KISAH SHAHABAT NABI SAW YANG SELALU BERUSAHA MENYENANGKAN ANAKNYA

Sayyidina Ali bin Abu Thalib RA menceritakan bahwa suatu hari seorang laki-laki mendatangi Nabi Muhammad SAW. Ia duduk bersimpuh di hadapan Rasulullah SAW yang sedang duduk bersama sahabat lainnya. Ia datang dengan maksud mengadukan persoalannya.

“Ya Rasulullah. Aku telah berdosa. Aku mohon kautebus dosaku,” kata laki-laki tersebut memohon dengan kerendahan hati. “Memang apa dosamu?” tanya Rasulullah SAW. “Aku malu mengatakannya.” “Apakah kau malu mengatakannya kepadaku. Tetapi mengapa kau tidak malu kepada Allah. Padahal Dia melihatmu. Bangun! Pergilah agar api (azab) tidak menimpa kami,” kata Rasulullah meninggi. Laki-laki itu kemudian bangkit dan meninggalkan Rasulullah SAW bersama para sahabatnya. Air matanya jatuh menetes. Ia pergi dengan perasaan sia-sia dan putus asa, lalu hilang dari pandangan para sahabat.

Jibril AS lalu mendatangi Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Ia menegur sikap Rasulullah SAW terhadap mereka yang datang menyerahkan diri untuk penebusan dosa.

“Wahai Muhammad Rasulullah, mengapa kau membuat laki-laki yang berdosa tadi putus asa? Padahal ia memiliki tebusan (kafarah) meski dosanya begitu banyak,” kata Jibril AS. “Apa kafarah yang ia miliki?” tanya Rasulullah SAW. “Laki-laki itu mempunyai anak kecil di rumah. Kalau ia pulang, anak kecil itu selalu menyambut ayahnya dengan gembira. Laki-laki itu memberikan makanan atau mainan yang membuatnya gembira. Jika anaknya gembira, maka itulah kafarah baginya,” kata Jibril AS. *

 Kisah ini diangkat oleh Syekh M Nawawi Al-Bantani dalam Kitab Qami‘ut Thughyan ala Manzhumah Syu’abil Iman (Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa tahun), halaman 26.

Wallahu a‘lam.

KISAH SHAHABAT NABI SAW YANG KETINGGALAN SHALAT BERJAMA’AH ISYA

As-Sya’rani mengangkat keutamaan shalat berjamaah dalam Kitab Syarah Al-Minahus Saniyyah, halaman 13. Ia mengutip beberapa hadits shahih yang mengandung keutamaan shalat lima waktu secara berjamaah. Ia juga berpesan agar sedapat mungkin tidak meninggalkan shalat berjamaah

Imam As-Sya’rani mengutip para ulama shufi bahwa salah seorang jamaah dalam shalat berjamaah adalah wali Allah yang dapat memberikan syafaat.

 Alkisah seorang bernama Ubaidullah bin Umar Al-Qawariri merupakan orang saleh. Ia adalah orang yang menjaga diri dalam urusan shalat berjamaah. Tak pernah sekalipun ia melalaikan shalat berjamaah dalam hidupnya. Suatu malam ia mengalami nasib cukup nahas. Ia kedatangan tamu. Ia disibukkan dengan penghormatan terhadap tamunya. Ia tertinggal shalat Isya di masjid. Seketika ingat, ia berpamitan kepada tamunya untuk mengejar shalat isya berjamaah. Ia bergegas menuju masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah bersama orang-orang di dalamnya. Ia berpindah dari satu ke lain masjid untuk mengejar shalat Isya berjamaah.

Usahanya sia-sia. Nahas betul nasibnya. Ia mendapati semua masjid tertutup dan jamaah yang ada di masjid sudah melaksanakan shalat Isya. Akhirnya ia kembali ke rumah. Ia merasakan kesedihan atas luputnya pelaksanaan shalat Isya berjamaah malam itu.

“Bukankah Rasulullah bersabda bahwa shalat berjamaah mengandung 27 derajat di atas shalat sendiri? Baiknya aku melakukan shalat isya malam ini sebanyak 27 kali,” katanya menghibur diri. Malam itu Ubaidullah bermimpi sedang mengendarai kuda bersama sekelompok orang yang juga berkuda. Kuda yang dikendarainya tertinggal jauh di belakang kawanan kuda yang tunggangi oleh sekelompok orang tersebut. “Aku memacu dahsyat kudaku agar dapat menyusul mereka, tetapi sia-sia,” kata Ubaidullah. Salah seorang dari mereka menoleh ke belakang. “Seberapa hebat kau pacu kudamu, kau takkan dapat menyusul kami,” kata yang menoleh.

“Mengapa demikian?” “Karena kami melaksanakan shalat Isya berjamaah. Sedangkan kau hanya shalat sendiri.”

“Aku terjaga dari mimpi. Aku berduka cita dan bersedih hati,” kata Ubaidullah.

ROSULULLOH SAW. MENYURUH WUDLU SELURUH SHOHABAT DEMI MENUTUPI AIB SATU ORANG YANG KENTUT

Suatu hari ketika para sabahat sedang berkumpul menikmati sajian daging unta di masjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, salah seorang dari mereka ada yang kentut. Bau tak sedap segera menghampiri hidung para sahabat dan hidung Rasulullah. Baunya sangat kuat hingga seorang sahabat berdiri seraya mengatakan siapa pun yang merasa telah kentut hendaknya berdiri. Tetapi tak seorang pun dari mereka bangkit dan berdiri. Mengetahui hal itu, Rasulullah tidak mendorong di antara para sahabat yang merasa telah kentut supaya berdiri. Beliau hanya diam sehingga bisa ditafsirkan bahwa beliau tidak mendukung upaya dari salah seorang sahabat yang hendak mencoba “mengusut” siapa telah kentut.

