‘UZLAH(MENGASINGKAN DIRI) DI SAAT DUNIA SEPERTI SEKARANG INI

الباب الخامس والعشرون باب العزلة
صاحب العزلة يحتاج إلى عشرة أشياء :علم الحق و الباطل و الزهد واختيار الشدة و اغتنام الخلوة و السلامة و النظر في العواقب و أن يرى غيره أفضل منه و يعزل عن الناس شره ولا يفتر عن العمل فإن الفراغ بلاء ولا يعجب بما هو فيه و يخلو بيته من الفضول , و الفضول ما فضل عن يومك لأهل الإرادة و ما فضل عن وقتك لأهل المعرفة و يقطع ما يقطعه عن الله تعالى

Bab keduapuluh lima tentang Mengasingkan diri
Orang yang beruzlah / mengasingkan diri membutuhkan 10 hal, yaitu :

  1. mengetahui tentang hal yang benar dan yang bathil.
  2. bersikap zuhud.
  3. kecendrungan untuk memilih kekerasan hidup.
  4. upaya mengambil manfaat dari kesendirian dan keselamatan.
  5. perhatian terhadap berbagai akibat.
  6. mempunyai kesadaran bahwa orang lain lebih utama daripada dirinya.
  7. pengasingan diri dari kejahatan manusia.
  8. tidak putus dalam beramal karena menganggur itu sebuah bencana.
  9. tidak bangga diri dengan apa yang dimiliki.
  10. mengosongkan rumahnya dari segala bentuk berlebihan/fudhul.
    Fudhul adalah sesuatu yang melebihi kadar keperluanmu sehari-hari bagi ahil irodah, sesuatu yang melebihi kadar waktumu bagi ahlil ma’rifat dan sesuatu yang memutuskannya dari mengingat Allah.

قال رسول الله ( صلي الله عليه و سلم ) لحذيفة بن اليمان : ” كن حلس بيتك ” ( الحلس : بساط يبسط في البيت , و هو كناية عن وجوب لزوم الإنسان بيته إلا للضرورة ) .
و قال عيسى بن مريم ( عليه السلام ) : ” أملك لسانك و ليسعك بيتك و أنزل نفسك منزلة السبع الضاري و النار المحرقة , و قد كان الناس ورقاً بلا شوك فصاروا شوكا بلا ورق , و كانوا أدواء يستشفي بهم فصاروا داء لا دواء له

Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda kepada Hudzifah bin al yaman : “Jadilah engkau karpet di rumahmu”
(al halas/karpet adalah karpet yang dihamparkan di dalam rumah, ini adalah kinayah dari wajibnya seseorang utk menetap di dalam rumah kecuali jika keadaan darurat)
Isa bin Maryan -alaihis salaam- berkata : “kuasailah lidahmu, jadikanlah rumahmu sebagai pemberi keleluasaan bagimu, rendahkanlah dirimu pada posisi binatang buas dan api yang membakar, Manusia dulunya adalah daun tanpa duri dan sekarang menjadi duri tanpa daun, dulunya manusia adalah obat yang menyembuhkan da sekarang menjadi penyakit yang tidak ada obatnya.”

قيل لداود الطائي : مالك لا تخالط الناس ؟ فقال : كيف أخالط من يتبع عيوبي , كبير لا يعرف الخلق , و صغير لا يوقر , من استأنس بالله استوحش من غيره .
و قال الفضيل : إن استطعت أن تكون في موضع لا تعرف ولا تعرف فافعل .
و قال سليمان : همي من الدنيا أن ألبس عباءة و أكون بقرية ليس فيها أحد يعرفني ولا غذاء لي ولا عشاء

Dikatakan kepada Dawud At Tho’i : “mengapa engkau tidak bergaul dengan manusia ?” beliau berkata : “bagaimana saya akan bergaul dengan orang yang mengikuti aibku, orang tua tidak mengenal etika dan yang muda tidak mempunyai rasa hormat. barang siapa merasa nyaman bersama Allah maka ia tidak akan merasa nyaman kepada selain-Nya.”
Al Fudhail berkata : “jika engkau mampu berada di suatu tempat yang tidak engkau ketahui dan engkau tidak dikenal, maka lakukanlah”
Sulaiman berkata : “keinginanku di dunia memakai jubah dan berada di suatu tempat yang di sana tidak ada seorangpun mengenalku, tanpa makan siang dan tanpa makan malam.”

وقال رسول الله صلي الله عليه وسلم : ياءتي زمان المتمسك يومئذ بدينه كالقابض علي الجمر وله اجر خمسين منكم. وفي العزلة صيانة الجوارح وفراغ القلب وسقوط حقوق الخلق واغلاق ابواب الدنيا وكسر سلاح الشيطان وعمارة الاهر والباطن

Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : ” akan datang suatu zaman ketika orang yang berpegang teguh kepada agamanya bagaikan orang yang menggenggam bara api, dia meperoleh pahala limapuluh kali lebih besar daripada pahala yang kalian peroleh.” Dalam beruzlah anggota badan terpelihara, hati kosong dari selain Allah, hak-hak makhluk menjadi gugur, pintu-pintu keduniaan tertutup, senjata setan di hancurkan dan lahir dan bathuin dimakmurkan. Wallohu a’lam.

SALAH SATU ADAB YANG TIDAK BAIK ADALAH BERDIAM DIRI ATAS KEBAIKAN

Risalah Adabu Sulukil Murid

“تَتِمَّةٌ”
وَإِذا أَردتَ – أيُّها المُريدُ – مِن شَيخِكَ أَمراً أَو بَدا لَكَ أَن تَسأَلَهُ عَن شَيءٍ فَلا يَمنَعُكَ إِجلالُهُ وَالتَّأدُّبُ مَعَهُ عَن طَلَبِهِ مِنهُ وَسُؤَالِهِ عَنهُ، وَتَسأَلُهُ المَرَّةَ وَالمرَّتينِ وَالثَّلاثَ، فَلَيسَ السُّكوتُ عَنِ السُّؤاَلِ وَالطَّلبِ مِن حُسنِ الأَدَبِ، اللَّهُمَّ إِلاَّ أَن يُشيرَ عَليكَ الشَّيخُ بِالسِّكوتِ وَيَأمُرَكَ بِتَركِ السُّؤالِ، فَعِندَ ذَلكَ يَجِبُ عَليكَ اِمتِثالُهُ

“Penyempurnaan”
Wahai murid, apabila engkau menghendaki suatu hal dari tuan gurumu atau ada hal yang ingin engkau tanyakan pada tuan gurumu, maka jangan sampai keagungannya dan adabmu terhadapnya menghalangimu untuk mencari darinya dan bertanya padanya, tetapi bertanyalah kepadanya sekali, dua atau tiga kali, karena tidaklah diam dari bertanya dan mencari darinya itu merupakan adab yang baik, kecuali jika tuan gurumu memberimu isyarat untuk diam dan memerintahkanmu untuk tidak bertanya. Dengan demikan maka wajib bagimu menta’ati perintahnya.

وَإِذا مَنعَكَ الشَّيخُ عَن أَمرٍ أَو قَدَّمَ عَليكَ أَحداً فَإِيَّاكَ أَن تَتَّهِمَهُ، وَلْتَكُن مُعتَقِداً أَنَّهُ قَد فَعَلَ مَا هُوَ الأَنفَعُ وَالأَحسنُ لَكَ، وَإذا وَقَع مِنكَ ذَنبٌ وَوَجدَ (اى غضب) عَليكَ الشَّيخُ بِسَبَبِهِ فَبادِر بِالاِعتِذارِ إِليهِ مِن ذَنبِكَ حَتَّى يَرضَى عَنكَ

Ketika tuan guru melarangmu tentang suatu perkara atau mengajukan salah seorang dari padamu, maka janganlah sekali-kali engkau mencurigainya, tapi yakinlah bahwa tuan gurumu telah melakukan hal yang lebih bermanfa’at dan lebih baik bagimu. Dan ketika telah terjadi suatu dosa (kesalahan) darimu kemudian tuan gurumu marah kepadamu sebab dosa tersebut, maka segeralah engkau meminta ma’af kepadanya dari dosamu sehingga gurumu ridlo terhadapmu.

وَإِذا أَنكَرتَ قَلبَ الشَّيخِ عَليكَ كَأَن فَقَدتَ مِنهُ بِشراً كُنتَ تَأَلَفُهُ أَو نَحوَ ذَلكَ، فَحَدِّثهُ بِما وَقعَ لَكَ مِن تَخَوُّفِكَ تَغَـيُّرَ قَلبِهِ عَليكَ فَلـَعلَّهُ تَغَـيَّرَ عَليكَ لِشيءٍ أَحدَثتَهُ فَتَتُوبَ عَنهُ، أَو لَعَلَّ الذِّي تَوَهَّمتَهُ لَم يَكُن عِندَ الشَّيخِ وَأَلقاهُ الشَّيطانُ إِليكَ لِيَـسُوءَكَ بِهِ، فَإِذا عَرَفتَ أَنَّ الشَّيخَ رَاضٍ عَنكَ سَكَنَ قَلبُكَ بِخلافِ مَا إِذا لَم تُحَدِّثهُ وَسَكَتَّ بِمَعرِفةٍ منِكَ بِسلامةِ جِهَتِكَ

Ketika engkau mengingkari hati tuan gurumu terhadapmu, seperti ketika engkau merasa kehilangan rasa bahagia darinya, maka bersikaplah kepadanya dengan sikap yang ramah dan semacamnya, dan ceritakanlah kepadanya apa terjadi padamu yaitu rasa takutmu akan berubahnya hati tuan gurumu kepadamu, dengan harapan hati tuan gurumu dapat berubah terhadapmu karena sesuatu yang engkau ceritakan kepadanya dan ia bertaubat darinya. Atau bisa jadi kecurigaan yang engkau tuduhkan kepada tuan gurumu itu tidak benar adanya hanya saja itu merupakan ulah syaithan yang telah menjatuhkan (rasa curiga) kepadamu untuk menyusahkanmu. Jika engkau telah mengetahui bahwa tuan gurumu ridla keadamu, maka hatimu akan tenang, berbeda dengan jika engkau tidak menceritakan kepadanya dan memilih diam dengan pengetahuanmu dan dengan keselamatan dirimu.

وَإِذا رَأيتَ المُريدَ مُمتَـلِئاً بِتَعظِيمِ شَيخِهِ وَإِجلالِهِ مُجتَمِعاً بِظاهِرِهِ وَبَاطِنهِ عَلى اِعتِقادِهِ وَامتِثالِهِ وَالتَّأَدُّبِ بِآدابِهِ فَلا بُدَّ أَن يَرِثَ سِرَّهُ أَو شَيئاً مِنهُ إِن بَقِيَ بَعدَهُ

Dan ketika engkau melihat seorang murid dipenuhi dengan hormat dan memuliakan kepada tuan gurunya, berkumpul pada dzahir dan batinnya perihal keyakinannya dan kepatuhannya serta beradab dengan adab tuan gurunya, maka sudah pasti ia akan mewarisi sir (rahasia) tuan gurunya atau sesuatu yang masih tersisa dari tuan gurunya.

HUKUM QODLO(keHAKIMan) DAN keSAKSIan


Al Aqdiyah adalah bentuk kalimat jama’ dari lafadz qadla’ dengan dibaca mad (panjang). Qadla’ secara bahasa adalah mengokohkan sesuatu dan meluluskannya.
وَالْأَقْضِيَةُ جَمْعُ قَضَاءٍ بِالْمَدِّ وَهُوَ لُغَةً إِحْكَامُ الشَّيْئِ وَ إِمْضَاؤُهُ

Dan secara syara’ adalah menetapkan keputusan diantara dua orang yang berseteru dengan hukumnya Allah Swt.
وَشَرْعًا فَصْلُ الْحُكُوْمَةِ بَيْنَ خَصْمَيْنِ بِحُكْمِ اللهِ تَعَالَى

Asy syahadat adalah jama’ dari lafadz syahadah, kalimat masdarnya lafadz syahida yang diambil dari kata asy syuhud yang bermakna hadir.
وَالشَّهَادَاتُ جَمْعُ شَهَادَةٍ مَصْدَرِ شَهِدَ مَأْخُوْذٍ مِنَ الشُّهُوْدِ بِمَعْنَى الْحُضُوْرِ

Hukum Qadla’

Qadla’ hukumnya adalah fardlu kifayah. Namun jika qadla’ hanya tertentu pada satu orang saja, maka wajib baginya untuk memintanya.
وَالْقَضَاءُ فَرْضُ كِفَايَةٍ فَإِنْ تَعَيَّنَ عَلَى شَخْصٍ لَزِمَهُ طَلَبُهُ

Syarat Qadli

Tidak diperkenankan menjadi qadli kecuali orang yang memenuhi lima belas sifat. Dalam sebagian redaksi dengan menggunakan bahasa “khamsa ‘asyarah.”
(وَلَايَجُوْزُ أَنْ يَلِيَ الْقَضَاءَ إِلَّا مَنِ اسْتَكْمَلَتْ فِيْهِ خَمْسَةَ عَشَرَ.. وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ خَمْسَ عَشَرَةَ (خَصْلَةً)

Salah satunya adalah islam, sehingga tidak sah kekuasaan orang kafir walaupun pada orang kafir yang sesamanya.
أَحَدُهَا (إِسْلَامُ) فَلَا تَصِحُّ وِلَايَةُ الْكَافِرِ وَلَوْ كَانَتْ عَلَى كَافِرٍ مِثْلِهِ

Imam al Mawardi berkata, “mengenai kebiasaan para penguasa yang mengangkat seorang laki-laki dari ahli dzimmah, maka hal itu merupakan pengangkatan sebagai tokoh dan panutan bukan pengangkatan sebagai hakim dan qadli. Dan bagi penduduk ahli dzimmah tidak harus menuruti hukum yang telah ditetapkan laki-laki tersebut, akan tetapi bisa menjadi dengan kesanggupannya mereka.”
قَالَ الْمَاوَرْدِيْ وَمَا جَرَتْ بِهِ عَادَةُ الْوُلَّاةِ مِنْ نَصْبِ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ فَتَقْلِيْدُ رِيَاسَةٍ وَ زِعَامَةٍ لَا تَقْلِيْدُ حُكْمٍ وَقَضَاءٍ وَلَا يَلْزَمُ أَهْلَ الذِّمَّةِ الْحُكْمُ بِإِلْزَامِهِ بَلْ بِالْتِزَامِهِمْ.

