KEISTIMEWAAN ISTIGHFAR UNTUK MENGISTIGHFARI UCAPAN ALHAMDULILLAH

Imam Ahmad bin Hambal Rahimakumullah dimasa akhir hidup bercerita, “Satu waktu (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tau kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak” katanya. Padahal tidak ada janji sama orang atau tidak sedang ada hajat tertentu.

Imam Ahmad kemudian pergi sendiri menuju ke kota Bashrah. Beliau bercerita, “Begitu tiba di sana waktu Isya’, saya ikut shalat berjamaah isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat.”

Begitu selesai shalat dan jamaah membubarkan diri, Imam Ahmad bermaksud tidur di masjid, namun tiba-tiba Marbot masjid datang menemui imam Ahmad sambil bertanya, ”Kamu mau ngapain disini, wahai orang tua” tanyanya.

Ternyata marbot Masjid tersebut tidak tau kalau lelaki tua ini adalah seorang ulama besar yang bernama Imam Ahmad. Dan karna ketawadhuanya Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan dirinya.

Di Irak, semua orang kenal siapa Imam Ahmad, seorang ulama besar dan ahli hadits, sejuta hadits dihafalnya, sangat shalih dan zuhud. Zaman itu tidak ada foto sehingga orang tidak tau wajahnya, cuma namanya sudah terkenal.

Imam Ahmad menjawab, “Saya ingin istirahat, saya musafir,” kata Imam Ahmad. “Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid,” jawab Marbot masjid.

Kemudian Imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tersebut disuruh keluar dari masjid. Setelah keluar masjid, lalu dikunci pintu masjid. Lalu saya ingin tidur di teras masjid.”

Ketika sudah berbaring di teras masjid, marbot datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad, “Mau ngapain lagi wahai orang tua ?” kata marbot. “Mau tidur, saya musafir”kata imam Ahmad.

Lalu marbot berkata, “Di dalam masjid gak boleh, di teras masjid juga gak boleh.” Imam Ahmad diusir. Imam Ahmad bercerita, “Saya didorong-dorong sampai jalanan.”

Di samping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi. Ketika Imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti memanggil dari jauh, “Mari wahai orang tua , anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil.” kata penjual roti itu

“Baik,” kata Imam Ahmad. Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk di belakang penjual roti yang sedang membuat roti (dengan tetap tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir).

Penjual roti punya perilaku khas. Kalau imam Ahmad mengajak bicara, dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar.

Saat memberi garam, astaghfirullah, memecah telur, astaghfirullah , mencampur gandum, astaghfirullah, dan seterusnya. Dia senantiasa mendawamkan istighfar, sebuah kebiasaan mulia. Imam Ahmad memperhatikan terus.

Kemudian Imam Ahmad bertanya, “Sudah berapa lama kamu lakukan ini?”

“Sudah lama sekali , saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan.”

Imam Ahmad bertanya, “Maa tsamarotu fi’luk (apa hasil dari perbuatanmu ini)?”

Orang itu menjawab, “(lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat yang saya minta, kecuali pasti dikabulkan Allah. Semua yang saya minta, ya Allah, langsung diwujudkan.”

(Nabi pernah bersabda, “Siapa yang menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangkanya.”)

Orang itu melanjutkan, “Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah beri.”

Imam Ahmad penasaran dan bertanya, “Apa itu?”

Orang itu berkata: “Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad.”

Seketika itu juga Imam Ahmad bertakbir, “Allahu Akbar..! Allah telah mendatangkan saya jauh-jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan, terrnyata karena istighfarmu.”

Penjual roti terperanjat, memuji Allah, ternyata yang di depannya adalah Imam Ahmad. Ia pun langsung memeluk dan mencium tangan Imam Ahmad.

Subhanallah, betapa begitu dahsatnya kekuatan sebuah istighfar yang diiringi dengan keistiqomahan.

Inilah salah satu kekuatan dan fadhilah dari Istigfar, Istighfar bisa menjadi sabab terkabulnya sebuah hajat.

30 tahun mengistighfari alhamdulilah

Seorang arif billah, Syekh Sariy Saqathy (wafat th. 253 H./967 M.) murid sufi besar Ma’ruf Karkhy, pernah berkata: “Tiga puluh tahun aku beristighfar, memohon ampun kepada Allah atas ucapanku sekali ‘Alhamdulillah’!”

“Lho, bagaimana itu?” tanya seseorang yang mendengarnya.

“Begini. Terjadi kebakaran di Baghdad,” kata Syekh menjelaskan, “lalu ada orang yang datang menemuiku dan mengabarkan bahwa tokoku selamat tidak ikut terbakar. Aku waktu itu spontan mengucap, Alhamdulillah! Maka ucapan itulah yang kusesali selama 30 tahun ini. Aku menyesali sikapku yang hanya mementingkan diri sendiri dan melupakan orang lain.”

Tiga puluh tahun Syekh Sariy menyesali ucapan Alhamdulillahnya. Beliau menyesal karena sadar—sekejab setelah melafalkan ungkapan syukurnya itu—bahwa dengan ungkapan syukurnya itu berarti beliau masih sangat tebal perhatiannya kepada diri sendiri. Begitu tebalnya hingga menindih kepekaan perhatiannya kepada sesama.

Sekejab beliau tersadar: alangkah degilnya orang yang mensyukuri keselamatan sebuah toko pada saat keselamatan sesama dan harta benda mereka terbakar habis. Alangkah musykilnya orang yang sanggup menyatakan kegembiraan di saat musibah menimpa sebagian besar saudara-saudaranya.

Meski saya, atau mungkin juga anda, bukan wali Allah yang bersih; adalah sangat mudah memahami penyesalan mulia orang suci –paman Bapak para sufi Al-Junaid—itu. Kecuali bila hati kita memang sudah sedemikian membatu oleh kecintaan kita yang berlebihan kepada diri sendiri dan dunia. Na’udzubillah

KEUTAMAAN DZIKIR DALAM AYAT- AYAT AL-QURANUL KARIM

PERTAMA

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺫْﻛُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺫِﻛْﺮًﺍ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﴿٤١﴾ ﻭَﺳَﺒِّﺤُﻮﻩُ ﺑُﻜْﺮَﺓً ﻭَﺃَﺻِﻴﻠًﺎ

Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allâh, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” [al-Ahzâb/33:41-42]

KEDUA.

ﻭﺍﺫﻛﺮ ﺭﺑﻚ ﻛﺜﻴﺮﺍ ﻭﺳﺒﺢ ﺑﺎﻟﻌﺸﻲ ﻭﺍﻻﺑﻜﺎﺭ

artinya : “dan ingatlah tuhanmu banyak-banyak dan tasbihlah di waktu petang dan pagi” (ali-imran : 41).

KETIGA.

ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗَﻀَﻴْﺘُﻢُ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻓَﺎﺫْﻛُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻗِﻴَﺎﻣًﺎ ﻭَﻗُﻌُﻮﺩًﺍ ﻭَﻋَﻠَﻰٰ ﺟُﻨُﻮﺑِﻜُﻢْ

Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allâh ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring…” [an-Nisâ’/4:103]

KEEMPAT

ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﺗَﻄْﻤَﺌِﻦُّ ﻗُﻠُﻮﺑُﻬُﻢْ ﺑِﺬِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۗ ﺃَﻟَﺎ ﺑِﺬِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻄْﻤَﺌِﻦُّ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏُ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allâh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allâh hati menjadi tentram. [ar-Ra’d/13:28]

KELIMA

ﻭ ﻣﻦ ﺃﻋﺮﺽ ﻋﻦ ﺫﻛﺮﻯ ﻓﺈﻥ ﻟﻪ ﻣﻌﻴﺸﺔ ﺿﻨﻜﺎ ﻭﻧﺤﺸﺮﻩ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﺃﻋﻤﻰ

Artinya :” barang siapa yang tidak mau mengingat Aku dia akan mendapat kehidupan yang sulit dan di akhirat akan dikumpulkan sebagai orang buta” (Thaha : 124).

KEENAM

ﻭﺍﻟﺬﺍﻛﺮﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻛﺜﻴﺮﺍ ﻭﺍﻟﺬﺍﻛﺮﺍﺕ ﺃﻋﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻬﻢ ﻣﻐﻔﺮﺓ ﻭﺃﺟﺮﺍ ﻋﻈﻴﻤﺎ

Artinya :”Dan bagi pria yg banyak dzikir kepada Allah & bagi wanita yg banyak dzikir kpd Allah, disediakan ampunan & pahala yg besar oleh Tuhan” (AL ahzab : 35).

KETUJUH

ﻓﺎﺫﻛﺮﻭﻧﻰ ﺃﺫﻛﺮﻛﻢ ﻭﺍﺷﻜﺮﻭﻟﻰ ﻭﻻ ﺗﻜﻔﺮﻭﻥ

Artinya :”Maka ingatlah kamu kepada ku supaya aku ingat pula kepadamu dan syukurlah kamu kepadaku dan janganlah kamu menjadi orang yang kufur” (Al baqarah : 152).

KEDELAPAN

ﻭَﺍﺫْﻛُﺮِ ﺍﺳْﻢَ ﺭَﺑِّﻚَ ﺑُﻜْﺮَﺓً ﻭَﺃَﺻِﻴﻠًﺎ

Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang [al-Insân/76:25]

KESEMBILAN

ﻭﺍﺫﻛﺮ ﺍﺳﻢ ﺭﺑﻚ ﻭﺗﺒﺘﻞ ﺇﻟﻴﻪ ﺗﺒﺘﻴﻼ

Artinya : “sebutlah nama Allah dan beribadahlah kpd nya dgn sepenuh hati” (Al muzammil : 8).

KESEPULUH

ﻭَﺍﻟْﺤَﺎﻓِﻈَﺎﺕِ ﻭَﺍﻟﺬَّﺍﻛِﺮِﻳﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻭَﺍﻟﺬَّﺍﻛِﺮَﺍﺕِ ﺃَﻋَﺪَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻬُﻢْ ﻣَﻐْﻔِﺮَﺓً ﻭَﺃَﺟْﺮًﺍ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ

“… Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allâh, Allâh telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.“[al-Ahzâb/33:35]

KESEBELAS

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﺫَﺍ ﻟَﻘِﻴﺘُﻢْ ﻓِﺌَﺔً ﻓَﺎﺛْﺒُﺘُﻮﺍ ﻭَﺍﺫْﻛُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allâh banyak-banyak (berzikir dan berdo’a) agar kamu beruntung.” [al-Anfâl/8:45]

KEDUABELAS

ﺇِﻧَّﻨِﻲ ﺃَﻧَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﺎ ﺇِﻟَٰﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻓَﺎﻋْﺒُﺪْﻧِﻲ ﻭَﺃَﻗِﻢِ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻟِﺬِﻛْﺮِﻱ

Sesungguhnya Aku ini adalah Allâh, tidak ada Ilah (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” [Thâha/20:14]

KETIGABELAS

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺇِﺫَﺍ ﻓَﻌَﻠُﻮﺍ ﻓَﺎﺣِﺸَﺔً ﺃَﻭْ ﻇَﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻬُﻢْ ﺫَﻛَﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻐْﻔَﺮُﻭﺍ ﻟِﺬُﻧُﻮﺑِﻬِﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺍﻟﺬُّﻧُﻮﺏَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺼِﺮُّﻭﺍ ﻋَﻠَﻰٰ ﻣَﺎ ﻓَﻌَﻠُﻮﺍ ﻭَﻫُﻢْ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allâh, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allâh ? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” [Ali ‘Imrân/3:135]

KEEMPATBELAS

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﺫَﺍ ﻧُﻮﺩِﻱَ ﻟِﻠﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻣِﻦْ ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ ﻓَﺎﺳْﻌَﻮْﺍ ﺇِﻟَﻰ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺫَﺭُﻭﺍ ﺍﻟْﺒَﻴْﻊَ ﺫَﻟِﻜُﻢْ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻜُﻢْ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ‏

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumaat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(Surah Al-Jumu’ah (62) ayat 9)

