HAL YANG MEMBUAT ALLOH TERSINGGUNG DAN DUA PENGHUNI NERAKA YANG BERDZIKIR

Ketika Allah Tersinggung

 

Salah satu kebiasaan buruk manusia ialah suka membawa-bawa nama Allah untuk kepentingan dirinya. Seolah-olah apa yang ada dalam pikirannya selalu sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah. Padahal sejatinya kadang justru malah berkebalikan. “Ini bisa membuat Allah tersinggung.

 

Ada contoh tentang bagaimana Allah tersinggung bila ada hamba-Nya membawa-bawa nama Allah untuk kepentingan egonya. Salah satu contohnya, di sebutkan dalam Shahih Muslim.

Dikisahkan ada seorang lelaki yang merasa dirinya benar karena ibadahnya.

“Ada orang sedang bersujud. Sujud itu merupakan salah satu ibadah terbaik.”

Ketika orang ini sedang bersujud, ada seorang ahli maksiat yang menginjak kepalanya. Ketika diinjak, dia marah. Saking marahnya, dia bilang, “Fawallahi. Laa yaghfirulllahu laka. Demi Allah. Kamu tidak akan diampuni Allah.”

Merespon kejadian itu, Allah memberi wahyu kepada seorang Nabi. “Beri tahu kepada si Fulan yang sedang sujud itu. Bilang padanya, bagaimana mungkin dia mengatasnamakan sifatku pada seorang hambaku.” Maksudnya dia membawa-bawa nama Allah karena kemarahan dalam dirinya sehingga seolah-olah Allah tidak mungkin mengampuni orang yang menginjak kepalanya.

 “Beri tahu kepada si Fulan kalau Aku mengampuni orang yang menginjak kepalanya dan Aku tidak menerima sujudnya.”

 

Dalam hal ini, para ulama hadits sepakat kalau Allah tidak suka namanya dicatut atau dibawa-bawa oleh orang lain. Apalagi dalam kasus ini. Mana mungkin Allah yang memiliki sifat Ghafuur (dzat yang maha banyak mengampuni) kok tidak mengampuni dosa orang lain. Sedangkan si Fulan malah menuduh Allah tidak mungkin mengampuni. Ini suatu yang sembrono.

 

Betapa saat ini banyak orang yang marah entah karena apa lalu membawa-bawa nama Allah untuk menghakimi orang lain. Ini biasanya dilakukan oleh kelompok ekstremis dan orang yang suka memvonis bid’ah. Jadi kita semua harus berhati-hati. Jangan gampang mengatasnamakan Allah untuk memenuhi ego kita. Maka, kita harus mengaji lagi agar tahu sesuatu yang benar dan yang salah.

 

Dua Penghuni Neraka yang Dimasukkan Surga

Di kisahkan fakta menarik yang dikutip dari kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali. Kisah ini memberikan motivasi kepada umat Islam untuk selalu optimis akan masuk surga dan berpikir positif tentang besarnya rahmat Allah. Selain itu kisah ini juga bisa membuat orang tidak mudah menghakimi orang lain apalagi mendoakan orang masuk neraka.

Dikisahkan ada dua orang hamba Allah yang sudah lama tinggal di neraka. Di neraka, orang tersebut selalu berzikir dengan membaca “Ya Hannan Ya Mannan”. Karena terus berzikir, akhirnya Allah menyuruh Malaikat memanggil dua orang tersebut.

“Berzikir di neraka merupakan sesuatu yang mungkin terjadi sebab jika teriak kesakitan saja bisa maka berzikir juga bisa.”.

Singkat cerita, dua orang ini dibawa ke hadapan Allah dengan keadaan masih dikerangkeng. Lalu Allah bertanya kepada salah satunya, “Bagaimana neraka menurutmu?”

“Ya Allah. Sungguh neraka adalah tempat yang sangat buruk. Tidak ada tempat yang lebih buruk dari neraka,” jawabnya.

“Ya sudah sana kembali ke neraka!” perintah Allah pada orang tersebut.

Orang ini kemudian berlari menuju neraka. Bahkan sangat semangat kembali menuju neraka.

Sikap orang ini aneh sehingga Allah memanggilnya lagi, “Kok kamu semangat sekali kembali ke neraka?”

“Saya sudah kapok, Gusti. Saya menyesal dulu saat di dunia saya lamban dalam melaksanakan perintahmu. Gara-gara itu saya masuk neraka. Saya tidak mau terulang yang kedua kalinya. Mumpung sekarang ada perintah darimu, saya ndak mau melewatkan kesempatan melaksanakan perintahmu ini. Jadi saya harus bersemangat.” jawab orang itu.

Karena demi melaksanakan perintah Allah menuju ke neraka. Padahal sangat menyakitkan baginya, Allah pun memberikan rahmat kepadanya.

“Kalau begitu, sana masuk surga.” kata Allah. Akhirnya ia dimasukkan ke surga oleh Allah.

Allah kemudian menanyai satu orang yang lain, “Bagaimana neraka menurutmu?”

 “Sungguh buruk sekali, Gusti.”

“Ya sudah, sana kembali lagi ke neraka!” Perintah Allah.

Tak seperti orang pertama, orang ini sangat lamban dan lelet disuruh ke neraka. Langkahnya tidak semangat. Allah kemudian menanyainya, “Kenapa kamu lamban sekali?”

 “Saya tidak pernah menyangka kalau bakal disuruh kembali ke neraka. Saya sudah khusnudzan tadi Panjenengan panggil saya ke sini untuk dimasukkan ke surga. Termyata perkiraan saya salah. Dan saya dimasukkan ke neraka lagi,” jawabnya.

Dengan jawaban itu ternyata Allah memasukkan orang ini masuk surga.  “Kamu khusnuzan pada-Ku. Tapi aku masih memasukkanmu ke neraka. Kalau begitu, sana masuk surga.” Akhirnya orang ini pun masuk surga.

Kisah ini seharusnya membuat kita untuk tidak berpikir yang buruk tentang Allah. Apa yang kita pikirkan seringkali berbeda dengan apa yang diputuskan Allah. Bahkan untuk urusan surga dan neraka. Manusia sama sekali tidak bisa menerka-nerka kehendak Allah. Lalu mengapa kita terkadang merasa diri benar sembari menyalahkan bahkan menuding orang lain akan masuk neraka? Allah punya banyak alasan memasukkan orang ke neraka dan surga.

KISAH RAMADHAN : DI SETIAP BULAN RAMADHAN KESIBUKAN MALAIKAT MENINGKAT

            Surga selalu dihias dan diberi harum-haruman dari tahun ke tahun karena masuknya bulan Ramadhan. Pada malam pertama Ramadhan itu, muncullah angin dari bawah Arsy yang disebut al Mutsirah. Karena hembusan al Mutsirah ini, daun-daunan dari pepohonan di surga bergoyang dan daun-daun pintunya bergerak, sehingga menimbulkan suatu rangkaian suara yang begitu indahnya. Tidak ada seorang atau mahluk apapun yang pernah mendengar suara seindah suara itu, sehingga hal itu menarik perhatian para bidadari yang bermata jeli.

Mereka berdiri di tempat tinggi dan berkata, “Apakah ada orang-orang yang melamar kepada Allah, kemudian Allah akan mengawinkannya dengan kami??”

            Tidak ada jawaban dan penjelasan apapun, maka para bidadari itu bertanya kepada malaikat penjaga surga, “Wahai Malaikat Ridwan, malam apakah ini?”

            Malaikat Ridwan berkata, “Wahai para bidadari yang cantik jelita, malam ini adalah malam pertama Bulan Ramadhan!!”

            Para bidadari itu berdoa, “Ya Allah, berikanlah kepada kami suami-suami dari hamba-Mu pada bulan ini!!”

            Maka tidak ada seorangpun yang berpuasa di Bulan Ramadhan (dan diterima puasanya) kecuali Allah akan mengawinkannya dengan para bidadari itu, kelak di dalam kemah-kemah di surga.

            Kemudian terdengar seruan Firman Allah, “Wahai Ridwan, bukalah pintu-pintu surga untuk umat Muhammad yang berpuasa pada bulan ini. Wahai Malik (Malaikat penjaga neraka), tutuplah pintu-pintu neraka untuk mereka yang berpuasa bulan ini. Wahai Jibril, turunlah ke bumi, kemudian ikatlah setan-setan yang jahat dengan rantai-rantai dan singkirkan mereka ke dasar lautan yang dalam, sehingga mereka tidak bisa merusak (mengganggu) puasa dari umat kekasih-Ku, Muhammad!!”

            Para malaikat itu dengan segera melaksanakan perintah Allah tersebut. Itulah sebabnya di dalam Bulan Ramadhan itu kebanyakan umat Islam sangat mudah untuk berbuat amal kebaikan. Suatu hal yang sangat sulit untuk diamalkan pada bulan-bulan lainnya. Gangguan setan (dari kalangan jin) dan hawa panas neraka untuk sementara ditiadakan, hawa sejuk surga yang penuh rahmat dan kasih sayang Allah melimpah ruah membangkitkan semangat untuk terus beribadah kepada-Nya. Musuh yang harus dihadapi tinggal gangguan setan dalam bentuk manusia dan hawa nafsu, yang mereka itu juga telah dilemahkan dengan adanya kewajiban puasa.

            Pada riwayat lain disebutkan, pada malam pertama Bulan Ramadhan itu Allah berfirman, “Barang siapa yang mencintai-Ku maka Aku akan mencintainya, barang siapa yang mencari-Ku maka Aku akan mencarinya, dan barang siapa yang memohon ampunan kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya berkat kehormatan Bulan Ramadhan ini (dan puasa yang dijalankannya) !!”

            Kemudian Allah memerintahkan malaikat Kiramal Katibin (malaikat-malaikat pencatat amalan manusia) untuk mencatat amal kebaikan dari tiga kelompok orang-orang tersebut dan menggandakannya, serta memerintahkan untuk membiarkan (tidak mencatat) amal keburukannya, bahkan Allah juga menghapus dosa-dosa mereka yang terdahulu.

            Pada setiap malam dari Bulan Ramadhan itu, Allah akan berseru tiga kali, “Barang siapa yang memohon, maka Aku akan memenuhi permohonannya. Barang siapa yang kembali kepada-Ku (Taa-ibin, taubat) maka Aku akan menerimanya kembali (menerima taubatnya). Barang siapa yang memohon ampunan (maghfirah) atas dosa-dosanya, maka Aku akan mengampuninya…!!”

            Pada malam yang ditetapkan Allah sebagai Lailatul Qadr, Allah memerintahkan Jibril dan rombongan besar malaikat untuk turun ke bumi. Jibril turun dengan membawa panji hijau yang kemudian diletakkan di punggung Ka’bah. Ia mempunyai 600 sayap, dua di antaranya tidak pernah dipergunakan kecuali pada Lailatul Qadr, yang bentangan dua sayapnya itu meliputi timur dan barat. Kemudian Jibril memerintahkan para malaikat yang mengikutinya untuk mendatangi umat Nabi Muhammad SAW. Mereka mengucapkan salam pada setiap orang yang sedang beribadah dengan duduk, berdiri dan berbaring, yang sedang shalat dan berdzikir, dan berbagai macam ibadah lainnya pada malam itu. Mereka menjabat tangan dan mengaminkan doa umat Nabi Muhammad SAW hingga terbit fajar.

            Ketika fajar telah muncul di ufuk timur, Jibril berkata, “Wahai para malaikat, kembali, kembali!!”

