PERBEDAAN SIKAP ANTARA SEORANG YANG ALIM DAN YANG AHLI IBADAH

فائدة) روي أن الحسن البصري وفرقدا إجتمعا على وليمة فالحسن عالم وفرقد عابد وفي الوليمة صحاف ذهب وفضة فيها الخصيف وهو جملة من التمر أما الحسن فجلس على الطعام وأما فرقد فاعتزل فجعل الحسن يأخذ الخصيف يفرغه من الصحفة ويضعه على الخبز ويأكل ثم التفت وقال يا فريقد هلا صنعت هكذا فرأى الحسن أن التفريغ ليس استعمالا بل إزالة للمنكر فجمع بفقهه بين سنة الوليمة بالأكل وجبر قلب الداعي وإزالة المنكر وتعليم الأحكام الفقهية ولهذا صغر إسمه فقال يا فريقد تعريضا بالإنكار

Diriwayatkan: Suatu ketika Imam Hasan al-bashri berkumpul/bertemu dengan syeikh farqod dalam sebuah walimah/jamuan. Imam Hasan al-bashri adalah seorang ulama sedangkan syeikh farqod adalah seorang yang gemar melakukan ibadah.
Didalam tempat walimah tersebut sejumlah makanan di tempatkan pada wadah/nampan dari emas dan perak. Imam Hasan duduk dalam jamuan tersebut sedangkan syeikh farqod menghindari tempat jamuan tersebut.
Imam hasan al-bashri mengambil makanan dalam wadah emas perak tersebut kemudian menuangkannya diatas roti kemudian beliau memakannya.

Dengan cara makan seperti itu,Imam Hasan kemudian menemui syeikh farqod, dan beliau berkata: “Wahai furaiqod (nama ditashghir) … Buatlah/lakukanlah seperti yang aku lakukan.

Apa Hikmahnya dengan apa yang diperbuat Imam Hasan Al-Bashri ?
Imam Hasan dengan kedalaman ilmu beliau telah mengumpulkan empat perkara dalam satu aksinya

  1. Beliau tetap makan ditempat walimah (karena sunah), Beliau tidak makan di wadah emas perak, Namun menyertakan roti sebagai tempat meletakkan makanan.
  2. Dengan apa yang dilakukan Imam Hasan, beliau sangat menjaga perasaan orang yang mengundang beliau dengan tetap ikut makan dengan cara yang disebutkan.
  3. Imam Hasan tetap menghindari kemunkaran dengan cara yang arif bijaksana dengan tidakikut makan dalam wadah emas dan perak.
  4. Dalam cara yang dilakukan Imam Hasan, sekaligus memberikan ilmu dan pengetahuan (khususnya ilmu fiqih) kepada hadirin bahwa yang dilarang itu makan langsung dari wadah emas dan perak, bukan dengan cara makan yang dipraktekkan Imam Hasan.

Dengan kejadian tersebut syeikh farqod dipanggil dengan furaiqod (ditashghir) karena beliau menunjukkan pengingkarannya secara nyata.

Wallohu a’lam

Qomi’ thughyan : 13

KISAH HIKMAH SUFI : KEUTAMAAN ISTRI YANG SHOLIHAH DAN SUAMI YANG AMANAH ATAS BARANG TEMUAN


حكاية : كان بمكة رجل فقير وله زوجة صالحة فقالت ليس عندنا شيءفخرج الى الحرم فوجد كبسا فيه الف دينار ففرح به فرحا شديدا ، واخبر زوجته بذلك فقالت له لقطة الحرم لابد فيها من تعريف، فخرج فسمع المنادى من وجد كبسا فيه الف دينار، فقال انا وجدته، فقال هو لك ومعه تسعة آلاف دينار. فقال اتهزأنى ، قال لا والله ولكن اعطانى رجل من اهل العراق عشرة آلاف دينار وقال اطرح منها الفا فى الحرم ثم نادى عليه فإن ردها فادفع الجميع اليه لانه امين، والامين ياكل ويتصدق فتكون صدقتنا مقبولة لامانته. كذا فى نزهة المجالس
بهجة الوسائل بشرح المسائل : ٣٨

Hikayat : Alkisah ada seorang pria di kota mekkah yang faqir dan mempunyai seorang isteri yang sholihah, si isteri berkata : “Tak ada satupun dirumah kita (yang bisa kita olah untuk dimakan)”.
Si suamipun keluar ke tanah harom dan ia menemukan seekor kambing yang bersamanya ada seribu dinar, atas penemuan ini si suami sangat gembira dan mengabarkannya pada isterinya.
Berkatalah si isteri : “Ini temuan/luqothoh tanah harom, dan semestinya di selebarkan”.
Kemudian sisuami keluar dan ia mendengar orang yang sedang woro woro (mengabarkan ada yang kehilangan) : “Siapakah orang yang menemukan seekor kambing dan bersamanya 1000 dinar?”.
Sisuami itu berkata : “Aku menemukannya”.
Pengabar berita berkata : ” Itu milikmu dan aku akan menambahkan 9000 dinar lagi “.
Si suami : “Apakah engkau bercanda padaku?”.
Si pengabar berkata : “Tidak, demi Allah… Sebenarnya aku diberikan/di titipi oleh seorang warga iraq sebesar 10000 dinar, dan ia memintaku untuk membuangnya sebesar 1000 dinar di tanah harom, kemudian ia meminta untuk menyebarkan kehilangannya, Jika ada yang mengaku dan mengembalikannya, maka berikan semuanya (1000 dinar + sisanya 9000 dinar = 10 rb dinar), karena orang tersebut seorang yang amanah dan dapat dipercaya, dan orang yang amanah , ia akan memakan sebagiannya dan menshodaqohkan sebagiannya. Maka dengan demikian shodaqoh kita Allah terima karena ke amanahan nya (sisuami). Demikian tertulis dalam kitab Nuzhatul Majalis.
Wallahu a’lam

Kitab : Bahjatu al-Wasail bi Syarhi al-Masail : 38

KETIKA KHOLIFAH MENJADI TERHINA

Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Ilmu agama adalah bagaikan simpanan harta yang Allah bagikan kepada siapa saja yang Allah cintai. Seandainya ada segolongan manusia yang berhak untuk diistimewakan untuk menjadi ulama tentu keluarga Nabi-lah yang paling berhak mendapatkan pengistimewaan. Atha’ bin Abi Rabah adalah orang Etiopia. Yazid bin Abu Habib itu orang Nobi yang berkulit hitam. Al Hasan Al Bashri adalah bekas budak milik kalangan Anshar. Sebagaimana Muhammad bin Sirin adalah mantan budak dari kalangan Anshar.” (Shifat Ash Shafwah, jilid 2, hal. 211).

Diantara ulama besar Islam di zaman tabiin yang berdomisili di Mekah adalah Abu Muhammad Atha’ bin Aslam Abu Rabah yang terkenal dengan sebutan Atha’ bin Abi Rabah.

Diantara bukti ketinggian ilmu Atha’ adalah pujian Ibnu Umar untuk beliau.

Dari ‘Amr bin Said dari ibunya, sang ibu bertutur bahwa ketika Ibnu Umar tiba di Mekah para penduduk Mekah tanya-tanya soal agama kepada beliau. Mendapati fenomena tersebut Ibnu Umar mengatakan, “Wahai penduduk Mekah mengapa kalian berkumpul menanyaiku padahal di tengah-tengah kalian terdapat Atha bin Abi Rabah.” (Shifat ash Shafwah, jilid 2, hal. 211).

