KUMPULAN HADITS-HADITS TENTANG KEMATIAN

عن أبي عبس قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : بادروا بالموت ستا : إمرة السفهاء، وكثرة الشرط، وبيع الحكم، واستخفافا بالدم، و قطيعة الرحم، ونشوا يتخذون القرآن مزامير يقدمون الرجل ليغنيهم بالقرآن وإن كان أقلهم فقها. (رواه احمد)

Dari Abi Abasin ra ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : Segeralah berharap mati jika telah terjadi 6 perkara : Kepemimpinan yang bodoh, Banyaknya polisi, Hukum sudah dijual beli, Meremehkan darah orang, Memutuskan silaturahmi dan Penyanyi yang menjadikan Al Quran sebagai hiburan, mereka mengajukan seorang untuk melantunkan Al Quran, padahal ia sangat sedikit memahami maknanya“. (HR Ahmad)

عن أبي هريرة رضي الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : لاتقوم الساعة حتى يمر الرجل بقبر الرجل فيقول : ياليتني مكانه (أخرجه البخاري)

Dari Abi Huroiroh RA bahwa Rosulullah SAW bersabda : “Tidak terjadi kiamat sehingga ada seorang lelaki yang melewati kubur lelaki yang lain sambil berkata : Aduh seandainya aku yang menempati tempatnya“. (HR Bukhory)

وروي أن ملك الموت جاء إلى إبراهيم خليل الرحمن عليه السلام ليقبض روحه. فقال إبراهيم : يا ملك الموت هل رأيت خليلا يقبض روح خليله ؟ فعرج ملك الموت إلى ربه تعالى. فقال تعالى : قل له هل رأيت خليلا يكره لقاء خليله ؟ فرجع، قال : فاقبض روحي الساعة.

Diriwayatkan bahwa malaikat maut mendatangi Nabi Ibrahim AS untuk mencabut ruhnya, Nabi Ibrahim AS bertanya : “hai malaikat maut bagaimana pendapatmu, adakah kekasih yang tega mencabut ruh kekasihnya ? Malaikat maut pun naik ke langit menyampaikan pesan itu kepada Allah. Maka Allah berfirman : Katakan pada nya, bagaimana pendapatmu, adakah kekasih yang tidak suka berjumpa dengan kekasihnya ? Malaikat maut kembali ke bumi, Nabi Ibrahim as berkata : kalau begitu cabutlah ruh ku saat ini juga”. (HR Abu Nuaim)

عن سهل بن عبد الله التستري رحمه الله انه قال : لا يتمنى الموت إلا ثلاثة : رجل جاهل بما بعد الموت،  أو رجل يفر من أقدار الله عليه، او مشتاق محب للقاء الله تعالى.

Dari Sahal bin Abdullah at Tustury RA ia berkata : “Tidak ada yang berharap mati kecuali 3 orang : pertama, seorang yang tidak mengerti keadaan dirinya sesudah kematian, kedua, seorang yang menghindar dari takdir Allah atas dirinya, ketiga, orang yang rindu dan ingin berjumpa dengan Allah swt”.

عن محمد بن المنكدر قال : مات إبن لآدم عليه السلام فقال : ياحواء انه قد مات ابنك.  قالت : ما الموت ؟ قال :  لا يأكل ولا يشرب ولا يقوم ولا يقعد. فرنت. فقال آدم عليه السلام : عليك الرنة وعلى بناتك، انا وبني منها براء (رواه الترمذي)

Dari Muhammad bin al-Munkadir RA  berkata : “Seorang putra Nabi Adam AS. telah mati”, ia bersabda : “ya Hawa,  telah mati anakmu. Hawa bertanya : mati itu apa? Adam menjawab : Ia sudah tidak bisa lagi makan, minum, berdiri dan duduk. Mendengar itu, Hawa menjerit. Nabi Adam AS bersabda : Jeritan inilah caramu, dan semua anak perempuanmu, sedangkan aku dan semua anak lelaki berlepas dari cara seperti itu“. (HR Turmudzi)

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لو أن البهائم تعلم من الموت ما تعلمون، ما اكلتم منها سمينا  (رواه أبو نعيم)

Rasulullah SAW bersabda : “Jikalau binatang tahu tentang kematian seperti yang kalian ketahui, niscaya kalian tidak akan dapat memakan dagingnya dalam keadaan gemuk“. (HR Abu Nuaimin)

عن جابر ابن عبد الله رضي الله عنه : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا تمنوا الموت، فإن هول المطلع شديد. وإن من السعادة أن يطول عمر العبد حتى يرزقه الله الإنابة. (رواه البزار)

Dari Jabir bin Abdillah RA., Bersabda Rasulullah SAW :  “Janganlah kalian berharap mati, karena ketakutan huru hara Mahsyar itu sangat dahsyat, dan termasuk kebahagian seseorang,  bahwa ia berumur panjang, lalu Allah beri kesempatan kepada nya untuk bertaubat“. (HR Bazzar)

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا يتمنين أحدكم الموت. إما محسنا فلعله أن يزداد خيرا. وإما مسيئا فلعله أن يستعتب (رواه البخاري)

Bersabda Rosulullah SAW : “Janganlah seorang dari kalian berharap mati, barangkali jika ia berbuat baik, semoga bertambah nilai kebaikannya, jika ia berbuat salah, semoga ia bisa menyesali diri“. (HR Bukhory)

عن أنس رضي الله عنه : قال النبي صلى الله عليه وسلم : لا يتمنين أحدكم الموت لضر نزل به. فإن كان لا بد متمنيا فليقل : اللهم أحيني ما كانت الحياة خيرا لي. وتوفني ما كانت الوفاة خيرا لي. (أخرجه البخاري ومسلم)

Dari Anas bin Malik ra, Bersabda nabi saw :” Janganlah seorang dr kalian berharap mati disebabkan kesusahan yg ia alami. Tp jika ia tetap berharap juga, hendaklah ia berdoa : ya Allah hidupkan aku jika hidup itu baik utk ku, dan matikan aku jika kematian itu baik utk ku” (HR Bukhory dan Muslim)

MENGENAL KREDIBILITAS HADITS MELALUI JARH WAT TA’DIL

Penelitian sebuah hadits tidak bisa dilepaskan dari penelitian terhadap pembawa haditsnya dalam hal ini adalah seorang perawi, terutama terkait kredibiltas, integritas, dan validitas. Lima syarat disepakati oleh ulama muhadditsin. Dua di antaranya harus dipastikan dalam diri perawi. Syarat tersebut adalah adil dan dhabit. Perpaduan antara adil dan dhabit ini biasa disebut sebagai tsiqah.

Untuk mengetahui keadilan dan kedhabitan seorang perawi, diperlukan tanshih (ketetapan) dari para ulama terhadap perawi tersebut. Ketetapan ulama tersebut memiliki berbagai maratib (derajat). Derajat-derajat itu dibagi menurut kata yang digunakan untuk memvonis (mentanshih) seorang perawi tersebut.

Maka dari itu, diperlukan ilmu jarh wa ta’dil untuk mengetahui derajat-derajat tersebut.

Secara ringkas, Imam Jalaluddin As-Suyuthi merangkum seluruh tingkatan jarh wa ta’dil dari beberapa imam sebelumnya, seperti Ibnu Shalah, Ad-Dzahabi, Al-Iraqi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani. As-Suyuthi merangkum enam tingkatan lafadz jarh dan enam tingkatan lafadz ta’dil. (As-Suyuthi, Tadribur Rawi fi Syarh Taqrib An-Nawawi, [Riyadh: Maktabah Riyadh Al-Haditsah, tanpa catatan tahun] halaman 342-348).

Hal ini juga dijelaskan oleh Mahmud Thahhan dalam Taysir Musthalah Hadits, (Riyadh: Maktabah Maarif, 2004 M, halaman 189-192).

