PENJELASAN HADITS TENTANG THALAQ TIGA SEKALIGUS

At-Tirmidzi berkata : Menceritakan kepada Kami Hannad, menceritakan kepada kami Qobidloh, dari jarir Ibn Hazim, beliau berkata : Menceritakan kepadakuAz-Zubair ibn Sa’id Al-hasyimiy, dari ‘Abdullah Ibn ‘Aliy Ibn Rukanah, dari ayahnya, dari kakeknya, berkata : “Aku mentholak istriku dengan tholak tiga.” Lalu Aku mendatangi Rosulullah SAW. Aku berkata : “Ya Rosulallah, sesungguhnya aku mentholak istriku dengan tholak tiga.” Beliau bertanya : “Apa yang engkau inginkan dengan hal ini?” Aku menjawab : “tholak satu.” Beliau bertanya lagi : “Apakah karena Allah?” Aku jawab : “Karena Allah.” Nabi bersabda lagi : “Maka itulah keinginanmu.”

Berikut petikan dalam kitab Tanqih At-Tahqiq juz 4 Hal. 405-407 Bahwa hadits ini mempunyai dua jalur, yaitu :

A. JALUR PERTAMA RIWAYAT AT-TIRMIDZIY.

بما رواه الترمذيُّ، قال: حدَّثنا هنَّاد ثنا قَبيصة عن جرير بن حازم قال: حدَّثني الزبير بن سعيد الهاشميُّ عن عبد الله بن عليِّ بن ركانة عن أبيه عن جدِّه قال: طلَّقت امرأتي البتَّة، فأتيت النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فقلت: يا رسول الله، إنِّي طلَّقت امرأتي البتَّة، قال: ” ما أردت بهذا؟ “. قلت: واحدة.ز: رواه أحمد وأبو داود وابن ماجه من رواية جرير عن الزبير، وعندهم: عبد الله بن عليِّ بن يزيد بن ركانة. ورواه ابن حِبَّان.والزبير: تكلَّم فيه يحيى والنسائيُّ وغيرهما.وعبد الله: قال العُقيليُّ: لا يتابع على حديثه، إسناده مضطربٌ.وعليٌّ: قال البخاريُّ: لم يصح حديثُه.

NO. HADITS 2820 : At-Tirmidzi berkata : Menceritakan kepada Kami Hannad, menceritakan kepada kami Qobidloh, dari jarir Ibn Hazim, beliau berkata : Menceritakan kepadakuAz-Zubair ibn Sa’id Al-hasyimiy, dari ‘Abdullah Ibn ‘Aliy Ibn Rukanah, dari ayahnya, dari kakeknya, berkata : “Aku mentholak istriku dengan tholak tiga.” Lalu Aku mendatangi Rosulullah SAW. Aku berkata : “Ya Rosulallah, sesungguhnya aku mentholak istriku dengan tholak tiga.” Beliau bertanya : “Apa yang engkau inginkan dengan hal ini?” Aku menjawab : “tholak satu.” Beliau bertanya lagi : “Apakah karena Allah?” Aku jawab : “Karena Allah.” Nabi bersabda lagi : “Maka itulah keinginanmu.”

Hadits ini diriwayatkan dalam banyak kitab sunan. Diantaranya :

1. Imam Ahmad dalam Kitab Musnad-nya : juz 5 Hal. 459 No. Hadits : 7548)

2. Ibnu Majah dalam Sunan Ibni Majah : Juz 1 Hal. 661 No. hadits : 2051, dari riwayat Jarir, dari Zubair. Dan dalam riwayat ini terdapat ‘Abdullah Ibn ‘Aliy Ibn yazid Ibn Rukanah.

3. Ibnu hibban dalam kitab Al-Ihsan Li Ibn Hibban Juz 10 Hal. 97 No. Hadits : 4274.

Namun dalam beberapa literatur dibutkan beberapa point penting, yaitu :

1. Terkait perowi Az-Zubair, juga disinggung oleh Syaikh Yahya dalam kitab Tarikh (juz 4 hal. 134 No. Hadits : 3603, 4888) dan dengan riwayat Ibn Al-Junaid (hal. 307 No. Hadits : 142) dan dengan riwayat Ibn Thomha (hal. 106 No. hadits : 335)

2. Terkait perowi ‘Abdullah, al-‘Uqoiliy berkata : “haditsnya tidak dapat diikuti, sanadnya mutthorrib.” (lihat Ad-Dlu’afa’ Al-Kabir juz 2 hal 282 No. Hadits 837)3.

Terkait perowi ‘Aliy, Al-imam Al-Bukhorit berkata : “Haditsnya tidak sah.” (lihat At-tarikh Al-Kabir juz 6 hal. 301 No. Hadits 2468)

B. JALUR KEDUA RIWAYAT YANG LAIN

طريق آخر: قال الدَّارَقُطْنِيُّ: حدَّثنا محمَّد بن يحيى بن مرداس ثنا أبو داود السجستانيُّ ثنا أحمد بن عمرو بن السرح وأبو ثور إبراهيم ابن خالد الكلبيُّ في آخرين قالوا: ثنا محمَّد بن إدريس الشافعيُّ قال: حدَّثني عمِّي محمَّد بن عليِّ بن شافع عن عبد الله بن عليِّ بن السائب عن نافع بن عجير ابن عبد يزيد عن ركانة أنَّه طلَّق امرأته سُهيمة البتَّة، فأخبر النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بذلك، فقال: ” والله ما أردت إلا واحدة؟ “. فقال: والله ما أردت إلا واحدة. فردَّها إليه رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فطلَّقها الثانية في زمن عمر، والثالثة في زمن عثمان.قال أبو داود: هذا الحديث صحيحٌ.قلنا: قد قال أحمد: حديث ركانة ليس بشيءٍ.ز: قال أبو داود: سُئل أحمد عن حديث ركانة لا تثبته- أنه طلق امرأته البتَّة-؟ قال: لا، لأنَّ ابن إسحاق يرويه عن داود بن الحُصين عن عكرمة عن ابن عبَّاس أنَّ ركانة طلَّق امرأته ثلاثًا. وأهل المدينة يسمُّون الثلاث: البتَّة.وقال أحمد بن أصرم: سئل أبو عبد الله عن حديث ركانة في البتَّة، قال: ليس بشيءٍ. ذكره أبو بكر في ” الشافي “

NO. HADITS 2821 : Jalur yang lain terkait hadits ini. Al-Imam Ad-Daruquthniy berkata : Telah menceritakan kepadaku Muhammad Ibn yahya Ibn Mirdas, menceritakan kepada kami Abu daud As-Sajstaniy, menceritakan kepada kami Ahmad Ibn ‘Amr Ibn As-Saroh dan Abu Tsur Ibrohim Ibn Kholid Al-kalabiy dalam riwayat yang lain. Mereka berkata : Menceritakan kepada kami Muhammad Ibn Idris as-Syafi’I, beliau berkata : Telah menceritakan kepadaku pamanku yaitu Muhammad Ibn ‘Aliy Ibn Syafi’, dari ‘Abdillah Ibn ‘Aliy Ibn As-Sa’ib, dari Nafi’ Ibn ‘Ujair, dari Rukanah, bahwasanya ia mentholak istrinya Suhaimah dengan tholak tiga. Kemudian dia mengabarkan kepada Rosulullah perihal itu. Beliau bertanya kepada Rukanah : “Apakah demi Allah engaku tidak bermaksud kecuali dengan tholak satu?” Dia menjawab : “Demi Allah aku tidak bermaksud kecuali tholak satu.” Lalu Rosulullah mengembalikan Suhaimah (istri Rukanah) kepadanya. Dan kemudian Rukanah mentholaknya untuk yang kedua kalinya pada masa Sayyidina ‘Umar ra. Dan mentholak ketiga kalinya pada masa Sayyidina ‘Utsman ra.

Beberapa catatan peting tentang hadits ini yaitu :

1. Abu Daud mengomentari hadits ini sebagai hadits shohih (Lihat Sunan Ad-DaruQuthniy juz 4 hal. 33) Aku berkata (mushannif, yaitu Syaikh Syamsuddin Muhammad ibn Ahmad Ibn Abdil Hadi Al-hanbaliy, wafat tahun 744 H.) : “Hadits Rukanah ini tidak ada apa-apanya.”

2. Abu Daud berkata : Imam Ahmad ditanya tentang hadits Rukanah yang tidak ditetapkannya. Bahwa Rukanah telah mentholak istrinya dengan tholak tiga (menggunakan redaksi Al-battatah, bukan tsalatsan). Beliau menjawab : “Tidak, sebab Ibn Ishaq meriwayatkannya dari Daud Ibn Al-Hushoin, dari ‘Ikrimah, dari Ibn ‘Abbas, bahwa Rukanah mentholak istrinya dengan tholak tiga (disini menggunakan redaksi tslatsan, bukan al-battatah), sementara penduduk madinah mengistilahkan tholaq tiga (tsalatsan) dengan redaksi al-battatah.” (Lihat Masa’ilu Abi daud, hal. 236 No. Hadits : 1129)

3. Ahmad Ibn Ashrom berkata : “Abu ‘Abdillah ditanya tentang hadits Rukanah ini, beliau menjawab : “tidak ada apa-apanya”, demikian disinggung oleh Syaikh Abi Bakr dalam kitab As-Syafi.

