PENJELASAN HARTA RAMPASAN PERANG (GHONIMAH) DAN (SALAB) PERALATAN & PAKAIAN PERANG

BAB SALAB & GHANIMAH

(Fasal) di dalam menjelaskan hukum-hukum salab dan pembagian ghanimah.  

فَصْلٌ  فِيْ بَيَانِ أَحْكَامِ السَّلْبِ وَقَسْمِ الْغَنِيْمَةِ

Salab

Barang siapa membunuh seseorang dari pihak kafir, maka ia berhak diberi harta salab kafir tersebut. Lafadz “salab” dengan membaca fathah huruf lamnya.

(وَمَنْ قَتَلَ قَتِيْلًا أُعْطِيَ سَلَبَهُ)

بِفَتْحِ اللَّامِ

Dengan syarat orang yang membunuh adalah orang muslim, laki-laki atau perempuan, merdeka atau budak, imam telah mensyaratkan salab itu padanya ataupun tidak.     

بِشَرْطِ كَوْنِ الْقَاتِلِ مُسْلِمًا ذَكَرًا كَانَ أَوْ أُنْثًى حُرًّا أَوْ عَبْدًا شَرَّطَهُ الْإِمَامُ لَهُ أَوْ لاَ

Salab adalah pakaian yang dikenakan oleh orang yang terbunuh, muza, ar ran yaitu muza yang tanpa alas dan dikenakan pada betis saja (kaos kaki), peralatan perang, kendaraan yang ia gunakan bertempur atau ia pegang kendalinya, pelana, alat kendali, penutup tunggangan, gelang, kalung, sabuk yang digunakan mengikat perut, cincin, bekal nafaqah yang ada bersamanya, dan kuda serepan yang digiring bersamanya.           

وَالسَّلَبُ ثِيَابُ الْقَتِيْلِ الَّتِيْ عَلَيْهِ وَالْخُفُّ وَالرَّانُ وَهُوَ خُفٌّ بِلَا قَدَمٍ يُلبَسُ لْلسَّاقِّ فَقَطْ وَآلَاتُ الْحَرْبِ وَالْمَرْكُوْبُ الَّذِيْ قَاتَلَ عَلَيْهِ أَوْ أَمْسَكَهُ بِعِنَانِهِ وَالسَّرْجُ وَاللِّجَامُ وَمَقُوْدُ الدَّابَّةِ وَالسِّوَارُ وَالطُّوْقُ وَالْمِنْطَقَةُ وَهِيَ الَّتِيْ يُشَدُّ بِهَا الْوَسَطُ وَالْخَاتَمُ وَالنَّفَقَةُ الَّتِيْ مَعَهُ وَالْجَنِيْبَةُ الَّتِيْ تُقَادُ مَعَهُ

Sang pembunuh hanya bisa menghaki salab-nya orang kafir ketika ia melakukan hal yang membahayakan dirinya dalam membunuh kafir tersebut saat pertempuran.       

وَإِنَّمَا يَسْتَحِقُّ الْقَاتِلُ سَلْبَ الْكَافِرِ إِذَا غَرَّ بِنَفْسِهِ حَالَ الْحَرْبِ فِيْ قَتْلِهِ

Sekira dengan melakukan hal tersebut ia mampu menahan bahaya kafir tersebut.            

بِحَيْثُ يَكْفِيْ بِرُكُوْبِ هَذَا الْغَرَرِ شَرَّ ذَلِكَ الْكَافِرِ

Sehingga, seandainya ia membunuh kafir tersebut saat si kafir dalam keadaan tertawan, tidur, atau ia membunuhnya setelah pasukan kafir melarikan diri, maka ia tidak berhak mendapatkan salab kafir tersebut.      

فَلَوْ قَتَلَهُ وَهُوَ أَسِيْرٌ أَوْ نَائِمٌ أَوْ قَتَلَهُ بَعْدَ انْهِزَامِ الْكُفَّارِ فَلَا سَلْبَ لَهُ

Mencegah bahaya orang kafir adalah menghilangkan kekuatannya, seperti membutakan kedua matanya, memotong kedua tangannya atau kedua kakinya.    

وَكِفَايَةُ شَرِّ الْكَافِرِ أَنْ يُزِيْلَ امْتِنَاعَهُ كَأَنْ يَفْقَأَ عَيْنَيْهِ أَوْ يَقْطَعَ يَدَّيْهِ أَوْ رِجْلَيْهِ

Ghanimah

Ghanimah secara bahasa adalah diambil dari lafadz “al ghanmi” yang mempunyai makna laba / untung. 

وَالْغَنِيْمَةُ لُغَةً مَأْخُوْذٌ مِنَ الْغَنْمِ وَهُوَ الرِّبْحُ

Dan secara syara’ adalah harta yang dihasilkan oleh kaum muslimin dari kaum kafir harbi dengan pertempuran dan mengerahkan pasukan berkuda atau onta.          

وَشَرْعًا الْمَالُ الْحَاصِلُ لِلْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُفَّارِ أَهْلِ حَرْبٍ بِقِتَالٍ وَإِيْجَافِ خَيْلٍ أَوْ إِبِلٍ

Dengan keterangan “ahli harbi”, mengecualikan harta yang dihasilkan dari orang-orang murtad, maka sesungguhnya harta tersebut adalah harta fai’ bukan ghanimah.             

وَخَرَجَ بِأَهْلِ الْحَرْبِ الْمَالُ الْحَاصِلُ مِنَ الْمُرْتَدِّيْنَ فَإِنَّهُ فَيْئٌ لَا غَنِيْمَةٌ.

Pembagian Ghanimah

Setelah itu, maksudnya setelah mengeluarkan salab dari ghanimah, maka ghanimah dibagi menjadi seperlima.   

(وَتُقَسَّمُ الْغَنِيْمَةُ بَعْدَ ذَلِكَ)

أَيْ بَعْدَ إِخْرَاجِ السَّلْبِ مِنْهَا (عَلَى خَمْسَةِ أَخْمَاسٍ

Empat seperlimanya, barang menetap atau bisa dipindah, diberikan kepada orang-orang yang hadir di medan laga, dari orang-orang yang ikut merampas harta tersebut dengan niat berperang walaupun belum sempat ikut berperang bersama pasukan.          

فَيُعْطَى أَرْبَعَةُ أخْمَاسِهَا) مِنْ عَقَارٍ وَمَنْقُوْلٍ (لِمَنْ شَهِدَ) أَيْ حَضَرَ (الْوَقْعَةَ) مِنَ الْغَانِمِيْنَ بِنِيَّةِ الْقِتَالِ وَإِنْ لَمْ يُقَاتِلْ مَعَ الْجَيْشِ

Begitu juga orang yang hadir tidak dengan niat berperang namun ternyata dia ikut berperang menurut pendapat al adhhar.

وَكَذَا مَنْ حَضَرَ لَابِنِيَّةِ الْقِتَالِ وَقَاتَلَ فِيْ الْأَظْهَرِ

Tidak ada bagian apa-apa bagi orang yang hadir setelah pertempuran usai.          

وَلَا شَيْئَ لِمَنْ حَضَرَ بَعْدَ انْقِضَاءِ الْقِتَالِ

Tiga bagian diberikan kepada pasukan berkuda yang hadir ke medan pertempuran dan dia termasuk golongan yang memenuhi syarat-syarat berperang, dengan menggunakan kuda yang dipersiapkan untuk berperang, baik ia benar-benar sempat berperang ataupun tidak. Dua bagian diberikan untuk kudanya dan satu bagian untuk dirinya.        

(وَيُعْطَى لِلْفَارِسِ)

الْحَاضِرِ الْوَقْعَةِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْقِتَالِ بِفَرَسٍ مُهَيَّإٍ لِلْقِتَالِ عَلَيْهِ سَوَاءٌ قَاتَلَ أَمْ لاَ (ثَلَاثَةُ أَسْهُمٍ) سَهْمَيْنِ لِفَرَسِهِ وَسَهْمًا لَهُ

Yang diberi hanya satu kuda saja walaupun ia membawa kuda yang berjumlah banyak.   

وَلَا يُعْطَى إِلَّا لِفَرَسٍ وَاحِدٍ وَلَوْكَانَ مَعَهُ أَفْرَاسٌ كَثِيْرَةٌ

Bagi pejalan kaki, maksudnya pasukan yang berperang dengan berjalan, maka mendapatkan satu bagian.              

(وَلِلرِّجَالِ)

أَيِ الْمُقَاتِلِ عَلَى رِجْلَيْهِ (سَهْمٌ) وَاحِدٌ 

Yang diberi bagian dari ghanimah hanyalah orang yang memenuhi lima syarat, yaitu islam, baligh, berakal, merdeka dan laki-laki.      

(وَلَا يُسْهَمُ إِلَّا لِمَنْ) أَيْ شَخْصٍ (اسْتَكْمَلَتْ فِيْهِ خَمْسُ شَرَائِطَ الْإِسْلَامُ وَالْبُلُوْغُ وَالْعَقْلُ وَالْحُرِّيَّةُ وَالذُّكُوْرِيَّةُ

Radlkh (Persenan)

Jika salah satu syarat tidak terpenuhi, maka ia hanya diberi radlukh (persenan) tidak diberi sahmun (bagian).       

فَإِنِ اخْتَلَّ شَرْطٌ مِنْ ذَلِكَ رُضِخَ لَهُ وَلَا يُسْهَمُ) لَهُ

Maksudnya, orang yang tidak memenuhi syarat adakalanya karena ia adalah anak kecil, orang gila, budak, orang wanita atau kafir dzimmi.            

أَيْ لِمَنِ اخْتَلَّ فِيْهِ الشَّرْطُ إِمَّا لِكَوْنِهِ صَغِيْرًا أَوْ مَجْنُوْنًا أَوْ رَقِيْقًا أَوْ أُنْثًى أَوْ ذِمِّيًا

Ar radlkh secara bahasa adalah pemberian yang sedikit. Dan secara syara’ adalah sesuatu yang kadarnya di bawah bagian yang diberikan pada pasukan pejalan kaki.             

وَالرَّضْخُ لُغَةً الْعَطَاءُ الْقَلِيْلُ وَشَرْعًا شَيْئٌ دُوْنَ سَهْمٍ يُعْطَى لِلرَّاجِلِ

Sang imam melakukan ijtihad di dalam menentukan ukuran persenan tersebut sesuai dengan kebijakannya.        

وَيَجْتَهِدُ الْإِمَامُ فِيْ قَدْرِ الرَّضْخِ بِحَسَبِ رَأْيِهِ

Maka sang imam memberi lebih orang yang ikut berperang dari pada yang tidak, dan memberi lebih pada orang yang lebih banyak berperangnya daripada yang lebih sedikit ikut berperang.  

فَيَزِيْدُ الْمُقَاتِلَ عَلَى غَيْرِهِ وَالْأَكْثَرَ قِتَالًا عَلَى الْأَقَلِّ قِتَالًا

Tempat pengambilan persenan adalah empat seperlima menurut pendapat al adhhar.    

وَمَحَلُّ الرَّضْخِ الْأَخْمَاسُ الْأَرْبَعَةُ فِيْ الْأَظْهَرِ

Dan menurut pendapat yang kedua, tempat persenan tersebut adalah seluruh ghanimah.             

وَالثَّانِيْ مَحَلُّهُ أَصْلُ الْغَنِيْمَةِ

Seperlima yang tersisa setelah empat seperlima yang tadi, maka di bagi menjadi lima sahm (bagian)         

(وَيُقْسَمُ الْخُمُسُ) الْبَاقِيْ بَعْدَ الْأَخْمَاسِ الْأَرْبَعَةِ (عَلَى خَمْسَةِ أَسْهُمٍ

Satu bagian diberikan kepada Rasulullah Saw. Bagian tersebut menjadi hak beliau saat beliau masih hidup.           

سَهْمٌ) مِنْهُ (لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) وَهُوَ الَّذِيْ كَانَ لَهُ فِيْ حَيَاتِهِ

Kemudian setelah beliau meninggal dunia, maka ditasharrufkan kepada bentuk kemaslahatan yang berhubungan dengan kaum muslimin seperti para qadli yang menjadi juru hukum di daerah-daerah.   

(يُصْرَفُ بَعْدَهُ لِلْمَصَالِحِ)

الْمُتَعَلِّقَةِ بِالْمُسْلِمِيْنَ كَالْقُضَّاةِ الْحَاكِمِيْنَ فِيْ الْبِلَادِ

Adapun qadli-qadli pasukan perang, maka diberi razqu dari bagian empat seperlima sebagaimana yang diungkapkan imam al Mawardi dan yang lain.

أَمَّا قُضَّاةُ الْعَسْكَرِ فَيُرْزَقُوْنَ مِنَ الْأَخْمَاسِ الْأَرْبَعَةِ كَمَا قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَغَيْرُهُ

Dan seperti penjagaan ats tsughur, yaitu tempat-tempat yang mengkhawatirkan, yaitu area-area batas daerah-daerah kaum muslimin yang bersambung dengan bagian dalam daerah-daerah kita.       

وَكَسَدِّ الثُّغُوْرِ وَهِيَ الْمَوَاضِعُ الْمَخُوْفَةُ مِنْ أَطْرَافِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُلَاصِقَةِ لِبِلَادِنَا

Yang dikehendaki adalah menjaga ats tsughur dengan pasukan dan peralatan perang.     

وَالْمُرَادُ سَدُّ الثُّغُوْرِ بِالرِّجَالِ وَآلَاتِ الْحَرْبِ

Kemaslahatan yang terpenting harus didahulukan, kemudian yang agak penting.

وَيُقَدَّمُ الْأَهَمُّ مِنَ الْمَصَالِحِ فَالْأَهَمُّ

Satu bagian -dari seperlima- dimiliki oleh orang-orang yang memiliki ikatan kerabat, maksudnya kerabat Rasulullah Saw.     

(وَسَهْمٌ لِذَوِيْ الْقُرْبَى) أَيْ قُرْبَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Mereka adalah Bani Hasyim dan Bani Muthallib.

(وَهُمْ بَنُوْ هَاشِمٍ وَبَنُوْ الْمُطَلِّبِ)

Bagian tersebut dihaki oleh yang laki-laki, perempuan, kaya dan yang miskin dari mereka.             

وَيَشْتَرِكُ فِيْ ذَلِكَ الذَّكَرُ وَ الْأُنْثَى وَالْغَنِيُّ وَالْفَقِيْرُ

Untuk yang laki-laki diberi dua kali lipat bagian perempuan.        

وَيُفَضَّلُ الذَّكَرُ فَيُعْطَى مِثْلَ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ

Satu bagian dimiliki oleh anak-anak yatim kaum muslimin.            

(وَسَهْمٌ لِلْيَتَامَى) الْمُسْلِمِيْنَ

Lafadz “al yatama” adalah bentuk kalimat jama’ dari lafadz “yatim”. Yatim adalah anak kecil yang sudah tidak memiliki ayah.    

جَمْعُ يَتِيْمٍ وَهُوَ صَغِيْرٌ لَا أَبَّ لَهُ

Baik anak kecil tersebut laki-laki atau perempuan, memiliki kakek ataupun tidak, ayahnya terbunuh saat berperang ataupun tidak. Namun disyaratkan ia adalah anak yang faqir.      

سَوَاءٌ كَانَ الصَّغِيْرُ ذَكَرًا أَوْ أُنْثًى لَهُ جَدٌّ أَوْ لاَ قُتِلَ أَبُوْهُ فِيْ الْجِهَادِ أَوْ لاَ وَيُشْتَرَطُ فَقْرُ الْيَتِيْمِ

Satu bagian milik kaum miskin dan satu bagian untuk ibn sabil. Dan keduanya telah dijelaskan hampir mendekati KITAB PUASA.   

(وَسَهْمٌ لِلْمَسَاكِيْنِ وَسَهْمٌ لِأَبْنَاءِ السَّبِيْلِ) وَسَبَقَ بَيَانُهُمَا قُبَيْلَ كِتَابِ الصِّيَامِ

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

MUQODDIMAH KITAB ARBA’IN NAWAWIYYAH 40 HADITS SHOHIH KARYA IMAM NAWAWI ROHIMAHULLOH

MUQODDIMAH MATAN ARBA’IN NAWAWI

Karya Imam Yahya bin Syarofuddin an-Nawawi

متن الاربعين النووية في الاحاديث الصحيحة النبوية للامام يحي بن شرف الدين النووي

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Yang menguasai langit dan bumi, mengatur seluruh makhluk dan yang mengutus para rasul –sholawatuhu wa salamuhu ‘alaihim- kepada orang-orang mukallaf untuk memberi petunjuk dan menjelaskan aturan-aturan agama dengan dalil-dalil pasti dan bukti-bukti yang jelas.              

الحمد لله رب العالمين، قيوم السموات والارضين، مدبر الخلائق اجمعين، باعث الرسل صلواته وسلامه عليهم الى المكلفين لهدايتهم وبيان شرائع الدين بالدلائل القطعية وواضحات البراهين.

Aku memuji-Nya atas segala nikmat-nikmat-Nya. Dan aku memohon terus bertambah anugerah dan kemurahan-Nya.               

