AL-QUR’AN DAN HADITS TENTANG LARANGAN MENDEKATI ZINA

Zina adalah perbuatan yang sangat dilarang bahkan sangat dilaknat oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Begitu pula bagi orang yang bahkan hanya mendekati zina. Oleh sebab itu, orang mendekati atau bahkan melakukan zina akan mendapat adzab yang amat pedih.

BERIKUT AYAT-AYAT LARANGAN MENDEKATI ZINA :

Berikut beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang melarang perbuatan zina. Adapun ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas tentang perbuatan zina diantaranya:

Surat al-Isra’ ayat 32
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk“.

Surat An-Nur ayat 2
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap satu dari keduanya dengan seratus kali deraan. Dan janganlah kamu belas kasihan kepada keduanya didalam menjalankan (ketentuan) agama Allah yaitu jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan hendaklah (dalam melaksanakan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman “.

Surat An-Nur ayat 3
الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ ۚ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman“.

Surat Al-Furqon ayat 68-70
وَٱلَّذِينَ لَا يَدۡعُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَـٰهًا ءَاخَرَ وَلَا يَقۡتُلُونَ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ وَلَا يَزۡنُونَ‌ۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٲلِكَ يَلۡقَ أَثَامً۬ا (٦٨) يُضَـٰعَفۡ لَهُ ٱلۡعَذَابُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ وَيَخۡلُدۡ فِيهِۦ مُهَانًا (٦٩) إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً۬ صَـٰلِحً۬ا فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمۡ حَسَنَـٰتٍ۬‌ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورً۬ا رَّحِيمً۬ا (٧٠

  1. dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),
  2. (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam Keadaan terhina,
  3. kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Hadits-Hadits Larangan Mendekati Zina

Selain beberapa ayat Al-Qur’an, ada pula beberapa Hadits dari Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya sebagai berikut.

Hadits 1

Imam Annasa’i menambahkan sebagai berikut : “bila seseorang melakukan hal itu berarti melepaskan tali keimanan dari lehernya (dia menjadi kafir). Bila bertaubat maka ALLAH akan menerima taubatnya.” (HR. Abu Dawud dan Attirmidzi)

Hadits 2
ِإِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ، وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا

Artinya: “Sesungguhnya diantara tanda-tanda kiamat yaitu diangkatnya ilmu dan kebodohan nampak jelas, dan banyak yang minum khamar dan banyak orang berzina secara terang-terangan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits 3
لا يزني الزاني حين يزني وهو مؤمن

Artinya: “Pezina tidak dikatakan beriman ketika ia berzina“. (HR. Bukhari Muslim)

Hadits 4
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ باِمْرَأَةٍ إِلاَّكاَنَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

Artinya: “Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita, melainkan yang ketiga dari mereka adalah syetan“. (HR. At-Tirmidzi)

Hadits 5

Diriwayatkan dari Ibnu Abiddunya, bahwa Nabi saw bersabda:
ما من ذنب بعد شرك أعظم عنداللّه من النطفة وضعها رجل في رحم لا يحلّل

Artinya: “Tidak ada dosa yang lebih berat setelah syirik disisi Allah dari seorang laki-laki yang menaruh spermanya didalam rahim wanita yang tidak halal baginya“.

Hadits 6

Rasulullah SAW. bersabda:
إِذَا زَنَى الرَّجُلُ خَرَجَ مِنْهُ الإِيمَانُ كَانَ عَلَيْهِ كَالظُّلَّةِ فَإِذَا انْقَطَعَ رَجَعَ إِلَيْهِ الإِيمَانُ

Artinya: “Jika seseorang itu berzina, maka iman itu keluar dari dirinya seakan-akan dirinya sedang diliputi oleh gumpalan awan (di atas kepalanya). Jika dia lepas dari zina, maka iman itu akan kembali padanya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi )

Hadits 7

Dari Ubadah bin Shamit ra., Rasulullah bersabda:
البكْر بالبِكْر جَلْدُ مائة ونَفْيُ سَنَة والثّيّبُ بالثّيّبِ ، جَلْدُ مائة والرّجْم

Artinya: “Perawan dengan perjaka (jika berzina) maka dicambuk 100 kali dan diasingkan setahun. Duda dengan janda (jika berzina) maka dicambuk 100 kali dan dirajam“. (HR. Muslim)

Nabi saw. bersabda yang artinya: “Barang siapa berjabat tangan dengan seorang perempuan, maka kelak di hari akhir ia akan dirantai dengan rantai api neraka. Dan jika ia menciumnya, maka di hari akhir akan digunting kedua bibirnya dengan gunting api neraka. Dan jika ia berzina dengannya, maka kedua pahanya akan menyaksikan kelak di hari akhir tentang perbuatannya yang keji itu dan Allah murka kepadanya“.

Hadits 8

Hadits an-Nawwas ra.
وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ

Artinya: “Dan yang tersisa adalah seburuk-buruk manusia, mereka melakukan hubungan intim di dalamnya bagaikan keledai, maka pada zaman merekalah kiamat itu akan terjadi“. (HR Muslim)

Hadits 9

Dari Abu Malik al Asy’ari bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

Artinya: “Sungguh ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan (menganggap halal perzinahan, sutera, minuman keras, dan musik-musik.” (HR. Bukhari).

Hadits 10

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda:
ثَـلَاثَةٌ لَا يُـكَـلّـِمُـهُمُ اللّٰـهُ يَوْمَ الْقِـيَـامَـةِ وَلَا يُـزَكّـِيْهِمْ (وَلَا يَـنْـظُـرُ إِلَيْهِمْ) وَلَـهُمْ عَـذَابٌ أَلِـيْمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، وَمَـلِـكٌ كَـذَّابٌ ، وَعَائِـلٌ مُسْتَـكْبِـرٌ

Artinya: “Tiga (jenis manusia) yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat dan tidak pula Allah menyucikan mereka dan tidak memandang kepada mereka, sedang bagi mereka siksa yang pedih, yaitu: laki-laki tua yang suka berzina, seorang raja pendusta dan orang miskin yang sombong” (HR. Muslim).

HIKMAH MENGINGAT MATI DAN HIRUK-PIKUKNYA KUBUR

بسم الله الرحمن الرحيم

Bab Ke 37 Keutamaan Mengingat Mati
(الباب السابع والثلاثون): : في فضيلة ذكر الموت

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Kematian itu jembatan yang menyambungkan seorang kekasih kepada kekasihnya”}
وقال عليه السلام: {المَوْتُ جِسْرٌ يُوصلُ الحَبِيبَ إلى الحَبيبِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Kematian itu ada empat: kematian ulama, kematian orang kaya, kematian orang miskin dan kematian penguasa. Kematian ulama menimbulkan kekacauan dalam agama, kematian orang kaya menimbulkan penyesalan, kematian orang miskin menimbulkan ketenangan dan kematian penguasa menimbulkan fitnah.”}
وقال عليه السلام: {المَوْتُ أَرْبَعٌ مَوْتُ العُلَمَاءِ وَمَوْتُ الأَغْنِيَاءِ وَمَوْتُ الفُقَرَاءِ وَمَوْتُ الأُمَرَاءِ فَمَوْتُ العُلَمَاءِ ثُلمَةٌ في الدِّينِ وَمَوْتُ الأَغْنِيَاءِ حَسَرَةٌ وَمَوْتُ الفُقَرَاءِ رَاحَةٌ وَمَوْتُ الأُمَرَاءِ فِتْنَةٌ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Sesungguhnya para wali Allah itu tidak meninggal, mereka hanya berpindah dari satu negeri ke negeri lainnya.”}
وقال عليه السلام: {إنَّ أَوْلِيَاءَ الله لا يَمُوتُونَ وإنّما يَنْتَقِلُون مِنْ دَارٍ إلٰى دَارٍ أُخْرَى}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Sebaik-baik kematian adalah kenyamanan bagi orang mukmin”}
وقال عليه السلام: {نعم المَوْتُ رَاحَةُ المُؤْمِنِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Kematian ulama adalah kegelapan dalam agama”}
وقال عليه السلام: {مَوْتُ العُلَمَاءِ ظُلْمَةٌ في الدِّينِ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Jika anak adam mati maka terputuslah amalnya terkecuali tiga hal: sedekah jariyah atau ilmu yang dimanfaatkan atau anak sholeh yang mendoakannya.”}
وقال عليه السلام: {إذَا مَاتَ ابْنَ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَة جَارِيَة أَوْ عِلْم يَنْتَفعُ بِه أَوْ وَلَد صَالِح يدعو له}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Ingatlah penghancur kenikmatan, para sahabat bertanya, Nabi, apakah penghancur kenikmatan itu?’ Nabi menjawab: “Mati, mati, mati”.”}
وقال عليه السلام: {اذْكُرُوا هَاذِمَ اللَّذَّاتِ، قالوا: يا رَسُولُ الله وَمَا هَاذِمُ اللذات؟، قال: المَوْتُ المَوْتُ المَوْتُ} ثَلاَثا

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Jadikanlah dirimu di dunia seakan-akan seorang pengembara (orang asing) atau orang yang lewat dan anggaplah dirimu termasuk penghuni kubur.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {كُنْ في الدُّنْيا كأنَّكَ غَرِيبٌ أَوْعَابِر سَبِيلٍ وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ القُبُورِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Ketika seorang alim meninggal maka menangislah ahli langit dan bumi selama tujuhpuluh hari. Barangsiapa tidak sedih atas meninggalnya orang alim maka dia adalah orang munafik, munafik, munafik.”} Nabi mengatakannya tiga kali.
وقال عليه الصلاة والسلام: {إذا مَاتَ العَالِمُ بَكَتْ عَلَيْهِ أَهْلُ السَّمَوٰاتِ والأَرْضِ سَبْعِينَ يَوْما
مَنْ لَمْ يَحْزَنْ لِمَوْتِ العَالِمِ، فَهُوَ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ} قالها ثلاث مرات.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Ketika seseorang meninggal berkatalah para malaikat tentang apa yang telah dilakukannya dan berkatalah manusia tentang apa yang ditinggalkannya. “}
وقال عليه الصلاة والسلام: {إذا مَاتَ المَيِّتُ تَقُولُ المَلاَئِكَةُ ما قَدَّمَ وَيَقُولُ النَّاسُ مَا خَلَّفَ}

Bab Ke 38 Keutamaan Mengingat Kubur Dan Hiruk Pikuknya
(الباب الثامن والثلاثون): في فضيلة ذكر القبر وأهواله

