AMALAN MAULID DAN KITAB BANTAHAN YANG MEMBID’AHKAN MAULID NABI SAW.

Amalan untuk Merayakan Maulid Nabi

Bulan Rabiul Awwal adalah salah satu bulan istimewa bagi umat Islam. Hal ini disebabkan karena bulan ini merupakan bulan dilahirkannya Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, bulan ini disebut juga dengan bulan maulud atau maulid (kelahiran).

Dalam rangka menyambut bulan maulid Nabi saw., sebagian besar umat muslim khususnya di Indonesia akan mengadakan perayaan dengan mengadakan pengajian atau cukup dengan pembacaan dibaan, berzanji dan shalawat kepada Nabi saw. Lalu apa saja amalan lain yang dianjurkan dilakukan di bulan maulid?

Imam Suyuthi di dalam kitabnya Husnul Muqshid Fi Amalil Maulid mengutip pendapat imam Ibnu Hajar terkait hal ini.

واما ما يعمل فيه فينبغي أن يقتصر فيه على ما يفهم الشكر لله تعالى من نحو ما تقدم ذكره من التلاوة والاطعام والصدقة وانشاد شيئ من المدائح النبوية والزهدية المحركة للقلوب الى فعل الخير والعمل للاخرة.

Adapun amalan yang dapat dilakukan di dalam maulid Nabi saw. maka disunnahkan melakukan sebatas amalan yang dapat dipahami sebagai rasa syukur kepada Allah swt. seperti contohnya sebagaimana telah disebutkan yakni membaca Al-Qur’an, memberikan makanan, shadaqah, dan menyanyikan pujian-pujian tentang kenabian dan kezuhudan yang dapat menggerakkan hati untuk melakukan kebaikan dan amalan untuk akhirat.

Dengan demikian, perayaan maulid yang notebenenya adalah ekspresi rasa syukur kita atas lahirnya Nabi Muhammad saw. dapat dirayakan dengan amalan kebaikan apapun. Bisa dengan khataman Al-Qur’an bersama-sama, mengadakan santunan anak yatim piatu dan dhuafa’, atau memberikan makanan untuk orang-orang, dan membaca syiiran shalawatan bersama-sama.

Imam Ibnu Hajar memberikan keterangan lanjutan bahwa mengekspresikan kegembiraan dalam merayakan maulid Nabi saw. itu boleh dan bisa dilakukan dengan hal-hal yang mubah dalam bentuk apapun. Namun jika ada hal yang diharamkan atau dimakruhkan, maka dilarang/tidak boleh.

Lebih lanjut, imam Suyuthi juga memberikan keterangannya bahwa imam Al-Baihaqi meriwayatkan hadis dari Anas bin Malik. Yakni Nabi saw. mengakikahi dirinya sendiri setelah masa kenabian, padahal beliau telah diakikahi oleh kakeknya di hari ketujuh setelah kelahirannya.

Hal ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi saw. tersebut sebagai wujud ekspresi syukur beliau kepada Allah yang telah menjadikannya sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Oleh karena itu, menurut imam Suyuthi disunnahkan juga bagi umat Islam untuk menampakkan rasa syukur atas kelahiran Nabi saw. dengan berkumpul bersama, memberikan makanan serta aktifitas-aktifitas yang dapat mendekatkan diri kepada Allah dan menampakkan keceriaan/kegembiraan atas kelahiran nabi saw.

 

Kitab Bantahan Imam Suyuthi Tentang Maulid itu Bid’ah

Imam Suyuthi adalah salah satu imam terkemuka pada abad 9-10 Hijriyyah. Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat alim dalam semua bidang ilmu keislaman. Mulai dari tafsir, ilmu tafsir, hadis, ilmu hadis, hingga fikih dan ushul fikih telah beliau kuasai. Bahkan beliau memiliki buah karya dari masing-masing ilmu tersebut.

Disamping itu, beliau juga memiliki karya yang ditulis untuk membantah ulama lain yang berbeda pendapat dengannya. Salah satunya adalah Husnul Muqshid Fi Amalil Maulid. Kitab ini membahas  tentang dalil disyariatkannya maulid Nabi saw. sekaligus sebagai bantahan terhadap kalangan yang membid’ah-bid’ahkan perayaan maulid Nabi saw.

Kitab yang berisi duapuluh satu halaman ini juga ditulisnya khusus untuk membantah kitab karya Syekh Tajuddin Umar bin Ali Al-Lakhami As-Sakandari yang lebih dikenal dengan Al-Fakihani. Ulama dari kalangan madzhab Maliki tersebut mengarang kitab Al-Maurid Fil Kalam Ala amalil Maulid.

Imam Al-Fakihani mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi saw. belum ia ketahui dalilnya sama sekali baik di dalam Al-Qur’an maupun sunnah. Imam Suyuthi melalui karyanya tersebut memberikan bantahannya dengan mengatakan bahwa tidak adanya pengetahuan (tidak tahu) itu bukan berarti selalu berimplikasi pada tidak adanya dalil.

Padahal Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani telah mengeluarkan hadis tentang dalil maulid Nabi saw. Hadis tersebut terdapat di dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Muslim yang berisi tentang Nabi saw. yang menanyai alasan orang Yahudi yang berpuasa di hari Asyura. Jawaban Yahudi adalah karena sebagai bentuk syukur atas ditenggelamkannya Firaun pada hari itu sehingga Nabi Musa a.s. pun selamat dari kejarannya.

Oleh karena itu, Nabi saw. juga menyuruh umatnya agar juga berpuasa di hari Asyura’ dan sekaligus hari tasu’a (hari kesembilan bulan Muharram) sebagai pembeda dengan kaum Yahudi. Hadis ini menjadi dalil bahwa bentuk syukur itu bisa dikarenakan atas anugrah Allah berupa diberikannya nikmat atau dihindarkan dari bencana. Selain itu hadis ini juga menjadi dalil bahwa bentuk syukur itu bisa diekspresikan dalam berbagai bentuk ibadah, bisa sujud, puasa, shadaqah dan membaca Al-Qur’an.

Sementara nikmat yang sangat besar yang patut kita syukuri adalah lahirnya Nabi Muhammad saw. Maka, orang yang tidak mau memperhatikan hal ini, pasti ia tidak akan memperdulikan perayaan maulid Nabi saw.

Selain itu, imam Al-Fakihani juga mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi saw. hanyalah dibuat-buat oleh orang-orang yang bodoh/dungu saja. Imam Suyuthi pun membantahnya bahwa ulama-ulama telah mengatakan dahulu raja-raja yang adil dan alim telah merayakan maulid Nabi saw. sebagai bentuk taqarrub kepada Allah. Bahkan acaranya pun dihadiri oleh ulama dan orang-orang shalih tanpa ada yang mengingkarinya. Hal ini pun telah diterangkan oleh imam Ibnu Dahiyyah di dalam karyanya bahwa ulama ridha dan mengakui peringatan maulid Nabi saw., mereka tidak ada yang mengingkarinya.

Pendapat Al-Fakihani berikutnya adalah bahwa perayaan maulid Nabi saw. tidak disunnahkan, karena pada hakikatnya hal yang disunnahkan adalah yang dituntut oleh syariat. Tanggapan Imam Suyuthi terkait ini adalah bahwa tuntutan syariat itu kadang berasal dari teks (Al-Qur’an dan hadis), kadang pula berupa qiyas. Oleh karena itu, jika tidak ada dalilnya di dalam Al-Qur’an dan hadis secara jelas, maka dalilnya adalah diqiyaskan kepada teks yang ada di dalam Al-Qur’an dan hadis (seperti argumen imam Ibnu Hajar di atas).

Selain kitab Husnul Muqsid fi Amalil Maulid berisi bantahan imam Suyuthi kepada imam Al-Fakihani, imam Suyuthi juga memaparkan argumen-argumen dan pendapat para ulama lain seputar disyariatkannya maulid.  Di antaranya ulama yang beliau kutip pendapatnya adalah imam Ibnu Hajar, Ibnul Jazari di dalam kitabnya Arfut ta’rif bil maulidis Syarif dan imam Syamsuddin Ad Dimasyqi di dalam kitabnya Maurids shadi fi maulidil hadi.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

NIAT DAN DZIKIR BAGI SEORANG HAMBA ALLOH SWT MENURUT IMAM GHOZALI RAH.

الباب الرابع   باب النية

لابد للعبد من النية في كل حركة و سكون ( فإنما الأعمال بالنيات و لكل امرئ ما نوى ) و ( نية المؤمن خير من عمله )

Bab ke empat tentang Niat

Seorang hamba mesti mempunyai niat dalam setiap gerakan dan diamnya.  “Sesungguhnya amalan itu tergantung dengan niatnya dan setiap orang  mendapatkan apa yang diniatkannya”. “Niatnya orang beriman lebih baik daripada amalannya”.

و النية تختلف حسب اختلاف الأوقات , و صاحب النية نفسه منه في تعب , و  الناس منه في راحة , و ليس شيء على المريد أصعب من حفظ النية .

Niat  itu berbeda-beda menurut perbedaan waktunya, niat itu menyertai dirinya  di dalam keletihan dan menyertai manusia di dalam keleluasaan. Tiada  sesuatu yang lebih sulit bagi seorang murid daripada menjaga niatnya.

الباب الخامس  باب الذكر

اجعل قلبك قبلة لسانك و اشعر عند الذكر حياء العبودية و هيبة الربوبية .

Bab ke lima tentang dzikir

Jadikanlah hatimu sebagai kiblatnya lisanmu, peliharalah rasa malu di  saat beribadah dan rasa takut kepada Tuhan ketika berdzikir.

و  أعلم بأن الله تعالى يعلم سر قلبك و يرى ظاهر فعلك و يسمع نجوى قولك ,  فاغسل قلبك بالحزن و أوقد فيه نار الخوف فإذا زال حجاب الغفلة عن قلبك ,  كان ذكرك به مع ذكره لك ,

Ketahuilah bahwa Allah ta’ala mengetahui  rahasia hatimu, melihat dhohir perbuatanmu dan mendengar bisikan  ucapanmu. Maka basuhlah hatimu dengan kesediha dan nyalakan di dalamnya  api perasaan takut . Ketika tabir kelalaian hilang dari hatimu, maka  dzikirmu kepada-Nya akan ada bersama dzikir-Nya kepadamu.

قال  الله تعالى : { ولذكر الله أكبر } ؛ لأنه ذكرك مع الغناء عنك , و أنت ذكرته  مع الفقر إليه , فقال الله تعالى : { ألا بذكر الله تطمئن القلوب } ؛  فيكون اطمئنان القلب في ذكر الله له , و وجله في ذكره لله , قال الله تعالى  : { إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم } .

Allah ta’ala berfirman yang artinya :  ” sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar”. (QS 29:45). Sebab Dia mengingatmu disertai tiadanya butuh kepada dirimu sedangkan engkau mengingat -Nya disertai butuhmu kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman yang artinya : “Ingatlah, sesungguhnya hanya dengan berdzikir kepada Allah, hati menjadi tentram.” (QS 13:28). Maka ketentraman hati ada saat mengingat Allah, dan bergetarnya hati ada saat dzikirnya karena Allah.  Allah ta’ala berfirman yang artinya : “sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka.” (QS 8:2).

و الذكر ذكران :

ذكر خالص : بموافقة القلب في سقوط النظر إلى غير الله .

و ذكر صاف : بفناء الهمة عن الذكر , قال رسول الله ( صلي الله عليه و سلم ) : ” لا أحصى ثناء عليك أنت كما أثنيت على نفسك ” .

Dzikir terbagi menjadi dua:

  1. Dzikir murni : caranya dengan cocoknya hati di saat berhenti dalam memandang selain kepada Allah.
  2. Dzikir jernih : caranya dengan hilangnya keinginan jauh dari dzikir, Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : “saya tidak bisa mengitung pujian kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji atas diri-Mu sendiri.”

الباب الثاني باب الأحكام

و إعراب القلوب على أربعة أنواع : رفع , و فتح , و خفض , و وقف .

Bab kedua tentang hukum-hukum

I’robnya hati ada empat macam :

  1. rofa’ (naik/terangkat)
  2. fath (terbuka)
  3. khofadz (turun)
  4. waqf (berhenti/mati)

فرفع القلب : في ذكر الله .

و فتح القلب : في الرضاء عن الله تعالى .

و خفض القلب : في الاشتغال بغير الله تعالى .

و وقف القلب : في الغفلة عن الله تعالى .

Rofa’ (naik/terangkat) nya hati adalah ketika dzikir kpd Allah,

Fath (terbuka) nya hati adalah ketika ridho kepada Allah,

Khofadz (turun) nya hati adalah ketika sibuk dgn selain Allah,

Waqof (berhenti/mati) nya hati adalah ketika lalai dari Allah.

فعلامة الرفع ثلاثة أشياء : وجود الموافقة , و فقد المخالفة , و دوام الشوق .

و علامة الفتح ثلاثة أشياء : التوكل , و الصدق , و اليقين .

Tanda rofa’ nya hati ada 3 :

  1. ada kecocokan
  2. hilangnya penyimpangan
  3. lestarinya kerinduan

Tanda fath nya hati ada 3 :

  1. kepasrahan
  2. kejujuran
  3. keyakinan

و علامة الخفض ثلاثة أشياء : العجب , و الرياء , و الحرص و هو مرعاة الدنيا .

و علامة الوقف ثلاثة أشياء : زوال حلاوة الطاعة , و عدم مرارة المعصية , و التباس الحلال

Tanda khofadz nya hati ada 3 :

  1. bangga diri
  2. pamer
  3. tamak yaitu selalu memperhatikan dunia.

Tanda waqof nya hati ada 3 :

  1. hilangnya rasa manis dlm ketaatan
  2. tiadanya rasa pahit dalam kemaksiatan
  3. ketidak jelasan kehalalan.

