NASIHAT- NASIHAT MULIA UNTUK HAMBA ALLOH SWT.

Alhamdulillah, kita bisa mengkaji kitab yang sangat populer karangan  Al Alim Alamah Syaikhina Nawawi Al Bantany. Semoga dengaN sajian Kitab Kuning Nashoihul Ibad Versi Terjemahan ini bisa dirasakan semua kalangan, Khususnya umat Islam. Amin Yaa Robbal ‘alamin.

Bismillahirahmanirahim, Qola Mu’alif Rohimakumullah nafa’ana Alloh Fi ‘ulumihi Fiddaroini, Amin.

Maqolah 1

Diriwayatkan dari Nabi SAW, sesungguhnya Beliau bersabda (Ada dua perkara, tidak ada sesuatu yang lebih utama dari dua perkara tersebut, yaitu iman kepada Allah dan berbuat kebajikan kepada sesama muslim). Baik degan ucapan atau kekuasaannya atau dengan hartanya atau dengan badannya.

RasuuluLlah SAWW bersabda, (barang siapa yang pada waktu pagi hari tidak mempunyai niat untuk menganiaya terhadap seseorang maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa pada waktu pagi hari memiliki niat memberikan pertolongan kepada orang yang dianiaya atau memenuhi hajat orang islam, maka baginya mendapat pahala seperti pahala hajji yang mabrur).

Dan Nabi SAW bersabda (Hamba yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amal yang paling utama adalah membahagiakan hati orang mukmin dengan menghilangkan laparnya, atau menghilangkan kesusahannya, atau membeyarkan hutangnya. Dan ada dua perkara, tidak ada sesuatu yang lebih buruk dari dua tersebut yaitu syirik kepaad Allah dan mendatangkan bahaya kepada kaum muslimin).

Baik membahayakan atas badannya, atau hartanya. Karena sesungguhnya semua perintah Allah kembali kepada dua masalah tersebut. Mengagungkan Allah dan berbuat baik kepada makhluknya, sebagaimana firman Allah Ta’ala Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan firman Allah Ta’ala Hendaklah kamu bersyukur kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu.

Maqolah 2

Nabi SAW bersabda, (wajib bagi kamu semua untuk duduk bersama para ‘Ulama) artinya yang mengamalkan ilmunya, (dan mendengarkan kalam para ahli hikmah) artinya orang yang mengenal Tuhan.

(Karena sesungguhnya Allah Ta’ala akan menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah-ilmu yang bermanfaat- sebagaimana Allah menghidupkan bumu yang mati dengan air hujan). Dan dalam riwayat lain dari Thabrani dari Abu Hanifah “Duduklah kamu dengan orang dewasa, dan bertanyalah kamu kepada para ‘Ulama dan berkumpulah kamu dengan para ahli hikmah” dan dalam sebuah riwayat, “duduklah kamu degan para ulama, dan bergaulah dengan kubaro’ ”. Sesungguhnya Ulama itu ada dua macam, 1. orang yang alim tentang hukum-hukum Allah, mereka itulah yang memiliki fatwa, dan 2. ulama yang ma’rifat akan Allah, mereka itulah para hukama’ yang dengan bergaul dengan mereka akan dapat memperbaiki akhlak, karena sesungguhnya hati mereka telah bersinar sebab ma’rifat kepada Allah demikian juga sirr / rahasia mereka telah bersinar disebabkan nur keagungan Allah. Telah bersabda Nabi SAW, akan hadir suatu masa atas umatku, mereka menjauh dari para ulama dan fuqaha, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka dengan tiga cobaan, 1. Allah akan menghilangkan berkah dari rizkinya. 2. Allah akan mengirim kepada mereka penguasa yang zalim 3. Mereka akan keluar meninggalkan dunia tanpa membawa iman kepada Allah Ta’ala Na’udzubiLlahi min dzaalik.

Maqolah 3

Dari Abi Bakar As-Shiddiq RA (Barang siapa yang memasuki kubur tanpa membawa bekal yaitu berupa amal shalih maka keadaannya seperti orang yang menyeberangi lautan tanpa menggunakan perahu). Maka sudahlah pasti ia akan tenggelam dengan se tenggelam-tenggelamnya dan tidak mungkin akan selamat kecuali mendapatkan pertolongan oleh orang-orang yang dapat menolongnya.. sebagaimana sabda Rasulullah SAW, tidaklah seorang mayat yang meninggal itu, melainkan seperti orang yang tenggelam yang meminta pertolongan.

Maqolah 4

Dari ‘Umar RA, -dinukilkan dari Syaikh Abdul Mu’thy As-sulamy, sesungguhnya Nabi SAW bertanya kepada Jibril AS, ‘Beritahukan kepadaku sifat kebaikan sahabat ‘Umar’. Maka Jibril menjawab, ‘Jika saja lautan dijadikan tinta dan tumbuh-tumbuhan dijadikan pena niscaya tidak akan uckup melukiskan sifat kebaikannya. Kemudian Nabi bersabda, beritahukan kepadaku kebaikan sifat Abu Bakar,”. Maka Jibril menjawab, ”’Umar hanyalah satu kebaikan dari beberapa kebaikan Abu Bakar RA.

‘Umar RA berkata, (kemuliaan dunia dengan banyaknya harta. Dan kemuliaan akhirat adalah dengan bagusnya amal). Maksudnya, urusan dunia tidak akan lancar dan sukses kecuali dengan dukungan harta benda. Demikian pula perkara akhirat tidak akan menjadi sempuran kecuali dengan amal perbuatan yang baik.

Maqolah 5

Dari ‘Utsman RA. (menyusahi dunia akan menggelapkan hati. Dan menyusahi akhirat akan menerangkan hati). Artinya, menyusahi urusan yang berhubungan dengan urusan dunia maka akan menjadikan hati menjadi gelap. Dan menyusahi perkara yang berhubungan dengan urusan akhirat akan menjadaikan hati menjadi terang. Yaa Allah jangan jadikan dunia sebesar-besar perkara yang kami susahi, dan bukan pula puncak ilmu kami.

Maqolah 6

Dari ‘Aly RA wa KarramaLlaahu Wajhah. (Barang siapa yang mencari ilmu maka surgalah sesungguhnya yang ia cari. Dan barang siapa yang emncari ma;siyat maka sesungguhnya nerakalah yang ia cari) Artinya barang siapa yang menyibukkan diri denagn mencari ilmu yang bermanfaat, yang mana tidak boleh tidak bagi orang yang aqil baligh untuk mengetahuinya maka pada hakekatnya ia mencari surga dan mencari ridho Allah SWT. Dan barang siapa yang menginginkan ma’siyat, maka pada hakekatnya nerakalah yang ia cari, dan kemarahan Allah Ta’ala.

Maqolah 7

Dari Yahya bin Muadz RA. (Tidak akan durhaka kepada Allah orang-orang yang mulia) yaitu orang yang baik tingkah lakunya Yaitu mereka yang memuliakan dirinya dengan menghiasinya dengan taqwa dan menjaga diri dari ma’siyat. (Dan tidak akan memilih dunia dari pada akhirat orang-orang yang bijaksana) Artinya orang bijak / hakiim tidak akan mendahulukan atau mengutamakan urusan dunia dari pada urusan akhirat. Adapun orang hakiim adalah orang yang mencegah dirinya dari pada bertentangan dengan kebenaran akal sehatnya.

Maqolah 8

Dari A’Masy, naam lengkapnya adalah Abu Sulaiman bin Mahran AL-Kuufy RA. (Barang siapa yang bermodalkan taqwa, maka kelulah lidah untuk menyebutkan sifat keberuntungannya dan barang siapa yang bermodalkan dunia, maka kelulah lidah untuk menyebut sebagai kerugian dalam hal agamanya). Artinya barang siapa yang bermodalkan taqwa dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya dimana dasar dari amal perbuatannya adalah selalu bersesuaian dengan syari’at, maka baginya pasti mendapatkan kebaikan yang sangat besar tanpa dapat dihitung dalam hal kebaikan yang diperolehnya.

Dan kebalikannya barang siapa yang perbuatannya selalu berseberangan dengan hukum syari’at, maka baginya kerugian yang sangat besar bahkan lidahpun sampai tidak dapat menyebutkannya.

Maqolah 9

Diriwayatkan dari Sufyan Atsauri, beliau adalah guru dari Imam Malik RA. ( Setiap ma’siyat yang timbul dari dorongan syahwat yaitu keinginan yangteramat sangat akan sesuatu maka dapat diharapkan akan mendapat ampunanNya. Dan setiyap ma’siyat yang timbul dari takabur atau sombong yaitu mendakwakan diri lebih utama atau mulia dari yang lain , maka maksiyat yang demikian ini tidak dapat diharapkan akan mendapat ampunan dari Allah). Karena maksiyat iblis berasal dari ketakaburannya yang tidak mau hormat kepada Nabi Adam AS atas perintah Allah dimana ia menganggap dirinya lebih mula dari Nabi Adam AS yang diciptakan dari tanah sedangkan ia/iblis diciptakan dari api. Dan sesungguhnya kesalahan Nabi

Adam AS adalah karena keinginannya yang teramat sangat untuk memakan buah yang dilarang oleh Allah untuk memakannya.

Maqolah 10

Dari sebagian ahli zuhud yaitu mereka yang menghinakan kenikmatan dunia dan tidak peduli dengan nya akan tetapi mereka mengambil dunia sekedar dharurah/darurat sesuai kebutuhan minimumnya. (Barang siapa yang melakukan perbuatan dosa dengan tertawa bangga, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka dalam keadaan menangis- karena seharusnya ia menyesal dan memohon ampunan kepada Allah bukannya berbangga hati. Dan barang siapa yang ta’at kepada Allah dengan menangis- karena malu kepada Allah dan Takut kepadaNya karena merasa banyak kekurangan dalam hal ta’at kepaadNya Maka Allah akan memasukkanNya ke dalam surga dalam keadaan tertawa gembira. ) dengan sebenar-benar gembira karena mendapatkan apa yang menjadi tujuannya selama ini yaitu ampunan dari Allah.

Maqolah 11 Maqolah ke sebelas : dari sebagian ahli hikmah / Aulia’ (Janganlah kamu menyepelekan dosa yang kecil) kerana dengan selalu menjalankannya maka lama kelamaa akan tumbuhlah ia menjadi dosa besar. Bahkan terkadang murka Tuhan itu ada pada dosa yang kecil-kecil.

Maqolah 12

Dari Nabi SAW : (Tidaklah termasuk dosa kecil apabila dilakukan secara terus menerus) karena dengan dilakukan secara terus menerus, maka akan menjadi besarlah ia. (Dan tidaklah termasuk dosa besar apabila disertai dengan taubat dan istighfar) Yaitu taubat dengan syarat-syaratnya. Karena sesungguhnya taubat dapat menghapus bekas-bekas dosa yang dilakukan meskipun yang dilakukan tersebut dosa besar. Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-dailamy dari Ibni Abbas RA.

Maqolah 13

(Keinginan orang arifiin adalah memujiNya) maksudnya keinginan orang ahli ma’rifat adalah memuji Allah Ta’ala dengan keindahan sifat-sifatnya. (dan keinginan orang-orang zuhud adalah do’a kepadaNya) yaitu permintaan kepaad Allah sekedar hajat kebutuhannya dari du nia dengan segenap hatinya, dimana yang dimaksud do’a adalah meminta dengan merendahkan diri kepadaNya dengan memohon diberi kebaikan kepadanya. (Karena keinginan orang arif/ ahli ma’rifat dari Tuhannya bukanlah pahala ataupun surga) sedangkan keinginan orang zuhud adalah untuk kepentingan dirinya sendiri, yaitu untuk kemanfatan dirinya dari pahala dan surga yang didapatkannya. Maka demikianleh perbedaan orang yang keinginan hatinya mendapatkan bidadarii dan orang yang cita-citanya adalah keterbukaab hatinya.

Maqolah 14

(diriwayatkan dari sebagian hukama’) yaitu orang yang ahli mengobati jiwa manusia, dan mereka itulah para wali Allah. -(Barang siapa yang menganggap ada pelindung yang lebih utama dari Allah maka sangat sedikitlah ma’rifatnya kepada Allah) Maknanya adalah barang siapa yang menganggap ada penolong yang lebih dekat daripada pertolongan Allah, maka maka sesungguhnya dia belul mengenal Allah. (Danbarang siapa yang menganggap ada musuh yang lebih berbahaya daripada nafsunya sendiri, maka sedikitlah ma’rifatnya/pengetahuannya tentang nafsunya) Artinya adalah brang siapa yang berperasangka ada musuh yang lebih kuat dari pada hawa nafsunya yang selalu mengajak kepada kejahatan, maka sedikitlah ma’rifatnya/pengetahuannya akan hawa nafsunya sendiri.

Maqolah 15

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Menafsiri firman Allah Ta’ala, “Sungguh telah nyatalah kerusakan baik di daratan maupun di lautan, maka beliau memberikan tafsirannya (Yang dimaksud Al-Barr/daratan adalah lisan.

Sedangkan yang dimaksud Al-Bahr / lautan adalah hati). Apabila lisan telah rusak dikarenakan mengumpat misalnya, maka akan menangislah diri seseorang / anak cucu adam. Akan tetapi apabila hati yang rusak disebabkan karena riya’ misalnya, maka akan menangislah malaikat. Dan diperumpamakan hati/qalb dengan lautan adalah dikarenkan sangat dalmnya hati itu.

Maqolah 16

(Dikatakan, karena syahwat maka seorang raja berubah menjadi hamba sahaya/budak) karena sesungguhnya barang siapa yang mencintai sesuatu maka ia akna menjadi hamba dari sesuatu yang dicintainya. (dan sabar akan membuat seorang hamba sahaya berumab menjadi seorang raja) karena seoang hamba dengan kesabarannya akan memperoleh apa yang ia inginkan. (apakah belum kita ketahui kisah seorang hamba yang mulia putra seorang yang mulia, putera seorang yang mulia Sayyidina Yusuf AS Ash-Shiddiq, putera Ya’qub yang penyabar, putera Ishaq yang penyayang, putera Ibrahim Al-Khalil AS dengan Zulaikha. Sesungguhnya ia zulaikha sangat cinta kepada Sayyidina Yusuf AS dan Sayyidina Yusuf bersabar dengan tipudayanya.

Maqolah 17

(Beruntunglah orang yang menjadikan akalnya sebagai pemimpin) dengan mengikuti petunjuk akalnya yang sempurna (sedangkan hawa nafsunya menjadi tahanan) (dan celakalah bagi orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai penguasanya, dengan melepaskannya dalam menuruti apa yang di inginkannya, sedangkan akalnya menjadi hambanya yaitu akal tersebut terhalang untuk memikirkan ni’mat Allah dan keagungan ALlah).

Maqolah 18

(Barang siapa yang meninggalkan perbuatan dosa, maka akan lembutlah hatinya), maka hati tersebut akan senang menerima nasihat dan ia khusyu’/memperhatikan akan nasihat tersebut. (Barang siapa yang meninggalkan sesuatu yang haram) baik dalam hal makanan, pakaian dan yang lainnya (dan ia memakan sesuatu yang halal maka akan jerniglah pikirannya) didalam bertafakur tentang semua ciptaan Allah yang menjadi petunjuk akan adanya Allah Ta’ala yang menghidupkan segala sesuatu setelah kematiannya demikian pula menjadi petunjuk akan keEsaan Allah dan kekuasaanNya dan ilmuNya. Dan yang demikian ini terjadi apabila ia mempergunakan fikirannya dan melatih akalnya bahwa Allah SubhanaHu Wata’ala yang menciptakan dia dari nuthfah di dalam rahim, kemudian menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, kemujdian Allah menjadikan tulang dan daging dan urat syaraf serta menciptakan anggota badan baginya. Kemudian Alah memberinya pendengaran, penglihatan dan semua anggota badan, kemudian Allah memudahkannya keluar sebagai janian dari dalam rahim ibunya, dan memberinya ilham untuk menyusu ibunya, dan Allah menjadikannya pada awwal kejadian dengan tanpa gigi gerigi kemudian Allah menumbuhkan gigi tersebut untuknya, kemudian Allah menanggalkan gigi tersebut pada usia 7 tahun kemudian Allah menumbuhkan kembali gigi tersebut. Kemudian Allah menjadikan keadaan hambanya selalu berubah dari kecil kemudian tumbuh menjadi besar dan dari muda berubah menjadi tua renta dan dari keadaan sehat berubah menjadi sakit. Kemudian Alah menjadikan bagi hambaNya pada setiap hari mengalami tidur dan jaga demikian pula rambutnya dan kuku-kukunya manakala ia tanggal maka akan tumbuh lagi seperti semula.

Demikian pula malam dan siang yang selalu bergantian, apabila hilang yang satu maka akan disusul dengan timbulnya yang lain. Demikian pula dengan adanya matahari, rembulan, bintang-bintang dan awan dan hujan yang semuanya datang dan pergi. Demikian pula bertafakur tentang rembulan yang berkurang pada setiap malamnya, kemudian menjadi purnama, kemudian berkurang kembali. Seperti itu pula pada gerhana matahari dan rembulan ketika hilang cahayanya keudian cahaya itu kembali lagi. Kemudian berfikir tentang bumi yang

gersang lagi tandus maka Allah menumbuhkannya dengan berbagai macam tanaman, kemudian Allah menghilangkan lagi tanaman tersebut kemudian menumbuhkannya kembali. Maka kita akan dapat berkesimpulan bahwa Allah Dzat yang mampu berbuat yang sedemikian ini tentu mampu untuk menghidupkan sesuatu yang telah mati. Maka wajib bagi hamba untuk selalu bertafakur pada hal yang demikian sehingga menjadi kuatlah imannya akan hari kebangkitan setelah kematian, dan pula ia mengetahui bahwa Allah pasti membangkitkannya da membalas segala amal perbuatannya. Maka dengan seberapa imannya dari hal yang demikian yang membuat kita bersungguh-sungguh melaksanakan ta’at atau menjauhi ma’siyat.

Maqolah 19

Telah diwahyukan kepada sebagian Nabi ( Ta’atlah kepadaKu akan apa yang Aku perintahkan dan janganlah bermaksiyat kepadaku dari apa yang Aku nasehatkan kepadamu). Artinya dari nasihat yang dengannya seorang hamba akan mendapatkan kebaikan dan dengan apa yang dilarang maka seorang hamba akan tehindar dari kerusakan.

Maqolah 20

(Dikatakan sesungguhnya kesempurnaan akal adalah mengikuti apa yang diridhai Allah dan meninggalkan apa yang dimurkai Allah). artinya apa saja yang tidak seperti konsep di atas adalah kegilaan / tak berakal.

Maqolah 21

(Tidak ada keterasingan bagi orang yang mulia akhlaknya, dan tidak ada tempat yang terhormat bagi orang-orang yang bodoh ). Artinya seseorang yang bersifat memiliki ilmu dan amal maka sesungguhnyania akan dihormati diantarea manusia di mana saja berada. Oleh karena itu di mana saja berada layaknya mereka seperti di negeri sendiri dan dihormati. Sebaliknya orang yang bodoh adalah kebalikannya meskipun di negeri sendiri mereka merasa asing.

Maqolah 22

Barang siapa yang baik dalam keta’atannya kepada Allah maka dia akan terasing diantara manusia). Artinya orang yang merasa cukup dengan menyibukkan seluruh waktunya untuk ta’at kepadan Allah maka ia akan terasing diantara manusia.

Maqolah 23

(Dikatakan bahwa gerakan badan melakukan keta’atan kepada ALlah adalah petunjuk tentang kema’rifatan seseorang sebagaimana gerakan anggota badan menunjukkan / sebagai dalil adanya kehidupan di dalamnya). Artinya, bahwa ekspresi ketaatan serang hamba dalam menjalankan perintah Allah maka yang demikian itu adalah petunjuk /a dalil kema’rifatannya kepada ALlah. Apabila banyak amal ta’at maka menunjukkan bahwa banyak pula ma’rifatnya kepada Allah dan apabila sedikit ta’at, maka menunjukkan pula sedikit ma’rifat, karena sesungguhnya apa yang lahir merupakan cermin dari apa yang ada di dalam bathin.