احمده على جميع نعمه. وأسئله المزيد من فضله وكرمه.

Dan aku bersaksi tidak ada tuhan selain Allah Dzat Yang Maha Esa, Maha Perkasa, Maha Mulia dan Maha Pengampun, dan aku bersaksi bahwa junjungan kita Muhammad adalah hamba, utusan, kekasih dan yang disayangi-Nya merupakan makhluk paling utama (unggul) yang dimuliakan dengan al-Qur’an al ‘aziiz sebagai mukjizat yang abadi atas silih bergantinya masa dan Muhammad (juga) dimuliakan dengan sunnah-sunnah (perilaku, ucapan dan ketetapan) yang menerangi orang-orang yang mencari petunjuk dan beliau diistimewakan dengan semua sabda-sabdanya dan agama yang mudah. Semoga kasih sayang Allah dan keselamatan-Nya tercurahkan kepada Muhammad dan kepada seluruh nabi, rasul, keluarganya dan seluruh orang-orang soleh.        

واشهد ان لا اله الا الله الواحد القهار العزيز الغفار واشهد ان سيدنا محمدا عبده ورسوله وحبيبه وخليله افضل المخلوقين المكرم بالقران العزيز المعجزة المستمرة على تعاقب السنين وبالسنن المستنيرة للمسترشدين المخصوص بجوامع الكلم وسماحة الدين. صلوات الله وسلامه عليه وعلى سائر النبيين والمرسلين وآل كل وسائر الصالحين.

Amma ba’du: kami telah meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Muadz bin Jabbal, Abi Darda’, Ibnu umar, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Abu Hurairah, Abu Sa’id al Khudri –Radhiya Allahu ta’ala ‘anhum­- dari berbagai jalur dan riwayat yang bermacam-macam bahwa: Rasulallah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa hafal atas umatku 40 hadits dari urusan agamanya maka Allah akan membangkitkannya pada Hari Kiamat termasuk dalam golongan para ahli fikih dan para ulama”. Dan di dalam riwayat lain (dengan redaksi): “Allah akan membangkitkannya sebagai ahli fikih yang alim”. Dan di dalam riwayat Abu Darda’ (dengan redaksi): “(maka) aku akan memberi syafaat –pertolongan- dan sebagai saksi di Hari Kiamat”. Dan di dalam riwayat Ibnu Mas’ud (dengan redaksi): “(maka) ia disapa dengan; ”masuklah dari pintu surga manapun yang kau inginkan”. Dan di dalam riwayat Ibnu Umar (dengan redaksi): “(maka) ia akan dicatat termasuk golongan ulama dan ia akan dikelompokkan di dalam golongan orang-orang yang mati syahid”.

اما بعد: فقد روينا عن علي بن ابي طالب وعبد الله بن مسعود ومعاذ بن جبل وابي الدرداء وابن عمر وابن عباس وانس بن مالك وابي هريرة وابي سعيد الخدري رضي الله تعالى عنهم من طرق كثيرة بروايات متنوعات ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: من حفظ على امتي اربعين حديثا من امر دينها بعثه الله يوم القيامة في زمرة الفقهاء والعلماء. وفي رواية: بعثه الله فقيها عالما، وفي رواية ابي الدرداء: وكنت له يوم القيامة شافعا وشهيدا، وفي رواية ابن مسعود: قيل له ادخل من اي ابواب الجنة شئت، وفي رواية ابن عمر: كتب في زمرة العلماء وحشر في زمرة الشهداء.

Para Huffadz telah bersepakat bahwa hadits tersebut di atas merupakan hadits dha’if (lemah), walaupun jalur periwayatannya banyak. Para ulama –Radhiya Allahu ‘anhum- sudah banyak menyusun banyak sekali karangan-karangannya yang tidak terhitung dalam bab ini (yakni masalah hafal 40 hadits). Orang yang pertama kali menyusun mengenai hal ini sepengetahuan saya adalah Abdullah bin al Mubarok, lalu Muhammad bin Aslam Atthusi al Alim Arrabbani, kemudian al Hasan bin Sufyan an-Nasai, Abu Bakar al Aajuri, Abu Bakar Muhammad bin Ibrahim al Ashfihani, ad-Daruquthni, al Hakim, Abu Na’im, Abu Abdirrahman Assulami, Abu Sa’id al Maliini, Abu Utsman Asshobuni, Abdullah bin Muhammad al Anshari, dan Abu Bakar al Baihaqi serta para ulama yang tidak terhitung jumlahnya dari para mutaqaddimin (ulama terdahulu) dan mutaakhiriin (ulama setelah mutaqaddimin).

واتفق الحفاظ على انه حديث ضعيف وان كثرت طرقه، وقد صنف العلماء رضي الله تعالى عنهم في هذا الباب ما لا يحصى من المصنفات. فاول من علمته صنف فيه عبد الله ابن المبارك ثم محمد بن اسلم الطوسي العالم الرباني ثم الحسن بن سفيان النسائي وابو بكر الآجري وابو بكر بن ابراهيم الاصفهاني والدارقطني والحاكم وابو عبد الرحمن السلمي وابو سعيد المالي وابو عثمان الصابوني وعبد الله بن محمد الانصاري وابو بكر البيهقي وخلائق لا يحصون من المتقدمين والمتاخرين.

Saya telah memohon petunjuk kepada Allah ta’ala dalam pengumpulan 40 hadits karena mengikuti para imam, para alim dan para pemelihara agama islam tersebut. Para ulama telah bersepakat atas kebolehan mengamalkan hadits dha’if dalam fadhailul a’maal (tambahan-tambahan pahala amal kebaikan). Walaupun begitu sandaran saya bukanlah pada hadits di atas namun dengan sabda nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam (yang tercatat) di dalam hadits-hadits shahih (yakni): “Hendaknya orang yang datang dari kalian semua (yang mendengarkan sabda nabi pada saat itu) menyampaikan kepada orang yang tidak hadir”. Dan sabda nabi Muhammad shollallhu ‘alaihi wa sallam: “Semoga Allah menjadikan bercahaya pada seseorang yang mendengar ucapakanku kemudian menghapalkan lalu menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya”.      

وقد استخرت الله تعالى في جمع اربعين حديثا اقتداء لهؤلاء الاعلام وحفاظ الاسلام وقد اتفق العلماء على جواز العمل بالحديث الضعيف في فضائل الاعمال. ومع هذا فليس اعتمادي على هذا الحديث، بل على قوله صلى الله عليه وسلم في الاحاديث الصحيحة: ليبلغ الشاهد منكم الغائب وقوله صلى الله عليه وسلم نضر الله امرأ سمع مقالتي فوعاها فاداها كما سمعها.

Kemudian sebagian ulama ada yang menyusun 40 hadits mengenai ushuluddin (pondasi-pondasi agama), sebagian yang lain mengenai cabang-cabangnya (fikih), sebagiannya lagi mengenai Jihad, zuhud, adab dan khutbah-khutbah. Keseluruhan karya tersebut merupakan tujuan yang baik –semoga Allah me-ridhai orang-orang yang bermaksud dan bertujuan baik tersebut.              

ثم من العلماء من جمع اربعين في اصول الدين وبعضهم في الفروع وبعضهم في الجهاد وبعضهم في الزهد وبعضهم في الادب وبعضهم في الخطب وكلها مقاصد صالحة رضي الله تعالى عن قاصدها.

Aku telah melihat kumpulan 40 hadits yang paling penting dari semua itu yaitu 40 hadits yang mencakup seluruh masalah tersebut. Dan masing-masing hadits itu merupakan kaidah utama dari kaidah-kaidah agama yang telah digambarkan oleh para ulama bahwa (masing-masing hadits) itu merupakan pembahasan pokok dalam islam atau hadits-hadits itu merupakan separoh islam atau sepertiga dan sebagainya.

Kemudian saya berupaya (menetapkan) pada 40 hadits ini merupakan hadits shahih. Sebagian besar terdapat di dalam dua kitab shahihnya Imam Bukhari dan Imam Muslim. Saya akan sebutkan hadits-hadits tersebut dengan membuang sanad-sanad-nya. Supaya mudah dihapal dan kemanfaatanya merata. Insya Allahu Ta’ala. Kemudian saya akan menyertakan bab dalam membatasi kesamaran lafadz-lafadznya.             

وقد رايت جمع اربعين اهم من هذا كله وهي اربعون حديثا مشتملة على جميع ذلك. وكل حديث منها قاعدة عظيمة من قواعد الدين قد وصفه العلماء بانه مدار الاسلام عليه او هو نصف الاسلام او ثلثه او نحو ذلك.

ثم التزم في هذا الاربعين ان تكون صحيحة ومعظمها في صحيحي البخاري ومسلم واذكرها محذوفة الاسانيد ليسهل حفظها ويعم الانتفاع يها ان شاء الله تعالى ثم اتبعها بباب في ضبط خفي الفاظها.

Seyogyanya bagi orang yang mencintai akhirat mengetahui hadits-hadits ini, karena di dalamnya banyak hal-hal penting serta memuat peringatan atas seluruh bentuk ketaatan. Hal tersebut jelas bagi orang yang menelitinya. Hanya Allah  sandaranku, hanya kepada-Nya saya berserah diri serta bergantung dan hanya milik-Nya segala pujian dan kenikmatan. Hanya oleh-Nya pertolongan dan perlindungan.             

وينبغي لكل راغب في الاخرة ان يعرف هذه الاحاديث لما اشتلمت عليه من المهمات واحتوت عليه من التنبيه على جميع الطاعات وذلك ظاهر لمن تدبره وعلى اعتمادي واليه تفويضي واستنادي وله الحمد والنعمة وبه التوفق والعصمة.

PENJELASAN HUKUM DAN SYARAT BERJIHAD VERSI KITAB FATHUL QORIB

KITAB HUKUM-HUKUM JIHAD

Hukum jihad Di masa Rasulullah Saw setelah hijrah adalah fardlu kifayah.              

وَكَانَ الْأَمْرُ بِهِ فِيْ عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الْهِجْرَةِ فَرْضَ كِفَايَةٍ

Keadaan Orang Kafir

Sedangkan setelah masa beliau, maka kaum kafir memiliki dua keadaan.

وَ أَمَّا بَعْدَهُ فَلِلْكُفَّارِ حَالَانِ

Salah satunya adalah mereka berada di daerahnya sendiri. Maka hukum jihad adalah fardlu kifayah bagi kaum muslimin di dalam setiap tahun.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُوْنُوْا بِبِلَادِهِمْ فَالْجِهَادُ فَرْضُ كِفَايَةٍ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ سَنَةٍ

Sehingga, ketika sudah ada orang yang melakukannya dan ia bisa mencukupi, maka hukum dosa gugur dari yang lainnya.

فَإِذَا فَعَلَهُ مَنْ فِيْهِ كِفَايَةٌ سَقَطَ الْحَرَجُ عَنِ الْبَاقِيْنَ

Kedua, orang-orang kafir masuk ke salah satu daerah kaum muslimin, atau mereka berada di dekat daerah tersebut, maka ketika demikian, hukum jihad adalah fardlu ‘ain bagi kaum muslimin.          

وَالثَّانِيْ أَنْ يَدْخُلَ الْكُفَّارُ بَلْدَةً مِنْ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ أَوْ يَنْزِلُوْا قَرِيْبًا مِنْهَا فَالْجِهَادُ حِيْنَئِذٍ فَرْضُ عَيْنٍ عَلَيْهِمْ

Sehingga, bagi penduduk daerah tersebut wajib menolak kaum kafir dengan apapun yang mereka bisa

فَيَلْزَمُ أَهْلَ ذَلِكَ الْبَلَدِ الدَّفْعُ لِلْكُفَّارِ بِمَا يُمْكِنُ مِنْهُمْ

 

Syarat-Syarat Jihad

Syarat wajibnya jihad ada tujuh perkara.               

(وَشَرَائِطُ وُجُوْبِ الْجِهَادِ سَبْعُ خِصَالٍ)

Pertama adalah islam, sehingga tidak wajib jihad bagi orang kafir.             

أَحَدُهَا (الْإِسْلَامُ) فَلَا جِهَادَ عَلَى كَافِرٍ

Yang kedua adalah baligh, sehingga tidak wajib jihad bagi anak kecil.       

(وَ) الثَّانِيْ (الْبُلُوْغُ) فَلَا جِهَادَ عَلَى صَبِيٍّ

Yang ketiga adalah berakal, sehingga tidak wajib jihad bagi orang gila.     

(وَ) الثَّالِثُ (الْعَقْلُ) فَلَا جِهَادَ عَلَى مَجْنُوْنٍ

Yang ke empat adalah merdeka, sehingga tidak wajib jihad bagi seorang budak walaupun majikannya memerintahkan, dan walaupun dia adalah budak muba’adl. Dan tidak wajib pula bagi budak mudabbar dan budak mukatab.          

(وَ) الرَّابِعُ (الْحُرِّيَّةُ) فَلَا جِهَادَ عَلَى رَقِيْقٍ وَلَوْ أَمَرَ سَيِّدُهُ وَلَوْ مُبَعَّضًا وَلَا مُدَبَّرًا وَلَا مُكَاتَباً

Yang kelima adalah laki-laki, sehingga tidak wajib jihad bagi orang perempuan dan khuntsa musykil.

(وَ) الْخَامِسُ ( الذُّكُوْرِيَّةُ) فَلَا جِهَادَ عَلَى امْرَأَةٍ وَخُنْثًى مُشْكِلٍ

Yang ke enam adalah sehat, sehingga tidak wajib jihad bagi orang yang sakit yang menghalanginya untuk berperang dan naik kendaraan kecuali dengan menanggung kesulitan yang berat seperti demam yang terus menerus.          

(وَ) السَّادِسُ (الصِّحَّةُ) فَلَا جِهَادَ عَلَى مَرِيْضٍ بِمَرَضٍ يَمْنَعُهُ عَنْ قِتَالٍ وَرُكُوْبٍ إِلَّا بِمَشَقَّةٍ شَدِيْدَةٍ كَحُمًى مُطْبِقَةٍ

Yang ke tujuh adalah mampu berperang sehingga tidak wajib jihad bagi semisal orang yang tangannya terpotong, dan tidak wajib bagi orang yang tidak menemukan / memiliki bekal berperang seperti senjata, kendaraan dan nafaqah.               

(وَ) السَّابِعُ (الطَّاقَةُ) عَلَى الْقِتَالِ (فَلَا جِهَادَ عَلَى أَقْطَعِ يَدٍّ مَثَلًا وَلَا عَلَى مَنْ عَدِمَ اُهْبَةَ الْقِتَالِ كَسِلَاحٍ وَمَرْكُوْبٍ وَنَفَقَةٍ

Macam-Macam Tawanan

Tawanan dari pihak kaum kafir ada dua kelompok  :         

(وَمَنْ أُسِرَ مِنَ الْكُفَّارِ فَعَلَى ضَرْبَيْنِ

Satu kelompok adalah kelompok yang tidak ada hak bagi imam untuk memilih kebijakan, bahkan mereka langsung menjadi budak dengan penawanan tersebut. Dalam sebagian redaksi menggunakan lafadz “yashiru” sebagai ganti dari lafadz “yakunu”.              

ضَرْبٍ) لَا تَخْيِيْرَ فِيْهِ لِلْإِمَامِ بَلْ (يَكُوْنُ) وَفِي بَعْضِ النُّسَخِ بَدَلَ يَكُوْنُ يَصِيْرُ (رَقِيْقًا بِنَفْسِ السَّبْيِ) أَيِ الْأَخْذِ

Mereka adalah anak-anak kecil dan para wanita, maksudnya anak-anak kecil dan para wanita dari pihak kaum kafir.               

(وَهُمُ الصِّبْيَانُ وَالنِّسَاءُ) أَيْ صِبْيَانُ الْكُفَّارِ وَنِسَاؤُهُمْ

Kaum khuntsa dan orang-orang gila disamakan dengan mereka.

وَيُلْحَقُ بِمَا ذُكِرَ الْخُنَاثَى

وَالْمَجَانِيْنُ

Dengan keterangan “pihak kaum kafir”, mengecualikan para wanitanya kaum muslimin. Karena sesungguhnya penawanan tidak bisa diberlakukan pada kaum muslimin.             

وَخَرَجَ بِالْكُفَّارِ نِسَاءُ الْمُسْلِمِيْنَ لِأَنَّ الْأَسْرَ لَا يُتَصَوَّرُ فِيْ الْمُسْلِمِيْنَ

Dan satu kelompok adalah kelompok yang tidak langsung menjadi budak dengan penawanan tersebut.

(وَضَرْبٍ لَا يُرَقُّ بِنَفْسِ السَّبْيِ

Mereka adalah orang-orang kafir asli yang laki-laki, baligh, merdeka dan berakal.

وَهُمُ) الْكُفَّارُ الْأَصْلِيُّوْنَ (الرِّجَالُ الْبَالِغُوْنَ) الْأَحْرَارُ الْعَاقِلُوْنَ.