الباب الثالث  باب الرعاية

قال رسول الله ( صلي الله عليه و سلم : ” طلب العلم فريضة على كل مسلم ” , و هو علم الأنفاس فيجب أن يكون نفس المريد شكرا أو عذرا , فإن قبل ففضل و إن رد فعدل , فطائع الحركة بالتوفيق و السكون بالعصمة ولا يستقيم ذلك له إلا بدوام الافتقار و الاضطرار .

Bab ketiga tentang penjagaan

Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Mencari ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim”. Maksudnya dalah ilmu jiwa, maka jiwa seorang murid wajib dalam keadaan bersyukur atau dalam keadaan udzur, jika menerima maka memberi karunia dan jika menolak maka secara adil. Ketaatan gerakan dengan taufiq dan diamnya dengan penjagaan, hal itu tidak bisa lurus kecuali dengan langgengnya perasaan butuh dan sangatnya butuh kepada Allah.

و مفتاح ذلك : ذكر الموت ؛ لأن فيه راحة من الحبس و نجاة من العدو , و قوامه برد العمر على يوم واحد , و لن يلتئم ذلك إلا بالتفكير في الأوقات ,

Kuncinya hal itu adalah mengingat kematian, karena dalam mengingatnya terdapat kelegaan dari pemenjaraan dan keselamatan dari musuh. Penopangnya dengan mengembalikan umur pada hari yang satu dan hal itu tidak bisa menjadi baik kecuali dengan tafakkur dalam seluruh waktu.

و باب الفكر الفراغ , و سبب الفراغ الزهد , و عماد الزهد التقوى , و سنام التقوى الخوف , و زمام الخوف اليقين , و نظام اليقين الخلوة و الجوع , و تمامها الجهد و الصبر , و طريقها الصدق , و دليل الصدق العلم .

Pintunya berfikir adalah kekosongan, sebabnya kekosongan adalah zuhud, tiangnya zuhud adalah taqwa, puncaknya taqwa adalah khouf/perasaan takut kepada Allah, kendalinya khouf adalah yakin, runtutnya yakin adalah kholwat/menyingkir dari manusia dan lapar, kesempurnaan yakin adalah bersungguh-sungguh dan sabar, jalannya yakin ketulusan dan dalilnya ketulusan adalah ilmu.

Wallohu a’lam.

TERJEMAH FATHUL QORIB BAB KESUNAHAN KESUNAHAN WUDLU

BAB KESUNNAHAN-KESUNNAHAN WUDLU’

Membaca Basmalah

Kesunnahan-kesunnahan wudlu’ ada sepuluh perkara. Dalam sebagian redaksi matan diungkapkan dengan bahasa ”sepuluh khishal”.


(وَسُنَنُهُ) أَيِ الْوُضُوْءِ (عَشْرَةُ أَشْيَاءَ) وَفِيْ بَعْضِ نُسَخِ الْمَتْنِ عَشْرُ حِصَالٍ

 

Yaitu membaca basmalah di awal pelaksanaan wudlu’. Minimal bacaan basmalah adalah bismillah. Dan yang paling sempurna adalah bismillahirrahmanirrahim.

               

(التَّسْمِيَّةُ) أَوَّلَهُ وَأَقَلُّهَا بِسْمِ اللهِ وَأَكْمَلُهَا بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

 

Jika tidak membaca basmalah di awal wudlu’, maka sunnah melakukannya di pertengahan pelaksanaan. Jika sudah selesai melaksanakan wudlu’-dan belum sempat membaca basmalah-, maka tidak sunnah untuk membacanya.

               

فَإِنْ تَرَكَ التَّسْمِيَّةً أَوَّلَهُ أَتَى بِهَا فِيْ أَثْنَائِهِ. فَإِنْ فَرَغَ مِنَ الْوُضُوْءِ لَمْ يَأْتِ بِهَا.

Membasuh Kedua Telapak Tangan

Dan membasuh kedua telapak tangan hingga kedua pergelangan tangan sebelum berkumur.

               

(وَغَسْلُ الْكَفَّيْنِ) إِلَى الْكَوْعَيْنِ قَبْلَ الْمَضْمَضَةِ

Dan membasuh keduanya tiga kali jika masih ragu-ragu akan kesuciannya, sebelum memasukkannya ke dalam wadah yang menampung air kurang dari dua Qullah.

               

وَيَغْسِلُهُمَا ثَلَاثًا إِنْ تَرَدَّدَ فِيْ طَهْرِهِمَا (قَبْلَ إِدْخَالِهِمَا الْإِنَاءَ) الْمُشْتَمِلَ عَلَى مَاءٍ دُوْنَ الْقُلَّتَيْنِ.

Sehingga, jika belum membasuh keduanya, maka bagi dia di makruhkan memasukkannya ke dalam wadah air.

               

فَإِنْ لَمْ يَغْسِلْهُمَا كُرِهَ لَهُ غَمْسُهُمَا فِي الْإِنَاءِ.

Jika telah yaqin akan kesucian keduanya, maka bagi dia tidak dimakruhkan untuk memasukkannya ke dalam wadah.               

وَإِنْ تَيَقَّنَ طُهْرَهُمَا لَمْ يُكْرَهْ لَهُ غَمْسُهُمَا

Berkumur dan Memasukkan Air Ke Hidung

Dan berkumur setelah membasuh kedua telapak tangan.

               

(وَالْمَضْمَضَةُ) بَعْدَ غَسْلِ الْكَفَّيْنِ.

Kesunnahan berkumur sudah bisa hasil / didapat dengan memasukkan air ke dalam mulut, baik di putar-putar di dalamnya kemudian di muntahkan ataupun tidak. Jika ingin mendapatkan yang paling sempurna, maka dengan cara memuntahkannya.

               

وَيَحْصُلُ أَصْلُ السُّنَّةِ فِيْهَا بِإِدْخَالِ الْمَاءِ فِي الْفَمِّ سَوَاءٌ أَدَارَهُ فِيْهِ وَمَجَّهُ أَمْ لَا. فَإِنْ أَرَادَ الْأَكْمَلَ مَجَّهُ

 

Dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) setelah berkumur.        

(وَالْاِسْتِنْشَاقُ) بَعْدَ الْمَضْمَضَةِ.

Kesunnahan istinsyaq sudah bisa didapat dengan memasukkan air ke dalam hidung, baik ditarik dengan nafasnya hingga ke janur hidung lalu menyemprotkannya ataupun tidak. Jika ingin mendapatkan yang paling sempurna, maka dia harus mennyemprotkannya.

               

وَيَحْصُلُ أَصْلُ السُّنَّةِ فِيْهِ بِإِدْخَالِ الْمَاءِ فِي الْأَنْفِ, سَوَاءٌ جَذَبَهُ بِنَفَسِهِ إِلَى خَيَاشِيْمِهِ وَنَثَرَهُ أَمْ لَا, فَإِنْ أَرَادَ الْأَكْمَلَ نَثَرَهُ.

Mubalaghah (mengeraskan) di anjurkan saat berkumur dan istinsyaq.

               

وَالْمُبَالَغَةُ مَطْلُوْبَةٌ فِي الْمَضْمَضَةِ وَالْاِشْتِنْشَاقِ.

Mengumpulkan berkumur dan istinsyaq dengan tiga cidukan air, yaitu berkumur dari setiap cidukan kemudian istinsyaq, adalah sesuatu yang lebih utama daripada memisah di antara keduanya.

               

وَالْجَمْعُ بَيْنَ الْمَضْمَضَةِ وَالْاِسْتِنْشَاقِ بِثَلَاثِ غُرَفٍ يَتَمَضْمَضُ مِنْ كُلٍّ مِنْهَا ثُمَّ يَسْتَنْشِقُ أَفْضَلُ مِنَ الْفَصْلِ بَيْنَهُمَا.

Mengusap Seluruh Kepala

Dan mengusap seluruh bagian kepala. Dalam sebagian redaksi matan diungkapkan dengan bahasa “dan meratakan kepala dengan usapan”.

               

(وَمَسْحُ جَمْيِعْ الرَّأْسِ) وَفِيْ بَعْضِ نُسَخِ الْمَتْنِ وَاسْتِيْعَابِ الرَّأْسِ بِالْمَسْحِ.

Sedangkan untuk mengusap sebagian kepala hukumnya adalah wajib sebagaimana keterangan di depan.

               

أَمَّا مَسْحُ بَعْضِ الرَّأْسِ فَوَاجِبٌ كَمَا سَبَقَ.

Dan seandainya tidak ingin melepas sesuatu yang berada di kepalanya yaitu surban atau sesamanya, maka dia disunnahkan menyempurnakan usapan air itu ke seluruh surbannya.

             

وَلَوْ لَمْ يُرِدْ نَزْعَ مَا عَلَى رَأْسِهِ مِنْ عِمَامَةٍ وَنَحْوِهَا كَمَّلَ بِالْمَسْحِ عَلَيْهَا.

Mengusap Kedua Telinga

Dan mengusap seluruh bagian kedua telinga, bagian luar dan dalamnya dengan menggunakan air yang baru, maksudnya bukan basah-basah sisa usapan kepala.

               

(وَمَسْحُ) جَمِيْعِ (الْأُذُنَيْنِ ظَاهِرِهِمَا وَبَاطِنِهِمَا بِمَاءٍ جَدْيِدٍ) أَيْ غَيْرِ بَلَلِ الرَّأْسِ.

Dan yang sunnah di dalam cara mengusap keduanya adalah ia memasukkan kedua jari telunjuk ke lubang telinganya, memutar-mutar keduanya ke lipatan-lipatan telinga dan menjalankan kedua ibu jari di telinga bagian belakang, kemudian menempelkan kedua telapak tangannya yang dalam keadaan basah pada kedua telinganya guna memastikan meratanya usapan air ke telinga.

               

وَالسُّنَّةُ فِيْ كَيْفِيَّةِ مَسْحِهِمَا أَنْ يُدْخِلَ مُسَبِّحَتَيْهِ فِيْ صَمَاخَيْهِ وَيُدِيْرَهُمَا عَلَى الْمَعَاطِفِ وَيُمِرَّ إِبْهَامَيْهِ عَلَى ظُهُوْرِهِمَا ثُمَّ يُلْصِقَ كَفَّيْهِ وَهُمَا مَبْلُوْلَتَانِ بِالْأُذُنَيْنِ اسْتِظْهَارًا.

Menyelah-Nyelahi Jenggot, Jari Kedua Tangan dan Kaki

Dan menyelah-nyelahi bulu jenggotnya orang laki-laki yang tebal. Lafadz ”al katstsati” dengan menggunakan huruf yang di beri titik tiga (huruf tsa’).

               

(وَتَخْلِيْلِ اللِّحْيَةِ الْكَثَّةِ) بِمُثَلَّثَةٍ مِنَ الرَّجُلِ.

Sedangkan jenggotnya laki-laki yang tipis, jenggotnya perempuan dan khuntsa, maka wajib untuk diselah-selahi.

               

أَمَّا لِحْيَةُ الرَّجُلِ الْخَفِيْفَةُ وَلِحْيَةُ الْمَرْأَةِ وَالْخُنْثَى فَيَجِبُ تَخْلِيْلُهُمَا.

Cara menyelah-nyelahi adalah seorang laki-laki memasukkan jari-jari tangannya dari arah bawah jenggot.


وَكَيْفِيَّتُهُ أَنْ يُدْخِلَ الرَّجُلُ أَصَابِعَهُ مِنْ أَسْفَلِ اللِّحْيَةِ.

Dan sunnah menyelah-nyelahi jari-jari kedua tangan dan kaki, jika air sudah bisa sampai pada bagian-bagian tersebut tanpa diselah-selahi.

               

(وَتَخْلِيْلُ أَصَابِعِ الْيَدَّيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ) إِنْ وَصَلَ الْمَاءُ إِلَيْهَا مِنْ غَيْرِ تَخْلِيْلٍ.

Jika air tidak bisa sampai pada bagian tersebut kecuali dengan cara diselah-selahi seperti jari-jari yang menempel satu sama lain, maka wajib untuk diselah-selahi.

               

فَإِنْ لَمْ يَصِلْ إِلَّا بِهِ كَالْأَصَابِعِ الْمُلْتَفَّةِ وَجَبَ تَخْلِيْلُهَا.

Jika jari-jari yang menempel itu sulit untuk diselah-selahi karena terlalu melekat, maka haram di sobek karena tujuan untuk diselah-selahi.

               

وَإٍنْ لَمْ يَتَأَتَّ تَخْلِيْلُهَا لِالْتِحَامِهَا حَرُمَ فَتْقُهَا لِلتَّخْلِيْلِ.

Cara menyelah-nyelahi kedua tangan adalah dengan tasybik. Dan cara menyelah-nyelahi kedua kaki adalah dengan menggunakan jari kelingking tangan kanan di masukkan dari arah bawah kaki, di mulai dari selah-selah jari kelingking kaki kanan dan di akhiri dengan jari kelingking kaki kiri.


وَكَيْفِيَّةُ تَخْلِيْلِ الْيَدَّيْنِ بِالتَّشْبِيِكِ وَالرِّجْلَيْنِ بِأَنْ يَبْدَأَ بِخِنْصِرِ يَدِّهِ الْيُسْرَى مِنْ أَسْفَلِ الرِّجْلِ مُبْتَدِئًا بِخِنْصِرِ الرِّجْلِ الْيُمْنَى خَاتِمًا بِخِنْصِرِ الْيُسْرَى.

Mendahulukan Bagian Kanan

Dan sunnah mendahulukan bagian kanan dari kedua tangan dan kaki sebelum bagian kiri dari keduanya.

               

(وَتَقْدِيْمُ الْيُمْنَى) مِنْ يَدَّيْهِ وَرِجْلَيْهِ (عَلَى الْيُسْرَى) مِنْهُمَا.

Sedangkan untuk dua anggota yang mudah dibasuh secara bersamaan seperti kedua pipi, maka tidak disunnahkan untuk mendahulukan bagian yang kanan dari keduanya, akan tetapi keduanya di sucikan secara bersamaan.