Maqolah 24

Nabi SAW bersabda, (Sumber segala perbuatan dosa adalah cinta dunia,) dan yang dimaksud dari dumia adalah sesuatu yang lebih dari sekedar kebutuhan. (Dan sumber segala fitnah adalah mencegah / tidak mau mengeluarkan sepersepuluh dan tidak mau mengeluarkan zakat).

Maqolah 25

(Mengaku merasa kekurangan dalam melakukan ta’at adalah selamanya terpuji dan mengakui akan kekurangan / kelemahan dalam melakukan ta’at adalah tanda-tangda diteimanya amal tersebut) karena dengan demikian menunjukkan tidak adanya ujub dan takabur di dalamnya.

Maqolah 26

(Kufur ni’mah adalah tercela) maksudnya adalah dengan tidak adanya syukur ni’mat menunjukkan rendahnya nafsu. (dan berteman dengan orang bodoh) yaitu orang yang menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya padahal ia mengetahui akan keburukan sesuatu tersebut. (adalah keburukan) yaitu tidak membawa berkah . Oleh karena itu janganlah berteman dengannya disebabkan karena buruknya akhlak / keadaan tingkah lakunya karena sesungguhnya tabi’at itu dapat menular.

Maqolah 27

Disebutkan dalam syair….Wahai yang disibukkan oleh dunia Sungguh panjangnya angan-angan telah menenggelamkan mereka Bukankah mereka selalu dalam keadaan lupa – kepada Allah Hingga dekatlah ajal bagi mereka Sesungguhnya kematian datangnya mendadak Dan kubur adalah tempat penyimpanan amal.

Addailamy meriwayatkan hadits dari RasuluLlah SAW yang bersabda, “Meninggalkan kenikmatan dunia lebih pahit dari pada sabar, dan lebih berat daripada memukulkan pedang di jalan Allah. Dan tiada sekali-kali orang mahu meninggalkan kenikmatan dunia melainkan Allah akan memberi sesuatu seperti yang diberikan kepadapara Syuhada’. Dan meninggalkan kenikmatan dnia adalah dengan menyedikitkan makan dan kekenyangan, dan membenci pujian manusia karena sesungguhnya orang yang suka di puji oleh manusia adalah termasuk mencintai dunia dan kenikmatannya. Dan barang siapa menginginkan kenikmatan yang sesungguhnya maka hendaklah ia meninggalkan kenikmatan dunia dan pujian dari manusia”.

Dan Ibnu Majah telah meriwayatkan sesungguhnya RasuluLlah SAW bersabda, “Barang siapa yang niatnya adalah untuk akhirat, niscaya Allah akan mengumpulkan kekuatan baginya dan Allah membuat hatinya menjadi kaya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Dan barang siapa yang niatnya dunia maka Allah akan menceraiberaikan segala urusannya, dan Allah menjadikan kefakiran di depan kedua belah matanya dan tiadalah dunia akan mendatanginya kecuali apa yang telah tertulis untuknya”.

Maqolah 28

Dari Aby Bakr Asy-Syibly RahimahuLlahu Ta’ala, Beliau tinggal di Baghdad, berkawan dengan Syaikh Abul Qasim Junaidy Al-Baghdady bahkan menjadi murid beliau, dan beliau hidup hingga usia 87 tahun, wafat pada tahun 334 H dan dimakamkan di Baghdad. Dimana beliau termasuk pembesar para sufi dan para ‘arif biLlah. Beliau berkata di dalam munajatnya :

Wahai Tuhanku…

Sesungguhnya aku senang

Untuk mempersembahkan kepadaMu semua kebaikanku

Sementara aku sangat faqir dan lemah

Oleh karena itu wahai Tuhanku,

Bagaimana Engkau tidak senang

Untuk memberi ampunan kepadaku atas segala kesalahanku

Sementara Engkau Maha Kaya

Karena sesungguhnya keburukanku tidak akan membahayakanMu

Dan kebaikanku tidaklah memberi manfaat bagiMu

Dan sesungguhnya sebagian orang yang mulia telah memberikan ijazah agar dibaca setelah melaksanakan shalat Jum’at 7 kali dari bait syair sebagai berikut:

Ilahy lastu lil firdausi ahla

Walaa aqway ‘ala naaril jahiimi

Fahably zallaty wahfir dzunuuby

Fa innaka ghaafirul dzanbil ‘adziimi

Wa ‘aamilny mu’aamalatal kariimi

Watsabbitny ‘alan nahjil qawwimi

(Hikayat) Sesungguhnya Syaikh Abu Bakr As-Syibly datang kepada Ibnu Mujaahid. Maka segeralah Ibnu Mujaahid mendekati As-Syibly dan mencium tempat diantara kedua mata beliau. Mmaka ditanyakanlah kepada Ibnu Mujaahid akan perbuatannya yang demikian, dan beliau berkata, “Sesungguhnya aku melihat RasuluLlah SAW di dalam tidur dan sungguh beliau SAW telah mencium Syaikh Abu Bakr As-Syibly. Ketika itu berdirilah Nabi SAW di depan as-Syibly dan beliau mencium antara kedua mataAs-Syibly. Maka aku bertanya, ‘Yaa RasuluLlah, apakah benar engkau berbuat yang demikian terhadap As-Syibly ?’. RasuluLlah SAW menjawab,

‘benar, sesungguhnya dia tidak sekali-kali mengerjakan shalat fardhu melainkan setelah itu membaca Laqad jaa a kum Rasuulum min anfusikum ‘aziizun ‘alaiHi maa ‘anittum chariisun ‘alaikum bil mukminiinarra’uufurrahiim faintawallau faqul chasbiyaLlaahu laaIlaaha Illa Huwa ‘alaiHi tawakkaltu waHuwa Rabbul ‘Arsyil ‘adziim….setelah itu dia /As-Syibly mengucapkan salam ShallaLlaahu ‘alaika Yaa Muhammad”. Kemudian aku tanyakan kepada As-Syibli mengenai apa yang dibacanya setelah shalat fardhu, maka beliau menjawab seperti bacaan tadi….

Maqolah 29

Telah berka Asy-syibly, “Apabila engkau menginginkan ketenangan bersama Allah, maka bercerailah dengan nafsumu.” Artinya tidak menuruti apa yang menjadi keinginannya. Telah ditanyakan keadaan Asy-Syibly di dalam mimpi setelah beliau wafat, maka beliau menjawab,’ Allah Ta’ala berfirman kepadaku,’Apakah engkau mengetahui dengan sebab apa Aku mengampunimu ?’

Maka aku menjawab, ‘Dengan amal baikku”.

Allah Ta’ala berfirman,’Tidak’.

Aku menjawab, ‘Dengan ikhlas dalam ubudiyahku ‘.

Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidak’.

Aku menjawab,’Dengan hajiku dan puasaku ?’

Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidak’.

Aku menjawab, ‘Dengan hijrahku mengunjungi orang-orang shaleh untuk mencari ilmu“.

Allah Ta’ala berfirman,’Tidak’.

Akupun bertanya, ‘Wahai Tuhanku, kalau begitu dengan apa ?“

Allah Ta’ala menjawab, ‘Apakah engkau ingat ketika engkau berjalan di Baghdad kemudian engkau mendapati seekor anak kucing yang masih kecil dan lemah karena kedinginan, dan ia emnggigil karenanya. Kemudian engkau mengambilnya karena rasa kasihan kepada anak kucing itu dan engkau hangatkan ia ?”

Aku menjawab, ‘Ya’.

Maka berfirmanlah Allah Ta’ala, ‘Dengan kasih sayangmu kepada anak kucing yang masih kecil itulah Aku menyayangimu’.

Maqolah 30

Telah berkata Asy-Syibli, “Jika engkau telah merasakan nikmatnya pertemuan (wushlah – dekat dengan Allah SWT) niscaya engkau akan mengerti rasa pahitnya perpisahan (Qathi’ah-yaitu jauh dari Allah Ta’ala) . karena sesungguhnya berjauhan dari Allah SWT merupakan siksaan yang besar bagi AhluLlah ta’ala. Dan termasuk salah satu dari do’a SAW adalah ,”Allahummarzuqny ladzatan nadzari ilaa wajhiKal Kariim, wasyauqu ilaa liqaaiK”. (Yaa Allah berikanlah kepadaku kelezatan dalam memandang wajah-Mu yang Mulia dan rasa rindu untuk bertemu dengan-Mu)

Maqolah 31

Diriwayatkan dari Nabi SAW, sesungguhnya Beliau bersabda, “Barang saiapa yang pada waktu pagi hari (memasuki waktu subuh) dalam keadaan mengadu kepada manusia tentang kesulitan hidupnya, maka seakanakan ia telah mengadukan Tuhannya. “. Sesungguhnya pengaduan selayaknya hanya kepada Allah karena pengaduan kesulitan hidup kepada Allah termasuk do’a. adapun mengadu kepada manusia menunjukkan tidak adanya ridha dengan pembagian Allah Ta’ala sebagaimana diriwayatkan dari AbdiLlah bin Mas’ud RA, telah bersabda RasuluLlah SAW, “Maukah kamu semua aku ajari sebuah kalimat yang diucapkan Musa AS ketika melintasi lautan bersama bani israil ?“. kami semua menjawab ,”Baik Yaa RasuluLlah”. RasuluLlah SAW bersabda,”Ucapkanlah kalimat ‘Allahumma laKal hamdu wa ilaiKal Musytakay wa Antal Musta’aan wa laa haula walaa quwwata illa biLlahil ‘Aliyyil ‘Adhiim” (Yaa Allah segala puji hanya untuk-Mu, dan hanya kepadamulah tempat mengadu, dan Engkaulah Penolong dan tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Dzat Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Maka berkatalah Al-A’masy, Tidaklah kami pernah meninggalkan membaca kalimat tersebut sejak kami mendengarnya dari Syaqiq Al-Asady Al kuufy.

Barang siapa pada waktu pagi hari berduka atas perkara duniawi, maka sesungguhnya ia telah marah kepada tuhannya. Artinya, barang siapa yang bersedih karena urusan dunia, sesungguhnya ia telah marah kepada Tuhannya, karena ia tidak ridha dengan qadha’ (takdir Allah) dan tidak bersabar atas cobaan-Nya dan tidak beriman dengan kekuasaan-Nya. Karena sesungguhnya apa saja yang terjadi di dunia ini adalah atas qadha Ilahi Ta’ala dan atas kekuasaan-Nya.

Dan barang siapa yang merendahkan diri kepada orang kaya karena melihat kekayaannya, maka hilanglah 2/3 agamanya. Artinya bahwa disyari’atkannya penghormatan manusia kepada orang lain adalah karena alasan kebaikan dan ilmunya bukan karena kekayaannya. Karena sesungguhnya orang yang memuliakan harta, sesungguhnya ia telah menyia-nyiakan ilmu dan amal shaleh. Telah berkata Sayyidy Syaikh Abdul qadir Al- Jailany RA, “Tidak boleh tidak bagi seorang muslim pada setiap keadaannya selalu dalam tiga keadaan, yangpertama melaksanakan perintah, kedua menjauhi larangan, dan ketiga ridha dengan pembagian Tuhan.” Dan kondisi minimal bagi seorang mukmin adalah tidak terlepas dari salah satu dari tiga keadaan tersebut di atas, 32. telah berkata Sayidina Aby Bakar As-Shidiq RA, “Tiga perkara yang tidak akan dapat diperoleh dengan tiga perkara lainnya. Artinya ada tiga perkara, dimana tiga perkara tersebut tidak akan dapat diperoleh dengan tiga perkara, yaitu yang pertama Kekayaan dengan hanya berangan-angan. Sesungguhnya kekayaan tidak dapat diperoleh hanya dengan berangan-angan akan tetapi dengan pembagian dari Allah. yang ke dua Muda dengan bersemir. Maka tidak akan dapat diperoleh kemudaan usia hanya dengan menyemir rambut dan lain sebagainya. Yang ketiga, Kesehatan dengan obat-obatan.

Maqolah 32

Dari Abu Bakar As-Shidiq RA, “Tiga perkara tidak dapat di capai/didapatkan dengan tiga perkara lainnya : 1. Kekayaan dengan angan-angan. Artinya tidaklah kekayaan itu dapat diperoleh hanya dengan berangan-angan tanpa kerja nyata, dan pembagian dari Allah. 2. Muda usia dengan semir. Artinya tidaklah akan diperoleh keadaan menjadi muda hanya karena disemirnya rambut dan sebagainya. Akan tetapi orang yang sudah bertambah usia (tua) tidaklah mungkin berubah menjadi muda kembali meskipun dengan rambut disemir atau yang lainnya. Dan umur akan terus berjalan hingga akhirnya habislah umur itu kembali menghadap sang Khaliq. 3. Dan kesehatan dengan menggunakan obat-obatan. Artinya kesehatan tidak dapat diperoleh dengan

mengkonsumsi obat-obatan akan tetapi sesuai sunnah Allah harus dengan menjaga diri dengan makanan yang halal dan olah raga secara teratur serta rajin beribadah.

Maqolah 33

Dari Sahabat Umar RA, “bersikap kasih sayang dengan manusia adalah setengah dari sempurnanya aka”l. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hiban dan Thabrani dan Baihaqi dari Jabir bin abdiLlah dari Naby SAW bersabda, “Berperilaku baik terhadap manusia adalah shadaqah”. Artinya berperilaku yang baik terhadap manusia melalui ucapan dan perbuatan pahalanya sama dengan orang yang bersedekah. Dan sebagian dari suritauladan Naby dalam bersikap baik dalam pergaulan adalah beliau tidak pernah mencela makanan dan menghardik pelayan dan tidak pernah memukul wanita termasuk isteri beliau. Dan yang lebih tepat untuk perilaku yang baik ini adalah meninggalkan kesenangan duniawi karena tuntutan agama. Dan rajn bertanya (kepada Ulama) adalah setengah dari ilmu. Karena ilmu akan dipeorleh apabila kita rajin bertanya terhadap segala sesuatu yang kita tidak tahu. Dan rajin bekerja adalah setengah dari penghidupan. Karena dengan rajin bekerja kita akan memperoleh rizki sebagai bekal untuk kelangsungan hidup kita.

Maqolah ke 37

Dari Nabi Dawud AS, Diwahyukan di dalam kitab Zabur, – Wajib bagi orang yang berakal untuk tidak menyibukkan diri kecuali dalam tiga hal :

  1. Mempersiapkan bekal untuk perjalanan ke akhirat.
  2. Bergaul dengan pergaulan yang baik.
  3. Bekerja dengan baik mencari rizki yang halal untuk bekal ibadah kepada Allah karena mencari rizki yang halal adalah wajib hukumnya.

Maqolah ke 38

Dari Abu Hurairah RA. Nama beliau adalah AbduRrahman bin Shakhr. Beliau berkata, telah bersabda Naby SAW Ada tiga perkara yang menyelamatkan (dari adzab), tiga perkara yang merusakkan (membawa orang kepada kerusakannya), tiga perkara meningkatkan derajat (beberapa tingkatan di akhirat), tiga perkara menghapuskan dosa. Adapun tiga yang menyelamatkan adalah:

  1. Takut kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan.
  2. Sedang dalam faqir dan kekayaan.
  3. Seimbang dalam ridha dan marah (yaitu Ridha karena Allah dan marah karena Allah).

Adapun (tiga) yang merusakkan adalah:

  1. bakhil yang bersangatan (dengan tidak mau memberikan apa yang menjadi hak Allah dan haq makhluk). Dalam riwayat lain bakhil yang diperturutkan. (Adapun apabila sifat bakhil itu ada dalam diri seseorang akan tetapi tidak diperturutkan, maka tidaklah yang demikian ini merusakkan karena sifat bakhil adalah sifat yang lazim ada pada manusia).
  2. Hawa nafsu yang selalu diikuti.
  3. Dan herannya (‘ujub) manusia terhadap diri sendiri. (Artinya seseorang memandang dirinya dengan pandangan kesempurnaan dirinya disertai lalai terhadap ni’mat Allah Ta’ala dan merasa aman dari hilangnya ni’mat itu).

Adapun yang meninggikan derajat adalah:

  1. Menebarkan salam (artinya menebarkan salam kepada orang lain yang dikenal maupun yang tidak dikenal).
  2. Memberikan hidangan makanan (kepada tamu atau orang yang menderita kelaparan).
  3. Dan shalat pada waktu malam sedang manusia sedang tertidur lelap (yaitu mengerjakan shalat tahajud pada tengah malam ketika orang-orang sedang lalai dalam ni’matnya tidur).

Adapun yang dapat menghapus dosa adalah :

  1. Menyempurnakan wudhu pada saat yang sulit (artinya menyempurnakan wudhu pada saat udara sangat dingin dengan menjalankan sunah-sunahnya).
  2. Malangkahkan kaki untuk mengerjakan shalat berjama’ah.
  3. Menunggu shalat sesudah shalat (Untuk mengerjakan shalat berikutnya di masjid yang sama).

Maqolah ke 39 :

قال جبریل علیھ السلام یا محمد عش ما شئت فئنك میت, وأحبب من شئت فئنك مفارقة, واعمل ما شئت فئنك مجزى بھ,

Jibril As berkata, “Ya Muhammad hiduplah sesuka engkau karena sesungguhnya engkau akan meninggal dunia. Dan cintailah orang yang engkau suka karena engkau pasti akan berpisah (disebabkan kematian). Dan beramalah sesuka engkau karena engkau akan di beri pahala atas amal itu.

Maqolah ke 40 :

قال النبي صل الھ علیھ وسلم : ثلاثة نفر یظلھم الله تحت ظل عرشھ یوم لاظل الا ظلھ. المتوضئ فى المكاره, والماشى الى المساجد فى الظلم, ومطعم الجائع.

Tiga golongan yang akan mendapatkan naungan الله di bawah naungan ‘arsy-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. 1 orang yang berwudhu pada waktu yang sangat berat (dingin bersangatan). 2. orang yang pergi ke masjid dalam kegelapan )untuk mengerjakan shalat berjama’ah). 3. Orang yang memberi makan orang yang kelaparan.

Maqolah ke 41 :

قیل لابراھیم علیھ السلام, “لأي شیئ اتخذك الله خلیلا ؟ قال بثلاثت اشیاء : اخترت امر الله تعالى على أمر غیره, وما اھتممت بما تكفل الله لى وما تعیشت وما تغدیت الا مع الضیف

Ditanyakan kepada Nabi Ibrahim AS, “Dengan sehingga الله menjadikan engkau sebagai kekasih ?” Maka Ia menjawab, “Dengan tiga hal, Aku memilih melaksanakan perintah الله daripada perintah selain الله . Dan aku tidak bersedih hati atas apa yang telah الله tanggung untukku (dari rizki). Dan tidak sekali-kali aku makan malam atau makan pagi kecuali bersama-sama dengan tamu.

Telah diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim AS berjalan satu mil atau dua mil untuk mencari orang yang mau dijak makan bersamanya.

Maqolah ke 42 :

عن بعض الحكماء : ثلاثة اشیاء تفرج الغصص 1 ذكر الله تعالي, 2 ولقاء أولیائھ, 3 وكلام الحكماء

Diriwayatkan dari sebagian ahli hikmah (orang-orang yang pandai mengobati penyakit hati). Tiga perkara dapat menghilangkan kesusahan. 1 Dzikir kepada الله dengan lafadz apapun seperti banyak membaca kaliamat لاالھ الاالله dan kalimat لاحولولاقوةالابالله , atau dengan bermunajat kepada-Nya. 2 Bertemu kekasih / Aulia-Nya dari para ulama dan orang-orang saleh. 3 Mendengarkan kalam (nasihat) para hukama’ (orang yang menunjukkan kepada kebajikan dunia dan akhirat).

Maqolah ke 43

عن حسن البصرى رضي الله عنھ : من لا أدبلھ لاعلم لھ, ومن لاصبرلھ لادین لھ, ومن لاورع لھ لازلفى لھ.

Dari Hasan Al Bashri RA, Barang siapa yang tidak memiliki adab/etika (kepada الله dan kepada makhluk) maka tiadalah ilmu baginya. Barang siapa yang tidak memiliki kesabaran (karena menanggung bala’ dan menanggung disakiti oleh makhluk, dan atas beratnya menjahui maksiyat dan atas melaksanakan kewajiban), maka tiadalah agama baginya. Barang siapa yang tidak wara’ (dari yang haram dan syubhat) maka tidak ada pujian (martabat) baginya di hadapan الله dan tiada kedekatan baginya kepada الله

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

KEISTIMEWAAN DAN KEUTAMAAN ORANG YANG MENCARI ILMU

Setiap Manusia yang belajar satu bab ilmu maka lebih baik dari pada shalat seratus rakaat. Itulah yang dikatakan oleh KH Abdussalam Mujib, Pengasuh Ponpes Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo saat menerangkan isi kitab Kifayatul Atqiya di Kantor Ikatan Alumni Al-Khoziny Cabang Surabaya, Selasa (1/8).

