SELURUH ROSUL TERNYATA TERKANDUNG DALAM LAFADZ MUHAMMAD

Nabi Muhammad SAW adalah Rasul terakhir yang diutus Allah sebagai Rahmatan lil’alamin. Keistimewaan yang Allah anugerahkan kepada Beliau tidak akan pernah habis kita ungkapkan lewat tulisan maupun kata-kata. Beliau adalah figur yang patut diteladani oleh segenap umat manusia sebagai jalan menuju kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Ternyata keistimewaan bukan hanya terdapat pada diri Beliau semata. Bahkan nama beliau yaitu “Muhammad” juga tersimpan rahasia tersendiri seperti yang telah diuraikan di dalam beberapa kitab mu’tabarah yaitu jumlah para rasul yang diutuskan Allah yang berjumlah 314 orang terkandung dalam lafadh “Muhammad” tersebut.

Namun sebelum kita menghitung jumlahnya, terlebih dahulu kita harus mempelajari tentang simbol-simbol angka dari abjad arab. Sebelum ada angka-angka 1,2,3,4 dan seterusnya, manusia kala itu menggunakan simbol untuk jumlah tertentu. Seperti angka Romawi V untuk melambangkan angka 5, atau X untuk melambangkan 10. Begitu pula dengan huruf-huruf arab juga mempunyai simbol dari angka tertentu. Berikut daftar dari simbol-simbol angka tersebut :

ﺃ = 1     ح = 8   س = 60     ت= 400

ب= 2    ط= 9      ع=  70     ث = 500

ج = 3   ي = 10    ف = 80    خ = 600

د = 4    ك = 20     ص = 90    ذ = 700

ﻫ = 5    ل = 30    ق = 100    ض = 800

و = 6    م = 40    ر = 200    ظ = 900

ز = 7    ن = 50    ش = 300    غ = 1000

Selanjutnya mari kita hitung jumlah angka yang terkandung dalam lafadh Muhamad (محمد)

Huruf Mim bila diuraikan maka terdapat tiga huruf yaitu huruf Mim,Yaa dan Mim (ميم) sehingga bila dijumlahkan berdasarkan simbol diatas maka jumlahnya 90 karena huruf Mim = 40 dan huruf Yaa = 10. Pada lafadh Muhammad terdapat tiga huruf Mim sehingga jumlah keseluruhan dari semua huruf Mim adalah 90×3= 270.

Huruf Ha’ bila diuraikan akan tersusun dari huruf Ha’ dan Alif (حأ) , maka dalam huruf Ha’ bernilai 8+1=9.

Dan huruf “Dal” bila diuraikan maka tersusun dari huruf Dal, Alif dan Lam (دال), maka jumlahnya 4+1+30=35. Sehingga jumlah keseluruhan dari susunan lafadh Muhammad tersebut adalah 270+9+35=314. Sesuai dengan jumlah para rasul yaitu 314 orang. Maka pada nama Beliau tersebut punya isyarat bahwa kesempurnaan yang terdapat pada para rasul, semuanya terdapat pada diri beliau.

Referensi

Hasyiyah Syarwani ‘ala Tuhfatul Muhtaj 1 : 29 cet. Darl Fikr

استنبط بعض العلماء من محمد ثلثمائة وأربعة عشر رسولا فقال فيه ثلاث ميمات وإذا بسطت كلا منها قلت فيه م ي م وعدتها بحساب الجمل الكبير تسعون فيحصل منها مائتان وسبعون وإذا بسطت الحاء والدال قلت دال بخمسة وثلاثين وحاء بتسعة فالجملة ما ذكر

Hasyiyah Bujairimi ‘ala Syarh Manhaj 1 : 19 Cet. Darl Kutub Ilmiyyah

استنبط بعض العلماء من محمد ثلاثمائة وأربعة عشر رسولا فقال: فيه ثلاث ميمات وإذا بسطت كلا منها قلت م وم وم عدتها بحساب الجمل الكبير تسعون فيحصل منها مائتان وسبعون وإذا بسطت الحاء والدال قلت دال بخمسة وثلاثين وحاء بتسعة فالجملة ما ذكر ففي اسمه الكريم إشارة إلى أن جميع الكمالات الموجودة في المرسلين موجودة فيه شيخنا ملوي

Kifayatul ‘awam hal. 17

ﺇن شئت عدة رسل كلها جمعا *

محمد سيد الكونين من فضلا

خذ لفظ ميم ثلاثا ثم حا و كذا *

دال تجد عددا للمرسلين علا

Tuhfatul Muhtaj bi syarh Al Minhaj 1 : 29 cet. Darl Fikr

وصح خبر أن عدد الأنبياء مائة وألف وأربعة وعشرون ألفا وخبر أن عدد الرسل ثلثمائة وخمسة عشر

قوله وخمسة عشر) أو وأربعة عشر أو وثلاثة عشر أقوال شيخنا

SALAH SATU SIFAT KEPEMIMPINAN ROSULULLOH SAW.

Pengarang kitab “Akhbarul Madinah” (Sejarah Kota Madinah), yaitu Ibnu Syabbah, seorang perawi hadis dan ahli sejarah yang hidup pada abad ke-3 Hijriah, menuturkan kisah yang menarik tentang Kanjeng Nabi Muhammad saw. Kisah ini, penting sekali karena bisa menjadi teladan bagi orang-orang yang hendak menjadi pemimpin.

 

Berikut kisah yang dituturkan Ibnu Syabbah:

Tahun-tahun pertama ketika Nabi SAW. baru datang di Madinah dan secara fisik masih cukup kuat, beliau punya kebiasaan menjenguk orang-orang yang sedang sakit keras dan menjelang maut — “ukhtudlira”, “dying”. Nabi akan menunggui, membacakan istighfar, memintakan ampunan bagi sang pasien, hingga yang terakhir ini meninggal. Kadang-kadang Nabi menunggu berjam-jam.

Kebiasaan semacam ini menimbulkan rasa kasihan pada sebagian sahabat. Mereka tidak tega melihat Nabi menunggu berjam-jam. Urusan beliau, sebagai kepala proto-negara Madinah dan pemimpin agama, tentulah banyak.

Akhirnya mereka bersepakat untuk tidak memberi-tahu Nabi jika ada seorang yang sedang sekarat. Mereka akan memberi tahu Nabi setelah yang bersangkutan meninggal.

Ketika Nabi diberitahu, beliau akan “cekat-ceket”, segera datang, menunggui jenazah hingga selesai di-“pulasara”, dikafani, lalu menyalatinya, dan kerap juga mengantarnya hingga ke pemakaman.

Melihat hal ini pun, para sahabat merasa kasihan. Nabi kadang harus menempuh jarak yang jauh untuk melayat seseorang. Ketika Nabi sudah mulai sepuh, dan badannya tak sekuat ketika masih muda, kebiasaan ini tentu memberatkan Kanjeng Nabi dan menimbulkan rasa kasihan pada sahabat-sahabatnya.

Lalu, sahabat membuat kesepakatan baru. Mereka tak akan memberi tahu Kanjeng Nabi jika ada orang meninggal. Merekalah yang akan membawa jenazah itu ke Madinah, ke sebuah tempat di dekat “ndalem” beliau. Di sana ada dua pohon kurma. Di sanalah biasanya Nabi manyalatkan jenazah-jenazah yang dibawa untuk “di-sowan-kan” kepada beliau.

Dengan demikian, Kanjeng Nabi tak perlu repot-repot untuk mendatangi rumah jenazah yang kadang letaknya jauh dari Madinah.

Saat membaca kisah ini, langsung teringat, Kiai Abdullah Salam, paman Kiai Sahal Mahfudh, dari Kajen, Pati. Beliau punya kebiasaan unik pada saat masih muda, yaitu mendatangi “walimah” atau resepsi pernikahan siapa pun yang mengundang beliau. Beliau tak sekedar datang, tetapi juga menikahkan.

Memang itulah tujuan orang-orang mengundang  “rawuh”, datang, yaitu “tabarrukan”, ngalap berkah  agar pernikahan putra-putri mereka mendapatkan keberkahan.

Saat beliau sudah sepuh dan tak mungkin lagi mendatangi walimah, orang-orang yang menginginkan agar putra-putri mereka dinikahkan oleh Kyai, untuk “tabarrukan”, membawa sepasang penganten ke “ndalem”, rumah beliau, dan beliau akan menikahkan di ruang-tamu yang tak cukup besar. Para tamu biasanya akan berjubel di ruang itu.

Yang unik: Kerap kali beliau lah yang menanggung seluruh kebutuhan konsumsi untuk para tamu yang datang menghadiri akad-nikah. Dan hal ini bukan berlangsung satu-dua kali saja, melainkan amat sering terjadi. Ruang tamu Mbah Dullah sering menjadi tempat pernikahan para pasangan yang hendak “tabarrukan”, ngalap berkah tadi.

Anda mungkin mengira bahwa kekuarga-keluarga yang membawa anak-anak mereka untuk dinikahkan hanya sebatas mereka yang pernah menjadi santri atau kerabat dekat.

Sama sekali tidak. Yang minta dinikahkan  ini datang dari semua kalangan, baik yang dikenal atau tidak, baik orang besar atau kecil, baik orang berpunya atau miskin. Semua dilayani oleh beliau, tanpa pilih kasih.

Teladan ini, mengharukan sekali. Ini contoh “a caring leader”, pemimpin yang peduli pada mereka yang menjadi pengikutnya. Apa yang dilakukan oleh Kanjeng Nabi dan diteladani walau tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat luar biasa. Teladan ini menciptakan perasaan “adem” pada para pengikut: bahwa pemimpin mereka peduli, bahwa mereka diperhatikan.

Dengan tindakan sederhana ini, Kanjeng Nabi,  Menciptakan ikatan yang erat dengan umat yang menjadi pengikut, juga “trust”, kepercayaan. Ikatan ini tak bisa lahir karena ceramah saja, melainkan teladan yang langsung dilakukan oleh sang pemimpin.

“Eloquent speeches about common values, however, are not nearly enough,” kata James Kouzes dalam buku klasik mereka tentang bagaimana menjadi pemimpin, “The Leadership Challenge”. Artinya: khotbah yang berjela-jela tentang nilai yang baik, bagaimana pun, tak memadai. Tindakan seorang pemimpin jauh lebih “makjleb” dan menembus perasaan para pengikut.

Prinsip pertama tentang memimpin, menurut Kouzesz, adalah “model the way,” memberi contoh. Ki Hajar Dewantara merumuskannya dalam kalimat yang indah: ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Empat belas abad yang lampau, Kanjeng Nabi telah meneladankan prinsip yang sekarang menjadi tampak “keren” karena ditulis dalam kitab dan buku manajemen yang kerap kita lihat di rak-rak toko buku.

DI BALIK KESEDERHANAAN ROSULULLOH SAW ADA HIKMAH YANG LUAR BIASA

Diriwayatkan dari Sayyidina Abdullah Ibn ‘Abbas رضي الله تعالى عنهما , beliau berkata, Sayyidina Umar رضي الله تعالى عنه telah menceritakan, ketika beliau masuk kerumah Rasulullah صلى الله عليه وسلم beliau menceritakan, “Ketika aku masuk ke rumah Rasulullah صلى الله عليه وسلم maka aku melihat bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم berada di atas tikarnya (yang terbuat dari pelepah kurma) maka aku duduk diatas hamparan sarung Rasulullah صلى الله عليه وسلم , tiada apapun di bawahnya, hanya tanah dibalik sarung tersebut, maka aku lihat lambung Rasulullah صلى الله عليه وسلم terdapat bekas hamparan tikar tempat beliau tidur, maka tiba2 aku pun terkejut, aku melihat ada segenggam/sekitar 1 sho’ gandum (tidak lebih) kemudian aku pun terkejut, hanya terdapat 1 kulit tempat mimum air Rasulullah yang digantungkan (teramat sangat sederhana). Maka tanpa kusadari kedua air mataku pun mengalir…”

Rasulullah pun melihatnya kemudian beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Ibn Khottob?”

Maka saya pun menjawab,“ Wahai Rasulallah, bagaimana aku tidak menangis, tikar ini telah memberikan bekas pada lambungmu wahai Rasulallah, Engkau tidak mempunyai harta apa-apa kecuali yang saya lihat. Sedangkan kita melihat bagaimana raja-raja, kaisar-kaisar yang hidup di istana mereka dikelilingi buah2an segar dan sungai2 jernih yang menyegarkan, sedangkan Engkau Nabi Allah, orang yang disucikan oleh Allah Ta’ala, hanya ini saja yang engkau miliki wahai Nabi Allah?”

Rasulullah pun berkata, “Wahai Ibn Khottob, tidakkah engkau ridha, jika nanti kita mendapat keni’matan di akhirat, sedangkan bagi mereka hanya di dunia saja. Mereka itulah kaum yang disegerakan oleh Allah Ta’ala keni’matannya hanya di dunia, keni’matan sementara, sedangkan kita adalah kaum yang ditunda keni’matan yang didapatkan kelak di akhirat.”

(Dinukil dari kitab wa saaili a-wushul ilaa syamaail al-rasul, fashl yang ke dua)

وعن ابن عباس رضي الله تعالى عنهما قال حدثني عمر ابن الخطاب رضي الله عنه قال دخلت رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو على حصير قال فجلست فاذا عليه ازارو ليس عليه غيره واذا الحصير قداثر في جنبه واذا بقبضة من الشعير نحو الصاع واذا هاب معلق فابتدرت عيناي فقال ما يبكيك يا ابن الخطاب فقلت يا نبي الله ومالي لا ابكى وهذا الحصير قداثر في جنبك وهذه خزائنك لا ارى فيها الا ما ارى وذاك كسرى وقصير في الثمار والانهار وانت نبي الله وصفوته وهذه خزائنه قال يا ابن الخطاب اما ترضى ان تكون لنا الاخرة ولهم الدنيا اولئك قوم عجلت لهم طيباتهم وهي وشيكة الانقطاع وانا قوم اخرت لنا طيبتنا في اخرتنا

(وسائل الوصول الى شمائل الرسول، الفصل الثاني في صفة فراشه صلى الله عليه وسلم وما يناسبه، ص ٤٨ )

PREDIKSI ULAMA DAN BEBERAPA TANDA MALAM LAILATUL QODAR

PREDIKSI LAILATUL QADAR

Pertama:

Dalam kitab I’anatuththalibiin juz II halaman 257 :

قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر،

فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء: فهي ليلة تسع وعشرين.

أو يوم الاثنين: فهي ليلة إحدى وعشرين.

أو يوم الثلاثاء أو الجمعة: فهي ليلة سبع وعشرين.

أو الخميس: فهي ليلة خمس وعشرين.

أو يوم السبت: فهي ليلة ثلاث وعشرين.

Jika awal Ramadhan hari Ahad atau Rabu maka lailatul qodar malam 29

Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam 21

Jika awal Ramadhan hari Selasa atau Jumat maka lailatul qodar malam 27

Jika awal Ramadhan hari Kamis maka lailatul qodar malam 25

Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka lailatul qodar malam 23

Kedua:

Dalam kitab Hasyiyah ash Shaawi ‘alal Jalaalain juz IV halaman 337 :

فعن أبي الحسن الشاذلي إن كان أوله الأحد فليلة تسع وعشرين ، أو الإثنين فإحدي وعشري أو الثلاثاء فسبع وعشرين أو الأربعاء فتسعة عشر أو الخميس فخمس وعشرين أو الجمعة فسبعة عشر أوالسبت فثلاث وعشرين

Jika awal Ramadhan hari Ahad maka lailatul qodar malam 29

Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam 21

Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qodar malam 27

Jika awal Ramadhan hari Rabu maka lailatul qodar malam 19

Jika awal Ramadhan hari Kamis maka lailatul qodar malam 25

Jika awal Raamadhan hari Jumat maka lailatul qadar malam 17

Jika awal Raamadhan hari Sabtu maka lailatul qadar malam 23

Ketiga:

Dalam kitab Hasyiyah al Bajuri ‘ala Ibni Qaasim al Ghaazi juz I halaman 304 :

وذكرو لذلك ضابطا وقد نظمه بعضهم بقوله

: وإنا جميعا إن نصم يوم جمعة ¤ ففي تاسع العشرين خذ ليلة القدر .

وإن كان يوم السبت أول صومنا ¤ فحادي وعشرين اعتمده بلا عذر

. وإن هل يوم الصوم في أحد ففي ¤ سابع العشرين ما رمت فاستقر

. وإن هل بالأثنين فاعلم بأنه ¤ يوافيك نيل الوصل في تاسع العشري

. ويوم الثلاثا إن بدا الشهر فاعتمد ¤ علي خامس العشرين تحظي بها فادر .

وفي الإربعا إن هل يا من يرومها ¤ فدونك فاطلب وصلها سابع العشري .

ويوم الخميس إن بدا الشهر فاجتهد ¤ توافيك بعد العشر

في ليلة الوتر .

