TAFSIR SURAT AL-KAFIRUN DAN ALASAN KENAPA IMAM SHOLAT SERING MEMBACANYA

Tafsir Surah Al-Kafirun

Surah al-Kafirun merupakan wahyu ke-18 yang diterima oleh Kanjeng Nabi Muhammad di Mekkah (Makiyyah). Ada ulama lain yang mengatakan bahwa surah al-Kafirun adalah wahyu yang ke-19. Nama lain dari surah al-Kafirun adalah al-Munaabadzah, al-Mu’abadah, Ikhlasul Ibadah, al-Musyaqsyaqah dan lainnya. Surah ini terdiri atas 6 ayat, 26 kata dan 74 huruf.

Ada peristiwa yang mengiringi turunnya surah ini sebagaimana tertulis dalam kitab Tafsir Marah Labid karya Syekh Nawawi Al-Bantani. Setelah Rasulullah menyampaikan ajaran Islam, beberapa tokoh musyrik merasa bahwa ajaran Muhammad mengancam ajaran mereka. Untuk itu, tokoh-tokohnya datang kepada Rasulullah. Mereka adalah al-Walid bin Mughirah, Ash bin Wail, Aswad bin Abdul Muthalib dan Umayyah bin Khalaf.

Mereka datang ke hadapan Rasulullah dan mengusulkan untuk berkomporomi dan berdamai di antara dua belah pihak. Mereka mengatakan:

“Hei Muhammad, bagaimana kalau beberapa waktu (selama setahun) engkau mengikuti agama kami. Sembahlah berhala dan tuhan-tuhan kami. Dan sebaliknya selama beberapa lama (setahun) kami akan mengikuti agamamu dan menyembah Tuhanmu. Kita menyembah tuhan-tuhan dengan bergantian. Kalau ajaranmu benar, maka kami bisa selamat. Begitu juga sebaliknya. Kalau ajaranmu yang benar, kami bisa selamat.”

Nabi Muhammad saw menolak dengan tegas tawaran ini sebab tidak mungkin Rasulullah menerima ajaran yang bertolak belakang dengan wahyu yang sudah diterima dari Allah. Tidak mungkin Rasulullah menyembah sesembahan orang kafir Mekkah. Untuk menjawab tawaran orang musyrik tersebut, turunlah surah al-Kafirun.

    Katakanlah, “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah men]adi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku.”

Di dalam Tafsir at-Thabari, disebutkan sebuah riwayat lain yang berasal dari Ibnu Abbas. Ibnu Abbas menyebutkan bahwa orang kafir Quraisy menjanjikan Rasulullah dengan harta agar beliau bisa menjadi orang yang paling kaya di negeri Mekkah. Selain itu juga beliau dijanjikan untuk menikah dengan wanita yang diinginkannya. Bahkan beliau dijanjikan akan diberi tahta kerajaan.

Mereka berkata, “Wahai Muhammad ini untukmu semua. Berhentilah untuk mencaci maki tuhan-tuhan kami. Jangan menyebut mereka dengan hal-hal yang buruk. Jika kamu tidak mau melakukannya, maka kami akan memaparkan satu permintaan yang lain, yang mana hal ini akan memberikan kebaikan kepada kita bersama,”

“Apa itu?” tanya Kanjeng Nabi.

Mereka menjawab, “Engkau sembah tuhan-tuhan kami Lata, `Uzza setahun dan kami sembah Tuhanmu selama setahun pula.” Lalu Nabi menjawab dengan surah Al-Kafirun.

Riwayat dari Ibnu Abbas ini merupakan atsar sahabat. Ibnu Abbas menjelaskan tentang Asbabun nuzul surah ini, sedangkan riwayat pertama yang bersumber dari Sa`id Mina adalah merupakan hadis. Hadis ini juga merupakan Asbabun nuzul tentang surah ini.

Inti dari kedua riwayat tersebut adalah bahwa orang kafir Qurays memberikan penawaran dengan mengajak Rasulullah agar Rasul mau menyembah Tuhan mereka. Akan tetapi semua ajakan dan bujukan kafir Qurays tidak mampu mempengaruhi ketegaran Rasul untuk tetap menyampaikan dakwah Islam.

Peristiwa kedatangan tokoh-tokoh kafir ini membuktikan bahwa sebenarnya tantangan dakwah Rasulullah bukan hanya berupa tantangan fisik. Kedatangan mereka sebenarnya ingin mengajak diskusi agar menemukan titik temu antar ajaran agar tidak terjadi perselisihan. Sehingga bisa dikatakan bahwa ini merupakan salah satu ujian intelektual kepada Rasulullah di hadapan umatnya.

Karena bimbingan Allah, Rasulullah bisa mengalahkan argumen tokoh-tokoh kafir yang mendatanginya. Untuk itu jika para ulama sekarang mendapatkan tantangan intelektual dalam dakwahnya, maka tantangan itu juga harus dijawab dengan jawaban yang cerdas pula.

Di dalam ayat yang pertama disebutkan “Katakanlah, Hai orang-orang yang kafir,” jika melihat asbabun nuzul surah ini, maka kata orang-orang kafir (al-kafirun) yang disebutkan adalah tokoh-tokoh yang mendatangi Kanjeng Nabi. Bukan semua orang kafir. Mengapa?

Sebab ayat berikutnya disebutkan aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Jika orang-orang kafir yang disebut di dalam surah ini adalah semua orang kafir baik yang ada sejak zaman Kanjeng Nabi sampai sekarang, maka ini tidak sesuai dengan kenyataan. Sebab ada beberapa orang kafir yang kemudian masuk Islam dan menyembah Allah.

Sedangkan tokoh-tokoh kafir yang mendatangi Rasulullah tidak akan beriman selama-lamanya. Buktinya mereka mati di dalam kekafiran.

Quraish Shihab menjelaskan bahwa Nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah untuk mengatakan kepada orang-orang yang membencinya untuk menjelaskan keyakinannya secara jelas dan konsisten kepada orang-orang kafir. Bahwa tidak ada kompromi dalam hal akidah dan beliau tidak akan menyembah dengan apa yang disembah oleh orang-orang kafir. Sampai kapan pun. Sebab orang-orang kafir menyembah berhala yang berbeda-beda tergantung tempat, situasi dan kondisi.

Ayat kedua dalam surah Al-Kafirun menyebutkan, “Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah.” Ayat ini merupakan penegasan bahwa di masa ini dan di sampai kapan pun Kanjeng Nabi tidak akan menyembah sesembahan orang-orang kafir yang mendatangi Nabi. Rasulullah juga  tidak akan menempuh dan tidak pula meniru cara penyembahan kepada patung-patung tersebut.

Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Maksudnya, kalian tidak usah mengikuti perintah-perintah Allah di dalam beribadah. Dua ayat ini sangat berhubungan dengan ajakan orang kafir agar Kanjeng Nabi Muhammad mau menyembah sesembahan pembesar kaum musyrik di satu waktu. Begitu pula sebaliknya.

Menurut Muhammad Abduh dalam tafsir Al-Manaar bahwa ayat kedua dan ketiga menegaskan tentang perbedaan subtansial mengenai al-ma’bud (yang disembah). Sedangkan ayat keempat dan kelima menegaskan tentang perbedaan subtansial mengenai ibadah yang dilakukan oleh masing-masing pemeluk agama. Dengan demikian, ma’bud antara orang musyrik dan orang Islam tidak sama, dan ibadah pun tidak sama.

Yang disembah oleh umat Islam adalah Tuhan Yang Maha Esa, Yang tidak ada tandingan atau perantara bagi-Nya; Yang Maha Agung sehingga mustahil Ia akan menampakkan diri-Nya dalam diri seseorang tertentu; Yang Maha Pelimpah karunia-Nya kepada siapa pun yang mengikhlaskan diri kepada-Nya; Yang dengan keperkasaan-Nya menghukum siapa pun yang memusuhi hamba-hamba-Nya: yang menyampaikan ajaran-ajaran-Nya dengan penuh ketulusan.

Sedangkan yang disembah oleh orang kafir Makkah berlawanan sifatnya secara diametral dengan Tuhan orang Islam. Demikian pula ibadah umat Islam benar-benar murni untuk Dia saja; sedangkan ibadah orang-orang kafir makkah bercampur dengan kemusyrikan, dan disertai dengan kelalaian akan Allah Swt., maka pada hakikatnya, ia dapat disebut ibadah.

Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.

Menurut Imam al-Qurthubi, perbedaan ayat ketiga dan kelima yang redaksinya persis sama (keduanya berbunyi: wa laa antum aabiduuna maa a’bud), bahwa sementara ulama membedakannya dengan memberi arti yang berbeda terhadap makna maa tersebut. Huruf maa antara lain berarti “apa yang”, dan ketika itu dalam istilah kebahasaan dinamai maa maushuulah dan bisa juga berfungsi mengubah kata yang ketika itu dinamai dengan masdariyah.

Menurut ulama, maa pada ayat ketiga (demikian pula pada ayat kedua) berarti “apa yang”, sehingga wa laa antum ‘aabiduuna maa a’bud berarti “kamu tidak akan menjadi penyembah apa yang yang sedang dan akan aku sembah.” Sedangkan, maa pada ayat kelima (demikian ayat keempat) adalah masdariyah, sehingga kedua ayat ini berbicara tentang cara beribadah: Aku tidak pernah menjadi penyembah dengan (cara) penyembahan kalian; kalian pun tidak akan menjadi penyembah-penyembah dengan cara penyembahanku.

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Kitab Marah Labid menyebutkan Rasulullah selain tidak akan menyembah berhala, beliau juga sebelumnya tidak pernah menyembah apa yang disembah oleh orang kafir. Begitu pula dengan tokoh-tokoh musyrik yang mendatangi Nabi. Sebelum Rasulullah menerima wahyu dan setelah menerima wahyu, mereka tetap menyembah sesembahannya.

Quraish Shihab mengatakan dalam ketiga ayat paling awal dari surah al-Kafirun disimpulkan bahwa Allah berpesan kepada Nabi-Nya, Muhammad Saw., untuk menolak secara tegas usul yang mereka ajukan sekarang tetapi juga menegaskan bahwa tidak mungkin ada titik temu antara Nabi Saw., dengan tokoh-tokoh tersebut. Karena, kekufuran sudah demikian mantap dan mendarah daging dalam jiwa mereka, serta kekerasan kepala mereka telah mencapai puncaknya sehingga tidak ada sedikit harapan atau kemungkinan, baik masa kini maupun masa mendatang, untuk bekerja sama dengan tokoh-tokoh tersebut.

Kemudian dilanjutkan dengan ayat keenam, Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku. At-Thabari (tahun 838-923 M/ 310 H) memberi penjelasan bahwa keseluruhan isi surah al-Kafirun ini dimaksudkan untuk menyembah Allah. Dan Ayat terakhir menjadi sikap tegas Rasulullah untuk mengatakan berbeda dengan mereka. Agama Rasulullah berbeda dengan ajaran orang Kafir. Biarkan itu berbeda tapi perlu dicampur adukkan. Syekh Nawawi menyebutkan bahwa lakum diinukum waliyadin ditafsirkan oleh ulama lain dengan lakum hisaabukum waly hisaaby. Artinya Kamu akan mendapatkan balasan dari apa yang kamu lakukan dan aku akan mendapatkan balasan atas apa yang aku kerjakan.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa surah ini menjadi kekuatan Nabi Saw., untuk menyatakan berlepas diri dari perbuatan yang dikerjakan oleh orang-orang musyrik dan perintah kepada umat muslim pula untuk selalu berbuat ikhlas kepada Allah. Tidak ada jalan untuk mengabdi kepada Allah kecuali dengan mengikuti risalah yang dibawa oleh Nabi Saw.

Diantara waktu yang dianjurkan untuk membaca surat ini adalah ketika ingin tidur, sebagaimana dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

“Bacalah ketika engkau hendak tidur: qul yaa ayyuhal kaafiruun, Kemudian tidurlah setelah engkau selesai membacanya. Sesungguhnya surat tersebut sebagai pelepas dari kesyirikan”. HR Ahmad 39/224 no: 23807.

Salah satu keutamaan dari surah ini adalah Kanjeng Nabi Muhammad biasa meruqyah dirinya dengan membaca surah ini. Seperti dijelaskan oleh at-Thabarani didalam Mu’jam al-Shaghir dari hadisnya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Bahwa Nabi Muhammad pernah mengatakan, “Semoga Allah melaknat kalajengking yang tidak membiarakan seseorang mengerjakan sholat tidak pula yang lainnya.” Kemudian beliau meminta diambilkan air dan garam, lalu beliau mengusapkan pada bekas sengatannya sambil membaca surah Al-Kafirun, surah Al-Falaq dan surah An-Naas.

 

Mengapa Imam Salat di Kampung Suka Baca Surah al-Kafirun?

Para imam di masjid-masjid kampung umumnya punya surat andalan sewaktu memimpin salat berjamaah: Magrib. Untuk rakaat pertama bacaannya surah al-Kafirun dan rakaat kedua bacaannya surah al-Ikhlas.

Kebiasaan membaca surah andalan ini ternyata bukan karena mereka tidak punya hapalan surat lain. Bahkan tak sedikit mereka yang hafal Alquran, tapi yang mereka baca hanya surat-surat itu. Kenapa mereka membaca dua surah itu?

Ada dua jawaban. Pertama, mengamalkan hadis Rasulullah: “Jika salah satu di antara kalian menjadi imam maka hendaknya meringankan bacaan dan gerakan karena dalam jamaahnya ada anak kecil, orang tua, orang yang memiliki keperluan. Namun jika salat sendirian maka lakukan sekuasa kalian” (Mutafaq alaihi). Membaca surah al-Kafirun dan al-Ikhlas bertujuan meringankan bacaan salat berjamaah.

Kedua, untuk merekonstruksi iman dan Islam. Seseorang ketika membaca surah al-Kafirun hakekatnya sedang melakukan evaluasi diri, bukan melaknat orang lain yang tak seakidah. Dari evaluasi diri ini diharapkan sifat-sifat tertutup, congkak, ingkar, dan lain-lain. yang menunjukkan sifat kufur (ingkar) dapat diperbaiki secara bertahap. Cara memperbaikinya dengan cara mengingatkan diri melalui bacaan surah al-Ikhlas.

    Bacaan surah al-Kafirun dan surah al-Ikhlas dapat diibaratkan seperti pembaruan sistem aplikasi seorang muslim. Imam spesialis bacaan surah al-Kafirun dan surah al-Ikhlas berperan sebagai aplikator yang bekerja memperbaiki perangkat khusus orang Islam yang tak berfungsi maksimal.

Apa perangkat khusus orang Islam itu?

“Islam” yang disebut dalam Alquran sebanyak delapan kali dalam arti agama identik dengan komunitas khusus. Yakni komunitas muslim yang memiliki perangkat dan sistem khusus pula yang dibangun lewat jejaring “salam” yang berarti penghormatan dan keselamatan.

