HIKMAH DAN HUKUM AL FATIHAH SELALU DI BACA DALAM SEMUA DO’A

Pertanyaan:

Sebagian besar umat Islam Indonesia sering melakukan doa dengan bacaan al-Fatihah, apakah terkait pembukaan acara, mengirim doa untuk para almarhum, ziarah kubur dan sebagainya.

Adakah dasar pembacaan al-Fatihah dalam do’a?

Jawaban:

Al-Quran menyebutkan bahwa ada 7 ayat yang diulang-ulang (as-Sab’u al-Matsani. QS al-Hijr: 87), para ahli tafsir sepakat bahwa yang dimaksud 7 ayat tersebut adalah surat al-Fatihah.

Dalam riwayat Bukhari (2276) dan Muslim (5863) Abu Said al-Khudri yang dimintai tolong oleh sekelompok suku yang pimpinannya sakit karena tersengat hewan. Abu Said mengobatinya dengan doa al-Fatihah. Inilah riwayat tersebut:

عَنْ أَبِى سَعِيْدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ كَانُوْا فى سَفَرٍ فَمَرُّوْا بِحَىٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوْهُمْ فَلَمْ يُضِيْفُوْهُمْ فَقَالُوْا لَهُمْ هَلْ فِيْكُمْ رَاقٍ فَإِنَّ سَيِّدَ الْحَىِّ لَدِيْغٌ أَوْ مُصَابٌ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ نَعَمْ فَأَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ الرَّجُلُ فَأُعْطِىَ قَطِيْعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهَا وَقَالَ حَتَّى أَذْكُرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ فَأَتَى النَّبِىَّ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَاللهِ مَا رَقَيْتُ إِلاَّ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَتَبَسَّمَ وَقَالَ وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ثُمَّ قَالَ خُذُوْا مِنْهُمْ وَاضْرِبُوْا لِى بِسَهْمٍ مَعَكُمْ (رواه مسلم رقم 5863 والبخاري رقم 5736)

“Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri bahwa beberapa sahabat Rasulullah Saw berada dalam perjalanan lalu melewati salah satu suku Arab. Mereka bertamu namun tidak disuguhi apapun. Penduduk suku bertanya: Apakah diantara kalian ada yang bias mengobati (ruqyah)? Sebab kepala suku kami terkena bias atau musibah. Salah seorang sahabat menjawab: Ya. Kemudian ia mendatanginya dan mengobatinya (ruqyah) dengan surat al-Fatihah. Pemimpin tersebut sembuh dan memberikannya bagian dari kambing, namun ia (sahabat) menolaknya, dan ia berkata: Saya akan menyampaikannya dahulu kepada Nabi Saw. Ia pun mendatangi Nabi Saw dan menceritakan kisah diatas kepada Nabi. Ia berkata: Wahai Rasulullah, Demi Allah. Saya hanya melakukan ruqyah dengan surat al-Fatihah. Rasulullah Saw tersenyum dan berkata: Darimana kamu tahu bahwa al-Fatihah adalah ruqyah? Nabi Saw bersabda: Ambillah (kambing) dari mereka. Dan berilah saya bagian bersama kalian” (HR Muslim No 5863 dan al-Bukhari No 5736)

Imam Nawawi menganjurkan membaca al-Fatihah di dekat orang yang sakit dengan beristinbath pada hadis diatas:

(فَصْلٌ فِيْمَا يُقْرَأُ عِنْدَ الْمَرِيْضِ يُسْتَحَبُّ أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَ الْمَرِيْضِ بِالْفَاتِحَةِ لِقَوْلِهِ فِي الْحَدِيْثِ الصَّحِيْحِ فِيْهَا وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ؟ (التبيان في آداب حملة القرآن للشيخ النووي 1 / 183)

“Dianjurkan membaca al-Fatihah di dekat orang yang sakit, berdasarkan sabda Rasulullah Saw dalam hadis sahih tentang al-Fatihah: Darimana kamu tahu bahwa al-Fatihah adalah ruqyah?” (al-Tibyan fi Adabi Hamalat al-Quran I/183)

Begitu pula ahli tafsir, Fakhruddin al-Razi, berwasiat agar dibacakan al-Fatihah khususnya untuk salah satu putranya yang telah wafat:

وَأَنَا أُوْصِي مَنْ طَالَعَ كِتَابِي وَاسْتَفَادَ مَا فِيْهِ مِنَ الْفَوَائِدِ النَّفِيْسَةِ الْعَالِيَةِ أَنْ يَخُصَّ وَلَدِي وَيَخُصَّنِي بِقِرَاءَةِ اْلفَاتِحَةِ وَيَدْعُوَ لِمَنْ قَدْ مَاتَ فِي غُرْبَةٍ بَعِيْداً عَنِ اْلإِخْوَانِ وَاْلأَبِ وَاْلأُمِّ بِالرَّحْمَةِ وَالْمَغْفِرَةِ فَإِنِّي كُنْتُ أَيْضاً كَثِيْرَ الدُّعَاءِ لِمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فِي حَقِّي وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً آمِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (تفسير

الرازي الكبير مفاتيح الغيب لفخر الدين الرازي 18 / 183)

“(Al-Razi berkata) Saya berwasiat kepada pembaca kitab saya dan yang mempelajarinya agar secara khusus membacakan al-Fatihah untuk anak saya dan diri saya, serta mendoakan orang-orang yang meninggal nan jauh dari teman dan keluarga dengan doa rahmat dan ampunan. Dan saya sendiri akan mendoakan mereka yang telah berdoa untuk saya” (Tafsir al-Razi 18/233-234)

Bahkan Ibnu Taimiyah, ulama yang menjadi panutan kelompok anti tahlil, senantiasa mengulang-ulang bacaan al-Fatihah lebih banyak dari kaum Nahdliyin, hal ini disampaikan oleh muridnya sendiri, Umar bin Ali al-Bazzar, yang menulis biografi Ibnu Taimiyah:

وَكُنْتُ اَسْمَعُ مَا يَتْلُوْ وَمَا يَذْكُرُ حِيْنَئِذٍ فَرَأَيْتُهُ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ وَيُكَرِّرُهَا وَيَقْطَعُ ذَلِكَ الْوَقْتَ كُلَّهُ – أَعْنِي مِنَ الْفَجْرِ اِلَى ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ – فِي تَكْرِيْرِ تِلاَوَتِهَا (الأعلام العالية في مناقب ابن تيمية لعمر بن علي البزار 38)

“Saya mendengar apa yang dibaca dan yang dijadikan dzikir oleh Ibnu Taimiyah. Saya melihatnya membaca al-Fatihah, mengulang-ulanginya dan ia menghabiskan seluruh waktunya –yakni mulai salat Subuh sampai naiknya matahari– untuk mengulang-ulang bacaan al-Fatihah”

(al-A’lam al-‘Aliyah 38)

HUKUM ISBAL KAITANYA DENGAN PAHALA DALAM ISLAM

Berdasarkan pengertian dari Hadis, Isbal adalah memanjangkan pakaian (sarung/celana) di bawah mata kaki hingga menyentuh tanah. Hadis-hadisnya sangat banyak sekali, diantaranya:

ثَلاَثٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ الْمُسْبِلُ إِزَارَهُ وَالْمَنَّانُ الَّذِى لاَ يُعْطِى شَيْئًا إِلاَّ مِنَّةً وَالْمُنْفِقُ سِلْعَتَهُ باِلْحَلَفِ الْكَاذِبِ (رواه مسلم رقم 106)

“Ada 3 orang yang tidak akan dilihat oleh Allah di hari kiamat dan tidak dibersihkan oleh Allah, serta mereka mendapat adzab yang pedih yaitu orang yang melakukan Isbal (memanjangkan pakaiannya), orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya dan orang yang bersumpah palsu atas dagangannya” (HR Muslim No 106). Dan hadis:

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِى النَّارِ (رواه البخاري رقم 5787)

“Pakaian yang dibawah mata kaki maka ada di neraka” (HR Bukhari No 5787)

Namun hadis-hadis diatas masih umum, dan terdapat sekian banyak hadis yang mentakhsis (membatasi) keumumannya. Diantaranya:

لاَ يَنْظُرُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا (رواه البخاري رقم 5451 ) لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ (رواه مسلم رقم 2085)

“Allah tidak akan melihat seseorang di hari kiamat yang memanjangkan pakaiannya (Isbal) secara sombong” (HR Bukhari No 5451 dan Muslim No 2085).

Ketika Rasulullah bersabda demikian, kemudian Abu Bakar bertanya:

فَقَالَ أَبُوْ بَكْرٍ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلاَّ أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ g إِنَّكَ لَنْ تَصْنَعَ ذَلِكَ خُيَلاَءَ (رواه البخاري رقم 3465)

“Sesungguhnya salah satu sisi pakaian saya memanjang ke bawah kecuali kalau saya menjaganya? Rasulullah saw menjawab: “Kamu melakukan itu tidak karena sombong” (HR Bukhari No 3465).

Artinya Rasulullah memberi keringanan bahwa jika Isbal dilakukan tidak bertujuan sombong adalah diperbolehkan. Dengan demikian hukumnya Isbal tidak haram dan faktor keharamannya adalah “Sombong”. Maka mengangkat pakaian diatas mata kaki adalah sunah, bukan wajib. Penjelasan ini diulas oleh Imam Nawawi dalam Syarah Muslim 1/128.

KEISTIMEWAAN DUA SAHABAT NABI SAW. SAYYIDINA UTSMAN DAN ALI RA.

Keutamaan sayyidina Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu

فضل عثمان بن عفان رضي الله عنه

حَدَّثَنَا أَبُو مَرْوَانَ مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الْعُثْمَانِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي عُثْمَانُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكُلِّ نَبِيٍّ رَفِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَرَفِيقِي فِيهَا عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ

   Telah menceritakan kepada kami Abu Marwan Muhammad bin Utsman Al Utsmani berkata, telah menceritakan kepada kami bapakku Utsman bin Khalid dari Abdurrahman bin Abu Zinad dari Bapaknya dari Al A’raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap Nabi memiliki teman karib di surga, dan teman karibku di surga adalah Utsman bin ‘Affan.”

حَدَّثَنَا أَبُو مَرْوَانَ مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الْعُثْمَانِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي عُثْمَانُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقِيَ عُثْمَانَ عِنْدَ بَابِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ يَا عُثْمَانُ هَذَا جِبْرِيلُ أَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ قَدْ زَوَّجَكَ أُمَّ كُلْثُومٍ بِمِثْلِ صَدَاقِ رُقَيَّةَ عَلَى مِثْلِ صُحْبَتِهَا

   Telah menceritakan kepada kami Abu Marwan Muhammad bin Utsman Al Utsmani berkata, telah menceritakan kepada kami Utsman bin Khalid dari Abdurrahman bin Abu Zinad dari Bapaknya dari Al A’raj dari Abu Hurairah berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertemu Utsman di depan pintu masjid, kemudian beliau bersabda: “Wahai Utsman, ini adalah Jibril, dia mengabarkan kepadaku bahwa Allah telah menikahkanmu dengan Ummu Kultsum dengan mahar seperti yang diberikan kepada Ruqayyah dan sebagaimana kamu hidup bersamanya.”

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ

ذَكَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِتْنَةً فَقَرَّبَهَا فَمَرَّ رَجُلٌ مُقَنَّعٌ رَأْسُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا يَوْمَئِذٍ عَلَى الْهُدَى فَوَثَبْتُ فَأَخَذْتُ بِضَبْعَيْ عُثْمَانَ ثُمَّ اسْتَقْبَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ هَذَا قَالَ هَذَا

   Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris dari Hisyam bin Hassan dari Muhammad bin Sirin dari Ka’ab bin Ujrah ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan fitnah dan mengisyaratkan semakin dekat kedatangannya. Lalu lewatlah seorang lelaki yang memakai caping, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Orang ini suatu hari nanti akan berada di atas petunjuk.” Maka aku melompat dan menarik kedua lengan Utsman dan kembali menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata; “Orang ini! ” beliau bersabda: “Orang ini.”

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْفَرَجُ بْنُ فَضَالَةَ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ الدِّمَشْقِيِّ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عُثْمَانُ إِنْ وَلَّاكَ اللَّهُ هَذَا الْأَمْرَ يَوْمًا فَأَرَادَكَ الْمُنَافِقُونَ أَنْ تَخْلَعَ قَمِيصَكَ الَّذِي قَمَّصَكَ اللَّهُ فَلَا تَخْلَعْهُ يَقُولُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

قَالَ النُّعْمَانُ فَقُلْتُ لِعَائِشَةَ مَا مَنَعَكِ أَنْ تُعْلِمِي النَّاسَ بِهَذَا قَالَتْ أُنْسِيتُهُ

 

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah berkata, telah menceritakan kepada kami Al Faraj bin Fadlalah dari Rabi’ah bin Yazid Ad Dimasyqi dari An Nu’man bin Basyir dari Aisyah ia menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Utsman, jika pada suatu hari nanti Allah menguasakanmu atas perkara ini, lalu orang-orang munafik ingin agar engkau melepaskan jubah yang Allah telah memakaikannya untukmu, maka janganlah engkau lakukan.” Beliau ulangi hal itu hingga tiga kali.” An Nu’man berkata; Aku bertanya kepada Aisyah; “Apa yang menyebabkanmu tidak memberitahukan kepada orang-orang seputar masalah ini?” Aisyah berkata; “Aku dijadikan lupa kepadanya.”