Berikut enam tingkatan lafadz ta’dil:

Pertama, kata-kata yang menunjukkan mubalaghah (intensitas maksimal) yang berbentuk af’alut tafdhil dan sejenisnya. Seperti kata-kata أوثق الناس (yang paling tsiqat), أضبط الناس  (yang paling dhabith), ليس له نظير (tiada bandingannya), dan lain sebagainya.

Kedua, kata-kata yang mengukuhkan kualitas tsiqat dengan salah satu sifat di antara sekian sifat ‘adil dan tsiqat, yakni dengan mengulang kata yang sama secara lafal dan makna. Misalnya: ثقة ثقة , ثقة مأمون, ثقة حافظ, dan lain-lain.

Ketiga, kata-kata yang menunjukkan sifat ‘adil yang sekaligus menyiratkan kedhabithan seorang perawi tanpa taukid. Misalnya: ثبت, متقن , عدل إمام حجة, عدل ضابط، ثقة dan lain-lain.

Keempat, kata-kata yang menunjukkan sifat ‘adil, tetapi menggunakan kata yang tidak menyiratkan kedhabithan. Misalnya: صدوق , مأمون, لا بأس به . Namun pernyataan lâ ba’sa bihi jika diucapkan oleh Yahya bin Ma’in, maka artinya tsiqah.

Lafal yang tingkatannya setara dengan tingkat ini adalah kata-kata yang menunjukkan kejujuran perawi, tapi tidak menunjukkan kedhabithannya. Misalnya: محله الصدق , صالح الحديث. Sebagian ulama menyamakan kedua kata itu dengan tingkat keenam.

Keenam, kata-kata yang sedikit menyiratkan makna tajrih, seperti penyertaan kata-kata di atas dengan kalimat masyi’ah. Misalnya: شيخ ببعيد من الصواب, صويلح, صدوق أن شاء الله. Dan lain-lain.

Adapun hadits pada tingkatan pertama hingga ketiga bisa dijadikan hujjah. Sedangkan hadits pada tingkatan keempat dan kelima tidak bisa dijadikan hujjah, tetapi haditsnya boleh disampaikan, ditulis dan dijadikan i’tibar (dijadikan pendukung dari hadits lain).

Hadits pada tingkatan keenam hanya bisa dijadikan i’tibar, tidak bisa ditulis atau disampaikan apalagi dijadikan hujjah.

Tingkatan lafal jarh, para ulama muhadditsin juga membaginya menjadi enam. Urutan yang pertama lebih mendekati ta’dil daripada tingkatan-tingkatan setelahnya.

Pertama, menyifati perawi dengan sifat-sifat yang menunjukkan kedha’ifannya, akan tetapi dekat dengan ta’dil. Misalnya: ليس بذلك القوي, ليس بحجة, فيه مقال, فيه ضعف, dan غيره أوثق منه.

Kedua, kata-kata yang menunjukkan penilaian dha’if atas perawi atau kerancuan hafalannya. Misalnya: مضطرب الحديث, لا يحتج به, ضعفوه (ulama menilainya dha’if), له مناكير (ia memiliki hadits-hadits munkar), ضعيف. atau yang sejenis.

Ketiga, kata-kata yang menunjukkan bahwa perawi tersebut sangat dha’if. Misalnya: رد حديثه, ضعيف جدا, ليس بشيئ, طرح حديثه, dan لا يكتب حديثه. dan lain-lain.

Keempat, kata-kata yang menunjukkan bahwa seorang perawi tertuduh sebagai pendusta, pemalsu, atau yang sejenis. Misalnya متهم بالكذب, متهم بالوضع, يسرق الحديث. Disamakan dengan tingkat ini adalah kata-kata yang menunjukkan ditinggalkan haditsnya. Misalnya: متروك, هالك, ليس بثقة. dan lain-lain.

Kelima, jarh dengan kedustaan atau pemalsuan. Misalnya كذاب, وضاع. merupakan kata-kata yang menunjukkan mubalaghah tetapi masih lebih ringan daripada tingkatan di bawah.

Keenam, kata-kata yang menunjukkan mubalaghah dalam hal jarh. Misalnya أكذب الناس, ركن الكذب. dan lain-lain.

Para perawi yang dinilai dengan tingkatan pertama dan kedua, haditsnya tidak boleh dijadikan sebagai hujjah. Tetapi hadits ini bisa digunakan sebagai i’tibar. Sedangkan perawi yang tergolong tingkatan tiga hingga enam, tidak bisa dijadikan itibar, apalagi untuk disampaikan dan dijadikan hujjah. Wallahu a‘lam

SALAH SATU PINTU SURGA ADALAH BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

Berbakti dan berbuat baik pada kedua orang tua merupakan jalan termudah menuju surga. Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ

“Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi no. 1900, Ibnu Majah no. 3663 dan Ahmad 6: 445. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Dari Humaid, ia menyatakan, ketika ibunya Iyas bin Mu’awiyah itu meninggal dunia, Iyas menangis. Ada yang bertanya padanya, “Kenapa engkau menangis?” Ia menjawab :

 كَانَ لِي بَابَانِ مَفْتُوْحَانِ إِلَى الجَنَّةِ وَأُغْلِقَ أَحَدُهُمَا

“Dahulu aku memiliki dua pintu yang terbuka menuju surga. Namun sekarang salah satunya telah tertutup.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 56. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398)

~Tarikh Madinah Dimasyqi :

~يض القدير

(الوالد أوسط أبواب الجنة) أي طاعته وعدم عقوقه مؤد إلى دخول الجنة من أوسط أبوابها ذكره العراقي. وقال البيضاوي: أي خير الأبواب وأعلاها والمعنى أن أحسن ما يتوسل به إلى دخول الجنة ويتوصل به إلى الوصول إليها مطاوعة الوالد ورعاية جانبه وقال بعضهم: خيرها وأفضلها وأعلاها يقال هو من أوسط قومه أي من خيارهم وعليه فالمراد بكونه أوسط أبوابها من التوسط بين شيئين فالباب الأيمن أولها وهو الذي يدخل منه من لا حساب عليه ثم ثلاثة أبواب باب الصلاة وباب الصيام وباب الجهاد هذا إن كان المراد أوسط أبواب الجنة ويحتمل أن المراد أن بر الوالدين أوسط الأعمال المؤدية إلى الجنة لأن من الأعمال ما هو أفضل منه ومنها ما هو دون البر والبر متوسط بين تلك الأعمال وظاهر صنيع المصنف أن ذا هو الحديث بتمامه وليس كذلك بل أغفل منه قطعة وهي قوله فإن شئت فحافظ على الباب أو ضيع اه بنصه لأحمد وللترمذي الوالد أوسط أبواب الجنة فإن شئت فاحفظ وإن شئت فضيع وفيه أن العقوق كبيرة وفي لفظ له الوالد أوسط أبواب الجنة فإن شئت فأضع ذلك الباب وإن شئت فاحفظ

~مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح

وعن ابن عباس – رضي الله عنهما – قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ” من أصبح مطيعا لله في والديه أصبح له بابان مفتوحان من الجنة ، وإن كان واحدا فواحدا ، ومن أمسى عاصيا لله في والديه أصبح له بابان مفتوحان من النار ، إن كان واحدا فواحدا ” قال رجل : وإن ظلماه ؟ قال : ” وإن ظلماه ، وإن ظلماه ، وإن ظلماه ” .

