PENJELASAN TALAQ (CERAI) DAN RUJUK

BAB  HAK TALAK

(Fasal) menjelaskan hak talak suami yang merdeka, suami yang berupa budak dan permasalahan-permasalahan yang lain.

(فَصْلٌ) فِيْ طَلَاقِ الْحُرِّ وَالْعَبْدِ وَغَيْرِ ذَلِكَ

Suami yang merdeka memiliki hak talak tiga kali atas istrinya walaupun istrinya berstatus budak.

(وَيَمْلِكُ) الزَّوْجُ (الْحُرُّ) عَلَى زَوْجَتِهِ وَلَوْ كَانَتْ أَمَّةً (ثَلَاثَ تَطْلِيْقَاتٍ

Dan suami yang berstatus budak hanya memiliki hak talak dua kali atas istrinya, baik istrinya berstatus merdeka ataupun budak.

وَ) يَمْلِكُ (الْعَبْدُ) عَلَيْهَا (تَطْلِيْقَيْنِ) فَقَطْ حُرَّةً كَانَتِ الزَّوْجَةُ أَوْ أَمَّةً

Budak muba’adl, mukatab, dan budak mudabbar itu sama dengan budak yang murni.

وَالْمُبَعَّضُ وَالْمُكَاتَبُ وَالْمُدَبَّرُ كَالْعَبْدِ الْقِنِّ

Istisna’ (Mengecualikan) Dalam Talak

Istisna’ dalam talak hukumnya sah ketika istisna’ bersambung dengan talak yang diucapkan.

(وَيَصِحُّ الْاِسْتِثْنَاءُ فِيْ الطَّلَاقِ إَذَا وَصَلَهُ بِهِ)

Maksudnya sang suami menyambung lafadz “mustasna (yang dikecualikan)” dengan lafadz “mustasna minhu (yang diambil pengecualiannya)” dengan bentuk penyambungan secara ‘urf, dengan arti kedua lafadz tersebut dianggap satu perkataan secara ‘urf.

أَيْ وَصَلَ الزَّوْجُ لَفْظَ الْمُسْتَثْنَى بِالْمُسْتَثْنَى مِنْهُ اتِّصَالًا عُرْفِيًّا بِأَنْ يُعَدَّ بِالْعُرْفِ كَلَامًا وَاحِدًا

Juga disyaratkan suami harus niat mengecualikan sebelum selesai mengucapkan kalimat talak.

وَيُشْتَرَطُ أَيْضًا أَنْ يَنْوِيَ الْاِسْتِثْنَاءَ قَبْلَ فَرَاغِ الْيَمِيْنِ

Dan tidak cukup mengucapkan pengecualian tanpa disertai niat untuk mengecualikan.

وَلَا يَكْفِيْ التَّلَفُّظُ بِهِ مِنْ غَيْرِ نِيَّةِ الْاِسْتِثْنَاءِ

Dan juga disyaratkan yang dikecualikan (mustasna) tidak menghabiskan jumlah yang diambil pengecualiannya (mustasna minhu).

وَيُشْتَرَطُ أَيْضًا عَدَمُ اسْتِغْرَاقِ الْمُسْتَثْنَى الْمُسْتَثْنَى مِنْهُ

Sehingga, jika menghabiskan seperti ucapan “engkau tertalak tiga kecuali tiga”, maka pengecualian tersebut batal.

فَإِنِ اسْتَغْرَقَ كَأَنْتِ طَالِقٌ ثَلَاثًا إِلَّا ثَلَاثًا بَطَلَ الْاِسْتِثْنَاءُ  .

Ta’liq (Penggantungan) Talak

Sah menta’liq talak dengan sifat dan syarat. Seperti kata-kata “jika engkau masuk rumah, maka engkau tertalak”, maka sang istri menjadi tertalak ketika masuk rumah.

(وَيَصِحُّ تَعْلِيْقُهُ) أَيِ الطَّلَاقِ (بِالصِّفَةِ وَالشَّرْطِ) كَإِنْ دَخَلْتِ الدَّارَ فَأَنْتِ طَالِقٌ فَتُطَلَّقُ إِذَا دَخَلَتْ

Talak tidak bisa jatuh kecuali terhadap istri.

(وَ) الطَّلَاقُ لَا يَقَعُ إِلَّا عَلَى زَوْجَةٍ

Kalau demikian, maka talak tidak bisa jatuh -terhadap seorang wanita- sebelum menikah.

وَحِيْنَئِذٍ (لَا يَقَعُ الطَّلَاقُ قَبْلَ النِّكَاحِ)

Sehingga tidak sah mentalak wanita lain -bukan istri- dengan bentuk talak secara langsug seperti ucapan seorang laki-laki pada wanita tersebut, “aku mentalakmu.”

فَلَا يَصِحُّ طَلَاقُ الْأَجْنَبِيَّةِ تَنْجِيْزًا كَقَوْلِهِ لَهَا طَلَّقْتُكِ

Dan juga tidak dengan bentuk talak yang digantungkan seperti ucapan seorang laki-laki pada wanita yang bukan istrinya, “jika aku menikah denganmu, maka engkau tertalak”, atau “jika aku menikah dengan fulanah, maka ia tertalak.”

وَلَا تَعْلِيْقًا كَقَوْلِهِ لَهَا إِنْ تَزَوَّجْتُكِ فَأَنْتِ طَالِقٌ أَوْ إِنْ تَزَوَّجْتُ فُلَانَةً فَهِيَ طَالِقٌ .

Orang-Orang Yang Tidak Sah Menjatuhkan Talak

Ada empat orang yang tidak bisa menjatuhkan talak, yaitu anak kecil, orang gila, yang semakna dengan orang gila adalah orang epilepsi.

(وَأَرْبَعٌ لَا يَقَعُ طَلَاقُهُمُ الصَّبِيُّ وَالْمَجْنُوْنُ) وَفِيْ مَعْنَاهُ الْمُغْمَى عَلَيْهِ

Orang yang tidur dan orang yang dipaksa menjatuhkan talak, maksudnya dengan tanpa alasan yang benar.

(وَالنَّائِمُ وَالْمُكْرَهُ) أَيْ بِغَيْرِ حَقٍّ

Sehingga, jika pemaksaan tersebut di dasari dengan alasan yang benar, maka jatuh talak.

فَإِنْ كَانَ بِحَقٍّ وَقَعَ

Bentuk pemaksaan dengan alasan yang benar seperti penjelasan sekelompok ulama’, adalah pemaksaan talak yang dilakukan oleh seorang qadli terhadap suami yang melakukan sumpah ila’ setelah melewati masa ila’.

وَصُوْرَتُهُ كَمَا قَالَ جَمْعٌ إِكْرَاهُ الْقَاضِيْ لِلْمُوْلِيْ بَعْدَ مُدَّةِ الْإِيْلَاءِ عَلَى الطَّلَاقِ

Syarat-Syarat Pemaksaan

Syarat ikrah / paksaan adalah kemampuan al mukrih (orang yang memaksa), dengan terbaca kasrah huruf ra’nya, untuk membuktikan ancamannya terhadap al mukrah (orang yang dipaksa), dengan terbaca fathah huruf ra’nya,  baik dengan mengandalkan kekuasaan atau kekuatan.

وَشَرْطُ الْإِكْرَاهِ قُدْرَةُ الْمُكْرِهِ بِكَسْرِ الرَّاءِ عَلَى تَحْقِيْقِ مَا هَدَّدَ بِهِ الْمُكْرَهَ بِفَتْحِهَا بِوِلَايَةٍ أَوْ تَغَلُّبٍ

Lemahnya al mukrah (orang yang dipaksa), dengan terbaca fathah huruf ra’nya, untuk melawan / menghentikan al mukrih (orang yang memaksa), dengan terbaca kasrah huruf ra’nya, baik dengan lari darinya, meminta tolong pada orang yang bisa menyelamatkannya, atau cara-cara sesamanya.

وَعَجْزُ الْمُكْرَهِ بِفَتْحِ الرَّاءِ عَنْ دَفْعِ الْمُكْرِهِ بِكَسْرِهَا بِهَرَبٍ مِنْهُ أَوْ اسْتِغَاثَةٍ بِمَنْ يُخْلِصُهُ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ

Dan al mukrah (orang yang dipaksa) mempunyai dugaan bahwa sesungguhnya jika ia tidak mau melakukan apa yang dipaksakan padanya, maka al mukrih (orang yang memaksa) akan membuktikan ancamannya.

وَظَنُّهُ أَنَّهُ إِنِ امْتَنَعَ مِمَّا أُكْرِهَ عَلَيْهِ فَعَلَ مَا خَوَّفَهُ بِهِ

Pemaksaan bisa hasil dengan ancaman pukulan keras, penjara, merusakkan harta atau sesamanya.

وَيَحْصُلُ الْإِكْرَاهُ بِالتَّخْوِيْفِ بِضَرْبٍ شَدِيْدٍ أَوْ حَبْسٍ أَوْ إِتْلَافِ مَالٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ

 Ketika dari al mukrah (orang yang dipaksa) nampak ada qarinah (petunjuk) bahwa ia melakukan dengan keinginan sendiri, dengan contoh semisal seseorang dipaksa menjatuhkan talak tiga namun kemudian dia menjatuhkan talak satu, maka talak yang ia lakukan sah / jatuh.

وَإِذَا ظَهَرَ مِنَ الْمُكْرَهِ بِفَتْحِ الرَّاءِ قَرِيْنَةُ إخْتِيَارٍ بِأَنْ أُكْرِهَ شَخْصٌ عَلَى طَلَاقِ ثَلَاثٍ فَطَلَّقَ وَاحِدَةً وَقَعَ الطَّلَاقُ

Ketika ada orang mukallaf menggantungkan talak dengan sifat dan sifat tersebut baru wujud ketika orang tersebut tidak dalam keadaan mukallaf, maka sesungguhnya talak yang dita’liq dengan sifat tersebut menjadi jatuh.

وَإِذَا صَدَرَ تَعْلِيْقُ الطَّلَاقِ بِصِفَةٍ مِنْ مُكَلَّفٍ وَوُجِدَتْ تِلْكَ الصِّفَةُ فِيْ غَيْرِ تَكْلِيْفٍ فَإِنَّ الطَّلَاقَ الْمُعَلَّقَ بِهَا يَقَعُ

Orang yang sedang mabuk ketika menjatuhkan talak, maka talaknya sah seperti penjelasan di depan

وَالسَّكْرَانُ يَنْفُذُ طَلَاقُهُ كَمَا سَبَقَ

 

BAB TALAK RAJ’I

(Fasal) menjelaskan hukum-hukum talak raj’i.

(فَصْلٌ) فِيْ أَحْكَامِ الرَّجْعَةِ

Lafadz “ar raj’ah” dengan terbaca fathah huruf ra’nya. Ada keterangan bahwa ra’nya terbaca kasrah. Raj’ah secara bahasa adalah kembali satu kali.

بِفَتْحِ الرَّاءِ وَحُكِيَ كَسْرُهَا وَهِيَ لُغَةً الْمَرَّةُ مِنَ الرُّجُوْعِ

Dan secara syara’ adalah mengembalikan istri pada ikatan pernikahan saat masih menjalankan ‘iddah talak selain talak ba’in dengan cara tertentu.

وَشَرْعًا رَدُّ الزَّوْجَةِ إِلَى النِّكَاحِ فِيْ عِدَّةِ طَلَاقٍ غَيْرِ بَائِنٍ عَلَى وَجْهٍ مَخْصُوْصٍ

Dengan bahasa “talak” mengecualikan wathi syubhat dan dhihar. Karena sesungguhnya halalnya melakukan wathi dalam kedua permasalahan tersebut setelah hilangnya sesuatu yang mencegah kehalalannya tidak bisa disebut ruju’.

وَخَرَجَ بِطَلَاقٍ وَطْءُ الشُّبْهَةِ وَالظِّهَارُ فَإِنَّ اسْتِبَاحَةَ الْوَطْءِ فِيْهِمَا بَعْدَ زَوَالِ الْمَانِعِ لَا تُسَمَّى رَجْعَةً

Ketika seseorang mentalak istrinya satu atau dua kali, maka bagi dia diperkenankan ruju’ tanpa seizin sang istri selama masa ‘iddahnya belum habis.

(وَإِذَا طَلَقَ) شَخْصٌ (امْرَأَتَهُ وَاحِدَةً أَوْ اثْنَتَيْنِ فَلَهُ) بِغَيْرِ إِذْنِهَا (مُرَاجَعَتُهَا مَا لَمْ تَنْقَضِ عِدَّتُهَا)

 

Cara Ruju’

Ruju’ yang dilakukan oleh orang yang bisa bicara sudah bisa hasil dengan menggunakan kata-kata, di antaranya adalah “raja’tuki (aku meruju’mu)” dan lafadz lafadz yang ditasrif dari lafadz “raj’ah.”

وَتَحْصُلُ الرَّجْعَةُ مِنَ النَّاطِقِ بِأَلْفَاظٍ مِنْهَا رَاجَعْتُكِ وَمَا تَصَرَّفَ مِنْهَا

Menurut pendapat al ashah sesungguhnya ucapan al murtaji’ (suami yang ruju’),”aku mengembalikanmu pada nikahku” dan, “aku menahanmu pada nikahku” adalah dua bentuk kalimat ruju’ yang sharih.

وَالْأَصَحُّ إِنَّ قَوْلَ الْمُرْتَجِعِ “رَدَّدْتُكِ لِنِكَاحِيْ” وَ “أَمْسَكْتُكِ عَلَيْهِ” صَرِيْحَانِ فِيْ الرَّجْعَةِ

Menurut al ashah- Sesungguhnya ucapan al murtaji’, “aku menikahimu”, atau, “aku menikahimu” adalah dua bentuk kalimat ruju’ yang kinayah.

وَإِنَّ قَوْلَهُ “تَزَوَّجْتُكِ” أَوْ “نَكَحْتُكِ” كِنَايَتَانِ

Syarat Orang Yang Ruju’

Syarat al murtaji’, jika ia tidak dalam keadaan ihram, adalah orang yang sah melakukan akad nikah sendiri.

وَشَرْطُ الْمُرْتَجِعِ إِنْ لَمْ يَكُنْ مُحْرِمًا أَهْلِيَةُ النِّكَاحِ بِنَفْسِهِ

Kalau demikian maka ruju’nya orang yang mabuk hukumnya sah.

وَحِيْنَئِذٍ فَتَصِحُّ رَجْعَةُ السَّكْرَانِ

Tidak sah ruju’nya orang murtad, anak kecil dan orang gila. Karena sesungguhnya masing-masing dari mereka bukan orang yang sah melakukan akad nikah sendiri.

لَا رَجْعَةُ الْمُرْتَدِّ وَلَا رَجْعَةُ الصَّبِيِّ وَالْمَجْنُوْنِ لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمْ لَيْسَ أَهْلًا لِلنِّكَاحِ بِنَفْسِهِ

Berbeda dengan orang yang safih dan budak. Maka ruju’ yang dilakukan keduanya sah tanpa ada izin dari wali dan majikan.

بِخِلَافِ السَّفِيْهِ وَالْعَبْدِ فَرَجْعَتُهُمَا صَحِيْحَةٌ مِنْ غَيْرِ إِذْنِ الْوَلِيِّ وَالسَّيِّدِ

Walaupun awal pernikahan keduanya membutuhkan / tergantung pada izin wali dan majikannya.

وَإِنْ تَوَقَّفَ ابْتِدَاءً نِكَاحُهُمَا عَلَى إِذْنِ الْوَلِيِّ وَالسَّيِّدِ.

Jika ‘iddah wanita yang tertalak raj’i telah selesai, maka bagi sang suami halal menikahinya dengan akad nikah yang baru.

(فَإِنِ انْقَضَتْ عِدَّتُهَا) أَيِ الرَّجْعِيَّةِ (حَلَّ لَهُ) أَيْ زَوْجِهَا (نِكَاحُهَا بِعَقْدٍ جَدِيْدٍ

Dan setelah akad nikah yang baru tersebut, maka sang istri hidup bersama suaminya dengan memiliki hak talak yang masih tersisa. Baik wanita tersebut sempat menikah dengan laki-laki lain ataupun tidak.

وَتَكُوْنُ مَعَهُ) بَعْدَ الْعَقْدِ (عَلَى مَا بَقِيَ مِنَ الطَّلَاقِ) سَوَاءٌ اتَّصَلَتْ بِزَوْجٍ غَيْرِهِ أَمْ لَا

 

Talak Ba’in Kubra

Jika suami mentalak sang istri dengan talak tiga,  jika memang sang suami berstatus merdeka, atau talak dua jika sang suami berstatus budak, baik menjatuhkan sebelum melakukan jima’ atau setelahnya, maka wanita tersebut tidak halal bagi sang suami kecuali setelah wujudnya lima syarat.