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Kubur adalah salah satu taman dari taman-tamannya surga atau salah satu lubang dari lubang-lubangnya neraka.”}
قال النبي عليه الصلاة والسلام: {القَبْرُ رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الجَنَّةِ أو حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ النَّارِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Orang mukmin di dalam kuburnya itu berada dalam taman yang hijau, diluaskan kuburnya tujuhpuluh hasta dan bersinar bagaikan bulan purnama.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {المُؤْمِنُ في قَبْرِهِ فِي رَوْضَةٍ خَضْرَاءَ وَيُوَسَّعُ لَهُ قَبْرُهُ سَبْعِينَ ذِرَاعا وَيُضِيءُ حَتَّى يَكُونَ كالقَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Seandainya anak cucu adam tahu bagaimana siksa kubur, tentu tidak bermanfaatlah kehidupan dunia, maka mintalah perlindungan kepada Allah Yang Maha Mulia dari adzabnya kubur yang sangat buruk.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {لَوْ أنَّ بَنِي آدَمَ عَلِمُوا كَيْفَ عَذَابُ القَبْرِ مَا نَفَعَهُم العَيْشُ في الدُّنْيَا فَتَعَوَّذوا بالله الكَرِيمِ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ الوَخِيمِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Tidak seorangpun lewat di kuburan seorang laki-laki yang di kenalnya di dunia kemudian memberi salam terkecuali orang mati tersebut mengenalnya dan menjawab salamnya”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {مَا مِنْ عَبْدٍ يَمُرَّ بِقَبْرِ رَجُلٍ كَانَ يَعْرِفُهُ في الدُّنْيَا فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إلا عرفَهُ وردَّ عَلَيْه السَّلامَ}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Tidaklah seorang muslim lewat kuburan muslim terkecuali ahli kubur berkata, “Hari pelupa seandainya kamu tahu apa yang kami tahu niscaya dagingmu hancur diatas jasadmu dan darahmu diatas badanmu.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {مَا مِنْ مُسْلِمٍ مَرَّ بِقَبْرٍ مِنْ مَقَابِرِ المُسْلِمِينَ إلاّ قَالَ لَهُ أَهْلُ القُبُورِ يَا غَافِلُ لَوْ عَلِمْتَ مَا نَعْلَمُ لَذَابَ لَحْمُكَ عَلَى جَسَدِكَ وَدَمُكَ عَلَى بَدَنِكَ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Ketika seorang mukmin diletakkan dan didudukan di kuburnya dan berkata para keluarganya, kerabatnya, kekasihnya dan anak-anaknya: “Aduhai tuanku, aduhai yang mulia, aduhai pimpinanku”
maka malaikat berkata: “Dengarlah apa yang mereka katakan, kamu dulunya tuan, yang mulia dan pemimpin”. Orang mati berkata:”Andaikan mereka tidak ada”.
Maka dia dihimpit sekali himpitan yang membuat tulang-tulang iganya berhimpitan.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {إنَّ العَبْدَ المُؤْمِنَ إذا وُضِعَ في القَبْرِ وَأُقْعِدَ وَقَالَ أهْلُهُ وأَقْرِبَاؤُهُ وأَحِبَّاؤُهُ وَأَبْنَاؤُه وَاسَيِّدَاهُ واشَريفَاهُ واأمِيرَاهُ قَالَ لَهُ الملكُ اسْمَعْ مَا يَقُولُونَ أَنْتَ كُنْتَ سَيِّدا وَأَنْتَ شَرِيفا وَأَنْتَ أميرا قَالَ المَيِّتُ: يا ليتَهُمْ لَمْ يَكُونُوا فَيَضْغَطُهُ ضَغْطَةً تَخْتَلِفُ بها أَضْلاَعُه}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Allah berfirman: “Wahai Isa banyak wajah yang bersinar, badan yang sehat dan lisan yang faseh besok berada diantara tingkatan neraka menjerit. Allah berfirman: “Wahai Isa banyak wajah yang bersinar, badan yang sehat dan lisan yang faseh besok berada diantara tingkatan neraka menjerit.”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {قال الله تَعَالى يا عِيسى كَمْ مِنْ وَجْهٍ صَبيحٍ وَبَدَنٍ صحيحٍ وَلِسَانٍ فَصِيحٍ غدا بَيْنَ أَطْبَاقِ النِّيرانِ يَصِيحُ.}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Kubur itu tempat pertama dari tempat-tempat akherat dan tempat terakhir dari tempat-tempat dunia.”}
وقال عليه الصلاة والسلام:{ القَبْرُ أوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الآخِرَةِ وآخِرُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الدُّنْيا}.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {” Kubur itu tempat yang harus disinggahi”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {القَبْرُ مَنْزِلٌ لاَ بُدَّ فِيهِ مِنَ النُّزُول}ِ.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Jika kalian sudah meninggal maka diperlihatkan tempat kalian di waktu pagi dan sore. Jika ahli surga maka termasuk ahli surga dan jika ahli neraka maka termasuk ahli neraka. Dikatakan kepadanya: “Inilah tempatmu hingga Allah membangkitkanmu ke tempat itu di hari kiamat”}
وقال عليه الصلاة والسلام: {إذا مَاتَ أَحَدُكُمْ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بالغَدَاةِ والعَشِيِّ إنْ كَانَ مِنْ أهْلِ الجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ وإنْ كانَ مِنْ أهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ يُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ الله إلَيْهِ يَوْمَ القِيَامَةِ}

WAJIB BERSABAR DAN MUSIBAH YANG MENGHAPUS DOSA

Mendapat musibah, dosa kita bisa terhapuskan jika sabar dalam menghadapinya.

من أعطي فشكر و ابتلي “فصبر”وظلم فاستغفر و ظلم فغفر ثم سكت فقالوا يا رسول الله ماله ؟قال أولئك لهم الأمن و هم مهتدون ~رواه الطبراني

Sabda nabi saw : mereka yang diberi nikmat lalu bersyukur, yang DIUJI dengan MUSIBAH KEMUDIAN IA BERSABAR,yang mendzalimi orang kemudian beristighfar, yang didzalimi kemudian memaafkan, nabi saw diam hingga para sahabat bertanya : “apa yang didapatkan mereka wahai rasulullah? “, nabi saw menjawab : mereka akan mendapat keamanan dan merekalah orang yang diberi petunjuk. HR Thabrani

إن العبد إذا سبقت له من الله منزلة فلم يبلغها بعمل إبتلاه الله في جسده أو ماله أو ولده “ثم صبر”على ذلك حتى يبلغه المنزلة التي سبقت له من الله عز و جل ~رواه أحمد

Sesungguhnya hamba jika sudah ditaqdirkan memiliki tempat disisi Allah dan ia tidak bisa mendapatkannya dengan amal maka Allah akan menberinya cobaan kepada jasadnya, hartanya, atau anak anaknya, yang jika ia SABAR maka ia akan mendapatkan tempat di sisi Allah itu. HR Ahmad.

Sakit, kesusahan, kesedihan dan semua cobaan bisa melebur dosa. Dinukil dari kitab bisyarotul mahbub bitakfiiridz dzunuub karangan syeh al qobuni :

بشارة المحبوب بتكفير الذنوب القابوني
عن أبي سعيد وأبي هريرة- رضي الله عنهما- عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (ما يصيب المؤمن من نصب، ولا وصب، ولا هم، ولا حزن، ولا أذى، ولا غم حتى الشوكة يشاكها إلا كفر الله بها من خطاياه). رواه البخاري ومسلم.

Dari abu sa’id dan abu hurairoh rodhiyallohu ‘anhuma, dari nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, ” tidaklah menimpa seorang mukmin dari suatu kepayahan, tidak pula penyakit yang terus terusan, kegalauan, kesedihan, rasa sakit hingga terkena duri kecuali itu semua Allah akan meleburkan kesalahan-kesalahannya sebab terkena hal-hal tsb.”. HR. imam bukhori dan imam muslim

ورواه أحمد: (ما من شيء يصيب المؤمن في جسده يؤذيه إلا كفر الله به من سيئاته). وفي رواية لمسلم: (لا يصيب المؤمن شوكة فما فوقها إلا رفعه الله بها درجة وحط عنه بها خطيئة)

Imam ahmad meriwayatkan, ” tidaklah sesuatu yang menimpa seorang mukmin pada jasadnya yang membuatnya sakit kecuali Allah akan melebur kejelekan-kejelekannya sebab sakit tsb”dalam satu riwayat dari imam muslim, ” tidaklah menimpa seorang mukmin berupa duri ataupun yang lebih tinggi daripada duri kecuali Allah akan mengangkat derajat orang tersebut dan juga menghapus kesalahannya sebab duri tsb”.

وعن أبي هريرة- رضي الله عنه- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (ما يزال البلاء بالمؤمن، والمؤمنة في نفسه، وولده، وماله، حتى يلقى الله وما عليه خطيئة) رواه الترمذي وغيره، وقال: حسن صحيح.

Dari abu hurairoh rodhiyallohu ‘anhu berkata, Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, ” selama cobaan itu menimpa seorang yang mukmin baik laki-laki maupun perempuan pada dirinya, anaknya, dan juga hartanya sampai dia bertemu dengan Allah maka ketika itu dia sdh tidak punya kesalahan lagi “. Diriwayatkan oleh imam tirmidzi dan juga lainnya, imam tirmidzi berkata ” hadis ini hasan shohih”.

وعنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (من وعك ليلة فصبر ورضي بها عن الله عز وجل خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه). رواه ابن أبي الدنيا في كتاب المرضى والكفارات.
وعن ابن عباس- رضي الله عنهما- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من أصيب بمصيبة بماله أو في نفسه فكتمها، ولم يشكها إلى الناس كان حقا على الله أن يغفر له) رواه الطبراني ولا بأس بإسناده.

Dan juga dari abu hurairoh dari nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda,” barang siapa yang terkena demam semalam dan dia bersabar dan ridho kepada Allah tentang demam tsb maka dia keluar dari dosanya seperti hari ketika ibunya melahirkan dia “. Diriwayatkan oleh ibnu abid dunya dlm kitab almardho wal kaffaaroot.
Dan dari ibnu abbas rodhiyallohu anhuma berkata, rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, ” barang siapa yang terkena suatu musibah baik itu harta ataupun dirinya sendiri kemudian dia menyembunyikannya dan tidak mengadukannya kepada manusia maka menjadi nyata bagi Allah untuk mengampuni dia”diriwayatkan oleh imam thobroni dan sanadnya tidak ada masalah.

وعن عائشة- رضي الله عنها- قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إذا كثرت ذنوب العبد ولم يكن له ما يكفرها ابتلاه الله بالحزن ليكفرها عنه) رواه أحمد، ورواته ثقات إلا ليث بن أبي سليم.وعنها قالت سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (ما ضرب على عبد عرق قط إلا حط الله عنه به خطيئة، وكتب له حسنة، ورفع له درجة). رواه الحاكم وغيره وقال: صحيح الإسناد.