“Nabi Muhammad SAW bersabda barang siapa berangkat pagi hanya untuk menuntut satu bab ilmu maka lebih baik dari pada sholat 100 rakaat, diriwayatkan oleh Imam Ibn Abdul Barr,” kata Kiai Abdussalam Mujib mengutip karya Sayyid Bakri Al-Makki Ibnu Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi.

Imam Syafi’i mengatakan mencari ilmu itu lebih utama daripada shalat sunnah. “Lebih banyak pahalanya mencari ilmu yang manfaat dari pada shalat sunnah,” lanjut Kiai Salam.

Keutamaan lainnya adalah apabila orang yang menuntut ilmu tersebut meninggal dunia maka itu dikatakan mati syahid. Hal itu sesuai dengan yang disabdakan oleh Rasulullah diriwayatkan Ibnu Munir dalam kitab Shahih bukhori.

“Hadist ini untuk memberi semangat kepada tholabul ilmi dan memberi penyemangat,” tutur terang Mustasyar PCNU Sidoarjo ini.

Imam Malik guru dari Imam Syafi’i bercerita ada seorang santri (orang yang belajar ilmu) yang ingin belajar kepada Imam Malik. Namanya Yahya, sang Imam pun langsung berkata, kalau menuntut ilmu janganlah tidur terus.

“Seorang santri harus betah melek malam. Kurangi tidur terutama di waktu malam,” terang Kiai Salam.

Diceritakan ada seorang pemuda yang bermimpi bertemu dengan santri yang meninggal di pondok. Semasa hidupnya dihabiskan di pesantren untuk belajar satu bab Ilmu. Saya melihat Allah SWT mengangkat satu drajat di surga. Lalu Allah berkata kepada malaikatNya agar menambai derajat itu dengan warisan para nabi.

Selain keutamaannya, Kiai Salam juga membacakan kitab di halaman 64, yang diterangkan, barang siapa yang mencari ilmu agar menyaingi atau mau mengalahkan orang lain atau memalingkan wajahnya dari manusia atau ingin punya pengaruh. Maka Allah akan memasukkan ke dalam neraka.

“Manusia itu memiliki dua jatah yaitu di surga atau di neraka. Kalau ada manusia yang seperi ini maka dia mengambil jatahnya di neraka,” pungkas Kiai Salam. (Rof Maulana/Fathoni)

Keutamaan Menuntut Ilmu dalam Kitab Kifayatul Atqiya

Surabaya, NU Online

Setiap Manusia yang belajar satu bab ilmu maka lebih baik dari pada shalat seratus rakaat. Itulah yang dikatakan oleh KH Abdussalam Mujib, Pengasuh Ponpes Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo saat menerangkan isi kitab Kifayatul Atqiya di Kantor Ikatan Alumni Al-Khoziny Cabang Surabaya, Selasa (1/8).

“Nabi Muhammad SAW bersabda barang siapa berangkat pagi hanya untuk menuntut satu bab ilmu maka lebih baik dari pada sholat 100 rakaat, diriwayatkan oleh Imam Ibn Abdul Barr,” kata Kiai Abdussalam Mujib mengutip karya Sayyid Bakri Al-Makki Ibnu Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi.

Imam Syafi’i mengatakan mencari ilmu itu lebih utama daripada shalat sunnah. “Lebih banyak pahalanya mencari ilmu yang manfaat dari pada shalat sunnah,” lanjut Kiai Salam.

Keutamaan lainnya adalah apabila orang yang menuntut ilmu tersebut meninggal dunia maka itu dikatakan mati syahid. Hal itu sesuai dengan yang disabdakan oleh Rasulullah diriwayatkan Ibnu Munir dalam kitab Shahih bukhori.

“Hadist ini untuk memberi semangat kepada tholabul ilmi dan memberi penyemangat,” tutur terang Mustasyar PCNU Sidoarjo ini.

Imam Malik guru dari Imam Syafi’i bercerita ada seorang santri (orang yang belajar ilmu) yang ingin belajar kepada Imam Malik. Namanya Yahya, sang Imam pun langsung berkata, kalau menuntut ilmu janganlah tidur terus.

“Seorang santri harus betah melek malam. Kurangi tidur terutama di waktu malam,” terang Kiai Salam.

Diceritakan ada seorang pemuda yang bermimpi bertemu dengan santri yang meninggal di pondok. Semasa hidupnya dihabiskan di pesantren untuk belajar satu bab Ilmu. Saya melihat Allah SWT mengangkat satu drajat di surga. Lalu Allah berkata kepada malaikatNya agar menambai derajat itu dengan warisan para nabi.

Selain keutamaannya, Kiai Salam juga membacakan kitab di halaman 64, yang diterangkan, barang siapa yang mencari ilmu agar menyaingi atau mau mengalahkan orang lain atau memalingkan wajahnya dari manusia atau ingin punya pengaruh. Maka Allah akan memasukkan ke dalam neraka.

“Manusia itu memiliki dua jatah yaitu di surga atau di neraka. Kalau ada manusia yang seperi ini maka dia mengambil jatahnya di neraka,” pungkas Kiai Salam.

HUKUM QADZAF ATAU MENUDUH ZINA TERHADAP ORANG LAIN

BAB QADZAF

(Fasal) menjelaskan tentang qadzaf.      

(فَصْلٌ) فِيْ بَيَانِ الْقَذْفِ

Qadzaf secara bahasa adalah menuduh secara mutlak. Dan secara syara’ adalah menuduh zina atas dasar mencemarkan nama baik, agar supaya mengecualikan persaksian zina.   

وَهُوَ لُغَةً الرَّمْيُ وَشَرْعًا الرَّمْيُ بِالزِّنَا عَلَى جِهَّةِ التَّعْيِيْرِ لَتَخْرُجَ الشَّهَادَةُ بِالزِّنَا

Ketika seseorang menuduha orang lain telah berbuat zina seperti ucapannya, “engkau telah zina,” maka ia berhak mendapatkan had qadzaf berupa delapan puluh cambukan sebagaimana yang akan dijelaskan. Lafadz “qadzaf” dengan menggunakan huruf dzal yang diberi titik satu,   

(وَإِذَا قَذَفَ) بِذَالٍ مُعْجَمَةٍ (غَيْرَهُ بِالزِّنَا) كَقَوْلِهِ زَنَيْتَ (فَعَلَيْهِ حَدُّ الْقَذْفِ) ثَمَانِيْنَ جَلْدَةً كَمَا سَيَأْتِيْ

Hal ini jika memang si penuduh bukan ayah atau ibu orang yang dituduh, walaupun keduanya hingga sampai atas sebagaimana yang akan dijelaskan.         

هَذَا إِنْ لَمْ يَكُنِ الْقَاذِفُ أَبًّا أَوْ أُمًّا وَإِنْ عَلَيَا كَمَا سَيَأْتِيْ

Syarat Had Qadzaf

Dengan delapan syarat. Tiga syarat di antaranya pada orang yang menuduh. Dalam sebagian redaksi dengan menggunakan lafadz, “tsalatsun.              

(بِثَمَانِيَةِ شَرَائِطَ ثَلَاثَةٍ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ ثَلَاثٌ (مِنْهَا فِيْ الْقَاذِفِ

Yaitu, si penuduh adalah orang yang sudah baligh dan berakal.   

وَهُوَ أَنْ يَكُوْنَ بَالِغًا عَاقِلًا)

Sehingga anak kecil dan orang gila tidak berhak dihad sebab keduanya menuduh zina pada seseorang.

فَالصَّبِيُّ وَالْمَجْنُوْنُ لَا يُحَدَّانِ بِقَذْفِهِمَا شَخْصًا

Si penuduh bukan orang tua orang yang dituduh.             

(وَأَنْ لَا يَكُوْنَ وَالِدًا لِلْمَقْذُوْفِ)

Sehingga, seandainya seorang ayah atau ibu walaupun keduanya hingga ke atas menuduh zina terhadap anaknya walaupun hingga ke bawah, maka ia tidak berhak mendapat had.             

فَلَوْ قَذَفَ الْأَبُّ أَوِ الْأُمُّ وَإِنْ عَلَا وَلَدَهُ وَإِنْ سَفُلَ لَا حَدَّ عَلَيْهِ.

Dan lima syarat pada maqdzuf (orang yang dituduh).      

(وَ خَمْسَةٌ فِيْ الْمَقْذُوْفِ

Yaitu, orang yang dituduh adalah orang islam, baligh, berakal, merdeka dan terjaga dari zina.       

وَهُوَ أَنْ يَكُوْنَ مُسْلِمًا بَالِغًا عَاقِلًا حُرًّا عَفِيْفًا) عَنِ الزِّنَا

Sehingga tidak ada hukum had sebab seseorang menuduh zina pada orang kafir, anak kecil, orang gila, budak atau orang yang pernah melakukan zina.        

فَلَا حَدَّ بِقَذْفِ الشَّخْصِ كَافِرًا أَوْ صَغِيْرًا أَوْ مَجْنُوْنًا أَوْ رَقِيْقًا أَوْ زَانِيًا

Jumlah Had Qadzaf

Orang merdeka yang menuduh zina dihukum had sebanyak delapan puluh cambukan.

(وَيُحَدُّ الْحُرُّ) الْقَاذِفُ (ثَمَانِيْنَ) جَلْدَةً

Dan seorang budak -yang menuduh zina- mendapat had empat puluh cambukan.              

(وَ) يُحَدُّ (الْعَبْدُ أَرْبَعِيْنَ) جَلْدَةً

Gugurnya Had Qadzaf

Had qadzaf menjadi gugur dari orang yang menuduh sebab tiga perkara,

(وَيَسْقُطُ) عَنِ الْقَاذِفِ (حَدُّ الْقَذْفِ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ)

Salah satunya mendatangkan saksi, baik yang dituduh adalah orang lain atau istrinya sendiri.       

أَحَدُهَا (إِقَامَةُ الْبَيِّنَةِ) سَوَاءٌ كَانَ الْمَقْذُوْفُ أَجْنَبِيًّا أَوْ زَوْجَةً

Yang kedua disebutkan di dalam perkataan mushannif, “atau orang yang dituduh memaafkan”, maksudnya pada orang yang menuduh.  

وَالثَّانِيْ مَذْكُوْرٌ فِيْ قَوْلِهِ (أَوْ عَفْوُ الْمَقْذُوْفِ) أَيْ عَنِ الْقَاذِفِ

Yang ketiga disebutkan di dalam perkataan beliau, “melakukan sumpah li’an di dalam haknya istri.”

وَالثَّالِثُ مَذْكُوْرٌ فِيْ قَوْلِهِ (وَ اللِّعَانُ فِيْ حَقِّ الزَّوْجَةِ)

Li’an telah dijelaskan di dalam perkataan mushannif, “fasal, ketika seseorang menuduh …..”        

وَسَبَقَ بَيَانُهُ فِيْ قَوْلِ الْمُصَنِّفِ فَصْلٌ وَإِذَا رَمَى الرَّجُلُ إِلَخْ.

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

INILAH SYARI’AT ISLAM DALAM ENJELASKAN HUKUMAN BAGI PEZINA

Lafadz al hudud adalah bentuk jama’ dari lafadz “had”. Had secara bahasa bermakna mencegah.            

جَمْعُ حَدٍّ وَهُوَ لُغَةً الْمَنْعُ

Disebut dengan nama Had, karena bisa mencegah dari melakukan perbuatan-perbuatan keji. 

وَسُمِّيَتِ الْحُدُوْدُ بِذَلِكَ لِمَنْعِهَا مِنِ ارْتِكَابِ الْفَوَاحِشِ

Had Zina

Mushannif memulai penjelasan macam-macam had dengan had zina di dalam pertengahan perkataan beliau.

وَبَدَأَ الْمُصَنِّفُ مِنَ الْحُدُوْدِ بِحَدِّ الزِّنَا الْمَذْكُوْرِ فِيْ أَثْنَاءِ قَوْلِهِ

Zina ada dua macam, zina muhshan dan gairu muhshan.              

(وَالزِّنَى عَلَى ضَرْبَيْنِ مُحْصَنٍ وَغَيْرِ مُحْصَنٍ

Zina muhshan hukumannya adalah diranjam dengan batu yang standar, tidak dengan kerikil kecil dan tidak dengan batu yang terlalu besar.

Dan sebentar lagi akan dijelaskan bahwa sesungguhnya orang yang muhshan adalah orang yang sudah baligh, berakal, dan merdeka yang telah memasukkan hasyafahnya atau kira-kira hasyafahnya orang yang terpotong hasyafahnya ke vagina di dalam nikah yang sah.  

فَالْمُحْصَنُ) وَسَيَأْتِيْ قَرِيْبًا أَنَّهُ الْبَالِغُ الْعَاقِلُ الْحُرُّ الَّذِيْ غَيَّبَ حَشَفَتَهُ أَوْ قَدْرَهَا مِنْ مَقْطُوْعِهَا بِقُبُلٍ فِيْ نِكَاحٍ صَحِيْحٍ (حَدُّهُ الرَّجْمُ)  بِحِجَارَةٍ مُعْتَدِلَةٍ لَا بِحَصًى صَغِيْرَةٍ وَلَا بِصَخْرٍ

Hukuman zina ghairul muhshan dari orang laki-laki atau perempuan adalah seratus kali cambukan.

(وَغَيْرُ الْمُحْصَنِ) مِنْ رَجُلٍ أَوِ امْرَأَةٍ (حَدُّهُ مِائَةُ جَلْدَةٍ)

Disebut dengan jaldah, karena pukulan itu mengenai kulit.       

سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِاتِّصَالِهَا  بِالْجِلْدِ

Dan mengucilkan selama setahun ke tempat yang berjarak masafatul qasri atau lebih sesuai dengan kebijakan imam.

(وَتَغْرِيْبُ عَامٍ إِلَى مَسَافَةِ الْقَصْرِ) فَأَكْثَرَ بِرَأْيِ الْإِمَامِ

Masa setahun terhitung dari awal perjalanan orang yang zina, tidak sejak sampainya dia ketempat pengucilan.              

وَتُحْسَبُ مُدَّةُ الْعَامِ مِنْ أَوَّلِ سَفَرِ الزَّانِيْ لَا مِنْ وُصُوْلِهِ مَكَانَ التَّغْرِيْبِ

Yang lebih utama pengucilan tersebut setelah hukuman jilid dilaksanakan.       

وَالْأَوْلَى أَنْ يَكُوْنَ بَعْدَ الْجِلْدِ.

Syarat-Syarat Muhshan

Syarat ihshan ada empat.            

(وَشَرَائِطُ الْإِحْصَانِ أَرْبَعٌ)

Yang pertama dan kedua adalah baligh dan berakal.      

الْأَوَّلُ وَالثَّانِيْ (الْبُلُوْغُ وَالْعَقْلُ)

Sehingga tidak ada had bagi anak kecil dan orang gila, bahkan keduanya berhak diberi pengajaran dengan sesuatu yang membuat keduanya jerah untuk melakukan zina.           

فَلَا حَدَّ عَلَى صَبِيٍّ وَمَجْنُوْنٍ بَلْ يُؤَدَّبَانَ بِمَا يُزْجِرُهُمَا عَنِ الْوُقُوْعِ فِيْ الزِّنَا

Yang ketiga adalah merdeka.    

(وَ) الثَّالِثُ (الْحُرِّيَّةُ)

Sehingga budak, budak muba’adl, mukatab, dan ummi walad bukan orang yang muhshan, walaupun masing-masing dari mereka pernah melakkan wathi’ di dalam nikah yang sah.          

فَلَا يَكُوْنُ الرَّقِيْقُ وَالْمُبَعَّضُ وَالْمُكَاتَبُ وَأُمُّ الْوَلَدِ مُحْصَنًا وَإِنْ وَطِئَ كُلٌّ مِنْهُمْ فِيْ نِكَاحٍ صَحِيْحٍ

Yang ke empat adalah wujudnya wathi’ dari orang islam atau kafir dzimmi di dalam nikah yang sah.

(وَ) الرَّابِعُ (وُجُوْدُ الْوَطْءٍ) مِنْ مُسْلِمٍ أَوْ ذِمِيٍّ (فِيْ نِكَاحٍ صَحِيْحٍ)

Dan di dalam sebagian redaksi menggunakan lafadz, “fi an nikah ash shahih.”  

وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ فِيْ النِّكَاحِ الصَّحِيْحِ

Yang kehendaki mushannif dengan wathi’ adalah memasukkan hasyafah atau kira-kira hasyafahnya orang yang terpotong hasyafahnya ke dalam vagina.  

وَأَرَادَ بِالْوَطْءِ تَغْيِيْبَ الْحَشَفَةِ أَوْ قَدْرِهَا مِنْ مَقْطُوْعِهَا بِقُبُلٍ

Dengan keterangan, “di dalam nikah yang sah,” mengecualikan wathi’ di dalam nikah yang fasid. Maka ihshan tidak bisa hasil dengan wathi’ tersebut.   

وَخَرَجَ بِالصَّحِيْحِ الْوَطْءُ فِيْ نِكَاحٍ فَاسِدٍ فَلَا يَحْصُلُ بِهِ التَّحْصِيْنُ

Had budak laki-laki dan perempuan adalah separuh had orang merdeka.            

(وَالْعَبْدُ وَالْأَمَّةُ حَدُّهُمَا نِصْفُ حَدِّ الْحُرِّ)

Sehingga masing-masing dari keduanya dihukum sebanyak lima kali cambukan dan dikucilkan selama setengah tahun.

فَيُحَدُّ كُلٌّ مِنْهُمَا خَمْسِيْنَ جَلْدَةً وَيُغَرَّبُ نِصْفَ عَامٍ

Seandainya mushannif mengatakan, “orang yang memiliki sifat budak, maka hadnya ….”, niscaya akan lebih baik, karena mencakup budak mukatab, muba’adl, dan ummu walad.            

وَلَوْ قَالَ الْمُصَنِّفُ وَمَنْ فِيْهِ رِقٌّ حَدُّهُ إِلَخْ كَانَ أَوْلَى لِيَعُمَّ الْمُكَاتَبَ وَالْمُبَعَّضَ وَأُمَّ الْوَلَدِ .

Sodomi

Hukum sodomi dan menyetubuhi binatang adalah seperti hukumnya zina.        

(وَحُكْمُ اللِّوَاطِ وَإِتْيَانِ الْبَهَائِمِ كَحُكْمِ الزِّنَا)

Sehingga, barang siapa melakukan sodomi dengan seseorang, dengan arti mewathinya pada dubur, maka ia berhak dihad menurut pendapat al madzhab.               

فَمَنْ لَاطَ بِشَخْصٍ بِأَنْ وَطِئَهُ فِيْ دُبُرِهِ حُدَّ عَلَى الْمَذْهَبِ

Dan barang siapa menyetubuhi binatang, maka harus dihad sebagaimana penjelasan mushannif, akan tetapi menurut pendapat yang kuat sesungguhnya orang tersebut berhak dita’zir.         

وَمَنْ أَتَى بَهِيْمَةً حُدَّ كَمَا قَالَ الْمُصَنِّفُ لَكِنِ الرَّاجِحُ أَنَّهُ يُعَزَّرُ

Barang siapa mewathi wanita lain pada anggota selain farji, maka ia berhak dita’zir.     

(وَمَنْ وَطِئَ) أَجْنَبِيَّةً (فِيْمَا دُوْنَ الْفَرْجِ عُزِّرَ

Bagi imam tidak diperkenankan menta’zir hingga mencapai minimal had.          

وَلَا يُبَلِّغُ) الْإِمَامُ (بِالتَّعْزِيْرِ أَدْنَى الْحُدُوْدِ)

Sehingga, jika imam menta’zir seorang budak laki-laki, maka di dalam menta’zirnya, wajib kurang dari dua puluh cambukan.         

