HADITS SHOHIH : SYAFA’AT NABI MUHAMMAD UNTUK SEMUA UMATNYA WALAUPUN AHLI DOSA BESAR

Besarnya perhatian Rasulullah ﷺ kepada umatnya benar-benar tiada tara dan tak terkira. Sampai-sampai beliau menangguhkan sebagian doanya hingga hari kiamat demi membela dan menyelamatkan mereka, sebagimana sabdanya, “Setiap nabi pasti memiliki doa mustajab. Hanya saja mereka menyegerakan doa mereka di dunia. Namun, aku menunda doa itu demi menolong umatku pada hari kiamat. Insyaallah, doa itu akan terwujud,” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Besarnya kasih sayang beliau kepada umatnya juga tak tergantikan dengan tawaran masuknya separuh mereka ke surga. Beliau lebih memilih tawaran syafaat karena ingin membela umatnya lebih banyak, sebagaimana tergambar dalam salah satu haditsnya, “Aku diberi pilihan antara syafaat dengan masuknya separuh umatku ke surga. Namun, aku memilih syafaat. Sebab, syafaat lebih menyeluruh dan lebih banyak. Mungkin saja kalian mengira sayafaatku hanya untuk orang-orang bertakwa? Tidak. Tetapi juga untuk orang-orang yang berdosa,” (HR Al-Tirmidzi).

Berdasar hadits di atas, syafaat Rasulullah ﷺ tak hanya bagi orang-orang yang bertakwa, tetapi juga bagi orang-orang mukmin yang berlumuran dosa, termasuk pelaku dosa besar, sebagaimana yang ditandaskan hadits riwayat al-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad, “Syafaatku juga untuk umatku yang melakukan dosa besar.”

Tentu saja, ini bukan berarti kelonggaran untuk berbuat dosa karena kelak akan mendapat pembelaaan dari Rasulullah. Sebab, walau hanya sebentar, siksa Allah tidak boleh diremehkannya. Sekalinya dicelupkan ke dalam neraka Jahanam, seorang hamba bisa lupa terhadap seluruh kesempurnaan nikmat dunia yang pernah didapatnya, sebagaimana yang diingatkan Rasulullah ﷺ “Pada hari kiamat akan dihadirkan penghuni neraka yang paling bahagia semasa di dunia lalu coba dimasukkan ke dalam neraka dan ditanyakan kepadanya, ‘Wahai Ibnu Adam, bukankah engkau hanya melihat kebaikan? Bukankah hanya kenikmatan yang engkau rasakan?’ Dia menjawab, ‘Wahai Rabb, demi Allah, tidak pernah.’

Maka dari itu, tetaplah takut kepada Allah. Takut melanggengkan dosa, terlebih dosa besar, takut meninggal dalam kemaksiatan, dan seterusnya. Sebab, dosa walaupun kecil—tetapi bila dilakukan dengan kesombongan—bisa mengundang murka Allah dan mengeluarkan pelakunya dari barisan umat Rasulullah ﷺ yang luput mendapatkan syafaatnya.

Sekali lagi, yang dimaksud syafaat bagi para pelaku dosa besar bukan berarti ia bebas melakukan kemungkaran, melainkan pertanda besarnya kasih sayang, sepak terjang, dan kelembutan Rasulullah ﷺ kepada umatnya. Barangkali kasih sayang Nabi ﷺ paling indah pada hari kiamat adalah syafaatnya kepada seluruh makhluk saat mereka memohon ingin segera dihisab.

Para ulama sepakat menyebut syafaat itu dengan “syafaat uzhma” atau syafaat paling agung. Disebut paling agung karena meliputi seluruh makhluk mulai dari generasi pertama hingga generasi terakhir. Tak terkecuali orang-orang kufur dan ingkar kepada Allah. Berkat syafaat itu mereka pun lekas dihisab.

Beliau telah menggambarkan dengan jelas bagaimana beratnya penderitaan umat manusia mencari-cari yang bisa menyelamatkan dirinya dari kegetiran hari kiamat, sebagaimana ringkasan hadits shahih panjang berikut ini:

Dikumpulkanlah seluruh manusia dalam sebuah pelataran luas, mulai manusia pertama hingga yang terakhir. Mereka terdengar oleh siapa pun yang memanggil dan terlihat oleh siapa pun yang memandang. Matahari begitu dekat hingga mereka tak sanggup lagi menanggung penderitaan dan kepedihan. Mereka bertanya, “Apakah kalian tidak melihat apa yang tengah kalian alami? Apakah kalian tidak melihat sosok yang bisa meminta syafaat (pertolongan) kepada Tuhan untuk kalian?” Sebagian menjawab, “Kalian harus mendatangi Adam.” Mereka pun berbondong-bondong menuju Adam as. Kepadanya mereka memohon, “Engkau adalah Abu al-Basyar. Diciptakan Allah langsung dengan tangan-Nya. Ruh-Nya ditiupkan kepadamu. Malaikat diperintah sujud kepadamu. Maka mintalah syafaat kepada Tuhan untuk kami. Apakah engkau tidak melihat keadaan kami? Apakah engkau tidak melihat apa yang tengah kami alami?” Adam menjawab, “Hari ini, Tuhanku pun murka kepadaku, murka yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tak akan pernah murka setelahnya. Dia melarangku mendekati pohon tapi aku melanggarnya. Diriku, diriku, diriku, pergilah kalian kepada selainku. Coba temuilah Nuh ‘alaihissalam.”

Akhirnya, mereka berbondong-bondong menuju Nabi Nuh tapi beliau pun angkat tangan. Tidak bisa memintakan pertolongan kepada Allah. Demikian pula saat menemui Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa. Hingga terakhir mereka diarahkan kepada nabi terakhir, Rasulullah ﷺ. Kali ini, mereka menemui Rasulullah ﷺ dan menyampaikan, “Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah telah mengampuni dosamu yang akan datang dan yang telah lalu. Mohonlah pertolongan kepada Tuhan untuk kami. Tidakkah engkau melihat apa yang tengah menimpa kami?”

Nabi ﷺ bersabda, “Aku pun pergi menuju bawah ‘Arasy. Di sana aku bersujud pada Tuhanku. Lalu Allah membukakan kebaikan-kebaikan-Nya kepadaku, yang belum pernah dibukakan kepada seorang pun sebelumku.

Setelah itu, terdengarlah seruan, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah engkau, niscaya diberi. Mintalah pertolongan, niscaya dipenuhi.’ Aku mengangkat kepala dan berkata, ‘Umatku, ya Tuhan. Umatku, ya Tuhan. Umatku, ya Tuhan.’ Terdengar lagi ada yang bicara, ‘Wahai Muhamad, masukkanlah umatmu dari golongan hamba yang tidak dihisab ke dalam surga melalui pintu sebelah kanan. Namun sekelompok mereka masuk dari selain puntu itu” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hisab pun berlangsung berkat syafaat Rasulullah ﷺ, sebagian manusia masuk surga, sebagian lagi neraka. Di antara yang masuk neraka adalah umat Rasulullah ﷺ yang keburukannya lebih besar ketimbang kebaikannya. Mereka digiring ke dalam neraka sebagai balasan atas segala dosa dan perbuatannya.

Namun, apakah mereka yang telah masuk neraka beliau lupakan?

 Tidak! Tak berhenti sampai di situ, umatnya yang sudah masuk neraka, masih terus beliau perjuangkan, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Ahmad, “Saat itu aku kembali bersujud pada-Nya. Kemudian Allah berfirman, ‘Angkatlah kepalamu, Muhammad. Memohon pertolongan apa pun, engkau akan diberi.’ Aku pun mengangkat kepala lantas memohon, ‘Umatku, umatku, ya Rabb.’ Dia kembali berfirman, ‘Temuilah umatmu. Siapa saja yang engkau temukan di hatinya keimanan walau seberat biji sawi, maka masukkanlah ke dalam surga.’ Maka siapa pun yang aku temukan dalam hatinya keimanan walau seberat biji gandum, aku masukkan ke dalam surga.”

Dalam riwayat al-Bukhari, golongan umatnya yang dikeluarkan dari neraka Jahannam berkat syafaat Rasulullah ﷺ, dikenal dengan golongan “Jahannamiyyun.” Hal ini sejalan dengan hadits lain yang menyatakan bahwa penghuni neraka Jahanam adalah umat Nabi ﷺ yang berdosa, dan kemudian neraka itu akan kosong dari penghuninya seiring dengan berakhirnya masa siksa mereka dan besarnya perhatian serta syafaat Rasulullah ﷺ.

 Itulah sekilas gambaran tentang besarnya kasih sayang, kelembutan, dan sepak terjang Rasulullah ﷺ dalam menyelamatkan umatnya. Semoga kita termasuk golongan yang senantiasa mencintainya, menjalankan ajarannya, dan kelak mendapatkan syafaat darinya. Amîn.

KYAI YANG SHOLIH MEMANG TIDAK MA’SHUM TETAPI MENDAPATKAN ISHMAH DARI PARA WALI ALLOH SWT.

Ulama yang sholeh memang tidak maksum melainkan mendapatkan ishmah dari para wali

Imam Mazdhab yang empat, para ulama yang sholeh yang mengikuti mereka termasuk para ulama yang sholeh dari kalangan Habib atau ahlul bait, keturunan cucu Rasulullah shallallallahu alaihi wasallam memang tidak maksum namun mereka boleh saja mendapatkan ‘ishmah para wali sesuai dengan manzilah (maqom / derajat) atau kedekatan mereka dengan Allah Azza wa Jalla.

Ulama yang sholeh dapat “berkomunikasi” dengan Allah Azza wa Jalla melalui ayat-ayat qauliyah (Al Qur’an) maupun melalui ayat-ayat kauniyah atas kejadian, peristiwa atau segala apa yang telah ditampakan oleh Allah Azza wa Jalla  yang merupakan tanda-tanda kekuasaanNya

Firman Allah ta’ala yang artinya

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?“ (QS. Fush Shilat [41]:53)

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali ‘Imran [3]:191).

“Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman“. (QS Yunus [10] : 101).

Ulama yang sholeh adalah orang-orang yang dekat dengan Allah Azza wa Jalla sehingga mereka dapat mendengar kalam Allah atau petunjukNya tidak melalui alat pendengaran (telinga) namun melalui hati yang disebut dengan ilham maupun firasat

Firman Allah ta’ala yang artinya

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya“. (QS As Syams [91]:8 )

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (pilihan haq atau bathil) (QS Al Balad [90]:10)

Sedangkan firasat, yakni lintasan pikiran yang terbit dari kekuatan iman dan kedekatan dengan Allah. Dengannya seseorang bisa menyaksikan apa yang tersembunyi dari mata kepala. Sejenis dengannya adalah karamah, yaitu tampilnya hal-hal ajaib dari seseorang yang bukan Nabi yang muncul begitu saja sesuai kehendak-Nya.

Berikut sebuah riwayat yang disampaikan oleh Habib Munzir tentang bagaimana contoh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendengar kalam Allah (petunjukNya)

“Ketika diantara wanita itu terdapat Juwairiyah, putri kepala Qabilah Bani Musthaliq, maka Rasul shallallahu alaihi wassalam tidak tega menjadikan putri Raja Qabilah itu sebagai budak. Rasul shallallahu alaihi wassalam  memerintahkan agar menahan Juwairiyah untuk tidak diperbudak, maka ayahnya datang untuk memohon pada Rasul shallallahu alaihi wassalam agar putrinya dibebaskan, ia membawa uang dan dua ekor unta untuk menebus putrinya, namun ditengah jalan ia ragu, dan membatalkan dua ekor untanya dan ditinggal di tengah jalan lalu menghadap Rasul  shallallahu alaihi wassalam

Ketika sampai pada Rasul shallallahu alaihi wassalam maka ia berkata : wahai Muhammad, aku ingin menebus putriku dengan uang ini, maka Rasul shallallahu alaihi wasallam bersabda : kau kemanakan dua ekor unta yang sudah kau niatkan juga untuk menebusnya?, maka Harits (ayah Juwairiyah) kaget, maka ia bersyahadat dan masuk islam”.

Begitupula diceritakan bahwa Imam Syafi’i dan Muhammad bin al-Hasan pernah melihat seorang laki-laki.

Imam Syafi’i berkata, “Sesungguhnya lelaki itu adalah seorang tukang kayu.” Sedangkan Muhammad bin al-Hasan berkata, “Sesungguhnya lelaki itu adalah seorang pandai besi.” Lantas keduanya bertanya kepada lelaki tersebut tentang profesinya. Lalu di menjawab, “Dulu saya seorang pandai besi dan saya sekarang tukang kayu.”

Indikator ulama yang baik adalah ulama yang dengan ilmu dan amalnya menjadikannya muslim yang berakhlak baik atau muslim yang ihsan karena karunia hidayah dari Allah Azza wa Jalla sehingga selalu berada dalam kebenaran atau selalu berada di jalan yang lurus.

Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim 11)

Firman Allah ta’ala yang artinya “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS Al Faathir [35]:28)

Muslim yang takut kepada Allah karena mereka selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau mereka yang selalu memandang Allah dengan hatinya (ain bashiroh), setiap akan bersikap atau berbuat sehingga mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar sehingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang sholeh

Tujuan beragama adalah menjadi muslim yang ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad)

Firman Allah ta’ala yang artinya,

“Sungguh dalam dirimu terdapat akhlak yang mulia”. (QS Al-Qalam:4)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)

Muslim yang memandang Allah ta’ala dengan hati (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat adalah muslim yang selalu meyakini kehadiranNya, selalu sadar dan ingat kepadaNya.

Imam Qusyairi mengatakan “Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”

Ubadah bin as-shamit ra. berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Seutama-utama iman seseorang, jika ia telah mengetahui (menyaksikan) bahwa Allah selalu bersamanya, di mana pun ia berada“

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)

Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”

Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”

“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.

Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”

Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. “Bagaimana anda melihat-Nya?” dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”

Dalam sebuah wawancara dengan Dr. Sri Mulyati, MA (Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) , beliau mengatakan bahwa untuk dapat melihat Allah dengan hati sebagaimana kaum sufi, tahapan pertama yang harus dilewati adalah Takhalli, mengosongkan diri dari segala yang tidak baik, baru kemudian sampai pada apa yang disebut Tahalli, harus benar-benar mengisi kebaikan, berikutnya adalah Tajalli, benar-benar mengetahui rahasia Tuhan. Dan ini adalah bentuk manifestasi dari rahasia-rahasia yang diperlihatkan kepada hamba-Nya. Boleh jadi mereka sudah Takhalli tapi sudah ditunjukkan oleh Allah kepada yang ia kehendaki.

Tidak semua manusia dapat melihat Allah dengan hatinya.

Orang kafir itu tertutup dari cahaya hidayah oleh kegelapan sesat.

Ahli maksiat tertutup dari cahaya taqwa oleh kegelapan alpa

Ahli Ibadah tertutup dari cahaya taufiq dan pertolongan Allah Ta’ala oleh kegelapan memandang ibadahnya

Siapa yang memandang pada gerak dan perbuatannya ketika taat kepada Allah ta’ala, pada saat yang sama ia telah terhalang (terhijab) dari Sang Empunya Gerak dan Perbuatan, dan ia jadi merugi besar.

Siapa yang memandang Sang Empunya Gerak dan Tindakan, ia akan terhalang (terhijab) dari memandang gerak dan perbuatannya sendiri, sebab ketika ia melihat kelemahannya dalam mewujudkan tindakan dan menyempurnakannya, ia telah tenggelam dalam anugerahNya.

Setiap dosa merupakan bintik hitam hati, sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari memandang Allah. Inilah yang dinamakan buta mata hati.

Firman Allah ta’ala yang artinya,

shummun bukmun ‘umyun fahum laa yarji’una , “mereka tuli, bisu dan buta (tidak dapat menerima kebenaran), maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)” (QS Al BAqarah [2]:18)

shummun bukmun ‘umyun fahum laa ya’qiluuna , “mereka tuli (tidak dapat menerima panggilan/seruan), bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (QS Al Baqarah [2]:171)

“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (al Hajj 22 : 46)

“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)

Ulama yang baik adalah ulama yang dengan ilmu dan amalnya menjadikannya muslim yang ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah sehingga menjadi ulama yang dekat dengan Allah dan dapat menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh) atau ulama yang telah meraih manzilah (maqom atau derajat) di sisiNya dan akan berkumpul dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Firman Allah ta’ala yang artinya,

”…Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)

“Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (QS Shaad [38]:46-47)

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (QS Al Hujuraat [49]:13)

“Tunjukilah kami jalan yang lurus , (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka” (QS Al Fatihah [1]:6-7)

“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69)

Jadi orang-orang yang selalu berada dalam kebenaran atau selalu berada di jalan yang lurus adalah orang-orang yang diberi karunia ni’mat oleh Allah atau orang-orang yang telah dibersihkan atau disucikan atau dipelihara oleh Allah ta’ala sehingga terhindar dari perbuatan keji dan mungkar dan menjadikannya muslim yang sholeh, muslim yang ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah dan yang terbaik adalah muslim yang dapat menyaksikanNya dengan hatinya (ain bashiroh). Mereka adalah para kekasih Allah atau wali Allah

Hubungan yang tercipta antara Allah ta’ala dengan al-awliya (para wali Allah) menurut Al-Hakim al-Tirmidzi (205-320H/ 820-935M) adalah hubungan al-ri’ayah (pemeliharaan), al-mawaddah (cinta kasih), dan al-inayah (pertolongan).

