KISAH SUFI : AHLI SUFI YANG RUMAHNYA BANYAK LAFADZ ALLOH SWT.

Abu Saʻid al-Mihani, lahir di tahun 357 H, memiliki nama asli Faḍlullah bin Ahmad bin Ali al-Mihani. Nama Abu Saʻid adalah kuniyahnya, sedangkan al-Mihani di belakang namanya disandarkan pada daerah asalnya, Mihanah. Catatan Ibnu Mulqan dalam Ṭabaqat al-Ṣūfiyah menginformasikan bahwa kota ini terletak di antara daerah Sarakhs (ﺳﺮﺧﺲ) dan Abyurd (ﺃﺑﻴﻮﺭﺩ)

Abu Saʻid al-Mihani terkenal sebagai sosok zahid nan alim, bahkan dalam Ṭabaqat al-ʼAuliyaʼ, Fariduddin al-Atthar mengatakan bahwa Abu Saʻid al-Mihani hafal 30.000 bait syiʻir Arab, memahami ilmu tafsir, hadis, fikih, serta mendalami ilmu tarekat. Abu Saʻid al-Mihani menghembuskan nafas terakhirnya di tahun 440 Hijriyah di Mihanah.

Terkait dengan kewalian Abu Saʻid al-Mihani, nampaknya sang ayah telah mendapat isyarat dari Syekh Abu al-Qasim bin Bisyr, seorang ulama besar pada waktu itu. Isyarat itu diperoleh sang ayah ketika Abu Saʻid al-Mihani masih kanak-kanak. Bahkan dalam sebuah kisah, sang ayah pernah dibuat terkagum-kagum atas jawaban-jawaban Abu Saʻid al-Mihani ketika ditanya oleh sang ayah. Berikut kisahnya;

Alkisah, ayah Abu Saʻid al-Mihani merupakan seorang tukang minyak wangi. Sang ayah berteman dekat dekat dengan raja yang berkuasa pada saat itu, Raja Mahmud al-Ghazi. Bahkan saking dekatnya, sampai-sampai ketika sang ayah mendirikan rumah yang begitu megah, sang ayah lalu melukis tembok-tembok rumahnya dengan gambar sang raja lengkap beserta bala tentaranya. Kala itu Abu Saʻid al-Mihani masih kecil.

Melihat sang ayah yang melukiskan gambar raja pada tembok-tembok rumahnya, tetiba Abu Saʻid al-Mihani merengek minta dibuatkan rumah kepada ayahnya. Dibangunlah rumah untuk Abu Saʻid al-Mihani, dan jadilah rumah itu.

Seusai rumah Abu Saʻid al-Mihani berdiri tegak, ia pun lantas menempatinya, dan lalu melukis seluruh tembok rumahnya dengan bertuliskan lafaẓ Allah. Tak ada satu bagian dinding pun yang tidak belukiskan lafaẓ Allah.

Melihat apa yang dilakukan Abu Saʻid al-Mihani pada tembok rumahnya, sang ayah lalu bertanya,

“Wahai anakku! Mengapa kau lukis seluruh tembok rumahmu dengan lafaẓ Allah?” tanya sang Ayah.

“Wahai ayah! Engkau melukis seluruh tembok rumahmu dengan gambar rajamu (Raja Mahmud al-Ghazi), sedangkan aku melukis seluruh tembok rumahku dengan nama rajaku (Allah),” timpal Abu Saʻid al-Mihani kepada ayahnya.

Mendengar jawaban Abu Saʻid al-Mihani yang sungguh di luar dugaan, sang ayah terheran dan terkagum-kagum. Sang ayah lantas menyesal dan menghapus lukisan bergambarkan Raja Mahmud al-Ghazi di seluruh tembok rumahnya. Sejak peristiwa itu sang ayah bertambah cinta kepada anaknya, Abu Saʻid al-Mihani.

Berikut quote sufistik Abu Saʻid al-Mihani yang menurut penulis sangat susah untuk dimengerti;

“لِكُلٍّ مِنَ الخَلآئِقِ مُرَادٌ، وَمُرَادِيْ أَنْ لَا يَكُوْنَ لِيْ مُرَادٌ”

“Likullin min-al-khalāiqi murādun, wa murādī ʼan lā yakūna lī murādun.”

“Setiap individu makhluk memiliki keinginan atau maksud masing-masing, dan keinginanku adalah agar aku tidak memiliki keinginan.”

Kapasitas penulis sekadar mengartikan quote indah itu, soal tafsiran-tafsirannya silakan para sufi yang menjelaskan, lebih-kurangnya mohon dimaafkan. Sekian.

KISAH SUFI : AHLI TASAWUF YANG DI BAWAKAN UANG OLEH KEPITING

Orang-orang saleh dan para waliyullah mempunyai banyak karomah yang tidak banyak diketahui oleh manusia biasa. Bahkan jika ada seseorang yang mengetahuinya, ia akan disuruh untuk tidak menyebarkannya kepada khalayak umum. Sebagaimana karomah yang dimiliki oleh Khair an-Nassaj yang dijelaskan oleh Abu Nu’aim al-Ashfahani dalam kitabnya Hilyatul Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya’. Dari sebuah riwayat yang bersumber dari kabar al-Hasan bin Ja’far, dan al-Hasan bin Ja’far mendapatkan kabar tersebut dari Abdullah bin Ibrahim al-Jurairi.

Bahwasanya Abu al-Khair ad-Dailami pernah berkata,  “ketika aku sedang duduk dengan Khair an-Nassaj. Ada seorang wanita yang menemuinya.” Wanita tersebut lalu berkata, “berikanlah kerudung yang aku titipkan kepadamu.” “baik.”, jawab an-Nassaj dengan singkat.

An-Nassaj kemudian memberikan kerudung kepada sang wanita yang menemuinya. Dan sang wanita lalu bertanya, “berapa harganya?” “dua dirham”, jawab an-Nassaj. Wanita tersebut kemudian berkata, “pada saat ini, aku tidak mempunyai apa-apa. aku juga telah mendatangimu berkali-kali, akan tetapi aku tidak pernah melihatmu. Besok Insya Allah aku akan kembali untuk memberikan bayarannya kepadamu.”

Mendengar ucapan wanita tersebut, an-Nassaj sontak berkata, “jika kamu datang ke sini dengan membawa bayaran tersebut, tapi kamu  tidak bertemu denganku, maka lemparkanlah bayaran tersebut ke sungai Dijlah. Jika aku sudah kembali, aku akan mengambilnya.” Dengan rasa heran, sang wanita kembali berkata, “bagaimana kamu mengambilnya dari sungai Dijlah?”, Khair lalu menjawab, “kamu itu terlalu banyak tanya, lakukanlah apa yang aku perintah.” “insya Allah”, jawab sang wanita.

Keeseokan harinya, Abu Khair al-Dailamy datang kembali untuk bertemu dengan Khair an-Nassaj. Namun, Khair an-Nassaj telah pergi. Dan selang beberapa saat, sang wanita yang masih mempunyai tanggungan dengan Khair an-Nassaj juga datang dengan membawa sobekan kain yang isinya adalah uang dua dirham. Ia lalu duduk sebentar, kemudian melemparkan kain yang berisi uang tersebut ke sungai Diljah karena tidak bertemu dengan Khair an-Nassaj. Tak lama setelah kain dilempar, ada seekor kepiting yang menyeret kain tersebut lalu menyelam ke dalam sungai.

Tak lama setelah kejadian tersebut, Khair an-Nassaj datang dan membuka pintu tokonya. Setelah itu, beliau duduk dipinggiran sungai untuk berwudlu. Lalu ada seekor kepiting yang keluar dari dalam air dan menuju pada dirinya, dengan sepotong kain yang ada di atas cangkangnya. Kepiting pun semakin mendekat kepada Khair an-Nassaj, lalu beliau mengambil kain yang berisi uang yang ada di cangkang kepiting tersebut.

Abu Khair ad-Dailamy yang melihat kejadian tersebut dengan mata kepalanya sendiri kaget, beliau lalu menghampiri Khair an-Nassaj dan berkata, “aku melihat begini dan begitu”, yaitu melihat kejadian yang tidak biasa terjadi pada diri manusia. Mendengar perkataan tersebut, Khair an-Nassaj lalu berkata, “aku ingin supaya engkau tidak menceritakannya ketika aku masih hidup.” “baik”, jawab Abu Khair ad-Dailamy.

Dalam kisah di atas menunjukkan kepada kita semua, bahwasanya tidak semua kejadian yang kita lihat harus kita ceritakan semuanya kepada khalayak umum. Termasuk berbagai karomah yang dimiliki oleh para waliyullah, karena yang bisa mengetahui hal tersebut tentu orang-orang pilihan. Agar bisa mengambil hikmah darinya, dan jika diceritakan kepada banyak orang belum tentu akan diambil hikmah oleh orang-orang  yang mengetahuinya.

