“PEMBUNUHAN KARAKTER” BAGAIMANA KITA MENYIKAPINYA?

Dalam Hilyah al-Auliyâ wa Thabaqat al-Ashfiyâ’, Imam Abu Na’im al-Ashbahânî (330-430 H) memasukkan sebuah riwayat tentang nasihat Sayyidina Ja’far ash-Shadiq untuk orang yang sedang dijelekkan oleh orang lain. Berikut riwayatnya:

حدثنا عبد الله بن محمد، ثنا علي بن رستم، قال: سمعت أبا مسعود يقول: قال جعفر بن محمد: إذا بلغك عن أخيك شيء يسوءك فلا تغتم، فإنه إن كان كما يقول كانت عقوبة عجلت، وإن كان علي غير ما يقول كانت حسنة لم يعملها، قال موسي: يا رب، أسألك أن لا يذكرني أحد إلا بخير، قال: ما فعلت ذلك لنفسي

Terjemah bebas: Abdullah bin Muhammad menceritakan, Ali bin Rustum menceritakan, ia berkata: ‘Aku mendengar Abu Mas’ud berkata: ‘Ja’far bin Muhammad berkata: “Ketika sampai kepadamu suatu (kabar) tentang saudaramu yang menjelek-jelekanmu, maka janganlah kau risau. Karena, jika benar apa yang dikatakannya (tentangmu), itu adalah hukuman yang disegerakan (Tuhan atas dosa tersebut). Jika tidak benar apa yang dikatakannya (tentangmu), itu menjadi kebaikan yang tidak diamalkan (secara langsung olehmu).” (Nabi) Musa (‘alaihissalam) berkata: “Tuhanku, aku memohon kepada-Mu agar tidak ada seorang pun yang menyebutku (atau mengingatku) kecuali dengan kebaikan.” Tuhan menjawab: “Apa kau sudah melakukan hal itu terhadap-Ku?” (Imam Abu Na’im al-Ashbahânî, Hilyah al-Auliyâ wa Thabaqat al-Ashfiyâ’, Kairo: Dar al-Hadits, 2009, juz 2, h. 477)

Sepanjang hidup, seseorang pasti bertemu dengan orang yang tidak disukai dan menyukainya. Itu wajar. Karena memang begitulah dunia, penuh dengan kejadian dan keadaan yang seketika bisa merubah persepsi seseorang tentang seseorang lainnya. Tidak jarang satu peristiwa membekaskan luka yang mendalam; tidak jarang pula banyak peristiwa yang tidak berbekas apa-apa. Semuanya terjadi begitu saja. Akan tetapi, dengan warna-warni kehidupan yang begitu beragam, ada keindahan aturan Tuhan yang diturunkan melalui wahyu, dan nabi-Nya.

Semacam sabda nabi, “lâ taghdlab, wa lakal jannah” (jangan marah, maka untukmu surga).

Kemarahan tidak akan muncul tanpa sebab. Pasti ada pemicu untuk kemarahan seseorang. Pembunuhan karakter, atau sampainya kabar kepada kita bahwa seseorang menjelek-jelekkan kita, bisa jadi salah satu penyebabnya. Sabda Nabi, “jangan marah”, merupakan cara yang diajarkan Rasulullah kepada kita. Karena manusia ini unik. Untuk keburukan yang kita lakukan saja, kita akan marah ketika seseorang menggunjingkannya, apalagi keburukan yang tidak kita lakukan. Karena itu, menahan amarah adalah cara terbaik agar tidak terjerumus dalam lingkaran kesalahan.

Sayyid Ja’far ash-Shadiq, dengan ucapannya, memberikan rasionalisasi spiritual yang baik kepada kita, agar kita tidak berkecil diri dan terhindar dari keburukan. Ia berujar: “Ketika sampai kepadamu suatu (kabar) tentang saudaramu yang menjelek-jelekanmu, maka janganlah kau risau.”

Kemudian Sayyid Ja’far ash-Shadiq menampilkan ilustrasi spiritual yang menarik. Ia berkata:
“Karena, jika benar apa yang dikatakannya (tentangmu), itu adalah hukuman yang disegerakan (Tuhan untukmu). Jika tidak benar apa yang dikatakannya (tentangmu), itu menjadi kebaikan (meski) tidak diamalkan (secara langsung olehmu).”

Artinya, tidak perlu bersedih mendengar gunjingan orang tentang kita; tidak perlu gundah mendengar pendapat buruk orang tentang kita. Sebab, andaipun itu benar, itu bisa mengurangi dosa kita, karena hukumannya telah disegerakan melalui gunjingan orang-orang; andai itu salah, kita akan mendapatkan pahala tanpa melakukan apa-apa. Dengan kata lain, kita mendapatkan pengurangan dosa dan penambahan pahala secara cuma-cuma.

Di samping itu, kita tidak perlu membenci berlebihan ketika karakter kita dibunuh. Kita sikapi itu sebagaimana yang diajarkan Rasulullah dan Sayyid Ja’far ash-Shadiq. Karena amarah dan kebencian yang berlebihan, bisa membuat kita terjebak dalam permusuhan yang memutus tali silaturahmi. Jangan sampai kita terlibat dalam pemutusan tali silaturahmi itu.

Rasulullah bersabda (HR. Imam Muslim):

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ

“Tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi.”

Kita akan sangat rugi jika terjebak dalam kebencian yang berlebihan, apalagi jika kita tidak melakukan apa yang digunjingkan. Kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan kerugian ini adalah, “fitnah kita dapatkan, dan surga kita jauhkan.”

Tentu, marah dalam taraf yang wajar adalah normal. Semua orang memiliki amarah dalam dirinya. Persoalannya adalah, sejauh mana kemarahan dapat membutakan dan menghilangkan akal sehat kita. Karena itu, Rasulullah meminta kita agar, “lâ taghdlab” (jangan marah). Artinya, kita harus berjuang menjinakkan amarah dan kebencian kita. Jangan sampai kemarahan dan kebencian yang mengendalikan kita.

Selanjutnya, Sayyid Ja’far ash-Shadiq menceritakan doa yang disampaikan Nabi Musa ‘alaihissalam kepada Allah, “Tuhanku, aku memohon kepada-Mu agar tidak ada seorang pun yang menyebutku (atau mengingatku) kecuali dengan kebaikan.” Doa Nabi Musa’ ini mengandung makna yang dalam, yaitu ketidak-tegaan Nabi Musa jika ada orang yang berdosa karenanya. Jika seseorang menggunjingkannya, atau menceritakan hal-hal yang buruk tentangnya, orang tersebut sudah pasti berdosa. Ini juga berimplikasi pada pentingnya berperilaku baik. Dengan tujuan meminimalisasi sangkaan buruk orang lain kepada kita, sehingga semakin sedikit orang yang berdosa karena menggunjingkan kita. Lalu Allah bertanya: “Apakah kau sudah melakukan hal itu terhadap-Ku?” Ini penting, sangat penting. Sebab, kita sebagai manusia ingin selalu dipandang baik oleh lainnya, atau ingin selalu dipuji. Tapi di sisi lain, kita sangat mudah mengumbar kesalahan orang lain dan menggunjingkannya.
Begitupun hubungan kita dengan Allah. Seringkali kita tidak puas dengan apa yang kita dapatkan dalam hidup. Akhirnya, secara tak sadar kita mempertanyakan Allah dan berprasangka yang tidak-tidak kepada-Nya. Oleh karena itu, Allah menjawab doa Nabi Musa dengan pertanyaan untuk diambil pelajarannya. Agar manusia tidak egois dengan citra baiknya tapi menjatuhkan citra baik selainnya, apalagi jika ketidak-puasan itu menuju kepada Allah. Padahal Allah sudah sangat jelas berfirman, “Anâ ‘inda dhanni ‘abdî bî” (Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku).
Wallahu a’lam bish-shawwab

KISAH LELAKI PECINTA MALAIKAT PENURUN HUJAN DAN NABI MUHAMMAD SAW.

Bulan November 2019 menjadi pembuka musim hujan pada beberapa kota di Indonesia. Hujan menjadi fenomena yang paling dirindukan oleh para petani padi, sebab padi membutuhkan asupan air yang berlimpah agar dapat tumbuh dengan bahagia. Di kota Banyuwangi, hingga diadakan salat istisqo’ dengan harapan Pemilik Semesta berkenan untuk memerintahkan malaikat Mikail menjalankan tugasnya di kota Banyuwangi.

Bagi pedamba hujan dan rizki, malaikat Mikail adalah malaikat yang paling dinanti sapanya, sebab tugasnya adalah menurunkan hujan dan membagi rezeki. Terkait dengan hujan dan Mikail, di dalam kitab Marah Labid Tafsir an-awawi atau Tafsir al-Munir karya Syekh Nawawi al-Bantani terdapat kisah seorang lelaki yang sangat mencintai malaikat Mikail, tetapi sangat membenci malaikat Jibril. Lelaki tersebut bernama Abdullah bin Shuriya. Berikut kisah lengkapnya.

Ketika Nabi Muhammad telah sampai di kota Madinah, seorang lelaki yang bernama Abdullah bin Shuriya mendatangi Nabi Muhammad dan bertanya, “Wahai Muhammad, ceritakan padaku bagaimana cara tidurmu sebagai seorang rasul di akhir zaman?”

