KISAH KERAMATNYA SHAHABAT UMAR RA.

Kisah 1

Ibnu Abi Dunya meriwayatkan bahwa ketika `Umar bin Khattab r.a. melewati pemakaman Baqi’, ia mengucapkan salam, “Semoga keselamatan dilimpahkan padamu, hai para penghuni kubur. Kukabarkan bahwa istri kalian sudah menikah lagi, rumah kalian sudah ditempati, kekayaan kalian sudah dibagi.” Kemudian ada suara tanpa rupa menyahut, “Hai `Umar bin Khattab, kukabarkan juga bahwa kami telah mendapatkan balasan atas kewajiban yang telah kami lakukan, keuntungan atas harta yang yang telah kami dermakan, dan penyesalan atas kebaikan yang kami tinggalkan.” (Dikemukakan dalam bab tentang kubur)

Yahya bin Ayyub al-Khaza’i menceritakan bahwa `Umar bin Khattab mendatangi makam seorang pemuda lalu memanggilnya, “Hai Fulan! Dan orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya, akan mendapat dua surga (QS Al-Rahman [55]: 46). Dari liang kubur pemuda itu, terdengar jawaban, “Hai ‘Umar, Tuhanku telah memberikan dua surga itu kepadaku dua kali di dalam surga.” (Riwayat Ibnu ‘Asakir)

Kisah 2

Al Taj al-Subki mengemukakan bahwa salah satu karamah Khalifah ‘Umar al-Faruq r.a. dikemukakan dalam sabda Nabi yang berbunyi, “Di antara umat-umat scbclum kalian, ada orang-orang yang menjadi legenda. Jika orang seperti itu ada di antara umatku, dialah ‘Umar.”

Kisah 3

Diceritakan bahwa `Umar bin Khattab r.a. mengangkat Sariyah bin Zanim al-Khalji sebagai pemimpin salah satu angkatan perang kaum muslimin untuk menycrang Persia. Di Gerbang Nihawan, Sariyah dan pasukannya terdesak karena jumlah pasukan musuh yang sangat banyak, sehingga pasukan muslim hampir kalah. Sementara di Madinah, `Umar naik ke atas mimbar dan berkhutbah. Di tengah-tengah khutbahnya, ‘Umar berseru dengan suara lantang, “Hai Sariyah, berlindunglah ke gunung. Barangsiapa menyuruh esrigala untuk menggembalakan kambing, maka ia telah berlaku zalim!” Allah membuat Sariyah dan seluruh pasukannya yang ada di Gerbang Nihawan dapat mendengar suara `Umar di Madinah. Maka pasukan muslimin berlindung ke gunung, dan berkata, “Itu suara Khalifah `Umar.” Akhirnya mereka selamat dan memperoleh kemenangan.

Al Taj al-Subki menjelaskan bahwa ayahnya (Taqiyuddin al-Subki) menambahkan cerita di atas. Pada saat itu, Ali menghadiri khutbah `Umar lalu ia ditanya, “Apa maksud perkataan Khalifah `Umar barusan dan di mana Sariyah sekarang?” Ali menjawab, “‘Doakan saja Sariyah. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.” Dan setelah kejadian yang dialami Sariyah dan pasukannya diketahui umat muslimin di Madinah, maksud perkataan `Umar di tengah-tengah khutbahnya tersebut menjadi jelas

Menurut al Taj al-Subki, `Umar r.a. tidak bermaksud menunjukkan karamahnya ini, Allah-lah yang menampakkan karamahnya, sehingga pasukan muslimin di Nihawan dapat melihatnya dengan mata telanjang, seolah-olah `Umar menampakkan diri secara nyata di hadapan mereka dan meninggalkan majelisnya di Madinah sementara seluruh panca indranya merasakan bahaya yang menimpa pasukan muslimin di Nihawan. Sariyah berbicara dengan `Umar seperti dengan orang yang ada bersamanya, baik `Umar benar-benar bersamanya secara nyata atau seolah-olah bersamanya. Para wali Allah terkadang mengetahui hal-hal luar biasa yang dikeluarkan oleh Allah melalui lisan mereka dan terkadang tidak mengetahuinya. Kedua hal tersebut adalah karamah.

Kisah 4

Dalam kitab al-Syamil, Imain al-Haramain menceritakan Karamah ‘Umar yang tampak ketika terjadi gempa bumi pada masa pemerintahannya. Ketika itu, ‘Umar malah mengucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah, padahal bumi bergoncang begitu menakutkan. Kemudian `Umar memukul bumi dengan kantong tempat susu sambil berkata, “Tenanglah kau bumi, bukankah aku telah berlaku adil kepadamu.” Bumi kembali tenang saat itu juga. Menurut Imam al-Haramain, pada hakikatnya `Umar r.a. adalah amirul mukminin secara lahir dan batin juga sebagai khalifah Allah bagi bumi-Nya dan bagi penduduk bumi-Nya, sehingga `Umar mampumemerintahkan dan menghentikan gerakan bumi, sebagaimana ia menegur kesalahan-kesalahan penduduk bumi.

Kisah 5

Imam al-Haramain juga mengemukakan kisah tentang sungai Nil dalam kaitannya dengan karamah ‘Umar. Pada masa jahiliyah, sungai Nil tidak mengalir sehingga setiap tahun dilemparlah tumbal berupa seorang perawan ke dalam sungai tersebut. Ketika Islam datang, sungai Nil yang seharusnya sudah mengalir, tenyata tidak mengalir. Penduduk Mesir kemudian mendatangi Amr bin Ash dan melaporkan bahwa sungai Nil kering sehingga diberi tumbal dengan melempar seorang perawan yang dilengkapi dengan perhiasan dan pakaian terbaiknya. Kemudian Amr bin Ash r.a. berkata kepada mereka, “Sesungguhnya hal ini tidak boleh dilakukan karena Islam telah menghapus tradisi tersebut.” Maka penduduk Mesir bertahan selama tiga bulan dengan tidak mengalirnya Sungai Nil, sehingga mereka benar-benar menderita.

‘Amr menulis surat kepada Khalifah `Umar bin Khattab untuk menceritakan peristiwa tersebut. Dalam surat jawaban untuk ‘Amr bin Ash, ‘Umar menyatakan, “Engkau benar bahwa Islam telah menghapus tradisi tersebut. Aku mengirim secarik kertas untukmu, lemparkanlah kertas itu ke sungai Nil!” Kemudian Amr membuka kertas tersebut sebelum melemparnya ke sungai Nil. Ternyata kertas tersebut berisi tulisan Khalifah ‘Umar untuk sungai Nil di Mesir yang menyatakan, “Jika kamu mengalir karena dirimu sendiri, maka jangan mengalir. Namun jika Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa yang mengalirkanmu, maka kami mohon kepada Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa untuk membuatmu mengalir.” Kemudian ‘Amr melempar kertas tersebut ke sungai Nil sebelum kekeringan benar-bcnar terjadi. Sementara itu penduduk Mesir telah bersiap-siap untuk pindah meninggalkan Mesir. Pagi harinya, ternyata Allah Swt. telah mengalirkan sungai Nil enam belas hasta dalam satu malam.

Kisah 6

Imam al-Haramain menceritakan karamah `Umar lainnya. ‘Umar pernah memimpin suatu pasukan ke Syam. Kemudian ada sekelompok orang menghalanginya, sehingga ‘Umar berpaling darinya. Lalu sekelompok orang tadi menghalanginya lagi, `Umar pun berpaling darinya lagi. Sekelompok orang tadi menghalangi `Umar untuk ketiga kalinya dan ‘Umar berpaling lagi darinya. Pada akhirnya, diketahui bahwa di dalam sekelompok orang tersebut terdapat pembunuh ‘Utsman dan Ali r.a.

Kisah 7

Dalam kitab Riyadh al-Shalihin, Imam Nawawi mengemukakan bahwa Abdullah bin `Umar r.a. berkata, “Setiap kali `Umar mengatakan sesuatu yang menurut prasangkaku begini, pasti prasangkanya itu yang benar.”

Saya tidak mengemukakan riwayat dari Ibnu `Umar tersebut dalam kitab Hujjatullah ‘ala al-‘Alamin. Kisah tentang Sariyah dan sungai Nil yang sangat terkenal juga disebutkan dalam kitab Thabaqat al-Munawi al-Kubra. Dalam kitab tersebut juga dikemukakan karamah ‘Umar yang lainnya yaitu ketika ada orang yang bercerita dusta kepadanya, lalu `Umar menyuruh orang itu diam. Orang itu bercerita lagi kepada `Umar, lalu Umar menyuruhnya diam. Kemudian orang itu berkata, “Setiap kali aku berdusta kepadamu, niscaya engkau menyuruhku diam.”

Kisah 8

Diccritakan bahwa ‘Umar bertanya kepada seorang laki-laki, “Siapa namamu?” Orang itu menjawab, “Jamrah (artinya bara).” `Umar bertanya lagi, “Siapa ayahmu?” Ia menjawab, “Syihab (lampu).” `Umar bertanya, “Keturunan siapa?” Ia menjawab, “Keturunan Harqah (kebakaran).” ‘Umar bertanya, “Di mana tempat tinggalmu?” Ia menjawab, “Di Al Harrah (panas).” `Umar bertanya lagi, “Daerah mana?” Ia menjawab, “Di Dzatu Lazha (Tempat api).” Kemudian `Umar berkata, “Aku melihat keluargamu telah terbakar.” Dan seperti itulah yang terjadi.