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَعَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ وَدِدْتُ أَنَّ عِنْدِي بَعْضَ أَصْحَابِي قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا نَدْعُو لَكَ أَبَا بَكْرٍ فَسَكَتَ قُلْنَا أَلَا نَدْعُو لَكَ عُمَرَ فَسَكَتَ قُلْنَا أَلَا نَدْعُو لَكَ عُثْمَانَ قَالَ نَعَمْ فَجَاءَ فَخَلَا بِهِ فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكَلِّمُهُ وَوَجْهُ عُثْمَانَ يَتَغَيَّرُ

قَالَ قَيْسٌ فَحَدَّثَنِي أَبُو سَهْلَةَ مَوْلَى عُثْمَانَ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ قَالَ يَوْمَ الدَّارِ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَهِدَ إِلَيَّ عَهْدًا فَأَنَا صَائِرٌ إِلَيْهِ وَقَالَ عَلِيٌّ فِي حَدِيثِهِ وَأَنَا صَابِرٌ عَلَيْهِ قَالَ قَيْسٌ فَكَانُوا يُرَوْنَهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ

 

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair dan Ali bin Muhammad keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Waki’ berkata, telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Abu Khalid dari Qais bin Abu Hazim dari Aisyah ia menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda diwaktu sakitnya: “Ingin rasanya jika sebagian sahabatku ada di sisiku.” Kami lalu bertanya; “Ya Rasulullah, apakah perlu kami memanggil Abu Bakar untukmu?” Beliau terdiam. Kami bertanya lagi; “Apakah perlu kami memanggil Umar untukmu?” Beliau masih terdiam. Kami lalu bertanya lagi; “Apakah perlu kami memanggil Utsman untukmu?” Beliau menjawab: “Ya.” Lalu Utsman pun datang dan menyendiri dengannya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara kepadanya, hingga wajah Utsman berubah.” Qais berkata; “Telah menceritakan kepadaku Abu Sahlah mantan budak Utsman, Utsman bin ‘Affan berkata di hari pengepungan rumahnya; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjanjikan kepadaku sebuah janji dan aku akan tetap memegang janji itu.” Dan Ali menyebutkan dalam haditsnya; “Aku akan bersabar di atasnya”. Qais berkata; “Maka mereka membunuhnya pada hari itu.”

 

Keutamaan sayyidina Ali bin Ali Thalib radhiallahu ‘anhu

فضل علي بن أبي طالب رضي الله عنه

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ وعَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ

عَهِدَ إِلَيَّ النَّبِيُّ الْأُمِّيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ لَا يُحِبُّنِي إِلَّا مُؤْمِنٌ وَلَا يُبْغِضُنِي إِلَّا مُنَافِقٌ

   Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Waki’ dan Abu Mu’awiyah dan Abdullah bin Numair dari Al A’masy dari Adi bin Tsabit dari Zirri bin Hubaisy dari Ali radliallahu ‘anhu ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, al ummi (seorang yang buta aksara) memberikan janji kepadaku, bahwasanya tidak akan mencintaiku kecuali orang beriman dan tidak akan membenciku kecuali orang munafik.”

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ قَالَ سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لِعَلِيٍّ أَلَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى

   Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sa’d bin Ibrahim ia berkata; aku mendengar Ibrahim bin Sa’id bin Abu Waqqash menceritakan dari Bapaknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda kepada Ali: “Apakah kamu tidak ridla, jika kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa.”

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ أَخْبَرَنِي حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدِ بْنِ جُدْعَانَ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ

أَقْبَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّتِهِ الَّتِي حَجَّ فَنَزَلَ فِي بَعْضِ الطَّرِيقِ فَأَمَرَ الصَّلَاةَ جَامِعَةً فَأَخَذَ بِيَدِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ أَلَسْتُ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ قَالُوا بَلَى قَالَ أَلَسْتُ أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ قَالُوا بَلَى قَالَ فَهَذَا وَلِيُّ مَنْ أَنَا مَوْلَاهُ اللَّهُمَّ وَالِ مَنْ وَالَاهُ اللَّهُمَّ عَادِ مَنْ عَادَاهُ

   Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Abul Husain berkata, telah mengabarkan kepadaku Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid bin Jud’an dari Adi bin Tsabit dari Barra` bin ‘Azib ia menuturkan, “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat haji diwaktu beliau melakukan haji. Lalu beliau singgah di tengah perjalanan, beliau lalu memerintahkan shalat berjama’ah. Kemudian beliau memegang tangan Ali radliallahu ‘anhu dan bersabda: “Bukankah aku lebih utama bagi kaum mukmin dari pada jiwa-jiwa mereka?” Para sahabat menjawab; “Benar.” Beliau melanjutkan kembali: “Bukankah aku lebih utama bagi seorang mukmin dari pada dirinya? Mereka menjawab; “Benar”. Beliau bersabda: “Maka ini (Ali) merupakan wali bagi orang yang menjadikan aku sebagai walinya. Ya Allah, tolonglah orang yang mencintainya. Ya Allah, musuhilah orang yang memusuhinya.”

 

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي لَيْلَى حَدَّثَنَا الْحَكَمُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ

كَانَ أَبُو لَيْلَى يَسْمُرُ مَعَ عَلِيٍّ فَكَانَ يَلْبَسُ ثِيَابَ الصَّيْفِ فِي الشِّتَاءِ وَثِيَابَ الشِّتَاءِ فِي الصَّيْفِ فَقُلْنَا لَوْ سَأَلْتَهُ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ إِلَيَّ وَأَنَا أَرْمَدُ الْعَيْنِ يَوْمَ خَيْبَرَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَرْمَدُ الْعَيْنِ فَتَفَلَ فِي عَيْنِي ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ أَذْهِبْ عَنْهُ الْحَرَّ وَالْبَرْدَ قَالَ فَمَا وَجَدْتُ حَرًّا وَلَا بَرْدًا بَعْدَ يَوْمِئِذٍ وَقَالَ لَأَبْعَثَنَّ رَجُلًا يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ لَيْسَ بِفَرَّارٍ فَتَشَرَّفَ لَهُ النَّاسُ فَبَعَثَ إِلَى عَلِيٍّ فَأَعْطَاهَا إِيَّاهُ

   Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Waki’ berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Laila berkata, telah menceritakan kepada kami Al Hakam dari Abdurrahman bin Abu Laila ia berkata; “Abu Laila berbincang-bincang dengan Ali. Dan Ali biasa memakai baju musim panas di saat musim dingin dan memakai baju musim dingin di saat musim panas. Maka kami bergumam; “Mari kita bertanya kepadanya.” Dia menjawab; “Pada saat perang Khaibar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusku, sementara aku sedang sakit mata. Aku berkata kepada Rasulullah; “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku sedang sakit mata. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun meniup mataku seraya berdoa: “Ya Allah, jauhkan darinya panas dan dingin.” Ali berkata; “Maka aku tidak mengalami panas dan juga dingin semenjak hari itu.” Dan beliau bersabda: “Sungguh, aku akan mengutus seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta bukan seorang yang penakut.” Maka orang-orang berdesakan untuk mendapatkannya namun Rasul mengutus serta memberikan bendera kepadanya.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُوسَى الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنَا الْمُعَلَّى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَأَبُوهُمَا خَيْرٌ مِنْهُمَا

   Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Musa Al Wasithi berkata, telah menceritakan kepada kami Al Mu’alla bin Abdurrahman berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hasan dan Husain adalah dua pemimpin para pemuda penghuni surga. Dan ayah keduanya lebih baik dari keduanya.”

 

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَسُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ وَإِسْمَعِيلُ بْنُ مُوسَى قَالُوا حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ حُبْشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ قَالَ

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَلِيٌّ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَلَا يُؤَدِّي عَنِّي إِلَّا عَلِيٌّ

   Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Suwaid bin Sa’id dan Isma’il bin Musa mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abu Ishaq dari Hubsyi bin Junadah ia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ali adalah bagian dariku dan aku adalah bagian dari Ali. Dan tidak ada yang menunaikan kewajibanku kecuali Ali.”

