwa beliau berumur 950 tahun. Sebagian riwayat menyebutkan beliau diutus saat berumur 50 tahun, berdakwah di tengah kaumnya selama 950 tahun, dan hidup setelah mereka binasa selama 200 tahun. Total umur beliau adalah 1200 tahun. Bahkan, riwayat lain mengatakan usia beliau adalah 1450 tahun. Pendapat terakhir ini mengatakan bahwa Nuh lahir saat Adam masih hidup.

Perkara yang paling identik dengan Nabi Nuh adalah bahtera besar yang dibuatnya untuk menyelamatkan diri dan populasi makhluk atas adzab yang Allah turunkan. Kronologi awal adzab itu karena doa Nuh yang terus-menerus melihat kezaliman yang dilakukan umatnya.

 رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا

Artinya : “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. (QS. Nuh: 26)

Allah menjawab doa tersebut, namun sebelumnya Dia memerintahkan beliau membuat bahtera. Allah mengutus malaikat Jibril untuk mengajarkan proses pembuatan kapal. Terlebih dahulu Nuh harus menanam pohon untuk bahan atau kayu. Sekitar 20 tahun kemudian pohon bisa dipakai untuk papan kapal, ada yang mengatakan 40 tahun.

Abu Bakar, Ahmad bin Ali menyebutkan bahwa panjang safinah nuh adalah 80 hasta dan lebarnya 50 hasta. Ada yang mengatakan panjangnya 300 hasta. Riwayat lain menyebutkan panjangnya 600 hasta, lebar 60 hasta dan tinggi 30 hasta. Kapal ini terbuat dari kayu dalb (jenis kayu), ada yang mengatakan dari kayu saj (jati),  dan ada juga yang menyebutkan dari kayu syamsyad (jenis kayu).

Bahtera Nuh terdiri dari tiga lantai; lantai paling atas ditempati manusia, lantai tengah untuk spesies  burung, dan lantai bawah dihuni hewan buas, hewan melata dan hewan ternak. Namun, Wahab bin Munabbih berkata, “Tingkat atas ditempati manusia, tingkat tengah ditempati makanan dan barang-barang dan tingkat bawah untuk hewan-hewan.”

Karena kapasitas kapal yang terbatas, Nuh diperintah Allah agar menaikan para pengikutnya, sepasang dari semua jenis hewan, semua jenis tanaman, biji-bijian dan pepohonan. Nabi Nuh juga membawa jasad Nabi Adam sebagaimana wasiat ayah seluruh manusia ini kepada anak turunnya.

Nabi Nuh memasukkan hewan satu demi satu, hingga hewan terakhir, yakni khimar atau keledai. Saat itu, iblis masuk ke kapal Nuh dengan cara bergantungan di ekor hewan ini. Ketika nabi Nuh melihatnya, beliau berkata, “Hai Musuh Allah, siapa yang memperbolehkanmu masuk?”

“Saat kau berkata kepada khimar, masuklah meskipun setan bersamamu.”

“Keluarlah dari sini!”

“Tolong biarkanlah diriku, sesungguhnya aku telah ditangguhkan.”

Maka Nuh menyuruhnya duduk di sebuah ruangan.

Sebagian riwayat mengatakan, azab Allah mengirimkan azabnya, para setan juga terhempas oleh badai sampai berterbangan di antara langit dan bumi. Banyak sekali setan yang meninggal saat petaka itu berlangsung.

Demikian Imam Khatib Al-Baghdadi mencatat adanya iblis yang masuk ke bahtera Nuh. Adanya iblis yang yang naik ke bahtera Nuh juga terdapat dalam kitab Ihya Ulumiddin, karangan Imam Ghazali. Dalam riwayat ini Nabi Nuh menjumpai iblis dalam wujud orang tua yang tidak dikenalnya, dan memberi nasehat yang sangat berguna bagi manusia.

“Kenapa kamu masuk ke sini?” Tanya beliau.

“Aku akan merebut hati para pengikutmu, sehingga hati mereka bersamaku dan badannya bersamamu.”

“Keluarlah, hai musuh Allah, sesungguhnya kamu telah dilaknat.”

