MAULID SIMTUDDUROR DAN TERJEMAHANYA

DI BAWAH INI ADALAH MAULID SIMTUD DUROR DAN TERJEMAHNYA, SEKALIGUS LINK VIDEO PEMBACAAN MAULID SIMTUDDUROR BAGI YANG MAU MENONTON. SEMOGA BERMANFAAT, AMIN….

يا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد ۞ أَشْرَف بَدْرٍ فِي الْكَوْنِ اَشْرَقْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad purnama termulia di semesta yang bersinar

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد ۞ أَكْرَمِ دَاعٍ يَدْعُوْ اِلَى الْحَـقْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad pengajak termulia yang mengajak kepada kebenaran

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد ۞ اَلْمُصْطَفَى الصادِقِ الْمُصَدَّقْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad yang terpilih yang benar yang dibenarkan

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمّدَ ۞ اَحْلَى الْوَرى مَنْطقًا وَاَصْدَقْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad makhluk terindah ucapannya dan terjujur

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد ۞ اَفْضلِ مَـنْ بِالتُّقـى تَحَقَّـقْ

wahai tuhanku berselawatlah atas Muhammad seorang yang menyatakan ketakwaan

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد ۞ مَنْ بِالسخَا والْوَفَـا تَخَلَّـقْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad seorang yang berbudi pekerti dermawan dan memenuhi janji

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد ۞ وَاجْمَعْ مِنَ الشمْلِ مَا تَفَـرَّقْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad dan kumpulkan perkara yang terpisah-pisah

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد ۞ وَاصلِحْ وَسَهِلْ مَا قَدْ تَعَـوَّقْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad dan perbaiki dan mudahkan perkara yang sulit

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد ۞ وَافْتَحْ مِنَ الْخَيْرِ كُلَّ مُغْلَـقْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad dan bukalah setiap kebaikan yang tertutup

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد ۞ وَآلِـهْ وَمَـنْ بِالنَّبِـيّ تَعَلَّـقْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad dan orang yang berpegang dengan nabi

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد وآلِهْ وَمَنْ لِلْحَبِيْـِب يَعْشَـقْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad dan orang yang rindu terhadap kekasih

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد ۞ وَمَـنْ بِحَبْـلِ النَّبِـيّ تَوَثَّـقْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad dan orang yang berpegangan dengan tali nabi

يَا رَبِّ صَـلِّ عَلَى مُحَمَّد ۞ يَا رَبّ صـلّ علَيْـهِ وَسلّـمْ

wahai tuhanku berselawatlah kepada Muhammad wahai tuhanku berselawatlah kepadanya dan ucapkanlah salam

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الْقَوِيِّ سُلْطَانُهْ

Segala puji bagi Allah, yang teguh kekuasaan-Nya

اَلْوَاضِحِ بُرْهَانُهْ

 yang jelas bukti kebenaran-Nya

اَلْمَبْسُوْطِ فِي الْوُجُوْدِ كَرَمُه وَإِحْسَانُهْ

yang terbentang di alam semesta kedermawanan dan kemurahan-Nya

تَعَالى مَجْدُه وَعَظُمَ شَانُهْ

Maha tinggi kemuliaan-Nya, maha agung kedudukan-Nya

خَلَقَ الْخَلْقَ لِحِكْمَهْ

menciptakan makhluk karena hikmah

وَطَوى عَلَيْهَا عِلْمَهْ

dan melipat ilmu-Nya atas hikmah

وَبَسَطَ لَهُمْ مِنْ فَائِضِ الْمِنَّةِ مَا جَرَتْ بِه فِي أَقْدَارِهِ الْقِسْمَةْ

dan menghamparkan bagi mereka limpahan karunia-Nya yang pembagian berlaku dalam kehendak-Nya

فَأَرْسَلَ إِلَيْهِمْ أَشْرَفَ خَلْقِه وَأَجَلَّ عَبِيْدِه رَحْمَةْ

maka Ia mengutus makhluk-Nya yang paling mulia dan hamba-Nya yang paling agung karena rahmat

تَعَلَّقَتْ إِرَادَتُهُ الْأَزَلِيَّةُ بِخَلْقِ هذَا الْعَبْدِ الْمَحْبُوبْ

kehendaknya-Nya yang azali terhubung dengan penciptaan hamba yang dicintai ini

فَانْتَشَرَتْ أثَارُ شَرَفِه فِي عَوَالِمِ الشَّهَادَةِ وَالْغُيُوبْ

Maka tersebarlah pancaran kemuliaannya di alam nyata dan gaib

فَمَا اَجَلَّ هذَا الْمَنَّ الَّذِيْ تَكَرَّمَ بِهِ الْمَنَّانْ

betapa agung anugerah ini yang dilimpahkan oleh Maha Pemurah

وَمَا اَعْظَمَ هذَا الْفَضْلَ الَّذِيْ بَرَزَ مِنْ حَضْرَةِ الْإِحْسَانْ

betapa agung keutamaan ini yang tampak dari sumber kebagusan

صُوْرَةً كَامِلَةً ظَهَرَتْ فِي هَيْكَلٍ مَحْمُودْ

rupa yang sempurna yang tampak dalam bentuk insan terpuji

فَتَعَطَّرَتْ بِوُجُوْدِهَا اَكْنَافُ الْوُجُودْ

maka sisi-sisi alam semesta menjadi harum sebab kehadirannya

وَطَرَّزَتْ بُرْدَ الْعَوَالِمِ بِطِرَازِ التَّكْرِيمْ

dan sisi-sisi tersebut menyulam selimut alam semesta dengan sulaman kemuliaan

تَجَلَّى الْحَقُّ فِي عَالَمِ قُدْسِهِ الْوَاسِعْ

Allah yang Maha benar menampakkan dalam alam kesucian-Nya yang luas

تَجَلِّيًا قَضَى بِانْتِشَارِ فَضْلِه فِي الْقَرِيْبِ وَالشَّاسِعْ

dengan penampakan yang menetapkan penyebaran anugerah-Nya pada yang dekat dan jauh

فَلَهُ الْحَمْدُ الَّذِيْ لا تَنْحَصِرُ اَفْرَادُه بِتَعْدَادْ

Maka hanya bagi-Nya segala puji yang tidak terhingga bilangannya dengan hitungan

وَلا يُمَلُّ تَكْرَارُه بِكَثْرَةِ تَرْدَادْ

dan pengulangan tidak menjenukan sebab banyaknya pengulangan

حَيْثُ أَبْرَزَ مِنْ عَالَمِ الْإِمْكَانْ

sekira Ia tampilkan dari alam imkan

صُوْرَةَ هذَا الْإِنْسَانْ

bentuk insan ini

لِيَتَشَرَّفَ بِوُجُوْدِه ِ الثَّقَلانْ

Agar manusia dan jin memperoleh kemuliaan dengan kehadirannya

وَتَنْتَشِرَ اَسْرَارُه فِي الْأَكْوَانْ

dan rahasia-rahasianya tersebar di alam semesta

فَمَا مِنْ سِرٍّ اتَّصَلَ بِه قَلْبُ مُنِيبْ

Maka tiada rahasia yang sambung dengan hati orang yang sadar

اِلا مِنْ سَوَابغ فَضْلِ اللّهِ عَلى هذَا الْحَبِيبْ

Kecuali karena curahan karunia Allah terhadap kekasih ini

يَا لَقَلْب سُرُوْرُه قَـدْ تَوَالـى ۞ بِحَبِيْب عَـمَّ الأَنَـامَ نَـوَالا

duhai kebahagiaan hati yang terus menerus, karena kekasih yang anugerahnya ke semua manusia

جَلَّ مَنْ شَرَّفَ الْوُجُودَ بِنُوْرٍ ۞ غَمَرَ الْكَوْنَ بَهْجَـةً وَجَمَـالا

Maha agung Zat yang telah memuliakan wujud ini dengan cahaya, yang meliputi semesta dengan keriangan dan kecantikan

قَدْ تَرَقّى فِي الْحُسْنِ اَعْلى مَقَامٍ ۞ وَتَنَاهى فِي مَجْـدِه وَتَعَالـى

Mencapai tingkat keindahan tertinggi, menjulang mengangkasa dengan kemuliaannya

لاحَظَتْهُ الْعُيُوْنُ فِيْمَا اجْتَلَتْـهُ ۞ بَشَرًا كَامِلا يُزِيْحُ الضـلالا

Mata memandang dengan sesuatu yang ia lihat sebagai bentuk insan sempurna pengikis kesesatan

وَهْوَ مِنْ فَوْقِ عِلْمِ مَا قَدْ رَأَتْـهُ ۞ رِفْعَةً فِي شُؤُوْنِـه وكَمَـالا

meski ia melampaui pengetahuan yang dilihat mata dalam kemuliaan perkaranya dan kesempurnaan.