Nabi Muhammad dengan sifat Fathonah-nya memberikan jawaban, “Ketahuilah, dua mataku memang tidur, tetapi tidak dengan hatiku!”

Abdullah bin Suriya mengomentari jawaban Nabi dengan ucapan, “Tepat sekali jawabanmu, wahai Muhammad. Selanjutnya, jelaskan padaku tentang warisan genetik seorang anak yang didapat dari ayah dan ibunya!”

Nabi Muhammad lagi-lagi berhasil menjawab pertanyaan (yang seharusnya diajukan pada seorang dokter atau ahli medis. Hal ini menunjukkan bahwa cakupan ilmu nabi Muhammad sangat luas) dengan jawaban cerdas:

“Tulang, urat syaraf, dan otot merupakan warisan genetik dari pihak laki-laki (ayah), sedangkan daging, darah, kuku, dan rambut adalah warisan genetik dari pihak perempuan (ibu).”

Abdullah bin Suriya dibuat tak berdaya dengan jawaban Nabi Muhammad, tetapi Abdullah tetap ingin memojokkan Nabi Muhammad, “Jawaban yang tepat sekali Muhammad. Selanjutnya, bagaimana pendapatmu tentang seorang lelaki yang lebih menyerupai paman (dari pihak ayah) daripada paman (dari pihak ibu) dan sebaliknya?”

Dengan tenang, Nabi Muhammad menjawab pertanyaan tersebut, “Sperma yang lebih dominan akan membuatnya serupa dengannya. Jika sperma ayah yang lebih dominan, maka lelaki tersebut akan lebih mirip dengan paman (dari pihak ayah). Begitu pula sebaliknya.”

Abdullah bin Suriya masih belum menyerah menguji kerasulan Nabi Muhammad, “Jelaskan padaku tentang makanan yang diharamkan oleh bani Israil untuk dirinya sendiri dan di dalam Taurat juga disebutkan seorang nabi akhir zaman yang menjelaskan hal tersebut.”

Nabi Muhammad untuk yang kesekian kalinya berhasil menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat rinci:

“Maha Besar Allah yang telah menurunkan Taurat kepada nabi Musa. Tidakkah engkau tahu bahwa bani israil menderita sakit yang sangat parah dalam kurun waktu yang cukup lama. Kemudian mereka bernadzar kepada Allah jika mereka diberikan kesembuhan, maka mereka akan melarang diri mereka sendiri untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang paling mereka sukai. Makanan dan minuman tersebut adalah daging unta dan susunya.”

Mendengar jawaban Nabi Muhammad dengan tingkat akurasi bertriliun persen, membuat Abdullah bin Suriya mengeluarkan jurus pamungkasnya, “Semua jawabanmu tepat sekali, Muhammad. Pertanyaan terakhir dariku dan jika kau berhasil menjawabnya, maka aku akan beriman kepadamu. Siapa malaikat yang menemuimu untuk menyampaikan wahyu dari Allah?”

Nabi Muhammad menjawab dengan mantap, “Jibril.”

Abdullah bin Suriyah mengelak dengan jawaban, “Ketahuilah, Jibril bagiku adalah musuh, sebab Ia turun dengan membawa peperangan dan kesusahan. Berbeda dengan Mikail. Ia datang dengan membawa kabar gembira dan kebahagiaan (rezeki dan hujan). Andai yang menemuimu untuk menyampaikan wahyu dari Allah adalah Mikail, maka Aku akan beriman kepadamu, Muhammad.”

Dari kisah tersebut kemudian Allah menurunkan surat al-Baqarah ayat 97-98.
Wallahu a’lam.

MENERIMA DENGAN LAPANG DADA TAKDIR YANG PAHIT

Ridha dengan Takdir yang Pahit

Dihikayatkan bahwa seseorang dari kalangan orang-orang shalih melewati seorang laki-laki yang terkena penyakit lumpuh separuh badan, ulat bertebaran dari dua sisi perutnya, lebih dari itu ia juga buta dan tuli. Lelaki lumpuh itu mengatakan, “segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanmu dari cobaan yang telah dialami oleh banyak orang.” Lantas lelaki shalih yang lewat itu heran, kemudian bertanya kepadanya, “Wahai saudaraku! Apa yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari dirimu padahal saya melihat semua musibah, menimpa dirimu?” Ia menjawab, “Menyingkirlah kamu dariku hai pengangguran! Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyelamatkanku karena Dia menganugerahkan kepadaku lisan yang selalu mentauhidkan-Nya, hati yang dapat mengenal-Nya, dan waktu yang selalu kugunakan untuk berdzikir kepada-Nya.”

Dihikayatkan pula bahwa ada seorang yang shalih yang apabila ditimpa sebuah musibah atau mendapat cobaan, selalu berkata, “Ini adalah sesuatu yang baik.” Pada suatu malam serigala datang memangsa ayam jagonya, kejadian ini disampaikan kepadanya, maka ia pun berkata, “Ini adalah sesuatu yang baik.” Kemudian pada malam itu pula anjing penjaga ternaknya dipukul orang hingga mati, lalu kejadian ini disampaikan kepadanya. Ia pun berkata, “Ini adalah sesuatu yang baik.” Tak berapa lama keledainya meringkik, lalu mati. Ia pun berkata, “Ini adalah sesuatu yang baik, insya Allah.” Anggota keluarganya merasa sempit dan tidak mampu memahami mengapa ia mengucapkan perkataan itu. Pada malam itu orang-orang Arab datang menyerang mereka. Mereka membunuh semua orang yang ada di wilayah tersebut. Tidak ada yang selamat selain dia dan keluarganya. Orang-orang Arab yang menyerang tersebut menjadikan suara ayam jago, gonggongan anjing, dan teriakan keledai sebagai indikasi bahwa sebuah tempat itu dihuni oleh manusia, sedangkan semua binatang miliknya telah mati. Jadi, kematian semua binatang ini merupakan kebaikan dan menjadi penyebab dirinya selamat dari pembunuhan. Maha Suci Allah Yang Maha Mengatur dan Maha Bijaksana.

Al-Mada’ini menceritakan,

“Di daerah pedalaman saya pernah melihat seorang perempuan yang saya belum pernah melihat seorang pun yang lebih bersih kulitnya dan lebih cantik wajahnya daripada dirinya. Lalu saya berkata, “Demi Allah, kesempurnaan dan kebahagiaan berpihak kepadamu.” Lantas perempuan tersebut berkata, “Tidak. Demi Allah, sesungguhnya saya banyak dikelilingi oleh duka cita dan kesedihan. Saya akan bercerita kepadamu. Dulu saya mempunyai seorang suami. Dari suami saya tersebut saya mempunyai dua orang anak. Suatu ketika ayah kedua anak saya ini sedang menyembelih kambing pada hari raya Idul Adha. Sedangkan anak-anak sedang bermain.” Lantas anak yang lebih besar berkata kepada adiknya, “Apakah kamu ingin saya beritahu bagaimana cara ayah menyembelih kambing?” Adiknya menjawab, “Ya.” Lalu si kakak menyembelih adiknya. Ketika si kakak ini melihat darah, maka ia menjadi cemas, lalu ia melarikan diri ke arah gunung. Tiba-tiba ia dimangsa oleh serigala. Kemudian ayahnya keluar untuk mencari anaknya, ternyata ia tersesat di jalan sehingga ia mati kehausan. Akhirnya saya pun hidup sebatang kara.” Lantas saya bertanya kepadanya, “Bagaimana engkau bisa sabar?” Ia menjawab, “Apabila peristiwa tersebut terus-menerus menimpa saya, pasti saya masih merasakannya. Namun, hal itu saya anggap hanya sebuah luka, hingga akhirnya ia pun sembuh.”

Pada saat putranya meninggal dunia, Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Berkata, “Ya Allah! Jika Engkau memberi cobaan, maka sungguh Engkau masih menyelamatkanku. Jika Engkau mengambil, sungguh Engkau masih menyisakan yang lain. Jika Engkau mengambil sebuah organ, sungguh Engkau masih menyisakan banyak organ yang lain. Jika Engkau mengambil seorang anak, sungguh Engkau masih menyisakan beberapa anak yang lain.”

Al-Ahnaf bin Qais mengatakan,

“Saya mengadukan sakit perut yang saya alami kepada pamanku, namun ia malah membentakku seraya berkata, “Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau mengeluhkannya kepada seorang pun. Sesungguhnya manusia itu ada dua macam. Teman yang kamu susahkan dan musuh yang kamu senangkan. Janganlah engkau mengeluhkan sesuatu yang menimpa dirimu kepada makhluk sepertimu yang tidak mampu mencegah bila hal serupa menimpa dirinya. Akan tetapi, adukanlah pada Dzat yang memberi cobaan kepadamu. Dialah yang mampu memberikan kelonggaran kepadamu. Hai putra saudaraku! Sungguh, salah satu dari kedua mataku ini tidak dapat melihat semenjak empat puluh tahun lalu. Saya tidak memberitahukan hal ini kepada istri saya dan kepada seorang pun dari keluarga saya.”

