INILAH HADITS HADITS BUKHORI YANG MENJELASKAN TENTANG RAMADHAN

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda “Puasa adalah perisai diri (dari api neraka)”. Maka seseorang yang sedang berpuasa janganlah menggauli istrinya, berkata kotor dan berbuat jahil, jika dia diajak bertengkar atau dicaci  hendaklah dia mengatakan, “Saya sedang berpuasa”. Rasulullah Saw mengulanginya dua kali. “Demi Allah yang diriku dalam genggaman-Nya! sungguh bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah SWT lebih harum daripada bau misik/kesturi. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Hambaku meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena aku. Puasa itu bagi-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya, dan setiap kebaikan akan dibalas 10 kali.[Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1894].

    Pintu Rayyan di Surga Bagi Orang-orang Yang Berpuasa: Diriwayatkan dari Sahl r.a bahwa Nabi Muhammad Saw pernah bersabda : “Di surga ada sebuah pintu bernama Ar-Rayyan yang kelak pada hari kiamat akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa, tanpa ada seorangpun selain mereka yang memasukinya. Dikatakan pada hari itu, “mana orang-orang yang berpuasa?” Maka mereka pun bangkit untuk memasuki pintu itu tanpa seorangpun selain dari mereka yang memasukinya. Ketika mereka sudah masuk semua, pintu itu ditutup dan tidak ada lagi seorangpun yang memasukinya. [Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1896]

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda : “Siapa yang memberikan dua macam harta dijalan Allah akan dipanggil untuk memasuki pintu-pintu surga, Hai hamba Allah! inilah balasan harta yang kau infaqkan untuk kebaikan. Orang yang melaksanakan shalat akan dipanggil dari pintu shalat, orang yang berjihad akan dari pintu jihad, orang yang berpuasa akan dipanggil dari pintu Rayyan dan orang yang bersedekah shalat akan dipanggil dari pintu sedekah”. Abu Bakar r.a mengatakan : “Saya pertaruhkan ayah dan ibu saya kepada anda (ungkapan untuk memohon izin bertanya atau berbicara), ya Rasulullah! sungguh tidak ada kesedihan sedikitpun bagi orang yang dipanggil dari semua pintu-pintu tersebut, dan apakah ada orang yang dipanggil dari semua pintu ?” Rasullah Saw menjawab : “Ya, ada, dan aku berharap kaulah salah satunya.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadis : 1897].

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata : Rasulullah Saw pernah bersabda : “Apabila bulan Ramadhan tiba, semua pintu surga terbuka.” [Hadist ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1898].

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata : Rasulullah Saw pernah bersabda : “Apabila bulan Ramadhan tiba, semua pintu langit/surga terbuka, semua pintu neraka tertutup dan setan-setan dibelenggu”. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1899].

    Apakah Ramadhan atau bulan Ramadhan perlu disebutkan dan orang yang melihat hilal (bulan sabit di awal tanggal) ? Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a, dia berkata : Saya pernah mendengar Rasullah Saw bersabda : “Apabila kamu melihat hilal (pada awal malam Ramadhan), maka berpuasalah dan apabila kamu melihat hilal (pada awal malam Syawal), maka hentikan puasa, dan apabila di langit diselimuti awan (sehingga hilal tidak terlihat), maka genapkan Ramadhan (30 hari)”. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1900].

    Orang berpuasa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta / jelek: Diriwaytkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata : Rasulullah Saw pernah bersabda : “Siapa yang berpuasa tanpa meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta / jelek, maka Allah tidak membutuhkan puasa”. [Hadits ini diriwayatkan oleh AL-Bukhari, nomor hadits : 1903].

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, “Semua amal ibadah anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa, karena puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya”. Pada bagian akhir hadis disebutkan : “Orang yang berpuasa mendapat dua kesenangan, dia merasa senang ketika bertemu dengan Tuhannya, dia juga merasa senang dengan pahala puasanya.” [Hadis ini diriwayatkan oleh AL-Bukhari, nomor hadist 1904].

    Puasa bagi orang-orang yang tidak mampu menikah untuk mengendalikan syahwat Diriwayatkan dari ‘Alqamah bahwa Abdullah r.a mengatakan : Suatu ketika kami bersama Nabi Muhammad Saw, kemudian beliau bersabda : “Laki-laki yang sudah mampu menikah hendaklah ia menikah, karena menikah akan membuat pandangan matanya lebih merunduk dan membuat kemaluannya lebih terjaga. Siapa yang belum mampu menikah hendaklah ia berpuasa, karena puasa akan melerai nafsunya.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1906]

    Mengenai hitungan hari puasa bulan Ramadhan: Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a, bahwa Rasulullah bersabda : “Satu bulan itu bisa 29 hari, maka janganlah kamu berpuasa Ramadhan sebelum kamu melihat hilal dan apabila langit berawan (sehingga kamu tidak melihat hilal), maka genapkanlah Sya’ban 30 hari.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1907]

    Diriwayatkan oleh Ummu Salamah r.a, bahwa Nabi Saw pernah bersumpah untuk menjauhi istri-istrinya selama sebulan. Setelah berlalu 29 hari beliau datang pada pagi atau sore hari, lalu ditanyakan kepada beliau : “Anda telah bersumpah menjauhi istri-istri Anda selama satu bulan (mengapa sekarang anda datang ?)”. Rasulullah Saw menjawab : “Satu bulan itu kadang-kadang 29 hari.” [Hadist ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadist : 1910]

    Dua bulan Id tidak berkurang keutamaannya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Nabi Saw pernah berkata : “Dua bulan Id, Ramadhan dan Dzul Hijjah tidaklah berkurang keutamaannya (meskipun kadang-kadang 29 hari).” (Hadist ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadist : 1912]

    Sabda Nabi Saw :”Kami tidak pandai menulis dan berhitung” Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a bahwa Nabi Saw bersabda : “Kami adalah umat ummiy. Kami tidak pandai menulis dan berhitung. Satu bulan itu sekian dan sekian”. Maksudnya : Kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1913]

    Larangan mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu hari atau dua hari sebelumnya Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Nabi Saw pernah bersabda : “Janganlah seseorang dari kamu mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu hari atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi orang yang sudah terbiasa berpuasa sunnat yang kebetulan waktunya pada hari itu, maka ia boleh berpuasa.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1914]

    Firman Allah SWT (yang artinya : “Makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (Al-Quran, Surah Al-Baqarah : 187) Diriwayatkan dari Adiy bin Hatim r.a, dia berkata : Ketika turun ayat (yang artinya :”…. hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam”, saya mengambil dua utas tali pengikat masing-masing hitam dan putih, kemudian saya meletakkannya di bawah bantal saya. Pada malam hari saya melihat tali tersebut namun tidak tampak jelas pebedaan keduanya. Pada pagi hari saya menemui Rasulullah Saw untuk memberitahukan kepada beliau apa yang telah saya lakukan itu, kemudian beliau bersabda : “Benang hitam maksudnya gelapnya malam dan benang putih maksudnya terangnya siang (yakni fajar).” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1916]

    Perkiraan jeda antara sahur dengan shalat subuh Diriwayatkan dari Anas r.a bahwa Zaid bin Tsabit r.a mengatakan : Kami makan sahur bersama Rasulullah Saw, kemudian beliau berdiri untuk melaksanakan shalat (Subuh). Ditanyakan kepada Zaid : Berapa lama kira-kira antara azan dengan sahur ? Dia menjawab : Kira-kira bacaan 50 ayat Al-Quran. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits 1921]

    Sahur tidak wajib tetapi mengandung berkah Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, dia berkata : Nabi Saw pernah bersabda : “Makan sahurlah, karena makan sahur itu mengandung berkah.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1923]

    Orang yang berpuasa dalam keadaan junub ketika subuh Diriwayatkan dari Aisyah dan Ummu Salamah r.a bahwa ketika fajar tiba, Rasulullah Saw pernah dalam keadaan junub sehabis menggauli istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1925]

    Memeluk istri bagi orang yang berpuasa Diriwayatkan dari Aisyah r.a, dia berkata : Nabi Saw pernah mencium dan memeluk istrinya ketika beliau sedang berpuasa, dan beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan diri dibanding kalian semua. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1927]

    Makan dan minum karena lupa pada saat berpuasa Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a bahwa Nabi Saw pernah bersabda : “Apabila seseorang lupa (bahwa ia sedang berpuasa) kemudian ia makan dan minum, maka hendaklah ia lanjutkan puasanya, karena demikian itu berarti ia diberi makan dan minum oleh Allah.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1933]

BERHATI-HATILAH DENGAN AIR KENCING, KARENA BANYAK YANG DI SIKSA KARENA AIR KENCING


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى

سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الْفَاتِحِ لِمَااُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَاسَبَقَ نَاصِرِالْحَقِّ ‍ بِالْحَقِّ وَالْهَادِى اِلى صِرَاطِك َالْمُسْتَقِيْم وَعَلى الِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ

Keteledoran yang sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan istinjak adalah dalam hal membersihkan diri setelah buang air seni (cebok). Barangkali dalam hal membersihkan diri setelah buang air besar, kita bisa lebih teliti karena apabila kurang bersih, maka akan berbau, disamping itu keluarnya kotoran lebih bisa dikendalikan dan akan terasa oleh kita. Namun tidak demikian halnya dengan buang air seni, sering kali setelah buang air seni, masih ada sisa yang tertinggal yang akan keluar lagi walaupun itu Cuma setetes dua tetes, dan itu sering kita abaikan, karena memang air seni tidak begitu tercium baunya. Nah…. sisa air seni yang keluar inilah yang akan menjadi penyebab tidak sucinya pakaian kita, khususnya celana dalam atau bahkan pakaian luarnya dan ini terjadi tanpa kita sadari. Kejadian inilah yang akan bisa mengantar kita kepada AZAB KUBUR, sebagaimana tersebut dalam hadits.