            Para malaikat itu tampaknya enggan untuk beranjak dari kaum muslimin yang sedang beribadah kepada Allah. Ada kekaguman dan keasyikan berada di tengah-tengah umat Nabi Muhammad SAW, yang di antara berbagai kelemahan dan keterbatasannya, berbagai dosa dan kelalaiannya, mereka tetap beribadah mendekatkan diri kepada Allah, tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah. Mendengar seruan Jibril untuk kembali, mereka berkata, “Wahai Jibril, apa yang diperbuat Allah untuk memenuhi permintaan (kebutuhan) orang-orang yang mukmin dari umat Nabi Muhammad ini?’

            Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah melihat kepada mereka dengan pandangan penuh kasih sayang, memaafkan dan mengampuni mereka, kecuali empat macam manusia…!”

            Mereka berkata, “Siapakah empat macam orang itu?”

            Jibril berkata, “Orang-orang yang suka minum minuman keras (khamr, alkohol, narkoba dan sejenisnya), orang-orang yang durhaka kepada orang tuanya, orang-orang yang suka memutuskan hubungan silaturahmi, dan kaum musyahin!!”

            Para malaikat itu cukup puas dengan penjelasan Jibril dan mereka kembali naik ke langit, ke tempat dan cara ibadahnya masing-masing seperti semula.

            Ketika Nabi SAW menceritakan hal ini kepada para sahabat, salah seorang dari mereka berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah kaum musyahin itu?”

            Nabi SAW bersabda, “Orang yang suka memutuskan persaudaraan, yaitu orang yang tidak mau berbicara (karena perasaan marah, dendam dan sejenisnya) kepada saudaranya lebih dari tiga hari!!”

            Malam berakhirnya bulan Ramadhan, yakni saat buka puasa terakhir dan memasuki malam Idul Fitri, Allah menamakannya dengan Malam Hadiah (Lailatul Jaa-izah). Ketika fajar menyingsing, Allah memerintahkan para malaikat untuk turun dan menyebar ke seluruh penjuru negeri-negeri yang di dalamnya ada orang-orang yang berpuasa. Mereka berdiri di jalan-jalan dan berseru, dengan seruan yang didengar oleh seluruh mahluk kecuali jin dan manusia, “Wahai umat Muhammad, keluarlah kamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, yang memberikan rahmat begitu banyak dan mengampuni dosa yang besar!!”

            Ketika kaum muslimin keluar menuju tempat-tempat shalat Idul Fitri dilaksanakan, Allah berfirman kepada para malaikat, “Wahai para malaikat-Ku, apakah balasan bagi pekerja jika ia telah menyelesaikan pekerjaannya??”

            Mereka berkata, “Ya Allah, balasannya adalah dibayarkan upah-upahnya!!”

            Allah berfirman, Wahai para malaikat, Aku persaksikan kepada kalian semua, bahwa balasan bagi mereka yang berpuasa di Bulan Ramadhan, dan shalat-shalat malam mereka adalah keridhaan dan ampunan-Ku!!”

KISAH RAMADHAN : PUASANYA DUA PEREMPUAN YANG SUKA NGEGOSIP

Dikisahkan bahwa pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada dua orang wanita yang berpuasa, lalu ada yang menceritakan perihal keduanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dia berkata, “Wahai Rasulullah, di sini ada dua orang wanita yang berpuasa, keduanya hampir mati karena kehausan.” Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam malah berpaling dan tidak menggubrisnya. Orang itu pun datang lagi kepada beliau dan kembali menceritakan kejadian tersebut. Dia berkata, “Wahai Rasulullah keduanya hampir mati.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Panggil keduanya.” Akhirnya kedua wanita itu pun datang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta untuk diambilkan sebuah ember, lalu beliau bersabda, “Muntahlah!” Maka salah satu dari keduanya pun muntahh, ternyata dia memuntahhkan air nanah bercambur darah sehingga memenuhi setengah ember. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada wanita yang satunya untuk muntah, dan dia pun memuntahkan nanah bercampur darah sehingga ember itu penuh, lalu beliau bersabda, “Kedua wanita ini berpuasa dari apa yang dihalalkan oleh Allah namun malah berbuka dengan yang diharamkan oleh-Nya, keduanya duduk-duduk untuk makan daging manusia.”

Kemasyhuran Kisah

 

Kisah ini cukup masyhur dan banyak disampaikan oleh sebagian penceramah terutama saat bulan Ramadhan untuk memperingatkan kaum muslimin yang sedang berpuasa agar tidak melakukan perbuatan haram semacam menggunjing.

 “Sesungguhnya kedua orang wanita ini berpuasa dari apa yang dihalalkan oleh Allah namun berbuka dengan apa yang diharamkan oleh Allah dan keduanya. Salah seorang dari keduanya duduk pada yang lainnya lalu keduanya memakan daging manusia.”

Kemudian, “Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (5:431) dari seseorang dari Ubaid maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: -lalu rowi hadis ini menceritakan kejadian di atas-. Sanad hadis ini lemah karena ada seorang rowi yang tidak disebut namanya.

Al-Hafizh al-Iraqi (1:211) berkata, ‘Dia seorang yang tidak dikenal.’ Hadis ini juga diriwayatkan oleh ath-Thoyalisi (1:188), beliau berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Robi dari Yazid dari Anas.’ Sanad ini sangat lemah. Robi’ (yang dimaksud) ini adalah Robi’ bin Shobih, dia seorang yang lemah. Sedangkan Yazid (yang dimaksud di sini) adalah Yazid bin Aban ar-Ruqosyi, dia seorang yang matruk (hadisnya ditinggalkan).”

Pelajaran dari Kisah

Pertama

Kendati diketahui bahwa hadis ini lemah, janganlah seorang pun beranggapan bahwa ghibah (menggunjing orang lain) saat puasa diperbolehkan. Pembahasan tentang lemahnya hadis ini sama sekali tidak menunjukkan hal itu. Akan tetapi, perlunya dibahas tentang kelemahan kisah ini hanya untuk menunjukkan bahwa kisah ini tidak boleh dinisbahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengenai masalah ghibah, tidak ada seorang pun yang meragukan bahwa ghibah adalah haram, baik pada saat puasa maupun tidak. Ketika menafsirkan Surat Al-Hujurot ayat 12 di atas, Imam Ibnu Katsir berkata, “Ghibah haram menurut kesepakatan para ulama dan tidak ada perkecualian sedikit pun selain yang lebih kuat masalahnya seperti untuk jarh dan ta’dil atau untuk sebuah nasihat.”

Imam al-Qurthubi berkata, “Para ulama sepakat bahwa ghibah merupakan dosa besar.”

Terlalu banyak dalil yang menunjukkan atas hal itu, di antaranya adalah ayat di atas dan sabda Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Dari Anas beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pada saat di-mi’raj-kan saya melewati suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga, mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka. Maka aku bertanya, ‘Wahai Jibril, siapakah mereka itu?’ Jibril menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang makan daging manusia (berbuat ghibah, pen.) dan mencela kehormatan orang lain’.” (HR. Abu Dawud: 4878, lihat Shohih Targhib: 2839)

Di samping itu, orang yang melakukan ghibah saat berpuasa tidak akan berpahala. Dari Abu Hurairah beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan haram dan malah mengerjakannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya’.” (HR. al-Bukhori)

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa adalah perisai, maka jangan berkata kotor, dan jangan berbuat kebodohan. Jka ada seseorang yang memerangimu atau mencelamu maka katakanlah: ‘saya sedang puasa.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 Kedua

Apakah ghibah membatalkan puasa ataukah tidak? Jawabannya, ghibah dan perbuatan haram lainnya tidaklah membatalkan hakikat puasa. Hanya perbuatan haram tersebut bisa membatalkan atau mengurangi pahala puasa, sebagaimana keterangan di atas. Sementara itu, Imam Ibnu Hazm menganggap bahwa semua perbuatan haram tersebut bisa membatalkan puasa seseorang. Beliau berkata (Al-Muhalla, no. 734), “Puasa juga bisa batal dengan menyengaja berbuat maksiat, apa pun perbuatan maksiat tersebut tanpa ada satu pun yang terkecuali, jika dia melakukannya sengaja dan ingat kalau sedang puasa. Seperti menyentuh atau mencium selain istrinya, berdusta, ghibah, namimah (mengadu domba), sengaja meninggalkan sholat, berbuat zhalim (aniaya), atau perbuatan haram lainnya.”

Namun, yang benar –insya Allah- adalah pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa ghibah tidaklah membatalkan puasa.

Wallahu a’lam.

WASIAT MULIA DARI ORANG MULIA UNTUK PENDUDUK AKHIR ZAMAN

Serangkaian hikmah dan kisah di bawah ini disampaikan oleh seorang yang terkenal dengan nasehat- nasehatnya yang dikemas dalam bentuk Hikmah. Seorang ‘Alim yang telah berhasil mendidik murid-muridnya. Beliau adalah  ‘Arif  Al-Habib Muhammad bin Hadi Assegaf, lahir pada tahun 1291 H di era abad ke-21 ini.

Beliau menggambarkan bahwa bagaimanapun juga rumitnya pengertian baik itu tentang ilmu agama, hikmah dan lain sebagainya, jika disampaikan dalam format kisah-kisah ringan akan lebih mudah dicerna. Beliau tak henti-hentinya mengingatkan khususnya kepada para pemuda untuk selalu rajin dalam menuntut ilmu agama dan tidak bermalas-malasan dalam mengerjakan amal ibadah dan taat kepada Allah SWT.

Suatu hari Habib Muhammad bin Hadi Assegaf menyalakan lampu, beliau berkata: Ini adalah cahaya lahiriyah. Jika lampu ini padam, kita tidak bisa melihat apa-apa dan akan berada dalam kegelapan. Adapun cahaya bathin adalah cahaya di hati yang dinyalakan oleh perasaan cinta dan irfan (ma’rifat). Cinta dan irfan diperoleh karena selalu taat kepada Allah Yang Maha Pengasih. Dalam diri orang yang memiliki cahaya ini akan muncul karomah. Kita ini bukannya berusaha mencari karomah-karomah tetapi malah mematikan cahaya di hati  dengan banyak melakukan maksiat dan sedikit berbuat taat.

Sesunguhnya telah banyak cahaya muncul. Contohnya, Imam Abu Harbah jika keluar dari rumah muncul dari tubuhnya cahaya seperti menara.

Suatu hari ketika Imam Nawawi RA sedang belajar tiba-tiba lampunya mati kemudian dari ibu jari beliau muncul cahaya. Sedang  karomah Imam Rafi’i RA ialah jika lampu mati, pepohonan menyinarinya.

Keramat yang agung ini tidak hanya untuk Imam Nawawi dan Imam Rafi’i saja, akan tetapi untuk semua orang termasuk kita. Ayah dan ibu mereka adalah Adam dan Hawa, mereka makan dan minum seperti kita. Akan tetapi kita tidak menempuh jalan mereka, kita terlalu cinta dunia padahal kita dituntut untuk meninggalkan dunia dan tidak sekali-kali meliriknya. Apa yang harus kita kerjakan justru kita tinggalkan.