Untuk membuktikan hal itu, perhatikan ayat-ayat berikut ini: Q.S. Yunus: 9-10, salam adalah penghormatan buat orang-orang yang saleh;

Alquran surah al-Ahzab ayat 56: salam merupakan bentuk penghormatan ummat kepada nabi yang dijunjungnya. Alquran surah an-Nuur ayat 61: salam adalah penghormatan antara seseorang kepada sahabatnya. Alquran surah an-Nuur ayat 27: salam merupakan penghormatan kepada tuan rumahnya. Dalam Alquran surah as-Shaffat: salam diulang beberapa kali sebagai penghormatan kepada para rasul.

Dengan demikian, perangkat Islam adalah model jejaring yang menginduksikan rasa hormat dan menyebarluarkan keselamatan kepada umat manusia.

Imam di masjid-masjid kampung spesialis bacaan surah al-Kafirun ketika membaca qul ya ayyuhal kafirun bukanlah bertujuan menyinggung non-muslim. Toh yang berjamaah semuanya orang Islam. Tetapi surah al-Kafirun selalu dibaca tiap rakaat pertama sekedar untuk mengingatkan; apa di antara yang salat sudah tertanam rasa hormat-menghormati?

Jika belum, imam di masjid kampung itu mengingatkan dengan bacaan surah al-Ikhlas, agar semua menyadari bahwa hidup tidak boleh egois. Manusia tidak bisa hidup sendiri sebab manusia bukan Tuhan.

Sebagai umat beragama manusia harus hormat kepada Tuhannya dan para rasul perantara-Nya. Sebagai makhluk sosial manusia harus saling menghormati antar sesama umat manusia.

Imam di mesjid kampung itu telah menggugah kesadaran kaumnya agar semua yang mengaku muslim dapat menjadi pribadi yang salim. Yaitu pribadi yang selalu melakukan penghematan kepada Tuhan dan siapa saja agar terajut rasa aman, nyaman, dan sentosa sesuai ajaran Islam rahmatan lil alamin.

Imam masjid di kampung berperan laksana orangtua yang mengajarkan kepada anak-anaknya: Ayooo Nak! Saliiim… (Salami orang-orang yang ditemui). Bukankah kita juga begitu ngajari anak-anak sewaktu ketemu orang?

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

INILAH CARA BERDZIKIR KALIMAH THOYYIBAH YANG PALING SEMPURNA

Cara Yang Paling Sempurna Untuk Berzikir

 لآ إله إلا الله محمد رسول الله

Menurut Imam Sanusi Dalam kitab Ummul Barahin.

Berzikir dengan kalimah لآ إله إلا الله محمد رسول الله adalah sebuah ibadah sunnah yang sangat besar pahalanya. ini dikarenakan kalimat tersebut adalah kalimat syahadah yang nilainya di sisi Allah sangat tinggi dan juga mengandung bermacam-macam rahasia dan kelebihan yang amat banyak, Namun untuk meraih segala keagungan dan kelebihan kalimah tersebut, diperlukan cara khusus dalam berzikir agar hasil dan fadhilahnya sempurna.

Untuk itu kami akan mencoba menjelaskan cara yang paling sempurna untuk berzikir لآ إله إلا الله محمد رسول الله menurut Imam Sanusi dalam kitabnya Ummul Barahin berikut ini.

  1. Mengambil wudhu, memakai pakaian suci, mencari tempat suci, khalwah semampunya, mencari waktu-waktu mulia seperti setelah subuh sampai munculnya matahari, setelah ashar sampai tenggelamnya matahari, antara magrib dan isya dan waktu sahur.

  1. Mengucapakan :

بتوفيقك أمتنا لا لأمرك مستعينا بك اللهم إني أستغفرك يا مولاى وأتوب اليك من جميع الصغائر والكبائر وهواتف الخواطر

  1. Membaca ta’awudz :

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

  1. Membaca Ayat Ke 20 dari Surat Al- Muzammil:

۞ وَمَا تُقَدِّمُواْ لِأَنفُسِكُم مِّنۡ خَيۡرٖ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ هُوَ خَيۡرٗا وَأَعۡظَمَ أَجۡرٗاۚ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمُۢ. ٢٠

Artinya : “ Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ”.

  1. Istighfar 100 kali.

  1. Membaca ta’awudz.

  1. Membaca dalam hati Ayat :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

  1. Menghadirkan (Membayangkan) betapa besarnya kedudukan dan keagungan Nabi Muhammad SAW di sisi Allah taala dalam hati.

  1. Mengucapkan :

لبيك مولاى وسعديك والخير كله في يديك وها هو العبد الفقير الحقير راكن لمنيع جنابك متوسل اليك بأفضل أحبابك يقول بتوفيقك ممتثلا لأمرك ومستعينا بك فى جميع أموره.

  1. Membaca Sahalawat Kepada Nabi SAW sebanyak 500 kali dengan membayangkan seolah-olah nabi hadir dihadapan kita, contoh shalawatnya :

أللهم صلّ على سيدنا محمد نبيك ورسولك وخليلك صلاة اَرْقَى بها مراقي الإخلاص، وأنال بها غاية الاختصاص ، وسلم تسليماً عدد ما أحاط به علمك وأحصاه كتابك.

  1. Membaca Tahmid (Puji-Pujian) Sebanyak 3 atau 7 kali dengan menghayati akan besarnya nikmat Allah yang telah memberikan Taufiq bagi kita untuk memulai dan menyelesaikan bacaan Shalawat dan mensyukurinya, yaitu misalnya dengan membaca :

الحمدلله ألذي انعم علينا بنعمة الإيمان والإسلام وهدانا بسيدنا ومولانا محمد عليه من الله تعالى افضل الصلاة و ازكى السلام. الحمدلله هدانا لهذا وماكنا لنهتدي ان هدانا ألله ، لقد جاءت رسل ربنا بالحق.

  1. Membaca Ta’awudz ( أعوذ بالله من الشيطان الرجيم )

  1. Membaca Firman Allah Surat Muhammad ayat 19 : فاعلم انه لآ إله إلا الله

  1. Mengucapkan Doa :

لبيك مولاي وسعديك، والخير كله في يديك ، وها هو العبد الفقير الحقير يوحدك بالتهليل منخلعا من كل شرك ومن كل تغيير وتبديل بقوله مخلصا من قلبه ذاكرا لربه لآ إله إلا الله محمد رسول الله صلى الله عليه و سلم.

  1. Membacakan Dzikirلآ إله إلا الله محمد رسول الله dengan selalu menghayati maknanya sampai habis Jumlahnya (200 / 300 / 400 / 500 kali atau seterusnya seberapa banyak yang sanggup dibaca).

Demikianlah Cara berzikir “Laailahaillallah” yang paling sempurna yang insya Allah bila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan manfaat yang sangat besar juga. Wallahu ‘Alam Bisshawab,

Referensi : Kitab Hasyiah Dusuki ‘ala Ummul Barahin Halaman 230.

KISAH SUFI : ULAMA SUFI DAN KUCINGNYA SERTA ANJING YANG MENJADI PENYEBAB MASUK ISLAMNYA ORANG MONGOLIA

Anjing menjadi penyebab 40.000 orang mongol masuk islam.

Bila dilihat dari sudut hukum fikih, anjing merupakan salah satu dari dua najis yang dianggap berat (mughaladzah). Cara mensucikannya pun tidak seperti najis biasa, melainkan harus dibasuh tujuh kali yang salah satunya dicampur debu.

Memandang hukum ini, tentu kita akan berfikiran bahwa anjing adalah hewan yang hina, rendah dan tidak berfaedah. Namun, Allah Swt telah menjelaskan dalam Alquran (44/38) bahwa Dia tidak menciptakan langit, bumi dan isinya dengan tanpa faedah, semua adalah hak. Kita tidak boleh mencela apa pun yang ada di bumi, sekalipun itu seekor anjing.

Jauh sebelum Muhammad Saw diutus dengan syariat Islam, Allah telah memberi pelajaran berharga kepada Abdul Ghafar dengan seekor anjing. Ia adalah Nabi Nuh, kronologi penamaan ini karena kisah yang dialaminya dengan anjing. Muhammad bin Hammad Ibnu Iyas al-Mishri dalam kitab Badai’ al-Zuhur fi Waqai’ al-Duhur mengkisahkan, Imam Kisai berkata bahwa, nama Nuh adalah Abdul Ghafar atau Yasykur. Disebut Nuh karena saat ia melihat seekor anjing bermata empat ia berkata, “Sungguh anjing ini sangat buruk.”

Tiba-tiba anjing itu berkata, “Hai Abdul Ghafar, Yang kamu cela ukiran atau Dzat Yang mengukir? Apabila celaan itu untuk ukirannya, sungguh, seandainya aku bisa memilih, aku tidak ingin menjadi anjing, dan apabila celaan itu untuk Dzat Yang mengukir, maka sama sekali celaan itu tidak patut untuk-Nya, karena Dia adalah Dzat yang melakukan apapun yang dikehendaki.”

Setelah itu, Abdul Ghafar yanuhu (meratap atau menangis)  dan menangisi atas dosa dan kesalahannya. Karena banyaknya dia menagis maka dia disebut Nuh (meratap).

Setelah itu, Ada kisah seekor anjing penjaga Ashabul Kahfi. Mereka adalah para pemuda yang teguh mempertahankan iman dari raja yang keji. Mereka melarikan diri, keluar dari kota. Di tengah perjalanannya mereka diikuti seekor anjing. Hingga akhirnya anjing ini menjaga mereka selama di gua. Ulama berkomentar, anjing ini disebut Qithmir, ia akan masuk surga sebagaimana Ashabul Kahfi. Kisah lengkap perjalanan Ashabul Kahfi diabadikan oleh Allah dalam Alquran surat al-Kahfi.

Kisah yang lebih menakjubkan terjadi di Mongol. Sebab seekor anjing, 40.000 warga Mongol masuk Islam. Kisahnya tercatat dalam kitab Mu’jam al-Syuyukh milik Imam al-Dzahabi dan  Al-Durar al- Kaminah milik Ibnu Hajar al-Asqalani. Ibnu Hajar berkata:

“Suatu ketika para pembesar Nasrani berkumpul di Mongol. Mereka datang menghadiri upacara besar yang diselenggarakan sebab salah satu pemerintah Mongol masuk Nasrani. Dalam upacara tersebut, seorang pembicara dari Nasrani mencaci-maki Nabi Saw. Dan di sampingnya ada seekor anjing yang di rantai. Ketika orang itu mulai mencaci Nabi, anjing itu menggeram, memberontak, lalu meloncat dengan mengincar lehernya. Hewan ini menggigitnya sangat keras. Para penjaga sampai kesulitan melepaskan gigitannya, dan baru berhasil mereka lepaskan dengan susah payah. Sebagian audient berkata:

“Ini terjadi sebab ucapanmu (yang mencela) terhadap hak Muhammad Saw.”

Nasrani menjawab, “Bukan, anjing ini hanya membela diri, dia melihatku menggerak-gerakkan tangan sehingga menyangka aku akan memukulnya.”

Setelah itu, dia kembali mencaci Muhammad, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Sontak, anjing itu langsung memutus rantai, dan melompat menerkam lehernya, ia menggigitnya dengan sangat keras. Seketika itu ia meninggal. Melihat kejadian itu 40.000 orang Mongol masuk Islam.”

 

Ulama Sufi dan kucingnya

Dalam sejarah umat manusia, salah satu hewan yang memiliki hubungan dekat dengan manusia adalah kucing. Keberadaannya secara alamiah banyak memberi manfaat kepada kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung.

Secara langsung, keberadaan kucing yang tinggal di rumah-rumah dan pasar, dalam mencari mangsanya mereka menjadi predator tikus, sehingga pada saat yang sama kucing menjaga gudang makanan manusia dari ancaman tikus.

Secara tidak langsung, keberadaan kucing banyak menjadi pelipur lara bagi beberapa orang yang merasa sendiri. Melihatnya bermain di taman-taman kota bias menurunkan tingkat stres.

Keberadaan kucing menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan umat manusia, meskipun kucing bukan hewan yang dikonsumsi, kecintaan manusia kepada kucing itu tulus, walau kadang kebaikan mereka tidak dibalas dengan kebaikan yang sama oleh kucing.

Dari dahulu hingga sekarang, dari barat sampai timur banyak peribahasa dan cerita-cerita heroik tentang hubungan manusia dan hewan lucu berkaki empat ini. Ada sebuah hikayat yang menarik tentang mengapa bentuk kucing itu mirip dengan singa.

Konon, pada saat Nabi Nuh melakukan misi penyelamatan dari azab banjir bersama umatnya yang taat, tidak ketinggalan di dalam kapal yang mereka naiki juga terdapat tikus. Namun rupanya tikus-tikus itu dengan cepat berkembang biak dan mengancam stok makanan yang ada di kapal. Khawatir kehabisan bahan makanan karena dimakan tikus, Nabi Nuh berdoa kepada Allah agar dikeluarkan dari masalah yang sedang menimpanya dan umatnya.

Sebagai jawaban atas doa Nabi Nuh, Allah memerintahkan singa-singa untuk bersin. Maka keluarlah dari hidung-hidung mereka kucing-kucing lucu. Riwayat lain mengatakan bahwa Nabi Nuh mendapat wahyu untuk memegang kepala atau memasukkan jari-jarinya ke dalam hidung singa sehingga singa itu bersin dan keluar dari hidungnya dua hewan kecil yang bentuknya mirip seperti singa.

Dalam tradisi Islam kucing juga kerap kali disebutkan dan menjadi sumber pelajaran hidup (ibrah). Misalnya, ada satu dari sahabat Nabi ada yang memiliki julukan bapak kucing, Abu Hurairah. Julukan itu ia dapat karena dirinya sangat menyayangi kucing

Sebaliknya, terdapat juga sebuah hadis yang menceritakan ada seorang perempuan menjadi calon penghuni neraka karena mengikat seekor kucing, namun tidak diberi makan dan tidak melepasnya untuk mencari makan.

Cerita tentang hubungan antara kucing dengan manusia juga bayak ditemukan dalam tradisi tasawuf. Misalnya, Ahmad ar-Rifai. Pada satu ketika ada seekor kucing yang tidur di atas jubah ar-Rifai, Sampai waktu salat tiba, kucing tersebut masih saja tidur dengan nyenyaknya. Melihat betapa jubahnya digunakan sebagai alas tidur kucing, ar-Rifai tidak tega membangunkan.

Dia lebih memilih untuk memotong bagian jubah yang ditempati oleh kucing, dan menggunakan jubah yang bolong untuk salat. Setelah ar-Rifai selesai melaksanakan salat, si kucing sudah bangun dan pergi meninggalkan potongan jubahnya.

Cerita yang sedikit mirip dinisbahkan kepada Syaikh Baqi Billah. Pada Suatu malam Baqi Billah bangun untuk melaksanakan salat tahajud. Namun, di atas selimut yang dia gunakan ada seekor kucing tidur yang membuatnya tidak bisa bangun. Khawatir si kucing terbangun, Baqi Billah rela tidak bangun Sampai waktu subuh datang.