Abu Hurairah  r.a berkata, bahwa Rasullah saw bersabda : “ Bersucilah setelah buang air seni, karena umumnya siksa kubur itu disebabkan olehnya ”

Sedang dalam riwayat al – Hakim disebutkan, “ Kebanyakan siksa kubur disebabkan oleh buang air seni “

Bulughul Maram nomor  109 dan 110

Pertanyaannya adalah mengapa hal yang pada umumnya disepelekan oleh kebanyakan orang bisa menjadi penyebab menerima azab kubur ??  . Hal ini adalah mudah untuk dimengerti, bahwa ketika kita teledor dalam hal membersihkan diri setelah buang air seni, maka pakaian kita menjadi tidak suci, sehingga ketika kita melakukan sholat, maka sholat itu menjadi tidak sah dan tidak diterima oleh ALLAH swt. Dan ingat SHOLAT adalah hak ALLAH yang harus kita tunaikan, yang merupakan salah satu RUKUN ISLAM, dengan tidak sahnya sholat, maka gugurlah salah satu rukun islam, dan ini menjadikan kita berdosa di hadapan ALLAH yang dikarenakan keteledoran kita, sehingga kelak akan mendapat siksa kubur, bahkan akan menjalani siksa neraka, di akherat kelak. Karena itu Rasulullah mengingatkan kita sebagaimana tercantum dalam hadits tersebut di atas. Karena itu wahai rekan-rekan muslimin dan muslimat,  berhati-hatilah dalam membersihkan diri setelah buang air seni. Semoga kita menjadi umat yang senantiasa mencari keridhoan ALLAH dalam menjalani hidup ini.

HUKUM KAIN WOL DAN MANFAAT MELIPAT PAKAIAN

MELIPAT PAKAIAN MENDAPATKAN DUA FAEDAH :

PERTAMA

Telanjang sewaktu tidur terdapat beberapa faedah diantaranya dapat memberi kenyamanan tubuh dari gerakan panas di siang hari, memudahkan tubuh bergerak kekanan dan kekiri, menarik rasa gembira terhadap istri dengan tambahan kemesraan. Menjalankan perintah (Nabi) karena Beliau melarang berbuat yang menyia-nyiakan harta, karena tidur dengan memakai pakaian akan merusak pakaian tersebut. Menjaga kebersihan karena pada umumnya pakaian tidur terdapat hewan kecil (kutu) yang dapat mengganggu pemakainya.

KEDUA:

Sebagian ahli ilmu berkata: “disunahkan melipat pakaian dimalam hari, karena dengan melipatnya dapat mengembalikan kondisi pakaian seperti semula dan bacalah basmalah. Jika tidak dilakukan, maka setan akan memakai pakaian terswbut  dimalam hari, sedang pemiliknya memakainya di siang hari. Dengan demikian akan mempercepat proses kerusakannya.

Nabi bersabda : ” Lipatlah pakaian kalian, sesungguhnya setan tidak akan mengenakan pakaian yang dilipat”.

Ada juga hadits lain : ” Lipatlah pakaian kalian, karena pakaian itu akan kembali pada kondisi semula”.

فائدتان) الاولى : فى التجريد من الثياب عند النوم فوائد منها ان فيه راحة البدن من

حرارة حركة النهار. و منها سهولة التقليب يمينا و شمالا. و منها ادخال السرور على الاهل بزيادة التمتع، و منها امتثال الامر لان النبي صلى الله عليه و سلم نهى عن اضاعة المال و لا شك ان النوم فى الثوب الرفيع يفسده. و منها النظافة، اذ الغالب فى القوب النوم ان يكون فيه القمل و ما فى معناه.

الثانية) قال بعض اهل العلم يسن طيئ الثياب بالليل لان الطئ يرد اليها ارواحها و يسمى الله عند ذلك فان لم يفعل صار الشيطان يلبسها بالليل و هو يلبسهل بالنهار فتبلى سريعا و فى الحديث اطووا ثيابكم فان الشيطان لا يلبس ثوبا مطويا و ورد ايضا اطووا ثيابكم ترجع اليها ارواحها.

قرة العيون ٤٨

مكتبة دار احياء الكتب العربية

KAIN WOL NAJIS APA TIDAK

Hukum asalnya  yaitu suci

قال العراقي: أراد بالطيبة الطاهرة وبالطهور المطهر لغيره فلو كان معنى طهوراً طاهراً لزم تحصيل الحاصل وفيه أن الأصل في الأشياء الطهارة وإن غلب ظن النجاسة

Kitab Ahadis Yahtajju biha as Syi’ah juz 1 hal 90

Dalam masalah ini kain wol adalah terbuat dari bulu domba, sedangkan domba itu halal dimakan, jadi bulunya jika terpisah ketika dalam keadaan hidup maka hukumnya suci, terus yang jadi kendala itu bulu dari bangkai apa tidak? maka dikembalikan ke hukum asal, yaitu suci.

والجزء المنفصل من الحيوان كميتته إلا شعر المأكول وريشه وصوفه ووبره فطاهرات

Bagian tubuh yang terpisah dari hayawan yang masih hidup hukumnya sebagaimana bangkai kecuali rambutnya binatang yang halal dimakan.

(Kitab Muqaddimah al Hadhromiyah)

Kain wol biasanya terbuat dari bulu2 domba.Hukum bulu2,rambut dan sejenisnya adalah suci meski diambil dari hewan yg masih hidup,berbeda jika diambil dari bangkai maka najis.Beberapa ibaroh yg bisa disimak antara lain

و ما قطع من حي فهو ميت الا الشعور المنتفع بها فى المفارس والملابس و غيرهما

كفاية الاخيار ٢/٢٢٩

Segala sesuatu yg dipotong dari hewan yang masih hidup,maka hukumnya menjadi bangkai kecuali rambut yg bisa diambil manfaatnya untuk membuat permadani dan pakaian atau yg lainnya.

و عظم الميتة و شعرها نجسقوله و شعرها و مثله صوفها و وبروها و ريشا

الباجوري ١/٥٦

Dan tulang belulang bangkai serta rambut nya adalah najisContoh dari rambut diantaranya adalah bulu-bulu domba,bulu-bulu marmut dan bulu-bulu burung

Meski dihukumi suci bulu yg diambil dari binatang yang masih hidup,tetapi mencabut nya kala masih hidup hukumnya diharamkan.

و يحرم نتف شعر الحيوان لما فيه من تعذيبه و قيل بكرهته وهو محمل على ما لو حصل به اذى يحتمل عادة

الباجورى ١/٥٦

Dan di haramkan mencabut bulu-bulu hewan karena akan menyiksanya. Ada juga yg berpendapat hal itu makruh.

WANITA CANTIK YANG TUMBUH DI LINGKUNGAN YANG BURUK

“Wanita Cantik yang Tumbuh dalam Tempat yang Buruk”.

عن  أبي سعيد الخدري ، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : « إياكم وخضراء  الدمن » ، فقيل : يا رسول الله ، وما خضراء الدمن ؟ قال : « المرأة الحسناء  في المنبت السوء »

حديث إياكم وخضراء الدمن فقيل وما خضراء الدمن قال المرأة الحسناء في  المنبت السوء رواه الدارقطني في الأفراد والرامهرمزي في الأمثال من حديث  أبي سعيد الخدري قال الدارقطني تفرد به الواقدي وهو ضعيف

Dari Abu Sa’id  al Khudry radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Jauhi oleh kalian khadhraa`ad diman.” Mereka berkata, “Apakah  khadhraa`ad diman wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Wanita cantik  yang tumbuh dalam lingkungan buruk.”

 

Takhrij Dan Maksud Hadits

Al-‘Ajluni dalam Kasyful Khafaa`, hal. 855 berkata, hadis iyyakum wa  khadhraa`ad dman diriwayatkan oleh Ad Daaraquthny dalam “al Afraad”, Ar  Raamahurmuzy dan Al ‘Askary dalam “Al-Amtsaal”, Ibnu ‘Adiy dalam “Al  Kaamil”, Al Qudhaa’iy dalam “Musnad Asy Syihaab”, Al Khaathib dalam  “Iidhaah al Malbas”, Ad Dailamy, dari jalur al Waaqidy dari Abu Sa’iid  al Khudry secara marfu’.

Ibnu ‘Adiy berkata, “Al  Waaqidy menyendiri dengannya, Abu Ubaid menyebutkannya dalam “al  Ghariib” dan Ad Daaraquthny berkata, “Tidak sah dari satu wajh (jalur)  pun.”