Diantara sisi menarik dari hidup beliau adalah kisah berikut ini,

Dari Ibrahim bin Ishaq Al Harbi, beliau bercerita bahwa Atha’ adalah budak berkulit hitam yang dimiliki oleh seorang perempuan dari penduduk Mekah. Disamping berkulit hitam, Atha’ adalah seorang yang sangat pesek sehingga digambarkan bahwa hidung Atha’ itu hanya seakan-akan biji kacang yang ada di wajahnya. Suatu hari Khalifah ketika itu yang bernama Sulaiman bin Abdul Malik datang menemui Atha’ bersama kedua anaknya. Mereka bertiga duduk di dekat Atha’ yang saat itu sedang mengerjakan shalat sunnah di masjid. Setelah beliau menyelesaikan shalatnya beliau memalingkan muka dari mereka bertiga. Mereka bertiga tidak henti-henti bertanya tentang berbagai hukum mengenai ibadah haji dan Atha’ menjawab pertanyaan mereka sambil membelakangi mereka. Setelah selesai bertanya di jalan pulang Khalifah Sulaiman berkata kepada kedua anaknya,
“Wahai kedua anakku, janganlah kalian kendor dalam belajar agama karena aku tidak akan melupakan kehinaan kita di hadapan budak hitam ini.” (Shifat Ash Shafwah, jilid 2, hal. 211).

Ada beberapa petikan pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas:

1). Ilmu itu didatangi bukan mendatangi. Lihatlah bagaimana seorang khalifah mendatangi seorang ulama untuk bertanya tentang masalah agama.

Dari Abul Qasim At Tafakur, aku mendengar Abu Ali al Hasan bin ‘Ali bin Bundar Al Zanjani bercerita bahwa Khalifah Harun Ar Rasyid mengutus seseorang kepada Imam Malik bin Anas agar beliau berkenan datang ke istana supaya dua anak Harun Ar Rasyid yaitu Amin dan Makmun bisa belajar agama langsung kepada Imam Malik. Imam Malik menolak permintaan Khalifah Harun Ar Rasyid dan mengatakan, ‘Ilmu agama itu didatangi bukan mendatangi.’

Untuk kedua kalinya Khalifah Harun Ar Rasyid mengutus utusan yang membawa pesan sang khalifah, ‘Kukirimkan kedua anakku agar bisa belajar agama bersama murid–muridmu.’ Respon balik Imam Malik, ‘Silahkan dengan syarat keduanya tidak boleh melangkahi pundak supaya bisa duduk di depan dan keduanya duduk dimana ada tempat yang longgar saat pengajian.’ Akhirnya kedua putra khalifah tersebut hadir dengan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Imam Malik. (Mukhtashar Tarikh Dimasyq, hal. 3769, Syamilah).

2). Seorang yang rendah di mata manusia dapat menjadi mulia karena ilmu. Lihatlah seorang kepala negara dengan kekuasaan nan luas nampak hina dihadapan seorang mantan budak yang berkulit hitam legam. Seorang budak yang tentu tidak punya kelas istimewa di mata manusia dan seorang yang buruk rupa nampak mulia di depan seorang kepala negara. Realita ini adalah diantara bukti benarnya sabda Nabi,

قَالَ عُمَرُ أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ صلى الله عليه وسلم- قَدْ قَالَ « إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

Umar mengatakan “Sesungguhnya Nabi kalian pernah mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah itu memuliakan dengan sebab Alquran (baca:ilmu agama) sebagian orang dan menghinakan sebagian orang dengan sebab Alquran(baca: berpaling dari ilmu agama).” (HR. Muslim, no. 1934).

3). Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik adalah seorang penguasa yang memiliki kualitas agama yang cukup baik. Ini dibuktikan dengan tidak canggung untuk bertanya kepada ulama sambil merendah-rendah di hadapan ulama dan kepergian beliau ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji.

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (QS. al Munafiqun:10).

Yang dimaksud dengan ‘aku termasuk orang-orang yang shalih’ adalah aku akan berhaji. Ibnu Abbas mengatakan, “Tidaklah ada orang yang berkewajiban untuk membayar zakat dan berhaji namun tidak melakukannya melainkan saat kematian pastilah dia akan memohon kepada Allah agar bisa kembali ke dunia” (Tafsir al Jalalain, hal. 566, terbitan Darus Salam Riyadh cet. kedua 1422 H).

4). Orang yang hendak mempraktikkan prilaku salaf dalam ‘menyikapi orang lain’-bukan dalam masalah praktik salaf dalam menjelaskan ibadah mahdhah-hendaknya menimbang perubahan dan perbedaan kondisi masyarakat, mulia dan tidaknya ilmu agama dan ulama ahli sunnah di masyarakat saat ini dan baik buruknya dampak perilaku tersebut terhadap citra Islam dan kaum muslimin secara umum dan citra dai, penuntut ilmu, ahli sunnah dan orang-orang shalih secara khusus. Kita tentu sepakat bahwa jika perbuatan Atha’ di atas (menjawab pertanyaan dengan membelakangi penanya) ditiru mentah-mentah oleh seorang ulama atau dai saat ini terhadap para penguasa saat ini, tentu yang terjadi adalah salah faham, buruk sangka dan citra buruk untuk Islam, dakwah Islam, ulama, dai bahkan umumnya kaum muslimin.

Sungguh tidak tepat praktik dakwah sebagian orang yang bersemangat meniru ulama salaf dalam rangka menyikapi orang lain tanpa menimbang adanya berbagai faktor yang melingkupi praktik ulama salaf sehingga praktik mereka di zaman mereka adalah praktik yang tepat, bijak dan tepat sasaran saat itu.

MENCONTOH PERILAKU PARA PENDAHULU YANG SHOLIH DALAM MENJALANI KEHIDUPAN

Manusia adalah makhluk yang memiliki kecenderungan untuk bercermin kepada orang lain; meniru tingkah laku dan gerak-geriknya, mengikuti gaya hidupnya; mulai dari cara berpakaian, cara berdandan, potongan rambut, model rumah, kendaraan, bahkan kadang sampai cara tersenyum dan berbicaranya mengikuti gaya orang lain, yang dia anggap lebih baik dan lebih sempurna dari dirinya.

Perkataan orang lain yang menjadi cerminnya adalah mutiara petuah dan permata nasihat bagi kehidupannya. Informasi perkembangan cerminnya senantiasa di up date, tidak pernah ketinggalan. Bahkan foto-foto dan gambar-gambar sang idola terpampang di dinding rumahnya atau di dinding FB dan BBnya.

Dia akan marah bila ada yang bersuara sumbang tentang cerminnya, bahkan dia siap pasang badan bagi siapa saja yang menebarkan debu kotor padanya. Karena bagi dia, hanya orang itulah yang pantas untuk diikuti, seorang panutan dan suri tauladan..

Namun sayangnya banyak yang bercermin pada cermin yang pudar bahkan berantakan, sehingga hidupnya menjadi berantakan walaupun godaan iblis dan bisikan nafsu menghiasi keberantakan dirinya.

Ia merasa senang dan gembira dengan gaya hidupnya, padahal ia jauh dari standarisasi kebahagian yang hakiki.

