NASIHAT IMAM HASAN AL-BASHRI RAH. UNTUK SAYYIDINA UMAR BIN ABDUL AZIZ RA.

Berikut ini adalah nasihat al-Hasan al-Bashri kepada Umar bin Abdul Aziz, salah seorang khalifah yang shaleh dari Bani Umayyah. Al-Hasan menasihati beliau tentang hakikat dunia, karena bisa jadi seseorang yang shaleh pun tergelicir ketika memegang kekuasaan tertinggi dan dia membutuhkan nasihat yang mengingatkannya. Apalagi jabatan yang dipegang oleh Umar adalah jabatan yang sangat besar, karena ia adalah salah satu raja yang memegang wilayah terbesar di dunia. Godaan, ambisi, fitnah dunia, dan keinginan untuk menikmatinya bisa saja muncul kala itu.

Al-Hasan al-Bashri menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz, isi surat tersebut menjelaskan tentang hakikat dunia. Teks surat tersebut adalah sebagai berikut:

Amma ba’du.. Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dunia adalah rumah persinggahan dan perpindahan bukan rumah tinggal selamanya.

Adam diturunkan ke dunia dari surga sebagai hukuman atasnya, maka berhati-hatilah. Sesungguhnya orang yang berhasrat kepada dunia akan meninggalkannya, orang yang kaya di dunia adalah orang yang miskin (dibanding akhirat), penduduk dunia yang berbahagia adalah orang yang tidak berlebih-lebihan di dalamnya. Jika orang yang berakal lagi cerdik mencermatinya, maka dia melihatnya menghinakan orang yang memuliakannya, mencerai-beraikan orang yang mengumpulkannya. Dunia layaknya racun, siapa yang tidak mengetahuinya akan memakannya, siapa yang tidak mengetahuinya akan berambisi kepadanya, padahal, demi Allah itulah letak kebinasaannya.

Wahai Amirul Mukminin, jadilah seperti orang yang tengah mengobati lukanya, dia menahan pedih sesaat karena dia tidak ingin memikul penderitaan panjang. Bersabar di atas penderitaan dunia lebih ringan daripada memikul ujiannya. Orang yang cerdas adalah orang yang berhati-hati terhadap godaan dunia. Dunia seperti pengantin, mata-mata melihat kepadanya, hati terjerat dengannya, pada dia, demi Dzat yang mengutus Muhammad dengan kebenaran, adalah pembunuh bagi siapa yang menikahinya.

Wahai Amirul Mukminin, berhati-hatilah terhadap perangkap kebinasaannya, waspadailah keburukannya. Kemakmurannya bersambung dengan kesengsaraan dan penderitaan, kelanggengan membawa kepada kebinasaan dan kefanaan. Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, bahwa angan-angannya palsu, harapannya batil, kejernihannya keruh, kehidupannya penderitaan, orang yang meninggalkannya adalah orang yang dibimbing taufik, dan orang yang berpegang padanya adalaah celaka lago tenggelam. Orang yang cerdik lagi pandai adalah orang yang takut kepada apa yang dijadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menimbulkan rasa takut, mewaspadai apa yang Allah telah peringatkan, berlari meninggalkan rumah fana kepada rumah yang abadi, keyakinan ini akan sangat terasa ketika kematian menjelang.

Dunia wahai Amirul Mukminin, adalah rumah hukuman, siapa yag tidak berakal mengumpulkan untuknya, siapa yang tidak berilmu tentangnya akan terkecoh, sementara orang yang tegas lagi berakal adalah orang yang hidup di dunia seperti orang yang mengobati sakitnya, dia menahan diri dari pahitnya obat karena dia berharap kesembuhan, dia takut kepada buruknya akibat di akhirat.

Dunia wahai Amirul Mukminin, demi Allah hanya mimpi, sedangkan akhirat adalah nyata, di antara keduanya adalah kematian. Para hamba berada dalam mimpi yang melenakan, sesungguhnya aku berkata kepadamu wahai Amirul Mukminin apa yang dikatakan oleh seorang laki-laki bijak,

‘Jika kamu selamat, maka kamu selamat dari huru-hara besar itu. Jika tidak, maka aku tidak mengira dirimu akan selamat’.

Ketika surat al-Hasan al-Bashri ini sampai ke tangan Umar bin Abdul Aziz, beliau menangis sesenggukan sehingga orang-orang yang ada di sekitarnya merasa kasihan kepadanya. Umar mengatakan, “Semoga Allah merahmati al-Hasan al-Bashri, beliau terus membangunkan kami dari tidur dan mengingatkan kami dari kelalaian. Sungguh sangat mengagumkan, beliau adalah laki-laki yang penuh kasih terhadap kami (pemimpin), beliau begitu tulus kepada kami. Beliau adalah seorang pemberi nasihat yang sangat jujur dan sangat fasih bahasanya.”

Umar bin Abdul Aziz membalas surat al-Hasan dengan mengatakan:

“Nasihat-nasihat Anda yang berharga telah sampai kepadaku, aku pun mengobati diriku dengan nasihat tersebut. Anda menjelaskan dunia dengan sifat-sifatnya yang hakiki, orang yang pintar adalah orang yang selalu berhati-hati terhadap dunia, seolah-olah penduduknya yang telah ditetapkan kematian sudah mati. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.”

Ketika balasan Umar sampai di tangan al-Hasan, beliau berkata, “Amirul Mukminin benar-benar mengagumkan, seorang laki-laki yang berkata benar dan menerima nasihat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengagungkan nikmat dengan kepemimpinannya, merahmati umat dengan kekuasaannya, menjadikannya rahmat dan berkah.”

Al-Hasan al-Bashri menulis sedikit lagi pesan kepada Umar bin Abdul Aziz dengan mengatakan:

“Amma ba’du, sesungguhnya ketakutan besar dan perkara yang dicari ada di depanmu, dan engkau pasti akan menyaksikannya, selamat atau celak.” (Az-Zuhd, al-Hasan al-Bashri, Hal.169).

KISAH AHLI MAKSIAT YANG MASUK SURGA DAN AHLI IBADAH YANG MASUK NERAKA

Alkisah, ada dua orang bersaudara dari kalangan Bani Israil. Yang satu sering berbuat dosa, sementara yang lain sebaliknya: sangat tekun beribadah. Yang terakhir disebut ini rupanya tak henti-hentinya menyaksikan saudaranya itu melakukan dosa hingga mulutnya tak betah untuk tidak menegur.

 “Berhentilah!” sergahnya.

Teguran seolah hanya masuk melalui telinga kanan dan keluar lagi lewat telinga kiri. Perbuatan dosa berlanjut dan sekali lagi tak luput dari mata saudaranya yang rajin beribadah. “Berhentilah!” Sergahnya kembali.

Si pendosa lantas berucap, “Tinggalkan aku bersama Tuhanku. Apakah kau diutus untuk mengawasiku?”

Saudara yang ahli ibadah pun menimpali, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu. Allah tidak akan memasukkanmu ke surga.”

