INILAH SOSOK IDOLA SEJATI PARA MANUSIA

Ketika anda dilanda sakit dan kesusahan pernahkah idola-mu, artis pujaan-mu menolong memikirkan dan perhatian kepada keadaan-mu ?

Tapi berbeda dengan Nabi kita Muhammad saw, ketika kita lupa kepadanya, ketika kita sering menyakiti hatinya dengan tidak patuh kepada aturannya namun beliau tetap ingat dan cinta kepada kita sampai di akherat.

Diriwayatkan di dalam hadits yang panjang ketika Nabi Muhammad saw bertanya kepada Malaikat Jibril tentang tingkatan-tingkatan neraka, kemudian Jibril menjawab dengan sangat jelas tentang tingkatan-tingkatan neraka sekaligus penghuninya. Namun tetapi setelah jibril menyebut tingkatan ke enam Jibril terdiam dan tidak ingin melanjutkan ke tingkatan neraka ke tujuh, lalu Nabi bertanya “Wahai Jibril kenapa engkau tidak memberi tahu aku mengenai penghuni neraka ke tujuh ?”

Jibril menjawab “Wahai Nabi Muhammad, Apakah engkau ingin tahu penghuni neraka ke tujuh?” Nabi Muhammad saw “Ya…aku ingin tahu”

Jibril “orang-orang yang mempunyai dosa besar dari golongan umat-Mu mereka meninggal tidak sempat bertobat kepada Allah swt.

Mendengar jawaban dari Jibril Nabi Muhammad saw langsung pingsan tidak sadarkan diri, ketika siuman Nabi Muhammad saw berkata “Sungguh besar musibahku, Apakah benar ada di antara ummatku yang masuk neraka?”

Jibril menjawab “Ya benar umatmu yang meninggal membawa dosa besar” Menangislah Rosulullah saw dan Malaikat Jibril.

Dari hadits di atas, patutlah kita merenung.

Nabi mihammad saw. Memberikan syafa’at kepada mereka para pelaku dosa besar, sebagimana sabdanya, “Setiap nabi pasti memiliki doa mustajab. Hanya saja mereka menyegerakan doa mereka di dunia. Namun, aku menunda doa itu demi menolong umatku pada hari kiamat. Insyaallah, doa itu akan terwujud,” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Besarnya kasih sayang beliau kepada umatnya juga tak tergantikan dengan tawaran masuknya separuh mereka ke surga. Beliau lebih memilih tawaran syafaat karena ingin membela umatnya lebih banyak, sebagaimana tergambar dalam salah satu haditsnya, “Aku diberi pilihan antara syafaat dengan masuknya separuh umatku ke surga. Namun, aku memilih syafaat. Sebab, syafaat lebih menyeluruh dan lebih banyak. Mungkin saja kalian mengira sayafaatku hanya untuk orang-orang bertakwa? Tidak. Tetapi juga untuk orang-orang yang berdosa,” (HR Al-Tirmidzi).

Berdasar hadits di atas, syafaat Rasulullah ﷺ tak hanya bagi orang-orang yang bertakwa, tetapi juga bagi orang-orang mukmin yang berlumuran dosa, termasuk pelaku dosa besar, sebagaimana yang ditandaskan hadits riwayat al-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad, “Syafaatku juga untuk umatku yang melakukan dosa besar.”

Tentu saja, ini bukan berarti kelonggaran untuk berbuat dosa karena kelak akan mendapat pembelaaan dari Rasulullah. Sebab, walau hanya sebentar, siksa Allah tidak boleh diremehkannya. Sekalinya dicelupkan ke dalam neraka Jahanam, seorang hamba bisa lupa terhadap seluruh kesempurnaan nikmat dunia yang pernah didapatnya, sebagaimana yang diingatkan Rasulullah ﷺ “Pada hari kiamat akan dihadirkan penghuni neraka yang paling bahagia semasa di dunia lalu coba dimasukkan ke dalam neraka dan ditanyakan kepadanya, ‘Wahai Ibnu Adam, bukankah engkau hanya melihat kebaikan? Bukankah hanya kenikmatan yang engkau rasakan?’ Dia menjawab, ‘Wahai Rabb, demi Allah, tidak pernah.’”

Maka dari itu, tetaplah takut kepada Allah. Takut melanggengkan dosa, terlebih dosa besar, takut meninggal dalam kemaksiatan, dan seterusnya. Sebab, dosa walaupun kecil—tetapi bila dilakukan dengan kesombongan—bisa mengundang murka Allah dan mengeluarkan pelakunya dari barisan umat Rasulullah ﷺ yang luput mendapatkan syafaatnya.

Masihkah kita mengidolakan artis-artis yang tidak pernah mengenal kita, tidak sedikit pun memberi manfaat kita di atas dunia ini, lalu kita lupakan Rasulullah Saw yang sejak 1438 tahun lalu menangisi kita dan siap menolong kita kelak di hari kiamat?

Semoga kita bisa menumbuhkan cinta yang baru pada guru dan kekasih dunia akhirat. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

TIGA HAL INI MENJADIKAN KITA DI AMPUNI OLEH ALLOH SWT.

Diceritakan bahwa ada seorang laki-laki di zaman Musa as yang di waktu matinya tidak ada orang yang mau memandikan, mengkafaninya, karena kejahatannya. Kemudian orang-orang mengusungnya dan melemparkannya ketempat sampah. Maka Allah mewahyukan kepada Musa:

‘Hai, Musa ada seorang laki-laki meninggal dunia di tempat, si fulan dibuang di tempat sampah, sedangkan dia adalah seorang wali-Ku dan mereka tidak memandikan dan mengkafani maupun menguburnya, maka pergilah engkau dan mandikan dia lalu kafanilah dan shalatkanlah serta kuburlah orang itu.”

Kemudian datang Musa ke tempat itu dan bertanya kepada mereka tentang mayat itu. Orang-orang berkata kepadanya: “Orang itu mati dalam sifat begini dan begini dan ia seorang yang banyak berbuat kejahatan”. Musa berkata: “Di mana tempatnya? Allah telah mewahyukan kepadaku untuk kepentingan orang itu”. Musa berkata pula : “Tunjukkan kepadaku tempatnya”. Orang-orang itu pergi bersama Musa.