Abu Bakar as-Sibli seorang sufi dari kota Baghdad meninggal pada tahun 334 H. Setelah kematiannya, salah satu dari sahabatnya bertemu dengan as-Sibli dalam mimpinya. Lalu dia bertanya, “bagaimana Allah memperlakukan kamu wahai Sibli?”

Sibli menjawab, bahwa ia diperlakukan secara istimewa oleh Allah. Sibli melanjutkan ceritanya:

Dia (Allah) bertanya kepadaku, “Sibli, tahukah kamu kenapa saya memperlakukan kamu dengan sedemikian baik?” Saya menjawab, karena saya mengerjakan perbuatan-perbuatan baik. Kemudian Allah menjawab, “Bukan.” Saya jawab lagi, karena saya beribadah dengan ikhlas dan tulus. Allah masih menjawab, “bukan.”

Saya jawab lagi, karena saya haji, puasa dan salat. Allah masih menjawab, “bukan.”

Saya bingung, apa yang membuat saya diperlakukan dengan sebaki ini.

Lalu Allah menjelaskan, “Kamu ingat, kamu pernah pergi ke sebuah jalan di salah satu pojok kota Baghdad, di sana kamu menemukan seekor anak kucing yang kedinginan dan dengan penuh kasih sayang kamu merawatnya.” Lalu saya menjawab, “Iya Ya Allah, saya ingat itu.”

“Karena kamu telah memperlakukan kucing itu dengan penuh kasih sayang, saya memperlakukan kamu dengan perlakukan yang sama.”

Cerita-cerita di atas menggambarkan betapa kucing memiliki tempat yang sangat istimewa dalam hati manusia terutama para ulama tasawuf (sufi). Kecintaan mereka tulus. Tanpa pamrih.

Tentu, memberikan perlakukan baik kepada kucing adalah sebuah praktik yang tidak boleh berhenti pada kucing saja. Apa yang telah dilakukan oleh para sufi kepada kucing juga mesti diterapkan kepada hewan-hewan yang lain. Adalah terang bahwa Allah memerintahkan kita umat manusia untuk memperlakukan hewan dengan baik, apalagi dengan sesama manusia.

Kucing adalah simbol pihak yang ketika diberikan kebaikan tidak membalas. Tetapi kendati demikian, kebaikan harus tetap diterapkan kepada siapa pun. Karena pada dasarnya tugas kita sebagai manusia adalah menyebarkan kebaikan kepada semua makhluk yang ada. Hal ini sebagaimana diperintahkan oleh Allah dalam hadis Qudsi,

“Sayangilah apa yang ada di bumi, maka Dzat yang ada di langit akan menyayangimu” (HR. At Thabrani dalam al Mu’jam al Kabir, Shahihul Jaami’ no. 896)

Sementara balasan adalah urusan Allah, bukan urusan orang yang kita perlakuan dengan baik. Bahwa kebaikan dilakukan bukan untuk mendapatkan balasan atas apa yang kita lakukan.

MENYAMBUT KEPULANGAN JAMA’AH HAJI DAN CIRI HAJI YANG MABRUR

Tradisi Menyambut Jamaah Haji

Di saat memasuki separuh akhir bulan Dzulhijjah seperti sekarang ini, akan mengingatkan umat muslim terhadap saudara mereka yang telah usai melaksanakan ibadah haji. Karena pada waktu itulah para jamaah haji telah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji dan pada gilirannya akan diterbangkan kembali menuju tanah air.

Pada waktu ini juga terdapat anjuran untuk menyambut kedatangan jamaah haji. Hal yang demikian sudah pernah dicontohkan para Sahabat ketika menyambut kedatangan Rasulullah saw dari suatu perjalanan. Hadis dari sahabat Abdulah bin Ja’far, beliau menceritakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تَلَقَّى بِنَا، فَتَلَقَّى بِي وَبِالْحَسَنِ أَوِ الْحُسَيْنِ، قَالَ: فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ

“Ketika Rasulullah Saw datang dari perjalanan kami meyambutnya. Beliau menghampiriku, Hasan, dan Husain. Lalu beliau menggendong salah satu diantara kami di depan, dan yang lain mengikuti di belakang beliau hingga kami masuk kota Madinah,” (HR, Muslim).[1]

 

Selamatan dan Doa Haji

 

Suka cita kedatangan seseorang yang telah melaksanakan ibadah haji tergambar jelas saat dia sampai di kampung halamannya. Sebagian dari mereka ada yang merayakan dalam bentuk Selamatan Haji sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan.

Dalam praktek nyata, ada sebuah tradisi untuk menghidangkan makanan kepada para tamu yang mengunjunginya. Tradisi seperti ini disebut dengan nama An-Naqi’ah. Secara pengertian, An-Naqi’ah dapat diartikan sebagai tradisi jamuan makanan yang diselenggarakan oleh seseorang yang baru pulang  dari perjalanan. Tentunya melihat konteks ini, tidak hanya terbatas pada perjalanan haji. Namun memiliki cakupan praktek yang lebih luas. Tradisi ini memiliki landasan hukum salah satu hadis:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ سَفَرِهِ نَحَرَ جَزُورًا أَوْ بَقَرَةً

“Sesungguhnya Rasulullah Saw ketika tiba di Madinah dari suatu perjalanan, beliau menyembelih unta atau sapi,” (HR. Bukhari).[2]

Namun, tradisi selamatan haji tidak sebatas acara jamuan makan. Namun yang lebih penting dari  hal itu adalah mendapatkan berkah doa ampunan dari orang yang yang berhaji. Bahkan hampir dapat dipastikan, tujuan sentral yang paling utama dari adanya Selamatan Haji adalah mendapatkan keberkahan doanya. Adapun permasalahan legalitas syariat dalam memandang polemik tersebut didasarkan pada salah satu hadis, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda:

إِذَا لَقِيتَ الْحَاجَّ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَصَافِحْهُ، وَمُرْهُ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ بَيْتَهُ، فَإِنَّهُ مَغْفُورٌ لَهُ رَوَاهُ أَحْمَدُ

“Ketika engkau bertemu dengan orang yang haji, ucapkanlah salam padanya, dan berjabat tanganlah dengannya, serta mintalah doa ampunan kepadanya sebelum ia memasuki rumahnya. Karena sesungguhnya dia merupakan orang yang telah terampuni” (HR. Ahmad).[3]

Karena bukan rahasia umum lagi, mereka yang baru datang dari ibadah haji bagaikan seorang bayi yang baru lahir tanpa adanya sedikitpun dosa yang berhubungan langsung dengan Allah. Oleh karena itu, keadaan mereka yang tidak memiliki dosa menjadi lebih dekat dengan Allah Swt, sehingga permohonan dan doanya memiliki nilai lebih daripada yang lain.

Dari hadis tersebut juga dapat ditarik pemahaman yang menjelaskan anjuran bagi seseorang yang haji untuk mendoakan ampunan bagi orang lain meskipun orang lain tersebut tidak minta didoakan. Namun dalam keadaan seperti ini, disunnahkan bagi seseorang berada di sekitar orang yang baru menunaikan ibadah haji untuk menunjukkan permintaannya agar didoakan secara langsung. Hal ini ditujukan agar doan yang dipanjatkan juga tercakup dalam doa yang pernah diucapkan oleh Nabi Muhammad Saw. Sebagaimana dalam redaksi hadis:

للَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ، وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُّ

“Ya Allah, ampunilah dosa orang yang berhaji. Dan dosa orang yang dimintakan ampunan oleh orang yang berhaji” (HR. Muslim).[4]

Memang benar, para ulama telah sepakat bahwasanya seseorang yang baru pulang dari perjalanan haji memiliki keistimewaan yang berupa doa yang mustajab. Mengenai batasan waktu yang utama untuk doa orang yang baru pulang dari haji masih menyisakan perbedaan pendapat di antara para ulama. Sebagian mengatakan hal tersebut berlaku sejak mereka memasuki kota Mekah hingga kembali ke keluarganya. Sebagian lagi berpendapat sebelum mereka masuk rumahnya. Dan ada yang berpendapat sampai 40 hari terhitung sejak mereka pulang dari haji. Bahkan, dalam kitab Ihya’ Ulumuddin diceritakan berdasarkan cerita dari sahabat Umar Ra, keadaan ini akan terus berlangsung hingga akhir bulan Dzulhijjah, Muharram, dan  20 Rabiul Awwal dalam hitungan kelender Hijriyah.[5]

[1] Shahih Muslim, juz 4 hal 185.

[2] Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz 4 hal 400.

[3] Dalil Al-Falihin, juz 3 hal 237.

[4] Faidh Al-Qodir, juz 2 hal 101.

[5] Hasyiyah Al-Jamal, juz 2 hal 554.

 

Mengenal Ciri-ciri Haji Mabrur

Sebagai penyempurna rukun Islam, semua orang yang telah melaksanakan ibadah haji juga menginginkan hajinya menjadi haji yang mabrur. Sebuah predikat yang menjadi hak prerogatif Allah untuk hambanya yang telah menunaikan ibadah haji. Dalam beberapa hadisnya, Rasulullah Saw. pernah menjelaskan keutamaan-keutamaan haji mabrur. Seperti hadis populer yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari:

وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ

“Tidak ada balasan yang pantas bagi haji mabrur selain surga”. (HR. al-Bukhari)[1]

Pakar hadis kenamaan, Ibnu Hajar al-‘Asqolani, mengartikan haji mabrur sebagai bentuk ibadah haji yang diterima atau haji yang tidak tercampur dengan perbuatan dosa.[2] Sehingga tak heran Rasulullah Saw. menjelaskan apabila Allah Swt. membalas ibadah haji yang  mabrur dengan surga.

Namun pada kenyataannya, tidak semua orang yang pernah berhaji memiliki predikat haji mabrur. Karena ada beberapa ketentuan dan ciri-ciri khusus yang dimilikinya. Adapun ciri-ciri haji mabrur adalah terbentuknya akhlak yang terpuji dan meningkatnya rasa takwa bagi seseorang yang telah menunaikan haji. Sebagaimana penjelasan imam al-Khawash yang dikutib al-Habib Abdurrahman al-Masyhur dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin:

 قَالَ الْخَوَّاصُ رَحِمَهُ اللهُ مِنْ عَلَامَاتِ قَبُوْلِ حَجِّ الْعَبْدِ وَأَنَّهُ خُلِعَ عَلَيْهِ خِلْعَةَ الرِّضَا عَنْهُ أَنَّهُ يَرْجِعُ مِنَ الْحَجِّ وَهُوَ مُتَخَلِّقٌ بِالْأَخْلَاقِ الْمُحَمَّدِيَّةِ لَا يَكَادُ يَقَعُ فِيْ ذَنْبٍ وَلَا يَرَى نَفْسَهُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِ اللهِ وَلَا يُزَاحِمُ عَلَى شَيْئٍ مِنْ أُمُوْرِ الدُّنْيَا حَتَى يَمُوْتَ

“Imam al-Khawash berkata, di antara tanda-tanda seseorang yang ibadah hajinya diterima ialah bahwa dirinya telah membuka pintu ridho, sehingga ia kembali (dari haji) dengan memiliki perilaku terpuji, tidak mudah melakukan dosa, tidak menganggap dirinya lebih baik atas makhluk Allah yang lain, dan tidak berlomba-lomba dalam urusan dunia sampai ia meninggal dunia”.[3]

Dengan demikian, tak diragukan lagi bahwa predikat haji mabrur bukanlah hal yang remeh. Tak heran semua orang yang telah menunaikan ibadah haji berlomba-lomba memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, baik yang berkaitan dengan amal ibadah maupun etika sosial kemasyarakatan. Karena pada dasarnya, haji mabrur tidak hanya memberikan kebaikan untuk orang yang mendapatkannya. Akan tetapi juga memberi dampak kebaikan untuk masyarakat di sekitarnya.

WaAllahu a’lam

[1] Al-Bukhari,Shahih al-Bukhari, vol. 3 hal. 2

[2] Ibnu Hajar al-‘Asqalani,Fath al-Bari, vol. 1 hal. 87, Maktabah Syamilah

[3] Abdurrahman al-Masyhur,Buhyah al-Mustarsyidin, hal. 187 cet. Darul Fikr

TAFSIR SURAT AL-IKHLAS DAN KEISTIMEWAAN MEMBACANYA

Surah al-Ikhlas memiliki banyak nama. Ada hampir 20 nama. Surah al-Muqasqisah, surah an-Najaah, al-Jamaal, al-Amaan, an-Nisbah dan lain-lain. Surah ini merupakan wahyu yang ke-19.

Pada wahyu-wahyu pertama, tidak disebut kata Allah tapi memakai kata rabb yang berarti Tuhan. Misalnya dalam surah al-Alaq 1-5, surah al-Mudatsir 1-7, dan seterusnya. Ini menjadi tanda tanya, mengapa pada wahyu pertama tidak disebut nama Allah?

Jawabnya sederhana, yakni karena kaum musyrik (penyekutu Tuhan) juga percaya Allah. Akan tetapi kepercayaan mereka tentang Allah berbeda dengan orang Islam. Orang Islam misalnya percaya bahwa Allah Maha Esa, Maha Suci, tidak memiliki anak dan tidak ada yang sama dengannya.

Karena ayat-ayat pertama turun hanya memakai lafal “rabb”, maka orang-orang Yahudi bertanya,

“Hai Muhammad, Kau selalu menyebut ‘rabb’, selalu menyebut nama ‘Tuhan’. Seperti apa sebetulnya Tuhan yang Kau maksud? Terbuat dari emaskah? Terbuat dari kayukah atau terbuat dari perak? Bagaimana Sifatnya?”

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah dan menyampaikan wahyu surah al-Ikhlas. Demikian sebagaimana disebutkan dalam kitab Tafsir at-Tabari.

    Kata “Ikhlas” di dalam Tafsir al-Mishbah dimaknai dengan suatu upaya menyingkirkan segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan Tuhan sehingga yang tersisa hanya gambaran tentang Tuhan. Misalnya anggapan manusia pada waktu itu yang menganggap Tuhan lebih dari satu, bahwa Tuhan memiliki anak dan lain sebagainya.

Surah al-Ikhlas bila diterjemahkan seperti demikian:

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.

Allah adalah zat yang Maha Esa. Kata Esa merupakan terjemahan dari kata ahad. Di dalam bahasa Arab, ada kata ahad, ada kata wahid. Keduanya bermakna satu. Apa bedanya? Ahad dalam zatnya, dalam sifatnya dan dalam perbuatannya. Misalnya jam tangan yang dipakai seseorang ada satu. Jam tangan tersebut satu namun terdiri atas beberapa unsur. Jam tangan membutuhkan jarum dan beberapa bahan. Satu yang terdiri atas beberapa unsur seabagaimana contoh jam tangan menggunakan kata wahid. Sedangkan Tuhan yang Maha Esa tidak membutuhkan unsur yang lain untuk keesaannya. Inilah yang disebut dengan ahad.