Percobaan itu semakin jelas ketika kemudian ia dan beberapa sahabat lainnya mengatakan: “Orang yang kentut pasti akan berwudhu setelah ini. Dan orang itulah yang kentut.”

Mendengar hal itu, Rasulullah mengajak para sahabat untuk berwudhu meskipun mereka semua belum batal wudhunya. Setelah itu semua orang yang berkumpul di masjid mengambil air wudhu atas seruan Rasulullah sebelum Bilal mengumandangkan adzan Isya’ sehingga tak diketahui siapa yang sebenarnya telah kentut karena semua orang mengambil air wudhu sebelum melaksanakan shalat itu.

Begitulah cara Rasulullah menunjukkan ketidaksetujuannya atas upaya “pengusutan” siapa telah kentut – tidak dengan melarangnya secara tegas – tetapi cukup dengan tidak membuka celah terungkapnya kasus itu dengan cara menyerukan semua orang berwudhu supaya tidak diketahui siapa yang sebenarnya telah kentut, hingga tidak ada di antara para sahabat yang harus menanggung malu. Bagaimanapun kentut di tengah kerumunan orang banyak adalah suatu aib.

Hal yang menarik dalam masalah ini adalah Rasulullah menyeru kepada para sahabat untuk berwudhu – meski belum batal – sebelum menunaikan shalat Isya’ saat itu. Rasulullah tidak secara langsung mengaitkan wudhu itu dengan percobaan pengusutan kasus siapa telah kentut yang dilakukan salah seorang sahabat, tetapi mengaitkannya dengan daging unta yang telah mereka makan bersama pada malam itu di masjid.

Seruan itu adalah sebagaimana hadits berikut ini:

 عن البراء بن عازب، قال: سُئل رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن الوضوء من لحوم الإبل، فقال: توضَّؤوا منها، وسُئِل عن لحوم الغنم، فقال: لا توضَّؤوا منها

Artinya: “Dari al-Barra’ bin Azib, dia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang status wudhu akibat (makan) daging unta. Maka beliau menjawab: “Berwudhulah kamu disebabkan daging unta. Beliau juga ditanya berkaitan daging kambing. Maka beliau menjawab: Jangan berwudhu disebabkan daging kambing” (HR. Abu Dawud).

Hadits tersebut ternyata dipahami secara berbeda di antara para sahabat dan tabiin sehingga menimbulkan perbedaan pendapat di antara mereka. Mereka yang melihat seruan itu sebagai hadits ahkam, yakni hadits yang memuat tentang hukum-hukum Islam, berpedapat bahwa makan daging unta membatalkan wudhu sehingga barang siapa hendak shalat dan sebelumnya telah makan daging unta supaya berwudhu terlebih dahulu.

Hal ini sebagaimana penjelasan Imam Nawawi sebagai berikut:

 فاختلف العلماء في أكل لحوم الجزور وذهب الاكثرون إلى أنه لاينقض الوضوء ممن ذهب إليه الخلفاء الأربعة الراشدون… وذهب إلى انتقاض الوضوء به أحمد بن حنبل وإسحاق بن راهويه ويحيى بن يحيى وأبو بكر بن المنذر وبن خزيمة واختاره الحافظ أبو بكر البيهقي

Artinya: “Ulama berbeda pendapat tentang status hukum makan daging unta. Mayoritas ulama berpendapat, makan daging unta tidak membatalkan wudhu. Di antara yang berpendapat demikian adalah empat Khulafa’ Rasyidin, sementara ulama yang berpendapat makan daging unta membatalkan wudhu, diantaranya adalah Imam Ahmad, Ishaq bin Rahuyah, Yahya bin Yahya, Ibnul Mundzir, Ibnu Khuzaimah, dan al-Hafidz al-Baihaqi as-Syafii. (lihat Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawiy, Dar al-Kitab al-‘Ilimiyyah, Beirut, Juz III, 1971, 42).

Jadi Imam Ahmad, Ishaq bin Rahuyah, Yahya bin Yahya, Ibnul Mundzir, Ibnu Khuzaimah, dan al-Hafidz al-Baihaqi as-Syafi’i berpendapat bahwa makan daging unta membatalkan wudhu karena mereka memahami hadits di atas sebagai hadits ahkam. Sedangkan Khulafaur Rasyidin dan mayoritas ulama memahaminya lebih sebagai hadits tarbawi, yakni hadits yang memuat tentang pendidikan, seperti pendidikan akhlak, dan sebagainya. Maksudnya adalah substansi hadits tersebut menganjurkan kepada para sahabat untuk menutup aib salah seorang di antara mereka karena telah kentut dalam suatu majelis di mana Rasulullah berada di situ dengan maksud agar pelakunya tidak kehilangan muka karena merasa sangat malu diketahui publik, khususnya oleh Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Upaya menutup aib itu dirasa penting sebab tidak masuk akal orang yang kentut tersebut bersengaja melakukan hal itu di tengah majelis yang di situ ada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimanapun orang tersebut adalah sahabat Rasulullah yang tidak perlu diragukan lagi kesalihan dan kemuliaan akhlaknya.

Oleh karena itu, para Khulafaur Rasyidin dan mayoritas ulama tidak memandang hadits di atas sebagai hadits ahkam sebab dengan memperhatikan asbabul wurud-nya, mereka lebih meyakini hadits itu adalah hadits tarbawi terutama jika dihubungkan dengan hadits lain tentang perlunya menutup aib sesama saudara seiman sebagai berikut:

 مَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Artinya: “Barang siapa menutupi (aib) seorang Muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah senantiasa menolong seorang hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Tirmidzi).

