PENJELASAN QURBAN DALAM KITAB FATHUL QORIB

(Fasal) Menjelaskan hukum-hukum kurban.
(فَصْلٌ)

فِيْ أَحْكَامِ (الْأُضْحِيَّةِ)

Al udhiyah, dengan membaca dlammah huruf hamzahnya menurut pendapat yang paling masyhur, yaitu nama binatang ternak yang disembelih pada hari Raya Kurban dan hari At Tasyriq karena untuk mendekatkan diri pada Allah Swt.
بِضَمِّ الْهَمْزَةِ فِيْ الْأَشْهَرِ وَهُوَ اسْمٌ لِمَا يُذْبَحُ مِنَ النَّعَمِ يَوْمَ عِيْدِ النَّحْرِ وَأَيَّامَ التَّشْرِيْقِ تَقَرُّبًا إِلَى اللهِ تَعَالَى

Hukum Kurban

Al udhiyah hukumnya adalah sunnah kifayah mu’akadah.
(وَالْأُضْحِيِّةُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ)

عَلَى الْكِفَايَةِ

Sehingga, ketika salah satu dari penghuni suatu rumah telah adalah yang melaksanakannya, maka sudah mencukupi dari semuanya.
فَإِذَا أَتَى بِهَا وَاحِدٌ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ كَفَى عَنْ جَمِيْعِهِمْ

Al udhiyah tidak bisa wajib kecuali dengan nadzar.
وَلَا تَجِبُ الْأُضْحِيَّةُ إِلَّا بِنَذْرٍ

Binatang Kurban

Yang bisa mencukupi di dalam Al udhiyah adalah kambing domba yang berusia satu tahun dan menginjak dua tahun.
(وَيُجْزِئُ فِيْهَا الْجَذْعُ مِنَ الضَّأْنِ)

وَهُوَ مَا لَهُ سَنَةٌ وَطَعَنَ فِيْ الثَّانِيَةِ

Dan kambing kacang yang berusia dua tahun dan menginjak tiga tahun.
(وَالثَّنِيُّ مِنَ الْمَعْزِ)

وَهُوَ مَا لَهُ سَنَتَانِ وَطَعَنَ فِيْ الثَّالِثَةِ

Dan onta ats tsaniyah yang berusia lima tahun dan memasuki usia enam tahun.
(وَالثَّنِيُّ مَنَ الْإِبِلِ)

مَا لَهُ خَمْسُ سِنِيْنَ وَطَعَنَ فِيْ السَّادِسَةِ

Dan sapi ats tsaniyah yang berusia dua tahun dan memasuki usia tiga tahun.
(وَالثَّنِيُّ مِنَ الْبَقَرَةِ)

مَالَهُ سَنَتَانِ وَطَعَنَ فِيْ الثَّالِثَةِ

Untuk Siapa Kurban ???

Satu ekor onta cukup digunakan kurban untuk tujuh orang yang bersama-sama melakukan kurban dengan satu onta.
(وَتُجْزِئُ الْبَدَنَةُ عَنْ سَبْعَةٍ)

اشْتَرَكُوْا فِيْ التَّضْحِيَّةِ بِهَا

Begitu juga satu ekor sapi cukup digunakan kurban untuk tujuh orang.
(وَ)

تُجْزِئُ (الْبَقَرَةُ عَنْ سَبْعَةٍ) كَذَلِكَ

Satu ekor kambing hanya cukup digunakan kurban untuk satu orang. Dan satu ekor kambing lebih afdlal daripada bersama-sama dengan orang lain melakukan kurban dengan onta.
(وَ)

تُجْزِئُ (الشَّاةُ عَنْ) شَخْصٍ (وَاحِدٍ) وَهِيَ أَفْضَلُ مِنْ مُشَارَكَتِهِ فِيْ بَعِيْرٍ

Kurban yang paling utama adalah onta, kemudian sapi lalu kambing.
وَأَفْضَلُ أَنْوَاعِ الْأُضْحِيَّةِ إِبِلٌ ثُمَّ بَقَرٌ ثُمَّ غَنَمٌ

Binatang Yang Tidak Sah

Ada empat binatang, dalam sebagian redaksi menggunakan bahasa, “arba’atun” yang tidak mencukupi untuk dijadikan kurban
(وَأَرْبَعٌ)

وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ وَأَرْبَعَةٌ (لَا تُجْزِئُ فِيْ الضَّحَايَا)

Salah satunya adalah binatang yang buta satu matanya yang nampak jelas, walaupun bulatan matanya masih utuh menurut pendapat al ashah.
أَحَدُهَا (الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ) أَيْ ظَاهِرٌ (عِوَرُهَا) وَإِنْ بَقِيَتِ الْحَدَقَةُ فِيْ الْأَصَحِّ

Yang kedua adalah binatang pincang yang nampak jelas pincangnya, walaupun pincang tersebut terjadi saat menidurkan miring binatang itu karena untuk disembelih saat prosesi kurban sebab gerakan binatang tersebut.
(وَ)

الثَّانِيْ (الْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ عَرَجُهَا) وَلَوْ كَانَ حُصُوْلُ الْعَرَجِ لَهَا عِنْدَ إِضْجَاعِهَا لِلتَّضْحِيَّةِ بِهَا بِسَبَبِ اضْطِرَابِهَا

Yang ketiga adalah binatang sakit yang nampak jelas sakitnya.
(وَ)

الثَّالِثُ (الْمَرِيْضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا)

Dan tidak masalah jika hal-hal ini hanya sedikit saja.
وَلَا يَضُرُّ يَسِيْرُ هَذِهِ الْأُمُوْرِ

Yang ke empat adalah binatang al ‘ajfa’, yaitu binatang yang hilang bagian otaknya sebab terlalu kurus.
(وَ)

الرَّابِعُ (الْعَجْفَاءُ) وَهِيَ (الَّتِيْ ذَهَبَ مُخُّهَا) أَيْ ذَهَبَ دِمَاغُهَا (مِنَ الْهُزَالِ) الْحَاصِلِ لَهَا

Sudah dianggap cukup berkurban dengan binatang yang dikebiri, maksudnya binatang yang dipotong dua pelirnya, dan binatang yang pecah tanduknya jika memang tidak berpengaruh apa-apa pada dagingnya.
(وَيُجْزِئُ الْخَصِيُّ) أَيِ الْمَقْطُوْعُ الْخَصِيَّتَيْنِ (وَالْمَكْسُوْرُ القَرْنِ) إِنْ لَمْ يُؤَثِّرْ فِيْ اللَّحْمِ

Begitu juga mencukupi berkurban dengan binatang yang tidak memiliki tanduk, dan binatang seperti ini disebut dengan al jalja’.
وَيُجْزِئُ أَيْضًا فَاقِدَةُ الْقُرُوْنِ وَهِيَ الْمُسَمَّةُ بِالْجَلْجَاءِ

Tidak mencukupi berkurban dengan binatang yang terpotong seluruh telinganya, sebagiannya atau terlahir tanpa telinga.
(وَلَا تُجْزِئُ الْمَقْطُوْعَةُ)

كُلُّ (الْأُذُنِ) وَلَا بَعْضُهَا وَلَا الْمَخْلُوْقَةُ بِلَا أُذُنٍ

Dan tidak mencukupi binatang yang terpotong seluruh atau sebagian ekornya.
(وَ)

لَا الْمَقْطُوْعَةُ (الذَّنْبِ) وَلَا بَعْضِهِ

Waktu Pelaksanaan Kurban

Waktu penyembelihan kurban dimulai dari waktunya sholat Hari Raya, maksudnya Hari Raya Kurban.
(وَ) يَدْخُلُ (وَقْتُ الذَبْحِ) لِلْأُضْحِيَّةِ (مِنْ وَقْتِ صَلَاةِ الْعِيْدِ) أَيْ عِيْدِ النَّحْرِ

Ungkapan kitab ar Raudlah dan kitab asalnya, “waktu pelaksanaan kurban masuk ketika terbitnya matahari Hari Raya Kurban dan telah melewati kira-kira waktu yang cukup untuk melaksanakan sholat dua rakaat dan dua khutbah yang dilakukan agak cepat.” Ungkapan kitab ar Raudlah dan kitab asalnya telah selesai.
وَعِبَارَةُ الرَّوْضَةِ وَأَصْلِهَا يَدْخُلُ وَقْتُ التَّضْحِيَّةِ إِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ يَوْمَ النَّحْرِ وَمَضَى قَدْرُ رَكْعَتَيْنِ وَخُطْبَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ انْتَهَى

Waktu penyembelihan binatang kurban tetap ada hingga terbenamnya matahari di akhir hari at Tasyriq. Hari at Tasyriq adalah tiga hari yang bersambung setelahnya tanggal sepuluh Dzil Hijjah.
وَيَسْتَمِرُّ وَقْتُ الذَّبْحِ (إِلَى غُرُوْبِ الشَّمْسِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ) وَهِيَ الثَّلَاثَةُ الْمُتَّصِلَةُ بِعَاشِرِ الْحِجَّةِ

Kesunnahan Kurban

Disunnahkan melakukan lima perkara saat pelaksanaan kurban,
(وَيُسْتَحَبُّ عِنْدَ الذَّبْحِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ)

Salah satunya adalah membaca basmalah. Maka orang yang menyembelih sunnah mengucapkan, “bismillah”. Dan yang paling sempurna adalah, “bismillahirahmanirrahim.”
أَحَدُهَا (التَّسْمِيَّةُ) فَيَقُوْلُ الذَّابِحُ “بِسْمِ اللهِ” وَالْأَكْمَلُ “بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ”

Dan seandainya orang yang menyembelih tidak mengucapkan basmalah, maka binatang kurban yang disembelih hukumnya halal.
وَلَوْ لَمْ يُسَمِّ حَلَّ الْمَذْبُوْحُ

Yang kedua adalah membaca shalawat kepada baginda Nabi Saw.
(وَ)

الثَّانِيْ (الصَّلَّاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)

Dimakruhkan mengumpulkan diantara nama Allah dan nama Rasul-Nya.
وَيُكْرَهُ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ اسْمِ اللهِ وَاسْمِ رَسُوْلِهِ

Yang ketiga adalah menghadapkan binatang kurbannya ke arah kiblat.
(وَ)

الثَّالِثُ (اسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ) بِالذَّبِيْحَةِ

Maksudnya, orang yang menyembelih menghadapkan leher binatang yang disembelih kearah kiblat. Dan ia sendiri juga menghadap kiblat.
أَيْ يُوَجِّهُ الذَّابِحُ مَذْبَحَهَا لِلْقِبْلَةِ وَيَتَوَجَهُ هُوَ أَيْضًا.

Ke empat adalah membaca takbir tiga kali, maksudnya sebelum atau setelah membaca basmalah, sebagaimana yang dijelaskan oleh imam al Mawardi.
(وَ)

الرَّابِعُ (التَّكْبِيْرُ) أَيْ قَبْلَ التَّسْمِيَّةِ أَوْ بَعْدَهَا ثَلَاثًا كَمَا قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ

Yang ke lima adalah berdoa semoga diterima oleh Allah Swt.
(وَ)

الْخَامِسُ (الدُّعَاءُ بِالْقَبُوْلِ)

Maka orang yang menyembelih berkata, “ya Allah, ini adalah dari Engkau dan untuk Engkau, maka sudilah Engkau menerimanya.” Maksudnya, “binatang kurban ini adalah nikmat dari-Mu untukku, dan aku mendekatkan diri pada-Mu dengan binatang kurban ini, maka terimalah binatang kurban ini dariku.”
فَيَقُوْلُ الذَّابِحُ “اللهم هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ” أَيْ هَذِهِ الْأُضْحِيَّةُ نِعْمَةٌ مِنْكَ عَلَيَّ وَتَقَرَّبْتُ بِهَا إِلَيْكَ فَتَقَبَّلْهَا مِنِّيْ

Memakan Daging Kurban

Orang yang melaksanakan kurban tidak diperkenankan memakan apapun dari kurban yang dinadzari.
(وَلَا يَأْكُلُ الْمُضَّحِيْ شَيْئًا مِنَ الْأُضْحِيَّةِ الْمَنْذُوْرَةِ)

Bahkan bagi dia wajib mensedekahkan semua dagingnya.
بَلْ تَجِبُ عَلَيْهِ التَّصَدُّقُ بِجَمِيْعِ لَحْمِهَا

Kemudian, seandainya ia menunda untuk mensedekahkannya hingga rusak, maka wajib baginya untuk mengganti.
فَلَوْ أَخَّرَهَا فَتَلِفَتْ لَزِمَهُ ضَمَانُهُ

Ia diperkenankan memakan sepertiga dari binatang kurban yang sunnah menurut pendapat al Jadid.
(وَيَأْكُلُ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ الْمُتَطَوِّعَةِ بِهَا) ثُلُثًا عَلَى الْجَدِيْدِ

Sedangkan untuk dua sepertiganya, maka ada yang mengatakan harus disedekahkan, dan ini diunggulkan oleh imam an Nawawi di dalam kitab Tashhih at Tanbih.
وَأَمَّا الثُّلُثَانِ فَقِيْلَ يُتَصَدَّقُ بِهِمَا وَرَجَّحَهُ النَّوَوِيُّ فِيْ تَصْحِيْحِ التَّنْبِيْهِ

Dan ada yang mengatakan, bahwa ia menghadiahkan sepertiga dari dagingnya kepada kaum muslimin yang kaya dan mensedekahkan sepertiganya kepada kaum faqir.
وَقِيْلَ يُهْدِيْ ثُلُثًا لِلْمُسْلِمِيْنَ الْأَغْنِيَاءَ وَيَتَصَدَّقُ بِثُلُثٍ عَلَى الْفُقَرَاءِ مِنْ لَحْمِهَا

Di dalam kitab ar Raudlah dan kitab asalnya, imam an Nawawi tidak mengunggulkan salah satu dari dua pendapat ini.
وَلَمْ يُرَجِّحِ النَّوَوِيُّ فِيْ الرَّوْضَةِ وَأَصْلِهَا شَيْئًا مِنْ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ

Menjual Daging Kurban

Tidak boleh menjual, maksudnya bagi orang yang melaksanakan kurban diharamkan untuk menjual bagian dari binatang kurbannya, maksudnya dari daging, bulu atau kulitnya.
(وَلَا يَبِيْعُ) أَيْ يَحْرُمُ عَلَى الْمُضَّحِيْ بَيْعُ شَيْئٍ (مِنَ الْأُضْحِيَّةِ) أَيْ مِنْ لَحْمِهَا أَوْ شَعْرِهَا أَوْ جِلْدِهَا

Begitu juga haram menjadikan bagian dari binatang kurban sebagai ongkos untuk pejagal, walaupun berupa binatang kurban yang sunnah.
وَيَحْرُمُ أَيْضًا جَعْلُهُ أُجْرَةً لِلْجَزَارِ وَلَوْ كَانَتِ الْأُضْحِيَّةِ تَطَوُّعًا

Wajib memberi makan bagian dari binatang kurban yang sunnah kepada kaum faqir dan kaum miskin.
(وَيُطْعِمُ) حَتْمًا مِنَ الْأُضْحِيَّةِ الْمُتَطَوِّعَةِ بِهَا (الْفُقَرَاءَ وَالْمَسَاكِيْنَ)

Yang paling utama adalah mensedekahkan semuanya kecuali satu atau beberapa cuil daging yang dimakan oleh orang yang melakukan kurban untuk mengharapkan berkah. Karena sesungguhnya hal itu disunnahkan baginya.
وَالْأَفْضَلُ التَّصَدُّقُ بِجَمِيْعِهَا إِلَّا لُقْمَةً أَوْ لُقَمًا يَتَبَرَّكُ الْمُضَّحِيْ بِأَكْلِهَا فَإِنَّهُ يُسَنُّ لَهُ ذَلِكَ

Ketika ia memakan sebagian dan mensedekahkan yang lainnya, maka ia telah mendapatkan pahala berkurban semuanya dan pahala sedekah sebagiannya saja.
وَإِذَا أَكَلَ الْبَعْضَ وَتَصَدَّقَ بِالْبَاقِيْ حَصَلَ لَهُ ثَوَابُ التَّضْحِيَّةِ بِالْجَمِيْعِ وَالتَّصَدُّقِ بِالْبَعْضِ

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

HIKMAH MENGINGAT MATI DAN HIRUK-PIKUKNYA KUBUR

بسم الله الرحمن الرحيم

Bab Ke 37 Keutamaan Mengingat Mati
(الباب السابع والثلاثون): : في فضيلة ذكر الموت

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Kematian itu jembatan yang menyambungkan seorang kekasih kepada kekasihnya”}
وقال عليه السلام: {المَوْتُ جِسْرٌ يُوصلُ الحَبِيبَ إلى الحَبيبِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Kematian itu ada empat: kematian ulama, kematian orang kaya, kematian orang miskin dan kematian penguasa. Kematian ulama menimbulkan kekacauan dalam agama, kematian orang kaya menimbulkan penyesalan, kematian orang miskin menimbulkan ketenangan dan kematian penguasa menimbulkan fitnah.”}
وقال عليه السلام: {المَوْتُ أَرْبَعٌ مَوْتُ العُلَمَاءِ وَمَوْتُ الأَغْنِيَاءِ وَمَوْتُ الفُقَرَاءِ وَمَوْتُ الأُمَرَاءِ فَمَوْتُ العُلَمَاءِ ثُلمَةٌ في الدِّينِ وَمَوْتُ الأَغْنِيَاءِ حَسَرَةٌ وَمَوْتُ الفُقَرَاءِ رَاحَةٌ وَمَوْتُ الأُمَرَاءِ فِتْنَةٌ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Sesungguhnya para wali Allah itu tidak meninggal, mereka hanya berpindah dari satu negeri ke negeri lainnya.”}
وقال عليه السلام: {إنَّ أَوْلِيَاءَ الله لا يَمُوتُونَ وإنّما يَنْتَقِلُون مِنْ دَارٍ إلٰى دَارٍ أُخْرَى}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Sebaik-baik kematian adalah kenyamanan bagi orang mukmin”}
وقال عليه السلام: {نعم المَوْتُ رَاحَةُ المُؤْمِنِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Kematian ulama adalah kegelapan dalam agama”}
وقال عليه السلام: {مَوْتُ العُلَمَاءِ ظُلْمَةٌ في الدِّينِ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Jika anak adam mati maka terputuslah amalnya terkecuali tiga hal: sedekah jariyah atau ilmu yang dimanfaatkan atau anak sholeh yang mendoakannya.”}
وقال عليه السلام: {إذَا مَاتَ ابْنَ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَة جَارِيَة أَوْ عِلْم يَنْتَفعُ بِه أَوْ وَلَد صَالِح يدعو له}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Ingatlah penghancur kenikmatan, para sahabat bertanya, Nabi, apakah penghancur kenikmatan itu?’ Nabi menjawab: “Mati, mati, mati”.”}
وقال عليه السلام: {اذْكُرُوا هَاذِمَ اللَّذَّاتِ، قالوا: يا رَسُولُ الله وَمَا هَاذِمُ اللذات؟، قال: المَوْتُ المَوْتُ المَوْتُ} ثَلاَثا

