BENARKAH BAHWA DUNIA DAN ISINYA TERLAKNAT ?

Benarkah Setiap yg di bumi ini terlaknat Kecuali yg melakukan kebaikan dan mengajarkan kebaikan ?

Kitab Sunan Surmidzi:

2322 حدثنا محمد بن حاتم المكتب حدثنا علي بن ثابت حدثنا عبد الرحمن بن ثابت بن ثوبان قال سمعت عطاء بن قرة قال سمعت عبد الله بن ضمرة قال سمعت أبا هريرة يقول سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ألا إن الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله وما والاه وعالم أو متعلم قال أبو عيسى هذا حديث حسن غريب

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Haatim Al-Muktib, telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Tsaabit, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsaubaan, ia berkata, aku mendengar ‘Athaa’ bin Qurrah berkata, aku mendengar ‘Abdullaah bin Dhamrah berkata, aku mendengar Abu Hurairah berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Ketahuilah, dunia itu terlaknat dan terlaknat juga apa-apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan apa yang semisalnya, dan orang yang berilmu atau orang yang belajar.” Abu ‘Isaa berkata, “Hadits ini hasan gharib.”

[Jaami’ At-Tirmidziy no. 2322]

Kitab Mu’jamul Ausath at Tabrani

4084 ـ حدثنا علي بن سعيد قال : حدثنا بشر بن معاذ قال : حدثنا أبو المطرف المغيرة بن المطرف قال : حدثنا ابن ثوبان ، عن عبدة بن أبي لبابة ، عن أبي وائل ، عن ابن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” الدنيا ملعونة ، ملعون ما فيها إلا عالم أو متعلم ، وذكر الله ، وما والاه “

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Sa’iid , telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Mu’aadz , telah menceritakan kepada kami Abu Mutharrif Al-Mughiirah bin Mutharrif, telah menceritakan kepada kami Ibnu Tsaubaan, dari ‘Abdah bin Abu Lubaabah, dari Abu Waa’il, dari ‘Abdullaah (bin Mas’uud), ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dunia itu terlaknat, dan terlaknat juga apa-apa yang ada di dalamnya kecuali orang-orang yang berilmu atau orang yang belajar, dan Dzikrullah juga yang semisalnya.”

[ Mu’jam Al-Ausath no. 4048]

Keterangan Ibnu Rojab dalam kitab Jami’ul Ulum wal Hikam (2/199)

dunia dan semua yg ada di dalamnya itu terlaknat maksudnya menjaukan dari Allah karena bisa membuatnya sibuk dengannya jauh dari Allah kecuali ilmu yg bermanfaat yg bisa menunjukkan kpd Allah dan ma’rifat kpd-Nya, mencari kedekatan dan keridhoan-Nya, dzikrulloh dan juga yg semisalnya dari ibadah2 yg bisa mendekatkan kpd Allah . maka inilah maksud dari dunia, karena sesungguhnya Allah hanya memerintahkan hamba2-Nya utk berkaqwa dan menta’ati-Nya, dan terus menerus dzikir kpd-Nya sebagaimana perkataan ibnu mas’ud :

” Ketaqwaan kpd Allah yg sebenar2nya taqwa adalah berdzikir maka janganlah lupa “

Sesungguhnya Allah mensyreatkan sholat adalah utk mengingat-Nya, begitu juga dgn haji dan towaf.

sebaik2 ahli ibadah adalah yg banyak dzikirnya kpd Allah dalam beribadah dan ini semuanya bukanlah termasuk dunia yg dicela dan inilah maksud dari penciptaan dunia dan ahli dunia sebagaimana firman Allah :

” Dan tidaklah kuciptakan jin dan manusia kecuali agar menyembah-Ku “

فالدنيا وكل ما فيها ملعونة ، أي مبعدة عن الله ، لأنها تشغل عنه ، إلا العلم النافع الدال على الله ، وعلى معرفته ، وطلب قربه ورضاه ، وذكر الله وما والاه مما يقرب من الله ، فهذا هو المقصود من الدنيا ، فإن الله إنما أمر عباده بأن يتقوه ويطيعوه ، ولازم ذلك دوام ذكره ، كما قال ابن مسعود ، تقوى الله حق تقواه أن يذكر فلا ينسى . وإنما شرع الله إقام الصلاة لذكره ، وكذلك الحج والطواف . وأفضل أهل العبادات أكثرهم ذكرا لله فيها ، فهذا كله ليس من الدنيا المذمومة وهو المقصود من إيجاد الدنيا وأهلها ، كما قال تعالى : وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون

[ الذاريات : 56 ] .

INILAH PARA SAHABAT NABI SAW YANG BANYAK MERIWAYATKAN HADITS

Nabi Muhammad bersabda bahwa sebaik-baik generasi adalah generasi yang hidup bersama Nabi, dan diikuti generasi setelahnya. Generasi yang dinyatakan oleh Nabi ini tentu kalangan sahabat, yang berjumpa Nabi dalam kondisi Muslim dan wafat dalam kondisi beragama Islam pula. Mereka menyaksikan dan meriwayatkan banyak hadits Nabi Muhammad SAW.

Disebabkan kedekatan para sahabat ini dengan Nabi, sahabat meriwayatkan banyak hal tentang Nabi secara langsung. Sahabat adalah periwayat hadits di tingkat pertama dan orang-orang yang dianggap paling mengerti tentang Nabi Muhammad SAW.

Peran sahabat dalam periwayatan hadits ini sangat penting, sehingga tanpa mereka, para generasi setelahnya akan kesulitan untuk mengenal pribadi dan ajaran Nabi. Di antara sekian banyak sahabat Nabi, ada enam sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Berikut nama sahabat Nabi tersebut:

  1. Abu Hurairah (wafat 57 H)

Nama aslinya yang populer di kalangan ulama adalah Abdurrahman bin Shakhr. Hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah mencapai jumlah 5374 hadits. Di balik banyaknya riwayat hadits ini, Abu Hurairah justru baru masuk Islam dan kerap turut serta dalam majelis Nabi sebagai Ahlus Shuffah sejak tahun ketujuh Hijriah. Dalam waktu sekitar tiga tahun, begitu banyak ajaran Nabi yang diriwayatkannya.

Disebutkan dalam Kitab Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, suatu ketika Abu Hurairah pernah berdoa agar diberikan ilmu yang tidak mudah terlupa. Doa ini diamini oleh Rasulullah SAW, dan menjadi salah satu sebab betapa istimewanya kemampuan hafalan Abu Hurairah.

  1. Abdullah bin Umar bin Al-Khattab (wafat 72 H)

Hadits yang diriwayatkan oleh putra dari Umar bin Al-Khattab ini mencapai 2630 hadits. Abdullah bin Umar di masa itu adalah salah satu pemuda yang sangat gemar mengikuti Nabi dan meneladaninya secara seksama. Hal-hal yang dilakukan Nabi dan diketahui oleh Ibnu Umar, pasti diikuti dengan persis, bahkan mulai dari hal-hal terkecil.

  1. Anas bin Malik (wafat 91 H)

Disebutkan bahwa hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik mencapai 2286 hadits. Anas bin Malik ini adalah asisten Nabi, dan tentu mengetahui banyak hal yang dilakukan Nabi di rumah dan dalam berbagai kesempatan. Sebagaimana diakui oleh Anas bin Malik, bahwa ia membantu Nabi tak kurang dari sepuluh tahun sejak masa awal kedatangan Nabi di Madinah.

