DOSA TIDAK DI LIPATGANDAKAN DAN BALASAN UNTUK TUJUH AMALIYAH

Satu hal yang dapat kita pahami dari ragam jenis amalan ini adalah betapa besar dan luas rahmat Allah bagi para hamba-Nya. Sebagaimana diketahui bahwa setiap perbuatan yang dilakukan oleh seorang hamba pasti akan diperhitungkan dan pelakunya akan menerima balasan. Bila kebaikan yang dilakukan maka kebaikan pula yang akan ia terima. Bila sebaliknya maka sebaliknya pula. Balasan baik atau buruk yang diberikan Allah kepada hamba-Nya atas perbuatannya itu menunjukkan adanya keadilan dan rahmat kasih sayang Allah. Dari berbagai macam amalan yang diperbuat oleh manusia, dilihat dari sisi balasan yang akan didapatnya, perbuatan atau amalan setiap orang itu terbagi dalam tujuh kategori. Dalam hal ini Imam Nawawi dalam syarah kitab Arba’ȋn-nya menjelaskan:

 الأعمال سبعة: عملان موجبان وعملان واحد بواحد وعمل الحسنة فيه بعشرة وعمل الحسنة فيه بسبعمائة ضعف وعمل لا يحصى ثوابه إلا الله تعالى

Artinya: “Amal itu ada tujuh macam, yakni dua amalan yang memastikan, dua amalan di mana satu dibalas dengan satu, amal kebaikan yang di dalamnya terdapat sepuluh pahala, amal kebaikan yang di dalamnya terdapat tujuh ratus kali lipat pahala, dan amalan yang tidak bisa menghitung pahalanya kecuali oleh Allah saja” (Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Syarhul Arba’ȋn An-Nawawiyyah [Surabaya: Maktabah Al-Hikmah, tt.], hal. 83).

Dari ketujuh kategori amalan di atas, lalu amalan-amalan apa saja yang masuk pada masing-masing kategori itu? Berikut penjelasannya:

Pertama dan kedua, dua macam amalan yang memastikan adalah iman dan kufur.

Orang yang beriman kepada Allah dan meninggal dunia dalam keadaan masih beriman serta tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, maka imannya itu memastikan ia masuk ke dalam surga.

Imam Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits:

 يُخْرَجُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنَ الإِيمَانِ

Artinya: “Akan dikeluarkan dari api neraka orang yang di hatinya terdapat sebiji dzarah keimanan” (Muhammad bin Isa At-Tirmidzi, Jâmi’ut Tirmidzi [Riyadh: Baitul Afkar Ad-Dauliyah, tt.], hal. 421).

 Ini dapat dipahami bahwa orang yang meninggal dunia dalam keadaan membawa keimanan kepada Allah sekecil, setipis, atau seringan apa pun kadar imannya itu, maka ia akan tetap dikeluarkan dari siksaan api neraka, meskipun—karena sangat tipis keimanannya dan sangat banyak dosanya—ia menjadi orang yang paling terakhir keluar dari nereka. Dan ketika seseorang dikeluarkan dari neraka maka tidak ada tempat baginya kecuali surga. Sedangkan orang kafir yang tidak beriman kepada Allah, hingga akhir hayatnya ia masih tetap dalam kekafirannya, maka kekafirannya itu memastikan ia masuk ke dalam api neraka.

Di dalam Surat Al-Baqarah ayat 161-162 Allah berfirman:

 إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ, خَالِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang kafir dan mati dalam keadaan kafir mereka itu dilaknat oleh Allah, para malaikat, dan semua manusia. Mereka kekal di dalamnya. Tidak diringankan siksaan dari mereka dan mereka tidak pula diberi penangguhan.” Imam Baidlawi di dalam kitab tafsirnya menuturkan makna ‘mereka kekal di dalamnya’ adalah kekal di dalam laknat atau kekal di dalam neraka (Abdullah bin Umar Al-Baidlawi, Anwȃrut Tanzȋl wa Asrȃrut Ta’wȋl [Beirut: Darul Rasyid: 2000], jil. I, hal 154).

Ketiga dan keempat, dua amalan yang satu dibalas dengan satu atau dibalas secara sepadan adalah perbuatan jelek dan keinginan untuk berbuat baik.

Orang yang telah melakukan suatu kejelekan maka ia akan mendapatkan balasannya secara sepadan. Bila ia lakukan satu kali, maka ia dapatkan balasan satu kali. Bila ia lakukan dua kali, maka ia dapatkan balasannya dua kali. Begitu seterusnya.

Allah berfirman dalam Surat Al-An’am ayat 160:

 وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Artinya: “Dan barang siapa yang datang dengan membawa kejelekan maka ia tidak dibalas kecuali yang semisalnya dan mereka tidak akan diperlakukan secara zalim.” Sementara itu, orang yang memiliki keinginan untuk melakukan suatu kebaikan, kemudian ia tak melakukan kebaikan itu karena adanya alasan tertentu, maka ia mendapatkan balasan satu kebaikan.

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah:

 إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا، كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan berbagai perkara yang baik dan berbagai perkara yang jelek, kemudian menjelaskan hal tersebut. Maka barang siapa yang berkeinginan melakukan satu kebaikan kemudian ia tidak melakukannya, maka Allah mencatat kebaikan itu di sisi-Nya satu kebaikan yang sempurna…” (Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi, Shahȋh Muslim [Indonesia: Maktabah Dahlan, tt.], jil. I, hal. 118).

Kelima, amalan yang pelakunya dibalas sepuluh kali lipat adalah amalan kebaikan secara umum.

Siapa pun yang melakukan sebuah kebaikan maka ia mendapatkan pahala kebaikan itu sepuluh kali lipat. Firman Allah dalam Surat Al-An’am ayat 160:

 مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

Artinya: “Barang siapa yang datang dengan membawa satu kebaikan maka baginya sepuluh kali lipat kebaikan tersebut.”

Bahkan dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa ketika seseorang membaca Al-Qur’an maka pahalanya bukan sepuluh kali lipat dari sekali baca, namun sepuluh kali lipat dari setiap huruf yang dibacanya.

Keenam, amalan yang pelakunya mendapatkan balasan pahala tujuh ratus kali lipat adalah menginfakkan harta di jalan Allah. Berapa pun harta yang diinfakkan oleh seorang hamba, maka ia akan mendapatkan balasannya tujuh ratus kali lipat dari apa yang ia infakkan.

 Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 261:

 مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti satu biji yang menumbuhkan tujuh bulir, di mana dalam masing-masing bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Dzat yang Maha Luas lagi Maha Mengetahui.”

Pahala tujuh ratus kali lipat bagi orang yang berinfak itu adalah pahala minimal. Bila Allah berkenan maka Allah akan melipatgandakan pahala tersebut lebih banyak lagi bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Syekh Nawawi Banten dalam al-Munȋr li Ma’ȃlimit Tanzȋl menyebutkan bahwa pelipatgandaan pahala infak hingga lebih dari tujuh ratus kali lipat ini tergantung pada kadar keikhlasan dan kesusahan orang yang berinfak. Memahami apa yang disampaikan Syekh Nawawi di atas, bisa jadi dua orang yang berinfak dengan nominal yang sama akan mendapatkan pahala yang berbeda, karena—misalnya—kadar kesusahan kedua orang tersebut berbeda dalam mendapatkan harta. Sebagai contoh, seorang tukang becak dan seorang direktur perusahaan sama-sama berinfak seratus ribu rupiah. Bisa jadi si tukang becak mendapatkan pahala jauh lebih banyak dari sang direktur. Ini mengingat bagi seorang tukang becak mendapatkan uang seratus ribu perlu membutuhkan kerja keras dan waktu yang lama. Berbeda dengan direktur yang bisa dengan mudahnya mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat dan tanpa harus menguras begitu banyak tenaga.