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Jadikanlah dirimu di dunia seakan-akan seorang pengembara (orang asing) atau orang yang lewat dan anggaplah dirimu termasuk penghuni kubur.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {كُنْ في الدُّنْيا كأنَّكَ غَرِيبٌ أَوْعَابِر سَبِيلٍ وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ القُبُورِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Ketika seorang alim meninggal maka menangislah ahli langit dan bumi selama tujuhpuluh hari. Barangsiapa tidak sedih atas meninggalnya orang alim maka dia adalah orang munafik, munafik, munafik.”} Nabi mengatakannya tiga kali.
وقال عليه الصلاة والسلام: {إذا مَاتَ العَالِمُ بَكَتْ عَلَيْهِ أَهْلُ السَّمَوٰاتِ والأَرْضِ سَبْعِينَ يَوْما
مَنْ لَمْ يَحْزَنْ لِمَوْتِ العَالِمِ، فَهُوَ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ} قالها ثلاث مرات.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Ketika seseorang meninggal berkatalah para malaikat tentang apa yang telah dilakukannya dan berkatalah manusia tentang apa yang ditinggalkannya. “}
وقال عليه الصلاة والسلام: {إذا مَاتَ المَيِّتُ تَقُولُ المَلاَئِكَةُ ما قَدَّمَ وَيَقُولُ النَّاسُ مَا خَلَّفَ}

Bab Ke 38 Keutamaan Mengingat Kubur Dan Hiruk Pikuknya
(الباب الثامن والثلاثون): في فضيلة ذكر القبر وأهواله

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Kubur adalah salah satu taman dari taman-tamannya surga atau salah satu lubang dari lubang-lubangnya neraka.”}
قال النبي عليه الصلاة والسلام: {القَبْرُ رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الجَنَّةِ أو حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ النَّارِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Orang mukmin di dalam kuburnya itu berada dalam taman yang hijau, diluaskan kuburnya tujuhpuluh hasta dan bersinar bagaikan bulan purnama.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {المُؤْمِنُ في قَبْرِهِ فِي رَوْضَةٍ خَضْرَاءَ وَيُوَسَّعُ لَهُ قَبْرُهُ سَبْعِينَ ذِرَاعا وَيُضِيءُ حَتَّى يَكُونَ كالقَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Seandainya anak cucu adam tahu bagaimana siksa kubur, tentu tidak bermanfaatlah kehidupan dunia, maka mintalah perlindungan kepada Allah Yang Maha Mulia dari adzabnya kubur yang sangat buruk.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {لَوْ أنَّ بَنِي آدَمَ عَلِمُوا كَيْفَ عَذَابُ القَبْرِ مَا نَفَعَهُم العَيْشُ في الدُّنْيَا فَتَعَوَّذوا بالله الكَرِيمِ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ الوَخِيمِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Tidak seorangpun lewat di kuburan seorang laki-laki yang di kenalnya di dunia kemudian memberi salam terkecuali orang mati tersebut mengenalnya dan menjawab salamnya”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {مَا مِنْ عَبْدٍ يَمُرَّ بِقَبْرِ رَجُلٍ كَانَ يَعْرِفُهُ في الدُّنْيَا فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إلا عرفَهُ وردَّ عَلَيْه السَّلامَ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Tidaklah seorang muslim lewat kuburan muslim terkecuali ahli kubur berkata, “Hari pelupa seandainya kamu tahu apa yang kami tahu niscaya dagingmu hancur diatas jasadmu dan darahmu diatas badanmu.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {مَا مِنْ مُسْلِمٍ مَرَّ بِقَبْرٍ مِنْ مَقَابِرِ المُسْلِمِينَ إلاّ قَالَ لَهُ أَهْلُ القُبُورِ يَا غَافِلُ لَوْ عَلِمْتَ مَا نَعْلَمُ لَذَابَ لَحْمُكَ عَلَى جَسَدِكَ وَدَمُكَ عَلَى بَدَنِكَ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Ketika seorang mukmin diletakkan dan didudukan di kuburnya dan berkata para keluarganya, kerabatnya, kekasihnya dan anak-anaknya: “Aduhai tuanku, aduhai yang mulia, aduhai pimpinanku”
maka malaikat berkata: “Dengarlah apa yang mereka katakan, kamu dulunya tuan, yang mulia dan pemimpin”. Orang mati berkata:”Andaikan mereka tidak ada”.
Maka dia dihimpit sekali himpitan yang membuat tulang-tulang iganya berhimpitan.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {إنَّ العَبْدَ المُؤْمِنَ إذا وُضِعَ في القَبْرِ وَأُقْعِدَ وَقَالَ أهْلُهُ وأَقْرِبَاؤُهُ وأَحِبَّاؤُهُ وَأَبْنَاؤُه وَاسَيِّدَاهُ واشَريفَاهُ واأمِيرَاهُ قَالَ لَهُ الملكُ اسْمَعْ مَا يَقُولُونَ أَنْتَ كُنْتَ سَيِّدا وَأَنْتَ شَرِيفا وَأَنْتَ أميرا قَالَ المَيِّتُ: يا ليتَهُمْ لَمْ يَكُونُوا فَيَضْغَطُهُ ضَغْطَةً تَخْتَلِفُ بها أَضْلاَعُه}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Allah berfirman: “Wahai Isa banyak wajah yang bersinar, badan yang sehat dan lisan yang faseh besok berada diantara tingkatan neraka menjerit. Allah berfirman: “Wahai Isa banyak wajah yang bersinar, badan yang sehat dan lisan yang faseh besok berada diantara tingkatan neraka menjerit.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {قال الله تَعَالى يا عِيسى كَمْ مِنْ وَجْهٍ صَبيحٍ وَبَدَنٍ صحيحٍ وَلِسَانٍ فَصِيحٍ غدا بَيْنَ أَطْبَاقِ النِّيرانِ يَصِيحُ.}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Kubur itu tempat pertama dari tempat-tempat akherat dan tempat terakhir dari tempat-tempat dunia.”}
وقال عليه الصلاة والسلام:{ القَبْرُ أوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الآخِرَةِ وآخِرُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الدُّنْيا}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Kubur itu tempat yang harus disinggahi”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {القَبْرُ مَنْزِلٌ لاَ بُدَّ فِيهِ مِنَ النُّزُول}ِ.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Jika kalian sudah meninggal maka diperlihatkan tempat kalian di waktu pagi dan sore. Jika ahli surga maka termasuk ahli surga dan jika ahli neraka maka termasuk ahli neraka. Dikatakan kepadanya: “Inilah tempatmu hingga Allah membangkitkanmu ke tempat itu di hari kiamat”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {إذا مَاتَ أَحَدُكُمْ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بالغَدَاةِ والعَشِيِّ إنْ كَانَ مِنْ أهْلِ الجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ وإنْ كانَ مِنْ أهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ يُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ الله إلَيْهِ يَوْمَ القِيَامَةِ}

KEADAAN DLORUROT YANG MENJADIKAN BINATANG HALAL DI MAKAN

BINATANG YANG DIMAKAN
(Fasal) menjelaskan hukum-hukum binatang yang dimakan, maksudnya yang halal dimakan dan yang tidak halal dimakan.

(فَصْلٌ)
فِيْ أَحْكَامِ (الْأَطْعِمَةِ) الْحَلَالِ مِنْهَا وَغَيْرِهَا

Setiap binatang yang dianggap enak oleh orang arab, yaitu orang arab yang kaya, memiliki keluasan dalam harta, tabiat yang selamat dan biasa mengkonsumsi makanan yang enak.
(وَكُلُّ حَيَوَانٍ اسْتَطَابَتْهُ الْعَرَبُ)

الَّذِيْنَ هُمْ أَهْلُ ثَرْوَةٍ وَخَصْبٍ وَطِبَاعٍ سَلِيْمَةٍ وَرَفَاهِيَّةٍ (فَهُوَ حَلَالٌ

Kecuali binatang yang telah diharamkan oleh syareat, maka untuk binatang ini tidak dikembalikan pada penilaian mereka.
إِلَّا مَا) أَيْ حَيَوَانٌ (وَرَدَ الشَّرْعُ بِتَحْرِيْمِهِ) فَلَا يَرْجِعُ فِيْهِ لِاسْتِطَابَتِهِمْ لَهُ

Setiap binatang yang dianggap menjijikkan oleh orang arab, maka hukumnya haram.
(وَكُلُّ حَيَوَانٍ اسْتَحْبَثَتْهُ الْعَرَبُ)

أَيْ عَدُّوْهُ خَبِيْثًا (فَهُوَ حَرَامٌ

Kecuali binatang yang telah dihalalkan oleh syareat, maka hukumnya tidak haram.
إِلَّا مَا وَرَدَ الشَّرْعُ بِإِبَاحَتِهِ) فَلَا يَكُوْنُ حَرَامًا

Hukumnya haram binatang yang memiliki taring, maksudnya gigi kuat yang digunakan untuk menggigit binatang lain seperti harimau dan macan tutul.
(وَيَحْرُمُ مِنَ السِّبَاعِ مَا لَهُ نَابٌ)

أَيْ سِنٌّ (قَوِيٌّ يَعْدُوْ بِهِ) عَلَى الْحَيَوَانِ كَأَسَدٍ وَنَمِرَةٍ

Hukumnya haram burung yang memiliki cengkeram, -lafadz “mikhlab”- dengan terbaca kasrah huruf mimnya dan fathah huruf lamnya, maksudnya kuku kuat yang digunakan untuk melukai seperti burung elang, rajawali, elang hitam.
(وَيَحْرُمُ مِنَ الطُّيُوْرِ مَا لَهُ مِخْلَبٌ)

بِكَسْرِ الْمِيْمِ وَفَتْحِ اللَّامِ أَيْ ظُفْرٌ (قَوِيٌّ يَجْرِحُ بِهِ) كَصَقْرٍ وَبَازٍ وَشَاهِيْنٍ.

Keadaan Darurat

Bagi orang yang mudlthar, yaitu orang yang khawatir terjadi sesuatu yang berbahaya jika tidak makan, saat terdesak, baik khawatir mati, sakit yang mengkhawatirkan, bertambah sakit, atau tertinggal rombongan dan ia tidak menemukan makanan halal yang bisa ia makan, maka baginya halal untuk memakan bangkai dengan ukuran yang cukup untuk menyelamatkan nyawanya.
(وَيَحِلُّ لِلْمُضْطَرِ)

وَهُوَ مَنْ خَافَ عَلَى نَفْسِهِ الْهَلَاكَ مِنْ عَدَمِ الْأَكْلِ (فِي الْمَخْمَصَةِ) مَوْتًا أَوْ مَرَضًا مَخُوْفًا أَوْ زِيَادَةَ مَرَضٍ أَوِ انْقِطَاعَ رُفْقَةٍ وَلَمْ يَجِدْ مَا يَأْكُلُهُ حَلَالًا (أَنْ يَأْكُلَ مِنَ الْمَيْتَةِ الْمُحَرَّمَةِ) عَلَيْهِ (مَا) أَيْ شَيْئًا (يَسُدُّ بِهِ رُمْقَهُ) أَيْ بَقِيَّةَ رُوْحِهِ

Kita memiliki dua bangkai yang halal dimakan, yaitu bangkai ikan dan belalang.
(وَلَنَا مَيْتَتَانِ حَلَالَانِ)

وَهُمَا (السَّمَكُ وَالْجَرَادُ

Dan kita memiliki dua darah yang halal dimakan, yaitu jantung dan limpa.
و لَنَا (دَمَّانِ حَلَالَانِ) وَهُمَا (الْكَبِدُ وَالطِّحَالُ)

Pembagian Binatang

Dari penjelasan mushannif dan penjelasan di depan, maka diketahui bahwa sesungguhnya binatang terbagi menjadi tiga,
وَقَدْ عُرِفَ مِنْ كَلَامِ الْمُصَنِّفِ وَ فِيْمَا سَبَقَ أَنَّ الْحَيَوَانَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Salah satunya adalah binatang yang tidak halal dimakan. Sehingga yang disembelih ataupun yang berupa bangkai hukumnya sama.
أَحَدُهَا مَا لَا يَأْكُلُ فَذَبِيْحَتُهُ وَمَيْتَتُهُ سَوَاءٌ

Yang kedua adalah binatang yang bisa dimakan, namun tidak bisa halal dimakan kecuali dengan disembelih secara syar’i.
وَالثَّانِيْ مَا يُؤْكَلُ فَلَا يَحِلُّ إِلَّا بِالتَّذْكِيَّةِ الشَّرْعِيَّةِ

Yang ke tiga adalah binatang yang bangkainya halal untuk dimakan seperti ikan dan belalang.
وَالثَّالِثُ مَا تَحِلُّ مَيْتَتُهُ كَالسَّمَكِ وَالْجَرَادِ

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

TUNTUNAN KEHIDUPAN IMAM GHOZALI RAH. DALAM KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

الحمدلله حق حمده، والصلاة والسلام على خير خلقه، محمد رسوله وعبده، وعلى آله وصحبه من بعده.أما بعد: فاعلم أيها الحريص المقبل على اقتباس العلم، المظهر من نفسه صدق الرغبة، وفرط التعطش إليه.. أنك إن كنت تقصد بالعلم المنافسة، والمباهاة، والتقدم على الأقران، واستمالة وجوه الناس إليك، وجمع حطام الدنيا؛ فأنت ساع في هدم دينك، وإهلاك نفسك، وبيع آخرتك بدنياك؛ فصفقتك خاسرة، وتجارتك بائرة، ومعلمك معين لك على عصيانك، وشريك لك في خسرانك، وهو كبائع سيف لقاطع طريق، كما قال صلى الله عليه وسلم: (من أعان على معصية ولو بشطر كلمة كان شريكا فيها)

Al imam, syaikh hujjatul islam algozzali berkata,Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam atas makh­luk-Nya termulia, Muhammad, Rasul dan hamba-Nya, serta atas keluarga dan sahabat beliau.Ketahuilah wahai manusia yang ingin mendapat curahan ilmu, yang betul-betul berharap dan sangat haus kepadanya, bahwa jika engkau menuntut ilmu guna bersaing, berbangga, mengalahkan teman sejawat, meraih simpati orang, dan mengharap dunia, maka sesungguhnya engkau sedang berusaha menghancurkan agamamu, membinasakan dirimu, dan menjual akhirat dengan dunia.
Dengan demikian, engkau mengalami kegagalan, perdaganganmu merugi, dan gurumu telah membantumu dalam berbuat maksiat serta menjadi sekutumu dalam kerugian tersebut. Gurumu itu seperti orang yang menjual pedang bagi perompak jalanan, sebagaimana Rasul saw. bersabda, “Siapa yang membantu terwujudnya perbuatan maksiat walaupun hanya dengan sepenggal kata, ia sudah menjadi sekutu baginya dalam per­buatan tersebut.”

وإن كانت نيتك وقصدك، بينك وبين الله تعالى، من طلب العلم: الهداية دون مجرد الرواية؛ فأبشر؛ فإن الملائكة تبسط لك أجنحتها إذا مشيت، وحيتان البحر تستغفر لك إذا سعيت. ولكن ينبغي لك أن تعلم، قبل كل شيء، أن الهداية التي هي ثمرة العلم لها بداية ونهاية، وظاهر وباطن، ولا وصول إلى نهايتها إلا بعد إحكام بدايتها، ولا عثور على باطنها إلا بعد الوقوف على ظاهرها

Jika niat dan maksudmu dalam menuntut ilmu un­tuk mendapat hidayah, bukan sekadar mengetahui riwa­yat, maka bergembiralah. Sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya untukmu saat engkau ber­jalan dan ikan-ikan paus di laut memintakan ampunan bagimu manakala engkau berusaha. Tapi, engkau harus tahu sebelumnya bahwa hidayah merupakan buah dari ilmu pengetahuan. Hidayah memiliki permulaan dan akhir serta aspek lahir dan batin. Untuk mencapai titik akhir tersebut, permulaannya harus tersusun rapi. Be­gitu pula, untuk menyingkap aspek batinnya, harus di­ketahui terlebih dahulu aspek lahirnya.

وهأنا مشير عليك ببداية الهداية؛ لتجرب بها نفسك، وتمتحن بها قلبك، فإن صادفت قلبك إليها مائلا، ونفسك بها مطاوعة، ولها قابلة؛ فدونك التطلع إلى النهايات والتغلغل في بحار العلوم.وإن صادفت قلبك عند مواجهتك إياها بها مسوفا، وبالعمل بمقتضاها مماطلا؛ فاعلم أن نفسك المائلة إلى طلب العلم هي النفس الأمارة بالسوء، وقد انتهضت مطيعة للشيطان اللعين ليدليك بحبل غروره؛ فيستدرجك بمكيدته إلى غمرة الهلاك،

Oleh karena itu, di sini akan aku tunjukkan padamu permulaan dari sebuah hidayah agar engkau bisa men­coba dirimu dan menguji hatimu. Apabila engkau men­dapati hatimu condong pada hidayah tersebut lalu di­rimu berusaha untuk menggapainya, maka setelah itu engkau bisa melihat perjalanan akhir darinya yang me­laju dalam lautan ilmu. Sebaliknya, jika engkau men­dapati hatimu berat dan lengah dalam mengamalkan apa yang menjadi konsekuensinya, ketahuilah bahwa jiwa yang mendorongmu untuk menuntut ilmu tersebut adalah jiwa al-ammaarah bi as-su’ (yang memerintahkan pada keburukan). Jiwa tersebut bangkit karena taat ke­pada setan terkutuk untuk dijerat dengan tali tipuannya. Ia terus memberikan tipudayanya kepadamu sampai engkau betul-betul binasa.

وقصده أن يروج عليك الشر في معرض الخير حتى يلحقك (بِالأخسَرينَ أَعمالاً، الَّذين ضَلَ سَعيُهُم في الحَياةِ الدُنيا وَهُم يَحسَبونَ أَنَّهُم يُحسِنونَ صُنعا). وعند ذلك يتلو عليك الشيطان فضل العلم ودرجة العلماء، وما ورد فيه من الأخبار والآثار. ويلهيك عن قوله صلى الله عليه وسلم: (من ازداد علما ولم يزدد هدى، لم يزدد من الله إلا بعدا)، وعن قوله صلى الله عليه وسلم: (أشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لم ينفعه الله بعلمه)

Ia ingin agar engkau mem­perbanyak kejahatan dalam bentuk kebaikan sehingga ia bisa memasukkanmu dalam kelompok orang yang me­rugi dalam amalnya. Yaitu, mereka yang sesat di dunia ini, yang mengira bahwa mereka telah melakukan suatu perbuatan baik. Saat itu setan menceritakan padamu tentang keutamaan ilmu, derajat para ulama, serta berba­gai riwayat di seputarnya. Namun, setan tersebut membuatmu lalai dari sabda Nabi saw., “Siapa yang ber­tambah ilmu, tapi tidak bertambah hidayah, ia hanya bertambah jauh dari Allah.” Juga dari sabda Nabi saw. yang berbunyi, “Orang yang paling keras siksanya di hari kiamat, adalah orang alim yang ilmunya tak Allah berikan manfaat padanya.”