Tatkala Musa melihat mayat tergeletak di tempat sampah dan ia telah diberi tahu orang-orang tentang kejelekan perbuatan-perbuatannya, maka Musa berkata kepada Tuhannya :

“Wahai Tuhanku, Engkau telah menyuruhku mengubur dan menshalatkannya sedangkan kaumnya menyaksikan kejahatannya dan Engkau lebih mengetahui daripada mereka mengenai pujian dan celaannya”. Maka Allah Ta’ala mewahyukan kepadanya: “Hai Musa, benarlah kaumnya mengenai apa yang mereka katakan tentang keburukan perbuatan-perbuatannya hanya saja ia memohon kepada-Ku pada waktu wafatnya dengan tiga hal, yang apabila semua orang berdosa dari mahluk-Ku, memohon kepada-Ku dengan perantaraan ketiga hal itu, niscaya Ku-berikan pada apa yang dimohonnya itu. Bagaimana Aku tidak kasihan kepadanya ketika ia memohon, sedangkan Aku adalah yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”

Musa berkata: “Wahai Tuhanku, apakah ketiga perkara itu?” Allah Ta’ala menjawab: “Tatkala menjelang mati, orang itu berkata : “Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui pada diriku bahwa aku melakukan maksiat sedang aku tidak menyukai maksiat dalam hatiku, akan tetapi dalam diriku terdapat tiga perkara hingga aku melakukan maksiat kendati tidak menyukai maksiat dalam hatiku”.

Yang pertama: Hawa nafsu dan teman yang buruk dan Iblis terkutuk. Ketiga perkara ini menjerumuskan ku kedalam maksiat, karena Engkau tahu pada diriku apa yang ku ucapkan, maka ampunilah aku.

 Yang kedua, Orang itu berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku melakukan maksiat dan aku bergaul dengan orang-orang yang suka berbuat maksiat, namun aku suka menemani orang-orang saleh dan lebih kusukai daripada orang-orang fasik”.

Yang ketiga, Orang itu berkata: “Sesungguhnya Engkau mengetahui, sesungguhnya orang-orang saleh lebih aku cintai daripada orang-orang fasik, hingga seandainya ada dua orang, yang satu orang baik-baik dan yang lain orang jahat niscaya kudahulukan keperluan orang baik-baik daripada orang-orang jahat”.

Dalam suatu riwayat oleh Zaid bin Aslam diceritakan: Orang itu berkata : “Wahai Tuhanku, andaikata Engkau maafkan dan ampuni dosa-dosa ku niscaya para wali dan nabi-Mu gembira dan sedihlah setan musuhku dan musuh-Mu dan andaikata Engkau menyiksaku lantaran dosa-dosaku, niscaya gembiralah setan dan para pengikutnya dan sedihlah para nabi dan wali dan aku tahu bahwa kegembiraan para wali lebih Engkau sukai daripada kegembiraan setan dan para pengikutnya. Maka ampunilah aku, ya Allah. Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kukatakan dan kasihanilah aku serta maafkanlah aku”.

 Allah Ta’ala berkata: “Maka Aku pun mengasihani dan mengampuni serta memaafkannya, karena sesungguhnya Aku Maha Pengasih dan Penyayang khususnya terhadap siapa yang mengaku berdosa di hadapan-Ku dan orang ini telah mengaku berdosa, maka Kuampuni dan Kumaafkan dosanya.

Hai Musa, lakukanlah apa yang Kuperintahkan kepadamu, karena Aku mengampuni dengan kehormatannya siapa yang mensholatkannya jenazahnya dan menghadiri penguburannya”. (HR. Thabrani, dari Abi Hatim).

MALAIKAT JIBRIL MEMBERIKAN SYAFA’AT KEPADA UMAT NABI MUHAMMAD SAW YANG SEDANG DI SIKSA DI NERAKA

Rasulullah SAW bercerita bahwa pada hari kiamat Malaikat Jibril AS berkeliling di neraka. Ia terus berputar selama 4.000 tahun. Ia mendengar suara munajat, “Yā Hannān, yā Mannān, yā Dzal jalāli wal ikrām.”

Jibril AS menghadap Allah dan bersujud di kaki Arasy.

“Tuhanku, di neraka aku mendengar suara seorang muslim yang menyebut nama-Mu, ‘Yā Hannān, yā Mannān,’ sejak 40.000 tahun. Aku yakin ia adalah umat Muhammad. Kau juga tahu bagaimana persahabatanku dan Muhammad. Aku ingin berbuat baik melalui kedudukan Muhammad. Berilah mandat syafa’at kepadaku,” kata Jibril AS melaporkan dan memohon kepada Allah.

“Aku berikan mandat syafa’at dan Kuserahkan dia kepadamu. Pergilah kepada Malik. Katakan kepadanya bahwa Aku telah mengeluarkannya dan menyerahkannya kepadamu,” jawab Allah SWT.

Jibril AS kemudian bergegas menuju Malik AS.

“Allah telah menyerahkan si fulan kepadaku. Keluarkanlah dia dari neraka. Serahkan dia kepadaku,” kata Jibril AS kepada Malik AS.

Malik AS masuk ke neraka dan mencari si fulan yang dimaksud Jibril AS. Ia mencari si fulan selama 1.000 tahun. Pencarian tidak berhasil.

 “Jibril, neraka telah mendengus panjang dan menggelegak. Besi sudah seperti batu dan manusia seperti besi. Aku tidak dapat menemukannya,” kata Malik AS.

Jibril kemudian melapor dan bersujud di Arasy untuk kedua kalinya.

“Tuhanku, pencarian Malik tidak berhasil. Di mana kiranya posisi fulan?” tanya Jibril AS. “

Jibril, pergilah ke Malik. Katakan kepadanya, fulan ada di lembah ini, di dasar ini, di sudut ini, dan di sumur ini…,” jawab Allah memberi petunjuk.

Jibril AS kemudian pergi. Ia mengabarkan kepada Malik AS. Malik AS kemudian pergi menuju tempat yang ditunjuki Jibril AS. Malik AS mendapati si fulan dengan posisi terbalik, kepala di bawah dan kaki di atas, sedang dikerubuti ular dan kalajengking serta terikat belenggu dan pasung.

Malik AS kemudian menarik si fulan yang kondisinya seperti arang. Malik AS menggerakkan dan menarik fulan sehingga ular dan kalajengking berjatuhan dari tubuhnya. Malik AS menggerakkan untuk kedua kalinya sehingga terlepaslah belenggu dan pasungannya.