~الحاشية رقم: 1 4943 –

( وعن ابن عباس – رضي الله عنهما – قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – من أصبح مطيعا لله في والديه ) أي : في حقهما . وفيه : أن طاعة الوالدين لم تكن طاعة مستقلة ، بل هي طاعة الله التي بلغت توصيتها من الله تعالى بحسب طاعتهما لطاعته ، وكذلك العصيان والأذى ، وهو من باب قوله تعالى : إن الذين يؤذون الله ورسوله ، ذكره الطيبي . قلت : ويؤيده أنه ورد : ” لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق ” ، بل من أطاعهما و لم ينو رضا الله تعالى لا يكون بارا ، وفي نسخة ( والده ) وكأنه أراد الجنس مع قطع النظر عن وصف الذكورة والأنوثة ، وقيل : إنه من صيغ النسب كتامر ولابن ، فيشمل الأب والأم ; قلت : ومع هذا لا بد أن يراد به الجنس ليستقيم قوله : ( أصبح له بابان مفتوحان من الجنة ) ، يجوز أن يكون صفة أخرى لقوله : بابان ، وأن يكون حالا من الضمير في ( مفتوحان ) ذكره الطيبي ( وإن كان ) وفي نسخة : فإن كان أي : الوالد المطاع ( واحدا فواحدا ) ، أي : فكان الباب المفتوح واحدا ، إلى هنا رواه ابن عساكر عن ابن عباس ( ومن أمسى عاصيا لله تعالى في والديه أصبح له بابان مفتوحان من النار ، وإن كان واحدا فواحدا ” . قال رجل : وإن ظلماه ؟ ) قال الطيبي : يراد بالظلم ما يتعلق بالأمور الدنيوية لا الأخروية ( قال : وإن ظلماه ، وإن ظلماه ، وإن ظلماه ) : ثلاث مرات للتأكيد والمبالغة .

~ البداية والنهاية

قالوا : ولما ماتت أمه بكى ، فقيل له في ذلك ، فقال : كان لي بابان مفتوحان إلى الجنة ، فغلق أحدهما

SALING BERBANGGA-BANGGA AN DALAM MEMBANGUN MASJID

TERMASUK TANDA KIAMAT ADALAH BERBANGGA BANGGA AN MEMBANGUN DALAM MASJID

Dalam  kitab ‘Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud :

حدثنا محمد بن عبد الله الخزاعي حدثنا حماد بن سلمة عن أيوب عن أبي قلابة عن أنس وقتادة عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لا تقوم الساعة حتى يتباهى الناس في المساجد

Artinya: adalah salah satu indikator tejadinya kiamat jikalau manusia sudah saling berbangga-bangga dalam bangunan Masjid

( حتى يتباهى الناس في المساجد ) أي يتفاخر في شأنها أو بنائها يعني يتفاخر كل أحد بمسجده ويقول مسجدي أرفع أو أزين أو أوسع أو أحسن رياء وسمعة [ ص: 91 ] واجتلابا للمدحة . قال ابن رسلان : هذا الحديث فيه معجزة ظاهرة لإخباره صلى الله عليه وسلم عما سيقع بعده فإن تزويق المساجد والمباهاة بزخرفتها كثر من الملوك والأمراء في هذا الزمان بالقاهرة والشام وبيت المقدس بأخذهم أموال الناس ظلما وعمارتهم بها المدارس على شكل بديع نسأل الله السلامة والعافية انتهى . قال المنذري : والحديث أخرجه النسائي وابن ماجه .

Hadits senada, Rasulullah bersabda :

أَخْبَرَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ قَالَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ

Artinya: adalah salah satu indikator tejadinya kiamat jikalau manusia sudah saling berbangga-bangga dalam bangunan Masjid.

Perhatikan kata ” يَتَبَاهَى ” (terbaca yatabaha). ini berdimensi waktu “akan terjadi”. perhatikan Rasulullah menggunakan Imbuhan Huruf “Ya” dan “Ta” dan “Alif” pada kata-kata yatabaaha (kata dasarnya baha ), ini bermaksud “Resiprokal” artinya “saling”, maka kata ” يَتَبَاهَى ” (terbaca yatabaha) bermakna : akan saling berbangga-bangga-an.

– Fathul Baari :

قوله : ( وقال أنس : يتباهون بها ) بفتح الهاء أي يتفاخرون ، وهذا التعليق رويناه موصولا في مسند أبي يعلى وصحيح ابن خزيمة من طريق أبي قلابة أن أنسا قال ” سمعته يقول : يأتي على أمتي زمان يتباهون بالمساجد ثم لا يعمرونها إلا قليلا ” وأخرجه أبو داود والنسائي وابن حبان مختصرا من طريق أخرى عن أبي قلابة عن أنس عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال ” لا تقوم الساعة حتى يتباهى الناس في المساجد ” والطريق الأولى أليق بمراد البخاري . وعند أبي نعيم في كتاب المساجد من الوجه الذي عند ابن خزيمة ” يتباهون بكثرة المساجد ” .

[ ص: 643 ] ( تنبيه ) : قوله ” ثم لا يعمرونها ” المراد به عمارتها بالصلاة وذكر الله ، وليس المراد به بنيانها ، بخلاف ما يأتي في ترجمة الباب الذي بعده .

قوله : ( وقال ابن عباس : لتزخرفنها ) بفتح اللام وهي لام القسم وضم المثناة وفتح الزاي وسكون الخاء المعجمة وكسر الراء وضم الفاء وتشديد النون وهي نون التأكيد ، والزخرفة الزينة ، وأصل الزخرف الذهب ثم استعمل في كل ما يتزين به . وهذا التعليق وصله أبو داود وابن حبان من طريق يزيد بن الأصم عن ابن عباس هكذا موقوفا ، وقبله حديث مرفوع ولفظه ” ما أمرت بتشييد المساجد ” وظن الطيبي في شرح المشكاة أنهما حديث واحد فشرحه على أن اللام في ” لتزخرفنها ” مكسورة وهي لام التعليل للمنفي قبله ، والمعنى : ما أمرت بالتشييد ليجعل ذريعة إلى الزخرفة ، قال : والنون فيه لمجرد التأكيد ، وفيه نوع توبيخ وتأنيب ، ثم قال : ويجوز فتح اللام على أنها جواب القسم . قلت : وهذا هو المعتمد ، والأول لم تثبت به الرواية أصلا فلا يغتر به ، وكلام ابن عباس فيه مفصول من كلام النبي – صلى الله عليه وسلم – في الكتب المشهورة وغيرها ، وإنما لم يذكر البخاري المرفوع منه للاختلاف على يزيد بن الأصم في وصله وإرساله ، قال البغوي : التشييد رفع البناء وتطويله ، وإنما زخرفت اليهود والنصارى معابدها حين حرفوا كتبهم وبدلوها .

MAKNA HADITS : BERAMAL LAH UNTUK DUNIA SEAKAN KAU AKAN HIDUP SELAMANYA

Sesungguhnya manusia saat menyangka ia hidup didunia selamanya maka sifat lobanya menjadi sedikit dan ia yakin bahwa yang ia kehendaki tidak akan hilang kesempatan mendapatkannya lantaran tidak terlalu tamak dan bersegera dengan meraih duniawi maka saat hilang kesempatan meraihnya dihari ini kesempatan hari esoknya masih terbuka lebar karena ia akan hidup selamanya

1201 – (اعمل عمل من) وفي نسخة امرئ (يظن أن لا يموت أبدا ، واحذر حذر امرئ يخشى أن يموت غدا) أي قريبا جدا ولم يرد حقيقة الغد ، والمراد تقديم أمر الآخرة وأعمالها حذر الموت بالفوت على عمل الدنيا وتأخير أمر الدنيا كراهة الاشتغال بها على عمل الآخرة وأما ما فهمه البعض أن المراد اعمل لدنياك كأنك تعيش ابدا واعمل لآخرتك كأنك تموت غدا ويكون المراد الحث على عمارة الدنيا لينتفع من يجئ بعد والحث على عمل الآخرة فغير مرضي لأن الغالب على أوامر الشارع ونواهيه الندب إلى الزهد في الدنيا والتقليل من متعلقاتها والوعيد على البناء وغيره وإنما مراده أن الإنسان إذا علم أنه يعيش أبدا قل حرصه وعلم أن ما يريده لن يفوته تحصيله بترك الحرص عليه والمبادرة إليه فإنه إن فاتني اليوم أدركته غدا فإني أعيش أبدا ،

“Berbuatlah seperti perbuatan orang yang mengira tidak akan mati selamanya dan khawatirlah seperti khawatirnya seseorang yang takut mati diesok hari”

Artinya : Mendahulukan amal perbuatan dan perkara yang berkaitan dengan akhirat karena khawatir tidak dapat lagi menjalankannya saat meninggal atas amal duniawi dan mengakhirkan perkara dunia karena benci disibukkan dengannya hingga mengalahkan amal perbuatan akhirat.