KELIMABELAS

ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗُﻀِﻴَﺖِ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓُ ﻓَﺎﻧْﺘَﺸِﺮُﻭﺍ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﺍﺑْﺘَﻐُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﻓَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﺫْﻛُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ ‏

“Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (Surah Al-Jumu’ah (62) ayat 10)

KEENAMBELAS

ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗَﻀَﻴْﺘُﻢْ ﻣَﻨَﺎﺳِﻜَﻜُﻢْ ﻓَﺎﺫْﻛُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺬِﻛْﺮِﻛُﻢْ ﺁﺑَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺃَﻭْ ﺃَﺷَﺪَّ ﺫِﻛْﺮًﺍ ﻓَﻤِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻣَﻦْ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺁﺗِﻨَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﻟَﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓِ ﻣِﻦْ ﺧَﻠَﺎﻕٍ () ﻭَﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻣَﻦْ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺁﺗِﻨَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻓِﻲ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓِ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻗِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ () ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻟَﻬُﻢْ ﻧَﺼِﻴﺐٌ ﻣِﻤَّﺎ ﻛَﺴَﺒُﻮﺍ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺳَﺮِﻳﻊُ ﺍﻟْﺤِﺴَﺎﺏِ ()

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. 201- Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.202- Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (Al Baqarah 200-202)

KETUJUHBELAS

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya lah mereka bersujud. (Al A’raaf 205-206)

KEDELAPANBELAS

ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺬْﻛُﺮُﻭﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻗِﻴَﺎﻣًﺎ ﻭَﻗُﻌُﻮﺩًﺍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺟُﻨُﻮﺑِﻬِﻢْ ﻭَﻳَﺘَﻔَﻜَّﺮُﻭﻥَ ﻓِﻲ ﺧَﻠْﻖِ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷﺭْﺽِ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖَ ﻫَﺬَﺍ ﺑَﺎﻃِﻼ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻓَﻘِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ‏

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (Ali Imran Ayat 191)

KESEMBILANBELAS

ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻧَﺰَّﻝَ ﺃَﺣْﺴَﻦَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ﻛِﺘَﺎﺑًﺎ ﻣُﺘَﺸَﺎﺑِﻬًﺎ ﻣَﺜَﺎﻧِﻲَ ﺗَﻘْﺸَﻌِﺮُّ ﻣِﻨْﻪُ ﺟُﻠُﻮﺩُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺨْﺸَﻮْﻥَ ﺭَﺑَّﻬُﻢْ ﺛُﻢَّ ﺗَﻠِﻴﻦُ ﺟُﻠُﻮﺩُﻫُﻢْ ﻭَﻗُﻠُﻮﺑُﻬُﻢْ ﺇِﻟَﻰٰ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻫُﺪَﻯ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﻬْﺪِﻱ ﺑِﻪِ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ۚ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓَﻤَﺎ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﻫَﺎﺩٍ

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya. (Az Zumar 23)

KEDUAPULUH

ﺍﺳْﺘَﺤْﻮَﺫَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢُ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻓَﺄَﻧْﺴَﺎﻫُﻢْ ﺫِﻛْﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﺃُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﺣِﺰْﺏُ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ۚ ﺃَﻟَﺎ ﺇِﻥَّ ﺣِﺰْﺏَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮُﻭﻥَ

Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi. (Al Mujadilah 19)

BERSYUKUR DAN MERENUNGI MATA SEBAGAI NIKMAT ALLOH SWT.


Alam ciptaan Allah sungguh amat mempesona. Keindahannya tak bisa kita pungkiri lagi. Ketika kita melihat taman-taman yang indah dan tanah-tanah yang lapang. Ketika kita melihat kesegaran rumput hijau di pagi yang cerah. Tatkala kita melihat berbagai wajah-wajah dengan aneka ragam bahasa dan warna kulit….. Belum lagi aneka bunga, tanaman, hewan, dan makhluk lainnya yang mempesona mata. Pernahkah terpikir oleh kita ―saat terbangun di pagi hari dan menyaksikan ribuan nikmat itu― apa makna di balik semua keindahan ciptaan Allah SWT ini?

Saya yakin banyak diantara kita yang menjadi lebih suntuk ketika hari berganti menjadi petang. Matahari kian tenggelam di ufuk Barat. Suasana menjadi gelap, taman-taman yang tadinya indah kini tak tampak lagi. Warna alam yang menggairahkan seakan menjadi pudar. Sekali lagi coba Anda renungkan nikmat penglihatan yang Tuhan berikan kepada anda. Setiap panca indera yang dianugerahkan kepada kita menempati porsi kebahagiaan yang tertentu pula. Mata, hidung, telinga, lidah dan kulit semuanya memiliki prosentase kenikmatan yang berbeda. Saya juga yakin Anda sependapat bahwa diantara kelima panca indera itu, mata merupakan salah satu yang paling besar peranannya.

Tanpa penglihatan, bukan hanya kenikmatan penglihatan saja yang hilang, tapi kenikmatan panca indera yang lain juga akan berkurang. Ketika anda tidak bisa melihat makanan yang dihidangkan maka anda tidak akan bisa merasakan kenikmatan makanan itu dengan benar. Anda pun tak akan menikmati sejuk udara pagi dengan santai tanpa menyaksikannya secara langsung. Musik pun tak akan terdengar merdu di telinga Anda. Oleh sebab itulah kita harus pandai-pandai menyelami hakikat dari indera yang amat berharga ini.

Betapa besar mata telah menghibur anda hingga saat ini! Perhatikan saat-saat anda berlibur ke pantai menyaksikan hamparan pasir putih dengan pantainya yang berkilau diterpa sinar matahari. Sementara di ujung yang lain sebuah tanjung terhampar dengan indahnya. Cobalah merenungi suasana ketika anda bepergian ke puncak gunung sembari menyaksikan keindahan kota dibawah sana. Ketika kita bersantai dirumah, berapa banyak jam yang kita habiskan menikmati acara televisi hari demi hari? Sungguh hingga saat ini kita telah banyak melupakan syukur atas nikmat penglihatan yang Allah berikan.

Dalam surat As-Sajdah ayat 9 Allah berfirman: ”Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia memberikan kamu pendengaran, penglihatan, dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”

Jauh sebelum kita diciptakan, Allah sudah mengetahui bahwa kita akan mendustakan kenikmatan ini dengan tidak mensyukurinya. Di ayat yang lain disebutkan : ”Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (An-Nahl : 78)

Pendengaran dan penglihatan merupakan dua jendela yang menghubungkan manusia dengan alam luar. Telinga meningkatkan intelektualitas, konsentrasi dan pemahaman seseorang sedangkan mata menyuguhkan tampilan alam. Dengan mata ini pula kita bisa belajar dan menulis serta melakukan pekerjaan sehari-hari dengan sempurna. Dengan dua nikmat agung ini kita dicetak menjadi manusia yang cerdas, intelek dan tanggap terhadap lingkungan. Al-Qur’an menyebutkan dua indera ini lebih banyak daripada indera dan organ tubuh lainnya.

Secara anatomis mata kita berada pada tempat yang amat terlindung. Rongga tersebut menampung 30cc volume. Tulang-tulang yang melingkar di sekeliling mata diciptakan dengan sempurna sehingga mata aman dari trauma. Disamping atas, dibagian bawah dan tengah dari tiap mata terdapat suatu rongga dari tulang yang disebut sinus. Sinus ini berfungsi sebagai Shock Absorber (peredam kejut) sehingga sewaktu-waktu tulang tersebut mengalami trauma, maka tekanannya akan diserap oleh sinus dan mengurangi tekanan yang masuk ke dalam mata. Sang Pencipta meletakkan organ istimewa ini pada tempat yang aman dan melengkapinya dengan berbagai sarana penjagaan.

Di sisi depan, mata dilindungi oleh kelopak yang memiliki reflek menutup dengan amat cepat, sehingga sepersekian detik saja sudah bisa menutup ketika ada sesuatu yang akan masuk. Dilengkapi dengan bulu, menjadikan mata aman terhadap partikel padat maupun cair. Di sudut bagian samping atas dari rongga mata terdapat kelenjar penghasil air mata yaitu kelenjar lakrimalis. Kelenjar ini senantiasa memproduksi air mata (tear film) yang akan membasahi permukaan mata dan mencuci mata dari debu-debu dan partikel kotoran yang senantiasa masuk. Cairan ini sangat istimewa fungsinya. Selain membunuh kuman-kuman yang masuk, cairan ini juga mengatur tekanan dalam bola mata dan memberikan nutrisi kepada bagian mata terluar yaitu Kornea.

Berkurangnya cairan mata dalam waktu tertentu akan menyebabkan suatu gejala kekeringan mata yang disebut Xeroftalmia. Penyakit ini akan menyebabkan kebutaan jika tidak ditangani dengan segera. Bersyukurlah anda yang memiliki mata yang sehat dan memiliki air mata yang sehat juga setiap saat, karena jika tidak, maka anda akan menggunakan tetes air mata buatan sepanjang hidup ! Berfirman Allah dalam surat Al-An’aam 46 yang artinya : ” Katakanlah: ’Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah uhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?’ Perhatikanlah, bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga).”

Kornea sehat yang anda miliki juga sangat mahal harganya. Cangkok kornea di Amerika bagi orang-orang dengan parut kornea (makula) memakan biaya hingga US$ 8700 atau sekitar 80 juta rupiah untuk satu mata. Prosedurnya pun harus mengantri lama, karena donor kornea yang biasanya didapat dari negara Asia Barat seperti India dan Srilanka makin jarang didapat akhir-akhir ini. Operasi cangkok kornea termasuk operasi besar dengan komplikasi yang besar dan kemungkinan keberhasilan yang relatif kecil. Oleh karena itu panjatan beribu-ribu syukur layak Anda lantunkan kepada-Nya yang telah menganugerahi anda dengan kesempurnaan hingga saat ini.

Siapakah yang mampu menciptakan penglihatan yang menakjubkan ini selain Allah? Penglihatan dan mata adalah karunia besar dari Sang Pencipta kepada hamba-Nya, bukti konkrit keajaiban penciptaan manusia yang menyaksikan Keagungan-Nya. Apakah sama antara orang yang buta dengan orang yang melihat, cahaya dan kegelapan? Mahasuci Allah yang telah mencipta segala sesuatu, pada Tangan-Nya lah kerajaan bumi dan langit, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Proses melihat kita dimulai dari jatuhnya cahaya pada obyek yang kita lihat. Cahaya sendiri dipancarkan oleh matahari yang berjarak 93 juta kilometer dari bumi. Sinar ini akan mencapai bumi dalam waktu 8 menit. Pantulan cahaya dari obyek kemudian akan masuk mata melalui lensa mata. Lensa ini berfungsi menyatukan sudut-sudut yang dibentuk sinar-sinar tersebut. Setelah bersatu, sinar ini akan melewati pupil dan menembus bagian dalam bola mata yang transparan dan akan berakhir di retina. Retina adalah syaraf mata yang akan meneruskan rangsangan penglihatan ke otak.

Ketika kita sedang menyaksikan suatu obyek, maka obyek itu akan terlihat sebagai benda tunggal. Padahal, kedua bola mata sama-sama menerima rangsang cahaya dalam retina. Hal ini karena kedua retina akan berkongruensi atau bekerja sama dalam menyatukan titik cahaya. Keduanya akan memperpanjang diri sebagai saraf otak dan saling menyilang didasar otak untuk kemudian dilanjutkan ke bagian samping dan belakang otak (area 17 Brocca) untuk kemudian diinterpretasikan mulai bentuk, warna, jarak dan dimensinya. Sungguh keindahan ciptaan Allah SWT ini tak terjangkau oleh pikiran dan ilmu kita yang terbatas.

Alangkah malangnya bagi kita yang dengan penglihatan yang sehat lalu mempergunakannya untuk melihat barang-barang yang haram dan maksiat. Alangkah tidak beruntungnya mereka yang mempergunakan organ yang bersih untuk melihat sesuatu yang kotor. Dengan berbuat demikian sama artinya kita tidak mengindahkan nikmat Allah ini. Naudzubillahi min dzalik. Sebaliknya, beruntunglah diantara kita yang mempergunakannya di jalan yang benar, memakainya untuk membaca Al-Qur’an, membaca kitab-kitab ilmu dan dengan itikad baik meningkatkan ibadah. Kita harus selalu ingat bahwa selain menyuguhkan keindahan dan kenikmatan, mata juga berpotensi besar untuk membawa kita kepada penyimpangan akhlak dan dosa.