               

أَمَّا الْعُضْوَانِ اللَّذَانِ يَسْهُلُ غَسْلُهُمَا مَعًا كَالْخَدَّيْنِ فَلَا يُقَدَّمُ الْأَيْمَنُ مِنْهُمَا بَلْ يُطَهَّرَانِ دَفْعَةً وَاحْدَةً.

Mengulangi Tiga Kali dan Muwwallah (Terus Menerus)

Mushannif menyebutkan kesunnahan mengulangi basuhan dan usapan anggota wudlu’ sebanyak tiga kali di dalam perkataan beliau, “dan sunnah melakukan bersuci tiga kali tiga kali.” Dalam sebagian teks diungkapkan dengan bahasa “mengulangi anggota yang dibasuh dan yang diusap.”

             

وَذَكَرَ الْمُصَنِّفُ سُنِّيَّةَ تَثْلِيْثِ الْعُضْوِ الْمَغْسُوْلِ وَالْمَمْسُوْحِ فْيْ قَوْلِهِ (وَالطَّهَارَةُ ثَلَاثًا ثَلَاثًا) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ وَالتِّكْرَارُ أَيْ لِلْمَغْسُوْلِ وَالْمَمْسُوْحِ.

Dan muwallah (terus menerus). Muwallah diungkapkan dengan bahasa “tatabbu’”(terus menerus). Muwallah adalah antara dua anggota wudlu’ tidak terjadi perpisahan yang lama, bahkan setiap anggota langsung disucikan setelah mensucikan anggota sebelumnya, sekira anggota yang dibasuh sebelumnya belum kering dengan keaadan angin, cuaca dan zaman dalam keadaan normal.

               

(وَالْمُوَالَّاةُ) وَيُعَبَّرُ عَنْهَا بِالتَّتَابُّعِ وَهِيَ أَنْ لَا يَحْصُلَ بَيْنَ الْعُضْوَيْنِ تَفْرِيْقٌ كَثِيْرٌ بَلْ يُطَهِّرُ الْعُضْوَ بَعْدَ الْعُضْوِ بِحَيْثُ لَا يَجِفُّ الْمَغْسُوْلُ قَبْلَهُ مَعَ اعْتِدَالِ الْهَوَاءِ وَالْمِزَاجِ وَالزَّمَانِ.

Ketika mengulangi basuhan hingga tiga kali, maka yang jadi patokan adalah basuhan yang terakhir.

               

وَإِذَا ثَلَّثَ فَالْاِعْتِبَارُ لِآخِرِ غَسْلَةٍ.

Muwallah hanya disunnahkan di selain wudlu’nya shahibud dlarurah (orang yang memiliki keadaan darurat). Sedangan untuk shahibur dlarurah, maka muwallah hukumnya wajib bagi dia.

               

وَإِنَّمَا تُنْدَبُ الْمُوَالَّاةُ فِيْ غَيْرِ وُضُوْءِ صَاحِبِ الضَّرُوْرَةِ. أَمَّا هُوَ فَالْمُوَالَّاُة وَاجِبَةٌ فِيْ حَقِّهِ.

Dan masih ada lagi kesunnahan-kesunnahan wudlu’ lainnya yang disebutkan di dalam kitab-kitab yang panjang keterangannya.

             

وَبَقِيَ لِلْوُضُوْءِ سُنَنٌ أُخْرَى مَذْكُوْرَةٌ فِي الْمُطَوَّلَاتِ.

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

TERJEMAH KITAB FATHUL QORIB BAB FARDLU WUDLU

BAB WUDLU’

(Fasal) menjelaskan wardlu-wardlu wudlu’.

(فَصْلٌ) فَيْ فُرُوْضِ الْوُضُوْءِ

وَهُوَ بِضَمِّ الْوَاوِ فِي الْأْشْهَرِ اسْمٌ لِلْفِعْلِ, وَهُوَ الْمُرَادُ هُنَّا, وَبِفَتْحِ الْوَاوِ اسْمٌ لِمَا يُتَوَضَّأُ بِهِ

وَيَشْتَمِلُ الْأَوَّلُ عَلَى فُرُوْضٍ وَسُنَنٍ

Lafadz “al wudlu’” dengan terbaca dlammah huruf waunya, menurut pendapat yang paling masyhur adalah nama pekerjaannya. Dan dengan terbaca fathah huruf wa’unya “al wadlu’” adalah nama barang yang digunakan untuk melakukan wudlu’.

Lafadz yang pertama (al wudlu’) mencakup beberapa fardlu dan beberapa kesunnahan.

 Fardlunya wudlu’

            

وَذَكَرَ الْمُصَنِّفُ الْفُرُوْضَ فِيْ قَوْلِهِ (وَفُرُوْضُ الْوُضُوْءِ سِتَّةُ أَشْيَاءَ)

Mushannif menyebutkan fardlu-fardlunya wudlu’ di dalam perkatan beliau, “fardlunya wudlu’ ada enam perkara.”

Niat wudlu’

أَحَدُهَا (النِّيَّةُ) وَحَقِيْقَتُهَا شَرْعًا قَصْدُ الشَّيْئِ مُقْتَرِنًا بِفِعْلِهِ. فَإِنْ تَرَاخَى عَنْهُ سُمِّيَ عَزْمًا.

Pertama adalah niat. Hakikat niat secara syara’ adalah menyengaja sesuatu besertaan dengan melakukannya. Jika melakukannya lebih akhir dari pada kesengajaannya, maka disebut ‘azm.

               

وَتَكُوْنُ النِّيَّةُ (عِنْدَ غَسْلِ) أَوَّلِ جُزْءٍ مِنَ (الْوَجْهِ) أَيْ مُقْتَرِنَةً بِذَلِكَ الْجُزْءِ لَابِجَمِيْعِهِ وَلَا بِمَا قَبْلَهُ وَلَا بِمَا بَعْدَهُ

Niat dilakukan saat membasuh awal bagian dari wajah. Maksudnya bersamaan dengan basuhan bagian tersebut, bukan sebelumnya dan bukan setelahnya.

فَيَنْوِي الْمُتَوَضِّئُ عِنْدَ غَسْلِ مَا ذُكِرَ رَفْعَ حَدَثٍ مِنْ أَحْدَاثِهِ.

Sehingga, saat membasuh anggota tersebut, maka orang yang wudlu’ melakukan niat menghilangkan hadats dari hadats-hadats yang berada pada dirinya.

أَوْ يَنْوِي اسْتِبَاحَةَ مُفْتَقِرٍ إِلَى وُضُوْءٍ أَوْ يَنْوِيْ فَرْضَ الْوُضُوْءِ أَوِ الْوُضُوْءَ فَقَطْ.

Atau niat agar diperkenankan melakukan sesuatu yang membutuhkan wudlu’. Atau niat fardlunya wudlu’ atau niat wudlu’ saja.

أَوِ الطَّهَارَةَ عَنِ الْحَدَثِ فَإِنْ لَمْ يَقُلْ عَنِ الْحَدَثِ لَمْ يَصِحَّ

Atau niat bersuci dari hadats. Jika tidak menyebutkan kata “dari hadats” (hanya niat bersuci saja), maka wudlu’nya tidak syah.

وَإَذَا نَوَى مَا يُعْتَبَرُ مِنْ هَذِهِ النِّيَّاتِ وَشَرَّكَ مَعَهُ نِيَّةَ تَنَظُّفٍ أَوْ تَبَرُّدٍ صَحَّ وُضُوْؤُهُ.

Ketika dia sudah melakukan niat yang dianggap syah dari niat-niat di atas, dan dia menyertakan niat membersihkan badan atau niat menyegarkan badan, maka hukum wudlu’nya tetap syah.

Membasuh Wajah

Fardlu kedua adalah membasuh seluruh wajah.              

(وَ) الثَّانِيْ (غَسْلُ) جَمِيْعِ (الْوَجْهِ).

Batasan panjang wajah adalah anggota di antara tempat-tempat yang umumnya tumbuh rambut kepala dan pangkalnya lahyaini (dua rahang). Lahyaini adalah dua tulang tempat tumbuhnya gigi bawah. Ujungnya bertemu di janggut dan pangkalnya berada di telinga.   

وَحَدُّهُ طُوَلًا مَا بَيْنَ مَنَابِتِ شَعْرِ الرَّأْسِ غَالِبًا وَآخِرُ اللَّحْيَيْنِ وَهُمَا الْعَظَمَانِ اللَّذَانِ يَنْبُتُ عَلَيْهِمَا الْأَسْنَانُ السُّفْلَى يَجْتَمِعُ مُقَدِّمُهُمَا فِي الذَّقَنِ وَمُؤَخِّرُهُمَا فِي الْأُذُنِ

Dan batasan lebar wajah adalah anggota di antara kedua telinga.            

وَحَدُّهُ عَرْضًا مَا بَيْنَ الْأُذُنَيْنِ

Ketika di wajah terdapat bulu yang tipis atau lebat, maka wajib mengalirkan air pada bulu tersebut beserta kulit yang berada di baliknya / di bawahnya.          

وَإِذَا كَانَ عَلَى الْوَجْهِ شَعْرٌ خَفِيْفٌ أَوْ كَثِيْفٌ وَجَبَ إِيْصَالُ الَمَاءِ إِلَيْهِ مَعَ الْبَشَرَةِ الَّتِيْ تَحْتَهُ

Namun untuk jenggotnya laki-laki yang lebat, dengan gambaran orang yang diajak bicara tidak bisa melihat kulit yang berada di balik jenggot tersebut dari sela-selanya, maka cukup dengan membasuh bagian luarnya saja.             

وَأَمَّا لِحْيَةُ الرَّجُلِ الْكَثِيْفَةُ بِأَنْ لَمْ يَرَ الْمُخَاطَبُ بَشَرَتَهَا مِنْ خِلَالِهَا فَيَكْفِيْ غَسْلُ ظَاهِرِهَا

Berbeda dengan jenggot yang tipis, yaitu jenggot yang mana kulit yang berada di baliknya bisa terlihat oleh orang yang diajak bicara, maka wajib mengalirkan air hingga ke bagian kulit di baliknya      

بِخِلَافِ الْخَفِيْفَةِ وَهِيَ مَا يَرَى الْمُخَاطَبُ بَشَرَتَهَا فَيَجِبُ إِيْصَالُ الْمَاءِ لِبَشَرِتِهَا

Dan berbeda lagi dengan jenggotnya perempuan dan khuntsa, maka wajib mengalirkan air ke bagian kulit yang berada di balik jenggot keduanya, walaupun jenggotnya lebat.    

وَبِخِلَافِ لِحْيَةِ امْرَأَةٍ وَخُنْثَى فَيَجِبُ إِيْصَالُ الْمَاءِ لِبَشَرِتِهَمَا وَلَوْ كَثُفَا

Di samping membasuh seluruh wajah, juga harus membasuh sebagian dari kepala, leher dan anggota di bawah janggut[1].               

وَلَابُدَّ مَعَ غَسْلِ الْوَجْهِ مِنْ غَسْلِ جُزْءٍ مِنَ الرَّأْسِ وَالرَّقَبَةِ وَمَا تَحْتَ الذَّقَنِ

 

Membasuh Kedua Tangan

(وَ) الثَّالِثُ (غَسْلُ الْيَدَّيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ)

Fardlu yang ketiga adalah membasuh kedua tangan hingga kedua siku.

فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مِرْفَقَانِ اعْتُبِرَ قَدْرُهُمَا        

Jika seseorang tidak memiliki kedua siku, maka yang dipertimbangkan adalah kira-kiranya.

وَيَجِبُ غَسْلُ مَا عَلَى الْيَدَّيْنِ مِنْ شَعْرٍ وَسِلْعَةٍ وَأُصْبُعٍ زَائِدَةٍ وَأَظَافِيْرَ

Dan wajib membasuh perkara-perkara yang berada di kedua tangan, yaitu bulu, uci-uci, jari tambahan dan kuku.

وَيَجِبُ إِزَالَةُ مَا تَحَتَهَا مِنْ وَسَخٍ يَمْنَعُ وُصُوْلَ الْمَاءِ   

Dan wajib menghilangkan perkara yang berada di bawah kuku, yaitu kotoran-kotoran yang bisa mencegah masuknya air.

               

Mengusap Kepala

Fardlu yang ke empat adalah mengusap sebagian kepala, baik laki-laki atau perempuan.           

 (وَ)

الرَّابِعُ (مَسْحُ بَعْضِ الرَّأْسِ) مِنْ ذَكَرْ أَوْ أُنْثَى

Atau mengusap sebagian rambut yang masih berada di batas kepala.

أَوْ مَسْحُ بَعْضِ شَعْرٍ فِيْ حَدِّ الرَّأْسِ

Tidak harus menggunakan tangan untuk mengusap kepala, bahkan bisa dengan kain atau yang lainnya.              

وَلَاتَتَعَيَّنُ الْيَدُّ لِلْمَسْحِ بَلْ يَجُوْزُ بِخِرْقَةٍ وَغَيْرِهَا

Seandainya dia membasuh kepala sebagai ganti dari mengusapnya, maka diperkenankan.        

وَلَوْ غَسَلَ رَأْسَهُ بَدَلَ مَسْحِهَا جَازَ

Dan seandainya dia meletakkan (di atas kepala) tangannya yang telah di basahi dan tidak mengerakkannya, maka diperkenankan.               

وَلَوْ وَضَعَ يَدَّهُ الْمَبْلُوْلَةَ وَلَمْ يَحَرِّكْهَا جَازَ

Membasuh Kedua Kaki

Fardlu yang ke lima adalah membasuh kedua kaki hingga kedua mata kaki, jika orang yang melaksanakan wudlu’ tersebut tidak mengenakan dua muza.   

(وَ) الْخَامْسُ (غَسْلُ الرِّجْلَيْنِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ) إِنْ لَمْ يَكُنِ الْمُتَوَضِّئُ لَابِسًا لِلْخُفَّيْنِ

Jika dia mengenakan dua muza, maka wajib bagi dia untuk mengusap kedua muza atau membasuh kedua kaki.              