Ada seorang yang shalih mendapat cobaan terkait putra-putranya. Ketika ia dianugerahi dua orang anak dan baru saja mulai beranjak besar sehingga membuatnya bahagia, tiba-tiba anaknya dijemput kematian. Ia ditinggalkan anaknya dengan penuh kesedihan dan patah hati. Akan tetapi, lantaran kuatnya iman, ia hanya dapat mengikhlaskan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersabar seraya berkata, “Milik Allah Subhanahu wa Ta’ala – segala sesuatu yang telah Dia berikan. Milik Allah Subhanahu wa Ta’ala pula segala sesuatu yang telah Dia ambil. Ya Allah! Berilah keselamatan kepadaku dalam musibah ini dan berikanlah ganti yang lebih baik lagi.” Allah pun menganugerahkannya anak yang ketiga. Setelah beberapa tahun, si anak jatuh sakit. Dan ternyata sakitnya sangat parah sampai hampir mati. Sang ayah berada di sisinya dengan air mata yang berlinangan. Kemudian ia merasakan kantuk dan tidur. Di dalam tidurnya ia bermimpi bahwa kiamat telah datang. Ketakutan-ketakutan pada hari Kiamat telah muncul. Lantas ia melihat shirath (jembatan) yang telah dipasang di atas permukaan Neraka Jahannam. Orang-orang sudah siap menyeberanginya. Laki-laki tersebut melihat dirinya sendiri di atas shirath. Ia hendak berjalan, tetapi ia takut terjatuh. Tiba-tiba anaknya yang pertama yang telah mati datang berlari-lari menghampirinya seraya berkata, “Saya akan menjadi sandaranmu wahai ayahku!” Sang ayah pun mulai berjalan. Akan tetapi, ia masih khawatir terjatuh dari sisi lain. Tiba-tiba ia melihat anaknya yang kedua mendatanginya dan memegangi tangannya pada sisi lainnya. Lantas lelaki tersebut sungguh-sungguh bergembira. Setelah ia berjalan sebentara, ia merasakan sangat haus, lalu ia meminta kepada salah satu dari dua anaknya tersebut agar memberinya minuman. Keduanya berkata, “Tidak bisa. Jika salah satu dari kita meninggalkanmu, niscaya engkau terjatuh ke neraka, lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?” Salah satu dari kedua anaknya berkata, “Wahai ayahku! Seandainya ada saudara kami yang ketiga bersama kami, pastilah ia dapat mengambilkan minum untukmu sekarang.” Lantas lelaki tersebut terjaga dari tidurnya seraya ketakutan. Ia memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa ia masih hidup dan Hari Kiamat belum tiba. Seketika ia melirik ke arah anaknya yang sedang sakit di sampingnya. Ternyata anaknya telah meninggal dunia. Kontan ia menjerit, “Segala puji bagi Allah.” Sungguh, saya telah mempunyai simpanan dan pahala. Kamu adalah pendahulu bagiku di atas shirath pada hari Kiamat kelak.”

MENELADANI HEBATNYA TABI’IN DIMASA KHOLIFAH SAYYIDINA UMAR BIN ABDUL AZIZ RA.

Nasihat al-Hasan al-Bashri Kepada Umar bin Abdul Aziz

Berikut ini adalah nasihat al-Hasan al-Bashri kepada Umar bin Abdul Aziz, salah seorang khalifah yang shaleh dari Bani Umayyah. Al-Hasan menasihati beliau tentang hakikat dunia, karena bisa jadi seseorang yang shaleh pun tergelicir ketika memegang kekuasaan tertinggi dan dia membutuhkan nasihat yang mengingatkannya. Apalagi jabatan yang dipegang oleh Umar adalah jabatan yang sangat besar, karena ia adalah salah satu raja yang memegang wilayah terbesar di dunia. Godaan, ambisi, fitnah dunia, dan keinginan untuk menikmatinya bisa saja muncul kala itu.

Al-Hasan al-Bashri menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz, isi surat tersebut menjelaskan tentang hakikat dunia. Teks surat tersebut adalah sebagai berikut:

Amma ba’du.. Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dunia adalah rumah persinggahan dan perpindahan bukan rumah tinggal selamanya.

Adam diturunkan ke dunia dari surga sebagai hukuman atasnya, maka berhati-hatilah. Sesungguhnya orang yang berhasrat kepada dunia akan meninggalkannya, orang yang kaya di dunia adalah orang yang miskin (dibanding akhirat), penduduk dunia yang berbahagia adalah orang yang tidak berlebih-lebihan di dalamnya. Jika orang yang berakal lagi cerdik mencermatinya, maka dia melihatnya menghinakan orang yang memuliakannya, mencerai-beraikan orang yang mengumpulkannya. Dunia layaknya racun, siapa yang tidak mengetahuinya akan memakannya, siapa yang tidak mengetahuinya akan berambisi kepadanya, padahal, demi Allah itulah letak kebinasaannya.

Wahai Amirul Mukminin, jadilah seperti orang yang tengah mengobati lukanya, dia menahan pedih sesaat karena dia tidak ingin memikul penderitaan panjang. Bersabar di atas penderitaan dunia lebih ringan daripada memikul ujiannya. Orang yang cerdas adalah orang yang berhati-hati terhadap godaan dunia. Dunia seperti pengantin, mata-mata melihat kepadanya, hati terjerat dengannya, pada dia, demi Dzat yang mengutus Muhammad dengan kebenaran, adalah pembunuh bagi siapa yang menikahinya.

Wahai Amirul Mukminin, berhati-hatilah terhadap perangkap kebinasaannya, waspadailah keburukannya. Kemakmurannya bersambung dengan kesengsaraan dan penderitaan, kelanggengan membawa kepada kebinasaan dan kefanaan. Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, bahwa angan-angannya palsu, harapannya batil, kejernihannya keruh, kehidupannya penderitaan, orang yang meninggalkannya adalah orang yang dibimbing taufik, dan orang yang berpegang padanya adalaah celaka lago tenggelam. Orang yang cerdik lagi pandai adalah orang yang takut kepada apa yang dijadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menimbulkan rasa takut, mewaspadai apa yang Allah telah peringatkan, berlari meninggalkan rumah fana kepada rumah yang abadi, keyakinan ini akan sangat terasa ketika kematian menjelang.

Dunia wahai Amirul Mukminin, adalah rumah hukuman, siapa yag tidak berakal mengumpulkan untuknya, siapa yang tidak berilmu tentangnya akan terkecoh, sementara orang yang tegas lagi berakal adalah orang yang hidup di dunia seperti orang yang mengobati sakitnya, dia menahan diri dari pahitnya obat karena dia berharap kesembuhan, dia takut kepada buruknya akibat di akhirat.

Dunia wahai Amirul Mukminin, demi Allah hanya mimpi, sedangkan akhirat adalah nyata, di antara keduanya adalah kematian. Para hamba berada dalam mimpi yang melenakan, sesungguhnya aku berkata kepadamu wahai Amirul Mukminin apa yang dikatakan oleh seorang laki-laki bijak,

‘Jika kamu selamat, maka kamu selamat dari huru-hara besar itu. Jika tidak, maka aku tidak mengira dirimu akan selamat’.

Ketika surat al-Hasan al-Bashri ini sampai ke tangan Umar bin Abdul Aziz, beliau menangis sesenggukan sehingga orang-orang yang ada di sekitarnya merasa kasihan kepadanya. Umar mengatakan, “Semoga Allah merahmati al-Hasan al-Bashri, beliau terus membangunkan kami dari tidur dan mengingatkan kami dari kelalaian. Sungguh sangat mengagumkan, beliau adalah laki-laki yang penuh kasih terhadap kami (pemimpin), beliau begitu tulus kepada kami. Beliau adalah seorang pemberi nasihat yang sangat jujur dan sangat fasih bahasanya.”

Umar bin Abdul Aziz membalas surat al-Hasan dengan mengatakan:

“Nasihat-nasihat Anda yang berharga telah sampai kepadaku, aku pun mengobati diriku dengan nasihat tersebut. Anda menjelaskan dunia dengan sifat-sifatnya yang hakiki, orang yang pintar adalah orang yang selalu berhati-hati terhadap dunia, seolah-olah penduduknya yang telah ditetapkan kematian sudah mati. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.”

Ketika balasan Umar sampai di tangan al-Hasan, beliau berkata, “Amirul Mukminin benar-benar mengagumkan, seorang laki-laki yang berkata benar dan menerima nasihat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengagungkan nikmat dengan kepemimpinannya, merahmati umat dengan kekuasaannya, menjadikannya rahmat dan berkah.”

Al-Hasan al-Bashri menulis sedikit lagi pesan kepada Umar bin Abdul Aziz dengan mengatakan:

“Amma ba’du, sesungguhnya ketakutan besar dan perkara yang dicari ada di depanmu, dan engkau pasti akan menyaksikannya, selamat atau celaka.” (Az-Zuhd, al-Hasan al-Bashri, Hal.169).

Ambisi Umar bin Abdul Aziz “Hari Esok Lebih Baik dari Hari Ini”

Raja’ bin Hayat (seorang menteri Umar bin Abdul Aziz yang ikhlas) bercerita, “Saya pernah bersama Umar bin Abdul Aziz ketika beliau menjadi penguasa Madinah. Beliau mengutus saya untuk membelikan pakaian untuknya. Lantas saya membelikan pakaian untuknya seharga lima ratus dirham. Ketika beliau melihatnya, lantas beliau berkomentar, ‘Ini bagus, tapi sayang harganya murah.’

Dan ketika beliau telah menjadi khalifah, beliau pernah mengutusku untuk membelikan pakaian untuknya. Lalu saya membelikan pakaian untuknya seharga lima dirham. Ketika beliau melihat pakaian tersebut, beliau berkomentar. ‘Ini bagus, hanya saja mahal harganya.”