Bila dalam kitab Tanqih at-Tahqiq dikatakan diriwayatkan dalam dua jalur, mungkin yang dimaksud adalah -wallahu a’lam- dua jalur hadits Abu Rukanah yang memakai redaksi ‘albattata’. Sebab hadits tentang Rukanah sendiri sebenarnya memiliki banyak jalur isnad dan juga banyak versi matan, sehingga imbasnya antara lain disebut sebagai hadits mudhtharrab. Berikut sekedar ditambahkan beberapa catatan selain yang telah disebutkan di atas.

TINJAUAN HADITS

Hadits riwayat Abu Dawud dengan redaksi thallaqtuhaa tsalatsan, selengkapnya adalah sebagai berikut:

Telah menceritakan kepada kami Ahmad ibn Shalih, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah mengkhabarkan kepadaku Ibnu Juraij, telah mengkhabarkan kepadaku sebagian orang Bani Abu Rafi’ hamba sahaya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dari Ikrimah hamba sahaya Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas berkata: Abdu Yazid -ayah dari Rukanah dan para saudaranya- menthalaq Ummu Rukanah, lalu menikahi wanita dari Muzainah. Lantas wanita Muzainah itu menghadap pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: Dia [Abu Rukanah] sudah tidak mampu lagi mencukupiku selain sekedar kemampuan satu helai rambut ini – dari rambut yang wanita itu cabut dari kepalanya, maka pisahkanlah aku darinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam murka setelahnya, lalu memanggil Rukanah dan para saudaranya, serta bertanya pada para sahabat yang duduk di sekelilingnya: Apakah kamu semua melihat anak ini serupa dengan Abu Yazid ayahnya, juga apakah anak yang ini serupa dengannya?. Mereka menjawab: Benar demikian. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata pada Abdu Yazid: Ceraikanlah wanita itu. Hal itu dilakukannya, lalu Nabi berkata lagi kepadanya: Rujuklah pada istrimu -Ibu dari Rukanah dan para saudaranya. Dia menjawab: Aku telah menthalaqnya tiga kali wahai Rasulullah. Nabi berkata: Aku sudah tahu, tetap kembalilah pada istrimu. Lalu Nabi membacakan ayat ‘Wahai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada [waktu mereka dapat menghadapi] iddahnya. (HR. Abu Dawud)

Hadits tentang Abu Rukanah tersebut sebenarnya memiliki banyak versi matan. Setidaknya ada tiga versi redaksi matan hadits itu:

Pertama, dengan menggunakan redaksi thallaqtuhaa tsalatsan (aku menthalaqnya tiga kali).

Kedua, dengan menggunakan redaksi thallaqa imra’atahu albattata (dia menthalaq sama sekali istrinya -sesuai terjemahan albattata dari kamus al-Munawwir).

Ketiga, dengan menggunakan redaksi thallaqa Abu Rukanah imra’atahu fi majlisin wahidin tsalatsan (Abu Rukanah menthalaq istrinya tiga kali di tempat yang sama).

Hadits pertama (redaksi tsalatsan), adalah hadits yang dicantumkan terjemahnya dari Abu Dawud di atas. Al-Hafidz al-Mundziri berkata, bahwa al-Hafidz al-Khaththabi berkata: Isnad hadits ini menjadi bahan pembicaraan, sebab Ibnu Juraij meriwayatkan secara majhul dari sebagian bani Abu Rafi’, hadits majhul tidak bisa dijadikan hujjah. Disebut juga bahwa Ahmad ibn Hanbal mendhaifkan seluruh rawi dari hadits ini. Abu Dawud setelah menuliskan hadits itu memberikan catatan tambahan jalur lain dari hadits Abu Rukanah dengan redaksi ‘albattata’ sebagai penguat sekaligus penjelas konteks dari hadits tersebut. Namun konsekuensinya, sebagaimana pada konteks hadits Ahmad, tsalatasan tersebut akan ditakwili sebagai albattata. Yakni, Abu Rukanah sebenarnya bukan berkata ‘aku menthalaqmu tiga kali’, melainkan ‘aku menthalaqmu albattata’ (ihtimal antara satu kali atau tiga kali).

Hadits kedua (redaksi albattata), telah diulas panjang lebar dalam Tanqih at-Tahqiq. Khilafiyah tentang status hadits ini cukup masyhur. Hadits dengan redaksi demikian diriwayatkan oleh Muhammad ibn Idris as-Syafi’i, Abu Dawud, Daraquthni, Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Hakim.Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan Hakim menshahihkan hadits ini.Ibnu Katsir berkata: Abu Dawud telah mendatangkan wajah dan jalur lain dari hadits ini, maka insya Allah haditsnya hasan.Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan bahwa jalur riwayat ini lebih baik dari jalur Abu Dawud dengan redaksi tsalatsan. Ibnu Hajar menggunakan hadits ini untuk mentafsiri (memadukan) hadits thalaq tsalatsan pada riwayat Ahmad, sebagaimana Abu Dawud juga melakukan hal serupa pada hadits thalaq tsalatsan yang diriwayatkan olehnya.Namun di sisi lain at-Tirmidzi menyebutkan, aku bertanya pada al-Bukhari tentang hadits ini lalu dijawab olehnya: hadits ini mudhtharrab.Ibnu Abdil Barr dalam kitab at-Tamhid berkata: para ulama banyak memperbincangkan kualitas hadits ini.Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ berkata: hadits ini dha’if, tidak hanya satu ulama yang mendhaifkan hadits ini.

Hadits ketiga (redaksi tsalatsan fi majlis wahid), diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengomentari bahwa hadits semacam ini tergolong nash sharih dalam masalah thalaq sekaligus tiga serta tidak membutuhkan takwil sebagaimana lafadz albattata. Imbasnya Mula Ali al-Qari menetapkan bahwa hadits ini munkar, dan yang lebih shahih adalah hadits thalaq yang menggunakan redaksi kata albattata.

Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar menuliskan empat bantahan atas hadits Ahmad tersebut, lalu dikuatkan olehnya bantahan ketiga bahwa hadits Ahmad ini sesungguhnya dilatarbelakangi oleh hadits Abu Dawud. Yakni perkataan thalaq tsalatsan merupakan tafsiran pribadi dari perawi dan lafadz aslinya dimungkinkan adalah thalaq albattata. Terjemahan bebas ‘albattata’ adalah ‘sama sekali’. Namun dalam kosakata Arab albattata merupakan kata yang ihtimal antara thalaq satu dan thalaq tiga. Pengucapan ‘aku menthalaqmu albattata’ bisa diartikan ‘aku menthalaqmu satu kali’ atau ‘aku menthalaqmu tiga kali’. Di sisi lain Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim berpegangan pada hadits Ahmad ini, lalu memfatwakan thalaq tiga jatuh satu yang akhirnya memicu kontroversi luar biasa di kalangan masyarakat muslim masa itu.

 :وعباراتنا

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِى بَعْضُ بَنِى أَبِى رَافِعٍ مَوْلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ عِكْرِمَةَ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ طَلَّقَ عَبْدُ يَزِيدَ – أَبُو رُكَانَةَ وَإِخْوَتِهِ – أُمَّ رُكَانَةَ وَنَكَحَ امْرَأَةً مِنْ مُزَيْنَةَ فَجَاءَتِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَتْ مَا يُغْنِى عَنِّى إِلاَّ كَمَا تُغْنِى هَذِهِ الشَّعْرَةُ. لِشَعْرَةٍ أَخَذَتْهَا مِنْ رَأْسِهَا فَفَرِّقْ بَيْنِى وَبَيْنَهُ فَأَخَذَتِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- حَمِيَّةٌ فَدَعَا بِرُكَانَةَ وَإِخْوَتِهِ ثُمَّ قَالَ لِجُلَسَائِهِ « أَتَرَوْنَ فُلاَنًا يُشْبِهُ مِنْهُ كَذَا وَكَذَا مِنْ عَبْدِ يَزِيدَ وَفُلاَنًا يُشْبِهُ مِنْهُ – كَذَا وَكَذَا ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- لِعَبْدِ يَزِيدَ « طَلِّقْهَا ». فَفَعَلَ ثُمَّ قَالَ « رَاجِعِ امْرَأَتَكَ أُمَّ رُكَانَةَ وَإِخْوَتِهِ ». فَقَالَ إِنِّى طَلَّقْتُهَا ثَلاَثًا يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « قَدْ عَلِمْتُ رَاجِعْهَا ». وَتَلاَ (يَا أَيُّهَا النَّبِىُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ ). قَالَ أَبُو دَاوُدَ وَحَدِيثُ نَافِعِ بْنِ عُجَيْرٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَلِىِّ بْنِ يَزِيدَ بْنِ رُكَانَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رُكَانَةَ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ الْبَتَّةَ فَرَدَّهَا إِلَيْهِ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- أَصَحُّ لأَنَّ وَلَدَ الرَّجُلِ وَأَهْلَهُ أَعْلَمُ بِهِ أَنَّ رُكَانَةَ إِنَّمَا طَلَّقَ امْرَأَتَهُ الْبَتَّةَ فَجَعَلَهَا النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَاحِدَةً. (رواه ابو داود)

وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : – طَلَّقَ أَبُو رُكَانَةَ أُمَّ رُكَانَةَ . فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ” رَاجِعِ امْرَأَتَكَ ” , فَقَالَ : إِنِّي طَلَّقْتُهَا ثَلَاثًا. قَالَ : ” قَدْ عَلِمْتُ , رَاجِعْهَا – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَوَفِي لَفْظٍ لِأَحْمَدَ : – طَلَّقَ أَبُو رُكَانَةَ اِمْرَأَتَهُ فِي مَجْلِسٍ وَاحِدٍ ثَلَاثًا , فَحَزِنَ عَلَيْهَا , فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ” فَإِنَّهَا وَاحِدَةٌ – وَفِي سَنَدِهَا اِبْنُ إِسْحَاقَ , وَفِيهِ مَقَالٌ .وَقَدْ رَوَى أَبُو دَاوُدَ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ أَحْسَنَ مِنْهُ : – أَنَّ رُكَانَةَ طَلَّقَ اِمْرَأَتَهُ سُهَيْمَةَ اَلْبَتَّةَ , فَقَالَ : “وَاَللَّهِ مَا أَرَدْتُ بِهَا إِلَّا وَاحِدَةً, فَرَدَّهَا إِلَيْهِ اَلنَّبِيُّ -صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

الكتاب : بُلُوغُ اَلْمَرَامِ ص423-422

وأما حديث ركانة بن عبد الله فقد أخرجه الشافعي وابو داود والدارقطني، وقال أبو داود: هذا حديث حسن صحيح. وكذلك اخرجه الترمذي وصححه أيضا ابن حبان والحاكم. وقال الترمذي: لا يعرف الا من هذا الوجه، وسألت محمدا عنه، يعنى البخاري فقال: فيه اضطراب. اهقلت: وقد جاء اسناده ضعيفا ولذلك لم يخرجه البخاري ولا مسلم لان في اسناده الزبير بن سعيد الهاشمي.وقد ضعفه غير واحد.قال ابن كثير: لكن قد رواه ابو داود من وجه آخر وله طرق أخر فهو حسن ان شاء الله. وقال ابن عبد البر في التمهيد: تكلموا في هذا الحديث اه

الكتاب : المجموع شرح المهذب ج17 ص85

قال المنذري قال الخطابي في إسناد هذا الحديث مقال لأن بن جريج إنما رواه عن بعض بني أبي رافع ولم يسمه والمجهول لا تقوم به الحجة. وحكى أيضا أن الإمام أحمد بن حنبل كان يضعف طرق هذا الحديث كلها انتهى

الكتاب : عون المعبود شرح سنن أبي داود ج6 ص193

أقول ؛ كل ما استدل به الفريق الثاني لا يقوى على رد أدلة الجمهور وعلى إجماع الصحابة ، وكفى بهذا الإجماع حجة وبرهانا وهذا ما ندين الله عز وجل به . ونعتقد أنه الصواب ، لأن مخالفة إجماع الصحابة وإجماع الفقهاء ليس بأمر اليسير -الي أن قال-وأما حديث ركانة فقيل ؛ إنه حديث مضطرب منقطع لا يستند من وجه من يحتج به ، وهو من عكرمة عن ابن عباس وفيه ؛ «أن ركانة طلق امرأته ثلاثا فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم ؛ أرجعها»ـوالثابت أن ركانة طلق امرأته البتة فاستحلفه رسول الله صلى الله عليه وسلم ما أراد به ؟ فحلف ما أراد إلا واحدة فردها إليهفهذا اضطراب في الاسم والفعل ولا يحتج بشيء من مثل هذاوالخلاصة إن رأي الجمهور يبقى أقوى دليلا ، وأمكن حجته ، لا سيما وقد تعزز بإجماع الصحابة والأئمة المجتهدين والله أعلم

الكتاب : روائع البيان ج1 ص263-262

ومن القائلين بالتحريم واللزوم من قال إذا طلق ثلاثا مجموعة وقعت واحدة وهو قول محمد بن إسحاق صاحب المغازي واحتج بما رواه عن داود بن الحصين عن عكرمة عن بن عباس قال طلق ركانة بن عبد يزيد امرأته ثلاثا في مجلس واحد فحزن عليها حزنا شديدا فسأله النبي صلى الله عليه و سلم كيف طلقتها قال ثلاثا في مجلس واحد فقال النبي صلى الله عليه و سلم إنما تلك واحدة فارتجعها أن شئت فارتجعها وأخرجه أحمد وأبو يعلى وصححه من طريق محمد بن إسحاق وهذا الحديث نص في المسألة لا يقبل التأويل الذي في غيره من الروايات الآتي ذكرها وقد أجابوا عنه بأربعة أشياء -الي أن قال-الثالث أن أبا داود رجح أن ركانة إنما طلق امرأته البتة كما أخرجه هو من طريق آل بيت ركانة وهو تعليل قوي لجواز أن يكون بعض رواته حمل البتة على الثلاث فقال طلقها ثلاثا فبهذه النكتة يقف الاستدلال بحديث بن عباس

الكتاب : فتح الباري ج9 ص363-362

وأما ما روى ابن اسحاق عن عكرمة عن ابن عباس رحمهم الله تعالى قال طلق ركانة ابن عبد يزيد زوجته ثلاثا في مجلس واحد فحزن عليها حزنا شديدا فسأله كيف طلقتها قال طلقتها ثلاثا في مجلس واحد قال إنما تملك طلقة واحدة فارتجعها فحديث منكر والأصح ما رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه إن ركانة طلق زوجته البتة فحلفه رسول الله أنه ما أراد إلا واحدة فردها إليه وطلقها الثانية في زمان عمر والثالثة في زمان عثمان رضي الله عنهما قال أبو داود وهذا أصح ا ه

الكتاب : مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح ج10 ص224

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Kitab Musnadnya juz I halaman 318, nomorhadits 2387:

حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ، حَدَّثَنَا أَبِي , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ ، حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ الْحُصَيْنِ ، عَنْ عِكْرِمَةَ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : طَلَّقَ رُكَانَةُ بْنُ عَبْدِ يَزِيدَ أَخُو بني مُطَّلِبِ امْرَأَتَهُ ثَلَاثًا فِي مَجْلِسٍ وَاحِدٍ ، فَحَزِنَ عَلَيْهَا حُزْنًا شَدِيدًا ، قَالَ : فَسَأَلَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” كَيْفَ طَلَّقْتَهَا ؟ ” , قَالَ : طَلَّقْتُهَا ثَلَاثًا , قَالَ : فَقَالَ : ” فِي مَجْلِسٍ وَاحِدٍ ؟ ” , قَالَ : نَعَمْ , قَالَ : ” فَإِنَّمَا تِلْكَ وَاحِدَةٌ فَارْجِعْهَا إِنْ شِئْتَ ” , قَالَ : فَرَجَعَهَا , فَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَرَى أَنَّمَا الطَّلَاقُ عِنْدَ كُلِّ طُهْرٍ

Telah menceritakan kepada kami Sa’d bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad bin Ishaq telah menceritakan kepadaku Dawud bin Al Hushain dari Ikrimah mantan budak Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rukanah bin Abdu Yazid, saudara Al Muththalib, menceraikan istrinya tiga kali talak dalam satu waktu. Maka ia merasa sedih terhadap isterinya itu. Ibnu Abbas berkata; Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya padanya: “Bagaimana engkau mentalaknya?” Ia menjawab; “Aku mentalaknya tiga kali.” Ibnu Abbas berkata; “Kemudian beliau bertanya lagi: “Apakah dalam satu waktu (majlis)?” Ia menjawab; “Ya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya itu terhitung sekali, bila engkau mau maka rujuklah dia.” Ibnu Abbas berkata; “Maka ia merujuknya.” Lalu Ibnu Abbas berpendapat bahwasannya Talak itu setiap kali dalam keadaan suci.

Catatan:Syeikh Syuaib Al Arnauth dalam Ta’liq Musnad Ahmad 1/265 berkata:إسناده ضعيف

Isnadnya dha’if

Imam Abu Dawud dalam Kitab Sunannya juz II halaman 225 nomor hadits 2198 meriwayatkan:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِى بَعْضُ بَنِى أَبِى رَافِعٍ مَوْلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ عِكْرِمَةَ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ طَلَّقَ عَبْدُ يَزِيدَ – أَبُو رُكَانَةَ وَإِخْوَتِهِ – أُمَّ رُكَانَةَ وَنَكَحَ امْرَأَةً مِنْ مُزَيْنَةَ فَجَاءَتِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَتْ مَا يُغْنِى عَنِّى إِلاَّ كَمَا تُغْنِى هَذِهِ الشَّعْرَةُ. لِشَعْرَةٍ أَخَذَتْهَا مِنْ رَأْسِهَا فَفَرِّقْ بَيْنِى وَبَيْنَهُ فَأَخَذَتِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- حَمِيَّةٌ فَدَعَا بِرُكَانَةَ وَإِخْوَتِهِ ثُمَّ قَالَ لِجُلَسَائِهِ « أَتَرَوْنَ فُلاَنًا يُشْبِهُ مِنْهُ كَذَا وَكَذَا مِنْ عَبْدِ يَزِيدَ وَفُلاَنًا يُشْبِهُ مِنْهُ – كَذَا وَكَذَا ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- لِعَبْدِ يَزِيدَ « طَلِّقْهَا ». فَفَعَلَ ثُمَّ قَالَ « رَاجِعِ امْرَأَتَكَ أُمَّ رُكَانَةَ وَإِخْوَتِهِ ». فَقَالَ إِنِّى طَلَّقْتُهَا ثَلاَثًا يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « قَدْ عَلِمْتُ رَاجِعْهَا ». وَتَلاَ (يَا أَيُّهَا النَّبِىُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ )

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku sebagian anak-anak Abu Rafi’ mantan budak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dari Ikrimah mantan budak Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas, ia berkata; Abdu Yazid? dan saudara-saudaranya yaitu Abu Rukanah telah mencerai Ummu Rukanah dan menikahi seorang wanita dari Muzainah, kemudian wanita tersebut datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; ia tidak memberiku kepuasan kecuali seperti sehelai rambut ini. Ia mengambil sehelai rambut dari kepalanya. Maka Kemudian beliau berkata kepada orang-orang yang duduk bersamanya: “Apakah kalian melihat Fulan menyerupai demikian dan demikian dari Abdu Yazid? dan Fulan menyerupai darinya demikian dan demikian?” Mereka mengatakan; ya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abdu Yazid?: “Ceraikan dia!” Lalu ia melakukan hal tersebut, kemudian beliau berkata: “Kembalilah kepada isterimu yaitu Ummu Rukanah!” Ia berkata; sesungguhnya aku telah mencerainya tiga kali wahai Rasulullah. Beliau berkata: “Aku telah mengetahui, kembalilah kepadanya!” Dan beliau membacakan ayat: “Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar).”