Kisah 9

Fakhrurrazi dalam tafsir surah Al-Kahfi menceritakan bahwa salah satu kampung di Madinah dilanda kebakaran. Kemudian `Umar menulis di secarik kain, “Hai api, padamlah dengan izin Allah!” ‘Secarik kain itu dilemparkan ke dalam api, maka api itu langsung padam.

Kisah 10

Fakhrurrazi menceritakan bahwa ada utusan Raja Romawi datang menghadap `Umar. Utusan itu mencari rumah `Umar dan mengira rumah ‘Umar seperti istana para raja. Orang-orang mengatakan, “‘Umar tidak memiliki istana, ia ada di padang pasir sedang memerah susu.” Setelah sampai di padang pasir yang ditunjukkan, utusan itu melihat `Umar telah meletakkan kantong tempat susu di bawah kepalanya dan tidur di atas tanah. Terperanjatlah utusan itu melihat `Umar, lalu berkata, “Bangsa-bangsa di Timur dan Barat takut kepada manusia ini, padahal ia hanya seperti ini. Dalam hati ia berjanji akan membunuh `Umar saat sepi seperti itu dan membebaskan ketakutan manusia terhadapnya. Tatkala ia telah mengangkat pedangnya, tiba-tiba Allah mengeluarkan dua harimau dari dalam bumi yang siap memangsanya. Utusan itu menjadi takut sehingga terlepaslah pedang dari tangannya. ‘Umar kemudian terbangun, dan ia tidak melihat apa-apa. ‘Umar menanyai utusan itu tentang apa yang terjadi. Ia menuturkan peristiwa tersebut, dan akhirnya masuk Islam.

Menurut Fakhrurrazi, kejadian-kejadian luar biasa di atas diriwayatkan secara ahad (dalam salah satu tingkatan sanadnya hanya ada satu periwayat). Adapun yang dikisahkan secara mutawatir adalah kenyataan bahwa meskipun `Umar menjauhi kekayaan duniawi dan tidak pernah memaksa atau menakut-nakuti orang lain, ia mampu menguasai daerah Timur dan Barat, serta menaklukkan hati para raja dan pemimpin. Jika anda mengkaji buku-buku sejarah, anda tak akan menemukan pemimpin seperti ‘Umar, sejak zaman Adam sampai sekarang. Bagaimana ‘Umar yang begitu menghindari sikap memaksa bisa menjalankan politiknya dengan gemilang. Tidak diragukan lagi, itu adalah karamahnya yang paling besar.

KISAH SAHABAT NABI SAW : AMAR MA’RUFNYA PARA SAHABAT DALAM KEHIDUPAN

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim,Abdullah ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma berkata:“Barangsiapa yang ingin meniru, hendaklah ia meniru perjalanan orang yang sudah mati, yaitu perjalanan para sahabat Nabi Muhammad SAW, karena mereka itu adalah sebaik-baik ummat ini, dan sebersih-bersihnya hati, sedalam-dalamnya ilmu pengetahuan, dan seringan-ringannya penanggungan. Mereka itu adalah suatu kaum yang telah dipilih Allah untuk menjadi para sahabat NabiNya SAW dan bekerja untuk menyebarkan agamaNya. Karena itu, hendaklah kamu mencontohi kelakuan mereka dan ikut perjalanan mereka. Mereka itulah para sahabat Nabi Muhammad SAW yang berdiri di atas jalan lurus, demi Allah yang memiliki Ka’bah!”

(Hilyatul-Auliya’ 1:305)

 

Tentang Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Dari Abu Hurairah ra., Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa mengajak kepada suatu kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang mengikutinya, dengan tidak mengurangi sedikitpun pahala-pahala mereka. Dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia akan mendapat dosa seperti orang yang mengikutinya, dengan tidak mengurangi sedikitpun dosa-dosa mereka.” (H.R. Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud ra., berkata Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia mendapat pahala seperti orang yang mengerjakannya.” (H.R. Muslim)

Abu Sa’id Al-Khudry ra., berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa di antara kamu sekalian melihat suatu kemunkaran, maka hendaklah ia merubah dengan kekuasaannya, kalau tidak mampu maka dengan tegurannya, dan kalau tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan yang terakhir adalah selemah-lemahnya iman.” (H.R. Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud ra., bahwasanya Rasulullah ASW. bersabda: “Tidak seorang nabi pun yang diutus Allah kepada suatu ummat sebelumku kecuali ia mempunyai penolong-penolong setia dan kawan-kawan yang senantiasa mengikuti sunnahnya dan mentaati perintahnya, kemudian sesudah periode mereka timbullah penyelewengan dimana mereka mengucapkan apa yang tidak mereka kerjakan dan mereka mengerjakan apa yang tidak diperintahkan. Maka barang siapa yang memerangi mereka dengan kekuasaannya maka ia adalah orang yang beriman, barang siapa yang memerangi mereka dengan ucapannya, maka ia adalah orang yang beriman dan barang siapa yang memerangi mereka dengan hatinya, maka ia adalah seorang yang beriman juga; selain dari itu tidaklah ada padanya rasa iman walau hanya sebiji sawi.” (H.R. Muslim)

Abu Bakr Ash-Shiddiq ra., berkata: ” Wahai sekalian manusia sesungguhnya kalian membaca ayat ini : ‘Yaa ayyuhal ladziina aamnuu ‘alaikum anfusakum laa yadhurrukum man dhalla idzahtadaitum.’ (Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu masing-masing, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu jika kamu telah mendapat petunjuk). Dan sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Bahwasanya manusia itu bila mengetahui orang berbuat zhalim kemudian mereka tidak mengambil tindakan, maka Allah akan meratakan siksaan kepada mereka semua.” (H.R. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa’i)

Dari hudzaifah ra., Rasulullah SAW bersabda: “Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam kekuasaanNya, kamu harus sungguh-sungguh menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran, kalau tidak Allah akan menurunkan siksaan kepadamu, kemudian kamu berdoa kepadaNya, maka tidak akan dikabulkan doamu itu.” (H.R. Tirmidzi)

Ibnu Mas’ud berkata: ” Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Semoga Allah memberi cahaya berkilau-kilau kepada seseorang yang mendengar sesuatu dariku kemudian ia menyampaikan sebegaimana yang ia dengar, karena banyak orang yang disampaikan kepadanya (sesuatu itu) lebih menerima daripada orang yang mendengarnya sendiri.” (H.R. Tirmidzi)

Abu Zaid Usamah bin Haritsah ra., berkata: “Saya mendengar Rasulullah bersabda: “Pada hari kiamat kelak ada seseorang yang digiring lantas dilemparkan ke dalam neraka, seluruh isi perutnya keluar lalu berputar-putar seperti berputar-putarnya keledai di kincir, kemudian seluruh penghuni neraka berkumpul mengerumuninya, lantas menegur: “Wahai Fulan, apa yang terjadi padamu, apakah kemu tidak beramar ma’ruf dan nahi munkar?” Ia menjawab: “Ya saya menganjurkan kebaikan tetapi saya sendiri tidak menjalankannya, dan saya melarang kemunkaran tetapi saya sendiri malah mengerjakannya.” (H.R. Bukhari & Muslim).

Dari Abu Sa’id Al-Khudry ra., Rasulullah SAW bersabda: “Jauhilah olehmu sekalian duduk di jalan-jalan.” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah kami tidak bisa meninggalkan tempat duduk kami (di jalan) itu dimana kami berbincang-bincang di sana.” Rasulullah menjawab: “Apabila kamu sekalian enggan untuk tidak duduk di sana maka penuhilah hak jalan itu.” Para shahabat bertanya: “Apakah hak jalan itu ya Rasullah.” Beliau menjawab: “Yaitu memejamkan mata, membuang kotoran, menjawab salam serta menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

INILAH KISAH IBUNDA SAYIDINA ALI KARROMALLOHU WAJHAH

Beliau adalah Fatimah, ibu khalifah keempat Ali bin Abi Thalib RA ini, putri dari pasangan Asad bin Hasyim dan Fatimah binti Hazm bin Rawahah. Perempuan keturunan bangsa Hasyim ini menikah dengan keponakan ayahnya yakni Abu Thalib dan dikaruniai empat putra dan dua putri, Thalib, Aqil, Ja’far, Ali, Ummu Hani’ (nama aslinya Fakhitah) dan Jamanah.

Jarak kelahiran antara satu anak dengan lainnya adalah sepuluh tahun. Semua putra putrinya memeluk agama Islam kecuali Thalib. Setelah kematian suaminya, dia pun termasuk dalam barisan wanita yang pertama kali masuk Islam setelah pernah hidup ditengah arus kejahiliyahan. Ia pun turut ikut hijrah ke Madinah bersama Nabi Saw.

Fathimah merupakan sosok perempuan salihah. Ketika Nabi Saw masih dalam tanggungan Abu Thalib atas wasiat kakeknya Abdul Muthallib, Fatimah turut membantu suaminya mengawasi keponakannya itu. Ia mengasuh dan mengurus semua keperluan Nabi Saw. layaknya ibu kandung sendiri. Atas kasih sayang yang diberikannya itulah, Nabi Saw. sangat memuliakannya.

Dan ketika menginjak dewasa dan telah memiliki rumah sendiri, Nabi Saw. pun membalas kebaikan Fatimah dan suaminya yang saat itu krisis materi dengan mengasuh anak bungsunya Ali bin Abi Thalib yang masih umur enam tahun. Nabi Saw. mengasuh sepupunya sendiri, Ali bin Abi Thalib, yang kemudian dinikahkan dengan putrinya, Fatimah az-Zahra.

