ADAB ATAU ETIKA BERDZIKIR DALAM BERTARIKAT

Adab Berdzikir

Untuk melaksanakan dzikir didalam thariqoh ada tata krama yang harus diperhatikan, yakni adab berdzikir. Semua bentuk ibadah bila tidak menggunakan tata krama atau adab, maka akan sedikit sekali faedahnya. Dalam kitab Al-Mafakhir Al-’Aliyah fi al-Ma-atsir Asy-Syadzaliyah disebutkan, pada pasal Adab adz-Dzikr, sebagaimana dituturkan oleh Asy-Sya’roni, bahwa adab berdzikir itu banyak tetapi dapat dikelompokkan menjadi 20 (dua puluh), yang terbagi menjadi tiga bagian; 5 (lima) adab dilakukan sebelum bedzikir, 12 (dua belas) adab dilakukan pada saat berdzikir, 2(dua) adab dilakukan setelah selesai berdzikir.

Adapun 5 (lima ) adab yang harus diperhatikan sebelum berdzikir adalah;

  1. Taubat, yang hakekatnya adalah meninggalkan semua perkara yang tidak berfaedah bagi dirinya, baik yang berupa ucapan, perbuatan, atau keinginan.

  1. Mandi dan atau wudlu.

  1. Diam dan tenang. Hal ini dilakukan agar di dalam dzikir nanti dia dapat memperoleh shidq, artinya hatinya dapat terpusat pada bacaan Allah yang kemudian dibarengi dengan lisannya yang mengucapkan Lailaaha illallah.

  1. Menyaksikan dengan hatinya ketika sedang melaksanakan dzikir terhadap himmah syaikh atau guru mursyidnya.

  1. Menyakini bahwa dzikir thariqoh yang didapat dari syaikhnya adalah dzikir yang didapat  dari Rasulullah Saw, karena syaikhnya adalah naib (pengganti ) dari beliau.

Sedangkan 12 (dua belas) adab yang harus diperhatikan pada saat melakukan dzikir adalah;

  1. Duduk di tempat yang suci seperti duduknya di dalam shalat..

  1. Meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya.

  1. Mengharumkan tempatnya untuk berdzikir dengan bau wewangian, demikian pula dengan pakaian di badannya.

  1. Memakai pakaian yang halal dan suci.

  1. Memilih tempat yang gelap dan sepi jika memungkinkan.

  1. Memejamkan kedua mata, karena hal itu akan dapat menutup jalan indra dzahir, karena dengan tertutupnya indra dzahir akan menjadi penyebab terbukanya indra hati/bathin.

  1. Membayangkan pribadi guru mursyidnya diantara kedua matanya. Dan ini menurut ulama thariqoh merupakan adab yang sangat penting.

  1. Jujur dalam berdzikir. Artinya hendaknya seseorang yang berdzikir itu dapat memiliki perasaan yang sama, baik dalam keadaan sepi (sendiri) atau ramai (banyak orang).

  1. Ikhlas, yaitu membersihkan amal dari segala ketercampuran. Dengan kejujuran serta keikhlasan seseorang yang berdzikir akan sampai derajat ash-shidiqiyah dengan syarat dia mau mengungkapkan segala yang terbesit di dalam hatinya (berupa kebaikan dan keburukan) kepada syaikhnya. Jika dia tidak mau mengungkapkan hal itu, berarti dia berkhianat dan akan terhalang dari fath (keterbukaan bathiniyah).

  1. Memilih shighot dzikir bacaan La ilaaha illallah , karena bacaan ini memiliki keistimewaan yang tidak  didapati pada bacaan- bacaan dzikir syar’i lainnya.

  1. Menghadirkan makna dzikir di dalam hatinya.

  1. Mengosongkan hati dari segala apapun selain Allah dengan La ilaaha illallah , agar pengaruh kata “illallah” terhujam di dalam hati  dan menjalar ke seluruh anggota tubuh.

Dan 3 (tiga) adab setelah berdzikir adalah;

  1. Bersikap tenang ketika telah diam (dari dzikirnya), khusyu’ dan menghadirkan hatinya untuk menunggu waridudz-dzkir. Para ulama thariqoh berkata bahwa bisa jadi waridudz-dzikr datang dan sejenak memakmurkan hati itu pengaruhnya lebih besar dari pada apa yang dihasilkan oleh riyadlah dan mujahadah tiga puluh tahun.

  1. Mengulang-ulang pernapasannya berkali-kali. Karena hal ini – menurut ulama thariqoh- lebih cepat menyinarkan bashirah, menyingkapkan hijab-hijab dan memutus bisikan–bisikan hawa nafsu dan syetan.

  1. Menahan minum air. Karena dzikir dapat menimbulkan hararah (rasa hangat di hati orang yang melakukannya, yang disebabkan oleh syauq (rindu) dan tahyij (gairah) kepada al-madzkur/Allah Swt yang merupakan tujuan utama dari dzikir, sedang meminum air setelah berdzikir  akan memadamkan rasa tersebut.

Para guru mursyid berkata: ”Orang yang berdzikir hendaknya memperhatikan  tiga tata krama ini, karena natijah (hasil) dzikirnya hanya akan muncul  dengan hal tersebut.”

Wallahu a’lam.

BERHATI-HATILAH DENGAN SYAITAN DAN BERDO’ALAH AGAR DI BERI PETUNJUK

Hati-Hati Bila Setan Membisikan Ini

Allah memang maha Adil, menciptakan makhluknya berjodoh-jodoh, ada yang baik juga ada yang kurang menarik, ada yang pintar ada yang masih butuh belajar, ada yang kaya materi juga ada yang miskin Ruhani, semuanya saling melengkapi.

Begitu juga Allah menciptakan Setan agar manusia selalu hati-hati dari godaan maupun tipu dayanya, karena bila manusia sudah masuk perangkapnya akan merasakan kerugian yang mendalam di dunia dan akhirat.

Salah satu bisikannya seperti dalam sebuah Hadist yang tertuang dalam Shahih al-Bukhari:

ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: ” ﻳﺄﺗﻲ اﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻓﻴﻘﻮﻝ: ﻣﻦ ﺧﻠﻖ ﻛﺬا، ﻣﻦ ﺧﻠﻖ ﻛﺬا، ﺣﺘﻰ ﻳﻘﻮﻝ: ﻣﻦ ﺧﻠﻖ ﺭﺑﻚ؟ ﻓﺈﺫا ﺑﻠﻐﻪ ﻓﻠﻴﺴﺘﻌﺬ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﻟﻴﻨﺘﻪ. رواه البخاري

Artinya: Diriwayatkan dari Abi Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda, setan akan mendatangi salah satu dari kalian, kemudian akan memberi bisikan tentang: siapa yang menciptakan ini, siapa yang menciptakan itu, ketika membisikan tentang siapa yang menciptakan Tuhanmu? Maka minta perlindungan kepada Allah dan berhentilah. (H.R. Bukhari).

Menurut Imam al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir menjelaskan bahwa setan menggoda manusia dengan langkah yang sistematis. Hal ini bertujuan agar manusia ragu kepada Allah sebagai penciptanya.

Dalam hadis ini juga berisi larangan untuk tidak berfikir tentang Dzat Allah, karena manusia tak akan mampu menjalaninya. Namun dianjurkan untuk berfikir akan ciptaan-Nya karena hal itu akan menambah keimanan serta akan lebih mengenal kebesaran-Nya.

Yang dikhawatirkan adalah bila seseorang meyakini Allah seperti makhluknya, butuh tempat, waktu. Keyakinan seperti ini sungguh salah, karena bila Allah membutuhkan tempat maka Allah seperti makhluknya, bila Ia seperti makhluk-Nya maka akan terjadi Daur( Putaran), dan Tasalsul(mata rantai), maka hal ini Mustahil (tak mungkin terjadi) bagi Allah.

Maka dari itu jaga keimanan kita dengan meyakini bahwa Allah tak seperti makhluk-Nya, tidak beranak, juga tak diperanakkan, dialah yang maha sempurna, serta disucikan dari segala kekurangan.

Baca Doa Ini Agar Selalu Mendapat Petunjuk

Hakikat doa adalah pengakuan diri kepada Tuhan bahwasanya ia tak mampu untuk melakukan suatu kecuali atas izin-Nya, serta untuk meminta agar mendapatkan sesuatu yang ia harapkan, terutama agar selalu mendapatkan petunjuk dalam mengarungi kehidupan di dunia ini.