Karomah-karomah yang dimiliki oleh para wali adalah salah satu bukti kekuasaan Allah Swt yaitu dengan memberikan kelebihan kepada orang-orang yang dicintainya. Sehingga ketika mereka masih hidup, mereka berusaha untuk menutupinya. Karena jika diketahui oleh banyak orang, bisa jadi orang-orang lalu memujanya dan mengakibatkan orang-orang itu tidak lagi berharap kepada sang pencipta, yaitu Allah Swt.

RAHASIA KEKUATAN D’OA BAHASA JAWA YANG DI KABULKAN ALLOH SWT.

Pada akhir abad dua puluh, di puncak Gunung Gde. Bersama salah seorang kawan SMA, kami duduk dalam ngungun. Menatap jauh ke cakrawala barat. Nun di bawah, alam baru saja membuka “kerudung” hijaunya. Keindahan hakiki yang ia sembunyikan pun, tersingkap. Momen ini sejalin kelindan dengan malam pertama pernikahan.

Bila Anda ingin mencoba, mudah caranya. Datanglah ke pegunungan dengan niat dan itikad baik. Maka gunung serta koleganya akan secepat mungkin menyambut Anda secara hangat, santun, lagi berbudi.

Kembali ke puncak Gde. Karib kami yang budiman itu lantas berkisah, sambil mengapit kedua dengkulnya dengan dua tangan yang ditangkupkan. Tatapan matanya lurus ke depan. Dari mulutnya meluncur kalimat yang kiranya berbunyi begini:

    “Dari perkampungan manusia di bawah sana, aku melihat doa-doa beterbangan menuju langit. Tapi sedikit saja yang berhasil menembus pintunya. Sementara yang lain terus mengawang tak tentu arah.”

Laporan pandangan mata itu ia sampaikan sambil menggerakkan tangan ke segala arah. Seperti menggaris vertikal secara imajiner. Kami yang mendengarkan hanya bisa melongo saja. Mungkin jika dicarikan citra imajinya, persis seperti saluran sibernetik dunia kita hari ini—yang menerbangkan rangkaian data dijital dalam rambatan gelombang elektromagnetik.

Rekaman ingatan kami itu ternyata menemu salurannya dalam riwayat lain, yang berkenaan dengan Syekh Nawawi al-Bantani.

Paruh akhir abad-19, jazirah Arabia dilanda kekeringan teramat panjang. Demi mengatasi masalah ini, Raja Hijaz mengumpulkan dan membawa para ulama Makkah dan Madinah. Mereka diminta memanjatkan doa kepada Allah, di areal Ka’bah, agar hujan segera diturunkan.

    Setelah semua sarjana dan para ulama berdoa, ndilalah hujan tidak turun juga. Sebaliknya, Hijaz malah menjadi lebih panas selama beberapa bulan. Penduduk di negeri itu pun kian susah hatinya.

Dibekap kekalutan, Raja Hijaz seketika teringat akan seorang sarjana yang belum diundang untuk berdoa. Kemudian ia menitahkan dawuh pada bawahannya untuk memanggil sarjana tersebut. Sosok yang dimaksud berperawakan mungil. Kulitnya sawo matang. Segenap penduduk Makkah mengenalnya dengan nama Syekh Nawawi bin Umar Tanara al-Bantani al-Jawi. Seorang alim yang telah memiliki karya lebih dari 40 judul. Semua berbahasa Arab yang fasih.

Ulama asal Dusun Tanara, Tirtayasa, Banten tersebut, lantas berangkat berdoa meminta hujan kepada Allah SWT di hadapan Kakbah. Ada yang janggal. Kendati Syekh Nawawi mampu berbahasa Arab dengan fasih, ia malah berdoa meminta hujan dengan menggunakan bahasa Jawa.

“Ya Allah, sampun dangu mboten jawah. Kawulo nyuwun jawah.”

Segenap ulama Makkah dan Madinah yang berdiri di belakangnya pun, lantas menengadahkan tangan sembari berkata, “Amin…”

Seketika itu juga mendung datang dan kemudian hujan turun begitu deras. Semua orang yang menyaksikan kejadian tersebut sontak heran. Ada segelintir orang bertanya, bahasa apa yang telah digunakan Syekh Nawawi berdoa, karena mereka tidak pernah mendengar bahasa itu. Sedangkan sebelumnya para ulama dan sarjana Hijaz telah berdoa menggunakan bahasa Arab nan fasih, namun tidak mujarab.

Terkait doa berbahasa Jawa yang dipanjatkan Syekh Nawawi, KH. Idris Marzuki Lirboyo pernah ngendiko;

“Kowe ki nek nompo dungo-dungo Jowo seko kiai, sing mantep. Kae kiai-kiai ora ngarang dewe. Kiai-kiai kae nompo dungo-dungo Jowo seko wali-wali zaman mbiyen. Wali ora ngarang dewe kok. Wali nompo ijazah dungo Jowo seko Nabi Khidlir—yen ketemu wali Jowo ngijazahi dungo nganggo boso Jowo. Ketemu wali Meduro nganggo boso Meduro.”

 “Kamu jika mendapat doa-doa Jawa dari kiai, yang mantap. Para kiai itu tidak mengarang sendiri. Mereka mendapat doa Jawa dari wali-wali zaman dahulu. Wali itu mendapat ijazah doa dari Nabi Khidlir—yang jika bertemu wali Jawa memberi ijazah doa memakai bahasa Jawa. Jika bertemu wali Madura menggunakan bahasa Madura.”

Lalu pelajaran apa yang bisa kita petik?

Benarkah penentu doa yang mujarab adalah kualitas individu seseorang dengan bahasa apa pun yang ia gunakan? Sementara betapa banyak manusia bromocorah yang juga berdoa pada Tuhan, dan ternyata dikabulkan. Salah seorang karib kami, contohnya. Ia bahkan tak tahu menahu dengan Islam, tapi tetap mau beragama ala kadarnya. Ia teramat sangat percaya tuhan adalah pemilik segalanya.

Apakah mungkin doa apa pun yang dipanjatkan anak-anak manusia, sudah termaktub sebelumnya dalam Lauhul Mahfudz?

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia saja, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang Nyata (Lauh Mahfudz).” (QS al An’am [5]: 59)

Tunggu dulu. Ada pula ayat yang berbunyi;

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ

    “Dan Tuhanmu berfirman, ‘”Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.’” (QS al Mu’min [40]: 60)  

Masih ada satu lagi ayat yang bisa kita telaah:

يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya lah terdapat Indung Kitab/Lauh l-Mahfudz.” (QS ar Ra’d [13]: 39)

Sampai di sini, paling tidak kita bisa menyusun pemahaman yang adekuat—betapa perkara ini sejatinya masuk dalam ranah misteri Ilahi yang musykil dipecahkan. Tuhan adalah pencipta-pengatur rancangan terbaik yang diselubungi lapisan rahasia berlapis makna. Satu selubung yang berhasil kita singkap, bukanlah jawaban dari apa yang kita pikirkan. Bukan yang sebagaimana mestinya.

Einstein saja perlu berspekulasi hampir sepanjang hayatnya, demi membongkar kegaiban waktu yang melengkung dalam ruang. Itu pun masih sebatas kulit luar. Kita berdoa maupun tak, Tuhan tetap Mahakaya. Takkan pernah mengalami kekurangan kendati terus memberi. Berbanding terbalik dengan kita yang tak jemu meminta, dan sedikit sekali memberi. Aduh deh…

Maka itulah, supaya terhindar dari kecenderungan sok tahu dan mendahului Ilmu Tuhan, ada baiknya kita menahan diri dari sikap gegabah, dan tetap setia pada jalur temuan kebijaksanaan hidup—sebagaimana yang telah diwasiatkan Baginda Nabi Muhammad Saw:

    “Pencarian hikmah adalah kewajibanmu dan sesungguhnya kebaikan itu berada dalam hikmah.”

Sebagai salah seorang anggota keluarga langit yang beranak pinak di bumi, menjadi wajar bila kita digelayuti kegandrungan pada segala hal adikodrati yang seakan sulit dicerna, namun kian menumbuhkan rasa penasaran tiada bertepi—di sini. Tak ayal, Kanjeng Nabi Muhammad Saw pernah menyitir doa semacam nih; “Duhai Tuhan, anugerahkanlah patik, hakikat dari segala sesuatu.”

KISAH ABDULLAH BIN MUBARROK RAH. DAN WANITA YANG HANYA BERBICARA DENGAN AYAT AL-QUR’AN

Abdullah bin Mubarok, ahli fiqih, hadits dan sekaligus sufi besar yang lahir tahun 181 H mempunyai pengalaman menarik. Dia menuturkan kisahnya:

Satu ketika, aku ingin menjalankan ibadah haji dan ziarah ke kuburan Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Tiba-tiba di tengah jalan, aku menemukan gundukan hitam. Aku dekati, aku teliti lebih lanjut, ternyata ia seorang perempuan tua. Ia mengenakan baju dan kerudung berbahan wol.