فَإِنْ كَانَ لَابِسَهُمَا وَجَبَ عَلَيْهِ مَسْحُ الْخُفَّيْنِ أَوْ غَسْلُ الرِّجْلَيْنِ

Dan wajib membasuh perkara-perkara yang berada di kedua kaki, yaitu bulu, daging tambahan, dan jari tambahan sebagaimana keterangan yang telah dijelaskan di dalam permasalahan kedua tangan  

وَيَجِبُ غَسْلُ مَا عَلَيْهِمَا مِنْ شَعْرٍ وَسِلْعَةٍ وَأُصْبُعٍ زَائِدَةٍ كَمَا سَبَقَ فِي الْيِدَّيْنِ

 

Tertib

             

(وَ) السَّادِسُ (التَّرْتِيْبُ) فِي الْوُضُوْءِ (عَلَى مَا) أَيِ الْوَجْهِ الَّذِيْ (ذَكَرْنَاهُ) فِيْ عَدِّ الْفُرُوْضِ

Fardlu yang ke enam adalah tertib di dalam pelaksanaan wudlu’ sesuai dengan cara yang telah saya jelaskan di dalam urutan fardlu-fardlunya wudlu’.

فَلَوْ نَسِيَ التَّرْتِيْبَ لَمْ يَكْفِ

Sehingga, kalau lupa tidak tertib, maka wudlu’ yang dilaksanakan tidak mencukupi.

           

وَلَوْ غَسَلَ أَرْبَعَةٌ أَعْضَاءَهُ دَفْعَةً وَاحِدَةً بِإِذْنِهِ ارْتَفَعَ حَدَثُ وَجْهِهِ فَقَطْ

Seandainya ada empat orang yang membasuh seluruh anggota wudlu’nya seseorang sekaligus dengan seizinnya, maka yang hilang hanya hadats wajahnya saja.

[1] Karena untuk memastikan bahwa seluruh bagian wajah telah terbasuh. Sebab tidak bisa diyaqini bahwa seluruh wajah telah terbasuh kecuali dengan membasuh bagian-bagian itu juga.

(Sumber : Kitab Fathul Qorib)

MENGETAHUI SIAPA ITU IBLIS, SYAITAN DAN JIN

Intinya Jin ada dua : Jin Syarirun (jelek) dan berkelompok menjadi SYAITHON, dan IBLIS adalah abu syaithon, sedangkan AL JANNU adalah ABUL JINN (bapak moyang jin). Demikian adanya. Kalau jin makanannya tulang, seperti sabda Nabi SAW. Lihat i’anah bagian istijmar bil hajar. Syaithonul insi wa syaithonul jin, “Syetan dari jenis manusia dan dari jenis jin”. Jadi manusia yang berprilaku jelek (syarru) juga bisa disebut syetan.

 Al Furuqu al Lughowiyyah :

الفرق بين الشيطان والجن: أن الشيطان هو الشرير من الجن ولهذا يقال للانسان إذا كان شريرا شيطان ولا يقال جني لان قولك شيطان يفيد الشر ولا يفيده قولك جني، وإنما يفيد الاستتار ولهذا يقال على الاطلاق لعن الله الشيطان ولا يقال لعن الله الجني، والجني إسم الجنس والشيطان صفة.

الجانُّ هو أبو الجنِّ خُلِقَ من نار ثم خُلق منه نسله. وقال الليث في قول الله: )تَهتَزُّ كَأنّها جَان وَلّى مُدْبِراً(، الجانُّ: حية بيضاء الكتاب : تهذيب اللغة

وإبليس أبو الشياطين الكتاب : كتاب الكليات ـ لأبى البقاء الكفومى )

Kitab Tuhfatul Muhtaj :

تحفة المحتاج في شرح المنهاج (30/ 223)

الْجِنُّ أَجْسَامٌ هَوَائِيَّةٌ أَوْ نَارِيَّةٌ أَيْ يَغْلِبُ عَلَيْهِمْ ذَلِكَ فَهُمْ مُرَكَّبُونَ مِنْ الْعَنَاصِرِ الْأَرْبَعَةِ كَالْمَلَائِكَةِ عَلَى قَوْلٍ وَقِيلَ : أَرْوَاحٌ مُجَرَّدَةٌ وَقِيلَ نُفُوسٌ بَشَرِيَّةٌ مُفَارِقَةٌ عَنْ أَبْدَانِهَا وَعَلَى كُلٍّ فَلَهُمْ عُقُولٌ وَفَهْمٌ وَيَقْدِرُونَ عَلَى التَّشَكُّلِ بِأَشْكَالٍ مُخْتَلِفَةٍ وَعَلَى الْأَعْمَالِ الشَّاقَّةِ فِي أَسْرَعِ زَمَنٍ

Jin adalah jisim-jisim bangsa udara atau golongan api dalam arti cenderung pada itu, mereka tersusun dari 4 elemen sebagaimana malaikat menurut 1 pendapat. Dan dikatakan, jin adalah arwah-arwah yang menyendiri. Dan dikatakan lagi, jin adalah nyawa manusia yang pisah dari raganya dan di setiap satunya mempunyai beberapa akal dan mereka mampu berubah wujud jadi apapun dan perkasa/mampu/sanggup mengerjakan sesuatu yang berat dalam waktu sekejap

Kitab Bada’iz Zuhur hal 38 :

قال وهب بن منبه أول من أفشى السلام آدم وفي بعض الأخبار ما أفشى السلام قوم الا أمنوا من العذاب والنقمة ثم قالت الملائكة إلهنا هل خلقت خلقا أفضل منا فقال الله تعالى أنا الذي خلقته بيدي وقلت له كن فكان ثم ان الله تعالى أمرالملائكة أن يسجدوا لآدم فكان أول من سجد جبرائيل ثم ميكائيل ثم اسرافيل ثم عزرائيل ثم الملائكة المقربون صلوات الله وسلامه عليهم أجمعين ثم ان الله تعالى أمرابليس بالسجود لآدم فأبى وامتنع من السجود فقال الله تعالى له(ما منعك أن تسجد لما خلقت بيدي) فقال أبليس أنا خير منه خلقتني من نار وخلقته من طين وأنا الذي عبدتك دهرا طويلا قبل أن تخلقه فقال الله تعالى لقد علمت من سابق علمي منك المعصية فلم تنفعك العبادة أخرج من رحمتي مذموما مدحورا لأملأن جهنم منك وممن تبعك فقال ابليس عند ذلك ربي أنظرني الى يوم يبعثون قال انك من المنظرين فعند ذلك تغير خلقته وصار شيطانا رجيما وكان أسمه عزازيل وكان كبار الملائكة ما ترك بقعة من السماء والأرض الا وله فيها ركعة وسجدة ولكن بعصيانه لم تنفعه عبادته وسمى ابليس لأنه أبلس من رحمة الله أي أيس

Wahhab bin Munabbih berkata : Pertama kali yang mengumandangkan salam adalah nabi Adam dan disebagian kabar ada keterangan, tidaklah suatu kaum yang mengumandangkan salam kecuali mereka selamat dari siksa setelah itu malaikat bertanya,, Ya TUHAN kami, apakah engkau menciptakan mahluk yang lebih mulia dari pada kami ? ALLOH menjawab, Akulah  yang menciptakannya lewat tanganKu sendiri dan Aku berucap, Wujudlah, maka dia jadi wujud, setelah itu ALLOH Memerintah pada para malaikat untuk sujud pada Adam, dan yang pertama sujud adalah Jibril, lalu Mikail, lalu Isrofil lalu Izroil kemudian para malaikat Muqorrobin sholawatulloh wasalamuhu ajma’in, kemudian ALLOH memerintah pada iblis untuk sujud pada nabi Adam tapi iblis membangkang dan enggan untuk bersujud. ALLOH bersabda apa yang membuatmu tidak mau bersujud pada mahluk yang aku ciptakan lewat tanganku sendiri ? iblis menjawab, aku lebih mulia dari padanya, engkau menciptakanku dari api sedangkan ia engkau ciptakan dari tanah, dan saya telah beribadah kepadamu dulu dari masa yang sangat lama sebelum ia engkau ciptakan.

ALLOH menjawab : Dari dahulu aku telah mengetahui bahwa kamu akan durhaka padaku maka semua ibadah yang kamu lakukan tidak akan bermanfaat, mulai sekarang keluarlah dari rahmatku, sungguh aku akan memenuhi isi neraka jahannam darimu dan semua pengikutmu. Setelah itu iblis berkata, ya TUHAN tunggulah saya sampai hari kebangkitan, ALLOH berfirman ; Sungguh kamu tergolong orang-orang yang menunggu. Setelah kejadian itu iblis wujudnya berubah menjadi syetan yang terkutuk, nama asli iblis adalah azazil yang jadi pembesar para malaikat, tiada suatu tempat dilangit maupun di bumi kecuali disitu ia melakukan sujud ibadah pada ALLOH, tapi karena durhaka maka semua ibadahnya menjadi sia-sia. Dinamakan iblis karena ia telah ablas ­ambles – putus dari rahmat ALLOH.

Wallohu a’lam.

SEJARAH MATA RANTAI KITAB KITAB MADZHAB SYAFI’IYYAH

Imam Al Haramain Abdul Malik bin Abdillah al Juwainiy telah mengumpulkan kitab-kitab Imam Syāfi’iy; yaitu kitab al Umm, Al Imlā, ar Risālah dan selainnya, dengan disertakan karya murid-murid Imam Syāfi’i seperti Mukhtasor al Muzaniy, al Buwaithiy dan selain keduanya, dan kitab-kitab ashābul wujuh dan at Tarjihāt beserta syarahnya dalam kitab : “Nihāyatul Mathlab fi Dirāyati al Madzhab”, ia merupakan kitab yang luar biasa. As Syafi’iyah bersepakat dalam memujinya. Ibnu Khullakān rahimahulāh berkata : “Tidak pernah ditulis dalam Islam (karya tulis) yang semisal itu”.

Kemudian al Ghazāliy meringkas an Nihāyah dan menaminya dengan al Basīth, kemudian meringkasnya kembali menjadi al Wasīth, dan meringkas dengan ringkasan yang lebih ringkas lagi dengan nama Al Wajīz.

Ibnu Hajar al Haitamīy rahimahullah berkata : “Al Ghazaliy meringkas an Nihayah yang telah disebutkan dalam ringkasan yang panjang lagi berbobot, dia menamainya al Basīth, yang dia meringkasnya juga dengan ringkasan yang lebih sedikit darinya dan menamainya dengan nama al Wasīth, dan pula meringkasnya dengan yang lebih ringkas lagi (dari al Wasīth) dan menamainya al Wajīz.

Kemudian datanglah ar Rāfi’iy, dia mensyarah al Wajiz dengan syarah yang ringkas, kemudian syarah yang besar. Tidak pernah di tulis dalam madzhab asy Syāfi’iy yang seperti an Nihayah”.

Al Imām al ‘Alāmah asy Syaikh Najmuddien Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin ar Rif’ah; Syāfi’iy pada zamanya (w. 710) telah mensyarah al Wasīth dengan syarah yang diberi Nama “al Mathlabul ‘āliy bi Syarhi wasīth al Ghazalīy”, namun beliau wafat sebelum menyempurnakan syarh nya tersebut, maka asy Syaikh al Hamawiy menyempurnakannya; kitabnya sebanyak 26 jilid.

Selain Najmuddien ar Rif’ah, ada juga syarh Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abi Hazm Makkiy bin Yasin bin al ‘Abbās Najmuddien (w. 727 H) dengan syarah yang dinamai “Al Bahru Al Muhīth bi Syarhi al Wasīth”, sebagimana juga mensyarh al Wasīth al ‘Ālim al ‘Alāmah Syihābuddien Ahmad bin Abdullah al Adra’īy (w. 783 H) dengan nama : “At Tawasuth wal Fath baina Ar Raulhoh wa Syarh” seanyak sepuluh jilid.

Sebagimana telah lalu perkataan Ibnu Hajar al Haitamiy rahimahullah, bahwa al Imām Abul Qōsim ar Rāfi’iy; Abdul Karim bin Muhammd menyarah al Wajīz al Ghazāliy dengan dua syarh (penjelasan), yang satu kecil dan yang satu besar; dengan nama “Fathul ‘Azīz bi Syarhi al Wajīz”, maka manusia pun mengambil faidah dari syarah ini; dipelajari dan diringkas.

Imam Muhyiddien an Nawawiy meringkas kitab “Fathul ‘Azīz” dengan suatu kitab yang diberi judul “Raudotu ath Thālibīn ‘wa ‘Umdatu al Muftīn”, dan kitab ini sangat diperhatikan para ‘Ulama.

Kitab “Raudotu ath Thālibīn” diperhatikan para ‘ulama dengan dijabarkan dan dijelaskan. Telah mensyarh “ar Raudoh” al ‘Alāmah Badruddien Abu ‘Abdillah Muhammad bin Abdullah az Zarkāsiy (w. 479 H) dengan nama “Khādimu asy Syarh ar Raudoh”, ia merupakan kitab yang besar, ada empat belas jilid. Di dalamnya disebutkan tentang hal-hal sulit yang terdapat dalam “ar Raudoh”, cara penyajiannya seperti kitab “At Tawasuth” karya al Adzrā’iy”.

Abul Qōsim Ar Rāfi’iy meringkas kitab “al Wajīz” al Ghazāliy dengan suatu ringkasan yang dinamai dengan “al Muharar” [Sebagian peneliti berpendapat bahwa al Muharor kitab tersendiri; bukan ringkasan “al Wajīz”].

Kemudian Asy Syaikh Najmuddien Al Qozawainiy meringkas “al Muharrar” dengan kitab yang dinamai dengan al Hāwīy Ash Shagīr. Ia termasuk ringkasan yang istimewa.