Dari ‘aisyah rodhiyallohu ‘anha berkata, rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda, ” ketika seorang hamba itu banyak dosanya dan tidak ada perkara yang meleburnya maka Allah akan memberinya cobaan berupa kesedihan untuk melebur dosa tsb”. Diriwayatkan oleh imam ahmad, perowinya semua tsiqqoh kecuali lais bin abi salim

Dari ‘aisyah jg beliau berkata, aku mendengar rasululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda, ” tidaklah seorang hamba yang menjadi sakit sebab penyakit encok kecuali Allah akan menghapusnya satu kesalahan dan menuliskannya satu kebaikan mengangkat satu derajat baginya.” Diriwayatkan oleh imam hakim dan yang lainnya , imam hakim berkata ” sanadnya shohih”

وعن أبي هريرة- رضي الله عنه- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (ما من عبد يمرض مرضا إلا يأمر الله الله تعالى حافظه أن ما عمل من سيئة فلا يكتبها، وما عمل من حسنة أن يكتبها عشر حسنا، وأن يكتب له من العمل الصالح كما كان يعمل وهو صحيح). رواه أبو يعلى وابن أبي الدنيا

Dari abu hurairoh rodhiyallohu ‘anhu berkata, rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, ” tidaklah suatu hamba itu terkena suatu penyakit kecuali Allah akan memerintahkan malaikat yang menjaganya yaitu, apa-apa yang dikerjakan dari kejelekan-kejelekan maka jangan ditulis, apa-apa yang dikerjakan dari kebaikan agar ditulis sepuluh kali dan juga ditulis baginya amal sholih seperti yang dilakukannya ketika sehat”. Diriwayatkan oleh abu ya’la dan ibnu abid dunya.

وعنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (قال الله تعالى: إذا ابتليت عبدي المؤمن فلم يشكني إلى عواده أطلقته من أسارى، ثم أبدلته لحما خيرا من لحمه، ودما خيرا من دمه، ثم يستأنف العمل). رواه الحاكم، وقال: صحيح على شرطهما.
وعن ابن عمر- رضي الله عنهما- أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (من صدع راسه في سبيل الله فاحتسب غفر له ما كان قبل ذلك من ذنب). رواه الطبراني والبزار بإسناد حسن.

Dan dari abu hurairoh berkata, rasululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah ta’ala berfirman dlm hadis qudsi ” ketika aku memberikan cobaan kepada seorang yang beriman kemudian dia tidak mengadukanku kepada orang-orang yang menjenguknya maka aku akan membebaskannya dari boyonganku, kemudian aku akan menggantikan dagingnya dengan daging yang lebih baik dari dagingnya, menggantikan darah yang lebih baik dari darahnya kemudian memulai beramal dari awal lagi”.Diriwayatkan oleh imam hakim beliau berkata, ” shohih berdasarkan sarat imam bukhori dan muslim”.

Dari ibnu umar rodhiyallohu ‘anhu, sesungguhnya rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, ” barang siapa yang kepalanya sakit dijalan Allah kemudian menerima, maka Allah mengampuni dosa-dosa sebelum dia sakit kepala tadi”. Diriwayatkan oleh imam tobroni dan imam bazzar dengan sanad yang hasan.

وعن أنس- رضي الله عنه- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (عودوا المرضى، ومروهم فليدعوا لكم، فإن دعوة المريض مستجابة وذنبه مغفور). رواه الطبراني في الأوسط.وروى ابن أبي الدنيا: ( لا ترد دعوة المريض حتى يبرأ).
وعن سعد بن مالك- رضي الله عنه- أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: في قوله تعالى: (لا إِلَهَ إِلاّ أَنتَ سُبحانَكَ إِنّي كُنتُ مِنَ الظالِمين) أيما مسلم دعا به في مرضه أربعين مرة فمات في مرضه ذلك أعطى أجر شهيد، وإن برأ برأ وقد غفر له جميع ذنوبه). رواه الحاكم.

Dari shohabat anas rodhiyallohu anhu berkata, rasululloh shollallohu ‘alaihi wsallam bersabda, ” kunjungilah orang-orang yang sakit, dan perintahkanlah mereka agar berdoa untuk kalian karena sesungguhnya doanya orang yang sakit itu mustajab dan dosanya diampuni.”diriwayatkan oleh imam tobroni dlm kitab al ausat.ibnu abid dunya meriwayatkan ” doanya orang yang sakit itu tidak ditolaak hingga dia sembuh”.

Dari sa’id bin malik rodhiyallohu ‘anhu sesungguhnya rasululloh bersabda tentang firman Allah laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minadz dzoolimiin , setiap orang muslim yang berdoa dengan doa tersebut 40 kali ketika sakit kemudian dia meninggal sebab sakit tsb maka dia akan diberi pahalanya orang yang mati sahid, dan jika semuh maka dia sembuh dalam keadaan diampuni semua dosa-dosanya”. Diriwayatkan oleh imam hakim.

وعنه ، وعن أبي سعيد – رضي الله عنه – عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال : ” ما يصيب المسلم من نصب ، ولا وصب ، ولا هم ، ولا حزن ، ولا أذى ، ولا غم ، حتى الشوكة يشاكها ، إلا كفر الله بها خطاياه ” متفق عليه .

Nabi bersabda, ” tidaklah menimpa seorang mukmin dari suatu kepayahan, tidak pula penyakit yang terus terusan, kegalauan, kesedihan, rasa sakit hingga terkena duri kecuali itu semua Allah akan meleburkan kesalahan-kesalahannya sebab terkena hal-hal tsb.

Wajib bersabar dan sabar dalam menghadapi musibah sakit

  1. wajib bersabar dalam arti ia menerima dan pasrah serta ada ikhtiar dan usaha untuk bisa melewati cobaan tersebut dengan tanpa kehilangan ganjaran dan pahala dari mushibah/cobaan tsb. Firman Allah dalam Al-Baqoroh 155-157

( ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات وبشر الصابرين ( 155 ) الذين إذا أصابتهم مصيبة قالوا إنا لله وإنا إليه راجعون ( 156 ) أولئك عليهم صلوات من ربهم ورحمة وأولئك هم المهتدون ( 157 ) )

-Dan sungguh kami akan menguji kalian dengan rasa takut,kelaparan,kekurangan harta,jiwa dan buah-buahan,Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar-Yaitu orang-orang yang ketika tertimpa mushibah mereka mengatakan : sesungguhnya kami milik Allah,Dan sesungguhnya kami hanya kembali kepadaNya-Mereka adalah orang-orang yang memperoleh pengampunan dan kasih sayang dari tuhannya,Dan mereka adalah golongan yang mendapat petunjuk.

Sabar juga termasuk ibadah batin yang tinggi nilainya dalam pandangan Allah. Banyak firman Allah tentang sabar di dalam al-Qur’an, antara lain:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابرُوْنَ أَجْرَهُمْ بغَيْرِحِسَابٍ

Artinya:Sesungguhnya hanya orang-orang yang sabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اسْتَعِيْنُوْا بالصَّبْرِِوَالصَّلاَةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابرِيْنَ

Artinya:Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (menjalankan) shalat, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.Sebaliknya, orang yang tidak sabar, yaitu putus asa, menggerutu, gegabah, terburu-buru, dan sebagainya, berat sekali akibat yang dideritanya; bahkan diperingatkan oleh Allah SWT, seperti disebutkan di dalam hadis qudsi:

أنَا اللهُ لآ إِلهَ إِلاَّ أَنَا مَنْ لَمْ يَشْكُرْ عَلَى نَعْمَآئِي وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلآئِي وَلَمْ يَرْضَ بِقَضَآئِي فَلْيَتَّحِذْ رَبًّا سِوَآئِي

Artinya:Aku Allah, tiada Tuhan melainkan Aku; siapa tidak bersyukur atas nikmat-nikmat pemberian-Ku, tidak bersabar atas ujian-Ku dan ridla terhadap kepastian qadla-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku.Pengertian dan praktek sabar luas sekali, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW:

الصَّبْرُ ثَلاَثَةٌ فَصَبْرٌ عَلَى الْمُصِيْبَةِ وَصَبْرٌ عَلَى الطَّاعَةِ وَصَبْرٌ عَنِ المَعْصِيةِ
… (رواه ابن أبي الدنيا عن علي)

2. Ujian atau mushibah sakit, atas ini wajib muhasabah kepada diri sendiri karena sakit tsb disebabkan karena dosa. perbanyak memohon ampunan kepada allah dan berdo’a serta berikhtiar dengan berobat.

  • Tafsir Baghowi
    [ ص: 169 ]

( ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات وبشر الصابرين ( 155 ) الذين إذا أصابتهم مصيبة قالوا إنا لله وإنا إليه راجعون ( 156 ) أولئك عليهم صلوات من ربهم ورحمة وأولئك هم المهتدون ( 157 ) )

قوله تعالى ( ولنبلونكم ) أي ولنختبرنكم يا أمة محمد واللام لجواب القسم تقديره والله لنبلونكم والابتلاء من الله لإظهار المطيع من العاصي لا ليعلم شيئا لم يكن عالما به ( بشيء من الخوف ) قال ابن عباس يعني خوف العدو ( والجوع ) يعني القحط ( ونقص من الأموال ) بالخسران والهلاك ( والأنفس ) يعني بالقتل والموت وقيل بالمرض والشيب ( والثمرات ) يعني الجوائح في الثمار وحكي عن الشافعي أنه قال الخوف خوف الله تعالى والجوع صيام رمضان ونقص من الأموال أداء الزكاة والصدقات والأنفس الأمراض والثمرات موت الأولاد لأن ولد الرجل ثمرة قلبه

-Tafsir Ibnu Katsir

( ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات وبشر الصابرين ( 155 ) الذين إذا أصابتهم مصيبة قالوا إنا لله وإنا إليه راجعون ( 156 ) أولئك عليهم صلوات من ربهم ورحمة وأولئك هم المهتدون ( 157 ) )

أخبر تعالى أنه يبتلي عباده [ المؤمنين ] أي : يختبرهم ويمتحنهم ، كما قال تعالى : ( ولنبلونكم حتى نعلم المجاهدين منكم والصابرين ونبلو أخباركم ) [ محمد : 31 ] فتارة بالسراء ، وتارة بالضراء من خوف وجوع ، كما قال تعالى : ( فأذاقها الله لباس الجوع والخوف ) [ النحل : 112 ] فإن الجائع والخائف كل منهما يظهر ذلك عليه ; ولهذا قال : لباس الجوع والخوف . وقال هاهنا ( بشيء من الخوف والجوع ) أي : بقليل من ذلك ( ونقص من الأموال ) أي : ذهاب بعضها ) والأنفس ) كموت الأصحاب والأقارب والأحباب ) والثمرات ) أي : لا تغل الحدائق والمزارع كعادتها . كما قال بعض السلف : فكانت بعض النخيل لا تثمر غير واحدة . وكل هذا وأمثاله مما يختبر الله به عباده ، فمن صبر أثابه [ الله ] ومن قنط أحل [ الله ] به عقابه . ولهذا قال : ( وبشر الصابرين )

وقد حكى بعض المفسرين أن المراد من الخوف هاهنا : خوف الله ، وبالجوع : صيام رمضان ، ونقص الأموال : الزكاة ، والأنفس : الأمراض ، والثمرات : الأولاد .

