KEABSAHAN HADITS HARI JUM’AT PERTENGAHAN ROMADLON SEBAGAI AWAL BENCANA

Bulan Ramadhan bisa disebut sebagai bulan yang teramat spesial bagi umat Islam. Sudah selayaknya ia disambut dengan penuh suka cita dan rasa bahagia, sebab pada bulan suci ini semua amal ibadah dilipatgandakan pahalanya oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Meski demikian, masih saja ada sekelompok orang yang menyebarkan rasa cemas pada masyarakat di bulan suci Ramadhan ini. Salah satunya dengan ‘meramal’ bahwa Ramadhan tahun ini merupakan pembuka terjadinya kekacuan di bulan-bulan setelahnya, mengingat Ramadhan kali ini diawali dengan hari Jumat dan tanggal lima belas Ramadhan juga bertepatan dengan hari Jumat. Ramadhan yang diawali dengan Jumat diprediksi sebagai petunjuk atas banyaknya musibah pada tahun tersebut. Kelompok ini bukan tak mendasarkan ramalannya pada dalil apa pun.

Mereka memastikan terjadinya kekacauan pada tahun ini dengan menyitir hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud berikut :

إِذَا كَانَ صَيْحَةٌ فِي رَمَضَانَ فَإِنَّهَا تَكُونُ مَعْمَعَةٌ فِي شَوَّالٍ، وَتَمَيَّزُ الْقَبَائِلُ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، وَتُسْفَكُ الدِّمَاءُ فِي ذِي الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمِ وَمَا الْمُحَرَّمُ – يَقُولُهَا ثَلاَثًا – هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ يُقْتَلُ النَّاسُ فِيهَا هَرْجًا هَرْجًا قَالَ : قُلْنَا : وَمَا الصَّيْحَةُ ؟ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ : هَذِهِ تَكُونُ فِي نِصْفٍ مِنْ رَمَضَانَ يَوْمَ جُمُعَةٍ ضُحًى، وَذَلِكَ إِذَا وَافَقَ شَهْرُ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ تَكُونُ هَدَّةٌ تُوقِظُ النَّائِمَ، وَتُقْعِدُ الْقَائِمَ، وَتُخْرِجُ الْعَوَاتِقَ مِنْ خُدُورِهِنَّ فِي لَيْلَةِ جُمُعَةٍ سَنَةً كَثِيرَةَ الزَّلاَزِلِ وَالْبَرْدِ، فَإِذَا وَافَقَ رَمَضَانُ فِي تِلْكَ السَّنَةِ لَيْلَةَ جُمُعَةٍ فَإِذَا صَلَّيْتُمُ الْفَجْرَ يَوْمَ جُمُعَةٍ فِي النِّصْفِ مِنْ رَمَضَانَ – فَادْخُلُوا بُيُوتَكُمْ، وَسَدِّدُوا كُوَاكُمْ، وَدَثِّرُوا أَنْفُسَكُمْ، وَسُدُّوا آذَانَكُمْ، فَإِذَا أَحْسَسْتُمْ بِالصَّيْحَةِ فَخِرُّوا لِلَّهِ سُجَّدًا، وَقُولُوا سُبْحَانَ الْقُدُّوسِ، سُبْحَانَ الْقُدُّوسِ، رَبَّنَا الْقُدُّوسَ ؛ فَإِنَّهُ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ نَجَا، وَمَنْ تَرَكَ هَلَكَ

 “Ketika terdapat suara yang dahsyat (dentuman) tepat di bulan Ramadhan, maka pertanda akan terjadi huru-hara di bulan Syawal, kelompok masyarakat (kabilah) memisahkan diri di bulan Dzulqa’dah, banyak pertumpahan darah di bulan Dzulhijjah dan Muharram. Dan apa yang terjadi di bulan Muharram? (Nabi mengucapkannya tiga kali). Sayang sekali, saat itu banyak di antara manusia yang berperang satu sama lain dan keadaan sangat kacau. Maka kami bertanya: ‘Apa suara dahsyat itu wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘Suara itu terjadi di pertengahan bulan Ramadhan pada waktu dhuha di hari Jumat. Suara itu muncul tatkala bulan Ramadhan bertepatan dengan malam Jumat. Suara teriakan ini akan membangunkan orang-orang tidur, menjatuhkan orang-orang yang tegap berdiri, dan menjadikan para wanita terhempas keluar dari kamar-kamarnya pada malam Jumat selama satu tahun, banyak terjadi gempa dan cuaca yang sangat dingin. Apabila bulan Ramadhan bertepatan dengan malam Jumat maka tatkala kalian telah melaksanakan shalat subuh pada hari Jumat di pertengahan bulan Ramadhan, maka masuklah ke dalam rumah-rumah kalian, kuncilah pintu-pintu rumah, selimutilah diri kalian, dan tutupilah telinga-telinga kalian. Apabila kalian merasa ada suara dahsyat, maka menyungkurlah dengan bersujud kepada Allah dan ucapkanlah: “Subhânal Quddûs, Rabbunal Quddûs”. Barang siapa yang mengamalkan hal itu maka akan selamat, dan barang siapa meninggalkannya maka akan celaka” (HR Asy-Syasyi).

Dapatkah kita mempercayai prediksi-prediksi bahwa berbagai kekacauan seperti yang disebutkan dalam hadits di atas akan terjadi pada Ramadhan tahun ini, mengingat bulan Ramadhan tahun ini diawali hari Jumat?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, penting kiranya kita mengetahui bagaimana posisi kekuatan hadits di atas. Apakah benar bahwa hadits tersebut dapat dijadikan sebagai pijakan dalil yang sahih? Patut dipahami bahwa hadits tentang adanya suara dahsyat pada hari Jumat yang bertepatan dengan tanggal lima belas Ramadhan sama sekali tidak disebutkan oleh para ulama hadits yang diakui kredibilitasnya, seperti Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, an-Nasa’I, dan at-Tirmidzi. Hadits yang menjelaskan tentang suara dahsyat ini disebutkan oleh Imam asy-Syasyi, At-Thabrani, dan Ahmad as-Syaibani.

Berdasarkan hal ini, kualitas sanad dalam hadits di atas patut dipertanyakan. Salah satu kritikus hadits, Imam al-‘Uqaili dalam kitabnya, adh-Dhu’afa’ al-Kabir menyebutkan kritik tentang hadits ini:

 ليس لهذا الحديث أصل من حديث ثقة ولا من وجه يثبت

“Hadits ini tidak memiliki dasar dari hadits yang terpercaya dan juga tidak dari jalan (metode) yang ditetapkan (oleh para ulama hadits)” (Abu Ja’far Muhammad bin ‘Amr al-‘Uqaili, adh-Dhu’afa’ al-Kabir, juz 1, hal. 51).

Berpijak dari referensi tersebut maka dapat dipastikan bahwa status hadits di atas adalah hadits yang dlaif (lemah). Bahkan jika kita menelaah lebih lanjut tentang para perawi hadits di atas, kita temukan banyak sekali para rawi (periwayat) yang diragukan kredibilitasnya oleh para ulama hadits. Salah satu adalah Abdul Wahab bin Husein. Imam Hakim dalam salah satu hadits yang terdapat rawi Abdul Wahab bin Husein berkomentar bahwa ia merupakan orang yang tidak diketahui profilnya (majhul).

