INILAH SOSOK IDOLA SEJATI PARA MANUSIA

Ketika anda dilanda sakit dan kesusahan pernahkah idola-mu, artis pujaan-mu menolong memikirkan dan perhatian kepada keadaan-mu ?

Tapi berbeda dengan Nabi kita Muhammad saw, ketika kita lupa kepadanya, ketika kita sering menyakiti hatinya dengan tidak patuh kepada aturannya namun beliau tetap ingat dan cinta kepada kita sampai di akherat.

Diriwayatkan di dalam hadits yang panjang ketika Nabi Muhammad saw bertanya kepada Malaikat Jibril tentang tingkatan-tingkatan neraka, kemudian Jibril menjawab dengan sangat jelas tentang tingkatan-tingkatan neraka sekaligus penghuninya. Namun tetapi setelah jibril menyebut tingkatan ke enam Jibril terdiam dan tidak ingin melanjutkan ke tingkatan neraka ke tujuh, lalu Nabi bertanya “Wahai Jibril kenapa engkau tidak memberi tahu aku mengenai penghuni neraka ke tujuh ?”

Jibril menjawab “Wahai Nabi Muhammad, Apakah engkau ingin tahu penghuni neraka ke tujuh?” Nabi Muhammad saw “Ya…aku ingin tahu”

Jibril “orang-orang yang mempunyai dosa besar dari golongan umat-Mu mereka meninggal tidak sempat bertobat kepada Allah swt.

Mendengar jawaban dari Jibril Nabi Muhammad saw langsung pingsan tidak sadarkan diri, ketika siuman Nabi Muhammad saw berkata “Sungguh besar musibahku, Apakah benar ada di antara ummatku yang masuk neraka?”

Jibril menjawab “Ya benar umatmu yang meninggal membawa dosa besar” Menangislah Rosulullah saw dan Malaikat Jibril.

Dari hadits di atas, patutlah kita merenung.

Nabi mihammad saw. Memberikan syafa’at kepada mereka para pelaku dosa besar, sebagimana sabdanya, “Setiap nabi pasti memiliki doa mustajab. Hanya saja mereka menyegerakan doa mereka di dunia. Namun, aku menunda doa itu demi menolong umatku pada hari kiamat. Insyaallah, doa itu akan terwujud,” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Besarnya kasih sayang beliau kepada umatnya juga tak tergantikan dengan tawaran masuknya separuh mereka ke surga. Beliau lebih memilih tawaran syafaat karena ingin membela umatnya lebih banyak, sebagaimana tergambar dalam salah satu haditsnya, “Aku diberi pilihan antara syafaat dengan masuknya separuh umatku ke surga. Namun, aku memilih syafaat. Sebab, syafaat lebih menyeluruh dan lebih banyak. Mungkin saja kalian mengira sayafaatku hanya untuk orang-orang bertakwa? Tidak. Tetapi juga untuk orang-orang yang berdosa,” (HR Al-Tirmidzi).

Berdasar hadits di atas, syafaat Rasulullah ﷺ tak hanya bagi orang-orang yang bertakwa, tetapi juga bagi orang-orang mukmin yang berlumuran dosa, termasuk pelaku dosa besar, sebagaimana yang ditandaskan hadits riwayat al-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad, “Syafaatku juga untuk umatku yang melakukan dosa besar.”

Tentu saja, ini bukan berarti kelonggaran untuk berbuat dosa karena kelak akan mendapat pembelaaan dari Rasulullah. Sebab, walau hanya sebentar, siksa Allah tidak boleh diremehkannya. Sekalinya dicelupkan ke dalam neraka Jahanam, seorang hamba bisa lupa terhadap seluruh kesempurnaan nikmat dunia yang pernah didapatnya, sebagaimana yang diingatkan Rasulullah ﷺ “Pada hari kiamat akan dihadirkan penghuni neraka yang paling bahagia semasa di dunia lalu coba dimasukkan ke dalam neraka dan ditanyakan kepadanya, ‘Wahai Ibnu Adam, bukankah engkau hanya melihat kebaikan? Bukankah hanya kenikmatan yang engkau rasakan?’ Dia menjawab, ‘Wahai Rabb, demi Allah, tidak pernah.’”

Maka dari itu, tetaplah takut kepada Allah. Takut melanggengkan dosa, terlebih dosa besar, takut meninggal dalam kemaksiatan, dan seterusnya. Sebab, dosa walaupun kecil—tetapi bila dilakukan dengan kesombongan—bisa mengundang murka Allah dan mengeluarkan pelakunya dari barisan umat Rasulullah ﷺ yang luput mendapatkan syafaatnya.

Masihkah kita mengidolakan artis-artis yang tidak pernah mengenal kita, tidak sedikit pun memberi manfaat kita di atas dunia ini, lalu kita lupakan Rasulullah Saw yang sejak 1438 tahun lalu menangisi kita dan siap menolong kita kelak di hari kiamat?

Semoga kita bisa menumbuhkan cinta yang baru pada guru dan kekasih dunia akhirat. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

AMALAN AGAR KETIKA KITA MATI KHUSNUL KHOTIMAH DAN DI BIMBING ROSULILLAH SAW.

Para Ulama-ulama yang shalih adalah orang-orang yang terbimbing perilaku dan ucapannnya dengan Hidayah dari Allah Ta’ala sehingga mereka sangat takut kepada Allah untuk berbohong, bahkan kepada binatang pun mereka tidak mau berbohong apalagi berdusta atas nama Nabi Muhammad SAW.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمآءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan: “Sesungguhnya aku mengira bahwa terlupakannya ilmu karena dosa, kesalahan yang dilakukan. Dan orang alim itu adalah orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Ta’liq kitab Tadzkiratus Sami’, hal. 28).

Dalam Islam sangat banyak para Ulama-ulama shalihin yang bermimpi bertemu Baginda Nabi Rasulullah SAW, bahkan mendapatkan petunjuk atau isyarat untuk melakukan atau berucap hal-hal tertentu , (seperti dzikir,shalawat,doa dll).

Ada riwayat hadist yang membenarkan (haq) bagi siapa yang bermimpi Nabi bahwa mimpi itu adalah sebuah kebenaran/kenyataan dan benar-benar batinnya melihat beliau karena syaitan tidak di izinkan oleh Allah SWT untuk datang dalam mimpi seseorang dengan mengaku sebagai Nabi Muhammad SAW, berdasarkan hadis riwayat al-Bukhari dari Abû Hurairah:

من رآني في المنام فسيراني في اليقظة ولا يتمثل الشيطان بي

“Siapa yang melihatku saat mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan sadar. Dan syetan tidak dapat menyerupai diriku.”

Hadis riwayat Muslim dan Abû Dâwûd melalui jalur Abû Hurairah ra. Berikut teks hadis tersebut:

مَنْ رَآنِى فِى الْمَنَامِ فَسَيَرَانِى فِى الْيَقَظَةِ أَوْ لَكَأَنَّمَا رَآنِى فِى الْيَقَظَةِ لاَ يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِى

            “Siapa yang melihatku saat mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan sadar atau seakan-akan ia telah melihatku. Dan syetan tidak bisa menyerupai diriku.”