“Kau datang untuk menambahkan siksa atau menyelamatkanku,” kata si fulan yang sebelumnya menghadapkan wajahnya kepada Malik AS.

 “Aku tidak tahu, tetapi yang jelas Jibril menantimu,” kata Malik AS.

Malik AS memegang tangan si fulan dan menyerahkannya kepada Jibril AS. Jibril AS kemudian memegang tangannya dan mengajaknya menuju kaki Arasy. Setiap yang dilaluinya sepanjang perjalanan mengatakan, “Dia si fulan, sudah tinggal di neraka Jahanam selama 40.000 tahun.” Ia bersama Jibril AS berdiri di kaki Arasy.

“Wahai hamba-Ku, bukankah kalam-Ku ada di hadapanmu? Bukankah Aku telah mengutus rasul kepadamu? Bukankah rasul-Ku telah memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran?” kata Allah SWT.

“Benar wahai Tuhanku, tetapi memang aku telah berlaku aniaya terhadap diriku sendiri. Aku mengakui dosaku. Oleh karenanya, ampunilah aku dengan hak munajat yang kubaca selamat 40.000 tahun ‘Yā Hannān, ya Mannān’ agar Kau mengampuniku,” kata si fulan.

“Aku telah mengampunimu dan menyerahkanmu kepada Jibril. Aku telah membebaskanmu dari neraka berkat syafa’atnya,” kata Allah SWT.

Jibril AS selanjutnya membawa si fulan ke surga, memandikannya dengan air kehidupan dan air Kautsar sehingga lenyap tanda-tanda penghuni neraka darinya. Jibril AS setelah itu memasukannya ke dalam surga dan mengucap salam kepada Nabi Muhammad SAW.

“Wahai Muhammad, aku telah berbuat sesuatu di tempatmu (syafa’at) pada umatmu ini,”

kata Jibril AS.

“Baik wahai Jibril,”

Jawab Nabi Muhammad SAW.

Kitab Al-Ushfuriyah halaman 28-29.

BERTAQWA AGAR MENDAPATKAN HADIAH TERINDAH DARI ALLOH SWT.

Takwa merupakan wasiat Allah kepada golongan awalin wal akhirin, masyarakat terdahulu dan sekarang atau yang akan datang. Karena ketakwaan akan mengantarkan hamba memperoleh segala macam kebaikan di sisi-Nya.

Sebagian ulama mendefinisikan takwa dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya baik secara lahir maupun batin, dengan dibarengi penghormatan dan rasa takut kepada Allah subhanahu wata’ala.

Syekh Jalaluddin dalam Tafsir Jalalain menjelaskan makna takwa ketika menafsirkan ayat 102 surat Ali Imran: ittaqullaha haqqa tuqâtihi (bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa). Menurutnya, Allah yang harus ditatati bukan diingkari, disyukuri bukan dikufuri, dan yang selalu disebut dan diingat bukan dilupakan. Para sahabat pernah bertanya kepada Rasululloh, “Siapakah orang yang mampu menjalankan sebenar-benarnya takwa?”

Rasulullah menjawab bahwa ayat ini telah diganti hukumnya (mansukh) dengan ayat:

 فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu” (QS at-Taghabun: 16).

Jawaban Rasulullah atas pertanyaan sahabat ini menjunjukkan bahwa untuk meraih gelar muttaqin (orang yang bertakwa) bukanlah pekerjaan mudah. Sehingga Syekh Abdullah Ba’lawi al-Hadad dalam Nashaih ad-Diniyah menyebutkan seorang hamba tidak akan mampu menjalankan sebenar-benar ketakwaan, walaupun sejuta jiwa dan umur berada pada dirinya dan seluruh harta ia infakkan (Syekh Abdullah Ba’lawi al-Hadad, Nashaih ad-Diniyah, hal. 3).

Seorang hamba hanya dapat berikhtiar sesuai kemampuan, berdoa, dan bertawakal. Meyakini bahwa Allah yang maha Pengasih dan Penyayang akan menghargai seberapa pun usaha hamba-Nya di dunia. Allah tidak akan membiarkan hamba dalam kemarahan-Nya. Bahkan Allah telah mempersiapkan HADIAH terindah bagi siapa saja yang bertakwa.

Penjelasannya dapat dilihat dalam kitab Nashaih ad-Diniyah karya Syekh Abdullah Ba’lawi al-Hadad sebagai berikut:

 وَكَمْ عَلَّقَ اللهُ الْعَظِيْمُ فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ عَلَى التَّقْوَى مِنْ خَيْرَاتٍ عَظِيْمَةٍ وَسَعَادَاتٍ جَسِيْمَةٍ

Ada banyak kebaikan dan keberuntungan atas orang-orang yang bertakwa, sebagaimana Allah kabarkan dalam Al-Qur’an, di antaranya:

Pertama, المعية الالهية al-ma‘iyah al-ilahiyah (kebersamaan Allah)

Orang-orang yang bertakwa akan selalu berada dalam perlindungan Allah subhanahu wata’ala.

Hal ini dapat dilihat pada ayat 194 surat al-Baqarah,

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (١٩٤)

“Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 194).

Kebersamaan Allah dengan orang-orang yang bertakwa dipahami oleh Syekh Jalaluddin dalam Tafsir Jalalain بالعون والنصر yaitu pertolongan lahir dan pertolongan batin. Allah akan menolong hamba-hamba-Nya yang selalu bertakwa.

Kedua, اللدني العلم, al-‘ilm al-ladunni (ilmu dari sisi Allah). Keutamaan lain dari orang yang bertakwa adalah akan diberikan anugerah berupa ilmu dari sisi Allah. Ilmu yang maksudkan adalah pengetahuan terkait dengan kebaikan-kebaikan segala urusan hidupnya, demikian Syekh Jalaluddin menambahkan dalam menafsirkan ayat 282 surat al-Baqarah:

 وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (٢٨٢)

“Dan bertakwalah kepada Allah; Allah akan mengajarimu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS Al-Baqarah[2]: 282).

 Ilmu adalah modal utama seorang hamba dalam menempuh jalan yang lurus. Ilmu juga menjadi salah satu syarat memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebab diterimanya ibadah adalah ibadah yang dijalankan sesuai dengan ilmunya. Keberhasilan di dunia juga bergantung seberapa jauh menguasai bidang ilmunya. Bahkan segala urusan jika diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka hancurlah atau tidak akan menuai hasil sebagaimana diharapkan.

