CARA TERBAIK DALAM MEMANGGIL ROSULULLOH SAW.

Allah berfirman dalam Al Qur’an:
لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS An Nur 63).

Komentar para ulama Tafsir tentang ayat: Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain).

1. Tafsir Jalalain:
بِأَنْ تَقُوْلُوْا يَا مُحَمَّدُ ، بَلْ قُوْلُوْا : يَا نَبِيَّ اللهِ ، يَا رَسُوْلُ اللهِ ، فِي لِيْنٍ وَتَوَاضُعٍ وَخَفْضِ صَوْتٍ
“Yaitu dengan memanggil: “Wahai Muhammad!” tapi katakanlah: “Wahai Nabi Allah! Wahai Rasulullah!” dengan penuh kelembutan, ketawadhuan dan suara yang rendah.”

2. Tafsir Thobari
عن مجاهد: قال: أمرهم أن يدعوا: يا رسول الله، في لين وتواضع، ولا يقولوا: يا محمد، في تجهم
“Dari Imam Mujahid: “Allah memerintahkan mereka agar menyeru: “Wahai Rasulullah!” dengan penuh kelembutan dan tawadhu, dan tidak mengatakan: “Wahai Muhammad!” dengan penuh kekasaran.”

3. Tafsir Ibnu Katsir
قَالَ الضَّحَّاكُ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: كَانُوْا يَقُوْلُوْنَ: يَا مُحَمَّدُ، يَا أَبَا الْقَاسِمُ، فَنَهَاهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْ ذَلِكَ إِعْظَامًا لِنَبِيِّهِ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ قَالَ: فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، يَا نَبِيَّ اللهِ. وَهَكَذَا قَالَ مُجَاهِدٌ، وَسَعِيْدُ بْنُ جُبَيْرٍ.
وَقَالَ قَتَادَةُ: أَمَرَ اللهُ أَنْ يُهَابَ نَبِيِّهِ صلى الله عليه وسلم، وَأَنْ يُبَجَّلَ وَأَنْ يُعَظَّمَ وَأَنْ يُسَوَّدَ

Imam Dhohhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Mereka mengatakan: “Wahai Muhammad, Wahai Abul Qosim,” maka Allah melarang mereka dari ucapan tersebut, karena mengagungkan nabi-Nya saw. Merekapun lalu mengatakan: “Wahai Rasulullah, wahai Nabi Allah.” Begitulah pendapat Imam Mujahid dan Said bin Jubair.

Qotadah berkata: “Allah memerintahkan agar Nabi-Nya diistimewakan, diagungkan, dibesarkan dan diucapkan kepadanya: “Wahai Sayyid (Sayyidi atau Sayyiduna).”

4. Tafsir Asy Syinqithi:
فَلاَ تَقُوْلُوْا لَهُ : يَا مُحَمَّدُ مُصَرِّحِيْنَ بِاسْمِهِ
“Jangan ucapkan: “Wahai Muhammad!” Jelas dengan namanya saja..”

Puluhan lagi tafsir lainnya yang menuliskan perkara yang sama!!!

DULU, HANYA ORANG YAHUDI DAN ORANG BADUI YANG MEMANGGILNYA DEMIKIAN!

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya no 742 dari Abu Asma Ar Rahabi bahwa Tsauban Maula Rasulillah bercerita kepadanya:
كُنْتُ قَائِمًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَ حَبْرٌ مِنْ أَحْبَارِ الْيَهُودِ فَقَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ. فَدَفَعْتُهُ دَفْعَةً كَادَ يُصْرَعُ مِنْهَا فَقَالَ لِمَ تَدْفَعُنِى فَقُلْتُ أَلاَ تَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ الْيَهُودِىُّ إِنَّمَا نَدْعُوهُ بِاسْمِهِ الَّذِى سَمَّاهُ بِهِ أَهْلُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اسْمِى مُحَمَّدٌ الَّذِى سَمَّانِى بِهِ أَهْلِى ».
“Aku berada di sisi Rasulullah saw, lalu tiba-tiba datanglah seorang pendeta Yahudi seraya berkata: “As Salamu Alaika Ya Muhammad.” Akupun mendorongnya hingga ia hamper jatuh. Iapun berkata: “Kenapa kau mendorongku?” Akupun menjawab: “Tidak bisakah kau ucapkan: “Wahai Rasulullah?!” (Jangan pakai namanya langsung). Pendeta Yahudi itupun berkata: “Kami memanggilnya dengan nama yang diberikan keluarganya. Lalu Nabi saw menyahut: “Sesunggunya nama yang diberikan keluargaku memang Muhammad.”…

Demikianlah yang dilakukan sahabat Nabi saw, saat mendengar ada orang yang memanggil Nabi saw dengan sebutan namanya, ia langsung mendorongnya tanda tidak suka, ia tidak peduli walaupun orang tersebut adalah orang Yahudi yang cenderung memusuhi Nabi saw, yang tidak akan memahami adab kepada baginda nabi saw. Nah bagaimanakah jika yang disaksikan sahabat ini adalah seorang muslim, mungkin bukan dorongan yang dilakukannya, bisa sesuatu yang lebih ekstrem lagi.

Di hadits ini juga dijelaskan ketawadhuan Nabi saw, beliau tanpa ingin memperpanjang masalah dengan sang pendeta, rela mengatakan bahwa memang namanya adalah Muhammad, dan satu hal yang harus menjadi catatan kita, ini dilakukan oleh Nabi saw untuk seorang Yahudi, hal ini bukan pembenaran terhadap bolehnya melakukan ini, Nabi saw tidak menyuruh Tsauban minta maaf dan tidak pernah menyalahkannya karena beliau merasa yang dilakukan Tsauban benar adanya.

Hadits lainnya yang menyebutkan orang yang memanggil Nabi dengan namanya, yang dilakukan oleh seorang muslim dapat dipastikan pelakunya adalah orang arab badui, yang tidak kenal etika dan bodoh, sehingga para sahabatpun memberikan toleransi kepada mereka.

WASIAT SAHABAT NABI SAW
Imam Thobrani meriwayatkan dari Imam Hasan Bashri, dari Qois bin Ashim Al Minqori, dia berkata:

قَدِمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَآنِي سَمِعْتُهُ، يَقُولُ:”هَذَا سَيِّدُ أَهْلِ الْعَرَبِ

“Aku dating menemui Rasulullah saw, dan saat beliau melihatku beliau bersabda: “Ini adalah Sayyid (pimpinan) bangsa Arab…”.
Dalam riwayat lain:

هَذَا سَيِّدُ أَهْلِ الْوَبَرِ
“Ini adalah Sayyid (pimpinan) bangsa yang berpakaian kulit.”

Dalam kelanjutan hadits ini disebutkan:
فَلَمَّا حَضَرَتْ قَيْسًا الْوَفَاةُ، قَالَ: يَا بنيَّ خُذُوا عَنِّي، لا أَجِدُ أَنْصَحَ لَكُمْ مِنِّي: إِذَا أَنَا مُتُّ فَسَوِّدُوا كِبَارَكُمْ، وَلا تُسَوِّدُوا صِغَارَكُمْ فَيَسْتَسْفِهَكُمُ النَّاسُ فَيَهُونُوا عَلَيْكُمْ،
Saat kematian Qois akan tiba, ia berkata: “Wahai anakku, ambillah (nasihat) dariku, aku tidak menemukan orang yang lebih banyak bernasihat kepada kalian melebihi diriku. Apabila aku telah meninggal maka panggillah pembesar kalian dengan ucapan Sayyid (Tuan) dan janganlah kalian ucapkan Sayyid (tuan) kepada orang kecil dari kalian (yang tidak berpangkat dan istimewa) karena itu artinya meminta orang lain menghina kalian dan mereka akan menghinakan kalian….”

Hadits ini disebutkan oleh Imam Thobrani dalam Mu’jam Kabir no 15263 dari jalur Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Abil Ja’ad, Abu Ya’la dalam Al Mafarid no 106. Harits bin Usamah juga meriwayatkannya sebagaimana yang diriwayatkan Al Hafidz dalam Ithaful Khiyarah. Dalam Sanad Harits ada Daud bin Muhabbir, dia dhoif.
Riwayat Abu Ya’la dan Thobrani juga dhoif, dengan adanya dua sanad untuk riwayat ini maka hadits ini menjadi hasan. Menurut Imam Suyuti semua riwayat dhoif dari Imam Ahmad adalah dhoif yang mendekati hadits hasan.

Jelas sekali perintah yang ada dalam riwayat di atas, kita disuruh untuk meninggikan orang yang mulia dan memanggil mereka dengan ucapan Sayyid (Tuan). Dan kita tidak diperbolehkan memanggil orang-orang hina dengan ucapan tersebut, dalam hadits shahih ditegaskan:
إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِلْمُنَافِقِ يَا سَيِّدُ فَقَدْ أَغْضَبَ رَبَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
“Apabila seseorang berkata kepada seorang munafik: “Wahai Sayyidi (Tuanku)!” maka dia telah membuat Allah murka.”
Dalam hadits shahih dari Buraidah:
لَا تَقُوْلُوْا لِلْمُنَافِقِ سَيِّدًا فَإِنَّهُ إِنْ يَكُ سَيِّدًا فَقَدْ أَسْخَطْتُمْ رَبَّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ
“Jangan kalian memanggil orang munafik sebagai Tuan, karena jika ia menjadi seorang Sayyid (Tuan) maka kalian telah membuat murka tuhan kalian.” Shahih At Targhib no 2923.

Dua hadits ini memberi tahukan beberapa hal:
1. Boleh mengucapkan Sayyid kepada orang mulia
2. Haram mengucapkan Sayyid kepada orang munafik
3. Saat suatu penghormatan haram diberikan kepada orang munafik maka sebalikanya wajib memberikan penghormatan kepada orang mulia.
Jika menghormati orang munafik menyebabkan Allah murka, maka tidak menghormati orang yang mulia juga sama, karena inilah makna sebaliknya (mafhum Mukholafah) dari hadits tersebut.

Wallahu a’lam.

KEUTAMAAN AMALAN IBADAH YANG DI SUNNAHKAN

‘Abdullah bin Mubarak berkata:

1. “Barang siapa yang setiap harinya melakukan shalat sunnah Rawatib 12 raka’at, maka ia benar-benar telah menunaikan telah menunaikan haknya shalat.