Salah satu doa yang tertuang di dalam Al-Qur’an adalah doa agar selalu diberikan petunjuk dalam segala hal, terutama selalu dibimbing dalam memutuskan suatu hal, yaitu yang tertuang dalam Surat al-Kahfi ayat 10 yang berbunyi:

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

Artinya: (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa, “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.

Menurut Imam Baidhawi dalam Tafsirnya doa ini berisi tentang permintaan rahmat Allah agar selalu turun, karena akan mendatangkan ampunan, serta mempermudah datangnya rizki, dan membawa kesentosaan serta keamanan dari musuh. Syaikh Nawawi al-Bantani dalam Tafsirnya menambahkan bahwa dia ini berisi agar dimudahkan dalam segala urusan terutama agar tercapai keinginan yang diharapkan.

Doa ini selalu dibaca oleh Ashabul Kahfi (penghuni gua) ketika dikejar, serta diintimidasi oleh raja kejam dari Romawi yang bernama Dikyanus sebagai penyembah berhala. Raja ini mempunyai kebiasaan membantai orang yang selalu menentangnya, serta selalu menyembelih hewan ternak yang dipersembahkan untuk berhala. Hal ini seperti keterangan dalam Tafsir al-Baghawi.

Maka dari itu, sebagai orang mukmin sebaiknya selalu berdoa agar selalu mendapatkan petunjuk, agar hidupnya selalu mendapatkan Rahmat dari Allah SWT, serta dimudahkan dalam segala urusan, seperti dalam kandungan doa di atas.

Ini Dua Doa yang Paling Sering Dibaca Rasulullah Saw

Rasulullah Saw selalu menyertai doa dalam setiap aktifitasnya. Diantara doa-doa yang pernah dibaca, ada dua doa yang paling sering dipanjatkan Nabi Saw, yaitu:

اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Allahumma rabbanaa aatina fid dun-ya hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qina ‘adzaban naar

“Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa api neraka”

Doa ini sebagaimana tercantum dalam hadis riwayat Bukhari, Anas Ra berkata “Doa yang paling banyak dipanjatkan Nabi Saw adalah “Rabbana aatina fid dun-yaa hasanah wa fil aakhirati hasanah waqinaa ‘adzaban naar”

Doa lain yang paling sering dipanjatkan Rasulullah Saw adalah doa memohon keteguhan iman, yaitu:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيَ عَلَى دِينِكَ

Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbi ‘ala dinika

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu”

Imam Abu Daud meriwayatkan dalam sunannya, dari Syahr bin Hausyab berkata “Aku mendatangi Ummu Salamah dan bertanya “Beritahu aku doa yang paling sering diucapkan Nabi Saw”, Ummu Salamah pun menjawab “Doa yang paling sering dibaca Nabi Saw adalah “Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbi ‘ala dinika”.

Lalu Rasulullah Saw ditanya mengenai hal ini “Ya Rasulullah, mengapa engkau sering membaca doa ini?” “Sesungguhnya hati anak Adam berada di antara dua ujung jari Ar-Rahman, apabila Ia berkehendak maka akan diteguhkan (imannya) dan jika Ia berkehendak maka Ia akan mencabutnya”.

Mengapa Berdoa itu Penting? Begini Alasannya

Doa dalam pandangan Quraish Shihab adalah permohonan dari seseorang yang mempunyai kedudukan dan kemampuan lebih rendah (manusia) kepada Dzat yang lebih tinggi (Allah Swt).

Adapun doa dalam pandangan Wahbah Zuhaily adalah meminta kemanfaatan dan menolak kemadaratan. Akan tetapi, dalam pandangan Toshihiko Izutsu doa bukanlah sekedar permohonan atau permintaan dari manusia terhadap Tuhannya.

Lebih dari itu, doa adalah bentuk komunikasi verbal yang terjadi antara Tuhan dan manusia. Hubungan antara keduanya pun tidak bersifat sepihak, walaupun terkadang manusia akan mengambil inisiatif dan berusaha melakukan komunikasi dengan Tuhan melalui isyarat bahasa.

Di dalam komunikasi di antara keduanya, tercermin bukti ketundukan manusia kepada Tuhan serta pengakuan atas kelemahan dan juga ketidakberdayaan manusia di hadapan Tuhan. Selain itu, terdapat juga suatu keharuan, rasa penyesalan, harapan, keinginan, serta kepasrahan yang dilakukan secara totalitas dari orang yang berdoa kepada Tuhan. Allah swt memerintahkan kepada manusia untuk senantiasa berdoa, sebagaimana firman-Nya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (٦٠)

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina“. (Q.S Al-Mu’min [40]: 60).

Secara tidak langsung, ayat tersebut mengisyaratkan betapa pentingnya berdoa. Pertanyaannya kemudian, mengapa berdoa itu menjadi penting? Karena doa merupakan salah satu perintah Allah SWT, sekaligus ancaman bagi orang-orang yang sombong, termasuk di dalamnya adalah orang-orang yang tidak mau berdoa kepada Allah SWT.

Dengan kata lain, orang yang banyak berdoa maka akan mulia, sebaliknya orang yang enggan berdoa maka akan menjadi hina dina. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim:

ليس شيئ اكرم على الله عز وجل من الدعاء في الرخاء

“Tidak ada sesuatu yang paling mulia dalam pandangan Allah Swt, selain dari “berdoa” kepada-Nya, sedang kita dalam keadaan lapang”

Hal senada juga diungkapkan oleh Alexis Carell, seorang ilmuan Prancis, pemenang dua hadiah Nobel dalam bidang kedokteran. Menurutnya, doa adalah pusaka yang selalu menyertai orang yang berdoa di manapun ia berada.

Di samping itu, mengabaikan doa adalah pertanda kehancuran suatu bangsa. Masyarakat yang mengabaikan doa adalah masyarakat yang berada di ambang kemunduran dan kehancuran. Masyarakat Roma misalnya, adalah bangsa yang agung namun secepat mereka mengabaikan doa maka secepat itu pula kehinaan dan kelemahan menimpa mereka.

Alasan lain tentang mengapa berdoa itu menjadi penting adalah karena doa mempunyai faidah yang sangat banyak, sebagaimana ungkapan Imam Al-Ghazali. Menurutnya, walaupun doa tidak dapat menolak qadha namun doa dapat melahirkan sikap khudhu’ dan hajat kepada Allah Swt. Apalagi jika diingat bahwa menolak bala dengan doa termasuk qadha Allah SWT juga.

Bahkan, doa menjadi salah satu sebab bagi tertolaknya suatu bencana. Laksana perisai yang menjadi sebab untuk menangkis senjata dan laksana air yang menjadi sebab keluarnya tumbuh-tumbuhan dari bumi. Maka sebagaimana perisai menangkis senjata, demikianlah doa menangkis bencana yang telah ditakdirkan.

Dengan kata lain, doa bisa diibaratkan sebagai senjata yang digunakan untuk menolak berbagai macam bencana sekaligus sebagai alat untuk mendatangkan berbagai macam kebaikan. Sebab, pada dasarnya hanya Allah Swt lah yang mampu menolak berbagi macam bencana dan mendatangkan berbagai macam kebaikan. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la:

ينجيكم من اعدائكم ويدر لكم ارزاكم

“Tuhan yang melepaskan kamu dari bencana-bencana yang disebabkan oleh musuh-musuhmu dan Dia pulalah yang mencurahkan rezeki kepada kamu sekalian”.

Hasbie As-Shiddiqie juga menjelaskan tentang beberapa faidah doa, sebagaimana berikut:

  • Pertama, doa sebagai sarana menghadapkan diri kepada Allah SWT dengan tadharru’.
  • Kedua, doa sebagai sarana menyampaikan permohonan kepada Allah SWT yang memberikan nikmat yang tiada habis-habisnya.
  • Ketiga, doa sebagai sarana untuk memperoleh naungan rahmat Allah SWT.
  • Keempat, doa sebagai wujud dari menunaikan kewajiban taat dan menjauhi maksiat.
  • Kelima, doa sebagai wujud dari membendaharakan sesuatu yang diperlukan untuk masa susah dan sempit.
  • Keenam, doa menjadikan orang yang berdoa memperoleh hasil yang pasti, karena setiap doa itu dipelihara dengan baik di sisi Allah SWT. Maka adakalanya permohonan itu dipenuhi dengan cepat, adakalanya ditunda, ada juga yang ditunda sampai di akhirat.
  • Ketujuh, doa dapat menolak tipu daya musuh, menghilangkan kegundahan, menghasilkan hajat serta memudahkan kesukaran.