Suatu riwayat disandarkan kepada Ibnu ‘Abbas ra, menyatakan bahwa ash-shamad berarti: “tokoh yang telah sempurna ketokohannya, mulia dan mencapai puncak kemuliaan, yang agung dan mencapai puncak keagungan, yang penyantun dan tiada yang melebihi santunannya, yang mengetahui lagi sempurna pengetahuannya, yang bijaksana dan tiada cacat dalam kebijaksanaannya.”

Al-Allamah Ismail Haqqy dalam Tafsir Ruhul Bayan menyebutkan bahwa kata ash-shamad yang berpola Fa’al maknanya berpola maf’ul. Maknanya yang dituju oleh siapa saja yang memohon pertolongan. Yakni, Allah adalah Tuan yang dituju, tempat bergantung segala sesuatu dan tempat memohon segala jenis permohonan. Selain Allah pasti membutuhkan Allah dalam seluruh aspeknya. Di alam raya ini tidak ada yang pantas dituju selain Allah.

Adapun makna dari firman Allah lam yalid wa lam yuulad, Ibnu ‘Abbas menafsirkan, bahwa makna dari firman Allah (لَمْ يَلِدْ) “Dia tiada beranak.” Adalah: Allah tidak beranak seperti halnya Maryam. (وَ لَمْ يُوْلَدْ) “dan tiada pula diperanakkan.” Yakni: Allah tidak diperanakkan seperti halnya ‘Isa dan ‘Uzair.

Ayat ini sekaligus menjadi sindiran terhadap orang-orang Nashrani dan Yahudi yang menganggap ‘Isa dan ‘Uzair adalah Anak Allah. Setiap yang terlahirkan pasti akan mati, dan setiap yang mati pasti akan mewariskan, sedangkan Allah tidak akan pernah mati dan tidak pula mewariskan.

(وَ لَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ) “Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” Yakni: tidak ada yang menyerupai-Nya. “Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” Adalah: Allah tidak serupa atau setara dengan siapapun, dan tidak ada yang dapat menyerupai atau menyetarakan-Nya.

Pada ayat yang terakhir ini terdapat taqdim dan ta’khir (kata yang “dimajukan” dan kata yang “diakhirkan”), di mana khabar kana (yaitu kata (كُفُوًا)) dimajukan terhadap isim kana (أَحَدٌ). Biasanya kalimat yang menyebutkan kata kana seperti ini, maka yang disebutkan setelahnya adalah isim-nya dahulu baru setelah itu khabar-nya. Namun untuk menyesuaikan irama akhir-akhirnya ayat agar terbentuk menjadi satu, maka khabar kana pada ayat ini diakhirkan, dan bentuk kalimat seperti ini merupakan bentuk bahasa yang sangat tinggi.

Demikianlah penjelasan singkat mengenai surah al-Ikhlas. Tujuan utama kehadiran Alquran adalah memperkenalkan Allah dan mengajak manusia untuk mengesakan-Nya serta patuh kepada-Nya. Surah ini memperkenalkan Allah dengan memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyampaikan sekaligus menjawab pertanyaan sementara orang tentang Tuhan yang beliau sembah.

Surah al-Ikhlas memiliki beberapa khasiat. berikut adalah khasiat Surah al-Ikhlas. Pertama, orang yang membaca Surah al-Ikhlas lima puluh kali, ia akan mendapatkan panggilan masuk surga di hari kiamat. Jabir bin Abdullah  meriwayatkan bahwa Kanjeng Nabi Muhammad bersabda,

“Siapa yang membaca Surah al-ikhlas setiap hari 50 kali, maka pada hari kiamat, ia akan dipanggil dari kuburnya ‘Bangkitlah, wahai orang yang memuji Allah, dan masuklah ke dalam surga!” (HR. Thabrani).

Kedua, orang yang membaca surah al-Ikhlas sebanyak tujuh kali sesudah salat Jumat bersama-sama surah al-Falaq dan an-Nas, maka dirinya akan dijaga oleh Allah Swt, dari berbagai kejahatan sampai hari Jumat berikutnya.

Ketiga, surah al-Ikhlas, dikenal pula sebagai sepertiga Alquran, disebutkan dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari, Kanjeng Nabi Muhammad kepada para sahabatnya, “Apakah tidak ada yang mampu di antara kalian untuk membaca sepertiga Alquran dalam satu malam?”

Karena hal itu dirasa sulit bagi mereka, maka mereka menjawab, “Mana mungkin di antara kami ada yang mampu melakukannya, wahai Kanjeng Nabi?”

Rasulullah pun menjawab, “Qul huwa Allahu aḥad, Allahussamad adalah sepertiga Alquran.”

Keempat, keutamaan membaca surah al-Ikhlas adalah terhindar dari kefakiran. Cara pengamalannya adalah dengan membacanya setiap kali masuk rumah. Hal ini berdasarkan riwayat berikut, Rasulullah bersabda.

“Barang siapa membaca ‘Qul Huwallahu Ahad’ ketika akan masuk rumah, maka akan dijauhkan dari kefakiran dalam rumah dan tetangganya.” (HR. Ath-Thabrani dari Jarir ra).

Tentu saja masih ada banyak sekali khasiat membaca surah Al-Ikhlas yang tidak tertulis di sini. Wa ila-Allahi turja’ul umuur.

Referensi:

Tafsir Al-Mishbah Karya M. Quraish Shihab

Al Jaami’ liahkamil Qur’an karya Imam al-Qurtubhy

Jami’ al-Bayan ’an ta’wil al-Qur’an karya Imam Al-Tabari

Tafsir Ruhul Bayan karya Al-Alamah Ismail Haqqy

MEMAHAMI AYAT “PETUNJUK BAGI ORANG YANG BERTAQWA” DALAM SURAT AL-BAQOROH

Pembukaan surah al-Baqarah memuat penegasan yang penting, yakni, bahwa Alquran adalah kitab petunjuk (hudan) bagi, dalam bahasa Kiai Bisri Mustofa dalam tafsir berbahasa Jawa, al-Ibriz, “wong-wong kang anduweni dasar takwa”, orang-orang yang memiliki fondasi ketakwaan: “hudan lil-muttaqin”.

Tulisan ini akan mengajak Anda untuk melakukan “wisata tafsir” sebentar guna menyelami makna kata taqwa ini. Semoga dengan wisata ini kita akan mendapatkan pengertian yang lebih segar mengenai istilah yang selalu kita dengar pada pembukaan khutbah Jumat itu.

Sejak kecil, selalu diajarkan bahwa takwa ialah takut kepada Tuhan. Hingga sekarang, masih banyak kalangan yang menerjemahkan kata ini dengan cara demikian. Ini tidak saja terjadi di Indonesia. Abdullah Yusuf Ali, penerjemah Alquran dalam bahasa Inggris, memaknai takwa sebagai those who fear God, “mereka yang takut pada Tuhan”.

Muhammed Marmaduke Pikthall, penerjamah Alquran berbahasa Inggris yang lain, dalam The Meaning of the Glorious Koran, menerjemahkan muttaqin sebagai those who ward off (evil), mereka yang menghindarkan diri dari hal-hal yang jahat. Meskipun berbeda, terjemahan Pikthall ini tidak jauh dari pengertian takwa yang selama ini umum dipahami.

Tapi memang, dalam banyak tafsir klasik disebutkan bahwa takwa adalah takut kepada Tuhan dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Terjemahan Pikthall, kurang lebih, menggaungkan makna yang sudah lazim kita dengar itu.

Ada dua penerjemah/penafsir Alquran yang memberikan makna yang sedikit berbeda; yang satu dari lingkungan berbahasa Inggris, yang satunya lagi dari lingkungan Jawa-Banyumasan. Muhammad Asad, seorang mualaf Yahudi dari Austria, dalam The Message of the Qur’an, memberikan terjemahan yang beda bagi muttaqin, yaitu All the God-conscious, mereka yang sadar tentang Tuhan.

Terjemahan Asad ini langsung mengingatkan saya pada filosofi Jawa yang pernah dikenalkan oleh pujangga besar Jawa, R. Ng. Ronggowarsito: eling lan waspada, orang-orang yang selalu ingat dan waspada. Mereka yang selalu eling lan waspada adalah orang-orang yang mencapai “kabegjan”, keuntungan dan kebahagiaan. Kalimat Ronggowarsito ini menggiring kita untuk mengingat ujung ayat ke-5 dalam surah al-Baqarah: ula’ika hum al-muflihun, “merekalah orang-orang yang begja, beruntung”.

Apakah raja pujangga Jawa itu mendapatkan pengaruh dari ayat ini kala mengucapkan kalimat yang terkenal tentang zaman edan itu. Tetapi yang jelas, kemiripan semacam ini tentu menarik untuk kita renungkan.

Pengertian kedua yang agak lain tentang makna “muttaqin” kita jumpai pada terjemahan Alquran dalam bahasa Jawa-Banyumasan yang pengerjaannya dipimpin oleh Ahmad Tohari, pengarang Jawa asal Banyumas itu. Di sana, kata muttaqin diterjemahkan sebagai: “wong-wong sing padha semarah (takwa)”.

    Terjemahan ini sangat menarik perhatian saya. Jarang sekali saya menjumpai pengertian ini pada penerjemah Alquran yang lain. Waktu di pesantren pun, tak satu pun guru-guru saya di kawasan Jawa pantura, menggunakan kata “semarah” untuk padanan bagi kata taqwa dalam bahasa Arab.

Sudah berkali-kali ingin menanyakan hal ini langsung kepada Kang Tohari, begitu kerap di panggil sastrawan Banyumas ini, tetapi selalu lupa. Keputusan tim penerjemah Alquran dalam bahasa Jawa-Banyumasan untuk menggunakan kata “sumarah” sebagai padanan untuk kata “taqwa” ini adalah tindakan hermeneutis yang, bagi saya, cukup berani.

Kata “semarah” atau “sumarah” dalam bahasa Jawa bermakna “berserah diri”. Sastrawan Indonesia yang terkenal, Umar Kayam, misalnya, pernah menerbitkan suatu kumpulan cerita panjang berjudul Sri Sumarah dan Bawuk.

Sri Sumarah, dalam kisah Pak Kayam itu, mewakili sosok wanita Jawa yang menghayati sikap “sumarah”, berserah diri sepenuhnya saat menjalani pasang-surut kehidupan, tanpa sikap mengeluh, memberontak, meskipun bukan berarti berserah tanpa suatu ikhtiar dan perjuangan.

Istilah “sumarah” juga bisa mengingatkan kita kepada ajaran hidup penting yang dikembangkan oleh masyarakat Jawa: sikap berserah diri. Ajaran ini dikembangkan, antara lain, oleh kelompok kebatinan Jawa yang didirikan oleh seorang bijak dari Gunung Kidul, R. Ng. Sukinohartono (1897-1971): yakni Paguyuban Sumarah. Salah satu filosofi yang dikembangkan oleh kelompok ini tergambar dalam kalimat berikut ini:

    Sanggem tansah enget dhateng Allah

    Sumingkir saking raos pandaku, kumingsun

    Pitados dhateng kasunyatan

    Saha sujud sumarah ing Allah

    Marsudi sarasing sarira

    Tentreming panggalih

    Saha sucining Rohipun

    Mekaten ugi ngutamekaken watakipun

    Dalah muna-muni tuwin tindak-tandukipun

Kelompok kebatinan Jawa ini memaknai “sumarah”, antara lain, sebagai sikap selalu ingat akan Tuhan. Pada ujungnya, sikap ini akan menghilangkan kecenderungan untuk mendaku semua hal untuk diri sendiri, ego-centric, dan melihat dunia sekitar dari sudut aku yang sempit.

Sikap sumarah membantu seseorang untuk mengatasi dan melampaui lingkaran keakuan yang amat cupet (sempit). Setelah keakuan-sempit bisa diatasi, seseorang akan sampai kepada sikap lain yang menjadi sumber kebahagiaan: melihat “kasunyatan”, kenyataan yang sebenar-benarnya.

Ketika seseorang sudah mampu melihat “kenyataan” yang sebenarnya (katakan saja: al-Haqiqah), ia akan “sujud berserah diri kepada Tuhan”. Itulah sumarah.

Meskipun tidak persis sama, tampaknya ada kemiripan antara pengertian takwa dalam pandangan Muhammad Asad dan Alquran terjemahan Jawa-Banyumasan ini. Asad memaknai takwa sebagai kesadaran tentang kehadiran Allah secara terus-menerus dalam diri seseorang. Sementara, istilah “semarah” dalam Alquran terjemahan Jawa-Banyumasan memiliki pengertian (jika kita ikuti pengertian dalam kelompok kebatinan Jawa tadi itu): selalu ingat Tuhan yang ujungnya adalah bersujud-berserah diri kepada-Nya.

Asad menulis catatan kaki yang agak panjang sebagai penjelasan atas istilah taqwa ini. Dia memandang bahwa pengertian yang selama ini disematkan kepada kata takwa, yaitu “takut kepada Tuhan” (God-fearing), tidak memadai. Kata “takut” di sana mengisyaratkan pengertian yang agak negatif.

Menurut Asad, kata taqwa mengandung pengertian lebih positif, yaitu kesadaran tentang kehadiran Tuhan, dan kehendak kuat pada seseorang yang memiliki kesadaran seperti ini untuk “mencetak” (mould), membentuk, dan mengarahkan kehidupannya sesuai dengan kesadaran itu.

Mungkin kita bisa mengemukakan observasi sederhana berikut ini. Pengertian takwa sebagai “takut kepada Tuhan dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya”, sebagaimana kita lihat dalam terjemahan konvensional selama ini, mungkin bisa disebut sebagai terjemahan yang condong pada aspek eksoterik, syariat. Sementara memaknai takwa sebagai “kesadaran tentang kehadiran Tuhan yang mewujud dalam sikap berserah diri” adalah pengertian yang lebih mengarah kepada dimensi esoterik, haqiqat.

Kedua pengertian ini tepat dan tak ada yang salah. Tetapi sepakat dengan pandangan Asad bahwa pengertian takwa sekedar sebagai sikap “takut kepada Tuhan” kurang memadai. Karena itu Asad mengajukan terjemahan yang dia anggap lebih “dalam”, yaitu kesadaran tentang kehadiran Tuhan. Dengan pertimbangan ini, saya mengaggap keputusan tim penerjemah Alquran dalam bahasa Jawa-Banyumasan untuk menggunakan kata “semarah” untuk memaknai takwa sebagai keputusan yang berani dan sekaligus tepat.

Dengan demikian, makna ayat dalam pembukaan surah al-Baqarah itu adalah sebagai berikut. Alquran hanya bisa menjadi petunjuk bagi orang-orang yang memang memiliki sikap batin tertentu, yaitu berserah diri, selalu ingat kepada Tuhan, dan orientasinya dalam hidup adalah pitados dhateng kasunyatan, mencari kenyataan yang sesungguhnya (al-Haqiqah), bukan kenyataan yang semu yang bisa dicerap dengan indera manusia.