Imam adz-Dzahabi lantas menanggapi perkataan Imam Hakim tersebut:

 وفيه عبد الوهاب بن حسين وهو مجهول، قلت ذا موضوع

“Di dalam hadits ini terdapat Abdul Wahab bin Husain, dia adalah orang yang tidak diketahui. Aku (adz-Dzahabi) berkata: ‘Hadits ini maudlu’ (palsu)” (Adz-Dzahabi, Mukhtashar Istidrak adz-Dzahabi ‘ala Mustadrak al-Hakim, juz 4, hal. 522).

Sedangkan dari aspek matan (isi hadits), hadits ini juga tergolong sebagai hadits yang tidak dapat dijadikan pijakan. Sebab, isinya mengandung peristiwa-peristiwa di masa mendatang yang dijelaskan secara spesifik.

Maka tidak heran jika Ibnu al-Qayyim al-Jauzi mengategorikan sebagai hadits yang batal secara matan. Dalam al-Manar al-Munif beliau menjelaskan:

 ومنها أحاديث التواريخ المستقبلة وقد تقدمت الإشارة إليها وهي كل حديث فيه إذا كانت سنة كذا وكذا حل كذا وكذا كحديث يكون في رمضان هدة توقظ النائم وتقعد القائم وتخرج العواتق من خدورها وفي شوال همهمة وفي ذي القعدة تمييز القبائل بعضها إلى بعض وفي ذي الحجة تراق الدماء

“Sebagian dari tanda hadits yang tidak dapat dijadikan pijakan adalah hadits-hadits tentang sejarah masa yang akan datang. Keterangan tentang ini telah aku jelaskan sebelumnya, yaitu setiap hadits yang di dalamnya terdapat penjelasan bahwa pada tahun sekian dan sekian, terjadi ini dan ini. Seperti hadits yang menjelaskan bahwa pada bulan Ramadhan terdapat suara dahsyat yang dapat membangunkan orang-orang tidur, menjatuhkan orang-orang yang tegap berdiri, dan menjadikan para wanita terhempas keluar dari kamar-kamarnya. Pada bulan syawal terdapat huru-hara, di bulan Dzulqa’dah kelompok masyarakat memisahkan diri satu sama lain, dan di bulan Dzulhijjah terjadi pertumpahan darah” (Ibnu al-Qayyim al-Jauzi, al-Manar al-Munif, hal. 110).

Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hadits tentang adanya suara dahsyat pada hari Jumat tanggal lima belas Ramadhan tidak dapat dijadikan sebagai dasar pijakan hukum, sebab memiliki sanad dengan perawi yang bermasalah serta isi matan yang dianggap oleh sebagian ulama bukan bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan demikian, ramalan bahwa Ramadhan tahun ini merupakan pembuka atas kekacauan yang terjadi pada tahun ini adalah klaim yang tidak benar dan berpijak pada dalil hadits yang tidak bisa dijadikan dasar, sehingga tidak dapat dipercayai kebenarannya. Tidak baik bagi kita menaruh prasangka buruk pada hari Jumat tanggal lima belas Ramadhan ini, sebab hari Jumat merupakan hari terbaik di antara hari-hari yang lain, seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad:

 خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا

“Hari terbaik dimana matahari terbit adalah hari Jumat, pada hari itu Nabi Adam diciptakan, dimasukkan ke surga dan dikeluarkan dari surga” (HR Al-Bukhari). Maka sebaiknya pada Ramadhan tahun ini, kita perbanyak menebarkan kabar baik dan menggembirakan pada orang lain, terlebih saat ini bangsa kita sedang diberi cobaan menghadapi pandemi virus Covid-19. Jangan sampai kekhawatiran masyarakat dalam menghadapi pandemi diperparah dengan kabar-kabar buruk yang sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Wallahu a’lam.

PENGHUNI SURGA MEMPUNYAI KARAKTER SEPERTI INI

Iyadh bin Himar Al-Mujasyi’i ia berkata, pada suatu hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah seraya bersabda,

“Penghuni surga itu ada tiga; pertama, penguasa yang adil, jujur, dan mendapat taufik, kedua, seorang yang penyayang dan perhatian kepada setiap kerabat, ketiga, seorang muslim yang suci, pandai menjaga diri, dan memiliki keluarga….” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu ia berkata, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Macam-macam umat diperlibatkan keapdaku; aku melihat seorang Nabi beserta sekelompok orang pengikutnya,  aku melihat seorang Nabi beserta seorang laki-laki pengikutnya, aku melihat seorang Nabi tanpa ditemani seorang pengiku pun, kemudian diperlihatkan kepadaku sekelompok orang dengan jumlah yang amat banyak, maka aku berakta, ‘Ini adalah umatku.’ Kemudian dikatakan, ‘Ini adalah Musa dan umatnya. Tapi, lihatlah ke atas.’ Seketika terlihat sekelompok umat dengan jumlah yang amat banyak. Kemudian dikatakan, ‘Lihatlah ke arah yang lain.’ Seketika terlihat sekelompok umat dengan jumlah yang amat banyak. Kemudian dikatakan, ‘Ini adalah umatmu.’ Bersama mereka 70.000 orang masuk ke dalam surga tanpa melalui prosesi hisab dan siksa.” Kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berdiri, lalu masuk, lalu para shahabat berbicara panjang lebar tentang sabda Nabi tadi. Kemudian mereka berkata, ‘Siapakah mereka yang masuk surga tanpa melalui prosesi hisab dan siksa?’ Sebagian mereka berkata, ‘Barangkali mereka yang menyertai Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.’ Sebagian yang lain berkata, ‘Barangkali mereka yang dilahirkan dalam keadaan Islam, dia tidak pernah menyekutukan Allah.’ Mereka menyebutkan banyak hal. Kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam keluar kembali (dari kamar beliau) menemui mereka, lalu beliau berkata, ‘Apa yang kalian perbincangkan?’ Mereka pun memberitahukan kepada beliau tentang apa yang mereka perbincangkan antarmereka. Lalu beliau bersabda, ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan menggunakan kayy, tidak minta diruqyah (ruqyah yang tidak syar’i), tidak bertathayyur (pesimis karena melihat pertanda buruk), dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal.’ Kemudian ‘Ukkasyah bin Mihshan Al-Asadi berdiri seraya berkata, ‘Apakah saya termasuk bagian dari mereka, wahai Rasulullah?’ Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. ‘Kamu adalah termasuk bagian dari mereka!’ Lalu sebagian shahabat yang lain (Sa’ad bin ‘Ubadah) berkata, ‘Apakah saya bagian dari mereka, wahai Rasulullah?’ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kamu telah didahului oleh Ukkasyah’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Berkaitan dengan maksud tawakkal di dalam hadis di atas, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tawakkal adalah kondisi hati yang timbul atas pengetahuannya terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, percaya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sendirian dalam mencipta, mengatur, menghilangkan madharat, mendatangkan manfaat, memberi, memboikot pemberian, dan apa yang Dia kehendaki bisa terwujud meskipun manusia tidak menghendakinya, sedangkan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak terwujud meskipun manusia menghendakinya. Dengan begitu, ia bersandar sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menyerahkan segala hal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, merasa tenang bersama-Nya, percaya sepenuhnya kepada-Nya, yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencukupinya berdasarkan rasa dan sikap tawakkal kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memenuhi kebutuhan orang yang tawakkal itu, tidak ada sesuatu yang terjadi di luar kehendak-Nya, baik manusia menginginkannya maupun menolaknya. Kondisi orang yang tawakkal itu seperti kondisi anak kecil di hadapan kedua orang tuanya, dalam perihal sesuatu yang ia niatkan, baik motivasi atau larnagan, maka kedua orang tua itu menanggung sepenuhnya. Perhatikanlah hati anak itu tidak pernah terbesit untuk bersandar kepada selain kedua orang tuanya, dan menahan hasratnya untuk menyampaikan apa yang ia niatkan kepada kedua orang tuanya. Begitu juga kondisi orang yang tawakkal. Barangispa yang memiliki sikap seperti iu dalam berinteraksi dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti mencukupinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Ath-Thalaaq: 3)

Dari Sahal bin Sa’ad ia berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang menjamin (menjaga) lisan dan kemaluannya, maka aku menjaminnya untuk masuk jannah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang oleh Allah dijaga dari kejelekan lisan dan kemaluannya, maka ia akan masuk jannah’.”