Wallahu A’lam

ALLOH SWT YANG MENDIDIK NABI MUHAMMAD SAW DARI KECIL

Sayid Abdullah, ayahanda Nabi Muhammad, mengikat janji setia dengan Sayidah Aminah sebagai suami dan istri. Usai akad nikah, satu minggu lamanya mereka tinggal di rumah orang tua Sayidah Aminah. Lalu mereka pindah ke rumah yang disediakan Sayid Abdul Muthalib. Rumah yang lumayan luas, sembilan kali dua belas meter persegi. Tak lama berada di rumah itu. Mungkin hanya seminggu.

Karena keadaan yang memaksa, Sayid Abdullah harus berangkat ke Syam untuk kepentingan bisnis keluarga besar. Perjalanan jauh yang sangat melelahkan. Ribuan kilometer jarak antara Mekah dan Syam ditempuh dengan kendaran unta.

Dalam perjalanan pulang menuju Mekah, Sayid Abdullah meninggal dunia ketika sang istri (Sayidah Aminah) sedang mengandung janin yang baru berumur dua bulan. Beberapa bulan kemudian, Sayidah Aminah melahirkan. Bayi laki-laki itu diberi nama Muhammad SAW.

Namun, Sayidah Aminah tak ditakdirkan mengasuh sang anak hingga dewasa. Sebagaimana sang suami, Sayidah Aminah juga meninggal dunia dalam perjalanan pulang bersama Muhammad SAW. dari Madinah ke Mekah. Hanya ditemani seorang budak bernama Barakah, Muhammad SAW. kecil pulang ke Mekah.

Muhammad SAW. kecil menjadi yatim piatu. Ia tak pernah menyaksikan ketampanan wajah ayahnya dan hanya sebentar diasuh ibundanya, Sayidah Aminah. Selanjutnya ia diasuh kakeknya hingga sang kakek meninggal dunia, ketika Muhammad SAW. berumur 8 tahun. Ia kemudian diasuh pamannya (Sayid Abu Thalib), hingga Muhammad SAW. menikah dengan Khadijah. Ketika Nabi SAW banyak mengalami intimidasi dari orang-orang musyrik Mekah, sang paman dan sang istri meninggal dunia.

Ketika ditanya soal perjalanan hidupnya yang berpindah-pindah pengasuhan ini, Nabi Muhammad SAW. menjawab, “begitulah cara Allah mendidikku”, sehingga tak ada satu orang pun yang sangat berpengaruh dalam hidupku termasuk orang tuaku sendiri. Ketergantungan Nabi SAW memang hanya pada Allah, bukan pada selain-Nya.

Sayid Abdullah dan Sayidah Aminah datang ke dunia hanya sebagai sebab bagi lahirnya sang manusia sempurna, Nabi Muhammad SAW. Tak ada yang mendidik Nabi SAW selain Allah SWT.

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَلْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِى إِلى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَعَلى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ.

         “Ya Alah, berilah keagungan (sebagai pemberian rahmat-Mu) atas pemimpin kami, yaitu Nabi Muhammad SAW. yang membuka sesuatu yang dikunci (dunia dikunci dalam kandungan adam/tiada, lalu ia membukanya maka wujudlah dunia ini), dan yang menjadi pamungkas martabat (Hamba Allah) yang telah terdahulu (baik martabat para Malaikat maupun martabat para Nabi), penolong kebenaran dengan kebenaran/dengan pertolongan Allah SWT. dan yang memberi petunjuk pada jalan-Mu yang lurus (yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat atas mereka), dan atas keluarga-nya sesuai dengan martabat Nabi Muhammad SAW (di dunia), dan martabatnya yang agung di akhirat.”

NIKMAT DARI ALLOH SWT YANG TERMURAH SAMPAI YANG TERMAHAL

Nikmat dikelompokkan ke dalam 3(tiga) kategori, sesungguhnya kenikmatan merupakan hasrat manusiawi yang telah terpenuhi, termasuk hasrat duniawi sebagaimana Q.S. 3: 14 yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik .”

 Ketiga kategori tersebut secara kronologis sebagai berikut:

 

    Nikmat Harta;

    Harta diberikan kepada semua orang yang mau berusaha dengan gigih dan sungguh-sungguh untuk mendapatkannya, tidak memandang ketaatan dan kekhusyu’annya dalam ibadah kepada Allah. Sehingga orang zhalim seperti Qarun pun diberi perbendaharaan harta yang banyak oleh Allah (Q.S. 28: 76). Karena Allah memberi rizki kepada manusia sesuai dengan yang diusahakannya (Q.S. 53: 39). Allah juga memberi harta kepada orang shalih seperti Sulaiman A.S. (Q.S. 27: 36), bahkan Sulaiman A.S. (diberi) anugerah kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun sesudah Sulaiman A.S.(Q.S. 38: 35) Singkat kata, harta (kekayaan) diberikan kepada siapapun yang mau berusaha, karena harta merupakan nikmat yang termurah”.

    Nikmat Sehat;

    Nikmat sehat lebih tinggi nilainya daripada nikmat harta. Hal ini terbukti ketika orang sakit, untuk dapat sehat kembali rela menukar hartanya untuk menebus obat dan biaya pengobatan agar dapat sehat kembali. Banyak fasilitas gratis dinikmati ketika dalam kondisi sehat, sebagai contoh dalam bernafas, betapa banyak Oksigen (O2) dari ‘aether’ yang kita hirup tanpa beli. Padahal setiap kita bernafas menghirup 2 liter udara yang mengandung oksigen, dalam 1 menit kita bernafas 16 s.d. 24 kali. Kalau dibuat rata-rata permenit 20 kali menghirup udara, sekali hirup 2 liter udara mengandungO2, 1 jam= 2.400 liter; 1 hari= 57.600 liter; 1 bulan= 1.628.000 liter; 1 tahun= 21.024.000 liter;

    Sudah berapa liter udara yang telah kita hirup dengan usia kita sekarang? Itu baru rahmat Allah berupa oksigen gratis. Betapa banyak uang yang harus dikeluarkan kalau semua harus beli seperti orang yang sakit pernafasan yang harus dibantu dengan oksigen. Nikmat sehatmemang lebih tinggi dari nikmaharta.

    Nikmat Iman;

    Tidak semua orang dapat menikmati keimanan. Ini merupakan nikmat termahal, sehingga hanya orang-orang yang dikehendaki-Nya yang dapat merasakan nikmat iman. Kemuliaan manusia terletak pada iman dan amalnya (Q.S. 95: 6). Orang beriman dan berilmu mendapat derajat yang tinggi (Q.S. 58: 11).

    Di waktu azab datang, baru menyatakan iman tidak berguna lagi (Q.S.10: 51, 52), perhatikan kisah Fir’aun yang menyatakan beriman menjelang ajalnya, saathendak ditenggelamkan (Q.S.10: 90).

KEUTAMAAN UMAT NABI MUHAMMAD SAW ATAS UMAT LAIN

Dicintai dan dimuliakannya Rasulullah Muhammad ﷺ oleh Allah berdampak pada ikut dimuliakannya umat beliau. Dalam syariat Islam banyak ajaran yang menunjukkan betapa Allah begitu memuliakan umat ini dibanding dengan umat-umat sebelumnya, termasuk Bani Israil.

Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki di dalam kitabnya Syaraful Ummah Al-Muhammadiyyah menuturkan berbagai kemulian yang diberikan oleh Allah kepada umat Nabi Muhammad di mana kemuliaan-kemuliaan itu tidak diberikan kepada umat Bani Israil.

Di antara perlakuan Allah yang mengistimewakan umat akhir zaman ini adalah:

Pertama, bila pakaian seorang Bani Israil terkena najis maka satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk mensucikan kembali pakaian tersebut adalah dengan memotong bagian yang terkena najis. Bahkan menurut sebagaian ulama bahwa bila anggota badan seorang Bani Israil terkena najis maka ia mesti memotong bagian anggota badan yang terkena najis tersebut untuk mensucikannya.

Imam Abu Dawud meriwayatkan:

كَانُوا إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَوْلُ قَطَعُوا مَا أَصَابَهُ الْبَوْلُ مِنْهُمْ

Artinya: “Adalah Bani Israil bila mereka terkena air kencing maka mereka memotong apa yang terkena air kencing itu.” (Abu Dawud As-Sijistani, Sunan Abi Dâwûd [Beirut: Muassasah Ar-Rayan], 1998, juz I, hal. 159)

Ini berbeda dari umat Nabi Muhammad di mana untuk mensucikan apa saja yang terkena najis Allah memerintahkan pensuciannya cukup dengan air dan dengan debu untuk najis tertentu.