فَسُبْحَانَ الَّذيْ أَبْرَزَ مِنْ حَضْرَةِ الْاِمْتِنَانْ

mahasuci tuhan yang menampakkan dari sisi anugerah

مَا يَعْجِزُ عَنْ وَصْفِهِ اللِّسَانْ

sesuatu yang lisan tidak mampu menyifatinya

وَيَحَارُ فِي تَعَقُّلِ مَعَانِيْهِ الْجَنَانْ

dan hati bingung dalam memikirkan makna-maknanya

اِنْتَشَرَ مِنْهُ فِي عَالَمِ الْبُطُوْنِ وَالظُّهُورْ

tersebar darinya terhadap alam batin dan zahir

مَا مَلأَ الْوُجُوْدَ الْخَلْقِيَّ نُورْ

yang cahaya tidak menerangi alam semesta

فَتَبَارَكَ اللّهُ مِنْ اِلهٍ كَرِيمْ

Mahasuci Allah, Tuhan Maha Pemurah

بَشَّرَتْنَا آيَاتُه فِي الذِّكْرِ الْحَكِيمْ

Yang dalam kitab suci Al-Quran Al-Hakim Mengungkap berita gembira dengan firman-Nya,

بِبشَارَةِ لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ مِنْ اَنْفُسكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْه مَا عَنتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بالْمُؤْمنيْنَ رَؤفٌ رَحيْم

Telah datang kepadamu Seorang rasul dari kalangan sendiri Ia selalu prihatin atas apa yang menimpamu sangat ia inginkan kamu beriman Ia sangat penyantun, sangat penyayang.

فَمَنْ فَاجَأَتْهُ هذِهِ الْبشَارَةُ وتَلَقَّاهَا بِقَلْبٍ سَلِيمْ

Maka siapa saja yang sampai kepadanya berita gembira ini Serta menerimanya dengan hati dan pikiran sehat

فَقَدْ هُدِيَ اِلى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمْ

 Niscaya ia beroleh petunjuk Ke arah jalan yang lurus

BERSAMBUNG……

RAHASIA NABI MUHAMMAD SAW. UMURNYA PENDEK

Rasulullah SAW pernah mengabarkan usia kebanyakan umatnya yang berkisar antara 60-70 tahun. Penyebutan kelaziman angka umur umat akhir zaman ini tidak menafikan mereka yang wafat sebelum mencapai atau sesudah melewati kisaran tersebut. Meski ada yang berusia melebihi 70 tahun, jumlah mereka sangat kecil.

 عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوْزُ ذَلِكَ رواه الترمذي

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Usia umatku (umumnya berkisar) antara 60 sampai 70 tahun. Jarang sekali di antara mereka melewati (angka) itu.’” (HR At-Tirmidzi).

Abdurra’uf Al-Munawi dalam Faidhul Qadir mengatakan bahwa “umatku” yang disebut dalam hadits di sini bukan hanya pemeluk agama Islam (ummatul ijābah), tetapi manusia secara umum yang hidup di zaman Nabi Muhammad SAW dan seterusnya (ummatud da’wah). Adapun umat manusia terdahulu memiliki usia, kekuatan fisik, dan rezeki yang berlipat ganda dari umat manusia akhir zaman. Sebagian orang terdahulu berusia 1000 tahun. Tinggi badan mereka mencapai 80 hasta bahkan lebih atau kurang sedikit. Mereka menikmati dunia dengan fisik seperti itu. Dengan usia demikian, mereka menjadi angkuh dan sombong serta berpaling dari Allah “Karena itu, Tuhanmu menimpakan cambuk azab kepada mereka,” (Surat Al-Fajri ayat 13).

Sejak zaman mereka itu, fisik dan rezeki serta umur umat manusia terus berangsur menurun hingga umat ini sebagai umat manusia akhir zaman. Mereka hanya menerima sedikit rezeki dengan fisik yang lemah dan usia yang relatif pendek agar mereka tidak menjadi angkuh. Ini adalah bentuk rahmat Allah. Sebagian ulama membagi empat fase usia manusia, yaitu masa balita dan kanak-kanak, masa remaja dan masa muda, masa dewasa, dan masa tua sebagai akhir usia mereka yang umumnya berkisar antara 60-70 tahun. Pada masa tua itu, tampak turunnya daya fisik dan berkurangnya sisi lain pada dirinya. Pada saat itu, ia sangat dianjurkan untuk mempersiapkan diri untuk menuju akhirat karena mustahil untuk kembali pada kekuatan dan ketangkasannya seperti semula saat muda dahulu. (Al-Munawi, Kitab Faidhul Qadir).

Umur umat Nabi Muhammad SAW relatif singkat, umumnya 60-70 tahun. Mereka tidak seperti umat terdahulu yang memiliki usia 1000 tahun. Tinggi badan umat terdahulu 100 hasta dan lebar 10 hasta. Mereka menikmati dunia, makanan, minuman, dan pakaian sesuai kebutuhan besar fisik dan panjang usia mereka. Di tengah limpahan itu semua, nikmat yang dikonsumsi umat terdahulu tetap terbilang sedikit. Pasalnya, yang namanya dunia, halalnya menuntut hisab. Haramnya meniscayakan azab sebagaimana keterangan hadits.

Sebaliknya, Allah memuliakan umat Nabi Muhammad SAW sebagai umat akhir zaman ini dengan sedikit siksa dan hisab yang dapat menghalangi mereka dari masuk surga. Oleh karena itu, mereka adalah umat pertama yang masuk surga. Dari sana kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Nahnul ākhrūnal awwalūn” atau kami adalah umat akhir zaman yang awal (masuk surga). Ini termasuk kabar Rasulullah yang terbilang mukjizat. (Abdurra’uf Al-Munawi, At-Taysir bi Syarhil Jami’is Shaghir).

Ibnu Hajar dalam Kitab Fathul Bari bi Syarhi Shahihil Bukhari mengatakan bahwa hadits ini mengisyaratkan genapnya usia 60 sebagai dugaan selesainya umur seseorang. Pada usia lansia ini dengan segala kekurangan yang ada, seseorang seyogianya menyibukkan diri sedapat mungkin dengan aktivitas persiapan menuju akhirat karena mustahil untuk kembali pada kekuatan dan ketangkasannya seperti semula saat muda dahulu. Sebagian ulama mazhab Syafi’i menarik sebuah simpulan hukum bahwa orang yang genap memasuki usia 60 tahun dan belum berhaji karena kelalaiannya–padahal ia mampu–, maka ia berdosa jika kemudian wafat sebelum menunaikan ibadah haji. (Ibnu Hajar, Fathul Bari).

Umat manusia akhir zaman mendapat limpahan rahmat Allah berupa pelipatgandaan ganjaran atas amal ibadah yang membantu mereka di tengah keterbatasan usia mereka yang sangat singkat di dunia. Salah satu keterangan itu dapat ditemukan pada hadits Rasulullah SAW berikut ini:

 عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

Artinya, “Dari Ibnu Abbas RA, dari Rasulullah SAW pada apa yang diriwayatkan dari Allah, ia bersabda, ‘Allah menulis kebaikan dan kejahatan. Ia kemudian menerangkan, siapa saja yang terpikir untuk berbuat kebaikan dan ia belum melakukannya, niscaya Allah mencatatnya sebagai sebuah kebaikan sempurna. Tetapi bila ia terpikir untuk berbuat kebaikan dan ia kemudian melakukannya, niscaya Allah mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan yang berlipat ganda hingga 700 hingga kelipatan yang banyak. Namun, jika ia terpikir untuk berbuat kejahatan dan ia belum melakukannya, niscaya Allah mencatatnya sebagai sebuah kebaikan sempurna. Tetapi bila ia terpikir untuk berbuat kejahatan dan ia kemudian melakukannya, niscaya Allah mencatatnya sebagai sebuah kejahatan saja,’” (HR Bukhari dan Muslim).