Janganlah kita menyesalinya kelak ketika sudah di alam akhirat, ketika Allah seakan-akan heran melihat hal itu lalu berfirman, “Alangkah nyaringnya telinga mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka di kala mereka menghadap Kami. Padahal mereka di dunia seakan-akan tuli tidak dapat mendengarkan petunjuk yang di bawa Nabi dan seakan-akan buta tidak dapat melihat kebenaran dan mukjizat yang diberikan kepada Rasul-rasul. Tidak melihat kekuasaan Allah yang tampak dengan nyata pada alam semesta”. Dan dikala itu mata yang menyuguhkan maksiat dulu akan menjadi saksi atas semua perbuatan yang telah kita lakukan, lalu kita baru terperanjat dan berangan-angan untuk kembali ke dunia dan menggunakannya dijalan yang baik. Allah kemudian mengancam dalam surat Al-Haqqah 30-33, “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar”. Mudah-mudahan kita dijauhkan dari adzab Allah SWT.

Untuk itu marilah kita pergunakan mata kita di jalan Allah, di jalan yang akan menuntun kita kepada sorga-Nya. Insya Allah dengan mempergunakannya secara baik, kita tercatat sebagai hambaNya yang bersyukur dan bertaubat. Harus selalu kita ingat bahwa setiap kenikmatan yang disuguhkan oleh mata saat ini akan menyisakan setiap pertanyaan kelak di alam baka…..



BERLOMBA MASUK SURGA DAN PENGHUNI NERAKA MAYORITAS ADALAH WANITA

Dialog antara Ustadz dan seorang santri yang lugu dan sederhana bernama Bejo.

Ustadz : Marilah kita berlomba-lomba untuk bisa masuk surga!

Bejo : Maaf pak ustad saya tidak berminat ikut berlomba-lomba musuk surga.

Ustadz : Kenapa?

Bejo : Saya hanya ingin berjalan seperti apa adanya.

Ustad : (Heran???) Apa kamu tidak ingin berlomba-lomba masuk surga seperti kami semua???

Bejo : Maaf pak ustadz, bukanya saya tidak ingin masuk surga, tetapi saya rasa kalau saya ikut berlomba-lomba seperti yang lain, saya takut seperti waktu Pemilu CALEG atau CAPRES, yang berusaha sikut sana sikut sini dan menghalalkan segala cara supaya bisa masuk surga. Padahal setan saja dengan sesama setan tidak pernah sikut sana sikut sini untuk masuk neraka.

Ustadz : …???!

HADITS YANG MENYATAKAN PEGHUNI NERAKA KEBANYAKAN ADALAH WANITA

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudriy radhiyallahu anhu, ia berkata: “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar pada hari raya Idul Adha atau Idul Fitri menuju tempat shalat dan melalui sekelompok wanita. Beliau bersabda,’Wahai kaum wanita bersedekahlah, sesungguhnya aku telah diperlihatkan bahwa kalian adalah mayoritas penghuni neraka.’ Mereka bertanya,’Mengapa wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab,’Kalian banyak melaknat dan durhaka terhadap suami. Dan tidaklah aku menyaksikan orang yang memiliki kekurangan akal dan agama yang dapat menghilangkan akal kaum laki-laki yang setia daripada salah seorang diantara kalian. Mereka bertanya,’Apa yang dimaksud dengan kekurangan agama dan akal kami wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab,’Bukankah kesaksian seorang wanita sama dengan separuh dari kesaksian seorang pria?’ Mereka menjawab,’Benar.’ Beliau berkata lagi,’Bukankah apabila wanita mengalami haidh maka dia tidak melakukan shalat dan puasa?’ Mereka menjawab,’Benar.’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,’itulah (bukti) kekurangan agamanya.’ (HR. Bukhari)

Mengapa Wanita Menjadi Mayoritas Penghuni Neraka?

Di dalam kisah gerhana matahari yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana dengan shalat yang panjang, beliau melihat Surga dan neraka. Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya:

“ … Dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Para shahabat pun bertanya: “Wahai Rasulullah, Mengapa (demikian)?” Beliau menjawab: “Karena kekufuran mereka.” Kemudian mereka bertanya lagi: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab:“Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma).

Beberapa hadits menjelaskan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah wanita, diantaranya adalah hadits yang diriwatatkan oleh Abu Sa’id Al Khudhri rodhiyallohu ‘anhu:

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ إِلَى الْمُصَلَّى فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ قُلْنَ وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا

Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam pernah keluar di waktu Idul-Adha atau Idul-Fitri menuju tempat shalat. Lalu beliau lewat bertemu para wanita untuk bersabda ‘hai para wanita, shadaqahlah! Sungguh saya telah menyaksikan kalianlah lebih banyaknya penghuni neraka’. Sontak mereka berkata ‘kenapa ya Rasulallah?’. Nabi bersabda ‘kalian sering melaknat dan mengkufuri suami. Saya belum pernah mengerti orang-orang yang kurang akal dan agamanya yang lebih menghilangkan lubb (akal yang bersih dari hawa-nafsu dan emosi) daripada seorang kalian’Mereka bertanya ‘bagaimana kurangnya agama dan akal kami, ya Rasulallah?’. Nabi bersabda ‘bukankah (Allah menentukan) persaksian seorang wanita semisal setengah persaksian seorang pria?’. Mereka menjawab ‘betul’. Nabi bersabda ‘itu karena kurangnya akalnya. Bukankah jika haid tidak shalat dan tidak berpuasa?’. Mereka berkata ‘betul’. Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda ‘itu karena kurangnya agamanya’.” (Shohih Bukhori, no.304 dan Shohih Muslim, no.132)

Namun dalam riwayat lain dijelaskan bahwa kebanyakan penghuni surga juga wanita :

عنْ مُحَمَّدٍ، قَالَ: إِمَّا تَفَاخَرُوا وَإِمَّا تَذَاكَرُوا: الرِّجَالُ فِي الْجَنَّةِ أَكْثَرُ أَمِ النِّسَاءُ؟ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: أَوَ لَمْ يَقُلْ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، وَالَّتِي تَلِيهَا عَلَى أَضْوَإِ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ، لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ اثْنَتَانِ، يُرَى مُخُّ سُوقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ، وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ

“Dari Muhammad berkata: Mungkin mereka saling membangga-banggakan diri atau menyebut-nyebut bahwa kaum lelaki lebih banyak disurga dari pada kaum wanita, lalu Abu Hurairah berkata: Bukankah Abu Al Qasim Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya golongan pertama yang masuk surga wujudnya seperti bulan di malam purnama, golongan selanjutnya wujudnya seperti bintang paling terang di langit dan setiap lelaki diantara mereka memiliki dua istri, tulang betis keduanya terlihat dari baik daging dan disurga tidak ada orang bujang.”(Shohih Muslim, no.2834)

Sekilas, nampak ada pertentangan antara 2 hadits diatas, dimana hadits yang pertama menjelaskan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah wanita, sebaliknya hadits kedua menjelaskan bahwa kebanyakan penghuni surga adalah wanita. Para ulama’ memberikan penjelasan berbeda menanggapi dua riwayat yang seakan-akan bertentangan tersebut ;

1. Kedua hadits diatas mengisyaratkan bahwa jumlah wanita dudunia ini lebih banyak daripada laki-laki, karena itu baik disurga atau dineraka kebanyakan penghuninya adalah wanita.

2. Memang benar kebanyakan penghuni neraka adalah wanita sebelum Nabi memberikan syafa’atnya kepada orang-orang muslim ahli maksiat yang masuk neraka, setelah Nabi memberikan syafa’at pada ahli maksiat yang masuk neraka, dan banyak wanita ahli maksiat yang dikeluarkan dari neraka, akhirnya kebanyakan penghuni surga adalah wanita.

3. Yang dilihat Nabi pada saat itu memang kebanyakan penghuni neraka adalah wanita, namun ini tidak menutup kemungkinan jumlahnya mengalami perubahan.

Bagaimana pun, pesan yang ingin disampaikan dalam hadits yang menjelaskan bahwa kebanyakan penghuni neraka, seperti yang diriwayatkan Abu Sa’id Al Khudzri diatas adalah peringatan bagi wanita agar selalu mawas diri, memperbanyak melakukan kebaikan, menjaga lisannya dari ucapan-ucapan dosa, seperti melaknat seseorang dan berbuat baik terhadap suaminya, karena kebanyakan dari wanita kurang bisa menjaga lisannya dan kurang taat dan berani terhadap suaminya.

Jadi, hadits diatas sama sekali tidak bertentangan dengan realitas yang ada dimana kebanyakan yang memenuhi majlis-majlis ta’lim atau acara acara dan ritual keagamaan adalahg wanita, sebab yang ditekankan oleh nabi adalah kurang taatnya seorang wanita terhadap suaminya dan kurang bisa menjaga ucapannya, dua hal ini yang menjadi penyebab utama wanita masuk neraka.

Wallohu a’lam.

Referensi :

Syarah Shohih Muslim Lin-Nawawi, Juz : 2 Hal : 66-67

حدثنا محمد بن رمح بن المهاجر المصري، أخبرنا الليث، عن ابن الهاد، عن عبد الله بن دينار، عن عبد الله بن عمر، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: «يا معشر النساء، تصدقن وأكثرن الاستغفار، فإني رأيتكن أكثر أهل النار» فقالت امرأة منهن جزلة: وما لنا يا رسول الله أكثر أهل النار؟ قال: «تكثرن اللعن، وتكفرن العشير، وما رأيت من ناقصات عقل ودين أغلب لذي لب منكن» قالت: يا رسول الله، وما نقصان العقل والدين؟ قال: ” أما نقصان العقل: فشهادة امرأتين تعدل شهادة رجل فهذا نقصان العقل، وتمكث الليالي ما تصلي، وتفطر في رمضان فهذا نقصان الدين ” وحدثنيه أبو الطاهر، أخبرنا ابن وهب، عن بكر بن مضر، عن ابن الهاد بهذا الإسناد مثله

وأما أحكام الحديث ففيه جمل من العلوم منها الحث على الصدقة وأفعال البر والإكثار من الاستغفار وسائر الطاعات وفيه أن الحسنات يذهبن السيئات كما قال الله عزوجل وفيه أن كفران العشير والإحسان من الكبائر فإن التوعد بالنار من علامة كون المعصية كبيرة كما سنوضحه قريبا إن شاء الله تعالى وفيه أن اللعن أيضا من المعاصي الشديدة القبح وليس فيه أنه كبيرة فإنه صلى الله عليه وسلم قال تكثرن اللعن والصغيرة إذا أكثرت صارت كبيرة

Syarah Shohih Muslim Lin-Nawawi, Juz : 17 Hal : 66-67

حدثني عمرو الناقد، ويعقوب بن إبراهيم الدورقي، جميعا عن ابن علية – واللفظ ليعقوب – قالا: حدثنا إسماعيل ابن علية، أخبرنا أيوب، عن محمد، قال: إما تفاخروا وإما تذاكروا: الرجال في الجنة أكثر أم النساء؟ فقال أبو هريرة: أو لم يقل أبو القاسم صلى الله عليه وسلم: «إن أول زمرة تدخل الجنة على صورة القمر ليلة البدر، والتي تليها على أضوإ كوكب دري في السماء، لكل امرئ منهم زوجتان اثنتان، يرى مخ سوقهما من وراء اللحم، وما في الجنة أعزب؟

قال القاضي ظاهر هذا الحديث أن النساء أكثر أهل الجنة وفي الحديث الآخر أنهن أكثر أهل النار قال فيخرج من مجموع هذا أن النساء أكثر ولد آدم قال وهذا كله فى الآدميات والافقد جاء للواحد من أهل الجنة من الحور العدد الكثير