2. Barang siapa berpuasa sunnah setiap bulan tiga hari, maka ia benar-benar telah menunaikan haknya puasa.

3. Barang siapa membaca Al-Qur’an setiap hari 100 ayat, maka ia benar-benar telah menunaikan haknya membaca Al-Qur’an.

4. Barang siapa bershadaqah setiap hari Jum’ah sedirham, maka ia benar-benar telah menunaikan haknya shadaqah.”

Yang dimaksud dengan shalat sunnah Rawatib 12 raka’at di sini perinciannya adalah sebagai berikut:

– 2 raka’at sebelum shalat Subuh;

– 2 raka’at sesusah shalat Zuhur;

– 2 raka’at sesudah shalat Zuhur;

– 4 raka’at sebelum shalat ‘Ashar; dan

– 2 raka’at sesudah shalat Maghrib;

Mengenai shalat sunnah 4 raka’at sebelum ‘Ashar, Nabi S.A.W pernah bersabda:

“Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada orang yang mengerjakan shalat sunnah 4 raka’at sebelum shalat ‘Ashar.”

Beliau S.A.W juga mengerjakan shalat sunnah 4 raka’at sebelum ‘Ashar ini dengan 2 raka’at salam 2 raka’at salam.

Dalam riwayat Thabarani disebutkan:

“Barang siapa yang mengerjakan shalat sunnah 4 raka’at sebelum shalat ‘Ashar, niscaya Allah mengharamkan tubuhnya untuk disentuh api neraka.”

Mengenai shalat sunnah Rawatib yang 12 raka’at, Nabi S.A.W pernah bersabda:

“Tidaklah seorang hamba mengerjakat shalat (Rawatib) sebanyak 12 raka’at hanya karena Allah dalam setiap harinya, melainkan Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim)

Beliau S.A.W juga mengerjakan shalat sunnah 4 raka’at sebelum ‘Ashar ini dengan 2 raka’at salam 2 raka’at salam.

Dalam riwayat Thabarani disebutkan:

“Barang siapa yang mengerjakan shalat sunnah 4 raka’at sebelum shalat ‘Ashar, niscaya Allah mengharamkan tubuhnya untuk disentuh api neraka.”

Mengai shalat sunnah Rawatib yang 12 raka’at, Nabi S.A.W pernah bersabda:

“Tidaklah seorang hamba mengerjakan shalat (Rawatib) sebanyak 12 raka’at hanya karena Allah dalam setiap harinya, melainkan Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah disurga.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat Imam At-Tirmidzi disebutkan bahwa shalat sunnah yang 12 raka’at itu adalah sebagai berikut:

– 4 raka’at sebelum shalat Zhuhur;

– 2 raka’at sesudah shalat Zuhur;

– 2 raka’at sesudah shalat Maghrib;

– 2 raka’at sesudah shalat Isya’; dan

– 2 raka’at sebelum shalat Subuh.

Dalam riwayat Thabarani disebutkan:

“Barang siapa melakukan shalat sunnah sebanyak 4 raka’at sebelum shalat Zhuhur, maka seakan-akan ia melakukan shalat Tahajjud pada malam harinya sebanyak 4 raka’at. Barang siapa melakukan shalat 4 raka’at sesudah shalat ‘Isya, maka seakan-akan ia melakukan shalat 4 raka’at pada malam Kadar.”

Oleh karena itu, Ibnu Mas’ud R.A mengatakan: “Tidak ada shalat sunnah pada siang hari yang bisa mengimbangi (pahala) shalat Tahajjud, selain shalat sunnah 4 raka’at sebelum Zhuhur. Keutamaan shalat sunnah 4 raka’at sebelum Zhuhur dibandingkan shalat sunnah siang hari lainnya bagaikan shalat berjama’ah dengan shalat sendirian. Rasulullah S.A.W juga biasa mengerjakannya dengan memperlama ruku’ dan sujud .

Beliau bersabda:

“Sesungguhnya saat sekarang ini adalah saat terbukanya pintu langit. Karenanya, aku merasa senang jika pada saat sekarang ini amal shalihku naik ( ke hadapan Allah).”

Adapun yang dimaksudkan dengan puasa tiga hari setiap bulan adalah puasa pada hari putih, yaitu tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriyah, kcuali pada bulan dzulhijjah (karena tanggal 13 pada bulan tersebut termasuk hari Tasyrik -edt). Oleh karena itu, khusus untuk bulan Dzulhijjah hadi putihnya adalah tanggal 14, 15, dan 16. Hikmah disunnahkannya puasa tiga hari pada setiap bulan adalah karena satu kebagikan itu di lipat gandakan sebanyak sepuluh kali, sehingga jika seorang muslim berpuasa tiga hari pada setiap bulannya, maka seolah-olah ia telah berpuasa sebulan penuh pada setiap tahunnya.

Demikianlah penjelasan dalam At-Tuhfah.

Membaca tujuh surah Munjiyat dalam setiap hari adalah hal yang utama. Adapun ketujuh surat Munjiyat itu adalah: Surat As-Sajjadah, Surat Yaa siin, Surat Fushshilat, Surat Ad-Dukha, Surat Al-Waki’ah, Surat Al-Hasyr, dan Surat Al-Mulk.

Disamping itu, dianjurkan juga pada waktu pagi dan sore hari untuk membaca ayat dan surat berikut sebanyak tiga kali:

1. Beberapa ayat dari permulaan surat Al-Hadid;

2. Beberapa ayat terakhir dari surat Al-Hasyr;

3. Surat Ikhlas; dan

4. Surat Al-Mu’awwidzatain, yaitu surat Al-Falak dan surat An-Naas.

KEUTAMAAN DZIKIR DALAM AYAT- AYAT AL-QURANUL KARIM

PERTAMA

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺫْﻛُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺫِﻛْﺮًﺍ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﴿٤١﴾ ﻭَﺳَﺒِّﺤُﻮﻩُ ﺑُﻜْﺮَﺓً ﻭَﺃَﺻِﻴﻠًﺎ

Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allâh, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” [al-Ahzâb/33:41-42]

KEDUA.

ﻭﺍﺫﻛﺮ ﺭﺑﻚ ﻛﺜﻴﺮﺍ ﻭﺳﺒﺢ ﺑﺎﻟﻌﺸﻲ ﻭﺍﻻﺑﻜﺎﺭ

artinya : “dan ingatlah tuhanmu banyak-banyak dan tasbihlah di waktu petang dan pagi” (ali-imran : 41).

KETIGA.

ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗَﻀَﻴْﺘُﻢُ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻓَﺎﺫْﻛُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻗِﻴَﺎﻣًﺎ ﻭَﻗُﻌُﻮﺩًﺍ ﻭَﻋَﻠَﻰٰ ﺟُﻨُﻮﺑِﻜُﻢْ

Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allâh ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring…” [an-Nisâ’/4:103]

KEEMPAT

ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﺗَﻄْﻤَﺌِﻦُّ ﻗُﻠُﻮﺑُﻬُﻢْ ﺑِﺬِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۗ ﺃَﻟَﺎ ﺑِﺬِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻄْﻤَﺌِﻦُّ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏُ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allâh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allâh hati menjadi tentram. [ar-Ra’d/13:28]

KELIMA

ﻭ ﻣﻦ ﺃﻋﺮﺽ ﻋﻦ ﺫﻛﺮﻯ ﻓﺈﻥ ﻟﻪ ﻣﻌﻴﺸﺔ ﺿﻨﻜﺎ ﻭﻧﺤﺸﺮﻩ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﺃﻋﻤﻰ

Artinya :” barang siapa yang tidak mau mengingat Aku dia akan mendapat kehidupan yang sulit dan di akhirat akan dikumpulkan sebagai orang buta” (Thaha : 124).

KEENAM

ﻭﺍﻟﺬﺍﻛﺮﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻛﺜﻴﺮﺍ ﻭﺍﻟﺬﺍﻛﺮﺍﺕ ﺃﻋﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻬﻢ ﻣﻐﻔﺮﺓ ﻭﺃﺟﺮﺍ ﻋﻈﻴﻤﺎ

Artinya :”Dan bagi pria yg banyak dzikir kepada Allah & bagi wanita yg banyak dzikir kpd Allah, disediakan ampunan & pahala yg besar oleh Tuhan” (AL ahzab : 35).

KETUJUH

ﻓﺎﺫﻛﺮﻭﻧﻰ ﺃﺫﻛﺮﻛﻢ ﻭﺍﺷﻜﺮﻭﻟﻰ ﻭﻻ ﺗﻜﻔﺮﻭﻥ

Artinya :”Maka ingatlah kamu kepada ku supaya aku ingat pula kepadamu dan syukurlah kamu kepadaku dan janganlah kamu menjadi orang yang kufur” (Al baqarah : 152).

KEDELAPAN

ﻭَﺍﺫْﻛُﺮِ ﺍﺳْﻢَ ﺭَﺑِّﻚَ ﺑُﻜْﺮَﺓً ﻭَﺃَﺻِﻴﻠًﺎ

Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang [al-Insân/76:25]

KESEMBILAN

ﻭﺍﺫﻛﺮ ﺍﺳﻢ ﺭﺑﻚ ﻭﺗﺒﺘﻞ ﺇﻟﻴﻪ ﺗﺒﺘﻴﻼ

Artinya : “sebutlah nama Allah dan beribadahlah kpd nya dgn sepenuh hati” (Al muzammil : 8).

