ISLAM ADALAH AGAMA KEPATUHAN

180_B.TIF

Fiqh secara khusus, dan syari’at islam secara umum adalah derivasi praktikal dari Alquran dan hadis. Kita sebagai pemeluk agama islam tidak serta merta mampu melepaskan kesinambungan itu secara mutlak. Sebab bagaimanapun juga, fiqh membutuhkan Alquran dan hadis sebagai harga mati untuk acuan pertama.

Kitapun dalam bersyari’at butuh akan bimbingan Nabi Muhammad SAW. Dan beliau sebagai pembawa syari’at, mutlak membutuhkan wahyu dari Allah SWT, sang pemilik alam semesta. Artinya, agama bukan produk sembarangan. Tidak bisa asal gagasan dan opini menciptakan adanya kebenaran mutlak di mata umat manusia, pada hakikatnya.

Tapi kemudian, perlu digaris bawahi jika ulamalah yang merumuskan adanya hukum baru. Mereka memakai gagasan ijtihad menggunakan akal. Mengurai benang kusut, dan menghasilkan suatu kodifikasi yang juga dipraktikan dalam kehidupan bermasyarakat. Semacam solusi bagi permasalahan aktual yang tidak tertulis secara langsung dalam Alquran dan hadis. Sebuah tuntunan hidup, yang muaranya juga tak pernah lepas dari Alquran dan hadis.

Nabi Muhammad SAW dahulu memuji sikap sahabat Mu’adz bin Jabal RA ketika hendak didelegaskan  berdakwah ke negri Yaman. Sahabat Mu’adz RA yang diberi amanat dan mandat menyebarkan islam ini ditanyai oleh Nabi, “bagaimana kamu nanti memberikan keputusan?” Sahabat Mu’adz menjawab. “dengan apa yang tertera dalam kitabullah.” Nabi kembali bertanya,“jika tidak terdapat dalam kitabullah?” Sahabat Mu’adz RA melanjutkan, “dengan apa yang ada dalam sunnah Rasulillah.” Nabi pun kembali bertanya, “Jika tidak terdapat di dalam sunnah?” Sahabat Mu’adz RA memberikan jawaban yang menggembirakan Nabi, “Aku berijtihad dengan pendapatku.”

Beliau memuji sahabat Mu’adz RA yang lebih dahulu merujuk kepada Alquran dan hadis sebelum memutuskan masalah lewat pendapatnya sendiri. Pendapat yang tentunya tak lepas dari garis pemikiran Alquran dan hadis. “Alhamdulillah, yang telah memberikan taufiq kepada utusannya Rasulullah.”[1] Sabda Nabi.

Islam sejatinya adalah kepatuhan secara mutlak. Ada semacam kaidah umum yang dipelopori oleh ulama, bahwa al-dîn mabniyy ‘alâ al-ittibâ’. Agama berpondasi diatas kepatuhan terhadap firman-Nya. Mushannif kitab Al-Asyâ’irâh fî Mîzâni Ahl Al-Sunnah mengemukakan ulama’ ahlussunnah tentang poin penting dalam islam, bahwa, ”adapun ahli sunnah, mereka mengatakan bahwa pondasi dalam agama adalah mengikuti tuntunan Nabi, sedangkan akal hanya mengikuti pondasi ini. Andaikan saja pokok agama adalah akal, maka makhluk tak akan lagi membutuhkan wahyu dan para Nabi, hakikat perintah dan larangan akan sirna, dan siapapun orang akan mengatakan apa yang mereka mau. Dan andaikan saja agama berpondasi pada akal, sudah barang tentu tidak diperbolehkan bagi kaum mukminin untuk menerima sesuatu sebelum mereka memikirkannya.”[2]

Kita bisa meraih konklusi dari beberapa kejadian-kejadian yang terjadi di masa Nabi Muhammad SAW. Sebuah contoh kecil adalah tentang salat dhuha, yang lebih baik jika dikerjakan hanya empat rakaat saja, dari pada bila kita kerjakan dua belas rakaat. Bilangan yang lebih banyak justru keutamaannya tidak lebih besar daripada bilangan yang lebih kecil.  Padahal logikanya, kalau kita melaksanakan salat dengan kuantitas lebih banyak, akan mendapatkan lebih banyak pula fadhilah. Kuncinya, adalah dulu Nabi sdelalu melaksanakan salat dhuha ini sebanyak empat rakaat saja. Memang beliau pernah hingga delapan atau dua belas rakaat, tapi yang sering beliau lakukan adalah empat. Kita juga bisa melihat pendapat ulama yang mengatakan bahwa melempar jumrah sambil mengendarai unta lebih baik dari pada dengan berjalan kaki. Padahal logikanya jika kita berjalan kaki, kita akan lebih merasa kepayahan. Artinya ada esensi lebih dalam taraf ibadah kita. Namun dulu menurut riwayat, Nabi melempar jumrah dengan menunggang unta. Maka hal ini lebih utama dengan alasan ittiba’ menurut segelintir ulama.

Kita bisa menangkap esensi dari perkataan sayyidina ‘Ali KRW.

وعن علي رضي الله عنه ، أنه قال : لو كان الدين بالرأي لكان أسفل الخف أولى بالمسح من أعلاه ، وقد رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يمسح على ظاهر خفيه .

رواه أبو داود ، وللدارمي معناه

Dari sahabat ‘Ali RA, beliau berkata, “andaikan saja agama hanya bermodalkan akal, niscaya bagian bawah muzah[3] lebih patut untuk dibasuh dari pada bagian atasnya. Sedangkan aku melihat Rasulullah SAW membasuh bagian atas kedua muzah beliau.” (HR. Abu Dawud)

Imam Abu Hanifah sendiri mengatakan, “andaikan saja aku berpendapat (berijtihad) hanya dengan akal, pastinya aku akan mewajibkan mandi sebab kencing (bukan sebab keluarnya mani seperti dalam hadis Nabi), karena air kencing jelas najisnya. Mewajibkan wudhu sebab keluarnya mani sebab air mani hukumnya najisnya masih diperselisihkan. Dan aku akan memberikan harta warisan hanya separuh bagian dari perempuan untuk kaum laki-laki, sebab kaum perempuan lebih lemah[4].”

Tapi agama bukanlah masalah akal atau naluri. Agama adalah masalah kepatuhan. Demikianlah syari’at, ia menguji kita akan sebearapa besar nilai kepatuhan yang kita persembahkan kepada-Nya.  Dan Ia lah yang berhak menilai kita atas seberapa besar himmah dan rasa peduli kita akan firman-Nya. Pada awal-awal islam mulai tumbuh di negri Mekah, Allah “menguji’ keimanan kaum Quraisy akan berita adanya hari akhir, dan kehidupan setelah mati. Sesuatu yang ditentang habis-habisan oleh kaum musyrik. Namun kaum yang beriman tetap percaya.

Fiqh barulah contoh kecil dari agama dan syari’at. Masih banyak lingkup lain yang menggaris bawahi kaidah syari’at mabniyy ‘ala ittiba’. Seperti dunia tasawwuf sebagai contoh lain.

Pelajaran dan pesan penting yang ingin penulis sampaikan adalah dalam masalah agama, kita jangan mudah gegabah dan buru-buru mengambil keputusan dan kesimpulan. Harus lebih dulu memperhatikan betapa luasnya samudara agama islam. Jangan-jangan yang kita ketahui  baru segenggam atau bahkan hanyalah setetes dari lautan tersebut, lalu kita sudah berani berfatwa dan dengan mudahnya berani menyalahkan orang lain. Seolah kebenaran mutlak hanya ada pada hal yang kita tahu saja.

Dahulu para ulama dan sahabat berebut untuk menolak berfatwa. Mereka takut akan jawaban yang dikemukakan. Kelak jika dimintai pertanggung jawaban apa yang akan mereka katakan dihadapan zat Yang Maha Besar? Tapi hari ini, banyak dari kita yang dengan mantap dan percaya diri berebut untuk berfatwa dan menjadi pemimpin, meskipun sejatinya belum begitu bisa dikatakan layak secara kualitas.