فَإِنْ عَزَّرَ عَبْدًا وَجَبَ أَنْ يَنْقُصَ فِيْ تَعْزِيْرِهِ عَنْ عِشْرِيْنَ جَلْدَةً

Atau menta’zir orang merdeka, maka di dalam menta’zirnya wajib kurang dari empat puluh cambukan, karena sesungguhnya itu adalah batas minimal had masing-masing dari keduanya.      

أَوْ عَزَّرَ حُرًّا وَجَبَ أَنْ يَنْقُصَ فِيْ تَعْزِيْرِهِ عَنْ أَرْبَعِيْنَ جَلْدَةً  لِأَنَّهُ أَدْنَى حَدِّ كُلٍّ مِنْهُمَا

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

BAB QOSAMAH : (SUMPAH-SUMPAH DALAM KASUS PEMBUNUHAN)

BAB QASAMAH

(Fasal) menjelaskan hukum-hukum qasamah. Qasamah adalah beberapa sumpah atas pembunuhan.   (فَصْلٌ)

فِيْ أَحْكَامِ الْقَسَامَةِ وَهِيَ أَيْمَانُ الدِّمَاءِ

Ketika tuduhan pembunuhan bersertaan dengan lauts. Lafdz “lauts” dengan menggunakan huruf tsa’ yang diberi titik tiga.               

(وَإِذَا اقْتَرَنَ بِدَعْوَى الدَّمِّ لَوْثٌ) بِمُثَلَّثَةٍ

Lauts secara bahasa adalah lemah. Dan secara syara’ adalah qarinah (tanda-tanda) yang menunjukkan atas kebenaran penuduh dengan gambaran, qarinah tersebut menimbulkan dugaan atas kebenaran si penuduh di dalam hati.               

وَهُوَ لُغَةً الضُّعْفُ وَشَرْعًا قَرِيْنَةٌ تَدُلُّ عَلَى صِدْقِ الْمُدَّعِيْ بِأَنْ تُوقِعَ تِلْكَ الْقَرِيْنَةُ فِيْ الْقَلْبِ صِدْقَهُ

Pada gambaran inilah, mushannif memberi isyarah dengan perkataan beliau, “lauts tersebut menimbulkan dugaan kebenaran si penuduh di dalam hati.”  

وَإِلَى هَذَا أَشَارَ الْمُصَنِّفُ بِقَوْلِهِ (يَقَعُ فِيْهِ فِيْ النَّفْسِ صِدْقُ الْمُدَّعِيْ)

Semisal korban pembunuhan atau sebagian anggotanya seperti kepalanya ditemukan di dusun yang terpisah dari kota yang besar sebagaimana keterangan di dalam kitab ar Raudlah dan aslinya kitab ar Raudlah.     

بِأَنْ وُجِدَ قَتِيْلٌ أَوْ بَعْضُهُ كَرَأْسِهِ فِيْ مَحِلَّةٍ مُنْفَصِلَةٍ عَنْ بَلَدٍ كَبِيْرٍ كَمَا فِيْ الرَّوْضَةِ وَأَصْلِهَا

Atau korban ditemukan di desa luas yang dihuni oleh musuh-musuh korban dan tidak ada selain mereka di desa tersebut.               

أَوْ وُجِدَ فِيْ قَرْيَةٍ كَبِيْرَةٍ لِأَعْدَائِهِ وَلَايُشَارِكُهُمْ فِيْ الْقَرْيَةِ غَيْرُهُمْ

Maka penuduh disumpah sebanyak lima puluh kali.      

(حُلِّفَ الْمُدَّعِيْ خَمْسِيْنَ يَمِيْنًا)

Tidak disyaratkan sumpah tersebut diucapkan secara terus menerus menurut al madzhab.        

وَلَا يُشْتَرَطُ مُوَالَاتُهَا عَلَى الْمَذْهَبِ

Seandainya antara sumpah-sumpah tersebut terpisah oleh gila atau pingsannya orang yang bersumpah, maka setelah sadar ia tinggal meneruskan sisa dari sumpah yang sudah diucapkan, jika qadli yang menjadi juru hukum saat sumpah qasamah yang sudah diucapkan tersebut belum dipecat.            

وَلَوْ تَخَلَّلَ بَيْنَ الْأَيْمَانِ جُنُوْنٌ مِنَ الْحَالِفِ أَوْ إِغْمَاءٌ مِنْهُ بَنَى بَعْدَ الْإِفَاقَةِ عَلَى مَا مَضَى مِنْهَا إِنْ لَمْ يُعْزَلِ الْقَاضِيْ الَّذِيْ وَقَعَتِ الْقَسَامَةُ عِنْدَهُ

Sehingga, jika qadli tersebut telah dipecat dan telah diganti qadli yang lain, maka wajib mengulangi sumpah qasamah-nya lagi.      

فَإِنْ عُزِلَ وَ وُلِّيَ غَيْرُهُ وَجَبَ اسْتِئْنَافُهَا

Dan ketika penuduh telah bersumpah, maka ia berhak mendapatkan diyat.      

(وَ) إِذَا حَلَفَ الْمُدَّعِيْ (اسْتَحَقَّ الدِّيَّةَ)

Sumpah qasamah tidak berlaku dalam kasus memotong anggota badan.             

وَلَا تَقَعُ الْقَسَامَةُ فِيْ قَطْعِ طَرَفٍ.

Dan jika di sana tidak terdapat lauts, maka bagi orang yang tertuduh harus bersumpah. maka ia bersumpah sebanyak lima puluh kali.         

(وَإِنْ لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ لَوْثٌ فَالْيَمِيْنُ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ) فَيَحْلِفُ خَمْسِيْنَ يَمِيْنًا

 

Kafarat Pembunuhan

Wajib membayar kafarat bagi orang yang telah membunuh nyawa yang diharamkan secara sengaja, khatha’ atau syibh ‘amdin.

(وَعَلَى قَاتِلِ النَّفْسِ الْمُحَرَّمَةِ) عَمْدًا أَوْ خَطَأً أَوْ شِبْهَ عَمْدٍ (كَفَارَةٌ)

Seandainya si pembunuh adalah anak kecil atau orang gila, maka wali keduanya harus memerdekakan budak dari harta keduanya.          

وَلَوْ كَانَ الْقَاتِلُ صَبِيًّا أَوْ مَجْنُوْنًا فَيُعْتِقُ الْوَلِيُّ عَنْهُمَا مِنْ مَالِهِمَا

Kafaratnya adalah memerdekakan budak mukmin yang selamat dari cacat-cacat yang bisa berbahaya, maksudnya mencacatkan amal dan pekerjaan.         

وَالْكَفَارَةُ (عِتْقُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ سَلِيْمَةٍ مِنَ الْعُيُوْبِ الْمُضِرَّةِ) أَيِ الْمُخِلَّةِ بِالْعَمَلِ وَالْكَسْبِ

Kemudian, jika ia tidak menemukan budak, maka wajib melaksanakan puasa dua bulan dengan perhitungan tanggal secara berturut-turut disertai niat kafarat.         

(فَإِنْ لَمْ يَجِدْ) هَا (فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ) بِالْهِلَالِ (مُتَتَابِعَيْنِ) بِنِيَّةِ الْكَفَارَةِ

Tidak disyaratkan niat tatabu’ (berturut-turut) menurut pendapat al ashah.      

وَلَا يُشْتَرَطُ نِيَّةُ التَّتَابُعِ فِيْ الْأَصَحِّ

Kemudian, jika orang yang membayar kafarat tidak mampu untuk berpuasa dua bulan karena lanjut usia, terdapat kesulitan yang terlalu berat padanya sebab berpuasa, atau khawatir sakitnya bertambah parah, maka ia wajib membayar kafarat dengan memberi makan enam puluh orang miskin atau faqir.   

فَإِنْ عَجَزَ الْمُكَفِّرُ عَنْ صَوْمِ شَهْرَيْنِ لِهَرَمٍ أَوْ لَحِقَهُ بِالصَّوْمِ مَشَقَّةٌ شَدِيْدَةٌ أَوْ خَافَ زِيَادَةَ الْمَرَضِ كَفَّرَ بِإِطْعَامِ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا أَوْ فَقِيْرًا

Masing-masing dari mereka ia beri satu mud bahan makanan yang cukup digunakan untuk zakat fitri.  

يَدْفَعُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مُدًّا مِنْ طَعَامٍ يُجْزِئُ فِيْ الْفِطْرَةِ

Tidak diperkenankan baginya memberi makan orang kafir, Bani Hasyim dan Bani Muthallib.     

وَلَا يُطْعِمُ كَافِرًا وَلَا هَاشِمِيًّا وَلَا مُطَلِّبِيًّا .

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

DIYAT MUGHOLADZOH DAN MUKHOFFAFAH KARENA MEMBUNUH

(Fasal) menjelaskan tentang diyat.        

(فَصْلٌ) فِيْ بَيَانِ الدِّيَّةِ

Diyat adalah harta yang wajib dibayar sebab telah melukai orang merdeka baik nyawa atau anggota badan.      

وَهِيَ الْمَالُ الْوَاجِبُ بِالْجِنَايَةِ عَلَى حُرٍّ فِيْ نَفْسٍ أَوْ طَرْفٍ

Pembagian Diyyat

Diyat ada dua macam, mughaladhah (yang berat) dan mukhaffah (yang ringan), dan tidak ada yang ketiga.        

(وَالدِّيَّةُ عَلَى ضَرْبَيْنِ مُغَلَّظَةٍ وَمُخَفَّفَةٍ) وَلَا ثَالِثَ لَهُمَا

Diyat mughallah, sebab membunuh laki-laki merdeka  yang beragama islam dengan sengaja, adalah seratus ekor onta.               

(فَالْمُغَلَّظَةُ) بِسَبَبِ قَتْلِ الذَّكَرِ الْحُرِّ الْمُسْلِمِ عَمْدًا (مِائَةٌ مِنَ الْإِبِلِ)

Seratus onta tersebut dibagi tiga. Tiga puluh ekor berupa onta hiqqah. Tiga puluh ekor berupa onta jadz’ah. Pengertian kedua onta ini telah dijelaskan di dalam kitab “ZAKAT”. Dan empat puluh ekor berupa onta khalifah. Lafadz khalifah dengan membaca fathah huruf kha’nya yang diberi titik satu di atas, membaca kasrah huruf lamnya, dan menggunakan huruf fa’.            

وَالْمِائَةُ مُثَلَّثَةٌ (ثَلَاثُوْنَ حِقَّةً وَثَلَاثُوْنَ جَذْعَةٌ) وَسَبَقَ مَعْنَاهُمَا فِيْ كِتَابِ الزَّكَاةِ (وَأَرْبَعُوْنَ خَلِفَةً) بِفَتْحِ الْخَاءِ الْمُعْجَمَةِ وَكَسْرِ اللَّامِ وَبِالْفَاءِ

Mushannif menafsiri onta khalifah tersebut dengan perkataan beliau, “di dalam perut onta tersebut terdapat anaknya.”

وَفَسَّرَهَا الْمُصَنِّفُ بِقَوْلِهِ (فِيْ بُطُوْنِهَا أَوْلَادُهَا)

Yang dikehendaki, empat puluh ekor onta tersebut adalah onta-onta yang sedang hamil. Kehamilan onta tersebut bisa ditetapkan dengan ucapan pakar ahli tentang onta.       

وَالْمَعْنَى أَنَّ الْأَرْبَعِيْنَ حَوَامِلُ وَيَثْبُتُ حَمْلُهَا بِقَوْلِ أَهْلِ الْخُبْرَةِ بِالْإِبِلِ.   

Diyat mukhaffah sebab membunuh laki-laki merdeka yang muslim adalah seratus ekor onta.  

(وَالْمُخَفَّفَةُ) بِسَبَبِ قَتْلِ الذَّكَرِ الْحُرِّ الْمُسْلِمِ (مِائَةٌ مِنَ الْإِبِلِ)

Seratus dibagi lima. Dua puluh ekor berupa onta hiqqah, dua puluh ekor berupa onta jadz’ah, dua puluh ekor berupa onta bintu labun, dua puluh ekor berupa onta ibn labun, dan dua puluh ekor berupa onta bintu makhadl.    

وَالْمِائَةُ مُخَمَّسَةٌ (عِشْرُوْنَ حِقَّةً وَعِشْرُوْنَ جَذْعَةً وَعِشْرُوْنَ بِنْتَ لَبُوْنٍ وَعِشْرُوْنَ ابْنَ لَبُوْنٍ وَعِشْرُوْنَ بِنْتَ مَخَاضٍ)

 

Proses Pengambilan Diyyat

Ketika onta wajib dibayar oleh si pembunuh atau waris ‘aqilah, maka onta diambil dari ontanya orang yang wajib membayarnya.

وَمَتَّى وَجَبَتِ الْإِبِلُ عَلَى قَاتِلٍ أَوْ عَاقِلَةٍ اُخِذَتْ مِنْ إِبِلِ مَنْ وَجَبَتْ عَلَيْهِ

Jika ia tidak memiliki onta, maka diambilkan dari onta yang paling banyak di kota orang yang hidup di perkotaan, atau pedukuan orang yang hidup di pedesaan.

وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ إِبِلٌ فَتُؤْخَذُ مِنْ غَالِبِ إِبِلِ بَلْدَةِ بَلَدِيٍّ أَوْ قَبِيْلَةِ بَدَوِيٍّ

Jika di kota atau desa tersebut tidak ada onta, maka diambilkan dari onta yang paling banyak di kota atau desa yang paling dekat dengan tempat orang yang wajib membayar diyat.            

فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْ الْبَلْدَةِ أَوِ الْقَبِيْلَةِ إِبِلٌ فَتُؤْخَذُ مِنْ غَالِبِ إِبِلِ أَقْرَبِ الْبِلَادِ أَوِ الْقَبَائِلِ إِلَى مَوْضِعِ الْمُؤَدِّيْ

Kemudian, ketika tidak ada onta, maka ia beralih mengeluarkan uang seharga onta tersebut.  

(فَإِنْ عُدِمَتِ الْإِبِلُ انْتَقَلَ إِلَى قِيْمَتِهَا)

Dalam redaksi yang laing disebutkan, “jika onta tidak ditemukan, maka beralih mengeluarkan uang seharga onta tersebut.”          

وَفِيْ نُسْخَةٍ أُخْرَى فَإِنِ اعْوَزَتِ الْإِبِلُ انْتَقَلَ إِلَى قِيْمَتِهَا

Ini adalah pendapat di dalam qaul jadid, dan ini adalah pendapat ash shahih.   

هَذَا مَا فِيْ الْقَوْلِ الْجَدِيْدِ وَهُوَ الصَّحِيْحُ

Ada satu pendapat di dalam qaul qadim yang mengatakan, “beralih mengeluarkan seribu dinar, bagi orang yang memiliki emas.   

(وَقِيْلَ) فِيْ الْقَدِيْمِ (يَنْتَقِلُ إِلَى أَلْفِ دِيْنَارٍ) فِيْ حَقِّ أَهْلِ الذَّهَبِ

Atau beralih membayar dua belas ribu dirham, bagi orang yang memiliki perak.             

(أَوْ) يَنْتَقِلُ إِلَى (اثْنَيْ عَشَرَ أَلْفِ دِرْهَمٍ) فِيْ حَقِّ أَهْلِ الْفِضَّةِ

Di dalam semua yang dijelaskan tersebut baik diyat al mughaladhdhah atau diyat al mukhaffah.            

وَسَوَاءٌ فِيْمَا ذُكِرَ الدِّيَّةُ الْمُغَلَّظَةُ وَ الْمُخَفَّفَةُ

Berdasarkan pendapat qaul qadim, jika diyat tersebut diberatkan / mughaladhdhah, maka ditambah sepertiga dari jumlah semuanya.

(وَ إِنْ غُلِّظَتْ) عَلَى الْقَدِيْمِ (زِيْدَ عَلَيْهَا الثُّلُثُ) أَيْ قَدْرُهُ

Sehingga, dalam permasalahan dinar, harus membayar seribu tiga ratus tiga puluh tiga lebih sepertiga dinar.  

فَفِيْ الدَّنَانِيْرِ أَلْفٌ وَثَلَثُ مِائَةٍ وَثَلَاثَةٌ وَثَلَاثُوْنَ دِيْنَارًا وَثُلُثُ دِيْنَارٍ

Dan di dalam permasalahan perak, harus membayar enam belas ribu dirham.  

وَفِيْ الْفِضَّةِ سِتَّةَ عَشَرَ أَلْفَ دِرْهَمٍ.

 

Diyyat Khatha’ Yang Mughaladhah

Diyat pembunuhan khatha’ menjadi berat / mughaladhdhah di dalam tiga tempat.

(وَتُغَلَّظُ دِيَّةُ الْخَطَإِ فِيْ ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ)

Salah satunya, ketika membunuh di tanah Haram, maksudnya tanah Haram Makkah.    

أَحَدُهَا (إِذَا قَتَلَ فِيْ الْحَرَمِ) أَيْ حَرَمِ مَكَّةَ

Adapun pembunuhan yang dilakukan di tanah Haram Madinah, atau membunuh saat melaksanakan ihram, maka tidak sampai memberatkan diyat menurut pendapat al ashah.

أَمَّا الْقَتْلُ فِيْ حَرَمِ الْمَدِيْنَةِ أَوِ الْقَتْلِ فِيْ حَالِ الْإِحْرَامِ فَلَا تَغْلِيْظَ فِيْهِ عَلَى الْأَصَحِّ

Yang kedua dijelaskan di dalam perkataan mushannif, 

وَالثَّانِيْ مَذْكُوْرٌ فِيْ قَوْلِ الْمُصَنِّفِ

Atau membunuh di bulan-bulan Haram, maksudnya bulan Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab.

(أَوْ قَتَلَ فِيْ الْأَشْهُرِ الْحَرَمِ) أَيْ ذِيْ الْقَعْدَةِ وَذِيْ الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمِ وَرَجَبَ

Yang ketiga disebutkan di dalam perkataan mushannif,               

وَالثَّالِثُ مَذْكُوْرٌ فِيْ قَوْلِهِ

Atau membunuh kerabat sendiri yang masih memiliki ikatan mahram. Lafadz “mahram” dengan membaca sukun huruf ha’nya yang tidak diberi titik.   

(أَوْ قَتَلَ) قَرِيْبًا لَهُ (ذَا رَحِمٍ مَحْرَمٍ) بِسُكُوْنِ الْمُهْمَلَةِ

Sehingga, jika kerabat yang dibunuh tersebut bukan mahramnya, maka tidak sampai memberatkan diyat.        

فَإِنْ لَمْ يَكُنِ الْرَحِمُ مَحْرَمًا لَهُ كَبِنْتِ الْعَمِّ فَلَا تَغْلِيْظَ فِيْ قَتْلِهَا

Diyyatnya Wanita & Khuntsa

Diyat melukai wanita dan khuntsa musykil adalah separuh dari diyat melukai laki-laki, baik membunuh atau melukai saja.

(وَدِيَّةُ الْمَرْأَةِ) وَالْخُنْثَى الْمُشْكِلِ (عَلَى النِّصْفِ مِنْ دِيَّةِ الرَّجُلِ) نَفْسًا وَجَرْحًا

Sehingga, di dalam diyatnya wanita merdeka yang muslim dalam permasalahan membunuh secara sengaja atau syibih ‘amdin adalah lima puluh ekor onta -yang dibagi menjadi tiga-. Lima belas onta hiqqah, lima belas onta jadz’ah dan dua puluh onta khalifah yang sedang mengandung.               

فَفِيْ دِيَّةِ حُرَّةٍ مُسْلِمَةٍ فِيْ قَتْلِ عَمْدٍ أَوْ شُبْهَةِ عَمْدٍ خَمْسُوْنَ مِنَ الْإِبِلِ خَمْسَةَ عَشَرَ حِقَّةً وَخَمْسَةَ عَشَرَ جَذْعَةً وَعِشْرُوْنَ خَلِفَةً إِبِلًا حَوَامِلَ

Dan di dalam  membunuh khatha’, wajib membayar sepuluh ekor onta bintu makhadl, sepuluh ekor onta bintu labun, sepuluh ekor ibn labun, sepuluh ekor onta hiqqah dan sepuluh ekor onta jadz’ah.         