Ketujuh, amalan yang pahalanya hanya diketahui oleh Allah saja adalah ibadah puasa.

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits qudsi di mana Allah berfirman:

 إِنَّ الصَّوْمَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

 Artinya: “Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Karena puasa adalah ibadah yang tidak terlihat oleh orang lain dan hanya Allah yang tahu bagaimana kadar dan kualitas puasa seseorang, maka Allah bertindak sendiri untuk memberikan pahalanya. Dan ketika Allah bertindak sendiri dalam memberikan pahala bagi orang yang berpuasa, ini menunjukkan betapa besar keutamaan ibadah puasa.

Dari uraian di atas, satu hal yang dapat kita pahami adalah betapa besar dan luas rahmat Allah bagi para hamba-Nya. Ketika seorang hamba melakukan sebuah kejelekan maka Allah tidak memberikan balasan kecuali balasan yang sepadan saja. Tak ada pelipatgandaan dalam hal dosa. Namun sebaliknya, ketika seseorang melakukan suatu kebaikan maka yang diberikan Allah adalah pelipatgandaan pahala yang hingga beratus kali dan bahkan hingga lipatan yang dikehendaki Allah Ta’ala.

Wallahu a’lam.

PELAJARAN DARI KISAH SUJUDNYA PARA MALAIKAT KEPADA NABI ADAM AS.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menempatkan Adam dan anak keturunannya dalam kedudukan yang mulia, lebih mulia dari para makhluk-Nya yang lain. Salah satu bukti yang menunjukkan hal tersebut adalah setelah Allah menciptakan Adam, Allah perintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam ‘alaihi shalatu wa salam.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)

Peristiwa sujudnya para malaikat kepada Adam terkadang menimbulkan polemik di sebagian umat Islam atau memang isu ini sengaja dilemparkan ke tengah-tengah umat Islam untuk menebar kerancuan dengan mempertanyakan “Mengapa Allah meridhai makhluk-Nya sujud kepada selain-Nya? Bukankah ini sama saja melegitimasi kesyirikan? Dan Iblis adalah hamba Allah yang benar-benar mentauhidkannya karena menolak untuk sujud kepada Adam”. Kurang lebih demikian kalimat rancu yang sering dibesar-besarkan oleh sebagian kalangan.

Yang perlu kita ketahui adalah para ulama membagi sujud ke dalam dua bagian; pertama, sujud ibadah dan yang kedua sujud (tahiyah) penghormatan.

Sujud ibadah hanya boleh dipersembahkan kepada Allah semata tidak boleh kepada selain-Nya. Allah tidak pernah memerintahkan satu pun dari makhluk-Nya untuk bersujud kepada selain-Nya dalam rangka untuk beribadah kepada makhluk tersebut. Para malaikat Allah perintahkan sujud kepada Adam bukan dalam rangka sujud ibadah tetapi sujud penghormatan.

Sujud penghormatan merupakan bagian dari syariat umat-umat terdahulu, kemudian amalan ini diharamkan dengan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara contoh sujud penghormatan adalah sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam ‘alaihissalam. Demikian juga mimpi Nabi Yusuf yang ia ceritakan kepada Ayahnya Nabi Ya’qub lalu mimpi itu menjadi kenyataan. Di dalam surat Yusuf dikisahkan,

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (QS. Yusuf: 4)

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ

Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf, “Wahai ayahku inilah ta´bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan…” (QS. Yusuf: 100)

Inilah di antara contoh-contoh sujud penghormatan yang merupakan bagian dari syariat umat terdahulu.

Pengalaman serupa juga pernah terjadi kepada Muadz bin Jabal tatkala melihat ahlul kitab di Syam. Tatkala pulang dari Syam, Muadz sujud di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

مَا هَذَا يَا مُعَاذُ قَالَ أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَقْتُهُمْ يَسْجُدُونَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ نَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا تَفْعَلُوا فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Apa-apaan ini, wahai Mu’adz?” Muadz menjawab, “Aku baru datang dari Syam. Yang kulakukan ini serupa dengan mereka, (orang-orang di sana) mereja sujud untuk uskup dan pendeta-pendeta mereka. Aku pun berkeinginan melakukannya kepadamu.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jangan kau lakukan. Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk bersujud, maka akan kuperintahkan istri untuk bersujud kepada suaminya.” (HR Ibnu Majah, No. 1853).

Apa yang dilakukan penduduk Syam adalah contoh dari syariat terdahulu yang masih mereka amalkan, mereka sujud kepada pemuka-pemuka agama dan tokoh-tokoh mereka sebagai penghormatan untuk para pembesar tersebut, bukan untuk menyembah mereka.

Di antara contoh lainnya juga, ada seekor hewan melata yang sujud kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau melarangnya karena sujud kepada makhluk, baik itu sujud penghormatan terlebih lagi sujud untuk ibadah, haram hukumnya dalam syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam timbangan syariat Muhammad (baca: syariat Islam) sujud penghormatan sama saja dengan sujud ibadah, haram hukumnya apabila dipersembahkan kepada selain Allah.

Pelajaran lainnya yang dapat kita petik dari peristiwa sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam ‘alaihissalam adalah, iblis termasuk dari bangsa jin bukan dari golongan malaikat sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang.

Malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan bangsa jin termasuk iblis, Allah ciptakan dari api. Allah berfirman,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya…” (QS. Al-Kahfi: 50)

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Saya lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al-A’raf: 12)

Dengan demikian iblis bukanlah dari golongan malaikat, saat itu ia hanya bersama dengan para malaikat Allah yang taat. Ada yang menyatakan, dahulu iblis adalah bangsa jin yang taat kepada Allah. Inilah alasannya ia dimuliakan dengan dikumpulkan bersama para malaikat walaupun ia bukan malaikat. Namun akhirnya sifat sombongnya terlihat di hadapan para malaikat, tatkala Allah mengujinya dengan memerintahkan untuk sujud kepada Adam.

MANFAAT AGUNG SEHELAI BULU MATA YANG BASAH KARENA TANGISAN TAKUT KEPADA ALLOH SWT.

Bismillahir Rohmaanir Rohiim, Allohumma Sholli ‘Ala Sayyidinaa Muhammadin Wa ‘Ala Aalihi Washohbihi Ajma’in

Rosulullah SAW bersabda :

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم   لا يلج النار رجل بكى من خشية الله حتى يعود اللبن في الضرع

Dari Abi Hurairoh ra: Rosulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu [yang telah diperah] bisa masuk kembali ke tempat keluarnya”

( وفي دقائق الاخبار ) يؤتي بعبد يوم القيامة فترجح سيئاته , فيؤمر به الي النار , فتتكلم شعرة من شعرات عينه , وتقول يارب رسولك محمد صلي الله عليه وسلم , قال من بكي من خشية الله حرم الله تلك العين من النار , واني بكيت من خشيتك , فيغفر الله له ويستخلصه من النار , ببركة شعرة واحدة كانت تبكي من خشية الله في الدنيا , وينادي جبريل عليه السلام , نجا فلان بن فلان بشعرة واحدة

Dalam kitab Daqoiqul Ahkbaar tertulis:

“Di datangkan seorang hamba pada hari qiyamat (saat di timbang amal), maka amal keburukannya mengalahkan amal kebaikannya, kemudian si hamba diputuskan masuk neraka.

Maka berbicara satu helai bulu matanya: “Wahai Tuhanku, RosulMu Muhammad SAW pernah bersabda: (“Barangsiapa yang menangis karena takut kepada Allah, maka haram mata tersebut masuk neraka”). Dan aku pernah menangis karena takut kepadaMu.