قَالَ أَبُو دَاوُدَ وَحَدِيثُ نَافِعِ بْنِ عُجَيْرٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَلِىِّ بْنِ يَزِيدَ بْنِ رُكَانَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رُكَانَةَ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ الْبَتَّةَ فَرَدَّهَا إِلَيْهِ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- أَصَحُّ لأَنَّ وَلَدَ الرَّجُلِ وَأَهْلَهُ أَعْلَمُ بِهِ أَنَّ رُكَانَةَ إِنَّمَا طَلَّقَ امْرَأَتَهُ الْبَتَّةَ فَجَعَلَهَا النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَاحِدَةً

Abu Daud berkata; dan hadits Nafi’ bin ‘Ujair, Abdullah bin Ali bin Yazid? bin Rukanah dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rukanah telah isterinya sama sekali, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengembalikannya kepada Rukanah, hadits tersebut lebih shahih karena anak seseorang dan keluarganya lebih mengetahuinya. Sesungguhnya Rukanah telah mencerai isterinya sama sekali dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikannya sebagai satu kali talak.

Imam Al Khaththabi dalam Kitab Ma’alimussunan, syarh Sunan Abu Dawud juz III halaman 236, berkata:

في إسناد هذا الحديث مقال لأن ابن جريج إنما رواه عن بعض بني أبي رافع ولم يسمعه والمجهول لا يقوم به الحجة. وكان أحمد بن حنبل يضعف طرق هذه الأحاديث كلها

Ada penilaian dalam sanad hadits ini, karena sesungguhnya Ibn Juraij hanya meriwayatkannya dari sebagian Bani Abi Rafi’ padahal dia tidak mendengarnya. Rawi majhul tidak menguatkan hujjah. Adalah Imam Ahmad mendha’ifkan semua jalan hadits-hadits ini.

Imam Nawawi dalam Al Minhaj, Syarah Muslim 5/221 menjelaskan:

وَأَمَّا الرِّوَايَة الَّتِي رَوَاهَا الْمُخَالِفُونَ ، أَنَّ رُكَانَة طَلَّقَ ثَلَاثًا فَجَعَلَهَا وَاحِدَة ، فَرِوَايَة ضَعِيفَة عَنْ قَوْم مَجْهُولِينَ

Adapun riwayat yang orang yang berbeda, bahwasanya Rukanah mentalak tiga dan Nabi menjadikannya satu, maka itu adalah riwayat dha’if dari orang-orang majhul

Syeikh Kamaluddin bin Abdul Wahid, yang terkenal dengan sebutan Ibn Humam dalam kitab Fat_hul Qadier juz VII halaman 461 menerangkan:

وَأَمَّا حَدِيثُ رُكَانَةَ فَمُنْكَرٌ ، وَالْأَصَحُّ مَا رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ أَنَّ رُكَانَةَ طَلَّقَ زَوْجَتَهُ أَلْبَتَّةَ

Adapun hadits Rukanah adalah munkar. Yang lebih shahih adalah hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibn Majah bahwasanya Rukanah mentalak isterinya dengan al battah (sama sekali)

Albattah alih bahasanya yang luwes dalam bahasa Indonesia adalah ‘sama sekali’.

La yaf’aluhu albattah = Dia tidak melakukannya sama sekali.Thallaqaha albattah = Dia menceraikannya sama sekali (memang terdengar agak janggal, dan saya juga jarang menemui albattah pada kalam itsbat, biasanya kalam nafi).

Albattah merupakan isim mashdar, secara akar bahasa berasal dari fi’il madhi batta = Menetapkan, Mengukuhkan, Memutuskan. Maka bila dialihbahasakan secara kasar: Batta fulanun ‘adama fi’lihi = La yaf’aluhu albattah = Dia telah mengukuhkan bahwa dia tidak melakukannya. Batta fulanun ‘thallaqa imaraatihi = Thallaqaha albattah = Dia telah mengukuhkan bahwa dia menceraikannya. Singkat kata, albattah adalah mashdar muakkid.

Kesemua hal di atas adalah makna tekstual (lughotan). Sedangkan makna kontekstualnya (murodan) ketika orang Arab berucap ‘thallaqtuha albattah’ maka kalamnya ihtimal antara hendak menthalaq satu atau menthalaq tiga.

وَلَفْظ ( الْبَتَّة ) مُحْتَمَل لِلْوَاحِدَةِ وَلِلثَّلَاثِ

Dalam Kitab Al Umm juz V halaman 139 (5/149, Darul Fikr) :

قال الشَّافِعِيُّ ) فَإِنْ قال أَنْتِ طَالِقٌ البتة يَنْوِي ثَلَاثًا فَهِيَ ثَلَاثٌ وَإِنْ نَوَى وَاحِدَةً فَوَاحِدَةٌ

Imam Syafi’i berkata: Jika seseorang berkata: Engkau talak battah, dia berniat tiga maka battah tsb adalah tiga. Jika dia berniat satu maka ya satu

Wallahu A’lam

BULAN MAULID TELAH BERLALU : JANGANLAH MEREMEHKAN KEBAIKAN ORANG LAIN

Apa maksud dari hadits berikut :

(ﻻ تحقرن جارة لجارتها ولو فرسن شاة)

Hadits tersebut menerangkan perintah serta anjuran untuk tidak meremehkan amal baik seseorang.

قَالَ  رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : يَا نِسَاءَ  الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ  شَاةٍ

Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda : Hai  kaum muslimat – wanita Islam, janganlah seseorang tetangga itu  meremehkan pemberian untuk tetangganya, sekalipun yang diberikan hanya  berupa kikil kambing.

Dalam Riyadhus sholihin, seperti demikian :

قَالَ الجوهري : الفِرْسِنُ مِنَ الْبَعِيرِ : كالحَافِرِ مِنَ الدَّابَّةِ، قَالَ : وَرُبَّمَا اسْتُعِيرَ في الشَّاةِ

Al-Jauhari  berkata: Al-Firsin, artinya kaki binatang umumnya dipergunakan untuk  kaki unta, sebagaimana halnya lafaz At-Hafir dipergunakan untuk  menerangkan kaki ternak yang lain-lain. Tetapi adakalanya Al-Firsin itu  digunakan sebagai kata isti’arah (pinjaman) untuk menerangkan kaki  kambing.

Hadits senada dalam Riyadhush sholihin :

قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّم :لَا  تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوَفِ شَيْئاً وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ  بِوَجْهٍ طَلِيْقٍ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Zarr, berkata : Nabi saw bersabda kepadaku : Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun hanya dengan menjumpai saudaramu dengan wajah yang berseri-seri. Wallahu a’lam.

– Fathul bari :

باب لا تحقرن جارة لجارتها

حدثنا عبد الله بن يوسف حدثنا الليث حدثنا سعيد هو المقبري عن أبيه عن أبي  هريرة قال كان النبي صلى الله عليه وسلم يقول يا نساء المسلمات لا تحقرن  جارة لجارتها ولو فرسن شاة

قوله : ( باب لا تحقرن جارة لجارتها ) كذا حذف المفعول اكتفاء بشهرة الحديث

أورد  فيه حديث أبي هريرة في ذلك ، واتفق أن هذا الحديث ورد من طريق سعيد  المقبري عن أبيه عن أبي هريرة والحديث قبله من طريق سعيد المقبري عن أبي  هريرة ليس بينهما واسطة ، وكل من الطريقين صحيح لأن سعيدا أدرك أبا هريرة  وسمع منه أحاديث وسمع من أبيه عن أبي هريرة أشياء كان يحدث بها تارة عن أبي  هريرة بلا واسطة ، وقد ذكر البخاري بعضها وبين الاختلاف على سعيد فيها ،  وهي محمولة على أنه سمعها من أبي هريرة واستثبت أباه فيها ، فكان يحدث بها  تارة عن أبيه عن أبي هريرة وتارة عنه بلا واسطة ، ولم يكن مدلسا ، وإلا  لحدث بالجميع عن أبي هريرة والله أعلم . وبقية المتن ” ولو فرسن شاة ” بكسر  الفاء وسكون الراء وكسر المهملة ثم نون : حافر الشاة . وقد تقدم شرحه  مستوفى في ” كتاب الهبة ” والكلام على إعراب يا نساء المسلمات ، وحاصله أن  فيه اختصارا . لأن المخاطبين يعرفون المراد منه ، أي لا تحقرن أن تهدي إلى  جارتها شيئا ولو أنها تهدي لها ما لا ينتفع به في الغالب ، ويحتمل أن يكون  من باب النهي عن الشيء أمر بضده ، وهو كناية عن التحابب والتوادد ، فكأنه  قال : لتوادد الجارة جارتها بهدية ولو حقرت ، فيتساوى في ذلك الغني والفقير  ، وخص النهي بالنساء لأنهن موارد المودة والبغضاء ، ولأنهن أسرع انفعالا  في كل منهما . وقال الكرماني : يحتمل أن يكون النهي للمعطية ، ويحتمل أن  يكون للمهدى إليها . قلت : ولا يتم حمله على المهدى إليها إلا بجعل اللام  في قوله لجارتها بمعنى من ولا يمتنع حمله على المعنيين