(فَإِنْ طَلَّقَهَا) زَوْجُهَا (ثَلَاثًا) إِنْ كَانَ حُرًّا أَوْ طَلْقَتَيْنِ إِنْ كَانَ عَبْدًا قَبْلَ الدُّخُوْلِ أَوْ بَعْدَهُ لَمْ تَحِلَّ لَهُ إِلَّا بَعْدَ وُجُوْدِ خَمْسِ شَرَائِطَ)

Yang pertama, ‘iddah wanita tersebut dari suami yang telah mentalak itu telah habis.

أَحَدُهَا (انْقِضَاءُ عِدَّتِهَا مِنْهُ) أَيِ الْمُطَلِّقِ.

Yang kedua, wanita tersebut telah dinikahkan dengan laki-laki lain, dengan akad nikah yang sah.

(وَ) الثَّانِيْ (تَزْوِيْجُهَا بِغَيْرِهِ) تَزْوِيْجًا صَحِيْحًا

Yang ketiga, suami yang lain tersebut telah men-dukhul dan menjima’nya.

(وَ) الثَّالِثُ (دُخُوْلُهُ) أَيِ الْغَيْرِ (بِهَا وَإِصَابَتُهَا)

Yaitu suami yang lain tersebut memasukkan hasyafah atau seukuran hasyafah orang yang hasyafah-nya terpotong pada bagian vagina sang wanita, tidak pada duburnya.

بِأَنْ يُوْلِجَ حَشَفَتَهُ أَوْ قَدْرَهَا مِنْ مَقْطُوْعِهَا بِقُبُلِ الْمَرْأَةِ لَا بِدُبُرِهَا

Dengan syarat penisnya harus intisyar (berdiri), dan orang yang memasukkan alat vitalnya termasuk orang yang memungkinkan melakukan jima’, bukan anak kecil.

بِشَرْطِ الْاِنْتِشَارِ فِيْ الذَّكَرِ وَكَوْنِ الْمُوْلِجِ مِمَّنْ يُمْكِنُ جِمَاعُهُ لَا طِفْلًا

Yang ke empat, wanita tersebut telah tertalak ba’in dari suami yang lain itu.

(وَ) الرَّابِعُ (بَيْنُوْنَتُهَا مِنْهُ) أَيِ الْغَيْرِ

Yang kelima, ‘iddahnya dari suami yang lain tersebut telah selesai.

(وَ) الْخَامِسُ (انْقِضَاءُ عِدَّتِهَا مِنْهُ).

KHULU’ ATAU PERCERAIAN DENGAN GANTI RUGI YANG DIKEHENDAKI

(Fasal) menjelaskan beberapa hukum khulu’.   

(فَصْلٌ فِيْ أَحْكَامِ الْخُلْعِ)

Lafadz “al khul’u’” dengan terbaca dlammah huruf kha’nya yang diberi titik satu di atas, adalah lafadz yang tercetak dari lafadz “al khal’u” dengan terbaca fathah huruf kha’nya. Dan lafadz “al khal’u” bermakna mencopot.

وَهُوَ بِضَمِّ الْخَاءِ الْمُعْجَمَةِ مُشْتَقٌّ مِنَ الْخَلْعِ بِفَتْحِهَا وَهُوَ النَّزَعُ

Secara syara’, khul’u adalah perceraian dengan menggunakan ‘iwadl (imbalan) yang maqsud (layak untuk diinginkan).

وَشَرْعًا فُرْقَةٌ بِعِوَضٍ مَقْصُوْدٍ

Maka mengecualikan khulu’ dengan ‘iwadl berupa darah dan sesamanya.

فَخَرَجَ الْخُلْعُ عَلَى دَمٍّ وَنَحْوِهَا

Syarat Khulu’

Khulu’ hukumnya sah dengan menggunakan ‘iwadl yang ma’lum dan mampu diserahkan.

(وَالْخُلْعُ جَائِزٌ عَلَى عِوَضٍ مَعْلُوْمٍ) مَقْدُوْرٍ عَلَى تَسْلِيْمِهِ

Sehingga, jika khulu’ menggunakan ‘iwadl yang tidak ma’lum seperti seorang suami melakukan khulu’ pada istrinya dengan ‘iwadl berupa pakaian yang tidak ditentukan, maka sang istri tertalak ba’in dengan memberikan ganti mahar mitsil.

فَإِنْ كَانَ عَلَى عِوَضٍ مَجْهُوْلٍ كَأَنْ خَالَعَهَا عَلَى ثَوْبٍ غَيْرِ مُعَيَّنٍ بَانَتْ بِمَهْرِ الْمِثْلِ

Konsekwensi Khulu’

Dengan khulu’ yang sah, maka seorang wanita berhak atas dirinya sendiri. Dan sang suami tidak bisa ruju’ pada wanita tersebut, baik ‘iwadl yang digunakan sah ataupun tidak.

(وَ) الْخُلْعُ الصَّحِيْحُ (تَمْلِكُ بِهِ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا وَلَا رَجْعَةَ لَهُ) أَيِ الزَّوْجِ (عَلَيْهَا) سَوَاءٌ كَانَ الْعِوَضُ صَحِيْحًا أَوْ لَا

Dan ungkapan mushannif, “kecuali dengan akad nikah yang baru” tidak tercantum di kebanyakan redaksi.

وَقَوْلُهُ (إِلَّا بِنِكَاحٍ جَدِيْدٍ) سَاقِطٌ فِيْ أَكْثَرِ النُّسَخِ

Khulu’ boleh dilakukan saat sang istri dalam keadaan suci dan dalam keadaan haidl, dan khulu’ yang dilakukan ini tidaklah haram.

(وَيَجُوْزُ الْخُلْعُ فِيْ الطُّهْرِ وَفِيْ الْحَيْضِ) وَلَا يَكُوْنُ حَرَامًا

Wanita yang telah dikhulu’ tidak bisa ditalak. Berbeda dengan istri yang tertalak raj’i, maka bisa untuk ditalak.

(وَلَا يَلْحَقُ الْمُخْتَلِعَةَ الطَّلَاقُ) بِخِلَافِ الرَّجْعِيَّةِ فَيَلْحَقُهَا.

MENGGILIR ISTRI YANG LEBIH DARI SATU DAN NUSYUZ YANG MENJADIKAN NAFAQOH GUGUR

(Fasal) menjelaskan hukum-hukum qasm (menggilir) dan Nusyuz (purik : jawa).

(فَصْلٌ) فِيْ أَحْكَامِ الْقَسْمِ وَالنُّشُوْزِ)

Yang pertama adalah dari suami dan yang kedua dari istri.

وَالْأَوَّلُ مِنْ جِهَّةِ الزَّوْجِ وَالثَّانِيْ مِنْ جِهَّةِ الزَّوْجَةِ

Makna nusuznya seorang istri adalah ia tidak mau melaksanakan hak yang wajib ia penuhi.

وَمَعْنَى نُشُوْزِهَا ارْتِفَاعُهَا عَنْ أَدَاءِ الْحَقِّ الْوَاجِبِ عَلَيْهَا

Ketika seorang laki-laki memiliki dua istri atau lebih, maka bagi dia tidak wajib menggilir diantara kedua atau beberapa istrinya.

وَإِذَا كَانَ فِيْ عِصْمَةِ شَخْصٍ زَوْجَتَانِ فَأَكْثَرَ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْقَسْمُ بَيْنَهُمَا أَوْ بَيْنَهُنَّ

Sehingga, seandainya dia berpaling dari istri-istrinya atau istri satu-satunya, dengan tidak berada di sisi mereka atau di sisi satu istrinya tersebut, maka dia tidak berdosa.

حَتَّى لَوْ أَعْرَضَ عَنْهُنَّ أَوْ عَنِ الْوَاحِدَةِ فَلَمْ يَبِتْ عِنْدَهُنَّ أَوْ عِنْدَهَا لَمْ يَأْثَمْ

Akan tetapi disunnahkan baginya untuk tidak mengosongkan jadwal menginap di sisi mereka, begitu juga di sisi istri satu-satunya. Dengan artian ia berada di sisi mereka atau di sisi istrinya tersebut.

وَلَكِنْ يُسْتَحَبُّ أَنْ لَا يُعَطِّلَهُنَّ مِنَ الْمَبِيْتِ وَلَا الْوَاحِدَةَ أَيْضًا بِأَنْ يَبِيْتَ عِنْدَهُنَّ أَوْ عِنْدَهَا

Minimal empat hari sekali berada bersama dengan satu orang istri.

وَأَدْنَى دَرَجَاتِ الْوَاحِدَةِ أَنْ لَا يُخَلِّيَهَا كُلَّ أَرْبَعِ لَيَالٍ عَنْ لَيْلَةٍ

Hukum Adil di Dalam Menggilir Istri

Menyetarakan giliran di antara istri-istri hukumnya wajib bagi sang suami.

(وَالتَّسْوِيَةُ فِيْ الْقَسْمِ بَيْنَ الزَّوْجَاتِ وَاجِبَةٌ)

Sama rata adakalanya dipandang dari tempat dan adakalanya dipandang dari waktunya.

وَتُعْتَبَرُ التَّسْوِيَّةُ بِالْمَكَانِ تَارَةً وَبِالزَّمَانِ اُخْرَى

Adapun ditinjau dari sisi tempat, maka hukumnya haram mengumpulkan dua orang istri atau lebih didalam satu rumah kecuali mereka rela.

أَمَّا الْمَكَانُ فَيَحْرُمُ الْجَمْعُ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ فَأَكْثَرَ مِنْ مَسْكَنٍ وَاحِدٍ إِلَّا بِالرِّضَا

Adapun dari sisi waktu, maka bagi suami yang tidak menjadi seorang penjaga (bekerja) di malam hari, maka inti giliran yang harus dia lakukan adalah di waktu malam, sedangkan untuk siangnya mengikut pada waktu malam.

وَأَمَّا الزَّمَانُ فَمَنْ لَمْ يَكُنْ حَارِسًا فَعِمَادُ الْقَسْمِ فِيْ حَقِّهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ تَبِعَ لَهُ

Dan bagi suami yang menjadi penjaga di malam hari, maka inti giliran yang harus ia lakukan adalah waktu siang, sedangkan untuk waktu malamnya hanya mengikut pada waktu siang tersebut.

وَمَنْ كَانَ حَارِسًا فَعِمَادُ الْقَسْمِ فِيْ حَقِّهِ النَّهَارُ وَاللَّيْلُ تَبِعَ لَهُ.

 

Tidak Boleh Melanggar Giliran

Bagi seorang suami tidak diperkenankan berkunjung di malam hari pada istri yang tidak mendapat giliran tanpa ada hajat.

(وَلَا يَدْخُلُ) الزَّوْجُ لَيْلًا (عَلَى غَيْرِ الْمَقْسُوْمِ لَهَا لِغَيْرِ حَاجَةٍ)

Jika berkunjungnya karena ada hajat seperti menjenguk istrinya yang sakit dan sesamanya, maka ia tidak dilarang untuk masuk pada istri tersebut.

فَإِنْ كَانَ لِحَاجَةٍ كَعِيَادَةٍ وَنَحْوِهَا لَمْ يُمْنَعْ مِنَ الدُّخُوْلِ

Dan ketika masuknya karena ada hajat, jika ia berada di sana dalam waktu yang cukup lama, maka wajib mengqadla’ seukuran waktu berdiamnya dari giliran istri yang telah ia kunjungi.

وَحِيْنَئِذٍ إِنْ طَالَ مُكْثُهُ قَضَى مِنْ نَوْبَةِ الْمَدْخُوْلِ عَلَيْهَا مِثْلَ مُكْثِهِ

Sehingga, jika ia sempat melakukan jima’ dengan istri yang ia kunjungi -yang bukan gilirannya-, maka wajib mengqadla’ masa jima’nya, bukan melakukan jima’nya, kecuali jika waktunya sangat pendek, maka tidak wajib untuk diqadla’i.

فَإِنْ جَامَعَ قَضَى زَمَنَ الْجِمَاعِ لَا نَفْسَ الْجِمَاعِ إِلَّا أَنْ يَقْصُرَ زَمَنُهُ فَلَا يَقْضِيْهِ

Ketika Hendak Bepergian

Ketika seorang laki-laki yang memiliki beberapa istri ingin bepergian, maka ia harus mengundi di antara istri-istrinya. Dan ia melakukan perjalanan bersama istri yang mendapatkan undian.

(وَإِذَا أَرَادَ) مَنْ فِيْ عِصْمَتِهِ زَوْجَاتٌ (السَّفَرَ أَقْرَعَ بَيْنَهُنَّ وَخَرَجَ) أَيْ سَافَرَ (بِالَّتِيْ تَخْرُجُ لَهَا الْقُرْعَةُ)

Dan bagi suami yang melakukan perjalanan tidak wajib menqadla’ lamanya masa perjalanan pada para istrinya yang tidak diajak bepergian / yang ditinggal di rumah.

وَلَا يَقْضِيْ الزَّوْجُ الْمُسَافِرُ لِلْمُتَخَلِّفَاتِ مُدَّةَ سَفَرِهِ ذِهَابًا

Jika ia sampai di tempat tujuan dan muqim di sana, dengan artian ia niat muqim yang bisa merubah status musafirnya di awal pemberangkatan, ketika sampai di tempat tujuan atau sebelum sampai, maka ia wajib mengqadla’i waktu muqimnya, jika istri yang menyertainya dalam perjalanan juga muqim bersamanya sebagai mana keterangan yang disampaikan oleh imam al Mawardi. Jika tidak demikian, maka tidak wajib mengqadla’i.

فَإِنْ وَصَلَ مَقْصِدَهُ وَصَارَ مُقِيْمًا بِأَنْ نَوَى إِقَامَةً مُؤَثِّرَةً أَوَّلَ سَفَرِهِ أَوْ عِنْدَ وُصُوْلِ مَقْصِدِهِ أَوْ قَبْلَ وُصُوْلِهِ قَضَى مُدَّةَ الْإِقَامَةِ إِنْ سَاكَنَ الْمَصْحُوْبَةَ مَعَهُ فِيْ السَّفَرِ كَمَا قَالَهُ الْمَاوَرْدِيُّ وَإِلَّا لَمْ يَقْضِ

Adapun waktu perjalanan pulang setelah muqimnya tersebut, maka bagi suami tidak wajib untuk mengqadla’inya.

أَمَّا مُدَّةُ الرُّجُوْعِ فَلَا يَجِبُ عَلَى الزَّوْجِ قَضَاؤُهَا بَعْدَ إِقَامَتِهِ .

 

Pengantin Baru

Ketika seorang suami menikahi wanita yang baru, maka ia wajib mengistimewakannya, walaupun istrinya adalah budak wanita, dan ia memiliki istri lama.

(وَإِذَا تَزَوَّجَ) الزَّوْجُ (جَدِيْدَةً خَصَّهَا) حَتْمًا وَلَوْ كَانَتْ أَمَّةً وَكَانَ عِنْدَ الزَّوْجِ غَيْرُ الْجَدِيْدَةِ

Suami harus menginap di sisi istri barunya tersebut selama tujuh malam berturut-turut, jika istri barunya tersebut masih perawan, dan tidak wajib mengqadla’ untuk istri-istri yang lain.

وَهُوَ يَبِيْتُ عِنْدَهَا (بِسَبْعِ لَيَالٍ) مُتَوَالِيَاتٍ (إِنْ كَانَتْ) تِلْكَ الْجَدِيْدَةُ (بِكْرًا) وَلَا يَقْضِيْ لِلْبَاقِيَاتِ

Dan mengkhususkan pada istri barunya tersebut dengan tiga malam berturut-turut, jika istri barunya tersebut sudah janda.

(وَ) خَصَّهَا (بِثَلَاثٍ) مُتَوَالِيَةٍ (إِنْ كَانَتْ) تِلْكَ الْجَدِيْدَةُ (ثَيِّبًا)

Sehingga, seandainya sang suami memisah malam-malam tersebut dengan tidur semalam di sisi sang istri baru, dan semalam tidur di masjid semisal, maka semua itu tidak dianggap.

فَلَوْ فَرَّقَ اللَّيَالِيَ بِنَوْمِهِ لَيْلَةً عِنْدَ الْجَدِيْدَةِ وَلَيْلَةً فِيْ مَسْجِدٍ مَثَلًا لَمْ يُحْسَبْ ذَلِكَ

Bahkan sang suami harus memenuhi hak istri barunya secara berturut-turut, dan mengqadla’i malam-malam yang telah ia pisah-pisah untuk istri-istri yang lain.

بَلْ يُوْفِيْ الْجَدِيْدَةَ حَقَّهَا مُتَوَالِيًا وَيَقْضِيْ مَا فَرَّقَهُ لِلْبَاقِيَاتِ.