Dari Mu’adz bin Jabal ia berkata,

“Aku pernah bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan. Pada suatu pagi aku berada di dekat Nabi, sementara kami sedang berjalan kaki, lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, beritahulah saya tentang pekerjaan yang bisa memasukkan saya ke surga dan menjauhkan saya dari neraka.’ Beliau bersabda, ‘Kamu telah bertanya kepadaku tentang sesuatu yang agung. Sungguh sedikit orang yang dimudahkan oleh Allah untuk bertanya tentang hal itu. (Amal itu adalah) kamu menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun, melaksanakan shalat menunaikan zakat, shiyam pada bulan Ramadhan, berhaji ke Baitullah.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Maukah kamu jika aku memberitahumu tentang pintu-pintu kebaikan? Shiyam itu adalah perisai, sedangkan sedekah dapat menghapus dosa, sebagaimana air dapat memadamkan api, serta shalat seseorang pada kesunyian malam (qiyamul lail).’ Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.’ (QS. As-Sajdah: 16-17). Beliau kemudian bersabda, “Maukah kamu jika aku memberitahumu tentang penghulu segala sesuatu, tiang segala sesuatu, dan puncak segala sesuatu?’ Aku berkata, ‘Dengan senang hati, wahai Rasulullah.’  “Pokok segala urusan adalah Islam, pilarnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.” Beliau bersabda, ‘Maukah kamu jika aku memberitahumu raja dari seluruh itu?’ Aku berkata, ‘Dengan senang hati, wahai Nabi Allah.’ Kemudian Rasulullah memegang mulut Mua’adz seraya bersabda, ‘Jagalah (tahanlah) mulutmu seperti ini.’ Aku berkata, ‘Wahai Nabi Allah, apakah kami akan disiksa karena kata-kata yang kami ucapkan?’ Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ibumu merasa kehilangan kamu, (celakalah) wahai Mu’adz. Tidaklah manusia dicebloskan ke dalam neraka dengan diseret di atas wajah atau dahinya kecuali disebabkan oleh kata-kata yang diucapkan oleh mulut mereka’.”

PARA SAHABAT NABI SAW YANG DI BERI KABAR GEMBIRA MENJADI PENGHUNI SURGA

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahih-nya,

حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ قَالَ حَدَّثَنِي عُثْمَانُ بْنُ غِيَاثٍ حَدَّثَنَا أَبُو عُثْمَانَ النَّهْدِيُّ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَائِطٍ مِنْ حِيطَانِ الْمَدِينَةِ فَجَاءَ رَجُلٌ فَاسْتَفْتَحَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَحْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ فَفَتَحْتُ لَهُ فَإِذَا أَبُو بَكْرٍ فَبَشَّرْتُهُ بِمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَمِدَ اللَّهَ ثُمَّ جَاءَ رَجُلٌ فَاسْتَفْتَحَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَحْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ فَفَتَحْتُ لَهُ فَإِذَا هُوَ عُمَرُ فَأَخْبَرْتُهُ بِمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَمِدَ اللَّهَ ثُمَّ اسْتَفْتَحَ رَجُلٌ فَقَالَ لِي افْتَحْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ عَلَى بَلْوَى تُصِيبُهُ فَإِذَا عُثْمَانُ فَأَخْبَرْتُهُ بِمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَمِدَ اللَّهَ ثُمَّ قَالَ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

Yusuf bin Musa menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abu Usamah menuturkan kepada kami. Dia berkata; Utsman bin Ghiyats menuturkan kepadaku. Dia berkata; Abu Utsman an-Nahdi menuturkan kepada kami dari Abu Musa radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Dahulu aku bersama dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam salah satu kebun di Madinah. Kemudian ada orang yang datang dan meminta ijin untuk masuk, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Bukakanlah gerbang untuknya dan beri kabar gembira kepadanya dengan surga.” Maka aku pun membukakan untuknya ternyata yang datang adalah Abu Bakar. Kemudian aku kabarkan berita gembira yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu kepadanya. Maka dia pun memuji Allah. Lalu datang lagi seorang lelaki yang meminta ijin untuk masuk, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Bukakanlah gerbang untuknya dan beri kabar gembira kepadanya dengan surga.” Maka aku pun membukakan untuknya ternyata yang datang adalah Umar. Kemudian aku kabarkan berita gembira yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu kepadanya. Maka dia pun memuji Allah. Lalu datang lagi seorang lelaki yang meminta ijin untuk masuk, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Bukakanlah gerbang untuknya dan beri kabar gembira kepadanya dengan surga beserta musibah yang akan menimpanya.” Ternyata lelaki itu adalah Utsman. Kemudian aku kabarkan berita gembira yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu kepadanya. Maka dia pun memuji Allah lalu berkata, “Allahul musta’aan (Allah adalah tempat meminta pertolongan).”.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Manaqib)

Hadits ini menunjukkan :

1. Sopan santun para sahabat apabila hendak memasuki tempat milik orang lain

2. Abu Bakar, Umar dan Utsman adalah pasti masuk surga

3. Dianjurkan menyampaikan kabar gembira kepada sesama muslim

4. Segala keutamaan yang didapatkan manusia adalah anugerah dari Allah

5. Perintah untuk memuji Allah atas nikmat yang kita terima

6. Utsman meninggal dalam keadaan tertimpa musibah

7. Mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

8. Iman kepada surga dan ia merupakan tempat penuh kebahagiaan

9. Abu Bakar, Umar dan Utsman mati dalam keadaan beriman

10. Perkataan “Allahul musta’an” ketika menghadapi sesuatu yang terasa berat atau memprihatinkan

11. Wajib membenarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

12. Ketaatan para sahabat dan pengagungan mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

13. Bolehnya menyuruh orang lain atau meminta pertolongannya dalam perkara yang mampu dia lakukan

14. Bolehnya menggunakan jasa penjaga pintu, satpam, dan lain sebagainya

15. Diterimanya hadits ahad dalam masalah aqidah

16. Para sahabat adalah orang yang terpercaya

17. Dan faidah lainnya

USAHA MENJAWAB BAHWA MASJID TIDAK MENJADI TEMPAT TERTULARNYA PENYAKIT

Saya tidak menolak kebenaran sabda Nabi dalam hadis-hadis di bawah ini. Tapi saya ingin mendudukkan hadis secara proporsional berdasarkan pemaparan para ulama ahli hadis. Jika hadis ini terus disebarkan bahwa masjid adalah tempat selamat dari virus Corona padahal sudah banyak bukti ada beberapa masjid yang jama’ahnya tertular Corona, lalu siapa yang hendak disalahkan? Apakah Sabda Nabi? Jangan begitu, fren. Tidak ada yang salah dengan Nabi, mungkin kita yang salah dalam menafsirkan hadis-hadis Nabi.