Aku sapa dia

السَّلَامُ عَلَيْكِ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ

Wanita itu menjawab:

سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ

Artinya: “(Kepada mereka dikatakan) ‘Salam’, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang” (QS Yasin 58).

Abdullah bin Mubarak mendoakan, “Semoga anda selalu dikasihi oleh Allah.” Ia mencoba memulai dengan sebuah pertanyaan yang kemudian terjadi perbincangan antara Ibnu Mubarak dan wanita tua tersebut.

“Anda sedang apa di sini?” telisik Ibnu Mubarak.

Wanita tersebut menjawab, namun tidak dengan kalimat standar. Terdengar jelas oleh Ibnu Mubarak, wanita tua ini lagi-lagi membacakan ayat:

مَنْ يُضْلِلِ اللهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ

Artinya: “Barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang bisa memberikan petunjuk kepadanya” (QS al-A’raf: 186).

Aku menjadi tahu, kata Ibnu Mubarak, bahwa wanita ini adalah orang yang sedang tersesat di jalan. Kutanya dia lebih dalam, “Anda ini sebenarnya mau ke mana?”

Ibu tua menjawab:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: “Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS Al-Isra’: 1).

Aku menjadi tahu, ia sudah menjalankan ibadah haji dari kawasan Masjidil Haram, Makkah. Berikutnya, ia hendak melanjutkan perjalanan menuju Baitul Aqsha, Palestina. Aku tanyakan lagi, “Berapa lama anda di sini?”

Ia menjawab:

ثَلَاثَ لَيَالٍ سَوِيًّا

Artinya: “… dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat” (QS Maryam: 10).

Aku bilang kepadanya, “Aku tidak melihat ada makanan di sekitar anda sini.”

Jawabnya:

هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ

Artinya: “Dialah (Allah) yang memberikan makanan dan minuman (kepadaku)” (QS As-Syu’ara’: 79)

“Di sini, anda berwudhu dengan apa?”

فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا

Artinya: “Kemudian kalian tidak menemukan air, maka bertayammumlah dengan debu yang baik [suci]. (QS An-Nisa’: 43)

Ayat ini menunjukkan bahwa dia tidak mendapatkan air, kemudian ia bertayammum memakai debu yang suci. Aku kembali bertanya “Aku membawa bekal makanan. Apakah anda berkenan?”

Dia ternyata berpuasa. Wanita itu menyitir potongan ayat:

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Artinya: “Kemudian sempurnakan puasa kalian sampai masuk malam hari.” (QS Al-Baqarah: 187)

“Loh, ini kan bukan bulan Ramadan. Kenapa anda puasa?”

Dijawab dengan ayat:

وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Barangsiapa mengerjakan kebaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri dan Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 158)

Dengan ayat ini, wanita tersebut dapat diketahui bahwa ia sedang mengerjakan puasa sunnah. “Kita ‘kan diperbolehkan membatalkan puasa ketika bepergian?.” Tanya aku lebih lanjut.

وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: “Puasa kalian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 184)

“Kenapa anda ini tidak mau bicara sebagai aku berbicara kepada anda?”

Jawabnya:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Artinya: “Tidak ada suastu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)” (QS Qaf: 18).

“Dari suku mana anda ini?”

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS Al-Isra’: 36).

Ayat ini menunjukkan bahwa asal usul dia jika dijelaskan, tidak mungkin akan bisa diketahui oleh Ibnu Mubarak.

“Anda saat ini tersesat di jalan yang keliru. Maukan anda aku bantu untuk sampai ke tanah halal (area di luar tanah haram)?.”

Ia menjawab:

لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ

Artinya: “Pada hari ini tidak ada cercaan bagi kalian. Mudah-mudahan Allah mengampuni kalian” (QS Yusuf: 92).

Maksudnya berarti di memberikan akses bantuan penyelamatan ke jalan yang semestinya.

“Mau tidak, jika engkau aku naikkan ke atas unta aku supaya anda ini bisa menyusul rombongan anda?”

Jawab wanita tua:

وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ

Artinya: “Apa pun yang kalian lakukan dari kebaikan, pasti diketahui oleh Allah” (QS Al-Baqarah: 197).

Kemudian aku tundukkan kepada onta aku. Wanita itu tiba-tiba berkata:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ

Artinya: ‘Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya” (QS An-Nur: 30).

Kemudian ku tahan pandanganku menghindar dari memandangnya. Ku katakan kepadanya “Naiklah!”. Saat ia hendak naik, tiba-tiba onta mendadak bangkit dan kemudian lari. Hal ini menyebabkan bajunya sobek. Ia kemudian mengatakan:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

Artinya: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri” (As-Syura: 30).

“Aku mohon anda bersabar. Aku akan menundukkannya kembali.”

Wanita menjawab:

فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ

“Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat)” (QS Al-Anbiya: 79).

Itu tandanya wanita tersebut memahami keadaan. “Kemudian aku tundukkan ontaku. Wanita lalu menaikinya. Setelah berada di atas onta. Ia membaca:

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

“Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami”. (QS Az-Zukhruf: 13-14)

Kupegang kendali unta, aku berjalan sembari berteriak. Wanita itu pun kemudian menegur dengan ayat:

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ

Artinya: “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu” (QS Luqman: 19).

Mungkin maksud dia, tidak boleh kerasa-keras. Kemudian aku berjalan santai, pelan-pelan sambil mendendangkan sebuah sya’ir. Ia pun membaca ayat lain lagi:

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

Artinya: “Karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran” (QS Al-Muzzammil: 20).

Habis itu, aku katakan kepadanya, “Anda ini telah diberikan kebaikan.” Ia menjawab:

وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Artinya: “Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”

Saat aku sejenak sudah jalan, aku tanya dia, “Apakah ada punya suami?.”

Dia menjawab

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu” (QS Al-Maidah: 101).

Habis mendapat jawaban demikian, aku menjadi diam seribu kata. Aku sama sekali tidak berbincang-bincang lagi dengan dia sampai kemudian kita bertemu dengan rombongan dia. Baru setelah itu, saya tanyakan padanya, “Ada siapa kamu yang ada di kafilah itu?”

Dia menjawab:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Artinya: “Harta dan anak-anak merupakan perhiasan dunia” (QS Al-Kahfi: 46).

“Atas jawaban itu, aku menjadi tahu kalau di rombongan tersebut terdapat anaknya. Kutanyakan padanya ‘tugas apa yang ia emban selama perjalanan haji?’”

Jawabnya:

وَعَلَامَاتٍ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ

Artinya: “Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk” (QS An-Najm: 16).

“Saya menjadi tahu, bahwa anaknya menjadi guide rombongan. Lalu saya bawa dia menuju perkemahan. Dia lagi-lagi saya lempari pertanyaan ‘Siapa kamu yang ada di situ?’”

Jawabnya dengan bertubi-tubi:

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Artinya: “Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya” (QS An-Nisa’: 125).

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

Artinya: “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” (QS An-Nisa’: 164).

يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ

Artinya: “Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh” (QS Maryam: 12).

“Seketika itu, aku panggil ‘Ibrahim, Musa, Yahya!. Tiba-tiba saya kedatangan pemudan yang berbinar laksana rembulan. Mereka menerimaku. Setelah aku duduk bersama mereka, wanita yang aku hantarkan tadi membaca ayat:

فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ

Artinya: “Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu” (QS Al-Kahfi: 19).

“Memang, kemudian salah satu di antara anak-anaknya itu kemudian keluar dan kemudian pulang dengan membawa makanan dan disajikan kepadaku. Wanita itu menyuruh:

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ

Artinya: “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu” (QS Al-Hâqqah: 24).

“Sekarang, makanan kalian bagi saya merupakan sesuatu yang haram saya makan sampai kalian memberikan informasi tentang ibu ini yang sebenarnya.”

Di antara mereka ada yang menjelaskan “Iya, begini. Ini adalah ibu kami. Sejak 40 tahun yang lalu beliau tidak berkenan berbicara kecuali dengan Al-Qur’an. Beliau kawatir jika terpeleset yang bisa menjadikan Allah yang Mahakasih marah kepadanya. Maha suci Allah yang kuasa terhadap apa saja yang Ia kehendaki.”

Aku jawab itu “Hal itu merupakan anugerah Allah yang Ia berikan kepada orang yang Ia kehendaki. Allah yang mempunyai anugerah yang Agung.”

Semoga kita bisa mengambil pelajaran, berkah dan manfaatnya. Amin. Wallahu a’lam.

PEMBANTU WALI YANG MENJADI WALI

Namanya adalah Kurdiyyah binti ‘Amr. Masa kelahiran dan kematiannya tidak diketahui.