Kedua, bila seorang perempuan Bani Israil sedang mengalami haid atau menstruasi maka ia akan ditinggal sendirian di rumah. Mereka tidak diperbolehkan berhubungan, tinggal, dan makan bersamanya

Berbeda dari umat Nabi Muhammad yang diperbolehkan bergaul, makan bersama, tinggal serumah, dan juga tidur sekasur dengan istri yang sedang haid. Hanya saja mereka tidak diperbolehkan berhubungan intim dengannya.

Ketiga, ketika seorang Bani Israil melakukan tindak pidana pembunuhan maka satu-satunya hukuman yang diterapkan baginya adalah hukuman mati, baik pembunuhan yang dilakukan itu berupa pembunuhan yang disengaja ataupun pembunuhan yang tidak disengaja. Di dalam hukum Bani Israil juga tidak diberlakukan diyat dalam kasus pembunuhan ataupun pencederaan terhadap anggota badan.

Berbeda dari umat Rasulullah Muhammad ﷺ di mana Allah memberikan keringanan bagi umat ini dalam hal pembunuhan. Dalam syari’at Islam diberlakukan diyat sebagai pengganti qishash apabila keluarga orang yang dibunuh memberika maaf bagi orang yang membunuh.

Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Allah di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 178:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَى بِالْأُنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, dan perempuan dengan perempuan. Maka barang siapa yang mendapat suatu permaafan dari saudaranya hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula. Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kalian dan suatu rahmat.”

Keempat, ketika Bani Israil melakukan kesalahan berupa penyembahan terhadap sapi maka satu-satunya jalan untuk bertaubat adalah dengan cara membunuh diri mereka sendiri. Orang yang menyembah sapi menyerahkan diri kepada orang yang tak menyembahnya untuk dibunuh. Dengan jalan seperti itu Bani Israil melakukan pertaubatan.

Tidak hanya itu. Ketika mereka melakukan sejumlah tindakan dosa tertentu pun cara taubatnya dengan memotong anggota badan yang melakukan kesalahan tersebut. Lidah harus dipotong ketika mengucapkan kebohongan, kemaluan mesti dipotong manakala melakukan perzinahan, dan biji mata dicukil ketika melihat perempuan yang bukan mahramnya.

Berbeda dari umat Nabi Muhammad, di mana Allah memberikan jalan yang mudah bagi mereka untuk melakukan pertaubatan atas dosa-dosa yang dilakukan. Bahkan Allah mengabarkan bahwa Ia akan menerima taubat dan memaafkan setiap kesalahan.

Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 110:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya: “Barang siapa yang melakukan kejelekan atau berbuat aniaya pada diri sendiri kemudian ia meminta ampun kepada Allah maka ia akan mendapati Allah sebagai Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kelima, bila salah seorang Bani Israil melakukan satu perbuatan dosa atau kemaksiatan maka di pagi hari akan ia temui di pintu rumahnya satu tulisan “Si Fulan telah melakukan perbuatan dosa ini dan itu. Sebagai tebusannya adalah ini dan itu.” Tulisan ini dapat dibaca oleh siapapun secara umum.

Sedangkan umat Nabi Muhammad selalu ditutup-tutupi oleh Allah manakala melakukan perbuatan dosa. Allah tidak membuka dan mengumbar kesalahan mereka kepada orang lain. Ia selalu menutup rapat kesalahan tersebut hingga terkadang justru pelakunya sendiri yang membuka aib dirinya.

Keenam, Allah tetap akan menyiksa Bani Israil yang melakukan perbuatan salah meskipun itu hanya merupakan kata hati mereka dan tidak dilakukan oleh anggota badannya. Dahulu mereka pernah mendatangi para nabi dan rasul yang diutus kepada mereka. Kepada para nabi dan utusan itu mereka memprotes atas syari’at yang tetap akan menyiksa mereka atas apa yang dibatinkan oleh hati mereka meskipun tidak sampai dilakukan oleh anggota badan. Maka mereka mengkufuri syari’at tersebut dengan mengatakan sami’nâ wa ‘ashainâ (kami dengar namun kami membangkangnya).

Berbeda dari umat ini, ketika mereka mengetahui bahwa Allah akan menghisab setiap perilaku baik yang berupa perbuatan anggota badan maupun yang berupan bisikan hati, umat Nabi Muhammad mengucapkan kami mendengar, kami mematuhi, kami berserah diri dan percaya kepada Allah, malaikat, dan para rasul-Nya. Maka kemudian Allah mengkhabarkan bahwa Ia mengampuni (tidak akan menghisab) apa-apa yang dibatinkan di dalam hati. Allah hanya akan menghisab perbuatan yang secara nyata dilakukan oleh anggota badan.

Ketujuh, dosa yang dihasilkan oleh Bani Israil karena salah dalam berbuat atau karena lupa tetap beresiko dengan disegerakannya hukuman atas dosa tersebut. Sebagaimana Allah telah mengharamkan suatu makanan dan minuman atas mereka sebagai hukuman atas suatu dosa yang mereka lakukan.

Berbeda dari umat Nabi Muhammad di mana Allah tidak menjatuhkan hukuman kepada mereka atas kesalahan, kelupaan, dan apa saja yang dilakukan karena terpaksa. Ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah:

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ، وَالنِّسْيَانَ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

Artinya: “Sesunguhnya Allah memaafkan karena aku dari umatku kesalahan, lupa, dan apapun yang mereka dipaksa untuk melakukannya.” (HR. Ibnu Majah, Baihaki, dan lainnya).

Kedelapan, Allah mengharamkan Bani Israil melakukan kegiatan-kegiatan duniawi di hari Sabtu sebagai hari raya mereka. Pada hari itu Bani Israil hanya diperbolehkan melakukan peribadatan kepada Allah saja. Maka ketika mereka melanggarnya dengan tetap berburu ikan di lautan Allah mengubah wujud menjadi seekor kera.

Sedangkan umat Nabi Muhammad tidak diperlakukan seperti itu oleh Allah. Mereka diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan apapun meskipun di hari Jum’at sebagai hari raya umat Islam. Baik sebelum maupun sesudah shalat Jum’at umat Nabi Muhammad diperkenankan melakukan aktifitas duniawi tanpa ada ancaman hukuman apapun dari Allah.

Kesembilan, bagi Bani Israil dan kaum yang lain penyakit thâ’ûn merupakan kotoran dan siksaan. Sedangkan bagi umat Nabi Muhammad penyakit thâ’ûn dijadikan oleh Allah sebagai rahmat dan kesyahidan bagi mereka.

Kesepuluh, ada beberapa makanan yang diharamkan oleh Allah bagi Bani Israil. Beberapa makan itu di antaranya adalah setiap binatang yang memiliki kuku dan lemak yang ada pada binatang, kedua haram bagi Bani Israil. Keduanya diharamkan oleh Allah sebagai hukuman bagi mereka karena perilaku mereka yang berbuat dzalim, menentang dan mempermainkan syariat Allah.

Hal ini direkam oleh Allah dalam firman-Nya pada surat An-Nisa ayat 160:

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا

Artinya: “Maka disebabkan perbuatan aniaya dari orang-orang yahudi Kami haramkan atas mereka beberapa makanan yang baik-baik yang sebelumnya dihalalkan bagi mereka, dan juga dikarenakan mereka serig menghalang-halangi jalan Allah.“

Adapun umat Nabi Muhammad Allah menghalalkan bagi mereka segala yang baik, tanpa kecuali, dan mengharamkan atas mereka setiap yang jelek. Ini ditegaskan-Nya dalam ayat 5 surat Al-Maidah:

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ

Artinya: “Pada hari ini telah Aku halalkan bagi kalian yang baik-baik.”

Kesebelas, ketika Bani Israil mendapatkan barang rampasan perang (ghanimah) mereka diharamkan untuk mengambil dan membagikannya. Yang diperintahkan kepada mereka adalah mengumpulkan barang rampasan itu, lalu akan turun api dari langit yang menyambar dan membakarnya sebagai tanda bahwa diterimanya peperangan yang mereka lakukan.

Sedangkan umat Nabi Muhammad diperbolehkan mengambil dan memanfaatkan barang rampasan perang, bahkan dijadikannya sebagai sesatu yang halal dan penuh berkah.