Maka kemudian Allah mengampuni hamba tersebut, dan menyelamatkannya dari adzab neraka dengan berkah SEHELAI BULU MATA yang basah karena tangisan takut kepada Allah ketika di dunia.

Malaikat Jibril as berkata: “Telah selamat fulan bin fulan karena SEHELAI BULU MATA.

GUNAKANLAH KESEMPATAN ROMADLON INI UNTUK BISA MENANGIS KARENA TAKUT KEPADA ALLOH SWT. Wallohu a’lam

Sumber kisah :

Mukasyafatul Quluub-Imam Al-ghozali QS

SYAIKH IZZUDDIN BIN ABDUS SALAM ‘MENEMUKAN HIKMAH DI BALIK MUSIBAH COVID-19’

Siapa yang tak sedih dengan mewabahnya pandemic Covid-19 di Indonesia saat ini. Hingga tulisan ini dibuat jumlah pasien suspek sudah 3000 lebih. Belum lagi aspek ekonomi masyarakat yang sangat terdampak akan wabah ini. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan wabah ini. Pun berbagai pihak juga telah bersama-sama ikut saling bahu-membahu mengawal pemerintah dalam berbagai sektor. Baik dalam pengadaan APD, masker hingga penyaluran bantuan sembako pada masyarakat di kota terdampak.

Pemerintah juga telah menginstruksikan masyarakat yang bekerja di sektor formal untuk bekerja dari rumah, Kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyedot banyak massa pun ditiadakan. Pun sekolah dan kampus juga diliburkan. Semua ini  dilakukan untuk meminimalisir penyebaran.

Namun, dalam perjalanannya iktikad baik dari pemerintah dan para ahli ini pun seakan mendapat tantangan. Kebijakan-kebijakan yang telah dikaji dengan matang nyatanya riuh di permukaan. Oleh sebagian masyarakat yang berkelakar di media social. Berbagai narasi yang dibumbui agama dan budaya pun dimunculkan.

Masyarakat pun kebingungan. Ditengah suasana yang sangat mengkhawatirkan ini, ternyata masih ada sebagian kalangan yang bukannya berperan aktif menenangkan  dan berbuat positif, justru menebar kepanikan dan bersikap apatis. Tentu realita ini sangat mengkhawatirkan.

Namun, dari semua ini kita seharusnya tetap bersikap positif dan mengambil pelajaran dari semua peristiwa yang telah terjadi. Ada banyak sekali hikmah-hikmah yang tersimpan dari sebuah cobaan. Bukankah demikian?

Allah SWT telah banyak memberikan contoh dalam hal ini. Allah tidak akan membuat sesuatu sekecil apapun di dunia ini, dengan nir faidah. Sama halnya dalam Musibah Covid-19 yang menguji ketabahan seluruh penduduk bumi ini.

Syekh Izzuddin Bin Abdissalam (660 H) seorang Ulama kenamaan dari Madzhab Syafi’i jauh-jauh hari telah merangkum berbagai faidah dan hikmah dari sebuah Musibah dan bencana dalam satu karangannya.

Ulama yang bergelar Sulthanul Ulama ini menulis sebuah kitab berjudul Al-Fitan wa al-Balaya Wa al-Mihan wa al-Razaya atau dalam manuskrip lain kitab ini berjudul Fawaid al-balwa wa al-Mihan.

Dalam kitab ini Syekh Izzuddin bin Abdisslam menyebutkan secara ringkas 17 faidah dan hikmah dibalik sebuah musibah atau pun bencana.

Berikut akan saya tuliskan semua hikmah yang telah dirangkum Syekh Izzudin bin Abdissalam tentu dengan menambahi redaksi dan narasi yang sesuai konteks saat ini.

Pertama, dalam musibah ini kita bisa menyaksikan betapa agungnya kekuasaan Allah. Karena pada hakikatnya semua musibah ini berasal dari Allah, sehingga patut kiranya dari musibah ini kita kembali menyadari bahwa semua ini adalah bentuk Keagungan Allah yang tiada tara.

Kedua, kita hanyalah hamba yang tak berdaya. Di tengah berbagai upaya manusia menghadapi wabah ini kita kembali harus menyadari kita semua hanyalah hambanya. Ketika semua upaya telah dikerahkan, semua kemampuan juga telah digerakkan kita akan menemui sebuah batas kehambaan. Setelah itu semua keputusan adalah hak Allah. Dan kita pun harus menyadari ‘semua ini telah digariskan’.

Ketiga, ikhlas menerima musibah ini. Karena tidak ada yang sanggup menghilangkan musibah ini kecuali Allah. Pun tak akan ada yang sanggup meringankannya kecuali Allah. Sehingga mau tidak mau kita harus ikhlas menerima semua ini sebagai bentuk ketundukan kita sebagai seorang hamba.

Keempat, kita akan menyadari bahwa Allah lah tempat kembali yang sejati. Hal ini selaras dengan apa yang diisyarahkan Allah dalam surat Az-Zumar ayat 8 “Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya.”

Kelima, kita dilatih dan dibiasakan untuk Berdoa kepada Allah. Dengan kondisi seperti ini, rasanya tidak mungkin kita menggantungkan harapan pada selain Allah. Karena Allah sudah berjanji untuk selalu mengabulkan permintaan dari hambanya yang sudi menengadahkan tangan untuk meminta.

Keenam, kita dilatih untuk bersikap tenang menghadapi situasi seperti ini. Syekh Izzzuddin bin Abdissalam dalam hal ini menyitir cerita Nabi Ibrahim yang dipuji Allah dalam Al-Qur’an sebagai orang yang tenang dalam menghadapi musibah (Q.S At-Taubah : 114). Begitupula kita dalam situasi ini kita dituntutut dan dilatih untuk tetap bersikap hilm.

Ketujuh, memaafkan kepada sesama manusia. Dalam konteks ini tentu sangat relevan dengan kondisi bangsa ini. Dimana banyak diantara kita yang justru menjadikan berbagai kelompok sebagai kambing hitam pandemik ini. Sebagaimana kita saksikan sendiri banyak yang menyatakan pandemik ini adalah adzab Allah atas kedaliman China, juga ada yang mengaitkannya dengan penindasan etnis Uyghur disana. Dari hikmah ketujuh ini kita seakan ditohok oleh Syekh Izzuddin bin Abdissalam untuk menanggalkan semua sikap itu. Kita lebih baik fokus pada upaya-upaya produktif menanggulangi dampak Covid-19 ini bagi bangsa ini.

Kedelapan, kita harus bersikap sabar.

Kesembilan, kita harus bergembira atas berbagai hikmah dibalik musibah ini. Artinya kita harus memandang ini dengan kacamata hikmah. Syekh Izzuddin bin Abdissalam menganalogikan hal ini dengan seseorang yang sedang sakit, tentu ia harus mengkonsumsi berbagai obat-obatan yang pahit rasanya. Nah, dari sini seyogyanya seorang tersebut tidak merasakan pahitnya obat tersebut, namun harus meyakini efek positif setelah meminum obat tersebut.

Kesepuluh, kita harus mensyukuri musibah ini. Sebagaimana seorang pasien yang berterima kasih atas pelayanan seorang dokter yang telah mengobati lukanya.

Kesebelas, hal ini merupakan ajang peleburan dosa itu. Dengan adanya musibah ini barangkali ini merupakan cara Allah untuk mensucikan kotoran-kotoran yang mengotori diri kita.

Kedua belas, memupuk rasa kemanusiaan kita. Hal ini menjadi penting diutarakan oleh Syekh izuddin bin Abdissalam karena terdapat riwayat hadis dalam Kitab Muwattho’ Imam Malik. “Diantara manusia ada yang diberi kesehatan ada pula yang diberi cobaan. Maka kasihanilah (mereka) yang tertimpa cobaan dan syukurilah atas kesehatan.”