Cerita ini tertuang dalam sebuah Hadits shahih yang diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad. Di ujung, Hadits tersebut melanjutkan, tatkala keduanya meninggal dunia, keduanya pun dikumpulkan di hadapan Allahsubhanahu wata’ala.

Kepada yang sungguh-sungguh beribadah, Allah mengatakan, “Apakah kau telah mengetahui tentang-Ku? Apakah kau sudah memiliki kemampuan atas apa yang ada dalam genggaman-Ku?”

Drama keduanya pun berlanjut dengan akhir yang mengejutkan.

“Pergi dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku,” kata Allah kepada si pendosa. Sementara kepada ahli ibadah, Allah mengatakan, “(Wahai malaikat) giringlah ia menuju neraka.”

Kisah di atas menyiratkan pesan kepada kita untuk tidak merasa paling benar untuk hal-hal yang sesungguhnya menjadi hak prerogatif Allah. Tentu beribadah dan meyakini kebenaran adalah hal yang utama. Tapi menjadi keliru tatkala sikap tersebut dihinggapi takabur dengan menghakimi pihak lain, apakah ia bahagia atau celaka di akhirat kelak. Sebuah kata bijak menyebutkan, “Perbuatan dosa yang membuatmu menyesal jauh lebih baik ketimbang beribadah yang disertai rasa ujub.”

Tentang etika dakwah, Islam pun mengajarkan bahwa tugas seorang mubaligh sebatas menyampaikan, bukan mengislamkan apalagi menjanjikan kenikmatan surgawi.

Vonis terhadap orang ini-itu sebagai golongan kafir atau bukan, masuk neraka atau surga, sangat tidak dianjurkan karena melangkahi Rabb, penguasa seluruh ciptaan. Islam menekankan umatnya muhasabahatau koreksi diri sendiri daripada mencari kesalahan pribadi orang lain yang belum tentu lebih buruk di hadapan Tuhan.

KISAH MALIK BIN DINAR DAN SAYYAR SI AHLI SUFI YANG MEMBAHAS PAKAIAN

Dalam kitab al-Kawâkib al-Duriyyah fî Tarâjim al-Sâdah al-Shûfiyyah, Syekh Zainuddin bin Muhammad Abdurrauf al-Munawi (w. 1031 H) memasukkan sebuah kisah menarik tentang Sayyar bin Dinar dan Malik bin Dinar. Berikut riwayatnya:

وكان له ثياب حسنة يلبسها ويلبس جماعته الصوف، فدخل يوما علي مالك بن دينار فقال له: ما لك تلبس هذه الثياب؟ فقال: ثيابي تضعني عندك أو ترفعني؟ قال: بل تضعك، قال: هذا التواضع. يا مالك، أخاف أن يكون ثوباك نزلا بك من الناس ما لم ينزلا بك من الله تعالي

Terjemah bebas: Sayyar mengenakan pakaian yang bagus, dan jamaahnya (murid-muridnya) mengenakan (pakaian) shuf (wol kasar). Kemudian di suatu hari, ia masuk (berkunjung) ke Malik bin Dinar. Malik bin Dinar bertanya kepadanya: “Pakaian apa yang kau kenakan ini?” Sayyar berkata: “Pakaianku (ini) merendahkan (derajat)ku di hadapanmu atau (malah) menaikannya?” Malik bin Dinar menjawab: “Merendahkanmu.” “Ini adalah tawadu’,” ucap Sayyar. “Malik, aku khawatir dua pakaianmu (ini) diturunkan kepadamu dari manusia, tidak diturunkan kepadamu dari Allah ta’ala” (Syekh Zainuddin bin Muhammad Abdurrauf al-Munawi, al-Kawâkib al-Duriyyah fî Tarâjim al-Sâdah al-Shûfiyyah, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2008, juz 1, h. 287).

Dalam riwayat lain, kisah di atas terjadi di sebuah masjid ketika Sayyar bin Dinar shalat mengenakan pakaian yang bagus. Malik bin Dinar menegurnya setelah ia menyelesaikan shalatnya. Ia mengatakan: “Hadzihish shalâh wa hadzihits tsiyâb?” (ini adalah shalat, dan [kau mengenakan] pakaian semacam ini?). Sayyar bin Dinar balik bertanya kepada Malik bin Dinar, “Apakah pakaian ini menambah tinggi derajatku di sisimu atau menambah rendah?” Malik menjawab, “Menambah rendah.” Sayyar mengatakan: “Hadzâ aradtu” (ini yang aku kehendaki). Lalu ia berujar:

يا مالك إني لأحسب ثوبيك هذين قد أنزلاك من نفسك ما لم ينزلك من الله

Terjemah bebas: “Wahai Malik, sungguh aku menduga bahwa dua pakaianmu ini diturunkan padamu dari dirimu sendiri, tidak diturunkan padamu dari Allah” (Imam Abu al-Farj Abdurrahman bin al-Jauzi, Shifah al-Shafwah, Kairo: Dar al-Hadits, 2009, juz 2, h. 8).

Mendengar jawaban Sayyar bin Dinar, Malik menangis (fabaka mâlik) dan ia bertanya: “Anta sayyâr?” (kau Sayyar?). Kemudian Sayyar menjawab, “Iya.” Sebuah jamuan telah terhampar, antara dua sufi besar; Sayyar bin Dinar dan Malik bin Dinar. Keduanya adalah samudera kearifan, dengan cara dan lakunya sendiri-sendiri. Sayyar yang selalu berpenampilan menarik. Malik yang gemar berpakaian sederhana. Mereka memiliki cara pandang dan niatnya masing-masing, tapi tidak sungkan bertukar pandangan. Ketika Malik bin Dinar menegur caranya berpakaian, Sayyar bin Dinar tidak langsung membela diri. Ia balik bertanya dengan lembut kepada Malik, apakah pakaian yang dikenakannya meninggikan atau merendahkan derajatnya. Malik menjawab, “merendahkan.” Pertanyaan Sayyar bin Dinar mengandung sebuah pelajaran. Ia enggan menilai Malik bin Dinar hanya dari satu pertanyaannya. Bisa jadi, apa yang dikatakan Malik bin Dinar adalah ucapan biasa. Ia khawatir jika ia telah salah menilai Malik bin Dinar. Setelah mendengar jawaban Malik bin Dinar, ia tahu posisi Malik tentang pakaian. Kemudian ia mengatakan, “inilah tawadhu’,” karena orang lain memandang rendah dirinya.

Di riwayat lain, ia mengatakan, “inilah yang aku inginkan.” Artinya, ia ingin dipandang rendah oleh orang lain. Kemudian ia berkata kepada Malik, bahwa pakaian itu kau pandang baik oleh dirimu sendiri, belum tentu Allah memandang sama. Malik pun menangis, ia bertanya, “apakah kau Sayyar?” Ia menjawab, “Iya.” Malik bin Dinar bergegas memeluknya dengan erat (fa’anâqahu). (Imam Abu al-Farj Abdurrahman bin al-Jauzi, Shifah al-Shafwah, 2009, juz 2, h. 8).