وَفِيْ قَتْلِ خَطَإٍ عَشْرُ بَنَاتِ مَخَاضٍ وَعَشْرُ بَنَاتِ لَبُوْنٍ وَعَشْرُ بَنِيْ لَبُوْنٍ وَعَشْرُ حِقَاقٍ وَعَشْرُ جَذَاعٍ

Diyyat Orang Kafir

Diyatnya orang yahudi, nasrani, kafir musta’man, dan kafir mu’ahad adalah sepertiga diyatnya orang islam, baik membunuh atau melukai saja. 

(وَدِيَّةُ الْيَهُوْدِ وَالنَّصْرَانِيِّ) وَالْمُسْتَأْمَنِ وَالْمُعَاهَدِ (ثُلُثُ دِيَّةِ الْمُسْلِمِ) نَفْسًا وَجَرْحًا

Adapun orang majusi, maka diyatnya adalah  dua sepertiga sepersepuluhnya diyat orang muslim          

(وَأَمَّا المَجُوْسِيُّ فَفِيْهِ ثُلُثَا عُشُرِ دِيَّةِ الْمُسْلِمِ)

Ungkapan yang lebih ringkas daripada ini adalah sepertiga seperlima diyatnya orang muslim.  

وَأَحْصَرُ مِنْهُ ثُلُثُ خُمُسِ دِيَّةِ الْمُسْلِمِ

 

Diyyat Melukai

Wajib membayar diyat nafsi secara sempurna, dan sudah dijelaskan bahwa sesungguhnya diyat tersebut adalah seratus onta, di dalam kasus memotong masing-masing dari kedua tangan dan kedua kaki.        (وَتُكَمَّلُ دِيَّةُ النَّفْسِ) وَسَبَقَ أَنَّهَا مِائَةٌ مِنَ الْإِبِلِ (فِيْ قَطْعِ) كُلٍّ مِنَ (الْيَدَّيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ)

Sehingga di dalam setiap satu tangan atau kaki, wajib membayar lima puluh onta. Dan di dalam kasus memotong dua tangan atau kaki, wajib membayar seratus onta.             

فَيَجِبُ فِيْ كُلِّ يَدٍّ أَوْ رِجْلٍ خَمْسُوْنَ مِنَ الْإِبِلِ وَفِيْ قَطْعِهِمَا مِائَةٌ مِنَ الْإِبِلِ

Wajib membayar diyat secara utuh di dalam kasus hidung, maksudnya memotong bagian hidung yang lentur, yaitu janur hidung.               

(وَ) تُكَمَّلُ الدِّيَّةُ فِيْ قَطْعِ (الْأَنْفِ) أَيْ فِيْ قَطْعِ مَا لاَنَ مِنْهُ وَهُوَ الْمَارِنُ

Dan di dalam kasus memotong satu dari kedua bagian tepi janur hidung dan pembatas dua lubangnya, wajib membayar sepertiga diyat.               

وَفِيْ قَطْعِ كُلٍّ مِنْ طَرَفَيْهِ وَالْحَاجِزِ ثُلُثُ دِيَّةٍ

Wajib membayar diyat secara utuh/ sempurna di dalam kasus memotong atau mencabut kedua telinga yang tidak sampai menampakkan tulang yang berada di baliknya.

(وَ) تُكَمَّلُ الدِّيَّةُ فِيْ قَطْعِ (الْأُذُنَيْنِ) أَوْ قَلْعِهِمَا بِغَيْرِ إِيْضَاحٍ

Jika pencabutan keduanya sampai menyebabkan terlihatnya bagian tulang di baliknya, maka juga wajib membayar ursyu-nya (ganti rugi hal itu).

فَإِنْ حَصَلَ مَعَ قَلْعِهِمَا إِيْضَاحٌ وَجَبَ أُرْشُهُ

Di dalam memotong satu daun telinga, wajib membayar separuh diyat.              

وَفِيْ كُلِّ أُذُنٍ نِصْفُ دِيَّةٍ

Penjelasan di atas tidak ada bedanya antara telinga orang yang bisa mendengar atau bukan.    

وَلَا فَرْقَ فِيْمَا ذُكِرَ بَيْنَ أُذُنِ السَّمِيْعِ وَغَيْرِهِ

Seandainya kedua telinga tidak bisa digerakkan lagi sebab dilukai, maka keduanya berhak mendapatkan ganti rugi diyat.               

وَلَوْ أَيْبَسَ الْأُذُنَيْنِ بِجِنَايَةٍ عَلَيْهِمَا فَفِيْهِمَا دِيَّةٌ

wajib membayar diyat secara utuh- di dalam kasus kedua mata. Dalam kasus melukai salah satunya, wajib membayar separuh diyat.  

(وَالْعَيْنَيْنِ) وَفِيْ كُلٍّ مِنْهُمَا نِصْفُ دِيَّةٍ

Dalam hal itu baik matanya orang yang juling, yang tidak bisa melihat salah satu matanya, atau yang selalu berair.        

وَسَوَاءٌ فِيْ ذَلِكَ عَيْنُ أَحْوَلَ أَوْ اَعْوَرَ أَوْ أَعْمَشَ

Dan wajib membayar -diyat secara utuh- di dalam kasus kelopak mata yang berjumlah empat buah. Masing-masing dari ke empatnya berhak mendapatkan ganti rugi seperempat diyat.   

(وَ) فِيْ (الْجُفُوْنِ الْأَرْبَعَةِ) فِيْ كُلِّ جُفْنٍ مِنْهَا رُبُعُ دِيَّةٍ

Dan wajib membayar -diyat secara utuh- dalam kasus lidah yang bisa bicara dan sehat perasanya, walaupun lidahnya orang yang gagap dan orang yang tidak jelas kata-katanya.

(وَاللِّسَانِ) النَّاطِقِ سَلِيْمِ الذَّوْقِ وَلَوْ كَانَ اللِّسَانُ لِأَلْثَغَ وَ أَرَتَّ

Dan wajib membayar -diyat secara utuh- dalam kasus kedua bibir. Di dalam kasus memotong salah satunya, wajib membayar separuh diyat.           

(وَالشَّفَتَيْنِ) وَفِيْ قَطْعِ إِحْدَاهُمَا نِصْفُ دِيَّةٍ.

Dan wajib membayar -diyat secara utuh- dalam kasus hilangnya kemampuan bicara seluruhnya. Dan di dalam kasus hilangnya kemampuan bicara sebagian saja, wajib membayar diyat sesuai dengan prosentase yang hilang.

(وَذِهَابِ الْكَلَامِ) كُلِّهِ وَفِيْ ذِهَابِ بَعْضِهِ بِقِسْطِهِ مِنَ الدِّيَّةِ

Huruf yang menjadi tolak ukur pembagian diyat sebanyak dua puluh delapan huruf di dalam bahasa arab.        

وَالْحُرُوْفُ الَّتِيْ تُوَزَّعُ الدِّيَّةُ عَلَيْهَا ثَمَانِيَّةٌ وَعِشْرُوْنَ حَرْفًا فِيْ لُغَةِ الْعَرَبِ

Dan di dalam kasus hilangnya penglihatan, maksudnya menghilangkan penglihatan dari kedua mata    (وَذِهَابِ الْبَصَرِ) أَيْ إِذْهَابِهِ مِنَ الْعَيْنَيْنِ

Adapun menghilangkan penglihatan dari salah satunya, maka wajib membayar separuh diyat.

أَمَّا إِذْهَابُهُ مِنْ أَحَدِهِمَا فَفِيْهِ نِصْفُ دِيَّةٍ

Di dalam kasus mata, tidak ada perbedaan antara mata yang kecil dan yang besar, antara mata orang tua dan anak kecil.               

وَلَا فَرْقَ فِيْ الْعَيْنِ بَيْنَ صَغِيْرَةٍ وَكَبِيْرَةٍ وَعَيْنِ شَيْخٍ وَطِفْلٍ

Dan wajib membayar -diyat secara utuh- dalam kasus hilangnya pendengaran dari kedua telinga.

(وَذِهَابِ السَّمْعِ) مِنَ الْأُذُنَيْنِ

Jika daya pendengaran kurang dari satu telinga saja, maka telinga tersebut ditutup dan dibatasi seberapa daya pendengaran telinga yang satunya, maka perbedaan diantara kedua telinga tersebut wajib diberi ganti rugi dan diambilkan sebagian dari diyat tersebut dengan mempertimbangkan perbandingan yang hilang dan yang masih ada.  

وَإِنْ نَقَصَ مِنْ أُذُنٍ وَاحِدَةٍ سُدَّتْ وَضُبِطَ مُنْتَهَى سِمَاعِ الْأُخْرَى وَ وَجَبَ قِسْطُ التَّفَاوُتِ وَاُخِذَ بِنِسْبَتِهِ مِنْ تِلْكَ الدِّيَّةِ

Dan wajib membayar -diyat secara utuh-  dalam kasus hilangnya daya penciuman dari kedua lubang hidung     

(وَذِهَابِ الشُّمِّ) مِنَ الْمَنْخَرَيْنِ

Jika daya penciuman berkurang dan kira-kiranya bisa dibatasi, maka wajib membayar kadar kekurangan tersebut dari sebagian diyat secara utuh. Jika tidak bisa dibatasi, maka wajib membayar diyat hukumah        

وَإِنْ نَقَصَ الشُّمُّ وَضُبِطَ قَدْرُهُ وَجَبَ قِسْطُهُ مِنَ الدِّيَّةِ وَإِلاَّ فَحُكُوْمَةٌ

Dan wajib membayar -diyat secara utuh- dalam kasus hilangnya akal. Sehingga, jika akal hilang sebab luka pada kepala dengan bentuk luka yang menetapkan ursy (ganti rugi) atau diyat hukumah, maka wajib membayar diyat sekaligus ursy-nya.      

(وَذِهَابِ الْعَقْلِ) فَإِنْ زَالَ بِجُرْحٍ عَلَى الرَّأْسِ لَهُ أُرْشٌ مُقَدَّرٌ أَوْ حُكُوْمَةٌ وَجَبَتِ الدِّيَّةُ مَعَ الْأُرْشِ

Dan wajib membayar -diyat secara utuh-  dalam kasus penis yang masih berfungsi, walaupun penisnya anak kecil, lansia dan lelaki imponten.    

(وَالذَّكَرِ) السَّلِيْمِ وَلَوْ ذَكَرَ صَغِيْرٍ وَشَيْخٍ وَعَنِيْنٍ

Memotong hasyafah sama seperti memotong penis. Sehingga wajib membayar diyat secara utuh sebab hanya memotong hasyafah saja.  

وَقَطْعُ الْحَشَفَةِ كَالذَّكَرِ فَفِيْ قَطْعِهَا وَحْدَهَا دِيَّةٌ

Dan wajib membayar -diyat secara utuh-  dalam kasus kedua pelir, walaupun miliknya lelaki impoten dan orang yang dipotong penisnya.       

(وَالْأُنْثَيَيْنِ) أَيِ الْبِيْضَتَيْنِ وَلَوْ مِنْ عَنِيْنٍ وَمَجْبُوْبٍ

Wajib membayar separuh diyat sebab memotong salah satu dari keduanya.     

وَفِيْ قَطْعِ إِحْدَاهُمَا نِصْفُ دِيَّةٍ.

Wajib membayar lima onta di dalam kasus mudlihah terhadap lelaki muslim yang merdeka, dan dalam kasus giginya. 

(وَفِيْ الْمُوْضِحَةِ)  مِنَ الذَّكَرِ الْحُرِّ الْمُسْلِمِ (وَ) فِيْ (السِّنِّ) مِنْهُ (خَمْسٌ مِنَ الْإِبِلِ

Dan wajib membayar hukumah di dalam kasus menghilangkan setiap anggota yang tidak memiliki manfaat     

وَفِيْ) إِذْهَابِ (كُلِّ عُضْوٍ لَامَنْفَعَةَ فِيْهِ حُكُوْمَةٌ)

Hukumah adalah bagian dari diyat, yang mana nisbat bagian tersebut pada diyatnya nyawa adalah nisbat kurangnya harga korban yang dilukai seandainya ia adalah seorang budak dengan sifat-sifat yang ia miliki.          

وَهِيَ جُزْءٌ مِنَ الدِّيَّةِ نِسْبَتُهُ إِلَى دِيَّةِ النَّفْسِ نِسْبَةُ نَقْصِهَا أَيِ الْجِنَايَةِ مِنْ قِيْمَةِ الْمَجْنِيِّ عَلَيْهِ لَوْكَانَ رَقِيْقًا بِصِفَاتِهِ الَّتِيْ هُوَ عَلَيْهَا

Sehingga, seandainya harga korban sebelum dilukai tangannya semisal sepuluh, dan setelah dilukai menjadi sembilan, maka kurangnya adalah sepersepuluh, sehingga wajib membayar sepersepuluh dari diyatnya nyawa secara utuh.        

فَلَوْ كَانَتْ قِيْمَةُ الْمَجْنِيِّ عَلَيْهِ بِلَا جِنَايَةٍ عَلَى يَدِّهِ مَثَلًا عَشْرَةٌ وَبِهَا تِسْعَةٌ فَالنَّقْصُ عُشُرٌ فَيَجِبُ عُشُرُ دِيَّةِ النَّفْسِ

Diyyatnya Budak

Diyat seorang budak laki-laki yang dilindungi adalah harga budak tersebut, begitu juga diyat budak perempuan, walaupun harga keduanya lebih dari diyatnya orang merdeka.      

(وَدِيَّةُ الْعَبْدِ) الْمَعْصُوْمِ (قِيْمَتُهُ) وَالْأَمَّةُ كَذَلِكَ وَلَوْ زَادَتْ قِيْمَةُ كُلٍّ مِنْهُمَا عَلَى دِيَّةِ الْحُرِّ

Seandainya penis dan kedua pelir seorang hamba dipotong, maka wajib mengganti dua harga menurut pendapat al adhhar.               

وَلَوْ قُطِعَ ذَكَرُ عَبْدٍ وَأُنْثَيَاهُ وَجَبَتْ قِيْمَتَانِ فِيْ الْأَظْهَرِ.

Diyyat Janin

Diyat janin merdeka yang berstatus islam karena mengikut pada salah satu kedua orang tuanya, jika ibunya adalah wanita yang terjaga saat terjadinya kasus, adalah ghurrah, maksudnya satu orang budak, laki-laki atau perempuan, yang bebas dari cacat yang parah.

(وَدِيَّةُ الْجَنِيْنِ الْحُرِّ) الْمُسْلِمِ تَبْعًا لِأَحَدِ أَبَوَيْهِ إِنْ كَانَتْ أُمُّهُ مَعْصُوْمَةً حَالَ الْجِنَايَةِ (غُرَّةٌ) أَيْ نَسِمَةُ مِنَ الرَّقِيْقِ (عَبْدٌ أَوْ أَمَّةٌ) سَلِيْمٌ مِنْ عَيْبٍ شَنِيْعٍ

Budak tersebut disyaratkan harus mencapai separuh sepersepuluhnya diyat secara utuh.          

وَيُشْتَرَطُ بُلُوْغُ الْغُرَّةِ نِصْفَ عُشُرِ الدِّيَّةِ

Kemudian, jika tidak ada budak, maka wajib membayar gantinya yaitu lima ekor onta.

فَإِنْ فُقِدَتِ الْغُرَّةُ وَجَبَ بَدَلُهَا وَهُوَ خَمْسَةُ أَبْعِرَةٍ

Budak tersebut wajib dibayar oleh waris ‘aqilah si pelaku.         

وَتَجِبُ الْغُرَّةُ عَلَى عَاقِلَةِ الْجَانِيْ

Diyat janin yang berstatus budak adalah sepersepuluh dari harga ibunya di hari saat sang ibu dilukai.   (وَدِيَّةُ الْجَنِيْنِ الرَّقِيْقِ عُشُرُ قِيْمَةِ أُمِّهِ) يَوْمَ الْجِنَايَةِ عَلَيْهَا

Sesuatu yang wajib dibayarkan menjadi milik majikan si ibu.    

وَيَكُوْنُ مَا وَجَبَ لِسَيِّدِهَا

Di dalam kasus janin yang berstatus yahudi atau nasrani, wajib membayar ghurrah dengan ukuran sepertiga dari ghurrah-nya janin muslim, yaitu satu lebih dua pertiga ekor onta.

وَيَجِبُ فِيْ الْجَنِيْنِ الْيَهُوْدِيِّ أَوِ النَّصْرَانِيِّ غُرَّةٌ كَثُلُثِ غُرَّةِ مُسلِمٍ وَهُوَ بَعِيْرٌ وَثُلُثَا بَعِيْرٍ

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

PENGERTIAN TAUBAT DAN PENJELASANYA DENGAN LENGKAP

Fasal Taubat

Setiap amalan dalam Islam mempunyai syarat dan rukun. Jika sesuatu syarat atau rukun tidak sempurna maka begitulah ibadah atau amalan tersebut, sama ada menjadi tidak sempurna atau lebih parah lagi menjadi tidak sah atau batal, justru menjadi sia-sia, menjadi ‘haba-an mantsura’ (debu-debu berterbangan).

Taubat yang merupakan satu ibadah dan amalan yang dihukumkan wajib bagi orang yang berdosa dan sunnat bagi yang tidak berdosa. Jadi tengok le diri, kalau rasa tak berdosa, dihukumkan taubat itu sunnat, tapi kalau banyak dosa, wajiblah bertaubat. Mari kita telaah kitab “Sullamul Mubtadie” di tepi “Kifayatul Muhtadie” mukasurat 370 371 berhubung hal taubat ini.

Matan Kitab:

    (Fasal) Dan wajib taubat itu bagi orang yang mengerjakan dosa itu bersegera atas tiap-tiap orang yang mukallaf iaitu menyesal daripada pekerjaan yang ia mengerjakan dia daripada dosanya dan meninggalkan ia daripada demikian dosanya dengan ikhtiarnya dan mencita ia atas tiada hendak kembali kepadanya selama-lama, maka ia benci akan yang demikian itu seperti akan racun dan akan api dan serta ia membanyakkan mengucap istighfar dan jika adalah dosanya itu meninggalkan fardhu maka hendaklah segera mengqadhakan dia, maka tiada harus ia mengerjakan amal yang sunnat dan mengerjakan pekerjaan yang lain daripada mengqadhakan dia melainkan kerana menuntut akan kehidupannya dan makan dan minum dan qadha hajat dan tidur apabila sangat mengantuk, maka yang lain daripada itu tiada harus ia mengerjakan melainkan duduk mengqadhakan dia. Atau ada dosanya itu ada sangkutan hak manusia maka hendaklah ia kembali akan empunyanya. Jika ambil harta orang atau ia mengumpat – ngumpat orang maka hendak ia minta halal daripadanya atau membunuh atau meluka, maka hendaklah menyerahkan dirinya baginya atau membayar diatnya atau ia minta halalkan dan minta redhakan dia dan jika tiada ada lagi orang yang ia zalim atau orang yang ia khianat akan dia maka dibuat kebajikan dan disedekahkan dia meniatkan pahalanya bagi empunyanya dan membanyak akan taubat kepada Allah bahawa diredhai ahlinya pada hari Kiamat dan membanyakkan amal dan mendoakan empunyanya mudah-mudahan ia redhakan dia pada hari Kiamat.

Taubat 1

Matan:-

(Fasal) Dan wajib taubat itu bagi orang yang mengerjakan dosa itu bersegera atas tiap-tiap orang yang mukallaf.

Syarah:-

Yakni kewajipan bertaubat itu adalah bagi orang yang mengerjakan dosa tersebut dan kewajipan ini hendaklah dilakukan dengan bersegera atas setiap orang mukallaf, yakni yang aqil baligh. Ini adalah kerana orang yang beriman apabila melakukan dosa dan maksiat rasa berdosa dan bersalah akan terus wujud kerana sekurang-kurang nafsu orang beriman ialah nafsu lawwamah, iaitu nafsu yang mencela dirinya sendiri apabila melakukan dosa dan maksiat. Sepakat ulama tasawwuf dan fuqaha mewajibkan orang yang melakukan dosa bertaubat dari dosanya dan ianya hendaklah dilakukan dengan segera. Menangguh-nangguhkan taubat merupakan satu lagi dosa yang memerlukan kepada taubat yang lain pula. Oleh itu setiap kali kita terjerumus dalam dosa dan maksiat, maka teruslah bertaubat kepada Allah. Dan di sinilah peranan dan pentingnya ilmu yang memberi panduan mengenai dosa dan maksiat, kerana berapa ramai orang yang melakukan dosa dan maksiat tidak bertaubat atau tidak merasa berdosa kerana dia tidak tahu apa yang dilakukannya itu sebagai satu dosa dan maksiat kepada Allah.