Dan penjelasan (syarh) Al Wajīz karya Ar Rāfi’iy dikenal dengan nama “Asy Syarhu Al Kabīr”.

Asy Syaikh Sirājuddien Abu Hafs ‘Umar bin ‘Ali bin Al Mulaqqin telah mentakhrij hadis “Asy Syarhu al Kabīr” dan menjelasakan mana yang sahih dan mana yang dlho’if dalam kitab yang besar; tujuh jilid, dengan nama “Al Badu al Munīr Fi Takhrīj Ahāditsi Asy Syarhi Al Kabīr”, kemudia beliau pun meringkasnya kembali dengan nama “Mukhtasor al Badru Al Munīr”. Kemudian asy Syaikh Al Hāfidz Syihābuddien Ahmad bin Muhammad bin Hajar al ‘Asqolāniy meringkas “al Badru al Munīr” dan menamainya dengan judul “Talkhīs Al Habīr Khulāshoh al Badri Al Munīr”. Rahimahumullah.

Imam Nawawi rahumahullah meringkas Syarh Al Wajīz Ar Rāfi’iy dengan kitab yang dinamai dengan judul “Raudotu at Thālibīn wa ‘Umdatu al Muftīn”; dua belas jilid”. Kemudian, Imam Nawawi meringkas “al Muharror” karya ar Rāfi’iy dengan kitab lain yang berjudul “Minhāju ath Thālibīn”, kitab ini (Minhāju ath Thālibīn) memiliki kedudukan istimewa dalam madzhab, sehingga mereka mengajarkannya, mensyarahnya dan juga menghafalnya.

Diantara Syarh al Minhāj adalah syarah Asy Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Ibrāhīm bin Ahmad Jalāluddien al Mahalliy, syarh ini deikenal dengan nama Syarh Jalāluddien al Mahalliy. Dan Syarh al Mahalliy ini menjadi bekal bagi para pelajar dan pengajar, sehingga jika para penulis yang datang setelahnya menyebutkan : “Qōla Asy Syārihu [Pensyarah telah berkata]”, maka yang dimaksudkan adalah al Mahalliy.

Dan diantara yang memberikan ta’liq kepada syarh al Mahalliy adalah Syihābuddien Ahmad bin Ahmad bin Salāmah al Qolyūbiy dan Syihābuddien Ahmad; ‘Amīrah (w. 958 H).

Sebagimana pula telah mensyarh “Minhāju ath Thālibīn” Syihābuddien Ahmad bin Muhammad bin Hajar al Haitamiy rahimahullah (w. 974 H) dengan syarh (penjelasan) yang berjudul “Tuhfatul Al Muhtāj.

Asy Syaikh Syamsuddien Muhammad bin Abi Al ‘Abbās Ahmad bin Hamzh Ar Ramliy al Mishriy (w. 1004 H), beliau juga mensyarh “al Minhāj” dengan kitab yang popular; berjudul Nihāyatul Muhtāj ilā Syarhi al Minhāj.

Asy Syaikh Syamsuddien Muhammad bin Muhammad al Khothiy asy Syarbīniy pun menyarh “al Minhāj” dengan judul kitab “Mughniy al Muhtāj ilā Ma’āniy Alfādzi al Minhāj”

Demikian juga Asy Syaikh Al Muhaqiq Muhammad Az Zuhriy al Ghomrāwiy menysrah “al Minhāj” dengan syarh (penjelasan) yang ringkas, yaitu dalam kitab “As Sirājul Waĥāj ‘Ala Alfādzi Al Minhāj.

Kemudian Syaikhul Islam Zakaria al Anshāriy meringkas “Minhāju at Thālibīn” dalam suatu ringkasan yang berjudul “Manhaju Ath Thūlāb”, kemudian beliau mensyarhnya sendiri dalam tulisan yang berjudul “Fathul Wahhāb bi Syarhi Manhaji Ath Thūlāb”, ia merupakan kitab yang mu’tamad dalam madzhab. Al Bajrīmiy telah menambahkan hasyi-yah yang mencukupi, dan menamainya dengan “at Tajrīdu linNaf’i al ‘Abīd”.

Asy Syaikh Syarafuddien Ismā’il bin Abi Bakar; Ibnul Muqriy al Yamaniy meringkas “Raudathu Ath Thālibīn” dengan judul kitab “Raudlhu Ath Thālib”. Syaikhul Islam Zakaria al Anshāriy telah mensyarhnya dengan judul kitab “Asnā al Mathālib Syarh Raudhi Ath Thālib”, ia merupkan kitab yang bagus dan menjadi pegangan (mu’tamadah) muta-akhiirin.

Kemudian asy Syaikh Syarafuddien Ismāīl bin Abu Bakar al Muqriy, meringkas kitab “Al Hāwiy As Shagīr” dalam judul kitab “Al Irsyād”. Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Hajar al Haitamiy telah menyarah (menjelasakan) ringkasan ini dalam kitabnya yang besar, dengan judul “Al Imdād”, kemudian dia sendiri meringkasnya dengan nama “Fathul Jawwād”.

Demikianlah seiring bergulirnya waktu hingga kita saat ini, di zaman kita ada dua tulisan yang berjudul al Fiqhu al Manhaji fil Fiqhi asy Syāfi’iy dan Al Mu’tamad fil Fiqhi asy Syāfi’iy, dua tuilisan yang sama-sama menyajikan kembali pendapat yang mu’tamad (pendapat resmi madzhab) dengan penyajian kekinian.

ISTINJA (CEBOK) DAN HAL HAL YANG MEMBATALKAN WUDLU DALAM KITAB TAQRIB

ISTINJAK – BERSUCI SETELAH BUANG AIR (CEBOK)

(فصل) والاستنجاء واجب من البول والغائط والأفضل أن يستنجي بالأحجار ثم يتبعها بالماء ويجوز أن يقتصر على الماء أو على ثلاثة أحجار ينقي بهن المحل فإذا أراد الاقتصار على أحدهما فالماء أفضل.

ويجتنب استقبال القبلة واستدبارها في الصحراء ويجتنب البول والغائط في الماء الراكد وتحت الشجرة المثمرة وفي الطريق والظل والثقب ولا يتكلم على البول ولا يستقبل الشمس والقمر ولا يستدبرهما.

Artinya: Instinja’ (Jawa, cewok) atau membersihkan diri itu wajib setelah buang air kecil (kencing) dan buang air besar (BAB). Yang utama adalah bersuci dengan memakai beberapa batu[1] kemudian dengan air. Boleh bersuci dengan air saja atau dengan 3 (tiga) buah batu yang dapat membersihkan tempat najis. Apabila hendak memakai salah satu dari dua cara, maka memakai air lebih utama.

ETIKA KENCING DAN BUANG AIR BESAR (BAB)

Orang yang sedang buang air besar (BAB) hendaknya tidak menghadap kiblat dan tidak membelakanginya apabila dalam tempat terbuka. Kencing atau BAB hendaknya tidak dilakukan di air yang diam, di bawah pohon yang berbuah, di jalan, di tempat bernaung, di lobang. Dan hendaknya tidak berbicara saat kencing dan tidak menghadap matahari dan bulan dan tidak membelakangi keduanya.

PERKARA YANG MEMBATALKAN WUDHU (YANG MENGAKIBATKAN HADAS KECIL)

(فصل) والذي ينقض الوضوء ستة أشياء ما خرج من السبيلين والنوم على غير هيئة المتمكن وزوال العقل بسكر أو مرض ولمس الرجل المرأة الأجنبية من غير حائل ومس فرج الآدمي بباطن الكف ومس حلقة دبره على الجديد.

Artinya: Perkara yang membatalkan wudhu ada 6 (enam): sesuatu yang keluar dari dua jalan (depan belakang), tidur dalam keadaan tidak tetap, hilang akal karena mabuk atau sakit, sentuhan laki-laki pada wanita bukan mahram tanpa penghalang, menyentuh kemaluan manusia dengan telapak tangan bagian dalam, menyentuh kawasan sekitar anus (dubur) menurut qaul jadid.[1]

[1] Qaul jadid (pendapat baru) adalah fatwa Imam Syafi’i saat berada di Mesir. Qaul qadim (pendapat lama) adalah fatwa Imam Syafi’i saat berada di Baghdad, Irak.

KULIT HEWAN YANG DI SAMAK HINGGA MASALAH WUDLU DALAM KITAB TAQRIB

SUCINYA KULIT BANGKAI SETELAH DISAMAK

(فصل) وجلود الميتة تطهر بالدباغ إلا جلد الكلب والخنزير وما تولد منهما أو من أحدهما وعظم الميتة وشعرها نجس إلا الآدمي.

ولا يجوز استعمال أواني الذهب والفضة ويجوز استعمال غيرهما من الأواني.

Terjemah: Kulit bangkai dapat suci dengan disamak kecuali kulit anjing dan babi dan hewan yang terlahir dari keduanya atau dari salah satunya. Adapun tulang bangkai itu najis kecuali tulang mayat manusia.

Tidak boleh menggunakan wadah yang terbuat dari emas dan perak. Boleh menggunakan wadah yang selain dari emas dan perak.

HUKUM SIWAK (SIKAT GIGI)

(فصل) والسواك مستحب في كل حال إلا بعد الزوال للصائم وهو في ثلاثة مواضع أشد استحبابا: عند تغير الفم من أزم وغيره وعند القيام من النوم وعند القيام إلى الصلاة.

Artinya: Bersiwak itu hukumnya sunnah dalam setiap keadaan kecuali setelah condongnya matahari bagi yang berpuasa. Bersiwak sangat disunnah dalam 3 tempat yaitu (a) saat terjadi perubahan bau mulut; (b) setelah bangun tidur; (c) hendak melaksanakan shalat.

TATA CARA WUDHU

(فصل) وفروض الوضوء ستة أشياء النية عند غسل الوجه وغسل الوجه وغسل اليدين إلى المرفقين ومسح بعض الرأس وغسل الرجلين إلى الكعبين والترتيب على ما ذكرناه.

Artinya: Artinya: Rukun atau fardhu-nya wudhu ada 6 (enam) yaitu:

  1. Niat saat membasuh muka.[1]
  2. Membasuh muka.
  3. Membasuh kedua tangan sampai siku.
  4. Mengusap sebagian kepala.[2]
  5. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki.
  6. Dilakukan secara tertib dari no. 1 sampai 5.

CATATAN:

[1] Niat wudhu adalah: نويت الوضوء لرفع الحدث الأصغر فرضا للو تعالي

Artinya: Saya niat wudhu untuk menghilangkan hadats kecil karena Allah Ta’ala.

[2] Beda mengusap dan membasuh adalah kalau mengusap cukup dilakukan dengan sekedar membasahi dengan sedikit air. SEdang membasuh memakai air yang dapat mengaliri seluruh anggota badan yang wajib dibasuh.

SUNNAH-NYA WUDHU

(فصل) وسننه عشرة أشياء التسمية وغسل الكفين قبل إدخالهما الإناء والمضمضة والاستنشاق ومسح جميع الرأس ومسح الأذنين ظاهرهما وباطنهما بماء جديد وتخليل اللحية الكثة وتخليل أصابع اليدين والرجلين وتقديم اليمنى على اليسرى والطهارة ثلاثا ثلاثا والمولاة.

Artinya: Sunnahnya wudhu ada 10 (sepuluh): membaca bismillah, membasuh kedua telapak tangan sebelum memasukkan ke wadah air, berkumur, menghirup air ke hidup, mengusap seluruh kepala, mengusap kedua telinga luar dalam dengan air baru, menyisir jenggot tebal dengan jari, membasuh sela-sela jari tangan dan kaki, mendahulukan bagian kanan dari kiri, menyucikan masing-masing 3 (tiga) kali, bersegera.

TERJEMAH KITAB FATHUL QORIB : MUQODDIMAH KITAB

MUKADIMAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

قَالَ الشَّيْخُ الإِمَامُ العَالِمُ العَلَّامَةُ شَمْسُ الدِّيْنِ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدِ بْنِ قَاسِمٍ الشَّافِعِيِّ تَغَمَّدَهُ اللهُ بِرَحْمَتِهِ وَرِضْوَانِهِ آمِينْ:

Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.

Al-Syaikh Al-Imam Al-’Alim Al-’Allamah Syams Ad-Din Abu ‘Abdillah Muhammad Ibn Qosim As-Syafi’I – semoga Allah melimpahkan Rahmat dan Ridlo kepada beliau, amin – berkata:

الحَمْدُ لِلهِ تَبَرُّكاً بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ لِأَنَّهَا ابْتِدَاءُ كُلِّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ. وَخَاتِمَةُ كُلِّ دُعَاءٍ مُجَابٍ. وَآخِرُ دَعْوَى المُؤْمِنِيْنَ فِي الْجَنَّةِ دَارِ الثَّوَابِ. أَحْمَدُهُ أَنْ وَفَّقَ مَنْ أَرَادَ مِنْ عِبَادِهِ لِلتَّفَقُّهِ فِي الدِّيْنِ عَلَى وِفْقِ مُرَادِهِ. وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَى أَفْضَلِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ. الْقَائِلِ: “مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْراً يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ” وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مُدَّةَ ذِكْرِ الذَّاكِرِيْنَ وَسَهْوِ الغَافِلِيْنَ.

Al-Hamdu Lillah (segala puji bagi Allah) dengan berharap keberkahan Surat Pembuka Al-Quran, karena hamdalah merupakan awalan dari tiap-tiap hal yang mengandung kebaikan, pungkasan setiap doa yang dikabulkan dan akhiran doa orang-orang mukmin di surga tempat pemberian balasan pahala. Saya memuji Allah, karena telah member pertolongan siapa saja yang dikehendaki-Nya dari para hamba-hamba-Nya yang ingin mendalami agama sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya.