وفي هذا نظر ، والله أعلم

-Tafsir Jalalain

{ ولنبلونكم بشيء من الخوف } للعدو { والجوع } القحط { ونقص من الأموال } بالهلاك { والأنفس } بالقتل والموت والأمراض { والثمرات } بالحوائج أي لنختبرنكم فننظر أتصبرون أم لا { وبشر الصابرين } على البلاء بالجنة .

Allah berfirman dalamm hadits qudsy

أنَا اللهُ لآ إِلهَ إِلاَّ أَنَا مَنْ لَمْ يَشْكُرْ عَلَى نَعْمَآئِي وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلآئِي وَلَمْ يَرْضَ بِقَضَآئِي فَلْيَتَّحِذْ رَبًّا سِوَآئِي

Artinya: Aku Allah, tiada Tuhan melainkan Aku; siapa tidak bersyukur atas nikmat-nikmat pemberian-Ku, tidak bersabar atas ujian-Ku dan ridla terhadap kepastian qadla-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku.

  • Fawaaidul Majmu’ah Li Syaukany

(حديث قدسي) ” إِنِّي أَنَا اللَّهُ ، لا إِلَهَ إِلا أَنَا ، مَنْ لَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلائِي , وَلَمْ يَرْضَ بِقَضَائِي , وَلَمْ يَشْكُرْ نَعْمَائِي , فَلْيَتَّخِذْ رَبًّا سِوَايَ ” ، قال في المختصر : ضعيف .

  • Faidul Qodir maktabah syamilah

6009 – (قال الله تعالى من لم يرض بقضائي ولم يصبر على بلائي فليلتمس ربا سواي) قال الغزالي: كأنه يقول هذا لا يرضانا ربا حتى سخط فليتخذ ربا آخر يرضاه وهذا غاية الوعيد والتهديد لمن عقل ولمن صدق ولقد صدق من قال إذ سئل: ما العبودية والربوبية فقال: الرب يقضي والعبد يصبر وليس في السخط إلا الهم والضجر في الحال والوزر والعقوبة في المآل بلا فائدة إذ القضاء نافذ فلا ينصرف بالهلع والجزع كما قيل:ما قد قضى يا نفس فاصطبري له. . . ولك الأمان من الذي لم يقدر [ص: 470]

KEUTAMAAN HADITS : KEUTAMAAN ISTERI YANG BERBAKTI KEPADA SUAMINYA

(قَالَتْ) أم المؤمنين (عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ لَوْ تَعْلَمنَّ بِحَقِّ أَزْوَاجِكُنَّ لَجُعِلَتْ الْمَرْأَةُ مِنْكُنَّ تَمْسَحُ الْغُبَارَ عَنْ قَدَمَي زَوْجِهَا بِحُرِّ وَجْهِهَا} أي بعض وجهها. وفي الصحاح: وحر الوجه بضم الحاء: ما بدا من الوجنة. وروى البزار عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت: {سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النَّاسِ أَعْظَمُ حَقًّا عَلَى الْمَرْأَةِ ؟، قَالَ: زَوْجُهَا. قُلْتُ: فَأَيُّ النَّاسِ أَعْظَمُ حَقًّا عَلىَ الرَّجُلِ ؟، قَالَ: أُمُّهُ}.r

Berkata sayyidatuna ‘Aisyah Ummul mu’minin : Wahai para isteri,jika kalian mengetahui benar hak suami kalian,maka kalian akan ridho mengusap debu yang menempel pada kedua telapak kaki suami kalian dengan pipi? tulang pipi kalian. Dan diriwayatkan dari Al-Bazzari dari ‘Aisyah r.a beliau berkata : Aku bertanya kepada Rosulillah SAW : Siapakah manusia yang paling besar haq nya bagi seorang isteri ? Rosul menjawab :”Suaminya”, Aku bertanya lagi : Siapakah manusia yang paling besar haq nya bagi seorang laki-laki ? Rosul menjawab : “Ibunya”.

  (وَقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ثَلاَثَةٌ لاَ يَقْبَلُ  اللهُ لَهُمْ صَلاَةً) أي لا يثيبهم عليها (وَلاَ تُرْفَعُ لَهُمْ إِلَى  السَّمَاءِ حَسَنَةٌ: الْعَبْدُ) وكذا الأمة (الآبِقُ) أي الهارب بلا عذر  (مِنْ سَيِّدِهِ حَتَّى يَرْجِعَ) وفي رواية: {حَتَّىْ يَرْجِعَ إِلَى  مَوَالِيْهِ} (وَالْمَرْأَةُ السَّاخِطُ عَلَيْهَا زَوْجُهَا) لنحو نشوز  (حَتَّى يَرْضَىْ) عنها زوجها (وَالسَكْرَانُ) أي المتعدى بسكره (حَتَّى  يَصْحُوَ) من سكره رواه ابن ماجه وابن حبان والبيهقي عن جابر.

Rosulullah SAW bersabda : Ada tiga golongan yang Allah tidak menerima sholat mereka dan tidak terangkat kebaikannya ke langit. Pertama, seorang hamba sahaya (aabid/amat) yang kabur dari sayidnya tanpa ada udzur sehingga ia kembali pada sayidnya. Kedua, seorang isteri yang marah kepadanya suaminya,sehingga suaminya ridho. Ketiga, pemabuk sehingga ia tersadar dari mabuknya/terbebas dari pengaruh mabuknya. (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hiban dan Baihaqi dari Jabir).

 (وَقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا قَالَتْ المَرْأَةُ  لِزَوْجِهَا: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ، فَقَدْ حُبِطَ عَمَلُهَا)  أي إذا أنكرت ما تقدم لهمن الإحسان، فتجازى بإبطال عملها أي بحرمانها  الثواب، إلا أن تعود وتعترف بإحسانه. نعم إن كانت على حقيقتها فلا لوم  عليها. ومثل المرأة الأمة القائلة لسيدها ذلك. كذا قاله العزيزي. رواه ابن  عدي وابن عساكر عن عائشة.  وقال طلحة بن عبيد الله رضي الله عنهما، سمعتُ  رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: {أَيُّمَا امْرَأَةٍ قَالَتْ  لِزَوْجِهَا: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ، إِلاَّ آيَسَهَا اللهُ  تَعَالى مِنْ رَحْمَتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ}.

Rosulullah bersabda : “Jika seorang isteri berkata kepada suaminya “Aku tidak melihat kebaikan padamu sama sekali”,Maka terhapuslah amal isteri tersebut (tidak mengakui kebaikan yang diberikan suaminya) sehingga ia kembali dan mengakui kebaikan suaminya. (jika memang keadaannya benar seperti yang diucapkan isteri,maka tidak ada keburukan padanya. Berkata Tholhah bin Ubaidillah r.a : Aku mendengar rosulallah bersabda : Siapa saja isteri yang mengatakan pada suaminya “Aku tidak melihat kebaikan padamu sama sekali”,Maka Allah memutuskan rahmat-Nya pada hari qiamat.

(وَقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلَاقَ مِنْ غَيْرِ مَا بَأْسٍ) بزيادة ما للتأكيد أي من غبر شدة حاجة إلى ذلك. وقال ابن رسلان: بأن تخاف أن لا تقيم حدود الله فيما يجب عليها من حسن الصحبة، وجميل العِشْرَةِ، لكراهتها له، بأن يضارها (فَحَرَامٌ) أي ممنوع (عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ) رواه الإمام أحمد وأبو داود والترمذي وابن ماجه وابن حبان والحاكم عن ثوبان، عتيق رسول الله صلى الله عليه وسلم. قال أبو بكر الصديق رضي الله عنه، سمعتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يقول: {إِذَا قَالَتْ الْمَرْأَةُ لِزَوْجِهَا طَلِّقْنِيْ جَاءَتْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَوَجْهُهَا لاَ لَحْمَ فِيْهِ وَلِسَانُهَا خَارِجٌ مِنْ قَفَاهَا وَتُهْوَى إِلَى قَعْرِ جَهَنَّمَ وَ إِنْ كَانَتْ تَصُوْمُ النَّهَارَ وَتَقُوْمُ اللَّيْلَ دَائِمًا}.

Rosulullah SAW bersabda : Siapa saja isteri yang memohon Tholaq pada suaminya tanpa ada kemadhoratan,Maka di haramkan atasnya mencium harumnya syurga. [ HR Imam Ahmad,Abu Dawud, Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Hiban, Hakim dari Tsauban (abid yang dimerdekakan oleh Rosulillah) ].
Ibnu Ruslan berkata : Isteri merasa sangat takut/khawatir tidak bisa melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang isteri dengan baik karena isteri sangat membenci / tidak suka pada suaminya. Berkata Abu Bakr Ash-Shiddiq r.a : Aku mendengar Rosulillah bersabda : “Jika seorang isteri berkata pada suaminya ” Tholaq lah aku “, Maka ia akan datang pada hari qiamat dengan wajah tanpa daging dan lidahnya terjulurdan dilemparkan ke neraka jahanam, walaupun ketika didunia isteri tersebut melakukan puasa pada siang harinya dan melaksanakan tahajud di malam harinya.

(وَقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ زَوْجَهَا}. وقال صلى الله عليه وسلم: {لاَ يَنْظُرُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ زَوْجَهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِيْ عَنْهُ}. و قال أبو هريرة رضي الله عنه: سمعتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يقول:{لَوْ أَنَّ لِلْمَرْأَةِ مِنَ الْمَالِ مِثْلَ مُلْكِ سُلَيْمَانَ بْنِ دَاوُدَ عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ، وَأَكَلَهُ زَوْجُهَا، ثُمَّ قَالَتْ: لَهُ أَيْنَ مَالِيْ ؟ إِلاَّ أَحْبَطَ اللهُ عَمَلَهَا أَرْبَعِيْنَ سَنَةً}. وقال عثمان ابن عفان رضي الله عنه: سمعتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يقول: {لَوْ أَنَّ الْمَرْأَةَ مَلَكَتْ الدُنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا، وَأَنْفَقَتْ الْجَمِيْعَ عَلَىْ زَوْجِهَا، ثُمَّ مَنَّتْ عَلَيْهِ بَعْدَ حِيْنٍ إِلاَّ أَحْبَطَ اللهُ عَمَلَهَا وَحَشَرَهَا مَعَ قَارُوْنَ}.

Rosulullah bersabda : Sesungguhnya Allah tidak melihat dengan pandangan rohmat kepada seorang isteri yang tidak bersyukur kepada suaminya. Abu Hurairoh r.a berkata, Aku mendengar Rosulallah bersabda : Jika ada seorang isteri yang memiliki harta seperti hartanya nabi Sulaiman Bin Dawus A.S, Namun ia mengatakan kepada suaminya ” Mana hartaku ? “, Maka Allah akan menghapus kebaikannya selama empat puluh tahun.
Berkata Utsman Bin Affan r.a : Aku mendengar Rosulallah bersabda : Jika sesungguhnya seorang isteri memiliki dunia dan pengisinya dan ia nafkahkan semuanya kepada suaminya, kemudian pada suatu saat ia mengungkit-ngungkit pemberianya, kecuali Allah akan menghapus amalnya dan mengumpulkannya bersama qorun. Na’udzu bilahi.