 

Nusuz / Purik

Ketika sang suami khawatir istrinya nusuz, dalam sebagian redaksi dengan ungkapan, “ketika nampak bahwa sang istri nusuz”, maka suami berhak memberi nasihat dengan tanpa memukul dan tanpa diam tidak menyapanya.

(وَإِذَا خَافَ) الزَّوْجُ (نُشُوْزَ الْمَرْأَةِ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ وَإِذَا بَانَ نُشُوْزُ الْمَرْأَةِ أَيْ ظَهَرَ (وَعَظَهَا) زَوْجُهَا بِلَا ضَرْبٍ وَلَا هَجْرٍ لَهَا

Seperti ucapannya pada sang istri, “takutlah engkau pada Allah di dalam hak yang wajib bagimu untukku. Dan ketahuilah sesungguhnya nusuz bisa menggugurkan kewajiban nafkah dan menggilir.”

كَقَوْلِهِ لَهَا “اتَّقِيْ اللهَ فِيْ الْحَقِّ الْوَاجِبِ لِيْ عَلَيْكَ وَاعْلَمِيْ أَنَّ النُّشُوْزَ مُسْقِطٌ لِلنَّفَقَةِ وَالْقَسْمِ”

Mencela suami bukanlah termasuk nusuz, namun dengan hal itu sang istri berhak diberi pengajaran sopan santun oleh suami menurut pendapat al ashah, dan ia tidak perlu melaporkannya pada seorang qadli.

وَلَيْسَ الشَّتْمُ لِلزَّوْجِ مِنَ النُّشُوْزِ بَلْ تَسْتَحِقُّ بِهِ التَّأْدِيْبَ مِنَ الزَّوْجِ فِيْ الْأَصَحِّ وَلَا يَرْفَعُهَا إِلَى الْقَاضِيْ

Jika setelah dinasihati ia tetap nusuz, maka sang suami mendiamkannya di tempat tidurnya, sehingga ia tidak menemaninya di tempat tidur.

(فَإِنْ أَبَتْ) بَعْدَ الْوَعْظِ (إِلَّا النُّشُوْزَ هَجَرَهَا) فِيْ مَضْجَعِهَا وَهُوَ فِرَاشُهَا فَلَا يُضَاجِعُهَا فِيْهِ

Mendiamkan tidak menyapanya dengan ucapan hukumnya haram dalam waktu lebih dari tiga hari.

وَهِجْرَانُهَا بِالْكَلَامِ حَرَامٌ فِيْمَا زَادَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ

Imam an Nawawi berkata di dalam kitab ar Raudlah, “sesungguhnya hukum haram tersebut adalah di dalam permasalan tidak menyapa tanpa ada udzur syar’i. Jika tidak demikian, maka hukumnya tidak haram lebih dari tiga hari.”

وَقَالَ فِيْ الرَّوْضَةِ أَنَّهُ فِيْ الْهَجْرِ بِغَيْرِ عُذْرٍ شَرْعِيٍّ وَإِلَّا فَلَا تَحْرُمُ الزِّيَادَةُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ

Jika sang istri tetap saja nusuz dengan berulang kali melakukannya, maka sang suami berhak tidak menyapa dan memukulnya dengan model pukulan mendidik pada sang istri.

(فَإِنْ أَقَامَتْ عَلَيْهِ) أَيِ النُّشُوْزِ بِتَكَرُّرِهِ مِنْهَا (هَجَرَهَا وَضَرَبَهَا) ضَرْبَ تَأْدِيْبٍ لَهَا

Dan jika pukulan tersebut menyebabkan kerusakan / luka / kematian, maka wajib bagi suami untuk mengganti rugi.

وَإِنْ أَفْضَى إِلَى التَّلَفِ وَجَبَ الْغَرْمُ

Sebab nusuz, giliran dan nafkah bagi sang istri menjadi gugur.

وَيَسْقُطُ بِالنُّشُوْزِ قَسْمُهَا وَنَفَقَتُهَا

PENJELASAN FIQIH TENTANG MAHAR PERNIKAHAN ATAU MAS KAWIN

BAB MAS KAWIN

(Fasal) menjelaskan hukum-hukum mas kawin.               

(فَصْلُ) فِيْ أَحْكَامِ الصَّدَاقِ

Lafadz “shadaq” dengan terbaca fathah huruf shadnya adalah bacaan yang lebih fasih daripada dibaca kasrah, dan dicetak dari lafadz “ash shadq” dengan terbaca fathah huruf shadnya. Dan ash shadq adalah nama sesuatu yang sangat keras.

وَهُوَ بِفَتْحِ الصَّادِ أَفْصَحُ مِنْ كَسْرِهَا مُشْتَقٌّ مِنَ الصَّدْقِ بِفَتْحِ الصَّادِ وُهَوَ اسْمٌ لِشَدِيْدِ الصُّلْبِ

Dan secara syara’, shadaq adalah nama harta yang wajib diberikan oleh seorang laki-laki sebab nikah, wathi’ syubhat atau meninggal dunia.

وَشَرْعًا اسْمٌ لِمَالٍ وَاجِبٍ عَلَى الرَّجُلِ بِنِكَاحٍ أَوْ وَطْءِ شُبْهَةٍ أَوْ مَوْتٍ

Disunnahkan menyebutkan mas kawin di dalam akad nikah, walaupun pernikahan seorang budaknya majikan dengan budak wanitanya majikan tersebut.

(وَيُسْتَحَبُّ تَسْمِيَّةُ الْمَهْرِ) فِيْ عَقْدِ (النِّكَاحِ) وَلَوْ فِيْ نِكَاحِ عَبْدِ السَّيِّدِ أَمَّتَهُ

Sudah dianggap cukup menyebutkan mas kawin berupa apapun, akan tetapi disunnahkan mas kawinnya tidak kurang dari sepuluh dirham dan tidak lebih dari lima ratus dirham murni.

وَيَكْفِيْ تَسْمِيَّةُ أَيِّ شَيْئٍ كَانَ وَلَكِنْ يُسَنُّ عَدَمُ النَّقْصِ عَنْ عَشْرَةِ دَرَاهِمَ وَعَدَمُ الزِّيَادَةِ عَلَى خَمْسِ مِائَةِ دِرْهَمٍ خَالِصَةٍ

Dengan ungkapannya, “disunnahkan”, mushannif memberikan isyarah bahwa boleh melakukan akad nikah tanpa menyebutkan mas kawin, dan hukumnya memang demikian.

وَأَشْعَرَ بِقَوْلِهِ يُسْتَحَبُّ بِجَوَازِ إِخْلَاءِ النِّكَاحِ عَنِ الْمَهْرِ وَهُوَ كَذَلِكَ

At Tafwidl (Memasrahkan)

Sehingga, jika di dalam akad nikah tidak disebutkan mas kawinnya, maka hukum akad nikah tersebut sah. Dan inilah yang dimaksud dengan at tafwidl (memasrahkan).

(فَإِنْ لَمْ يُسَمَّ) فِيْ عَقْدِ النِّكَاحِ مَهْرٌ (صَحَّ الْعَقْدُ) وَهَذَا مَعْنَى التَّفْوِيْضِ

Tafwidl adakalanya dari mempelai wanita yang sudah baligh dan rasyid, seperti ucapan wanita tersebut pada walinya, “nikahkanlah aku dengan tanpa mas kawin”, atau “dengan tanpa mas kawin yang akan aku miliki”, kemudian sang wali menikahkannya dan mentiadakan mas kawin atau diam tidak mengucapkan mas kawin.

وَيَصْدُرُ تَارَةً مِنَ الزَّوْجَةِ الْبَالِغَةِ الرَّشِيْدَةِ كَقَوْلِهَا لِوَلِيِّهَا زَوِّجْنِيْ بِلَا مَهْرٍ أَوْ عَلَى أَنْ لَا مَهْرَ لِيْ فَيُزَوِّجُهَا الْوَلِيُّ وَيُنْفِيْ الْمَهْرَ أَوْ يَسْكُتُ عَنْهُ

Begitu juga seandainya majikan budak wanita berkata pada seseorang, “aku nikahkan engkau dengan budak wanitaku”, dan sang majikan mentiadakan mas kawin atau diam tidak menyebutkannya.

وَكَذَا لَوْ قَالَ سَيِّدُ الْأَمَّةِ لِشَخْصٍ زَوَّجْتُكَ أَمَّتِيْ وَنَفَى الْمَهْرَ أَوْ سَكَتَ.

 

Konsekwensi Tafwidl

Ketika tafwidl telah sah, maka mas kawin menjadi wajib / tetap dalam permasalahan ini sebab tiga perkara.

(وَ) إِذَا صَحَّ التَّفْوِيْضُ (وَجَبَ الْمَهْرُ) فِيْهِ (بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ)

Tiga perkara tersebut adalah sang suami memastikan mas kawin yang akan ia berikan dan sang istri setuju dengan mas kawin yang telah ditetapkan oleh sang suami.

وَهِيَ (أَنْ يُفَرِّضَهُ الزَّوْجُ) عَلَى نَفْسِهِ وَتَرْضَى الزَّوْجَةُ بِمَا فَرَّضَهُ

Atau seorang hakim memastikan mas kawin yang dibebankan terhadap sang suami. Dan yang dipastikan oleh seorang hakim pada sang suami adalah mahar mitsil.

(أَوْ يُفَرِّضُهُ الْحَاكِمُ) عَلَى الزَّوْجِ وَيَكُوْنُ الْمَفْرُوْضُ عَلَيْهِ مَهْرَ الْمِثْلِ

Dan disyaratkan hakim harus mengetahui ukuran mahar mitsil tersebut.

وَيُشْتَرَطُ عِلْمُ الْقَاضِيْ بِقَدْرِهِ

Tidak disyaratkan adanya persetujuan dari kedua mempelai terhadap apa yang telah ditentukan oleh seorang hakim.

أَمَّا رِضَا الزَّوْجَيْنِ بِمَا يُفَرِّضُهُ فَلَا يُشْتَرَطُ

Atau sang suami telah menjima’ sang istri, maksudnya istri yang telah tafwidl sebelum ada ketentuan dari sang suami tersebut atau seorang hakim. Sehingga bagi sang istri berhak memiliki mahar mitsil sebab jima’ tersebut.

(أَوْ يَدْخُلَ) أَيِ الزَّوْجُ (بِهَا) أَيِ الزَّوْجَةِ الْمُفَوِّضَةِ قَبْلَ فَرْضٍ مِنَ الزَّوْجِ أَوِ الْحَاكِمِ (فَيَجِبُ) لَهَا (مَهْرُ الْمِثْلِ) بِنَفْسِ الدُّخُوْلِ

Mahar mitsil yang dijadikan ukuran adalah mahar mitsil saat akad nikah menurut pendapat al ashah.

وَيُعْتَبَرُ هَذَا الْمَهْرُ بِحَالِ الْعَقْدِ فِيِ الْأَصَحِّ

Jika salah satu dari suami istri meninggal dunia sebelum ada kepastian ukuran mas kawinnya dan sebelum terjadi jima’, maka sang suami wajib memberikan mahar mitsli menurut pendapat al adlha

وَإِنْ مَاتَ أَحَدُ الزَّوْجَيْنِ قَبْلَ فَرْضٍ وَوَطْءٍ وَجَبَ مَهْرُ مِثْلٍ فِيْ الْأَظْهَرِ

Yang dikehendaki dengan mahar mitsil adalah ukuran mas kawin yang disetujui / disukai oleh wanita yang selevel dengan istri tersebut secara adatnya.

وَالْمُرَادُ بِمَهْرِ الْمِثْلِ قَدْرُ مَا يُرْغَبُ بِهِ فِيْ مِثْلِهَا عَادَةً

 

Ukuran Mas Kawin

Tidak ada batasan tertentu di dalam ukuran minimal mas kawin. Dan juga tidak ada batasan tertentu di dalam ukuran maksimal mas kawin.

(وَلَيْسَ لِأَقَلِّ الصَّدَاقِ) حَدٌّ مُعَيَّنٌ فِيْ قِلَّةٍ (وَلَا أَكْثَرِهِ حَدٌّ) مُعَيَّنٌ فِيْ الْكَثْرَةِ

Bahkan batasan dalam hal itu adalah, sesungguhnya setiap sesuatu yang sah dijadikan sebagai tsaman, baik berupa benda atau manfaat, maka sah dijadikan sebagai mas kawin.

بَلِ الضَّابِطُ فِيْ ذَلِكَ أَنَّ كُلَّ شَيْئٍ صَحَّ جَعْلُهُ ثَمَنًا مِنْ عَيْنٍ أَوْ مَنْفَعَةٍ صَحَّ جَعْلُهُ صَدَاقًا

Namun telah dijelaskan bahwa sesungguhnya mas kawin yang disunnahkan adalah tidak kurang dari sepuluh dirham dan tidak lebih dari lima ratus dirham

وَسَبَقَ أَنَّ الْمُسْتَحَبَّ عَدَمُ النَّقْصِ عَنْ عَشْرَةِ دَرَاهِمَ وَعَدَمُ الزِّيَادَةِ عَلَى خَمْسِ مِائَةِ دِرْهَمٍ

Bagi seorang laki-laki diperkenankan menikahi seorang wanita dengan mas kawin berupa manfaat yang diketahui/maklum, seperti mengajari Al Qur’an pada wanita tersebut.

(وَيَجُوْزُ أَنْ يَتَزَوَّجَهَا عَلَى مَنْفَعَةٍ مَعْلُوْمَةٍ) كَتَعْلِيْمِهَا الْقُرْآنَ

Hukum Mas Kawin

Separuh dari mas kawin menjadi gugur sebab terjadi talak sebelum melakukan jima’.

(وَيَسْقُطُ بِالطَّلَاقِ قَبْلَ الدُّخُوْلِ نِصْفُ الْمَهْرِ)

Sedangkan talak yang terjadi setelah jima’ walaupun satu kali saja, maka seluruh mas kawin berhak diberikan pada sang istri, walaupun jima’ yang dilakukan hukumnya haram seperti sang suami menjima’ istrinya saat sang istri melakukan ihram atau saat haidl.

أَمَّا بَعْدَ الدُّخُوْلِ وَلَوْ مَرَّةً وَاحِدَةً فَيَجِبُ كُلُّ الْمَهْرِ وَلَوْ كَانَ الدُّخُوْلُ حَرَامًا كَوَطْءِ الزَّوْجِ زَوْجَتَهُ حَالَ إِحْرَامِهَا أَوْ حَيْضِهَا

Sebagaimana keterangan didepan bahwa seluruh mas kawin wajib diberikan pada sang istri sebab salah satu dari suami istri meninggal dunia. Dan mas kawin belum wajib sebab telah berduaan dengan sang istri menurut qaul jadid.

وَيَجِبُ كُلُّ الْمَهْرِ كَمَا سَبَقَ بِمَوْتِ أَحَدِ الزَّوْجَيْنِ لَا بِخَلْوَةِ الزَّوْجِ بِهَا فِيْ الْجَدِيْدِ

Ketika seorang istri yang merdeka bunuh diri sebelum sang suami berhubungan intim dengannya, maka mas kawin wanita tersebut tidak gugur.

وَإِذَا قَتَلَتِ الْحُرَّةُ نَفْسَهَا قَبْلَ الدُّخُوْلِ بِهَا لَا يَسْقُطُ مَهْرُهَا

Berbeda dengan permasalahan ketika seorang istri budak wanita yang melakukan bunuh diri atau dibunuh oleh majikannya sendiri sebelum sang suami melakukan jima’ dengannya, maka sesungguhnya mas kawinnya menjadi gugur.

بِخِلَافِ مَا لَوْ قَتَلَتِ الْأَمَّةُ نَفْسَهَا أَوْ قَتَلَهَا سَيِّدُهَا قَبْلَ الدُّخُوْلِ فَإِنَّهُ يَسْقُطُ مَهْرُهَا .

( Kitab Fathul Qorib)

PENGERTIAN CINTA ATAU MAHABBAH DALAM KITAB RISALATUL QUSYAIRIYAH

RISALAH AL QUSYAIRIYAH : CINTA (MAHABBAH)

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَن يَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَسَوۡفَ يَأۡتِى ٱللَّهُ بِقَوۡمٍ۬ يُحِبُّہُمۡ وَيُحِبُّونَهُ ۥۤ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَـٰفِرِينَ يُجَـٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَآٮِٕمٍ۬‌ۚ ذَٲلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُ‌ۚ وَٱللَّهُ وَٲسِعٌ عَلِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Sesiapa di antara kamu berpaling tadah dari agamanya (jadi murtad), maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia kasihkan mereka dan mereka juga kasihkan Dia; mereka pula bersifat lemah-lembut terhadap orang-orang yang beriman dan berlaku tegas gagah terhadap orang-orang kafir, mereka berjuang dengan bersungguh-sungguh pada jalan Allah dan mereka tidak takut kepada celaan orang yang mencela. Yang demikian itu adalah limpah kurnia Allah yang diberikanNya kepada sesiapa yang dikehendakiNya; kerana Allah Maha Luas limpah kurniaNya, lagi Meliputi PengetahuanNya. (Al-Maidah: 54)

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahawa Rasulullah saw telah bersabda, “Barangsiapa yang senang bertemu dengan Allah, maka Allah akan senang bertemu dengannya. Dan barangsiapa yang tidak senang bertemu dengan Allah, maka AIIah pun tidak akan senang bertemu dengannya.”