Dan cermin dalam kehidupan memiliki fungsi dan peran yang sangat penting dalam mengarahkan alur hidup seorang hamba. Iblis dan bala tentaranya sangat mengetahui hal ini, sehingga mereka berusaha untuk menciptakan cermin-cermin pudar dan berantakan namun dihiasi beribu berlian yang gemerlapan, sehingga manusia silau dan berebut untuk bercermin kepadanya.

Sebagai contoh adalah fenomena acara di televisi yang menceritakan kehidupan para artis atau yang mirip dengannya, di mana acara ini mengandung propaganda agar para pemirsa, dari mulai anak-anak, para remaja, muda-mudi bahkan yang tua pun untuk bercermin kepada mereka. Sehingga yang buruk dan dimurkai Ilahi bila datangnya dari para artis idola, akan dianggap biasa bahkan diikuti tanpa rasa malu, karena buat mereka itu indah dan sempurna.

Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, Allah Jalla Jalaluhu mengetahui dengan pasti apa yang dibutuhan makhluk ciptaannya, manusia butuh cermin, dan dia memang suka bercermin, maka agar manusia ini tidak bercermin kepada cermin yang pudar nun pecah dan berantakan, Allah Jalla Jalaluhu menjelaskan dalam kalamnya kepada siapa manusia harus bercermin, karena Allah telah menciptakan cermin-cermin indah dan elok, di mana Allah Jalla Jalaluhu setelah menceritakan kisah-kisah para nabi sebelum nabi kita Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam, Allah berfirman kepada nabi Nya:

أولَـئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ

“Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka (QS. Al An’am:90).

Subhanallah, merekalah yang pantas ditiru tingkah laku dan dicontoh gaya hidup, mereka adalah orang bahagia calon penghuni surga.

Dan kisah-kisah indah lagi penuh makna yang disebutkan di dalam Alquran dan sunah bukanlah hanya sekedar untuk wawasan dan wacana belaka, namun lewat kisah-kisah itu, umat harus belajar, mengikuti petunjuk-petunjuk mereka, dan menjadikan mereka cermin dalam mengarungi samudera kehidupan.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam adalah sosok cermin yang sangat elok, yang tak pudar dimakan zaman, bahkan Allah menekankan tentang hal ini di dalam Alquran

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21).

Para sahabat telah benar-benar bercermin kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, kemudian para tabi’in tidak pernah meninggalkan cermin yang tak pernah pudar itu, sehingga mereka pun menjadi cermin-cermin elok bagi murid-murid mereka yang berlanjut sampai hari ini.

Menyelami lautan kehidupan mereka akan menambah gereget keimanan, memompa semangat untuk beramal baik, apalagi di masa kini, masa krisis figur sehingga sulit mencari cermin yang elok, Abu Hanifah berkata:

الحكايات عن العلماء ومحاسنهم أحب إلي من كثير من الفقه لأنها آداب القوم

“Kisah para ulama lebih aku sukai daripada banyak pelajaran fiqih, lantaran dalam kisah itu terdapat gambaran akhlaq dan adab mereka.” (Tartib al-Madarik, Qadhi ‘Iyadh 1:23).

Salah satu cermin yang elok dan tak pudar adalah kehidupan salah seorang tabi’ut tabi’in Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali Maulahum al-Marwazi, yang dilahirkan pada tahun 118 H. Ayah ia berdarah Turki, dahulunya adalah seorang hamba sahaya, sedangkan ibunda ia berasal dari Khawarizm di Persia.

Tengoklah bagaimana putra mantan budak ini kelak menjadi seorang ulama hebat dan konglomerat yang dermawan. Imam Dzahabi menyebutkan tentangnya:

الإِمَامُ، شَيْخُ الإِسْلاَمِ، عَالِمُ زَمَانِهِ، وَأَمِيْرُ الأَتْقِيَاءِ فِي وَقْتِهِ، الحَافِظُ، الغَازِي، أَحَدُ الأَعْلاَمِ،

Dialah Imam, Syaikhul Islam, yang paling alim di masanya, pimpinannya orang-orang yang bertaqwa di waktunya, al-Hafidz al-Ghazi (seorang pejuang) salah satu tokoh.

Ibnul Mubarak, telah mulai menuntut ilmu pada waktu yang mungkin agak terlambat, Imam adz-Dzahabi menyebutkan dalam ensiklopedinya Siyar A’lam an-Nubala’, bahwa ia baru memulai menimba ilmu tatkala usia ia memasuki dua puluh tahun, namun hal ini tidak membuat ia tertinggal oleh teman-temannya yang telah menimba ilmu terlebih dahulu.

Perlu digarisbawahi, bahwa tiada kata terlambat untuk menuntut ilmu, karena ilmu tetap bersahaja sampai kapanpun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله وما والاه وعالما أو متعلما

“Dunia ini terlaknat dan dilaknat segala sesuatu yang ada padanya, kecuali dzikirullah dan ketaatan kepada-Nya, orang yang berilmu, dan orang yang belajar ilmu.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan Albani).
Belajar di Penjara:

Guru tertua ia adalah al-Allamah al-Muhaddits Rabi’ bin Anas al-Khurrsani, salah seorang paling berilmu di masanya. Ada yang unik dengan cara Ibnul Mubarak belajar kepada gurunya ini, di mana saat itu orang-orang tidak dapat berjumpa dan belajar kepadanya, karena gurunya ini sedang berada di dalam penjara, disebabkan kezhaliman penguasa saat itu, maka Ibnul Mubarak bersisasat agar bisa mendengarkan dan meriwayatkan hadis darinya, dan ia pun berhasil meriwayatkan kira-kira 40 hadis darinya.

Sesulit apapun kondisi hamba, dia tetap harus berusaha untuk belajar dan menimba ilmu.


Guru-guru Abdullah bin al-Mubarak

Al-Abbas bin Mush’ab meriwayatkan dari Ibrahim bin Ishaq al-Bunani, ia meriwayatkan bahwa Ibnul Mubarak berkata; “Aku telah belajar kepada 4 ribu guru, dan aku meriwayatkan hadis dari 1000 guru”. Al-Abbas bin Mush’ab berkata: Maka aku pun menelusuri guru-guru yang ia meriwayatkan hadis dari mereka sehingga terkumpul bagiku 800 gurunya. Subhanallah.


Kedudukan Abdullah bin al-Mubarak

Seorang ahli hadis Abu Usamah, Hammad bin Usamah berkata tentang Abdullah bin al-Mubarak,

ابْنُ المُبَارَكِ فِي المُحَدِّثِيْنَ مِثْلُ أَمِيْرِ المُؤْمِنِيْنَ فِي النَّاسِ

“Ibnul Mubarak di kalangan ahli hadis adalah serupa dengan amirul mu’min (penguasa umat) di kalangan manusia secara umum.”

Subhanallah, pada hakikatnya ilmu adalah lebih mulia dan utama dari harta benda dan kekuasaan ataupun jabatan dan kedudukan, simaklah kesaksian seorang yang tinggal di istana raja yang penuh dengan kemewaah dan kelimpahan harta, diriwayatkan bahwa salah satu Ummu Walad khalifah Islam saat itu, yaitu Harun al-Rasyid. Pada suatu waktu Khalifah Harun al-Rasyid berkunjung ke kota Raqqah di Syiria, namun tiba-tiba orang-orang berebut mengikuti Abdullah bin al-Mubarak, sehingga sandal-sandal terputus dan debu berterbangan, maka sang Khalifah ini melongok keluar dari menara istana yang terbuat dari kayu, seraya berkata keheranan,

“مَا هَذَا؟ قَالُوا: عَالِمٌ مِنْ أَهْلِ خُرَاسَانَ قَدِمَ

قَالَتْ: هَذَا -وَاللهِ- المُلْكُ، لاَ مُلْكَ هَارُوْنَ الَّذِي لاَ يَجْمَعُ النَّاسَ إِلاَّ بِشُرَطٍ وَأَعْوَانٍ”

“Ada apa ini?”, maka orang-orang yang di sekitarnya berkata, “Ini ada seorang alim ulama dari Khurasan yang datang”. Maka dia pun berkata, “Demi Allah, inilah yang dikatakan kerajaan, bukan kerajaan Harun yang tidak mengumpulkan manusia kecuali dengan pasukan dan hulu baling.”