Semoga saja kita termasuk yang mengikuti generasi salaf salaih yang doanya tercantum dalam Aquran,

آمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ – آل عمران:53

“Kami beriman atas apa yang Engkau turunkan, dan kami mengikuti Rasul. Maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas keesaan Allah).” (QS. Ali Imran: 53)

[1] عَنْ مُعَاذٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص بَعَثَ مُعَاذًا اِلَى اْليَمَنِ فَقَالَ: كَيْفَ تَقْضِى؟ فَقَالَ: اَقْضِى بِمَا فِى كِتَابِ اللهِ. قَالَ. فَاِنْ لَمْ يَكُنْ فِى كِتَابِ اللهِ؟ قَالَ: فَبِسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ. قَالَ: فَاِنْ لَمْ يَكُنْ فِى سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ ص؟ قَالَ: اَجْتَهِدُ رَأْيِى. قَالَ: اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَ رَسُوْلَ رَسُوْلِ اللهِ. الترمذى 2: 394

[2] Al-Asyâ’irâh fî Mîzâni Ahl Al-Sunnah. Hal 68

[3] Alas kaki mirip sepatu yang biasa dipakai orang Arab.

[4] Dalam hukum fiqh, laki-laki mendapatkan jatah warisan dua kali lipat jatah perempuan. Dengan rumus al-dzakaru mislu haddzil unsayain.

KISAH BERTAUBATNYA SEORANG PEMBUNUH

“Jangan pernah mengira bahwa engkaulah yang memperbaiki dirimu. Taubatmu adalah rahmat dari Allah. Demikian pula kemampuanmu untuk menindaklanjuti taubat itu.”

PERNAH pada suatu ketika, ada seorang penjahat kejam yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Suatu hari, dia mendatangi seorang guru agama dan mengatakan bahwa dia ingin mengubah hidupnya, sebagai taubat atas segala kesalahannya. Guru itu menjawab bahwa ia sudah tidak mungkin lagi diampuni karena dosanya sudah ‘keterlaluan’. Dengan sangat marah penjahat itu mengatakan, kalau memang dosanya tidak bisa diampuni, ia sekalian saja membunuh guru itu. Dan ditebasnyalah leher guru agama itu.

Tidak lama kemudian, penjahat itu berpapasan dengan seorang bijak, seorang ulama yang telah benar-benar menyerap dan mengamalkan segala yang diajarkannya. Kepada orang bijak itu dia bertanya, apakah ia masih bisa diampuni walaupun telah membunuh seratus orang tak bersalah. Sang ulama bijak ini menjawab bahwa Allah pasti mengampuni orang yang bertaubat dengan sungguh-sungguh ikhlas. Ia juga menambahkan sebuah nasihat kepada si penjahat, bahwa ia harus pergi dari kampungnya yang penuh dengan perampok dan penjahat. Ia harus pindah ke sebuah kota kecil tak jauh dari sana, yang di sana merupakan tempat tinggal banyak orang jujur dan lurus. Teman yang baik membawa kita pada akhlak yang baik, sedangkan teman yang buruk akan membawa kita pada dosa.

Penjahat itu pun pulang, membereskan barang-barangnya, lalu berangkatlah ia ke kota tempat tinggal orang-orang lurus itu. Hanya saja, baru beberapa langkah ia meninggalkan kota, saat kematiannya pun tiba, sehingga malaikat maut pun mencabut nafs-nya. Seiring dengan kejatuhan jasadnya ke tanah, datanglah malaikat-malaikat penjaga neraka untuk mengambil nafs-nya. Pada saat yang sama, malaikat-malaikat penjaga surga pun tiba, juga hendak mengambil nafs-nya. Para malaikat neraka berpendapat bahwa bandit itu telah membunuh seratus orang, sehingga nafs-nya harus dibawa ke neraka. Tetapi kelompok malaikat penjaga surga berpendapat bahwa bandit itu telah bertaubat dengan ikhlas, bahkan ia telah mengamalkan taubatnya menjadi perbuatan, dengan meninggalkan kampungnya menuju kota yang warganya jujur dan lurus.

Akhirnya, diutuslah malaikat Jibril a.s. untuk menghakimi perkara itu. Jibril a.s. bertanya kepada Allah tentang cara menyelesaikan persoalan ini, karena kedua belah pihak punya alasan yang kuat. Allah pun menurunkan sebuah alat ukur dari langit, dan memerintahkannya untuk memberi keputusan berdasarkan jarak jasad si penjahat ke kedua kota itu. Jika ia mati dalam kedaan lebih dekat kepada orang-orang baik, maka nafs-nya akan naik ke surga. Namun jika ia lebih dekat kepada orang-orang jahat, maka nafs-nya harus masuk neraka.

Para malaikat setuju untuk taat pada kehendak Allah, walaupun para malaikat penjaga surga merasa sedih karena harus kehilangan jiwa seorang manusia yang ingin bertaubat. Mayat penjahat itu hanya berjarak beberapa langkah dari desa para bandit. Jibril a.s. pun menggelar pengukurnya, dan menemukan bahwa mayatnya hanya berjarak dua langkah dari gerbang kampungnya. Ketika Jibril a.s. mengangkat alat ukur dan hendak menggelarnya ke arah kota tempat orang-orang baik, mendadak—karena kemahapengampunan Allah—dinding-dinding luar kota itu berdatangan mendekati mayat si penjahat, sehingga hanya berjarak kurang dari selangkah. Maka diserahkanlah nafs si penjahat yang bertaubat ke pemeliharaan para malaikat penjaga surga.

Buku Cinta Bagai AnggurSama dengan kita. Jika kau benar-benar ingin mengubah kebiasaan-kebiasaan burukmu, gantilah teman-temanmu. Yang paling penting, mohonlah kepada Allah untuk mengubah dirimu. Jangan pernah mengira bahwa engkaulah yang memperbaiki dirimu. Taubatmu adalah rahmat dari Allah. Demikian pula kemampuanmu untuk menindaklanjuti taubat itu.(1) Dan, jika engkau ingin menjadi orang baik, carilah orang-orang yang baik. Jika engkau ingin mencintai Allah, tetaplah bersama orang-orang yang mencintai-Nya.***

(1) “Barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya), niscaya dia akan mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak akan mampu menempuh jalan itu, kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q. S. Al-Insaan [76]: 29–30). Lihat juga, “Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus, kamu tidak akan dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan Semesta Alam.” (Q. S. At-Takwiir [81]: 28 –29).

BELAJAR AGAR DI CINTAI OLEH SESAMA MANUSIA DAN ALLOH SWT.

 

Agar Dicintai Allah dan Dicintai Manusia

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

 

Dicintai Lebih Baik daripada Hanya Sekedar Mencintai

Cinta adalah sebuah kata yang sering kita dengan dan kita rasakan. Bahkan terkadang cinta seseorang terhadap sesuatu bisa menjadikan marabahaya baginya. Namun suatu ha yang terkadang samar bagi kita, bahwa dicintai oleh sesuatu itu lebih baik daripada hanya sekedar mencintai sesuatu. Hal ini mirip dengan dengan diridhoi sesuatu lebih baik daripada hanya sekedar ridho pada sesuatu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang para sahabat,

    وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

    “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan (para sahababat) muhajirin dan anshor (para sahababat) dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik (para tabi’un), Allah ridho kepada mereka (mereka diridhoi Allah) dan merekapun ridho kepada Allah”. ( QS. At Taubah [9] : 100).