Wallahu A’lam.

HADITS CARA MAKAN ROSULULLOH SAW. MEMAKAI 1 JARI 2 JARI ATAU 3 JARI

Dalam hadits memang dijelaskan bahwa ketika makan Rosulullah shollallohu alaihi wasallam menggunakan tiga jari yaitu ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah dan menjilat tangan beliau dimulai dari jari tengah, jari telunjuk kemudian ibu jari sebelum beliau mengusapnya dengan sapu tangan.

Imam Nawawi berkata : makan dengan tiga jari hukumnya sunnah, dan tidak menggabungkan jari keempat dan kelima kecuali karena dlorurot. Termasuk kesunahan makan adalah menjilat tangan untuk menjaga barokah makanan dan membersihkan tangan

Imam Thobroniy meriwayatkan dari Amir bin Robi’ah : Rosulullah makan dengan menggunakan tiga jari dan minta tolong pada jari keempat.

✏ Dalam hadits mursal diriwayatkan bahwa Rosululloh shollallohu alaihi wasallam makan dengan 5 jari. Ini dimungkinkan pada makanan yang cair, atau pada makanan yang sedikit yang jarang untuk menunjukkan kebolehan. Karena kebiasaan beliau saat makan kebanyakan menggunakan tiga jari kemudian menjilati tangannya ketika selesai.

✏ meringkas dengan menggunakan tiga jari karena dengan 3 jari itu lebih bermanfaat.

✏ makan dengan 1 jari itu caranya orang yang sombong.

✏ makan dengan 2 jari itu caranya setan

✏ makan dengan 5 jari itu caranya orang rakus

📝 Mirqotul mafatih syarh misykatul mashobih :

( وعن كعب بن مالك – رضي الله تعالى عنه – قال : كان رسول الله يأكل بثلاثة أصابع ) ، أي الإبهام والمسبحة والوسطى . قال النووي : الأكل بالثلاث سنة ، فلا يضم إليها الرابعة والخامسة إلا لضرورة ( ويلعق ) : بفتح العين أي يلحس ( يده ) : أي أصابعها ، ويقدم الوسطى ثم ما يليها ثم الإبهام قبل أن يمسحها ) أي بالمنديل قبل اللعق ، كما هو عادة الجبابرة . قال النووي : من سنن الأكل لعق اليد محافظة على بركة الطعام وتنظيفا لها . ( رواه مسلم ) . وكذا أحمد وأبو داود . وفي حديث أنس ، رواه أحمد ، ومسلم والثلاثة : ” كان إذا أكل طعاما لعق أصابعه الثلاثة ” . ولفظ الترمذي عن كعب بن مالك : كان رسول الله يأكل بأصابعه الثلاثة ويلعقهن .

وروى الطبراني عن عامر بن ربيعة بلفظ : ” كان يأكل بثلاث أصابع ويستعين بالرابعة ” .

وفي حديث مرسل : ” أنه – صلى الله عليه وسلم – كان إذا أكل بخمس ، ولعله محمول على المائع ، أو على القليل النادر لبيان الجواز ، فإن عادته في أكثر الأوقات هو الأكل بثلاث أصابع ولعقها بعد الفراغ ،

وإنما اقتصر على الثلاثة ; لأنه الأنفع ، إذ الأكل بإصبع واحدة مع أنه فعل المتكبرين لا يستلذ به الآكل ، ولا يستمرئ به لضعف ما يناله منه كل مرة ، فهو كمن أخذ حقه حبة حبة ، وبالأصبعين مع أنه فعل الشياطين ليس فيه استلذاذ كامل ، مع أنه يفوت الفردية ، والله وتر يحب الوتر ، وبالخمس مع أنه فعل الحريصين يوجب ازدحام الطعام على مجراه من العادة ، وربما استد مجراه فأوجب الموت فورا وفجأة .

📝 Fathul bari syarhu shohih bukhori :

” تكملة ” :
وقع في حديث كعب بن عجرة عند الطبراني في ” الأوسط ” صفة لعق الأصابع ولفظه ” رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يأكل بأصابعه الثلاث : بالإبهام والتي تليها والوسطى ، ثم رأيته يلعق أصابعه الثلاث قبل أن يمسحها : الوسطى ، ثم التي تليها ، ثم الإبهام ” قال شيخنا في ” شرح الترمذي ” كأن السر فيه أن الوسطى أكثر تلويثا لأنها أطول فيبقى فيها من الطعام أكثر من غيرها ، ولأنها لطولها أول ما تنزل في الطعام ، ويحتمل أن الذي يلعق يكون بطن كفه إلى جهة وجهه ، فإذا ابتدأ بالوسطى انتقل إلى السبابة على جهة يمينه وكذلك الإبهام ، والله أعلم

📝 Syarh an-nawawi ‘ala muslim :

في هذه الأحاديث أنواع من سنن الأكل ، منها استحباب لعق اليد محافظة على بركة الطعام وتنظيفا لها ، واستحباب الأكل بثلاث أصابع ، ولا يضم إليها الرابعة والخامسة إلا لعذر ؛ بأن يكون مرقا وغيره مما لا يمكن بثلاث ، وغير ذلك من الأعذار ، واستحباب لعق القصعة وغيرها ، واستحباب أكل اللقمة الساقطة بعد مسح أذى يصيبها ، هذا إذا لم تقع على موضع نجس ، فإن وقعت على موضع نجس تنجست ، ولا بد من غسلها إن أمكن ، فإن تعذر أطعمها حيوانا ولا يتركها للشيطان .

ومنها إثبات الشياطين ، وأنهم يأكلون ، وقد تقدم قريبا إيضاح هذا ، ومنها جواز مسح اليد بالمنديل ، لكن السنة أن يكون بعد لعقها .

[ ص: 177 ] وقوله صلى الله عليه وسلم : ( يلعقها أو يلعقها ) معناه – والله أعلم – لا يمسح يده حتى يلعقها ، فإن لم يفعل فحتى يلعقها غيره ممن لا يتقذر ذلك كزوجة وجارية وولد وخادم يحبونه ويلتذون بذلك ولا يتقذرون ، وكذا من كان في معناهم كتلميذ يعتقد بركته ويود التبرك بلعقها ، وكذا لو ألعقها شاة ونحوها . والله أعلم .

شرح النووي على مسلم ١٣ ص ٢٠٣
وَاسْتِحْبَابُ الْأَكْلِ بثلاث أصابع ولايضم اليها الرابعة والخامسة إلالعذر بأن يكون مرقا وغيره مما لايمكن بِثَلَاثٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَعْذَارِ

Makna; Dan disunnahkannya makan dengan tiga jari, dan janganlah seseorang menggunakan jari yang keempat dan kelima kecuali karena ‘udzur, seperti makanannya berupa kuah dan selainnya berupa makanan yang tidak memungkinkan memakannya dengan tiga jari, dan ‘udzur²lainnya. Wallohu a’lam.

KEUTAMAAN MEMBACA BASMALAH DALAM AKTIFITAS KESEHARIAN

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Tidaklah seorang hamba mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim, terkecuali melelehlah syetan seperti melelehnya timah diatas api”}

قال صلى الله عليه وسلم: {مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ بِسْمِ الله الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ إلاَّ ذَابَ الشَّيْطَانُ كَما يَذُوبُ الرَّصَاصُ عَلَى النَّارِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Tidaklah seorang hamba mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim, terkecuali Allah ta’ala memerintahkan malaikat mulia sang pencatat amal agar menuliskan dalam timbangannya (catatan amalnya) 400 kebaikan”}

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ بِسْمِ الله الرَّحْمٰن الرَّحِيمِ إلاَّ أمَرَ الله تَعَالى الكِرَامَ الكَاتِبْينَ أن يَكْتُبُوا في دِيوَانِهِ أرْبَعْمَائَةِ حَسَنَةٍ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Barang siapa membaca Bismillahirrohmanirrohim, walaupun sekali, maka tidak tersisa dosa–dosanya sedikitpun”}

وقالَ صلى الله عليه وسلم: {مَنْ قَالَ بِسْمِ الله الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ مَرَّةً لَمْ يَبْقَ مِنْ ذُنُوبِهِ ذَرَّةٌ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Barangsiapa menulis basmalah kemudian membaguskannya karena mengagungkan Allah, maka diampuni dosa yang sudah lalu dan yang akan datang”}

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ كَتَبَ بِسْمِ الله فَجَوَّدَ تَعْظِيما لله غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Ketika salah satu dari kalian menulis Bismillahirrohmanirrohim, maka panjangkanlah lafadz arrohmaani “}

وقال صلى الله عليه وسلم: {إذَا كَتَبَ أحَدُكُمْ بِسْمِ الله الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ فَلْيَمُدَّ الرَّحْمٰنَ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Sesungguhnya Allah subahanahu wata’ala menghiasi langit dengan bintang-bintang, menghiasi malaikat dengan malaikat Jibril, menghiasi surga dengan bidadari dan istana–istana, menghiasi para Nabi dengan Nabi Muhammad Shollallohu alaihi wasallam, menghiasi hari–hari dengan hari jumat, menghiasi malam–malam dengan malam lailatul qadar, menghiasi bulan–bulan dengan bulan Ramadhan, menghiasi masjid–masjid dengan Kabah, menghiasi kitab–kitab dengan Al-Quran dan menghiasi Al-Quran dengan Bismillahirrohmanirrohim”}

وقَالَ صلى الله عليه وسلم: {إنَّ الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى زَيَّنَ السَّمَاءَ بِالكَوَاكِب وَزَيَّنَ المَلائِكَةَ بِجِبْرِيلَ وَزَيَّنَ الجَنَّةَ بِالحُورِ وَالقُصُورِ، وَزَيَّنَ الأنْبِيَاءَ بِمُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم، وَزَيَّنَ الأيّامَ بِيَوْمِ الجُمُعَةِ، وَزَيَّنَ اللَّيَالِي بِلَيْلَةِ القَدْرِ، وَزَيَّنَ الشُّهُورَ بِشَهْرِ رَمَضَانَ، وَزَيَّنَ المساجدَ بالكَعْبَةِ، وَزَيَّنَ الكُتُبَ بِالقُرْآنِ، وَزَيَّنَ القُرْآنَ بِبِسْمِ الله الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Barang siapa yang mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim maka namanya dicatat sebagai orang baik dan dibebaskan dari sifat kufur dan nifak (kemunafikan)”}

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ قَالَ بِسْمِ الله الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ كُتِبَ اسْمُهُ مِنَ الأبْرَارِ وَبرِىءَ مِنَ الكُفْرِ والنفاقِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Barang siapa mengucapakan Bismillahirrohmanirrohim maka diampuni dosa-dosanya yang sudah lewat”}