  1. Aisyah binti Abu Bakar (wafat 58 H)

Dari sekian istri Nabi, Aisyah inilah yang paling banyak meriwayatkan hadits yang jumlahnya mencapai 2210 hadits. Kisah-kisah mengenai kehidupan pribadi Nabi, terkait rumah tangga serta peran Nabi di rumah sebagai suami, banyak diriwayatkan oleh Aisyah. Usia yang masih muda disebutkan menjadi salah satu sebab Sayyidah Aisyah meriwayatkan hadits tentang urusan pribadi Nabi dan keluarga beliau secara gamblang.

  1. Abdullah bin Abbas (wafat 78 H)

Putra dari paman Nabi, Al-Abbas bin Abdul Muthalib ini adalah seorang yang pernah didoakan Nabi “Allahumma ‘allimhul hikmah” (Ya Allah, ajarkanlah kepadanya–yaitu Abdullah bin Abbas–hikmah). Hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas mencapai 1660 hadits, dan fatwa-fatwa darinya paling banyak diriwayatkan generasi setelahnya.

  1. Jabir bin Abdullah (wafat 78 H)

Hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah ini mencapai 1540 hadits. Sosok ini adalah seorang pemuda di masa Anshar yang bersama bapaknya mengikuti bai’at Aqabah. Jabir ini menurut para sejarawan dicatat sebagai sahabat yang paling akhir meninggal di Madinah.

Demikianlah para sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi. Sahabat sebagai generasi yang berjumpa langsung dengan Nabi menjadikan peran mereka begitu istimewa dalam sejarah Islam. Banyaknya hadits yang diriwayatkan ini juga menunjukkan kesungguhan sahabat dalam mengikuti dan menyebarkan ajaran Nabi Muhammad SAW. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Ini Sahabat yang Paling Banyak Meriwayatkan Hadits

Nabi Muhammad bersabda bahwa sebaik-baik generasi adalah generasi yang hidup bersama Nabi, dan diikuti generasi setelahnya. Generasi yang dinyatakan oleh Nabi ini tentu kalangan sahabat, yang berjumpa Nabi dalam kondisi Muslim dan wafat dalam kondisi beragama Islam pula. Mereka menyaksikan dan meriwayatkan banyak hadits Nabi Muhammad SAW.

Disebabkan kedekatan para sahabat ini dengan Nabi, sahabat meriwayatkan banyak hal tentang Nabi secara langsung. Sahabat adalah periwayat hadits di tingkat pertama dan orang-orang yang dianggap paling mengerti tentang Nabi Muhammad SAW.

Peran sahabat dalam periwayatan hadits ini sangat penting, sehingga tanpa mereka, para generasi setelahnya akan kesulitan untuk mengenal pribadi dan ajaran Nabi. Di antara sekian banyak sahabat Nabi, ada enam sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Berikut nama sahabat Nabi tersebut:

  1. Abu Hurairah (wafat 57 H)

Nama aslinya yang populer di kalangan ulama adalah Abdurrahman bin Shakhr. Hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah mencapai jumlah 5374 hadits. Di balik banyaknya riwayat hadits ini, Abu Hurairah justru baru masuk Islam dan kerap turut serta dalam majelis Nabi sebagai Ahlus Shuffah sejak tahun ketujuh Hijriah. Dalam waktu sekitar tiga tahun, begitu banyak ajaran Nabi yang diriwayatkannya.

Disebutkan dalam Kitab Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, suatu ketika Abu Hurairah pernah berdoa agar diberikan ilmu yang tidak mudah terlupa. Doa ini diamini oleh Rasulullah SAW, dan menjadi salah satu sebab betapa istimewanya kemampuan hafalan Abu Hurairah.

  1. Abdullah bin Umar bin Al-Khattab (wafat 72 H)

Hadits yang diriwayatkan oleh putra dari Umar bin Al-Khattab ini mencapai 2630 hadits. Abdullah bin Umar di masa itu adalah salah satu pemuda yang sangat gemar mengikuti Nabi dan meneladaninya secara seksama. Hal-hal yang dilakukan Nabi dan diketahui oleh Ibnu Umar, pasti diikuti dengan persis, bahkan mulai dari hal-hal terkecil.

  1. Anas bin Malik (wafat 91 H)

Disebutkan bahwa hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik mencapai 2286 hadits. Anas bin Malik ini adalah asisten Nabi, dan tentu mengetahui banyak hal yang dilakukan Nabi di rumah dan dalam berbagai kesempatan. Sebagaimana diakui oleh Anas bin Malik, bahwa ia membantu Nabi tak kurang dari sepuluh tahun sejak masa awal kedatangan Nabi di Madinah.

  1. Aisyah binti Abu Bakar (wafat 58 H)

Dari sekian istri Nabi, Aisyah inilah yang paling banyak meriwayatkan hadits yang jumlahnya mencapai 2210 hadits. Kisah-kisah mengenai kehidupan pribadi Nabi, terkait rumah tangga serta peran Nabi di rumah sebagai suami, banyak diriwayatkan oleh Aisyah. Usia yang masih muda disebutkan menjadi salah satu sebab Sayyidah Aisyah meriwayatkan hadits tentang urusan pribadi Nabi dan keluarga beliau secara gamblang.

  1. Abdullah bin Abbas (wafat 78 H)

Putra dari paman Nabi, Al-Abbas bin Abdul Muthalib ini adalah seorang yang pernah didoakan Nabi “Allahumma ‘allimhul hikmah” (Ya Allah, ajarkanlah kepadanya–yaitu Abdullah bin Abbas–hikmah). Hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas mencapai 1660 hadits, dan fatwa-fatwa darinya paling banyak diriwayatkan generasi setelahnya.

  1. Jabir bin Abdullah (wafat 78 H)

Hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah ini mencapai 1540 hadits. Sosok ini adalah seorang pemuda di masa Anshar yang bersama bapaknya mengikuti bai’at Aqabah. Jabir ini menurut para sejarawan dicatat sebagai sahabat yang paling akhir meninggal di Madinah.

Demikianlah para sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi. Sahabat sebagai generasi yang berjumpa langsung dengan Nabi menjadikan peran mereka begitu istimewa dalam sejarah Islam. Banyaknya hadits yang diriwayatkan ini juga menunjukkan kesungguhan sahabat dalam mengikuti dan menyebarkan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Wallahu a’lam.

PENGERTIAN HADITS BAHWA SETIAP ANAK MELAKUKAN ZINA

Kita pernah mendengar hadits Rasulullah SAW bahwa Allah SWT menakdirkan setiap manusia terjatuh dalam dosa zina. Bagaimana memahami hadits ini? Karena dikhawatirkan orang yang mengikuti hawa nafsu menjadikan hadits ini sebagai pembenaran atas zina yang mereka lakukan atau rencanakan.

Sebelum melihat pandangan ulama perihal ini, ada baiknya kita mengutip hadits Rasulullah SAW yang dimaksud. Sejumlah perawi meriwayatkan hadits ini, yaitu Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud:

الحديث الأول عن عبد الله بن عباس قال ما رأيت شيئاً أشبه باللمم مما قال أبو هريرة إن النبي {صلى الله عليه وسلم} قال إن الله كتب على ابن آدم حظه من الزنا أدرك ذلك لا محالة فزنا العينين النظر وزنا اللسان النطق والنفس تمنى وتشتهي والفرج يصدق ذلك أو يكذبه

Artinya, “Hadits pertama dari Abdullah bin Abbas RA, ia berkata bahwa aku tidak melihat sesuatu yang lebih mirip dengan ‘kesalahan kecil’ daripada hadits riwayat Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Allah telah menakdirkan anak Adam sebagian dari zina yang akan dialaminya, bukan mustahil. Zina kedua mata adalah melihat. Zina mulut adalah berkata. Zina hati adalah berharap dan berkeinginan. Sedangkan alat kelamin itu membuktikannya atau mendustakannya,’” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud).