Nasehat yang beliau sampaikan juga diantaranya, tanda-tanda cinta seseorang kepada

yang ia cintai adalah Shidq (berlaku benar dan jujur, serta sungguh-sungguh dalam meneladani orang yang ia cintai), baik dalam perbuatan, niat, keyakinan maupun ucapan. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh datuk beliau Al-Habib Umar bin Segaf Assegaf :

لاَ تَدَّعِي فَالصِّدْقُ لَهُ عَلاَئِمْ

“Janganlah engkau mengaku-aku, karena shidq mempunyai tanda-tanda”

Sebagaimana diceritakan oleh beliau tentang seorang Syeikh yang bernama Sya’roni,

suatu ketika beliau hendak menguji kesungguhan cinta para Sahabat-sahabatnya (murid-muridnya). Syeikh Sya’roni menulis permintaan bantuan keuangan di atas lembaran-lembaran kertas. Kertas-kertas itu nanti akan dibagikan kepada para sahabat-sahabatnya dengan kemampuan keuangan mereka masing-masing, ada yang mendapat permintaan sebesar 50 dirham, ada yang 100 dirham, dan ada pula yang 200 dirham. Setelah sahabat-sahabat  Syeikh Sya’roni datang, kertas-kertas tersebut dibagikan. Kemudian mereka membaca angka yang tertulis di kertas itu lalu saling pandang, seraya mengatakan :

“Syeikh meminta berapa dirham ?”, tanya salah satu di antara mereka.

“Ia minta 50 dirham”, jawab salah seorang.

‘Ia meminta 100 dirham”, jawab yang lain.

“Ia minta 200 dirham”, sahut yang lain.

Merekapun heran dengan perbuatan Sang Syeikh, akhirnya sebagian dari mereka memutuskan untuk pulang saja sambil mengatakan, ‘Syeikh kita ternyata cinta dunia’, lalu detik itu juga merekapun memutuskan persahabatannya dengan Sang Syeikh. Adapun sebagian yang lain dari mereka masih tetap berpegang teguh dan menjalin hubungan yang erat dengan Sang Syeikh. Selang beberapa waktu Syeikh Sya’roni merasa lega atas ujian yang telah diberikan kepada sahabat-sahabatnya sembari berkata ; “Jernihlah pikiranku dan tenanglah ibadahku”.

Kini telah terlihat siapa sesungguhanya seorang murid yang mengaku benar-benar tulus dan cinta kepada sosok figur teladannya.

Dan diantara wasiat-wasiat lain yang ditekankan Al-Habib Muhammad bin Hadi Assegaf kepada para penduduk akhir zaman sebagaimana telah disampaikan oleh Ibrahim bin Adham, yaitu :

    Manusia hendaknya menghindari banyak tidur, karena hal itu akan menghapus keberkahan umur.

    Manusia hendaknyamenghindari banyak bicara tentang hal-hal yang tidak bermanfaat, karena itu menyebabkan meninggal dalam keadaan buruk (Su’ul Khotimah).

    Manusia juga hendaknya menghindari banyak makan, karena hal itu menyebabkan seseorang tidak dapat merasakan nikmatnya Ibadah.

    Manusia hendaknya tidak terlalu banyak bergaul dengan masyarakat luas, karena hal itu membuat tidak lurus dalam berpegang teguh terhadap masalah dan urusan agama.

Itulah sedikit nasehat dan hikmah yang telah disampaikan oleh Al-Habib Muhammad bin Hadi Assegaf, bagi kita penduduk akhir zaman ini hendaknya berpegang teguh dan sungguh-sungguh terhadap nasehat dari kaum Salaf, karena jalan hidup dan sepak terjang mereka telah sesuai dengan jalan yang digariskan oleh Kakek Para Salaf yang Agung yaitu Baginda Nabi Besar Muhammad SAW, kiranya yang sedikit ini dapat kita ambil manfaat, semoga dapat menggugah hati yang lalai, dan dapat menambah semangat kita untuk melakukan amal Ibadah sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

KISAH SUFI DAN ANJURAN MENUTUP MAJLIS DENGAN SHOLAWAT

Ada banyak tokoh sufi klasik yang kisah tentangnya jarang terekspos. Salah satunya ialah Syaqiq Al-Balkhi rahimahullahu ta’ala. Beliau putra seorang hartawan yang memutuskan beralih melakoni perjalanan ruhani menjadi seorang zāhid.

Pada mulanya, dalam suatu perjalanan niaga ke Turki, Syaqiq sempat singgah masuk ke sebuah rumah penyembahan berhala. Di dalamnya terdapat banyak sekali berhala dan dilihatnya juga banyak rahib-rahib yang berkepala gundul dan tidak berjenggot.

Lantas Syaqiq Al-Balkhi berjumpa dengan salah seorang pelayan berhala, lalu berkata: “Kamu diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Hidup dan Menghidupimu, Maha Mengetahui dan Maha Kuasa. Maka menyembahlah kepada-Nya, tidak usah lagi menyembah berhala-berhala yang tidak memberikan mudarat maupun manfaat kepadamu!”

Kemudian dengan diplomatis pelayan itu menjawab enteng, “Jika benar apa yang kamu katakan, bahwa Tuhan Maha Kuasa memberi rezeki kepadamu di negerimu sendiri, kenapa Tuan dengan susah payah datang kemari untuk berniaga?”

Syaqiq melongo. Tercengang. Kena skak. Maka terketuklah hati Syaqiq dan untuk selanjutnya menempuh kehidupan zuhud.

Sementara satu kisah lainnya tentang Syaqiq Al-Balkhi, terjadi saat permulaan menempuh perjalanan zuhud. Ia menuju ke suatu daerah. Di sana ia melihat seorang budak sedang asyik bersenang-senang ria di tengah kehidupan perekonomian yang dilanda paceklik dan krisis secara merata—termasuk tuan si budak sendiri.

Kepada si budak itu Syaqiq bertanya, “Apa yang kamu kerjakan? Bukankah kamu tahu orang-orang sedang menderita karena paceklik?”

Budak itu menjawab polos, “Saya tidak mengalami paceklik, Tuan, karena majikanku memiliki perkampungan subur yang hasilnya sanggup mencukupi keperluan kami.” Di fase setelah mendengar rentetan kalimat si budak inilah, Syaqiq mendengar ketukan hati dan bisikan dalam dirinya, “Jika budak tersebut tidak memikirkan rezeki karena majikannya memiliki perkampungan yang subur—toh, padahal si majikan sendiri adalah masih tergolong makhluk yang melarat—maka bagaimana bisa disebut ‘patut’ saat seorang Muslim memikirkan rezekinya dengan berkalang keraguan, sedangkan ia punya Tuhan yang Maha Kaya dan Dermawan?”

Nilai yang tersirat di antaranya bahwa Syaqiq terlalu fokus ke luar dirinya, tapi jarang menengok ke dalam diri sendiri. Kebanyakan “ekstrospeksi”, kurang “retrospeksi” (mengenang kembali, atau wal tandhur nafsun ma qaddamat lighad) dan minim “introspeksi” (muhasabah).

Juga kenyataan implisit yang dirancang oleh Allah, tentang Syaqiq yang tidak akan menjadi seorang zāhid dan tidak akan dikenang sebagai sufi terpandang bila ia tidak bertemu dengan pelayan-berhala dan hamba sahaya dalam kisah. Suatu hal yang perlu ditelusuri kenapa sering kali Allah memperjalankan dan mempertemukan tokoh masyhur di masa kini dengan orang-orang yang seolah kurang penting, seakan-akan figuran, picisan, un-popular, dan bukan tokoh masyhur yang kebak make up, political-camuflage dan pencitraan artifisial. Namun Allah menjadikan ia atau mereka (tokoh cerita yang kita anggap “tak penting” itu) sebagai pemicu kejadian besar penting dan menentukan setelahnya. Sebuah titik balik kehidupan yang tidak main-main hikmahnya.

Sama halnya kisah Nabi Ya’qub dan pertemuannya dengan gelandangan gembel yang sempat ditolaknya di pintu rumah—sehingga seketika itu menuai teguran keras dari Allah.

Kisah Pemabuk Ditinggikan Derajatnya Berkah Shalawat.

Membaca shalawat memiliki keutamaan yang tidak diragukan lagi. Banyak kisah menakjubkan yang dialami oleh ahli shalawat. Nabi menjelaskan bahwa bacaan shalawat yang dibacakan oleh umatnya akan dibalas sepuluh kali lipat. Sebagian ulama bahkan menegaskan shalawat dapat menuntun seseorang menempuh jalan suluk. Shalawat sebagaimana ayat suci Al-Qur’an bernilai pahala dengan membacanya, meski tidak mengerti kandungan artinya, berbeda dengan dzikir-dzikir yang lain.

Ada satu kisah menarik berkaitan dengan keutamaan membaca shalawat. Kisah ini disampaikan oleh Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani dalam kitabnya Tanqih al-Qaul. Syekh Nawawi mengutip cerita ini dari sebagian kaum sufi.

Diceritakan bahwa salah seorang tokoh sufi memiliki  tetangga yang pemabuk. Kegemarannya menenggak minuman keras berada dalam taraf di luar kewajaran, melebihi batas, hingga ia tidak bisa membedakan hari, sekarang, besok atau kemarin. Ia hanyut dalam minuman keras. Pemabuk ini berulang kali diberi nasihat oleh sang sufi agar bertobat, namun ia tidak menerimanya, ia masih tetap dengan kebiasaan mabuknya.

Yang menakjubkan adalah saat pemabuk tersebut meninggal dunia, dijumpainya oleh sang sufi dalam sebuah mimpi, ia berada dalam derajat yang luar biasa mulia, ia memakai perhiasan berwarna hijau, lambang kebesaran dan kemegahan di surga.

Sang sufi terheran-heran, ada apa gerangan? Mengapa tetangganya yang seorang pemabuk mendapat kedudukan semulia itu. Sang sufi bertanya:

بِمَا نِلْتَ هَذِهِ الْمَرْتَبَةَ الْعَلِيَّةَ

Artinya: “Dengan sebab apa engkau memperoleh derajat yang mulia ini?”

Kemudian pemabuk menjelaskan ihwal kenikmatan yang dirasakannya:

حَضَرْتُ يَوْمًا مَجْلِسَ الذِّكْرِ فَسَمِعْتُ الْعَالِمَ يَقُوْلُ مَنْ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَفَعَ صَوْتَهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ ثُمَّ رَفَعَ الْعَالِمُ صَوْتَهُ بِالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَفَعْتُ صَوْتِيْ وَرَفَعَ الْقَوْمُ أَصْوَاتَهُمْ فَغَفَرَ لَنَا جَمِيْعًا فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ فَكَانَ نَصِيْبِيْ مِنَ الْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ  أَنْ جَادَ عَلَيَّ بِهَذِهِ النِّعْمَةِ.

Artinya: “Aku suatu hari menghadiri majelis dzikir, lalu aku mendengar orang alim berkata, barangsiapa bershalawat kepada Nabi dan mengeraskan suaranya, surga wajib baginya. Lalu orang alim tadi mengeraskan suaranya dengan bershalawat kepada Nabi, aku dan jamaah juga menegeraskan suara seperti yang dilakukan orang alim itu. Kemudian Allah mengampuni kita semuanya pada hari itu, maka jatahku dari ampunan dan kasih sayang-Nya adalah Allah menganugerahkan kepadaku nikmat ini.”