وكان صلى الله عليه وسلم يقول: (اللهم إنى أعوذ بك من علم لا ينفع، وقلب لا يخشع، وعمل لا يرفع، ودعاء لا يسمع).وعن قوله صلى الله عليه وسلم: (مررت ليلة أسرى بي بأقوام تقرض شفاههم بمقارض من نار، فقلت: من أنتم? قالوا: كنا نأمر بالخير ولا نأتيه وننهى عن الشر ونأتيه).فإياك يا مسكين أن تذعن لتزويره فيدليك بحبل غروره، فويل للجاهل حيث لم يتعلم مرة واحدة، وويل للعالم حيث لم يعمل بما عمل ألف مرة

Nabi saw. berdoa:Allahumma innii a’udzubika min ‘ilmi laa yanfa’u wa qalbin laa yakhsya’ wa ‘amalin laa yurfa’u wa du’ain laa yusma’u”Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari amal yang tak diterima, dan dari doa yang tak didengar.”
Sabda Nabi saw., “Di malam aku melakukan Israk, aku melewati sekelompok kaum yang bibir mereka digun­ting dengan gunting api neraka. Lalu aku bertanya, ‘Sia­pa kalian?’ Mereka menjawab, ‘Kami adalah orang-orang yang memerintahkan kebaikan tapi tidak melakukan­nya, dan mencegah keburukan tapi kami sendiri me­ngerjakannya!”Oleh karena itu, jangan engkau serahkan dirimu untuk ­diperdaya oleh jerat tipuannya. Celaka sekali bagi orang bodoh, karena ia tidak belajar. Tapi celaka seribu kali bagi orang alim yang tak mengamalkan ilmunya!

واعلم أن الناس في طلب العلم على ثلاثة أحوال: رجل طلب العلم ليتخذه زاده إلى المعاد، ولم يقصد به إلا وجه الله والدار الآخرة؛ فهذا من الفائزين.ورجل طلبه ليستعين به على حياته العاجلة، وينال به العز والجاه والمال، وهو عالم بذلك، مستشعر في قلب ركاكه حاله وخسة مقصده، فهذا من المخاطرين. فإن عاجله أجله قبل التوبة خيف عليه من سوء الخاتمة، وبقي أمره في خطر المشيئة؛ وإن وفق للتوبة قبل حلول الأجل، وأضاف إلى العلم العمل، وتدارك ما فرط منه من الخلل- التحق بالفائزين، فإن التائب من الذنب كمن لا ذنب له

Ketahuilah bahwa dalam menuntut ilmu, manusia terbagi atas tiga jenis:
(1) Seseorang yang menuntut ilmu guna dijadikan bekal untuk akhirat dimana ia ha­nya ingin mengharap rida Allah dan negeri akhirat. Ini termasuk kelompok yang beruntung;
(2) Seseorang yang menuntut ilmu guna dimanfaatkan dalam kehidupan­nya di dunia sehingga ia bisa memperoleh kemuliaan, kedudukan, dan harta. Ia tahu dan sadar bahwa keada­annya lemah dan niatnya hina. Orang ini termasuk ke dalam kelompok yang berisiko.
Jika ajalnya tiba sebelum sempat bertobat, yang dikhawatirkan adalah peng­habisan yang buruk (su’ ul-khatimah) dan keadaannya menjadi berbahaya. Tapi jika ia sempat bertobat sebe­lum ajal tiba, lalu berilmu dan beramal serta menutupi kekurangan yang ada, maka ia termasuk orang yang beruntung pula. Sebab, orang yang bertobat dari dosa­nya seperti orang yang tak berdosa;

ورجل ثالث استحوذ عليه الشيطان؛ فاتخذ علمه ذريعة إلى التكاثر بالمال، والتفاخر بالجاه، والتعزز بكثرة الأتباع، يدخل بعلمه كل مدخل رجاء أن يقضى من الدنيا وطره،ن وهو مع ذلك يضمر في نفسه أنه عند الله بمكانة، لاتسامه بسمة العلماء، وترسمه برسومهم في الزى والمنطق، مع تكالبه على الدنيا ظاهرا وباطنا.. فهذا من الهالكين، ومن الحمقى المغرورين؛ إذ الرجاء منقطع عن توبته لظنه أنه من المحسنين، وهو غافل عن قوله تعالى (يَأيُها الَّذين آمنوا لِمَ تَقولونَ مالا تَفعَلون). وهو ممن قال فيهم رسول الله: (أنا من غير الدجال أخوف عليكم من الدجال) فقيل: وما هو يارسول الله?، فقال: (علماء السوء)

(3) Seseorang yang terperdaya oleh setan. Ia pergunakan ilmunya sebagai sarana untuk memperbanyak harta, serta untuk berbang­ga dengan kedudukannya dan menyombongkan diri de­ngan besarnya jumlah pengikut. Ilmunya menjadi turn­puan untuk meraih sasaran duniawi. Bersamaan dengan itu, ia masih mengira bahwa dirinya mempunyai posisi khusus di sisi Allah karena ciri-ciri, pakaian, dan ke­pandaian berbicaranya yang seperti ulama, padahal ia begitu tamak kepada dunia lahir dan batin.Orang dari kelompok ketiga di atas termasuk golongan yang binasa, dungu, dan tertipu.
Ia tak bisa diharap­kan bertobat karena ia tetap beranggapan dirinya ter­masuk orang baik. Ia lalai dari firman Allah Swt. yang berbunyi, “Wahai orang-orang yang beriman. Mengapa ka­lian mengatakan apa-apa yang tak kalian lakukan?!” (Q.S. ash-Shaff: 2). Ia termasuk mereka yang disebutkan Rasul saw., “Ada yang paling aku khawatirkan dari kalian ke­timbang Dajjal.” Beliau kemudian ditanya, “Apa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ulama su’ (bu­ruk).”

وهذا لأن الدجال غايته الإضلال، ومثل هذا العالم وإن صرف الناس عن الدنيا بلسانه ومقاله فهو دافع لهم إليها بأعماله وأحواله، ولسان الحال أفصح من لسان المقال، وطباع الناس إلى المساعدى في الأعمال أميل منها إلى المتابعة في الأقوال؛ فما أفسده هذا المغرور بأعماله أكثر مما أصلحه بأقواله، إذ لا يستجرىء الجاهل على الرغبة في الدنيا إلا باستجراء العلماء، فقد صار علمه سببا لجرأة عباد الله على معاصيه، ونفسه الجاهلة مذلة مع ذلك تمنيه وترجيه، وتدعوه إلى أن يمن على الله بعلمه، وتخيل إليه نفسه أنه خير من كثير من عباد الله

hal ini diSebabkan Dajal memang bertujuan menyesatkan, se­dangkan ulama ini, walaupun lidah dan ucapannya me­malingkan manusia dari dunia, tapi amal perbuatan dan keadaannya mengajak manusia ke sana.Padahal, realita lebih berbekas dibandingkan ucapan. Tabiat manusia lebih terpengaruh oleh apa yang dilihat ketimbang meng­ikuti apa yang diucap. Kerusakan yang ditimbulkan oleh perbuatannya lebih banyak daripada perbaikan yang di­sebabkan oleh ucapannya. Karena, biasanya orang bo­doh mencintai dunia setelah melihat si alim cinta pada dunia.
Ilmu pengetahuan yang dimilikinya, menjadi fak­tor yang menyebabkan para hamba Allah berani ber­maksiat pada-Nya. Nafsunya yang bodoh tertipu, tapi masih memberi angan-angan dan harapan padanya. Bahka, ia mengajaknya untuk mempersembahkan sesuatu untuk Allah dengan ilmunya. Nafsu tersebut membuat­nya beranggapan bahwa ia lebih baik dibandingkan hamba Allah yang lain.

فكن أيها الطالب من الفريق الأول، واحذر أن تكون من الفريق الثاني، فكم من مسوف عاجله الأجل قبل التوبة فخسر، وإياك ثم إياك أن تكون من الفريق الثالث، فتهلك هلاكا لا يرجى معه فلاحك، ولا ينتظر صلاحك

Maka dari itu, jadilah engkau ter­masuk golongan yang pertama. Waspadalah agar tidak menjadi golongan kedua karena betapa banyak orang yang menunda-nunda, ternyata ajalnya tiba sebelum ber­taubat sehingga akhirnya rugi dan kecewa. Lebih dari itu, waspadalah! Jangan sampai engkau menjadi golong­an ketiga karena engkau betul-betul akan binasa, tak mungkin selamat dan bahagia.

فإن قلت: فما بداية الهداية لأجرب بها نفسي، فاعلم أن بدايتها ظاهرة التقوى، ونهايتها باطنة التقوى؛ فلا عاقبة إلا بالتقوى، ولا هداية إلا للمتقين.والتقوى، عبارة عن امتثال أوامر الله تعالى، واجتناب نواهيه، فهما قسمان، وهأنا أشير عليك بجمل مختصرة من ظاهر علم التقوى في القسمين جميعا، وألحق قسما ثالثا ليصير هذا الكتاب جامعا مغنيا
والله المستعان

Apabila engkau bertanya, “Apa permulaan dari hida­yah tersebut sehingga aku bisa menguji diriku dengan­nya?” Maka ketahuilah bahwa hidayah bermula dari ketakwaan lahiriah dan berakhir dengan ketakwaan ba­tiniah. Tak ada balasan kecuali dengan takwa dan tak ada hidayah kecuali bagi orang-orang bertakwa. Takwa adalah ungkapan yang mengandung makna melaksana­kan perintah Allah Swt. dan menghindarkan larangan-­larangan-Nya. Masing-masing ada dua bagian. Di sini aku akan menunjukkan kepadamu secara ringkas aspek lahiriah dari takwa dalam dua bagian tersebut secara bersamaan. Aku masukkan bagian ketiga agar tulisan menjadi lengkap dan cukup.

القسم الأول في الطاعات
اعلم أن أوامر الله تعالى فرائض ونوافل؛ فالفرض رأس المال، وهو أصل التجارة وبه تحصل النجاة، والنفل هو الربح وبه الفوز بالدرجات،

A. Bagian Pertama: Amal-amal Ketaatan
Ketahuilah bahwa perintah Allah ada yang wajib dan ada yang sunah. Yang wajib merupakan harta po­kok. Dia adalah modal perdagangan yang dengannya na bisa selamat. Sementara yang sunah merupakan laba yang dengannya kita bisa meraih derajat mulia.

قال صلى الله عليه وسلم: (يقول الله تبارك وتعالى: (ما تقرب إلي المتقربون بمثل أداء ما افترضت عليهم، ولا يزال العبد يتقرب إلى بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به، وبصره الذي يبصر به، ولسانه الذي ينطق به، ويده التي يبطش بها، ورجله التي يمشي بها)

Nabi saw. bersabda, “Allah Swt. berfirman, ‘Tidaklah orang­-orang mendekatkan diri pada-Ku dengan melaksanakan apa yang Kuwajibkan pada mereka, dan tidaklah se­orang hamba mendekatkan diri padaku dengan amal­-amal sunah, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku su­dah mencintainya, maka Aku menjadi telinganya yang mendengar, matanya yang melihat, lidahnya yang ber­bicara, tangannya yang memegang, dan kakinya yang berjalan.”

ولن تصل أيها الطالب إلى القيام بأوامر الله تعالى إلا بمراقبة قلبك وجوارحك في لحظاتك وأنفاسك، حين تصبح إلى حين تمسى. فاعلم أن الله تعالى مطلع على ضميرك، ومشرف على ظاهرك وباطنك، ومحيط بجميع لحظاتك، وخطراتك، وخطواتك، وسائر سكناتك وحركاتك؛ وأنك في مخالطتك وخلواتك متردد بين يديه؛ فلا يسكن في الملك والملكوت ساكن، ولا يتحرك متحرك، إلا وجبار السموات والأرض مطلع عليه،

Engkau tidak akan dapat menegakkan perintah Allah, kecuali dengan senantiasa mengawasi hati dan anggota badanmu pada setiap waktu dan pada setiap tarikan nafasmu, dari pagi hingga sore. Ketahuilah bahwa Allah Swt. menangkap isi hatimu, mengawasi lahir dan batin­mu, mengetahui semua lintasan pikiranmu, langkah-lang­kahmu, serta diam dan gerakmu. Saat bergaul dan me­nyendiri, engkau sedang berada di hadapan-Nya. Tidak ada yang diam, dan tak ada yang bergerak, melainkan semuanya diketahui oleh Penguasa langit, Allah Swt.

يعلم خائنة الأعين وما تخفي الصدور، ويعلم السر وأخفى؛ فتأدب أيها المسكين ظاهرا وباطنا بين يدي الله تعالى تأدب العبد الذليل المذنب في حضرة الملك الجبار القهار، واجتهد ألا يراك مولاك حيث نهاك، ولا يفقدك حيث أمرك

“Dia mengetahui khianatnya mata dan apa yang disembunyi­kan hati” (Q.S. Ghafir: 19),”Dia Maha Mengetahui yang rahasia dan tersembunyi” (Q.S. Thaha: 7).Oleh karena itu, hendaklah engkau beradab di hadapan Allah Swt. de­ngan adab seorang hamba yang hina dan berdosa di hadapan-Nya. Berusahalah agar Allah tidak melihatmu sedang melakukan sesuatu yang dilarang dan tidak me­laksanakan apa-apa yang diperintah.

ولن تقدر على ذلك إلا بأن توزع أوقاتك، وترتب أورادك من صباحك إلى مسائك، فاصغ إلى ما يلقى إليك من أوامر الله تعالى عليك من حين تستيقظ من منامك إلى وقت رجوعك إلى مضجعك

Hal itu hanya bisa terwujud jika engkau bisa membagi waktu dan meng­atur wirid-wiridmu dari pagi hingga petang. Jagalah perintah Allah Swt. yang diwajibkan kepadamu, sejak dari bangun tidur hingga engkau kembali ke pemba­ringan.

فصل في آداب الاستيقاظ من النوم
فإذا استيقظت من النوم، فاجتهد أن تستيقظ قبل طلوع الفجر، وليكن أول ما يجري على قلبك ولسانك ذكر الله تعالى؛ فقل عند ذلك: الحمدلله الذي أحيانا بعدما أماتنا وإليه النشور، أصبحنا وأصبح الملك لله، والعظمة والسلطان لله، والعزة والقدرة لله رب العالمين،

fasal menerangkan adabnya bangun dari tidur.
ketika engkau terbangun dari tidur , maka berusahalah agar engkau bangun sebelum keluarnya fajar, dan jadikanlah permulaan yg terucap dalam hati dan lisanmu adalah dzikir kpd Allah ta’ala, ucapkanlah ketika terbangun dari tidur ,” alhamdulillahil ladzi ahyaana ba’da maa amaatanaa wailaihin nusuur “Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan bangkit.
” asbahna wa asbahal mulku lillah, wal’udhmamtu was sulthonu lillah, wal ‘izzatu wal qudrotu lillahi robbil ‘aalamiin ,”Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, keagungan dan kekuasaan hanya milik Allah, kemuliaan dan kekekuasaan hanyalah milik Allah penguasa alam.

أصبحنا على فطرة الاسلام، وعلى كلمة الاخلاص، وعلى دين نبينا محمد صلى الله عليه وسلم، وعلى ملة أبينا إبراهيم حنيفا مسلما وما كان من المشركين؛

” asbahna ‘alaa fitrotil islam , wa ‘alaa kalimatil ikhlas, wa ‘alaa diini nabiyyinaa muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, wa ‘alaa millati nabiina ibraahim hanifam muslimau wamaa kaana minal musyrikin “kamitelah memasuki waktu pagi dalam keadaan fitrah islam, diatas kalimat ikhlas, di dalam agamanya nabi kita muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, dan pada agamanya ayah kita ibrahim agama yg hanif, sebagai orang muslim dan nabi ibrahim itu bukanlah termasuk sebgian dari orang2 yg musyrik.

؛ اللهم بك أصبحنا، وبك أمسينا، وبك نحيا، وبك نموت، وإليك النشور؛ اللهم إنا نسألك أن تبعثنا في هذا اليوم إلى كل خير، ونعوذ بك أن نجترح فيه سوءا أو نجره إلى مسلم، أو يجره أحد إلينا؛ نسألك خير هذا اليوم وخير مافيه ونعوذ بك من شر هذا اليوم وشر ما فيه

” Allåhumma bika ash-bahna, wa bika amsaynaa, wa bika nahyaa, wabika namuut, wa ilaykann nusyuur “Ya Allah, dengan rahmat dan pertolonganMu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan perto-longanMu kami memasuki waktu sore. Dengan rahmat dan pertolonganMu kami hidup dan dengan kehendakMu kami mati. Dan kepadaMu kebangkitan (bagi semua makhluk).
Yaa Allah kami mohon kepadamu utk mengutus kpd kami di hari ini kepada semua kebaikan, dan kami memohon perlindungan kpd-Mu agar kami tdk melakukan keburukan di hari ini, atau kami menyuruh keburukan kpd orang muslim, atau seseorang menyuruh keburukan kpd kami, kami mohon kebaikannya hari ini dan kebaikan yg yg ada di hari ini, dan kami memohon perlindungan kpd-Mu dari buruknya hari ini dan keburukan yg ada di dalamnya.

فإذا لبست ثيابك فانو به امتثال أمر الله تعالى في ستر عورتك، واحذر أن يكون قصدك من لباسك مراءاة الخلق فتخسر

ketika engkau menggunakan baju maka niatkanlah mengikuti perintah Allah ta’ala yaitu utk menutupi auratmu, dan berhati hatilah dari adanya niatmu memakai baju yaitu pamer terhadap mahluk, mk engkau menjadi rugi.

باب آداب دخول الخلاء
فإذا قصدت بيت الماء لقضاء الحاجة، فقدم في الدخول رجلك اليسرى، وفي الخروج رجلك اليمنى، ولا تستصحب شيئا عليه اسم الله تعالى ورسوله. ولا تدخل حاسر الرأس، ولا حافي القدمين

Bab menerangkan adabnya masuk jamban.
ketika engkau mau masuk ke jamban utk meunaikan hajatmu maka dahulikanlah kaki mu yg sebelah kiri ketika masuk, dan ketika keluar dahulukanlah kaki yg kanan,janganlah kau bawa sesuatu yg bertuliskan asma Allah dan rasulnya, jgnlah masuk dalam keadaan tdk bertutup kepala, dan jgnlah masuk dlm keadaan tdk bertutup kedua telapaan kaki.

وقل عند الدخول: باسم الله، أعوذ بالله من الرجس النجس، الخبيث المخبث، الشيطان الرجيم.وعند الخروج: غفرانك، الحمدلله الذي أذهب عني ما يؤذيني وأبقى في ما ينفعني

ketika masuk jamban ucapkanlah,” bismillah, audzubillahi minar rijzis najsi , al khobisi al mukhbisi as syaitoonir rojiim “dgn meyebut nama Allah, aku berlindung kpd Allah dari kotoran yg najis, yg buruk dan memburukkan yaitu syaiton yg terkutuk.
ketika keluar dari jamban ucapkanlah,” gufronaka, alhamdulillahil ladzi adzhaba anni maa yu’dziini wa abqoo fii maa yanfa’uni “kami memohon ampunanmu, segala puji bagi Allah dzat yg telah menghilangkan sesuatu yg menyakitkan ku dariku, dan dan meninggalkan utkku sesuatu yg memberikan manfaat untkku.