Ibnul Mulaqqin berkata dalam “al Badru al  Muniir”, “Diriwayatkan oleh al Waaqidy dari riwayat Abu Sa’iid al  Khudry, dan ia termasuk yang diriwayatkannya secara menyendiri. Telah  diketahui kedhaifannya. Al Albany mengatakan tentang hadis ini dalam “al  Silsilah al Dha’iifah”, “Dhaif jiddan” lemah sekali. Jadi Kesimpulannya, Hadis tersebut dhaif. Wallahu a’lam.

 

Syarah Hadits

Maksud dari wanita cantik berada dalam tempat buruk adalah wanita cantik yang hidup dalam lingkungan keluarga yang buruk.

Al-Bairuuty berkata dalam “Asnaa al Mathaalib”, Maknanya adalah,  “Hati-hatilah dengan wanita cantik yang tempat tumbuhnya buruk, seperti  pohon khadharaa yang akarnya dipenuhi dengan kotoran.”

Ad-Dimyathy berkata dalam “I’aanatu Ath Thaalibin”, hadis ini menyerupakan  wanita yang berasal dari keluarga yang buruk seperti sebuah tanaman  yang tinggi, yang tumbuh di tempat kotoran hewan.”

Syaikh  Mushtofa al Adawy mengkritisi hadis ini juga dari sisi maknanya, bahwa  wanita yang berasal dari keluarga yang buruk tidak mesti ia pun buruk.  Karena juga ternyata banyak wanita yang baik walau pun keluarganya  buruk.

Intinya, tidak ada larangan menikah dengan  wanita yang berasal dari keluarga yang buruk karena hadis ini lemah, dan  yang menjadi standar pemilihan wanita tetap agama si wanita tersebut,  bukan keluarganya. Wallahu a’lam.

INILAH PENYEBAB KENAPA WANITA BANYAK YANG MASUK NERAKA

Salah satu hadits yang mungkin sudah familiar di telinga kaum wanita adalah hadits yang menerangkan bahwa mayoritas penduduk neraka di dominasi oleh golongan perempuan, Ada sebagaian orang bertanya apakah ini tidak mendeskreditkan kaum wanita? maka jawabannya “Tidak,jika kita mengetahui sebabnya”. Mari kita kaji kaji hadits-hadits berikut ini:

  1. Hadits riwayat Imam Bukhori

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ إِلَى الْمُصَلَّى فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ :»يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ  «.فَقُلْنَ وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: » تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ  « .قُلْنَ وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟قَالَ : » أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ؟ قُلْنَ: بَلَى. قَالَ: فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا، أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ « .قُلْنَ: بَلَى. قَالَ : » فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا « .

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudriy radhiyallahu anhu, ia berkata: “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar pada hari raya Idul Adha atau Idul Fitri menuju tempat shalat dan melalui sekelompok wanita. Beliau bersabda,’Wahai kaum wanita bersedekahlah, sesungguhnya aku telah diperlihatkan bahwa kalian adalah mayoritas penghuni neraka.’ Mereka bertanya,’Mengapa wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab,’Kalian banyak melaknat dan durhaka terhadap suami. Dan tidaklah aku menyaksikan orang yang memiliki kekurangan akal dan agama yang dapat menghilangkan akal kaum laki-laki yang setia daripada salah seorang diantara kalian. Mereka bertanya,’Apa yang dimaksud dengan kekurangan agama dan akal kami wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab,’Bukankah kesaksian seorang wanita sama dengan separuh dari kesaksian seorang pria?’ Mereka menjawab,’Benar.’ Beliau berkata lagi,’Bukankah apabila wanita mengalami haidh maka dia tidak melakukan shalat dan puasa?’ Mereka menjawab,’Benar.’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,’itulah(bukti) kekurangan agamanya.’ (HR. Bukhari)

  1. Di dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اطّلعت في الجنة فرأيت أكثر أهلها الفقراء ، واطلعت في النار فرأيت أكثر أهلها النساء

“Aku melihat ke dalam Surga maka akumelihat kebanyakan penduduknya adalah orang-orang fakir, dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya)

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَركَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari itu. Aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Ditanyakan kepada beliau, “Mengapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya lagi, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Maksud dari semua hadits diatas rasulullah memberikan rambu-rambu kepada golongan wanita untuk selalu menjaga diri dari kemaksiatan yang sering dilakukan wanita dan dapat menjerumuskan kedalam api neraka namun sebenarnya sangat mudah juga wanita untuk masuk surga sebagaimana yang akan dijelasakan.

Dari beberapa hadits yang diatas, kita dapat mengetahui beberapa sebab yang menjerumuskan kaum wanita ke dalam api neraka,Di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Banyak Melaknat

Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Kalian banyak melaknat”.Imam Nawawi menyebutkan bahwa para ulama telah bersepakat akan haramnya melaknat. Laknat dalam bahasa Arab artinya adalah menjauhkan. Sedangkan menurut syariat artinya adalah menjauhkan dari rahmat Allah dan kebaikan-Nya. Dan tidak diperbolehkan bagi seseorang menjauhkan orang-orang yang tidak diketahui keadaannya dan akhir perkaranya dengan pengetahuan yang pasti dari rahmat dan karunia Allah. Karena itu mereka mengatakan,’Tidak boleh melaknat seseorang yang secara dhahir adalah seorang muslim atau kafir kecuali terhadap orang yang telah kita ketahui menurut dalil syar’i bahwa dia mati dalam keadaan kafir seperti Abu Jahal atau iblis.

  1. Durhaka terhadap suami dan mengingkari kebaikan-kebaikannya

Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya”.Kedurhakaan semacam ini banyak sekali kita dapati dalam kehidupan keluarga kaum Muslimin, yakni seorang istri yang mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya selama sekian waktu yang panjang hanya disebabkan sikap atau perbuatan suami yang tidak cocok dengan kehendak sang istri. Padahal yang harus dilakukan oleh seorang istri ialah bersyukur atas kebaikan yang diberikan suaminya, janganlah ia mengkufurinya karena Allah tidak akan melihat kepada istri semacam ini.

Termasuk dalam bentuk kedurhakaan istri kepada suami adalah hal-hal berikut ini apabila dilakukan tanpa alasan yang dibenarkan syari’at: bermuka masam ketika melayaninya, tidak mau berdandan atau mempercantik diri untuk suaminya padahal suaminya menginginkan hal itu, menyebarkan aib suami kepada orang lain, menolak bersafar (melakukan perjalanan) bersama suaminya, mengkhianati suami dan hartanya, membuka dan menampakkan apa yang seharusnya ditutupi dari anggota tubuhnya, bersenda gurau atau berbicara lemah-lembut penuh mesra kepada lelaki yang bukan mahramnya,meminta cerai dari suaminya tanpa sebab yang syar’i, dan yang semisalnya.

  1. Tabarruj (bersolek)

Tabarruj termasuk dosa besar sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Adz Dzahabi rahimahullah di dalam kitab Al Kabair halaman 131 dan Ibnu Hajar AL Haitami dalam kitabnya (Az zawajir ‘anil iqtiraafil kabaair), dosa besar no. 108.

Devinisi tabarruj menurut Imam Ibnu Mandzur, dalam Lisaan al-’Arab menyatakan; “Wa al-tabarruj: idzhaar al-mar`ah ziinatahaa wa mahaasinahaa li al-rijaal (tabarruj adalah menampakkan perhiasan dan anggota tubuh untuk menarik perhatian laki-laki non mahram.” Di dalam kitab Zaad al-Masiir dinyatakan;“Tabarruj, menurut Abu ‘Ubaidah, adalah seorang wanita menampakkan kecantikannya. Sedangkan menurut al-Zujaj; tabarruj adalah menampakkan perhiasaan, dan semua hal yang bisa merangsang syahwat laki-laki… Sedangkan sifat-sifat tabarruj di jaman jahiliyyah ada enam pendapat; Pertama; seorang wanita yang keluar dari rumah dan berjalan diantara lelaki.  Pendapat seperti ini dipegang oleh Mujahid. Kedua, wanita yang berjalan berlenggak-lenggok dan penuh gaya dan genit.  Ini adalah pendapat Qatadah. Ketiga, wanita yang memakai wangian. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Abi Najih. Keempat, wanita yang mengenakan pakaian yang terbuat dari batu permata, kemudian ia memakainya, dan berjalan di tengah jalan.  Ini adalah pendapat al-Kalabiy. Kelima, wanita yang mengenakan kerudung namun tidak menutupnya, hingga anting-anting dan kalungnya terlihat…..”

Perbuatan yang termasuk Kategori Tabarruj

Banyak hadits yang melarang setiap perbuatan yang dikategorikan sebagai tabarruj; diantaranya adalah sebagai berikut;

  1. Mengenakan Pakaian Tipis dan Ketat

Wanita yang mengenakan pakaian tipis, atau memakai busana ketat dan merangsang termasuk dalam kategori tabarruj.