                Demikian keagungan dan kehebatan membaca shalawat, hingga dirasakan manfaatnya oleh seorang pemabuk. Kisah tersebut terang saja bukan hendak membenarkan praktik mabuk-mabukan yang memang diharamkan dalam Islam. Cerita itu sekadar merefleksikan keistimewaan shalawat yang bisa mengantarkan seseorang pada samudera kasih sayang dan pengampunan Allah ﷻ. Semoga kita senantiasa diberikan pertolongan oleh Allah untuk istiqamah membaca shalawat dan diakui sebagai umat baginda Nabi MUHAMMAD .                                                                     

Anjuran Menutup Majelis dengan Bershalawat

Sekumpulan orang berkumul di sebuah rumah. Mereka baru saja bersama-sama melakukan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dan beberapa kalimat thayibah. Setelah itu mereka menyantap hidangan yang disiapkan tuan rumah. Usai santap bersama pembaca acara menyampaikan beberapa kalimat sebelum akhirnya menyatakan selesainya acara pada malam itu, lalu memungkasinya dengan salam.

Namun demikian meski acara telah resmi ditutup namun mereka yang hadir tak kunjung bangun dan meninggalkan majelis. Beberapa di antaranya malah saling pandang, seperti ada yang ganjil bagi mereka. Hingga ketika salah seorang di antara mereka menyuarakan dengan lantang kalimat shallû ‘alan Nabiy Muhammad semuanya menjawab dengan lantang pula kalimat Allâhumma shalli wa sallim wa bârik ‘alaih, lalu serempak bangun dan meninggalkan majelis untuk pulang ke rumah masing-masing.

Ya, pemandangan seperti itu jamak dijumpai di masyarakat muslim di Indonesia. Bahwa dalam sebuah perkumpulan acara kenduri atau selamatan mereka yang hadir baru akan bubar ketika dikomando untuk membaca shalawat. Tanpa dishalawati mereka belum mau membubarkan diri atau kalaupun bubar seperti ada yang kurang yang mengganjal di dalam hati. Itulah sebabnya ada yang berkelakar mengatakan bahwa shalawat yang dibaca untuk menutup sebuah majelis disebut dengan “shalawat bubar” atau “shalawat ngusir”.

Apa yang dilakukan oleh masyarakat dan telah menjadi adat kebiasaan ini bukan tanpa sebab dan dasar. Tentunya mereka yang awam melakukan itu mengikuti apa yang diajarkan oleh para ulama atau tokoh masyarakat yang ada. Dan tentunya pula para tokoh masyarakat itu mengajarkan demikian dengan berdasar pada ilmu yang mereka pelajaran dari para gurunya terus berantai hingga Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Imam Sirajudin Al-Husaini di dalam kitabnya As-Shalâtu ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam mengutip beberapa hadits yang berkenaan dengan hal ini. Di antaranya hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi:

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ، وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ، إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً، فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ

Artinya: “Tidaklah suatu kaum duduk di suatu majelis di mana merea tidak berdzikir kepada Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi di dalam majelis itu kecuali majelis itu akan menjadi penyesalan bagi mereka. Bila Allah mau maka akan menyiksa mereka, dan bila Allah mau maka akan mengampuni mereka.” (Sirajudin Al-Husaini, As-Shalâtun ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam, [Damaskus: Maktabah Darul Falah, 1990], hal. 106)

Juga sebuah hadits dari Abu Hurairah:

أيُّما قَوْمٍ جَلَسُوا فأَطالُوا الجُلوسَ ثمَّ تَفَرَّقُوا قَبْلَ أنْ يَذْكرُوا الله تَعَالَى أوْ يُصَلُّوا على نَبِيِّهِ كانَتْ عَلَيْهِمْ تِرَةً مِنَ الله إنْ شاءَ عَذَّبَهُمْ وَإنْ شاءَ غَفَرَ لَهُمْ

Artinya: “Suatu kaum yang duduk-duduk dan melamakan duduknya kemudian mereka berpisah sebelum berdzikir kepada Allah atau bershalawat kepada Nabi-Nya maka duduknya mereka itu akan menjadi kerugian bagi mereka dari Allah. Bila Allah mau maka akan menyiksa mereka dan bila Allah mau maka akan mengampuni mereka.” (Abdur Rauf Al-Munawi, Faidlul Qadîr, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2012], Jil. III, hal. 194)

Dari kedua hadits di atas dapat diambil pelajaran bahwa ketika sekumpulan orang berkumpul dalam sebuah majelis namun mereka tidak berdzikir kepada Allah dan tidak bershalawat kepada Baginda Rasulullah maka majelis itu akan menjadi kerugian dan penyesalan bagi setiap orang yang ada di dalamnya. Mereka merugi dan menyesal karena telah meninggalkan dzikir dan shalawat di dalam majelis sehingga tidak mendapatkan pahalanya. Kelak di hari kiamat Allah bisa saja menyiksa mereka karena perbuatan dosa yang mereka lakukan selama berada di majelis seperti menggunjing dan lainnya. Atau Allah juga bisa saja mengampuni mereka sebagai anugerah dan rahmat dari-Nya.

Sirajudin Al-Husaini menyatakan bahwa disunahkan bagi setiap orang yang ikut duduk di majelis itu untuk berdzikir kepada Allah dengan kalimat tahmid, tasbih, takbir, istighfar dan lainnya, juga untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa Sallam. Kesunahan berdzikir dan bershalawat ini menguat manakala mereka hendak bangun bubar dari majelis.

Kiranya inilah dasar mengapa dalam berbagai acara yang digelar oleh masyarakat muslim Indonesia—terlebih oleh kalangan Nahdliyin—selalu dibacakan shalawat terlebih dahulu sebelum para hadirin bangun membubarkan diri. Ini juga yang menjadi dasar dalam berbagai kegiatan Nahdliyin di dalam susunan acaranya selalu diadakan secara khusus acara pembacaan shalawat setelah dibacakannya ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Wallahu a’lam.

KEAGUNGAN KISAH HIDUP PARA TOKOH SUFI

Imam Al-Ghazali, Hujjah Al-Islam

Karya Imam Al-Ghazali tidak hanya mendahului zamannya, tetapi juga melampui pengetahuan kontemporer mengenai masalah-masalah tersebut. Pada waktu opini disampaikan secara tertulis, dipisahkan apakah indoktrinasi (jelas maupun terselubung) diinginkan atau sebaliknya, juga apakah mutlak atau tidak.

Imam Al-Ghazali tidak hanya menjelaskan apakah orang-orang yang menciptakan kepercayaan, kemungkinan dalam keadaan terobsesi; dengan jelas ia menyatakan, sesuai dengan prinsip-prinsip Sufi, bahwa hal itu bukannya tidak dapat dielakkan secara mutlak, tetapi menegaskan bahwa hal itu esensial untuk manusia agar dapat mengenalinya.

Buku-bukunya dibakar oleh kaum fanatik Mediteranian dari Spanyol sampai Syria. Sekarang ini memang tidak dilempar ke dalam api, tetapi pengaruhnya, kecuali diantara kaum Sufi, mulai melemah; buku-buku tersebut tidak lagi banyak dibaca.

Menurutnya, perbedaan antara opini dan pengetahuan adalah sesuatu yang dapat hilang dengan mudah. Ketika hal ini terjadi, merupakan kewajiban atas mereka yang mengetahui perbedaan tersebut untuk menjelaskannya sebisa mungkin.

Kendati penemuan-penemuan, psikologi dan ilmu pengetahuan Imam Al-Ghazali, dihargai secara luas oleh bermacam kalangan akademis, tetapi tidak diperhatikan sebagaimana mestinya, karena ia (Al-Ghazali) secara spesifik menyangkal metode ilmiah atau logika sebagai sumber asli atau awal. Ia berada pada pengetahuannya melalui pendidikan Sufismenya, diantara kaum Sufi, dan melalui bentuk pemahaman langsung tentang kebenaran yang sama sekali tidak berhubungan dengan intelektual secara mekanis.

Tentu saja, hal ini membuatnya berada di luar lingkaran kalangan ilmuwan. Apa yang lebih menimbulkan penasaran adalah bahwa temuan-temuannya begitu menakjubkan hingga orang akan berpikir, bahwa para penyelidik ingin mengetahui bagaimana dia telah menempuh atau mendapatkannya.

‘Mistisisme’ dijuluki dengan sebutan yang buruk seperti seekor anjing dalam sebuah peribahasa, jika tidak dapat digantung, setidaknya boleh diabaikan. Ini merupakan ukuran pelajaran psikologi: terimalah penemuan seseorang jika engkau tidak dapat menyangkalnya, sebaliknya abaikan metodenya jika tidak mengikuti keyakinanmu akan metode.

Jika Imam Al-Ghazali tidak menghasilkan karya yang bermanfaat, secara alamiah ia akan dihargai hanya sebagai ahli mistik, dan membuktikan bahwa mistisisme tidak produktif, secara edukatif maupun sosial.

Pengaruh Imam Al-Ghazali pada pemikiran Barat diakui sangat besar dalam semua sisi. Tetapi pengaruh itu sendiri menunjukkan hasil suatu pengondisian; para filsuf Kristen abad pertengahan yang telah banyak mengadopsi gagasan Al-Ghazali secara sangat selektif, sepenuhnya mengabaikan bagian-bagian yang telah memperlakukan kegiatan indoktrinasi mereka.

Upaya membawa cara pemikiran al-Ghazali kepada audiens yang lebih luas, daripada kepada Sufi yang terhitung kecil jumlahnya, merupakan perbedaan final antara keyakinan dan obsesi. Ia menekankan peran pendidikan dalam penanaman keyakinan religius, dan mengajak pembacanya untuk mengamati keterlibatan suatu mekanisme.

Ia bersikeras pada penjelasan, bahwa mereka yang terpelajar, mungkin saja dan bahkan sering, menjadi bodoh fanatik, dan terobsesi. Ia menegaskan bahwa, disamping mempunyai informasi serta dapat mereproduksinya, terdapat suatu pengetahuan serupa, yang terjadi pada bentuk pemikiran manusia yang lebih tinggi.

Kebiasaan mengacaukan opini dan pengetahuan, adalah kebiasaan yang sering dijumpai setiap hari pada saat ini, Imam Al-Ghazali menganggapnya seperti wabah penyakit.

Dalam memandang semua ini, dengan ilustrasi berlimpah serta dalam sebuah atmosfir yang tidak kondusif bagi sikap-sikap ilmiah, Imam Al-Ghazali tidak hanya memainkan peranan sebagai seorang ahli diagnosa. Ia telah memperoleh pengetahuannya sendiri dalam sikap aufistik, dan menyadari bahwa pemahaman lebih tinggi—menjadi seorang Sufi—hanya mungkin bagi orang-orang yang dapat melihat dan menghindari fenomena yang digambarkannya.

Imam Al-Ghazali telah menghasilkan sejumlah buku dan menerbitkan banyak ajaran. Kontribusinya terhadap pemikiran manusia dan relevansi gagasan-gagasannya, ratusan tahun kemudian tidak diragukan lagi. Mari kita perbaiki sebagian kelalaian pendahulu-pendahulu kita, dengan melihat apa yang dikatakannya tentang metode. Apakah yang dimaksud dengan ‘Cara Al-Ghazali’? Apa yang harus dilakukan seseorang agar menyukainya, orang yang diakui sebagai salah seorang tokoh besar dunia bidang filsafat dan psikologi?

Menyinggung Tarekat, Imam Al-Ghazali berkata, “Seorang manusia bukanlah manusia jika tendensinya meliputi kesenangan diri, ketamakan, amarah dan menyerang orang lain.”

Ia mengatakan, seorang murid harus mengurangi sampai batas minimun, perhatiannya terhadap hal-hal biasa seperti masyarakat dan lingkungannya, karena kapasitas perhatian (sangatlah) terbatas.