Hubungan istimewa ini diperoleh karena hubungan seorang wali telah menyerahkan semua urusannya kepada Allah, sehingga ia menjadi tanggungjawab-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.

Adanya pemeliharaan, cinta kasih, dan pertolongan Allah kepada wali sedemikian rupa merupakan manifestasi dari makna al-walayah (kewalian) yang berarti dekat dengan Allah dan merasakan kehadiranNya, hudhur ma’ahu wa bihi.

Bertitik tolak pada al-ri’ayah (pemeliharaan), al-mawaddah (cintakasih), dan al-inayah (pertolongan) Allah kepada al-awliya (para wali / kekasih); al-Tirmidzi sampai pada kesimpulannya bahwa al-awliya (para wali / kekasih) dan orang-orang beriman bersifat ‘ishmah, yakni memiliki sifat keterpeliharaan dari dosa; meskipun ‘ishmah yang dimiliki mereka berbeda.

Bagi umumnya orang-orang beriman ‘ishmah berarti terpelihara dari kekufuran dan terus menerus berbuat dosa; sedangkan bagi al-awliya (para wali) ‘ishmah berarti mahfudz (terjaga) dari kesalahan sesuai dengan derajat, jenjang, dan maqamat mereka.

Mereka mendapatkan ‘ishmah sesuai dengan peringkat kewaliannya. Al-Tirmidzi meyakini adanya tiga peringkat ‘ishmah, yakni

‘ishmah al-anbiya (‘ishmah Nabi),

‘ishmah al-awliya (‘ishmah para wali),

‘ishmah al-’ammah (‘ishmah kaum beriman pada umumnya).

Kesimpulannya jika Allah telah mencintai hambaNya maka akan terpelihara (terhindar) dari dosa atau jika mereka berbuat kesalahan maka akan diberi kesempatan untuk menyadari kesalahan mereka ketika masih di dunia.

Jadi  Imam Mazhab yang empat, para ulama yang sholeh yang mengikuti mereka termasuk para ulama yang sholeh dari kalangan Habib atau ahlul bait, keturunan cucu Rasulullah shallallallahu alaihi wasallam memang tidak maksum namun mereka boleh saja mendapatkan ‘ishmah para wali sesuai dengan manzilah (maqom / derajat) atau kedekatan mereka dengan Allah Azza wa Jalla.

Berikut contoh pemeliharaan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap kekasihNya

Imam asy-Syafi’i berkata: ‘Saya mengadu kepada Waqi’ (guru beliau) buruknya hafalanku, maka dia menasihatiku agar meninggalkan maksiat. Dan ia mengabarkan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak diberikan kepada pelaku maksiat”.

Setelah Imam asy Syafi’i merunut (mencari tahu) kenapa beliau lupa hafalan Al-Qur’an (hafalan Al-Qur`ânnya terbata-bata), ternyata dikarenakan beliau tanpa sengaja melihat betis seorang wanita bukan muhrim yang tersingkap oleh angin dalam perjalanan beliau ke tempat gurunya.

‘Abdullâh bin Al-Mubarak meriwayatkan dari adh-Dhahak bin Muzahim, bahwasanya dia berkata;”Tidak seorangpun yang mempelajari Al-Qur`ân kemudian dia lupa, melainkan karena dosa yang telah dikerjakannya. Karena Allah berfirman Subhanahu wa Ta’ala : وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ     (“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri” (QS Asy-Syûra [42]: 30)- . Sungguh, lupa terhadap Al-Qur`ân merupakan musibah yang paling besar * (. Fadha`ilul-Qur`ân, karya Ibnu Katsir, hlm. 147)

Itulah contoh mereka yang disayang oleh Allah ta’ala dan diberi kesempatan untuk menyadari kesalahan mereka ketika masih di dunia..

Sedangkan ulama su’u adalah mereka yang tidak menyadarinya atau tidak disadarkan oleh Allah Azza wa Jalla atas kesalahannya atau kesalahpahamannya sehingga mereka menyadarinya di akhirat kelak. Wallahu a’lam

Indikator ulama yang su’u (buruk) adalah ulama yang dengan ilmu dan amalnya tidak menjadikannya bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh yakni ulama yang memperturutkan hawa nafasunya sehingga berpaling dari jalan Allah

Firman Allah ta’ala yang artinya

“..Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah”.(QS Shaad [38]:26)

“Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS An’Aam [6]:56 )

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh“

Sungguh celaka orang yang tidak berilmu.

Sungguh celaka orang yang beramal tanpa ilmu

Sungguh celaka orang yang berilmu tetapi tidak beramal

Sungguh celaka orang yang berilmu dan beramal tetapi tidak menjadikannya muslim yang berakhlak baik atau muslim yang ihsan.

Urutannya adalah ilmu, amal, akhlak (ihsan)

Ilmu harus dikawal hidayah. Tanpa hidayah, seseorang yang berilmu menjadi sombong dan semakin jauh dari Allah ta’ala. Sebaliknya seorang ahli ilmu (ulama) yang mendapat hidayah (karunia hikmah) maka hubungannya dengan Allah Azza wa Jalla semakin dekat sehingga meraih maqom (derajat) disisiNya dan dibuktikan dengan dapat menyaksikanNya dengan hati (ain bashiroh).

Sebagaimana diperibahasakan oleh orang tua kita dahulu bagaikan padi semakin berisi semakin merunduk, semakin berilmu dan beramal maka semakin tawadhu, rendah hati dan tidak sombong.

Para ulama tasawuf atau kaum sufi mengatakan bahwa hijab itu meliputi antara lain nafsu hijab, dosa hijab, hubbub al-dunya hijab, cara pandang terhadap fiqh yang terlalu formalistik juga hijab, terjebaknya orang dalam kenikmatan ladzatul ‘ibadah, sampai karomah juga bisa menjadi hijab, dll. Salah satu bentuk nafsu hijab terbesar itu justru kesombongan, karena sombong itu, membuat, manusia hanya melihat dirinya. Kita bisa bayangkan, kalau keadaan batin itu hanya melihat dirinya sendiri, orang lain tidak kelihatan, bagaimana dia bisa menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh).

Rasulullah bersabda: “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain.” (Shahih, HR. Muslim no. 91 dari hadits Abdullah bin Mas’ud)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda , “Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan. kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR. Muslim)

Dalam sebuah hadits qudsi , Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda , “Allah berfirman, Keagungan adalah sarungKu dan kesombongan adalah pakaianKu. Barangsiapa merebutnya (dari Aku) maka Aku menyiksanya”. (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kemuliaan adalah sarung-Nya dan kesombongan adalah selendang-Nya. Barang siapa menentang-Ku, maka Aku akan mengadzabnya.” (HR Muslim)

Seorang lelaki bertanya pada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam “Musllim yang bagaimana yang paling baik?” “Ketika orang lain tidak (terancam) disakiti oleh tangan dan lisannya” Jawab Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu aliahi wasallam bersabda “Tiada lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tiada lurus hatinya sehingga lurus lidahnya“. (HR. Ahmad)

Sayyidina Umar ra menasehatkan, “Jangan pernah tertipu oleh teriakan seseorang (dakwah bersuara / bernada keras). Tapi akuilah orang yang menyampaikan amanah dan tidak menyakiti orang lain dengan tangan dan lidahnya“

Sayyidina Umar ra juga menasehatkan “Orang yang tidak memiliki tiga perkara berikut, berarti imannya belum bermanfaat. Tiga perkara tersebut adalah santun ketika mengingatkan orang lain; wara yang menjauhkannya dari hal-hal yang haram / terlarang; dan akhlak mulia dalam bermasyarakat (bergaul)“.

KISAH KEUTAMAAN & KEISTIMEWAAN MEMBACA SHOLAWAT ATAS NABI MUHAMMAD SAW.

وذكر أبو نعيم في الحلية

 «أنَّ رَجُلاً مرّ بالنَّبي وَمَعَهُ ظَبْيٌ قَدِ اصْطَادَهُ

، فَأَنْطَقَ الله سُبْحَانَهُ الَّذِي أنْطَقَ كُلَّ شَيْء الظَّبيَ، فَقَالَ يَا رَسُولَ الله: إنّ لي أوْلاداً وأنَا أُرْضِعُهُمْ، وَإِنَّهُمُ الآن جِيَاعٌ، فَأْمُرْ هاذا أنْ يُخْلِينِي حَتَّى أذْهَبَ فَأُرْضِع أَوْلادِي وَأَعُود. قَالَ: فَإِنْ لَمْ تَعُودِي؟ قَالَتْ: إنْ لَمْ أَعُدْ فَلَعَنَنِي الله كَمَنْ تُذْكَر بَيْن يَدَيْهِ فَلا يُصَلِّي عَلَيْكَ. فَقَالَ النَّبيُّ أطَلِقْها وَأَنَا ضَامِنُها فَذَهَبَت الظَّبيَةُ ثُمَّ عَادَتْ، فَنَزِلَ جِبْريلُ عَلَيْهِ السَّلامُ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ الله يُقْرِئُكَ السَّلامَ وَيَقُولُ: وَعِزَّتِي وَجَلالِي لأنَا أَرْحَمُ بِأُمّتِكَ مِنْ هاذِهِ الظَّبِيَةِ بِأَوْلادِهَا وَأَنَا أَرَدُّهُمْ إليْكَ كَمَا رَجعَتِ الظَّبْيَة إليك» الحمد لله الذي جعلنا من أمّة محمد وسلم تسليماً.

Dalam kitab Alhilyah, Abu Nu’aim meriwayatkan bahwa ada seorang berjalan di depan Nabi dengan membawa rusa yang baru di dapatkan dari berburu, tiba-tiba rusa itu berkata: “Ya Rasulallah, sesungguhnya aku mempunyai beberapa anak yang masih menyusu kepadaku dan mereka kini lapar, karena itu suruhlah orang ini melepaskan aku untuk menyusui anakku, kemudian aku akan kembali lagi.” Rasulullah kemudian bertanya kepada rusa tersebut, “Wahai rusa, jika engkau tidak kembali bagaimana?” jawab sang rusa, “Jika aku tidak kembali maka Allah akan mengutukku bagaikan orang yang mendengat namamu disebut padanya tiba-tiba ia tidak membaca shalawat kepadamu.” Lalu Rasulullah menyuruh kepada orang pemburu rusa tersebut, “Lepaskan rusamu ini, dan aku yang akan menjamin akan kembalinya rusamu ini.” Kemudian pergilah rusa tersebut (untuk menyusui anak-anaknya), kemudian setelah itu ia kembali kepada sang pemburu. Maka turunlah Malaikat Jibril dan berkata: “Ya Muhammad, Allah menyampaikan salam padamu dan berfirman: “Demi kemulyaan dan kebesaranKU, sungguh AKU lebih menyayangi pada ummatmu lebih dari rahmat rusa itu terhadap anak-anaknya, dan AKU akan mengembalikan mereka kepadamu sebagaimana kembalinya rusa itu kepadamu

 وابن أبي عاصم: «ألا أُخْبِرُكُمْ بِأَبْخَل النَّاسِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ الله. قَالَ: مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ فَذالِكَ أَبْخَلُ النَّاسِ»

Ibn Abi ‘Ashim berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Sukakah kuberitakan kepada kalian (ashhab) manusia yang paling bakhil? Jawab sahabat: “Iya ya Rasulallah.” Maka Rasulullah berkata, “Yaitu orang yang mendengar namaku disebut orang di depannya, kemudian ia tidak membaca shalawat untukku, maka ia adalah manusia yang paling bakhil (pelit).

أبي بكر رضي الله عنه قال: الصلاة على رسول الله أمحق للخطايا من الماء للنار، والسلام على النبي أفضل من عتق الرقاب، وحب رسول الله أفضل من مهج الأنفس، أو من ضرب السيف في سبيل الله.

Sayyidina Abu Bakar berkata: “Membaca shalawat kepada Rasulullah lebih kuat untuk menghapus dosa dari pada air terhadap api, dan mengucapkan salam kepada Rasulullah lebih afdhal dari memerdekakan budak, dan cinta kepada Rasulullah lebih afdhal daripada mengorbankan jiwa, dan dari pada mengangkat pedang fii sabilillah. (An Numari, dan Ibn Basykual).

وحكي أن رجلاً حج وكان يكثر الصلاة على النبي في مواقف الحج وأعماله،فقيل له: لمَ لمْ تشتغل بالدعاء المأثور؟ فاعتذر بأنه خرج للحج هو ووالده، فمات والده بالبصرة، فكشف عن وجهه، فإذا هو صورة حمار فحزن حزناً شديداً، ثم أخذته سنة فرآه ، وتعلق به وأقسم ليخبرنه بقصة والده. فقال: إنه كان يأكل الربا وآكله يقع له ذلك دنيا وأخرى، ولكنه كان يصلي عليّ كل ليلة عند نومه مائة مرة، فلما عرض له ذلك أخبرني به الملك الذي يعرض عليّ أعمال أمتي، فسألت الله فشفعني فيه فاستيقظ فرأى وجه والده كالبدر، ثم لما دفنه سمع هاتفاً يقول له: سبب العناية التي حفت والدك الصلاة والسلام على رسول الله فآليت أن لا أتركها على أيّ حال كنت في أي مكان كنت.

Hikayat:

Ada seorang ketika berhaji selalu mebaca shalawat Nabi dalam segala tempat yang mustahab, dan ketika ditanya: Mengapa kamu tidak membaca do’a-do’a yang ma’tsur dari Nabi di tempat-tempat yang tertentu ini? Maka ia lebih dahulu meminta ma’af kemudian menjawab dan menerangkan bahwa ia keluar bersama ayahnya menuju hajji, dan ketika sampai di Bashrah, tiba-tiba ayahnya meninggal dunia, sedangkan mukanya berubah menjadi bagaikan khimar, maka aku sangat sedih akan hal tersebut yang sangat mempengaruhi perasaanku, dan ketika aku tertidur dalam keadaan yang sedih tiba-tiba mimpi bertemu dengan Rasulullah maka langsung saya pegang tangan beliau dan saya beritahukan keadaan ayahku, maka Rasulullah bersabda, “Ayahmu makan dari perkara riba, sedang pemakan riba itu memang demikian keadaannya (akan menjadi khimar), tetapi ia membaca shalawat untukku tiap malam 100 x, karena itu ketika disampaikan oleh Malaikat keadaan ayahmu (berubah menjadi khimar), maka segera aku meminta izin (kepada Allah) memberikan syafa’ah untuk ayahmu, dan Allah mengizinkannya.”

Tiba-tiba aku bangun tidur dan wajah ayahku telah berubah bagaikan bulan purnama, dan setelah kukuburkan jasad ayahku, terdengar suara, “Keselamatan ayahmu karena ia suka dan sering membaca shalawat atas Nabi Muhammad.”

Karena itulah aku bersumpah untuk diriku, tidak akan aku tinggalkan shalawat atas Rasul dalam segala hal dan dimanapun aku berada.”

(Dinukil dan disarikan dari kitab irsyadul ‘ibad ilaa sabili al-rasyad, dalam bab fadhalu al-shalawat ‘ala al-Nabiy)

KEUTAMAAN & KEISTIMEWAAN MEMBACA SHOLAWAT ATAS NABI MUHAMMAD SAW.

Shalawat untuk Nabi Tercinta shallallahu’alaihi wasallam memiliki banyak manfaat dan keistimewaan baik didunia maupun diakhirat.Diantara manfaat/keistimewaan shalawat yang dapat didapatkan didunia adalah sebagai berikut:

1.Sebagai implementasi/perwujudan perintah Allah ta’ala untuk banyak-banyak bershalawat dan bertaslim untuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Allah ta’ala berfirman :

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين ءامنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

Artinya :   “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi,Hai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS.Al Ahzab : 56)

2.Shalawat merupakan salah satu sebab terkabulnya doa seorang hamba jika ia mengawali doanya dengan shalawat.

Dalam sebuah atsar disebutkan :

الدعاء موقوف بين السماء والأرض لا يصعد منه شيء حتى تصلي على نبيك

Artinya : “Doa seorang hamba tertahan diantara langit dan bumi ,tidak terangkat kelangit sampai engkau bershalawat untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam”. 1

Setiap orang yang mengawali doanya dengan shalawat dan taslim untuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,dan juga mengakhiri doanya dengannya,maka doa tersebut sangatlah mustajab/dikabulkan oleh Allah dikarenakan banyaknya keberkahan shalawat tersebut. 2

3.Dengan shalawat,lisan senantiasa basah dengan menyebut sang kekasih tercinta,Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

4.Shalawat mendatangkan ketenangan jiwa dan pikiran serta kelezatan iman dan ketaatan/ibadah.

Hal ini kami merasakannya sendiri ketika banyak-banyak mengucapkan shalawat dan taslim untuk Nabi dan penyejuk hati kita,Muhammad shallallahu’alaihi wasallam.