Ditambah dengan riwayat lain yang Nabi SAW menyebutkan bahwa sebagian Mimpi orang mukmin itu adalah bagian (kecil) dari bagian-bagian wahyu dari Allah/nubuwah.

صحيح البخاري ٦٤٧٣: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ قَزَعَةَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ

وَرَوَاهُ ثَابِتٌ وَحُمَيْدٌ وَإِسْحَاقُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَشُعَيْبٌ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Qaza’ah telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Az Zuhri dari Sa’id bin Musayyab dari Abu Hurairah radliallahu‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mimpi seorang mukmin adalah bagian dari enam atau empat puluh enam bagian kenabian.” Dan hadits ini diriwayatkan oleh Tsabit, Humaid, Ishaq bin Abdullah dan Syu’aib dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. (HR Bukhari)

صحيح مسلم ٤٢٠٣: و حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ الْخَلِيلِ أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ الْأَعْمَشِ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُؤْيَا الْمُسْلِمِ يَرَاهَا أَوْ تُرَى لَهُ وَفِي حَدِيثِ ابْنِ مُسْهِرٍ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ

Dan telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Al Khalil; Telah mengabarkan kepada kami ‘Ali bin Mushir dari Al A’masy; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan

telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair; Telah menceritakan kepada kami Bapakku telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Mimpinya orang muslim adalah yang dia lihat, atau yang diperlihatkan kepadanya. Dan di dalam Hadits Ibnu

Mushir; “Mimpi yang baik adalah bagian dari empat puluh enam kenabian.” (HR Muslim)

Al Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan bahwa makna dari “Barangsiapa yang melihatku disaat tidur maka sungguh dia telah melihatku” adalah barangsiapa yang melihatku disaat mimpi maka sungguh dia telah melihatku yang sebenarnya dengan sempurna tanpa adanya keraguan dan kesangsian terhadap apa yang dilihatnya bahkan dia adalah mimpi yang sempurna. Hal ini dikuatkan oleh dua buah hadits dari Abu Qatadah dan Abu Said “maka sungguh dia telah melihat yang sebenarnya” yaitu mimpi yang benar bukan yang batil.

Al Hafizh menambahkan bahwa maksudnya adalah barangsiapa yang melihatku disaat tidur dalam bentuk (rupa) yang bagaimanapun maka hendaklah orang itu bergembira dan mengetahui bahwa dia telah melihat yang sebenarnya dan mimpi itu berasal dari Allah swt dan bukanlah mimpi yang batil karena sesungguhnya setan tidaklah bisa menyerupaiku (Rasulullah saw). (Fathul Bari juz XII hal 453)

Ibnul Baqilani mengatakan bahwa makna “Sungguh dia telah melihatku” adalah mimpi orang itu benar dan bukanlah mimpi kosong atau penyerupaan dari setan. Hal ini dikuatkan dengan riwayat lain “Sungguh dia telah melihat yang sebenarnya” yaitu mimpi yang benar.

Al Qodhi mengatakan bahwa ada kemungkinan sabda Rasulullah saw “sungguh dia telah melihatku” atau “sungguh dia telah melihat yang sebenarnya karena setan tidaklah bisa menyerupai rupaku” maksudnya adalah jika orang itu melihatnya saw dengan sifatnya yang telah dikenal selama hidupnya saw. Akan tetapi jika orang itu melihat dalam bentuk yang sebaliknya maka mimpinya itu adalah ta’wil (yang masih perlu diteliti kebenarannya) bukan mimpi hakekat (sebenarnya), dan apa yang dikatakan oleh al Qodhi ini—menurut Nawawi—adalah lemah. Akan tetapi yang benar adalah bahwa orang itu sungguh telah melihat yang sebenarnya (hakekat) baik dalam sifat yang sudah dikenalnya ataupun selainnya, seperti yang disebutkan oleh al Maziri. (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi juz XV hal 36 – 37)

Allah juga sering mengilhami seseorang akan hal-hal tertentu sebagaimana termaktub dalam al-Quran yang suci. Seperti halnya dibawah ini ada riwayat dari Al-Arifbillah al-Habib al-Imam Abdullah bin Idrus Al Aydrus berkata: Ada tiga jenis Dzikir yang jika seorang Mukmin membacanya setiap hari (dengan istiqomah/terus-menerus) masing-masing sebanyak 116 kali, maka Baginda Nabi Muhammad SAW akan berkepentingan untuk hadir saat pencabutan nyawanya (Sakaratul Maut).

Pertama:

(الصلاة والسلام عليك ياسيدي يارسول الله قلت حيلتي أدركني (× 116

(Asshalatu was salamu alaika ya Sayyidi ya Rasulallah qollat hiilaty adrikni)

Kedua:

(السلام عليك ايها النبي ورحمة الله وبركاته (×116

Assalamu Alaika ayyuhan Nabiyyu wa rahmatullahi ea barakatuh.

Ketiga:

(116 x) انا في جاه رسول الله صلى الله عليه واله وسلم

Ana fi jaahi Rasulillah shallahu alaihi wa alihi wa sallam.

Hal ini disebutkan oleh Al Allamah Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith Madinah Al-Munawwaroh dalam kitab An-Nujumuz Zahirah.

Semoga saat ajal memjemput kita Allah berkenan menghadirkan Rasulullah saw untuk mendampingi detik-detik terakhir hidup kita di dunia agar kita mendapat HUSNUL KHATIMAH. Amin. Amin. Amin. Ya Arhamar Rahimin.

BERUSAHALAH HATAM AL-QUR’AN MINIMAL 40 HARI SEKALI

Ibnu Qudamah al-Hanbali mengatakan:

وَيُكْرَهُ أَنْ يُؤَخِّرَ خَتْمَةَ الْقُرْآنِ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا

“Dimakruhkan bagi seorang muslim tidak khatam baca al-Quran dalam 40 hari.” (Al-Mughni 2/611, Dar Alam al-Kutub)

Yang dimaksud khatam baca al-Quran adalah satu orang baca al-Quran dari surat al-Fatihah sampai an-Nas.

Jika 30 juz al-Quran dibagikan kepada 30 orang sehingga masing-masing orang hanya baca satu juz saja dalam satu hari tidaklah disebut khatam membaca Al-Quran.

Menurut Ibnu Qudamah minimal khatam baca al-Quran adalah sekali per 40 hari.

Ini adalah satu pendapat dalam masalah ini.

Pendapat patut kita jadikan bahan renungkan di Bulan Ramadhan ini yang merupakan bulan al-Quran.

Kita patut merenung seberapa kedekatan kita dengan al-Quran.

Mengapa banyak dari kita kesulitan untuk memenuhi standar minimal khatam baca al-Quran?