Matan:-

    iaitu menyesal daripada pekerjaan yang ia mengerjakan dia daripada dosanya

Syarah:-

Syarat taubat yang pertama ialah “an-nadam“, iaitu menyesal atas keterlanjurannya melakukan dosa tersebut. Sebagaimana dinyatakan tadi, orang beriman sentiasa menyesal setiap kali melakukan dosa dan maksiat. Ini adalah kerana wujudnya iman dalam hatinya. Mungkin kerana imannya walaupun wujud tetapi masih lemah, maka dia masih terjerumus dalam dosa dan maksiat. Tetapi bezanya dengan orang yang tidak punya iman ialah dia walaupun berdosa menyesali akan dosanya tersebut berbanding yang tidak beriman. Penyesalan ini amat penting kerana ianya akan membawa orang tersebut kepada kesempurnaan taubatnya. Dalam riwayat dinyatakan bahawa Junjungan s.a.w. bersabda bahawa “Taubat itu adalah penyesalan“, dan dalam riwayat lain dinyatakan bahawa “Setiap anak Adam itu melakukan dosa, dan sebaik-baik pelaku dosa adalah yang bertaubat dari dosanya.” Tetapi kerana kurangnya kesedaran ilmu, maka sekarang orang melakukan maksiat tanpa rasa berdosa kerana dia tidak beranggapan ianya dosa. Ada orang yang berzina, tetapi tidak merasa berdosa kerana katanya dia berzina kerana suka sama suka dan kerana masing-masing ikhlas antara satu sama lain. Allahu …. Allah, dunia dah nak terbalik, manusia sudah songsang, bukan berbicara ikhlas dalam sholat, tetapi ikhlas dalam berzina. Begitu juga dalam bab-bab lain, manusia sudah tidak gemar pada ilmu-ilmu agama, mereka lebih tahu kesalahan lalu lintas berbanding kesalahan dalam hukum syarak. Bagaimana Allah nak beri bantuan kepada umat yang sebegini ????? Lihat sahaja para penganas yang mengganas atas nama Islam, membunuh secara membabibuta tak kira siapa mangsanya, hatta yang seagama pun menjadi mangsa, tidakkah mereka merasa perbuatan mereka tersebut MAKSIAT kepada Allah ? Sudah tentu tidak kerana itu mereka berbuat sedemikian. Sedangkan menurut fuqaha muktabar Ahlus Sunnah wal Jamaah, perbuatan membunuh orang tanpa hak adalah dosa besar. Justru ikhwah sekalian, selain kesalahan duniawi kena telaah dan belajar hukum halal haram dalam Islam, mari duduk depan tuan-tuan guru yang mengajar berpandukan kitab ulama terdahulu untuk mengetahui hal ini. Antara kitab yang elok untuk kita telaah dalam bab ini ialah kitab “al-Kabair” karangan Imam az-Zahabi dan kalau nak yang lebih luas bahasannya kitab “az-Zawajir” karangan Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Kalau tak silap kitab “al-Kabair” tersebut sudah ada terjemahannya dalam bahasa Melayu. Allahu a’laam.

Inilah matan kitab tersebut. Untuk makluman, kitab ini merupakan karangan Mawlana al-‘Alim al-‘Aamil al-‘Allamah al-Kaamil asy-Syaikh Daud bin Abdullah al-Fathoni yang masyhur itu. Dan kitab ini juga telah diberi syarah oleh Syaikh Muhammad Nur bin Muhammad bin Ismail Daud al-Fathoni dengan jodol “Kifaayatul Muhtadie pada menerangkan cahaya Sullamul Mubtadie”. Syaikh Muhammad Nur adalah anak kepada Syaikh Muhammad al-Fathoni atau gelarannya Syaikh Nik Mat Kecik pengarang “Mathla`ul Badrain” yang masyhur yang merupakan anak saudara dan anak angkat bagi Syaikh Daud al-Fathoni. Harap fahami matan kitab di atas dan insya-Allah, kita syarahkan nanti sekadar mampu dan keizinan Allah yang Esa.

Taubat 2

Matan:-

    ” dan meninggalkan ia daripada demikian dosanya dengan ikhtiarnya “

Syarah:-

Rukun seterusnya bagi seorang yang bertaubat ialah hendaklah dia tatkala bertaubat tersebut meninggalkan dosa dan maksiatnya itu dengan ikhtiarnya sendiri, yakni dengan pilihannya sendiri. Di sini terdapat 2 perkara pokok yang perlu difahami, (i) meninggalkan dosa; dan (ii) dengan ikhtiarnya. Bukan dinamakan orang bertaubat yang sewaktu bertaubat masih melakukan dosa yang ditaubatnya. Dan begitu juga orang yang meninggalkan maksiat kerana terpaksa, bukan kerana pilihannya sendiri demi menjunjung perintah Ilahi tidaklah dianggap sebagai sempurna taubatnya.

Sekarang kita lihat, ada segelintir manusia yang masih berselera dengan dosa dan maksiat, bahkan berbangga-bangga dengan dosa dan maksiat, cuma oleh kerana sudah uzur atau sudah tua, maka maksiat tersebut ditinggalkannya. Maka jadilah dia meninggalkan dosa dan maksiat kerana faktor tersebut, bukan kerana menjunjungan perintah Allah, dia meninggalkan dosa bukan kerana keinsafan dan pilihannya sendiri, tetapi meninggalkan dosa kerana tak larat lagi nak buat dosa tersebut sedangkan hatinya masih suka dengan dosa tersebut, maka hal taubat sebegini menurut ulama tidak sempurna dan dikhuatiri tak sah di sisi Allah s.w.t. Inilah sebabnya, Mawlana Syaikh Daud menegaskan syarat ini dengan kalimah “….dengan ikhtiarnya“. Demikian juga orang yang dipaksa bertaubat, lalu dia pun bertaubat kerana takut dihukum manusia, maka taubatnya itu hanya sah di mata manusia sedangkan di sisi Allah ta`ala, tidak dinamakan taubat. Ketahuilah dengan sebaiknya, agar kita faham bahawa kesempurnaan taubat itu hendaklah datang dari pilihan dan kesedaran kita sendiri setelah disuluh cahaya hidayah dan taufiq daripada Allah s.w.t. Allahu a’laam

Taubat 3

Matan:-

    “dan mencita ia atas tiada hendak kembali kepadanya selama-lama, maka ia benci akan yang demikian itu seperti akan racun dan akan api “

Syarah:-

    Seseorang yang bertaubat dengan sebenarnya, maka tatkala bertaubat tersebut langsung tidak teringat atau teringin bahkan terlintas untuk kembali membuat dosa yang ditaubatkan itu selama-lamanya. Bahkan timbul rasa benci kepada maksiat tersebut seperti seseorang yang bencikan racun yang membinasakan atau benci dihumban ke dalam api neraka. Kerana hakikat kesudahan dosa dan maksiat itu membawa seseorang ke dalam siksaan neraka. Dosa dan maksiat yang merupakan penyakit batin adalah lebih bahaya daripada sakit zahir seumpama kanser, kalau seorang menghidap kanser paling teruk kesudahannya ialah mati, tapi dosa dan maksiat jika tidak diampun oleh Allah akan membawa pelakunya ke neraka, dan ingatlah bahawa azab neraka itu teramatlah pedih dan masa di sana teramatlah panjang. Adakah kekuatan kita nak menanggungnya nanti ??? Allahu…Allah. Tuhanku aku tak layak untuk Syurga FirdausMu, tetapi aku tak tahan menanggung siksa nerakaMu, oleh itu ampunkanlah aku terimalah taubatku, sesungguhnya Engkaulah Pengampun dosa-dosa besar.

Seseorang yang mengaku bertaubat tetapi dosa masih terasa manis di sisinya, maka ketahuilah bahawa taubatnya belum cukup sempurna. Ada riwayat dalam hadits qudsi Allah ta`ala berfirman kepada Nabi Musa a.s. mengenai pertanyaan Nabi Musa tentang taubat seorang umatnya yang tidak dikabulkan Allah, maka Allah menjawabnya: “Bagaimana aku nak menerima taubatnya sedangkan hatinya masih melekat kepada dosa tersebut”. Allahu a’laam.

Taubat 4

Matan:-

    “…..dan serta ia membanyakkan mengucap istighfar. “

Syarah:-

Kesempurnaan taubat itu daripada hati yang tulus ikhlas terlancar ke lidah ucapan istighfar memohon keampunan Allah ta`ala. Junjungan s.a.w. seorang yang ma’sum menyatakan bahawa baginda mengucapkan istighfar 100 kali sehari. Maka insan kerdil dan banyak dosa seperti kita hendaklah berlebih lagi. Istighfar yang diucapkan biarlah betul-betul mencerminkan keinsafan hati kita. Ucapkanlah “Rabbirgh fir li” atau sebagainya. Tetapi hendaklah diingat bahawa ucapan istighfar yang hanya ditanam di bibir mulut tanpa berakar daripada hati kesannya jika pun ada amatlah minima. Tetapi janganlah cepat berputus asa, istighfar di lidah lebih baik daripada langsung tidak beristighfar. Insya-Allah, mudah-mudahan taubat lisan akan menembusi hati. Ingatlah bahawa titisan air yang terus menerus menimpa batu akan melekukkannya. Allahu a’laam.

Taubat 5

Matan:-

    “…dan jika adalah dosanya itu meninggalkan fardhu maka hendaklah segera mengqadhakan dia, maka tiada harus ia mengerjakan amal yang sunnat dan mengerjakan pekerjaan yang lain daripada mengqadhakan dia melainkan kerana menuntut akan kehidupannya dan makan dan minum dan qadha hajat dan tidur apabila sangat mengantuk, maka yang lain daripada itu tiada harus ia mengerjakan melainkan duduk mengqadhakan dia…..”

Syarah:-

    Jika dosa yang dilakukan merupakan maksiat meninggalkan kefardhuan atau kewajipan terhadap Allah, maka hendaklah orang yang bertaubat itu mengqadhakan fardhu yang ditinggalkannya dengan segera, jika kefardhuan tersebut ditinggalkan dengan sengaja tanpa keuzuran. Perlu diingat bahawa kejahilan tentang hukum hakam tidak termasuk keuzuran secara lazimnya. Maka hendaklah orang bertaubat tersebut menebus kembali fardhu yang ditinggalkannya dengan taubat dan qadha. Inilah pendapat jumhur ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah daripada 4 mazhab. Inilah pendapat yang sewajarnya diikuti kita, inilah fatwa Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar dan lain-lain ulama besar mazhab kita. Jangan terpengaruh dengan fatwa – fatwa zaman sekarang kaum muda atau lebih tepat kaum mudah yang suka bermudah-mudah dalam urusan agama, yang menyandarkan pendapat mereka kepada fatwa minoriti ulama Zahiri.

    Seterusnya dinyatakan bahawa orang yang bertaubat dari maksiat meninggal fardhu tanpa uzur disyaratkan menggunakan segala masa dan kelapangannya untuk mengqadha fardhunya tersebut dan tidak dibenarkan dia mengerjakan amalan-amalan sunnat. Inilah qawl asah dalam mazhab kita, sedangkan qil mengatakan tidak perlu bersegera. Bahasan hal ini telah kita buat dahulu, silalah rujuk lagi.

Taubat 6

Matan:-

    “…Atau ada dosanya itu ada sangkutan hak manusia maka hendaklah ia kembali akan empunyanya. Jika ambil harta orang atau ia mengumpat – ngumpat orang maka hendak ia minta halal daripadanya atau membunuh atau meluka, maka hendaklah menyerahkan dirinya baginya atau membayar diatnya atau ia minta halalkan dan minta redhakan dia..”

Syarah:-

Jika dosa atau maksiat dilakukan bersangkut paut dengan hak manusia, maka kesempurnaannya ialah dengan dikembalikan balik hak orang tersebut, atau mintak halal. Jika membunuh orang atau mencederakan orang maka hendaklah menyerah diri kepada orang yang dicederai atau waris orang yang dibunuh agar dapat dijalankan hukuman qisas atau mintak halal atau dibayar diat.

Matan:-

    “…dan jika tiada ada lagi orang yang ia zalim atau orang yang ia khianat akan dia maka dibuat kebajikan dan disedekahkan dia meniatkan pahalanya bagi empunyanya dan membanyak akan taubat kepada Allah bahawa diredhai ahlinya pada hari Kiamat dan membanyakkan amal dan mendoakan empunyanya mudah-mudahan ia redhakan dia pada hari Kiamat.”

Syarah:-

Jika orang yang dizalimi tersebut telah tiada dan warisnya tidak diketahui, maka hendaklah orang yang bertaubat daripada kezalimannya itu memperbanyak membuat kebajikan dan bersedekah yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang kena zalimnya itu serta mendoakan orang tersebut. Kerana sesuatu hutang kezaliman yang tidak dijelaskan di dunia sewaktu hidup nescaya akan dituntut di akhirat dan nanti bukan wang ringgit yang digunakan untuk membayarnya melainkan pahala kebajikan kita. Mudah-mudahan dengan banyak bersedekah dan membuat kebajikan yang pahalanya ditujukan kepada orang yang kena zalim tersebut akan redhalah ia melepaskan tuntutannya atas si penzalim yang bertaubat itu. Dan mudah-mudahan dengan kesungguhannya bertaubat dan beramal sholeh Allah akan menjadi penanggung baginya atas tuntutan orang yang kena zalim tersebut. Allahu a’laam.

FIQH KRIMINALITAS : MEMBUNUH, MELUKAI DAN MEMOTONG ANGGOTA BADAN

KITAB HUKUM-HUKUM KRIMINAL

Jinayat yang menjadi bentuk jama’ dari lafadz “jinayah” mencakup pada bentuk membunuh, memotong anggota badan atau  melukai.

جَمْعُ جِنَايَةٍ أَعَمُّ مِنْ أَنْ تَكُوْنَ قَتْلًا أَوْ قَطْعًا أَوْ جُرْحًا

Macam-Macam Pembunuhan

Pembunuhan ada tiga macam, tidak ada yang ke empat.

(الْقَتْلُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ) لَا رَابِعَ لَهَا

-pertama- pembunuhan ‘amdun mahdun (murni sengaja). Lafadz ‘amdun adalah bentuk masdar dari fi’il madli “’amida” satu wazan dengan lafadz “dlaraba”, dan maknanya adalah sengaja.

(عَمْدٌ مَحْضٌ) وَهُوَ مَصْدَرُ عَمَدَ بِوَزْنِ ضَرَبَ وَمَعْنَاهُ الْقَصْدُ

-kedua dan ketiga- khatha’ mahdlun (murni tidak sengaja), dan ‘amdun khatha’ (sengaja namun salah (خَطَأٌ مَحْضٌ وَعَمْدٌ خَطَأٌ)

Mushannif menjelaskan tafsiran al ‘amdu di dalam perkataan beliau,  

وَذَكَرَ الْمُصَنِّفُ تَفْسِيْرَ الْعَمْدِ فِيْ قَوْلِهِ

‘Amdun Mahdlun

Al ‘amdu al mahdu adalah pelaku sengaja memukul korban dengan menggunakan sesuatu yang biasanya bisa membunuh.

(فَالْعَمْدُ الْمَحْضُ هُوَ أَنْ يَعْمِدَ) الْجَانِيْ (إِلَى ضَرْبِهِ) أَيِ الشَّخْصِ (بِمَا) أَيْ بِشَيْئٍ (يَقْتُلُ غَالِبًا)

Dalam sebagian redaksi menggunakan bahasa, “di dalam kebiasaannya.”

وَفِيْ بَعْضِ النُّسَحِ فِيْ الْغَالِبِ

Dan pelaku sengaja untuk membunuh korban dengan sesuatu tersebut.

(وَيَقْصِدَ) الْجَانِيْ (قَتْلَهُ) أَيِ الشَّخْصِ (بِذَلِكَ) الشَّيْئِ

Dan ketika demikian, maka sang pelaku wajib di-qishash.

وَحِيْنَئِذٍ (فَيَجِبُ الْقَوَدُ) أَيِ الْقِصَاصُ (عَلَيْهِ) أَيِ الشَّخْصِ الْجَانِيْ

Penjelasan mushannif bahwa harus mempertimbangkan kesengajaan untuk membunuh adalah pendapat yang lemah. Sedangkan pendapat yang kuat adalah tidak perlu ada kesengajaan untuk membunuh.

وَمَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ مِنِ اعْتِبَارِ قَصْدِ الْقَتْلِ ضَعِيْفٌ وَالرَّاجِحُ خِلَافُهُ

Penetapan qishash disyaratkan bahwa orang yang terbunuh atau terpotong anggota badannya harus islam atau memiliki ikatan aman.

وَيُشْتَرَطُ لِوُجُوْبِ الْقِصَاصِ فِيْ نَفْسِ الْقَتِيْلِ أَوْ قَطْعِ أَطْرَافِهِ إِسْلَامٌ أَوْ أَمَانٌ

Sehingga untuk kafir harbi dan orang murtad, maka tidak ada kewajiban qishash ketika dibunuh oleh orang islam.

فَيُهَدَّرُ الْحَرْبِيُّ وَالْمُرْتَدُّ فِيْ حَقِّ الْمُسْلِمِ

Kemudian, jika korban memaafkan pelaku di dalam kasus ‘amdun mahdlun, maka pembunuh wajib membayar diyat mughaladhah (yang diberatkan) dengan seketika dan diambilkan dari harta si pembunuh.

(فَإِنْ عَفَا عَنْهُ) أَيْ عَفَا الْمَجْنِيُّ عَلَيْهِ عَنِ الْجَانِيْ فِيْ صُوْرَةِ الْعَمْدِ الْمَحْضِ (وَجَبَتْ) عَلَى الْقَاتِلِ (دِيَّةٌ مُغَلَّظَةٌ حَالَةً فِيْ مَالِ الْقَاتِلِ)

Mushannif akan menyebutkan tentang penjelasan taghlidh diyat tersebut,      

وَسَيَذْكُرُ الْمُصَنِّفُ بَيَانَ تَغْلِيْظِهَا

Khatha’ Mahdlun

Khatha’ mahdlun adalah seseorang melempar sesuatu seperti binatang buruan, namun kemudian mengenai seorang laki-laki hingga menyebabkan meninggal dunia.

(وَالْخَطَاءُ الْمَحْضُ أَنْ يَرْمِيَ إِلَى شَيْئٍ) كَصَيْدٍ (فَيُصِيْبُ رَجُلًا فَيَقْتُلُهُ

Maka tidak ada kewajiban qishash bagi orang yang melempar, akan tetapi ia wajib membayar diyat mukhaffafah (yang diringankan) yang dibebankan kepada ahli waris ashabah si pelaku dengan cara ditempo selama tiga tahun. Dan mushannif akan menyebutkan penjelasannya,

فَلَا قَوَدَ عَلَيْهِ) أَيِ الرَّامِيْ (بَلْ يَجِبُ عَلَيْهِ دِيَّةٌ مُخَفَّفَةٌ) وَسَيَذْكُرُ الْمُصَنِّفُ بَيَانَ تَخْفِيْفِهَا (عَلَى الْعَاقِلَةِ مُؤَجَّلَةٌ) عَلَيْهِمْ (فِيْ ثَلَاثِ سِنِيْنَ)

Setiap satu tahun dari masa itu diambil kira-kira sepertiga dari seluruh diyat.

يُؤْخَذُ آخِرَ كُلِّ سَنَةٍ مِنْهَا قَدْرُ ثُلُثِ دِيَّةٍ كَامِلَةٍ

Bagi waris ashabah yang kaya dan memiliki emas, maka setiap akhir tahun wajib membayar setengah dinar. Dan bagi yang memiliki perak wajib membayar enam dirham sebagaimana yang telah jelaskan oleh imam al mutawalli dan yang lain.

وَ عَلَى الْغَنِيِّ مِنَ الْعَاقِلَةِ مِنْ أَصْحَابِ الذَّهَبِ آخِرَ كُلِّ سَنَةٍ نِصْفُ دِيْنَارٍ وَمِنْ أَصْحَابِ الْفِضَّةِ سِتَّةُ دَرَاهِمَ كَمَا قَالَهُ الْمُتَوَلِّيُّ وَغَيْرُهُ

Yang dikehendaki dengan al ‘aqilah adalah ahli waris ashabah si pelaku, bukan orang tua atau anak-anaknya.