Sedang apa yang difahami oleh sebagian orang tentang “Berbuatlah untuk duniamu seolah kamu hidup selamaya dan berbuatlah untuk akhiratmu seolah kamu mati esok hari” yang menurut mereka pemahamannya memberi motivasi agar mencari duniawi agar bermanfaat bagi generasi berikutnya dan memberi motivasi agar semangat dalam beramal akhirat maka tidaklah benar karena pada umumnya perintah-perintah dan larangan-larangan syara’ berkaitan dengan berprilaku zuhud dengan dunia, menyedikitkan berhubungan dengannya, memberi ancaman membangun kemewahan dan sebagainya, maka yang dikehendaki darinya adalah

“Sesungguhnya manusia saat menyangka ia hidup didunia selamanya maka sifat lobanya menjadi sedikit dan ia yakin bahwa yang ia kehendaki tidak akan hilang kesempatan mendapatkannya lantaran tidak terlalu tamak dan bersegera dengan meraih duniawi maka saat hilang kesempatan meraihnya dihari ini kesempatan hari esoknya masih terbuka lebar karena ia akan hidup selamanya

Faidh al-Qadiir II/16

PENJELASAN MAKNA HADITS “SESEORANG AKAN BERSAMA DISURGA DENGAN ORANG YANG DI CINTAINYA”

Makna HADITS “AL-MAR`U MA’A MAN AHABBA”

المرء مع من أحب يوم القيامة

”Seseorang bersama dengan orang yang dicintainya ”

Ke”cinta”an yang dimaksud dalam hadits tersebut,ada dua macam :

 

Pertama : kecintaan yang sifatnya Diniyah.

Jika seseorang mencintai orang-orang sholeh karena kesholehannya dan mencintai amalan sholeh dan taqwanya,maka Allah akan mengumpulkan atau mempertemukan dalam syurganya Allah ta’ala.

المحبة المقصودة في الحديث نوعان :

النوع الأول : المحبة الدينية ، أي المحبة لأجل الدين والمعتقد ، فمن أحب الصالحين لصلاحهم وأحب ما هم عليه من التقوى والدين ، رُجِي أن يجمعه الله بهم في جنته ، ومن أحب الكفار لكفرهم ومعتقدهم ، ووالاهم على ما هم فيه ، كان ذلك أيضا سببا لدخول النار معهم

قال ابن بطال رحمه الله :

Syarah shohih bukhori Li Ibni Bathol

” بيان هذا المعنى أنه لما كان المحب للصالحين إنما أحبهم من أجل طاعتهم لله ، وكانت المحبة عملا من أعمال القلوب ، واعتقادًا لها ، أثاب الله معتقد ذلك ثواب الصالحين ، إذ النية هي الأصل ، والعمل تابع لها ، والله يؤتي فضله من يشاء ” انتهى باختصار من ” شرح صحيح البخاري ” لابن بطال

(9/333)

Tafsir Ibnu Katsir

وقال الحافظ ابن كثير رحمه الله – في تفسير قوله تعالى : ( وإن جاهداك لتشرك بي ما ليس لك به علم فلا تطعهما ) -:

” أي : وإن حرصا عليك أن تتابعهما على دينهما إذا كانا مشركين ، فإياك وإياهما ، لا تطعهما في ذلك ، فإن مرجعكم إليّ يوم القيامة ، فأجزيك بإحسانك إليهما ، وصبرك على دينك ، وأحشرك مع الصالحين ، لا في زمرة والديك ، وإن كنت أقرب الناس إليهما في الدنيا ، فإن المرء إنما يحشر يوم القيامة مع من أحب ، أي : حبا دينيا ؛ ولهذا قال : ( والذين آمنوا وعملوا الصالحات لندخلنهم في الصالحين )” انتهى من ” تفسير القرآن العظيم ”

(6/265)

Al-Zawajir Ibnu Hajar al-haetamy

ويقول ابن حجر الهيتمي رحمه الله – في حديثه عن كبيرة محبة الظلمة أو الفسقة وبغض الصالحين – ” عد هذين كبيرة هو ما دلت عليه الأحاديث الصحيحة : ( المرء مع من أحب ) وله وجه ، إذ الفرض أنه أحب الفاسقين لفسقهم ، وأبغض الصالحين لصلاحهم ، وظاهر أن محبة الفسق كبيرة كفعله ، وكذا بغض الصالحين ؛ لأن حب أولئك الفاسقين وبغض الصالحين يدل على انفكاك ربقة الإسلام وعلى بغضه ، وبغض الإسلام كفر ، فما يؤدي إليه ينبغي أن يكون كبيرة ” انتهى باختصار من ” الزواجر عن اقتراف الكبائر ” (1/184

Kedua : Kecintaan yang berimplikasi pada amal dan akhlaq seseorang.

Jika seseorang mencintai salahsatu ulama,kemudian ia melaksanakan amal sholeh dan taqwa “seperti” amalan ulama yang ia cintai,maka ia akan masuk syurga karena telah mengamalkan sesuatu yang diamalkan ulama (maasuk surga karena ia beramal sendiri).

sebaliknya,jika ia mencintai atau mengidolakan orang fasik dan kafir,hingga kecintaannya membawa ia berperilaku layaknya orang fasik dan kafir,maka ia akan disiksa bersama mereka (disiksa karena berperilaku sama halnya orang fasik/kafir).

النوع الثاني: المحبة الموجبة لتشابه الأعمال والأخلاق ، فمن أحب أحد العلماء الصالحين وتشبه بما هو عليه من الصلاح والتقوى دخل الجنة بذلك ، ومن أحب الفاسقين أو الكافرين ، وأدت به محبته إلى التشبه بأحوالهم ومعاصيهم كان معهم في العقاب أيضا .

Imam Al-Ghozali dalam Ihya ‘Ulumuddin

يقول أبو حامد الغزالي رحمه الله :

” قال الحسن : يا ابن آدم ! لا يغرنك قول من يقول : ( المرء مع من أحب ) فإنك لن تلحق الأبرار إلا بأعمالهم ، فإن اليهود والنصارى يحبون أنبياءهم وليسوا معهم ، وهذه إشارة إلى أن مجرد ذلك ، من غير موافقة في بعض الأعمال ، أو كلها : لا ينفع ” انتهى من ” إحياء علوم الدين ” (2/160)

أما الحب الدنيوي الذي يكون باعثه قرابة أو صداقة أو مصلحة مادية أو زواج أو غير ذلك من أسباب الدنيا الفانية ، فلا يكون سببا للجمع في المحشر أو المصير ، فالمسلم الذي يحب والدته غير المسلمة حبا فطريا ، ولا يحشر معها ، وغير المسلم الذي يحب صديقه المسلم مثلا من غير إسلام وإتباع لا يحشر معه ، وهكذا كل أنواع المحبة الدنيوية لا مدخل لها في معنى هذا الحديث

Imam Zarqony dalam Al-Mawahib Al-Laduniyah Bilmunahil Muhammadiyah

ويقول الزرقاني رحمه الله :

” ( المرء مع من أحب ) في الجنة بحسن نيته من غير زيادة عمل ؛ لأنّ محبته لهم لطاعتهم ، والمحبة من أفعال القلوب ، فأثيب على ما اعتقده ؛ لأن الأصل النية ، والعمل تابع لها ، ولا يلزم من المعية استواء الدرجات ، بل ترفع الحجب حتى تحصل الرؤية والمشاهدة ، وكلٌّ في درجته .