Kesimpulannya, barang siapa di antara orang-orang yang tidak diragukan lagi integritas dan moralitasnya telah kentut dalam suatu majelis, maka tidak perlu ada upaya pengusutan siapa telah kentut. Hal ini untuk menutup aib pelakunya yang diyakini tidak bersengaja telah kentut dengan niat tidak baik. Namun prinsip ini kurang tepat diberlakukan bagi kalangan orang-orang yang sedang dalam proses pendidikan karakter seperti para murid atau santri. Pengusutan siapa telah kentut di tengah majelis di kalangan mereka yang sedang menjalani masa pendidikan dirasa tetap perlu hingga batas-batas tertentu, termasuk dalam hal sanksi yang akan diberikan sebab terkadang memang ada di antara mereka yang sengaja kentut di tengah keramaian banyak orang sebagai iseng untuk menimbulkan kekacauan tertentu. Iseng seperti ini jelas tidak baik karena tidak sopan dan termasuk su’ul adab.

KHOWARIJ KALAH ILMU DENGAN SAYYIDINA ALI KARROMALLOHU WAJHAH

Dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah bin Mas’ud ra, ia berkata: bersabda Rasulullah SAW:

 قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ أَعْمَالُ الْمَكْفِيِّيْنَ وَالصَّلاَةُ أَعْمَالُ الْأَعَاجِزِ وَٱلصَّوْمُ أَعْمَالُ الْفُقَرَاءِ وَالتَّسْبِيْحُ أَعْمَالُ النِّسَاءِ وَالصَّدَقَةُ أَعْمَالُ الْأَسْخِيَاءِ وَالتَّفَكُّرُ أَعْمَالُ الضُّعَفَاءِ أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَعْمَالُ الْأَبْطَالِ؛ قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ: وَمَا أَعْمَالُ الْأَبْطَالِ ؟ قَالَ: طَلَبُ الْعِلْمِ فَإِنَّهُ نُوْرُ الْمُؤْمِنِ فِى الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. (رواه الحاكم)

Membaca Al-Qur’an itu adalah amal orang-orang yang dilindungi dan shalat itu adalah amal orang-orang yang tak berdaya dan puasa itu adalah amal orang-orang miskin dan tasbih itu amal orang-orang perempuan dan sedekah itu amal orang-orang yang murah hati sedang tafakur itu adalah amal orang-orang yang lemah. (amalkanlah itu semua!) Maukah kutunjukkan kepada kalian amal para pahlawan? Ada yang bertanya: “Ya Rasulullah, apakah amal para pahlawan itu?” Beliau menjawab: “Menuntut ilmu, karena ia adalah cahaya orang mukmin di dunia dan akhirat”. (HR. Hakim).

Bersabda Rasulullah SAW:

 أَنَا مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا

“Aku adalah kota ilmu sedang Ali adalah pintunya”.

Tatkala kaum Khawarij mendengar hadits ini mereka mendengki kepada Ali ra dan berkumpullah sepuluh orang pemuka mereka: mereka berkata: Kita akan menanyakan satu masalah dan melihat bagaimana ia menjawab kita, seandainya ia menjawab masing-masing dari kita dengan jawaban lain, tahulah kita bahwa ia seorang yang alim sebagaimana dikatakan oleh Nabi SAW.

Seorang di antara mereka datang kepada Ali bertanya: Hai Ali, mana yang lebih baik, ilmu atau harta? Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Ilmu itu warisan para nabi dan harta itu warisan Qarun dan Syaddad dan Fir’aun serta lainnya.

Kemudian pergilah orang itu. Datang lagi seorang yang lain lalu bertanya seperti yang pertama. Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Ilmu menjagamu sedang engkau menjaga harta.

Kemudian pergilah orang itu. Datang lagi seorang yang lain lalu bertanya seperti pertanyaan orang pertama dan kedua. Maka Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Pemilik harta mempunyai banyak musuh dan pemilik ilmu mempunyai banyak teman.

Kemudian pergilah orang itu. Datang lagi seorang lain lalu bertanya: Mana yang lebih baik, ilmu atau harta? Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Apabila engkau belanjakan hartamu ia akan berkurang dan jika engkau amalkan ilmumu ia akan bertambah.

Kemudian pergilah orang itu. Datang lagi seorang yang lain lalu bertanya: Mana yang lebih baik, ilmu atau harta? Ali menjawab: ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya dengan dalil apa? Ali menjawab: Pemilik harta bisa dipanggil si pelit dan menjadi hina sedang pemilik ilmu dipanggil dengan sebutan agung dan mulia.

Kemudian pergilah orang itu. Datang lagi seorang yang lain lalu bertanya: Manakah yang lebih baik, ilmu atau harta? Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Pemilik harta akan di hisab pada hari kiamat sedangkan pemilik ilmu akan memberi syafaat pada hari kiamat.

Kemudian pergilah orang itu. Datang lagi seorang yang lain lalu bertanya: Mana yang lebih baik, ilmu atau harta? Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Harta itu makin lama di diamkan makin bertambah usang, sedang ilmu itu tidak bisa lapuk dan usang.

Kemudian pergilah orang itu. Datang lagi seorang yang lain lalu bertanya: Mana yang lebih baik, ilmu atau harta? Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Harta itu bisa membuat hati menjadi keras, sedang ilmu itu menerangi hati.

Kemudian pergilah orang itu. Datang lagi seorang yang lain lalu bertanya: Mana yang lebih baik, ilmu atau harta? Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Pemilik harta dikatakan sebagai pemilik dengan sebab harta, sedang orang yang berilmu mengaku sebagai hamba Allah.

Andaikata mereka bertanya tentang ini niscaya akan kujawab dengan jawaban lain selama aku hidup. Kemudian datanglah mereka dan menyerah semuanya.

Diterjemahkan dari Mawaa’idul Usfuriah, hal.4

SHOHABIYAH YANG MENGADU KEPADA NABI SAW. DAN DI BELA ALLOH SWT.