Jika standar minimal khatam baca al-Quran saja tidak bisa kita capai layakkah kita mengklaim sudah imbang dunia dan akhirat?

Jika standar minimal khatam baca al-Quran saja sulit untuk kita capai layakkah kita nasehati diri sendiri atau orang lain ‘jangan terlalu sibuk dengan akherat’?

Bukankah lebih tepat jika kita nasehati diri kita sendiri, “Wahai diri, jangan sibuk dengan dunia fana dan hal yang sia-sia karena ada akhirat yang jauh lebih utama.”

Semoga Allah memberikan maaf-Nya kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini akan keteledoran diri sehingga ‘jauh’ dari al-Quran, kitab suci. Aamiin.

MAULID SIMTUDDUROR DAN TERJEMAHANYA

DI BAWAH INI ADALAH MAULID SIMTUD DUROR DAN TERJEMAHNYA, SEKALIGUS LINK VIDEO PEMBACAAN MAULID SIMTUDDUROR BAGI YANG MAU MENONTON. SEMOGA BERMANFAAT, AMIN….

يا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد ۞ أَشْرَف بَدْرٍ فِي الْكَوْنِ اَشْرَقْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad purnama termulia di semesta yang bersinar

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد ۞ أَكْرَمِ دَاعٍ يَدْعُوْ اِلَى الْحَـقْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad pengajak termulia yang mengajak kepada kebenaran

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد ۞ اَلْمُصْطَفَى الصادِقِ الْمُصَدَّقْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad yang terpilih yang benar yang dibenarkan

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمّدَ ۞ اَحْلَى الْوَرى مَنْطقًا وَاَصْدَقْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad makhluk terindah ucapannya dan terjujur

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد ۞ اَفْضلِ مَـنْ بِالتُّقـى تَحَقَّـقْ

wahai tuhanku berselawatlah atas Muhammad seorang yang menyatakan ketakwaan

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد ۞ مَنْ بِالسخَا والْوَفَـا تَخَلَّـقْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad seorang yang berbudi pekerti dermawan dan memenuhi janji

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد ۞ وَاجْمَعْ مِنَ الشمْلِ مَا تَفَـرَّقْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad dan kumpulkan perkara yang terpisah-pisah

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد ۞ وَاصلِحْ وَسَهِلْ مَا قَدْ تَعَـوَّقْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad dan perbaiki dan mudahkan perkara yang sulit

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد ۞ وَافْتَحْ مِنَ الْخَيْرِ كُلَّ مُغْلَـقْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad dan bukalah setiap kebaikan yang tertutup

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد ۞ وَآلِـهْ وَمَـنْ بِالنَّبِـيّ تَعَلَّـقْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad dan orang yang berpegang dengan nabi

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد وآلِهْ وَمَنْ لِلْحَبِيْـِب يَعْشَـقْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad dan orang yang rindu terhadap kekasih

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد ۞ وَمَـنْ بِحَبْـلِ النَّبِـيّ تَوَثَّـقْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad dan orang yang berpegangan dengan tali nabi

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد ۞ يَا رَبّ صـلّ علَيْـهِ وَسلّـمْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad wahai tuhanku berselawatlah kepadanya dan ucapkanlah salam

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الْقَوِيِّ سُلْطَانُهْ

Segala puji bagi Allah, yang teguh kekuasaan-Nya

اَلْوَاضِحِ بُرْهَانُهْ

 yang jelas bukti kebenaran-Nya

اَلْمَبْسُوْطِ فِي الْوُجُوْدِ كَرَمُه وَإِحْسَانُهْ

yang terbentang di alam semesta kedermawanan dan kemurahan-Nya

تَعَالى مَجْدُه وَعَظُمَ شَانُهْ

Maha tinggi kemuliaan-Nya, maha agung kedudukan-Nya

خَلَقَ الْخَلْقَ لِحِكْمَهْ

menciptakan makhluk karena hikmah

وَطَوى عَلَيْهَا عِلْمَهْ

dan melipat ilmu-Nya atas hikmah

وَبَسَطَ لَهُمْ مِنْ فَائِضِ الْمِنَّةِ مَا جَرَتْ بِه فِي أَقْدَارِهِ الْقِسْمَةْ

dan menghamparkan bagi mereka limpahan karunia-Nya yang pembagian berlaku dalam kehendak-Nya

فَأَرْسَلَ إِلَيْهِمْ أَشْرَفَ خَلْقِه وَأَجَلَّ عَبِيْدِه رَحْمَةْ

maka Ia mengutus makhluk-Nya yang paling mulia dan hamba-Nya yang paling agung karena rahmat

تَعَلَّقَتْ إِرَادَتُهُ الْأَزَلِيَّةُ بِخَلْقِ هذَا الْعَبْدِ الْمَحْبُوبْ

kehendaknya-Nya yang azali terhubung dengan penciptaan hamba yang dicintai ini

فَانْتَشَرَتْ أثَارُ شَرَفِه فِي عَوَالِمِ الشَّهَادَةِ وَالْغُيُوبْ

Maka tersebarlah pancaran kemuliaannya di alam nyata dan gaib

فَمَا اَجَلَّ هذَا الْمَنَّ الَّذِيْ تَكَرَّمَ بِهِ الْمَنَّانْ

betapa agung anugerah ini yang dilimpahkan oleh Maha Pemurah

وَمَا اَعْظَمَ هذَا الْفَضْلَ الَّذِيْ بَرَزَ مِنْ حَضْرَةِ الْإِحْسَانْ

betapa agung keutamaan ini yang tampak dari sumber kebagusan

صُوْرَةً كَامِلَةً ظَهَرَتْ فِي هَيْكَلٍ مَحْمُودْ

rupa yang sempurna yang tampak dalam bentuk insan terpuji

فَتَعَطَّرَتْ بِوُجُوْدِهَا اَكْنَافُ الْوُجُودْ

maka sisi-sisi alam semesta menjadi harum sebab kehadirannya

وَطَرَّزَتْ بُرْدَ الْعَوَالِمِ بِطِرَازِ التَّكْرِيمْ

dan sisi-sisi tersebut menyulam selimut alam semesta dengan sulaman kemuliaan

تَجَلَّى الْحَقُّ فِي عَالَمِ قُدْسِهِ الْوَاسِعْ

Allah yang Maha benar menampakkan dalam alam kesucian-Nya yang luas

تَجَلِّيًا قَضَى بِانْتِشَارِ فَضْلِه فِي الْقَرِيْبِ وَالشَّاسِعْ

dengan penampakan yang menetapkan penyebaran anugerah-Nya pada yang dekat dan jauh