Saya bersholawat dan salam kepada makhluq-Nya yang paling Utama, Muhammad, Sang Junjungan para Rasul, yang bersabda: “Barang siapa yang Allah menghendakinya menjadi baik maka Allah akan menjadikannya faham terhadap ajaran agama”. Dan kepada keluarga dan Shahabat Nabi, selama masih ingatnya orang-orang yang ingat (kepada Allah atau Rasulullah) dan lalainya orang-orang yang lalai (dari keduanya).

CATATAN : __________________________________

Penyebutan “مُدَّةَ ذِكْرِ الذَّاكِرِيْنَ وَسَهْوِ الغَافِلِيْنَ” bertujuan agar sholawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi, keluarga dan Shahabat beliau dalam semua waktu yang ada di dunia ini. Sebab waktu yang ada dalam dunia ini tidak lepas dari adanya mengingat kepada Allah atau Nabi Muhammad atau lupa dari keduanya.

(وَبَعْدُ): هَذَا كِتَابٌ فِي غَايَةِ الْاِخْتِصَارِ وَالتَّهْذِيْبِ. وَضَعْتُهُ عَلَى الْكِتَابِ المُسَمَّى بِالتَّقْرِيْبِ لِيَنْتَفِعَ بِهِ المُحْتَاجُ مِنَ المُبْتَدِئِيْنَ لِفُرُوْعِ الشَّرِيْعَةِ وَالدِّيْنِ. وَلِيَكُوْنَ وَسِيْلَةً لِنَجَاتِيْ يَوْمَ الدِّيْنِ. وَنَفْعاً لِعِبَادِهِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ سَمِيْعٌ دُعَاءَ عِبَادِهِ. وَقَرِيْبٌ مُجِيْبٌ. وَمَنْ قَصَدَهُ لَا يَخِيْبُ {وَإذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإنِّي قَرِيبٌ}

Selanjutnya, kitab Syarah ini adalah kitab yang sangat ringkas dan telah maksimal pembenahannya. Saya mengarangnya (untuk menjelaskan) terhadap kitab yang berjudul “at-Taqriib” dengan tujuan supaya orang yang membutuhkan dari sekian para pemula dalam memahami masalah furu’ syari’at dan agama, bisa mengambil manfaat dari kitab itu. Dan semoga kitab ini dapat menjadi pengantar keselamatan saya di Hari Pembalasan nanti serta bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya yang muslim. Karena sesungguhnya Dia Maha mendengar doa hamba-hamba-Nya, Maha dekat lagi Maha mengabulkan doa. Siapapun yang mau menuju pada-Nya maka dia tidak akan rugi. (Dalam firman-Nya disebutkan) : “ Jika hamba-hamba-Ku bertanya padamu tentang Aku maka (jawablah): sesungguhnya Aku Maha Dekat” (QS. Al-Baqoroh ayat 186)

وَ اعْلَمْ أَنَّهُ يُوْجَدُ فِي بَعْضِ نُسَخِ هَذَا الْكِتَابِ فِي غَيْرِ خُطْبَتِهِ تَسْمِيَّتُهُ تَارَةً بِالتَّقْرِيْبِ. وَتَارَةً بِغَايَةِ الاِخْتِصَارِ. فَلِذَلِكَ سَمَّيْتُهُ بِاسْمَيْنِ أَحَدُهُمَا: (فَتْحُ القَرِيْبِ المُجِيْبِ) فِي شَرْحِ أَلْفَاظِ التَّقْرِيْبِ. وَالثَّانِي: “القَوْلُ المُخْتَارُ فِي شَرْحِ غَايَةِ الْاِخْتِصَارِ”.

Ketahuilah bahwa dalam sebagian dari beberapa salinan kitab Taqrib ini – bukan dalam pembukaannya – sekali tempo ditemukan pemberian nama kitab ini dengan nama “at-Taqriib”, dan pada yang lain ditemukan nama “Ghoyatu al-Ikhtishor”. Maka dari itu, saya menamakan kitab saya ini dengan dua nama. Yang pertama “Fat-hu Al-Qorib Al-Mujib fi Syarhi alfadz at-Taqriib” (Pengetahuan dari Yang Maha Dekat lagi Maha mengabulkan, dalam menjelaskan ungkapan-ungkapan kitab at-Taqriib). Yang kedua “al-Qoul Al-Mukhtar fi Syarhi Ghoyati al-Ikhtishor” (Pendapat yang dipilih, dalam menjelaskan kitab Ghoyat al-Ikhtishor”).

قَالَ الشَّيْخُ الإِمَامُ أَبُو الطَّيِّبِ: وَيَشْتَهِرُ أَيْضاً بِأَبِيْ شُجَاعٍ شِهَابُ المِلَّةِ وَالدِّيْنِ أَحْمَدُ بْنُ الحُسَيْنِ بْنِ أَحْمَدَ الأَصْفَهَانِي سَقَى اللهُ ثَرَاهُ صَبِيْبَ الرَّحْمَةِ وَالرِّضْوَانِ. وَأَسْكَنَهُ أَعْلَى فَرَادِيْسِ الْجَنَانِ.

Syaikh Imam Abu Thoyib, yang terkenal dengan sebutan Abi Syuja’ – Sang Cahaya Agama – Ahmad ibn al-Husain ibn Ahmad Al-Ashfahani – semoga Allah menyirami pusara beliau dengan tuangan Rahmat dan Ridlo serta menempatkannya di tempat yang tinggi dalam surga firdaus – berkata:

(بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ) أَبْتَدِىءُ كِتَابِي هَذَا. وَ “الله” اسْمٌ لِلذَّاتِ الوَاجِبِ الوُجُوْدِ. والرّحْمَنُ أَبْلَغُ مِنَ الرَّحِيْمِ. (الحَمْدُ لِلهِ) هُوَ الثَّنَاءُ عَلَى اللهِ تَعَالَى بِالجَمِيْلِ عَلَى جِهَةِ التَّعْظِيْمِ (رَبِّ) أي مَالِكِ (العَالَمِيْنَ) بِفَتْحِ اللَّامِ. وَهُوَ كَمَا قَالَ ابْنُ مَالِكٍ اسْمُ جَمْعٍ خَاصٍّ بِمَنْ يَعْقِلُ لَا جَمْعٌ. وَمُفْرَدُهُ عَالَمٌ بِفَتْحِ اللَّامِ. لِأَنَّهُ اسْمٌ عَامٌ لمِاَ سِوَى اللهِ تَعَالَى وَالجَمْعُ خَاصٌّ بِمَنْ يَعْقِلُ.

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, saya memulai kitab saya ini. “Allah” Adalah nama dari Dzat yang wajib wujud-Nya. Kata Ar-Rahman lebih tinggi maknanya daripada kata Ar-Rahim. Al-Hamdu Lillah adalah pujian indah kepada Allah ta’ala untuk mengagungkan. “Yang Mengatur” maksudnya Yang Menguasai orang-orang alam. Lafad “العَالَمِيْنَ” dengan fathah pada huruf Lamnya, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Malik, adalah Isim Jama’ yang maknanya terkhusus pada orang-orang yang berakal, bukan lafad Jama’. Sedangkan Mufrodnya adalah “عَالَمٌ”dengan harakat fathah pada Lamnya. (Disebut isim jama’) sebab “عَالَمٌ” adalah kata benda yang maknanya mencakup semua hal selain Allah ta’ala, namun makna lafad jama’nya (العَالَمِيْنَ) malah hanya tertentu pada orang-orang yang berakal.

 (وَصَلَّى اللهُ) وَسَلَّمَ (عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ) هُوَ بِالهَمْزِ وَتَرْكِهِ إِنْسَانٌ أُوْحِيَ إِلَيْهِ بِشَرْعٍ يَعْمَلُ بِهِ. وَإِنْ لَمْ يُؤْمَرْ بِتَبْلِيْغِهِ فَإِنْ أُمِرَ بِتَبْلِيْغِهِ فَنَبِيٌّ وَرَسُوْلٌ أَيْضاً. وَالمَعْنَى يُنْشِىءُ الصَّلَاة وَالسَّلَامَ عَلَيْهِ. وَ “مُحَمَّدٌ” عَلَمٌ مَنْقُوْلٌ مِنْ اسْمٍ مَفْعُوْلٍ المُضَعَّفِ العَيْنِ. وَ “النَّبِيُّ “بَدَلٌ مِنْهُ أَوْ عَطْفُ بَيَانٍ عَلَيْهِ.

Semoga Allah melimpahkan sholawat dan salam pada junjungan Kita Muhammad SAW sang Nabi. Kata “النَّبِيِّ” baik yang menggunakan hamzah atau tidak, memiliki makna seorang yang kepadanya diwahyukan sebuah syari’at untuk diamalkan meskipun tidak diperintah untuk menyampaikannya (kepada umat). Jika ia diperintah untuk menyampaikannya maka ia adalah nabi dan juga rasul. Makna yang dikehendaki adalah semoga Allah memunculkan rahmat serta penghormatan dan salam kepadanya. Kata “مُحَمَّدٌ” adalah nama yang diambil dari isim maf’ul yang binaknya mudlo’af ‘ain. Kata “النَّبِيُّ” merupakan badal dari lafad “مُحَمَّدٍ” atau ‘athof bayannya.

 (وَ) عَلَى (آلِهِ الطَّاهِرِيْنَ) هُمْ كَمَا قَالَ الشَّافِعِيُّ أَقَارِبُهُ المُؤْمِنُوْنَ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ. وَبَنِي المُطَلِّبِ. وَقِيْلَ وَاخْتَارَهُ النَّوَوِيُّ: إِنَّهُمْ كُلُّ مُسْلِمٍ. وَلَعَلَّ قَوْلَهُ الطَّاهِرِيْنَ مُنْتَزَعٌ مِنْ قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَيُطَهِّرُكُمْ تَطْهِيْرًا}

Dan semoga terlimpahkan kepada keluarga Beliau yang suci. Makna “آلِهِ” sebagaimana pernah diungkapkan oleh Imam As-Syafi’i adalah kerabat-kerabat Nabi yang beriman, dari Bani Hasyim dan Bani Mutholib. Dan ada yang berpendapat – dan pendapat ini adalah pendapat yang dipilih oleh Imam An-Nawawi- Mereka adalah setiap orang Muslim. Kelihatannya kata “الطَّاهِرِيْنَ” diambil dari firman Allah:

وَيُطَهِّرُكُمْ تَطْهِيْرًا

Artinya: “dan Dia membersihkan kalian dengan sebenar-benarnya”. (Surat Al-Ahzab ayat 33)

 (وَ) عَلَى (صَحَابَتِهِ) جَمْعُ صَاحِبِ النَّبِيِّ وَقَوْلُهُ (أَجْمَعِيْنَ) تَأْكِيْدٌ لِصَحَابَتِهِ.

Dan semoga terlimpahkan pada Shohabat beliau. Kata “صَحَابَتِهِ” merupakan jama’ lafad “صَاحِبِ”. Dan ungkapan Mushannif “أَجْمَعِيْنَ” taukid (penguat makna) bagi lafad “صَحَابَتِهِ”.

 ثُمَّ ذَكَرَ المُصَنِّف أَنَّهُ مَسْؤُوْلٌ فِي تَصْنِيْفِ هَذَا المُخْتَصَرِ بِقَوْلِهِ: (سَأَلَنِي بَعْضُ الأَصْدِقَاءِ) جَمْعُ صَدِيْقٍ. وَقَوْلُهُ: (حَفَظَهُمُ اللهُ تَعَالَى) جُمْلَةٌ دُعَائِيَّةٌ (أَنْ أَعْمَلَ مُخْتَصَراً) هُوَ مَا قَلَّ لَفْظُهُ وَكَثُرَ مَعْنَاهُ (فِي الْفِقْهِ) هُوَ لُغَةً الفَهْمُ. وَاصْطِلَاحاً العِلْمُ بِالأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ العَمَلِيَّةِ المُكْتَسَبِ مِنْ أَدِلَّتِهَا التَّفْصِيْلِيَّةِ.

Selanjutnya Mushannif (Pengarang kitab matan Taqrib) menuturkan, beliau diminta untuk mengarang kitab mukhtashor ini dengan ungkapan: “Sebagian teman memintaku  – “الأَصْدِقَاءِ” adalah jama’ dari lafad “صَدِيْقٍ” – ungkapan semoga Allah menjaga mereka adalah ungkapan doa, untuk membuat kitab muhtashor yaitu kitab yang sedikit lafadnya namun luas maknanya dalam ilmu fiqh -menurut bahasa, Fiqh adalah faham dan menurut istilah adalah pengetahuan tentang ketentuan-ketentuan syari’at  yang berhubungan dengan perbuatan, yang diambil dari dalil-dalil tafshili-.

CATATAN : __________________________________

Ketentuan-ketentuan syariat atau fiqh diperoleh dari dalil tafshily yang diolah menggunakan dalil ijmaly. Dalil tafshily adalah dalil-dalil yang menjadi sumber hukum fiqh, meliputi al-Quran, Hadis, ijma’, Qiyas dan beberapa sumber hukum yang eksistensinya masih diperselisihkan ulama, seperti istishab, istihsan, qoul shohabat, mashlahah mursalah. Dalil ijmaly adalah kaedah-kaedah yang digunakan untuk memahami sumber-sumber hukum islam, terangkum sebagai ilmu ushul fiqh.

(عَلَى مَذْهَبِ الإِمَامِ) الأَعْظَمِ المُجْتَهِدِ نَاصِرِ السُّنَّةِ وَالدِّيْنِ أَبِي عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدٍ بْنِ إِدْرِيْسٍ بْنِ العَّبَّاسِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ شَافِعٍ. (الشَّافِعِيِّ) وُلِدَ بِغُزَّةَ سَنَةَ خَمْسِيْنَ وَمِائَةٍ وَمَاتَ (رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ وَرِضْوَانُهُ) يَوْمَ الجُمْعَةِ سَلْخَ رَجَبَ سَنَةَ أَرْبَعٍ وَمِائَتَيْنِ.