وينبغي أن تعدل النبل قبل قضاء الحاجة، والا تستنجي بالماء في موضع قضاء الحاجة، وأن تستبرىء من البول بالتنحنح والنتر ثلاثا، وبإمرار اليد اليسرى على أسفل القضيب.وإن كنت في الصحراء، فابعد عن عيون الناظرين واستتر بشيء إن وجدته، ولا تكشف عورتك قبل الانتهاء إلى موضع الجلوس

sebaiknya mempersiapkan batu2 sebelum menunaikan hajat, jk tdk maka istinjak (membersihkan tempat kluanya kotoran ) dgn air di tempat menunaikan hajatnya, istibro’ (minta pembebasan) dari kencing yaitu dgn berdehem dan menarik narik tiga kali, mngurut urut dgn tangan kiri dibagian bawahnya batang penis, jika engkau di tempat lapang maka menjauhlah dari pandangan orang2 dan tutpilah dirimu dgn sesuatu jk menemukannya, dan janganlah kau buka auratmu sebelum sampai ke tempat menunaikan hajatmu.

ولا تستقبل الشمس ولا القمر، ولا تستقبل القبلة ولا تستدبرها، ولا تجلس في متحدث الناس، ولا تبل في الماء الراكد وتحت الشجرة المثمرة، ولا في الجحر، واحذر الارض الصلبة ومهب الريح، احترازا من الرشاش لقوله صلى الله عليه وسلم: (إن عامة الوسواس منه)

janganlah menghadap matahari jg bulan, jgn menghadap qiblat jg membelakanginya, jgn duduk di tempatnya orang2 yg berbicara, jgn kencing di air yg diam, di bawah pohon yg berbuah dan jgn pula di lubang, berhati hatilah thd tanah yg keras dan tempat berhembusnya angin karena menjaga dari cipratan2 jg karena dawuhnya rasululloh shollallohu alaihi wasallam ” sesungguhnya kebanyakan was was itu dari cipratan2 tsb “

واتكىء في جلوسك على الرجل اليسرى، ولا تبل قائما إلا عن ضرورة، واجمع في الاستنجاء بين استعمال الحجر والماء، فإذا أردت الاقتصار على أحدهما فالماء أفضل، وإذا اقتصرت على الحجر فعليك أن تستعمل ثلاثة أحجار طاهرة منشفه للعين، تمسح القضيب في ثلاثة مواضع من حجر، فإن لم يحصل الإنقاء بثلاثة فتمم خمسة أو سبعة إلى أن ينقى بالإيتار؛ فالإيتار مستحب والانقاء واجب. ولا تستنج إلا باليد اليسرى

dan bertelakanlah dalam dudukmu diatas kaki kiri, jgn kencing dgn berdiri kecuali darurat, ketika istinjak kumpulkanlah antara batu dan air , jk ingin meringkas salah satunya maka air lebih baik, jk engkau meringkas dgn batu saja maka wajib bagimu menggunakan 3 batu yg suci yg bisa menghilangkan keadaan kotoran tsb, engkau usapkan penis dlm 3 tempat dari batu, jk tdk bisa bersih dgn 3 batu tsb mk sempurnakanlah menjadi 5 atau 7 hingga menjadi bersih dgn yg ganjil, ganjil itu disunnahkan dan bersih itu diwajiblkan, dan janganlah beristinjak kecuali menggunakan tangan kiri,

وقل عند الفراغ من الاستنجاء: اللهم طهر قلبيى من النفاق وحصن فرجي من الفواحش. وادعك يدك بعد تمام الاستنجاء بالارض أو بحائط ثم اغسلها

dan ketika selesai istinjak maka ucapkanlah,” allahumma tohhir qolbii minan nifaaqi wa hassin farjii minal fawaahis “Yaa Allah sucikanlah hatiku dari kemunafikan dan jagalah farjiku dari keburukan2 .dan setelah sempurna istinjakmu usapkanlah tanganmu ke tanah atau tembok kemudian basuhlah dgn air.

SIFAT DAN KEPRIBADIAN ROSULULLOH SAW. DALAM KITAB AS-SYAMAIL IMAM TIRMIDZI

  1. BENTUK TUBUH RASULULLOH

«كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ليس بالطويل البائن، ولا بالقصير، ولا بالأبيض الأمهق، ولا بالآدم ولا بالجعد القطط ولا بالسبط، بعثه الله تعالى على رأس أربعين سنة، فأقام بمكة عشر سنين، وبالمدينة عشر سنين، وتوفاه الله تعالى على رأس ستين سنة، وليس في رأسه ولحيته عشرون شعرة بيضاء»

“Rasulullah shollallohu alaihi wasallam bukanlah orang yang berperawakan terlalu tinggi, namun tidak pula pendek. Kulitnya tidak putih bule juga tidak sawo matang. Rambutnya ikal, tidak terlalu keriting dan tidak pula lurus kaku. Beliau diangkat Allah (menjadi rasul) dalam usia empat puluh tahun. Beliau tingal di Mekkah (sebagai Rasul) sepuluh tahun dan di madinah sepuluh tahun. Beliau pulang ke Rahmatullah dalam usia permulaan enam puluh tahun. Pada kepala dan janggutnya tidak terdapat sampai dua puluh lembar rambut yang telah berwarna putih.”
(diriwayatkan oleh Abu Raja’ Qutaibah bin Sa’id, dari Malik bin Anas, dari Rabi’ah bin Abi `Abdurrahman yang bersumber dari Anas bin Malik r.a)

«ما رأيت من ذي لمة في حلة حمراء أحسن من رسول الله، له شعر يضرب منكبيه، بعيد ما بين المنكبين، لم يكن بالقصير ولا بالطويل»

“Aku tak pernah orang yang berambut panjang terurus rapi, dengan mengenakan pakaian merah, yang lebih tampan dari Rasulullah saw. Rambutnya mencapai kedua bahunya.Kedua bahunya bidang. beliau bukanlah seorang yang berperawakan pendek dan tidak pula terlampau tinggi.”
(diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki’,dari Sufyan, Dari Abi Ishaq, yang bersumber dari al Bara bin `Azib r.a)

«لم يكن رسول الله بالطويل الممغط، ولا بالقصير المتردد، وكان ربعة من القوم، لم يكن بالجعد القطط، ولا بالسبط، كان جعدا رجلا، ولم يكن بالمطهم ولا بالمكلثم، وكان في وجهه تدوير أبيض مشرب، أدعج العينين، أهدب الأشفار، جليل المشاش والكتد، أجرد ذو مسربة، شثن الكفين والقدمين، إذا مشى تقلع كأنما ينحط في صبب، وإذا التفت التفت معا، بين كتفيه خاتم النبوة، وهو خاتم النبيين، أجود الناس صدرا، وأصدق الناس لهجة، وألينهم عريكة، وأكرمهم عشرة، من رآه بديهة هابه، ومن خالطه معرفة أحبه، يقول ناعته: لم أر قبله ولا بعده مثله صلى الله عليه وسلم»

“Rasulullah shollallohu alaihi wasallam. tidak berperawakan terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek. Beliau berperawakan sedang diantara kaumnya. Rambut tidak keriting bergulung dan tidak pula lurus kaku, melainkan ikal bergelombang. Badannya tidak gemuk, dagunya tidak lancip dan wajahnya agak bundar. Kulitnya putih kemerahmerahan. Matanya hitam pekat dan bulu matanya lentik. Bahunya bidang. beliau memiliki bulu lebat yang memanjang dari dada sampai ke pusat. Tapak tangan dan kakinya terasa tebal. Bila Beliau berjalan, berjalan dengan tegap seakanakan Beliau turun ke tempat yang rendah. Bila Beliau berpaling maka seluruh badannya ikut berpaling. Diantara kedua bahunya terdapat Khatamun Nubuwah, yaitu tanda kenabian. Beliau memiliki hati yang paling pemurah diantara manusia. Ucapannya merupakan perkataan yang paling benar diantar semua orang. Perangainya amat lembut dan beliau paling ramah dalam pergaulan. Barang siapa melihatnya, pastilah akan menaruh hormat padanya. Dan barang siapa pernah berkumpul dengannya kemudian kenal dengannya tentulah ia akan mencintainya. Orang yang menceritakan sifatnya, pastilah akan berkata: “Belum pernah aku melihat sebelum dan sesudahnya orang yang seistimewa Beliau shollallohu alaihi wasallam. “
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Ubadah ad Dlabi al Bashri, juga diriwayatkan olehAli bin Hujr dan Abu Ja’far bin Muhammad bin al Husein, dari Isa bin Yunus, dariUmar bin Abdullah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari salah seorang puteraAli bin Abi Thalib ra yang bersumber dari `Ali bin Abi Thalib ra.)

«عرض علي الأنبياء، فإذا موسى عليه السلام ضرب من الرجال، كأنه من رجال شنوءة، ورأيت عيسى ابن مريم عليه السلام، فإذا أقرب من رأيت به شبها عروة بن مسعود، ورأيت إبراهيم عليه السلام، فإذا أقرب من رأيت به شبها صاحبكم، يعني نفسه، ورأيت جبريل عليه السلام فإذا أقرب من رأيت به شبها دحية»

“Telah diperlihatkan kepadaku para Nabi. Adapun Nabi Musa a.s. bagaikan seorang laki laki dari suku Syanu’ah. Kulihat pula Nabi Isa bin Maryan a.s. ternyata orang yang pernah kulihat mirip kepadanya adalahUrwah bin Mas’ud, Kulihat pula Nabi Ibranim a.s. ternyata orang yang mirip kepadanya adalah kawan kalian ini (yaitu Nabi saw sendiri). Kulihat jibril ternyata orang yang pernah kulihat mirip kepadanya adalah Dihyah*.”
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’ad dari Laits bin Sa’id, dari Abi Zubair yang bersumber dari Jabir bin `Abdullah r.a.)

«كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أفلج الثنيتين، إذا تكلم رئي كالنور يخرج من بين ثناياه»

“Rasulullah mempunyai gigi seri yang renggang. Bila Beliau berbicara terlihat seperti ada cahaya yang memancar keluar antara kedua gigi serinya itu.”
(Diriwayatkan oleh Abdullah binAbdurrahman, dari Ibrahim bin Mundzir al Hizami, dari AbdulAziz bin Tsabit az Zuhri, dari Ismail bin Ibrahim, dari Musa bin Uqbah, dari Kuraib yang bersumber dari IbnuAbbas r.a.)

  1. BENTUK KHOTAM (tanda/cap) NUBUWWAH

«رأيت الخاتم بين كتفي رسول الله صلى الله عليه وسلم غدة حمراء مثل بيضة الحمامة»

“Aku pernah melihat khatam (kenabian)…. Ia terletak antara kedua bahu Rasulullah saw. Bentuknya seperti sepotong daging berwarna merah sebesar telur burung dara.”
(Diriwayatkan oleh Sa’id bin Ya’qub at Thalaqani dari Ayub bin Jabir, dari Simak bin Harb yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.)

كان علي، إذا وصف رسول الله صلى الله عليه وسلم- فذكر الحديث بطوله- وقال: «بين كتفيه خاتم النبوة، وهو خاتم النبيين»

“Apabila Ali r.a menceritakan sifat Rasulullah shollallohu alaihi wasallam maka ia akan bercerita panjang lebar. Dan ia akan berkata:Diantara kedua bahunya terdapat Khatam kenabian, yaitu khatam para Nabi. (Diriwayatkan oleh Ahmad bin Ubadah ad DlabiAli bin Hujr dan lainnya, yang mereka terima dari Isa bin Yunus dari Umar binAbdullah, dari Ibrahim bin Muhammad yang bersumber dari salah seorang puteraAli bin Abi Thalib r.a.)

قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: «يا أبا زيد، ادن مني فامسح ظهري»، فمسحت ظهره، فوقعت أصابعي على الخاتم قلت: وما الخاتم؟ قال: «شعرات مجتمعات»

Dalam suatu riwayat, Alba’bin Ahmar al Yasykuri mengadakan dialog dengan Abu Zaid Amr bin Akhthab al Anshari r.a. sbb: "Abu Zaid berkata:Rasulullah saw bersabda kepadaku : Wahai Abu Zaid mendekatlah kepadaku dan usaplah punggungku'. Maka punggungnya kuusap, dan terasa jari jemariku menyentuh Khatam. Aku (alba' bin Ahmar al Yasykuri) bertanya kepada Abu Zaid:Apakah Khatam itu?’ Abu Zaid menjawab: kumpulan bulu-bulu. (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari AbuAshim dari `Uzrah bin Tsabit yang bersumber dari Alba’bin Ahmar al Yasykuri)

2. RAMBUT RASULULLOH

عَنْ أنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: كَانَ شَعَرُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى نِصْفِ أُذُنَيْهِ

“Rambut Rasulullah shollallohu alaihi wasallam mencapai pertengahan kedua telinganya.”
(Diriwayatkan oleh `Ali bin Hujr, dari Ismail bin Ibrahim, dari Humaid yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَرْبُوعًا، بَعِيدَ مَا بَيْنَ الْمِنْكَبَيْنِ، وَكَانَتْ جُمَّتُهُ تَضْرِبُ شَحْمَةَ أُذُنَيْهِ

“Rasulullah shollallohu alaihi wasallam adalah seorang yang berbadan sedang, kedua bahunya bidang, sedangkan rambutnya menyentuh kedua daun telinganya.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Abu Qathan, dari Syu’bah dari Abi Ishaq yang bersumber dari al Bara’ bin `Azib r.a.)

عَنْ قَتَادَةَ، قَالَ: قُلْتُ لأَنَسٍ: كَيْفَ كَانَ شَعَرُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم؟ قَالَ: لَمْ يَكُنْ بِالْجَعْدِ، وَلا بِالسَّبْطِ، كَانَ يَبْلُغُ شَعَرُهُ شَحْمَةَ أُذُنَيْهِ

“Rambut Rasulullah shollallohu alaihi wasallam tidak terlampau keriting, tidak pula lurus kaku, rambutnya mencapai kedua daun telingannya. “
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Wahab bin Jarir bin Hazim, dari Hazim yang bersumber dari Qatadah)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُسْدِلُ شَعَرَهُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ يُونُسَ بْنِ يَزِيدَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْوَكَانَ الْمُشْرِكُونَ يَفْرِقُونَ رُؤُوسَهُمْ، وَكَانَ أَهْلُ الْكِتَابِ يُسْدِلُونَ رُؤُوسَهُمْ، وَكَانَ يُحِبُّ مُوَافَقَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ فِيمَا لَمْ يُؤْمَرْ فِيهِ بِشَيْءٍ، ثُمَّ فَرَقَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَأْسَهُ

“Sesungguhnya Rasulullah sjollallohu alaihi wasallam dulunya menyisir rambutnya ke belakang, sedangkan orang-orang musyrik menyisir rambut mereka ke kiri dan ke kanan, dan Ahlul Kitab menyisir rambutnya ke belakang. Selama tidak ada perintah lain, Rasulullah saw. Senang menyesuaikan diri dengan Ahlul Kitab. Kemudian,Rasulullah saw. menyisir rambutnya ke kiri dan ke kanan.”
(Diriwayatkan oleh Suwaid bin Nashr dari Abdullah bin al Mubarak, dari Yunus bin Yazid, dari az Zuhri, dariUbaidilah bin Abdullah binUtbah, yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)

NASIHAT SYAIKH ABDUL QODIR AL-JAILANY RAH. : MENYIKAPI PENDERITAAN DAN KESUKSESAN

Kamu berada dalam salah satu di antara dua keadaan: menderita dan sentosa. Jika kamu menderita, maka hendaklah kamu bersabar, walaupun dengan usahamu sendiri, ini adalah peringkat yang paling tinggi. Kemudian hendaklah kamu memohon supaya ridha dengan qadha’ dan qadar Allah serta lelap di dalam qadha’ dan qadar itu. Ini sesuai dengan para Abdal, orang-orang yang memiliki ilmu kebatinan dan orang-orang yang mengetahui Allah SWT.
Jika kamu berada dalam kesentosaan, maka hendaklah kamu memohon supaya kamu dapat bersyukur. Syukur ini dapat dilakukan dengan lidah, dengan hati atau dengan anggota badan.
Bersyukur dengan lidah adalah menyadarkan diri kita bahwa karunia itu datang dari Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan manusia, diri kamu, usaha, kekuasaan, gerak dan daya kamu atau orang lain, walaupun karunia itu sampai kepadamu melalui diri kamu atau orang lain. Diri kamu dan orang lain itu hanyalah merupakan alat Tuhan saja. Pada hakekatnya, yang memberi, yang menggerakkan, yang mencipta, pelaku dan sumber karunia itu adalah Allah semata. Pemberi, pencipta dan pelaku itu adalah Allah. Hal ini sama dengan orang yang memandang baik terhadap tuan yang memberi hadiah dan bukan terhadap hamba pembawa hadiah tersebut.
Firman Allah, “Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS 30:7)
Firman ini ditujukan kepada orang-orang yang bersikap salah di dalam mensyukuri karunia. Mereka hanya dapat melihat yang lahir saja dan tidak melihat apa yang tersembunyi di balik itu. Inilah orang-orang yang jahil dan terbalik otaknya. Lain halnya dengan orang-orang yang berakal sempurna, mereka dapat melihat ujung setiap perkara.
Bersyukur dengan hati adalah mempercayai dan meyakini dengan sesungguhnya bahwa kamu dan apa saja yang kamu miliki seperti kebaikanmu dan kesenanganmu, lahir dan batinmu serta gerak dan diammu ialah datang dari Allah Yang Maha Kaya dan Maha Pemurah.
Syukur kamu dengan lisan akan menyatakan apa yang tersembunyi di dalam hatimu, sebagaimana firman Allah,: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya). Dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS 16:53).
Firman-Nya lagi, “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni’mat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS 31:20)
Dari semua ayat tersebut di atas, dapatlah diketahui bahwa menurut pandangan seorang Muslim tidak ada yang memberi sesuatu selain Allah.
Bersyukur dengan menggunakan anggota badan ialah menggunakan anggota badan itu hanya untuk beribadah kepada Allah dan mematuhi perintah-Nya. Kamu dilarang melakukan perintah mahluk, jika perintah itu bertentangan dengan perintah Allah atau penentang Allah. Termasuk ke dalam mahluk ini ialah diri kamu sendiri, kehendakmu dan lain-lain.
Ta’atlah kepada Allah yang semua mahluk takluk kepada-Nya. Jadikanlah Dia pemimpinmu. Jadikanlah selain Allah sebagai perkara sekunder atau perkara yang dikemudiankan setelah Allah. Jika kamu lebih mementingkan atau mendahulukan yang lain selain Allah, maka kamu telah menyeleweng dari jalan yang lurus dan benar, kamu men-dholim-i diri kamu sendiri, kamu menjalankan perintah yang bukan didatangkan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman dan kamu menjadi pengikut jalan yang bukan jalan orang-orang yang Allah beri nikmat.
Allah berfirman, “Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya.
Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dholim.” (QS 5:45).
Dan Allah berfirman pula, “Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS 5:47)
Mereka yang dholim dan melanggar batas-batas Allah akan menempati neraka yang bahan apinya terdiri atas manusia dan batu. Sekiranya kamu tidak tahan merasakan demam walau sehari saja di dunia ini atau terkena panas api walau sedikit saja di dunia ini, maka bagaimana mungkin kamu akan sanggup tinggal di dalam api neraka ? Oleh karena itu, larilah segera dan mintalah perlindungan kepada Allah.
Berhati-hatilah terhadap perkara-perkara tersebut di atas, karena selama hidupmu kamu tidak akan dapat bebas dari batas-batas Allah, baik kamu berada dalam dukacita maupun dalam sukacita.
Bersabarlah jika ditimpa dukacita dan bersyukurlah juga menerima sukacita. Janganlah kamu marah kepada orang lain, apabila kamu ditimpa musibah dan jangan pula kamu menyalahkan Allah serta meragukan kebijaksanaan dan pilihan-Nya untuk kamu di dunia dan di akhirat. Janganlah kamu berharap kepada orang lain untuk melepaskan kamu dari malapetaka, karena hal itu akan menjerumuskan kamu ke lembah syirik.
Segala sesuatu itu adalah milik Allah dan tidak ada yang turut memilikinya bersama Dia. Tidak ada yang memberikan mudharat dan manfaat, menimbulkan bencana atau kedamaian dan membuat sakit atau sehat, melainkan Allah jua.
Allah menjadikan segalanya. Oleh karena itu, janganlah kamu terpengaruh oleh mahluk, karena mereka itu tidak mempunyai daya dan upaya. Hendaklah kamu selalu bersabar, ridha, menyesuaikan dirimu dengan Allah dan tenggelamkan dirimu ke dalam lautan perbuatan-Nya.
Jika kamu tidak diberi seluruh berkat dan karunia ini, maka kamu perlu memohon kepada Allah dengan merendahkan dirimu dan ikhlas. Akuilah dosa dan kesalahanmu serta mintalah ampun kepada-Nya. Akuilah ke-tauhid-an dan karunia Allah. Nyatakanlah bahwa kamu tidak menyekutukan apa-apa dengan Allah Yang Maha Esa dan ridhalah dengan-Nya, sehingga suratan takdir dan malapetaka itu berlalu dan dihindarkan dari kamu.
Setelah tiba saat bencana itu habis, maka datanglah kesenangan dan kesentosaan sebagaimana terjadi kepada Nabi Ayyub as, seperti hilangnya gelap malam dan terbitnya terang siang atau seperti berakhirnya musim dingin dan bermulanya musim panas. Sebab, segala sesuatu itu mempunyai batas, waktu dan matinya. Segala sesuatu itu mempunyai lawannya.
Oleh karena itu, kesabaran adalah merupakan kunci, awal dan akhir serta jaminan kebajikan.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Pertalian antara sabar dengan iman itu bagaikan kepala dengan badan.”. Dan beliau bersabda pula, “Sabar itu adalah keseluruhan iman.”
Kadang-kadang syukur itu datang melalui rasa senang menikmati karunia Illahi yang dilimpahkan kepada kamu. Maka, syukur kamu itu adalah menikmati karunia-Nya di dalam keadaan fana’-nya diri kamu dan hilangnya kemauan serta keinginan kamu untuk menjaga dan memelihara batas-batas hukum. Inilah titik atau stasiun kemajuan terjauh yang bisa dicapai.
Ambillah contoh teladan dari apa yang telah kukatakan kepadamu, niscaya jika Allah menghendaki, kamu akan mendapatkan bimbingan Allah Yang Maha Mulia.