فَلَهُ الْحَمْدُ الَّذِيْ لا تَنْحَصِرُ اَفْرَادُه بِتَعْدَادْ

Maka hanya bagi-Nya segala puji yang tidak terhingga bilangannya dengan hitungan

وَلا يُمَلُّ تَكْرَارُه بِكَثْرَةِ تَرْدَادْ

dan pengulangan tidak menjenukan sebab banyaknya pengulangan

حَيْثُ أَبْرَزَ مِنْ عَالَمِ الْإِمْكَانْ

sekira Ia tampilkan dari alam imkan

صُوْرَةَ هذَا الْإِنْسَانْ

bentuk insan ini

لِيَتَشَرَّفَ بِوُجُوْدِه ِ الثَّقَلانْ

Agar manusia dan jin memperoleh kemuliaan dengan kehadirannya

وَتَنْتَشِرَ اَسْرَارُه فِي الْأَكْوَانْ

dan rahasia-rahasianya tersebar di alam semesta

فَمَا مِنْ سِرٍّ اتَّصَلَ بِه قَلْبُ مُنِيبْ

Maka tiada rahasia yang sambung dengan hati orang yang sadar

اِلا مِنْ سَوَابغ فَضْلِ اللّهِ عَلى هذَا الْحَبِيبْ

Kecuali karena curahan karunia Allah terhadap kekasih ini

يَا لَقَلْب سُرُوْرُه قَـدْ تَوَالـى ۞ بِحَبِيْب عَـمَّ الأَنَـامَ نَـوَالا

duhai kebahagiaan hati yang terus menerus, karena kekasih yang anugerahnya ke semua manusia

جَلَّ مَنْ شَرَّفَ الْوُجُودَ بِنُوْرٍ ۞ غَمَرَ الْكَوْنَ بَهْجَـةً وَجَمَـالا

Maha agung Zat yang telah memuliakan wujud ini dengan cahaya, yang meliputi semesta dengan keriangan dan kecantikan

قَدْ تَرَقّى فِي الْحُسْنِ اَعْلى مَقَامٍ ۞ وَتَنَاهى فِي مَجْـدِه وَتَعَالـى

Mencapai tingkat keindahan tertinggi, menjulang mengangkasa dengan kemuliaannya

لاحَظَتْهُ الْعُيُوْنُ فِيْمَا اجْتَلَتْـهُ ۞ بَشَرًا كَامِلا يُزِيْحُ الضـلالا

Mata memandang dengan sesuatu yang ia lihat sebagai bentuk insan sempurna pengikis kesesatan

وَهْوَ مِنْ فَوْقِ عِلْمِ مَا قَدْ رَأَتْـهُ ۞ رِفْعَةً فِي شُؤُوْنِـه وكَمَـالا

meski ia melampaui pengetahuan yang dilihat mata dalam kemuliaan perkaranya dan kesempurnaan.

فَسُبْحَانَ الَّذيْ أَبْرَزَ مِنْ حَضْرَةِ الْاِمْتِنَانْ

mahasuci tuhan yang menampakkan dari sisi anugerah

مَا يَعْجِزُ عَنْ وَصْفِهِ اللِّسَانْ

sesuatu yang lisan tidak mampu menyifatinya

وَيَحَارُ فِي تَعَقُّلِ مَعَانِيْهِ الْجَنَانْ

dan hati bingung dalam memikirkan makna-maknanya

اِنْتَشَرَ مِنْهُ فِي عَالَمِ الْبُطُوْنِ وَالظُّهُورْ

tersebar darinya terhadap alam batin dan zahir

مَا مَلأَ الْوُجُوْدَ الْخَلْقِيَّ نُورْ

yang cahaya tidak menerangi alam semesta

فَتَبَارَكَ اللّهُ مِنْ اِلهٍ كَرِيمْ

Mahasuci Allah, Tuhan Maha Pemurah

بَشَّرَتْنَا آيَاتُه فِي الذِّكْرِ الْحَكِيمْ

Yang dalam kitab suci Al-Quran Al-Hakim Mengungkap berita gembira dengan firman-Nya,

بِبشَارَةِ لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ مِنْ اَنْفُسكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْه مَا عَنتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بالْمُؤْمنيْنَ رَؤفٌ رَحيْم

Telah datang kepadamu Seorang rasul dari kalangan sendiri Ia selalu prihatin atas apa yang menimpamu sangat ia inginkan kamu beriman Ia sangat penyantun, sangat penyayang.

فَمَنْ فَاجَأَتْهُ هذِهِ الْبشَارَةُ وتَلَقَّاهَا بِقَلْبٍ سَلِيمْ

Maka siapa saja yang sampai kepadanya berita gembira ini Serta menerimanya dengan hati dan pikiran sehat

فَقَدْ هُدِيَ اِلى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمْ

 Niscaya ia beroleh petunjuk Ke arah jalan yang lurus

BERSAMBUNG……

RAHASIA NABI MUHAMMAD SAW. UMURNYA PENDEK

Rasulullah SAW pernah mengabarkan usia kebanyakan umatnya yang berkisar antara 60-70 tahun. Penyebutan kelaziman angka umur umat akhir zaman ini tidak menafikan mereka yang wafat sebelum mencapai atau sesudah melewati kisaran tersebut. Meski ada yang berusia melebihi 70 tahun, jumlah mereka sangat kecil.

 عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوْزُ ذَلِكَ رواه الترمذي

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Usia umatku (umumnya berkisar) antara 60 sampai 70 tahun. Jarang sekali di antara mereka melewati (angka) itu.’” (HR At-Tirmidzi).

Abdurra’uf Al-Munawi dalam Faidhul Qadir mengatakan bahwa “umatku” yang disebut dalam hadits di sini bukan hanya pemeluk agama Islam (ummatul ijābah), tetapi manusia secara umum yang hidup di zaman Nabi Muhammad SAW dan seterusnya (ummatud da’wah). Adapun umat manusia terdahulu memiliki usia, kekuatan fisik, dan rezeki yang berlipat ganda dari umat manusia akhir zaman. Sebagian orang terdahulu berusia 1000 tahun. Tinggi badan mereka mencapai 80 hasta bahkan lebih atau kurang sedikit. Mereka menikmati dunia dengan fisik seperti itu. Dengan usia demikian, mereka menjadi angkuh dan sombong serta berpaling dari Allah “Karena itu, Tuhanmu menimpakan cambuk azab kepada mereka,” (Surat Al-Fajri ayat 13).

Sejak zaman mereka itu, fisik dan rezeki serta umur umat manusia terus berangsur menurun hingga umat ini sebagai umat manusia akhir zaman. Mereka hanya menerima sedikit rezeki dengan fisik yang lemah dan usia yang relatif pendek agar mereka tidak menjadi angkuh. Ini adalah bentuk rahmat Allah. Sebagian ulama membagi empat fase usia manusia, yaitu masa balita dan kanak-kanak, masa remaja dan masa muda, masa dewasa, dan masa tua sebagai akhir usia mereka yang umumnya berkisar antara 60-70 tahun. Pada masa tua itu, tampak turunnya daya fisik dan berkurangnya sisi lain pada dirinya. Pada saat itu, ia sangat dianjurkan untuk mempersiapkan diri untuk menuju akhirat karena mustahil untuk kembali pada kekuatan dan ketangkasannya seperti semula saat muda dahulu. (Al-Munawi, Kitab Faidhul Qadir).