Allah berfirman dalam Surat Al-Anfal ayat 69:

فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا

Artinya: “maka makanlah dari apa yang kalian rampas sebagai sesuatu yang halal dan baik.”

Kedua belas, umat-umat terdahulu tidak diperbolehkan melakukan shalat kecuali di tempat-tempat yang telah ditentukan seperti gereja dan pagoda. Bila mereka tidak datang bersembahyang di tempat yang telah ditentukan itu maka mereka tidak bisa menggantinya di sembarang tempat. Mereka mesti datang ke tempat peribadatan yang ada untuk mengganti shalat yang ditinggalkannya itu.

Al-Bazar dalam satu hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abas mengatakan bahwa tak ada seorang nabi pun yang melakukan shalat hingga ia berada di mihrabnya.

Sementara umat Nabi Muhammad tidak demikian. Allah menjadikan setiap jengkal tanah di bumi ini sebagai tempat shalat mereka. Kapanpun dan di manapun mereka hendak melakukan shalat bisa dilakukan di tempat manapun asalkan bersih dan suci dari najis. Tak ada tempat yang dikhususkan untuk shalat bagi umat Baginda Muhammad ﷺ.

Ketiga belas, dalam syariat umat-umat sebelum umat Nabi Muhammad mereka hanya bisa bersuci dengan air saja. Tak ada aturan yang membolehkan mereka bersuci dengan menggunakan media selain air. Maka ketika mereka hendak shalat dan tidak menemukan air, mereka tidak bisa melakukannya sampai menemukan air untuk bersuci dan kemudian mengqadla shalat yang telah ditingalkannya.

Berbeda dari umat Nabi Muhammad, ketika mereka hendak melakukan shalat dan tidak menemukan air maka mereka bisa bersuci dengan menggunakan debu yang suci.

Demikian Allah—melalui syari’at-Nya—memperlakukan umat Nabi Muhammad ﷺ secara istimewa bila dibandingkan dengan perlakukan Allah kepada umat-umat terdahulu. Ada kemudahan dan keringanan dalam syari’at Islam yang dibawa oleh Rasulullah.

Atas semua itu maka selayaknya bila umat Nabi Muhammad bersyukur kepada Allah dengan melakukan ketaatan dan ketakwaan yang semestinya dan berterima kasih kepada Rasulullah dengan mengikuti akhlak mulianya.

Wallâhu a’lam.

INILAH SHOLAWAT DARI SYAIKH AHMAD TIJANY RA SELAIN SHOLAWAT FATIH

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تَعْدِلُ جَمِيْعَ صَلَوَاتِ أَهْلِ مَحَبَّتِكَ . وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَلاَمًا يَعْدِلُ سَلاَمَهُمْ .

Artinya:” Ya Allah berikanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebenar-benar shalawat yang menyamai seluruh shalawat ahli mahabbah kepada-Mu. Dan berikanlah salam kepada Nabi Muhammad serta keluarganya sebenar-benar salam yang menyamai seluruh salam ahli mahabbah kepada-Mu.”

Penjelasan:

Shalawat ini disebut oleh sebagian ulama dengan nama shalawat Ahlul Mahabbah. Shalawat ini salah satu shalawat yang ditalqinkan oleh Rasulullah shallahu alaihi Wa sallam dalam pertemuan Ruhani Yaqzhatan (sadar) kepada seorang wali besar al-Imam Sayyidi Syaikh Ahmad Bin Muhammad Attijaniy (1150-1230 H).

Sayyidi Syaikh Ahmad Tijaniy berkata: “Ketika aku pergi dari kota Tilimsan ke kota Abi Samaghun, aku diberikan oleh Rasulullah redaksi shalawat, bila membacanya satu kali sama dengan membaca kitab Dalail al-Khairat 1000 kali. Dalam riwayat lain, Qadhi al-Imam Ahmad al-Sukairij mengatakan: Siapa yang membacanya membandingi pahala mengkhatamkan 70.000 kali Dalailul khairat.

Shalawat Ahlul mahabbah ini memiliki keutamaan yang sangat besar lantaran di dalamnya terdapat rahasia-rahasia yang tersimpan yang tidak dapat diketahui kecuali oleh orang-orang yang telah mendapat khushusiyat dari Allah Taala untuk mengetahuinya.

Hendaknya seseorang mengamalkan shalat ini dengan niat yang baik dan benar tanpa disertai keraguan dan buruk sangka. Karena siapa saja yang memiliki niat dan persangka yang baik, maka ia akan mendapatkan keistimewaan tersebut.

(lihat kitab: كشف الحجاب عمن تلاقى مع الشيخ التجاني من الأصحاب halaman 440).

FADILAH KEUTAMAAN PUASA TARWIYAH DAN ARAFAH (8-9 DZUL HIJJAH)

Puasa Sunat Terbagi Menjadi 3 Macam :

1.Tahunan (berulang dengan berulangnya tahun), yaitu puasa ‘Arofah, ‘Asyuro, Tasyu’a dan 6 harinya bulan Syawal.

2.Bulanan (berulang dengan berulangnya bulan), yaitu puasa hari-hari putih (ayyamul bid) tanggal 13, 14 dan 15 tiap bulan.

3.Mingguan (berulang dengan berulangnya minggu), yaitu puasa hari Senin dan Kamis.

  • Puasa ‘Arofah (9 Dzulhijjah) disunatkan bagi selain orang yang sedang berhaji dan musafir. Bagi orang yang sedang berhaji disunatkan tidak berpuasa pada hari ‘Arofah.
  • Puasa ‘Asyuro (10 Muharrom) disunatkan disambung dengan puasa Tasyu’a (9 Muharrom) untuk membedakan diri dari kaum yahudi.
  • Puasa 6 harinya bulan Syawal diutamakan disambung langsung setelah hari ‘Ied ( tanggal 2 – 7 ) dan berturut-turut.
  • Puasa genap setahun penuh selain dua hari raya id dan hari-hari Tasyriq itu hukumnya boleh bagi orang yang tidak mendapat madhorot (bahaya) dengan puasa itu
  • Puasa ndawud, sehari puasa sehari tidak (meniru nabi Dawud) disunatkan berdasarkan riwayat sabda nabi saw “sebaik-baik puasa adalah puasa saudaraku, Dawud”.

Puasa Tarwiyah dan Arafah

PUASA ARAFAH adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Arafah yakni tanggal 9 Dzulhijah. Puasa ini sangat dianjurkan bagi orang-orang yang tidak menjalankan ibadah haji. Adapun teknis pelaksanaannya mirip dengan puasa-puasa lainnya. Keutamaan puasa Arafah ini seperti diriwayatkan dari Abu Qatadah Rahimahullah. Rasulullah SAW bersabda :

صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضية ومستقبلة وصوم يوم عاشوراء يكفر سنة ماضية

Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang telah lepas dan akan datang, dan puasa Assyura (tanggal 10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lepas. (HR. Muslim).

Sementara puasa Tarwiyah dilaksanakan pada hari Tarwiyah yakni pada tanggal 8 Dzulhijjah. Ini didasarkan pada satu redaksi hadits yang artinya bahwa Puasa pada hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun. Dikatakan hadits ini dloif(kurang kuat riwayatnya) namun para ulama memperbolehkan mengamalkan hadits yang dloif sekalipun sebatas hadits itu diamalkan dalam kerangka fadla’ilul a’mal (untuk memperoleh keutamaan), dan hadits yang dimaksud tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan hukum. Lagi pula hari-hari pada sepersepuluh bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa. Abnu Abbas r.a meriwayatkan Rasulullah s.a.w bersabda:

ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام يعني أيام العشر قالوا: يا رسول الله! ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك شيء

Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya : Ya Rasulullah! walaupun jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya (menjadi syahid). (HR Bukhari).

Puasa Arafah dan tarwiyah sangat dianjurkan untuk turut merasakan nikmat yang sedang dirasakan oleh para jemaah haji sedang menjalankan ibadah di tanah suci.

Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi: Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku. Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun.(HR Bukhari Muslim). (Anam)

Fadhilah Puasa Arafah

Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Arafah yakni tanggal 9 bulan Dzulhijah pada kalender Islam Qamariyah/Hijriyah. Puasa ini sangat dianjurkan bagi kaum Muslimin yang tidak menjalankan ibadah haji.