Ketika Fatimah, bibi Nabi Saw.wafat, Nabi Saw. memberi penghormatan terakhir. Nabi Saw. duduk di samping jenazah beliau, dan  seraya mengajak berbincang dengan bibinya yang ia sebut dengan ibu, “Semoga Allah merahmatimu wahai ibuku, engkaulah ibuku setelah ibu kandungku, ketika engkau lapar, justru engkau mengenyangkanku, ketika engkau tak punya baju, engkau justru memberikan ku baju, ketika engkau menahan diri untuk tidak makan makanan yang enak, engkau justru memberikanku makanan, engkau lakukan itu semua hanya semata karena Allah, dan akhirat.”

Setelah itu, Nabi Saw. memerintahkan keluarganya untuk memandikan Fatimah binti Asad ini. Selain itu, Nabi Saw. juga melepas bajunya dan memberikan bajunya untuk dijadikan kain kafan. Setelah semuanya selesai,  Nabi Saw. memerintahkan Usamah bin Zaid, Abu Ayyub al-Anshari, Umar bin Khattab, dan Aswad untuk menguburkan jenazah bibinya itu.

Sebelum memakamkan jenazah bibinya, Rasulullah Saw. berbaring di liang lahad, dan berdoa di dalam: “Allah yang menghidupkan dan mematikan hambanya, ia lah yang maha hidup dan tidak mati, ampunilah ibuku: Fatimah binti Asad, luaskan tempatnya dengan haq nabimu, dan para nabi sebelumku, sungguh engkaulah yang maha pengasih.”

Setelah itu Nabi Saw. pun mengucapkan takbir empat kali lalu Abbas dan Abu Bakar memasukkan Fatimah ke liang lahad. Melihat peristiwa pemakaman yang tak seperti biasanya itu membuat sebagian sahabat ingin bertanya kepada Nabi, “Rasul, kita melihat apa yang engkau lakukan kepada Fatimah tidak seperti yang engkau lakukan kepada yang lainnya, mengapa demikian?”

Nabi Saw. menjawab, “Sungguh aku memakaikan baju gamisku untuk dijadikan kafan bibiku agar dia memakai baju dari surga kelak, dan aku berbaring di kuburannya karena aku berharap Allah Swt. meringakannya dari adzab kubur, sungguh ia adalah makhluk Allah yang paling mulia yang diciptakan untuk membantuku setelah Abu Thalib.”

Nabi Saw. juga pernah mendoakan Fatimah ketika menziarahi kuburannya, “Semoga Allah Swt. membalas kebaikan ibu, karena sungguh engkau adalah sebaik-baik ibu. Allah yang menghidupkan dan mematikan hambanya, Ia Yang Maha Hidup dan Tidak Mati, ampunilah ibuku, Fatimah binti Asad. Ajarkan dia bagaimana berhujah menghadapi pertanyaan malaikat, luaskan tempatnya dengan haq nabimu, dan para nabi sebelumku, sungguh Engkaulah Yang Maha Pengasih.

ROSULULLOH SAW DI TOLAK OLEH ALLOH SWT PENGADUANYA

Pagi itu matahari mulai tinggi. Teriknya sudah terasa. Lima puluh pasukan pemanah Islam satu demi satu menaiki bukit kecil di samping Gunung Uhud. Rebana sudah berbunyi, bersahut-sahutan. Ini pertanda perang antara umat Islam dan orang musyrik Mekah sebentar lagi akan terjadi.

Tak lama kemudian, perang sudah berlangsung. Walau jumlah pasukan umat Islam hanya 700 orang melawan tiga ribuan pasukan musyrik, tanda-tanda kemenangan Islam sesungguhnya sudah mulai kelihatan. Ratusan tentara musyrik lari tunggang langgang. Hindun, istri Jenderal Abu Sufyan ibn Harb, terbirit-birit sehingga betisnya yang putih tampak dari kejauhan.

Namun, tentara Islam tak sabar. Pasukan pemanah bergegas menuruni bukit, memungut dan berebut barang ghanimah yang berserakan. Di sinilah kisah pilu itu bermula. Tanpa diduga, pasukan berkuda pimpinan Khalid ibn Walid dan Ikrimah menaiki bukit kecil itu. Mereka dengan cepat melesatkan anak-anak panahnya ke pasukan Islam. Tentara Islam kucar-kacir.

Banyak pasukan inti Islam gugur. Mulai dari Abu Dujanah hingga Hamzah, paman Nabi. Bahkan, Nabi pun terluka. Abdullah ibn Shihab berhasil melukai kening Nabi. Ibnu Qami’ah menghunjamkan pedang ke bahu kanan dan pelipis Nabi SAW. Dua pecahan baja menusuk pelipisnya. Muka Nabi SAW berlumuran darah.

Nabi SAW marah. Beliau mengadu pada Allah, “bagaimana suatu kaum akan berbahagia jika melumuri wajah nabinya dengan darah”. Allah SWT tak menggubris seruannya. Ia justru menegur Nabi SAW, “itu bukan urusanmu (Muhammad), apakah Allah menerima tobat mereka atau mengazabnya karena mereka adalah orang-orang zalim”. (QS, Ali Imran [3]: 128).

Apa yang dikhawatirkan Nabi SAW tak terjadi. Banyak pasukan musyrik yang terlibat dalam perang Uhud itu yang dalam perkembangan kemudian justru masuk Islam. Di antaranya adalah Abu Sufyan, Khalid ibn Walid, Ikrimah ibn Abi Jahal.

Abu Sufyan kelak dikenal sebagai jenderal besar yang memperjuangkan Islam. Khalid ibn Walid mendapat julukan “saif Allah” (pedang Allah). Ikrimah pun bukan hanya kesohor sebagai panglima perang yang hebat. Ia juga dikenal sebagai intelektual yang dahsyat, banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi SAW.

KISAH SAHABAT NABI SAW.: KHOLID BIN WALID MEMBUNUH BERHALA UZZA

Dahulu, Islam berkembang pesat ke seantero dunia pada masa kekaisaran Romawi Bizantium dan Kekaisaran Sassaniyah Persia. Pasalnya, kedua kekuatan super power tersebut dapat ditumbangkan oleh para pejuang muslim dalam kurun waktu 18 tahun. Selanjutnya penaklukan pun terus merambah wilayah Eropa, Afrika, dan Asia Tengah. Dalam kurun waktu tersebut, ada beberapa panglima-panglima perang umat Islam yang mengukir sejarah dalam dunia Islam. Salah satu panglima hebat tersebut adalah Khalid bin Walid, sang panglima perang muslim pertama yang dimiliki oleh umat Islam.

Sebagai panglima perang yang sangat terkenal, Khalid bin Walid begitu ditakuti oleh pasukan musuh di medan tempur. Khalid bin Walid pun merupakan panglima tempur yang memiliki peranan sangat penting dan tak terkalahkan di sepanjang karirnya. Oleh sebab itulah Rasulullah memberikan Khalid bin Walid julukan “Pedang Allah yang Terhunus”. Khalid bin Walid termasuk salah satu keluarga nabi, sebab bibi dari Khalid bin Walid yang bernama Maimunah merupakan salah satu istri Rasulullah SAW.

Awalnya Khalid bin Walid merupakan panglima perang kaum kafir Quraisy yang terkenal dengan pasukan kavalerinya. Bahkan Khalid bin Walid pun menjadi dalang dibalik kekalahan yang dialami oleh umat Islam pada perang Uhud. Saat itu Khalid bin Walid memanfaatkan kelemahan pasukan muslim yang tergiur oleh harta rampasan perang. Saat pasukan muslim turun dari bukit Uhud, Khalid bin Walid beserta pasukannya pun naik ke atas bukit dan menyerang pasukan muslim yang tersisa.

Namun setelah perang tersebut, Khalid bin Walid justru menemui Rasulullah SAW dan menyatakan beriman kepada Allah. Dalam berbagai kesempatan, Khalid bin Walid menunjukkan strategi-strategi perang akhirnya berhasil mengalahkan pasukan musuh. Khalid memang sempurna dalam bidang peperangan, sebab ia merupakan ahli siasat perang, mahir dalam segala senjata, piawai dalam berkuda, dan berkharisma di tengah para prajuritnya. Meskipun begitu, Khalid tak pernah sombong dan selalu rendah hati meski berada dalam puncak popularitas.

Dalam suatu kesempatan, Khalid pernah diperintahkan oleh Rasulullah SAW menuju Nakhlah untuk menghancurkan patung berhala yang bernama ‘Uzza. Patung ‘Uzza merupakan patung paling besar yang disembah oleh Bani Kinanah dan Bani Muhdhar. Setelah tiba di Nakhlah, Khalid beserta pasukannya dengan mudah menghancurkan patung berhala tersebut. Mereka pun kemudian melaporkannya kepada Rasulullah SAW.

Dari Abu Al-Thufail, beliau bercerita, “Ketika Rasulullah SAW menaklukkan kota Mekah, beliau mengutus Khalid bin Walid ke daerah Nakhlah, tempat keberadaan berhala ‘Uzza. Akhirnya Khalid mendatangi ‘Uzza, dan ternyata ‘Uzza adalah tiga buah pohon Samurah. Khalid pun lantas menebang ketiga buah pohon tersebut. Ketiga buah pohon tersebut terletak di dalam sebuah rumah. Khalid pun menghancurkan bangunan rumah tersebut. Setelah itu Khalid menghadap Nabi SAW dan melaporkan apa yang telah dia kerjakan.