Jika awal Ramadhan hari Jumat maka lailatul qodar malam 29

Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka lailatul qodar malam 21

Jika awal Ramadhan hari Ahad maka lailatul qodar malam 27

Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam 29

Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qodar malam 25

Jika awal Raamadhan hari Rabu maka lailatul qadar malam 27

Jika awal Raamadhan hari Kamis maka malam ganjil setelah malam 20

Tanda-tanda Lailatul Qadar:

Imam Muslim dalam kitab Shahihnya juz I halaman 306,cetakan al Ma’arif Bandung Indonesia:

Sanad dan matannya sebagai berikut:

حدثنا محمد بن مهران الرازي حدثنا الوليد بن مسلم حدثنا الأوزاعي حدثني عبدة عن زر قال س

معت أبي بن كعب يقول وقيل له إن عبد الله بن مسعود يقول من قام السنة أصاب ليلة القدر فقال أبي والله الذي لا إله إلا هو إنها لفي رمضان {يحلف ما يستثني] ووالله إني لأعلم أي ليلة هي هي الليلة التي أمرنا بها رسول الله صلي الله عليه وآله وسلم بقيامها هي ليلة صبيحة سبع وعشرين وأمارتها أن تطلع الشمس في صبيحة يومها بيضاء لا شعاع لها .

”…….Ubay ibn Ka’b,dia berkata: “… demi Dzat yang tiada tuhan kecuali Dia, sungguh malam (Lailatul Qadar) itu ada dalam bulan Ramadhan. Demi A llah aku sungguh tahu kapan malam itu, yaitu malam yang kita diperintah oleh Rasulullah SAW untuk beribadah didalamnya, yaitu malam 27 yang bersinar. Adapun tanda-tandanya adalah matahari terbit pagi harinya dengan cahaya putih namun tidak ada sorotnya

Al Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya juz IV halaman 846:

ذكر أثر غريب ونبأ عجيب، يتعلق بليلة القدر، رواه الإمام أبو محمد بن أبي حاتم، عند تفسير هذه السورة الكريمة فقال:

حدثنا أبي، حدثنا عبد الله بن أبي زياد القَطواني، حدثنا سيار بن حاتم،

حدثنا موسى بن سعيد – يعني الراسبي- عن هلال أبي جبلة، عن أبي عبد السلام، عن أبيه، عن كعب أنه قال:إن سدرة المنتهى على حد السماء السابعة، مما يلي الجنة، فهي على حَدّ هواء الدنيا وهواء الآخرة، عُلوها في الجنة، وعروقها وأغصانها من تحت الكرسي، فيها ملائكة لا يعلم عدّتهم إلا الله، عز وجل، يعبدون الله، عز وجل، على أغصانها في كل موضع شعرة منها ملك. ومقام جبريل، عليه السلام، في وسطها، فينادي الله جبريل أن ينـزل في كل ليلة قَدْر مع الملائكة الذين يسكنون سدرة المنتهى، وليس فيهم ملك إلا قد أعطى الرأفة والرحمة للمؤمنين، فينـزلون على جبريل في ليلة القدر، حين تغرب الشمس، فلا تبقى بقعة في ليلة القدر إلا وعليها ملك، إما ساجد وإما قائم، يدعو للمؤمنين والمؤمنات، إلا أن تكون كنيسة أو بيعة، أو بيت نار أو وثن، أو بعض أماكنكم التي تطرحون فيها الخبَث، أو بيت فيه سكران، أو بيت فيه مُسكر، أو بيت فيه وثن منصوب، أو بيت فيه جرس مُعَلّق، أو مبولة، أو مكان فيه كساحة البيت، فلا يزالون ليلتهم تلك يدعون للمؤمنين والمؤمنات، وجبريل لا يدع أحدًا من المؤمنين إلا صافحه، وعلامة ذلك مَن اقشعر جلدهُ ورقّ قلبه ودَمعَت عيناه، فإن ذلك من مصافحة جبريل.

Menuturkan atsar yang gharib yang berkaitan dengan lailatul Qadar yang diriwayatkan oleh Imam Abu Muhammad ibn Abi Hatim ketika memberi tafsir surat ini (“INNAA ANZALNAAHU”)

……….. dari KA’AB, bahwasanya di malam Lailatul Qadar, Malaikat Jibril tidak menyisakan satupun dari orang-orang mukmin kecuali dia menjabat tangannya. Adapun tanda-tandanya ialah gemetar kulitnya (mrinding.Jw), lembut hatinya dan air matanya mengalir. Itu adalah karena jabat tangan malaikat Jibril

Imam Ibn Khuzaimah meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab shahihnya juz VIII halaman 106,

Sanad dan matannya sebagai berikut:

حدثنا بندار ، حدثني أبو عامر ، حدثنا زمعة ، عن سلمة هو ابن وهرام ، عن عكرمة ، عن ابن عباس ، عن النبي صلى الله عل

يه وسلم في ليلة القدر : « ليلة طلقة ، لا حارة ولا باردة ، تصبح الشمس يومها حمراء ضعيفة »

“…dari Ibn Abbas,dari Nabi Shollallaahu ‘alaihi wasallam, tentang Lailatul Qadar :”Malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan”

Ath Thabarani meriwayatkan dalam Musnad Syamiyyin juz IV halaman 309 nomor urut 3389 meriwayatkan:

Sanad dan matannya sebagai berikut:

حدثنا الوليد بن حماد الرملي ثنا سليمان بن

عبد الرحمن ثنا بشر بن عون ثنا بكار بن تميم عن مكحول عن واثلة بن الأسقع عن رسول اللهA قال ( ليلة القدر ( ليلة ) بلجة لا حارة ولا باردة ولا سحاب فيها ولا مطر ولا ريح ولا يرمى فيها بنجم ومن علامة يومها تطلع الشمس لا شعاع لها )

“…Dari Watsilah ibn al Asqa’ dari Rasulillah Shollallaahu ‘alaihi wasallam:

(Lailatul Qadar itu adalah) “Malam yang terang bercahaya, tidak panas, tidak dingin, tiada awan, tiada hujan, tiada angin, dan dimalam itu tiada dilempar dengan bintang. Tanda dipagi harinya adalah matahari terbit tanpa ada cahaya yang bersinar”.

WALLOHU’ALAM BIS SHOWAB

SHOLAWAT BAHRIYAH AL-KAMILATID DA-IMAH (SHOLAWAT MULTIFUNGSI)