Dalam musibah Covid-19 ini pun kita juga telah menyaksikan betapa banyak manusia yang terpanggil untuk ikut serta menyumbangkan apa yang mereka punya untuk membantu sesama. Dari sini kita harus merenung hal apa sajakah yang telah kita lakukan atas “solidaritas kemanusiaan” ini?

Ketigabelas, kita baru menyadari betapa pentingnya kesehatan. Dalam hal ini, kita bisa merenung betapa hal remeh dalam kehidupan kita seperti cuci tangan rutin, pola hidup, pola makan sehat tiba-tiba menjadi hal yang penting dalam kehidupan kita. Bahkan di akhir Syekh Izzuddin bin Abdissalam mengungkapan ungkapan popular yang kini sering didengungkan “kita akan tahu betapa berharganya kesehatan setelah kehilangnya”.

Keempatbelas, di balik semua ini menyimpan pahala yang besar bagi orang yang bersabar.

Kelimabelas, di balik semua ini juga terdapat hikmah yang luar biasa. Syekh Izzuddin bin Abdissalam mencontohkan ketika Nabi Ibrahim mendapat cobaan dengan kehilangan sosok Siti Sarah dalam hidupnya. Allah mendatangkan Siti Hajar sebagai penggantinya bahkan ia melahirkan seorang penerus yakni Nabi Ismail AS.

Keenambelas, mencegah merebaknya kemaksiatan. Sebagaimana kita tahu dengan mewabahnya virus ini banyak lokasi-lokasi maksiat yang menjadi tutup. Banyak orang takut melakukan maksiat. Dan hal ini merupakan hikmah yang luar biasa.

Ketujuhbelas. Hikmah yang terakhir ini merupakan puncak hikmah yang diberikan oleh Allah. Namun tidak semua hambanya bisa mencapai fase ini. Apa itu? Yakni lahirnya sikap rida atas segala ketentuan Allah. Sikap ini menjadi puncak dari segala hikmah diatas adalah karena dengan keridaan kita terhadap apa yang telah digariskan Allah akan melahirkan Ridho Allah pada kita pula.

MENGENAL RAHMAT ALLOH SWT. PERBEDAANYA DENGAN PARA MANUSIA


لايلزم أن تكون وسيما لتكون جميل
Kau tak perlu berwajah cantik / tampan untuk dikatakan sebagai seorang yang cantik/ tampan

ولا مداحا لتكون محبوبا
Dan tak perlu memuji-muji karena kau mau menjadi seorang yang disukai

ولا غنيا لتكون سعيدا
Dan tak perlu menjadi kaya untuk menjadi seorang yang bahagia

يكفي أن ترضي ربك وهو سيجعلك عند الناس جميلا و محبوبا و سعيدا
Cukuplah dengan membuatkan Tuhanmu ridho dan kasih kepadamu, maka pasti DIA akan menjadikanmu cantik/ tampan dan indah di mata manusia, disukai dan disenangi oleh semua, serta hidup bahagia

لو أصبت 99 وأخطأت مرة واحدة
Seandainya engkau melakukan 99 kebaikan, tetapi Berbuat kesalahan sekali

لعاتبوك بالواحدة وتركوا ال 99
Maka manusia akan menyalahkanmu dengan kesalahanmu yang satu itu, dan melupakan semua 99 kebaikanmu yang lain

هؤلاء هم البشر
Itulah hakikat manusia!

و لو أخطأت 99 مرة وأصبت مرة
Tetapi seandainya engkau melakukan 99 kesalahan, dan cuma sekali melakukan perkara kebaikan

لـغفر الله ال 99 وقبل الواحدة
Maka Allah Ta’ala akan mengampuni semua 99 kesalahanmu bahkan DIA akan menerima amal baktimu yang satu itu

ذاك هو ربي
Itulah Dia Tuhanku!

Astaghfirullahal azhiim min kulli dzanbin azhiim

MENGETAHUI KEUTAMAAN DO’A NABI YUNUS AS.


Fadhilah Ayat/Do’a Nabi Yunus as.

(لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ)
YAITU : Meraih Segala Kebaikan Dan Menolak Segala Keburukan

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي عِمْرَانُ بْنُ بَكَّار الكَلاعي، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا أَبُو يَحْيَى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، حَدَّثَنِي بِشْر بْنُ مَنْصُورٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ قَالَ: سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ مَالِكٍ -وَهُوَ ابْنُ أَبِي وَقَّاصٍ-يَقُولُ: سَمِعْتُ رسولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “اسْمُ اللَّهِ الَّذِي إِذَا دُعي بِهِ أَجَابَ، وَإِذَا سُئِل بِهِ أَعْطَى، دعوةُ يُونُسَ بْنِ مَتَّى”. قَالَ: قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، هِيَ لِيُونُسَ خَاصَّةً أَمْ لِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ؟ قَالَ: هِيَ لِيُونُسَ بْنِ مَتَّى خَاصَّةً وَلِلْمُؤْمِنِينَ عَامَّةً، إِذَا دَعَوْا بِهَا، أَلَمْ تَسْمَعْ قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: {: فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ} . فَهُوَ شَرْطٌ مِنَ اللَّهِ لِمَنْ دَعَاهُ بِهِ”

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Imran ibnu Bakkar Al-Kala’i, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Abu Yahya ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepadaku Bisyr ibnu Mansur, dari Ali ibnu Zaid, dari Sa’id ibnul Musayyab yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sa’d ibnu Abu Waqqas mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Asma Allah yang apabila disebutkan dalam doa, pasti Dia memperkenankannya; dan apabila diminta dengannya, pasti memberi, yaitu doa Yunus ibnu Mata.” Sa’d bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah doa itu khusus bagi Yunus ataukah bagi seluruh kaum muslim?” Rasulullah Saw. menjawab, “Doa itu bagi Yunus ibnu Mata secara khusus dan bagi kaum mukmin semuanya secara umum, jika mereka meyebutkannya di dalam doanya. Bukankah kamu telah mendengar firman Allah Swt. yang mengatakan, ‘Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap. Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman’ (Al-Anbiya: 87-88). Ini merupakan syarat dari Allah bagi orang yang mengucapkannya di dalam doanya.”

Sumber:

  • Al Bidayah wan Nihayah
  • Khozinatul Asror : 81

KHUTBAH JUM’AT : PENJELASAN SPEKTAKULERNYA AYAT YANG MENERANGKAN PERISTIWA ISRO MI’ROJ NABI MUHAMMAD SAW.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ أَنْعَمَ عِبَادَهُ كَثِيْرَةً لَا تُحْصَى وَلَا تُسْتَقْصَى. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِدَنَا وَمَوْلَانَا محمدًا ﷺ قَائِدُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْوَرَى. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا محمدٍ أَشْرَفِ عِبَادِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلِى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أما بعد فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قال الله تعالى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم، سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Ma’asyiral hadirin, jamaah Jumat hafidhakumullah, Pada kesempatan yang mulia ini, di tempat yang mulia ini, kami berwasiat kepada pribadi kami sendiri dan juga kepada para hadirin sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan selalu berusaha melaksanakan perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya.

Semoga usaha takwa kita bisa menjadikan sebab kita kelak pada waktu dipanggil Allah subhanahu wa ta’ala, kita meninggalkan dunia ini dalam keadaan husnul khatimah, amin ya Rabbal ‘alamin. Hadirin hafidhakumullah, Ketahuilah bahwa Allah adalah sang pencipta (khaliq) alam raya. Kita semua diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Antara Allah dan kita, mempunyai dimensi yang berbeda.