Nabi pun berkata, “Kembalilah karena engkau belum berbuat apa-apa.” Akhirnya ia kembali. Tatkala para juru kunci ‘Uzza melihat kedatangan Khalid, mereka menatap ke arah gunung yang ada di dekat lokasi sambil berteriak, “Wahai ‘Uzza. Wahai ‘Uzza.” Khalid akhirnya mendatangi puncak gunung, ternyata ‘Uzza itu berbentuk perempuan telanjang yang mengurai rambutnya. Dia saat itu sedang menuangkan debu ke atas kepalanya dengan menggunakan kedua telapak tangannya. Khalid pun menyabetkan pedang ke arah jin perempuan ‘Uzza sehingga berhasil membunuhnya. Setelah itu Khalid kembali menemui Nabi dan melaporkan apa yang telah ia kerjakan. Lalu Rasulullah SAW pun berkata, “Nah, itu baru ‘Uzza.” (HR. An-Nasa’i)

INILAH SHOHABAT NABI SAW YANG SANGAT TERKENAL : JULAIBIB RA.

Julaibib RA merupakan seorang pemuda yang berasal dari kota Madinah.  Sifat fisikalnya yang rendah dan tidak menarik menyebabkan beliau  kurang dikenali di Madinah. Namun, Julaibib r.a. adalah salah seorang  sahabat Rasulullah SAW yang amat disayangi oleh baginda. Disebabkan keadaan fisikalnya yang kurang menarik, masyarakat Madinah kurang senang dengan keberadaan beliau di kota tersebut. Anas bin Malik menuturkan, “Ada seorang sahabat Rasulullah SAW yang bernama Julaibib dengan wajahnya yang kurang tampan. Rasulullah menawarkan pernikahan untuknya. Dia berkata, “Kalau begitu aku orang  yang tidak laku?” Rasulullah SAW menjawab, “Engkau di sisi Allah orang yang laku.” (HR Ya’la).

Selepas peristiwa Hijrah, baginda Rasulullah SAW mengangkat martabat beliau dalam hadithnya yang bermaksud :”Sesungguhnya Julaibib ini sebahagian daripada aku dan aku ini sebahagian daripada dia”. Malah, atas usaha baginda, Julaibib dinikahkan dengan seorang gadis Madinah yang baik dan solihah.

Jasa dan perjuangannya

Julaibib setia mengikuti baginda dalam ekspedisi peperangan namun beliau gugur dan jenazahnya dikuburkan oleh baginda sendiri. Tidak selang beberapa hari pernikahannya, Nabi SAW  keluar dalam peperangan, dan Julaibib ikut serta bersama beliau.  Setelah peperangan usai, dan manusia mulai saling mencari satu sama  lain. Nabi SAW bertanya kepada mereka, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka menjawab, “Kami kehilangan fulan dan fulan…”

Kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka menjawab, “Kami kehilangan si fulan dan si fulan…”

Kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah kalian kehilangan  seseorang?” Mereka menjawab, “Kami kehilangan fulan dan fulan…” Beliau  bersabda, “Akan tetapi aku kehilangan Julaibib.”

Mereka pun mencari dan memeriksanya di antara orang-orang  yang terbunuh. Tetapi mereka tidak menemukannya di arena pertempuran.  Terakhir, mereka menemukannya di sebuah tempat yang tidak jauh, di sisi  tujuh orang dari orang-orang musyrik. Dia telah membunuh mereka,  kemudian mereka membunuhnya.

Nabi SAW  berdiri memandangi mayatnya, lalu berkata,”Dia membunuh tujuh orang  lalu mereka membunuhnya. Dia membunuh tujuh orang lalu mereka  membunuhnya. Dia dari golonganku dan aku dari golongannya.” Lalu  Rasulullah SAW membopongnya di atas kedua lengannya dan memerintahkan mereka agar menggali tanah untuk menguburnya.

Anas bertutur, “Kami pun menggali kubur, sementara Julaibib  radhiallahu ‘anhu tidak memiliki alas kecuali kedua lengan Rasulullah SAW,  hingga ia digalikan dan diletakkan di liang lahatnya.” Anas radhiallahu  ‘anhu berkata, “Demi Allah! Tidak ada di tengah-tengah orang Anshar  yang lebih banyak berinfak daripada istrinya. Kemudian, para tokoh pun  berlomba melamarnya setelah Julaibib…” Benarlah, “Dan barangsiapa  yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan  bertakwa kepada-Nya, mereka itu adalah orang-orang yang mendapat  kemenangan.” (An-Nur: 52).

Nabi SAW  juga telah bersabda, sebagaimana dalam ash-Shahih, “Setiap umatku akan  masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Wahai  Rasulullah, siapakah yang engan itu?” Beliau bersabda, “Barangsiapa taat  kepadaku, maka ia masuk surga, dan barangsiapa mendurhakaiku berarti ia  telah enggan.”

أن  النبي صلى الله عليه و سلم كان في مغزى له فأفاء الله عليه فقال لأصحابه  هل تفقدون من أحد ؟ قالوا نعم فلانا وفلانا وفلانا ثم قال هل تفقدون من أحد  ؟ قالوا نعم فلانا وفلانا وفلانا ثم قال هل تفقدون من أحد ؟ قالوا لا قال  لكني أفقد جليبيبا فاطلبوه فطلب في القتلى  فوجدوه إلى جنب سبعة قد قتلهم ثم قتلوه فأتى النبي صلى الله عليه و سلم  فوقف عليه فقال قتل سبعة ثم قتلوه هذا مني وأنا منه هذا مني وأنا منه قال  فوضعه على ساعديه ليس له إلا ساعدا النبي صلى الله عليه و سلم قال فحفر له  ووضع في قبره ولم يذكر غسلا

Bahwasanya Nabi صلى الله  عليه وسلم ada di suatu peperangan beliau, lalu Alloh memberikan harta  kemenangan untuk meliau. Maka beliau bertanya kepada para Shohabat  beliau: “Apakah kalian kehilangan seseorang?” mereka menjawab: “Iya, si  fulan, dan fulan, dan fulan.” Kemudian beliau bertanya: “Apakah kalian  kehilangan seseorang?” mereka menjawab: “Iya, si fulan, dan fulan, dan  fulan.” Kemudian beliau bertanya: “Apakah kalian kehilangan seseorang?”  mereka menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Akan tetapi aku kehilangan  Julaibib. Carilah dia.” Maka merekapun mencarinya di kalangan  orang-orang yang mati. Maka mereka menemukannya di samping tujuh orang.  Julaibib membunuh tujuh orang, lalu tujuh orang itu membunuhnya. Maka  Nabi صلى الله عليه وسلم berdiri di sampingnya lalu bersabda: “Dia telah  membunuh tujuh orang, lalu tujuh orang itu membunuhnya. Dia adalah  dariku dan aku adalah darinya, dia adalah dariku dan aku darinya.” Lalu  beliau meletakkan Julaibib di kedua lengan beliau. Dia tak punya selain  kedua lengan Nabi صلى الله عليه وسلم . lalu digalilah untuknya lubang  lalu dia diletakkan di kuburannya. Beliau tidak menyebutkan bahwa dia  dimandikan. Wallahu a’lam. [Mujawib : Dimasyqi Fata]  @santrialit

– SYARAH NAWAWI ‘ALA MUSLIM :

باب من فضائل جليبيب رضي الله عنه

حدثنا إسحق بن عمر بن سليط حدثنا حماد بن سلمة عن ثابت عن كنانة بن نعيم  عن أبي برزة أن النبي صلى الله عليه وسلم كان في مغزى له فأفاء الله عليه  فقال لأصحابه هل تفقدون من أحد قالوا نعم فلانا وفلانا وفلانا ثم قال هل  تفقدون من أحد قالوا نعم فلانا وفلانا وفلانا ثم قال هل تفقدون من أحد  قالوا لا قال لكني أفقد جليبيبا فاطلبوه فطلب في القتلى فوجدوه إلى جنب  سبعة قد قتلهم ثم قتلوه فأتى النبي صلى الله عليه وسلم فوقف عليه فقال قتل  سبعة ثم قتلوه هذا مني وأنا منه هذا مني وأنا منه قال فوضعه على ساعديه ليس  له إلا ساعدا النبي صلى الله عليه وسلم قال فحفر له ووضع في قبره ولم يذكر  غسلا

باب من فضائل جليبيب رضي الله عنه .

هو بضم الجيم .

قوله : ( كان في مغزى له ) أي في سفر غزو . وفي حديثه أن الشهيد لا يغسل ، ولا يصلى عليه .

قوله صلى الله عليه وسلم : ( هذا مني وأنا منه ) معناه المبالغة في اتحاد طريقتهما ، واتفاقهما في طاعة الله تعالى

– FATHUL MUN’IM :

عن أبي برزة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان في مغزى له.  فأفاء الله عليه فقال لأصحابه: “هل تفقدون من أحد؟” قالوا: نعم فلانا  وفلانا وفلانا. ثم قال: “هل تفقدون من أحد؟” قالوا: نعم فلانا وفلانا  وفلانا ثم قال: “هل تفقدون من أحد؟”  قالوا: لا. قال: “لكني أفقد جليبيبا. فاطلبوه” فطلب في القتلى. فوجدوه إلى  جنب سبعة قد قتلهم ثم قتلوه فأتى النبي صلى الله عليه وسلم فوقف عليه فقال:  “قتل سبعة ثم قتلوه. هذا مني وأنا منه هذا مني وأنا منه” قال: فوضعه على  ساعديه. ليس له إلا ساعدا النبي صلى الله عليه وسلم قال: فحفر له ووضع في  قبره ولم يذكر غسلا.