Kesunnahan puasa Arafah tidak didasarkan adanya wukuf di Arafah oleh jamaah haji, tetapi karena datangnya hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah. Maka bisa jadi hari Arafah di Indonesia tidak sama dengan di Saudi Arabia yang hanya berlainan waktu 4-5 jam. Ini tentu berbeda dengan kelompok umat Islam yang menghendaki adanya ‘rukyat global’, atau kelompok yang ingin mendirikan khilafah islamiyah, dimana penanggalan Islam disamaratakan seluruh dunia, dan Saudi Arabia menjadi acuan utamanya.

Keinginan menyamaratakan penanggalan Islam itu sangat bagus dalam rangka menyatukan hari raya umat Islam, namun menurut ahli falak, keinginan ini tidak sesuai dengan kehendak alam atau prinsip-prinsip keilmuan. Rukyatul hilal atau observasi bulan sabit yang dilakukan untuk menentukan awal bulan Qamariyah atau Hijriyah berlaku secara nasional, yakni rukyat yang diselenggarakan di dalam negeri masing-masing dan berlaku satu wilayah hukum. Ini juga berdasarkan petunjuk Nabi Muhammad SAW sendiri. (Lebih lanjut tentang hal ini silakan klik di rubrik Syari’ah dan Iptek)

Penentuan hari arafah itu juga ditegaskan dalam Bahtsul Masa’il Diniyah Maudluiyyah pada Muktamar Nahdlatul Ulama XXX di Pondok Pesantren Lirboyo, akhir 1999. Ditegaskan bahwa yaumu arafah atau hari Arafah yaitu tanggal 9 Dzulhijjah berdasarkan kalender negara setempat yang berdasarkan pada rukyatul hilal.

Adapun tentang fadhilah atau keutamaan berpuasa hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah didasarkan pada hadits berikut ini:

صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً وَصَوْمُ عَاشُوْرَاَء يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً

Puasa hari Arafah menebus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang dan puasa Asyura (10 Muharram) menebus dosa setahun yang telah lewat. (HR Ahmad, Muslim dan Abu Daud dari Abi Qotadah)

Para ulama menambahkan adanya kesunnahan puasa Tarwiyah yang dilaksanakan pada hari Tarwiyah, yakni pada tanggal 8 Dzulhijjah. Ini didasarkan pada satu redaksi hadits lain, bahwa Puasa pada hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun. Dikatakan bahwa hadits ini dloif (tidak kuat riwayatnya) namun para ulama memperbolehkan mengamalkan hadits yang dloif sekalipun sebatas hadits itu diamalkan dalam kerangka fadla’ilul a’mal (untuk memperoleh keutamaan), dan hadits yang dimaksud tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan hukum.

Selain itu, memang pada hari-hari pada sepersepuluh bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa untuk menjalankan ibadah seperti puasa. Abnu Abbas RA meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ أيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِيْ أَياَّمُ اْلعُشْرِ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ! وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهُ فَلَمْ يَرْجِعُ مِنْ ذَلِكَ شَيْءٌ

Diriwayatkan Rasulullah SAW bersabda: Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulallah, walaupun jihad di jalan Allah? Rasulullah bersabda: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya atau menjadi syahid.(HR Bukhari)

Puasa Arafah dan Tarwiyah sangat dianjurkan bagi yang tidak menjalankan ibadah haji di tanah suci. Adapun teknis pelaksanaannya mirip dengan puasa Ramadhan.

Bagi kaum Muslimin yang mempunyai tanggungan puasa Ramadhan juga disarankan untuk mengerjakannya pada hari Arafah ini, atau hari-hari lain yang disunnahkan untuk berpuasa. Maka ia akan mendapatkan dua pahala sekaligus, yakni pahala puasa wajib (qadha puasa Ramadhan) dan pahala puasa sunnah. Demikian ini seperti pernah dibahas dalam Muktamar NU X di Surakarta tahun 1935, dengan mengutip fatwa dari kitab Fatawa al-Kubra pada bab tentang puasa:

يُعْلَمُ أَنَّ اْلأَفْضَلَ لِمُرِيْدِ التََطَوُّعِ أَنْ يَنْوِيَ اْلوَاجِبَ إِنْ كَانَ عَلَيْهِ وَإِلَّا فَالتَّطَوُّعِ لِيَحْصُلَ لَهُ مَا عَلَيْهِ

Diketahui bahwa bagi orang yang ingin berniat puasa sunnah, lebih baik ia juga berniat melakukan puasa wajib jika memang ia mempunyai tanggungan puasa, tapi jika ia tidak mempunyai tanggungan (atau jika ia ragu-ragu apakah punya tanggungan atau tidak) ia cukup berniat puasa sunnah saja, maka ia akan memperoleh apa yang diniatkannya.

Wallaahu A’laamu Bis Showaab.

MENAKJUBKANYA PENCIPTAAN MALAIKAT JIBRIL AS.

Imam Ahmad dalam musnadnya meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa ia berkata, “Rasulullah shallalahu alaihi wassalam pernah melihat Jibril dalam bentuknya (yang sesungguhnya). Ia mempunyai 600 sayap; masing-masing sayap menutup cakrawala. Dan setiap sayapnya keluar berwarna-warni mutiara dan yaqut (batu mulia). “Ibnu Katsir mengatakan bahwa isnad hadits ini jayid (bagus).

Dalam Sunan Tirmidzi disebutkan hadits dengan isnad shahih bahwa Rasulullah shallalahu alaihi wassalam berkata mengenai Jibril,

“aku melihatnya turun dari langit dan besarnya penciptaan Jibril menutupi ruang antara langit dan bumi”

Ketika menerangkan tentang Jibril ini, Allah berfirman :

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ

ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ

مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ

“Sesungguhnya (Al-Quran) itu adalah firman Allah yang (dibawa) utusan yang mulia, yang mempunyai kekuatan di sisi yang mempunyai Arsy yang tinggi derajat, dipatuhi lagi dipercaya (At-Takwir: 19-21)

Yang dimaksud dengan “utusan mulia” disini adalah Jibril, sedangkan “Pemilik Singasana” adalah Rabul’izzah (Allah).

Telah bersabda Rasulullah S.A.W bahwa, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan malaikat Jibrail dengan bentuk yang sangat elok. Jibril mempunyai 600 sayap dan di antara sayap-sayap itu terdapat dua sayap yang berwarna hijau seperti sayap burung merak, sayap itu antara timur dan barat. Jika Jibrail menebarkan hanya satu daripada beberapa sayap yang dimilikinya, maka ia sudah cukup untuk menutup dunia ini”.

Dikisahkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya :

Tatkala ALLAH SWT menciptakan malaikat Jibril AS, dipilihlah wujud yang paling rupawan ia dilengkapi dengan 600 sayap, masing-masing sepanjang jarak antara penjuru paling timur dengan penjuru paling barat. Begitu penciptaan selesai, berdirilah malaikat Jibril memandangi dirinya yang rupawan, seraya berkata :

Ya ALLAH ya Tuhanku, adakah ENGKAU menciptakan makhluk yang lebih tampan dari pada diriku ?

ALLAH menjawab : Tidak

Mendengar jawaban ALLAH seperti itu perasaan Jibril berbunga-bunga dan sebagai ungkapan rasa syukurnya yang mendalam ia mengerjakan shalat 2 rakaat, yang setiap rakaatnya dilakukan selama 20.000 (dua puluh ribu tahun).

Setelah selesai mengerjakan ALLAH SWT berfirman padanya :

Hai Jibril, begitu bersungguh-sungguh engkau mengerjakan shalat. Demikian engkau telah penyembahan kepadaKU denagn penyembahan yang tiada bandingnya. Tetapi ketahuilah hai Jibril, bahwa pada akhir zaman nanti akan lahir Nabi terhormat yang AKU Sayangi, dia bernama Muhammad.

Dia memiliki umat yang lemah yang banyak melakukan dosa. Sekiranya umat yang bergelimang dosa itu mau mengerjakan shalat dua rakaat, sekalipun shalatnya banyak kekurangan, waktunyapun tergesa-gesa dan tidak konsentrasi, maka dem ikemuliaan dan keagunganKU, sungguh shalat mereka itu lebih AKU sukai dari pada shalatmu !

Mengapa ? Karena shalat mereka berdasarkan perintahKU, sedangkan shalatmu itu bukan berdasarkan perintahKU !

Jibril : Ya TUHANku lalu apakah balasan yang bakal ENGKAU berikan atas ibadah mereka ?

ALLAH : Balasan yang bakal AKU berikan adalah surga Ma’wa.