Raja’ melanjutkan kisahnya, “Tatkala saya mendengar perkataan tersebut kontan saya pun menangis. Lantas Umar bertanya, ‘Apa yang membuatmu menangis, hai Raja’?’ Saya menjawab, ‘Saya teringat pakaianmu beberapa tahun yang lalu dan komentarmu mengenai pakaian tersebut.’ Kemudian Umar mengungkap rahasia hal tersebut kepada Raja’ bin Hayat. Beliau berkata, ‘Wahai Raja’! Sungguh, saya mempunyai jiwa ambisius. Jika saya telah berhasil merealisasikan sesuatu pastilah saya ingin sesuatu yang di atasnya lagi. Saya mempunyai hasrat untuk menikahi putri pamanku, Fatimah binti Abdul Malik. Saya pun berhasil menikahinya. Kemudian saya ingin memegang kepemimpinan. Saya pun berhasil memegang kekuasaan. Kemudian saya ingin memegang khilafah. Saya pun berhasil menjadi khalifah. Dan sekarang wahai Raja’’, saya ingin mendapat surga, maka aku berharap termasuk ahli surga.”

Umar bin Abdul Aziz mendengar kabar bahwa salah seorang putranya membuat cincin dan memasang batu mata cincin seharga seribu dirham. Lantas beliau menulis surat kepada putranya tersebut, “Saya dengar bahwa engkau membeli batu cincin untuk cincinmu seharga seribu dirham. Oleh karena itu, juallah lalu uangnya gunakan untuk membuat kenyang seribu orang yang kelaparan. Buatlah cincin dari besi serta tuliskan di atasnya, “Semoga Allah merahmati orang yang menyadari posisi dirinya sendiri.”

HATI YANG YANG LUNAK AKAN PINGSAN KETIKA MENDENGAR AL-QUR’AN DI BACA

Kisah ini menceritakan seorang hamba Allah yang sangat peka terhadap firman Tuhannya. Pemahamannya terhadap Al-Quran dan rasa takutnya terhadap Sang Pencipta menyebabkan hatinya sangat lululh terhadap Al-Quran. Dia bisa jatuh tersungkur, menangis tersedu-sedu, pingsang, bahkan hingga mati, karena mendengar lantunan Al-Quran. Bukan dibuat-buat, tapi betul-betul buah dari ketakwaannya.

Barangkali merekalah orang yang dimaksud dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ

“Akan masuk surga sekelompok orang, hati mereka seperti hati burung.” (HR. Ahmad 8382 & Muslim 2840)

Mereka orang yang hatinya sangat lunak, dipenuhi dengan ketakutan kepada Sang Pencipta. Sebagaimana burung. Binatang yang sangat peka dan mudah kaget.

Diantara hamba Allah yang bisa mencapai derajat semacam ini adalah Ali bin Fudhail bin Iyadh rahimahullah. Beliau digelari qatilul qur’an (orang yang ‘dibunuh’ Al-Quran). Al-Munawi dalam Faidhul Qadir (6/460) mengatakan:

وسمي علي بن الفضيل قتيل القرآن

“Ali bin Fudhail digelari qatilul quran”

Beliau bukan ahlul bait. Bukan pula keturunan kerajaan. Beliau putra seorang ulama yang dikenal sangat zuhud, Fudhail bin Iyadh rahimahullah.

Diceritakan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (2/302), dari Muhammad bin Bisyr Al-Makki, beliau bercerita:

Pada suatu hari kami bernah berjalan bersama Ali bin Fudhail. Kemudian kami melewati daerah Bani Al-Harits Al-Makhzumi, yang pada saat itu ada seorang guru  yang sedang mengajar anak-anak. Kemudian sang guru membaca firman Allah:

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى

“Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).” (QS. An-Najm: 31)

Tiba-tiba Ali bin Fudhail langsung teriak dan jatuh pingsan. Datanglah ayahnya dan mengatakan: “Sungguh, dia terbunuh karena Al-Quran.”

Kemudian dia dibawa pulang. Salah seorang yang membawanya pulang bercerita bahwa Fudhail, ayahnya mengabarkan, Ali tidak bisa shalat pada hari itu, shalat dzuhur, asar, maghrib, dan isya. Pada tengah malam dia baru sadar.

Di lain kasus, Ibnu Qudamah menceritakan kisah seorang pemuda dalam kitabnya At-Tawwabin. Seorang pemuda dari Al-Azd. Beliau menghadiri majlis ilmu. Ketika beliau mendengan ada orang yang membaca firman Allah:

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ

Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya. (QS. Ghafir: 18)

Tiba-tiba, beliau jatuh tersungkur, pingsan. Akhirnya dia diangkat di tengah keramaian dan banyak orang dalam kondisi pingsan.

    Ya rabbi, jadikanlah kami hamba-Mu yang lunak hati, dan mencintai mereka yang lunak hatinya. AMIN…..

JANGAN BERLAMA-LAMA DISAAT KITA MENJENGUK ORANG YANG SEDANG SAKIT

Di dalam kitab Alf Qishshah Wa Qishshah karya Hani Al-Hajj disebutkan bahwa Muhammad bin Hafash menjenguk tetangganya yang sedang sakit. Dia adalah seorang waliyullah bernama Basyar Al-Hafi atau ada yang menyebut Bisyr Al-Hafi.

Basyar Al-Hafi merupakan seorang wali Allah yang unik sebab sebelum menjadi wali dia dikenal sebagai berandalan. Nama lengkapnya Abu Nashr Basyar bin al-Harits al-Hafi.

Dikisahkan di dalam kitab tersebut bahwa ketika Muhammad bin Hafash menjenguk Basyar Al-Hafi yang sedang sakit, tiba-tiba ada orang yang berkata. Orang ini sangat senang berada di dekat Basyar Al-Hafi sehingga dia lama sekali berada di rumah Basyar Al-Hafi.

“Ya Syekh, berwasiatlah engkau kepadaku.” kata orang tersebut.

Basyar yang sedang terbaring sakit, menjawab dengan kalimat singkat

“Aku berwasiat kepadamu, jika kau menjenguk orang sakit, mbok ya jangan lama-lama!”

Mendengar jawaban itu, orang yang bertanya langsung pamitan.

Sebenarnya nasihat ini juga berlaku kepada siapa saja yang sedang menjenguk orang sakit. Tak perlu berlama-lama apalagi mengajak si sakit ngobrol ngalor-ngidul yang tak berguna apalagi membahas politik.

KEUTAMAAN MENJENGUK ORANG SAKIT

(KITAB LUBABUL HADITS MATAN TANQIHUL QAUL)

بسم الله الرحمن الرحيم

Bab Ke 36 Keutamaan Menjenguk Orang Sakit

(الباب السادس والثلاثون): في فضيلة عيادة المريض

.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Jenguklah orang sakit dan iringkanlah jenazah karena bisa mengingatkan akherat.”}          

قال النبي عليه السلام: {عُودُوا المَريضَ واتْبَعُوا الجَنَازَةَ تُذَكِّرْكُمُ الآخِرَةَ}

.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Penjenguk orang sakit itu berjalan di kebun buah surga hingga dia kembali.”}          

وقال صلى الله عليه وسلم: {عَائِدُ المَريضِ يَمْشي في مَخْرَفَةِ الجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ}

.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Menjenguk orang sakit pada hari pertama adalah wajib dan pada hari berikutnya sunnah.”}    

وقال عليه الصلاة والسلام: {عِيَادَةُ المريضِ أَوَّلَ يَوْمٍ فَرِيْضَةٌ وَمَا بَعْدَهَا سُنَّةٌ}

.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Tidak wajib menjenguk orang sakit terkecuali setelah tiga hari.”}     

وقال عليه الصلاة والسلام: {لا تَجِبُ عِيَادَةُ المريضِ إلاَّ بَعْدَ ثَلاَثةِ أيّامٍ}

.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Barang siapa menjenguk orang sakit yang sholeh maka keluar bersamanya tujuhpuluh malaikat yang beristigfar untuknya, mereka keluar dari rumah si sakit dan masuk ke rumah si penjenguk.”}    

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ عَادَ مَرِيضا صَالحا خَرَجَ مَعَهُ سَبْعُونَ مَلَكا يَسْتَغْفِرُونَ لَهُ، وَيَخْرُجُونَ مِنْ بَيْتِ المريض مَعَه وَيَدْخُلُونَ إلى بَيْتِهِ}

.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Orang yang menjenguk orang sakit selalu berada di kebun buah surga. “}               

وقال عليه السلام: {مَنْ عَادَ مَريضا لَمْ يَزَلْ في خُرفَةِ الجَنَّةِ}

.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Penjenguk orang sakit berada dalam rahmat Allah dan ketika dia duduk disampingnya maka dia menyelam dalam rahmat tersebut.”}

               

وقال عليه السلام: {عَائِدُ المَريضِ يَخُوضُ في رَحْمَةِ الله تَعالى فإذا جَلَسَ عِنْدَهُ انْغَمَس فِيها}

.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Tidak adanya penjengukan lebih berat daripada penyakitnya itu sendiri.”}

               

وقال عليه السلام: {عَدَمُ عِيَادَةِ المَريضِ أَشَدُّ عَلَيْهِ مِنْ مَرَضِهِ}

.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Menjenguk orang sakit itu waktunya seperti antara dua pemerahan onta. “}           

وقال عليه السلام: {العِيَادَةُ فَوَاقُ نَاقَةٍ}

.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Sebagian dari kesempurnaan menjenguk orang sakit adalah meletakkan tangan diatas wajah atau tangan si sakit dan menanyakan bagaimana kondisinya, dan Kesempurnaan penghormatan diantara kalian adalah berjabat tangan.”}

وقال عليه السلام: {وَمِنْ تَمَامِ عِيَادَةِ المَريضِ أَنْ يَضَعَ أَحَدُكُمْ يَدَهُ عَلَى وَجْهِهِ أَوْ عَلَى يَدِهِ فَيَسْأَلُه كَيْفَ هُوَ وَتَمامُ تَحِيَّتِكم بَيْنَكُم المُصَافَحَةُ}

KISAH SUFI : ULAMA SUFI DAN KUCINGNYA SERTA ANJING YANG MENJADI PENYEBAB MASUK ISLAMNYA ORANG MONGOLIA

Anjing menjadi penyebab 40.000 orang mongol masuk islam.

