AL-QUR’AN DAN HADITS TENTANG LARANGAN MENDEKATI ZINA

Zina adalah perbuatan yang sangat dilarang bahkan sangat dilaknat oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Begitu pula bagi orang yang bahkan hanya mendekati zina. Oleh sebab itu, orang mendekati atau bahkan melakukan zina akan mendapat adzab yang amat pedih.

BERIKUT AYAT-AYAT LARANGAN MENDEKATI ZINA :

Berikut beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang melarang perbuatan zina. Adapun ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas tentang perbuatan zina diantaranya:

Surat al-Isra’ ayat 32
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk“.

Surat An-Nur ayat 2
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap satu dari keduanya dengan seratus kali deraan. Dan janganlah kamu belas kasihan kepada keduanya didalam menjalankan (ketentuan) agama Allah yaitu jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan hendaklah (dalam melaksanakan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman “.

Surat An-Nur ayat 3
الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ ۚ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman“.

Surat Al-Furqon ayat 68-70
وَٱلَّذِينَ لَا يَدۡعُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَـٰهًا ءَاخَرَ وَلَا يَقۡتُلُونَ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ وَلَا يَزۡنُونَ‌ۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٲلِكَ يَلۡقَ أَثَامً۬ا (٦٨) يُضَـٰعَفۡ لَهُ ٱلۡعَذَابُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ وَيَخۡلُدۡ فِيهِۦ مُهَانًا (٦٩) إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً۬ صَـٰلِحً۬ا فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمۡ حَسَنَـٰتٍ۬‌ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورً۬ا رَّحِيمً۬ا (٧٠

  1. dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),
  2. (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam Keadaan terhina,
  3. kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Hadits-Hadits Larangan Mendekati Zina

Selain beberapa ayat Al-Qur’an, ada pula beberapa Hadits dari Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya sebagai berikut.

Hadits 1

Imam Annasa’i menambahkan sebagai berikut : “bila seseorang melakukan hal itu berarti melepaskan tali keimanan dari lehernya (dia menjadi kafir). Bila bertaubat maka ALLAH akan menerima taubatnya.” (HR. Abu Dawud dan Attirmidzi)

Hadits 2
ِإِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ، وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا

Artinya: “Sesungguhnya diantara tanda-tanda kiamat yaitu diangkatnya ilmu dan kebodohan nampak jelas, dan banyak yang minum khamar dan banyak orang berzina secara terang-terangan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits 3
لا يزني الزاني حين يزني وهو مؤمن

Artinya: “Pezina tidak dikatakan beriman ketika ia berzina“. (HR. Bukhari Muslim)

Hadits 4
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ باِمْرَأَةٍ إِلاَّكاَنَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

Artinya: “Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita, melainkan yang ketiga dari mereka adalah syetan“. (HR. At-Tirmidzi)

Hadits 5

Diriwayatkan dari Ibnu Abiddunya, bahwa Nabi saw bersabda:
ما من ذنب بعد شرك أعظم عنداللّه من النطفة وضعها رجل في رحم لا يحلّل

Artinya: “Tidak ada dosa yang lebih berat setelah syirik disisi Allah dari seorang laki-laki yang menaruh spermanya didalam rahim wanita yang tidak halal baginya“.

Hadits 6

Rasulullah SAW. bersabda:
إِذَا زَنَى الرَّجُلُ خَرَجَ مِنْهُ الإِيمَانُ كَانَ عَلَيْهِ كَالظُّلَّةِ فَإِذَا انْقَطَعَ رَجَعَ إِلَيْهِ الإِيمَانُ

Artinya: “Jika seseorang itu berzina, maka iman itu keluar dari dirinya seakan-akan dirinya sedang diliputi oleh gumpalan awan (di atas kepalanya). Jika dia lepas dari zina, maka iman itu akan kembali padanya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi )

Hadits 7

Dari Ubadah bin Shamit ra., Rasulullah bersabda:
البكْر بالبِكْر جَلْدُ مائة ونَفْيُ سَنَة والثّيّبُ بالثّيّبِ ، جَلْدُ مائة والرّجْم

Artinya: “Perawan dengan perjaka (jika berzina) maka dicambuk 100 kali dan diasingkan setahun. Duda dengan janda (jika berzina) maka dicambuk 100 kali dan dirajam“. (HR. Muslim)

Nabi saw. bersabda yang artinya: “Barang siapa berjabat tangan dengan seorang perempuan, maka kelak di hari akhir ia akan dirantai dengan rantai api neraka. Dan jika ia menciumnya, maka di hari akhir akan digunting kedua bibirnya dengan gunting api neraka. Dan jika ia berzina dengannya, maka kedua pahanya akan menyaksikan kelak di hari akhir tentang perbuatannya yang keji itu dan Allah murka kepadanya“.

Hadits 8

Hadits an-Nawwas ra.
وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ

Artinya: “Dan yang tersisa adalah seburuk-buruk manusia, mereka melakukan hubungan intim di dalamnya bagaikan keledai, maka pada zaman merekalah kiamat itu akan terjadi“. (HR Muslim)

Hadits 9

Dari Abu Malik al Asy’ari bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

Artinya: “Sungguh ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan (menganggap halal perzinahan, sutera, minuman keras, dan musik-musik.” (HR. Bukhari).

Hadits 10

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda:
ثَـلَاثَةٌ لَا يُـكَـلّـِمُـهُمُ اللّٰـهُ يَوْمَ الْقِـيَـامَـةِ وَلَا يُـزَكّـِيْهِمْ (وَلَا يَـنْـظُـرُ إِلَيْهِمْ) وَلَـهُمْ عَـذَابٌ أَلِـيْمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، وَمَـلِـكٌ كَـذَّابٌ ، وَعَائِـلٌ مُسْتَـكْبِـرٌ

Artinya: “Tiga (jenis manusia) yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat dan tidak pula Allah menyucikan mereka dan tidak memandang kepada mereka, sedang bagi mereka siksa yang pedih, yaitu: laki-laki tua yang suka berzina, seorang raja pendusta dan orang miskin yang sombong” (HR. Muslim).

ADA CAHAYA KETIKA ROSULULLOH SAW DI LAHIRKAN

Apakah benar bahwa sebelum kelahiran Rasulullah sallallahu aliahi wa sallam terpancar cahaya di langit?

Di antara berita gembira akan kenabian Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wa sallam, bahwa ketika ibunya mengandung, beliau melihat dalam tidurnya bahwa terpancar cahaya darinya sampai ke Syam.

Dari Kholid bin Ma’dan dari para shahabat Rasulullah sallallahu alihi wa sallam bahwa mereka mengatakan:

يا رسول الله ، أخبرنا عن نفسك. قال : دعوة أبي إبراهيم ، وبشرى عيسى ، ورأت أمي حين حملت بي كأنه خرج منها نور أضاءت له قصور بصرى من أرض الشام

(رواه ابن إسحاق بسنده، 1/166 سيرة ابن هشام، ومن طريقه أخرجه الطبري في تفسيره، 1/566 ، والحاكم في مستدركه، 2/600، وقال: صحيح الإسناد ولم يخرجاه ، ووافقه الذهبي، وانظر السلسلة الصحيحة، 1545 )

“Wahai Rasulullah, tolong beritahukan kepada kami tentang dirimu. Maka beliau bersabda, “(Aku adalah hasil) doa ayahku (Nabi) Ibrahim dan kabar gembira (Nabi) Isa. Dan ibuku bermimpi ketika beliau mengandungku, seakan keluar cahaya darinya menyinari istana Bushra di negeri Syam.”

(HR Ibu Ishaq dengan sanadnya, 1/166, Siroh Ibnu Hisyam, dari jalurnya diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam Tafsirnya, 1/566k, Al-Hakim dalam Mustadroknya, 2/600. Dia  mengatakan, “Sanadnya shoheh dan tidak dikeluarkan oleh keduanya (Bukhori dan Muslim) dan disetujui oleh Dzahabi. Silahkan lihat Silsilah Ahadits Shahihah, no. 1545).

Diriwayatkan imam Thobroni bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda,

ورأت أمي في منامها أنه خرج من بين رجليها سراج أضاءت له قصور الشام ) حسنه الألباني في صحيح الجامع، رقم 224)

“Ibuku melihat dalam tidurnya bahwa keluar di antara kedua kakinya cahaya yang menyinari istana Syam.” (Dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam shahih Al-Jami’, no. 224).

Diriwayakan Ahmad, (16700) dari Irbad bin Sariyah radhiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, kemudian disebutkan hadits di dalamnya ada,

إِنَّ أُمَّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَتْ حِينَ وَضَعَتْهُ نُورًا أَضَاءَتْ مِنْهُ قُصُورُ الشَّام (قال الهيثمي في مجمع الزوائد : وإسناده حسن)

“Bahwa ibunda Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam ketika melahirkan beliau, dia melihat cahaya yang menyinari istana negeri Syam.” (Al-Haitsami mengatakan dalam Majma Az-Zawaid: Sanadnya hasan)

Hafidz Ibnu Hajar mengatakan dalam ‘Fathul Bari, “ketika melahirkan, keluar darinya cahaya yang menyinari rumah dan kota. Hal ini dikuatkan oleh hadits Irbad bin Sariyah, dia berkata, saya mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي عَبْد اللَّه وَخَاتَم النَّبِيِّينَ وَإِنَّ آدَم لَمُنْجَدِلٌ فِي طِينَته , وَسَأُخْبِرُكُمْ عَنْ ذَلِكَ : إِنِّي دَعْوَة أَبِي إِبْرَاهِيم , وَبِشَارَة عِيسَى بِي , وَرُؤْيَا أُمِّي الَّتِي رَأَتْ , وَكَذَلِكَ أُمَّهَات النَّبِيِّينَ يَرَيْنَ , وَإِنَّ أُمّ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَتْ حِين وَضَعَتْهُ نُورًا أَضَاءَتْ لَهُ قُصُور الشَّام ) أَخْرَجَهُ أَحْمَد وَصَحَّحَهُ اِبْن حِبَّانَ وَالْحَاكِم وَفِي حَدِيث أَبِي أُمَامَةُ عِنْد أَحْمَد نَحْوه اهـ

“Sesungghunya aku adalah hamba Allah dan nabi terakhir dan Adam terlentang di atas tanah (dalam bentuk ciptaan sebelum ditiup ruh). Aku akan memberitahu hal itu. Sesungguhnya aku adalah doa ayahku Ibrahim dan kabar gembira Isa padaku serta mimpi yang dialami ibuku, begitu juga ibu para nabi melihatnya. Sesungguhnya ibunda Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam ketika melahirkan melihat cahaya menyinari istana negeri Syam.” (HR. Ahmad dan dishohehkan Ibnu Hibban dan Hakim dalam hadits Abu Umamah dari Ahmad dan lainnya)

Yang wajib diketahui bahwa petunjuk kenabian Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wa sallam tidak terbatas pada tanda ini saja, baik ada ketetapan ataupun tidak, maka kenabiannya sallallahu alaihi wa sallam telah ada ketetapan dengan petunjuk yang pasti dimana orang yang objektif tidak mungkin bisa mengingkarinya. Sesungguhnya yang mengingkari itu hanya orang jahil (bodoh) atau sombong.

Kita memohon kepada Allah agar menampakkan agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya.

Wallahu a’lam.

HADITS SHOHIH : SYAFA’AT NABI MUHAMMAD UNTUK SEMUA UMATNYA WALAUPUN AHLI DOSA BESAR

Besarnya perhatian Rasulullah ﷺ kepada umatnya benar-benar tiada tara dan tak terkira. Sampai-sampai beliau menangguhkan sebagian doanya hingga hari kiamat demi membela dan menyelamatkan mereka, sebagimana sabdanya, “Setiap nabi pasti memiliki doa mustajab. Hanya saja mereka menyegerakan doa mereka di dunia. Namun, aku menunda doa itu demi menolong umatku pada hari kiamat. Insyaallah, doa itu akan terwujud,” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Besarnya kasih sayang beliau kepada umatnya juga tak tergantikan dengan tawaran masuknya separuh mereka ke surga. Beliau lebih memilih tawaran syafaat karena ingin membela umatnya lebih banyak, sebagaimana tergambar dalam salah satu haditsnya, “Aku diberi pilihan antara syafaat dengan masuknya separuh umatku ke surga. Namun, aku memilih syafaat. Sebab, syafaat lebih menyeluruh dan lebih banyak. Mungkin saja kalian mengira sayafaatku hanya untuk orang-orang bertakwa? Tidak. Tetapi juga untuk orang-orang yang berdosa,” (HR Al-Tirmidzi).

Berdasar hadits di atas, syafaat Rasulullah ﷺ tak hanya bagi orang-orang yang bertakwa, tetapi juga bagi orang-orang mukmin yang berlumuran dosa, termasuk pelaku dosa besar, sebagaimana yang ditandaskan hadits riwayat al-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad, “Syafaatku juga untuk umatku yang melakukan dosa besar.”

Tentu saja, ini bukan berarti kelonggaran untuk berbuat dosa karena kelak akan mendapat pembelaaan dari Rasulullah. Sebab, walau hanya sebentar, siksa Allah tidak boleh diremehkannya. Sekalinya dicelupkan ke dalam neraka Jahanam, seorang hamba bisa lupa terhadap seluruh kesempurnaan nikmat dunia yang pernah didapatnya, sebagaimana yang diingatkan Rasulullah ﷺ “Pada hari kiamat akan dihadirkan penghuni neraka yang paling bahagia semasa di dunia lalu coba dimasukkan ke dalam neraka dan ditanyakan kepadanya, ‘Wahai Ibnu Adam, bukankah engkau hanya melihat kebaikan? Bukankah hanya kenikmatan yang engkau rasakan?’ Dia menjawab, ‘Wahai Rabb, demi Allah, tidak pernah.’

Maka dari itu, tetaplah takut kepada Allah. Takut melanggengkan dosa, terlebih dosa besar, takut meninggal dalam kemaksiatan, dan seterusnya. Sebab, dosa walaupun kecil—tetapi bila dilakukan dengan kesombongan—bisa mengundang murka Allah dan mengeluarkan pelakunya dari barisan umat Rasulullah ﷺ yang luput mendapatkan syafaatnya.

Sekali lagi, yang dimaksud syafaat bagi para pelaku dosa besar bukan berarti ia bebas melakukan kemungkaran, melainkan pertanda besarnya kasih sayang, sepak terjang, dan kelembutan Rasulullah ﷺ kepada umatnya. Barangkali kasih sayang Nabi ﷺ paling indah pada hari kiamat adalah syafaatnya kepada seluruh makhluk saat mereka memohon ingin segera dihisab.

Para ulama sepakat menyebut syafaat itu dengan “syafaat uzhma” atau syafaat paling agung. Disebut paling agung karena meliputi seluruh makhluk mulai dari generasi pertama hingga generasi terakhir. Tak terkecuali orang-orang kufur dan ingkar kepada Allah. Berkat syafaat itu mereka pun lekas dihisab.

Beliau telah menggambarkan dengan jelas bagaimana beratnya penderitaan umat manusia mencari-cari yang bisa menyelamatkan dirinya dari kegetiran hari kiamat, sebagaimana ringkasan hadits shahih panjang berikut ini:

Dikumpulkanlah seluruh manusia dalam sebuah pelataran luas, mulai manusia pertama hingga yang terakhir. Mereka terdengar oleh siapa pun yang memanggil dan terlihat oleh siapa pun yang memandang. Matahari begitu dekat hingga mereka tak sanggup lagi menanggung penderitaan dan kepedihan. Mereka bertanya, “Apakah kalian tidak melihat apa yang tengah kalian alami? Apakah kalian tidak melihat sosok yang bisa meminta syafaat (pertolongan) kepada Tuhan untuk kalian?” Sebagian menjawab, “Kalian harus mendatangi Adam.” Mereka pun berbondong-bondong menuju Adam as. Kepadanya mereka memohon, “Engkau adalah Abu al-Basyar. Diciptakan Allah langsung dengan tangan-Nya. Ruh-Nya ditiupkan kepadamu. Malaikat diperintah sujud kepadamu. Maka mintalah syafaat kepada Tuhan untuk kami. Apakah engkau tidak melihat keadaan kami? Apakah engkau tidak melihat apa yang tengah kami alami?” Adam menjawab, “Hari ini, Tuhanku pun murka kepadaku, murka yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tak akan pernah murka setelahnya. Dia melarangku mendekati pohon tapi aku melanggarnya. Diriku, diriku, diriku, pergilah kalian kepada selainku. Coba temuilah Nuh ‘alaihissalam.”

Akhirnya, mereka berbondong-bondong menuju Nabi Nuh tapi beliau pun angkat tangan. Tidak bisa memintakan pertolongan kepada Allah. Demikian pula saat menemui Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa. Hingga terakhir mereka diarahkan kepada nabi terakhir, Rasulullah ﷺ. Kali ini, mereka menemui Rasulullah ﷺ dan menyampaikan, “Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah telah mengampuni dosamu yang akan datang dan yang telah lalu. Mohonlah pertolongan kepada Tuhan untuk kami. Tidakkah engkau melihat apa yang tengah menimpa kami?”

Nabi ﷺ bersabda, “Aku pun pergi menuju bawah ‘Arasy. Di sana aku bersujud pada Tuhanku. Lalu Allah membukakan kebaikan-kebaikan-Nya kepadaku, yang belum pernah dibukakan kepada seorang pun sebelumku.

Setelah itu, terdengarlah seruan, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah engkau, niscaya diberi. Mintalah pertolongan, niscaya dipenuhi.’ Aku mengangkat kepala dan berkata, ‘Umatku, ya Tuhan. Umatku, ya Tuhan. Umatku, ya Tuhan.’ Terdengar lagi ada yang bicara, ‘Wahai Muhamad, masukkanlah umatmu dari golongan hamba yang tidak dihisab ke dalam surga melalui pintu sebelah kanan. Namun sekelompok mereka masuk dari selain puntu itu” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hisab pun berlangsung berkat syafaat Rasulullah ﷺ, sebagian manusia masuk surga, sebagian lagi neraka. Di antara yang masuk neraka adalah umat Rasulullah ﷺ yang keburukannya lebih besar ketimbang kebaikannya. Mereka digiring ke dalam neraka sebagai balasan atas segala dosa dan perbuatannya.

Namun, apakah mereka yang telah masuk neraka beliau lupakan?

 Tidak! Tak berhenti sampai di situ, umatnya yang sudah masuk neraka, masih terus beliau perjuangkan, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Ahmad, “Saat itu aku kembali bersujud pada-Nya. Kemudian Allah berfirman, ‘Angkatlah kepalamu, Muhammad. Memohon pertolongan apa pun, engkau akan diberi.’ Aku pun mengangkat kepala lantas memohon, ‘Umatku, umatku, ya Rabb.’ Dia kembali berfirman, ‘Temuilah umatmu. Siapa saja yang engkau temukan di hatinya keimanan walau seberat biji sawi, maka masukkanlah ke dalam surga.’ Maka siapa pun yang aku temukan dalam hatinya keimanan walau seberat biji gandum, aku masukkan ke dalam surga.”

Dalam riwayat al-Bukhari, golongan umatnya yang dikeluarkan dari neraka Jahannam berkat syafaat Rasulullah ﷺ, dikenal dengan golongan “Jahannamiyyun.” Hal ini sejalan dengan hadits lain yang menyatakan bahwa penghuni neraka Jahanam adalah umat Nabi ﷺ yang berdosa, dan kemudian neraka itu akan kosong dari penghuninya seiring dengan berakhirnya masa siksa mereka dan besarnya perhatian serta syafaat Rasulullah ﷺ.

 Itulah sekilas gambaran tentang besarnya kasih sayang, kelembutan, dan sepak terjang Rasulullah ﷺ dalam menyelamatkan umatnya. Semoga kita termasuk golongan yang senantiasa mencintainya, menjalankan ajarannya, dan kelak mendapatkan syafaat darinya. Amîn.

HIKMAH DAN DALIL MERAYAKAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW.

Ketika cahaya tauhid padam di muka bumi, maka kegelapan yang tebal hampir saja menyelimuti akal. Di sana tidak tersisa orang-orang yang bertauhid kecuali sedikit dari orang-orang yang masih mempertahankan nilai-nilai ajaran tauhid. Maka Allah SWT berkehendak dengan rahmat-Nya yang mulia untuk mengutus seorang rasul yang membawa ajaran langit untuk mengakhiri penderitaan di tengah-tengah kehidupan. Dan ketika malam mencekam, datanglah matahari para nabi. Kedatangan Nabi tersebut sebagai bukti terkabulnya doa Nabi Ibrahim as kekasih Allah SWT, dan sebagai bukti kebenaran berita gembira yang disampaikan oleh Nabi Isa as.

Allah SWT menyampaikan shalawatnya kepada Nabi itu, sebagai bentuk rahmat dan keberkahan. Para malaikat pun menyampaikan shalawat kepadanya sebagai bentuk pujian dan permintaan ampunan, sedangkan orang-orang mukmin bershalawat kepadanya sebagai bentuk penghormatan. Allah SWT berfirman:

إنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. al-Azhab: 56)

Di bulan Rabi’ul Awal yang penuh dengan rahmat dan berkah ini seluruh masyarakat muslim di dunia dengan penuh cinta menyambut maulid Nabi Muhammad SAW, yakni tanggal 12 Rabi’ul Awal. Seluruh umat Islam dunia berlomba-lomba untuk mengapresiasikan kecintaan Nabi Muhammad dengan melakukan amalan-amalan yang tidak bertentangan dengan syariat Islam seperti halnya di dusun-dusun membaca shalawat nabi yang dimulai pada malam pertama bulan Rabiu’l Awal sampai malam tanggal 12 Rabiu’ul Awal, dengan bertujuan untuk mendapatkan syafa’at di dunia akhirat kelak nanti.

Keutamaan Maulid

Banyak keutamaan-keutamaan yang dapat diperoleh bagi seorang muslim yang mau mengangungkan baginda Nabi Muhammad.

Ungkapan Kecintaan Kepada Nabi Muhammad

Peringatan maulid Nabi Muhammad adalah sebuah ungkapan kecintaan dan kegembiraan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiran itu.

فقد جاء في البخاري أنه يخفف عن أبي لهب كل يوم الإثنين بسبب عتقه لثويبة جاريته لما بشّرته بولادة المصطفى صلى الله عليه وسلم. وهذا الخبر رواه البخاري في الصحيح في كتاب النكاح معلقا ونقله الحافظ ابن حجر في الفتح. ورواه الإمام عبد الرزاق الصنعاني في المصنف ج ٧ ص ٤٧٨

Dalam hadits di atas yang diriwayatkan Imam al-Bukhori dikisahkan ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu lahab, paman nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang jabang bayi yang sangat mulia, Abu Lahab pun memerdekan Tsuwaibah sebagai tanda cinta dan kasih. Dan karena kegembiraannya, kelak di hari kiamat siksa atas dirinya diringankan setiap hari Senin tiba.

Meneguhkan Kembali Kecintaan kepada Beliau

Meneguhkan kembali kecintaan kepada Nabi Muhammad. Bagi seorang mukmin, kecintaan kepada Nabi adalah sebuah keharusan, salah satu untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Kecintaan kepada nabi harus berada di atas segalanya, bahkan melebihi kecintaan kepada istri, anaknya, bahkan  kecintaan diri sendiri.

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحبّ إليه من ولده ووالده والناس أجمعين

Artinya: “Tidak sempurna iman salah satu diantara kamu sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada anaknya, orang tuanya dan seluruh manusia.” (HR. Bukhori Muslim).

Mendapatkan Rahmat Allah SWT

Mendapatkan rahmat Allah berupa taman surga dan dibangkitkan bersama-sama golongan orang yang jujur, orang yang mati syahid dan orang yang sholeh.

Imam Sirri Saqathi Rahimahullah  berkata:

من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد قصد روضة من رياض الجنة لأنه ما قصد ذلك الموضع إلا لمحبة النبي صلى الله عليه وسلم : وقد قال صلى الله عليه وسلم: من أحبني كان معي في الجنة

Artinya: “Barang siapa menyengaja (pergi) ke suatu tempat yang dalamnya terdapat pembacaan maulid nabi, maka sungguh ia telah menyengaja (pergi) ke sebuah taman dari taman-taman Surga, karena ia menuju tempat tersebut melainkan kecintaannya kepada baginda rasul. Rasulullah bersabda:  barang siapa mencintaku, maka ia akan bersamaku di Surga.

Sedangkan Imam Syafi’i Rahimahullah berkata:

من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءته بعثه الله يوم القيامة مع الصادقين والشهداء والصالحين ، ويكون في جنات النعيم

Artinya: “Barang siapa yang mengumpulkan saudara-saudara untuk memperingati Maulid nabi, kemudian menyediakan makanan, tempat, dan berbuat kebaikan untuk mereka serta ia menjadi sebab untuk atas dibacakannya maulid nabi, maka Allah akan membangkitkan dia bersama-sama orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan dia akan dimasukkan dalam Surga na’im.”

Dalil-dalil tentang Maulid Nabi Muhammad SAW

Banyak dalil-dalil, baik Al Quran, al-Sunnah, maupun perkataan ulama, yang menunjukkan dianjurkannnya memperingati Maulid Nabi. Diantaranya dalam Al Quran surat Yunus ayat 58 dan surat al-Abiya’ ayat 107.

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَخَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ. (يونس: ٨٥

Artinya: Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS. Yunus: 58)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ. الأنبياء: ١٠٧

Artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS al-Anbiya: 107)

Kelahiran Nabi Muhammad digambarkan oleh Al Quran sebagai keutamaan dan rahmat yang universal dan agung, memberikan kebahagiaan dan kebaikan bagi seluruh manusia. Dalam dua ayat di atas Allah SWT dengan lahirnya beliau dan diutusnya beliau sebagai rasul adalah sebuah rahmat yang tidak terkira bagi seluruh alam semesta ini, rahmatan lil ‘alamin. Merayakan tahun kelahiran raja, negara, atau hanya orang biasa saja bermegah-megahan, kenapa kita sebagai muslim merayakan kelahiran  Nabi yang disanjung-sanjung, cukup dengan shalawat, salam, zikir, doa, dan berbuat kebaikan seperti sedekah dan membahagiakan orang ogah-ogahan?

عن أبي قتادة رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سُئل عنصوم يوم الإثنين؟ فقال “فيه ولدت، وفيه أنزل علي” رواه الإمام مسلم في الصحيح فيكتاب الصيام

Artinya: Dari Abi Qotadah Ra, bahwa Rasulullah SAW ditanya mengenai puasa hari Senin. Maka beliau , “Di hari itu aku dilahirkan, dan di hari itu diturunkan padaku (Al Quran).” (HR. Imam Muslim dalam Shohih-nya pembahasan tentang puasa)

Hari  Senin, hari kelahiran Nabi, oleh beliau dianjurkan untuk melakukan puasa. Hal tersebut menunjukkan keutamaan hari itu, dimana cayaha kebenaran terbentang di negeri padang pasir yang jahiliyyah. Pantas jika kelahiran beliau adalah sebuah hari yang patut untuk diperingati dan diisi dengan kegiatan yang baik dan tidak bertentangan dengan syariat. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibn Asyakir, Ibn Warrahawi, dan al-Dhiya’ dari shahabat Abu Sa’id al-Khurdi disebutkan:

أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ إِنَّ رَبِّيْ وَرَبَّكَ يَقُوْلُ لَكَ: تَدْرِى كَيْفَ رَفَعْتُ ذِكْرَكَ؟ قُلْتُ: اَللهُ أَعْلَمُ. قَالَ: لاَ أَذْكُرُ إِلاَّ ذُكِرْتَ مَعِيْ (ع حب) وابن عساكر وابن والرهاوي في الأربعين، والضياء في المختارة عن أبى سعيد الخدري

(فيض القدير جزء ١ ص:١٢٨

Artinya: “Jibril datang kepadaku, lalu berkata, ‘Sesungguhnya Tuhanku dan Tuhanmu berkata kepadamu: Kamu tahu, bagaimana aku mengangkat sebutanmu? Lalu aku menjawab: Allahu a’lam. Jibril berkata: Aku tidak akan menyebut, kecuali engkau disebut bersamaku.”(HR. Ibnu ‘Asyakir, Ibnu Warrohawi dalam kitab al-‘Arbain, dan al-Dhiya’ dalam kitab al-Mukhtarah dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudri)

Bahkan Ibnu Taimiyah yang menjadi kiblat pemikiran para tokoh Islam kanan, dan digambarkan sangat menolak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW malah menganjurkan untuk melakukannya, bahkan dikatakan memiliki faedah pahala. Hal tersebut tidak dijelaskan oleh siapapun, tapi oleh beliau sendiri dalam kitab beliau Iqtidla’u al-Shirati al-Mustaqim, Mukholafatu Ashhabi al-Jahim halaman 297. Berikut stetemen beliau dalam kitab tersebut:

فَتَعْظِيْمُ الْمَوْلِدِ وَاتِّخَاذُهُ مَوْسِمًا قَدْ يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ عَظِيْمٌ لِحُسْنِ قَصْدِهِ وَتَعْظِيْمِهِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَدَّمْتُهُ لَكَ

(الشيخ ابن تيمية، اقتضاء الصراط المستقيم، مخالفة أصحاب الجحيم: ص/٢٩٧

Artinya: Mengagungkan maulid (Nabi Muhammad) dan melakukannya rutin (setiap tahun), yang kadang dilakukan oleh sebagian orang. Dan baginya dalam merayakan maulid tersebut, pahala yang agung/besar karena tujuan yang baik dan mengagungkan Rasulullah SAW dan keluarga beliau. Sebagaimana yang telah aku sampaikan padamu. (Syaikh Ibn Taimiyah, Iqtidla’u al-Shirati al-Mustaqim, Mukholafatu Ashhabi al-Jahim: 297)

فقام عند ذلك السبكي، وجميع من عنده فحصل أنس كبير في ذلك المجلس ، وعمل المولد واجتماع الناس له كذلك مستحسن. قال الإمام أبو شامة شيخ النووي: من أحسن ما إبتدع في زماننا ما يفعل كل عام في اليوم الموافق ليوم مولده صلى الله عليه وسلم من الصدقة والمعروف وإظهار الزينة والسرور فإن فيه مع الإحسان للفقراء إشعارا بمحبته صلى الله عليه وسلم وتعظيمه وشكر على ما من به علينا.  قال السخاوي وحدوث عمل المولد بعد القرون الثلاثة ، ثم لا زال المسلمون يفعلونه. وقال إبن الجوزي من خواصه أنه أمان في ذلك العام وبشري عاجلة، واول من أحدثه من الملوك المظفر. قال سبط إبن الجوزي في مرأة الزمان: حكي لي من حضر سماط المظفر في بعض المولد أنه عد فيه خمسة الاف رأس غنم شواء وعشرة ألاف دجاجة ومائة ألف زبدية وثلاثين الف صحن حلواء ، وكان يحضره أعيان العلماء والصوفية ، ويصرف عليه ثلاثمائة الف دينار. 

  (إسعاد الرفيق جزء 1 ص 26)

Imam Subkhi dan para pengikutnya juga menganggap baik peringatan maulid dan berkumpulnya manusia untuk merayakannya. Imam Abu Syammah Syaikh al-Nawawi mengatakan bahwa barang siapa yang melakukan kebaikan seperti hal-hal baik yang terjadi di zaman kami yang dilakukan oleh masyarakat umum di hari yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, diantarnya sedekah, berbuat baik, memperlihatkan hiasan dan kebahagiaan. Maka sesungguhnya dalam hari tersebut beliau menganjurkan agar umat muslim berbuat baik kepada para fakir sebagai syiar kecintaan terhadap baginda rasul, mengangungkan beliau, dan sebagai ungkapan rasa syukur.

Menurut Imam al-Sakhawi, adanya peringatan itu sejak abad ketiga hijriyah. Sejak itu, orang-orang Islam terus mengerjakannya. Bahkan, Ibnu al-Jauzi, yang biasanya dijadikan hujjah oleh para kaum ekstrimis kanan mengharamkan perayaan maulid, sama seperti Ibn Taimiyah, malah menukil sejarah maulid itu sendiri. Ibn al-Jauzi mengatakan bahwa perayaan maulid dimulai pada masa Raja al-Mudhafar. Beliau menceritakan parayaan tersebut sangat besar, megah, dan penuh dengan kebahagiaan yang tidak terkira. Disediakan 5.000 kambing, 10.000 ayam, 100.000 porsi, dan 30.000 piring manisan. Dihadiri oleh para ulama dan para sufi, yang oleh Raja al-Mudhaffar diberikan setiap orang 300.000 dinar. (Is’adur Rofiq:1:26)

Kalau saja rasul masih hidup, apa yang hendak kita banggakan di hadapan beliau? Kemaksiatan, dosa, dan tidak menjalankan ajaran beliau, apa itu yang bisa kita sampaikan? Hanya sekadar merayakan dengan sederhana namun bermakna dan penuh rahmat dan berkah, kita merasa enggan dan justru secara buta mengharamkannnya, umat Islam lain dikafirkan dan dianggap melenceng dari ajaran Nabi? Kalau Maulid Nabi dilarang, bagimana dengan perayaan Maulid Raja?

Allahumma sholli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali wa shohbihi ajma’in.

MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SAW. SEBAGAI REALISASI SYUKUR ATAS PALING BESARNYA ROHMAT ALLOH SWT.

Beberapa waktu yang lalu, saya terkejut ketika memeriksa hasil ujian agama anak saya yang saat itu duduk di kelas 2 SD. Ada satu pertanyaan sederhana yang semestinya bisa dia jawab, tapi ternyata salah: Siapa nama kakek Nabi Muhammad SAW? Di lembar jawaban, ditulisnya Abu Thalib.

Saya lalu bertanya, “Kak, masa nama kakek Nabi Muhammad saja tidak tahu?”

Anak saya hanya terdiam tidak menjawab.

“Coba diingat-ingat lagi, siapa nama kakek Nabi Muhammad?”

Si kecil masih juga terdiam, keningnya berkerut seolah sedang berpikir keras.

Saya kemudian berkata, “Kalau masih tidak ingat, nyanyikan lagu Kisah Sang Rasul.”

Dengan lirih, anak saya lalu bersenandung.

“Abdullah nama Bapaknya, Aminah Ibundanya, Abdul Muthalib kakeknya….”

Tepat di lirik tersebut, saya menyela nyanyiannya.

“Nah, sudah ingat siapa nama kakek Nabi Muhammad?”

“Abdul Muthalib pak,” kata anak saya dengan senyum puas.

Begitulah, mungkin tak hanya anak saya saja yang kesulitan mengingat riwayat hidup Rasulullah SAW. Orang tua pun kadangkala tak bisa mengingat bagaimana cerita tentang masa kecil Nabi Muhammad, siapa saja keluarga atau sahabat dekatnya.

Dalam ilmu psikologi pendidikan, kita mengenal istilah mnemonic, yakni perangkat untuk membantu mengingat fakta atau sejumlah besar informasi. Ini bisa berupa lagu, rima, akronim, gambar, atau frasa untuk membantu mengingat daftar fakta dalam urutan tertentu.

Dewasa ini, industri musik kita didominasi oleh lagu-lagu dewasa. Tak ada lagi lagu anak-anak yang mendidik, dan bisa dijadikan alat pembelajaran bagi mereka. Apalagi lagu anak yang bertemakan agama. Dulu, ada Dhe Ananda yang mengajarkan anak-anak kita cara mengingat nama-nama Nabi lewat lagu 25 Nabi.

Tiga tahun yang lalu, sebuah lagu yang berjudul Kisah Sang Rasul menjadi viral. Lagu ini diciptakan oleh Habib Syech Abdul Qadir Assegaf. Meski di awal berisi kalimat berbahasa arab, lirik lagu selanjutnya mudah dihafalkan. Lagu tersebut menceritakan kisah hidup Nabi Muhammad sejak dilahirkan hingga meninggal.

Dikemas dalam kata-kata yang singkat dan padat, tapi berisi fakta dan informasi yang disusun secara kronologis. Menurut saya, inilah lagu yang benar-benar informatif, enak di dengarkan dan layak untuk dijadikan alat belajar dan yang bisa mengingatkan kita akan kisah hidup Rasulullah SAW.

Peringatan Maulid Nabi Sebagai Sarana Belajar Riwayat Hidup Rasulullah

Begitu pula dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang tahun ini jatuh pada tanggal 20 Nopember 2018. Memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah salah satu upaya kita untuk bisa terus mengingat riwayat hidup beliau, mengingat kebesaran beliau sebagai sebuah pelajaran suri tauladan. Lebih jauh lagi, Perayaan Maulid yang berarti kelahiran adalah bentuk ekspresif untuk mengungkapkan kebahagiaan dan wujud rasa syukur umat Islam atas kelahiran pujaan hati ke dunia.

Sungguhpun di luar sana, masih ada sekelompok umat Islam yang masih menganggap Peringatan Maulid Nabi adalah bid’ah. Bahkan sebagian lagi menganggapnya termasuk dalam hal yang diharamkan karena tidak pernah dicontohkan oleh para sahabat dan imam madzhab yang empat.

Saya tidak akan berpanjang lebar membahas perdebatan dan perbedaan kecil semacam ini. Mengutip perkataan Ustad Abdul Somad, untuk menghadapi perbedaan yang kecil ini sebenarnya sangat mudah. Jika kita setuju maka laksanakan akan tetapi jika tidak setuju maka jangan kita menghina dan mencaci orang yang berbeda pendapatnya. Karena masing masing pendapat sudah tentu memiliki dalil dan hujjah nya masing masing.

Sebagai umat Islam, kita diperintahkan untuk selalu memuliakan Rasulullah SAW.

    Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim, no. 408).

Hakekat dari hadist tersebut adalah kita dianjurkan untuk memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW sebagai bentuk pemuliaan terhadap pribadi beliau. Tak hanya dikhususkan pada satu hari saja. Setiap hari, setiap saat senantiasa lidah kita dianjurkan untuk menyenandungkan dzikir kepada Allah dan shalawat kepada Rasulullah SAW.

Dengan demikian, kita memperingati Maulid Nabi SAW sebagai salah satu cara untuk memuliakan beliau bukan hanya tepat pada hari kelahirannya saja. Melainkan selalu dan selamanya, di setiap waktu dan setiap kesempatan ketika kita mendapatkan kegembiraan.

Perayaan Maulid Nabi Sebagai Wujud Syukur atas Kelahiran Rasulullah SAW

Tanggal kelahiran Nabi Muhammad, yang pada masa kini selalu kita peringati dalam perayaan Maulid Nabi SAW, tidak ada kaitannya dengan ibadah tertentu. Dan tidak pula kita disyariatkan untuk melakukan ibadah tertentu. Tanggal tersebut hanyalah sebagai penanda untuk mengingatkan kita bahwa pada tanggal 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah, telah dilahirkan sosok mulia bernama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Yang kemudian dalam perjalanan hidupnya membawakan cahaya Iman dan Islam bagi seluruh penduduk dunia.  Salahkah jika kita mengingat-ingat kembali hari yang penuh kenikmatan tersebut?

Bukankah Rasulullah sendiri juga selalu mengingat hari kelahiran beliau?

    Dari Abu Qatadah Al-Anshari r.a, Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab,

     “Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim, no. 1162).

Habib As-Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki Al-Hasani Al-Makki mengatakan, “Tidak layak seorang yang berakal bertanya, ‘Mengapa kalian memperingatinya?’ Karena, seolah-olah ia bertanya, ‘Mengapa kalian bergembira dengan adanya Nabi SAW?”

Dengan kata lain, jika kita bahagia dengan kelahiran Nabi Muhammad, maka kita sudah merayakan Maulid Nabi tersebut. Tidakkah kita bergembira dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW?

Ekspresi kegembiraan dan rasa syukur kita atas kelahiran beliau memang tidak boleh dirupakan dalam bentuk perayaan yang hingar bingar. Rasa syukur tersebut seyogyanya kita wujudkan dalam bentuk amal perbuatan yang mencontoh setiap tindak-tanduk dan budi pekerti Rasulullah SAW.

Meski begitu, dari segi dakwah berkumpulnya orang banyak saat memperingati Maulid Nabi juga menjadi kesempatan yang berharga untuk mengingatkan kembali kepada mereka tentang Nabi, baik akhlaqnya, hal ihwalnya, sirahnya, muamalahnya, maupun ibadahnya sehingga menjadikan beliau sebagai suri tauladan dalam kehidupan di dunia ini. Terlebih di era globalisasi seperti sekarang, dimana ajaran-ajaran agama sudah mulai banyak ditinggalkan. Anak-anak muda sudah banyak yang tidak bisa mengingat kembali kisah hidup Rasulullah SAW. Sebuah pelajaran yang semestinya mereka dapatkan sejak kecil dahulu.

SELAMAT MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SAW. 12 ROBIUL AWAL 1440 H. 9 NOVEMBER 2019 M.

SELAMAT MAULID NABI MUHAMMAD SAW.

SEMOGA KITA SEMUA SEMAKIN CINTA KEPADA NABI AGUNG MUHAMMAD SAW. DAN SEMAKIN BISA MEMPERBANYAK SHOLAWAT KEPADA BELIAU DENGAN TA’DZIMAN DAN IKROMAN DEMI MENDAPATKAN SYAFA’AT YANG AGUNG DI HARI KIAMAT. AMIN…..

BEBERAPA TANDA AHLI SURGA BAGI ORANG YANG MASIH HIDUP

Dari beberapa firman Allah dan riwayat hadits bisa disimpulkan bahwa ciri-ciri calon orang yang masuk surga, bahkan ada yang bisa masuk tanpa dihisab adalah :

1. Orang bewajah putih berseri-seri (ahlussunnah waljama’ah dan pengikutnya)

2. Orang yang selalu berwudu’

3. Orang yang tidak minta diruqyah

4. Orang yang tidak memperaktekkan ka’I (Terapi besi panas dengan di tempel pada luka)

5. Orang yang tidak pernah bertathayur

6. Orang yang bertawakkal kepada Allah dari segala ujian, cobaan dan musibah

7. Tidak menjadi orang kafir dan orang munafiq

8. Orang yang selalu bertaqwa kepada Allah.

9. Orang yang memelihara dan menanggung anak yatim ”

Berikut beberapa hadits dan ayat yang menunjukkan hal tersebut :

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam syurga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dan merenggangkan antara keduanya itu.” (Riwayat Bukhari).

Dalam Kitab Sunan Ad Darimi 1/45, maktabah syamilah :

أخبرنا يعقوب بن إبراهيم ثنا عمر بن أبي خليفة قال سمعت زياد بن مخراق ذكر عن عبد الله بن عمر قال * أرسل رسول الله صلى الله عليه وسلم معاذ بن جبل وأبا موسى إلى اليمن قال تساندا وتطاوعا ويسرا ولا تنفرا فقدما اليمن فخطب الناس معاذ فحضهم على الإسلام وأمرهم بالتفقه في القرآن وقال إذا فعلتم ذلك فاسألوني أخبركم عن أهل الجنة من أهل النار فمكثوا ما شاء الله أن يمكثوا فقالوا لمعاذ قد كنت أمرتنا إذا نحن تفقهنا وقرأنا أن نسألك فتخبرنا بأهل الجنة من أهل النار فقال لهم معاذ إذا ذكر الرجل بخير فهو من أهل الجنة وإذا ذكر بشر فهو من أهل النار

Fokus :

إذا ذكر الرجل بخير فهو من أهل الجنة

Hadits Darimi 224 :

أَخْبَرَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ أَبِي خَلِيفَةَ قَالَ سَمِعْتُ زِيَادَ بْنَ مِخْرَاقٍ ذَكَرَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ وَأَبَا مُوسَى إِلَى الْيَمَنِ قَالَ تَسَانَدَا وَتَطَاوَعَا وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا فَقَدِمَا الْيَمَنَ فَخَطَبَ النَّاسَ مُعَاذٌ فَحَضَّهُمْ عَلَى الْإِسْلَامِ وَأَمَرَهُمْ بِالتَّفَقُّهِ وَالْقُرْآنِ وَقَالَ إِذَا فَعَلْتُمْ ذَلِكَ فَاسْأَلُونِي أُخْبِرْكُمْ عَنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمَكَثُوا مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَمْكُثُوا فَقَالُوا لِمُعَاذٍ قَدْ كُنْتَ أَمَرْتَنَا إِذَا نَحْنُ تَفَقَّهْنَا وَقَرَأْنَا أَنْ نَسْأَلَكَ فَتُخْبِرَنَا بِأَهْلِ الْجَنَّةِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ لَهُمْ مُعَاذٌ إِذَا ذُكِرَ الرَّجُلُ بِخَيْرٍ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِذَا ذُكِرَ بِشَرٍّ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ

Hendaknya kalian saling bersandar, & saling membantu, & hendaknya kalian berdua memberikan (kepada mereka) kabar gembira & janganlah kalian berdua membuat (mereka) lari (dari ajaran islam), kemudian keduanya datang ke Yaman, lalu Mu’adz memberikan khutbah kepada orang-orang, mengajak mereka untuk masuk islam, & memerintahkan kepada mereka untuk memperdalam isi Al Qur`an, & ia juga berkata:’Jika kalian sudah lakukan itu semua maka tanyalah kepadaku, akan kukabarkan kepada kalian tentang penghuni surga & penghuni neraka, mereka (para penghuni surga & neraka) berada di dalamnya tergantung seberapa lama Allah menghendaki, kemudian mereka berkata kepada Mu’adz: ‘Sungguh kamu telah memerintahkan kami, jika kami sudah memperdalam islam & telah membaca (mempelajari) Al Qur`an agar kami menanyakanmu (tentang penghuni surga & neraka), maka kabarkanlah kepada kami tentang penghuni surga & neraka’,kemudian Mu’adz berkata kepada mereka: ‘Jika seorang dikenal baik, ia penghuni surga, & jika seorang dikenal jelek, ia penghuni neraka’ . [HR. Darimi No.224]

Al-Qur’an Surat Al-Imran ayat 106 :

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

Artinya : Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”.

Lihat Kitab Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 Halaman 92 :

وقوله تعالى: { يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ } يعني: يوم القيامة، حين تبيض وجوه أهل السنة والجماعة، وتسودّ وجوه أهل البِدْعَة والفرقة، قاله ابن عباس، رضي الله عنهما.{ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ } قال الحسن البصري: وهم المنافقون: { فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ } وهذا الوصف يَعُمّ كل كافر.

Penjelasannya : Allah berfirman : “pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri, dan ada pula muka yang menjadi hitam muram”. (QS. Al-Imran : 106). Yakni kelak di hari kiamat, di waktu berseri putih wajah ahli sunnah wal jama’ah dan tampak hitam muram wajah ahli bid’ah dan perpecahan. Demikianlah menurut penafsiran Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma.

Allah berfirman : ”Adapun orang-orang yang menjadi hitam muram mukanya (kepada mereka di katakan), mengapa kalian kafir sesudah kalian beriman”. (QS. Al-Imran : 106). Menurut Al-Hasan Al-Basri mereka adalah orang-orang munafiq.

Allah berfirman : “Karena itu, Rasakanlah adzab di sebabkan kekafiran kalian itu”. (QS. Al-Imran : 106). Gambaran ini bersifat umum menyangkut semua orang kafir.

وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya : Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Imran : 107).

Lihat Kitab Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 Halaman 92 :

{ وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ } يعني: الجنة، ماكثون فيها أبدا لا يبغون عنها حوَلا. وقد قال أبو عيسى الترمذي عند تفسير هذه الآية: حدثنا أبو كُرَيْب، حدثنا وَكِيع، عن رَبِيع -وهو ابن صَبِيح وحَمَّاد بن سلمة، عن أبي غالب قال: رأى أبو أمامة رءوسا منصوبة على دَرَج دمشق، فقال أبو أمامة: كلاب النار، شر قتلى تحت أديم السماء، خَيْرُ قتلى من قتلوه، ثم قرأ: { يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ } إلى آخر الآية. قلت لأبي أمامة: أنت سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: لو لم أسمعه إلا مرة أو مرتين أو ثلاثا أو أربعا -حتى عَدّ سبعا-ما حَدّثتكموه.ثم قال: هذا حديث حسن: وقد رواه ابن ماجة من حديث سفيان بن عيينة عن أبي غالب، وأخرجه أحمد في مسنده، عن عبد الرزاق، عن مَعْمَر، عن أبي غالب، بنحوه. وقد روى ابن مَرْدُويَه عند تفسير هذه الآية، عن أبي ذر، حديثًا مطولا غريبا عجيبا جدا.

Penjelasannya : Allah berfirman : “Adapun orang-orang yang menjadi putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam Rahmat (surga) Allah, mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Imran : 107). Maksudnya, mereka tinggal di dalam surga untuk selama-lamanya dan mereka tidak mau pindah darinya.

Abu Isa At-Tirmidzi dalam tafsir ayat ini mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Ar-Rabi’ ibnu Sabih, dan Hammad ibnu Salamah, dari Abu Galib yang menceritakan bahwa Abu Umamah melihat banyak kepala di pancangkan di atas tangga masuk masjid di masyqi, maka abu umamah mengatakan, Anjing-anjing neraka adalah seburuk-buruk orang yang terbunuh di kolong langit ini, sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang-orang yang di bunuhnya. Kemudian Abu Umamah membacakan firman-Nya :”Pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri, dan ada pula muka yang menjadi hitam muram”. (QS. Al-Imran : 106). Hingga akhir ayat.

Kemudian aku bertanya kepada Abu Umamah, apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah saw? Abu umamah menjawab, seandainya aku bukan mendengarnya melainkan sekali atau dua kali atau tiga kali atau empat kali dan bahkan sampai tujuh kali, niscaya aku tidak akan menceritakannya kepada kalian. Kemudian imam tirmiszi mengatakan bahwa hadist ini hasan.

Ibnu Majah meriwayatkan melalui hadist sufyan ibnu ayaynah, dari Abu Galib, dan imam ahmad mengetengahkan, di dalam kitab musnadnya, dari Abdur- Razzaq, dari Ma’mar, dari Abu Galib dengan lafasz yang semisal.

Ibnu murdawaih meriwayatkan dalam tafsir ayat ini dari abu dzar, sebuah hadist yang panjang tapi isinya sangat aneh dan mengherankan.

وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ لاَ نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا أُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.( QS Al A’raf ; 42 )

حدثنا عمران بن ميسرة حدثنا ابن فضيل حدثنا حصين عن عامر عن عمران بن حصين رضي الله عنهما قال : لا رقية إلا من عين أو حمة . فذكرته لسعيد بن جبير فقال حدثنا ابن عباس قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( عرضت علي الأمم فجعل النبي والنبيان يمرون معهم الرهط والنبي ليس معه أحد حتى رفع لي سواد عظيم قلت ما هذا ؟ أمتي هذه ؟ قيل هذا موسى وقومه قيل انظر إلى الأفق فإذا سواد يملأ الأفق ثم قيل لي انظر ها هنا وها هنا في آفاق السماء فإذا سواد قد ملأ الأفق قيل هذه أمتك ويدخل الجنة من هؤلاء سبعون ألفا بغير حساب ) . ثم دخل ولم يبين لهم فأفاض القوم وقالوا نحن الذين آمنا بالله واتبعنا رسوله فنحن هم أو أولادنا الذين ولدوا في الإسلام فإنا ولدنا في الجاهلية فبلغ النبي صلى الله عليه و سلم فخرج فقال ( هم الذين لا يسترقون ولا يتطيرون ولا يكتوون وعلى ربهم يتوكلون ) . فقال عكاشة بن محصن أمنهم أنا يا رسول الله ؟ قال ( نعم ) . فقام آخر فقال أمنهم أنا ؟ قال ( سبقك بها عكاشة )

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Imran bin Maisarah telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Fudlail telah menceritakan kepada kami Hushain dari ‘Amir dari Imran bin Hushain radliallahu ‘anhuma dia berkata; Tidak ada ruqyah (jampi-jampi dari Qur’an dan Sunnah) kecuali dari penyakit ‘Ain atau demam, lalu hal itu kusampaikan kepada Sa’id bin Jubair, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Abbas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Beberapa ummat pernah ditampakkan kepadaku, maka nampaklah seorang nabi dan dua orang nabi lain lewat bersama dengan beberapa orang saja, dan seorang nabi lagi yang tidak bersama seorang pun, hingga tampak olehku segerombolan manusia yang sangat banyak, aku pun bertanya; Apakah segerombolan manusia itu adalah ummatku? di beritahukan; Ini adalah Musa dan kaumnya. Lalu diberitahukan pula kepadaku; Lihatlah ke ufuk. Ternyata di sana terdapat segerombolan manusia yang memenuhi ufuk, kemduian di beritahukan kepadaku; Lihatlah di sebelah sini dan di sebelah sana, yaitu di ufuk langit. Ternyata di sana telah di padati dengan segerombolan manusia yang sangat banyak, di beritahukan kepadaku; Ini adalah ummatmu, dan di antara mereka terdapat tujuh puluh ribu yang masuk surga tanpa hisab. Setelah itu beliau masuk ke rumah dan belum sempat memberi penjelasan kepada mereka (para sahabat), maka orang-orang menjadi ribut, mereka berkata; Kita adalah orang-orang yang telah beriman kepada Allah dan mengikuti jejak Rasul-Nya, mungkinkah kelompok tersebut adalah kita ataukah anak-anak kita yang dilahirkan dalam keadaan Islam sementara kita dilahirkan di zaman Jahiliyah. Maka hal itu sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas beliau keluar dan bersabda: Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah minta untuk di ruqyah, tidak pernah bertathayur (menganggap sial pada binatang) dan tidak pula melakukan terapi dengan kay (terapi dengan menempelkan besi panas pada daerah yang sakit), sedangkan kepada Rabb mereka bertawakkal. Lalu Ukasah bin Mihshan berkata; Apakah aku termasuk di antara mereka ya Rasulullah? beliau menjawab; Ya. Selanjutnya sahabat yang lain berdiri dan berkata; Apakah aku termasuk dari mereka? beliau bersabda: Ukasah telah mendahuluimu. (HR. Bukhori No. 5378 Juz 5 Halaman 2157).

وَحَدَّثَنِى هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الأَيْلِىُّ حَدَّثَنِى ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِى عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى هِلاَلٍ عَنْ نُعَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ رَأَى أَبَا هُرَيْرَةَ يَتَوَضَّأُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ حَتَّىكَادَ يَبْلُغُ الْمَنْكِبَيْنِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ حَتَّى رَفَعَ إِلَى السَّاقَيْنِ ثُمَّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ ».

Artinya : Dan telah menceritakan kepadaku Harun bin Sa’id al-Aili telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepada kami Amru bin al-Harits dari Sa’id bin Abu Hilal dari Nu’aim bin Abdullah bahwa dia melihat Abu Hurairah berwudlu, lalu membasuh wajahnya dan kedua tangannya hingga hampir mencapai lengan, kemudian membasuh kedua kakinya hingga meninggi sampai pada kedua betisnya, kemudian dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya umatku datang pada hari kiamat dalam keadaan putih bercahaya disebabkan bekas wudlu. Maka barangsiapa di antara kalian mampu untuk memanjangkan putih pada wajahnya maka hendaklah dia melakukannya’. (HR. Muslim No. 603 Juz 1 Halaman 149). Wallaahu A’lam.

BAHWA SHOLAWAT SUDAH DI BACA SEBELUM LAHIRNYA NABI MUHAMMAD SAW. DAN MAKNA SHOLAWATNYA ALLOH SWT JUGA PARA MALAIKAT

Makna sholawatnya Alloh swt dan para Malaikat

Ma’na sholawat yang datangnya dari Allah adalah Rohmat dan keridhoanNya’ Jika dari malaikat ma’nanya do’a dan istighfar. Jika dari dari umat ma’nanya do’a dan mengagungkan baginda nabi Muhammad SAW

– Tafsir Qurthuby

قوله تعالى : إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما .

هذه الآية شرف الله بها رسوله عليه السلام حياته وموته ، وذكر منزلته منه ، وطهر بها سوء فعل من استصحب في جهته فكرة سوء ، أو في أمر زوجاته ونحو ذلك . والصلاة من الله رحمته ورضوانه ، ومن الملائكة الدعاء والاستغفار ، ومن الأمة الدعاء والتعظيم لأمره .

– Tafsir Thobary

القول في تأويل قوله تعالى ( إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما ( 56 ) )

يقول – تعالى ذكره – : إن الله وملائكته يبركون على النبي محمد – صلى الله عليه وسلم – .

كما حدثني علي قال : ثنا أبو صالح قال : ثني معاوية ، عن علي ، عن ابن عباس ، قوله ( إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه ) يقول : يباركون على النبي . وقد يحتمل أن يقال : إن معنى ذلك : أن الله يرحم النبي ، وتدعو له ملائكته ويستغفرون ، وذلك أن الصلاة في كلام العرب من غير الله إنما هو دعاء . وقد بينا ذلك فيما مضى من كتابنا هذا بشواهده ، فأغنى ذلك عن إعادته .

Di dalam kitab Washiyatul Mushtafa, Rasulullah saw. memberikan nasehat yang berharga kepada menantunya yakni Ali bin Abi Thalib r.a.

يَا عَلِىُّ! تَمَنَّى جِبْرِيْلُ اَنْ يَكُوْنَ مِنْ بَنِى اَدَمَ لِسَبْعِ خِصَالٍ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ مَعَ الْاِمَامِ وَ مُجَالَسَةِ الْعُلَمَاءِ وَعِيَادَةِ المَرِيْضِ وَتَشْيِيْعِ الجَنَازَةِ وَسَقْىِ الْماءِ وَالصُّلْحِ بَيْنَ الْاِثْنَيْنِ وَاِكْرَامِ الْجَارِ وَالْيَتِيْمِ

Wahai Ali! Malaikat Jibril memiliki obsesi untuk menjadi Manusia disebabkan 7 hal:

1. Shalat 5 waktu dengan berjamaah

2. Duduk bersama ulama

3. Menjenguk orang sakit

4. Mengiring jenazah

5. Memberi minum kepada orang lain

6. Mendamaikan dua orang

7. Memuliakan tetangga dan anak yatim

Dari uraian tersebut, mungkin tertanam sebuah pertanyaan: Kok bisa-bisanya Malaikat Jibril memiliki keinginan tersebut? Bukankah malaikat itu makhluk yang tidak memiliki nafsu?

Lafadz تمنى pada redaksi wasiat tersebut, bukanlah bentuk nafsu atau syahwat dari Malaikat Jibril, Akan tetapi itu hanyalah bentuk motivasi supaya anak turun Nabi Adam lebih mensyukuri keberadaanya, bahwasanya kedudukan anak adam itu bisa jauh melebihi malaikat jikalau mereka benar-benar mengamalkan apa yg disyariatkan.

SHOLAWAT TELAH DIBACA OLEH NABI SEBELUM NABI MUHAMMAD SAW

“Shollallaahu ‘alaa Muhammadin “. sholawat tersebut di baca oleh Nabi Samuel dan tentaranya. Sebagaimana keterangan dalam Kitab Afdholus Sholawat, halaman 63-65 :

الصلاة العاشرة: صَلَّى الله عَلَى مُحَمَّدٍ

قال الإمام الشعراني كان صلى الله عليه وسلم يقول: مَنْ قَالَ هَذِهِ الصَّلاَةَ فَقَدْ فَتَحَ عَلَى نَفْسِهِ سِبْعِينَ بَاباً مِنَ الرَّحْمَةِ وَأَلْقَى الله مَحَبَّتَهُ فِي قُلُوبِ النًّاسِ فَلاَ يَبْغُضُهُ إلاَّ مَنْ فِي قَلْبِهِ نِفَاقٌ.

Sholawat ke 10 “SHOLLALLOHU ‘ALAA MUHAMMAD“ (Semoga Allah melimpahkan solawat pada Nabi  Muhammad)

“Telah berkata Al-Imam Asy-Sya’rani : Telah bersabda Nabi shollallohu alaihi wasallam : “Barang siapa yang membaca solawat ini, akan dibukakan ke atas dirinya tujuh puluh pintu dari rahmat, dan Allah akan meletakkan kecintaanNya pada kalbu-kalbu manusia. Tiada yang menjadi marah kepadanya melainkan orang yang memiliki kemunafikan di dalam kalbunya.”

قال شيخنا يعني علياً الخواص رضي الله عنهما هذا الحديث والذي قبله وهو قوله صلى الله عليه وسلم أَقْرَبُ مَا يَكُونُ أَحَدُكُمْ مِنِّ إِذَا ذَكَرَنِي وَصَلَّى عَلَيَّ رويناهما عن بعض العارفين عن الخضر عليه السلام عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وهما عندنا صحيحان في أعلى درجات الصحة وإن لم يثبتهما المحدثون على مقتضى اصطلاحهم والله أعلم ا.ه.

Telah berkata guru kami, yakni ‘Ali Al-Khawwas: “Hadits ini dan yang sebelumnya, yakni sabda Nabi : “Keadaan paling dekat denganku bagi seseorang daripada kalian ialah apabila aku disebut, dia bersolawat ke atasku”. Kami meriwayatkannya dari sebahagian Al-‘Arifin,dari Al-Khidir , dari Rasululloh shollallohu alaihi wasallam, dan keduanya di sisi kami adalah sohih, pada setinggi-tinggi derajat kesohihan, walaupun tiada ditetapkan oleh para ahli ilmu hadits, kerana kesulitan istilah-istilah mereka. Wallohu a’lam. Selesai kutipan dari Al-Imam Asy-Sya’rani.

ويؤيد ذلك ما نقله الحافظ السخاوي عن مجد الدين الفيروزبادي صاحب القاموس بسنده إلى الإمام السمرقندي قال سمعت الخضر وإلياس على نبينا وعليهما السلام يقولان سمعنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ما من مؤمن يقول صلى الله على محمد إلا أحبه الناس وإن كانوا أبغضوه ووالله لا يحبونه حتى يحبه الله عز وجل وسمعناه صلى الله عليه وسلم يقول على المنبر من قال صلى الله على محمد فقد فتح على نفسه سبعين باباً من الرحمة.

Perkara ini dikuatkan lagi oleh apa yang telah dinukil oleh Al-Hafiz As-Sakhawi dari Majduddin Al-Fairuzabadi, pemilik Al-Qamus,dengan sanadnya yang sampai kepada Al-Imam As Samarqandi.

Beliau telah berkata. “Aku telah mendengar Al-Khidir dan Ilyas , dan mereka berdua telah berkata, “Kami telah mendengar Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda:“Tiadalah seorang yang beriman mengucapkan, “Semoga Allah melimpahkan solawat ke atas Muhammad”, melainkan akan dijadikan manusia mencintainya, walaupun mereka sedang membencinya. Demi Allah, tiadalah mereka mencintainya sehingga Allah mencintainya.”

Dan kami juga telah mendengar Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda dari atas mimbar : “Barangsiapa yang mengucapkan, “Semoga Allah melimpahkan sholawat atas Muhammad”, akan dibukakan ke atas dirinya tujuh puluh pintu dari rahmat.”

ونقل الحافظ المذكور بالسند المتقدم أن الإمام السمرقندي سمع الخضر وإلياس أيضاً يقولان كان في بني إسرائيل نبيّ يقال له إسمويل قد رزقه الله النصر على الأعداء وأنه خرج في طلب عدو فقالوا هذا ساحر جاء ليسحر أعيننا ويفسد عساكرنا فنجعله في ناحية البحر ونهزمه فخرج في أربعين رجلاً فجعلوه في ناحية البحر فقال أصحابه كيف نفعل فقال احملوا وقولوا صلى الله على محمد فحملوا وقالوا فصار أعداؤهم في ناحية البحر فغرقوا أجمعهم.

Dan telah dinukil oleh Al-Hafiz yang tersebut (As-Sakhawi ) dengan sanad yang terdahulu bahawa Al-Imam As-Samarqandi telah mendengar Al-Khidir dan Ilyas , mereka berdua juga telah bercerita : “Pada Bani Israil , ada seorang Nabi, telah dikatakan bahwa dia bernama Samuel, yang telah diberikan kemenangan di atas para musuhnya. (Pada suatu hari), dia telah keluar mencari musuh dan mereka (musuh) telah berkata: “Inilah adalah seorang ahli sihir. Dia telah datang untuk menyihir mata kita dan menghancurkan askar-askar kita. Maka haruslah kita bawa dia ke tepi laut dan kita musnahkan dia.”

Maka dia pun keluar disertai empat puluh orang lelaki dan pergilah mereka ke tepi laut. Telah bertanya sahabat-sahabatnya: “Apakah yang mesti kita lakukan?” Dia menjawab : “Majulah engkau sekalian dan ucapkanlah, “Semoga Allah melimpahkan sholawat atas Muhammad!” Mereka pun maju ke hadapan dan mereka telah mengucapkan (solawat itu), lalu musuh-musuh mereka pun terdesak ke tepi laut lalu telah menjadi hanyut kesemuanya.”

وروى الحافظ أيضاً أنه جاء رجل من الشام إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله أبي شيخ كبير وهو يحب أن يراك فقال ائتني به فقال إنه ضرير البصر فقال قل له ليقل في سبع أسبوع يعني في سبع ليال صلى الله على محمد فإنه يراني في المنام حتى يروي عني الحديث ففعل فرآه في المنام فكان يروي عنه.

Dan telah diriwayatkan juga oleh Al-Hafiz bahwa telah datang seorang lelaki dari Asy-Syam bertemu dengan Nabi shollallohu alaihi wasallam, dia telah berkata:“Wahai Utusan Allah! Bapaku adalah seorang yang sudah tua, dan dia ingin melihatmu”. Nabi berkata: “Bawalah dia bertemu denganku”. Dia menjawab: “Sesungguhnya, penglihatannya sudah rusak!” Nabi berkata: “Katakanlah kepadanya,

Ucapkanlah pada tujuh malam “Semoga Allah melimpahkan solawat ke atas Muhammad.” Maka, dia akan melihatku di dalam mimpi, sehingga dia dapat meriwayatkan hadits daripadaku.” Maka dia (bapaknya lelaki itu) pun melakukannya, dan telah melihat Nabi di dalam mimpi, dan dia telah dapat meriwayatkan(hadits) daripada Nabi shollallohu alaihi wasallam.

KISAH KEUTAMAAN & KEISTIMEWAAN MEMBACA SHOLAWAT ATAS NABI MUHAMMAD SAW.

وذكر أبو نعيم في الحلية

 «أنَّ رَجُلاً مرّ بالنَّبي وَمَعَهُ ظَبْيٌ قَدِ اصْطَادَهُ

، فَأَنْطَقَ الله سُبْحَانَهُ الَّذِي أنْطَقَ كُلَّ شَيْء الظَّبيَ، فَقَالَ يَا رَسُولَ الله: إنّ لي أوْلاداً وأنَا أُرْضِعُهُمْ، وَإِنَّهُمُ الآن جِيَاعٌ، فَأْمُرْ هاذا أنْ يُخْلِينِي حَتَّى أذْهَبَ فَأُرْضِع أَوْلادِي وَأَعُود. قَالَ: فَإِنْ لَمْ تَعُودِي؟ قَالَتْ: إنْ لَمْ أَعُدْ فَلَعَنَنِي الله كَمَنْ تُذْكَر بَيْن يَدَيْهِ فَلا يُصَلِّي عَلَيْكَ. فَقَالَ النَّبيُّ أطَلِقْها وَأَنَا ضَامِنُها فَذَهَبَت الظَّبيَةُ ثُمَّ عَادَتْ، فَنَزِلَ جِبْريلُ عَلَيْهِ السَّلامُ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ الله يُقْرِئُكَ السَّلامَ وَيَقُولُ: وَعِزَّتِي وَجَلالِي لأنَا أَرْحَمُ بِأُمّتِكَ مِنْ هاذِهِ الظَّبِيَةِ بِأَوْلادِهَا وَأَنَا أَرَدُّهُمْ إليْكَ كَمَا رَجعَتِ الظَّبْيَة إليك» الحمد لله الذي جعلنا من أمّة محمد وسلم تسليماً.

Dalam kitab Alhilyah, Abu Nu’aim meriwayatkan bahwa ada seorang berjalan di depan Nabi dengan membawa rusa yang baru di dapatkan dari berburu, tiba-tiba rusa itu berkata: “Ya Rasulallah, sesungguhnya aku mempunyai beberapa anak yang masih menyusu kepadaku dan mereka kini lapar, karena itu suruhlah orang ini melepaskan aku untuk menyusui anakku, kemudian aku akan kembali lagi.” Rasulullah kemudian bertanya kepada rusa tersebut, “Wahai rusa, jika engkau tidak kembali bagaimana?” jawab sang rusa, “Jika aku tidak kembali maka Allah akan mengutukku bagaikan orang yang mendengat namamu disebut padanya tiba-tiba ia tidak membaca shalawat kepadamu.” Lalu Rasulullah menyuruh kepada orang pemburu rusa tersebut, “Lepaskan rusamu ini, dan aku yang akan menjamin akan kembalinya rusamu ini.” Kemudian pergilah rusa tersebut (untuk menyusui anak-anaknya), kemudian setelah itu ia kembali kepada sang pemburu. Maka turunlah Malaikat Jibril dan berkata: “Ya Muhammad, Allah menyampaikan salam padamu dan berfirman: “Demi kemulyaan dan kebesaranKU, sungguh AKU lebih menyayangi pada ummatmu lebih dari rahmat rusa itu terhadap anak-anaknya, dan AKU akan mengembalikan mereka kepadamu sebagaimana kembalinya rusa itu kepadamu

 وابن أبي عاصم: «ألا أُخْبِرُكُمْ بِأَبْخَل النَّاسِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ الله. قَالَ: مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ فَذالِكَ أَبْخَلُ النَّاسِ»

Ibn Abi ‘Ashim berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Sukakah kuberitakan kepada kalian (ashhab) manusia yang paling bakhil? Jawab sahabat: “Iya ya Rasulallah.” Maka Rasulullah berkata, “Yaitu orang yang mendengar namaku disebut orang di depannya, kemudian ia tidak membaca shalawat untukku, maka ia adalah manusia yang paling bakhil (pelit).

أبي بكر رضي الله عنه قال: الصلاة على رسول الله أمحق للخطايا من الماء للنار، والسلام على النبي أفضل من عتق الرقاب، وحب رسول الله أفضل من مهج الأنفس، أو من ضرب السيف في سبيل الله.

Sayyidina Abu Bakar berkata: “Membaca shalawat kepada Rasulullah lebih kuat untuk menghapus dosa dari pada air terhadap api, dan mengucapkan salam kepada Rasulullah lebih afdhal dari memerdekakan budak, dan cinta kepada Rasulullah lebih afdhal daripada mengorbankan jiwa, dan dari pada mengangkat pedang fii sabilillah. (An Numari, dan Ibn Basykual).

وحكي أن رجلاً حج وكان يكثر الصلاة على النبي في مواقف الحج وأعماله،فقيل له: لمَ لمْ تشتغل بالدعاء المأثور؟ فاعتذر بأنه خرج للحج هو ووالده، فمات والده بالبصرة، فكشف عن وجهه، فإذا هو صورة حمار فحزن حزناً شديداً، ثم أخذته سنة فرآه ، وتعلق به وأقسم ليخبرنه بقصة والده. فقال: إنه كان يأكل الربا وآكله يقع له ذلك دنيا وأخرى، ولكنه كان يصلي عليّ كل ليلة عند نومه مائة مرة، فلما عرض له ذلك أخبرني به الملك الذي يعرض عليّ أعمال أمتي، فسألت الله فشفعني فيه فاستيقظ فرأى وجه والده كالبدر، ثم لما دفنه سمع هاتفاً يقول له: سبب العناية التي حفت والدك الصلاة والسلام على رسول الله فآليت أن لا أتركها على أيّ حال كنت في أي مكان كنت.

Hikayat:

Ada seorang ketika berhaji selalu mebaca shalawat Nabi dalam segala tempat yang mustahab, dan ketika ditanya: Mengapa kamu tidak membaca do’a-do’a yang ma’tsur dari Nabi di tempat-tempat yang tertentu ini? Maka ia lebih dahulu meminta ma’af kemudian menjawab dan menerangkan bahwa ia keluar bersama ayahnya menuju hajji, dan ketika sampai di Bashrah, tiba-tiba ayahnya meninggal dunia, sedangkan mukanya berubah menjadi bagaikan khimar, maka aku sangat sedih akan hal tersebut yang sangat mempengaruhi perasaanku, dan ketika aku tertidur dalam keadaan yang sedih tiba-tiba mimpi bertemu dengan Rasulullah maka langsung saya pegang tangan beliau dan saya beritahukan keadaan ayahku, maka Rasulullah bersabda, “Ayahmu makan dari perkara riba, sedang pemakan riba itu memang demikian keadaannya (akan menjadi khimar), tetapi ia membaca shalawat untukku tiap malam 100 x, karena itu ketika disampaikan oleh Malaikat keadaan ayahmu (berubah menjadi khimar), maka segera aku meminta izin (kepada Allah) memberikan syafa’ah untuk ayahmu, dan Allah mengizinkannya.”

Tiba-tiba aku bangun tidur dan wajah ayahku telah berubah bagaikan bulan purnama, dan setelah kukuburkan jasad ayahku, terdengar suara, “Keselamatan ayahmu karena ia suka dan sering membaca shalawat atas Nabi Muhammad.”

Karena itulah aku bersumpah untuk diriku, tidak akan aku tinggalkan shalawat atas Rasul dalam segala hal dan dimanapun aku berada.”

(Dinukil dan disarikan dari kitab irsyadul ‘ibad ilaa sabili al-rasyad, dalam bab fadhalu al-shalawat ‘ala al-Nabiy)

KEUTAMAAN & KEISTIMEWAAN MEMBACA SHOLAWAT ATAS NABI MUHAMMAD SAW.

Shalawat untuk Nabi Tercinta shallallahu’alaihi wasallam memiliki banyak manfaat dan keistimewaan baik didunia maupun diakhirat.Diantara manfaat/keistimewaan shalawat yang dapat didapatkan didunia adalah sebagai berikut:

1.Sebagai implementasi/perwujudan perintah Allah ta’ala untuk banyak-banyak bershalawat dan bertaslim untuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Allah ta’ala berfirman :

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين ءامنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

Artinya :   “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi,Hai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS.Al Ahzab : 56)

2.Shalawat merupakan salah satu sebab terkabulnya doa seorang hamba jika ia mengawali doanya dengan shalawat.

Dalam sebuah atsar disebutkan :

الدعاء موقوف بين السماء والأرض لا يصعد منه شيء حتى تصلي على نبيك

Artinya : “Doa seorang hamba tertahan diantara langit dan bumi ,tidak terangkat kelangit sampai engkau bershalawat untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam”. 1

Setiap orang yang mengawali doanya dengan shalawat dan taslim untuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,dan juga mengakhiri doanya dengannya,maka doa tersebut sangatlah mustajab/dikabulkan oleh Allah dikarenakan banyaknya keberkahan shalawat tersebut. 2

3.Dengan shalawat,lisan senantiasa basah dengan menyebut sang kekasih tercinta,Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

4.Shalawat mendatangkan ketenangan jiwa dan pikiran serta kelezatan iman dan ketaatan/ibadah.

Hal ini kami merasakannya sendiri ketika banyak-banyak mengucapkan shalawat dan taslim untuk Nabi dan penyejuk hati kita,Muhammad shallallahu’alaihi wasallam.

5.Shalawat memenuhi majelis/perkumpulan dengan cahaya rahmat,dan keberkahan.

Setiap majelis yang didalamnya disebutkan nama Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,maka majelis itu akan dipenuhi oleh cahaya (iman),akan dihadiri dan diliputi oleh para malaikat,cahaya (rahmat) akan terus menerus turun didalamnya,serta semua amalan baik didalamnya langsung akan diangkat kepada Allah ta’ala. 3

6.Shalawat selalu mengingatkan diri kita terhadap Rasulullah yang tercinta,sehingga dapat meninggikan semangat beribadah,dan berakhlak dengan akhlak yang mulia,serta berjihad/bersungguh-sungguh dalam hidup ini dengan setinggi-tingginya jihad sebagaimana jihadnya Nabi kita shallallahu’alaihi wasallam.

KEUTAMAAN SHALAWAT YANG DISEBUTKAN IBNUL QAYIM rahimahullah

Diantara manfaat dan keistimewaan shalawat lain yang disebutkan oleh Ibnul Qoyim rahimahullah adalah sebagai berikut :

1.Shalawat merupakan salah satu sebab terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dunia serta mensucikan hati seorang muslim.

2.Shalawat adalah salah satu sebab ditambahkannya cahaya bagi seorang muslim ketika ia melintasi shirat diatas neraka jahannam yang gelap gulita diakhirat kelak.

3.Shalawat dapat menyebabkan adanya pujian dan sanjungan dari penduduk langit dan bumi terhadap orang yang mengucapkannya.

4.Shalawat adalah penyebab adanya berkah dalam diri orang yang mengucapkannya,juga adanya berkah dalam amal perbuatan dan umurnya.

Ini disebabkan,karena orang yang bershalawat untuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pada hakikatnya adalah orang yang berdoa kepada Allah subhaanahu wa ta’ala agar Dia memberikan keberkahan dan rahmat kepada beliau dan keluarganya.Doa yang seperti ini adalah doa yang sangat mustajab.Dan balasan Allah untuk orang yang mengucapkannya adalah sesuai dengan apa yang ia telah lakukan (yaitu bershalawat untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam –pent-).

Diantara keistimewaan-keistimewaan lainnya adalah :

5.Dengan bershalawat berarti anda telah memperdengarkan kepada para malaikat dan hamba-hamba Allah yang shalih perkataan yang membahagiakan jiwa dan menyenangkan pendengaran mereka,dan barangsiapa yang memasukkan kebahagiaan dan kegembiraan kedalam hati manusia dengan ucapan shalawat untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam,Allah akan memberikan kebahagiaan baginya didunia ataupun diakhirat,karena balasan/ganjaran suatu amalan sesuai dengan jenis amalan perbuatan yang telah dilakukan.

6.Bershalawat dapat menambah keimanan,semakin seorang hamba memperbanyak shalawat maka semangat dan derajatnya semakin terangkat,sebaliknya semakin lisan seorang hamba malas mengucapkan shalawat dan taslim untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam,maka ia akan merasakan adanya kurangnya iman dan kelalaian dalam dirinya,sebab itu hendaknya ia banyak-banyak berzikir mengingat Allah ta’ala dan bershalawat untuk Nabi tercinta shallallahu’alaihi wasallam.

7.Dengan memperbanyak shalawat berarti seorang hamba telah menyiapkan amalan-amalan shalih sebagai bekalnya pada hari dimana saat itu ia akan bahagia dengan apa yang telah ia kerjakan berupa amal kebaikan dan ketaatan/ibadah.

Seorang hamba tidaklah memahami hakikat masalah ini kecuali jika ia telah melihat semua amal baiknya terpampang didepan kedua matanya dihari kiamat kelak.Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia agar menganugerahkan keutamaan tersebut kepada kita semua.

8.Shalawat merupakan salah satu sebab untuk mendapatkan rahmat Allah ta’ala.Siapa saja yang bershalawat memuji Nabi shallallahu’alaihi wasallam didunia niscaya Allah dan para malaikatNya akan memujinya pula,serta akan mendapatkan rahmat dan berkah Allah jalla wa’ala.

9.Ucapan shalawat dan salam untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam merupakan sebab kekalnya dan bertambahnya cinta seorang muslim terhadap Nabinya,karena semakin seseorang sering menyebut-nyebut orang yang ia cintai beserta kebaikan-kebaikannya,akan semakin bertambah pula kecintaan dan kerinduannya terhadapnya,sebaliknya jika ia enggan menyebut-nyebut beliau shallallahu’alaihi wasallam atau hanya sedikit menyebut beliau maka tentu imannya berkurang ,namun apabila ia kembali memperbanyak shalawat maka imannya akan kembali bertambah.

Semua yang telah disebutkan,hanyalah beberapa manfaat/keistimewaan yang dapat kita petik (dari memperbanyak shalawat) ,seandainya manfaat dan keistimewaan shalawat ini ditulis dalam sebuah buku yang berjilid-jilid,mungkin hal tersebut hanya dapat memenuhi sedikit saja kesempurnaan dalam menyebutkan hak-hak Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan kemuliannya.Kita memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar menganugerahkan kepada kita semua semua manfaat shalawat tersebut baik didunia maupun diakhirat kelak.

1[1] . HR.AtTirmidzy dari hadis Umar bin AlKhaththab radhiyallahu’anhu (386).AlAlbany berkata : “shahih lighairihi” (hadisnya shahih karena ada jalur hadis lain yang menguatkannya).lihat : Shahih Targhib wa tarhib (1676)

2[1] . Pent. : Dalam hadis lain,dari Fadhaalah bin ‘Ubaid radhiyallahu’anhu berkata : bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mendengar seseorang berdoa dalam shalatnya namun tidak memuji Allah dan tidak pula bershalawat untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam,maka beliaupun bersabda :

عجل هذا -ثم دعاه فقال له أو لغيره-: إذا صلى أحدكم فليبدأ بتمجيد ربه عز وجل  والثناء عليه ثم يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم, ثم يدعو بعد بما شاء .

Artinya : “Orang ini terlalu tergesa-gesa” – lalu beliau memanggil orang tersebut,dan bersabda kepadanya atau kepada orang lain disampingnya-  : “Jika salah seorang diantara kalian berdoa maka hendaknya memulainya dengan pujian dan sanjungan terhadap Rabbnya subhaanahu wa ta’aala,lalu mengucapkan shalawat untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam,kemudian baru berdoa dengan apa yang ia kehendaki”. (HR.Abu Daud : 1481 dan AtTirmidzy : 3476 dengan sanad shahih)

3[1] . Pent. : Sebaliknya kalau dalam suatu majelis tidak disebutkan shalawat untuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam maka tidak akan ada rahmat didalamnya.Dalam suatu hadis, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

 ما جلس قوم مجلسا ثم تفرقوا ولم يذكروا الله و لم يصلوا على النبي صلى الله عليه وسلم إلا كان عليهم من الله تره إن شاء عذبهم وإن شاء غفر لهم

Artinya : “Tidaklah suatu kaum bermajelis,lalu mereka bubar dalam keadaan belum berzikir mengingat Allah dan bershalawat untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam melainkan mereka akan mendapatkan  kerugian dan penyesalan dari Allah ta’ala,jika Dia berkehendak,Dia akan mengazab mereka,atau memberikan ampunan untuk mereka”  (HR.AtTirmidzy (3380),dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu ,dan ia berkata : hasan shahih,,juga diriwayatkan Ahmad dalam Musnadnya (9842) dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya (2) serta dinilai shahih oleh Al Albany dalam Silsilah Shahihah (73),dan Shahih Tirmidzy (629).