المقالة التاسعة والخمسون فـي الـرضـا عـلـى الـبـلـيـة و الـشــكـر عـلـى الـنـعـمـة قـال رضـي الله تـعـالى عـنـه و أرضـاه : لا تخلو حالتك إما أن تكون بلية أونعمة. فإن كانت بلية فتطالب فيها بالصبر، وهو الأدنى، والصبر وهو أعلى منه. ثم الرضا والموافقة، ثم الفناء، وهو للإبدال، وإن كانت نعمة فتطالب فيها بالشكر عليها. والشكر باللسان والقلب والجوارح. أما باللسان فالاعتراف بالنعمة أنها من الله عز وجل : وترك الإضافة إلى الخلق لا إلى نفسك وحولك وقوتك وكسبك ولا إلى غيرك من الذين جرت على أديهم، لأنك وإياهم أسباب وآلات وأداة لها، وإن قاسمها ومجريها وموجدها والشاغل فيها والمسبب لها هو الله عز وجل والقاسم هو الله، والمجرى هو والموجد هو، فهو أحق بالشكر من غيره. لا نظر إلى الغلام الحمال للهدية إنما النظر إلى الأستاذ المنفذ المنعم بها قال الله تعالى في حق من عدم هذا المنظر : يَعْلَمُونَ ظَاهِراً مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ.الروم7. فمن نظر إلى الظاهر والسبب ولم يجاوز علمه ومعرفته فهو الجاهل الناقص قاصر العقل، إنما سمى العاقل عاقلاً لنظره في العواقب. وأما الشكر بالقلب، فبالاعتقاد الدائم. والعقد الوثيق الشديد المتبرم. إن جميع ما بك من النعم والمنافع واللذات في الظاهر والباطن في حركاتك وسكناتك من الله عز وجل لا من غيره، ويكون شكرك بلسانك معبراً عما في قلبك. وقد قال عز وجل : وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ.النحل53. وقال تعالى : وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً ً.لقمان20. وقال تعالى: وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا.النحل18. فمع هذا لا يبقى لمؤمن منعم سوى الله تعالى. وأم الشكر بالجوارح فبأن تحركها وتستعملها في طاعة الله عز وجل دون غيره من الخلق، فلا تجيب أحداً من الخلق، فيما فيه إعراض عن الله تعالى، وهذا يعم النفس والهوى والإرادة والأماني وسائر الخليقة، كجعل طاعة الله أصلاً ومتبوعاً وإماماً وما سواها فرعاً وتابعاً ومأموماً، فإن فعلت غير ذلك كنت جائراً ظالماً حاكماً بغير حكم الله عز وجل الموضوع لعباده المؤمنين، وسالكاً غير سبيل الصالحين. قال الله عز وجل :وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ.المائدة44. وفى آية أخرى : وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ.المائدة45. وفى أخرى : .هُمُ الْفَاسِقُونَ.المائدة47. فيكون انهاؤك إلى التي وقودها الناس والحجارة، وأنت لا تصبر على حمى ساعة في الدنيا وأقل بسطة وشرارة من النار فيها، فكيف صبرك على الخلود في الهاوية مع أهلها النجا النجا، الوحا الوحا، الله الله، أحفظ الحالتين وشروطهما، فإنك لا تخلو في جميع عمرك من أحديهما إما البلية وإما النعمة فأعط كل حالة حظها وحقها من الصبر والشكر على ما بينت لك، فلا تشكون في حالة البلية إلى أحد من خلق الله، ولا تظهرن الضجر لأحد ولا تتهمن ربك في باطنك. ولا تشكن في حكمته واختر الأصلح لك في دنياك، وآخرتك، فلا تذهبن بهمتك إلى أحد من خلقه في معافاتك فذاك إشراك منك به عز وجل، لا يملك معه عز وجل في ملكه أحد شيئاً لا ضار ولا نافع ولا دافع، ولا جالب ولا مسقم، ولا مبلي، ولا معاف ولا مبرئ غيره عز وجل، فلا تشتغل بالخلق لا في الظاهر ولا في الباطن، فإنهم لن يغنوا عنك من الله شيئاً، بل ألزم الصبر والرضا والموافقة والفناء في فعله عز وجل، فإن حرمت ذلك كله فعليك بالاستغاثة إليه عز وجل، والتضرع من شؤم النفس، ونزاهة الحق عز وجل والاعتراف له بالتوحيد بالنعيم، والتبرى من الشرك، وطلب الصبر والرضا والموافقة، إلى حين يبلغ الكتاب أجله، فتزول البلية وتنكشف الكربة، وتأتى النعمة والسعة والفرحة والسرور، كما كان في حق نبي الله أيوب عليه وعلى نبينا أفضل الصلاة وأشرف السلام، كما يذهب سواد الليل ويأتي بياض النهار، ويذهب برد الشتاء ويأتي نسيم الصيف وطيبه لأنه لكل شئ ضداً وخلافاً وغاية وبدءاً ومنتهى، فالصبر مفتاحه وابتداؤه وانتهاؤه وجماله كما جاء في الخبر ( الصبر من الإيمان كالرأس من الجسد ) وفى لفظ ( الصبر الإيمان كله ) وقد يكون الشكر هو التلبس بالنعم وهى أقسامه المقسومة لك، فشكر التلبس بها في حال فنائك، وزوال الهوى والحمية والحفظ، وهذه حالة الأبدال وهى المنتهى، اعتبر ما ذكرت لك ترشد إن شاء الله تعالى. و الله أعلم.

MENGERIKAN!!! INILAH BEBERAPA MUSIBAH AGUNG DALAM SAKARATUL MAUT

Dalam Kitab
إحياءُ علومِ الدين ٤ ص ٤٤٨ مكتبة دار احياء
فإن دواهي الموت ثلاث. الأول شدة النزع كما ذكرناه

Makna; Bencana-bencana besar dalam mengalami kematian ada tiga : yang pertama adalah dasyatnya pencabutan ruh. Seperti apa yang telah kami sebutkan.

Dalam kitab ihya karya Imam Alghozali diterangkan, ada tiga bencana besar yang akan kita hadapi ketika ajal menjemput.

Yang pertama adalah dasyatnya pencabutan ruh. Bencana-bencana ini belum ditambah bencana yg dibikin sendiri oleh orang-orang seperti sakitnya berpisah dari istri yang masih cantik, harta yang melimpah dll.

Untuk itu inilah pembahasan bencana dasyat yang pertama

واعلم أن شدة الألم في سكرات الموت لا يعرفها بالحقيقة إلا من ذاقها ومن لم يذقها فإنما يعرفها إلا بالقياس إلى الآلام التي أدركها وإما الاستدلال بأحوال الناس في النزع على شدة ما هم فيه

Makna; Ketahuilah olehmu : Sungguh dasyatnya kesakitan dalam sakarotul maut itu orang tidak bisa mengetahuinya secara nyata kecuali orang yang merasakannya (mengalaminya). Dan orang yang tidak merasakannya, maka dia tidak bisa mengetahuinya kecuali dengan qiyas kepada kesakitan-kesakitan yang dia bisa menyaksikannya. Dan adakalanya mengetahui dengan mengambil petunjuk pada keadaan-keadaan manusia ketika dalam naza’ (pencabutan ruh oleh malaikat) atas dasyatnya apa yang mereka sedang alami.

فأما القياس الذي يشهد له فهو أن كل عضو لا روح فيه فلا يحس بالألم فإذا كان فيه الروح فالمدرك للألم هو الروح فمهما أصاب العضو جرح أو حريق سرى الأثر إلى الروح فيقدر ما يسري إلى الروح يتألم والمؤلم يتفرق على اللحم والدم وسائر الأجزاء فلا يصيب الروح إلا بعض الألم فإن كان في الآلام ما يباشر نفس الروح ولا يلاقي غيره فما أعظم ذلك الألم وما أشده

Makna; Maka adapun qiyas yang bisa disaksikan darinya adalah bahwa sungguh setiap anggota badan yang tidak ada ruh di dalamnya maka tidak akan merasa sakit, Maka ketika ada ruh didalamnya (maka baru bisa merasakan sakit), maka yang merasakan sakit dia adalah RUH. Maka kala anggota tubuh terkena luka ataupun terbakar, maka dampaknya (sakitnya) akan menjalar kepada ruh. Maka seukuran apa yang menjalar kepada ruh, maka ruh mengalami / merasa sakit. Dan yang merasakan sakit terpisah-pisah kepada daging, darah, dan seluruh bagian tubuh. Maka tidaklah mengenai ruh kecuali hanya sebagian kesakitan. Maka jika yang mengalami kesakitan-kesakitan ini adalah yang langsung bersentuhan dengan diri ruh itu sendiri dan tidak mengenai yang lain maka betapa besarnya rasa kesakitan itu, dan betapa dasyatnya.

والنزع عبارة عن مؤلم نزل بنفس الروح فاستغرق جميع أجزائه حتى لم يبق جزء من أجزاء الروح المنتشر في أعماق البدن إلا وقد حل به الألم فلو أصابته شوكة فالألم الذي يجده إنما يجري في جزء من الروح يلاقي ذلك الموضع الذي أصابته الشوكة وإنما يعظم أثر الاحتراق لأن أجزاء النار تغوص في سائر أجزاء البدن فلا يبقى جزء من العضو المحترق ظاهرا وباطنا إلا وتصيبه النار فتحسه الأجزاء الروحانية المنتشرة في سائر أجزاء اللحم

Makna; Naza’ (pencabutan ruh) adalah tetembungan dari sesuatu yang menyakitkan yang turun pada pribadi ruh kemudian menenggelamkan seluruh bagian ruh, sehingga tidak tersisa satu bagianpun dari bagian-bagian ruh yang menjalar menyebar jauh dalam badan kecuali sungguh benar-benar kesakitan menempatinya.

Andai sebuah duri mengenai badan maka kesakitan yang menemuinya sungguh hanya berjalan pada satu bagian ruh yang bagian ruh tersebut terhubung pada tempat yang terkena duri.

Dan sungguh dampak terbakar (jika tubuh terbakar) menjadi besar karena sungguh bagian-bagian api menyelam masuk ke dalam semua bagian-bagian tubuh maka tidak tersisa satu bagianpun dari anggota badan -yang terbakar- baik dzohir dan bathin kecuali api mengenainya, maka bagian-bagian ruhaniyah yang tersebar diseluruh bagian-bagian daging merasakan kesakitan dari pembakaran api ini.

وأما الجراحة فإنما تصيب الموضع الذي مسه الحديد فقط فكان لذلك ألم الجرح دون ألم النار

Makna; Dan adapun terluka bedah (misal terbabat) maka sungguh hanya mengenai tempat yang besi mengenainya saja, maka derita sakit luka karenanya lebih rendah (ringan) dari terbakar api.

فألم النزع يهجم على نفس الروح ويستغرق جميع أجزائه فإنه المنزوع المجذوب من كل عرق من العروق وعصب من الأعصاب وجزء من الأجزاء ومفصل من المفاصل ومن أصل كل شعرة وبشرة من الفرق إلى القدم فلا تسأل عن كربة وألمه حتى قالوا إن الموت لا شد من ضرب بالسيف ونشر بالمناشير وقرض بالمقاريض لأن قطع البدن بالسيف إنما يؤلم لتعلقه بالروح فكيف إذا كان المتناول المباشر نفس الروح

Makna; Maka Sakit pedihnya naza’ (dicabutnya ruh) menyerbu Ruh itu sendiri dan menenggelamkan seluruh bagiannya maka sungguh Ruh dicabut ditarik dari setiap urat dari urat-urat nadi tubuh, Ruh ditarik dicabut dari setiap syaraf dari syaraf-syaraf tubuh dan dari setiap bagian dari bagian-bagian tubuh, dan dari setiap sambungan dari sambungan-sambungan tubuh, dan dari pangkal tiap rambut dan kulit dari belahan rambut sampai telapak kaki. Maka janganlah kamu bertanya tentang penderitaan dan kesakitannya.

Sehingga mereka (ulama) berkata : “Sungguh kematian itu LEBIH DASYAT DARIPADA DIPOTONG DENGAN PEDANG, LEBIH DASYAT DARI PADA DIGOROK-GOROK (dimutilasi) DENGAN BANYAK GERGAJI, lebih dasyat daripada digunting-gunting dengan banyak gunting. Karena sungguh terpotongnya badan oleh pedang itu sungguh hanya menyakiti karena badan (yang terpotong) tertaut dengan ruh, bagaimana ketika yang direnggut yang ditandangi langsung adalah Ruh itu sendiri?

وإنما يستغيث المضروب ويصيح لبقاء قوته في قلبه وفي لسانه وإنما انقطع صوت الميت وصياحه من شدة ألمه لأن الكرب قد بالغ فيه وتصاعد على قلبه وبلغ كل موضع منه فهد كل قوة وضعف كل جارحة فلم يترك له قوة الاستغاثة أما العقل فقد غشيه وشوشه وأما اللسان فقد أبكمه وأما الأطراف فقد ضعفها

Makna; Dan sesungguhnya orang yang ditebas masih mampu meminta tolong dan menjerit itu karena masih bertahan kekuatan di dalam hatinya dan di dalam lisannya. Dan sesungguhnya terputusnya suara orang yang sedang mengalami kematian dan terputus jeritannya (tidak menjerit-jerit berteriak-teriak) itu karena dari dasyatnya dia merakan sakit. Karena sungguh penderitaan benar-benar dia telah sampai puncak dalam penderitaan. Dan terus naik penderitaan itu pada hatinya dan sampai pada setiap tempat darinya. Maka dasyatnya penderitaan naza’ telah memusnahkan segala kekuatan dan melemahkan segala anggota badan, maka tidak tersisa baginya kekuatan untuk meminta tolong. Adapun akal, maka dasyatnya penderitaan naza’ telah benar-benar menghilangkan kesadarannya dan membingungkannya. Dan adapun lisan, maka dasyatnya penderitaan naza’ telah benar-benar membisukannya. Dan adapun anggota-anggota badan, maka dasyatnya penderitaan naza’ telah benar-benar melemahkannya.

ويود لو قدر على الاستراحة بالأنين والصياح والاستغاثة ولكنه لا يقدر على ذلك فإن بقيت فيه قوة سمعت له عند نزع الروح وجذبها خوارا وغرغرة من حلقه وصدره وقد تغير لونه واربد حتى كأنه ظهر منه التراب الذي هو أصل فطرته وقد جذب منه كل عرق على حياله فالألم منتشر في داخله وخارجه حتى ترتفع الحدقتان إلى أعالي أجفانه وتتقلص الشفتان ويتقلص اللسان إلى أصله وترتفع الأنثيان إلى أعالي موضعهما وتخضر أنامله

Makna; Dia (orang yg sedang naza’) ingin andai dia kuasa untuk beristirahat dengan jalan merintih, mengerang dan berteriak menjerit dan meminta tolong, akan tetapi dia tidak kuasa melakukan itu semua. Maka jika masih tersisa kekuatan padanya (orang yang sedang naza’), maka anda mendengar darinya -ketika dicabutnya ruh dan ditariknya ruh- suara lenguhan dan suara berkumur dari tenggorokan (ngorok ditenggorokannya) dan dadanya. Dan benar-benar telah berubah warna (kulit) nya dan berubah warna seperti debu, sehingga seperti sungguh muncul debu darinya. Debu yang adalah asal penciptaanya. Dan telah ditarik darinya semua urat dengan daya kekuatannya. Maka rasa sakitnya menyebar di bagian dalamnya dan luarnya sampai naik ke kedua bola matanya sampai kedua pelupuk atas kedua matanya dan menyusut kedua bibirnya dan lidahnya mengkerut keasalnya. Dan naik kedua testis (prejilan) nya ke bagian atas tempat keduanya. Dan jadi hijau (menghitam) ujung jari-jarinya.