Sesuai dengan madzhab seorang Imam yang luhur, seorang mujtahid, pembela hadis dan agama, Abi Abdillah Muhammad ibn Idris ibn Al-’Abbas ibn ‘Utsman ibn Syafi’ As-Syafi’i beliau dilahirkan di Gaza tahun 150 H dan wafat semoga Rahmat dan Ridlo Allah terlimpah pada beliau pada hari Jumat akhir bulan Rajab tahun 204 H.

وَوَصَفَ المُصَنِّف مُخْتَصَرَهُ بِأَوْصَافٍ مِنْهَا أَنَّهُ (فِي غَايَةِ الاِخْتِصَارِ وَنِهَايَةِ الإِيْجَازِ) وَالغَايَةُ وَالنِّهَايَةُ مُتَقَارِبَانِ وَكَذَا الاِخْتِصَارُ وَالإِيْجَازُ. وَمِنْهَا أَنَّهُ (يَقْرُبُ عَلَى المُتَعَلِّمِ) لِفُرُوْعِ الفِقْهِ (دَرْسُهُ وَيَسْهُلُ عَلَى المُبْتَدِىءِ حِفْظُهُ) أيْ اسْتِحْضَارُهُ عَلَى ظَهْرِ قَلْبٍ لِمَنْ يَرْغَبُ فِي حِفْظِ مُخْتَصَرٍ فِي الفِقْهِ.

Pengarang memberi resensi atas kitab mukhtashornya dengan beberapa sifat yang diantaranya bahwa mukhtashor ini Sangat ringkas dan paling sederhana makna kata “الغَايَةُ” dan “النِّهَايَةُ” berdekatan begitu juga kata “الاِخْتِصَارُ” dan “الإِيْجَازُ”. Diantaranya lagi bahwa mukhtashor ini mudah bagi orang yang mempelajari ilmu furu’ fiqih untuk dipelajari dan mudah bagi pemula untuk dihafal). Maksudnya mudah mengingatnya di luar kepala, bagi orang yang gemar menghafal kitab mukhtashor ilmu fiqih.

(وَ) سَأَلَنِي أَيْضاً بَعْضُ الأَصْدِقَاءِ (أَنْ أُكْثِرَ فِيْهِ) أي المُخْتَصَرِ (مِنَ التَّقْسِيْمَاتِ) لِلْأَحْكَامِ الفِقْهِيَّةِ (وَ) مِنْ (حَصْرِ) أيْ ضَبْطِ (الخِصَالِ) الوَاجِبَةِ وَالمَنْدُوْبَةِ وَغَيْرِهِمَا

Dan sebagian teman memintaku juga untuk memperbanyak didalamnya maksudnya dalam kitab mukhtashor ini pembagian-pembagian hukum fiqh dan membatasi bilangan maksudnya menentuan batasan permasalahnya baik yang wajib, sunah atau yang lainnya.

(فَأَجِبْتُهُ إِلَى) سُؤَالِهِ فيِ (ذَلِكَ طَالِباً لِلثَّوَابِ) مِنَ اللهِ تَعَالَى جَزَاءً عَلَى تَصْنِيْفِ هَذَا المُخْتَصَرِ (رَاغِباً إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى) فِي الإِعَانَةِ مِنْ فَضْلِهِ عَلَى تَمَامِ هَذَا المُخْتَصَرِ وَ(فِي التَّوْفِيْقِ لِلصَّوَابِ) وَهُوَ ضِدُّ الخَطَأِ (إِنَّهُ) تَعَالَى (عَلَى مَا يَشَاءُ) أي يُرِيْدُ (قَدِيْرٌ) أي قَادِرٌ (وَبِعِبَادِهِ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ) بِأَحْوَالِ عِبَادِهِ. وَالْأَوَّلُ مُقْتَبَسٌ مِنْ قَوْلِهِ تَعَالَى: {اللهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ}  وَالثَّانِي مِنْ قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَهُوَ الحكِيمُ الخبيرُ} وَاللَّطِيْفُ وَالخَبِيْرُ اسْمَانِ مِنْ أَسْمَائِهِ تَعَالَى. وَمَعْنَى الأَوَّلِ العَالِمُ بِدَقَائِقِ الأُمُوْرِ وَمُشْكِلَاتِهَا. وَيُطْلَقُ أَيْضاً بِمَعْنَى الرَّفِيْقِ بِهِمْ. فَاللهُ تَعَالَى عَالِمٌ بِعِبَادِهِ. وَبِمَوَاضِعِ حَوَائِجِهِمْ. رَفِيْقٌ بِهِمْ. وَمَعْنىَ الثَّانِي قَرِيْبٌ مِنْ مَعْنَى الأَوَّلِ. وَيُقَالُ خَبَرْتُ الشَّيْءَ أَخْبَرُهُ فَأَنَا بِهِ خَبِيْرٌ أَيْ عَلِيْمٌ.

Maka aku menyetujui permintaan untuk membuatnya dengan mengharap pahala dari Allah ta’ala, sebagai balasan atas usaha mengarang kitab ini seraya mengharap pada Allah SWT.  pertolongan dari sifat keagungan-Nya atas kesempurnaan kitab mukhtashor ini dan  pertolongan untuk mendapatkan kebenaran. “الصَّوَاب”  adalah kebalikan dari “الخَطَأ” (kesalahan). Sesungguhnya Allah ta’ala terhadap apa yang dikehendaki maksudnya diinginkannya adalah Dzat yang berkuasa, maksudnya mampu (merealisasikannya) dan terhadap hamba-hamba-Nya adalah Dzat yang Maha Mengasihi dan Maha Mengetahui atas tingkah laku hamba-hamba-Nya . Ungkapan yang pertama “خَبِيْرٌ” diambil dari firman Allah ta’ala:

{اللهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ}

Artinya: “Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya”. (QS. As-Syura 19)

dan yang kedua “لَطِيْفٌ” dari firman-Nya

{وَهُوَ الحَكِيْمُ الخَبِيْرُ}

Artinya: “dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui”. (QS. Al-An’aam 18)

Kata “اللَّطِيْفُ” dan “الخَبِيْرُ” adalah dua nama dari nama-nama Allah ta’ala. Makna yang pertama adalah dzat yang mengetahui perkara-perkara yang detail dan yang rumit. Juga diungkapkan dengan makna yang berbelas-kasihan pada mereka. Maka Allah ta’ala adalah Dzat Yang Maha Mengetahui hamba-hambanya dan tempat kebutuhan mereka serta mengasihi mereka. Makna lafad yang kedua berdekatan dengan makna lafad yang pertama. Diungkapkan “خَبَرْتُ الشَّيْءَ أَخْبَرُهُ فَأَنَا بِهِ خَبِيْرٌ” artinya : saya telah mengerti tentang sesuatu, saya sedang mengerti tentangnya maka saya adalah orang yang mengerti tentangnya, maksudnya mengetahui.

TERJEMAH KITAB FATHUL QORIB BAB THAHARAH ( BERSUCI )

قَالَ المُصَنِّف رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى.

Mushannif berkata – semoga Allah memberi rahmat pada beliau – :

كِتَابُ أَحْكَامِ الطَّهَارَةِ

KOMPILASI KETENTUAN-KETENTUAN BERSUCI

وَالْكِتَابُ لُغَةً مَصْدَرٌ بِمَعْنَى الضَّمِّ وَالجَمْعِ. وَاصْطِلَاحاً اسْمٌ لِجِنْسٍ مِنَ الأَحْكَامِ. أَمَّا الْبَابُ فَاسْمٌ لِنَوْعٍ مِمَّا دَخَلَ تَحْتَ ذَلِكَ الْجِنْسِ.

Kitab menurut bahasa adalah masdar yang memiliki arti mengumpulkan. Sedang menurut istilah adalah nama bagi satu jenis dari beberapa hukum. Adapun “Bab” ialah nama bagi satu macam dari sekian hukum yang masuk pada jenis tersebut.

CATATAN : __________________________________

Mashdar adalah sebuah kata yang mengandung makna suatu perbuatan tanpa mengaitkan waktu.

وَالطَّهَارَةُ بِفَتْحِ الظَّاءِ لُغَةً النَّظَافَةُ. وَأَمَّا شَرْعاً فَفِيْهَا تَفَاسِيْرُ كَثِيْرَةٌ. مِنْهَا قَوْلُهُمْ فِعْلُ مَا تُسْتَبَاحُ بِهِ الصَّلَاة  أَيْ مِنْ وُضُوْءٍ وَغَسْلٍ وَتَيَمُّمٍ وَإِزَالَةِ نَجَاسَةٍ. أَمَّا الطُّهَارَةُ بِالضَّمِّ فَاسْمٌ لِبَقِيَّةِ المَاءِ.

“Thoharoh” dengan harokat fathah pada huruf tho’ menurut bahasa adalah bersih. Sedangkan  menurut syara’, maka didalamnya terdapat banyak penafsiran. Diantaranya adalah ungkapan ulama’ “Melakukan sesuatu yang dengannya sholat diperbolehkan” yaitu berupa wudlu, mandi, tayamum dan menghilangkan najis. Sedangkan “thuharoh” dengan harokat dlomah (pada huruf tho’) adalah sebutan bagi sisa air.

وَلَمَّا كَانَ المَاءُ آلَةً لِلطَّهَارَةِ  اسْتَطْرَدَ المُصَنِّفُ لِأَنْوَاعِ المِيَاهِ فَقَالَ:

Karena air itu menjadi media bersuci, maka Mushannif mengutarakan tentang macam-macam air. Beliau berkata:

(المِيَاهُ الَّتِيْ يَجُوْزُ) أَيْ يَصِحُّ (التَّطْهِيْرُ بِهَا سَبْعُ مِيَاهٍ مَاءُ السَّمَاءِ) أي النَّازِلُ مِنْهَا وَهُوَ المَطَرُ (وَمَاءُ البَحْرِ) أيْ المِلْحِ (وَمَاءُ النَّهَرِ) أي الحُلْوِ (وَمَاءُ البِئْرِ وَمَاءُ العَيْنِ وَمَاء الثَّلْجِ وَمَاء البَرَدِ) وَيَجْمَعُ هَذِهِ السَّبْعَةِ قَوْلُكَ: مَا نَزَلَ مِنَ السَّمَاءِ أَوْ نَبَعَ مِنَ الأَرْضِ عَلَى أَيِّ صِفَةٍ كَانَ مِنْ أَصْلِ الخِلْقَةِ

Air-air yang boleh, maksudnya sah digunakan bersuci dengannya ada tujuh macam air.

  1. Air langit maksudnya yang turun dari langit, yaitu hujan,
  2. Air laut maksudnya air asin
  3. Air sungai yaitu air tawar
  4. Air sumur,
  5. Air sumber air,
  6. Air tsalju dan
  7. Air es (dari langit).

Tujuh macam air ini terkumpulkan oleh ungkapanmu “sesuatu yang turun dari langit atau memancar dari bumi dengan berbagai macam kondisi dari bentuk asalnya”

CATATAN : __________________________________

Perbedaan antara air tsalji dan air barad adalah tsalji itu turun dari langit dalam kondisi cair lantas membeku di atas bumi karena cuaca yang sangat dingin. Sedangkan barad itu turun dari langit dalam keadaan beku/keras kemudian mencair diatas bumi. Sebagian Ulama’ menyatakan bahwa sebenarnya keduanya turun dari langit dalam keadaan cair saat ditengah-tengah perjalanan ke bumi keduanya mengeras. Yang membedakan keduanya adalah saat berada diatas bumi, tsalji tetap dalam kondisi beku sedangkan barad mencair. Keduanya dibedakan dari air hujan yang sebenarnya sama-sama turun dari langit karena memandang sisi bekunya. Kondisi beku dan keras inilah yang membedakan keduanya dari air hujan. Lihat Al-Baijuri, Al-Haramain, Juz 1 hal. 27.

(ثُمَّ المِيَاهُ) تَنْقَسِمُ (عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ) أَحَدُهَا (طَاهِرٌ) فِيْ نَفْسِهِ (مُطَهِّرٌ) لِغَيْرِهِ (غَيْرُ مَكْرُوْهٍ اسْتِعْمَالُهُ. وَهُوَ المَاءُ المُطْلَقُ) عَنْ قَيِّدٍ لَازِمٍ فَلَا يَضُرُّ القَيِّدُ المُنْفَكُّ كَمَاءِ البِئْرِ فِي كَوْنِهِ مُطْلَقاً

Selanjutnya, air terbagi atas 4 macam.

Yang pertama: Air yang suci dzatnya menyucikan terhadap selainnya dan tidak makruh digunakan. Yaitu Air yang terbebas dari identitas yang mengikat. Maka keberadaan identitas yang tidak mengikat itu tidak membahayakan terhadap kemutlakan air.

(وَ) الثَّانِي (طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ مَكْرُوْهٌ اسْتِعْمَالُهُ) فِي البَدَنِ لَا فِي الثَّوْبِ (وَهُوَ المَاءُ المُشَمَّسُ) أي المُسَخَّنُ بِتَأْثِيْرِ الشَّمْسِ فِيْهِ. وَإِنَّمَا يُكْرَهُ شَرْعاً بِقَطْرٍ حَارٍ فِي إِنَاءٍ مُنْطَبَعٍ  إِلَّا إِنَاءَ النَّقْدَيْنِ لِصَفَاءِ جَوْهَرِهِمَا. وَإِذَا بَرَدَ زَالَتْ الكَرَاهَةُ. وَاخْتَارَ النَّوَوِيُّ عَدَمَ الْكَرَاهَةِ مُطْلَقاً. وَيُكْرَهُ أَيْضاً شَدِيْدُ السُّخُوْنَةِ وَالبُرُوْدَةِ

Dan yang kedua adalah air suci menyucikan namun makruh  digunakan pada tubuh, tidak makruh pada pakaian, yaitu air Musyammas. Ialah air yang dipanaskan dengan mengandalkan pengaruh sengatan matahari padanya. Air tersebut secara  syara’ dimakruhkan penggunaanya hanya di daerah yang bercuaca panas dan air berada di wadah yang terbuat dari logam selain wadah dari dua logam mulia /emas dan perak,  sebab kejernihan elemen keduanya. Jika air tersebut telah dingin maka hilanglah hukum makruh menggunakannya. Tetapi imam An-Nawawi memilih pendapat yang menyatakan tidak makruh secara mutlak. (Selain makuh menggunakan air musyammas) dimakruhkan juga menggunakan air yang sangat panas dan sangat dingin.