صلواة بحرية الكاملة الدائمة
SHOLAWAT BAHRIYAH AL-KAAMILATID DAA-IMAH (SHOLAWAT MULTIFUNGSI)
.
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً دَائِمَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نُوْرِ الْأَجْوَدِ ، وَبَحْرِ أَنْوَارِكَ ، وَمَعْدَنِ أَسْرَارِكَ ، وَلِسَانِ حُجَّتِكَ ، وَعَرُوْسِ مَمْلَكَتِكَ ، وَإِمَامِ حَضْرَتِكَ ، وَطِرَازِ مُلْكِكَ ، وَخَزَائِنِ رَحْمَتِكَ ، وَطَرِيْقِ شَرِيْعَتِكَ ، الْمُتَلَذِّذِ بِمُشَاهَدَتِكَ ، إِنْسَانِ عَيْنِ الْوُجُوْدِ ، وَسَبَابِ كُلِّ مَوْجُوْدٍ ، عَيْنِ أَعْيَانِ خَلْقِكَ ، الْمُتَقَدِّمِ مِنْ نُوْرِ ضِيَائِكَ ، وَعَلٰى آلِهٖ وَصَحْبِهٖ أَجْمَعِيْنَ• فِى كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ وَسَاعَةٍ ، فِى لَيْلٍ وَنَهَارٍ ، وَقِيَامٍ وَقَعُوْدٍ ، وَنَوْمٍ وَيَقْظَةٍ ، تَدُوْمُ بِدَوَامِ مُلْكِكَ يَاأَللّٰهُ ، عَدَدَ مَا وَسِعَهُ عِلْمُكَ ، وَعَدَدَ خَلْقِكَ ، وَرِضٰى نَفْسِكَ ، وَزِنَةَ عَرْشِكَ ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ ، وَعَدَدَ مَا أَحَاطَ بِهٖ عِلْمُكَ ، وَأَحْصَاهُ كِتَابُكَ ، وَجَرٰى بِهٖ قَلَمُكَ . وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لاَ مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ •
صَلَاةً تُرْضِيْكَ وَتُرْضِيْهِ وَتَرْضَ بِهَا عَنِّيْ • ﺭَﺏِّ ﺃَﻭْﺯِعْنِىٓ ﺃَﻥْ ﺃَﺷْﻜُﺮَ ﻧِﻌْﻤَﺘَﻚَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﺃَﻧْﻌَﻤْﺖَ ﻋَﻠَﻲَّ ﻭَﻋَﻠَﻰٰ ﻭَﺍﻟِﺪَﻱَّ ﻭَﺃَﻥْ ﺃَﻋْﻤَﻞَ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﺗَﺮْﺿَﺎﻩُ ﻭَﺃَﺩْﺧِﻠْﻨِﻲ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﻓِﻲ ﻋِﺒَﺎﺩِﻙَ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴْﻦَ • ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺭَﺿُﻮﺍ ﻋَﻨْﻪُ ۚ ﺃُﻭلٰٓئِكَ ﺣِﺰْﺏُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﺃَﻻَ ﺇِﻥَّ ﺣِﺰْﺏَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ • ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺭَﺿُﻮﺍ ﻋَﻨْﻪُ ۚ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻟِﻤَﻦْ ﺧَﺸِﻲَ ﺭَﺑَّﻪُ • ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺭَﺿُﻮﺍ ﻋَﻨْﻪُ ۚ ﺫَٰﻟِﻚَ ﺍﻟْﻔَﻮْﺯُ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴﻢُ • ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺃَﻛْﻤَﻠْﺖُ ﻟَﻜُﻢْ ﺩِﻳﻨَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺗْﻤَﻤْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻧِﻌْﻤَﺘِﻲ ﻭَﺭَﺿِﻴﺖُ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡَ ﺩِﻳﻨًﺎ ۚ • ﻳَﺎ ﺃَﻳَّﺘُﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲُ ﺍﻟْﻤُﻄْﻤَﺌِﻨَّﺔُ • ﺍﺭْﺟِﻌِﻲ ﺇِﻟَﻰٰ ﺭَﺑِّﻚِ ﺭَﺍﺿِﻴَﺔً ﻣَّﺮْﺿِﻴَّﺔً • ﻓَﺎﺩْﺧُﻠِﻲ ﻓِﻲ ﻋِﺒَﺎﺩِﻱ • ﻭَﺍﺩْﺧُﻠِﻲ ﺟَﻨَّﺘِﻲْ •
صَلَاةً تُطْمَئِنُّ وَتُخَلِّصُ وَتُنَوِّرُ بِهَا قَلْبِيْ وَعَقْلِيْ وَفِكْرِيْ • ﺑَﻠٰﻰ ﺇِﻥْ ﺗَﺼْﺒِﺮُﻭﺍ ﻭَﺗَﺘَّﻘُﻮﺍ ﻭَﻳَﺄْﺗُﻮﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﻓَﻮْﺭِﻫِﻢْ ﻫٰﺬَﺍ ﻳُﻤْﺪِﺩْﻛُﻢْ ﺭَﺑُّﻜُﻢْ ﺑِﺨَﻤْﺴَﺔِ ﺁﻻَﻑٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﻼَٓﺋِﻜَﺔِ ﻣُﺴَﻮِّﻣِﻴْﻦَ • ﻭَﻣَﺎ ﺟَﻌَﻠَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺇِﻟَّﺎ ﺑُﺸْﺮَﻯٰ ﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻟِﺘَﻄْﻤَﺌِﻦَّ ﻗُﻠُﻮﺑُﻜُﻢْ ﺑِﻪِ ۗ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟﻨَّﺼْﺮُ ﺇِﻟَّﺎ ﻣِﻦْ ﻋِﻨْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟْﻌَﺰِﻳﺰِ ﺍﻟْﺤَﻜِﻴْﻢِ • ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻗُﺮِﺉَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻓَﺎﺳْﺘَﻤِﻌُﻮْﺍ ﻟَﻪُ ﻭَﺃَﻧﺼِﺘُﻮْﺍ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﺮْﺣَﻤُﻮْﻥَ • ﻭَﺍﺫْﻛُﺮْ ﺭَّﺑَّﻚَ ﻓِﻲْ ﻧَﻔْﺴِﻚَ ﺗَﻀَﺮُّﻋﺎً ﻭَﺧِﻴْﻔَﺔً ﻭَﺩُﻭْﻥَ ﺍﻟْﺠَﻬْﺮِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘَﻮْﻝِ ﺑِﺎﻟْﻐُﺪُﻭِّ ﻭَﺍﻵﺻَﺎﻝِ ﻭَﻻَ ﺗَﻜُﻦْ ﻣِّﻦَ ﺍﻟْﻐَﺎﻓِﻠِﻴﻦَ • ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻧَﺰَّﻝَ ﺃَﺣْﺴَﻦَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺑًﺎۢ مُتَشَاﺑِﻬًﺎ ﻣَﺜَﺎﻧِﻲَ ﺗَﻘْﺸَﻌِﺮُّ ﻣِﻨْﻪُ ﺟُﻠُﻮﺩُ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻳَﺨْﺸَﻮْﻥَ ﺭَﺑَّﻬُﻢْ ﺛُﻢَّ ﺗَﻠِﻴْﻦُ ﺟُﻠُﻮْﺩُﻫُﻢْ ﻭَﻗُﻠُﻮْﺑُﻬُﻢْ ﺇِﻟَﻰٰ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻫُﺪَﻯ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﻬْﺪِﻱ ﺑِﻪٖ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎءُ •
ُ
صَلَاةً تُشْرِحُ بِهَا صَدْرِيْ ، وَتَكْشِفُ بِهَا فُؤَادِيْ وَبَصَرِيْ وَنَظَرِيْ ، وَتُنْجِى بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْأٓفَاتِ • ﺭَﺏِّ ﺍﺷْﺮَﺡْ ﻟِﻲْ ﺻَﺪْﺭِﻱْ • ﻭَﻳَﺴِّﺮْ ﻟِﻲْ ﺃَﻣْﺮِﻱْ • ﻭَﺍﺣْﻠُﻞْ ﻋُﻘْﺪَﺓً ﻣِﻦْ ﻟِﺴَﺎﻧِﻲْ • ﻳَﻔْﻘَﻬُﻮْﺍ ﻗَﻮْﻟِﻲْ • ﺃَﻓَﻤَﻦْ ﺷَﺮَﺡَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺻَﺪْﺭَﻩُ ﻟِﻠْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻓَﻬُﻮَ ﻋَﻠَﻰٰ ﻧُﻮﺭٍ ﻣِّﻦْ ﺭَّﺑِّﻪِۦ • ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﺧْﺮَﺟَﻜُﻢْ ﻣِّﻦْ ﺑُﻄُﻮْﻥِ ﺃُﻣَّﻬَﺎﺗِﻜُﻢْ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﺟَﻌَﻞَ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻭَﺍﻟْﺄَﺑْﺼَﺎﺭَ ﻭَﺍﻟْﺄَﻓْﺌِﺪَﺓَ ۙ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺸْﻜُﺮُﻭﻥَ •
صَلَاةً تَفْتَحُ لِيْ بِهَا جَمِيْعَ الْعَالَمِ وَالْحِجَابِ وَالسِّتْرِ ، وَتَنْزِعُ الْحِجَابَ وَالسِّتْرَ مِنِّيْ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا ، بَيْنِيْ وَبَيْنَكَ ، وَبَيْنِيْ وَبَيْنَ خَلْقِكَ أَجْمَعِيْنَ ، حَتَّى أُشَاهِدَ بِهَا عَجَائِبَ الْمَلَكُوْتِ ، وَأَسْتَجْلِيَ بِهَا عَرَائِسَ الْجَبَرُوْتِ ، وَأَسْتَمْطِرَ بِهَا غُيُوْثَ الرَّحَمُوْتِ ، وَأَرْتَضِ بِهَا عَنْ عِلَاقَةِ نَاسُوْتِ الْبَهَمُوْتِ ، يَالَهُوْتَ كُلِّ نَاسُوْتِ يَاأَللّٰهُ • ﺃَﻟَﻢْ ﻧَﺸْﺮَﺡْ ﻟَﻚَ ﺻَﺪْﺭَﻙَ • ﻭَﻭَﺿَﻌْﻨَﺎ ﻋَﻨْﻚَ ﻭِﺯْﺭَﻙَ • ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃَﻧْﻘَﺾَ ﻇَﻬْﺮَﻙَ • ﻭَﺭَﻓَﻌْﻨَﺎ ﻟَﻚَ ﺫِﻛْﺮَﻙَ • ﻓَﺈِﻥَّ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻌُﺴْﺮِ ﻳُﺴْﺮًﺍ • ﺇِﻥَّ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻌُﺴْﺮِ ﻳُﺴْﺮًﺍ • وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ إِلَّا بُشْرٰى وَ لِتَطْمَئِنَّ بِهٖ قُلُوْبُكُمْۚ وَ مَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِۚ إِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ • ﺇِﺫْ ﻳُﻐَﺸِّﻴْﻜُﻢُ ﺍﻟﻨُّﻌَﺎﺱَ ﺃَﻣَﻨَﺔً ﻣِﻨْﻪُ ﻭَﻳُﻨَﺰِّﻝُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎٓﺀِ ﻣَﺎٓﺀً ﻟِﻴُﻄَﻬِّﺮَﻛُﻢْ بِهِۦ ﻭَﻳُﺬْﻫِﺐَ ﻋَﻨْﻜُﻢْ ﺭِﺟْﺰَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﻭَﻟِﻴَﺮْﺑِﻂَ ﻋَﻠٰﻰ ﻗُﻠُﻮﺑِﻜُﻢْ ﻭَﻳُﺜَﺒِّﺖَ ﺑِﻪِ ﺍﻷﻗْﺪَﺍﻡَ • إِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّيْ مَعَكُمْ فَثَبِّتُوْا الَّذِيْنَ آمَنُوْاۚ •
صَلَاةً تَجْتَمِعُ لِيْ وَتُعْطِى بِهَا جَمِيْعَ الْخَيْرِ وَ الْفَضَائِلِ وَالْكَمَالِ ، وَتَرْزُقَنِيْ مِنْ حَيْثُ لاَ أَحْتَسِبُ ، وَأَنْ تَجْعَلَنِيْ بِهَا كَبِيْرًا بِالْعِلْمِ وَالْعِرْفَانِ ، بِأَسْرَارِ وَحْدَتِكَ فِى جَمِيْعِ الْأَزْمَانِ ، وَارْزُقْنِيْ فَتْحًا جَامِعًا وَنُوْرًا لَامِعًا وَسَمْعًا سَامِعًا ، حَتَّى لَا أَسْمَعَ إِِلَّا مِنْكَ ، وَلَا أَقُوْلُ إِِلَّا عَنْكَ ، وَلَا أَسْكُنُ إِِلَّا إِِلَيْكَ ، فَأَنْتَ الْمَوْجُوْدُ بِكُلِّ مَكَانٍ ، وَالْمَعْبُوْدُ بِكُلِّ لِسَانٍ فِى كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ • ﻭَﻳُﺮِﻳْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﻳُﺤِﻖَّ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﺑِﻜَﻠِﻤَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻳَﻘْﻄَﻊَ ﺩَﺍﺑِﺮَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮِﻳْﻦَ • ﻟِﻴُﺤِﻖَّ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﻭَﻳُﺒْﻄِﻞَ ﺍﻟْﺒَﺎﻃِﻞَ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺮِﻩَ ﺍﻟْﻤُﺠْﺮِﻣُﻮﻥَ • ﺇِﺫْ ﺗَﺴْﺘَﻐِﻴْﺜُﻮْﻥَ ﺭَﺑَّﻜُﻢْ ﻓَﺎﺳْﺘَﺠَﺎﺏَ ﻟَﻜُﻢْ ﺃَﻧِّﻲْ ﻣُﻤِﺪُّﻛُﻢْ ﺑِﺄَﻟْﻒٍ ﻣِﻦَ ﺍلْمَلَآﺋِﻜَﺔِ ﻣُﺮْﺩِﻓِﻴْﻦَ • ۚ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻟَّﻪُ ﻣَﺨْﺮَﺟًﺎ • ﻭَﻳَﺮْﺯُﻗْﻪُ ﻣِﻦْ ﺣَﻴْﺚُ ﻟَﺎ ﻳَﺤْﺘَﺴِﺐُ ۚ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَﻮَﻛَّﻞْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻬُﻮَ ﺣَﺴْﺒُﻪُ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺑَﺎﻟِﻎُ ﺃَﻣْﺮِﻩِ ۚ ﻗَﺪْ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻜُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪْﺭًﺍ • ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻟَّﻪُ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِﻩِۦﻳُﺴْﺮًﺍ •
صَلَاةً تَغْفِرُ بِهَا خَطِيْأَتِ وَذُنُوْبِيْ ، وَتَدْفَعُ لِيْ بِهَا السِّحْرَ وَالْأَعْدَاءَ ، وَتُسَلِّمُنِيْ بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَمْرَاضِ وَالْغَلَاءِ وَالْبَلَاءِ • ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻲْ ﻭَﻟِﻮَﺍﻟِﺪَﻱَّ ﻭَﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﻳَﻮْﻡَ ﻳَﻘُﻮْﻡُ ﺍﻟْﺤِﺴَﺎﺏُ • ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟَﺎ ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧَﺎٓ ﺇِﻥْ ﻧَّﺴِﻴْﻨَﺎٓ ﺃَﻭْ ﺃَﺧْﻄَﺄْﻧَﺎ ۚ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺤْﻤِﻞْ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎٓ ﺇِﺻْﺮًﺍ ﻛَﻤَﺎ ﺣَﻤَﻠْﺘَﻪُۥ ﻋَﻠَﻰ ﭐﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻨَﺎ ۚ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﻟَﺎ ﺗُﺤَﻤِّﻠْﻨَﺎ ﻣَﺎ ﻟَﺎ ﻃَﺎﻗَﺔَ ﻟَﻨَﺎ ﺑِﻪِۦ ۖ ﻭَﭐﻋْﻒُ ﻋَﻨَّﺎ ﻭَﭐﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ ﻭَﭐﺭْﺣَﻤْﻨَﺎٓ ۚ ﺃَﻧﺖَ ﻣَﻮْلٰنَا ﻓَﭑﻧﺼُﺮْﻧَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﭐﻟْﻘَﻮْﻡِ ﭐﻟْﻜَٰﻔِﺮِﻳْﻦَ • ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ ﺫُﻧُﻮْﺑَﻨَﺎ ﻭَﺇِﺳْﺮَﺍﻓَﻨَﺎ فِىٓ ﺃَﻣْﺮِﻧَﺎ ﻭَﺛَﺒِّﺖْ ﺃَﻗْﺪَﺍﻣَﻨَﺎ ﻭَﺍﻧْﺼُﺮْﻧَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡِ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ • ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ ﻭَﻹﺧْﻮَﺍﻧِﻨَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺳَﺒَﻘُﻮْﻧَﺎ ﺑِﺎْﻹﻳْﻤَﺎﻥِ ﻭَﻻَ ﺗَﺠْﻌَﻞْ ﻓِﻲْ ﻗُﻠُﻮْﺑِﻨَﺎ ﻏِﻼًّ ﻟِﻠَّﺬِﻳْﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮْﺍ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺇِﻧَّﻚَ ﺭَﺀُﻭْﻑٌ ﺭَﺣِﻴْﻢٌ • ﺭَﺏِّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻭَﺍﺭْﺣَﻢْ ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤِﻴْﻦَ • ﺫَٰﻟِﻚَ ﺃَﻣْﺮُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻧْﺰَﻟَﻪُ ﺇِﻟَﻴْﻜُﻢْ ۚ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﻜَﻔِّﺮْ ﻋَﻨْﻪُ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺗِﻪِۦﻭَﻳُﻌْﻈِﻢْ ﻟَﻪُ ﺃَﺟْﺮًﺍ • رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَ هَبْ لِيْ مُلْكًا لَا يَنْبَغِيْ لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِيْ ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ • ﺳَﻠَٰﻢٌ ﻗَﻮْﻟًﺎ ﻣِّﻦْ ﺭَّﺏٍّ ﺭَّﺣِﻴْﻢٍ •
صَلَاةً تَحُلُّ بِهَا عُقْدَتِيْ ، وَتُفَرِّجُ بِهَا كُرْبَتِيْ ، وَتُنَالُ بِهَا رَغَائِبِيْ ، وَحُسْنُ خَوَاتِمِيْ ، وَتَنْفَعُ بِهَا عُلُوْمِيْ ، وَتَقْضِ بِهَا حَوَائِجِيْ ، وَتَرْفَعُ بِهَا دَرَجَتِيْ ، وَتَهْدِيْ بِهَا قَوْمِيْ ، وَتُلْهِمُنِيْ بِهَا عُلُوْمًا لَدُنِّيًا ، وَتُقَوِّ بِهَا جَنَانِيْ وَعَزْمِيْ ، وَتُسْرِعُ بِهَا فَهْمِيْ • ِ ﺃَلَا ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖُ ﻭَﺍﻷَﻣْﺮُ ۗ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴْﻦَ • ﺍﺩْﻋُﻮﺍْ ﺭَﺑَّﻜُﻢْ ﺗَﻀَﺮُّﻋًﺎ ﻭَﺧُﻔْﻴَﺔًۚ ﺇِﻧَّﻪُ ﻻَ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﻌْﺘَﺪِﻳﻦَ • ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ۖ ﻭَﻳُﻌَﻠِّﻤُﻜُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ۗ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻜُﻞِّ شَيْئٍ ﻋَﻠِﻴﻢٌ •
صَلَاةً تَجْعَلُنِيْ بِهَا الْإِسْتِقَامَةَ ، وَتُكْرِمُنِيْ بِهَا بِالسَّعَادَةِ وَالْكَرَامَةِ مَعَ ذُرِّيَتِيْ ، وَتُكْثِرُ بِهَا أَمْوَالِيْ وَأَصْحَابِيْ وَتَلَامِذِيْ وَأَتْبَاعِيْ وَأَضْيَافِيْ ، وَتَسْتَقِيْمُ بِهَا حَالِيْ ، وَتَرْزُقُنِيْ يَاأَللّٰهُ بِهَا تَمَامَ رِضْوَنِكَ وَرَحْمَتِكَ وَنِعْمَتِكَ وَعِنَايَتِكَ فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْأٓخِرَةِ • ﺇِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَﺇِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻦُ • ﺍﻫْﺪِﻧَــــﺎ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁَ ﺍﻟﻤُﺴْﺘَﻘِﻴْﻢَ • ﺻِﺮَﺍﻁَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺃَﻧْﻌَﻤْﺖَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻏَﻴْﺮِ ﺍْﻟﻤَﻐْﻀُﻮْﺏِ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻭَلَآ ﺍﻟﻀَّﺎٓﻟِّﻴْﻦَ • ﻭَﺃْﻣُﺮْ ﺃَﻫْﻠَﻚَ ﺑِﺎﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻭَﺍﺻْﻄَﺒِﺮْ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ۖ ﻟَﺎ ﻧَﺴْﺄَﻟُﻚَ ﺭِﺯْﻗًﺎ ۖ ﻧَّﺤْﻦُ ﻧَﺮْﺯُﻗُﻚَ ۗ ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﻗِﺒَﺔُ ﻟِﻠﺘَّﻘْﻮَﻯٰ •
صَلَاةً تَجُرُّ بِهَا الْأَمْوَالَ وَالْفُلُوْسَ وَالْمَطْعُوْمَةَ وَالْمَلْبُوْسَ وَالْمَرْكُوْبَ ، مِنْ كُلِّ جِهَّةٍ فِى أَيِّ وَقْتٍ وَسَاعَةٍ بِعَدَادِ النَّفَسِ وَالنُّفُوْسِ ، وَبَارِكْ لِيْ فِى رِزْقِيْ وَعُمْرِيْ وَحَيَاتِيْ • ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﻥَّ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟْﻘُﺮَﻯٰ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﺍﺗَّﻘَﻮْﺍ ﻟَﻔَﺘَﺤْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺑَﺮَﻛَﺎﺕٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ • ﻟِﻴُﻨْﻔِﻖْ ﺫُﻭْ ﺳَﻌَﺔٍ ﻣِّﻦْ ﺳَﻌَﺘِﻪِ ۖ ﻭَﻣَﻦْ ﻗُﺪِﺭَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺭِﺯْﻗُﻪُ ﻓَﻠْﻴُﻨْﻔِﻖْ ﻣِﻤَّﺎ ﺁﺗَﺎﻩُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ۚ ﻟَﺎ ﻳُﻜَﻠِّﻒُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻧَﻔْﺴًﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺎ ﺁﺗَﺎﻫَﺎ ۚ ﺳَﻴَﺠْﻌَﻞُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑَﻌْﺪَ ﻋُﺴْﺮٍ ﻳُﺴْﺮًﺍ • ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺃَﺗْﻤِﻢْ ﻟَﻨَﺎ ﻧُﻮْﺭَﻧَﺎ ﻭَﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ ۖ ﺇِﻧَّﻚَ ﻋَﻠَﻰٰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪِﻳﺮٌ • ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺗَﻘَﺒَّﻞْ ﻣِﻨَّﺎٓ ۖ ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻧﺖَ ﭐﻟﺴَّﻤِﻴﻊُ ﭐﻟْﻌَﻠِﻴﻢُ • ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﭐﺟْﻌَﻠْﻨَﺎ ﻣُﺴْﻠِﻤَﻴْﻦِ ﻟَﻚَ ﻭَﻣِﻦْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘِﻨَﺎٓ ﺃُﻣَّﺔً ﻣُّﺴْﻠِﻤَﺔً ﻟَّﻚَ ﻭَﺃَﺭِﻧَﺎ ﻣَﻨَﺎﺳِﻜَﻨَﺎ ﻭَﺗُﺐْ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎٓ ۖ ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻧْﺖَ ﭐﻟﺘَّﻮَّﺍﺏُ ﭐﻟﺮَّﺣِﻴْﻢُ • بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ • آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ • ﺇِﻧَّﻤَﺎٓ ﺃَﻣْﺮُﻩُۥٓ ﺇِﺫَﺍٓ ﺃَﺭَﺍﺩَ شَيْئًاﺃَﻥْ ﻳَﻘُﻮْﻝَ ﻟَﻪُۥ ﻛُﻦْ ﻓَﻴَﻜُﻮْﻥُ • ﻓَﺴُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺑِﻴَﺪِﻩٖ ﻣَﻠَﻜُﻮْﺕُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻭَﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮْﻥَ •
************************************************