Seorang murid, lanjut Al-Ghazali, haruslah menghargai guru seperti seorang dokter yang tahu cara mengobati pasien. Ia akan melayani gurunya. Kaum Sufi mengajar dengan cara yang tidak diharapkan. Seorang dokter berpengalaman akan menentukan sebuah perlakuan-perlakuan tertentu dengan benar. “Kendati pengamat luar mungkin saja sangat terpesona terhadap apa yang ia katakan dan lakukan; ia akan gagal melihat pentingnya atau relevansi prosedur yang diikuti,” ujarnya.

Inilah mengapa, tidak mungkin bagi murid dapat mengajukan pertanyaan yang benar pada waktu yang tepat. Tetapi guru tahu apa dan kapan seseorang dapat mengerti.

Imam al-Ghazali menekankan pada hubungan dan juga perbedaan antara kontak sosial atau kontak yang bersifat pengalihan dari orang-orang, dan kontak yang lebih tinggi. “Apa yang menghalangi kemajuan individu dan sebuah kelompok orang-orang, dari permulaan yang patut dipuji, adalah proses stabilisasi mereka sendiri terhadap pengulangan (repetisi) dan basis sosial apa yang tersembunyi,” katanya.

Terkait dengan cinta dan ketertarikan diri, Al-Ghazali mengatakan, jika seseorang mencintai orang lain karena memberinya kesenangan, seharusnya ia tidak menganggap bahwa ia mencintai orang tersebut sama sekali. “Cinta pada kenyataannya adalah—kendati hal ini tidak disadari—ditujukan pada kesenangan.”

“Sumber kesenangan merupakan sasaran perhatian sekunder, dan hal itu dirasakan hanya karena persepsi mengenai kesenangan tidak cukup baik dikembangkan untuk mengenali dan menggambarkan perasaan yang sebenarnya,” jelasnya.

Umar Khayyam, Dikenang Tapi tak Dikenal

Umar Khayyam adalah seorang filsuf, ilmuwan dan pelatih penting dalam Sufisme. Namanya terkenal di dalam literatur Eropa, terutama karena Edward Fitzgerald, yang di zaman Victoria telah mempublikasikan beberapa kwartrin Umar dalam bahasa Inggris.

Perlu dicatat, Fitzgerald—seperti banyak para sarjana Timur lain—telah membayangkan bahwa karena Umar Khayyam pada masanya berbicara tentang pandangan-pandangan yang bertentangan secara luas. Ia sendiri adalah korban beberapa perubahan pemikiran.

Sikap ini, yang merupakan karakteristik beberapa akademisi, hanya seperti orang yang berpikir bahwa jika seseorang menunjukkan sesuatu kepadamu, ia harus percaya; dan bila ia menunjukkan beberapa hal kepadamu, ia harus menjadi subyek (sasaran) identifikasi dengan hal-hal tersebut.

Lebih jauh lagi, Fitzgerald sebenarnya bersalah karena miskinnya kapasitas berpikir. Penyisipan (interpolasi)-nya terhadap propaganda anti-Sufi dalam rujukannya tentang Umar Khayyam, tidak dapat dimaafkan bahkan oleh pendukung-pendukung utamanya. Akibatnya, mereka cenderung mengabaikan ketidakjujuran yang luar biasa ini, dan berteriak tentang hal lain.

Puisi-puisi ajaran Umar Khayyam, serta anggota lain dari sekolahnya yang akhirnya menerima materi ini, didasarkan pada terminologi dan kiasan-kiasan (alegori) khusus tentang Sufisme. Sebuah investigasi dan penerjemahan utuh telah dikerjakan oleh Swami Govinda Tirtha pada 1941, diterbitkan dengan judul The Nectar of Grace.

Buku ini sebenarnya merupakan kata akhir pertanyaan mengenai makna materi (sejauh hal itu dapat diubah urutannya dalam bahasa Inggris). Menarik untuk dicatat, bahwa beberapa (tidak banyak) para sarjana Barat telah memanfaatkan karya esensial ini dalam eksposisi mereka tentang Umar Khayyam.

Akibatnya, adalah bahwa secara efektif Umar Khayyam tetap dikenang tetapi tidak terkenal.

Rahasia harus tersimpan dari semua makhluk

Misteri harus tersembunyi dari semua orang bodoh

Lihat apa yang engkau lakukan kepada manusia

Sang Penglihat harus tersembunyi dari semua orang.

Lingkaran dunia ini seperti sebuah cincin

Tidak diragukan lagi kalau kita semua

adalah Naqsy, Rancangan ketetapannya.

Dalam bilik kecil dan beranda biara,

dalam biara Kristen dan gereja Yahudi

Di sini orang takut akan Neraka dan lainnya bermimpi tentang Surga.

Tetapi dia yang tahu rahasia-rahasia Tuhannya

Tidak menanam benih seperti ini dalam hatinya.

Aku minum anggur, dari kanan dan kiri mengatakan

“Minum tidak Minum karena itu adalah menentang Iman.”

Karena Aku tahu anggur menentang Iman,

Demi Tuhan, biarkan aku minum—darah musuh sah bagiku.

Kendati ‘anggur’ dilarang, ini menurut siapa yang meminumnya,

Seberapa banyak, juga dengan siapa mabuk.

Jika tiga syarat ini dipenuhi; bicara jujur

Lalu, jika Sang Bijak tidak minum ‘anggur’,

siapa yang harus?

Mereka yang mencoba mengasingkan diri dan

mereka yang menghabiskan malam dengan doa,

Tidak seorang pun berada di tanah kering, semua di laut.

Seorang terjaga, dan semua yang lain terlelap.

Aku tertidur, dan Sang Bijak mengatakan padaku

“Tidur, mawar kebahagiaan tidak pernah berkembang.

Mengapa kau melakukan sesuatu yang dekat kepada kematian?

Minumlah ‘anggur’, maka kau akan tidur panjang.”

Sahabat, jika engkau tetap berada dalam suatu pertemuan

Engkau harus banyak mengingat Sahabat.

Ketika engkau berhasil minum bersama,

Ketika giliranku tiba, ‘maka baliklah gelasnya’.

Mereka yang telah pergi sebelum kita, Wahai Pembawa cangkir,

Tidur dalam debu harga diri.

Pergilah, minum ‘anggur’, dan dengarkan dariku Kebenaran:

Apa yang mereka miliki hanya dikatakan dalam tangan kita,

Wahai Pembawa-cangkir

Engkau bukanlah emas, orang tidak peduli

Bahwa, sekali diletakkan di bumi, seseorang

Akan membawamu keluar lagi.

Tahukah engkau apakah manusia bumi itu, Khayyam

Sebuah lentera imajinasi, dan berada di dalam lampu.

Jangan Bertangan Hampa

Ambillah beberapa saripati dari Sini menuju Sana

Engkau tidak akan beruntung jika pergi dengan tangan hampa.

Setiap kelompok mempunyai teori tentang aku

Aku adalah diriku; apakah Aku, Aku.

 

Fariduddin Ath-Thar, Si Penyebar Wangi

Nama lengkapnya Fariduddin Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim, namun lebih dikenal dengan sebutan Ath-Thar, si penyebar wangi. Meskipun sedikit yang diketahui tentang riwayat hidupnya, dapat dikatakan bahwa ia dilahirkan pada 1120 Masehi dekat Nisapur, Persia. Berdasarkan catatan pribadinya yang tersebar di sejumlah tulisannya, Ath-Thar melewatkan tiga belas tahun masa mudanya di Meshed.

Suatu hari, konon Ath-Thar sedang duduk dengan seorang kawannya di depan pintu kedainya, ketika seorang darwis datang mendekat, singgah sebentar, mencium bau wangi, kemudian menarik nafas panjang dan menangis. Ath-Thar mengira darwis itu berusaha hendak membangkitkan belas kasihan mereka, lalu menyuruhnya pergi.

“Baik,” kata si darwis. “Tak ada satu pun yang menghalangi aku meninggalkan pintumu dan mengucapkan selamat tinggal pada dunia ini. Apa yang kupunya hanyalah khirka lusuh ini. Tetapi aku sedih memikirkanmu, Ath-Thar. Mana mungkin kau pernah memikirkan maut dan meninggalkan segala harta duniawi ini?”

Ath-Thar menjawab bahwa ia berharap akan mengakhiri hidupnya dalam kemiskinan dan kepuasan sebagai seorang darwis.

“Kita tunggu saja,” kata darwis itu, dan segera sesudah itu ia pun merebahkan diri dan mati.

Peristiwa ini menimbulkan kesan yang mendalam di hati Ath-Thar sehingga ia meninggalkan kedai ayahnya, menjadi murid Syekh Buknuddin yang terkenal, dan mulai mempelajari sistem pemikiran Sufi, dalam teori dan praktik.

Hampir 40 tahun lamanya ia mengembara ke berbagai negeri, belajar di pemukiman-pemukiman para syekh dan mengumpulkan tulisan-tulisan para sufi yang saleh, sekalian dengan legenda-legenda dan cerita-cerita mereka.

Setelah itu Ath-Thar kembali ke Nisapur, di mana ia melewatkan sisa hidupnya. Konon ia memiliki pengertian yang lebih dalam tentang alam pikiran sufi dibandingkan dengan siapa pun di zamannya. Ia menulis sekitar 200.000 sajak, 114 buku, termasuk masterpiece-nya, Musyawarah Burung.

Semasa hidupnya, selain menulis Musyawarah Burung, ia juga menulis prosa yang tak kurang tenarnya; Kenang-Kenangan Para Sufi dan Buku Bijak Bestari. Musyawarah Burung yang ditulis dalam gaya sajak alegoris ini, melambangkan kehidupan dan ajaran kaum sufi.

Kendati Ath-Thar merupakan salah seorang guru sufi besar dalam literatur klasik, dan pengilham Rumi, dongeng dan ajaran-ajaran guru-guru Sufi dalam karyanya Kenang-Kenangan Para Sufi, harus menunggu hampir tujuh setengah abad untuk diterjemahkan dalam bahasa Inggris.

Ath-Thar hidup sebelum Jalaluddin Rumi. Ketika ditanya siapa yang lebih pandai di antara keduanya itu, seorang menjawab, “Rumi membubung ke puncak kesempurnaan bagai rajawali dalam sekejap mata. Ath-Thar mencapai tempat itu juga dengan merayap seperti semut.

Padahal Rumi sendiri berkata, “Ath-Thar ialah jiwa itu sendiri.”

Ajaran-ajaran Ath-Thar banyak disertai gambaran-gambaran biografi, fabel, pepatah dan apologi, yang tidak hanya mengandung ajaran moral tetapi kiasan-kiasan yang menggambarkan tentang tahap-tahap khusus perkembangan manusia. Misalnya dalam Musyawarah Burung, ia membuat sketsa tahap-tahap individual dalam kesadaran manusia, meski hal ini direpresentasikan sebagai kejadian terhadap individu yang berbeda atau terhadap suatu komunitas seluruhnya.

Ath-Thar menggunakan tema suatu ‘perjalanan’ atau ‘pencarian’ sebagai analogi dari tahap-tahap keberhasilan jiwa manusia dalam mencari kesempurnaan.

Tradisi-tradisi sufisme menegaskan bahwa karya Ath-Thar sangat penting, karena dengan membaca secara keseluruhan akan membantu menegakkan struktur sosial dan standar etika Islam. Sementara seleksi-seleksi khususnya mengandung materi inisiator yang tersembunyi oleh bagian-bagian teologikal yang berat.