Umur umat Nabi Muhammad SAW relatif singkat, umumnya 60-70 tahun. Mereka tidak seperti umat terdahulu yang memiliki usia 1000 tahun. Tinggi badan umat terdahulu 100 hasta dan lebar 10 hasta. Mereka menikmati dunia, makanan, minuman, dan pakaian sesuai kebutuhan besar fisik dan panjang usia mereka. Di tengah limpahan itu semua, nikmat yang dikonsumsi umat terdahulu tetap terbilang sedikit. Pasalnya, yang namanya dunia, halalnya menuntut hisab. Haramnya meniscayakan azab sebagaimana keterangan hadits.

Sebaliknya, Allah memuliakan umat Nabi Muhammad SAW sebagai umat akhir zaman ini dengan sedikit siksa dan hisab yang dapat menghalangi mereka dari masuk surga. Oleh karena itu, mereka adalah umat pertama yang masuk surga. Dari sana kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Nahnul ākhrūnal awwalūn” atau kami adalah umat akhir zaman yang awal (masuk surga). Ini termasuk kabar Rasulullah yang terbilang mukjizat. (Abdurra’uf Al-Munawi, At-Taysir bi Syarhil Jami’is Shaghir).

Ibnu Hajar dalam Kitab Fathul Bari bi Syarhi Shahihil Bukhari mengatakan bahwa hadits ini mengisyaratkan genapnya usia 60 sebagai dugaan selesainya umur seseorang. Pada usia lansia ini dengan segala kekurangan yang ada, seseorang seyogianya menyibukkan diri sedapat mungkin dengan aktivitas persiapan menuju akhirat karena mustahil untuk kembali pada kekuatan dan ketangkasannya seperti semula saat muda dahulu. Sebagian ulama mazhab Syafi’i menarik sebuah simpulan hukum bahwa orang yang genap memasuki usia 60 tahun dan belum berhaji karena kelalaiannya–padahal ia mampu–, maka ia berdosa jika kemudian wafat sebelum menunaikan ibadah haji. (Ibnu Hajar, Fathul Bari).

Umat manusia akhir zaman mendapat limpahan rahmat Allah berupa pelipatgandaan ganjaran atas amal ibadah yang membantu mereka di tengah keterbatasan usia mereka yang sangat singkat di dunia. Salah satu keterangan itu dapat ditemukan pada hadits Rasulullah SAW berikut ini:

 عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

Artinya, “Dari Ibnu Abbas RA, dari Rasulullah SAW pada apa yang diriwayatkan dari Allah, ia bersabda, ‘Allah menulis kebaikan dan kejahatan. Ia kemudian menerangkan, siapa saja yang terpikir untuk berbuat kebaikan dan ia belum melakukannya, niscaya Allah mencatatnya sebagai sebuah kebaikan sempurna. Tetapi bila ia terpikir untuk berbuat kebaikan dan ia kemudian melakukannya, niscaya Allah mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan yang berlipat ganda hingga 700 hingga kelipatan yang banyak. Namun, jika ia terpikir untuk berbuat kejahatan dan ia belum melakukannya, niscaya Allah mencatatnya sebagai sebuah kebaikan sempurna. Tetapi bila ia terpikir untuk berbuat kejahatan dan ia kemudian melakukannya, niscaya Allah mencatatnya sebagai sebuah kejahatan saja,’” (HR Bukhari dan Muslim).

Wallahu a’lam

PENGHUNI SURGA MEMPUNYAI KARAKTER SEPERTI INI

Iyadh bin Himar Al-Mujasyi’i ia berkata, pada suatu hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah seraya bersabda,

“Penghuni surga itu ada tiga; pertama, penguasa yang adil, jujur, dan mendapat taufik, kedua, seorang yang penyayang dan perhatian kepada setiap kerabat, ketiga, seorang muslim yang suci, pandai menjaga diri, dan memiliki keluarga….” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu ia berkata, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Macam-macam umat diperlibatkan keapdaku; aku melihat seorang Nabi beserta sekelompok orang pengikutnya,  aku melihat seorang Nabi beserta seorang laki-laki pengikutnya, aku melihat seorang Nabi tanpa ditemani seorang pengiku pun, kemudian diperlihatkan kepadaku sekelompok orang dengan jumlah yang amat banyak, maka aku berakta, ‘Ini adalah umatku.’ Kemudian dikatakan, ‘Ini adalah Musa dan umatnya. Tapi, lihatlah ke atas.’ Seketika terlihat sekelompok umat dengan jumlah yang amat banyak. Kemudian dikatakan, ‘Lihatlah ke arah yang lain.’ Seketika terlihat sekelompok umat dengan jumlah yang amat banyak. Kemudian dikatakan, ‘Ini adalah umatmu.’ Bersama mereka 70.000 orang masuk ke dalam surga tanpa melalui prosesi hisab dan siksa.” Kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berdiri, lalu masuk, lalu para shahabat berbicara panjang lebar tentang sabda Nabi tadi. Kemudian mereka berkata, ‘Siapakah mereka yang masuk surga tanpa melalui prosesi hisab dan siksa?’ Sebagian mereka berkata, ‘Barangkali mereka yang menyertai Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.’ Sebagian yang lain berkata, ‘Barangkali mereka yang dilahirkan dalam keadaan Islam, dia tidak pernah menyekutukan Allah.’ Mereka menyebutkan banyak hal. Kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam keluar kembali (dari kamar beliau) menemui mereka, lalu beliau berkata, ‘Apa yang kalian perbincangkan?’ Mereka pun memberitahukan kepada beliau tentang apa yang mereka perbincangkan antarmereka. Lalu beliau bersabda, ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan menggunakan kayy, tidak minta diruqyah (ruqyah yang tidak syar’i), tidak bertathayyur (pesimis karena melihat pertanda buruk), dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal.’ Kemudian ‘Ukkasyah bin Mihshan Al-Asadi berdiri seraya berkata, ‘Apakah saya termasuk bagian dari mereka, wahai Rasulullah?’ Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. ‘Kamu adalah termasuk bagian dari mereka!’ Lalu sebagian shahabat yang lain (Sa’ad bin ‘Ubadah) berkata, ‘Apakah saya bagian dari mereka, wahai Rasulullah?’ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kamu telah didahului oleh Ukkasyah’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Berkaitan dengan maksud tawakkal di dalam hadis di atas, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tawakkal adalah kondisi hati yang timbul atas pengetahuannya terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, percaya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sendirian dalam mencipta, mengatur, menghilangkan madharat, mendatangkan manfaat, memberi, memboikot pemberian, dan apa yang Dia kehendaki bisa terwujud meskipun manusia tidak menghendakinya, sedangkan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak terwujud meskipun manusia menghendakinya. Dengan begitu, ia bersandar sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menyerahkan segala hal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, merasa tenang bersama-Nya, percaya sepenuhnya kepada-Nya, yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencukupinya berdasarkan rasa dan sikap tawakkal kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memenuhi kebutuhan orang yang tawakkal itu, tidak ada sesuatu yang terjadi di luar kehendak-Nya, baik manusia menginginkannya maupun menolaknya. Kondisi orang yang tawakkal itu seperti kondisi anak kecil di hadapan kedua orang tuanya, dalam perihal sesuatu yang ia niatkan, baik motivasi atau larnagan, maka kedua orang tua itu menanggung sepenuhnya. Perhatikanlah hati anak itu tidak pernah terbesit untuk bersandar kepada selain kedua orang tuanya, dan menahan hasratnya untuk menyampaikan apa yang ia niatkan kepada kedua orang tuanya. Begitu juga kondisi orang yang tawakkal. Barangispa yang memiliki sikap seperti iu dalam berinteraksi dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti mencukupinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Ath-Thalaaq: 3)