KESEPULUH

ﻭَﺍﻟْﺤَﺎﻓِﻈَﺎﺕِ ﻭَﺍﻟﺬَّﺍﻛِﺮِﻳﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻭَﺍﻟﺬَّﺍﻛِﺮَﺍﺕِ ﺃَﻋَﺪَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻬُﻢْ ﻣَﻐْﻔِﺮَﺓً ﻭَﺃَﺟْﺮًﺍ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ

“… Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allâh, Allâh telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.“[al-Ahzâb/33:35]

KESEBELAS

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﺫَﺍ ﻟَﻘِﻴﺘُﻢْ ﻓِﺌَﺔً ﻓَﺎﺛْﺒُﺘُﻮﺍ ﻭَﺍﺫْﻛُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allâh banyak-banyak (berzikir dan berdo’a) agar kamu beruntung.” [al-Anfâl/8:45]

KEDUABELAS

ﺇِﻧَّﻨِﻲ ﺃَﻧَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﺎ ﺇِﻟَٰﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻓَﺎﻋْﺒُﺪْﻧِﻲ ﻭَﺃَﻗِﻢِ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻟِﺬِﻛْﺮِﻱ

Sesungguhnya Aku ini adalah Allâh, tidak ada Ilah (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” [Thâha/20:14]

KETIGABELAS

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺇِﺫَﺍ ﻓَﻌَﻠُﻮﺍ ﻓَﺎﺣِﺸَﺔً ﺃَﻭْ ﻇَﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻬُﻢْ ﺫَﻛَﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻐْﻔَﺮُﻭﺍ ﻟِﺬُﻧُﻮﺑِﻬِﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺍﻟﺬُّﻧُﻮﺏَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺼِﺮُّﻭﺍ ﻋَﻠَﻰٰ ﻣَﺎ ﻓَﻌَﻠُﻮﺍ ﻭَﻫُﻢْ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allâh, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allâh ? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” [Ali ‘Imrân/3:135]

KEEMPATBELAS

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﺫَﺍ ﻧُﻮﺩِﻱَ ﻟِﻠﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻣِﻦْ ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ ﻓَﺎﺳْﻌَﻮْﺍ ﺇِﻟَﻰ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺫَﺭُﻭﺍ ﺍﻟْﺒَﻴْﻊَ ﺫَﻟِﻜُﻢْ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻜُﻢْ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ‏

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumaat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(Surah Al-Jumu’ah (62) ayat 9)

KELIMABELAS

ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗُﻀِﻴَﺖِ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓُ ﻓَﺎﻧْﺘَﺸِﺮُﻭﺍ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﺍﺑْﺘَﻐُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﻓَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﺫْﻛُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ ‏

“Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (Surah Al-Jumu’ah (62) ayat 10)

KEENAMBELAS

ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗَﻀَﻴْﺘُﻢْ ﻣَﻨَﺎﺳِﻜَﻜُﻢْ ﻓَﺎﺫْﻛُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺬِﻛْﺮِﻛُﻢْ ﺁﺑَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺃَﻭْ ﺃَﺷَﺪَّ ﺫِﻛْﺮًﺍ ﻓَﻤِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻣَﻦْ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺁﺗِﻨَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﻟَﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓِ ﻣِﻦْ ﺧَﻠَﺎﻕٍ () ﻭَﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻣَﻦْ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺁﺗِﻨَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻓِﻲ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓِ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻗِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ () ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻟَﻬُﻢْ ﻧَﺼِﻴﺐٌ ﻣِﻤَّﺎ ﻛَﺴَﺒُﻮﺍ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺳَﺮِﻳﻊُ ﺍﻟْﺤِﺴَﺎﺏِ ()

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. 201- Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.202- Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (Al Baqarah 200-202)

KETUJUHBELAS

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya lah mereka bersujud. (Al A’raaf 205-206)

KEDELAPANBELAS

ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺬْﻛُﺮُﻭﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻗِﻴَﺎﻣًﺎ ﻭَﻗُﻌُﻮﺩًﺍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺟُﻨُﻮﺑِﻬِﻢْ ﻭَﻳَﺘَﻔَﻜَّﺮُﻭﻥَ ﻓِﻲ ﺧَﻠْﻖِ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷﺭْﺽِ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖَ ﻫَﺬَﺍ ﺑَﺎﻃِﻼ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻓَﻘِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ‏

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (Ali Imran Ayat 191)

KESEMBILANBELAS

ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻧَﺰَّﻝَ ﺃَﺣْﺴَﻦَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ﻛِﺘَﺎﺑًﺎ ﻣُﺘَﺸَﺎﺑِﻬًﺎ ﻣَﺜَﺎﻧِﻲَ ﺗَﻘْﺸَﻌِﺮُّ ﻣِﻨْﻪُ ﺟُﻠُﻮﺩُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺨْﺸَﻮْﻥَ ﺭَﺑَّﻬُﻢْ ﺛُﻢَّ ﺗَﻠِﻴﻦُ ﺟُﻠُﻮﺩُﻫُﻢْ ﻭَﻗُﻠُﻮﺑُﻬُﻢْ ﺇِﻟَﻰٰ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻫُﺪَﻯ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﻬْﺪِﻱ ﺑِﻪِ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ۚ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓَﻤَﺎ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﻫَﺎﺩٍ

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya. (Az Zumar 23)

KEDUAPULUH

ﺍﺳْﺘَﺤْﻮَﺫَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢُ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻓَﺄَﻧْﺴَﺎﻫُﻢْ ﺫِﻛْﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﺃُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﺣِﺰْﺏُ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ۚ ﺃَﻟَﺎ ﺇِﻥَّ ﺣِﺰْﺏَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮُﻭﻥَ

Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi. (Al Mujadilah 19)

PERBEDAAN DAN PERSAMAAN ANTARA QIRO’AT DAN TAJWID DALAM MEMBACA AL-QUR’AN

Ada dua term dalam bacaan Al-Qur’an yang masih menjadi sorotan para pengaji ilmu Al-Qur’an, yaitu term tajwid dan ilmu qira’at. Di satu sisi, qira’at adalah sebuah term yang memiliki akses besar dalam kajian bacaan Al-Qur’an, bahkan tidak berlebihan jika ada adagium mengatakan bahwa seseorang tidak akan mencapai kesempurnaan dalam bacaan Al-Qur’an tanpa mengetahui ilmu qira’at.

Sementara di sisi yang lain, ilmu tajwid merupakan term yang sangat penting dalam bacaan Al-Qur’an bahkan tidak berlebihan jika Imam al-Jazari mengatakan bahwa seorang yang membaca Al-Qur’an tanpa menggunakan ilmu tajwid, maka ia berdosa.

Imam al-Jazari berkata:

 والأخذ بالتّجويد حتم لازم *** من لم يجوّد القرآن آثم لأنّـــه بــه الإلـــه أنـــزلا *** وهكذا منه إلينا وصلا

Artinya: “Menggunakan tajwid (dalam membaca Al-Qur’an) adalah keharusan. Barangsiapa yang tidak menggunakan tajwid dalam membaca Al-Qur’an maka ia berdosa. Sesungguhnya Allah menurunkan Al-Qur’an dengan (memakai) tajwid, begitu pula bacaan itu hingga sampai kepada kita”.

Apakah keduanya berkelindan dalam satu masalah atau memiliki perbedaan yang mendasar?

Untuk itu, di sini akan dijelaskan perbedaan dan kesamaan keduanya agar dapat dipahami secara proporsional dan dipetakan secara tepat. Oleh karena itu, maka perlu kiranya memetakan difinisi keduanya dan fokus objek pembahasannya.

Qira’at adalah suatu ilmu yang membahas tentang cara baca dalam lafadz-lafadz Al-Qur’an, baik menyangkut perpindahan huruf maupun harakat, perubahan dialek seperti tahqiq, isymam, imalah, dan lain-lain dengan menisbatkan bacaan itu kepada penukilnya.

Dalam hal ini al-Jazari mengatakan:

 علم بكيفية أداء كلمات القرآن واختلافها بعزو الناقلة

Artinya: “ilmu yang mempelajari tentang tata cara mengucapkan kalimat-kalimat Al-Qur’an dan perbedaannya dengan menisbatkan kepada penukilnya.”

Selain itu, qira’at adalah sebuah bacaan yang memiliki jalur yang sah dan otentik yang bersambung kepada Nabi Muhammad, baik melalui periwayatan maupun penukilan. Bacaan ini bersumber dari Nabi secara langsung yang kemudian riwayatkan kepada generasi tabi’in oleh para sahabat hingga sampai kepada kita.

Dalam ilmu qira’at memiliki objek kajian yang terfokus dua aspek, yaitu: pertama, kajian yang menyangkut pada kalimat-kalimat Al-Qur’an yang bersifat komprehensif, seperti bacaan panjang, pendek, tashil, idgham, imalah, taqlil, dan lain-lainnya. Kajian ini dalam ilmu qira’at disebut “Usul al-Qira’at”.

Sedangkan yang kedua yaitu kajian yang terkait pada aspek kalimat-kalimat Al-Qur’an yang bersifat parsial, yaitu seperti membaca lafadz (مالك), al-Baqarah: 3.

Pada lafadz ini Imam Asim dan Imam al-Kisa’i membaca panjang huruf mim, yang berarti pemilik. Sementara Imam-imam yang lainnya membaca pendek huruf mim yang berarti penguasa.

Dalam lafadz (مالك) ini hanya berlaku pada surat al-Baqarah saja meskipun pada surat-surat yang lain ditemukan lafadz-lafadz seperti di atas. Kajian yang kedua ini disebut dengan al-Furu’ atau al-Furusy..

Sementara pengertian tajwid dalam bahasanya berasal dari kata “jawwada”, yang memiliki arti memperindah atau memperbagus. Sedangkan secara istilah, para ulama memberikan pengertian tajwid sebagaimana berikut:

Imam al-Suyuthi mengungkapkan definisi tajwid sebagai berikut:

 إِعْطَاءُ الْحُرُوفِ حُقُوقَهَا وَتَرْتِيبَهَا وَرَدُّ الْحَرْفِ إِلَى مَخْرَجِهِ وَأَصْلِهِ وَتَلْطِيفُ النُّطْقِ بِهِ عَلَى كَمَالِ هَيْئَتِهِ مِنْ غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا تَعَسُّفٍ وَلَا إِفْرَاطٍ وَلَا تَكَلُّفٍ

“Tajwid adalah mengucapkan huruf sesuai hak-haknya dan tertibnya, dan mengembalikannya kepada makhraj dan asalnya, dan melembutkan bacaanya secara sempuran tanpa berlebih-lebihan, serampangan, tergesa-gesa dan dipaksakan”.

Sayyid al-Murshifi menjelaskan definisi tajwid sebagai berikut:

 إخراج كل حرف من مخرجه وإعطاءه حقه ومستحقه من الصفات

Artinya: “mengucapkan setiap huruf-huruf dari makhrajnya dan memberikannya sesuai dengan hak-haknya dan hak-haknya yang baru timbul”.

Adapun yang dimaksud dengan “haqqul huruf” adalah sifat yang melekat dan tetap pada sebuah huruf, seperti jahr, shiddah, isti’la’, istifal, ithbâq, qalqalah, dan lain-lain.

Sedangkan yang dimaksud dengan “mustahiqqul huruf” adalah sifat-sifat yang baru timbul sebab suatu keadaan, seperti tipis (tarqîq) tebal (tafkhîm) dan lain-lain.

Sementara objek pembahasan dalam ilmu tajwid lebih fokus pada ruang lingkup pengucapan sifat dan makhraj huruf dalam Al-Qur’an. Sementara pada qira’at lebih fokus pada pengucapan kalimat-kalimat Al-Qur’an, baik perubahan huruf maupun harakat yang sifatnya melalui penukilan dari seorang perawi maupun imam secara mutawatir.

 Seperti misalnya dalam lafadz ( يحزنك ), dalam hal ini, tajwid lebih fokus pada pengucapan sifat dan makhraj huruf serta bacaan ikhfa’ yang meliputi kadar dengungnya, durasi dan tingkat tebal dan tipis dalam pengucapan ikhfa’nya. Sementara dalam qira’at lebih fokus pada sisi periwayatannya, apakah dalam lafadz itu, huruf ya’-nya dibaca dhammah dan huruf zay-nya dibaca kasrah atau huruf ya’-nya dibaca fathah dan huruf zay-nya dibaca dhammah.

Oleh sebab itu, dari pemetaan di atas dapat disimpulkan sebagaimana berikut:

1. Kesamaan antara qira’at dan tajwid adalah keduanya sama-sama mengaji tentang Usuliyyat al-Qira’at, seperti idgham, idhhar hukum nun sukun dan tanwin, dan lain lain. Maka dari itu, tajwid adalah bagian dari qira’at.

2. Perbedaannya sebagaimana berikut:

Qira’at mengaji tentang kalimat-kalimat Al-Qur’an yang bersifat parsial, perbedaan bacaan dan dialek kebahasaan. Sedangkan ilmu tajwid lebih menekankan pada aspek kalimat-kalimat Al-Qur’an dari sisi makhraj dan sifat-sifat huruf dan teknis memperindah bacaan.

Qira’at berpegang pada riwayat (rantai sanad) sedangkan tajwid berpedoman pada dirayat (disiplin ilmu).

Qira’at dari sisi fokus pada penukilan dan periwayatan, sementara tajwid fokus kemampuan seorang qari’ dalam menganalisis tingkat kadar suara huruf dan sifat-sifatnya, baik saat sendirian maupun saat menjadi susunan kata dengan kalimat lain.

WALLOHU A’LAM

KEMULIAAN AHLI QUR’AN : MIMPI BERETEMU ALLOH DAN NABI SAW SERTA KEBENARAN QIRO’ATNYA IMAM HAMZAH RAH.

Imam al-Syatibi mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah sebaik-baiknya teman duduk (khairu jalîsin). Keagungan dan kemuliaannya mampu memberikan syafaat dan manfaat kepada pembacanya dan penghafalnya, apalagi diimplementasikan kandungan artinya dalam kehidupan sehari-hari. Kemuliaan yang didapatkan oleh para pembaca dan penghafal Al-Qur’an jauh melebihi yang didapatkan oleh yang lain. Hal ini dibuktikan langsung oleh Imam Hamzah melalui mimpinya ketika berkomunikasi dengan Tuhannya.

Kisah pertama diriwayatkan oleh Imam Khalaf bin Hisyam al-Bazzar. Imam Sulaim bin ‘Isa berkisah bahwa suatu hari ia berkunjung kepada gurunya, Imam Hamzah bin Habib az-Zayyat. Saat menemuinya, tampak sang guru sedang membolak-balikkan kedua pipinya ke tanah dan menangis. Sontak Sulaim pun berdoa, “Semoga Allah melindungimu.” Imam Hamzah kaget, “Hai, kamu meminta pelindungan untuk apa?”

Imam Hamzah lantas bercerita bahwa dirinya kemarin bermimpi seakan-akan kiamat telah terjadi dan para qari’ Al-Qur’an dipanggil. Ia termasuk orang yang menghadiri panggilan itu. Lalu Imam Hamzah mendengar suara berkata dengan ucapan yang enak didengar, “Tidak bisa masuk menghadap kepada saya kecuali orang-orang yang mengamalkan Al-Qur’an”. “Saya pun kembali tanpa menoleh ke belakang (karena saya merasa bukan termasuk orang yang mengamalkan Al-Qur’an),” kisahnya.

Saat dirinya kembali, tiba-tiba ada suara yang memanggil namanya, “Di mana Hamzah bin Habib az-Zayyat?”

Imam Hamzah pun menyambut panggilan itu. Malaikat segera mendatanginya sambil berkata, “Katakanlah, ‘saya sambut panggilan-Mu, ya Allah’!”

Lalu Imam Hamzah mengatakan apa yang disampaikan malaikat kepadanya.

Seketika itu, Imam Hamzah baru sadar bahwa yang memanggilnya adalah Allah, Tuhan semesta alam. Kemudian Imam Hamzah dimasukkan ke suatu tempat yang di dalamnya terdengar suara gemuruh Al-Qur’an. Ia pun berhenti dengan tubuh gemetar, hingga terdengarlah ucapan, “Jangan khawatir, naiklah dan bacalah Al-Qur’an!” Wajah Imam Hamzah seketika bersinar. Saat itu ia sudah berada di depan mimbar yang terbuat dari batu mutiara putih. Kedua sisinya terbuat dari yaqut berwarna kuning. Tangganya terbuat dari batu zabarjad berwarna hijau. Lalu dikatakan kepadanya, “Naiklah dan bacalah Al-Qur’an!” Ia pun naik, lalu dikatakan kepadanya lagi, “Bacalah surat al-An‘am!”. Imam Hamzah pun membacanya dan ia tidak tahu kepada siapa ia membaca hingga enam puluh ayat. Ketika sampai pada ayat (وهو القاهر فوق عباده), ia ditanya, “Wahai Hamzah, bukankah Aku penguasa tertinggi di atas seluruh hamba-hamb-Ku?” “Ya.” “Kamu benar, lanjutkan baca!”. Imam Hamzah pun membaca sampai akhir surat. “Bacalah terus!” Imam Hamzah lalu membaca Surat al-A‘raf hingga akhir surat. Sampai di akhir surat, saat ia hendak melakukan sujud Tilawah, DIA berkata, “Cukuplah, apa yang telah kamu lakukan (sujud) di dunia, janganlah bersujud, wahai Hamzah.” Kemudian Dia bertanya, “Siapa yang mengajarkan bacaan ini?” “Sulaiman.”

Dia menimpali sambil bertanya kembali, “Kamu benar, siapa yang mengajari Sulaiman?” “Yahya.”

“Yahya benar. Kepada siapa Yahya belajar?” tanya Allah lagi. “Kepada Abu ‘Abdurrahman al-Sullami.”

“Abu `Abdurrahman al-Sullami benar. Siapa yang mengajari Abu `Abdurrahman al-Sullami?” “Anak paman Nabi-Mu, yaitu ‘Ali bin Abi Thalib,” jawab Imam Hamzah lagi.

“Ali benar. Siapa yang mengajari ‘Ali?” “Dia belajar kepada Nabi-Mu, Muhammad ﷺ.”

“Siapa yang mengajari Nabi-Ku?” “Jibril.”

“Siapa yang mengajari Jibril?” Imam Hamzah pun diam. “Wahai Hamzah, katakanlah “Engkau (ya Allah).”

“Saya tidak berani untuk mengatakan “Engkau” (karena malu mengucapkan kata itu di hadapan-Nya).”

Dia menyuruh lagi, “Wahai Hamzah, katakanlah “Engkau”.

Imam Hamzah pun menjawab, “Engkaulah yang mengajari Jibril, wahai Tuhanku.”

Kemudian Dia berkata, “Kamu benar wahai Hamzah. Demi kebenaran Al-Qur’an, sungguh Aku sangat memuliakan ahlul qur’an (secara bahasa: keluarga Al-Qur’an), lebih-lebih jika mereka mengamalkannya. Wahai Hamzah, Al-Qur’an adalah Kalam-ku dan Aku tidak mencintai seorang pun seperti kecintaan-Ku kepada ahlul qur’an. Wahai Hamzah, mendekatlah!”

Imam Hamzah pun mendekat, lalu Dia mencelupkan “tangan”-Nya ke dalam minyak wangi kemudian mengoleskan kepadanya seraya berkata, “Aku tidak hanya melakukan ini kepadamu saja. Sebenarnya Aku melakukannya kepada orang-orang yang sama sepertimu dari orang sebelum dan sesudahmu, dan orang yang mengajarkan Al-Qur’an sepertimu tidak akan datang (di hari kiamat) kecuali kepada-Ku. Wahai Hamzah, sesuatu di sisi-Ku yang Aku sembunyikan darimu masih lebih banyak. Maka kabarkan dan sampaikan kepada sahabat-sahabatmu tentang kecintaan-Ku kepada ahlul qur’an dan apa yang Aku lakukan (berikan) kepada mereka. Mereka adalah orang-orang yang dipilih di antara orang-orang yang pilihan.” “Wahai Hamzah, demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh Aku tidak akan menyiksa (mereka) yang lisannya tidak pernah letih untuk membaca Al-Qur’an, dengan api neraka, (tidak menyiksa meraka) yang hatinya selalu dipenuhi oleh Al-Qur’an, (tidak menyiksa meraka) yang telinganya tidak pernah bosan mendengarkan Al-Qur’an dan mata yang tidak pernah lelah melihat Al-Qur’an.”

Imam Hamzah pun berkata, “Maha-Suci Engkau, Maha-Suci Engkau, wahai Tuhanku.”

Lalu Dia bertanya, “Wahai Hamzah, di mana orang-orang yang membaca Al-Qur’an dengan mushaf?”

“Wahai Tuhanku, apa yang Engkau maksud mereka para penghafal/penjaga mushaf?”

“Bukan, akan tetapi Aku-lah yang akan menjaga mereka hingga hari kiamat, tatkala mereka (penghafal Al-Qur’an) datang kepada-Ku, niscaya Aku angkat derajat mereka setiap satu ayat satu derajat.”

Kemudian Hamzah menoleh kepada muridnya, Sulaim, seraya berkata, “Apakah kamu masih mencela saya, Wahai Sulaim, tatkala kau lihat saya menangis dan berguling-guling di atas debu.”

Kisah pertama ini bisa dijumpai dalam kitab Tahdzib al-Kamal fi Asma al-Rijal karya Al-Kalabi (juz VII, Beirut, Muassasah al-Risalah, 1980, hal. 319).

Kisah kedua diriwayatkan oleh Imam Maja’ah bin al-Zubair. Satu kali ia mendatangi Imam Hamzah dan mendapatinya sedang menangis.

“Apa yang membuatmu menangis?” tanya Imam Maja’ah.

“Bagaimana saya tidak menangis, saya telah bermimpi bertemu Tuhan-ku dan seakan-akan saya menyetor bacaan Al-Qur’an kepada-Nya.

Kemudian Dia berkata. ‘Wahai Hamzah, bacalah sebagaimana Aku ajarkan kepadamu’.

Saya pun melompat sambil berdiri. Kemudian Dia berkata lagi, ‘Duduklah, sesungguhnya Aku mencintai ahlul qur’an’.

Dalam kisah itu, Allah pun berkata lagi kepada Imam Hamzah, “Bacalah!”

Imam Hamzah lalu membaca hingga sampai pada surat Thaha. Kemudian saya membaca: ـ…… طُوىً [١٢] وَأَنَا اخْتَرْناَك …. [١٣]ـ

Kemudian Allah berkata, “Jelaskan bacaannya!”

Imam Hamzah pun mengikuti perintahnya dengan menjelaskan bacaan itu.

 “Bacalah!”

Imam Hamzah lantas membacanya hingga sampai pada Surat Yasin. Saat hendak membaca (تنزيلُ العزيز الرحيم) (dhammah lam-nya), Allah berkata lagi, “Bacalah (تنزيلَ العزيز الرحيم) (fathah lam-nya), wahai Hamzah. Demikian Aku membaca dan ajarkan kepada para malaikat pemikul Arsy, begitu pula para qari’ Al-Qur’an membaca.” Kemudian Dia memberinya gelang dan memakaikannya, seraya berkata, “Ini adalah balasan atas bacaan Al-Qur’anmu.” Lalu Dia memeberinya sabuk dan memakaikannya. Dia berkata, “Ini adalah balasan atas puasamu di siang hari.” Kemudian Dia menganugerahkan mahkota dan memakaikannya. Dia berkata, “Ini adalah balasan atas pengajaranmu kepada murid-muridmu. Wahai Hamzah, jangan pernah kau tinggalkan Al-Qur’an, karena sesungguhnya Aku benar-benar menurunkannya.”

Kemudian Imam Hamzah berkata kepada Imam Maja’ah, “Apakah kamu masih mencela saya karena menangis?”

Kisah ketiga diriwayatkan oleh Ismail bin Ziyad yang menceritakan ulang kisah dari Imam Hamzah. Suatu hari Imam Hamzah bermimpi bertemu Nabi, lalu ia katakan, “Wahai Rasul, saya telah meriwayatkan seribu hadits dengan sanad bersambung kepadamu, saya hendak membacakannya kepadamu.”

Nabi saw. menjawab, “Silakan.”

Imam Hamzah pun melakukannya. Yang membuat heran, Nabi menganggap semua hadits yang dibacakan itu palsu kecuali empat hadits.

“Saya tidak meriwayatkan hadits-hadits itu,” kata Nabi.

Imam Hamzah lantas meminta izin untuk membacakan Al-Qur’an yang ia hafal. Nabi mempersilakan. Di hadapan beliau, Imam Hamzah membaca Al-Qur’an dari awal sampai akhir, kemudian Nabi membenarkan semua bacaannya seraya berkata mengulang dua kali, “Begitulah Al-Qur’an itu diturunkan kepada saya, begitulah Al-Qur’an itu diturunkan kepada saya.”

Menurut Ibnu Ghalbun, kisah tersebut menunjukkan kesahihan qira’at Imam Hamzah. Sesungguhnya Imam Hamzah mengikuti bacaan dari guru yang sanadnya bersambung kepada Nabi ﷺ. Dengan demikian, barangsiapa yang menolak bacaannya, sama artinya ia menolak bacaan orang yang mengajarkan kepadanya dan bacaan Nabi Muhammad ﷺ.

Kisah kedua dan ketiga ini bisa dibaca dalam karya Aminuddin Abdul Wahab al-Sallar, Kitab Thabaqat al-Qurra’ al-Sab’ah wa Dzikri Manaqibihim wa Qira’atihim (Beirut, Al-Maktabah Al-Ashriyah, 2003, hal. 168-170).

IMAN WALAU SEUKURAN BIJI DZARROH SANGATLAH BERGUNA UNTUK BISA MASUK KE SURGA

RASULULLAH MUHAMMAD SAW TIDAK RIDHO UMATNYA DI NERAKA

Ketika surge da n neraka telah terkunci, dan semua umat manusia telah dimasukkan ke dalam surga dan neraka sesuai dengan amalannya, mereka telah menikmati ganjaran/merasakan hukuman atas apa yang mereka kerjakan dalam waktu yang begitu lama.

Allah SWT menanyakan kepada Malaikat Jibril, subhanallah sesungguhnya Allah Maha Tahu,

“Apakah ada umat Muhammad SAW yang masih tertinggal di dlm neraka?”

Maka Malaikat Jibril pun pergi ke neraka Jahanam. Neraka Jahanam yang begitu gelap tiba-tiba berubah jadi terang benderang karena kedatangan Jibril.

  Para penghuni Jahanam pun bertanya-tanya, siapakah yang datang, mengapa Jahanam tiba-tiba terang benderang.

Malaikat Jibril pun menjawab bahwa dia adalah Malaikat Jibril, yang diutus oleh Allah SWT untuk mencari apakah ada umat Muhammad yang masih terselip di neraka Jahanam.

Tiba-tiba sekelompok orang berteriak, “Sampaikan salam kami kepada Rasulullah SAW, beri tahukan keadaan kami di tempat ini kepada beliau.”

Jibril pun keluar dari neraka Jahanam dann pergi ke surga untuk memberitahukan hal itu kepada Rasulullah Saw.

Rasulullah saw. begitu bersedih mendengar bahwa masih ada umatnya yang tertinggal di dalam neraka dalam waktu yang sudah begitu lama. Beliau tidak ridha ada umatnya yang masih tertinggal di neraka walau dosanya sepenuh bumi.

Rasulullah SAW pun bergegas hendak pergi neraka.

Tapi di perjalanan beliau terhadang oleh garis batas Malaikat Israfil. Tidak ada seorang pun boleh melintasi garis itu kalau tidak seizin Allah SWT.

Rasulullah SAW pun mengadu kepada Allah SWT, dan akhirnya beliau diizinkan. Tapi sesudah itu Allah SWT mengingatkan Rasulullah bahwa umat itu telah meremehkan beliau.

“Ya Allah, izinkan aku memberi syafa’at kepada mereka itu, walau mereka  hanya punya iman sebesar zarrah.”

Sesampainya Rasulullah di neraka Jahanam, padamlah api neraka anyg begitu dahsyat itu.

Penduduk Jahanam pun berucap, “Apa yang terjadi, mengapa api Jahanam ini tiba-tiba padam? Siapakah yang datang lagi?”

Rasulullah SAW menjawab, “Aku Muhammad SAW yang datang, siapa di antara kalian yang jadi umatku dan punya iman walau sebesar zarrah, aku datang untuk mengeluarkannya.”

Demikianlah kecintaan Rasulullah kepada umatnya, beliau akan memperjuangkannya sampai di hadapan Allah SWT.

Lalu bagaimana kecintaan kita sebagai umat Rasulullah SAW kepada pribadi yang begitu agung itu?

Allahumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammad

KISAH ABU LAHAB BERGEMBIRA DAN MEMERDEKAAN BUDAK KARENA LAHIRNYA NABI SAW.

Ketika Rasulullah lahir dari rahim ibunda tercintanya, Siti Aminah, Tsuwaibah datang kepada Abu Lahab seraya memberikan kabar tentang kelahiran Muhammad, keponakannya yang berupa bayi laki-laki sehat tanpa kekurangan suatu apa pun.

Tatkala mendengar kabar kelahiran keponakan lelakinya ini, Abu lahab bersuka cita. Ia melompat-lompat riang gembira seraya meneriakkan kata-kata pujian atas kelahiran keponakannya tersebut sepanjang jalan. Inilah bentuk kegembiraan Abu Lahab, sang paman yang kelak menjadi salah satu musuh bebuyutannya dalam berdakwah.

Namun rupanya tidak cukup sampai di situ saja luapan kegembiraannya kemudian dia membebaskan budak Tsuwaibah

وَقَالَ شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ عُرْوَةُ ثُوَيْبَةُ أَعْتَقَهَا أَبُو لَهَبٍ

Syu’aib berkata; Dari Az Zuhri, bahwa telah berkata Urwah; Yang membebaskan Tsuwaibah adalah Abu Lahab. (HR Bukhari 4953)

 حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ زَيْنَبَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ بِنْتَ أَبِي سُفْيَانَ أَخْبَرَتْهَا أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ انْكِحْ أُخْتِي بِنْتَ أَبِي سُفْيَانَ فَقَالَ أَوَتُحِبِّينَ ذَلِكِ فَقُلْتُ نَعَمْ لَسْتُ لَكَ بِمُخْلِيَةٍ وَأَحَبُّ مَنْ شَارَكَنِي فِي خَيْرٍ أُخْتِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ ذَلِكِ لَا يَحِلُّ لِي قُلْتُ فَإِنَّا نُحَدَّثُ أَنَّكَ تُرِيدُ أَنْ تَنْكِحَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ بِنْتَ أُمِّ سَلَمَةَ قُلْتُ نَعَمْ فَقَالَ لَوْ أَنَّهَا لَمْ تَكُنْ رَبِيبَتِي فِي حَجْرِي مَا حَلَّتْ لِي إِنَّهَا لَابْنَةُ أَخِي مِنْ الرَّضَاعَةِ أَرْضَعَتْنِي وَأَبَا سَلَمَةَ ثُوَيْبَةُ فَلَا تَعْرِضْنَ عَلَيَّ بَنَاتِكُنَّ وَلَا أَخَوَاتِكُنَّ قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ

Telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Nafi’ Telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri ia berkata; Telah mengabarkan kepadaku Urwah bin Az Zubair bahwa Zainab binta Abu Salamah Telah mengabarkan kepadanya bahwa Ummu Habibah binti Abu Sufyan Telah mengabarkan kepadanya bahwa ia pernah berkata, Wahai Rasulullah nikahilah saudaraku binti Abu Sufyan. Maka beliau balik bertanya: Apakah suka akan hal itu? aku menjawab, Ya. Namun aku tidak mau ditinggal oleh Anda. Hanya saja aku suka bila saudariku ikut serta denganku dalam kebaikan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: Sesungguhnya hal itu tidaklah halal bagiku. Aku berkata, Telah beredar berita, bahwa Anda ingin menikahi binti Abu Salamah. Beliau bertanya: Anak wanita Ummu Salamah? aku menjawab, Ya. Maka beliau pun bersabda: Meskipun ia bukan anak tiriku, ia tidaklah halal bagiku. Sesungguhnya ia adalah anak saudaraku sesusuan. Tsuwaibah telah menyusuiku dan juga Abu Salamah. Karena itu, janganlah kalian menawarkan anak-anak dan saudari-saudari kalian padaku. Urwah berkata; Tsuwaibah adalah bekas budak Abu Lahab. Waktu itu, Abu Lahab membebaskannya, lalu Tsuwaibah pun menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ketika Abu Lahab meninggal, ia pun diperlihatkan kepada sebagian keluarganya di alam mimpi dengan keadaan yang memprihatinkan. Sang kerabat berkata padanya, Apa yang telah kamu dapatkan? Abu Lahab berkata.Setelah kalian, aku belum pernah mendapati sesuatu nikmat pun, kecuali aku diberi minum lantaran memerdekakan Tsuwaibah. (HR Bukhari  4711)

Hikmah dari kisah di atas adalah bahwa kegembiraan Abu Lahab menyambut kelahiran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan membebaskan budak Tsuwaibah  mendapatkan kebijaksanaan dari Allah Azza wa Jalla,  padahal segala amal kebaikan orang kafir  selama di dunia tidak bermanfaat di akhirat kelak.

Firman Allah ta’ala yang artinya

“Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh”. (QS Ibrahim [14]:18 )

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya” (QS An Nuur [24]:39 )

Kegembiraan Abu Lahab menyambut kelahiran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai amal kebaikan yang tetap diperhitungkan walaupun Abu Lahab adalah seorang yang kafir.

Apalagi umat muslim yang mengikuti Salaf yang sholeh melalui apa yang telah disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat yang melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salaf yang Sholeh dan juga gembira memperingati Maulid Nabi tentu mereka akan mendapatkan barokah yang sangat besar.

Berikut para Hafidh (mereka yang menghafal dan memahami 100.000 hadits ) berpendapat tentang peringatan Maulid Nabi.

Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah berkata “tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat Islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar”

Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) : “Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul shallallahu alaihi wasallam dan membangkitkan rasa cinta pada beliau shallallahu alaihi wasallam, dan bersyukur kepada Allah ta’ala dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam”

Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : “ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi shallallahu alaihi wasallam”

Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah, dengan karangan maulidnya yang terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya”.

Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: “Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.

ASAL USUL SHOLAWAT IBROHIMIYYAH DALAM TAHYAT AKHIR SHOLAT

Shalawat Ibrahimiyah adalah salah satu shalawat paling populer bagi umat Islam. Bagi Muslim yang taat, shalawat ini pasti sangat akrab dalam ibadah kesehariannya. Bunyi shalawat ini adalah sebagai berikut:

للَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ و بَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Limpahkan pula keberkahan bagi Nabi Muhammad dan bagi keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan keberkahan bagi Nabi Ibrahim dan bagi keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya di alam semesta Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.”

Minimal 5 kali dalam sehari semalam umat Islam membaca shalawat Ibrahimiyah, yaitu di setiap melaksanakan shalat, tepatnya ketika tahiyat akhir.

Shalawat ini juga banyak disampaikan oleh para ahli, baik lewat lisan maupun tulisan. Namun mereka lebih banyak menekankan pada aspek lafal dan keuatamaan membacanya.

Ternyata shalawat yang sangat fenomenal di tengah kaum Muslimin ini memiliki sejarah yang semestinya diketahui oleh setiap Muslim. Barangkali selama ini hanya menghafal dan melantunkan di setiap shalat dan dalam waktu-waktu tertentu. Tidak pernah terbesit mengapa nama Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersanding dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, tidak nabi-nabi yang lain.

Terkait dengan hal ini, Syekh Nawawi dalam Murah Labib-Tafsir an-Nawawi menjelaskan, ada empat hal yang menjadi alasan mengapa Nabi Muhammad bersanding dengan Nabi Ibrahim;

أن ابراهيم دعا لمحمد بهذه الدعوة فأجرى الله ذكر إبراهيم على ألسنة أمة محمد إلى يوم القيامة أداء عن حق واجب على محمد لإبراهيم الثاني أن إبراهيم سأل ربه بقوله واجعل لي لسان صدق في الأخرين أي ابق لي ثناء حسنا في أمة محمد صلى الله عليه وسلم فأجابه الله تعالى فقرن بين ذكرهما إبقاء للثناء الحسن على إبراهيم في أمة محمد صلى الله عليه وسلم ألثالث أن ابراهيم كان أبا الملة ومحمدا كان أبا الرحمة وجب لكل واحد منهما حق الأبوة من وجه قرن بين ذكرهما في باب الثناء والصلاة ألرابعة أن إبراهيم منادي الشريعة في الحج ومحمدا كان منادي الإيمان فجمع الله تعالى بينهما في الذكر الجميل

Pertama, sesungguhnya Nabi Ibrahim alaihissalam berdoa teruntuk Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam dengan doa ini (shalawat Ibrahimiyah). Karena hal inilah Allah menggerakkan lisan umat Nabi Muhammad senantiasa menyebut nama Nabi Ibrahim sebagai bentuk balasan kebaikan teruntuk Nabi Ibrahim.

Kedua, Nabi Ibrahim pernah berdoa “Ya Allah jadikanlah untukku sebutan yang baik pada umat terakhir, yakni dari umat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam.” Dan Allah mengabulkan doa tersebut, sehingga menyambung penyebutan Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim sebagai pujian yang baik dari umat Nabi Muhammad untuk Nabi Ibrahim.

Ketiga, sesungguhnya Nabi Ibrahim adalah bapak dari aspek agama (abu millah), sedangkan Nabi Muhammad adalah bapak dari aspek rahmat (abu rahmah). Maka wajib bagi setiap Muslim menjadikan mereka sebagai sifat bapak, dan menyebutnya secara bersama dalam setiap pujian dan shalat.

Keempat, Nabi Ibrahim mengajak umat melaksanakan ibadah haji, sedangkan Nabi Muhammad mengajak kepada iman. Maka Allah mengumpulkan keduanya dalam sebutan yang baik. (Syekh Nawawi, Murah Labid-Tafsir an-Nawawi, Surabaya: Darul Ilmi, hal. 35)

Empat alasan sebagaimana dijelaskan Syekh Nawawi menunjukkan adanya kedekatan secara batin antara Nabi Ibrahim dengan Nabi Muhammad. Logis sekali karena Nabi Muhammad merupakan keturunan Nabi Ibrahim dari garis Sayyid Abdullah hingga Nabi Ismail ‘alaihissalam. Contoh lain persambungan antara Nabi Muhammad dengan Nabi Ibrahim adalah berlakunya sebagian syariat Nabi Ibrahim bagi umat Nabi Muhammad.

Penjelasan ini dapat dilihat dalam tafsir an-Nawawi ayat 124 surah al-Baqarah:

 وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ (١٢٤)

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya” (QS Al-Baqarah[2]: 142).

 Ibn Abbas mendefinisikan kata بِكَلِمَاتٍ (beberapa kalimat),

 وهي عشر خصال كانت فرضا في شرعه وهي سنة في شرعنا

Yaitu 10 hal yang merupakan kewajiban bagi syariat Nabi Ibrahim, dan sunnah bagi syariat kita (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam). Sepuluh hal tersebut dibagi atas dua yaitu lima terdapat di kepada dan lima lainnya di badan. Lima di kepala meliputi; berkumur, menghirup air ke hidung, memakai siwak, mencukur jenggot, dan mencukur rambut kepala. Lima di badan meliputi; khitan (sunat), mencukur rambut kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan cebok menggunakan air. (Syekh Nawawi, Murah Labid-Tafsir an-Nawawi, Surabaya: Darul Ilmi, hal. 33)

Disebutkan dalam kisah lain gambaran kekaguman Nabi Ibrahim kepada umat Nabi Muhammad. Syekh Nawawi dalam karyanya Qami’ at-Tughyan, menyebutkan

 وكان يكنى أبا الضيفان وأراد أن يجعل لأمة محمد صلى الله عليه وسلم ضيافة إلى يوم القيامة

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memiliki satu keinginan yaitu menjamu umat Nabi Muhammad shallAllahu ‘alaihi wasallam (menjadikannya tamu) hingga hari kiamat. (lihat: syekh Muhammad Nawawi Bin Umar, Qami’ at-Tughyan, Indonesia: Haramain, hal. 22).

Kekaguman Nabi Ibrahim terhadap Nabi Muhammad dan umatnya menjadikannya banyak memohon kepada Allah agar dapat memperoleh keutamaan dari nabi dan umat terakhir. Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa Nabi Ibrahim selalu membaca shalawat Ibrahimiyah untuk Nabi Muhammad. Beliau juga memohon agar namanya tetap disebut oleh umat Nabi Muhammad hingga kiamat. Bahkan keinginannya menjamu umat Nabi Muhammad hingga hari kiamat pun dikabulkan oleh Allah.

Wallahu a’lam bish shawab.

NABI MUHAMMAD SAW. SUDAH TAHU AKAN DI ANGKAT MENJADI UTUSAN ALLOH SWT.

Apakah Baginda Nabi Muhammad mengetahui beliau akan di angkat menjadi Nabi dan Rasul sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul ?.

 Beliau shollallohu alaihi wasallam sudah mengetahuinya, yaitu melalui berbagai pertanda yang mendahului yang Allah kirimkan kepadanya dan Allah khususkan dengan berbagai kabar gembira dan karomah-karomah, misalnya Beliau shollallohu alaihi wasallam melihat sinar terang dan cahaya, mendengar ucapan dan salam namun tidak terlihat orangnya, beliau mendengar batu dan pohon memanggilnya sampai beliau shollallohu alaihi wasallam merasa terasing dari makhluk dan menuju kholiq, lalu beliau mulai suka berkholwat / nyepi yang akhirnya beliau shollallohu alaihi wasallam mendapat wahyu dan diangkat menjadi Nabi.

Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku mengenal batu di Makkah, dulu dia mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus menjadi Nabi, dan sekarang aku masih menegnalinya.”  (HR Muslim)

Imam Al Qurtuby berkata : “Batu itu mengucapkan salam kenabian dan kerasulan sebelum malaikat berbicara kepada beliau dengan risalah.”

Imam Al Mubarokfuri berkata : salamnya batu adalah : “assalaamu alaika yaa Rasulalloh..” sebagaimana dalam satu riwayat.

Wallohu a’lam.

Referensi :

Kitab al Mufhim (6/51) :

باب: من شواهد نبوته صلى الله عليه وسلم وبركته

عن جابر بن سمرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” إني لأعرف حجرا بمكة كان يسلم علي قبل أن أبعث، إني لأعرفه الآن”

رواه أحمد ( 5 \ 89 )، ومسلم (2277)، والترمذي (3624)

.. قوله: ” إني لأعرف حجرا كان يسلم علي قبل أن أبعث “

يعني: أنه كان يسلم عليه بالنبوة والرسالة قبل أن يشافهه الملك بالرسالة.

ذكر العلماء بسيرة النبي صلى الله عليه وسلم وأحواله: أنه كان من لطف الله بنبيه صلى الله عليه وسلم أن قدم له مقدمات، وخصه ببشائر وكرامات، درجه بذلك إلى أطوار، لينقطع بذلك عن مألوفات الأغمار، ويتأهل على تدريج لقبول ما يلقى إليه، ولتسهيل مشافهة الملك عليه، فكان صلى الله عليه وسلم يرى ضياء وأنوارا، ويسمع تسليما وكلاما، ولا يرى أشخاصا، فيسمع الحجارة والشجر تناديه، ولا يرى أحدا يناجيه، إلى أن استوحش من الخلق، ففر إلى الحق، فحببت إليه الخلوة، فكان سبب هذه الحبوة، مشافهة الملك فقبل فملك

Kitab tuhfatul Ahwadzi (10/16) :

قوله : ” كان يسلم علي ” أي : يقول السلام عليك يا رسول الله كما في رواية

SEJARAH BIOGRAFI NABI MUHAMMAD SAW. SEBAGAI TELADAN BAGI UMAT MANUSIA

Kajian historis keagungan Baginda Rasulillah SAW sampai waktu perjalanan Isro’ Mi’roj yang dikemas dalam kitab Nurul Musthofa, lengkap jilid 1-3

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين 

          Dengan menyebut Nama Allah Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang..

          Segala Puji Bagi Allah SWT Tuhan semesta alam. Sholawat (Rahmat Ta’dhim) dan Salam Sejahtera Allah SWT senantiasa melimpah kepada Junjungan kita Baginda Nabi Muhammad SAW beserta seluruh keluarga dan sahabatnya

Sungguh Maha Suci Engkau Ya Allah, Engkaulah Dzat yang telah menciptakan alam semesta yang penuh dengan segala macam rahasia-rahasia keajaiban yang menunjukkan atas keagungan kekuasaan-Mu.

          Sungguh Maha Suci Engkau Ya Allah, Engkaulah Dzat yang telah menentukan segala sesuatu dengan qodlo’ dan qodar-Mu tanpa ada seorangpun yang berhak untuk menggugat atau mempertanyakan terhadap segala sesuatu yang  Engkau Kehendaki.

          Sungguh Maha Suci Engkau Ya Allah, Engkaulah Dzat yang memiliki kehendak untuk menciptakan makhluk yang sangat agung dan paling Engkau sayangi, yang Engkau limpahkan kepadanya segala kesempurnaan sifat-sifat yang mulia nan terpuji, dan Engkau jadikan sebagai sumber Rahmat (Belas Kasih Sayang)-Mu kepada semua hamba-hamba-Mu yang telah Engkau pilih sebagai penghuni sorga-Mu yang dipenuhi dengan segala macam keindahan, kenikmatan dan kebahagiaan yang kekal abadi selama-lamanya.

          Dialah sesungguhnya yang telah Engkau jadikan sebagai junjungan kami Baginda Nabi Besar Muhammad SAW.

          Dan sesungguhnya yang pertama kali Allah SWT ciptakan adalah “Nur”nya Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadis yang tercantum dalam kitab maulid Simtud Durar Lil Imam Al-‘Arif Billah Al-Habib Ali Bin Muhammad Al-Habsyi hal 19 ;

أخرج عبد الرزاق بسنده عن جابر بن عبد الله الأنصاري رضي الله عنهما قال – قلت يا رسول الله بأبي وأمي أخبرني عن أول شيء خلقه الله قبل الأشياء. قال يا جابر إن الله خلق قبل الأشياء نور نبيك محمد صلى الله عليه وسلم من نوره

Yang artinya kurang lebih:

“Bahwa sesungguhnya shahabat Jabir bin Abdullah RA bertanya kepada Junjungan kita Baginda Nabi Besar Muhammad SAW; Wahai Rasulullah, (Ayah ibuku sebagai tebusan Engkau), beritahukanlah kepadaku tentang pertama kali makhluk yang Allah SWT ciptakan sebelum segala sesuatu. Maka Baginda Nabi  Muhammad SAW menjawab; Hai Jabir, sesungguhnya yang Allah SWT ciptakan sebelum segala sesuatu adalah NUR (cahaya) Nabimu  (Baginda Nabi Besar Muhammad SAW)”.

          Dan sesungguhnya Nur Baginda Nabi Muhammad SAW senantiasa bertasbih kepada Allah SWT dengan diikuti oleh para malaikat dan para arwah di alam malakut, jauh puluhan ribu tahun sebelum Nabi Adam AS diciptakan oleh Allah SWT. Sebagaimana hal itu telah disebutkan oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi di Kitab Ad-Durarul Hisaan Fil Ba’tsi Wa Na’iimil Jinan Haamisy Daqa’iqul Akhbaar hal 2 & 3.

Dan sesungguhnya kalau bukan demi Baginda Nabi Muhammad SAW maka Allah SWT tidak akan menciptakan segala sesuatu. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis qudsiy;

لولاك لولاك لما خلقت الأفلاك

Yang artinya kurang lebih;

“Seandainya tidak ada Engkau (wahai Nabi Muhammad SAW, sungguh Aku (Allah SWT) tidak akan menciptakan alam semesta”

Maka segala anugerah yang telah melimpah kepada makhluk-makhluk Allah SWT, semata-mata adalah dengan berkatnya Baginda Nabi Muhammad SAW. Bahkan segala kemuliaan  para Malaikat dan Para Nabi  adalah semata-mata berkat Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang telah diterangkan oleh Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani di kitabnya Hujjatullah ‘Alal ‘Alamin hal 53 & 54 ;

قال الشيخ يوسف بن إسماعيل النبهاني في حجة الله على العالمين   ص53 -54

إنما ظهر الخير لأهله ببركة سيدنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وأهل الخير هم الملائكة والأنبياء والأولياء وعامة المؤمنين

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa sesungguhnya segala kebaikan yang melimpah kepada makhluk-makhluk Allah SWT yang mulia adalah semata-mata berkat Baginda Nabi  Muhammad SAW, mereka itu adalah para Malaikat, para Nabi dan semua orang-orang mukmin”.

Dan sesungguhnya manakala Allah SWT telah  menciptakan Nabi Adam AS, Allah SWT senantiasa memanggilnya dengan julukan Abu Muhammad, sehingga Nabi Adam AS bertanya kepada Allah SWT tentang rahasia panggilan tersebut, sebagaimana hal itu telah diriwayatkan oleh Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Hasaniy dalam kitabnya As-Sirah An-Nabawiyyah juz 1 hal 15 ;

قال الشيخ أحمد بن زيني دحلان الحسني في السيرة النبوية الجزء الأول ص 15

ويروى من طرق شتى أن الله تعالى لما خلق آدم عليه السلام ألهمه الله أن قال : يا رب لم كنيتني أبا محمد ؟ قال الله تعالى : يا آدم إرفع رأسك فرفع رأسه فرأى نور محمد صلى الله عليه وسلم في سرادق العرش فقال : يا رب ما هذاالنور ؟ قال : هذا نور نبي من ذريتك إسمه في السماء أحمد وفي الأرض محمد  لولاه ما خلقتك ولا خلقت سماء ولا أرضا

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa sesungguhnya Allah SWT sesudah menciptakan Nabi Adam AS maka Allah SWT memberi ilham kepada Nabi Adam AS untuk bertanya kepada-Nya; Ya Allah, kenapa Engkau juluki aku dengan “Abu Muhammad” (Ayahnya/bapaknya  Muhammad)? Maka Allah SWT Berfirman kepada Nabi Adam AS; Hai Adam, Angkat kepalamu. Maka Nabi Adam AS kemudian mengangkat kepalanya. Seketika itu Beliau melihat Nur (cahaya) Baginda Nabi Muhammad SAW meliputi di sekitar ‘Arasy. Nabi Adam AS bertanya; Ya Allah, Nur siapa ini ? Allah SWT Berfirman; Ini adalah Nur seorang Nabi dari keturunanmu, di langit namanya Ahmad, di bumi namanya Muhammad. Kalau bukan karena Dia niscaya Aku tidak akan menciptakan kamu, langit dan bumi.”

          Kemudian Allah SWT meletakkan Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dalam punggung Nabi Adam AS, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Kitabnya Ad-Durarul Hisan Hamisy Daqo’iqul Akhbar hal 5;

قال الامام جلال الدين السيوطي في الدرر الحسان هامش دقائق الأخبار ص 5

ثم ان الله تعالى استودع نور محمد صلى الله عليه وسلم في ظهره وأسجد له الملائكة وأسكنه الجنة فكانت الملائكة تقف خلف آدم صفوفا صفوفا يسلمون على نور محمد صلى الله عليه وسلم

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa sesungguhya Allah SWT telah meletakkan Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dalam punggung Nabi Adam AS. Sehingga para malaikat sujud dan berbaris rapi di belakang Nabi Adam AS untuk menghaturkan salam kepada Nur Baginda Nabi Muhammad SAW”.

Dan pada saat itu pula Allah SWT memerintahkan kepada Iblis agar sujud kepada Nabi Adam AS, namun dia membangkang dan sombong. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah SWT Surat Al-Baqarah ayat 34 ;

وإذ قلنا للملائكة اسجدوا لآدم فسجدوا إلا إبليس أبى واستكبر وكان من الكافرين)   البقرة  34  )

Yang artinya kurang lebih;

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat; “Sujudlah kalian semua kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan sesungguhnya ia (Iblis) termasuk golongan orang-orang yang kafir”. (Q.S.Al-Baqarah 34).