وقال السخاوي : قال بعض العلماء : ومعنى الحديث أنه إذا أحبَّهم عمل بمثل أعمالهم ، قال الحسن البصري : من أحبَّ قومًا اتبع آثارهم ، واعلم أنك لن تلحق بالأخيار حتى تتبع آثارهم ، فتأخذ بهديهم ، وتقتدي بسنتهم ، وتصبح وتمسي على مناهجهم ، حرصًا أن تكون منهم ” انتهى من ” شرح الزرقاني على المواهب اللدنية بالمنح المحمدية ” (5/304

” قال الحسن : يا ابن آدم ! لا يغرنك قول من يقول : ( المرء مع من أحب ) فإنك لن تلحق الأبرار إلا بأعمالهم ، فإن اليهود والنصارى يحبون أنبياءهم وليسوا معهم ، وهذه إشارة إلى أن مجرد ذلك ، من غير موافقة في بعض الأعمال ، أو كلها : لا ينفع ” انتهى من ” إحياء علوم الدين ”

(2/160)

Al Hasan berkata : Wahai anak cucu adam ! janganlah sampai engkau menjadi salah paham dengan ucapan seseorang yg mengatakan,

”Seseorang bersama dengan orang yg dicintainya ”

Karena sesungguhnya engkau tidak akan bertemu dengan orang yang  abror kecuali dengan beramal seperti amalan mereka, sesungguhnya orang yahudi dan nasroni mencintai nabi mereka tetapi mereka tidak bersama nabi-nabinya, hal ini menunjukkan bahwa sekedar mencintai tanpa mencocoki dalam sebagian amalan atau keseluruhan amalan tidaklah bermanfa’at.selesai.

Penjelasan serupa dari kitab syarah Zarqoni :

وقال السخاوي : قال بعض العلماء : ومعنى الحديث أنه إذا أحبَّهم عمل بمثل أعمالهم ، قال الحسن البصري : من أحبَّ قومًا اتبع آثارهم ، واعلم أنك لن تلحق بالأخيار حتى تتبع آثارهم ، فتأخذ بهديهم ، وتقتدي بسنتهم ، وتصبح وتمسي على مناهجهم ، حرصًا أن تكون منهم ” انتهى من ” شرح الزرقاني على المواهب اللدنية بالمنح المحمدية “(5/304)

As Sakhowi berkata, sebagian ulama’ berkata : ” ma’na hadits adalah sesungguhnya jika mereka mencintainya maka akan beramal sebagaimana amalan mereka “

Hasan Bisri berkata : “Barang siapa yang mncintai suatu qaum maka akan mengikuti jejak mereka , ketahuilah bahwa engkau tidak akan bisa bertemu dengan orang-orang terpilih hingga engkau mengikuti jejak mereka, mengambil hidayah mereka, mengikuti sunnah mereka, setiap pagi dan sore berada di atas jalan mereka dengan berharap agar menjadi sebagian dari mereka.”selesai.

Adapun cinta yang berbentuk duniawi maka tidak akan mengumpulkan mereka kelak di akherat, misalnya cinta sebab kekerabatan, pertemanan, suami istri dan sebab-sebab dunia lainya yang fana tidak akan menjadi sebab berkumpul di hari kiamat kelak, seorang muslim yang mencintai anak perempuannya yang tdk muslimah dengan kecintaan yng alami, maka kelak tidak akan kumpul bersamanya, begitu juga selain muslim yang mencintai temenya yang muslim tanpa masuk islam dan mengikutinya maka tidak akan berkumpul bersamanya. dan seperti itulah semua jenis cinta bentuk duniawi tidak masuk dalam makna hadis ini.

أما الحب الدنيوي الذي يكون باعثه قرابة أو صداقة أو مصلحة مادية أو زواج أو غير ذلك من أسباب الدنيا الفانية ، فلا يكون سببا للجمع في المحشر أو المصير ، فالمسلم الذي يحب والدته غير المسلمة حبا فطريا ، ولا يحشر معها ، وغير المسلم الذي يحب صديقه المسلم مثلا من غير إسلام وإتباع لا يحشر معه ، وهكذا كل أنواع المحبة الدنيوية لا مدخل لها في معنى

هذا الحديث

Makna hadits : “MAN AKROMAL ‘ULAMA’ FAQOD AKROMALLOHA WA ROSULAH”

 من أكرم العُلَمَاءَ فقد أكرم الله ورسولَهُ

Ada hadits di kitab lisanul mizan juz 3 hal 246

ـ الضَّحَّاكُ بن حَمْزَةَ: عن سفيان بن عيينة. قال الدَّارقطني: كان يضع الحديث. وقال ابن عدي: هو أبو عبد الله المنبجي، كل رواياته مناكير، إما متناً وإما إسناداً. ومن مصائبه قال: حدثنا الفِرْيَابيّ، حدثنا الثوري، عن ابن المنكدر، عن جابر رضي الله عنه مرفوعاً: «من أكرم العُلَمَاءَ فقد أكرم الله ورسولَهُ» انتهى. وقال ابن حبّان: يروي عن ابن عيينة، وأهل بلده العجائب، لا يجوز الاحتجاج به،ولا الرواية عنه، إلاَّ للمعرفة فقط

من أكرم العُلَمَاءَ فقد أكرم الله ورسولَهُ, MAN AKROMAL ‘ULAMA’ FAQOD AKROMALLOOHA WA ROSUULAH….Barang siapa memuliakan ulama’, maka sungguh telah memuliakan Alloh dan RosulNya

HADITS SENADA ADA DI KITAB TARIKH JURJAN JUZ 1 HAL 197 :

الحسين بن محمد بن بكر أبو علي الرازي

284 ــ أبو علي الحسين ابن محمد ابن بكر الرازي، حدث بجرجان، وجدت بخط محمد ابن عبد الوهاب الجرجاني الوراق: أن أبا علي الحسين ابن محمد الرازي حدثهم، حدثنا محمد ابن عبد الله أبو عبد الله، حدثنا محمد ابن تميم، حدثنا حفص ابن عمر المدني، عن الحكم ابن أبان العدني، عن أبيه، عن عكرمة مولى ابن عباس، عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من زار العلماء فكأنما زارني ، ومن صافح العلماء فكأنما صافحني، ومن جالس العلماء فكأنما جالسني، ومن جالسني في الدنيا أجلسه ربه في الجنة. حدثنا أبو الحسن ابن أبي عمران الوكيل، حدثنا الحسين ابن محمد ابن بكر الرازي، حدثنا أبو معين الحسين ابن الحسن الرازي، حدثنا موسى ابن إسماعيل، حدثنا حماد ابن نجيح، حدثنا الحسن، حدثني عبد الرحمن ابن سمرة قال: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تسأل الإمارة.

DALAM KITAB KASYFUL KHOFA’ :

2494- من زار العلماء فكأنما زارني ومن صافح العلماء فكأنما صافحني ومن جالس العلماء فكأنما جالسني ومن جالسني في الدنيا أجلس إلي يوم القيامة. قال في الذيل في إسناده حفص كذاب.