Menurut Imam Abdurrahman al-Sulami, Kurdiyyah berasal dari Basrah (sekarang Irak) atau Ahwaz (sekarang Iran). Ia mengatakan:

 وكانت من أهل البصرة أو الأهواز

“Kurdiyyah berasal dari Bashrah atau al-Ahwaz” (Imam Abdurrahman al-Sulami, Thabaqât al-Shûfiyyah wa yalîhi Dzikr al-Niswah al-Muta’abbidât al-Shûfiyyât, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003, h. 395).

Sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk melayani seorang sufi besar wanita di zamannya, Sya’wanah al-Ubullah. Untuk lebih mengenal tokoh ini, bisa dibaca di tulisan NU Online lainnya, “Sya’wanah al-Ubullah, Sufi Perempuan yang Selalu Menangis untuk Allah.”

Imam al-Sulami menulis dalam kitabnya:

 وكانت تخدم شعوانة

“Ia mengabdi (atau melayani) Sya’wanah” (Imam Abdurrahman al-Sulami, Thabaqât al-Shûfiyyah wa yalîhi Dzikr al-Niswah al-Muta’abbidât al-Shûfiyyât, 2003, h. 395).

Melayani seorang ulama atau wali meninggalkan kesan berbeda dari sekadar melayani orang kaya atau pejabat. Pengabdiannya tidak didasarkan pada nilai dan angka, tapi pada bakti yang perlahan-lahan mendidik ketulusannya. Pijak landasan inilah yang membuatnya tercerahkan. Ia mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa, interaksi dan pergaulannya dengan Sya’wanah. Ia menyerap banyak hal, mengambil banyak sisi, dan memahami banyak persoalan. Tentu, hal ini mungkin terjadi karena keluarbiasaan Sya’wanah. Ia menampilkan dirinya apa adanya, tanpa menambah citra agar terlihat baik atau menghias diri agar terlihat pantas. Ia hanya berperilaku sebagaimana hati menggerakkannya. Karena pencitraan perilaku tidak akan mudah menyentuh hati secara tetap. Jikapun ia berhasil menyentuh, sentuhannya akan menetap sesaat saja.

Melihat perubahan yang terjadi di diri Kurdiyyah, seseorang bertanya kepadanya. Katanya:

 ما الذي أصابك من بركات خدمة شعوانة؟ قالت: ما أحببت الدنيا منذ خدمتها، ولا اهتممت لرزقي، ولا عظم في عيني أحد من أرباب الدنيا لطمع لي فيه، وما استقصرت أحدا من المسلمين قط

Terjemah bebas: “Apa yang mengenaimu dari berkah melayani Sya’wanah?” Kurdiyyah menjawab: “Aku tidak (lagi) mencintai dunia semenjak melayaninya; aku tidak (lagi) menaruh perhatian pada rezekiku; pandanganku tidak (lagi) kagum terhadap seseorang dari para penguasa dunia karena ketamakanku padanya; aku tidak pernah (lagi) memandang rendah seorang pun dari kaum muslimin” (Imam Abdurrahman al-Sulami, Thabaqât al-Shûfiyyah wa yalîhi Dzikr al-Niswah al-Muta’abbidât al-Shûfiyyât, 2003, h. 395)

Kurdiyyah berubah menjadi pribadi yang lebih baik setelah berkhidmah kepada Sya’wanah. Ia tidak lagi mencintai dunia berlebihan; ia tidak lagi mengkhawatirkan rezekinya hari ini atau esok; ia tidak lagi silau atas kekayaan atau kekuasaan orang lain, dan ia tidak lagi memandang rendah orang lain. Mungkin pandangan Kurdiyyah tidak dapat dimengerti oleh kebanyakan orang. Karena mencintai dunia, mengkhawatirkan rezeki, memiliki ambisi adalah hal yang wajar. Namun, bagi orang seperti Kurdiyyah, tidak mencintai dunia, membuat ringan hatinya. Ia bisa berbagi dengan siapa saja tanpa merasa berat. Ia akan menyerahkan segala yang dimilikinya kepada orang yang membutuhkan tanpa berpikir panjang, seperti yang dilakukan banyak sufi lainnya. Dunia, harta benda dan ambisi hanya berada di tangannya, tidak di hatinya.

Begitupun dengan memandang rendah. Orang yang gemar memandang rendah akan terjebak dalam subjektivitas yang tidak adil. Sebab, pandangannya akan berbasis pada atribut-atribut tertentu. Misalnya, jika orang itu miskin, ia pasti buruk; jika orang itu bodoh, ia pasti tidak beradab, dan lain sebagainya. Cara pandang seperti ini membuat sekat di pikiran manusia. Karena itu, Kurdiyyah mengatakan, “ia tidak pernah lagi memandang rendah muslim lainnya,” karena atribut-atribut negatif tertentu. Ia membebaskan pandangannya karena sejatinya mereka adalah makhluk ciptaan-Nya. Memandang rendah mereka, sama saja dengan memandang rendah Penciptanya.

Jadi, jangan salah artikan ucapannya sebagai diam tanpa usaha, tapi pandanglah ucapannya sebagai pasrah tanpa tanya dan usaha tanpa keluh. Artinya, ia tetap berusaha dengan halal untuk meraih sesuatu, tapi itu bukan tujuan. Tujuannya adalah untuk menggapai ridha Allah, dan bagaimana ia bisa memanfaatkan apa yang telah dicapai dan dihasilkannya. Lalu dapat dengan adil memperlakukan manusia, tanpa memandang mereka dengan tatapan merendahkan. Untuk itu dibutuhkan hati yang lapang dan dermawan, agar tidak mudah teralihkan oleh bisikan duniawi sehingga urung berbagi.

Wallahu a’lam bish-shawwab….

BERUSAHA MENGHINDARI PUJIAN DAN MENDAPATKAN HINAAN

Hamdun bin Ahmad, seorang sufi pendiri tarekat malamatiyah, dari dialah tarekat ini berkembang. Memiliki kunyah Abu Saleh al-Qasshar al-Naisaburi. Hamdun bin Ahmad wafat di tahun 271 Hijriyah di Naisabur, dan dimakamkan di pemakaman al-Khairah.

Jamak kita ketahui bahwa tarekat malamatiyah ini memiliki prinsip menghindari sanjungan dan mencari celaan untuk kesejahteraan rohaninya, karena mereka sadar dan jera bahwa pujian dari manusia akan menjadikan jiwanya terbelenggu oleh rasa kebanggaan.

Ada sebuah kisah, bahwa ketika Syaikh Hamdun bin Ahmad memasuki kota Rayy dalam perjalanannya dari Hijaz, masyarakat kota itu berbondong-bondong menemuinya untuk menunjukkan rasa hormat kepadanya. Namun masyaratkat kota Rayy mengurungkan niatnya untuk menunjukkan rasa hormat kepada Syaikh Hamdun bin Ahmad.

Sebabnya urungnya penghormatan itu lantaran ketika Syaikh Hamdun bin Ahmad sampai di pasar, dengan sengaja beliau mengeluarkan sepotong roti dari lengan bajunya dan mulai memakannya. Orang-orang yang tadi ingin menyanjungnya menjadi pergi dan mencelanya, karena pada saat itu bulan Ramadan.

Syaikh Hamdun bin Ahmad berkata kepada salah seorang muridnya, “Engkau mengerti, begitu aku laksanakan satu hukum, mereka semua menolakku, karena menjadi tidak wajib hukumnya berpuasa bagi orang yang safar atau sakit.”

Berikut pepatah atau adagium yang lahir dari Syaikh Hamdun bin Ahmad;

* مَنْ ظَنَّ نَفْسَهُ خَيْرٌ مِنْ نَفْسِ فِرْعَوْن فَقَدْ أَظْهَرَ الكِبْرَ

(Man zanna nafsahu khoirun min nafsi Firaun faqod azhara al-kibra)

“Barangsiapa mengira dirinya lebih baik dari Firaun, maka saat itulah ia sungguh-sungguh menampakkan kesombongannya.”

* إسْتِعَانَةُ المــَخْلُوقِ بِالمـــَخْلُوْقِ كَاسْتِعَانَةُ المــَسْجُوْنِ بِالمــَسْجُوْنِ

(Isti’anatul makhluqi bil makhluqi kasti’anatul masjuni bil masjuni)

“Makhluk yang berharap pertolongan kepada makhluk, tak ubahnya tawanan yang berharap pertolongan kepada sesama tawanan.” Artinya sia-sia saja.

* لاَيَجْزِعُ مِنَ المــُــصِيْبَةِ إلا مَنْ يَتَّهِمُ رَبَّهُ

(laa tajzi’ min al-mushibati illa man yattahimu rabbahu)

“Tidak sepantasnya seorang hamba cemas akan musibah, kecuali jika ia ragu akan Tuhannya.”

Begitulah cara Syaikh Hamdun bin Ahmad  menjalani laku sufinya, ia mencintai Tuhannya dengan tidak sekalipun berpaling kepada yang lain, termasuk pujian orang. Syaikh Hamdun bin Ahmad sadar sesadar-sadarnya pujian dari manusia akan menjadikan jiwanya terbelenggu oleh rasa narsis, ujub dan takabur. Wallahu A’lam.