 Malik bin Dinar mengira orang yang di depannya adalah Sayyar karena di daerah ini, orang yang paling zuhud, wara’, berilmu dan bijaksana adalah Sayyar bin Dinar. Sehingga Malik menyimpulkan ia adalah Sayyar dan langsung memeluknya. Ia menyesal telah memandang rendah seseorang dari pakaiannya, apalagi pandangannya belum tentu sama dengan pandangan Tuhannya. Karena hanya Allah lah yang berhak menilai derajat seseorang.

Manusia tidak punya hak sama sekali untuk itu. Perjumpaan Malik bin Dinar dengan banyak wali meluaskan wawasan spiritualnya, hingga mengantarnya menjadi salah satu wali paling ternama di dunia. Ia selalu membuka diri untuk belajar. Ia selalu mengambil hikmah dari ragam peristiwa yang menemuinya. Ia tidak sungkan mengambil pelajaran dari siapa saja. Ia tidak segan mengaku salah jika salah. Ia tidak ragu memperjuangkan kebenaran jika benar.

Karena itu, kita jangan terlalu mudah menilai orang lain, jangan terlalu sombong menganggap diri selalu benar, dan jangan terlalu congkak untuk mengaku salah. Sebagai manusia, tiga “terlalu” tersebut pasti pernah bergerak di hati kita, baik secara sadar maupun tidak. Kisah di atas memberikan pelajaran tentang tiga “terlalu” tersebut, bahwa manusia harus selalu terbuka dalam menggauli, mengakrabi dan menguatkan dirinya. Jangan sampai tertutup dan lemah sehingga mudah dipaksa oleh tiga “terlalu” tersebut.

Namun, pada akhirnya, kekaguman kita pada sebuah kisah tidak akan menjadi apa-apa jika kesadaran dan pencerahan yang hadir hanya sekadar melintas. Kita perlu merumahkannya di hati kita; membuatnya tinggal di jiwa kita, dengan keistiqamahan belajar dan mengambil pelajaran. Tanpa itu, kisah hanya akan menjadi hikmah yang melintas, bukan hikmah yang menetap dan berkembang. Pertanyaannya, sejauh mana hikmah memberi dampak pada kehidupan kita? Atau jangan-jangan ia hanya “numpang lewat” untuk sesaat, dan terlupakan setelahnya. Wallahu a’lam bish-shawwab

KISAH SUFI : AHLI SUFI YANG RUMAHNYA BANYAK LAFADZ ALLOH SWT.

Abu Saʻid al-Mihani, lahir di tahun 357 H, memiliki nama asli Faḍlullah bin Ahmad bin Ali al-Mihani. Nama Abu Saʻid adalah kuniyahnya, sedangkan al-Mihani di belakang namanya disandarkan pada daerah asalnya, Mihanah. Catatan Ibnu Mulqan dalam Ṭabaqat al-Ṣūfiyah menginformasikan bahwa kota ini terletak di antara daerah Sarakhs (ﺳﺮﺧﺲ) dan Abyurd (ﺃﺑﻴﻮﺭﺩ)

Abu Saʻid al-Mihani terkenal sebagai sosok zahid nan alim, bahkan dalam Ṭabaqat al-ʼAuliyaʼ, Fariduddin al-Atthar mengatakan bahwa Abu Saʻid al-Mihani hafal 30.000 bait syiʻir Arab, memahami ilmu tafsir, hadis, fikih, serta mendalami ilmu tarekat. Abu Saʻid al-Mihani menghembuskan nafas terakhirnya di tahun 440 Hijriyah di Mihanah.

Terkait dengan kewalian Abu Saʻid al-Mihani, nampaknya sang ayah telah mendapat isyarat dari Syekh Abu al-Qasim bin Bisyr, seorang ulama besar pada waktu itu. Isyarat itu diperoleh sang ayah ketika Abu Saʻid al-Mihani masih kanak-kanak. Bahkan dalam sebuah kisah, sang ayah pernah dibuat terkagum-kagum atas jawaban-jawaban Abu Saʻid al-Mihani ketika ditanya oleh sang ayah. Berikut kisahnya;

Alkisah, ayah Abu Saʻid al-Mihani merupakan seorang tukang minyak wangi. Sang ayah berteman dekat dekat dengan raja yang berkuasa pada saat itu, Raja Mahmud al-Ghazi. Bahkan saking dekatnya, sampai-sampai ketika sang ayah mendirikan rumah yang begitu megah, sang ayah lalu melukis tembok-tembok rumahnya dengan gambar sang raja lengkap beserta bala tentaranya. Kala itu Abu Saʻid al-Mihani masih kecil.

Melihat sang ayah yang melukiskan gambar raja pada tembok-tembok rumahnya, tetiba Abu Saʻid al-Mihani merengek minta dibuatkan rumah kepada ayahnya. Dibangunlah rumah untuk Abu Saʻid al-Mihani, dan jadilah rumah itu.

Seusai rumah Abu Saʻid al-Mihani berdiri tegak, ia pun lantas menempatinya, dan lalu melukis seluruh tembok rumahnya dengan bertuliskan lafaẓ Allah. Tak ada satu bagian dinding pun yang tidak belukiskan lafaẓ Allah.

Melihat apa yang dilakukan Abu Saʻid al-Mihani pada tembok rumahnya, sang ayah lalu bertanya,

“Wahai anakku! Mengapa kau lukis seluruh tembok rumahmu dengan lafaẓ Allah?” tanya sang Ayah.

“Wahai ayah! Engkau melukis seluruh tembok rumahmu dengan gambar rajamu (Raja Mahmud al-Ghazi), sedangkan aku melukis seluruh tembok rumahku dengan nama rajaku (Allah),” timpal Abu Saʻid al-Mihani kepada ayahnya.

Mendengar jawaban Abu Saʻid al-Mihani yang sungguh di luar dugaan, sang ayah terheran dan terkagum-kagum. Sang ayah lantas menyesal dan menghapus lukisan bergambarkan Raja Mahmud al-Ghazi di seluruh tembok rumahnya. Sejak peristiwa itu sang ayah bertambah cinta kepada anaknya, Abu Saʻid al-Mihani.

Berikut quote sufistik Abu Saʻid al-Mihani yang menurut penulis sangat susah untuk dimengerti;

“لِكُلٍّ مِنَ الخَلآئِقِ مُرَادٌ، وَمُرَادِيْ أَنْ لَا يَكُوْنَ لِيْ مُرَادٌ”

“Likullin min-al-khalāiqi murādun, wa murādī ʼan lā yakūna lī murādun.”

“Setiap individu makhluk memiliki keinginan atau maksud masing-masing, dan keinginanku adalah agar aku tidak memiliki keinginan.”