فلا تسل عن بدن يجذب منه كل عرق من عروقه ولو كان المجذوب عرقا واحدا لكان ألمه عظيما فكيف والمجذوب نفس الروح المتألم لا من عرق واحد بل من جميع العروق ثم يموت كل عضو من أعضائه تدريجا فتبرد أولا قدماه ثم ساقاه ثم فخذاه ولكل عضو سكرة بعد سكرة وكربة بعد كربة حتى يبلغ بها إلى الحلقوم فعند ذلك ينقطع نظره عن الدنيا وأهلها ويغلق دونه باب التوبة وتحيط به الحسرة والندامة وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تقبل توبة العبد ما لم يغرغر

Makna; Maka jangan anda bertanya tentang badan yang ditarik dicabut darinya seluruh urat dari urat-urat badan. Dan andaikan yang ditarik dicabut hanya satu urat, maka sungguh rasa sakitnya sangat besar. Maka Bagaimana yang ditarik dicabut adalah ruh itu sendiri, yang menderita rasa sakit bukan hanya satu urat tapi semua/seluruh urat-urat tubuh. Kemudian matilah setiap anggota badan dari anggota-anggota badannya secara bertahap, maka menjadi dingin -pada permulaannya- kedua telapak kakinya kemudian kedua betisnya, kemudian kedua pahanya. Dan pada tiap anggota badan ini mengalami sekarat pati setelah sekarat pati, dan penderitaan setelah penderitaan, sehingga sampai sekarat pati ini ke tenggorokan. Maka ketika itu berlangsung maka terputuslah penglihatannya dari dunia dan ahlinya. Dan ditutup baginya pintu taubat , dan duka cita -kegagalan- dan penyesalan menyelimutinya. Dan telah bersabda Rosululloh saw : “Diterima taubat seorang hamba selagi hamba itu belum berkumur-kumur dalam tenggorokan (ngorok ditenggorokan karena sakarotul maut)”.

إحياءُ علومِ الدين ج ٤ ص ٤٤٦ – ٤٤٨ مكتبة دار احياء الكتب العربية
وقال مجاهد في قوله تعالى وليست التوبة للذين يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إني تبت الآن قال إذا عاين الرسل فعند ذلك تبدو له صفحة وجه ملك الموت فلا تسأل عن طعم مرارة الموت وكربه عند ترادف سكراته ولذلك كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول اللهم هون على محمد سكرات الموت

Makna; Dan telah berkata Mujahid mengenai firman Alloh Subhanahu Wata’ala QS Annisa 18 :

وَلَيْسَتِ ٱلتَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ حَتَّىٰٓ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ إِنِّى تُبْتُ ٱلْـَٔـٰنَ

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”.

Mujahid berkata : “Ketika dia (orang yang akan dicabut nyawanya) melihat langsung para utusan (yaitu malaikat maut) maka ketika itu jelaslah baginya luasnya wajah malaikat maut , maka jangan kamu bertanya perihal rasa pahitnya maut dan penderitaannya ketika bertubi-tubi (datang berturut-turut) sekarat pati”. Oleh karena demikian itulah Rosululloh ﷺ berdoa : ” Duhai Alloh mohon ringankanlah sekarat pati pada Muhammad”.

والناس إنما لا يستعيذون منه ولا يستعظمونه لجهلهم به فإن الأشياء قبل وقوعها إنما تدرك بنور النبوة والولاية ولذلك عظم خوف الأنبياء عليهم السلام والأولياء من الموت حتى قال عيسى عليه السلام يا معشر الحواريين ادعوا الله تعالى أن يهون على هذه السكرة يعني الموت فقد خفت الموت مخافة أوقفني خوفي من الموت على الموت

Makna; Dan manusia (awam) sungguh mereka tidak minta perlindungan dari sekarat pati dan mereka tidak menganggap dasyatnya sekarat pati, itu karena mereka bodoh tentang sekarat pati. Karena sungguh sesuatu yang blm terjadi bisa diketahui dengan nur kenabian dan kewalian, oleh karena itu besar kekuatiran para Nabi -‘alaihim assalam- dan kekuatiran para Wali Alloh dari perihal kematian ini. Sampai-sampai Nabi ‘Isa A.S berkata : “Hai ma’syarolhawariyyin (sekumpulan sahabat Nabi ‘isa as) berdoalah kalian pada Alloh ta’ala agar Alloh meringankan atasku sekarat yaitu sekarat pati. Karena benar-benar aku kuatir pada almaut dengan kuatir yang sungguh-sungguh. Kekuatiranku menghentikanku dari kematian ke kematian.

وروى أن نفرا من إسرائيل مروا بمقبرة فقال بعضهم لبعض لو دعوتم الله تعالى أن يخرج لكم من هذه المقبرة ميتا تسألونه فدعوا الله تعالى فإذا هم برجل قد قام وبين عينيه أثر السجود قد خرج من قبر من القبور فقال يا قوم ما أردتم مني لقد ذقت الموت منذ خمسين سنة ما سكنت مرارة الموت من قلبي

Makna: Dan diceritakan bahwa sungguh ada rombongan dari bani israil mereka melewati sebuah pekuburan. Maka berkata sebagian mereka kepada sebagian yang lain : ” Mbok yo kalian berdoa pada Alloh ta’ala agar Alloh mengeluarkan -untuk kalian dari kuburan ini- seorang mayyit agar kalian bisa menanyainya.”

Maka mereka berdoa pada Alloh ta’ala. Tiba-tiba di depan mereka telah berdiri seorang laki-laki dan di antara kedua matanya ada bekas sujud. Laki-laki ini keluar dari kubur dari kubur-kubur dipekuburan itu. Laki-laki yang keluar dari kubur berkata : “Hai kaum apa yang kalian inginkan dari ku? Sungguh benar-benar aku telah merasakan dicabutnya nyawa sejak lima puluh tahun (akan tetapi) tidak hilang rasa pahitnya kematian tersebut dari hatiku”.

وقالت عائشة رضي الله عنها لا أغبط أحد يهون عليه الموت بعد الذي رأيت من شدة مَوْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وروي أنه عليه السلام كان يقول اللهم إنك تأخذ الروح من بين العصب والقصب والأنامل اللهم فأعني على الموت وهونه علي (٣) وعن الحسن أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر الموت وغصته وألمه فقال هو قدر ثلثمائة ضربة بالسيف (٤) وسئل صلى الله عليه وسلم عن الموت وشدته فقال إن أهون الموت بمنزلة حسكة في صوف فهل تخرج الحسكة من الصوف إلا ومعها صوف (٥) ودخل صلى الله عليه وسلم على مريض ثم قال إني أعلم ما يلقى ما منه عرق إلا ويألم للموت على حدته

Makna; Telah berkata ‘Aisyah -semoga Alloh meridhoinya- : ” Saya tidak lagi menginginkan seperti oranglain yang diringankan atas dia pencabutan ruh setelah yang telah saya lihat yaitu dasyatnya kewafatan Rosululloh ﷺ “.

Diriwayatkan sungguh Nabi ﷺ beliau berdoa : ” Duhai Alloh, sungguh Engkau mengambil ruh dari otot-otot kecil / urat syaraf dan ruas-ruas dan dari ujung jari-jari, Duhai Alloh tolonglah saya untuk menghadapi kematian dan mohon ringankanlah kematian atas diri saya”.

Dan dari Hasan Sungguh Rosululloh ﷺ menyebutkan kematian dan kesusahannya dan kesakitannya maka Nabi ﷺ bersabda : “Itu seukuran tiga ratus tebasan dengan pedang”.

Dan Nabi ﷺ telah ditanya dari perihal kematian dan kedasyatannya, maka Nabi ﷺ bersabda : ” Sungguh YANG PALING RINGAN dari kematian itu seperti kayu penuh duri dalam bulu domba (wol), maka tidaklah kayu ini keluar dari bulu kecuali membawa serta bulu domba”.

Nabi ﷺ menjenguk orang sakit kemudian Nabi ﷺ bersabda : “Sungguh saya mengetahui apa yang dia alami. Tidak ada darinya satu uratpun kecuali merasakan sakit karena kematian atas tajamnya kematian”.

وكان علي كرم الله وجهه يحض على القتال ويقول إن لم تقتلوا تموتوا والذي نفسي بيده لألف ضربة بالسيف أهون علي من موت على فراش

Makna; Dan ‘Ali krw Merangsek dimedan peperangan sambil berkata : “Jika kalian tidak membunuh maka kalian terbunuh, dan demi Yang jiwaku di dalam kekuasaannya, sungguh seribu tebasan perang lebih ringan bagiku daripada mati diatas tempat tidur”.

وقال الأوزاعي بلغنا أن الميت يجد ألم الموت ما لم يبعث من قبره وقال شداد بن أوس الموت افظع هول في الدنيا والآخرة على المؤمن وهو أشد من نشر بالمناشير وقرض بالمقاريض وغلى في القدور ولو أن الميت نشر فأخبر أهل الدنيا بالموت ما انتفعوا بعيش ولا لذوا بنوم

Makna; Dan telah berkata Al-Auza’i : ” Telah sampai pada kami bahwa sungguh mayit merasakan derita sakitnya pati selagi belum dibangkitkan dari kuburnya”.

Dan telah berkata Syadad bin Aus : “Dicabutnya ruh adalah kengerian yang paling mengerikan di dunia dan akhirat atas orang mukmin. Itu lebih dasyat dari pada dipotong-potong dengan banyak gergaji dan dicincang dengan banyak gunting dan digodog (dimasak) dalam kendi-kendi”.

Dan andai sungguh ada mayyit yang bangkit kemudian mengabarkan kepada ahli dunya (orang yang masih hidup) tentang pedihnya kematian, maka mereka tidak akan mengambil manfaat dengan kehidupan dan tidak pula mereka merasakan enak tidur.

وعن زيد بن أسلم عن أبيه قال إذا بقي على المؤمن من درجاته شيء لم يبلغها بعمله شدد عليه الموت ليبلغ بسكرات الموت وكربه درجته في الجنة وإذا كان للكافر معروف لم يجز به هون عليه في الموت ليستكمل ثواب معروفه فيصير إلى النار

Makna; Dan dari Zaid bin Aslam dari bapaknya , beliau berkata : “Ketika masih tersisa atas seorang mukmin sedikit dari derajatnya yang dia tidak bisa mencapai dengan amal (sholihnya) maka diperberat atasnya sakitnya kematian agar tercapai derajatnya di surga dengan sebab sakarotul maut dan penderitaannya. Dan ketika ada kebaikan yang dilakukan oleh orang kafir yang belum terbalas maka diringankan atas dia dalam sakitnya kematian agar sempurna balasan kebaikannya (di dunia) maka masuklah dia (kelak) di neraka”.

(Note : Jadi kita tidak boleh buruk sangka, ada kalanya orang alim, banyak ibadah tapi menjelang wafat beliau sakit yang parah atau sangat menderita dalam kematiannya. Itu kemungkinan karena derajatnya tinggi di surga nanti, sedang amalnya belum mencukupi, sehingga dicukupi dengan penderitaan).

وعن بعضهم أنه كان يسأل كثيرا من المرضى كيف تجدون الموت فلما مرض قيل له فأنت كيف تجده فقال كأن السموات مطبقة على الأرض وكأن نفسي يخرج من ثقب إبرة

Makna; Dan dari sebagian ulama, sungguh beliau bertanya pada orang banyak -dari orang-orang yang sedang sakit- bagaimana mereka mengalami kematian. Maka tatkala beliau sakit ditanyakan padanya : ” bagaimana anda mengalaminya?”. Maka beliau menjawab : “Sungguh seakan tujuh langit den krungkebaken ingatase bumi (ditabrakkan dan ditutupkan ke bumi) dan sungguh seakan diri ini keluar dari lubang jarum”.

وقال صلى الله عليه وسلم موت الفجأة راحة للمؤمن وأسف على الفاجر

Makna; Dan telah bersabda Nabi ﷺ mati mendadak adalah kenyamanan/ketentraman bagi orang beriman dan prihatin (kesedihan yang mendalam) bagi orang yang fajir (banyak maksiyat).

وروى عن مكحول عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلم أنه قال لو أن شعرة من شعر الميت وضعت على أهل السموات والأرض لماتوا بإذن الله تعالى لأن في كل شعرة الموت ولا يقع الموت بشيء إلا مات

Makna; Diriwayatkan dari Makhul dari Nabi ﷺ sungguh beliau telah bersabda: ” Andaikan sungguh sehelai rambut dari rambutnya mayyit dijatuhkan diatas penghuni tujuh langit dan bumi maka tentu mereka akan mati dengan idzin Alloh ta’ala , karena sungguh dalam tiap helai rambut ada kematian. Dan tidaklah kematian menimpa sesuatu kecuali sesuatu itu (ikut) mati.

ويروى لو أن قطرة من ألم الموت وضعت على جبال الدنيا كلها لذابت

Makna; Dan diriwayatkan : ” Andai sungguh satu tetes saja dari sakitnya kematian diletakkan di atas seluruh gunung-gunung di dunia, niscaya lelehlah gunung-gunung itu semua”.

وروى إن إبراهيم عليه السلام لما مات قال الله تعالى له كيف وجدت الموت يا خليلي قال كسفود جعل في صوف رطب ثم جذب فقال أما إنا قد هونا عليك

Makna; Dan diriwayatkan Sungguh Nabi Ibrohim a.s manakala telah wafat maka Alloh Subhanahu Wata’ala bertanya padanya : “Bagaimana kamu menemui (mengalami) kematian hai kekasihku?”. Nabi Ibrohim a.s menjawab : ” Bagai besi yang untuk membakar daging (sujen sate) diletakkan pada bulu domba yang basah kemudian ditarik “. Maka Alloh berfirman : ” ingatlah, sungguh Kami telah benar-benar Kami ringankan kematian itu atasmu”.

وروى عن موسى عليه السلام أنه لما صارت روحه إلى الله تعالى قال له ربه يا موسى كيف وجدت الموت قال وجدت نفسي كالعصفور حين يقلى على المقلى لا يموت فيستريح ولا ينجو فيطير. وروى عنه أنه قال وجدت نفسي كشاة حية تسلخ بيد القصاب

Makna; Dan diriwayatkan dari Nabi Musa a.s Sungguh Musa a.s tatkala Ruhnya telah menghadap Alloh Subhanahu Wata’ala maka Alloh Subhanahu Wata’ala bertanya padanya : “Hai musa bagaimana anda mengalami kematian ? “. Musa a.s menjawab : ” Saya menemukan diri saya bagaikan ‘usfur (sejenis burung kutilang) ketika digoreng diatas penggorengan, yang tidak mati (yang andaikan mati) maka bisa beristirahat, dan tidak pula selamat (yang andaikan selamat) maka bisa terbang”.
Dan diriwayatkan dari beliau sungguh beliau (Musa a.s) menjawab : “Saya menemukan diri saya bagaikan kambing yang masih hidup yang dibeset-beset (dikuliti) di tangan para tukang jagal”.

وروي عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كان عنده قدح من ماء عند الموت فجعل يدخل يده في الماء ثم يمسح بها وجهه ويقول اللهم هون علي سكرات الموت وفاطمة رضي الله عنها تقول واكرباه لكربك يا أبتاه وهو يقول لا كرب على أبيك بعد اليوم

Makna; Dan diriwayatkan dari Nabi ﷺ sungguh Nabi ﷺ di sisinya ada bejana terisi air ketika dekat kewafatan, kemudian Nabi ﷺ memasukkan tangannya ke dalam air, kemudian beliau membasuh wajahnya dengan air seraya berdoa : ” Duhai Alloh mohon ringankan sekarat pati atasku.”
Sedang Fathimah r.a berkata : “Duh sedihnya (aku), karena penderitaan Engkau wahai Abahku”. Dan Nabi ﷺ menjawab: ” Tidak akan lagi ada penderitaan atas abahmu ini setelah hari ini”.

وقال عمر رضي الله عنه لكعب الأحبار يا كعب حدثنا عن الموت فقال نعم يا أمير المؤمنين إن الموت كغصن كثير الشوك أدخل في جوف رجل وأخذت كل شوكة بعرق ثم جذبه رجل شديد الجذب فأخذ ما أخذ وأبقى ما أبقى

Makna; Dan telah berkata Umar r.a pada Ka’ab Al-Ahbar : “Ya Ka’ab ceritakan pada kami perihal kematian”. Maka Ka’ab menjawab : ” Iya, ya Amirolmukminin , Sungguh kematian itu seperti cabang / dahan besar yang banyak sekali durinya, yang dimasukkan kedalam bagian dalam tubuh seorang laki laki dan setiap duri mendapatkan satu urat, kemudian seorang laki-laki lain menarik dahan penuh duri ini dengan tarikan yang sangat kuat, maka terambil apa yang terambil, dan tersisa apa yang tersisa (modal madil dedel duel).

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ العبد ليعالج كرب الموت وسكرات الموت وإن مفاصله ليسلم بعضها على بعض تقول عليك السلام تفارقني وأفارقك إلى يوم القيامة

Makna; Dan bersabda Nabi ﷺ : “Sungguh seorang hamba subgguh akan menghadapi penderitaan-penderitaan kematian dan sakarotulmaut dan sendi-sendinya sungguh sebagiannya akan mengucapkan salam pada sebagian lain dengan ucapannya : “keselamatan semoga atasmu (ucapan selamat tinggal) engkau berpisah dariku dan aku berpisah darimu sampai hari kiyamat”.

فهذه سكرات الموت على أولياء الله وأحبابه فما حالنا ونحن المنهمكون في المعاصي وتتوالى علينا مع سكرات الموت بقية الدواهي فإن دواهي الموت ثلاث

Makna; Maka inilah sakarotulmaut atas para Waliyulloh Subhanahu Wata’ala dan orang-orang yang dicintai oleh Alloh, maka bagaimana dengan kita, sedangkan kita adalah orang-orang yang tekun dalam bermaksiyat dan akan berturut-turut menimpa kita -beserta sakarotulmaut- bencana-bencana besar lainnya dalam kematian.

Wallohu a’lam.

BERSIHKANLAH HATI KARENA HATI ADALAH TEMPAT ALLOH SWT MENILAI MAKHLUKNYA

KITAB ADABUS SULUKIL MURID

Keharusan bagi muriid yaitu bersungguh-sungguh (tekun) dalam menjaga hatinya dari was-was, kerusakan hati dan kemauan yang rendah. Hendaknya si muriid menjadikan di pintu hatinya sebuah penjaga yang mengawasi dan yang mencegah tiga hal tersebut memasuki hatinya. Karena apabila hal itu telah masuk maka hati akan rusak dan apabila sudah terlanjur masuk maka akan sulit untuk mengeluarkannya.
وعلى المُريد أن يَجتهِد في حفظِ قَلبه مِن الوَساوِس والآفات والخواطِر الرَّدِيَّة، وليُقِم على بابِ قَلبه حاجِباً مِن المُراقبة يمنعُها مِن الدخولِ إليه فإنها إن دَخَلته أفسَدتهُ، ويَعسُر بعد ذلك إخراجها مِنه.