DEMI MENGEMBALIKAN PENSIL, SUFI BESAR INI RELA BOLAK BALIK TURKMENISTAN-SIRIA

Abdullah bin Mubarak (W. 797 M) suatu waktu pernah bolak-balik dari Merv (Kini, Turkmenistan) ke Syam (Damaskus) hanya sekadar untuk mengembalikan pena yang dipinjamnya. Berapa jarak yang ditempuh?

Jarak yang ditempuh untuk sekali perjalanannya adalah 2.922 kilometer, hampir setara tiga kali Anyer ke Panarukan. Bin Mubarak menempuhnya dengan jalan kaki,  dengan catatan waktu sekira 591 jam.

“Dari Ahmad b Fadhalah, saya mendengar al-Hasan bin ‘Arafah berkata, Ibnu Mubarak bercerita kepadaku, ‘Aku meminjam sebuah pena kepada seseorang di negeri Syam (Damaskus). Kemudian aku pergi ke sana untuk mengembalikan pena itu ke pemiliknya.

Sesampainya di Merv (tempat tinggal Abdullah bin Mubarak, kini masuk daerah Turkmenistan), ternyata pena tersebut masih ada di tanganku. Aku pun kembali lagi menuju Syam dan mengembalikan pena kepada sang pemiliknya’,” seperti termaktub dalam kitab Tarikh al-Baghdad karya Akhmad bin Ali bin Tsabit yang lebih dikenal dengan sebutan Khatib al-Baghdadi.

Siapa Abdullah bin Mubarak?

Abdullah bin Mubarak dilahirkan di kota Merv, wilayah Asia Tengah, pada tahun 118 H di masa khalifah Umayyah, Hisyah bin Abd Malik. Ia hidup hingga tahun 181 H.

Pujian terhadap sang Sufi ini juga datang dari ulama besar Sufyan at-Tsauri, pendiri mazhab Tsaur. Dikisahkan dari Imran bin Musa at-Thursusi bahwa ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Sufyan at-Tsauri dan mengajukan pertanyaan atas sebuah masalah yang ditimpanya. Sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan si penanya, Sufyan at-Tsauri balik bertanya, “Dari mana asalmu?”.

Ia menjawab, “Daerah Timur.”

Sufyan Al-Tsauri kembali bertanya, “Bukankah di sana ada ulama besar?”

Si penanya balik bertanya, “Siapakah nama ulama yang engkau maksud?”

Sufyan Al-Tsauri menjawab, “Abdullah bin Mubarak!”

Penanya kembali bertanya, “Apakah beliau ulama besarnya daerah Timur?”

Sufyan at-Tsauri menjawab, “Ya. Juga ulamanya bagi penduduk di wilayah Barat!”

Kembali kepada kisah bagaimana Abdullah bin Mubarak menempuh ribuan kilometer hanya untuk mengembalikan pena yang dipinjamnya, tentu ada teladan yang bisa kita petik dari kisah ini: sepele apa pun barang yang kita pinjam adalah milik si empunya yang wajib kita kembalikan.

Dan, ini yang berat, sejauh apa pun jarak yang harus kita tempuh, mestinya tidak menjadi alasan untuk tidak mengembalikan barang yang kita pinjami.

PENDOSA YANG BERTAUBAT DAN MERAIH HUSNUL KHOTIMAH

Al- Mawaa’izhul Ushfuriyah , Hadits Kedua Hikayat Kedua

الحديث الثاني عن ابن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله ص.م : الفاجر الراجي برحمة الله تعالي اقرب من العابد المقنط

Hadits Kedua

Dari Ibni Mas’ud (abdulloh bin mas’ud) ra berkata : Telah bersabda Rosululloh SAW : “Pelaku dosa yang berharap rahmat Allah lebih dekat daripada seorang hamba yang beribadah yang putus asa dari rahmatNYA”

(حكاية) ان رجلا مات علي عهد موسي عليه السلام فكره الناس غسله ودفنه لفسقه فأخذوه برجليه وطرحوه في مزبلة ، فأوحي الله تعالي الي موسي عليه السلام . وقال يا موسي مات في محلة ماجان في شهر المروة ولي من اوليائي فلم يكفنوه ولم يدفنوه فاذهب انت فاغسله وكفنه وصل عليه وادفنه، فجاء موسي عليه السلام الي تلك المحلة، وسأل لهم عن الميت فقالوا له : مات رجل من صفة كذا وكذا وإنه كان فاسقا معلنا فقال اين مكانه ؟ فان الله تعالي اوحي الي لأجله ،قال فعلموني مكانه .فلما رأه موسي عليه السلام مطروحا في المزبلة وأخبره الناس عن سوء افعاله ناجي موسي ربه ،فقال إلهي امرتني بدفنه والصلوة عليه وقومه يسبون عليه شرا وانت اعلم به منهم من الثناء القبيح، فأوحي الله عليه يا موسي صدق قومه فيما حكوا عنه من سوء افعاله غير انه تشفع الي عند وفاته بثلاثة اشياء لو سأل مني جميع مذنب خلقي لأعطيته فكيف وقد سأل نفسه وانا ارحم الراحمين. قال يا ربي ما الثلاثة ؟ قال لما دني وفاته قال يا ربي انت تعلم مني فاني ارتكب المعصية مع كراهية المعضية في قلبي

اولها هو النفس والرفيق السوء وابليس عليه اللعنة وهذه الثلاثة القبيحة في المعصية فانك كنت تعلم مني ما اقول فاغفرلي

والثاني قال يا ربي انك تعلم بأني ارتكب المعاصي وكان مقامي مع الفسقة ولكن صحبة الصالحين وزهدهم والمقام معهم احب الي من الفاسقين

والثالث قال الهي ان كنت تعلم مني ان الصالحين كانوا احب الي من الفاسقين حتي لو استقبلني رجلان صالح وطالح الا قدمت حاجة الصالح علي الطالح

Hikayat

Ada seorang lelaki meninggal dunia dimasa nabi Musa ‘alaihissalam . semua orang tidak mau memandikan dan mengafani jenazahnya, karena kedurhakaanya semasa didunia. orang-orang itu membuangnya dengan kaki mereka ditempat sampah.

Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa ‘alaihissalam: “Wahai Musa, telah mati seorang laki-laki, jenazahnya kini ditempat sampah. padahal ia adalah kekasihKu. ia tidak dimandaikan maupun dikafani dan tidak dikuburkan. Maka berangkatlah engkau untuk memandikannya, mengkafaninya, sembahyangkan dan kuburlah iadengan kemuliyaan”. lalu Musa berangkat ke tempat itu. dan menanyakan mayat itu kepada penduduk.

“Benar disini telah meninggal seorang durhaka” jawab mereka.

“Dimana ia kini ?, aku kesini semata-mata datang atas perintah Allah untuk laki-laki yang kalian anggap durhaka itu”. kata Musa

Diantarlah penduduk kampung, Musa menjenguk mayat tersebut. padahal banyak kabar simpang siur atas orang tersebut tentang kebusukan mayatnya oleh penduduk yang tidak menyukainya. Musa pun heran atas perintah tuhannya itu.

Kemudian Nabi Musa as munajat kepada Allah :”Tuhan, engkau telah mengutusku menguburkanya dan menyembahyangkannya . padahal kaumnya menyaksikan dia seorang durhaka. hidupnya hanya dilakukan untuk perbuatan tercela. Hanya Engkau yang tahu antara Puji dan Cela.

Dijawab Allah: “Benar Musa. orang-orang itu juga benar. mereka menghukumi laki-laki itu karena perbuatannya.

Tetapi Aku telah mengampuninya karena tiga sebab. ketahuilah: kalau seorang pendosa meminta ampun kepadaKu dan Kuampuni, mengapa dia tidak? padahal dia pernah berkata kepada dirinya sendiri bahwa Aku adalah Tuhan Yang Maha Penyayang.

“Apakah tiga sebab itu,Tuhan?” tanya Musa.

” Ketika laki-laki itu menghadapi maut, ia mengadu kepadaKu: Tuhan, Engkau tahu segala maksiat yang kuperbuat, padahal sebenarnya aku sangat membencinya. mengapa kulakukan juga ?. itu karena tiga hal, Tuhanku.

Pertama: Karena nafsu pergaulan yang jelek, dan iblis terkutuk. ini pertama membawaku jatuh dalam pelukan maksiat. tentu Kau sangat tahu, dan ampunilah aku.

Kedua: Tuhan, Kau pasti tahu bahwa aku berbuat maksiat karena berada dilingkungan yang fasiq/bejat. padahal aku mencintai orang-orang alim dan zuhud, tinggal bersama mereka sangat aku senangi dari pada tinggal dengan orang-orang fasiq/bejat itu.