Kapasitas penulis sekadar mengartikan quote indah itu, soal tafsiran-tafsirannya silakan para sufi yang menjelaskan, lebih-kurangnya mohon dimaafkan. Sekian.

KISAH SUFI : AHLI TASAWUF YANG DI BAWAKAN UANG OLEH KEPITING

Orang-orang saleh dan para waliyullah mempunyai banyak karomah yang tidak banyak diketahui oleh manusia biasa. Bahkan jika ada seseorang yang mengetahuinya, ia akan disuruh untuk tidak menyebarkannya kepada khalayak umum. Sebagaimana karomah yang dimiliki oleh Khair an-Nassaj yang dijelaskan oleh Abu Nu’aim al-Ashfahani dalam kitabnya Hilyatul Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya’. Dari sebuah riwayat yang bersumber dari kabar al-Hasan bin Ja’far, dan al-Hasan bin Ja’far mendapatkan kabar tersebut dari Abdullah bin Ibrahim al-Jurairi.

Bahwasanya Abu al-Khair ad-Dailami pernah berkata,  “ketika aku sedang duduk dengan Khair an-Nassaj. Ada seorang wanita yang menemuinya.” Wanita tersebut lalu berkata, “berikanlah kerudung yang aku titipkan kepadamu.” “baik.”, jawab an-Nassaj dengan singkat.

An-Nassaj kemudian memberikan kerudung kepada sang wanita yang menemuinya. Dan sang wanita lalu bertanya, “berapa harganya?” “dua dirham”, jawab an-Nassaj. Wanita tersebut kemudian berkata, “pada saat ini, aku tidak mempunyai apa-apa. aku juga telah mendatangimu berkali-kali, akan tetapi aku tidak pernah melihatmu. Besok Insya Allah aku akan kembali untuk memberikan bayarannya kepadamu.”

Mendengar ucapan wanita tersebut, an-Nassaj sontak berkata, “jika kamu datang ke sini dengan membawa bayaran tersebut, tapi kamu  tidak bertemu denganku, maka lemparkanlah bayaran tersebut ke sungai Dijlah. Jika aku sudah kembali, aku akan mengambilnya.” Dengan rasa heran, sang wanita kembali berkata, “bagaimana kamu mengambilnya dari sungai Dijlah?”, Khair lalu menjawab, “kamu itu terlalu banyak tanya, lakukanlah apa yang aku perintah.” “insya Allah”, jawab sang wanita.

Keeseokan harinya, Abu Khair al-Dailamy datang kembali untuk bertemu dengan Khair an-Nassaj. Namun, Khair an-Nassaj telah pergi. Dan selang beberapa saat, sang wanita yang masih mempunyai tanggungan dengan Khair an-Nassaj juga datang dengan membawa sobekan kain yang isinya adalah uang dua dirham. Ia lalu duduk sebentar, kemudian melemparkan kain yang berisi uang tersebut ke sungai Diljah karena tidak bertemu dengan Khair an-Nassaj. Tak lama setelah kain dilempar, ada seekor kepiting yang menyeret kain tersebut lalu menyelam ke dalam sungai.

Tak lama setelah kejadian tersebut, Khair an-Nassaj datang dan membuka pintu tokonya. Setelah itu, beliau duduk dipinggiran sungai untuk berwudlu. Lalu ada seekor kepiting yang keluar dari dalam air dan menuju pada dirinya, dengan sepotong kain yang ada di atas cangkangnya. Kepiting pun semakin mendekat kepada Khair an-Nassaj, lalu beliau mengambil kain yang berisi uang yang ada di cangkang kepiting tersebut.

Abu Khair ad-Dailamy yang melihat kejadian tersebut dengan mata kepalanya sendiri kaget, beliau lalu menghampiri Khair an-Nassaj dan berkata, “aku melihat begini dan begitu”, yaitu melihat kejadian yang tidak biasa terjadi pada diri manusia. Mendengar perkataan tersebut, Khair an-Nassaj lalu berkata, “aku ingin supaya engkau tidak menceritakannya ketika aku masih hidup.” “baik”, jawab Abu Khair ad-Dailamy.

Dalam kisah di atas menunjukkan kepada kita semua, bahwasanya tidak semua kejadian yang kita lihat harus kita ceritakan semuanya kepada khalayak umum. Termasuk berbagai karomah yang dimiliki oleh para waliyullah, karena yang bisa mengetahui hal tersebut tentu orang-orang pilihan. Agar bisa mengambil hikmah darinya, dan jika diceritakan kepada banyak orang belum tentu akan diambil hikmah oleh orang-orang  yang mengetahuinya.

Karomah-karomah yang dimiliki oleh para wali adalah salah satu bukti kekuasaan Allah Swt yaitu dengan memberikan kelebihan kepada orang-orang yang dicintainya. Sehingga ketika mereka masih hidup, mereka berusaha untuk menutupinya. Karena jika diketahui oleh banyak orang, bisa jadi orang-orang lalu memujanya dan mengakibatkan orang-orang itu tidak lagi berharap kepada sang pencipta, yaitu Allah Swt.

RAHASIA KEKUATAN D’OA BAHASA JAWA YANG DI KABULKAN ALLOH SWT.

Pada akhir abad dua puluh, di puncak Gunung Gde. Bersama salah seorang kawan SMA, kami duduk dalam ngungun. Menatap jauh ke cakrawala barat. Nun di bawah, alam baru saja membuka “kerudung” hijaunya. Keindahan hakiki yang ia sembunyikan pun, tersingkap. Momen ini sejalin kelindan dengan malam pertama pernikahan.

Bila Anda ingin mencoba, mudah caranya. Datanglah ke pegunungan dengan niat dan itikad baik. Maka gunung serta koleganya akan secepat mungkin menyambut Anda secara hangat, santun, lagi berbudi.

Kembali ke puncak Gde. Karib kami yang budiman itu lantas berkisah, sambil mengapit kedua dengkulnya dengan dua tangan yang ditangkupkan. Tatapan matanya lurus ke depan. Dari mulutnya meluncur kalimat yang kiranya berbunyi begini:

    “Dari perkampungan manusia di bawah sana, aku melihat doa-doa beterbangan menuju langit. Tapi sedikit saja yang berhasil menembus pintunya. Sementara yang lain terus mengawang tak tentu arah.”

Laporan pandangan mata itu ia sampaikan sambil menggerakkan tangan ke segala arah. Seperti menggaris vertikal secara imajiner. Kami yang mendengarkan hanya bisa melongo saja. Mungkin jika dicarikan citra imajinya, persis seperti saluran sibernetik dunia kita hari ini—yang menerbangkan rangkaian data dijital dalam rambatan gelombang elektromagnetik.

Rekaman ingatan kami itu ternyata menemu salurannya dalam riwayat lain, yang berkenaan dengan Syekh Nawawi al-Bantani.