Yang kedua dan yang ketiga adalah baligh dan berakal, sehingga wilayah tidak sah bagi anak kecil dan orang gila yang gilanya terus menerus atau terputus-putus.
(وَ الثَّانِيْ وَ الثَّالِثُ (الْبُلُوْغُ وَالْعَقْلُ) فَلَا وِلَايَةَ لِصَبِيٍّ وَمَجْنُوْنٍ أَطْبَقَ جُنُوْنُهُ أَوْ لَا

Yang ke empat adalah merdeka, sehingga tidak sah wilayahnya seorang budak yang secara total atau sebagian saja.
(وَ الرَّابِعُ (الْحُرِّيَّةُ) فَلَا تَصِحُّ وِلَايَةُ رَقِيْقٍ كُلُّهُ أَوْ بَعْضُهُ

Yang ke lima adalah laki-laki sehingga tidak sah wilayahnya seorang wanita dan orang huntsa ketika masih belum jelas status kelaminnya.
(وَ الْخَامِسُ (الذُّكُوْرَةُ) فَلَا تَصِحُّ وِلَايَةُ امْرَأَةٍ وَلَا خُنْثًى حَالَ الْجَهْلِ

Dan seandainya ada seorang huntsa yang diangkat menjadi hakim saat belum diketahui kelaminnya lalu ia memutuskan hukum. dan kemudian baru nampak jelas bahwa ia adalah laki-laki, maka hukum yang telah ia putuskan tidak sah menurut pendapat al madzhab.
وَلَوْ وَلَّى الْخُنْثَى حَاَل الْجَهْلِ فَحَكَمَ ثُمَّ بَانَ ذَكَرًا لَمْ يَنْفُذْ حُكْمُهُ فِيْ الْمَذْهَبِ

Yang ke enam adalah adil. Dan adil akan dijelaskan di dalam fasal syahadah.
(وَ السَّادِسُ (الْعَدَالَةُ) وَسَيَأْتِيْ بَيَانُهَا فِيْ فَصْلِ الشَّهَادَاتِ

Sehingga tidak ada hak wilayah bagi orang fasiq dalam permasalahan yang sama sekali tidak ada syubhat di sana.
فَلَا وِلَايَةَ لِفَاسِقٍ بِشَيْئٍ لَا شُبْهَةَ لَهُ فِيْهِ

Yang ke tujuh adalah mengetahui hukum-hukum di dalam Al Qur’an dan As Sunnah dengan metode ijtihad.
(وَ السَّابِعُ (مَعْرِفَةُ أَحْكَامِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ) عَلَى طَرِيْقِ الْاِجْتِهَادِ

Tidak disyaratkan harus hafal luar kepala ayat-ayat yang menjelaskan tentag hukum-hukum dan hadits-hadits yang berhubungan dengannya.
وَلَايُشْتَرَطُ حِفْظُ آيَاتِ الْأَحْكَامِ وَلَا أَحَادِيْثِهَا الْمُتَعَلِّقَاتِ بِهَا عَنْ ظَهْرِ قَلْبٍ

Dikecualikan dari hukum-hukum, yaitu tentang cerita-cerita dan petuah-petuah
وَخَرَجَ بِالْأَحْكَامِ الْقِصَصُ وَالْمَوَاعِظُ

Yang ke delapan adalah mengetahui ijma’.
الثَّامِنُ (مَعْرِفَةُ الْإِجْمَاعِ)

Ijma’ adalah kesepakatan ahlu hilli wal ‘aqdi (pakar hukum) dari ummatnya Nabi Muhammad Saw terhadap satu permasalahan dari berbagai permasalahan.
وَهُوَ اتِّفَاقُ أَهْلِ الْحِلِّ وَالْعَقْدِ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَمْرٍ مِنَ الْأُمُوْرِ

Tidak disyaratkan harus mengetahui satu-persatu permasalahan ijma’.
وَلَا يُشْتَرَطُ مَعْرِفَتُهُ لِكُلِّ فَرْدٍ مِنْ أَفْرَادِ الْإِجْمَاعِ

Bahkan cukup baginya mengetahui permasalahan yang sedang ia fatwakan atau ia putuskan bahwa pendapatnya tidak bertentangan dengan ijma’ dalam permasalahan tersebut.
بَلْ يَكْفِيْهِ فِيْ الْمَسْأَلَةِ الَّتِيْ يُفْتِيْ بِهَا أَوْ يَحْكُمُ فِيْهَا أَنَّ قَوْلَهُ لَا يُخَالِفُ الْإِجْمَاعَ فِيْهَا

Yang ke sembilan adalah mengetahui perbedaan pendapat yang terjadi di antara ulama’.
التَّاسِعُ (مَعْرِفَةُ الْاِخْتِلَافِ) الْوَاقِعِ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ

Yang ke sepuluh adalah mengetahui cara-cara ijtihad, maksudnya tata cara menggali hukum dari dalil-dalil yang menjelaskan tentang hukum.
الْعَاشِرُ (مَعْرِفَةُ طُرُقِ الْاِجْتِهَادِ) أَيْ كَيْفِيَّةِ الْاِسْتِدْلَالِ مِنْ أَدِلَّةِ الْأَحْكَامِ

Yang ke sebelas adalah mengetahui bagian dari bahasa arab baik lughat, sharaf dan nahwu, dan mengetahui tafsir Kitabullah ta’ala.
الْحَادِيَ عَشَرَ (مَعْرِفَةُ طَرْفٍ مِنْ لِسَانِ الْعَرَبِ) مِنْ لُغَةٍ وَصَرْفٍ وَنَحْوٍ (وَمَعْرِفَةُ تَفْسِيْرِ كِتَابِ اللهِ تَعَالَى

Yang ke dua belas adalah bisa mendengar walaupun dengan berteriak di kedua telingannya.
الثَّانِيَ عَشَرَ (أَنْ يَكُوْنَ سَمِيْعًا وَلَوْ بِصِيَاحٍ فِيْ أُذُنَيْهِ

Sehingga tidak sah mengangkat orang yang tuli sebagai hakim.
فَلاَ يَصِحُّ تَوْلِيَّةُ أَصَمَّ

Yang ke tiga belas adalah bisa melihat, sehingga tidak sah mengangkat orang yang buta sebagai hakim.
الثَّالِثَ عَشَرَ (أَنْ يَكُوْنَ بَصِيْرًا) فَلَا تَصِحُّ تَوْلِيَّةُ الْأَعْمَى

Diperkenankan jika dia adalah orang yang buta salah satu matanya sebagaimana yang diungkapkan oleh imam ar Rauyani.
وَيَجُوْزُ كَوْنُهُ أَعْوَرَ كَمَا قَالَ الرَّوْيَانِيُّ

Yang ke empat belas adalah bisa menulis.
الرَّابِعَ عَشَرَ (أَنْ يَكُوْنَ كَاتِبًا)

Apa yang telah disebutkan oleh mushannif yaitu persyaratan bahwa sang qadli harus bisa menulis adalah pendapat yang lemah, sedangkan pendapat al ashah berbeda dengannya (tidak disyaratkan).
وَمَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ مِنِ اشْتِرَاطِ كَوْنِ الْقَاضِيْ كَاتِبًا وَجْهٌ مَرْجُوْحٌ وَالْأَصَحُّ خِلَافُهُ

Yang kelima belas adalah kuat ingatannya.
الْخَامِسَ عَشَرَ (أَنْ يَكُوْنَ مُسْتَيْقِظًا)

Sehingga tidak sah mengangkat orang yang pelupa sebagai hakim. Dengan gambaran nadhar atau pikirannya cacat adakalanya karena terlalu tua, sakit atau karena yang lain.
فَلَا تَصِحُّ تَوْلِيَّةُ مُغْفِلٍ بِأَنِ اخْتَلَّ نَظَرُهُ أَوْ فِكْرُهُ إِمَّا لِكِبَرٍ أَوْ مَرَضٍ أَوْ غَيْرِهِ

Setelah mushannif selesai dari penjelasan syarat-syarat qadli, maka beliau beranjak menjelaskan tentang etika seorang qadli. Beliau berkata,
وَلَمَّا فَرَغَ الْمُصَنِّفُ مِنْ شُرُوْطِ الْقَاضِيْ شَرَعَ فِيْ آدَبِهِ فَقَالَ

Etika Seorang Hakim

Bagi qadli disunnahkan untuk duduk, dalam sebagian redaksi dengan bahasa, “untuk bertempat” di tengah daerah ketika batas daerahnya luas.
(وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَجْلِسَ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ أَنْ يَنْزِلَ أَيِ الْقَاضِيْ (فِيْ وَسَطِ الْبَلَدِ) إِذَا اتَّسَعَتْ خِطَّتُهُ

Sehingga, jika daerahnya kecil, maka ia tidak masalah bertempat di manapun yang ia kehendaki, jika di sana tidak ada tempat yang sudah biasa ditempati oleh para qadli.
فَإِنْ كَانَتِ الْبَلَدُ صَغِيْرَةً نَزَلَ حَيْثُ شَاءَ إِنْ لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ مَوْضِعٌ مُعْتَادٌ تَنْزِلُهُ الْقُضَّاةُ

Dan keberadaan duduknya sang qadli di tempat luas yang jelas, maksudnya nampak jelas bagi penduduk, sekira ia bisa terlihat oleh penduduk setempat, pengunjung, orang yang kuat dan orang yang lemah.
وَيَكُوْنُ جُلُوْسُ الْقَاضِيْ (فِيْ مَوْضِعٍ) فَسِيْحٍ (بَارِزٍ) أَيْ ظَاهِرٍ (لِلنَّاسِ) بِحَيْثُ يَرَاهُ الْمُسْتَوْطِنُ وَالْغَرِيْبُ وَالْقَوِيُّ وَالضَّعِيْفُ

Keberadaan tempat duduknya terjaga dari panas dan dingin.
وَيَكُوْنُ مَجْلِسُهُ مَصُوْنًا مِنْ أَذَى حَرٍّ وَبَرْدٍ

Dengan artian di musim kemarau tempat duduknya berada di tempat yang semilir angin, dan di musim dingin berada di tenda.
بِأَنْ يَكُوْنَ فِيْ الصَّيْفِ فِيْ مَهَبِّ الرِّيْحِ وَفِيْ الشِّتَاءِ فِي كُنٍّ

Dan tidak ada pembatas baginya. Dalam sebagian redaksi menggunakan bahasa, “tidak ada penjaga saat hendak melapor padanya.”
(وَلَا حِجَابَ لَهُ)

وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ وَلَا حَاجِبَ دُوْنَهُ

Sehingga, seandainya ia mengangkat security atau penjaga pintu, maka hukumnya dimakruhkan.
فَلَوِ اتَّخَذَ حَاجِبًا أَوْ بَوَّابًا كُرِهَ

Sang qadli tidak duduk di masjid untuk memutuskan hukum.
(وَلَا يَقْعُدُ)

الْقَاضِيْ (لِلْقَضَاءِ فِيْ الْمَسْجِدِ)

Sehingga, jika ia memutuskan hukum di masjid, maka hukumnya dimakruhkan.
فَإِنْ قَضَى فِيْهِ كُرِهَ

Namun, jika saat ia berada di masjid untuk melaksanakan sholat dan yang lainya kebetulan bertepatan dengan terjadinya kasus, maka tidak dimakruhkan memutuskan kasus tersebut di masjid.
فَإِنِ اتَّفَقَ وَقْتُ حُضُوْرِهِ فِيْ الْمَسْجِدِ لِصَلَاةٍ وَغَيْرِهَا خُصُوْمَةً لَمْ يُكْرَهْ فَصْلُهَا فِيْهِ

Begitu juga seandainya ia butuh ke masjid karena ada udzur hujan dan sesamanya.
وَكَذَا لَوِ احْتَاجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لِعُذْرٍ مِنْ مَطَرٍ وَنَحْوِهِ

Wajib Bagi Seorang Hakim

Bagi qadli wajib menyetarakan kedua belah pihak yang berseteru di dalam tiga perkara :
( وَيُسَوِّيْ)

الْقَاضِيْ وُجُوْبًا (بَيْنَ الْخَصْمَيْنِ فِيْ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ)

Salah satunya menyetarakan tempat duduk.
أَحَدُهَا التَّسْوِيَّةُ (فِيْ الْمَجْلِسِ)

Sehingga qadli memposisikan kedua orang yang seteru tepat di hadapannya ketika status kemuliaan keduanya setara.
فَيُجَلِّسُ الْقَاضِيْ الْخَصْمَيْنِ بَيْنَ يَدَّيْهِ إِذَا اسْتَوَيَا شَرَفًا

Adapun orang islam, maka tempat duduknya harus lebih ditinggikan daripada tempat duduknya kafir dzimmi.
أَمَّا الْمُسْلِمُ فَيُرْفَعُ عَلَى الذِّمِّيِّ فِيْ الْمَجْلِسِ

Yang kedua menyetarakan di dalam lafadz, maksudnya ucapan.
الثَّانِيْ التَّسْوِيَّةُ فِيْ (اللَّفْظِ) أَيِ الْكَلاَمِ

Sehingga tidak diperkenankan sang qadli hanya mendengarkan ucapan salah satu dari keduanya tidak pada yang satunya lagi.
فَلَا يَسْمَعُ كَلَامَ أَحَدِهِمَا دُوْنَ الْآخَرِ

Yang ketiga menyetarakan di dalam pandangan.