Wallahu a’lam

PENGHUNI SURGA MEMPUNYAI KARAKTER SEPERTI INI

Iyadh bin Himar Al-Mujasyi’i ia berkata, pada suatu hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah seraya bersabda,

“Penghuni surga itu ada tiga; pertama, penguasa yang adil, jujur, dan mendapat taufik, kedua, seorang yang penyayang dan perhatian kepada setiap kerabat, ketiga, seorang muslim yang suci, pandai menjaga diri, dan memiliki keluarga….” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu ia berkata, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Macam-macam umat diperlibatkan keapdaku; aku melihat seorang Nabi beserta sekelompok orang pengikutnya,  aku melihat seorang Nabi beserta seorang laki-laki pengikutnya, aku melihat seorang Nabi tanpa ditemani seorang pengiku pun, kemudian diperlihatkan kepadaku sekelompok orang dengan jumlah yang amat banyak, maka aku berakta, ‘Ini adalah umatku.’ Kemudian dikatakan, ‘Ini adalah Musa dan umatnya. Tapi, lihatlah ke atas.’ Seketika terlihat sekelompok umat dengan jumlah yang amat banyak. Kemudian dikatakan, ‘Lihatlah ke arah yang lain.’ Seketika terlihat sekelompok umat dengan jumlah yang amat banyak. Kemudian dikatakan, ‘Ini adalah umatmu.’ Bersama mereka 70.000 orang masuk ke dalam surga tanpa melalui prosesi hisab dan siksa.” Kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berdiri, lalu masuk, lalu para shahabat berbicara panjang lebar tentang sabda Nabi tadi. Kemudian mereka berkata, ‘Siapakah mereka yang masuk surga tanpa melalui prosesi hisab dan siksa?’ Sebagian mereka berkata, ‘Barangkali mereka yang menyertai Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.’ Sebagian yang lain berkata, ‘Barangkali mereka yang dilahirkan dalam keadaan Islam, dia tidak pernah menyekutukan Allah.’ Mereka menyebutkan banyak hal. Kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam keluar kembali (dari kamar beliau) menemui mereka, lalu beliau berkata, ‘Apa yang kalian perbincangkan?’ Mereka pun memberitahukan kepada beliau tentang apa yang mereka perbincangkan antarmereka. Lalu beliau bersabda, ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan menggunakan kayy, tidak minta diruqyah (ruqyah yang tidak syar’i), tidak bertathayyur (pesimis karena melihat pertanda buruk), dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal.’ Kemudian ‘Ukkasyah bin Mihshan Al-Asadi berdiri seraya berkata, ‘Apakah saya termasuk bagian dari mereka, wahai Rasulullah?’ Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. ‘Kamu adalah termasuk bagian dari mereka!’ Lalu sebagian shahabat yang lain (Sa’ad bin ‘Ubadah) berkata, ‘Apakah saya bagian dari mereka, wahai Rasulullah?’ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kamu telah didahului oleh Ukkasyah’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Berkaitan dengan maksud tawakkal di dalam hadis di atas, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tawakkal adalah kondisi hati yang timbul atas pengetahuannya terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, percaya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sendirian dalam mencipta, mengatur, menghilangkan madharat, mendatangkan manfaat, memberi, memboikot pemberian, dan apa yang Dia kehendaki bisa terwujud meskipun manusia tidak menghendakinya, sedangkan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak terwujud meskipun manusia menghendakinya. Dengan begitu, ia bersandar sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menyerahkan segala hal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, merasa tenang bersama-Nya, percaya sepenuhnya kepada-Nya, yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencukupinya berdasarkan rasa dan sikap tawakkal kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memenuhi kebutuhan orang yang tawakkal itu, tidak ada sesuatu yang terjadi di luar kehendak-Nya, baik manusia menginginkannya maupun menolaknya. Kondisi orang yang tawakkal itu seperti kondisi anak kecil di hadapan kedua orang tuanya, dalam perihal sesuatu yang ia niatkan, baik motivasi atau larnagan, maka kedua orang tua itu menanggung sepenuhnya. Perhatikanlah hati anak itu tidak pernah terbesit untuk bersandar kepada selain kedua orang tuanya, dan menahan hasratnya untuk menyampaikan apa yang ia niatkan kepada kedua orang tuanya. Begitu juga kondisi orang yang tawakkal. Barangispa yang memiliki sikap seperti iu dalam berinteraksi dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti mencukupinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Ath-Thalaaq: 3)

Dari Sahal bin Sa’ad ia berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang menjamin (menjaga) lisan dan kemaluannya, maka aku menjaminnya untuk masuk jannah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang oleh Allah dijaga dari kejelekan lisan dan kemaluannya, maka ia akan masuk jannah’.”

Dari Mu’adz bin Jabal ia berkata,

“Aku pernah bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan. Pada suatu pagi aku berada di dekat Nabi, sementara kami sedang berjalan kaki, lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, beritahulah saya tentang pekerjaan yang bisa memasukkan saya ke surga dan menjauhkan saya dari neraka.’ Beliau bersabda, ‘Kamu telah bertanya kepadaku tentang sesuatu yang agung. Sungguh sedikit orang yang dimudahkan oleh Allah untuk bertanya tentang hal itu. (Amal itu adalah) kamu menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun, melaksanakan shalat menunaikan zakat, shiyam pada bulan Ramadhan, berhaji ke Baitullah.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Maukah kamu jika aku memberitahumu tentang pintu-pintu kebaikan? Shiyam itu adalah perisai, sedangkan sedekah dapat menghapus dosa, sebagaimana air dapat memadamkan api, serta shalat seseorang pada kesunyian malam (qiyamul lail).’ Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.’ (QS. As-Sajdah: 16-17). Beliau kemudian bersabda, “Maukah kamu jika aku memberitahumu tentang penghulu segala sesuatu, tiang segala sesuatu, dan puncak segala sesuatu?’ Aku berkata, ‘Dengan senang hati, wahai Rasulullah.’  “Pokok segala urusan adalah Islam, pilarnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.” Beliau bersabda, ‘Maukah kamu jika aku memberitahumu raja dari seluruh itu?’ Aku berkata, ‘Dengan senang hati, wahai Nabi Allah.’ Kemudian Rasulullah memegang mulut Mua’adz seraya bersabda, ‘Jagalah (tahanlah) mulutmu seperti ini.’ Aku berkata, ‘Wahai Nabi Allah, apakah kami akan disiksa karena kata-kata yang kami ucapkan?’ Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ibumu merasa kehilangan kamu, (celakalah) wahai Mu’adz. Tidaklah manusia dicebloskan ke dalam neraka dengan diseret di atas wajah atau dahinya kecuali disebabkan oleh kata-kata yang diucapkan oleh mulut mereka’.”

AMALAN AGAR SELAMAT DARI BAHAYA PENCURIAN SERTA KEBAKARAN DAN LAINYA

Enam beit ” Bahar Basith ” berikut, di beberapa Pondok Pesantren salafiyyah di wirid dan di dawamkan ,biasanya dibaca sebagai closing/penutup dari rangkaian Wirid dan Dzikir sholat fardhu yang warid dari Rosul, dan lazimnya setelah sholat fardhu maghrib dan shubuh.

Enam beit berikut berisikan khushushiyyat atau keistimewaan yang dimiliki kanjeng nabi Muhammad SAW , Dan bagi pengamalnya, insyaAllah… Allah hindarkan dari musibah dan marabahaya yang disebutkan di akhir beit.

Demikian dinyatakan Syekh  Nawawi Banten dalam kitab Maraqil Ubudiyah ala Bidayatil Hidayah. Hal : 3

Silahkan di amalkan ,sebagai bentuk ikhtiyar,usaha dan do’a kita kepada Allah agar terlindung dari musibah, Amin

لَمْ يَحْتَلِمْ قَطُّ طَهَ مُطْلَقًا أَبَدًا * وَما تَثائَبَ أَصْلاً في مَدَى الزَّمَنِ

مِنْهُ الدَّوَابُّ فَلَمْ تَهْرُبْ وَمَا وَقَعَتْ * ذُبَابَةٌ أَبَدًا فِي جِسْمِهِ الحَسَنِ

بِخَلْفِهِ كَأَمَامَ رُؤْيَةٌ ثَبَتَتْ * وَلاَ يُرَى أَثَرُ بَوْلٍ مِنْه فِي عَلَنِ

وَقَلْبُه لَمْ يَنَمْ وَالعَيْنُ قَدْ نَعَسَتْ * وَلاَ يَرَى ظِلَّهُ فِي الشَّمْسِ ذُوْ فَطَنِ

كَتْفَاهُ قَدْ عَلَتَا قَوْمًا إِذَا جَلَسُوْا * عِنْدَ الوِلاَدَةِ صِفْ يَا ذَا بِمُخْتَتَنِ

هَذِى الخَصَائِصَ فَاحْفَظْهَا تَكُنْ آمِنًا * مِنْ شَرِّ نَارٍ وَسُرَاقٍ وَمِنْ مِحَنِ