Bagi imam diperkenankan memilih kebijakan pada mereka di antara empat perkara :       

(وَالْإِمَامُ مُخَيَّرٌ فِيْهِمْ بَيْنَ أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ)

Salah satunya adalah membunuh dengan memenggal leher tidak dengan membakar dan menenggelamkan semisal.               

أَحَدُهَا (الْقَتْلُ) بِضَرْبِ رَقَبَةٍ لَا بِتَحْرِيْقٍ وَلَا تَغْرِيْقٍ مَثَلًا

Yang kedua adalah menjadikan budak. Hukum mereka setelah dijadikan budak adalah seperti hukum harta-harta ghanimah.          

(وَ) الثَّانِيْ (الْاِسْتِرْقَاقُ) وَحُكْمُهُمْ بَعْدَ الْاِسْتِرْقَاقِ كَبَقِيَّةِ أَمْوَالِ الْغَنِيْمَةِ

Yang ketiga adalah memberi anugerah kepada mereka dengan membebaskan jalan mereka.       

(وَ) الثَّالِثُ (الْمَنُّ) عَلَيْهِمْ بِتَخْلِيَّةِ سَبِيْلِهِمْ

Yang ke empat adalah meminta tebusan adakalanya dengan harta atau dengan kaum laki-laki, maksudnya dengan tawanan dari kaum muslimin.    

(وَ) الرَّابِعُ (الْفِدْيَةُ) إِمَّا (بِالْمَالِ أَوْ بِالرِّجَالِ) أَيِ الْأُسْرَى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Uang tebusan mereka hukumnya seperti harta rampasan yang lain.          

وَمَالُ فِدَائِهِمْ كَبَقِيَّةِ أَمْوَالِ الْغَنِيْمَةِ

Satu orang kafir boleh ditebus dengan satu orang islam atau lebih, dan boleh beberapa orang kafir ditebus dengan satu orang muslim.         

وَيَجُوْزُ أَنْ يُفَادَى مُشْرِكٌ وَاحِدٌ بِمُسْلِمٍ أَوْ أَكْثَرَ وَمُشْرِكُوْنَ بِمُسْلِمٍ

Dari semua itu, sang imam melakukan apa yang mendatangkan kemaslahatan pada kaum muslimin.

(يَفْعَلُ) الْإِمَامُ (مِنْ ذَلِكَ مَا فِيْهِ الْمَصْلَحَةُ) لِلْمُسْلِمِيْنَ

Sehingga, jika yang lebih bermanfaat masih samar bagi sang imam, maka ia menahan para tawanan tersebut hingga jelas baginya mana yang paling bermanfaat kemudian ia lakukan.             

فَإِنْ خَفِيَ عَلَيْهِ الْأَحَظُّ حَبَسَهُمْ حَتَّى يَظْهَرَ لَهُ الْأَحَظُّ فَيَفْعَلُهُ

Dengan keterangan saya di depan “kafir asli”, mengecualikan pasukan kafir yang tidak asli seperti orang-orang murtad, maka sang imam menuntut mereka agar masuk islam. Sehingga, jika mereka tidak mau melakukannya, maka sang imam membunuhnya.  

وَخَرَجَ بِقَوْلِنَا سَابِقًا الْأَصْلِيُّوْنَ الْكُفَّارُ غَيْرُ الْأَصْلِيِّيْنَ كَالْمُرْتَدِّيْنَ فَيُطَالِبُهُمُ الْإِمَامُ بِالْإِسْلَامِ فَإِنِ امْتَنَعُوْا قَتَلَهُمْ

               

Barang siapa dari pihak kafir yang telah masuk islam sebelum tertangkap, maksudnya tertangkap oleh imam, maka harta, nyawa, dan anak-anak kecil mereka harus dijaga dari penawanan.

(وَمَنْ أَسْلَمَ) مِنَ الْكُفَّارِ (قَبْلَ الْأَسْرِ) أَيْ أَسْرِ الْإِمَامِ لَهُ (أُحْرِزَ مَالُهُ وَدَمُّهُ وَصِغَارُ أَوْلَادِهِ) عَنِ السَّبْيِ

Anak-anak kecil tersebut dihukumi islam sebab islamnya orang tua mereka karena mengikut padanya, berbeda dengan anak-anak mereka yang sudah baligh, maka status islam orang tua mereka tidak bisa melindungi mereka.               

وَحُكِمَ بِإِسْلَامِهِمْ تَبْعًا لَهُ بِخِلَافِ الْبَالِغِيْنَ مِنْ أَوْلَادِهِ فَلَا يَعْصِمُهُمْ إِسْلَامُ أَبِيْهِمْ

Islamnya kakek juga bisa melindungi cucu mereka yang masih kecil.         

وَإِسْلَامُ الْجَدِّ يَعْصِمُ أَيْضًا الْوَلَدَ الصَّغِيْرَ

Islamnya laki-laki kafir tidak bisa melindungi istrrinya dari hak untuk dijadikan sebagai budak walaupun istrinya tersebut dalam keadaan hamil. 

وَإِسْلَامُ الْكَافِرِ لَا يَعْصِمُ زَوْجَتَهُ عَنِ اسْتِرْقَاقِهَا وَلَوْ كَانَتْ حَامِلاً

Sehingga, ketika sang istri menjadi budak, maka status pernikahannya menjadi terputus seketika.

فَإِنِ اسْتَرَقَّتْ انْقَطَعَ نِكَاحُهُ فِيْ الْحَالِ.

Anak Kecil Hukumnya Islam

Anak kecil dihukumi islam ketika wujud tiga sebab.

(وَ يُحْكَمُ لِلصَّبْيِ بِالْإِسْلَامِ عِنْدَ وُجُوْدِ ثَلَاثَةِ أَسْبَابٍ)

Salah satunya adalah salah satu dari kedua orang tuanya masuk islam, maka anak tersebut dihukumi islam karena mengikut pada orang tuanya.    

أَحَدُهَا (أَنْ يُسْلِمَ أَحَدُ أَبَوَيْهِ) فَيُحْكَمُ بِإِسْلَامِهِ تَبْعًا لَهُمَا

Adapun anak yang baligh dalam keadaan gila, atau baligh dalam keadaan berakal namun kemudian gila, maka ia seperti anak kecil.           

وَأَمَّا مَنْ بَلَغَ مَجْنُوْنًا أَوْ بَلَغَ عَاقِلًا ثُمَّ جُنَّ فَكَالصَّبِيِّ

Sebab kedua disebutkan di dalam perkataan mushannif, “atau anak kecil tersebut ditawan oleh orang islam ketikaa ia tidak bersamaan dengan kedua orang tuanya.”  

وَالسَّبَبُ الثَّانِيْ مَذْكُوْرٌ فِيْ قَوْلِهِ (أَوْ يَسْبِيْهِ مُسْلِمٌ) حَالَ كَوْنِ الصَّبِيِّ (مُنْفَرِدًا عَنْ أَبَوَيْهِ)

Sehingga, jika anak kecil tersebut ditawan bersama dengan salah satu kedua orang tuanya, maka sang anak tidak mengikuti agama orang yang menawannya.       

فَإِنْ سُبِيَّ الصَّبِيُّ مَعَ أَحَدِ أَبَوَيْهِ فَلَا يَتْبَعُ الصَّبِيٌّ السَّابِيَ لَهُ

Maksud dari keberadaan sang anak bersama dengan salah satu dari kedua orang tuanya adalah mereka berada dalam satu pasukan dan ghanimah yang satu juga, tidak harus orang yang memiliki keduanya adalah orang satu.             

وَمَعْنَى كَوْنِهِ مَعَ أَحَدِ أَبَوَيْهِ أَنْ يَكُوْنَا فِيْ جَيْشٍ وَاحِدٍ وَغَنِيْمَةٍ وَاحِدَةٍ لَا أَنَّ مَالِكَهُمَا يَكُوْنَ وَاحِدًا

Seandainya anak kecil tersebut ditawan oleh orang kafir dzimmi dan ia membawa anak tersebut ke daerah islam, maka sang anak tidak dihukumi islam menurut pendapat al ashah.           

وَلَوْسَبَّاهُ ذِمِّيٌ وَحَمَلَهُ إِلَى دَارِ الْإِسْلَامِ لَمْ يُحْكَمْ بِإِسْلَامِهِ فِيْ الْأَصَحِّ

Bahkan anak tersebut mengikuti agama orang yang menawannya.           

بَلْ هُوَ عَلَى دِيْنِ السَّابِيْ لَهُ

Sebab yang ketiga disebutkan di dalam perkataan mushannif, “atau anak kecil yang ditemukan terlantar di daerah islam, walaupun di sana ada penduduk kafir dzimmi. Maka sesungguhnya anak tersebut adalah islam.”   

وَالسَّبَبُ الثَّالِثُ مَذْكُوْرٌ فِيْ قَوْلِهِ (أَوْ يُوْجَدُ) أَيِ الصَّبِيُّ (لَقِيْطًا فِيْ دَارِ الْإِسْلَامِ) وَإِنْ كَانَ فِيْهَا أَهْلُ ذِمَّةٍ فَإِنَّهُ يَكُوْنَ مُسْلِمًا

Begitu juga -hukumnya islam- seandainya anak kecil tersebut ditemukan terlantar di daerah kafir dan di sana ada penduduk muslimnya.  

وَكَذَا لَوْ وُجِدَ فِيْ دَارِ كُفَّارٍ وَفِيْهَا مُسْلِمٌ.

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

TERJEMAH ‘AQIDATUL AWAM “KITAB TAUHID DASAR”

Terjamah `aqidatul `awam

الشيخ أحمد المرزوقي المالكي

Asy-Syeikh Ahmad Al Marzuqi Al Maliki

Dasar-Dasar Ilmu Aqidah

أَبـْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ وَالـرَّحْـمَنِ ۞ وَبِـالـرَّحِـيـْمِ دَائِـمِ اْلإِحْـسَانِ

Saya memulai dengan nama Alloh, Dzat yang maha pengasih, dan Maha Penyayang yang senatiasa memberikan kenikmatan tiadaputusnya

فَالْـحَـمْـدُ للهِ الْـقَدِيْمِ اْلأَوَّلِ ۞ اْلآخِـرِ الْـبَـاقِـيْ بِلاَ تَـحَـوُّلِ

Maka segala puji bagi Alloh Yang Maha Dahulu, Yang Maha Awal, Yang Maha Akhir, Yang Maha Tetap tanpa ada perubahan

ثُـمَّ الـصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ سَرْمَـدَ ا ۞ عَـلَـى الـنَّـبِيِّ خَيْرِ مَنْ قَدْ وَحَّدَا

Kemudian, semoga sholawat dan salam senantiasa tercurahkan pada Nabi sebaik-baiknya orang yang mengEsakan Alloh

وَآلِهِ وَصَـحْـبِهِ وَمَـنْ تَـبِـعْ ۞ سَـبِـيْلَ دِيْنِ الْحَقِّ غَيْرَ مُـبْـتَدِعْ

Dan keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jalan agama secara benar bukan orang-orang yang berbuat sasar

وَبَـعْـدُ فَاعْلَمْ بِوُجُوْبِ الْمـــَعْرِفَـهْ ۞ مِنْ وَاجِــبٍ للهِ عِـشْرِيْنَ صِفَـهْ

Dan setelahnya ketahuilah dengan yakin bahwa Alloh itu mempunyai 20 sifat wajib

فَـاللهُ مَـوْجُـوْدٌ قَـدِيْمٌ بَاقِـي ۞ مُخَـالِـفٌ لِلْـخَـلْقِ بِاْلإِطْـلاَقِ

Alloh itu Ada, Qodim, Baqi dan berbeda dengan makhlukNya secara mutlak

وَقَـائِمٌ غَـنِـيْ وَوَاحِـدٌ وَحَيّ ۞ قَـادِرٌ مُـرِيـْدٌ عَـالِمٌ بِكُلِّ شَيْ

Berdiri sendiri, Maha Kaya, Maha Esa, Maha Hidup, Maha Kuasa, Maha Menghendaki, Maha Mengetahui atas segala sesuatu

سَـمِـيْعٌ الْبَـصِيْـرُ والْمُتَكَلِـمُ ۞ لَهُ صِفَـاتٌ سَـبْـعَـةٌ تَـنْـتَظِمُ

Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Berbicara, Alloh mempunyai 7 sifat yang tersusun

فَـقُـدْرَةٌ إِرَادَةٌ سَـمْـعٌ بَصَـرْ ۞ حَـيَـاةٌ الْـعِلْـمُ كَلاَمٌ اسْـتَمَرْ

yaitu Berkuasa, Menghendaki, Mendengar, Melihat, Hidup, Mempunyai Ilmu, Berbicara

Dengan ayat kalam-nya

وَ جَـائـِزٌ بِـفَـضْـلِهِ وَ عَدْلِهِ ۞ تَـرْكٌ لِـكُـلِّ مُمْـكِـنٍ كَفِعْلِهِ

Dengan karunia dan keadilanNya, Alloh memiliki sifat boleh (wenang) yaitu boleh mengerjakan sesuatu atau meninggalkannya

أَرْسَـلَ أَنْـبِيَا ذَوِي فَـطَـانَـهْ ۞ بِالصِّـدْقِ وَالـتَّـبْلِـيْغِ وَاْلأَمَانَهْ

Alloh telah mengutus para nabi yang memiliki 4 sifat yang wajib yaitu cerdas, jujur, menyampaikan (risalah) dan dipercaya

وَجَـائِزٌ فِي حَقِّـهِمْ مِنْ عَـرَضِ ۞ بِغَـيْـرِ نَقْصٍ كَخَفِيْفِ الْمَـرَضِ

Dan boleh didalam hak Rosul dari sifat manusia tanpa mengurangi derajatnya,misalnya sakit yang ringan

عِصْـمَـتُهُمْ كَسَـائِرِ الْمَلاَئِـكَهْ ۞ وَاجِـبَـةٌ وَفَـاضَلُوا الْـمَـلاَئِكَهْ

Mereka mendapat penjagaan Alloh (dari perbuatan dosa) seperti para

malaikat seluruhnya. (Penjagaan itu) wajib bahkan para Nabi lebih utama

dari para malaikat

وَالْـمُسْـتَحِــيْلُ ضِدُّ كُـلِّ وَاجِبِ ۞ فَـاحْـفَظْ لِخَمْسِيْنَ بِحُكْمٍ وَاجِبِ

Dan sifat mustahil adalah lawan dari sifat yang wajib maka hafalkanlah 50 sifat itu sebagai ketentuan yang wajib

تَـفْصِيْـلُ خَمْسَةٍ وَعِشْرِيْـنَ لَزِمْ ۞ كُـلَّ مُـكَـلَّـفٍ فَحَقِّقْ وَاغْـتَنِمْ

Adapun rincian nama para Rosul ada 25 itu wajib diketahui bagi setiap mukallaf, maka yakinilah dan ambilah keuntungannya

هُمْ آدَمُ اِدْرِيْسُ نُـــوْحٌ هُـوْدٌ مَـعْ ۞ صَالِـحْ وَإِبْرَاهِـيْـمُ كُـلٌّ مُـتَّبَعْ

Mereka adalah Nabi Adam, Idris, Nuh, Hud serta Sholeh, Ibrahim ( yang masing-masing diikuti berikutnya)

لُوْطٌ وَاِسْـمَاعِيْلُ اِسْحَاقٌ كَــــذَا ۞ يَعْـقُوْبُ يُوْسُفٌ وَأَيـُّوْبُ احْتَذَى

Luth, Ismail dan Ishaq demikian pula Ya’qub, Yusuf dan Ayyub dan selanjutnya

شُعَيْبُ هَارُوْنُ وَمُوْسَى وَالْـيَسَعْ ۞ ذُو الْكِـفْلِ دَاوُدُ سُلَيْمـانُ اتَّـبَـعْ

Syuaib, Harun, Musa dan Alyasa’, Dzulkifli, Dawud, Sulaiman yang diikuti

إلْـيَـاسُ يُوْنُسْ زَكَرِيـَّا يَحْيَى ۞ عِـيْسَـى وَطَـهَ خَاتِمٌ دَعْ غَـيَّا

Ilyas, Yunus, Zakaria, Yahya, Isa dan Thaha (Muhammad) sebagai penutup, maka tinggalkanlah jalan yang menyimpang dari kebenaran

عَلَـيْـهِـمُ الصَّـلاةُ والسَّـلامُ ۞ وآلِهِـمْ مـَـا دَامَـتِ اْلأَيـَّـامُ

Semoga sholawat dan salam terkumpulkan pada mereka dan keluarga mereka sepanjang masa

وَالْـمَـلَكُ الَّـذِي بِلاَ أَبٍ وَأُمْ ۞ لاَ أَكْـلَ لاَ شـُرْبَ وَلاَ نَوْمَ لَهُمْ

Adapun para malaikat itu tetap tanpa bapak dan ibu, tidak makan dan tidak minum serta tidak tidur

تَفْـصِـيْلُ عَشْرٍ مِنْهُمُ جِبْرِيْـلُ ۞ مِـيْـكَـالُ اِسْـرَافِيْلُ عِزْرَائِـيْلُ