 

Bagaimana Cara Agar Kita Dicintai Allah dan Manusia

Pertanyaan di atas telah lebih dahulu ditanyakan para sahabat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam sebagaimana yang diceritakan sahabat Abul ‘Abbas Sa’ad bin Sahl rodhiyallahu ‘anhu,

    أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِى عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِىَ اللَّهُ وَأَحَبَّنِىَ النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ازْهَدْ فِى الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِى أَيْدِى النَّاسِ يُحِبُّوكَ ».

    “Seorang Laki-laki datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam, lalu ia mengatakan, “Wahai Rosulullah tunjukkanlah kepadaku sebuah amal yang jika aku amalkan maka Allah akan mencintaiku demikian juga manusia (artinya Ia Dicintai Allah dan Manusia –pent.)?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam pun menjawab, “Zuhudlah engkau di dunia maka Allah akan mencintaimu dan zuhudlah engkau terhadap apa yang ada pada tangan-tangan (yang dimiliki) manusia maka manusia akan mencintaimu”.

Lalu bagaimanakah agar kita bisa menjadi hamba yang dicintai oleh Allah?

  1. Mentadabburi Al–Quran dan Mengamalkannya

Untuk menapaki cinta kepada Allah adalah membaca Al-Quran dengan khusyuk, disertai perenungan mendalam terhadap makna-makna yang terkandung di dalamnya dengan menghadirkan kesadarannya secara total bahwa kita sedang bermunajat kepada Allah. Inilah rahasia menuju cinta kepada Allah.

Setelah memahami makna-makna Al-Quran, maka kita harus mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari dan mengajarkannya kepada orang lain. Hidup dengan mempraktikkan pedoman dalam Al-Quran akan membuat hidup kita bermakna, karena selalu menapaki jalan kebajikan. Seperti yang telah diriwayatkan oleh Usman bin Affan bahwa Rasulullah bersabda “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya”.

  1. Mendekatkan Diri kepada Allah dengan Amalan-amalan Sunnah

Ada dua golongan dari seorang hamba Allah yang beruntung. Pertama, yang mencintai Allah yaitu yang menjalankan amalan-amalan wajib. Kedua, yang dicintai Allah yaitu jika kita melakukan amalan-amalan sunnah setelah tuntas amalan wajib. Golongan inilah yang disebut Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah dengan “Kualitas diri yang sampai kepada kualitas yang dicintai Allah setingkat lebih tinggi setelah mencintai Allah”. Jika kita telah menuntaskan amalan wajib dan menambahnya dengan amalan sunnah maka kualitas diri kita meningkat menjadi “Yang dicintai Allah.”

  1. Mengingat Allah di dalam Hati, Lisan, dan Tindakan Sehari-hari

Mengingat Allah adalah kesadaran diri akan Allah, baik hati, ucapan, maupun tindakan. Apabila kita mengingat Allah maka seorang hamba akan mendapatkan ampunan dan ridha-Nya. Allah berfirman “..Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS Al-Ahzab: 35). Jadi dengan mengingat Allah hidup menjadi lurus dan selaras dalam kebaikan. Mengingat Allah dalam hati, lisan, dan perbuatan adalah bekal untuk masuk surga dan menapaki tingkatan-tingkatan di dalamnya.

  1. Cinta kepada Allah membawa Cinta Kepada Seluruh Makhluk-Nya

Ridha kepada Allah membawa diri kita pada ridha selain-Nya, maksudnya diri kita merasa ridha bahwa apa pun yang ada di alam semesta ini di bawah ketentuan Allah. Inilah ketentraman jiwa yang diperoleh dari keridhaan kepada-Nya. Ketentraman inilah yang dimilki oleh orang yang beriman dengan ridha kepada-Nya.

  1. Merenungkan Nama-nama dan Sifat-sifat Allah serta Berma’rifat terhadapNya

Hamba yang beriman adalah orang yang mengenal Allah melalui nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Kemudian dia membenarkan Allah dalam pergaulannya sehari-hari, ikhlas niat dan tujuannya, serta tidak berperilaku melainkan dengan budi pekerti yang luhur.

Hamba yang mengimani sifat-sifat Allah dan kesadaran diri akan kesempurnan-Nya adalah pembangkit bagi hati untuk cinta kepada-Nya. Hati pasti akan selalu cinta kepada yang dikenalnya dan terus rindu untuk selalu bersama-Nya.

  1. Menyadari Kebaikan Allah dan Segala Kenikmatan dariNya

Sebagai hamba senantiasa diliputi oleh segala kebaikan dari Allah. Segala kenikmatan, kasih sayang, dan segala hak dapat memenuhi perasaannya. Tidak ada yang memberikan kenikmatan dan kebahagiaan di dunia ini kepada kita selain Allah. Semua yang ada di alam semesta ini, pasti semuanya dariNya. Dengan demikian, tidak ada yang layak untuk dicintai dengan segala ketulusan selain Allah.

  1. Menyerahkan Diri Sepenuhnya Hanya kepada Allah

Maksud menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah adalah kekhusyukan hati, penyerahan diri sepenuhnya, kesadaran diri sangat butuh kepada-Nya, dan menjaga etika menghamba kepada-Nya. Semua definisi tersebut menunjukkan bahwa hati adalah sumber dari praktik khusyuk yang kemudian mendisiplinkan tubuh.

  1. Bermunajat kepada Allah di Tengah Malam

Allah memberikan sanjungan bagi siapa saja yang lambungnya jauh dari tempat tidur untuk berdoa dan bermunajat kepada Allah. Kita mendirikan shalat malam di mana shalat tersebut adalah seutama-utama shalat sunnah. Inilah praktik yang meningkatkan kualitas cinta kita kepada Allah. Kita bangun malam dan mendirikan shalat ketika orang-orang sedang terlelap tidur.

  1. Bersahabat dengan Para Pecinta Allah

Disnilah Ibnu Al-Qayyim menjadikan interaksi dengan para pecinta Allah sebagai keniscayaan menuju cinta kepada Allah. Rasulullah bersabda “Allah berfirman, Cintaku menjadi keniscayaan bagi orang-orang yang mencintai-Ku. Cintaku menjadi keniscayaan bagi orang-orang yang mencintai-Ku. Cintaku menjadi keniscayaan bagi orang-orang yang mengunjungi-Ku.” (Hr. Ahmad).

Sesungguhnya cinta seorang muslim kepada saudaranya karena Allah adalah buah dari ketulusan iman dan budi pekerti yang luhur. Cinta tersebut dijaga oleh Allah dalam hati seorang hamba yang beriman, sehingga keimanan tersebut tidak melenceng ataupun melemah.

  1. Menjauhi Segala Hal yang Dapat Melalaikan Hati

Jika kita ingin mencintai Allah, maka tidak ada pilihan bagi kita untuk senantiasa menjaga hati agar tetap bersih. Oleh karena itu mari menjaga hati dari segala sesuatu yang dapat melalaikan hati dengan senantiasa mengawasi dan membersihkan hati dari penyakit yang dapat membuatnya kotor.

Hati yang bersih adalah hati yang senantiasa menyadari bahwa Allah itu benar adanya, hari kiamat pasti kedatangannya, dan Allah pasti membangkitkan manusia dari kuburnya. Hati yang bersih adalah hati yang sehat. Sehatnya hati karena menaati perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga kita termasuk hamba yang memiliki hati yang bersih.

 

Penjelasan Singkat dan Faidah Hadits

Dalam redaksi hadits di atas tidak ditentukan siapa sahabat yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam karena hal itu tidaklah diperlukan dan kita tidaklah diperintahkan untuk mencari-cari siapa nama sahabat yang mulia tersebut. Hal ini banyak sekali kita temui dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam.

Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “(ازْهَدْ فِى الدُّنْيَا) zuhudlah engkau di dunia” maksudnya adalah bersikap roghbahlah (berpalinglah) engkau terhadap dunia yaitu tidak mencari bagian dari dunia kecuali bagian dari dunia yang akan memberikan manfaat di akhirat. Sikap zuhud ini lebih mulia dari waro’ karena waro adalah meninggalkan hal-hal bagian dunia yang membahayakan diri di akhirat. Jika kita telah bersikap zuhud maka secara otomatis kita telah bersikap waro’.