Ketiga, الفرقان al-furqan (pembeda).

Syekh Abdullah Ba’lawi merinci arti pembeda sebagai bentuk keutamaan orang-orang bertakwa sebagai berikut;

(1) Allah memberikan kemampuan kepada orang yang bertakwa untuk mengambil jalan terbaik ketika ia mengalami keraguan dan kesamaran serta kesulitan dalam urusan tertentu;

(2) Allah melebur amal-amal jelek yang pernah dilakukannya; dan

(3) Allah memberikan keutamaan bagi orang yang bertakwa berupa ampunan atas dosa-dosanya.

Penjelasan ini didasarkan firman Allah subhanahu wata’ala

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (٢٩)

“Wahai orang-orang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya dia akan memberikan Furqaan (membedakan yang hak dan batil) bagimu dan menghapus segala kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal[8]: 29).

Keempat, النجاة من النار an-najatu minannari (keselamatan dari api neraka).

Sebagaimana dikatakan bahwa penghujung bulan Ramadhan adalah pembebasan dari api neraka. Siapa yang dibebaskan dari neraka? Tentu orang-orang yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur’an, salah satu syarat utama mendapatkan keselamatan dari siksa neraka adalah dengan bertakwa.

 ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا (٧٢)

“Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (QS. Maryam[19]: 72).

Kelima, المخرج والرزق al-makhraju wa ar-rizqu (jalan keluar dari segala kesulitan dan rezeki).

Jaminan bagi orang-rang yang bertakwa adalah keluarnya dari segala kesulitan dan kelapangan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka.

Sesuai firman Allah

 وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ… (٣)

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq[65]: 2-3). Selain itu Allah juga akan memberikan kemudahan dan pahala yang besar bagi orang-orang yang bertakwa.

Keenam, الوعد بالجنة, al-wa’du bi al-jannah (dijanjikan surga).

Surga merupakan balasan yang pantas bagi orang-orang bertakwa. Di dalamnya penuh dengan segala bentuk kenikmatan. Keberadaannya didambakan oleh setiap insan beriman. Meraihnya tidak cukup hanya berpangku tangan. Oleh karenanya Allah menyediakan bagi orang-orang yang telah bersusah payah di dunia dalam rangka menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.

 إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ (٣٤)

 “Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya.” (QS. Al-Qalam[68]: 34).

 تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَنْ كَانَ تَقِيًّا (٦٣)

“Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” (QS. Maryam[19]: 63).

DOSA TIDAK DI LIPATGANDAKAN DAN BALASAN UNTUK TUJUH AMALIYAH

Satu hal yang dapat kita pahami dari ragam jenis amalan ini adalah betapa besar dan luas rahmat Allah bagi para hamba-Nya. Sebagaimana diketahui bahwa setiap perbuatan yang dilakukan oleh seorang hamba pasti akan diperhitungkan dan pelakunya akan menerima balasan. Bila kebaikan yang dilakukan maka kebaikan pula yang akan ia terima. Bila sebaliknya maka sebaliknya pula. Balasan baik atau buruk yang diberikan Allah kepada hamba-Nya atas perbuatannya itu menunjukkan adanya keadilan dan rahmat kasih sayang Allah. Dari berbagai macam amalan yang diperbuat oleh manusia, dilihat dari sisi balasan yang akan didapatnya, perbuatan atau amalan setiap orang itu terbagi dalam tujuh kategori. Dalam hal ini Imam Nawawi dalam syarah kitab Arba’ȋn-nya menjelaskan:

 الأعمال سبعة: عملان موجبان وعملان واحد بواحد وعمل الحسنة فيه بعشرة وعمل الحسنة فيه بسبعمائة ضعف وعمل لا يحصى ثوابه إلا الله تعالى

Artinya: “Amal itu ada tujuh macam, yakni dua amalan yang memastikan, dua amalan di mana satu dibalas dengan satu, amal kebaikan yang di dalamnya terdapat sepuluh pahala, amal kebaikan yang di dalamnya terdapat tujuh ratus kali lipat pahala, dan amalan yang tidak bisa menghitung pahalanya kecuali oleh Allah saja” (Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Syarhul Arba’ȋn An-Nawawiyyah [Surabaya: Maktabah Al-Hikmah, tt.], hal. 83).

Dari ketujuh kategori amalan di atas, lalu amalan-amalan apa saja yang masuk pada masing-masing kategori itu? Berikut penjelasannya:

Pertama dan kedua, dua macam amalan yang memastikan adalah iman dan kufur.

Orang yang beriman kepada Allah dan meninggal dunia dalam keadaan masih beriman serta tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, maka imannya itu memastikan ia masuk ke dalam surga.

Imam Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits:

 يُخْرَجُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنَ الإِيمَانِ

Artinya: “Akan dikeluarkan dari api neraka orang yang di hatinya terdapat sebiji dzarah keimanan” (Muhammad bin Isa At-Tirmidzi, Jâmi’ut Tirmidzi [Riyadh: Baitul Afkar Ad-Dauliyah, tt.], hal. 421).

 Ini dapat dipahami bahwa orang yang meninggal dunia dalam keadaan membawa keimanan kepada Allah sekecil, setipis, atau seringan apa pun kadar imannya itu, maka ia akan tetap dikeluarkan dari siksaan api neraka, meskipun—karena sangat tipis keimanannya dan sangat banyak dosanya—ia menjadi orang yang paling terakhir keluar dari nereka. Dan ketika seseorang dikeluarkan dari neraka maka tidak ada tempat baginya kecuali surga. Sedangkan orang kafir yang tidak beriman kepada Allah, hingga akhir hayatnya ia masih tetap dalam kekafirannya, maka kekafirannya itu memastikan ia masuk ke dalam api neraka.

Di dalam Surat Al-Baqarah ayat 161-162 Allah berfirman:

 إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ, خَالِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang kafir dan mati dalam keadaan kafir mereka itu dilaknat oleh Allah, para malaikat, dan semua manusia. Mereka kekal di dalamnya. Tidak diringankan siksaan dari mereka dan mereka tidak pula diberi penangguhan.” Imam Baidlawi di dalam kitab tafsirnya menuturkan makna ‘mereka kekal di dalamnya’ adalah kekal di dalam laknat atau kekal di dalam neraka (Abdullah bin Umar Al-Baidlawi, Anwȃrut Tanzȋl wa Asrȃrut Ta’wȋl [Beirut: Darul Rasyid: 2000], jil. I, hal 154).