Secara terperinci mereka ada 10, yaitu Jibril, Mikail, Isrofil, dan Izroil

مُـنْـكَرْ نَـكِـيْرٌ وَرَقِيْبٌ وَكَذَا ۞ عَـتِـيْدُ مَالِكٌ وَرِضْوَانُ احْتـَذَى

Munkar, Nakiir, dan Roqiib, demikian pula ‘Atiid, Maalik, dan Ridwan dan selanjutnya

أَرْبَـعَـةٌ مِنْ كُتُبٍ تَـفْصِيْـلُهَا ۞ تَـوْارَةُ مُـوْسَى بِالْهُدَى تَـنْـزِيْلُهَا

Empat dari Kitab-Kitab Suci Allah secara terperinci adalah Taurat bagi Nabi Musa diturunkan dengan membawa petunjuk

زَبُـوْرُ دَاوُدَ وَاِنْـجِـيْـلٌ عَلَى ۞ عِيْـسَى وَفُـرْقَانٌ عَلَى خَيْرِ الْمَـلاَ

Zabur bagi Nabi Dawud dan Injil bagi Nabi Isa dan AlQur’an bagi sebaik-baik kaum (Nabi Muhammad SAW)

وَصُحُـفُ الْـخَـلِيْلِ وَالْكَلِيْـمِ ۞ فِيْـهَـا كَلاَمُ الْـحَـكَمِ الْعَلِيْـمِ

Dan lembaran-lembaran (Shuhuf) suci yang diturunkan untuk AlKholil

(Nabi Ibrohim) dan AlKaliim (Nabi Musa) mengandung Perkataan dari Yang

Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui

وَكُـلُّ مَـا أَتَى بِهِ الـرَّسُـوْلُ ۞ فَحَـقُّـهُ الـتَّـسْـلِـيْمُ وَالْقَبُوْلُ

Dan segala apa-apa yang disampaikan oleh Rosulullah, maka kita wajib pasrah dan menerima

إِيـْمَـانُـنَا بِـيَـوْمِ آخِرٍ وَجَبْ ۞ وَكُـلِّ مَـا كَـانَ بِـهِ مِنَ الْعَجَبْ

Keimanan kita kepada Hari Akhir hukumnya wajib, dan segala perkara yang dahsyat pada Hari Akhir

خَـاتِمَةٌ فِي ذِكْرِ بَاقِي الْوَاجِــبِ ۞ مِمَّـا عَـلَى مُكَـلَّفٍ مِنْ وَاجِـبِ

Sebagai penutup untuk menerangkan ketetapan yang wajib, dari hal yang menjadi kewajiban bagi mukallaf

نَـبِـيُّـنَـا مُحَمَّدٌ قَـدْ أُرْسِلاَ ۞ لِلْـعَالَمِـيْـنَ رَحْـمَـةً وَفُضِّلاَ

Nabi kita Muhammad telah diutus untuk seluruh alam sebagai Rahmat dan keutamaan diberikan kepada beliau SAW melebihi semua

أَبـُوْهُ عَـبْدُ اللهِ عَبْدُ الْمُطَّلِـبْ ۞ وَهَـاشِمٌ عَبْـدُ مَنَافٍ يَـنْـتَسِبْ

Ayahnya bernama Abdullah putera Abdul Mutthalib, dan nasabnya bersambung kepada Hasyim putera Abdu Manaf

وَأُمُّـهُ آمِـنَـةُ الـزُّهْـرِيـَّـــــهْ ۞ أَرْضَـعَـهُ حَـلِيْمَـةُ السَّعْدِيـَّهْ

Dan ibunya bernama Aminah Az-Zuhriyyah, yang menyusui beliau adalah Halimah As-Sa’diyyah

مـَوْلِدُهُ بِـمَـكَـةَ اْلأَمِيْـنَـهْ ۞ وَفَـاتُـهُ بِـطَـيْـبَةَ الْـمَدِيْنَهْ

Lahirnya di Makkah yang aman, dan wafatnya di Toiybah (Madinah)

أَتَـمَّ قَـبْـلَ الْـوَحِيِ أرْبَعِيْنَا ۞ وَعُمْـرُهُ قَـدْ جَـاوَزَ الـسِّـتِّيْنَا

Sebelum turun wahyu, nabi Muhammad telah sempurna berumur 40 tahun, dan usia beliau 60 tahun lebih

وسـَبْـعَةٌ أَوْلاَدُهُ فَـمِـنْـهُـمُ ۞ ثَلاَثَـةٌ مِـنَ الـذُّكُـوْرِ تُـفْهَمُ

Ada 7 orang putera-puteri nabi Muhammad, diantara mereka 3 orang laki-laki, maka pahamilah itu

قـَاسِـمْ وَعَـبْدُ اللهِ وَهْوَ الطَّيـِّـــبُ ۞ وَطَـاهِـرٌ بِـذَيْـنِ ذَا يُـلَقَّبُ

Qasim dan Abdullah yang bergelar At-Thoyyib dan At-Thohir, dengan 2

sebutan inilah (At-Thoyyib dan At-Thohir) Abdullah diberi gelar

أَتَـاهُ إِبـْرَاهِـيْـمُ مِنْ سَـرِيـَّهْ ۞ فَأُمُّهُ مَارِيـَةُ الْـقِـبْـطِـيَّـهْ

Anak yang ketiga bernama Ibrohim dari Sariyyah (Amat perempuan), ibunya (Ibrohim) bernama Mariyah Al-Qibtiyyah

وَغَـيْـرُ إِبـْرَاهِيْمَ مِنْ خَـدِيْجَهْ ۞ هُمْ سِتَـةٌ فَـخُـذْ بِـهِمْ وَلِـيْجَهْ

Selain Ibrohim, ibu putera-puteri Nabi Muhammad berasal dari Khodijah,

mereka ada 6 orang (selain Ibrohim), maka kenalilah dengan penuh cinta

وَأَرْبَعٌ مِـنَ اْلإِنـَاثِ تُـذْكَـر ۞ رِضْـوَانُ رَبِّـي لِلْـجَـمِـيْعِ يُذْكَرُ

Dan 4 orang anak perempuan Nabi akan disebutkan, semoga keridhoan Allah untuk mereka semua

فَـاطِـمَـةُ الزَّهْرَاءُ بَعْلُهَا عَلِيْ ۞ وَابـْنـَاهُمَا السِّبْطَانِ فَضْلُهُمْ جَلِيْ

Fatimah Az-Zahro yang bersuamikan Ali bin Abi Tholib, dan kedua putera

mereka (Hasan dan Husein) adalah cucu Nabi yang sudah jelas keutamaanya

فَـزَيْـنَـبٌ وبَـعْـدَهَـا رُقَـيَّـهْ ۞ وَأُمُّ كُـلْـثُـوْمٍ زَكَـتْ رَضِيَّهْ

Kemudian Zaenab dan selanjutnya Ruqayyah, dan Ummu Kultsum yang suci lagi diridhoi

عَـنْ تِسْـعِ نِسْوَةٍ وَفَاةُ الْمُصْطَفَى ۞ خُـيِّـرْنَ فَاخْـتَرْنَ النَّـبِيَّ الْمُقْتَفَى

Dari 9 istri Nabi ditinggalkan setelah wafatnya, mereka semua telah

diminta memilih syurga atu dunia, maka mereka memilih nabi sebagai

panutan

عَـائِـشَـةٌ وَحَـفْصَةٌ وَسَـوْدَةُ ۞ صَـفِـيَّـةٌ مَـيْـمُـوْنَةٌ وَ رَمْلَةُ

Aisyah, Hafshah, dan Saudah, Shofiyyah, Maimunah, dan Romlah

هِنْـدٌ وَ زَيْـنَبٌ كَـذَا جُوَيـْرِيَهْ ۞ لِلْـمُـؤْمِنِيْنَ أُمَّـهَاتٌ مَرْضِيَهْ

Hindun dan Zaenab, begitu pula Juwairiyyah, Bagi kaum Mu’minin mereka menjadi ibu-ibu yang diridhoi

حَـمْـزَةُ عَـمُّـهُ وعَـبَّـاسٌ كَذَا ۞ عَمَّـتُـهُ صَـفِيَّـةٌ ذَاتُ احْتِذَا

Hamzah adalah Paman Nabi demikian pula ‘Abbas, Bibi Nabi adalah Shofiyyah yang mengikuti Nabi

وَقَـبْـلَ هِـجْـرَةِ النَّـبِيِّ اْلإِسْرَا ۞ مِـنْ مَـكَّـةٍ لَيْلاً لِقُدْسٍ يُدْرَى

Dan sebelum Nabi Hijrah (ke Madinah), terjadi peristiwa Isro’. Dari

Makkah pada malam hari menuju Baitul Maqdis yang dapat dilihat

بَـعْـدَ إِسْـرَاءٍ عُـرُوْجٌ لِلـسَّمَا ۞ حَتىَّ رَأَى الـنَّـبِـيُّ رَبـًّا كَـلَّمَا

Setelah Isro’ lalu Mi’roj (naik) keatas sehingga Nabi melihat Tuhan yang berkata-kata

مِنْ غَيْرِ كَيْفٍ وَانْحِصَارٍ وَافْـتَرَضْ ۞ عَـلَـيْهِ خَمْساً بَعْدَ خَمْسِيْنَ فَرَضْ

Berkata-kata tanpa bentuk dan ruang. Disinilah diwajibkan kepadanya (sholat) 5 waktu yang sebelumnya 50 waktu

وَبَــلَّـغَ اْلأُمَّــةَ بِـاْلإِسـْرَاءِ ۞ وَفَـرْضِ خَـمْـسَةٍ بِلاَ امْتِرَاءِ

Dan Nabi telah menyampaikan kepada umat peristiwa Isro’ tersebut. Dan kewajiban sholat 5 waktu tanpa keraguan

قَـدْ فَـازَ صِـدِّيْقٌ بِتَـصْدِيْقٍ لَـهُ ۞ وَبِـالْـعُرُوْجِ الصِّدْقُ وَافَى أَهْلَهُ

Sungguh beruntung sahabat Abubakar As-Shiddiq dengan membenarkan

peristiwa tersebut, juga peristiwa Mi’raj yang sudah sepantasnya

kebenaran itu disandang bagi pelaku Isro’ Mi’roj

وَهَــذِهِ عَـقِـيْـدَةٌ مُـخْـتَصَرَهْ ۞ وَلِـلْـعَـوَامِ سَـهْـلَةٌ مُيَسَّرَهْ

Inilah keterangan Aqidah secara ringkas bagi orang-orang awam yang mudah dan gampang

نـَاظِـمُ تِلْـكَ أَحْـمَدُ الْمَرْزُوقِيْ ۞ مَـنْ يَنْـتَمِي لِلصَّادِقِ الْمَصْدُوْقِ

Yang di nadhomkan oleh Ahmad Al Marzuqi, seorang yang bernisbat kepada Nabi Muhammad (As-Shodiqul Mashduq)

وَ الْحَـمْـدُ للهِ وَصَـلَّى سَـلَّمَا ۞ عَلَـى النَّبِيِّ خَيْرِ مَنْ قَدْ عَلَّمَا

Dan segala puji bagi Allah serta Sholawat dan Salam tercurahkan kepada Nabi sebaik-baik orang yang telah mengajar

وَاْلآلِ وَالـصَّـحْــــبِ وَكُـلِّ مُرْشِدِ ۞ وَكُـلِّ مَـنْ بِخَيْرِ هَدْيٍ يَقْتَدِي

Juga kepada keluarga dan sahabat serta orang yang memberi petunjuk dan orang yang mengikuti petunjuk

وَأَسْـأَلُ الْكَـرِيْمَ إِخْـلاَصَ الْعَمَلْ ۞ ونَـفْـعَ كُـلِّ مَنْ بِهَا قَدِ اشْتَغَلْ

Dan saya mohon kepada Allah yang Maha Pemurah keikhlasan dalam beramal

dan manfaat bagi setiap orang yang berpegang teguh pada aqidah ini

أبْيَاتُهَا ( مَـيْـزٌ ) بِـعَدِّ الْجُمَّلِ ۞ تَارِيْخُها ( لِيْ حَيُّ غُرٍّ ) جُمَّلِ

Nadhom ini ada 57 bait dengan hitungan abjad, tahun penulisannya 1258 Hijriah

سَـمَّـيْـتُـهَا عَـقِـيْدَةَ الْـعَوَامِ ۞ مِـنْ وَاجِبٍ فِي الدِّيْنِ بِالتَّمَامِ

Aku namakan aqidah ini Aqidatul Awwam, keterangan yang wajib diketahui dalam urusan agama dengan sempurna

Barakallahufiikum

PENJELASAN HUKUM BAGI ORANG YANG MENINGGALKAN SHOLAT 5 WAKTU

BAB ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT

Selain mushannif menyebutkan hukum tarikus shalat (orang yang meninggalkan sholat) di dalam permasalahan ubudiyah (ibadah). Sedangkan mushannif menyebutkannya di sini, beliau berkata.            

وَذَكَرَ غَيْرُ الْمُصَنِّفِ حُكْمَ تَارِكِ الصَّلَاةِ فِيْ رُبُعِ الْعِبَادَاتِ وَأَمَّا الْمُصَنِّفُ فَذَكَرَهُ هُنَّا فَقَالَ.

(Fasal) orang yang meninggalkan sholat yang telah diketahui ada dua macam, dan bisa diarahkan terhadap meninggalkan salah satu dari sholat lima waktu saja.

(فَصْلٌ) وَتَارِكُ الصَّلَاةِ الْمَعْهُوْدَةِ الصَّادِقَةِ بِإِحْدَى الْخَمْسِ (عَلَى ضَرْبَيْنِ

Salah satunya, seseorang meninggalkan sholat dan ia adalah orang mukallaf dan tidak meyaqini terhadap kewajiban shalat tersebut, maka hukumnya, maksudnya orang yang meninggalkan shalat tersebut adalah hukumnya orang murtad, dan baru saja dijelaskan hukumnya.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَتْرُكَهَا) وَهُوَ مُكَلَّفٌ (غَيْرُ مُعْتَقِدٍ لِوُجُوْبِهَا فَحُكْمُهُ) أَيِ التَّارِكِ لَهَا (حُكْمُ الْمُرْتَدِّ) وَسَبَقَ قَرِيْبًا بَيَانُ حُكْمِهِ

Yang kedua adalah ia meninggalkan sholat karena malas hingga waktu shalat tersebut keluar, namun ia tetap menyaqini kewajibannya, maka orang seperti ini disuruh bertaubat.

(وَالثَّانِيْ أَنْ يَتْرُكَهَا كَسْلًا) حَتَّى يَخْرُجَ وَقْتُهَا حَالَ كَوْنِهِ (مُعْتَقِدًا لِوُجُوْبِهَا فَيُسْتَتَابُ

Sehingga, jika ia mau bertaubat da melaksanakan sholat, -maka hukumnya jelas-. Dan ini adalah penjelasan cara taubat.

فَإِنْ تَابَ وَصَلَّى) وَهُوَ تَفْسِيْرٌ لِلتَّوْبَةِ

Jika tidak, maksudnya jika ia tidak mau bertaubat, maka berhak dibunuh sebagai hukuman bukan karena kufur.

(وَإِلَّا) أَيْ وَإِنْ لَمْ يَتُبْ (قُتِلَ حَدًّا) لَا كُفْرًا

Dan orang ini hukumnya adalah orang islam di dalam masalah dimakamkan di pemakaman muslimin dan makamnya tidak boleh dihilangkan.

(وَكَانَ حُكْمُهُ حُكْمَ الْمُسْلِمِيْنَ) فِيْ الدَّفْنِ فِيْ مَقَابِرِهِمْ وَلَا يُطْمَسُ قَبْرُهُ

والله أعلم بالصواب

BAB : HUKUMAN BAGI BEGAL JALANAN MENURUT FIQH KITAB FATHUL QORIB

BAB BEGAL JALANAN
(Fasal) menjelaskan hukum-hukum qathi’ ath thariq.

(فَصْلٌ) فِيْ أَحْكَامِ (قَاطِعِ الطَّرِيْقِ)

 

Disebut demikian karena manusia enggan melewati jalan sebab takut padanya.

وَسُمِّيَ بِذَلِكَ لِامْتِنَاعِ النَّاسِ مِنْ سُلُوْكِ الطَّرِيْقِ خَوْفًا مِنْهُ

 

Qathi’ ath thariq adalah orang islam mukallaf yang memiliki kekuatan.

وَهُوَ مُسْلِمٌ مُكَلَّفٌ لَهُ شَوْكَةٌ

 

Maka tidak disyaratkan harus laki-laki atau lebih dari satu.

فَلَا يُشْتَرَطُ فِيْهِ ذُكُوْرَةٌ وَلَا عَدَدٌ

 

Dengan bahasa “qathi’ ath thariq’”, mengecualikan penjambret yang mengincar rombongan yang paling belakang dan mengandalkan lari.

فَخَرَجَ بِقَاطِعِ الطَّرِيْقِ الْمُخْتَلِسُ الَّذِى يَتَعَرَّضُ لِأَخِرْ الْقَافِلَةِ ويَعْتَمِدُ الْهَرَبَ

 

Macam-Macam Begal Qathi’ ath thariq ada empat bagian.