Begitu mendengar kata-kata surga Ma’wa, Jibril memohon izin kepada ALLAH agar diperkenankan melihatnya maka ALLAHpun mengabulkan permohonan Jibril ini, sehingga dia segera berangkat menuju surga tersebut, dia bentangkan seluruh sayapnya lalu terbang untuk menempuh jarak yang amat jauh tak terperikan.

Setiap kali dia membuka sepasang sayapnya maka dia menempuhl jarak sejauh 300.000 (tiga ratus ribu tahun perjalanan). Begitu juga setiap menutupkan sayap padahal ia terbang selama tiga ratus tahun serta memiliki sayap tiga ratus pasang sayap atau enam ratus buah. Namun sejauh itu ia belum berhasil mencapai tujuan setelah merasa begitu letih diapun beristirahat disebuah pohon raksasa dia bersujud kepada ALLAH SWT seraya mengadu : Ya ALLAH, apakah perjalananku telah sampai separuhnya,ataukah baru dua pertiga atau bahkan separuhnya ?

ALLAH SWT berfirman kepadanya : Hai jibril walaupun kau mampu terbang tiga ratus ribu tahun dengan sayap-sayapmu yang sudah ada dan AKU tambah lagi enam ratus sayap, niscaya tidak kau bisa mencapai seper seratusnya (1%). Itulah keistimewaan yang akan KUberikan kepada umat Muhammad yang mau mengerjakan shalat !

SALING MAAF MEMAAFKAN DALAM BINGKAI HALAL BI HALAL

Marilah kita mencoba memaknai saling maaf memaafkan dan halal bi halal sesama umat manusia. Alloh berfirman :

وَلِتُكْمِلُوْا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوْا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ﴿البقرة : 185﴾
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan Ramadlan dan hendaklah kamu (bertakbir) mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (al-Baqarah: 185)

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُواْ إِلاَّ بِحَبْلٍ مِّنَ اللهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ …. ﴿ال عمران : ١١٢﴾
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia…” (Ali Imran: 112)

عَنْ سَخْبَرَةَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنِ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ وَأُعْطِيَ فَشَكَرَ وَظُلِمَ فَغَفَرَ وَظَلَمَ فَاسْتَغْفَرَ أُوْلَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُوْنَ (رواه الطبراني في الكبير رقم 6482 والبيهقي في شعب الايمان رقم 4117)
“Diriwayatkan dari Sakhbarah bahwa Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa diberi cobaan kemudian bersabar, diberi nikmat kemudian bersyukur, dianiaya kemudian memaafkan, dan berbuat dzalim kemudian meminta maaf, maka merekalah yang mendapatkan kedamaian dan merekalah yang mendapat hidayah” (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 6482 dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 4117)

Muqaddimah
ADA sebuah tradisi kreatif khas masyarakat Muslim Tanah Air, yaitu Halal bi Halal. Satu kebiasaan yang hanya ada di negeri kita. Halal bi Halal muncul sebagai ungkapan saling menghalalkan kesalahan dan kekhilafan. Saling memaafkan satu sama lain. Setiap orang sadar tidak ada yang lepas dari kesalahan. Manusia tempatnya salah dan lupa. Idul Fitri dengan kegiatan Halal bi Halal-nya, membuat umat Islam melebur kesalahannya dengan berbagi maaf tanpa sekat yang membatasi.
Asal Muasal Halal bi Halal ?
Jika ditinjau secara etimologis Bahasa Arab, hemat penulis, istilah Halal bi Halal tidaklah patut disalahkan. Meskipun istilah ini asli made in Indonesia dan tidak di kenal di dunia Arab, apalagi di dunia Islam lainnya, namun tidaklah meniscayakan istilah ini tidak benar secara Arabic. Dalam ilmu Bahasa Arab sering dijumpai teori izhmâr (sisipan spekulatif pada kalimat). Setidaknya ada dua cara agar istilah Halal bi Halal ini benar secara bahasa dengan pendekatan teori tersebut.

Pertama Halal bi Halal menjadi: thalabu halâl bi tharîqin halâl; mencari kehalalan dengan cara yang halal. Kedua, halâl “yujza’u” bi halâl; kehalalan dibalas dengan kehalalan. Untuk yang kedua ini hampir sepadan dengan redaksi ayat al-Qur’an saat berbicara hukum qishâs “anna al-nafsa bi al-nafsi, wa al-‘aina bi al-‘aini; sesungguhnya jiwa dibalas dengan jiwa dan mata dibalas dengan mata” (QS. Al-Maidah: 45).
Merujuk kepada keterangan Prof Dr Quraish Shihab, bahwa istilah Halal bi Halal adalah bentuk kata majemuk yang pemaknaannya dapat ditinjau dari dua sisi: sisi hukum dan sisi bahasa. Pada tinjauan hukum, halal adalah lawan dari haram. Jika haram adalah sesuatu yang dilarang dan mengundang dosa, maka halal berarti sesuatu yang diperbolehkan dan tidak mengundang dosa. Dengan demikian, Halal bi Halal adalah menjadikan sikap kita terhadap pihak lain yang tadinya haram dan berakibat dosa, menjadi halal dengan jalan mohon maaf.
Pada perkembangannya, kegiatan ini ditiru oleh Ormas-Ormas Islam dengan nama Halal bi Halal. Kemudian ditiru juga oleh instansi-instansi tertentu. Kegiatan ini mulai ramai berkembang setelah pasca-Kemerdekaan RI. Dan biasanya dilaksanakan tidak hanya pada tanggal 1 Syawal saja, melainkan juga pada hari-hari berikutnya yang masih hangat dengan nuansa Idul Fitri.

Sedangkan pada tinjauan bahasa, kata halal yang darinya dapat terbentuk beberapa bentuk kata memiliki varian makna, antara lain: “menyelesaikan masalah”, “meluruskan benang kusut”, “melepaskan ikatan”, “mencairkan yang beku”, dan “membebaskan sesuatu”. Bahkan jika langsung dikaitkan dengan kata dzanbin; halla min dzanbin, akan berarti “mengampuni kesalahan”. Jika demikian, ber-Halal bi Halal akan menjadi suatu aktivitas yang mengantarkan pelakunya untuk menyelesaikan masalah dengan saudaranya, meluruskan hubungan yang kusut, melepaskan ikatan dosa dari saudaranya dengan jalan memaafkan, mencairkan hubungan yang beku sehingga menjadi harmonis, dan seterusnya. Kesemuanya ini merupakan tujuan diselenggarakannya Halal bi Halal.
Halal bi halal adalah salah satu bukti keluwesan ajaran Islam dalam implementasi nilai-nilai universalitasnya. Nilai universalitas silaturrahmi yang diajarkan bisa menjelma menjadi beragam acara sesuai dengan kearifan lokal masing-masing daerah, dengan catatan tetap mengindahkan norma-norma Islam yang sudah ditentukan. Maka tidak boleh tercampuri kemaksiatan apa pun dalam implementasinya.
Hikmahnya ?
Ada tiga pelajaran yang bisa kita petik dari kegiatan Halal Bi Halal.
Pelajaran pertama adalah pembersihan diri dari segala bentuk kesalahan. Ibarat pemudik yang pulang ke kampung halamannya setelah sekian tahun merantau ke negeri seberang. Dalam perjalanan itu tidak sedikit ia isi dengan kesalahan, seperti lupa salat, lalai menunaikan janji setia kepada Allah, lupa berdzikir, bersikap angkuh atau berlaku aniaya kepada diri sendiri.
Pelajaran kedua dari Halal bi Halal adalah membersihkan hati dari rasa benci kepada sesama. Pada suatu hari, ketika Nabi SAW tengah duduk-duduk dengan para sahabatnya, ada seorang pria asing berjalan di hadapan mereka. Orang itu berjalan lalu pergi entah ke mana.
Setelah pria asing itu berlalu, Nabi berkata kepada para sahabat, “Dialah ahli surga.” Kalimat itu beliau ucapkan tiga kali. Sahabat Abdullah bin Umar penasaran tentang amal perbuatan yang dikerjakannya sampai sampai Nabi menyematinya sebagai ahli surga. Abdullah memutuskan untuk menyusul si “ahli surga” di kediamannya. Abdullah minta izin menginap selama 3 hari di rumahnya. Pria ini memberinya izin. Ternyata selama 3 hari itu Abdullah tidak melihat amalan-amalannya yang istimewa. Abdullah semakin penasaran.
Akhirnya ia bertanya, “Wahai saudaraku, sewaktu engkau lewat di hadapan kami, Rasulullah berkata bahwa engkau adalah ahli surga. Amalan apa yang engkau kerjakan sehingga Rasul sangat memuliakanmu?” Pria sederhana ini menjawab, “Sesungguhnya aku tidak pernah melakukan apa-apa. Aku tidak punya ilmu dan harta yang bisa kusedekahkan. Aku hanya punya rasa cinta kepada Allah, Rasulullah dan sesama manusia. Setiap malam menjelang tidur, aku selalu berusaha menguatkan rasa cinta itu sekaligus berusaha menghilangkan rasa benci terhadap siapa saja.”
Pelajaran ketiga adalah memupuk kepedulian dan kebersamaan. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas dari pergaulan dan kebersamaan yang dibangun lewat sikap tolong-menolong. Muslim yang kaya membantu saudaranya yang miskin. Sepatutnya rasa gembira seseorang juga memberikan bentuk kenikmatan yang lain, yaitu kenikmatan bersyukur dengan berupaya membagi kebahagiaan itu kepada sesamanya. Kini, saatnya setiap Muslim membumikan berkah-berkah kesalehan Ramadhan dengan menebar rasa bahagia ke setiap orang, memupuknya, merawat dan menjaga agar mendapatkan buah indahnya ikatan persaudaraan.
Ikhtitam
Jika semua itu bisa kita lakukan, Allah berjanji dalam hadits Qudsi: “Cinta-Ku berhak (diperoleh) bagi orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, cinta-Ku berhak diperoleh bagi orang-orang mau saling memberi karena-Ku, cinta-Ku berhak diperoleh bagi orang-orang yang mau saling tolong menolong karena-Ku, cinta-Ku berhak diperoleh bagi orang-orang yang saling berlaku adil karena-Ku dan cinta-Ku berhak bagi orang-orang yang saling berziarah karena-Ku.”
Dengan deikian, hikmah halal bi halal dapat kita ambil hikmahnya baik ketika hidup di dunia maupun di akhirat kelak. Ketika di dunia hikmahnya adalah kehidupan di lingkungan masyarakat menjadi aman, damai dan menciptakan ketertiban dalam beragama dan bernegara. Ketika di akhirat, akan meringankan beban kita dari hak-hak dan kewajiban terhadap sesama manusia.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H. Mohon maaf lahir dan batin.