Nabi saw bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

 “Ada dua golongan manusia yang menjadi penghuni neraka, yang sebelumnya aku tidak pernah melihatnya; yakni, sekelompok orang yang memiliki cambuk seperti seekor sapi yang digunakan untuk menyakiti umat manusia; dan wanita yang membuka auratnyadan berpakaian tipis merangsang berlenggak-lenggok dan berlagak.  Mereka tidak akan dapat masuk surga dan mencium baunya.  Padahal, bau surga dapat tercium dari jarak sekian-sekian.” [HR. Imam Muslim]

Ketika mentafsirkan maksud “mutabarrijaat” yang terdapatdi dalam surat al-Nuur ayat 60, Imam Ibnu al-’Arabiy menyatakan; “Termasuk tabarruj, seorang wanita yang mengenakan pakaian tipis yang menampakkan warna kulitnya.  Inilah yang dimaksud dengan sabda Rasulullah saw yang terdapat di dalam hadits shahih, “Betapa banyak wanita-wanita yang telanjang, berpakaian tipis merangsang, dan berlenggak-lenggok.  Mereka tidak akan masuk ke dalam surga dan mencium baunya.”[HR. Imam Bukhari]. Ini disebabkan, jika pakaiannya nipis, yang boleh menampakkan dirinya, dan ini adalah haram.”

Ibnul ‘Abdil Barr rahimahullah mengomentari hadits diatas seraya berkata: “Wanita-wanita yang dimaksudkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam adalahyang memakai pakaian yang tipis yang membentuk tubuhnya dan tidak menutupinya, maka mereka adalah wanita-wanita yang berpakaian pada dhahirnya dan telanjang pada hakikatnya … .”(Dinukil oleh Suyuthi di dalam Tanwirul Hawalik 3/103 )

Di dalam Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawiy berkata, “Hadis ini termasuk salah satu mukjizat kenabian.  Sungguh, akan muncul kedua golongan itu.  Hadits ini membincangkan mengenai celaan kepada dua golongan tersebut…. Sedangkan ulama lain berpendapat, bahawa mereka adalah wanita-wanita yang menutup sebagian tubuhnya, dan menyingkap sebagian tubuhnya yang lain, untuk menampakkan kecantikannya atau kerana tujuan yang lain. ”Menggelung rambut hingga besar seperti bonggol unta, juga termasuk tindakan tabarruj yang diharamkan di dalam Islam.  Sayangnya, perbuatan menggelung rambut seperti telah membudaya di tengah-tengah masyarakat, dan mereka tidak menyadari bahawa hal itu termasuk perbuatan yang diharamkan oleh Allah swt.

  1. Mengenakan Parfum di Hadapan Lelaki yang bukan Mahram

Nabi saw bersabda,“Siapapun wanita yang memakai wangian kemudian melewati suatu kaum agar mereka mencium baunya, berarti ia telah berzina.”[HR. Imam al-Nasaaiy]

Imam Muslim juga meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Nabi saw bersabda;“Setiap wanita yang memakai wangian,  janganlah ia mengerjakan solat ‘Isya’ bersama kami.”[HR. Muslim]

“Siapa saja wanita yang mengenakan bakhur, janganlah dia menghadiri solat ‘Isya’ yang terakhir bersama kami.”[HR. Muslim]

Menurut Ibnu Abi Najih, wanita yang keluar rumah dengan memakai wangi-wangian termasuk dalam kategori tabarruj jahiliyyah. Oleh kerana itu, seorang wanita Mukminat dilarang keluar rumah atau berada di antara laki-laki dengan mengenakan wangian yang menyengat baunya. Adapun sifat wangian bagi wanita Mukminat adalah yang tidak ketara baunya. Ketentuan seperti ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw; “Ketahuilah, perfum lelaki adalah yang tercium baunya, dan tidak terlihat warnanya. Sedangkan perfume wanita adalah yang tampak warnanya dan tidak tercium baunya.”[HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud]

  1. Behias terhadap lelaki-lelaki asing (bukan mahram atau suaminya)

Seorang wanita diharamkan berhias untuk selain suaminya.Ini kerana, tindakan seperti ini termasuk dalam kategori tabarruj. Dalam sebuah hadits diriwayatkan, bahawa Nabi saw bersabda; “Seorang wanita dilarang berhias untuk selain suaminya.” [HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, dan al-Nasaaiy]

  1. Berdandan Berlebihan

Termasuk tabarruj adalah berdandan atau bersolek dengan tidak seperti biasanya. Misalnya, memakai bedak denggan tebal, eye shadow, lipstik dengan warna menjolok dan sebagainya. Sebab, tindakan-tindakan seperti ini termasuk dalam kategori tabarruj secara definitif. Imam Bukhari menyatakan, bahwa tabarruj adalah tindakan seorang wanita yang menampakkan kecantikannya kepada orang lain. ”Larangan tersebut juga telah disebutkan dalam al-Quran. Allah swt berfirman;

وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ ما يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِن

“Janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.”[Al-Nuur:31]

Ayat ini juga menunjukkan keharaman melakukan tabarruj. Sedangkan definisi tabarruj adalah idzhaar al-ziinah wa al-mahaasin li al-ajaanib (menampakkan perhiasan dan kecantikan kepada laki-laki yang bukan mahram).  Jika dinyatakan; seorang wanita telah bertabarruj, artinya, wanita itu telah menampakkan perhiasan dan kecantikannya kepada orang yang bukan mahramnya.  Atas dasar itu, setiap perbuatan mengenakan perhiasan atau menampakkan kecantikan yang akan mengundang pandangan kaum laki-laki termasuk dalam tindakan tabarruj yang dilarang.

Berdandan minor (dengan kadar sedikit), baik dengan lipstik, bedak, eye shadow, dan lain sebagainya dipandang merupakan tindakan tabarruj. Pasalnya, semua tindakan ini ditujukan untuk menampakkan kecantikan dirinya, kepada orang yang bukan mahram.

  1. Menghilangkan Tahi Lalat dan Meratakan Gigi

Wanita dan laki-laki juga dilarang menghilangkan tahi lalat dan meratakan giginya agar kelihatan lebih cantik. Dari Ibnu Umar ra diriwayatkan, bahwasanya Rasulullah saw mengutuk orang yang menyambung rambut dan orang yang disambung rambutnya, serta orang yang membuat tahi lalat dan orang yang minta dibuatkan tahi lalat.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Dalam riwayat lain dituturkan, bahwa Ibnu Mas’ud ra berkata;“Allah melaknat orang yang membuat tahi lalat, dan orang yang minta dibuatkan tahi lalat, orang yang menukur keningnya, dan orang yang memangur giginya (meratakan gigi dengan alat) dengan maksud untuk memperindah dengan mengubah ciptaan Allah”. Kemudian Ummu Ya’qub menegurnya,”Apa ini?” Ibnu Mas’ud ra berkata, “Mengapa saya tidak mengutuk orang yang dikutuk oleh Rasulullah saw; sedangkan di dalam kitab Allah, Allah swt berfirman, “Apapun yang disampaikan oleh Rasul kepadamu, laksanakanlah dan apa pun yang dilarangnya maka jauhilah”.[HR. Bukhari dan Muslim]

Sesungguhnya, perbuatan-perbuatan yang termasuk kategori tabarruj masih banyak, tidak hanya perbuatan-perbuatan yang telah dijelaskan di atas. Masih banyak perbuatan-perbuatan lain yang termasuk tabarruj.

Jalan ke surga memang tidaklah dihiasi dengan bunga-bunga nan indah, melainkan melalui rintangan-rintangan yang berat dan terjal. Tetapi ingatlah di ujung jalan ini Allah menjanjikan surga bagi orang-orang yang sabar menempuhnya.

Sementara, jalan menuju ke neraka penuh dengan keindahan yang menggoda dan setiap manusia sangat tertarik untuk melaluinya. Tetapi, sadarlah bahwa di ujung jalan ini, neraka telah menyambut dengan beragam siksa-Nya.

Lalu, bagaimana caranya agar para wanita atau para istri tidak terperosok ke dalam neraka? Jangan pesimis, masih banyak cara dan tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri jika  ingin menjadi penduduk surga.Rasulullah bersabda:

عَنْ عَبدُالرَّحْمَن بن العوفاَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَاِذَا صَلَّتِ الْمِرَأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَاوَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَاطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيْلَ لَهَاأُدْ خُلِى الْجَنَّةَ مِنْ اَيِّ اَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْت

ِDari Abdurrahman bin Auf r.a.bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jika perempuan mengerjakan solat yang lima ,puasa Ramadhannya , memelihara kehormatannyadan taat kepada suaminya maka akan dikatakan kepadanyamasuklah ke dalam syurga dari pintu yang mana saja engkau suka.

Mengacu dari hadist di atas, wanita mudah masuk surga jika melakukan empat hal:

  1. Menegakkan sholat dengan lebih khusu memperbayak sholat-sholat sunah karena sholat yang benar dan khusu’ bisa membentengi diri kita dari perbuatan yang munkar.

Ada sebuah kisah dari Imam adz-Dzahabi mengenai wanita yang meremehkan shalat, seorang dari kalangan salaf turut menguburkan saudara perempuannya yang meninggal. Tapi ia sadari sebuah kantong berisi harta yang ia bawa jatuh dan turut terkubur. Ia baru menyadari setelah sampai dirumah.Maka dengan terpaksa ia kembali kekuburan saudarinya, dan membongkar kuburannya untuk menemukan hartanya yang jatuh tadi. Namun ia sangat terkejut saat ia coba membongkar makam, terlihat api yang menyala-nyala dari dalam makam. Serta merta ia kembalikan lagi tanah galian, dan pulang sambil meneteskan air mata, ia bertanya kepada ibunya, ibunya lalu  bercerita semasa masih hidup saudarinya tadi suka melalaikan shalat.