Bila dilihat dari sudut hukum fikih, anjing merupakan salah satu dari dua najis yang dianggap berat (mughaladzah). Cara mensucikannya pun tidak seperti najis biasa, melainkan harus dibasuh tujuh kali yang salah satunya dicampur debu.

Memandang hukum ini, tentu kita akan berfikiran bahwa anjing adalah hewan yang hina, rendah dan tidak berfaedah. Namun, Allah Swt telah menjelaskan dalam Alquran (44/38) bahwa Dia tidak menciptakan langit, bumi dan isinya dengan tanpa faedah, semua adalah hak. Kita tidak boleh mencela apa pun yang ada di bumi, sekalipun itu seekor anjing.

Jauh sebelum Muhammad Saw diutus dengan syariat Islam, Allah telah memberi pelajaran berharga kepada Abdul Ghafar dengan seekor anjing. Ia adalah Nabi Nuh, kronologi penamaan ini karena kisah yang dialaminya dengan anjing. Muhammad bin Hammad Ibnu Iyas al-Mishri dalam kitab Badai’ al-Zuhur fi Waqai’ al-Duhur mengkisahkan, Imam Kisai berkata bahwa, nama Nuh adalah Abdul Ghafar atau Yasykur. Disebut Nuh karena saat ia melihat seekor anjing bermata empat ia berkata, “Sungguh anjing ini sangat buruk.”

Tiba-tiba anjing itu berkata, “Hai Abdul Ghafar, Yang kamu cela ukiran atau Dzat Yang mengukir? Apabila celaan itu untuk ukirannya, sungguh, seandainya aku bisa memilih, aku tidak ingin menjadi anjing, dan apabila celaan itu untuk Dzat Yang mengukir, maka sama sekali celaan itu tidak patut untuk-Nya, karena Dia adalah Dzat yang melakukan apapun yang dikehendaki.”

Setelah itu, Abdul Ghafar yanuhu (meratap atau menangis)  dan menangisi atas dosa dan kesalahannya. Karena banyaknya dia menagis maka dia disebut Nuh (meratap).

Setelah itu, Ada kisah seekor anjing penjaga Ashabul Kahfi. Mereka adalah para pemuda yang teguh mempertahankan iman dari raja yang keji. Mereka melarikan diri, keluar dari kota. Di tengah perjalanannya mereka diikuti seekor anjing. Hingga akhirnya anjing ini menjaga mereka selama di gua. Ulama berkomentar, anjing ini disebut Qithmir, ia akan masuk surga sebagaimana Ashabul Kahfi. Kisah lengkap perjalanan Ashabul Kahfi diabadikan oleh Allah dalam Alquran surat al-Kahfi.

Kisah yang lebih menakjubkan terjadi di Mongol. Sebab seekor anjing, 40.000 warga Mongol masuk Islam. Kisahnya tercatat dalam kitab Mu’jam al-Syuyukh milik Imam al-Dzahabi dan  Al-Durar al- Kaminah milik Ibnu Hajar al-Asqalani. Ibnu Hajar berkata:

“Suatu ketika para pembesar Nasrani berkumpul di Mongol. Mereka datang menghadiri upacara besar yang diselenggarakan sebab salah satu pemerintah Mongol masuk Nasrani. Dalam upacara tersebut, seorang pembicara dari Nasrani mencaci-maki Nabi Saw. Dan di sampingnya ada seekor anjing yang di rantai. Ketika orang itu mulai mencaci Nabi, anjing itu menggeram, memberontak, lalu meloncat dengan mengincar lehernya. Hewan ini menggigitnya sangat keras. Para penjaga sampai kesulitan melepaskan gigitannya, dan baru berhasil mereka lepaskan dengan susah payah. Sebagian audient berkata:

“Ini terjadi sebab ucapanmu (yang mencela) terhadap hak Muhammad Saw.”

Nasrani menjawab, “Bukan, anjing ini hanya membela diri, dia melihatku menggerak-gerakkan tangan sehingga menyangka aku akan memukulnya.”

Setelah itu, dia kembali mencaci Muhammad, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Sontak, anjing itu langsung memutus rantai, dan melompat menerkam lehernya, ia menggigitnya dengan sangat keras. Seketika itu ia meninggal. Melihat kejadian itu 40.000 orang Mongol masuk Islam.”

 

Ulama Sufi dan kucingnya

Dalam sejarah umat manusia, salah satu hewan yang memiliki hubungan dekat dengan manusia adalah kucing. Keberadaannya secara alamiah banyak memberi manfaat kepada kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung.

Secara langsung, keberadaan kucing yang tinggal di rumah-rumah dan pasar, dalam mencari mangsanya mereka menjadi predator tikus, sehingga pada saat yang sama kucing menjaga gudang makanan manusia dari ancaman tikus.

Secara tidak langsung, keberadaan kucing banyak menjadi pelipur lara bagi beberapa orang yang merasa sendiri. Melihatnya bermain di taman-taman kota bias menurunkan tingkat stres.

Keberadaan kucing menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan umat manusia, meskipun kucing bukan hewan yang dikonsumsi, kecintaan manusia kepada kucing itu tulus, walau kadang kebaikan mereka tidak dibalas dengan kebaikan yang sama oleh kucing.

Dari dahulu hingga sekarang, dari barat sampai timur banyak peribahasa dan cerita-cerita heroik tentang hubungan manusia dan hewan lucu berkaki empat ini. Ada sebuah hikayat yang menarik tentang mengapa bentuk kucing itu mirip dengan singa.

Konon, pada saat Nabi Nuh melakukan misi penyelamatan dari azab banjir bersama umatnya yang taat, tidak ketinggalan di dalam kapal yang mereka naiki juga terdapat tikus. Namun rupanya tikus-tikus itu dengan cepat berkembang biak dan mengancam stok makanan yang ada di kapal. Khawatir kehabisan bahan makanan karena dimakan tikus, Nabi Nuh berdoa kepada Allah agar dikeluarkan dari masalah yang sedang menimpanya dan umatnya.

Sebagai jawaban atas doa Nabi Nuh, Allah memerintahkan singa-singa untuk bersin. Maka keluarlah dari hidung-hidung mereka kucing-kucing lucu. Riwayat lain mengatakan bahwa Nabi Nuh mendapat wahyu untuk memegang kepala atau memasukkan jari-jarinya ke dalam hidung singa sehingga singa itu bersin dan keluar dari hidungnya dua hewan kecil yang bentuknya mirip seperti singa.

Dalam tradisi Islam kucing juga kerap kali disebutkan dan menjadi sumber pelajaran hidup (ibrah). Misalnya, ada satu dari sahabat Nabi ada yang memiliki julukan bapak kucing, Abu Hurairah. Julukan itu ia dapat karena dirinya sangat menyayangi kucing

Sebaliknya, terdapat juga sebuah hadis yang menceritakan ada seorang perempuan menjadi calon penghuni neraka karena mengikat seekor kucing, namun tidak diberi makan dan tidak melepasnya untuk mencari makan.

Cerita tentang hubungan antara kucing dengan manusia juga bayak ditemukan dalam tradisi tasawuf. Misalnya, Ahmad ar-Rifai. Pada satu ketika ada seekor kucing yang tidur di atas jubah ar-Rifai, Sampai waktu salat tiba, kucing tersebut masih saja tidur dengan nyenyaknya. Melihat betapa jubahnya digunakan sebagai alas tidur kucing, ar-Rifai tidak tega membangunkan.

Dia lebih memilih untuk memotong bagian jubah yang ditempati oleh kucing, dan menggunakan jubah yang bolong untuk salat. Setelah ar-Rifai selesai melaksanakan salat, si kucing sudah bangun dan pergi meninggalkan potongan jubahnya.

Cerita yang sedikit mirip dinisbahkan kepada Syaikh Baqi Billah. Pada Suatu malam Baqi Billah bangun untuk melaksanakan salat tahajud. Namun, di atas selimut yang dia gunakan ada seekor kucing tidur yang membuatnya tidak bisa bangun. Khawatir si kucing terbangun, Baqi Billah rela tidak bangun Sampai waktu subuh datang.

Abu Bakar as-Sibli seorang sufi dari kota Baghdad meninggal pada tahun 334 H. Setelah kematiannya, salah satu dari sahabatnya bertemu dengan as-Sibli dalam mimpinya. Lalu dia bertanya, “bagaimana Allah memperlakukan kamu wahai Sibli?”