Saya setuju dengan jawaban ulama Ahli Hadis Syekh Abdurrauf Al-Munawi bahwa ketika bencana itu sedikit maka orang-orang yang rajin ke masjid akan diberi keselamatan. Tapi jika bencana itu rata maka siapapun bakal kena (uraiannya ada di poin hadis no. 4)

Berikut beberapa hadis yang dijadikan landasan dan statusnya:

1. Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rosululloh ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَنْزَلَ عَاهَةً مِنَ السَّمَاءِ عَلَى أَهْلِ الأرْضِ صُرِفَتْ عَنْ عُمَّارِ الْمَسَاجِدِ

“Sesungguhnya apabila Alloh ta’ala menurunkan penyakit dari langit kepada penduduk bumi maka Alloh menjauhkan penyakit itu dari orang-orang yang memakmurkan masjid.”

Hadits riwayat Ibnu Asakir (juz 17 hlm 11) dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232).

Jawaban: Hadis ini dinilai dhaif oleh Al-Hafidz Adz-Dzahabi dalam Mizan Al-I’tidal 2/64.

2. Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rosululloh ﷺ bersabda:

إِذا أرَادَ الله بِقَوْمٍ عاهةً نَظَرَ إِلَى أهْلِ المَساجِدِ فَصَرَفَ عَنْهُمْ

“Apabila Allah menghendaki penyakit pada suatu kaum, maka Allah melihat ahli masjid, lalu menjauhkan penyakit itu dari mereka.”

Riwayat Ibnu Adi (juz 3 hlm 233); al-Dailami (al-Ghumari, al-Mudawi juz 1 hlm 292 [220]); Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbihan (juz 1 hlm 159); dan al-Daraquthni dalam al-Afrad (Tafsir Ibn Katsir juz 2 hlm 341).

Jawaban: Hadis ini dinilai dhaif oleh Al-Munawi, bahwa ada perawi bernama Mukram bin Hakim yang dinilai dhaif oleh Adz-Dzahabi, juga perawi Zafir dinilai dhaif oleh Ibnu Adi dan dikatakan “Hadisnya tidak bisa dijadikan mutaba’ah / penguat internal” (Faidl Al-Qadir 1/342)

3. Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه berkata: “Aku mendengar Rosululloh ﷺ bersabda:

يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ” إِنِّي لَأَهُمُّ بِأَهْلِ الْأَرْضِ عَذَابًا فَإِذَا نَظَرْتُ إِلَى عُمَّارِ بُيُوتِي والْمُتَحَابِّينَ فِيَّ والْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ صَرَفْتُ عَنْهُمْ ”

Allah عز وجل berfirman: “Sesungguhnya Aku bermaksud menurunkan azab kepada penduduk bumi, maka apabila Aku melihat orang-orang yang memakmurkan rumah-rumah-Ku, yang saling mencintai karena Aku, dan orang-orang yang memohon ampunan pada waktu sahur, maka Aku jauhkan azab itu dari mereka.”

Riwayat al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman [2946].

 Jawaban: Di dalamnya ada perawi bernama Shaleh Al-Mari dinilai Matruk (perawi yang ditinggalkan) oleh An-Nasa’i dan Adz-Dzahabi (Faidl Al Qadir 2/398)

4. Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه berkata, Rosululloh ﷺ bersabda:

“إِذَا عَاهَةٌ مِنَ السَّمَاءِ أُنْزِلَتْ صُرِفَتْ عَنْ عُمَّارِ الْمَسَاجِدِ”

“Apabila penyakit diturunkan dari langit, maka dijauhkan dari orang-orang yang memakmurkan masjid.”

Riwayat al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman [2947]; dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232). Al-Baihaqi berkata: “Beberapa jalur dari Anas bin Malik dalam arti yang sama, apabila digabung, maka memberikan kekuatan (untuk diamalkan)”.

 Jawaban: Perkataan Imam Al-Baihaqi ini tidak berlaku mutlak. Mari kita perhatikan jawaban Imam Al-Munawi:

ﻧﻌﻢ ﻫﺬا ﻣﺨﺼﻮﺹ ﺑﻤﺎ ﺇﺫا ﻟﻢ ﻳﻜﺜﺮ اﻟﺨﺒﺚ ﺑﺪﻟﻴﻞ اﻟﺨﺒﺮ اﻟﻤﺬﻛﻮﺭ

“Semua ini (marabahaya dijauhkan dari masjid) adalah jika keburukan tidak banyak, terbukti dengan dalil hadis sebelumnya” (Faidl Al Qadir 1/ 342)

Apa hadis yang dimaksud? Imam As-Suyuthi menyampaikan riwayat bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

ﺇِﺫا ﺃﻧْﺰَﻝَ اﻟﻠﻪ ﺑِﻘَﻮْﻡٍ ﻋﺬاﺑﺎ ﺃﺻﺎﺏَ اﻟﻌَﺬَاﺏُ ﻣَﻦْ ﻛﺎﻥَ ﻓِﻴﻬِﻢْ (ﺣﻢ ﺧ) ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ

“Jika Allah menimpakan azab kepada suatu kaum maka Allah ratakan kepada mereka semuanya” (HR Ahmad dan Bukhari)

Hadis al-Bukhari ini dari segi kualitas lebih sahih daripada hadis-hadis sebelumnya. Dan di hadis ini tidak membedakan mana yang di masjid dan di luar masjid, orang baik dan tidak baik juga kena, pasien atau dokter juga bisa jadi korban.

5. Al-Imam al-Sya’bi, ulama salaf dari generasi tabi’in, رحمه الله تعالى berkata:

“كَانُوا إِذَا فَرَغُوا مِنْ شَيْءٍ أَتَوُا الْمَسَاجِدَ ”

Mereka (para sahabat) apabila ketakutan tentang sesuatu, maka mendatangi masjid.

Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman (juz 3 hlm 84 [2951]).

Jawaban: Saya sudah menelusuri beberapa kamus Arab makna Faragha yang Mutaaddi (transitif) dengan “Min” belum menemukan makna “Ketakutan tentang Sesuatu”. Makna yang tepat adalah jika para Sahabat selesai mengerjakan apapun maka mereka datang ke Masjid.

Saya tidak menakut-nakuti supaya tidak datang ke masjid, namun dalam kondisi seperti ini keselamatan manusia harus lebih diutamakan. Setelah wabah Corona ini selesai in syaa Allah status di FB saya akan dipenuhi dengan ajakan kembali beribadah ke masjid, Tahlilan, shalawatan dan lainnya.