وَقُطَّاعُ الطَّرِيْقِ عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ

 

Yang pertama disebutkan di dalam perkataan mushannif, “jika mereka (para begal) membunuh orang sepadan, maksudnya dengan sengaja dan dhalim, dan tidak mengambil harta, maka mereka harus dihukum mati.

الْأَوَّلُ مَذْكُوْرٌ فِيْ قَوْلِهِ (إِنْ قَتَلُوْا) أَيْ عَمْدًا عُدْوَانًا مَنْ يُكَافِئُوْهُ (وَلَمْ يَأْخُذُوْا الْمَالَ قُتِلُوْا) حَتْمًا

 

Dan jika mereka membunuh dengan tidak sengaja, syibh ‘amdin atau membunuh orang yang tidak sepadan, maka mereka tidak dihukum mati.

وَإِنْ قَتَلُوْا خَطَأً أَوْ شِبْهَ عَمْدٍ أَوْ مَنْ لَمْ يُكَافِئُوْهُ لَمْ يُقْتَلُوْا

 

Yang kedua disebutkan di dalam perkataan mushannif, “jika mereka membunuh dan mengambil harta, maksudnya harta yang mencapai nishab sariqah atau lebih, maka mereka harus dihukum mati dan disalib di atas kayu dan sesamnya, akan tetapi setelah mereka dimandikan, dikafani dan disholati.

وَالثَّانِيْ مَذْكُوْرٌ فِيْ قَوْلِهِ (فَإِنْ قَتَلُوْا وَآخَذُوْا الْمَالَ) أَيْ نِصَابَ السَّرِقَةِ فَأَكْثَرَ (قُتِلُوْا وَصُلِبُوْا) عَلَى خَشَبَةٍ وَنَحْوِهَا لَكِنْ بَعْدَ غَسْلِهِمْ وَتَكْفِيْنِهِمْ وَالصَّلَاةِ عَلَيْهِمْ

 

Yang ketiga disebutkan di dalam perkataan mushannif, “jika mereka mengambil harta dan tidak sampai membunuh, maksudnya mengambil harta yang mencapai nishab sariqah atau lebih dari tempat penjagaan semestinya dan tidak ada unsur syubhat bagi mereka dalam harta tersebut, maka tangan dan kaki mereka dipotong selang seling

وَالثَّالِثُ مَذْكُوْرٌ فِيْ قَوْلِهِ. (وَإِنْ أَخَذُوْا الْمَالَ وَلَمْ يَقْتُلُوْا) أَيْ نِصَابَ السَّرِقَةِ فَأَكْثَرَ مِنْ حِرْزِ مِثْلِهِ وَلَا شُبْهَةَ لَهُمْ فِيْهِ (تُقْطَعُ أَيْدِيْهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ)

 

Maksudnya, pertama tangan kanan dan kaki kiri mereka dipotong.

أَيْ تُقْطَعُ مِنْهُمْ أَوَّلاً الْيَدُّ الْيُمْنَى وَالرِّجْلُ الْيُسْرَى

 

 

Jika mengulangi lagi, maka tangan kiri dan kaki kanannya mereka dipotong.

فَإِنْ عَادُوْا فَيُسْرَاهُمْ وَيُمْنَاهُمْ يُقْطَعَانِ

 

 

Jika tangan kanan atau kaki kirinya tidak ada, maka dicukupkan dengan yang ada menurut pendapat al ashah.

فَإِنْ كَانَتِ الْيُمْنَى أَوِ الرِّجْلُ الْيُسْرَى مَفْقُوْدَةً اُكْتُفِيَ بَالْمَوْجُوْدِ فِيْ الْأَصَحِّ

 

Yang ke empat disebutkan di dalam perkataan mushannif, “jika mereka hanya menakut-nakuti orang-orang yang lewat di jalan tanpa mengambil harta dari mereka dan tidak membunuh siapapun, maka mereka dipenjara di selain daerah mereka dan dita’zir, maksudnya imam memenjarakan dan menta’zir mereka.

وَالرَّابِعُ مَذْكُوْرٌ فِيْ قَوْلِهِ (فَإِنْ أَخَافُوْا) الْمَارِّيْنَ فِيْ (السَّبِيْلِ) أَيِ الطَّرِيْقِ (وَلَمْ يَأْخُذُوْا) مِنْهُمْ (مَالاً وَلَمْ يَقْتُلُوْا) نَفْسًا (حُبِسُوْا) فِيْ غَيْرِ مَوْضِعِهِمْ (وَعُزِّرُوْا) أَيْ حَبَسَهُمُ الْإِمَامُ وَعَزَّرَهُمْ.

 

Barang siapa dari mereka telah bertaubat sebelum terkangkap oleh imam, maka hukum-hukum had gugur dari dirinya, maksudnya hukuman-hukuman yang khusus dengan qathi’ ath thariq.

(وَمَنْ تَابَ مِنْهُمْ) أَيْ قُطَّاعِ الطَّرِيْقِ (قَبْلَ الْقُدْرَةِ) مِنَ الْإِمَامِ (عَلَيْهِ سَقَطَتْ عَنْهُ الْحُدُوْدُ) أَيِ الْعُقُوْبَاتُ الْمُخْتَصَّةُ بِقَاطِعِ الطَّرِيْقِ

 

 

Hukuman tersebut adalah kewajiban membunuh, mensalib, memotong tangan dan kakinya.

وَهِيَ تَحَتُّمُ قَتْلِهِ وَصَلْبِهِ وَقَطْعِ يَدِّهِ وَرِجْلِهِ

 

 

Dan tidak gugur had-had yang lain yang menjadi haknya Allah Ta’ala seperti zina dan mencuri setelah bertaubat.

وَلَا يَسْقُطُ بَاقِيْ الْحُدُوْدِ الَّتِيْ لِلَّهِ تَعَالَى كَزِنًا وَسَرِقَةٍ بَعْدَ التَّوْبَةِ

 

 

Dari perkataan mushannif, “hak-hak yang berhubungan dengan anak Adam seperti qishash, had qadzaf, dan mengembalikan harta, di ambil kembali,” dapat diambil pemahaman bahwa sesungguhnya semua bentuk hak-hak tersebut tidak bisa gugur dari qathi’ ath thari sebab ia telah bertaubat, dan hukum yang benar memang demikian.

وَفُهِمَ مِنْ قَوْلِهِ (وَاُخِذَ) بِضَمِّ أَوَّلِهِ (بِالْحُقُوْقِ) أَيِ الَّتِيْ تَتَعَلَّقُ بِالْآدَمِيِّيْنَ كَقِصَاصً وَحَدِّ قَذْفٍ وَرَدِّ مَالٍ أَنَّهُ لَا يَسْقُطُ شَيْئٌ مِنْهَا عَنْ قَاطِعِ الطَّرِيْقِ بِتَوْبَتِهِ وَهُوَ كَذَلِكَ.

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

NASIHAT- NASIHAT MULIA UNTUK HAMBA ALLOH SWT.

Alhamdulillah, kita bisa mengkaji kitab yang sangat populer karangan  Al Alim Alamah Syaikhina Nawawi Al Bantany. Semoga dengaN sajian Kitab Kuning Nashoihul Ibad Versi Terjemahan ini bisa dirasakan semua kalangan, Khususnya umat Islam. Amin Yaa Robbal ‘alamin.

Bismillahirahmanirahim, Qola Mu’alif Rohimakumullah nafa’ana Alloh Fi ‘ulumihi Fiddaroini, Amin.

Maqolah 1

Diriwayatkan dari Nabi SAW, sesungguhnya Beliau bersabda (Ada dua perkara, tidak ada sesuatu yang lebih utama dari dua perkara tersebut, yaitu iman kepada Allah dan berbuat kebajikan kepada sesama muslim). Baik degan ucapan atau kekuasaannya atau dengan hartanya atau dengan badannya.

RasuuluLlah SAWW bersabda, (barang siapa yang pada waktu pagi hari tidak mempunyai niat untuk menganiaya terhadap seseorang maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa pada waktu pagi hari memiliki niat memberikan pertolongan kepada orang yang dianiaya atau memenuhi hajat orang islam, maka baginya mendapat pahala seperti pahala hajji yang mabrur).

Dan Nabi SAW bersabda (Hamba yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amal yang paling utama adalah membahagiakan hati orang mukmin dengan menghilangkan laparnya, atau menghilangkan kesusahannya, atau membeyarkan hutangnya. Dan ada dua perkara, tidak ada sesuatu yang lebih buruk dari dua tersebut yaitu syirik kepaad Allah dan mendatangkan bahaya kepada kaum muslimin).

Baik membahayakan atas badannya, atau hartanya. Karena sesungguhnya semua perintah Allah kembali kepada dua masalah tersebut. Mengagungkan Allah dan berbuat baik kepada makhluknya, sebagaimana firman Allah Ta’ala Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan firman Allah Ta’ala Hendaklah kamu bersyukur kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu.

Maqolah 2

Nabi SAW bersabda, (wajib bagi kamu semua untuk duduk bersama para ‘Ulama) artinya yang mengamalkan ilmunya, (dan mendengarkan kalam para ahli hikmah) artinya orang yang mengenal Tuhan.

(Karena sesungguhnya Allah Ta’ala akan menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah-ilmu yang bermanfaat- sebagaimana Allah menghidupkan bumu yang mati dengan air hujan). Dan dalam riwayat lain dari Thabrani dari Abu Hanifah “Duduklah kamu dengan orang dewasa, dan bertanyalah kamu kepada para ‘Ulama dan berkumpulah kamu dengan para ahli hikmah” dan dalam sebuah riwayat, “duduklah kamu degan para ulama, dan bergaulah dengan kubaro’ ”. Sesungguhnya Ulama itu ada dua macam, 1. orang yang alim tentang hukum-hukum Allah, mereka itulah yang memiliki fatwa, dan 2. ulama yang ma’rifat akan Allah, mereka itulah para hukama’ yang dengan bergaul dengan mereka akan dapat memperbaiki akhlak, karena sesungguhnya hati mereka telah bersinar sebab ma’rifat kepada Allah demikian juga sirr / rahasia mereka telah bersinar disebabkan nur keagungan Allah. Telah bersabda Nabi SAW, akan hadir suatu masa atas umatku, mereka menjauh dari para ulama dan fuqaha, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka dengan tiga cobaan, 1. Allah akan menghilangkan berkah dari rizkinya. 2. Allah akan mengirim kepada mereka penguasa yang zalim 3. Mereka akan keluar meninggalkan dunia tanpa membawa iman kepada Allah Ta’ala Na’udzubiLlahi min dzaalik.

Maqolah 3

Dari Abi Bakar As-Shiddiq RA (Barang siapa yang memasuki kubur tanpa membawa bekal yaitu berupa amal shalih maka keadaannya seperti orang yang menyeberangi lautan tanpa menggunakan perahu). Maka sudahlah pasti ia akan tenggelam dengan se tenggelam-tenggelamnya dan tidak mungkin akan selamat kecuali mendapatkan pertolongan oleh orang-orang yang dapat menolongnya.. sebagaimana sabda Rasulullah SAW, tidaklah seorang mayat yang meninggal itu, melainkan seperti orang yang tenggelam yang meminta pertolongan.

Maqolah 4

Dari ‘Umar RA, -dinukilkan dari Syaikh Abdul Mu’thy As-sulamy, sesungguhnya Nabi SAW bertanya kepada Jibril AS, ‘Beritahukan kepadaku sifat kebaikan sahabat ‘Umar’. Maka Jibril menjawab, ‘Jika saja lautan dijadikan tinta dan tumbuh-tumbuhan dijadikan pena niscaya tidak akan uckup melukiskan sifat kebaikannya. Kemudian Nabi bersabda, beritahukan kepadaku kebaikan sifat Abu Bakar,”. Maka Jibril menjawab, ”’Umar hanyalah satu kebaikan dari beberapa kebaikan Abu Bakar RA.

‘Umar RA berkata, (kemuliaan dunia dengan banyaknya harta. Dan kemuliaan akhirat adalah dengan bagusnya amal). Maksudnya, urusan dunia tidak akan lancar dan sukses kecuali dengan dukungan harta benda. Demikian pula perkara akhirat tidak akan menjadi sempuran kecuali dengan amal perbuatan yang baik.

Maqolah 5

Dari ‘Utsman RA. (menyusahi dunia akan menggelapkan hati. Dan menyusahi akhirat akan menerangkan hati). Artinya, menyusahi urusan yang berhubungan dengan urusan dunia maka akan menjadikan hati menjadi gelap. Dan menyusahi perkara yang berhubungan dengan urusan akhirat akan menjadaikan hati menjadi terang. Yaa Allah jangan jadikan dunia sebesar-besar perkara yang kami susahi, dan bukan pula puncak ilmu kami.

Maqolah 6

Dari ‘Aly RA wa KarramaLlaahu Wajhah. (Barang siapa yang mencari ilmu maka surgalah sesungguhnya yang ia cari. Dan barang siapa yang emncari ma;siyat maka sesungguhnya nerakalah yang ia cari) Artinya barang siapa yang menyibukkan diri denagn mencari ilmu yang bermanfaat, yang mana tidak boleh tidak bagi orang yang aqil baligh untuk mengetahuinya maka pada hakekatnya ia mencari surga dan mencari ridho Allah SWT. Dan barang siapa yang menginginkan ma’siyat, maka pada hakekatnya nerakalah yang ia cari, dan kemarahan Allah Ta’ala.

Maqolah 7

Dari Yahya bin Muadz RA. (Tidak akan durhaka kepada Allah orang-orang yang mulia) yaitu orang yang baik tingkah lakunya Yaitu mereka yang memuliakan dirinya dengan menghiasinya dengan taqwa dan menjaga diri dari ma’siyat. (Dan tidak akan memilih dunia dari pada akhirat orang-orang yang bijaksana) Artinya orang bijak / hakiim tidak akan mendahulukan atau mengutamakan urusan dunia dari pada urusan akhirat. Adapun orang hakiim adalah orang yang mencegah dirinya dari pada bertentangan dengan kebenaran akal sehatnya.

Maqolah 8

Dari A’Masy, naam lengkapnya adalah Abu Sulaiman bin Mahran AL-Kuufy RA. (Barang siapa yang bermodalkan taqwa, maka kelulah lidah untuk menyebutkan sifat keberuntungannya dan barang siapa yang bermodalkan dunia, maka kelulah lidah untuk menyebut sebagai kerugian dalam hal agamanya). Artinya barang siapa yang bermodalkan taqwa dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya dimana dasar dari amal perbuatannya adalah selalu bersesuaian dengan syari’at, maka baginya pasti mendapatkan kebaikan yang sangat besar tanpa dapat dihitung dalam hal kebaikan yang diperolehnya.

Dan kebalikannya barang siapa yang perbuatannya selalu berseberangan dengan hukum syari’at, maka baginya kerugian yang sangat besar bahkan lidahpun sampai tidak dapat menyebutkannya.

Maqolah 9

Diriwayatkan dari Sufyan Atsauri, beliau adalah guru dari Imam Malik RA. ( Setiap ma’siyat yang timbul dari dorongan syahwat yaitu keinginan yangteramat sangat akan sesuatu maka dapat diharapkan akan mendapat ampunanNya. Dan setiyap ma’siyat yang timbul dari takabur atau sombong yaitu mendakwakan diri lebih utama atau mulia dari yang lain , maka maksiyat yang demikian ini tidak dapat diharapkan akan mendapat ampunan dari Allah). Karena maksiyat iblis berasal dari ketakaburannya yang tidak mau hormat kepada Nabi Adam AS atas perintah Allah dimana ia menganggap dirinya lebih mula dari Nabi Adam AS yang diciptakan dari tanah sedangkan ia/iblis diciptakan dari api. Dan sesungguhnya kesalahan Nabi

Adam AS adalah karena keinginannya yang teramat sangat untuk memakan buah yang dilarang oleh Allah untuk memakannya.

Maqolah 10

Dari sebagian ahli zuhud yaitu mereka yang menghinakan kenikmatan dunia dan tidak peduli dengan nya akan tetapi mereka mengambil dunia sekedar dharurah/darurat sesuai kebutuhan minimumnya. (Barang siapa yang melakukan perbuatan dosa dengan tertawa bangga, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka dalam keadaan menangis- karena seharusnya ia menyesal dan memohon ampunan kepada Allah bukannya berbangga hati. Dan barang siapa yang ta’at kepada Allah dengan menangis- karena malu kepada Allah dan Takut kepadaNya karena merasa banyak kekurangan dalam hal ta’at kepaadNya Maka Allah akan memasukkanNya ke dalam surga dalam keadaan tertawa gembira. ) dengan sebenar-benar gembira karena mendapatkan apa yang menjadi tujuannya selama ini yaitu ampunan dari Allah.

Maqolah 11 Maqolah ke sebelas : dari sebagian ahli hikmah / Aulia’ (Janganlah kamu menyepelekan dosa yang kecil) kerana dengan selalu menjalankannya maka lama kelamaa akan tumbuhlah ia menjadi dosa besar. Bahkan terkadang murka Tuhan itu ada pada dosa yang kecil-kecil.