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَعِيلَ الرَّازِيُّ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى أَنْبَأَنَا الْعَلَاءُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ الْمِنْهَالِ عَنْ عَبَّادِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ

قَالَ عَلِيٌّ أَنَا عَبْدُ اللَّهِ وَأَخُو رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا الصِّدِّيقُ الْأَكْبَرُ لَا يَقُولُهَا بَعْدِي إِلَّا كَذَّابٌ صَلَّيْتُ قَبْلَ النَّاسِ بِسَبْعِ سِنِينَ

   Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma’il Ar Razi berkata, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Musa berkata, telah memberitakan kepada kami ‘Ala` bin Shalih dari Minhal dari ‘Abbad bin Abdullah ia berkata; Ali berkata; “Aku adalah hamba Allah dan saudara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan aku adalah Ash Shiddiq Al Akbar, tidak ada yang mengucapkannya setelahku kecuali seorang pendusta. Aku telah menegakkan shalat sebelum orang-orang, selama tujuh tahun.”

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ ابْنِ سَابِطٍ وَهُوَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ

قَدِمَ مُعَاوِيَةُ فِي بَعْضِ حَجَّاتِهِ فَدَخَلَ عَلَيْهِ سَعْدٌ فَذَكَرُوا عَلِيًّا فَنَالَ مِنْهُ فَغَضِبَ سَعْدٌ وَقَالَ تَقُولُ هَذَا لِرَجُلٍ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ الْيَوْمَ رَجُلًا يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

   Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah berkata, telah menceritakan kepada kami Musa bin Muslim dari Ibnu Sabith -yaitu Abdurrahman- dari Sa’d bin Abu Waqqash ia menuturkan; Mu’awiyah tiba dari sebagian pelaksanaan ibadah hajinya, lalu masuklah Sa’d menemuinya, mereka memperbincangkan Ali dan menggunjingnya. Maka marahlah Sa’d seraya berkata: “Kamu katakan ini kepada seorang lelaki yang aku sendiri mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menjadikan aku sebagai walinya, maka Ali (juga) walinya.” Dan aku mendengarnya bersabda: “Kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa. Hanya saja tidak ada Nabi setelahku.” Dan aku mendengarnya bersabda: “Sungguh aku akan memberikan bendera pada hari ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

 

Kitab Sunan Ibnu Majah.

KASIH SAYANG ALLOH SWT LEBIH BESAR DARIPADA KASIH SAYANG ORANG TUA

 ـ   عن عمر بن الخطاب ـ رضي الله عنه ـ قال : قدم على النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ سبى ، فإذا امرأة من السبي قد تحلب ثديها تسعى : إذا وجدت صبياً في السبي ـ أخذته فألصقته ببطنها ، وأرضعته ، فقال لنا النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ ” أترون هذه طارحة ولدها في النار ؟ قلنا : لا ،وهي تقدر على ألا تطرحه . فقال : لله أرحم بعباده من هذه بولدها ” . رواه البخاري ومسلم

“Dari Umar bin Al Khaththab RA berkata: Didatangkanlah para tawanan perang kepada Rasulullah SAW. Maka di antara tawanan itu terdapat seorang wanita yang susunya siap mengucur berjalan tergesa-gesa – sehingga ia menemukan seorang anak kecil dalam kelompok tawanan itu – ia segera menggendong, dan menyusuinya. Lalu Nabi Muhammad SAW bersabda: Akankah kalian melihat ibu ini melemparkan anaknya ke dalam api? Kami menjawab: Tidak, dan ia mampu untuk tidak melemparkannya. Lalu Nabi bersabda: Sesungguhnya Allah lebih sayang kepada hamba-Nya, melebihi sayangnya ibu ini kepada anaknya” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Penjelasan:

قدم Qaf dibaca dhammah, berbentuk Mabni Majhul (didatangkan)

سبى Tawanan dari Hawazin

تحلب Ha’ dibaca fathah dan lam diberi tasydid. ثديها Berbentuk mufrad (kata tunggal) dibaca rafa’ sebagai fa’il; telah mengalir air susu darinya. Al Hafizh Ibnu Hajar berkata –dalam Fathul Bari- siap mengeluarkan susu.

تسعى A’in dibaca fathah, dari kata sa’i (berjalan cepat) mencari anaknya yang hilang.

إذا وجدت صبياً في السبي ـ أخذته فألصقته ببطنها ، وأرضعته Ia dapatkan seorang anak kecil dalam kelompok tawanan itu, ia mengambilnya lalu memeluknya dan menyusuinya. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan dalam Fathul-Bari, setelah kalimat itu –

فوجدت صبياً ، فأخذته فألزمته بطنها

Artinya: Wanita itu bergegas berjalan mencari anaknya yang hilang. Ia resah dengan air susunya yang telah terkumpul di buah dadanya – ketika ia menemukan anak kecil ia ambil dan ia susuinya, untuk meringankan air susunya, lalu menemukan anak kecil lagi – dan itulah anaknya sendiri – ia ambil dan ia peluk dalam perutnya dan menyusuinya. Lalu Rasulullah SAW bersabda: أترون ta’ dibaca fathah artinya: apakah kamu menyangka wanita itu melemparkan anaknya ke dalam api. Kami jawab. Tidak mungkin ia lemparkan anaknya ke dalam api.

Lalu Rasulullah saw bersabda: لله lam pertama dibaca, lam taukid (penegasan). Sesungguhnya Allah lebih sayang kepada hamba-Nya melebihi wanita itu sayang kepada anaknya. Allah tidak akan melemparkannya ke neraka karena sangat sayang kepada mereka.

العباد Para hamba yang dimaksudkan adalah kaum mukminin yang bertaqwa yang beramal shalih. Seperti firman Allah:

وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ ۚ قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاءُ ۖ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ﴿١٥٦﴾الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ

“Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia Ini dan di akhirat; Sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami. (yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil ….” (QS. Al A’raf: 156-157)

Hadits ini dikuatkan pula oleh riwayat Imam Ahmad dan Al Hakim dari Anas RA, berkata:

” مر النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ في نفر من أصحابه ـ وصبى على الطريق ـ فلما رأت أمه القول ـ خشيت على ولدها أن يوطأ ، فأقبلت تسعى ، وتقول : ابني . ابني ، وسعت ، فأخذته ، فقال القوم : يا رسول الله ، ما كانت هذه لتلقي ابنها في النار ، فقال : ولا الله بطارح حبيبه في النار ، فقال : ولا الله بطارح حبيبه في النار “

Rasulullah SAW melintasi sekelompok sahabatnya – ada seorang anak kecil di tengah jalan. Ketika ibunya melihat hal itu, ibu itu ketakutan bahwa anaknya akan jatuh, lalu ia bergegas menghampiri dan memanggil-manggil: anakku-anakku, ibu itu berjalan cepat, dan mengambilnya. Para sahabat bertanya: Ibu ini tidak akan melemparkan anaknya ke dalam api. Rasulullah SAW bersabda: Dan Allah tidak akan melemparkan kekasihnya ke dalam api neraka. Dan Allah tidak akan melemparkan kekasihnya ke dalam api neraka.

Dari hadits ini dapat diambil pelajaran:

   Tidak ada seorang pun yang lebih sayang melebihi Allah. Allah SWT lebih sayang dibandingkan dengan orang yang harus menyayangi. Tidak pernah ada dalam makhluk Allah yang lebih sayang dari ibunya. Dan Rasulullah SAW bersabda: Allah lebih sayang dari pada ibu itu menyayangi anaknya.