BISMILLAAHIR-ROHMAANIR-ROHIIM.
Allohumma sholli sholaatan kaamilatan da-imatan, wa sallim salaaman taamman, wa baarik ‘alaa sayyidinaa Muhammadin, nuuril-ajwadi, wa bahri anwaarika, wa ma’dani asroorika, wa lisaani hujjatika, wa ‘aruusi mamlakatika, wa imaami hadrotika, wa thiroozi mulkika, wa khozaa-ini rohmatika, wa thoriiqi syarii’atika, al-mutaladz-dzidzi bi musyaahadatika, insaani ‘ainil-wujuudi, wa sabaabi kulli maujuudin, ‘aini a’yani kholqika, al-mutaqoddimi min nuuri dliyaa-ika (dibaca: diyaa-ika), wa ‘alaa aalihi wa shohbihii ajma’iin. Fii kulli lamhatin wa nafasin wa saa’atin, fii lailin wa nahaarin, wa qiyaamin wa qu’uudin, wa naumin wa yaqdzotin, taduumu bi dawaami mulkika yaa Allah, ‘adada maa wasi’ahu ‘ilmuka, wa ‘adada kholqika, wa ridloo nafsika, wa zinata ‘arsyika, wa midaada kalimaatika, wa ‘adada maa ahaatho bihii ‘ilmuka, wa ahshoohu kitaabuka, wa jaroo bihii qolamuka. Watammat kalimatu Robbika shidqow wa ‘ad-laa, laa mubaddila likalimaatihi, wahuwas-samii’ul-‘aliim.
1- Sholaatan turdliika (dibaca: turdika) wa turdliihi (dibaca: wa turdiihi) wa tardlo bihaa ‘annii.
Robbi auzi’nii an asykuro ni’matakal-latii an’amta ‘alayya wa’alaa waalidayya wa an a’mala shoolihan tardloohu wa adkhilnii BIROHMATIKA fii ‘ibaadikas-shoolihiin. Rodliyallaahu ‘anhum wa rodlu ‘anhu, ulaa-ika hizbullooh, alaa inna hizballoohi humul-muflihuun. Rodliyallaahu ‘anhum wa rodlu ‘anhu, dzalika liman khosyiya Robbah. Rodliyallaahu ‘anhum wa rodlu ‘anhu, dzaalikal-fauzul ‘adhiim. Al-yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’matii wa rodliitu lakumul-islaama diina. Yaa ayyatuhan-nafsul-muthmainnah, irji’ii ilaa Robbiki rodliyatam-mardliyyah. Fadkhulii fii ‘ibaadii, wadkhulii jannatii.
2- Sholaatan tuthmainnu wa-tukhollishu wa-tunawwiru bihaa qolbii, wa-‘aqlii, wa-fikrii. Balaa intashbiruu wa-tattaquu wa-ya’tuukum mim-faurihim haadzaa yumdidkum Robbukum bi-khomsati aalaafim-minal-Malaaikati musawwimiin. Wamaa ja’alahul-loohu illaa busyroo lakum wa litathmainna quluubukum bih,wa man nashru illaa min ‘indillaahil-‘aziizil-hakiim. Wa idzaa quri-al-qur,aanu fastami’uu lahuu wa anshituu la’allakum turhamuun. Wadzkur-Robbaka fii nafsika tadlorru’aw – wakhiifataw – waduunal-jahri minal-qouli bil-ghuduwwi wal-aashooli walaa takum – minal – ghoofiliin. Alloohu nazzala ahsanal-hadiitsi kitaabam – mutasyaabiham matsaaniya taqsya’irru minhu juluudul-ladziina yakhsyauna Robbahum tsumma taliinu juluuduhum wa quluubuhum ilaa dzikrillaah, dzaalika hudalloohi yahdii bihii may-yasya-u.
3- Sholaatan tusyrihu bihaa shodrii, wa taksyifu bihaa fu-aadii wa bashorii wa nadzorii, wa tunji bihaa min jamii’il-ahwaali wal-aafaati. Robbisy-rohlii shodrii. Wa yassirlii amrii. Wahlul – ‘uqdatam – min lasaanii. Yafqohuu qoulii. Afaman syarohal-loohu shodrohuu lil-islaami fahuwa ‘alaa nuurim – mir-Robbihi. Walloohu akhrojakum mim-buthuuni ummahaatikum laa ta’lamuuna syai-aw – wa ja’ala lakumus-sam’a wal-abshooro wal-af-idata la’allakum tasykuruun.
4- Sholaatan taftahulii bihaa jamii’al-‘aalami wal-hijaabi was-sitri, wa tanzi’ul-hijaaba was-sitro minnii dhoohiron wa baathina, bainii wa bainaka, wa bainii wa baina kholqika ajma’iin, hatta usyaahida bihaa ‘ajaa-ibal – Malakuut, wa astajliya bihaa ‘aroo-isal – jabaruut, wa astamthiro bihaa ghuyuutsar-rohamuut, wa artadli bihaa ‘an ‘ilaaqoti naasuutil bahamuut, yaa lahuuta kulli naasuuti yaa Allah. Alam nasyroh laka shodrok. Wa wadlo’naa ‘angka wizrok. Alladzii angqodlo dzohrok. Wa rofa’naa laka dzikrok. Fa-inna ma’al-‘usri yusroo. Inna ma’al-‘usri yusroo. Wamaa ja’alahul-loohu illaa busyroo wa litathma-inna bihii quluubukum, wa man nashru illaa min ‘indillaah, innal-looha ‘aziizun hakiim. Idz yughosysyiikumun – nu’aasa amanatam-minhu wa yunazzilu ‘alaikum minas-samaa-i maa-al -liyuthohhirokum bihii wa yudz_hiba ‘angkum rijzasy-syaitooni wa liyarbitho ‘alaa quluubikum wa yutsabbita bihil-aqdaam. Idz yuuhii Robbuka ilal-Malaa_ikati annii ma’akum fatsabbitul – ladziina aamanuu.
5- Sholaatan tajtami’u lii wa tu’thii bihaa jamii’al-khoiri wal-fadllo_ili wal-kamaal, wa tarzuqonii min haitsu laa ahtasib, wa antaj’alanii bihaa kabiirom bil’ilmi wal-‘irfaan, bi_asroori wahdatika fii jamii’il-azmaan, warzuqnii fat_han jaami’aw – wa nuurol -laami’aw – wa sam’an saami’a. Hattaa laa asma’a illaa mingka, walaa aquulu illaa ‘angka, walaa askuunu illaa ilaika, fa_antal – maujuudu bikulli makaan, wal-ma’buudu bikulli lisaanin fii kulli makaaniw – wazamaan. Wa yuriidul-loohu ay-yuhiqqol-haqqo bikalimaatihi wa yaqtho’a daabirol-kaafiriin. Liyuhiqqol – haqqo wa yubthilal – baathila walau karihal-mujrimuun. Idz tastaghiitsuuna Robbakum fas-tajaaba lakum annii mumiddukum bi alfim minal-Malaa_ikati murdifiin. Wa may-yattaqil-laaha yaj’al-lahuu makhrojaa. Wa yarzuq-hu min haitsu laa yahtasib, wa may-yatawakkal ‘alalloohi fahuwa hasbuhu, innal-looha baalighu amrih, qod ja’alal-loohu likulli syay_ing qodroo. Wa may-yattaqillaaha yaj’al-lahuu min amrihii yusroo.
6- Sholaatan taghfiru bihaa khothii_ati wa dzunuubi, wa tadfa’ulii bihas-sihro wal-a’daa_a, wa tusallimunii bihaa min jamii’il-amroodli wal-gholaa_i wal-balaa_i. Robbanagh_firlii wa liwaalidayya wa lilmu’miniina yauma yaquumul-hisaab. Robbanaa laa tu_aakhidznaa in-nasiinaa au akhtho’naa, Robbanaa walaa tahmil ‘alainaa ishrong kamaa hamaltahuu ‘alal-ladziina ming qoblinaa, Robbanaa walaa tuhammilnaa maa-laa thooqota lanaa bih, wa’fu ‘annaa waghfir-lanaa war-hamnaa, anta maulaanaa fanshurnaa ‘alal-qoumil-kaafiriin. Robbanagh_fir lanaa dzunuubanaa wa isroofanaa fii amrinaa wa tsabbit aqdaamanaa wanshurnaa ‘alal-qoumil-kaafiriin. Robbanagh_fir lanaa wa li-ikhwaaninaal-ladziina sabaquuna bil-iimaani walaa taj’al fii quluubinaa ghillal-lilladziina aamanuu Robbanaa innaka Rouufur-Rohiim. Robbigh_fir warham wa anta khoirur-roohimiin. Dzaalika amrul-loohi anzalahuu ilaikum, wa may-yattaqil-laaha yukaffir ‘anhu sayyi_aatihii wa yu’dzim lahuu ajroo. Robbighfirlii wa hablii mulkal – laa yambaghii li-ahadim mim-ba’dii innaka antal-wahhaab. Salaamung qoulam mir-Robbir-Rohiim.
7- Sholaatan tahullu bihaa ‘uqdatii, wa tufarriju bihaa kurbatii, wa tunaalu bihaa roghoo_ibii, wa husnu khowaatimii, wa tamfa’u bihaa ‘uluumii, wa taqdli bihaa hawaa_ijii, wa tarfa’u bihaa darojatii, wa tahdii bihaa qoumii, wa tul_himunii bihaa ‘uluumal-ladunniyaa, wa tuqowwi bihaa janaanii wa ‘azmii, wa tusri’u bihaa fahmii. ALAA lahul-kholqu wal-amru, tabaarokal-loohu Robbul ‘aalamiin. Ud_’uu Robbakum tadlorru’aw wa-khufyatan innahuu laa yuhibbul-mu’tadiin. Wattaqul-looha wa yu’allimukumul-looh, wal-loohu bikulli syay-in ‘aliim.
8- Sholaatan taj’alunii bihal-istiqoomah, wa tukrimunii bihaa bis-sa’aadati wal-karoomati ma’a dzurriyatii, wa tuktsiru bihaa amwaalii wa ash_haabii wa talaamidzii wa atbaa’ii wa adl_yaafii, wa tastaqiimu bihaa haalii, wa tarzuqunii yaa Allah bihaa tamaama Ridl_waanika wa Rohmatika wa ni’matika wa ‘inaayatika fid-diini wad-dun_yaa wal-aakhiroh. Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin. Ihdinash-shiroothol-mustaqiim. Shiroothol-ladziina an’amta ‘alaihim ghoiril-maghdluubi ‘alaihim waladl-dloolliin. Wa’mur ahlaka bish-sholaati wash-thobir ‘alaihaa, laa nas_aluka rizqoo, nahnu narzuquk, wal-‘aaqibatu lit-taqwaa.
9- Sholaatan tajurru bihal-amwaala wal-fuluusa wal-math_’uumat wal-malbuusa wal-markuuba, ming-kulli jihhatin fii ayyi waqtin wa saa’atin bi_’adaadin-nafasi wan-nufuusi, wa baarik-lii fii rizqii wa ‘umrii wa hayaatii. Walau anna ahlal-qoroo aamanuu wat-taqou lafatahnaa ‘alaihim barokaatim minas-samaa_i wal-ardli. Liyumfiq dzuu sa’atim min sa_’atih, wa mang_qudiro ‘alaihi rizquhuu fal-yumfiq mimmaa aataahul-looh, laa yakalliful-loohu nafsan illaa maa aataahaa, sayaj’alul-loohu ba’da ‘usriy – yusroo. Robbanaa atmim lanaa nuuronaa waghfir lanaa, innaka ‘alaa kulli syay-ing qodiir. Robbanaa taqobbal-minnaa, innaka antas-samii’ul-‘aliim. Robbanaa waj’alnaa muslimaini laka wa min dzurriyyatinaa ummatam muslimatal-laka wa arinaa manaasikanaa watub ‘alainaa, innaka antat-tawwaabur-rohiim. Birohmatika yaa ar_hamar-roohimiin. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin. Innamaa amruhuu idzaa arooda syaian ay-yaquula lahuu kumfayakuun. Fasub_haanal-ladzii biyadihii malakuutu kulli syay-iw wa ilaihi turja’uun
.
Artinya:
Ya Allah, semoga sholawat dan salam yang sempurna serta keberkahan yang abadi selalu dilimpahkan kepada MUHAMMAD junjungan kami, yang menjadi cahaya terbaik, samudera cahaya-Mu, tambang rahasia-Mu, penyampai hujjah-Mu, singgasana kerajaan-Mu, imam hadrat-Mu, bingkai kerajaan-Mu, perbendaharaan rahmat-Mu, dan jalan syariat-Mu, yang diberi kelezatan menyaksikan-Mu, manusia yang dituankan, penyebab segala yang ada, penghulu para makhluk-Mu, yang memperoleh pancaran sinar cahaya-Mu. Semoga (Sholawat, salam dan keberkahan) juga tercurah kepada seluruh keluarga dan sahabat nya, dalam setiap kedipan mata, nafas dan waktu, pada waktu malam dan siang, ketika berdiri dan duduk, ketika tidur dan jaga, yang kekal seperti kekalnya Kerajaan-Mu yaa Allah, seperti jumlah luasnya ilmu-Mu, dan jumlah makhluk-Mu, dan keridloan-Mu, dan perhiasan ‘Arasy-Mu, dan jumlah kalimat-Mu, dan segala sesuatu yang meliputi ilmu-Mu, dan hitungan kitab-Mu, dan mengalirnya tinta-Mu.
Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui. (Qs. Al-An’am: 115)
1- Sholawat yang Engkau ridloi dan ridlo nabi Muhammad serta menjadikan Engkau meridloiku. “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (Qs. An-Naml:19)
Allah ridlo terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (Qs. Al-Mujaadilah: 22)
Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (Qs. Al-Bayyinah: 8)
Allah ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar”. (Qs. Al-Maaidah: 119)
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Qs. al-maaidah: 3)
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku. (Qs. Al-Fajr: 27-30)
2- Sholawat yang menjadi penyebab tenang dan bersih serta bercahaya nya hati, akal dan fikiran.
Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs. Aali-Imron:125-126).
Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (Qs. Al-A’roof: 204-205)
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. (Qs. Az-Zumar: 23)
3- Sholawat yang menjadi penyebab lapangnya dadaku, tersingkap hatiku, mata bathinku dan penglihatanku, dan menjadi penyebab selamat dari segala kengerian dan penyakit.
“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, (Qs. Thoha: 25-28)
Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? (Qs. Az-Zumar: 22)
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Qs. An-Nahl:78)
4- Sholawat yang menjadi penyebab terbuka untukku seluruh Alam, penutup dan penghalang, dan Engkau (Allah) cabut/lepas penutup dan penghalang dari dhohir dan bathinku, yang jadi penghalang antara diriku dan diri-Mu, antara diriku dan semua Makhluk-Mu, hingga aku (bisa) menyaksikan keajaiban kerajaan-(Mu), menyaksikan singgasana keagungan-(Mu), dan Engkau hujani aku dengan rahmat, serta Engkau meridloi nafsu kebinatanganku, wahai Allah Tuhan seluruh manusia.
Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama) mu, Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Qs. Al-Insyiroh: 1-6)
Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs. Ali-Imroon: 126)
(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu). (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. (Qs. Al-Anfaal: 11-12)
5- Sholawat yang menjadi penyebab di kumpulkan dan diberikan kepadaku seluruh kebaikan, keutamaan dan kesempurnaan, memberiku rezeki dari arah yang tidak di sangka-sangka, menjadikan aku besar dengan ilmu dan pengetahuan dengan rahasia-rahasia ke Esa-an-Mu di setiap zaman. Berilah aku rezeki terbukanya semua (rahasia), cahaya yang berkilau, dan pendengaran yang mendengar, sehingga aku tidak mendengar kecuali dari-Mu, tidak berbicara kecuali dari-Mu, dan tidak berdiam kecuali kepada-Mu. Sungguh Engkau ada di setiap tempat, dan di sembah oleh setiap lisan di setiap tempat di zaman.
Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya. (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”.
(Qs. Al-Anfaal: 8-9)
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (Qs. Ath-Tholaaq: 2-4)
6- Sholawat yang menjadi penyebab Engkau ampuni kesalahan dan dosaku, Engkau tolak sihir dan musuhku, dan Engkau selamatkan aku dari setiap penyakit, perampok dan bencana.
“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. (Qs. Ibrahim: 41)
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (Qs. Al-Baqoroh: 286)
“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (Qs. Ali-Imroon: 147)
“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Al-Hasyr: 10)
“Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik”. (Qs. Al-Mu’minuun: 118)
Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. (Qs. Ath-Tholaaq: 5)
“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”. (Qs. Shod: 35)
(Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. (Qs. Yaasiin: 58)
7- Sholawat yang menjadi penyebab Engkau lepaskan ikatanku, di hilangkan kesusahanku, sukses cita-citaku, baik kesudahanku, manfa’at ilmuku, terpenuhi hajatku, Engkau angkat derajatku, Engkau tunjukkan kaumku, Engkau mengilhamiku ilmu Ladunni, Engkau kuatkan hati dan cita-citaku, di luaskan pemahamanku.
Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
(Qs. Al-A’roof: 54-55)
Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Qs. Al-Baqoroh: 282)
8- Sholawat yang menjadi penyebab Engkau jadikan aku istiqomah, Engkau muliyakan aku dengan kesenangan dan martabat bersama keluargaku, banyak harta, teman, murid, pengikut, tetangga, xan Engkau luruskan hal ihwalku. Ya Allah berilah aku rezeki keridloan-Mu, rahmat-Mu, nikmat dan pertolongan-Mu yang sempurna, di dalam agama, dunia dan akhirat.
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Qs. Al-Faatihah: 5-7)
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (Qs. Thoha: 132)
9- Sholawat yang menjadi penyebab mengalirnya harta-benda, uang, makanan, pakaian dan kendaraan dari segala arah, di setiap waktu dan masa, sejumlah hitungan nafas dan nyawa. (Ya Allah) berkahilah rezekiku, umur dan hidupku.
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, (Qs. Al-A’roof: 96)
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (Qs. Ath-Tholaaq: 7).
“Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Qs. At-Tahriim: 8)
“Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Baqoroh: 127-128)
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (Qs. Yaasin: 82-83)

Yang ingin baca banyak cukup baca inti sholawat nya saja, yaitu:

اَللّٰهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً دَائِمَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نُوْرِ الْأَجْوَدِ ، وَبَحْرِ أَنْوَارِكَ ، وَمَعْدَنِ أَسْرَارِكَ ، وَلِسَانِ حُجَّتِكَ ، وَعَرُوْسِ مَمْلَكَتِكَ ، وَإِمَامِ حَضْرَتِكَ ، وَطِرَازِ مُلْكِكَ ، وَخَزَائِنِ رَحْمَتِكَ ، وَطَرِيْقِ شَرِيْعَتِكَ ، الْمُتَلَذِّذِ بِمُشَاهَدَتِكَ ، إِنْسَانِ عَيْنِ الْوُجُوْدِ ، وَسَبَابِ كُلِّ مَوْجُوْدٍ ، عَيْنِ أَعْيَانِ خَلْقِكَ ، الْمُتَقَدِّمِ مِنْ نُوْرِ ضِيَائِكَ ، وَعَلٰى آلِهٖ وَصَحْبِهٖ أَجْمَعِيْنَ• فِى كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ وَسَاعَةٍ ، فِى لَيْلٍ وَنَهَارٍ ، وَقِيَامٍ وَقَعُوْدٍ ، وَنَوْمٍ وَيَقْظَةٍ ، تَدُوْمُ بِدَوَامِ مُلْكِكَ يَاأَللّٰهُ ، عَدَدَ مَا وَسِعَهُ عِلْمُكَ ، وَعَدَدَ خَلْقِكَ ، وَرِضٰى نَفْسِكَ ، وَزِنَةَ عَرْشِكَ ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ ، وَعَدَدَ مَا أَحَاطَ بِهٖ عِلْمُكَ ، وَأَحْصَاهُ كِتَابُكَ ، وَجَرٰى بِهٖ قَلَمُكَ . صَلَاةً تُرْضِيْكَ وَتُرْضِيْهِ وَتَرْضَ بِهَا عَنِّيْ صَلَاةً تُطْمَئِنُّ وَتُخَلِّصُ وَتُنَوِّرُ بِهَا قَلْبِيْ وَعَقْلِيْ وَفِكْرِيْ