Orang-orang yang memiliki cara pandang yang lain, terutama mereka yang tidak mempercayai adanya Kasunyatan, kenyataan yang hakiki di balik dunia fisik yang tampak oleh indera manusia, mereka yang memiliki cara pandang yang materialistik, tentu saja susah mendapatkan “hidayah”, atau petunjuk dari Alquran.

Begitu juga, mereka yang memiliki sikap “kumingsun”, sikap yang melihat segala hal dari sudut pandang diri-sendiri, tak mau melihat liyan atau orang lain, juga akan susah mendapatkan petunjuk yang bermakna dalam Alquran.

    Orang-orang dengan sikap kumingsun ini akan cenderung menjadikan Alquran sebagai instrumen saja untuk memperkuat keakuannya, ke-ego-annya saja.

Dengan demikian, kita menjadi sadar bahwa Alquran hanya bisa menjadi “kitab pentunjuk” hanya bagi orang-orang tertentu saja, tidak bagi semua orang. Tentu saja semua orang bisa saja mempelajari Alquran, membacanya, mengkajinya. Tetapi hanya orang-orang yang memiliki syarat rohani tertentu yang bisa menjadikan Alquran sebagai sumber petunjuk, yaitu mereka yang memiliki sikap takwa, semarah, berserah diri, serta mempunyai kesadaran tentang kehadiran Tuhan terus-menerus dalam dirinya.

WALLOHU A’LAM

HAL YANG MEMBUAT ALLOH TERSINGGUNG DAN DUA PENGHUNI NERAKA YANG BERDZIKIR

Ketika Allah Tersinggung

 

Salah satu kebiasaan buruk manusia ialah suka membawa-bawa nama Allah untuk kepentingan dirinya. Seolah-olah apa yang ada dalam pikirannya selalu sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah. Padahal sejatinya kadang justru malah berkebalikan. “Ini bisa membuat Allah tersinggung.

 

Ada contoh tentang bagaimana Allah tersinggung bila ada hamba-Nya membawa-bawa nama Allah untuk kepentingan egonya. Salah satu contohnya, di sebutkan dalam Shahih Muslim.

Dikisahkan ada seorang lelaki yang merasa dirinya benar karena ibadahnya.

“Ada orang sedang bersujud. Sujud itu merupakan salah satu ibadah terbaik.”

Ketika orang ini sedang bersujud, ada seorang ahli maksiat yang menginjak kepalanya. Ketika diinjak, dia marah. Saking marahnya, dia bilang, “Fawallahi. Laa yaghfirulllahu laka. Demi Allah. Kamu tidak akan diampuni Allah.”

Merespon kejadian itu, Allah memberi wahyu kepada seorang Nabi. “Beri tahu kepada si Fulan yang sedang sujud itu. Bilang padanya, bagaimana mungkin dia mengatasnamakan sifatku pada seorang hambaku.” Maksudnya dia membawa-bawa nama Allah karena kemarahan dalam dirinya sehingga seolah-olah Allah tidak mungkin mengampuni orang yang menginjak kepalanya.

 “Beri tahu kepada si Fulan kalau Aku mengampuni orang yang menginjak kepalanya dan Aku tidak menerima sujudnya.”

 

Dalam hal ini, para ulama hadits sepakat kalau Allah tidak suka namanya dicatut atau dibawa-bawa oleh orang lain. Apalagi dalam kasus ini. Mana mungkin Allah yang memiliki sifat Ghafuur (dzat yang maha banyak mengampuni) kok tidak mengampuni dosa orang lain. Sedangkan si Fulan malah menuduh Allah tidak mungkin mengampuni. Ini suatu yang sembrono.

 

Betapa saat ini banyak orang yang marah entah karena apa lalu membawa-bawa nama Allah untuk menghakimi orang lain. Ini biasanya dilakukan oleh kelompok ekstremis dan orang yang suka memvonis bid’ah. Jadi kita semua harus berhati-hati. Jangan gampang mengatasnamakan Allah untuk memenuhi ego kita. Maka, kita harus mengaji lagi agar tahu sesuatu yang benar dan yang salah.

 

Dua Penghuni Neraka yang Dimasukkan Surga

Di kisahkan fakta menarik yang dikutip dari kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali. Kisah ini memberikan motivasi kepada umat Islam untuk selalu optimis akan masuk surga dan berpikir positif tentang besarnya rahmat Allah. Selain itu kisah ini juga bisa membuat orang tidak mudah menghakimi orang lain apalagi mendoakan orang masuk neraka.

Dikisahkan ada dua orang hamba Allah yang sudah lama tinggal di neraka. Di neraka, orang tersebut selalu berzikir dengan membaca “Ya Hannan Ya Mannan”. Karena terus berzikir, akhirnya Allah menyuruh Malaikat memanggil dua orang tersebut.

“Berzikir di neraka merupakan sesuatu yang mungkin terjadi sebab jika teriak kesakitan saja bisa maka berzikir juga bisa.”.

Singkat cerita, dua orang ini dibawa ke hadapan Allah dengan keadaan masih dikerangkeng. Lalu Allah bertanya kepada salah satunya, “Bagaimana neraka menurutmu?”

“Ya Allah. Sungguh neraka adalah tempat yang sangat buruk. Tidak ada tempat yang lebih buruk dari neraka,” jawabnya.

“Ya sudah sana kembali ke neraka!” perintah Allah pada orang tersebut.

Orang ini kemudian berlari menuju neraka. Bahkan sangat semangat kembali menuju neraka.

Sikap orang ini aneh sehingga Allah memanggilnya lagi, “Kok kamu semangat sekali kembali ke neraka?”

“Saya sudah kapok, Gusti. Saya menyesal dulu saat di dunia saya lamban dalam melaksanakan perintahmu. Gara-gara itu saya masuk neraka. Saya tidak mau terulang yang kedua kalinya. Mumpung sekarang ada perintah darimu, saya ndak mau melewatkan kesempatan melaksanakan perintahmu ini. Jadi saya harus bersemangat.” jawab orang itu.

Karena demi melaksanakan perintah Allah menuju ke neraka. Padahal sangat menyakitkan baginya, Allah pun memberikan rahmat kepadanya.

“Kalau begitu, sana masuk surga.” kata Allah. Akhirnya ia dimasukkan ke surga oleh Allah.

Allah kemudian menanyai satu orang yang lain, “Bagaimana neraka menurutmu?”

 “Sungguh buruk sekali, Gusti.”

“Ya sudah, sana kembali lagi ke neraka!” Perintah Allah.

Tak seperti orang pertama, orang ini sangat lamban dan lelet disuruh ke neraka. Langkahnya tidak semangat. Allah kemudian menanyainya, “Kenapa kamu lamban sekali?”

 “Saya tidak pernah menyangka kalau bakal disuruh kembali ke neraka. Saya sudah khusnudzan tadi Panjenengan panggil saya ke sini untuk dimasukkan ke surga. Termyata perkiraan saya salah. Dan saya dimasukkan ke neraka lagi,” jawabnya.

Dengan jawaban itu ternyata Allah memasukkan orang ini masuk surga.  “Kamu khusnuzan pada-Ku. Tapi aku masih memasukkanmu ke neraka. Kalau begitu, sana masuk surga.” Akhirnya orang ini pun masuk surga.

Kisah ini seharusnya membuat kita untuk tidak berpikir yang buruk tentang Allah. Apa yang kita pikirkan seringkali berbeda dengan apa yang diputuskan Allah. Bahkan untuk urusan surga dan neraka. Manusia sama sekali tidak bisa menerka-nerka kehendak Allah. Lalu mengapa kita terkadang merasa diri benar sembari menyalahkan bahkan menuding orang lain akan masuk neraka? Allah punya banyak alasan memasukkan orang ke neraka dan surga.

MENGENAL ISTILAH KHOZAIN DALAM TAQDIR ALLOH SWT.

Sering disampaikan di dalam kajian tentang bab iman tatkala masuk kedalam bahasan TAQDIR, bahwa masalah TAQDIR itu adalah masalah yang sulit, tidak semua orang bisa dengan cara yang mudah dan sederhana bisa memahaminya. Padahal jika memang persoalan TAQDIR itu adalah bagian dari petunjuk Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah, maka tentu bukanlah hal yang sulit untuk difahami ummat Nya, karena Allah telah menjamin bahwa petunjuk Nya (Al-Qur’an) itu adalah mudah.

وَلَقَدۡ يَسَّرۡنَا ٱلۡقُرۡءَانَ لِلذِّكۡرِ فَهَلۡ مِن مُّدَّكِرٍ۬

dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran  (QS Al-qomar, 54:17

Di dalam tulisan ini, insyaallah akan diuraikan tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan persoalan TAQDIR, sehingga akan bisa diperoleh rangkaian keterangan yang mudah untuk memahami persoalan TAQDIR ini, sebagaimana janji Allah dalam ayat di atas.

TAQDIR ada dalam setiap yang diciptakan ( kholaqo ) oleh Allah

إِنَّا كُلَّ شَىۡءٍ خَلَقۡنَـٰهُ بِقَدَرٍ۬

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan taqdir ( QS Al-qomar, 54:49)

Allah menciptakan segala apa yang ada di alam semesta, yang dhohir (tampak) maupun yang ghoib (tidak tampak), bahkan termasuk gerak tubuh manusia yang merupakan sinkronisasi dari sejumlah saraf, jaringan tubuh dan otot dalam melakukan suatu perbuatan juga adalah termasuk ciptaan Allah.

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu (QS Ash-shoffaat 37:96)

Lebih jauh tentang “mencipta” bagi Allah, maka jika dirujuk pada ayat di dalam Al-Qur’an yang digunakan untuk menyebutkan kalimat “mencipta” bagi Allah, setidaknya ada 5 aspek dalam “mencipta”, yaitu : ciptaan dalam hal adanya sesuatu dari yang semula tidak ada menjadi ada (kholqu), ciptaan dalam hal kegunaan atau fungsi  sesuatu (ja’ala), ciptaan dalam hal bentuk atau model sesuatu (bada-a), ciptaan dalam hal sistem atau hukum yang berlaku pada sesuatu (fathara), ciptaan dalam hal keterkaitan dengan ciptaan yang lainya (shona’a). Dan rujuk pada ayat Al-Qur’an di atas, maka seluruh aspek penciptaan itu semuanya diciptakan oleh Allah dengan TAQDIR.

Sebagai contoh adalah Matahari yang juga merupakan ciptaan Allah, maka adanya Matahari itu dari yang sebelumnya tidak ada adalah aspek khalqu, kemudian Matahari itu salah satunya adalah berguna untuk menerangi maka kegunaan untuk menerangi itu adalah aspek ja’ala, dan bentuk atau model wujud Matahari yang berupa bulatan dari gumpalan gas itu adalah aspek bada-a, sedangkan adanya hukum atau sistem yang bekerja di dalam tubuh Matahari diantaranya berupa ledakan inti atom yang terjadi secara teratur dan lain-lain peristiwa yang terjadi di dalamnya maka ini adalah aspek fathara, kemudian adalah tentang hubungan antara Matahari dengan ciptaan Allah yang lain seperti bumi, planet-planet, dll itu adalah aspek shana’a. Maka dalam hal makhluk yang bernama Matahari itu, baik aspek kholqu, ja’ala, bada-a, fathara dan shana’a , semuanya itu adalah ciptaan Allah yang diciptakan dengan TAQDIR.

Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa segala sesuatu itu diciptakan oleh Allah dengan TAQDIR, dan sesuai dengan keterangan dalam Al-Qur’an ternyata dalam hal menetapkan TAQDIR segala sesuatu itu Allah tidak semena-mena (tidak ngawur), tetapi melakukanya dengan penuh perhitungan dan kecermatan yang ilmiyyah. Sebagaimana tersebut di dalam salah satu ayat Al-qur’an yang menyebutkan bahwa asal dari segala sesuatu itu adalah “khozain” dan “khozain” itu adalah milik Allah semata. Kemudian tatkala Allah hendak mencipta sesuatu maka Allah akan menurunkan “khozain” milik Nya itu dengan ukuran/takaran (qodar) yang cermat (ma’luum)

dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. (QS Al-hijr, 15:21)

( “khozain” adalah istilah dalam Al-Qur’an yang dalam hal ini cukup diketahui saja bahwa “khozain” itu milik Allah dan “khozain” itu merupakan asal dari segala sesuatu yang diturunkan oleh Allah pada setiap ciptaan Nya, atau dengan kata lain bahwa setiap ciptaan Allah selalu mengandung  “khozain” yang telah ditetapkan oleh Allah dengan Taqdir yang cermat  berapa kadar “khozain” untuk setiap  ciptaanNya  )

TAQDIR itu berkaitan dengan ilmu Allah

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. perintah Allah Berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu (QS At-tholaaq, 65:12)

Pada penjelasan sebelumnya telah diuraikan bahwa segala sesuatu itu diciptakan oleh Allah dengan TAQDIR, dan pada ayat di atas Al-Qur’an memberikan keterangan bahwa segala sesuatu itu diliputi oleh Allah dengan ilmu. Jadi karena dalam mencipta Allah tidak ngawur, bahkan Allah senantiasa meramu “khozain” miliknya dengan TAQDIR yang ilmiyyah ( qodarin ma’luum ) tatkala menciptakan segala sesuatu, maka Allah nyatakan bahwa pada setiap ciptaan Nya itu sarat dengan perkara keilmuan. Oleh karena itu maka adanya TAQDIR dalam setiap penciptaan mengisyaratkan adanya ILMU dalam setiap ciptaan. Maka dengan demikian setiap ciptaan Allah itu bisa dipelajari, atau dalam bahasa Al-qur’an mengandung petunjuk (hudan), sebagaimana disebutkan dalam ayat sbb :

sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tingi, yang Menciptakan, dan menyempurnakan,  dan yang me-taqdir-kan (segala sesuatu) sehingga (sesuatu itu mengandung) petunjuk (QS Al-A’laa 87:1-3)

Lebih lanjut Al-Qur’an memberikan keterangan yang lebih jelas mengenai persoalan  TAQDIR dan ILMU ini, sebagaimana disebutkan di dalam ayat berikut:

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan di-taqdir-kan Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui (QS Yunus, 10:5)

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa dengan adanya TAQDIR Allah pada peredaran matahari dan bulan, maka manusia bisa mendapatkan petunjuk berupa ilmu untuk mengetahui perhitungan waktu, tentunya setelah manusia mau mengamati dan mempelajari peredaran matahari dan bulan. Dan karena keterbatasan manusia dalam melakukan pengamatan ( belum seluruh aspek peredaran itu bisa diamati oleh manusia ) maka tentu pengetahuan yang diperoleh manusia yang dikatakan oleh manusia sebagai ilmu itu tidaklah selengkap dan sesempurna ilmu Allah yang meliputi peredaran matahari dan bulan itu.