JUGA DALAM KITAB TANZIH SYARI’AH AL-MARFUU’AH JUZ 1 HAL 271 :

(58) ((حديث إن لله عز وجل مدينة تحت العرش من مسك أذفر على بابها ملك ينادى كل يوم ألا من زار العلماء فقد زار الأنبياء ومن زار الأنبياء فقد زار الرب عز وجل ومن زار الرب فله الجنة)) (مى) من حديث أنس وفيه إبراهيم بن سليمان البلخى يسرق الحديث (قلت) إنما اتهمه ابن عدى بالسرقة فى حديث واحد أورده له عن الثورى ثم قال وسائر أحاديثه غير منكرة وقال الحاكم محله الصدق وقال الخليلى فى الإرشاد صدوق نعم الراوى عنه عمران بن سهل لم أقف له على ترجمة فلعل البلاء منه والله أعلم .

‎1.Kalimat d atas apkah hadits atau atsar atau qoul ulama’!!?

jawab : Hadits, dan menurut sebagian ulama merupakan hadits palsu karena ada seorang perowi yang dianggap tukang pembohong

  1. Apakah perintah wajib atau perintah sunnah…!?

jawab : Secara tekstual kita tidak boleh menggunakan hadits tersebut karena derajat sanadnya sangat lemah, namun senada dengan hadits ini, dalam al qur’an ada perintah “fas-aluu ahladz dzikri in kuntum laa ta’lamuun.…” bertanyalah kalian pada ahli dzikir jika kalian tidak mengetahui, dimana mayoritas mufassir menafsirkan “ahli dzikir” dengan “para ‘ulama”, sehingga secara tidak langsung memerintahkan kita untuk sering menemui para ‘ulama ketika ada masalah yang kita tidak tahu penyelesaiannya, menemui otomatis bertamu dan duduk bersama ( bagi orang bodoh hukum nya bisa wajib ) senada dengan makna hadits tersebut.

KEUTAMAAN KEUTAMAAN NIKAH DALAM HADITS NABI SAW.

{الباب الخامس والعشرون}:

في فضيلة النكاح

 قال النبي عليه الصلاة والسلام: {التَّزْويجُ بَرَكةٌ والوَلدُ رَحْمَةٌ  فَأَكْرموا أوْلاَدَكُمْ فإنَّ كَرَامَةَ الأولادِ عِبَادَةٌ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Nikah itu berkah dan anak itu rahmat maka mulyakanlah anak-anak  kalian karena sesungguhnya memulyakan anak itu adalah ibadah.”

وقال عليه الصلاة والسلام: {النِّكَاحُ سُنَّتِي فَمنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فليس مني}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Nikah itu sunnahku maka barangsiapa benci sunnahku maka tidak termasuk golonganku.”

وقال عليه الصلاة والسلام: {الحَرَائِرُ صَلاحُ البَيْتِ والإماءُ فَسَادُ البَيْتِ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Wanita-wanita merdeka itu kemaslahatan rumah. Wanita-wanita budak itu kehancuran rumah. “

وقال عليه الصلاة والسلام: {مَنْ أرَادَ أنْ يَلْقَى الله طَاهِرا مُطَهَّرا فَلْيَتَزَوَّجِ الحَرائِرَ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa ingin berjumpa Allah dalam keadaan suci dan disucikan maka nikahilah wanita-wanita merdeka.”

وقال عليه الصلاة والسلام: {التَمِسُوا الرِّزْقَ بالنِّكَاحِ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Carilah rizki dengan menikah “

وقال عليه الصلاة والسلام: {مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدْ أُعْطي نِصْفَ العِبَادَةِ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : ” Barang siapa menikah maka dia benar-benar telah diberi separuh ibadah.”

وقال عليه الصلاة والسلام: {شِرَارُكُمْ عُزَّابُكُم}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : ” Seburuk-buruk kalian adalah kebujangan kalian. “.

وقال صلى الله عليه وسلم: {شِرَارُكُمْ عُزَّابُكُمْ وَأَرَاذِلُ مَوْتَاكُمْ عُزَّابُكُمْ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : ” Seburuk-buruk kalian adalah kebujangan kalian dan sehina-hina kematian kalian adalah mati membujang “.

وقال عليه الصلاة والسلام: {شِرَارُكُمْ عُزَّابُكُمْ رَكْعَتَانِ مِنْ  مُتَأَهّلٍ خَيْرٌ مِنْ سَبْعِينَ رَكْعَةً مِنْ غَيْر مُتَأَهِّلٍ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : ” Seburuk-buruk kalian adalah kebujangan kalian, Dua raka`at dari  orang yang berkeluarga lebih baik daripada tujuhpuluh raka`at dari orang  yang tidak berkeluarga”.

وقال عليه الصلاة والسلام: {مَا أطْعَمْتَ زَوجَتَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Makanan yang engkau berikan kepada istrimu adalah sedekah bagimu”.

Wallohu a’lam.

PENJELASAN HADITS SAHUR YANG SERING SALAH DI PAHAMI

Hadits Tentang Sahur Yang disalah Fahami

إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمْ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ

“Ketika salah satu kalian mendengar adzan sementara wadah (minuman) masih ada ditangannya, maka janganlah diletakkan sampai ia menyelesaikan hajat darinya (meminumnya)” (HR. Ahmad dll.)

Banyak yang beranggapan bahwa adzan dalam hadits diatas adalah adzan subuh, padahal BUKAN ADZAN SUBUH

Imam ar-Rafi’i berkata: “Yang dimaksud Rasulullah dalam hadis itu adalah adzannya Bilal yang pertama, dengan dalil hadits:

, عَنِ ابْنِ عُمَرَ , قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّ بِلالا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ ” .

Dari ibnu umar Rasulullah bersabda  “Sesungguhnya Bilal adzan ketika masih waktu malam, maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan” HR Bukhari

 

Sahur Rasulullah Saw

Dari Anas ra dari Zaid bin Tsaabit ra, dia (Anas) berkata, “Kami sahur bersama Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, kemudian beliau berdiri untuk sholat. Aku (Anas) berkata: “Berapa jarak antara adzan dan sahur?” Dia (Zaid) menjawab: “Kira-kira 50 ayat.””

Lalu dalam kitab Fathul Baari (kitab penjelas shahih Bukhari), Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Rahimahullah menjelaskan:

قَوْلُهُ : ( قَالَ : قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً ) أَيْ : مُتَوَسِّطَةً لَا طَوِيلَةً وَلَا قَصِيرَةً لَا سَرِيعَةً وَلَا بَطِيئَةً

Adapun perkataan beliau “kira-kira 50 ayat” maksudnya adalah yang pertengahan, bukan ayat yang panjang dan bukan ayat yang pendek, bukan qiroat yang cepat juga bukan qiroat yang lambat.

Berikutnya, Imam Ibnu Hajar rahimahullah  mengutip ucapan  Imam Qurthubi Rahimahullah:

وَقَالَ الْقُرْطُبِيُّ : فِيهِ دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّ الْفَرَاغَ مِنَ السُّحُورِ كَانَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ

Dan berkata Qurtubi: Padanya ada dalil bahwa sahur diakhiri sebelum munculnya Fajar.

 

Kami Bersahur bersama Rasulullah saw kemudian kami Sholat

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ هِشَامٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ  تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا قَالَ خَمْسِينَ آيَةً

Dari Anas ra dari Zaid bin Tsaabit ra, dia (Anas) berkata, “Kami sahur bersama Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, kemudian kami berdiri untuk sholat. Aku (Anas) berkata: “Berapa jarak antara keduanya?” Dia (Zaid) menjawab: “Lima puluh ayat.””