Ath-Thar menolak untuk menerima tanda jasa dari kaki tangan penjajah Mongolia, di Asia Tengah. Ia dikabarkan wafat di tangan tentara Jengis Khan, setelah membubarkan murid-muridnya—dengan mengirim mereka ke tempat-tempat aman—ketika memprediksi invasi Mongol pada abad ke-13. Ia diperkirakan meninggal dunia sekitar tahun 1230, dalam usia 110 tahun.

Syekh Abdul Qodir Jaelani, Berpegang pada Sunah

Nama Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani adalah Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qodir bin Abi Shalih Zango Dost Al-Jaelani. Ia lahir di Jailan atau Kailan pada 470 H/1077 M, sehingga di akhir namanya ditambahkan kata Al-Jaelani atau Al-Kailani atau juga Al-Jiliydan.

Dalam usia 8 tahun, Abdul Qodir sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada 488 H/1095 M. Ia tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang kala itu dipimpin Ahmad Al-Ghazali, menggantikan saudaranya Abu Hamid Al-Ghazali. Di Baghdad beliau belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khathat, Abul Husein Al-Farra’ dan juga Abu Sa’ad Al-Mukharrimi.

Ia menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut hingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama. Dengan kemampuan itu, Abu Sa’ad Al-Mukharrimi yang membangun sekolah kecil-kecilan di daerah Babul Azaj, menyerahkan pengelolaan sekolah itu sepenuhnya kepada Syekh Abdul Qodir Jaelani.

Ia mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memberikan nasihat kepada orang-orang di sekitar sekolah tersebut. Banyak orang yang bertaubat setelah mendengar nasihatnya. Banyak pula orang yang bersimpati kepadanya, lalu datang menimba ilmu hingga sekolah itu tidak mampu menampung lagi.

Murid-murid Syekh Abdul Qodir banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti Al-Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam, Syekh Qudamah, penyusun kitab fiqh terkenal Al-Mughni.

Syekh Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama beliau selama satu bulan sembilan hari. Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syekh Abdul Qodir sampai ia meninggal dunia.

Menurut Ibnu Qudamah, Syekh Abdul Qodir adalah seorang yang berilmu, berakidah Ahlus Sunnah, dan mengikuti jalan Salafush Shalih. “Beliau dikenal banyak memiliki karamah. Tetapi banyak (pula) orang yang membuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, tarekat (jalan) yang berbeda dengan jalan Rasulullah, para sahabatnya, dan lainnya,” kata Ibnu Qudamah.

Imam Ibnu Rajab juga berkata, “Syekh Abdul Qodir Jaelani memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu makrifat yang sesuai dengan sunnah.”

Beberapa karya Syekh Abdul Qodir Jaelani antara lain Al-Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq dan Futuhul Ghaib. Murid-muridnya mengumpulkan ihwal yang berkaitan dengan nasihat dari majelis-majelisnya. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang dengan sunah. Ia membantah dengan keras terhadap orang-orang yang menyelisihi sunah.

Syekh Abdul Qodir adalah seorang alim, salafi, sunni, namun banyak orang yang menyanjung dan membuat kedustaan atas namanya. Sedangkan ia berlepas diri dari semua kebohongan itu.

Syekh Abdul Qodir Jaelani adalah seorang ulama besar, yang juga dikenal sebagai pendiri sekaligus penyebar salah satu tarekat terbesar di dunia; Tarekat Qodiriyah.

Apabila sekarang ini banyak kaum Muslimin menyanjung-nyanjung dan mencintainya, maka itu adalah suatu kewajaran. Bahkan suatu keharusan. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan derajatnya di atas Rasulullah SAW, maka hal ini merupakan kekeliruan yang fatal. Karena Rasulullah SAW adalah Nabi dan Rasul yang paling mulia di antara para nabi dan rasul. Derajatnya tidak akan terkalahkan di sisi Allah oleh manusia manapun.

Adapun sebagian kaum Muslimin yang menjadikan Syekh Abdul Qodir Jaelani sebagai wasilah (perantara) dalam doa mereka, berkeyakinan bahwa doa seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah, kecuali dengan perantaraannya. Ini juga merupakan kesesatan.

Menjadikan orang yang meninggal sebagai perantara tidak ada syariatnya, dan ini diharamkan. Apalagi kalau ada orang yang berdoa kepada beliau. Ini adalah sebuah kesyirikan besar. Sebab doa merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak diberikan kepada selain Allah.

Allah SWT melarang mahluknya berdoa kepada selain Dia. “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya disamping (menyembah) Allah.” (QS Al-Jin: 18)

Sudah menjadi keharusan bagi setiap Muslim untuk memperlakukan para ulama dengan sebaik mungkin, namun tetap dalam batas-batas yang telah ditetapkan syariat.

Syekh Abdul Qodir Jaelani wafat Sabtu malam selepas Maghrib, pada 9 Rabiul Akhir 561 H/1166 M di daerah Babul Azaj, Baghdad.

Abu Nawas, Penyair Ulung Nan Jenaka

Tuhanku, hamba tidaklah pantas menjadi penghuni surga (Firdaus).

Namun, hamba juga tidak kuat menahan panas api neraka.

Maka perkenankanlah hamba bertobat dan ampunilah dosa-dosa hamba.

Karena sesungguhnya Engkau Pengampun dosa-dosa besar.

Dua bait syair di atas tentu sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia terutama kaum tradisionalis Islam. Beberapa saat menjelang shalat Magrib atau Subuh, jemaah di masjid-masjid atau musala di pedesaan biasanya mendendangkan syair tersebut dengan syahdu sebagai puji-pujian. Konon, kedua bait tersebut adalah hasil karya tokoh kocak Abu Nawas. Ia adalah salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Abu Nawas juga muncul beberapa kali dalam kisah 1001 Malam.

Bagi masyarakat Islam Indonesia, nama Abu Nawas atau Abu Nuwas juga bukan lagi sesuatu yang asing. Abu Nawas dikenal terutama karena kelihaian dan kecerdikannya melontarkan kritik-kritik tetapi dibungkus humor. Mirip dengan Nasrudin Hoja, sesungguhnya ia adalah tokoh sufi, filsuf, sekaligus penyair. Ia hidup di zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814 M).

Selain cerdik, Abu Nawas juga dikenal dengan kenyentrikannya. Sebagai penyair, mula-mula ia suka mabuk. Belakangan, dalam perjalanan spiritualnya mencari hakikat Allah dan kehidupan sejati, ia menemukan kehidupan ruhaniahnya yang sejati meski penuh liku dan sangat mengharukan. Setelah mencapai tingkat spiritual yang cukup tinggi, inspirasi puisinya bukan lagi khamar, melainkan nilai-nilai ketuhanan. Ia tampil sebagai penyair sufi yang tiada banding.

Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang), dengan darah dari ayah Arab dan ibu Persia mengalir di tubuhnya. Ayahnya, Hani Al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.

Masa mudanya penuh yang kontroversi yang membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya juga sarat dengan nilai sprirtual, disamping cita rasa kemanusiaan dan keadilan.

Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga belajar Alquran kepada Ya’qub Al-Hadrami. Sementara dalam Ilmu Hadis, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said Al-Qattan, dan Azhar bin Sa’ad As-Samman.

Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab Al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah.

Di Kufah bakat Abu Nawas digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup bersama orang-orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa Arab.

Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di pusat peradaban Dinasti Abbasyiah inilah ia berkumpul dengan para penyair. Berkat kehebatannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan dengan para bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan para bangsawan inilah puisi-puisinya pada masa itu berubah, yakni cenderung memuja dan menjilat penguasa.

Dalam Al-Wasith fil Adabil ‘Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal di dunia intelektual. Ia hanya dipandang sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan tidak lazim. Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun Al-Rasyid. Melalui musikus istana, Ishaq Al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair istana (Sya’irul Bilad).

Sikapnya yang jenaka menjadikan perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia. Kedekatannya dengan kekuasaan juga pernah menjerumuskannya ke dalam penjara. Pasalnya, suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah. Tentu saja Khalifah murka, lantas memenjarakannya.

Setelah bebas, ia berpaling dari Khalifah dan mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia meninggalkan Baghdad setelah keluarga Barmak jatuh pada tahun 803 M. Setelah itu ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid Al-Ajami. Tetapi, ia kembali lagi ke Baghdad setelah Harun Al-Rasyid meninggal dan digantikan oleh Al-Amin.

Sejak mendekam di penjara, syair-syair Abu Nawas berubah, menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah. Dua bait syair di atas merupakan salah satu syairnya yang dapat dipahami sebagai salah satu ungkapan rasa spiritual yang dalam.

Memang, pencapaiannya dalam menulis puisi diilhami kegemarannya melakukan maksiat. Tetapi, justru di jalan gelap itulah, Abu Nawas menemukan nilai-nilai ketuhanan. Sajak-sajak tobatnya bisa ditafisrkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Meski dekat dengan Sultan Harun Al-Rasyid, Abu Nawas tak selamanya hidup dalam kegemerlapan duniawi. Ia pernah hidup dalam kegelapan—tetapi yang justru membawa keberkahan tersendiri.

Seorang sahabatnya, Abu Hifan bin Yusuf bin Dayah, memberi kesaksian, akhir hayat Abu Nawas sangat diwarnai dengan kegiatan ibadah. Beberapa sajaknya menguatkan hal itu. Salah satu bait puisinya yang sangat indah merupakan ungkapan rasa sesal yang amat dalam akan masa lalunya.

Mengenai tahun meningalnya, banyak versi yang saling berbeda. Ada yang menyebutkan tahun 190 H/806 M, ada pula yang 195H/810 M, atau 196 H/811 M. Sementara yang lain tahun 198 H/813 M dan tahun 199 H/814 M. Konon Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh seseorang yang disuruh oleh keluarga Nawbakhti—yang menaruh dendam kepadanya. Ia dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad.

Sejumlah puisi Abu Nawas dihimpun dalam Diwan Abu Nuwas yang telah dicetak dalam berbagai bahasa. Ada yang diterbitkan di Wina, Austria (1885), di Greifswald (1861), di Kairo, Mesir (1277 H/1860 M), Beirut, Lebanon (1301 H/1884 M), Bombay, India (1312 H/1894 M). Beberapa manuskrip puisinya tersimpan di perpustakaan Berlin, Wina, Leiden, Bodliana, dan Mosul.

Salah satu cerita menarik berkenaan dengan Abu Nawas adalah saat menejelang sakaratul mautnya. Konon, sebelum mati ia minta keluarganya mengkafaninya dengan kain bekas yang lusuh. Agar kelak jika Malaikat Munkar dan Nakir datang ke kuburnya, Abu Nawas dapat menolak dan mengatakan. “Tuhan, kedua malaikat itu tidak melihat kain kafan saya yang sudah compang-camping dan lapuk ini. Itu artinya saya penghuni kubur yang sudah lama.”

Tentu ini hanyalah sebuah lelucon, dan memang kita selama ini hanya menyelami misteri kehidupan dan perjalanan tohoh sufi yang penuh liku dan sarat hikmah ini dalam lelucon dan tawa.

Fatimah An-Nishaburiya

Gelimang harta tak mampu memikat hati Fatimah An-Nishaburiya. Perempuan asal Khurasan, Iran, itu melepaskan diri dari jerat materi dan lebih memilih untuk menyusuri jalan spiritual.