5.Shalawat memenuhi majelis/perkumpulan dengan cahaya rahmat,dan keberkahan.

Setiap majelis yang didalamnya disebutkan nama Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,maka majelis itu akan dipenuhi oleh cahaya (iman),akan dihadiri dan diliputi oleh para malaikat,cahaya (rahmat) akan terus menerus turun didalamnya,serta semua amalan baik didalamnya langsung akan diangkat kepada Allah ta’ala. 3

6.Shalawat selalu mengingatkan diri kita terhadap Rasulullah yang tercinta,sehingga dapat meninggikan semangat beribadah,dan berakhlak dengan akhlak yang mulia,serta berjihad/bersungguh-sungguh dalam hidup ini dengan setinggi-tingginya jihad sebagaimana jihadnya Nabi kita shallallahu’alaihi wasallam.

KEUTAMAAN SHALAWAT YANG DISEBUTKAN IBNUL QAYIM rahimahullah

Diantara manfaat dan keistimewaan shalawat lain yang disebutkan oleh Ibnul Qoyim rahimahullah adalah sebagai berikut :

1.Shalawat merupakan salah satu sebab terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dunia serta mensucikan hati seorang muslim.

2.Shalawat adalah salah satu sebab ditambahkannya cahaya bagi seorang muslim ketika ia melintasi shirat diatas neraka jahannam yang gelap gulita diakhirat kelak.

3.Shalawat dapat menyebabkan adanya pujian dan sanjungan dari penduduk langit dan bumi terhadap orang yang mengucapkannya.

4.Shalawat adalah penyebab adanya berkah dalam diri orang yang mengucapkannya,juga adanya berkah dalam amal perbuatan dan umurnya.

Ini disebabkan,karena orang yang bershalawat untuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pada hakikatnya adalah orang yang berdoa kepada Allah subhaanahu wa ta’ala agar Dia memberikan keberkahan dan rahmat kepada beliau dan keluarganya.Doa yang seperti ini adalah doa yang sangat mustajab.Dan balasan Allah untuk orang yang mengucapkannya adalah sesuai dengan apa yang ia telah lakukan (yaitu bershalawat untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam –pent-).

Diantara keistimewaan-keistimewaan lainnya adalah :

5.Dengan bershalawat berarti anda telah memperdengarkan kepada para malaikat dan hamba-hamba Allah yang shalih perkataan yang membahagiakan jiwa dan menyenangkan pendengaran mereka,dan barangsiapa yang memasukkan kebahagiaan dan kegembiraan kedalam hati manusia dengan ucapan shalawat untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam,Allah akan memberikan kebahagiaan baginya didunia ataupun diakhirat,karena balasan/ganjaran suatu amalan sesuai dengan jenis amalan perbuatan yang telah dilakukan.

6.Bershalawat dapat menambah keimanan,semakin seorang hamba memperbanyak shalawat maka semangat dan derajatnya semakin terangkat,sebaliknya semakin lisan seorang hamba malas mengucapkan shalawat dan taslim untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam,maka ia akan merasakan adanya kurangnya iman dan kelalaian dalam dirinya,sebab itu hendaknya ia banyak-banyak berzikir mengingat Allah ta’ala dan bershalawat untuk Nabi tercinta shallallahu’alaihi wasallam.

7.Dengan memperbanyak shalawat berarti seorang hamba telah menyiapkan amalan-amalan shalih sebagai bekalnya pada hari dimana saat itu ia akan bahagia dengan apa yang telah ia kerjakan berupa amal kebaikan dan ketaatan/ibadah.

Seorang hamba tidaklah memahami hakikat masalah ini kecuali jika ia telah melihat semua amal baiknya terpampang didepan kedua matanya dihari kiamat kelak.Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia agar menganugerahkan keutamaan tersebut kepada kita semua.

8.Shalawat merupakan salah satu sebab untuk mendapatkan rahmat Allah ta’ala.Siapa saja yang bershalawat memuji Nabi shallallahu’alaihi wasallam didunia niscaya Allah dan para malaikatNya akan memujinya pula,serta akan mendapatkan rahmat dan berkah Allah jalla wa’ala.

9.Ucapan shalawat dan salam untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam merupakan sebab kekalnya dan bertambahnya cinta seorang muslim terhadap Nabinya,karena semakin seseorang sering menyebut-nyebut orang yang ia cintai beserta kebaikan-kebaikannya,akan semakin bertambah pula kecintaan dan kerinduannya terhadapnya,sebaliknya jika ia enggan menyebut-nyebut beliau shallallahu’alaihi wasallam atau hanya sedikit menyebut beliau maka tentu imannya berkurang ,namun apabila ia kembali memperbanyak shalawat maka imannya akan kembali bertambah.

Semua yang telah disebutkan,hanyalah beberapa manfaat/keistimewaan yang dapat kita petik (dari memperbanyak shalawat) ,seandainya manfaat dan keistimewaan shalawat ini ditulis dalam sebuah buku yang berjilid-jilid,mungkin hal tersebut hanya dapat memenuhi sedikit saja kesempurnaan dalam menyebutkan hak-hak Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan kemuliannya.Kita memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar menganugerahkan kepada kita semua semua manfaat shalawat tersebut baik didunia maupun diakhirat kelak.

1[1] . HR.AtTirmidzy dari hadis Umar bin AlKhaththab radhiyallahu’anhu (386).AlAlbany berkata : “shahih lighairihi” (hadisnya shahih karena ada jalur hadis lain yang menguatkannya).lihat : Shahih Targhib wa tarhib (1676)

2[1] . Pent. : Dalam hadis lain,dari Fadhaalah bin ‘Ubaid radhiyallahu’anhu berkata : bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mendengar seseorang berdoa dalam shalatnya namun tidak memuji Allah dan tidak pula bershalawat untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam,maka beliaupun bersabda :

عجل هذا -ثم دعاه فقال له أو لغيره-: إذا صلى أحدكم فليبدأ بتمجيد ربه عز وجل  والثناء عليه ثم يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم, ثم يدعو بعد بما شاء .

Artinya : “Orang ini terlalu tergesa-gesa” – lalu beliau memanggil orang tersebut,dan bersabda kepadanya atau kepada orang lain disampingnya-  : “Jika salah seorang diantara kalian berdoa maka hendaknya memulainya dengan pujian dan sanjungan terhadap Rabbnya subhaanahu wa ta’aala,lalu mengucapkan shalawat untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam,kemudian baru berdoa dengan apa yang ia kehendaki”. (HR.Abu Daud : 1481 dan AtTirmidzy : 3476 dengan sanad shahih)

3[1] . Pent. : Sebaliknya kalau dalam suatu majelis tidak disebutkan shalawat untuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam maka tidak akan ada rahmat didalamnya.Dalam suatu hadis, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

 ما جلس قوم مجلسا ثم تفرقوا ولم يذكروا الله و لم يصلوا على النبي صلى الله عليه وسلم إلا كان عليهم من الله تره إن شاء عذبهم وإن شاء غفر لهم

Artinya : “Tidaklah suatu kaum bermajelis,lalu mereka bubar dalam keadaan belum berzikir mengingat Allah dan bershalawat untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam melainkan mereka akan mendapatkan  kerugian dan penyesalan dari Allah ta’ala,jika Dia berkehendak,Dia akan mengazab mereka,atau memberikan ampunan untuk mereka”  (HR.AtTirmidzy (3380),dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu ,dan ia berkata : hasan shahih,,juga diriwayatkan Ahmad dalam Musnadnya (9842) dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya (2) serta dinilai shahih oleh Al Albany dalam Silsilah Shahihah (73),dan Shahih Tirmidzy (629).

TINGKATAN IBADAH DAN TAUBAT ANTARA ORANG YANG AWAM DAN LAINYA

TINGKATAN DALAM IBADAH

Tingkatan dalam PUASA :

• Puasa orang biasa, adalah menahan diri dari makan, minum dan hubungan biologis antara suami istri dalam jangka waktu tertentu.

• Puasa orang khususnya orang biasa, maksudnya adalah menahan diri dari hal yang diatas dengan disertai mencegah ucapan dan perbuatan dari hal-hal yang diharamkan

• Puasa orang khusus, adalah menahan diri dari melakukan segala sesuatu selain dzikir dan beribadah pada Allah Ta’aalaa.

• Puasa orang khususnya orang khusus, adalah menjaga diri dari selain Allah, tidak ada buka puasa baginya sampai datangnya hari kiamat, dan ini adalah maqam derajat yang tinggi. ( Fath al-Bari IV/109)

Tingkatan dalam SHALAT :

• Shalat orang biasa, adalah shalat kebanyakan orang pada umumnya dengan menjalankan perbuatan yang diawali takbiiratul ihram, diakhiri salam dengan disertai niat.

• Shalat orang khusus, adalah dengan meniadakan segala kehinaan yang terlintas dalam pikiran, keinginan-keinginan duniawi dalam shalatnya namun demikian diperkenankan baginya terlintasnya harapan-harapan yang bersifat ukhrawi seperti keinginan masuk dalam surga, aman dari siksa neraka.

• Shalat orang yang sangat khusus, adalah dengan khudurnya hati dan berpaling jauh-jauh dari segala hal selain Allah.

(Tafsir Ruh al-Ma’any XXIII/113)

Tingkatan dalam IKHLAS :

• Ikhlas orang biasa, dengan menepis keberadaan orang lain dalam tujuan ibadahnya disertai dengan tercapainya bagian dirinya baik berupa kebahagian dunia ataupun akhirat seperti berpengharapan diberikannya kesehatan, harta, rizki lapang, kemegahan serta bidadari-bidadari surga.

• Ikhlas orang khusus, disertai dengan tercapainya bagian dirinya baik berupa kebahagian dalam kehidupan akhirat bukan kebahagiaan dunia.

• Ikhlas orang yang sangat khusus, bila mampu menepis semua bagian dalam dirinya secara keseluruhan, ibadahnya semata-mata bentuk pengabdian, menyadari keberadaanya sebagai hamba yang mesti menjalani titah Tuhannya dengan suka cita dan selalu diliputi kerinduan yang mendalam pada Sang Kekasih. (Iiqaazh al-Himam Syarh Matan alHikam I/18)

Tingkatan dalam TAUBAT :

• Taubat orang biasa, dengan menyesali dosa yang telah terbuat, berkeinginan kuat untuk tidak mengulangi kembali, mengembalikan hak-hak orang lain bila memungkinkan dan berniat mengembalikannya bila tidak memungkinkan.

• Taubat orang khusus, dengan berhenti dari hal-hal yang dimakruhkan Allah, berhenti dari kejelekan yang terlintas dalam pikiran, berhenti dari kelesuan dalam menjalani ibadah dan berhenti dari menjalani ibadah yang tidak sempurna.

• Taubat orang yang sangat khusus, bukan karena kesalahan atau kekurangan yang telah terjalankan tapi karena kesalahan dan kekurangan yang selalu terasakan, dengan taubat ini kian tinggilah maqam dan derajatnya disisi Allah Ta’aalaa. (Tafsiir al-Aluusi II/10)

Kitab Syarah Misykatul Mashobih

قال العارفون : التعبد إما لنيل الثواب ، أو التخلص من العقاب ، وهي أنزل الدرجات ، وتسمى عبادة ؛ لأن معبوده في الحقيقة ذلك المطلوب ، بل نقل الفخر الرازي إجماع المتكلمين على عدم صحة عبادته .

أو للتشرف بخدمته تعالى والانتساب إليه ، وتسمى عبودية ، وهي أرفع من الأولى ، ولكنها ليست خالصة له ،

أو لوجهه تعالى وحده من غير ملاحظة شيء آخر ، وتسمى عبودة ، وهي أعلى المقامات وأرفع الحالات

Ulama’ ahli ma’rifat berkata :

“Beribadah ada kalanya bertujuan untuk mendapatkan pahala atau agar selamat dari siksa, ini adalah derajat ibadan terendah dan dinamakan IBADAH, karena sesungguhnya yang disembahnya secara hakekat adalah tujuan tersebut.Bahkan fakhrur rozi menukil ijma’nya ulama’ kalam bahwa ibadah seperti itu tidaklah sah.

Atau tujuan ibadah adalah agar meraih kemuliyaan dengan berkhidmat kepada Allah ta’ala dan bersandar kepada-Nya, dan ini dinamakan sebagai UBUDIYAH, derajat ini lebih tinggi daripada yang awal,tetapi masih belum murni untuk Allah.

Atau tujuan ibadahnya hanyalah untuk meraih ridho Allah semata tanpa melirik sesuatu lainnya,ini dinamakan UBUDAH,dan ini adalah maqom dan keadaan tertinggi.”

TINGKATAN KEIKHLASAN

Ada orang yang bertanya: Apakah boleh kita membaca waqiah dengan tujuan meraih dunia (kelancaran rizki)? Apakah hal ini tidak termasuk kategori Riya’.

Permasalahan seperti ini bisa saja menggangu pikiran para jamaah. Maka disini meluruskan mengenai definisi riya, ikhlas dan tingkatannya seperti berikut dan selanjutnya anda yang akan menjawab pertanyaan diatas dengan sendirinya.

Dalam Risalah Qusyairiyah disebutkan :

 وقال الفضيل بن عياض رحمه الله تعالى: (ترك العمل من أجل الناس رياء، والعمل

 من أجل الناس شرك، والإخلاص أن يعافيك الله منهما)

[“الرسالة القشيرية” ص95 ـ 96)

 Fudhail bin iyadl Rahimahullah berkata: Meninggalkan Amal karena manusia itu namanya riya’, beramal karena manusia itu namanya syirik dan Ikhlas adalah jika engkau dijauhkan oleh Allah dari keduanya.

Sedang Ibnu Ajibah Rahimahullah berkata ;

 الإخلاص على ثلاث درجات: إخلاص العوام والخواص وخواص الخواص.

 Ikhlas terdiri atas tiga tahapan:

 فإخلاص العوام: هو إخراج الخلق من معاملة الحق مع طلب الحظوظ الدنيوية والأخروية كحفظ البدن والمال وسعة الرزق والقصور والحور. (1)

 Ikhlas awam. yaitu, berbuat karena Allah semata, namun masih menginginkan bagian dunia dan akhirat, seperti kesehatan dan kekayaan –Rizki yang melimpah , juga kemegahan di surga serta bidadari;

 وإخلاص الخواص: طلب الحظوظ الأخروية دون الدنيوية. (2)

Ikhlas Khusus. yaitu, hanya menginginkan bagian akhirat tanpa memperdulikan bagiannya di dunia;

 وإخلاص خواص الخواص: إخراج الحظوظ بالكلية، فعبادتهم تحقيق العبودية والقيامُ بوظائف الربوبية محبة وشوقاً إلى رؤيته، (3)

Ikhlas khawasul khawas. yaitu, melepaskan seluruh keinginan atau bagian kesenangan serta balasan dunia dan akherat, persembahan mereka semata-mata hanya untuk merealisasikan ubudiyah sekaligus melaksanakan hak dan perintah Ke-Tuhanan (Rububiyah), karena cinta dan rindu untuk melihat Allah SWT.

 Dalam kitab minhajul abidin terdapat permasalahan yaitu: Banyak masyayikh yang mengamalkan surat waqiah sewaktu dilanda kesulitan (ayyamul usri), mereka membaca quran yang termasuk amalan akhirat tapi dengan menghendaki harta dunia, apakah tidak termasuk riya’? Imam ghazali menjawab bahwa tujuan mereka adalah dunia yang digunakan untuk kebaikan, mengajarkan ilmu, menolak ahli bid’ah, membela kebenaran, mengajak-ngajak manusia menuju ibadah, dan mempermudah ibadah.

 فَهَذِهِ كُلُّهَا إرَادَاتٌ مَحْمُودَةٌ لَا يَدْخُلُ شَيْءٌ مِنْهَا فِي بَابِ الرِّيَاءِ ؛ إذْ الْمَقْصُودُ مِنْهَا أَمْرُ الْآخِرَةِ بِالْحَقِيقَةِ

Ini semua adalah keinginan / tujuan yang terpuji yang tidak masuk kedalamnya sesuatupun dari unsur riya’. Karena harta dunia (yang dicari dari surat waqiah) hakikatnya adalah berorientasi akhirat. Hal ini berlandaskan pada hadits shohih; “innamal a’mal bin niyyaat ” yang dijabarkan dalam sebuah hadits :

 كم من عمل يتصور بصورة الدنيا فيصير من أعمال الآخرة بحسن النية, وكم من عمل يتصور بصور الآخرة فيصير من أعمال الدنيا بسوء النية

Betapa banyak amal yang berbentuk amal dunia tetapi menjadi amal akhirat karena baiknya niat dan betapa banyak amal yang berbentuk amal akhirat tetapi jadi amal dunia belaka karena jeleknya niat.

ANCAMAN ALLOH SWT. BAGI ORANG YANG MENINGGALKAN SHOLAT FARDLU

Barang siapa melalaikan sholat, Allah SWT akan menyiksanya dengan 15 siksaan. Enam siksaan di dunia, tiga siksaan ketika meninggal, tiga siksaan di alam kubur, tiga siksaan saat bertemu dengan Allah SWT.