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah saw menuturkan bahawa Jibril as memberitahu bahawa Tuhannya SWT telah berfirman, “Barangsiapa yang menyakiti salah seorang wali-Ku, bererti telah memaklumkan perang kepada-Ku. Dan tidaklah Aku merasa ragu-ragu dalam melakukan sesuatu pun sebagaimana keraguan-Ku untuk mencabut nyawa hamba-Ku yang beriman, kerana dia membenci kematian dan Aku tidak suka menyakitinya, namun tidak ada jalan lari darinya. Cara yang paling baik bagi seorang hamba untuk mendekati-Ku adalah dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah Ku-perintahkan kepadanya. Dan senantiasa dia mendekat kepada-Ku dengan melakukan ibadah-ibadah sunnah sampai Aku mencintainya. Dan bagi barangsiapa yang Ku-cintai, maka Aku menjadi telinganya, matanya, tangannya dan aku mewakilinya.”

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahawa Nabi saw telah mengatakan, “ Apabila Allah menyintai salah seorang hamba-Nya, maka Dia berfirman kepada Jibril, “Wahai Jibril, Aku menyintai orang ini, maka cintailah dia juga.” Jibril pun lalu menyintai orang itu, dan dia berseru kepada para malaikat lainnya, “Allah SWT menyintai orang ini, maka hendaklah kamu juga menyintainya.” Para malaikat pun lalu menyintai orang itu, dan dia pun diterima oleh manusia di muka bumi.”

Malik menyatakan, “Aku percaya bahawa beliau mengatakan sesuatu yang sama mengenai kebencian Allah kepada seorang hamba.”

Cinta adalah keadaan yang mulia yang telah dikukuhkan Allah sebagai sifat yang menjadi milik si hamba, dan Dia telah memaklumkan cinta-Nya kepada si hamba. Jadi Allah SWT disifatkan sebagai mencinta si hamba, dan si hamba disifatkan sebagai mencinta Allah.

Para ulama berpendapat bahawa cinta bererti kehendak atau hasrat. Tetapi kaum sufi memaksudkannya sebagai sesuatu yang lain dari kehendak yang sederhana manakala mereka berbicara tentang cinta. Hasrat tidak dapat dinisbahkan kepada Yang Abadi kecuali jika dengan menggunakan perkataan itu si hamba memaksudkan hasrat untuk membawa manusia mendekati Tuhan dan untuk memuliakan-Nya. Kamj akan membahas masalah ini secara singkat untuk mendukung pendapat para Sufi ini, Insya Allah.

Cinta Allah kepada si hamba adalah kehendak-Nya untuk melimpahkan rahmat secara khusus kepada seorang hamba tertentu, sebagaimana kasih sayang-Nya kepadanya adalah kehendak-Nya yang lebih umum untuk melimpahkan rahmat. Jadi rahmat mengandungi makna yang lebih khusus daripada kehendak, dan cinta mengandungi makna yang lebih khusus daripada rahmat. Kehendak Allah untuk memperluaskan pahala dan anugerah kepada si hamba disebut “rahmat,” dan kehendak-Nya untuk menganugerahkan berdekatan dan keadaan yang luhur kepadanya disebut “cinta.” Kehendak Allah adalah suatu sifat yang mengambil nama-nama yang berbeza menurut berbagai tindakan yang kepadanya sifat itu dikaitkan. Jika ia dikaitkan dengan hukuman, maka ia disebut “kemurkaan”. Jika ia dikaitkan secara khusus dengan anugerah-anugerah yang dilimpahkan secara universal, ia disebut “kasih rayang.” Jika ia dikaitkan dengan anugerah-anugerah yang dilimpahkan secara khusus, ia disebut “cinta.”

Sebahagian orang mengatakan, “Cinta Allah kepada seorang hamba terdiri dari pujian Allah kepadanya, dan ia menuju Allah terus-menerus.” Maksud cinta Allah kepada hamba menurut pandangan ini, iaitu kembali kepada ucapan-ucapan-Nya, dan ucapan-ucapan-Nya adalah abadi.

Sebahagian orang mengatakan, “Cinta Allah kepada si hamba terdiri dari sifat-sifat tindakan-Nya, sebagai manifestasi khusus kebaikan yang dengannya si hamba berjumpa dengan Tuhan dan keadaan khusus yang kepadanya Dia menaikkan si hamba.”

Sebagaimana telah dijelaskan oleh salah seorang Sufi, “Rahmat Allah kepada si hamba berupa tindakan-Nya melimpahkan anugerah kepadanya.”

Sekelompok kaum salaf menyatakan, “Kasih sayang Tuhan merupakan sifat yang disebut-sebut di dalam hadith.” Mereka menggunakan kata tersebut tetapi tidak bersedia menafsirkannya. Di samping kemungkinan-kemungkinan tersebut di atas mengenai makna cinta Tuhan kepada si hamba adalah jenis-jenis cinta yang dialami dikalangan manusia, seperti menyintai sesuatu, merasakan kesenangan yang akrab dengan sesuatu, atau merasakan apa yang dirasakan oleh seorang manusia pencinta kepada kekasihnya; tetapi Allah Yang Baqa SWT melampaui semua jenis cinta ini. Mengenai cinta si hamba kepada Tuhan, itu adalah keadaan yang dialami dalam hatinya, yang terlalu pelik untuk dikatakan. Keadaan ini mendorong si hamba memahasucikan Tuhan dan berusaha memperoleh keredhaan-Nya.

Si hamba hanya memiliki sedikit saja kesabaran dalam berpisah dengan-Nya, merasakan kerinduan yang mendesak kepada-Nya, tidak menemukan kenyamanan dalam sesuatu pun selain-Nya, dan mengalami keakraban dalam hatinya dengan melakukan dzikir yang terus menerus kepada-Nya. Cinta si hamba kepada Tuhannya tidak menyiratkan kasih sayang atau kenikmatan dalam pengertian manusiawi. Bagaimana hal ini dapat terjadi jika esensi kemandirian Tuhan yang abadi melampaui semua hujung, pandangan dan pemahaman?

Menggambarkan si pencinta sebagai musnah dalam Sang Kekasih adalah lebih sesuai daripada menggambarkannya sebagai memperoleh kenikmatan pada-Nya. Tidak ada gambaran yang lebih jelas atau lebih mudah difahami tentang cinta daripada cinta itu sendiri. Orang terlibat dalam pembicaraan yang panjang lebar tentang masalah tersebut hanya jika timbul kesulitan-kesulitan, tetapi sekali kesamaran dan kekeliruan menghilang, maka tidak ada lagi keperluan untuk melibatkan diri dalam penafsiran kata-kata.

Orang telah berbicara banyak tentang cinta dan berspekulasi tentang etimologinya.

Dikatakan, “Cinta (hubb) adalah nama bagi jenis cinta yang paling murni, dan rasa sayang sebab orang Arab mengatakan tentang gigi yang paling putih ‘habab al-asnan’. Dikatakan “Hubab adalah gelembung-gelembung yang terbentuk di atas permukaan air ketika hujan besar, jadi ‘cinta (mahabbah) adalah menggelembungnya hati ketika ia haus dan berputus-asa untuk bertemu dengan kekasihnya.”

Dikatakan juga, “Habab alma’ adalah permukaan air yang paling tinggi. Cinta dinamakan mahabbah kerana ia adalah perhatian yang paling tinggi dari hati.”Dikatakan, “Cinta disebut ‘cinta kerana orang mengatakan ahabba untuk menggambarkan seekor unta yang berlutut dan menolak untuk bangkit lagi. Maka demikian pula, sang pencinta (mukibb) tidak akan menggerakkan hatinya menjauh dari mengingat kekasihnya (mahbub). “

Dikatakan, “Cinta (hubb) berasal dari kata ‘hibb’ yang bererti ‘anting-anting.’ Mengenai ini seorang penyair mengatakan,

Rambutnya yang seperti ular menjulur-julurkan lidahnya.

Menghabiskan malam di samping anting-anting,

mendengarkan rahsia – rahsia.

Dalam syair di atas, digunakan kata ‘hibb’ untuk anting-anting dikeranakan posisinya yang tetap ditelinga, atau kerana caranya bergoyang-goyang. Kedua maksud ini berlaku juga pada ‘cinta’.

Dinyatakan, “‘Cinta’ diambil dari kata ‘habb’ (biji-bijian, mufradnya habbah), dan habbat al-qalb adalah apa yang seumpamanya. Dengan demikian’cinta [hubb] dinamakan hubb dikeranakan ia tersimpan dalam habbat al-qalb.” Dikatakan, “Kata-kata untuk ‘biji-bijian’ dan ‘cinta’ [habb dan hubb] hanyalah pelbagai pembacaan dari satu [erti yang sama], seperti halnya kata-kata untuk ‘masa hidup’ (‘amr dan’umr).”

Dikatakan juga, “Kata ‘cinta’ berasal dari kata ‘hibbah’ yang bererti biji-bijian dari padang belantara. Cinta dinamakan ‘habb’ kerana ia adalah benih kehidupan, sebagaiman ‘habb’ adalah benih tanaman.” Dikatakan, ‘Hubb’ adalah keempat sisi di mana wadah air ditempatkan. Cinta dinamakan ‘hubb’ kerana ia memikul beban kejayaan mahupun kehinaan yang muncul dalam kesanggupan mencari sang kekasih.’ Dikatakan juga, “Cinta berasal dari kata ‘hibb’ (kendi air) kerana ia berisi air, dan manakala ia penuh, tidak ada lagi tempat untuk sesuatu yang lain. Demikian pula, bilamana hati telah penuh dengan cinta, tidak ada lagi tempat di dalamnya untuk apa pun selain dari kekasih.”

Ucapan-ucapan para syeikh tentang cinta banyak sekali.

Salah seorang Sufi mengatakan, “Cinta adalah sentiasa berpaling kepada sang Kekasih dengan hati yang merasa kerana cinta.”

Dikatakan, “Cinta bererti mengutamakan sang Kekasih di atas semua yang dikasihi.” Dikatakan, “Cinta bererti bahawa si pencinta menyesuaikan diri dengan keinginan sang Kekasih, baik dia hadir di sisi-Nya ataupun berada jauh dari-Nya.”

Dikatakan, “Cinta adalah penghapusan oleh si pencinta atas sifat-sifatnya dan peneguhan Sang Kekasih dalam dzat-Nya.”

Dikatakan, “Cinta adalah kesesuaian hati dengan keinginan Rabb.” Dikatakan juga, “Cinta bererti seseorang merasa takut kalau-kalau dia kurang hormat manakala melaksanakan sebuah pengabdian.”

Abu Yazid Al-Bistami berpendapat, “Cinta adalah mengabaikan hal-hal yang sebesar apa pun yang datang dari dirimu, dan memandang besar hal-hal sekecil mana pun yang datang dari Kekasihmu.” Sahl menyatakan “Cinta bererti memeluk kepatuhan [kepada sang Kekasih] dan berpisah dari ketidak patuhan [terhadap-Nya].” Ketika A]-Junaid ditanya tentang cinta dia mengatakan, “Cinta bererti sang kekasih mengambil sifat-sifat Kekasihnya dan membuang sifat-sifatnya sendiri.” Di sini Al-Junaid menunjukkan betapa hati si pencinta disentap oleh ingatan kepada sang Kekasih hingga tidak satu pun yang tertinggal selain ingatan akan sifat-sifat sang Kekasih, hingga si pencinta lalai dan tidak sedar akan sifat-sifatnya sendiri.

Abu Ali Ar-Rudzbari menyatakan, “Cinta adalah kesesuaian dengan [keinginan sang Kekasih].” Abu Abdullah Al-Qurasyi menyatakan, “Hakekat cinta bererti bahawa engkau memberikan segenap dirimu kepada Dia yang kau cintai hingga tidak sesuatu pun yang tinggal dari dirimu untuk dirimu sendiri.” Asy-Syibli menjelaskan, “Cinta disebut ‘rnahabbah’ kerana ia melenyapkan segala sesuatu dari hati, selain sang Kekasih.” Ibn ‘Atha’ mengatakan, “Cinta bererti mengundang celaan yang tidak henti-hentinya.”

Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq menegaskan, “Cinta adalah kemanisan, tetapi hakekatnya adalah kebingungan.”

Beliau juga mengatakan, “Cinta yang berkobar-kobar (‘isyq) melampaui semua batas dalam mahabbah. Allah SWT tidak dapat digambarkan sebagai melampaui batas, jadi Dia tidak dapat disifatkan sebagai memiliki ‘isyq terhadap sesuatu. Jika cinta seluruh ummat manusia digabung menjadi satu dalam diri seorang manusia, maka cinta itu akan masih sangat jauh dari ukuran cinta yang seharusnya di persembahkan kepada-Nya. Janganlah hendaknya dikatakan, “Orang ini telah melampaui semua batas dalam mencintai Allah.” Allah tidak dapat dikatakan memiliki sifat cinta yang berkobar-kobar, tidak pula si hamba dapat digambarkan sebagai memilikinya dalam hubungannya dengan Tuhan. Cinta yang berkobar-kobar tidak dapat digunakan dalam menggambarkan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sebab tidak ada dasar untuk mengaitkan hal itu dengan Tuhan, baik dari Dia kepada si hamba ataupun dari hamba kepada Tuhan.”

Asy-Syibli menyatakan, “Cinta bererti engkau cemburu demi Sang Kekasih jangan-jangan seorang manusia sepertimu juga mencintai-Nya.” Ketika ditanya tentang cinta, Ibn’Atha’ menjawab, “Cinta adalah bibit kecil yang ditanamkan dalam hati, yang berbuah sesuai dengan kemampuan akal.” An-Nasrabadhi berpendapat, “Satu macam cinta mencegah pertumpahan darah sedang macam yang lain menyebabkan pertumpahan darah.”

Samnun menyatakan, “Para pecinta Tuhan telah membawa kemuliaan di dunia dan di akhirat, sebab Nabi saw telah berkata, “Seseorang akan bersama dengan yang dicintainya, dan mereka bersama Allah SWT.”

Yahya bin Muadz menyatakan, “Hakekat cinta adalah bahawa ia tidak akan berkurang manakala seseorang mengalami kesulitan, tidak pula bertambah jika dia disuguhi kebaikan.” Dia juga mengatakan, “Orang yang mendakwakan diri mencintai Tuhan adalah pendusta jika dia mengabaikan batas-batas yang ditetapkan-Nya.” Al-Junaid menegaskan, “Jika cinta seseorang itu sahih, maka-ketentuan mengenai adab menjadi tidak berlaku.” Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq mengarang syair berikut tentang ucapan Al-Junaid,

Jika kasih sayang di kalangan manusia itu murni,

Dan cinta di kalangan mereka suci, nescaya saling puji di antara mereka tidak disukai.

Al-Junaid juga mengatakan, “Engkau tidak akar menjumpai seorang ayah yang baik memanggil anaknya dengan panggilan yang penuh penghormatan, sementara orang lain menggunakan sebutan yang penuh kesopanan untuk memanggil anaknya itu. Si ayah biasanya akan memanggil, “Hai fulan!”

Al-Kattani berkata, “Cinta adalah mengutamakan sang Kekasih [atas diri sendiri].” Bundar binAl-Husain menuturkan, “Seseorang bermimpi melihat Majnun dari Banu Amir dan bertanya kepadanya, “Apa yang telah dilakukan Tuhan terhadapmu?’ Majnun menjawab, “Dia telah mengampuniku dan menjadikanku sebagai ada keupayaan terhadap para pecinta.”

Abu Yaaqub As-Susi menyatakan, “Hakekat cinta adalah bahawa si hamba melupakan bahagian yang telah ditakdirkan baginya dari Tuhan dan juga keperluannya akan Dia di dunia ini.” Al-Husain bin Mansur menyatakan, “Hakekat cinta adalah bahawa engkau selalu tinggal bersama Kekasihmu dan membuang sifat-sifatmu sendiri.”

Seseorang mengatakan kepada An-Nasrabadhi, “[Mereka mengatakan] bahawa engkau belum pernah mengalami cinta.” Dia menjawab, “Mereka benar. Tetapi aku memiliki kesedihan mereka, dan dalam hal itu aku terbakar.”