   Boleh melihat tawanan wanita. Rasulullah SAW tidak melarang melihat wanita dalam hadits di atas. Bahkan dalam hadits tadi termuat pembolehan melihatnya.

   Penggunaan contoh sebagai alat bantu, sehingga bisa ditangkap secara fisik untuk hal-hal yang tidak mudah dipahami, agar mendapatkan pengertian yang tepat, meskipun yang dijadikan contoh sesuatu yang tidak akan dapat terjangkau hakikatnya. Itulah rahmat Allah yang tidak akan terjangkau oleh akal. Walau demikian Rasulullah SAW mendekatkan pemahaman itu kepada para pendengar dengan keadaan wanita tersebut.

   Pemanfaatan kesempatan untuk menyampaikan dakwah. Rasulullah SAW memanfaatkan kesempatan perhatian para sahabat terhadap fenomena kasih sayang ibu kepada anaknya, lalu dialihkan kepada kasih sayang yang lebih besar, untuk memenuhi kebutuhannya, dan menjadi tempat bergantung dalam semua urusan.

 

HADITS HADITS KEUTAMAAN MENGUCAPKAN LA ILAHA ILLALLOH

{الباب الثاني}: في فضيلة لا إله إلاَّ الله

قال النبي صلى الله عليه وسلم: {مَنْ قَالَ كُلَّ يَوْمٍ لا إلٰهَ إلاَّ الله مُحَمَّدٌ رَسُولُ الله مَائَةَ مَرَّة جَاءَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَوَجْهُهُ كَالقَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa setiap hari mengucapkan seratus kali laa ilaaha illalloh Muhammadur Rasululloh, maka dia akan datang di hari kiamat dengan wajah bagaikan bulan purnama.”

وقال صلى الله عليه وسلم: {أَفْضَلُ الذِّكْرِ لاَ إلٰهَ إلاَّ الله، وَأَفْضَلُ الدُعَاءِ الحَمْدُ للهِ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Dzikir paling utama adalah laa ilaha illalloh dan do`a paling utama adalah alhamdu lillah”.

وقال صلى الله عليه وسلم: {قال الله تعالى لا إله إلا الله كلامي وأنا هو، من قالها دخل حصني، ومن دخل حصني أمن من عقابي}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Allah berfirman: “laa ilaha illallah kalam-KU dan Aku-lah dia. Barang siapa mengucapkannya maka masuk dalam perlindungan-Ku, dan barang siapa masuk lindungan-Ku maka aman dari siksa-Ku”.

وقال صلى الله عليه وسلم: {أَدُّوا زَكَاةَ أبْدَانِكُمْ بِقَوْلِ لاَ إلٰهَ إلاَّ الله}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Tunaikanlah zakat badan kalian dengan perkataan laa ilaha illalloh”.

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ لا إلٰهَ إلاَّ الله مُحَمَّدٌ رَسُول الله إلاَّ قَالَ الله تَعَالى صَدَقَ عَبْدِي أنا الله لا إلٰهَ إلاَّ أنا أُشْهِدُكُمْ يا مَلائَكَتِي قَدْ غَفَرْتُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّر}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Tiada seorang hambapun yang mengucapkan laa ilaaha illalloh Muhammadur Rasululloh terkecuali Allah ta`ala berfirman: Benar hamba-Ku, Aku-lah Allah, tiada Tuhan selain Aku. Aku persaksikan kepada kalian wahai malaikat-malaikat-Ku, Aku benar-benar telah mengampuni dosa-dosanya yang sudah terlewat dan yang akan datang”.

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ قَالَ لا إلٰهَ إلاَّ الله خَالِصا مُخْلِصا دَخَلَ الجَنَّةَ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa mengucapkan laa ilaha illalloh secara murni dan ikhlas, maka masuk surga.”

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ كانَ أوَّلُ كَلاَمِهِ لا إلٰهَ إلاَّ الله وَآخِرُ كَلامِهِ لا إلٰهَ إلاَّ الله وَعَمِلَ ألْفَ سَيِّئَةٍ إنْ عَاشَ ألْفَ سَنَةٍ لا يَسْأَلُهُ الله عَنْ ذَنْبٍ وَاحِدٍ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa yang awal perkaanya laa ilaha illalloh dan akhir perkaannya laa ilaha illalloh dan melakukan seribu kesalahan (dosa kecil) dan jika dia hidup seribu tahun, maka Allah tidak akan menanyakan satu dosapun”.

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ قَالَ لا إلٰهَ إلاَّ الله مِنْ غَيْرِ عَجَبٍ طَارَ بِهَا طَائِرٌ تَحْتَ العَرْشِ، يُسَبِّحُ مَعَ المُسبِّحِينَ إلى يَوْمِ القِيَامَةِ وَيُكْتَبُ لَهُ ثَوَابُهُ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa yang membaca laa ilaha illalloh tanpa disertai `ujub maka terbanglah seekor burung di bawah `arasy yang akan membaca tasbih bersama mereka yang membaca tasbih hingga hari kiamat, kemudian pahalanya dituliskan untuk dia “.

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ قالَ لا إلٰهَ إلاَّ الله مُحَمَّدٌ رَسُولُ الله مَرَّةً غُفِرَ لَهُ ذُنُوبُهُ وَإنْ كانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْرِ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : {“Barang siapa mengucapkan laa ilaaha illalloh Muhammadur Rasululloh sekali, maka diampuni dosa-dosanya walaupun banyaknya bagaikan buih di lautan”.

وقال صلى الله عليه وسلم: {إذا مَرَّ المُؤْمِنُ عَلَى المَقَابِرِ فَقَالَ لا إلٰهَ إلاَّ الله وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لا يَمُوتُ. بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ نَوَّر الله تِلْكَ القُبُورَ كُلِّهَا وَغَفَرَ لِقَائِلهَا وَكَتَبَ لَهُ ألْفَ ألْفِ حَسَنَةٍ وَرَفَع لَهُ ألْفَ ألْفِ دَرَجَةٍ وَحَطَّ عَنْهُ ألْفَ ألْفِ سَيِّئَةٍ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Ketika seorang mu`min lewat pekuburan dan mengucapkan laa ilaaha illalloh wahdahu la syarika lahu lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumitu wahuwa hayyun la yamut biyadihil khairu wahuwa ala kulli syai-in qadir, maka Allah menerangi semua kuburan tersebut, mengampuni dosa yang membacanya, menulis sejuta kebaikan baginya, mengangkat baginya sejuta derajat dan menghapus darinya sejuta kejelekan “. Wallohu a’lam.

HADITS TENTANG ORANG PELIT KARENA MELAKUKAN NADZAR

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

نَهَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَنِ النَّذْرِ قَالَ « إِنَّهُ لاَ يَرُدُّ شَيْئًا ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ »

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk bernazar, beliau bersabda: ‘Nazar sama sekali tidak bisa menolak sesuatu. Nazar hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil (pelit).”