Dalilul Falihin, Juz : 4 Hal : 423

قال الحافظ: وفي حديث أبي سعيد عند مسلم في صفة أدنى أهل الجنة «ثم يدخل عليه زوجتاه» ولأبي يعلى عن أبي هريرة «فدخل الرجل على ثنتين وسبعين زوجة مما ينشىء الله زوجتين من ولد آدم» واستدل أبو هريرة بهذا الحديث على أن النساء في الجنة أكثر من الرجال كما أخرجه عنه مسلم في «صحيحه» وهو واضح، لكن يعارضه قوله في حديث الكسوف «أكثر أهل النار» . ويجاب بأنه لا يلزم من كون أكثرهن في النار، نفى كون أكثرهن في الجنة لكن يشكل عليه حديث اطلعت الخ، ويحتمل أن الراوي رواه بالمعنى الذي فهمه من أن كونهن أكثر ساكني النار يلزم منه كونهن أقل ساكني الجنة وليس ذلك بلازم لما قدمته، ويحتمل أن يكون ذلك في أول الأمر قبل خروج العصاة من النار بالشفاعة والله أعلم. قال شيخ الإسلام زكريا: ويجاب أيضاً بأن المراد بكونهن أكثر أهل النار نساء الدنيا وبكونهن أكثر أهل الجنة نساء الآخرة فلا تنافي اهـ

Mir’atul Mafatih Syarah Misykatul Mashobih, Juz : 1 Hal : 80-81

أكثر أهل النار) –إلى أن قال- ، ولا يعارض هذا ما أخرجه أبويعلى عن أبي هريرة في حديث الصور الطويل مرفوعاً: ((فيدخل الرجل على اثنتين وسبعين زوجة مما ينشئ الله وزوجتين من ولد آدم)) وغير ذلك من الأحاديث الدالة على كون الزوجتين من نساء الدنيا، وكثرة النساء في الجنة دون النار لأنه يحتمل أن يكون ذلك في أول الأمر قبل خروج العصاة من النار بالشفاعة، وقيل: كانت الأكثرية عند مشاهدته إذ ذاك ولا تنسحب على مجموع الزمان، فتأمل

TUMBUHAN YANG SELALU BERTASBIH MENSUCIKAN ALLOH SWT.

Pada sebuah penelitian ilmiah yang diberitakan oleh sebuah majalah sains terkenal, Journal of plant Molecular Biologist, menyebutkan bahwa sekelompok ilmuwan yang mengadakan penelitian mendapatkan suara halus yang keluar dari sebagian tumbuhan yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa. Suara tersebut berhasil disimpan dan direkam dengan sebuah alat perekam tercanggih yang pernah ada.

Para ilmuwan selama hampir 3 tahun meneliti fenomena yang mencengangkan ini dan berhasil menganalisis denyutan atau detak suara tersebut sehingga menjadi isyarat-isyarat yang bersifat cahaya elektrik (kahrudhahiyah) dengan sebuah alat yang bernama Oscilloscope. Akhirnya para ilmuwan tersebut bisa menyaksikan denyutan cahaya elektrik itu berulang lebih dari 1000 kali dalam satu detik.

Prof. William Brown yang memimpin para pakar sains untuk mengkaji fenomena tersebut mengisyaratkan setelah dicapainya hasil bahwasanya tidak ada penafsiran ilmiah atas fenomena tersebut. Padahal seperti diakui oleh sang professor bahwa pihaknya telah menyerahkan hasil penelitian mereka kepada universitas-uni

versitas serta pusat-pusat kajian di Amerika juga Eropa, akan tetapi semuanya tidak sanggup menafsirkan fenomena itu bahkan semuanya tercengang tidak tahu harus berkomentar apa…

Pada kesempatan terakhir, fenomena tersebut dihadapkan dan dikaji oleh para pakar dari Britania, dan diantara mereka ada seorang ilmuwan muslim yang berasal dari India . Setelah 5 hari mengadakan mengadakan penelitian dan pengkajian ternyata para ilmuwan dari Inggris tersebut angkat tangan. Sang ilmuwan muslim tersebut mengatakan: “Kami umat Islam tahu tafsir dan makna dari fenomena ini, bahkan semenjak 1400 tahun yang lalu”.

Maka para ilmuwan yang hadir pun tersentak dengan pernyataan tersebut, dan meminta dengan sangat untuk menunjukkan tafsir dan makna dari kejadian itu.

Sang ilmuwan muslim segera menyitir firman Allah:

“….Dan tak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Isra’: 44)

Tidaklah suara denyutan itu melainkan lafadz jalalah (nama Allah Azza wa Jalla) sebagaimana tampak dalam layer (Oscilloscope). Maka keheningan dan keheranan luarbiasa menghiasi aula dimana para ilmuwan muslim tersebut berbicara.

SubhanalLaah, Maha Suci Allah! Ini adalah salah satu mukjizat dari sekian banyak mukjizat agama yang haq ini!! Segala sesuatu bertasbih menggunakan nama Allah Jalla wa ‘Ala. Akhirnya orang yang bertanggungjawab terhadap penelitian ini, yaitu Prof. William Brown menemui sang ilmuwan muslim untuk mendiskusikan tentang agama yang dibawa oleh seorang Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) sebelum 1400 tahun lalu tentang fenomena ini. Maka ilmuwan tersebut pun menerangkan kepadanya tentang Islam, setelah itu ia menghadiahkan alQur’an dan terjemahnya kepada sang professor.

Selang beberapa hari setelah itu, professor William mengadakan ceramah di universitas Carnich – Miloun, ia mengatakan: “Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekuni pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya. Akan tetapi satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah didalam alQur’an. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan “Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq melainkan Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”

Sang professor ini telah mengumumkan Islam-nya dihadapan para hadirin yang sedang terperangah.

Allahu Akbar !! Kemuliaan hanyalah bagi Islam, ketika seorang ilmuwan sadar dari kelalaiannya dan mengetahui bahwa agama yang haq ini adalah agama Islam.

IMAN WALAU SEUKURAN BIJI DZARROH SANGATLAH BERGUNA UNTUK BISA MASUK KE SURGA

RASULULLAH MUHAMMAD SAW TIDAK RIDHO UMATNYA DI NERAKA

Ketika surge da n neraka telah terkunci, dan semua umat manusia telah dimasukkan ke dalam surga dan neraka sesuai dengan amalannya, mereka telah menikmati ganjaran/merasakan hukuman atas apa yang mereka kerjakan dalam waktu yang begitu lama.

Allah SWT menanyakan kepada Malaikat Jibril, subhanallah sesungguhnya Allah Maha Tahu,

“Apakah ada umat Muhammad SAW yang masih tertinggal di dlm neraka?”

Maka Malaikat Jibril pun pergi ke neraka Jahanam. Neraka Jahanam yang begitu gelap tiba-tiba berubah jadi terang benderang karena kedatangan Jibril.

  Para penghuni Jahanam pun bertanya-tanya, siapakah yang datang, mengapa Jahanam tiba-tiba terang benderang.

Malaikat Jibril pun menjawab bahwa dia adalah Malaikat Jibril, yang diutus oleh Allah SWT untuk mencari apakah ada umat Muhammad yang masih terselip di neraka Jahanam.

Tiba-tiba sekelompok orang berteriak, “Sampaikan salam kami kepada Rasulullah SAW, beri tahukan keadaan kami di tempat ini kepada beliau.”

Jibril pun keluar dari neraka Jahanam dann pergi ke surga untuk memberitahukan hal itu kepada Rasulullah Saw.

Rasulullah saw. begitu bersedih mendengar bahwa masih ada umatnya yang tertinggal di dalam neraka dalam waktu yang sudah begitu lama. Beliau tidak ridha ada umatnya yang masih tertinggal di neraka walau dosanya sepenuh bumi.

Rasulullah SAW pun bergegas hendak pergi neraka.

Tapi di perjalanan beliau terhadang oleh garis batas Malaikat Israfil. Tidak ada seorang pun boleh melintasi garis itu kalau tidak seizin Allah SWT.

Rasulullah SAW pun mengadu kepada Allah SWT, dan akhirnya beliau diizinkan. Tapi sesudah itu Allah SWT mengingatkan Rasulullah bahwa umat itu telah meremehkan beliau.

“Ya Allah, izinkan aku memberi syafa’at kepada mereka itu, walau mereka  hanya punya iman sebesar zarrah.”

Sesampainya Rasulullah di neraka Jahanam, padamlah api neraka anyg begitu dahsyat itu.

Penduduk Jahanam pun berucap, “Apa yang terjadi, mengapa api Jahanam ini tiba-tiba padam? Siapakah yang datang lagi?”

Rasulullah SAW menjawab, “Aku Muhammad SAW yang datang, siapa di antara kalian yang jadi umatku dan punya iman walau sebesar zarrah, aku datang untuk mengeluarkannya.”

Demikianlah kecintaan Rasulullah kepada umatnya, beliau akan memperjuangkannya sampai di hadapan Allah SWT.

Lalu bagaimana kecintaan kita sebagai umat Rasulullah SAW kepada pribadi yang begitu agung itu?

Allahumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammad

MENERIMA ATAU RIDLO DENGAN KETENTUAN ALLOH SWT.

Pengertian Ridho

Ridho adalah kata sifat yang mudah diucapkan, namun juga kata kerja yang sulit dilakukan. Ridho terhadap ketentuan Allah SWT secara mutlak berarti tidak menunjukkan keengganan ataupun penentangan terhadap takdir-Nya, manis atau pahit. Abdullah ibn Alwi ibn Muhammad al-Haddad al-Husaini (tt: 37) mengatakan:

“Ridho terhadap ketetapan Allah adalah buah termulya dari Mahabbah dan Ma’rifah. Salah satu ukuran cinta adalah ridho terhadap perbuatan kekasihnya, baik itu manis ataupun pahit adanya. Oleh karenanya, ridho dengan makna yang demikian adalah suatu keniscayaan untuk menyatakan keimanan seseorang terhadap Tuhan-Nya.

Dalam makna yang lain, Ridho dimutlakkan sebagai sikap senang dan bahagia bagaimanapun keadaan hidup yang dialami (Ma’luful Anam, Lc: 2010). Sebagaimana ucapan para arif billah, “Ridho adalah mengeluarkan seluruh ketidaksukaan terhadap ketentuan takdir dari dalam hati, sehingga tak ada padanya kecuali rasa senang dan bahagia terhadap ketentuan itu atau ia adalah kebahagiaan hati dalam merasakan pahitnya takdir sebagaimana merasakan manisnya atau juga ia adalah menerima hukum ilahi dengan senang hati” (Ahmad Fadlun ZR: 2010: 2).

Al-Samarkandi dalam “Tanbih al-Ghafilin” mengatakan:

“Keputusan Allah itu jauh lebih baik dari pada ketetapan seseorang terhadap dirinya sendiri, (Ketahuilah wahai anak cucu Adam), apa yang telah ditetapkan Allah, (namun) kamu benci itu (sesungguhnya) lebih baik dari pada keputusanmu sendiri yang kamu sukai (Al- Samarkandi : tt: 221).

Rabi’ah al-Adawiyah, Seorang sufi wanita, pernah ditanya,” Kapankah seorang hamba menjadi Ridho?”, Ia menjawab : “Bila ia merasa bahagia oleh keburukan (takdir) sebagaimana ia merasa bahagia oleh kenikmatan”. Sebagian Ulama’ salaf juga mengatakan: Jikalau tubuhku hancur karena sebab penyakit kusta yang menggerogoti dagingku, itu lebih baik dari pada saya harus mengatakan atas ketetapan Tuhan: “Seandainya hal ini tidak terjadi?”. (Al-Ghazali: tt: IV: 340).

Ridho atas ketentuan Allah berarti ikhlas dan nrimo atas semua ketentuan yang Allah berikan, baik itu berupa nikmat maupun ujian. Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Dien dalam bab al-Qaul fi Ma’na al-Ridho bi Qadhai Allah wa Haqiqatih wa Ma Warada fi Fadhilatih (tt: IV: 333-345), menjelaskan bahwa Ridho adalah buah dari cinta, Ia merupakan maqam tertinggi yang dapat mendekatkan diri pada Allah. Ridho merupakan sababu dawami raf’i al-hijab atau sebab yang dapat melanggengkan untuk menghilangkan hijab (penghalang) dalam mendekatkan diri pada Allah SWT.