الثَّالِثُ التَّسْوِيَّةُ فِيْ (اللَّحْظِ) أَيِ النَّظَرِ

Sehingga sang qadli tidak diperkenankan memandang salah satunya tidak pada yang lainnya.
فَلَا يَنْظُرُ أَحَدَهُمَا دُوْنَ الْآخَرِ

Hadiah Untuk Hakim

Bagi sang qadli tidak diperkenankan menerima hadiah dari ahli amalnya (penduduk yang berada di daerah kekuasaannya).
(وَلَا يَجُوْزُ) لِلْقَاضِيْ (أَنْ يَقْبَلَ الْهَدِيَّةَ مِنْ أَهْلِ عَمَلِهِ)

Sehingga, jika hadiah itu diberikan di selain daerah kekuasaannya dari selain penduduk daerah kekuasaannya, maka hukumnya tidak haram menurut pendapat al ashah.
فَإِنْ كَانَتِ الْهَدِيَّةُ فِيْ غَيْرِ عَمَلِهِ مِنْ غَيْرِ أَهْلِهِ لَمْ يَحْرُمْ فِيْ الْأَصَحِّ

Jika ia diberi hadiah oleh orang yang berada di daerah kekuasaannya yang sedang memiliki kasus serta tidak biasa memberi hadiah sebelumnya, maka bagi qadli haram untuk menerimanya.
وَإِنْ أَهْدَى إِلَيْهِ مَنْ هُوَ فِيْ مَحَلِّ وِلَايَتِهِ وَلَهُ خُصُوْمَةٌ وَلَا عَادَةَ لَهُ بِالْهَدِيَّةِ قَبْلَهَا حَرُمَ عَلَيْهِ قَبُوْلُهَا

Makruh Bagi Hakim

Sang qadli hendaknya menghindari untuk memutuskan hukum, maksudnya dimakruhkan bagi sang qadli memutuskan hukum di dalam sepuluh tempat. Dalam sebagian redaksi, “di dalam sepuluh keadaan.”
(ويَجْتَنِبُ) الْقَاضِيْ (الْقَضَاءَ) أَيْ يُكْرَهُ لَهُ ذَلِكَ (فِيْ عَشْرَةِ مَوَاضِعَ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ أَحْوَالٌ

Yaitu, ketika marah. Dalam sebagian redaksi, “di dalam marah.”
(عِنْدَ الْغَضَبِ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ فِيْ الْغَضَبِ

Sebagian ulama’ berkata, “ketika emosi telah menyebabkan sang qadli tidak terkontrol lagi, maka bagi dia haram memutuskan hukum saat seperti itu.”
قَالَ بَعْضُهُمْ وَإِذَا أَخْرَجَهُ الْغَضَبُ عَنْ حَالَةِ الْاِسْتِقَامَةِ حَرُمَ عَلَيْهِ الْقَضَاءُ حِيْنَئِذٍ

Saat sangat lapar dan kekenyangan. Saat haus, birahi memuncak, sangat sedih dan sangat gembira yang terlalu.
(وَالْجُوْعِ) وَالْشَبْعِ الْمُفْرِطَيْنِ (وَالْعَطْشِ وَشِدَّةِ الشَّهْوَةِ وَالْحُزْنِ وَالْفَرَحِ الْمُفْرِطِ

Saat sakit, maksudnya yang menyakitkan badannya. Saat menahan dua hal yang menjijikkan, maksudnya kencing dan berak.
وَعِنْدَ الْمَرَضِ) أَيِ الْمُؤْلِمِ (وَمُدَافَعَةِ الْأَخْبَثَيْنِ) أَيِ الْبَوْلِ وَالْغَائِطِ

Saat ngantuk, saat cuacanya terlalu panas dan terlalu dingin.
(وَعِنْدَ الْنُعَاسِ وَ) عِنْدَ (شِدَّةِ الْحَرِّ وَالْبَرْدِ)

Kesimpulan yang bisa mencakup sepuluh hal ini dan yang lainnya adalah sesungguhnya bagi qadli dimakruhkan memutuskan hukum di setiap keadaan yang bisa membuat keadaannya tidak stabil.
وَالضَّابِطُ الْجَامِعُ لِهَذِهِ الْعَشْرَةِ وَغَيْرِهَا أَنَّهُ يُكْرَهُ لِلْقَاضِيْ الْقَضَاءُ فِيْ كُلِّ حَالٍ يُسَوِّءُ خُلُقَهُ

Ketika ia tetap memutuskan hukum dalam keadaan-keadaan yang telah dijelaskan di atas, maka keputusannya tetap berjalan namun hukumnya makruh.
وَإِذَا حَكَمَ فِيْ حَالٍ مِمَّا تَقَدَّمَ نَفَذَ حُكْمُهُ مَعَ الْكَرَاهَةِ

Pengadilan

Wajib bagi qadli untuk tidak bertanya, maksudnya ketika kedua orang yang berseteru duduk dihadapan sang qadli, maka bagi qadli tidak diperkenankan bertanya pada orang yang dituduh kecuali setelah sempurnya, maksudnya setelah pihak penuduh selesai mengungkapkan tuduhannya yang sah.
(وَلَايَسْأَلُ) وُجُوْبًا أَيْ إِذَا جَلَسَ الْخَصْمَانِ بَيْنَ يَدَّيِ الْقَاضِيْ لَا يَسْأَلُ (الْمُدَّعَى عَلَيْهِ إِلَّا بَعْدَ كَمَالِ) أَيْ بَعْدَ فَرَاغِ الْمُدَّعِيْ مِنَ (الدَّعْوَى) الصَّحِيْحَةِ

Dan saat itulah sang qadli berkata pada pihak yang dituduh, “keluarkanlah dirimu dari tuduhan tersebut.”
وَحِيْنَئِذٍ يَقُوْلُ الْقَاضِيْ لِلْمُدَّعَى عَلَيْهِ اُخْرُجْ مِنْ دَعْوَاهُ

Kemudian, jika ia mengakui apa yang telah dituduhkan oleh pihak penuduh, maka bagi pihak tertuduh wajib memberikan apa yang telah ia akui, dan setelah itu bagi ia tidak bisa menarik kembali pengakuannya.
فَإِنْ أَقَرَّ بِمَا ادَّعَى بِهِ لَزِمَهُ مَا أَقَرَّ بِهِ وَلَا يُفِيْدُهُ بَعْدَ ذَلِكَ رُجُوْعُهُ

Dan jika pihak tertuduh mengingkari dakwaan pada dirinya, maka bagi qadli berhak berkata pada pihak penuduh, “apakah engkau punya bukti atau saksi yang disertai sumpahmu”, jika memang hak yang dituntut termasuk hak yang bisa ditetapkan dengan satu saksi dan sumpah.
وَإِنْ أَنْكَرَ مَا ادَّعَى بِهِ عَلَيْهِ فَلِلْقَاضِيْ أَنْ يَقُوْلَ لِلْمُدَّعِيْ أَلَكَ بَيِّنَةٌ أَوْ شَاهِدٌ مَعَ يَمِيْنِكَ إِنْ كَانَ الْحَقُّ مِمَّا يَثْبُتُ بِشَاهِدٍ وَ يَمِيْنٍ

Qadli tidak berhak menyumpah pihak tertuduh, dalam sebagian redaksi, “qadli tidak berhak menyuruh pihak tertuduh”, maksudnya, qadli tidak berhak menyumpah pihak terdakwa kecuali setelah ada permintaan dari pihak pendakwa kepada sang qadli agar menyumpah pihak terdakwa.
(وَلَا يَحْلِفُهُ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ وَلَا يَسْتَحْلِفُهُ أَيْ لَا يَحْلِفُ الْقَاضِيْ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ (إِلَّا بَعْدَ سُؤَالِ الْمُدَّعِيْ) مِنَ الْقَاضِيْ أَنْ يَحْلِفَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ

Tidak diperkenankan bagi qadli mengajarkan argumen kepada orang yang berseteru.
(وَلَايُلَقِّنُ) الْقَاضِيْ (خَصْمًا حُجَّةً)

Maksudnya, sang qadli tidak diperkenankan berkata pada masing-masing dari dua orang yang berseteru, “ucapkanlah begini dan begini.”
أَيْ لَا يَقُوْلُ لِكُلٍّ مِنَ الْخَصْمَيْنِ قُلْ كَذَا وَكَذَا

Sedangkan untuk meminta kejelasan dari orang yang berseteru, maka tidak dipermasalahkan.
أَمَّا اسْتِفْسَارُ الْخَصْمِ فَجَائِزٌ

Seperti seseorang menuduhkan pembunuhan pada orang lain, kemudian sang qadli berkata pada pihak penuduh, “apakah pembunuhan yang sengaja atau yang tidak sengaja.”
كَأَنْ يَدَّعِيَ شَخْصٌ قَتْلًا عَلَى شَخْصٍ فَيَقُوْلُ الْقَاضِيْ لِلْمُدَّعِيْ قَتَلَهُ عَمْدًا أَوْ خَطَ

Bagi qadli tidak diperkenankan memahamkan perkataan pada orang yang sedang berseteru, maksudnya, tidak mengajarkan padanya bagaimana caranya menuntut.
(وَلَا يُفْهِمُهُ كَلَامًا) أَيْ لَايُعَلِّمُهُ كَيْفَ يَدَّعِيْ

Permasalahan ini tidak tercantum di dalam sebagian redaksi matan.
وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ سَاقِطَةٌ فِيْ بَعْضِ نُسَخِ الْمَتْنِ

Qadli tidak diperkenankan mempersulit saksi-saksi.
(وَلَا يَتَعَنَّتُ بِالشُّهَدَاءِ)

Dalam sebagian redaksi, “tidak mempersulit pada saksi”, seperti sang qadli berkata pada saksi, “bagaimana keadaanmu ketika engkau menyaksikan kejadian. Mungkin kamu tidak jadi bersaksi.”
وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ وَلَا يَتَعَنَّتُ بِشَاهِدٍ كَأَنْ يَقُوْلَ لَهُ الْقَاضِيْ كَيْفَ تَحَمَّلْتَ وَلَعَلَّكَ مَا شَهِدْتَ

Bagi qadli tidak diperkenankan menerima persaksian kecuali dari orang yang telah ditetapkan keadilannya.
(وَلَا يَقْبَلُ الشَّهَادَةَ إِلَّا مِمَّنْ) أَيْ شَخْصٍ (ثَبَتَتْ عَدَالَتُهُ)

Jika sang qadli telah mengetahui keadilan saksi, maka ia berhak menerima persaksian saksi tersebut.
فَإِنْ عَرَفَ الْقَاضِيْ عَدَالَةَ الشَّاهِدِ عَمِلَ بِشَهَادَتِهِ

Atau mengetahui kefasikan saksi, maka sang qadli harus menolak persaksiannya.
أَوْ عَرَفَ فِسْقَهُ رَدَّ شَهَادَتَهُ

Jika sang qadli tidak mengetahui adil dan fasiknya saksi, maka sang qadli meminta agar si saksi melakukan tazkiyah (persaksian atas keadilan diri).
فَإِنْ لَمْ يَعْرِفْ عَدَالَتَهُ وَلَا فِسْقَهُ طَلَبَ مِنْهُ التَّزْكِيَّةَ

Di dalam tazkiyah tidak cukup hanya dengan ucapan pihak terdakwa, “sesungguhnya orang bersaksi atas diriku adalah orang yang adil.”
وَلَا يَكْفِيْ فِيْ التَّزْكِيَّةِ قَوْلُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ أَنَّ الَّذِيْ شَهِدَ عَلَيَّ عَدْلٌ

Bahkan harus mendatangkan orang yang bersaksi atas keadilan saksi tersebut di hadapan qadli kemudian orang tersebut berkata, “saya bersaksi sesungguhnya saksi tersebut adalah orang yang adil.”
بَلْ لَابُدَّ مِنْ إِحْضَارِ مَنْ يَشْهَدُ عِنْدَ الْقَاضِيْ بِعَدَالَتِهِ فَيَقُوْلُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَدْلٌ

Pada orang yang mentazkiyah juga dipertimbangkan syarat-syarat orang yang menjadi saksi yaitu adil, tidak ada permusuhan, dan syarat-syarat yang lain.
وَيُعْتَبَرُ فِيْ الْمُزَكِّيْ شُرُوْطُ الشَّاهِدِ مِنَ الْعَدَالَةِ وَعَدَمِ الْعَدَاوَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ

Disamping itu, dia juga disayaratkan harus tahu terhadap sebab-sebab yang menjadikan fasiq dan menstatuskan adil serta mengetahui dalamnya orang yang mau ia statuskan adil sebab bersahabat, bertetangga atau melakukan transaksi
وَيُشْتَرَطُ مَعَ هَذَا مَعْرِفَتُهُ بِأَسْبَابِ الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيْلِ وَخُبْرَةُ بَاطِنِ مَنْ يُعَدِّلُهُ بِصُحْبَةٍ أَوْ جِوَارٍ أَوْ مُعَامَلَةٍ

Bagi qadli tidak diperkenankan menerima persaksian seseorang atas musuhnya.
(وَلَايَقْبَلُ) الْقَاضِيْ (شَهَادَةَ عَدُوٍّ عَلَى عَدُوِّهِ)

Yang dikehendaki dengan musuhnya seseorang adalah orang yang membencinya.
وَالْمُرَادُ بِعَدُوِّ الشَّخْصِ مَنْ يَبْغَضُهُ

Bagi sang qadli tidak diperkenankan menerima persaksian orang tua walaupun seatasnya untuk anaknya sendiri.
(وَلَا) يَقْبَلُ الْقَاضِيْ (شَهَادَةَ وَالِدٍ) وَإِنْ عَلَا (لِوَلَدِهِ)

Dalam sebagian redaksi, “untuk orang yang dilahirkannya, maksudnya hingga ke bawah.”
وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخ ِلِمَوْلُوْدِهِ أَيْ وَإِنْ سَفُلَ

Dan tidak menerima persaksian seorang anak untuk orang tuanya sendiri walaupun hingga ke atasnya.
(وَلَا) شَهَادَةَ (وَلَدٍ لِوَالِدِهِ) وَإِنْ عَلَا

Sedangkan persaksian yang memberatkan keduanya, maka dapat diterima.
أَمَّا الشَّهَادَةُ عَلَيْهِمَا فَتُقْبُ

Surat seorang qadli kepada qadli yang lain dalam urusan pemutusan hukum tidak bisa diterima kecuali setelah ada persaksian dua saksi yang bersaksi atas qadli yang mengirim surat tentang apa yang terdapat dalam surat tersebut di hadapan qadli yang dikirimi surat.
(وَلَايُقْبَلُ كِتَابُ قَاضٍ إِلَى قَاضٍ آخَرَ فِيْ الْأَحْكَامِ إِلَّا بَعْدَ شَهَادَةِ شَاهِدَيْنِ يَشْهَدَانِ) عَلَى الْقَاضِيْ الْكَاتِبِ (بِمَا فِيْهِ) أَيِ الْكِتَابِ عِنْدَ الْمَكْتُوْبِ إِلَيْهِ

Mushannif mengisyarahkan hal tersebut pada kasus bahwa sesungguhnya ketika ada seseorang yang mendakwakan harta pada orang yang ghaib (tidak satu daerah) dan telah terbukti bahwa orang tersebut memiliki tanggungan harta yang dituntutkan, maka, jika terdakwa memiliki harta yang berada di tempat pendakwa, maka sang qadli melunasi tanggungan terdakwa dari harta tersebut.
وَأَشَارَ الْمُصَنِّفُ بِذَلِكَ إِلَى أَنَّهُ إِذَا ادَّعَى شَخْصٌ عَلَى شَخْصٍ غَائِبٍ بِمَالٍ وَثَبَتَ الْمَالُ عَلَيْهِ فَإِنْ كَانَ لَهُ مَالٌ حَاضِرٌ قَضَاهُ الْقَاضِيْ مِنْهُ

Dan jika terdakwa tidak memiliki harta yang berada di tempat pendakwa dan pendakwa meminta agar menyampaikan keadaan seperti ini kepada qadli daerah terdakwa, maka qadli daerah pendakwa harus mengabulkan permintaan si pendakwa tersebut.
وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ حَاضِرٌ وَسَأَلَ الْمُدَّعِيْ إِنْهَاءَ الْحَالِ إِلَى قَاضِيْ بَلَدِ الْغَائِبِ أَجَابَهُ لِذَلِكَ

Al ashhab mentafsiri “menyampaikan keadaan” dengan gambaran sang qadli daerah pendakwa mengangkat dua orang saksi adil yang bersaksi atas hukum yang telah ditetapkan terhadap terdakwa yang tidak berada di daerah sang qadli.”
وَفَسَّرَ الْأَصْحَابُ إِنْهَاءَ الْحَالِ بِأَنْ يُشْهِدَ قَاضِيْ بَلَدِ الْحَاضِرِ عَدْلَيْنِ بِمَا ثَبَتَ عِنْدَهُ مِنَ الْحُكْمِ عَلَى الْغَائِبِ

Bentuk suratnya adalah :
“bismillahirrahmanirrahim. Semoga Allah menyelamatkan aku dan anda, telah ada seseorang yang datang padaku dan mendakwakan sesuatu pada seseorang yang tidak ada di daerahku dan ia bertempat di daerah anda, pendakwa telah mendatangkan dua orang saksi yaitu fulan dan fulan dan menurut saya keduanya adalah orang adil, dan saya sudah menyumpah pendakwa dan menetapkan bahwa ia berhak atas harta yang didakwakan. Dan saya mengangkat fulan dan fulan sebagai saksi atas surat ini.”

وَصِفَةُ الْكِتَابِ – بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ حَضَرَ عِنْدَنَا عَافَانَا اللهُ وَإِيَّاكَ فُلَانٌ وَادَّعَى عَلَى فُلَانٍ الْغَائِبِ الْمُقِيْمِ فِيْ بَلَدِكَ بِالشَّيْئِ الْفُلَانِيْ وَأَقَامَ عَلَيْهِ شَاهِدَيْنِ وَهُمَا فُلَانٌ وَفُلَانٌ وَقَدْ عَدَلَا عِنْدِيْ وَحَلَفْتُ الْمُدَّعِيَ وَحَكَمْتُ لَهُ بِالْمَالِ وَأَشْهَدْتُ بِالْكِتَابِ فُلَانًا وَفُلَانًا

Di dalam saksi-saksi surat dan putusan hukum disyaratkan harus nampak jelas sifat adilnya menurut qadli yang dikirimi surat.
وَيُشْتَرَطُ فِيْ شُهُوْدِ الْكِتَابِ وَالْحُكْمِ ظُهُوْرُ عَدَالَتِهِمْ عِنْدَ الْقَاضِيْ الْمَكْتُوْبِ إِلَيْهِ

Sifat adil mereka tidak bisa ditetapkan hanya dengan pernyataan adil yamg di sampaikan oleh qadli yang mengirim surat.
وَلَا تَثْبُتُ عَدَالَتُهُمْ عِنْدَهُ بِتَعْدِيْلِ الْقَاضِيْ الْكَاتِبِ إِيَّاهُمْ

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

KEUNTUNGAN- KEUNTUNGAN BAGI ORANG YANG MELARAT DALAM HADITS NABI MUHAMMAD SAW.

بسم الله الرحمن الرحيم

Bab Ke 24 Keutamaan Fakir

(الباب الرابع والعشرون):

في فضيلة الفقر

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Kefakiran itu lebih indah bagi mukmin daripada sabuk kulit yg indah di pipi kuda”}
قال النبي صلى الله عليه وسلم: {الفَقْرُ َزْيَنُ عَلَى المُؤْمِنِ مِنَ العِذَارِ الحَسَنِ عَلَى خَدِّ الفَرَسِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Fakir itu cacat menurut manusia dan indah menurut Allah pada hari kiamat.”}
وقال صلى الله عليه وسلم: {الفَقْرُ شَيْنٌ عِنْدَ النَّاسِ وَزَيْنٌ عِنْدَ الله يَوْمَ القِيَامَةِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Mencintai orang fakir itu sebagian akhlak para Nabi dan membenci orang fakir itu sebagian akhlak para Fir`aun”}
وقال صلى الله عليه وسلم: {حُبُّ الفُقَرَاءِ مِنْ أَخْلاقِ الأَنْبِيَاءِ وَبُغْضُ الفُقَرَاءِ مِنْ أَخْلاَقِ الفَرَاعِنَةِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Setiap sesuatu itu ada kuncinya dan kuncinya surga dalah cinta fakir miskin karena kesabaran mereka. Meraka adalah orang-orang yang duduk menghadap Allah ta’ala di hari kiamat.”
وقال صلى الله عليه وسلم: {لِكُلِّ شَيْءٍ مِفْتَاحٌ وَمِفْتَاحُ الجَنَّةِ حُبُّ المَسَاكِينِ وَالفُقَرَاءِ لِصَبْرِهِمْ هُمْ جُلَسَاءُ الله تَعَالى يَوْمَ القِيَامَةِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Sesungguhnya Allah ta’ala mencintai hamba beriman yang fakir, memelihara diri dan kepala keluarga”}
وقال صلى الله عليه وسلم: {إنَّ الله تَعَالى يُحِبُّ عَبْدَهُ المُؤْمِنَ الفَقيرَ المُتَعفِّفَ أَبَا العِيَالِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Kefakiran adalah amanat, barang siapa menyembunyikannya maka jadi ibadah dan barang siapa menampakkannya maka jadi beban bagi saudara-saudaranya yang muslim.”}
وقال صلى الله عليه وسلم: {الفَقْرُ أَمَانَةٌ فَمَنْ كَتَمَهُ كَان عِبَادَةً وَمَنْ باح بهِ فَقَدْ قَلَّد إخوانَهُ المُسْلِمِينَ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Keberuntungan bagi orang-orang fakir dan lemah dari umatku”}
وقال صلى الله عليه وسلم: {طُوبى لِلْفُقراءِ والضعفاءِ مِنْ أمَّتي}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Kefakiran adalah salah satu dari kemulyaan Allah”}
وقال صلى الله عليه وسلم: {الفَقْرُ كَرَامَةٌ مِنْ كَرَاماتِ الله}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Keutamaan orang fakir atas orang kaya itu seperti keutamaanku atas semua mahkluk Allah ta’ala”}
وقال صلى الله عليه وسلم: {فَضْلُ الفقِير عَلَى الغَنِيِّ كَفَضْلِي عَلى جَميعِ خَلْقِ الله تَعَالى}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Tidak ada suatu pemberian dari Allah yang menyamai kefakiran.”}
وقال صلى الله عليه وسلم: {لاَ شَيْءَ يُعطِيهِ الله مِثْلُ الفَقْرِ}

MENGENAL KARAKTERISTIK HATI DAN PANCA INDERA DI TUBUH KITA

بسم الله الرحمن الرحيم

فصل
Keharusan bagi muriid (yang berikutnya) adalah ia bersungguh-sungguh dalam mengindarkan anggota badannya dari kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan dosa. Jangan sampai ia menggerakkannya pada satu hal apapun kecuali dalam ketaatan. Dan jangan sampai ia mempekerjakannya kecuali pada sesuatu yang manfaatnya kembali menuju akhirat.
وعلى المُريد أن يَجتهِد في كَفِّ جَوارِحِهِ عنِ المَعاصي والآثامِ، ولا يُحرِّكَ شيئاً مِنها إلاّ في طاعةٍ، ولا يَعملُ بِها إلا شَيئاً يعودُ عليهِ نَفعُهُ في الآخِرةِ.