وَالْمُرَادُ بِالْعَاقِلَةِ عَصَبَةُ الْجَانِيْ لَا أَصْلُهُ وَفَرْعُهُ .

 

‘Amdul Khatha’

‘Amdul Khatha’ adalah pelaku sengaja memukul korban dengan menggunakan sesuatu yang biasanya tidak sampai membunuh seperti si pelaku memukul korban dengan tongkat yang ringan, namun kemudian korban yang dipukul meninggal dunia.

(وَعَمْدُ الْخَطَأِ أَنْ يَقْصِدَ ضَرْبَهُ بِمَا لَا يَقْتُلُ غَالِبًا) كَأَنْ ضَرَبَهُ بَعَصًا خَفِيْفَةً (فَيَمُوْتُ) الْمَضْرُوْبُ

Maka tidak ada kewajiban had atas si pelaku, akan tetapi wajib membayar diyat mughalladhah (diberatkan) yang dibebankan kepada waris ‘aqilah si pelaku dengan cara ditempo selama tiga tahun. Dan mushannif akan menyebutkan penjelasan sisi berat diyat tersebut.

(فَلَا قَوَدَ عَلَيْهِ بَلْ تَجِبُ دِيَّةٌ مُغَلَّظَةٌ عَلَى الْعَاقِلَةِ مُؤَجَّلَةٌ فِيْ ثَلَاثِ سِنِيْنَ) وَسَيَذْكُرُ الْمُصَنِّفُ بَيَانَ تَغْلِيْظِهَا

Kemudian mushannif beranjak menjelaskan tentang orang yang berhak mendapatkan qishash. Qishash diambil dari iqtishashul atsar yang bermakna meneliti jejak, karena sesugguhnya (keluarga) korban akan meneliti kasus kriminal kemudian akan mengambil balasan sepadannya. Mushannif berkata,

ثُمَّ شَرَعَ الْمُصَنِّفُ فِيْ ذِكْرِ مَنْ يَجِبُ عَلَيْهِ الْقِصَاصُ الْمَأْخُوْذُ مِنِ اقْتِصَاصِ الْأَثَرِ أَيْ تَتَبُّعِهِ لِأَنَّ الْمَجْنِيَّ عَلَيْهِ يَتَّبَعُ الْجِنَايَةَ فَيَأْخُذُ مِثْلَهَا فَقَالَ

Syarat Kewajiban Qishah

Syarat kewajiban qishash dalam kasus pembunuhan ada empat.          

(وَشَرَائِطُ وُجُوْبِ الْقِصَاصِ) فِيْ الْقَتْلِ (أَرْبَعَةٌ)

Di dalam sebagian redaksi dengan menggunakan bahasa, “(fasal) syarat-syarat wajibnya qishash ada empat.”

وَفِيْ بَعْضِ النُّسَحِ فَصْلُ وَشَرَائِطُ وُجُوْبِ الْقِصَاصِ أَرْبَعٌ

Pertama, si pembunuh sudah baligh. Sehingga tidak ada kewajiban qishash atas anak kecil.

الْأَوَّلُ (أَنْ يَكُوْنَ الْقَاتِلُ بَالِغًا) فَلَا قِصَاصَ عَلَى صَبِيٍّ

Seandainya si pembunuh berkata, “saya saat ini masih bocah (belum baligh)”, maka ia dibenarkan tanpa harus bersumpah.

وَلَوْ قَالَ أَنَا الْآنَ صَبِيٌّ صُدِّقَ بِلَا يَمِيْنٍ

Kedua, si pembunuh adalah orang yang berakal.

الثَّانِيْ أَنْ يَكُوْنَ الْقَاتِلُ (عَاقِلًا)

Sehingga qishash tidak boleh dilakukan pada orang gila kecuali gilanya terputus-putus, maka dia diqishash pada waktu sembuh.

فَيُمْتَنَعُ الْقِصَاصُ مِنْ مَجْنُوْنٍ إِلَّا إِنْ تَقَطَّعَ جُنُوْنُهُ فَيُقْتَصُّ مِنْهُ زَمَنَ إِفَاقَتِهِ

Qishash wajib dilaksanakan pada orang yang hilang akalny sebab meminum minumam memabukkan akibat kecorobohan saat meminumnya.

وَيَجِبُ الْقِصَاصُ عَلَى مَنْ زَالَ عَقْلُهُ بِشُرْبِ مُسْكِرٍ مُتَعَدٍّ فِيْ شُرْبِهِ

Maka mengecualikan orang yang tidak ceroboh, seperti ia meminum sesuatu yang ia kira tidak memabukkan, namun ternyata kemudian akalnya hilang, maka tidak ada kewajiban qishash atas dirinya

فَخَرَجَ مَنْ لَمْ يَتَعَدَّ بِأَنْ شَرِبَ شَيْئًا ظَنَّهُ غَيْرَ مُسْكِرٍ فَزَالَ عَقْلُهُ فَلَا قِصَاصَ عَلَيْهِ

Ketiga, si pembunuh bukan orang tua korban yang dibunuh.

(وَ) الثَّالِثُ (أَنْ لَا يَكُوْنَ) الْقَاتِلُ (وَالِدًا لِلْمَقْتُوْلِ)

Maka tidak ada kewajiban qishash atas orang tua yang membunuh anaknya sendiri, walaupun anak hingga ke bawah (cucu).

فَلَا قِصَاصَ عَلَى وَالِدٍ بِقَتْلِ وَلَدِهِ وَإِنْ سَفُلَ الْوَلَدُ

Ibn Kajj berkata, “seandainya seorang hakim memutuskan menghukum mati orang tua yang telah membunuh anaknya, maka putusan hukum hakim tersebut batal.”

قَالَ ابْنُ كَجٍّ وَلَوْ حَكَمَ حَاكِمٌ بِقَتْلِ وَالِدٍ بِوَلَدِهِ نُقِضَ حُكْمُهُ.

Ke empat, korban yang terbunuh statusnya tidak sebawah status si pembunuh, sebab  kafir atau status budak.

(وَ) الرَّابِعُ (أَنْ لَا يَكُوْنَ الْمَقْتُوْلُ أَنْقَصَ مِنَ الْقَاتِلِ بِكُفْرٍ أَوْ رِقٍّ)

Sehingga orang muslim tidak boleh dihukum mati sebab membunuh orang kafir harbi, dzimmi atau kafir mu’ahhad.

فَلَا يُقْتَلُ مُسْلِمٌ بِكَافِرٍ حَرْبِيًّا كَانَ أَوْ ذِمِّيًا أَوْ مُعَاهَدًا

Orang merdeka tidak boleh dihukum mati sebab membunuh seorang budak.

وَلَا يُقْتَلُ حُرٌّ بِرَقِيْقٍ

Seandainya korban yang terbunuh memiliki nilai kekurangan dibanding dengan si pembunuh sebab tua, kecil, tinggi, atau pendek semisal, maka semua itu tidaklah dianggap.

وَلَوْ كَانَ الْمَقْتُوْلُ أَنْقَصَ مِنَ الْقَاتِلِ بِكِبَرٍ أَوْ صِغَرٍ أَوْ طُوْلٍ أَوْ قَصْرٍ مَثَلًا فَلَا عِبْرَةَ بِذَلِكَ

Sekelompok orang wajib dihukum mati sebab membunuh satu orang, jika satu orang tersebut sepadan dengan status para pembunuhnya, dan perbuatan masing-masing dari mereka seandainya hanya sendirian niscaya akan bisa membunuh si korban.

(وَتُقْتَلُ الْجَمَاعَةُ بِالْوَاحِدِ) إِنْ كَافَأَهُمْ وَكَانَ فِعْلُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ لَوِ انْفَرَدَ كَانَ قَاتِلًا

Kemudian mushannif memberi isyarah satu bentuk kaidah dengan perkataan beliau,

ثُمَّ أَشَارَ الْمُصَنِّفُ لِقَاعِدَةٍ بِقَوْلِهِ

Setiap dua orang yang bisa terlaku hukum qishash di antara keduanya dalam kasus pembunuhan, maka hukum qishash-pun terlaku di antara keduanya dalam kasus pemotongan anggota badan.

(وَكُلُّ شَخْصَيْنِ جَرَى الْقِصَاصُ بَيْنَهُمَا فِيْ النَّفْسِ يَجْرِى بَيْنَهُمَا فِيْ الْأَطْرَافِ) الَّتِيْ لِتِلْكَ النَّفْسِ

Sebagaimana disyaratkan orang yang membunuh harus mukallaf, orang yang memotong anggota badan juga disyaratkan harus mukkalaf.

فَكَمَا يُشْتَرَطُ فِيْ الْقَاتِلِ كَوْنُهُ مُكَلَّفًا يُشْتَرَطُ فِيْ الْقَاطِعِ لِطَرَفٍ كَوْنُهُ مُكَلَّفًا

Kalau demikian, orang yang tidak dihukum mati sebab membunuh seseorang, maka tidak berhak dihukum potong sebab memotong anggota orang tersebut.

وَحِيْنَئِذٍ فَمَنْ لَا يُقْتَلُ بِشَخْصٍ لَا يُقْطَعُ بِطَرَفِهِ

Syarat Hukum Potong Anggota Badan

Syarat wajibnya qishash di dalam kasus memotong anggota badan ada dua, setelah mempertimbangkan juga syarat-syarat yang disebutkan di dalam qishash pembunuhan.

(وَشَرَائِطُ وُجُوْبِ الْقِصَاصِ فِيْ الْأَطْرَافِ بَعْدَ الشَّرَائِطِ الْمَذْكُوْرَةِ) فِيْ قِصَاصِ النَّفْسِ (اثْنَانِ)

Salah satunya adalah isytirak (sama) di dalam nama khusus bagi anggota yang dipotong.

أَحَدُهُمَا (الْاِشْتِرَاكُ فِيْ الْاِسْمِ الْخَاصِّ) لِلطَّرَفِ الْمَقْطُوْعِ

Mushannif menjelaskan hal itu dengan perkataan beliau, “ anggota sebelah kanan dipotong sebab anggota yang kanan juga, maksudnya anggota sebelah kanan semisal telinga, tangan, atau kaki harus dipotong sebab memotong sebelah kanan dari anggota-anggota badan tersebut. Dan bagian kiri dari anggota-anggota badan itu berhak dipotong sebab memotong bagian kiri dari anggota-anggota badan tersebut.

وَبَيَّنَهُ الْمُصَنِّفُ بِقَوْلِهِ (الْيُمْنَى بِالْيُمْنَى) أَيْ تُقْطَعُ الْيُمْنَى مَثَلًا مِنْ أُذُنٍ أَوْ يَدٍّ أَوْ رِجْلٍ بِالْيُمْنَى مِنْ ذَلِكَ (وَالْيُسْرَى) مِمَّا ذُكِرَ (بِالْيُسْرَى) مِمَّا ذُكِرَ

Kalau demikian, maka anggota sebelah kanan tidak boleh dipotong sebab telah memotong anggota sebelah kiri, dan tidak boleh juga sebaliknya.

وَحِيْنَئِذٍ فَلَا تُقْطَعُ يُمْنَى بِيُسْرَى وَلَا عَكْسُهُ.

Yang kedua, salah satu dari dua anggota yang dipotong tidak bermasalah (masih berfungsi).

(وَ) الثَّانِيْ (أَنْ لَا يَكُوْنَ بِأَحَدِ الطَّرَفَيْنِ شَلَلٌ)

Sehingga tangan atau kaki yang sehat tidak boleh dipotong sebab memotong tangan atau kaki yang syala’. Anggota yang syala’ adalah anggota badan yang sudah tidak berfungsi.

فَلَا تُقْطَعُ يَدٌّ أَوْ رِجْلٌ صَحِيْحَةٌ بِشَلاَّءٍ وَهِيَ الَّتِيْ لَا عَمَلَ لَهَا

Adapun anggota badan yang syala’ berhak dipotong sebab memotong anggota yang sehat menurut pendapat al masyhur.

أَمَّا الشَّلاَّءُ فَتُقْطَعُ بِالصَّحِيْحَةِ عَلَى الْمَشْهُوْرِ

Kecuali jika ada dua orang adil dari ahli khubrah (pakar ahli) yang berkata bahwa sesungguhnya anggota yang tidak berfungsi tersebut ketika dipotong maka darahnya tidak akan berhenti, bahkan ujung-ujung urat akan terbuka dan tidak bisa tertutup dengan di cos.

إِلَّا أَنْ يَقُوْلَ عَدْلَانِ مِنْ أَهْلِ الْخُبْرَةِ إِنَّ الشَّلاَّءَ إِذَا قُطِعَتْ لَا يَنْقَطِعُ الدَّمُّ بَلْ تَنْفَتِحُ أَفْوَاهُ الْعُرُوْقِ وَلَا تَنْسَدُّ بِالْحَسْمِ

Di samping hal ini, orang yang berhak atas anggota tersebut mau menerima dan tidak menuntut ganti rugi karena cacatnya anggota tersebut.

وَيُشْتَرَطُ مَعَ هَذَا أَنْ يَقْنَعَ بِهَا مُسْتَوْفِيْهَا وَلَا يَطْلُبُ أُرْشًا لِلشَّلَلِ

 

Kemudian mushannif memberi isyarah suatu bentuk kaidah dengan perkataan beliau,               

ثُمَّ أَشَارَ الْمُصَنِّفُ لِقَاعِدَةٍ بِقَوْلِهِ.

Setiap anggota badan yang bisa diambil, maksudnya dipotong dari persendian seperti siku dan pergelangan tangan, maka pada anggota tersebut berlaku hukum qishash.

(وَكُلُّ عُضْوٍ اُخِذَ) أَيْ قُطِعَ (مِنْ مَفْصَلٍ) كَمِرْفَقٍ وَكُوْعٍ (فَفِيْهِ الْقِصَاصُ)

Sedangkan anggota yang tidak memiliki persendian, maka tidak berlaku hukum qishash pada anggota badan tersebut.

وَمَا لَا مَفْصَلَ لَهُ لَا قِصَاصَ فِيْهِ

Luka di Wajah dan Kepala

Ketahuilah sesungguhnya luka di kepala dan wajah ada sepuluh macam.

وَاعْلَمْ أَنَّ شُجَاجَ الرَّأْسِ وَالْوَجْهِ عَشْرَةٌ

Harishah dengan menggunakan huruf-huruf yang tidak memiliki titik. Harishah adalah luka yang menyobek kulit sedikit.

حَارِصَةٌ بِمُهْمَلَاتٍ وَهِيَ مَا تَشُقُّ الْجِلْدَ قَلِيْلًا

Damiyah, yaitu luka yang mengeluarkan darah di kulit.

وَدَامِيَّةٌ تُدْمِيْهِ

Badli’ah, adalah luka yang hingga memotong daging.

وَبَاضِعَةٌ تَقْطَعُ اللَّحْمَ

Mutalahimah, yaitu luka yang hingga masuk ke dalam daging.

وَمُتَلاَحِمَةٌ تَغُوْصُ فِيْهِ

Simhaq, yaitu luka yang sampai hingga ke kulit diantara daging dan tulang.

وَسِمْحَاقٌ تَبْلُغُ الْجِلْدَةَ الَّتِيْ بَيْنَ اللَّحْمِ وَالْعَظْمِ

Mudlihah, yaitu luka yang hingga menampakkan tulang yang berada di balik daging

وَمُوْضِحَةٌ تُوْضِحُ الْعَظْمَ مِنَ اللَّحْمِ

Hasyimah, yaitu luka yang hingga memecahkan tulang, baik sampai menampakkan tulang ataupun tidak.

وَهَاشِمَةٌ تَكْسُرُ الْعَظْمَ سَوَاءٌ أَوْضَحَتْهُ أَمْ لاَ

Munaqqilah, yaitu luka yang memindahkan posisi tulang dari satu tempat ke tempat yang lain.

وَمُنَقِّلَةٌ تُنَقِّلُ الْعَظْمَ مِنْ مَكَانٍ إِلَى مَكَانٍ آخَرَ

Ma’munah, yaitu luka yang sampai ke kantong otak yang disebut dengan ummu ra’s (pusat kepala)

وَمَأْمُوْنَةٌ تَبْلُغُ خَرِيْطَةَ الدِّمَاغِ الْمُسَمَّةَ اُمَّ الرَّأْسِ

Damighah dengan huruf ghin yang diberi titik satu di atasnya, yaitu luka yang sampai membenyobek kantong otak tersebut dan sampai hingga ke ummu ra’s.

وَدَامِغَةٌ بِغَيْنٍ مُعْجَمَةٍ تُخْرِقُ تِلْكَ الْخَرِيْطَةَ وَتَصِلُ إِلَى أُمِّ الرَّأْسِ

Dari sepuluh bentuk luka ini, mushannif mengecualikan apa yang terangkum di dalam perkataan beliau,

وَاسْتَثْنَى الْمُصَنِّفُ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرَةِ مَا تَضَمَّنَهُ قَوْلُهُ

Tidak ada hukum qishash di dalam kasus luka, maksudnya luka-luka yang telah disebutkan di atas, kecuali luka mudlihah saja, tidak yang lainya dari sepuluh luka tersebut.

(وَلَا قِصَاصَ فِيْ الْجُرُوْحِ) أَيْ الْمَذْكُوْرَةِ (إِلَّا فِيْ الْمُوْضِحَةِ) فَقَطْ لَا فِيْ غَيْرِهَا مِنْ بَقِيَّةِ الْعَشْرَةِ.

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

BAB RADLA ATAU MENYUSUI KITAB FATHUL QORIB SYAIKH ABI SUJA’ RAHIMAHULLOH

SILAHKAN BACA JUGA : PENJELASAN SUMPAH DZIHAR DALAM KEHIDUPAN BERUMAH TANGGA

BAB RADLA’ (SUSUAN)

(Fasal) menjelaskan hukum-hukum radla’ dengan terbaca fathah atau kasrah huruf ra’nya.

‏( ﻓَﺼْﻞٌ ‏) ﻓِﻲْ ﺃَﺣْﻜَﺎﻡِ ﺍﻟﺮَّﺿَﺎﻉِ ﺑِﻔَﺘْﺢِ ﺍﻟﺮَّﺍﺀِ ﻭَﻛَﺴْﺮِﻫَﺎ

Radla’ secara bahasa adalah nama untuk menghisap puting dan meminum air susunya.

ﻭَﻫُﻮَ ﻟُﻐَﺔً ﺍﺳْﻢٌ ﻟِﻤَﺺِّ ﺍﻟﺜَّﺪْﻱِ ﻭَﺷُﺮْﺏِ ﻟَﺒَﻨِﻪِ

Dan secara syara’ adalah masuknya air susu wanita anak Adam tertentu ke dalam perut anak adam tertentu dengan cara yang tertentu juga.

ﻭَﺷَﺮْﻋًﺎ ﻭُﺻُﻮْﻝُ ﻟَﺒَﻦِ ﺁﺩَﻣِﻴَّﺔٍ ﻣَﺨْﺼُﻮْﺻَﺔٍ ﻟِﺠَﻮْﻑِ ﺁﺩَﻣِﻲٍّ ﻣَﺨْﺼُﻮْﺹٍ ﻋَﻠَﻰ ﻭَﺟْﻪٍ ﻣَﺨْﺼُﻮْﺹٍ

Radla’ hanya bisa sah dengan air susu wanita yang masih hidup dan mencapai usia sembilan tahun Qamariyah, baik perawan atau janda, tidak bersuami atau memiliki suami.

ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻳَﺜْﺒُﺖُ ﺍﻟﺮَّﺿَﺎﻉُ ﺑِﻠَﺒَﻦِ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﺣَﻴَّﺔٍ ﺑَﻠَﻐَﺖْ ﺗِﺴْﻊَ ﺳِﻨِﻴْﻦَ ﻗَﻤَﺮِﻳَّﺔً ﺑِﻜْﺮًﺍ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺃَﻭْ ﺛَﻴِّﺒًﺎ ﺧَﻠِﻴَّﺔً ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺃَﻭْ ﻣُﺰَﻭَّﺟَﺔً

 

Konsekwensi Radla’ dan Syarat-Syaratnya

Ketika seorang wanita menyusui seorang anak dengan air susunya, baik sang anak meminum air susu tersebut saat si wanita masih hidup atau setelah meninggal dunia dengan syarat air susu itu diambil saat si wanita masih hidup, maka anak yang ia susui menjadi anaknya dengan dua syarat.