Sibli menjawab, bahwa ia diperlakukan secara istimewa oleh Allah. Sibli melanjutkan ceritanya:

Dia (Allah) bertanya kepadaku, “Sibli, tahukah kamu kenapa saya memperlakukan kamu dengan sedemikian baik?” Saya menjawab, karena saya mengerjakan perbuatan-perbuatan baik. Kemudian Allah menjawab, “Bukan.” Saya jawab lagi, karena saya beribadah dengan ikhlas dan tulus. Allah masih menjawab, “bukan.”

Saya jawab lagi, karena saya haji, puasa dan salat. Allah masih menjawab, “bukan.”

Saya bingung, apa yang membuat saya diperlakukan dengan sebaki ini.

Lalu Allah menjelaskan, “Kamu ingat, kamu pernah pergi ke sebuah jalan di salah satu pojok kota Baghdad, di sana kamu menemukan seekor anak kucing yang kedinginan dan dengan penuh kasih sayang kamu merawatnya.” Lalu saya menjawab, “Iya Ya Allah, saya ingat itu.”

“Karena kamu telah memperlakukan kucing itu dengan penuh kasih sayang, saya memperlakukan kamu dengan perlakukan yang sama.”

Cerita-cerita di atas menggambarkan betapa kucing memiliki tempat yang sangat istimewa dalam hati manusia terutama para ulama tasawuf (sufi). Kecintaan mereka tulus. Tanpa pamrih.

Tentu, memberikan perlakukan baik kepada kucing adalah sebuah praktik yang tidak boleh berhenti pada kucing saja. Apa yang telah dilakukan oleh para sufi kepada kucing juga mesti diterapkan kepada hewan-hewan yang lain. Adalah terang bahwa Allah memerintahkan kita umat manusia untuk memperlakukan hewan dengan baik, apalagi dengan sesama manusia.

Kucing adalah simbol pihak yang ketika diberikan kebaikan tidak membalas. Tetapi kendati demikian, kebaikan harus tetap diterapkan kepada siapa pun. Karena pada dasarnya tugas kita sebagai manusia adalah menyebarkan kebaikan kepada semua makhluk yang ada. Hal ini sebagaimana diperintahkan oleh Allah dalam hadis Qudsi,

“Sayangilah apa yang ada di bumi, maka Dzat yang ada di langit akan menyayangimu” (HR. At Thabrani dalam al Mu’jam al Kabir, Shahihul Jaami’ no. 896)

Sementara balasan adalah urusan Allah, bukan urusan orang yang kita perlakuan dengan baik. Bahwa kebaikan dilakukan bukan untuk mendapatkan balasan atas apa yang kita lakukan.

5 KISAH TERSELAMATKAN DARI BAHAYA KARENA BERSHODAQOH

Bersedekah adalah sebuah kemuliaan yang sangat berharga, karena sedekah dapat menghapus dosa sebagai mana air yang dapat memadamkan api, dengan bersedekah kita akan mendapat naungan dariNya di hari akhirat, bersedekah akan memberikan keberkahan pada harta yang kita miliki, Allah akan melipat gandakan pahala orang-orang yang bersedekah dan masih banyak keutamaan-keutamaan lainnya.

Mengenai hal ini ada sebuah hadist dari Ibnu abbas R.A yang menceritakan tentang seorang wanita dari bani israil yang mempunyai seorang suami yang merantau, dan suaminya mempunyai seorang ibu yang pada awal nya menyayangi nya, namun akhirnya mertuanya membencinya sehingga merekayasa selembar surat perceraian yang diberikan kepada menantunya dan perempuan tersebut juga memiliki dua orang anak dari suamiya yang ia cintai, kemudia wanita tersebut beserta anak-anaknya pulang ke keluarganya, dan pada masa itu mereka memiliki seorang raja yang membenci memberi makan kepada orang miskin, didalam perjalanan pulang wanita itu bertemu dengan orang miskin yang meminta sedikit bantuan kepadanya yang sedang memakan roti, kemudia wanita itu bertanya kepada orang miskin tersebut, “apakah anda tau yang bahwa raja mengharamkan memberi makan orang miskin?” Orang itu menjawab,” ia saya tau, akan tetapi saya akan binasa jika engkau tidak berikan sedikit makanan kepadaku” dan akhirnya wanita itu memberi makanan kepadanya, setelah wanita itu berpesan agar tidak memberitau kepada seorang pun. Maka orang miskin itu pergi dan tiba-tiba berjumpa dengan penjaga kerajaan, penjagapun bertanya kepadanya “ dari mana kamu mendapatkan dua roti itu?”

si miskin menjawa “dari seorang wanita”, kemudian penjagapun mencari wanita itu dan menjumpainya.

Maka penjaga bertanya “apakah benar kamu yang memberikan dua roti ini

wanita itu menjawab “iya”

penjaga melanjutkan pertanyaan nya, “apakah kamu tidak tahu yang bahwa raja mengharamkan nya?” wanita itu menjawab ”saya tau”

penjaga; mengapa kamu memberikannya?

wanita; karena saya kasihan.

kemudia pengawal membawa wanita itu kepada raja, dan rajapun bertanya kepadanya,

raja:”apakah kamu belum tau yang bahwa saya mengharamkannya?

wanita: saya tau

raja: kenapa kamu memberikannya?

wanita: karena saya kasihan dan saya berharap tidak ada yang tahu.

maka rajapun menyuruh algojo untuk memotong kedua tangannya atas dua roti yang telah ia berikan dan eksikusipun berjalan dengan lancar.

Akhirnya wanita itu pulang dengan kedua buah hatinya yang ia miliki, didalam perjalanan pulang wanita itu meyuruh salah satu anaknya untuk mengambil air di sungai karena haus, maka tiba-tiba sianak tergelincir dan jatuh kesungai maka ibunya panik sehingga menyuruh anak satunya lagi agar membantu saudaranya yang tenggelam, pada akhirnya keduanya pun hilang didalam sungai, Ibunya tidak bisa berbuat apa-apa lantaran tidak punya tangan. Maka tinggalah wanita itu seorang diri dengan luka diatas duka, maka tiba-tiba muncul seseorang dan berkata kepada wanita itu,”wahai hamba Allah, saya melihat anda begitu sedih. Dan wanita itu meminta sepucuk doa dari orang itu setelah wanita itu menceritakan kisahnya, dan orang itu memberikan dua pilihan kepadanya, apakah kamu menginginkan kedua tangan mu atau kedua anak mu? Tanpa ragu wanita itu menjawab, saya ingin anakku kembali. Dan akhirnya orang itu mendoakannya dan tiba-tiba munculah anaknya, dan kedua tangannya. Kemudia orang itu berkata, “ saya adalah utusan Allah yang diutus bagimu, kedua tangan adalah dua roti dan dua anak adalah fahalamu dariAllah yang telah kamu bantu orang miskin dan kesabaranmu atas cobaan yang menimpa dirimu, ketahuilah suamimu tidak menceraikan mu maka pulanglah kepada suamimu, dia ada dirumah dan sesungguhnya mertuamu sudah mati, maka pulanglah wanita itu. Dan terpenuhi segala urusan.

BERIKUT INI 5 KISAH SELAMAT DARI BAHAYA KARENA BERSEDEKAH

Kisah 1

Dihikayahkan, pada masa nabi Shalih as ada konon hiduplah seseorang yang sangat suka menyakiti kaumnya, kemudian kaum tersebut meminta supaya nabi Shalih as mendoakan kebinasaan kepada laki-laki tersebut. Nabi shalih as pun mendoakannya.

Suatu hari laki-laki tersebut keluar untuk mencari kayu bakar dengan membawa dua potong roti, ia memakan salah satu dari dua roti dan satu lagi disedekahkan. Dia pulang dengan selamat dari perjalanan kayu bakarnya. Nabi Shalih as yang memlihat laki-laki itu kemudian memanggilnya dan bertanya “mengapa engkau selamat dari bahaya, apa yang telah kamu kerjakan pada hari ini ?’’. Laki-laki tersebut menjawab‘’Aku keluar hari ini dengan membawa dua ptong roti, satu roti aku memakannya dan satu lagi aku sedekahkan kepada orang fakir’’. Nabi Shalih as mengatakan pada laki-laki tersebut ‘’Bukalah ikatan kayu bakarmu!’’. Ketika ia membuka kayu bakar tersebut ternyata ada seekor ular hitam besar yang sedang menggigit cabang kayu tersebut, Shalih melanjutkan‘’Dengan sedekahmu hari ini, kamu telah terlepas dari ular ini ’’.

Kisah 2.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bercerita, pada zaman dulu ada seorang yang sangat suka mengambil anak burung yang masih kecil dalam sarangnya ketika baru menetes. Induk burung tersebut kemudian mengadu kepada Allah swt tentang apa yang telah dilakukan orang tersebut, dan Allah berfirman ‘’mintalah niscaya aku akan membinasakannya’’. Beberapa waktu kemudian, ketika telur burung tersebut telah menetes lagi, datang lagi orang tersebut untuk mengambil anak burung seperti yang biasa ia lakukan, tetapi sebelumnya ketika dalam perjalanan saat sampai ke ujung desa, datanglah seorang pengemis yang meminta-minta dan laki-laki itupun memberikan sepotong roti kepada pengemis tersebut.