  1. Melaksanakan puasa wajib dan membiasakan diri untuk terbiasa melakukan shaum sunah.

  1. Menjaga kemaluannya agar tidak terjerumus dalam perzinahan

  1. Taat kepada suaminya dan menghiasi diri dengan sabar dalam ketaatan dengan suami.Seorang istri juga harus berusaha untuk meraih ridho suaminya karena disitulah kunci surga sebagaiman yang disabdakan oleh Rasulullah:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّة

َ“Wanita mana saja yang meninggal dunia, kemudian suaminya merasa ridho terhadapnya, maka ia akan masuk surga”(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah; hasan menurut Tirmidzi).

Syaikh Prof. Dr. M. Mutawalli Asy Sya’rawi memberikan nasehat: Wanita, jika tidak ingin menjadi penghuni neraka, maka hendaklah ia mengingat kebaikan-kebaikan suaminya yang banyak, ketika suatu saat ia mendapatkan perlakuan tidak baik dari suaminya. Ia ridha dengan kesalahan suaminya tersebut, tetap bahagia dan tidak mengkufuri kebaikan-kebaikan suaminya. Jika bisa bersikap demikian, maka dia insya Allah akan menjadi penghuni surga.

Diriwayatkan dari Anas bin Malikradhiyallaahu ‘anhudari Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallambeliau bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الْجَنَّةِ؟قُلْنَا بَلَى يَا رَسُوْلَ الله كُلُّ وَدُوْدٍ وَلُوْدٍ، إِذَا غَضِبَتْ أَوْ أُسِيْءَ إِلَيْهَاأَوْ غَضِبَ زَوْجُهَا، قَالَتْ: هَذِهِ يَدِيْ فِي يَدِكَ، لاَ أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ حَتَّى تَرْضَى

“Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Merekamenjawab: “Tentu saja wahai Rasulullaah!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu,mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.”(HR. Ath Thabarani dalam Al Ausath dan Ash Shaghir)

Kesimpulan

Pelajaran yang bisa kita ambil adalah begitu mudahnya wanita masuk neraka jika dia suka mengumbar aurotnya,mengundang syahwat atau durhaka kepada suaminya namun sebaliknya wanita juga mudah sekali dapat masuk surga dengan menjaga kemuliaan dirinya, taat kepada suami.

Neraka akan terbuka lebar bagi laki-laki atau perempuan yang tidak mau mengikuti aturan syari’at dan surgapun terbuka lebar bagi laki-laki atau perempuan yang mau  patuh dan tunduk kepada aturan syari’at.

Wallahu A’lam bisshowab.

INILAH PENYEBAB KEBANYAKAN SUAMI MATI MENDAHULUI ISTERI

Kenapa (biasanya) Suami Mati Dulu?

ﺣﺪﻳﺚ «ﻳﺄﺗﻲ ﻋﻠﻰ اﻟﻨﺎﺱ ﺯﻣﺎﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻫﻼﻙ اﻟﺮﺟﻞ ﻋﻠﻰ ﻳﺪ ﺯﻭﺟﺘﻪ ﻭﺃﺑﻮﻳﻪ ﻭﻭﻟﺪﻩ ﻳﻌﻴﺮﻭﻧﻪ ﺑﺎﻟﻔﻘﺮ ﻭﻳﻜﻠﻔﻮﻧﻪ ﻣﺎ ﻻ ﻳﻄﻴﻖ ﻓﻴﺪﺧﻞ اﻟﻤﺪاﺧﻞ اﻟﺘﻲ ﻳﺬﻫﺐ ﻓﻴﻬﺎ ﺩﻳﻨﻪ ﻓﻴﻬﻠﻚ»

Hadis: “Akan datang suatu masa, kematian seoang laki-laki berada di tangan istrinya, kedua orang tuanya dan anaknya. Mereka mencelanya dengan kemiskinan dan memaksanya bekerja di luar kemampuannya. Akhirnya ia masuki banyak pekerjaan untuk melunasi hutangnya. (Karena tenaga terforsir) maka ia mati”

ﺃﺧﺮﺟﻪ اﻟﺨﻄﺎﺑﻲ ﻓﻲ اﻟﻌﺰﻟﺔ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ اﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﻧﺤﻮﻩ ﻭﻟﻠﺒﻴﻬﻘﻲ ﻗﻲ اﻟﺰﻫﺪ ﻧﺤﻮﻩ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻭﻛﻼﻫﻤﺎ ﺿﻌﻴﻒ.

HR al-Khattabi dalam al-Uzlah dari hadis Ibnu Mas’ud. Dan al-Baihaqi dalam az-Zuhd dari hadis Abu Hurairah. Keduanya dlaif.

– Takhrij Ahadits Ihya’, al-Hafidz al-Iraqi

HADITS PUASA ROJAB TIDAKLAH PALSU TETAPI DLO’IF

Sungguh bulan Rajab ialah bulan penuh keistimewaan, bulan penuh hikmah dan bulan yang mulya, maka dari itu para Ulama menganjurkan untuk puasa dibulan ini.

Dalam kitab nuzhatulmajalis halaman 143 ada disebutkan :

وقال الشيخ عز الدين بن عبد السلام رضي الله عنه من نهى عن صوم رجب فهو جاهل والمنقول استحباب صيام الأشهر الحرم وهي رجب وذو القعدة وذو الحجة والمحرم

Syeh Izzuddin bin Abdis salaam -semoga Allah meridhoinya – berkata :

” Barang siapa melarang (orang lain) dari berpuasa di bulan Rajab maka berarti dia orang BODOH, yang ternukil dari Nabi adalah anjuran berpuasa pada bulan2 haram, yaitu bulan Rajab, dzul qo’dah, dzul hijjah dan muharram “

Bulan Rajab adalah salah bulan Haram (suci) sebagaimana Firman Allah Ta’ala terkait dengannya:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

(سورة التوبة: 36)

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.”

(QS. At-Taubah: 36)

Bulan-bulan Haram yang empat itu adalah Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharram.

Diriwayatkan oleh Bukhari, 4662 dan Muslim, 1679 dari Abu Bakrah radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا , مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ , ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ : ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ , وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Setahun itu ada dua belas bulan, diantaranya (ada) empat bulan Haram, tiga (bulan) berurutan, Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharam serta Rajab Mudhar yang terdapat di antara (bulan) Jumadi Tsani dan Sya’ban.”

Rasululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabada:

صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ

“Berpuasalah di (bulan-bulan) Haram dan tinggalkanlah.”

(HR. Abu Daud )

Dalam kitab syarah nawawi ala muslim juz 3 halaman 38 Imam Nawawi menulis :

(سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رجب فقال سمعت بن عَبَّاسٍ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ) الظَّاهِرُ أَنَّ مُرَادَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ بِهَذَا الِاسْتِدْلَالِ أَنَّهُ لَا نَهْيَ عَنْهُ وَلَا نَدْبَ فِيهِ لِعَيْنِهِ بَلْ لَهُ حُكْمُ بَاقِي الشُّهُورِ وَلَمْ يَثْبُتْ فِي صَوْمِ رَجَبٍ نَهْيٌ وَلَا نَدْبٌ لِعَيْنِهِ وَلَكِنَّ أَصْلَ الصَّوْمِ مَنْدُوبٌ إِلَيْهِ وَفِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَدَبَ إِلَى الصَّوْمِ مِنَ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ وَرَجَبٌ أَحَدُهَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Aku bertanya kepada said bin jubair tentangg puasa Rajab kemudian beliau berkata :

” Aku mendengar ibnu abbas berkata : adalah Rasululloh shallallahu alaihi wasallam dulu berpuasa hingga kami berkata beliau tidak pernah berbuka, dan beliau berbuka hingga kami berkata beliau tdk berpuasa “

Dhohir hadis ini bahwa maksud said bin jubair beristidlal dengan hadis ini bahwa puasa bulan rajab tidaklah terlarang dan tidak sunah ain tetapi hukumnya sama dengan puasa pada bulan-bulan lainnya,

Tidak ada hadis tsabit yg melarang puasa rojab tdk pula mensunahkan ain puasa rojab, akan tetapi hukum asal puasa adalah sunnah, dalam sunan abu dawud sesungguhnya Rasululloh shollallohu alaihi wasallam mensunnahkan puasa di bulan-bulan haram , dan rajab adalah salah satunya.

Dalam kitab latoiful ma’arif Ibnu Rojab halaman 213 menuliskan :

قد كان بعض السلف يصوم الأشهر الحرم كلها منهم ابن عمر و الحسن البصري و أبو اسحاق السبيعي و قال الثوري : الأشهر الحرم أحب إلي أن أصوم فيها

Dulu sebagian ulama salaf melakukan puasa di semua bulan haram, di antaranya: Ibnu Umar, Hasan Al-Bashri, dan Abu Ishaq As-Subai’i.

Imam Ats-Tsauri mengatakan, “Bulan-bulan haram, lebih aku cintai untuk dijadikan waktu berpuasa.”