رجل دميم الخلقة قصير لا يؤبه له  حضر أو غاب لكنه عند الله عظيم وعند رسول الله صلى الله عليه وسلم عزيز  عظيم سأله رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما: لم لم تتزوج يا جليبيب؟  فقال: إذن تجدني يا رسول الله كاسدا في سوق الرجال فقال: إنك عند الله لست  بكاسد وذكر له ابنة أنصاري، فلما علم الأنصاري وزوجته كأنهما كرها ذلك  فسمعت ابنتهما بما أراد رسول الله صلى الله عليه وسلم فقرأت قوله تعالى وما  كان لمؤمن ولا مؤمنة إذا قضى الله ورسوله أمرا أن يكون لهم الخيرة من  أمرهم [الأحزاب: 36] ثم قالت: رضيت وسلمت لما يرضى لي به رسول الله صلى  الله عليه وسلم فدعا لها رسول الله صلى الله عليه وسلم وقال: اللهم اصبب  عليها الخير صبا ولا تجعل عيشها كدا، وتزوجته، وجاهد في سبيل الله، وغنم  وغنم وغنم ونفله رسول الله صلى الله عليه وسلم لبطولته فلما افتقده رسول  الله صلى الله عليه وسلم في نهاية غزوة وفي تصفية مكاسبها وخسائرها سأل  أصحابه، سؤال توجيه وتعليم: من فقدتم من الأبطال في هذه المعركة؟ قالوا:  فقدنا فلانا وفلانا وفلانا، يذكرون من يؤبه لهم إذا حضروا ويسأل عنهم إذا  غابوا، وأعاد الرسول صلى الله عليه وسلم السؤال، فذكروا فلانا وفلانا  وفلانا، غير من ذكروا أولا، فكرر الرسول صلى الله عليه وسلم السؤال فلم  يذكروا فيمن ذكروا جليبيبا، فقال: أما أنا فأفتقد جليبيبا، ابحثوا عنه وقام  معهم يبحث عنه بين القتلى فوجده بين سبعة من المشركين قتلهم قبل أن  يستشهد، فقال: هكذا تكون البطولة، وهكذا يكون الجندي المجهول وهكذا يكون  الجهاد في سبيل الله هو يشبهني في الشجاعة وأنا أشبهه، ثم حمله رسول الله  صلى الله عليه وسلم على ساعديه لم يسمح للصحابة أن يحملوه إلى قبره بل حمله  هو بنفسه حتى وضعه في حفرته، أما زوجته فكانت بعده من أكثر النساء مالا  ونفقة.

مثل أعلى في تكريم الأعمال قبل تكريم الهيئات،  والأجسام، وطوبى لعبد يجاهد في سبيل الله، لا يهتم بتقدير الناس إن كان في  المقدمة أو كان في الساقة هو يتعامل لله ومع الله ولدين الله. رضي الله عنه  وأرضاه.

المباحث العربية

(جليبيب) قال الحافظ ابن حجر في الإصابة: اسم غير منسوب، أي لم يذكر له نسب من أهل النسب، وهو على هيئة تصغير جلباب.

(كان في مغزى له) أي في سفر غزو من أسفار غزواته، ولم أر من حدد هذه الغزوة.

(هذا مني وأنا منه) قال النووي: معناه المبالغة في اتحاد طريقتهما واتفاقهما في طاعة الله.

فقه الحديث

فيه منقبة عظيمة لجليبيب وتقدير النبي صلى الله عليه وسلم للكفايات وتكريمهم، وفيه أن الشهيد لا يغسل ولا يصلى عليه.

والله أعلم.

KISAH SUFI : SHAHABAT SA’AD RA MEMINTA UMUR PANJANG

Keistimewaan sejumlah ulama sebagai pewaris para Nabi dalam kajian tasawuf berfungsi untuk memperkuat keimanan umat Muslim. Lain dengan mukjizat para Nabi yang levelnya lebih tinggi yaitu di antaranya untuk menunjukkan kekuasaan Allah SWT melalui utusannya.

Riwayat karomah (keistimewaan) ulama dimaksud banyak menjadi pelajaran yang tertulis di dalam berbagai kitab. Karomah yang dimiliki oleh wali itu tidak hanya nampak ketika hidup saja. Tetapi setelah wafat, waliyullah masih diberi karomah.

Dan bagi pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah, kepercayaan terhadap adanya waliyullah dan karomah itu perlu diyakini secara baik. Bahkan empat imam madzhab sudah bersepakat mengenai karomah yang ada para wali ketika hidup maupun sudah wafat.

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan dalam karyanya Secercah Tinta (2012) mengungkapkan, banyak Nabi-nabi dari Bani Israil dengan mukjizatnya bisa menghidupkan orang mati. Lalu bagaimana umatnya Rasulullah SAW? Umat Rasulullah pun sama.

Jika pada Bani Israil ada Nabi yang bisa menghidupkan orang mati, maka umat Nabi SAW pun bisa menghidupkan orang mati dengan karamahnya, seperti Syekh Abdul Qadir Jailani, sebagaimana disebutkan dalam manaqib-nya. Demikian juga Imam Yahya bin Hasan yang juga keturunan Syekh Abdul Qadir Jailani akhirnya disebut Bin Yahya. Karomah-karomahnya juga bisa menghidupkan orang mati.

Selain itu, Imam Al-Ghazali termasuk ulama masyhur yang memiliki banyak riwayat keistimewaan. Konon, Al-Ghazali dikehendaki masuk surga karena menolong seekor lalat yang kecebur dalam wadah tinta yang digunakannya untuk menulis kitab.

Diceritakan oleh KH Abdul Moqsith Ghazali (2018), Imam Al-Ghazali pernah berdoa kepada Allah. Dalam doanya, ia berharap kitab yang ditulisnya, Ihya’ Ulumiddin lebih terkenal dibanding kuburannya. Doa tersebut dikabulkan. Saat ini kitab tersebut dikaji di berbagai pesantren dan perguruan tinggi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Sebaliknya, kuburan Al-Ghazali tidak banyak yang tahu. Bahkan menurut Kiai Moqsith yang pernah berkunjung ke makam Al-Ghazali, kuburan penulis Kitab Tahafutul Falasifah itu terlihat apa adanya karena baru beberapa tahun belakangan ditemukan. Artinya, selama ratusan tahun yang ramai diziarahi selama ini bukan makam Al-Ghazali.

Salah seorang kiai pesantren yang dikenal mempunyai keistimewaan ialah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bahkan, Gus Dur tak hanya masyhur tulisan-tulisannya, tetapi juga kuburannya yang diziarahi ribuan orang setiap hari. Nilai-nilai kemanusiaan yang dikembangkan oleh Gus Dur membuatnya tak hanya diziarahi umat Islam, tetapi juga masyarakat dari berbagai kalangan dan agama.

Kiai Moqsith yang juga dikenal dekat dengan Gus Dur saat masih hidup menuturkan, dahulu Gus Dur ditawari umur 90 tahun oleh malaikat. “Buat apa sih umur panjang-panjang, yang sedang sajalah 69 tahun. Akhirnya benar Gus Dur wafat pada usia tersebut,” ungkap Kiai Moqsith saat mengisi forum ilmiah tentang moderasi Islam di Bogor, Jawa Barat baru-baru ini.

Kisah tersebut muncul ketika Kiai Moqsith juga menjelaskan riwayat salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, Sa’ad bin Abi Waqash RA. Saat itu sahabat Sa’ad didatangi malaikat pada umur 42 tahun dan ingin mencabut nyawanya.

Seketika sahabat Sa’ad RA protes kepada malaikat, karena anak-anaknya yang masih kecil. Akhirnya, sahabat Sa’ad RA berdoa meminta kepada Allah dan diberikan umur panjang. Dikabulkan oleh Allah, 84 tahun baru meninggal. Kuburan sahabat Sa’ad RA berada di Kota Guangzhou, Tiongkok (China) dan ramai diziarahi banyak orang dari mancanegara.

Gus Dur dan Rumi

Gus Dur meninggal setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Cipto Manungkusumo (RSCM) Jakarta. Baik dalam kondisi dirawat dan setelah kepergiannya, orang-orang tidak pernah berhenti mengunjungi Gus Dur.

Bahkan, padatnya pentakziah yang tidak terhitung jumlahnya dari berbagai daerah di Indonesia turut mengantar jenazah putra sulung KH Wahid Hasyim tersebut ke tempat peristirahatan terakhir di komplek makam keluarga Tebuireng, Jombang.

Tebuireng saat itu tumpah ruah penuh dengan orang-orang yang ingin menyaksikan proses dikebumikannya Gus Dur. Pesantren Tebuireng penuh dan sesak. Begitu juga jalanan utama di depan pesantren terlihat manusia berbondong-bondong ingin ikut mengantar Gus Dur.

Di luar sana, tidak hanya teman-teman Muslim yang memadati masjid, musholla, dan majelis-majelis untuk mendoakan Gus Dur, tetapi juga teman-teman dari agama Konghucu, Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha turut meramaikan rumah ibadah masing-masing untuk mendoakan Gus Dur. Bahkan, mereka memajang foto Gus Dur di altarnya masing-masing.

Kini, pemikiran, gagasasn, tulisan, dan pergerakan sang zahid Gus Dur yang di batu nisannya tertulis, Here rest a Humanist itu tidak pernah kering meneteskan dan mengguyur inspirasi bagi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara di Republik ini. Begitu juga makamnya yang hingga sekarang terus ramai diziarahi.

KH Husein Muhammad Cirebon dalam buku karyanya Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus (2015) mengungkapkan persamaan kondisi wafatnya Gus Dur dengan kepergian salah seorang penyair sufi masyhur, Maulana Jalaluddin Rumi dari Konya, Turki.