Hadits yang mirip ada pada Shahih Bukhari, Kitab Puasa, Bab Berapa Jarak Antara Sahur dan Sholat Fajr

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ  تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

Dari Anas ra dari Zaid bin Tsaabit ra, dia (Anas) berkata, “Kami sahur bersama Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, kemudian beliau berdiri untuk sholat. Aku (Anas) berkata: “Berapa jarak antara adzan dan sahur?” Dia (Zaid) menjawab: “Kira-kira 50 ayat.””

 

Dari dalil di atas, bisa dilihat bahwa meskipun waktu puasa dimulai sejak adzan subuh, akan tetapi sunnah dari Nabi kita adalah mengakhiri sahur sebelum adzan subuh, dan memberi jeda waktu kira-kira pembacaan ayat Al-Qur’an sebanyak 50 ayat. Mungkin hadits inilah yang digunakan untuk menentukan waktu Imsak di masjid-masjid kita, yang waktunya kira-kira 10 sampai 15 menit menjelang subuh

MUTIARA HIKMAH DARI AL-QUR’AN DAN HADITS TENTANG IBADAH DAN BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

180_B.TIF

 Perintah ibadah kepada Allah dan berbuat baik kepada kedua orang tua (ibu dan bapak):

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia¹. (Q.S. Al-Isra’: 23).

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil. (Q.S. Al-Isra’: 24).

    Q.S. 31: 14 dan 15 Perintah bersyukur kepada Allah dan kedua orang tua:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Artinya:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun². Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Q.S. Luqman: 14).

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S. Luqman: 15).

    Fadhilah berbuat baik kepada ibu dan bapak:

Artinya:

“Barangsiapa yang berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya, maka berbahagialah baginya, semoga Allah memperpanjang umurnya” (H.R. Bukhari).

Artinya: “Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu”. (H.R. Imam Ahmad).

Artinya: “Berbuat baiklah kalian kepada dua orang ibu-bapakmu”. (H.R. Ath-Thabrany).

Dari Abdil-Rahman Abdullah bin Mas’ud, r.a. berkata: Saya pernah bertanya kepada Nabi SAW: “’Amal perbuatan apakah yang lebih dicintai oleh Allah?”. Beliau menjawab: “Shalat pada waktunya”. Saya bertanya lagi: “Kemudian apa lagi?”. Beliau menjawab: “Berbuat baik kepada kedua orang tua”. Saya bertanya lagi:”Kemudian apa lagi?”.Beliau menjawab: “Jihad pada jalan Allah”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

    4 (empat) macam dosa besar menurut hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abdillah bin Amr bin Al-‘Ash r.a.

“Dari ‘Abdillah bin Amr bin Al-’Ash r.a. dari Nabi SAW telah bersabda: Dosa-dosa besar ialah: menyekutukan Allah, berani (durhaka) kepada kedua orang tua, membunuh orang dan sumpah palsu”. (H.R. Bukhari).

    Pelaksanaan sanksi perbuatan dosa yang langsung diterima pelakunya ketika masih hidup di dunia, di samping menerima sanksi di akhirat  menurut hadits yang diriwayatkan Ath-Thabrani:

Artinya:

Semua dosa pelaksanaannya ditangguhkan Allah Ta’ala menurut apa yang Ia kehendaki sampai hari qiyamat, kecuali dosa terhadap kedua orang tua. Sesungguhnya Allah Ta’ala mempercepat balasan dosa terhadap kedua orang tua bagi pelakunya pada masa hidup di dunia sebelum mati. (H.R. Ath-Thabrani).

 

    Tiga ciri akhlak utama penghuni dunia dan penghuni akhirat menurut hadits yang diriwayatkan Al-Hakim:

Nabi SAW pernah bersabda kepada ‘Uqbah: “Wahai ‘Uqbah, maukah engkau kuberitahukan tentang akhlaq penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Yaitu: menghubungi orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberi orang yang pernah menahan pemberiannya kepadamu, mema’afkan orang yang pernah menganiaya kamu”. (H.R. Al-Hakim, dari ‘Uqbah bin Al-Juhany).

 

    Deskripsi hadits mengenai jasa orang tua

Artinya:

Dari Abi Hurairah r.a. berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: “Tidak dapat seorang anak membalas budi baik orang tuanya, kecuali jika ia mendapatkan orang tuanya itu tertawan menjadi budak, kemudian ia membelinya, lalu ia merdekakan. (H.R. Muslim).

 

    Prioritas yang berhak dilayani dengan baik

Artinya:

Dari Abi Hurairah r.a. berkata: Ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah SAW lalu ia bertanya: “Siapakah yang berhak aku layani dengan sebaik-baiknya?” Beliau menjawab: “Ibumu”. Ia berkata: “Kemudian siapa?” Beliau brsabda: “Ibumu”. Ia berkata lagi: “Kemudian siapa?” Beliau bersabda pula: “Ibumu”.Ia berkata lagi:”Kemudian siapa?” Beliau bersabda: “Bapakmu”. (Muttafaqun’alaih). Dalam riwayat lain disebutkan: “Ya Rasulullah, siapakah yang lebih berhak kulayani dengan sebaik-baiknya?” Nabi menjawab: “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian bapakmu, kemudian yang terdekat dan yang terdekat”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

 

    Orang yang kecewa karena tidak berbuat baik kepada kedua orang tuanya

Dari Abi Hurairah r.a. dari Nabi SAW telah bersabda: “Sungguh kecewa, sungguh kecewa dan hina, sungguh kecewa, siapa yang mendapatkan kedua ibu-bapaknya atau salah satunya ketika tua, kemudian ia tidak masuk surga”. (H.R. Muslim).

    Q.S. 31: 14 Perintah bersyukur kepada Allah dan kedua orang tua:

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Artinya:

“… Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (Q.S. Luqman: 14).

 

    Tentang Silaturrahm dan Hubungan Sesama Manusia

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Artinya:

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah pada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnus-sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (Q.S. An-Nisa’ (5): 36).

Dari Abi Muhammad, Jubair bin Muth’im r.a., bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus”. Sufyan berkata dalam sebuah riwayatnya: yakni memutuskan hubungan famili. (H.R. Bukhary dan Muslim).

Artinya:

Dari Ibnu ‘Umar dan ‘Aisyah r.a. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:”Jibril selalu berpesan kepadaku supaya baik terhadap tetangga, hingga aku mengira kalau-kalau akan diberi hak waris”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

Artinya:

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Hai wanita-wanita muslimat! Janganlah menganggap remeh memberi hadiah kepada tetangga, walau sekedar kikil (ujung kaki) kambing”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

Artinya:

Sebaik-baik teman menurut pandangan Allah, ialah orang yang paling baik kepada temannya, dan sebaik-baik tetangga menurut pandangan Allah, ialah orang yang paling baik kepada tetangganya. (H.R. At-Tirmidzi).

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berbuat baik kepada tetangganya”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

<<<<<<<<<<<<

    ¹Mengucapkan kata “Ah” kepada orang tua tidak dibolehkanoleh agama, apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.

    ²Maksudnya: Selambat-lambatnya waktu menyapih ialah setelah anak berumur 2 tahun.

INILAH HADITS HADITS BUKHORI YANG MENJELASKAN TENTANG RAMADHAN

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda “Puasa adalah perisai diri (dari api neraka)”. Maka seseorang yang sedang berpuasa janganlah menggauli istrinya, berkata kotor dan berbuat jahil, jika dia diajak bertengkar atau dicaci  hendaklah dia mengatakan, “Saya sedang berpuasa”. Rasulullah Saw mengulanginya dua kali. “Demi Allah yang diriku dalam genggaman-Nya! sungguh bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah SWT lebih harum daripada bau misik/kesturi. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Hambaku meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena aku. Puasa itu bagi-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya, dan setiap kebaikan akan dibalas 10 kali.[Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1894].