TERJEMAH HADITS KE 30-35 KITAB ARBA’IN NAWAWIYAH

HADITS KETIGAPULUH

عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِي جُرْثُوْمِ بْنِ نَاشِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : إِنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوْهَا، وَحَدَّ حُدُوْداً فَلاَ تَعْتَدُوْهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوْهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوا عَنْهَا

[حديث حسن رواه الدارقطني وغيره]

Dari Abi Tsa’labah Al Khusyani Jurtsum bin Nasyir radhiallahuanhu, dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dia(abi tsa’laba) berkata : Sesungguhnya Allah ta’ala telah menetapkan kewajiban-kewajiban, maka janganlah kalian mengabaikannya, dan telah menetapkan batasan-batasannya janganlah kalian melampauinya, Dia telah mengharamkan segala sesuatu, maka janganlah kalian melanggarnya, Dia mendiamkan sesuatu sebagai kasih sayang buat kalian dan bukan karena lupa jangan kalian mencari-cari tentangnya .

(Hadits hasan riwayat Daruquthni dan lainnya

HADITS KETIGAPULUH SATU

عَنْ أَبِي الْعَبَّاس سَهْل بِنْ سَعْد السَّاعِدِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ

: ياَ رَسُوْلَ اللهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ، فَقَالَ : ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ

[حديث حسن رواه ابن ماجة وغيره بأسانيد حسنة]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث

Dari Abu Abbas Sahl bin Sa’ad Assa’idi radhiallahuanhu dia berkata : Seseorang mendatangi Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau berkata : Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku sebuah amalan yang jika aku kerjakan, Allah dan manusia akan mencintaiku, maka beliau bersabda: Zuhudlah terhadap dunia maka engkau akan dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia maka engkau akan dicintai manusia.

(Hadits hasan riwayat Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad hasan) .

HADITS KETIGAPULUH DUA

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ سعْدُ بْنِ سِنَانِ الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلَّمَ قَالَ : لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

[حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَه وَالدَّارُقُطْنِي وَغَيْرُهُمَا مُسْنَداً، وَرَوَاهُ مَالِك فِي الْمُوَطَّأ مُرْسَلاً عَنْ عَمْرو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْقَطَ أَبَا سَعِيْدٍ وَلَهُ طُرُقٌ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضاً]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Sa’id, Sa’ad bin Sinan Al Khudri radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Tidak boleh melakukan perbuatan (mudharat) yang mencelakakan diri sendiri dan orang lain“

(Hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Daruqutni serta selainnya dengan sanad yang bersambung, juga diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Muwattho’ secara mursal dari Amr bin Yahya dari bapaknya dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, dia tidak menyebutkan Abu Sa’id. Akan tetapi dia memiliki jalan-jalan yang menguatkan sebagiannya atas sebagian yang lain).

HADITS KETIGA PULUH TIGA

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم : لَوْ يُعْطَى النَّاسُ بِدَعْوَاهُمْ، لاَدَّعَى رِجَالٌ أَمْوَالَ قَوْمٍ وَدِمَاءَهُمْ، لَكِنَّ الْبَيِّنَةَ عَلَى الْمُدَّعِيْ وَالْيَمِيْنَ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ

[حديث حسن رواه البيهقي وغيره هكذا، وبعضه في الصحيحين]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Ibnu Abbas radhiallahuanhuma, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Seandainya setiap pengaduan manusia diterima, niscaya setiap orang akan mengadukan harta suatu kaum dan darah mereka, karena itu (agar tidak terjadi hal tersebut) maka bagi pendakwa agar mendatangkn bukti dan sumpah bagi yang mengingkarinya

(Hadits hasan riwayat Baihaqi dan lainnya yang sebagiannya terdapat dalam As Shahihain(shohih bukhori&muslim)).

HADITS KETIGA PULUH EMPAT

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

[رواه مسلم]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.

(Riwayat Muslim).

HADITS KETIGAPULUH LIMA

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً . الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَكْذِبُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ . التَّقْوَى هَهُنَا –وَيُشِيْرُ إِ

لَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسَبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

[رواه مسلم]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu disini (seraya menunjuk dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain; haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.

TERJEMAH HADITS KE 36-42 KITAB ARBA’IN NAWAWIYAH

HADITS KETIGAPULUH ENAM

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كاَنَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ. وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَأَ فِي عَمَلِهِ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

(رواه مسلم)

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hambanya selama hambanya menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, akan Allah mudahkan baginya jalan ke syurga. Sebuah kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah membaca kitab-kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk disisi-Nya. Dan siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya.

(HR. Muslim)

Hadits ketigapuluh tujuh

عَنْ ابْنِ عَبَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلى الله عليه وسلم فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ : فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَةَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

[رواه البخاري ومسلم في صحيحهما بهذه الحروف]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Ibnu Abbas radhiallahuanhuma, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sebagaimana dia riwayatkan dari Rabbnya Yang Maha Suci dan Maha Tinggi : Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan, kemudian menjelaskan hal tersebut : Siapa yang ingin melaksanakan kebaikan kemudian dia tidak mengamalkannya, maka dicatat disisi-Nya sebagai satu kebaikan penuh. Dan jika dia berniat melakukannya dan kemudian melaksanakannya maka Allah akan mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat bahkan hingga kelipatan yang banyak. Dan jika dia berniat melaksanakan keburukan kemudian dia tidak melaksanakannya maka baginya satu kebaikan penuh, sedangkan jika dia berniat kemudian dia melaksanakannya Allah mencatatnya sebagai satu keburukan.

(HR. Bukhori dan Muslim dalam kedua shahihnya dengan redaksi ini )

Hadits Ketigapuluh delapan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيْذَنَّهُ

[رواه البخاري]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhya Allah ta’ala berfirman : Siapa yang memusuhi waliku maka Aku telah mengumumkan perang dengannya. Tidak ada taqarrubnya seorang hamba kepada-Ku yang lebih aku cintai kecuali dengan beribadah dengan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hambaku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (perkara-perkara sunnah di luar yang fardhu) maka Aku akan mencintainya dan jika Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepadaku niscaya akan aku berikan dan jika dia minta perlindungan dari-Ku niscaya akan Aku lindungi.

(HR.bukhori )

HADITS KETIGAPULUH SEMBILAN

عَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِيْ عَنْ أُمَّتِي : الْخَطَأُ وَالنِّسْيَانُ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

[حديث حسن رواه ابن ماجة والبيهقي وغيرهما]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Ibnu Abbas radiallahuanhuma : Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Allah ta’ala memafkan umatku karena aku (disebabkan beberapa hal) : Kesalahan, lupa dan segala sesuatu yang dipaksa“

(Hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Baihaqi dan lainnya)

Hadits Keempat Puluh

عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ . وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

[رواه البخاري]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memegang pundak kedua pundak saya seraya bersabda : Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “, Ibnu Umar berkata : Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu “

(HR. Bukhori).

HADITS KEEMPATPULUH SATU

عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعاً لِمَا جِئْتُ بِهِ

[حَديثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ وَرَوَيْنَاهُ فِي كِتَابِ الْحُجَّة بإسنادٍ صحيحٍ ]

Dari Abu Muhammad Abdillah bin Amr bin ‘Ash radhiallahuanhuma dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Tidak beriman(dg sempurna) salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa “

(Hadits hasan shahih dan kami riwayatkan dari kitab Al Hujjah dengan sanad yang shahih).

وقوله هنا: لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به يعني: الإيمان الكامل لا يكون، حتى يكون هوى المرء ورغبة المرء تبعا لما جاء به المصطفى -صلى الله عليه وسلم- يعني: أن يجعل مراد الرسول -صلى الله عليه وسلم- مقدما على مراده، وأن يكون شرع النبي -صلى الله عليه وسلم- مقدما على هواه، وهكذا، فإذا تعارض رغبه وما جاء به، جاءت به السنة، فإنه يقدم ما جاءت به السنة، وهذا جاء بيانه في آيات كثيرة، وفي أحاديث كثيرة

Ya’ni: Yang di kehendaki/maksudnya adalah IMAN YANG SEMPURNA tidak akan ada pada diri seseorang sehingga nafsu&keinginannya ikut pada apa yang telah Rosulullah saw datangkan, dalam arti menjadikan kehendak Rosulullah saw itu di dahulukan dari pada kehendak sendiri dan mendahulukan syara’ Rosulullah saw daripada keinginan2nya.

Intinya apabila seseorang ada pertentangan dalam dirinya antara keinginan,kesukaan dengan apa yang telah Rosulullah bawa maka yang unggul, menang/yang harus didahulukan adalah syara’ Rosulullah saw.