Kepulangan Rumi ke Rahmatullah dihadiri beribu-ribu orang yang mengagumi dan mencintainya. Saat itu, di antara mereka yang berduka ialah para pemimpin, tokoh-tokoh penganut Yahudi, Kristen berikut sekte-sektenya, segala madzhab-madzhab pemikiran, serta rakyat jelata yang datang dari pelosok-pelosok dan sudut-sudut bumi yang jauh.

Gambaran singkat dari kepergian dua zahid (manusia dengan maqom zuhud) yang disambut iringan ribuan orang dari berbagai penjuru serta didoakan pula dari segala penjuru menunjukkan sebuah cinta dan kasih sayang. Rasa tersebut mengkristal dari seluruh komponen masyarakat sebagai wujud cinta dari dua zahid kepada semua manusia ketika hayat masih dikandung badan.

Kiai Husein menuturkan, Gus Dur, Maulana Rumi, dan para wali Allah merupakan orang yang selama hidupnya diabdikan untuk mencintai seluruh manusia, tanpa pamrih apapun. Mereka memberikan kebaikan semata-mata demi kebaikan itu sendiri, bukan bermaksud kebaikan tersebut kembali kepada dirinya.

Cara hidup demikian diungkapkan dalam sebuah puisi indah gubahan sufi besar dari Mesir, pengarang Kitab Al-Hikam, Ibnu Athaillah As-Sakandari yang sering dikutip Gus Dur dalam banyak kesempatan:

“Idfin wujudaka fil ardhil khumuli, fama nabata mimmaa lam yudfan laa yutimmu nitaa juhu”

(Tanamlah wujudmu di tanah yang tidak dikenal, karena sesuatu yang tumbuh dari benih yang tak ditanam, buahnya tidak sempurna).

TELADAN SAYYIDINA ABU BAKAR AS SHIDIQ RA DARI MULAI MENJADI KHALIFAH

Pidato Abu Bakar RA Ketika Dilantik Jadi Khalifah

Begitu Nabi Muhammad Saw wafat, para sahabat berkumpul di saqifah bani sa’idah. mereka berdebat tentang suksesi, menentukan pemimpin baru pengganti Nabi Muhammad Saw. perdebatan pun berlangsung sengit dan panjang hingga berhari-hari. ‘Umar bin Khattab kemudian mengatakan: “Abu Bakar, bukankah Nabi pernah menyuruh anda memimpin shalat berjama’ah. saya kira itu adalah petunjuk atau isyarat bahwa anda pantas menjadi pemimpin kaum muslimin. maka adalah penggantinya”.

Kesepakatan kemudian dicapai, Abu Bakar kemudian tampil menyampaikan pidato pertama usai pelantikannya. sesudah mengucapkan puji syukur kepada Tuhan ia mengatakan:

“Saudara-saudara, hari ini kalian telah mempercayakan kepada saya sebagai pemimpin kalian meski saya bukanlah yang terbaik di antara kalian. jika saya bertindak benar, bantulah, tetapi jika saya bertindak salah luruskanlah. Kejujuran adalah kepercayaan dan kebohongan adalah penghianatan. Orang-orang yang lemah di antara kalian, akan menjadi kuat di mata saya. saya akan memberikan hak mereka, insya Allah. Orang-orang yang kuat di mata kalian, adalah lemah di mata saya, saya akan mengambil hak-hak mereka, insya Allah.

Siapa pun yang meninggalkan perjuangan Tuhan akan menimpakan kehinaan atas mereka. Jika kejahatan telah menyebar, Tuhan pasti akan menimpakan bencana atas mereka. Patuhilah saya sepanjang saya mematuhi Allah dan rasul-Nya. Tetapi jika saya melanggarnya, maka tidak ada kewajiban kalian mematuhiku”.

Kepatuhan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kepatuhan kepada hukum-hukum yang benar, adil dan yang menjamin kesejahteraan bagi rakyat. sebuah kaidah fiqh mengatakan: “tasharruf al-Imam ‘ala al-Ra’iyyah Manuthun bi al-Maslahah” (Tindakan pemerintah/pemimpin terhadap rakyatnya terikat dengan kepentingan rakyat).

Khalifah adalah pemimpin umat yang berkewajiban untuk melayani dan melindungi orang-orang yang teraniaya. Dan Abu Bakar telah menjalankan tugasnya dengan baik dan sukses.

Lima Karakter Kepemimpinan Sayyidina Abu Bakar al-Shiddiq yang Perlu Dicontoh

Sebagaimana disebutkan dalam kitab Tarikh al-Khulafa’ yang ditulis oleh Jalaluddin Abdur Rahman al-Suyuthi, Abu Bakar memiliki nama lengkap Abdullah ibn Utsman ibn Amir ibn Amru ibn Ka’ab ibn Sa’ad ibn Taim ibn Murroh ibn Ka’ab ibn Luayyi ibn Ghalib Alquraisyi Attaimi. Lahir di kota Mekah pada tahun 51 sebelum hijrah.

Nama Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan nama pemberian Rasulullah SAW, Abu berartikan “bapak”, Bakr artinya “awal”, digelari demikian karena ia menjadi orang yang paling cepat (awal) masuk Islam. Sedangkan Ash-Shiddiq, ialah karena ia menjadi orang yang sangat percaya dan selalu membenarkan dakwah Nabi Muhammad SAW.

Abu Bakar terkenal dengan berbagai akhlahnya yang mulia, yang wajib dicontoh oleh pemimpin masa kini, antara lain:

    Berani

Keberanian beliau dalam menyampaikan kebenaran mengantarkan umat Islam pada puncak kejayaan. Kekuasaannya meliputi hampir semua negara di Timur Tengah, bahkan sampai ke Andalusia, Eropa dan Afrika.

    Kejujuran dan Sikap Amanah.

Hal ini tak terlepas dari didikan Rasulullah SAW yang memang selalu menitikberatkan aspek kejujuran. “Janganlah kamu berdusta maka bagimu surga,” begitulah pesan dari Rasulullah SAW.

    Kuat Pendirian dan tegas.

Bependirian kokoh, yang benar itu benar dan yang salah itu tetap salah. Abu Bakar meminta kepada masyarakat untuk taat kepadanya, selama ia taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Akan tetapi, jika ia melanggar perintah-Nya, mereka tidak wajib taat kepadanya.

“Tidak boleh taat kepada makhluk dalam maksiat kepada Sang Pencipta,” sebagaimana pesan Rasulullah SAW.

Hal tersebut menunjukkan akan teguh pendirian dan tegasnya beliau dalam bertindak bahwa jabatan itu bukanlah sebuah keuntungan.

    Sabar dan Rendah Hati.

Memiliki kesabaran yang tinggi dan rendah hati. Kesabaran beliau terlihat bahwa beliau tidak pernah memaksakan kehendak beliau sendiri, beliau selalu menyertakan pendapat sahabat-sahabat yang lain. Kerendahan hati beliau terlihat ketika dipilih menjadi seorang pemimpin, Abu Bakar tidak pernah mencerminkan ambisi untuk memimpin, beliau selalu merendah bahwa beliau sendiri tidak pantas untuk memimimpin. Terlihat juga dalam isi pidato beliau yang dikutip dalam buku Al-Bidayah wa Al-Nihayah, “Sekarang aku telah dipilih sebagai pemimpin atas kalian, padahal aku bukanah orang yang terbaik di antara kalian.”

    Faqih

Faqih yaitu paham seluk beluk ilmu agama. Banyak pemimpin sekarang yang hanya paham birokrasi tapi tak paham ilmu agama yang menjadi dasar hidupnya. Paham ilmu birokrasi dan ilmu agama menjadi hal penting dalam memimpin.

Sahabat Abu Bakar RA memberi kita contoh berdakwah dengan bijaksana

Abu Bakar bisa dijadikan contoh dakwah yang lemah lembut nan santun. Nama lengkap beliau adalah ‘Abdullah bin Abi Quhafah (‘Utsman) bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’b bin Said bin Taim Ibn Murrah bin Ka’b. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah shalla Allahu ‘alaihi wa sallama pada Murrah bin Ka’b, kakek beliau yang keenam.

Nama Abu Bakr pada masa jahiliyah adalah ‘Abd al-Ka’bah, lalu namanya diganti oleh Rasulullah saw. dengan nama ‘Abdullah. Adapun nama gelarnya yang populer adalah al-‘Athiq dan al-Shiddiq.

Abu Bakr ra.lahir pada tahun kedua atau ketiga dari Tahun Gajah, dua tahun enam bulan setelah kelahiran Nabi Muhammad saw. Hidup berkembang di Makkah dan berprofesi sebagai pedagang pakaian dan menjadi kaya karenanya. Ia juga seorang yang sangat ahli dibidang nasab yang tiada duanya pada masa itu, lebih-lebih nasab suku Quraisy.

Abu Bakr sejak muda berakhlak mulia, tidak pernah berdusta dan tidak terpengaruh oleh berita bohong, dermawan, mulia, banyak memberi, jauh dari berhala, tidak pernah mendekatinya, apalagi menyembahnya. Ia dikenal sangat anti terhadap minuman keras (khamr) sejak sebelum Islam. Saat ia ditanya, “apakah engkau pernah minum khamr?” Ia menjawab, “A’udzu Billah hidup (aku berlindung diri kepada Allah)!” Lalu ia ditanya, “Mengapa?” Ia menjawab, “Aku selalu menjaga kehormatanku dan memelihara muruah-ku, maka sungguh orang yang meminum khamr telah menyia-nyiakan kehormatannya dan muruah-nya”.

Abu Bakar ra memiliki enam orang anak, yakni tiga laki-laki dan tiga perempuan, dari empat isteri:

1- Qatilah binti ‘Abd al-Uzza melahirkan ‘Abdullah dan Asma’.