Paruh akhir abad-19, jazirah Arabia dilanda kekeringan teramat panjang. Demi mengatasi masalah ini, Raja Hijaz mengumpulkan dan membawa para ulama Makkah dan Madinah. Mereka diminta memanjatkan doa kepada Allah, di areal Ka’bah, agar hujan segera diturunkan.

    Setelah semua sarjana dan para ulama berdoa, ndilalah hujan tidak turun juga. Sebaliknya, Hijaz malah menjadi lebih panas selama beberapa bulan. Penduduk di negeri itu pun kian susah hatinya.

Dibekap kekalutan, Raja Hijaz seketika teringat akan seorang sarjana yang belum diundang untuk berdoa. Kemudian ia menitahkan dawuh pada bawahannya untuk memanggil sarjana tersebut. Sosok yang dimaksud berperawakan mungil. Kulitnya sawo matang. Segenap penduduk Makkah mengenalnya dengan nama Syekh Nawawi bin Umar Tanara al-Bantani al-Jawi. Seorang alim yang telah memiliki karya lebih dari 40 judul. Semua berbahasa Arab yang fasih.

Ulama asal Dusun Tanara, Tirtayasa, Banten tersebut, lantas berangkat berdoa meminta hujan kepada Allah SWT di hadapan Kakbah. Ada yang janggal. Kendati Syekh Nawawi mampu berbahasa Arab dengan fasih, ia malah berdoa meminta hujan dengan menggunakan bahasa Jawa.

“Ya Allah, sampun dangu mboten jawah. Kawulo nyuwun jawah.”

Segenap ulama Makkah dan Madinah yang berdiri di belakangnya pun, lantas menengadahkan tangan sembari berkata, “Amin…”

Seketika itu juga mendung datang dan kemudian hujan turun begitu deras. Semua orang yang menyaksikan kejadian tersebut sontak heran. Ada segelintir orang bertanya, bahasa apa yang telah digunakan Syekh Nawawi berdoa, karena mereka tidak pernah mendengar bahasa itu. Sedangkan sebelumnya para ulama dan sarjana Hijaz telah berdoa menggunakan bahasa Arab nan fasih, namun tidak mujarab.

Terkait doa berbahasa Jawa yang dipanjatkan Syekh Nawawi, KH. Idris Marzuki Lirboyo pernah ngendiko;

“Kowe ki nek nompo dungo-dungo Jowo seko kiai, sing mantep. Kae kiai-kiai ora ngarang dewe. Kiai-kiai kae nompo dungo-dungo Jowo seko wali-wali zaman mbiyen. Wali ora ngarang dewe kok. Wali nompo ijazah dungo Jowo seko Nabi Khidlir—yen ketemu wali Jowo ngijazahi dungo nganggo boso Jowo. Ketemu wali Meduro nganggo boso Meduro.”

 “Kamu jika mendapat doa-doa Jawa dari kiai, yang mantap. Para kiai itu tidak mengarang sendiri. Mereka mendapat doa Jawa dari wali-wali zaman dahulu. Wali itu mendapat ijazah doa dari Nabi Khidlir—yang jika bertemu wali Jawa memberi ijazah doa memakai bahasa Jawa. Jika bertemu wali Madura menggunakan bahasa Madura.”

Lalu pelajaran apa yang bisa kita petik?

Benarkah penentu doa yang mujarab adalah kualitas individu seseorang dengan bahasa apa pun yang ia gunakan? Sementara betapa banyak manusia bromocorah yang juga berdoa pada Tuhan, dan ternyata dikabulkan. Salah seorang karib kami, contohnya. Ia bahkan tak tahu menahu dengan Islam, tapi tetap mau beragama ala kadarnya. Ia teramat sangat percaya tuhan adalah pemilik segalanya.

Apakah mungkin doa apa pun yang dipanjatkan anak-anak manusia, sudah termaktub sebelumnya dalam Lauhul Mahfudz?

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia saja, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang Nyata (Lauh Mahfudz).” (QS al An’am [5]: 59)

Tunggu dulu. Ada pula ayat yang berbunyi;

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ

    “Dan Tuhanmu berfirman, ‘”Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.’” (QS al Mu’min [40]: 60)  

Masih ada satu lagi ayat yang bisa kita telaah:

يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya lah terdapat Indung Kitab/Lauh l-Mahfudz.” (QS ar Ra’d [13]: 39)

Sampai di sini, paling tidak kita bisa menyusun pemahaman yang adekuat—betapa perkara ini sejatinya masuk dalam ranah misteri Ilahi yang musykil dipecahkan. Tuhan adalah pencipta-pengatur rancangan terbaik yang diselubungi lapisan rahasia berlapis makna. Satu selubung yang berhasil kita singkap, bukanlah jawaban dari apa yang kita pikirkan. Bukan yang sebagaimana mestinya.

Einstein saja perlu berspekulasi hampir sepanjang hayatnya, demi membongkar kegaiban waktu yang melengkung dalam ruang. Itu pun masih sebatas kulit luar. Kita berdoa maupun tak, Tuhan tetap Mahakaya. Takkan pernah mengalami kekurangan kendati terus memberi. Berbanding terbalik dengan kita yang tak jemu meminta, dan sedikit sekali memberi. Aduh deh…

Maka itulah, supaya terhindar dari kecenderungan sok tahu dan mendahului Ilmu Tuhan, ada baiknya kita menahan diri dari sikap gegabah, dan tetap setia pada jalur temuan kebijaksanaan hidup—sebagaimana yang telah diwasiatkan Baginda Nabi Muhammad Saw:

    “Pencarian hikmah adalah kewajibanmu dan sesungguhnya kebaikan itu berada dalam hikmah.”

Sebagai salah seorang anggota keluarga langit yang beranak pinak di bumi, menjadi wajar bila kita digelayuti kegandrungan pada segala hal adikodrati yang seakan sulit dicerna, namun kian menumbuhkan rasa penasaran tiada bertepi—di sini. Tak ayal, Kanjeng Nabi Muhammad Saw pernah menyitir doa semacam nih; “Duhai Tuhan, anugerahkanlah patik, hakikat dari segala sesuatu.”

KISAH ABDULLAH BIN MUBARROK RAH. DAN WANITA YANG HANYA BERBICARA DENGAN AYAT AL-QUR’AN

Abdullah bin Mubarok, ahli fiqih, hadits dan sekaligus sufi besar yang lahir tahun 181 H mempunyai pengalaman menarik. Dia menuturkan kisahnya:

Satu ketika, aku ingin menjalankan ibadah haji dan ziarah ke kuburan Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Tiba-tiba di tengah jalan, aku menemukan gundukan hitam. Aku dekati, aku teliti lebih lanjut, ternyata ia seorang perempuan tua. Ia mengenakan baju dan kerudung berbahan wol.

Aku sapa dia

السَّلَامُ عَلَيْكِ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ

Wanita itu menjawab:

سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ

Artinya: “(Kepada mereka dikatakan) ‘Salam’, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang” (QS Yasin 58).

Abdullah bin Mubarak mendoakan, “Semoga anda selalu dikasihi oleh Allah.” Ia mencoba memulai dengan sebuah pertanyaan yang kemudian terjadi perbincangan antara Ibnu Mubarak dan wanita tua tersebut.

“Anda sedang apa di sini?” telisik Ibnu Mubarak.

Wanita tersebut menjawab, namun tidak dengan kalimat standar. Terdengar jelas oleh Ibnu Mubarak, wanita tua ini lagi-lagi membacakan ayat:

مَنْ يُضْلِلِ اللهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ

Artinya: “Barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang bisa memberikan petunjuk kepadanya” (QS al-A’raf: 186).

Aku menjadi tahu, kata Ibnu Mubarak, bahwa wanita ini adalah orang yang sedang tersesat di jalan. Kutanya dia lebih dalam, “Anda ini sebenarnya mau ke mana?”

Ibu tua menjawab:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: “Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS Al-Isra’: 1).

Aku menjadi tahu, ia sudah menjalankan ibadah haji dari kawasan Masjidil Haram, Makkah. Berikutnya, ia hendak melanjutkan perjalanan menuju Baitul Aqsha, Palestina. Aku tanyakan lagi, “Berapa lama anda di sini?”

Ia menjawab:

ثَلَاثَ لَيَالٍ سَوِيًّا

Artinya: “… dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat” (QS Maryam: 10).

Aku bilang kepadanya, “Aku tidak melihat ada makanan di sekitar anda sini.”

Jawabnya:

هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ

Artinya: “Dialah (Allah) yang memberikan makanan dan minuman (kepadaku)” (QS As-Syu’ara’: 79)

“Di sini, anda berwudhu dengan apa?”

فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا

Artinya: “Kemudian kalian tidak menemukan air, maka bertayammumlah dengan debu yang baik [suci]. (QS An-Nisa’: 43)

Ayat ini menunjukkan bahwa dia tidak mendapatkan air, kemudian ia bertayammum memakai debu yang suci. Aku kembali bertanya “Aku membawa bekal makanan. Apakah anda berkenan?”

Dia ternyata berpuasa. Wanita itu menyitir potongan ayat:

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Artinya: “Kemudian sempurnakan puasa kalian sampai masuk malam hari.” (QS Al-Baqarah: 187)

“Loh, ini kan bukan bulan Ramadan. Kenapa anda puasa?”

Dijawab dengan ayat:

وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Barangsiapa mengerjakan kebaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri dan Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 158)

Dengan ayat ini, wanita tersebut dapat diketahui bahwa ia sedang mengerjakan puasa sunnah. “Kita ‘kan diperbolehkan membatalkan puasa ketika bepergian?.” Tanya aku lebih lanjut.

وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: “Puasa kalian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 184)

“Kenapa anda ini tidak mau bicara sebagai aku berbicara kepada anda?”

Jawabnya:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Artinya: “Tidak ada suastu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)” (QS Qaf: 18).

“Dari suku mana anda ini?”

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS Al-Isra’: 36).

Ayat ini menunjukkan bahwa asal usul dia jika dijelaskan, tidak mungkin akan bisa diketahui oleh Ibnu Mubarak.

“Anda saat ini tersesat di jalan yang keliru. Maukan anda aku bantu untuk sampai ke tanah halal (area di luar tanah haram)?.”

Ia menjawab:

لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ

Artinya: “Pada hari ini tidak ada cercaan bagi kalian. Mudah-mudahan Allah mengampuni kalian” (QS Yusuf: 92).

Maksudnya berarti di memberikan akses bantuan penyelamatan ke jalan yang semestinya.

“Mau tidak, jika engkau aku naikkan ke atas unta aku supaya anda ini bisa menyusul rombongan anda?”

Jawab wanita tua:

وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ

Artinya: “Apa pun yang kalian lakukan dari kebaikan, pasti diketahui oleh Allah” (QS Al-Baqarah: 197).

Kemudian aku tundukkan kepada onta aku. Wanita itu tiba-tiba berkata:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ

Artinya: ‘Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya” (QS An-Nur: 30).

Kemudian ku tahan pandanganku menghindar dari memandangnya. Ku katakan kepadanya “Naiklah!”. Saat ia hendak naik, tiba-tiba onta mendadak bangkit dan kemudian lari. Hal ini menyebabkan bajunya sobek. Ia kemudian mengatakan:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

Artinya: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri” (As-Syura: 30).

“Aku mohon anda bersabar. Aku akan menundukkannya kembali.”

Wanita menjawab:

فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ

“Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat)” (QS Al-Anbiya: 79).

Itu tandanya wanita tersebut memahami keadaan. “Kemudian aku tundukkan ontaku. Wanita lalu menaikinya. Setelah berada di atas onta. Ia membaca:

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

“Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami”. (QS Az-Zukhruf: 13-14)

Kupegang kendali unta, aku berjalan sembari berteriak. Wanita itu pun kemudian menegur dengan ayat:

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ

Artinya: “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu” (QS Luqman: 19).

Mungkin maksud dia, tidak boleh kerasa-keras. Kemudian aku berjalan santai, pelan-pelan sambil mendendangkan sebuah sya’ir. Ia pun membaca ayat lain lagi:

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

Artinya: “Karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran” (QS Al-Muzzammil: 20).

Habis itu, aku katakan kepadanya, “Anda ini telah diberikan kebaikan.” Ia menjawab:

وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Artinya: “Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”

Saat aku sejenak sudah jalan, aku tanya dia, “Apakah ada punya suami?.”

Dia menjawab

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu” (QS Al-Maidah: 101).

Habis mendapat jawaban demikian, aku menjadi diam seribu kata. Aku sama sekali tidak berbincang-bincang lagi dengan dia sampai kemudian kita bertemu dengan rombongan dia. Baru setelah itu, saya tanyakan padanya, “Ada siapa kamu yang ada di kafilah itu?”

Dia menjawab:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Artinya: “Harta dan anak-anak merupakan perhiasan dunia” (QS Al-Kahfi: 46).

“Atas jawaban itu, aku menjadi tahu kalau di rombongan tersebut terdapat anaknya. Kutanyakan padanya ‘tugas apa yang ia emban selama perjalanan haji?’”

Jawabnya:

وَعَلَامَاتٍ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ

Artinya: “Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk” (QS An-Najm: 16).

“Saya menjadi tahu, bahwa anaknya menjadi guide rombongan. Lalu saya bawa dia menuju perkemahan. Dia lagi-lagi saya lempari pertanyaan ‘Siapa kamu yang ada di situ?’”

Jawabnya dengan bertubi-tubi:

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Artinya: “Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya” (QS An-Nisa’: 125).

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

Artinya: “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” (QS An-Nisa’: 164).

يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ

Artinya: “Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh” (QS Maryam: 12).

“Seketika itu, aku panggil ‘Ibrahim, Musa, Yahya!. Tiba-tiba saya kedatangan pemudan yang berbinar laksana rembulan. Mereka menerimaku. Setelah aku duduk bersama mereka, wanita yang aku hantarkan tadi membaca ayat:

فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ

Artinya: “Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu” (QS Al-Kahfi: 19).

“Memang, kemudian salah satu di antara anak-anaknya itu kemudian keluar dan kemudian pulang dengan membawa makanan dan disajikan kepadaku. Wanita itu menyuruh:

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ

Artinya: “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu” (QS Al-Hâqqah: 24).

“Sekarang, makanan kalian bagi saya merupakan sesuatu yang haram saya makan sampai kalian memberikan informasi tentang ibu ini yang sebenarnya.”

Di antara mereka ada yang menjelaskan “Iya, begini. Ini adalah ibu kami. Sejak 40 tahun yang lalu beliau tidak berkenan berbicara kecuali dengan Al-Qur’an. Beliau kawatir jika terpeleset yang bisa menjadikan Allah yang Mahakasih marah kepadanya. Maha suci Allah yang kuasa terhadap apa saja yang Ia kehendaki.”

Aku jawab itu “Hal itu merupakan anugerah Allah yang Ia berikan kepada orang yang Ia kehendaki. Allah yang mempunyai anugerah yang Agung.”

Semoga kita bisa mengambil pelajaran, berkah dan manfaatnya. Amin. Wallahu a’lam.

PEMBANTU WALI YANG MENJADI WALI

Namanya adalah Kurdiyyah binti ‘Amr. Masa kelahiran dan kematiannya tidak diketahui.

Menurut Imam Abdurrahman al-Sulami, Kurdiyyah berasal dari Basrah (sekarang Irak) atau Ahwaz (sekarang Iran). Ia mengatakan:

 وكانت من أهل البصرة أو الأهواز

“Kurdiyyah berasal dari Bashrah atau al-Ahwaz” (Imam Abdurrahman al-Sulami, Thabaqât al-Shûfiyyah wa yalîhi Dzikr al-Niswah al-Muta’abbidât al-Shûfiyyât, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003, h. 395).

Sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk melayani seorang sufi besar wanita di zamannya, Sya’wanah al-Ubullah. Untuk lebih mengenal tokoh ini, bisa dibaca di tulisan NU Online lainnya, “Sya’wanah al-Ubullah, Sufi Perempuan yang Selalu Menangis untuk Allah.”

Imam al-Sulami menulis dalam kitabnya:

 وكانت تخدم شعوانة

“Ia mengabdi (atau melayani) Sya’wanah” (Imam Abdurrahman al-Sulami, Thabaqât al-Shûfiyyah wa yalîhi Dzikr al-Niswah al-Muta’abbidât al-Shûfiyyât, 2003, h. 395).

Melayani seorang ulama atau wali meninggalkan kesan berbeda dari sekadar melayani orang kaya atau pejabat. Pengabdiannya tidak didasarkan pada nilai dan angka, tapi pada bakti yang perlahan-lahan mendidik ketulusannya. Pijak landasan inilah yang membuatnya tercerahkan. Ia mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa, interaksi dan pergaulannya dengan Sya’wanah. Ia menyerap banyak hal, mengambil banyak sisi, dan memahami banyak persoalan. Tentu, hal ini mungkin terjadi karena keluarbiasaan Sya’wanah. Ia menampilkan dirinya apa adanya, tanpa menambah citra agar terlihat baik atau menghias diri agar terlihat pantas. Ia hanya berperilaku sebagaimana hati menggerakkannya. Karena pencitraan perilaku tidak akan mudah menyentuh hati secara tetap. Jikapun ia berhasil menyentuh, sentuhannya akan menetap sesaat saja.

Melihat perubahan yang terjadi di diri Kurdiyyah, seseorang bertanya kepadanya. Katanya:

 ما الذي أصابك من بركات خدمة شعوانة؟ قالت: ما أحببت الدنيا منذ خدمتها، ولا اهتممت لرزقي، ولا عظم في عيني أحد من أرباب الدنيا لطمع لي فيه، وما استقصرت أحدا من المسلمين قط

Terjemah bebas: “Apa yang mengenaimu dari berkah melayani Sya’wanah?” Kurdiyyah menjawab: “Aku tidak (lagi) mencintai dunia semenjak melayaninya; aku tidak (lagi) menaruh perhatian pada rezekiku; pandanganku tidak (lagi) kagum terhadap seseorang dari para penguasa dunia karena ketamakanku padanya; aku tidak pernah (lagi) memandang rendah seorang pun dari kaum muslimin” (Imam Abdurrahman al-Sulami, Thabaqât al-Shûfiyyah wa yalîhi Dzikr al-Niswah al-Muta’abbidât al-Shûfiyyât, 2003, h. 395)

Kurdiyyah berubah menjadi pribadi yang lebih baik setelah berkhidmah kepada Sya’wanah. Ia tidak lagi mencintai dunia berlebihan; ia tidak lagi mengkhawatirkan rezekinya hari ini atau esok; ia tidak lagi silau atas kekayaan atau kekuasaan orang lain, dan ia tidak lagi memandang rendah orang lain. Mungkin pandangan Kurdiyyah tidak dapat dimengerti oleh kebanyakan orang. Karena mencintai dunia, mengkhawatirkan rezeki, memiliki ambisi adalah hal yang wajar. Namun, bagi orang seperti Kurdiyyah, tidak mencintai dunia, membuat ringan hatinya. Ia bisa berbagi dengan siapa saja tanpa merasa berat. Ia akan menyerahkan segala yang dimilikinya kepada orang yang membutuhkan tanpa berpikir panjang, seperti yang dilakukan banyak sufi lainnya. Dunia, harta benda dan ambisi hanya berada di tangannya, tidak di hatinya.

Begitupun dengan memandang rendah. Orang yang gemar memandang rendah akan terjebak dalam subjektivitas yang tidak adil. Sebab, pandangannya akan berbasis pada atribut-atribut tertentu. Misalnya, jika orang itu miskin, ia pasti buruk; jika orang itu bodoh, ia pasti tidak beradab, dan lain sebagainya. Cara pandang seperti ini membuat sekat di pikiran manusia. Karena itu, Kurdiyyah mengatakan, “ia tidak pernah lagi memandang rendah muslim lainnya,” karena atribut-atribut negatif tertentu. Ia membebaskan pandangannya karena sejatinya mereka adalah makhluk ciptaan-Nya. Memandang rendah mereka, sama saja dengan memandang rendah Penciptanya.

Jadi, jangan salah artikan ucapannya sebagai diam tanpa usaha, tapi pandanglah ucapannya sebagai pasrah tanpa tanya dan usaha tanpa keluh. Artinya, ia tetap berusaha dengan halal untuk meraih sesuatu, tapi itu bukan tujuan. Tujuannya adalah untuk menggapai ridha Allah, dan bagaimana ia bisa memanfaatkan apa yang telah dicapai dan dihasilkannya. Lalu dapat dengan adil memperlakukan manusia, tanpa memandang mereka dengan tatapan merendahkan. Untuk itu dibutuhkan hati yang lapang dan dermawan, agar tidak mudah teralihkan oleh bisikan duniawi sehingga urung berbagi.

Wallahu a’lam bish-shawwab….

BERUSAHA MENGHINDARI PUJIAN DAN MENDAPATKAN HINAAN

Hamdun bin Ahmad, seorang sufi pendiri tarekat malamatiyah, dari dialah tarekat ini berkembang. Memiliki kunyah Abu Saleh al-Qasshar al-Naisaburi. Hamdun bin Ahmad wafat di tahun 271 Hijriyah di Naisabur, dan dimakamkan di pemakaman al-Khairah.

Jamak kita ketahui bahwa tarekat malamatiyah ini memiliki prinsip menghindari sanjungan dan mencari celaan untuk kesejahteraan rohaninya, karena mereka sadar dan jera bahwa pujian dari manusia akan menjadikan jiwanya terbelenggu oleh rasa kebanggaan.

Ada sebuah kisah, bahwa ketika Syaikh Hamdun bin Ahmad memasuki kota Rayy dalam perjalanannya dari Hijaz, masyarakat kota itu berbondong-bondong menemuinya untuk menunjukkan rasa hormat kepadanya. Namun masyaratkat kota Rayy mengurungkan niatnya untuk menunjukkan rasa hormat kepada Syaikh Hamdun bin Ahmad.

Sebabnya urungnya penghormatan itu lantaran ketika Syaikh Hamdun bin Ahmad sampai di pasar, dengan sengaja beliau mengeluarkan sepotong roti dari lengan bajunya dan mulai memakannya. Orang-orang yang tadi ingin menyanjungnya menjadi pergi dan mencelanya, karena pada saat itu bulan Ramadan.

Syaikh Hamdun bin Ahmad berkata kepada salah seorang muridnya, “Engkau mengerti, begitu aku laksanakan satu hukum, mereka semua menolakku, karena menjadi tidak wajib hukumnya berpuasa bagi orang yang safar atau sakit.”

Berikut pepatah atau adagium yang lahir dari Syaikh Hamdun bin Ahmad;

* مَنْ ظَنَّ نَفْسَهُ خَيْرٌ مِنْ نَفْسِ فِرْعَوْن فَقَدْ أَظْهَرَ الكِبْرَ

(Man zanna nafsahu khoirun min nafsi Firaun faqod azhara al-kibra)

“Barangsiapa mengira dirinya lebih baik dari Firaun, maka saat itulah ia sungguh-sungguh menampakkan kesombongannya.”

* إسْتِعَانَةُ المــَخْلُوقِ بِالمـــَخْلُوْقِ كَاسْتِعَانَةُ المــَسْجُوْنِ بِالمــَسْجُوْنِ

(Isti’anatul makhluqi bil makhluqi kasti’anatul masjuni bil masjuni)

“Makhluk yang berharap pertolongan kepada makhluk, tak ubahnya tawanan yang berharap pertolongan kepada sesama tawanan.” Artinya sia-sia saja.

* لاَيَجْزِعُ مِنَ المــُــصِيْبَةِ إلا مَنْ يَتَّهِمُ رَبَّهُ

(laa tajzi’ min al-mushibati illa man yattahimu rabbahu)

“Tidak sepantasnya seorang hamba cemas akan musibah, kecuali jika ia ragu akan Tuhannya.”

Begitulah cara Syaikh Hamdun bin Ahmad  menjalani laku sufinya, ia mencintai Tuhannya dengan tidak sekalipun berpaling kepada yang lain, termasuk pujian orang. Syaikh Hamdun bin Ahmad sadar sesadar-sadarnya pujian dari manusia akan menjadikan jiwanya terbelenggu oleh rasa narsis, ujub dan takabur. Wallahu A’lam.

DEMI MENGEMBALIKAN PENSIL, SUFI BESAR INI RELA BOLAK BALIK TURKMENISTAN-SIRIA

Abdullah bin Mubarak (W. 797 M) suatu waktu pernah bolak-balik dari Merv (Kini, Turkmenistan) ke Syam (Damaskus) hanya sekadar untuk mengembalikan pena yang dipinjamnya. Berapa jarak yang ditempuh?

Jarak yang ditempuh untuk sekali perjalanannya adalah 2.922 kilometer, hampir setara tiga kali Anyer ke Panarukan. Bin Mubarak menempuhnya dengan jalan kaki,  dengan catatan waktu sekira 591 jam.

“Dari Ahmad b Fadhalah, saya mendengar al-Hasan bin ‘Arafah berkata, Ibnu Mubarak bercerita kepadaku, ‘Aku meminjam sebuah pena kepada seseorang di negeri Syam (Damaskus). Kemudian aku pergi ke sana untuk mengembalikan pena itu ke pemiliknya.

Sesampainya di Merv (tempat tinggal Abdullah bin Mubarak, kini masuk daerah Turkmenistan), ternyata pena tersebut masih ada di tanganku. Aku pun kembali lagi menuju Syam dan mengembalikan pena kepada sang pemiliknya’,” seperti termaktub dalam kitab Tarikh al-Baghdad karya Akhmad bin Ali bin Tsabit yang lebih dikenal dengan sebutan Khatib al-Baghdadi.

Siapa Abdullah bin Mubarak?

Abdullah bin Mubarak dilahirkan di kota Merv, wilayah Asia Tengah, pada tahun 118 H di masa khalifah Umayyah, Hisyah bin Abd Malik. Ia hidup hingga tahun 181 H.

Pujian terhadap sang Sufi ini juga datang dari ulama besar Sufyan at-Tsauri, pendiri mazhab Tsaur. Dikisahkan dari Imran bin Musa at-Thursusi bahwa ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Sufyan at-Tsauri dan mengajukan pertanyaan atas sebuah masalah yang ditimpanya. Sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan si penanya, Sufyan at-Tsauri balik bertanya, “Dari mana asalmu?”.

Ia menjawab, “Daerah Timur.”

Sufyan Al-Tsauri kembali bertanya, “Bukankah di sana ada ulama besar?”

Si penanya balik bertanya, “Siapakah nama ulama yang engkau maksud?”

Sufyan Al-Tsauri menjawab, “Abdullah bin Mubarak!”

Penanya kembali bertanya, “Apakah beliau ulama besarnya daerah Timur?”

Sufyan at-Tsauri menjawab, “Ya. Juga ulamanya bagi penduduk di wilayah Barat!”

Kembali kepada kisah bagaimana Abdullah bin Mubarak menempuh ribuan kilometer hanya untuk mengembalikan pena yang dipinjamnya, tentu ada teladan yang bisa kita petik dari kisah ini: sepele apa pun barang yang kita pinjam adalah milik si empunya yang wajib kita kembalikan.

Dan, ini yang berat, sejauh apa pun jarak yang harus kita tempuh, mestinya tidak menjadi alasan untuk tidak mengembalikan barang yang kita pinjami.