Dimensi di sini tidak berarti ruang dan tempat, namun dimensi dalam arti esensi. Analogi untuk mendekatkan logika kita, misalnya kita sebagai manusia dengan jin, masing-masing mempunyai dimensi yang berbeda. Tapi jin di sini masih membutuhkan tempat, ruang dan waktu. Allah tidak butuh itu semua. Allah tidak membutuhkan apa pun. Allah berada pada dimensi ilahi, kita berada pada dimensi insani. Kita diberikan penutup (hijab) antara Allah dan kita. Bukan karena Allah jauh dengan kita yang menjadikan kita tidak bisa melihat Allah. Allah sangat dekat dengan kita bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Kita tidak bisa menyaksikan Allah karena kita mempunya hijab sehingga kita tidak bisa mengakses dimensi Allah. Walaupun demikian, Allah tetap bisa secara penuh mengawasi kita semua. Allah menciptakan semua hamba baik dari kalangan jin maupun manusia dengan tujuan untuk menyembah kepada-Nya.

Dalam menyampaikan kehendak-Nya, Allah mengutus para Nabi yang di antaranya adalah Nabi Muhammad ﷺ untuk menyampaikan risalah ilahiyah. Hikmahnya, manusia yang berada pada dimensi yang penuh hijab dan tidak sama dengan dimensi Tuhan, bisa menjadi tahu atas apa yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui perantara utusan-Nya. Contohnya adalah bagaimana Allah memerintahkan umat Muhammad untuk menjalankan ibadah shalat lima waktu.

Kita sebagai manusia tidak akan bisa memahami atas apa yang dikehendaki oleh Allah tersebut tanpa melalui rasul (utusan Allah) yang menyampaikan informasi-informasi penting. Barulah kemudian kita menjadi tahu bahwa misalnya Allah menghendaki kita sebagai umat manusia diperintah secara wajib untuk menjalankan shalat lima waktu. Kewajiban shalat lima waktu ini dimulai setelah Nabi Muhammad di-isra’-kan (diperjalankan oleh Allah di waktu malam) dari Masjidil Haram, kota Makkah menuju Masjidil Aqsha, Palestina, kemudian di-mi’raj-kan (dinaikkan) dari Masjidil Aqsha menuju Sidratil Muntaha.

Perjalanan malam Nabi Muhammad ini merupakan perjalanan yang menakjubkan. Betapa tidak? Jika kita sehari-sehari mengungkapkan syukur menggunakan kalimat alhamdulillah, mendapatkan musibah dengan innalillah, di dalam sebuah hal yang menakjubkan, kita disyariatkan untuk membaca subhanallah.

Di dalam Al-Qur’an, pada kisah isra’ mi’raj ini Allah berfirman menggunakan kata subhana sebagaimana yang tertera pada ayat pertama surat al-Isra’:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS al-Isra’: 1).

Pada kalimat سُبْحَانَ الَّذِي, Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan, kalimat subhâna di sini menunjukkan saking agungnya Allah ta’ala. Hanya Allah saja yang mampu menjalankan Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Palestina dan Palestina sampai langit ke-7 hanya dalam waktu tidak sampai satu malam.

Bahkan dalam satu riwayat mengisahkan, setelah Nabi Muhammad melakukan isra’ mi’raj, tempat tidurnya masih hangat dan tempayan bekas Nabi melakukan wudhu tadi belum sampai kering. Ini adalah keajaiban yang luar biasa. Hanya Allah yang bisa melakukan yang mana bumi dan seisinya di bawah kendali-Nya.

Keajaiban yang mencengangkan tersebut sangat sesuai jika memakai kata subhana. Tentang suhana, Ibnu Katsir mengatakan:

يُمَجِّدُ تَعَالَى نَفْسَهُ، وَيُعَظِّمُ شَأْنَهُ، لِقُدْرَتِهِ عَلَى مَا لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ أَحَدٌ سِوَاهُ، فَلَا إِلَهَ غَيْرُهُ

Artinya: “Allah ta’ala mengagungkan Dzat-Nya sendiri, mengagungkan keadaan-Nya, karena kekuasaan-Nya atas sesuatu yang tidak mampu dilakukan siapa pun selain Dia. Tiada Tuhan selain Dia.” (Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, [Dar Thayyibah: 1999], juz 5, hlm. 5).

Ats-Tsa’labi menyatakan bahwa kalimat subhana berarti kalimat ta’ajjub وَيَكُوْنُ سُبْحَانَ بِمَعْنَى التَّعَجُّب

Artinya: “Subhana di ayat ini mempunyai arti sebuah keajaiban yang menakjubkan.” (Tafsir Ats-Tsa’labi, juz 6, hlm. 54).

Banyak juga ulama yang menjelaskan, subhana pada ayat ini mempunyai makna penyucian dari segala kekurangan. Apabila dalam menjajaki kemampuan Allah dalam memperjalankan Nabi Muhammad pada malam hari dengan acuan akal yang terbatas sehingga Allah dianggap tidak mampu, maka Allah disucikan dari anggapan yang seperti demikian ini.

Hadirin… Dalam isra’ mi’raj, apakah hanya ruh Nabi ataukah ruh dan jasadnya sekaligus?

Ulama berbeda pendapat. Menurut mayoritas ulama, Nabi di-isra’-kan meliputi ruh dan jasad sekaligus. Hal ini berdasarkan apabila yang di-isra’-kan hanya ruh saja, berarti Nabi Muhammad sama dengan mimpi. Jika isra’ hanya sebuah mimpi saja, maka hal tersebut tidak merupakan kejadian luar biasa yang sampai Allah memakai istilah subhana pada ayat di atas.

Yang membuat fenomenal pada kegiatan isra’ mi’raj Nabi itu keajaiban perjalanan dengan ruang yang besar, namun waktunya sedemikian singkat. Ini yang luar biasa itu.

Hadirin hafidhakumullah, Pada kalimat selanjutnya, أَسْرَى بِعَبْدِهِ Allah tidak menyandarkan kalimat subhâna dengan lafadz Allah, tapi dengan asra, kebesaran Allah yang menjalankan di waktu malam kepada hamba-Nya. Di sini Allah juga tidak menyebut Nabi Muhammad dengan menyebut namanya, tapi malah menyifati Nabi Muhammad yang diperjalankan di waktu malam memakai istilah عَبْدِهِ “hamba-Nya”.

Kenapa Allah lebih memilih memberi label Nabi Muhammad hanya dengan predikat “hamba” padahal ini merupakan kejadian yang fenomenal?

Sebagian mufassir seperti Imam Al-Qusyairi mengatakan, hanya “hamba” yang memahami posisinya sebagai hamba yang bisa memahami kebesaran Tuhannya. Sehingga apabila Tuhan melakukan apa pun, walaupun tidak masuk akal di otak hambanya, ia bisa memahami bahwa bagi Tuhan yang posisinya tidak sama dengan hamba, mampu melakukan hal yang seolah mustahil di mata hambanya tersebut.

Sebagian ulama menyatakan, peniadaan status Nabi Muhammad sebagai Nabi yang prestise di sini supaya Nabi Muhammad tidak mempunyai sifat ujub. Sebagian ulama lain lagi mengungkapkan, hal ini untuk mengagungkan Allah semata dan sebagai bentuk tawadhu’ Nabi Muhammad.

Hadirin hafidhakumullah, Perjalanan Nabi pada isra’ mi’raj bukan atas inisiatif dan kemauan beliau, tapi murni atas kehendak Allah “yang menjalankannya”. Oleh karena itu, masuk akal atau tidak, bagi seorang hamba harus mengedepankan posisinya sebagai hamba dan mengagungkan ketuhanan Allah yang mampu melakukan apa saja dan hamba tersebut menomorduakan akalnya yang serba terbatas.