Ketika Malaikat Jibril turun dan berjumpa dengan Rasulullah SAW, ia berkata, “Wahai Muhammad, Allah tidak akan menerima puasa, zakat, haji, sedekah, dan amal saleh seseorang yang meninggalkan sholat. Ia dilaknat di dalam Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Quran. Demi Allah, yang telah mengutusmu sebagai nabi pembawa kebenaran, sesungguhnya orang yang meninggalkan sholat, setiap hari mendapat 1.000 laknat dan murka. Para malaikat melaknatnya dari langit pertama hingga ketujuh”.

Orang yang meninggalkan sholat tidak memperoleh minuman dari telaga surga, tidak mendapat syafaatmu, dan tidak termasuk dalam umatmu. Ia tidak berhak dijenguk ketika sakit, diantarkan jenazahnya, diberi salam, diajak makan dan minum. Ia juga tidak berhak memperoleh rahmat Allah.Tempatnya kelak di dasar neraka bersama orang-orang munafik, siksanya akan dilipatgandakan, dan di hari kiamat ketika dipanggil untuk diadili akan datang dengan tangan terikat di lehernya. Para malaikat memukulinya, pintu neraka jahanam akandibukakan baginya, dan ia melesat bagai anak panah ke dalamnya, terjun dengan kepala terlebih dulu, menukik ke tempat Qorun dan Haman di dasar neraka.

Ketika ia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, makanan itu berkata, ‘Wahai musuh Allah, semoga Allah melaknatmu, kamu memakan rezeki Allah namun tidak menunaikan kewajiban-kewajiban dari-Nya.’ Ketahuilah, sesungguhnya bencana yang paling dahsyat, perbuatan yang paling buruk, dan aib yang paling nista adalah kurangnya perhatian terhadap sholat lima waktu, sholat Jumat, dan sholat berjemaah. Padahal, semua itu ibadah-ibadah yang oleh Allah SWT ditinggikan derajatnya, dan dihapuskan dosa-dosa maksiat bagi siapa saja yang menjalankannya.

Orang yang meninggalkan sholat karena urusan dunia akan celaka nasibnya, berat siksanya, merugi perdagangannya, besar musibahnya, dan panjang penyesalannya. Ia dibenci Allah, dan akan mati dalam keadaan tidak Islam, tinggal di neraka Jahim atau kembali ke neraka Hawiyah.”

Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa meninggalkan sholat hingga terlewat waktunya, lalu mengadanya, ia akan disiksa di neraka selama satu huqub (80 tahun)…. Sedangkan ukuran satu hari di akhirat adalah 1.000 tahun di dunia.” Demikian tertulis dalam kitab Majalisul Akbar.

Sementara dalam kitab Qurratul Uyun, Abu Laits Samarqandi menulis sebuah hadis, “Barang siapa meninggalkan sholat fardu dengan sengaja walaupun satu sholat, namanya akan tertulis di pintu neraka yang ia masuki.” Ibnu Abbas berkata, ”Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda, ‘Katakanlah, ya Allah, janganlah salah seorang dari kami menjadi orang-orang yang sengsara.’ Kemudian Rasulullah SAW bertanya, ‘Tahukah kamu siapakah mereka itu?’ Para sahabat menjawab, ‘Mereka adalah orang yang meninggalkan sholat. Dalam Islam mereka tidak akan mendapat bagian apa pun’.

Disebutkan dalam hadis lain, barang siapa meninggalkan sholat tanpa alasan yang dibenarkan syariat, pada hari kiamat Allah SWT tidak akan memedulikannya, bahkan Allah SWT akan menyiksanya dengan azab yang pedih. Diriwayatkan, pada suatu hari Rasulullah SAW berkata, ”Katakanlah, ya Allah, janganlah Engkau jadikan seorang pun di antara kami celaka dan diharamkan dari kebaikan.”“Tahukah kalian siapakah orang yang celaka, dan diharamkan dari kebaikan?”“Siapa, ya, Rasulullah?” “Orang yang meninggalkan sholat,” jawab Rasulullah. Dalam hadis yang berhubungan dengan peristiwa Isra Mi’raj, Rasulullah SAW mendapati suatu kaum yang membenturkan batu ke kepala mereka. Setiap kali kepala mereka pecah, Allah memulihkannya seperti sedia kala. Demikianlah mereka melakukannya berulang kali. Lalu, beliau bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?”

“Mereka adalah orang-orang yang kepalanya merasa berat untuk mengerjakan sholat,” jawab Jibril.

Diriwayatkan pula, di neraka Jahanam ada suatu lembah bernama Wail. Andaikan semua gunung di dunia dijatuhkan ke dalamnya akan meleleh karena panasnya yang dahsyat. Wail adalah tempat orang-orang yang meremehkan dan melalaikan sholat, kecuali jika mereka bertobat. Bagi mereka yang memelihara sholat secara baik dan benar, Allah SWT akan memuliakannya dengan lima hal, dihindarkan dari kesempitan hidup, diselamatkan dari siksa kubur, dikaruniai kemampuan untuk menerima kitab catatan amal dengan tangan kanan, dapat melewati jembatan shirathal mustaqim secepat kilat, dan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab. Dan barang siapa meremehkan atau melalaikan sholat, Allah SWT akan menyiksanya dengan 15 siksaan. Enam siksaan di dunia, tiga siksaan ketika meninggal, tiga siksaan di alam kubur, dan tiga siksaan saat bertemu dengan Allah SAW. Adapun enam siksaan yang ditimpakan di dunia adalah dicabut keberkahan umurnya, dihapus tanda kesalehan dari wajahnya (pancaran kasih sayang terhadap sesama), tidak diberi pahala oleh Allah semua amal yang dilakukannya, doanya tidak diangkat ke langit, tidak memperoleh bagian doa kaum salihin, dan tidak beriman ketika roh dicabut dari tubuhnya. Adapun tiga siksaan yang ditimpakan saat meninggal dunia ialah mati secara hina, mati dalam keadaan lapar, dan mati dalam keadaan haus. Andai kata diberi minum sebanyak lautan, ia tidak akan merasa puas.

Sedangkan tiga siksaan yang didapat dalam kubur ialah, kubur mengimpitnya hingga tulang-belulangnya berantakan, kuburnya dibakar hingga sepanjang siang dan malam tubuhnya berkelojotan menahan panas, tubuhnya diserahkan kepada seekor ular bernama Asy-Syujaul Aqra. Kedua mata ular itu berupa api dan kukunya berupa besi, kukunya sepanjang satu hari perjalanan. ”Aku diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyiksamu, karena engkau mengundurkan sholat Subuh hingga terbit matahari, mengundurkan sholat Zuhur hingga Asar, mengundurkan sholat Asar hingga Magrib, mengundurkan sholat Magrib hingga Isya, dan mengundurkan sholat Isya hingga Subuh,” kata ular itu.Setiap kali ular itu memukul, tubuh mayat tersebut melesak 70 hasta, sekitar 3.000 meter, ke dalam bumi. Ia disiksa dalam kubur hingga hari kiamat. Di hari kiamat, di wajahnya akan tertulis kalimat berikut: Wahai orang yang mengabaikan hak-hak Allah, wahai orang yang dikhususkan untuk menerima siksa Allah, di dunia kau telah mengabaikan hak-hak Allah, maka hari ini berputus asalah kamu dari rahmat-Nya.

Adapun tiga siksaan yang dilakukan ketika bertemu dengan Allah SWT adalah, pertama, ketika langit terbelah, malaikat menemuinya, membawa rantai sepanjang 70 hasta untuk mengikat lehernya. Kemudian memasukkan rantai itu ke dalam mulut dan mengeluarkannya dari duburnya. Kadang kala ia mengeluarkannya dari bagian depan atau belakang tubuhnya. Malaikat itu berkata, ”Inilah balasan bagi orang yang mengabaikan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan Allah.” Ibnu Abas berkata, ”Andai kata satu mata rantai itu jatuh ke dunia, niscaya cukup untuk membakarnya”.

Kedua, Allah tidak memandangnya. Ketiga, Allah tidak menyucikannya, dan ia memperoleh siksa yang amat pedih. Demikianlah ancaman bagi orang-orang yang sengaja melalaikan sholat. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada orang yang bersegera menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya. Amin.. Rasulullah SAW bersabda, “Sembahlah Allah seakan engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu”. (HR Bukhari dan Muslim).

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

. Ya Tuhanku, jadikanlah Aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.(QS: Ibrahim: 40).

Waqila, orang yang menInggalkan sholat karena malas maka dihukumi kafir karena sabda Nabi shollallohu alaihi wasallam : “Di antara hamba dan kekufuran adalah meninggalkan sholat”. (HR Muslim). Banyak yang berpendapat seperti itu diantaranyaa dalah Ali bin Abi Thalib, Sayyid Jalil Abdulloh Ibnul Mubarok, Ishaq Ibnu Rohawayh dan satu riwayat dari Imam Ahmad. Sedangkan pendapat yang shohih dan juga menjadi pendapatnya jumhur ulama’ adalah tidak dihukumi kufur sebab sabda Nabi shollallohu alaihi wasallam : “Darah seorang muslim tidak halal kecuali salah satu dari tiga, kufur setelah beriman, zina muhshon dan membunuh seseorang tanpa haq.”

Juga sabda Nabi shollallohu alaihi wasallam : “Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sembahan (yang berhak disembah) kecuali Allah semata tidak ada sekutu baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, dan bahwa ‘Isa adalah hamba dan rasul-Nya, dan kalimatnya yang Allah lemparkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya (diantara ruh-ruh yang Allah ciptakan), dan surga itu benar adanya, dan neraka itu benar adanya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga, apapun yang dia amalkan”. (HR Bukhori dan Muslim).

Alasan lain tidak dianggap kafirnya orang yang meninggalkan sholat karena malas adalah karena kekafiran itu dengan i’tiqod /keyakinan dan i’tiqodnya orang tersebut masih shohih. Sedangkan hadits yang dijadikan dalil oleh ulama’ yang berpendapat kufur adalah diarahkan pada orang yang meninggalkan sholat dan dia mengingkari wajibnya sholat.

Jadi menurut pendapat yang shohih, dia disuruh bertaubat karena dia tidak lebih buruk keadaannya daripada orang murtad, jika mau bertaubat dan taubatnya adalah melakukan sholat. Jika tidak mau bertaubat maka dipancung lehernya menurut pendapat madzhab. Wallohu a’lam.

Kitab Kifayatul Akhyar (1/497) :

وَإِن تَركهَا وَهُوَ يعْتَقد وُجُوبهَا إِلَّا أَنه تَركهَا تكاسلاً حَتَّى خرج الْوَقْت فَهَل يكفر قيل نعم لقَوْله عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالسَّلَام بَين العَبْد وَبَين الْكفْر ترك الصَّلَاة رَوَاهُ مُسلم وَأخذ بِهِ خلائق مِنْهُم عَليّ بن أبي طَالب رَضِي الله عَنهُ وَالسَّيِّد الْجَلِيل عبد الله بن الْمُبَارك وَكَذَا إِسْحَق بن رَاهَوَيْه وَهُوَ رِوَايَة عَن الإِمَام أَحْمد وَالصَّحِيح وَبِه قَالَ الْجُمْهُور أَنه لَا يكفر لقَوْله عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالسَّلَام لَا يحل دم امْرِئ مُسلم إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاث كفر بعد إِيمَان وزنا بعد إِحْصَان وَقتل نفس بِغَيْر حق وَلقَوْله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم من شهد أَن لَا إِلَه إِلَّا الله وَأَن مُحَمَّدًا رَسُول الله وَأَن عِيسَى عبد الله وكلمته أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَم وروح مِنْهُ وَأَن الْجنَّة حق وَأَن النَّار حق أدخلهُ الله الْجنَّة على مَا كَانَ من عمل وَلِأَن الْكفْر بالاعتقاد واعتقاده صَحِيح والْحَدِيث الَّذِي اسْتدلَّ بِهِ من قَالَ بالتكفير مَحْمُول على جَاحد الْوُجُوب فعلى الصَّحِيح بيستتاب لِأَنَّهُ لَيْسَ بِأَسْوَأ حَالا من الْمُرْتَد فَإِن تَابَ وتوبته أَن يُصَلِّي وَإِلَّا قتل بِضَرْب عُنُقه على الْمَذْهَب لقَوْله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم إِذا قتلتم فَأحْسنُوا القتلة

KHOTMUL AULIYA SEBAGAI PEWARIS UTAMA KHOTMUL ANBIYA SECARA KHUSUS DAN KAFFAH

Pengertian Wali Khatam

AL KHATMUL AULIYA’ ADALAH PEWARIS UTAMA KHATMUL ANBIYA’ SECARA KHUSUS DAN KAFFAH

Rasulullah SAW bersabda:

اَلعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ لَمْ يَرِثوُا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا، وَإِنَّماَ وَرَثوُا العِلْمَ وَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَهُ بِحَظٍّ وَاِفرٍ. (رواه البخاري)

“Al Ulama’ adalah pewaris para Nabi, mereka tidak mewariskan dinar dan dirham (harta kekayaan), dan mereka semata mata hanya mewariskan ilmu, dan barangsiapa yang mengambilnya, maka ia mengambil ilmu itu dengan keberuntungan yang banyak sekali”. (HR. Bukhari)

Dalam hadits diatas, sangat jelas bahwa para ulama yakni para wali (dalam pengertian ini) adalah pewaris para Nabi. Yang dimaksud para Nabi disini jelas bukan hanya Nabi Muhammad SAW, tapi semua Nabi sejak zaman Nabi Adam as sampai dengan Nabi Muhammad SAW.

Oleh karena itu kalau kita mau awas / teliti dalam melihat fenomena ini, maka akan jelas terlihat bahwa terdapat persamaan dan kemiripan antara manaqib (biografi) seorang wali dengan sejarah salah satu Nabi, baik dari kemiripan rupa, sosok ketegapan tubuh, nama, sifat sifat secara khusus, karomah dengan mukjizatnya dan lain sebagainya.

Sebagai contoh, dalam manaqib Sayyidi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, diceriterakan bahwa pada suatu hari ketika beliau makan, terdapat salah satu menu yang mengundang selera yaitu masakan seekor ayam. Pada saat itu datang tamu yaitu orang tua salah satu santrinya. Melihat lezatnya dan mutu makanan yang dimakan oleh Syeikh Abdul Qadir Jailani ra, tamu tersebut ingat anaknya dan jenis serta mutu makanan yang dimakan anaknya di pondok pesentren Syeikh Abdul Qadir ra. Dalam hati orang tersebut timbul perasaan iri, karena para murid makan makanan sangat sederhana sementara gurunya makan makanan lezat, bergizi dan bermutu tinggi.

Syeikh Abdul Qadir Al Jailani tahu apa yang tersirat dihati tamunya. Begitu selesai makan, maka beliau pandang tulang belulang ayam yang masih teronggok diatas meja makannya. Lalu beliau tunjuk seraya berkata : “Bangunlah (wahai ayam) atas izin Allah SWT!!!”, seketika itu juga ayam tersebut kembali utuh dan hidup kembali sebagaimana sediakala. Karomah ini sama dengan mu’jizat Nabi Musa yang menghidupkan kembali orang yang sudah mati dengan memukulkan lidah sapi betina pada mayat itu.

Disini bisa kita renungkan, Nabi Musa menghidupkan kembali orang mati (mayat itu masih dalam keadaan utuh) dengan cara memukulkan lidah sapi betina ke tubuh mayat tersebut, dan orang itu hidup kembali atas izin Allah SWT. Sedangkan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani ra bisa menghidupkan kembali tulang belulang tanpa daging, tanpa perantara alat apapun. Cukup dia berkata “Bangunlah kamu atas izin Allah SWT !!!” maka hiduplah ia kembali dan bangun seperti dalam keadaan semula. Subhanallah… inilah salah satu karomah ummat terbaik dari nabi terbaik junjungan kita Nabi Muhaamd SAW, karomahnya lebih tinggi dari mu’jizat para nabi terdahulu.

Sebenarnya masih banyak kisah karomah para wali yang sama persis dan mirip dengan mu’jizat para Nabi sebelum Rasulullah SAW. Demikian juga banyak bukti ikhtiyar dan mujahadah mereka serta ujian para Wali untuk mencapai puncak kedudukan disisi Allah SWT. Diantaranya ada yang mirip Nabi Ayyub as, dia mengalami ujian kena penyakit lepra dan dikucilkan manusia, tapi justru dia merasakan nikmatnya sendiri bersama Allah SWT. Intinya kejadian kejadian tersebut adalah bukti nyata yang menjelaskan kebenaran Hadits Nabi Muhammad SAW bahwa PARA WALI adalah pewaris PARA NABI. Bukan pewaris Nabi Muhammad SAW secara khusus. Lalu siapakan pewaris tunggal Khatmul Anbiya wal Mursalin Nabi Muhammad SAW ? untuk itu mari kita dalami secara khusus siapakah Al Khatmul Auliya’ yang menjadi pewaris khusus Al Khatmul Anbiya’ tersebut.