Dunia disebut dengan dunia (الدُّنْيَا) karena dua hal :

        (دُنْيَا فِيْ الزَّمَان) di muka dalam masalah waktu, karena dunia terjadi sebelum akhirat.

        (دُنْيَا فِيْ الْمَرْتَبَة) rendah/hina dalam hal tingkatan, karena dunia derajatnya jauh lebih rendah/hina dengan akhirat.

Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “(وَازْهَدْ فِيمَا فِى أَيْدِى) zuhudlah engkau dengan apa yang ada pada tangan (yang dimiliki) manusia” maksud bersikap roghbahlah (berpalinglah) dari apa yang ada pada manusia (hal-hal bagian dari dunia yang mereka miliki), hal ini mencakup meniggalkan sikap meminta-minta pada manusia. Karena jika kita meminta sesuatu kepada manusia maka hal itu bisa memberatkan mereka dan derajat kita menjadi lebih rendah. Karena tangan yang di atas lebih mulia daripada tangan yang ada di bawah.

 

Adapun diantara faidah hadits di atas adalah :

        Tingginya keingan para sahabat dalam rangka meraih kebaikan di dunia dan akhirat.

        Penetapan sifat cinta yang hakiki pada Allah.

        Bolehnya mencari kecintaan dari manusia selama dengan cara-cara yang halal.

        Fadhilah dari sikap zuhud di dunia.

TANGGUNG JAWAB KELUARGA DALAM KAJIAN AYAT AL QUR’AN

Pada zaman Rasulullah Saw, pernah terjadi pertikaian dalam sebuah keluarga dari sahabat Anshor. Pertikaian tersebut berujung pada penamparan seorang suami kepada istrinya. Setelah kejadian itu, sang istri bersama orang tuanya hendak melaporkan kejadian yang menimpanya kepada baginda Rasulullah Saw.

Mendengar pengaduan itu, Rasulullah Saw memutuskan hukuman Qishas (balasan) untuk sang suami. Ketika sang istri dan ayahnya hendaknya pulang, Rasulullah Saw mencegahnya seraya berkata, “Kembalilah, malaikat Jibril As membawakan ayat ini”. Kemudian Rasulullah Saw membacakan Surah An-Nisa’ ayat 34. (Lihat: Tafsir Ar-Razi, X/70)

Menghayati Ayat

Dalam awal penggalan ayat ke 34 surah An-Nisa’, Allah Swt berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka (pria) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”, (QS. An-Nisa’: 34).

Mayoritas ulama Ahli Tafsir memberi penjelasan yang senada atas kandungan ayat tersebut. Yakni menitikberatkan terhadap aspek kepemimpinan dan tanggung jawab seorang laki-laki atas perempuan. Dengan bermodal kelebihan yang dimiliki, baik secara fisik maupun daya intelektual, kaum laki-laki sudah sepatutnya memegang tanggung jawab atas kaum perempuan.

Menurut sebagian kelompok, ayat ini menjadi alasan sebagai argumen untuk memarginalkan golongan perempuan. Dengan bertendensi terhadap realita dan kelebihan yang dianugerahkan oleh Allah terhadap kaum laki-laki, mereka seakan memposisikan perempuan sebagai strata kedua yang berada di bawah level kaum laki-laki. Dengan dalih kelebihan yang dimiliki kaum laki-laki dalam ayat itu, kelompok ini sangat menentang adanya upaya yang sering disebut emansipasi wanita.

Sebenarnya asumsi serampangan seperti ini telah terjawab dalam kitab tafsir Al-Bahr Al-Muhith. Syech Muhammad Yusuf Hayyan Al-Andalusi menjelaskan bahwa tidak sepenuhnya benar apabila dikatakan laki-laki lebih utama daripada perempuan. Karena dalam konteks ayat ini, yang berlaku adalah hukum keumuman jenis laki-laki yang lebih utama daripada jenis perempuan, bukan memandang setiap individunya. Dengan kata lain, tidak menutup kemungkinan ada individu perempuan yang justru lebih baik daripada laki-laki, contoh adalah Sayyidah ‘Aisyah Ra, Rabiah Al-Adawiyah, dan lain-lain. (Lihat: Al-Bahr Al-Muhith, III/622, Maktabah Syamilah)

Implementasi Penafsiran

Penggalan ayat di atas, mengemukakan ragam penafsiran yang begitu banyak dari golongan ulama Ahli Tafsir. Namun, mayoritas dari mereka (Jumhur Al-Mufassirin) mengambil kesimpulan bahwa ayat ini menjadi landasan tanggung jawab seorang laki-laki atas keluarganya.

Ada dua alasan yang menjadikan laki-laki sebagai pemimpin yang memiliki tanggung jawab atas keluarganya, yaitu karena Wahbiyun (Pemberian) dan Kasbiyun (Pekerjaan). Yang dimaksud Wahbiyun (Pemberian) adalah segala kelebihan yang diberikan atas kaum laki-laki demi melancarkan tanggung jawabnya atas perempuan, seperti kecerdasan intelektual dan kekuatan fisik. Sedangkan yang dimaksud Kasbiyun (Pekerjaan) adalah kelebihan yang diusahakan oleh kaum laki-laki dalam menunjang tanggunh jawabnya atas kaum perempuan, seperti kewajiban membayar mas kawin dan nafkah keluarga. (Lihat: Al-Bahr Al-Madid fii Tafsir Al-Qur’an Al-Majid, I/498, Maktabah Syamilah)

Oleh karena itu, dalam ayat itu Allah menggunakan kata “Qowwamun” yang memiiliki arti “Pemimpin” merupakan bentuk metafora dari kata “Qoimun”. Sehingga sangat tepat sekali bahwa kamu laki-laki lah yang mengemban amanah untuk memimpin, mendidik, dan menjaga keluarganya. Begitu juga bagi perempuan, dia mengemban amanah sebuah kehormatan dan wajib untuk selalu mentaati perintah yang diberikan, selama hal itu tidak bertentangan dengan syariat. (Lihat: Tafsir Al-baghowi, II/206, dan Tafsir Ar-Razi, X/70)

Dengan pemahaman yang komprehensif dengan bukti referensi yang dapat dipertanggungjawabkan, diharapkan tidak ada lagi diskriminasi terhadap golongan perempuan dengan bertendensi pada ayat ini. Karena pada dasarnya, ayat ini justru menjelaskan masalah keseimbangan hak dan kewajiban antara seorang suami dan istri demi terciptanya nuansa keluarga yang sakinah dan harmonis.

Wallahu a’lam

Referensi:

Tafsir Ar-Razi

Al-Bahr Al-Muhith fii  Al-Tafsir

Tafsir Al-Baghowi

Tafsir Al-Qurtubhi

Al-Bahr Al-Madid fii Tafsir Al-Qur’an Al-Majid

PENGHAYATAN ISRA’ DAN MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW DALAM KEHIDUPAN

Dalam sebuah keterangan yang terdapat dalam kitab Tafsir At-Thobari, peristiwa Isra’ dan Mi’raj diartikan sebagai peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al-Haram di Mekah menuju Masjid Al-Aqsha di Baitul Muqaddas (Jerusalem), lalu dilanjutkan dengan perjalanan dari Qubbah As-Sakhrah menuju Sidratul Muntaha (akhir penggapaian).[1]  Kronologi tersebut sebenarnya sudah dideskripsikan secara jelas oleh Allah SWT dalam al-Qur’an:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambanya pada suatu (potongan) malam dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Al-Isro’: 1).