“Lima perkara yang akan merusak manusia, tiga di antaranya akan aku ceritakan kepadamu dan dua di antaranya tidak akan aku ceritakan.”

Setelah itu Allah memberi Wahyu kepada Nuh bahwa tiga perkara tidaklah dibutuhkan, yang dibutuhkannya adalah dua perkara yang disimpannya.

Nabi Nuh pun memaksa iblis menceritakan dua perkara tersebut.

Baca juga:  Adu Kecerdasan antara Al-Baqillani dengan Raja Romawi

“Apa dua perkara tadi?” Tanya nabi Nuh.

“Yakni dua perkara yang tidak akan kamu dustakan atau ingkari, yakni manusia akan rusak sebab sifat hirs (ingin) dan hasud. Sebab hasud, aku dilaknat dan dijadikan setan rajim (diusir) dan sebab hirs (ingin) aku bisa menarik hati Adam, sehingga dia memakan buah yang dilarang di surga. Padahal dia diperbolehkan makan apa pun kecuali buah pohon tersebut.”

NABI MUSA AS MENCARI BERBAGAI CARA DALAM BERSYUKUR

Dalam kitab al-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal mencatat sebuah riwayat tentang Nabi Musa ‘alaihissalam yang kebingungan bersyukur. Berikut riwayatnya:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا أبِي، أَخْبَرَنَا هَاشِمٌ، أَخْبَرَنَا صَالِحٌ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ، عَنْ أَبِي الْجَلْدِ قَالَ: قَالَ مُوسَى: إِلَهِي، كَيْفَ أَشْكُرُكَ وَأَصْغَرُ نِعْمَةٍ وَضَعْتَهَا عِنْدِي مِنْ نِعَمِكَ لَا يُجَازِي بِهَا عَمَلِي كُلُّهُ؟ قَالَ: فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ أَنْ يَا مُوسَى، الْآنَ شَكَرْتَنِي

Abdullah bercerita, Ayahku mengabarkan, Hasyim mengabarkan, Shalih mengabarkan, dari Abu ‘Imran, dari Abu al-Jald, ia berkata:

“Musa berkata: “Tuhanku, bagaimana cara(ku) bersyukur kepada-Mu, sedangkan nikmat terkecil yang Kau letakkan di sisiku, termasuk nikmat-nikmat-Mu yang tidak mungkin berbalas dengan semua amalku?”

Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa, (Allah berfirman): “Wahai Musa, sekarang ini kau sudah bersyukur kepada-Ku.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 85)

Dalam beragama banyak hal yang perlu diperbincangkan, termasuk “syukur”. Allah berfirman (QS. Ibrahim: 7):

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ, وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ

“Dan (ingatlah juga) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami tambah nikmat kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sungguh azab-Ku sangat pedih.”

Namun, banyak orang yang tidak tahu bagaimana seharusnya ekspresi syukur itu, karena kadar nikmat yang Allah berikan kepada kita tidak mungkin diimbangi dengan semua amal baik kita. Belum lagi dosa yang semakin menjauhkan kita. Sampai Nabi Musa ‘alaihissalam bingung bagaimana cara mensyukuri nikmat Allah yang sedemikian banyak, bahkan yang terkecilnya saja tidak sanggup diimbangi oleh semua amalnya.

Di sinilah Allah menunjukkan kasih sayangNya. Salah satu nama-Nya (al-Asmâ’ al Husnâ) adalah, “al-Syakûr—Yang Maha Mensyukuri”, yaitu Allah mengapresiasi semua amal yang dilakukan hambaNya. Bahasa zaman sekarangnya, Allah itu Maha Mengapresiasi, dan menerima amal hamba-Nya, sekecil apapun itu. Dalam sebuah hadits diceritakan (HR. Imam Muslim):

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلي الله عليه وسلم قَالَ: بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِى بِطَرِيْقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ فَاَخَّرَهُ، فَشَكَرَ اللهُ لَهُ، فَغَفَرَ اللهُ لَهُ

“Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata: “Suatu ketika ada laki-laki yang berjalan di sebuah jalan, ia menemukan dahan berduri lalu menyingkirkannya. Maka Allah berterima kasih kepadanya (menerima amalnya), kemudian Allah mengampuninya.”