Hendaknya seorang muriid menekankan dalam menjaga lidah. Karena bentuk lidah itu kecil tapi kejahatannya sangat besar. Oleh karena itu, hendaknya si muriid menjauhkan lidahnya dari berbohong, menggunjing dan ucapan-ucapan lain yang dilarang. Dan jagalah dari ucapan yang kotor dan jangan sampai lidahnya terjebak ke dalam perkara yang tidak ada gunanya. Walaupun ucapan (yang keluar tersebut) tidak termasuk perkara haram. Karena hal tersebut akan menyebabkan hatinya keras dan menyia-nyiakan waktu (umur).
Bahkan bagi muriid sebaiknya tidak menggerakkan lidahnya kecuali dengan (menggerakannya untuk) membaca al Qur’an, berdzikir, memberi nasihat kepada orang islam, menyuruh dalam kebaikan, mencegah kemunkaran ataupun menggerakan lisan pada sesuatu yang termasuk kebutuhan-kebutuhan dunianya yang menjadi perantara untuk kepentingan akhirat. Rasulullah ‘alaihi assholatu wassalam telah bersabda: “Setiap ucapan keturunan Adam akan mencelakakannya tidak akan menguntungkannya kecuali (ucapan untuk) berdzikir kepada Allah, menyuruh berbuat baik ataupun mencegah dari kemunkaran.”
وَلْيُبالِغ في حِفظِ اللّسانِ فإنّ جِرمَهُ صَغيرٌ وَجُرمُهُ كبيرٌ، فَلْيكُفَّهُ عنِ الكذبِ والغيبةِ وسائرِ الكلامِ المحظورِ، وَلْيحتَرِز مِن الكلامِ الفاحِشِ، ومِنَ الخَوضِ فيما لا يعنيهِ، وإن لم يَكُن مُحَرَّماً فإنّه يُقسِّي القلبَ، ويكونُ فيهِ ضياعُ الوقتِ
بل يَنبغي لِلمُريدِ أن لا يُحرّكَ لِسانهُ إلاّ بِتلاوةٍ أو ذِكرٍ أو نُصحٍ لِمُسلمٍ أو أمرٍ بِمعروفٍ أو نهيٍ عن مُنكرٍ أو شيءٍ مِن حَاجاتِ دُنياهُ التي يَستعينُ بها على أُخراهُ، وقَد قالَ عليهِ الصّلاةُ والسّلامُ: “كُلّ كلامِ ابنِ آدَمَ عليهِ لا لهُ إلاّ ذِكرُ الله أوْ أمرٌ بمعروفٍ أو نهيٌ عن مُنكرٍ

Ketahuilah, bahwa pendengaran dan penglihatan adalah dua pintu yang terbuka menuju hati, setiap apapun yang masuk melalui keduanya akan sampai ke hati. Dan banyak sekali segala sesuatu yang didengar manusia atau dilihatnya merupakan perkara yang tidak seharusnya membekas ke dalam hati yang (nantinya) sulit dihilangkan. Karena hati (mempunyai karakteristik) cepat sekali terpengaruh dengan apapun yang memasukinya. Ketika hati sudah terpengaruh (membekasnya pengaruh-pengaruh buruk) maka akan sulit menghapusnya.
Untuk itu, hendaknya seorang muriid terus memperhatikan dalam menjaga pendengaran dan penglihatannya serta bersungguh-sungguh mencegah seluruh anggota badannya dari berbuat dosa dan berlebih-lebihan. Dan si muriid hendaknya (juga) berhati-hati dangan pandangan menganggap baik bunga-bunga dunia dan keindahannya, karena secara dhohir dunia adalah fitnah dan secara batin adalah sebuah pelajaran.
واعلم أنّ السّمع والبصَرَ بابانِ مَفتوحانِ إلى القلبِ يَصيرُ إليهِ كُلُّ ما يدخُلُ مِنهُما، وكم مِن شيءٍ يسمَعُهُ الإنسانُ أو يَراهُ مِمّا لا يَنبغي يَصِلُ مِنهُ أثرٌ إلى القلبِ تَعْسُرُ إزالتُهُ عنهُ فإنّ القلبَ سَريعُ التأثُّرِ بِكُلِّ ما يَرِدُ عليهِ، وإذا تأثّرَ بشيءٍ يَعسُرُ مَحوُهُ عنهُ
فَلْيكُنِ المُريدُ حريصاً على حِفظِ سمعِهِ وبصَرِهِ مُجتهداً في كفِّ جَميعِ جَوارِحِهِ عن الآثامِ والفَضولِ، وليحذَرْ من النَّظرِ بِعَينِ الاِستحسانِ إلى زَهرةِ الدُّنيا وزينَتها فإنّ ظاهِرَها فِتنةٌ، وباطِنَها عِبرَةٌ

Mata adalah organ fisik yang melihat tampak luar dunia yakni berupa fitnahnya dan hati yang melihat sisi dalamnya (batin) sebagai pelajaran. Banyak sekali muriid memandang kemegahan dunia kemudian hatinya menjadi terpikat dan cenderung mencintai serta berupaya mengumpulkan dan menumpuk-numpuknya.
Oleh karena itu, engkau wahai muriid sebaiknya menundukkan pandanganmu dari semua ciptaan dan janganlah memandang apapun dari dunia kecuali dengan tujuan mengambil pelajaran. Maksudnya, saat melihatnya kau ingat bahwa seluruh ciptaan (dunia) akan rusak dan hilang (bahkan) dahulunya merupakan perkara yang tidak ada. Dan sesunguhnya manusia yang memandang (berkecenderungan) pada dunia telah mati terlebih dahulu sementara dunia masih ajeg (tidak ikut menemaninya). Dan banyak sekali orang-orang sekarang mewarisi peninggalan keduniawian orang-orang dahulu.
والعَينُ تَنظُرُ إلى ظاهِرِ فِتنَتِها والقلبُ يَنظُرُ إلى باطِنِ عِبرَتِها، وكم مِن مُريدٍ نَظرَ إلى شيءٍ مِن زَخارِفِ الدُّنيا فمَالَ بِقلبِهِ إلى مَحبَّتِها والسّعيِ في جَمعِها وعَمارَتِها، فيَنبغي لكَ أيُّها المُريدُ أن تَغُضَّ بَصرَكِ عَن جَميعِ الكائِناتِ ولا تنظُرَ إلى شيءٍ مِنها إلا على قصدِ الاِعتبارِ، ومعناهُ أن تذكُرَ عِندَ النّظَرِ إليها أنَّها تَفنى وتَذهبُ وأنها قد كانَت مِن قَبلُ مَعدومةً، وأنَّهُ كَم نَظَر إليها أحدٌ مِنَ الآدميِّينَ فذهَبَ وبَقِيَت هِيَ، وكَم تَوارَثها خَلفٌ عن سَلفٍ

Dan ketika kau melihat seluruh perkara yang ada, lihatlah dengan pandangan mencari bukti atas kesempurnaan kekuasaan Dzat Yang Menciptakannya dan Yang Meng-adakannya –subhanallah-. Karena seluruh apapun yang telah ada (tercipta) itu memanggil-manggil / menyeru dengan bahasanya tersendiri yang didengar oleh orang-orang yang hatinya telah diberi cahaya (oleh Allah) dan mereka memandang dengan pertolongan cahanya dari Allah, (seruan mereka adalah):

(لاَ إِله إلاّ اللهُ العزيزُ الحكيمُ)
“Tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Perkasa dan Bijaksana.”

وإذا نظَرْتَ إلى الموجوداتِ فانظُر إليها نَظَر المُستدِلِّ بِها على كَمالِ قُدرةِ مُوجِدِها وبارِئِها سُبحانَهُ، فإنّ جميعَ الموجوداتِ تُنادِي بِلسانِ حالِها نِداءً يَسمعُهُ أهلُ القُلوبِ المُنَوَّرةِ، النّاظِرونَ بِنورِ اللهِ- أن لاَ إِله إلاّ اللهُ العزيزُ الحكيمُ

PENJELASAN TENTANG HUKUM PERLOMBAAN DAN LOMBA MEMANAH


Maksudnya dengan menggunakan anak panah dan sesamanya.
أَيْ بِسِهَامٍ وَنَحْوِهَا

Hukumnya sah melakukan perlombaan dengan menggunakan binatang tunggangan. Maksudnya sesuai dengan hukum asalnya.
(وَتَصِحُّ الْمُسَابَقَةُ عَلَى الدَّوَابِ) أَيْ عَلَى مَا هُوَ الْأَصْلُ

Maksudnya melakukan perlombaan dengan menggunakan binatang tunggangan berupa kuda dan onta. Dan ada yang mengatakan, “dan dengan menggunakan bighal dan keledai menurut pendapat al adhhar.”
أَيِ الْمُسَابَقَةُ عَلَيْهَا مِنْ خَيْلٍ وَ إِبِلٍ وَ فِيْلٍ وَبَغْلٍ وَحِمَارٍ فِيْ الْأَظْهَرِ

Tidak sah melakukan perlombaan dengan menggunakan sapi, adu domba, dan adu ayam jago, baik dengan ‘iwadl (hadiah) ataupun tidak.
وَلَا تَصِحُّ الْمُسَابَقَةُ عَلَى بَقَرٍ وَلَا عَلَى نِطَاحِ الْكِبَاشِ وَلَا عَلَى مُهَارَشَةِ الدِّيْكَةِ لَا بِعِوَضٍ وَلَا غَيْرِهِ

Dan hukum sah melakukan perlombaan panah dengan menggunakan anak panah, jika jarak, maksudnya jarak antara tempat orang yang memanah dengan sasaran yang dipanah, sudah maklum / diketahui
(وَ) تَصِحُّ (الْمُنَاضَلَةُ) أَيِ الْمُرَامَاةُ (بِالسِّهَامِ إِذَا كَانَتِ الْمَسَافَةُ) أَيْ مَسَافَةُ مَا بَيْنَ مَوْقِفِ الرَّامِيْ وَالْغَرَضِ الَّذِيْ يُرْمَى إِلَيْهِ (مَعْلُوْمَةٍ

Dan aturan perlombaannya juga maklum, dengan cara kedua orang yang melakukan lomba memanah itu menjelaskan tata cara pemanahan.
وَ) كَانَتْ (صِفَّةُ الْمُنَاضَلَةِ مَعْلُوْمَةً) أَيْضًا بِأَنْ يُبَيِّنَ الْمُتَنَاضِلَانِ كَيْفِيَّةَ الرَّمْيِ

Berupa qar’, yaitu anak panah mengenai sasaran dan tidak menancap di sana.

مِنْ قَرْعٍ وَهُوَ إِصَابَةُ السَّهْمِ الْغَرَضَ وَلَا يَثْبُتُ فِيْهِ

Khasaq, yaitu anak panah melubangi sasaran dan menancap di sana.
أَوْ مِنْ خَسَقٍ وَهُوَ أَنْ يُثْقِبَ السَّهْمُ الْغَرَضَ وَيَثْبُتَ فِيْهِ

Atau marq, yaitu anak panah menembus sasaran.
أَوْ مِنْ مَرْقٍ وَهُوَ أَنْ يَنْفُذَ السَّهْمُ مِنَ الْجَانِبِ الْآخِرِ مِنَ الْغَرَضِ

Hadiah Perlombaan

Ketahuilah sesungguhnya ‘iwadl (hadiah) perlombaan adalah harta yang dikeluarkan dalam perlombaan.
وَاعْلَمْ أَنَّ عِوَضَ الْمُسَابَقَةِ هُوَ الْمَالُ الَّذِيْ يُخْرَجُ فِيْهَا

Terkadang ‘iwadl tersebut dikeluarkan oleh salah satu dari dua orang yang melakukan perlombaan, dan terkadang dikeluarkan oleh keduanya secara bersamaan.
وَقَدْ يُخْرِجُهُ (أَحَدُ الْمُتَسَابِقَيْنِ) وَقَدْ يُخْرِجَانِهِ مَعًا

Mushannif menyebutkan yang pertama di dalam perkataan beliau,
وَذَكَرَ الْمُصَنِّفُ الْأَوَّلَ فِيْ قَوْلِهِ:

Dan yang mengeluarkan hadiah adalah salah satu dari dua orang yang melakukan perlombaan, sehingga, ketika ia mengalahkan/mendahului yang lainnya, -lafadz “sabaqa”- dengan membaca fathah huruf sinnya, maka ia menariknya kembali, maksudnya hadiah yang telah ia keluarkan.
(وَيُخْرِجُ الْعِوَضَ أَحَدُ الْمُتَسَابِقَيْنِ حَتَّى أَنَّهُ إِذَا سَبَقَ) بِفَتْحِ السِّيْنِ غَيْرَهُ (اسْتَرَدَّهُ) أَيِ الْعِوَضَ الَّذِيْ أَخْرَجَهُ

Dan jika ia didahului, -lafadz “subiqa”-dengan membaca dlammah huruf awalnya, maka hadiah tersebut diambil oleh lawannya yang telah mengalahkannya.
(وَإِنْ سُبِقَ) بِضَمِّ أَوَّلِهِ (أَخَذَهُ) أَيِ الْعِوَضَ (صَاحِبُهُ) السَّابِقُ (لَهُ)

Mushannif menjelaskan yang kedua di dalam perkataan beliau,
وَذَكَرَ الْمُصَنِّفُ الثَّانِيْ فِيْ قَوْلِهِ

Jika ‘iwadl dikeluarkan oleh keduanya bersama-sama, maksudnya dua orang yang berlomba, maka tidak diperbolehkan, maksudnya tidak sah jika keduanya mengeluarkan hadiah kecuali keduanya memasukkan muhallil (orang ketiga) diantara keduannya. Lafadz “muhallil” dengan membaca kasrah huruf lamnya yang pertama.
(وَإِنْ أَخْرَجَاهُ) أَيِ الْعِوَضَ الْمُتَسَابِقَانِ (مَعًا لَمْ يَجُزْ) أَيْ لَمْ يَصِحَّ إِخْرَاجُهُمَا لِلْعِوَضِ (إِلَّا أَنْ يُدْخِلَا بَيْنَهُمَا مُحَلِّلًا) بِكَسْرِ اللَّامِ الْأُوْلَى

Dalam sebagian redaksi menggunakan bahasa, “ kecuali ada muhallil yang ikut serta di antara keduanya.”
وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ إِلَّا أَنْ يَدْخُلَ بَيْنَهُمَا مُحَلِّلٌ

Sehingga, jika muhallil tersebut mendahului / mengalahkan masing-masing dari dua orang yang melakukan perlombaan itu, maka ia berhak mengambil hadiahnya.
(فَإِنْ سَبَقَ) كُلًّا مِنَ الْمُتَسَابِقَيْنِ (أَخَذَ الْعِوَضَ) الَّذِيْ أَخْرَجَاهُ

Dan jika ia didahului/dikalahkan, -lafadz “subiqa”- dengan membaca dlammah huruf awalnya, maka ia tidak mengeluarkan apapun untuk keduannya.
(وَإِنْ سُبِقَ) بِضَمِّ أَوَّلِهِ (لَمْ يَغْرِمْ) لَهُمَا شَيْئًا.