(HR. Bukhari no. 6693 dan Muslim no. 1639)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَنْذُرُوا فَإِنَّ النَّذْرَ لاَ يُغْنِى مِنَ الْقَدَرِ شَيْئًا وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ

“Janganlah bernazar. Karena nazar tidaklah bisa menolak takdir sedikit pun. Nazar hanyalah dikeluarkan dari orang yang pelit.” (HR. Muslim no. 1640)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ النَّذْرَ لاَ يُقَرِّبُ مِنِ ابْنِ آدَمَ شَيْئًا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ قَدَّرَهُ لَهُ وَلَكِنِ النَّذْرُ يُوَافِقُ الْقَدَرَ فَيُخْرَجُ بِذَلِكَ مِنَ الْبَخِيلِ مَا لَمْ يَكُنِ الْبَخِيلُ يُرِيدُ أَنْ يُخْرِجَ

“Sungguh nazar tidaklah membuat dekat pada seseorang apa yang tidak Allah takdirkan. Hasil nazar itulah yang Allah takdirkan. Nazar hanyalah dikeluarkan oleh orang yang pelit. Orang yang bernazar tersebut mengeluarkan harta yang sebenarnya tidak ia inginkan untuk dikeluarkan. ”

(HR. Bukhari no. 6694 dan Muslim no. 1640)

KUMPULAN HADITS KEUTAMAAN KEUTAMAAN KAUM WANITA DI SISI ALLOH SWT.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ;: إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا. قِيْلَ لَهَا : أُدْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ؟

                                                       (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ حِبَّانَ).

Rasulullah SAW bersabda: “Ketika seorang istri sholat lima waktu, puasa bulan ramadhan menjaga kemaluannya, taat kepada suami, maka ia akan disuruh masuk surga dari pintu yang ia kehendaki”. (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

 

         قَالَ رَسُوْلُ اللهِ y;: أَلاَ اُخْبِرُكُمْ بِرِجَالِكُمْ فِى الْجَنَّةِ ؟ قُلْنَا : بَلىٰ،

يَارَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: النَّبِيُّ فِى الْجَنَّةِ، وَالصِّدِّيْقُ فِى الْجَنَّةِ، وَالرَّجُلُ يَزُوْرُ أَخَاهُ فِى نَاحِيَةِ الْمِصْرِ لاَ يَزُوْرُهُ إِلاَّ ِللهِ فِى الْجَنَّةِ أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِى الْجَنَّةِ؟ قُلْنَا : بَلىٰ يَارَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: وَدُوْدٌ وَلُوْدٌ إِذَا غُضِبَتْ أَوْ أُسِئَ إِلَيْهَا أَوْ غَضَبَ زَوْجُهَا قَالَتْ: هٰذِهِ يَدَيَّ فِى يَدِكَ لاَ أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ. (رَوَاهُ الطَّبْرَانِى).

Rasulullah SAW bersabda: “Maukah kalian aku beritahu tentang tokoh laki-laki yang masuk surga? Sahabat menjawab : betul ya Rasulullah, Rasulullah bersabda: nabi masuk surga, Abu Bakar Shiddiq masuk surga, seorang laki-laki yang menengok temannya di pinggiran kota, ia tidak menengoknya kecuali karena Allah ia masuk surga, maukah kalian aku beritahu tokoh perempuan yang masuk surga? Sahabat menjawab: betul ya Rasulullah, Beliau bersabda: perempuan yang mencintai suami lagi banyak anak, ketika ia dimarahi atau diperlakukan dengan buruk atau suaminya marah ia berkata: ini tanganku berada ditanganmu aku tidak mamakai celak dengan memakai tanah”. (HR. Thobroni)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ: جَاءَتْنِى مِسْكِيْنَةٌ، تَحْمِلُ ابْنَتيْنِ لَهَا، فَأَطْعَمْتُهَا ثَلاَثَ تََمْرَاتٍ. فَأَعْطَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ تَمْرَةً، وَرَفَعَتْ إِلىٰ فِيْهَا تَمْرَةً لِتَأْكُلَهَا، فَاسْتَطْعَمَتْهَا اِبْنَتَاهَا، فَشَقَّتِ التَّمْرَةُ الَّتِى كَانَتْ تُرِيْدُ أَنْ تَأْكُلَهَا بَيْنَهُمَا. فَأَعْجَبَنِى شَأْنُهَا، فَذَكَرْتُ الَّذِى صَنَعَتْ لِرَسُوْلِ اللهِ ;فَقَالَ: إِنَّ اللهَ قَدْ أَوْجَبَ لَهَا بِهِمَا الْجَنَّةَ “أَوْ” أَعْتَقَهَا بِهِمَا مِنَ النَّارِ. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ).

Diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah RA berkata: “Suatu saat ada wanita miskin datang kepadaku dengan menggendong kedua anak perempuannya, lalu aku memberinya tiga butir kurma, kemudian wanita miskin itu memberi masing-masing putrinya satu butir kurma, dan satu butir yang lain ia angkat kemulutnya untuk dimakan, tetapi kedua putrinya minta lagi kurma yang mau dimakan oleh ibunya, kemudian perempuan miskin itu membagi dua kurma yang mau dimakan untuk kedua putrinya, sehingga aku terkagum-kagum dengan keadaan perempuan miskin itu, lalu aku laporkan perbuatannya kepada Rasulullah SAW. Beliau bersabda: sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi perempuan miskin itu untuk masuk surga karena kedua putrinya, atau Allah memerdekakannya dari neraka karena kedua putrinya”. (HR. Muslim)

 

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ;: مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ دَخَلْتُ أَنَا وَهُوَ الْجَنَّةَ كَهَاتَيْنِ، وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ السَّبَابَةِ وَالَّتِى تَلِيْهَا. (رَوَاهُ التِّرْمِذِى وَابْنُ حِبَّانَفِى صَحِيْحِهِ).

وَلَفْظُهُ : مَنْ عَالَ اِبْنَتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا أَوْ أُخْتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا حَتَّى يَبِنَّ أَوْ يَمُوْتَ عَنْهُنَّ كُنْتُ أَنَا وَهُوَ فِى الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ، وَأَشَارَ بِالسَّبَابَةِ وَالَّتِى تَلِيْهَا.

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang menanggung kehidupan dua perempuan, maka aku akan masuk surga bersamanya seperti ini Rasulullah membuat isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah. (HR. Turmudzi)

Dalam riwayat Ibnu Hibban diceritakan: “Barang siapa yang menanggung dua anak perempuan atau tiga, atau dua saudara perempuan atau tiga sampai mereka menikah atau ia meninggal mendahului mereka maka aku masuk surga bersamanya seperti ini, Rasulullah membuat isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah.”

 

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ y;: مَنْ كَانَ لَهُ ثَلاَثُ بَنَاتٍ أَوْ ثَلاَثُ أَخَوَاتٍ أَوْ بَنَاتٍ أَوْ أُخْتَانِ فَأَحْسَنَ صُحْبَتُهُنَّ وَاتَّقَى اللهَ فِيْهِنَّ فَلَهُ الْجَنَّةُ. (رَوَاهُ التِّرْمِيْذِى).

وَرَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِلََفْظٍ: فَأَدَّبَهُنَّ وَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ وَزَوَّجَهُنَّ فَلَهُ الْجَنَّةُ.

                                                     (وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ).

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang mempunyai tiga orang saudara atau tiga orang anak atau dua orang saudara lalu ia berbuat baik didalam mengasuhnya dan bertaqwa kepada Allah dalam mengurusinya maka ia dijamin masuk surga. (HR. Turmudzi)

Dalam riwayat lain disebutkan: ia mendidik mereka, berbuat baik kepadanya, menikahkannya maka ia di jamin masuk surga”.