Sebelum kita melangkah lebih jauh, mari kita renungkan firman Allah SWT berikut ini:

فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَتَعْلَمُونَ (النحل: 34)

“Bertanyalah kalian kepada “Ahla Adz Dzikri” jika kamu tidak tahu”. (QS. An Nahl:43)

Khitab (orang yang dituju) dan dimaksud dalam ayat ini sebenarnya ahlul kitab yaitu Yahudi dan Kresten. Tapi konteks kejadiannya adalah ketidak percayaan orang arab Mekkah atas diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul bagi mereka. Anggapan mereka Rasul itu seharusnya bukan manusia tapi malaikat, oleh karena itu Allah SWT menyuruh mereka (Orang Arab Mekkah) untuk bertanya kepada orang orang Yahudi dan Kresten yang jujur tentang Nabi dan Rasul yang diutus pada mereka. Apakah manusia atau malaikat?…

Berbicara untuk membahas kenabian, sebenarnya jauh lebih sulit dan pelik dari pada berbicara masalah ketuhanan, jauh lebih sulit dan pelik lagi jika berbicara masalah kewalian. Ada sekelompok manusia percaya adanya tuhan tapi tidak percaya adanya nabi dan rasul, ada juga percaya adanya tuhan dan Nabi serta rasul tapi tidak percaya adanya wali. Hal ini terjadi karena tendensi manusiawi mereka atau disebabkan karena keterbatasan informasi, karena ilmu yang membahas masalah kewalian ini tergolong khusus dan tidak semua orang tahu.

Oleh karena terbatasnya pengetahuan kita dan terbatas pula informasi dan kitab rujukan kita, maka dalam pembahasan masalah kewalian ini mari kita berhusnudz dzanni untuk mengambil pendapat dan informasi dari para ulama yang kredible, tetapi tetap merujuk pada acuan utama kita terhadap Al Qur’an dan Sunnah Nabawiyah. Demikian juga pembahasan kita tentang Al Khatmul Wilayah Al Muhammadiyah Al Khaashah, kami kemukakan keterangan para ulama dan auliya’ yang jelas dan kredible dengan tetap mengacu pada Al Qur’an dan Sunnah. dalam kitab jawahirul Ma’ani Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijany RA. menyatakan :

وَلَناَقَاعِدَةٌ وَاحِدَةٌ عَنْهَا تُنْبِئُ جَمِيعُ الأُصُولِ: أَنَّهُ لاَحُكْمَ إِلاَّ للهِ وَرَسُولِهِ، وَلاَعِبْرَةَ فِي الحُكْمِ إِلاَّ بِقَولِ اللهِ وَقَوْلِ رَسُولِهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ،وَأَنَّ أَقَاوِيلَ العُلَمَاءِ كُلَّهَا بَاطِلَةٌ إِلاَّ مَاكَانَ مُستَنِدًا لِقَولِ اللهِ أَوقَولِ رَسُولِهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَكُلُّ قَولٍ لِعَالِمٍ لاَ مُستَنِدً لَهُ مِنَ القُرأَنِ وَلاَمِنْ قَولِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ بَاطِلٌ وَكُلُّ قَولَةٍ لِعَالِمٍ جَاءَتْ مُخَالِفَةٌ لِصَرِيحِ القُرأَنِ الْمُحْكَمِ أَولِصَرِيْحِ قَولِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَحَرَامُ الفَتوَى بِهَا وَإِنْ دَخَلَتْ فِى كُتُبِ الفِقْهِ، لِأَنَّ الفَتْوَى بِالقَوْلِ الْمُخَالِفِ لِنَصِّ القُرْأَنِ أَوِالحَدِيْثِ كُفْرٌصَرِيْحٌ مَعَ العِلْمِ بِهِ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ”وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ” وَقَالَ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ “مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَالَيْسَ مِنْهٌ فَهُوَ رَادٌّ”. (جواهر المعاني وبلوغ الأماني: 2/ 195-196)

Dan kami hanya punya satu pedoman / qoidah sebagai dasar dari semua usul. Bahwasanya tidak ada hukum kecuali kepunyaan Allah Swt. dan Rasulnya Saw. bahwasanya tidak ada ibarat dalam hukum kecuali firman Allah Swt. dan sabda Rasulullah Saw. Bahwasanya semua pendapat Ulama itu Batal (ditolak) kecuali berlandaskan Al Qur’an dan Al Hadits. Semua perkataan orang berilmu batal kecuali berlandaskan Al Qur’an dan Al Hadits, dan tiap-tiap pendapat orang berilmu yang bertentangan dengan Al Aqur’an yang shorih dan muhkam dan bertentangan pula dengan Hadits yang shohih, maka haram di fatwakan, walaupun pendapat tersebut dimasukkan dalam kitab kitab Fiqh. Karena fatwa yang diucapkan dengan sadar dan tahu kalau hal tersebut menyalahi Nas Al Qur an dan Hadits, maka itu (salah satu bentuk) kekafiran yang nyata. Allah SWT berfirman; ”Barangsiapa yang tidah bertahkim dengan apa yang diturunkan Allah ( Al Quran) maka mereka adalah orang orang kafir”. Dan Sabda Rasulullah SAW; “Barangsiapa yang mengada ada ( hal yang baru) dalam urusan kami ini (Agama Islam), sedangkan hal tersebut tidak ada dalam Islam, maka hal tersebut ditolak.” – (Jawahirul ma’ani : 2/195-196)

Lebih jauh dan tegas lagi, Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra menyatakan:

إِذَا سَمِعْتُم عَنِّى شَيْئًا فَزِنُوهُ بِمِيزَانِ الشَّرعِ فَإِنْ وَافَقَ فَاعْمَلُوا بِهِ فَإِنْ خَالَفَ فَاْترَكُوهُ (الإفادة الأحمدية: 13)

“Apabila kalian mendengar sesuatu dariku, maka timbanglah dengan neraca syariat Islam (Alquran dan Hadits), maka jika sesuai (dengan syariah) kerjakanlah dan jika menyimpang tinggalkanlah“(Al Ifaadatul Ahmadiyyah:13).

  1. Al Khatmul Auliya’ adalah seorang Wali besar yang mencapai maqam Al Katmu (Al Quthbul Maktum).

Kalau kita mencari istillah Al Khatmul Auliya’, Al Quthbu Al Maktum dalam kitab kitab tasawwuf seperti Ihya’ Ulumuddin, Al Hikam, Jami’ul Usul fil Auliya’ dan kitab kitab lain, mungkin tidak ada. Karena wali yang mampu membahas maqam ini secara khusus dan tuntas hanyalah mereka yang berada pada level tingkat atas saja. Diantara Wali yang mengungkap masalah ini secara panjang lebar adalah As Syeikh Muhyiddin Ibnul Arabi Alhaatimy. Beliau seorang ulama dan wali besar pada zamannya yang sangat produktif dan banyak menulis kitab dalam berbagai disiplin ilmu lebih dari 200 judul, beliau wafat pada tahun 638 H (awal abad ke 7).

Diantara kitab yang beliau tulis berjudul “Al futuuhatul Makiyah” yang terdiri dari 20 jilid. Didalam kitab tersebut beliau membahas cukup jelas tentang khatmul Auliya’ dengan sifat sifat dan berbagai tanda tanda khususi lainnya. Kemudian beliau menulis lagi kitab yang diberi judul: “Anqaa-u Maghrib fii Khatmil Awliya-i wa Syamsil Maghrib”. Inti dari bahasan beliau dalam kitab ini adalah penjelasan tentang khatmul Auliya’, diantara ciri cirri khatmul Auliya’ yaitu: Munculnya di Maghrib (saat ini bernama Maroko) dan mendapatkan cobaan berat diingkari banyak orang.

Wali lain yang membahas khatmul Auliya sebelum Syeikh Ibnul ‘Arabi adalah Ash Shufi Al Kabiir Muhammad bin Ali Al Hakim At Turmudzi (wafat pada tahun 255H) pertengahan abad ke 3 hijriyah. Salah satu kitab yang beliau tulis berjudul Khatmul Auliya’.

Dalam kitab tersebut beliau menjelaskan makna Al Khatmul Auliya’ itu ada tiga macam.

  1. Al Khatmul Auliya’ adalah seorang wali yang menjadi puncak atau penutup pangkat para wali pada zamannya masing masing, kalangan sufi ada yang menyebutnya sebagai Quthbu Az Zaman atau Shahibul Waqti. Dimana pada setiap zaman terdapat seorang Wali Quthub yang menjadi pusat rujukan seluruh auliya’ pada zaman tersebut, dialah penyandang mahkota puncak kewalian pada zamannya, yang menjadi penutup pangkat (pemegang pangkat tertinggi) dan dari dialah mengalir seluruh karunia Allah atas seluruh mahluk. Khatmul Auliya’ jenis ini hanya ada satu dalam setiap zaman dan jika ia wafat maka Allah memilih orang lain sebagai penggantinya.
  2. Al Khatmul Auliya’ Al ‘Ammah (penutup para wali secara umum) yang hidup di akhir zaman. Dia hanya satu tidak ada duanya yaitu Nabi Isa bin Maryam as, yang akan turun di akhir zaman sebagai wali dari ummat Nabi Muhammad SAW. Dimana jika beliau wafat maka tidak ada wali lagi yang hidup setelahnya, maka dengan demikian ahlak ummat manusia akan mencapai puncak kerusakan yang menyebabkan terjadinya kiamat kubra.
  3. Al Khatmul Auliya’ Al Muhammadiyyah Al Khashshah. Adalah seorang wali quthub yang memegang mahkota puncak pangkat kewalian yang menjadi rujukan seluruh auliya’ sejak zaman Nabi Adam as sampai hari kiamat. Dari beliaulah memancar mata air ilmu kewalian yang dinikmati oleh para wali sejak zaman nabi Adam as sampai kiamat baik mereka sadar atau tanpa sadar. Beliau adalah Barzahul Barazaah atau Al Barzahul mahtum wal maktum yang menjadi garis pemisah (hijab) terakhir dan sangat dirahasiakan antara posisi para nabi dengan seluruh auliya’ dan mahluk semuanya.

Pembahasan Al Khatmul Auliya’ Al Muhammadiyyah Al Khaashshah inilah yang menjadi konsumsi pembahasan para wali besar sejak zaman dulu sampai saat ini. Mengingat masalah ini adalah masalah super khusus dan sangat rahasia maka dalam membahas masalah ini lebih lanjut maka kami akan mengutip berbagai pernyataan para tokoh yang memang berkompeten di bidang tersebut dan para ulama khas dan khasul khas membenarkannya. Oleh karena itu pada tatanan bahasan ini kita menggunakan mitode ‘undzur man qaala’ (melihat dan menilai siapa yang bicara). Karena yang bicara adalah orang yang berhak maka kita wajib taslim (menerima) dengan husnu dzan.

  1. Pengertian Al Katam (Al Quthbu Al Maktum).

Al Katam artinya tersembunyi atau dirahasiakan. Al Quthbul Maktum artinya Wali Quthub yang di rahasiakan. Dan untuk mengetahui lebih detail, mari kita telaah pernyataan Sayyidi Syeikh Al Quthbul Maktum Ahmad bin Muhammad At Tijani ra berikut ini:

فَقِيْلَ لَهُ وًمَا مَعْنَى الْمَكْتُومُ؟ فَقَالَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ هُوَ الَّذِي كَتَمَهُ اللهُ تَعَالَى عَنْ جَمِيعِ خَلْقِهِ حَتَّى الْمَلاَئِكَةِ وَالنَّبِيِّينَ إِلاَّ سَيِّدُ الوُجُودِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ عَالِمٌ بِهِ وَبِحَالِهِ وَهُوَ الَّذِي حَازَ مَاعِنْدَ الأَولِيَاءِ مِنَ الكَمَالاَتِ الإِلَهِيَّةِ وَاحْتَوَى عَلَى جَمِيْعِهَا. (أقوى الأدلة والبراهين:40)

Maka ditanyakan kepadanya: dan apakah arti Al Maktum?.. Maka (Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijani ra) menjawab: “Wali Al Maktum adalah wali yang dirahasiakan Allah dari semua mahluknya bahkan malaikat dan para nabipun (tidak tahu). Kecuali Sayyidul Wujud Rsulullah SAW, sesungguhnya beliau tahu kepadanya dan semua hal ihwalnya. Dialah wali yang menghimpun semua kesempurnaan sifat ilahiyah yang ada pada para wali dan menjadi penjaga bagi semuanya. (Aqwa Al Adillah wal Barahiin : 40).

Karena Wali Al Quthbul Maktum itu sangat dirahasiakan oleh Allah SWT, maka tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Sayyidul Wujud Rasulullah SAW. Oleh karena itu, ketika beliau lahir dan mendapat perintah untuk mengikrarkan jabatan dan martabat kewaliannya, maka timbullah beragam reaksi baik yang pro, kontra maupun yang bingung. Hal ini juga akibat tingginya ilmu dan asrarur rabbani yang beliau ceriterakan, sehingga para ‘arifiin yang tingkat tinggi sekalipun banyak yang tidak mengerti akibat terbatasnya daya jangkau akal dan dzauqiyah mereka. Sifat diingkari orang ini juga yang menjadi tanda tanda Al Katmu itu sendiri. Hal ini juga sudah diisyaratkan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an:

بَلْ كَذَّبُوا بِمَالَمْ يُحِيْطُوا بِعِلْمِهِ وَلَمَّا يَأتِهِمْ تَأوِيلُهُ (يونس:39)

“Bahkan mereka mendustakan terhadap apa yang mereka belum ketahui (dengan sempurna), padahal belum datang penjelasan pada mereka” (QS. Yunus:39).

Dalam satu kesempatan Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra ditanya apakah beliau akan diingkari orang atau tidak, beliau menyatakan:

أَيَكْذِبُ عَلَيْكَ؟ قَالَ نَعَمْ، إِذَا سَمِعْتُمْ عَنِّى شَيئًا فَزِنُوهُ بِمِيزَانِ الشَّرعِ فَإِنْ وَافَقَ فَاعْمَلُوا بِهِ فَإِن خَالَفَ فَاترَكُوهُ (الافادة الأحمدية: 13)

“Apakah kamu akan didustakan / diingkari? Beliau menjawab: Ia, (oleh karena itu) Apabila kalian mendengar sesuatu dariku, maka timbanglah dengan neraca syariat Islam (Alquran dan Hadits), maka jika sesuai (dengan syariah) kerjakanlah dan jika menyimpang tinggalkanlah “. (Al Ifaadatul Ahmadiyyah:13).

  1. Kedudukan Al Katam (Al Quthbul Maktum).

Untuk mengetahui kedudukan Al Quthbu Al Maktum, penulis kutip penjelasan Sayyidi Syeikh Al Quthbul Maktum Ahmad bin Muhammad At Tijani ra dalam ktab Rimah sebagai berikut:

أَنَّ القُّطْبَ الْمَكْتُومِ هُوَالوَاسِطَةُ بَيْنَ الأَنْبِيَاءِ وَالأَولِيَاءِ, فَكُلُّ وَلِيِّ اللهِ تَعَالَى مِنْ كِبَرِ شَأنِهِ وَمِنْ صِغَرِ لاَيَتَلَقَّى فَيضًا مِنْ حَضَرَةٍ النَّبِيِّ إِلاَّ بِوَاسِطَتِهِ رَضِيَ اللهُ عَنهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَشْعُرُ بِهِ وَمَدَدِهِ الخَّاصُ بِهِ.إِنَّماَ يَتَلَقَّاهُ مِنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَلاَ اَطْلاَعَ لِأَحَدٍ مِنَ الأَنبِيَاءِ عَلَيهِمُ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى فَيْضِهِ الخَاصِ بِهِ لِأَنَّ لَهُ مَشْرَبًا مَعَهُمْ مِنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ. (رماح -ج :2 \ص:14)

Sesungguhnya Al Quthbul Maktum adalah wasithah (perantara) antara para Nabi dan para Auliya’. Maka seluruh Wali Allah baik yang berpangkat tinggi maupun yang rendah, tidak menerima limpahan karunia yang (mengalir) dari para nabi kecuali melalui wasithah (perantara) Al Quthbul Maktum radliyallaahu anhu itu dari arah yang tidak mereka sadari. Dan madad (pemberian karunia) khusus kepadanya hanya menerima (langsung) dari Sayyidul Wujud SAW. Dan tak seorang nabipun yang tahu terhadap limpahan khusus tersebut, karena untuk mereka (para Nabi) juga mempunyai sumber limpahan tersendiri dari Rasulullah SAW. (Rimah: juz 2 /14).

Dari penjelasan kitab Rimah tersebut diatas, tersimpul bahwa Wali Al Katam (Al Quthbul Maktum) adalah Wali tertinggi yang memegang kunci telaga ilmu kewalian yang bersumber dari telaga ilmu kenabian Rasulullah SAW. Dan dari telaga inilah mengalir ilmu kewalian menuju telaga telaga kecil maupun besar para auliya’ sejak zaman Nabi Adam as. sampai ahir zaman. Jadi orang yang menjabat Wali Katam (Al Quthbul Maktum) itu adalah Wali Khatam (Al Khatmul Auliya’). Sehingga dalam penyebutan lengkapnya adalah Al Khatmul Auliya’ Al Quthbul Maktuum (Wali Quthub penutup puncak pangkat para wali yang dirahasiakan).