Berikut tanya jawab tentang hadits yang menjelaskan keutamaan Puasa Rajab dalam Kitab al Hawi lil fatwa imam Suyuti juz 1 halaman 339

مسألة – في حديث أنس قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن في الجنة نهرا

يقال له رجب ماؤه أبيض من اللبن وأحلى من العسل من صام يوما من رجب سقاه الله من ذلك

النهر، وحديث أنس قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من صام من شهر حرام الخميس والجمعة

والسبت كتب له عبادة سبعمائة سنة، وحديث ابن عباس قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

من صام من رجب يوما كان كصيام شهر ومن صام منه سبعة أيام غلقت عنه أبواب الجحيم السبعة

ومن صام منه ثمانية أيام فتحت له أبواب الجنة الثمانية ومن صام منه عشرة أيام بدلت

سيئاته حسنات هل هذه الأحاديث موضوعة .

PERTANYAAN :

Dalam hadisnya Anas, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda :

” Sesungguhnya di syurga terdapat sungai yg namanya Rajab….dst”

Hadisnya Anas, Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :

” Barang siapa berpuasa dibulan haram pada hari kamis, jum’at dan sabtu…dst”

Hadisnya Ibnu abbas, Rasulullloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :

“Barang siapa berpuasa di bulan rajab sehari maka seperti puasa sebulan….dst “

Apakah hadis-hadits tersebut PALSU ?

الجواب – ليست هذه

الأحاديث بموضوعة بل هي من قسم الضعيف الذي تجوز روايته في الفضائل, أما الحديث

الأول فأخرجه أبو الشيخ ابن حيان في كتاب الصيام, والأصبهاني, وابن شاهين – كلاهما

في الترغيب – والبيهقي, وغيرهم قال الحافظ ابن حجر: ليس في اسناده من ينظر في حاله

سوى منصور بن زائدة الأسدي وقد روي عنه جماعة لكن لم أر فيه تعديلا, وقد ذكره

الذهبي في الميزان وضعفه بهذا الحديث. واما الحديث الثاني فأخرجه الطبراني, وأبو

نعيم, وغيرهما من طرق بعضها بلفظ عبادة سنتين, قال ابن حجر: وهو أشبه ومخرجه أحسن

وإسناد الحديث أمثل من الضعيف قريب من الحسن. أما الحديث الثالث فأخرجه البيهقى في

فضائل الأوقات وغيره وله طرق وشواهد ضعيفة لا تثبت إلا أنه يرتقي عن كونه موضوعا.

الحاوي الفتاوى

للسيوطي 1/339

JAWAB :

Hadis-hadits tersebut TIDAKLAH PALSU, tapi termasuk hadis dhoif yangg BOLEH di riwayatkan karena FADHILAH AMAL, adapun hadis pertama di keluarkan oleh abus syaikh ibnu hayan dalam kitabus shiyam, al asbihani dan ibnu syahin dalam kitab at targhib, al baihaqi dan juga selain mereka.

Al hafidz Ibnu Hajar berkata :

” Dalam sanadnya tidak ada orang yg perlu di pertimbangkan dalam keadaannya kecuali manshur bin zaidah al asdi, segolongan ulama’ meriwayatkan darinya tetapi aku tdk melihat sifat adil di dalamnya.

Adz Dzihabi dalam kitab mizan menyebutkan dan mendhoifkan hadis ini.”

Adapun hadis kedua dikeluarkan oleh at tabrani, abu nu’aim dan selain keduanya dari banyak jalan, sebagian riwayat menggunakan lafadz “ibadah dua tahun “

Ibnu hajar berkata :

” Ini yang lebih serupa dan takhrijnya bagus, sanad hadisnya serupa dengam dhoif mendekati hasan “

Sedangkan hadis ketiga di keluarkan oleh al Baihaqy dalam fadhoilul auqot dan juga oleh selain al Baihaqy, hadis ini mempunyai banyak jalan hadis-hadits penguat yang dhoif, tetapi status hadisnya naik dari keadaan palsu.

HIKMAH DAN HUKUM AL FATIHAH SELALU DI BACA DALAM SEMUA DO’A

Pertanyaan:

Sebagian besar umat Islam Indonesia sering melakukan doa dengan bacaan al-Fatihah, apakah terkait pembukaan acara, mengirim doa untuk para almarhum, ziarah kubur dan sebagainya.

Adakah dasar pembacaan al-Fatihah dalam do’a?

Jawaban:

Al-Quran menyebutkan bahwa ada 7 ayat yang diulang-ulang (as-Sab’u al-Matsani. QS al-Hijr: 87), para ahli tafsir sepakat bahwa yang dimaksud 7 ayat tersebut adalah surat al-Fatihah.

Dalam riwayat Bukhari (2276) dan Muslim (5863) Abu Said al-Khudri yang dimintai tolong oleh sekelompok suku yang pimpinannya sakit karena tersengat hewan. Abu Said mengobatinya dengan doa al-Fatihah. Inilah riwayat tersebut:

عَنْ أَبِى سَعِيْدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ كَانُوْا فى سَفَرٍ فَمَرُّوْا بِحَىٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوْهُمْ فَلَمْ يُضِيْفُوْهُمْ فَقَالُوْا لَهُمْ هَلْ فِيْكُمْ رَاقٍ فَإِنَّ سَيِّدَ الْحَىِّ لَدِيْغٌ أَوْ مُصَابٌ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ نَعَمْ فَأَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ الرَّجُلُ فَأُعْطِىَ قَطِيْعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهَا وَقَالَ حَتَّى أَذْكُرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ فَأَتَى النَّبِىَّ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَاللهِ مَا رَقَيْتُ إِلاَّ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَتَبَسَّمَ وَقَالَ وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ثُمَّ قَالَ خُذُوْا مِنْهُمْ وَاضْرِبُوْا لِى بِسَهْمٍ مَعَكُمْ (رواه مسلم رقم 5863 والبخاري رقم 5736)

“Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri bahwa beberapa sahabat Rasulullah Saw berada dalam perjalanan lalu melewati salah satu suku Arab. Mereka bertamu namun tidak disuguhi apapun. Penduduk suku bertanya: Apakah diantara kalian ada yang bias mengobati (ruqyah)? Sebab kepala suku kami terkena bias atau musibah. Salah seorang sahabat menjawab: Ya. Kemudian ia mendatanginya dan mengobatinya (ruqyah) dengan surat al-Fatihah. Pemimpin tersebut sembuh dan memberikannya bagian dari kambing, namun ia (sahabat) menolaknya, dan ia berkata: Saya akan menyampaikannya dahulu kepada Nabi Saw. Ia pun mendatangi Nabi Saw dan menceritakan kisah diatas kepada Nabi. Ia berkata: Wahai Rasulullah, Demi Allah. Saya hanya melakukan ruqyah dengan surat al-Fatihah. Rasulullah Saw tersenyum dan berkata: Darimana kamu tahu bahwa al-Fatihah adalah ruqyah? Nabi Saw bersabda: Ambillah (kambing) dari mereka. Dan berilah saya bagian bersama kalian” (HR Muslim No 5863 dan al-Bukhari No 5736)

Imam Nawawi menganjurkan membaca al-Fatihah di dekat orang yang sakit dengan beristinbath pada hadis diatas:

(فَصْلٌ فِيْمَا يُقْرَأُ عِنْدَ الْمَرِيْضِ يُسْتَحَبُّ أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَ الْمَرِيْضِ بِالْفَاتِحَةِ لِقَوْلِهِ فِي الْحَدِيْثِ الصَّحِيْحِ فِيْهَا وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ؟ (التبيان في آداب حملة القرآن للشيخ النووي 1 / 183)

“Dianjurkan membaca al-Fatihah di dekat orang yang sakit, berdasarkan sabda Rasulullah Saw dalam hadis sahih tentang al-Fatihah: Darimana kamu tahu bahwa al-Fatihah adalah ruqyah?” (al-Tibyan fi Adabi Hamalat al-Quran I/183)

Begitu pula ahli tafsir, Fakhruddin al-Razi, berwasiat agar dibacakan al-Fatihah khususnya untuk salah satu putranya yang telah wafat:

وَأَنَا أُوْصِي مَنْ طَالَعَ كِتَابِي وَاسْتَفَادَ مَا فِيْهِ مِنَ الْفَوَائِدِ النَّفِيْسَةِ الْعَالِيَةِ أَنْ يَخُصَّ وَلَدِي وَيَخُصَّنِي بِقِرَاءَةِ اْلفَاتِحَةِ وَيَدْعُوَ لِمَنْ قَدْ مَاتَ فِي غُرْبَةٍ بَعِيْداً عَنِ اْلإِخْوَانِ وَاْلأَبِ وَاْلأُمِّ بِالرَّحْمَةِ وَالْمَغْفِرَةِ فَإِنِّي كُنْتُ أَيْضاً كَثِيْرَ الدُّعَاءِ لِمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فِي حَقِّي وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً آمِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (تفسير

الرازي الكبير مفاتيح الغيب لفخر الدين الرازي 18 / 183)

“(Al-Razi berkata) Saya berwasiat kepada pembaca kitab saya dan yang mempelajarinya agar secara khusus membacakan al-Fatihah untuk anak saya dan diri saya, serta mendoakan orang-orang yang meninggal nan jauh dari teman dan keluarga dengan doa rahmat dan ampunan. Dan saya sendiri akan mendoakan mereka yang telah berdoa untuk saya” (Tafsir al-Razi 18/233-234)