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

PENJELASAN AQIQAH DALAM KITAB FATHUL QORIB

(Fasal) menjelaskan hukum-hukum aqiqah.
(فَصْلٌ)

فِيْ بَيَانِ أَحْكَامِ (الْعَقِيْقَةِ)

Aqiqah secara bahasa adalah nama rambut yang berada di atas kepala anak yang dilahirkan.
وَهِيَ لُغَةً اسْمٌ لِلشَّعْرِ عَلَى رَأْسِ الْمَوْلُوْدِ

Dan secara syara’ akan dijelaskan oleh mushannif dengan perkataan beliau, “aqiqah untuk anak yang dilahirkan disunnahkan.”
وَشَرْعًا مَا سَيَذْكُرُهُ الْمُصَنِّفُ بِقَوْلِهِ (وَالْعَقِيْقَةُ) عَلَى الْمَوْلُوْدِ (مُسْتَحَبَّةٌ)

Mushannif mentafsiri aqiqah dengan perkataan beliau, “aqiqah adalah binatang yang disembelih sebab bayi yang dilahirkan pada hari ketujuh bayi tersebut, maksudnya pada hari ketujuh kelahirannya.
وَفَسَّرَ الْمُصَنِّفُ الْعَقِيْقَةَ بِقَوْلِهِ (وَهِيَ الذَّبِيْحَةُ عَنِ الْمَوْلُوْدِ يَوْمَ سَابِعِهِ) أَيْ يَوْمَ سَابِعِ وِلَادَتِهِ

Hari saat kelahirannya termasuk dalam hitungan tujuh hari tersebut. -kesunnahan tetap berlaku- Walaupun bayi yang telah dilahirkan itu meninggal dunia sebelum hari ketujuh.
وَيُحْسَبُ يَوْمُ الْوِلَادَةِ مِنَ السَّبْعِ وَلَوْ مَاتَ الْمَوْلُوْدُ قَبْلَ السَّابِعِ

Kesunnahan aqiqah tidak hilang sebab ditunda hingga melewati hari ketujuh.
وَلَا تَفُوْتُ بِالتَّأْخِيْرِ بَعْدَهُ

Namun, jika aqiqah ditundah hingga anak tersebut baligh, maka hukum aqiqah gugur bagi orang yang melakukan aqiqah dari anak tersebut.
فَإِنْ تَأَخَّرَتْ لِلْبُلُوْغِ سَقَطَ حُكْمُهَا فِيْ حَقِّ الْعَاقِ عَنِ الْمَوْلُوْدِ

Sedangkan bagi anak itu sendiri, maka diperkenankan untuk melakukan aqiqah untuk dirinya sendiri ataupun tidak melakukannya.
أَمَّا هُوَ فَمُخَيَّرٌ فِيْ الْعَقِّ عَنْ نَفْسِهِ وَالتَّرْكِ

Disunnahkan menyembelih dua ekor kambing sebagai aqiqah untuk anak laki-laki, dan menyembelih satu ekor kambing untuk anak perempuan.
(وَيُذْبَحُ عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ وَ) يُذْبَحُ (عَنِ الْجَارِيَّةِ شَاةٌ)

Sebagian ulama’ berkata, “adapun anak khuntsa, maka masih ihtimal / dimungkinkan disamakan dengan anak laki-laki atau dengan anak perempuan.”
قَالَ بَعْضُهُمْ أَمَّا الْخُنْثَى فَيَحْتَمِلُ إِلْحَاقُهُ بِالْغُلَامِ أَوْ بِالْجَارِيَّةِ

Namun, seandainya kemudian jelas kelamin prianya, maka disunnahkan untuk menambahi kekurangannya.
فَلَوْ بَانَتْ ذُكُوْرَتُهُ أُمِرَ بِالتَّدَارُكِ

Aqiqah menjadi berlipat ganda sebab berlipat gandanya anak.
وَتَتَعَدَّدُ الْعَقِيْقَةُ بِتَعَدُّدِ الْأَوْلَادِ

Proses Aqiqah

Bagi orang yang melaksanakan aqiqah, maka harus memberi makan kaum faqir dan kaum miskin.
(وَيُطْعِمُ) الْعَاقَ مِنَ الْعَقِيْقَةِ (الْفُقَرَاءَ وَالْمَسَاكِيْنَ)

Ia memasak aqiqah tersebut dengan bumbu manis dan memberikannya sebagai hadiah pada orang-orang faqir dan orang-orang miskin. Dan hendaknya tidak menjadikan aqiqah sebagai acara undangan. Dan hendaknya tidak memecahkan tulang-tulangnya.
فَيَطْبَحُهَا بِحُلْوٍ وَيُهْدِيْ مِنْهَا لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِيْنِ وَلَا يَتَّخِذُهَا دَعْوَةً وَلَا يُكْسَرُ عَظْمُهَا

Ketahuilah sesungguhnya usia binatang aqiqah, selamat dari cacat yang bisa mengurangi daging, memakannya, mensedekahkan sebagiannya, tidak boleh menjualnya dan menjadi wajib sebab nadzar, hukumnya adalah sesuai dengan hukum yang telah dijelaskan di dalam permasalahan binatang kurban.
وَاعْلَمْ أَنَّ سِنَّ الْعَقِيْقَةِ وَسَلَامَتَهَا مِنْ عَيْبٍ يُنْقِصُ لَحْمَهَا وَالْأَكْلَ مِنْهَا وَالتَّصَدُّقَ بِبَعْضِهَا وَامْتِنَاعَ بَيْعِهَا وَتَعَيُّنَهَا بِالنَّذَرِ حُكْمُهُ عَلَى مَا سَبَقَ فِيْ الْأُضْحِيَّةِ

Adzan, Cetak & Nama

Disunnahkan untuk mengumandangkan adzan di telinga kanan bayi yang baru dilahirkan dan mengumandangkan iqamah di telinga kirinya.
وَيُسَنُّ أَنْ يُؤْذَنَ فِيْ أُذُنِ الْمَوْلُوْدِ الْيُمْنَى وَيُقِيْمَ فِيْ أُذُنِهِ الْيُسْرَى

Dan -disunnahkan- melakukan hanak (mencetaki : jawa) bayi yang dilahirkan dengan menggunakan kurma kering. Maka seseorang menguyah kurma dan mengoleskannya pada langit-langit bagian dalam mulut si bayi agar ada sebagian dari kurma tersebut yang masuk ke dalam perutnya.
وَأَنْ يُحْنَكَ الْمَوْلُوْدُ بِتَمْرٍ فَيُمْضَعُ وَيُدْلَكُ بِهِ حَنَكُهُ دَاخِلَ فَمِّهِ لِيَنْزِلَ مِنْهُ شَيْئٌ إِلَى جَوْفِهِ

Kemudian, jika tidak menemukan kurma kering, maka dengan menggunakan kurma basah, dan jika tidak ada, maka menggunakan sesuatu yang manis.
فَإِنْ لَمْ يُوْجَدْ تَمْرٌ فَرُطَبٌ وَإِلَّا فَشَيْئٌ حُلْوٌ

Dan -disunnahkan-memberi nama si bayi pada hari ketujuh kelahirannya.
وَأَنْ يُسَمَّى الْمَوْلُوْدُ يَوْمَ سَابِعِ وِلَادَتِهِ

Dan diperbolehkan memberi nama si bayi sebelum atau setelah hari ke tujuh.
وَتَجُوْزُ تَسْمِيَّتُهُ قَبْلَ السَّابِعِ وَبَعْدَهُ

Seandainya si bayi meninggal dunia sebelum hari ke tujuh, maka disunnah-kan untuk memberi nama padanya.
وَلَوْ مَاتَ الْمَوْلُوْدُ قَبْلَ السَّابِعِ سُنَّ تَسْمِيَّتُهُ

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

CARA AGAR MURID MENDAPATKAN SIR ATAU RAHASIA DARI URU MURSYID

Ketika kau –wahai muriid- menginginkan dari syaikh-mu sesuatu hal atau kau memulai bertanya terlebih dahulu kepada beliau mengenai suatu perkara, maka jangan sampai keagungan beliau dan keharusan bertatakrama di hadapan beliau menghalangimu untuk meminta dan bertanya kepadanya. Tanyakanlah kepada beliau sekali, dua kali dan tiga kali. Diam tidak bertanya dan meminta kepada beliau bukanlah tatakrama yang baik. Kecuali syaikh memberi isyarat kepadamu untuk diam dan memerintahkanmu untuk tidak bertanya. Ketika dalam kondisi seperti itu maka wajib mematuhinya.
وَإِذا أَردتَ -أيُّها المُريدُ-مِن شَيخِكَ أَمراً أَو بَدا لَكَ أَن تَسأَلَهُ عَن شَيءٍ فَلا يَمنَعُكَ إِجلالهِ وَالتَّأدُّبُ مَعَهُ عَن طَلَبِهِ مِنهُ وَسُؤَالِهِ عَنهُ، وَتَسأَلُهُ المَرَّةَ وَالمرَّتينِ وَالثَّلاثَ، فَلَيسَ السُّكوتُ عَنِ السُّؤاَلِ وَالطَّلبِ مِن حُسنِ الأَدَبِ، اللَّهُمَّ إِلاَّ أَن يُشيرَ عَليكَ الشَّيخُ بِالسِّكوتِ وَيَأمُرَكَ بِتَركِ السُّؤالِ، فَعِندَ ذَلكَ يَجِبُ عَليكَ اِمتِثالُهُ.

Dan ketika syaikh mencegahmu dari suatu perkara atau mendahulukan seseorang daripada kau maka janganlah kau mencurigainya. Hendaknya kau meyakini bahwa beliau telah melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat dan lebih baik bagimu. Dan apabila kau melakukan suatu kesalahan (berbuat dosa) dan Si Syaikh merasa berat sebab kesalahan tersebut maka bergegaslah meminta maaf kepada beliau dari kesalahanmu sampai beliau lega (memberi ridha).
وَإِذا مَنعَكَ الشَّيخُ عَن أَمرٍ أَو قَدَّمَ عَليكَ أَحداً فَإِيَّاكَ أَن تَتَّهِمَهُ، وَلْتَكُن مُعتَقِداً أَنَّهُ قَد فَعَلَ مَا هُوَ الأَنفَعُ وَالأَحسنُ لَكَ، وَإذا وَقَع مِنكَ ذَنبٌ وَوَجدَ عَليكَ الشَّيخُ بِسَبَبِهِ فَبادِر بِالاِعتِذارِ إِليهِ مِن ذَنبِكَ حَتَّى يَرضَى عَنكَ.

Ketika kau menginkari hati Si syaikh kepadamu seperti kau tidak mendapati wajah beliau berseri-seri maka kau harus membuatnya senang atau yang lain sebagainya. Kemudian ceritakanlah apa yang terjadi padamu yakni kekhawatiranmu pada perubahan hati beliau kepadamu. Barangkali hati beliau berubah kepadamu karena suatu hal yang kau ceritakan kepadanya maka harus meminta maaf. Atau barangkali perkara yang kau curigai pada syaikh-mu itu tidak terjadi pada Si syaikh dan kau telah dijatuhkan oleh syetan supaya berbuat buruk kepada beliau. Untuk itu, ketika kau telah mengetahui bahwa si syaikh telah meridhaimu maka hatimu akan tenang, berbeda ketika kau tidak membicarakannya dan kau diam saja dengan sepengetahuanmu (persepsimu) saja yakni (merasa) kesalamatan ada dipihakmu.
وَإِذا أَنكَرتَ قَلبَ الشَّيخِ عَليكَ كَأَن فَقَدتَ مِنهُ بِشراً كُنتَ تَأَلَفُهُ أَو نَحوَ ذَلكَ، فَحَدِّثهُ بِما وَقعَ لَكَ مِن تَخَوُّفِكَ تَغَيُّرَ قَلبِهِ عَليكَ فَلَعلَّهُ تَغَيَّرَ عَليكَ لِشيءٍ أَحدَثتَهُ فَتَتُوبَ عَنهُ، أَو لَعَلَّ الذِّي تَوَهَّمتَهُ لَم يَكُن عِندَ الشَّيخِ وَأَلقاهُ الشَّيطانُ إِليكَ لِيَسُوءَكَ بِهِ، فَإِذا عَرَفتَ أَنَّ الشَّيخَ رَاضٍ عَنكَ سَكَنَ قَلبُكَ بِخلافِ مَا إِذا لَم تُحَدِّثهُ وَسَكَتَّ بِمَعرِفةٍ منِكَ بِسلامةِ جِهَتِكَ.