Walaupun demikian, sebenarnya ridho tidak dapat digambarkan, adapun jika ridho timbul sebagai akibat dari cinta, mahabbah, bila gambaran mahabbah dan mabuk cinta, maka tidak dapat disamarkan bahwa cinta menyebabkan ridho terhadap tingkah dan perbuatan orang yang dicintainya, mahbubih, bahkan sampai-sampai panca indera tidak dapat merasakan sakit atas luka yang mengenai tubuhnya, sebab jika hati (al- kalb ) telah tenggelam dimabukkan oleh sesuatu yang mengasikkan, ia tidak dapat merasakan apapun selain hal tersebut. (al-Ghazali: IV: 337).

Dari ilustrasi diatas, kemudian bisa menimbulkan rasa “cuek” terhadap apa yang diperbuat oleh Sang Kekasih, apakah itu baik atau buruk, maka akan diterima dengan lapang dada dan ridho, sebagai mana ucapan Umar r.a :

“Aku tidak akan perduli, saya akan jadi kaya atau miskin, karena saya tidak mengetahui mana yang terbaik dari keduanya” (al – Ghazali: IV: tt: 343).

Berbagai terpaan cobaan dan ujian yang diberikan oleh Tuhan, haruslah senantiasa diterima dengan penuh kerelaan dan lapang dada, karena bukankah tidak ada seorang mukminpun yang mampu merasakan manisnya iman kecuali dia memperoleh timpahan bencana, kemudian ia ridho dan bersabar, sabda Nabi : “barang siapa yang sakit semalam, serta sabar dan ridho kepada Allah Ta’ala, maka dosa-dosanya bersih, laksana baru dilahirkan ibunya” (Al-Ghazali: tt: 21).

Menerima Ketentuan Allah dengan Lapang Dada

Seorang salik yang sudah bisa menata hatinya dengan ridho, maka ia tidak menentang cobaan dari Tuhan, tetapi bahkan menerimanya dengan senang hati. Ia tidak minta masuk surga dan tidak pula minta dijauhkan dari neraka. Di dalam hatinya tidak ada benci, yang ada hanyalah perasaan senang. Ketika mala petaka turun, hatinya merasa senang dan di dalamnya bergelora rasa cinta pada Tuhan. Di sini ia telah dekat dengan Tuhan dan ia pun akhirnya sampai ke ambang pintu melihat Tuhan dengan mata hatinya, untuk selanjutnya ia akan bersatu dengan Tuhan. (Amin Syukur : 1999: 52).

Bahkan Abu Sulaiman al-Darani mengatakan: “Seandainya semua makhluk dimasukkan ke dalam Surga, dan aku dijerumuskan ke Neraka, maka aku akan ridho terhadap hal itu”. (Al-Ghazali: tt: IV; 339).

Sikap menerima segala ketentuan Allah dengan perasaan senang, dan ridho ini akan membuahkan ridho Allah, dalam sebuah hadits disebutkan:

“Barang siapa yang ridha atas rizqi sedikit yang diberikan oleh Allah, maka Allah juga Ridha atas amal sedikitnya”.

Walaupun hadits ini dinilai dhaif, (al-Ghazali: IV: tt: 334), namun hal ini bisa menjadi motivasi bersama bahwa persoalan ridho atas ketentuan Allah adalah persoalan yang sangat utama. Ridho Allah adalah dambaan setiap muslim yang menyadari bahwa itulah harta termahal yang pantas diperebutkan oleh manusia. Tanpa ridho Allah, hidup kita akan hampa, kering, tidak dapat merasakan nikmat atas segala apa yang telah ada di genggaman kita, bermacam masalah silih berganti menyertai hidup kita. Harta berlimpah, makanan berlebih namun ketika tidak ada ridho-Nya, semua menjadi hambar. Tidak tahu kemana tujuan hidup, merasa bosan dengan keadaan, seolah hari berlalu begitu saja,begitu cepat namun tanpa disertai dengan perubahan kebaikan hari demi hari.

Apa sebenarnya ridho Allah?, Mari simak ayat Al-Quran yang membahas hal ini:

“Maka berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalananan. Itulah yang lebih baik bagi orang yang mencari keridhaan Allah. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ar-Rum : 38).

Dalam Ayat diatas, ridho Allah ternyata di-lafald-kan dengan wajha Allah. Sering kita dengar perumpamaan ‘ih orang itu cari muka

[wajah]

‘  maksudnya cari perhatian. Demikian pula jika kita mencari “wajah Allah” atau perhatian Allah atau yang lebih populer ridho-Nya, maka ada beberapa hal yang mesti kita lakukan, yaitu: memberikan hak kerabat dekat, hak orang miskin, hak orang yang sedang dalam perjalanan.

Memberikan hak orang yang dimaksud Allah bukan hanya bisa dilakukan oleh orang yang kelebihan harta namun bisa dilakukan oleh orang yang sadar dan ikhlas bahwa letak ketentraman hidup itu ada pada restu, ridho dan rahmat Allah. Boleh jadi rezeki yang Allah berikan pada kita hanya pas untuk makan sehari hari dan biaya hidup keluarga, namun ketika Allah telah berkenan memberi ridho-Nya, rezeki yang pas itu menjadi berkah, sehingga hari hari yang dilalui dalam hidup penuh dengan rasa syukur.

Orang yang mengenal (ma`rifat) kepada Tuhan, akan merasa ridho atas apapun yang dianugerahkan Tuhan kepadanya, selanjutnya iapun faham apa yang disukai dan yang tidak disukai oleh Nya. Jika orang merasa hidupnya diridhoi Tuhan maka ia pun merasa dirinya bermakna, dan dengan merasa bermakna itu, ia merasa sangat berbahagia. Sebaliknya jika seseorang merasa hidupnya tak diridhoi Tuhan, maka ia merasa semua yang dikerjakanya tidak berguna, dan bahkan iapun merasa dirinya tak berguna.

Orang yang merasa kehadirannya berguna bagi orang lain maka ia akan memiliki semangat hidup, semangat bekerja, semangat berjuang, yang berat terasa ringan, pengorbanannya terasa indah. Sedangkan orang yang merasa dirinya tak berguna maka ia tidak memiliki semangat hidup, tidak memiliki semangat bekerja, merasa sepi di tengah keramaian dan lebih sepi lagi dalam kesendirian.

Banyak hadits yang memerintahkan kita untuk selalu ridho atas semua pemberian Tuhan, daantaranya sebagaimana yang ditulis al-Ghazali, adalah sebagi berikut:

“Hai golongan orang fakir, berikanlah ridho (terhadap ketetapan) Allah dari lubuk hatimu, maka kamu akan beruntung dengan sebab pahala kefakiranmu, jika tidak, maka tidak dapat pahala”. (al-Ghazali: IV: tt: 337).

Bahkan, seseorang yang tidak mau ridho atas ketetapan Tuhan, disuruh untuk mencari tuhan selain Allah:

“Aku adalah Allah, Tidak ada Tuhan selain Aku, siapa yang tidak sabar terhadap cobaan-Ku, tidak bersyukur terhadap nikmat-Ku, dan tidak ridho terhadap keputusan-Ku, maka buatlah tuhan selain Aku”. (al-Ghazali: IV: tt: 337).

Dalam redaksi yang dikutip oleh Abdullah al-Husaini, berbunyi:

“Barang siapa yang tidak ridho terhadap keputusan-Ku, dan tidak sabar atas cobaan-Ku, hendaklah ia melangkah mencari tuhan selain-Ku. (Abdullah al-Husaini: tt: 37).

Bercermin pada Hati Nurani untuk mencapai Ridha

Semangat mencari ridho Tuhan sudah barang tentu hanya dimiliki oleh orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang tidak mengenal Tuhan, tidak mengenal agama, maka boleh jadi pandangan hidupnya sesat dan perilakunya juga sesat, tetapi mungkin juga pandangan hidupnya mendekati pandangan hidup orang beragama minus Tuhan, karena toh setiap manusia memiliki akal yang besa berfikir logis dan hati yang di dalamnya ada nilai kebaikan.

Metode mengetahui ridho Tuhan juga diajarkan oleh Nabi dengan cara bertanya kepada hati sendiri,  istafti qalbaka. Al-Ghazali bahkan memandang bahwa hakikat manusia adalah hati (qalb) (Dr. Simuh: 996: 87), Ia menggambarkan hati manusia sebagai “cermin”, sebagaimana dalam ungkapannya:  “itulah hati, apabila manusia mengenal hatinya, maka sungguh ia akan mengenal diri pribadinya. Dan apabila ia mengenal diri pribadinya, maka sungguh ia akan mengenal Tuhannya. Sebaliknya, jika manusia jahil terhadap hatinya, maka sungguh ia jahil terhadap dirinya, dan apabila ia jahil terhadap dirinya, maka sungguh ia jahil terhadap Tuhannya. Dan barang siapa jahil terhadap hatinya, maka terhadap lainnya jauh lebih jahil lagi” (al-Ghazali : III : tt : 2).

Ungkapan diatas, menunjukkan betapa pentingnya hati, kalbu manusia, karena orang bisa berdusta kepada orang lain, tetapi tidak kepada hati sendiri . Hanya saja kualitas hati orang berbeda-beda. Hati yang sedang gelap, hati yang kosong, hati yang mati tidak bisa ditanya. Hati juga sering tidak konsisten, oleh karena itu pertanyaan yang pali ng tepat adalah kepada hati nurani, atau ke lubuk hati yang terdalam. Nurani berasal dari kata nur, nuraniyyun yang artinya cahaya, yakni “cahaya ketuhanan” yang ditempatkan Tuhan di dalam hati manusia, nurun yaqdzifuh Allah fi al- qalb. Jika hati sering tidak konsisten, maka hati nurani selalu konsisten terhadap kejujuran dan kebenaran. Orang yang nuraninya hidup maka ia selalu menyambung dengan ridho Tuhan. Problem hati nurani adalah cahaya nurani sering tertutup oleh keserakahan, egoisme dan kemaksiatan.

Persoalan dan problematika hidup manusia memang mengalami pasang surut, susah – senang, sedih – bahagia, dll merupakan sunnatullah yang memang harus dihadapi dengan lapang dada. Karena sudah menjadi hal yang lumrah bahwa semua yang terjadi pasti terkandung hikmah, adapun hikmah dibalik sikap ridho atas semua ketentuan Allah itu adalah:

a. Membersihkan dan memilih mana orang mukmin sejati dan orang munafiq;

b. Mengangkat derajad dan menghapus dosa;

c. Mengungkapkan hakikat manusia itu sendiri, sehingga Nampak jelas kesabarannya dan ketaatannya;

d. Membentuk dan menempa kepribadiannya menjadi pribadi yang benar-benar tahan menderita dan tahan uji;

e. Latihan dan pembiasaan dalam berprinsip. (Hajjudin Alwi: 200: 43).

Untuk mencari ridho Allah, para kaum sufi senantiasa mewirid-kan do’a yang berbunyi:

“Oh Tuhanku, Engkaulah Tujuanku dan ridha-Mulah yang kucari. Anugerahilah aku akan cinta kasih-Mu dan ma’rifat-Mu” (Kharisudin Aib: 999: 96)

Kisah Wafatnya Al Qomah r.a. (Ridho Seorang Ibu) :

Dikisahkan, pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ada seorang pemuda bernama ‘Alqamah. Ia seorang yang menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala, mengerjakan sholat, shiam, dan bersedekah. Suatu hari ia sakit dan semakin hari semakin parah. Istrinya pun menyuruh seseorang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menyampaikan, “Suamiku, Alqamah sedang sekarat. Dengan ini aku bermaksud mengabarkan keadaannya kepadamu, wahai Rasulullah.”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengutus ‘Ammar, Shuhaib dan Bilal. Beliau bersabda, ”Berangkatlah kalian, dan talqinkanlah ia dengan kalimat syahadat.” Mereka bertiga berangkat dan memasuki rumahnya. Mereka mendapati ‘Alqamah sedang sekarat sehingga dengan segera mereka mentalqinnya dengan ucapan ‘Laa ilaaha illalLah’. Namun lidah ‘Alqamah kelu, tak mampu mengucapkan kalimat syahadat. Sahabat bertiga menyuruh seseorang menemui Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa ‘Alqamah tidak mampu mengucapkan kalimat syahadat.