Imam As-Suyuthi dalam Syarah Shahih Muslim-nya mencoba menjelaskan hadits ini dengan kesepakatan bahwa setiap anak Adam tidak mengelak dari takdir zina. Tetapi zina seperti apa?

Imam As-Suyuthi melihat dua kategori zina dari pemahamannya atas hadits tersebut. Menurutnya, hadits ini membagi zina menjadi dua, yaitu zina hakiki dan zina majazi.

Zina hakiki adalah praktik zina sebagaimana yang dipahami secara umum, yaitu pertemuan kelamin seseorang dan kelamin lawan jenisnya yang dilakukan bukan dengan haknya (secara batil). Sedangkan zina majazi adalah dosa yang dilakukan oleh anggota badan anak Adam selain kelamin, yaitu mata, hati, mulut, tangan, dan kaki.

Setiap anak Adam, menurut Imam As-Suyuthi, sulit terhindar dari zina majazi dan zina hakiki. Tetapi setiap manusia mempunyai takdirnya masing-masing. Tidak semua orang ditakdirkan melakukan zina hakiki. Tidak semua orang ditakdirkan melakukan zina majazi sebagaimana keterangan berikut ini:

إن الله سبحانه تعالى كتب على بن آدم حظه من الزنى الحديث معناه أن بن آدم قدر عليه نصيب من الزنى فمنهم من يكون زناه حقيقيا بإدخال الفرج في الفرج الحرام ومنهم من يكون زناه مجازا) بالنظر الحرام ونحوه من المذكورات فكلها أنواع من الزنى المجازي والفرج يصدق ذلك أو يكذبه أي إما أن يحقق الزنى بالفرج أو لا يحققه بأن لا يولج وإن قارب ذلك وجعل بن عباس هذه الأمور وهي الصغائر تفسيرا للمم فإن في قوله تعالى الذين يجتنبون كبائر الإثم والفواحش إلا اللمم النجم عمر فتغفر باجتناب الكبائر

Artinya, “Maksud hadits ‘Allah telah menakdirkan anak Adam sebagian dari zina’ adalah bahwa setiap anak Adam ditakdirkan melakukan sebagian dari zina. Sebagian dari mereka ada yang berzina hakiki dengan memasukkan alat kelamin ke dalam kelamin yang diharamkan. Sebagian lainnya berzina secara majazi, yaitu memandang yang diharamkan atau semisalnya yang tersebut dalam hadits. Semua yang tersebut itu merupakan zina majazi. Sedangkan alat kelamin membuktikan (membenarkannya) atau mendustakannya, bisa jadi dengan merealisasikan zina dengan alat kelamin atau tidak merealisasikannya dengan tidak memasukkan alat kelaminnya meskipun hanya mendekati. Ibnu Abbas memahami tindakan itu semua sebagai dosa kecil sebagai tafsiran atas kata ‘al-lamam’ atau kesalahan kecil. Allah berfirman, ‘Orang yang menjauhi dosa besar dan perbuatan keji selain kesalahan kecil,’ pada surat An-Najm. Kesalahan kecil itu dapat diampuni dengan menjauhi dosa besar,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Ad-Dibaj, [Saudi, Daru Ibni Affan: 1996 M/1416 H], juz VI, halaman 20).

Setiap orang memiliki takdir dan jalan hidup yang digariskan oleh Allah SWT. setiap dari mereka tidak akan bisa mengelak dari garis takdir tersebut. Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah bahwa kita tidak mengetahui takdir kita yang mana.

Oleh karena itu, seseorang tidak bisa menjadikan hadits ini sebagai alat pembenaran bagi praktik zina yang mana pun, hakiki maupun majazi. Seyogianya kita menjaga kesadaran untuk menjauh dari hal-hal yang mendekati zina. Semoga Allah melindungi kita dan masyarakat dari dosa besar zina. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Pengertian Hadits Setiap Anak Manusia Ditakdirkan Berzina

(Foto: wejdan.org)

Kita pernah mendengar hadits Rasulullah SAW bahwa Allah SWT menakdirkan setiap manusia terjatuh dalam dosa zina. Bagaimana memahami hadits ini? Karena dikhawatirkan orang yang mengikuti hawa nafsu menjadikan hadits ini sebagai pembenaran atas zina yang mereka lakukan atau rencanakan.

Sebelum melihat pandangan ulama perihal ini, ada baiknya kita mengutip hadits Rasulullah SAW yang dimaksud. Sejumlah perawi meriwayatkan hadits ini, yaitu Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud:

الحديث الأول عن عبد الله بن عباس قال ما رأيت شيئاً أشبه باللمم مما قال أبو هريرة إن النبي {صلى الله عليه وسلم} قال إن الله كتب على ابن آدم حظه من الزنا أدرك ذلك لا محالة فزنا العينين النظر وزنا اللسان النطق والنفس تمنى وتشتهي والفرج يصدق ذلك أو يكذبه

Artinya, “Hadits pertama dari Abdullah bin Abbas RA, ia berkata bahwa aku tidak melihat sesuatu yang lebih mirip dengan ‘kesalahan kecil’ daripada hadits riwayat Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Allah telah menakdirkan anak Adam sebagian dari zina yang akan dialaminya, bukan mustahil. Zina kedua mata adalah melihat. Zina mulut adalah berkata. Zina hati adalah berharap dan berkeinginan. Sedangkan alat kelamin itu membuktikannya atau mendustakannya,’” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud).

Imam As-Suyuthi dalam Syarah Shahih Muslim-nya mencoba menjelaskan hadits ini dengan kesepakatan bahwa setiap anak Adam tidak mengelak dari takdir zina. Tetapi zina seperti apa?

Imam As-Suyuthi melihat dua kategori zina dari pemahamannya atas hadits tersebut. Menurutnya, hadits ini membagi zina menjadi dua, yaitu zina hakiki dan zina majazi.

Zina hakiki adalah praktik zina sebagaimana yang dipahami secara umum, yaitu pertemuan kelamin seseorang dan kelamin lawan jenisnya yang dilakukan bukan dengan haknya (secara batil). Sedangkan zina majazi adalah dosa yang dilakukan oleh anggota badan anak Adam selain kelamin, yaitu mata, hati, mulut, tangan, dan kaki.