Dalam hadits di atas, ada kalimat, “syakarallahu lahu—Allah berterima kasih kepadanya,” yang mengindikasikan diterimanya amal laki-laki tersebut. Artinya, setiap kali ada hamba-Nya yang beramal, Allah akan berterima kasih dengan cara menerima amalnya. Dan, kisah di atas merupakan gambaran termudah dari sifat “al-Syakûr” Allah.

Kita pun harus tahu, bahwa kebingungan Sayyidina Musa adalah kebingungan yang bernilai tinggi. Kebingungan yang berasal dari ketaatan dan kesalehannya. Bukan kebingungan sembarangan. Karena tidak banyak orang yang memandang dirinya terlebih dahulu sebelum bersyukur. Mereka hanya bersyukur saja, tanpa repot mentafakkuri begitu melimpahnya nikmat Allah, yang jika dibahasakan tidak ada kalimat yang bisa melukiskan keberlimpahannya.

Dalam kebingungannya itu, Sayyidina Musa ‘alaihissalam menampilkan penghambaannya. Karena ia tahu begitu banyak nikmat Allah di sekelilingnya, hingga ia merasa tak pantas “berterima kasih”. Jika yang terkecil saja masih terlalu besar andai ditimbang dengan semua amalnya, apalagi nikmat-Nya yang terbesar. Inilah yang dimaksud kebingungan yang berasal dari kesalehan, karena orang saleh terbiasa mengukur dirinya sendiri terlebih dahulu; apakah ia laik atau tidak. Oleh sebab itu, tidak sedikit para wali yang kebingungan dalam bersyukur, hingga sebagian dari mereka berdoa:

اللهمّ إِنَّكَ تَعْمَلُ عَجْزِي عَنْ مَوَاضِعِ شُكْرِكَ، فَاشْكُرْ نَفْسَكَ عَنِّي

“Ya Allah, sungguh Kau mengetahui ketidak-mampuanku bersyukur sesuai dengan (semua karunia)-Mu, maka bersyukurlah pada DiriMu sendiri sebab (ketidak-mampuan)ku (itu).” (Imam Abu Bakr Muhammad al-Kalabadzi, Kitâb al-Ta’arruf li Madzhab Ahl al-Tashawwuf, Kairo: Maktabah al-Khanji, tt, h. 71)

Akan tetapi, bukan berarti kita berhenti bersyukur. Kita harus tetap bersyukur atas nikmat-nikmat Allah. Jika kita berhenti bersyukur karena alasan di atas, artinya kita telah menyamakan diri kita dengan Nabi Musa; kita telah menyamakan kualitas kesalehan kita dengannya. Padahal, Nabi Musa, dalam kisah di atas, sedang mempersembahkan syukur dalam level tertingginya. Hadirnya perasaan “tak pantas” yang dirasakannya bukanlah rekayasa, dibuat-buat atau dipelajari, melainkan ketulusan rasa yang dihasilkan dari tafakkur diri dan sekitarnya.

Paling tidak, kita bisa mensyukuri nikmat Allah dengan berusaha istiqamah mengingat-Nya di hati, lisan dan perbuatan; mengenali pemberian-Nya dan memanfaatkannya di jalan kebaikan, seperti yang dikatakan Imam Ibnu Mandhur, “’irfânul ihsân wa nasyruhu—(syukur adalah) mengetahui kebaikan dan menyebarkannya.” (Imam Abu al-Fadl Jamaluddin Muhammad bin Mandhur al-Anshari, Lisân al-‘Arab, Kairo: Darul Ma’arif, tt, juz 4, h. 2305). Dalam bahasa hadits dikatakan, “khairunnâs anfa’uhum linnâs—sebaik-baiknya mansuia adalah yang paling bermanfaat untuk lainnya.”