Maqolah 12

Dari Nabi SAW : (Tidaklah termasuk dosa kecil apabila dilakukan secara terus menerus) karena dengan dilakukan secara terus menerus, maka akan menjadi besarlah ia. (Dan tidaklah termasuk dosa besar apabila disertai dengan taubat dan istighfar) Yaitu taubat dengan syarat-syaratnya. Karena sesungguhnya taubat dapat menghapus bekas-bekas dosa yang dilakukan meskipun yang dilakukan tersebut dosa besar. Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-dailamy dari Ibni Abbas RA.

Maqolah 13

(Keinginan orang arifiin adalah memujiNya) maksudnya keinginan orang ahli ma’rifat adalah memuji Allah Ta’ala dengan keindahan sifat-sifatnya. (dan keinginan orang-orang zuhud adalah do’a kepadaNya) yaitu permintaan kepaad Allah sekedar hajat kebutuhannya dari du nia dengan segenap hatinya, dimana yang dimaksud do’a adalah meminta dengan merendahkan diri kepadaNya dengan memohon diberi kebaikan kepadanya. (Karena keinginan orang arif/ ahli ma’rifat dari Tuhannya bukanlah pahala ataupun surga) sedangkan keinginan orang zuhud adalah untuk kepentingan dirinya sendiri, yaitu untuk kemanfatan dirinya dari pahala dan surga yang didapatkannya. Maka demikianleh perbedaan orang yang keinginan hatinya mendapatkan bidadarii dan orang yang cita-citanya adalah keterbukaab hatinya.

Maqolah 14

(diriwayatkan dari sebagian hukama’) yaitu orang yang ahli mengobati jiwa manusia, dan mereka itulah para wali Allah. -(Barang siapa yang menganggap ada pelindung yang lebih utama dari Allah maka sangat sedikitlah ma’rifatnya kepada Allah) Maknanya adalah barang siapa yang menganggap ada penolong yang lebih dekat daripada pertolongan Allah, maka maka sesungguhnya dia belul mengenal Allah. (Danbarang siapa yang menganggap ada musuh yang lebih berbahaya daripada nafsunya sendiri, maka sedikitlah ma’rifatnya/pengetahuannya tentang nafsunya) Artinya adalah brang siapa yang berperasangka ada musuh yang lebih kuat dari pada hawa nafsunya yang selalu mengajak kepada kejahatan, maka sedikitlah ma’rifatnya/pengetahuannya akan hawa nafsunya sendiri.

Maqolah 15

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Menafsiri firman Allah Ta’ala, “Sungguh telah nyatalah kerusakan baik di daratan maupun di lautan, maka beliau memberikan tafsirannya (Yang dimaksud Al-Barr/daratan adalah lisan.

Sedangkan yang dimaksud Al-Bahr / lautan adalah hati). Apabila lisan telah rusak dikarenakan mengumpat misalnya, maka akan menangislah diri seseorang / anak cucu adam. Akan tetapi apabila hati yang rusak disebabkan karena riya’ misalnya, maka akan menangislah malaikat. Dan diperumpamakan hati/qalb dengan lautan adalah dikarenkan sangat dalmnya hati itu.

Maqolah 16

(Dikatakan, karena syahwat maka seorang raja berubah menjadi hamba sahaya/budak) karena sesungguhnya barang siapa yang mencintai sesuatu maka ia akna menjadi hamba dari sesuatu yang dicintainya. (dan sabar akan membuat seorang hamba sahaya berumab menjadi seorang raja) karena seoang hamba dengan kesabarannya akan memperoleh apa yang ia inginkan. (apakah belum kita ketahui kisah seorang hamba yang mulia putra seorang yang mulia, putera seorang yang mulia Sayyidina Yusuf AS Ash-Shiddiq, putera Ya’qub yang penyabar, putera Ishaq yang penyayang, putera Ibrahim Al-Khalil AS dengan Zulaikha. Sesungguhnya ia zulaikha sangat cinta kepada Sayyidina Yusuf AS dan Sayyidina Yusuf bersabar dengan tipudayanya.

Maqolah 17

(Beruntunglah orang yang menjadikan akalnya sebagai pemimpin) dengan mengikuti petunjuk akalnya yang sempurna (sedangkan hawa nafsunya menjadi tahanan) (dan celakalah bagi orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai penguasanya, dengan melepaskannya dalam menuruti apa yang di inginkannya, sedangkan akalnya menjadi hambanya yaitu akal tersebut terhalang untuk memikirkan ni’mat Allah dan keagungan ALlah).

Maqolah 18

(Barang siapa yang meninggalkan perbuatan dosa, maka akan lembutlah hatinya), maka hati tersebut akan senang menerima nasihat dan ia khusyu’/memperhatikan akan nasihat tersebut. (Barang siapa yang meninggalkan sesuatu yang haram) baik dalam hal makanan, pakaian dan yang lainnya (dan ia memakan sesuatu yang halal maka akan jerniglah pikirannya) didalam bertafakur tentang semua ciptaan Allah yang menjadi petunjuk akan adanya Allah Ta’ala yang menghidupkan segala sesuatu setelah kematiannya demikian pula menjadi petunjuk akan keEsaan Allah dan kekuasaanNya dan ilmuNya. Dan yang demikian ini terjadi apabila ia mempergunakan fikirannya dan melatih akalnya bahwa Allah SubhanaHu Wata’ala yang menciptakan dia dari nuthfah di dalam rahim, kemudian menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, kemujdian Allah menjadikan tulang dan daging dan urat syaraf serta menciptakan anggota badan baginya. Kemudian Alah memberinya pendengaran, penglihatan dan semua anggota badan, kemudian Allah memudahkannya keluar sebagai janian dari dalam rahim ibunya, dan memberinya ilham untuk menyusu ibunya, dan Allah menjadikannya pada awwal kejadian dengan tanpa gigi gerigi kemudian Allah menumbuhkan gigi tersebut untuknya, kemudian Allah menanggalkan gigi tersebut pada usia 7 tahun kemudian Allah menumbuhkan kembali gigi tersebut. Kemudian Allah menjadikan keadaan hambanya selalu berubah dari kecil kemudian tumbuh menjadi besar dan dari muda berubah menjadi tua renta dan dari keadaan sehat berubah menjadi sakit. Kemudian Alah menjadikan bagi hambaNya pada setiap hari mengalami tidur dan jaga demikian pula rambutnya dan kuku-kukunya manakala ia tanggal maka akan tumbuh lagi seperti semula.

Demikian pula malam dan siang yang selalu bergantian, apabila hilang yang satu maka akan disusul dengan timbulnya yang lain. Demikian pula dengan adanya matahari, rembulan, bintang-bintang dan awan dan hujan yang semuanya datang dan pergi. Demikian pula bertafakur tentang rembulan yang berkurang pada setiap malamnya, kemudian menjadi purnama, kemudian berkurang kembali. Seperti itu pula pada gerhana matahari dan rembulan ketika hilang cahayanya keudian cahaya itu kembali lagi. Kemudian berfikir tentang bumi yang

gersang lagi tandus maka Allah menumbuhkannya dengan berbagai macam tanaman, kemudian Allah menghilangkan lagi tanaman tersebut kemudian menumbuhkannya kembali. Maka kita akan dapat berkesimpulan bahwa Allah Dzat yang mampu berbuat yang sedemikian ini tentu mampu untuk menghidupkan sesuatu yang telah mati. Maka wajib bagi hamba untuk selalu bertafakur pada hal yang demikian sehingga menjadi kuatlah imannya akan hari kebangkitan setelah kematian, dan pula ia mengetahui bahwa Allah pasti membangkitkannya da membalas segala amal perbuatannya. Maka dengan seberapa imannya dari hal yang demikian yang membuat kita bersungguh-sungguh melaksanakan ta’at atau menjauhi ma’siyat.

Maqolah 19

Telah diwahyukan kepada sebagian Nabi ( Ta’atlah kepadaKu akan apa yang Aku perintahkan dan janganlah bermaksiyat kepadaku dari apa yang Aku nasehatkan kepadamu). Artinya dari nasihat yang dengannya seorang hamba akan mendapatkan kebaikan dan dengan apa yang dilarang maka seorang hamba akan tehindar dari kerusakan.

Maqolah 20

(Dikatakan sesungguhnya kesempurnaan akal adalah mengikuti apa yang diridhai Allah dan meninggalkan apa yang dimurkai Allah). artinya apa saja yang tidak seperti konsep di atas adalah kegilaan / tak berakal.

Maqolah 21

(Tidak ada keterasingan bagi orang yang mulia akhlaknya, dan tidak ada tempat yang terhormat bagi orang-orang yang bodoh ). Artinya seseorang yang bersifat memiliki ilmu dan amal maka sesungguhnyania akan dihormati diantarea manusia di mana saja berada. Oleh karena itu di mana saja berada layaknya mereka seperti di negeri sendiri dan dihormati. Sebaliknya orang yang bodoh adalah kebalikannya meskipun di negeri sendiri mereka merasa asing.

Maqolah 22

Barang siapa yang baik dalam keta’atannya kepada Allah maka dia akan terasing diantara manusia). Artinya orang yang merasa cukup dengan menyibukkan seluruh waktunya untuk ta’at kepadan Allah maka ia akan terasing diantara manusia.

Maqolah 23

(Dikatakan bahwa gerakan badan melakukan keta’atan kepada ALlah adalah petunjuk tentang kema’rifatan seseorang sebagaimana gerakan anggota badan menunjukkan / sebagai dalil adanya kehidupan di dalamnya). Artinya, bahwa ekspresi ketaatan serang hamba dalam menjalankan perintah Allah maka yang demikian itu adalah petunjuk /a dalil kema’rifatannya kepada ALlah. Apabila banyak amal ta’at maka menunjukkan bahwa banyak pula ma’rifatnya kepada Allah dan apabila sedikit ta’at, maka menunjukkan pula sedikit ma’rifat, karena sesungguhnya apa yang lahir merupakan cermin dari apa yang ada di dalam bathin.

Maqolah 24

Nabi SAW bersabda, (Sumber segala perbuatan dosa adalah cinta dunia,) dan yang dimaksud dari dumia adalah sesuatu yang lebih dari sekedar kebutuhan. (Dan sumber segala fitnah adalah mencegah / tidak mau mengeluarkan sepersepuluh dan tidak mau mengeluarkan zakat).

Maqolah 25

(Mengaku merasa kekurangan dalam melakukan ta’at adalah selamanya terpuji dan mengakui akan kekurangan / kelemahan dalam melakukan ta’at adalah tanda-tangda diteimanya amal tersebut) karena dengan demikian menunjukkan tidak adanya ujub dan takabur di dalamnya.

Maqolah 26

(Kufur ni’mah adalah tercela) maksudnya adalah dengan tidak adanya syukur ni’mat menunjukkan rendahnya nafsu. (dan berteman dengan orang bodoh) yaitu orang yang menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya padahal ia mengetahui akan keburukan sesuatu tersebut. (adalah keburukan) yaitu tidak membawa berkah . Oleh karena itu janganlah berteman dengannya disebabkan karena buruknya akhlak / keadaan tingkah lakunya karena sesungguhnya tabi’at itu dapat menular.

Maqolah 27

Disebutkan dalam syair….Wahai yang disibukkan oleh dunia Sungguh panjangnya angan-angan telah menenggelamkan mereka Bukankah mereka selalu dalam keadaan lupa – kepada Allah Hingga dekatlah ajal bagi mereka Sesungguhnya kematian datangnya mendadak Dan kubur adalah tempat penyimpanan amal.

Addailamy meriwayatkan hadits dari RasuluLlah SAW yang bersabda, “Meninggalkan kenikmatan dunia lebih pahit dari pada sabar, dan lebih berat daripada memukulkan pedang di jalan Allah. Dan tiada sekali-kali orang mahu meninggalkan kenikmatan dunia melainkan Allah akan memberi sesuatu seperti yang diberikan kepadapara Syuhada’. Dan meninggalkan kenikmatan dnia adalah dengan menyedikitkan makan dan kekenyangan, dan membenci pujian manusia karena sesungguhnya orang yang suka di puji oleh manusia adalah termasuk mencintai dunia dan kenikmatannya. Dan barang siapa menginginkan kenikmatan yang sesungguhnya maka hendaklah ia meninggalkan kenikmatan dunia dan pujian dari manusia”.

Dan Ibnu Majah telah meriwayatkan sesungguhnya RasuluLlah SAW bersabda, “Barang siapa yang niatnya adalah untuk akhirat, niscaya Allah akan mengumpulkan kekuatan baginya dan Allah membuat hatinya menjadi kaya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Dan barang siapa yang niatnya dunia maka Allah akan menceraiberaikan segala urusannya, dan Allah menjadikan kefakiran di depan kedua belah matanya dan tiadalah dunia akan mendatanginya kecuali apa yang telah tertulis untuknya”.

Maqolah 28

Dari Aby Bakr Asy-Syibly RahimahuLlahu Ta’ala, Beliau tinggal di Baghdad, berkawan dengan Syaikh Abul Qasim Junaidy Al-Baghdady bahkan menjadi murid beliau, dan beliau hidup hingga usia 87 tahun, wafat pada tahun 334 H dan dimakamkan di Baghdad. Dimana beliau termasuk pembesar para sufi dan para ‘arif biLlah. Beliau berkata di dalam munajatnya :

Wahai Tuhanku…

Sesungguhnya aku senang

Untuk mempersembahkan kepadaMu semua kebaikanku

Sementara aku sangat faqir dan lemah

Oleh karena itu wahai Tuhanku,

Bagaimana Engkau tidak senang

Untuk memberi ampunan kepadaku atas segala kesalahanku

Sementara Engkau Maha Kaya

Karena sesungguhnya keburukanku tidak akan membahayakanMu

Dan kebaikanku tidaklah memberi manfaat bagiMu

Dan sesungguhnya sebagian orang yang mulia telah memberikan ijazah agar dibaca setelah melaksanakan shalat Jum’at 7 kali dari bait syair sebagai berikut:

Ilahy lastu lil firdausi ahla

Walaa aqway ‘ala naaril jahiimi

Fahably zallaty wahfir dzunuuby

Fa innaka ghaafirul dzanbil ‘adziimi

Wa ‘aamilny mu’aamalatal kariimi

Watsabbitny ‘alan nahjil qawwimi

(Hikayat) Sesungguhnya Syaikh Abu Bakr As-Syibly datang kepada Ibnu Mujaahid. Maka segeralah Ibnu Mujaahid mendekati As-Syibly dan mencium tempat diantara kedua mata beliau. Mmaka ditanyakanlah kepada Ibnu Mujaahid akan perbuatannya yang demikian, dan beliau berkata, “Sesungguhnya aku melihat RasuluLlah SAW di dalam tidur dan sungguh beliau SAW telah mencium Syaikh Abu Bakr As-Syibly. Ketika itu berdirilah Nabi SAW di depan as-Syibly dan beliau mencium antara kedua mataAs-Syibly. Maka aku bertanya, ‘Yaa RasuluLlah, apakah benar engkau berbuat yang demikian terhadap As-Syibly ?’. RasuluLlah SAW menjawab,

‘benar, sesungguhnya dia tidak sekali-kali mengerjakan shalat fardhu melainkan setelah itu membaca Laqad jaa a kum Rasuulum min anfusikum ‘aziizun ‘alaiHi maa ‘anittum chariisun ‘alaikum bil mukminiinarra’uufurrahiim faintawallau faqul chasbiyaLlaahu laaIlaaha Illa Huwa ‘alaiHi tawakkaltu waHuwa Rabbul ‘Arsyil ‘adziim….setelah itu dia /As-Syibly mengucapkan salam ShallaLlaahu ‘alaika Yaa Muhammad”. Kemudian aku tanyakan kepada As-Syibli mengenai apa yang dibacanya setelah shalat fardhu, maka beliau menjawab seperti bacaan tadi….

Maqolah 29

Telah berka Asy-syibly, “Apabila engkau menginginkan ketenangan bersama Allah, maka bercerailah dengan nafsumu.” Artinya tidak menuruti apa yang menjadi keinginannya. Telah ditanyakan keadaan Asy-Syibly di dalam mimpi setelah beliau wafat, maka beliau menjawab,’ Allah Ta’ala berfirman kepadaku,’Apakah engkau mengetahui dengan sebab apa Aku mengampunimu ?’

Maka aku menjawab, ‘Dengan amal baikku”.

Allah Ta’ala berfirman,’Tidak’.

Aku menjawab, ‘Dengan ikhlas dalam ubudiyahku ‘.

Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidak’.

Aku menjawab,’Dengan hajiku dan puasaku ?’

Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidak’.

Aku menjawab, ‘Dengan hijrahku mengunjungi orang-orang shaleh untuk mencari ilmu“.

Allah Ta’ala berfirman,’Tidak’.

Akupun bertanya, ‘Wahai Tuhanku, kalau begitu dengan apa ?“

Allah Ta’ala menjawab, ‘Apakah engkau ingat ketika engkau berjalan di Baghdad kemudian engkau mendapati seekor anak kucing yang masih kecil dan lemah karena kedinginan, dan ia emnggigil karenanya. Kemudian engkau mengambilnya karena rasa kasihan kepada anak kucing itu dan engkau hangatkan ia ?”