Ketiga: Tuhan, sungguh orang yang salih lebih baik dari pada orang yang thalih. sungguh orang salih lebih saya cintai. jika seandainya datang kedua orang itu, saya akan mendahulukan orang yang salih.

Allah melanjutkan:” maka Kuampuni dosanya dan Kurahmati dia. sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Kasih dan Maha Penyayang. khususnya pada mereka yang mengakui kesalahannya dihadapan-Ku. dan laki-laki ini telah mengakui kesalahannya, maka Ku ampuni dia Ku lewatkan atas dosa-dosanya.

Wahai Musa, lakukan apa yang Aku perintahkan. Akupun akan mengampuni orang-orang yang menyembahyangkannya serta ikut menguburnya, demi kemuliaan yang ia miliki.

Wallahu A’lam

KISAH ISROILIYYAT : PELACUR BERTAUBAT YANG MENURUNKAN TUJUH NABI

Bismillahir rohmaanir rohiim

Kisah tersebut termaktub dalam kitab Tanbih al-Ghafilin karya asy-Syaikh al-Alim al-Faqih Abi Laits as-Samarqondi (kisah isroiliyyat), berikut teks arob nya

سَمِعْتُ أَبِي يَحْكِي أَنَّ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتِ امْرَأَةٌ بَغِيًّا، وَكَانَتْ مُفْتِنَةً لِلنَّاسِ بِجَمَالِهَا، وَكَانَ بَابُ دَارِهَا أَبَدًا مَفْتُوحًا، فَكُلُّ مَنْ مَرَّ بِبَابِهَا رَآهَا قَاعِدَةً فِي دَارِهَا عَلَى السَّرِيرِ بِحِذَاءِ الْبَابِ، فَكُلُّ مَنْ نَظَرَ إِلَيْهَا افْتُتِنَ بِهَا، فَإِذَا أَرَادَ الدُّخُولَ إِلَيْهَا احْتَاجَ إِلَى إِحْضَارِ عَشْرَةِ دَنَانِيرَ، أَوْ أَقَلِّ أَوْ أَكْثَرِ، حَتَّى تَأْذَنَ لَهُ بِالدُّخُولِ عَلَيْهَا

فَمَرَّ بِهَا ذَاتَ يَوْمٍ عَابِدٌ مِنَ الْعُبَّادِ فَوَقَعَ بَصَرُهُ فِي الدَّارِ وَهِيَ قَاعِدَةٌ عَلَى السَّرِيرِ، فَافْتُتِنَ بِهَا فَجَعَلَ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ وَيَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى لِيُزِيلَ ذَلِكَ مِنْ قَلْبِهِ، فَلَمْ يَزَلْ ذَلِكَ عَنْهُ، وَكَانَ يُكَابِدُ نَفْسَهُ الْمُكَابَدَةَ الشَّدِيدَةَ حَتَّى بَاعَ قُمَاشًا كَانَ لَهُ وَجَمَعَ مِنَ الدَّنَانِيرَ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ، فَجَاءَ إِلَى بَابِهَا وَأَمَرَتْ أَنْ يُسَلِّمَ ذَلِكَ إِلَى وَكِيلٍ لَهَا، وَوَاعَدَتْهُ وَقْتًا لِمَجِيئِهِ، فَجَاءَ إِلَيْهَا فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ وَقَدْ تَزَيَّنَتْ وَجَلَسَتْ فِي بَيْتِهَا عَلَى سَرِيرِهَا فَدَخَلَ عَلَيْهَا الْعَابِدُ وَجَلَسَ مَعَهَا عَلَى السَّرِيرِ، فَلَمَّا مَدَّ يَدَهُ إِلَيْهَا وَانْبَسَطَ إِلَيْهَا، تَدَارَكَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِرَحْمَتِهِ وَبَرَكَاتِهِ وَعِبَادَتِهِ الْمُتَقَدِّمَةِ، فَوَقَعَ فِي قَلْبِهِ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَرَانِي فِي هَذِهِ الْحَالَةِ فَوْقَ عَرْشِهِ وَأَنَا فِي الْحَرَامِ، وَقَدْ أَحْبَطَ عَمَلِي كُلَّهُ فَوَسِعَتِ الْهَيْبَةُ فِي قَلْبِهِ

وَارْتَعَدَتْ فَرَائِصُهُ وَتَغَيَّرَ لَوْنُهُ

فَنَظَرَتِ الْمَرْأَةُ إِلَيْهِ فَرَأَتْهُ مُتَغَيِّرَ اللَّوْنِ فَقَالَتْ: أَيُّ شَيْءٍ أَصَابَكَ قَالَ: إِنِّي أَخَافُ رَبِّي، فَائْذَنِي لِي بِالْخُرُوجِ، فَقَالَت لَهُ، وَيْحَكَ إِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ يَتَمَنَّوْنَ الَّذِي وَجَدْتَهُ، فَأَيُّ شَيْءٍ هَذَا الَّذِي أَنْتَ فِيهِ؟ فَقَالَ لَهَا: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ تَعَالَى، وَإِنَّ الْمَالَ الَّذِي دَفَعْتُهُ إِلَيْكِ هُوَ حَلَالٌ لَكِ فَائْذَنِي لِي بِالْخُرُوجِ

(1/121)

فَقَالَتْ لَهُ كَأَنَّكَ لَمْ تَعْمَلْ هَذَا الْعَمَلَ قَطُّ

قَالَ: لَا

قَالَتِ الْمَرْأَةُ: مِنْ أَيْنَ أَنْتَ؟ وَمَا اسْمُكَ؟ فَأَخْبَرَهَا أَنَّهُ مِنْ قَرْيَةِ كَذَا، وَاسْمُهُ كَذَا، فَأَذِنَتْ لَهُ بِالْخُرُوجِ فَخَرَجَ مِنْ عِنْدِهَا وَهُوَ يَدْعُو بِالْوَيْلِ وَالثُّبُورِ، وَيَبْكِي عَلَى نَفْسِهِ، وَيَحْثُو التُّرَابَ عَلَى رَأْسِهِ.

فَوَقَعَتِ الَهَيْبَةُ فِي قَلْبِ الْمَرْأَةِ بِبَرَكَةِ ذَلِكَ الْعَابِدِ، فَقَالَتْ فِي نَفْسِهَا: إِنَّ هَذَا الرَّجُلَ أَوَّلُ ذَنْبٍ أَذْنَبَهُ، وَقَدْ دَخَلَ عَلَيْهِ مِنَ الْخَوْفِ مَا دَخَلَ، وَإِنِّي قَدْ أَذْنَبْتُ مُنْذُ كَذَا وَكَذَا سَنَةٍ، وَإِنَّ رَبَّهُ الَّذِي يَخَافُ مِنْهُ هُوَ رَبِّي، فَخَوْفِي مِنْهُ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ أَشَدَّ، فَتَابَتْ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَأَغْلَقَتْ بَابَهَا عَنِ النَّاسِ وَلَبِسَتْ ثِيَابًا خَلِقَةً، وَأَقْبَلَتْ عَلَى الْعِبَادَةِ.

وَكَانَتْ فِي عِبَادَتِهَا مَا شَاءَ اللَّهُ

فَقَالَتْ فِي نَفْسِهَا إِنِّي لَوِ انْتَهَيْتُ إِلَى ذَلِكَ الرَّجُلِ فَلَعَلَّهُ يَتَزَوَّجُنِي فَأَكُونُ عِنْدَهُ فَأَتَعَلَّمُ مِنْ أَمْرِ دِينِي وَيَكُونُ عَوْنًا لِي عَلَى عِبَادَةِ اللَّهِ تَعَالَى، فَتَجَهَّزَتْ وَحَمَلَتْ مَعَهَا مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْخَدَمِ مَا شَاءَ اللَّهُ، فَانْتَهَتْ إِلَى تِلْكَ الْقَرْيَةِ وَسَأَلَتْ عَنْهُ، فَأُخْبِرَ الْعَابِدُ أَنَّهُ قَدِمَتِ امْرَأَةٌ تَسْأَلُ عَنْهُ، فَخَرَجَ الْعَابِدُ إِلَيْهَا فَلَمَّا رَأَتْهُ الْمَرْأَةُ كَشَفَتْ وَجْهَهَا لِيَعْرِفَهَا، فَلَمَّا رَآهَا الْعَابِدُ عَرَفَ وَجْهَهَا وَتَذَكَّرَ الْأَمْرَ الَّذِي كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا، فَصَاحَ صَيْحَةً وَخَرَجَتْ رُوحُهُ وَبَقِيَتِ الْمَرْأَةُ حَزِينَةً، وَقَالَتْ: إِنِّي خَرَجْتُ لِأَجْلِهِ وَقَدْ مَاتَ، فَهَلْ مِنْ أَقْرِبَائِهِ أَحَدٌ يَحْتَاجُ إِلَى امْرَأَةٍ؟ فَقَالُوا: إِنَّ لَهُ أَخًا صَالِحًا لَيْسَ لَهُ مَالٌ، فَقَالَتْ لَا بَأْسَ، وَإِنَّ لِي مِنَ الْمَالِ مَا فِيهِ غُنْيَةٌ فَجَاءَ أَخُوُه فَتَزَوَّجَ بِهَا فَوَلَدَ مِنْهَا سَبْعَةً مِنَ الْبَنِينِ، كُلُّهُمْ صَارُوا أَنْبِيَاءَ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ.