Kalau kita menengok sejarah, memang orang Arab waktu itu tidak semuanya dengan mudah memahami isra’ mi’raj Nabi Muhammad dengan landasan logika saja. Mungkin, apabila dilogikakan hari ini, di saat dunia sudah banyak kecanggihan teknologi, kita akan bisa mendekatkan pikiran ke arah sana. Dahulu, saat isra’ mi’raj ini berlangsung, masyarakat terlampau jauh untuk menganalogikannya. Bagaimana jarak antara Makkah sampai Palestina yang panjangnya sekitar 1.500 km itu hanya ditempuh dalam waktu sangat singkat? Di dunia modern ini, jarak yang sedemikian jauh, jika ditempuh dengan naik unta atau kuda bisa berminggu-minggu, kita bisa meringkasnya dengan pesawat yang mungkin hanya membutuhkan waktu sekitar tiga jam saja. Lebih dekat lagi, bagaimana kalau kita membayangkan teori jalannya cahaya. Pada hari ini, kita di Indonesia jika akan ke Amerika menggunakan pesawat bisa menghabiskan seharian baru sampai di sana. Namun bagaimana dengan kecepatan teknologi telepon atau Whatsapp? Pada detik ini kita mengirim pesan baik gambar, tulisan atau suara, detik itu pula sampai ke sana. Dengan logika apa pun, mungkin hal seperti ini tidak akan masuk pada logika orang di zaman Nabi Muhammad. Oleh karena itu, dalam urusan agama walaupun agama itu banyak yang rasional, tapi kita tetap harus memposisikan otak kita di belakan penghambaan kita kepada Allah.

Perjalanan malam Nabi Muhammad yang fenomenal itu menghasilkan sebuah perintah shalat lima waktu dengan kisah yang cukup panjang. Yang perlu kita garisbawahi di sini, shalat adalah sebuah perintah yang melalui momen sakral, fenomenal. Oleh karena itu kita harus malu jika sampai meninggalkan shalat. Kita selalu mengingat dan merayakan sesuatu dalam rangka mengingat momen-momen penting dan fenomenal dalam hidup kita. Kita lahir, sebuah hal fenomenal dalam hidup kita, kita rayakan itu. Momen menikah yang fenomenal, kita kenang itu. Lalu Nabi Muhammad pernah mengalami suatu kejadian fenomenal dari Allah. Dalam kejadian fenomenal tersebut, Allah mewajibkan kita semua untuk menjalankan shalat lima waktu. Dengan demikian, shalat lima waktu bukanlah hal yanga sepele seperti kita beli makanan ringan, kita sarapan pagi, tidak. Tapi sebuah pekerjaan yang ditugaskan oleh Tuhan melalui perjalanan fenomenal untuk menerima tugas tersebut.

Pada hari ini, saat kita menjalankan shalat, kita sedang menjalankan perintah Tuhan yang sangat besar nilainya. Itu berarti bahwa shalat bukan hal yang bisa kita kesampingkan. Mari kita jaga shalat kita. Harapan kita, kelak, saat kita meninggalkan dunia ini, dalam keadaan menetapi iman Islam, tidak meninggalkan shalat. Kita meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah, amin ya Rabbal alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَجَعَلَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاِت وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ هُوَ البَرُّ التَّوَّابُ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ. أعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيْم، بسم الله الرحمن الرحيم، وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣) وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرّاحِمِيْنَ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ، فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينْ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَعَنْ سَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

KEUTAMAAN PARA NABI DAN PERINTAH MENGUCAPKAN INSYAALOH KETIKA PUNYA CITA-CITA

Keistimewaan Para Nabi Yang Tidak Dimiliki Manusia Biasa

Para nabi dan rasul adalah manusia-manusia terbaik pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengemban risalahnya. Mereka Allah pilih sebagai penyambung antara Allah dan para hamba-Nya di muka bumi ini. Para nabi dan rasul ini juga memiliki keistimewaan tertentu dan diantaranya tidak dimiliki oleh manusia biasa.

Yang perlu kita ingat adalah, setiap Allah memuliakan para nabi dan rasul, berarti beban syariat mereka lebih banyak atau lebih besar dari manusia biasa. Demikianlah adanya, ketika kemuliaan bertambah maka beban syariat semakin besar. Sebagai contoh, seorang laki-laki secara jenisnya lebih utama disbanding wanita, maka beban syariat untuk laki-laki lebih besar disbanding wanita. Allah berfirman,

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An Nisa: 34)

Dalam ayat ini laki-laki memiliki beban syariat berupa kewajiban member nafkah bagi istrinya, sedangkan perempuan tidak dibebankan demikian. Laki-laki juga diwajibkan shalat 5 waktu secara berjamaah di masjid, sedangkan wanita tidak, berjihad, dll.

Demikian juga para nabi dan rasul, rasul lebih mulia daripada nabi, dan diantara para rasul ada ulul azmi yang lebih mulia dari rasul-rasul lainnya, maka semakin mulia, semakin bertambah beban syariat.

Diantara keistimewaan nabi dan rasul adalah:

Para nabi dan rasul memiliki fisik yang lebih baik dari manusia biasa. Sebagaimana Nabi Musa yang kuat, Nabi Yusuf memiliki setengah ketampanan, dan secara umum tidak ada nabi dan rasul yang cacat. Allah anugerahkan mereka akhlak yang mulia. Para nabi dan rasul terjaga dari akhlak yang rendah, agar orang-orang tidak mencela mereka ketika mereka berdakwah dan menyeru kepada kebaikan saat diperintahkan berdakwah. Memiliki nasab atau silsilah keturunan yang baik atau dari anak-anak keluarga yang dipandang di masyarakatnya. Para nabi dan rasul adalah orang-orang yang cerdas. Sebagaiman kisah Nabi Ibrahim yang berdialog dengan ayahnya dengan cara yang santun, berdialog dengan kaumnya dan Raja Namrud dengan argumentasi yang tidak terbantahkan. Demikian juga nabi dan rasul lainnya. Kesabaran mereka tidak tertandingi. Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun hanya dengan segelintir pengikut, yang tidak lebih dari 10 orang. Para nabi menerima wahyu. Terjaga dari dosa, apalagi sampai berbuat syirik. Oleh karena itu, tidak bernah apa yang dikatakan oleh orang-orang filsafat bahwasanya Nabi Ibrahim sempat mengalami fase pencarian Tuhan. Saat tidur, hati mereka tetap terjaga. Berbeda dengan kita manusia biasa seperti kita, ketika tidur maka hati kita pun tertidur; tidak berdzikir dan mengingat Allah atau aktivitas hati lainnya. Ketika nyawa mereka hendak dicabut, maka Allah berikan pilihan; agar tetap kekal di dunia atau berjumpa dengan Allah. Sebagaimana Nabi Muhammad yang memilih “ila rofiqul a’la”. Jasad para Nabi tidak hancur di kubur-kubur mereka. Ketika wafat, harta mereka tidak diwariskan akan tetapi menjadi sedekah. Oleh karena itu Abu Bakar tidak mengabulkan Fathimah radhiallahu ‘anha tentang peninggalan Nabi Muhammad. Hal ini yang sering dijadikan orang Syiah untuk mencela Abu Bakar. Dimakamkan di tempat mereka wafat. Sebagaiman Nabi Muhammad yang wafat di kamar ummul mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, maka beliau di kubur di kamar sang istri tercinta. Para nabi dan rasul khusus dari kalangan laki-laki, tidak dari wanita. Para nabi dan rasul adalah orang-orang merdeka, tidak seorang pun di antara mereka adalah budak. Para nabi didoakan, oleh karena itu sering disertai nama-nama Nabi dengan shallallahu ‘alaihi wa sallam atau ‘alaihissalam karena shalawat adalah diantara kekhususan para nabi. Doa para nabi, doa yang mustajab. Para nabi dan rasul memiliki telaga di akhirat kelak untuk umat-umat mereka. Walaupun hadis tentang ini diperselisihkan oleh para ulama, apakah selain Nabi Muhammad juga memiliki telaga. Adapun tentang telaga Nabi Muhammad para ulama sepakat tentang keshahihannya. Para nabi dan rasul adalah orang yang tinggal di perkotaan, bukan dari kalangan badui atau desa. Para nabi tidak mengalami mimpi “basah”, karena mimpi yang demikian adalah mimpi yang berasal dari setan. Mimpi para nabi dan rasul adalah sesuatu yang akan menjadi kenyataan. Ketika para nabi dan rasul melihat sesuatu dalam mimpi mereka, maka hal itu akan terjadi. Sebagaimana mimpi Nabi Yusuf di kala kecil, melihat matahari, bulan, dan bintang bersujud kepadanya.