Aku menjawab, ‘Ya’.

Maka berfirmanlah Allah Ta’ala, ‘Dengan kasih sayangmu kepada anak kucing yang masih kecil itulah Aku menyayangimu’.

Maqolah 30

Telah berkata Asy-Syibli, “Jika engkau telah merasakan nikmatnya pertemuan (wushlah – dekat dengan Allah SWT) niscaya engkau akan mengerti rasa pahitnya perpisahan (Qathi’ah-yaitu jauh dari Allah Ta’ala) . karena sesungguhnya berjauhan dari Allah SWT merupakan siksaan yang besar bagi AhluLlah ta’ala. Dan termasuk salah satu dari do’a SAW adalah ,”Allahummarzuqny ladzatan nadzari ilaa wajhiKal Kariim, wasyauqu ilaa liqaaiK”. (Yaa Allah berikanlah kepadaku kelezatan dalam memandang wajah-Mu yang Mulia dan rasa rindu untuk bertemu dengan-Mu)

Maqolah 31

Diriwayatkan dari Nabi SAW, sesungguhnya Beliau bersabda, “Barang saiapa yang pada waktu pagi hari (memasuki waktu subuh) dalam keadaan mengadu kepada manusia tentang kesulitan hidupnya, maka seakanakan ia telah mengadukan Tuhannya. “. Sesungguhnya pengaduan selayaknya hanya kepada Allah karena pengaduan kesulitan hidup kepada Allah termasuk do’a. adapun mengadu kepada manusia menunjukkan tidak adanya ridha dengan pembagian Allah Ta’ala sebagaimana diriwayatkan dari AbdiLlah bin Mas’ud RA, telah bersabda RasuluLlah SAW, “Maukah kamu semua aku ajari sebuah kalimat yang diucapkan Musa AS ketika melintasi lautan bersama bani israil ?“. kami semua menjawab ,”Baik Yaa RasuluLlah”. RasuluLlah SAW bersabda,”Ucapkanlah kalimat ‘Allahumma laKal hamdu wa ilaiKal Musytakay wa Antal Musta’aan wa laa haula walaa quwwata illa biLlahil ‘Aliyyil ‘Adhiim” (Yaa Allah segala puji hanya untuk-Mu, dan hanya kepadamulah tempat mengadu, dan Engkaulah Penolong dan tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Dzat Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Maka berkatalah Al-A’masy, Tidaklah kami pernah meninggalkan membaca kalimat tersebut sejak kami mendengarnya dari Syaqiq Al-Asady Al kuufy.

Barang siapa pada waktu pagi hari berduka atas perkara duniawi, maka sesungguhnya ia telah marah kepada tuhannya. Artinya, barang siapa yang bersedih karena urusan dunia, sesungguhnya ia telah marah kepada Tuhannya, karena ia tidak ridha dengan qadha’ (takdir Allah) dan tidak bersabar atas cobaan-Nya dan tidak beriman dengan kekuasaan-Nya. Karena sesungguhnya apa saja yang terjadi di dunia ini adalah atas qadha Ilahi Ta’ala dan atas kekuasaan-Nya.

Dan barang siapa yang merendahkan diri kepada orang kaya karena melihat kekayaannya, maka hilanglah 2/3 agamanya. Artinya bahwa disyari’atkannya penghormatan manusia kepada orang lain adalah karena alasan kebaikan dan ilmunya bukan karena kekayaannya. Karena sesungguhnya orang yang memuliakan harta, sesungguhnya ia telah menyia-nyiakan ilmu dan amal shaleh. Telah berkata Sayyidy Syaikh Abdul qadir Al- Jailany RA, “Tidak boleh tidak bagi seorang muslim pada setiap keadaannya selalu dalam tiga keadaan, yangpertama melaksanakan perintah, kedua menjauhi larangan, dan ketiga ridha dengan pembagian Tuhan.” Dan kondisi minimal bagi seorang mukmin adalah tidak terlepas dari salah satu dari tiga keadaan tersebut di atas, 32. telah berkata Sayidina Aby Bakar As-Shidiq RA, “Tiga perkara yang tidak akan dapat diperoleh dengan tiga perkara lainnya. Artinya ada tiga perkara, dimana tiga perkara tersebut tidak akan dapat diperoleh dengan tiga perkara, yaitu yang pertama Kekayaan dengan hanya berangan-angan. Sesungguhnya kekayaan tidak dapat diperoleh hanya dengan berangan-angan akan tetapi dengan pembagian dari Allah. yang ke dua Muda dengan bersemir. Maka tidak akan dapat diperoleh kemudaan usia hanya dengan menyemir rambut dan lain sebagainya. Yang ketiga, Kesehatan dengan obat-obatan.

Maqolah 32

Dari Abu Bakar As-Shidiq RA, “Tiga perkara tidak dapat di capai/didapatkan dengan tiga perkara lainnya : 1. Kekayaan dengan angan-angan. Artinya tidaklah kekayaan itu dapat diperoleh hanya dengan berangan-angan tanpa kerja nyata, dan pembagian dari Allah. 2. Muda usia dengan semir. Artinya tidaklah akan diperoleh keadaan menjadi muda hanya karena disemirnya rambut dan sebagainya. Akan tetapi orang yang sudah bertambah usia (tua) tidaklah mungkin berubah menjadi muda kembali meskipun dengan rambut disemir atau yang lainnya. Dan umur akan terus berjalan hingga akhirnya habislah umur itu kembali menghadap sang Khaliq. 3. Dan kesehatan dengan menggunakan obat-obatan. Artinya kesehatan tidak dapat diperoleh dengan

mengkonsumsi obat-obatan akan tetapi sesuai sunnah Allah harus dengan menjaga diri dengan makanan yang halal dan olah raga secara teratur serta rajin beribadah.

Maqolah 33

Dari Sahabat Umar RA, “bersikap kasih sayang dengan manusia adalah setengah dari sempurnanya aka”l. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hiban dan Thabrani dan Baihaqi dari Jabir bin abdiLlah dari Naby SAW bersabda, “Berperilaku baik terhadap manusia adalah shadaqah”. Artinya berperilaku yang baik terhadap manusia melalui ucapan dan perbuatan pahalanya sama dengan orang yang bersedekah. Dan sebagian dari suritauladan Naby dalam bersikap baik dalam pergaulan adalah beliau tidak pernah mencela makanan dan menghardik pelayan dan tidak pernah memukul wanita termasuk isteri beliau. Dan yang lebih tepat untuk perilaku yang baik ini adalah meninggalkan kesenangan duniawi karena tuntutan agama. Dan rajn bertanya (kepada Ulama) adalah setengah dari ilmu. Karena ilmu akan dipeorleh apabila kita rajin bertanya terhadap segala sesuatu yang kita tidak tahu. Dan rajin bekerja adalah setengah dari penghidupan. Karena dengan rajin bekerja kita akan memperoleh rizki sebagai bekal untuk kelangsungan hidup kita.

Maqolah ke 37

Dari Nabi Dawud AS, Diwahyukan di dalam kitab Zabur, – Wajib bagi orang yang berakal untuk tidak menyibukkan diri kecuali dalam tiga hal :

  1. Mempersiapkan bekal untuk perjalanan ke akhirat.
  2. Bergaul dengan pergaulan yang baik.
  3. Bekerja dengan baik mencari rizki yang halal untuk bekal ibadah kepada Allah karena mencari rizki yang halal adalah wajib hukumnya.

Maqolah ke 38

Dari Abu Hurairah RA. Nama beliau adalah AbduRrahman bin Shakhr. Beliau berkata, telah bersabda Naby SAW Ada tiga perkara yang menyelamatkan (dari adzab), tiga perkara yang merusakkan (membawa orang kepada kerusakannya), tiga perkara meningkatkan derajat (beberapa tingkatan di akhirat), tiga perkara menghapuskan dosa. Adapun tiga yang menyelamatkan adalah:

  1. Takut kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan.
  2. Sedang dalam faqir dan kekayaan.
  3. Seimbang dalam ridha dan marah (yaitu Ridha karena Allah dan marah karena Allah).

Adapun (tiga) yang merusakkan adalah:

  1. bakhil yang bersangatan (dengan tidak mau memberikan apa yang menjadi hak Allah dan haq makhluk). Dalam riwayat lain bakhil yang diperturutkan. (Adapun apabila sifat bakhil itu ada dalam diri seseorang akan tetapi tidak diperturutkan, maka tidaklah yang demikian ini merusakkan karena sifat bakhil adalah sifat yang lazim ada pada manusia).
  2. Hawa nafsu yang selalu diikuti.
  3. Dan herannya (‘ujub) manusia terhadap diri sendiri. (Artinya seseorang memandang dirinya dengan pandangan kesempurnaan dirinya disertai lalai terhadap ni’mat Allah Ta’ala dan merasa aman dari hilangnya ni’mat itu).

Adapun yang meninggikan derajat adalah:

  1. Menebarkan salam (artinya menebarkan salam kepada orang lain yang dikenal maupun yang tidak dikenal).
  2. Memberikan hidangan makanan (kepada tamu atau orang yang menderita kelaparan).
  3. Dan shalat pada waktu malam sedang manusia sedang tertidur lelap (yaitu mengerjakan shalat tahajud pada tengah malam ketika orang-orang sedang lalai dalam ni’matnya tidur).

Adapun yang dapat menghapus dosa adalah :

  1. Menyempurnakan wudhu pada saat yang sulit (artinya menyempurnakan wudhu pada saat udara sangat dingin dengan menjalankan sunah-sunahnya).
  2. Malangkahkan kaki untuk mengerjakan shalat berjama’ah.
  3. Menunggu shalat sesudah shalat (Untuk mengerjakan shalat berikutnya di masjid yang sama).

Maqolah ke 39 :

قال جبریل علیھ السلام یا محمد عش ما شئت فئنك میت, وأحبب من شئت فئنك مفارقة, واعمل ما شئت فئنك مجزى بھ,

Jibril As berkata, “Ya Muhammad hiduplah sesuka engkau karena sesungguhnya engkau akan meninggal dunia. Dan cintailah orang yang engkau suka karena engkau pasti akan berpisah (disebabkan kematian). Dan beramalah sesuka engkau karena engkau akan di beri pahala atas amal itu.

Maqolah ke 40 :

قال النبي صل الھ علیھ وسلم : ثلاثة نفر یظلھم الله تحت ظل عرشھ یوم لاظل الا ظلھ. المتوضئ فى المكاره, والماشى الى المساجد فى الظلم, ومطعم الجائع.

Tiga golongan yang akan mendapatkan naungan الله di bawah naungan ‘arsy-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. 1 orang yang berwudhu pada waktu yang sangat berat (dingin bersangatan). 2. orang yang pergi ke masjid dalam kegelapan )untuk mengerjakan shalat berjama’ah). 3. Orang yang memberi makan orang yang kelaparan.

Maqolah ke 41 :

قیل لابراھیم علیھ السلام, “لأي شیئ اتخذك الله خلیلا ؟ قال بثلاثت اشیاء : اخترت امر الله تعالى على أمر غیره, وما اھتممت بما تكفل الله لى وما تعیشت وما تغدیت الا مع الضیف

Ditanyakan kepada Nabi Ibrahim AS, “Dengan sehingga الله menjadikan engkau sebagai kekasih ?” Maka Ia menjawab, “Dengan tiga hal, Aku memilih melaksanakan perintah الله daripada perintah selain الله . Dan aku tidak bersedih hati atas apa yang telah الله tanggung untukku (dari rizki). Dan tidak sekali-kali aku makan malam atau makan pagi kecuali bersama-sama dengan tamu.

Telah diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim AS berjalan satu mil atau dua mil untuk mencari orang yang mau dijak makan bersamanya.

Maqolah ke 42 :

عن بعض الحكماء : ثلاثة اشیاء تفرج الغصص 1 ذكر الله تعالي, 2 ولقاء أولیائھ, 3 وكلام الحكماء

Diriwayatkan dari sebagian ahli hikmah (orang-orang yang pandai mengobati penyakit hati). Tiga perkara dapat menghilangkan kesusahan. 1 Dzikir kepada الله dengan lafadz apapun seperti banyak membaca kaliamat لاالھ الاالله dan kalimat لاحولولاقوةالابالله , atau dengan bermunajat kepada-Nya. 2 Bertemu kekasih / Aulia-Nya dari para ulama dan orang-orang saleh. 3 Mendengarkan kalam (nasihat) para hukama’ (orang yang menunjukkan kepada kebajikan dunia dan akhirat).

Maqolah ke 43

عن حسن البصرى رضي الله عنھ : من لا أدبلھ لاعلم لھ, ومن لاصبرلھ لادین لھ, ومن لاورع لھ لازلفى لھ.

Dari Hasan Al Bashri RA, Barang siapa yang tidak memiliki adab/etika (kepada الله dan kepada makhluk) maka tiadalah ilmu baginya. Barang siapa yang tidak memiliki kesabaran (karena menanggung bala’ dan menanggung disakiti oleh makhluk, dan atas beratnya menjahui maksiyat dan atas melaksanakan kewajiban), maka tiadalah agama baginya. Barang siapa yang tidak wara’ (dari yang haram dan syubhat) maka tidak ada pujian (martabat) baginya di hadapan الله dan tiada kedekatan baginya kepada الله

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

KEISTIMEWAAN DAN KEUTAMAAN ORANG YANG MENCARI ILMU

Setiap Manusia yang belajar satu bab ilmu maka lebih baik dari pada shalat seratus rakaat. Itulah yang dikatakan oleh KH Abdussalam Mujib, Pengasuh Ponpes Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo saat menerangkan isi kitab Kifayatul Atqiya di Kantor Ikatan Alumni Al-Khoziny Cabang Surabaya, Selasa (1/8).

“Nabi Muhammad SAW bersabda barang siapa berangkat pagi hanya untuk menuntut satu bab ilmu maka lebih baik dari pada sholat 100 rakaat, diriwayatkan oleh Imam Ibn Abdul Barr,” kata Kiai Abdussalam Mujib mengutip karya Sayyid Bakri Al-Makki Ibnu Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi.

Imam Syafi’i mengatakan mencari ilmu itu lebih utama daripada shalat sunnah. “Lebih banyak pahalanya mencari ilmu yang manfaat dari pada shalat sunnah,” lanjut Kiai Salam.

Keutamaan lainnya adalah apabila orang yang menuntut ilmu tersebut meninggal dunia maka itu dikatakan mati syahid. Hal itu sesuai dengan yang disabdakan oleh Rasulullah diriwayatkan Ibnu Munir dalam kitab Shahih bukhori.

“Hadist ini untuk memberi semangat kepada tholabul ilmi dan memberi penyemangat,” tutur terang Mustasyar PCNU Sidoarjo ini.

Imam Malik guru dari Imam Syafi’i bercerita ada seorang santri (orang yang belajar ilmu) yang ingin belajar kepada Imam Malik. Namanya Yahya, sang Imam pun langsung berkata, kalau menuntut ilmu janganlah tidur terus.

“Seorang santri harus betah melek malam. Kurangi tidur terutama di waktu malam,” terang Kiai Salam.

Diceritakan ada seorang pemuda yang bermimpi bertemu dengan santri yang meninggal di pondok. Semasa hidupnya dihabiskan di pesantren untuk belajar satu bab Ilmu. Saya melihat Allah SWT mengangkat satu drajat di surga. Lalu Allah berkata kepada malaikatNya agar menambai derajat itu dengan warisan para nabi.

Selain keutamaannya, Kiai Salam juga membacakan kitab di halaman 64, yang diterangkan, barang siapa yang mencari ilmu agar menyaingi atau mau mengalahkan orang lain atau memalingkan wajahnya dari manusia atau ingin punya pengaruh. Maka Allah akan memasukkan ke dalam neraka.

“Manusia itu memiliki dua jatah yaitu di surga atau di neraka. Kalau ada manusia yang seperi ini maka dia mengambil jatahnya di neraka,” pungkas Kiai Salam. (Rof Maulana/Fathoni)

Keutamaan Menuntut Ilmu dalam Kitab Kifayatul Atqiya

Surabaya, NU Online

Setiap Manusia yang belajar satu bab ilmu maka lebih baik dari pada shalat seratus rakaat. Itulah yang dikatakan oleh KH Abdussalam Mujib, Pengasuh Ponpes Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo saat menerangkan isi kitab Kifayatul Atqiya di Kantor Ikatan Alumni Al-Khoziny Cabang Surabaya, Selasa (1/8).

“Nabi Muhammad SAW bersabda barang siapa berangkat pagi hanya untuk menuntut satu bab ilmu maka lebih baik dari pada sholat 100 rakaat, diriwayatkan oleh Imam Ibn Abdul Barr,” kata Kiai Abdussalam Mujib mengutip karya Sayyid Bakri Al-Makki Ibnu Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi.

Imam Syafi’i mengatakan mencari ilmu itu lebih utama daripada shalat sunnah. “Lebih banyak pahalanya mencari ilmu yang manfaat dari pada shalat sunnah,” lanjut Kiai Salam.