Ketiga dan keempat, dua amalan yang satu dibalas dengan satu atau dibalas secara sepadan adalah perbuatan jelek dan keinginan untuk berbuat baik.

Orang yang telah melakukan suatu kejelekan maka ia akan mendapatkan balasannya secara sepadan. Bila ia lakukan satu kali, maka ia dapatkan balasan satu kali. Bila ia lakukan dua kali, maka ia dapatkan balasannya dua kali. Begitu seterusnya.

Allah berfirman dalam Surat Al-An’am ayat 160:

 وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Artinya: “Dan barang siapa yang datang dengan membawa kejelekan maka ia tidak dibalas kecuali yang semisalnya dan mereka tidak akan diperlakukan secara zalim.” Sementara itu, orang yang memiliki keinginan untuk melakukan suatu kebaikan, kemudian ia tak melakukan kebaikan itu karena adanya alasan tertentu, maka ia mendapatkan balasan satu kebaikan.

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah:

 إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا، كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan berbagai perkara yang baik dan berbagai perkara yang jelek, kemudian menjelaskan hal tersebut. Maka barang siapa yang berkeinginan melakukan satu kebaikan kemudian ia tidak melakukannya, maka Allah mencatat kebaikan itu di sisi-Nya satu kebaikan yang sempurna…” (Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi, Shahȋh Muslim [Indonesia: Maktabah Dahlan, tt.], jil. I, hal. 118).

Kelima, amalan yang pelakunya dibalas sepuluh kali lipat adalah amalan kebaikan secara umum.

Siapa pun yang melakukan sebuah kebaikan maka ia mendapatkan pahala kebaikan itu sepuluh kali lipat. Firman Allah dalam Surat Al-An’am ayat 160:

 مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

Artinya: “Barang siapa yang datang dengan membawa satu kebaikan maka baginya sepuluh kali lipat kebaikan tersebut.”

Bahkan dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa ketika seseorang membaca Al-Qur’an maka pahalanya bukan sepuluh kali lipat dari sekali baca, namun sepuluh kali lipat dari setiap huruf yang dibacanya.

Keenam, amalan yang pelakunya mendapatkan balasan pahala tujuh ratus kali lipat adalah menginfakkan harta di jalan Allah. Berapa pun harta yang diinfakkan oleh seorang hamba, maka ia akan mendapatkan balasannya tujuh ratus kali lipat dari apa yang ia infakkan.

 Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 261:

 مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti satu biji yang menumbuhkan tujuh bulir, di mana dalam masing-masing bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Dzat yang Maha Luas lagi Maha Mengetahui.”

Pahala tujuh ratus kali lipat bagi orang yang berinfak itu adalah pahala minimal. Bila Allah berkenan maka Allah akan melipatgandakan pahala tersebut lebih banyak lagi bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Syekh Nawawi Banten dalam al-Munȋr li Ma’ȃlimit Tanzȋl menyebutkan bahwa pelipatgandaan pahala infak hingga lebih dari tujuh ratus kali lipat ini tergantung pada kadar keikhlasan dan kesusahan orang yang berinfak. Memahami apa yang disampaikan Syekh Nawawi di atas, bisa jadi dua orang yang berinfak dengan nominal yang sama akan mendapatkan pahala yang berbeda, karena—misalnya—kadar kesusahan kedua orang tersebut berbeda dalam mendapatkan harta. Sebagai contoh, seorang tukang becak dan seorang direktur perusahaan sama-sama berinfak seratus ribu rupiah. Bisa jadi si tukang becak mendapatkan pahala jauh lebih banyak dari sang direktur. Ini mengingat bagi seorang tukang becak mendapatkan uang seratus ribu perlu membutuhkan kerja keras dan waktu yang lama. Berbeda dengan direktur yang bisa dengan mudahnya mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat dan tanpa harus menguras begitu banyak tenaga.

Ketujuh, amalan yang pahalanya hanya diketahui oleh Allah saja adalah ibadah puasa.

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits qudsi di mana Allah berfirman:

 إِنَّ الصَّوْمَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

 Artinya: “Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Karena puasa adalah ibadah yang tidak terlihat oleh orang lain dan hanya Allah yang tahu bagaimana kadar dan kualitas puasa seseorang, maka Allah bertindak sendiri untuk memberikan pahalanya. Dan ketika Allah bertindak sendiri dalam memberikan pahala bagi orang yang berpuasa, ini menunjukkan betapa besar keutamaan ibadah puasa.

Dari uraian di atas, satu hal yang dapat kita pahami adalah betapa besar dan luas rahmat Allah bagi para hamba-Nya. Ketika seorang hamba melakukan sebuah kejelekan maka Allah tidak memberikan balasan kecuali balasan yang sepadan saja. Tak ada pelipatgandaan dalam hal dosa. Namun sebaliknya, ketika seseorang melakukan suatu kebaikan maka yang diberikan Allah adalah pelipatgandaan pahala yang hingga beratus kali dan bahkan hingga lipatan yang dikehendaki Allah Ta’ala.

Wallahu a’lam.

PELAJARAN DARI KISAH SUJUDNYA PARA MALAIKAT KEPADA NABI ADAM AS.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menempatkan Adam dan anak keturunannya dalam kedudukan yang mulia, lebih mulia dari para makhluk-Nya yang lain. Salah satu bukti yang menunjukkan hal tersebut adalah setelah Allah menciptakan Adam, Allah perintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam ‘alaihi shalatu wa salam.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)

Peristiwa sujudnya para malaikat kepada Adam terkadang menimbulkan polemik di sebagian umat Islam atau memang isu ini sengaja dilemparkan ke tengah-tengah umat Islam untuk menebar kerancuan dengan mempertanyakan “Mengapa Allah meridhai makhluk-Nya sujud kepada selain-Nya? Bukankah ini sama saja melegitimasi kesyirikan? Dan Iblis adalah hamba Allah yang benar-benar mentauhidkannya karena menolak untuk sujud kepada Adam”. Kurang lebih demikian kalimat rancu yang sering dibesar-besarkan oleh sebagian kalangan.

Yang perlu kita ketahui adalah para ulama membagi sujud ke dalam dua bagian; pertama, sujud ibadah dan yang kedua sujud (tahiyah) penghormatan.