CATATAN : __________________________________

Ø  Penggunaan air musyammas sebagai media bersuci ini makruh jika masih ada wadah yang lain. Jika tidak ada wadah lain maka hukumnya tidak makruh. Bahkan bisa menjadi wajib saat waktu sholat hamper habis dan tidak menemukan yang lain. Al-Baijuri, Darul Kutub Al-Ilmiyah, hal. 29

Syarat dimakruhkannya air musyammas sebagai berikut:

  1. Berada di daerah bercuaca panas seperti Mekah dsb. Sehingga tidak makruh jika digunakan dalam daerah yang bercuaca sedang seperti negara Mesir atau daerah Jawa dan daerah dingin seperti Syiria dsb.
  2. Sengatan matahari merubah kondisi air sekira pada air muncul zat yang berasal dari karat logam.
  3. Air berada pada wadah yang terbuat dari logam selain emas perak. Seperti wadah yang terbuat dari logam besi, tembaga dsb.
  4. Digunakan saat suhu air sedang panas.
  5. Digunakan pada kulit badan. Meskipun pada badan orang yang terkena penyakit kusta, orang mati dan hewan.
  6. Dipanaskan saat cuaca panas.
  7. Masih ada air selain musyammas yang dapat dipergunakan.
  8. Waktu sholat masih longgar sehingga masih ada waktu untuk mencari air yang lain.
  9. Tidak mendapat bahaya secara nyata atau dalam dugaan kuatnya. Jika meyakini atau menduga akan muncul bahaya maka haram hukumnya.

Bila tidak memenuhi sembilan syarat ini maka hukum menggunakannya tidak lagi makruh. Nihayat az-Zain, Darul Kutub Al-Ilmiyah, hal. 17

Ø  Tidak makruhnya menggunakan air musyammas dalam bejana yang terbuat dari logam mulia (emas dan perak) bukan berarti boleh menggunakan bejana tersebut. Sebab penggunaan bejana itu hukumnya haram dari sisi menggunakan emas perak. Sedangkanm tidak makruhnya menggunakan air musyammas dalam bejana tersebut karena memandang sisi tidak membahayakannya menggunakan air mesyammas tersebut. Sehingga hukum menggunakan air musyammas dalam bejana itu hukumnya tidak makruh (halal) dipandang dari sisi menggunakan air musyammas yang tidak berbahaya dan haram dari sisi menggunakan emas dan perak. Lihat Al-Baijuri, Darul Kutub Al-Ilmiyah, hal. 29-30

(وَ) القِسْمُ الثَّالِثُ (طَاهِرٌ) فِي نَفْسِهِ (غَيْرُ مُطَهِّرٍ) لِغَيْرِهِ (وَهُوَ المَاءُ المُسْتَعْمَلُ) فِي رَفْعِ حَدَثٍ أَوْ إِزَالَة نَجْسٍ إِنْ لَمْ يَتَغَيَّرْ وَلَمْ يَزِدْ وَزْنُهُ بَعْدَ انْفِصَالِهِ عَمَّا كَانَ بَعْدَ اعْتِبَارِ مَا يَتَشَرَّبُهُ المَغْسُوْلُ مِنَ المَاءِ.

Dan bagian yang ketiga adalah:

  1. Air suci dalam dzatnya tidak menyucikan terhadap selainnya. Ialah air musta’mal / yang telah digunakan untuk menghilangkan hadats atau najis. (Dihukumi musta’mal dengan syarat) air tidak berubah dan setelah terpisah (dari benda yang dibasuh) volume air tidak bertambah dari semula dengan mengira-ngirakan bagian air yang terserap oleh benda yang dibasuh.

(وَالمُتَغَيِّرُ) أَيْ وَمِنْ هَذَا القِسْمِ المَاءُ المُتَغَيِّرُ أَحَدُ أَوْصَافِهِ (بِمَا) أَيْ بِشَيْءٍ (خَالَطَهُ مِنَ الطَّاهِرَاتِ) تَغَيُّراً يَمْنَعُ إِطْلَاقَ اسْمِ المَاءِ عَلَيْهِ. فَإِنَّهُ طَاهِرٌ غَيْرُ طَهُوْرٍ حِسِّيًّا كَانَ التَّغَيُّرُ أَوْ تَقْدِيْرِيًّا. كَأَنْ اخْتَلَطَ بِالمَاءِ مَا يُوَافِقُهُ فِي صِفَاتِهِ كَمَاءِ الوَرْدِ المُنْقَطِعِ الرَّائِحَةِ  وَالمَاءِ المُسْتَعْمَلِ

  1. Air yang berubah. Maksudnya yang termasuk dalam bagian ketiga ini adalah air yang berubah salah satu sifat-sifatnya disebabkan oleh sesuatu; yaitu salah satu dari benda-benda suci yang bercampur dengan air, dengan taraf perubahan yang dapat menghalangi sebutan nama air (murni) padanya*. Maka air yang seperti ini hukumnya adalah suci dalam dirinya namun tidak menyucikan. Baik perubahan itu nampak oleh panca indra atau hanya dalam perkiraan, seperti ketika air tercampur oleh benda yang sesuai (dengan air) dalam sifat-sifatnya, misal air bunga mawar yang telah hilang baunya (dicampur dengan air mutlak) dan seperti air musta’mal (dicampur dengan air mutlak).

CATATAN : __________________________________

*Contoh air ditambahkan pemanis maka tidak disebut lagi sebagai air tetapi dinamakan minuman, air ditambahkan sayuran dan penyedap maka air tersebut tidak lagi dinamakan air tetapi dinamakan kuah dsb.

فَإِنْ لَمْ يَمْنَعْ إِطْلَاقَ اسْمِ المَاءِ عَلَيْهِ بِأَنْ كَانَ تَغَيُّرُهُ بِالطَّاهِرِ يَسِيْراً  أَوْ بِمَا يُوَافِقِ المَاءَ فِي صِفَاتِهِ وَقُدِّرَ مُخَالِفاً  وَلَمْ يُغَيِّرْهُ فَلَا يَسْلُبُ طَهُوْرِيَّتَهُ. فَهُوَ مُطَهِّرٌ لِغَيْرِهِ.

Sehingga bila saja perubahan itu tidak mencegah penisbatan nama air mutlak padanya, dengan sekira perubahan air yang disebabkan oleh benda suci itu hanya sedikit, atau dengan sesuatu yang cocok terhadap air dalam sifatnya dan dianggap berbeda dengan air namun tidak sampai membuatnya berubah (dari kemurnian air) maka perubahan itu tidak menghilangkan sifat suci mensucikannya air. Sehingga air (yang dijelaskan terakhir ini) masih dapat mensucikan terhadap selainnya.

وَاحْتَرَزَ بِقَوْلِهِ خَالَطَهُ عَنِ الطَّاهِرِ المُجَاوِرِ لَهُ. فَإِنَّهُ بَاقٍ عَلَى طَهُوْرِيَّتِهِ. وَلَوْ كَانَ التَّغَيُّرُ كَثِيْراً وَكَذَا المُتَغَيِّرُ بِمُخَالِطٍ. لَا يَسْتَغْنِي المَاءُ عَنْهُ كَطِيْنٍ وَطُحْلَبٍ. وَمَا فِي مَقَرِّهِ وَمَمَرِّهِ. وَالمُتَغَيِّرُ بِطُوْلِ المُكْثِ فَإِنَّهُ طَهُوْرٌ.

Mushannif mengecualikan dengan ungkapannya “خَالَطَهُ” dari benda yang suci yang hanya mukholith/ tidak larut pada air maka air tersebut masih berada pada status suci mensucikan meskipun perubahan air sangat nampak. Begitu pula (seperti air yang bersinggungan dengan benda suci yang dihukumi masih mensucikan) air yang berubah sebab tercampur dengan benda yang larut namun air tidak terlepas dari persinggungan dengannya. Seperti lumpur, lumut, benda-benda yang berada di tempat berdiamnya air atau di tempat mengalirnya air, dan air yang berubah disebabkan lamanya diam (tanpa gerak). Maka air-air ini (secara hukum) adalah suci mensucikan.

 (و) القِسْمُ الرَّابِعُ (مَاءُ نَجْسٍ) أي مُتَنَجِّسٌ وَهُوَ قِسْمَانِ أَحَدُهُمَا قَلِيْلٌ (وَهُوَ الَّذِيْ حَلَّتْ فِيْهِ نَجَاسَةٌ) تَغَيَّرَ أَمْ لَا (وَهُوَ) أَيْ وَالحَالُ أَنَّهُ مَاءٌ (دُوْنَ القُلَّتَيْنِ)

Dan bagian yang keempat adalah air najis, maksudnya mutanajis. Air ini ada dua bagian:

Yang pertama adalah yang volumenya sedikit; yaitu air yang didalamnya terdapat najis baik air mengalami perubahan atau tidak dan air tersebut; maksudnya kondisi air tersebut adalah air yang kurang dari dua qullah.

وَيُسْتَثْنَى مِنْ هَذَا القِسْمُ المَيْتَةُ الَّتِيْ لَا دَمَ لَهَا سَائِلٌ عِنْدَ قَتْلِهَا أَوْ شَقِّ عُضْوٍ مِنْهَا كَالذُّبَابِ إِنْ لَمْ تُطْرَحْ فِيْهِ وَلَمْ تُغَيِّرْهُ. وَكَذَا النَّجَاسَةُ الَّتِيْ لَا يُدْرِكُهَا الطَّرْفُ. فَكُلٌّ مِنْهُمَا لَا يُنْجِسُ المَائِعَ وَيُسْتَثْنَى أَيْضاً صُوَرٌ مَذْكُوْرَةٌ فِي المَبْسُوْطَاتِ.

Dari bagian ini dikecualikan (air  kemasukan) bangkai binatang yang tidak memiliki darah yang dapat mengalir saat dibunuh atau dirobek bagian tubuhnya – seperti lalat- jika (masuknya bangkai tersebut ke dalam air itu ) tidak (ada kesengajaan) memasukkannya. Begitu juga najis yang tidak terlihat oleh mata. Maka kedua najis tersebut tidak menajiskan benda cair. Juga dikecualikan beberapa kasus yang disebutkan dalam kitab-kitab besar.

وَأَشَارَ لِلْقِسْمِ الثَّانِي مِنَ القِسْمِ الرَّابِعِ بِقَوْلِهِ (أَوْ كَانَ) كَثِيْراً (قُلَّتَيْنِ) فَأَكْثَرَ (فَتَغَيَّرَ) يَسِيْراً أَوْ كَثِيْراً. (وَالْقُلَّتَانِ خَمْسُمِائَةِ رِطْلٍ بَغْدَادِيٍّ تَقْرِيْباً فِي الأَصَحِّ) فِيْهِمَا وَالرِّطْلُ البَغْدَادِيُّ عِنْدَ النَّوَوِيِّ مِائْةٌ وَثَمَانِيَةٌ وَعِشْرُوْنَ دِرْهَماً وَأَرْبَعَةُ أَسْبَاعِ دِرْهَمٍ.

Mushannif memberikan isyarat pada macam yang kedua dari bagian keempat ini dengan ungkapannya “Atau airnya banyak, berupa dua qullah” atau lebih “kemudian terjadi perubahan” baik perubahan yang sedikit atau banyak.

Dua qullah adalah takaran 500 Rithl Baghdad dengan mengira-ngirakannya menurut pendapat Ashah (pendapat yang lebih shohih/benar dibanding pendapat yang lain) dalam dua kriteria tersebut; (yakni takaran 500 rithl dan dengan mengira-ngirakannya). Rithl Baghdad menurut An-Nawawy adalah 128 4/7 dirham.

CATATAN : __________________________________

Ø  Ukuran air dua qullah menurut

ü  Imam Nawawi = 174,580 lt / kubus berukuran kurang lebih 55,9 cm.

ü  Imam Rofi’i = 176,245 lt / kubus berukuran jurang lebih 56,1 cm.

ü  Ulama’ Iraq = 255,325 lt / kubus berukuran kurang lebih 63,4 cm.

ü  Mayoritas Ulama = 216,000 lt / kubus berukuran kurang lebih 60 cm.

Ø  Kriteria yang menjadi pertimbangan dalam menyatakan air mencapai 2 qullah ada dua, volume dan ketepatan volume. Qoul Ashah dalam masalah volume, dua qullah adalah 500 rithl. Sedangkan menurut pendapat yang lain adalah 600 rithl dan ada yang menyatakan 1.000 rithl. Untuk kriteria ketepatan volume Qoul Ashahnya adalah taqribi (dengan kira-kira/tidak harus tepat), sehingga bila saja kurang satu atau dua qullah maka masih termasuk 2 qullah. Dan menurut pendapat lain volume harus tepat (tahdid), sehingga kurang sedikit saja sudah tidak dianggap 2 qullah. Lihat Al-Baijuri, Darul Kutub Al-Ilmiyah, juz 1 hal. 78-79

وَتَرَكَ المُصَنِّفُ قِسْماً خَامِساً وَهُوَ المَاءُ المُطَهِّرُ الحَرَامُ كَالوُضُوْءِ بِمَاءٍ مَغْصُوْبٍ أَوْ مُسَبَّلٍ لِلشُّرْبِ

Mushannif meninggalkan penjelasan bagian yang kelima yaitu air yang menyucikan namun haram menggunakannya. Seperti wudlu menggunakan air ghosob atau menggunakaan air yang disediakan untuk minum.