Artinya:

Belum pernah sama sekali, Thoha (Nabi Muhammad SAW) “bermimpi basah, Dan sama sekali Beliau tidak pernah menguap di sepanjang hayatnya

Darinya, binatang tidak lari dan belum pernah hinggap seekor lalat di tubuhnya yang bagus

Sisi belakang beliau sama seperti sisi depan,yaitu mampu melihat  , Dan bekas air seninya tidak terlihat meski di tempat nyata

Qalbunya tak pernah tidur sekalipun mata mengantuk , Dan bayangan tubuhnya tidak terlihat ketika disinari matahari

Kedua Bahunya selalu terlihat lebih tinggi dari bahu yang lainnya ketika bermajlis, Dan ketika lahir terangkanlah wahai nabi yang sudah terkhitan

Keistimewaan ini hafalkanlah agar kau aman , Dari kejahatan api kebakaran, pencurian, dan bencana lain

Wallahu A’lam

SEMANGAT BERAGAMA HARUS DI DASARI AKHLAQ MULIA


KITAB al-Maroqoh al-Mafatih Syarh Misykah al-Mashobih – Ali bin Sulthon Muhammad al-Qoori
Kitab al-fadhoil

وعن أبي هريرة ، قال : قيل يا رسول الله ادع على المشركين قال : إني لم أبعث لعانا ، وإنما بعثت رحمة . رواه مسلم .

…Dari Abi Hurairoh, ia berkata : diucapkan kepada Rosulillah, Ya Rosulallah … Berdo’a lah atas orang orang musyrik (musyrikin). Maka bersabda Rosulullah : “Sesungguhnya aku tidak di utus untuk menjadi seorang pelaknat, dan sungguh aku diutus agar menjadi rahmat. [HR.Muslim]

( وعن أبي هريرة ) : رضي الله عنه ( قال : قيل يا رسول الله ادع على المشركين . قال : ” إني لم أبعث لعانا ” ) ، أي ولو على جماعة مخصوصة من الكافرين ، لقوله تعالى : ليس لك من الأمر شيء أو يتوب عليهم أو يعذبهم ( ” وإنما بعثت رحمة ” ) أي للناس عامة وللمؤمنين خاصة ، متخلقا بوصفي الرحمن الرحيم ، ولقوله تعالى : وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين قال ابن الملك : أما للمؤمنين فظاهر

Sabda Nabi (” إني لم أبعث لعانا “) dalam tafsir haditsnya hingga menggunakan dan dibatas maksimalkan dengan GHOOYAH.=> ( أي ولو على جماعة مخصوصة من الكافرين)
“Walaupun atas kelompok tertentu dari kaum kafir.”

‘Ilatnya, karena Firman Allah ta’ala (ليس لك من الأمر شيء أو يتوب عليهم أو يعذبهم) artinya :“Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu, atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang’ orang yang dzalim.” [QS. Ali Imran : 128]

Sabda Nabi SAW (” وإنما بعثت رحمة “) yaitu bagi seluruh manusia secara umum, dan kepada orang yang beriman secara khusus, dengan berakhlaq menggunakan dua sifat ilahiyah, yaitu sifat rohman dan rohiim.
Dan karena firman Allah (وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين) , Ibnu Mulk berkata : Adapun (rohmat) kepada mu’minin itu sudah zhohir/jelas.

وأما للكافرين فلأن العذاب رفع عنهم في الدنيا بسببه ، كما قال تعالى : وما كان الله ليعذبهم وأنت فيهم أقول : بل عذاب الاستئصال مرتفع عنهم ببركة وجوده إلى يوم القيامة

Adapun (rohmat) bagi kaafirin, maka sungguh adzab di angkat dari mereka ketika di dunia dengan sebab wujudnya Nabi SAW, bahkan adzab yang sifatnya isti’shol (memusnahkan) dicabut dari mereka dengan berkah wujudnya Nabi SAW , sampai hari qiyamat.

وقال الطيبي أي : إنما بعثت لأقرب الناس إلى الله ، وإلى رحمته ، وما بعثت لأبعدهم عنها ، فاللعن مناف لحالي فكيف ألعن ؟ ( رواه مسلم ) . وكذا البخاري في الأدب المفرد . وروى الطبراني ، عن كريز بن شامة قوله : ” إني لم أبعث لعانا ” . وروى البخاري في تاريخه ، عن أبي هريرة بلفظ : ” إنما بعثت رحمة ولم أبعث عذابا ”

At-Thibi berkata (dalam menafsirkan hadits di atas) : “Sungguh aku di utus agar menjadi hamba yang paling dekat kepada Allah dan kepada rahmat-Nya diantara manusia, dan aku tidak diutus (bukan tujuan aku di utus) agar aku menjauhkan mereka dari rahmat Allah, Maka aksi melaknat menafikan kepada hal diutusnya aku, maka bagaimana aku bisa melaknat ?.”
Hadits diriwayatkan Imam Muslim sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhori dalam al-Adab al-Mufrod.
Sedang lafadz hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori dari Abi Hurairoh adalah dengan lafadz
” إنما بعثت رحمة ولم أبعث عذابا ” .

Artinya : “Sungguh aku di utus sebagai rahmat, dan aku tidak di utus sebagai adzab/siksaan)

Wallahu a’lam.

RAHASIA DARI TIDAK ADANYA TUJUH HURUF DALAM SURAT AL-FATIHAH

Suatu ketika Qoishor raja romawi mengirim surat kepada kholifah Umar bin al-Khoththob RA, yang isi surat tersebut demikian:
“Kami menemukan dalam kitab suci kami yaitu injil, barang siapa yang membaca sebuah surat yang padanya tidak terdapat TUJUH huruf berikut, maka baginya syurga, ketujuh huruf itu adalah: Tsa/الثاء, Jim/الجيم, Kho/الخاء, Zay/الزاى, Syin/الشين, Zho/الظاء dan Fa/الفاء

Kami telah mencarinya dalam injil namun kami tidak menemukannya, kami mohon pada kalian agar mencarinya dalam kitab suci kalian (al-qur’an), apakah surat tersebut terdapat disana?”.
Ketika Sayyidina Umar selesai membaca surat dari raja Qoishor, ia mengabarkan hal tersebut pada para sahabat Rosulillah SAW.

Maka berkata Ubay bin Ka’b : “Wahai Amiril Mu’minin, sesungguhnya surat pembuka dalam qur’an/surat al-fatihah, didalamnya tidak terdapat ketujuh huruf yang disebutkan”.
Maka kemudian Sayyidina Umar RA membalas surat dari raja qoishor dan mengabarkan bahwa dalam qur’an terdapat sebuah surat yang dicari oleh raja qoishor, yaitu surat al-fatihah.
Dan ketika raja qoishor membaca surat balasan dari Sayyidina Umar, maka ia bersyahadat untuk memeluk agama Islam dan ia pun wafat dalam keadaan islam.
Wallahu a’lam. (Kitab Khozinatul Asror, hal 112)

أن قيصر ملك الروم كتب الى عمر بن الخطاب رضى الله عنه كتابا، وكتب فيه إنا نجد فى الانجيل أن من قرأ سورة خالية عن سبعة احرف فله الجنة، وهى الثاء والجيم والخاء والزاى والشين والظاء والفاء، فقد طلبناها فى الانجيل فلم نجدها، فانظروا هل تجدونها فى كتابكم، فلما قرأ عمر رضى الله عنه كتابه، أخبر اصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال أبى بن كعب رضى الله عنه : يا أمير المؤمنين إن فاتحة الكتاب خالية عن هذه الحروف. فكتب عمر رضى الله عنه بذلك الى قيصر الروم ، فلما بلغ اليه الكتاب أسلم ومات على الاسلام . كذا فى الشيخ زاده
خزينة الأسرار : ١١٢ – للشيخ السيد محمد حقى النازلى

MENGAPA TUJUH HURUF TERSEBUT TIDAK BERADA DALAM SURAT AL-FATIHAH ?, INILAH SEBAGIAN SIRR ATAU RAHASIA YANG DIKUTIP OLEH SYEIKH NAWAWI AL-BANTANI DALAM KITAB BAHJATUL WASAIL BI SYARHIL MASAIL, HAL 14.