(1/122)

TERJEMAHAN BEBAS

Diceritakan, dahulu di kalangan bani Israil terdapat seorang wanita pelacur yang sangat cantik dan telah menimbulkan banyak fitnah di kalangan manusia karena kecantikannya. Pintu rumah pelacur tersebut selalu terbuka, sehingga setiap orang yang melintasi rumahnya, selalu dapat melihat diri pelacur tersebut sedang duduk di atas ranjang menunggu pelanggan yang akan datang kepadanya.

Setiap orang yang melihatnya pasti akan tergoda oleh kecantikannya. Barangsiapa yang ingin berkencan dengannya, maka orang tersebut harus menyediakan paling sedikit sepuluh dinar emas atau lebih.

Suatu ketika, melintaslah seorang ahli ibadah di depan rumah pelacur tersebut dan tanpa sengaja karena memang pintu rumah pelacur tersebut selalu terbuka, pandangan mata ahli ibadah tersebut jatuh pada pelacur yang sedang duduk di atas ranjang di dalam rumahnya. Dan dengan sebab pandangan itulah, tiba-tiba muncul dalam diri ahli ibadah tersebut keinginan luar biasa kepada si wanita pelacur.

Keinginan yang tiba-tiba muncul tersebut sangat menyiksa dirinya, dia telah berusaha sekuat tenaga dan berdoa kepada Allah agar keinginan tersebut dihilangkan dari dirinya tapi tetap saja tidak bisa, sehingga akhirnya bekerjalah ahli ibadah tersebut untuk mengumpulkan dinar sebagai upah yang akan dibayarkan pada si wanita pelacur.

Setelah terkumpul sepuluh dinar, ia segera menuju rumah si pelacur dan diserahkannya uang tersebut kepada pembantunya. Setelah uang diserahkan dan dipersilahkan masuk oleh pembantu tadi, ia diminta untuk menunggu sebentar karena si wanita pelacur sedang berdandan.

Tidak begitu lama ahli ibadah tersebut menunggu, muncullah si wanita pelacur dengan dandanan yang sangat mempesona sekali lalu segera menuju ranjang yang biasa ia gunakan untuk menjamu para tamunya.

Melihat si wanita pelacur sudah siap di atas ranjang, ahli ibadah tersebut segera bergegas menuju ranjang dan duduk dipinggirnya. Dengan agak canggung dan perlahan, ahli ibadah tersebut ingin menyentuh si wanita pelacur dengan tangannya, tetapi ketika tangannya hampir menyentuh tubuh si wanita pelacur tersebut, tiba-tiba dengan rahmat dan barokah ibadah yang telah ia lakukan dimasa yang lalu, Allah Ta’ala mengingatkan dirinya bahwasanya apa yang akan ia lakukan adalah salah satu perbuatan yang sangat hina dan memalukan.

Hati kecil ahli ibadah tersebut tiba-tiba berkata pada dirinya sendiri; “Sesungguhnya apa yang saya lakukan saat ini dilihat oleh Allah Ta’ala di atas Arsy-Nya, saat ini saya sedang dalam keadaan yang diharamkan oleh-Nya, maka hancurlah sudah amal-amalku yang telah lalu”.

Setelah ahli ibadah tersebut berkata demikian di dalam hatinya, tiba-tiba ia dikuasai ketakutan luar biasa kepada Allah Ta’ala sehingga badannya seakan lumpuh dan berubah warna wajahnya menjadi sangat pucat.

Melihat perubahan drastis pada diri si ahli ibadah, pelacur tersebut memandangnya dengan agak kebingungan dan berkata kepadanya; “Apa yang terjadi padamu?”.

Ahli ibadah menjawab; “Aku sungguh takut kepada Tuhanku, izinkanlah aku keluar dari tempat ini”.

Pelacur tersebut berkata; “Lucu sekali dirimu….banyak orang yang telah menanti-nanti kesempatan ini, kenapa engkau malah menyia-nyiakannya?, apa gerangan yang menyebabkan kamu berubah pikiran?!”.

Ahli ibadah menjawab; “Aku sungguh takut pada Allah Ta’ala, uang yang telah aku serahkan padamu aku halalkan dan izinkan aku keluar dari tempat ini”.

Pelacur tersebut berkata; “Sepertinya kamu belum pernah melakukan hal seperti ini sama sekali?”.

Ahli ibadah tersebut menjawab; “Tidak….aku belum pernah melakukannya sama sekali”.

Melihat kepolosan si ahli ibadah, pelacur tersebut penasaran dan bertanya; “Dari mana asalmu dan siapa namamu?”.

Mendengar pertanyaan dari pelacur tersebut, ahli ibadah menjawab bahwa ia berasal dari daearah ini dan namanya adalah fulan. Setelah memberi tahu tentang daerah asalnya dan namanya, barulah ahli ibadah tersebut diizinkan untuk keluar dari rumah si pelacur.

Setelah keluar dari rumah si pelacur, ahli ibadah tersebut tidak henti-hentinya memaki dirinya sendiri sambil mengambil debu dijalanan dan dilumurkannya ke kepalanya.

Melihat apa yang terjadi pada diri si ahli ibadah barusan, tiba-tiba hati wanita pelacur tersebut tersentuh oleh cahaya hidayah berkat dari ahli ibadah tadi, lalu ia berkata pada dirinya sendiri; “Laki-laki tadi baru sekali melakukan dosa, tetapi ketakutan yang dia rasakan sebegitu hebatnya, sedangkan aku sudah melakukan dosa sejak lama sekali tetapi kenapa kok tidak merasakan apa yang dia rasakan?, Tuhan yang ditakuti oleh laki-laki tersebut adalah juga Tuhanku, bukankah sudah seharusnya ketakutanku pada Tuhanku melebihi ketakutannya ?!”.

Setelah merenungkan apa yang terjadi pada dirinya, wanita pelacur tersebut memutuskan untuk taubat dan menghentikan seluruh dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Pintu rumahnya ia kunci dan mulai saat itu ia mulai mengenakan pakaian seorang ahli ibadah.

Setelah ia bertaubat dan beribadah beberapa lama, ia berkata pada dirinya; “Jika aku bisa menemukan laki-laki ahli ibadah yang aku temui dulu, mungkin ia sudi menikahiku dan aku bisa bersamanya. Ia bisa membimbingku dalam urusan agamaku dan menuntunku dalam beribadah kepada Allah Ta’ala”.

Setelah membulatkan tekat untuk mencari si ahli ibadah, wanita bekas pelacur tersebut segera berangkat dengan membawa semua hartanya dan sebagian pembantunya. Setelah sampai pada daerah tempat tinggal si ahli ibadah, wanita bekas pelacur tersebut segera bertanya pada penduduk yang tinggal di daerah tersebut tentang ahli ibadah yang ia cari.

Mengetahui ada seorang wanita yang mencari si ahli ibadah, salah seorang warga memberitahukan hal tersebut kepada si ahli ibadah. Mendengar ada seorang yang mengabarkan demikian, ahli ibadah tersebut bertanya-tanya, siapa gerangan wanita yang mencarinya tersebut. Karena dihinggapi rasa ingin tahu, ahli ibadah tersebut segera bergegas menuju tempat dimana wanita yang mencarinya itu berada.

Setelah sampai pada tempat si wanita yang mencarinya dan mengetahui bahwasanya wanita yang mencarinya tersebut ternyata adalah wanita pelacur yang pernah ia temui dulu, ingatlah si ahli ibadah tentang kejadian yang dialaminya dulu.

Setengah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dan merasa sangat malu sekali karena teringat dengan apa yang terjadi padanya dulu, tiba-tiba ahli ibadah tersebut berteriak sangat keras sekali lalu setelah itu tubuhnya rubuh ke tanah. Orang-orang yang berada disekitar tempat tersebut segera menolong ahli ibadah tersebut dan memeriksa jantungnya, dan ternyata nyawa si ahli ibadah yang shalih tersebut telah meninggalkan jasadnya.

Melihat kejadian yang memilukan itu, wanita bekas pelacur tersebut sangat sedih sekali. Sambil menangis sesenggukan, wanita tersebut berkata pada orang yang berada ditempat tersebut; “Aku keluar dari negeriku adalah untuk dirinya, tetapi sekarang ia telah tiada. Apakah dia memiliki saudara laki-laki yang membutuhkan calon istri?”.