Bismillaahir-rohmaanir-rohiim.
Allohumma sholli sholaatan kaamilatan da-imatan, wa sallim salaaman taamman, wa baarik ‘alaa sayyidinaa Muhammadin, nuuril-ajwadi, wa bahri anwaarika, wa ma’dani asroorika, wa lisaani hujjatika, wa ‘aruusi mamlakatika, wa imaami hadrotika, wa thiroozi mulkika, wa khozaa-ini rohmatika, wa thoriiqi syarii’atika, al-mutaladz-dzidzi bi musyaahadatika, insaani ‘ainil-wujuudi, wa sabaabi kulli maujuudin, ‘aini a’yani kholqika, al-mutaqoddimi min nuuri dliyaa-ika (dibaca: diyaa-ika), wa ‘alaa aalihi wa shohbihii ajma’iin. Fii kulli lamhatin wa nafasin wa saa’atin, fii lailin wa nahaarin, wa qiyaamin wa qu’uudin, wa naumin wa yaqdzotin, taduumu bi dawaami mulkika yaa Allah, ‘adada maa wasi’ahu ‘ilmuka, wa ‘adada kholqika, wa ridloo nafsika, wa zinata ‘arsyika, wa midaada kalimaatika, wa ‘adada maa ahaatho bihii ‘ilmuka, wa ahshoohu kitaabuka, wa jaroo bihii qolamuka, sholaatan turdliika (dibaca: turdika) wa turdliihi (dibaca: wa turdiihi) wa tardlo bihaa ‘annii, sholaatan tuthma-innu wa tukhollishu wa tunawwiru bihaa qolbii wa ‘aqlii wa fikri
.
Artinya:
Ya Allah, semoga sholawat dan salam yang sempurna serta keberkahan yang abadi selalu dilimpahkan kepada MUHAMMAD junjungan kami, yang menjadi cahaya terbaik dan lautan cahaya-Mu (ya Allah), dan tempat rahasia-Mu, dan penyampai hujjah-Mu, dan pengantin milik-Mu, dan imam hadirat-Mu, dan penyulam kekuasaan-Mu, dan perbendaharaan rahmat-Mu, dan jalan syari’at-Mu, yang diberi kelezatan menyaksikan-Mu, manusia yang dituankan, dan penyebab segala yang ada, pemimpin yang memimpin makhluk-Mu, yang (diciptakan) terdahulu dari cahaya-Mu. Semoga (Sholawat, salam dan keberkahan) juga tercurah kepada seluruh keluarga dan sahabat nya, dalam setiap kedipan mata, nafas dan waktu, pada waktu malam dan siang, ketika berdiri dan duduk, ketika tidur dan jaga, yang abadi seperti langgengnya Kerajaan-Mu yaa Allah, seperti jumlah luasnya ilmu-Mu, dan jumlah makhluk-Mu, dan keridloan-Mu, dan perhiasan ‘Arasy-Mu, dan jumlah kalimat-Mu, dan segala sesuatu yang meliputi ilmu-Mu, dan hitungan kitab-Mu, dan mengalirnya tinta-Mu. Sholawat ridlo dan di ridloi-Mu serta Sholawat yang menjadi penyebab ridlo-Mu kepada saya. Sholawat yang menjadi penyebab tenang dan bersih serta bercahaya nya hati, akal dan fikiran

1- Mengharap (agar mendapat) RIDLO Allah swt dunia akhirat,
2- Agar mendapat SYAFA’AT Rosulullah saw dhohir dan bathin,
3- Agar mendapat KETENANGAN dhohir dan bathin,
4- Agar mendapat KECERDASAN,
5- Agar mendapatkan ilmu LADUNNI,
6- Agar mudah MENDAPATKAN RIZQI,
7- Agar Agar mendapat KEBERKAHAN dhohir dan bathin,
8- Agar menjadi KAYA RAYA dhohir dan bathin,
8- Agar terkabul (tercapai) semua CITA-CITANYA,
10- Agar mendapat KESELAMATAN dhohir bathin, dunia dan akhirat,
11- Agar menjadi orang yang SUKSES,
12- Agar menjadi KASYAF dengan izin Allah,
13- Agar di AMPUNI segala dosa dan kesalahan diri sendiri,
14- Agar mendapat ROHMAT Allah,
15- Agar mendapat BANTUAN dan PERTOLONGAN Allah,
16- Agar menjadi orang yang SHOLIH
17- Agar mendapat KESENANGAN dunia akhirat,
18- Agar KUAT INGATAN,
19- Agar DI MUDAH KAN segala urusan,
20- Agar DI PERLIHATKAN KEAJAIBAN-KEAJAIBAN,
21- Agar di beri IMAN yang kuat,
22- Agar mendapatkan KEBAIKAN dan KEUTAMAAN yang banyak,
23- Agar menjadi orang yang BERTAQWA,
24- Agar do’anya ISTIJABAH (mustajab),
25- Agar TERHINDAR dari SIHIR, BENCANA dan MUSUH,
26- Agar terhindar dari PENYAKIT (parah) dan PERAMPOK (penodong),
27- Agar DI AMPUNI dosa-dosa KEDUA ORANG TUA dan seluruh MU’MININ,
28- Agar DIDAMPINGI para Malaikat,
29- Agar menjadi orang yang ISTIQOMAH,
30- Agar HUSNUL-KHOTIMAH (mati dalam keadaan baik),
31- Agar mendapatkan DERAJAT yang tinggi,
32- Agar di beri ILMU YANG BERMANFA’AT,
33- Agar masyarakat (rakyat) nya MENDAPAT HIDAYAH (petunjuk dari Allah),
34- Agar DI HILANGKAN kesusahannya,
35- Agar DI SENANGI semua orang,
36- Agar banyak SANTRI dan PENGIKUT (bagi para guru dan pemimpin),
37- Agar banyak TEMAN, dan TETANGGA,
38- Agar FASHIH (lancar) dalam membaca dan bicara,
39- Agar MA’RIFAT
40- Agar di beri KEMULYAAN hingga anak cucunya,
41- Satu kali bacaan SHOLAWAT ini, Insya Allah melebihi berbagai macam Sholawat, baik dalam Fadlilah nya, jumlah bacaan nya maupun keagungannya, dll

DALIL 3 PEKERJAAN DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW.

Dalil alqur’an : 3 kerja Nabi ( Dakwah – Tazkiyatul qulub(Mensucikan Hati) – Ta’lim(Mengajarkan ilmu) & Hikmah)

Kerja Nabi ada 3 :

  1. Dakwah (menyampaikan ayat atau maksud dari ayat alqur’an)
  2. Tazkiyatul qulub/Mensucikan Hati (dengan dzikir dan ibadat serta usaha khidmad (melayani dengan baik kepada diri sendiri, memuliakan ulama, menghormati orang lain dan mahluq Allah yang lain)
  3. Ta’lim/Mengajarkan ilmu & Hikmah)

Dalil dalam alqur’an:

Al-Baqarah (2) : 129

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنتَ العَزِيزُ الحَكِيمُ

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan MEMBACAKAN kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

Al-Baqarah (2) : 151

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِّنكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُواْ تَعْلَمُونَ

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni’mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang MEMBACAKAN ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.

Al-‘Imran (3) : 164

لَقَدْ مَنَّ اللّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang MEMBACAKAN kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Al-Jumu’ah (62) : 2

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang MEMBACAKAN ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

Keterangan : Dalam kitab Muntakhab al hadits (Syaikhul Hadits Maulana Yusuf Rah.) mengatakan :

lafadz “yang MEMBACAKAN ayat-ayat-Nya kepada mereka” = maksudnya adalah para rasul mendakwahkan maksud dari ayat-ayat alqur’an dan mendakwahkan/metablighkan ayat-ayat alqur’an itu sendiri. ini disebut “kerja dakwah”

lafadz “mensucikan mereka” = disebut kerja tazkiyatul qulub (Mensucikan Hati (dengan dzikir dan ibadat serta usaha khidmad (melayani dengan baik kepada diri sendiri, memuliakan ulama, menghormati orang lain dan mahluq Allah yang lain))

lafadz “mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah” = usaha ta’im / belajar dan mengajar.

  1. Tanggung Jawab/medan Dakwah Ummat Muhammad
  2. Dakwah pada diri sendiri dan keluarga

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS Attahrim ayat 6)

  1. Dakwah kepada Jiran/tetangga, sahabat dan orang-orang dekat/kerabat

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, (QS Asysu’ara 214)

  1. Dakwah kepada Umat didaerah sendiri dan daerah lain

وَهَـذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُّصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَهُمْ عَلَى صَلاَتِهِمْ يُحَافِظُونَ

Dan ini (Al Quraan) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quraan) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya. (QS Al an’am 92).

  1. Dakwah kepada Ummat diseluruh dunia

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk seluruh manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS Ali imran 110).

FADHILAH MEMBACA AL-QUR’AN DAN HATAMAN AL-QUR’AN DI MEDSOS

FADHILAH MEMBACA AL-QUR’AN

Dalam kitab tafsir ruhul bayan, pengarang tafsir ini bergelar KHATIMATUL MUFASSIR, Beliau adalah SYAIKH ISMAIL HAQQI BIN MUSHTOFA ALBARUSI, pengikut toriqat khalwatiyah , beliau wafat tahun 1127 hijriah, Dalam tafsir nya pada ayat 92 di surah Al An’am halaman 64 jilid 3, terdapat riwayat yang tidak ada dalam tafsir lain,qaul ini juga ada dalam kitab ihya ulumiddin halaman 274 jilid 1 cetakan darul ma’rifat berut,oleh Imam Al-Gazali, Dalam Syarah Ihya yaitu Ittihaf Saadatil Muttaqin oleh Imam Murtadho Zabidi di halaman 499 jilid 4:

Beliau mengatakan bahwa qaul dibawah ini nuqilan dari manaqib imam ahmad yg dikarang ibnul jauzi,

                                         ﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ

Imam Ahmad Bin Hanbal berkata

                                ﺭﺃﻳﺖ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺰﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ

Aku melihat Allah ta’ala dalam mimpi

       ﻓﻘﻠﺖ ﻳﺎ ﺭﺏ ﻣﺎ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﺎ ﺗﻘﺮﺏ ﺑﻪ ﺍﻟﻤﺘﻘﺮﺑﻮﻥ ﺇﻟﻴﻚ

Lalu aku tanya : wahai tuhanku,amalan apa yg paling afdhol yg di amalkan oleh orang orang yang hendak mendekati engkau degan cepat

                                         ﻗﺎﻝ ﻛﻼﻣﻲ ﻳﺎ ﺃﺣﻤﺪ

Lalu djawab oleh Allah,: wahai ahmad, amalan itu adalah kalam ku (Al-Qur’an)

                               ﻗﻠﺖ ﻳﺎ ﺭﺏ ﺑﻔﻬﻢ ﺃﻡ ﺑﻐﻴﺮ ﻓﻬﻢ

Aku tanya lagi : wahai tuhanku, apakah harus degan memahami isinya atau tanpa faham?

                                        ﻗﺎﻝ ﺑﻔﻬﻢ ﻭﺑﻐﻴﺮ ﻓﻬﻢ

Lalu Allah menjawab : dengan memahami atau tidak itu sama saja (sama-sama mendekatkan diri kepada Allah .red)

   ﻭﺍﻟﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﻋﺒﺎﺩﺓ ﺑﺮﺃﺳﻪ ﻭﻟﻪ ﺃﺟﺮ ﻋﻠﻰ ﺣﺪﺗﻪ

                                       ﻣﺎ ﻋﺪﺍ ﺃﺟﺮ ﺍﻟﻘﺮﺍءة

Dan memandang ke mushaf itu itu adalah satu ibadah tambahan lagi, dan mendapat pahala dengan pandangan tersebut, terpisah dengan pahala membaca nya, jadi mafhum nya, membaca alquran sambil melihat ke mushaf dapat 2 pahala, pahala membaca dan pahala memandang mushaf,                                                    ﻭﻋﻦ ﺣﻤﻴﺪ ﺑﻦ ﺍﻷﻋﺮﺝ

Dari Humaid Bin Al- A’roj

ﻗﺎﻝ ﻣﻦ ﻗﺮﺃ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺧﺘﻤﻪ ﺛﻢ ﺩﻋﺎ ﺃﻣﻦ ﻋﻠﻰ ﺩﻋﺎﺋﻪ ﺃﺭﺑﻌﺔ  ﺁﻻﻑ ﻣﻠﻚ

Beliau berkata : Barangsiapa membaca alquran dan mengkhatamkan nya, lalu ia berdoa, maka empat ribu malaikat mengaminkan doanya itu

ﺛﻢ ﻻ ﻳﺰﺍﻟﻮﻥ ﻳﺪﻋﻮﻥ ﻟﻪ ﻭﻳﺴﺘﻐﻔﺮﻭﻥ ﻭﻳﺼﻠﻮﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﺇﻟﻰ  ﺍﻟﻤﺴﺎﺀ ﺃﻭ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺼﺒﺢ

Dan terus menerus malaikat itu mendoakan nya, memintakan ampun dan merahmati atasnya hingga sore, jika ia mengkhatamkan diwaktu pagi, atau hingga pagi jika ia mengkhatamkan waktu sore.

Adapun dalam tuhfatul murid syarah jauharatut tauhid, hikayat tentang imam ahmad bermimpi melihat Allah ini lbh jelas,

ﻭﺣﻜﻰ ﺃﻥ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺭﺃﻯ ﺍﻟﻤﻮﻟﻰ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﺗﺴﻌﺎ ﻭﺗﺴﻌﻴﻦ ﻣﺮﺓ

Diceritakan bahwa Imam Ahmad bermimpi Allah dalam tidurnya 99x

           ﻭﻗﺎﻝ ﻭﻋﺰﺗﻪ ﺇﻥ ﺭﺃﻳﺘﻪ ﺗﻤﺎﻡ ﺍﻟﻤﺎﺋﺔ ﻷﺳﺌﻠﻨﻪ ﻓﺮﺁﻩ

Dan beliau berkata : demi kemuliaan nya,jika aku bs lg melihat nya yg ke 100,akan aku tanya kepada NYA, lalu beliau tidur dan melihat Allah lagi,

ﻓﻘﺎﻝ ﺳﻴﺪﻱ ﻭﻣﻮﻻﻱ ﻣﺎ ﺃﻗﺮﺏ ﻣﺎ ﻳﺘﻘﺮﺏ ﺑﻪ ﺍﻟﻤﺘﻘﺮﺑﻮﻥ

                                                 ﺇﻟﻴﻚ ؟

Maka beliau bertanya : ya tuhan ku, amalan apa yang paling cepat untuk dekat kpd mu yang di amalkan oleh orang2 yg hendak mendekat kepada mu?

                                             ﻗﺎﻝ ﺗﻼﻭﺓ ﻛﻼﻣﻲ

Allah menjawab : membaca al qur’an

                                    ﻓﻘﺎﻝ ﺑﻔﻬﻢ ﺃﻭ ﺑﻐﻴﺮ ﻓﻬﻢ

Imam Ahmad bertanya lagi: apakah syaratnya  harus bisa memahaminya, atau tanpa memahaminya?

                            ﻓﻘﺎﻝ ﻳﺎ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻔﻬﻢ ﻭﺑﻐﻴﺮ ﻓﻬﻢ

Allah menjawab : wahai ahmad,faham tidak faham sama saja, tetap bisa mendekat kan kpd ku.

KATA-KATA DAN HURUF DALAM AL-QUR’AN.

Kata-kata dalam Al-Qur’an, dengan sejumlah pengulangannya merupakan Mukjizat, jumlah kata-kata dalam Al-Qur’an yang menegaskan kata-kata yang lain ternyata jumlahnya sama dengan jumlah kata-kata Al-Qur’an yang menjadi lawan kata atau kebalikan dari kata-kata tersebut, atau diantara keduanya ada nisbah kontradiktif.

Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada ayat-ayat mulianya, makna-maknanya, prinsip-prinsip dan dasar-dasar keadilannya serta pengetahuan-pengetahuan gaibnya saja, melainkan juga termasuk jumlah-jumlah yang ada dalam Al-Qur’an itu sendiri, begitu juga pengulangan kata dan hurufnya, orang-orang yang melakukan ‘ulum’ Al-Qur’an sejak dulu sudah menyadari adanya fenomena tersebut mempunyai maksud dan tujuan tertentu.

Para peneliti terdahulu sudah mencatat, bahwa surat-surat yang dibuka dengan huruf-huruf ‘muqaththa’ah’ berjumlah 29 surat, sementara jumlah huruf ‘hijaiyah’ Arab ditambah dengan huruf “Hamzah” juga berjumlah 29 huruf hal ini dengan sudut pandang bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.