(وليس فى الفاتحة ظاء) وكذا ثاء وجيم وخاء وزاى وشين وفاء . يجمعها قولك ثجخ زشظف.
ولعل السر فى عدم هذه الاحرف السبعة هنا كما قيل : أن الثاء يشير الى الثبور وهو اهلاك الله الكافر، والجيم يشير الى جهنم، والخاء الى الخباثة والخسارة وهى الهلاك، والزاى الى الزقوم، والشين الى الشوكة، وتلظاء الى الظلمة، والفاء الى الفضيحة والأفاعى وهى الحيات التى لا ينفع منهاوترياق ولا رقيا ، أعاذنا الله من ذلك
بهجة الوسائل بشرح المسائل : ١٤

Ada 7 huruf yang tidak terdapat dalam surat al-Fatihah, terkumpul dalam ucapan ﺛﺠﺦ ﺯﺷﻈﻒ :

  1. Tsa’/ ﺙ , mengisyaratkan tsubur yaitu penghancuran Allah kepada orang kafir.
  2. Jim/ ﺝ , mengisyaratkan jahannam.
  3. Kha’/ ﺥ , mengisyaratkan khabatsah dan khasarah yaitu kehancuran atau kerugian.
  4. Za’/ ﺯ , mengisyaratkan kepada zaqqum yakni pohon pahit lagi busuk yang buahnya jadi makanan penduduk neraka jahannam.
  5. Syin/ ﺵ , mengisyaratkan syaukah artinya duri.
  6. Dza’/ ﻅ, mengisyaratkan dzulmah artinya kegelapan.
  7. Fa’/ ﻑ , mengisyaratkan fadhihah (cacat-kurang) dan afa’iy yaitu ular-ular yang tidak bermanfaat sebagai penawar racun dan ruqyah.

Wallahu a’lam

HAL-HAL YANG DI SUKAI ALLOH SWT. NABI MUHAMMAD SAW. DAN PARA SAHABATNYA SERTA IMAM MADZHAB DAN MALAIKAT JIBRIL AS.

DALAM KITAB BAHJATUL DI JELASKAN ALLOH SWT DAN NABI MUHAMMAD SAW MENYUKAI TIGA HAL. BEGITU JUGA PARA SHOHABAT BELIAU DAN JUGA IMAM MADZHAB SERTA MALAIKAT JIBRIL. TIGA HAL TERSEBUT ADALAH :

NABI MUHAMMAD SAW.

  • Wangi wangian
  • Wanita
  • Sholat

ABU BAKAR ASH SHIDIQ RA.

  • Duduk bersamamu (Nabi)
  • Bersholawat kepadamu
  • Menginfaqkan hartaku untukmu

UMAR BIN KHOTHOB RA.

  • Amar ma’ruf
  • Nahi munkar
  • Menegakkan had/ hukum Allah dan RosulNya

‘UTSMAN BIN AFFAN RA.

  • Memberi makanan
  • Menebarkan salam/kedamaian
  • Sholat malam ketika manusia tertidur

ALI BIN ABI THOLIB RA.

  • Mengayunkan pedang dalam perang
  • Melakukan puasa ketika musim panas
  • Memuliakan tamu

Maka turunlah malaikat Jibril as mengutarakan tiga hal yang ia sukai kepada Nabi SAW.

JIBRIL AS.

  • Turun ke bumi untuk menemui para Nabi
  • Menyampaikan Risalah kepada para Rosul Allah
  • Memuji hanya kepada Allah SWT
    Kemudian Malaikat Jibril menyampaikan tiga hal yang Allah sukai

ALLAH SWT.

  • Lisan yang senantiasa berdzikir
  • Hati yang senantiasa bersyukur
  • Jasad yang senantiasa bersabar ketika mendapat cobaan dan ujian hidup

Ketika Hadits dan riwayat (diatas) sampai pada Imam madzhab yang empat, maka mereka (rodhiyallahu anhum) menyampaikan tiga hal pula.

IMAM ABU HANIFAH RAH.

  • Menghasilkan ilmu pengetahuan di sepanjang malam
  • Meninggalkan masyhur dan di agungkan (manusia)
  • Tidak memberi tempat di kalbunya untuk orang yang hubb dunia

IMAM MALIK RAH.

  • Enggan jauh dengan raudhoh Nabi SAW
  • Selalu ingin berada dalam turbah Nabi SAW
  • Selalu mengagungkan ahli beit Nabi SAW

IMAM SYAFI’I RAH.

  • Berakhlak dengan penuh kelembutan
  • Meninggalkan sesuatu agar yang lain tidak tertaklif
  • Mengikuti dan menetapi jalan tashawuf

IMAM AHMAD RAH.

  • Mengikuti Nabi melalui hadits hadits nya (yang ia terima)
  • Selalu tabarruk (mengambil keberkahan) dengan Nur Nabi SAW
  • Suluk (mengikuti Nabi) dengan atsar atsarnya.
    رضي الله عن الجميع وأمدنا بمددهم آمين

Bahjatul Wasail : 35

[ لطيفة ]
عن النبى صلى الله عليه وسلم « حبب إلي من دنياكم ثلاث ، الطيب والنساء وقرة عينى فى الصلاة . وقال أبو بكر الصديق : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث الجلوس بين يديك والصلاة عليك وإنفاق مالى عليك، وقد أنفق أبو بكر على النبى صلى الله عليه وسلم أربعين ألفا. وقال عمر : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر وإقامة الحدود. وقال عثمان : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث إطعام الطعام وإفشاء السلام والصلاة بالليل والناس نيام . وقال على : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث : الضرب بالسيف والصيام فى الصيف وإقراء الضيف ، فنزل جبريل وقال : يا نبي الله وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث النزول على النبيين وتبليغ الرسالة للمرسلين والحمد لله رب العالمين. ثم قال إن الله تعالى يقول : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث لسان ذاكر وقلب شاكر وجسد على البلاء صابر ». فالعمل بهذا كله من علامات المحبة لمن اراد الدخول فى قوله صلى الله عليه وسلم : «من أحبنى كان معى فى الجنة » ولما وصل هذا الحديث إلى الأئمة الأربعة، قال الإمام أبو حنيفة : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث تحصيل العلم فى طول الليالى وترك الترفع والتعالى وقلب من حبّ الدنيا خالى. وقال الإمام مالك : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث مجاورة روضته صلى الله عليه وسلم وملازمة تربته وتعظيم أهل بيته. وقال الإمام الشافعى : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث الخلق بالتلطف وترك ما يؤدى إلى التكلف والإقتداء بطريق التصوف. وقال الإمام أحمد : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث متابعة النبى فى أخباره والتبرك بأنواره وسلوك طريق آثاره ، رضى الله عن الجميع وأمدنا بمددهم آمين

BAHWA ROSULULLOH SAW.ADALAH ROHMAT DAN PASTI MASUK SURGA

أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لن ينجي أحدا منكم عمله قالوا ولا أنت يا رسول الله قال ولا أنا إلا أن يتغمدني الله برحمته

Hadis ini bila difahami tanpa melihat dalil dalil yang lain, akan mengakibatkan pemahaman yang salah.
Diantaranya akan bertentangan dengan ayat al-quran

سلام عليكم ادخلوا الجنة بما كنتم تعملون

وتلك الجنة التي أورثتموها بما كنتم تعملون

Dua ayat tersebut menggambarkan seorang masuk surga karena sebab amal.
Dan Amal itu tidak akan terjadi kecuali ada rahmat dari Allah. Jadi tidak bisa dipisahkan antara amal soleh dengan rahmat Allah.

Berikut komentar ulama

وقال عياض طريق الجمع أن الحديث فسر ما أجمل في الآية فذكر نحوا من كلام ابن بطال الأخير وأن من رحمة الله توفيقه للعمل وهدايته للطاعة كل ذلك لم يستحقه العامل بعمله وإنما هو بفضل الله وبرحمته

Lalu menanggapi hadis diatas bahwa amal ibadah manusia tidak mungkin terjadi Kecuali dikendalikan dikendalikan oleh taufik, dan taufik ini adalah rahmat dari Allah,, maka jangan lantas dibalik, diambil mafhum mukholafahnya,, menjadi arti (kalau tidak disertai dengan rahmat Allah, maka nabi Muhammad tidak akan masuk surga حاش و كلا. Ini salah.

Alasannya :

Seab antara Rasulullah dengan rahmat Allah tidak bisa dibedakan.