Mengenai waktu kapan peristiwa tersebut terjadi masih diperselisihkan para ulama. Sebagian dari mereka ada yang mengatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi di tahun kesepuluh dari masa kenabian.[2] Namun dalam kitab Al-Thobaqot Al-Kubro karya Ibnu Sa’d dikatakan, bahwa peristiwa ini terjadi di antara 18 bulan sebelum Rasulullah SAW mendapatkan perintah untuk melakukan hijrah ke kota Yatsrib (Madinah).

Dalam salah satycatatan sejarah, Isra’ dan Mi’raj adalah salah satu peristiwa paling bersejarah bagi umat Islam. Peristiwa tersebut menunjukkan betapa Maha Kuasanya Allah SWT. Bagaimana seorang hamba yakni Nabi Muhammad SAW bersama ruh dan jasadnya menempuh jarak jutaan kilometer hanya dalam waktu tempuh satu malam.

Sebuah hadis yang cukup panjang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim berkenaan dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini. Dalam riwayat itu disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengendarai Buraq. Dan juga disebutkan bahwa ketika di Masjidil Aqsha Palestina, Rasulullah SAW melakukan salat dua rakaat. Setelah itu, datanglah malaikat Jibril membawa sebuah bejana berisi arak dan bejana lain berisi susu, namun Rasulullah SAW memilih bejana yang berisi susu. Dan dalam riwayat itu pula kronologi peristiwa Mi’raj Rasulullah SAW ke langit pertama, kedua, dan seterusnya hingga mencapai Sidratul Muntaha (akhir penggapaian), ‘Arsy, dan Mustawa. Di sanalah beliau mendapatkan wahyu dari Allah SWT, dan sejak saat itu pula salat lima waktu diwajibkan bagi seluruh umat Islam. Yang pada mulanya, sholat yang diwajibkan berjumlah 50 rakaat.

Keesokan paginya, ketika Rasulullah SAW menuturkan peristiwa yang telah beliau alami kepada khalayak penduduk kota Mekah. Orang-orang kafir Mekah pun segera menyebarluaskan berita yang dianggap sebagai cerita palsu tersebut kepada teman-teman mereka sambil mengolok-olok Rasulullah SAW.

Karena Rasulullah SAW mengaku datang ke Baitul Muqaddas di Palestina, beberapa orang kafir menantang beliau untuk menjelaskan semua yang ada di sana. Padahal, ketika mendatangi Baitul Muqaddas pada malam itu, tidak pernak terlintas dalam benak Rasulullah SAW untuk memperhatikan dengan seksama seluruh detail bangunan Baitul Muqaddas, apalagi menghafalkan jumlah pilarnya. Mendapatkan tantangan seperti itu, Allah SWT menampakkan Baitul Muqaddas di hadapan Rasulullah SAW. Beliau pun dapat menjelaskan semua hal tentang Baitul Muqaddas dengan sangat rinci seperti yang diminta orang-orang kafir. Berkenaa dengan hal itu, Imam Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkan hadis bahwa Rasulullah SAW bersabda:

لَمَّا كَذَّبَتْنِيْ قُرَيْشٌ قُمْتُ فِي الْحِجْرِ فَجَلَّى اللهُ لِيْ بَيْتَ الْمُقَدَّسِ فَطَفَقْتُ أُخْبِرُهُمْ عَنْ آيَاتِهِ وَأَنَا أَنْظُرُ اِلَيْهِ

“Ketika orang-orang Quraisy menganggap aku berdusta, aku pun berdiri di Hijr Ismail, dan Allah menampakkan Baitul Muqoddas padaku, maka aku pun menceritakan kepada mereka semua tanda-tanda bangunan tersebut sembari aku melihat bangunan itu”.[3]

Sementara itu, beberapa orang kafir Quraisy telah mendatangi Abu Bakar As-Shidiq RA untuk menyampaikan hal yang baru dituturkan oleh Rasulullah SAW. Mereka berharap sahabat terdekat Rasulullah SAW ini menganggap peristiwa tersebut merupakan sebuah kebohongan besar. Mereka juga berharap, Abu Bakar As-Shidiq RA tidak akan mempercayai Rasulullah SAW lagi. Ternyata Abu Bakar As-Shidiq RA malah berkata, “Jika memang benar Dia (Muhammad SAW) mengatakan seperti itu, aku pasti percaya. Bahkan, jika beliau mengatakan yang lebih jauh (lebih ajaib) dari itu, akau pasti akan tetap mempercayainya,”.[4]

Pada pagi hari setelah peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut malaikat Jibril datang memberitahu kepada Rasulullah SAW tentang tata cara salat beserta waktu pelaksanaannya. Sebelum syariat salat lima waktu ditetapkan, Rasulullah SAW biasa melaksanakan salat dua rakaat di pagi hari dan dua rakaat di sore hari, sebagaimana dilakukan nabi Ibrahim AS.[5]

Menguatkan Semangat Dakwah

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu terjadi pada saat Rasulullah SAW mengalami masa-masa kecemasan. Karena beberapa waktu sebelumnya, Rasulullah SAW sangat terpukul dengan meninggalnya dua orang yang menjadi ujung tombak kekuatan beliau dalam mendakwahkan agama Islam, yakni Khadijah RA dan Abu Thalib RA. Sementara tekanan fisik maupun psikis yang terus dilancarkan kafir Quraisy semakin menambahkan kegelisahan beliau, seolah tiada celah dan harapan bagi masa depan agama Islam pada saat itu.

Maka pada malam malam 27 Rajab, seakan menjadi penyejuk di tengah kegersangan yang selama ini menyelimuti beliau. Perjalanan Isra’ dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Baitul Muqaddas menjadi langkah untuk menjelajahi napak tilas perjuangan nabi-nabi terdahulu. Begitu pula dengan proses Mi’raj, beliau dapat melihat secara langsung seluruh alam dan singgasana kebesaran di jagad raya. Secara keseluruhan, semua yang dialami pada malam itu telah membantu meredakan kecemasan yang beliau alami selama ini dan meningkatkan kembali gairah dakwah dan tekad yang semakin kuat ke depannya.

Melihat konteks situasi dan kondisi peristiwa Isra’ dan Mi’raj telah memberi pelajaran berharga kepada umat manusia dalam menghadapi sebuah perjuangan. Segala rintangan dan penentangan yang ditemukan akan dapat diselesaikan dengan cara maupun metode yang sudah diketahui oleh Allah SWT. Karena yang terpenting bagi manusia adalah terus berjuang, memperkuat tekad, dan terus konsisten dalam semua keadaan. Firman Allah SWT dalam al-Qur’an:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir,” (QS. Yusuf: 87). WaAllahu a’lam

[1] Tafsir At-Thobari, juz 17 hal 333.

[2] ‘Umdah Al-Qori’ ‘Ala Shahih Al-Bukhari, juz 17 hal 20.

[3] Shahih Al-Bukhari, juz 5 hal 52.

[4] Fiqh As-Sirah An-Nabawiyyah, hal 108-109, Maktabah Dar As-Salam.

[5] Fath Al-Bari, Juz 1 hal 465.

KISAH TRAGIS BARSHISHO ‘ABID ISRAEL YANG TERBUJUK RAYUAN SYAITAN

Dikisahkan, dulu bangsa Israel memiliki satu orang yang terkenal sebagai ahli ibadah di masanya. Ia bernama Barshisho, ia dikenal sejak lama sebagai ahli ibadah yang masyhur di kalangan umat manusia pada zaman itu.

Suatu hari, lahirlah seorang putri kerajaan di suatu negara. Sebagai pewaris tahta kerajaan, sang raja tak ingin putrinya terkontaminasi pergaulan bebas bersama laki-laki yang ada di lingkungannya. Sebagai pilihan, sang raja akhirnya mengirimkan putrinya yang masih belia di asrama yang diasuh oleh orang yang ahli ibadah di masa itu, yakni Barshishoh. Sehingga sejak saat itu juga tidak ada satu orangpun yang mengetahui keberadaan putrinya.