PENDOSA YANG BERTAUBAT DAN MERAIH HUSNUL KHOTIMAH

Al- Mawaa’izhul Ushfuriyah , Hadits Kedua Hikayat Kedua

الحديث الثاني عن ابن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله ص.م : الفاجر الراجي برحمة الله تعالي اقرب من العابد المقنط

Hadits Kedua

Dari Ibni Mas’ud (abdulloh bin mas’ud) ra berkata : Telah bersabda Rosululloh SAW : “Pelaku dosa yang berharap rahmat Allah lebih dekat daripada seorang hamba yang beribadah yang putus asa dari rahmatNYA”

(حكاية) ان رجلا مات علي عهد موسي عليه السلام فكره الناس غسله ودفنه لفسقه فأخذوه برجليه وطرحوه في مزبلة ، فأوحي الله تعالي الي موسي عليه السلام . وقال يا موسي مات في محلة ماجان في شهر المروة ولي من اوليائي فلم يكفنوه ولم يدفنوه فاذهب انت فاغسله وكفنه وصل عليه وادفنه، فجاء موسي عليه السلام الي تلك المحلة، وسأل لهم عن الميت فقالوا له : مات رجل من صفة كذا وكذا وإنه كان فاسقا معلنا فقال اين مكانه ؟ فان الله تعالي اوحي الي لأجله ،قال فعلموني مكانه .فلما رأه موسي عليه السلام مطروحا في المزبلة وأخبره الناس عن سوء افعاله ناجي موسي ربه ،فقال إلهي امرتني بدفنه والصلوة عليه وقومه يسبون عليه شرا وانت اعلم به منهم من الثناء القبيح، فأوحي الله عليه يا موسي صدق قومه فيما حكوا عنه من سوء افعاله غير انه تشفع الي عند وفاته بثلاثة اشياء لو سأل مني جميع مذنب خلقي لأعطيته فكيف وقد سأل نفسه وانا ارحم الراحمين. قال يا ربي ما الثلاثة ؟ قال لما دني وفاته قال يا ربي انت تعلم مني فاني ارتكب المعصية مع كراهية المعضية في قلبي

اولها هو النفس والرفيق السوء وابليس عليه اللعنة وهذه الثلاثة القبيحة في المعصية فانك كنت تعلم مني ما اقول فاغفرلي

والثاني قال يا ربي انك تعلم بأني ارتكب المعاصي وكان مقامي مع الفسقة ولكن صحبة الصالحين وزهدهم والمقام معهم احب الي من الفاسقين

والثالث قال الهي ان كنت تعلم مني ان الصالحين كانوا احب الي من الفاسقين حتي لو استقبلني رجلان صالح وطالح الا قدمت حاجة الصالح علي الطالح

Hikayat

Ada seorang lelaki meninggal dunia dimasa nabi Musa ‘alaihissalam . semua orang tidak mau memandikan dan mengafani jenazahnya, karena kedurhakaanya semasa didunia. orang-orang itu membuangnya dengan kaki mereka ditempat sampah.

Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa ‘alaihissalam: “Wahai Musa, telah mati seorang laki-laki, jenazahnya kini ditempat sampah. padahal ia adalah kekasihKu. ia tidak dimandaikan maupun dikafani dan tidak dikuburkan. Maka berangkatlah engkau untuk memandikannya, mengkafaninya, sembahyangkan dan kuburlah iadengan kemuliyaan”. lalu Musa berangkat ke tempat itu. dan menanyakan mayat itu kepada penduduk.

“Benar disini telah meninggal seorang durhaka” jawab mereka.

“Dimana ia kini ?, aku kesini semata-mata datang atas perintah Allah untuk laki-laki yang kalian anggap durhaka itu”. kata Musa

Diantarlah penduduk kampung, Musa menjenguk mayat tersebut. padahal banyak kabar simpang siur atas orang tersebut tentang kebusukan mayatnya oleh penduduk yang tidak menyukainya. Musa pun heran atas perintah tuhannya itu.

Kemudian Nabi Musa as munajat kepada Allah :”Tuhan, engkau telah mengutusku menguburkanya dan menyembahyangkannya . padahal kaumnya menyaksikan dia seorang durhaka. hidupnya hanya dilakukan untuk perbuatan tercela. Hanya Engkau yang tahu antara Puji dan Cela.

Dijawab Allah: “Benar Musa. orang-orang itu juga benar. mereka menghukumi laki-laki itu karena perbuatannya.

Tetapi Aku telah mengampuninya karena tiga sebab. ketahuilah: kalau seorang pendosa meminta ampun kepadaKu dan Kuampuni, mengapa dia tidak? padahal dia pernah berkata kepada dirinya sendiri bahwa Aku adalah Tuhan Yang Maha Penyayang.

“Apakah tiga sebab itu,Tuhan?” tanya Musa.

” Ketika laki-laki itu menghadapi maut, ia mengadu kepadaKu: Tuhan, Engkau tahu segala maksiat yang kuperbuat, padahal sebenarnya aku sangat membencinya. mengapa kulakukan juga ?. itu karena tiga hal, Tuhanku.

Pertama: Karena nafsu pergaulan yang jelek, dan iblis terkutuk. ini pertama membawaku jatuh dalam pelukan maksiat. tentu Kau sangat tahu, dan ampunilah aku.

Kedua: Tuhan, Kau pasti tahu bahwa aku berbuat maksiat karena berada dilingkungan yang fasiq/bejat. padahal aku mencintai orang-orang alim dan zuhud, tinggal bersama mereka sangat aku senangi dari pada tinggal dengan orang-orang fasiq/bejat itu.

Ketiga: Tuhan, sungguh orang yang salih lebih baik dari pada orang yang thalih. sungguh orang salih lebih saya cintai. jika seandainya datang kedua orang itu, saya akan mendahulukan orang yang salih.

Allah melanjutkan:” maka Kuampuni dosanya dan Kurahmati dia. sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Kasih dan Maha Penyayang. khususnya pada mereka yang mengakui kesalahannya dihadapan-Ku. dan laki-laki ini telah mengakui kesalahannya, maka Ku ampuni dia Ku lewatkan atas dosa-dosanya.

Wahai Musa, lakukan apa yang Aku perintahkan. Akupun akan mengampuni orang-orang yang menyembahyangkannya serta ikut menguburnya, demi kemuliaan yang ia miliki.

Wallahu A’lam

MANFAAT AGUNG SEHELAI BULU MATA YANG BASAH KARENA TANGISAN TAKUT KEPADA ALLOH SWT.

Bismillahir Rohmaanir Rohiim, Allohumma Sholli ‘Ala Sayyidinaa Muhammadin Wa ‘Ala Aalihi Washohbihi Ajma’in

Rosulullah SAW bersabda :

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم   لا يلج النار رجل بكى من خشية الله حتى يعود اللبن في الضرع

Dari Abi Hurairoh ra: Rosulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu [yang telah diperah] bisa masuk kembali ke tempat keluarnya”

( وفي دقائق الاخبار ) يؤتي بعبد يوم القيامة فترجح سيئاته , فيؤمر به الي النار , فتتكلم شعرة من شعرات عينه , وتقول يارب رسولك محمد صلي الله عليه وسلم , قال من بكي من خشية الله حرم الله تلك العين من النار , واني بكيت من خشيتك , فيغفر الله له ويستخلصه من النار , ببركة شعرة واحدة كانت تبكي من خشية الله في الدنيا , وينادي جبريل عليه السلام , نجا فلان بن فلان بشعرة واحدة

Dalam kitab Daqoiqul Ahkbaar tertulis:

“Di datangkan seorang hamba pada hari qiyamat (saat di timbang amal), maka amal keburukannya mengalahkan amal kebaikannya, kemudian si hamba diputuskan masuk neraka.

Maka berbicara satu helai bulu matanya: “Wahai Tuhanku, RosulMu Muhammad SAW pernah bersabda: (“Barangsiapa yang menangis karena takut kepada Allah, maka haram mata tersebut masuk neraka”). Dan aku pernah menangis karena takut kepadaMu.

Maka kemudian Allah mengampuni hamba tersebut, dan menyelamatkannya dari adzab neraka dengan berkah SEHELAI BULU MATA yang basah karena tangisan takut kepada Allah ketika di dunia.

Malaikat Jibril as berkata: “Telah selamat fulan bin fulan karena SEHELAI BULU MATA.

GUNAKANLAH KESEMPATAN ROMADLON INI UNTUK BISA MENANGIS KARENA TAKUT KEPADA ALLOH SWT. Wallohu a’lam

Sumber kisah :

Mukasyafatul Quluub-Imam Al-ghozali QS

SEMANGAT BERAGAMA HARUS DI DASARI AKHLAQ MULIA


KITAB al-Maroqoh al-Mafatih Syarh Misykah al-Mashobih – Ali bin Sulthon Muhammad al-Qoori
Kitab al-fadhoil

وعن أبي هريرة ، قال : قيل يا رسول الله ادع على المشركين قال : إني لم أبعث لعانا ، وإنما بعثت رحمة . رواه مسلم .

…Dari Abi Hurairoh, ia berkata : diucapkan kepada Rosulillah, Ya Rosulallah … Berdo’a lah atas orang orang musyrik (musyrikin). Maka bersabda Rosulullah : “Sesungguhnya aku tidak di utus untuk menjadi seorang pelaknat, dan sungguh aku diutus agar menjadi rahmat. [HR.Muslim]

( وعن أبي هريرة ) : رضي الله عنه ( قال : قيل يا رسول الله ادع على المشركين . قال : ” إني لم أبعث لعانا ” ) ، أي ولو على جماعة مخصوصة من الكافرين ، لقوله تعالى : ليس لك من الأمر شيء أو يتوب عليهم أو يعذبهم ( ” وإنما بعثت رحمة ” ) أي للناس عامة وللمؤمنين خاصة ، متخلقا بوصفي الرحمن الرحيم ، ولقوله تعالى : وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين قال ابن الملك : أما للمؤمنين فظاهر

Sabda Nabi (” إني لم أبعث لعانا “) dalam tafsir haditsnya hingga menggunakan dan dibatas maksimalkan dengan GHOOYAH.=> ( أي ولو على جماعة مخصوصة من الكافرين)
“Walaupun atas kelompok tertentu dari kaum kafir.”

‘Ilatnya, karena Firman Allah ta’ala (ليس لك من الأمر شيء أو يتوب عليهم أو يعذبهم) artinya :“Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu, atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang’ orang yang dzalim.” [QS. Ali Imran : 128]

Sabda Nabi SAW (” وإنما بعثت رحمة “) yaitu bagi seluruh manusia secara umum, dan kepada orang yang beriman secara khusus, dengan berakhlaq menggunakan dua sifat ilahiyah, yaitu sifat rohman dan rohiim.
Dan karena firman Allah (وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين) , Ibnu Mulk berkata : Adapun (rohmat) kepada mu’minin itu sudah zhohir/jelas.

وأما للكافرين فلأن العذاب رفع عنهم في الدنيا بسببه ، كما قال تعالى : وما كان الله ليعذبهم وأنت فيهم أقول : بل عذاب الاستئصال مرتفع عنهم ببركة وجوده إلى يوم القيامة

Adapun (rohmat) bagi kaafirin, maka sungguh adzab di angkat dari mereka ketika di dunia dengan sebab wujudnya Nabi SAW, bahkan adzab yang sifatnya isti’shol (memusnahkan) dicabut dari mereka dengan berkah wujudnya Nabi SAW , sampai hari qiyamat.

وقال الطيبي أي : إنما بعثت لأقرب الناس إلى الله ، وإلى رحمته ، وما بعثت لأبعدهم عنها ، فاللعن مناف لحالي فكيف ألعن ؟ ( رواه مسلم ) . وكذا البخاري في الأدب المفرد . وروى الطبراني ، عن كريز بن شامة قوله : ” إني لم أبعث لعانا ” . وروى البخاري في تاريخه ، عن أبي هريرة بلفظ : ” إنما بعثت رحمة ولم أبعث عذابا ”

At-Thibi berkata (dalam menafsirkan hadits di atas) : “Sungguh aku di utus agar menjadi hamba yang paling dekat kepada Allah dan kepada rahmat-Nya diantara manusia, dan aku tidak diutus (bukan tujuan aku di utus) agar aku menjauhkan mereka dari rahmat Allah, Maka aksi melaknat menafikan kepada hal diutusnya aku, maka bagaimana aku bisa melaknat ?.”
Hadits diriwayatkan Imam Muslim sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhori dalam al-Adab al-Mufrod.
Sedang lafadz hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori dari Abi Hurairoh adalah dengan lafadz
” إنما بعثت رحمة ولم أبعث عذابا ” .

Artinya : “Sungguh aku di utus sebagai rahmat, dan aku tidak di utus sebagai adzab/siksaan)

Wallahu a’lam.

INILAH TEMAN SEJATI BAGI KITA SEMUA

Baginda Rosululloh SAW bersabda

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Suatu yang mengikuti mayit ada tiga, dua kembali pulang, dan satu ikut bersamanya.
Ia dihantarkan keluarganya, hartanya dan amalnya, maka yang kembali pulang keluarganya dan hartanya, sedangkan yang tersisa (bersamanya) hanyalah AMALnya.”

  • Kitab Fathul Baari

حدثنا الحميدي حدثنا سفيان حدثنا عبد الله بن أبي بكر بن عمرو بن حزم سمع أنس بن مالك يقول قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يتبع
الميت ثلاثة فيرجع اثنان ويبقى معه واحد يتبعه أهله وماله وعمله فيرجع أهله وماله ويبقى عمله

الحاشية رقم: 1
9738 الحديث الرابع قوله : سفيان هو ابن عيينة وليس لشيخه عبد الله بن أبي بكر في الصحيح عن أنس إلا هذا الحديث

قوله يتبع الميت ) كذا للسرخسي والأكثر وفي رواية المستملي ” المرء ” وفي رواية أبي ذر عن الكشميهني ” المؤمن ” والأول المعتمد فهو المحفوظ من حديث ابن عيينة وهو كذلك عند مسلم

قوله يتبعه أهله وماله وعمله ) هذا يقع في الأغلب ورب ميت لا يتبعه إلا عمله فقط والمراد من يتبع جنازته من أهله ورفقته ودوابه على ما جرت به عادة العرب وإذا انقضى أمر الحزن عليه رجعوا سواء أقاموا بعد الدفن أم لا ومعنى بقاء عمله أنه يدخل معه القبر وقد وقع في حديث البراء بن عازب الطويل في صفة المسألة في القبر عند أحمد وغيره ففيه ويأتيه رجل حسن الوجه حسن الثياب حسن الريح فيقول أبشر بالذي يسرك فيقول من أنت ؟ فيقول : أنا عملك الصالح وقال في حق الكافر : ويأتيه رجل قبيح الوجه الحديث وفيه بالذي يسوءك وفيه عملك الخبيث

قال الكرماني : التبعية في حديث أنس بعضها حقيقة وبعضها مجاز فيستفاد منه استعمال اللفظ الواحد في حقيقته ومجازه . قلت هو في الأصل حقيقة في الحس ويطرقه المجاز في البعض وكذا المال وأما العمل فعلى الحقيقة في الجميع وهو مجاز بالنسبة إلى التبعية في الحس

HANYA AMAL SHOLIH TEMAN YANG BAIK BAGIMU

Rasulullah juga bersabda:
إِنَّ الْمَيِّتَ لَيَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ حِينَ يُوَلُّونَ عَنْهُ مُدْبِرِينَ فَإِذَا كَانَ مُؤْمِنًا كَانَتِ الصَّلاةُ عِنْدَ رَأْسِهِ ، وَالزَّكَاةُ عَنْ يَمِينِهِ ، وَكَانَ الصِّيَامُ عَنْ يَسَارِهِ ، وَكَانَ فِعْلُ الْخَيْرَاتِ وَالصَّدَقَةُ وَالصِّلَةُ وَالْمَعْرُوفُ وَالإِحْسَانُ إِلَى النَّاسِ عِنْدَ رِجْلَيْهِ فَيُؤْتَى مِنْ عِنْدَ رَأْسِهِ ، فَتَقُولُ الصَّلاةُ : مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ فَيُؤْتَى مِنْ عَنْدَ يَمِينِهِ ، فَتَقُولُ الزَّكَاةُ : مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ فَيُؤْتَى عَنْ يَسَارِهِ ، فَيَقُولُ الصِّيَامُ : مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ فَيُؤْتَى مِنْ عِنْدِ رِجْلَيْهِ ، فَيَقُولُ : فِعْلُ الْخَيْرَاتِ مِنَ الصَّدَقَةِ وَالصِّلَةِ وَالْمَعْرُوفِ وَالإِحْسَانِ إِلَى النَّاسِ : مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ
“Sesungguhnya mayat masih dapat mendengar suara sandal kamu sekalian tatkala meninggalkannya.
Jika dia orang yang BERIMAN, maka SHALAT berada didekat kepalanya, ZAKAT disebelah kanannya, SHAUM disebelah kirinya, dan segala amal kebaikan seperti SEDEKAH, SILATURRAHMI, KEMA’RUFAN dan IHSAN KEPADA MANUSIA (yaitu akhlaq yang mulia) didekat kedua kakinya.
Kemudian didatangkan malaikat dari arah kepalanya, maka shalat berkata ’Tidak ada jalan dari arahku (untukmu)’
kemudian didatangkan malaikat dari arah kanannya maka zakat berkata ’tidak ada jalan dari arahku (untukmu)’
kemudian didatangkan malaikat dari arah kirinya maka puasa berkata ’tidak ada jalan dari arahku (untukmu)’
kemudian didatangkan malaikat dari arah kakinya, maka aneka amal kebaikan, sedekah (sunnah), mnymbg silaturahmi , dan segala perbuatan ma’ruf, dan perbuatan baiknya kepada manusia berkata: ’tidak ada jalan dari arahku (untukmu)’

  • Kitab Al Mustadrok’Ala Al-Shohihaini

MERAIH MATI KHUSNUL KHOTIMAH WALAU SEBAGAI PENDOSA

Dikutip dalam kitab Al-Mawaa’izhul Ushfuriyah , Hadits Kedua Hikayat Kedua.

الحديث الثاني عن ابن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله ص.م : الفاجر الراجي برحمة الله تعالي اقرب من العابد المقنط

Hadits Kedua
Dari Ibni Mas’ud (abdulloh bin mas’ud) ra berkata : telah bersabda Rosululloh SAW : “Pelaku dosa yang berharap rahmat Allah lebih dekat daripada seorang hamba yang beribadah yang putus asa dari rahmatNYA”

(حكاية) ان رجلا مات علي عهد موسي عليه السلام فكره الناس غسله ودفنه لفسقه فأخذوه برجليه وطرحوه في مزبلة ، فأوحي الله تعالي الي موسي عليه السلام . وقال يا موسي مات في محلة ماجان في شهر المروة ولي من اوليائي فلم يكفنوه ولم يدفنوه فاذهب انت فاغسله وكفنه وصل عليه وادفنه، فجاء موسي عليه السلام الي تلك المحلة، وسأل لهم عن الميت فقالوا له : مات رجل من صفة كذا وكذا وإنه كان فاسقا معلنا فقال اين مكانه ؟ فان الله تعالي اوحي الي لأجله ،قال فعلموني مكانه .فلما رأه موسي عليه السلام مطروحا في المزبلة وأخبره الناس عن سوء افعاله ناجي موسي ربه ،فقال إلهي امرتني بدفنه والصلوة عليه وقومه يسبون عليه شرا وانت اعلم به منهم من الثناء القبيح، فأوحي الله عليه يا موسي صدق قومه فيما حكوا عنه من سوء افعاله غير انه تشفع الي عند وفاته بثلاثة اشياء لو سأل مني جميع مذنب خلقي لأعطيته فكيف وقد سأل نفسه وانا ارحم الراحمين. قال يا ربي ما الثلاثة ؟ قال لما دني وفاته قال يا ربي انت تعلم مني فاني ارتكب المعصية مع كراهية المعضية في قلبي
اولها هو النفس والرفيق السوء وابليس عليه اللعنة وهذه الثلاثة القبيحة في المعصية فانك كنت تعلم مني ما اقول فاغفرلي.
والثاني قال يا ربي انك تعلم بأني ارتكب المعاصي وكان مقامي مع الفسقة ولكن صحبة الصالحين وزهدهم والمقام معهم احب الي من الفاسقين.
والثالث قال الهي ان كنت تعلم مني ان الصالحين كانوا احب الي من الفاسقين حتي لو استقبلني رجلان صالح وطالح الا قدمت حاجة الصالح علي الطالح ….

Hikayat
Ada seorang lelaki meninggal dunia dimasa nabi Musa ‘alaihissalam . semua orang tidak mau memandikan dan mengafani jenazahnya, karena kedurhakaanya semasa didunia. orang-orang itu membuangnya dengan kaki mereka ditempat sampah.
Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa ‘alaihissalam: “Wahai Musa, telah mati seorang laki-laki, jenazahnya kini ditempat sampah. padahal ia adalah kekasihKu. ia tidak dimandaikan maupun dikafani dan tidak dikuburkan. Maka berangkatlah engkau untuk memandikannya, mengkafaninya, sembahyangkan dan kuburlah iadengan kemuliyaan”. lalu Musa berangkat ke tempat itu. dan menanyakan mayat itu kepada penduduk.
“benar disini telah meninggal seorang durhaka” jawab mereka.
“dimana ia kini ?, aku kesini semata-mata datang atas perintah Allah untuk laki-laki yang kalian anggap durhaka itu”. kata Musa
Diantarlah penduduk kampung, Musa menjenguk mayat tersebut. padahal banyak kabar simpang siur atas orang tersebut tentang kebusukan mayatnya oleh penduduk yang tidak menyukainya. Musa pun heran atas perintah tuhannya itu.
Kemudian Nabi Musa as munajat kepada Allah :”Tuhan, engkau telah mengutusku menguburkanya dan menyembahyangkannya . padahal kaumnya menyaksikan dia seorang durhaka. hidupnya hanya dilakukan untuk perbuatan tercela. Hanya Engkau yang tahu antara Puji dan Cela.
Dijawab Allah: “Benar Musa. orang-orang itu juga benar. mereka menghukumi laki-laki itu karena perbuatannya.
Tetapi Aku telah mengampuninya karena tiga sebab. ketahuilah: kalau seorang pendosa meminta ampun kepadaKu dan Kuampuni, mengapa dia tidak? padahal dia pernah berkata kepada dirinya sendiri bahwa Aku adalah Tuhan Yang Maha Penyayang.
” apakah tiga sebab itu,Tuhan?” tanya Musa.
” ketika laki-laki itu menghadapi maut, ia mengadu kepadaKu: Tuhan, Engkau tahu segala maksiat yang kuperbuat, padahal sebenarnya aku sangat membencinya. mengapa kulakukan juga ?. itu karena tiga hal, Tuhanku.
Pertama: karena nafsu pergaulan yang jelek, dan iblis terkutuk. ini pertama membawaku jatuh dalam pelukan maksiat. tentu Kau sangat tahu, dan ampunilah aku.
Kedua: Tuhan, Kau pasti tahu bahwa aku berbuat maksiat karena berada dilingkungan yang fasiq/bejat. padahal aku mencintai orang-orang alim dan zuhud, tinggal bersama mereka sangat aku senangi dari pada tinggal dengan orang-orang fasiq/bejat itu.
Ketiga:Tuhan, sungguh orang yang salih lebih baik dari pada orang yang thalih. sungguh orang salih lebih saya cintai. jika seandainya datang kedua orang itu, saya akan mendahulukan orang yang salih.
Allah melanjutkan:” maka Kuampuni dosanya dan Kurahmati dia. sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Kasih dan Maha Penyayang. khususnya pada mereka yang mengakui kesalahannya dihadapan-Ku. dan laki-laki ini telah mengakui kesalahannya, maka Ku ampuni dia Ku lewatkan atas dosa-dosanya.
Wahai Musa, lakukan apa yang Aku perintahkan. Akupun akan mengampuni orang-orang yang menyembahyangkannya serta ikut menguburnya, demi kemuliaan yang ia miliki.