Firman Allah

وما أرسلناك الا رحمة للعالمين

Juga Tafsir dr ayat ini

قل بفضل الله ورحمته اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

وأخرج الخطيب، وابن عساكر ، عن ابن عباس : قل بفضل الله قال : النبي صلى الله عليه وسلم

Pendapat imam Tasturi

قال الإمام التُّستري رحمه الله في تفسيره: (قوله تعالى: قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذلِكَ فَلْيَفْرَحُوا أي بتوحيده ونبيه محمد صلّى الله عليه وسلّم كما قال: وَما أَرْسَلْناكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

رُوي عن ابن عباس ، وهو أن الله أرسل نبيه محمدا صلى الله عليه وسلم رحمة لجميع العالم ، مؤمنهم وكافرهم . فأما مؤمنهم فإن الله هداه به ، وأدخله بالإيمان به ، وبالعمل بما جاء من عند الله الجنة

Coba diperhatikan Masuk surga dengan amal,,

وبالعمل بما جاء الخ

Hadis lain

وعن أبي هريرة ، عن النبي – صلى الله عليه وسلم – أنه قال : ” إنما أنا رحمة مهداة ” . رواه الدارمي ،والبيهقي في ” شعب الإيمان ”

Semuanya dalil diatas menunjukkan bahwa nabi Muhammad itu adalah rahmat Allah,, jadi tidak boleh dimafhum mukholafahi. Bagaimana kalau nabi tidak dapat rahmat..???

Amal juga sangat terkait dengan rahmat, sehingga orang tidak bisa melakukan amal saleh kecuali dengan rahmat Allah.

وقال عياض طريق الجمع أن الحديث فسر ما أجمل في الآية فذكر نحوا من كلام ابن بطال الأخير وأن من رحمة الله توفيقه للعمل وهدايته للطاعة كل ذلك لم يستحقه العامل بعمله وإنما هو بفضل الله وبرحمته

Jadi yang di istisna’kan (yang di nafikan) adalah anggapan bahwa surga adalah TIMBAL BALIK dari amal manusia,, ini pemahaman yg diluruskan oleh Rasulullah,, bahwa surga bukan BAYARAN bagi orang yang taat,, tidak,, surga diberikan tidak karena bayaran,,, tapi karena murni kemurahan Allah.

Inilah artinya hadis diatas.

Maka dari itu,, orang yang beramal soleh,, tidak mungkin terjadi Kecuali sudah berbarengan dengan rahmat Allah. Dan amal saleh ini hanya sebuah sebab untuk masuk surga.

Kemudian nabi Muhammad,, adalah orang yang pasti masuk surga.

روى مسلم عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( آتِي بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتفْتِحُ ، فَيَقُولُ الْخَازِنُ : مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُولُ : مُحَمَّدٌ ، فَيَقُولُ: بِكَ أُمِرْتُ لَا أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ ) .

Banyak hadis yang menerangkan bahwa nabi Muhammad pasti masuk surga. Diantaranya :
1- hadis syafaat

دِ ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ يُسْمَعْ وَسَلْ تُعْطَهْ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ فَأَقُولُ يَا رَبِّ ائْذَنْ لِي فِيمَنْ قَالَ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ فَيَقُولُ وَعِزَّتِي وَجَلالِي وَكِبْرِيَائِي وَعَظَمَتِي لأُخْرِجَنَّ مِنْهَا مَنْ قَالَ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ) رواه البخاري

2- عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ” الكوثر نهر في الجنة حافتاه من ذهب ومجراه على الدر والياقوت .. الحديث ” وقال الترمذي : إنه حسن صحيح.

Tidak ada munafat/antara Ayat al-Qur’an & Hadits.