Dari Sahal bin Sa’ad ia berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang menjamin (menjaga) lisan dan kemaluannya, maka aku menjaminnya untuk masuk jannah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang oleh Allah dijaga dari kejelekan lisan dan kemaluannya, maka ia akan masuk jannah’.”

Dari Mu’adz bin Jabal ia berkata,

“Aku pernah bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan. Pada suatu pagi aku berada di dekat Nabi, sementara kami sedang berjalan kaki, lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, beritahulah saya tentang pekerjaan yang bisa memasukkan saya ke surga dan menjauhkan saya dari neraka.’ Beliau bersabda, ‘Kamu telah bertanya kepadaku tentang sesuatu yang agung. Sungguh sedikit orang yang dimudahkan oleh Allah untuk bertanya tentang hal itu. (Amal itu adalah) kamu menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun, melaksanakan shalat menunaikan zakat, shiyam pada bulan Ramadhan, berhaji ke Baitullah.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Maukah kamu jika aku memberitahumu tentang pintu-pintu kebaikan? Shiyam itu adalah perisai, sedangkan sedekah dapat menghapus dosa, sebagaimana air dapat memadamkan api, serta shalat seseorang pada kesunyian malam (qiyamul lail).’ Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.’ (QS. As-Sajdah: 16-17). Beliau kemudian bersabda, “Maukah kamu jika aku memberitahumu tentang penghulu segala sesuatu, tiang segala sesuatu, dan puncak segala sesuatu?’ Aku berkata, ‘Dengan senang hati, wahai Rasulullah.’  “Pokok segala urusan adalah Islam, pilarnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.” Beliau bersabda, ‘Maukah kamu jika aku memberitahumu raja dari seluruh itu?’ Aku berkata, ‘Dengan senang hati, wahai Nabi Allah.’ Kemudian Rasulullah memegang mulut Mua’adz seraya bersabda, ‘Jagalah (tahanlah) mulutmu seperti ini.’ Aku berkata, ‘Wahai Nabi Allah, apakah kami akan disiksa karena kata-kata yang kami ucapkan?’ Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ibumu merasa kehilangan kamu, (celakalah) wahai Mu’adz. Tidaklah manusia dicebloskan ke dalam neraka dengan diseret di atas wajah atau dahinya kecuali disebabkan oleh kata-kata yang diucapkan oleh mulut mereka’.”

AMALAN AGAR SELAMAT DARI BAHAYA PENCURIAN SERTA KEBAKARAN DAN LAINYA

Enam beit ” Bahar Basith ” berikut, di beberapa Pondok Pesantren salafiyyah di wirid dan di dawamkan ,biasanya dibaca sebagai closing/penutup dari rangkaian Wirid dan Dzikir sholat fardhu yang warid dari Rosul, dan lazimnya setelah sholat fardhu maghrib dan shubuh.

Enam beit berikut berisikan khushushiyyat atau keistimewaan yang dimiliki kanjeng nabi Muhammad SAW , Dan bagi pengamalnya, insyaAllah… Allah hindarkan dari musibah dan marabahaya yang disebutkan di akhir beit.

Demikian dinyatakan Syekh  Nawawi Banten dalam kitab Maraqil Ubudiyah ala Bidayatil Hidayah. Hal : 3

Silahkan di amalkan ,sebagai bentuk ikhtiyar,usaha dan do’a kita kepada Allah agar terlindung dari musibah, Amin

لَمْ يَحْتَلِمْ قَطُّ طَهَ مُطْلَقًا أَبَدًا * وَما تَثائَبَ أَصْلاً في مَدَى الزَّمَنِ

مِنْهُ الدَّوَابُّ فَلَمْ تَهْرُبْ وَمَا وَقَعَتْ * ذُبَابَةٌ أَبَدًا فِي جِسْمِهِ الحَسَنِ

بِخَلْفِهِ كَأَمَامَ رُؤْيَةٌ ثَبَتَتْ * وَلاَ يُرَى أَثَرُ بَوْلٍ مِنْه فِي عَلَنِ

وَقَلْبُه لَمْ يَنَمْ وَالعَيْنُ قَدْ نَعَسَتْ * وَلاَ يَرَى ظِلَّهُ فِي الشَّمْسِ ذُوْ فَطَنِ

كَتْفَاهُ قَدْ عَلَتَا قَوْمًا إِذَا جَلَسُوْا * عِنْدَ الوِلاَدَةِ صِفْ يَا ذَا بِمُخْتَتَنِ

هَذِى الخَصَائِصَ فَاحْفَظْهَا تَكُنْ آمِنًا * مِنْ شَرِّ نَارٍ وَسُرَاقٍ وَمِنْ مِحَنِ

Artinya:

Belum pernah sama sekali, Thoha (Nabi Muhammad SAW) “bermimpi basah, Dan sama sekali Beliau tidak pernah menguap di sepanjang hayatnya

Darinya, binatang tidak lari dan belum pernah hinggap seekor lalat di tubuhnya yang bagus

Sisi belakang beliau sama seperti sisi depan,yaitu mampu melihat  , Dan bekas air seninya tidak terlihat meski di tempat nyata

Qalbunya tak pernah tidur sekalipun mata mengantuk , Dan bayangan tubuhnya tidak terlihat ketika disinari matahari

Kedua Bahunya selalu terlihat lebih tinggi dari bahu yang lainnya ketika bermajlis, Dan ketika lahir terangkanlah wahai nabi yang sudah terkhitan

Keistimewaan ini hafalkanlah agar kau aman , Dari kejahatan api kebakaran, pencurian, dan bencana lain

Wallahu A’lam

SEMANGAT BERAGAMA HARUS DI DASARI AKHLAQ MULIA


KITAB al-Maroqoh al-Mafatih Syarh Misykah al-Mashobih – Ali bin Sulthon Muhammad al-Qoori
Kitab al-fadhoil

وعن أبي هريرة ، قال : قيل يا رسول الله ادع على المشركين قال : إني لم أبعث لعانا ، وإنما بعثت رحمة . رواه مسلم .

…Dari Abi Hurairoh, ia berkata : diucapkan kepada Rosulillah, Ya Rosulallah … Berdo’a lah atas orang orang musyrik (musyrikin). Maka bersabda Rosulullah : “Sesungguhnya aku tidak di utus untuk menjadi seorang pelaknat, dan sungguh aku diutus agar menjadi rahmat. [HR.Muslim]

( وعن أبي هريرة ) : رضي الله عنه ( قال : قيل يا رسول الله ادع على المشركين . قال : ” إني لم أبعث لعانا ” ) ، أي ولو على جماعة مخصوصة من الكافرين ، لقوله تعالى : ليس لك من الأمر شيء أو يتوب عليهم أو يعذبهم ( ” وإنما بعثت رحمة ” ) أي للناس عامة وللمؤمنين خاصة ، متخلقا بوصفي الرحمن الرحيم ، ولقوله تعالى : وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين قال ابن الملك : أما للمؤمنين فظاهر

Sabda Nabi (” إني لم أبعث لعانا “) dalam tafsir haditsnya hingga menggunakan dan dibatas maksimalkan dengan GHOOYAH.=> ( أي ولو على جماعة مخصوصة من الكافرين)
“Walaupun atas kelompok tertentu dari kaum kafir.”

‘Ilatnya, karena Firman Allah ta’ala (ليس لك من الأمر شيء أو يتوب عليهم أو يعذبهم) artinya :“Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu, atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang’ orang yang dzalim.” [QS. Ali Imran : 128]

Sabda Nabi SAW (” وإنما بعثت رحمة “) yaitu bagi seluruh manusia secara umum, dan kepada orang yang beriman secara khusus, dengan berakhlaq menggunakan dua sifat ilahiyah, yaitu sifat rohman dan rohiim.
Dan karena firman Allah (وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين) , Ibnu Mulk berkata : Adapun (rohmat) kepada mu’minin itu sudah zhohir/jelas.

وأما للكافرين فلأن العذاب رفع عنهم في الدنيا بسببه ، كما قال تعالى : وما كان الله ليعذبهم وأنت فيهم أقول : بل عذاب الاستئصال مرتفع عنهم ببركة وجوده إلى يوم القيامة

Adapun (rohmat) bagi kaafirin, maka sungguh adzab di angkat dari mereka ketika di dunia dengan sebab wujudnya Nabi SAW, bahkan adzab yang sifatnya isti’shol (memusnahkan) dicabut dari mereka dengan berkah wujudnya Nabi SAW , sampai hari qiyamat.

وقال الطيبي أي : إنما بعثت لأقرب الناس إلى الله ، وإلى رحمته ، وما بعثت لأبعدهم عنها ، فاللعن مناف لحالي فكيف ألعن ؟ ( رواه مسلم ) . وكذا البخاري في الأدب المفرد . وروى الطبراني ، عن كريز بن شامة قوله : ” إني لم أبعث لعانا ” . وروى البخاري في تاريخه ، عن أبي هريرة بلفظ : ” إنما بعثت رحمة ولم أبعث عذابا ”

At-Thibi berkata (dalam menafsirkan hadits di atas) : “Sungguh aku di utus agar menjadi hamba yang paling dekat kepada Allah dan kepada rahmat-Nya diantara manusia, dan aku tidak diutus (bukan tujuan aku di utus) agar aku menjauhkan mereka dari rahmat Allah, Maka aksi melaknat menafikan kepada hal diutusnya aku, maka bagaimana aku bisa melaknat ?.”
Hadits diriwayatkan Imam Muslim sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhori dalam al-Adab al-Mufrod.
Sedang lafadz hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori dari Abi Hurairoh adalah dengan lafadz
” إنما بعثت رحمة ولم أبعث عذابا ” .

Artinya : “Sungguh aku di utus sebagai rahmat, dan aku tidak di utus sebagai adzab/siksaan)

Wallahu a’lam.

RAHASIA DARI TIDAK ADANYA TUJUH HURUF DALAM SURAT AL-FATIHAH

Suatu ketika Qoishor raja romawi mengirim surat kepada kholifah Umar bin al-Khoththob RA, yang isi surat tersebut demikian:
“Kami menemukan dalam kitab suci kami yaitu injil, barang siapa yang membaca sebuah surat yang padanya tidak terdapat TUJUH huruf berikut, maka baginya syurga, ketujuh huruf itu adalah: Tsa/الثاء, Jim/الجيم, Kho/الخاء, Zay/الزاى, Syin/الشين, Zho/الظاء dan Fa/الفاء

Kami telah mencarinya dalam injil namun kami tidak menemukannya, kami mohon pada kalian agar mencarinya dalam kitab suci kalian (al-qur’an), apakah surat tersebut terdapat disana?”.
Ketika Sayyidina Umar selesai membaca surat dari raja Qoishor, ia mengabarkan hal tersebut pada para sahabat Rosulillah SAW.

Maka berkata Ubay bin Ka’b : “Wahai Amiril Mu’minin, sesungguhnya surat pembuka dalam qur’an/surat al-fatihah, didalamnya tidak terdapat ketujuh huruf yang disebutkan”.
Maka kemudian Sayyidina Umar RA membalas surat dari raja qoishor dan mengabarkan bahwa dalam qur’an terdapat sebuah surat yang dicari oleh raja qoishor, yaitu surat al-fatihah.
Dan ketika raja qoishor membaca surat balasan dari Sayyidina Umar, maka ia bersyahadat untuk memeluk agama Islam dan ia pun wafat dalam keadaan islam.
Wallahu a’lam. (Kitab Khozinatul Asror, hal 112)

أن قيصر ملك الروم كتب الى عمر بن الخطاب رضى الله عنه كتابا، وكتب فيه إنا نجد فى الانجيل أن من قرأ سورة خالية عن سبعة احرف فله الجنة، وهى الثاء والجيم والخاء والزاى والشين والظاء والفاء، فقد طلبناها فى الانجيل فلم نجدها، فانظروا هل تجدونها فى كتابكم، فلما قرأ عمر رضى الله عنه كتابه، أخبر اصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال أبى بن كعب رضى الله عنه : يا أمير المؤمنين إن فاتحة الكتاب خالية عن هذه الحروف. فكتب عمر رضى الله عنه بذلك الى قيصر الروم ، فلما بلغ اليه الكتاب أسلم ومات على الاسلام . كذا فى الشيخ زاده
خزينة الأسرار : ١١٢ – للشيخ السيد محمد حقى النازلى

MENGAPA TUJUH HURUF TERSEBUT TIDAK BERADA DALAM SURAT AL-FATIHAH ?, INILAH SEBAGIAN SIRR ATAU RAHASIA YANG DIKUTIP OLEH SYEIKH NAWAWI AL-BANTANI DALAM KITAB BAHJATUL WASAIL BI SYARHIL MASAIL, HAL 14.