2- Ummu Rumah Da’d binti ‘Amir melahirkan ‘Abd al-Rahman dan ‘Aisyah.

3- Asma’ binti ‘Umais melahirkan Muhammad.

4- Habibah binti Kharijah bin Zaid al-Anshariyyah melahirkan Ummu Kultsum setelah beliau wafat.

Sejak sebelum Islam Abu Bakr telah bersahabat sangat dekat dengan Nabi Muhammad saw. dan masuk Islam sangat segera tanpa keraguan sedikitnya. Abu Bakr adalah orang laki-laki dewasa pertama yang masuk Islam dan beriman kepada Nabi Muhammad saw. Keislamannya sangat berarti bagi perkembangan Islam selanjutnya, karena ia adalah pemimpin suku Quraisy yang disegani, orang kaya, juru dakwah kepada Islam, dicintai, lemah lembut dan banyak memberikan sumbangan berupa harta demi menaati Allah dan Rasul-Nya.

Melalui Abu Bakr yang lemah lembut banyak kerabat dan sahabatnya yang menerima dakwahnya itu dan mereka pun masuk Islam. Tercatat ‘Utsman bin ‘Affan, al-Zubair bin ‘Awwam, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Sa’d bin Abi Waqqash, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ‘Utsman bin Madh’un, Abu ‘Ubaidah Ibn al-Jarrah, Abu Salmah bin ‘Abd al-Asad dan al-Arqam bin Abi al-Arqam, mereka semua masuk Islam karena dakwah (ajakan) dari Abu Bakr.

Dan dengan sebab Islamnya mereka maka Bilal, Shuhaib, ‘Ammar dan anaknya, Yasir, serta ibunya, Sumayyah juga memeluk Islam.

INILAH PEMUDA YANG BISA DI JADIKAN CONTOH PEMUDA ZAMAN SEKARANG

Masa muda atau usia remaja adalah saat orang-orang mulai mengenal dan merasakan manisnya dunia. Pada fase ini, banyak pemuda lalai dan lupa, jauh sekali lintasan pikiran akan kematian ada di benak mereka. Apalagi bagi mereka orang-orang yang kaya, memiliki fasilitas hidup yang dijamin orang tua. Mobil yang bagus, uang saku yang cukup, tempat tinggal yang baik, dan kenikmatan lainnya, maka pemuda ini merasa bahwa ia adalah raja.

Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang pemuda yang kaya, berpenampilan rupawan, dan biasa dengan kenikmatan dunia. Ia adalah Mush’ab bin Umair. Ada yang menukilkan kesan pertama al-Barra bin Azib ketika pertama kali melihat Mush’ab bin Umair tiba di Madinah. Ia berkata,

رَجُلٌ لَمْ أَرَ مِثْلَهُ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ الجَنَّةِ

“Seorang laki-laki, yang aku belum pernah melihat orang semisal dirinya. Seolah-olah dia adalah laki-laki dari kalangan penduduk surga.”

Ia adalah di antara pemuda yang paling tampan dan kaya di Kota Mekah. Kemudian ketika Islam datang, ia jual dunianya dengan kekalnya kebahagiaan di akhirat.

Kelahiran dan Masa Pertumbuhannya

Mush’ab bin Umair dilahirkan di masa jahiliyah, empat belas tahun (atau lebih sedikit) setelah kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun 571 M (Mubarakfuri, 2007: 54), sehingga Mush’ab bin Umair dilahirkan pada tahun 585 M.

Ia merupakan pemuda kaya keturunan Quraisy; Mush’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abdud Dar bin Qushay bin Kilab al-Abdari al-Qurasyi.

Dalam Asad al-Ghabah, Imam Ibnul Atsir mengatakan, “Mush’ab adalah seorang pemuda yang tampan dan rapi penampilannya. Kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Ibunya adalah seorang wanita yang sangat kaya. Sandal Mush’ab adalah sandal al-Hadrami, pakaiannya merupakan pakaian yang terbaik, dan dia adalah orang Mekah yang paling harum sehingga semerbak aroma parfumnya meninggalkan jejak di jalan yang ia lewati.” (al-Jabiri, 2014: 19).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا رَأَيْتُ بِمَكَّةَ أَحَدًا أَحْسَنَ لِمَّةً ، وَلا أَرَقَّ حُلَّةً ، وَلا أَنْعَمَ نِعْمَةً مِنْ مُصْعَبِ بْنِ عُمَيْرٍ

“Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR. Hakim).

Ibunya sangat memanjakannya, sampai-sampai saat ia tidur dihidangkan bejana makanan di dekatnya. Ketika ia terbangun dari tidur, maka hidangan makana sudah ada di hadapannya.

Demikianlah keadaan Mush’ab bin Umair. Seorang pemuda kaya yang mendapatkan banyak kenikmatan dunia. Kasih sayang ibunya, membuatnya tidak pernah merasakan kesulitan hidup dan kekurangan nikmat.

Menyambut Hidayah Islam

Orang-orang pertama yang menyambut dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah istri beliau Khadijah, sepupu beliau Ali bin Abi Thalib, dan anak angkat beliau Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhum. Kemudian diikuti oleh beberapa orang yang lain. Ketika intimidasi terhadap dakwah Islam yang baru saja muncul itu kian menguat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah secara sembunyi-sembunyi di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam radhiyallahu ‘anhu. Sebuah rumah yang berada di bukit Shafa, jauh dari pengawasan orang-orang kafir Quraisy.

Mush’ab bin Umair yang hidup di lingkungan jahiliyah; penyembah berhala, pecandu khamr, penggemar pesta dan nyanyian, Allah beri cahaya di hatinya, sehingga ia mampu membedakan manakah agama yang lurus dan mana agama yang menyimpang. Manakah ajaran seorang Nabi dan mana yang hanya warsisan nenek moyang semata. Dengan sendirinya ia bertekad dan menguatkan hati untuk memeluk Islam. Ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah al-Arqam dan menyatakan keimanannya.

Kemudian Mush’ab menyembunyikan keislamannya sebagaimana sahabat yang lain, untuk menghindari intimidasi kafir Quraisy. Dalam keadaan sulit tersebut, ia tetap terus menghadiri majelis Rasulullah untuk menambah pengetahuannya tentang agama yang baru ia peluk. Hingga akhirnya ia menjadi salah seorang sahabat yang paling dalam ilmunya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya ke Madinah untuk berdakwah di sana.

Menjual Dunia Untuk Membeli Akhirat

Suatu hari Utsmani bin Thalhah melihat Mush’ab bin Umair sedang beribadah kepada Allah Ta’ala, maka ia pun melaporkan apa yang ia lihat kepada ibunda Mush’ab. Saat itulah periode sulit dalam kehidupan pemuda yang terbiasa dengan kenikmatan ini dimulai.

Mengetahui putra kesayangannya meninggalkan agama nenek moyang, ibu Mush’ab kecewa bukan kepalang. Ibunya mengancam bahwa ia tidak akan makan dan minum serta terus beridiri tanpa naungan, baik di siang yang terik atau di malam yang dingin, sampai Mush’ab meninggalkan agamanya. Saudara Mush’ab, Abu Aziz bin Umair, tidak tega mendengar apa yang akan dilakukan sang ibu. Lalu ia berujar, “Wahai ibu, biarkanlah ia. Sesungguhnya ia adalah seseorang yang terbiasa dengan kenikmatan. Kalau ia dibiarkan dalam keadaan lapar, pasti dia akan meninggalkan agamanya”. Mush’ab pun ditangkap oleh keluarganya dan dikurung di tempat mereka.

Hari demi hari, siksaan yang dialami Mush’ab kian bertambah. Tidak hanya diisolasi dari pergaulannya, Mush’ab juga mendapat siksaan secara fisik. Ibunya yang dulu sangat menyayanginya, kini tega melakukan penyiksaan terhadapnya. Warna kulitnya berubah karena luka-luka siksa yang menderanya. Tubuhnya yang dulu berisi, mulai terlihat mengurus.

Berubahlah kehidupan pemuda kaya raya itu. Tidak ada lagi fasilitas kelas satu yang ia nikmati. Pakaian, makanan, dan minumannya semuanya berubah. Ali bin Abi Thalib berkata, “Suatu hari, kami duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan mengenakan kain burdah yang kasar dan memiliki tambalan. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau pun menangis teringat akan kenikmatan yang ia dapatkan dahulu (sebelum memeluk Islam) dibandingkan dengan keadaannya sekarang…” (HR. Tirmidzi No. 2476).

Zubair bin al-Awwam mengatakan, “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk dengan para sahabatnya di Masjid Quba, lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan kain burdah (jenis kain yang kasar) yang tidak menutupi tubuhnya secara utuh. Orang-orang pun menunduk. Lalu ia mendekat dan mengucapkan salam. Mereka menjawab salamnya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji dan mengatakan hal yang baik-baik tentangnya. Dan beliau bersabda, “Sungguh aku melihat Mush’ab tatkala bersama kedua orang tuanya di Mekah. Keduanya memuliakan dia dan memberinya berbagai macam fasilitas dan kenikmatan. Tidak ada pemuda-pemuda Quraisy yang semisal dengan dirinya. Setelah itu, ia tinggalkan semua itu demi menggapai ridha Allah dan menolong Rasul-Nya…” (HR. Hakim No. 6640).

Saad bin Abi Waqqash radhiayallahu ‘anhu berkata, “Dahulu saat bersama orang tuanya, Mush’ab bin Umair adalah pemuda Mekah yang paling harum. Ketika ia mengalami apa yang kami alami (intimidasi), keadaannya pun berubah. Kulihat kulitnya pecah-pecah mengelupas dan ia merasa tertatih-taih karena hal itu sampai-sampai tidak mampu berjalan. Kami ulurkan busur-busur kami, lalu kami papah dia.” (Siyar Salafus Shaleh oleh Ismail Muhammad Ashbahani, Hal: 659).