Sujud ibadah hanya boleh dipersembahkan kepada Allah semata tidak boleh kepada selain-Nya. Allah tidak pernah memerintahkan satu pun dari makhluk-Nya untuk bersujud kepada selain-Nya dalam rangka untuk beribadah kepada makhluk tersebut. Para malaikat Allah perintahkan sujud kepada Adam bukan dalam rangka sujud ibadah tetapi sujud penghormatan.

Sujud penghormatan merupakan bagian dari syariat umat-umat terdahulu, kemudian amalan ini diharamkan dengan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara contoh sujud penghormatan adalah sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam ‘alaihissalam. Demikian juga mimpi Nabi Yusuf yang ia ceritakan kepada Ayahnya Nabi Ya’qub lalu mimpi itu menjadi kenyataan. Di dalam surat Yusuf dikisahkan,

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (QS. Yusuf: 4)

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ

Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf, “Wahai ayahku inilah ta´bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan…” (QS. Yusuf: 100)

Inilah di antara contoh-contoh sujud penghormatan yang merupakan bagian dari syariat umat terdahulu.

Pengalaman serupa juga pernah terjadi kepada Muadz bin Jabal tatkala melihat ahlul kitab di Syam. Tatkala pulang dari Syam, Muadz sujud di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

مَا هَذَا يَا مُعَاذُ قَالَ أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَقْتُهُمْ يَسْجُدُونَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ نَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا تَفْعَلُوا فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Apa-apaan ini, wahai Mu’adz?” Muadz menjawab, “Aku baru datang dari Syam. Yang kulakukan ini serupa dengan mereka, (orang-orang di sana) mereja sujud untuk uskup dan pendeta-pendeta mereka. Aku pun berkeinginan melakukannya kepadamu.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jangan kau lakukan. Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk bersujud, maka akan kuperintahkan istri untuk bersujud kepada suaminya.” (HR Ibnu Majah, No. 1853).

Apa yang dilakukan penduduk Syam adalah contoh dari syariat terdahulu yang masih mereka amalkan, mereka sujud kepada pemuka-pemuka agama dan tokoh-tokoh mereka sebagai penghormatan untuk para pembesar tersebut, bukan untuk menyembah mereka.

Di antara contoh lainnya juga, ada seekor hewan melata yang sujud kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau melarangnya karena sujud kepada makhluk, baik itu sujud penghormatan terlebih lagi sujud untuk ibadah, haram hukumnya dalam syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam timbangan syariat Muhammad (baca: syariat Islam) sujud penghormatan sama saja dengan sujud ibadah, haram hukumnya apabila dipersembahkan kepada selain Allah.

Pelajaran lainnya yang dapat kita petik dari peristiwa sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam ‘alaihissalam adalah, iblis termasuk dari bangsa jin bukan dari golongan malaikat sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang.

Malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan bangsa jin termasuk iblis, Allah ciptakan dari api. Allah berfirman,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya…” (QS. Al-Kahfi: 50)

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Saya lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al-A’raf: 12)

Dengan demikian iblis bukanlah dari golongan malaikat, saat itu ia hanya bersama dengan para malaikat Allah yang taat. Ada yang menyatakan, dahulu iblis adalah bangsa jin yang taat kepada Allah. Inilah alasannya ia dimuliakan dengan dikumpulkan bersama para malaikat walaupun ia bukan malaikat. Namun akhirnya sifat sombongnya terlihat di hadapan para malaikat, tatkala Allah mengujinya dengan memerintahkan untuk sujud kepada Adam.

MANFAAT AGUNG SEHELAI BULU MATA YANG BASAH KARENA TANGISAN TAKUT KEPADA ALLOH SWT.

Bismillahir Rohmaanir Rohiim, Allohumma Sholli ‘Ala Sayyidinaa Muhammadin Wa ‘Ala Aalihi Washohbihi Ajma’in

Rosulullah SAW bersabda :

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم   لا يلج النار رجل بكى من خشية الله حتى يعود اللبن في الضرع

Dari Abi Hurairoh ra: Rosulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu [yang telah diperah] bisa masuk kembali ke tempat keluarnya”

( وفي دقائق الاخبار ) يؤتي بعبد يوم القيامة فترجح سيئاته , فيؤمر به الي النار , فتتكلم شعرة من شعرات عينه , وتقول يارب رسولك محمد صلي الله عليه وسلم , قال من بكي من خشية الله حرم الله تلك العين من النار , واني بكيت من خشيتك , فيغفر الله له ويستخلصه من النار , ببركة شعرة واحدة كانت تبكي من خشية الله في الدنيا , وينادي جبريل عليه السلام , نجا فلان بن فلان بشعرة واحدة

Dalam kitab Daqoiqul Ahkbaar tertulis:

“Di datangkan seorang hamba pada hari qiyamat (saat di timbang amal), maka amal keburukannya mengalahkan amal kebaikannya, kemudian si hamba diputuskan masuk neraka.

Maka berbicara satu helai bulu matanya: “Wahai Tuhanku, RosulMu Muhammad SAW pernah bersabda: (“Barangsiapa yang menangis karena takut kepada Allah, maka haram mata tersebut masuk neraka”). Dan aku pernah menangis karena takut kepadaMu.

Maka kemudian Allah mengampuni hamba tersebut, dan menyelamatkannya dari adzab neraka dengan berkah SEHELAI BULU MATA yang basah karena tangisan takut kepada Allah ketika di dunia.

Malaikat Jibril as berkata: “Telah selamat fulan bin fulan karena SEHELAI BULU MATA.

GUNAKANLAH KESEMPATAN ROMADLON INI UNTUK BISA MENANGIS KARENA TAKUT KEPADA ALLOH SWT. Wallohu a’lam

Sumber kisah :

Mukasyafatul Quluub-Imam Al-ghozali QS

SYAIKH IZZUDDIN BIN ABDUS SALAM ‘MENEMUKAN HIKMAH DI BALIK MUSIBAH COVID-19’

Siapa yang tak sedih dengan mewabahnya pandemic Covid-19 di Indonesia saat ini. Hingga tulisan ini dibuat jumlah pasien suspek sudah 3000 lebih. Belum lagi aspek ekonomi masyarakat yang sangat terdampak akan wabah ini. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan wabah ini. Pun berbagai pihak juga telah bersama-sama ikut saling bahu-membahu mengawal pemerintah dalam berbagai sektor. Baik dalam pengadaan APD, masker hingga penyaluran bantuan sembako pada masyarakat di kota terdampak.