Dalam banyak kitab disebut juga sebagai Al Khatmul Auliya’ Al Muhammadiyyah Al Khaashah (Penutup kewaliyan dari ummat Nabi Muhammad SAW yang khusus) maksudnya penutup puncak pangkat kewalian, sebagaimana pembagian khatmul auliya’ poin c yang dijelaskan oleh As Sufi Al Kabir Al Imam Muhammad bin Ali Al Hakim At Turmudzi tersebut pada halaman 110. oleh karena itu, jika urutan pangkat (martabat) kewaliyan tersebut disebut semua maka tersusunlah sebagai berikut: Al Quthbu Al Maktum wal Khatmu Al Auliya’ Al Muhammadiyyi Al Makluum artinya Wali Quthub yang dirahasiakan yang menjadi penutup (puncak martabat) kewaliyan dari Ummat Nabi Muhammad SAW yang sudah diketahui.

Menurut penjelasan Syeikh Muhyiddin Ibnu Al rabi Al Hatimi, kedudukan (martabat) Al Khatmul Auliya’ adalah sebagai berikut:

  1. Khatmul Auliya’ adalah Wali Allah tertinggi yang mendapat tugas kewaliyan sejak zaman azali (sebelum alam diciptakan) sampai akhir zaman, tapi kemunculan atau kelahirannya di dunia adalah tergolong akhir.
  2. Khatmul Auliya’ adalah Wali Allah yang menjadi pusat aliran karunia ilmu kewalian langsung dari Rasulullah SAW, (pemegang kunci telaga ilmu kewalian) dan dari dialah selanjutnya aliran ilmu itu memancar kepada semua Wali Allah sejak zaman Nabi Adam sampai kiamat.
  3. Khatmul Auliya’ adalah Wali Allah yang menjadi penutup martabat (pangkat) kewalian, dimana tidak ada lagi pangkat kewalian yang lebih tinggi lagi diatasnya kecuali pangkat kenabian.
  4. Khatmul Auliya’ adalah Wali Allah yang mempunyai ilmu, asror, nur, fuyudhat dan tajalliyat terbanyak dari semua wali yang ada di muka bumi dari zaman Nabi Adam sampai kiamat.
  5. Khatmul Auliya’ adalah Wali Allah yang menjadi hijab (barzah) terahir antara Al Hadrah hakekat Al Muhammadiyyah dengan Al Hadrah Jami’il Auliya’ wal makhluqat.

Sedangkan martabat / kedudukan Al Quthbul Maktum menurut Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani radliyallaahu anhu adalah:

  1. Al Quthbul Maktuum adalah Wali Allah yang menjadi tumpuan dan rujukan seluruh auliya’ serta menjadi sumber limpahan karunia yang memancar ke seluruh alam sejak awal terjadinya alam raya ini sampai akhir zaman.
  2. Al Quthbul Maktuum adalah Wali Allah yang terbanyak ilmu, asrarur rabbani, dan nur ilahiyahnya.
  3. Al Quthbul Maktuum adalah Wali Allah yang menjadi wasithah / perantara antara para Nabi dengan para wali sejak zaman Nabi Adam as. sampai ditiupnya sangkakala (kiamat).
  4. Al Quthbul Maktuum adalah Wali Allah yang mendapat karunia khususiyah secara langsung dari Sayyidul wujud Rasulullah SAW.
  5. Al Quthbul Maktuum adalah Wali Allah yang menduduki puncak tertinggi dalam martabat kewalian sejak zaman Nabi Adam sampai ditiupnya sangkakala.

Catatan penting yang perlu diketahui juga disini adalah:

Martabat Al Khatmul Auliya’ Al Quthbul Maktuum dalam tatanan kewalian lebih tinggi dari pada martabat Al Khatmul Auliya’ Al ‘Ammah yang disandang oleh Nabi Isa bin Maryam as, dimana beliau di akhir zaman kelak akan turun kembali ke bumi yang sekaligus juga menjadi tanda akan datangnya kiamat kubra. Tapi beliau hadir bukan sebagai Nabi dan Rasul yang membawa syariat, tapi sebagai wali terakhir Al Khatmul Auliya’ Al ‘Ammah karena martabat kenabian telah terkunci rapat sejak diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terahir dimana tidak ada Nabi dan Rasul lagi setelahnya.

Dilain pihak Nabi Isa bin Maryam as. tetap lebih tinggi martabatnya dari pada Al Khatmul Auliya’ Al Quthbul Maktuum, karena dia aslinya adalah seorang Nabi dan Rasul yang tergolong ulul azmi yang mana martabat kenabian itu jelas lebih tinggi dari pada martabat kewalian.

  1. Orang orang yang pernah mengklaim sebagai Al Khatmul Auliya.

Secara naluri manusiawi, martabah Al Khatmul Auliyaa’ adalah martabat paling bergengsi dalam tatanan kewalian. Oleh karena itu tidak heran jika banyak orang khusus yang menginginkan martabat itu jatuh pada diri mereka. Diantara wali besar yang sempat mengira bahwa martabat Al Khatmul Auliyaa’ Al Quthbul Maktuum tersebut adalah miliknya antara lain:

  1. Syeikh Muhammad bin Sulaiman Al Jazuli. Beliau adalah seorang wali besar dan sangat masyhur, salah satu karya beliau yang fenomenal adalah kitab kumpulan shalawat yang berjudul “Dalaailul Khairaat”. Beliau wafat pada tahun 870 Hiriyah (abad 9 Hijriyah).
  2. Syeikh Muhammad Wafa, yang diketahui dari perkataan putranya Seikh Ali bin Muhammad Wafa.
  3. Syeikh Muhyiddin ibnu Al Arabi Al Hatimi. Wafat pada tahun 638 Hijriyah (awal abad ketujuh Hijriyah). Dia mengira bahwa dirinya adalah Al Khatmul Auliyaa’ dari isyarah mimpi. Dia bermimpi bahwa bangunan Ka’bah sedang direnofasi dan dibangun kembali dengan batu bata dari emas dan perak. Ketika renofasi selesai ternyata bangunan dinding Ka’bah antara rukun Yamani dan rukun Syami kurang dua buah batu bata, dan beliau dalam mimpi tersebut merasa sebagai batu bata terahir dan tertinggi tempatnya, sehingga dengan isyarah tersebut beliau merasa sebagai Al Khatmul Auliyaa’. Saat bangun dari tidurnya, beliau takwilkan mimpi tersebut dengan penuh keyakinan dan suka cita bahwa beliaulah Al Khatmul Auliya’ tersebut. Karena begitu senangnya perasaan beliau, maka pada saat itu beliau bersyair :

بِنَاخَتَمَ اللهُ الوِلاَيَةِ فَانتَهَتْ * إِلَينَا فَلاَ خَتْمَ يَكُونُ لِمَنْ بَعْدِي

وَمَا فَازَ بِالخَتْمِ الَّذِي لِمُحَمَّدٍ * مِنْ أُمَّتِهِ وَالعَلَمِ إِلاَّ أَنَاوَحدِي

Kamilah yang dijadikan penutup kewalian oleh Allah, maka (puncak martabah) kewalian berakhir (jatuh pada kami, maka tidak akan ada lagi wali khatam setelahku.

Dan tidak seorangpun dari ummat Nabi Muhammad SAW yang beruntung mendapat martabah Al Khatam (Khatmul Auliya’) dan ilmu kecuali aku sendiri.

Ketika beliau dalam suasana suka cita tersebut dan baru saja selesai bersair, terdengarlah oleh beliau seruan ghaib (hatif) yang mengatakan bahwa : “Bukan kepunyaanmu apa yang kamu duga dan kamu harapkan itu, itu kepunyaan seorang wali di akhir zaman. Tak ada wali yang lebih tinggi dan lebih mulia di sisi Allah SWT dari dia”. Mendengar teguran dari alam ghaib tersebut beliau menyambut baik dan mengatakan: “Keserahkan urusan perkara ini kepada Dzat yang menciptakan dan mewujudkan”.

Catatan penting:

  1. Klaim (pernyataan) bahwa dirinya sebagai khatmul auliya’ oleh ketiga wali besar tersebut diatas adalah pernyataan yang mereka dapat dari penafsiran terhadap bisyarah (pengalaman ruhani) mereka, dan tidak didukung oleh fakta dan pernyataan pihak lain yang mendukung, misalnya berita langsung dari Rasulullah SAW.
  2. Diantara pernyataan tersebut dicabut kembali oleh yang menyatakan.
  3. Selain dari ketiga wali besar tersebut diatas, tidak seorang walipun baik sebelum dan sesudahnya yang menyatakan bahwa dia sebagai khatmul auliya’.

Lebih jauh, kami kutip sebuah pernyataan Syeikh Muhyiddin Ibnu Al Arabi Al Haatimi ra yang terdapat dalam kitab Futuuhaatul Makkiyah, dan juga dikutip oleh pengarang kitab Aqwal Adillah wal baraahiin pada halaman 17 sebagai berikut: “Dan pada tahun 595 Hijriyah. Saya (Syeikh Muhyiddin Ibnu Al Arabi Al Haatimi ra) berjumpa dia (Al Khatmul Auliya’) yang merupakan wali tertinggi baik ilmu maupun martabatnya disisi Allah SWT yang tidak ada lagi derajat diatasnya, dalam pertemuan secara barzahi di alam arwah, (karena ia belum lahir kedunia). Pada pertemuan tersebut, saya melihat sedikit dari tanda tanda Al Khatmul Auliya’ yang disembunyikan Allah SWT dari mata para hamba-Nya. Dan Allah SWT membuka sedikit dari alamat rahasia besar tersebut pada saya, diantaranya; dia tinggal di kota Fas (sebuah kota di wilayah negara kerajaan Maroko saat ini), dan dia dihadapkan pada cobaan diingkari orang karena ketinggian ilmu dan asrar rabbaninya yang sangat dalam”.

Berita lain yang menambah atau melengkapi pernyataan Syeikh Muhyiddin Ibnu Al Arabi Al Haatimi ra. Adalah pernyataan seorang wali besar “Syeikh Mukhtar Al Kanati ra” yang hidup pada qurun / abad dua belas Hijriyyah. Beliau menyatakan bahwa qurun / abad dua belas Hijriyyah menyerupai qurun Rasulullah SAW, diantara alasannya adalah pada abad 12 Hijriyyah tersebut lahirnya Al Khatmul Auliya’ sebagaimana abad pertama Hijriyyah adalah abad kelahiran Al Khatmul Anbiya’.

Yang menjadi catatan penting dalam pernyataan tersebut diatas dan menjadi fakta fakta pendukung atas kebenaran klaim Al Khatmul Auliya’ yang dilontarkan oleh Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra, bahwa:

  1. Syeikh Mukhtar Al Kanati hidup pada qurun 12 Hijriyah. Tapi dia tidak menyatakan bahwa dirinya sebagai Al Khatmul Auliya’.
  2. Pada pertengahan qurun 12 Hijriyyah tersebut lahir seorang Wali besar dan sangat terkenal yaitu Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra, tepatnya pada tahun 1150 Hijriyyah dan wafat pada tahun 230 Hijriyyah.
  3. Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra, menyatakan bahwa dia adalah Al Quthbu Al Maktum wal Khatmul Auliya’ Al Muhammadiy.
  4. Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra, lahir di Ain Al Madi wilayah negara Al Jazair Afrika utara, kemudian beliau hijrah dan menetap di kota Fes, wilayah kerajaan Maroko saat ini dalam istilah bahasa arab dikenal dengan Al Maghribil Aqsha (Afrika barat).
  5. Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra, menyatakan bahwa dirinya adalah Al Quthbul Maktum yang menjadi Khatmul Auliya’ Al Khaashshah tersebut.
  6. Pernyataan beliau bersumber dari pernyataan Rasulullah SAW dalam pertemuah langsung tanpa perantara, secara sadar (yaqdzah) bukan mimpi.
  7. Tak seorangpun yang menyatakan pernyataan yang sama dan didukung oleh fakta fakta yang akurat baik sebelum maupun sesudah kelahiran Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra.
  8. Perbedaan mendasar antara pernyataan Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra. Dengan pernyataan ketiga auliya’ sebelumnya adalah pada sumber yang menjadi dasar pernyataan. Ketiga auliya’ yang menyatakan bahwa dia adalah Al Khatmul Auliya’ dasarnya adalah dzan (prasangka) dia pribadi terhadap fenomena pengalaman ruhani baik melalui mimpi atau peristiwa lain yang dialami mereka. Sedangkan Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijani ra. Berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang beliau terima melalui pertemuan langsung dalam sadar (yaqadzah) bukan mimpi.
  9. Bertemu Rasulullah SAW dalam sadar (yaqadzah) bukan mimpi adalah hal yang lumrah terjadi di kalangan wali kelas atas, dan hal tersebut termasuk karomah yang menjadi tanda kesempurnaan ma’rifah mereka.
  10. Al Khatmul Auliya’ Al Quthbul Maktum adalah pewaris tunggal dan khusus dari Rasulullah SAW.

Sebelum melangkah klebih jauh, mari kita renungkan secara jernih dan mendalam hadits Rasulullah SAW berikut ini:

اَلعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنبِيَاءِ لَمْ يَرِثوُا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا، وَإِنَّماَ وَرَثوُا العِلْمَ وَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَهُ بِحَظٍّ وَافِرٍ. (رواه البخاري)

“Al Ulama’ (dalam pengertian Al Auliya’) adalah pewaris para Nabi (bukan para Rasul), mereka tidak mewariskan dinar dan dirham (harta kekayaan), dan mereka semata mata hanya mewariskan ilmu, dan barangsiapa yang mengambilnya, maka ia mengambil ilmu itu dengan keberuntungan yang banyak sekali”. (HR. Bukhori)

Jadi berdasarkan hadits Nabi SAW tersebut diatas, jelas bahwa para auliya’ adalah pewaris ilmu, asrar, fuyudhat dan tajalliyat serta nur para Nabi dari Nabi Adam as sampai nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu ada diantara mereka yang cara dakwah dan thariqah serta karomahnya yang mirip Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Sulaiman, Nabi Ayyub dll. Yang mewarisi Nabi Ayyub as mengalami sakit kulit parah sampai keluar nanah terus menerus, di kerubungi lalat berkepanjangan sampai dikucilkan, orang lain melihatnya dengan rasa jijik, kasihan dan lain lain. Tapi dia sendiri bisa menikmati kebahagiaan hidup hakiki dalam kondisi tersebut serta tetap istiqamah, asik beribadah dan munajat kepada Allah SWT.

Ada yang mewarisi Nabi Sulaiman as, hidup dengan kekayaan melimpah tapi hatinya tidak pernah bergeser dari kelezatan sejati yaitu terpusatnya pandangan dan perhatian mereka ke Hadrah Al Qudsiyyah. Ada yang mirip Nabi Musa as yang dihadapkan pada berbagai tantangan ummat yang sangat jahil. Sok pinter, culas dan lain sebagainya. Dia dapat karomah seperti mukjizat Nabi Musa as bisa melawan sihir, menghidupkan kembali orang maupun hewan yang sudah mati atas izin Allah SWT.

Adapun wali yang menjadi pewaris tunggal dan sekaligus juga wasithah (perantara) antara Sayyidul wujud Rasulullah SAW dengan para awliya’ adalah wali Allah yang berpredikat Al Quthbul Maktum wal Khatmul Muhammadiy. Dia adalah Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra. Karena memang dia yang menyandang predikat dan martabat tersebut, maka hanya dia pula yang bisa menjelaskan secara tepat dan akurat tentang kedudukan tersebut dan tugasnya. Untuk itu berikut ini kami kutip pernyataan beliau yang tertulis dalam kitab Rimah sebagai berikut:

أَنَّ القُّطْبَ الْمَكتُومِ هُوَالوَاسِطَةُ بَيْنَ الأَنبِيَاءِ وَالْأَولِيَاءِ, فَكُلُّ وَلِيِّ اللهِ تَعَالَى مِن كِبَرِ شَأنِهِ وَمِنْ صِغَرِ لاَيَتَلَقَّى فَيْضًا مِنْ حَضَرَةٍ النَّبِيِّ إِلاَّ بِوَاسِطَتِهِ رَضِيَ اللهُ عَنهُ مِن حَيْثُ لاَيَشعُرُ بِهِ وَمَدَدِهِ الخَّاصُ بِهِ.إِنَّماَ يَتَلَقَّاهُ مِنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلاَ اَطْلاَعَ ِلأَحَدٍ مِنَ الأَنبِيَاءِ عَلَيهِمُ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى فَيْضِهِ الخَاصُ بِهِ ِلأَنَّ لَهُ مَشرَبًا مَعَهُمْ مِنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ. (رماح -ج :2 \ص:14)

Sesungguhnya Al Quthbul Maktum adalah wasithah (perantara) antara para Nabi dan para Auliya’. Maka seluruh Wali Allah baik yang berpangkat tinggi maupun yang rendah, tidak menerima limpahan karunia yang (mengalir) dari para nabi kecuali melalui wasithah (perantara) Al Quthbul Maktum radliyallaahu anhu itu dari arah yang tidak mereka sadari. Dan madad (pemberian karunia) khusus kepadanya hanya menerima (langsung) dari Sayyidul Wujud SAW. Dan tak seorang nabipun yang tahu terhadap limpahan khusus tersebut, karena untuk mereka (para Nabi) juga mempunyai sumber limpahan tersendiri dari Rasulullah SAW. (Rimah: juz 2 /14).