Keinginan Khaulah RA sempat tak akan dipenuhi oleh Rasulullah. Hingga akhirnya ia sesumbar mengadukan masalah itu kepada Allah.

Adalah Khaulah binti Tsa’labah, seorang sahabat perempuan yang memiliki paras cantik nan jelita. Ia diperistri oleh seorang laki-laki bernama Aus bin As-Shamit.

Satu ketika sang suami, Aus bin As-Shamit, melihat sang istri sedang melakukan shalat di rumahnya. Selama sang istri dalam shalatnya Aus terus memandanginya dari arah belakang. Ia sungguh terkesan dengan keindahan tubuh istrinya. Terlebih ketika Khaulah sedang bersujud, bagian belakang tubuhnya membuat Aus menginginkan istrinya.

Maka ketika sang istri selesai dari shalatnya Aus mengajaknya untuk melakukan hubungan suami istri, namun Khaulah menolak. Atas penolakan ini Aus marah besar hingga akhirnya keluar kalimat yang menjadikan Khaulah tertalak. Kepadanya dengan emosi Aus mengatakan, “Bagiku engkau laksana punggung ibuku!” (Dalam tradisi masyarakat Arab kala itu, menyamakan istri dengan punggung ibu suami adalah cara suami untuk menceraikan istrinya, red).

Syekh Nawawi Banten memiliki catatan tersendiri yang perlu diketahui perihal perilaku seksnya Aus. Disebutkan bahwa Aus berhasrat terhadap perempuan dan menginginkan menggaulinya dengan cara yang tidak semestinya perempuan digauli. Karenanya Khaulah menolak permintaannya itu. Atas penolakan ini Aus marah dan mengatakan, “Bila kamu keluar dari rumah sebelum aku melakukannya denganmu, maka bagiku engkau seperti punggung ibuku.”

Usai mengucapkan kalimat itu Aus menyesalinya. Ia paham bahwa dengan kalimat seperti itu sama saja ia menceraikan istrinya. Pada saat itu, di masa Jahiliyah, belum ada hukum dhihar. Kalimat dhihar seperti itu masih dianggap dan dihukumi sebagai talak.

Adapun Khaulah pun tak terima bila ia dicerai oleh suaminya. Maka serta merta ia mendatangi Rasulullah. Kepada beliau ia sampaikan, “Aus menikahiku saat aku masih gadis yang disukai banyak lelaki. Kini setelah aku tua dan memiliki banyak anak, ia menyamakanku dengan ibunya (baca: menceraikan). Aku memiliki anak-anak yang masih kecil. Kalau mereka aku serahkan kepada Aus, mereka akan tersia-sia. Tapi kalau mereka aku yang mengurus, mereka akan kelaparan.”

Dengan aduan itu Khaulah berharap agar Rasulullah tidak menghukumi talak atas hubungan perkawinannya dengan Aus. Namun Rasulullah tetap menghukumi talak atas ucapan Aus tersebut. Khaulah masih belum mau menerima. Ia bersikeras, “Rasul, demi Allah ia tidak mengatakan kalimat talak. Dia itu bapaknya anak-anakku. Dia itu orang yang paling aku cintai.”

Namun Rasulullah tetap bersikeras menghukumi talak atas Khaulah dan Aus. “Engkau haram baginya,” kata beliau. Tapi Khaulah tetap tidak mau terima. Terjadilah perdebatan di antara keduanya. Khaulah bersikeras untuk tidak mau dihukumi talak, sementara Rasulullah tetap dengan pendiriannya.

Sebagaimana diketahui, bahwa setiap kali ada permasalah yang disampaikan oleh para sahabat kepada Rasulullah, maka beliau tidak akan menghukumi kecuali setelah adanya wahyu dari Allah. Pun demikian dengan kasus Khaulah ini. Karena tidak ada wahyu yang turun menyangkut kasus tersebut, maka beliau tetap menghukumi talak dan tidak menerima permintaan Khaulah untuk memutuskan hukum yang lain.

Melihat kenyataan bahwa keinginannya tak akan dipenuhi oleh Rasulullah, Khaulah tak berputus asa. Kepada Rasul ia katakan, “Baiklah, akan aku adukan masalah ini kepada Allah!”

Maka kemudian Khaulah menengadahkan kepalanya ke arah langit. Dengan suara lantang ia berseru, “Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu. Turunkanlah solusi bagi masalahku ini melalui lisan Nabi-Mu!” Ia terus mengadukan masalahnya kepada Allah.

Di saat seperti itulah wajah Rasulullah terlihat berubah. Kepada beliau turun ayat yang menghukumi bahwa masalah Khaulah dan suaminya itu adalah masalah dhihar, bukan talak. Seorang suami yang men-dhihar istrinya dan berkeinginan untuk mencabut ucapannya itu, maka ia tidak boleh menggauli istrinya kecuali setelah memerdekakan seorang budak. Bila tidak mampu memerdekakan budak, maka berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Dan bila tidak mampu, maka memberi makan kepada enam puluh orang miskin.

Ayat dimaksud yang turun atas permasalah Khaulah ini adalah ayat 1 – 4 dari surat Al-Mujadilah. Allah berfirman:

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ (١) الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْكُمْ مِنْ نِسَائِهِمْ مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ (٢) وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (٣) فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ذَلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٤)

Artinya: “Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. Orang-orang di antara kamu yang menzihar istrinya, (menganggap istrinya sebagai ibunya, padahal) istri mereka itu bukanlah ibunya. Ibu-ibu mereka hanyalah perempuan yang melahirkannya. Dan sesungguhnya mereka benar-benar telah mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun. Dan mereka yang menzihar istrinya, kemudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan, maka (mereka diwajibkan) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepadamu, dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Maka barangsiapa tidak dapat (memerdekakan hamba sahaya), maka (dia wajib) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Tetapi barangsiapa tidak mampu, maka (wajib) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang yang mengingkarinya akan mendapat azab yang sangat pedih.”