Pemerintah juga telah menginstruksikan masyarakat yang bekerja di sektor formal untuk bekerja dari rumah, Kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyedot banyak massa pun ditiadakan. Pun sekolah dan kampus juga diliburkan. Semua ini  dilakukan untuk meminimalisir penyebaran.

Namun, dalam perjalanannya iktikad baik dari pemerintah dan para ahli ini pun seakan mendapat tantangan. Kebijakan-kebijakan yang telah dikaji dengan matang nyatanya riuh di permukaan. Oleh sebagian masyarakat yang berkelakar di media social. Berbagai narasi yang dibumbui agama dan budaya pun dimunculkan.

Masyarakat pun kebingungan. Ditengah suasana yang sangat mengkhawatirkan ini, ternyata masih ada sebagian kalangan yang bukannya berperan aktif menenangkan  dan berbuat positif, justru menebar kepanikan dan bersikap apatis. Tentu realita ini sangat mengkhawatirkan.

Namun, dari semua ini kita seharusnya tetap bersikap positif dan mengambil pelajaran dari semua peristiwa yang telah terjadi. Ada banyak sekali hikmah-hikmah yang tersimpan dari sebuah cobaan. Bukankah demikian?

Allah SWT telah banyak memberikan contoh dalam hal ini. Allah tidak akan membuat sesuatu sekecil apapun di dunia ini, dengan nir faidah. Sama halnya dalam Musibah Covid-19 yang menguji ketabahan seluruh penduduk bumi ini.

Syekh Izzuddin Bin Abdissalam (660 H) seorang Ulama kenamaan dari Madzhab Syafi’i jauh-jauh hari telah merangkum berbagai faidah dan hikmah dari sebuah Musibah dan bencana dalam satu karangannya.

Ulama yang bergelar Sulthanul Ulama ini menulis sebuah kitab berjudul Al-Fitan wa al-Balaya Wa al-Mihan wa al-Razaya atau dalam manuskrip lain kitab ini berjudul Fawaid al-balwa wa al-Mihan.

Dalam kitab ini Syekh Izzuddin bin Abdisslam menyebutkan secara ringkas 17 faidah dan hikmah dibalik sebuah musibah atau pun bencana.

Berikut akan saya tuliskan semua hikmah yang telah dirangkum Syekh Izzudin bin Abdissalam tentu dengan menambahi redaksi dan narasi yang sesuai konteks saat ini.

Pertama, dalam musibah ini kita bisa menyaksikan betapa agungnya kekuasaan Allah. Karena pada hakikatnya semua musibah ini berasal dari Allah, sehingga patut kiranya dari musibah ini kita kembali menyadari bahwa semua ini adalah bentuk Keagungan Allah yang tiada tara.

Kedua, kita hanyalah hamba yang tak berdaya. Di tengah berbagai upaya manusia menghadapi wabah ini kita kembali harus menyadari kita semua hanyalah hambanya. Ketika semua upaya telah dikerahkan, semua kemampuan juga telah digerakkan kita akan menemui sebuah batas kehambaan. Setelah itu semua keputusan adalah hak Allah. Dan kita pun harus menyadari ‘semua ini telah digariskan’.

Ketiga, ikhlas menerima musibah ini. Karena tidak ada yang sanggup menghilangkan musibah ini kecuali Allah. Pun tak akan ada yang sanggup meringankannya kecuali Allah. Sehingga mau tidak mau kita harus ikhlas menerima semua ini sebagai bentuk ketundukan kita sebagai seorang hamba.

Keempat, kita akan menyadari bahwa Allah lah tempat kembali yang sejati. Hal ini selaras dengan apa yang diisyarahkan Allah dalam surat Az-Zumar ayat 8 “Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya.”

Kelima, kita dilatih dan dibiasakan untuk Berdoa kepada Allah. Dengan kondisi seperti ini, rasanya tidak mungkin kita menggantungkan harapan pada selain Allah. Karena Allah sudah berjanji untuk selalu mengabulkan permintaan dari hambanya yang sudi menengadahkan tangan untuk meminta.

Keenam, kita dilatih untuk bersikap tenang menghadapi situasi seperti ini. Syekh Izzzuddin bin Abdissalam dalam hal ini menyitir cerita Nabi Ibrahim yang dipuji Allah dalam Al-Qur’an sebagai orang yang tenang dalam menghadapi musibah (Q.S At-Taubah : 114). Begitupula kita dalam situasi ini kita dituntutut dan dilatih untuk tetap bersikap hilm.

Ketujuh, memaafkan kepada sesama manusia. Dalam konteks ini tentu sangat relevan dengan kondisi bangsa ini. Dimana banyak diantara kita yang justru menjadikan berbagai kelompok sebagai kambing hitam pandemik ini. Sebagaimana kita saksikan sendiri banyak yang menyatakan pandemik ini adalah adzab Allah atas kedaliman China, juga ada yang mengaitkannya dengan penindasan etnis Uyghur disana. Dari hikmah ketujuh ini kita seakan ditohok oleh Syekh Izzuddin bin Abdissalam untuk menanggalkan semua sikap itu. Kita lebih baik fokus pada upaya-upaya produktif menanggulangi dampak Covid-19 ini bagi bangsa ini.

Kedelapan, kita harus bersikap sabar.

Kesembilan, kita harus bergembira atas berbagai hikmah dibalik musibah ini. Artinya kita harus memandang ini dengan kacamata hikmah. Syekh Izzuddin bin Abdissalam menganalogikan hal ini dengan seseorang yang sedang sakit, tentu ia harus mengkonsumsi berbagai obat-obatan yang pahit rasanya. Nah, dari sini seyogyanya seorang tersebut tidak merasakan pahitnya obat tersebut, namun harus meyakini efek positif setelah meminum obat tersebut.

Kesepuluh, kita harus mensyukuri musibah ini. Sebagaimana seorang pasien yang berterima kasih atas pelayanan seorang dokter yang telah mengobati lukanya.

Kesebelas, hal ini merupakan ajang peleburan dosa itu. Dengan adanya musibah ini barangkali ini merupakan cara Allah untuk mensucikan kotoran-kotoran yang mengotori diri kita.

Kedua belas, memupuk rasa kemanusiaan kita. Hal ini menjadi penting diutarakan oleh Syekh izuddin bin Abdissalam karena terdapat riwayat hadis dalam Kitab Muwattho’ Imam Malik. “Diantara manusia ada yang diberi kesehatan ada pula yang diberi cobaan. Maka kasihanilah (mereka) yang tertimpa cobaan dan syukurilah atas kesehatan.”