  • DR. Abdul Razaq Naufal dalam bukunya berjudul ‘ Al’Ijaz Al’Adadiy Fi Al-Qur’an Al Karim” beliau menulis beberapa tema-tema tersebut terjadi keharmonisan diantara jumlah kata-kata Al-Qur’an dan berikut ini adalah sejumlah perhitungan yang benar-benar merupakan Mukjizat, dari jumlah kata dalam Al-Qur’an sebanyak 51.900, Jumlah Juz 30, Jumlah Surat 114, keanehan yang ada diantaranya sbb :

1.Kata ‘Iblis” ( La’nat ALLAH ‘alaihi ) dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 11 kali, sementara “Isti’adzah” juga disebutkan 11 kali,

2.Kata “ma’siyah” dan kebalikannya disebutkan sebanyak 75 kali, sementara kata “Syukr” dan kebalikannya juga disebutkan sebanyak 75 kali.

3.Kata “al-dunya” disebutkan sebanyak 115 kali, begitu juga kata “al-akhirah” sebanyak 115 kali.

4.Kata “Al-israf” disebutkan 23 kali, kata kebalikannya “al-sur’ah” sebanyak 23 kali.

5.Kata “Malaikat” disebutkan 88 kali, kata kebalikannya ‘Al-syayathin” juga 88 kali.

6.Kata “Al-sulthan disebutkan 37 kali, kata kebalikannya “Al-nifaq” juga 37 kali.

7.Kata “Al-harb”(panas) sebanyak 4 kali, kebalikannya “ Al-harb” juga 4 kali.

8.Kata “ Al-harb (perang) sebanyak 6 kali, kebalikannya “Al-husra” (tawanan) 6 kali.

9.Kata “Al-hayat” (hidup” sebanyak 145 kali, kebalikannya “Al-maut” (mati) 145 kali.

10.Kata “Qalu” (mereka mengatakan) sebanyak 332 kali, kebalikannya “Qul” ( katakanlah) sebanyak 332 kali.

11.Kata “Al-sayyiat” yang menjadi kebalikan kata “Al-shahihat” masing-masing 180 kali.

12.Kata “Al-rahbah” yang menjadi kebalikan kata “Al-ragbah” masing-masing 8 kali.

13.Kata “Al-naf’u” yang menjadi kebalikan kata “Al-fasad” masing-masing 50 kali.

14.Kata “Al-nas” yang menjadi kebalikan kata “Al-rusul” masing-masing 368 kali.

15.Kata “Al-asbath” yang menjadi kebalikan kata “Al-awariyun” masing-masing 5 kali

16.Kata “Al-jahr” yang menjadi kebalikan kata “Al-alaniyyah” masing-masing 16 kali

17.Kata “Al-jaza” 117 kali ( sama dg kebalikannya),

18.Kata “Al-magfiroh” 234 kali ( sama dengan kebalikannya),

19.Kata “Ad-dhalala” ( kesesatan) 191 kali ( sama dengan kebalikannya),

20.Kata “Al-ayat” 2 kali “Ad-dhalala” yaitu 282 kali.

Dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu persatu disini.

21.Kata “Yaum” (hari) dalam bentuk tunggal disebutkan sebanyak 365 kali, sebanyak jumlah hari pada tahun Syamsyiyyah.

22.Kata “Syahr” ( bulan) sebanyak 12 kali, sama dg jumlah Bulan dalam satu Tahun.

23.Kata “Yaum” (hari) dalam bentuk plural (jamak) sebanyak 30 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu Bulan.

24.Kata “Sab’u” (minggu) disebutkan 7 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu minggu.

25.Jumlah “ sa’ah” (jam) yang didahului dengan ‘harf’ sebanyak 24 kali, sama dengan jumlah jam dalam satu hari.

26.Kata “Sujud” disebutkan 34 kali, sama dengan jumlah raka’at dalam solat 5 waktu

27.Kata “Shalawat” disebutkan 5 kali, sama dengan jumlah solat wajib sehari semalam.

28.Kata “Aqimu” yang diikuti kata “Shalat” sebanyak 17 kali, sama dengan jumlah Raka’at Sholat fardhu/ wajib.

  • Al-Imam asy-syafi’i dalam kitab Majmu al Ulum wa Mathli ’u an Nujum dan dikutip oleh Imam Ibn ‘Arabi dalam mukaddimah al-Futuhuat al Ilahiyah menyatakan jumlah huruf-huruf dalam Al Qur ’an diurut sesuai dengan banyaknya:

☆Alif : 48740 huruf,

☆ Lam : 33922 huruf,

☆ Mim : 28922 huruf,

☆ Ha ’ : 26925 huruf,

☆ Ya’ : 25717 huruf,

☆ Wawu : 25506 huruf,

☆ Nun : 17000 huruf,

☆ Lam alif : 14707 huruf,

☆ Ba ’ : 11420 huruf,

☆Tsa’ : 10480 huruf,

☆Fa’ : 9813 huruf,

☆’Ain : 9470 huruf,

☆Qaf : 8099 huruf,

☆Kaf : 8022 huruf,

☆ Dal : 5998 huruf,

☆ Sin : 5799 huruf,

☆ Dzal : 4934 huruf,

☆Ha : 4138 huruf,

☆Jim : 3322 huruf,

☆ Shad : 2780 huruf,

☆ Ra ’ : 2206 huruf,

☆ Syin : 2115 huruf,

☆ Dhadl : 1822 huruf,

☆ Zai : 1680 huruf,

☆ Kha ’ : 1503 huruf,

☆Ta’ : 1404 huruf,

☆ Ghain : 1229 huruf,

☆Tha’ : 1204 huruf dan terakhir

☆Dza’ : 842 huruf.

Jumlah total semua huruf dalam al- Qur ’an sebanyak 1.027.000 (satu juta dua puluh tujuh ribu). Jumlah total ini sudah termasuk jumlah huruf ayat yang dinusakh.

KHOTMIL AL-QUR’AN VIA SOSMED

Diskripsi masalah

Perkembangan informasi dan teknologi yang pesat berpengaruh signifikan di berbagai bidang kehidupan, termasuk ranah agama. Contohnya, dulu seseorang khatam membaca Al-Qur’an dengan menamatkan 30 juz dalam suatu majelis. Dan langsung dipimpin doa oleh tokoh kiai atau ustadz. Kini, kecanggihan teknologi membuat segalanya makin mudah dan praktis saja. Karena pada era sekarang orang-orang bisa melakukan khataman Al-Qur’an secara online. baik via WhatsApp atau grup Fb. Agenda ini ada kalanya menjadi rutinan mingguan grup atau rutinan bulanan. Praktek riil-nya masing-masing anggota grup mendapatkan jatah bacaan juz sesuai yang ditetapkan oleh admin grup. Ritual keagamaan ini berpijak pada dalil hadits:

التبيان في آداب حملة القرآن – (ج 1 / ص 101)

فقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم : من رواية أبي هريرة وأبي سعيد الخدري رضي الله عنهما أنه قال ما من قوم يذكرون الله إلا حفت بهم الملائكة وغشيتهم الرحمة ونزلت عليهم السكينة وذكرهم الله فيمن عنده صلى الله عليه وسلم قال الترمذي حديث حسن صحيح وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم : قال ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله تعالى يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكره الله فيمن عنده رواه مسلم وأبو داود بإسناد صحيح على شرط البخاري ومسلم

Tetapi nyatanya dalam praktek Khotmil Al-Qur’an lewat grup WhatsApp atau grup Fb masih meninggalkan kejanggalan bagi pihak grup itu sendiri seperti:

  1. Ada anggota yang kadang lupa qosdhu niat.
  2. Ada anggota yang menggabung niat wirid pribadi dengan niat yang telah ditetapkan admin grup
  3. Kadang jatah bacaan (juz Qur’an) anggota malah diwakilkan kelain pihak tanpa seizin admin.

Kasus Khotmil Al-Qur’an via sosmed pun masih variable (berbeda-beda) ada yang memang masing-masing anggota telah mengenal dan adakalanya tidak saling kenal.

Pertanyaan:

  1. a) Apakah Khotmil Qur’an seperti deskripsi sudah bisa dibenarkan sehingga mendapatkan fadlilah Khotmil Qur’an?
  2. b) Apakah khataman model di atas (tidak satu majlis) termasuk mendapat fadlilah dalam kategori hadits Nazalat Alaihim Sakinah?

Jawaban:

Kegiatan sebagaimana dalam deskripsi di atas Dapat dibenarkan, namun tidak mendapat fadilah menghatamkan Al-Qur’an dan berkumpul membaca Al-Qur’an dalam satu majelis sebagaimana dijelaskan dalam hadits nabi. Akan tetapi tetap mendapat pahala membaca Al-Qur’an , bertabarruk dengan menghatamkan Al-Qur’an, ta’lim wata’allum, tolong menolong dalam kebaikan dan menjadi wadah untuk semangat membaca Al-Qur’an.

Referensi

  1. Faidlul Qodir Syarah jami’us Shoghir, juz 1, hal. 428
  2. ‘Umdatul Mufti Walmustafti, Juz 1, hal. 531
  3. Manahil AI-‘irfan Juz 1, hal. 358
  4. Dll.
  5. فيض القدير شرح الجامع الصغير جـ 1 صـ 428

(إذا ختم العبد القرآن) أي انتهى من قراءته في أيِّ وقتٍ كان من ليل أو نهار قال الزمخشري : من المجاز ختم القرآن وكل عمل إذا أتمه وفرغ منه (صلى عليه) أي استغفر له (عند) بتثليث العين (ختمه) قراءته (ستون) كذا بخط المصنف فما في بعض النسخ من أنه سبعون تحريف (ألف ملك) يحتمل أن هذا العدد يحضرون عند ختمه ويحتمل أن الذين يحضرون لا يصلون والمصلي منهم ذلك القدر والظاهر أن المراد بالعدد المذكور التكثير لا التحديد على قياس نظائره في السبعين ونحوها وفي إفهامه حث على الإكثار من القراءة ويندب ختمه أول النهار وآخره وهو في الصلاة لمنفرد أفضل وأن يختم ليلة الجمعة أو يومها ويندب حضور الختم والدعاء عقبه والشروع في أخرى ويتأكد صوم يوم ختمه. قال الراغب : والختم الأثر الحاصل من شئ ويتجوز به تارة في الاستيثاق من الشئ والمنع اعتبارا بما يحصل من المنع بالختم على الكتب والأبواب وتارة في تحصيل أثر عن شئ اعتبارا بالنقش الحاصل وتارة يعتبر من بلوغ الآخر ومنه ختمت القرآن أي انتهيت إلى آخره.

  1. فيض القدير شرح الجامع الصغير جـ 6 صـ 222

(من صلى صلاة فريضة فله) أي عقبها (دعوة مستجابة ومن ختم القرآن) أي قراءةً (فله دعوة مستجابة) فإما أن تعجل في الدنيا وإما أن تدخر له في الآخرة أو يعوض بما هو أصلح.

  1. عمدة المفتي والمستفتي جـ 1 صـ 531 دار المنهاج

استؤجر على قراءة ختمة في الشهر على أن يقرأ كل يوم جزءا لم يشترط لصحتها بيان الجزء الذي يقرأه كل يوم وله أن يقرأ كل يوم أي جزء شاء مقدما أو مؤخرا حتى يكمل الختمة لصدق اسم الختمة بذلك

  1. مناهل العرفان في علوم القرآن 1 جـ 1 صـ 358

أما ترتيب السور في التلاوة فليس بواجب إنما هو مندوب. وإليك ما قاله الإمام النووي في كتابه التبيان إذ جاء في هذا الموضوع بما نصه: قال العلماء: الاختيار أن يقرأ على ترتيب المصحف فيقرأ الفاتحة ثم البقرة ثم آل عمران ثم ما بعدها على الترتيب سواء أقرأ في الصلاة أم في غيرها حتى قال بعض أصحابنا: إذا قرأ في الركعة الأولى سورة {قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ} يقرأ في الثانية بعد الفاتحة من البقرة. قال بعض أصحابنا: ويستحب إذا قرأ سورة أن يقرأ بعدها التي تليها. ودليل هذا أن ترتيب المصحف إنما جعل هكذا لحكمة فينبغي أن يحافظ عليها إلا فيما ورد الشرع باستثنائه كصلاة الصبح يوم الجمعة يقرأ في الأولى سورة السجدة وفي الثانية {هَلْ أَتَى عَلَى الْأِنْسَانِ} . وصلاة العيد في الأولى {ق} وفي الثانية {اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ} . وركعتي الفجر في الأولى {قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ} وفي الثانية {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} . وركعات الوتر في الأولى {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى} وفي الثانية {قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ} وفي الثالثة {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} والمعوذتين.ولو خالف الموالاة فقرأ سورة لا تلي الأولى أو خالف الترتيب فقرأ سورة قبلها جاز فقد جاءت بذلك آثار كثيرة. وقد قرأ عمر بن الخطاب رضي الله عنه في الركعة الأولى من الصبح بالكهف وفي الثانية بيوسف.وقد كره جماعة مخالفة ترتيب المصحف. وروى ابن أبي داود عن الحسن أنه كان يكره أن يقرأ القرآن إلا على تأليفه في المصحف

  1. فيض القدير شرح الجامع الصغير جـ 6 صـ 261

(من قرأ قل هو الله أحد ثلاث مرات فكأنما قرأ القرآن أجمع) إذ مدار القرآن على الخبر والإنشاء والإنشاء أمر ونهي وإباحة والخبر خبر عن الخالق وأسمائه وصفاته وخبر عن خلقه فأخلصت سورة الإخلاص الخبر عنه وعن أسمائه فعدلت ثلثا ، لكن ينبغي أن يعلم أنه لا يلزم من تشبيه قارئها بمن قرأ القرآن كله أن يبلغ ثوابه ثواب المشبه به إذ لا يلزم من تشبيه شئ بشئ أخذه بجميع أحكامه ولو كان قدر الثواب متحدا لم يكن القارئ كله غير التعب ، وفيه استعمال اللفظ في غير ما يتبادر للفهم لأن المتبادر من إطلاق ثلث القرآن أن المراد ثلث حجة المكتوب مثلا وقد ظهر أنه غير مراد.

  1. مختصر التبيان في آداب حملة القرآن جـ 1 صـ 20

فصل في استحباب قراءة الجماعة مجتمعين، وفضل جامعهم لذلك، وحاضري مجلس القراءة من القارئين والسامعين اعلم أن قراءة المجتمعين مستحبة، وكذلك حضور حلقهم، وأما المتسبب في جمعهم لذلك فأجره عظيم، وفضله جسيم، وهو من الساعين في نصحة كتاب الله تعالى والقيام بحق من حقوقه، وكل هذا ثابت بالدلائل.عَنِ النَّبي صلى الله عليه وسلم أنَّه قَالَ : ( مَاَ اجْتَمَعَ قَومٌ في بَيْتٍ مِنْ بُيوتِ الله يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ تَعَالى وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُم إلاَّ نَزَلَت عَلَيْهِمُ السَّكِينَة وَغَشِيتُهمُ الرَّحمة، وَحَفّتهُمُ المَلاَئِكَة، وَذَكَرَهُمُ فِيمَنْ عِنْدَه).وقد ذكرت في “التبيان” جملة من الأحاديث والآثار في هذا الفصل ثم لهم في القراءة مجتمعين طريقان حسنان :إحداهما : أن يقرءوا كلهم دفعة واحدة.الثانية : أن يقرأ بعضهم جزء، أو غيره، ويسكت بعضهم مستمعين، ثم يقرأ الساكتون جزءاً ويستمع الأولون ويسمى هذا الإدارة.