Keutamaan lainnya adalah apabila orang yang menuntut ilmu tersebut meninggal dunia maka itu dikatakan mati syahid. Hal itu sesuai dengan yang disabdakan oleh Rasulullah diriwayatkan Ibnu Munir dalam kitab Shahih bukhori.

“Hadist ini untuk memberi semangat kepada tholabul ilmi dan memberi penyemangat,” tutur terang Mustasyar PCNU Sidoarjo ini.

Imam Malik guru dari Imam Syafi’i bercerita ada seorang santri (orang yang belajar ilmu) yang ingin belajar kepada Imam Malik. Namanya Yahya, sang Imam pun langsung berkata, kalau menuntut ilmu janganlah tidur terus.

“Seorang santri harus betah melek malam. Kurangi tidur terutama di waktu malam,” terang Kiai Salam.

Diceritakan ada seorang pemuda yang bermimpi bertemu dengan santri yang meninggal di pondok. Semasa hidupnya dihabiskan di pesantren untuk belajar satu bab Ilmu. Saya melihat Allah SWT mengangkat satu drajat di surga. Lalu Allah berkata kepada malaikatNya agar menambai derajat itu dengan warisan para nabi.

Selain keutamaannya, Kiai Salam juga membacakan kitab di halaman 64, yang diterangkan, barang siapa yang mencari ilmu agar menyaingi atau mau mengalahkan orang lain atau memalingkan wajahnya dari manusia atau ingin punya pengaruh. Maka Allah akan memasukkan ke dalam neraka.

“Manusia itu memiliki dua jatah yaitu di surga atau di neraka. Kalau ada manusia yang seperi ini maka dia mengambil jatahnya di neraka,” pungkas Kiai Salam.

HUKUM QADZAF ATAU MENUDUH ZINA TERHADAP ORANG LAIN

BAB QADZAF

(Fasal) menjelaskan tentang qadzaf.      

(فَصْلٌ) فِيْ بَيَانِ الْقَذْفِ

Qadzaf secara bahasa adalah menuduh secara mutlak. Dan secara syara’ adalah menuduh zina atas dasar mencemarkan nama baik, agar supaya mengecualikan persaksian zina.   

وَهُوَ لُغَةً الرَّمْيُ وَشَرْعًا الرَّمْيُ بِالزِّنَا عَلَى جِهَّةِ التَّعْيِيْرِ لَتَخْرُجَ الشَّهَادَةُ بِالزِّنَا

Ketika seseorang menuduha orang lain telah berbuat zina seperti ucapannya, “engkau telah zina,” maka ia berhak mendapatkan had qadzaf berupa delapan puluh cambukan sebagaimana yang akan dijelaskan. Lafadz “qadzaf” dengan menggunakan huruf dzal yang diberi titik satu,   

(وَإِذَا قَذَفَ) بِذَالٍ مُعْجَمَةٍ (غَيْرَهُ بِالزِّنَا) كَقَوْلِهِ زَنَيْتَ (فَعَلَيْهِ حَدُّ الْقَذْفِ) ثَمَانِيْنَ جَلْدَةً كَمَا سَيَأْتِيْ

Hal ini jika memang si penuduh bukan ayah atau ibu orang yang dituduh, walaupun keduanya hingga sampai atas sebagaimana yang akan dijelaskan.         

هَذَا إِنْ لَمْ يَكُنِ الْقَاذِفُ أَبًّا أَوْ أُمًّا وَإِنْ عَلَيَا كَمَا سَيَأْتِيْ

Syarat Had Qadzaf

Dengan delapan syarat. Tiga syarat di antaranya pada orang yang menuduh. Dalam sebagian redaksi dengan menggunakan lafadz, “tsalatsun.              

(بِثَمَانِيَةِ شَرَائِطَ ثَلَاثَةٍ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ ثَلَاثٌ (مِنْهَا فِيْ الْقَاذِفِ

Yaitu, si penuduh adalah orang yang sudah baligh dan berakal.   

وَهُوَ أَنْ يَكُوْنَ بَالِغًا عَاقِلًا)

Sehingga anak kecil dan orang gila tidak berhak dihad sebab keduanya menuduh zina pada seseorang.

فَالصَّبِيُّ وَالْمَجْنُوْنُ لَا يُحَدَّانِ بِقَذْفِهِمَا شَخْصًا

Si penuduh bukan orang tua orang yang dituduh.             

(وَأَنْ لَا يَكُوْنَ وَالِدًا لِلْمَقْذُوْفِ)

Sehingga, seandainya seorang ayah atau ibu walaupun keduanya hingga ke atas menuduh zina terhadap anaknya walaupun hingga ke bawah, maka ia tidak berhak mendapat had.             

فَلَوْ قَذَفَ الْأَبُّ أَوِ الْأُمُّ وَإِنْ عَلَا وَلَدَهُ وَإِنْ سَفُلَ لَا حَدَّ عَلَيْهِ.

Dan lima syarat pada maqdzuf (orang yang dituduh).      

(وَ خَمْسَةٌ فِيْ الْمَقْذُوْفِ

Yaitu, orang yang dituduh adalah orang islam, baligh, berakal, merdeka dan terjaga dari zina.       

وَهُوَ أَنْ يَكُوْنَ مُسْلِمًا بَالِغًا عَاقِلًا حُرًّا عَفِيْفًا) عَنِ الزِّنَا

Sehingga tidak ada hukum had sebab seseorang menuduh zina pada orang kafir, anak kecil, orang gila, budak atau orang yang pernah melakukan zina.        

فَلَا حَدَّ بِقَذْفِ الشَّخْصِ كَافِرًا أَوْ صَغِيْرًا أَوْ مَجْنُوْنًا أَوْ رَقِيْقًا أَوْ زَانِيًا

Jumlah Had Qadzaf

Orang merdeka yang menuduh zina dihukum had sebanyak delapan puluh cambukan.

(وَيُحَدُّ الْحُرُّ) الْقَاذِفُ (ثَمَانِيْنَ) جَلْدَةً

Dan seorang budak -yang menuduh zina- mendapat had empat puluh cambukan.              

(وَ) يُحَدُّ (الْعَبْدُ أَرْبَعِيْنَ) جَلْدَةً

Gugurnya Had Qadzaf

Had qadzaf menjadi gugur dari orang yang menuduh sebab tiga perkara,

(وَيَسْقُطُ) عَنِ الْقَاذِفِ (حَدُّ الْقَذْفِ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ)

Salah satunya mendatangkan saksi, baik yang dituduh adalah orang lain atau istrinya sendiri.       

أَحَدُهَا (إِقَامَةُ الْبَيِّنَةِ) سَوَاءٌ كَانَ الْمَقْذُوْفُ أَجْنَبِيًّا أَوْ زَوْجَةً

Yang kedua disebutkan di dalam perkataan mushannif, “atau orang yang dituduh memaafkan”, maksudnya pada orang yang menuduh.  

وَالثَّانِيْ مَذْكُوْرٌ فِيْ قَوْلِهِ (أَوْ عَفْوُ الْمَقْذُوْفِ) أَيْ عَنِ الْقَاذِفِ

Yang ketiga disebutkan di dalam perkataan beliau, “melakukan sumpah li’an di dalam haknya istri.”

وَالثَّالِثُ مَذْكُوْرٌ فِيْ قَوْلِهِ (وَ اللِّعَانُ فِيْ حَقِّ الزَّوْجَةِ)

Li’an telah dijelaskan di dalam perkataan mushannif, “fasal, ketika seseorang menuduh …..”        

وَسَبَقَ بَيَانُهُ فِيْ قَوْلِ الْمُصَنِّفِ فَصْلٌ وَإِذَا رَمَى الرَّجُلُ إِلَخْ.

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

INILAH SYARI’AT ISLAM DALAM ENJELASKAN HUKUMAN BAGI PEZINA

Lafadz al hudud adalah bentuk jama’ dari lafadz “had”. Had secara bahasa bermakna mencegah.            

جَمْعُ حَدٍّ وَهُوَ لُغَةً الْمَنْعُ

Disebut dengan nama Had, karena bisa mencegah dari melakukan perbuatan-perbuatan keji. 

وَسُمِّيَتِ الْحُدُوْدُ بِذَلِكَ لِمَنْعِهَا مِنِ ارْتِكَابِ الْفَوَاحِشِ

Had Zina

Mushannif memulai penjelasan macam-macam had dengan had zina di dalam pertengahan perkataan beliau.

وَبَدَأَ الْمُصَنِّفُ مِنَ الْحُدُوْدِ بِحَدِّ الزِّنَا الْمَذْكُوْرِ فِيْ أَثْنَاءِ قَوْلِهِ

Zina ada dua macam, zina muhshan dan gairu muhshan.              

(وَالزِّنَى عَلَى ضَرْبَيْنِ مُحْصَنٍ وَغَيْرِ مُحْصَنٍ

Zina muhshan hukumannya adalah diranjam dengan batu yang standar, tidak dengan kerikil kecil dan tidak dengan batu yang terlalu besar.

Dan sebentar lagi akan dijelaskan bahwa sesungguhnya orang yang muhshan adalah orang yang sudah baligh, berakal, dan merdeka yang telah memasukkan hasyafahnya atau kira-kira hasyafahnya orang yang terpotong hasyafahnya ke vagina di dalam nikah yang sah.  

فَالْمُحْصَنُ) وَسَيَأْتِيْ قَرِيْبًا أَنَّهُ الْبَالِغُ الْعَاقِلُ الْحُرُّ الَّذِيْ غَيَّبَ حَشَفَتَهُ أَوْ قَدْرَهَا مِنْ مَقْطُوْعِهَا بِقُبُلٍ فِيْ نِكَاحٍ صَحِيْحٍ (حَدُّهُ الرَّجْمُ)  بِحِجَارَةٍ مُعْتَدِلَةٍ لَا بِحَصًى صَغِيْرَةٍ وَلَا بِصَخْرٍ

Hukuman zina ghairul muhshan dari orang laki-laki atau perempuan adalah seratus kali cambukan.

(وَغَيْرُ الْمُحْصَنِ) مِنْ رَجُلٍ أَوِ امْرَأَةٍ (حَدُّهُ مِائَةُ جَلْدَةٍ)

Disebut dengan jaldah, karena pukulan itu mengenai kulit.       

سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِاتِّصَالِهَا  بِالْجِلْدِ

Dan mengucilkan selama setahun ke tempat yang berjarak masafatul qasri atau lebih sesuai dengan kebijakan imam.

(وَتَغْرِيْبُ عَامٍ إِلَى مَسَافَةِ الْقَصْرِ) فَأَكْثَرَ بِرَأْيِ الْإِمَامِ

Masa setahun terhitung dari awal perjalanan orang yang zina, tidak sejak sampainya dia ketempat pengucilan.              

وَتُحْسَبُ مُدَّةُ الْعَامِ مِنْ أَوَّلِ سَفَرِ الزَّانِيْ لَا مِنْ وُصُوْلِهِ مَكَانَ التَّغْرِيْبِ

Yang lebih utama pengucilan tersebut setelah hukuman jilid dilaksanakan.       

وَالْأَوْلَى أَنْ يَكُوْنَ بَعْدَ الْجِلْدِ.

Syarat-Syarat Muhshan

Syarat ihshan ada empat.            

(وَشَرَائِطُ الْإِحْصَانِ أَرْبَعٌ)

Yang pertama dan kedua adalah baligh dan berakal.      

الْأَوَّلُ وَالثَّانِيْ (الْبُلُوْغُ وَالْعَقْلُ)

Sehingga tidak ada had bagi anak kecil dan orang gila, bahkan keduanya berhak diberi pengajaran dengan sesuatu yang membuat keduanya jerah untuk melakukan zina.           

فَلَا حَدَّ عَلَى صَبِيٍّ وَمَجْنُوْنٍ بَلْ يُؤَدَّبَانَ بِمَا يُزْجِرُهُمَا عَنِ الْوُقُوْعِ فِيْ الزِّنَا

Yang ketiga adalah merdeka.    

(وَ) الثَّالِثُ (الْحُرِّيَّةُ)

Sehingga budak, budak muba’adl, mukatab, dan ummi walad bukan orang yang muhshan, walaupun masing-masing dari mereka pernah melakkan wathi’ di dalam nikah yang sah.          

فَلَا يَكُوْنُ الرَّقِيْقُ وَالْمُبَعَّضُ وَالْمُكَاتَبُ وَأُمُّ الْوَلَدِ مُحْصَنًا وَإِنْ وَطِئَ كُلٌّ مِنْهُمْ فِيْ نِكَاحٍ صَحِيْحٍ

Yang ke empat adalah wujudnya wathi’ dari orang islam atau kafir dzimmi di dalam nikah yang sah.

(وَ) الرَّابِعُ (وُجُوْدُ الْوَطْءٍ) مِنْ مُسْلِمٍ أَوْ ذِمِيٍّ (فِيْ نِكَاحٍ صَحِيْحٍ)

Dan di dalam sebagian redaksi menggunakan lafadz, “fi an nikah ash shahih.”  

وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ فِيْ النِّكَاحِ الصَّحِيْحِ

Yang kehendaki mushannif dengan wathi’ adalah memasukkan hasyafah atau kira-kira hasyafahnya orang yang terpotong hasyafahnya ke dalam vagina.  

وَأَرَادَ بِالْوَطْءِ تَغْيِيْبَ الْحَشَفَةِ أَوْ قَدْرِهَا مِنْ مَقْطُوْعِهَا بِقُبُلٍ

Dengan keterangan, “di dalam nikah yang sah,” mengecualikan wathi’ di dalam nikah yang fasid. Maka ihshan tidak bisa hasil dengan wathi’ tersebut.   

وَخَرَجَ بِالصَّحِيْحِ الْوَطْءُ فِيْ نِكَاحٍ فَاسِدٍ فَلَا يَحْصُلُ بِهِ التَّحْصِيْنُ

Had budak laki-laki dan perempuan adalah separuh had orang merdeka.            

(وَالْعَبْدُ وَالْأَمَّةُ حَدُّهُمَا نِصْفُ حَدِّ الْحُرِّ)

Sehingga masing-masing dari keduanya dihukum sebanyak lima kali cambukan dan dikucilkan selama setengah tahun.

فَيُحَدُّ كُلٌّ مِنْهُمَا خَمْسِيْنَ جَلْدَةً وَيُغَرَّبُ نِصْفَ عَامٍ

Seandainya mushannif mengatakan, “orang yang memiliki sifat budak, maka hadnya ….”, niscaya akan lebih baik, karena mencakup budak mukatab, muba’adl, dan ummu walad.            

وَلَوْ قَالَ الْمُصَنِّفُ وَمَنْ فِيْهِ رِقٌّ حَدُّهُ إِلَخْ كَانَ أَوْلَى لِيَعُمَّ الْمُكَاتَبَ وَالْمُبَعَّضَ وَأُمَّ الْوَلَدِ .

Sodomi

Hukum sodomi dan menyetubuhi binatang adalah seperti hukumnya zina.        

(وَحُكْمُ اللِّوَاطِ وَإِتْيَانِ الْبَهَائِمِ كَحُكْمِ الزِّنَا)

Sehingga, barang siapa melakukan sodomi dengan seseorang, dengan arti mewathinya pada dubur, maka ia berhak dihad menurut pendapat al madzhab.               

فَمَنْ لَاطَ بِشَخْصٍ بِأَنْ وَطِئَهُ فِيْ دُبُرِهِ حُدَّ عَلَى الْمَذْهَبِ

Dan barang siapa menyetubuhi binatang, maka harus dihad sebagaimana penjelasan mushannif, akan tetapi menurut pendapat yang kuat sesungguhnya orang tersebut berhak dita’zir.         

وَمَنْ أَتَى بَهِيْمَةً حُدَّ كَمَا قَالَ الْمُصَنِّفُ لَكِنِ الرَّاجِحُ أَنَّهُ يُعَزَّرُ

Barang siapa mewathi wanita lain pada anggota selain farji, maka ia berhak dita’zir.     

(وَمَنْ وَطِئَ) أَجْنَبِيَّةً (فِيْمَا دُوْنَ الْفَرْجِ عُزِّرَ

Bagi imam tidak diperkenankan menta’zir hingga mencapai minimal had.          

وَلَا يُبَلِّغُ) الْإِمَامُ (بِالتَّعْزِيْرِ أَدْنَى الْحُدُوْدِ)

Sehingga, jika imam menta’zir seorang budak laki-laki, maka di dalam menta’zirnya, wajib kurang dari dua puluh cambukan.         

فَإِنْ عَزَّرَ عَبْدًا وَجَبَ أَنْ يَنْقُصَ فِيْ تَعْزِيْرِهِ عَنْ عِشْرِيْنَ جَلْدَةً

Atau menta’zir orang merdeka, maka di dalam menta’zirnya wajib kurang dari empat puluh cambukan, karena sesungguhnya itu adalah batas minimal had masing-masing dari keduanya.      

أَوْ عَزَّرَ حُرًّا وَجَبَ أَنْ يَنْقُصَ فِيْ تَعْزِيْرِهِ عَنْ أَرْبَعِيْنَ جَلْدَةً  لِأَنَّهُ أَدْنَى حَدِّ كُلٍّ مِنْهُمَا

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)