Sebagai penutup, kita perlu menghayati doa Nabi Musa di bawah ini, karena bedoa juga termasuk bentuk syukur kepada Allah. Bila perlu, kita seringkan membaca doa di bawah ini:

اللَّهُمَّ لَيِّنْ قَلْبِي بِالتَّوْبَةِ، وَلَا تَجْعَلْ قَلْبِي قَاسِيًا كَالْحَجَرِ

“Ya Allah, lunakkan hatiku dengan taubat, dan jangan jadikan hatiku mengeras seperti batu.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, 1992, h. 85)

MENELADANI NABI IBROHIM AS DALAM BERDO’A

Nabi Ibrahim as melakukan serangkaian perjalanan bolak-balik antara Palestina dan Makkah sebanyak empat kali.

Pertama, ketika membawa isterinya, Hajar, dan anaknya, Ismail, yang masih bayi. Di waktu inilah air Zamzam keluar.

Kedua, perjalanan ketika Ismail beranjak dewasa. Keduanya kemudian membangun membangun Ka’bah.

Ketiga, ketika Ismail sudah beristeri pertama dengan perempuan dari suku Jurhum.

Keempat, ketika Ismail beristeri baru setelah menceraikan isteri pertama karena ketidakcocokan dan atas desakan ayahnya karena ketidakcocokan itu.

Ketika Nabi Ibrahim pertama kali datang ke satu lembah yang tandus yang masih belum ada penduduk, Ismail masih kecil. Nabi Ibrahim berdoa dengan dua permintaan, pertama, agar  kawasan di lembah itu pada satu saat nanti menjadi satu kota yang aman. (lihat redaksi Al-Qur’an: baladan tanpa al atau lam ta’rif)

Permintaan kedua, agar penduduknya baik muslim maupun kafir mendapat limpahan rezeki. (lihat Al-Baqarah: 126).

Doa ini dikabulkan oleh Allah sehingga kawasan ini menjadi kota yang  ramai (lihat redaksi Al-Balad dengan al atau lam ta’rif) dengan pendatang baru yang penduduknya heterogen, di antara mereka banyak  orang-orang musyrik.

Ketika itu anaknya  Ismail sudah beranjak dewasa,  pada saat itulah Nabi Ibrahim berdoa lagi kepada Allah dengan enam permintaan (Ibrahim : 35).

Pertama, agar kota Makkah menjadi aman dan tenteram.

Kedua, keluarganya dijauhkan dari kemusyrikan.

Ketiga, mereka selalu melaksanakan shalat.

Keempat, hati manusia cenderung untuk datang ke Makkah.

Kelima, penduduknya diberi rezeki berupa buah-buahan.

Keenam, dosa-dosanya, dosa kedua orang tuanya dan dosa senua kaum mukmin diampuni.

Dari doa yang dipanjatkan ini, kelihatan sosok Nabi Ibrahim sebagai seorang hamba Allah yang sangat taat yang rela membawa istri dan anaknya ditempatkan di satu kawasan yang masih baru sama sekali.

Kering, tandus dan tak ada pepohonan. semua karena perintah Allah. Sosok ayah dan pemimpin yang  sangat peduli kepada keluarganya dan masyarakatnya baik dalam soal keyakinan,  kesejahteraan hidup atau keamanan, ketenteraman jiwa dan raga.

Tiga pokok unsur kehidupan ini ( keimanan, keamanan dan kesejahteraan lahir) ini jika  bisa diraih oleh seseorang, itulah satu kebahagiaan yang diidam-idamkan oleh setiap orang.

Atas ketaatan, kepatuhan dan ikhlasnya dalam berdoa, semua doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim dikabulkan oleh Allah.

 

Do’a nabi Ibrohim as agar di karuniai anak

Anak adalah karunia Allah yang menjadi idaman utama pasangan suami-istri (pasutri). Karena sebuah karunia, kehadiran momongan tidak bisa dijadwalkan manusia. Untuk itu, setiap pasutri dianjurkan berdoa untuk diberikan bukan hanya anak, tetapi juga keturunan yang saleh.

Pasutri yang belum dikaruniakan momongan tidak perlu cemas atau frustasi karena anak adalah hak penuh Allah. Sementara anugerah-Nya tidak berkaitan dengan kesalehan pasutri yang bersangkutan. Banyak orang saleh, kiai, ulama, bahkan rasul yang tidak dikaruniai anak atau dikaruniakan di akhir hayatnya.