Padahal, ia adalah putri seorang pangeran. Ia mendalami tasawuf dan di kemudian hari menjadi sosok sufi perempuan yang bereputasi tinggi.

Pasangan hidupnya juga seorang sufi ternama, Ahmad bin Khudruya. Ia menawarkan dirinya untuk dinikahi sang sufi tersebut. Utusannya mengirim pesan kepada Ahmad agar melamarnya menjadi istrinya. Ahmad semula tak memberikan respons. Lalu, Fatimah kembali mengirimkan utusannya yang kedua kali.

Ahmad akhirnya tergerak menikahi Fatimah. Pernikahan mereka langgeng. Fatimah bersama suaminya di sepanjang hidupnya. Sementara itu, jalan sufi yang ditempuhnya mengantarkan Fatimah pada pertemuan mengesankan dengan sufi-sufi ternama. Ia bertemu Dzun-Nun Al-Misri, guru dari Mesir dan Bayazid Bistami.

Mereka menjalin serangkaian diskusi bagaimana menjalin cinta dengan Tuhan. Omaima Abou-Bakr, profesor bahasa Inggris dan perbandingan literatur dari Cairo University, mengatakan Dzun-Nun melontarkan pujian kepada Fatimah. Ia menyatakan bahwa Fatimah merupakan sosok sufi sejati, bahkan ia menyebut Fatimah sebagai gurunya.

Sadia Dehlvi dalam artikelnya, Mystic Women, menuliskan, saat seseorang bertanya kepada Dzun-Nun, siapa yang paling tinggi tingkatannya di antara para sufi, ia memberikan jawaban, “Seorang perempuan di Makkah bernama Fatimah An-Nishaburiyah, yang sangat memahami Alquran.”

Dengan cara yang sama, Bistami menyampaikan sanjungannya. “Dalam seluruh hidupku, aku hanya mengenal satu-satunya perempuan yang layak dipuji, dia adalah Fatimah.” Pujian ini didorong oleh kekaguman dan kekagetan Bistami setelah mengetahui ternyata Fatimah bukan hanya mengetahui stasiun-stasiun spiritual.

Fatimah juga telah mereguk pengalaman dari setiap stasiun-stasiun spiritual tersebut. Bistami menarik kesimpulan dari pengamatannya, sebelum Fatimah mengungkapkan soal pengetahuan dan pengalaman spiritualnya. Pemahamannya yang tinggi terhadap konsep tasawuf membuat Fatimah juga pernah mendebat sufi sekelas Dzun-Nun.

 

Suatu saat, Dzun-Nun pernah menolak sebuah pemberian yang dikirimkan Fatimah kepadanya. Ia menegaskan, tak bisa menerima hadiah yang diberikan seorang perempuan. Tak terima pemberiannya ditolak, dengan kata-kata bijaknya Fatimah membuat Dzun-Nun menanggung malu.

Ia meminta Dzun-Nun meninjau kembali konsep-konsep dasar tasawuf yang mungkin dia lupakan. “Seorang sufi sejati tak melihat penyebab sekunder, tetapi selalu mengacu pada pemberi yang abadi, yaitu Tuhan,” kata Fatimah. Dalam persahabatan yang dijalinnya dengan Bistami, Fatimah kerap membicarakan soal jalan-jalan spiritual.

Persahabatan itu terjalin erat hingga pada suatu hari ikatannya agak memudar. Ini bermula dari pertanyaan Dzun-Nun tentang inai pada sepasang tangan Fatimah. Menurut Annemarie Schimmel, dalam bukunya, Jiwaku adalah Wanita, sang sufi memerhatikan salah satu ciri kecantikan Fatimah berupa tahi lalat.

Sumber lain, jelas Schimmel, Dzun-Nun mempertanyakan soal sepasang tangannya yang berhiaskan inai. Lalu, Fatimah menimpali pertanyaan Dzun-Nun. Menurut dia, selama ini diskusi-diskusi yang ia bangun dengan Dzun-Nun diyakini sebagai persahabatan dua jiwa yang bersama-sama menyusuri jalan keilahian.

Namun, setelah Dzun-Nun mempertanyakan hiasan pada tangannya, Fatimah menganggap poros telah bergeser dan kemudian ia telah menjadi objek. Dengan demikian, perhatian tak lagi sepenuhnya pada hal-hal Ilahiah, tetapi juga pada penampilan fisik. Menurut dia, hal yang berbau duniawi telah mencemari persahabatan spiritual itu.

Secara tegas, Fatimah mengatakan pembicaraan spiritual yang bebas tak mungkin lagi bisa berlangsung. Bagi suaminya, Ahmad bin Khudruya, Fatimah juga akhirnya menjadi pembimbing spiritualnya.

Saat Ahmad menampakkan kecemburuan karena Fatimah membangun persahabatan dengan dua sufi lainnya, ia menyampaikan klarifikasinya. “Kau karib dengan diri alamiahku, sedangkan Bayazid dengan jalan spiritualku,” ujar Fatimah memberikan penjelasan kepada suaminya.

Omaima mengatakan, Fatimah merupakan perempuan yang mempunyai keteguhan hati, independen, percaya diri, dan mempelajari tradisi-tradisi sufi secara mendalam.

Di sisi lain, Fatimah pun meninggalkan sebuah paradigma sendiri dalam kehidupan sufi. Sebuah pernikahan tak membuatnya abai dengan jalan spiritual. Ia menjalani perannya sebagai seorang istri dan pejalan rohani dengan baik. Dua hal itu berjalan bersamaan dan tak saling menghapuskan satu sama lain.

Menurut Annemarie Schimmel, Fatimah adalah sosok sufi yang menonjol di antara perempuan sufi yang menikah. Menurut dia, keberadaan Fatimah menunjukkan bahwa para perempuan sufi tak menjalani hidup selibat atau tidak menikah. Ajal menjemput sufi perempuan ini pada 849 Masehi.

TELADAN KEGIGIHAN ULAMA SALAF DI SAAT MENCARI ILMU BELAJAR AGAMA

Kegigihan para ulama’ salaf ketika mencari ilmu

  1. Abu Yusuf berkata :

“Putraku meninggal dan aku tidak menghadiri pemakamannya, kutinggalkan dia kepada kerabat dan tetanggaku karena aku kuatir tertinggal pelajaran dari Abu Hanifah, dimana penyesalan karena tertinggal pelajaran tidak bisa hilang dariku. ”

#Manaqib Abu Hanifah (1/472)

 

  1. Abu Ja’far bin Nufail berkata :

“Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Ma’in mendatangi kami, kemudian Yahya merangkulku sambil bertanya :

“wahai abu ja’far apakah engkau pernah membaca didepan ma’qol bin ubaidillah dari dari ‘atho’, bahwa paling sedikitnya waktu orang yg haid adalah sehari ?”

Ahmad bin Hambal berkata : “Mengapa kau tidak duduk dulu !”

Yahya menjawab : “aku khawatir wafat sebelum mendengar jawaban dari Ja’far.”

#Tarikh dimasyqo (32/353)

 

  1. Muhammab bin Hubaib berkata :

“Kami dulu menghadiri majlisnya Abi Ishaq ibrahim bin ali al hujaimi untuk mendengarkan hadits, dan beliau biasanya duduk di teras atas rumahnya.

Jalan-jalan besar daerah Hujaim penuh sesak dengan manusia yg menghadiri majlis beliau utk mendengarkan haditsnya .

Biasanya saya bangun di waktu sahur dan ternyata di sana orang2 telah mendahuluiku dan mereka telah mengambil tempat masing2.

Tempat yg digunakan duduk oleh orang2 itu dihitung dan diperkirakan jumlahnya sekitar 30. 000 tempat duduk.”

#Al Jaami’ liakhlaqir rowi (2/57)

 

  1. Ibnu Syihab Az Zuhri berkata :

“Dalam jangka waktu 45 tahun aku sering pulang pergi antara negara Syam dan Hijaz, maka tidaklah ku temukan satu hadits yg kuangggap jauh tempatnya!”

#Hilyatul auliya’ (3/362)

 

  1. Yahya bin Sa’id al qotton berkata :

“Dulu biasanya aku berangkat belajar sebelum pagi dan aku tidak pulang dari belajar sampai waktu Isya’ ”

#Al Jami’ liakhlaqir rowi (1/150)

 

  1. Dikisahkan dari Tsa’lab -ahli bahasa- beliau tidak pernah berpisah dari kitab utk belajar. ketika seseorang mengundangnya utk hadir di rumahnya, maka beliau memberikan syarat yaitu disediakan tempat khusus yang agak luas agar bisa meletakkan kitab untuk membaca.

#Al hits ala tolabil ilmi ص76)

 

  1. Umar bin Hafs al asyqor berkata :

“Kami dulu bersama Al Bukhori di bashroh untuk menulis, kemudian dalam beberapa hari kami kehilangan beliau, lalu kami temukan beliau dalam sebuah rumah dalam keadaan telanjang dan telah habis semua miliknya, akhirnya kami mengumpulkan uang untuk beliau dan kami memberikan pakaian untuknya”

#Tarikh Dimasyqo (52/58)

 

  1. Al Hafidz abdurrahman bin Yusuf berkata :

“Aku pernah meminum air seniku sendiri sebanyak lima kali, ketika aku belajar hadits ”

al khotib berkata : “beliau melakukan hal itu karena darurat, dalam perjalanan dan tidak ada air sama sekali ”

#Tarikh Baghdad (10/280)

 

  1. Kholaf bin Hisyam berkata :

“Aku pernah kesulitan pada satu bab dari ilmu nahwu, maka ku infakkan uangku sebanyak 80.000 dirham hingga akhirnya aku mahir dalam bab yg sulit itu”

#Siyaru a’lamin nubala’ (10/578)

 

  1. Imam ahmad bin hambal berkata :

“Seringkali aku ingin berangkat pagi2 sekali ke majlis hadits tapi ibuku memegang bajuku dan berkata :

“Jangan pergi dulu sampai orang2 adzan dan sampai pagi menjelang ”

dan seringkali aku berangkat pagi2 sekali ke majlisnya Abi Bakar bin ‘iyasy dan selainnya. ”

#Al Jami’ liakhlaqir rowi (1/151)

 

KISAH SUFI : SHAHABAT SA’AD RA MEMINTA UMUR PANJANG

Keistimewaan sejumlah ulama sebagai pewaris para Nabi dalam kajian tasawuf berfungsi untuk memperkuat keimanan umat Muslim. Lain dengan mukjizat para Nabi yang levelnya lebih tinggi yaitu di antaranya untuk menunjukkan kekuasaan Allah SWT melalui utusannya.

Riwayat karomah (keistimewaan) ulama dimaksud banyak menjadi pelajaran yang tertulis di dalam berbagai kitab. Karomah yang dimiliki oleh wali itu tidak hanya nampak ketika hidup saja. Tetapi setelah wafat, waliyullah masih diberi karomah.

Dan bagi pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah, kepercayaan terhadap adanya waliyullah dan karomah itu perlu diyakini secara baik. Bahkan empat imam madzhab sudah bersepakat mengenai karomah yang ada para wali ketika hidup maupun sudah wafat.

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan dalam karyanya Secercah Tinta (2012) mengungkapkan, banyak Nabi-nabi dari Bani Israil dengan mukjizatnya bisa menghidupkan orang mati. Lalu bagaimana umatnya Rasulullah SAW? Umat Rasulullah pun sama.