Nabi bertanya, “Adakah salah seorang ibu-bapaknya yang masih hidup?” seseorang menjawab, “Wahai Rasulullah seseorang ibu yang sudah sangat renta.” Maka beliaupun mengutus seseorang dan berpesan, “Katakan kepadanya jika ia kuat berjalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memanggilnya. Namun jika tidak hendaknya ia tetap tinggal dirumah, Rasulullah akan menemuinya.” Utusan itu sampai kepadanya dan menyampaikan pesan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Wanita itu berucap, “Jiwaku siap menjadi tebusan jiwanya. Aku lebih pantas mendatangi beliau.” Maka wanita itupun berdiri dengan bertelekan tongkat dan berjalan menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia berucap salam dan beliaupun menjawabnya. Lalu Rasulullah Shalallahu ’Alaihi wa Sallam bertanya, “Wahai Ummu ‘Alqamah, jujurlah kepadaku. Kalaupun kamu berdusta akan turun wahyu dari Allah Ta’ala. Bagaimana keadaan anakmu ‘Alqamah?” Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, ia rajin menunaikan shalat, shiyam dan banyak bersedekah.” Rasulullah bertanya lagi. ”Lalu bagaimana dengan dirimu?”. Wanita itu menjawab,”Wahai Rasulullah aku murka dengannya.”. “Mengapa?” tanya beliau.

“Karena ia lebih mengutamakan istrinya dari pada diriku dan ia tidak mau taat kepadaku.”, jawab Ummu ‘Alqamah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya murka Ummu ‘Alqamah menghalangi lisannya untuk mengucapkan syahadat.” Beliau melanjutkan, “Bilal, pergi dan bawakan untukku kayu bakar yang banyak.”. Wanita itu bertanya, “Apa yang akan Anda lakukan, Wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab “Aku hendak membakarnya dihadapanmu” Wanita itu menimpali, “Wahai Rasulullah, ia adalah anaku. Hatiku tidak akan kuat menyaksikannya dibakar dihadapanku.” . “Wahai Ummu ‘Alqamah, adzab Allah lebih dahsyat lagi kekal. Jika kamu senang terhadap ampunan Allah baginya, ridhailah dia.

Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, shalat, shiyam, dan sedekahnya tidak mendatangkan manfaat baginya selama kamu murka.”, sabda nabi. Mendengarnya wanita itu berkata, “Wahai Rasulullah, aku bersaksi di hadapan Allah, para malaikat, dan siapa saja yang hadir disini dari kaum muslimin bahwa aku telah ridha kepada anakku,’Alqamah.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Bilal, berangkat dan lihatlah apakah ‘Alqamah sudah dapat mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’ atau belum. Bisa saja Ummu ‘Alqamah tadi mengatakan yang bukan dari lubuk hatinya karena malu kepadaku” Bilal beramgkat dan melihat kondisi ‘Alqamah. Ia berkata,”Wahai sekalian orang, murka Ummu ‘Alqamah menghalangi lidahnya dari syahadat, dan ridhanya telah melepaskan kekeluan lidahnya.”

Pada hari itu juga ‘Alqamah meninggal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hadir, memerintahkan untuk memandikan dan mengkafaninya. Lalu beliau menshalatkan dan menghadiri prosesi penguburannya. Beliau berdiri di ujung kuburnya bersabda, “Wahai sekalian Muhajirin dan Anshar, barangsiapa mengedepankan istrinya dari pada ibunya niscaya akan mendapatkan laknat dari Allah, para malaikat, dan manusia semuanya. Allah tidak akan menerima infaqnya juga sikap adilnya sehingga ia bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berbuat baik kepada-Nya serta memohonkan keridoan-Nya. Keridloan Allah terletak pada keridloannya, kemurkaan Allah terletak pada kemurkaannya.”

Kita memohon kepada Allah semoga membimbing kita untuk menggapai keridlaan-Nya dan menjauhkan kita dari sikap durhaka kepada orang tua. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah, Maha Mulia, Maha Penyayang, lagi Maha Pengasih.

Kesimpulan

1. Ridho adalah kata sifat yang mudah diucapkan, namun juga kata kerja yang sulit dilakukan. Ridho terhadap ketentuan Allah swt secara mutlak berarti tidak menunjukkan keengganan ataupun penentangan terhadap takdir-Nya, manis atau pahit.

2. Dalam makna yang lain, Ridho dimutlakkan sebagai sikap senang dan bahagia bagaimanapun keadaan hidup yang dialami

3. Ridho atas ketentuan Allah berarti ikhlas dan nrimo atas semua ketentuan yang Allah berikan, baik itu berupa nikmat maupun ujian.

4. Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Dien menjelaskan bahwa Ridho adalah buah dari cinta, Ia merupakan maqam tertinggi yang dapat mendekatkan diri pada Allah. Ridho merupakan sababu dawami raf’i al-hijab atau sebab yang dapat melanggengkan untuk menghilangkan hijab (penghalang) dalam mendekatkan diri pada Allah SWT

5. Metode mengetahui ridho Tuhan diajarkan oleh Nabi dengan cara bertanya kepada hati sendiri,  istafti qalbaka.

KEISTIMEWAAN DAN KEDUDUKAN ORANG YANG MAU BERDZIKIR

Keutamaan dan Kedudukan Orang Yang Berdzikir

Al Hafiz Ibnu Qayyim, seorang ulama hadist yang terkenal, menulis sebuah risalah “Alwabilush” yang berisi berbagai penjelasan mengenai keuntungan dzikir. Dalam risalah itu beliau berkata “Dzikir mempunyai lebih dari 100 faedah”, dan 79 diantaranya beliau tuliskan dalam risalah itu.

Berikut ini 66 di antara fadhilah tersebut:

1. Dzikir melahirkan cinta sejati kepada Allah SWT karena cinta merupakan ruh Islam, jiwa agama, dan sumber kejayaan dan kebahagiaan. Barangsiapa ingin mendapatkan cinta Ilahi, maka hendaklah ia berdzikir sebanyak-banyaknya, sebagaimana belajar dan mengulangi ilmu merupan pintu ilmu, demikian pula Dzikirullah merupakan pintu cinta Ilahi.

2. Dzikir mendatangkan hakekat muraqabah dan muraqabah itu membawa seseorang kepada martabat ihsan. Dengan martabat ihsan seorang manusia dapat beribadah kepada Allah seolah-olah ia melihat Allah (inilah derajat terkhir para ahli sufi).

3. Dzikir membawa seseorang untuk menyerahkan diri sebulat-bulatnya kepada Allah. Dengan demikian lama kelamaan setiap urusan dan setiap keadaan akan dikembalikan kepada Allah dan Allah menjadi pelindung dan penolongnya.

4. Dzikir membawa seseorang kepada taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Jika Dzikir bertambah banyak, maka dengan sendirinya ia bertambah dekat kepada Allah SWT Sebaliknya, jika ia bertambah lalai maka ia bertamah jauh dari Allah.

5. Dzikir membukakan pintu ma’rifat kepada Allah SWT.

6. Dzikir melahirkan keagungan dan kehebatan Allah SWT didalam hati seseorang dan melahirkan semangat untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

7. Dzikir menjauhkan setan dan meghancurkan kekuatannya.

8. Dzikir mendatangkan keridhaan Allah.

9. Dzikir menjauhkan duka cita dari hati manusia.

I0. Dzikir dapat mengembirakan hati.

11. Dzikir menguatkan badan dan meperindah sanubari.

12. Dzikir adalah cahaya hati dan wajah.

13. Dzikir adalah penarik rizki.

14. Orang yang berdzikir akan dipakaikan kepadanya pakaian kegagahan dan kemegahan, sehingga orang yang yang melihatnya akan merasa gentar dan damai.

15. Dzikir menyebabkan seseorang diingat oleh Allah SWT seperti diisebutkan dalam alQuran: “Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu….. (QS. al-Baqarah ayat 152).Dan diterangkan pula didalam hadist “Barang siapa menginggat aku dalam hatinya, maka Aku menginggatnya dalalm hati-Ku”.

16. Dzikir menghidupkan hati. Hafizh Ibnu Taimiyah rah.a mengatakan bahwa pengaruh Dzikirullah untuk menghidupan hati adalah seperti pengaruh air terhadap kehidupan ikan.

17. Dzikir adalah santapan hati dan ruh. Apabila keduanya tida kmendapatkan santapan, maka bagaikan badan tidak mendapatkan makanan.

18. Dzikir membersihkan hati dari karat seperti disebutkan dalam hadist, bahwa sesuatu akan berkarat dan kotor. Sedangkan karat hati adalah kelalaian dan nafsu yanga tidak dapat dibersihkan kecuali dengan dzikir.

19. Dzikir dapat menghapuskan dosa dan maksiat.

20. Dzikir menghapuskan keraguan seseorang terhadapa Allah SWT Sebenarnya hati orang orang lalai itu diselubungi oleh keraguan dan kegelisahan terhadap Allah.

21. Apabila seorang hamba berdzikir, maka empat penjuru Arasy Ilahi akan berdzikir kepadanya.

22. Barangsiapa ingat kepada Allah ketika senang, maka Allah akan menginggatnya ketika ia dalam kesusahan.

23. Dzikir melepaskan orang yang melakukannya dari adzab Allah SWT.

24. Dzikir menyebabkan turunnya sakinah dan para malaikat, mengelilinginya.

25. Majelis Dzikir adalah majelis para malaikat, sebaliknya majelis lalai majelis setan. Kini terserah masing-masing, majelis manakah yang disukai.

26. Majelis dzikir adalah majelis para malaikat, sebaliknya majelis lalai adalah majelis setan.ini terserah masing-masing majelis manakah yang disukai dan yang akan disertainya.

27. Dzikir menyebabkan orang yang melakukannya dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang berbahagia dan demikian pula orang-orang yang mendampinginya. Sebaliknya orang yang melalaikan zikir akan dicampakkan kedalam kecelakaan.

28 Orang yang suka berzikir akan dipelihara dari bencana dan penyesalan pada hari Kiamat. Seperti disebutkan dalam sebuah hadits bahwa setiap mejelis yang tidak diisi dengan zikrullah akan mendatangkan kerugian dan penyesalan pada hari kiamat.

29. Jika seseorang berzikir sambil menangis dalam keadan bersunyi diri, maka pada hari kiamat ia akan ditempatkan di bawah naungan Arasy Ilahi di mana pada hari itu manusia menjerit-jerit dan berteriak karena kepanasan yang sangat menyiksa.

30. Orang yang menyibukkan dirinya dengan berzikir, maka Allah akan mengaruniakan kepadanya lebih daripada orang yang memohon kepada-Nya. Dalam sebuah hadits disebutkan, Allah SWT berfirman, ” Barangsiapa yang sibuk berzikir kepada-Ku sehingga tidak ada kesempatan berdoa kepada-Ku, maka Aku mengaruniakan kepadanya sesuatu yang lebih baik daripada yang Aku berikan kepada orang-orang yang berdoa kepada-Ku.”

31. Sungguhpun zikir merupakan ibadah yang ringan dan mudah, namun memiliki fadhilah dan keutamaan yang lebih besar daripada seluruh ibadah karena menggerakkan lidah itu lebih mudah daripada menggerakkan badan.

32. Dzikir merupakan benih di dalam surga.

33. Nikmat yang dianugerahi Allah kepada oarang yang berzikir tidak diberikan melalui amalan-amalan lain.

34. Seseorang yang selalu berdzikir secara istiqamah akan diselamatkan dari lupa diri yang menyebabkan kecelakaan dunia dan akhirat. karena melupakan diri sendiri berarti melupakan Allah dn bagi yang melupakan Allah akan dicampakkan dalam kerugian.

Seseorang akan merasakan keamanan dan ketenangan apabila ia membasahi lidahnya dengan berzikir sehingga ia mencintai zikir sebagaimana orang yang sedang kehausan merindukan air, atau ia mencintai makanan ketika sedang lapar.Bahkan zikrullah lebih penting lagi karena tanpa zikir, maka ruh dan hati akan binasa.

