MENGENAL RAHMAT ALLOH SWT. PERBEDAANYA DENGAN PARA MANUSIA


لايلزم أن تكون وسيما لتكون جميل
Kau tak perlu berwajah cantik / tampan untuk dikatakan sebagai seorang yang cantik/ tampan

ولا مداحا لتكون محبوبا
Dan tak perlu memuji-muji karena kau mau menjadi seorang yang disukai

ولا غنيا لتكون سعيدا
Dan tak perlu menjadi kaya untuk menjadi seorang yang bahagia

يكفي أن ترضي ربك وهو سيجعلك عند الناس جميلا و محبوبا و سعيدا
Cukuplah dengan membuatkan Tuhanmu ridho dan kasih kepadamu, maka pasti DIA akan menjadikanmu cantik/ tampan dan indah di mata manusia, disukai dan disenangi oleh semua, serta hidup bahagia

لو أصبت 99 وأخطأت مرة واحدة
Seandainya engkau melakukan 99 kebaikan, tetapi Berbuat kesalahan sekali

لعاتبوك بالواحدة وتركوا ال 99
Maka manusia akan menyalahkanmu dengan kesalahanmu yang satu itu, dan melupakan semua 99 kebaikanmu yang lain

هؤلاء هم البشر
Itulah hakikat manusia!

و لو أخطأت 99 مرة وأصبت مرة
Tetapi seandainya engkau melakukan 99 kesalahan, dan cuma sekali melakukan perkara kebaikan

لـغفر الله ال 99 وقبل الواحدة
Maka Allah Ta’ala akan mengampuni semua 99 kesalahanmu bahkan DIA akan menerima amal baktimu yang satu itu

ذاك هو ربي
Itulah Dia Tuhanku!

Astaghfirullahal azhiim min kulli dzanbin azhiim

MENGETAHUI KEUTAMAAN DO’A NABI YUNUS AS.


Fadhilah Ayat/Do’a Nabi Yunus as.

(لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ)
YAITU : Meraih Segala Kebaikan Dan Menolak Segala Keburukan

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي عِمْرَانُ بْنُ بَكَّار الكَلاعي، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا أَبُو يَحْيَى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، حَدَّثَنِي بِشْر بْنُ مَنْصُورٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ قَالَ: سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ مَالِكٍ -وَهُوَ ابْنُ أَبِي وَقَّاصٍ-يَقُولُ: سَمِعْتُ رسولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “اسْمُ اللَّهِ الَّذِي إِذَا دُعي بِهِ أَجَابَ، وَإِذَا سُئِل بِهِ أَعْطَى، دعوةُ يُونُسَ بْنِ مَتَّى”. قَالَ: قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، هِيَ لِيُونُسَ خَاصَّةً أَمْ لِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ؟ قَالَ: هِيَ لِيُونُسَ بْنِ مَتَّى خَاصَّةً وَلِلْمُؤْمِنِينَ عَامَّةً، إِذَا دَعَوْا بِهَا، أَلَمْ تَسْمَعْ قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: {: فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ} . فَهُوَ شَرْطٌ مِنَ اللَّهِ لِمَنْ دَعَاهُ بِهِ”

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Imran ibnu Bakkar Al-Kala’i, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Abu Yahya ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepadaku Bisyr ibnu Mansur, dari Ali ibnu Zaid, dari Sa’id ibnul Musayyab yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sa’d ibnu Abu Waqqas mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Asma Allah yang apabila disebutkan dalam doa, pasti Dia memperkenankannya; dan apabila diminta dengannya, pasti memberi, yaitu doa Yunus ibnu Mata.” Sa’d bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah doa itu khusus bagi Yunus ataukah bagi seluruh kaum muslim?” Rasulullah Saw. menjawab, “Doa itu bagi Yunus ibnu Mata secara khusus dan bagi kaum mukmin semuanya secara umum, jika mereka meyebutkannya di dalam doanya. Bukankah kamu telah mendengar firman Allah Swt. yang mengatakan, ‘Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap. Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman’ (Al-Anbiya: 87-88). Ini merupakan syarat dari Allah bagi orang yang mengucapkannya di dalam doanya.”

Sumber:

  • Al Bidayah wan Nihayah
  • Khozinatul Asror : 81

KHUTBAH JUM’AT : PENJELASAN SPEKTAKULERNYA AYAT YANG MENERANGKAN PERISTIWA ISRO MI’ROJ NABI MUHAMMAD SAW.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ أَنْعَمَ عِبَادَهُ كَثِيْرَةً لَا تُحْصَى وَلَا تُسْتَقْصَى. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِدَنَا وَمَوْلَانَا محمدًا ﷺ قَائِدُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْوَرَى. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا محمدٍ أَشْرَفِ عِبَادِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلِى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أما بعد فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قال الله تعالى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم، سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Ma’asyiral hadirin, jamaah Jumat hafidhakumullah, Pada kesempatan yang mulia ini, di tempat yang mulia ini, kami berwasiat kepada pribadi kami sendiri dan juga kepada para hadirin sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan selalu berusaha melaksanakan perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya.

Semoga usaha takwa kita bisa menjadikan sebab kita kelak pada waktu dipanggil Allah subhanahu wa ta’ala, kita meninggalkan dunia ini dalam keadaan husnul khatimah, amin ya Rabbal ‘alamin. Hadirin hafidhakumullah, Ketahuilah bahwa Allah adalah sang pencipta (khaliq) alam raya. Kita semua diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Antara Allah dan kita, mempunyai dimensi yang berbeda.

Dimensi di sini tidak berarti ruang dan tempat, namun dimensi dalam arti esensi. Analogi untuk mendekatkan logika kita, misalnya kita sebagai manusia dengan jin, masing-masing mempunyai dimensi yang berbeda. Tapi jin di sini masih membutuhkan tempat, ruang dan waktu. Allah tidak butuh itu semua. Allah tidak membutuhkan apa pun. Allah berada pada dimensi ilahi, kita berada pada dimensi insani. Kita diberikan penutup (hijab) antara Allah dan kita. Bukan karena Allah jauh dengan kita yang menjadikan kita tidak bisa melihat Allah. Allah sangat dekat dengan kita bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Kita tidak bisa menyaksikan Allah karena kita mempunya hijab sehingga kita tidak bisa mengakses dimensi Allah. Walaupun demikian, Allah tetap bisa secara penuh mengawasi kita semua. Allah menciptakan semua hamba baik dari kalangan jin maupun manusia dengan tujuan untuk menyembah kepada-Nya.

Dalam menyampaikan kehendak-Nya, Allah mengutus para Nabi yang di antaranya adalah Nabi Muhammad ﷺ untuk menyampaikan risalah ilahiyah. Hikmahnya, manusia yang berada pada dimensi yang penuh hijab dan tidak sama dengan dimensi Tuhan, bisa menjadi tahu atas apa yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui perantara utusan-Nya. Contohnya adalah bagaimana Allah memerintahkan umat Muhammad untuk menjalankan ibadah shalat lima waktu.

Kita sebagai manusia tidak akan bisa memahami atas apa yang dikehendaki oleh Allah tersebut tanpa melalui rasul (utusan Allah) yang menyampaikan informasi-informasi penting. Barulah kemudian kita menjadi tahu bahwa misalnya Allah menghendaki kita sebagai umat manusia diperintah secara wajib untuk menjalankan shalat lima waktu. Kewajiban shalat lima waktu ini dimulai setelah Nabi Muhammad di-isra’-kan (diperjalankan oleh Allah di waktu malam) dari Masjidil Haram, kota Makkah menuju Masjidil Aqsha, Palestina, kemudian di-mi’raj-kan (dinaikkan) dari Masjidil Aqsha menuju Sidratil Muntaha.

Perjalanan malam Nabi Muhammad ini merupakan perjalanan yang menakjubkan. Betapa tidak? Jika kita sehari-sehari mengungkapkan syukur menggunakan kalimat alhamdulillah, mendapatkan musibah dengan innalillah, di dalam sebuah hal yang menakjubkan, kita disyariatkan untuk membaca subhanallah.

Di dalam Al-Qur’an, pada kisah isra’ mi’raj ini Allah berfirman menggunakan kata subhana sebagaimana yang tertera pada ayat pertama surat al-Isra’:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS al-Isra’: 1).

Pada kalimat سُبْحَانَ الَّذِي, Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan, kalimat subhâna di sini menunjukkan saking agungnya Allah ta’ala. Hanya Allah saja yang mampu menjalankan Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Palestina dan Palestina sampai langit ke-7 hanya dalam waktu tidak sampai satu malam.