  1. Al Quthbil Maktum Wal Khatmil Auliya’ Al Muhammadiy Al Khashah adalah Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra.

Dari semua uraian dan penjelasan tersebut diatas, kita sudah mengerti siapa sebenarnya Al Quthbul Maktum Wal Khatmul Auliya’ Al Muhammadiy Al Khashah. Dia mempunyai banyak kemiripan bahkan kesamaan yang amat sangat dekat dengan Rasulullah SAW. Dan wali yang mirip dan hampir bisa dikatakan sama persis dengan pribadi Rasulullah SAW hanya satu. Dialah pewaris tunggal ilmu, sifat, asrar, fadhail, fuyudhat dan tajalliyat serta berbagai kekhususan Khatmul Anbiya’ wal Mursaliin Nabi kita Muhammad SAW. Dialah orangnya, yaitu Sayyidul Auliya’ Al Quthbi Al Maktum Wal Khatmi Al Muhammady Al Ma’luum sayyiduna wa habibuna Abul Abbas Ahmad bin Muhammad At Tijany ra.

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

TAFSIR SURAT AL-KAFIRUN DAN ALASAN KENAPA IMAM SHOLAT SERING MEMBACANYA

Tafsir Surah Al-Kafirun

Surah al-Kafirun merupakan wahyu ke-18 yang diterima oleh Kanjeng Nabi Muhammad di Mekkah (Makiyyah). Ada ulama lain yang mengatakan bahwa surah al-Kafirun adalah wahyu yang ke-19. Nama lain dari surah al-Kafirun adalah al-Munaabadzah, al-Mu’abadah, Ikhlasul Ibadah, al-Musyaqsyaqah dan lainnya. Surah ini terdiri atas 6 ayat, 26 kata dan 74 huruf.

Ada peristiwa yang mengiringi turunnya surah ini sebagaimana tertulis dalam kitab Tafsir Marah Labid karya Syekh Nawawi Al-Bantani. Setelah Rasulullah menyampaikan ajaran Islam, beberapa tokoh musyrik merasa bahwa ajaran Muhammad mengancam ajaran mereka. Untuk itu, tokoh-tokohnya datang kepada Rasulullah. Mereka adalah al-Walid bin Mughirah, Ash bin Wail, Aswad bin Abdul Muthalib dan Umayyah bin Khalaf.

Mereka datang ke hadapan Rasulullah dan mengusulkan untuk berkomporomi dan berdamai di antara dua belah pihak. Mereka mengatakan:

“Hei Muhammad, bagaimana kalau beberapa waktu (selama setahun) engkau mengikuti agama kami. Sembahlah berhala dan tuhan-tuhan kami. Dan sebaliknya selama beberapa lama (setahun) kami akan mengikuti agamamu dan menyembah Tuhanmu. Kita menyembah tuhan-tuhan dengan bergantian. Kalau ajaranmu benar, maka kami bisa selamat. Begitu juga sebaliknya. Kalau ajaranmu yang benar, kami bisa selamat.”

Nabi Muhammad saw menolak dengan tegas tawaran ini sebab tidak mungkin Rasulullah menerima ajaran yang bertolak belakang dengan wahyu yang sudah diterima dari Allah. Tidak mungkin Rasulullah menyembah sesembahan orang kafir Mekkah. Untuk menjawab tawaran orang musyrik tersebut, turunlah surah al-Kafirun.

    Katakanlah, “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah men]adi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku.”

Di dalam Tafsir at-Thabari, disebutkan sebuah riwayat lain yang berasal dari Ibnu Abbas. Ibnu Abbas menyebutkan bahwa orang kafir Quraisy menjanjikan Rasulullah dengan harta agar beliau bisa menjadi orang yang paling kaya di negeri Mekkah. Selain itu juga beliau dijanjikan untuk menikah dengan wanita yang diinginkannya. Bahkan beliau dijanjikan akan diberi tahta kerajaan.

Mereka berkata, “Wahai Muhammad ini untukmu semua. Berhentilah untuk mencaci maki tuhan-tuhan kami. Jangan menyebut mereka dengan hal-hal yang buruk. Jika kamu tidak mau melakukannya, maka kami akan memaparkan satu permintaan yang lain, yang mana hal ini akan memberikan kebaikan kepada kita bersama,”

“Apa itu?” tanya Kanjeng Nabi.

Mereka menjawab, “Engkau sembah tuhan-tuhan kami Lata, `Uzza setahun dan kami sembah Tuhanmu selama setahun pula.” Lalu Nabi menjawab dengan surah Al-Kafirun.

Riwayat dari Ibnu Abbas ini merupakan atsar sahabat. Ibnu Abbas menjelaskan tentang Asbabun nuzul surah ini, sedangkan riwayat pertama yang bersumber dari Sa`id Mina adalah merupakan hadis. Hadis ini juga merupakan Asbabun nuzul tentang surah ini.

Inti dari kedua riwayat tersebut adalah bahwa orang kafir Qurays memberikan penawaran dengan mengajak Rasulullah agar Rasul mau menyembah Tuhan mereka. Akan tetapi semua ajakan dan bujukan kafir Qurays tidak mampu mempengaruhi ketegaran Rasul untuk tetap menyampaikan dakwah Islam.

Peristiwa kedatangan tokoh-tokoh kafir ini membuktikan bahwa sebenarnya tantangan dakwah Rasulullah bukan hanya berupa tantangan fisik. Kedatangan mereka sebenarnya ingin mengajak diskusi agar menemukan titik temu antar ajaran agar tidak terjadi perselisihan. Sehingga bisa dikatakan bahwa ini merupakan salah satu ujian intelektual kepada Rasulullah di hadapan umatnya.

Karena bimbingan Allah, Rasulullah bisa mengalahkan argumen tokoh-tokoh kafir yang mendatanginya. Untuk itu jika para ulama sekarang mendapatkan tantangan intelektual dalam dakwahnya, maka tantangan itu juga harus dijawab dengan jawaban yang cerdas pula.

Di dalam ayat yang pertama disebutkan “Katakanlah, Hai orang-orang yang kafir,” jika melihat asbabun nuzul surah ini, maka kata orang-orang kafir (al-kafirun) yang disebutkan adalah tokoh-tokoh yang mendatangi Kanjeng Nabi. Bukan semua orang kafir. Mengapa?

Sebab ayat berikutnya disebutkan aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Jika orang-orang kafir yang disebut di dalam surah ini adalah semua orang kafir baik yang ada sejak zaman Kanjeng Nabi sampai sekarang, maka ini tidak sesuai dengan kenyataan. Sebab ada beberapa orang kafir yang kemudian masuk Islam dan menyembah Allah.

Sedangkan tokoh-tokoh kafir yang mendatangi Rasulullah tidak akan beriman selama-lamanya. Buktinya mereka mati di dalam kekafiran.

Quraish Shihab menjelaskan bahwa Nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah untuk mengatakan kepada orang-orang yang membencinya untuk menjelaskan keyakinannya secara jelas dan konsisten kepada orang-orang kafir. Bahwa tidak ada kompromi dalam hal akidah dan beliau tidak akan menyembah dengan apa yang disembah oleh orang-orang kafir. Sampai kapan pun. Sebab orang-orang kafir menyembah berhala yang berbeda-beda tergantung tempat, situasi dan kondisi.

Ayat kedua dalam surah Al-Kafirun menyebutkan, “Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah.” Ayat ini merupakan penegasan bahwa di masa ini dan di sampai kapan pun Kanjeng Nabi tidak akan menyembah sesembahan orang-orang kafir yang mendatangi Nabi. Rasulullah juga  tidak akan menempuh dan tidak pula meniru cara penyembahan kepada patung-patung tersebut.

Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Maksudnya, kalian tidak usah mengikuti perintah-perintah Allah di dalam beribadah. Dua ayat ini sangat berhubungan dengan ajakan orang kafir agar Kanjeng Nabi Muhammad mau menyembah sesembahan pembesar kaum musyrik di satu waktu. Begitu pula sebaliknya.

Menurut Muhammad Abduh dalam tafsir Al-Manaar bahwa ayat kedua dan ketiga menegaskan tentang perbedaan subtansial mengenai al-ma’bud (yang disembah). Sedangkan ayat keempat dan kelima menegaskan tentang perbedaan subtansial mengenai ibadah yang dilakukan oleh masing-masing pemeluk agama. Dengan demikian, ma’bud antara orang musyrik dan orang Islam tidak sama, dan ibadah pun tidak sama.

Yang disembah oleh umat Islam adalah Tuhan Yang Maha Esa, Yang tidak ada tandingan atau perantara bagi-Nya; Yang Maha Agung sehingga mustahil Ia akan menampakkan diri-Nya dalam diri seseorang tertentu; Yang Maha Pelimpah karunia-Nya kepada siapa pun yang mengikhlaskan diri kepada-Nya; Yang dengan keperkasaan-Nya menghukum siapa pun yang memusuhi hamba-hamba-Nya: yang menyampaikan ajaran-ajaran-Nya dengan penuh ketulusan.

Sedangkan yang disembah oleh orang kafir Makkah berlawanan sifatnya secara diametral dengan Tuhan orang Islam. Demikian pula ibadah umat Islam benar-benar murni untuk Dia saja; sedangkan ibadah orang-orang kafir makkah bercampur dengan kemusyrikan, dan disertai dengan kelalaian akan Allah Swt., maka pada hakikatnya, ia dapat disebut ibadah.

Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.

Menurut Imam al-Qurthubi, perbedaan ayat ketiga dan kelima yang redaksinya persis sama (keduanya berbunyi: wa laa antum aabiduuna maa a’bud), bahwa sementara ulama membedakannya dengan memberi arti yang berbeda terhadap makna maa tersebut. Huruf maa antara lain berarti “apa yang”, dan ketika itu dalam istilah kebahasaan dinamai maa maushuulah dan bisa juga berfungsi mengubah kata yang ketika itu dinamai dengan masdariyah.

Menurut ulama, maa pada ayat ketiga (demikian pula pada ayat kedua) berarti “apa yang”, sehingga wa laa antum ‘aabiduuna maa a’bud berarti “kamu tidak akan menjadi penyembah apa yang yang sedang dan akan aku sembah.” Sedangkan, maa pada ayat kelima (demikian ayat keempat) adalah masdariyah, sehingga kedua ayat ini berbicara tentang cara beribadah: Aku tidak pernah menjadi penyembah dengan (cara) penyembahan kalian; kalian pun tidak akan menjadi penyembah-penyembah dengan cara penyembahanku.

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Kitab Marah Labid menyebutkan Rasulullah selain tidak akan menyembah berhala, beliau juga sebelumnya tidak pernah menyembah apa yang disembah oleh orang kafir. Begitu pula dengan tokoh-tokoh musyrik yang mendatangi Nabi. Sebelum Rasulullah menerima wahyu dan setelah menerima wahyu, mereka tetap menyembah sesembahannya.

Quraish Shihab mengatakan dalam ketiga ayat paling awal dari surah al-Kafirun disimpulkan bahwa Allah berpesan kepada Nabi-Nya, Muhammad Saw., untuk menolak secara tegas usul yang mereka ajukan sekarang tetapi juga menegaskan bahwa tidak mungkin ada titik temu antara Nabi Saw., dengan tokoh-tokoh tersebut. Karena, kekufuran sudah demikian mantap dan mendarah daging dalam jiwa mereka, serta kekerasan kepala mereka telah mencapai puncaknya sehingga tidak ada sedikit harapan atau kemungkinan, baik masa kini maupun masa mendatang, untuk bekerja sama dengan tokoh-tokoh tersebut.

Kemudian dilanjutkan dengan ayat keenam, Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku. At-Thabari (tahun 838-923 M/ 310 H) memberi penjelasan bahwa keseluruhan isi surah al-Kafirun ini dimaksudkan untuk menyembah Allah. Dan Ayat terakhir menjadi sikap tegas Rasulullah untuk mengatakan berbeda dengan mereka. Agama Rasulullah berbeda dengan ajaran orang Kafir. Biarkan itu berbeda tapi perlu dicampur adukkan. Syekh Nawawi menyebutkan bahwa lakum diinukum waliyadin ditafsirkan oleh ulama lain dengan lakum hisaabukum waly hisaaby. Artinya Kamu akan mendapatkan balasan dari apa yang kamu lakukan dan aku akan mendapatkan balasan atas apa yang aku kerjakan.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa surah ini menjadi kekuatan Nabi Saw., untuk menyatakan berlepas diri dari perbuatan yang dikerjakan oleh orang-orang musyrik dan perintah kepada umat muslim pula untuk selalu berbuat ikhlas kepada Allah. Tidak ada jalan untuk mengabdi kepada Allah kecuali dengan mengikuti risalah yang dibawa oleh Nabi Saw.

Diantara waktu yang dianjurkan untuk membaca surat ini adalah ketika ingin tidur, sebagaimana dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

“Bacalah ketika engkau hendak tidur: qul yaa ayyuhal kaafiruun, Kemudian tidurlah setelah engkau selesai membacanya. Sesungguhnya surat tersebut sebagai pelepas dari kesyirikan”. HR Ahmad 39/224 no: 23807.

Salah satu keutamaan dari surah ini adalah Kanjeng Nabi Muhammad biasa meruqyah dirinya dengan membaca surah ini. Seperti dijelaskan oleh at-Thabarani didalam Mu’jam al-Shaghir dari hadisnya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Bahwa Nabi Muhammad pernah mengatakan, “Semoga Allah melaknat kalajengking yang tidak membiarakan seseorang mengerjakan sholat tidak pula yang lainnya.” Kemudian beliau meminta diambilkan air dan garam, lalu beliau mengusapkan pada bekas sengatannya sambil membaca surah Al-Kafirun, surah Al-Falaq dan surah An-Naas.

 

Mengapa Imam Salat di Kampung Suka Baca Surah al-Kafirun?

Para imam di masjid-masjid kampung umumnya punya surat andalan sewaktu memimpin salat berjamaah: Magrib. Untuk rakaat pertama bacaannya surah al-Kafirun dan rakaat kedua bacaannya surah al-Ikhlas.

Kebiasaan membaca surah andalan ini ternyata bukan karena mereka tidak punya hapalan surat lain. Bahkan tak sedikit mereka yang hafal Alquran, tapi yang mereka baca hanya surat-surat itu. Kenapa mereka membaca dua surah itu?

Ada dua jawaban. Pertama, mengamalkan hadis Rasulullah: “Jika salah satu di antara kalian menjadi imam maka hendaknya meringankan bacaan dan gerakan karena dalam jamaahnya ada anak kecil, orang tua, orang yang memiliki keperluan. Namun jika salat sendirian maka lakukan sekuasa kalian” (Mutafaq alaihi). Membaca surah al-Kafirun dan al-Ikhlas bertujuan meringankan bacaan salat berjamaah.

Kedua, untuk merekonstruksi iman dan Islam. Seseorang ketika membaca surah al-Kafirun hakekatnya sedang melakukan evaluasi diri, bukan melaknat orang lain yang tak seakidah. Dari evaluasi diri ini diharapkan sifat-sifat tertutup, congkak, ingkar, dan lain-lain. yang menunjukkan sifat kufur (ingkar) dapat diperbaiki secara bertahap. Cara memperbaikinya dengan cara mengingatkan diri melalui bacaan surah al-Ikhlas.

    Bacaan surah al-Kafirun dan surah al-Ikhlas dapat diibaratkan seperti pembaruan sistem aplikasi seorang muslim. Imam spesialis bacaan surah al-Kafirun dan surah al-Ikhlas berperan sebagai aplikator yang bekerja memperbaiki perangkat khusus orang Islam yang tak berfungsi maksimal.

Apa perangkat khusus orang Islam itu?

“Islam” yang disebut dalam Alquran sebanyak delapan kali dalam arti agama identik dengan komunitas khusus. Yakni komunitas muslim yang memiliki perangkat dan sistem khusus pula yang dibangun lewat jejaring “salam” yang berarti penghormatan dan keselamatan.

Untuk membuktikan hal itu, perhatikan ayat-ayat berikut ini: Q.S. Yunus: 9-10, salam adalah penghormatan buat orang-orang yang saleh;

Alquran surah al-Ahzab ayat 56: salam merupakan bentuk penghormatan ummat kepada nabi yang dijunjungnya. Alquran surah an-Nuur ayat 61: salam adalah penghormatan antara seseorang kepada sahabatnya. Alquran surah an-Nuur ayat 27: salam merupakan penghormatan kepada tuan rumahnya. Dalam Alquran surah as-Shaffat: salam diulang beberapa kali sebagai penghormatan kepada para rasul.

Dengan demikian, perangkat Islam adalah model jejaring yang menginduksikan rasa hormat dan menyebarluarkan keselamatan kepada umat manusia.