Satu sama lain juga tidak perlu saling menyalahkan karena tidak ada yang salah pada masing-masing dari keduanya. Yang diperlukan adalah keduanya berdoa dan mendekatkan diri selalu kepada Allah.

Berikut ini doa Nabi Ibrahim AS ketika mengharapkan kehadiran momongan.

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ

Rabbi hab lî minas shâlihîn

Artinya: Tuhanku, berikanlah aku seorang anak yang saleh’ (Surat As-Shaffat ayat 100)

Doa ini menjadi alternatif sebagaimana dijelaskan Syekh Nawawi Banten dalam Marahu Labid li Kasyfi Ma‘na Quranin Majid, juz II, halaman 221, Darul Fikr, 1980

لما هاجر إلى الأرض المقدسة أراد الولد فقَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ أي ولدا من المرسلين فاستجبنا له

Artinya, “Ketika hijrah menuju tanah suci, Nabi Ibrahim AS merindukan kehadiran seorang anak. Kala itu ia berdoa, ‘Tuhanku, berikan lah aku seorang anak yang saleh’ (Surat As-Shaffat ayat 100). Maksudnya seorang anak dari kalangan rasul. Lalu Kami kabulkan permohonannya.”

 

Belajar dari Cara Nabi Ibrahim as Berdo’a

Imam Abu Bakr Muhammad bin al-Walid al-Thurthusyi al-Andalusi (450/451-520 H) menulis sebuah kitab berisi kumpulan doa dari Rasulullah, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu. Kitab ini ditulis sekitar satu setengah abad sebelum al-Adzkar karya Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf al-Nawawi (631-676 H). Dalam bab ketiga, Imam Abu Bakr menjelaskan soal adab-adab berdoa kepada Allah (fî adâb al-du’â lillah). Ia menulis:

فمن آدابه أن تعلم أن سيرة الأنبياء والمرسلين والأولياء الصالحين، (إن) أرادوا استقصاء حاجة عند مولاهم، أن يبادروا قبل السؤال فيقوموا بين يدي ربهم فيصفوا أقدامهم ويبسطوا أكفهم ويرسلوا دموعهم علي خدودهم، فيبدؤوا بالتوبة من معاصيهم والتنصل من مخالفتهم، ويستبطنوا الخشوع في قلوبهم

“Sebagian dari adab berdoa, kau harus mengetahui cara para nabi, rasul, dan wali yang saleh. (Jika) hendak memohon hajat kepada Tuhannya, mereka bergegas (menyiapkan diri) sebelum meminta, bersimpuh di hadapan Tuhannya, menata (posisi) kaki, membentangkan telapak tangan, mengalirkan air mata di pipi mereka. Kemudian, mereka memulainya dengan tobat dari kemaksiatan dan membebaskan (diri) dari pelanggaran, memasukan kekhusyu’an di hati mereka yang terdalam.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, h. 17)

Kemudian, Imam Abu Bakr menjadikan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sebagai contoh. Ketika berdoa, Nabi Ibrahim memulainya dengan memuji Tuhannya (bada’a bits tsanâ’i ‘ala rabbihi qabla su’âlihi). Dalam surat al-Syu’ara: 78-82 dikatakan:

الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ، وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ، وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ، وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ، وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

“(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakanku, dan Dialah yang memberi petunjuk (kepada)ku. Dan Tuhan yang memberi makan dan minum kepadaku. Dan Ketika aku sakit, Dia menyembuhkanku. Dan Tuhan yang akan mematikanku, kemudian menghidupkanku (kembali). Dan Tuhan yang sangat kuinginkan mengampuni kesalahanku di hari kiamat (kelak).”