35. Dengan dzikir seseorang akan mencapai kemajuan dan kejayaan secara berkesinambungan, bahkan ketika ia sedang beristirahat atau berada di pasar, ketika ia sibuk menikmati kehidupan di dunia dalam keadaan sehat dan sakit.

36. Nur dzikir senantiasa bersama oang yang berzikir baik di dunia maupun di alam kubur dan memimpin di titian shirath. Pendek kata ia tak berpisah dimanapun. Diperingati oleh Allah dalam alQuran :

“Dan apakah orang yang mati, kemudian kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang dengan cahaya itu ia berjalan di tengah-tengah manusia, akan sama halnya dengan orang yang berada dalam gelap gulita dan tidak mungkin keluar darinya (QS. al-An’am ayat 122)….

Orang yang pertama ialah yang beriman kepada Allah yang hatinya bersinar cemerlang dengan cinta dan zikirnya. sedangkan yang kedua ialah orang kosong dari sifat-sifat tersebut. Nur adalah rahmat yang sangat agung, ia membawa kepada kemenangan.. Maka dengan mengikuti nur itu amal perbuatan seseorang akan bercahaya terang benderang, sehingga amal baiknya dibawa ke langit dan didapati padanya cahaya seperti cahaya matahari dan nur seperti itu akan terlihat pada wajahnya pada hari Kiamat.

37. Dzikir adalah intisari ilmu tasawuf, yang diamalkan oleh setiap ahli thariqat. Jika telah terbuka pintu zikir bagi seseorang berarti telah terbuka baginya jalan menuju Allah. Barangsiapa menuju kepada Allah niscaya ia akan mendapatkan segala yang dikehendakinya.karena tidak berkurang apapun pada khazanah Allah.

38. Pada hati manusia ada satu bagian yang tidak subur kecuali dengan zikrullah. Apabila zikir telah menguasai hati, bukan hanya ia akan menyuburkan hatinya aja melainkan juga memberikan kehidupan yang makmur walaupun tidak berharta, memuliakannya walaupun ia tidak mempunyai pangkat, dan menjadikannya penguasa walaupun ia tidak mempunyai kerajaan. Sebaliknya bagi orang yang lalai terhadap zikir, akan dihinakan walaupun ia memiliki harta benda, keluarga ataupun kerajaan.

39. Dzikir mempersatukan yang telah terpisah dan memisahkan yang telah bersatu, mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Yaitu hati manusia yang diselubungi oleh berbagai keraguan, dukacita, dan kegelisahan akan dijauhkan dan diganti dengan ketentraman dan ketenangan jiwa. Zikir membersih hati yang dikuasai pleh perbuatan-perbuatan keji. Zikir memisahkan manusia dari godaan bala tentara setan. akhirat yang jauh akan didekatkan, sedangkan dunia yang dekat akan diajuhkan.

40. Dzikir menggerakkan hati manusia yang tidur dan menyadarkannya dari kelalaian. Selama hati dan jiwa manusia sedang tidur, maka selama itu ia mengalami kerugian demi kerugian.

41. Dzikir adalah sebuah pohon yang buahnya adalah marifat. Menurut istilah para ulama tasawuf, pohon itu menghasilkan bauah ahwal dan maqamat. Semakin banyak zikir semakin kukuh akar pohon itu, semakin kukuh akarnya semakin banyak buah yang dihasilkannya.

42. Dzikir mendekatkan kepada Zat Yang Maha Suci. Sehingga ia selalu disertai-Nya, sebagaimana disebutkan dalam al Quran, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang takwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. an-Nahl ayat 128).

Diterangkan dalam sebauh hadits qudsiy, “Aku bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku.” Dalam sebuah hadits qudsi lainnya disebutkan bahwa Allha berfirman, “Orang yang mengingat Aku adalah orang-Ku, Aku tidak menjauhkannya dari rahmat-Ku. jika mereka bertaubat dari dosa-dosa mereka, maka aku menjadi kekasih bagi mereka tetapi sebaliknya jia mereka tidak bertaubat maka Aku menjadi juru rawat bagi mereka, lalu Aku mencampakkan mereka kedalam kancah penderitaan supaya Aku membersihkan mereka dari dosa-dosa.”

Penyertaan Allah yang dapat dicapai dengan terus-menerus berzikir adalah penyertaan yang tidak ada bandingannya. hakekatnya tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, karena kenikmatan dalam arti yang sesungguhnya hanya dapat dirasakan oleh orang yang telah mencapainya.

43. Pahala dzikir sebanding dengan memerdekakan hamba sahaya, sebanding dengan membelanjakan harta, dan sebanding dengan berjuang di jalan Allah.

44. Yang paling mulia diantara orang-orang yang bertakwa di sisi Allah ialah yang selalu sibuk dengan berzikir karena hasil takwa adalah surg dn hasil zikir adalah peyertaan Allah SWT.

45. Pada hati manusia ada semacam kekerasan yang tidak dapat berubah menjadi lembut kecuali dengan berzikir.

46. Dzikir adalah obat bagi penyakit hati.

47. Dzikir adalah sumber persahabatan dengan Allah, sebaliknya lalai adalah sumber permusuhan dengan Allah.

48.Tidak ada yang menambah nikmat Allah dan menyelamatkan dari adzab-Nya kecuali zikrullah.

49. Allah akan menurukan rahmat-Nya kepada orang-orang yang berzikir dan para malaikat mendoakan mereka.

50. Allah swt membanggakan orang-orang yang berzikir di hadapan para malaikat.

52. orang yang selalu berzikir, ia akan memasuki surga sambil tersenyum.

53. Segala amal telah ditetapkan semata-mata untuk zikrullah.

54. Amalan paling afdhal adalah amal yang disertai dengan zikir sebanyak-banyaknya. Puasa yang afdhal adalah puasa yang disertai dengan zikir sebanyak-banyaknya.

55.Dzikir merupakan pendorong bagi ibadah-ibadah yang lain. Dengan memperbanyak zikir, ibadah-ibadah menjadi mudah dan dilakukan dengan senang hati. Dengan zikir akan terasa kenikmatan ibadah, sehingga segala keberatan an kesukarannya tidak akan terasa.

56. Dengan dzikir kesukaran akan diubah menjadi kesenangan. Setiap beban menjadi ringan dan semua bencana akan dilenyapkan.

57. Dengan dzikir semua ketakutan dan kebimbangan akan dihindarkan. Zikrullah mempunyai kekuatan untuk melahirkan ketentraman dan menghilangkan ketakutan. Zikir memberikan kesan yang sangat dalam, semakin banyak berzikir akan semakin terasa ketentraman dan hilang segala ketakutan.

58. Di akhirat nanti, setiap amalan akan saling berlomba satu sama lain, dan dalam perlombaan itu nampak di paling depan adalah orang-orang ahli berzikir. “Apabila amal perbuatan manusia diganjar pada hari kiamat maka sebagian besar manusia akan menyesal sambil berkata “Alangkah baiknya jika dahulu aku memperbanyak amal yang paling ringan yaitu zikir”.

59. Orang-orang ahli zikir telah membenarkan Allah swt, sedangkan orang yang membenarkan Allah tidak akan dibangkitkan bersama-sam dengan orang yang mendustakan-Nya. Apabila seorang hamba mengucapkan Laa ilaaha illallaah, Allaahu Akbar, maka Allah Ta’ala berfirman, “Benarlah ucapan hamba-Ku, tiada Tuhan melainkan Aku dan Aku Maha Besar.”

60. Dzikir adalah perisai dari neraka jahanam. Jika seseorang dimasukkan ke dalam neraka karena amal buruknya, maka zikir akan menjai perisai untuk melindungi dirinya. semakin banyak zikir ilakukan semakin kuatlah perisai itu.

61. Jika seseorang berzikir diatas sebuah gunung ataupun di tanah datar, maka tempat itu akan merasa amat bangga. Di dalam sebuah hadits isebutkan, “Gunung saling bertanya satu sama lain, “Adakah paa hari ini orang yang berzikir yang berlalu di atasmu?” Jika diberitahukan, “Ya, ada.” Maka ia merasa sangat bangga dan sangat gembira.

62. Dengan memperbanyak dzikir seseorang dapat terlepas dari sifat munafik. Dalam menerangkan orang yang munafik, Allah SWT berfirman : “Mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” (QS. an-Nisa : 142) . Ka’ab Akhbar RA berkata, “Barangsiapa berzikir sebanyak-banyaknya, maka ia terpelihara dari kemunafikan.”

63. Jika dzikir dibandingkan dengan amal-amal yang lain, maka zikir mengandung kenikmatan yang tidak didapati pada amal-amal lainnya. Seandainya zikir tidak memiliki fadhilah sekalipun, maka kenikmatan berzikir saja sudah sangan mencukupi. Malik bin Dinar berkata, “Tidak aa kenikmatan yang dirasakan seseorang melebihi kenikmatan berzikir.”

64. Wajah orang yang selalu berdzikir akan nampak penuh kegembiraan di dunia dan di akherat cahaya wajahnya akan terlihat.

65. Selama lidah sibuk dengan zikir, selama itu lidah terpelihara dari perkataan yang sia-sia, dusta, mengumpat dsb. Karena lidah tidak bisa diam. Maka jika tidak digunakan untuk zikir akan digunakan untuk pembicaraan sia-sia. Demikan pula hati, jika tidak sibuk dengan mencintai sang Khaliq, maka ia akan sibuk mencintai makhluk.

66. Setan adalah musuh utama manusia, ia akan berusaha menggoda manusia agar berada dalam kegelisahan dan kegundahan dengan berbagai cara dan dari segenap penjuru. Apabila musuh manusia yakni setan selalu mengelilingi dan berlomba ingin membinasakannya, maka tidak ada cara lain untuk menghindarinya kecuali zikrullah.

Cukuplah apa yang telah diterangkan di atas. Bagi mereka yang mendapatkan Taufik-Nya, tentu mereka dapat mengamalkannya, tetapi bagi mereka yang tidak mendapat taufik-Nya, beribu-ribu fadhilah pun tidak akan memberikan faedah sama sekali…”….Dan tidaklah ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Kepada Allah aku bertawakal dan kepada-Nya aku kembali (QS. Hud :88).

Rasulullah pun telah bersabda, “Jika ada seseorang yang memiliki uang ditempatnya, ia membagikannya (dijalan Allah), dan seorang lagi sibuk dengan berdzikir kepada Allah, maka orang yang berdzikir kepada Allah itu lebih utama.” (HR. Thabrani)

HATI-HATI “BERHENTI MENDO’AKAN ORANG TUA PENYEBAB BERHENTINYA REZEKI”

Pembaca yang mulia akhlaknya, ada nasihat begitu dalam yang ALLAH sampaikan melalui ciptaan-NYA yang satu ini. Di saat banyak orang kalang kabut, bekerja keras kesana kemari yang konon katanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, malah dia santai banget berdiam diri di sarangnya. ?

REJEKI ITU SUDAH DIJAMIN

Barangkali itulah yang ada di benak laba-laba itu, hingga doi begitu enjoy menjalani hidupnya. Hal ini memang sudah dipastikan oleh Nabi Muhammad sejak 1400 tahun silam. ALLAH subhanahu wa ta’la berfirman,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ [هود: 6]

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan ALLAH-lah yang menjamin rejekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semua itu tertulis dalam ketentuan yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS.Hud:6)

Lihat tuh, begitu dahsyatnya jaminan rejeki dari ALLAH sehingga dia cukup berdiam diri di sarangnya, dan jika waktu makan tiba ALLAH akan menngerakkan binatang-binatang kecil nyangkut di sarangnya. ?

Nah kalau binatang yang nggak pernah sekolah saja sudah dijamin rejekinya, masa si manusia yang diberi berbagai kesempurnaan tidak dicukupi?

MERENUNG LEBIH DALAM

Sejatinya ALLAH memberikan begitu banyak pelajaran kepada kita tentang keyakinan rejeki, baik yang tersurat ataupun tersirat.