“KHOTIMATUN”

HADITS KEEMPATPULUH DUA

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَاكَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّماَءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطاَياَ ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكْ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

[رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح ]

Terjemah Hadits / ترجمة الحديث :

Dari Anas Radhiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya Engkau berdoa kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka akan aku ampuni engkau, Aku tidak peduli (berapapun banyaknya dan besarnya dosamu). Wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu (sebanyak) awan di langit kemudian engkau minta ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni engkau. Wahai anak Adam sesungguhnya jika engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau menemuiku dengan tidak menyekutukan Aku sedikitpun maka akan Aku temui engkau dengan sepenuh itu pula ampunan “

(HR. Turmuzi dan dia berkata : Haditsnya hasan shahih).

Nasalukallahumma bijahil mushthofal mukhtaril amin shollallu ‘alaihi wasallama.. An taj’ala ma ‘allamnaahu ‘amalan shoolihan nafi’an mubarokan dunyan wa ukhron..

Washollallahu ‘ala khoiri kholqihil ummiyyi muhammadin wa’alaa aalihi wa shohbihi wabaaroka wasallama walhamdulillahi robil ‘aalamiin.

SETIAP MUSLIM YANG DI SHALATI MAKA AKAN DI BERI SYAFA’AT OLEH NABI MUHAMMAD SAW.

Syafa’at

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْمَعُ اللَّهُ النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُونَ لَوْ اسْتَشْفَعْنَا عَلَى رَبِّنَا حَتَّى يُرِيحَنَا مِنْ مَكَانِنَا فَيَأْتُونَ آدَمَ فَيَقُولُونَ أَنْتَ الَّذِي خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ رُوحِهِ وَأَمَرَ الْمَلَائِكَةَ فَسَجَدُوا لَكَ فَاشْفَعْ لَنَا عِنْدَ رَبِّنَا فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ خَطِيئَتَهُ وَيَقُولُ ائْتُوا نُوحًا أَوَّلَ رَسُولٍ بَعَثَهُ اللَّهُ فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ خَطِيئَتَهُ ائْتُوا إِبْرَاهِيمَ الَّذِي اتَّخَذَهُ اللَّهُ خَلِيلًا فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ خَطِيئَتَهُ ائْتُوا مُوسَى الَّذِي كَلَّمَهُ اللَّهُ فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ فَيَذْكُرُ خَطِيئَتَهُ ائْتُوا عِيسَى فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ ائْتُوا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ فَيَأْتُونِي فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبِّي فَإِذَا رَأَيْتُهُ وَقَعْتُ سَاجِدًا فَيَدَعُنِي مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ يُقَالُ لِي ارْفَعْ رَأْسَكَ سَلْ تُعْطَهْ وَقُلْ يُسْمَعْ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ فَأَرْفَعُ رَأْسِي فَأَحْمَدُ رَبِّي بِتَحْمِيدٍ يُعَلِّمُنِي ثُمَّ أَشْفَعُ فَيَحُدُّ لِي حَدًّا ثُمَّ أُخْرِجُهُمْ مِنْ النَّارِ وَأُدْخِلُهُمْ الْجَنَّةَ ثُمَّ أَعُودُ فَأَقَعُ سَاجِدًا مِثْلَهُ فِي الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ حَتَّى مَا بَقِيَ فِي النَّارِ إِلَّا مَنْ حَبَسَهُ الْقُرْآنُ

وَكَانَ قَتَادَةُ يَقُولُ عِنْدَ هَذَا أَيْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْخُلُودُ

“Pada hari kiamat Allah mengumpulkan seluruh manusia, mereka berujar; ‘Duhai sekiranya kita meminta syafaat kepada Tuhan kita sehingga Dia bisa meringankan penderitaan kita di tempat kita ini.’ Maka mereka menemui Adam dan mengutarakan hajat mereka; ‘Engkaulah manusia yang Allah cipta dengan tangan-Nya dan Dia tiupkan ruh-Nya kepadamu, dan Dia perintahkan para malaikat untuk sujud kepadamu, maka tolonglah engkau meminta syafaat kepada Tuhan kami! ‘ Namun Adam menjawab; ‘disini bukan tempatku untuk meringankan kalian, ‘ Adam lalu menyebut-nyebut kesalahannya dan berujar; ‘datangilah Nuh, rasul pertama-tama yang Allah utus’. Maka mereka mendatangi Nuh. Namun ternyata Nuh juga menjawab; ‘disini bukan tempatku untuk memberi pertolongan, ‘ lantas Nuh menyebut-nyebut kesalahannya dan berujar; ‘datanglah kalian kepada Ibrahim yang telah Allah jadikan sebagai kesasih-Nya.’ Mereka pun mendatanginya, tetapi ia juga berujar; ‘disini bukan tempatku untuk meringankan kalian, ‘ dan ia sebut-sebut kesalahannya seraya berujar; ‘datanglah kalian kepada Musa yang Allah telah mengajaknya bicara.’ Mereka pun mendatangi Musa, namun Musa juga mengatakan; ‘Saya tak berhak meringankan kalian, ‘ dan Musa menyebut-nyebut kesalahan pribadinya, seraya berujar; ‘datanglah kalian kepada Isa’ Mereka pun mendatangi Isa, dan isa juga mengatakan; ‘saya tak berhak meringankan kalian’ sambil berujar; ‘datanglah kepada Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam, sebab dosanya yang dahulu dan yang akan datang telah mendapat ampunan.’ Mereka pun mendatangiku dan aku meminta izin kepada rabbku. Ketika aku melihat-Nya, aku langsung tersungkur sujud dan Ia meninggalkanku sekehendak Allah, lantas ada suara memanggil-manggil; ‘Angkat kepalamu, mintalah, kamu akan diberi, utarakan uneg-unegmu kamu akan didengar, mintalah syafaat, kamu akan diberi! ‘ langsung aku angkat kepalaku dan aku memuji rabbku dengan pujian yang Dia ajarkan kepadaku. Lantas aku memberi syafaat dan Dia memberiku batasan, kemudian aku keluarkan mereka dari neraka dan kumasukkan surga, kemudian aku kembali dan tersungkur sujud semisalnya pada kali ketiga, keempat hingga tak tersisa di neraka selain yang ditahan oleh Alquran. Sedang Qatadah berkata dalam hal ini dengan redaksi ‘sehingga keabadian wajib baginya.’ (HR. Bukhari: 6080).

Seorang Muslim yang di Shalatkan akan diberi Syafa’at

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي بَكَّارٍ قَالَ صَلَّيْتُ خَلْفَ أَبِي الْمَلِيحِ عَلَى جَنَازَةٍ فَقَالَ أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَلْتَحْسُنْ شَفَاعَتُكُمْ وَلَوْ اخْتَرْتُ رَجُلًا اخْتَرْتُهُ ثُمَّ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلِيطٍ قَالَ أَبِي و حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدَةَ الْحَدَّادُ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلِيطٍ عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَيْمُونَةَ وَكَانَ أَخَاهَا مِنْ الرَّضَاعَةِ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

و قَالَ أَبُو الْمَلِيحِ الْأُمَّةُ أَرْبَعُونَ إِلَى مِائَةٍ فَصَاعِدًا

“Luruskanlah barisan kalian dan baguskanlah syafa’at kalian, sekiranya aku disuruh memilih seorang laki-laki niscaya aku memilihnya. Kemudian dia berkata, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Salith. Bapakku berkata; dan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ubaidah Al Haddad berkata, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Salith dari sebagian isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Maimunah -ia adalah saudara laki-laki sepersusuannya-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim yang dishalatkan oleh umat kecuali ia akan diberi syafaat karenanya.” Abu Al Malih berkata, “Umat itu sebanyak empat puluh sampai seratus orang lebih.” (HR. Ahmad: 25584)

ANDA PUNYA KEINGINAN? INILAH PERINTAH NABI SAW. UNTUK SHALAT ISTIKHARAH

Jika Salah Seorang Dari Kalian Punya Satu Keinginan Maka Hendaklah Kerjakan Shalat

حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ حَدَّثَنَا مَعْنُ بْنُ عِيسَى حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي الْمَوَالِي قَالَ سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الْمُنْكَدِرِ يُحَدِّثُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْحَسَنِ يَقُولُ أَخْبَرَنِي جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ السَّلَمِيُّ قَالَ

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُهُمْ السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الْأَمْرَ ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ خَيْرًا لِي فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ قَالَ أَوْ فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ

Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Al Mundzir telah menceritakan kepada kami Ma’an bin Isa telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Abul Mawali berkata, aku mendengar Muhammad bin Al Munkadir menceritakan Abdullah bin Al Hasan, dia berkata, telah mengabarkan kepadaku Jabir bin Abdullah assalmi berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari sahabat-sahabatnya untuk istikharah (meminta pilihan) dalam semua doanya sebagaimana beliau mengajarkan surat alquran kepada mereka, beliau sabdakan: “Jika salah seorang dari kalian punya satu keinginan maka hendaklah ia kerjakan shalat dua rakaat (bukan shalat wajib) kemudian mengucapkan:

‘ALLAAHUMMA INNII ASTAKHIIRUKA BI’ILMIKA, WA ASTAQDIRUKA BIQUDRATIKA WA AS’ALUKA MIN FADLLIKA, FAINNAKA TAQDIRU WALAA AQDIRU WATA’LAMU WALAA A’LAMU WA ANTA ‘ALLAAMUL GHUYUUB, ALLAAHUMMA FAIN KUNTA TA’LAMU HAADZAL AMRA KHAIRAN LII FII ‘AAJILI AMRII WA AAJILIHI -Qaala– AW FII DIINII WAMA’AASYII WA’AAQIBATU AMRII FAQDURHU LII WAYASSIRHU LII TSUMMA BAARIK LII FIIHI, ALLAAHUMMA WAIN KUNTA TA’LAMU ANNAHU YARRUN LII FII DIINIII WAMA’AASYII WA’AAQIBATI -Aw qaala-FII ‘AAJILI AMRII WA AAJILIHI FASHRIFNII ‘ANHU WQDIRLIL KHIARA HAITSU KAANA TSUMMA ARDLINII BIHI

(Ya Allah, Saya meminta pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, dan saya meminta keputusan dengan keputusan-Mu, dan saya meminta-Mu dengan kurnia-Mu, sesungguhnya Engkau memutuskan dan saya tidak bisa memutuskan, dan Engkau Maha tahu sedang aku tidak mengetahui, dan Engkau Maha mengetahui yang ghaib, Ya Allah, jikalah Engkau tahu bahwa urusan ini (Si Pemohon menyebut nama urusannya) adalah baik bagiku baik untuk masa yang dekat maupun masa yang akan datang -atau sepertinya ia berkata-dalam urusan agamaku dan duniaku, serta kesudahan urusanku, maka tetapkanlah untukku dan mudahkanlah bagiku, kemudian berilah aku barakah padanya. Ya Allah, sebaliknya jika Engkau tahu bahwa urusan ini adalah buruk bagiku dalam urusan agamaku dan kehidupanku, serta kesudahan urusanku- atau sepertinya ia berkata-dalam kesudahan yang dekat maupun yang akan datang, maka palingkanlah aku daripadanya dan tetapkanlah kebaikan bagiku darimana saja berada kemudian jadikanlah aku ridha terhadapnya) ‘.”

(HR. Bukhari: 6841)

ADA ZAMAN DIMANA MENJADI MENJADI ORANG LEMAH LEBIH BAIK DARIPADA BERMAKSIAT

قال رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم – : ” سيأتي على الناس زمان يخير فيه الرجل بين العجز والفجور ، فمن أدرك ذلك الزمان فليختر العجز على الفجور ” هذا حديث صحيح

Rosululloh saw bersabda : Akan dating suatu masa pada umat manusia dimana seseorang dihadapkan pada dua pilihan, : Menjadi orang yang lemah atau orang yang maksiat. Barang siapa hidup di zaman itu maka hendaklah dia memilih menjadi orang yang lemah daripada menjadi orang yang bermaksiat. (HR. Ahmad dari Abu Hurairoh)

Imam as-Suyuthi menyatakan tentang maksud hadis dalam gambar ini adalah bahwa pada zaman tersebut seseorang dihadapkan pada dua pilihan: (1) jika dia mematuhi ajaran agama, maka dia menjadi orang lemah yang tertindas (2) jika dia ingin menjadi orang kuat, maka dia harus menabrak aturan-aturan agama. Nah, dalam kondisi ini, dia wajib memilih menjadi orang lemah, karena kepatuhan terhadap ajaran agama harus lebih didahulukan di atas kepentingan apapun. Lebih lanjut, Imam Suyuthi menyatakan:

والمخير ( في ذلك الزمان بين العجز والفجور ) هم الأمراء وولاة الأمور

“Orang yang (sering) berada dalam dua pilihan tersebut adalah orang-orang yang terjun di pemerintahan.” Demikian keterangan dalam kitab al-Jami’ ash-Shaghir: 478

Para pembaca yang bijaksana, berdasarkan hadits ini maka kita seyogyanya jangan sampai menilai para ulama yang ada di dalam zaman ini baik yang ada di pemerintahan ataupun yang tidak dengan penilaian yang tidak baik, apalagi sampai menjelekan mereka semua di karenakan mereka tidak mau mengambil atau tidak melakukan hal-hal yang menurut kita seharusnya dilakukan. Langkah dan pertimbangan mereka tentu tidak hanya sebatas kebaikan saja tetapi juga keridlo’an Alloh swt.

Alloh berfirman di dalam al-Qur’an :

وَنَبْلُوكُم بِٱلشَّر وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ الأنبياء 34

Bahwa ketika kejelekan dan kebaikan semuanya menjadi ujian, tentu kita harus berusaha mengembalikan semuanya kepada Alloh swt. Dan yang sangat penting harus kita lakukan adalah mengoreksi diri kita sendiri. Apakah sudah berusaha meminta tolong kepada Alloh swt tentunya dengan bersabar dan sholat, yang mana sabar dan sholat kita sudah seperti apa sebagai alat untuk meminta tolong kepada Alloh swt.

Apakah sudah benar sabar kita ataukah hanya sebatas di mulut saja?

Apakah sholat kita sudah memenuhi standar sholat yang baik walaupun menurut standar baik bagi orang awam?

Akan menjadi sebuah ketentraman dan kebaikan kalau kita mau saling koreksi diri dan memaklumi orang lain, apalagi yang di maksud orang lain itu adalah para ulama.

MAKSUD HADITS TIDAK SAH SHOLATNYA WANITA YANG SUDAH HAIDL

لاتصح صلاة حائض الابخمار

Hadits ini bermakna kinayah atau majas, yang dimaksud al-haidl, bukanlah wanita yang sedang haidl, namun yang dimaksud di sini adalah perempuan yang sudah mencapai usia haidl atau wanita yang telah mencapai usia baligh. Berikut teks lengkap haditsnya :

[سِتْر الْعَوْرَة فِي الصَّلَاة]

[وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ حَائِضٍ] الْمُرَادُ بِهَا الْمُكَلَّفَةُ، وَإِنْ تَكَلَّفَتْ بِالِاحْتِلَامِ مَثَلًا، وَإِنَّمَا عَبَّرَ بِالْحَيْضِ نَظَرًا إلَى الْأَغْلَبِ [إلَّا بِخِمَارٍ بِكَسْرِ الْخَاءِ الْمُعْجَمَةِ آخِرُهُ رَاءٌ؛ هُوَ هُنَا مَا يُغَطَّى بِهِ الرَّأْسُ وَالْعُنُقُ رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا النَّسَائِيّ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ، وَأَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَالْحَاكِمُ وَأَعَلَّهُ الدَّارَقُطْنِيُّ، وَقَالَ: إنَّ وَقْفَهُ أَشْبَهُ، وَأَعَلَّهُ الْحَاكِمُ بِالْإِرْسَالِ، وَرَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الصَّغِيرِ وَالْأَوْسَطِ مِنْ حَدِيثِ ” أَبِي قَتَادَةَ ” بِلَفْظِ: «لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْ امْرَأَةٍ صَلَاةً حَتَّى تُوَارِيَ زِينَتَهَا، وَلَا مِنْ جَارِيَةٍ بَلَغَتْ الْمَحِيضَ حَتَّى تَخْتَمِرَ» وَنَفْيُ الْقَبُولِ الْمُرَادُ بِهِ هُنَا نَفْيُ الصِّحَّةِ وَالْإِجْزَاءِ؛ وَقَدْ يُطْلَقُ الْقَبُولُ وَيُرَادُ بِهِ كَوْنُ الْعِبَادَةِ بِحَيْثُ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا الثَّوَابُ، فَإِذَا نَفَى كَانَ نَفْيًا لِمَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا مِنْ الثَّوَابِ لَا نَفْيًا لِلصِّحَّةِ،

[الصنعاني ,سبل السلام ,1/197]

Hadits ini menerangkan tentang ketidak-sahannya sholat wanita yang sudah baligh/mukallafah tanpa menutup aurot ( tidak menggunakan mukena atau rukuh ).

Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi juga dijelaskan :

باﺏ ﻣﺎ ﺟﺎء ﻻ ﺗﻘﺒﻞ ﺻﻼﺓ اﻟﺤﺎﺋﺾ ﺇﻻ ﺑﺨﻤﺎﺭ

ﻗﻮﻟﻪ ﻻ ﺗﻘﺒﻞ ﺻﻼﺓ اﻟﺤﺎﺋﺾ اﻟﻤﺮاﺩ ﻣﻦ اﻟﺤﺎﺋﺾ ﻣﻦ ﺑﻠﻎ ﺳﻦ اﻟﻤﺤﻴﺾ ﻻ ﻣﻦ ﻫﻲ ﻣﻼﺑﺴﺔ اﻟﻤﺤﻴﺾ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﻣﻤﻨﻮﻋﺔ ﻣﻦ اﻟﺼﻼﺓ ﺇﻻ ﺑﺨﻤﺎﺭ ﺑﻜﺴﺮ اﻟﺨﺎء ﻫﻮ ﻣﺎ ﻳﻐﻄﻰ ﺑﻪ ﺭﺃﺱ اﻟﻤﺮﺃﺓ ﻗﺎﻝ ﻓﻲ اﻟﻘﺎﻣﻮﺱ اﻟﺨﻤﺎﺭ ﺑﺎﻟﻜﺴﺮ اﻟﻨﺼﻴﻒ ﻛﺎﻟﺨﻤﺮ ﻛﻄﻤﺮ ﻭﻛﻞ ﻣﺎ ﺳﺘﺮ ﺷﻴﺌﺎ ﻓﻬﻮ ﺧﻤﺎﺭﻩ ﺟﻤﻌﻪ ﺃﺧﻤﺮﺓ ﻭﺧﻤﺮ ﻭﺧﻤﺮ ﻭﻗﺎﻝ ﻧﺼﻴﻒ ﻛﺄﺳﻴﺮ اﻟﺨﻤﺎﺭ ﻭاﻟﻌﻤﺎﻣﺔ ﻭﻛﻞ ﻣﺎ ﻏﻄﻰ اﻟﺮﺃﺱ اﻧﺘﻬﻰ ﻭاﻟﺤﺪﻳﺚ اﺳﺘﺪﻝ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻮﺏ ﺳﺘﺮ اﻟﻤﺮﺃﺓ ﺭﺃﺳﻬﺎ ﺣﺎﻝ اﻟﺼﻼﺓ

Yang dimaksud al-haidl adalah wanita yang sudah mencapai usia haidl, bukan wanita yang sedang haidl, karena wanita yang sedang haidl tentu dilarang sholat.