Dalam ayat yang lainya disebutkan sbb :

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (QS Al-imron, 3:190-191)

Rujuk pada ayat di atas, maka dengan adanya TAQDIR dalam setiap ciptaan Allah segala apa yang ada di langit dan di bumi baik pada waktu siang ataupun malam semuanya itu bisa menjadi bahan kajian untuk difikirkan oleh orang yang memiliki akal (ulul albaab) sehingga menjadi pengetahuan  bagi  manusia.

Namun demikian, meskipun seluruh ciptaan Allah itu senantiasa diciptakan dengan TAQDIR dan diliputi dengan ILMU, lebih jauh Al-Qur’an mengingatkan adanya batasan bagi manusia dalam hal kajian dan penelitian atas segala ciptaan Allah tersebut, karena memang tidak semua hal bisa dipelajari atau boleh dipelajari oleh manusia, seperti dalam permasalahan “RUH”. Hal ini karena keterbatasan kemampuan pengetahuan yang diberikan oleh Allah kepada manusia, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an :

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.( QS Al-israa’, 17:85)

Demikian juga pengetahuan tentang kapan saat terjadinya hari qiyamat, hal ini juga merupakan persoalan yang tidak bisa dipelajari oleh manusia meskipun Allah juga telah menciptakanya dengan TAQDIR dan meliputinya dengan ILMU.

mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. (QS Al-a’raaf, 7:187)

Dari semua uraian di atas, bisa difahami bahwa Al-Qur’an ternyata tidak memberikan wawasan mengenai TAQDIR sehingga seolah persoalan TAQDIR itu adalah sesuatu yang gelap gulita, yang  sulit dan tidak terjangkau akal dan tidak boleh di apa-apakan oleh manusia, sehingga seolah manusia hanya disuruh untuk mengimaninya dan menerima begitu saja dengan sikap sabar jika dirasa sebagai sesuatu yang buruk atau syukur jika dirasa sebagai sesuatu yang baik. Tetapi ternyata persoalan TAQDIR itu justru dijelaskan oleh AL-Qur’an sebagai sesuatu yang terang benderang dan malahan Al-Qur’an mendorong manusia agar TAQDIR yang ada pada setiap ciptaan Allah itu dipelajari sehingga manusia bisa mendapatkan pengetahuan tentang segala sesuatu dari ciptaan Allah tersebut dan bisa dimanfaatkan bagi kelangsungan hidupnya di dunia, meskipun Al-Qur’an juga memberikan batasan-batasan terhadap apa-apa yang memang tidak perlu dipelajari oleh manusia karena adanya keterbatasan pada diri manusia. Inilah kehebatan Al-Qur’an dalam memberikan keterangan mengenai TAQDIR, jelas dan mudah.

Oleh karena itu, dengan mempelajari TAQDIR dalam setiap ciptaan Allah, maka manusia akan bisa memahami mana TAQDIR yang bisa menyebabkan kebaikan bagi dirinya dan kehidupanya, yang  kadang lebih sering disebut dengan “TAQDIR baik” (khoir) atau yang bisa menyebabkan keburukan bagi dirinya dan kehidupanya, yang sering  disebut dengan “TAQDIR buruk” (syarrun).

Takdir terkait dengan Perbuatan Manusia

Di dalam Al-qur’an disebutkan bahwa perbuatan ( ‘amal ) manusia adalah juga termasuk ciptaan Allah

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu (QS Ash-shoffaat 37:96)

Sebagaimana penjelasan sebelumnya, karena perbuatan ( ‘amal ) manusia itu diciptakan oleh Allah, maka tentu diciptakan dengan TAQDIR dan juga diliputi dengan ILMU. Dengan demikian maka setiap perbuatan (‘amal ) manusia itu tentu bisa dipelajari sebagai suatu petunjuk. Tentu dengan segala keterbatasan kemampuan manusia dalam mengamati dan mengambil kesimpulan terhadap persoalan perbuatan ( ‘amal) ini.

Di dalam Al-qur’an, bahkan Allah memerintahkan kepada manusia agar melakukan pengamatan (intidhor) untuk mengetahui seluk beluk perbuatan (‘amal ) yang telah dilakukan oleh orang-orang terdahulu, agar manusia bisa mengambil pelajaran. Hal ini disebutkan di dalam ayat Al-Qur’an sbb :

Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (QS Yusuf, 12:109)

Katakanlah: “Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (QS Al-an’am, 6:11)

Perbuatan manusia, jika dicermati sesungguhnya setiap perbuatan itu tidaklah berdiri sendiri, namun senantiasa diawali dengan “kehendak” (irodah) yang kemudian terwujud sebagai “niyat”. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah sbb :

إنماالاعــــــمال بالنــيات

Sesungguhnya perbuatan (amal) itu dengan niyat (HR. Imam Bukhori)

Dalam hal “irodah” yang kemudian akan terwujud dalam bentuk “niyat” inilah Allah memberikan ruang bagi manusia untuk menentukan pilihan, sebagaimana di dalam lanjutan matan hadits di atas yang menyebutkan bahwa diantara pengikut Rasulullah yang berhijrah dari Makkah ke Madinah itu ternyata bermacam-macam niyat nya, ada yang memang berniyat untuk Allah dan RasulNya (lillaahi warasuulih), ada yang berniyat untuk dunianya (liddunya ), dan ada pula yang berniyat untuk menikahi wanita, maka “niyat” yang terwujud pada diri manusia itu bukanlah Allah yang mentukan, meskipun adanya “irodah” yang kemudian terwujud menjadi “niyat” dalam diri manusia itu adalah ciptaan  Allah yang tentunya juga diciptakan Allah dengan TAQDIR.

Memang tidak setiap sesuatu yang terkait dengan urusan manusia itu lalu serta merta menjadi pilihan yang bisa ditentukan oleh manusia sendiri. Sebagai contoh adalah berkurangnya kemampuan tubuh manusia untuk beraktifitas seiring dengan bertambahnya umur, maka keadaan tubuh manusia yang seperti itu bukan merupakan ruang pilihan bagi manusia. Namun begitu juga bukan tidak mungkin manusia melakukan pengamatan dan mempelajari TAQDIR Allah yang berlaku pada tubuh manusia, karena Allah meciptakan tubuh manusia itu juga dengan TAQDIR yang ilmiyyah ( qodarin ma’luum ) sehingga bisa dipelajari dan diketahui petunjuk tentang bagaimana menjaga kemampuan tubuh agar tetap bisa beraktifitas dengan optimal meskipun umur terus bertambah.

Lebih jelasnya mengenai persoalan adanya ruang pilihan bagi manusia berupa “irodah” manusia yang terwujud dalam “niyat” ini, Al-qur’an memberikan keterangan sbb :

Maka Apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, Padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. (QS Al-Imron, 3:83)

Kata “aslama” dalam ayat di atas menunjukkan bahwa segala apa yang ada langit dan di bumi telah dicipta oleh Allah dengan TAQDIR dalam seluruh aspek penciptaanya, yaitu aspek keberadaanya (kholqu), fungsinya/kegunaannya (ja’ala), model/bentuknya (bada-a), sistem/hukumnya  (fathara) dan hubunganya dengan ciptaan Allah lainya (shana’a) itu semua suka tidak suka, mau tidak mau memang harus diterima oleh makhluk yang dalam ayat di atas disebut dengan istilah “thau’an wa karhan”. Jadi dalam hal TAQDIR penciptaan dengan seluruh aspek penciptaan itu maka seluruh makhluk hanya bisa pasrah, tunduk, menyerah ( aslama ) kepada penetapan TAQDIR, dan hanya kepada Allah lah TAQDIR dalam seluruh aspek penciptaan makhluk itu dikembalikan. Maksudnya adalah bahwa yang bisa menentukan TAQDIR dalam penciptaan itu hanyalah Allah. Tetapi dalam hal “dien” (agama), Allah memberikan ruang kepada manusia untuk menentukan pilihan masing-masing yang merupakan “kehendak” (irodah) manusia yang terwujud dalam “niyat”, apakah manusia akan memilih “dienullah” atau yang selain “dienullah”.  Di dalam ayat yang lain Al-Qur’an menjelasakan bahwa manusia tidak dipaksa dalam hal menentukan pilihan terhadap “dien” itu.

Tidak ada paksaan dalam (memilih) agama ( QS Al-baqoroh, 2:256)

Lebih lanjut mengenai hal ini, ternyata ruang pilihan bagi manusia ini juga berlaku dalam permasalahan “iman”, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an sbb :

dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? (QS Yunus, 10:99)

dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir” (QS Kahfi, 18:29)

Jadi rujuk pada penjelasan Al-Qur’an, maka bisa difahami dengan mudah bahwa ternyata manusia itu diberi oleh Allah ruang pilihan dalam dirinya untuk menentukan pilihan masing-masing dalam hal “dien” dan “iman” , dengan kata lain manusia itu mempunyai “irodah” yang terwujud dalam “niyat” untuk menetapkan pilihan atas persoalan “dien” dan “iman” . Dan karena penerapan atau implementasi atas pilihan terhadap  “dien” dan “iman” itu adalah dalam aspek  perbuatan (amaliyah), baik amal  yang kasad mata ataupun amal yang tak kasad mata, maka terhadap bentuk amal manusia itu Allah bisa mengenali mana bentuk amal yang berada di atas jalan Nya dan yang tidak berada di atas jalan Nya.

Katakanlah: “Tiap-tiap  (perbuatan)  yang diperbuat ( manusia ) itu menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalanNya. (QS AL-Isra’, 17:84)

Kata “syaakilat” adalah jama’ (plural ) dari kata “syaklun” yang dalam bahasa arab berarti “bentuk”. Jadi maksudnya adalah bahwa setiap perbuatan manusia itu ada bentuk nya. Dan bentuk dari amal manusia itu bergantung pada “irodah” manusia yang terwujud dalam “niyat” terhadap permasalahan “dien”, dan “iman”. Hal inilah yang menjelaskan mengapa Allah memerintahkan manusia untuk melakukan pengamatan (intidhor) terhadap amaliyah orang-orang terdahulu dan memperhatikan bentuk serta akibat dari amaliyah yang benar sesuai dengan petunjuk Allah dan amaliyah yang menyimpang dari petunjuk Allah, sehingga manusia bisa memperoleh pengetahuan dan bisa menentukan pilihan yang baik bagi dirinya.

Allah memang tidak membiarkan manusia begitu saja dengan diberinya ruang pilihan tersebut, namun agar bisa melakukan pengamatan dan kemudian menentukan pilihan, maka manusia diberikan oleh Allah alat berupa pendengaran, penglihatan, dan fuad sebagaimana diterangkan di dalam Al-Qur’an sbb :

dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS An-Nahl, 16:78)

Dalam ayat di atas digunakan kata “ja’ala” yang merupakan aspek dalam penciptaan Allah, sehingga pendengaran, penglihatan, dan fuad itu tentunya adalah juga diciptakan oleh Allah dengan TAQDIR yang ilmiyyah ( qodarin ma’luum ) sehingga manusia juga bisa mempelajarinya guna mendapatkan pengetahuan dan petunjuk tentang alat tersebut. Di dalam ayat yang lain disebutkan tentang alat itu sbb :

kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur (QS As-Sajdah, 32:9)

Selain diberi alat berupa pendengaran, penglihatan, dan fuad oleh Allah, ternyata Allah juga memberikan petunjuk ( hudan ) agar manusia mempunyai rujukan dalam cara menggunakan alat ciptaan Allah tersebut dan dalam menentukan pilihan dalam ruang “irodah” yang terwujud dalam “niyat” yang telah diberikan oleh Allah kepada manusia.

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya( memberi petunjuk) kepada  jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (QS Al-Insaan, 76:3)

Dan dalam penjelasan yang lain Al-Qur’an menyebutkan bahwa petunjuk “hudan” dari Allah itu juga diturunkan oleh Allah dengan ILMU, bukan dengan semena-mena (ngawur). Tentu hal ini adalah agar petunjuk itu bisa dipelajari dan difahami oleh manusia sebagaimana dengan  TAQDIR yang ilmiyyah dalam setiap ciptaan Allah sehingga manusia bisa mempelajarinya agar mendapatkan pengetahuan.

Akan tetapi Allah mengakui Al Quran yang diturunkan-Nya kepadamu (bahwa) Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). cukuplah Allah yang mengakuinya. (QS An-Nisaa’, 4:166)

Dengan diciptakanya oleh Allah pendengaran, penglihatan dan fuad bagi manusia dan kemudian Allah turunkan petunjuk Nya kepada manusia, maka hal inilah yang dimaksud bahwa Allah telah menciptakan manusia sebagai “ahsani taqwiim”

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .(QS At-thien, 95:4)

Namun demikian, jika manusia tidak mau menggunakan alat yang telah Allah ciptakan bagi dirinya dan juga tidak mau menggunakan petunjuk Allah yang juga telah diturunkan bagi manusia, maka derajat manusia itu akan jatuh menjadi “asfala saafiliin” dan akan menjadi lebih hina dibandingkan binatang.

kemudian Kami kembalikan dia (manusia) ke tempat yang serendah-rendahnya (QS At-thien, 95:5)

dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. (QS Al-A’raaf, 7:179)

( dalam ayat ini Al-qur’an menggunakan istilah “quluubun” yang merupakan bentuk jama’ dari kata “qolb”  yang dalam bahasa arab mempunyai padanan makna dengan “fuad” ataudalam bentuk jama’ adalah  “af-idah”,  atau dengan kata lai, “qolb” adalah dzatnya, sedangkan “fuad” adalah kegunaan atau fungsi atau kinerja daripada “qolb” )

Oleh karena itu, dengan diberikanya ruang “irodah” yang kemudian terwujud dalam “niyat”  bagi manusia, dan kemudian diciptakan oleh Allah alat bagi manusia berupa pendengaran, penglihatan, dan fuad ( atau juga disebut dengan qolb ) serta diberikan juga petunjuk ( hudan ) yang diturunkan oleh Allah dengan ilmu Nya, maka sebagai bentuk konsekuensi, manusia akan dimintai pertanggungan jawab oleh Allah atas “irodah” yang ada ada dirinya tsb.

dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab. (QS Az-zukruf, 43:44)

dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

(QS AL-Isra’, 17:36)

Jadi TAQDIR ada pada segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah, termasuk juga TAQDIR dalam perbuatan manusia yang juga adalah ciptaan Allah. Seluruh TAQDIR itu bisa dipelajari oleh manusia termasuk TQDIR dalam perbuatan manusia, sehingga dengan demikian manusia bisa mendapatkan pengetahuan mana TAQDIR yang baik dan mana TAQDIR yang buruk. Dan manusia diberikan “irodah” oleh Allah untuk menentukan pilihanya yang terwujud dalam “niyat”. Dan ingat bahwa “irodah” pemberian Allah ini HANYA UNTUK MEMILIH SAJA, karena setelah manusia menentukan pilihannya maka seluruh proses yang terjadi selanjutnya sebagai bentuk konsekuensi dari pilihan tersebut kesemuanya adalah TAQDIR Allah, entah itu menjadi sesuatu yang baik bagi dirinya atau menjadi sesuatu yang buruk. Hal inilah yang disitir dalam salah satu hadits Rasulullah sbb :

نيــة المؤمــــن خيرمن عـــمله

Niyat seorang mukmin itu lebih (penting) baik daripada perbuatanya (HR. AL-Baihaqi dan Ar-Rabii)

Karena “niyat” itulah yang merupakan ejawantah/wujud dari “irodah” manusia dan yang akan mempengaruhi bentuk perbuatan manusia yang kelak akan dimintai pertanggungan jawab oleh Allah.