Kerendahan Hati Abdullah bin al-Mubarak

Ibnul Mubarak adalah orang yang memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) dan jauh dari kesombongan, dikisahkan pada suatu hari bahwa Abdullah bin al-Mubarak menghadiri majlis hadis gurunya Hammad bin Zaid, maka para penuntut hadis itu berkata kepada Hammad: “Mintakan kepada Abi Abdirrahman (yakni Abdullah bin al-Mubarak) untuk meriwayatkan hadis kepada kami”, maka sang Guru berkata

قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ! يَا أَبَا إِسْمَاعِيْلَ، أُحَدِّثُ وَأَنْتَ حَاضِرٌ. فَقَالَ: أَقسَمتُ عَلَيْكَ لَتَفْعَلَنَّ

“Wahai Aba Abdirrahman riwayatkanlah hadis untuk mereka, sesungguhnya mereka telah memohon kepadaku hal ini”. Abdullah bin al-Mubarak tertengun dengan hal itu seraya berkata, “Subhanallah, Wahai Aba Ismail (kun-yah Hammad bin Zaid) bagaimana mungkin aku meiwayatkan hadis sedang dirimu hadir di sini”, mendengar itu Hammad bin Zaid berkata; “Aku bersumpah kepadamu agar kamu melakukannya”. Maka karena sumpah gurunya ini, terpaksa Ibnul Mubarak menurutinya, dan ia pun berkata “Ambillah, telah meriwayatkan kepada kami Abu Ismail Hammad bin Zaid”, tidaklah ia meriwayatkan satu hadis pun pada saat itu kecuali hadis-hadis yang didengarnya melalui jalur gurunya Hammad”.

Allahu Akbar, beginilah seharusnya akhlaq para ulama, saling menghormati dan saling menghargai, karenanya ilmu mereka bermanfaat untuk umat.


Kebiasaan yang Aneh

Abdullah bin al-Mubarak memiliki suatu kebiasaan yang agak aneh menurut teman-temannya, di mana ia lebih menyukai duduk sendirian di rumahnya dari pada ngobrol bersama teman-temannya, sehingga mereka bertanya:

: أَلاَ تَسْتَوحِشُ؟ فَقَالَ: كَيْفَ أَسْتَوحِشُ وَأَنَا مَعَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَأَصْحَابِهِ؟!

“Apakah kamu tidak merasa kesepian?”. Maka ia menjawab, “Bagaimana Aku akan merasa kesepian sedangkan aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiallau ‘anhum“, yakni mengkaji sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan atsar para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Subhanallah, seharusnya apabila kita bila merasa bosan di rumah, jenuh dengan rutinitas, maka cobalah mengusirnya dengan membaca kitabullah dan hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, khususnya ibu-ibu yang berada di rumah.
Kelembutan Hati dan Ketakutannya kepada Allah

Selain keilmuaannya yang matang, Ibnul Mubarak adalah sosok alim ulama yang lembut hatinya, Nu’aim bin Hammad menceritakan bahwa Apabila Ibnul Mubarak membaca buku-buku raqaa-iq (tentang kelembutan hati), maka seakan-akan dia adalah seekor lembu yang disembelih, karena menangis, sehingga tiada seorang pun yang berani bertanya sesuatu kepadanya kecuali akan didorongnya”.

Nuaim bin Hammad juga berkata bahwa pada suatu hari seseorang berkata kepada Ibnul Mubarak, “Aku telah membaca seluruh Alquran dalam satu rakaat”. Ibnul Mubarak berkata kepadanya; “Akan tetapi aku mengetahui seseorang yang semalam suntuk mengulang-ulangi Al Hakumuttakastur sampai fajar terbit, dia tidak mampu untuk melampauinya”. Dan orang yang dimaksud olehnya adalah dirinya sendiri.

Subhanallah, semakin berilmu seorang, maka akan semakin bertambah rasa takutnya kepada Allah Ta’ala, membaca Alquran yang baik adalah bukan yang cepat dan kilat, sehingga dia tidak dapat menghayati apa yang dibaca, namun yang baik adalah bagaimana mengaji sambil menghayati isi dari firman Allah itu, Allah Ta’ala berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, yang penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran.” (QS. Shad:29)

KISAH TIGA ULAMA SUFI BEDA ZAMAN YANG HIDUP MISKIN

Di antara ajaran sentral tasawuf adalah zuhud dan qana’ah (menerima apa adanya; neriman). Dua sikap ini fardhu ain (wajib) dimiliki oleh seseorang. Apabila tidak mampu memiliki dua laku mulia ini, dia wajib belajar tasawuf atau apa pun yang bisa mengajarkan dua laku ini (serta laku batin lainnya seperti melawan iri, sombong, dan lain-lain).

Karena dua sikap ini wajib dimiliki oleh pelaku tasawuf, maka mayoritas ahli tasawuf adalah fakir miskin yang hidup apa adanya. Yang membedakan ulama sufi dengan fakir miskin lain adalah sikap rela dengan keadaan. Hidup miskin tidak membuat mereka meminta-minta, tamak, atau serakah.

Berikut adalah biografi tiga ulama sufi yang hidup dalam kesulitan duniawi. Tiga ulama berikut hidup di tiga zaman yang berbeda. Semoga bisa diambil pelajaran.

Ma’ruf Al-Karkhi

Beliau bernama lengkap Abu Mahfuzh Ma’ruf bin Fairuzan. Dalam biografi (manakib) Ma’ruf al-Karkhi yang ditulis oleh Ibnu Qayyim al-Jauzi dikatakan bahwa beliau berasal dari Karkhjadan, Irak. Oleh karena itu beliau disebut dengan Al-Karkhi.

Kedua orangtuanya beragama Nasrani. Saat kecil dia dititipkan kepada seorang guru dan dipaksa mengatakan bahwa Tuhan ada tiga. Namun dia menolak. Setelah beberapa saat, ia dan orangtuanya masuk Islam di tangan Ali bin Musa Al-Ridha.

Meskipun beliau dikenal sebagai seorang sufi yang sibuk beribadah, Ibnu Qayyim mencatat beliau juga sering sekali menghadiri majelis hadis. Bahkan Ibnu Qayyim merekam ada tujuh hadis yang diriwayatkan oleh Ma’ruf.

Mengenai kehidupannya yang serba susah, Ibnu Qayyim pernah menukil cerita berikut:

Suatu hari Ma’ruf datang ke penjual sayur dan berkata bahwa ia ingin sebuah makanan bernama bashaliyyah. Penjual sayur berkata, “Bashaliyyah tidak dijual di toko sayuran, wahai Syekh Agung. Bashaliyyah adalah makanan dari daging, susu, ubi, dan bawang. Kami tidak menjualnya.”