Para Nabi Pun Diperintahkan Mengucapkan Insya Allah

Para nabi dan rasul adalah wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi ini. Mereka adalah orang-orang yang Allah cintai, mereka mengemban risalah langit untuk mendakwahi manusia agar menyembah Allah semata dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Walaupun Allah mencintai mereka, tidak mesti Allah Subhanahu wa Ta’ala merealisasikan apa yang mereka harapkan. Mereka masih dianjurkan untuk mengucapkan insya Allah (atas kehendak Allah) ketika mencita-citakan sesuatu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala pernah menegur Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lantaran ada seorang yang bertanya kepada beliau tentang suatu perkara, lalu beliau besok saya jawab –dengan keyakinan wahyu dari Allah akan turun-. Ternyata wahyu mengenai jawaban terkait tidak kunjung turun dan ketika wahyu datang malah berupa teguran kepada beliau agar mengucapkan insya Allah. Demikian juga kejadian yang dialami Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sulaiman bin Daud ‘alaihissalam pernah berkata, ‘Sungguh, saya akan menggilir seratus istri saya pada malam ini. Semuanya akan melahirkan anak yang ahli berkuda yang akan berjuang di jalan Allah.’ Lalu temannya berkata kepadanya, ‘Katakanlah ‘Insya Allah’,’ tetapi Nabi Sulaiman tidak mengatakan ‘insya Allah’. Ternyata dari semua istrinya tersebut yang hamil hanya seorang istrinya, itupun hanya melahirkan separuh anak. Demi Dzat yang menguasai jiwaku, seandainya Nabi Sulaiman mengucapkan ‘Insya Allah’, pastilah mereka semua akan berjuang di jalan Allah sebagai pasukan berkuda.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain yang terdapat di dalam kitab ash-Shahihain juga bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berkata, ‘Sungguh, saya akan menggilir tujuh puluh istri saya pada malam ini. Masing-masin akan melahirkan seorang pasukan berkuda yang berjuang di jalan Allah.’ Akan tetapi beliau tidak mengucapkan ‘Insya Allah’. Lantas beliau pun menggilir mereka. Ternyata yang hamil hanyalah seorang istri yang melahirkan separuh anak, lantas anak tersebut dibawa ke atas kursi Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, lalu diletakkan di pangkuannya. Demi Dzat yang menguasai jiwaku, seandainya Nabi Sulaiman ‘alaihissalam mengucapkan ‘Insya Allah’, pastilah mereka semua akan berjuang di jalan Allah sebagai pasukan berkuda.” Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan sungguh, Kami telah menguji Sulaiman.” (QS. Shad: 34)

Para nabi dan rasul yang merupakan wali-wali Allah pun masih diajarkan beradab kepada Allah untuk mengatakan insya Allah ketika mencita-citakan sesuatu, apalagi kita yang manusia biasa.

TUJUAN BERIBADAH KEPADA ALLOH SWT MENURUT IMAM GHOZALI ROHIMAHULLOH

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi atau populer dengan sebutan Imam al-Ghazali, dalam mukadimah karyanya, Kitab Minhajul ‘Abidin, mengawali dengan mengingatkan kepada kita tentang ibadah (baca: menghamba) kepada Allah Swt.

Pengingat atau renungan dari Imam al-Ghazali ini untuk menyadarkan kembali kepada kita tentang ibadah sebagai jalan menuju Allah, menuju ridla Allah dan surga Allah.

Hal ini menjadi sangat penting sekali, mengingat seluruh umat Islam melakukan ibadah sebagai wujud ketaatannya kepada Allah. Namun jangan sampai ibadah yang sudah dilakukan itu menjadi ibadah yang sia-sia, melakukan ibadah hanya karena keterpaksaan dari sebuah kewajiban tanpa memahami makna di dalam pelaksanaan ibadah itu sendiri.

Ibadah yang sia-sia tidak mengantarkan seorang hamba kepada keridlaan Allah dan surga Allah. Padahal tujuan dari ibadah tidak lain adalah ridla Allah dan surga Allah.

Menurut Imam al-Ghazali, ibadah adalah buah dari ilmu, faedah dari umur, hasil jerih payah hamba-hamba Allah yang kuat, barang berharga dari aulia’ Allah, jalan yang ditempuh oleh orang yang bertaqwa, imbalan bagi orang yang luhur, tujuan orang yang memiliki tujuan mulia, petanda orang yang mulia, perbuatan orang yang berani melakukan kebajikan, pilihan orang yang waspada, jalan kebahagian dan jalan menuju surga.

Dalam mendeskripsikan tentang ibadah di atas, Imam al-Ghazali juga mengajak untuk memahami tentang ibadah, sebagaimana dalam firman Allah:

وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

Artinya: “Dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku” (QS. Al-Anbiya’: 92)

إِنَّ هذَا كَانَ لَكُمْ جَزَاءً وَ كَانَ سَعْيُكُمْ مَشْكُوْرًا

Artinya: “Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)”. (QS. Al-Insan: 22).

Dari deskripsi ini dapat dipahami bahwa ibadah adalah wujud menghamba kepada Allah dengan melakukan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya, hingga kemudian Allah memberikan balasan atas usaha yang telah dilakukan oleh hamba berupa surga.

Tidak berhenti di situ saja, kemudian Imam al-Ghazali mengajak untuk berpikir dan menyadari tentang ibadah di atas, mulai dari awal hingga tujuan akhir, yakni surga yang itu sangat diharapkan oleh orang yang menjalankan ibadah.

Ternyata untuk menuju tujuan tersebut merupakan suatu perjalanan yang amat sulit, penuh lika-liku, halangan dan rintangan banyak sekali yang harus dilalui, cobaan yang selalu mengelilingi, berbagai macam musuh yang harus dihadapi, sedangkan orang yang mau diajak untuk ibadah agar sampai tujuan tersebut sedikit, bahkan orang yang mau menolong pun juga sedikit.

Dalam hal ini, Imam al-Ghazali tidak bermaksud menakut-nakuti, akan tetapi ini sebuah kenyataan yang perlu disadari dan dihadapi oleh orang mukmin. “Demikian keadaannya, dan ini wajib ditempuh meskipun memang terlihat menyulitkan, sebab ibadah nantinya sebagai jalan menuju surga”, kata Imam al-Ghazali.

Penjelasan Imam al-Ghazali ini bukan tanpa dasar, ini sebagaimana dalam hadits Nabi Muhammad Saw:

عَنْ اَنَس رضِيَ اللَّه عنْهُ قَال : قَال رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم حُفَّتِ اْلجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ رواه مسلم

Artinya: “Surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka dikelilingi dengan kesenangan-kesenangan.” (HR. Muslim)

أَلَا إِنَّ عَمَلَ الْجَنَّةِ حَزْنٌ بِرَبْوَةٍ – ثَلَاثًا – أَلَا إِنَّ عَمَلَ النَّارِ سَهْلٌ بِسَهْوَةٍ . رواه احمد

Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya amal surga itu bagaikan tanah licin yang ada di bukit —sebanyak tiga kali—. Ingatlah, sesungguhnya amal neraka itu bagaikan tanah yang mudah dilalui yang berada di tanah datar” (HR. Ahmad)

Bukan hanya keadaan jalan yang sangat terjal dan penuh rintangan untuk sampai tujuan ibadah, namun juga keadaan diri manusia itu sendiri pun harus disadari.