Dia juga mengatakan, “Cinta adalah menghindari kelalaian dalam semua keadaan.” Kemudian dia bersyair:

Orang yang hasratnya memanjang merasakan semacam kelupaan,

Tapi aku tidak merasakan kelupaan kepada Laila.

Semakin dekat aku bersatu dengannya.

Terbentuk dari keinginan yang tidak terwujud,

berlalu bagaikan kilat.

Muhammad bin Al-Fadhl mengatakan, “Cinta bererti semua cinta, selain cinta sang Pencinta, lenyap dari hati.” Al-Junaid menyatakan, “Cinta adalah perjuangan berterusan [demi Kekasih] tanpa hujung.” Dikatakan, “Cinta adalah gangguan yang ditempatkan oleh sang Kekasih dalam hati.” Dikatakan juga, “Cinta adalah goncangan besar yang ditempatkan dalam hati oleh Dia yang mereka hasratkan.”

Ibn ‘Atha’ membacakan syair,

Kutanam satu cabang nafsu bagi orang-orang yang bercinta.

Dan tidak seorang pun tahu, sebelum aku, apa nafsu itu.

Ia menumbuhkan cabang-cabang, dan kerinduan sensual mematang.

Dan meninggalkan aku dengan rasa pahit dari buah-buahan yang manis.

Hasrat dari semua pencinta yang berkobar;

Jika mereka menelusurinya, datang dari sumber itu.

Dikatakan, “Awal mula cinta adalah penipuan, dan akhirnya pembunuhan.” Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq memberikan pandangan tentang hadith Nabi saw “Ia membutakan seseorang terhadap orang lain kerana cemburu, dan terhadap sang Kekasih kerana gentar.” Kemudian beliau membacakan syair:

Jika kebesaran-Nya yang melimpah tidak nampak olehmu,

Nescaya aku akan diusir kembali dalam keadaan yang sama dengan orang yang belum pernah sampai –

Al-Harits Al-Muhasibi menjelaskan, “Cinta cenderung kepada sesuatu dengan segenap wujudmu, kemudian mengutamakannya atas dirimu sendiri, jiwamu sendiri, atau harta bendamu, kemudian berada dalam keserasian dengannya, baik secara lahir mahupun batin, kemudian mengetahui bahawa engkau masih berkekurangan dalam cintamu kepadanya”

As-Sari menyatakan, “Cinta antara dua pihak tidaklah sempurna sampai salah satunya dapat mengatakan kepada yang lain, “Wahai Diriku.” Asy-Syibli mengatakan, “Sang pecinta akan binasa jika berdiam diri, tetapi sang arif akan binasa jika tidak berdiam diri.” Dikatakan, “Cinta adalah api dalam hati yang membakar segala sesuatu selain kehendak sang Kekasih'” Dikatakan juga, “Cinta adalah upaya besar sementara sang Pencinta melaksanakan kehendak sang Kekasih.” An-Nuri mengatakan, “Cintabererti merobek tabir dan menyingkap rahsia-rahsia.”

Abu Ya’qub As-Susi berkata, “Cinta hanya dapat dianggap benar jika orang telah meninggalkan kesadaran akan sang Kekasih dengan melupakan ilmu tentang cinta.”

Al-Junaid menuturkan, “As-Sari memberikan sepotong kertas kepadaku dan berkata,’Ini lebih baik bagimu daripada tujuh ratus kisah saleh atau hadith yang mengangkat [semangat].’

Pada kertas itu tertulis syair:

Ketika aku mengaku cinta kepadanya, dia berkata, ‘Engkau berdusta kepadaku,’

Sebab apa yang harus kulakukan jika aku melihat anggota badanmu yang bulat penuh dan indah?

Tidak akan ada cinta sampai hati melekat pada organ-organ dalam.

Dan engkau mengering layu sampai tidak ada yang tinggal untuk menjawab sang penyeru,

Dan engkau tersia-sia sampai tidak ada lagi hasrat yang tinggal,

Selain mata yang menangis dan membisikkan hepadaku rahsiamu.”

Ibn Masruq berpendapat, “Aku hadir ketika Samnun sedang berbicara tentang cinta, dan semua lampu di masjid lalu berguguran.” Ibrahim bin Fatik menuturkan, “Suatu ketika aku sedang mendengarkan Samnun berbicara tentang cinta ketika seekor burung kecil datang dan bergerak ke arahnya. Ia terus mendekat hingga akhirnya duduk di tangannya. Kemudian ia mematuk-matukkan paruhnya ke lantai sampai darah mengalir dari mulutnya dan ia mati.”

Al-Junaid menjelaskan, “Semua cinta adalah untuk satu tujuan. Jika tujuan itu tidak ada lagi, maka cinta pun akan berhenti.” Diceritakan bahawa sekelompok orang datang mengunjungi Asy-Syibli ketika dia sedang dikurung di rumah sakit jiwa. Dia bertanya, “Siapa kamu ini?” Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang mencintaimu, wahai Abu Bakr!” Kemudian dia mulai melempari mereka dengan batu, dan mereka pun lari. Dia lalu berkata, “Jika kamu benar-benar mencintaiku, tentu kamu akan bersabar menghadap ujianku.”

Lalu dia bersyair,

Wahai Tuan yang mulia, cinta kepadamu tersimpan dalam hatiku.

Wahai engkau yang menghilangkan tidur dari kelopak mataku,

engkau tahu semua yang menimpaku.

Yahya bin Muadz menulis kepada Abu Yazid, “Aku mabuk kerana minuman yang kuteguk dari cangkir cinta-Nya.” Abu Yazid membalas, “Orang lain telah meminum lautan langit dan bumi namun rasa hausnya belum terpuaskan. Lidahnya menjulur dan dia me mohon, ‘Apakah masih ada lagi?”

Para Sufi membacakan syair berikut,

Aku takjub terhadap orang yang berkata, “Aku mengingat-ingat kekasihku. “

Bagaimana aku dapat melupakan dan masih punya sesuatu untuk diingat?

Aku mati, tapi bila aku mengingat-Mu, aku hidup kembali.

Kalaulah bukan kerana harapanku akan Engkau, nescaya ahu tidak akan hidup.

Aku hidup dengan hasratku, dan aku mati kerana rindu.

Berapa kali aku telah hidup melalui harapan akan Engkau, dan berapa kali pula aku telah mati!

Aku meminum, cinta cangkir demi cangkir,

Namun si cangkir tetap saja penuh dan penuh lagi dan hausku pun tidak pernah reda.

Dikatakan bahawa Allah SWT mewahyukan kepada’Isa as, “Jika Aku melihat kepada hati seseorang dan Aku tidak menemukan cinta di dalamnya terhadap dunia ini ataupun akhirat, maka Aku akan memenuhinya dengan cinta-Ku.”

Saya melihat kisah berikut ini ditulis oleh Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq, “Salah satu kitab wahyu mengatakan, “ Wahai hamba-Ku, engkau mempunyai hak atas cinta-Ku, maka adalah hak-Ku bahawa engkau menyintai-Ku!”

Abdullah bin Mubarak menyatakan, “Barangsiapa dianugerahi satu bahagian cinta tapi tidak dianugerahi sejumlah rasa takut yang sama, bererti telah tertipu.” Dikatakan, “Cinta menghapus semua bekas dirimu dari dirimu.”

Dikatakan pula, “Cinta adalah keadaan mabuk; kesedaran hanya datang dengan melihat sang Kekasih. Tetapi kemabukan yang muncul kerana melihat Kekasih justru tidak dapat dilukiskan.” Para Sufi membacakan syair berikut:

Cangkir diedarkan, dan mereka pun mabuk,

Tapi mabukku datang dari si pembawa cangkir itu sendiri

Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq sering membacakan syair berikut:

Aku menikmati dua keadaan mabuk sedangkan teman-teman minumku hanya satu.

Hanya akulah di antara mereka yang mendapat anugerah itu.

Ibn ‘Atha’ mengatakan, ” Cinta bererti mengundang celaan yang terus- menerus”. Syeikh Abu Ali mempunyai seorang budak perempuan bernama Fairuz yang beliau cintai. Beliau mengatakan kepadaku, “Pada suatu hari Fairuz menghinaku, dengan mengucapkan kata-kata yang kasar dan kesat. Abul Hasan Al-Qari’ bertanya kepadanya, “Mengapa engkau membuat Syeikh marah?” Dia menjawab, “Kerana saya mencintainya.”

Yahya bin Muadz menyatakan- “Aku lebih suka memiliki cinta sebesar debu daripada ibadah selama tujuh puluh tahun tanpa cinta.”

Diceritakan bahawa seorang pemuda memandang kepada orang-orang yang berkumpul pada hari raya dan bersyair,

Hendaklah orang yang ingin mati seperti pecinta mati seperti ini –

Cinta tanpa kematian tidaklah ada gunanya.

Kemudian dia melemparkan dirinya dari atas loteng rumah dan mati. Diceritakan bahawa seorang laki-laki dari India menaruh cinta yang berkobar-kobar kepada seorang budak perempuannya. Pada suatu hari si budak meninggalkannya, dia ke luar untuk mengucapkar selamat berpisah kepadanya. Air mata mengalir dari salah satu matanya, tapi matanya yang satu lagi tidak mengeluarkan air mata. Selama lapan puluh empat tahun dia menutup mata yang tidak menangis itu sebagai hukuman kerana tidak menangis ketika kekasihnya pergi.

Mengenai hal ini para sufi bersyair;

Mataku menangis di pagi hari kita berpisah,

Namun mata yang kikir menolak menangis.

Maha kuhukum mata yang kikir itu –

Dengan menutupnya di hari ketika kami saling mengucapkan selamat berpisah.

Salah seorang Sufi berkata, “Pada suatu hari ketika kami sedang berbincang-bincang dengan Dzun Nun Al-Mishri tentang cinta, dia meminta, ‘Tinggalkanlah pembicaraan ini, agar orang lain tidak mendengarmu dan mendakwakan dirimu [tahu] tentang cinta.”‘ Kemudian dia bersyair:

Takut sesuai buat pelaku kejahatan ketika dia meratap, dan sedih,

Sementara cinta sesuai buat mereka yang saleh dan benar-benar suci.

Yahya bin Muadz menyatakan, “Siapa pun yang menyebarkan cinta di kalangan orang-orang yang asing terhadapnya, adalah pendusta dalam pernyataannya” Dikatakan bahawa seorang laki-laki menyatakan bahawa dia mencintai seorang pemuda. Suatu ketika si pemuda berkata kepadanya, “Bagaimana engkau dapat mencintaiku sementara saudaraku lebih tampan dan gagah dariku?” Laki-laki itu mengangkat kepalanya mencari-cari saudara si pemuda itu. Mereka berdua sedang berada di atas atap rumah, dan si pemuda lalu melemparkan laki-laki itu ke bawah, sambil berkata, “ Inilah balasan bagi orang yang menyatakan cinta kepadaku tapi lalu mencari-cari yang lain!”

Samnun lebih mengutamakan cinta daripada makrifat, tetapi kebanyakan sufi mengutamakan makrifat atas cinta. Menurut mereka yang telah mencapai hakekat, cinta bererti lebur ke dalam keadaar kemanisan, dan makrifat bererti menyaksikan dalam keadaan bingung dan terhapus dalam kegentaran.

Abu Bakr Al-Kattani menuturkan, “Persoalan cinta sedang dibicarakan di antara para syeikh di Makkah selama musim haji. Al-Junaid adalah orang termuda yang hadir. Mereka memanggilnya suatu kali, dan bertanya kepadanya, “Hai, orang Iraq, katakanlah kepada kami apa pendapatmu.” Al-Junaid menundukkan kepalanya dan menangis, kemudian menjawab, ‘Cinta adalah seorang pelayan yang meninggalkan jiwanya dan melekatkan dirinya pada dzikir kepada Tuhannya, mengukuhkan diri dalam melaksanakan perintah-perintah Tuhan dengan kesedaran yang terus-menerus akan Dia dalam hatinya. Cahaya Dzat-Nya membakar hatinya dan dia ikut meminum minuman suci dari cangkir cinta-Nya. Yang Maha Kuasa terungkapkan kepadanya dari balik tabir alam ghaib-Nya, hingga manakala dia berbicara, dia berbicara dengan perintah Allah, dan apa yang dikatakannya adalah dari Allah. Manakala dia bergerak, dia bergerak dengan perintah Allah, dan manakala dia diam, maka diamnya itu adalah bersama Allah. Dia berbuat melalui Allah, dia milik Allah, dia bersama Allah.” Mendengar kata-kata Al-Junaid itu, semua syeikh itupun menangis, dan berkata, ‘Tak ada lagi yang perlu dikatakan. Semoga Allah menguatkanmu, wahai mahkota para arifin!”

Diriwayatkan bahawa Allah SWT berwahyu kepada Dawud as, “Aku telah melarang cinta untuk-Ku memasuki hati manusia jika cinta kepada selain Aku juga punya tempat di dalamnya.”

Abul Abbas, pelayan Al-Fudhail bin Iyadh, menuturkan, “Suatu ketika Al-Fudhail menderita sakit kencing manis. Dia mengangkat kedua tangannya ke atas dan berdoa, “Ya Allah, demi cintaku kepada-Mu, lepaskanlah penyakit ini dariku.” Begitu kami berpisah untuk pergi, dia pun sembuh.”

Saya mendengar Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq mengatakan bahawa cinta bererti lebih mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, seperti halnya isteri curang ketika dia menyesali apa yang telah dilakukannya, dengan menjelaskan,

قَالَتِ ٱمۡرَأَتُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡـَٔـٰنَ حَصۡحَصَ ٱلۡحَقُّ أَنَا۟ رَٲوَدتُّهُ ۥ عَن نَّفۡسِهِۦ وَإِنَّهُ ۥ لَمِنَ ٱلصَّـٰدِقِينَ

Isteri Al-Aziz pun berkata: “Sekarang ternyatalah kebenaran (yang selama ini tersembunyi), akulah yang memujuk Yusuf berkehendakkan dirinya (tetapi dia telah menolak); dan sesungguhnya dia adalah dari orang-orang yang benar. (Yusuf: 51)

Sebelumnya dia telah mengatakan [di hadapan suaminya setelah dia mencuba menggoda Yusuf],

وَٱسۡتَبَقَا ٱلۡبَابَ وَقَدَّتۡ قَمِيصَهُ ۥ مِن دُبُرٍ۬ وَأَلۡفَيَا سَيِّدَهَا لَدَا ٱلۡبَابِ‌ۚ قَالَتۡ مَا جَزَآءُ مَنۡ أَرَادَ بِأَهۡلِكَ سُوٓءًا إِلَّآ أَن يُسۡجَنَ أَوۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ۬

Dan mereka berdua pun berkejaran ke pintu, serta perempuan itu mengoyakkan baju Yusuf dari belakang; lalu terserempaklah keduanya dengan suami perempuan itu di muka pintu. Tiba-tiba perempuan itu berkata (kepada suaminya): Tidaklah ada balasan bagi orang yang mahu membuat jahat terhadap isterimu melainkan dipenjarakan dia atau dikenakan azab yang menyiksanya”. (Yusuf: 25)

Jadi, mula-mula dia menuduhYusuf telah berbuat jahat, tetapi akhirnya dia menyalahkan dirinya sendiri atas pengkhianatannya itu.

Abu Sa’id Al-Kharraz mengatakan, “Aku bermimpi bertemu dengan Nabi saw dan berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, maafkanlah saya. Cinta saya kepada Allah telah memenuhi kalbu saya dan tidak menyisakan tempat bagi cinta kepada Tuan.” Beliau menjawab, “Rahmat Allah atasmu. Barangsiapa menyintai Allah, bererti mencintaiku.”

Diceritakan bahawa Rabiah meminta dalam munajahnya, “Ya Allah, akankah Engkau membakar di neraka sebuah hati yang menyimpan cinta kepada-Mu?” Atas doanya itu, sebuah suara ghaib menjawab, “Kami tidak akan melakukan hal seperti itu. Janganlah engkau menyangka begitu jelek terhadap Kami.”

Dikatakan, “Kata ‘cinta’ (hubb) terdiri dari dua huruf, ha’ dan ba’, yang menunjukkan bahawa si pencinta meninggalkan jiwanya sendiri (roh) dan juga jasadnya (badan).” Sebagaimana dinyatakan oleh pendapat umum di kalangan para sufi, cinta adalah penyesuaian yang harmoni [dengan sang Kekasih] dan cara yang paling berat dalam hal ini adalah melalui hati. Cinta itu sendiri mengakhiri perpisahan hingga si pecinta bersama dengan Kekasihnya.