Bahkan dalam satu riwayat mengisahkan, setelah Nabi Muhammad melakukan isra’ mi’raj, tempat tidurnya masih hangat dan tempayan bekas Nabi melakukan wudhu tadi belum sampai kering. Ini adalah keajaiban yang luar biasa. Hanya Allah yang bisa melakukan yang mana bumi dan seisinya di bawah kendali-Nya.

Keajaiban yang mencengangkan tersebut sangat sesuai jika memakai kata subhana. Tentang suhana, Ibnu Katsir mengatakan:

يُمَجِّدُ تَعَالَى نَفْسَهُ، وَيُعَظِّمُ شَأْنَهُ، لِقُدْرَتِهِ عَلَى مَا لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ أَحَدٌ سِوَاهُ، فَلَا إِلَهَ غَيْرُهُ

Artinya: “Allah ta’ala mengagungkan Dzat-Nya sendiri, mengagungkan keadaan-Nya, karena kekuasaan-Nya atas sesuatu yang tidak mampu dilakukan siapa pun selain Dia. Tiada Tuhan selain Dia.” (Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, [Dar Thayyibah: 1999], juz 5, hlm. 5).

Ats-Tsa’labi menyatakan bahwa kalimat subhana berarti kalimat ta’ajjub وَيَكُوْنُ سُبْحَانَ بِمَعْنَى التَّعَجُّب

Artinya: “Subhana di ayat ini mempunyai arti sebuah keajaiban yang menakjubkan.” (Tafsir Ats-Tsa’labi, juz 6, hlm. 54).

Banyak juga ulama yang menjelaskan, subhana pada ayat ini mempunyai makna penyucian dari segala kekurangan. Apabila dalam menjajaki kemampuan Allah dalam memperjalankan Nabi Muhammad pada malam hari dengan acuan akal yang terbatas sehingga Allah dianggap tidak mampu, maka Allah disucikan dari anggapan yang seperti demikian ini.

Hadirin… Dalam isra’ mi’raj, apakah hanya ruh Nabi ataukah ruh dan jasadnya sekaligus?

Ulama berbeda pendapat. Menurut mayoritas ulama, Nabi di-isra’-kan meliputi ruh dan jasad sekaligus. Hal ini berdasarkan apabila yang di-isra’-kan hanya ruh saja, berarti Nabi Muhammad sama dengan mimpi. Jika isra’ hanya sebuah mimpi saja, maka hal tersebut tidak merupakan kejadian luar biasa yang sampai Allah memakai istilah subhana pada ayat di atas.

Yang membuat fenomenal pada kegiatan isra’ mi’raj Nabi itu keajaiban perjalanan dengan ruang yang besar, namun waktunya sedemikian singkat. Ini yang luar biasa itu.

Hadirin hafidhakumullah, Pada kalimat selanjutnya, أَسْرَى بِعَبْدِهِ Allah tidak menyandarkan kalimat subhâna dengan lafadz Allah, tapi dengan asra, kebesaran Allah yang menjalankan di waktu malam kepada hamba-Nya. Di sini Allah juga tidak menyebut Nabi Muhammad dengan menyebut namanya, tapi malah menyifati Nabi Muhammad yang diperjalankan di waktu malam memakai istilah عَبْدِهِ “hamba-Nya”.

Kenapa Allah lebih memilih memberi label Nabi Muhammad hanya dengan predikat “hamba” padahal ini merupakan kejadian yang fenomenal?

Sebagian mufassir seperti Imam Al-Qusyairi mengatakan, hanya “hamba” yang memahami posisinya sebagai hamba yang bisa memahami kebesaran Tuhannya. Sehingga apabila Tuhan melakukan apa pun, walaupun tidak masuk akal di otak hambanya, ia bisa memahami bahwa bagi Tuhan yang posisinya tidak sama dengan hamba, mampu melakukan hal yang seolah mustahil di mata hambanya tersebut.

Sebagian ulama menyatakan, peniadaan status Nabi Muhammad sebagai Nabi yang prestise di sini supaya Nabi Muhammad tidak mempunyai sifat ujub. Sebagian ulama lain lagi mengungkapkan, hal ini untuk mengagungkan Allah semata dan sebagai bentuk tawadhu’ Nabi Muhammad.

Hadirin hafidhakumullah, Perjalanan Nabi pada isra’ mi’raj bukan atas inisiatif dan kemauan beliau, tapi murni atas kehendak Allah “yang menjalankannya”. Oleh karena itu, masuk akal atau tidak, bagi seorang hamba harus mengedepankan posisinya sebagai hamba dan mengagungkan ketuhanan Allah yang mampu melakukan apa saja dan hamba tersebut menomorduakan akalnya yang serba terbatas.

Kalau kita menengok sejarah, memang orang Arab waktu itu tidak semuanya dengan mudah memahami isra’ mi’raj Nabi Muhammad dengan landasan logika saja. Mungkin, apabila dilogikakan hari ini, di saat dunia sudah banyak kecanggihan teknologi, kita akan bisa mendekatkan pikiran ke arah sana. Dahulu, saat isra’ mi’raj ini berlangsung, masyarakat terlampau jauh untuk menganalogikannya. Bagaimana jarak antara Makkah sampai Palestina yang panjangnya sekitar 1.500 km itu hanya ditempuh dalam waktu sangat singkat? Di dunia modern ini, jarak yang sedemikian jauh, jika ditempuh dengan naik unta atau kuda bisa berminggu-minggu, kita bisa meringkasnya dengan pesawat yang mungkin hanya membutuhkan waktu sekitar tiga jam saja. Lebih dekat lagi, bagaimana kalau kita membayangkan teori jalannya cahaya. Pada hari ini, kita di Indonesia jika akan ke Amerika menggunakan pesawat bisa menghabiskan seharian baru sampai di sana. Namun bagaimana dengan kecepatan teknologi telepon atau Whatsapp? Pada detik ini kita mengirim pesan baik gambar, tulisan atau suara, detik itu pula sampai ke sana. Dengan logika apa pun, mungkin hal seperti ini tidak akan masuk pada logika orang di zaman Nabi Muhammad. Oleh karena itu, dalam urusan agama walaupun agama itu banyak yang rasional, tapi kita tetap harus memposisikan otak kita di belakan penghambaan kita kepada Allah.

Perjalanan malam Nabi Muhammad yang fenomenal itu menghasilkan sebuah perintah shalat lima waktu dengan kisah yang cukup panjang. Yang perlu kita garisbawahi di sini, shalat adalah sebuah perintah yang melalui momen sakral, fenomenal. Oleh karena itu kita harus malu jika sampai meninggalkan shalat. Kita selalu mengingat dan merayakan sesuatu dalam rangka mengingat momen-momen penting dan fenomenal dalam hidup kita. Kita lahir, sebuah hal fenomenal dalam hidup kita, kita rayakan itu. Momen menikah yang fenomenal, kita kenang itu. Lalu Nabi Muhammad pernah mengalami suatu kejadian fenomenal dari Allah. Dalam kejadian fenomenal tersebut, Allah mewajibkan kita semua untuk menjalankan shalat lima waktu. Dengan demikian, shalat lima waktu bukanlah hal yanga sepele seperti kita beli makanan ringan, kita sarapan pagi, tidak. Tapi sebuah pekerjaan yang ditugaskan oleh Tuhan melalui perjalanan fenomenal untuk menerima tugas tersebut.

Pada hari ini, saat kita menjalankan shalat, kita sedang menjalankan perintah Tuhan yang sangat besar nilainya. Itu berarti bahwa shalat bukan hal yang bisa kita kesampingkan. Mari kita jaga shalat kita. Harapan kita, kelak, saat kita meninggalkan dunia ini, dalam keadaan menetapi iman Islam, tidak meninggalkan shalat. Kita meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah, amin ya Rabbal alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَجَعَلَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاِت وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ هُوَ البَرُّ التَّوَّابُ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ. أعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيْم، بسم الله الرحمن الرحيم، وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣) وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرّاحِمِيْنَ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ، فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينْ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَعَنْ سَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

KEUTAMAAN PARA NABI DAN PERINTAH MENGUCAPKAN INSYAALOH KETIKA PUNYA CITA-CITA

Keistimewaan Para Nabi Yang Tidak Dimiliki Manusia Biasa

Para nabi dan rasul adalah manusia-manusia terbaik pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengemban risalahnya. Mereka Allah pilih sebagai penyambung antara Allah dan para hamba-Nya di muka bumi ini. Para nabi dan rasul ini juga memiliki keistimewaan tertentu dan diantaranya tidak dimiliki oleh manusia biasa.

Yang perlu kita ingat adalah, setiap Allah memuliakan para nabi dan rasul, berarti beban syariat mereka lebih banyak atau lebih besar dari manusia biasa. Demikianlah adanya, ketika kemuliaan bertambah maka beban syariat semakin besar. Sebagai contoh, seorang laki-laki secara jenisnya lebih utama disbanding wanita, maka beban syariat untuk laki-laki lebih besar disbanding wanita. Allah berfirman,

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An Nisa: 34)

Dalam ayat ini laki-laki memiliki beban syariat berupa kewajiban member nafkah bagi istrinya, sedangkan perempuan tidak dibebankan demikian. Laki-laki juga diwajibkan shalat 5 waktu secara berjamaah di masjid, sedangkan wanita tidak, berjihad, dll.

Demikian juga para nabi dan rasul, rasul lebih mulia daripada nabi, dan diantara para rasul ada ulul azmi yang lebih mulia dari rasul-rasul lainnya, maka semakin mulia, semakin bertambah beban syariat.

Diantara keistimewaan nabi dan rasul adalah:

Para nabi dan rasul memiliki fisik yang lebih baik dari manusia biasa. Sebagaimana Nabi Musa yang kuat, Nabi Yusuf memiliki setengah ketampanan, dan secara umum tidak ada nabi dan rasul yang cacat. Allah anugerahkan mereka akhlak yang mulia. Para nabi dan rasul terjaga dari akhlak yang rendah, agar orang-orang tidak mencela mereka ketika mereka berdakwah dan menyeru kepada kebaikan saat diperintahkan berdakwah. Memiliki nasab atau silsilah keturunan yang baik atau dari anak-anak keluarga yang dipandang di masyarakatnya. Para nabi dan rasul adalah orang-orang yang cerdas. Sebagaiman kisah Nabi Ibrahim yang berdialog dengan ayahnya dengan cara yang santun, berdialog dengan kaumnya dan Raja Namrud dengan argumentasi yang tidak terbantahkan. Demikian juga nabi dan rasul lainnya. Kesabaran mereka tidak tertandingi. Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun hanya dengan segelintir pengikut, yang tidak lebih dari 10 orang. Para nabi menerima wahyu. Terjaga dari dosa, apalagi sampai berbuat syirik. Oleh karena itu, tidak bernah apa yang dikatakan oleh orang-orang filsafat bahwasanya Nabi Ibrahim sempat mengalami fase pencarian Tuhan. Saat tidur, hati mereka tetap terjaga. Berbeda dengan kita manusia biasa seperti kita, ketika tidur maka hati kita pun tertidur; tidak berdzikir dan mengingat Allah atau aktivitas hati lainnya. Ketika nyawa mereka hendak dicabut, maka Allah berikan pilihan; agar tetap kekal di dunia atau berjumpa dengan Allah. Sebagaimana Nabi Muhammad yang memilih “ila rofiqul a’la”. Jasad para Nabi tidak hancur di kubur-kubur mereka. Ketika wafat, harta mereka tidak diwariskan akan tetapi menjadi sedekah. Oleh karena itu Abu Bakar tidak mengabulkan Fathimah radhiallahu ‘anha tentang peninggalan Nabi Muhammad. Hal ini yang sering dijadikan orang Syiah untuk mencela Abu Bakar. Dimakamkan di tempat mereka wafat. Sebagaiman Nabi Muhammad yang wafat di kamar ummul mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, maka beliau di kubur di kamar sang istri tercinta. Para nabi dan rasul khusus dari kalangan laki-laki, tidak dari wanita. Para nabi dan rasul adalah orang-orang merdeka, tidak seorang pun di antara mereka adalah budak. Para nabi didoakan, oleh karena itu sering disertai nama-nama Nabi dengan shallallahu ‘alaihi wa sallam atau ‘alaihissalam karena shalawat adalah diantara kekhususan para nabi. Doa para nabi, doa yang mustajab. Para nabi dan rasul memiliki telaga di akhirat kelak untuk umat-umat mereka. Walaupun hadis tentang ini diperselisihkan oleh para ulama, apakah selain Nabi Muhammad juga memiliki telaga. Adapun tentang telaga Nabi Muhammad para ulama sepakat tentang keshahihannya. Para nabi dan rasul adalah orang yang tinggal di perkotaan, bukan dari kalangan badui atau desa. Para nabi tidak mengalami mimpi “basah”, karena mimpi yang demikian adalah mimpi yang berasal dari setan. Mimpi para nabi dan rasul adalah sesuatu yang akan menjadi kenyataan. Ketika para nabi dan rasul melihat sesuatu dalam mimpi mereka, maka hal itu akan terjadi. Sebagaimana mimpi Nabi Yusuf di kala kecil, melihat matahari, bulan, dan bintang bersujud kepadanya.

Para Nabi Pun Diperintahkan Mengucapkan Insya Allah

Para nabi dan rasul adalah wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi ini. Mereka adalah orang-orang yang Allah cintai, mereka mengemban risalah langit untuk mendakwahi manusia agar menyembah Allah semata dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Walaupun Allah mencintai mereka, tidak mesti Allah Subhanahu wa Ta’ala merealisasikan apa yang mereka harapkan. Mereka masih dianjurkan untuk mengucapkan insya Allah (atas kehendak Allah) ketika mencita-citakan sesuatu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala pernah menegur Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lantaran ada seorang yang bertanya kepada beliau tentang suatu perkara, lalu beliau besok saya jawab –dengan keyakinan wahyu dari Allah akan turun-. Ternyata wahyu mengenai jawaban terkait tidak kunjung turun dan ketika wahyu datang malah berupa teguran kepada beliau agar mengucapkan insya Allah. Demikian juga kejadian yang dialami Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sulaiman bin Daud ‘alaihissalam pernah berkata, ‘Sungguh, saya akan menggilir seratus istri saya pada malam ini. Semuanya akan melahirkan anak yang ahli berkuda yang akan berjuang di jalan Allah.’ Lalu temannya berkata kepadanya, ‘Katakanlah ‘Insya Allah’,’ tetapi Nabi Sulaiman tidak mengatakan ‘insya Allah’. Ternyata dari semua istrinya tersebut yang hamil hanya seorang istrinya, itupun hanya melahirkan separuh anak. Demi Dzat yang menguasai jiwaku, seandainya Nabi Sulaiman mengucapkan ‘Insya Allah’, pastilah mereka semua akan berjuang di jalan Allah sebagai pasukan berkuda.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain yang terdapat di dalam kitab ash-Shahihain juga bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berkata, ‘Sungguh, saya akan menggilir tujuh puluh istri saya pada malam ini. Masing-masin akan melahirkan seorang pasukan berkuda yang berjuang di jalan Allah.’ Akan tetapi beliau tidak mengucapkan ‘Insya Allah’. Lantas beliau pun menggilir mereka. Ternyata yang hamil hanyalah seorang istri yang melahirkan separuh anak, lantas anak tersebut dibawa ke atas kursi Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, lalu diletakkan di pangkuannya. Demi Dzat yang menguasai jiwaku, seandainya Nabi Sulaiman ‘alaihissalam mengucapkan ‘Insya Allah’, pastilah mereka semua akan berjuang di jalan Allah sebagai pasukan berkuda.” Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan sungguh, Kami telah menguji Sulaiman.” (QS. Shad: 34)

Para nabi dan rasul yang merupakan wali-wali Allah pun masih diajarkan beradab kepada Allah untuk mengatakan insya Allah ketika mencita-citakan sesuatu, apalagi kita yang manusia biasa.

TUJUAN BERIBADAH KEPADA ALLOH SWT MENURUT IMAM GHOZALI ROHIMAHULLOH

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi atau populer dengan sebutan Imam al-Ghazali, dalam mukadimah karyanya, Kitab Minhajul ‘Abidin, mengawali dengan mengingatkan kepada kita tentang ibadah (baca: menghamba) kepada Allah Swt.

Pengingat atau renungan dari Imam al-Ghazali ini untuk menyadarkan kembali kepada kita tentang ibadah sebagai jalan menuju Allah, menuju ridla Allah dan surga Allah.

Hal ini menjadi sangat penting sekali, mengingat seluruh umat Islam melakukan ibadah sebagai wujud ketaatannya kepada Allah. Namun jangan sampai ibadah yang sudah dilakukan itu menjadi ibadah yang sia-sia, melakukan ibadah hanya karena keterpaksaan dari sebuah kewajiban tanpa memahami makna di dalam pelaksanaan ibadah itu sendiri.

Ibadah yang sia-sia tidak mengantarkan seorang hamba kepada keridlaan Allah dan surga Allah. Padahal tujuan dari ibadah tidak lain adalah ridla Allah dan surga Allah.

Menurut Imam al-Ghazali, ibadah adalah buah dari ilmu, faedah dari umur, hasil jerih payah hamba-hamba Allah yang kuat, barang berharga dari aulia’ Allah, jalan yang ditempuh oleh orang yang bertaqwa, imbalan bagi orang yang luhur, tujuan orang yang memiliki tujuan mulia, petanda orang yang mulia, perbuatan orang yang berani melakukan kebajikan, pilihan orang yang waspada, jalan kebahagian dan jalan menuju surga.

Dalam mendeskripsikan tentang ibadah di atas, Imam al-Ghazali juga mengajak untuk memahami tentang ibadah, sebagaimana dalam firman Allah:

وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

Artinya: “Dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku” (QS. Al-Anbiya’: 92)

إِنَّ هذَا كَانَ لَكُمْ جَزَاءً وَ كَانَ سَعْيُكُمْ مَشْكُوْرًا

Artinya: “Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)”. (QS. Al-Insan: 22).

Dari deskripsi ini dapat dipahami bahwa ibadah adalah wujud menghamba kepada Allah dengan melakukan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya, hingga kemudian Allah memberikan balasan atas usaha yang telah dilakukan oleh hamba berupa surga.

Tidak berhenti di situ saja, kemudian Imam al-Ghazali mengajak untuk berpikir dan menyadari tentang ibadah di atas, mulai dari awal hingga tujuan akhir, yakni surga yang itu sangat diharapkan oleh orang yang menjalankan ibadah.

Ternyata untuk menuju tujuan tersebut merupakan suatu perjalanan yang amat sulit, penuh lika-liku, halangan dan rintangan banyak sekali yang harus dilalui, cobaan yang selalu mengelilingi, berbagai macam musuh yang harus dihadapi, sedangkan orang yang mau diajak untuk ibadah agar sampai tujuan tersebut sedikit, bahkan orang yang mau menolong pun juga sedikit.

Dalam hal ini, Imam al-Ghazali tidak bermaksud menakut-nakuti, akan tetapi ini sebuah kenyataan yang perlu disadari dan dihadapi oleh orang mukmin. “Demikian keadaannya, dan ini wajib ditempuh meskipun memang terlihat menyulitkan, sebab ibadah nantinya sebagai jalan menuju surga”, kata Imam al-Ghazali.

Penjelasan Imam al-Ghazali ini bukan tanpa dasar, ini sebagaimana dalam hadits Nabi Muhammad Saw:

عَنْ اَنَس رضِيَ اللَّه عنْهُ قَال : قَال رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم حُفَّتِ اْلجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ رواه مسلم

Artinya: “Surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka dikelilingi dengan kesenangan-kesenangan.” (HR. Muslim)

أَلَا إِنَّ عَمَلَ الْجَنَّةِ حَزْنٌ بِرَبْوَةٍ – ثَلَاثًا – أَلَا إِنَّ عَمَلَ النَّارِ سَهْلٌ بِسَهْوَةٍ . رواه احمد

Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya amal surga itu bagaikan tanah licin yang ada di bukit —sebanyak tiga kali—. Ingatlah, sesungguhnya amal neraka itu bagaikan tanah yang mudah dilalui yang berada di tanah datar” (HR. Ahmad)

Bukan hanya keadaan jalan yang sangat terjal dan penuh rintangan untuk sampai tujuan ibadah, namun juga keadaan diri manusia itu sendiri pun harus disadari.

Imam al-Ghazali mengatakan “manusia adalah makhluk yang lemah, tantangan zaman sangat berat sekali, keadaan keberagamaan kita selalu berputar kadang lemah dan kadang kuat, kesempatan sedikit sedangkan kita selalu disibukkan dengan urusan dunia yang begitu banyak.

Umur kita hidup di dunia pendek, sedangkan Allah Yang Maha Mengetahui dan Teliti terhadap segala aktiftas yang kita jalani selama hidup di dunia. Kematian semakin dekat sedangkan perjalanan jauh yang harus ditempuh agar sampai tujuan, maka satu-satunya bekal adalah ketaatan, sebab waktu yang telah berlalu tidak akan kembali”.

“Beruntunglah dan berbahagialah orang-orang yang taat kepada Allah, dan sebaliknya rugilah dan celakalah orang-orang yang tidak mau taat kepada Allah Swt”, jelas Imam al-Ghazali.

Mengingat keadaan yang menyulitkan dan penuh resiko yang akan dihadapi dalam melakukan ibadah agar sampai tujuan, menurut Imam al-Ghazali jarang sekali orang yang mau menempuh perjalanan ini.

Di antara orang-orang yang mau menempuh perjalanan ini sedikit yang menjalankannya. Bahkan orang yang menjalankan ibadah dengan serius sangat sedikit, dan lebih sedikit lagi orang-orang yang mampu mencapai tujuan ibadah.

“Orang-orang yang berhasil inilah adalah umat yang mulia dan pilihan Allah untuk dapat ma’rifat dan mahabbah kepada Allah. Allah memelihara dan memberi taufik kepada mereka, dan dengan karunia-Nya, Allah mengantarkan mereka untuk sampai pada keridlaan dan surga-Nya”, kata Imam al-Ghazali.

Oleh karena itu, kita berdoa dan berharap kepada Allah, semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang beruntung dengan mendapatkan rahmat dari Allah

PESAN MORAL DAN RITUAL ROSULULLOH SAW ATAS ORANG YANG BERTAQWA

Kata takwa sering kita dengar. Setidaknya sepekan sekali karena pesan takwa (washiyat bit takwa) merupakan salah satu rukun khutbah Jumat. Kita diingatkan selalu untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Tetapi kita sendiri jarang mendengar pesan takwa Rasulullah. Syekh Ihsan M Dahlan Jampes Kediri dalam Kitab Sirajut Thalibin, anotasi atas Minhajil Abidin karya Imam Al-Ghazali menyebut hadits yang memuat sejumlah pesan takwa Rasulullah SAW.

Di luar dugaan, pesan takwa Rasulullah tidak berkaitan semata dengan kesalehan ritual, tetapi kesalehan sosial dan moral.

Syekh Ihsan Jampes pertama mengutip hadits takwa yang sangat terkenal sebagai berikut, (Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes Kediri, Kitab Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin,juz I, halaman 334).

عن أبي ذر قال قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم اتق الله حيثما كنت وأتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن

Artinya, “Dari Abu Dzar, ia berkata bahwa Rasulullah SAW berkata kepadanya, ‘Bertakawalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya hal itu dapat menghapusnya. Bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik’,” (HR At-Tirmidzi)

Pesan takwa Rasulullah SAW berikutnya berkaitan dengan sikap warga negara terhadap pemerintah. Hadits ini juga kemudian berkaitan dengan pandangan kelompok Ahlussunnah wal Jamaah berkaitan dengan sikap mereka terhadap negara.

عن أبي نجيح العرباض بن سارية رضي الله تعالى عنه قال وعظنا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم موعظة وجلت منها القلوب وذرفت منها العيون فقلنا : يا رسول الله كأنها موعظة مودع فأوصنا قال أوصيكم بتقوى الله عز وجل والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد حبشي

Artinya, “Dari Abi Najih Al-Irbadh bin Sariyah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW menasihati kami dengan sebuah pesan yang membuat hati takut dan air mata berlinang. Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah SAW, wejanganmu ini seakan nasihat terakhir. Berilah kami nasihat.’ Rasulullah menjawab, ‘Aku berpesan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah, patuh, dan taat sekali pun seorang budak Habsyi menjadi pemerintahmu,’” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Pesan takwa Rasulullah SAW yang dikutip Syekh Ihsan Jampes berikut ini berkaitan dengan solidaritas sosial dan akhlak komunikasi di ruang publik, yaitu semangat berbagi dan penyebaran konten media sosial yang baik.

قال عدي سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول اتقوا النار ولو بشقة تمرة فمن لم يجد شقة تمرة فبكلمة طيبة

Artinya, “Sahabat Adi berkata, ia mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘Takutlah kepada api meski hanya dengan (sedekah) sobekan kurma. Siapa saja yang tidak menemukan sobekan kurma, maka bisa dengan kalimat yang baik,’” (HR Bukhari). Pesan takwa Rasulullah SAW pada hadits berikut ini berkaitan dengan kesetaraan dan kemanusiaan. Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak ada satu kelompok dengan latar belakang suku, agama, ras, golongan yang mendapatkan posisi sosial lebih tinggi di atas sesamanya. Pasalnya, semua adalah manusia.

قام رسول الله صلى الله عليه وسلم وسط أيام التشريق، فقال يا أيها الناس إن ربكم واحد، وإن أباكم واحد، ألا لا فضل لعربي على أعجمي ولا لعجمي على عربي ، ولا أسود على أحمر ، ولا أحمر على أسود إلا بتقوى الله أنتم من آدم وآدم من تراب

Artinya, “Rasulullah SAW berdiri di tengah hari Tasyriq. Ia menyeru, ‘Wahai manusia, Tuhanmu satu. Nenek moyangmu juga satu. Ketahuilah, tidak ada kelebihan bangsa Arab di atas bangsa ajam (bangsa non-Arab), tidak ada kelebihan bangsa ajam di atas bangsa Arab, tidak ada kelebihan bangsa kulit hitam di atas bangsa kulit merah, dan tidak ada kelebihan bangsa kulit merah di atas kulit hitam kecuali sebab ketakwaannya kepada Allah. Kamu semua dari Nabi Adam. Nabi Adam dari tanah,’” (Musnad Abdullah Ibnul Mubarak).

Sedangkan pada hadits berikut ini, Rasulullah SAW menjelaskan siapa yang berhak disebut sebagai keluarganya. Pada hadits berikut ini, Rasulullah SAW menegaskan bahwa anggota keluarga beliau adalah orang-orang yang akhlak dan moralitas mencapai derajat ketakwaan.

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَنْ آل مُحَمَّدٍ؟ قَالَ كُلُّ تَقِىٍّ

Artinya, “Rasulullah SAW pernah ditanya perihal ‘Siapakah yang dimaksud dengan keluarganya?’ ‘Siapa saja yang bertakwa,’ jawab Rasulullah SAW,” (HR Baihaqi). Demikian sejumlah pesan takwa Rasulullah SAW dalam hadits yang dikutip oleh Syekh Ihsan M Dahlan Jampes Kediri dalam Kitab Sirajut Thalibin, anotasi atas Minhajil Abidin karya Imam Al-Ghazali. Semuanya mengandung pokok-pokok pikiran yang relevan dan abadi sepanjang zaman.

Walllahu a‘lam.

KEMULIAAN YANG DI PEROLEH DI DUNIA DAN AKHIRAT OLEH ORANG YANG BERTAQWA

14 Kemuliaan Orang Takwa yang Diperoleh di dunia

Di balik perintah Allah selalu tersimpan banyak keutamaan, kemuliaan, rahasia, dan hikmah yang sangat mendalam. Demikian halnya perintah takwa yang tersebar dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Secara bahasa, takwa berarti ‘takut’, ‘waspada’, atau ‘hati-hati.’ Makna bahasa ini pula yang kemudian berkembang menjadi makna istilahnya, dimana takwa diartikan sebagai rasa takut, waspada, dan hati hati atas apa yang telah ditetapkan Allah, baik perintah maupun larangan. Tak heran bila takwa dipahami sebagai kepatuhan atau ketaatan terhadap perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Selanjutnya, al-Ghazali merinci ada 40 keutamaan yang didapatkan orang yang bertakwa: 20 di dunia dan 20 di akhirat. Berikut ini adalah 20 keutamaan orang takwa yang akan didapatkan di dunia, namun dipadatkan dan digabungkan menjadi 14 poin dengan beberapa penjelasan seperlunya.

Pertama, mendapat pujian Allah, janji pembalasan dan karunia-Nya. Bayangkan betapa gembiranya seseorang saat mendapat sanjungan dari makhluk dan nama baiknya disebut-sebut di hadapan khalayak. Lantas bagaimana jika mendapat sanjungan dari Dzat Yang Maha Kuasa. Salah satunya dalam ayat berikut, Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar, (QS. Ali ‘Imran [3]: 171-172).

Kedua, mendapat ucapan terima kasih dan penghormatan dari Allah. Penghormatan dari makhluk saja terkadang membuat seseorang terhormat, merasa bangga dan mulia, bagaimana jika penghormatan itu datang Dzat Yang Maha Mulia.

Ketiga, dicintai oleh Allah. Permintaan apa pun terhadap sang kekasih, pasti diberi. Terlebih jika kekasihnya adalah Dzat yang memiliki segalanya. Hal itu salah satunya diungkapkan dalam ayat berikut, Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa, (QS. at-Taubah [9]: 7).

Keempat, urusannya ditangani, diatur, dan diawasi langsung oleh Allah, sebagaimana ayat perintah takwa berikut ini, yang diakhiri dengan janji pengawasan-Nya, Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu, (QS. An-Nisa’ [4]: 1).

Kelima, dihilangkan kesulitannya, selalu diberi jalan keluar bagi masalahnya, dan diberi rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka, sebagaimana firman Allah, Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya, (Q.S. ath-Thalaq [65]: 2-3).

Keenam, selalu ditolong dan dilindungi Allah dari perbuatan orang-orang yang zalim dan berniat buruk.

Ketujuh, selalu merasa ditemani dan diberi ketenangan, sehingga tidak takut terhadap keadaan apa pun, tidak takut terhadap perubahan dan kesulitan apa pun.
Kedelapan, dianugerahi kemuliaan diri, tidak mau direndahkan atau dilalaikan oleh dunia dan para pemiliknya. Interaksinya dengan dunia hanya sebatas di tangan saja, tidak sampai ke dalam hati kecuali yang berkaitan dengan urusan akhirat. Dirinya sadar akan ayat yang menyatakan, Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka, (QS. Al-An‘am [6]: 32).

Kesembilan, selalu diberi kelapangan dan kekayaan hati. Sedangkan orang yang kaya hati lebih kaya dari orang yang kaya dunia. Hatinya selalu diliputi ketenangan, tidak kaget dengan ujian dan tipu daya makhluk, tidak sedih dengan kehilangan sesuatu, sebab hatinya yakin apa pun yang menimpa Allah berasal dari Allah, sedangkan Dia adalah Dzat yang dicintainya. Kesepuluh, hatinya selalu terang dengan cahaya, petunjuk, rahasia Allah, hikmah, dan ilmu, sebagaimana firman Allah, Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. QS. Al-Baqarah [2]: 282).

Kesebelas, dicintai, dihormati, bahkan disegani oleh makhluk, baik oleh orang alim maupun orang awam, baik orang yang baik maupun orang yang jahat. Pasalnya, Allah meletakkan keagungan, kecintaan, dan karismatik pada dirinya, sehingga membuat orang lain segan dan tak berani melakukan sesuatu yang tak pantas.

Kedua belas, diberikan keberkahan dalam hidupnya. Keberkahan sendiri berarti bertambahnya kebaikan terhadap kebaikan yang ada. Keberkahan dalam ilmu, usia, harta, dan keturunan, misalnya. Semakin banyak ilmunya, semakin banyak amalnya. Semakin banyak hartanya, semakin banyak sedekahnya. Dan seterusnya.

Ketiga belas, doanya mustajab dan pembicaraannya tajam. Tidaklah meminta sesuatu kecuali dikabulkan oleh Allah, tidaklah meminta satu pertolongan, kecuali akan ditolong. Tidaklah melontarkan satu sumpah, kecuali akan terjadi.

Keempat belas, dibukakannya kunci-kunci kekayaan langit dan bumi. Apa pun yang diinginkannya, terkabulkan. Ingin makanan tertentu, misalnya, niscaya Allah akan mengabulkannya, baik melalui perantara makhluk maupun perantara malaikat. Bahkan, hewan buas sekalipun tunduk kepadanya.

Dua keutamaan terakhir ini lebih sering disebut dengan “karamah”, artinya perkara luar biasa yang mengalir dari tangan orang-orang takwa, orang saleh, takut pada Allah, dan orang-orang yang dikasihi-Nya (wali). Sehingga bilamana perkara itu keluar dari selain orang takwa atau selain orang saleh, maka bukanlah karamah, melainkan khidzlan, istidraj, atau idhlal. (Minhajul ‘Abidin, hal. 104-105).

14 Kemuliaan Orang Takwa yang Diperoleh di Akhirat

Selain anugerah di dunia, orang bertakwa juga memperoleh sejumlah karunia di akhirat kelak. Kenikmatan yang terakhir ini lebih dibutuhkan dan lebih hakiki. Ada 14 kemuliaan yang akan diraih orang takwa di akhirat.

Pertama, diringankan dan dimudahkan Allah pada saat sakaratul maut. Sakaratul maut sendiri merupakan sesuatu yang ditakuti para nabi, sehingga mereka senantiasa berdoa agar diringankan saat melewati peristiwa berpisahnya ruh dan jasad itu. Satu riwayat mengatakan, sakitnya dicabut nyawa ibarat dicabutnya sebuah besi berduri dari dalam perut sekaligus. Namun, tidak demikian halnya untuk hamba yang bertakwa. Kembali digambarkan dalam hadis, bagi orang takwa yang saleh, rasanya kematian tak lebih seperti dicabutnya sehelai rambut dari adonan tepung, sedangkan menurut riwayat lain, seperti air minum yang diteguk oleh orang yang sedang kehausan.

Kedua, diberikan keteguhan dalam mempertahankan makrifat dan keimanan kepada Allah. Tanpa keteguhan dari Allah, setiap hamba akan merasakan ketakutan dan kegelisahan yang, bahkan tak jarang berujung kesedihan dan penyesalan yang tiada tara. Keteguhan itu sebagaimana dijanjikan Allah swt. dalam Al-Qur’an, Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, (Q.S. Ibrahim [14]: 27).

Ketiga, diberikan kabar gembira, keridaan, dan rasa aman aman oleh Allah, sebagaimana dalam firman-Nya, Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu, (QS. Fushilat [41]: 30). Artinya, tidak akan ada ketakutan bagi orang yang bertakwa atas apa yang akan dihadapi di akhirat dan apa yang telah diperbuat di dunia.

Keempat, diselamatkan dari pertanyaan dan fitnah kubur. Berbeda dengan orang-orang yang kufur, orang-orang yang takwa seperti diajari dan dituntun dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Sebagaimana dalam sejumlah riwayat, pertanyaan pertama adalah tentang Tuhan yang disembahnya semasa di dunia. Pertanyaan kedua tentang agama yang dipeluk. Pertanyaan ketiga tentang rasul yang diutus di tengah umat manusia. Dan pertanyaan yang keempat tentang kitab dan amal-amal lainnya semasa di dunia.

Kelima, dilapangkan di dalam kuburnya, diberikan cahaya penerang, dan ditempatkan dalam salah satu taman surga Allah hingga hari kebangkitan. Salah satu hadis menyebutkan, usai sang hamba menjawab pertanyaan Munkar-Nakir dengan baik, terdengarlah seruan, “Maka hamparkanlah sebuah taman dari surga untuknya. Berilah pakaian dari surga untuknya. Bukalah sebuah pintu ke surga untuknya. Maka datanglah aroma wangi dari surga kepadanya. Dan dilapangkanlah kuburannya sejauh mata memandang.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan yang lain).

Keenam, dimuliakan ruhnya oleh Allah. Menurut satu riwayat, sebagian ruh mereka ada yang disimpan di dalam perut burung-burung khadhir bersama ruh para hamba yang saleh lainnya dalam keadaaan senang gembira atas karunia Allah yang dilimpahkan kepada mereka.

Ketujuh, diselamatkan dari huru-hara Kiamat, dibangkitkan dan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan agung nan mulia, wajah yang bersinar dan berseri-seri, seraya mengenakan pakaian mahkota dan pakaian kebesaran dan dipersiapkan untuk menatap tuhan mereka. Hal ini sejalan dengan firman-Nya, Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat, (Q.S. al-Qiyamah [75]: 22-23).

Kedelapan, diberikan kitab catatan amal dari depan atau dari belakang. Sedangkan, diberikan kitab catatan amal dari arah kiri atau belakangnya merupakan pertanda celaka bagi yang penerimanya. Di antara cara meraih catatan amal dari sebelah kanan setelah berusaha beramal salah adalah memperbanyak berdoa:
اَللَّهُمَّ آتِنِي كِتَابِي بِيَمِيْنِي وَحَاسِبْنِي حِسَاباً يَسِيْراً
“Ya Allah, berikanlah kitab catatan amalku dari sebelah kanan, dan hisablah aku dengan hisaban yang ringan.”

Kesembilan, diringankan dalam hisab (penghitungan amal), bahkan sebagian di antara mereka diloloskan tanpa hisab. Di antara faktor yang menyebabkan lamanya hisaban adalah harta kekayaan. Diriwayatkan, Nabi Isa ‘alaihissalam sebagai nabi termiskin, masuk surganya lebih dahulu lima ratus tahun dibanding Nabi Sulaiman ‘alaihissalam sebagai nabi terkaya. Keterlambatan Nabi Sulaiman itu diceritakan oleh Allah sebagai pelajaran bagi umatnya dan umat-umat berikutnya.

Kesepuluh, diberatkan timbangan amalnya, bahkan sebagian di antara mereka diloloskan dari timbangan ini. Semoga saja kita termasuk hamba yang diloloskan dari timbangan amal, setidak-tidaknya diberatkan amal saat melewati timbangan ini. Kaitan dengan timbangan amal, Rasulullah saw. pernah mengajarkan dua kalimat yang dapat memberatkan timbangan amal kebaikan kita, yaitu: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Kesebelas, dihadirkan dalam telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan dipersilakan minum airnya, dimana tidak ada seorang pun yang meneguk air itu kecuali tidak akan merasa haus lagi selamanya.

Kedua belas, dimudahkan dan diselamatkan dalam melintasi jembatan al-Shirath. Sementara jembatan al-Shirath sendiri merupakan jembatan yang menghubungkan antara surga dan neraka. Siapa pun yang tergelincir akan terjatuh ke dalam neraka. Sesuai dengan amal masing-masing, manusia yang melintasi jembatan ini ada yang secepat kilat, ada yang seperti berlari, ada yang berjalan biasa, ada pula yang merangkak. Tak hanya itu, bagi orang yang celaka, tajamnya jembatan itu lebih dari mata pedang.

Ketiga belas, diberikan syafaat dari para nabi dan rasul. Sebagaimana diketahui, syafaat terbesar (uzhma) sekaligus syafaat pembuka adalah syafaat Rasulullah saw. Setelah itu, barulah hamba-hamba yang lain diberikan kesempatan untuk memberikan syafaat.

Keempat belas, diberi balasan yang besar, dimasukkan ke dalam surga kenikmatan yang abadi, dan meraih rida Allah, bahkan bisa berjumpa langsung dengan-Nya, dimana kenikmatannya sungguh tak terkira, tak terhingga, dan tak bisa digambarkan kata-kata. (Lihat: al-Ghazali, Minhajul ‘Abidin, hal. 104-105)

ANCAMAN ROSULULLOH SAW. KEPADA ORANG YANG PANDAI ATAU ALIM ILMU AGAMA

ORANG ALIM ATAU PANDAI YANG DIANCAM RASULULLAH
بسم الله الرحمن الرحيم

Wahai anakku, Memberi nasehat itu mudah, yang sulit adalah menerimanya karena nasehat bagi orang yang menuruti nafsunya terasa pahit, sebab larangan-larangan itu justru dicintai dalam hatinya. Terlebih bagi seseorang yang mencari ilmu sebagai formalitas, sibuk pada prioritas nafsu dan prestasi keduniawian. Ia meyakini bahwa keselamatan dan kebahagiaannya hanya dengan ilmu an sich tanpa perlu mengamalkan. Yang demikian itu merupakan keyakinan para filosof –Maha Suci Allah Yang Maha Agung- . Orang yang terbujuk ini tidak mengerti bahwa saat ia memperoleh ilmu tanpa diamalkan terdapat dalil yang kuat seperti sabda Rosululloh SAW: Manusia yang paling berat mendapatkan siksa di hari qiyamat adalah orang yang mempunyai ilmu yang ilmunya tidak diberi kemanfaatan oleh Allah.
ايها الولد، النصيحة سهلة والمشكل قبولها، لانها في مذاق متبعي الهوى مرة. اذ المناهي محبوبة في قلوبهم، وعلى الخصوص لمن كان طالب العلم الرسمي ومشتغلا في فضل النفس ومناقب الدنيا. فانه يحسب ان العلم المجرد له سيكون نجاته وخلاصه فيه. وانه مستغن عن العمل وهذا اعتقاد الفلاسفة – سبحان الله العظيم- لا يعلم هذا المغرور انه حين حصل العلم اذا لم يعمل به تكون الحجة عليه آكد كما قال رسول الله –صلى الله عليه وسلم- : اشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لا ينفعه الله بعلمه.

Diriwayatkan bahwa Syaikh al Junaid -qaddasa Allahu sirrahu- dimimpikan setelah wafatnya, lalu ditanyakan padanya: “Apa kabar wahai Abul Qosim?” Beliau menjawab “Telah binasa ibarat-ibarat itu dan telah lenyap isyarat-isyarat itu, tidak ada yang bermanfaat bagiku kecuali rakaat-rakaat kecil di tengah malam”.
وروي أن الجنيد –قدس الله سره- رؤي في المنام بعد موته فقيل له: ما الخبر يا أبا القاسم ؟ قال: طاحت تلك العبارات وفنيت تلك الاشارات وما نفعنا الا ركيعات ركعناها في جوف الليل.

Wahai anakku, Janganlah kamu menjadi muflis (orang yang bangkrut) dari amal perbuatan dan jangan pula kosong dari ahwal[1]. Yakinlah ilmu tanpa amal tidak akan bisa membantu. Hal itu dicontohkan apabila ada seorang laki-laki di tengah hutan sambil memiliki sepuluh pedang Hindia dan beberapa senjata lain sementara itu ia pun seorang yang pemberani dan ahli perang. Kemudian ia disergap harimau yang besar dan ganas. Apa yang kamu pikirkan? Apakah senjata-senjata itu bisa menghalau kebuasan harimau tanpa digunakan dan dipukulkan? Tentu sudah jelas bahwa senjata tersebut tidak bisa menghalau kecuali digerakkan dan ditebaskan.
ايها الولد، لا تكن من الاعمال مفلسا ولا من الاحوال خاليا وتيقن ان العلم المجرد لا يأخذ باليد. مثاله لو كان على رجل في برية عشرة اسياف هندية مع اسلحة اخرى وكان الرجل شجاعا واهل حرب. فحمل عليه اسد عظيم مهيب، فما ظنك؟ هل تدفع الاسلحة شره عنه بلا استعمالها وضربها؟ ومن المعلوم انها لا تدفع الا بالتحريك والضرب.

Begitu juga apabila seseorang membaca, mengkaji 100.000 masalah keilmuan tanpa dipraktekan, maka semua itu tidak akan memberi manfaat sampai ilmu itu diamalkan. Sebagai contoh lagi jika seseorang terkena demam dan penyakit empedu (penyakit kuning) yang obatnya adalah dengan tumbuhan sakanjabin dan kaskab maka ia tidak akan sembuh kecuali dengan mengkonsumsi keduanya.
فكذا لو قرأ رجل مائة الف مسألة علمية وتعلمها ولم يعمل بها لا تفيد الا بالعمل. ومثله ايضا لو كان لرجل حرارة ومرض صفراوي يكون علاجه بالسكنجبين والكشكب فلا يحصل البرء الا باستعمالهما.

Jika engkau menakar 2000 kati arak, hal itu tidak akan menjadikanmu mabuk ketika kau tidak meminumnya.
كرمي دو هزار رطل همي يمائي * تامي نخورى نباشدت شيدائي.[2]

Ket :

[1] Ahwal (احوال) merupakan plural dari hal (حال). Dalam terminologi tasawuf hal adalah kondisi maknawi yang datang ke hati tanpa diupayakan seperti susah, cemas, gelisah, gembira dan lain-lain. Sehingga menuntut manusia untuk beramal dan berbuat sesuai dalam kondisinya. Seperti ketika senang mengucapkan Alhamdulillah atau bersedekah, ketika gelisah karena dosa ber-istighfar. Amal perbuatan tadi setelah menjadi kecenderungan dan ajeg maka disebut maqom. Lihat kitab atta’rifat. Haramain. Hlm. 79
[2] Syaikh Muhammad Amin al Kurdi menerjemahkan bait tersebut dari bahasa Persi:
لو كلت الفي رطل خمر لم تكن * لتصير نشوانا اذا لم تشرب

KEUTAMAAN BERDZIKIR KEPADA ALLOH SWT.

بسم الله الرحمن الرحيم

Bab Ke 21 Keutamaan Dzikrullah ta’ala
(الباب الحادي والعشرون): في فضيلة ذكر الله تعالى

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Dzikir kepada Allah itu tandanya iman, kebebasan dari munafik, tameng dari setan dan penjaga dari neraka. “}
قال النبي الله صلى الله عليه وسلم: {ذِكْرُ الله عِلَمُ الإيمانِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ وَحِصْنٌ مِنَ الشِّيْطَانِ وَحِرْزٌ مِنَ النيرانِ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Dzikir yg paling utama adalah yang tersembunyi”}
وقال صلى الله عليه وسلم: {أَفْضَلُ الذِّكْرُ الخَفِيُّ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Amal yang paling berat itu ada tiga: dzikir kepada Allah ta’ala pada setiap keadaan, menolong saudara dari penguasa dan berbagi kebahagiaan dengan orang miskin yang melarat.”}
وقال صلى الله عليه وسلم: {أَشَدُّ الأَعْمالِ ثَلاَثٌ ذِكْرُ الله تَعَالى عَلَى كُلِّ حَالٍ وَمُوَاسَاةُ الأخِ مِنْ مالِكَ وإنْصَافُ الفَقيرِ البَائِسِ مِنْ نَفْسِكَ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Tandanya cinta kepada Allah adalah Dzikir kepada Allah, dan tandanya benci kepada Allah adalah benci dzikir kepada Allah azza wajalla”}
وقال صلى الله عليه وسلم: {عَلاَمَةُ حُبِّ الله حُبُّ ذِكْرِ الله وَعَلامَةُ بُغْضِ الله بُغْضُ ذِكْرِ الله عَز وَجَل}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda -menceritakan dari Allah ta’ala: {“Aku bersama hamba-hamba-Ku ketika ia dzikir kepada-Ku, dan bibrnya bergerak karena-Ku “}
وقال صلى الله عليه وسلم حِكَايَة عَنِ الله تَعَالى: {أَنَا مَعَ عَبْدي إذا ذَكَرني وَتَحَرَّكَتْ بي شَفَتَاهُ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Dzikir kepada Allah ta’ala pagi dan sore lebih utama daripada memukulkan pedang fi sabilillah “}
وقال صلى الله عليه وسلم: {ذِكْرُ الله تَعَالَى بالغَدَاةِ والعَشِيِّ أَفْضَلُ مِنْ ضَرْبِ ٱلسُّيُوفِ فِي سَبِيلِ الله}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Dzikir yang paling utama adalah laa ilaaha illallah”}
وقال صلى الله عليه وسلم: {أَفْضَلُ الذِّكْرِ لا إلهَ إلاَّ الله}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Dzikir-lah kepada Allah dengan khumul “, ditanyakan kepada beliau: “Apa dzikir khumul itu?” beliau menjawab: “Dzikir dengan tersembunyi “}
وقال صلى الله عليه وسلم: {اذْكُروا الله ذِكْرا خَامِلاً، قيل: وَمَا الذِكْرُ الخَامِلُ؟، قال: الذِّكْرُ الخَفِيُّ}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Derajat seorang hamba yg paling utama di sisi Allah di hari kiamat kelak adalah orang-orang yg banyak berdzikir kepada Allah “}
وقال صلى الله عليه وسلم: {أَفْضَلُ العِبَادِ دَرَجَةً عِنْدَ الله يَوْمَ القِيَامَةِ الذَّاكِرونَ الله كَثِيرا}

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Sebaik-baik dzikir adalah dzikir yang tersembunyi, sebaik-baik ibadah adalah yg paling tersembunyi dan sebaik-baik rizki adalah yg mencukupi”}
وقال صلى الله عليه وسلم: {خَيْرُ الذِّكْرِ الذِّكْرُ الخَفِيُّ، وَخَيْرُ العِبَادَةِ أَخَفُّها، وَخَيْرُ الرِّزْقِ مَا يَكْفِي}

فصل

Sesuatu yang harus dijadikan pegangan dalam menempuh jalan menuju Allah setelah melakukan semua perintah-Nya dan mejauhi larangan-larangan-Nya adalah tetap selalu ber-dzikir pada Allah. Untuk itu, tetap dan teruslah berdzikir wahai muriid dalam setiap keadaan, waktu dan tempat dengan hati dan lisan.
والذي عليه المُعوَّلُ في طريقِ اللهِ تعالى بعد فعلِ الأوامرِ واجتنابِ المحارمِ ملازمةُ الذكرِ لله فعليك به أيها المريدُ في كلِّ حالٍ وفي كلِّ وقتِ وفي كلِّ مكانٍ بالقلبِ واللسانِ.

Dzikir yang mencakup seluruh makna berbagai macam dzikir dan buahnya secara batin dan lahir adalah ucapan: laa ilaha illallah (لا إلهَ إلا اللهُ) –tidak ada tuhan selain Allah-. Ini merupakan dzikir yang diperintahkan untuk terus-menerus dilakukan oleh orang yang baru memulai (menapaki jalan Allah). Dan orang yang telah mencapai puncak (makrifat) pun kembali pada dzikir tersebut (لا إلهَ إلا اللهُ).
الذكرُ الذي يجمعُ جميعَ معاني الأذكارِ وثمراتِها الباطنةِ والظاهرةِ هو قولُ “لا إلهَ إلا اللهُ” وهو الذكرُ الذي يؤمرُ بملازمتِه أهلُ البدايةِ ويرجِعُ إليه أهلُ النهايةِ.

Barang siapa yang ingin diberi kesenangan dengan (mampu) merasakan sesuatu dari rahasia-rahasia menempuh jalan menuju Allah dan tersingkap berbagai macam hakikat, maka hendaknya ia terus-menerus berdzikir kepada Allah dengan hati yang hudhur (konsentrasi dan merasa hadir bersama-sama Allah), tata karma (adab) yang sempurna, mendekati-Nya dengan tulus dan menghadap-Nya dengan cara yang tidak seperti biasanya (terkhusus).
Maka (dengan melakukan dzikir dengan cara tersebut) pengertian-pengertian ini tidak akan terkumpul kecuali ia akan dibukakan alam malakut yang paling tinggi, ruhnya akan mengetahui hakikat alam al ashfa (alam yang suci) dan mata hati terdalamnya akan menyaksikan al jamal al aqdas al asmaa (secara bahasa artinya; keindahan yang suci dan luhur, penerj.)
ومن سرَّه أن يذوقَ شيئاً من أسرارِ الطريقةِ، ويُكاشفُ بشيء من أنواعِ الحقيقةِ؛ فليعكف على الذكرِ للهِ تعالى بقلبٍ حاضرٍ، وأدبٍ وافرٍ، وإقبالٍ صادقٍ، وتوجيهٍ خارقٍ. فما اجتمعت هذه المعاني لأحدٍ إلا كُوشِفَ بالملكوت الأعلى ، و طالعت روحُهُ حقائقَ العالمِ الأصفى، وشاهدت عينُ سرِّهِ الجمالَ الأقدسَ الأسمى.

Dan hendaknya kau wahai muriid memperbanyak tafakkur (kontemplasi/perenungan). Hal ini ada tiga macam, yakni:
(pertama) memikirkan dan merenungkan dalam keajaiban kekuasaan-Nya, keindahan kerajaan langit dan bumi. Buah dari memikirkan ini semua adalah ma’rifat billah (makrifat pada Allah).
ولتكن أيها المريدُ مُكثراً من التفكُّرِ، وهو على ثلاثةِ أقسامٍ:
تفكرُ في عجائبِ القدرةِ، وبدائعِ المملكةِ السماويةِ والأرضيةِ، وثمرتُه المعرفةُ باللهِ.

(kedua) memikirkan dan merenungkan dalam kenikmatan-kenikmatan dan pemberian-Nya. Hasil akhir dari bagian ini adalah mahabbah lilllah (mencintai Allah).
وتفكرٌ في الآلاءِ والنِّعمِ، ونتيجتُه المحبَّةُ للهِ.

(ketiga) memikirkan dan merenungkan dalam perkara yang ada di dunia, akhirat serta keadaan para makhluk di dalamnya. Manfaatnya adalah berpaling dari dunia dan akan mendatangi (mendekati) akhirat.
Aku telah memberi keterangan dan penjelasan bagian pembahasan mengenai “alur/kecenderungan berfikir dan hasilnya” di kitab Risalah al mu’awanah. Carilah di kitab tersebut bagi yang menginginkannya.
وتفكرٌ في الدنيا والآخرةِ وأحوالِ الخلقِ فيهما، وفائدتُه الإعراضُ عن الدنيا والإقبالُ على الأخرى. وقد شرحنا شيئاً من مجاري الفكر و ثمرته في (رسالة المعاونة)؛ فليطلبه من أراده.

Wallohu a’lam

KUASA ALLOH SWT. : KISAH NABI IBRAHIM AS. DAN BURUNG YANG HIDUP KEMBALI

Allah ﷻ berfirman,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS:Al-Baqarah | Ayat: 260).

Dialah al-Muhyi, Yang Maha Menghidupkan. Dia kuasa menjadikan padang yang gersang menjadi rimbun. Lihatlah musim kemarau ini. Rerumputan mati. Tanah berdebu, mengering, retak. Lalu turunlah air dari langit, rumput kering itu menjadi segar. Debu-debu sirna kemudian menggumpal dan kembali memadat menjadi tanah. Retak yang terlihat tertambal, hilang dan menjadi subur. Allah ﷻ berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ ۚ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۚ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan di antara tanda-tanda-Nya (Ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS:Fushshilat | Ayat: 39).

Jika hal ini Anda anggap lumrah, karena terbiasa menyaksikannya, maka Allah ﷻ telah mengubah keyakinan hati Nabi Ibrahim menjadi haqqul yaqin, keyakinan yang derajatnya lebih tinggi. Bukan hanya hati yang meyakini, bukan juga mata yang hanya menyaksikan, tapi haqqul yaqin adalah tingkat keyakinan seseorang buah dari indera perasanya.

Allah menghidupkan empat ekor burung yang sudah disembelih, dicincang, kemudian diletakkan secara acak di puncak gunung-gunung yang berbeda.

Imam Ibnu Katsir meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya setelah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mencincang tubuh burung-burung, mengacaknya, dan melatakkannya di puncak bukit, beliau memegang kepala mereka di tangannya. Kemudian Allah ﷻ perintahkan untuk memanggil burung-burung tersebut. Ibrahim ‘alaihissalam memanggil mereka sebagaimana yang Allah ﷻ perintahkan.

Keajaiban terjadi. Hal-hal yang tidak dapat dinalar manusia hanyalah perkara kecil di sisi Allah ﷻ. Allah, Dialah Yang Maha Mengetahui yang telah terjadi, yang sedang terjadi, yang akan terjadi, dan Dia mengetahui sesuatu yang tidak mungkin terjadi bagaimana bila itu terjadi.

Nabi Ibrahim melihat bulu-bulu burung itu berterbangan. Berkumpul saling menyempurnakan. Kucuran darah yang telah tertumpah bertemu kembali ke kadar yang sesuai. Sobekan dan potongan-potongan daging yang telah tersayat kembali menyatu membentuk tubuh. Demikian pula tiap-tiap anggota badan burung itu, mereka kembali ke posisinya semula. Tersambung membentuk tubuh yang utuh.

Setelah organ-organnya mampu menopang tubuh, mereka tegak berdiri, bersegera berjalan menghampiri Ibrahim untuk mencari kepala mereka. Allah ﷻ menjadikan penciptaan mereka lebih dari yang diharapkan Nabi Ibrahim. Agar mata beliau menyaksikan. Dan anggota tubuh lainnya ikut merasakan.

Burung-burung itu datang menjemput kepala mereka di tangan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Apabila yang mereka temui bukan kepala mereka, mereka menolaknya. Apabila mereka dapati bagian yang beliau pegang itu kepala mereka, dengan kuasa Allah ﷻ bagian tubuh itu bersatu. Sungguh Allah ﷻ Maha Kuasa, Perkasa, lagi Bijaksana. Oleh karena itu, Allah ﷻ tutup ayat ini dengan kalam-Nya,

وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Dia Maha Perkasa, tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya. Dia Maha Perkasa, tidak ada yang mampu mencega kehendak-Nya. Dan Dia Maha Bijaksana dalam firman dan tindakan-Nya.

Penutup

Mudah-mudahan kisah ini dapat melembutkan hati kita untuk semakin tunduk kepada Allah ﷻ. Dia telah memberikan pengajaran bahwa Dia Maha Kuasa lagi memiliki kemampuan sempurna.

Dia mampu menghidupkan kaum yang telah mati. Menghidupkan kota hingga makmur kembali. Juga menghidupkan burung dengan cara yang luar biasa. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua untuk beramal bersiap menjemput hari berbangkit.