Pada hari-hari selanjutnya, ia datang lagi ke sarang burung tersebut dengan membawa tangga untuk mengambil anak burung. Induk dari burung tersebut cuma memperhatikan laki-laki itu dan kemudian mengadukannya kepada Allah swt ‘’Ya Allah sesungguhnya engkau tidak pernah menyalahi janji , dan engkau telah berjanji untuk membinasakan laki-laki yang mengambil anakku jadi mengapa engkau tidak membinasakannya?’’. Allah swt berfirman ‘’Adakah kalian ketahui aku tidak akan membinasakan orang dengan seburuk-buruk kematian, jika pada hari itu ia bersedekah”

 

Kisah 3

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwasanya ada satu rombongan yang datang kepada nabi Isa as dan beliau bersabda : ‘’Salah-satu dari kalian akan meninggal pada hari ini’’. Romobngan tersebut kemudian pergi mencari kayu bakar ke hutan. Malamnya mereka pulang dengan selamat dengan membawa kayu bakar dipundaknya masing-masing, nabi Isa as berkata ‘’letakkanlah kayu bakar tersebut dan lepasakanlah ikatannya’’ ,tiba-tiba keluarlah dari dalam kayu bakar tersebut Ular hitam yang besar. Nabi Isa bertanya kepada pembawa kayu bakar tersebut ‘’apa yang kamu kerjakan hari ini ?’’ laki-laki itu menjawab ‘’aku tidak melakukan apa-apa kecuali aku mempunyai sepotong roti dan ketika datang seorang yang miskin aku memberikan sebagian roti tersebut kepadanya”. Kemudian nabi Isa as bersabda ‘’Ssesungguhnya sedekahmu itu telah melepaskanmu dari ini ’’ yakni ular hitam yang besar.

Kisah 4

Diriwayatkan dari Wahab bin Munabbih, konon ada seorang wanita yang sedang mencuci pakaian di tepi sungai dan anaknya sedang merangkak dihadapannya, pada ketika itu datang seorang fakir meminta sedikit makanan, kemudian ia memberikan satu suapan roti yang ada padanya. Kemudian datanglah seekor serigala dengan cepat akan menerkam anak wanita itu, ketika sang anak telah berada dalam mulut Serigala, Wanita itu lari dengan cepat ke belakang serigala tersebut seraya bekata ‘’Wahai serigala itu anakku !!..’’. Kemudian Allah swt mengutus seorang malaikat untuk mengeluarkan anak itu dari mulut serigala dan melemparkan kepada ibunya. Serigala berkata ‘’sesungguhnya satu suapan roti dibalas dengan satu suapan

 

Kisah 5

Dihikayahkan, pada zaman nabi Isa as, hiduplah seorang yang suka membuat onar, mengacaukan manusia. Ketika perbuatannya sudah sanagt meresahkan, orang-orang mendatangi nabi Isa dan meminta supaya nabi Isa mendoakan laki-laki tersebut, kemudian Isa as mendoakan kebinasaan kepada laki-laki itu.

Saat matahari terbenam, laki-laki itu datang dengan membawa bungkusan di kepalanya sehingga membuat orang-orang heran . Mereka kembali medatangi nabi Isa as, mereka bertanya ”mengapa ia tidak binasa” Nabi Isa memanggil laki-laki tersebut dan meminta supaya dibawakan juga bungkusan yang ada di kepalanya. Nabi Isa as meminta untuk dibukakan bungkusan itu, saat dibuka ternyata disana terdapat seekor ular yang besar yang telah terkekang dengan kekang dari rantai besi. Kemudian nabi Isa as bertanya pada laki-laki tersebut ‘’apa yang telah kamu lakukan hari ini’’ ? laki-laki itu menjawab ‘’aku tidak melakukan apa-apa kecuali ada seorang yang mengemis yang mengadu padaku jika ia sedang kelaparan, maka aku memberikan roti tersebut” . Nabi Isa as bersabda ‘’Allah telah mengutuskan kepadamu musuh ini (ular) ,akan tetapi ketika kamu bersedekah Allah swt memerintahkan juga malaikat untuk mengekanggnya dengan rantai besi’’.

Sumber : Majalisus Saniyah  hal. 89-90

HAL YANG MEMBUAT ALLOH TERSINGGUNG DAN DUA PENGHUNI NERAKA YANG BERDZIKIR

Ketika Allah Tersinggung

 

Salah satu kebiasaan buruk manusia ialah suka membawa-bawa nama Allah untuk kepentingan dirinya. Seolah-olah apa yang ada dalam pikirannya selalu sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah. Padahal sejatinya kadang justru malah berkebalikan. “Ini bisa membuat Allah tersinggung.

 

Ada contoh tentang bagaimana Allah tersinggung bila ada hamba-Nya membawa-bawa nama Allah untuk kepentingan egonya. Salah satu contohnya, di sebutkan dalam Shahih Muslim.

Dikisahkan ada seorang lelaki yang merasa dirinya benar karena ibadahnya.

“Ada orang sedang bersujud. Sujud itu merupakan salah satu ibadah terbaik.”

Ketika orang ini sedang bersujud, ada seorang ahli maksiat yang menginjak kepalanya. Ketika diinjak, dia marah. Saking marahnya, dia bilang, “Fawallahi. Laa yaghfirulllahu laka. Demi Allah. Kamu tidak akan diampuni Allah.”

Merespon kejadian itu, Allah memberi wahyu kepada seorang Nabi. “Beri tahu kepada si Fulan yang sedang sujud itu. Bilang padanya, bagaimana mungkin dia mengatasnamakan sifatku pada seorang hambaku.” Maksudnya dia membawa-bawa nama Allah karena kemarahan dalam dirinya sehingga seolah-olah Allah tidak mungkin mengampuni orang yang menginjak kepalanya.

 “Beri tahu kepada si Fulan kalau Aku mengampuni orang yang menginjak kepalanya dan Aku tidak menerima sujudnya.”

 

Dalam hal ini, para ulama hadits sepakat kalau Allah tidak suka namanya dicatut atau dibawa-bawa oleh orang lain. Apalagi dalam kasus ini. Mana mungkin Allah yang memiliki sifat Ghafuur (dzat yang maha banyak mengampuni) kok tidak mengampuni dosa orang lain. Sedangkan si Fulan malah menuduh Allah tidak mungkin mengampuni. Ini suatu yang sembrono.

 

Betapa saat ini banyak orang yang marah entah karena apa lalu membawa-bawa nama Allah untuk menghakimi orang lain. Ini biasanya dilakukan oleh kelompok ekstremis dan orang yang suka memvonis bid’ah. Jadi kita semua harus berhati-hati. Jangan gampang mengatasnamakan Allah untuk memenuhi ego kita. Maka, kita harus mengaji lagi agar tahu sesuatu yang benar dan yang salah.

 

Dua Penghuni Neraka yang Dimasukkan Surga

Di kisahkan fakta menarik yang dikutip dari kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali. Kisah ini memberikan motivasi kepada umat Islam untuk selalu optimis akan masuk surga dan berpikir positif tentang besarnya rahmat Allah. Selain itu kisah ini juga bisa membuat orang tidak mudah menghakimi orang lain apalagi mendoakan orang masuk neraka.

Dikisahkan ada dua orang hamba Allah yang sudah lama tinggal di neraka. Di neraka, orang tersebut selalu berzikir dengan membaca “Ya Hannan Ya Mannan”. Karena terus berzikir, akhirnya Allah menyuruh Malaikat memanggil dua orang tersebut.

“Berzikir di neraka merupakan sesuatu yang mungkin terjadi sebab jika teriak kesakitan saja bisa maka berzikir juga bisa.”.

Singkat cerita, dua orang ini dibawa ke hadapan Allah dengan keadaan masih dikerangkeng. Lalu Allah bertanya kepada salah satunya, “Bagaimana neraka menurutmu?”

“Ya Allah. Sungguh neraka adalah tempat yang sangat buruk. Tidak ada tempat yang lebih buruk dari neraka,” jawabnya.

“Ya sudah sana kembali ke neraka!” perintah Allah pada orang tersebut.

Orang ini kemudian berlari menuju neraka. Bahkan sangat semangat kembali menuju neraka.

Sikap orang ini aneh sehingga Allah memanggilnya lagi, “Kok kamu semangat sekali kembali ke neraka?”

“Saya sudah kapok, Gusti. Saya menyesal dulu saat di dunia saya lamban dalam melaksanakan perintahmu. Gara-gara itu saya masuk neraka. Saya tidak mau terulang yang kedua kalinya. Mumpung sekarang ada perintah darimu, saya ndak mau melewatkan kesempatan melaksanakan perintahmu ini. Jadi saya harus bersemangat.” jawab orang itu.

Karena demi melaksanakan perintah Allah menuju ke neraka. Padahal sangat menyakitkan baginya, Allah pun memberikan rahmat kepadanya.

“Kalau begitu, sana masuk surga.” kata Allah. Akhirnya ia dimasukkan ke surga oleh Allah.

Allah kemudian menanyai satu orang yang lain, “Bagaimana neraka menurutmu?”

 “Sungguh buruk sekali, Gusti.”

“Ya sudah, sana kembali lagi ke neraka!” Perintah Allah.