Dah hendaknya si muriid menekankan dalam membersihkan hatinya yang notabene sebagai tempat untuk Tuhannya “melihat” yakni dibersihkan dari kecenderungan pada kesenangan-kesenangan duniawi, dendam, dengki, berbuat curang dan dibersihkan dari prasangka buruk pada sesama orang islam
Hendaknya muriid tadi menjadi orang yang suka menasehati mereka (sesama manusia), mengasihi, welas asih terhadap mereka dan meyakinkan kebaikan pada diri mereka. Dan hendaknya si muriid mencintai kebaikan bagi mereka sebagaimana membuat dirinya sendiri menjadi senang. Dan membenci keburukan bagi mereka sebagaimana menjadikan si muriid tidak nyaman.
وَليُبالِغ في تَنقِية قَلبه الذي هو مَوضِعُ نَظَر ربِّه مِن المَيل إلى شَهوات الدنيا، ومِن الحِقد والغِلِّ والغِشِّ لأحدٍ مِن المسلمين، ومِن الظّنّ السوء بأحدٍ منهم،
وليكُن ناصحاً لهم رحيماً بهم مُشفقاً عليهم، مُعتقداً الخيرَ فيهم، يُحبُّ لهم ما يُحبُّ لنفسه مِن الخير، ويكرهُ لهم ما يكرهُ لِنفسه من الشر.

Dah ketahuilah wahai muriid bahwa hati mempunyai (potensi) perbuatan yang menyimpang (dosa) yakni perbuatan yang lebih keji, buruk dan lebih jelek dari maksiat-maksiat anggota dhohir. Dan hati tidak pantas untuk memperoleh ma’rifatullah (pengetahuan dari Allah yang bersifat “pemberian), kecintaan Allah ta’ala kecuali setelah perbuatan tersebut dibersihkan dan dikeluarkan.
وَلتَعْلم أيُّها المُريد أنّ لِلقلبِ مَعاصي هِيَ أفحشُ وأقبحُ وأخبثُ مِن معَاصي الجوارِح ولا يَصلُح القلب لِنزول معرفَة الله ومحبَّته تعالى إلا بعد التّخلي عنها و التّخلُّص منها.

Perbuatan hati yang paling buruk adalah sombong, riya’ (pamer) dan dengki.
Kesombongan menunjukkan pelakunya berada pada puncak kedunguan, kebodohan dan ketololan. Bagaimana ia pantas untuk sombong sementara ia tahu bahwa dirinya adalah orang yang diciptakan dari setetes air mani yang menjijikkan dan hanya selang sebentar menjadi benda kering yang jijik. Dan apabila dia (si muriid) memiliki keunggulan dan kebaikan-kebaikan maka hal tersebut merupakan anugerah Allah dan perbuatan-Nya. Si muriid tidaklah memiliki kekuasaan apapun pada kelebihan-kelebihan tadi dan ia tidak mempunya daya serta kekuatan untuk memperolehnya. Apakah ketika menyombongkan sesuatu yang merupakan pemberian yakni anugerah Allah kepada sesama hamba-Nya tidak menghawatirkan (apabila) pemberian-Nya dicabut sebab perilakunya yang buruk serta merebut bagian sifat Tuhannya?
فمِن أفحشِها الكِبر و الرّياء والحسد.
فالكِبر يدُلُّ مِن صاحِبِه على غايةِ الحماقَة، ونهاية الجهالة والغباوةِ، وكيف يليقُ التكَبُّر مِمّن يعلم أنّه مخلوقٌ مِن نُطفةٍ مَذِرةٍ وعلى القُرب يصِير جِيفةً قذِرةً. وإن كان عِنده شيءٌ مِن الفضَائِل والمحاسِن فذلك مِن فَضل الله وصُنعه، ليس له فيه قُدرةٌ ولا في تحصيله حَولٌ ولا قوةٌ، أوَلا يخشى إذا تكبّر على عبادِ الله بما آتاه الله مِن فَضله أن يَسلُبَه ما أعطاهُ بِسوء أدبِه ومُنازعتِه لِربِّه في وَصفِه؟ لأن الكِبر مِن صِفات الله الجبّار المُتَكبّر

Adapun riya’ (pamer) itu menunjukkan kekosongan hati orang yang pamer tersebut dari keagungan Allah dan kebesaran-Nya. Karena ia berbuat dan menjadi baik di mata para makhluk sementara ia tidak menerima ilmunya Allah Tuhan seluruh semesta.
Barang siapa yang beramal sholih dan ia merasa senang diketahui orang lain sebab amal tersebut supaya mereka memuliakannya, dan bersikap baik padanya. Orang yang seperti ini disebut orang yang riya’ (pamer) sekaligus bodoh dan berhasrat keduniawian. Karena zahid (orang yang zuhud) adalah orang yang apabila didatangi para manusia dengan diagungkan, diberri harta mereka maka ia akan menghindari dan membenci hal tersebut. Hal ini (bagi orang yang riya’) merupkan mencari dunia dengan amal perbuatan akhirat, untuk siapa coba yang lebih bodoh darinya?
Ketika orang yang terbiasa pamer belum mampu zuhud maka seyogyanya ia meminta harta dunia dari pemiliknya yakni Allah. Karena seluruh hati makhluk itu berada dalam genggaman-Nya dan juga Ia akan memberi harta dunia kepada siapa saja yang mendatangi-Nya serta Ia akan menyerahkan harta dunia kepadanya pada sesuatu yang Ia kehendaki.
وأمّا الرِّياء فيَدُل على خُلُوِّ قلبِ المُرائي مِن عظمةِ الله وإجلاله لأنّه يتصَنَّع و يتزيَّن للمخلوقين ولا يقنع بِعلمِ الله ربِّ العالمين.
ومَن عمِل الصَّالِحات وأحبَّ أن يعرِفه النّاس بذلك لِيُعظِّموه ويصطنِعوا إليه المعروف فهو مُراءٍ جاهِلٌ راغِبٌ في الدنيا، لأن الزّاهد مَن لو أقبَل النّاس عليه بِالتعظيم وبَذْلِ الأموالِ لكان يُعرض عن ذلك ويَكرهُه، وهذا يطلُبَ الدُّنيا بِعملِ الآخِرة فمن أجهلُ مِنهُ ؟
وإذا لم يَقدِرْ على الزُّهدِ في الدُّنيا فَيَنبغي لَهُ أَن يَطلُبَ الدُّنيا مِن المالِك لها، وهُوَ الله فإنَّ قُلوبَ الخَلائِق بِيَدهِ يُقبِلُ بها على مَن أقبلَ عليهِ، و يُسخِّرها لهُ فِيما يشاءُ.

Adapun dengki adalah memusuhi Allah secara terang-terangan dan melawan di Kerajaan-Nya secara nyata. Karena Allah Yang Maha Suci memberikan nikmat pada sebagian hambanya dengan suatu kenikmatan maka sudah jelas Dia menghendakinya dan Dia memilihnya karena tidak ada yang bisa memaksany Allah ta’ala. Karena ketika seorang hamba (budak) menentang apa yang telah diinginkan Tuannya maka hamba tersebut sudah melakukan perbuatan yang buruk (tidak bertatakrama). Dan ia pantas mendapatkan kerugian.
و أَمَّا الحَسَدُ فَهُوَ مُعاداةٌ للهِ ظاهِرةٌ، ومُنازعَةٌ له في مُلكِهِ بيِّنةٌ لأنَّهُ سُبحانهُ إذا أَنعمَ على بعضِ عِبادِهِ بِنِعمةٍ فلا شكَّ أنَّهُ مُريدٌ لِذلكَ ومُختارٌ لهُ إذْ لا مُكرِهَ لهُ تعالى، فإذا أرادَ العبْدُ خِلافَ ما أرادَ مَوْلاهُ فقد أساءَ الأدَبَ، واسْتَوجبَ العَطبَ.

Kemudian, dengki kadang-kadang terjadi pada urusan dunia seperti jabatan dan harta. Urusan ini merupakan hal sepele untuk di-dengki-kan. Akan tetapi, sebaiknya kau mengasihi orang yang diberi cobaan dengan hal ini (yakni dengan jabatan dan harta dunia). Dan kau sebaiknya kau berterima kasih kepada Allah yang telah menyelamatkanmu darinya. Dan terkadang dengki terjadi pada urusan akhirat seperti ilmu dan kebaikan.
ثُمَّ إنَّ الحسَدَ قد يَكونُ على أمُورِ الدُّنيا كالجاهِ والمالِ، وهيَ أصغَرُ مِن أن يُحسدَ عليها بَل ينبغي لكَ أن تَرحمَ مَن اِبتُلِيَ بِها وتَحمَدَ اللهَ الذي عافاكَ مِنها، وقَد يكونُ على أمورِ الآخرةِ كالعِلمِ والصَّلاحِ.

Sangat buruk bagi murid dengki kepada orang yang sama-sama merambah jalan menuju Allah dan sama-sama saling menolong dalam urusannya (bisa disebut saingan atau rival). Namun, seharusnya si muriid merasa senang karena ia telah membantunya dan ia telah menjadi seseorang yang kuat. Sementara orang mu’mim menjadi banyak sebab bersama-sama saudaranya. Bahkan satu hal yang seharusnya bagi muriid lakukan adalah mencintai dengan batinnya dan tekun berjuang dengan badannya pada semua manusia yakni rekan yang satu tujuan) atas dasar menuju Allah dan terus melakukan ketaatan kepada-Nya. Dan tidak mempedulikan apakah mereka akan mengunggulinya atau malah si muriid mengungguli mereka. Karena hal tersebut merupakan pemberian dari Allah. Sementara itu Allah –subhanahu wa ta’ala- memberikan rahmat kasih sayang-Nya kepada siapapun yang Ia inginkan.
وقَبيحٌ بِالمُريدِ أن يَحسدَ مَن وافَقَهُ على طَريقِهِ، وعَاونَهُ على أمرِهِ، بل ينبَغي لهُ أن يَفرحَ بهِ لأنَّهُ صارَ عَوْناً له وجِنساً يتقَوَّى بِهِ، والمؤمِنُ كثيرٌ بِأخيهِ، بل الذي يَنبغي لِلمُريدِ أن يُحِبَّ بِباطِنهِ ويَجتهِدَ بِظاهِرهِ في جَمْعِ النَّاسِ على طريقِ الله والاِشتِغالِ بِطاعتِه ولا يُبالي أَفضلوهُ أم فَضَلهُم فإنَّ ذلِكَ رِزقٌ مِنَ الله ؛ وهُو سُبحانَهُ وتَعالى يَختصُّ بِرحمتِهِ مَن يَشاءُ.

Di dalam hati terdapat banyak akhlak yang tidak terpuji, kami tidak akan menyebutkan (di sini) karena (kami) ingin (menjadikan kitab ini) ringkas. Dan kami akan menuliskan –sebagai perhatian lebih- pada induk dari akhlak-akhlak yang tercela.
وفي القَلبِ أخلاقٌ كثيرةٌ مذمومةٌ، لم نذكُرها حِرصاً على الإيجازِ، وقد نبَّهنا على أمّهاتِها،

Induk dan pangkal seluruh akhlak buruk serta pusat pertumbuhannya adalah mencintai dunia. Jadi mencintai keduniawian adalah sumber utama seluruh dosa seperti (keterangan) yang telah datang (dari Rasulullah). Ketika hati telah selamat dari mencintai dunia maka hati akan menjadi selaras, bening, bercahaya, baik dan telah layak menerima cahaya-cahaya –dari Allah- dan pantas dibukakan dengan rahasia-rahasia-Nya.
وأمُّ الجميعِ وأصلها ومَغرِسُها حُبُّ الدُّنيا فَحُبُّها رأسُ كُلِّ خطيئةٍ كما وَرَد، وإذا سَلِم القلبُ مِنهُ فقد صَلحَ، وصفا، وتَنوَّر، وطابَ، وتأهَّلَ لِوارِداتِ الأنوارِ وصَلُح لِلمُكاشفةِ بِالأسرارِ.

PENJELASAN HARTA RAMPASAN PERANG (GHONIMAH) DAN (SALAB) PERALATAN & PAKAIAN PERANG

BAB SALAB & GHANIMAH

(Fasal) di dalam menjelaskan hukum-hukum salab dan pembagian ghanimah.  

فَصْلٌ  فِيْ بَيَانِ أَحْكَامِ السَّلْبِ وَقَسْمِ الْغَنِيْمَةِ

Salab

Barang siapa membunuh seseorang dari pihak kafir, maka ia berhak diberi harta salab kafir tersebut. Lafadz “salab” dengan membaca fathah huruf lamnya.

(وَمَنْ قَتَلَ قَتِيْلًا أُعْطِيَ سَلَبَهُ)

بِفَتْحِ اللَّامِ

Dengan syarat orang yang membunuh adalah orang muslim, laki-laki atau perempuan, merdeka atau budak, imam telah mensyaratkan salab itu padanya ataupun tidak.     

بِشَرْطِ كَوْنِ الْقَاتِلِ مُسْلِمًا ذَكَرًا كَانَ أَوْ أُنْثًى حُرًّا أَوْ عَبْدًا شَرَّطَهُ الْإِمَامُ لَهُ أَوْ لاَ

Salab adalah pakaian yang dikenakan oleh orang yang terbunuh, muza, ar ran yaitu muza yang tanpa alas dan dikenakan pada betis saja (kaos kaki), peralatan perang, kendaraan yang ia gunakan bertempur atau ia pegang kendalinya, pelana, alat kendali, penutup tunggangan, gelang, kalung, sabuk yang digunakan mengikat perut, cincin, bekal nafaqah yang ada bersamanya, dan kuda serepan yang digiring bersamanya.           

وَالسَّلَبُ ثِيَابُ الْقَتِيْلِ الَّتِيْ عَلَيْهِ وَالْخُفُّ وَالرَّانُ وَهُوَ خُفٌّ بِلَا قَدَمٍ يُلبَسُ لْلسَّاقِّ فَقَطْ وَآلَاتُ الْحَرْبِ وَالْمَرْكُوْبُ الَّذِيْ قَاتَلَ عَلَيْهِ أَوْ أَمْسَكَهُ بِعِنَانِهِ وَالسَّرْجُ وَاللِّجَامُ وَمَقُوْدُ الدَّابَّةِ وَالسِّوَارُ وَالطُّوْقُ وَالْمِنْطَقَةُ وَهِيَ الَّتِيْ يُشَدُّ بِهَا الْوَسَطُ وَالْخَاتَمُ وَالنَّفَقَةُ الَّتِيْ مَعَهُ وَالْجَنِيْبَةُ الَّتِيْ تُقَادُ مَعَهُ

Sang pembunuh hanya bisa menghaki salab-nya orang kafir ketika ia melakukan hal yang membahayakan dirinya dalam membunuh kafir tersebut saat pertempuran.       

وَإِنَّمَا يَسْتَحِقُّ الْقَاتِلُ سَلْبَ الْكَافِرِ إِذَا غَرَّ بِنَفْسِهِ حَالَ الْحَرْبِ فِيْ قَتْلِهِ

Sekira dengan melakukan hal tersebut ia mampu menahan bahaya kafir tersebut.            

بِحَيْثُ يَكْفِيْ بِرُكُوْبِ هَذَا الْغَرَرِ شَرَّ ذَلِكَ الْكَافِرِ

Sehingga, seandainya ia membunuh kafir tersebut saat si kafir dalam keadaan tertawan, tidur, atau ia membunuhnya setelah pasukan kafir melarikan diri, maka ia tidak berhak mendapatkan salab kafir tersebut.      

فَلَوْ قَتَلَهُ وَهُوَ أَسِيْرٌ أَوْ نَائِمٌ أَوْ قَتَلَهُ بَعْدَ انْهِزَامِ الْكُفَّارِ فَلَا سَلْبَ لَهُ

Mencegah bahaya orang kafir adalah menghilangkan kekuatannya, seperti membutakan kedua matanya, memotong kedua tangannya atau kedua kakinya.    

وَكِفَايَةُ شَرِّ الْكَافِرِ أَنْ يُزِيْلَ امْتِنَاعَهُ كَأَنْ يَفْقَأَ عَيْنَيْهِ أَوْ يَقْطَعَ يَدَّيْهِ أَوْ رِجْلَيْهِ

Ghanimah

Ghanimah secara bahasa adalah diambil dari lafadz “al ghanmi” yang mempunyai makna laba / untung. 

وَالْغَنِيْمَةُ لُغَةً مَأْخُوْذٌ مِنَ الْغَنْمِ وَهُوَ الرِّبْحُ

Dan secara syara’ adalah harta yang dihasilkan oleh kaum muslimin dari kaum kafir harbi dengan pertempuran dan mengerahkan pasukan berkuda atau onta.          

وَشَرْعًا الْمَالُ الْحَاصِلُ لِلْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُفَّارِ أَهْلِ حَرْبٍ بِقِتَالٍ وَإِيْجَافِ خَيْلٍ أَوْ إِبِلٍ

Dengan keterangan “ahli harbi”, mengecualikan harta yang dihasilkan dari orang-orang murtad, maka sesungguhnya harta tersebut adalah harta fai’ bukan ghanimah.             

وَخَرَجَ بِأَهْلِ الْحَرْبِ الْمَالُ الْحَاصِلُ مِنَ الْمُرْتَدِّيْنَ فَإِنَّهُ فَيْئٌ لَا غَنِيْمَةٌ.

Pembagian Ghanimah

Setelah itu, maksudnya setelah mengeluarkan salab dari ghanimah, maka ghanimah dibagi menjadi seperlima.   

(وَتُقَسَّمُ الْغَنِيْمَةُ بَعْدَ ذَلِكَ)

أَيْ بَعْدَ إِخْرَاجِ السَّلْبِ مِنْهَا (عَلَى خَمْسَةِ أَخْمَاسٍ

Empat seperlimanya, barang menetap atau bisa dipindah, diberikan kepada orang-orang yang hadir di medan laga, dari orang-orang yang ikut merampas harta tersebut dengan niat berperang walaupun belum sempat ikut berperang bersama pasukan.          

فَيُعْطَى أَرْبَعَةُ أخْمَاسِهَا) مِنْ عَقَارٍ وَمَنْقُوْلٍ (لِمَنْ شَهِدَ) أَيْ حَضَرَ (الْوَقْعَةَ) مِنَ الْغَانِمِيْنَ بِنِيَّةِ الْقِتَالِ وَإِنْ لَمْ يُقَاتِلْ مَعَ الْجَيْشِ

Begitu juga orang yang hadir tidak dengan niat berperang namun ternyata dia ikut berperang menurut pendapat al adhhar.

وَكَذَا مَنْ حَضَرَ لَابِنِيَّةِ الْقِتَالِ وَقَاتَلَ فِيْ الْأَظْهَرِ

Tidak ada bagian apa-apa bagi orang yang hadir setelah pertempuran usai.          

وَلَا شَيْئَ لِمَنْ حَضَرَ بَعْدَ انْقِضَاءِ الْقِتَالِ

Tiga bagian diberikan kepada pasukan berkuda yang hadir ke medan pertempuran dan dia termasuk golongan yang memenuhi syarat-syarat berperang, dengan menggunakan kuda yang dipersiapkan untuk berperang, baik ia benar-benar sempat berperang ataupun tidak. Dua bagian diberikan untuk kudanya dan satu bagian untuk dirinya.        