Mengenai “irodah” manusia yang terwujud dalam “niyat”, maka sesungguhnya setiap saat secara berkesinambungan sepanjang manusia melakukan suatu bentuk perbuatan (amaliyah) dalam hidupnya, manusia harus selalu menetapkan “irodah” yang terwujud dalam “niyat”. Jadi proses berwujudnya perbuatan manusia itu adalah merupakan rangkaian siklus yang berkesinambungan dan terus menerus antara pilihan dalam ruang “irodah” yang kemudian terwujud dalam “niyat” dan selanjutnya diikuti dengan bentuk amal berupa gerakan tubuh atau ucapan. Begitu seterusnya.

Oleh karena itu, meskipun sesungguhnya perbuatan manusia itu adalah ciptaan Allah, tetapi karena bentuk perbuatan itu adalah bergantung pada pilihan “irodah” manusia yang terwujud dalam “niyat”, maka tepatlah jikalau kemudian Allah akan meminta pertanggungan jawab atas apa yang diperbuat oleh manusia.

dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang menghendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang menghendaki. dan Sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. (QS An-Nahl, 16:93)

Sebagai ilustrasi dari penjelasan mengenai TAQDIR seperti dalam uraian di atas, Al-Qur’an memberikan penjelasan sbb  :

أَيۡنَمَا تَكُونُواْ يُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِى بُرُوجٍ۬ مُّشَيَّدَةٍ۬‌ۗ وَإِن تُصِبۡهُمۡ حَسَنَةٌ۬ يَقُولُواْ هَـٰذِهِۦ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ‌ۖ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةٌ۬ يَقُولُواْ هَـٰذِهِۦ مِنۡ عِندِكَ‌ۚ قُلۡ كُلٌّ۬ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِ‌ۖ فَمَالِ هَـٰٓؤُلَآءِ ٱلۡقَوۡمِ لَا يَكَادُونَ يَفۡقَهُونَ حَدِيثً۬ا (٧٨) مَّآ أَصَابَكَ مِنۡ حَسَنَةٍ۬ فَمِنَ ٱللَّهِ‌ۖ وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ۬ فَمِن نَّفۡسِكَ‌ۚ وَأَرۡسَلۡنَـٰكَ لِلنَّاسِ رَسُولاً۬‌ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَہِيدً۬ا (٧٩)

di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) Hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?

  1. apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi. (QS An-Nisaa, 4:78-79)

Dalam ayat 78 surat An-Nisaa di atas, Al-Qur’an menyebutkan bahwa setiap  “kebaikan” (hasanah) dan “bencana” (sayyiah) yang menimpa kepada manusia adalah kepunyaan Allah ( min ‘indillah ). Hal ini tentu benar karena segala apa yang ada dan terjadi di alam semesta ini adalah ciptaan Allah yang diciptakan dengan TAQDIR, yang karena itu tentunya bisa dipelajari oleh manusia untuk mendapatkan pengetahuan sepanjang ciptaan Allah itu memang boleh dan bisa dipelajari oleh manusia, dan sepanjang manusia mampu untuk menggali TAQDIR dalam ciptaan Allah itu. Oleh karenanya maka setiap “kebaikan” (hasanah) dan “bencana” (sayyiah) yang terjadi bisa dipelajari oleh manusia, dan bahkan hal ini diperintahkan oleh Allah untuk mengamatinya (intidhor).

Sedangkan dalam ayat ke 79, Allah menerangkan tentang penyebab atau jalan yang membawa manusia kepada suatu keadaan yang berupa “kebaikan” (hasanah) dan “bencana” (sayyiah). Ketika manusia senantiasa menetapkan “irodah” yang benar dalam setiap tahapan proses yang dilaluinya, maka seluruh kebenaran yang menjadi pengetahuan bagi manusia yang dijadikan rujukan dalam setiap kali menetapkan “irodah” nya, maka semua kebenaran itu adalah milik Allah. (misalnya seperti “dien” yang  benar adalah “dien” milik Allah, “iman” yang benar adalah “iman” yang aturanya dimiliki & dibuat oleh Allah, dst). Sedangkan ketika manusia keliru dalam merumuskan apa yang mereka pelajari dari TAQDIR yang ada dalam setiap ciptaan Allah karena adanya keterbatasan dalam dirinya yang memang diciptakan demikian oleh Allah (QS 4:28, QS 33:72), lalu rumusan yang keliru itu mereka jadikan rujukan setiap kali menetapkan “irodah” nya dan mereka menolak mengikuti “Petunjuk (hudan)” yang telah Allah turunkan dengan ILMU-Nya dan justru menjadikan hal yang datang dari selain Allah sebagai petunjuk yang tentu saja keliru, maka tentu semua kekeliruan itu bukanlah dari Allah, tetapi dari manusia itu sendiri.

Maka  tepatlah ketika Al-Qur’an mengatakan sbb :

وَمَآ أَصَـٰبَڪُم مِّن مُّصِيبَةٍ۬ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٍ۬

dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS Asy-syuura, 42:30)

MENCARI TETESAN KEAGUNGAN SYURGA DALAM HARI RAYA KITA

 Nikmat dari Surga di IDUL FITRI

Lebaran atau Idul fitri bukti betapa Islam tumbuh berkembang dalam rahim kebudayaan manusia. Agama, tak melulu soal yang melangit. Malah lebih sering menitikberatkan ajarannya pada ranah kemanusiaan yang sangat manusiawi.

Dua hari raya umat muslim itu, erat kaitannya dengan tradisi tua bangsa Persia pemuja api (bukan penyembah), Zoroaster, yang diajarkan Zarathustra. Demikian yang tercatat dalam Ensiklopedi Islam.

Sebelum Rasulullah ﷺ lahir di Makkah, masyarakat Arab jahiliyah sudah memiliki dua hari raya yang dikenal dengan nama Nairuz dan Mahrajan. Pada dua hari tersebut, mereka menggelar pesta pora, menari-nari—baik tarian perut, perang maupun ketangkasan, bernyanyi, menyantap hidangan lezat, serta menenggak minuman memabukkan. Sampai di sini, Anda paham kan kenapa dua hari raya kita tak jauh beda dengan yang kami terakan di atas?

 ‘Setelah kewajiban menunaikan ibadah puasa Ramadan turun pada 2 Hijriyah, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan An-Nasa’i, Rasulullah Saw bersabda, ‘’Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan yang lebih baik, yakni Idulfitri dan Iduladha.’’

    Hari Raya Idulfitri untuk pertama kali dirayakan umat Islam, selepas Perang Badr yang terjadi pada 17 Ramadan 2 Hijiriyah.

Dalam pertempuran dahsyat itu, umat Islam meraih kemenangan. Sebanyak 319 kaum Muslimin, berhasil mempermalukan 1.000 tentara kafir Quraisy—dan memaksa mereka pulang dengan kepala tertunduk.

Pada tahun itu, Rasulullah Saw bersama golongan orang-orang beriman (para Sahabat Ra) merayakan dua kemenangan, yakni keberhasilan mengalahkan kaum kafir dalam Perang Badr dan kebahagiaan tak terperi berhasil menjalankan hari perdana berpuasa Ramadan.

Menurut sebuah riwayat, Rasulullah Saw bersama para Sahabatnya menunaikan Salat Id pertama dengan kondisi tubuh disarati luka yang masih belum pulih akibat Perang Badr.

    Riwayat lain menyebutkan, Rasulullah Saw merayakan Hari Raya Idulfitri pertama dalam kondisi letih, sehingga Beliau harus bersandar pada Bilal bin Rabbah Ra sambil menyampaikan khutbahnya.

Menurut Hafizh Ibnu Katsir, pada Hari Raya Idulfitri yang pertama, Rasulullah Saw pergi meninggalkan masjid menuju suatu tanah lapang dan menunaikan Salat Id di sana. Sejak itulah, Beliau Saw dan para sahabat menunaikan Salat Id di lapangan terbuka.

Jauh sebelum perayaan Idulfitri, umat Islam baru diwajibkan menunaikan zakat fitrah sahaja. Mereka belum disibukkan oleh kue lebaran, pakaian baru. Hingga kini, Idulfitri telah dilakukan kaum Muslimin sebanyak 1.439 kali.

 

Sayyidina Hasan Husain lebaran dengan baju surga

Di Madinah pada masa awal Islam itu, dua permata hiasan mata Baginda Nabi Saw, Hasan dan Husain anak Imam ‘Ali, sama sekali belum memiliki pakaian baru, padahal lebaran hampir tiba. Mereka pun bertanya kepada sang ibunda.

 “Wahai ibunda, anak-anak di Madinah telah dihiasi dengan pakaian Lebaran, kecuali kami. Mengapa Bunda tidak menghiasi kami?”

Sayidah Fatimah menjawab sambil menyembunyikan perasaannya yang nyaris getun, “Sesungguhnya pakaian kalian masih berada di tukang jahit”.

Ketika malam hari raya tiba dan takbir dikumandangkan oleh Bilal, mereka berdua pun mengulangi pertanyaan serupa. Sayidah Fatimah masih menjawab dengan jawaban yang sama.

    Sayidah Fatimah pun menangis karena sebenarnya ia tidak memiliki uang untuk membelikan pakaian baru demi kedua buah hatinya itu.

Ketika malam beranjak dini hari, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah Sayyidina ‘Ali. Sayyidah Fatimah yang masih terjaga lantas bertanya, “Siapa?”

Orang misterius itu menjawab, “Wahai putri Rasulullah, aku adalah tukang jahit. Diutus membawa hadiah pakaian lebaran untuk putra-putramu.”

Mendapat jawaban seperti itu, Sayidah Fatimah lantas membukakan pintu demi menyambut tamunya itu. Tampak seseorang membawa sebuah bingkisan hadiah, lalu diberikan kepada empunya rumah.

Tak sabar melihat isinya, Sayyidah az Zahrah membuka bingkisan tersebut. Di dalamnya terdapat dua buah ghamis, dua potong celana, dua mantel, dua sorban, serta dua pasang sepatu hitam—yang ke semuanya sangat indah terlihat.

Ibu yang dimuliakan Allah ini pun segera membangunkan dua putra kesayangannya, lalu memakaikan hadiah tersebut pada mereka. Tak lama, Rasulullah Saw datang dan melihat dua cucunya sudah dihiasi hadiah yang terdapat dalam bingkisan tersebut.

    Kemudian Nabi Muhammad ﷺ menggendong Hasan dan Husain dan menciumi mereka dengan segenap cinta, kasih, dan sayang.

Sembari begitu, Rasulullah Saw pun bertanya pada putri semata wayangnya, “Apakah ananda melihat tukang jahit tersebut?”

“Iya aku melihatnya, Ayah.” Rona kebingungan masih tercitra di wajah Fatimah yang bersinaran.

Rasulullah Saw kemudian berujar, “Duhai putriku, ia bukanlah tukang jahit, melainkan Malaikat Ridwan As, sang penjaga Surga…”

Bahkan para penghuni langit pun tak rela jika kedua cucu Rasulullah dilamun kesedihan. Semoga kita dikumpulkan bersama mereka di telaga Baginda Nabi Saw. Amin.

    اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ…

    Allahumma sholli’ala Sayyidina Muhammad wa’ala aali Sayyidina Muhammad.

Ada sebuah kisah yang mudah dilupakan kita, tapi seharusnya tak boleh dilupakan, khususnya ketika Ramadan sudah diambang pintu perpisahan dan sesaat lagi takbir Idul Fitri berkumandang.

Kisah itu tentang keteladanan keluarga Nabi, yaitu datang dari Sayidina Ali, yang disaksikan dua karibnya; Ibnu Rafi’i dan Abu Al Aswad Ad Du’ali, keduanya pernah ikut perang Jamal bersama Ali bin Abu Thalib, dan kedua karib itu termasuk pembesar kelompok pendukung Ali sampai akhir hayatnya. Kisah ini setidaknya termaktub pada dua buku; Sirrah Ashabu an-Nabi, karya Syekh Mahmud al-Misri dan Syiar A’lam An-Nubala’, karya Imam adz-Dzahabi.

Persis usai salat Asar, setelah seharian merasa sedih, karena bulan Ramadan akan segera berakhir, Ali kemudian pulang dari masjid, sesampai di rumah ia disambut sang istri dengan pertanyaan yang bernada penuh perhatian.

“Kenapa engkau terlihat pucat, kekasihku?” demikianlah sapa Sayidah Fatimah, “tak ada tanda-tanda keceriaan sedikitpun di wajahmu, padahal sebentar lagi kita akan menyambut hari kemenangan?”

Ali hanya terdiam lesu, tak berapa lama kemudian ia minta pertimbangan Sang istri untuk mensedekahkan semua simpanan pangannya kepada fakir miskin. “Hampir sebulan kita mendapat pendidikan dari Ramadan, bahwa lapar dan haus itu teramat pedih. Segala puji bagi Allah, yang sering memberi hari-hari kita dengan perut sering terisi…”

Singkat cerita, sore itu juga, beberapa jam sebelum takbir berkumandang, Ali bin Abi Thalib terlihat sibuk mendorong pedatinya, yang terdiri dari tiga karung gandum dan dua karung kurma hasil dari panen kebunnya. Ingat satu pedati (gerobak), bukan hanya sejumput gandum yang nilainya hanya setara 2,5 Kg beras untuk zakat fitrah.

Ia berkeliling dari pojok kota dan perkempungan untuk membagi-bagikan gandum dan kurma itu kepada fakir miskin dan yatim/piatu. Sementara istrinya, Sayidah Fathimah az-Zahra, sambil menuntun dua putranya Hasan dan Husein, nampak di tangannya memegang kantong plastik yang besar.

    Mereka sekeluarga, kompak mendatangi kaum fakir miskin untuk disantuni. Begitu mereka berjalan sampai larut malam, tangannya membagikan santunan, bibirnya bertakbir kepada Allah.

Esok harinya tiba salat Idul Fitri. Sayidina Ali naik mimbar dan berkotbah di Masjid Qiblatain, potongan isi khotbah itu di antaranya tentang beberapa tanda-tanda orang yang mendapatkan “taqwa” dari puasanya yang sebulan penuh :

“Yaitu mereka yang peka hati nuraninya, sehingga menggerakkan tangannya untuk peduli kepada sesama, berbagi rezeki, berbagi kebahagiaan, berbagi senyuman yang hangat, sebab kita semua sudah merasakan, bahwa lapar dan dahaga itu sesuatu yang berat…” Begitulah Sayidina Ali, beliau tak akan pernah mengucapkan, sebelum ia sendiri sudah melakukan dan memberi keteladanan.