‏( ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺃَﺭْﺿَﻌَﺖِ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺑِﻠَﺒَﻨِﻬَﺎ ﻭَﻟَﺪًﺍ ‏) ﺳَﻮَﺍﺀٌ ﺷَﺮَﺏَ ﺍﻟﻠَّﺒَﻦَ ﻓِﻲْ ﺣَﻴَﺎﺗِﻬَﺎ ﺃَﻭْ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻣَﺤْﻠُﻮْﺑًﺎ ﻓِﻲْ ﺣَﻴَﺎﺗِﻬَﺎ ‏( ﺻَﺎﺭَ ﺍﻟﺮَّﺿِﻴْﻊُ ﻭَﻟَﺪَﻫَﺎ ﺑِﺸَﺮْﻃَﻴْﻦِ

Salah satunya, usia anak tersebut kurang dari dua tahun sesuai dengan hitungan tanggal.

ﺃَﺣَﺪُﻫُﻤَﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﻟَﻪُ ‏) ﺃَﻱِ ﺍﻟﺮَّﺿِﻴْﻊِ ‏( ﺩُﻭْﻥَ ﺍﻟْﺤَﻮْﻟَﻴْﻦِ ‏) ﺑِﺎﻟْﺄَﻫِﻠَّﺔِ

Dan permulaan dua tahun tersebut terhitung dari kelahiran anak tersebut secara sempurna.

ﻭَﺍﺑْﺘِﺪَﺍﺅُﻫُﻤَﺎ ﻣِﻦْ ﺗَﻤَﺎﻡِ ﺍﻧْﻔِﺼَﺎﻝِ ﺍﻟﺮَّﺿِﻴْﻊِ

Anak yang sudah mencapai dua tahun, maka menyusuinya tidak bisa memberikan dampak ikatan mahram.

ﻭَﻣَﻦْ ﺑَﻠَﻎَ ﺳَﻨَﺘَﻴْﻦِ ﻟَﺎ ﻳُﺆَﺛِّﺮُ ﺍﺭْﺗِﻀَﺎﻋُﻪُ

ﺗَﺤْﺮِﻳْﻤًﺎ .

Syarat kedua, wanita yang menyusui telah menyusui anak tersebut sebanyak lima kali susuan yang terpisah-pisah dan masuk ke perut sang bocah.

‏( ﻭَ ‏) ﺍﻟﺸَّﺮْﻁُ ‏( ﺍﻟﺜَّﺎﻧِﻲْ ﺃَﻥْ ﺗُﺮْﺿِﻌَﻪُ ‏) ﺃَﻱِ ﺍﻟْﻤُﺮْﺿِﻌَﺔُ ‏( ﺧَﻤْﺲَ ﺭَﺿَﻌَﺎﺕٍ ﻣُﺘَﻔَﺮِّﻗَﺎﺕٍ ‏) ﻭَﺍﺻِﻠَﺔً ﺟَﻮْﻑَ ﺍﻟﺮَّﺿِﻴْﻊِ

Yang digunakan batasan lima kali susuan itu adalah‘urf . Sehingga susuan yang dianggap satu atau beberapa susuan oleh ‘urf, maka itulah yang dianggap. Jika tidak, ya maka tidak dianggap.

ﻭَﺿَﺒْﻄُﻬُﻦَّ ﺑِﺎﻟْﻌُﺮْﻑِ ﻓَﻤَﺎ ﻗَﻀَﻰ ﺑِﻜَﻮْﻧِﻪِ ﺭَﺿْﻌَﺔً ﺃَﻭْ ﺭَﺿَﻌَﺎﺕٍ ﺍُﻋْﺘُﺒِﺮَ ﻭَﺇِﻟَّﺎ ﻓَﻼَ

Sehingga, seandainya bocah yang disusui itu memutus hisapan di antara masing-masing lima susuan dengan berpaling dari puting, maka hisapan-hisapan itu dihitung terpisah(tidak jadi satu).

ﻓَﻠَﻮْ ﻗَﻄَﻊَ ﺍﻟﺮَّﺿِﻴْﻊُ ﺍﻟْﺈِﺭْﺗِﻀَﺎﻉَ ﺑَﻴْﻦَ ﻛُﻞٍّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﻤْﺲِ ﺇِﻋْﺮَﺍﺿًﺎ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺜَّﺪْﻱِ ﺗَﻌَﺪَّﺩَ ﺍﻟْﺎِﺭْﺗِﻀَﺎﻉُ

Suami wanita yang telah menyusui menjadi ayah sang bocah yang disusui.

‏( ﻭَﻳَﺼِﻴْﺮُ ﺯَﻭْﺟُﻬَﺎ ‏) ﺃَﻱِ ﺍﻟْﻤُﺮْﺿِﻌَﺔِ ‏( ﺃَﺑﺎً ﻟَﻪُ ‏) ﺃَﻱِ ﺍﻟﺮَّﺿِﻴْﻊِ

Bagi murdla’ (bocah yang disusui), dengan terbaca fathah huruf dladnya, haram menikahi wanita yang menyusuinya dan wanita-wanita yang memiliki hubungan nasab dengan ibu susunya.

‏( ﻭَﻳَﺤْﺮُﻡُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﺮْﺿَﻊِ ‏) ﺑِﻔَﺘْﺢِ ﺍﻟﻀَّﺎﺩِ ‏( ﺍﻟﺘَّﺰْﻭِﻳْﺞُ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ‏) ﺃَﻱِ ﺍﻟْﻤُﺮْﺿِﻌَﺔِ ‏( ﻭَﺇِﻟَﻰ ﻛُﻞِّ ﻣَﻦْ ﻧَﺎﺳَﺒَﻬَﺎ ‏) ﺃَﻱِ ﺍﻧْﺘَﺴَﺐَ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﺑِﻨَﺴَﺐٍ ﺃَﻭْ ﺭَﺿَﺎﻉٍ

Dan bagi wanita yang menyusui haram menikah dengan

murdla’ , anaknya walaupun hingga ke bawah, dan orang yang memiliki ikatan nasab dengannya walaupun hingga ke atas. [Hal ini memiliki kejanggalan, dan penjelasannya terdapat di dalam kitab al Bajuri.]

‏( ﻭَﻳَﺤْﺮُﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ‏) ﺃَﻱِ ﺍﻟْﻤُﺮْﺗَﻀِﻌَﺔِ ‏( ﺍﻟﺘَّﺰْﻭِﻳْﺞُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤُﺮْﺿَﻊِ ﻭَﻭَﻟَﺪِﻩِ ‏) ﻭَﺇِﻥْ ﺳَﻔُﻞَ ﻭَﻣَﻦِ ﺍﻧْﺘَﺴَﺐَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻭَﺇِﻥْ ﻋَﻠَﺎ

Bukan orang yang sederajat dengannya, maksudnya dengan bocah yang disusui seperti saudara-saudara laki-lakinya yang tidak ikut menyusu bersamanya.

‏( ﺩُﻭْﻥَ ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻲْ ﺩَﺭَﺟَﺘِﻪِ ‏) ﺃَﻱِ ﺍﻟﺮَّﺿِﻴْﻊِ ﻛَﺈِﺧْﻮَﺗِﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻟَﻢْ ﻳَﺮْﺿَﻌُﻮْﺍ ﻣَﻌَﻪُ

Atau orang yang seatasnya, maksudnya dan bukan orang yang tingkatannya lebih atas daripada

murdla’ , maksudnya bocah yang disusui seperti paman-pamannya.

‏( ﺃَﻭْ ﺃَﻋْﻠَﻰ ‏) ﺃَﻱْ ﻭَﺩُﻭْﻥَ ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﻋْﻠَﻰ ‏( ﻃَﺒْﻘَﺔً ﻣِﻨْﻪُ ‏) ﺃَﻱِ ﺍﻟﺮَّﺿِﻴْﻊِ ﻛَﺄَﻋْﻤَﺎﻣِﻪِ

Di dalam fasal yang menjelaskan tentang wanita-wanita yang haram dinikah, telah disinggung tentang orang-orang yang haram dinikah sebab nasab dan radla’ secara terperinci, maka ruju’lah kesana.

ﻭَﺗَﻘَﺪَّﻡَ ﻓِﻲْ ﻓَﺼْﻞِ ﻣُﺤَﺮَّﻣَﺎﺕِ ﺍﻟﻨِّﻜَﺎﺡِ ﻣَﺎ ﻳَﺤْﺮُﻡُ ﺑِﺎﻟﻨَّﺴَﺐِ ﻭَﺍﻟﺮَّﺿَﺎﻉِ ﻣُﻔَﺼَّﻠًﺎ ﻓَﺎﺭْﺟِﻊْ ﺇِﻟَﻴْﻪِ .

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

BAB ISTIBRA’ KITAB FATHUL QORIB KARYA IMAM ABU SYUJA’ RAHIMAHULLOH

SILAHKAN BACA JUGA : PENJELASAN SUMPAH ILA’ DALAM PERNIKAHAN SUAMI ISTERI

BAB ISTIBRA’

(Fasal) menjelaskan hukum-hukum

istibra’ .

‏( ﻓَﺼْﻞٌ ‏) ﻓِﻲْ ﺃَﺣْﻜَﺎﻡِ ﺍْﻟِﺎﺳْﺘِﺒْﺮَﺍﺀِ

Istibra’ secara bahasa adalah mencari kebebasan.

ﻭَﻫُﻮَ ﻟُﻐَﺔً ﻃَﻠَﺐُ ﺍﻟْﺒَﺮَﺍﺀَﺓِ

Dan secara syara’ adalah penantian seorang wanita sebab baru datangnya kepemilikan pada dirinya, atau hilangnya kepemilikan dari dirinya, karena unsur

ta’abbudi atau karena membersihkan rahimnya dari janin.

ﻭَﺷَﺮْﻋًﺎ ﺗَﺮَﺑُّﺺُ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓِ ﺑِﺴَﺒَﺐِ ﺣُﺪُﻭْﺙِ ﺍﻟْﻤِﻠْﻚِ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺃَﻭْ ﺯَﻭَﺍﻟِﻪِ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﺗَﻌَﺒُّﺪًﺍ ﺃَﻭْ ﻟِﺒَﺮَﺍﺀَﺓِ ﺭَﺣْﻤِﻬَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﻤْﻞِ

Hukum Istibra’

Istibra’ wajib dilakukan sebab dua perkara.

ﻭَﺍﻟْﺎِﺳْﺘِﺒْﺮَﺍﺀُ ﻳَﺠِﺐُ ﺑِﺸَﻴْﺌَﻴْﻦِ

Salah satunya adalah hilangnya firasy (kepemilikan) atas diri budak wanita. Dan akan dijelaskan di dalam ungkapan

matan, “ketika majikan budak ummu walad meninggal dunia” hingga akhir penjelasannya.

ﺃَﺣَﺪُﻫُﻤَﺎ ﺯَﻭَﺍﻝُ ﺍﻟْﻔِﺮَﺍﺵِ ﻭَﺳَﻴَﺄْﺗِﻲْ ﻓِﻲْ ﻗَﻮْﻝِ ﺍﻟْﻤَﺘْﻦِ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻣَﺎﺕَ ﺳَﻴِّﺪُ ﺃُﻡِّ ﺍﻟْﻮَﻟَﺪِ ﺇِﻟَﺦْ

Sebab yang kedua adalah baru datangnya kepemilikan -atas diri budak wanita-. Dan mushannif menjelaskannya di dalam perkataan beliau,

ﻭَﺍﻟﺴَّﺒَﺐُ ﺍﻟﺜَّﺎﻧِﻲْ ﺣُﺪُﻭْﺙُ ﺍﻟْﻤِﻠْﻚِ ﻭَﺫَﻛَﺮَﻩُ ﺍﻟْﻤُﺼَﻨِّﻒُ ﻓِﻲْ ﻗَﻮْﻟِﻪِ

Barang siapa baru memiliki budak wanita dengan cara membeli yang sudah tidak ada hak khiyar lagi, dengan warisan, wasiat, hibbah, atau yang lain dari cara-cara kepemilikan atas diri si budak wanita dan budak wanita tersebut bukanlah istrinya, ketika hendak mewathinya, maka bagi dia haram bersenang-senang dengan budak wanita tersebut hingga ia melakukan istibra’ padanya.

‏( ﻭَﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﺤْﺪَﺙَ ﻣِﻠْﻚَ ﺃَﻣَّﺔِ ‏) ﺑِﺸِﺮَﺍﺀٍ ﻟَﺎ ﺧِﻴَﺎﺭَ ﻓِﻴْﻪِ ﺃَﻭْ ﺑِﺈِﺭْﺙٍ ﺃَﻭْ ﻭَﺻِﻴَّﺔٍ ﺃَﻭْ ﻫِﺒَّﺔٍ ﺃَﻭْ ﻏَﻴْﺮِ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﻃُﺮُﻕِ ﺍﻟْﻤِﻠْﻚِ ﻟَﻬَﺎ ﻭَﻟَﻢْ ﺗَﻜُﻦْ ﺯَﻭْﺟَﺘَﻪُ ‏( ﺣَﺮُﻡَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ‏) ﻋِﻨْﺪَ ﺇِﺭَﺍﺩَﺓِ ﻭَﻃْﺌِﻬَﺎ ‏( ﺍﻟْﺎِﺳْﺘِﻤْﺘَﺎﻉُ ﺑِﻬَﺎ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺴْﺘَﺒْﺮِﺋَﻬَﺎ

Jika budak wanita tersebut termasuk golongan wanita yang memiliki haidl, maka dengan satu kali haidl.

ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻣِﻦْ ﺫَﻭَﺍﺕِ ﺍﻟْﺤَﻴْﺾِ ﺑِﺤَﻴْﻀَﺔٍ ‏)

Walaupun dia masih perawan, walaupun sudah diistibra’ oleh penjualnya sebelum dijual, dan walaupun kepemilikannya perpindah dari anak kecil atau majikan wanita.

ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺑِﻜْﺮًﺍ ﻭَﻟَﻮِ ﺍﺳْﺘَﺒْﺮَﺃَﻫَﺎ ﺑَﺎﺋِﻌُﻬَﺎ ﻗَﺒْﻞَ ﺑَﻴْﻌِﻬَﺎ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻣُﻨْﺘَﻘِﻠَﺔً ﻣِﻦْ ﺻَﺒِﻲٍّ ﺃَﻭِ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٍ .

Jika budak wanita tersebut termasuk golongan wanita yang memakai perhitungan bulan, maka ‘iddahnya adalah satu bulan saja.

‏( ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ‏) ﺍﻟْﺄَﻣَّﺔُ ‏( ﻣِﻦْ ﺫَﻭَﺍﺕِ ﺍﻟﺸُّﻬُﻮْﺭِ ‏) ﻓَﻌِﺪَّﺗُﻬَﺎ ﺑِﺸَﻬْﺮٍ ﻓَﻘَﻂْ

Jika budak wanita tersebut termasuk dari wanita hamil, maka ‘iddahnya dengan melahirkan kandungan.

ﻭَ ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻣِﻦْ ﺫَﻭَﺍﺕِ ﺍﻟْﺤَﻤْﻞِ ‏) ﻓَﻌِﺪَّﺗُﻬَﺎ ‏( ﺑِﺎﻟْﻮَﺿْﻊِ ‏)

Ketika seseorang membeli istrinya yang berstatus budak, maka disunnahkan baginya untuk melakukan istibra’ pada istrinya tersebut.

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺍﺷْﺘَﺮَﻯ ﺯَﻭْﺟَﺘَﻪُ ﺳُﻦَّ ﻟَﻪُ ﺍﺳْﺘِﺒْﺮَﺍﺅُﻫَﺎ

Adapun budak perempuan yang telah dinikahkan atau sedang melaksanakan ‘iddah, ketika seseorang membelinya, maka tidak wajib melakukan istibra’ padanya seketika itu.

ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺍﻟْﺄَﻣَّﺔُ ﺍﻟْﻤُﺰَﻭَّﺟَﺔُ ﺃَﻭِ ﺍﻟْﻤُﻌْﺘَﺪَّﺓُ ﺇِﺫَﺍ ﺍﺷْﺘَﺮَﺍﻫَﺎ ﺷَﺨْﺺٌ ﻓَﻠَﺎ ﻳَﺠِﺐُ ﺍﺳْﺘِﺒْﺮَﺍﺅُﻫَﺎ ﺣَﺎﻟًﺎ

Kemudian, ketika ikatan pernikahan dan ‘iddahnya telah hilang semisal budak wanita tersebut ditalak sebelum dijima’ ataupun setelahnya dan ‘iddahnya telah selesai, maka pada saat itulah wajib melakukan istibra’ .

ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺯَﺍﻟَﺖِ ﺍﻟﺰَّﻭْﺟِﻴَّﺔُ ﻭَﺍﻟْﻌِﺪَّﺓُ ﻛَﺄَﻥْ ﻃُﻠِﻘَﺖِ ﺍﻟْﺄَﻣَّﺔُ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟﺪُّﺧُﻮْﻝِ ﺃَﻭْ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﻭَﺍﻧْﻘَﻀَﺖِ ﺍﻟْﻌِﺪَّﺓُ ﻭَﺟَﺐَ ﺍﻟْﺎِﺳْﺘِﺒْﺮَﺍﺀُ ﺣِﻴْﻨَﺌِﺬٍ

Ketika majikan budak ummu walad meninggaldunia dan ia tidak dalam ikatan pernikahan dan tidak pula dalam pelaksanaan ‘iddah nikah, maka wajib baginya melakukan istibra’ pada dirinya sendiri seperti halnya budak wanita.

‏( ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻣَﺎﺕَ ﺳَﻴِّﺪُ ﺃُﻡِّ ﺍﻟْﻮَﻟَﺪِ ‏) ﻭَﻟَﻴْﺴَﺖْ ﻓِﻲْ ﺯَﻭْﺟِﻴَّﺔٍ ﻭَﻟَﺎ ﻋِﺪَّﺓِ ﻧِﻜَﺎﺡٍ ‏( ﺍﺳْﺘَﺒْﺮَﺃَﺕْ ‏) ﺣَﺘْﻤًﺎ ‏( ﻧَﻔْﺴَﻬَﺎ ﻛَﺎﻟْﺄَﻣَّﺔِ ‏)

Maksudnya, istibra’ yang dia lakukan adalah dengan satu bulan jika ia termasuk wanita-wanita yang menggunakan penghitungan bulan. Jika tidak, maka dengan satu kali haidl jika memang termasuk wanita-wanita yang menggunakan penghitungan masa suci.

ﺃَﻱْ ﻓَﻴَﻜُﻮْﻥُ ﺍﺳْﺘِﺒْﺮَﺍﺅُﻫَﺎ ﺑِﺸَﻬْﺮٍ ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻣِﻦْ ﺫَﻭَﺍﺕِ ﺍﻟْﺄَﺷْﻬُﺮِ ﻭَﺇِﻟَّﺎ ﻓَﺒِﺤَﻴْﻀَﺔٍ ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻣِﻦْ ﺫَﻭَﺍﺕِ ﺍﻟْﺄَﻗْﺮَﺍﺀِ

Seandainya sang majikan melakukan istibra’ terhadap budak wanitanya yang pernah dijima’ kemudian ia merdekakan, maka bagi sang budak tidak wajib melakukan

istibra’ , dan baginya diperkenankan menikah seketika itu juga.

ﻭَﻟَﻮِ ﺍﺳْﺘَﺒْﺮَﺃَ ﺍﻟﺴَّﻴِّﺪُ ﺃَﻣَّﺘَﻪُ ﺍﻟْﻤَﻮْﻃُﻮْﺃَﺓَ ﺛُﻢَّ ﺃَﻋْﺘَﻘَﻬَﺎ ﻓَﻠَﺎ ﺍﺳْﺘِﺒْﺮَﺍﺀَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﻭَﻟَﻬَﺎ ﺃَﻥْ ﺗَﺘَﺰَﻭَّﺝَ ﻓِﻲْ ﺍﻟْﺤَﺎﻝِ .

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)