Mengenai masalah ini ada sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari yang mengatakan bahawa seseorang bertanya kepada Nabi saw: “Dapatkah seseorang mencintai suatu kaum tapi tidak berkumpul dengan mereka?” Nabi menjawab, “Seseorang bersama dengan yang dicintainya.”

Abu Hafs menegaskan, “Keadaan-keadaan yang rosak kebanyakan timbul dari hal-hal berikut: dosa para ‘arifin, pengkhianatan para pencinta [Tuhan], dan dustanya para salik.”

‘Abu Utsman menyatakan, “Dosa para ‘arifin adalah menggunakan ucapan, penglihatan, dan pendengaran mereka untuk melayani perjuangan-perjuangan duniawi dan memperoleh keuntungan darinya. Pengkhianatan para pencinta [Tuhan] adalah mengutamakan hawa nafsu mereka sendiri atas keredhaan Allah SWT dalam urusan-urusan mereka. Dusta para salik adalah bahawa mereka lebih peduli terhadap kesedaran akan manusia dan perhatian mereka daripada dzikir kepada Allah.” .

Abu Ali Mamsyad bin Sa’id Al-‘Ukbari menuturkan, “Seekor burung pipit jantan cuba mencumbui seekor burung pipit betina di bawah kubah Sulaiman as, tetapi si betina menolak. Si jantan bertanya kepadanya, “ Bagaimana kamu dapat menolakku sedangkan jika aku mahu, aku dapat membuat kubah ini runtuh menimpa Sulaiman?’ [Mendengar ucapan burung itu] Sulaiman lalu memanggilnya dan menanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu berkata begitu?” Si burung menjawab, “Wahai Nabi Allah, ucapan-ucapan yang keluar dari mulut seorang pecinta tidak dapat dituntut terhadap mereka.” Sulaiman menjawab, “Perkataanmu memang benar.”

PENJELASAN FIQIH TENTANG RESEPSI ATAU WALIMAH PERNIKAHAN

FASAL : Melakukan resepsi pernikahan hukumnya disunnahkan.

(فَصْلٌ) وَالْوَلِيْمَةُ عَلَى الْعَرْسِ مُسْتَحَبٌّ)

 

Yang dikehendaki dengan walimah adalah jamuan untuk pernikahan

وَالْمُرَادُ بِهَا طَعَامٌ يُتَّخَذُ لِلْعَرْسِ

 

Imam asy Syafi’i berkata, “walimah mencakup segala bentuk undangan karena baru saja mengalami kebahagian.”

وَقَالَ الشَّافِعِيُّ تَصْدُقُ الْوَلِيْمَةُ عَلَى كُلِّ دَعْوَةٍ لِحَادِثِ سُرُوْرٍ

 

Minimal walimah yang diadakan oleh orang kaya adalah menyembelih satu ekor kambing. Dan bagi orang miskin adalah jamuan yang mampu ia sajikan.

وَأَقَلُّهَا لِلْمُكْثِرِ شَاةٌ وَلِلْمُقِلِّ مَا تَيَسَّرَ

 

Macam-macam walimah banyak dan disebutkan di dalam kitab-kitab yang panjang keterangannya

وَأَنْوَاعُهَا كَثِيْرَةٌ مَذْكُوْرَةٌ فِي الْمُطَوَّلَاتِ

Memenuhi Undangan Walimah

Memenuhi undangan resepsi pernikahan hukumnya adalah wajib, maksudnya fardlu ‘ain menurut pendapat al ashah. Dan tidak wajib memakan hidangannya menurut pendapat al ashah.

(وَالْإِجَابَةُ إِلَيْهَا)

أَيْ وَلِيْمَةِ الْعُرْسِ (وَاجِبَةٌ) أَيْ فَرْضُ عَيْنٍ فِيْ الْأَصَحِّ وَلَا يَجِبُ الْأَكْلُ مِنْهَا فِيْ الْأَصَحِّ

Adapun memenuhi undangan walimah-walimah selain resepsi pernikahan, maka hukumnya tidak fardlu ‘ain akan tetapi hukumnya adalah sunnah.

أَمَّا الْإِجَابَةُ لِغَيْرِ وَلِيْمَةِ الْعُرْسِ مِنْ بَقِيَّةِ الْوَلَائِمِ فَلَيْسَتْ فَرْضَ عَيْنٍ بَلْ هِيَ سُنَّةٌ

 

Memenuhi undangan walimatul ‘urs itu hanya wajib atau walimah yang lain hukumnya sunnah dengan syarat orang yang mengundang tidak hanya mengundang orang-orang kaya saja, akan tetapi mengundang orang-orang kaya sekaligus orang-orang fakir

وَإِنَّمَا تَجِبُ الإِجَابَةُ لِوَلِيْمَةِ الْعُرْسِ أَوْ تُسَنُّ لِغَيْرِهَا بِشَرْطِ أَنْ لَا يَخُصَّ الدَّاعِيْ الْأَغْنِيَاءَ بِالدَّعْوَةِ بَلْ يَدْعُوْهُمْ وَالْفُقَرَاءَ

 

Dan dengan syarat mereka diundang pada hari pertama.

وَأَنْ يَدْعُوَهُمْ فِيْ الْيَوْمِ الأَوَّلِ

 

Sehingga, jika seseorang mengadakan resepsi selama tiga hari, maka hukumnya tidak wajib datang di hari yang kedua bahkan hukumnya hanya sunnah, dan makruh datang di hari yang ketiga.

فَإِنْ أَوْلَمَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ لَمْ تَجِبِ الْإِجَابَةُ فِيْ الْيَوْمِ الثَّانِيْ بَلْ تُسْتَحَبُّ وَتُكْرَهُ فِيْ الْيَوْمِ الثَّالِثِ

 

Untuk syarat-syarat yang lain dijelaskan di dalam kitab-kitab yang lebih luas keterangannya.

وَبَقِيَّةُ الشُّرُوْطِ مَذْكُوْرَةٌ فِيْ الْمُطَوَّلَاتِ

 

Ungkapan mushannif, “kecuali ada udzur”, maksudnya ada sesuatu yang menghalangi untuk menghadiri resepsi

وَقَوْلُهُ (إِلَّا مِنْ عُذْرٍ) أَيْ مَانِعٍ مِنَ الْإِجَابَةِ لِلْوَلِيْمَةِ

 

 

Seperti di tempat acara ada orang yang bisa menyakiti orang yang diundang, atau tidak layak baginya untuk bergabung dengannya.

كَأَنْ يَكُوْنَ فِيْ مَوْضِعِ الدَّعْوَةِ مَنْ يَتَأَذَّى بِهِ الْمَدْعُوُّ أَوْ لَا تَلِيْقَ بِهِ مُجَالَسَتُهُ

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

AMALAN MAULID DAN KITAB BANTAHAN YANG MEMBID’AHKAN MAULID NABI SAW.

Amalan untuk Merayakan Maulid Nabi

Bulan Rabiul Awwal adalah salah satu bulan istimewa bagi umat Islam. Hal ini disebabkan karena bulan ini merupakan bulan dilahirkannya Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, bulan ini disebut juga dengan bulan maulud atau maulid (kelahiran).

Dalam rangka menyambut bulan maulid Nabi saw., sebagian besar umat muslim khususnya di Indonesia akan mengadakan perayaan dengan mengadakan pengajian atau cukup dengan pembacaan dibaan, berzanji dan shalawat kepada Nabi saw. Lalu apa saja amalan lain yang dianjurkan dilakukan di bulan maulid?

Imam Suyuthi di dalam kitabnya Husnul Muqshid Fi Amalil Maulid mengutip pendapat imam Ibnu Hajar terkait hal ini.

واما ما يعمل فيه فينبغي أن يقتصر فيه على ما يفهم الشكر لله تعالى من نحو ما تقدم ذكره من التلاوة والاطعام والصدقة وانشاد شيئ من المدائح النبوية والزهدية المحركة للقلوب الى فعل الخير والعمل للاخرة.

Adapun amalan yang dapat dilakukan di dalam maulid Nabi saw. maka disunnahkan melakukan sebatas amalan yang dapat dipahami sebagai rasa syukur kepada Allah swt. seperti contohnya sebagaimana telah disebutkan yakni membaca Al-Qur’an, memberikan makanan, shadaqah, dan menyanyikan pujian-pujian tentang kenabian dan kezuhudan yang dapat menggerakkan hati untuk melakukan kebaikan dan amalan untuk akhirat.

Dengan demikian, perayaan maulid yang notebenenya adalah ekspresi rasa syukur kita atas lahirnya Nabi Muhammad saw. dapat dirayakan dengan amalan kebaikan apapun. Bisa dengan khataman Al-Qur’an bersama-sama, mengadakan santunan anak yatim piatu dan dhuafa’, atau memberikan makanan untuk orang-orang, dan membaca syiiran shalawatan bersama-sama.

Imam Ibnu Hajar memberikan keterangan lanjutan bahwa mengekspresikan kegembiraan dalam merayakan maulid Nabi saw. itu boleh dan bisa dilakukan dengan hal-hal yang mubah dalam bentuk apapun. Namun jika ada hal yang diharamkan atau dimakruhkan, maka dilarang/tidak boleh.

Lebih lanjut, imam Suyuthi juga memberikan keterangannya bahwa imam Al-Baihaqi meriwayatkan hadis dari Anas bin Malik. Yakni Nabi saw. mengakikahi dirinya sendiri setelah masa kenabian, padahal beliau telah diakikahi oleh kakeknya di hari ketujuh setelah kelahirannya.

Hal ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi saw. tersebut sebagai wujud ekspresi syukur beliau kepada Allah yang telah menjadikannya sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Oleh karena itu, menurut imam Suyuthi disunnahkan juga bagi umat Islam untuk menampakkan rasa syukur atas kelahiran Nabi saw. dengan berkumpul bersama, memberikan makanan serta aktifitas-aktifitas yang dapat mendekatkan diri kepada Allah dan menampakkan keceriaan/kegembiraan atas kelahiran nabi saw.

 

Kitab Bantahan Imam Suyuthi Tentang Maulid itu Bid’ah

Imam Suyuthi adalah salah satu imam terkemuka pada abad 9-10 Hijriyyah. Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat alim dalam semua bidang ilmu keislaman. Mulai dari tafsir, ilmu tafsir, hadis, ilmu hadis, hingga fikih dan ushul fikih telah beliau kuasai. Bahkan beliau memiliki buah karya dari masing-masing ilmu tersebut.

Disamping itu, beliau juga memiliki karya yang ditulis untuk membantah ulama lain yang berbeda pendapat dengannya. Salah satunya adalah Husnul Muqshid Fi Amalil Maulid. Kitab ini membahas  tentang dalil disyariatkannya maulid Nabi saw. sekaligus sebagai bantahan terhadap kalangan yang membid’ah-bid’ahkan perayaan maulid Nabi saw.

Kitab yang berisi duapuluh satu halaman ini juga ditulisnya khusus untuk membantah kitab karya Syekh Tajuddin Umar bin Ali Al-Lakhami As-Sakandari yang lebih dikenal dengan Al-Fakihani. Ulama dari kalangan madzhab Maliki tersebut mengarang kitab Al-Maurid Fil Kalam Ala amalil Maulid.

Imam Al-Fakihani mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi saw. belum ia ketahui dalilnya sama sekali baik di dalam Al-Qur’an maupun sunnah. Imam Suyuthi melalui karyanya tersebut memberikan bantahannya dengan mengatakan bahwa tidak adanya pengetahuan (tidak tahu) itu bukan berarti selalu berimplikasi pada tidak adanya dalil.

Padahal Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani telah mengeluarkan hadis tentang dalil maulid Nabi saw. Hadis tersebut terdapat di dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Muslim yang berisi tentang Nabi saw. yang menanyai alasan orang Yahudi yang berpuasa di hari Asyura. Jawaban Yahudi adalah karena sebagai bentuk syukur atas ditenggelamkannya Firaun pada hari itu sehingga Nabi Musa a.s. pun selamat dari kejarannya.

Oleh karena itu, Nabi saw. juga menyuruh umatnya agar juga berpuasa di hari Asyura’ dan sekaligus hari tasu’a (hari kesembilan bulan Muharram) sebagai pembeda dengan kaum Yahudi. Hadis ini menjadi dalil bahwa bentuk syukur itu bisa dikarenakan atas anugrah Allah berupa diberikannya nikmat atau dihindarkan dari bencana. Selain itu hadis ini juga menjadi dalil bahwa bentuk syukur itu bisa diekspresikan dalam berbagai bentuk ibadah, bisa sujud, puasa, shadaqah dan membaca Al-Qur’an.

Sementara nikmat yang sangat besar yang patut kita syukuri adalah lahirnya Nabi Muhammad saw. Maka, orang yang tidak mau memperhatikan hal ini, pasti ia tidak akan memperdulikan perayaan maulid Nabi saw.

Selain itu, imam Al-Fakihani juga mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi saw. hanyalah dibuat-buat oleh orang-orang yang bodoh/dungu saja. Imam Suyuthi pun membantahnya bahwa ulama-ulama telah mengatakan dahulu raja-raja yang adil dan alim telah merayakan maulid Nabi saw. sebagai bentuk taqarrub kepada Allah. Bahkan acaranya pun dihadiri oleh ulama dan orang-orang shalih tanpa ada yang mengingkarinya. Hal ini pun telah diterangkan oleh imam Ibnu Dahiyyah di dalam karyanya bahwa ulama ridha dan mengakui peringatan maulid Nabi saw., mereka tidak ada yang mengingkarinya.

Pendapat Al-Fakihani berikutnya adalah bahwa perayaan maulid Nabi saw. tidak disunnahkan, karena pada hakikatnya hal yang disunnahkan adalah yang dituntut oleh syariat. Tanggapan Imam Suyuthi terkait ini adalah bahwa tuntutan syariat itu kadang berasal dari teks (Al-Qur’an dan hadis), kadang pula berupa qiyas. Oleh karena itu, jika tidak ada dalilnya di dalam Al-Qur’an dan hadis secara jelas, maka dalilnya adalah diqiyaskan kepada teks yang ada di dalam Al-Qur’an dan hadis (seperti argumen imam Ibnu Hajar di atas).

Selain kitab Husnul Muqsid fi Amalil Maulid berisi bantahan imam Suyuthi kepada imam Al-Fakihani, imam Suyuthi juga memaparkan argumen-argumen dan pendapat para ulama lain seputar disyariatkannya maulid.  Di antaranya ulama yang beliau kutip pendapatnya adalah imam Ibnu Hajar, Ibnul Jazari di dalam kitabnya Arfut ta’rif bil maulidis Syarif dan imam Syamsuddin Ad Dimasyqi di dalam kitabnya Maurids shadi fi maulidil hadi.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

NIAT DAN DZIKIR BAGI SEORANG HAMBA ALLOH SWT MENURUT IMAM GHOZALI RAH.

الباب الرابع   باب النية

لابد للعبد من النية في كل حركة و سكون ( فإنما الأعمال بالنيات و لكل امرئ ما نوى ) و ( نية المؤمن خير من عمله )

Bab ke empat tentang Niat

Seorang hamba mesti mempunyai niat dalam setiap gerakan dan diamnya.  “Sesungguhnya amalan itu tergantung dengan niatnya dan setiap orang  mendapatkan apa yang diniatkannya”. “Niatnya orang beriman lebih baik daripada amalannya”.

و النية تختلف حسب اختلاف الأوقات , و صاحب النية نفسه منه في تعب , و  الناس منه في راحة , و ليس شيء على المريد أصعب من حفظ النية .

Niat  itu berbeda-beda menurut perbedaan waktunya, niat itu menyertai dirinya  di dalam keletihan dan menyertai manusia di dalam keleluasaan. Tiada  sesuatu yang lebih sulit bagi seorang murid daripada menjaga niatnya.

الباب الخامس  باب الذكر

اجعل قلبك قبلة لسانك و اشعر عند الذكر حياء العبودية و هيبة الربوبية .

Bab ke lima tentang dzikir

Jadikanlah hatimu sebagai kiblatnya lisanmu, peliharalah rasa malu di  saat beribadah dan rasa takut kepada Tuhan ketika berdzikir.

و  أعلم بأن الله تعالى يعلم سر قلبك و يرى ظاهر فعلك و يسمع نجوى قولك ,  فاغسل قلبك بالحزن و أوقد فيه نار الخوف فإذا زال حجاب الغفلة عن قلبك ,  كان ذكرك به مع ذكره لك ,

Ketahuilah bahwa Allah ta’ala mengetahui  rahasia hatimu, melihat dhohir perbuatanmu dan mendengar bisikan  ucapanmu. Maka basuhlah hatimu dengan kesediha dan nyalakan di dalamnya  api perasaan takut . Ketika tabir kelalaian hilang dari hatimu, maka  dzikirmu kepada-Nya akan ada bersama dzikir-Nya kepadamu.