Contoh sederhana, dahulu sebelum kita benar-benar lahir di dunia ini kita itu hanya setetes air mani menjijikkan yang kemudian masuk ke dalam rahim ibu kita. Hampir sembilan bulan kita hidup di ruangan sempit nan pengap itu. Faktanya kita bisa tetap hidup bukan? Siapakah yang menjaga, memastikan pasokan asupan gizi ke dalam tubuh kita? Yups DIA-lah ALLAH subhaanahu wa ta’ala.

And than sampailah waktu kelahiran kita yang begitu dramastis, bagaimana tidak? Kita harus keluar dari ‘lubang’ yang begitu kecil! Faktanya ALHAMDULILLAH kita bisa keluar dengan selamat tanpa ada patah tulang ataupun cacat lainnya.

KEAJAIBAN ASI

Kita yang saat itu masih sangat mungil pasti membutuhkan rizki untuk bertahan hidup, dan ALLAH maha tahu bahwa organ dalam tubuh kita masih begitu rapuh. Jangankan makan gorengan atau ayam bakar, bahkan mencerna bubur pun kita tidak mampu! Maka ALLAH memberikan rejeki yang paling pas untuk kita, yups itulah ASI (Air Susu Ibu).

Pernah nggak terbesit dalam benak kita bahwa sebelum kita dilahirkan, ‘puting’ ibu kita sama sekali tidak mengeluarkan apapun, dan persis beberapa saat setelah kita lahir barulah ASI itu mengalir deras. Subhaanalloh.

Yang lebih menakjubkan lagi, ALLAH memilihkan posisi yang paling pas sebagai pintu keluar asi, persis di lokus dekapan sehingga ibu kita dan semua wanita bisa menyusui dengan nyaman, baik dengan duduk, berdiri ataupun tiduran.

Coba bayangkan jika ALLAH tidak memberikan asi kepada ibu kita, betapa repotnya orang tua kita harus memasak serta meracik susu setiap saatnya. Atau coba deh bayangin kalau misalnya asi itu keluarnya dari punggung? Aih pasti repot banget tuh. ?

ALLAH NGGAK PERNAH ISENG

Terlalu panjang jika kita harus membahas satu persatu keajabaian rizki yang ALLAH berikan kepada setiap makhluk-NYA. But, fakta di atas seharusnya meyakinkan kita bahwa ALLAH itu tidak pernah iseng dengan makhluk-NYA. Jika DIA sudah menghendaki adanya sebuah makhluk pasti udah sepaket dengan jalan rejekinya, catet tuh!. So nggak usah belagu dengan apa yang kita miliki, karena tanpa pertolongan dan karunia-NYA kita tuh nggak ada apa-apanya.

RIZQI ITU DARI ALLAH

Barangkali keyakinan itulah yang harus kita pegang erat setiap saatnya, agar kita tidak sombong dengan apa yang kita miliki, tidak mudah galau bin khawatir menatap banyaknya kebutuhan hidup serta tidak berputus asa ketika kita tengah terpuruk. Nah kalau kita sudah tahu bahwa ALLAH lah yang mencukupi rejeki kita, yuk kita fahami skenario ALLAH dalam menyampaikan rejeki kepada hamba-NYA.

KORELASI TAQWA DENGAN REJEKI

Jika mau jujur membuka lembar demi lembar ayat-ayat suci-NYA, tidak ada satupun perintah untuk bekerja mati-matian ataupun benting tulang agar kita mendapatkan kecukupan rejeki. Uniknya ALLAH justru memberikan jaminan itu kepada mereka yang bertakwa. Simak firman ALLAH berikut ini.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3)} [الطلاق: 2، 3]

Artinya: “(2). Barang siapa bertaqwa kepada Allah maka Allah menjadikan solusi (untuk masalahnya)(3). Dan Allah akan memberikan rezeqi baginya dari jalan yang tidak diduga-duga. Dan Barangsiapa bertawakal kepada ALLAH maka ALLAH akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah maha mampu untuk menyampaikan ketentuan Nya, dan Allah telah menjadikan ukuran di dalam segala sesuatu.”

Barangkali inilah yang perlu kita koreksi bersama, kita sering bekerja mati-matian mencari rejeki tapi kita lupa dengan Sang Pemberi rejeki itu sendiri. Maka begitu banyak energi dan waktu yang terkuras untuk pekerjaan kita akan tetapi kecukupan, ketenanangan dan kebahagian hidup tak kunjung kita dapatkan.

JAUHI MAKSIAT

Disadari atau tidak maksiat itu sangat berpengaruh terhdap keberkahan rejeki kita. Rasulullah pernah mengingatkan kita tentang ini,

لَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ، وَلَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ)

“Tidaklah menambah umur kecuali perbuatan baik, dan tidak bisa merubah takdir kecuali doa dan sesungguhnya seseorang dihalang-halangi rizqinya akibat dosa yang ia kerjakan”.(HR. Ibnu Majah).

Nah kah, makanya yuk bareng-bareng berusaha menjauhi maksiat sekuat tenaga.

REJEKI ITU NGGAK MASUK AKAL

Mungkin kamu bakal protes dengan pernyataan ini, tapi begitulah adanya. Mari kita bukitkan! Kamu tahu cicak? Cicak itu biasanya makan nyamuk untuk mempertahankan hidupnya.

Uniknya cicak itu tidak dikarunai sayap sebagaimana nyamuk yang bisa bebas terbang kemanapun ia mau. Jika kita menggunakan logika, cicak pasti akan begitu kesulitan menangkap makanannya. Nyata nya pernah nggak kalian menemukan cicak yang mati kelaparan? Nggak kan, pasti ada aja jalannya, pas cicak udah lapar eh ALLAH menggerakan nyamuk untuk mendekat sehingga cicak tinggal maju beberapa langkah, “hap lalu ditangkap!”.

TAQWA, USAHA DAN TAWAKKAL

Cicak dan laba-laba aja yakin dengan jaminan rejeki dari ALLAH sehingga mereka begitu enjoy menjalani kehidupan mereka, terus kenapa kita harus galau, khawatir dan panik dengan rejeki kita sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nya?

Yuk berjuang bersama, imbangi pekerjaan dan usaha kita dengan ketakwaan! Insya ALLAH kemudahan, keberkahan dan kebahagiaan hakiki akan menjadi milik kita.

BERHENTI MENDO’AKAN ORANG TUA

Suatu ketika ada seseorang yang sowan ke Amirul Mukminin, Sayyiidina Ali R.A, dan mengeluh: “Kenapa hari-hari ini, aku begitu sulit mengais rizki”

“jangan-jangan kau telah menulis dengan pena yg terikat?” Sergah Sayyidina Ali.

“Tidak,,, ” Jawab lelaki itu.

“Atau jangan-jangan kau telah menyisir rambutmu dengan sisir yg patah,,,?”

“Tidak juga,,,”

“Jangan-jangan kau telah berjalan di depan orang yg lebih tua umurnya,,,”

“Tidak,,,”

“Jangan-jangan kau telah tidur setelah fajar”

“Tidak,,,”

“Jangan-jangan kau telah meninggalkan doa kepada orang tua mu,,,”

“Benar wahai AmirulMukminin,,,”

Lalu Amirul Mukminin berkata, “Ingatlah mereka berdua.. Sebab aku mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda “meninggalkan doa kepada orang tua akan memutus rejeki”.

PENYEBAB BERMAKSIAT DAN NIKMATNYA KELUAR DARI MAKSIAT

Dalam sebuah hadistnya Rasulullah bersabda:

إن الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه

“Sesungguhnya seorang hamba akan terhalang untuk memperoleh rezeki karena sebuah dosa yang dia lakukan”

Sarana seseorang memperoleh rezeki sungguh sangat banyak, begitu pula jenis dosanya.

Seseorang terkadang berbuat dosa yang berhubungan dengan rezekinya, sebagai contoh adalah seseorang yang dalam jual belinya ia suka mengurangi timbangan, takaran atau berurusan dengan bank untuk mendapatkan modal usahanya sehingga hidupnya pun bergelut dengan riba dan masih banyak lagi sejenisnya..

Maka perbuatannya ini akan menghalanginya untuk memperoleh rezeki yang berkah dari jual belinya itu, keberkahan jual belinya akan sirna dan hartanya akan musnah karena bencana tertentu. Akhirnya ia akan jatuh miskin dan bangkrut. Fal’iyadzubillah..

Sedangkan seseorang yang berbuat dosa yang tidak berhubungan dengan pekerjaannya, seperti meninggalkan sholat, suka menggunjing, dan sejenisnya, maka keburukan dosanya tersebut akan mempengaruhi seluruh dirinya, baik umurnya maupun rezekinya.

Sebaliknya, apabila seseorang selalu taat terhadapa perintah Allah dan berbuat baik dalam semua pekerjaannya, maka semua usahanya akan menjadi berkah dan tumbuh maju.

SHALAT TAPI MAKSIAT

Salah satu fungsi ibadah shalat adalah mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar ( maksiat ). Allah SWT berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

 Sungguh, sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. (QS al Ankabut: 45)

Akan tetapi banyak orang yang mengerjakan shalat tapi tetap bermaksiat ? Padahal ada ancaman besar bagi mereka yang shalatnya demikian.

Nabi Muhammad SAW bersabda

” Siapa orang shalatnya tidak bisa mencegah dia dari perbuatan keji dan mungkar maka shalatnya tidak menambah apa pun kecuali jauhnya dari Allah SWT.”

Ini adalah ancaman bagi orang yang melaksanakan shalat tetapi tidak khusyu, maka bagaimana dengan ancaman bagi orang yang tidak shalat sama sekali?

Apakah sebab shalat kita tidak dapat mencegah dari kemunkaran?

Imam Ghozali ra mengatakan :

” Shalatnya orang yang lalai, tidak khusyuk, hatinya tidak hadir maka shalatnya tidak bisa mencegah dia dari perbuatan keji dan mungkar.”

Walhasil, shalat yang bisa mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar ( maksiat ) adalah shalatnya orang yang hati hadir, khusyuk, merenungi ayat-ayat al Qur’an yang dia baca di dalam shalatnya dan mengagungkan Dzat yang ia berdiri dihadapannya, yaitu Allah SWT.

PENYEBAB MELAKUKAN MAKSIAT

1- Mengkonsumsi yang haram

Apa yang masuk kedalam perut kita maka akan diproses menjadi energi bagi tubuh kita, apabila yang masuk kedalam perut kita bersumber dari yang halal maka energi yang dihasilkan untuk tubuh kita akan menjadi hal yang positif, sebaliknya apabila yang masuk kedalam perut kita bersumber dari yang haram maka energi yang dihasilkan untuk tubuh kita akan menjadi hal yang negatif

Nabi Muhammad saw bersabda : siapa orang yang memakan makanan yang halal maka mau tidak mau anggota tubuhnya akan taat kepada Allah swt, dan apabila memakan makanan yang haram maka mau tidak mau anggota tubuhnya akan bermaksiat kepada Allah swt.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من أكل الحلال اطاعت جوارحه شاء ام أبى و من أكل الحرام عصت جوارحه شاء ام أبى

2- Lupa dengan kematian

Sofyan as-sauri berkata : tidak akan menyiapkan bekal untuk kematiannya orang yang menyangka besok pagi dia masih hidup.

Macam-macam bentuk ketaatan itu munculnya dari mengingat mati, dan macam-macam kemaksiatan itu munculnya dari pada lupa dengan kematian.

ومان سفيان الثوري يقول : ما استعدّ للموت من ظن انه يعيش غدا. وكان يقول : الطاعات تتفرع من ذكر الموت، والمعاصي تتفرع من نسيانه

( Tanbihul-Mughtarriin. 65 )

NIKMATNYA KELUAR DARI MAKSIAT

Imam Ja’far bin Muhammad pernah berkata ” siapa orang yang Allah swt keluarkan dari hinanya maksiat, maka Allah swt akan cukupi dia tanpa harta, Allah swt muliakan dia walaupun tanpa pengikut, dan Allah swt akan senangkan dia tanpa perantara manusia maksudnya adalah Allah swt langsung yang menghibur dia walaupun dia hidup sebatang kara”.

( Tanbihul-Mughtarriin. Hal. 49 )