(وليس فى الفاتحة ظاء) وكذا ثاء وجيم وخاء وزاى وشين وفاء . يجمعها قولك ثجخ زشظف.
ولعل السر فى عدم هذه الاحرف السبعة هنا كما قيل : أن الثاء يشير الى الثبور وهو اهلاك الله الكافر، والجيم يشير الى جهنم، والخاء الى الخباثة والخسارة وهى الهلاك، والزاى الى الزقوم، والشين الى الشوكة، وتلظاء الى الظلمة، والفاء الى الفضيحة والأفاعى وهى الحيات التى لا ينفع منهاوترياق ولا رقيا ، أعاذنا الله من ذلك
بهجة الوسائل بشرح المسائل : ١٤

Ada 7 huruf yang tidak terdapat dalam surat al-Fatihah, terkumpul dalam ucapan ﺛﺠﺦ ﺯﺷﻈﻒ :

  1. Tsa’/ ﺙ , mengisyaratkan tsubur yaitu penghancuran Allah kepada orang kafir.
  2. Jim/ ﺝ , mengisyaratkan jahannam.
  3. Kha’/ ﺥ , mengisyaratkan khabatsah dan khasarah yaitu kehancuran atau kerugian.
  4. Za’/ ﺯ , mengisyaratkan kepada zaqqum yakni pohon pahit lagi busuk yang buahnya jadi makanan penduduk neraka jahannam.
  5. Syin/ ﺵ , mengisyaratkan syaukah artinya duri.
  6. Dza’/ ﻅ, mengisyaratkan dzulmah artinya kegelapan.
  7. Fa’/ ﻑ , mengisyaratkan fadhihah (cacat-kurang) dan afa’iy yaitu ular-ular yang tidak bermanfaat sebagai penawar racun dan ruqyah.

Wallahu a’lam

HAL-HAL YANG DI SUKAI ALLOH SWT. NABI MUHAMMAD SAW. DAN PARA SAHABATNYA SERTA IMAM MADZHAB DAN MALAIKAT JIBRIL AS.

DALAM KITAB BAHJATUL DI JELASKAN ALLOH SWT DAN NABI MUHAMMAD SAW MENYUKAI TIGA HAL. BEGITU JUGA PARA SHOHABAT BELIAU DAN JUGA IMAM MADZHAB SERTA MALAIKAT JIBRIL. TIGA HAL TERSEBUT ADALAH :

NABI MUHAMMAD SAW.

  • Wangi wangian
  • Wanita
  • Sholat

ABU BAKAR ASH SHIDIQ RA.

  • Duduk bersamamu (Nabi)
  • Bersholawat kepadamu
  • Menginfaqkan hartaku untukmu

UMAR BIN KHOTHOB RA.

  • Amar ma’ruf
  • Nahi munkar
  • Menegakkan had/ hukum Allah dan RosulNya

‘UTSMAN BIN AFFAN RA.

  • Memberi makanan
  • Menebarkan salam/kedamaian
  • Sholat malam ketika manusia tertidur

ALI BIN ABI THOLIB RA.

  • Mengayunkan pedang dalam perang
  • Melakukan puasa ketika musim panas
  • Memuliakan tamu

Maka turunlah malaikat Jibril as mengutarakan tiga hal yang ia sukai kepada Nabi SAW.

JIBRIL AS.

  • Turun ke bumi untuk menemui para Nabi
  • Menyampaikan Risalah kepada para Rosul Allah
  • Memuji hanya kepada Allah SWT
    Kemudian Malaikat Jibril menyampaikan tiga hal yang Allah sukai

ALLAH SWT.

  • Lisan yang senantiasa berdzikir
  • Hati yang senantiasa bersyukur
  • Jasad yang senantiasa bersabar ketika mendapat cobaan dan ujian hidup

Ketika Hadits dan riwayat (diatas) sampai pada Imam madzhab yang empat, maka mereka (rodhiyallahu anhum) menyampaikan tiga hal pula.

IMAM ABU HANIFAH RAH.

  • Menghasilkan ilmu pengetahuan di sepanjang malam
  • Meninggalkan masyhur dan di agungkan (manusia)
  • Tidak memberi tempat di kalbunya untuk orang yang hubb dunia

IMAM MALIK RAH.

  • Enggan jauh dengan raudhoh Nabi SAW
  • Selalu ingin berada dalam turbah Nabi SAW
  • Selalu mengagungkan ahli beit Nabi SAW

IMAM SYAFI’I RAH.

  • Berakhlak dengan penuh kelembutan
  • Meninggalkan sesuatu agar yang lain tidak tertaklif
  • Mengikuti dan menetapi jalan tashawuf

IMAM AHMAD RAH.

  • Mengikuti Nabi melalui hadits hadits nya (yang ia terima)
  • Selalu tabarruk (mengambil keberkahan) dengan Nur Nabi SAW
  • Suluk (mengikuti Nabi) dengan atsar atsarnya.
    رضي الله عن الجميع وأمدنا بمددهم آمين

Bahjatul Wasail : 35

[ لطيفة ]
عن النبى صلى الله عليه وسلم « حبب إلي من دنياكم ثلاث ، الطيب والنساء وقرة عينى فى الصلاة . وقال أبو بكر الصديق : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث الجلوس بين يديك والصلاة عليك وإنفاق مالى عليك، وقد أنفق أبو بكر على النبى صلى الله عليه وسلم أربعين ألفا. وقال عمر : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر وإقامة الحدود. وقال عثمان : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث إطعام الطعام وإفشاء السلام والصلاة بالليل والناس نيام . وقال على : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث : الضرب بالسيف والصيام فى الصيف وإقراء الضيف ، فنزل جبريل وقال : يا نبي الله وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث النزول على النبيين وتبليغ الرسالة للمرسلين والحمد لله رب العالمين. ثم قال إن الله تعالى يقول : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث لسان ذاكر وقلب شاكر وجسد على البلاء صابر ». فالعمل بهذا كله من علامات المحبة لمن اراد الدخول فى قوله صلى الله عليه وسلم : «من أحبنى كان معى فى الجنة » ولما وصل هذا الحديث إلى الأئمة الأربعة، قال الإمام أبو حنيفة : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث تحصيل العلم فى طول الليالى وترك الترفع والتعالى وقلب من حبّ الدنيا خالى. وقال الإمام مالك : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث مجاورة روضته صلى الله عليه وسلم وملازمة تربته وتعظيم أهل بيته. وقال الإمام الشافعى : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث الخلق بالتلطف وترك ما يؤدى إلى التكلف والإقتداء بطريق التصوف. وقال الإمام أحمد : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث متابعة النبى فى أخباره والتبرك بأنواره وسلوك طريق آثاره ، رضى الله عن الجميع وأمدنا بمددهم آمين