قال  الله تعالى : { ولذكر الله أكبر } ؛ لأنه ذكرك مع الغناء عنك , و أنت ذكرته  مع الفقر إليه , فقال الله تعالى : { ألا بذكر الله تطمئن القلوب } ؛  فيكون اطمئنان القلب في ذكر الله له , و وجله في ذكره لله , قال الله تعالى  : { إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم } .

Allah ta’ala berfirman yang artinya :  ” sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar”. (QS 29:45). Sebab Dia mengingatmu disertai tiadanya butuh kepada dirimu sedangkan engkau mengingat -Nya disertai butuhmu kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman yang artinya : “Ingatlah, sesungguhnya hanya dengan berdzikir kepada Allah, hati menjadi tentram.” (QS 13:28). Maka ketentraman hati ada saat mengingat Allah, dan bergetarnya hati ada saat dzikirnya karena Allah.  Allah ta’ala berfirman yang artinya : “sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka.” (QS 8:2).

و الذكر ذكران :

ذكر خالص : بموافقة القلب في سقوط النظر إلى غير الله .

و ذكر صاف : بفناء الهمة عن الذكر , قال رسول الله ( صلي الله عليه و سلم ) : ” لا أحصى ثناء عليك أنت كما أثنيت على نفسك ” .

Dzikir terbagi menjadi dua:

  1. Dzikir murni : caranya dengan cocoknya hati di saat berhenti dalam memandang selain kepada Allah.
  2. Dzikir jernih : caranya dengan hilangnya keinginan jauh dari dzikir, Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : “saya tidak bisa mengitung pujian kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji atas diri-Mu sendiri.”

الباب الثاني باب الأحكام

و إعراب القلوب على أربعة أنواع : رفع , و فتح , و خفض , و وقف .

Bab kedua tentang hukum-hukum

I’robnya hati ada empat macam :

  1. rofa’ (naik/terangkat)
  2. fath (terbuka)
  3. khofadz (turun)
  4. waqf (berhenti/mati)

فرفع القلب : في ذكر الله .

و فتح القلب : في الرضاء عن الله تعالى .

و خفض القلب : في الاشتغال بغير الله تعالى .

و وقف القلب : في الغفلة عن الله تعالى .

Rofa’ (naik/terangkat) nya hati adalah ketika dzikir kpd Allah,

Fath (terbuka) nya hati adalah ketika ridho kepada Allah,

Khofadz (turun) nya hati adalah ketika sibuk dgn selain Allah,

Waqof (berhenti/mati) nya hati adalah ketika lalai dari Allah.

فعلامة الرفع ثلاثة أشياء : وجود الموافقة , و فقد المخالفة , و دوام الشوق .

و علامة الفتح ثلاثة أشياء : التوكل , و الصدق , و اليقين .

Tanda rofa’ nya hati ada 3 :

  1. ada kecocokan
  2. hilangnya penyimpangan
  3. lestarinya kerinduan

Tanda fath nya hati ada 3 :

  1. kepasrahan
  2. kejujuran
  3. keyakinan

و علامة الخفض ثلاثة أشياء : العجب , و الرياء , و الحرص و هو مرعاة الدنيا .

و علامة الوقف ثلاثة أشياء : زوال حلاوة الطاعة , و عدم مرارة المعصية , و التباس الحلال

Tanda khofadz nya hati ada 3 :

  1. bangga diri
  2. pamer
  3. tamak yaitu selalu memperhatikan dunia.

Tanda waqof nya hati ada 3 :

  1. hilangnya rasa manis dlm ketaatan
  2. tiadanya rasa pahit dalam kemaksiatan
  3. ketidak jelasan kehalalan.

الباب الثالث  باب الرعاية

قال رسول الله ( صلي الله عليه و سلم : ” طلب العلم فريضة على كل مسلم ” , و هو علم الأنفاس فيجب أن يكون نفس المريد شكرا أو عذرا , فإن قبل ففضل و إن رد فعدل , فطائع الحركة بالتوفيق و السكون بالعصمة ولا يستقيم ذلك له إلا بدوام الافتقار و الاضطرار .

Bab ketiga tentang penjagaan

Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Mencari ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim”. Maksudnya dalah ilmu jiwa, maka jiwa seorang murid wajib dalam keadaan bersyukur atau dalam keadaan udzur, jika menerima maka memberi karunia dan jika menolak maka secara adil. Ketaatan gerakan dengan taufiq dan diamnya dengan penjagaan, hal itu tidak bisa lurus kecuali dengan langgengnya perasaan butuh dan sangatnya butuh kepada Allah.

و مفتاح ذلك : ذكر الموت ؛ لأن فيه راحة من الحبس و نجاة من العدو , و قوامه برد العمر على يوم واحد , و لن يلتئم ذلك إلا بالتفكير في الأوقات ,

Kuncinya hal itu adalah mengingat kematian, karena dalam mengingatnya terdapat kelegaan dari pemenjaraan dan keselamatan dari musuh. Penopangnya dengan mengembalikan umur pada hari yang satu dan hal itu tidak bisa menjadi baik kecuali dengan tafakkur dalam seluruh waktu.

و باب الفكر الفراغ , و سبب الفراغ الزهد , و عماد الزهد التقوى , و سنام التقوى الخوف , و زمام الخوف اليقين , و نظام اليقين الخلوة و الجوع , و تمامها الجهد و الصبر , و طريقها الصدق , و دليل الصدق العلم .

Pintunya berfikir adalah kekosongan, sebabnya kekosongan adalah zuhud, tiangnya zuhud adalah taqwa, puncaknya taqwa adalah khouf/perasaan takut kepada Allah, kendalinya khouf adalah yakin, runtutnya yakin adalah kholwat/menyingkir dari manusia dan lapar, kesempurnaan yakin adalah bersungguh-sungguh dan sabar, jalannya yakin ketulusan dan dalilnya ketulusan adalah ilmu.

Wallohu a’lam.

TERJEMAH FATHUL QORIB BAB KESUNAHAN KESUNAHAN WUDLU

BAB KESUNNAHAN-KESUNNAHAN WUDLU’

Membaca Basmalah

Kesunnahan-kesunnahan wudlu’ ada sepuluh perkara. Dalam sebagian redaksi matan diungkapkan dengan bahasa ”sepuluh khishal”.


(وَسُنَنُهُ) أَيِ الْوُضُوْءِ (عَشْرَةُ أَشْيَاءَ) وَفِيْ بَعْضِ نُسَخِ الْمَتْنِ عَشْرُ حِصَالٍ

 

Yaitu membaca basmalah di awal pelaksanaan wudlu’. Minimal bacaan basmalah adalah bismillah. Dan yang paling sempurna adalah bismillahirrahmanirrahim.

               

(التَّسْمِيَّةُ) أَوَّلَهُ وَأَقَلُّهَا بِسْمِ اللهِ وَأَكْمَلُهَا بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

 

Jika tidak membaca basmalah di awal wudlu’, maka sunnah melakukannya di pertengahan pelaksanaan. Jika sudah selesai melaksanakan wudlu’-dan belum sempat membaca basmalah-, maka tidak sunnah untuk membacanya.

               

فَإِنْ تَرَكَ التَّسْمِيَّةً أَوَّلَهُ أَتَى بِهَا فِيْ أَثْنَائِهِ. فَإِنْ فَرَغَ مِنَ الْوُضُوْءِ لَمْ يَأْتِ بِهَا.

Membasuh Kedua Telapak Tangan

Dan membasuh kedua telapak tangan hingga kedua pergelangan tangan sebelum berkumur.

               

(وَغَسْلُ الْكَفَّيْنِ) إِلَى الْكَوْعَيْنِ قَبْلَ الْمَضْمَضَةِ

Dan membasuh keduanya tiga kali jika masih ragu-ragu akan kesuciannya, sebelum memasukkannya ke dalam wadah yang menampung air kurang dari dua Qullah.

               

وَيَغْسِلُهُمَا ثَلَاثًا إِنْ تَرَدَّدَ فِيْ طَهْرِهِمَا (قَبْلَ إِدْخَالِهِمَا الْإِنَاءَ) الْمُشْتَمِلَ عَلَى مَاءٍ دُوْنَ الْقُلَّتَيْنِ.

Sehingga, jika belum membasuh keduanya, maka bagi dia di makruhkan memasukkannya ke dalam wadah air.

               

فَإِنْ لَمْ يَغْسِلْهُمَا كُرِهَ لَهُ غَمْسُهُمَا فِي الْإِنَاءِ.

Jika telah yaqin akan kesucian keduanya, maka bagi dia tidak dimakruhkan untuk memasukkannya ke dalam wadah.               

وَإِنْ تَيَقَّنَ طُهْرَهُمَا لَمْ يُكْرَهْ لَهُ غَمْسُهُمَا

Berkumur dan Memasukkan Air Ke Hidung

Dan berkumur setelah membasuh kedua telapak tangan.

               

(وَالْمَضْمَضَةُ) بَعْدَ غَسْلِ الْكَفَّيْنِ.

Kesunnahan berkumur sudah bisa hasil / didapat dengan memasukkan air ke dalam mulut, baik di putar-putar di dalamnya kemudian di muntahkan ataupun tidak. Jika ingin mendapatkan yang paling sempurna, maka dengan cara memuntahkannya.

               

وَيَحْصُلُ أَصْلُ السُّنَّةِ فِيْهَا بِإِدْخَالِ الْمَاءِ فِي الْفَمِّ سَوَاءٌ أَدَارَهُ فِيْهِ وَمَجَّهُ أَمْ لَا. فَإِنْ أَرَادَ الْأَكْمَلَ مَجَّهُ

 

Dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) setelah berkumur.        

(وَالْاِسْتِنْشَاقُ) بَعْدَ الْمَضْمَضَةِ.

Kesunnahan istinsyaq sudah bisa didapat dengan memasukkan air ke dalam hidung, baik ditarik dengan nafasnya hingga ke janur hidung lalu menyemprotkannya ataupun tidak. Jika ingin mendapatkan yang paling sempurna, maka dia harus mennyemprotkannya.

               

وَيَحْصُلُ أَصْلُ السُّنَّةِ فِيْهِ بِإِدْخَالِ الْمَاءِ فِي الْأَنْفِ, سَوَاءٌ جَذَبَهُ بِنَفَسِهِ إِلَى خَيَاشِيْمِهِ وَنَثَرَهُ أَمْ لَا, فَإِنْ أَرَادَ الْأَكْمَلَ نَثَرَهُ.

Mubalaghah (mengeraskan) di anjurkan saat berkumur dan istinsyaq.

               

وَالْمُبَالَغَةُ مَطْلُوْبَةٌ فِي الْمَضْمَضَةِ وَالْاِشْتِنْشَاقِ.

Mengumpulkan berkumur dan istinsyaq dengan tiga cidukan air, yaitu berkumur dari setiap cidukan kemudian istinsyaq, adalah sesuatu yang lebih utama daripada memisah di antara keduanya.

               

وَالْجَمْعُ بَيْنَ الْمَضْمَضَةِ وَالْاِسْتِنْشَاقِ بِثَلَاثِ غُرَفٍ يَتَمَضْمَضُ مِنْ كُلٍّ مِنْهَا ثُمَّ يَسْتَنْشِقُ أَفْضَلُ مِنَ الْفَصْلِ بَيْنَهُمَا.

Mengusap Seluruh Kepala

Dan mengusap seluruh bagian kepala. Dalam sebagian redaksi matan diungkapkan dengan bahasa “dan meratakan kepala dengan usapan”.

               

(وَمَسْحُ جَمْيِعْ الرَّأْسِ) وَفِيْ بَعْضِ نُسَخِ الْمَتْنِ وَاسْتِيْعَابِ الرَّأْسِ بِالْمَسْحِ.

Sedangkan untuk mengusap sebagian kepala hukumnya adalah wajib sebagaimana keterangan di depan.

               

أَمَّا مَسْحُ بَعْضِ الرَّأْسِ فَوَاجِبٌ كَمَا سَبَقَ.

Dan seandainya tidak ingin melepas sesuatu yang berada di kepalanya yaitu surban atau sesamanya, maka dia disunnahkan menyempurnakan usapan air itu ke seluruh surbannya.

             

وَلَوْ لَمْ يُرِدْ نَزْعَ مَا عَلَى رَأْسِهِ مِنْ عِمَامَةٍ وَنَحْوِهَا كَمَّلَ بِالْمَسْحِ عَلَيْهَا.

Mengusap Kedua Telinga

Dan mengusap seluruh bagian kedua telinga, bagian luar dan dalamnya dengan menggunakan air yang baru, maksudnya bukan basah-basah sisa usapan kepala.

               

(وَمَسْحُ) جَمِيْعِ (الْأُذُنَيْنِ ظَاهِرِهِمَا وَبَاطِنِهِمَا بِمَاءٍ جَدْيِدٍ) أَيْ غَيْرِ بَلَلِ الرَّأْسِ.

Dan yang sunnah di dalam cara mengusap keduanya adalah ia memasukkan kedua jari telunjuk ke lubang telinganya, memutar-mutar keduanya ke lipatan-lipatan telinga dan menjalankan kedua ibu jari di telinga bagian belakang, kemudian menempelkan kedua telapak tangannya yang dalam keadaan basah pada kedua telinganya guna memastikan meratanya usapan air ke telinga.

               

وَالسُّنَّةُ فِيْ كَيْفِيَّةِ مَسْحِهِمَا أَنْ يُدْخِلَ مُسَبِّحَتَيْهِ فِيْ صَمَاخَيْهِ وَيُدِيْرَهُمَا عَلَى الْمَعَاطِفِ وَيُمِرَّ إِبْهَامَيْهِ عَلَى ظُهُوْرِهِمَا ثُمَّ يُلْصِقَ كَفَّيْهِ وَهُمَا مَبْلُوْلَتَانِ بِالْأُذُنَيْنِ اسْتِظْهَارًا.

Menyelah-Nyelahi Jenggot, Jari Kedua Tangan dan Kaki

Dan menyelah-nyelahi bulu jenggotnya orang laki-laki yang tebal. Lafadz ”al katstsati” dengan menggunakan huruf yang di beri titik tiga (huruf tsa’).

               

(وَتَخْلِيْلِ اللِّحْيَةِ الْكَثَّةِ) بِمُثَلَّثَةٍ مِنَ الرَّجُلِ.

Sedangkan jenggotnya laki-laki yang tipis, jenggotnya perempuan dan khuntsa, maka wajib untuk diselah-selahi.

               

أَمَّا لِحْيَةُ الرَّجُلِ الْخَفِيْفَةُ وَلِحْيَةُ الْمَرْأَةِ وَالْخُنْثَى فَيَجِبُ تَخْلِيْلُهُمَا.

Cara menyelah-nyelahi adalah seorang laki-laki memasukkan jari-jari tangannya dari arah bawah jenggot.


وَكَيْفِيَّتُهُ أَنْ يُدْخِلَ الرَّجُلُ أَصَابِعَهُ مِنْ أَسْفَلِ اللِّحْيَةِ.

Dan sunnah menyelah-nyelahi jari-jari kedua tangan dan kaki, jika air sudah bisa sampai pada bagian-bagian tersebut tanpa diselah-selahi.

               

(وَتَخْلِيْلُ أَصَابِعِ الْيَدَّيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ) إِنْ وَصَلَ الْمَاءُ إِلَيْهَا مِنْ غَيْرِ تَخْلِيْلٍ.

Jika air tidak bisa sampai pada bagian tersebut kecuali dengan cara diselah-selahi seperti jari-jari yang menempel satu sama lain, maka wajib untuk diselah-selahi.

               

فَإِنْ لَمْ يَصِلْ إِلَّا بِهِ كَالْأَصَابِعِ الْمُلْتَفَّةِ وَجَبَ تَخْلِيْلُهَا.

Jika jari-jari yang menempel itu sulit untuk diselah-selahi karena terlalu melekat, maka haram di sobek karena tujuan untuk diselah-selahi.

               

وَإٍنْ لَمْ يَتَأَتَّ تَخْلِيْلُهَا لِالْتِحَامِهَا حَرُمَ فَتْقُهَا لِلتَّخْلِيْلِ.

Cara menyelah-nyelahi kedua tangan adalah dengan tasybik. Dan cara menyelah-nyelahi kedua kaki adalah dengan menggunakan jari kelingking tangan kanan di masukkan dari arah bawah kaki, di mulai dari selah-selah jari kelingking kaki kanan dan di akhiri dengan jari kelingking kaki kiri.


وَكَيْفِيَّةُ تَخْلِيْلِ الْيَدَّيْنِ بِالتَّشْبِيِكِ وَالرِّجْلَيْنِ بِأَنْ يَبْدَأَ بِخِنْصِرِ يَدِّهِ الْيُسْرَى مِنْ أَسْفَلِ الرِّجْلِ مُبْتَدِئًا بِخِنْصِرِ الرِّجْلِ الْيُمْنَى خَاتِمًا بِخِنْصِرِ الْيُسْرَى.