Wallahu A’lam

HAK-HAK ANAK PEREMPUAN DAN NASIHAT NABI SAW UNTUK KAUM IBU

Hadits ini terinspirasi dari karya besar Syaikh ‘Abdul Halim Abu Shuqqah (1924-1995), Tahrir al-Mar’ah fi Asr al-Risalah (Pembebas Perempuan pada Masa Kenabian) mengenai penguatan hak-hak perempuan dalam Islam dari teladan Nabi Saw.

عَنِ عَائِشَةَ  رضي الله عنها: قال النَّبِىُّ  صلى الله عليه وسلم «مَنْ يَلِى مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ شَيْئًا فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ». رواه البخاري

Terjemahan:

Dari Aisyah ra, berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang mengasuh anak-anak perempuan (menjadi wali atas mereka), lalu benar-benar berbuat baik untuk mereka, maka mereka akan menjadi perisai yang menghalanginya dari api neraka”. (Sahih Bukhari).

Sumber Hadis:

Hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari dalam Sahihnya (no. hadis: 6061 dan 1439), Imam Muslim dalam Sahihnya (no. Hadis: 6862), Imam Turmudzi dalam Sunannya (no. Hadis: 2039), dan Imam Ahmad dalam Musnadnya  (no. hadis: 24689, 25211, dan 26700).

Penjelasan singkat:

Dalam kitab Sahih Bukhari, hadis ini diucapkan Nabi Saw kepada Aisyah sesaat setelah kehadiran seorang perempuan yang membawa dua putrinya dan mengeluhkan kesusahan hidup mereka. Aisyah membagi mereka makanan yang tersedia di rumah Nabi Saw.

Artinya, Nabi Saw mengakui posisi perempuan yang mengasuh dan bertanggung-jawab atas kedua putri tersebut. Bahkan kerja-kerja sang ibu untuk anaknya yang perempuan, mengasuh, membesarkan, mendidik, dan menyediakan segala kebutuhan hidup mereka, dicatat Nabi Saw sebagai amal kebaikan yang akan diapresiasi oleh Allah Swt.

Pahalanya, seperti disebutkan dalam teks, bahwa anak-anak perempuan tersebut kelak akan menjauhkan orang tua pengasuhnya dari siksa api neraka. Jika jauh dari neraka, berarti sang pengasuh dijanjikan akan masuk surga. Bisa dikatakan, perempuan yang mengasuh anak dan bertanggung jawab, ia akan memperoleh surga. Pun anak-anak perempuan yang diasuh dan dididik juga menjadi jalan menuju surga bagi pengasuh mereka.

Ini penegasan dari Nabi Muhammad Saw pada saat dimana keberadaan perempuan tidak diakui dan kerja-kerja mereka juga tidak diapresiasi. Ini juga merupakan apresiasi perempuan kepala keluarga yang bertanggung jawab atas anggota keluarga.

Dus, pernyataan teks ini adalah pengakuan atas kontribusi perempuan, sekaligus proklamasi tentang pentingnya hak-hak sosial perempuan untuk diakui oleh publik terutama otoritas keagamaan. Mereka harus dibuka jalan yang lapang. Mereka juga harus dipenuhi seluruh hak-hak mereka untuk kebaikan dan martabat hidup mereka. Dengan demikian, segala tindakan untuk kebaikan hidup perempuan adalah amal yang dicatat Allah Swt dan diapresiasi Nabi Muhammad Saw. Semua ini adalah bagian fundamental dari syariat Islam.

Hak anak perempuan

عن أبي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم «أَيُّمَا رَجُلٍ كَانَتْ عِنْدَهُ وَلِيدَةٌ فَعَلَّمَهَا فَأَحْسَنَ تَعْلِيمَهَا، وَأَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا، ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَان». رواه البخاري

Terjemahan:

Dari Abu Burdah, dari ayahnya (Abu Musa al-Asy’ari ra), berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Seseorang yang memiliki hamba sahaya perempuan, lalu ia memberinya ilmu pengetahuan untuk kebaikan hidupnya, dan mendidiknya dengan sungguh-sungguh untuk kebaikannya, kemudian ia membebaskannya dan menikahinya, maka orang tersebut akan memperoleh dua pahala”. (Sahih Bukhari).

Sumber Hadis:

Hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari dalam Sahihnya (, no. Hadis: 5139, juga no. 97 dan 3485), Imam Nasa’i dalam Sunannya (no. Hadis: 3357), Imam Ibn Majah dalam Sunannya (no. Hadis: 2032), dan  dan Imam Ahmad dalam Musnadnya  (no. hadis: 19841, 19911, dan 20026).

Penjelasan singkat:

Masih satu nafas dengan hadis sebelumnya, hadis ini juga menegaskan pentingnya hak sosial bagi anak perempuan. Terutama mereka yang terpinggirkan dan dilupakan masyarakat. Pada saat itu, masih ada manusia hamba sahaya yang secara sosial berada di kelas rendah yang sama sekali tidak dipikirkan masyarakat. Nabi Saw mengingatkan keberadaan mereka sebagai manusia yang perlu pengakuan, pemberdayaan, dan perlindungan.

Hadis ini menegaskan, bahkan kepada perempuan yang kelas budak sekalipun, Nabi Saw menyeru umatnya agar memberi mereka kesempatan belajar dan mendidiknya secara baik. Nabi Saw sadar dengan posisi mereka yang direndahkan dalam dua level, sebagai budak dan sebagai perempuan. Karena itu, bagi yang mendidik mereka dijanjikan dua pahala. Pahala karena mengakui, melindungi, mengajari, dan mendidik mereka yang di kelas budak. Dan pahala karena mereka yang dididik berjenis kelamin perempuan.

Pernikahan disebutkan di sini, karena saat itu menjadi satu-satunya instrumen sosial untuk melindungi para budak yang sudah tercerabut dari keluarga asal dan kabilahnya. Mereka yang dibebaskan dari status budak tidak lagi memiliki keluarga, sehingga keluarga majikan adalah satu-satunya tempat bergantung dan berlindung. Inti dari teks sesungguhnya adalah memberi hak-hak sosial, mendidik, memberdayakan, dan melindungi untuk perbaikan hidup mereka.