Minal ‘Aidin wal Faizin, Amin

MUTIARA HIKMAH DARI AL-QUR’AN DAN HADITS TENTANG IBADAH DAN BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

180_B.TIF

 Perintah ibadah kepada Allah dan berbuat baik kepada kedua orang tua (ibu dan bapak):

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia¹. (Q.S. Al-Isra’: 23).

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil. (Q.S. Al-Isra’: 24).

    Q.S. 31: 14 dan 15 Perintah bersyukur kepada Allah dan kedua orang tua:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Artinya:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun². Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Q.S. Luqman: 14).

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S. Luqman: 15).

    Fadhilah berbuat baik kepada ibu dan bapak:

Artinya:

“Barangsiapa yang berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya, maka berbahagialah baginya, semoga Allah memperpanjang umurnya” (H.R. Bukhari).

Artinya: “Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu”. (H.R. Imam Ahmad).

Artinya: “Berbuat baiklah kalian kepada dua orang ibu-bapakmu”. (H.R. Ath-Thabrany).

Dari Abdil-Rahman Abdullah bin Mas’ud, r.a. berkata: Saya pernah bertanya kepada Nabi SAW: “’Amal perbuatan apakah yang lebih dicintai oleh Allah?”. Beliau menjawab: “Shalat pada waktunya”. Saya bertanya lagi: “Kemudian apa lagi?”. Beliau menjawab: “Berbuat baik kepada kedua orang tua”. Saya bertanya lagi:”Kemudian apa lagi?”.Beliau menjawab: “Jihad pada jalan Allah”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

    4 (empat) macam dosa besar menurut hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abdillah bin Amr bin Al-‘Ash r.a.

“Dari ‘Abdillah bin Amr bin Al-’Ash r.a. dari Nabi SAW telah bersabda: Dosa-dosa besar ialah: menyekutukan Allah, berani (durhaka) kepada kedua orang tua, membunuh orang dan sumpah palsu”. (H.R. Bukhari).

    Pelaksanaan sanksi perbuatan dosa yang langsung diterima pelakunya ketika masih hidup di dunia, di samping menerima sanksi di akhirat  menurut hadits yang diriwayatkan Ath-Thabrani:

Artinya:

Semua dosa pelaksanaannya ditangguhkan Allah Ta’ala menurut apa yang Ia kehendaki sampai hari qiyamat, kecuali dosa terhadap kedua orang tua. Sesungguhnya Allah Ta’ala mempercepat balasan dosa terhadap kedua orang tua bagi pelakunya pada masa hidup di dunia sebelum mati. (H.R. Ath-Thabrani).

 

    Tiga ciri akhlak utama penghuni dunia dan penghuni akhirat menurut hadits yang diriwayatkan Al-Hakim:

Nabi SAW pernah bersabda kepada ‘Uqbah: “Wahai ‘Uqbah, maukah engkau kuberitahukan tentang akhlaq penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Yaitu: menghubungi orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberi orang yang pernah menahan pemberiannya kepadamu, mema’afkan orang yang pernah menganiaya kamu”. (H.R. Al-Hakim, dari ‘Uqbah bin Al-Juhany).

 

    Deskripsi hadits mengenai jasa orang tua

Artinya:

Dari Abi Hurairah r.a. berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: “Tidak dapat seorang anak membalas budi baik orang tuanya, kecuali jika ia mendapatkan orang tuanya itu tertawan menjadi budak, kemudian ia membelinya, lalu ia merdekakan. (H.R. Muslim).

 

    Prioritas yang berhak dilayani dengan baik

Artinya:

Dari Abi Hurairah r.a. berkata: Ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah SAW lalu ia bertanya: “Siapakah yang berhak aku layani dengan sebaik-baiknya?” Beliau menjawab: “Ibumu”. Ia berkata: “Kemudian siapa?” Beliau brsabda: “Ibumu”. Ia berkata lagi: “Kemudian siapa?” Beliau bersabda pula: “Ibumu”.Ia berkata lagi:”Kemudian siapa?” Beliau bersabda: “Bapakmu”. (Muttafaqun’alaih). Dalam riwayat lain disebutkan: “Ya Rasulullah, siapakah yang lebih berhak kulayani dengan sebaik-baiknya?” Nabi menjawab: “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian bapakmu, kemudian yang terdekat dan yang terdekat”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

 

    Orang yang kecewa karena tidak berbuat baik kepada kedua orang tuanya

Dari Abi Hurairah r.a. dari Nabi SAW telah bersabda: “Sungguh kecewa, sungguh kecewa dan hina, sungguh kecewa, siapa yang mendapatkan kedua ibu-bapaknya atau salah satunya ketika tua, kemudian ia tidak masuk surga”. (H.R. Muslim).

    Q.S. 31: 14 Perintah bersyukur kepada Allah dan kedua orang tua:

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Artinya:

“… Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (Q.S. Luqman: 14).

 

    Tentang Silaturrahm dan Hubungan Sesama Manusia

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Artinya:

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah pada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnus-sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (Q.S. An-Nisa’ (5): 36).

Dari Abi Muhammad, Jubair bin Muth’im r.a., bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus”. Sufyan berkata dalam sebuah riwayatnya: yakni memutuskan hubungan famili. (H.R. Bukhary dan Muslim).

Artinya:

Dari Ibnu ‘Umar dan ‘Aisyah r.a. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:”Jibril selalu berpesan kepadaku supaya baik terhadap tetangga, hingga aku mengira kalau-kalau akan diberi hak waris”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

Artinya:

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Hai wanita-wanita muslimat! Janganlah menganggap remeh memberi hadiah kepada tetangga, walau sekedar kikil (ujung kaki) kambing”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

Artinya:

Sebaik-baik teman menurut pandangan Allah, ialah orang yang paling baik kepada temannya, dan sebaik-baik tetangga menurut pandangan Allah, ialah orang yang paling baik kepada tetangganya. (H.R. At-Tirmidzi).

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berbuat baik kepada tetangganya”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

<<<<<<<<<<<<

    ¹Mengucapkan kata “Ah” kepada orang tua tidak dibolehkanoleh agama, apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.

    ²Maksudnya: Selambat-lambatnya waktu menyapih ialah setelah anak berumur 2 tahun.