  1. تحفة الأحوذي جـ 7 صـ 261

( ويتدارسونه بينهم ) التدارس قراءة بعضهم على بعض تصحيحا لألفاظه أو كشفا لمعانيه قاله ابن الملك . وقال الجزري في النهاية : تدارسوا القرآن أي اقرءوه وتعهدوه لئلا تنسوه يقال درس يدرس دراسة وأصل الدراسة الرياضة والتعهد للشيء انتهى . وقال القاري في المرقاة : ويمكن أن يكون المراد بالتدارس المدارسة المعروفة بأن يقرأ بعضهم عشرا مثلا وبعضهم عشرا آخر وهكذا فيكون أخص من التلاوة أو مقابلا لها والأظهر أنه شامل لجميع ما يناط بالقرآن من التعليم والتعلم انتهى

  1. التبيان في آداب حملة القرآن صـ 92

اعلم أن قراءة الجماعة مجتمعين مستحبة بالدلائل الظاهرة وأفعال السلف والخلف المتظاهرة –الى ان قال- وأما فضيلة من يجمعهم على القراءة ففيها نصوص كثيرة كقوله صلى الله عليه وسلم : الدال على الخير كفاعله وقوله صلى الله عليه وسلم : لأن يهدي الله بك رجلا واحدا خير لك من حمر النعم والأحاديث فيه كثيرة مشهورة وقد قال الله تعالى (وتعاونوا على البر والتقوى) ولا شك في عظم أجر الساعي في ذلك

  1. الفجر الساطع/الزرهوني – شرح البخاري جـ 7 صـ 41محمد الفضيل بن محمد الفاطمي الشبيهي

تنبيهات: الأول: ذهب جمهور العلماء إلى جواز تلاوة القرآن جماعة، وكرهه الإمام مالك في المدونة، لكن جرى العمل عند اتباعه بجوازه كما في المعيار وغيره، ونص المعيار: ( قال – صلى الله عليه وسلم -: “ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة، وغشيتهم الرحمة، وذكرهم الله فيمن عنده، ومن أبطأ به عمله لم يسرع به نسبه” ، قال الإمام المازري: ظاهره يبيح الاجتماع لقراءة القرآن في المساجد وإن كان مالك قد كره ذلك في المدونة، ولعله إنما قال ذلك لأنه لم ير السلف يفعلونه مع حرصهم على الخير، قال بعض الشيوخ: ولعله من البدع الحسنة كقيام رمضان وغيره، وقد جرى الأمر عليه ببلدنا بين أيدي العلماء، والأمر فيه خفيف؛ قلت: وجرى الأمر عليه بالمغرب كله، بل وبالمشرق فيما بلغنا ولا نكير، وما هو إلا من التعاون على البر وعمل الخير، ووسيلة لنشاط الكسلان، وقد نصوا على أن حكم الوسائل على حكم المتوسل إليه)، هـ كلام المعيار. وإليه أشار صاحب العمل بقوله: والذكر مع تلاوة القرآن – جماعة شاعت مدى أزمان. وقال سيدي محمد بن عباد : ( إن قراءة الحزب جماعة من روائح الدين التي يتعين التمسك بها لذهاب حقائق الديانة في هذه الأزمنة، وإن كان بدعة فهو مما اختلف فيه، وغاية القول فيه الكراهة فصح العمل به على قول من يقول به) إهـ.الثاني : قال أبو عبد الله الأبي: ( انظر ما يتفق في الإيقافات على اجتماع القراء لقراءة الحزب مضى العمل ببلاد إفريقية عليه، وعلى تنفيذ الوصية به، وقد فعله الشيخ رضي الله عنه – يعني ابن عرفة – لنفسه ولزوجته، واختلف جوابه لمن يكون ثواب التلاوة التي هي الحرف بعشر، فقال مرة هي للقراء، وإنما يكون للمحبس ثواب الإعانة على قراءة القرآن، وثواب التسبب في إدامة حفظه، وكان قبل هذا يقول إن الثواب في ذلك إنما هو للمحبس) إهـ.

  1. عمدة المفتي والمستفتي جـ 1 7 صـ 534 دار المنهاج

قال شيخنا وإذا درس رجل مع الأخر فثواب كل منهما له يختص به وهما مشتركان في ثواب الاجتماع لتلاوة كتاب الله تعالى

Pertanyaan:

  1. c) Apakah boleh bagi anggota menggabung dua niat bila ia mempunyai wadzifah wirid Al-Qur’an sendiri?

Jawaban:

Diperbolehkan, karena tidak ada ketentuan niat dalam membaca Al-Qur’an.

Referensi

  1. AI-Itqon fi ‘ulumil Qur’an, juz 1, hal. 282
  2. Bughyatul Mustarsyidin, hal. 97
  3. Asbah Wan- Nadzoir, juz 1 hal. 23
  4. Dll.

  1. الإتقان في علوم القرآن جـ 1 صـ 282

مسألة لا تحتاج قراءة القرآن إلى نية كسائر الأذكار إلا إذا نذرها خارج الصلاة فلا بد من نية النذر أو الفرض ولو عين الزمان فلو تركها لم تجز نقله القمولي في الجواهر

  1. بغية المسترشدين صـ 97

(مسألة : ي) : الأذكار الواردة خلف الصلوات وعند النوم واليقظة وفي المساء والصباح لاخفاء أنه لا بد فيها من النية بالمعنى الأول المار في مبحث الوضوء الذي هو إرادة وجه الله تعالى ، وكذا بالمعنى الثاني الذي هو استحضار القصد عند الابتداء لحصول الأجر المخصوص عليها ، لأنها بتخصيص الشارع لها بتلك الأسباب صارت من المختلفة المراتب ، وقد أفتى ابن حجر بأن من ترك الأذكار بعد العشاء وأتى بها عند النوم أنه إن نواهما معاً حصلا أو أحدهما حصل ثوابه فقط ، وسقط الطلب عن الآخر ، فعلم من سقوط الطلب حينئذ عدم حصول الثواب الوارد ، وأنه لو لم ينو شيئاً منهما لم يحصل له الثواب المخصوص بل ثواب الذكر المطلق.فائدة : قال سم : قوة عباراتهم وظاهر كثير من الأحاديث اختصاص طلب الذكر بالفريضة ، وأما الدعاء فيتجه أن لا يتقيد طلبه بها بل يطلب بعد النافلة أيضاً اهـ.

  1. الأشباه والنظائر جـ 1 صـ 23

…الأمر الثاني:اشتراط التعيين فيما يلتبس دون غيره. قال في شرح المهذب: ودليل ذلك قوله صلى الله عليه وسلم: “وإنما لكل امرئ ما نوى” فهذا ظاهر في اشتراط التعيين, لأن أصل النية فهم من أول الحديث: “إنما الأعمال بالنيات”.

  1. حاشية البجيرمى على الخطيب جـ 1 صـ 357

قوله (لا يكون قرآنا إلخ) أي لا يكون قرآنا تحرم قراءته عند وجود الصارف إلا بالقصد وإلا فهو قرآن مطلقا أو المعنى لا يعطى حكم القرآن إلا بالقصد ومحله ما لم يكن في صلاة كأن أجنب وفقد الطهورين وصلى لحرمة الوقت بلا طهر وقرأ الفاتحة فلا يشترط قصد القرآن بل يكون قرآنا عند الإطلاق لوجوب الصلاة عليه فلا صارف فاحفظه واحذر خلافه كما ذكره ابن شرف على التحرير

Pertanyaan:

  1. d) Haruskah ada penentuan niat yang jelas model khataman al-Quran di atas? atau cukup diwakili niat dari admin?

Jawaban:

idem dengan sub c.

MENJADIKAN BULAN ROJAB UNTUK MENELADANI KEAGUNGAN AKHLAK NABI MUHAMMAD SAW.

Bulan rojab merupakan salah satu bulan yang mulia di sisi Alloh swt, oleh karenanya, menjadi sangat penting bagi umat islam untuk bisa memanfaatkan momen yang penuh berkah dan bersejarah di bulan tersebut, guna memantapkan hati kita dalam mencintai dan meneladani makhluk termulia di muka bumi, agar kita semakin bertaqwa di sisi Alloh swt dan semakin bisa memperbaiki diri.

Beberapa hal yang bisa kita teladani dari akhlak Rosululloh saw di salah satu bulan yang mulia ini adalah :

Nabi Muhammad Saw, Tidak Mendo’akan yang Buruk Meski Dimusuhi

 “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” Sabda Nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadits.

Nabi Muhammad saw. adalah sosok manusia paripurna. Beliau telah memberikan teladan terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Bagaimana menjadi seorang pemuda, menjadi sahabat, menjadi suami, menjadi pemimpin agama, bahkan menjadi pemimpin negara dengan landasan akhlak yang luhur.

Hal ini ditegaskan Allah di dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 21; “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswah hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Salah satu teladan yang diajarkan Nabi Muhammad saw. adalah bagaimana menjaga lisan dari tutur kata yang buruk. Dalam sejarah hidupnya, Nabi Muhammad saw. tidak pernah berkata kotor, mengumpat, ataupun mengeluarkan cercaan bahkan kepada musuhnya –kaum musyrik yang memusuhi dakwah Islam- sekalipun. Sebaliknya, Nabi Muhammad saw. malah mendoakan mereka yang baik-baik.

Ada banyak cerita terkait dengan hal ini sebagaimana tertera dalam Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018). Diantaranya adalah ketika pasukan Islam menang dalam Perang Badar. Nabi Muhammad saw. melarang umat Islam mengumpat korban Perang Badar dari kalangan kaum musyrik. Kata Nabi Muhammad saw., umpatan akan menyakiti hati orang-orang yang masih hidup. Nabi Muhammad saw. juga mengingatkan bahwa kekejian adalah sesuatu yang hina.

Begitu pun ketika Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya melewati kaum Tsaqif. Ada seorang sahabat yang meminta Nabi Muhammad saw. berdoa agar kaum Tsaqif mendapatkan laknat dari Allah. Namun Nabi Muhammad saw. malah melakukan hal yang sebaliknya. Beliau mendoakan agar kaumTsaqif mendapatkan hidayah dari Allah saw. Nabi Muhammad saw. juga mendoakan kaum Dus agar mendapatkan hidayah ketika beliau diminta salah seorang sahabat untuk melaknatnya.

Sebagaimana diketahui, kaum Tsaqif adalah penguasa wilayah Thaif pada saat itu. Tiga tahun sebelum hijrah ke Yatsrib (Madinah), Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya hijrah ke Thaif. Mereka hendak meminta perlindungan dan pertolongan kepada masyarakat Thaif dari penindasan kaum musyrik Quraisy. Namun apa dikata, Nabi Muhammad saw. dan sahabatnya malah mendapatkan perlakuan buruk dari penduduk Thaif. Kaum Tsaqif melempari Nabi Muhammad saw. dengan batu hingga kakinya terluka.

Hal yang sama juga dilakukan Nabi Muhammad saw. ketika Perang Uhud selesai. Sebuah peperangan yang berat bagi pasukan umat Islam karena mereka kalah. Akibatnya, sebagian sahabat meminta agar Nabi Muhammad saw. melaknat kaum Quraisy. Namun permintaan itu dijawab sebaliknya oleh  Nabi Muhammad saw.

“Sesungguhnya saya diutus dengan membawa kasih sayang. Saya tidak diutus sebagai tukang melaknat. Ya Allah ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui,” jawab Nabi Muhammad saw.

Demikianlah teladan yang ditunjukkan Nabi Muhammad saw. Beliau tidak pernah mendoakan yang jelek, mengumpat, berkata kotor, atau mengeluarkan cercaan bahkan kepada musuhnya sekalipun. Tidak hanya itu, Nabi Muhammad saw. juga menegur Sayyidina Abu Bakar ketika mendoakan Sa’id bin ‘Ash yang sudah meninggal dengan sesuatu yang buruk. Nabi Muhammad saw. baru akan ‘berdoa yang keras’ kepada musuh ketika mereka mengancam eksistensi komunitas umat Islam sebagaimana yang terjadi ketika Perang Ahzab.

 

Kejadian Ini yang Sebabkan Nabi Muhammad Saw Marah

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus menceritakan, Nabi Muhammad saw. marah besar ketika mengetahui ada sahabat membunuh seseorang yang mengucapkan kalimat syahadat dalam sebuah peperangan.

Ceritanya, orang yang dibunuh tersebut adalah dari kelompok kafir yang sedang berperang melawan umat Islam. Ketika sudah tersudut, orang kafir tersebut mengucapkan kalimat syahadat. Sahabat tersebut tidak bergeming dan tetap membunuh ‘orang kafir’ tersebut meski sudah melafalkan kalimat syahadat.

“Karena pengertiannya (sahabat tersebut) ini syahadat nya, syahadat politis,” kata Gus Mus menirukan sahabat tersebut dalam sebuah video yang diunggah akun @GusMus Channel di Youtube, Senin (2/4).

Melihat kejadian itu, lanjut Gus Mus, sahabat-sahabat Nabi Muhammad yang lainnya menegur dan marah kepada sahabat yang membunuh tersebut karena bagaimanapun juga orang kafir tersebut sudah membaca kalimat syahadat sehingga darahnya haram dibunuh.

Sahabat yang membunuh tersebut bersikukuh bahwa apa yang dilakukan itu benar. Sahabat tersebut juga menganggap bahwa orang kafir tersebut hanya membaca dan menjadikan kalimat syahadat sebagai alat untuk menyelamatkan diri.

Gus Mus menambahkan, kejadian pembunuhan itu lalu dilaporkan kepada Nabi Muhammad saw. Kepada Nabi Muhammad saw., sang sahabat tersebut kekeh berpendapat bahwa orang yang dibunuhnya tersebut hanya berpura-pura mengucapkan kalimat syahadat agar tidak dibunuh.

“Rasulullah kalau marah kelihatan hanya merah mukanya,” terangnya.

“Kenapa kamu tidak bedah dadanya supaya kamu tahu bahwa di dalamnya juga apa,” cerita Gus Mus menirukan respons Nabi Muhammad saw. kepada sahabatnya itu.

Penulis buku Fikih Keseharian Gus Mus ini menegaskan, siapapun yang sudah mengucapkan kalimat syahadat maka orang tersebut secara otomatis sudah menjadi seorang Muslim.

“Muslim belum shalat ada, Muslim belum haji banyak, Muslim belum zakat lebih banyak lagi,” jelasnya.

Dia mengkritik mereka yang mengafirkan Muslim lain yang tidak satu pemahaman dengan mereka. Bagi Gus Mus, mereka melakukan hal demikian berdasarkan nafsu bukan semangat beragama.

“Semangat beragama itu adalah semangat mengajak semua orang untuk berbahagia di dunia maupun di akhirat,” ungkapnya.

 

Mereka yang Diampuni Rasulullah Saw Usai Fathu Makkah

Pembebasan kota Makkah atau dikenal dengan Fathu Makkah menjadi kemenangan yang nyata bagi umat Islam. Bagaimana tidak, tanpa peperangan, tanpa pertumpahan darah, dan tanpa ada yang menghunus pedang, umat Islam berhasil menduduki kota Makkah dari kaum musyrik Quraisy.

Sebaliknya, bagi kaum musyrik Quraisy peristiwa yang terjadi pada 10 Ramadhan abad ke-8 Hijriyah atau bertepatan dengan 8 Juni 632 M itu adalah hari yang sangat mencekam. Mereka resah karena selama ini mereka kerap kali memusuhi dan menindas umat Islam. Takut kalau-kalau umat Islam membalas balik.

Akan tetapi apa yang mereka kira salah. Rasulullah, sang panglima umat Islam, pada saat berpidato  menegaskan bahwa Fathu Makkah adalah hari kasih sayang (yaumul marhamah), bukan hari balas dendam (yaumul malhamah). Seketika itu masyarakat musyrik Quraisy menjadi cukup tenang. Namun tidak dengan musuh-musuh yang sangat kejam dan terkenal memusuhi umat Islam.

Mulanya, Rasulullah menjatuhi mereka hukuman mati atas perbuatan mereka terhadap umat Islam. Tetapi mereka kemudian meminta ampun atau dimintakan ampun. Rasulullah pun mengampuni dan tidak jadi menghukum mati mereka.

Merujuk buku Muhammad: Nabi Untuk Semua (Maulana Wahiddudin Khan, 2005), berikut musuh-musuh Islam yang diampuni Rasulullah dari hukuman mati ketika atau usai peristiwa Fathu Makkah.

Pertama, Quraibah. Quraibah adalah budak dari Abdullah bin Khatal. Ia menghadap Rasulullah dan meminta suaka manakala ia dijatuhi hukuman mati. Rasulullah mengabulkan permintaannya. Quraibah pun akhirnya memeluk Islam.

Kedua, Sarah. Ia adalah budak Ikrimah bin Abu Jahal. Sebelumnya ia senang sekali memperolok-olok dan mencemooh Rasulullah dan pengikutnya. Pada saat Fathu Makkah ia dijatuhi hukuman mati, tapi ia mendapatkan ampunan setelah meminta suaka kepada Rasulullah. Akhirnya ia masuk Islam dan hidup hingga masa kekhalifahan Umar bin Khattab.

Ketiga, Harits bin Hisyam dan Zubair bin Abu Umayyah. Keduanya lari dan sembunyi di rumah  saudaranya, Ummi Hani binti Abi Jahal, manakala hendak dihukum mati. Ummi Hani kemudian menghadap Rasulullah untuk memintakan mereka ampunan.

“Siapapun yang mendapat perlindunganmu, juga mendapat perlindungan kami,” kata Rasulullah kepada Ummi Hani. Harits dan Hisyam lolos dari hukuman mati.

Keempat, Ikrimah bin Abu Jahal. Ia adalah putra dari salah satu musuh Islam paling berbahaya dan kejam, Abu Jahal. Sama seperti bapaknya, Ikrimah juga sangat memusuhi Islam dan Rasulullah. Pada saat Fathu Makkah, Ikrimah dijatuhi hukuman mati. Ia kemudian mengungsi ke Yaman. Istri Ikrimah, Ummi Hakim binti Harits yang telah masuk Islam, mendatangi Rasulullah untuk mengampuni suaminya. Permintaan Ummi Hakim dikabulkan.

Ikrimah lantas balik ke Makkah dan juga memeluk Islam. Setelah menyatakan diri menjadi umat Rasulullah, Ikrimah betul-betul berjuang untuk Islam –baik dengan harta atau pun tenaga. Ia juga kerap kali ikut berperang melawan musuh-musuh Islam.