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ قَالَ بِسْمِ الله الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ غَفَرَ الله لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ}


Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Ketika kalian berdiri maka ucapkanlah bismillahirrohmaanirrohiim washollallohu alaa sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihi washohbihi wasallam, maka ketika orang-orang akan menggunjingmu malaikat akan mencegahnya dari hal itu”}

وقال صلى الله عليه وسلم: {إذا قُمْتُمْ فَقُولُوا بِسْمِ الله الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدِنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلهِ وصَحْبِهِ وَسَلَّمَ فإنَّ النَّاسَ إذا اغْتَابُوكُمْ يَمْنَعُهُمْ الملك عَنْ ذٰلِكَ}


Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Ketika kalian duduk maka ucapkanlah bismillahirrohmaanirrohiim washollallohu alaa sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihi washohbihi wasallam, barang siapa melakukannya maka Allah akan mengutus Malaikat yang menjaganya dari orang–orang yang menggunjingnya hingga mereka tidak bisa melakukannya”}

وقال صلى الله عليه وسلم: {إذا جَلَسْتُمْ مَجْلِسا فَقُولُوا بِسْمِ الله الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ وَصَلَّى الله عَلَى سِيِّدِنا محمدٍ وَعَلى آلهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم فإنَّ مَنْ فَعَلَ ذٰلكَ وَكَّلَ الله بِهِ مَلَكا يَمْنَعَهُمْ مِنَ الغَيبةِ حَتَّى لا يَغْتَابُوكُمْ}

KITAB TANQIHUL QAUL SYARAH LUBABUL HADITS

KE SHOHIH AN HADITS KEMARAU PANJANG SEBELUM DATANGNYA DAJJAL LAKNATULLOH

Dalam tafsir Ibnu Katsir diterangkan bahwa Hadits kemarau Panjang sebelum datangnya DAJJAL statusnya sangat ghorib tapi sebagian darinya memiliki syawahid (bukti-bukti) yang menguatkan dari hadits-hadits lain.

Referensi:

Tafsir ibnu katsir Jilid 1 hal 527:

….. وإن قبل خروج الدجال ثلاث سنوات شداد ، يصيب الناس فيها جوع شديد ، يأمر الله السماء في السنة الأولى أن تحبس ثلث مطرها ، ويأمر الأرض فتحبس ثلث نباتها ، ثم يأمر السماء في الثانية فتحبس ثلثي مطرها ، ويأمر الأرض فتحبس ثلثي نباتها ، ثم يأمر الله السماء في السنة الثالثة فتحبس مطرها كله ، فلا تقطر قطرة ، ويأمر الأرض أن تحبس نباتها كله ، فلا تنبت خضراء ، فلا تبقى ذات ظلف إلا هلكت ، إلا ما شاء الله ” .

فقيل : فما يعيش الناس في ذلك الزمان ؟ قال : ” التهليل والتكبير والتسبيح والتحميد ، ويجري ذلك عليهم مجرى الطعام ” .

قال ابن ماجه : سمعت أبا الحسن الطنافسي يقول : سمعت عبد الرحمن المحاربي يقول : ينبغي أن يدفع هذا الحديث إلى المؤدب ، حتى يعلمه الصبيان في الكتاب .

هذا حديث غريب جدا من هذا الوجه ، ولبعضه شواهد من أحاديث أخر

Berdasarkan Hadits, 3 Tahun Kemarau Panjang, Dilanda Kelaparan Dan Kekeringan Tanda Akan Datang nya Dajjal. Sebelum kedatangan dajjal, dunia islam akan diuji dahulu oleh Allah dengan kemarau panjang selama 3 tahun berturut-turut, Allah akan menahan hujan selama tiga tahun sebelum kedatangan dajjal.

Pada tahun pertama hujan akan kurang sepertiga dari biasa dan pada tahun kedua akan kurang 2/3 dari biasa dan tahun ketiga hujan tidak akan turun langsung. Umat akan dilanda kelaparan dan kekeringan , disaat itu dajjal akan muncul membawa ujian , maka daerah mana yg percaya dajjal itu Tuhan…ia akan berkata kepada awan: hujan lah kamu di daerah ini ! Lalu hujan pun turunlah bumi pun menjadi subur.

Manakala pendunduk yang tdak mau bersekutu dengan dajjal, mereka akan tetap berada dalam kekeringan dan kelaparan. Diriwayatkan, penyokong dajjal akan memiliki segunung roti ( makanan ), sedangkan orang yang tidak percaya dgnnya berada dalam kelaparan dan kekeringan. Dalam hal ini, para shabat Rasullullah s.a.w. bertanya: ” jadi apa yang dimakan orang islam yang beriman pada hari itu wahai Rasullullah ? Nabi menjawab : “mereka akan merasa kenyang dengan bertahlil, berzikir, bertakbir dan bertaubat, jadi zikir-zikir itulah yang menggantikan makanan,” ( H.R Ibnu Majah ).

Ibnu Majah :

قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا يُرْخِصُ الْفَرَسَ؟ قَالَ «لَا تُرْكَبُ لِحَرْبٍ أَبَدًا» ، قِيلَ لَهُ: فَمَا يُغْلِي الثَّوْرَ؟ قَالَ «تُحْرَثُ الْأَرْضُ كُلُّهَا، وَإِنَّ قَبْلَ خُرُوجِ الدَّجَّالِ ثَلَاثَ سَنَوَاتٍ شِدَادٍ، يُصِيبُ النَّاسَ فِيهَا جُوعٌ شَدِيدٌ، يَأْمُرُ اللَّهُ السَّمَاءَ فِي السَّنَةِ الْأُولَى أَنْ تَحْبِسَ ثُلُثَ مَطَرِهَا، وَيَأْمُرُ الْأَرْضَ فَتَحْبِسُ ثُلُثَ نَبَاتِهَا، ثُمَّ يَأْمُرُ السَّمَاءَ، فِي الثَّانِيَةِ فَتَحْبِسُ ثُلُثَيْ مَطَرِهَا، وَيَأْمُرُ الْأَرْضَ فَتَحْبِسُ ثُلُثَيْ نَبَاتِهَا، ثُمَّ يَأْمُرُ اللَّهُ السَّمَاءَ، فِي السَّنَةِ الثَّالِثَةِ، فَتَحْبِسُ مَطَرَهَا كُلَّهُ، فَلَا تُقْطِرُ قَطْرَةً، وَيَأْمُرُ الْأَرْضَ، فَتَحْبِسُ نَبَاتَهَا كُلَّهُ، فَلَا تُنْبِتُ خَضْرَاءَ، فَلَا تَبْقَى ذَاتُ ظِلْفٍ إِلَّا هَلَكَتْ، إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ» ، قِيلَ: فَمَا يُعِيشُ النَّاسُ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ؟ قَالَ «التَّهْلِيلُ، وَالتَّكْبِيرُ، وَالتَّسْبِيحُ، وَالتَّحْمِيدُ، وَيُجْرَى ذَلِكَ عَلَيْهِمْ مُجْرَى الطَّعَامِ» ، [ابن ماجه، سنن ابن ماجه، ١٣٥٩/٢]

KEBAIKAN ITU BISA MEMBUAT HATI MENJADI TENANG

Dawuh Rosulullah shollallohu alaihi wasallam : “Kebaikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah sesuatu yang bergejolak dalam dada, dan engkau benci orang lain melihatnya”.

Menurut ulama’ :

Al-Birru bermakna persambungan, kelembutan, sesuatu yang mendorong pada kebaikan, persahabatan yang baik, pergaulan yang baik, ketaatan semua ini adalah cakupan akhlak.

Haaka fi shodrika bermakna bergerak dalam dada, membingungkan, timbul keraguan dalam hati, takut jadi dosa.

Syarah An-Nawawi ala Muslim :

وقوله صلى الله عليه وسلم : ( البر حسن الخلق ، والإثم ما حاك في صدرك ، وكرهت أن يطلع عليه الناس ) قال العلماء : البر يكون بمعنى الصلة ، وبمعنى اللطف والمبرة وحسن الصحبة والعشرة ، وبمعنى الطاعة ، وهذه الأمور هي مجامع الخلق . ومعنى ( حاك في صدرك ) أي تحرك فيه ، وتردد ، ولم ينشرح له الصدر ، وحصل في القلب منه الشك ، وخوف كونه ذنبا .

وعن النواس بْنِ سَمْعَانِ اْلأََنْصَارِيِّ ، قَالَ : سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللّٰـهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْبِرِّ وَاْلإِثْمِ ، فَقَالَ : اَلْبِرُّ حُسْنُ الْـخُلُقِ ، وَاْلإِثْمُ مَا حَاكَ فِـيْ صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ) وَعَنْ ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، أَخْبِرْنِـيْ بِمَـا يَـحِلُّ لِـيْ وَ يَـحْرُمُ عَلَيَّ ؟ قَالَ : فَصَعَّدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَوَّبَ فِيَّ النَّظَرَ ، فَقَالَ : اَلْبِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ ، وَاْلإِثْمُ مَا لَـمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلاَ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ ، وَإِنْ أَفْتَاكَ الْـمُفْتُوْنَ

Dari an-Nawwâs bin Sam’ân Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebajikan dan dosa, maka beliau menjawab, “Kebajikan adalah akhlak yang baik dan dosa adalah apa yang membuat bimbang (ragu) hatimu dan engkau tidak suka dilihat (diketahui) oleh manusia.” [HR. Muslim]

Dan dari Abu Tsa’labah al-Khusyani, ia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullâh! Jelaskan apa saja yang halal dan haram bagiku.” Beliau bersabda, “Kebajikan ialah apa saja yang apa saja yang menjadikan jiwa tenang dan hati menjadi tenteram. Dan dosa ialah apa saja yang menjadikan jiwa tidak tenang dan hati tidak tenteram kendati para pemberi fatwa berfatwa kepadamu.” [HR. Ahmad]

Kitab Subulussalam :

وعن النواس بن سمعان – رضي الله عنه – قال: «سألت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن البر والإثم، فقال: البر حسن الخلق، والإثم ما حاك في صدرك، وكرهت أن يطلع عليه الناس» أخرجه مسلم.