Tak seperti orang pertama, orang ini sangat lamban dan lelet disuruh ke neraka. Langkahnya tidak semangat. Allah kemudian menanyainya, “Kenapa kamu lamban sekali?”

 “Saya tidak pernah menyangka kalau bakal disuruh kembali ke neraka. Saya sudah khusnudzan tadi Panjenengan panggil saya ke sini untuk dimasukkan ke surga. Termyata perkiraan saya salah. Dan saya dimasukkan ke neraka lagi,” jawabnya.

Dengan jawaban itu ternyata Allah memasukkan orang ini masuk surga.  “Kamu khusnuzan pada-Ku. Tapi aku masih memasukkanmu ke neraka. Kalau begitu, sana masuk surga.” Akhirnya orang ini pun masuk surga.

Kisah ini seharusnya membuat kita untuk tidak berpikir yang buruk tentang Allah. Apa yang kita pikirkan seringkali berbeda dengan apa yang diputuskan Allah. Bahkan untuk urusan surga dan neraka. Manusia sama sekali tidak bisa menerka-nerka kehendak Allah. Lalu mengapa kita terkadang merasa diri benar sembari menyalahkan bahkan menuding orang lain akan masuk neraka? Allah punya banyak alasan memasukkan orang ke neraka dan surga.

KISAH RAMADHAN : DI SETIAP BULAN RAMADHAN KESIBUKAN MALAIKAT MENINGKAT

            Surga selalu dihias dan diberi harum-haruman dari tahun ke tahun karena masuknya bulan Ramadhan. Pada malam pertama Ramadhan itu, muncullah angin dari bawah Arsy yang disebut al Mutsirah. Karena hembusan al Mutsirah ini, daun-daunan dari pepohonan di surga bergoyang dan daun-daun pintunya bergerak, sehingga menimbulkan suatu rangkaian suara yang begitu indahnya. Tidak ada seorang atau mahluk apapun yang pernah mendengar suara seindah suara itu, sehingga hal itu menarik perhatian para bidadari yang bermata jeli.

Mereka berdiri di tempat tinggi dan berkata, “Apakah ada orang-orang yang melamar kepada Allah, kemudian Allah akan mengawinkannya dengan kami??”

            Tidak ada jawaban dan penjelasan apapun, maka para bidadari itu bertanya kepada malaikat penjaga surga, “Wahai Malaikat Ridwan, malam apakah ini?”

            Malaikat Ridwan berkata, “Wahai para bidadari yang cantik jelita, malam ini adalah malam pertama Bulan Ramadhan!!”

            Para bidadari itu berdoa, “Ya Allah, berikanlah kepada kami suami-suami dari hamba-Mu pada bulan ini!!”

            Maka tidak ada seorangpun yang berpuasa di Bulan Ramadhan (dan diterima puasanya) kecuali Allah akan mengawinkannya dengan para bidadari itu, kelak di dalam kemah-kemah di surga.

            Kemudian terdengar seruan Firman Allah, “Wahai Ridwan, bukalah pintu-pintu surga untuk umat Muhammad yang berpuasa pada bulan ini. Wahai Malik (Malaikat penjaga neraka), tutuplah pintu-pintu neraka untuk mereka yang berpuasa bulan ini. Wahai Jibril, turunlah ke bumi, kemudian ikatlah setan-setan yang jahat dengan rantai-rantai dan singkirkan mereka ke dasar lautan yang dalam, sehingga mereka tidak bisa merusak (mengganggu) puasa dari umat kekasih-Ku, Muhammad!!”

            Para malaikat itu dengan segera melaksanakan perintah Allah tersebut. Itulah sebabnya di dalam Bulan Ramadhan itu kebanyakan umat Islam sangat mudah untuk berbuat amal kebaikan. Suatu hal yang sangat sulit untuk diamalkan pada bulan-bulan lainnya. Gangguan setan (dari kalangan jin) dan hawa panas neraka untuk sementara ditiadakan, hawa sejuk surga yang penuh rahmat dan kasih sayang Allah melimpah ruah membangkitkan semangat untuk terus beribadah kepada-Nya. Musuh yang harus dihadapi tinggal gangguan setan dalam bentuk manusia dan hawa nafsu, yang mereka itu juga telah dilemahkan dengan adanya kewajiban puasa.

            Pada riwayat lain disebutkan, pada malam pertama Bulan Ramadhan itu Allah berfirman, “Barang siapa yang mencintai-Ku maka Aku akan mencintainya, barang siapa yang mencari-Ku maka Aku akan mencarinya, dan barang siapa yang memohon ampunan kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya berkat kehormatan Bulan Ramadhan ini (dan puasa yang dijalankannya) !!”

            Kemudian Allah memerintahkan malaikat Kiramal Katibin (malaikat-malaikat pencatat amalan manusia) untuk mencatat amal kebaikan dari tiga kelompok orang-orang tersebut dan menggandakannya, serta memerintahkan untuk membiarkan (tidak mencatat) amal keburukannya, bahkan Allah juga menghapus dosa-dosa mereka yang terdahulu.

            Pada setiap malam dari Bulan Ramadhan itu, Allah akan berseru tiga kali, “Barang siapa yang memohon, maka Aku akan memenuhi permohonannya. Barang siapa yang kembali kepada-Ku (Taa-ibin, taubat) maka Aku akan menerimanya kembali (menerima taubatnya). Barang siapa yang memohon ampunan (maghfirah) atas dosa-dosanya, maka Aku akan mengampuninya…!!”

            Pada malam yang ditetapkan Allah sebagai Lailatul Qadr, Allah memerintahkan Jibril dan rombongan besar malaikat untuk turun ke bumi. Jibril turun dengan membawa panji hijau yang kemudian diletakkan di punggung Ka’bah. Ia mempunyai 600 sayap, dua di antaranya tidak pernah dipergunakan kecuali pada Lailatul Qadr, yang bentangan dua sayapnya itu meliputi timur dan barat. Kemudian Jibril memerintahkan para malaikat yang mengikutinya untuk mendatangi umat Nabi Muhammad SAW. Mereka mengucapkan salam pada setiap orang yang sedang beribadah dengan duduk, berdiri dan berbaring, yang sedang shalat dan berdzikir, dan berbagai macam ibadah lainnya pada malam itu. Mereka menjabat tangan dan mengaminkan doa umat Nabi Muhammad SAW hingga terbit fajar.

            Ketika fajar telah muncul di ufuk timur, Jibril berkata, “Wahai para malaikat, kembali, kembali!!”

            Para malaikat itu tampaknya enggan untuk beranjak dari kaum muslimin yang sedang beribadah kepada Allah. Ada kekaguman dan keasyikan berada di tengah-tengah umat Nabi Muhammad SAW, yang di antara berbagai kelemahan dan keterbatasannya, berbagai dosa dan kelalaiannya, mereka tetap beribadah mendekatkan diri kepada Allah, tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah. Mendengar seruan Jibril untuk kembali, mereka berkata, “Wahai Jibril, apa yang diperbuat Allah untuk memenuhi permintaan (kebutuhan) orang-orang yang mukmin dari umat Nabi Muhammad ini?’

            Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah melihat kepada mereka dengan pandangan penuh kasih sayang, memaafkan dan mengampuni mereka, kecuali empat macam manusia…!”

            Mereka berkata, “Siapakah empat macam orang itu?”

            Jibril berkata, “Orang-orang yang suka minum minuman keras (khamr, alkohol, narkoba dan sejenisnya), orang-orang yang durhaka kepada orang tuanya, orang-orang yang suka memutuskan hubungan silaturahmi, dan kaum musyahin!!”

            Para malaikat itu cukup puas dengan penjelasan Jibril dan mereka kembali naik ke langit, ke tempat dan cara ibadahnya masing-masing seperti semula.

            Ketika Nabi SAW menceritakan hal ini kepada para sahabat, salah seorang dari mereka berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah kaum musyahin itu?”

            Nabi SAW bersabda, “Orang yang suka memutuskan persaudaraan, yaitu orang yang tidak mau berbicara (karena perasaan marah, dendam dan sejenisnya) kepada saudaranya lebih dari tiga hari!!”

            Malam berakhirnya bulan Ramadhan, yakni saat buka puasa terakhir dan memasuki malam Idul Fitri, Allah menamakannya dengan Malam Hadiah (Lailatul Jaa-izah). Ketika fajar menyingsing, Allah memerintahkan para malaikat untuk turun dan menyebar ke seluruh penjuru negeri-negeri yang di dalamnya ada orang-orang yang berpuasa. Mereka berdiri di jalan-jalan dan berseru, dengan seruan yang didengar oleh seluruh mahluk kecuali jin dan manusia, “Wahai umat Muhammad, keluarlah kamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, yang memberikan rahmat begitu banyak dan mengampuni dosa yang besar!!”

            Ketika kaum muslimin keluar menuju tempat-tempat shalat Idul Fitri dilaksanakan, Allah berfirman kepada para malaikat, “Wahai para malaikat-Ku, apakah balasan bagi pekerja jika ia telah menyelesaikan pekerjaannya??”

            Mereka berkata, “Ya Allah, balasannya adalah dibayarkan upah-upahnya!!”

            Allah berfirman, Wahai para malaikat, Aku persaksikan kepada kalian semua, bahwa balasan bagi mereka yang berpuasa di Bulan Ramadhan, dan shalat-shalat malam mereka adalah keridhaan dan ampunan-Ku!!”