    Pintu Rayyan di Surga Bagi Orang-orang Yang Berpuasa: Diriwayatkan dari Sahl r.a bahwa Nabi Muhammad Saw pernah bersabda : “Di surga ada sebuah pintu bernama Ar-Rayyan yang kelak pada hari kiamat akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa, tanpa ada seorangpun selain mereka yang memasukinya. Dikatakan pada hari itu, “mana orang-orang yang berpuasa?” Maka mereka pun bangkit untuk memasuki pintu itu tanpa seorangpun selain dari mereka yang memasukinya. Ketika mereka sudah masuk semua, pintu itu ditutup dan tidak ada lagi seorangpun yang memasukinya. [Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1896]

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda : “Siapa yang memberikan dua macam harta dijalan Allah akan dipanggil untuk memasuki pintu-pintu surga, Hai hamba Allah! inilah balasan harta yang kau infaqkan untuk kebaikan. Orang yang melaksanakan shalat akan dipanggil dari pintu shalat, orang yang berjihad akan dari pintu jihad, orang yang berpuasa akan dipanggil dari pintu Rayyan dan orang yang bersedekah shalat akan dipanggil dari pintu sedekah”. Abu Bakar r.a mengatakan : “Saya pertaruhkan ayah dan ibu saya kepada anda (ungkapan untuk memohon izin bertanya atau berbicara), ya Rasulullah! sungguh tidak ada kesedihan sedikitpun bagi orang yang dipanggil dari semua pintu-pintu tersebut, dan apakah ada orang yang dipanggil dari semua pintu ?” Rasullah Saw menjawab : “Ya, ada, dan aku berharap kaulah salah satunya.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadis : 1897].

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata : Rasulullah Saw pernah bersabda : “Apabila bulan Ramadhan tiba, semua pintu surga terbuka.” [Hadist ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1898].

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata : Rasulullah Saw pernah bersabda : “Apabila bulan Ramadhan tiba, semua pintu langit/surga terbuka, semua pintu neraka tertutup dan setan-setan dibelenggu”. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1899].

    Apakah Ramadhan atau bulan Ramadhan perlu disebutkan dan orang yang melihat hilal (bulan sabit di awal tanggal) ? Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a, dia berkata : Saya pernah mendengar Rasullah Saw bersabda : “Apabila kamu melihat hilal (pada awal malam Ramadhan), maka berpuasalah dan apabila kamu melihat hilal (pada awal malam Syawal), maka hentikan puasa, dan apabila di langit diselimuti awan (sehingga hilal tidak terlihat), maka genapkan Ramadhan (30 hari)”. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1900].

    Orang berpuasa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta / jelek: Diriwaytkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata : Rasulullah Saw pernah bersabda : “Siapa yang berpuasa tanpa meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta / jelek, maka Allah tidak membutuhkan puasa”. [Hadits ini diriwayatkan oleh AL-Bukhari, nomor hadits : 1903].

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, “Semua amal ibadah anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa, karena puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya”. Pada bagian akhir hadis disebutkan : “Orang yang berpuasa mendapat dua kesenangan, dia merasa senang ketika bertemu dengan Tuhannya, dia juga merasa senang dengan pahala puasanya.” [Hadis ini diriwayatkan oleh AL-Bukhari, nomor hadist 1904].

    Puasa bagi orang-orang yang tidak mampu menikah untuk mengendalikan syahwat Diriwayatkan dari ‘Alqamah bahwa Abdullah r.a mengatakan : Suatu ketika kami bersama Nabi Muhammad Saw, kemudian beliau bersabda : “Laki-laki yang sudah mampu menikah hendaklah ia menikah, karena menikah akan membuat pandangan matanya lebih merunduk dan membuat kemaluannya lebih terjaga. Siapa yang belum mampu menikah hendaklah ia berpuasa, karena puasa akan melerai nafsunya.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1906]

    Mengenai hitungan hari puasa bulan Ramadhan: Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a, bahwa Rasulullah bersabda : “Satu bulan itu bisa 29 hari, maka janganlah kamu berpuasa Ramadhan sebelum kamu melihat hilal dan apabila langit berawan (sehingga kamu tidak melihat hilal), maka genapkanlah Sya’ban 30 hari.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1907]

    Diriwayatkan oleh Ummu Salamah r.a, bahwa Nabi Saw pernah bersumpah untuk menjauhi istri-istrinya selama sebulan. Setelah berlalu 29 hari beliau datang pada pagi atau sore hari, lalu ditanyakan kepada beliau : “Anda telah bersumpah menjauhi istri-istri Anda selama satu bulan (mengapa sekarang anda datang ?)”. Rasulullah Saw menjawab : “Satu bulan itu kadang-kadang 29 hari.” [Hadist ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadist : 1910]

    Dua bulan Id tidak berkurang keutamaannya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Nabi Saw pernah berkata : “Dua bulan Id, Ramadhan dan Dzul Hijjah tidaklah berkurang keutamaannya (meskipun kadang-kadang 29 hari).” (Hadist ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadist : 1912]

    Sabda Nabi Saw :”Kami tidak pandai menulis dan berhitung” Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a bahwa Nabi Saw bersabda : “Kami adalah umat ummiy. Kami tidak pandai menulis dan berhitung. Satu bulan itu sekian dan sekian”. Maksudnya : Kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1913]

    Larangan mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu hari atau dua hari sebelumnya Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Nabi Saw pernah bersabda : “Janganlah seseorang dari kamu mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu hari atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi orang yang sudah terbiasa berpuasa sunnat yang kebetulan waktunya pada hari itu, maka ia boleh berpuasa.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1914]

    Firman Allah SWT (yang artinya : “Makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (Al-Quran, Surah Al-Baqarah : 187) Diriwayatkan dari Adiy bin Hatim r.a, dia berkata : Ketika turun ayat (yang artinya :”…. hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam”, saya mengambil dua utas tali pengikat masing-masing hitam dan putih, kemudian saya meletakkannya di bawah bantal saya. Pada malam hari saya melihat tali tersebut namun tidak tampak jelas pebedaan keduanya. Pada pagi hari saya menemui Rasulullah Saw untuk memberitahukan kepada beliau apa yang telah saya lakukan itu, kemudian beliau bersabda : “Benang hitam maksudnya gelapnya malam dan benang putih maksudnya terangnya siang (yakni fajar).” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1916]

    Perkiraan jeda antara sahur dengan shalat subuh Diriwayatkan dari Anas r.a bahwa Zaid bin Tsabit r.a mengatakan : Kami makan sahur bersama Rasulullah Saw, kemudian beliau berdiri untuk melaksanakan shalat (Subuh). Ditanyakan kepada Zaid : Berapa lama kira-kira antara azan dengan sahur ? Dia menjawab : Kira-kira bacaan 50 ayat Al-Quran. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits 1921]

    Sahur tidak wajib tetapi mengandung berkah Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, dia berkata : Nabi Saw pernah bersabda : “Makan sahurlah, karena makan sahur itu mengandung berkah.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1923]

    Orang yang berpuasa dalam keadaan junub ketika subuh Diriwayatkan dari Aisyah dan Ummu Salamah r.a bahwa ketika fajar tiba, Rasulullah Saw pernah dalam keadaan junub sehabis menggauli istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1925]

    Memeluk istri bagi orang yang berpuasa Diriwayatkan dari Aisyah r.a, dia berkata : Nabi Saw pernah mencium dan memeluk istrinya ketika beliau sedang berpuasa, dan beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan diri dibanding kalian semua. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1927]

    Makan dan minum karena lupa pada saat berpuasa Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a bahwa Nabi Saw pernah bersabda : “Apabila seseorang lupa (bahwa ia sedang berpuasa) kemudian ia makan dan minum, maka hendaklah ia lanjutkan puasanya, karena demikian itu berarti ia diberi makan dan minum oleh Allah.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1933]