Setiap anak Adam, menurut Imam As-Suyuthi, sulit terhindar dari zina majazi dan zina hakiki. Tetapi setiap manusia mempunyai takdirnya masing-masing. Tidak semua orang ditakdirkan melakukan zina hakiki. Tidak semua orang ditakdirkan melakukan zina majazi sebagaimana keterangan berikut ini:

إن الله سبحانه تعالى كتب على بن آدم حظه من الزنى الحديث معناه أن بن آدم قدر عليه نصيب من الزنى فمنهم من يكون زناه حقيقيا بإدخال الفرج في الفرج الحرام ومنهم من يكون زناه مجازا) بالنظر الحرام ونحوه من المذكورات فكلها أنواع من الزنى المجازي والفرج يصدق ذلك أو يكذبه أي إما أن يحقق الزنى بالفرج أو لا يحققه بأن لا يولج وإن قارب ذلك وجعل بن عباس هذه الأمور وهي الصغائر تفسيرا للمم فإن في قوله تعالى الذين يجتنبون كبائر الإثم والفواحش إلا اللمم النجم عمر فتغفر باجتناب الكبائر

Artinya, “Maksud hadits ‘Allah telah menakdirkan anak Adam sebagian dari zina’ adalah bahwa setiap anak Adam ditakdirkan melakukan sebagian dari zina. Sebagian dari mereka ada yang berzina hakiki dengan memasukkan alat kelamin ke dalam kelamin yang diharamkan. Sebagian lainnya berzina secara majazi, yaitu memandang yang diharamkan atau semisalnya yang tersebut dalam hadits. Semua yang tersebut itu merupakan zina majazi. Sedangkan alat kelamin membuktikan (membenarkannya) atau mendustakannya, bisa jadi dengan merealisasikan zina dengan alat kelamin atau tidak merealisasikannya dengan tidak memasukkan alat kelaminnya meskipun hanya mendekati. Ibnu Abbas memahami tindakan itu semua sebagai dosa kecil sebagai tafsiran atas kata ‘al-lamam’ atau kesalahan kecil. Allah berfirman, ‘Orang yang menjauhi dosa besar dan perbuatan keji selain kesalahan kecil,’ pada surat An-Najm. Kesalahan kecil itu dapat diampuni dengan menjauhi dosa besar,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Ad-Dibaj, [Saudi, Daru Ibni Affan: 1996 M/1416 H], juz VI, halaman 20).

Setiap orang memiliki takdir dan jalan hidup yang digariskan oleh Allah SWT. setiap dari mereka tidak akan bisa mengelak dari garis takdir tersebut. Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah bahwa kita tidak mengetahui takdir kita yang mana.

Oleh karena itu, seseorang tidak bisa menjadikan hadits ini sebagai alat pembenaran bagi praktik zina yang mana pun, hakiki maupun majazi. Seyogianya kita menjaga kesadaran untuk menjauh dari hal-hal yang mendekati zina. Semoga Allah melindungi kita dan masyarakat dari dosa besar zina.

Wallahu a‘lam.

KEISTIMEWAAN WAKTU BA’DA ASHAR DI HARI JUM’AT

Hari Jumat merupakan hari yang agung. Keutamaannya tidak diragukan lagi. Terdapat satu waktu dalam satu kali 24 jam hari Jumat yang mustajab untuk dibuat berdoa. Waktu tersebut dirahasiakan oleh Allah ﷻ, sebagaimana Allah merahasiakan Lailatul Qadar. Ada beberapa pendapat mengenai waktu mustajab tersebut. Di antaranya adalah pendapat yang menyatakan waktu ijabah adalah setelah Ashar di hari Jumat.

Pendapat tersebut berdasar pada hadits sebagai berikut:

يوم الجمعة اثنتا عشرة ساعة منها ساعة لا يوجد عبد مسلم يسأل الله شيئا إلا أتاه إياه فالتمسوها آخر ساعة بعد العصر

“Dua belas jam pada hari Jumat di antaranya terdapat waktu yang seorang hamba Muslim tidaklah meminta sesuatu kepada Allah di waktu tersebut, kecuali Allah mengabulkan permintaannya. Maka carilah waktu tersebut di akhir waktu setelah Ashar.” (HR. Abu Daud, al-Nasa’i, al-Hakim dan al-Baihaqi).

Hadits tersebut disahihkan oleh Imam al-Hakim, beliau sebagaimana dikutip al-‘Iraqi menegaskan:

قال الحاكم صحيح على شرط مسلم

“Dan al-Hakim berkata, hadits ini sahih sesuai standar kesahihannya Imam Muslim.” (Syekh Zainuddin Abdurrahim bin al-Husain al-‘Iraqi, juz 3, hal. 190).

Sementara menurut keterangan hadits riwayat Imam Muslim, waktu ijabah adalah waktu di antara duduknya khatib di atas mimbar hingga Imam shalat Jumat menyelesaikan shalat Jumat. Riwayat Imam Muslim inilah yang kemudian dipilih oleh mayoritas ulama Syafi’iyyah dalam menentukan waktu ijabah.

Al-Imam An-Nawawi mengatakan:

ساعة الإجابة هي ما بين أن يجلس الإمام على المنبر أول صعوده إلى أن يقضي الإمام الصلاة ثبت هذا في صحيح مسلم من كلام رسول الله صلى الله عليه و سلم من رواية أبي موسى الأشعري وقيل فيها اقوال كثيرة مشهورة غير هذا اشهرها أنها بعد العصر والصواب الأول

Artinya, “Waktu ijabah adalah waktu di antara duduknya khatib di atas mimbar saat pertama kali ia naik hingga imam shalat Jumat menyelesaikan shalatnya. Hal ini sesuai dengan keterangan dalam Shahih Muslim dari sabda Nabi, riwayat Sahabat Abi Musa Al-Asy’ari. Pendapat lain mengatakan, ada beberapa versi yang banyak dan masyhur selain pendapat yang pertama. Yang paling masyhur adalah setelah Ashar hari Jumat. Pendapat yang benar adalah yang pertama,” (Lihat Al-Imam An-Nawawi, Tahriru Alfazhit Tanbih, juz I, halaman 87).

Bagaimana memahami dua riwayat Imam Abu Daud dan Imam Muslim yang bertentangan? Padahal keduanya sama-sama sahih?

Al-Nawawi menegaskan bahwa dimungkinkan waktu ijabah berganti-ganti di setiap Jumatnya. Di hari Jumat tertentu, terkadang sesuai penegasan dalam riwayat Abu Daud, di Jumat yang lain terkadang sebagaimana ditegaskan dalam riwayat Imam Muslim. Pola ini sebagaimana yang dipilih oleh al-Nawawi dalam mengorelasikan riwayat tentang Lailatul Qadar yang berbeda-beda.

Al-Imam al-Nawawi menegaskan:

ويحتمل أن هذه منتقلة تكون في بعض الايام في وقت وفى بعضها في وقت كما هو المختار في ليلة القدر والله اعلم

“Dan mungkin bahwa sesungguhnya waktu ijabah berpindah-pindah, di sebagian Jumat berada waktu tertentu, di Jumat yang lain terjadi di waktu yang lain, sebagaimana pendapat yang dipiilih dalam Lailatul Qadar.” (al-Imam al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz 4, hal. 426)

Wallahu a’lam.

HADITS NABI SAW YANG MENGISAHKAN SAMPAINYA PAHALA KEPADA MAYIT

Anas Bin Malik  R.A berkata bahwa Rosulullah S.A.W. bersabda : “Sesungguhnya amalnya orang yang hidup itu diperlihatkan kepada keluarga dan bapak mereka yang mati apabila amal mereka baik maka mereka memuji kepada Allah dan merasa bahagia, apabila amal mereka jelek maka mereka berdo’a  “Yaa Allah janganlah engkau mencabut amal mereka sehinga engkau memberikan petunjuk kepadanya”. Lalu Rosulullah S.A.W.  bersabda : Orang yang mati tersakiti di dalam kubur sebagaimana tersakiti semasa hidupnya, kemudian Rosulullah S.A.W.  ditanya : “Apa yang menyakiti Mayyit?” Sesungguhnya mayyit itu tidak melakukan dosa, tidak sering menentang dan tidak saling bermusuhan  kepada satu orang pun dan juga tidak menyakiti tetangga melainkan jika kamu menentang salah satu orang maka orang tersebut pasti akan  mencacimu dan kedua orang tuamu , lalu kedua orang tuamu merasa tersakiti ketika ia dicaci, begitu juga mereka merasa senang ketika mereka diperlakukan baik”.