Demikianlah Khaulah binti Tsa’labah. Perempuan dari kalangan sahabat yang tidak saja mengadukan permasalahannya kepada Rasul tetapi juga kepada Allah. Sahabat perempuan yang aduannya didengar dan dikabulkan oleh Allah, dan karenanya terbentuklah hukum dhihar dalam syari’at Islam.

Kisah ini banyak ditulis oleh para ulama tafsir dalam berbagai kitab mereka. Di antaranya oleh Syekh Nawawi Banten dalam kitab Al-Munȋr li Ma’ȃlimit Tanzȋl (Beirut: Darul Fikr, 2007, II: 405).

Imam Al-Qurthubi dalam kiab tafsirnya Al-Jȃmi’ li Ahkȃmil Qur’ȃn menuturkan sebuah cerita. Satu saat Sayidina Umar bin Khatab bersama beberapa orang berkendara menunggangi khimar. Dalam perjalanannya mereka bertemu dengan Khaulah binti Tsa’labah. Khaulah kemudian menghentikan perjalanan Umar bin Khatab dan teman-temannya.

Kepada khalifah kedua itu Khaulah kemudian memberikan banyak nasihat dan didengarka dengan seksama oleh Umar. Ia berkata, “Wahai Umar, engkau dahulu diundang dengan Umair, lalu kau dipanggil Umar, dan kini engkau diundang dengan sebutan Amirul Mukminin. Takutlah engkau kepada Allah, wahai Umar! Sesungguhnya orang yang yakin dengan kematian, maka ia takut kehilangan. Orang yang yakin dengan hisab, ia takut pada azab.”

Umar bin Khathab terus mendengarkan nasihat Khaulah, hingga ada yang mengatakan kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau berhenti hanya untuk mendengarkan ucapan perempuan tua ini?”

Mendengar ucapan tersebut Umar bin Khathab menjawab, “Demi Allah, seandainya perempuan ini menahanku dari awal hingga akhir siang, aku tak akan berhenti mendengarkannya kecuali untuk melakukan shalat maktubah. Tidakkah kalian mengenal siapa perempuan ini? Dia adalah Khaulah binti Tsa’labah. Allah telah mendengarkan ucapannya dari atas tujuh langit. Bila Tuhan semesta alam mau mendengarkan ucapannya, pantaskah bila Umar tak mau mendengarnya?” (Lihat: Muhammad Al-Qurthubi, Al-Jȃmi’ li Ahkȃmil Qur’ȃn, [Kairo: Darul Hadis, 2010, jil IX, juz XVII: 223). Wallahu a’lam.

PARA SAHABAT NABI SAW YANG DI BERI KABAR GEMBIRA MENJADI PENGHUNI SURGA

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahih-nya,

حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ قَالَ حَدَّثَنِي عُثْمَانُ بْنُ غِيَاثٍ حَدَّثَنَا أَبُو عُثْمَانَ النَّهْدِيُّ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَائِطٍ مِنْ حِيطَانِ الْمَدِينَةِ فَجَاءَ رَجُلٌ فَاسْتَفْتَحَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَحْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ فَفَتَحْتُ لَهُ فَإِذَا أَبُو بَكْرٍ فَبَشَّرْتُهُ بِمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَمِدَ اللَّهَ ثُمَّ جَاءَ رَجُلٌ فَاسْتَفْتَحَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَحْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ فَفَتَحْتُ لَهُ فَإِذَا هُوَ عُمَرُ فَأَخْبَرْتُهُ بِمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَمِدَ اللَّهَ ثُمَّ اسْتَفْتَحَ رَجُلٌ فَقَالَ لِي افْتَحْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ عَلَى بَلْوَى تُصِيبُهُ فَإِذَا عُثْمَانُ فَأَخْبَرْتُهُ بِمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَمِدَ اللَّهَ ثُمَّ قَالَ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

Yusuf bin Musa menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abu Usamah menuturkan kepada kami. Dia berkata; Utsman bin Ghiyats menuturkan kepadaku. Dia berkata; Abu Utsman an-Nahdi menuturkan kepada kami dari Abu Musa radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Dahulu aku bersama dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam salah satu kebun di Madinah. Kemudian ada orang yang datang dan meminta ijin untuk masuk, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Bukakanlah gerbang untuknya dan beri kabar gembira kepadanya dengan surga.” Maka aku pun membukakan untuknya ternyata yang datang adalah Abu Bakar. Kemudian aku kabarkan berita gembira yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu kepadanya. Maka dia pun memuji Allah. Lalu datang lagi seorang lelaki yang meminta ijin untuk masuk, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Bukakanlah gerbang untuknya dan beri kabar gembira kepadanya dengan surga.” Maka aku pun membukakan untuknya ternyata yang datang adalah Umar. Kemudian aku kabarkan berita gembira yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu kepadanya. Maka dia pun memuji Allah. Lalu datang lagi seorang lelaki yang meminta ijin untuk masuk, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Bukakanlah gerbang untuknya dan beri kabar gembira kepadanya dengan surga beserta musibah yang akan menimpanya.” Ternyata lelaki itu adalah Utsman. Kemudian aku kabarkan berita gembira yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu kepadanya. Maka dia pun memuji Allah lalu berkata, “Allahul musta’aan (Allah adalah tempat meminta pertolongan).”.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Manaqib)

Hadits ini menunjukkan :