Mendahulukan Bagian Kanan

Dan sunnah mendahulukan bagian kanan dari kedua tangan dan kaki sebelum bagian kiri dari keduanya.

               

(وَتَقْدِيْمُ الْيُمْنَى) مِنْ يَدَّيْهِ وَرِجْلَيْهِ (عَلَى الْيُسْرَى) مِنْهُمَا.

Sedangkan untuk dua anggota yang mudah dibasuh secara bersamaan seperti kedua pipi, maka tidak disunnahkan untuk mendahulukan bagian yang kanan dari keduanya, akan tetapi keduanya di sucikan secara bersamaan.

               

أَمَّا الْعُضْوَانِ اللَّذَانِ يَسْهُلُ غَسْلُهُمَا مَعًا كَالْخَدَّيْنِ فَلَا يُقَدَّمُ الْأَيْمَنُ مِنْهُمَا بَلْ يُطَهَّرَانِ دَفْعَةً وَاحْدَةً.

Mengulangi Tiga Kali dan Muwwallah (Terus Menerus)

Mushannif menyebutkan kesunnahan mengulangi basuhan dan usapan anggota wudlu’ sebanyak tiga kali di dalam perkataan beliau, “dan sunnah melakukan bersuci tiga kali tiga kali.” Dalam sebagian teks diungkapkan dengan bahasa “mengulangi anggota yang dibasuh dan yang diusap.”

             

وَذَكَرَ الْمُصَنِّفُ سُنِّيَّةَ تَثْلِيْثِ الْعُضْوِ الْمَغْسُوْلِ وَالْمَمْسُوْحِ فْيْ قَوْلِهِ (وَالطَّهَارَةُ ثَلَاثًا ثَلَاثًا) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ وَالتِّكْرَارُ أَيْ لِلْمَغْسُوْلِ وَالْمَمْسُوْحِ.

Dan muwallah (terus menerus). Muwallah diungkapkan dengan bahasa “tatabbu’”(terus menerus). Muwallah adalah antara dua anggota wudlu’ tidak terjadi perpisahan yang lama, bahkan setiap anggota langsung disucikan setelah mensucikan anggota sebelumnya, sekira anggota yang dibasuh sebelumnya belum kering dengan keaadan angin, cuaca dan zaman dalam keadaan normal.

               

(وَالْمُوَالَّاةُ) وَيُعَبَّرُ عَنْهَا بِالتَّتَابُّعِ وَهِيَ أَنْ لَا يَحْصُلَ بَيْنَ الْعُضْوَيْنِ تَفْرِيْقٌ كَثِيْرٌ بَلْ يُطَهِّرُ الْعُضْوَ بَعْدَ الْعُضْوِ بِحَيْثُ لَا يَجِفُّ الْمَغْسُوْلُ قَبْلَهُ مَعَ اعْتِدَالِ الْهَوَاءِ وَالْمِزَاجِ وَالزَّمَانِ.

Ketika mengulangi basuhan hingga tiga kali, maka yang jadi patokan adalah basuhan yang terakhir.

               

وَإِذَا ثَلَّثَ فَالْاِعْتِبَارُ لِآخِرِ غَسْلَةٍ.

Muwallah hanya disunnahkan di selain wudlu’nya shahibud dlarurah (orang yang memiliki keadaan darurat). Sedangan untuk shahibur dlarurah, maka muwallah hukumnya wajib bagi dia.

               

وَإِنَّمَا تُنْدَبُ الْمُوَالَّاةُ فِيْ غَيْرِ وُضُوْءِ صَاحِبِ الضَّرُوْرَةِ. أَمَّا هُوَ فَالْمُوَالَّاُة وَاجِبَةٌ فِيْ حَقِّهِ.

Dan masih ada lagi kesunnahan-kesunnahan wudlu’ lainnya yang disebutkan di dalam kitab-kitab yang panjang keterangannya.

             

وَبَقِيَ لِلْوُضُوْءِ سُنَنٌ أُخْرَى مَذْكُوْرَةٌ فِي الْمُطَوَّلَاتِ.

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

TERJEMAH KITAB FATHUL QORIB BAB FARDLU WUDLU

BAB WUDLU’

(Fasal) menjelaskan wardlu-wardlu wudlu’.

(فَصْلٌ) فَيْ فُرُوْضِ الْوُضُوْءِ

وَهُوَ بِضَمِّ الْوَاوِ فِي الْأْشْهَرِ اسْمٌ لِلْفِعْلِ, وَهُوَ الْمُرَادُ هُنَّا, وَبِفَتْحِ الْوَاوِ اسْمٌ لِمَا يُتَوَضَّأُ بِهِ

وَيَشْتَمِلُ الْأَوَّلُ عَلَى فُرُوْضٍ وَسُنَنٍ

Lafadz “al wudlu’” dengan terbaca dlammah huruf waunya, menurut pendapat yang paling masyhur adalah nama pekerjaannya. Dan dengan terbaca fathah huruf wa’unya “al wadlu’” adalah nama barang yang digunakan untuk melakukan wudlu’.

Lafadz yang pertama (al wudlu’) mencakup beberapa fardlu dan beberapa kesunnahan.

 Fardlunya wudlu’

            

وَذَكَرَ الْمُصَنِّفُ الْفُرُوْضَ فِيْ قَوْلِهِ (وَفُرُوْضُ الْوُضُوْءِ سِتَّةُ أَشْيَاءَ)

Mushannif menyebutkan fardlu-fardlunya wudlu’ di dalam perkatan beliau, “fardlunya wudlu’ ada enam perkara.”

Niat wudlu’

أَحَدُهَا (النِّيَّةُ) وَحَقِيْقَتُهَا شَرْعًا قَصْدُ الشَّيْئِ مُقْتَرِنًا بِفِعْلِهِ. فَإِنْ تَرَاخَى عَنْهُ سُمِّيَ عَزْمًا.

Pertama adalah niat. Hakikat niat secara syara’ adalah menyengaja sesuatu besertaan dengan melakukannya. Jika melakukannya lebih akhir dari pada kesengajaannya, maka disebut ‘azm.

               

وَتَكُوْنُ النِّيَّةُ (عِنْدَ غَسْلِ) أَوَّلِ جُزْءٍ مِنَ (الْوَجْهِ) أَيْ مُقْتَرِنَةً بِذَلِكَ الْجُزْءِ لَابِجَمِيْعِهِ وَلَا بِمَا قَبْلَهُ وَلَا بِمَا بَعْدَهُ

Niat dilakukan saat membasuh awal bagian dari wajah. Maksudnya bersamaan dengan basuhan bagian tersebut, bukan sebelumnya dan bukan setelahnya.

فَيَنْوِي الْمُتَوَضِّئُ عِنْدَ غَسْلِ مَا ذُكِرَ رَفْعَ حَدَثٍ مِنْ أَحْدَاثِهِ.

Sehingga, saat membasuh anggota tersebut, maka orang yang wudlu’ melakukan niat menghilangkan hadats dari hadats-hadats yang berada pada dirinya.

أَوْ يَنْوِي اسْتِبَاحَةَ مُفْتَقِرٍ إِلَى وُضُوْءٍ أَوْ يَنْوِيْ فَرْضَ الْوُضُوْءِ أَوِ الْوُضُوْءَ فَقَطْ.

Atau niat agar diperkenankan melakukan sesuatu yang membutuhkan wudlu’. Atau niat fardlunya wudlu’ atau niat wudlu’ saja.

أَوِ الطَّهَارَةَ عَنِ الْحَدَثِ فَإِنْ لَمْ يَقُلْ عَنِ الْحَدَثِ لَمْ يَصِحَّ

Atau niat bersuci dari hadats. Jika tidak menyebutkan kata “dari hadats” (hanya niat bersuci saja), maka wudlu’nya tidak syah.

وَإَذَا نَوَى مَا يُعْتَبَرُ مِنْ هَذِهِ النِّيَّاتِ وَشَرَّكَ مَعَهُ نِيَّةَ تَنَظُّفٍ أَوْ تَبَرُّدٍ صَحَّ وُضُوْؤُهُ.

Ketika dia sudah melakukan niat yang dianggap syah dari niat-niat di atas, dan dia menyertakan niat membersihkan badan atau niat menyegarkan badan, maka hukum wudlu’nya tetap syah.

Membasuh Wajah

Fardlu kedua adalah membasuh seluruh wajah.              

(وَ) الثَّانِيْ (غَسْلُ) جَمِيْعِ (الْوَجْهِ).

Batasan panjang wajah adalah anggota di antara tempat-tempat yang umumnya tumbuh rambut kepala dan pangkalnya lahyaini (dua rahang). Lahyaini adalah dua tulang tempat tumbuhnya gigi bawah. Ujungnya bertemu di janggut dan pangkalnya berada di telinga.   

وَحَدُّهُ طُوَلًا مَا بَيْنَ مَنَابِتِ شَعْرِ الرَّأْسِ غَالِبًا وَآخِرُ اللَّحْيَيْنِ وَهُمَا الْعَظَمَانِ اللَّذَانِ يَنْبُتُ عَلَيْهِمَا الْأَسْنَانُ السُّفْلَى يَجْتَمِعُ مُقَدِّمُهُمَا فِي الذَّقَنِ وَمُؤَخِّرُهُمَا فِي الْأُذُنِ

Dan batasan lebar wajah adalah anggota di antara kedua telinga.            

وَحَدُّهُ عَرْضًا مَا بَيْنَ الْأُذُنَيْنِ

Ketika di wajah terdapat bulu yang tipis atau lebat, maka wajib mengalirkan air pada bulu tersebut beserta kulit yang berada di baliknya / di bawahnya.          

وَإِذَا كَانَ عَلَى الْوَجْهِ شَعْرٌ خَفِيْفٌ أَوْ كَثِيْفٌ وَجَبَ إِيْصَالُ الَمَاءِ إِلَيْهِ مَعَ الْبَشَرَةِ الَّتِيْ تَحْتَهُ

Namun untuk jenggotnya laki-laki yang lebat, dengan gambaran orang yang diajak bicara tidak bisa melihat kulit yang berada di balik jenggot tersebut dari sela-selanya, maka cukup dengan membasuh bagian luarnya saja.             

وَأَمَّا لِحْيَةُ الرَّجُلِ الْكَثِيْفَةُ بِأَنْ لَمْ يَرَ الْمُخَاطَبُ بَشَرَتَهَا مِنْ خِلَالِهَا فَيَكْفِيْ غَسْلُ ظَاهِرِهَا

Berbeda dengan jenggot yang tipis, yaitu jenggot yang mana kulit yang berada di baliknya bisa terlihat oleh orang yang diajak bicara, maka wajib mengalirkan air hingga ke bagian kulit di baliknya      

بِخِلَافِ الْخَفِيْفَةِ وَهِيَ مَا يَرَى الْمُخَاطَبُ بَشَرَتَهَا فَيَجِبُ إِيْصَالُ الْمَاءِ لِبَشَرِتِهَا

Dan berbeda lagi dengan jenggotnya perempuan dan khuntsa, maka wajib mengalirkan air ke bagian kulit yang berada di balik jenggot keduanya, walaupun jenggotnya lebat.    

وَبِخِلَافِ لِحْيَةِ امْرَأَةٍ وَخُنْثَى فَيَجِبُ إِيْصَالُ الْمَاءِ لِبَشَرِتِهَمَا وَلَوْ كَثُفَا

Di samping membasuh seluruh wajah, juga harus membasuh sebagian dari kepala, leher dan anggota di bawah janggut[1].               

وَلَابُدَّ مَعَ غَسْلِ الْوَجْهِ مِنْ غَسْلِ جُزْءٍ مِنَ الرَّأْسِ وَالرَّقَبَةِ وَمَا تَحْتَ الذَّقَنِ

 

Membasuh Kedua Tangan

(وَ) الثَّالِثُ (غَسْلُ الْيَدَّيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ)

Fardlu yang ketiga adalah membasuh kedua tangan hingga kedua siku.

فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مِرْفَقَانِ اعْتُبِرَ قَدْرُهُمَا        

Jika seseorang tidak memiliki kedua siku, maka yang dipertimbangkan adalah kira-kiranya.

وَيَجِبُ غَسْلُ مَا عَلَى الْيَدَّيْنِ مِنْ شَعْرٍ وَسِلْعَةٍ وَأُصْبُعٍ زَائِدَةٍ وَأَظَافِيْرَ

Dan wajib membasuh perkara-perkara yang berada di kedua tangan, yaitu bulu, uci-uci, jari tambahan dan kuku.

وَيَجِبُ إِزَالَةُ مَا تَحَتَهَا مِنْ وَسَخٍ يَمْنَعُ وُصُوْلَ الْمَاءِ   

Dan wajib menghilangkan perkara yang berada di bawah kuku, yaitu kotoran-kotoran yang bisa mencegah masuknya air.

               

Mengusap Kepala

Fardlu yang ke empat adalah mengusap sebagian kepala, baik laki-laki atau perempuan.           

 (وَ)

الرَّابِعُ (مَسْحُ بَعْضِ الرَّأْسِ) مِنْ ذَكَرْ أَوْ أُنْثَى

Atau mengusap sebagian rambut yang masih berada di batas kepala.

أَوْ مَسْحُ بَعْضِ شَعْرٍ فِيْ حَدِّ الرَّأْسِ

Tidak harus menggunakan tangan untuk mengusap kepala, bahkan bisa dengan kain atau yang lainnya.              

وَلَاتَتَعَيَّنُ الْيَدُّ لِلْمَسْحِ بَلْ يَجُوْزُ بِخِرْقَةٍ وَغَيْرِهَا

Seandainya dia membasuh kepala sebagai ganti dari mengusapnya, maka diperkenankan.        

وَلَوْ غَسَلَ رَأْسَهُ بَدَلَ مَسْحِهَا جَازَ

Dan seandainya dia meletakkan (di atas kepala) tangannya yang telah di basahi dan tidak mengerakkannya, maka diperkenankan.               

وَلَوْ وَضَعَ يَدَّهُ الْمَبْلُوْلَةَ وَلَمْ يَحَرِّكْهَا جَازَ

Membasuh Kedua Kaki

Fardlu yang ke lima adalah membasuh kedua kaki hingga kedua mata kaki, jika orang yang melaksanakan wudlu’ tersebut tidak mengenakan dua muza.   

(وَ) الْخَامْسُ (غَسْلُ الرِّجْلَيْنِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ) إِنْ لَمْ يَكُنِ الْمُتَوَضِّئُ لَابِسًا لِلْخُفَّيْنِ

Jika dia mengenakan dua muza, maka wajib bagi dia untuk mengusap kedua muza atau membasuh kedua kaki.              

فَإِنْ كَانَ لَابِسَهُمَا وَجَبَ عَلَيْهِ مَسْحُ الْخُفَّيْنِ أَوْ غَسْلُ الرِّجْلَيْنِ

Dan wajib membasuh perkara-perkara yang berada di kedua kaki, yaitu bulu, daging tambahan, dan jari tambahan sebagaimana keterangan yang telah dijelaskan di dalam permasalahan kedua tangan  

وَيَجِبُ غَسْلُ مَا عَلَيْهِمَا مِنْ شَعْرٍ وَسِلْعَةٍ وَأُصْبُعٍ زَائِدَةٍ كَمَا سَبَقَ فِي الْيِدَّيْنِ

 

Tertib

             

(وَ) السَّادِسُ (التَّرْتِيْبُ) فِي الْوُضُوْءِ (عَلَى مَا) أَيِ الْوَجْهِ الَّذِيْ (ذَكَرْنَاهُ) فِيْ عَدِّ الْفُرُوْضِ

Fardlu yang ke enam adalah tertib di dalam pelaksanaan wudlu’ sesuai dengan cara yang telah saya jelaskan di dalam urutan fardlu-fardlunya wudlu’.

فَلَوْ نَسِيَ التَّرْتِيْبَ لَمْ يَكْفِ

Sehingga, kalau lupa tidak tertib, maka wudlu’ yang dilaksanakan tidak mencukupi.

           

وَلَوْ غَسَلَ أَرْبَعَةٌ أَعْضَاءَهُ دَفْعَةً وَاحِدَةً بِإِذْنِهِ ارْتَفَعَ حَدَثُ وَجْهِهِ فَقَطْ

Seandainya ada empat orang yang membasuh seluruh anggota wudlu’nya seseorang sekaligus dengan seizinnya, maka yang hilang hanya hadats wajahnya saja.

[1] Karena untuk memastikan bahwa seluruh bagian wajah telah terbasuh. Sebab tidak bisa diyaqini bahwa seluruh wajah telah terbasuh kecuali dengan membasuh bagian-bagian itu juga.

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)