Bahkan Ibnu Taimiyah, ulama yang menjadi panutan kelompok anti tahlil, senantiasa mengulang-ulang bacaan al-Fatihah lebih banyak dari kaum Nahdliyin, hal ini disampaikan oleh muridnya sendiri, Umar bin Ali al-Bazzar, yang menulis biografi Ibnu Taimiyah:

وَكُنْتُ اَسْمَعُ مَا يَتْلُوْ وَمَا يَذْكُرُ حِيْنَئِذٍ فَرَأَيْتُهُ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ وَيُكَرِّرُهَا وَيَقْطَعُ ذَلِكَ الْوَقْتَ كُلَّهُ – أَعْنِي مِنَ الْفَجْرِ اِلَى ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ – فِي تَكْرِيْرِ تِلاَوَتِهَا (الأعلام العالية في مناقب ابن تيمية لعمر بن علي البزار 38)

“Saya mendengar apa yang dibaca dan yang dijadikan dzikir oleh Ibnu Taimiyah. Saya melihatnya membaca al-Fatihah, mengulang-ulanginya dan ia menghabiskan seluruh waktunya –yakni mulai salat Subuh sampai naiknya matahari– untuk mengulang-ulang bacaan al-Fatihah”

(al-A’lam al-‘Aliyah 38)

HUKUM ISBAL KAITANYA DENGAN PAHALA DALAM ISLAM

Berdasarkan pengertian dari Hadis, Isbal adalah memanjangkan pakaian (sarung/celana) di bawah mata kaki hingga menyentuh tanah. Hadis-hadisnya sangat banyak sekali, diantaranya:

ثَلاَثٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ الْمُسْبِلُ إِزَارَهُ وَالْمَنَّانُ الَّذِى لاَ يُعْطِى شَيْئًا إِلاَّ مِنَّةً وَالْمُنْفِقُ سِلْعَتَهُ باِلْحَلَفِ الْكَاذِبِ (رواه مسلم رقم 106)

“Ada 3 orang yang tidak akan dilihat oleh Allah di hari kiamat dan tidak dibersihkan oleh Allah, serta mereka mendapat adzab yang pedih yaitu orang yang melakukan Isbal (memanjangkan pakaiannya), orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya dan orang yang bersumpah palsu atas dagangannya” (HR Muslim No 106). Dan hadis:

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِى النَّارِ (رواه البخاري رقم 5787)

“Pakaian yang dibawah mata kaki maka ada di neraka” (HR Bukhari No 5787)

Namun hadis-hadis diatas masih umum, dan terdapat sekian banyak hadis yang mentakhsis (membatasi) keumumannya. Diantaranya:

لاَ يَنْظُرُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا (رواه البخاري رقم 5451 ) لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ (رواه مسلم رقم 2085)

“Allah tidak akan melihat seseorang di hari kiamat yang memanjangkan pakaiannya (Isbal) secara sombong” (HR Bukhari No 5451 dan Muslim No 2085).

Ketika Rasulullah bersabda demikian, kemudian Abu Bakar bertanya:

فَقَالَ أَبُوْ بَكْرٍ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلاَّ أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ g إِنَّكَ لَنْ تَصْنَعَ ذَلِكَ خُيَلاَءَ (رواه البخاري رقم 3465)

“Sesungguhnya salah satu sisi pakaian saya memanjang ke bawah kecuali kalau saya menjaganya? Rasulullah saw menjawab: “Kamu melakukan itu tidak karena sombong” (HR Bukhari No 3465).

Artinya Rasulullah memberi keringanan bahwa jika Isbal dilakukan tidak bertujuan sombong adalah diperbolehkan. Dengan demikian hukumnya Isbal tidak haram dan faktor keharamannya adalah “Sombong”. Maka mengangkat pakaian diatas mata kaki adalah sunah, bukan wajib. Penjelasan ini diulas oleh Imam Nawawi dalam Syarah Muslim 1/128.

KEISTIMEWAAN DUA SAHABAT NABI SAW. SAYYIDINA UTSMAN DAN ALI RA.

Keutamaan sayyidina Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu

فضل عثمان بن عفان رضي الله عنه

حَدَّثَنَا أَبُو مَرْوَانَ مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الْعُثْمَانِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي عُثْمَانُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكُلِّ نَبِيٍّ رَفِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَرَفِيقِي فِيهَا عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ

   Telah menceritakan kepada kami Abu Marwan Muhammad bin Utsman Al Utsmani berkata, telah menceritakan kepada kami bapakku Utsman bin Khalid dari Abdurrahman bin Abu Zinad dari Bapaknya dari Al A’raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap Nabi memiliki teman karib di surga, dan teman karibku di surga adalah Utsman bin ‘Affan.”

حَدَّثَنَا أَبُو مَرْوَانَ مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الْعُثْمَانِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي عُثْمَانُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقِيَ عُثْمَانَ عِنْدَ بَابِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ يَا عُثْمَانُ هَذَا جِبْرِيلُ أَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ قَدْ زَوَّجَكَ أُمَّ كُلْثُومٍ بِمِثْلِ صَدَاقِ رُقَيَّةَ عَلَى مِثْلِ صُحْبَتِهَا

   Telah menceritakan kepada kami Abu Marwan Muhammad bin Utsman Al Utsmani berkata, telah menceritakan kepada kami Utsman bin Khalid dari Abdurrahman bin Abu Zinad dari Bapaknya dari Al A’raj dari Abu Hurairah berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertemu Utsman di depan pintu masjid, kemudian beliau bersabda: “Wahai Utsman, ini adalah Jibril, dia mengabarkan kepadaku bahwa Allah telah menikahkanmu dengan Ummu Kultsum dengan mahar seperti yang diberikan kepada Ruqayyah dan sebagaimana kamu hidup bersamanya.”

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ

ذَكَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِتْنَةً فَقَرَّبَهَا فَمَرَّ رَجُلٌ مُقَنَّعٌ رَأْسُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا يَوْمَئِذٍ عَلَى الْهُدَى فَوَثَبْتُ فَأَخَذْتُ بِضَبْعَيْ عُثْمَانَ ثُمَّ اسْتَقْبَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ هَذَا قَالَ هَذَا

   Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris dari Hisyam bin Hassan dari Muhammad bin Sirin dari Ka’ab bin Ujrah ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan fitnah dan mengisyaratkan semakin dekat kedatangannya. Lalu lewatlah seorang lelaki yang memakai caping, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Orang ini suatu hari nanti akan berada di atas petunjuk.” Maka aku melompat dan menarik kedua lengan Utsman dan kembali menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata; “Orang ini! ” beliau bersabda: “Orang ini.”

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْفَرَجُ بْنُ فَضَالَةَ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ الدِّمَشْقِيِّ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عُثْمَانُ إِنْ وَلَّاكَ اللَّهُ هَذَا الْأَمْرَ يَوْمًا فَأَرَادَكَ الْمُنَافِقُونَ أَنْ تَخْلَعَ قَمِيصَكَ الَّذِي قَمَّصَكَ اللَّهُ فَلَا تَخْلَعْهُ يَقُولُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

قَالَ النُّعْمَانُ فَقُلْتُ لِعَائِشَةَ مَا مَنَعَكِ أَنْ تُعْلِمِي النَّاسَ بِهَذَا قَالَتْ أُنْسِيتُهُ

 

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah berkata, telah menceritakan kepada kami Al Faraj bin Fadlalah dari Rabi’ah bin Yazid Ad Dimasyqi dari An Nu’man bin Basyir dari Aisyah ia menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Utsman, jika pada suatu hari nanti Allah menguasakanmu atas perkara ini, lalu orang-orang munafik ingin agar engkau melepaskan jubah yang Allah telah memakaikannya untukmu, maka janganlah engkau lakukan.” Beliau ulangi hal itu hingga tiga kali.” An Nu’man berkata; Aku bertanya kepada Aisyah; “Apa yang menyebabkanmu tidak memberitahukan kepada orang-orang seputar masalah ini?” Aisyah berkata; “Aku dijadikan lupa kepadanya.”