1. Sopan santun para sahabat apabila hendak memasuki tempat milik orang lain

2. Abu Bakar, Umar dan Utsman adalah pasti masuk surga

3. Dianjurkan menyampaikan kabar gembira kepada sesama muslim

4. Segala keutamaan yang didapatkan manusia adalah anugerah dari Allah

5. Perintah untuk memuji Allah atas nikmat yang kita terima

6. Utsman meninggal dalam keadaan tertimpa musibah

7. Mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

8. Iman kepada surga dan ia merupakan tempat penuh kebahagiaan

9. Abu Bakar, Umar dan Utsman mati dalam keadaan beriman

10. Perkataan “Allahul musta’an” ketika menghadapi sesuatu yang terasa berat atau memprihatinkan

11. Wajib membenarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

12. Ketaatan para sahabat dan pengagungan mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

13. Bolehnya menyuruh orang lain atau meminta pertolongannya dalam perkara yang mampu dia lakukan

14. Bolehnya menggunakan jasa penjaga pintu, satpam, dan lain sebagainya

15. Diterimanya hadits ahad dalam masalah aqidah

16. Para sahabat adalah orang yang terpercaya

17. Dan faidah lainnya

SAKIT MATA KARENA MENANGISI DOSA

Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abdullah bin Amru radhiallahu ‘anhu, seorang yang banyak menangisi dosa, sebagaimana dikisahkan dari Ya’la bin Atha dari ibunya, di mana ibunya adalah seorang yang membuatkan celak untuk Abdullah bin Amru, dan Abdullah adalah seorang yang banyak menangis, dia tutup pintu kamarnya dan menangis hingga matanya sakit.

Demikianlah seorang muslim, hendaknya menangisi dosa sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَمْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَ لِيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيْئَتِكَ

“Jagalah lisanmu, gunakan rumahmu untuk beribadah, dan tangisilah dosa-dosamu.” (HR. At-Tirmidzi: 2406)

Abdullah bin Amru radhiallahu ‘anhu meninggal dunia tahun 63 Hijriyah.

Semoga keridhaan Allah senantiasa tercurahkan atasnya.

[Kitab Siyar Alamin Nubala’, jilid 3, hal. 79-97, karya adz-Dzahaby]

SHAHABAT UMAR BIN KHOTTOB DAN AMRU BIN ASH DALAM MENYIKAPI SERTA MENGHADAPI WABAH AMWAS

Pada tahun 17 Hijriah, khalifah Umar bin Khattab bersama segenap bala tentara berangkat menuju daerah Syiria. Ketika rombongan sang khalifah singgah di sebuah daerah bernama Saragh, datanglah para panglima perang memberikan kabar bahwa daerah Syiria sedang dilanda wabah Pes.

“Kumpulkanlah segenap sahabat dari kalangan pembesar kaum Muhajirin.”

Maka, di antara para pembesar Muhajirin ada yang berkomentar: “Wahai Khalifah, engkau hendak berangkat ke Syiria karena Allah, dan bagi kami tak mungkin wabah seperti itu menyurutkan langkahmu.”

Sedangkan, sebagian yang lain menyerukan: “Wabah itu hanyalah musibah yang pasti akan berlalu, kita pasti mampu berangkat ke sana.”

Kemudian sang khalifah Umar bin Khattab pun mengumpulkan segenap sahabat dari kalangan pembesar kaum Anshar. Uniknya, para pembesar kaum Anshar pun sepakat dengan pendapat pembesar kaum Muhajirin untuk tetap berangkat ke negara Syiria.

Tak beberapa lama, Khalifah Umar bin Khattab berseru, “Kumpulkanlah segenap pembesar kaum Muhajirin dari kalangan suku Quraisy.”

Maka, para pembesar kaum Muhajirin dari suku Quraisy pun berpendapat, “Wahai Khalifah, kita harus kembali sungguh wabah ini adalah musibah yang amat besar.”

Setelah mendengar seluruh pendapat para sahabat, khalifah Umar bin Khattab pun berseru di hadapan khalayak ramai: “Wahai Manusia, aku memutuskan untuk kembali maka kembalilah semuanya.”

Sontak, sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah pun berdiri seraya berkata, “Wahai Khalifah, apakah engkau ingin lari dari takdir Allah?”

Umar bin Khattab pun menimpali, “Sungguh kami lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Apakah engkau tahu seandainya ada seorang penggembala yang diberi pilihan untuk memilih di antara dua bukit, yang satu subur dan yang satu lagi kering kerontang. Bukankah seorang penggembala yang memilih bukit yang subur dan seorang penggembala yang memilih bukit yang kering kerontang juga atas izin Allah?”

Esok harinya, Abdurrahman bin Auf yang tak sempat mengikuti musyawarah bersama khalifah Umar bin Khattab pun menghadap untuk memberikan pendapatnya

“Wahai Khalifah, aku memiliki pendapat atas kejadian ini.”

“Sungguh engkau wahai Abdurrahman bin Auf adalah seorang yang terpercaya, Apakah yang ingin engkau utarakan?” Umar bin Khattab mempersilakan sahabatynya.

“Wahai Khalifah, aku mendengar Rasulullah bersabda ‘Ketika kalian mendengar sebuah wabah menyebar di suatu negeri maka janganlah kalian masuk kedalamnya dan ketika wabah tersebut berada di daerah kalian maka jangan kalian lari darinya,” Abdurrahman bin Auf menjelaskan dengan mengutip Nabi saw.

Umar bin Khattab pun sangat gembira mendengar jawaban Abdurrahman bin Auf, “Segala puji bagi Allah, mari kita kembali semua.”

Sekembalinya rombongan khalifah Umar bin Khattab tersiar kabar menyebarnya wabah Pes yang dijuluki dengan wabah Amwas pada tahun 18 Hijriah. Nama Amwas sendiri diambilkan dari sebuah daerah di sekitar negara Palestina yang bernama desa Amwas sekitar enam mil dari kota Ramalah yang menjadi titik awal menyebar wabah ganas tersebut.