Jika pada Bani Israil ada Nabi yang bisa menghidupkan orang mati, maka umat Nabi SAW pun bisa menghidupkan orang mati dengan karamahnya, seperti Syekh Abdul Qadir Jailani, sebagaimana disebutkan dalam manaqib-nya. Demikian juga Imam Yahya bin Hasan yang juga keturunan Syekh Abdul Qadir Jailani akhirnya disebut Bin Yahya. Karomah-karomahnya juga bisa menghidupkan orang mati.

Selain itu, Imam Al-Ghazali termasuk ulama masyhur yang memiliki banyak riwayat keistimewaan. Konon, Al-Ghazali dikehendaki masuk surga karena menolong seekor lalat yang kecebur dalam wadah tinta yang digunakannya untuk menulis kitab.

Diceritakan oleh KH Abdul Moqsith Ghazali (2018), Imam Al-Ghazali pernah berdoa kepada Allah. Dalam doanya, ia berharap kitab yang ditulisnya, Ihya’ Ulumiddin lebih terkenal dibanding kuburannya. Doa tersebut dikabulkan. Saat ini kitab tersebut dikaji di berbagai pesantren dan perguruan tinggi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Sebaliknya, kuburan Al-Ghazali tidak banyak yang tahu. Bahkan menurut Kiai Moqsith yang pernah berkunjung ke makam Al-Ghazali, kuburan penulis Kitab Tahafutul Falasifah itu terlihat apa adanya karena baru beberapa tahun belakangan ditemukan. Artinya, selama ratusan tahun yang ramai diziarahi selama ini bukan makam Al-Ghazali.

Salah seorang kiai pesantren yang dikenal mempunyai keistimewaan ialah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bahkan, Gus Dur tak hanya masyhur tulisan-tulisannya, tetapi juga kuburannya yang diziarahi ribuan orang setiap hari. Nilai-nilai kemanusiaan yang dikembangkan oleh Gus Dur membuatnya tak hanya diziarahi umat Islam, tetapi juga masyarakat dari berbagai kalangan dan agama.

Kiai Moqsith yang juga dikenal dekat dengan Gus Dur saat masih hidup menuturkan, dahulu Gus Dur ditawari umur 90 tahun oleh malaikat. “Buat apa sih umur panjang-panjang, yang sedang sajalah 69 tahun. Akhirnya benar Gus Dur wafat pada usia tersebut,” ungkap Kiai Moqsith saat mengisi forum ilmiah tentang moderasi Islam di Bogor, Jawa Barat baru-baru ini.

Kisah tersebut muncul ketika Kiai Moqsith juga menjelaskan riwayat salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, Sa’ad bin Abi Waqash RA. Saat itu sahabat Sa’ad didatangi malaikat pada umur 42 tahun dan ingin mencabut nyawanya.

Seketika sahabat Sa’ad RA protes kepada malaikat, karena anak-anaknya yang masih kecil. Akhirnya, sahabat Sa’ad RA berdoa meminta kepada Allah dan diberikan umur panjang. Dikabulkan oleh Allah, 84 tahun baru meninggal. Kuburan sahabat Sa’ad RA berada di Kota Guangzhou, Tiongkok (China) dan ramai diziarahi banyak orang dari mancanegara.

Gus Dur dan Rumi

Gus Dur meninggal setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Cipto Manungkusumo (RSCM) Jakarta. Baik dalam kondisi dirawat dan setelah kepergiannya, orang-orang tidak pernah berhenti mengunjungi Gus Dur.

Bahkan, padatnya pentakziah yang tidak terhitung jumlahnya dari berbagai daerah di Indonesia turut mengantar jenazah putra sulung KH Wahid Hasyim tersebut ke tempat peristirahatan terakhir di komplek makam keluarga Tebuireng, Jombang.

Tebuireng saat itu tumpah ruah penuh dengan orang-orang yang ingin menyaksikan proses dikebumikannya Gus Dur. Pesantren Tebuireng penuh dan sesak. Begitu juga jalanan utama di depan pesantren terlihat manusia berbondong-bondong ingin ikut mengantar Gus Dur.

Di luar sana, tidak hanya teman-teman Muslim yang memadati masjid, musholla, dan majelis-majelis untuk mendoakan Gus Dur, tetapi juga teman-teman dari agama Konghucu, Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha turut meramaikan rumah ibadah masing-masing untuk mendoakan Gus Dur. Bahkan, mereka memajang foto Gus Dur di altarnya masing-masing.

Kini, pemikiran, gagasasn, tulisan, dan pergerakan sang zahid Gus Dur yang di batu nisannya tertulis, Here rest a Humanist itu tidak pernah kering meneteskan dan mengguyur inspirasi bagi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara di Republik ini. Begitu juga makamnya yang hingga sekarang terus ramai diziarahi.

KH Husein Muhammad Cirebon dalam buku karyanya Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus (2015) mengungkapkan persamaan kondisi wafatnya Gus Dur dengan kepergian salah seorang penyair sufi masyhur, Maulana Jalaluddin Rumi dari Konya, Turki.

Kepulangan Rumi ke Rahmatullah dihadiri beribu-ribu orang yang mengagumi dan mencintainya. Saat itu, di antara mereka yang berduka ialah para pemimpin, tokoh-tokoh penganut Yahudi, Kristen berikut sekte-sektenya, segala madzhab-madzhab pemikiran, serta rakyat jelata yang datang dari pelosok-pelosok dan sudut-sudut bumi yang jauh.

Gambaran singkat dari kepergian dua zahid (manusia dengan maqom zuhud) yang disambut iringan ribuan orang dari berbagai penjuru serta didoakan pula dari segala penjuru menunjukkan sebuah cinta dan kasih sayang. Rasa tersebut mengkristal dari seluruh komponen masyarakat sebagai wujud cinta dari dua zahid kepada semua manusia ketika hayat masih dikandung badan.

Kiai Husein menuturkan, Gus Dur, Maulana Rumi, dan para wali Allah merupakan orang yang selama hidupnya diabdikan untuk mencintai seluruh manusia, tanpa pamrih apapun. Mereka memberikan kebaikan semata-mata demi kebaikan itu sendiri, bukan bermaksud kebaikan tersebut kembali kepada dirinya.

Cara hidup demikian diungkapkan dalam sebuah puisi indah gubahan sufi besar dari Mesir, pengarang Kitab Al-Hikam, Ibnu Athaillah As-Sakandari yang sering dikutip Gus Dur dalam banyak kesempatan:

“Idfin wujudaka fil ardhil khumuli, fama nabata mimmaa lam yudfan laa yutimmu nitaa juhu”

(Tanamlah wujudmu di tanah yang tidak dikenal, karena sesuatu yang tumbuh dari benih yang tak ditanam, buahnya tidak sempurna).

KEHEBATAN IMAM ABU YAZID AL BUSTHOMI KETIKA MASIH KECIL SUDAH QIYAMUL LAIL

Syekh Ibnu Zhafar al-Makki mengatakan,

“Saya dengar bahwa Abu Yazid Thaifur bin Isa al-Busthami radhiyallahu ‘anhu ketika menghafal ayat berikut:

“Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil.” (QS. Al-Muzzammil: 1-2)

Dia berkata kepada ayahnya, ‘Wahai Ayahku! Siapakah orang yang dimaksud Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat ini?’ Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Yang dimaksud ialah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Dia bertanya lagi, ‘Wahai Ayahku! Mengapa engkau tidak melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya qiyamul lail terkhusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diwajibkan baginya tidak bagi umatnya.’ Lalu dia tidak berkomentar.”

“Ketika dia telah menghafal ayat berikut:

‘Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.’ (QS. Al-Muzzammil: 20)

Lalu dia bertanya, ‘Wahai Ayahku! Saya mendengar bahwa segolongan orang melakukan qiyamul lain, siapakah golongan ini?’ Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Mereka adalah para sahabat –semoga ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu terlimpa kepada mereka semua.’ Dia bertanya lagi, ‘Wahai ayahku! Apa sisi baiknya meninggalkan sesuatu yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya?’ Ayahnya menjawab, ‘Kamu benar anakku.’ Maka, setelah itu ayahnya melakukan qiyamul lail dan melakukan shalat.”

“Pada suatu malam Abu Yazid bangun, ternyata ayahnya sedang melaksanakan shalat, lalu dia berkata, ‘Wahai ayahku! Ajarilah aku bagaimana cara saya bersuci dan shalat bersamamu?’ Lantas ayahnya berkata, ‘Wahai anakku! Tidurlah, karena kamu masih kecil.’ Dia berkata, ‘Wahai Ayahku! Pada hari manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya, saya akan berkata kepada Rabbku, ‘Sungguh, saya telah bertanya kepada ayahku tentang bagaimana cara bersuci dan shalat, tetapi ayah menolak menjelaskannya. Dia justru berkata, ‘Tidurlah! Kamu masih kecil’ Apakah ayah senang jika saya berkata demikian?’.” Ayahnya menjawab, ‘Tidak. Wahai anakku! Demi Allah, saya tidak suka demikian.’ Lalu ayahnya mengajarinya sehingga dia melakukan shalat bersama ayahnya.”

SYAIKH ABDUL QODIR AL JAILANY BERDIALOG DENGAN MALAIKAT MAUT

Syekh Abdul Qadir Jailani menuturkan:

Imam Junaid Al-Baghdadi rahimahullah sering kali mengatakan :

“Apa yang dapat kuperbuat terhadap diriku? Aku ini hanya seorang hamba dan milik Majikanku.”

Dia telah menyerahkan dirinya kepada Allah, tidak memiliki pilihan lain selain terhadap-Nya dan tidak mengusik-Nya. Junaid telah rela dengan apa pun yang ditakdirkan kepadanya. Hatinya telah menjadi baik dan nafsunya telah tenang.

Dia telah mengamalkan firman Allah Azza wa Jalla,

 إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ ۖ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

“Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (QS Al-‘Araf: 196)

Pada suatu malam, aku mengingat kematian, dan aku menangis dari awal malam hingga waktu sahur

tiba. Aku berdoa, “Ya Tuhanku, aku mohon kepadamu agar malaikat maut tidak mencabut nyawaku,

tapi Engkau sendiri yang mencabutnya.

” Kemudian, aku tertidur, lalu aku bermimpi melihat seorang tua yang mengagumkan dan menawan. Dia kemudian masuk dari arah pintu, dan aku bertanya kepadanya: “Siapakah engkau?”

Lalu, dia menjawab, “Aku malaikat maut.”

Aku katakan kepadanya, “Aku telah meminta kepada Allah agar Dia sendiri yang mencabut nyawaku,

bukan engkau yang akan mencabutnya.”

Malaikat itu balik bertanya, “Lalu mengapa engkau meminta hal itu? Apa dosaku? Aku hanyalah hamba yang mengikuti perintah. Aku diperintahkan bersikap lemah lembut terhadap suatu kaum dan bersikap kasar kepada kaum yang lainnya.” Kemudian, dia memelukku dan menangis, maka aku pun menangis bersamanya.

Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata :

“Betapa banyak hati yang terbakar oleh kecintaan kepada dunia, padahal di dadanya ada Al-Quran. Sementara, banyak orang saleh yang selalu bangun malam mendirikan shalat malam, beramar makruf nahi munkar. Tangan mereka itu terbelenggu oleh sikap wara’ sehingga meninggalkan dunia, dan keinginan mereka mencari Tuhan mereka begitu kuat. Maka, infakkan harta kalian kepada mereka itu. Sebab, di kemudian hari mereka itu akan mendapatkan kekuasaan di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.”