Ketika kau melihat seorang muriid dipenuhi dengan meng-agungkan dan memulyakan syaikh-nya yang terkumpul di lahir dan batinnya berdasakan keyakinan syaikh-nya, ketaaatan dan bertata karma dengan akhlak si syaikh maka pasti muriid tersebut akan mewarisi rahasia syaikh-nya atau akan memperoleh sebagian rahasia apabila si muriid masih hidup setelah syaikh-nya.
وَإِذا رَأيتَ المُريدَ ممُتَلِئاً بِتَعظِيمِ شَيخِهِ، وَإِجلالِهِ ، مُجتَمِعاً بِظاهِرِهِ وَبَاطِنهِ عَلى اِعتِقادِهِ، وَامتِثالِهِ ، وَالتَّأَدُّبِ بِآدابِهِ؛ فَلا بُدَّ أَن يَرِثَ سِرَّهُ ، أَو شَيئاً مِنهُ إِن بَقِيَ بَعدَهُ

Wallahu a’lam bishhawab…

PENJELASAN QURBAN DALAM KITAB FATHUL QORIB

(Fasal) Menjelaskan hukum-hukum kurban.
(فَصْلٌ)

فِيْ أَحْكَامِ (الْأُضْحِيَّةِ)

Al udhiyah, dengan membaca dlammah huruf hamzahnya menurut pendapat yang paling masyhur, yaitu nama binatang ternak yang disembelih pada hari Raya Kurban dan hari At Tasyriq karena untuk mendekatkan diri pada Allah Swt.
بِضَمِّ الْهَمْزَةِ فِيْ الْأَشْهَرِ وَهُوَ اسْمٌ لِمَا يُذْبَحُ مِنَ النَّعَمِ يَوْمَ عِيْدِ النَّحْرِ وَأَيَّامَ التَّشْرِيْقِ تَقَرُّبًا إِلَى اللهِ تَعَالَى

Hukum Kurban

Al udhiyah hukumnya adalah sunnah kifayah mu’akadah.
(وَالْأُضْحِيِّةُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ)

عَلَى الْكِفَايَةِ

Sehingga, ketika salah satu dari penghuni suatu rumah telah adalah yang melaksanakannya, maka sudah mencukupi dari semuanya.
فَإِذَا أَتَى بِهَا وَاحِدٌ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ كَفَى عَنْ جَمِيْعِهِمْ

Al udhiyah tidak bisa wajib kecuali dengan nadzar.
وَلَا تَجِبُ الْأُضْحِيَّةُ إِلَّا بِنَذْرٍ

Binatang Kurban

Yang bisa mencukupi di dalam Al udhiyah adalah kambing domba yang berusia satu tahun dan menginjak dua tahun.
(وَيُجْزِئُ فِيْهَا الْجَذْعُ مِنَ الضَّأْنِ)

وَهُوَ مَا لَهُ سَنَةٌ وَطَعَنَ فِيْ الثَّانِيَةِ

Dan kambing kacang yang berusia dua tahun dan menginjak tiga tahun.
(وَالثَّنِيُّ مِنَ الْمَعْزِ)

وَهُوَ مَا لَهُ سَنَتَانِ وَطَعَنَ فِيْ الثَّالِثَةِ

Dan onta ats tsaniyah yang berusia lima tahun dan memasuki usia enam tahun.
(وَالثَّنِيُّ مَنَ الْإِبِلِ)

مَا لَهُ خَمْسُ سِنِيْنَ وَطَعَنَ فِيْ السَّادِسَةِ

Dan sapi ats tsaniyah yang berusia dua tahun dan memasuki usia tiga tahun.
(وَالثَّنِيُّ مِنَ الْبَقَرَةِ)

مَالَهُ سَنَتَانِ وَطَعَنَ فِيْ الثَّالِثَةِ

Untuk Siapa Kurban ???

Satu ekor onta cukup digunakan kurban untuk tujuh orang yang bersama-sama melakukan kurban dengan satu onta.
(وَتُجْزِئُ الْبَدَنَةُ عَنْ سَبْعَةٍ)

اشْتَرَكُوْا فِيْ التَّضْحِيَّةِ بِهَا

Begitu juga satu ekor sapi cukup digunakan kurban untuk tujuh orang.
(وَ)

تُجْزِئُ (الْبَقَرَةُ عَنْ سَبْعَةٍ) كَذَلِكَ

Satu ekor kambing hanya cukup digunakan kurban untuk satu orang. Dan satu ekor kambing lebih afdlal daripada bersama-sama dengan orang lain melakukan kurban dengan onta.
(وَ)

تُجْزِئُ (الشَّاةُ عَنْ) شَخْصٍ (وَاحِدٍ) وَهِيَ أَفْضَلُ مِنْ مُشَارَكَتِهِ فِيْ بَعِيْرٍ

Kurban yang paling utama adalah onta, kemudian sapi lalu kambing.
وَأَفْضَلُ أَنْوَاعِ الْأُضْحِيَّةِ إِبِلٌ ثُمَّ بَقَرٌ ثُمَّ غَنَمٌ

Binatang Yang Tidak Sah

Ada empat binatang, dalam sebagian redaksi menggunakan bahasa, “arba’atun” yang tidak mencukupi untuk dijadikan kurban
(وَأَرْبَعٌ)

وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ وَأَرْبَعَةٌ (لَا تُجْزِئُ فِيْ الضَّحَايَا)

Salah satunya adalah binatang yang buta satu matanya yang nampak jelas, walaupun bulatan matanya masih utuh menurut pendapat al ashah.
أَحَدُهَا (الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ) أَيْ ظَاهِرٌ (عِوَرُهَا) وَإِنْ بَقِيَتِ الْحَدَقَةُ فِيْ الْأَصَحِّ

Yang kedua adalah binatang pincang yang nampak jelas pincangnya, walaupun pincang tersebut terjadi saat menidurkan miring binatang itu karena untuk disembelih saat prosesi kurban sebab gerakan binatang tersebut.
(وَ)

الثَّانِيْ (الْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ عَرَجُهَا) وَلَوْ كَانَ حُصُوْلُ الْعَرَجِ لَهَا عِنْدَ إِضْجَاعِهَا لِلتَّضْحِيَّةِ بِهَا بِسَبَبِ اضْطِرَابِهَا

Yang ketiga adalah binatang sakit yang nampak jelas sakitnya.
(وَ)

الثَّالِثُ (الْمَرِيْضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا)

Dan tidak masalah jika hal-hal ini hanya sedikit saja.
وَلَا يَضُرُّ يَسِيْرُ هَذِهِ الْأُمُوْرِ

Yang ke empat adalah binatang al ‘ajfa’, yaitu binatang yang hilang bagian otaknya sebab terlalu kurus.
(وَ)

الرَّابِعُ (الْعَجْفَاءُ) وَهِيَ (الَّتِيْ ذَهَبَ مُخُّهَا) أَيْ ذَهَبَ دِمَاغُهَا (مِنَ الْهُزَالِ) الْحَاصِلِ لَهَا

Sudah dianggap cukup berkurban dengan binatang yang dikebiri, maksudnya binatang yang dipotong dua pelirnya, dan binatang yang pecah tanduknya jika memang tidak berpengaruh apa-apa pada dagingnya.
(وَيُجْزِئُ الْخَصِيُّ) أَيِ الْمَقْطُوْعُ الْخَصِيَّتَيْنِ (وَالْمَكْسُوْرُ القَرْنِ) إِنْ لَمْ يُؤَثِّرْ فِيْ اللَّحْمِ

Begitu juga mencukupi berkurban dengan binatang yang tidak memiliki tanduk, dan binatang seperti ini disebut dengan al jalja’.
وَيُجْزِئُ أَيْضًا فَاقِدَةُ الْقُرُوْنِ وَهِيَ الْمُسَمَّةُ بِالْجَلْجَاءِ

Tidak mencukupi berkurban dengan binatang yang terpotong seluruh telinganya, sebagiannya atau terlahir tanpa telinga.
(وَلَا تُجْزِئُ الْمَقْطُوْعَةُ)

كُلُّ (الْأُذُنِ) وَلَا بَعْضُهَا وَلَا الْمَخْلُوْقَةُ بِلَا أُذُنٍ

Dan tidak mencukupi binatang yang terpotong seluruh atau sebagian ekornya.
(وَ)

لَا الْمَقْطُوْعَةُ (الذَّنْبِ) وَلَا بَعْضِهِ

Waktu Pelaksanaan Kurban

Waktu penyembelihan kurban dimulai dari waktunya sholat Hari Raya, maksudnya Hari Raya Kurban.
(وَ) يَدْخُلُ (وَقْتُ الذَبْحِ) لِلْأُضْحِيَّةِ (مِنْ وَقْتِ صَلَاةِ الْعِيْدِ) أَيْ عِيْدِ النَّحْرِ

Ungkapan kitab ar Raudlah dan kitab asalnya, “waktu pelaksanaan kurban masuk ketika terbitnya matahari Hari Raya Kurban dan telah melewati kira-kira waktu yang cukup untuk melaksanakan sholat dua rakaat dan dua khutbah yang dilakukan agak cepat.” Ungkapan kitab ar Raudlah dan kitab asalnya telah selesai.
وَعِبَارَةُ الرَّوْضَةِ وَأَصْلِهَا يَدْخُلُ وَقْتُ التَّضْحِيَّةِ إِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ يَوْمَ النَّحْرِ وَمَضَى قَدْرُ رَكْعَتَيْنِ وَخُطْبَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ انْتَهَى

Waktu penyembelihan binatang kurban tetap ada hingga terbenamnya matahari di akhir hari at Tasyriq. Hari at Tasyriq adalah tiga hari yang bersambung setelahnya tanggal sepuluh Dzil Hijjah.
وَيَسْتَمِرُّ وَقْتُ الذَّبْحِ (إِلَى غُرُوْبِ الشَّمْسِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ) وَهِيَ الثَّلَاثَةُ الْمُتَّصِلَةُ بِعَاشِرِ الْحِجَّةِ

Kesunnahan Kurban

Disunnahkan melakukan lima perkara saat pelaksanaan kurban,
(وَيُسْتَحَبُّ عِنْدَ الذَّبْحِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ)

Salah satunya adalah membaca basmalah. Maka orang yang menyembelih sunnah mengucapkan, “bismillah”. Dan yang paling sempurna adalah, “bismillahirahmanirrahim.”
أَحَدُهَا (التَّسْمِيَّةُ) فَيَقُوْلُ الذَّابِحُ “بِسْمِ اللهِ” وَالْأَكْمَلُ “بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ”

Dan seandainya orang yang menyembelih tidak mengucapkan basmalah, maka binatang kurban yang disembelih hukumnya halal.
وَلَوْ لَمْ يُسَمِّ حَلَّ الْمَذْبُوْحُ

Yang kedua adalah membaca shalawat kepada baginda Nabi Saw.
(وَ)

الثَّانِيْ (الصَّلَّاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)

Dimakruhkan mengumpulkan diantara nama Allah dan nama Rasul-Nya.
وَيُكْرَهُ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ اسْمِ اللهِ وَاسْمِ رَسُوْلِهِ

Yang ketiga adalah menghadapkan binatang kurbannya ke arah kiblat.
(وَ)

الثَّالِثُ (اسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ) بِالذَّبِيْحَةِ

Maksudnya, orang yang menyembelih menghadapkan leher binatang yang disembelih kearah kiblat. Dan ia sendiri juga menghadap kiblat.
أَيْ يُوَجِّهُ الذَّابِحُ مَذْبَحَهَا لِلْقِبْلَةِ وَيَتَوَجَهُ هُوَ أَيْضًا.

Ke empat adalah membaca takbir tiga kali, maksudnya sebelum atau setelah membaca basmalah, sebagaimana yang dijelaskan oleh imam al Mawardi.
(وَ)

الرَّابِعُ (التَّكْبِيْرُ) أَيْ قَبْلَ التَّسْمِيَّةِ أَوْ بَعْدَهَا ثَلَاثًا كَمَا قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ

Yang ke lima adalah berdoa semoga diterima oleh Allah Swt.
(وَ)

الْخَامِسُ (الدُّعَاءُ بِالْقَبُوْلِ)

Maka orang yang menyembelih berkata, “ya Allah, ini adalah dari Engkau dan untuk Engkau, maka sudilah Engkau menerimanya.” Maksudnya, “binatang kurban ini adalah nikmat dari-Mu untukku, dan aku mendekatkan diri pada-Mu dengan binatang kurban ini, maka terimalah binatang kurban ini dariku.”
فَيَقُوْلُ الذَّابِحُ “اللهم هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ” أَيْ هَذِهِ الْأُضْحِيَّةُ نِعْمَةٌ مِنْكَ عَلَيَّ وَتَقَرَّبْتُ بِهَا إِلَيْكَ فَتَقَبَّلْهَا مِنِّيْ

Memakan Daging Kurban

Orang yang melaksanakan kurban tidak diperkenankan memakan apapun dari kurban yang dinadzari.
(وَلَا يَأْكُلُ الْمُضَّحِيْ شَيْئًا مِنَ الْأُضْحِيَّةِ الْمَنْذُوْرَةِ)

Bahkan bagi dia wajib mensedekahkan semua dagingnya.
بَلْ تَجِبُ عَلَيْهِ التَّصَدُّقُ بِجَمِيْعِ لَحْمِهَا

Kemudian, seandainya ia menunda untuk mensedekahkannya hingga rusak, maka wajib baginya untuk mengganti.
فَلَوْ أَخَّرَهَا فَتَلِفَتْ لَزِمَهُ ضَمَانُهُ

Ia diperkenankan memakan sepertiga dari binatang kurban yang sunnah menurut pendapat al Jadid.
(وَيَأْكُلُ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ الْمُتَطَوِّعَةِ بِهَا) ثُلُثًا عَلَى الْجَدِيْدِ