Setelah salat ‘Id selesai dan hari masih sangat pagi, karib beliau, Ibnu Rafi’i dan Abu Al Aswad Ad Du’ali berkunjung dan bermaksud untuk mengucapkan selamat Idul Fitri kepada keluarga Rasulullah saw itu, oh, begitu pintu terbuka, alangkah kagetnya mereka berdua, kedua hidung dua karib ini lamat-lamat mencium aroma yang tak sedap, dari nampan yang berisi gandum dan roti kering yang sudah basi dan disantapnya makanan yang tak layak konsumsi itu dengan lahapnya. Seketika itu Ibnu Rafi’i dan dan Al Aswad ad-Du’ali berucap istighfar, sambil berpelukan dan menangis, karena kedua dada sahabat ini sakit dan nyeri.

Merasa tak kuat melihat pemandangan itu, mereka kemudian, berpamitan, setelah berpelukan, merekapun pergi menjauh dari pemandangan yang menggetarkan itu, di sepanjang jalan mata Ibnu Rafi’i berlinang air mata, perlahan butiran itu menetes di pipinya dan jatuh ke tanah seperti mengukir sebuah jejak kesedihan sampai ke kediamannya. Idul Fitri yang seharusnya penuh suka cita, tapi pagi itu mereka bersedih.

Sementara Abu Al Aswad ad-Du’ali, terus bertakbir di sepanjang jalan, kecamuk dalam dadanya sangat kuat, setengah lari ia pun bergegas menghadap Rasulullah saw. Tiba di depan Rasulullah, iapun mengadu “Ya Rasulallah. Putra baginda, putri baginda dan cucu baginda,” ujar ad-Du’ali terbata-bata. “Tenangkan dirimu, ada apa wahai sahabatku?” tanya Rasulullah menenangkan.

“Segeralah ke rumah menantu dan putri baginda, ya Rasulalloh. Saya khawatir cucu baginda Hasan dan Husein akan sakit.”

“Ada apa dengan cucuku dan keluargaku?”

“Saya tak kuat menceritakan itu sekarang, lebih baik menengoknya…”

Tak berpikir lama, Rasulullah pun segera menuju rumah putrinya. Tiba sampai di halaman rumah, tak ada apa-apa yang dikhawatirkan oleh ad-Du’ali, keluarga itu tak merasa ada apapun yang aneh, justru senda gurau tawa bahagia mengisi percakapan antara Sayidina Ali, Sayyidatuna Fathimah dan kedua anaknya.

Bahkan yang sedikit aneh, mata ad-Du’ali sendiri menyaksikan, ternyata keluarga itu masih menyimpan sedikit kurma yang layak dikonsumsi untuk menyambut tamu yang datang. Mata Rasulullah pun sembab, beliau terharu, sebab ia sendiri melihat bekas-bekas makanan basi yang sudah disantap keluarga itu dan bauh anyirnya masih menyengat. Tak terbendung juga butiran mutiara bening menghiasi wajah Rasulullah nan bersih.

“Ya Allah, Allahumma Isyhad. Ya Allah saksikanlah, saksikanlah.” Bibir Rasulullah berbisik lembut. Sayidatuna Fathimah tersadar kalau di luar pintu rumah, bapaknya sedang berdiri tegak. Gandum basi yang dipegangnya terjatuh ke lantai.

“Abah, kenapa engkkau biarkan dirimu berdiri disitu, tanpa memberi tahu kami, oh, relakah abah menjadikan kami anak yang tak berbakti?” Berondong Fathima spontan, lalu mencium tangan Abahnya dan mempersilahkan abahnya ke ruang tamu. “Kenapa Abah menangis? Kenapa pula sahabat ad-Duali mengikuti di belakang Abah.”

Rasulullah tak tahan mendengar pertanyaan itu. Setengah berlari ia memeluk putri kesayangannya sambil berujar, “Semoga kelak surga tempatmu Nak. Surga untukmu.” Mereka yang ada di situ lalu menjawab bersama-sama, Allahuma amin…

Air mata Rasulullah tiba-tiba mengucur deras, saat melihat sendiri dengan matanya akan kesederhanaan dan kebersahajaan putri beliau bersama keluarganya.

Di hari yang Fitri, di saat semua orang berkumpul, canda gurau dan berbahagia, di saat semua hidangan kuliner aneka rupa menumpuk di meja makan. Keluarga Rasulullah saw cukup tersenyum bahagia dengan gandum dan sepotong roti basi yang baunya tercium tak sedap, oleh siapapun yang menghampiri.

    Ganjil memang, dan orang bisa saja bilang; Duh, segitunya… tetapi orang boleh jadi berbeda dalam penghayatannya pada sesuatu yang bersifat transendental.

Demikianlah, sekelumit kesaksikan sahabat ad Duali dan Ibnu Rafi’i, atas keluarga Rasulullah saw. pada hari Idul Fitri, selalu saja mereka, orang-orang mulia itu, menyantap makanan yang basi berbau anyir. Jika masih tersisa sedikit yang layak konsumsi itu khusus dihidangkan buat tamu.

Ibnu Rafi’i berkata, “Itulah salah satu dampak pendidikan Ramadan bagi keluarga Nabi, dan aku diperintahkan oleh Rasulullah saw agar tidak menceritakan tradisi keluarganya setiap Idul Fitri. Aku pun simpan kisah itu dalam hatiku. Namun, setelah Rasulullah saw. meninggal, aku takut dituduh menyembunyikan hadis, maka terpaksa aku ceritakan agar jadi pelajaran bagi segenap kaum Muslimin untuk benar-benar bisa mengambil hikmah dari madrasah Ramadan.” Demikian tulis Musnad Imam Ahmad, jilid 2, halaman. 232.

Memang ada sesuatu yang amat rumit Ketika kerakusan materi sudah memenuhi diri kita.

Oh, alangkah jauhnya perbedaan keadaan kita dengan para teladan dan panutan kita sendiri.

Wallahu’alam Bisshawab.

 

PREDIKSI ULAMA DAN BEBERAPA TANDA MALAM LAILATUL QODAR

PREDIKSI LAILATUL QADAR

Pertama:

Dalam kitab I’anatuththalibiin juz II halaman 257 :

قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر،

فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء: فهي ليلة تسع وعشرين.

أو يوم الاثنين: فهي ليلة إحدى وعشرين.

أو يوم الثلاثاء أو الجمعة: فهي ليلة سبع وعشرين.

أو الخميس: فهي ليلة خمس وعشرين.

أو يوم السبت: فهي ليلة ثلاث وعشرين.

Jika awal Ramadhan hari Ahad atau Rabu maka lailatul qodar malam 29

Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam 21

Jika awal Ramadhan hari Selasa atau Jumat maka lailatul qodar malam 27

Jika awal Ramadhan hari Kamis maka lailatul qodar malam 25

Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka lailatul qodar malam 23

Kedua:

Dalam kitab Hasyiyah ash Shaawi ‘alal Jalaalain juz IV halaman 337 :

فعن أبي الحسن الشاذلي إن كان أوله الأحد فليلة تسع وعشرين ، أو الإثنين فإحدي وعشري أو الثلاثاء فسبع وعشرين أو الأربعاء فتسعة عشر أو الخميس فخمس وعشرين أو الجمعة فسبعة عشر أوالسبت فثلاث وعشرين

Jika awal Ramadhan hari Ahad maka lailatul qodar malam 29

Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam 21

Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qodar malam 27

Jika awal Ramadhan hari Rabu maka lailatul qodar malam 19

Jika awal Ramadhan hari Kamis maka lailatul qodar malam 25

Jika awal Raamadhan hari Jumat maka lailatul qadar malam 17

Jika awal Raamadhan hari Sabtu maka lailatul qadar malam 23

Ketiga:

Dalam kitab Hasyiyah al Bajuri ‘ala Ibni Qaasim al Ghaazi juz I halaman 304 :

وذكرو لذلك ضابطا وقد نظمه بعضهم بقوله

: وإنا جميعا إن نصم يوم جمعة ¤ ففي تاسع العشرين خذ ليلة القدر .

وإن كان يوم السبت أول صومنا ¤ فحادي وعشرين اعتمده بلا عذر

. وإن هل يوم الصوم في أحد ففي ¤ سابع العشرين ما رمت فاستقر

. وإن هل بالأثنين فاعلم بأنه ¤ يوافيك نيل الوصل في تاسع العشري

. ويوم الثلاثا إن بدا الشهر فاعتمد ¤ علي خامس العشرين تحظي بها فادر .

وفي الإربعا إن هل يا من يرومها ¤ فدونك فاطلب وصلها سابع العشري .

ويوم الخميس إن بدا الشهر فاجتهد ¤ توافيك بعد العشر

في ليلة الوتر .

Jika awal Ramadhan hari Jumat maka lailatul qodar malam 29

Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka lailatul qodar malam 21

Jika awal Ramadhan hari Ahad maka lailatul qodar malam 27

Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam 29

Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qodar malam 25

Jika awal Raamadhan hari Rabu maka lailatul qadar malam 27

Jika awal Raamadhan hari Kamis maka malam ganjil setelah malam 20

Tanda-tanda Lailatul Qadar:

Imam Muslim dalam kitab Shahihnya juz I halaman 306,cetakan al Ma’arif Bandung Indonesia:

Sanad dan matannya sebagai berikut:

حدثنا محمد بن مهران الرازي حدثنا الوليد بن مسلم حدثنا الأوزاعي حدثني عبدة عن زر قال س

معت أبي بن كعب يقول وقيل له إن عبد الله بن مسعود يقول من قام السنة أصاب ليلة القدر فقال أبي والله الذي لا إله إلا هو إنها لفي رمضان {يحلف ما يستثني] ووالله إني لأعلم أي ليلة هي هي الليلة التي أمرنا بها رسول الله صلي الله عليه وآله وسلم بقيامها هي ليلة صبيحة سبع وعشرين وأمارتها أن تطلع الشمس في صبيحة يومها بيضاء لا شعاع لها .

”…….Ubay ibn Ka’b,dia berkata: “… demi Dzat yang tiada tuhan kecuali Dia, sungguh malam (Lailatul Qadar) itu ada dalam bulan Ramadhan. Demi A llah aku sungguh tahu kapan malam itu, yaitu malam yang kita diperintah oleh Rasulullah SAW untuk beribadah didalamnya, yaitu malam 27 yang bersinar. Adapun tanda-tandanya adalah matahari terbit pagi harinya dengan cahaya putih namun tidak ada sorotnya

Al Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya juz IV halaman 846:

ذكر أثر غريب ونبأ عجيب، يتعلق بليلة القدر، رواه الإمام أبو محمد بن أبي حاتم، عند تفسير هذه السورة الكريمة فقال:

حدثنا أبي، حدثنا عبد الله بن أبي زياد القَطواني، حدثنا سيار بن حاتم،

حدثنا موسى بن سعيد – يعني الراسبي- عن هلال أبي جبلة، عن أبي عبد السلام، عن أبيه، عن كعب أنه قال:إن سدرة المنتهى على حد السماء السابعة، مما يلي الجنة، فهي على حَدّ هواء الدنيا وهواء الآخرة، عُلوها في الجنة، وعروقها وأغصانها من تحت الكرسي، فيها ملائكة لا يعلم عدّتهم إلا الله، عز وجل، يعبدون الله، عز وجل، على أغصانها في كل موضع شعرة منها ملك. ومقام جبريل، عليه السلام، في وسطها، فينادي الله جبريل أن ينـزل في كل ليلة قَدْر مع الملائكة الذين يسكنون سدرة المنتهى، وليس فيهم ملك إلا قد أعطى الرأفة والرحمة للمؤمنين، فينـزلون على جبريل في ليلة القدر، حين تغرب الشمس، فلا تبقى بقعة في ليلة القدر إلا وعليها ملك، إما ساجد وإما قائم، يدعو للمؤمنين والمؤمنات، إلا أن تكون كنيسة أو بيعة، أو بيت نار أو وثن، أو بعض أماكنكم التي تطرحون فيها الخبَث، أو بيت فيه سكران، أو بيت فيه مُسكر، أو بيت فيه وثن منصوب، أو بيت فيه جرس مُعَلّق، أو مبولة، أو مكان فيه كساحة البيت، فلا يزالون ليلتهم تلك يدعون للمؤمنين والمؤمنات، وجبريل لا يدع أحدًا من المؤمنين إلا صافحه، وعلامة ذلك مَن اقشعر جلدهُ ورقّ قلبه ودَمعَت عيناه، فإن ذلك من مصافحة جبريل.

Menuturkan atsar yang gharib yang berkaitan dengan lailatul Qadar yang diriwayatkan oleh Imam Abu Muhammad ibn Abi Hatim ketika memberi tafsir surat ini (“INNAA ANZALNAAHU”)

……….. dari KA’AB, bahwasanya di malam Lailatul Qadar, Malaikat Jibril tidak menyisakan satupun dari orang-orang mukmin kecuali dia menjabat tangannya. Adapun tanda-tandanya ialah gemetar kulitnya (mrinding.Jw), lembut hatinya dan air matanya mengalir. Itu adalah karena jabat tangan malaikat Jibril

Imam Ibn Khuzaimah meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab shahihnya juz VIII halaman 106,

Sanad dan matannya sebagai berikut:

حدثنا بندار ، حدثني أبو عامر ، حدثنا زمعة ، عن سلمة هو ابن وهرام ، عن عكرمة ، عن ابن عباس ، عن النبي صلى الله عل

يه وسلم في ليلة القدر : « ليلة طلقة ، لا حارة ولا باردة ، تصبح الشمس يومها حمراء ضعيفة »

“…dari Ibn Abbas,dari Nabi Shollallaahu ‘alaihi wasallam, tentang Lailatul Qadar :”Malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan”

Ath Thabarani meriwayatkan dalam Musnad Syamiyyin juz IV halaman 309 nomor urut 3389 meriwayatkan:

Sanad dan matannya sebagai berikut:

حدثنا الوليد بن حماد الرملي ثنا سليمان بن

عبد الرحمن ثنا بشر بن عون ثنا بكار بن تميم عن مكحول عن واثلة بن الأسقع عن رسول اللهA قال ( ليلة القدر ( ليلة ) بلجة لا حارة ولا باردة ولا سحاب فيها ولا مطر ولا ريح ولا يرمى فيها بنجم ومن علامة يومها تطلع الشمس لا شعاع لها )

“…Dari Watsilah ibn al Asqa’ dari Rasulillah Shollallaahu ‘alaihi wasallam:

(Lailatul Qadar itu adalah) “Malam yang terang bercahaya, tidak panas, tidak dingin, tiada awan, tiada hujan, tiada angin, dan dimalam itu tiada dilempar dengan bintang. Tanda dipagi harinya adalah matahari terbit tanpa ada cahaya yang bersinar”.

WALLOHU’ALAM BIS SHOWAB