                                                                          (HR. Abu Daud dan Menyohehkannya Ibnu Hibban)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ;: مَنْ كَانَتْ لَهُ أُنْثَى فَلَمْ يُئَدِّهَا وَلَمْ يُهْنِهَا وَلَمْ يُؤْثِرْ وَلَدَهُ – يَعْنِى الذُّكُوْرَ – عَلَيْهَا أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ. (رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ).

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang mempunyai anak perempuan lalu ia tidak menyakitinya, tidak menghinakannya, tidak merendahkannya di bawah anak laki-laki maka ia dijamin masuk surga”. (HR. Abu Daud)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ;: مَنْ كُنَّ لَهُ ثَلاَثُ بَنَاتٍ فَصَبَرَ عَلَى َلآوَائِهِنَّ وَضَرَّئِهِنَّ وَسَرَّائِهِنَّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِهِ إِيَّاهُنَّ،، فَقَالَ رَجُلٌ: وَاِثْنَتَانِ يَارَسُوْلُ للهِ؟ قَالَ: وَاِثْنَتَانِ، قَالَ رَجُلٌ : وَوَاحِدَةٌ، قَالَ : وَوَاحِدَةٌ. (رَوَاهُ الْحَاكِمُ).

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang mempunyai tiga anak perempuan, kemudian dia sabar atas kesusahannya, kesenangannya, maka ia dijamin masuk surga kerana kasih sayangnya pada mereka, seorang sahabat bertanya: Kalau dua wahai Rasulullah? Beliau menjawab: kalau dua juga, seorang sahabat bertanya lagi: kalau satu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: kalau satu juga”. (HR. Hakim)

 

KUMPULAN HADITS MASUK SURGA DAN NERAKA ALLOH SWT.

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ;قَالَ: يَدْعُو اللهُ بِصَاحِبِ الدَّيْنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُوْقَفَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَيُقَالَ يَا ابْنَ آدَمَ فِيْمَا أَخَذْتَ هٰذَا الدَّيْنَ ؟ وَفِيْمَ ضَيَّعْتَ حُقُوْقَ النَّاسِ ؟، فَيَقُوْلُ: يَارَبِّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّى أَخَذْتُهُ فَلَمْ آكُلْ وَلَمْ أَشْرَبْ وَلَمْ أَلْبَسْ وَلَمْ أَُضَيِّعْ. وَلٰكِنْ أَتَى عَلَيَّ : إِمَّا حَرْقٌ وَإِمَّا سَرْقٌ وَإِمَّا ضَيْعَةٌ فَيَقُوْلُ اللهُ : صَدَقَ عَبْدِيْ ، أَنَا أَحَقُّ مَنْ قَضَى عَنْكَ. فَيَدْعُو اللهَ بِشَيْئٍ فَيَضَعُهُ فِى كَفَةِ مِيْزَانِهِ. فَتَرْجِحُ حَسَنَاتُهُ عَلَى سَيِّئَاتِهِ فَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ.

                                      (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبَزَّارُ وَالطَّبْرَانِى وَأَبُونُعَيْمٍ).

Rasulullah SAW bersabda: “Pada hari kiamat Allah akan memanggil orang yang punya hutang kemudian ia dipanggil menghadapnya lalu ditanya: wahai anak Adam untuk apa engkau mengambil hutang? Kenapa engkau sia-siakan hak manusia? Lalu orang itu menjawab: wahai Tuhan kami sesungguhnya engkau mengetahui sesungguhnya aku mengambilnya tetapi aku tidak sempat makan, minum, memakai atau menyia-nyiakan tetapi menimpaku kebakaran, pencurian atau tersia-siakan, kemudian Allah berfirman: hambaku betul aku lebih berhak untuk membayar hutangnya kemudian Allah mengambil sesuatu dan meletakkannya dicangkok timbangannya sehingga amal baiknya lebih berat dari amal buruknya lalu ia masuk surga dengan anugrah rahmat-Nya”. (HR. Ahmad, Al Bazzar, Ath-Thobroni dan Abu Nu’aim)

أَنَّ النَّبِيَّ y;قَالَ : إِضْمَنُوْا لِيْ سِتًّا مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَضْمَنُ لَكُمُ الْجَنَّةَ: أُصْدُقُوْا إِذَا حَدَثْتُمْ، وَأَوْفُوْا إِذَا وَعَدْتُمْ، وَأَدُّوا اْلأَمَانَةَ إِذَا ائْتُمِنْتُمْ، وَاحْفَظُوْا فُرُوْجَكُمْ، وَغُضُّوْا أَبْصَارَكُمْ، وَكَفُّوا أَيْدِيَكُمْ.(رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ).

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang menjamin enam perkara dari dirinya kepadaku maka aku akan menjaminnya dengan masuk surga yang pertama; jujur ketika berkata, yang kedua; memenuhi ketika berjanji, yang ketiga; menyampaikan amanat ketika dipercaya, yang keempat; menjaga kemaluannya, yang kelima; menjaga pandangan matanya, yang keenam; menjaga tangannya”. (HR. Ahmad dan menyohehkannya Ibnu hibban dan Hakim)

الَ رَسُوْلُ اللهِ y;: عُرِضَ عَلَىَّ أُوَّلٌ ثَلاَثَةٌ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ أُوَّلٌ ثَلاَثَةٌ يَدْخُلُوْنَ النَّارَ. فَأَمَّا أُوَّلٌ ثَلاَثَةٌ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ فَالشَّهِيْدُ وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَحْسَنَ عِبَادَةَ رَبِّهِ وَنَصَحَ لِسَيِّدِهِ وَعَفِيْفٌ مَتَعَفِّفٌ ذُوْ عِيَالٍ. وََأَمَّا أُوَّلٌ ثَلاَثَةٌ يَدْخُلُوْنَ النَّارَ فَأَمِيْرٌ مَسَلِّطٌ، وَذُوْ ثَرْوَةٍ مِنْ مَالٍ لاَيُؤَدِّى حَقَّ اللهُ فِيْهِ وَفَقِيْرٌ فَخُوْرٌ.

                                               (رَوَاهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَانَ).

Rasulullah SAW bersabda: “Diperlihatkan kepadaku tiga golongan yang pertama akan masuk surga dan tiga golongan yang pertama akan masuk neraka, adapun tiga golongan yang pertama akan masuk surga adalah yang pertama; orang mati syahid, yang kedua; hamba sahaya yang beribadah kepada Tuhannya dengan baik dan berbakti kepada majikannya, yang ketiga; orang bersih yang menjaga diri walaupun anak istrinya banyak. Adapun tiga golongan yang masuk neraka yaitu, yang pertama, penguasa yang dzalim, yang kedua orang kaya yang tidak menunaikan perintah Allah dalam hartanya, yang ketiga, orang faqir yang sombong”. (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

 

HADITS NABI SAW YANG MENERANGKAN BAHAYANYA BERMAIN API

Membaca hadits tentang larangan bermain api, jadi teringat dengan satu pasien korban petasan. Pasien dengan mata kanan ditutup perban karena terkena letusan petasan. Ada luka bakar di sekitar kelopak mata. Kemudian di lakukan tes visus pada matanya. Visus adalah ketajaman atau kejernihan penglihatan, sebuah bentuk yang khusus di mana tergantung dari ketajaman fokus retina dalam bola mata dan sensitifitas dari interpretasi di otak. Dari tes visus didapatkan adanya gangguan, mata kanan pasien hanya bisa melihat adanya cahaya putih. Kasus seperti ini harus segera ditangani dokter spesialis mata, maka opname di Rumah sakit solusinya.