Wabah Pes Amwas ini menyebar hingga ke kota-kota di negara Syiria. Di antara para sahabat yang wafat akibat wabah ini adalah sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah, Mu’adz bin Jabal, Yazid bin Abu Sufyan, Harits bin Hisyam, Suhail bin Amr, Utbah bin Suhail, dan masih banyak lagi.

Maka wabah ini kian mengganas hingga didapuklah sahabat Amr bin Ash sebagai gubernur Syiria. Di hari pertamanya menangani wabah ganas tersebut, Amr bin Ash berseru:

“Wahai manusia, kesengsaran akibat wabah ini telah terjadi terus menerus seperti halnya bara api yang kian membakar seluruh apa yang ada. Maka, pergilah kalian semua ke gunung-gunung berpisah-pisahlah kalian di sana hingga Allah mengangkat wabah ini dari kita semua.”

Maka, seluruh warga pun tercerai berai mencari tempat yang baik untuk menetap. Tak lama kemudian, sirnalah wabah tersebut.

Dari kisah ini, kita melihat dua hal penting dalam menyikapi sebuah wabah yang sukar untuk ditaklukkan, yaitu kecerdasan seorang pemimpin dalam menjaga rakyatnya serta ketegasannya untuk mengisolasi rakyatnya agar tidak tertular wabah tersebut.

Dalam konteks kita akhir-akhir ini, menerapkan penjagaan yang baik bagi setiap diri kita masing-masing agar tidak berkumpul dan menambah resiko tertular penyakit Corona adalah sebuah kebijaksanaan yang tepat sebagaimana gubernur Amr bin Ash juga pernah melakukannya kepada warga Syiria. Begitu juga, menjaga agar para penderita wabah tidak bercampur dengan masyarakat telah diwasiatkan oleh baginda Nabi Muhammad saw sebagaimana hadis yang diceritakan oleh shahabat Abdurrahman bin Auf.

(Sumber: Muhadharat Tarikh al-Umam al-Islamiyyah “Daulah Umawiyyah” karya Muhammad al-Khudr Bik)

DUA JENIS CINTA NABI SAW UNTUK KAKAK SAYYIDINA ALI KARROMALLOHU WAJHAH

Selalu menyenangkan mengenal orang-orang yang dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan mengetahui kecintaan beliau, kita juga akan mencintai mereka. Harapan kita adalah dikumpulkan bersama mereka kelak di surga. Di antara orang yang dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Aqil bin Abu Thalib.

Aqil adalah kakak dari Ali bin Abu Thalib. Ia anak paman Nabi, Abu Thalib, seorang paman yang menggantikan posisi ayah beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Aqil,

إني أحبك حبين

“Sungguh aku mencintaimu dengan dua kecintaan.”

Hadits ini menjelaskan tentang kedudukan Aqil di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengapa beliau mencintainya dengan dua kecintaan? Jawabannya ada pada riwayat dari Abu Ishaq, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Aqil bin Abu Thalib,

يَا أَبَا يَزِيدَ، إِنِّي أُحِبُّكَ حُبَّيْنِ حُبًّا لِقَرَابَتِكَ مِنِّي، وَحُبًّا لَمَّا كُنْتُ أَعْلَمُ مِنْ حُبِّ عَمِّي إِيَّاكَ

“Hai Abu Yazid, sungguh aku mencintaimu dengan dua kecintaan. Cinta karena kekerabatanmu denganku. Dan rasa cinta karena aku tahu betapa pamanku sangat mencintaimu.” (HR. al-Hakim dalam Mustadraknya 6464).

Nasabnya

Nama dan nasab Aqil adalah Aqil bin Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hisyam bin Abdu Manaf bin Qushay (Ibnu Saad: ath-Thabaqat al-Kubra, 4/31). Dia adalah seorang Quraisy dari klan Bani Hasyim (Abu Hatim: al-Jarh wa at-Ta’dil, 6/218). Putra dari paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Thalib. Dan saudara seayah dengan Ja’far bin Abu Thalib dan Ali bin Abu Thalib. Namun ia yang tertua dari keduanya (Ibnu al-Atsir: Asad al-Ghabah, 4/61).

Kun-yahnya adalah Abu Yazid dan ada pula yang mengatakan Abu Isa. Ibunya bernama Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay (Ibnu Saad: ath-Thabaqat al-Kubra, 4/31).

Memeluk Islam dan Berjihad

Sebelum memeluk Islam, Aqil turut serta dalam Perang Badr. Saat itu ia berada di pihak kaum musyrikin. Mereka memaksanya untuk berangkat. Di akhir peperangan, ia tertawan. Kemudian ditebus oleh pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib (Ibnu Saad: ath-Thabaqat al-Kubra, 4/32). Setelah bebas dari tawanan, ia kembali ke Mekah dan memeluk Islam sebelum terjadi Perjanjian Hudaibiyah (Ibnu al-Atsir: Asad al-Ghabah, 4/61). Ia terus menetap di Mekah sampai kemudian hijrah ke Madinah di tahun 8 H.

Setelah di Madinah, ia turut serta dalam Perang Mu’tah. Kemudian kembali dan mengalami sakit. Sehingga namanya tak terdengar disebut dalam Fathu Mekah, Perang Thaif, Khaibar, dan Hunain (Ibnu Asakir: Tarikh Dimasyq, 9/41). Dalam versi lain, disebutkan bahwa ia termasuk orang yang bertahan mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat kaum muslimin kocar-kacir di Perang Hunain (Ibnu al-Atsir: Asad al-Ghabah, 4/61).