Waktu terus berjalan, putri raja yang dulu masih kanak-kanak di asrama itu kini tumbuh menjadi seorang remaja cantik. Pada suatu hari datanglah setan dengan menyamar sebagai lelaki tua. Setan itu telah membujuk Barshisho untuk memperkosa putri sang raja. Akhirnya Barshisho kalah akan bujuk rayu tersebut menyetubuhi putri sang raja yang berada di bawah asuhannya.

Ketika kehamilan putri raja semakin membesar, setan datang menghampiri Barshisho. Lantas berkata, “Engkau terkenal sebagai orang yang zuhud. Apabila putri raja sampai melahirkan, maka akan tersebar kasus persetubuhan yang telah kau lakukan. Kasus itu akan mencoreng nama baikmu di mata masyarakat luas”.

“Maka bunuhlah putri raja itu sebelum ia melahirkan. Dan katakan pada sang raja bahwa anaknya meninggal dunia seperti biasanya. Dengan begitu raja pasti akan mempercayaimu. Setelah itu kuburlah putri raja itu dan kasusmu tidak akan diketahui oleh siapapun”, setan melanjutkan bujuk rayunya.

Setalah merenung beberapa saat, Barshisho menuruti bujukan setan. Akhirnya  ia nekad membunuh sang putri. Lantas memberitahukan akan kabar meninggalnya sang putri terhadap raja serta meminta izin untuk menguburnya. Dalam keadaan sedih, sang rajapun mengizini Barshisho untuk mengubur putrinya.

Usaha setan untuk menyesatkan umat manusia tak berhenti sampai di situ. Kali ini ia mendatangi raja dengan menyamar menjadi seorang ulama. Dalam penyamarannya itu, setan menceritakan kejadian sebenarnya tentang apa yang telah dilakukan Barshisho terhadap putrinya.

“Galilah kuburan putrimu, kemudian bedahlah perutnya. Apabila engkau melihat janin dalam perutnya, maka apa yang kuceritakan benar. Apabila sebaliknya, maka bunuh saja diriku” ujar setan itu dalam penyamarannya.

Atas dasar ujaran setan, sang raja akhirnya benar-benar mencari tempat persemayaman putrinya. Kuburan itu digali, mayatnya dikeluarkan, dan perutnya dibedah. Ternyata, apa yang dikatakan setan benar, terdapat janin di dalam perut sang putri.

Akhirnya sang raja mencari Barshisho atas dugaan kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap putrinya. Barshisho ditangkap dan dibawa ke negaranya untuk dihukum. Barshisho pun akhirnya divonis menjalani hukuman salib.

Setan menghampiri Barshisho yang tak berdaya di tiang salib. Lantas berkata, “Engkau telah berzina atas bujukanku, dan kau telah membunuh nyawa seseorang juga atas perintahku. Maka berimanlah kepadaku, niscaya akan kuselamatkan dirimu dari siksaan raja tersebut”.

Kali ini, Barshisho benar-benar menjadi orang yang celaka. Ia beriman kepada setan itu. Namun setan justru pergi menjauhi Barshisho.

“Mengapa kau tak menyelamatkan aku?” tanya Barshisho.

“Sesungguhnya aku saja takut kepada Allah, Tuhan sekalian alam” jawab setan seraya meninggalkan Barshisho yang telah kufur dan beriman kepadanya. Naudzubillahi min Dzalika.

WAllahu a’alam bis Shawab

HIKMAH DI BALIK UJIAN DAN COBAAN UMAT ISLAM

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى

سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الْفَاتِحِ لِمَااُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَاسَبَقَ نَاصِرِالْحَقِّ ‍ بِالْحَقِّ وَالْهَادِى اِلى صِرَاطِك َالْمُسْتَقِيْم وَعَلى الِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ

Setiap orang beriman pasti akan diuji ALLAH dengan cobaan – cobaan .   Demikianlah firman ALLAH dalam surat  AL  BAQARAH  :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,  (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” .  Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.  (QS  AL BAQARAH 155 – 157)

Terhadap orang – orang beriman yang masih melakukan dosa ,  apabila ALLAH berkehendak untuk kebaikan seorang hamba , maka Dia akan timpakan musibah sebagai teguran agar kembali ke jalan yang benar , dan sebagai penggugur dosa – dosa .

Dan terhadap orang2  soleh ,  ALLAH berikan cobaan  untuk menguji keimanannya .  Cobaan tersebut bisa berupa nikmat ataupun musibah .  Semakin kuat keimanan seseorang , maka  ujiannyapun akan semakin berat .  Ibarat sebuah pohon …… ,  semakin tinggi …..maka semakin banyak angin yang menerpanya .  Namun ALLAH tidak akan menguji orang2  beriman melainkan  sesuai dengan kemampuannya .

Cobaan yang paling berat adalah cobaan terhadap para nabi dan Rasul

Berkaitan dengan  cobaan ini …. ,  ALLAH mengajarkan pada kita suatu doa untuk memohon pada ALLAH agar meringankan cobaan yg ditimpakan kepada kita .

Doa tersebut tercantum dalam surat  AL BAQARAH  ayat  :  285-286   (ayat terakhir surat AL BAQARAH).

{آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya,” dan mereka mengatakan, “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.”  Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.  (QS  AL BAQARAH : 286)

Dan sikap orang beriman itu sungguh menakjubkan :

–  Bila dikaruniai nikmat ,  maka ia bersyukur .  Dan syukur itu menjadi kebaikan baginya

–  Bila dicobai dengan musibah , maka ia bersabar . Dan sabar itupun menjadi penghapus dosa

   baginya .

Demikianlah sikap yang benar sebagai orang beriman .

Maka jangan sekali – kali kita berburuk sangka pada ALLAH atas musibah yang menimpa kita , karena sesungguhnya dibalik musibah ada ampunan ALLAH atas dosa – dosa .

Begitulah cara ALLAH menggugurkan dosa – dosa hambaNYA  yang Dia kehendaki .

KITA SANGAT DI BENCI OLEH NABI SAW JIKA MEMPUNYAI TIGA SIFAT INI

Orang yang dibenci oleh Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam adalah orang yang banyak bicara dengan dibuat-buat dan orang yang sombong.

عن جابر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إن من أحبكم إلي وأقربكم مني مجلسا يوم القيامة أحاسنكم أخلاقا وإن أبغضكم إلي وأبعدكم مني مجلسا يوم القيامة الثرثارون والمتشدقون والمتفيهقون قالوا يا رسول الله قد علمنا الثرثارون والمتشدقون فما المتفيهقون قال المتكبرون

Dari sahabat Jabir sesungguhnya Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : ”Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada Hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya”. Sesunguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada Hari Kiamat adalah (ats-tsartsarun), (al-mutasyaddiqun) dan (al- mutafaihiqun). Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami mengerti tentang ats-tsartsarun dan al-mutasyaddiqun. Lalu apa yang dimaksud dengan al-mutafaihiqun?’ Beliau menjawab, ‘Dialah orang yang sombong.”

Imam Tirmidzi berkata :

والثرثار هو الكثير الكلام والمتشدق الذي يتطاول على الناس في الكلام ويبذو عليهم

Yang dimaksud dengan Tsartsar adalah banyak bicara , dan yang dimaksud dengan mutasyaddiq adalah orang yang memperpanjang pembicaraan dihadapan manusia dan berkata kotor kepada mereka.

– Kitab Tuhfatul Ahwadzi :

قوله الثرثارون ، وفي النهاية الثرثارون هم الذين يكثرون الكلام تكلفا وخروجا عن الحق ، والثرثرة كثرة الكلام وترديده .

Tsartsarun dalam kitab An-Nihayah adalah mereka yang banyak bicara secara dibuat-buat dan keluar dari kebenaran. Tsartsaroh adalah banyak bicara dan mengulang ulanginya.