    Ma’ruf lalu mengeluarkan beberapa uang dan berkata, “Kalau begitu tolong buatkan. Aku tunggu di masjid. Karena aku sama sekali tidak tahu dan tidak pernah makan bashaliyyah.” Padahal di masa itu makanan tersebut adalah makanan standar masyarakat.

Ma’ruf juga dikenal sebagai sufi yang selalu waspada dengan kehidupan. Dia selalu takut dengan angan-angan kehidupan yang berlebih (thulul amal). Menukil dari Hilyatul Awliya’, Ibnu Qayyim menulis bahwa suatu ketika Ma’ruf pernah buang air kecil di jamban yang ada di tepian Sungai Tigris. Namun setelah hajatnya selesai ia justru bertayamum. Salah seorang kawannya bertanya kenapa dia tidak istinjak dengan air padahal sungainya sangat dekat? Beliau menjawab, “Siapa yang menjamin aku masih hidup hingga aku sampai ke sungai itu?”

Imam Al-Nawawi

Imam Nawawi adalah ulama sufi yang hidup dalam kesempitan rizki. Namun demikian, sebagaimana mestinya seorang sufi, beliau selalu sabar menghadapinya. Beliau bernama lengkap Yahya bin Syarof. Beliau biasa dijuluki (alam kuniah) Abu Zakariyya (ayahnya Zakariyya) meskipun beliau sendiri tidak pernah menikah hingga meninggal.

Adanya julukan ini karena orang Arab memang biasa menjuluki seorang bernama Yahya dengan Abu Zakariyya, Umar dengan Abu Hafsh, atau Yusuf dengan Abu Ya’qub. Beliau lahir di Kota Nawa dan meninggal di Damaskus. Beberapa tahun yang lalu kita digegerkan oleh pengeboman makam Al-Nawawi oleh ISIS.

Ayahnya adalah pedagang sederhana dan an-Nawawi terbiasa membantu menjaga toko. Ayahnya berkata bahwa ketika berangkat haji bersama an-Nawawi, an-Nawawi terkena sakit panas hingga Hari Arafah. Namun demikian, an-Nawawi tidak pernah mengeluh sekalipun.

Pada usia remaja beliau datang ke kota Damaskus. Setelah tinggal di Jami’ Umawi untuk beberapa saat, beliau tinggal di Madrasah Rawahiyah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Aththar dalam kitabnya tentang biografi an-Nawawi, an-Nawawi tidak pernah membaringkan badannya selama dua tahun ketika baru sampai di sana.

    Ibnu Aththar menulis bahwa an-Nawawi selalu berpuasa hingga akhir hayatnya. Beliau hanya sahur dengan segelas air putih, berbuka dengan tiga biji kurma, dan minum air segelas lagi saat tengah malam. Beliau hanya makan agak banyak saat ayahnya datang menjenguk beliau.

Beliau meninggal di Madrasah Asyrafiyah saat berusia 44 tahun di pangkuan ayahnya karena sakit yang sudah lama beliau simpan.

Asy-Sya’rani

Abdul Wahhab Asy-Sya’rani adalah seorang sufi luar biasa. Beliau adalah keturunan Sayyidina Ali dari jalur Muhammad bin Al-Hanafiyyah. Sesuai pengakuan beliau dalam al-Minan (buku otobiografi beliau), beliau sudah hafal Alquran sejak usia tujuh tahun, hafal Jurumiyah, Alfiyah Ibn Malik dan Iraqi, Minhaj, Jam’ul Jawami’, dan banyak kitab-kitab pokok lain. Beliau hafal semuanya di luar kepala.

Beliau juga muthala’ah (membaca dan mengkaji) ratusan jilid kitab fikih semua mazhab, tafsir, tarikh, kamus, tasawuf, syarah hadis, dan lain-lain. Beberapa di antaranya beliau baca berulang-ulang hingga puluhan kali. Bahkan beliau sering menulis komentar di kertas khusus karena beliau tidak sanggup membeli kitab.

    Sejak umur delapan tahun beliau tidak pernah meninggalkan salat secara sengaja kecuali sekali, yakni ketika beliau ke Hijaz dan lupa tidak niat jamak ta’khir. Sejak kecil beliau sudah terbiasa mengkhatamkan Alquran dalam sekali salat.

Beliau hidup sederhana di zawiyah-nya. Beliau seringkali diberi hadiah oleh pejabat terkemuka namun beliau tolak. Hidup sederhana ini sudah menjadi pilihan beliau. Bahkan suatu ketika beliau pernah hendak melamar seorang wanita, namun wanita tersebut memberinya syarat-syarat duniawi yang harus beliau penuhi. Akhirnya beliau mundur dan tidak jadi melamarnya karena tidak memiliki cukup harta. Namun akhirnya wanita itu terharu dan akhirnya menikah dengan beliau.

Demikianlah sedikit di antara banyak biografi ulama sufi zuhud yang bisa dijadikan teladan. Wallahu a’lam.

IMAM IBNU ‘AROBY ROHIMAHULLOH MEMOHONKAN AMPUNAN UNTUK ORANG YANG SELALU MEMUSUHINYA

Dituduh dan difitnah sebagai orang sesat, zindiq, liberal dan sebutan sejenisnya, Syaikh Abu Bakr Muhyiddin Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Abdillah al-Hatimy al-Tho’iy tetap konsisten pada pemahaman dan pendiriannya. Seorang tokoh yang dilahirkan pada 17 Ramadlan 560 H itu sedikitpun tak menyimpan dendam bahkan merasa kasihan dan selalu mendoakan kebaikan untuk orang yang mencaci dan melaknatinya.

“Polan”, nama samaran, bersumpah untuk mencaci dan melaknat Syaikh sepuluh kali sehari. Setelah beberapa tahun menjalankan sumpahnya, Polan yang juga salah satu tokoh di masyarakat Damaskus itu meninggal dunia. Syaikh ibn Arabi rahimahulloh bukan merasa lega telah mati orang yang selalu mencacinya tapi malah bersedih bahkan menghadiri upacara pemakamannya.

Sekembalinya dari pemakaman, Ibn Arabi duduk menghadap kiblat. Pada pagi hari makanan yang disajikan pada beliau pun tak disentuh, beliau tetap hudlur (khusyuk, red) dalam munajatnya. Keadaan demikian ini berlanjut sampai setelah shalat Isya’. Wajah beliau tampak sumringah gembira dan penuh dengan senyum lega. Dan meminta seorang khadimnya mengambilkan makan malamnya.

Salah seorang santrinya memberanikan diri bertanya apa yang sedang terjadi. Beliau berkata:

التزمت مع الله اني لا آكل ولا اشرب حتى يغفر لهذا الذي يلعنني و ذكرت له سبعين الف لا اله الا الله فغفر له

“Saya mengharuskan diriku di hadapan Allah Ta’ala bahwa saya tidak akan makan dan minum sedikitpun sebelum Allah Ta’ala mengampuni orang yang selalu melaknat dan mencaciku itu. Pengampunan itu baru diberikan setelah saya hadiahkan bacaan tahlil sebanyak 70 ribu kali.” (Ibnu ‘Arabi, Dzakhâ`ir al-A’lâq Syarh Tarjumân al-Asywâq).

SUFI YANG DI MASUKAN NERAKA KARENA BEROBAT DENGAN KHOMER

Dalam kitab Irsyadul ibad di kisahkan bahwa :

Suatu kali Syekh al-Fudlail bin ‘Iyadl berkunjung ke salah seorang muridnya yang sedang sekarat. Perlahan-lahan sang guru pun menuntunnya mengucapkan dua kalimat syahadat. Sayangnya, lidah sang murid seperti terkunci tiap kali melantunkan kalimat suci itu.

“Aku tak sanggup mengatakannya. Aku sudah terlepas darinya,” kata murid al-Fudlail bin ‘Iyadl.

Al-Fudlail tahu muridnya tersebut sangat saleh, dan tak terpikir ia bakal mengalami akhir hayat yang menyedihkan seperti itu. Al-Fudlail pun keluar dari rumah sang murid dengan kondisi mata memerah. Ia tak kuasa menahan tangis.

Pada hari berikutnya al-Fudlail berjumpa dengan sang murid dalam mimpi. Ulama sufi ini melihat muridnya itu sedang diseret ke neraka.

“Wahai muridku, mengapa ma’rifatmu kepada Allah bisa tercerabut?” tanya al-Fudlail.

“Wahai guruku, aku pernah didera sakit, lantas aku datang ke salah seorang tabib (dokter). Sang dokter menasihatiku agar meminum khamar setahun sekali. Menurutnya bila aku tidak melakukannya maka penyakitku akan tetap menyakitiku.” Sang murid mengaku patuh dengan nasihat dokter itu. Sebagai pasien ia meminum khamar saban tahun demi sebuah kesembuhan. Rupanya barang haram yang ada dalam tubuh murid itu berdampak sedemikian jauh terhadap kondisi batinnya.

Padahal, ia mengkonsumsi khamar dalam rangka berobat, lalu bagaimana bila hal itu ia lakukan semata untuk memuaskan nafsu dan bersenang-senang?

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ شَربَ خَمرا أخرج الله نورَ الإِيْماَنِ مِن جَوفِه

“Barangsiapa meminum khamar maka Allah keluarkan cahaya imam dari perutnya.” (HR at-Thabrani).

Al-Qur’an sendiri memasukkan khamar sebagai salah satu barang yang dilarang.

Ibnu ‘Umar karena begitu kuatnya tekad beliau menjauhi khamar maka beliau berkata,
“Seandainya aku memasukkan jari-jariku ke dalam minuman khamar maka akan kupotong.”

Khamar adalah setiap sesuatu yang memabukkan, termasuk dalam hal ini narkoba.

SEMOGA KITA SEMUA DI SELAMATKAN OLEH ALLOH SWT DARI BAHAYANYA KHOMER, AMIN….

SYAIKH YUSUF NABHANI DAN KISAH CINTANYA KEPADA NABI MUHAMMAD SAW.

Diceritakan, seorang yang saleh diberi anugerah yang tak terhingga, yaitu sering bermimpi melihat Kanjeng Nabi Muhammad saw. dalam tidurnya. Namun, selang beberapa waktu, pertemuannya dengan Nabi saw. terhenti. Ia pun merasa sedih.

Tak lama kemudian, ia kembali dapat bermimpi dengan Nabi saw. Kesempatan bertemu Nabi dalam mimpi tersebut tidak disia-siakannya untuk menanyakan sebab yang menghalanginya bertemu dengan beliau beberapa saat yang lalu. Maka Nabi saw. menjawab, “Bagaimana engkau bisa bertemu denganku dalam mimpimu, sementara di tempatmu terdapat sebuah buku yang mencela kekasihku, yaitu Yusuf an-Nabhani?”

Maka setelah terbangun dari tidurnya, orang saleh itu pun mencari buku yang dimaksud oleh Nabi saw., ketika menemukannya, ia bakar buku tersebut. Dan setelah kejadian itu ia kembali mendapat anugerah dan kehormatan bisa bertemu Nabi saw. dalam tidurnya seperti biasa.

Cerita di atas dituturkan Ibrahim Athwah Audi dalam sebuah pengantarnya di salah satu buku an-Nabhani. Yusuf ibn Ismail an-Nabhani merupakan seorang syekh dalam Tarekat Syadziliyah, ia ulama yang alim lagi warak yang semasa hidupnya tak henti mencurahkan dan menyenandungkan rasa cinta dan pujian kepada Nabi Muhammad saw. Kisah di atas seolah menjadi bukti betapa perhatian Nabi kepada an-Nabhani sungguh luar biasa. Beliau seakan tidak ingin orang yang mencurahkan hidupnya untuk beliau dicaci dan dicela.

Syekh Yusuf an-Nabhani lahir pada 1265 H. Ia merupakan keturunan Bani Nabhan, salah satu suku Arab Badui di bagian utara Palestina, dan masuk otoritas hukum kota Haifa yang termasuk wilayah Akka, Beirut. An-Nabhani lahir dan tumbuh di pedalam tersebut.

Dia dididik langsung oleh sang ayah, Ismail ibn Yusuf, seorang yang alim. Setelah tumbuh dewasa dan telah mengkhatamkan hafalan Alqurannya, an-Nabhani melakukan perjalanan ke Mesir dan belajar di al-Azhar dari tahun 1283 H hingga tahun 1289 H. Setelah selesai dari al-Azhar ia mulai berkelana meninggalkan Mesir untuk ikut serta menyebarkan ilmu agama.

An-Nabhani sempat bekerja di Istana Pemerintah Utsmani. Kemudian ia kembali ke negeri Syam tahun 1296 H. Ia berganti-ganti pekerjaan dalam ruang lingkup pengadilan. Syekh Yusuf an-Nabhani meninggal pada tanggal dua puluh sembilan Ramadhan tahun 1350 H.

Dalam Dan Muhammad adalah Utusan Allah, Annemarie Schimmel mengungkapkan bahwa an-Nabhani telah menghabiskan usianya untuk menghimpun karya-karya persembahan kepada Nabi. Dia menerbitkan himpunan madah untuk Nabi saw. dalam sebuah karya setebal empat jilid, dan dia sendiri menyusun ribuan baris sajak pujian untuk Nabi Muhammad saw. Menurut Schimmel, Syekh Yusuf an-Nabhani merupakan penghimpun besar terakhir dala’il, syama’il, dan syair-syair untuk menghormati Nabi saw. yang ada pada awal abad ke 20 Masehi.

Orang yang mencintai kekasihnya, tentu akan selalu menyebutnya, membaca dan menuliskan segala hal yang berkenaan tentang dirinya. Pikirannya pun akan selalu didominasi oleh sang kekasih. Begitulah barangkali yang dialami oleh Syekh Yusuf an-Nabhani.

Kecintaan an-Nabhani kepada kanjeng Nabi saw. dapat dilihat dari kitab-kitab yang disusunnya. Dia menulis beberapa kitab yang cukup penting berkenaan tentang Nabi saw, dan sampai sekarang karya-karya tersebut masih digunakan dan dibaca. Di antaranya kitab Al-Anwar al-Muhammadiah Mukhtasar al-Mawahib al-Ladunniah yang merupakan ringkasan dari kitab Mawahib al-Ladunniah yang disusun Imam Al-Qasthalani, yang saat ini masih dipelajari di salah satu majlis taklim di Banjarmasin yang jamaahnya selalu banyak.

Syekh Yusuf an-Nabhani tak hanya sekedar mengenal Nabi saw. Namun, sangat mengenal dengan kekasihnya tersebut, sehingga ia dengan ikhlas mewakafkan dirinya untuk kanjeng Nabi saw., dan tersebab pengenalannya itu pula rasa cintanya kepada Nabi saw. begitu dalam. Bukankah semakin kenal dan dekat sesorang dengan Nabi saw., maka kekaguman dan rasa cintanya semakin bertambah pula.

Dengan karya-karyanya, an-Nabhani seolah ingin mengajak kita untuk lebih mengenal dan lebih dekat dengan kanjeng Nabi Muhammad saw., seseorang yang sangat kita harapkan syafaatnya nanti di akhirat.

Sebagai penutup, ada sebuah cerita yang cukup menarik yang dituturkan Syekh Muzaffer Ozak, suatu hari seorang yang saleh bermimpi dengan Nabi Muhammad saw., namun dalam mimpi tersebut Nabi saw. mengacuhkannya.

“Ya Rasulullah,” kata orang saleh itu, “sepertinya engkau marah kepadaku. Apakah aku telah berbuat kurang ajar kepadamu?” Rasulullah pun menjawab, “Aku tak mengenalmu!” Lantas orang tadi berkata, “Aku si Fulan, orang yang saleh.” Akan tetapi Nabi saw. masih tidak mengenalnya.

Kemudian orang saleh itu berkata, “Ya Rasulullah, aku pernah mendengar para ulama bertutur bahwa engkau mengenal umatmu sebagaimana seorang ayah mengenal anak-anaknya..” “Benar,” kata Rasul, “Apa yang dikatakan ulama-ulama tersebut memang benar. Aku Nabimu. Aku mengenal setiap orang di antara kalian sebagaimana aku mengenal anak-anakku sendiri. Tetapi, pengetahuanku tentang dirimu sebanding dengan pengetahuanmu tentang diriku. Aku sangat dekat dengan orang-orang yang sangat mencintaiku.”

Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan kita? seberapa kenalkah kita sudah dengan Kanjeng Nabi Muhammad saw.?
Wallohu A’lam.

“PEMBUNUHAN KARAKTER” BAGAIMANA KITA MENYIKAPINYA?

Dalam Hilyah al-Auliyâ wa Thabaqat al-Ashfiyâ’, Imam Abu Na’im al-Ashbahânî (330-430 H) memasukkan sebuah riwayat tentang nasihat Sayyidina Ja’far ash-Shadiq untuk orang yang sedang dijelekkan oleh orang lain. Berikut riwayatnya:

حدثنا عبد الله بن محمد، ثنا علي بن رستم، قال: سمعت أبا مسعود يقول: قال جعفر بن محمد: إذا بلغك عن أخيك شيء يسوءك فلا تغتم، فإنه إن كان كما يقول كانت عقوبة عجلت، وإن كان علي غير ما يقول كانت حسنة لم يعملها، قال موسي: يا رب، أسألك أن لا يذكرني أحد إلا بخير، قال: ما فعلت ذلك لنفسي

Terjemah bebas: Abdullah bin Muhammad menceritakan, Ali bin Rustum menceritakan, ia berkata: ‘Aku mendengar Abu Mas’ud berkata: ‘Ja’far bin Muhammad berkata: “Ketika sampai kepadamu suatu (kabar) tentang saudaramu yang menjelek-jelekanmu, maka janganlah kau risau. Karena, jika benar apa yang dikatakannya (tentangmu), itu adalah hukuman yang disegerakan (Tuhan atas dosa tersebut). Jika tidak benar apa yang dikatakannya (tentangmu), itu menjadi kebaikan yang tidak diamalkan (secara langsung olehmu).” (Nabi) Musa (‘alaihissalam) berkata: “Tuhanku, aku memohon kepada-Mu agar tidak ada seorang pun yang menyebutku (atau mengingatku) kecuali dengan kebaikan.” Tuhan menjawab: “Apa kau sudah melakukan hal itu terhadap-Ku?” (Imam Abu Na’im al-Ashbahânî, Hilyah al-Auliyâ wa Thabaqat al-Ashfiyâ’, Kairo: Dar al-Hadits, 2009, juz 2, h. 477)

Sepanjang hidup, seseorang pasti bertemu dengan orang yang tidak disukai dan menyukainya. Itu wajar. Karena memang begitulah dunia, penuh dengan kejadian dan keadaan yang seketika bisa merubah persepsi seseorang tentang seseorang lainnya. Tidak jarang satu peristiwa membekaskan luka yang mendalam; tidak jarang pula banyak peristiwa yang tidak berbekas apa-apa. Semuanya terjadi begitu saja. Akan tetapi, dengan warna-warni kehidupan yang begitu beragam, ada keindahan aturan Tuhan yang diturunkan melalui wahyu, dan nabi-Nya.

Semacam sabda nabi, “lâ taghdlab, wa lakal jannah” (jangan marah, maka untukmu surga).

Kemarahan tidak akan muncul tanpa sebab. Pasti ada pemicu untuk kemarahan seseorang. Pembunuhan karakter, atau sampainya kabar kepada kita bahwa seseorang menjelek-jelekkan kita, bisa jadi salah satu penyebabnya. Sabda Nabi, “jangan marah”, merupakan cara yang diajarkan Rasulullah kepada kita. Karena manusia ini unik. Untuk keburukan yang kita lakukan saja, kita akan marah ketika seseorang menggunjingkannya, apalagi keburukan yang tidak kita lakukan. Karena itu, menahan amarah adalah cara terbaik agar tidak terjerumus dalam lingkaran kesalahan.

Sayyid Ja’far ash-Shadiq, dengan ucapannya, memberikan rasionalisasi spiritual yang baik kepada kita, agar kita tidak berkecil diri dan terhindar dari keburukan. Ia berujar: “Ketika sampai kepadamu suatu (kabar) tentang saudaramu yang menjelek-jelekanmu, maka janganlah kau risau.”

Kemudian Sayyid Ja’far ash-Shadiq menampilkan ilustrasi spiritual yang menarik. Ia berkata:
“Karena, jika benar apa yang dikatakannya (tentangmu), itu adalah hukuman yang disegerakan (Tuhan untukmu). Jika tidak benar apa yang dikatakannya (tentangmu), itu menjadi kebaikan (meski) tidak diamalkan (secara langsung olehmu).”

Artinya, tidak perlu bersedih mendengar gunjingan orang tentang kita; tidak perlu gundah mendengar pendapat buruk orang tentang kita. Sebab, andaipun itu benar, itu bisa mengurangi dosa kita, karena hukumannya telah disegerakan melalui gunjingan orang-orang; andai itu salah, kita akan mendapatkan pahala tanpa melakukan apa-apa. Dengan kata lain, kita mendapatkan pengurangan dosa dan penambahan pahala secara cuma-cuma.

Di samping itu, kita tidak perlu membenci berlebihan ketika karakter kita dibunuh. Kita sikapi itu sebagaimana yang diajarkan Rasulullah dan Sayyid Ja’far ash-Shadiq. Karena amarah dan kebencian yang berlebihan, bisa membuat kita terjebak dalam permusuhan yang memutus tali silaturahmi. Jangan sampai kita terlibat dalam pemutusan tali silaturahmi itu.

Rasulullah bersabda (HR. Imam Muslim):

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ

“Tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi.”

Kita akan sangat rugi jika terjebak dalam kebencian yang berlebihan, apalagi jika kita tidak melakukan apa yang digunjingkan. Kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan kerugian ini adalah, “fitnah kita dapatkan, dan surga kita jauhkan.”

Tentu, marah dalam taraf yang wajar adalah normal. Semua orang memiliki amarah dalam dirinya. Persoalannya adalah, sejauh mana kemarahan dapat membutakan dan menghilangkan akal sehat kita. Karena itu, Rasulullah meminta kita agar, “lâ taghdlab” (jangan marah). Artinya, kita harus berjuang menjinakkan amarah dan kebencian kita. Jangan sampai kemarahan dan kebencian yang mengendalikan kita.

Selanjutnya, Sayyid Ja’far ash-Shadiq menceritakan doa yang disampaikan Nabi Musa ‘alaihissalam kepada Allah, “Tuhanku, aku memohon kepada-Mu agar tidak ada seorang pun yang menyebutku (atau mengingatku) kecuali dengan kebaikan.” Doa Nabi Musa’ ini mengandung makna yang dalam, yaitu ketidak-tegaan Nabi Musa jika ada orang yang berdosa karenanya. Jika seseorang menggunjingkannya, atau menceritakan hal-hal yang buruk tentangnya, orang tersebut sudah pasti berdosa. Ini juga berimplikasi pada pentingnya berperilaku baik. Dengan tujuan meminimalisasi sangkaan buruk orang lain kepada kita, sehingga semakin sedikit orang yang berdosa karena menggunjingkan kita. Lalu Allah bertanya: “Apakah kau sudah melakukan hal itu terhadap-Ku?” Ini penting, sangat penting. Sebab, kita sebagai manusia ingin selalu dipandang baik oleh lainnya, atau ingin selalu dipuji. Tapi di sisi lain, kita sangat mudah mengumbar kesalahan orang lain dan menggunjingkannya.
Begitupun hubungan kita dengan Allah. Seringkali kita tidak puas dengan apa yang kita dapatkan dalam hidup. Akhirnya, secara tak sadar kita mempertanyakan Allah dan berprasangka yang tidak-tidak kepada-Nya. Oleh karena itu, Allah menjawab doa Nabi Musa dengan pertanyaan untuk diambil pelajarannya. Agar manusia tidak egois dengan citra baiknya tapi menjatuhkan citra baik selainnya, apalagi jika ketidak-puasan itu menuju kepada Allah. Padahal Allah sudah sangat jelas berfirman, “Anâ ‘inda dhanni ‘abdî bî” (Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku).
Wallahu a’lam bish-shawwab

KISAH LELAKI PECINTA MALAIKAT PENURUN HUJAN DAN NABI MUHAMMAD SAW.

Bulan November 2019 menjadi pembuka musim hujan pada beberapa kota di Indonesia. Hujan menjadi fenomena yang paling dirindukan oleh para petani padi, sebab padi membutuhkan asupan air yang berlimpah agar dapat tumbuh dengan bahagia. Di kota Banyuwangi, hingga diadakan salat istisqo’ dengan harapan Pemilik Semesta berkenan untuk memerintahkan malaikat Mikail menjalankan tugasnya di kota Banyuwangi.

Bagi pedamba hujan dan rizki, malaikat Mikail adalah malaikat yang paling dinanti sapanya, sebab tugasnya adalah menurunkan hujan dan membagi rezeki. Terkait dengan hujan dan Mikail, di dalam kitab Marah Labid Tafsir an-awawi atau Tafsir al-Munir karya Syekh Nawawi al-Bantani terdapat kisah seorang lelaki yang sangat mencintai malaikat Mikail, tetapi sangat membenci malaikat Jibril. Lelaki tersebut bernama Abdullah bin Shuriya. Berikut kisah lengkapnya.

Ketika Nabi Muhammad telah sampai di kota Madinah, seorang lelaki yang bernama Abdullah bin Shuriya mendatangi Nabi Muhammad dan bertanya, “Wahai Muhammad, ceritakan padaku bagaimana cara tidurmu sebagai seorang rasul di akhir zaman?”

Nabi Muhammad dengan sifat Fathonah-nya memberikan jawaban, “Ketahuilah, dua mataku memang tidur, tetapi tidak dengan hatiku!”

Abdullah bin Suriya mengomentari jawaban Nabi dengan ucapan, “Tepat sekali jawabanmu, wahai Muhammad. Selanjutnya, jelaskan padaku tentang warisan genetik seorang anak yang didapat dari ayah dan ibunya!”

Nabi Muhammad lagi-lagi berhasil menjawab pertanyaan (yang seharusnya diajukan pada seorang dokter atau ahli medis. Hal ini menunjukkan bahwa cakupan ilmu nabi Muhammad sangat luas) dengan jawaban cerdas:

“Tulang, urat syaraf, dan otot merupakan warisan genetik dari pihak laki-laki (ayah), sedangkan daging, darah, kuku, dan rambut adalah warisan genetik dari pihak perempuan (ibu).”

Abdullah bin Suriya dibuat tak berdaya dengan jawaban Nabi Muhammad, tetapi Abdullah tetap ingin memojokkan Nabi Muhammad, “Jawaban yang tepat sekali Muhammad. Selanjutnya, bagaimana pendapatmu tentang seorang lelaki yang lebih menyerupai paman (dari pihak ayah) daripada paman (dari pihak ibu) dan sebaliknya?”

Dengan tenang, Nabi Muhammad menjawab pertanyaan tersebut, “Sperma yang lebih dominan akan membuatnya serupa dengannya. Jika sperma ayah yang lebih dominan, maka lelaki tersebut akan lebih mirip dengan paman (dari pihak ayah). Begitu pula sebaliknya.”

Abdullah bin Suriya masih belum menyerah menguji kerasulan Nabi Muhammad, “Jelaskan padaku tentang makanan yang diharamkan oleh bani Israil untuk dirinya sendiri dan di dalam Taurat juga disebutkan seorang nabi akhir zaman yang menjelaskan hal tersebut.”

Nabi Muhammad untuk yang kesekian kalinya berhasil menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat rinci:

“Maha Besar Allah yang telah menurunkan Taurat kepada nabi Musa. Tidakkah engkau tahu bahwa bani israil menderita sakit yang sangat parah dalam kurun waktu yang cukup lama. Kemudian mereka bernadzar kepada Allah jika mereka diberikan kesembuhan, maka mereka akan melarang diri mereka sendiri untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang paling mereka sukai. Makanan dan minuman tersebut adalah daging unta dan susunya.”

Mendengar jawaban Nabi Muhammad dengan tingkat akurasi bertriliun persen, membuat Abdullah bin Suriya mengeluarkan jurus pamungkasnya, “Semua jawabanmu tepat sekali, Muhammad. Pertanyaan terakhir dariku dan jika kau berhasil menjawabnya, maka aku akan beriman kepadamu. Siapa malaikat yang menemuimu untuk menyampaikan wahyu dari Allah?”

Nabi Muhammad menjawab dengan mantap, “Jibril.”

Abdullah bin Suriyah mengelak dengan jawaban, “Ketahuilah, Jibril bagiku adalah musuh, sebab Ia turun dengan membawa peperangan dan kesusahan. Berbeda dengan Mikail. Ia datang dengan membawa kabar gembira dan kebahagiaan (rezeki dan hujan). Andai yang menemuimu untuk menyampaikan wahyu dari Allah adalah Mikail, maka Aku akan beriman kepadamu, Muhammad.”

Dari kisah tersebut kemudian Allah menurunkan surat al-Baqarah ayat 97-98.
Wallahu a’lam.