Keilmuan

Aqil bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu adalah seorang yang fasih lisannya dan mantab jawabannya (az-Zarkili: al-A’lam, 4/242). Orang-orang Quraisy menyatakan bahwa ia adalah orang yang paling tahu tentang sejarah Quraisy. Tapi ia tak menyukai gelaran ini. Mengapa? Ia menganggap kalau mengetahui seluk-beluk Quraisy, seolah-olah meridhai kejahatan mereka di masa lalu. Dulu, orang-orang berkumpul menemui Aqil untuk mempelajari nasab bangsa Arab dan sejarah mereka (ayyamulArab). Karena sangat menguasai bidangnya, ia terkenal dengan sangat cepat dan tepat dalam menjawab (Ibnu Abdil Bar: al-Isti’ab fi Ma’rifati al-Ash-hab, 3/1078).

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan, “Ada empat orang Quraisy yang disepakati ucapannya dalam permasalahan ilmu nasab: Aqil bin Abu Thalib, Mukhramah bin Naufal az-Zuhri, Abu Jahm bin Hudzaifah al-Adawi, dan Huwaithib bin Abdul Uzza al-Amiri (Ibnu Abdil Bar: al-Isti’ab fi Ma’rifati al-Ash-hab, 3/1079).

Kedudukan Aqil di Sisi Nabi SAW.

Beberapa hadits Nabi diriwayatkan dari Aqil bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu. Mereka yang meriwayatkan dari Aqil di antaranya adalah putranya sendiri, Muhammad. Kemudian cucunya, Abdullah. Kemudian ada nama Musa bin Thalhah dan al-Hasan al-Bashri (an-Nawawi: Tadzhib al-Asma’ wa al-Lughat, 1/337). Para ulama yang meriwayatkan haditsnya di antaranya adalah an-Nasa-I dan Ibnu Majah.

Kedudukannya yang utama di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah kita sebutkan di awal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

يَا أَبَا يَزِيدَ، إِنِّي أُحِبُّكَ حُبَّيْنِ حُبًّا لِقَرَابَتِكَ مِنِّي، وَحُبًّا لَمَّا كُنْتُ أَعْلَمُ مِنْ حُبِّ عَمِّي إِيَّاكَ

“Hai Abu Yazid, sungguh aku mencintaimu dengan dua kecintaan. Cinta karena kekerabatanmu denganku. Dan rasa cinta karena aku tahu betapa pamanku sangat mencintaimu.” (HR. al-Hakim dalam Mustadraknya, 6464).

Wafat

Di akhir hayatnya, Aqil bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu mengalami kebutaan. Ia wafat di masa pemerintah Muawiyah bin Abu Sufyan radhiallahu ‘anhuma (Ibnu Saad: ath-Thabaqat al-Kubra, 4/33), di usia 50-an tahun. Ada juga yang mengatakan ia wafat di masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah (az-Zarkili: al-A’lam, 4/242). Ia memiliki rumah yang besar di Baqi dan keluarga yang besar pula. Sampai-sampai dinisbatkan pada mereka Bani Aqil (az-Zarkili: al-A’lam, 4/242).

KISAH DAHSYATNYA CINTA KEPADA ROSULULLOH SAW.

Ada seseorang perempuan keluar rumah dengan tujuan untuk memperoleh pelajaran islam dari Nabi SAW bersama para sahabat lain. Di pertengahan ada seorang lelaki yang masih muda melihatnya,

Ia bertanya: ”Hai perempuan yang mulia, hendak kemana kamu?”

Ia menjawab: ”Aku hendak menghadap Rasulullah SAW untuk mendapatkan pengajaran dari beliau”.

Balas pemuda : ”Apakah dirimu cinta benar terhadap nabi SAW?”.

Ia menjawab: ”Ya, Aku sangat mencintainya”.
”Kalau kamu benar-benar cinta kepada Rasulullah aku minta supaya engkau membuka cadarmu, agar aku bisa melihat wajahmu”.

Manakala anak muda itu bersumpah-sumpah demi kecintaan perempuan itu kepada Rasulullah SAW, maka perempuan itu tadi membuka cadarnya, Anak muda itu dapat melihat dengan jelas wajahnya.


Setelah kembali dari pelajaran agama, perempuan itu tadi memberi tahu pada suaminya tentang peristiwa yang di alaminya bersama seorang pemuda, ketika suaminya mendengar penuturan cerita istrinya maka hatinya bimbang:”Hal itu perlu di uji kebenarannya. Agar aku puas dan jelas persoalannya”.

Lalu suami perempuan itu membuat perapian yang sangat besar dimasukkan kedalam tungku. Tungku itu biasanya di gunakan untuk memasak roti, yang menyerupai sebuah kentongan. Suami perempuan itu menunggu beberapa saat agar api membesar.
Ketika jilatan api telah membesar maka suaminya berkata:

”Demi Kebenaran Rasulullah SAW, masuklah kamu kedalam tungku itu!”.

Begitu istrinya mendengar suaminya bersumpah yang meminta dirinya agar masuk kedalam tungku yang membara, tanpa ragu ia masuk kedalamnya. Ia tidak memperdulikan lagi nyawanya demi kecintaannya kepada Rasulullah SAW.

Manakala suami perempuan itu melihat istrinya benar benar masuk kedalam tungku dan lenyap di selimuti jilatan api, timbullah penyesalan di dalam hatinya. ia menyadari bahwa apa yang di katakan itu benar, maka suami perempuan itu tadi menghadap Rasulullah S.A.W. Ia menceritakan kejadian yang berlangsung. Nabi SAW bersabda:”kembalilah. Bongkarlah tungku itu”. Ia segera kembali dan membongkar tungku itu yang masih panas, ternyata di balik tungku itu ia menemukan istrinya dalam keadaan selamat tanpa kurang suatu apapun. Hanya sekujur tubuhnya basah oleh keringatnya sendiri, bagaikan orang yang sedang mandi air panas.Demikian kelebihan yg Allah berikan kepada org yang benar-benar mencintai sang Rasul.