Jadi Sholatnya wanita baligh itu tidak sah jika tanpa memakai khimar/kerudung, jilbab dan sejenisnya yang bisa menutupi aurotnya.

Waallohu aa’lam.

Referensi Tambahan :

عون المعبود

لا يقبل الله صلاة حائض الا بخمار

( لا يقبل الله صلاة حائض ) أي لا تصح صلاة المرأة البالغة ، إذا الأصل في نفي القبول نفي الصحة إلا لدليل ، كذا في المرقاة . قال الخطابي : يريد بالحائض المرأة التي بلغت سن الحيض ولم يرد به التي هي في أيام حيضها ، لأن ” الحائض لا تصلي بوجه “

عمدة القاري شرح صحيح البخاري

ففي قوله عليه الصلاة والسلام ” لا يقبل الله صلاة حائض إلا بخمار ” والمراد بالحائض من بلغت سن الحيض ، فإنها لا تقبل صلاتها إلا بالسترة ، ولا تصح ولا تقبل مع انكشاف العورة ، والقبول يفسر بترتب الغرض المطلوب من الشيء على الشيء

كفاية الأخيار

قوله  [ لا يقبل الله صلاة حائض إلا بخمار ] قال الترمذي : حديث حسن وقال الحاكم : هو على شرط مسلم والمراد بالحائض البالغ

KEUTAMAAN BERSABAR DALAM HADITS-HADITS NABI MUHAMMAD SAW.

Berikut ini  sebagian Hadits-hadits  yang menjelaskan keutamaan sabar.

1. Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi)

2. Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa. (HR. Bukhari)

3. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?”Nabi Saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru mereka dan yang meniru mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamnya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (berat). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari)

4. Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). (HR. Bukhari)

5. Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani)

6. Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). (HR. Al-Baihaqi)

7. Apabila Aku menguji hambaKu dengan membutakan kedua matanya dan dia bersabar maka Aku ganti kedua matanya dengan surga. (HR. Ahmad)

8. Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari)

9. Seorang mukmin meskipun dia masuk ke dalam lobang biawak, Allah akan menentukan baginya orang yang mengganggunya. (HR. Al Bazzaar)

10. Tidak semestinya seorang muslim menghina dirinya. Para sahabat bertanya, “Bagaimana menghina dirinya itu, ya Rasulullah?” Nabi Saw menjawab, “Melibatkan diri dalam ujian dan cobaan yang dia tak tahan menderitanya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

11. Bukanlah dari (golongan) kami orang yang menampar-nampar pipinya dan merobek-robek bajunya apalagi berdoa dengan doa-doa jahiliyah. (HR. Bukhari)

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Bukan dari golongan kamiorang yang menampar-nampar pipi, mengoyak-ngoyak baju dan meratap dengan ratapan Jahiliyyah’,” (HR Bukhari [1294] dan Muslim [103]).

Penjelasan:

Dilakukan pada saat kematian anggota keluarga pada jaman jahiliyah.

12. Allah menguji hambaNya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Ath-Thabrani)

13. Salah seorang dari mereka lebih senang mengalami ujian dan cobaan daripada seorang dari kamu (senang) menerima pemberian. (HR. Abu Ya’la)

14. Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menguji hambanya dalam rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Kalau dia ridho dengan bagian yang diterimanya maka Allah akan memberkahinya dan meluaskan pemberianNya. Kalau dia tidak ridho dengan pemberianNya maka Allah tidak akan memberinya berkah. (HR. Ahmad)

15. Barangsiapa ditimpa musibah dalam hartanya atau pada dirinya lalu dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun maka menjadi hak atas Allah untuk mengampuninya. (HR. Ath-Thabrani)

16. Bencana yang paling payah ialah bila kamu membutuhkan apa yang ada di tangan orang lain dan kamu ditolak (pemberiannya). (HR. Ad-Dailami)

17. Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi)

JADILAH AHLI ILMU ATAU YANG MEMPELAJARI ILMU DAN JANGANLAH MENJADI AHLI BID’AH

ﺟﺎﻣﻊ ﺑﻴﺎﻥ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﻓﻀﻠﻪ ﻻﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺒﺮ

رقم الحديث: 120

(حديث مرفوع) أَخْبَرَنَا خَلَفُ بْنُ الْقَاسِمِ ، رَحِمَهُ اللَّهُ ، قَالَ : أنا مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ صَالِحٍ السَّبِيعِيُّ الْحَلَبِيُّ أَبُو بَكْرٍ ، بِدِمَشْقَ ، قَالَ : أنا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ سُفْيَانَ بْنِ يَزِيدَ الرَّقِّيُّ ، وَأَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ رَزِينٍ الْمُقْرِئُ الْفَنَادِقِيُّ ، وَأَبُو مُحَمَّدٍ بَيَانُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَلِيٍّ الْقَطَّانُ ، قَالُوا : حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ جَنَّادٍ الْحَلَبِيُّ ، ثنا عَطَاءُ بْنُ مُسْلِمٍ الْخَفَّافُ ، عَنْ خَالِدٍ ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” اغْدُ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا ، وَلا تَكُنِ الْخَامِسَةَ فَتَهْلِكَ ” ، قَالَ عَطَاءٌ : قَالَ لِي مِسْعَرُ بْنُ كِدَامٍ : يَا عَطَاءُ زِدْتَنَا فِي هَذَا الْحَدِيثِ زِيَادَةً لَمْ تَكُنْ فِي أَيْدِينَا ، وَإِنَّمَا كَانَ فِي أَيْدِينَا : اغْدُ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا ، يَا عَطَاءُ وَيْلٌ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ وَاحِدَةٌ مِنْ هَذِهِ

Hadits Marfu’ No. 120 : Telah mengkhabarkan pada kami Khalaf bin al-Qasim berkata: Kami, Muhammad bin al-Husain bin Shalih al-Sabi’iy al-Halabi Abu Bakar di Damaskus berkata: Kami, Abu Bakar Muhammad bin Ja’far bin Sufyan bin Yazid al-Riqi dan Abu ‘Abdillah Muhammad bin al-Husain bin Razin al-Muqri` al-Fanadiqi dan Abu Muhammad Bayan bin Ahmad bin ‘Aly al-Qatthan, mereka berkata: Telah menceritakan pada kami ‘Ubaid bin Jinad al-Halabi, telah menceritakan pada kami ‘Atha` bin Muslim al-Khaffaf dari Khalid dari ‘Abdirrahman bin Aby Bakrah dari Ayahnya dari Nabi saw. bersabda: “Jadilah engkau orang yg berilmu, atau orang yg belajar ilmu, atau orang yg mendengarkan tentang ilmu, atau orang yg mencintai ilmu. Dan janganlah menjadi orang kelima, sebabnya engkau akan celaka”.

‘Atha` berkata: Mus’ar bin Kaddam berkata padaku: Dalam hadits ini telahmenambah apa yg tidak ada padaku. Dan yg ada padaku hanyalah: “Jadilah engkau orang yg berilmu atau belajar ilmu”. Wahai ‘Atha`, sungguh celaka orang yg tidak memiliki salah satu dari ini.

جامع بيان العلم وفضله – مؤسسة الريان (1/ 71)

وحدثني عبد الله بن محمد بن عبد المؤمن بن يحيى، نا أبو علي الحسن بن محمد بن عثمان الفسوي ببغداد، نا أبو يوسف يعقوب بن سفيان الفسوي، قال: حدثنا حجاج بن منهال، نا حماد بن سلمة، عن حميد، عن الحسن، أن أبا الدرداء قال: كن عالمًا أو متعلمًا أو محبًّا أو متبعًا، ولا تكن الخامس فتهلك

قال: قلت للحسن: وما الخامس؟ قال: المبتدع

Telah bercerita padaku (albaihaqi) abdullah bin muhammad bin abdul mu’min bin yahya.telah bercerita padaku (abdullah) abu ali alhasan bin muhammad bin usman alfasawi dibagdad,telah bercerita padaku (abu ali) abu yusuf ya’qub bin sufyan alfasawi,beliau berkata telah bercerita padaku (abu yusuf) hajjaj bin manhal,telah bercerita padaku (hajjaj) hammad bin salmah dari hamid dari alhasan bahwa sesungguhnya abu darda’ berkata : Jadilah kamu orang yg mengerti/alim,atau orang yg belajar atau orang yg suka/cinta atau orang yg ikut dan janganlah kamu jadi orang yg ke-5 niscaya kamu akan rusak.

Perowi berkata,saya bertanya pada alhasan,,siapa orang yg ke-5 itu? alhasan menjawab,dia adalah orang ahli bid’ah