( والمتشدقون ) قال في النهاية : المتشدقون هم المتوسعون في الكلام من غير احتياط واحتراز ، وقيل أراد بالمتشدق المستهزئ بالناس يلوي شدقه بهم وعليهم انتهى ، والشدق جانب الفم

Mutsyaddiqun dalam kitab An-Nihayah adalah mereka yang memperlebar pembicaraan tanpa berhati-hati, waqila maksud mutasyaddiq adalah yang memperolok manusia yang membengkokkan sudut mulutnya kepada mereka dan atas mereka. As-Syadq adalah sudut mulut.

( والمتفيهقون ) هم الذين يتوسعون في الكلام ويفتحون به أفواههم ، مأخوذ من الفهق وهو الامتلاء والاتساع ، كذا في النهاية . قيل وهذا من الكبر والرعونة ،

Al-Mutafaihiqun adalah mereka yang memperlebar pembicaraan dan membuka mulut mereka. Kalimat tersebut diambil dari kata al-fahq yang artinya penuh dan luas. Seperti itulah keterangan dalam kitab Al-Nihayah. Dikatakan bahwa al-fahq adalah termasuk bagian dari kesombongan dan kebodohan.

وقال المنذري في الترغيب : الثرثار بثائين مثلثتين مفتوحتين هو الكثير الكلام تكلفا ، والمتشدق هو المتكلم بملء شدقه تفاصحا وتعظيما لكلامه ، والمتفيهق أصله من الفهق وهو الامتلاء ، وهو بمعنى المتشدق لأنه الذي يملأ فمه بالكلام ويتوسع فيه إظهارا لفصاحته وفضله واستعلاء على غيره ، ولهذا فسره النبي صلى الله عليه وسلم بالمتكبر انتهى .

Al-Mundziri dalam kitab At-Targhib berkata : ” tsartsar dengan dua huruf tsa’ yang difathah artinya banyak bicara dengan dibuat-buat.  Mutasyaddiq adalah orang yang berbicara dengan memenuhi sudut mulutnya agar terlihat fasih dan agung bagi ucapannya. Mutafaihiq asalnya dari al-fahq yang artinya terisi penuh, dan mutafaihiq ini semakna dengan mutasyaddiq karena dia memenuhi mulutnya dengan ucapan dan memperlebar ucapan dengan memperlihatkan kefasihan, keutamaan dan penguasaan terhadap orang lain. Oleh karena inilah Nabi shollallohu alaihi wasallam menafsirinya dengan orang yang sombong.

Wallohu a’lam

TIDAK AKAN MASUK SURGA ORANG YANG DI DALAM HATINYA ADA SIFAT SOMBONG

  1. Apa perbedaan kibir dan takabur
  2. Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebiji dzarroh daripada sifat kibir. Bagaimana maksudnya ?.

( باب ما جاء في الكبر )

بكسر الكاف وسكون الموحدة ثم راء ، قال الراغب : الكبر والتكبر والاستكبار متقارب ، فالكبر الحالة التي يختص بها الإنسان من إعجابه بنفسه وذلك أن يرى نفسه أكبر من غيره وأعظم ذلك أن يتكبر على ربه بأن يمتنع من قبول الحق والإذعان له بالتوحيد والطاعة ،

والتكبر يأتي على وجهين أحدهما أن تكون الأفعال الحسنة زائدة على محاسن الغير ومن ثم وصف سبحانه وتعالى بالمتكبر ،

والثاني أن يكون متكلفا لذلك متشبعا بما ليس فيه وهو وصف عامة الناس نحو قوله : كذلك يطبع الله على كل قلب متكبر جبار والمستكبر مثله ،

وقال الغزالي : الكبر على قسمين فإذا ظهر على الجوارح يقال تكبر وإذا لم يظهر يقال في نفسه كبر

Bab Tentang Kibr (Sombong)

Kibr itu dengan dikasroh kafnya dan disukun ba’nya kemudian ro’.  Imam Ar-roghib berkata : ” Al-kibr, at-takabbur dan istikbar itu mutaqoorib (saling beredekatan)”.

Al-kibr adalah keadaan yang tertentu pada manusia tentang kekaguman/kebanggaan pada diri sendiri. yaitu memandang dirinya lebih besar/hebat dari pada orang lain. Dan lebih besar lagi dari pada hal itu ketika sombong pada Tuhannya dengan tidak menerima kebenaran dan tidak tunduk pada Tuhannya dengan bertauhid dan taat.

 

At-takabbur itu ada dua macam :

  1. Perbuatan-perbuatan yang baik melebihi perbuatan baik orang lain dan karena itulah Allah subhanahu wa Ta’ala bersifat dengan mutakabbir.
  2. Memaksakan diri terhadap perbuatan baik, merasa kenyang/penuh dengan sifat sesuatu yang tidak ada pada dirinya. dan ini sifat mayoritas manusia. Seperti firman Allah :

كذلك يطبع الله على كل قلب متكبر جبار

Demikianlah Allah mengunci setiap hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.

Dan “al-mustakbir seperti halnya al-mutakabbir.”

Al-Ghozali berkata : “Al-kibr ada dua bagian :

– Jika tampak pada anggota-anggota tubuh disebut takabbur.

– Jika tidak tampak maka disebut kibr.”

 Para ulama’ bebeda pendapat mengenai ta’wil sabda Nabi shollallohu alaihi wasallam : “Tidak akan masuk syurga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji daripada kibir “.

Imam Al Khottobi menyebutkan dua wajah :

  1. Yang dimaksud adalah takabbur dari keimanan, maka orang tersebut tidak akan masuk syurga sama sekali ketika meninggal dalam keadaan tersebut.
  2. Masuk syurga dan di dalam hatinya sudah tidak ada kibir ketika memasuki syurga, sebagaimana firman Allah :

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ

” Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka “. (QS. Alhijr ayat 47).

Menurut Al-qodhi ‘Iyadh dan selainnya dari ulama’ ahli tahkik, bahwa makna hadits tersebut adalah tidak akan masuk syurga tanpa balasan jika Allah membalasnya. Waqila inilah balasannya jika Allah membalasnya, dan terkadang dimuliakan bahwa Allah tidak membalasnya , bahkan setiap orang yang mengesakan Allah pasti masuk syurga , adakalanya masuk syurga pertama kali, adakalanya masuk nomer dua setelah di siksa, waqila makna hadis adalah tidak masuk syurga bersama dengan orang-orang yang bertaqwa di awal awal.

– Tuhfatul Ahwadzi :

قال النووي : قد اختلف في تأويل قوله صلى الله عليه وسلم : لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال حبة من خردل من كبر ، فذكر الخطابي فيه وجهين : أحدهما أن المراد التكبر عن الإيمان فصاحبه لا يدخل الجنة أصلا إذا مات عليه ، والثاني أنه لا يكون في قلبه كبر حال دخوله الجنة كما قال الله عز وجل ونزعنا ما في صدورهم من غل وهذان التأويلان فيهما بعد ، فإن هذا الحديث ورد في سياق النهي عن الكبر المعروف وهو الارتفاع على الناس واحتقارهم ودفع الحق ، فلا ينبغي أن يحمل على هذين التأويلين المخرجين له عن المطلوب ، بل الظاهر ما اختاره القاضي عياض وغيره من المحققين أنه لا يدخلها دون مجازاة إن جازاه ، وقيل هذا جزاؤه لو جازاه وقد تكرم بأنه لا يجازيه بل لا بد أن يدخل كل الموحدين الجنة إما أولا وإما ثانيا بعد تعذيب أصحاب الكبائر الذين ماتوا مصرين عليها ، وقيل لا يدخلها مع المتقين أول وهلة انتهى .

KEAGUNGAN CIPTAAN ALLOH SWT DI BUMI YANG MENGAGUMKAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

سورة فاطر

Artinya: Pencipta

Fatir 45 Ayat,Surat Ke 35

Golongan Surah Makkiyyah

[ Q. S. Fatir : 24-30 ]

Ayat 24

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا ۚوَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ

“Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.”