Demikianlah perubahan keadaan Mush’ab ketika ia memeluk Islam. Ia mengalami penderitaan secara materi. Kenikmatan-kenikmatan materi yang biasa ia rasakan tidak lagi ia rasakan ketika memeluk Islam. Bahkan sampai ia tidak mendapatkan pakaian yang layak untuk dirinya. Ia juga mengalami penyiksaan secara fisik sehingga kulit-kulitnya mengelupas dan tubuhnya menderita. Penderitaan yang ia alami juga ditambah lagi dengan siksaan perasaan ketika ia melihat ibunya yang sangat ia cintai memotong rambutnya, tidak makan dan minum, kemudian berjemur di tengah teriknya matahari agar sang anak keluar dari agamanya. Semua yang ia alami tidak membuatnya goyah. Ia tetap teguh dengan keimanannya.

Peranan Mush’ab Dalam Islam

Mush’ab bin Umair adalah salah seorang sahabat nabi yang utama. Ia memiliki ilmu yang mendalam dan kecerdasan sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya untuk mendakwahi penduduk Yatsrib, Madinah.

Saat datang di Madinah, Mush’ab tinggal di tempat As’ad bin Zurarah. Di sana ia mengajrkan dan mendakwahkan Islam kepada penduduk negeri tersebut, termasuk tokoh utama di Madinah semisal Saad bin Muadz. Dalam waktu yang singkat, sebagian besar penduduk Madinah pun memeluk agama Allah ini. Hal ini menunjukkan –setelah taufik dari Allah- akan kedalaman ilmu Mush’ab bin Umair dan pemahamanannya yang bagus terhadap Alquran dan sunnah, baiknya cara penyampaiannya dan kecerdasannya dalam berargumentasi, serta jiwanya yang tenang dan tidak terburu-buru.

Hal tersebut sangat terlihat ketika Mush’ab berhadap dengan Saad bin Muadz. Setelah berhasil mengislamkan Usaid bin Hudair, Mush’ab berangkat menuju Saad bin Muadz. Mush’ab berkata kepada Saad, “Bagaimana kiranya kalau Anda duduk dan mendengar (apa yang hendak aku sampaikan)? Jika engkau ridha dengan apa yang aku ucapkan, maka terimalah. Seandainya engkau membencinya, maka aku akan pergi”. Saad menjawab, “Ya, yang demikian itu lebih bijak”. Mush’ab pun menjelaskan kepada Saad apa itu Islam, lalu membacakannya Alquran.

Saad memiliki kesan yang mendalam terhadap Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu dan apa yang ia ucapkan. Kata Saad, “Demi Allah, dari wajahnya, sungguh kami telah mengetahui kemuliaan Islam sebelum ia berbicara tentang Islam, tentang kemuliaan dan kemudahannya”. Kemudian Saad berkata, “Apa yang harus kami perbuat jika kami hendak memeluk Islam?” “Mandilah, bersihkan pakaianmu, ucapkan dua kalimat syahadat, kemudian shalatlah dua rakaat”. Jawab Mush’ab. Saad pun melakukan apa yang diperintahkan Mush’ab.

Setelah itu, Saad berdiri dan berkata kepada kaumnya, “Wahai Bani Abdu Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang kedudukanku di sisi kalian?” Mereka menjawab, “Engkau adalah pemuka kami, orang yang paling bagus pandangannya, dan paling lurus tabiatnya”.

Lalu Saad mengucapkan kalimat yang luar biasa, yang menunjukkan begitu besarnya wibawanya di sisi kaumnya dan begitu kuatnya pengaruhnya bagi mereka, Saad berkata, “Haram bagi laki-laki dan perempuan di antara kalian berbicara kepadaku sampai ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!”

Tidak sampai sore hari seluruh kaumnya pun beriman kecuali Ushairim.

Karena taufik dari Allah kemudian buah dakwah Mush’ab, Madinah pun menjadi tempat pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya hijrah. Dan kemudian kota itu dikenal dengan Kota Nabi Muhammad (Madinah an-Nabawiyah).

Wafatnya

Mush’ab bin Umair adalah pemegang bendera Islam di peperangan. Pada Perang Uhud, ia mendapat tugas serupa. Muhammad bin Syarahbil mengisahkan akhir hayat sahabat yang mulia ini. Ia berkata:

Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu membawa bendera perang di medan Uhud. Lalu datang penunggang kudak dari pasukan musyrik yang bernama Ibnu Qumai-ah al-Laitsi (yang mengira bahwa Mush’ab adalah Rasulullah), lalu ia menebas tangan kanan Mush’ab dan terputuslah tangan kanannya. Lalu Mush’ab membaca ayat:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (QS. Ali Imran: 144).

Bendera pun ia pegang dengan tangan kirinya. Lalu Ibnu Qumai-ah datang kembali dan menebas tangan kirinya hingga terputus. Mush’ab mendekap bendera tersebut di dadanya sambal membaca ayat yang sama:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (QS. Ali Imran: 144).

Kemudian anak panah merobohkannya dan terjatuhlah bendera tersebut. Setelah Mush’ab gugur, Rasulullah menyerahkan bendera pasukan kepada Ali bin Abi Thalib (Ibnu Ishaq, Hal: 329).

Lalu Ibnu Qumai-ah kembali ke pasukan kafir Quraisy, ia berkata, “Aku telah membunuh Muhammad”.

Setelah perang usai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memeriksa sahabat-sahabatnya yang gugur. Abu Hurairah mengisahkan, “Setelah Perang Uhud usai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencari sahabat-sahabatnya yang gugur. Saat melihat jasad Mush’ab bin Umair yang syahid dengan keadaan yang menyedihkan, beliau berhenti, lalu mendoakan kebaikan untuknya. Kemudian beliau membaca ayat:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23).

Kemudian beliau mempersaksikan bahwa sahabat-sahabatnya yang gugur adalah syuhada di sisi Allah.

Setelah itu, beliau berkata kepada jasad Mush’ab, “Sungguh aku melihatmu ketika di Mekah, tidak ada seorang pun yang lebih baik pakaiannya dan rapi penampilannya daripada engkau. Dan sekarang rambutmu kusut dan (pakaianmu) kain burdah.”

Tak sehelai pun kain untuk kafan yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua kakinya. Sebaliknya, bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Sehingga Rasulullah bersabda, “Tutupkanlah kebagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idkhir.”

Mush’ab wafat setelah 32 bulan hijrahnya Nabi ke Madinah. Saat itu usianya 40 tahun.

Para Sahabat Mengenang Mush’ab bin Umair

Di masa kemudian, setelah umat Islam jaya, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu yang sedang dihidangkan makanan mengenang Mush’ab bin Umair. Ia berkata, “Mush’ab bin Umair telah wafat terbunuh, dan dia lebih baik dariku. Tidak ada kain yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah”. (HR. Bukhari no. 1273). Abdurrahman bin Auf pun menangis dan tidak sanggup menyantap makanan yang dihidangkan.

Khabab berkata mengenang Mush’ab, “Ia terbunuh di Perang Uhud. Ia hanya meninggalkan pakaian wool bergaris-garis (untuk kafannya). Kalau kami tutupkan kain itu di kepalanya, maka kakinya terbuka. Jika kami tarik ke kakinya, maka kepalanya terbuka. Rasulullah pun memerintahkan kami agar menarik kain ke arah kepalanya dan menutupi kakinya dengan rumput idkhir…” (HR. Bukhari no.3897).

Semoga Allah meridhai Mush’ab bin Umair dan menjadikannya teladan bagi pemuda-pemuda Islam. Mush’ab telah mengajarkan bahwa dunia ini tidak ada artinya dibanding dengan kehidupan akhirat. Ia tinggalkan semua kemewahan dunia ketika kemewahan dunia itu menghalanginya untuk mendapatkan ridha Allah.

Mush’ab juga merupakan seorang pemuda yang teladan dalam bersemangat menuntut ilmu, mengamlakannya, dan mendakwahkannya. Ia memiliki kecerdasan dalam memahami nash-nash syariat, pandai dalam menyampaikannya, dan kuat argumentasinya.

Sumber: Shirah ash-Shahabi al-Jalil

DO’A YANG DI AJARKAN NABI SAW KEPADA SHABATNYA AGAR MENJADI KAYA RAYA

Diriwayatkan bahwa seorang Sahabat mengeluh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata:

“Ya Rasulallah, kenapa dunia seolah-olah tidak menginginkanku, semua usahaku bangkrut, peternakan dan pertaniankupun selalu gagal panen.? Sambil tersenyum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan tentang tasbihnya para Malaikat serta tasbihnya penghuni alam semesta yaitu kalimat:

سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم واستغفر الله

SUBHANALLAH WA BIHAMDIHI SUBHANALLAHIL ‘AZHIM WASTAGHFIRULLAH

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah 100 kali sebelum terbit Fajar.

Maka dunia akan memohon kepada Allah agar dunia engkau miliki (mengejarmu tanpa kau mengejarnya)”

Selang beberapa bulan kemudian, sahabat tadi kembali lagi dan bercerita:

“Ya Rasulallah sekarang aku bingung dengan hartaku kemana harus aku letakkan hasil usaha dan peternakanku karena banyaknya.”

(Diriwayatkan oleh Al Khatib Al Baghdadi dari Imam Malik Rahimahullah. Dikutip dari Kitab أبواب الفرج oleh Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki)