MEMAHAMI AYAT “PETUNJUK BAGI ORANG YANG BERTAQWA” DALAM SURAT AL-BAQOROH

Pembukaan surah al-Baqarah memuat penegasan yang penting, yakni, bahwa Alquran adalah kitab petunjuk (hudan) bagi, dalam bahasa Kiai Bisri Mustofa dalam tafsir berbahasa Jawa, al-Ibriz, “wong-wong kang anduweni dasar takwa”, orang-orang yang memiliki fondasi ketakwaan: “hudan lil-muttaqin”.

Tulisan ini akan mengajak Anda untuk melakukan “wisata tafsir” sebentar guna menyelami makna kata taqwa ini. Semoga dengan wisata ini kita akan mendapatkan pengertian yang lebih segar mengenai istilah yang selalu kita dengar pada pembukaan khutbah Jumat itu.

Sejak kecil, selalu diajarkan bahwa takwa ialah takut kepada Tuhan. Hingga sekarang, masih banyak kalangan yang menerjemahkan kata ini dengan cara demikian. Ini tidak saja terjadi di Indonesia. Abdullah Yusuf Ali, penerjemah Alquran dalam bahasa Inggris, memaknai takwa sebagai those who fear God, “mereka yang takut pada Tuhan”.

Muhammed Marmaduke Pikthall, penerjamah Alquran berbahasa Inggris yang lain, dalam The Meaning of the Glorious Koran, menerjemahkan muttaqin sebagai those who ward off (evil), mereka yang menghindarkan diri dari hal-hal yang jahat. Meskipun berbeda, terjemahan Pikthall ini tidak jauh dari pengertian takwa yang selama ini umum dipahami.

Tapi memang, dalam banyak tafsir klasik disebutkan bahwa takwa adalah takut kepada Tuhan dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Terjemahan Pikthall, kurang lebih, menggaungkan makna yang sudah lazim kita dengar itu.

Ada dua penerjemah/penafsir Alquran yang memberikan makna yang sedikit berbeda; yang satu dari lingkungan berbahasa Inggris, yang satunya lagi dari lingkungan Jawa-Banyumasan. Muhammad Asad, seorang mualaf Yahudi dari Austria, dalam The Message of the Qur’an, memberikan terjemahan yang beda bagi muttaqin, yaitu All the God-conscious, mereka yang sadar tentang Tuhan.

Terjemahan Asad ini langsung mengingatkan saya pada filosofi Jawa yang pernah dikenalkan oleh pujangga besar Jawa, R. Ng. Ronggowarsito: eling lan waspada, orang-orang yang selalu ingat dan waspada. Mereka yang selalu eling lan waspada adalah orang-orang yang mencapai “kabegjan”, keuntungan dan kebahagiaan. Kalimat Ronggowarsito ini menggiring kita untuk mengingat ujung ayat ke-5 dalam surah al-Baqarah: ula’ika hum al-muflihun, “merekalah orang-orang yang begja, beruntung”.

Apakah raja pujangga Jawa itu mendapatkan pengaruh dari ayat ini kala mengucapkan kalimat yang terkenal tentang zaman edan itu. Tetapi yang jelas, kemiripan semacam ini tentu menarik untuk kita renungkan.

Pengertian kedua yang agak lain tentang makna “muttaqin” kita jumpai pada terjemahan Alquran dalam bahasa Jawa-Banyumasan yang pengerjaannya dipimpin oleh Ahmad Tohari, pengarang Jawa asal Banyumas itu. Di sana, kata muttaqin diterjemahkan sebagai: “wong-wong sing padha semarah (takwa)”.

    Terjemahan ini sangat menarik perhatian saya. Jarang sekali saya menjumpai pengertian ini pada penerjemah Alquran yang lain. Waktu di pesantren pun, tak satu pun guru-guru saya di kawasan Jawa pantura, menggunakan kata “semarah” untuk padanan bagi kata taqwa dalam bahasa Arab.

Sudah berkali-kali ingin menanyakan hal ini langsung kepada Kang Tohari, begitu kerap di panggil sastrawan Banyumas ini, tetapi selalu lupa. Keputusan tim penerjemah Alquran dalam bahasa Jawa-Banyumasan untuk menggunakan kata “sumarah” sebagai padanan untuk kata “taqwa” ini adalah tindakan hermeneutis yang, bagi saya, cukup berani.

Kata “semarah” atau “sumarah” dalam bahasa Jawa bermakna “berserah diri”. Sastrawan Indonesia yang terkenal, Umar Kayam, misalnya, pernah menerbitkan suatu kumpulan cerita panjang berjudul Sri Sumarah dan Bawuk.

Sri Sumarah, dalam kisah Pak Kayam itu, mewakili sosok wanita Jawa yang menghayati sikap “sumarah”, berserah diri sepenuhnya saat menjalani pasang-surut kehidupan, tanpa sikap mengeluh, memberontak, meskipun bukan berarti berserah tanpa suatu ikhtiar dan perjuangan.

Istilah “sumarah” juga bisa mengingatkan kita kepada ajaran hidup penting yang dikembangkan oleh masyarakat Jawa: sikap berserah diri. Ajaran ini dikembangkan, antara lain, oleh kelompok kebatinan Jawa yang didirikan oleh seorang bijak dari Gunung Kidul, R. Ng. Sukinohartono (1897-1971): yakni Paguyuban Sumarah. Salah satu filosofi yang dikembangkan oleh kelompok ini tergambar dalam kalimat berikut ini:

    Sanggem tansah enget dhateng Allah

    Sumingkir saking raos pandaku, kumingsun

    Pitados dhateng kasunyatan

    Saha sujud sumarah ing Allah

    Marsudi sarasing sarira

    Tentreming panggalih

    Saha sucining Rohipun

    Mekaten ugi ngutamekaken watakipun

    Dalah muna-muni tuwin tindak-tandukipun

Kelompok kebatinan Jawa ini memaknai “sumarah”, antara lain, sebagai sikap selalu ingat akan Tuhan. Pada ujungnya, sikap ini akan menghilangkan kecenderungan untuk mendaku semua hal untuk diri sendiri, ego-centric, dan melihat dunia sekitar dari sudut aku yang sempit.

Sikap sumarah membantu seseorang untuk mengatasi dan melampaui lingkaran keakuan yang amat cupet (sempit). Setelah keakuan-sempit bisa diatasi, seseorang akan sampai kepada sikap lain yang menjadi sumber kebahagiaan: melihat “kasunyatan”, kenyataan yang sebenar-benarnya.

Ketika seseorang sudah mampu melihat “kenyataan” yang sebenarnya (katakan saja: al-Haqiqah), ia akan “sujud berserah diri kepada Tuhan”. Itulah sumarah.

Meskipun tidak persis sama, tampaknya ada kemiripan antara pengertian takwa dalam pandangan Muhammad Asad dan Alquran terjemahan Jawa-Banyumasan ini. Asad memaknai takwa sebagai kesadaran tentang kehadiran Allah secara terus-menerus dalam diri seseorang. Sementara, istilah “semarah” dalam Alquran terjemahan Jawa-Banyumasan memiliki pengertian (jika kita ikuti pengertian dalam kelompok kebatinan Jawa tadi itu): selalu ingat Tuhan yang ujungnya adalah bersujud-berserah diri kepada-Nya.

Asad menulis catatan kaki yang agak panjang sebagai penjelasan atas istilah taqwa ini. Dia memandang bahwa pengertian yang selama ini disematkan kepada kata takwa, yaitu “takut kepada Tuhan” (God-fearing), tidak memadai. Kata “takut” di sana mengisyaratkan pengertian yang agak negatif.

Menurut Asad, kata taqwa mengandung pengertian lebih positif, yaitu kesadaran tentang kehadiran Tuhan, dan kehendak kuat pada seseorang yang memiliki kesadaran seperti ini untuk “mencetak” (mould), membentuk, dan mengarahkan kehidupannya sesuai dengan kesadaran itu.

Mungkin kita bisa mengemukakan observasi sederhana berikut ini. Pengertian takwa sebagai “takut kepada Tuhan dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya”, sebagaimana kita lihat dalam terjemahan konvensional selama ini, mungkin bisa disebut sebagai terjemahan yang condong pada aspek eksoterik, syariat. Sementara memaknai takwa sebagai “kesadaran tentang kehadiran Tuhan yang mewujud dalam sikap berserah diri” adalah pengertian yang lebih mengarah kepada dimensi esoterik, haqiqat.

Kedua pengertian ini tepat dan tak ada yang salah. Tetapi sepakat dengan pandangan Asad bahwa pengertian takwa sekedar sebagai sikap “takut kepada Tuhan” kurang memadai. Karena itu Asad mengajukan terjemahan yang dia anggap lebih “dalam”, yaitu kesadaran tentang kehadiran Tuhan. Dengan pertimbangan ini, saya mengaggap keputusan tim penerjemah Alquran dalam bahasa Jawa-Banyumasan untuk menggunakan kata “semarah” untuk memaknai takwa sebagai keputusan yang berani dan sekaligus tepat.

Dengan demikian, makna ayat dalam pembukaan surah al-Baqarah itu adalah sebagai berikut. Alquran hanya bisa menjadi petunjuk bagi orang-orang yang memang memiliki sikap batin tertentu, yaitu berserah diri, selalu ingat kepada Tuhan, dan orientasinya dalam hidup adalah pitados dhateng kasunyatan, mencari kenyataan yang sesungguhnya (al-Haqiqah), bukan kenyataan yang semu yang bisa dicerap dengan indera manusia.

Orang-orang yang memiliki cara pandang yang lain, terutama mereka yang tidak mempercayai adanya Kasunyatan, kenyataan yang hakiki di balik dunia fisik yang tampak oleh indera manusia, mereka yang memiliki cara pandang yang materialistik, tentu saja susah mendapatkan “hidayah”, atau petunjuk dari Alquran.

Begitu juga, mereka yang memiliki sikap “kumingsun”, sikap yang melihat segala hal dari sudut pandang diri-sendiri, tak mau melihat liyan atau orang lain, juga akan susah mendapatkan petunjuk yang bermakna dalam Alquran.

    Orang-orang dengan sikap kumingsun ini akan cenderung menjadikan Alquran sebagai instrumen saja untuk memperkuat keakuannya, ke-ego-annya saja.

Dengan demikian, kita menjadi sadar bahwa Alquran hanya bisa menjadi “kitab pentunjuk” hanya bagi orang-orang tertentu saja, tidak bagi semua orang. Tentu saja semua orang bisa saja mempelajari Alquran, membacanya, mengkajinya. Tetapi hanya orang-orang yang memiliki syarat rohani tertentu yang bisa menjadikan Alquran sebagai sumber petunjuk, yaitu mereka yang memiliki sikap takwa, semarah, berserah diri, serta mempunyai kesadaran tentang kehadiran Tuhan terus-menerus dalam dirinya.

WALLOHU A’LAM

HAL YANG MEMBUAT ALLOH TERSINGGUNG DAN DUA PENGHUNI NERAKA YANG BERDZIKIR

Ketika Allah Tersinggung

 

Salah satu kebiasaan buruk manusia ialah suka membawa-bawa nama Allah untuk kepentingan dirinya. Seolah-olah apa yang ada dalam pikirannya selalu sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah. Padahal sejatinya kadang justru malah berkebalikan. “Ini bisa membuat Allah tersinggung.

 

Ada contoh tentang bagaimana Allah tersinggung bila ada hamba-Nya membawa-bawa nama Allah untuk kepentingan egonya. Salah satu contohnya, di sebutkan dalam Shahih Muslim.

Dikisahkan ada seorang lelaki yang merasa dirinya benar karena ibadahnya.

“Ada orang sedang bersujud. Sujud itu merupakan salah satu ibadah terbaik.”

Ketika orang ini sedang bersujud, ada seorang ahli maksiat yang menginjak kepalanya. Ketika diinjak, dia marah. Saking marahnya, dia bilang, “Fawallahi. Laa yaghfirulllahu laka. Demi Allah. Kamu tidak akan diampuni Allah.”

Merespon kejadian itu, Allah memberi wahyu kepada seorang Nabi. “Beri tahu kepada si Fulan yang sedang sujud itu. Bilang padanya, bagaimana mungkin dia mengatasnamakan sifatku pada seorang hambaku.” Maksudnya dia membawa-bawa nama Allah karena kemarahan dalam dirinya sehingga seolah-olah Allah tidak mungkin mengampuni orang yang menginjak kepalanya.

 “Beri tahu kepada si Fulan kalau Aku mengampuni orang yang menginjak kepalanya dan Aku tidak menerima sujudnya.”

 

Dalam hal ini, para ulama hadits sepakat kalau Allah tidak suka namanya dicatut atau dibawa-bawa oleh orang lain. Apalagi dalam kasus ini. Mana mungkin Allah yang memiliki sifat Ghafuur (dzat yang maha banyak mengampuni) kok tidak mengampuni dosa orang lain. Sedangkan si Fulan malah menuduh Allah tidak mungkin mengampuni. Ini suatu yang sembrono.

 

Betapa saat ini banyak orang yang marah entah karena apa lalu membawa-bawa nama Allah untuk menghakimi orang lain. Ini biasanya dilakukan oleh kelompok ekstremis dan orang yang suka memvonis bid’ah. Jadi kita semua harus berhati-hati. Jangan gampang mengatasnamakan Allah untuk memenuhi ego kita. Maka, kita harus mengaji lagi agar tahu sesuatu yang benar dan yang salah.

 

Dua Penghuni Neraka yang Dimasukkan Surga

Di kisahkan fakta menarik yang dikutip dari kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali. Kisah ini memberikan motivasi kepada umat Islam untuk selalu optimis akan masuk surga dan berpikir positif tentang besarnya rahmat Allah. Selain itu kisah ini juga bisa membuat orang tidak mudah menghakimi orang lain apalagi mendoakan orang masuk neraka.

Dikisahkan ada dua orang hamba Allah yang sudah lama tinggal di neraka. Di neraka, orang tersebut selalu berzikir dengan membaca “Ya Hannan Ya Mannan”. Karena terus berzikir, akhirnya Allah menyuruh Malaikat memanggil dua orang tersebut.

“Berzikir di neraka merupakan sesuatu yang mungkin terjadi sebab jika teriak kesakitan saja bisa maka berzikir juga bisa.”.

Singkat cerita, dua orang ini dibawa ke hadapan Allah dengan keadaan masih dikerangkeng. Lalu Allah bertanya kepada salah satunya, “Bagaimana neraka menurutmu?”

“Ya Allah. Sungguh neraka adalah tempat yang sangat buruk. Tidak ada tempat yang lebih buruk dari neraka,” jawabnya.

“Ya sudah sana kembali ke neraka!” perintah Allah pada orang tersebut.

Orang ini kemudian berlari menuju neraka. Bahkan sangat semangat kembali menuju neraka.

Sikap orang ini aneh sehingga Allah memanggilnya lagi, “Kok kamu semangat sekali kembali ke neraka?”

“Saya sudah kapok, Gusti. Saya menyesal dulu saat di dunia saya lamban dalam melaksanakan perintahmu. Gara-gara itu saya masuk neraka. Saya tidak mau terulang yang kedua kalinya. Mumpung sekarang ada perintah darimu, saya ndak mau melewatkan kesempatan melaksanakan perintahmu ini. Jadi saya harus bersemangat.” jawab orang itu.

Karena demi melaksanakan perintah Allah menuju ke neraka. Padahal sangat menyakitkan baginya, Allah pun memberikan rahmat kepadanya.

“Kalau begitu, sana masuk surga.” kata Allah. Akhirnya ia dimasukkan ke surga oleh Allah.

Allah kemudian menanyai satu orang yang lain, “Bagaimana neraka menurutmu?”

 “Sungguh buruk sekali, Gusti.”

“Ya sudah, sana kembali lagi ke neraka!” Perintah Allah.

Tak seperti orang pertama, orang ini sangat lamban dan lelet disuruh ke neraka. Langkahnya tidak semangat. Allah kemudian menanyainya, “Kenapa kamu lamban sekali?”

 “Saya tidak pernah menyangka kalau bakal disuruh kembali ke neraka. Saya sudah khusnudzan tadi Panjenengan panggil saya ke sini untuk dimasukkan ke surga. Termyata perkiraan saya salah. Dan saya dimasukkan ke neraka lagi,” jawabnya.

Dengan jawaban itu ternyata Allah memasukkan orang ini masuk surga.  “Kamu khusnuzan pada-Ku. Tapi aku masih memasukkanmu ke neraka. Kalau begitu, sana masuk surga.” Akhirnya orang ini pun masuk surga.

Kisah ini seharusnya membuat kita untuk tidak berpikir yang buruk tentang Allah. Apa yang kita pikirkan seringkali berbeda dengan apa yang diputuskan Allah. Bahkan untuk urusan surga dan neraka. Manusia sama sekali tidak bisa menerka-nerka kehendak Allah. Lalu mengapa kita terkadang merasa diri benar sembari menyalahkan bahkan menuding orang lain akan masuk neraka? Allah punya banyak alasan memasukkan orang ke neraka dan surga.

MENGENAL ISTILAH KHOZAIN DALAM TAQDIR ALLOH SWT.

Sering disampaikan di dalam kajian tentang bab iman tatkala masuk kedalam bahasan TAQDIR, bahwa masalah TAQDIR itu adalah masalah yang sulit, tidak semua orang bisa dengan cara yang mudah dan sederhana bisa memahaminya. Padahal jika memang persoalan TAQDIR itu adalah bagian dari petunjuk Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah, maka tentu bukanlah hal yang sulit untuk difahami ummat Nya, karena Allah telah menjamin bahwa petunjuk Nya (Al-Qur’an) itu adalah mudah.

وَلَقَدۡ يَسَّرۡنَا ٱلۡقُرۡءَانَ لِلذِّكۡرِ فَهَلۡ مِن مُّدَّكِرٍ۬

dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran  (QS Al-qomar, 54:17

Di dalam tulisan ini, insyaallah akan diuraikan tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan persoalan TAQDIR, sehingga akan bisa diperoleh rangkaian keterangan yang mudah untuk memahami persoalan TAQDIR ini, sebagaimana janji Allah dalam ayat di atas.

TAQDIR ada dalam setiap yang diciptakan ( kholaqo ) oleh Allah

إِنَّا كُلَّ شَىۡءٍ خَلَقۡنَـٰهُ بِقَدَرٍ۬

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan taqdir ( QS Al-qomar, 54:49)

Allah menciptakan segala apa yang ada di alam semesta, yang dhohir (tampak) maupun yang ghoib (tidak tampak), bahkan termasuk gerak tubuh manusia yang merupakan sinkronisasi dari sejumlah saraf, jaringan tubuh dan otot dalam melakukan suatu perbuatan juga adalah termasuk ciptaan Allah.

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu (QS Ash-shoffaat 37:96)

Lebih jauh tentang “mencipta” bagi Allah, maka jika dirujuk pada ayat di dalam Al-Qur’an yang digunakan untuk menyebutkan kalimat “mencipta” bagi Allah, setidaknya ada 5 aspek dalam “mencipta”, yaitu : ciptaan dalam hal adanya sesuatu dari yang semula tidak ada menjadi ada (kholqu), ciptaan dalam hal kegunaan atau fungsi  sesuatu (ja’ala), ciptaan dalam hal bentuk atau model sesuatu (bada-a), ciptaan dalam hal sistem atau hukum yang berlaku pada sesuatu (fathara), ciptaan dalam hal keterkaitan dengan ciptaan yang lainya (shona’a). Dan rujuk pada ayat Al-Qur’an di atas, maka seluruh aspek penciptaan itu semuanya diciptakan oleh Allah dengan TAQDIR.

Sebagai contoh adalah Matahari yang juga merupakan ciptaan Allah, maka adanya Matahari itu dari yang sebelumnya tidak ada adalah aspek khalqu, kemudian Matahari itu salah satunya adalah berguna untuk menerangi maka kegunaan untuk menerangi itu adalah aspek ja’ala, dan bentuk atau model wujud Matahari yang berupa bulatan dari gumpalan gas itu adalah aspek bada-a, sedangkan adanya hukum atau sistem yang bekerja di dalam tubuh Matahari diantaranya berupa ledakan inti atom yang terjadi secara teratur dan lain-lain peristiwa yang terjadi di dalamnya maka ini adalah aspek fathara, kemudian adalah tentang hubungan antara Matahari dengan ciptaan Allah yang lain seperti bumi, planet-planet, dll itu adalah aspek shana’a. Maka dalam hal makhluk yang bernama Matahari itu, baik aspek kholqu, ja’ala, bada-a, fathara dan shana’a , semuanya itu adalah ciptaan Allah yang diciptakan dengan TAQDIR.

Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa segala sesuatu itu diciptakan oleh Allah dengan TAQDIR, dan sesuai dengan keterangan dalam Al-Qur’an ternyata dalam hal menetapkan TAQDIR segala sesuatu itu Allah tidak semena-mena (tidak ngawur), tetapi melakukanya dengan penuh perhitungan dan kecermatan yang ilmiyyah. Sebagaimana tersebut di dalam salah satu ayat Al-qur’an yang menyebutkan bahwa asal dari segala sesuatu itu adalah “khozain” dan “khozain” itu adalah milik Allah semata. Kemudian tatkala Allah hendak mencipta sesuatu maka Allah akan menurunkan “khozain” milik Nya itu dengan ukuran/takaran (qodar) yang cermat (ma’luum)

dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. (QS Al-hijr, 15:21)

( “khozain” adalah istilah dalam Al-Qur’an yang dalam hal ini cukup diketahui saja bahwa “khozain” itu milik Allah dan “khozain” itu merupakan asal dari segala sesuatu yang diturunkan oleh Allah pada setiap ciptaan Nya, atau dengan kata lain bahwa setiap ciptaan Allah selalu mengandung  “khozain” yang telah ditetapkan oleh Allah dengan Taqdir yang cermat  berapa kadar “khozain” untuk setiap  ciptaanNya  )

TAQDIR itu berkaitan dengan ilmu Allah

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. perintah Allah Berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu (QS At-tholaaq, 65:12)

Pada penjelasan sebelumnya telah diuraikan bahwa segala sesuatu itu diciptakan oleh Allah dengan TAQDIR, dan pada ayat di atas Al-Qur’an memberikan keterangan bahwa segala sesuatu itu diliputi oleh Allah dengan ilmu. Jadi karena dalam mencipta Allah tidak ngawur, bahkan Allah senantiasa meramu “khozain” miliknya dengan TAQDIR yang ilmiyyah ( qodarin ma’luum ) tatkala menciptakan segala sesuatu, maka Allah nyatakan bahwa pada setiap ciptaan Nya itu sarat dengan perkara keilmuan. Oleh karena itu maka adanya TAQDIR dalam setiap penciptaan mengisyaratkan adanya ILMU dalam setiap ciptaan. Maka dengan demikian setiap ciptaan Allah itu bisa dipelajari, atau dalam bahasa Al-qur’an mengandung petunjuk (hudan), sebagaimana disebutkan dalam ayat sbb :

sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tingi, yang Menciptakan, dan menyempurnakan,  dan yang me-taqdir-kan (segala sesuatu) sehingga (sesuatu itu mengandung) petunjuk (QS Al-A’laa 87:1-3)

Lebih lanjut Al-Qur’an memberikan keterangan yang lebih jelas mengenai persoalan  TAQDIR dan ILMU ini, sebagaimana disebutkan di dalam ayat berikut:

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan di-taqdir-kan Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui (QS Yunus, 10:5)

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa dengan adanya TAQDIR Allah pada peredaran matahari dan bulan, maka manusia bisa mendapatkan petunjuk berupa ilmu untuk mengetahui perhitungan waktu, tentunya setelah manusia mau mengamati dan mempelajari peredaran matahari dan bulan. Dan karena keterbatasan manusia dalam melakukan pengamatan ( belum seluruh aspek peredaran itu bisa diamati oleh manusia ) maka tentu pengetahuan yang diperoleh manusia yang dikatakan oleh manusia sebagai ilmu itu tidaklah selengkap dan sesempurna ilmu Allah yang meliputi peredaran matahari dan bulan itu.

Dalam ayat yang lainya disebutkan sbb :

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (QS Al-imron, 3:190-191)

Rujuk pada ayat di atas, maka dengan adanya TAQDIR dalam setiap ciptaan Allah segala apa yang ada di langit dan di bumi baik pada waktu siang ataupun malam semuanya itu bisa menjadi bahan kajian untuk difikirkan oleh orang yang memiliki akal (ulul albaab) sehingga menjadi pengetahuan  bagi  manusia.

Namun demikian, meskipun seluruh ciptaan Allah itu senantiasa diciptakan dengan TAQDIR dan diliputi dengan ILMU, lebih jauh Al-Qur’an mengingatkan adanya batasan bagi manusia dalam hal kajian dan penelitian atas segala ciptaan Allah tersebut, karena memang tidak semua hal bisa dipelajari atau boleh dipelajari oleh manusia, seperti dalam permasalahan “RUH”. Hal ini karena keterbatasan kemampuan pengetahuan yang diberikan oleh Allah kepada manusia, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an :

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.( QS Al-israa’, 17:85)

Demikian juga pengetahuan tentang kapan saat terjadinya hari qiyamat, hal ini juga merupakan persoalan yang tidak bisa dipelajari oleh manusia meskipun Allah juga telah menciptakanya dengan TAQDIR dan meliputinya dengan ILMU.

mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. (QS Al-a’raaf, 7:187)

Dari semua uraian di atas, bisa difahami bahwa Al-Qur’an ternyata tidak memberikan wawasan mengenai TAQDIR sehingga seolah persoalan TAQDIR itu adalah sesuatu yang gelap gulita, yang  sulit dan tidak terjangkau akal dan tidak boleh di apa-apakan oleh manusia, sehingga seolah manusia hanya disuruh untuk mengimaninya dan menerima begitu saja dengan sikap sabar jika dirasa sebagai sesuatu yang buruk atau syukur jika dirasa sebagai sesuatu yang baik. Tetapi ternyata persoalan TAQDIR itu justru dijelaskan oleh AL-Qur’an sebagai sesuatu yang terang benderang dan malahan Al-Qur’an mendorong manusia agar TAQDIR yang ada pada setiap ciptaan Allah itu dipelajari sehingga manusia bisa mendapatkan pengetahuan tentang segala sesuatu dari ciptaan Allah tersebut dan bisa dimanfaatkan bagi kelangsungan hidupnya di dunia, meskipun Al-Qur’an juga memberikan batasan-batasan terhadap apa-apa yang memang tidak perlu dipelajari oleh manusia karena adanya keterbatasan pada diri manusia. Inilah kehebatan Al-Qur’an dalam memberikan keterangan mengenai TAQDIR, jelas dan mudah.

Oleh karena itu, dengan mempelajari TAQDIR dalam setiap ciptaan Allah, maka manusia akan bisa memahami mana TAQDIR yang bisa menyebabkan kebaikan bagi dirinya dan kehidupanya, yang  kadang lebih sering disebut dengan “TAQDIR baik” (khoir) atau yang bisa menyebabkan keburukan bagi dirinya dan kehidupanya, yang sering  disebut dengan “TAQDIR buruk” (syarrun).

Takdir terkait dengan Perbuatan Manusia

Di dalam Al-qur’an disebutkan bahwa perbuatan ( ‘amal ) manusia adalah juga termasuk ciptaan Allah

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu (QS Ash-shoffaat 37:96)

Sebagaimana penjelasan sebelumnya, karena perbuatan ( ‘amal ) manusia itu diciptakan oleh Allah, maka tentu diciptakan dengan TAQDIR dan juga diliputi dengan ILMU. Dengan demikian maka setiap perbuatan (‘amal ) manusia itu tentu bisa dipelajari sebagai suatu petunjuk. Tentu dengan segala keterbatasan kemampuan manusia dalam mengamati dan mengambil kesimpulan terhadap persoalan perbuatan ( ‘amal) ini.

Di dalam Al-qur’an, bahkan Allah memerintahkan kepada manusia agar melakukan pengamatan (intidhor) untuk mengetahui seluk beluk perbuatan (‘amal ) yang telah dilakukan oleh orang-orang terdahulu, agar manusia bisa mengambil pelajaran. Hal ini disebutkan di dalam ayat Al-Qur’an sbb :

Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (QS Yusuf, 12:109)

Katakanlah: “Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (QS Al-an’am, 6:11)

Perbuatan manusia, jika dicermati sesungguhnya setiap perbuatan itu tidaklah berdiri sendiri, namun senantiasa diawali dengan “kehendak” (irodah) yang kemudian terwujud sebagai “niyat”. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah sbb :

إنماالاعــــــمال بالنــيات

Sesungguhnya perbuatan (amal) itu dengan niyat (HR. Imam Bukhori)

Dalam hal “irodah” yang kemudian akan terwujud dalam bentuk “niyat” inilah Allah memberikan ruang bagi manusia untuk menentukan pilihan, sebagaimana di dalam lanjutan matan hadits di atas yang menyebutkan bahwa diantara pengikut Rasulullah yang berhijrah dari Makkah ke Madinah itu ternyata bermacam-macam niyat nya, ada yang memang berniyat untuk Allah dan RasulNya (lillaahi warasuulih), ada yang berniyat untuk dunianya (liddunya ), dan ada pula yang berniyat untuk menikahi wanita, maka “niyat” yang terwujud pada diri manusia itu bukanlah Allah yang mentukan, meskipun adanya “irodah” yang kemudian terwujud menjadi “niyat” dalam diri manusia itu adalah ciptaan  Allah yang tentunya juga diciptakan Allah dengan TAQDIR.

Memang tidak setiap sesuatu yang terkait dengan urusan manusia itu lalu serta merta menjadi pilihan yang bisa ditentukan oleh manusia sendiri. Sebagai contoh adalah berkurangnya kemampuan tubuh manusia untuk beraktifitas seiring dengan bertambahnya umur, maka keadaan tubuh manusia yang seperti itu bukan merupakan ruang pilihan bagi manusia. Namun begitu juga bukan tidak mungkin manusia melakukan pengamatan dan mempelajari TAQDIR Allah yang berlaku pada tubuh manusia, karena Allah meciptakan tubuh manusia itu juga dengan TAQDIR yang ilmiyyah ( qodarin ma’luum ) sehingga bisa dipelajari dan diketahui petunjuk tentang bagaimana menjaga kemampuan tubuh agar tetap bisa beraktifitas dengan optimal meskipun umur terus bertambah.

Lebih jelasnya mengenai persoalan adanya ruang pilihan bagi manusia berupa “irodah” manusia yang terwujud dalam “niyat” ini, Al-qur’an memberikan keterangan sbb :

Maka Apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, Padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. (QS Al-Imron, 3:83)

Kata “aslama” dalam ayat di atas menunjukkan bahwa segala apa yang ada langit dan di bumi telah dicipta oleh Allah dengan TAQDIR dalam seluruh aspek penciptaanya, yaitu aspek keberadaanya (kholqu), fungsinya/kegunaannya (ja’ala), model/bentuknya (bada-a), sistem/hukumnya  (fathara) dan hubunganya dengan ciptaan Allah lainya (shana’a) itu semua suka tidak suka, mau tidak mau memang harus diterima oleh makhluk yang dalam ayat di atas disebut dengan istilah “thau’an wa karhan”. Jadi dalam hal TAQDIR penciptaan dengan seluruh aspek penciptaan itu maka seluruh makhluk hanya bisa pasrah, tunduk, menyerah ( aslama ) kepada penetapan TAQDIR, dan hanya kepada Allah lah TAQDIR dalam seluruh aspek penciptaan makhluk itu dikembalikan. Maksudnya adalah bahwa yang bisa menentukan TAQDIR dalam penciptaan itu hanyalah Allah. Tetapi dalam hal “dien” (agama), Allah memberikan ruang kepada manusia untuk menentukan pilihan masing-masing yang merupakan “kehendak” (irodah) manusia yang terwujud dalam “niyat”, apakah manusia akan memilih “dienullah” atau yang selain “dienullah”.  Di dalam ayat yang lain Al-Qur’an menjelasakan bahwa manusia tidak dipaksa dalam hal menentukan pilihan terhadap “dien” itu.

Tidak ada paksaan dalam (memilih) agama ( QS Al-baqoroh, 2:256)

Lebih lanjut mengenai hal ini, ternyata ruang pilihan bagi manusia ini juga berlaku dalam permasalahan “iman”, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an sbb :

dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? (QS Yunus, 10:99)

dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir” (QS Kahfi, 18:29)

Jadi rujuk pada penjelasan Al-Qur’an, maka bisa difahami dengan mudah bahwa ternyata manusia itu diberi oleh Allah ruang pilihan dalam dirinya untuk menentukan pilihan masing-masing dalam hal “dien” dan “iman” , dengan kata lain manusia itu mempunyai “irodah” yang terwujud dalam “niyat” untuk menetapkan pilihan atas persoalan “dien” dan “iman” . Dan karena penerapan atau implementasi atas pilihan terhadap  “dien” dan “iman” itu adalah dalam aspek  perbuatan (amaliyah), baik amal  yang kasad mata ataupun amal yang tak kasad mata, maka terhadap bentuk amal manusia itu Allah bisa mengenali mana bentuk amal yang berada di atas jalan Nya dan yang tidak berada di atas jalan Nya.

Katakanlah: “Tiap-tiap  (perbuatan)  yang diperbuat ( manusia ) itu menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalanNya. (QS AL-Isra’, 17:84)

Kata “syaakilat” adalah jama’ (plural ) dari kata “syaklun” yang dalam bahasa arab berarti “bentuk”. Jadi maksudnya adalah bahwa setiap perbuatan manusia itu ada bentuk nya. Dan bentuk dari amal manusia itu bergantung pada “irodah” manusia yang terwujud dalam “niyat” terhadap permasalahan “dien”, dan “iman”. Hal inilah yang menjelaskan mengapa Allah memerintahkan manusia untuk melakukan pengamatan (intidhor) terhadap amaliyah orang-orang terdahulu dan memperhatikan bentuk serta akibat dari amaliyah yang benar sesuai dengan petunjuk Allah dan amaliyah yang menyimpang dari petunjuk Allah, sehingga manusia bisa memperoleh pengetahuan dan bisa menentukan pilihan yang baik bagi dirinya.

Allah memang tidak membiarkan manusia begitu saja dengan diberinya ruang pilihan tersebut, namun agar bisa melakukan pengamatan dan kemudian menentukan pilihan, maka manusia diberikan oleh Allah alat berupa pendengaran, penglihatan, dan fuad sebagaimana diterangkan di dalam Al-Qur’an sbb :

dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS An-Nahl, 16:78)

Dalam ayat di atas digunakan kata “ja’ala” yang merupakan aspek dalam penciptaan Allah, sehingga pendengaran, penglihatan, dan fuad itu tentunya adalah juga diciptakan oleh Allah dengan TAQDIR yang ilmiyyah ( qodarin ma’luum ) sehingga manusia juga bisa mempelajarinya guna mendapatkan pengetahuan dan petunjuk tentang alat tersebut. Di dalam ayat yang lain disebutkan tentang alat itu sbb :

kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur (QS As-Sajdah, 32:9)

Selain diberi alat berupa pendengaran, penglihatan, dan fuad oleh Allah, ternyata Allah juga memberikan petunjuk ( hudan ) agar manusia mempunyai rujukan dalam cara menggunakan alat ciptaan Allah tersebut dan dalam menentukan pilihan dalam ruang “irodah” yang terwujud dalam “niyat” yang telah diberikan oleh Allah kepada manusia.

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya( memberi petunjuk) kepada  jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (QS Al-Insaan, 76:3)

Dan dalam penjelasan yang lain Al-Qur’an menyebutkan bahwa petunjuk “hudan” dari Allah itu juga diturunkan oleh Allah dengan ILMU, bukan dengan semena-mena (ngawur). Tentu hal ini adalah agar petunjuk itu bisa dipelajari dan difahami oleh manusia sebagaimana dengan  TAQDIR yang ilmiyyah dalam setiap ciptaan Allah sehingga manusia bisa mempelajarinya agar mendapatkan pengetahuan.

Akan tetapi Allah mengakui Al Quran yang diturunkan-Nya kepadamu (bahwa) Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). cukuplah Allah yang mengakuinya. (QS An-Nisaa’, 4:166)

Dengan diciptakanya oleh Allah pendengaran, penglihatan dan fuad bagi manusia dan kemudian Allah turunkan petunjuk Nya kepada manusia, maka hal inilah yang dimaksud bahwa Allah telah menciptakan manusia sebagai “ahsani taqwiim”

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .(QS At-thien, 95:4)

Namun demikian, jika manusia tidak mau menggunakan alat yang telah Allah ciptakan bagi dirinya dan juga tidak mau menggunakan petunjuk Allah yang juga telah diturunkan bagi manusia, maka derajat manusia itu akan jatuh menjadi “asfala saafiliin” dan akan menjadi lebih hina dibandingkan binatang.

kemudian Kami kembalikan dia (manusia) ke tempat yang serendah-rendahnya (QS At-thien, 95:5)

dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. (QS Al-A’raaf, 7:179)

( dalam ayat ini Al-qur’an menggunakan istilah “quluubun” yang merupakan bentuk jama’ dari kata “qolb”  yang dalam bahasa arab mempunyai padanan makna dengan “fuad” ataudalam bentuk jama’ adalah  “af-idah”,  atau dengan kata lai, “qolb” adalah dzatnya, sedangkan “fuad” adalah kegunaan atau fungsi atau kinerja daripada “qolb” )

Oleh karena itu, dengan diberikanya ruang “irodah” yang kemudian terwujud dalam “niyat”  bagi manusia, dan kemudian diciptakan oleh Allah alat bagi manusia berupa pendengaran, penglihatan, dan fuad ( atau juga disebut dengan qolb ) serta diberikan juga petunjuk ( hudan ) yang diturunkan oleh Allah dengan ilmu Nya, maka sebagai bentuk konsekuensi, manusia akan dimintai pertanggungan jawab oleh Allah atas “irodah” yang ada ada dirinya tsb.

dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab. (QS Az-zukruf, 43:44)

dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

(QS AL-Isra’, 17:36)

Jadi TAQDIR ada pada segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah, termasuk juga TAQDIR dalam perbuatan manusia yang juga adalah ciptaan Allah. Seluruh TAQDIR itu bisa dipelajari oleh manusia termasuk TQDIR dalam perbuatan manusia, sehingga dengan demikian manusia bisa mendapatkan pengetahuan mana TAQDIR yang baik dan mana TAQDIR yang buruk. Dan manusia diberikan “irodah” oleh Allah untuk menentukan pilihanya yang terwujud dalam “niyat”. Dan ingat bahwa “irodah” pemberian Allah ini HANYA UNTUK MEMILIH SAJA, karena setelah manusia menentukan pilihannya maka seluruh proses yang terjadi selanjutnya sebagai bentuk konsekuensi dari pilihan tersebut kesemuanya adalah TAQDIR Allah, entah itu menjadi sesuatu yang baik bagi dirinya atau menjadi sesuatu yang buruk. Hal inilah yang disitir dalam salah satu hadits Rasulullah sbb :

نيــة المؤمــــن خيرمن عـــمله

Niyat seorang mukmin itu lebih (penting) baik daripada perbuatanya (HR. AL-Baihaqi dan Ar-Rabii)

Karena “niyat” itulah yang merupakan ejawantah/wujud dari “irodah” manusia dan yang akan mempengaruhi bentuk perbuatan manusia yang kelak akan dimintai pertanggungan jawab oleh Allah.

Mengenai “irodah” manusia yang terwujud dalam “niyat”, maka sesungguhnya setiap saat secara berkesinambungan sepanjang manusia melakukan suatu bentuk perbuatan (amaliyah) dalam hidupnya, manusia harus selalu menetapkan “irodah” yang terwujud dalam “niyat”. Jadi proses berwujudnya perbuatan manusia itu adalah merupakan rangkaian siklus yang berkesinambungan dan terus menerus antara pilihan dalam ruang “irodah” yang kemudian terwujud dalam “niyat” dan selanjutnya diikuti dengan bentuk amal berupa gerakan tubuh atau ucapan. Begitu seterusnya.

Oleh karena itu, meskipun sesungguhnya perbuatan manusia itu adalah ciptaan Allah, tetapi karena bentuk perbuatan itu adalah bergantung pada pilihan “irodah” manusia yang terwujud dalam “niyat”, maka tepatlah jikalau kemudian Allah akan meminta pertanggungan jawab atas apa yang diperbuat oleh manusia.

dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang menghendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang menghendaki. dan Sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. (QS An-Nahl, 16:93)

Sebagai ilustrasi dari penjelasan mengenai TAQDIR seperti dalam uraian di atas, Al-Qur’an memberikan penjelasan sbb  :

أَيۡنَمَا تَكُونُواْ يُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِى بُرُوجٍ۬ مُّشَيَّدَةٍ۬‌ۗ وَإِن تُصِبۡهُمۡ حَسَنَةٌ۬ يَقُولُواْ هَـٰذِهِۦ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ‌ۖ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةٌ۬ يَقُولُواْ هَـٰذِهِۦ مِنۡ عِندِكَ‌ۚ قُلۡ كُلٌّ۬ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِ‌ۖ فَمَالِ هَـٰٓؤُلَآءِ ٱلۡقَوۡمِ لَا يَكَادُونَ يَفۡقَهُونَ حَدِيثً۬ا (٧٨) مَّآ أَصَابَكَ مِنۡ حَسَنَةٍ۬ فَمِنَ ٱللَّهِ‌ۖ وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ۬ فَمِن نَّفۡسِكَ‌ۚ وَأَرۡسَلۡنَـٰكَ لِلنَّاسِ رَسُولاً۬‌ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَہِيدً۬ا (٧٩)

di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) Hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?

  1. apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi. (QS An-Nisaa, 4:78-79)

Dalam ayat 78 surat An-Nisaa di atas, Al-Qur’an menyebutkan bahwa setiap  “kebaikan” (hasanah) dan “bencana” (sayyiah) yang menimpa kepada manusia adalah kepunyaan Allah ( min ‘indillah ). Hal ini tentu benar karena segala apa yang ada dan terjadi di alam semesta ini adalah ciptaan Allah yang diciptakan dengan TAQDIR, yang karena itu tentunya bisa dipelajari oleh manusia untuk mendapatkan pengetahuan sepanjang ciptaan Allah itu memang boleh dan bisa dipelajari oleh manusia, dan sepanjang manusia mampu untuk menggali TAQDIR dalam ciptaan Allah itu. Oleh karenanya maka setiap “kebaikan” (hasanah) dan “bencana” (sayyiah) yang terjadi bisa dipelajari oleh manusia, dan bahkan hal ini diperintahkan oleh Allah untuk mengamatinya (intidhor).

Sedangkan dalam ayat ke 79, Allah menerangkan tentang penyebab atau jalan yang membawa manusia kepada suatu keadaan yang berupa “kebaikan” (hasanah) dan “bencana” (sayyiah). Ketika manusia senantiasa menetapkan “irodah” yang benar dalam setiap tahapan proses yang dilaluinya, maka seluruh kebenaran yang menjadi pengetahuan bagi manusia yang dijadikan rujukan dalam setiap kali menetapkan “irodah” nya, maka semua kebenaran itu adalah milik Allah. (misalnya seperti “dien” yang  benar adalah “dien” milik Allah, “iman” yang benar adalah “iman” yang aturanya dimiliki & dibuat oleh Allah, dst). Sedangkan ketika manusia keliru dalam merumuskan apa yang mereka pelajari dari TAQDIR yang ada dalam setiap ciptaan Allah karena adanya keterbatasan dalam dirinya yang memang diciptakan demikian oleh Allah (QS 4:28, QS 33:72), lalu rumusan yang keliru itu mereka jadikan rujukan setiap kali menetapkan “irodah” nya dan mereka menolak mengikuti “Petunjuk (hudan)” yang telah Allah turunkan dengan ILMU-Nya dan justru menjadikan hal yang datang dari selain Allah sebagai petunjuk yang tentu saja keliru, maka tentu semua kekeliruan itu bukanlah dari Allah, tetapi dari manusia itu sendiri.

Maka  tepatlah ketika Al-Qur’an mengatakan sbb :

وَمَآ أَصَـٰبَڪُم مِّن مُّصِيبَةٍ۬ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٍ۬

dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS Asy-syuura, 42:30)

MENCARI TETESAN KEAGUNGAN SYURGA DALAM HARI RAYA KITA

 Nikmat dari Surga di IDUL FITRI

Lebaran atau Idul fitri bukti betapa Islam tumbuh berkembang dalam rahim kebudayaan manusia. Agama, tak melulu soal yang melangit. Malah lebih sering menitikberatkan ajarannya pada ranah kemanusiaan yang sangat manusiawi.

Dua hari raya umat muslim itu, erat kaitannya dengan tradisi tua bangsa Persia pemuja api (bukan penyembah), Zoroaster, yang diajarkan Zarathustra. Demikian yang tercatat dalam Ensiklopedi Islam.

Sebelum Rasulullah ﷺ lahir di Makkah, masyarakat Arab jahiliyah sudah memiliki dua hari raya yang dikenal dengan nama Nairuz dan Mahrajan. Pada dua hari tersebut, mereka menggelar pesta pora, menari-nari—baik tarian perut, perang maupun ketangkasan, bernyanyi, menyantap hidangan lezat, serta menenggak minuman memabukkan. Sampai di sini, Anda paham kan kenapa dua hari raya kita tak jauh beda dengan yang kami terakan di atas?

 ‘Setelah kewajiban menunaikan ibadah puasa Ramadan turun pada 2 Hijriyah, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan An-Nasa’i, Rasulullah Saw bersabda, ‘’Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan yang lebih baik, yakni Idulfitri dan Iduladha.’’

    Hari Raya Idulfitri untuk pertama kali dirayakan umat Islam, selepas Perang Badr yang terjadi pada 17 Ramadan 2 Hijiriyah.

Dalam pertempuran dahsyat itu, umat Islam meraih kemenangan. Sebanyak 319 kaum Muslimin, berhasil mempermalukan 1.000 tentara kafir Quraisy—dan memaksa mereka pulang dengan kepala tertunduk.

Pada tahun itu, Rasulullah Saw bersama golongan orang-orang beriman (para Sahabat Ra) merayakan dua kemenangan, yakni keberhasilan mengalahkan kaum kafir dalam Perang Badr dan kebahagiaan tak terperi berhasil menjalankan hari perdana berpuasa Ramadan.

Menurut sebuah riwayat, Rasulullah Saw bersama para Sahabatnya menunaikan Salat Id pertama dengan kondisi tubuh disarati luka yang masih belum pulih akibat Perang Badr.

    Riwayat lain menyebutkan, Rasulullah Saw merayakan Hari Raya Idulfitri pertama dalam kondisi letih, sehingga Beliau harus bersandar pada Bilal bin Rabbah Ra sambil menyampaikan khutbahnya.

Menurut Hafizh Ibnu Katsir, pada Hari Raya Idulfitri yang pertama, Rasulullah Saw pergi meninggalkan masjid menuju suatu tanah lapang dan menunaikan Salat Id di sana. Sejak itulah, Beliau Saw dan para sahabat menunaikan Salat Id di lapangan terbuka.

Jauh sebelum perayaan Idulfitri, umat Islam baru diwajibkan menunaikan zakat fitrah sahaja. Mereka belum disibukkan oleh kue lebaran, pakaian baru. Hingga kini, Idulfitri telah dilakukan kaum Muslimin sebanyak 1.439 kali.

 

Sayyidina Hasan Husain lebaran dengan baju surga

Di Madinah pada masa awal Islam itu, dua permata hiasan mata Baginda Nabi Saw, Hasan dan Husain anak Imam ‘Ali, sama sekali belum memiliki pakaian baru, padahal lebaran hampir tiba. Mereka pun bertanya kepada sang ibunda.

 “Wahai ibunda, anak-anak di Madinah telah dihiasi dengan pakaian Lebaran, kecuali kami. Mengapa Bunda tidak menghiasi kami?”

Sayidah Fatimah menjawab sambil menyembunyikan perasaannya yang nyaris getun, “Sesungguhnya pakaian kalian masih berada di tukang jahit”.

Ketika malam hari raya tiba dan takbir dikumandangkan oleh Bilal, mereka berdua pun mengulangi pertanyaan serupa. Sayidah Fatimah masih menjawab dengan jawaban yang sama.

    Sayidah Fatimah pun menangis karena sebenarnya ia tidak memiliki uang untuk membelikan pakaian baru demi kedua buah hatinya itu.

Ketika malam beranjak dini hari, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah Sayyidina ‘Ali. Sayyidah Fatimah yang masih terjaga lantas bertanya, “Siapa?”

Orang misterius itu menjawab, “Wahai putri Rasulullah, aku adalah tukang jahit. Diutus membawa hadiah pakaian lebaran untuk putra-putramu.”

Mendapat jawaban seperti itu, Sayidah Fatimah lantas membukakan pintu demi menyambut tamunya itu. Tampak seseorang membawa sebuah bingkisan hadiah, lalu diberikan kepada empunya rumah.

Tak sabar melihat isinya, Sayyidah az Zahrah membuka bingkisan tersebut. Di dalamnya terdapat dua buah ghamis, dua potong celana, dua mantel, dua sorban, serta dua pasang sepatu hitam—yang ke semuanya sangat indah terlihat.

Ibu yang dimuliakan Allah ini pun segera membangunkan dua putra kesayangannya, lalu memakaikan hadiah tersebut pada mereka. Tak lama, Rasulullah Saw datang dan melihat dua cucunya sudah dihiasi hadiah yang terdapat dalam bingkisan tersebut.

    Kemudian Nabi Muhammad ﷺ menggendong Hasan dan Husain dan menciumi mereka dengan segenap cinta, kasih, dan sayang.

Sembari begitu, Rasulullah Saw pun bertanya pada putri semata wayangnya, “Apakah ananda melihat tukang jahit tersebut?”

“Iya aku melihatnya, Ayah.” Rona kebingungan masih tercitra di wajah Fatimah yang bersinaran.

Rasulullah Saw kemudian berujar, “Duhai putriku, ia bukanlah tukang jahit, melainkan Malaikat Ridwan As, sang penjaga Surga…”

Bahkan para penghuni langit pun tak rela jika kedua cucu Rasulullah dilamun kesedihan. Semoga kita dikumpulkan bersama mereka di telaga Baginda Nabi Saw. Amin.

    اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ…

    Allahumma sholli’ala Sayyidina Muhammad wa’ala aali Sayyidina Muhammad.

Ada sebuah kisah yang mudah dilupakan kita, tapi seharusnya tak boleh dilupakan, khususnya ketika Ramadan sudah diambang pintu perpisahan dan sesaat lagi takbir Idul Fitri berkumandang.

Kisah itu tentang keteladanan keluarga Nabi, yaitu datang dari Sayidina Ali, yang disaksikan dua karibnya; Ibnu Rafi’i dan Abu Al Aswad Ad Du’ali, keduanya pernah ikut perang Jamal bersama Ali bin Abu Thalib, dan kedua karib itu termasuk pembesar kelompok pendukung Ali sampai akhir hayatnya. Kisah ini setidaknya termaktub pada dua buku; Sirrah Ashabu an-Nabi, karya Syekh Mahmud al-Misri dan Syiar A’lam An-Nubala’, karya Imam adz-Dzahabi.

Persis usai salat Asar, setelah seharian merasa sedih, karena bulan Ramadan akan segera berakhir, Ali kemudian pulang dari masjid, sesampai di rumah ia disambut sang istri dengan pertanyaan yang bernada penuh perhatian.

“Kenapa engkau terlihat pucat, kekasihku?” demikianlah sapa Sayidah Fatimah, “tak ada tanda-tanda keceriaan sedikitpun di wajahmu, padahal sebentar lagi kita akan menyambut hari kemenangan?”

Ali hanya terdiam lesu, tak berapa lama kemudian ia minta pertimbangan Sang istri untuk mensedekahkan semua simpanan pangannya kepada fakir miskin. “Hampir sebulan kita mendapat pendidikan dari Ramadan, bahwa lapar dan haus itu teramat pedih. Segala puji bagi Allah, yang sering memberi hari-hari kita dengan perut sering terisi…”

Singkat cerita, sore itu juga, beberapa jam sebelum takbir berkumandang, Ali bin Abi Thalib terlihat sibuk mendorong pedatinya, yang terdiri dari tiga karung gandum dan dua karung kurma hasil dari panen kebunnya. Ingat satu pedati (gerobak), bukan hanya sejumput gandum yang nilainya hanya setara 2,5 Kg beras untuk zakat fitrah.

Ia berkeliling dari pojok kota dan perkempungan untuk membagi-bagikan gandum dan kurma itu kepada fakir miskin dan yatim/piatu. Sementara istrinya, Sayidah Fathimah az-Zahra, sambil menuntun dua putranya Hasan dan Husein, nampak di tangannya memegang kantong plastik yang besar.

    Mereka sekeluarga, kompak mendatangi kaum fakir miskin untuk disantuni. Begitu mereka berjalan sampai larut malam, tangannya membagikan santunan, bibirnya bertakbir kepada Allah.

Esok harinya tiba salat Idul Fitri. Sayidina Ali naik mimbar dan berkotbah di Masjid Qiblatain, potongan isi khotbah itu di antaranya tentang beberapa tanda-tanda orang yang mendapatkan “taqwa” dari puasanya yang sebulan penuh :

“Yaitu mereka yang peka hati nuraninya, sehingga menggerakkan tangannya untuk peduli kepada sesama, berbagi rezeki, berbagi kebahagiaan, berbagi senyuman yang hangat, sebab kita semua sudah merasakan, bahwa lapar dan dahaga itu sesuatu yang berat…” Begitulah Sayidina Ali, beliau tak akan pernah mengucapkan, sebelum ia sendiri sudah melakukan dan memberi keteladanan.

Setelah salat ‘Id selesai dan hari masih sangat pagi, karib beliau, Ibnu Rafi’i dan Abu Al Aswad Ad Du’ali berkunjung dan bermaksud untuk mengucapkan selamat Idul Fitri kepada keluarga Rasulullah saw itu, oh, begitu pintu terbuka, alangkah kagetnya mereka berdua, kedua hidung dua karib ini lamat-lamat mencium aroma yang tak sedap, dari nampan yang berisi gandum dan roti kering yang sudah basi dan disantapnya makanan yang tak layak konsumsi itu dengan lahapnya. Seketika itu Ibnu Rafi’i dan dan Al Aswad ad-Du’ali berucap istighfar, sambil berpelukan dan menangis, karena kedua dada sahabat ini sakit dan nyeri.

Merasa tak kuat melihat pemandangan itu, mereka kemudian, berpamitan, setelah berpelukan, merekapun pergi menjauh dari pemandangan yang menggetarkan itu, di sepanjang jalan mata Ibnu Rafi’i berlinang air mata, perlahan butiran itu menetes di pipinya dan jatuh ke tanah seperti mengukir sebuah jejak kesedihan sampai ke kediamannya. Idul Fitri yang seharusnya penuh suka cita, tapi pagi itu mereka bersedih.

Sementara Abu Al Aswad ad-Du’ali, terus bertakbir di sepanjang jalan, kecamuk dalam dadanya sangat kuat, setengah lari ia pun bergegas menghadap Rasulullah saw. Tiba di depan Rasulullah, iapun mengadu “Ya Rasulallah. Putra baginda, putri baginda dan cucu baginda,” ujar ad-Du’ali terbata-bata. “Tenangkan dirimu, ada apa wahai sahabatku?” tanya Rasulullah menenangkan.

“Segeralah ke rumah menantu dan putri baginda, ya Rasulalloh. Saya khawatir cucu baginda Hasan dan Husein akan sakit.”

“Ada apa dengan cucuku dan keluargaku?”

“Saya tak kuat menceritakan itu sekarang, lebih baik menengoknya…”

Tak berpikir lama, Rasulullah pun segera menuju rumah putrinya. Tiba sampai di halaman rumah, tak ada apa-apa yang dikhawatirkan oleh ad-Du’ali, keluarga itu tak merasa ada apapun yang aneh, justru senda gurau tawa bahagia mengisi percakapan antara Sayidina Ali, Sayyidatuna Fathimah dan kedua anaknya.

Bahkan yang sedikit aneh, mata ad-Du’ali sendiri menyaksikan, ternyata keluarga itu masih menyimpan sedikit kurma yang layak dikonsumsi untuk menyambut tamu yang datang. Mata Rasulullah pun sembab, beliau terharu, sebab ia sendiri melihat bekas-bekas makanan basi yang sudah disantap keluarga itu dan bauh anyirnya masih menyengat. Tak terbendung juga butiran mutiara bening menghiasi wajah Rasulullah nan bersih.

“Ya Allah, Allahumma Isyhad. Ya Allah saksikanlah, saksikanlah.” Bibir Rasulullah berbisik lembut. Sayidatuna Fathimah tersadar kalau di luar pintu rumah, bapaknya sedang berdiri tegak. Gandum basi yang dipegangnya terjatuh ke lantai.

“Abah, kenapa engkkau biarkan dirimu berdiri disitu, tanpa memberi tahu kami, oh, relakah abah menjadikan kami anak yang tak berbakti?” Berondong Fathima spontan, lalu mencium tangan Abahnya dan mempersilahkan abahnya ke ruang tamu. “Kenapa Abah menangis? Kenapa pula sahabat ad-Duali mengikuti di belakang Abah.”

Rasulullah tak tahan mendengar pertanyaan itu. Setengah berlari ia memeluk putri kesayangannya sambil berujar, “Semoga kelak surga tempatmu Nak. Surga untukmu.” Mereka yang ada di situ lalu menjawab bersama-sama, Allahuma amin…

Air mata Rasulullah tiba-tiba mengucur deras, saat melihat sendiri dengan matanya akan kesederhanaan dan kebersahajaan putri beliau bersama keluarganya.

Di hari yang Fitri, di saat semua orang berkumpul, canda gurau dan berbahagia, di saat semua hidangan kuliner aneka rupa menumpuk di meja makan. Keluarga Rasulullah saw cukup tersenyum bahagia dengan gandum dan sepotong roti basi yang baunya tercium tak sedap, oleh siapapun yang menghampiri.

    Ganjil memang, dan orang bisa saja bilang; Duh, segitunya… tetapi orang boleh jadi berbeda dalam penghayatannya pada sesuatu yang bersifat transendental.

Demikianlah, sekelumit kesaksikan sahabat ad Duali dan Ibnu Rafi’i, atas keluarga Rasulullah saw. pada hari Idul Fitri, selalu saja mereka, orang-orang mulia itu, menyantap makanan yang basi berbau anyir. Jika masih tersisa sedikit yang layak konsumsi itu khusus dihidangkan buat tamu.

Ibnu Rafi’i berkata, “Itulah salah satu dampak pendidikan Ramadan bagi keluarga Nabi, dan aku diperintahkan oleh Rasulullah saw agar tidak menceritakan tradisi keluarganya setiap Idul Fitri. Aku pun simpan kisah itu dalam hatiku. Namun, setelah Rasulullah saw. meninggal, aku takut dituduh menyembunyikan hadis, maka terpaksa aku ceritakan agar jadi pelajaran bagi segenap kaum Muslimin untuk benar-benar bisa mengambil hikmah dari madrasah Ramadan.” Demikian tulis Musnad Imam Ahmad, jilid 2, halaman. 232.

Memang ada sesuatu yang amat rumit Ketika kerakusan materi sudah memenuhi diri kita.

Oh, alangkah jauhnya perbedaan keadaan kita dengan para teladan dan panutan kita sendiri.

Wallahu’alam Bisshawab.

 

PREDIKSI ULAMA DAN BEBERAPA TANDA MALAM LAILATUL QODAR

PREDIKSI LAILATUL QADAR

Pertama:

Dalam kitab I’anatuththalibiin juz II halaman 257 :

قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر،

فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء: فهي ليلة تسع وعشرين.

أو يوم الاثنين: فهي ليلة إحدى وعشرين.

أو يوم الثلاثاء أو الجمعة: فهي ليلة سبع وعشرين.

أو الخميس: فهي ليلة خمس وعشرين.

أو يوم السبت: فهي ليلة ثلاث وعشرين.

Jika awal Ramadhan hari Ahad atau Rabu maka lailatul qodar malam 29

Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam 21

Jika awal Ramadhan hari Selasa atau Jumat maka lailatul qodar malam 27

Jika awal Ramadhan hari Kamis maka lailatul qodar malam 25

Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka lailatul qodar malam 23

Kedua:

Dalam kitab Hasyiyah ash Shaawi ‘alal Jalaalain juz IV halaman 337 :

فعن أبي الحسن الشاذلي إن كان أوله الأحد فليلة تسع وعشرين ، أو الإثنين فإحدي وعشري أو الثلاثاء فسبع وعشرين أو الأربعاء فتسعة عشر أو الخميس فخمس وعشرين أو الجمعة فسبعة عشر أوالسبت فثلاث وعشرين

Jika awal Ramadhan hari Ahad maka lailatul qodar malam 29

Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam 21

Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qodar malam 27

Jika awal Ramadhan hari Rabu maka lailatul qodar malam 19

Jika awal Ramadhan hari Kamis maka lailatul qodar malam 25

Jika awal Raamadhan hari Jumat maka lailatul qadar malam 17

Jika awal Raamadhan hari Sabtu maka lailatul qadar malam 23

Ketiga:

Dalam kitab Hasyiyah al Bajuri ‘ala Ibni Qaasim al Ghaazi juz I halaman 304 :

وذكرو لذلك ضابطا وقد نظمه بعضهم بقوله

: وإنا جميعا إن نصم يوم جمعة ¤ ففي تاسع العشرين خذ ليلة القدر .

وإن كان يوم السبت أول صومنا ¤ فحادي وعشرين اعتمده بلا عذر

. وإن هل يوم الصوم في أحد ففي ¤ سابع العشرين ما رمت فاستقر

. وإن هل بالأثنين فاعلم بأنه ¤ يوافيك نيل الوصل في تاسع العشري

. ويوم الثلاثا إن بدا الشهر فاعتمد ¤ علي خامس العشرين تحظي بها فادر .

وفي الإربعا إن هل يا من يرومها ¤ فدونك فاطلب وصلها سابع العشري .

ويوم الخميس إن بدا الشهر فاجتهد ¤ توافيك بعد العشر

في ليلة الوتر .

Jika awal Ramadhan hari Jumat maka lailatul qodar malam 29

Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka lailatul qodar malam 21

Jika awal Ramadhan hari Ahad maka lailatul qodar malam 27

Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam 29

Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qodar malam 25

Jika awal Raamadhan hari Rabu maka lailatul qadar malam 27

Jika awal Raamadhan hari Kamis maka malam ganjil setelah malam 20

Tanda-tanda Lailatul Qadar:

Imam Muslim dalam kitab Shahihnya juz I halaman 306,cetakan al Ma’arif Bandung Indonesia:

Sanad dan matannya sebagai berikut:

حدثنا محمد بن مهران الرازي حدثنا الوليد بن مسلم حدثنا الأوزاعي حدثني عبدة عن زر قال س

معت أبي بن كعب يقول وقيل له إن عبد الله بن مسعود يقول من قام السنة أصاب ليلة القدر فقال أبي والله الذي لا إله إلا هو إنها لفي رمضان {يحلف ما يستثني] ووالله إني لأعلم أي ليلة هي هي الليلة التي أمرنا بها رسول الله صلي الله عليه وآله وسلم بقيامها هي ليلة صبيحة سبع وعشرين وأمارتها أن تطلع الشمس في صبيحة يومها بيضاء لا شعاع لها .

”…….Ubay ibn Ka’b,dia berkata: “… demi Dzat yang tiada tuhan kecuali Dia, sungguh malam (Lailatul Qadar) itu ada dalam bulan Ramadhan. Demi A llah aku sungguh tahu kapan malam itu, yaitu malam yang kita diperintah oleh Rasulullah SAW untuk beribadah didalamnya, yaitu malam 27 yang bersinar. Adapun tanda-tandanya adalah matahari terbit pagi harinya dengan cahaya putih namun tidak ada sorotnya

Al Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya juz IV halaman 846:

ذكر أثر غريب ونبأ عجيب، يتعلق بليلة القدر، رواه الإمام أبو محمد بن أبي حاتم، عند تفسير هذه السورة الكريمة فقال:

حدثنا أبي، حدثنا عبد الله بن أبي زياد القَطواني، حدثنا سيار بن حاتم،

حدثنا موسى بن سعيد – يعني الراسبي- عن هلال أبي جبلة، عن أبي عبد السلام، عن أبيه، عن كعب أنه قال:إن سدرة المنتهى على حد السماء السابعة، مما يلي الجنة، فهي على حَدّ هواء الدنيا وهواء الآخرة، عُلوها في الجنة، وعروقها وأغصانها من تحت الكرسي، فيها ملائكة لا يعلم عدّتهم إلا الله، عز وجل، يعبدون الله، عز وجل، على أغصانها في كل موضع شعرة منها ملك. ومقام جبريل، عليه السلام، في وسطها، فينادي الله جبريل أن ينـزل في كل ليلة قَدْر مع الملائكة الذين يسكنون سدرة المنتهى، وليس فيهم ملك إلا قد أعطى الرأفة والرحمة للمؤمنين، فينـزلون على جبريل في ليلة القدر، حين تغرب الشمس، فلا تبقى بقعة في ليلة القدر إلا وعليها ملك، إما ساجد وإما قائم، يدعو للمؤمنين والمؤمنات، إلا أن تكون كنيسة أو بيعة، أو بيت نار أو وثن، أو بعض أماكنكم التي تطرحون فيها الخبَث، أو بيت فيه سكران، أو بيت فيه مُسكر، أو بيت فيه وثن منصوب، أو بيت فيه جرس مُعَلّق، أو مبولة، أو مكان فيه كساحة البيت، فلا يزالون ليلتهم تلك يدعون للمؤمنين والمؤمنات، وجبريل لا يدع أحدًا من المؤمنين إلا صافحه، وعلامة ذلك مَن اقشعر جلدهُ ورقّ قلبه ودَمعَت عيناه، فإن ذلك من مصافحة جبريل.

Menuturkan atsar yang gharib yang berkaitan dengan lailatul Qadar yang diriwayatkan oleh Imam Abu Muhammad ibn Abi Hatim ketika memberi tafsir surat ini (“INNAA ANZALNAAHU”)

……….. dari KA’AB, bahwasanya di malam Lailatul Qadar, Malaikat Jibril tidak menyisakan satupun dari orang-orang mukmin kecuali dia menjabat tangannya. Adapun tanda-tandanya ialah gemetar kulitnya (mrinding.Jw), lembut hatinya dan air matanya mengalir. Itu adalah karena jabat tangan malaikat Jibril

Imam Ibn Khuzaimah meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab shahihnya juz VIII halaman 106,

Sanad dan matannya sebagai berikut:

حدثنا بندار ، حدثني أبو عامر ، حدثنا زمعة ، عن سلمة هو ابن وهرام ، عن عكرمة ، عن ابن عباس ، عن النبي صلى الله عل

يه وسلم في ليلة القدر : « ليلة طلقة ، لا حارة ولا باردة ، تصبح الشمس يومها حمراء ضعيفة »

“…dari Ibn Abbas,dari Nabi Shollallaahu ‘alaihi wasallam, tentang Lailatul Qadar :”Malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan”

Ath Thabarani meriwayatkan dalam Musnad Syamiyyin juz IV halaman 309 nomor urut 3389 meriwayatkan:

Sanad dan matannya sebagai berikut:

حدثنا الوليد بن حماد الرملي ثنا سليمان بن

عبد الرحمن ثنا بشر بن عون ثنا بكار بن تميم عن مكحول عن واثلة بن الأسقع عن رسول اللهA قال ( ليلة القدر ( ليلة ) بلجة لا حارة ولا باردة ولا سحاب فيها ولا مطر ولا ريح ولا يرمى فيها بنجم ومن علامة يومها تطلع الشمس لا شعاع لها )

“…Dari Watsilah ibn al Asqa’ dari Rasulillah Shollallaahu ‘alaihi wasallam:

(Lailatul Qadar itu adalah) “Malam yang terang bercahaya, tidak panas, tidak dingin, tiada awan, tiada hujan, tiada angin, dan dimalam itu tiada dilempar dengan bintang. Tanda dipagi harinya adalah matahari terbit tanpa ada cahaya yang bersinar”.

WALLOHU’ALAM BIS SHOWAB

MAKSUD DI WAJIBKANYA MANUSIA BERIBADAH KEPADA ALLOH SWT.

Tujuan dan maksud “diwajibkanya ibadah” terhadap makhluk oleh Alloh untuk apa?

Inilah Penjelasan dari kitab Hikam karya Ibnu ‘Athoillah as Sakandari dan Syarahnya.

عَلِمَ قِلَّةَ نُهوضِ العِبادِ إلى مُعامَلَتِهِ، فَأوْجَبَ عَلَيْهِمْ وُجودَ طاعَتِهِ، فَساقَهُمْ إلَيْهِ بِسَلاسِلِ الإيْجابِ. “عَجِبَ رَبُّكَ مِنْ قَوْمٍ يُساقونَ إلى الجَنَّةِ بِالسَّلاسِلِ”.

Allah Maha mengetahui tentang kemalasan hamba-Nya dalam berhubungan dengan-Nya, sehingga dia menjadikan ketaatan kepada-Nya sebagai kewajiban mereka. Lalu Allah menggiring mereka kepada ketaatan dengan rantai kewajiban. Rabbmu heran dengan orang-orang yang digiring ke syurga dengan menggunakan rantai (kewajiban) tersebut.

أوْجَبَ عَلَيْكَ وُجودَ خِدْمَتِهِ، وَما أوْجَبَ عَلَيْكَ إلا دُخولَ جَنَّتِهِ.

Allah mewajibkanmu berkhidmat (mengabdi) kepada-Nya, dan Dia tidak mewajibkan sesuatu kecuali masuk syurga-Nya

Berikut ini penjelasannya :

Allah Maha mengetahui tentang kemalasan hamba-Nya dalam berhubungan dengan-Nya yaitu menegakkan sifat kehambaan berupa ktaatan dari mereka , sehingga Dia mewajibkan kepada mereka sebagai wujud ketaatan dan pemaksaan dgn tujuan menakut2ti mereka jika tdk melakukannya, kemudian Allah menggiring mereka dengan rantai2 kewajiban dan peringatan serta menaikkan mereka dengan rantai tsb kpd kenikmatan2 utk mereka dan mengangkat mereka ke maqom yg tinggi.

Allah mewajibkanmu berkhidmat (mengabdi) kepada-Nya, dan Dia tidak mewajibkan sesuatu kecuali masuk syurga-Nya,maksudnya adalah Allah yg maha haq mewajibkan kpdmu dalam segi dhohir utk berkhidmah kpd-Nya, sedangkan dari segi bathin dan hakekat Dia tdk mewajibkan kpdmu kecuali utk masuk kesyurga-Nya .karena sesungguhnya Allah ta’ala menjadikan amalan2 sebagai penyebab utk masuk syurga.maksud dari kalam hikmah ini dan yg sebelumnya adalah pemberitahuan bahwa sesungguhnya Allah ta’ala tdk membutuhkan makhluknya, ketatan mereka tdklah bermanfaat kpd-Nya , kemaksiatan mereka juga tdk membahayakan-Nya , bahkan manfaat beban taklif semuanya kembali kepada mereka semuanya. Allah Maha kaya lagi maha terpuji.

Wallohu a’lam.

( 195 ) علم قلة نهوض العباد إلى معاملته فأوجب عليهم وجود طاعته فساقهم إليه بسلاسل الإيجاب ” عجب ربك من قوم يساقون إلى الجنة بالسلاسل ” أي علم الله سبحانه وتعالى قلة نهوض عامة عباده إلى معاملته من إقامة العبودية طوعاً منهم فأوجب عليهم وجود طاعته كرهاً لأجل ما خوفهم به أن لم يفعلوا فساقهم إليه بسلاسل الإيجاب و التخويف و استدرجهم بذلك إلى ما فيه نعيمهم و رفعهم إلى المقام المنيف كما يفعل ولي الصبي عند إرادة تأديبه فإنه لا يتركه إلى طبيعته و أهوائه تجري به بل يلزمه أموراً يشق عاليه فعلها فإذا بلغ مبلغ الرجال تبين له نفعها . فيكونون كأسارى الكفار الذين يراد بهم الدخول في الإسلام و هم يكرهون ذلك مع أنه موصل إلى الجنة دار السلام كما أشار إلى ذلك بالحديث الشريف الذي رواه بالمعنى و لفظه : ” عجب اللَّه من أقوام يقادون إلى الجنة بالسلاسل ” . و هذا الحديث في أسارى بدر الذين أسروا ثم أسلموا و المراد من قوله : ( عجب ربك . . الخ ) إظهار غرابة ذلك الأمر لخلقه فيتعجبون منه لأن العجب الذي هو استعظام أمر خفي سببه مستحيل على اللَّه تعالى . واعلم أن الخاصة لا يحتاجون إلى الإيجاب و التخويف و التحذير لتنوير بصائرهم و حبهم لطاعة اللطيف الخبير فلم يقتصروا على ما اقتصر عليه العامة من الواجبات بل أضافوا إليها نوافل الخيرات وصارت أعمالهم كلها قربات . و إلى ذلك الإشارة بقوله صلى اللَّه عليه و سلم : ” نعم العبد صهيب لو لم يخف اللَّه لم يعصه ”

( 196 ) أوجب عليك وجود خدمته و ما أوجب عليك إلا دخول جنته أي أوجب الحق تعالى عليك في الظاهر وجود خدمته و في الحقيقة و نفس الأمر ما أوجب عليك إلا دخول جنته فإنه سبحانه جعل الأعمال سبباً لدخول الجنة و المقصود بهذه الحكمة و ما قبلها الإعلام بأن اللَّه تعالى غني عن خلقه لا تنفعه طاعتهم و لا تضره معصيتهم بل التكاليف كلها ترجع إلى ما فيه منفعتهم و اللَّه هو الغني الحميد

PENJELASAN HUKUM ZIARAH KUBUR MENJELANG BULAN RAMADHAN

Diantara tradisi menjelang bulan Ramadhan (akhir Sya’ban) adalah ziarah kubur. Sebagian mengistilahkan tradisi ini sebagaiarwahan, nyekar (sekitar Jawa Tengah),kosar (sekitar JawaTimur), munggahan(sekitar tatar Sunda) dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang, hal ini menjadi semacam kewajiban yang bila ditinggalkan serasa ada yang kurang dalam melangkahkan kaki menyongsong puasa Ramadhan.

Memang, pada masa awal-awal Islam, Rasulullah saw memang pernah melarang umat Islam berziarah ke kuburan, mengingat kondisi keimanan mereka pada saat itu yang masih lemah. Serta kondisi sosiologis masyarakat arab masa itu yang pola pikirnya masih didominasi dengan kemusyrikan dan kepercayaan kepada para dewa dan sesembahan. Rasulullah saw mengkhawatirkan terjadinya kesalah pahaman ketika mereka mengunjungi kubur baik dalam berperilaku maupun dalam berdo’a.

Akan tetapi bersama berjalannya waktu, alasan ini semakin tidak kontekstual dan Rasulullahpun memperbolehkan berziarah kubur. Demikian keterangan Rasulullah saw dalam Sunan Turmudzi no 973

حديث بريدة قال : قال رسول الله صلى الله علية وسلم :”قد كنت نهيتكم عن زيارة القبور فقد أذن لمحمد في زيارة قبر أمه فزورها فإنها تذكر الآخرة”رواة الترمذي (3/370

Hadits dari Buraidah ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda “Saya pernah melarang berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad telah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang berziarahlah..! karena hal itu dapat mengingatkan kamu kepada akhirat. 

Demikianlah sebenarnya hukum dasar dibolehkannya ziarah kubur dengan illat (alasan) ‘tazdkiratul akhirah’ yaitu mengingatkan kita kepada akhirat. Oleh karena itu dibenarkan berziarah ke makam orang tua dan juga ke makam orang shalih dan para wali. Selama ziarah itu dapat mengingatkan kita kepada akhirat. Begitu pula ziarah ke makam para wali dan orang shaleh merupakan sebuah kebaikan yang dianjurkan, sebagaimana pendapat Ibnu Hajar al-Haytami dalam kitab ‘al-fatawa al-fiqhiyah al-kubra’. Inilah yang menjadi dasar para ustadz dan para jama’ah mementingkan diri berziarah ke maqam para wali ketika usai penutupan ‘tawaqqufan’kegiatan majlis ta’lim.

وسئل رضي الله عنه عن زيارة قبور الأولياء فى زمن معين مع الرحلة اليها هل يجوز مع أنه يجتمع عند تلك القبور مفاسد كاختلاط النساء بالرجال وإسراج السرج الكثيرة وغير ذلك فأجاب بقوله زيارة قبور الأولياء قربة مستحبة وكذا الرحلة اليها.

Beliau ditanya tentang berziarah ke makam para wali pada waktu tertentu dengn melakukan perjalanan khusus ke makam mereka. Beliau menjawab, berziarah ke makam para wali adalah ibadah yang disunnahkan. Demikian pula perjalanan ke makam mereka.

Adapun mengenai hikmah ziarah kubur Syaikh Nawawi al-Bantani telah menuliskannya dalamNihayatuz Zain demikian keterangannya “disunnahkan untuk berziarah kubur, barang siapa yang menziarahi makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari jum’at, maka Allah mengampuni dosa-dosanya dan dia dicatat sebagai anak yang taat dan berbakti kepada kedua orang tuanya”…

Demikianlah hikmah di balik ziarah kubur, betapa hal itu menjadi kesempatan bagi siapa saja yang merasa kurang dalam pengabdian kepada orang tua semasa hidupnya. Bahkan dalam keteragan seanjutnya masih dalam kitab Nihayatuz Zain diterangkan “barang siapa menziarahi kubur kedua orang tuanya setiap hari jum’at pahalanya seperti ibadah haji”

Apa yang dikatakan Syaikh Nawawi dalam Nihayuatuz Zain juga terdapat dalam beberapa kitab lain, bahkan lengkap dengan urutan perawinya. Seperti yang terdapat dalam al-Mu’jam al-Kabir lit Tabhrani juz 19.

حدثنا محمد بن أحمد أبو النعمان بن شبل البصري, حدثنا أبى, حدثنا عم أبى محمد بن النعمان عن يحي بن العلاء البجلي عن عبد الكريم أبى أمية عن مجاهد عن أبى هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “من زار قبر أبويه أو احدهما فى كل جمعة غفر له وكتب برا 

Rasulullah saw bersabda “barang siapa berziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari jum’at maka Allah mengampuni dosa-dosanya dan dia dicatat sebagai anak yang ta’at dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Adapun mengenai pahala haji yang disediakan oleh Allah swt kepada mereka yang menziarahi kubur orang tuanya terdapat dalam kitab Al-maudhu’at berdasar pada hadits Ibn Umar ra.

أنبأنا إسماعيل بن أحمد أنبأنا حمزة أنبأنا أبو أحمد بن عدى حدثنا أحمد بن حفص السعدى حدثنا إبراهيم بن موسى حدثنا خاقان السعدى حدثنا أبو مقاتل السمرقندى عن عبيد الله عن نافع عن ابن عمر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” من زار قبر أبيه أو أمه أو عمته أو خالته أو أحد من قراباته كانت له حجة مبرورة, ومن كان زائرا لهم حتى يموت زارت الملائكة قبره

Rasulullah saw bersabda “Barang siapa berziarah ke makam bapak atau ibunya, paman atau bibinya, atau berziarah ke salah satu makam keluarganya, maka pahalanya adalah sebesar haji mabrur. Dan barang siapa yang istiqamah berziarah kubur sampai datang ajalnya maka para malaikat akan selalu menziarahi kuburannya”

Akan tetapi tidak demikian hukum ziarah kubur bagi seorang muslimah. Mengingat lemahnya perasaan kaum hawa, maka menziarahi kubur keluarga hukumnya adalah makruh. Karena kelemahan itu akan mempermudah perempuan resah, gelisah, susah hingga menangis di kuburan. Itulah yang dikhawatirkan dan dilarang dalam Islam. Seperti yang termaktub dalam kitabI’anatut Thalibin. Sedangkan ziarah seorang muslimah ke makam Rasulullah, para wali dan orang-orang shaleh adalah sunnah.

(قوله فتكره) أي الزيارة لأنها مظنة لطلب بكائهن ورفع أصواتهن لما فيهن من رقة القلب وكثرة الجزع

Dimakruhkan bagi wanita berziarah kubur karena hal tersebut cenderung membantu pada kondisi yang melemahkan hati dan jiwa.

 

Dalam kitab tarikh baghdad halaman 445 jilid 1, Pengarang nya adalah imam abu bakar ahmad bin ali bin tsabit al bagdad, beliau dikenal dengan khatib bagdad, seorang hafizh, bahkan kata ulama bagdad, tidak ada lagi yang lebih hafizh di negeri bagdad setelah wafat imam daruqutni selain khatib bagdad, Ini riwayat nya :

أخبرني أبو إسحاق إبراهيم بن عمر البرمكي قال حدثنا أبو الفضل عبيد الله بن عبد الرحمن بن محمد الزهري قال سمعت أبي يقول : قبر معروف الكرخي مجرب لقضاء الحوائج ويقال : إنه من قرأ عنده مائة مرة قل هو الله أحد وسأل الله ما يريد قضى الله له حاجته

Khatib baghdad telah mengatakan riwayat ini shohih,Setelah ku teliti ternyata memang shohih, Simak penjelasan keshohihan riwayat ini yang akan aku bahas Rawi 1 :

أبو إسحاق إبراهيم بن عمر البرمكي

Abu ishaq ibrahim bin umar albarmaki ,Dalam siyar a’lam nubala imam zahabi mengatakan, beliau ini adalah seorang imam, mufti, musnid dunia, ahli faraidh, zuhud, sholeh, dengan smua sifat di atas, maka dapat disimpulkan semua riwayat beliau dapat dpercaya 1 juta persen

Rawi 2 :

أبو الفضل عبيد الله بن عبد الرحمن بن محمد الزهري

Abul fadhl, ubaidullah bin abdurrahman bin muhammad azzuhri, Imam hadist daruqutni mengatakan bahwa beliau adalah seorang tsiqoh, dipercaya, dan banyak punya karangan, Dalam siyar a’lam nubala imam zahabi mengatakan beliau seorang tsiqoh, musnid, ahli ibadah, Beliau adalah cucu abdurrahman bin auf. Jadi dari keterangan di atas, riwayat dari beliau dapat dpercaya 1 juta persen,

Rawi 3 :

عبد الرحمن بن محمد بن عبيد الله بن سعد بن إبراهيم بن سعد بن إبراهيم بن عبد الرحمن بن عوف الصحابي

Ayah beliau yaitu abdurrahman bin muhammad, Imam khatib bagdad mengatakan beliau tsiqoh dalam riwayat hadist, Dan riwayat beliau dapat diterima juga 1 juta persen,

أخبرني أبو إسحاق إبراهيم بن عمر البرمكي

Imam khatib bagdad mengatakan telah mengkhabarkan kepada kami seorang yang sholeh abu ishaq ibrahim bin umar albarmaki

قال حدثنا أبو الفضل عبيد الله بن عبد الرحمن بن محمد الزهري

Abu ishaq mengatakan telah mengkhabarkan kepada kami abulfadhli ubaidullah bin abdurrahman bin muhammad azzuhri

قال سمعت أبي

Beliau mengatakan aku mendengar ayahku abdurrahman bin muhammad azzuhri

يقول : قبر معروف الكرخي مجرب لقضاء الحوائج

Beliau selalu (fi’il mudhari lil istimror) mengatakan : bermula kuburan wali besar ma’ruf al karkhi, sangat mujarrab untuk menunaikan segala hajat

ويقال : إنه من قرأ عنده مائة مرة قل هو الله أحد وسأل الله ما يريد قضى الله له حاجته

Dan dikatakan orang : sesungguhnya (hal wasyan) siapapun yang membaca (fi’il syarat) di sisi kuburan ma’ruf alkarkhi surah al ikhlas 100 x, beserta (waw ma’iyyah) ia meminta kepada Allah apa saja yang ia hendaki, (jawab syarat ) maka PASTI ALLAH QABULKAN HAJAT nya,

Dari sini dalil disuruhnya kita menziarahi kuburan para wali jika ada hajat dunia atau akhirat,

Kemudian dalam riwayat di atas, nama ma’ruf alkarkhi tidak menjadi qaid, dan tidak terhenti fahaman cuma sampai pada beliau saja, tapi menziarahi kubur semua para wali-wali Allah dan minta berkah dan hajat dikuburan itu sama saja, akan diqabulkan Allah juga hajatnya,

Adapun hadist shohih yang diriwayatkan oleh imam bukhari

حدثنا عبد الله بن مسلمة عن مالك عن ابن شهاب عن سعيد بن مسيب عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : قاتل الله اليهود اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

Rasul bersabda : mudah-mudahan Allah membunuh, melaknat qaum yahudi, yang mereka menjadikan quburan para nabi mereka itu TEMPAT TEMPAT SUJUD, MASAJID itu jamak dari isim makan MASJID, MASJIDUN MASJIDAANI MASAAJIDU.

Adapun jika kita tidak menjadikan kuburan itu tempat sujud atau arah sujud, atau sujud dengan tidak ada niat menujukan ke kuburan itu,maka lepaslah dari laknat Allah seperti Allah melaknat yahudi di atas. Kuburan para wali dan para nabi adalah sumber berkah, kita disuruh sekedar ziarah, dan ngambil berkah di sana.

BOLEHKAH MEMBACA AL-QUR’AN DI KUBURAN?

Membaca Al-Quran di kuburan (pemakaman) merupakan salah satu SUNNAH yang biasa dilakukan oleh umat Islam. Dalam HADITS HASAN SAHIH Rasulullah SAW bersabda,:

“Jika salah seorang di antara kalian ada yang meninggal, maka jangan tunda-tunda pemakamannya, akan tetapi segera hantarkan ia ke kubur. Dan hendaknya di makamnya, di dekat kepalanya DIBACAKAN FATIHATUL KITAB ( Surat Al-Fatihah) dan di dekat kakinya DIBACAKAN PENUTUP SURAT AL-BAQARAH.” (Hadits Hasan Sahih Riwayat Thabrani dan Baihaqi)

 

HUKUM MEMBERI DAN MENGUSAPKAN MINYAK WANGI PADA NISAN KUBURAN

Hukumnya boleh, disamakan dengan air mawar yang wangi sebagaimana jawaban dari kang Imam Tontowi :
Hasyiyah Al-Jamal ‘Alal Minhaj II / 38
ـ (قَوْلُهُ وَيُكْرَهُ رَشُّهُ بِمَاءِ الْوَرْدِ) أَيْ ; لِأَنَّهُ إضَاعَةُ مَالٍ وَإِنَّمَا لَمْ يَحْرُم ; لِأَنَّهُ يُفْعَلُ لِغَرَضٍ صَحِيحٍ مِنْ إكْرَام الْمَيِّت وَإِقْبَالِ الزُّوَّارِ عَلَيْهِ لِطِيبِ رِيحِ الْبُقْعَةِ بِهِ فَسَقَطَ قَوْلُ الْإِسْنَوِيِّ, وَلَوْ قِيلَ بِتَحْرِيمِهِ لَمْ يَبْعُدْ وَيُؤَيِّدُ مَا ذَكَرَهُ قَوْلُ السُّبْكِيّ لَا بَأْسَ بِالْيَسِيرِ مِنْهُ إذَا قُصِدَ حُضُورُ الْمَلَائِكَةِ ; لِأَنَّهَا تُحِبُّ الرَّائِحَةَ الطَّيِّبَةَ ا هـ. شَرْحُ م ر (قَوْلُهُ وَوَضْعُ حَصًى) أَيْ صِغَارٍ ا هـ. شَرْحُ م ر (قَوْلُهُ وَنَحْوُهُمَا) أَيْ مِنْ الْأَشْيَاءِ الرَّطْبَةِ فَيَدْخُلُ فِيهِ الْبِرْسِيمُ وَنَحْوُهُ مِنْ جَمِيعِ النَّبَاتَاتِ الرَّطْبَةِ ا هـ. عِ ش عَلَى م ر
(Keterangan ucapan “dimakruhkan memercikinya dengan air mawar”) maksudnya karena hal itu termasuk menyia-nyiakan harta. Adapun alasan kenapa tidak haram, karena hal itu dikerjakan sebab tujuan yang bisa dibenarkan (shahih) seperti memuliakan mayyit, dan mengarahkan para peziarah (datang) ke situ sebab wanginya bau bidang tanah tersebut, sehingga gugurlah pendapat imam Asnawi. Andai dikatakan harampun itu tidak jauh berbeda. Namun pendapat imam Subki menguatkan tidak mengapa (hukumnya boleh) jika sedikit dan bertujuan agar para malaikat hadir, karena mereka suka bau wewangian.

Dari keterangan panjang ini, maka tradisi berziarah kubur tetaplah perlu dilestarikan karena tidak bertentangan dengan syari’ah Islam. Bahkan malah dapat mengingatkan akan kehidupan di akhirat nanti. Apalagi jika dilakukan di akhir bulan Sya’ban. Hal ini merupakan modal yang sangat bagus untuk mempersiapkan diri menyongsong bulan Ramadhan.

HIDUP MENJADI SELALU INDAH DENGAN QONA’AH(MERASA CUKUP DENGAN PEMBERIAN ALLOH)

Qana’ah adalah suatu sikap merasa cukup dengan pembagian rizki yang diberikan Allah, dan menyandarkan kebutuhan hanya kepada Allah SWT. Seorang yang qana’ah akan memohon hanya kepada-Nya, tidak kepada yang lain.

Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad bersyair:

Andai dirimu ridha dengan bagian yang dijatahkan kepadamu, niscaya dirimu hidup penuh kenikmatan.

Namun bila dirimu tiada pernah ridha, maka dirimu senantiasa dalam kegundahan.

Qana’ah adalah awal dari sikap ridha. Setiap orang yang memiliki sikap qana’ah pasti mendapatkan bagian dari ridha. Sikap qana’ah akan tumbuh bila seseorang cermat dalam berinfak serta tidak berfoya-foya. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Orang yang cermat berbelanja akan dicukupkan kebutuhannya oleh Allah SWT, sedangkan orang yang mubazir akan difakirkan oleh Allah SWT.”

Seseorang akan memiliki sikap qana’ah bila ia benar-benar pasrah pada pembagian Allah SWT. Dalam Al-Qur’anul Karim, Allah SWT berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS;Hud ayat 6)

Sikap pasrah semacam ini adalah ilmu, cermat berinfak adalah amal. Sementara itu, pondasi qana’ah adalah kesabaran, pendek angan, memahami bahaya kekayaan dan keutamaan qana’ah. Dalam syair yang lain, Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad berpesan:

Sungguh, qana’ah adalah harta yang takkan pernah punah.

Terapkanlah saudaraku, moga engkau beroleh petunjuk. Hidup dengan qana’ah itu asyik.

Hiduplah dengan qana’ah tanpa rasa rakus dan tamak.

Engkau akan mulia, berwibawa dan bermartabat luhur.

Maka jelaslah bahwa qana’ah adalah perilaku menepis rasa rakus dan tamak pada dunia. Ada pun pendek amal adalah kesadaran hati akan begitu dekatnya mati dan segeranya masa peralihan dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat. Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad telah mengulas permasalahan ini dengan begitu panjang di dalam karyanya, An-Nashaihud Diniyah, begitu pula Imam Ghazali di dalam kitabnya, Minhajul Abidin.

Suatu kali Baginda Rasul SAW ditanya mengenai siapa manusia yang paling pandai dan paling mulia. Beliau menjawab, “Yang paling sering mengingat mati dan yang paling semangat mempersiapkan diri untuk mati. Merekalah manusia yang pandai. Mereka melenggang dengan kemuliaan dunia dan akhirat.” Seorang sufi bernama Rabi’ bin Khaitsam pernah berkata, “Andai ingat mati itu terpisah dari hatiku, niscaya hatiku bakal rusak.” Baginda Rasul SAW pernah bersabda, “Permulaan umat ini selamat berkat sikap yakin dan zuhud, sementara akhir umat ini hancur dikarenakan sikap bakhil dan panjang angan.” Beliau pernah berdoa, “Aku berlindung kepada-Mu dari angan-angan yang bisa menghalangi amal yang baik.”

Sesungguhnya angan-angan yang dicela itu adalah angan-angan yang bisa menghambat perbuatan baik. Tidak semua angan-angan tercela. Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad menerangkannya dengan detail dalam kitab Nashaihud Diniyah. Angan-angan yang tercela muncul karena kebodohan, cinta dunia dan terlena dengan syahwat-syahwatnya. Penawar kebodohan semisal itu adalah perenungan yang sungguh-sungguh akan arti kematian. Manusia memang harus pandai merenungi kematian. Baginda Nabi SAW bersabda, “Cintailah orang yang kamu cintai, tapi ingatlah bahwa kamu bakal berpisah dengannya!”

Baitul Makmur

Cinta dunia bisa diobati dengan pengukuhan iman kepada Allah SWT dan hari akhir, serta kesadaran bahwa dunia itu fana, hina dan penuh kebencian. Tanda orang yang memiliki pendek amal adalah semangatnya yang tinggi untuk beramal ibadah dan senantiasa siap menyongsong kematian. Resapilah satu sabda Nabi SAW berikut ini, “Manfaatkanlah lima keadaan sebelum datangnya lima keadaan yang lain: masa mudamu sebelum tuamu; sehatmu sebelum sakitmu; kecukupanmu sebelum fakirmu; waktu luangmu sebelum kesibukanmu; hidupmu sebelum matimu.”

Malik bin Dinar kerap berbisik kepada dirinya sendiri, “Bergegaslah, sebelum perkara itu (maut) tiba!” Ia mengulang perkataan itu enam puluh kali dalam sehari. Ketika memberikan nasehat, ia seringkali berkata, “Segeralah! Segeralah! Bila nafasmu telah tertahan, maka segala amal kebajikan akan terputus darimu.” Ia kemudian membaca sepotong ayat yang berbunyi:

إِنَّمَا نَعُدُّ لَهُمْ عَدًّا

“Karena sesungguhnya kami hanya menghitung datangnya (hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti.”

Nafas ialah saat-saat yang lembut yang akan selalu mengiringi manusia sepanjang hidupnya. Sebagian kaum arifin menyebutkan bahwa di setiap satu jam manusia menarik nafas seribu kali. Jadi dalam sehari semalam ia lazim menarik dua puluh empat ribu nafas. Sebagian yang lain mengungkapkan bahwa dalam sehari terbesit tujuh puluh ribu lintasan hati di dalam sanubari, jumlah yang sama dengan banyaknya malaikat yang memasuki baitul makmur yang tak akan keluar lagi. Tidak diragukan lagi, hati kita adalah baitul makmur, rumah yang dimakmurkan, dengan kebaikan atau dengan keburukan.

Di antara orang-orang yang telah mencapai makrifat itu senantiasa berzikir sebanyak hitungan nafasnya setiap hari, yakni dua puluh empat ribu kali. Faedah ini telah aku terapkan. Meski hitungan nafas masing-masing orang tidak sama, namun kita tahu bahwa akhir hitungan itu adalah berhentinya nafas, terpisahnya keluarga dan masuknya jasad ke dalam kubur.

Nasehat Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi di atas disampaikan beratus tahun silam, namun tetap sangat mengena dengan situasi umat Islam sekarang ini. Umat Islam di era ini telah benar-benar larut ke dalam kecintaan kepada dunia. Cinta mereka begitu menggebu-gebu hingga tiada lagi yang tersisa di dalam benak mereka selain ambisi untuk menumpuk kekayaan, kehormatan, dan kenikmatan-kenikmatan sesaat. Mereka tak lagi mengingat kematian, sesuatu yang pasti memupuskan dunia dan mengantarkan mereka menuju kehidupan yang hakiki.

Di manakah sikap qana’ah saat ini? Siapakah gerangan yang masih kuat berpegang pada sikap itu di tengah derasnya arus kehidupan materialistik yang mendera umat manusia…..?

MENGENAL MACAM- MACAM UJIAN SERTA HIKMAH DI BALIK SIKSAAN

 MACAMNYA UJIAN DAN SIKSAAN

Bala’ atau musibah itu ada tiga macam tujuannya : Yaitu bala’ sebagai hukuman, bala’ sebagai penghapus dosa dan bala’ sebagai pengangkat derajat.

Hal ini berdasarkan keadaan atau reaksi orang yang terkena bala’ tersebut, sebagaimana keterangan dari Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani dalam kitab At Tabaqotul Kubro karya Syeikh Abdul Wahhab As-Sya’roni.

Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani berkata :

علامة الابتلاء على وجه العقوبة، والمقابلة عدم الصبر عند وجود البلاء والجزع، والشكوى إلى الخلق، وعلامة الابتلاء تكفيراً، وتمحيصاً للخطيئات، وجود الصبر الجميل من غير شكوى، ولا جزع ولا ضجر، ولا ثقل في أداء الأوامر، والطاعات، وعلامة الابتلاء لارتفاع الدرجات، وجود الرضا والموافقة، وطمأنينة النفس والسكون للأقدار حتى تنكشف

” Tandanya bala’/ musibah sebagai hukuman dan pembalasan adalah orang yang menerima bala’ tersebut tidak bersabar, malah bersedih dan mengeluh kepada makhluk.

Tandanya bala’/musibah sebagai penebus dan penghapus kesalahan-kesalahan adalah kesabaran yang bagus tanpa adanya mengeluh , tidak bersedih dan tidak gelisah, serta tidak merasa berat ketika melakukan ketaatan – kataatan.

Sedangkan tandanya bala’/ musibah sebagai pengangkat derajat adalah adanya ridho , merasa cocok dan tenangnya jiwa serta tunduk patuh terhadap ketetapan ketetapan Allah hingga hilangnya bala’ tersebut “.

HAKIKAT UJIAN DAN COBAAN HIDUP

الابتلاء ليس احتبارا عن قوتك الذاتية ولكن احتبار عن قوة استعانتك بالله

Ujian dan cobaan dalam kehidupan sejatinya bukan untuk mengukur kekuatan dirimu tetapi untuk mengukur kekuatan kepasrahan, tawakkal dan kesungguhanmu memohon pertolongan dari Allah Azza Wa Jalla

عَنْ سعد بن أبي وقاص قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً قَالَ

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الصَّالِحُونَ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash beliau berkata :

“Aku bertanya kepada Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam : “Ya Rasulallah, siapa manusia yang paling berat cobaannya ?”.

Rasulullah menjawab : “Para Nabi lalu orang-orang shalih lalu orang-orang yang semisal dengan mereka lalu yang semisal dengan mereka. Seseungguhnya seseorang akan diuji sesuai dengan kualitas Dien (agama) nya, semakin kuat ia berpegang teguh dengan Dien nya, semakin berat cobaan dan ujian yang diterimanya. Sedangkan yang Dien nya biasa-biasa saja, maka ia diuji sebatas kualitas Dien nya itu. Dan ujian itu akan terus menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di atas bumi tanpa dosa”.

(HR Tirmidzi dengan derajat Hasan Shahih, Al Hakim dalam Al Mustadrak dan Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban)

Tuhfatul Ahwadzi

ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻗﺘﻴﺒﺔ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺣﻤﺎﺩ ﺑﻦ ﺯﻳﺪ ﻋﻦ ﻋﺎﺻﻢ ﺑﻦ ﺑﻬﺪﻟﺔ ﻋﻦ ﻣﺼﻌﺐ ﺑﻦ ﺳﻌﺪ ﻋﻦ ﺃﺑﻴﻪ ﻗﺎﻝ ﻗﻠﺖ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻱ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﺷﺪ ﺑﻼﺀ ﻗﺎﻝ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﺛﻢ ﺍﻷﻣﺜﻞ ﻓﺎﻷﻣﺜﻞ ﻓﻴﺒﺘﻠﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻋﻠﻰ ﺣﺴﺐ ﺩﻳﻨﻪ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺩﻳﻨﻪ ﺻﻠﺒﺎ ﺍﺷﺘﺪ ﺑﻼﺅﻩ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺩﻳﻨﻪ ﺭﻗﺔ ﺍﺑﺘﻠﻲ ﻋﻠﻰ ﺣﺴﺐ ﺩﻳﻨﻪ ﻓﻤﺎ ﻳﺒﺮﺡ ﺍﻟﺒﻼﺀ ﺑﺎﻟﻌﺒﺪ ﺣﺘﻰ ﻳﺖﺭﻛﻪ ﻳﻤﺸﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺭﺽ ﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﺧﻄﻴﺌﺔ ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﻋﻴﺴﻰ ﻫﺬﺍ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﺻﺤﻴﺢ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺒﺎﺏ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻭﺃﺧﺖ ﺣﺬﻳﻔﺔ ﺑﻦ ﺍﻟﻴﻤﺎﻥ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﺌﻞ ﺃﻱ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﺷﺪ ﺑﻼﺀ ﻗﺎﻝ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﺛﻢ ﺍﻷﻣﺜﻞ ﻓﺎﻷﻣﺜﻞ

ﻗﻮﻟﻪ : ) ﺃﻱ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﺷﺪ ( ﺃﻱ ﺃﻛﺜﺮ ﻭﺃﺻﻌﺐ ) ﺑﻼﺀ ( ﺃﻱ ﻣﺤﻨﺔ ﻭﻣﺼﻴﺒﺔ ) ﻗﺎﻝ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ( ﺃﻱ ﻫﻢ ﺃﺷﺪ ﻓﻲ ﺍﻻﺑﺘﻼﺀ ﻷﻧﻬﻢ ﻳﺘﻠﺬﺫﻭﻥ ﺑﺎﻟﺒﻼﺀ ﻛﻤﺎ ﻳﺘﻠﺬﺫ ﻏﻴﺮﻫﻢ ﺑﺎﻟﻨﻌﻤﺎﺀ ، ﻭﻷﻧﻬﻢ ﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﺒﺘﻠﻮﺍ ﻝﺗﻮﻫﻢ ﻓﻴﻬﻢ ﺍﻷﻟﻮﻫﻴﺔ ، ﻭﻟﻴﺘﻮﻫﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻣﺔ ﺍﻟﺼﺒﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺒﻠﻴﺔ . ﻭﻷﻥ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﺃﺷﺪ ﺑﻼﺀ ﻛﺎﻥ ﺃﺷﺪ ﺗﻀﺮﻉﺍ ﻭﺍﻟﺘﺠﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ) ﺛﻢ ﺍﻷﻣﺜﻞ ﻓﺎﻷﻣﺜﻞ( ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ : ﺍﻷﻣﺜﻞ ﺃﻓﻌﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺜﺎﻟﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﻊ ﺃﻣﺎﺛﻞ ﻭﻫﻢ ﺍﻟﻔﻀﻼﺀ . ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻤﻠﻚ : ﺃﻱ ﺍﻷﺷﺮﻑ ﻓﺎﻷﺷﺮﻑ ﻭﺍﻷﻋﻠﻰ ﻓﺎﻷﻋﻠﻰ ﺭﺗﺒﺔ ﻭﻣﻨﺰﻟﺔ . ﻳﻌﻨﻲ ﻣﻦ ﻫﻮ ] ﺹ: 67 [ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻼﺅﻩ ﺃﺷﺪ ﻟﻴﻜﻮﻥ ﺛﻮﺍﺑﻪ ﺃﻛﺜﺮ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻄﻴﺒﻲ : ” ﺛﻢ ” ﻓﻴﻪ ﻟﻠﺘﺮﺍﺧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﺗﺒﺔ ﻭﺍﻟﻔﺎﺀ ﻟﻠﺘﻌﺎﻗﺐ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﺘﻮﺍﻟﻲ ﺗﻨﺰﻻ ﻣﻦ ﺍﻷﻋﻠﻰ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﺳﻔﻞ ﻭﺍﻟﻼﻡ ﻓﻲ ﺍﻷﻥﺑﻴﺎﺀ ﻟﻠﺠﻨﺲ . ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻘﺎﺭﻱ : ﻭﻳﺼﺢ ﻛﻮﻧﻬﺎ ﻟﻼﺳﺘﻐﺮﺍﻕ ﺇﺫ ﻻ ﻳﺨﻠﻮ ﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﻋﻈﻴﻢ ﻣﺤﻨﺔ ﻭﺟﺴﻴﻢ ﺑﻠﻴﺔ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻷﻫﻞ ﺯﻣﻨﻪ ، ﻭﻳﺪﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﻗﻮﻟﻪ : ) ﻳﺒﺘﻠﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻋﻠﻰ ﺣﺴﺐ ﺩﻳﻨﻪ ( ﺃﻱ ﻣﻘﺪﺍﺭﻩ ﺿﻌﻔﺎ ﻭﻗﻮﺓ ﻭﻧﻘﺼﺎ ﻭﻛﻤﺎﻻ . ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻄﻴﺒﻲ : ﺍﻟﺠﻤﻠﺔ ﺑﻴﺎﻥ ﻟﻠﺠﻤﻠﺔ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﻭﺍﻟﻼﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻟﻼﺳﺘﻐﺮﺍﻕ ﻓﻲ ﺍﻷﺟﻨﺎﺱ ﺍﻟﻤﺘﻮﺍﻟﻴﺔ ) ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ( ﺗﻔﺼﻴﻞ ﻟﻼﺑﺘﻼﺀ ﻭﻗﺪﺭﻩ ) ﻓﻲ ﺩﻳﻨﻪ ﺻﻠﺒﺎ ( ﺑﻀﻢ ﺍﻟﺼﺎﺩ ﺍﻟﻤﻬﻤﻠﺔ ﺃﻱ ﻗﻮﻳﺎ ﺷﺪﻳﺪﺍ ﻭﻫﻮ ﺧﺒﺮ ﻛﺎﻥ ﻭﺍﺳﻤﻪ ﺿﻤﻴﺮ ﺭﺍﺟﻊ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻭﺍﻟﺠﺎﺭ ﻣﺘﻌﻠﻖ ﺑﺎﻟﺨﺒﺮ ) ﺍﺷﺘﺪ ﺑﻼﺅﻩ ( ﺃﻱ ﻛﻤﻴﺔ ﻭﻛﻴﻔﻴﺔ ) ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺩﻳﻨﻪ ﺭﻗﺔ ( ﺃﻱ ﺫﺍ ﺭﻗﺔ ﻭﻳﺤﺘﻤﻞ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺭﻗﺔ ﺍﺳﻢ ﻛﺎﻥ ﺃﻱ ﺿﻌﻒ ﻭﻟﻴﻦ . ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻄﻴﺒﻲ : ﺟﻌﻞ ﺍﻟﺼﻼﺑﺔ ﺻﻔﺔ ﻟﻪ ﻭﺍﻟﺮﻗﺔ ﺻﻔﺔ ﻟﺪﻳﻨﻪ ﻣﺒﺎﻟﻐﺔ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻷﺻﻞ . ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻘﺎﺭﻱ : ﻭﻛﺎﻥ ﺍﻷﺻﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻠﺐ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﻌﻤﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺜﺚ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺮﻗﺔ ﺃﻥ ﺗﺴﺘﻌﻤﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﺎﻧﻲ ، ﻭﻳﻤﻜﻦ ﺃﻥ ﻳﺤﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﻔﻨﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺒﺎﺭﺓ ، ﺍﻧﺘﻬﻰ . ) ﺍﺑﺘﻠﻲ ﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﺩﻳﻨﻪ ( ﺃﻱ ﺑﺒﻼﺀ ﻫﻴﻦ ﺳﻬﻞ ، ﻭﺍﻟﺒﻼﺀ ﻓﻲ ﻣﻘﺎﺑﻠﺔ ﺍﻟﻨﻌﻤﺔ ، ﻓﻤﻦ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻨﻌﻤﺔ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻛﺜﺮ ﻓﺒﻼﺅﻩ ﺃﻏﺰﺭ ) ﻓﻤﺎ ﻳﺒﺮﺡ ﺍﻟﺒﻼﺀ ( ﺃﻱ ﻣﺎ ﻳﻔﺎﺭﻕ ﺃﻭ ﻣﺎ ﻳﺰﺍﻝ ) ﺑﺎﻟﻌﺒﺪ ( ﺃﻱ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ) ﺣﺘﻰ ﻳﺘﺮﻛﻪ ﻳﻤﺸﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺭﺽ ﻭﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﺧﻄﻴﺌﺔ ( ﻛﻨﺎﻳﺔ ﻋﻦ ﺧﻼﺻﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ ، ﻓﻜﺄﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻣﺤﺒﻮﺳﺎ ﺛﻢ ﺃﻃﻠﻖ ﻭﺧﻠﻲ ﺳﺒﻴﻠﻪ ﻳﻤﺸﻲ ﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﺄﺱ . ﻗﻮﻟﻪ : ) ﻫﺬﺍ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﺻﺤﻴﺢ ( ﻭﺃﺧﺮﺟﻪ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺍﻟﺪﺍﺭﻣﻲ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﺒﺮﻯ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭﺍﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ ﻭﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﻛﺬﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺘﺢ

 

KEUTAMAAN BERSABAR ATAS UJIAN

Berikut ini  sebagian Hadist yg menjelaskan keutamaan sabar.

  1. Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi)
  2. Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa. (HR. Bukhari)
  3. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?”Nabi Saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru mereka dan yang meniru mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamnya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (berat). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari)
  4. Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). (HR. Bukhari)
  5. Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani)
  6. Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). (HR. Al-Baihaqi)
  7. Apabila Aku menguji hambaKu dengan membutakan kedua matanya dan dia bersabar maka Aku ganti kedua matanya dengan surga. (HR. Ahmad)
  8. Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari)
  9. Seorang mukmin meskipun dia masuk ke dalam lobang biawak, Allah akan menentukan baginya orang yang mengganggunya. (HR. Al Bazzaar)
  10. Tidak semestinya seorang muslim menghina dirinya. Para sahabat bertanya, “Bagaimana menghina dirinya itu, ya Rasulullah?” Nabi Saw menjawab, “Melibatkan diri dalam ujian dan cobaan yang dia tak tahan menderitanya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
  11. Bukanlah dari (golongan) kami orang yang menampar-nampar pipinya dan merobek-robek bajunya apalagi berdoa dengan doa-doa jahiliyah. (HR. Bukhari)

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Bukan dari golongan kamiorang yang menampar-nampar pipi, mengoyak-ngoyak baju dan meratap dengan ratapan Jahiliyyah’,” (HR Bukhari [1294] dan Muslim [103]).

Penjelasan:

Dilakukan pada saat kematian anggota keluarga pada jaman jahiliyah.

  1. Allah menguji hambaNya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Ath-Thabrani)
  2. Salah seorang dari mereka lebih senang mengalami ujian dan cobaan daripada seorang dari kamu (senang) menerima pemberian. (HR. Abu Ya’la)
  3. Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menguji hambanya dalam rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Kalau dia ridho dengan bagian yang diterimanya maka Allah akan memberkahinya dan meluaskan pemberianNya. Kalau dia tidak ridho dengan pemberianNya maka Allah tidak akan memberinya berkah. (HR. Ahmad)
  4. Barangsiapa ditimpa musibah dalam hartanya atau pada dirinya lalu dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun maka menjadi hak atas Allah untuk mengampuninya. (HR. Ath-Thabrani)
  5. Bencana yang paling payah ialah bila kamu membutuhkan apa yang ada di tangan orang lain dan kamu ditolak (pemberiannya). (HR. Ad-Dailami)
  6. Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi)

Wallohu A’lam

MENGENAL ALLOH SWT : ALAM SEMESTA DAN MANUSIA SERTA SIFAT DAN ASMA ALLOH SWT.

Alam Semesta dan Manusia

Menurut Imam Ghozali dalam bukunya HUDAYATUL ISLAM, menerangkan tentang TIGA DZAT tersebut, masing-masing Dzat Sebagai berikut :

  1. DZAT 1 dinamakan Nuurul Illahi artinya CAHAYA TUHAN
  2. DZAT II dinamakan : NUURUL MUHAMMAD artinya CAHAYA TERPUJI, dikiaskan menjadi UTUSAN TUHAN
  3. DZAT III dinamakan : NUURUL INSANI artinya MANUSIA (sukma)

Menurut Alqur’an :

Pada mulanya Alloh menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong, gelap gulita menutupi samudra raya, dan Roh Alloh melayang layang di atas permukaan air.

Hari Pertama : Berfirman Alloh : “Jadilah Terang”. Lalu terang itu jadi. Lalu dipisahkannya terang itu dari gelap.

Dan Alloh menamakan terang itu siang dan gelap itu malam.

Jadilah petang dan jadilah pagi.

Hari Kedua : Berfirman Alloh “Jadilah Cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air”. Lalu Alloh menakan Cakrawala itu Langit

Hari ketiga : Alloh menciptakan darat dan laut.

Berfirman Alloh “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbij, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di Bumi.

Hari ke Empat : Berfirman Alloh “Jadilah benda benda penerang pada Cakrawala untuk memisahkan siang dan malam.

Hari Kelima : Alloh berfirman “Hendaklah dalam air berkeliaran makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan diatas bumi melintasi cakrawala”. Maka Alloh menciptakan binatang-binatang liar.

Hari ke Enam : Berfirman Alloh “Baiklah kita menjadikan Manusia menurut gambar dan rupa kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan aras segala binatang melata yang merayap di bumi.

Hari Ke Tujuh : Demikianlah di selesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Alloh pada hari ke Tujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang di buat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ke Tujuh dari segala pekrjaan yang telah di buat-Nya itu. Lalu Alloh memberkati hari ketujuh itu. Karena pada hari itulah Alloh berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah di buat-Nya.

Demikianlah riwayat bumi dan langit pada waktu di ciptakan. Ketika Tuhan Alloh menjadikan bumi dan langit belum ada semak apapun di bumi. Belum timbul tumbuh- tumbuhan apapun di padang, sebab Tuhan Alloh belum menurunkan hujuan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu, tetapi ada kabut naik dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu.

Ketika itulah Tuhan Alloh membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya, demikianlah menusia itu menjadi makhlukyang hidup.

Menurut Al-Qur’an

Al-A’raaf (Surat 7 ayat 54)

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Alloh yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia sengaja menciptakan ‘arasy. Dia tutup malam dengan siang yang mengikutinya dengan cepat. Matahari, bulan dan bintang-bintang, tunduk kepada perintah-Nya. Ketahuilah, mencipta dan memerintah hanyalah hal Alloh. Maha berkat Alloh,Tuhan semesta alam.

As Sajdah (Surat 32 ayat 4)

Alloh yang menciptakan langit dan bumi dan apa-apa di antara keduanya dalam enam hari. Kemudian Dia berkuasa atas Arasy’. Tiada bagi kamu pelindung dan penolong salain dari Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran ?.

Fushshilat (Surat 41 ayat 9 ~ 13)

Katakanlah, “Sesungguhnya apakah kamu (patut) mengingkari yang menciptakan bumi dalam dua masa, dan kamu menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya? Itulah tuhan semesta alam.

Dan Dia menjadikan padanya gunung-gunung yang kukuh di atasnya, Dia berkati dan Dia tentukan padanya makanan (sumber-sumber kehidupan) dalam epat masa, (jawaban yang sama bagi orang yang bertanya.

Kemudian Dia menuju (pada penciptaan) langit dan langit itu berupa asap, lalu Dia berkata kepada langit dan bumi “Datanglah kamu berdua dengan patuh atau terpaksa” keduanya berkata, “Kami datang dengan patuh.

Maka Dia jadikan tujuh langit dalam dua masa dan dia mewahyukan kepada tiap tiap urusannya (masing-masing). Dan kami hiasai langit dunia dengan bintang- bintang serta pemeliharaannya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Maka jika mereka berpaling maka katakanlah “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir seperti petir (yang menimpa kaum) Aad dan Tsamud.

Faathir (Surat 35 ayat 11)

Dan Alloh menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari air mani, kemudian Dia memjadikan kamu berpasangan-pasangan. Tiada seorang perempuan mengandung dan tidak (pula) melahirkan, melainkan sepengetahuan-Nya. Dan tiada di[panjangkan umur seseorang yang panjang umur dan tidak dikurangi umurnya, melainkan dalam kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Alloh.

Al-Muminuun (Surat 23 ayat 12 ~ 16)

Dan sesungh kami telah menciptakan manusia dari sari tanah.

Kemudian kami menjadikannya air mani pada tempat yang kukuh dan terpelihara (Rahim)

Kemudian kami menjadikan air mani itu segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami menjadikan tulang-tulang, maka kami lituti tulang-tulang itu dengan daging, kemudian kami menjadikan satu bentuk yang lain. Maha Suci Alloh, sebaik-baik Pencipta.

Kemudian sesungguhnya kamu sesudah itu pasti mati .Kemudian sesungguhnya kamu dibangkitkan pada hari kiamat. Manusia Ciptaan Tuhan Yang Paling Sempurna

Rasullah bersabda :

“Tuhan menciptakan Adam (manusai) menurut gambaran-Nya (Wajah-Nya) dan yang dimaksud dengan Adam adalah Manusia Pertama dan ia adalah RUH WIJUD. Nerkat dia dicipta dalam Gambaran-NYA. Dia menjadikannya khalifah-Nya di muka bumi dan memerintahkan malaikat agar bersujud kepadanya. Andaikata Keindahan-Nmya tak bersinar di wajah Adam, Malaikag-malaikat tidak akan pernah bersujud di hadapannya.

Menurut Alqur’an :

Al-Qalam (Surat 68 ayat 4)

Dan sesungguhnya engkau mempunyai akhlak yang mulia).

An-Nisa (Surat 4 ayat 80)

Barang siapa taat kepada Rasul, maka sungguh dia telah taat kapada Alloh, dan barang siapa berpaling, maka kami tidak mengutus

engkau sebagai penjaga atas mereka.

At-Tiin (Surat 95 ayat 4) Sungguh kami menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk.

Al-Israa’ (Surat 17 ayat 70)

Dan sungguh kami telah memuliakan keturunan adam, dan kami angkut mereka di daratan dan lautan dan kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan kami lebihkan mereka dari kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.

Nuuh (Surat 71 ayat 17)

Dan Alloh menumbuhkan kamu dari tanah sebaik-baiknya.

Al-Hijr (Surat 15 ayat 29)

Maka apabila Aku telah menyempurnakan dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan) Ku maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (menghormat).

Kebanyakan dari kita bertanya kepada diri sendiri “Bagaimana kita sampai datang di dunia seperti kaadaan yang sekarang ini ? dari mana kita datang ? dan kemana kita akan pergi ?

Untuk menjawab pertanyaan yang mendasar ini secara singkat adalah sulit, karena pengalaman cara berfikir kita dalam bidang ini sangat terbatas sehingga kita tidak mampu untuk memahaminya.

Namun demikian, mempelajari buku ini akan memberi cakrawala, pandangan baru dan akan mengembangkan kacakapan luhur kita sedemikian rupa sehingga kita dapat memperoleh memajuan rohani dan pada suatu hari kita akan mencapai ketinggian di dalam dimana kesadaran serta kekuatan luhur kita akan mulai melihat dan menghargai Susunan Ciptaan Tuhan dan memperoleh jawaban atas segala pertanyaan kita.

Secara garis gesar ada tiga kondisi, keadaan atau daerah ciptaan – rohani, bathiniah dan jasmaniah – dengan masing2 bentuk kehidupannya yang sesuai, yang tealh diciptakan dan dipelihara oleh Firman :

“Awal dan Akhir dari semua Ciptaan adalah Shabda” (Radhaswami Dayal)

“Ciptaan, penghancuran dan Penciptaan kembali, semuanya dilakukan oleh Shabda am”

“Penyangga Alam-alam Semesta semua bagian mereka dan semua bentuk yang hidup disalamnya adalah Nam”

“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia (Firman), dalam tanpa Dia tidak ada sesuatupun yang telah jadi dari segala yang telah di jadikan” (Yohanes 1:3)

Dalam daerah ciptaan yang termurni hanya terdapat jiwa, cahaya dan kasih. Di sana jiwa adalah bagaikan ikan sedangkan firman adalah semudranya, jiwa berada dalam unsure yang sama dengannya. Disanalah tempat tinggal Pencipta Maha Tinggi yang juga merupakan Rumah Sejati kita

Tepat dibawah rohani tersebut terdapat daerah Pikiran yang amat indah di mana jiwa dalam perjalanan turun menggabungkan diri dengan pikiran dan mengenakan penutup berupa tubuh kausal dan astral agar ia dapat berfungsi di daerah tersebut.

Pikiran tampaknya menjadi lebih kuat sedangkan jiwa menjadi lemah. Akhirnya, ketika jiwa bersama-sama dengan pikiran dan penutup lain mencapai daerah yang paling rendah, maka ia mendapatkan tambahan berupa keterbatasan fisik : sebuah penutup jasmani agar ia dapat bertugas di dunia benda.

Disini jiwa tidak dapat diusut jejaknya, pikiran menjadi gelisah serta tidak tenang, dan karena ia telah di kurung dalam tubuh jasmani, ia menciptakan hayalan semua tentang kepribadian yang menyebabkan kita lupa bahwa kita semua adalah satu dengan Pencipta Maha Tinggi.

Di daerah yang lebih rendah, meskipun jiwa ada, namun kekuatan yang memerintah dunia keadaan tersebut adalah pikiran. Disini kita berada dalam daerah kekuasaan suatu kekuatan yang halus dan sangat kuat yang memencilkan jiwa, yang menahan dan menghalanginya untuk kembali ke daerah rohani yaitu tempat asalnya, dan yang tetap mengurungnya dalam daerah pikiran dan benda.

Yang kita sebut sebagai perbuatan jahat dari pikiran agaknya tidak dapat dipercaya oleh sementara orang, tetapi faktanya tetap ada, yaitu bahwa sang pencipta dalam kebijaksanaan- Nya telah menentukan agar supaya daerah ciptaan yang lebih rendah di susun dan diatur oleh kekuatan pikiran–kekuatan negatif-sebagai penentang kekuatan jiwa, yaitu lawannya.

Jadi, meskipun kita masing-masing merupakan seberkas sinar dari Tuhan yang Maha Kuasa, yaitu kasih semesta alam, namun kita dikuasai oleh pikiran selama kita berada dalam daerah ciptaan yang lebih rendah dan begitu kuatnya kuasa pikiran itu, begitu halus cara kerjanya, sehingga sedikit sekali diantara kita yang dapat mempercayai pernyataan Rusul yang begitu sering di ulang-ulang yaitu bahwa musuh terbesar yang menghalangi kemajuan rohani dan penghayatan akan persatuan kita adalah Hawa nafsu (Pikiran)kita.

Kita telah tergoda oleh keinginan. Bahkan sejak masa anak-anak kita telah tertarik dan di pengaruhi oleh keadaan lingkungan kita.

Kemudian nafsu birahi, kemarahan, ketamakan, keterikatan dan kesombongan telah merangsang naluri rendah kita, benda berwujud seperti alcohol, tembakau dan banyak zat perangsang atau pemabuk lain yang memberikan kepuasan fisik sementara kepada indra kita, menjerumuskan kita lebih jauh ke dalam dunia benda, sehingga sifat manusia kita segera berubah menjadi sifat kebinatangan.

Akibatnya, kita harus menerima tubuh binatang untuk memuaskan nafsu binatangan kita dan terus menurun lebih rendah, bila perlu bahkan sampai kepada bentuk tumbuh tumbuhan.

Manusia adalah bentuk ciptaan yang paling tinggi,. Tetapi apabila kesempatan untuk lahir dalam bentuk manusia ini tidak di manfaatkan untuk berjuang mati-matian terhadap pengaruh jahat dari pikiran agar segera dapat membebaskan diri kita sendiri dan menemukan kembali jalan yang telah hilang, yang akan membawa kita sekali lagi kepada kaki sang Pencipta, dan dengan demikian berkewajiban untuk menjalani berulang kali bentuk kehidupan yang lebih rendah.

Engkau telah memperoleh tubuh manusia yang tida aka bandingannya, sekarang adalah kesempatan untuk bersatu kembali kepada Tuhan. Semua pejuangan yang lain tak akan berfaedah bagimu. Duduklah di kaki seorang Satguru latihan Nam dan Naiklah untuk mencapai Rumahmu yang Sejati” (Guru Nanak)

“Semua ciptaan berada dalam kesengsaraan, hanya mereka yang mempunyai hubungan dengan Firmanlah yang berbahagia”

 Pengertian Tentang Allah

  1. Tuhan berada diluar jangkauan Pikiran dan Akal

seluruh alam semesta yang tak terhingga terbentang dihadapan mata kita. Tetapi di balik semuanya itu terdapat kekuatan Maha Gaib yang mendalangi semua “Permainan”

bahkan orang-orang tidak percaya akan kebenaran agama dan mengatakan bahwa manusia tiak dapat mengenal bentuk dan sifat Tuhan, mereka tidak meyangkal bahwa kekuatan yang Maha Gaib itu memang ada.

Tetapi kenyataan itu berada di luar jangkauan pikiran dan indra. Karena itu, ia tentu saja menarik kesimpulan bahwa kenyataan itu tidak di pahammi oleh pikiran dan indra. Detiap kejadian duniawi dapat diterangkan dengan akal, tetapi untuk mencapai alam-alam rohani, akal tidak ada gunanya.

Tuhan tidak dibatasi oleh waktu, Ia Luhur dan mandiri. Seluruh ciptaan menaati perintah- Nya, namun ia bukanlah pelakunya. Ia tak berbentuk. Ia Maha ada dan memelihara segala sesuatu; Ia Pencipta, tak bergerak, Mahakuasa, abadi, penebus dosa, tak terpahamkan, tak terjangkau, tanpa awal, kekal, dan Ia adalah kesadaran murni. Ia abadi, tak terkalahkan, gudang pengetahuan. Ia mandiri, swadaya, Ia lautan kenikmatan dan Ia Maha-ada. Ia merupakan perwujudan Sabda dan Nama-Nya memelihara segala sesuatu.

  1. Dimanakah Tuhan itu ?

Orang-orang awam mengira bahwa tuhan bersemayam di balik awan atau di dalam lautan. Jiwa-jiwa yang agung telah menghayati-Nya di dalam hatinya, dan para suci sempurna melihat Dia di mana-mana, di dalam maupun di luar.

Para Suci dan para saleh mengatakan bahwa Ia meresap ke dalam seluruh alam semesta dan bahwa alam semesta hidup di dalama Dia.

Kekuatan itu mahatembus dan ia menggerakkan seluruh Alam Jagad Raya. Dalam ayat-ayat suci, Ia tidak digolongkan ke dalam salh satu bangsa, agama atau masyarakat tertentu. Ia digambarkan sebagai Tuhan seluruh alam semesta. Dikatakan juga bahwa Ia meresap kemana-mana.

Tiada satupun tempat atau benda yang hidup maupun mati yang tidak mengandung sinar- Nya. Alam semesta ini merupakan tubuh-Nya tempat Ia bersemayam. Ia meresapi setiap atom seperti jiwa meresap ke dalam setiap pori tubuh sehingga ia dapat bergerak. Tubuh akan berubah menjadi abu bila jiwa keluar dari padanya.

Dimanakah Tuhan itu? Setelah menciptakan dunia ia tidak berpisah dari padanya, Ia mahakuasa, Ia bersemayam didapam ciptaan dan meresapinya, Ia kekal dan Maha-ada. Kita tidak perlu mencari Dia di hutan belantara. Yang diperlukan ialah mencelikkan mata rohani yang dapat melihat Dia.

Tanpa menghayatinya sendiri, kita tidak dapat memahami fakta itu. Tentu saja kita dapat memahami sesuatu dengan menggunakan contoh.

Kita merupakan partikel-pertikel Tuhan. Hubungan kita dengan Tuhan adalah seperti bagian yang kecil dari dari keseluruhannya. Tidak ada perbedaan antara gelombang dengan lautan. Tidak ada bedanya antara matahari dengan sinarnya. Tuhan tidak pernah meremehkan kita walaupun hanya sesaat. Ia selalu menjaga kita.

Kita tidak pernah berpisah dari Dia. Ia selalu ada di dalam diri kita dan selalu meresapi jiwa raga kita. Menurut beberapa Ayat suci dan pendapat para Alim Ulama serta Guru Murshid, keberadaan Tuhan adalah sebagai berikut :

  1. Dan sungguh kami telah mencipkan manusia dan kami mengetahui apa yang dibisikan oleh hatinya.
  2. tiada pula orang mengatakan : tengoklah, ada disini, atau ada disana, karena kerajaan Alloh itu ada dalam kamu.
  3. apa faedahnya untuk lari ke Hutan naik ke Gunung guna mencari tuhan ? Ia bersemayam di dalam dirimu dan meresap ke dalam seluruh jiwa ragamu, akan tetapi Ia terpisah. Tuhan terdapat di dalam dirimu seperti beyangan yang terdapat dalam cermin. Ia ada dalam lubuk hatimu, di sanalah Ia harus di cari.
  4. kita harus melihat dengan mata rohani kita dan mendengar suara-Nya dengan telinga rohani kita. Kita harus menembus tiraiyang gelap itu di dalam dan memandang kemulian-Nya
  5. apabila kita melihat kenyataan dengan mata rohanu kita, maka berulah kita menjadi yakin akan kebenaran ajaran para Guru Mushid.
  6. suara Tuhan berkumandang dari kubah, tetapi dunia yang sedang tidur tidak mendengarnya, hai khalayak ramai yang masih tetap tuli terhadap panggilan- Nya, pandanglah ke bahagian orang yang telah bangkit rohaninya, yang mendengan Suara Tuhan dan yang telah menggabungkan diri dengan Dia.
  7. seorang suci Islam berkata : Tuhan bersemayam di dalam engkau, hai orang bodoh, dan engkau mencari-Nya di dunia luar dari satu tempat ke tempat yang lain. Apabila Tuhan ada di dalam diri kita dan kita mencarinya di tempat yang lain, maka usaha jita akan sia-sia.
  8. apapun yang ada di alam semesta ini ada pula di dalam tubuh, dan barang siapa mencarinya di dalam tubuh ini, niscaya ia akan menemukan

Sebelum alam semesta ini tercipta (sebelum ada apa-apa) Dzat yang Maha Esa telah tercipta di Alam Sejati (pusat hidup yang sejati) dalam ke adan tenang tentram dan abadi, jadi keadaan Tuhan tidak ada yang mengadakan (bertahta pribadi berdiri sendiri) tiada permulaan dan tiada akhir, tidak membutuhkan tempat dan waktu serta Maha Esa.

Tuhan dapat di pandang sebagai asal mula kesadaran hidup yang tidak terbatas dan tidak bergerak. Di dalamnya terkandung kemampuan yang tidak terbatas ini dalam bahasa asing di sebut : omnipotent, artinya Maha kuasa.

Sesuai dengan keterangan tersebut, Allah berfirman: “Dimanapun kamu berada, Allah selalu bersama-mu dan Allah mengetahui apa yang kamu perbuat”.

Allah mempunyai tiga sifat : Sukma Kawekas (Nuur Alah), Sukam Sejati (Nuur Muhammad), Roh Suci. Ketiga sifat ini tidak dapat di pisah-pisahkan dan tidak dapat di kurangi.

  1. SUKMA KAWEKAS, Artinya: Yang menghidupi, yang membuat hidup, yang menyebabkan kita merasa hidup, atau Sumber Hidup
  2. SUKMA SEJATI, Artinya: Yang sebenar-benarnya menghadapi jiwa manusia dan melaksanakan Karsa Sukam Kawekas dengan penuh kebijaksanaan, dapat pula disebut Guru Sejati, Penuntun Sejati, sebab pada hakekatnya yang disebut Sukma Sejati itu adalah Af’aal Tuhan, pakarti Tuhan, aktivitas Tuhan, gerak Tuhan
  3. ROH SUCI, Artinya: Sifat yang dihidupi atau yang di beri hidup dan yang diberi kekuasaan dalam melaksanakan Karsa Tuhan. Ahli Sufi mengatakan: Roh yang berada dalam tubuh makhluk yang bersifat hidup disebut Nuur Ilahi (Cahaya Tuhan) atau Roh Kudus.

Tambahan keterangan :

  1. SUKMA KAWEKAS, yang bersinar pasif itu dapat dimisalkan sebagai matahari yang bersifat pasif juga (diam, tidak bergerak, memancarkan sinarnya)
  2. SUKMA SEJATI, yang bersifat aktif menjalankan Karsa Tuhan, dimisalkan matahari yang juga bersifat akrif memancarkan sinarnya
  3. ROH SUCI, atau Nuur Tuhan yang kemudian menjadi jiwa manusia yang sejati, dimisalkan panas sinar matahari yang dirasakan oleh makhluk yang menerima sinar matahari yang dirasakan oleh mahluk yang menerima sinar

Keterangan Secara terperinici :

  1. SUKMA KAWEKAS, bersifat Karsa, berarti Dzat yang mempunyai Hidup, atau Sumber Hidup yang belum bergerak (masih statis) disalamnya terkandung Karsa.
  2. SUKMA SEJATI, nersifat bijaksana, berarti Dzat yng sesungguhnya memberi hidup yang telah bergerak (dinamis) didalamnya terkandung kebijaksanaan.
  3. ROH SUCI, bersifat kuasa, berarti Nuur Ilahi (Nuur Dzatullah) yang bersemayam dalam jasmani manusia, diberi kekuasaan untuk melaksanakan Karsa Sukma Kawekas.

    Nama sejati Tuhan

    Kita sumua membicarakan Tuhan, namun kita gagal untuk membedakan antara kata yang dapat diucapkan dan di tulis denga firman sejati yang tak dapat diucapkan dan tak dapat di tulis.

    Nama Alloh, Gusti, Hyang Widi, itu dapat di tulis dan di ucapkan,dan asal usulnya dapat kita telusuri.

    Tetapi Nama sejati Tuhan, yaitu yang dimaksud oleh semua orang Suci, telah ada sebelum adanya ciptaan, seluruh alam semesta, termasuk waktu dan ruang, telah diciptakan oleh nama itu, dari nama itu.

    “ Segala sesuatu yang kita lihat di dunia ini telah di ciptakan oleh Nama”.

    Daya cipta ini telah di sebut oleh para suci Islam menyebutnya (Kalam) Firman kun (Perintah)

    Pada mulanya adalah firman. Firman itu bersama-sama dengan Alloh, dan firman itu adalah Alloh, ia pada mulanya bersama-sama dengan Alloh, segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia, tidak ada sesuatu yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

    Tidak ada bedanya antara sabda itu atau Nama Tuhan dan tuhan sendiri. Tentang nama ini “ antara Nama dan yang dinamakan, tidak ada bedanya. Nama inilah yang dapat melepaskan pikiran dari kesenangan indrawi dan memberikan ke sukacitaan rohani, dan ia mampu membimbing jiwa menuju keselamatan.

    Dalam bentuk Sabda (Dalil, Firman) inilah, Tuhan meresap ke dalam seluruh ciptaan. Nama atau sabda itu tidak dapat di temukan di dalam buku-buku maupun ayat suci- mereka hanya mengagungkan Sabda itu. Namun Nama itu sendiri terdapat di dalam diri kita.

    Para suci dan wali yang pada zamannya masing masing telah menghayati Tuhan, menerangkan semua pangalaman dan seluk belik jalan Rohani di dalam ayat-ayat suci mereka guna membimbing kita.

    Dari mereka, kita dapat mengetahui semua kesulitan pada jalan rohani dan memperoleh gambaran yang jelas tentang tujuannya, namun kita tidak dapat menghayati Tuhan sekedar membaca buku.

    Sekedar membaca ayat-ayat suci atau mendengarkan ajaran para. Suci itu masih belum cukup. Kita harus bisa untuk mempraktekkan ajaran itu dan menempuh sendiri jalan itu.

    Sifat Allah

    Tuhan dengan sifat-sifat-Nya yang tak terbatas dan tak terhingga, di mana kita mempunyai konsepsi, yakni, Dia adalah tanpa sifat-sifat terbatas seperti yang kita berikan kepada-Nya

    Menurut hadts :

    “Tuhan, Engkau adalah yang pertama tanpa ada sesuatu yang mendahului Engkau, Engkau yang terakhir, tanpa ada sesuatu sesudah Engkau, Engkau adalah yang nyata tanpa ada sesuatu di atas Engkau, Engkau adalah yang tersembunyi tanpa ada sesuatu di bawah Engkau.

    Pada hakekatnya sifat Alloh tidak terbatas. Semua sifat Sempurna adalah sifat Allah atau milik Allah. Menurut ajaran Agama Islam sifat-sifat Allah yang terdapat pada diri manusia yang sempurna lahirnya (tidak cacat) jumlahnya ada 41 sifat yaitu :

  1. 20 Sifat Wajib
  2. 20 sifat yang Mustahil
  3. 1 Sifat yang Jaiz (Wewenang-Nya, Sifat kekuasaan Mutlak)

    Sifat Wajib :

  1. Wujud, artinya: Ada. Sifat ini namanya sifat nafsiah artinya: golongan bentuk atau dzat.
  2. Qidam, artinya: Terdahulu (tak ada yang mendahului)
  3. Baqo’, artinya: Abadi (tidak rusak dan tidak mati selama-lamanya)
  4. Mucholafah lil chawadis, artinya: Berbeda dengan barang baru ialah barang duniawiah.
  5. Qiamu bi nafsihi, artinya: Bertahta pribadi (tidak ada yang melantik)
  6. Wahdaniah, artinya: Satu (Maha Tunggal).
  7. Qodrat artinya : Kuasa (kekuasaannya tidak terbatas)
  8. Iradat, artinya: Karsa (tak ada sesuatu kejadian di dunia ini yang bukan atas Karsa Tuhan)
  9. Ilmu, artinya: Sumber Ilmu (pengetahuan)
  10. Hayyat, artinya: Hidup (tak ada yang menghidupi, sumber hidup)
  11. Sama’, artinya: Mendengar (tidak dengan alat)

    12.Basor, artinya: Mengetahui (tanpa Alat)

    13.Kalam, artinya: Bersabda (tanpa alat)

  1. Qodiran, artinya: Yang Maha Kuasa (tidak ada yang memberi kuasa)

    15.Muridan, artinya Yang mempunyai karsa

    16.Aliman, artinya : Ynag Mempunyai segala macam ilmu.

    17.Chajjan, artinya : Ynag Hidup (Sumber Hidup)

    18.Sami’an, artinya: Yang Mendengar (baik suara yang terdengar maupun yang tidak)

    19.Basiran. Artinya: Mengetahui (baik benda yang terlihat maupun tidak)

    20.Mutakallimun, artinya: Yang Bersabda (tidak bersuara tetapi dapat diterima dengan jelas)

    Sifat-sifat nomor 2 ~ 6 desebut Sifat Salbiah, artinya mustahil kalu terjadi sebaliknya.

    Sifat-sifat nomor 7 ~ 13 disebut Sifat Ma’ani, artinya: yang menempati sifat Nafsiah.

    Sifat-sifat nomor 14 ~ 20 disebut Sifat Maknawiyah, artinya yang ditempati sifat Ma’ani. Adapun sifat Mustahil adalah sifat kebalikan daripada 20 sifat wajib diatas.

    Sifat Jaiz, Tuhan adalah sifat yang mutlak, artinya: Tuhan tidak terikat pada hokum- hukum dan peraturan-peraturan. Tuhan berwenang berbuat atau bertindak apa saja menurut karsa-Nya.

    Tuhan tetap adil dan tetap bijaksana. Selain sifat-sifat tersebut diatas, masih banyak sifat- sifat yang sering didengar oleh masyarakat umum dan juga terdapat dalam Al-Qur’an, ialah : Maha Suci, Maha Murah, Maha Luhur, Maha Mulia dan sebagainya (Surat 76 ayat 25, 30 ~ 31)

    Wujud Allah

    Allah berfirman

    Al-Hadiid (surat 57 ayat 3)

    Dialah yang Awal dan yang Akhir, yang zhohir (nyata) dan yang Bathin (tersembunyi) dan dia Maha mengetahui segala sesuatu.

    Sesuai dengan sifat-Nya yang pertama ialah Wujud artinya : Ada. Sifat ini namanya sifat Nafsiah, artinya: Golongan bentuk atau Dzat. Adapun Wujud atau Dzat Allah.

    Menurut petunjuk (Al-Qur’an)

    An-Nuur (Surat 24 ayat 35)

    Alloh adalah Cahaya langit dan bumi. Perumpamaan Cahaya-Nya adalah seperti lubang yang dalamnya ada pelita. Pelita itu dalam kaca. Dan kaca itu laksana bintang yang berkilau yang dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkati, nyaitu minyak zaitun yang bukan ditimur dan tidak juga di barat. Minyaknya hampir menerangi sekalipun tidak di sentuh api. Cahaya Di Atas Cahaya.

    Hakikat Cahaya :

  1. Nur (Cahaya) yang sebenarnya itu ialah Allah SWT sendiri 2. Sebutan Cahaya bagi selain Dia hanyalah majaz (kiasan). Tak ada Wujud Sebenarnya.

    At-Taghabun (64 ayat 8)

    Maka berimanlah kamu kepada Alloh dan Rasul-Nya dan Cahaya (Al-Qur’an) yang telah kami turunkan. Dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

    An-Nisa (4 ayat 174)

    Hai sekalian manusia ! telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu dan telah kami turunkan kepadamu “CAHAYA” yang terang benderang.

    Menurut Pustaka Sasangka Jati :

    Tuhan itu satu, tetapi bersifat tiga yang disebut: TRI PURUSA (TIGA SIFAT) yang terdiri dari :

  1. SUKMA KAWEKAS (Sukma: Hidup, Kawekas: Tertinggi), Sumber Hidup yang tertinggi. Sumber Hidup. Jadi semua yang hidup asalnya dari Suka Kawekas (dalam agama Islam: Allah Ta’ala) atau Nuurullah. 2. SUKMA SEJATI, ialah merupakan Utusan Tuhan Yang Sejati, utusan yang abadi (dalam agama Islam: Rasul atau Nuur Muhammad). 3. ROH SUCI, merupakan SINAR/CAHAYA percikan dari Tuhan. (Agama Islam: Nuurul Isan)

    Karena Roh Suci merupakan percikan Chaya dari Tuhan, maka Tuhan adalah Maha Cahaya, dan kita tidak dapat dipisahkan dengan-Nya. Karena kita berasal dari Tuhan maka kita juga kelak kembali kepda-Nya. (Ina ilahi wa ina ilahi rojium)

    Kesimpulan: Apabila kita mempelajari pengertian Tuhan dari berbagai Agama dan Aliran Kepercayaan, amak semuan menyimpulkan bahwa: Tuhan adalah Cahaya diatas Cahaya, Maka Cahaya, Sumber Cahaya, dengan demikian semua agama sepakat dengan pengertian bahwa Wujud Allah adalah Chaya (Nuur).

    Al Ambiyaa (Surat 21 ayat 92 ~ 92)

    Sesungguhnya (Agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.

    Dan mereka memecah belah urusan Agama di antara sesamanya. Masing – masing mereka akan kembali kepada Kami.