ــــ [البر وحسن الخلق]

(وعن النواس) بفتح النون وتشديد الواو وسين مهملة (ابن سمعان) بفتح السين المهملة وكسرها وبالعين المهملة. ورد سمعان الكلابي على رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وزوجه ابنته وهي التي تعوذت من النبي – صلى الله عليه وسلم – سكن النواس الشام وهو معدود منهم وفي صحيح مسلم نسبته إلى الأنصار: قال المازري والقاضي القاضي عياض عياض: والمشهور أنه كلابي ولعله حليف الأنصار (قال «سألت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن البر والإثم فقال البر حسن الخلق والإثم ما حاك في صدرك وكرهت أن يطلع عليه الناس» أخرجه مسلم) قال النووي: قال العلماء: البر يكون بمعنى الصلة وبمعنى الصدقة وبمعنى اللطف والمبرة وحسن الصحبة والعشرة وبمعنى الطاعة وهذه الأمور هي مجامع حسن الخلق وقال القاضي عياض: حسن الخلق مخالقة الناس بالجميل والبشر والتودد لهم والإشفاق عليهم واحتمالهم والحمل عنهم والصبر عليهم في المكاره وترك الكبر والاستطالة عليهم ومجانبة الغلظة والغضب والمؤاخذة. وحكى فيه خلافا هل هو غريزة أو مكتسب؟ قال والصحيح أن منه ما هو غريزة ومنه ما هو مكتسب بالتخلق والاقتداء بغيره وقال الشريف في التعريفات: قيل حسن الخلق هيئة راسخة تصدر عنها الأفعال المحمودة بسهولة وتيسر من غير حاجة إلى إعمال فكر وروية انتهى. قيل ويجمع حسن الخلق قوله – صلى الله عليه وسلم -: «طلاقة الوجه وكف الأذى وبذل المعروف وحسن الخلق» .

وقوله «والإثم ما حاك في صدرك وكرهت أن يطلع عليه الناس» أي تحرك الخاطر في صدرك وترددت هل تفعله لكونه لا لوم فيه أو تتركه خشية اللوم عليه من الله سبحانه وتعالى ومن الناس لو فعلته فلم ينشرح به الصدر ولا حصلت الطمأنينة بفعله خوف كونه ذنبا. ويفهم منه أنه ينبغي ترك ما تردد في إباحته. وفي معناه حديث «دع ما يريبك إلا ما لا يريبك» أخرجه البخاري من حديث الحسن بن علي. وفيه دليل على أنه تعالى قد جعل للنفس إدراكا لما لا يحل فعله وزاجرا عن فعله.

KUMPULAN HADITS : ANJURAN DZIKIR BA’DA SHOLAT DAN AYAT KURSYI

DZIKIR SETELAH SHALAT LIMA WAKTU

HADITS KE 262 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( مَنْ سَبَّحَ اَللَّهَ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اَللَّهِ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اَللَّهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتِلْكَ تِسْعٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ اَلْمِائَةِ : لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ اَلْمُلْكُ وَلَهُ اَلْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ لَهُ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ اَلْبَحْرِ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ.وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى : أَنَّ اَلتَّكْبِيرَ أَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang pada tiap-tiap usai sholat bertasbih (membaca subhanallah) sebanyak 33 kali bertahmid (membaca alhamdulillah) sebanyak 33 kali dan bertakbir (membaca Allahu akbar) sebanyak 33 kali maka jumlahnya 99 kali lalu menyempurnakannya menjadi 100 dengan bacaan: (artinya = tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya bagi-Nya kerajaan dan segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) maka diampunilah kesalahan-kesalahannya walaupun kesalahannya seperti buih air laut.” Hadits riwayat Muslim. Dalam riwayat lain: Bahwa takbirnya sebanyak 34 kali.

MAKNA HADITS :

Hadis ini mempunyai latar belakang bahwa sejumlah kaum muslimin hartawan hidup dengan penuh kenikmatan dan kesejahteraan. Mereka mendapat pahala karena sedekah mereka. Inilah yang membuat kaum fakir miskin merasa keberatan, lalu mereka menceritakan kepada Nabi (s.a.w) apa yang bergejolak di

dalam hati mereka dan mereka berkata kepada Rasulullah (s.a.w): “Sesungguhnya orang kaya dapat bersedekah dan memerdekakan hamba sedangkan kami tidak

mempunyai apa-apa harta untuk mengimbangi pahala yang mereka peroleh.” Mendengar itu, Rasulullah (s.a.w) memberitahukan mereka bahwa apabila mereka mengamalkan bacaan tasbih, tahmid, dan takbir serta tahlil setiap kali selesai mengerjakan solat fardu, nescaya mereka mendapat ganjaran pahala yang sama dengan orang yang menyedekahkan hartanya. Tidak seorang pun yang lebih utama dari mereka kecuali orang yang berbuat amal yang serupa. Dosa-dosa

mereka diampuni, betapa pun besarnya dan kemurahan Allah itu memangMaha Luas. Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“`

FIQH HADITS :

1. Para sahabat sangat mengambil berat perkara kebaikan. Mereka memiliki keinginan yang sungguh-sungguh untuk mengerjakan amal soleh dan berlomba untuk mengerjakannya.

2. Berlomba dalam amal soleh menjadikan seseorang berada di kedudukan yang tinggi dan memperoleh fadhilah yang dengannya memperoleh pahala.

3. Keutamaan bertasbih, bertahmid, bertakbir, dan bertahlil serta menjelaskan bilangannya mengikut ketentuan yang telah dinukil dari Nabi (s.a.w).

ANJURAN MEMBACA AYAT KURSI SETELAH SHALAT LIMA WAKTU

HADITS KE 264 :

وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَنْ قَرَأَ آيَةَ اَلْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ اَلْجَنَّةِ إِلَّا اَلْمَوْتُ ) رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَزَادَ فِيهِ اَلطَّبَرَانِيُّ : ( وَقُلْ هُوَ اَللَّهُ أَحَدٌ )

Dari Abu Umamah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “barangsiapa membaca ayat kursi setiap selesai sholat fadlu maka tiada yang menghalanginya masuk syurga kecuali maut.” Diriwayatkan oleh Nasa’i dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban. Thabrani menambahkan: “Dan bacalah surat al-Ikhlas.”

MAKNA HADITS :

Sebagian al-Qur’an mempunyai kelebihan ke atas sebagian yang lain. Ayat al-Kursi merupakan ayat paling mulia karena di dalamnya mengandungi asas-asas yang mengesakan Allah, mengagungkan-Nya, dan menyebut asma-asma serta

sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi.

Di dalam ayat al-Kursi disebutkan bahwa hanya Allah yang mempunyai sifat uluhiyah. Dia Maha Hidup lagi Maha Suci dari segala bentuk tempat dan bertempat tinggal dan Maha Suci dari perubahan. Dialah yang menguasai alam sejagat, yang mempunyai pembalasan yang keras, yang maha mengetahui segala sesuatu yang jelas dan yang samar, secara keseluruhan atau secara terperinci. Kekuasaan dan kerajaan-Nya Maha Luas, Maha Tinggi dari segala sesuatu yang

tidak layak bagi-Nya lagi Maha Besar. Semua akal dan fikiran tidak akan mampu mengetahui hakikat zat dan sifat-sifat-Nya.

Surah al-Shamad yakni al-Ikhlas, meskipun pendek tetapi isinya mencakupi sifat-sifat Allah Yang Maha Esa dan ia merupakan ayat yang meniadakan segala

sesuatu yang tidak layak bagi keagungan-Nya, seperti anak, ibu bapa dan tandingan. Tiada yang mencegah-Nya karena tidak ber ibu bapak, dan tiada yang

menyamai-Nya karena tiada tandingan, serta tiada yang membantu-Nya karena tidak beranak.

FIQH HADITS :

1. Keutamaan ayat al-Kursi adalah di dalamnya terdapat makna tauhid yang tidak terdapat pada ayat yang lain. Keistimewaannya ialah apabila dibaca di dalam rumah yang terdapat jin, maka jin itu akan keluar meninggalkan rumah itu.

2. Keutamaan Surah al-Ikhlas ialah di dalamnya terdapat makna menyucikan Allah dari segala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya.

Wallahu a’lam bisshowab..

BEBERAPA TANDA AHLI SURGA BAGI ORANG YANG MASIH HIDUP

Dari beberapa firman Allah dan riwayat hadits bisa disimpulkan bahwa ciri-ciri calon orang yang masuk surga, bahkan ada yang bisa masuk tanpa dihisab adalah :

1. Orang bewajah putih berseri-seri (ahlussunnah waljama’ah dan pengikutnya)

2. Orang yang selalu berwudu’

3. Orang yang tidak minta diruqyah

4. Orang yang tidak memperaktekkan ka’I (Terapi besi panas dengan di tempel pada luka)

5. Orang yang tidak pernah bertathayur

6. Orang yang bertawakkal kepada Allah dari segala ujian, cobaan dan musibah

7. Tidak menjadi orang kafir dan orang munafiq

8. Orang yang selalu bertaqwa kepada Allah.

9. Orang yang memelihara dan menanggung anak yatim ”

Berikut beberapa hadits dan ayat yang menunjukkan hal tersebut :

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam syurga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dan merenggangkan antara keduanya itu.” (Riwayat Bukhari).

Dalam Kitab Sunan Ad Darimi 1/45, maktabah syamilah :

أخبرنا يعقوب بن إبراهيم ثنا عمر بن أبي خليفة قال سمعت زياد بن مخراق ذكر عن عبد الله بن عمر قال * أرسل رسول الله صلى الله عليه وسلم معاذ بن جبل وأبا موسى إلى اليمن قال تساندا وتطاوعا ويسرا ولا تنفرا فقدما اليمن فخطب الناس معاذ فحضهم على الإسلام وأمرهم بالتفقه في القرآن وقال إذا فعلتم ذلك فاسألوني أخبركم عن أهل الجنة من أهل النار فمكثوا ما شاء الله أن يمكثوا فقالوا لمعاذ قد كنت أمرتنا إذا نحن تفقهنا وقرأنا أن نسألك فتخبرنا بأهل الجنة من أهل النار فقال لهم معاذ إذا ذكر الرجل بخير فهو من أهل الجنة وإذا ذكر بشر فهو من أهل النار

Fokus :

إذا ذكر الرجل بخير فهو من أهل الجنة

Hadits Darimi 224 :

أَخْبَرَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ أَبِي خَلِيفَةَ قَالَ سَمِعْتُ زِيَادَ بْنَ مِخْرَاقٍ ذَكَرَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ وَأَبَا مُوسَى إِلَى الْيَمَنِ قَالَ تَسَانَدَا وَتَطَاوَعَا وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا فَقَدِمَا الْيَمَنَ فَخَطَبَ النَّاسَ مُعَاذٌ فَحَضَّهُمْ عَلَى الْإِسْلَامِ وَأَمَرَهُمْ بِالتَّفَقُّهِ وَالْقُرْآنِ وَقَالَ إِذَا فَعَلْتُمْ ذَلِكَ فَاسْأَلُونِي أُخْبِرْكُمْ عَنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمَكَثُوا مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَمْكُثُوا فَقَالُوا لِمُعَاذٍ قَدْ كُنْتَ أَمَرْتَنَا إِذَا نَحْنُ تَفَقَّهْنَا وَقَرَأْنَا أَنْ نَسْأَلَكَ فَتُخْبِرَنَا بِأَهْلِ الْجَنَّةِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ لَهُمْ مُعَاذٌ إِذَا ذُكِرَ الرَّجُلُ بِخَيْرٍ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِذَا ذُكِرَ بِشَرٍّ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ

Hendaknya kalian saling bersandar, & saling membantu, & hendaknya kalian berdua memberikan (kepada mereka) kabar gembira & janganlah kalian berdua membuat (mereka) lari (dari ajaran islam), kemudian keduanya datang ke Yaman, lalu Mu’adz memberikan khutbah kepada orang-orang, mengajak mereka untuk masuk islam, & memerintahkan kepada mereka untuk memperdalam isi Al Qur`an, & ia juga berkata:’Jika kalian sudah lakukan itu semua maka tanyalah kepadaku, akan kukabarkan kepada kalian tentang penghuni surga & penghuni neraka, mereka (para penghuni surga & neraka) berada di dalamnya tergantung seberapa lama Allah menghendaki, kemudian mereka berkata kepada Mu’adz: ‘Sungguh kamu telah memerintahkan kami, jika kami sudah memperdalam islam & telah membaca (mempelajari) Al Qur`an agar kami menanyakanmu (tentang penghuni surga & neraka), maka kabarkanlah kepada kami tentang penghuni surga & neraka’,kemudian Mu’adz berkata kepada mereka: ‘Jika seorang dikenal baik, ia penghuni surga, & jika seorang dikenal jelek, ia penghuni neraka’ . [HR. Darimi No.224]

Al-Qur’an Surat Al-Imran ayat 106 :

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

Artinya : Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”.

Lihat Kitab Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 Halaman 92 :

وقوله تعالى: { يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ } يعني: يوم القيامة، حين تبيض وجوه أهل السنة والجماعة، وتسودّ وجوه أهل البِدْعَة والفرقة، قاله ابن عباس، رضي الله عنهما.{ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ } قال الحسن البصري: وهم المنافقون: { فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ } وهذا الوصف يَعُمّ كل كافر.

Penjelasannya : Allah berfirman : “pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri, dan ada pula muka yang menjadi hitam muram”. (QS. Al-Imran : 106). Yakni kelak di hari kiamat, di waktu berseri putih wajah ahli sunnah wal jama’ah dan tampak hitam muram wajah ahli bid’ah dan perpecahan. Demikianlah menurut penafsiran Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma.

Allah berfirman : ”Adapun orang-orang yang menjadi hitam muram mukanya (kepada mereka di katakan), mengapa kalian kafir sesudah kalian beriman”. (QS. Al-Imran : 106). Menurut Al-Hasan Al-Basri mereka adalah orang-orang munafiq.

Allah berfirman : “Karena itu, Rasakanlah adzab di sebabkan kekafiran kalian itu”. (QS. Al-Imran : 106). Gambaran ini bersifat umum menyangkut semua orang kafir.

وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya : Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Imran : 107).

Lihat Kitab Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 Halaman 92 :

{ وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ } يعني: الجنة، ماكثون فيها أبدا لا يبغون عنها حوَلا. وقد قال أبو عيسى الترمذي عند تفسير هذه الآية: حدثنا أبو كُرَيْب، حدثنا وَكِيع، عن رَبِيع -وهو ابن صَبِيح وحَمَّاد بن سلمة، عن أبي غالب قال: رأى أبو أمامة رءوسا منصوبة على دَرَج دمشق، فقال أبو أمامة: كلاب النار، شر قتلى تحت أديم السماء، خَيْرُ قتلى من قتلوه، ثم قرأ: { يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ } إلى آخر الآية. قلت لأبي أمامة: أنت سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: لو لم أسمعه إلا مرة أو مرتين أو ثلاثا أو أربعا -حتى عَدّ سبعا-ما حَدّثتكموه.ثم قال: هذا حديث حسن: وقد رواه ابن ماجة من حديث سفيان بن عيينة عن أبي غالب، وأخرجه أحمد في مسنده، عن عبد الرزاق، عن مَعْمَر، عن أبي غالب، بنحوه. وقد روى ابن مَرْدُويَه عند تفسير هذه الآية، عن أبي ذر، حديثًا مطولا غريبا عجيبا جدا.

Penjelasannya : Allah berfirman : “Adapun orang-orang yang menjadi putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam Rahmat (surga) Allah, mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Imran : 107). Maksudnya, mereka tinggal di dalam surga untuk selama-lamanya dan mereka tidak mau pindah darinya.

Abu Isa At-Tirmidzi dalam tafsir ayat ini mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Ar-Rabi’ ibnu Sabih, dan Hammad ibnu Salamah, dari Abu Galib yang menceritakan bahwa Abu Umamah melihat banyak kepala di pancangkan di atas tangga masuk masjid di masyqi, maka abu umamah mengatakan, Anjing-anjing neraka adalah seburuk-buruk orang yang terbunuh di kolong langit ini, sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang-orang yang di bunuhnya. Kemudian Abu Umamah membacakan firman-Nya :”Pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri, dan ada pula muka yang menjadi hitam muram”. (QS. Al-Imran : 106). Hingga akhir ayat.

Kemudian aku bertanya kepada Abu Umamah, apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah saw? Abu umamah menjawab, seandainya aku bukan mendengarnya melainkan sekali atau dua kali atau tiga kali atau empat kali dan bahkan sampai tujuh kali, niscaya aku tidak akan menceritakannya kepada kalian. Kemudian imam tirmiszi mengatakan bahwa hadist ini hasan.

Ibnu Majah meriwayatkan melalui hadist sufyan ibnu ayaynah, dari Abu Galib, dan imam ahmad mengetengahkan, di dalam kitab musnadnya, dari Abdur- Razzaq, dari Ma’mar, dari Abu Galib dengan lafasz yang semisal.

Ibnu murdawaih meriwayatkan dalam tafsir ayat ini dari abu dzar, sebuah hadist yang panjang tapi isinya sangat aneh dan mengherankan.

وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ لاَ نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا أُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.( QS Al A’raf ; 42 )

حدثنا عمران بن ميسرة حدثنا ابن فضيل حدثنا حصين عن عامر عن عمران بن حصين رضي الله عنهما قال : لا رقية إلا من عين أو حمة . فذكرته لسعيد بن جبير فقال حدثنا ابن عباس قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( عرضت علي الأمم فجعل النبي والنبيان يمرون معهم الرهط والنبي ليس معه أحد حتى رفع لي سواد عظيم قلت ما هذا ؟ أمتي هذه ؟ قيل هذا موسى وقومه قيل انظر إلى الأفق فإذا سواد يملأ الأفق ثم قيل لي انظر ها هنا وها هنا في آفاق السماء فإذا سواد قد ملأ الأفق قيل هذه أمتك ويدخل الجنة من هؤلاء سبعون ألفا بغير حساب ) . ثم دخل ولم يبين لهم فأفاض القوم وقالوا نحن الذين آمنا بالله واتبعنا رسوله فنحن هم أو أولادنا الذين ولدوا في الإسلام فإنا ولدنا في الجاهلية فبلغ النبي صلى الله عليه و سلم فخرج فقال ( هم الذين لا يسترقون ولا يتطيرون ولا يكتوون وعلى ربهم يتوكلون ) . فقال عكاشة بن محصن أمنهم أنا يا رسول الله ؟ قال ( نعم ) . فقام آخر فقال أمنهم أنا ؟ قال ( سبقك بها عكاشة )

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Imran bin Maisarah telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Fudlail telah menceritakan kepada kami Hushain dari ‘Amir dari Imran bin Hushain radliallahu ‘anhuma dia berkata; Tidak ada ruqyah (jampi-jampi dari Qur’an dan Sunnah) kecuali dari penyakit ‘Ain atau demam, lalu hal itu kusampaikan kepada Sa’id bin Jubair, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Abbas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Beberapa ummat pernah ditampakkan kepadaku, maka nampaklah seorang nabi dan dua orang nabi lain lewat bersama dengan beberapa orang saja, dan seorang nabi lagi yang tidak bersama seorang pun, hingga tampak olehku segerombolan manusia yang sangat banyak, aku pun bertanya; Apakah segerombolan manusia itu adalah ummatku? di beritahukan; Ini adalah Musa dan kaumnya. Lalu diberitahukan pula kepadaku; Lihatlah ke ufuk. Ternyata di sana terdapat segerombolan manusia yang memenuhi ufuk, kemduian di beritahukan kepadaku; Lihatlah di sebelah sini dan di sebelah sana, yaitu di ufuk langit. Ternyata di sana telah di padati dengan segerombolan manusia yang sangat banyak, di beritahukan kepadaku; Ini adalah ummatmu, dan di antara mereka terdapat tujuh puluh ribu yang masuk surga tanpa hisab. Setelah itu beliau masuk ke rumah dan belum sempat memberi penjelasan kepada mereka (para sahabat), maka orang-orang menjadi ribut, mereka berkata; Kita adalah orang-orang yang telah beriman kepada Allah dan mengikuti jejak Rasul-Nya, mungkinkah kelompok tersebut adalah kita ataukah anak-anak kita yang dilahirkan dalam keadaan Islam sementara kita dilahirkan di zaman Jahiliyah. Maka hal itu sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas beliau keluar dan bersabda: Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah minta untuk di ruqyah, tidak pernah bertathayur (menganggap sial pada binatang) dan tidak pula melakukan terapi dengan kay (terapi dengan menempelkan besi panas pada daerah yang sakit), sedangkan kepada Rabb mereka bertawakkal. Lalu Ukasah bin Mihshan berkata; Apakah aku termasuk di antara mereka ya Rasulullah? beliau menjawab; Ya. Selanjutnya sahabat yang lain berdiri dan berkata; Apakah aku termasuk dari mereka? beliau bersabda: Ukasah telah mendahuluimu. (HR. Bukhori No. 5378 Juz 5 Halaman 2157).

وَحَدَّثَنِى هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الأَيْلِىُّ حَدَّثَنِى ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِى عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى هِلاَلٍ عَنْ نُعَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ رَأَى أَبَا هُرَيْرَةَ يَتَوَضَّأُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ حَتَّىكَادَ يَبْلُغُ الْمَنْكِبَيْنِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ حَتَّى رَفَعَ إِلَى السَّاقَيْنِ ثُمَّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ ».

Artinya : Dan telah menceritakan kepadaku Harun bin Sa’id al-Aili telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepada kami Amru bin al-Harits dari Sa’id bin Abu Hilal dari Nu’aim bin Abdullah bahwa dia melihat Abu Hurairah berwudlu, lalu membasuh wajahnya dan kedua tangannya hingga hampir mencapai lengan, kemudian membasuh kedua kakinya hingga meninggi sampai pada kedua betisnya, kemudian dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya umatku datang pada hari kiamat dalam keadaan putih bercahaya disebabkan bekas wudlu. Maka barangsiapa di antara kalian mampu untuk memanjangkan putih pada wajahnya maka hendaklah dia melakukannya’. (HR. Muslim No. 603 Juz 1 Halaman 149). Wallaahu A’lam.