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَعَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ وَدِدْتُ أَنَّ عِنْدِي بَعْضَ أَصْحَابِي قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا نَدْعُو لَكَ أَبَا بَكْرٍ فَسَكَتَ قُلْنَا أَلَا نَدْعُو لَكَ عُمَرَ فَسَكَتَ قُلْنَا أَلَا نَدْعُو لَكَ عُثْمَانَ قَالَ نَعَمْ فَجَاءَ فَخَلَا بِهِ فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكَلِّمُهُ وَوَجْهُ عُثْمَانَ يَتَغَيَّرُ

قَالَ قَيْسٌ فَحَدَّثَنِي أَبُو سَهْلَةَ مَوْلَى عُثْمَانَ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ قَالَ يَوْمَ الدَّارِ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَهِدَ إِلَيَّ عَهْدًا فَأَنَا صَائِرٌ إِلَيْهِ وَقَالَ عَلِيٌّ فِي حَدِيثِهِ وَأَنَا صَابِرٌ عَلَيْهِ قَالَ قَيْسٌ فَكَانُوا يُرَوْنَهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ

 

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair dan Ali bin Muhammad keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Waki’ berkata, telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Abu Khalid dari Qais bin Abu Hazim dari Aisyah ia menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda diwaktu sakitnya: “Ingin rasanya jika sebagian sahabatku ada di sisiku.” Kami lalu bertanya; “Ya Rasulullah, apakah perlu kami memanggil Abu Bakar untukmu?” Beliau terdiam. Kami bertanya lagi; “Apakah perlu kami memanggil Umar untukmu?” Beliau masih terdiam. Kami lalu bertanya lagi; “Apakah perlu kami memanggil Utsman untukmu?” Beliau menjawab: “Ya.” Lalu Utsman pun datang dan menyendiri dengannya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara kepadanya, hingga wajah Utsman berubah.” Qais berkata; “Telah menceritakan kepadaku Abu Sahlah mantan budak Utsman, Utsman bin ‘Affan berkata di hari pengepungan rumahnya; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjanjikan kepadaku sebuah janji dan aku akan tetap memegang janji itu.” Dan Ali menyebutkan dalam haditsnya; “Aku akan bersabar di atasnya”. Qais berkata; “Maka mereka membunuhnya pada hari itu.”

 

Keutamaan sayyidina Ali bin Ali Thalib radhiallahu ‘anhu

فضل علي بن أبي طالب رضي الله عنه

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ وعَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ

عَهِدَ إِلَيَّ النَّبِيُّ الْأُمِّيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ لَا يُحِبُّنِي إِلَّا مُؤْمِنٌ وَلَا يُبْغِضُنِي إِلَّا مُنَافِقٌ

   Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Waki’ dan Abu Mu’awiyah dan Abdullah bin Numair dari Al A’masy dari Adi bin Tsabit dari Zirri bin Hubaisy dari Ali radliallahu ‘anhu ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, al ummi (seorang yang buta aksara) memberikan janji kepadaku, bahwasanya tidak akan mencintaiku kecuali orang beriman dan tidak akan membenciku kecuali orang munafik.”

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ قَالَ سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لِعَلِيٍّ أَلَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى

   Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sa’d bin Ibrahim ia berkata; aku mendengar Ibrahim bin Sa’id bin Abu Waqqash menceritakan dari Bapaknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda kepada Ali: “Apakah kamu tidak ridla, jika kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa.”

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ أَخْبَرَنِي حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدِ بْنِ جُدْعَانَ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ

أَقْبَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّتِهِ الَّتِي حَجَّ فَنَزَلَ فِي بَعْضِ الطَّرِيقِ فَأَمَرَ الصَّلَاةَ جَامِعَةً فَأَخَذَ بِيَدِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ أَلَسْتُ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ قَالُوا بَلَى قَالَ أَلَسْتُ أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ قَالُوا بَلَى قَالَ فَهَذَا وَلِيُّ مَنْ أَنَا مَوْلَاهُ اللَّهُمَّ وَالِ مَنْ وَالَاهُ اللَّهُمَّ عَادِ مَنْ عَادَاهُ

   Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Abul Husain berkata, telah mengabarkan kepadaku Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid bin Jud’an dari Adi bin Tsabit dari Barra` bin ‘Azib ia menuturkan, “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat haji diwaktu beliau melakukan haji. Lalu beliau singgah di tengah perjalanan, beliau lalu memerintahkan shalat berjama’ah. Kemudian beliau memegang tangan Ali radliallahu ‘anhu dan bersabda: “Bukankah aku lebih utama bagi kaum mukmin dari pada jiwa-jiwa mereka?” Para sahabat menjawab; “Benar.” Beliau melanjutkan kembali: “Bukankah aku lebih utama bagi seorang mukmin dari pada dirinya? Mereka menjawab; “Benar”. Beliau bersabda: “Maka ini (Ali) merupakan wali bagi orang yang menjadikan aku sebagai walinya. Ya Allah, tolonglah orang yang mencintainya. Ya Allah, musuhilah orang yang memusuhinya.”

 

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي لَيْلَى حَدَّثَنَا الْحَكَمُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ

كَانَ أَبُو لَيْلَى يَسْمُرُ مَعَ عَلِيٍّ فَكَانَ يَلْبَسُ ثِيَابَ الصَّيْفِ فِي الشِّتَاءِ وَثِيَابَ الشِّتَاءِ فِي الصَّيْفِ فَقُلْنَا لَوْ سَأَلْتَهُ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ إِلَيَّ وَأَنَا أَرْمَدُ الْعَيْنِ يَوْمَ خَيْبَرَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَرْمَدُ الْعَيْنِ فَتَفَلَ فِي عَيْنِي ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ أَذْهِبْ عَنْهُ الْحَرَّ وَالْبَرْدَ قَالَ فَمَا وَجَدْتُ حَرًّا وَلَا بَرْدًا بَعْدَ يَوْمِئِذٍ وَقَالَ لَأَبْعَثَنَّ رَجُلًا يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ لَيْسَ بِفَرَّارٍ فَتَشَرَّفَ لَهُ النَّاسُ فَبَعَثَ إِلَى عَلِيٍّ فَأَعْطَاهَا إِيَّاهُ

   Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Waki’ berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Laila berkata, telah menceritakan kepada kami Al Hakam dari Abdurrahman bin Abu Laila ia berkata; “Abu Laila berbincang-bincang dengan Ali. Dan Ali biasa memakai baju musim panas di saat musim dingin dan memakai baju musim dingin di saat musim panas. Maka kami bergumam; “Mari kita bertanya kepadanya.” Dia menjawab; “Pada saat perang Khaibar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusku, sementara aku sedang sakit mata. Aku berkata kepada Rasulullah; “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku sedang sakit mata. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun meniup mataku seraya berdoa: “Ya Allah, jauhkan darinya panas dan dingin.” Ali berkata; “Maka aku tidak mengalami panas dan juga dingin semenjak hari itu.” Dan beliau bersabda: “Sungguh, aku akan mengutus seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta bukan seorang yang penakut.” Maka orang-orang berdesakan untuk mendapatkannya namun Rasul mengutus serta memberikan bendera kepadanya.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُوسَى الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنَا الْمُعَلَّى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَأَبُوهُمَا خَيْرٌ مِنْهُمَا

   Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Musa Al Wasithi berkata, telah menceritakan kepada kami Al Mu’alla bin Abdurrahman berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hasan dan Husain adalah dua pemimpin para pemuda penghuni surga. Dan ayah keduanya lebih baik dari keduanya.”

 

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَسُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ وَإِسْمَعِيلُ بْنُ مُوسَى قَالُوا حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ حُبْشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ قَالَ

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَلِيٌّ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَلَا يُؤَدِّي عَنِّي إِلَّا عَلِيٌّ

   Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Suwaid bin Sa’id dan Isma’il bin Musa mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abu Ishaq dari Hubsyi bin Junadah ia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ali adalah bagian dariku dan aku adalah bagian dari Ali. Dan tidak ada yang menunaikan kewajibanku kecuali Ali.”

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَعِيلَ الرَّازِيُّ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى أَنْبَأَنَا الْعَلَاءُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ الْمِنْهَالِ عَنْ عَبَّادِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ

قَالَ عَلِيٌّ أَنَا عَبْدُ اللَّهِ وَأَخُو رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا الصِّدِّيقُ الْأَكْبَرُ لَا يَقُولُهَا بَعْدِي إِلَّا كَذَّابٌ صَلَّيْتُ قَبْلَ النَّاسِ بِسَبْعِ سِنِينَ

   Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma’il Ar Razi berkata, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Musa berkata, telah memberitakan kepada kami ‘Ala` bin Shalih dari Minhal dari ‘Abbad bin Abdullah ia berkata; Ali berkata; “Aku adalah hamba Allah dan saudara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan aku adalah Ash Shiddiq Al Akbar, tidak ada yang mengucapkannya setelahku kecuali seorang pendusta. Aku telah menegakkan shalat sebelum orang-orang, selama tujuh tahun.”

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ ابْنِ سَابِطٍ وَهُوَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ

قَدِمَ مُعَاوِيَةُ فِي بَعْضِ حَجَّاتِهِ فَدَخَلَ عَلَيْهِ سَعْدٌ فَذَكَرُوا عَلِيًّا فَنَالَ مِنْهُ فَغَضِبَ سَعْدٌ وَقَالَ تَقُولُ هَذَا لِرَجُلٍ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ الْيَوْمَ رَجُلًا يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

   Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah berkata, telah menceritakan kepada kami Musa bin Muslim dari Ibnu Sabith -yaitu Abdurrahman- dari Sa’d bin Abu Waqqash ia menuturkan; Mu’awiyah tiba dari sebagian pelaksanaan ibadah hajinya, lalu masuklah Sa’d menemuinya, mereka memperbincangkan Ali dan menggunjingnya. Maka marahlah Sa’d seraya berkata: “Kamu katakan ini kepada seorang lelaki yang aku sendiri mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menjadikan aku sebagai walinya, maka Ali (juga) walinya.” Dan aku mendengarnya bersabda: “Kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa. Hanya saja tidak ada Nabi setelahku.” Dan aku mendengarnya bersabda: “Sungguh aku akan memberikan bendera pada hari ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

 

Kitab Sunan Ibnu Majah.