Dalam musibah Covid-19 ini pun kita juga telah menyaksikan betapa banyak manusia yang terpanggil untuk ikut serta menyumbangkan apa yang mereka punya untuk membantu sesama. Dari sini kita harus merenung hal apa sajakah yang telah kita lakukan atas “solidaritas kemanusiaan” ini?

Ketigabelas, kita baru menyadari betapa pentingnya kesehatan. Dalam hal ini, kita bisa merenung betapa hal remeh dalam kehidupan kita seperti cuci tangan rutin, pola hidup, pola makan sehat tiba-tiba menjadi hal yang penting dalam kehidupan kita. Bahkan di akhir Syekh Izzuddin bin Abdissalam mengungkapan ungkapan popular yang kini sering didengungkan “kita akan tahu betapa berharganya kesehatan setelah kehilangnya”.

Keempatbelas, di balik semua ini menyimpan pahala yang besar bagi orang yang bersabar.

Kelimabelas, di balik semua ini juga terdapat hikmah yang luar biasa. Syekh Izzuddin bin Abdissalam mencontohkan ketika Nabi Ibrahim mendapat cobaan dengan kehilangan sosok Siti Sarah dalam hidupnya. Allah mendatangkan Siti Hajar sebagai penggantinya bahkan ia melahirkan seorang penerus yakni Nabi Ismail AS.

Keenambelas, mencegah merebaknya kemaksiatan. Sebagaimana kita tahu dengan mewabahnya virus ini banyak lokasi-lokasi maksiat yang menjadi tutup. Banyak orang takut melakukan maksiat. Dan hal ini merupakan hikmah yang luar biasa.

Ketujuhbelas. Hikmah yang terakhir ini merupakan puncak hikmah yang diberikan oleh Allah. Namun tidak semua hambanya bisa mencapai fase ini. Apa itu? Yakni lahirnya sikap rida atas segala ketentuan Allah. Sikap ini menjadi puncak dari segala hikmah diatas adalah karena dengan keridaan kita terhadap apa yang telah digariskan Allah akan melahirkan Ridho Allah pada kita pula.

MENGENAL RAHMAT ALLOH SWT. PERBEDAANYA DENGAN PARA MANUSIA


لايلزم أن تكون وسيما لتكون جميل
Kau tak perlu berwajah cantik / tampan untuk dikatakan sebagai seorang yang cantik/ tampan

ولا مداحا لتكون محبوبا
Dan tak perlu memuji-muji karena kau mau menjadi seorang yang disukai

ولا غنيا لتكون سعيدا
Dan tak perlu menjadi kaya untuk menjadi seorang yang bahagia

يكفي أن ترضي ربك وهو سيجعلك عند الناس جميلا و محبوبا و سعيدا
Cukuplah dengan membuatkan Tuhanmu ridho dan kasih kepadamu, maka pasti DIA akan menjadikanmu cantik/ tampan dan indah di mata manusia, disukai dan disenangi oleh semua, serta hidup bahagia

لو أصبت 99 وأخطأت مرة واحدة
Seandainya engkau melakukan 99 kebaikan, tetapi Berbuat kesalahan sekali

لعاتبوك بالواحدة وتركوا ال 99
Maka manusia akan menyalahkanmu dengan kesalahanmu yang satu itu, dan melupakan semua 99 kebaikanmu yang lain

هؤلاء هم البشر
Itulah hakikat manusia!

و لو أخطأت 99 مرة وأصبت مرة
Tetapi seandainya engkau melakukan 99 kesalahan, dan cuma sekali melakukan perkara kebaikan

لـغفر الله ال 99 وقبل الواحدة
Maka Allah Ta’ala akan mengampuni semua 99 kesalahanmu bahkan DIA akan menerima amal baktimu yang satu itu

ذاك هو ربي
Itulah Dia Tuhanku!

Astaghfirullahal azhiim min kulli dzanbin azhiim

MENGETAHUI KEUTAMAAN DO’A NABI YUNUS AS.


Fadhilah Ayat/Do’a Nabi Yunus as.

(لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ)
YAITU : Meraih Segala Kebaikan Dan Menolak Segala Keburukan

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي عِمْرَانُ بْنُ بَكَّار الكَلاعي، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا أَبُو يَحْيَى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، حَدَّثَنِي بِشْر بْنُ مَنْصُورٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ قَالَ: سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ مَالِكٍ -وَهُوَ ابْنُ أَبِي وَقَّاصٍ-يَقُولُ: سَمِعْتُ رسولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “اسْمُ اللَّهِ الَّذِي إِذَا دُعي بِهِ أَجَابَ، وَإِذَا سُئِل بِهِ أَعْطَى، دعوةُ يُونُسَ بْنِ مَتَّى”. قَالَ: قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، هِيَ لِيُونُسَ خَاصَّةً أَمْ لِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ؟ قَالَ: هِيَ لِيُونُسَ بْنِ مَتَّى خَاصَّةً وَلِلْمُؤْمِنِينَ عَامَّةً، إِذَا دَعَوْا بِهَا، أَلَمْ تَسْمَعْ قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: {: فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ} . فَهُوَ شَرْطٌ مِنَ اللَّهِ لِمَنْ دَعَاهُ بِهِ”

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Imran ibnu Bakkar Al-Kala’i, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Abu Yahya ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepadaku Bisyr ibnu Mansur, dari Ali ibnu Zaid, dari Sa’id ibnul Musayyab yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sa’d ibnu Abu Waqqas mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Asma Allah yang apabila disebutkan dalam doa, pasti Dia memperkenankannya; dan apabila diminta dengannya, pasti memberi, yaitu doa Yunus ibnu Mata.” Sa’d bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah doa itu khusus bagi Yunus ataukah bagi seluruh kaum muslim?” Rasulullah Saw. menjawab, “Doa itu bagi Yunus ibnu Mata secara khusus dan bagi kaum mukmin semuanya secara umum, jika mereka meyebutkannya di dalam doanya. Bukankah kamu telah mendengar firman Allah Swt. yang mengatakan, ‘Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap. Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman’ (Al-Anbiya: 87-88). Ini merupakan syarat dari Allah bagi orang yang mengucapkannya di dalam doanya.”

Sumber:

  • Al Bidayah wan Nihayah
  • Khozinatul Asror : 81