Sebagaimana dalam ceritanya Tsabit Al Banany, ia setiap malam Jum’at berziaroh ke kuburan dan ia bermunajat sampai subuh diwaktu ia bermunajat ia tertidur dan bermimpi :

Bahwa Ahli kubur tersebut keluar dari kuburnya dengan memakai baju yang sangat bagus dan wajahnya putih serta mereka diberikan berbagai macam-macam hidangan.

Dan ada diantara mereka seorang pemuda yang wajahnya itu pucat dan rambutnya berdebu, hatinya susah, bajunya jelek, menundukkan kepala, serta bercucuran air mata, dia tidak mendapatkan makanan  dan semua Ahli kubur tadi kembali kekuburanya dalam keadaan bahagia dan pemuda tadi juga kembali ke kuburanya dalam keadan putus asa serta susah.

Kemudian Tsabits Banany bertanya kepadanya : Kamu siapa kok berada diantara mereka yang mendapatkan makanan dan kembali kekuburanya dengan keadan bahagia sedangkan engkau tadak mendapatkan makanan dan engkau pulang dengan keadaan putus asa serta susah?

Maka pemuda tersebut berkata :“Ya Imamal Muslimin (Tsabit al Banany) Sesungguhya aku termasuk orang yang asing diantara mereka, tidak ada yang menyebut kebaikanku dan mendoakanku, sedangkan mereka mempunyai anak serta keluarga yang mengingatnya dengan mendo’akanya, berbuat kebajikan serta bershodaqoh setiap malam jum’at, kebaikan dan ganjaran shodaqoh tersebut di sampaikan kepadanya dan aku adalah seorang laki-laki yang berhaji, dan saya mempunyai seorang ibu kemudian kami bertujuan pergi haji, ketika kami sampai di kota ini maka takdir Allah berjalan kepadaku(Mati) dan ibuku mengnguburkanku  di sini dan ibuku kawin lagi lalu melupakanku bahkan ibuku tak pernah lagi mengingatku di dalam do’a dan shodaqoh, maka dari itu aku putus asa dan susah disetiap waktu dan masa,

Lalu Tsabit berkata : “Hai pemuda..  Beritahulah aku tentang tempat ibumu, maka aku akan mengabarinya akan keadaanmu”

Kemudian dia berkata : “Yaa Imamal Muslimin.. Dia (ibuku) berada di tempat ini dan rumah ini, lalu kabarilah dia (ibuku) jikalau dia (ibuku) tidak membenarkan kepadamu maka katakanlah sesungguhnya disakunya ada 100 misqol perak  warisan dari bapak yang aman. 100 misqol tesebut merupakan hakku (pemuda) maka Ia (ibuku) Akan membenarkanmu dengan tanda ini”.

            Ketika Tsabit datang dan mencari ibunya maka Tsabit menjumpainya, setelah bertemu, lalu Tsabit mengabarinya tentang keadaan Anaknya dan tentang beberapa misqol yang berada di sakunya kemudian Ibunya pingsan, ketika dia siuman maka ibu tadi menyerahkan 100 misqol kepada Tsabit Al Banany dan berkata :

“Aku wakilkan padamu untuk engkau sedekahkan dirham ini untuk anakku yang asing”,

Kemudian Tsabit mengambil dirham itu dan menyedekahkanya untuk anaknya ketika malam Jum’at, maka Tsabit Al Banany ziaroh lagi kepada teman-temanya, kemudian ia ngantuk dan bermimpi sebagaimana yang awal, kemudian ia melihat pemuda tadi berpakaianyang paling indah, wajahnya berseri-seri serta ia begembira kemudian pemuda tadi berkata kepada Tsabit Al Banany :

“Yaa Imamal Muslimin semoga Allah merahmatimu sebagaimana engkau merahmatiku.

Maka diambil kesimpulan bahwa kedua orang tua itu tersakiti jikalau dia disakiti dan mereka juga bahagia ketika ia diperlakukan dengan baik.

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

KUMPULAN HADITS-HADITS TENTANG KEMATIAN

عن أبي عبس قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : بادروا بالموت ستا : إمرة السفهاء، وكثرة الشرط، وبيع الحكم، واستخفافا بالدم، و قطيعة الرحم، ونشوا يتخذون القرآن مزامير يقدمون الرجل ليغنيهم بالقرآن وإن كان أقلهم فقها. (رواه احمد)

Dari Abi Abasin ra ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : Segeralah berharap mati jika telah terjadi 6 perkara : Kepemimpinan yang bodoh, Banyaknya polisi, Hukum sudah dijual beli, Meremehkan darah orang, Memutuskan silaturahmi dan Penyanyi yang menjadikan Al Quran sebagai hiburan, mereka mengajukan seorang untuk melantunkan Al Quran, padahal ia sangat sedikit memahami maknanya“. (HR Ahmad)

عن أبي هريرة رضي الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : لاتقوم الساعة حتى يمر الرجل بقبر الرجل فيقول : ياليتني مكانه (أخرجه البخاري)

Dari Abi Huroiroh RA bahwa Rosulullah SAW bersabda : “Tidak terjadi kiamat sehingga ada seorang lelaki yang melewati kubur lelaki yang lain sambil berkata : Aduh seandainya aku yang menempati tempatnya“. (HR Bukhory)

وروي أن ملك الموت جاء إلى إبراهيم خليل الرحمن عليه السلام ليقبض روحه. فقال إبراهيم : يا ملك الموت هل رأيت خليلا يقبض روح خليله ؟ فعرج ملك الموت إلى ربه تعالى. فقال تعالى : قل له هل رأيت خليلا يكره لقاء خليله ؟ فرجع، قال : فاقبض روحي الساعة.

Diriwayatkan bahwa malaikat maut mendatangi Nabi Ibrahim AS untuk mencabut ruhnya, Nabi Ibrahim AS bertanya : “hai malaikat maut bagaimana pendapatmu, adakah kekasih yang tega mencabut ruh kekasihnya ? Malaikat maut pun naik ke langit menyampaikan pesan itu kepada Allah. Maka Allah berfirman : Katakan pada nya, bagaimana pendapatmu, adakah kekasih yang tidak suka berjumpa dengan kekasihnya ? Malaikat maut kembali ke bumi, Nabi Ibrahim as berkata : kalau begitu cabutlah ruh ku saat ini juga”. (HR Abu Nuaim)

عن سهل بن عبد الله التستري رحمه الله انه قال : لا يتمنى الموت إلا ثلاثة : رجل جاهل بما بعد الموت،  أو رجل يفر من أقدار الله عليه، او مشتاق محب للقاء الله تعالى.

Dari Sahal bin Abdullah at Tustury RA ia berkata : “Tidak ada yang berharap mati kecuali 3 orang : pertama, seorang yang tidak mengerti keadaan dirinya sesudah kematian, kedua, seorang yang menghindar dari takdir Allah atas dirinya, ketiga, orang yang rindu dan ingin berjumpa dengan Allah swt”.