Ayat 25

وَإِنْ يُكَذِّبُوكَ فَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ وَبِالزُّبُرِ وَبِالْكِتَابِ الْمُنِيرِ

“Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasulnya); kepada mereka telah datang rasul-rasulnya dengan membawa mukjizat yang nyata, zubur, dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.”

Ayat 26

ثُمَّ أَخَذْتُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۖفَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ

“Kemudian Aku azab orang-orang yang kafir; maka (lihatlah) bagaimana (hebatnya) akibat kemurkaan-Ku.”

Ayat 27

أَلَمْ تَرَ أَنَّ الَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا ۚوَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ

“Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.”

==> Gunung kalau kita lihat dari kejauhan warnanya biru, namun ketika didekati akan berwarna hitam, hijau. Dan ketika kita mendekati lagi, yg ukuran 1/10 mm, bahkan yg ukurannya mikrometer, juga memiliki beraneka ragam warna.

Ayat 28

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗإِنَّمَا يَخْشَى الَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗإِنَّ الَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

==> Setelah Allah menyebutkan ciptaannya seperti buah, gunung, batu, yg berwarna warni

Sekarang manusia,

Allah menciptakan manusia dengan sangat luar biasa beraneka ragam.

Namun yg harus kita garis bawahi dalam ayat tersebut adalah, ulama : yaitu orang yg takut  kepada Allah.

Ayat 29

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ الَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُور

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.”

==> Semua orang yg melakukan bisnis pasti tidak mau rugi, pasti maunya beruntung. Dan perniagaan yg tidak pernah merugi itu hanya kepada Allah swt.

Misalnya : sholat, infaq, membaca Al Quran (walaupun hanya punya hafalan walau hanya 1 surat tidak apa2 asal rajin mengulang sampai mutqin. Barang siapa membaca Al Quran maka akan diganti dengan pahala.) semua itu akan kita peroleh ketika berjumpa dengan Allah. Penduduk surga adalah penduduk yg sukses. Tiada kesusksesan yg berarti kecuali berhasil dimasukkan ke dalam surga dan karunia tambahan yg Allah berikan kepada manusia itu adalah diizinkan melihat Allah swt.

Ayat 30

لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚإِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

[ Q. S. Fushshilat : 53 ]

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”

Seorang mukmin akan melihat segala apa yg diciptakan oleh Allah dengan penuh takjub. Jika kita bertemu dengan hal yg merusak iman. Maka kita segera berpaling.

 

Al Jamil, Yang Maha Indah

“Tidak akan masuk surga orang yg dalam hatinya ada kesombongan seberat biji debu.” Ada orang yg bertanya : Sesungguhnya setiap orang suka memakai baju yg indah, dan alas kaki yg bagus, apakah ini termasuk sombong?. Rasulullah saw bersabda, ” Sesungguhnya Allah maha indah dan mencintai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain” (H.R. Muslim)

Allah itu maha indah menyukai keindahan. Boleh saja kita memakai pakaian yg indah & alas kaki yg bagus (menurut kita), namun hendaknya kita juga memperindah akhlak, memperbagus hati , tidak hanya indah ‘cashing’nya saja, namun isinya juga indah, Inner beauty.

Nabi Muhammad menghadapi segala sikap umatnya dengan penuh keindahan akhlak. Suri tauladan terbaik bagi kita.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan hal ini secara lebih terperinci pada keterangan berikut, “Keindahan Allah Azza wa Jalla ada empat tingkatan; Pertama: keindahan dzat, kedua: keindahan sifat, ketiga: keindahan perbuatan dan keempat: keindahan nama. Atas dasar itu, semua nama Allah Azza wa Jalla Maha Indah, seluruh sifat-Nya Maha Sempurna, dan semua perbuatan-Nya mengandung hikmah, kemaslahatan (kebaikan) dan keadilan serta rahmat (kasih-sayang). Adapun keindahan dzat dan apa yang ada padanya, maka ini adalah perkara yang tidak bisa dicapai dan diketahui oleh selain Allah Azza wa Jalla. Semua makhluk tidak memiliki pengetahuan tentang itu kecuali (sedikit) pengetahuan yang dengan itulah Dia Azza wa Jalla memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba yang dimuliakan-Nya.

Sesungguhnya keindahan-Nya itu terjaga dari (segala bentuk) perubahan, terlindungi dengan tabir selendang dan sarung (kemuliaan), sebagaimana hadits Rasulullâh n dari Allah Azza wa Jalla(hadits qudsi): “Kebesaran itu adalah selendang-Ku dan keagungan itu adalah sarung-Ku…”.

Kecintaan memiliki 2 sebab : keindahan dan pengagungan, dan Allah memiliki kesempurnaan yang mutlak pada semua itu. Karena Dia maha indah dan mencintai keindahan.

Sabda rasul : sesungguhnya Allah maha indah, dan mencintai keindahan. Mengandung 2 unsur landasan islam yg agung, yaitu pengetahuan tentang sifat Allah taala, dan pengamatan konsekuensi dari sikap tersebut.

Yg pertama kita mengenal Allah dengan sifat maha indah yg tdk ada satu makhluk pun menyerupainya.

Yg kedua itu beribadah kepada Allah taala dgn sifat indah yg dicintainya , dlm ucapan, perbuatan, dan akhlak.

==> Allah Azza wa Jalla mencintai seorang hamba yang menghiasi ucapannya dengan kejujuran, menghiasi hatinya dengan keikhlasan, kecintaan, selalu kembali dan bertawakkal kepada-Nya, menghiasi anggota badannya dengan ketaatan kepada-Nya, dan menghiasi tubuhnya dengan memperlihatkan nikmat yang dianugerahkan-Nya kepadanya, seperti dalam berpakaian, membersihkan tubuh dari najis dan kotoran, memotong kuku, dan sebagainya. Jadi, hamba yang dicintai Allah Azza wa Jalla adalah hamba yang mengenal Allah Azza wa Jalla dengan sifat-Nya yang Maha Indah, selanjutnya beribadah kepada-Nya dengan keindahan yang ada pada agama dan syariat-Nya.

[ Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ]

إِنَّ اللهَ يُحِبُ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلىَ عَبْدِهِ

.Sesungguhnya Allah suka melihat (tampaknya) bekas nikmat (yang dilimpahkan-Nya) kepada hamba-Nya

[H. R. At-Tirmidzi & Al Hakim]

Allah Azza wa Jalla suka melihat terlihatnya bekas nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada hamba-Nya, karena ini termasuk keindahan yang dicintai-Nya, dan ini juga termasuk bentuk syukur kepada-Nya. Bersyukur adalah bentuk keindahan batin. Karena itu, Allah Azza wa Jalla suka melihat keindahan lahir yang berupa tampaknya bekas nikmat-Nya pada diri hamba-Nya.

Oleh karena itulah, Allah Azza wa Jalla menurunkan pakaian dan perhiasan kepada para hamba-Nya untuk memperindah penampilan lahir mereka, dan Dia  memerintahkan mereka agar bertakwa, karena ini akan memperindah batin mereka.

[ Q. S. Al-Araf : 26 ]

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi ‘auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan, dan pakaian takwa itulah yang lebih baik

Allah SWT juga berfirman tentang keadaan penduduk surga yang Allah anugerahi keindahan lahiriyah dan batiniyah dalam Q. S. Al-Insan: 11-12 :

وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا

Dan Dia menganugerahkan kepada mereka kecerahan (wajah) dan kegembiraan (hati). Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera.

Allah SWT menghiasi wajah mereka dengan kecerahan, menghiasi batin mereka dengan kegembiraan, dan menghiasi tubuh mereka dengan pakaian sutera.

Kita kalau mau masuk surga, harus latihan menjadi penduduk surga. Yaitu dengan melakukan segala yg Allah perintahkan dengan sabar : Sholat, tilawah Quran.