Kelima, Habbar bin Aswad. Ia juga merupakan musuh Islam yang keji. Diceritakan suatu ketika Zainab, putri Rasulullah, dalam sebuah perjalanan dari Makkah ke Madinah. Di tengah jalan,  Habbar bin Aswad menusuk unta yang ditunggangi Zaibah. Akibat kejadian itu, Zainab yang tengah hamil terjatuh dari untanya dan mengalami keguguran. Habbar juga disebut-sebut sebagai orang yang bertanggung jawab atas pembantaian dan penindasan umat Islam yang menyebabkan banyak korban.

Saat Fathu Makkah, Habbar disanksi hukuman mati. Ia kemudian menghadap Rasulullah untuk meminta ampun. Rasulullah mengabulkan permintaannya sehingga Habbar bebas dari hukuman mati.

Keenam,  Wahsyi bin Harb. Ia adalah pembunuh paman Rasulullah, Hamzah, pada saat Perang Uhud. Ketika Fathu Makkah, Wahsyi melarikan diri ke Thaif untuk mencari tempat aman. Wahsyi semakin ‘terjepit’ manakala penduduk Thaif juga masuk Islam sesaat setelah peristiwa Fathu Makkah.

Ia lantas pergi ke Madinah untuk meminta ampun Rasulullah dan menyatakan diri masuk Islam. Rasulullah mengampuninya. Setelah memeluk Islam, Wahsyi menunggu kesempatan untuk menebus segala kesalahannya. Wahsyi berhasil memenggal kepala nabi palsu Musailamah pada saat Perang Yamamah dengan menggunakan lembing yang sama ketika ia menghabisi Hamzah.

Ketujuh, Ka’ab bin Zuhair. Ia merupakan seorang pujangga terkenal lihai membuat puisi. Sayangnya, ia membuat puisi untuk menghina dan mencemooh Rasulullah. Ia lari dari Makkah pada saat peristiwa Fathu Makkah. Ia kemudian menghadap Rasulullah di Madinah untuk meminta ampun dari hukuman mati. Tidak hanya itu, Rasulullah memberikan hadiah kain setelah Ka’ab menyatakan diri masuk Islam.

Kedelapan, Abdullah bin Zib’ari. Sama hal nya dengan Ka’ab bin Zuhair, Abdullah bin Zib’ari juga menghina Rasulullah melalui puisi-puisi yang dibuatnya. Ia melarikan diri ke Najran ketika umat Islam berhasil menduduki Makkah. Ia merupakan salah satu musuh Islam yang yang masuk daftar hitam atau dihukum mati. Namun sebelum dihukum ia mendatangi Rasulullah dan meminta ampunan. Rasulullah mengampuninya. Abdullah bin Zib’ari lantas bertobat dan memeluk Islam.

Kesembilan, Hindun binti Utbah. Ia merupakan istri dari Abu Sufyan. Sama seperti Abu Sufyan sebelum memeluk Islam, Hindun sangat benci terhadap Islam. Bahkan, ia sampai memakan jantung Hamzah pada saat Perang Uhud setelah Hamzah berhasil dipenggal Wahsyi. Atas segala perbuatannya terhadap umat Islam, Hindun dijatuhi hukuman mati. Namun kemudian Rasulullah mengampuninya setelah Hindun memohon ampun dan memeluk Islam.

Meski demikian, musuh-musuh Islam yang tidak minta ampun atau dimintakan ampun tetap dieksekusi mati atas segala kejahatan mereka kepada umat Islam. Mereka diantarannya adalah Abdullah bin Khatal, Fartana, Huwairits bin Nafidz bin Wahab, Miyas bin Subabah, dan Harits bin Talatil.

Ada juga musuh Islam yang melarikan diri dari Makkah dan tidak pernah kembali sampai akhir hayatnya. Ia meninggal di negeri nan jauh dari Makkah. Dialah Hubairah bin abu Wahab Makhzumi yang melarikan diri ke Najran dan meninggal di sana.

KEBERKAHAN NABI MUHAMMAD SAW SEMASA MASIH KECIL

Meski dewasanya diangkat menjadi seorang utusan Allah (Rasulullah) dan nabi terakhir, kegiatan dan aktivitas Muhammad saat kecil tidak jauh berbeda dengan anak-anak lain seuisianya. Ia bergaul dan bermain bersama teman-temannya yang lain. Bahkan ia tidak segan menggembala kambing agar mendapatkan upah untuk mencukupi kebutuhan sehari-sehari yang notabennya yatim-piatu.

Akan tetapi, sejak kecil di dalam diri Muhammad ada sesuatu ‘yang berbeda’ dengan yang lainnya. Ada hal-hal istimewa yang terjadi hanya pada Muhammad kecil, tapi tidak pada anak-anak lainnya. Diantaranya adalah keberkahan atau penambahan kebaikan dan kecukupan.

Sejak kecil, Muhammad sudah diliputi keberkahan. Tidak hanya itu, orang-orang yang ada di sekelilingnya pun ‘kecipratan’ keberkahannya. Sebagaimana yang diceritakan Nizar Abazhah dalam bukunya Sahabat-sahabat Cilik Rasulullah, setidaknya ada dua cerita keberkahan Nabi Muhammad saw. saat beliau masih kecil.

Pertama, cerita Halimah as-Sa’diyah. Suatu ketika Halimah bersama suaminya ikut rombongan untuk menawarkan jasa menyusui. pada saat itu sedang musim paceklik. Tidak ada hujan. Tidak ada makanan. Bahkan, unta yang ada bersama mereka juga tidak mengeluarkan susu. Sesampai di Makkah, mereka yang ada di rombongan sudah mendapatkan anak untuk disusui, kecuali Halimah.

Halimah akhirnya mendapatkan tawaran untuk menyusui Muhammad. Tapi, awalnya ia menolak karena mengetahui kalau Muhammad yatim. Halimah membatin siapa yang akan menjamin upah menyusui kalau Muhammad tidak memiliki bapak. Lalu, akhirnya ia menerima Muhammad karena tidak mendapatkan anak yang lainnya. Ia hanya berharap akan mendapatkan berkah manakala mengasuh anak yatim.

Benar saja, anak kecil Muhammad memang betul-betul membawa berkah bagi Halimah. Payudara Halimah kembali mengeluarkan susu. Muhammad kecil mulai menyusu hingga tertidur nyenyak. Unta betina Halimah juga mendadak penuh dengan susu. Keledai yang dinaiki Halimah dan Muhammad juga berlari sangat kencang hingga akhirnya mereka menjadi yang pertama yang sampai di Bani Sa’d, daerah Halimah.

Orang-orang juga mulai mempercayai Halimah untuk menggembalakan kambingnya. Anehnya, kambing-kambing gembalaan Halimah selalu penuh susunya, tidak seperti kambing yang digembala yang lainnya. Sejak ada Muhammad, kehidupan Halimah menjadi sejahtera. Maka tidak heran jika Halimah selalu meminta Aminah agar bisa mengasuh Muhammad kecil lebih lama lagi.

Kedua, cerita Abu Thalib. Hal sama juga dialami Abu Thalib. Setelah sang kakek Abdul Mutholib wafat, Muhammad kecil diasuh Abu Thalib –seorang paman yang hidupnya begitu sederhana bahkan tak berkecukupan. Bahkan, untuk memberi makan anak-anakanya kadang kurang. Namun anehnya, jika Muhammad kecil ikut makan maka makanannya menjadi cukup. Oleh sebab itu, Abu Thalib kerap kali menunggu Muhammad manakala ia, istri, dan anak-anaknya hendak makan.

Begitu pun dengan urusan minuman. Abu Thalib juga akan meminta Muhammad untuk minum susu terlebih dahulu sebelum anak-anaknya. Alasannya, jika Muhammad yang minum dulu maka susu tersebut akan cukup diminum anak-anaknya hingga puas.

DI ANJURKANYA MENGUCAPKAN SUBHANALLOH DAN MA SYA ALLOH

PENGGUNAAN KALIMAT MASYA ALLOH

Selama ini kaum Muslim sering “salah kaprah” dalam mengucapkan Subhanalloh (Maha Suci Alloh), tertukar dengan ungkapan Masya Alloh (Itu terjadi atas kehendak Alloh). Kalau kita takjub, kagum, atau mendengar hal baik dan melihat hal indah, biasanya kita mengatakan Subhanalloh. Padahal, seharusnya kita mengucapkan Masya Alloh yang bermakna “Hal itu terjadi atas kehendak Alloh”.

Ungkapan Subhanalloh tepatnya digunakan untuk mengungkapkan “ketidaksetujuan atas sesuatu”. Misalnya, begitu mendengar ada keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan, kita katakan Subhanalloh (Maha Suci Alloh dari keburukan yang demikian).

Ucapan Masya Alloh

Masya Alloh  artinya “Alloh telah berkehendak akan hal itu”. Ungkapan kekaguman kepada Alloh dan ciptaan-Nya yg indah lagi baik. Menyatakan “semua itu terjadi atas kehendak Alloh”.

Masya Alloh  diucapkan bila seseorang melihat hal yang baik dan indah. Ekspresi penghargaan sekaligus pengingat bahwa semua itu bisa terjadi hanya karena kehendak-Nya. Sebagaimana firman Alloh Subhanahu wa Ta”ala sbb:

وَلَوْلا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالا وَوَلَدًا

“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, ‘Maasya Allah laa quwwata illa billah‘ (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan?” (QS. Al-Kahfi: 39).

Penggunaan kalimat tersebut dikarenakan kalimat “Masya Alloh” (ما شاء الله) bisa di-i’robkan dengan dua cara di dalam bahasa Arab:

I’rob yg pertama dari “Masya Alloh” (ما شاء الله) adalah dengan menjadikan kata “maa” (ما) sebagai isim maushul (kata sambung) dan kata tersebut berstatus sebagai khobar (predikat). Mubtada’ (subjek) dari kalimat tersebut adalah mubtada’ yg disembunyikan, yaitu “hadza” (هذا). Dengan demikian, bentuk seutuhnya dari kalimat “Masya Alloh” adalah :

هذا ما شاء الله

(Hadza Masya Allah)

Jika demikian, maka artinya dalam bahasa Indonesia adalah: “inilah yg dikehendaki oleh Alloh”.

Adapun i’rob yg kedua, kata “maa” (ما) pada “Masya Alloh” merupakan maa syarthiyyah (kata benda yg mengindikasikan sebab) dan frase “syaa Alloh” (شاء الله) berstatus sebagai fi’il syarat (kata kerja yng mengindikasikan sebab). Sedangkan jawab syarat (kata benda yang mengindikasikan akibat dari sebab) dari kalimat tersebut tersembunyi, yaitu “kana” (كان). Dengan demikian, bentuk seutuhnya dari kalimat “Masya Alloh” adalah:

ما شاء الله كان

(Masya Allohu kana)

Jika demikian maka artinya dalam bahasa Indonesia adalah: “apa yang dikehendaki oleh Alloh, maka itulah yg akan terjadi”.

Ringkasnya, “Masya Alloh” bisa diterjemahkan dengan dua terjemahan, “inilah yg diinginkan oleh Alloh apa yang dikehendaki oleh Alloh, maka itulah yg akan terjadi”. Maka ketika melihat hal yang menakjubkan, lalu kita ucapkan “Masya Alloh” (ما شاء الله), artinya kita menyadari dan menetapkan bahwa hal yang menakjubkan tersebut semata-mata terjadi karena kuasa Alloh.

PENGGUNAAN KALIMAT SUBHANALLOH

Dari Abdillah bin Amir bin Rabiah, bahwa Nabi  Shollallohu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ أَوْ مِنْ نَفْسِهِ أَوْ مِنْ مَالِهِ مَا يُعْجِبُهُ فَلْيُبَرِّكْهُ فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ

Apabila kalian melihat ada sesuatu yg mengagumkan pada saudaranya atau dirinya atau hartanya, hendaknya dia mendoakan keberkahan untuknya. Karena serangan ain itu benar. (HR. Ahmad 15700, Bukhari dalam at-Tarikh 2/9).

Kapan Dianjurkan Mengucapkan Subhanalloh?

Terdapat beberapa keadaan, dimana kita dianjurkan mengucapkan Subhanallah. Diantaranya,

Pertama, ketika kita keheranan terhadap sikap.

Tidak ada kaitannya dengan keheranan terhadap harta atau fisik atau apa yg dimiliki orang lain. Tapi keheranan terhadap sikap.

Misalnya, terlalu bodoh, terlalu kaku, terlalu aneh, dst.

Kita lihat beberapa kasus berikut,

Kasus pertama, Abu Hurairoh pernah ketemu Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam  dalam kondisi junub. Lalu Abu Hurairoh pergi mandi tanpa pamit. Setelah balik, Nabi  Shollallohu ‘alaihi wa sallam  bertanya, mengapa tadi dia pergi. Kata Abu Hurairoh, “Aku junub, dan aku tidak suka duduk bersama engkau dalam keadaan tidak suci.” Kemudian Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

سُبْحَانَ اللَّهِ إِنَّ الْمُسْلِمَ لاَ يَنْجُسُ

Subhanalloh, sesungguhnya muslim itu tidak najis. (HR. Bukhari 279)

Kasus kedua, ada seorang wanita yg datang kepada Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam  menanyakan bagaimana cara membersihkan bekas haid setelah suci. Beliau menyarankan, “Ambillah kapas yg diberi minyak wangi dan bersihkan.”

Wanita ini tetap bertanya, “Lalu bagaimana cara membersihkannya.”

Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam merasa malu untuk menjawab dengan detail, sehingga beliau hanya mengatakan,

سُبْحَانَ اللَّهِ تَطَهَّرِى بِهَا

“Subhanalloh.., ya kamu bersihkan pakai kapas itu.”

Aisyah paham maksud Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, beliau pun langsung menarik wanita ini dan mengajarinya cara membersihkan darah ketika haid. (HR. Bukhari 314 & Muslim 774)

Kasus ketiga, Aisyah pernah ditanya seseorang,

“Apakah Nabi  Shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah melihat Allah?”

Aisyah langsung mengatakan,

سُبْحَانَ اللَّهِ لَقَدْ قَفَّ شَعْرِى لِمَا قُلْت

Subhanalloh, merinding bulu romaku mendengar yg kamu ucapkan. (HR. Muslim 459).

An-Nawawi mengatakan,

أن سبحان الله في هذا الموضع وأمثاله يراد بها التعجب وكذا لااله إلا الله ومعنى التعجب هنا كيف يخفى مثل هذا الظاهر الذي لايحتاج الإنسان في فهمه إلى فكر وفي هذا جواز التسبيح عند التعجب من الشيء واستعظامه

Bahwa ucapan Subhanalloh dalam kondisi semacam ini maksudnya adalah keheranan. Demikian pula kalimat LA ILAHA ILLALLOH. Makna keheranan di sini, bagaimana mungkin sesuatu yang sangat jelas semacam ini tidak diketahui. Padahal seseorang bisa memahaminya tanpa harus serius memikirkannya. Dan dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya membaca tasbih ketika keheranan terhadap sesuatu atau menganggap penting kasus tertentu. (Syarh Shahih Muslim, 4/14).

Kedua, Keheranan ketika ada sesuatu yang besar terjadi

Misalnya melihat kejadian yang luar biasa.

Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam terkadang tersentak bangun di malam hari, karena keheranan melihat sesuatu yang turun dari langit.

Dari Ummu Salamah Rodhiyallahu ‘anha, bahwa pernah suatu malam, Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam terbangun dari tidurnya.

سُبْحَانَ اللَّهِ مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنَ الْفِتَنِ

“Subhanalloh, betapa banyak fitnah yang turun di malam ini.” (HR. Bukhari 115).

Dalam kasus lain, beliau juga pernah merasa terheran ketika melihat ancaman besar dari langit. Terutama bagi orang yang memiliki utang,

Dari Muhammad bin Jahsy rodhiallohu ‘anhu, “Suatu ketika, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam melihat ke arah langit, kemudian beliau bersabda,

سُبْحَانَ اللَّهِ مَاذَا نُزِّلَ مِنَ التَّشْدِيدِ

“Subhanalloh, betapa berat ancaman yang diturunkan ….”

Kemudian, keesokan harinya, hal itu saya tanyakan kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Risululloh, ancaman berat apakah yang diturunkan?’

Beliau menjawab,

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ رَجُلاً قُتِلَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيِىَ ثُمَّ قُتِلَ ثُمَّ أُحْيِىَ ثُمَّ قُتِلَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ دَيْنُهُ

‘Demi Allah, yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya ada seseorang yang terbunuh di jalan Alloh, lalu dia dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi (di jalan Allah), lalu dia dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi (di jalan Allah), sementara dia masih memiliki utang, dia tidak masuk surga sampai utangnya dilunasi.’” (HR. Nasa’i 4701 dan Ahmad 22493).

Kata Ali Qori, Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam  mengucapkan Subhanalloh karena takjub (keheranan) melihat peristiwa besar yang turun dari langit. (Mirqah al-Mafatih, 5/1964).

Wallohu a’lam bis-Showab