(وَيُعْطَى لِلْفَارِسِ)

الْحَاضِرِ الْوَقْعَةِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْقِتَالِ بِفَرَسٍ مُهَيَّإٍ لِلْقِتَالِ عَلَيْهِ سَوَاءٌ قَاتَلَ أَمْ لاَ (ثَلَاثَةُ أَسْهُمٍ) سَهْمَيْنِ لِفَرَسِهِ وَسَهْمًا لَهُ

Yang diberi hanya satu kuda saja walaupun ia membawa kuda yang berjumlah banyak.   

وَلَا يُعْطَى إِلَّا لِفَرَسٍ وَاحِدٍ وَلَوْكَانَ مَعَهُ أَفْرَاسٌ كَثِيْرَةٌ

Bagi pejalan kaki, maksudnya pasukan yang berperang dengan berjalan, maka mendapatkan satu bagian.              

(وَلِلرِّجَالِ)

أَيِ الْمُقَاتِلِ عَلَى رِجْلَيْهِ (سَهْمٌ) وَاحِدٌ 

Yang diberi bagian dari ghanimah hanyalah orang yang memenuhi lima syarat, yaitu islam, baligh, berakal, merdeka dan laki-laki.      

(وَلَا يُسْهَمُ إِلَّا لِمَنْ) أَيْ شَخْصٍ (اسْتَكْمَلَتْ فِيْهِ خَمْسُ شَرَائِطَ الْإِسْلَامُ وَالْبُلُوْغُ وَالْعَقْلُ وَالْحُرِّيَّةُ وَالذُّكُوْرِيَّةُ

Radlkh (Persenan)

Jika salah satu syarat tidak terpenuhi, maka ia hanya diberi radlukh (persenan) tidak diberi sahmun (bagian).       

فَإِنِ اخْتَلَّ شَرْطٌ مِنْ ذَلِكَ رُضِخَ لَهُ وَلَا يُسْهَمُ) لَهُ

Maksudnya, orang yang tidak memenuhi syarat adakalanya karena ia adalah anak kecil, orang gila, budak, orang wanita atau kafir dzimmi.            

أَيْ لِمَنِ اخْتَلَّ فِيْهِ الشَّرْطُ إِمَّا لِكَوْنِهِ صَغِيْرًا أَوْ مَجْنُوْنًا أَوْ رَقِيْقًا أَوْ أُنْثًى أَوْ ذِمِّيًا

Ar radlkh secara bahasa adalah pemberian yang sedikit. Dan secara syara’ adalah sesuatu yang kadarnya di bawah bagian yang diberikan pada pasukan pejalan kaki.             

وَالرَّضْخُ لُغَةً الْعَطَاءُ الْقَلِيْلُ وَشَرْعًا شَيْئٌ دُوْنَ سَهْمٍ يُعْطَى لِلرَّاجِلِ

Sang imam melakukan ijtihad di dalam menentukan ukuran persenan tersebut sesuai dengan kebijakannya.        

وَيَجْتَهِدُ الْإِمَامُ فِيْ قَدْرِ الرَّضْخِ بِحَسَبِ رَأْيِهِ

Maka sang imam memberi lebih orang yang ikut berperang dari pada yang tidak, dan memberi lebih pada orang yang lebih banyak berperangnya daripada yang lebih sedikit ikut berperang.  

فَيَزِيْدُ الْمُقَاتِلَ عَلَى غَيْرِهِ وَالْأَكْثَرَ قِتَالًا عَلَى الْأَقَلِّ قِتَالًا

Tempat pengambilan persenan adalah empat seperlima menurut pendapat al adhhar.    

وَمَحَلُّ الرَّضْخِ الْأَخْمَاسُ الْأَرْبَعَةُ فِيْ الْأَظْهَرِ

Dan menurut pendapat yang kedua, tempat persenan tersebut adalah seluruh ghanimah.             

وَالثَّانِيْ مَحَلُّهُ أَصْلُ الْغَنِيْمَةِ

Seperlima yang tersisa setelah empat seperlima yang tadi, maka di bagi menjadi lima sahm (bagian)         

(وَيُقْسَمُ الْخُمُسُ) الْبَاقِيْ بَعْدَ الْأَخْمَاسِ الْأَرْبَعَةِ (عَلَى خَمْسَةِ أَسْهُمٍ

Satu bagian diberikan kepada Rasulullah Saw. Bagian tersebut menjadi hak beliau saat beliau masih hidup.           

سَهْمٌ) مِنْهُ (لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) وَهُوَ الَّذِيْ كَانَ لَهُ فِيْ حَيَاتِهِ

Kemudian setelah beliau meninggal dunia, maka ditasharrufkan kepada bentuk kemaslahatan yang berhubungan dengan kaum muslimin seperti para qadli yang menjadi juru hukum di daerah-daerah.   

(يُصْرَفُ بَعْدَهُ لِلْمَصَالِحِ)

الْمُتَعَلِّقَةِ بِالْمُسْلِمِيْنَ كَالْقُضَّاةِ الْحَاكِمِيْنَ فِيْ الْبِلَادِ

Adapun qadli-qadli pasukan perang, maka diberi razqu dari bagian empat seperlima sebagaimana yang diungkapkan imam al Mawardi dan yang lain.

أَمَّا قُضَّاةُ الْعَسْكَرِ فَيُرْزَقُوْنَ مِنَ الْأَخْمَاسِ الْأَرْبَعَةِ كَمَا قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَغَيْرُهُ

Dan seperti penjagaan ats tsughur, yaitu tempat-tempat yang mengkhawatirkan, yaitu area-area batas daerah-daerah kaum muslimin yang bersambung dengan bagian dalam daerah-daerah kita.       

وَكَسَدِّ الثُّغُوْرِ وَهِيَ الْمَوَاضِعُ الْمَخُوْفَةُ مِنْ أَطْرَافِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُلَاصِقَةِ لِبِلَادِنَا

Yang dikehendaki adalah menjaga ats tsughur dengan pasukan dan peralatan perang.     

وَالْمُرَادُ سَدُّ الثُّغُوْرِ بِالرِّجَالِ وَآلَاتِ الْحَرْبِ

Kemaslahatan yang terpenting harus didahulukan, kemudian yang agak penting.

وَيُقَدَّمُ الْأَهَمُّ مِنَ الْمَصَالِحِ فَالْأَهَمُّ

Satu bagian -dari seperlima- dimiliki oleh orang-orang yang memiliki ikatan kerabat, maksudnya kerabat Rasulullah Saw.     

(وَسَهْمٌ لِذَوِيْ الْقُرْبَى) أَيْ قُرْبَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Mereka adalah Bani Hasyim dan Bani Muthallib.

(وَهُمْ بَنُوْ هَاشِمٍ وَبَنُوْ الْمُطَلِّبِ)

Bagian tersebut dihaki oleh yang laki-laki, perempuan, kaya dan yang miskin dari mereka.             

وَيَشْتَرِكُ فِيْ ذَلِكَ الذَّكَرُ وَ الْأُنْثَى وَالْغَنِيُّ وَالْفَقِيْرُ

Untuk yang laki-laki diberi dua kali lipat bagian perempuan.        

وَيُفَضَّلُ الذَّكَرُ فَيُعْطَى مِثْلَ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ

Satu bagian dimiliki oleh anak-anak yatim kaum muslimin.            

(وَسَهْمٌ لِلْيَتَامَى) الْمُسْلِمِيْنَ

Lafadz “al yatama” adalah bentuk kalimat jama’ dari lafadz “yatim”. Yatim adalah anak kecil yang sudah tidak memiliki ayah.    

جَمْعُ يَتِيْمٍ وَهُوَ صَغِيْرٌ لَا أَبَّ لَهُ

Baik anak kecil tersebut laki-laki atau perempuan, memiliki kakek ataupun tidak, ayahnya terbunuh saat berperang ataupun tidak. Namun disyaratkan ia adalah anak yang faqir.      

سَوَاءٌ كَانَ الصَّغِيْرُ ذَكَرًا أَوْ أُنْثًى لَهُ جَدٌّ أَوْ لاَ قُتِلَ أَبُوْهُ فِيْ الْجِهَادِ أَوْ لاَ وَيُشْتَرَطُ فَقْرُ الْيَتِيْمِ

Satu bagian milik kaum miskin dan satu bagian untuk ibn sabil. Dan keduanya telah dijelaskan hampir mendekati KITAB PUASA.   

(وَسَهْمٌ لِلْمَسَاكِيْنِ وَسَهْمٌ لِأَبْنَاءِ السَّبِيْلِ) وَسَبَقَ بَيَانُهُمَا قُبَيْلَ كِتَابِ الصِّيَامِ

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

MUQODDIMAH KITAB ARBA’IN NAWAWIYYAH 40 HADITS SHOHIH KARYA IMAM NAWAWI ROHIMAHULLOH

MUQODDIMAH MATAN ARBA’IN NAWAWI

Karya Imam Yahya bin Syarofuddin an-Nawawi

متن الاربعين النووية في الاحاديث الصحيحة النبوية للامام يحي بن شرف الدين النووي

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Yang menguasai langit dan bumi, mengatur seluruh makhluk dan yang mengutus para rasul –sholawatuhu wa salamuhu ‘alaihim- kepada orang-orang mukallaf untuk memberi petunjuk dan menjelaskan aturan-aturan agama dengan dalil-dalil pasti dan bukti-bukti yang jelas.              

الحمد لله رب العالمين، قيوم السموات والارضين، مدبر الخلائق اجمعين، باعث الرسل صلواته وسلامه عليهم الى المكلفين لهدايتهم وبيان شرائع الدين بالدلائل القطعية وواضحات البراهين.

Aku memuji-Nya atas segala nikmat-nikmat-Nya. Dan aku memohon terus bertambah anugerah dan kemurahan-Nya.               

احمده على جميع نعمه. وأسئله المزيد من فضله وكرمه.

Dan aku bersaksi tidak ada tuhan selain Allah Dzat Yang Maha Esa, Maha Perkasa, Maha Mulia dan Maha Pengampun, dan aku bersaksi bahwa junjungan kita Muhammad adalah hamba, utusan, kekasih dan yang disayangi-Nya merupakan makhluk paling utama (unggul) yang dimuliakan dengan al-Qur’an al ‘aziiz sebagai mukjizat yang abadi atas silih bergantinya masa dan Muhammad (juga) dimuliakan dengan sunnah-sunnah (perilaku, ucapan dan ketetapan) yang menerangi orang-orang yang mencari petunjuk dan beliau diistimewakan dengan semua sabda-sabdanya dan agama yang mudah. Semoga kasih sayang Allah dan keselamatan-Nya tercurahkan kepada Muhammad dan kepada seluruh nabi, rasul, keluarganya dan seluruh orang-orang soleh.        

واشهد ان لا اله الا الله الواحد القهار العزيز الغفار واشهد ان سيدنا محمدا عبده ورسوله وحبيبه وخليله افضل المخلوقين المكرم بالقران العزيز المعجزة المستمرة على تعاقب السنين وبالسنن المستنيرة للمسترشدين المخصوص بجوامع الكلم وسماحة الدين. صلوات الله وسلامه عليه وعلى سائر النبيين والمرسلين وآل كل وسائر الصالحين.

Amma ba’du: kami telah meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Muadz bin Jabbal, Abi Darda’, Ibnu umar, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Abu Hurairah, Abu Sa’id al Khudri –Radhiya Allahu ta’ala ‘anhum­- dari berbagai jalur dan riwayat yang bermacam-macam bahwa: Rasulallah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa hafal atas umatku 40 hadits dari urusan agamanya maka Allah akan membangkitkannya pada Hari Kiamat termasuk dalam golongan para ahli fikih dan para ulama”. Dan di dalam riwayat lain (dengan redaksi): “Allah akan membangkitkannya sebagai ahli fikih yang alim”. Dan di dalam riwayat Abu Darda’ (dengan redaksi): “(maka) aku akan memberi syafaat –pertolongan- dan sebagai saksi di Hari Kiamat”. Dan di dalam riwayat Ibnu Mas’ud (dengan redaksi): “(maka) ia disapa dengan; ”masuklah dari pintu surga manapun yang kau inginkan”. Dan di dalam riwayat Ibnu Umar (dengan redaksi): “(maka) ia akan dicatat termasuk golongan ulama dan ia akan dikelompokkan di dalam golongan orang-orang yang mati syahid”.

اما بعد: فقد روينا عن علي بن ابي طالب وعبد الله بن مسعود ومعاذ بن جبل وابي الدرداء وابن عمر وابن عباس وانس بن مالك وابي هريرة وابي سعيد الخدري رضي الله تعالى عنهم من طرق كثيرة بروايات متنوعات ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: من حفظ على امتي اربعين حديثا من امر دينها بعثه الله يوم القيامة في زمرة الفقهاء والعلماء. وفي رواية: بعثه الله فقيها عالما، وفي رواية ابي الدرداء: وكنت له يوم القيامة شافعا وشهيدا، وفي رواية ابن مسعود: قيل له ادخل من اي ابواب الجنة شئت، وفي رواية ابن عمر: كتب في زمرة العلماء وحشر في زمرة الشهداء.

Para Huffadz telah bersepakat bahwa hadits tersebut di atas merupakan hadits dha’if (lemah), walaupun jalur periwayatannya banyak. Para ulama –Radhiya Allahu ‘anhum- sudah banyak menyusun banyak sekali karangan-karangannya yang tidak terhitung dalam bab ini (yakni masalah hafal 40 hadits). Orang yang pertama kali menyusun mengenai hal ini sepengetahuan saya adalah Abdullah bin al Mubarok, lalu Muhammad bin Aslam Atthusi al Alim Arrabbani, kemudian al Hasan bin Sufyan an-Nasai, Abu Bakar al Aajuri, Abu Bakar Muhammad bin Ibrahim al Ashfihani, ad-Daruquthni, al Hakim, Abu Na’im, Abu Abdirrahman Assulami, Abu Sa’id al Maliini, Abu Utsman Asshobuni, Abdullah bin Muhammad al Anshari, dan Abu Bakar al Baihaqi serta para ulama yang tidak terhitung jumlahnya dari para mutaqaddimin (ulama terdahulu) dan mutaakhiriin (ulama setelah mutaqaddimin).

واتفق الحفاظ على انه حديث ضعيف وان كثرت طرقه، وقد صنف العلماء رضي الله تعالى عنهم في هذا الباب ما لا يحصى من المصنفات. فاول من علمته صنف فيه عبد الله ابن المبارك ثم محمد بن اسلم الطوسي العالم الرباني ثم الحسن بن سفيان النسائي وابو بكر الآجري وابو بكر بن ابراهيم الاصفهاني والدارقطني والحاكم وابو عبد الرحمن السلمي وابو سعيد المالي وابو عثمان الصابوني وعبد الله بن محمد الانصاري وابو بكر البيهقي وخلائق لا يحصون من المتقدمين والمتاخرين.

Saya telah memohon petunjuk kepada Allah ta’ala dalam pengumpulan 40 hadits karena mengikuti para imam, para alim dan para pemelihara agama islam tersebut. Para ulama telah bersepakat atas kebolehan mengamalkan hadits dha’if dalam fadhailul a’maal (tambahan-tambahan pahala amal kebaikan). Walaupun begitu sandaran saya bukanlah pada hadits di atas namun dengan sabda nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam (yang tercatat) di dalam hadits-hadits shahih (yakni): “Hendaknya orang yang datang dari kalian semua (yang mendengarkan sabda nabi pada saat itu) menyampaikan kepada orang yang tidak hadir”. Dan sabda nabi Muhammad shollallhu ‘alaihi wa sallam: “Semoga Allah menjadikan bercahaya pada seseorang yang mendengar ucapakanku kemudian menghapalkan lalu menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya”.      

وقد استخرت الله تعالى في جمع اربعين حديثا اقتداء لهؤلاء الاعلام وحفاظ الاسلام وقد اتفق العلماء على جواز العمل بالحديث الضعيف في فضائل الاعمال. ومع هذا فليس اعتمادي على هذا الحديث، بل على قوله صلى الله عليه وسلم في الاحاديث الصحيحة: ليبلغ الشاهد منكم الغائب وقوله صلى الله عليه وسلم نضر الله امرأ سمع مقالتي فوعاها فاداها كما سمعها.

Kemudian sebagian ulama ada yang menyusun 40 hadits mengenai ushuluddin (pondasi-pondasi agama), sebagian yang lain mengenai cabang-cabangnya (fikih), sebagiannya lagi mengenai Jihad, zuhud, adab dan khutbah-khutbah. Keseluruhan karya tersebut merupakan tujuan yang baik –semoga Allah me-ridhai orang-orang yang bermaksud dan bertujuan baik tersebut.              

ثم من العلماء من جمع اربعين في اصول الدين وبعضهم في الفروع وبعضهم في الجهاد وبعضهم في الزهد وبعضهم في الادب وبعضهم في الخطب وكلها مقاصد صالحة رضي الله تعالى عن قاصدها.

Aku telah melihat kumpulan 40 hadits yang paling penting dari semua itu yaitu 40 hadits yang mencakup seluruh masalah tersebut. Dan masing-masing hadits itu merupakan kaidah utama dari kaidah-kaidah agama yang telah digambarkan oleh para ulama bahwa (masing-masing hadits) itu merupakan pembahasan pokok dalam islam atau hadits-hadits itu merupakan separoh islam atau sepertiga dan sebagainya.

Kemudian saya berupaya (menetapkan) pada 40 hadits ini merupakan hadits shahih. Sebagian besar terdapat di dalam dua kitab shahihnya Imam Bukhari dan Imam Muslim. Saya akan sebutkan hadits-hadits tersebut dengan membuang sanad-sanad-nya. Supaya mudah dihapal dan kemanfaatanya merata. Insya Allahu Ta’ala. Kemudian saya akan menyertakan bab dalam membatasi kesamaran lafadz-lafadznya.             

وقد رايت جمع اربعين اهم من هذا كله وهي اربعون حديثا مشتملة على جميع ذلك. وكل حديث منها قاعدة عظيمة من قواعد الدين قد وصفه العلماء بانه مدار الاسلام عليه او هو نصف الاسلام او ثلثه او نحو ذلك.

ثم التزم في هذا الاربعين ان تكون صحيحة ومعظمها في صحيحي البخاري ومسلم واذكرها محذوفة الاسانيد ليسهل حفظها ويعم الانتفاع يها ان شاء الله تعالى ثم اتبعها بباب في ضبط خفي الفاظها.

Seyogyanya bagi orang yang mencintai akhirat mengetahui hadits-hadits ini, karena di dalamnya banyak hal-hal penting serta memuat peringatan atas seluruh bentuk ketaatan. Hal tersebut jelas bagi orang yang menelitinya. Hanya Allah  sandaranku, hanya kepada-Nya saya berserah diri serta bergantung dan hanya milik-Nya segala pujian dan kenikmatan. Hanya oleh-Nya pertolongan dan perlindungan.             

وينبغي لكل راغب في الاخرة ان يعرف هذه الاحاديث لما اشتلمت عليه من المهمات واحتوت عليه من التنبيه على جميع الطاعات وذلك ظاهر لمن تدبره وعلى اعتمادي واليه تفويضي واستنادي وله الحمد والنعمة وبه التوفق والعصمة.