شرح النووي على المسلم ج١٦ ص ١٦٠
ﻭ‍ﻣ‍‍ﺬ‍ﻫ‍‍ﺐ‍ ‍ﺃ‍ﻫ‍‍ﻞ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺴ‍‍ﻨ‍‍ﺔ ‍ﺃ‍ﻳ‍‍ﻀ‍‍ﺎ ‍ﺃ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﺗ‍‍ﻌ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻰ ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﺠ‍‍ﺐ‍ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﺷ‍‍ﻲ‍ﺀ ‍ﺗ‍‍ﻌ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻰ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﺑ‍‍ﻞ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻌ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻢ‍ ‍ﻣ‍‍ﻠ‍‍ﻜ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺪ‍ﻧ‍‍ﻴ‍‍ﺎ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺂ‍ﺧ‍‍ﺮ‍ﺓ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﺳ‍‍ﻠ‍‍ﻄ‍‍ﺎ‍ﻧ‍‍ﻪ‍ ‍ﻳ‍‍ﻔ‍‍ﻌ‍‍ﻞ‍ ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﻬ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﺸ‍‍ﺎﺀ ‍ﻓ‍‍ﻠ‍‍ﻮ‍ﺍ ‍ﻋ‍‍ﺬ‍ﺏ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﻄ‍‍ﻴ‍‍ﻌ‍‍ﻴ‍‍ﻦ‍ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺼ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﺤ‍‍ﻴ‍‍ﻦ‍ ‍ﺃ‍ﺟ‍‍ﻤ‍‍ﻌ‍‍ﻴ‍‍ﻦ‍ ‍ﻭ‍ﺃ‍ﺩ‍ﺧ‍‍ﻠ‍‍ﻬ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻨ‍‍ﺎ‍ﺭ ‍ﻛ‍‍ﺎ‍ﻥ‍ ‍ﻋ‍‍ﺪ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻣ‍‍ﻨ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﺇ‍ﺫ‍ﺍ ‍ﺃ‍ﻛ‍‍ﺮ‍ﻣ‍‍ﻬ‍‍ﻢ‍ ‍ﻭ‍ﻧ‍‍ﻌ‍‍ﻤ‍‍ﻬ‍‍ﻢ‍ ‍ﻭ‍ﺃ‍ﺩ‍ﺧ‍‍ﻠ‍‍ﻬ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺠ‍‍ﻨ‍‍ﺔ ‍ﻓ‍‍ﻬ‍‍ﻮ ‍ﻓ‍‍ﻀ‍‍ﻞ‍ ‍ﻣ‍‍ﻨ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﻮ ‍ﻧ‍‍ﻌ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻜ‍‍ﺎ‍ﻓ‍‍ﺮ‍ﻳ‍‍ﻦ‍ ‍ﻭ‍ﺃ‍ﺩ‍ﺧ‍‍ﻠ‍‍ﻬ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺠ‍‍ﻨ‍‍ﺔ ‍ﻛ‍‍ﺎ‍ﻥ‍ ‍ﻟ‍‍ﻪ‍ ‍ﺫ‍ﻟ‍‍ﻚ‍ ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﻜ‍‍ﻨ‍‍ﻪ‍ ‍ﺃ‍ﺧ‍‍ﺒ‍‍ﺮ ‍ﻭ‍ﺧ‍‍ﺒ‍‍ﺮ‍ﻩ‍ ‍ﺻ‍‍ﺪ‍ﻕ‍ ‍ﺃ‍ﻧ‍‍ﻪ‍ ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﻔ‍‍ﻌ‍‍ﻞ‍ ‍ﻫ‍‍ﺬ‍ﺍ ‍ﺑ‍‍ﻞ‍ ‍ﻳ‍‍ﻐ‍‍ﻔ‍‍ﺮ ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻤ‍‍ﺆ‍ﻣ‍‍ﻨ‍‍ﻴ‍‍ﻦ‍ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﺪ‍ﺧ‍‍ﻠ‍‍ﻬ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺠ‍‍ﻨ‍‍ﺔ‍ﺑ‍‍ﺮ‍ﺣ‍‍ﻤ‍‍ﺘ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﻌ‍‍ﺬ‍ﺏ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﻨ‍‍ﺎ‍ﻓ‍‍ﻘ‍‍ﻴ‍‍ﻦ‍ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﺨ‍‍ﻠ‍‍ﺪ‍ﻫ‍‍ﻢ‍ ‍ﻓ‍‍ﻰ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻨ‍‍ﺎ‍ﺭ ‍ﻋ‍‍ﺪ‍ﻟ‍‍ﺎ‍ﻣ‍‍ﻨ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﺃ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﻌ‍‍ﺘ‍‍ﺰ‍ﻟ‍‍ﺔ ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﺜ‍‍ﺒ‍‍ﺘ‍‍ﻮ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﺣ‍‍ﻜ‍‍ﺎ‍ﻡ‍ ‍ﺑ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻌ‍‍ﻘ‍‍ﻞ‍ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﻮ‍ﺟ‍‍ﺒ‍‍ﻮ‍ﻥ‍ ‍ﺛ‍‍ﻮ‍ﺍ‍ﺏ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻋ‍‍ﻤ‍‍ﺎ‍ﻝ‍ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﻮ‍ﺟ‍‍ﺒ‍‍ﻮ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﺻ‍‍ﻠ‍‍ﺢ‍ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﻤ‍‍ﻨ‍‍ﻌ‍‍ﻮ‍ﻥ‍ ‍ﺧ‍‍ﻠ‍‍ﺎ‍ﻑ‍ ‍ﻫ‍‍ﺬ‍ﺍ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﺧ‍‍ﺒ‍‍ﻂ‍ ‍ﻃ‍‍ﻮ‍ﻳ‍‍ﻞ‍ ‍ﻟ‍‍ﻬ‍‍ﻢ‍ ‍ﺗ‍‍ﻌ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻰ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﻋ‍‍ﻦ‍ ‍ﺍ‍ﺧ‍‍ﺘ‍‍ﺮ‍ﺍ‍ﻋ‍‍ﺎ‍ﺗ‍‍ﻬ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺒ‍‍ﺎ‍ﻃ‍‍ﻠ‍‍ﺔ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﻨ‍‍ﺎ‍ﺑ‍‍ﺬ‍ﺓ ‍ﻟ‍‍ﻨ‍‍ﺼ‍‍ﻮ‍ﺹ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺸ‍‍ﺮ‍ﻉ‍ ‍ﻭ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﻇ‍‍ﺎ‍ﻫ‍‍ﺮ ‍ﻫ‍‍ﺬ‍ﻩ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﺣ‍‍ﺎ‍ﺩ‍ﻳ‍‍ﺚ‍ ‍ﺩ‍ﻟ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﺔ ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻫ‍‍ﻞ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺤ‍‍ﻖ‍ ‍ﺃ‍ﻧ‍‍ﻪ‍ ‍ﻟ‍‍ﺎ‍ﻳ‍‍ﺴ‍‍ﺘ‍‍ﺤ‍‍ﻖ‍ ‍ﺃ‍ﺣ‍‍ﺪ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺜ‍‍ﻮ‍ﺍ‍ﺏ‍ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺠ‍‍ﻨ‍‍ﺔ ‍ﺑ‍‍ﻄ‍‍ﺎ‍ﻋ‍‍ﺘ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﺃ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﻗ‍‍ﻮ‍ﻟ‍‍ﻪ‍ ‍ﺗ‍‍ﻌ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻰ ‍ﺍ‍ﺩ‍ﺧ‍‍ﻠ‍‍ﻮ‍ﺍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺠ‍‍ﻨ‍‍ﺔ ‍ﺑ‍‍ﻤ‍‍ﺎﻛ‍‍ﻨ‍‍ﺘ‍‍ﻢ‍ ‍ﺗ‍‍ﻌ‍‍ﻤ‍‍ﻠ‍‍ﻮ‍ﻥ‍ ‍ﻭ‍ﺗ‍‍ﻠ‍‍ﻚ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺠ‍‍ﻨ‍‍ﺔ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺘ‍‍ﻲ‍ ‍ﺃ‍ﻭ‍ﺭ‍ﺛ‍‍ﺘ‍‍ﻤ‍‍ﻮ‍ﻫ‍‍ﺎ ‍ﺑ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﻛ‍‍ﻨ‍‍ﺘ‍‍ﻢ‍ ‍ﺗ‍‍ﻌ‍‍ﻤ‍‍ﻠ‍‍ﻮ‍ﻥ‍ ‍ﻭ‍ﻧ‍‍ﺤ‍‍ﻮ‍ﻫ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺂ‍ﻳ‍‍ﺎ‍ﺕ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺪ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺔ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻰ ‍ﺃ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻋ‍‍ﻤ‍‍ﺎ‍ﻝ‍ ‍ﻳ‍‍ﺪ‍ﺧ‍‍ﻞ‍ ‍ﺑ‍‍ﻬ‍‍ﺎ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺠ‍‍ﻨ‍‍ﺔ ‍ﻓ‍‍ﻠ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﻌ‍‍ﺎ‍ﺭ‍ﺽ‍ ‍ﻫ‍‍ﺬ‍ﻩ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﺣ‍‍ﺎ‍ﺩ‍ﻳ‍‍ﺚ‍ ‍ﺑ‍‍ﻞ‍ ‍ﻣ‍‍ﻌ‍‍ﻨ‍‍ﻰ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺂ‍ﻳ‍‍ﺎ‍ﺕ‍ ‍ﺃ‍ﻥ‍ ‍ﺩ‍ﺧ‍‍ﻮ‍ﻝ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺠ‍‍ﻨ‍‍ﺔ ‍ﺑ‍‍ﺴ‍‍ﺒ‍‍ﺐ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻋ‍‍ﻤ‍‍ﺎ‍ﻝ‍ ‍ﺛ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺘ‍‍ﻮ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﻖ‍ ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﺄ‍ﻋ‍‍ﻤ‍‍ﺎ‍ﻝ‍ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻬ‍‍ﺪ‍ﺍ‍ﻳ‍‍ﺔ ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﺈ‍ﺧ‍‍ﻠ‍‍ﺎ‍ﺹ‍ ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﻬ‍‍ﺎ ‍ﻭ‍ﻗ‍‍ﺒ‍‍ﻮ‍ﻟ‍‍ﻬ‍‍ﺎ ‍ﺑ‍‍ﺮ‍ﺣ‍‍ﻤ‍‍ﺔ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﺗ‍‍ﻌ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻰ ‍ﻭ‍ﻓ‍‍ﻀ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﺼ‍‍ﺢ‍ ‍ﺃ‍ﻧ‍‍ﻪ‍ ‍ﻟ‍‍ﻢ‍ ‍ﻳ‍‍ﺪ‍ﺧ‍‍ﻞ‍ ‍ﺑ‍‍ﻤ‍‍ﺠ‍‍ﺮ‍ﺩ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻌ‍‍ﻤ‍‍ﻞ‍ ‍ﻭ‍ﻫ‍‍ﻮ ‍ﻣ‍‍ﺮ‍ﺍ‍ﺩ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﺣ‍‍ﺎ‍ﺩ‍ﻳ‍‍ﺚ

AL-QUR’AN DAN HADITS TENTANG LARANGAN MENDEKATI ZINA

Zina adalah perbuatan yang sangat dilarang bahkan sangat dilaknat oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Begitu pula bagi orang yang bahkan hanya mendekati zina. Oleh sebab itu, orang mendekati atau bahkan melakukan zina akan mendapat adzab yang amat pedih.

BERIKUT AYAT-AYAT LARANGAN MENDEKATI ZINA :

Berikut beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang melarang perbuatan zina. Adapun ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas tentang perbuatan zina diantaranya:

Surat al-Isra’ ayat 32
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk“.

Surat An-Nur ayat 2
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap satu dari keduanya dengan seratus kali deraan. Dan janganlah kamu belas kasihan kepada keduanya didalam menjalankan (ketentuan) agama Allah yaitu jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan hendaklah (dalam melaksanakan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman “.

Surat An-Nur ayat 3
الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ ۚ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman“.

Surat Al-Furqon ayat 68-70
وَٱلَّذِينَ لَا يَدۡعُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَـٰهًا ءَاخَرَ وَلَا يَقۡتُلُونَ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ وَلَا يَزۡنُونَ‌ۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٲلِكَ يَلۡقَ أَثَامً۬ا (٦٨) يُضَـٰعَفۡ لَهُ ٱلۡعَذَابُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ وَيَخۡلُدۡ فِيهِۦ مُهَانًا (٦٩) إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً۬ صَـٰلِحً۬ا فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمۡ حَسَنَـٰتٍ۬‌ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورً۬ا رَّحِيمً۬ا (٧٠

  1. dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),
  2. (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam Keadaan terhina,
  3. kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Hadits-Hadits Larangan Mendekati Zina

Selain beberapa ayat Al-Qur’an, ada pula beberapa Hadits dari Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya sebagai berikut.

Hadits 1

Imam Annasa’i menambahkan sebagai berikut : “bila seseorang melakukan hal itu berarti melepaskan tali keimanan dari lehernya (dia menjadi kafir). Bila bertaubat maka ALLAH akan menerima taubatnya.” (HR. Abu Dawud dan Attirmidzi)

Hadits 2
ِإِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ، وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا

Artinya: “Sesungguhnya diantara tanda-tanda kiamat yaitu diangkatnya ilmu dan kebodohan nampak jelas, dan banyak yang minum khamar dan banyak orang berzina secara terang-terangan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits 3
لا يزني الزاني حين يزني وهو مؤمن

Artinya: “Pezina tidak dikatakan beriman ketika ia berzina“. (HR. Bukhari Muslim)

Hadits 4
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ باِمْرَأَةٍ إِلاَّكاَنَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

Artinya: “Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita, melainkan yang ketiga dari mereka adalah syetan“. (HR. At-Tirmidzi)

Hadits 5

Diriwayatkan dari Ibnu Abiddunya, bahwa Nabi saw bersabda:
ما من ذنب بعد شرك أعظم عنداللّه من النطفة وضعها رجل في رحم لا يحلّل

Artinya: “Tidak ada dosa yang lebih berat setelah syirik disisi Allah dari seorang laki-laki yang menaruh spermanya didalam rahim wanita yang tidak halal baginya“.