عن محمد بن المنكدر قال : مات إبن لآدم عليه السلام فقال : ياحواء انه قد مات ابنك.  قالت : ما الموت ؟ قال :  لا يأكل ولا يشرب ولا يقوم ولا يقعد. فرنت. فقال آدم عليه السلام : عليك الرنة وعلى بناتك، انا وبني منها براء (رواه الترمذي)

Dari Muhammad bin al-Munkadir RA  berkata : “Seorang putra Nabi Adam AS. telah mati”, ia bersabda : “ya Hawa,  telah mati anakmu. Hawa bertanya : mati itu apa? Adam menjawab : Ia sudah tidak bisa lagi makan, minum, berdiri dan duduk. Mendengar itu, Hawa menjerit. Nabi Adam AS bersabda : Jeritan inilah caramu, dan semua anak perempuanmu, sedangkan aku dan semua anak lelaki berlepas dari cara seperti itu“. (HR Turmudzi)

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لو أن البهائم تعلم من الموت ما تعلمون، ما اكلتم منها سمينا  (رواه أبو نعيم)

Rasulullah SAW bersabda : “Jikalau binatang tahu tentang kematian seperti yang kalian ketahui, niscaya kalian tidak akan dapat memakan dagingnya dalam keadaan gemuk“. (HR Abu Nuaimin)

عن جابر ابن عبد الله رضي الله عنه : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا تمنوا الموت، فإن هول المطلع شديد. وإن من السعادة أن يطول عمر العبد حتى يرزقه الله الإنابة. (رواه البزار)

Dari Jabir bin Abdillah RA., Bersabda Rasulullah SAW :  “Janganlah kalian berharap mati, karena ketakutan huru hara Mahsyar itu sangat dahsyat, dan termasuk kebahagian seseorang,  bahwa ia berumur panjang, lalu Allah beri kesempatan kepada nya untuk bertaubat“. (HR Bazzar)

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا يتمنين أحدكم الموت. إما محسنا فلعله أن يزداد خيرا. وإما مسيئا فلعله أن يستعتب (رواه البخاري)

Bersabda Rosulullah SAW : “Janganlah seorang dari kalian berharap mati, barangkali jika ia berbuat baik, semoga bertambah nilai kebaikannya, jika ia berbuat salah, semoga ia bisa menyesali diri“. (HR Bukhory)

عن أنس رضي الله عنه : قال النبي صلى الله عليه وسلم : لا يتمنين أحدكم الموت لضر نزل به. فإن كان لا بد متمنيا فليقل : اللهم أحيني ما كانت الحياة خيرا لي. وتوفني ما كانت الوفاة خيرا لي. (أخرجه البخاري ومسلم)

Dari Anas bin Malik ra, Bersabda nabi saw :” Janganlah seorang dr kalian berharap mati disebabkan kesusahan yg ia alami. Tp jika ia tetap berharap juga, hendaklah ia berdoa : ya Allah hidupkan aku jika hidup itu baik utk ku, dan matikan aku jika kematian itu baik utk ku” (HR Bukhory dan Muslim)

MENGENAL KREDIBILITAS HADITS MELALUI JARH WAT TA’DIL

Penelitian sebuah hadits tidak bisa dilepaskan dari penelitian terhadap pembawa haditsnya dalam hal ini adalah seorang perawi, terutama terkait kredibiltas, integritas, dan validitas. Lima syarat disepakati oleh ulama muhadditsin. Dua di antaranya harus dipastikan dalam diri perawi. Syarat tersebut adalah adil dan dhabit. Perpaduan antara adil dan dhabit ini biasa disebut sebagai tsiqah.

Untuk mengetahui keadilan dan kedhabitan seorang perawi, diperlukan tanshih (ketetapan) dari para ulama terhadap perawi tersebut. Ketetapan ulama tersebut memiliki berbagai maratib (derajat). Derajat-derajat itu dibagi menurut kata yang digunakan untuk memvonis (mentanshih) seorang perawi tersebut.

Maka dari itu, diperlukan ilmu jarh wa ta’dil untuk mengetahui derajat-derajat tersebut.

Secara ringkas, Imam Jalaluddin As-Suyuthi merangkum seluruh tingkatan jarh wa ta’dil dari beberapa imam sebelumnya, seperti Ibnu Shalah, Ad-Dzahabi, Al-Iraqi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani. As-Suyuthi merangkum enam tingkatan lafadz jarh dan enam tingkatan lafadz ta’dil. (As-Suyuthi, Tadribur Rawi fi Syarh Taqrib An-Nawawi, [Riyadh: Maktabah Riyadh Al-Haditsah, tanpa catatan tahun] halaman 342-348).

Hal ini juga dijelaskan oleh Mahmud Thahhan dalam Taysir Musthalah Hadits, (Riyadh: Maktabah Maarif, 2004 M, halaman 189-192).

Berikut enam tingkatan lafadz ta’dil:

Pertama, kata-kata yang menunjukkan mubalaghah (intensitas maksimal) yang berbentuk af’alut tafdhil dan sejenisnya. Seperti kata-kata أوثق الناس (yang paling tsiqat), أضبط الناس  (yang paling dhabith), ليس له نظير (tiada bandingannya), dan lain sebagainya.

Kedua, kata-kata yang mengukuhkan kualitas tsiqat dengan salah satu sifat di antara sekian sifat ‘adil dan tsiqat, yakni dengan mengulang kata yang sama secara lafal dan makna. Misalnya: ثقة ثقة , ثقة مأمون, ثقة حافظ, dan lain-lain.

Ketiga, kata-kata yang menunjukkan sifat ‘adil yang sekaligus menyiratkan kedhabithan seorang perawi tanpa taukid. Misalnya: ثبت, متقن , عدل إمام حجة, عدل ضابط، ثقة dan lain-lain.

Keempat, kata-kata yang menunjukkan sifat ‘adil, tetapi menggunakan kata yang tidak menyiratkan kedhabithan. Misalnya: صدوق , مأمون, لا بأس به . Namun pernyataan lâ ba’sa bihi jika diucapkan oleh Yahya bin Ma’in, maka artinya tsiqah.

Lafal yang tingkatannya setara dengan tingkat ini adalah kata-kata yang menunjukkan kejujuran perawi, tapi tidak menunjukkan kedhabithannya. Misalnya: محله الصدق , صالح الحديث. Sebagian ulama menyamakan kedua kata itu dengan tingkat keenam.

Keenam, kata-kata yang sedikit menyiratkan makna tajrih, seperti penyertaan kata-kata di atas dengan kalimat masyi’ah. Misalnya: شيخ ببعيد من الصواب, صويلح, صدوق أن شاء الله. Dan lain-lain.

Adapun hadits pada tingkatan pertama hingga ketiga bisa dijadikan hujjah. Sedangkan hadits pada tingkatan keempat dan kelima tidak bisa dijadikan hujjah, tetapi haditsnya boleh disampaikan, ditulis dan dijadikan i’tibar (dijadikan pendukung dari hadits lain).

Hadits pada tingkatan keenam hanya bisa dijadikan i’tibar, tidak bisa ditulis atau disampaikan apalagi dijadikan hujjah.

Tingkatan lafal jarh, para ulama muhadditsin juga membaginya menjadi enam. Urutan yang pertama lebih mendekati ta’dil daripada tingkatan-tingkatan setelahnya.