Imam di masjid-masjid kampung spesialis bacaan surah al-Kafirun ketika membaca qul ya ayyuhal kafirun bukanlah bertujuan menyinggung non-muslim. Toh yang berjamaah semuanya orang Islam. Tetapi surah al-Kafirun selalu dibaca tiap rakaat pertama sekedar untuk mengingatkan; apa di antara yang salat sudah tertanam rasa hormat-menghormati?

Jika belum, imam di masjid kampung itu mengingatkan dengan bacaan surah al-Ikhlas, agar semua menyadari bahwa hidup tidak boleh egois. Manusia tidak bisa hidup sendiri sebab manusia bukan Tuhan.

Sebagai umat beragama manusia harus hormat kepada Tuhannya dan para rasul perantara-Nya. Sebagai makhluk sosial manusia harus saling menghormati antar sesama umat manusia.

Imam di mesjid kampung itu telah menggugah kesadaran kaumnya agar semua yang mengaku muslim dapat menjadi pribadi yang salim. Yaitu pribadi yang selalu melakukan penghematan kepada Tuhan dan siapa saja agar terajut rasa aman, nyaman, dan sentosa sesuai ajaran Islam rahmatan lil alamin.

Imam masjid di kampung berperan laksana orangtua yang mengajarkan kepada anak-anaknya: Ayooo Nak! Saliiim… (Salami orang-orang yang ditemui). Bukankah kita juga begitu ngajari anak-anak sewaktu ketemu orang?

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

INILAH CARA BERDZIKIR KALIMAH THOYYIBAH YANG PALING SEMPURNA

Cara Yang Paling Sempurna Untuk Berzikir

 لآ إله إلا الله محمد رسول الله

Menurut Imam Sanusi Dalam kitab Ummul Barahin.

Berzikir dengan kalimah لآ إله إلا الله محمد رسول الله adalah sebuah ibadah sunnah yang sangat besar pahalanya. ini dikarenakan kalimat tersebut adalah kalimat syahadah yang nilainya di sisi Allah sangat tinggi dan juga mengandung bermacam-macam rahasia dan kelebihan yang amat banyak, Namun untuk meraih segala keagungan dan kelebihan kalimah tersebut, diperlukan cara khusus dalam berzikir agar hasil dan fadhilahnya sempurna.

Untuk itu kami akan mencoba menjelaskan cara yang paling sempurna untuk berzikir لآ إله إلا الله محمد رسول الله menurut Imam Sanusi dalam kitabnya Ummul Barahin berikut ini.

  1. Mengambil wudhu, memakai pakaian suci, mencari tempat suci, khalwah semampunya, mencari waktu-waktu mulia seperti setelah subuh sampai munculnya matahari, setelah ashar sampai tenggelamnya matahari, antara magrib dan isya dan waktu sahur.

  1. Mengucapakan :

بتوفيقك أمتنا لا لأمرك مستعينا بك اللهم إني أستغفرك يا مولاى وأتوب اليك من جميع الصغائر والكبائر وهواتف الخواطر

  1. Membaca ta’awudz :

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

  1. Membaca Ayat Ke 20 dari Surat Al- Muzammil:

۞ وَمَا تُقَدِّمُواْ لِأَنفُسِكُم مِّنۡ خَيۡرٖ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ هُوَ خَيۡرٗا وَأَعۡظَمَ أَجۡرٗاۚ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمُۢ. ٢٠

Artinya : “ Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ”.

  1. Istighfar 100 kali.

  1. Membaca ta’awudz.

  1. Membaca dalam hati Ayat :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

  1. Menghadirkan (Membayangkan) betapa besarnya kedudukan dan keagungan Nabi Muhammad SAW di sisi Allah taala dalam hati.

  1. Mengucapkan :

لبيك مولاى وسعديك والخير كله في يديك وها هو العبد الفقير الحقير راكن لمنيع جنابك متوسل اليك بأفضل أحبابك يقول بتوفيقك ممتثلا لأمرك ومستعينا بك فى جميع أموره.

  1. Membaca Sahalawat Kepada Nabi SAW sebanyak 500 kali dengan membayangkan seolah-olah nabi hadir dihadapan kita, contoh shalawatnya :

أللهم صلّ على سيدنا محمد نبيك ورسولك وخليلك صلاة اَرْقَى بها مراقي الإخلاص، وأنال بها غاية الاختصاص ، وسلم تسليماً عدد ما أحاط به علمك وأحصاه كتابك.

  1. Membaca Tahmid (Puji-Pujian) Sebanyak 3 atau 7 kali dengan menghayati akan besarnya nikmat Allah yang telah memberikan Taufiq bagi kita untuk memulai dan menyelesaikan bacaan Shalawat dan mensyukurinya, yaitu misalnya dengan membaca :

الحمدلله ألذي انعم علينا بنعمة الإيمان والإسلام وهدانا بسيدنا ومولانا محمد عليه من الله تعالى افضل الصلاة و ازكى السلام. الحمدلله هدانا لهذا وماكنا لنهتدي ان هدانا ألله ، لقد جاءت رسل ربنا بالحق.

  1. Membaca Ta’awudz ( أعوذ بالله من الشيطان الرجيم )

  1. Membaca Firman Allah Surat Muhammad ayat 19 : فاعلم انه لآ إله إلا الله

  1. Mengucapkan Doa :

لبيك مولاي وسعديك، والخير كله في يديك ، وها هو العبد الفقير الحقير يوحدك بالتهليل منخلعا من كل شرك ومن كل تغيير وتبديل بقوله مخلصا من قلبه ذاكرا لربه لآ إله إلا الله محمد رسول الله صلى الله عليه و سلم.

  1. Membacakan Dzikirلآ إله إلا الله محمد رسول الله dengan selalu menghayati maknanya sampai habis Jumlahnya (200 / 300 / 400 / 500 kali atau seterusnya seberapa banyak yang sanggup dibaca).

Demikianlah Cara berzikir “Laailahaillallah” yang paling sempurna yang insya Allah bila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan manfaat yang sangat besar juga. Wallahu ‘Alam Bisshawab,

Referensi : Kitab Hasyiah Dusuki ‘ala Ummul Barahin Halaman 230.

KISAH SUFI : ULAMA SUFI DAN KUCINGNYA SERTA ANJING YANG MENJADI PENYEBAB MASUK ISLAMNYA ORANG MONGOLIA

Anjing menjadi penyebab 40.000 orang mongol masuk islam.

Bila dilihat dari sudut hukum fikih, anjing merupakan salah satu dari dua najis yang dianggap berat (mughaladzah). Cara mensucikannya pun tidak seperti najis biasa, melainkan harus dibasuh tujuh kali yang salah satunya dicampur debu.

Memandang hukum ini, tentu kita akan berfikiran bahwa anjing adalah hewan yang hina, rendah dan tidak berfaedah. Namun, Allah Swt telah menjelaskan dalam Alquran (44/38) bahwa Dia tidak menciptakan langit, bumi dan isinya dengan tanpa faedah, semua adalah hak. Kita tidak boleh mencela apa pun yang ada di bumi, sekalipun itu seekor anjing.

Jauh sebelum Muhammad Saw diutus dengan syariat Islam, Allah telah memberi pelajaran berharga kepada Abdul Ghafar dengan seekor anjing. Ia adalah Nabi Nuh, kronologi penamaan ini karena kisah yang dialaminya dengan anjing. Muhammad bin Hammad Ibnu Iyas al-Mishri dalam kitab Badai’ al-Zuhur fi Waqai’ al-Duhur mengkisahkan, Imam Kisai berkata bahwa, nama Nuh adalah Abdul Ghafar atau Yasykur. Disebut Nuh karena saat ia melihat seekor anjing bermata empat ia berkata, “Sungguh anjing ini sangat buruk.”

Tiba-tiba anjing itu berkata, “Hai Abdul Ghafar, Yang kamu cela ukiran atau Dzat Yang mengukir? Apabila celaan itu untuk ukirannya, sungguh, seandainya aku bisa memilih, aku tidak ingin menjadi anjing, dan apabila celaan itu untuk Dzat Yang mengukir, maka sama sekali celaan itu tidak patut untuk-Nya, karena Dia adalah Dzat yang melakukan apapun yang dikehendaki.”

Setelah itu, Abdul Ghafar yanuhu (meratap atau menangis)  dan menangisi atas dosa dan kesalahannya. Karena banyaknya dia menagis maka dia disebut Nuh (meratap).

Setelah itu, Ada kisah seekor anjing penjaga Ashabul Kahfi. Mereka adalah para pemuda yang teguh mempertahankan iman dari raja yang keji. Mereka melarikan diri, keluar dari kota. Di tengah perjalanannya mereka diikuti seekor anjing. Hingga akhirnya anjing ini menjaga mereka selama di gua. Ulama berkomentar, anjing ini disebut Qithmir, ia akan masuk surga sebagaimana Ashabul Kahfi. Kisah lengkap perjalanan Ashabul Kahfi diabadikan oleh Allah dalam Alquran surat al-Kahfi.

Kisah yang lebih menakjubkan terjadi di Mongol. Sebab seekor anjing, 40.000 warga Mongol masuk Islam. Kisahnya tercatat dalam kitab Mu’jam al-Syuyukh milik Imam al-Dzahabi dan  Al-Durar al- Kaminah milik Ibnu Hajar al-Asqalani. Ibnu Hajar berkata:

“Suatu ketika para pembesar Nasrani berkumpul di Mongol. Mereka datang menghadiri upacara besar yang diselenggarakan sebab salah satu pemerintah Mongol masuk Nasrani. Dalam upacara tersebut, seorang pembicara dari Nasrani mencaci-maki Nabi Saw. Dan di sampingnya ada seekor anjing yang di rantai. Ketika orang itu mulai mencaci Nabi, anjing itu menggeram, memberontak, lalu meloncat dengan mengincar lehernya. Hewan ini menggigitnya sangat keras. Para penjaga sampai kesulitan melepaskan gigitannya, dan baru berhasil mereka lepaskan dengan susah payah. Sebagian audient berkata:

“Ini terjadi sebab ucapanmu (yang mencela) terhadap hak Muhammad Saw.”

Nasrani menjawab, “Bukan, anjing ini hanya membela diri, dia melihatku menggerak-gerakkan tangan sehingga menyangka aku akan memukulnya.”

Setelah itu, dia kembali mencaci Muhammad, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Sontak, anjing itu langsung memutus rantai, dan melompat menerkam lehernya, ia menggigitnya dengan sangat keras. Seketika itu ia meninggal. Melihat kejadian itu 40.000 orang Mongol masuk Islam.”

 

Ulama Sufi dan kucingnya

Dalam sejarah umat manusia, salah satu hewan yang memiliki hubungan dekat dengan manusia adalah kucing. Keberadaannya secara alamiah banyak memberi manfaat kepada kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung.

Secara langsung, keberadaan kucing yang tinggal di rumah-rumah dan pasar, dalam mencari mangsanya mereka menjadi predator tikus, sehingga pada saat yang sama kucing menjaga gudang makanan manusia dari ancaman tikus.

Secara tidak langsung, keberadaan kucing banyak menjadi pelipur lara bagi beberapa orang yang merasa sendiri. Melihatnya bermain di taman-taman kota bias menurunkan tingkat stres.

Keberadaan kucing menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan umat manusia, meskipun kucing bukan hewan yang dikonsumsi, kecintaan manusia kepada kucing itu tulus, walau kadang kebaikan mereka tidak dibalas dengan kebaikan yang sama oleh kucing.

Dari dahulu hingga sekarang, dari barat sampai timur banyak peribahasa dan cerita-cerita heroik tentang hubungan manusia dan hewan lucu berkaki empat ini. Ada sebuah hikayat yang menarik tentang mengapa bentuk kucing itu mirip dengan singa.

Konon, pada saat Nabi Nuh melakukan misi penyelamatan dari azab banjir bersama umatnya yang taat, tidak ketinggalan di dalam kapal yang mereka naiki juga terdapat tikus. Namun rupanya tikus-tikus itu dengan cepat berkembang biak dan mengancam stok makanan yang ada di kapal. Khawatir kehabisan bahan makanan karena dimakan tikus, Nabi Nuh berdoa kepada Allah agar dikeluarkan dari masalah yang sedang menimpanya dan umatnya.

Sebagai jawaban atas doa Nabi Nuh, Allah memerintahkan singa-singa untuk bersin. Maka keluarlah dari hidung-hidung mereka kucing-kucing lucu. Riwayat lain mengatakan bahwa Nabi Nuh mendapat wahyu untuk memegang kepala atau memasukkan jari-jarinya ke dalam hidung singa sehingga singa itu bersin dan keluar dari hidungnya dua hewan kecil yang bentuknya mirip seperti singa.

Dalam tradisi Islam kucing juga kerap kali disebutkan dan menjadi sumber pelajaran hidup (ibrah). Misalnya, ada satu dari sahabat Nabi ada yang memiliki julukan bapak kucing, Abu Hurairah. Julukan itu ia dapat karena dirinya sangat menyayangi kucing

Sebaliknya, terdapat juga sebuah hadis yang menceritakan ada seorang perempuan menjadi calon penghuni neraka karena mengikat seekor kucing, namun tidak diberi makan dan tidak melepasnya untuk mencari makan.

Cerita tentang hubungan antara kucing dengan manusia juga bayak ditemukan dalam tradisi tasawuf. Misalnya, Ahmad ar-Rifai. Pada satu ketika ada seekor kucing yang tidur di atas jubah ar-Rifai, Sampai waktu salat tiba, kucing tersebut masih saja tidur dengan nyenyaknya. Melihat betapa jubahnya digunakan sebagai alas tidur kucing, ar-Rifai tidak tega membangunkan.

Dia lebih memilih untuk memotong bagian jubah yang ditempati oleh kucing, dan menggunakan jubah yang bolong untuk salat. Setelah ar-Rifai selesai melaksanakan salat, si kucing sudah bangun dan pergi meninggalkan potongan jubahnya.

Cerita yang sedikit mirip dinisbahkan kepada Syaikh Baqi Billah. Pada Suatu malam Baqi Billah bangun untuk melaksanakan salat tahajud. Namun, di atas selimut yang dia gunakan ada seekor kucing tidur yang membuatnya tidak bisa bangun. Khawatir si kucing terbangun, Baqi Billah rela tidak bangun Sampai waktu subuh datang.

Abu Bakar as-Sibli seorang sufi dari kota Baghdad meninggal pada tahun 334 H. Setelah kematiannya, salah satu dari sahabatnya bertemu dengan as-Sibli dalam mimpinya. Lalu dia bertanya, “bagaimana Allah memperlakukan kamu wahai Sibli?”

Sibli menjawab, bahwa ia diperlakukan secara istimewa oleh Allah. Sibli melanjutkan ceritanya:

Dia (Allah) bertanya kepadaku, “Sibli, tahukah kamu kenapa saya memperlakukan kamu dengan sedemikian baik?” Saya menjawab, karena saya mengerjakan perbuatan-perbuatan baik. Kemudian Allah menjawab, “Bukan.” Saya jawab lagi, karena saya beribadah dengan ikhlas dan tulus. Allah masih menjawab, “bukan.”

Saya jawab lagi, karena saya haji, puasa dan salat. Allah masih menjawab, “bukan.”

Saya bingung, apa yang membuat saya diperlakukan dengan sebaki ini.

Lalu Allah menjelaskan, “Kamu ingat, kamu pernah pergi ke sebuah jalan di salah satu pojok kota Baghdad, di sana kamu menemukan seekor anak kucing yang kedinginan dan dengan penuh kasih sayang kamu merawatnya.” Lalu saya menjawab, “Iya Ya Allah, saya ingat itu.”

“Karena kamu telah memperlakukan kucing itu dengan penuh kasih sayang, saya memperlakukan kamu dengan perlakukan yang sama.”

Cerita-cerita di atas menggambarkan betapa kucing memiliki tempat yang sangat istimewa dalam hati manusia terutama para ulama tasawuf (sufi). Kecintaan mereka tulus. Tanpa pamrih.

Tentu, memberikan perlakukan baik kepada kucing adalah sebuah praktik yang tidak boleh berhenti pada kucing saja. Apa yang telah dilakukan oleh para sufi kepada kucing juga mesti diterapkan kepada hewan-hewan yang lain. Adalah terang bahwa Allah memerintahkan kita umat manusia untuk memperlakukan hewan dengan baik, apalagi dengan sesama manusia.

Kucing adalah simbol pihak yang ketika diberikan kebaikan tidak membalas. Tetapi kendati demikian, kebaikan harus tetap diterapkan kepada siapa pun. Karena pada dasarnya tugas kita sebagai manusia adalah menyebarkan kebaikan kepada semua makhluk yang ada. Hal ini sebagaimana diperintahkan oleh Allah dalam hadis Qudsi,

“Sayangilah apa yang ada di bumi, maka Dzat yang ada di langit akan menyayangimu” (HR. At Thabrani dalam al Mu’jam al Kabir, Shahihul Jaami’ no. 896)

Sementara balasan adalah urusan Allah, bukan urusan orang yang kita perlakuan dengan baik. Bahwa kebaikan dilakukan bukan untuk mendapatkan balasan atas apa yang kita lakukan.