Ramadhan sebelumnya, penjual kembang api dan petasan menjamur di kota dan desa. Ketika kecil dulu yang namanya kembang api itu yang tidak ada efek letusan, tapi sekarang kembang api juga meletus layaknya petasan, bahkan letusannya bisa lebih dahsyat dari petasan…berisik…mengganggu sekali. Karena adanya letusan ini tidak sedikit korban kecelakaan terkena letusan. Pernah ada yang jari tangannya putus, ada yang pahanya terkoyak. Memang benar adanya hadits yang bahwasanya api itu musuh manusia, sedikit saja kita lena darinya, celakalah kita.

Di bawah ini hadits mengenai larangan ini. Hadits ini di kitab Shahih Bukhari sub bab “Jangan biarkan api saat tidur” hadits nomer 5819 s/d 5821.

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَتْرُكُوا النَّارَ فِي بُيُوتِكُمْ حِينَ تَنَامُونَ

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian meninggalkan api (dalam keadaan menyala) di rumah kalian ketika kalian tidur.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ احْتَرَقَ بَيْتٌ بِالْمَدِينَةِ عَلَى أَهْلِهِ مِنْ اللَّيْلِ فَحُدِّثَ بِشَأْنِهِمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ هَذِهِ النَّارَ إِنَّمَا هِيَ عَدُوٌّ لَكُمْ فَإِذَا نِمْتُمْ فَأَطْفِئُوهَا عَنْكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al A’Ala` telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid bin Abdullah dari Abu Burdah dari Abu Musa radliallahu ‘anhu dia berkata; “Pada suatu malam salah satu rumah penduduk Madinah terbakar ketika penghuninya tertidur. Ketika hal itu diceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya api adalah musuh kalian, karena itu bila kalian hendak tidur, maka padamkanlah ia lebih dahulu.”

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ كَثِيرٍ هُوَ ابْنُ شِنْظِيرٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمِّرُوا الْآنِيَةَ وَأَجِيفُوا الْأَبْوَابَ وَأَطْفِئُوا الْمَصَابِيحَ فَإِنَّ الْفُوَيْسِقَةَ رُبَّمَا جَرَّتْ الْفَتِيلَةَ فَأَحْرَقَتْ أَهْلَ الْبَيْتِ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Hammad dari Katsir yaitu Ibnu Syindzir dari ‘Atha` dari Jabir bin Abdullah radliallahu ‘anhuma dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tutuplah tempat air kalian, pintu rumah kalian, dan matikanlah lampu kalian, karena binatang-binatang berbahaya bila datang dapat menarik sumbu lampu sehingga dapat berakibat kebakaran yang menyebabkan terbunuhnya para penghuni rumah.”

Sungguh indah aturan Islam, hal sepele seperti mematikan lampu juga diatur di dalamnya. Teramat jelas bahwa api itu musuh manusia jadi jangan bermain-main dengannya. Api bisa berbentuk macam-macam, dari yang belum berwujud api semacam korek api, puntung rokok, listrik, kembang api, dan benda-benda yang dapat memicu timbulnya api. Api bersifat agresif, menyerang apa yang ada di dekatnya, maka jangan sekali-sekali menjadikan ia sahabat baik. Kepuasan apa yang kita dapat ketika kita membakar kembang api kemudian ledakannya membuat bayi mungil menangis ketakutan, mengganggu ketentraman tidur banyak warga kampung, atau sekedar melihat kelucuan ibu-ibu yang ketakutan menutup telinga karena di dekatnya ada mercon lombok yang siap meledak.

Api, meskipun ia musuh manusia, tapi manusia juga tetap memerlukannya. Gunakan api seperlunya saja, jangan berlebihan. Dalam keadaan seperlunya saja api bisa mencelakai kita apalagi bila digunakan secara berlebihan.

Jangan dengan permainan api yang sia-sia semacam kembang api dan petasan. Kalau memang ngebet tetap ingin bermain kembang api dan petasan lakukan di rumah sendiri di dalam kamar yang kedap suara, nikmati sendiri suaranya, nikmati sendiri cahaya apinya. Atau bawa ke tengah hutan belantara atau puncak gunung Merapi, di sana bisa menikmati dengan khusuk tanpa mengganggu para tetangga. Intinya, jangan bermain dengan permainan yang membuat orang lain terganggu dan merasa takut.

INILAH HAKIKAT ORANG MISKIN YANG UTAMA DI SISI ALLOH SWT.

لَيْسَ الْمِسْكِينُ بِهَذَا الطَّوَّافِ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ قَالُوا فَمَا الْمِسْكِينُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ وَلَا يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقَ عَلَيْهِ وَلَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا

“Orang miskin bukanlah mereka yang berkeliling meminta-minta kepada orang banyak, lalu peminta itu diberi sesuap dua suap, atau sebutir dua butir kurma.” Para sahabat bertanya, “Kalau begitu, seperti apakah orang yang miskin itu?” Beliau menjawab: “Orang miskin sesungguhnya ialah mereka yang tidak memiliki apa-apa untuk menutupi kebutuhannya, namun keadaannya itu tidak diketahui orang supaya orang bersedekah padanya (mampu menjaga kehormatan diri), dan tidak pula meminta-minta ke sana ke mari.” (HR. Muslim)

أَلَا أُخْبِرُكَ عَنْ مُلُوكِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى قَالَ رَجُلٌ ضَعِيفٌ مُسْتَضْعِفٌ ذُو طِمْرَيْنِ لَا يُؤْبَهُ لَهُ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ

“Maukah aku beritahukan kepada kalian raja-raja di surga?” Aku menjawab, “Tentu.” Beliau bersabda: “Yaitu seorang yang lemah lagi tertindas, ia hanya memiliki dua kain yang telah usang dan tidak dikenal. Sekiranya ia bersumpah kepada Allah, niscaya akan dikabulkan.” (HR. Ibnu Majah)

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

“Maukah aku beritahukan kepada kalian para penghuni surga? Yaitu setiap orang yang lemah dan tertindas. Dan maukah aku beritahukan kepada kalian penghuni neraka? Yaitu orang yang berlaku keras, kasar dan sombong.” (HR. Ibnu Majah)

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ الْفَقِيرَ الْمُتَعَفِّفَ أَبَا الْعِيَالِ

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yang mukmin, fakir dan dapat menjaga kehormatan keluarga.” (HR. Ibnu Majah)

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الْأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ

“Orang-orang fakir dari kaum mukminin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya dengan jarak setengah hari yang setara dengan lima ratus tahun.” (HR. Ibnu Majah)

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ أَحِبُّوا الْمَسَاكِينَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ

Dari Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata: “Cintailah oleh kalian kaum fakir miskin. Karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda dalam do’anya: ‘Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, wafatkanlah aku dalam keadaan miskin dan kumpulkanlah aku dengan golongan orang-orang miskin’ “. (HR. Ibnu Majah)