Pertama, menyifati perawi dengan sifat-sifat yang menunjukkan kedha’ifannya, akan tetapi dekat dengan ta’dil. Misalnya: ليس بذلك القوي, ليس بحجة, فيه مقال, فيه ضعف, dan غيره أوثق منه.

Kedua, kata-kata yang menunjukkan penilaian dha’if atas perawi atau kerancuan hafalannya. Misalnya: مضطرب الحديث, لا يحتج به, ضعفوه (ulama menilainya dha’if), له مناكير (ia memiliki hadits-hadits munkar), ضعيف. atau yang sejenis.

Ketiga, kata-kata yang menunjukkan bahwa perawi tersebut sangat dha’if. Misalnya: رد حديثه, ضعيف جدا, ليس بشيئ, طرح حديثه, dan لا يكتب حديثه. dan lain-lain.

Keempat, kata-kata yang menunjukkan bahwa seorang perawi tertuduh sebagai pendusta, pemalsu, atau yang sejenis. Misalnya متهم بالكذب, متهم بالوضع, يسرق الحديث. Disamakan dengan tingkat ini adalah kata-kata yang menunjukkan ditinggalkan haditsnya. Misalnya: متروك, هالك, ليس بثقة. dan lain-lain.

Kelima, jarh dengan kedustaan atau pemalsuan. Misalnya كذاب, وضاع. merupakan kata-kata yang menunjukkan mubalaghah tetapi masih lebih ringan daripada tingkatan di bawah.

Keenam, kata-kata yang menunjukkan mubalaghah dalam hal jarh. Misalnya أكذب الناس, ركن الكذب. dan lain-lain.

Para perawi yang dinilai dengan tingkatan pertama dan kedua, haditsnya tidak boleh dijadikan sebagai hujjah. Tetapi hadits ini bisa digunakan sebagai i’tibar. Sedangkan perawi yang tergolong tingkatan tiga hingga enam, tidak bisa dijadikan itibar, apalagi untuk disampaikan dan dijadikan hujjah. Wallahu a‘lam

SALAH SATU PINTU SURGA ADALAH BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

Berbakti dan berbuat baik pada kedua orang tua merupakan jalan termudah menuju surga. Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ

“Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi no. 1900, Ibnu Majah no. 3663 dan Ahmad 6: 445. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Dari Humaid, ia menyatakan, ketika ibunya Iyas bin Mu’awiyah itu meninggal dunia, Iyas menangis. Ada yang bertanya padanya, “Kenapa engkau menangis?” Ia menjawab :

 كَانَ لِي بَابَانِ مَفْتُوْحَانِ إِلَى الجَنَّةِ وَأُغْلِقَ أَحَدُهُمَا

“Dahulu aku memiliki dua pintu yang terbuka menuju surga. Namun sekarang salah satunya telah tertutup.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 56. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398)

~Tarikh Madinah Dimasyqi :

~يض القدير

(الوالد أوسط أبواب الجنة) أي طاعته وعدم عقوقه مؤد إلى دخول الجنة من أوسط أبوابها ذكره العراقي. وقال البيضاوي: أي خير الأبواب وأعلاها والمعنى أن أحسن ما يتوسل به إلى دخول الجنة ويتوصل به إلى الوصول إليها مطاوعة الوالد ورعاية جانبه وقال بعضهم: خيرها وأفضلها وأعلاها يقال هو من أوسط قومه أي من خيارهم وعليه فالمراد بكونه أوسط أبوابها من التوسط بين شيئين فالباب الأيمن أولها وهو الذي يدخل منه من لا حساب عليه ثم ثلاثة أبواب باب الصلاة وباب الصيام وباب الجهاد هذا إن كان المراد أوسط أبواب الجنة ويحتمل أن المراد أن بر الوالدين أوسط الأعمال المؤدية إلى الجنة لأن من الأعمال ما هو أفضل منه ومنها ما هو دون البر والبر متوسط بين تلك الأعمال وظاهر صنيع المصنف أن ذا هو الحديث بتمامه وليس كذلك بل أغفل منه قطعة وهي قوله فإن شئت فحافظ على الباب أو ضيع اه بنصه لأحمد وللترمذي الوالد أوسط أبواب الجنة فإن شئت فاحفظ وإن شئت فضيع وفيه أن العقوق كبيرة وفي لفظ له الوالد أوسط أبواب الجنة فإن شئت فأضع ذلك الباب وإن شئت فاحفظ

~مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح

وعن ابن عباس – رضي الله عنهما – قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ” من أصبح مطيعا لله في والديه أصبح له بابان مفتوحان من الجنة ، وإن كان واحدا فواحدا ، ومن أمسى عاصيا لله في والديه أصبح له بابان مفتوحان من النار ، إن كان واحدا فواحدا ” قال رجل : وإن ظلماه ؟ قال : ” وإن ظلماه ، وإن ظلماه ، وإن ظلماه ” .

~الحاشية رقم: 1 4943 –

( وعن ابن عباس – رضي الله عنهما – قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – من أصبح مطيعا لله في والديه ) أي : في حقهما . وفيه : أن طاعة الوالدين لم تكن طاعة مستقلة ، بل هي طاعة الله التي بلغت توصيتها من الله تعالى بحسب طاعتهما لطاعته ، وكذلك العصيان والأذى ، وهو من باب قوله تعالى : إن الذين يؤذون الله ورسوله ، ذكره الطيبي . قلت : ويؤيده أنه ورد : ” لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق ” ، بل من أطاعهما و لم ينو رضا الله تعالى لا يكون بارا ، وفي نسخة ( والده ) وكأنه أراد الجنس مع قطع النظر عن وصف الذكورة والأنوثة ، وقيل : إنه من صيغ النسب كتامر ولابن ، فيشمل الأب والأم ; قلت : ومع هذا لا بد أن يراد به الجنس ليستقيم قوله : ( أصبح له بابان مفتوحان من الجنة ) ، يجوز أن يكون صفة أخرى لقوله : بابان ، وأن يكون حالا من الضمير في ( مفتوحان ) ذكره الطيبي ( وإن كان ) وفي نسخة : فإن كان أي : الوالد المطاع ( واحدا فواحدا ) ، أي : فكان الباب المفتوح واحدا ، إلى هنا رواه ابن عساكر عن ابن عباس ( ومن أمسى عاصيا لله تعالى في والديه أصبح له بابان مفتوحان من النار ، وإن كان واحدا فواحدا ” . قال رجل : وإن ظلماه ؟ ) قال الطيبي : يراد بالظلم ما يتعلق بالأمور الدنيوية لا الأخروية ( قال : وإن ظلماه ، وإن ظلماه ، وإن ظلماه ) : ثلاث مرات للتأكيد والمبالغة .

~ البداية والنهاية

قالوا : ولما ماتت أمه بكى ، فقيل له في ذلك ، فقال : كان لي بابان مفتوحان إلى الجنة ، فغلق أحدهما

SALING BERBANGGA-BANGGA AN DALAM MEMBANGUN MASJID

TERMASUK TANDA KIAMAT ADALAH BERBANGGA BANGGA AN MEMBANGUN DALAM MASJID

Dalam  kitab ‘Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud :

حدثنا محمد بن عبد الله الخزاعي حدثنا حماد بن سلمة عن أيوب عن أبي قلابة عن أنس وقتادة عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لا تقوم الساعة حتى يتباهى الناس في المساجد

Artinya: adalah salah satu indikator tejadinya kiamat jikalau manusia sudah saling berbangga-bangga dalam bangunan Masjid

( حتى يتباهى الناس في المساجد ) أي يتفاخر في شأنها أو بنائها يعني يتفاخر كل أحد بمسجده ويقول مسجدي أرفع أو أزين أو أوسع أو أحسن رياء وسمعة [ ص: 91 ] واجتلابا للمدحة . قال ابن رسلان : هذا الحديث فيه معجزة ظاهرة لإخباره صلى الله عليه وسلم عما سيقع بعده فإن تزويق المساجد والمباهاة بزخرفتها كثر من الملوك والأمراء في هذا الزمان بالقاهرة والشام وبيت المقدس بأخذهم أموال الناس ظلما وعمارتهم بها المدارس على شكل بديع نسأل الله السلامة والعافية انتهى . قال المنذري : والحديث أخرجه النسائي وابن ماجه .