Imam al-Ghazali mengatakan “manusia adalah makhluk yang lemah, tantangan zaman sangat berat sekali, keadaan keberagamaan kita selalu berputar kadang lemah dan kadang kuat, kesempatan sedikit sedangkan kita selalu disibukkan dengan urusan dunia yang begitu banyak.

Umur kita hidup di dunia pendek, sedangkan Allah Yang Maha Mengetahui dan Teliti terhadap segala aktiftas yang kita jalani selama hidup di dunia. Kematian semakin dekat sedangkan perjalanan jauh yang harus ditempuh agar sampai tujuan, maka satu-satunya bekal adalah ketaatan, sebab waktu yang telah berlalu tidak akan kembali”.

“Beruntunglah dan berbahagialah orang-orang yang taat kepada Allah, dan sebaliknya rugilah dan celakalah orang-orang yang tidak mau taat kepada Allah Swt”, jelas Imam al-Ghazali.

Mengingat keadaan yang menyulitkan dan penuh resiko yang akan dihadapi dalam melakukan ibadah agar sampai tujuan, menurut Imam al-Ghazali jarang sekali orang yang mau menempuh perjalanan ini.

Di antara orang-orang yang mau menempuh perjalanan ini sedikit yang menjalankannya. Bahkan orang yang menjalankan ibadah dengan serius sangat sedikit, dan lebih sedikit lagi orang-orang yang mampu mencapai tujuan ibadah.

“Orang-orang yang berhasil inilah adalah umat yang mulia dan pilihan Allah untuk dapat ma’rifat dan mahabbah kepada Allah. Allah memelihara dan memberi taufik kepada mereka, dan dengan karunia-Nya, Allah mengantarkan mereka untuk sampai pada keridlaan dan surga-Nya”, kata Imam al-Ghazali.

Oleh karena itu, kita berdoa dan berharap kepada Allah, semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang beruntung dengan mendapatkan rahmat dari Allah

PESAN MORAL DAN RITUAL ROSULULLOH SAW ATAS ORANG YANG BERTAQWA

Kata takwa sering kita dengar. Setidaknya sepekan sekali karena pesan takwa (washiyat bit takwa) merupakan salah satu rukun khutbah Jumat. Kita diingatkan selalu untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Tetapi kita sendiri jarang mendengar pesan takwa Rasulullah. Syekh Ihsan M Dahlan Jampes Kediri dalam Kitab Sirajut Thalibin, anotasi atas Minhajil Abidin karya Imam Al-Ghazali menyebut hadits yang memuat sejumlah pesan takwa Rasulullah SAW.

Di luar dugaan, pesan takwa Rasulullah tidak berkaitan semata dengan kesalehan ritual, tetapi kesalehan sosial dan moral.

Syekh Ihsan Jampes pertama mengutip hadits takwa yang sangat terkenal sebagai berikut, (Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes Kediri, Kitab Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin,juz I, halaman 334).

عن أبي ذر قال قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم اتق الله حيثما كنت وأتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن

Artinya, “Dari Abu Dzar, ia berkata bahwa Rasulullah SAW berkata kepadanya, ‘Bertakawalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya hal itu dapat menghapusnya. Bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik’,” (HR At-Tirmidzi)

Pesan takwa Rasulullah SAW berikutnya berkaitan dengan sikap warga negara terhadap pemerintah. Hadits ini juga kemudian berkaitan dengan pandangan kelompok Ahlussunnah wal Jamaah berkaitan dengan sikap mereka terhadap negara.

عن أبي نجيح العرباض بن سارية رضي الله تعالى عنه قال وعظنا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم موعظة وجلت منها القلوب وذرفت منها العيون فقلنا : يا رسول الله كأنها موعظة مودع فأوصنا قال أوصيكم بتقوى الله عز وجل والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد حبشي

Artinya, “Dari Abi Najih Al-Irbadh bin Sariyah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW menasihati kami dengan sebuah pesan yang membuat hati takut dan air mata berlinang. Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah SAW, wejanganmu ini seakan nasihat terakhir. Berilah kami nasihat.’ Rasulullah menjawab, ‘Aku berpesan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah, patuh, dan taat sekali pun seorang budak Habsyi menjadi pemerintahmu,’” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Pesan takwa Rasulullah SAW yang dikutip Syekh Ihsan Jampes berikut ini berkaitan dengan solidaritas sosial dan akhlak komunikasi di ruang publik, yaitu semangat berbagi dan penyebaran konten media sosial yang baik.

قال عدي سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول اتقوا النار ولو بشقة تمرة فمن لم يجد شقة تمرة فبكلمة طيبة

Artinya, “Sahabat Adi berkata, ia mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘Takutlah kepada api meski hanya dengan (sedekah) sobekan kurma. Siapa saja yang tidak menemukan sobekan kurma, maka bisa dengan kalimat yang baik,’” (HR Bukhari). Pesan takwa Rasulullah SAW pada hadits berikut ini berkaitan dengan kesetaraan dan kemanusiaan. Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak ada satu kelompok dengan latar belakang suku, agama, ras, golongan yang mendapatkan posisi sosial lebih tinggi di atas sesamanya. Pasalnya, semua adalah manusia.

قام رسول الله صلى الله عليه وسلم وسط أيام التشريق، فقال يا أيها الناس إن ربكم واحد، وإن أباكم واحد، ألا لا فضل لعربي على أعجمي ولا لعجمي على عربي ، ولا أسود على أحمر ، ولا أحمر على أسود إلا بتقوى الله أنتم من آدم وآدم من تراب

Artinya, “Rasulullah SAW berdiri di tengah hari Tasyriq. Ia menyeru, ‘Wahai manusia, Tuhanmu satu. Nenek moyangmu juga satu. Ketahuilah, tidak ada kelebihan bangsa Arab di atas bangsa ajam (bangsa non-Arab), tidak ada kelebihan bangsa ajam di atas bangsa Arab, tidak ada kelebihan bangsa kulit hitam di atas bangsa kulit merah, dan tidak ada kelebihan bangsa kulit merah di atas kulit hitam kecuali sebab ketakwaannya kepada Allah. Kamu semua dari Nabi Adam. Nabi Adam dari tanah,’” (Musnad Abdullah Ibnul Mubarak).

Sedangkan pada hadits berikut ini, Rasulullah SAW menjelaskan siapa yang berhak disebut sebagai keluarganya. Pada hadits berikut ini, Rasulullah SAW menegaskan bahwa anggota keluarga beliau adalah orang-orang yang akhlak dan moralitas mencapai derajat ketakwaan.

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَنْ آل مُحَمَّدٍ؟ قَالَ كُلُّ تَقِىٍّ

Artinya, “Rasulullah SAW pernah ditanya perihal ‘Siapakah yang dimaksud dengan keluarganya?’ ‘Siapa saja yang bertakwa,’ jawab Rasulullah SAW,” (HR Baihaqi). Demikian sejumlah pesan takwa Rasulullah SAW dalam hadits yang dikutip oleh Syekh Ihsan M Dahlan Jampes Kediri dalam Kitab Sirajut Thalibin, anotasi atas Minhajil Abidin karya Imam Al-Ghazali. Semuanya mengandung pokok-pokok pikiran yang relevan dan abadi sepanjang zaman.

Walllahu a‘lam.