Mendengar pertanyaan dari wanita tadi, orang yang ditanyainya menjawab; “Ahli ibadah ini memiliki saudara laki-laki yang juga shalih, tetapi ia tidak memiliki harta”.

Mendengar jawaban seperti itu, wanita tersebut berkata; “Tidak apa-apa….harta yang aku miliki adalah lebih dari cukup untuk hidup berumah tangga”.

Setelah berkata demikian, orang-orang yang berada di tempat tersebut segera mengantarkan wanita tadi menuju kediaman saudara dari si ahli ibadah, dan setelah mengutarakan maksud hatinya, saudara laki-laki dari ahli ibadah tersebut mau menikahinya, dan Alhamdulillah……dari pernikahan tersebut lahirlah tujuh orang anak laki-laki yang ganteng-ganteng yang kesemuanya dengan anugrah Allah Ta’ala menjadi nabi-nabi dikalangan bani Israil.

Wallohu a’lam

sumber: Tanbih al-Ghafilin karya asy-Syaikh al-Alim al-Faqih Abi Laits as-Samarqondi

HIDUP MULIA ATAU MATI SYAHID “ISY KARIMAN AU MUT SYAHIDAN”

Kisah Heroik Dua orang Prajurit Khalifah Umar Bin Abdul Aziz , dikutip dari kitab Qoomi’ Thughyan Hal 6-7

الشعبةالسادسة عشرة البخل بدين الإسلام       كأن يكون القتل والإدخال في النار أحب إليهمن الدخول في الكفر ويعرف أن دينه أعز عليه من جميع أولاده وأمواله.
(حكي) أن عمر ابن عبد العزيز في وقت خلافته أرسل جماعة إلى الروم لأجل الغزو فانهزموا وأسر عشرون شخصا منهم وأمر قيصر الروم واحدا منهم أن يدخل في دينه ويعبد الصنم وقال إن دخلت في ديني وسجدت للصنم أجعلك أميرا في بلدة عظيمة وأعطك العلم والخلع والكؤوس والبوق وإن لم تدخل في ديني أقتلك وأضرب عنقك بالسيف فقال لاأبيع الدين بالدنيا فأمر بقتله فقتل في الميدان وضرب عنقه بالسيف فدار رأسه في الميدان وكان يقرأ هذه الآية: يا أيتها النفس المطمئنة ارجعي إلى ربك راضيةمرضية فادخلي في عبادي وادخلي جنتي. فغضب قيصر
وأخذ الثاني وقال ادخل في ديني أجعلك أميرا في مصر كذا وإلا أقطع عنقك كما قطعت عنق صاحبك فقال لا أبيع الدين بالدنيا فإن كان لك ولاية قطع الرأس فليس لك ولاية قطع الإيمان فأمر بقطع رأسه فقطع ودار كما دار رأس صاحبه ثلاث مرات وكان الرأس يقول هذه الآية: فهو في عيشةراضية في جنة عالية قطوفها دانية. فوقف عند رأس الأول فغضب قيصر غضبا شديدا
وأمر أن يأخذ الثالث وقال ما تقول أنت هل تدخل في ديني وأجعلك أميرا فأدركته الشقاوة وقال دخلت في دينك واخترت الدنيا على الآخرة فقال قيصر لوزيره اكتب له مثالا واعطه خلعا وكؤوسا وعلما فقال وزيره يا ملك كيف أعطيه بغير تجربة فقال الوزير  له إن كنت صادقا في كلامك فاقتل رجلا من أصحابك نصدق كلامك فأخذ الملعون واحدا من أصحابه فقتله فأمر الملك الوزير أن يكتب له المثال فقال الوزير للملك هذا ليس من العقل أن تصدق كلامه فانه ما رعى حق أخيه الذي ولد معه ونشأ معه فكيف يرعى حقنا فأمر بقتله فقطع رأسه ودار في الميدان ثلاث مرات وكان الرأس يقرأ هذه الآية: أفمن حق عليه كلمة العذاب أفأنت تنقذ من في النار. فوقف في طرف الميدان ولم يحضر عند الرأسين فصار إلى عذاب الله نعوذ بالله من الضلال. Cabang Iman ke Enam belas yaitu Bakhil dengan agama islam

walau dalam mempertahankan nya harus dengan dibunuh atau dibakar dalam api,itu lebih ia sukai daripada harus menukarkan keimanannya pada kekufuran.karena ia yakin bahwa agamanya lebih mulia daripada seluruh anak turunan dan harta bendanya.

Diriwayatkan
: Pada masa ke khalifahan Umar bin Abdul Aziz , beliau mengirim pasukan (bala tentara) untuk berperang dengan pasukan kaisar romawi,perangpun berkecamuk dan ada dua puluh prajurit khalifah yang ditawan.Dalam sidang tawanan kaisar romawi memanggil salah satu dari tawanan. ia (kaisar) memerintahkan tawanan tsb untuk memeluk agama yang di anut kaisar dengan menyembah berhala.
Berkata Kaisar : jika engkau mau meninggalkan agamamu dan mengikuti agamaku dan menyembah berhala, maka engkau aku bebaskan dan engkau aku angkat sebagai seorang gubernur (‘aamir) dari sebuah wilayah yang luas lengkap dengan segala fasilitas kenegaraan dan persenjataan,Namun jika engkau menolaknya,maka hukuman pancung (penggal kepala) bagianmu.
Menjawab Tawanan pertama : Aku tidak akan pernah menjual agamaku.
Kaisar memerintahkan algojo untuk memenggal kepala tawanan tsb disebuah medan/lapangan/aula . setelah kepala tawanan tsb terpenggal dari badannya, kepala yang terpenggal itu berputar-putar di medan tsb dan mulutnya membaca ayat
يا أيتها النفس المطمئنة ارجعي إلى ربك راضيةمرضية فادخلي في عبادي وادخلي جنتي

***
Marahlah kaisar romawi menyaksikan hal tersebut
Kemudian dipanggillah tawanan kedua , dan kaisar pun menyodorkan tawaran yang sama.
Kaisar : masuklah pada agamaku,engkau akan aku jadikan aamir disebuah kota,jika tidak… maka aku akan penggal kepalamu seperti temanmu
Tawanan Kedua : Tidak akan aku jual agamaku dengan dunia, engkau punya kekuasaan memenggal kepalaku namun engkau tak kan mampu memenggal keimananku.
Maka kaisar pun memerintahkan algojo untuk memenggal kepala tawanan itu, dan kepala terpenggal itupu berputar-putar dan mulutnya membaca ayatفهو في عيشةراضية في جنة عالية قطوفها دانية
Dan kepala itu pun berhenti dekat kepala dari tawanan yang pertama
***Kaisar pun semakin marah dengan dua kejadian itu
Kemudian dipanggilah tawanan ketiga Kaisar : Apa yang akan kau katakan padaku, apakah engkau akan masuk agamaku dan engkau menjadi ‘Aamir ?
Tawanan Ketiga  : Aku akan memilih masuk agamamu dan aku memilih jabatan yang engkau tawarkan daripada aku memilih akhirat.
Berkata Kaisar kepada perdana menterinya : wahai perdana menteri, berikan kebebasan dan jabatan seperti yang aku janjikan pada tawanan ini.
Perdana menteri menjawab : kaisar… bagaimana kita akan langsung memberikan jabatan ini padanya tanpa harus di uji/dicoba dulu.
Kemudian berkata perdana menteri kepada tawanan ketiga : Jika engkau sungguh-sungguh terhadap ucapanmu, Maka sekarang lakukanlah,Bunuh salahsatu temanmu,jika itu engkau lakukan maka kami percaya.

Maka tawanan ketiga (terlaknat ini) mendatangi salahsatu temannya dan ia membunuhnya
Berkata kaisar pada perdana menterinya :  Berikan padanya apa yang telah aku janjikan.
Menjawab perdana menteri : Wahai kaisar… Apa yang dilakukan tawanan ini tidak bisa diterima akal sehat ,demi membuktikan kesungguhannya ia rela membunuh temannya sendiri,tawanan ini tidak segan dan sungkan melakukannya padahal yang dibunuh adalah temannya sendiri , ia datang dari negara dan keyakinan yang sama . Lalu bagaimana ia bisa kita percaya dan menjaga haq-haq kita ?.
Maka kaisar pun faham dengan ucapan sang perdana menteri,maka ia pun memerintahkan algojo untuk membunuhnya.Setelah kepala tawanan ketiga terpenggal,kepala itupun berputar tiga kali mengelilingi medan itu,dan dari mulutnya ia membaca ayat

أفمن حق عليه كلمة العذاب أفأنت تنقذ من في النار
Dan kepala itupun berhenti di ujung medan, kepala dari tawanan ketiga ini tidak berkumpul dengan dua kepala temannya, maka tetaplah ia dalam adzab Allah, Na’udzu billahi min al dholal

*** semoga hikayah ini membawa hikmah dan manfaat, Amin ***

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.