Hadits senada, Rasulullah bersabda :

أَخْبَرَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ قَالَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ

Artinya: adalah salah satu indikator tejadinya kiamat jikalau manusia sudah saling berbangga-bangga dalam bangunan Masjid.

Perhatikan kata ” يَتَبَاهَى ” (terbaca yatabaha). ini berdimensi waktu “akan terjadi”. perhatikan Rasulullah menggunakan Imbuhan Huruf “Ya” dan “Ta” dan “Alif” pada kata-kata yatabaaha (kata dasarnya baha ), ini bermaksud “Resiprokal” artinya “saling”, maka kata ” يَتَبَاهَى ” (terbaca yatabaha) bermakna : akan saling berbangga-bangga-an.

– Fathul Baari :

قوله : ( وقال أنس : يتباهون بها ) بفتح الهاء أي يتفاخرون ، وهذا التعليق رويناه موصولا في مسند أبي يعلى وصحيح ابن خزيمة من طريق أبي قلابة أن أنسا قال ” سمعته يقول : يأتي على أمتي زمان يتباهون بالمساجد ثم لا يعمرونها إلا قليلا ” وأخرجه أبو داود والنسائي وابن حبان مختصرا من طريق أخرى عن أبي قلابة عن أنس عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال ” لا تقوم الساعة حتى يتباهى الناس في المساجد ” والطريق الأولى أليق بمراد البخاري . وعند أبي نعيم في كتاب المساجد من الوجه الذي عند ابن خزيمة ” يتباهون بكثرة المساجد ” .

[ ص: 643 ] ( تنبيه ) : قوله ” ثم لا يعمرونها ” المراد به عمارتها بالصلاة وذكر الله ، وليس المراد به بنيانها ، بخلاف ما يأتي في ترجمة الباب الذي بعده .

قوله : ( وقال ابن عباس : لتزخرفنها ) بفتح اللام وهي لام القسم وضم المثناة وفتح الزاي وسكون الخاء المعجمة وكسر الراء وضم الفاء وتشديد النون وهي نون التأكيد ، والزخرفة الزينة ، وأصل الزخرف الذهب ثم استعمل في كل ما يتزين به . وهذا التعليق وصله أبو داود وابن حبان من طريق يزيد بن الأصم عن ابن عباس هكذا موقوفا ، وقبله حديث مرفوع ولفظه ” ما أمرت بتشييد المساجد ” وظن الطيبي في شرح المشكاة أنهما حديث واحد فشرحه على أن اللام في ” لتزخرفنها ” مكسورة وهي لام التعليل للمنفي قبله ، والمعنى : ما أمرت بالتشييد ليجعل ذريعة إلى الزخرفة ، قال : والنون فيه لمجرد التأكيد ، وفيه نوع توبيخ وتأنيب ، ثم قال : ويجوز فتح اللام على أنها جواب القسم . قلت : وهذا هو المعتمد ، والأول لم تثبت به الرواية أصلا فلا يغتر به ، وكلام ابن عباس فيه مفصول من كلام النبي – صلى الله عليه وسلم – في الكتب المشهورة وغيرها ، وإنما لم يذكر البخاري المرفوع منه للاختلاف على يزيد بن الأصم في وصله وإرساله ، قال البغوي : التشييد رفع البناء وتطويله ، وإنما زخرفت اليهود والنصارى معابدها حين حرفوا كتبهم وبدلوها .

MAKNA HADITS : BERAMAL LAH UNTUK DUNIA SEAKAN KAU AKAN HIDUP SELAMANYA

Sesungguhnya manusia saat menyangka ia hidup didunia selamanya maka sifat lobanya menjadi sedikit dan ia yakin bahwa yang ia kehendaki tidak akan hilang kesempatan mendapatkannya lantaran tidak terlalu tamak dan bersegera dengan meraih duniawi maka saat hilang kesempatan meraihnya dihari ini kesempatan hari esoknya masih terbuka lebar karena ia akan hidup selamanya

1201 – (اعمل عمل من) وفي نسخة امرئ (يظن أن لا يموت أبدا ، واحذر حذر امرئ يخشى أن يموت غدا) أي قريبا جدا ولم يرد حقيقة الغد ، والمراد تقديم أمر الآخرة وأعمالها حذر الموت بالفوت على عمل الدنيا وتأخير أمر الدنيا كراهة الاشتغال بها على عمل الآخرة وأما ما فهمه البعض أن المراد اعمل لدنياك كأنك تعيش ابدا واعمل لآخرتك كأنك تموت غدا ويكون المراد الحث على عمارة الدنيا لينتفع من يجئ بعد والحث على عمل الآخرة فغير مرضي لأن الغالب على أوامر الشارع ونواهيه الندب إلى الزهد في الدنيا والتقليل من متعلقاتها والوعيد على البناء وغيره وإنما مراده أن الإنسان إذا علم أنه يعيش أبدا قل حرصه وعلم أن ما يريده لن يفوته تحصيله بترك الحرص عليه والمبادرة إليه فإنه إن فاتني اليوم أدركته غدا فإني أعيش أبدا ،

“Berbuatlah seperti perbuatan orang yang mengira tidak akan mati selamanya dan khawatirlah seperti khawatirnya seseorang yang takut mati diesok hari”

Artinya : Mendahulukan amal perbuatan dan perkara yang berkaitan dengan akhirat karena khawatir tidak dapat lagi menjalankannya saat meninggal atas amal duniawi dan mengakhirkan perkara dunia karena benci disibukkan dengannya hingga mengalahkan amal perbuatan akhirat.

Sedang apa yang difahami oleh sebagian orang tentang “Berbuatlah untuk duniamu seolah kamu hidup selamaya dan berbuatlah untuk akhiratmu seolah kamu mati esok hari” yang menurut mereka pemahamannya memberi motivasi agar mencari duniawi agar bermanfaat bagi generasi berikutnya dan memberi motivasi agar semangat dalam beramal akhirat maka tidaklah benar karena pada umumnya perintah-perintah dan larangan-larangan syara’ berkaitan dengan berprilaku zuhud dengan dunia, menyedikitkan berhubungan dengannya, memberi ancaman membangun kemewahan dan sebagainya, maka yang dikehendaki darinya adalah

“Sesungguhnya manusia saat menyangka ia hidup didunia selamanya maka sifat lobanya menjadi sedikit dan ia yakin bahwa yang ia kehendaki tidak akan hilang kesempatan mendapatkannya lantaran tidak terlalu tamak dan bersegera dengan meraih duniawi maka saat hilang kesempatan meraihnya dihari ini kesempatan hari esoknya masih terbuka lebar karena ia akan hidup selamanya

Faidh al-Qadiir II/16