Ayat tersebut merupakan ucapan Nabi Ibrahim sebelum berdoa kepada Allah, karena di ayat berikutnya Nabi Ibrahim berdoa (QS. Al-Syu’ara: 83): “rabbi hab lî hukman wa alhiqnî bish shâlihîn” (Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh). Sebelum berdoa, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memuji Allah dengan lima pujian. Imam Abu Bakr al-Thurthusyi menjelaskan:

فأثني علي الله سبحانه بخمسة أثنية: أنه الخالق الهادي، المطعم المسقي، الشافي من الأوصاب، والمحيي والمميت، والغافر

“Nabi Ibrahim memuji Allah subhanahu (wa ta’ala) dengan lima pujian: (1) Sang Pencipta yang memberikan petunjuk, (2) Sang Pemberi makan dan minum, (3) Sang Penyembuh segala penyakit, (4) Yang maha menghidupkan dan mematikan, dan (5) Maha mengampuni.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 18)

Hal ini menunjukkan bahwa pujian sebelum berdoa sangat penting. Para nabi, rasul dan wali terdahulu melakukannya. Contohnya Nabi Musa, ketika beliau memohon kepada Allah, beliau mendahuluinya dengan kalimat (QS. Al-A’raf: 155), “anta waliyyunâ faghfir lanâ war hamnâ” (Engkau adalah Pemimpin kami, maka ampunilah [dosa-dosa] kami dan rahmatilah kami). Mereka biasa mendahului doa-doa mereka dengan pujian, penyucian, pengagungan dan seterusnya. Imam Abu Bakr al-Thurthusyi menulis:

فيبدؤون بالثناء علي معبودهم وتقديسه وتنزيهه وتعظيمه والثناء عليه بما هو اهله ثم يرغبون في الدعاء

“Mereka mendahului (doanya) dengan pujian kepada Tuhan yang disembah, menguduskan-Nya, menyucikan-Nya, mengagungkan-Nya, dan memuji-Nya dengan pujian yang berhak diberikan kepadaNya, kemudian (mengajukan) permohonan dalam doa (mereka).” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 17)

Untuk memperkuat pentingnya memuji Allah sebelum berdoa, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi mengutip hadits syafaat yang diriwayatkan Imam al-Bukhari. Dalam hadits tersebut diceritakan bahwa banyak orang akan meminta syafaat kepada para nabi di hari kiamat kelak. Setiap nabi menceritakan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya dan meminta mereka meminta kepada nabi lainnya. Kemudian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فأقول أنا لها فأستأذن علي ربّي، فإذا رأيته وقعت ساجدا فيدعني ما يشاء ثم يقال: ارفع رأسك وسل تعطه وقل تسمع، واشفع تشفع، فيلهمني محامد أحمده بها، فأحمده بتلك المحامد

“Aku berkata: Aku memiliki syafaat. Aku telah minta izin kepada Tuhanku. Saat aku melihat-Nya aku lekas bersujud, dan Allah membiarkanku (dalam keadaan ini selama) yang Dia kehendaki. Kemudian Dia berfirman: ‘Angkatlah kepalamu. Mintalah maka kau akan diberi. Berkatalah maka kau akan didengar. Berikanlah syafaat maka kau akan diberi syafaat. Kemudian Allah mewahyukan kepadaku pujian-pujian (untuk) aku memuji-Nya dengan itu, maka aku memuji-Nya dengan pujian-pujian tersebut.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 18-19)

Dalam riwayat di atas, Allah mengajarkan langsung pujian-pujian untuk-Nya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Artinya. Allah menghendaki hamba-hamba-Nya untuk memuji-Nya. Karena itu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar seseorang berdoa tanpa memuji Allah dan bershalawat kepadanya, Rasulullah mengatakan: “’ajjala hadza” (ini tergesa-gesa). Kemudian beliau memanggilnya dan mengatakan (HR. Imam Abu Daud dan Imam al-Tirmidzi):

إذا صلي أحدكم فليبدأ بتحميد ربّه والثناء عليه ثمّ يصلي علي النبيّ صلي الله عليه وسلم, ثمّ يدعو بعد بما شاء

“Jika salah satu dari kalian berdoa, maka dahuluilah dengan bertahmid kepada Tuhannya dan memujiNya, kemudian bershalawatlah atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berdoa setelahnya dengan apa yang ia maui.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 19)

WALLOHUA’LAM BIS SHOWAB