Hadits 6

Rasulullah SAW. bersabda:
إِذَا زَنَى الرَّجُلُ خَرَجَ مِنْهُ الإِيمَانُ كَانَ عَلَيْهِ كَالظُّلَّةِ فَإِذَا انْقَطَعَ رَجَعَ إِلَيْهِ الإِيمَانُ

Artinya: “Jika seseorang itu berzina, maka iman itu keluar dari dirinya seakan-akan dirinya sedang diliputi oleh gumpalan awan (di atas kepalanya). Jika dia lepas dari zina, maka iman itu akan kembali padanya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi )

Hadits 7

Dari Ubadah bin Shamit ra., Rasulullah bersabda:
البكْر بالبِكْر جَلْدُ مائة ونَفْيُ سَنَة والثّيّبُ بالثّيّبِ ، جَلْدُ مائة والرّجْم

Artinya: “Perawan dengan perjaka (jika berzina) maka dicambuk 100 kali dan diasingkan setahun. Duda dengan janda (jika berzina) maka dicambuk 100 kali dan dirajam“. (HR. Muslim)

Nabi saw. bersabda yang artinya: “Barang siapa berjabat tangan dengan seorang perempuan, maka kelak di hari akhir ia akan dirantai dengan rantai api neraka. Dan jika ia menciumnya, maka di hari akhir akan digunting kedua bibirnya dengan gunting api neraka. Dan jika ia berzina dengannya, maka kedua pahanya akan menyaksikan kelak di hari akhir tentang perbuatannya yang keji itu dan Allah murka kepadanya“.

Hadits 8

Hadits an-Nawwas ra.
وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ

Artinya: “Dan yang tersisa adalah seburuk-buruk manusia, mereka melakukan hubungan intim di dalamnya bagaikan keledai, maka pada zaman merekalah kiamat itu akan terjadi“. (HR Muslim)

Hadits 9

Dari Abu Malik al Asy’ari bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

Artinya: “Sungguh ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan (menganggap halal perzinahan, sutera, minuman keras, dan musik-musik.” (HR. Bukhari).

Hadits 10

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda:
ثَـلَاثَةٌ لَا يُـكَـلّـِمُـهُمُ اللّٰـهُ يَوْمَ الْقِـيَـامَـةِ وَلَا يُـزَكّـِيْهِمْ (وَلَا يَـنْـظُـرُ إِلَيْهِمْ) وَلَـهُمْ عَـذَابٌ أَلِـيْمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، وَمَـلِـكٌ كَـذَّابٌ ، وَعَائِـلٌ مُسْتَـكْبِـرٌ

Artinya: “Tiga (jenis manusia) yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat dan tidak pula Allah menyucikan mereka dan tidak memandang kepada mereka, sedang bagi mereka siksa yang pedih, yaitu: laki-laki tua yang suka berzina, seorang raja pendusta dan orang miskin yang sombong” (HR. Muslim).

ADA CAHAYA KETIKA ROSULULLOH SAW DI LAHIRKAN

Apakah benar bahwa sebelum kelahiran Rasulullah sallallahu aliahi wa sallam terpancar cahaya di langit?

Di antara berita gembira akan kenabian Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wa sallam, bahwa ketika ibunya mengandung, beliau melihat dalam tidurnya bahwa terpancar cahaya darinya sampai ke Syam.

Dari Kholid bin Ma’dan dari para shahabat Rasulullah sallallahu alihi wa sallam bahwa mereka mengatakan:

يا رسول الله ، أخبرنا عن نفسك. قال : دعوة أبي إبراهيم ، وبشرى عيسى ، ورأت أمي حين حملت بي كأنه خرج منها نور أضاءت له قصور بصرى من أرض الشام

(رواه ابن إسحاق بسنده، 1/166 سيرة ابن هشام، ومن طريقه أخرجه الطبري في تفسيره، 1/566 ، والحاكم في مستدركه، 2/600، وقال: صحيح الإسناد ولم يخرجاه ، ووافقه الذهبي، وانظر السلسلة الصحيحة، 1545 )

“Wahai Rasulullah, tolong beritahukan kepada kami tentang dirimu. Maka beliau bersabda, “(Aku adalah hasil) doa ayahku (Nabi) Ibrahim dan kabar gembira (Nabi) Isa. Dan ibuku bermimpi ketika beliau mengandungku, seakan keluar cahaya darinya menyinari istana Bushra di negeri Syam.”

(HR Ibu Ishaq dengan sanadnya, 1/166, Siroh Ibnu Hisyam, dari jalurnya diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam Tafsirnya, 1/566k, Al-Hakim dalam Mustadroknya, 2/600. Dia  mengatakan, “Sanadnya shoheh dan tidak dikeluarkan oleh keduanya (Bukhori dan Muslim) dan disetujui oleh Dzahabi. Silahkan lihat Silsilah Ahadits Shahihah, no. 1545).

Diriwayatkan imam Thobroni bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda,

ورأت أمي في منامها أنه خرج من بين رجليها سراج أضاءت له قصور الشام ) حسنه الألباني في صحيح الجامع، رقم 224)

“Ibuku melihat dalam tidurnya bahwa keluar di antara kedua kakinya cahaya yang menyinari istana Syam.” (Dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam shahih Al-Jami’, no. 224).

Diriwayakan Ahmad, (16700) dari Irbad bin Sariyah radhiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, kemudian disebutkan hadits di dalamnya ada,

إِنَّ أُمَّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَتْ حِينَ وَضَعَتْهُ نُورًا أَضَاءَتْ مِنْهُ قُصُورُ الشَّام (قال الهيثمي في مجمع الزوائد : وإسناده حسن)

“Bahwa ibunda Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam ketika melahirkan beliau, dia melihat cahaya yang menyinari istana negeri Syam.” (Al-Haitsami mengatakan dalam Majma Az-Zawaid: Sanadnya hasan)

Hafidz Ibnu Hajar mengatakan dalam ‘Fathul Bari, “ketika melahirkan, keluar darinya cahaya yang menyinari rumah dan kota. Hal ini dikuatkan oleh hadits Irbad bin Sariyah, dia berkata, saya mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي عَبْد اللَّه وَخَاتَم النَّبِيِّينَ وَإِنَّ آدَم لَمُنْجَدِلٌ فِي طِينَته , وَسَأُخْبِرُكُمْ عَنْ ذَلِكَ : إِنِّي دَعْوَة أَبِي إِبْرَاهِيم , وَبِشَارَة عِيسَى بِي , وَرُؤْيَا أُمِّي الَّتِي رَأَتْ , وَكَذَلِكَ أُمَّهَات النَّبِيِّينَ يَرَيْنَ , وَإِنَّ أُمّ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَتْ حِين وَضَعَتْهُ نُورًا أَضَاءَتْ لَهُ قُصُور الشَّام ) أَخْرَجَهُ أَحْمَد وَصَحَّحَهُ اِبْن حِبَّانَ وَالْحَاكِم وَفِي حَدِيث أَبِي أُمَامَةُ عِنْد أَحْمَد نَحْوه اهـ

“Sesungghunya aku adalah hamba Allah dan nabi terakhir dan Adam terlentang di atas tanah (dalam bentuk ciptaan sebelum ditiup ruh). Aku akan memberitahu hal itu. Sesungguhnya aku adalah doa ayahku Ibrahim dan kabar gembira Isa padaku serta mimpi yang dialami ibuku, begitu juga ibu para nabi melihatnya. Sesungguhnya ibunda Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam ketika melahirkan melihat cahaya menyinari istana negeri Syam.” (HR. Ahmad dan dishohehkan Ibnu Hibban dan Hakim dalam hadits Abu Umamah dari Ahmad dan lainnya)

Yang wajib diketahui bahwa petunjuk kenabian Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wa sallam tidak terbatas pada tanda ini saja, baik ada ketetapan ataupun tidak, maka kenabiannya sallallahu alaihi wa sallam telah ada ketetapan dengan petunjuk yang pasti dimana orang yang objektif tidak mungkin bisa mengingkarinya. Sesungguhnya yang mengingkari itu hanya orang jahil (bodoh) atau sombong.

Kita memohon kepada Allah agar menampakkan agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya.

Wallahu a’lam.