Sedangkan untuk dua sepertiganya, maka ada yang mengatakan harus disedekahkan, dan ini diunggulkan oleh imam an Nawawi di dalam kitab Tashhih at Tanbih.
وَأَمَّا الثُّلُثَانِ فَقِيْلَ يُتَصَدَّقُ بِهِمَا وَرَجَّحَهُ النَّوَوِيُّ فِيْ تَصْحِيْحِ التَّنْبِيْهِ

Dan ada yang mengatakan, bahwa ia menghadiahkan sepertiga dari dagingnya kepada kaum muslimin yang kaya dan mensedekahkan sepertiganya kepada kaum faqir.
وَقِيْلَ يُهْدِيْ ثُلُثًا لِلْمُسْلِمِيْنَ الْأَغْنِيَاءَ وَيَتَصَدَّقُ بِثُلُثٍ عَلَى الْفُقَرَاءِ مِنْ لَحْمِهَا

Di dalam kitab ar Raudlah dan kitab asalnya, imam an Nawawi tidak mengunggulkan salah satu dari dua pendapat ini.
وَلَمْ يُرَجِّحِ النَّوَوِيُّ فِيْ الرَّوْضَةِ وَأَصْلِهَا شَيْئًا مِنْ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ

Menjual Daging Kurban

Tidak boleh menjual, maksudnya bagi orang yang melaksanakan kurban diharamkan untuk menjual bagian dari binatang kurbannya, maksudnya dari daging, bulu atau kulitnya.
(وَلَا يَبِيْعُ) أَيْ يَحْرُمُ عَلَى الْمُضَّحِيْ بَيْعُ شَيْئٍ (مِنَ الْأُضْحِيَّةِ) أَيْ مِنْ لَحْمِهَا أَوْ شَعْرِهَا أَوْ جِلْدِهَا

Begitu juga haram menjadikan bagian dari binatang kurban sebagai ongkos untuk pejagal, walaupun berupa binatang kurban yang sunnah.
وَيَحْرُمُ أَيْضًا جَعْلُهُ أُجْرَةً لِلْجَزَارِ وَلَوْ كَانَتِ الْأُضْحِيَّةِ تَطَوُّعًا

Wajib memberi makan bagian dari binatang kurban yang sunnah kepada kaum faqir dan kaum miskin.
(وَيُطْعِمُ) حَتْمًا مِنَ الْأُضْحِيَّةِ الْمُتَطَوِّعَةِ بِهَا (الْفُقَرَاءَ وَالْمَسَاكِيْنَ)

Yang paling utama adalah mensedekahkan semuanya kecuali satu atau beberapa cuil daging yang dimakan oleh orang yang melakukan kurban untuk mengharapkan berkah. Karena sesungguhnya hal itu disunnahkan baginya.
وَالْأَفْضَلُ التَّصَدُّقُ بِجَمِيْعِهَا إِلَّا لُقْمَةً أَوْ لُقَمًا يَتَبَرَّكُ الْمُضَّحِيْ بِأَكْلِهَا فَإِنَّهُ يُسَنُّ لَهُ ذَلِكَ

Ketika ia memakan sebagian dan mensedekahkan yang lainnya, maka ia telah mendapatkan pahala berkurban semuanya dan pahala sedekah sebagiannya saja.
وَإِذَا أَكَلَ الْبَعْضَ وَتَصَدَّقَ بِالْبَاقِيْ حَصَلَ لَهُ ثَوَابُ التَّضْحِيَّةِ بِالْجَمِيْعِ وَالتَّصَدُّقِ بِالْبَعْضِ

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

HIKMAH MENGINGAT MATI DAN HIRUK-PIKUKNYA KUBUR

بسم الله الرحمن الرحيم

Bab Ke 37 Keutamaan Mengingat Mati
(الباب السابع والثلاثون): : في فضيلة ذكر الموت

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Kematian itu jembatan yang menyambungkan seorang kekasih kepada kekasihnya”}
وقال عليه السلام: {المَوْتُ جِسْرٌ يُوصلُ الحَبِيبَ إلى الحَبيبِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Kematian itu ada empat: kematian ulama, kematian orang kaya, kematian orang miskin dan kematian penguasa. Kematian ulama menimbulkan kekacauan dalam agama, kematian orang kaya menimbulkan penyesalan, kematian orang miskin menimbulkan ketenangan dan kematian penguasa menimbulkan fitnah.”}
وقال عليه السلام: {المَوْتُ أَرْبَعٌ مَوْتُ العُلَمَاءِ وَمَوْتُ الأَغْنِيَاءِ وَمَوْتُ الفُقَرَاءِ وَمَوْتُ الأُمَرَاءِ فَمَوْتُ العُلَمَاءِ ثُلمَةٌ في الدِّينِ وَمَوْتُ الأَغْنِيَاءِ حَسَرَةٌ وَمَوْتُ الفُقَرَاءِ رَاحَةٌ وَمَوْتُ الأُمَرَاءِ فِتْنَةٌ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Sesungguhnya para wali Allah itu tidak meninggal, mereka hanya berpindah dari satu negeri ke negeri lainnya.”}
وقال عليه السلام: {إنَّ أَوْلِيَاءَ الله لا يَمُوتُونَ وإنّما يَنْتَقِلُون مِنْ دَارٍ إلٰى دَارٍ أُخْرَى}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Sebaik-baik kematian adalah kenyamanan bagi orang mukmin”}
وقال عليه السلام: {نعم المَوْتُ رَاحَةُ المُؤْمِنِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Kematian ulama adalah kegelapan dalam agama”}
وقال عليه السلام: {مَوْتُ العُلَمَاءِ ظُلْمَةٌ في الدِّينِ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Jika anak adam mati maka terputuslah amalnya terkecuali tiga hal: sedekah jariyah atau ilmu yang dimanfaatkan atau anak sholeh yang mendoakannya.”}
وقال عليه السلام: {إذَا مَاتَ ابْنَ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَة جَارِيَة أَوْ عِلْم يَنْتَفعُ بِه أَوْ وَلَد صَالِح يدعو له}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Ingatlah penghancur kenikmatan, para sahabat bertanya, Nabi, apakah penghancur kenikmatan itu?’ Nabi menjawab: “Mati, mati, mati”.”}
وقال عليه السلام: {اذْكُرُوا هَاذِمَ اللَّذَّاتِ، قالوا: يا رَسُولُ الله وَمَا هَاذِمُ اللذات؟، قال: المَوْتُ المَوْتُ المَوْتُ} ثَلاَثا

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Jadikanlah dirimu di dunia seakan-akan seorang pengembara (orang asing) atau orang yang lewat dan anggaplah dirimu termasuk penghuni kubur.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {كُنْ في الدُّنْيا كأنَّكَ غَرِيبٌ أَوْعَابِر سَبِيلٍ وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ القُبُورِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Ketika seorang alim meninggal maka menangislah ahli langit dan bumi selama tujuhpuluh hari. Barangsiapa tidak sedih atas meninggalnya orang alim maka dia adalah orang munafik, munafik, munafik.”} Nabi mengatakannya tiga kali.
وقال عليه الصلاة والسلام: {إذا مَاتَ العَالِمُ بَكَتْ عَلَيْهِ أَهْلُ السَّمَوٰاتِ والأَرْضِ سَبْعِينَ يَوْما
مَنْ لَمْ يَحْزَنْ لِمَوْتِ العَالِمِ، فَهُوَ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ} قالها ثلاث مرات.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Ketika seseorang meninggal berkatalah para malaikat tentang apa yang telah dilakukannya dan berkatalah manusia tentang apa yang ditinggalkannya. “}
وقال عليه الصلاة والسلام: {إذا مَاتَ المَيِّتُ تَقُولُ المَلاَئِكَةُ ما قَدَّمَ وَيَقُولُ النَّاسُ مَا خَلَّفَ}

Bab Ke 38 Keutamaan Mengingat Kubur Dan Hiruk Pikuknya
(الباب الثامن والثلاثون): في فضيلة ذكر القبر وأهواله

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Kubur adalah salah satu taman dari taman-tamannya surga atau salah satu lubang dari lubang-lubangnya neraka.”}
قال النبي عليه الصلاة والسلام: {القَبْرُ رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الجَنَّةِ أو حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ النَّارِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Orang mukmin di dalam kuburnya itu berada dalam taman yang hijau, diluaskan kuburnya tujuhpuluh hasta dan bersinar bagaikan bulan purnama.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {المُؤْمِنُ في قَبْرِهِ فِي رَوْضَةٍ خَضْرَاءَ وَيُوَسَّعُ لَهُ قَبْرُهُ سَبْعِينَ ذِرَاعا وَيُضِيءُ حَتَّى يَكُونَ كالقَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Seandainya anak cucu adam tahu bagaimana siksa kubur, tentu tidak bermanfaatlah kehidupan dunia, maka mintalah perlindungan kepada Allah Yang Maha Mulia dari adzabnya kubur yang sangat buruk.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {لَوْ أنَّ بَنِي آدَمَ عَلِمُوا كَيْفَ عَذَابُ القَبْرِ مَا نَفَعَهُم العَيْشُ في الدُّنْيَا فَتَعَوَّذوا بالله الكَرِيمِ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ الوَخِيمِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Tidak seorangpun lewat di kuburan seorang laki-laki yang di kenalnya di dunia kemudian memberi salam terkecuali orang mati tersebut mengenalnya dan menjawab salamnya”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {مَا مِنْ عَبْدٍ يَمُرَّ بِقَبْرِ رَجُلٍ كَانَ يَعْرِفُهُ في الدُّنْيَا فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إلا عرفَهُ وردَّ عَلَيْه السَّلامَ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Tidaklah seorang muslim lewat kuburan muslim terkecuali ahli kubur berkata, “Hari pelupa seandainya kamu tahu apa yang kami tahu niscaya dagingmu hancur diatas jasadmu dan darahmu diatas badanmu.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {مَا مِنْ مُسْلِمٍ مَرَّ بِقَبْرٍ مِنْ مَقَابِرِ المُسْلِمِينَ إلاّ قَالَ لَهُ أَهْلُ القُبُورِ يَا غَافِلُ لَوْ عَلِمْتَ مَا نَعْلَمُ لَذَابَ لَحْمُكَ عَلَى جَسَدِكَ وَدَمُكَ عَلَى بَدَنِكَ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Ketika seorang mukmin diletakkan dan didudukan di kuburnya dan berkata para keluarganya, kerabatnya, kekasihnya dan anak-anaknya: “Aduhai tuanku, aduhai yang mulia, aduhai pimpinanku”
maka malaikat berkata: “Dengarlah apa yang mereka katakan, kamu dulunya tuan, yang mulia dan pemimpin”. Orang mati berkata:”Andaikan mereka tidak ada”.
Maka dia dihimpit sekali himpitan yang membuat tulang-tulang iganya berhimpitan.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {إنَّ العَبْدَ المُؤْمِنَ إذا وُضِعَ في القَبْرِ وَأُقْعِدَ وَقَالَ أهْلُهُ وأَقْرِبَاؤُهُ وأَحِبَّاؤُهُ وَأَبْنَاؤُه وَاسَيِّدَاهُ واشَريفَاهُ واأمِيرَاهُ قَالَ لَهُ الملكُ اسْمَعْ مَا يَقُولُونَ أَنْتَ كُنْتَ سَيِّدا وَأَنْتَ شَرِيفا وَأَنْتَ أميرا قَالَ المَيِّتُ: يا ليتَهُمْ لَمْ يَكُونُوا فَيَضْغَطُهُ ضَغْطَةً تَخْتَلِفُ بها أَضْلاَعُه}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Allah berfirman: “Wahai Isa banyak wajah yang bersinar, badan yang sehat dan lisan yang faseh besok berada diantara tingkatan neraka menjerit. Allah berfirman: “Wahai Isa banyak wajah yang bersinar, badan yang sehat dan lisan yang faseh besok berada diantara tingkatan neraka menjerit.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {قال الله تَعَالى يا عِيسى كَمْ مِنْ وَجْهٍ صَبيحٍ وَبَدَنٍ صحيحٍ وَلِسَانٍ فَصِيحٍ غدا بَيْنَ أَطْبَاقِ النِّيرانِ يَصِيحُ.}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Kubur itu tempat pertama dari tempat-tempat akherat dan tempat terakhir dari tempat-tempat dunia.”}
وقال عليه الصلاة والسلام:{ القَبْرُ أوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الآخِرَةِ وآخِرُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الدُّنْيا}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Kubur itu tempat yang harus disinggahi”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {القَبْرُ مَنْزِلٌ لاَ بُدَّ فِيهِ مِنَ النُّزُول}ِ.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Jika kalian sudah meninggal maka diperlihatkan tempat kalian di waktu pagi dan sore. Jika ahli surga maka termasuk ahli surga dan jika ahli neraka maka termasuk ahli neraka. Dikatakan kepadanya: “Inilah tempatmu hingga Allah membangkitkanmu ke tempat itu di hari kiamat”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {إذا مَاتَ أَحَدُكُمْ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بالغَدَاةِ والعَشِيِّ إنْ كَانَ مِنْ أهْلِ الجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ وإنْ كانَ مِنْ أهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ يُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ الله إلَيْهِ يَوْمَ القِيَامَةِ}