          Selanjutnya Allah SWT menciptakan ibunda Hawwa’ yang sangat cantik jelita dan sempurna kecantikannya dari tulang rusuk kiri Nabi Adam AS. Dan mengijinkan kepada Nabi Adam AS (yang merupakan bapak dari seluruh umat manusia) untuk menikahinya setelah memberikan maharnya berupa  bersholawat sebanyak tiga kali kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana hal itu telah disebutkan oleh Imam Abdur Rahman bin Abdus Salam Ash-Shafuri Asy-Syafi’i di kitabnya Nuzhatul Majaalis juz 2 hal 169 yang menukil perkataan Imam Al-Kisa’i dan juga disebutkan pula oleh Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Hasaniy di kitabnya As-Sirah An-Nabawiyyah juz 1 hal 17 ;

قال الإمام عبد الرحمن بن عبد السلام الصفوري الشافعي في نزهة المجالس الجزء الثاني ص 169

قال الكسائي وغيره- لما خلق الله آدم خلق حواء من ضلعه الأيسر وهو في الجنة وأودعها حسن سبعين حوراء فصارت حواء بين الحور العين كالقمر بين الكواكب وكان آدم نائما فلما استيقظ مد يده إليها فقيل له مه يا آدم حتى تؤدي مهرها قال وما هو ؟ قال أن تصلي على محمد صلى الله عليه وسلم ثلاث مرات

Yang artinya kurang lebih;

“Ketika Allah SWT sudah menciptakan Nabi Adam AS di sorga, Allah SWT kemudian menciptakan Ibu Hawwa’ dari tulang rusuk Nabi Adam AS sebelah kirinya dan menganugerahinya kecantikan luar biasa melebihi  kecantikan 70 bidadari sehingga dibanding kecantikan para bidadari sorga, Ibu Hawwa’ laksana bulan purnama dikelilingi bintang-bintang yang gemerlapan. Begitu Nabi Adam AS bangun dari tidurnya dan melihat Ibu Hawwa’, Beliau AS hendak menyentuhnya. Namun terdengar seruan kepadanya; “Hai Nabi Adam AS, Engkau tidak diijinkan untuk menyentuhnya sebelum Engkau memberikan maharnya”. Beliau Nabi Adam AS bertanya; “Apa maharnya?” Kemudian terdengar seruan menjawab; “Hai Nabi Adam AS, maharnya adalah Engkau mengucapkan sholawat sebanyak tiga kali kepada  Baginda Nabi  Muhammad SAW”.

Sungguh alangkah mulianya derajat Junjungan kita Baginda Nabi Muhammad SAW,  sampai ditetapkan/disahkan oleh Allah SWT pernikahannya Nabi Adam AS dengan Ibu Hawwa’ dengan bacaan sholawat sebanyak tiga kali kepada Baginda Nabi Muhammad SAW dan dipersilahkan kepada mereka (Nabi Adam AS dan Ibu Hawwa’) untuk  bersenang-senang di sorga yang sangat indah dan nikmat sekali. Maka di situlah Nabi Adam AS dan ibunda Hawwa’ senantiasa melihat Asma Nabi Muhammad SAW terukir indah di mana-mana senantiasa berdampingan dengan Asma Allah SWT, Sebagaimana yang  telah disebutkan oleh Imam Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi Asy-Syaafi’i dalam kitabnya Al-Hawi Lil-Fatawi Juz 2  hal 174; dan disebutkan pula oleh Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Hasaniy dalam kitabnya As-Sirah An-Nabawiyyah juz 1 hal 15;

قال الإمام جلال الدين عبد الرحمن السيوطي في الحاوي للفتاوي الجزء الثاني ص 174 و الشيخ أحمد بن زيني دحلان الحسني في السيرة النبوية الجزء الأول ص 15

أن آدم عليه السلام رأى مكتوبا على ساق العرش وعلى كل موضع في الجنة  من قصر وغرفة  ونحورالحور العين  وورق شجرة طوبى وورق سدرة المنتهى وأطراف الحجب وبين أعين الملائكة إسم محمد صلى الله عليه وسلم مقرونا باسم الله تعالى وهو لاإله إلا الله محمد رسول الله

Yang artinya kurang lebih;

“Sesungguhnya Nabi Adam AS telah melihat Nama Baginda Nabi  Muhammad SAW senantiasa berdampingan dengan Asma Allah SWT tertulis Laailaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah di setiap tempat di sorga, di setiap gedung-gedung sorga, di kamar-kamar sorga, di leher-leher bidadari, di daun-daun pohon Thuba, di daun-daun pohon Sidratil Muntaha, di ujung-ujung benteng dan di setiap dahi para malaikat (antara kedua matanya)” .  

Kemudian akibat gangguan Iblis terkutuk kepada Ibu Hawwa’, maka Allah SWT menurunkan keduanya di muka bumi ini. Dan dalam jangka waktu yang lama, mereka mengalami berbagai macam kesedihan dan penyesalan yang luar biasa. Berulang kali Nabi Adam AS memohon ampunan dan meratap kepada Allah SWT, namun belum ada jawaban dan tidak diperdulikan sama sekali. Hingga akhirnya Beliau Nabi Adam AS teringat kemuliaan dan keagungan derajat Baginda Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT. Sehingga timbullah harapan Beliau untuk memohon ampunan kepada Allah SWT dengan berwasilah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Dan berkat kemuliaan Baginda Nabi Muhammad SAW di sisi-Nya, maka Allah SWT mengabulkan permohonan ampun Nabi Adam AS dan menerima taubatnya.

Sebagaimana disebutkan oleh Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Hasaniy dalam kitabnya As-Sirah An-Nabawiyyah juz 1 hal 15 ;

قال الشيخ أحمد بن زيني دحلان الحسني في السيرة النبوية الجزء الأول ص 15

وعن عمر بن الخطاب  رضي الله عنه قال; قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  لما اقترف آدم الخطيئة قال يا رب أسالك بحق محمد صلى الله عليه وسلم إلا ما غفرت لي فقال الله تعالى يا آدم كيف عرفت محمدا ولم أخلقه قال يا رب لأنك لما خلقتني بيدك أي من غير واسطة أم وأب  ونفخت في من روحك أي من الروح المبتدأة منك المتشرفة بالإضافة إليك رفعت رأسي فرأيت على قوائم العرش مكتوبا لا إله إلا الله محمد رسول الله فعلمت أنك لم تضف إلى إسمك إلا أحب الخلق إليك فقال الله تعالى صدقت يا آدم إنه لأحب الخلق إلي وإذ سألتني بحقه فقد غفرت لك ولولا محمد ما خلقتك . رواه البيهقي في دلائله.

Yang artinya kurang lebih;

“Diriwayatkan dari Sayyidina Umar Ibnul Khaththab Radliyallahu ‘Anhu, bahwa Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda; Manakala Nabi Adam AS bermunajat kepada Allah SWT memohon ampunan dengan berwasilah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW Beliau berkata; Ya Allah, demi kemuliaan/keagungan derajat Baginda Nabi Muhammad SAW di sisi-Mu limpahkanlah ampunan-Mu kepadaku. Seketika Allah SWT Berfirman; Hai Adam, bagaimana engkau bisa mengenal Nabi Muhammad SAW padahal Aku belum menciptakannya. Nabi Adam AS menjawab; Ya Allah, sesungguhnya Engkau tatkala telah menciptakanku dan memberiku nyawa, aku lihat di sekitar Arasy diliputi kalimat Laailaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah. Aku yakin bahwa sesungguhnya Engkau tidak mendampingkan Asma-Mu kecuali kepada  makhluk yang paling Engkau cintai. Allah SWT Berfirman; Kamu benar hai Adam. Sungguh dia (Nabi Muhammad SAW) adalah makhluk yang paling Aku cintai. Dan karena kamu telah memohon ampunan kepadaKu dengan berwasilah kepadanya, Maka Aku kabulkan permohonanmu. Dan kalau bukan karena dia maka Aku tidak akan menciptakan kamu”

Dan sebagaimana yang disebutkan oleh Syekh Yusuf Bin Ismail An-Nabhani di kitabnya Hujjatullah ‘Alal ‘Aalamin hal 217 bahwa; Sesungguhnya Nabi Adam AS mendengar suara dari dalam dahinya seperti suara kicauan burung. Beliau merasa heran dan lantas berkata; “Subhanallah..Maha Suci Allah…sungguh sangat agung sekali kekuasan-Mu..suara apakah ini yang telah Engkau ciptakan  berada dalam dahiku ya Allah..?. Seketika Allah SWT menjawab ketakjuban Nabi Adam AS tersebut dengan Firman-Nya;

يا آدم هذا تسبيح خاتم النبيين وسيد ولدك من المرسلين صلى الله عليه وسلم

Yang artinya kurang lebih;

“Hai Adam, (ketahuilah olehmu, sesungguhnya suara tersebut adalah tasbih kekasih-Ku Nabi akhir zaman, yang kelak menjadi junjungan (pimpinan) seluruh umat manusia (keturunanmu). Baginyalah senantiasa Kulimpahkan sholawat dan salam sejahtera dari-Ku..”

Dan sesungguhnya Nur Baginda Nabi Muhammad SAW senantiasa terlihat bersinar kemilauan di muka Nabi Adam AS, laksana matahari yang bersinar terang benderang di siang hari. Maka, Allah SWT mengambil sumpah (perjanjian) kepada Nabi Adam AS agar senantiasa menjaga Nur tersebut dengan Berfirman :

يا آدم خذه)  يعني النور النبوي( بعهدي وميثاقي على ان لا تودعه إلا في الأصلاب الطاهرة والمحصنات الزاهرة

Yang artinya kurang lebih;

“Hai Adam, bejanjilah (kepada-Ku) untuk senantiasa benar-benar menjaga Nur Nabi Muhammad SAW (yang telah Kuletakkan dalam dirimu). Janganlah sekali-kali kamu letakkan kecuali kepada orang-orang yang suci mulia..”.

Maka Nabi Adam AS menerima dengan senang hati bahkan Beliau sangat bangga  untuk melaksanakan tugas tersebut dengan menjaganya dan mewasiatkan amanat tersebut kepada anak cucunya kelak.

          Dan sesungguhnya para malaikat senantiasa berbaris rapi di belakang punggung Nabi Adam AS. Beliau heran dengan amalan perbuatan  malaikat tersebut, lantas Beliau bertanya kepada Allah SWT; “Ya Allah, kenapa para malaikat selalu berbaris rapi di belakangku…?” . Allah SWT kemudian menjawab dengan Berfirman..: “Hai Adam..ketahuilah olehmu…bahwa para malaikat-Ku tersebut..senantiasa berdiri di belakangmu untuk memandang kepada Nur Kekasih-Ku Nabi akhir zaman Rasulullah Muhammad SAW…”

Maka Nabi Adam AS memohon kepada Allah SWT agar diijinkan untuk melihat Nur tersebut. Dan Allah SWT mengabulkannya sehingga Nabi Adam AS bisa melihat keagungan Nur Nabi Muhammad SAW. Maka Beliau Nabi Adam semakin tambah cintanya dan kebanggaannya kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau benar-benar sangat menjaga kemuliaan dan keagungan Nur tersebut. Oleh sebab itulah, setiap beliau hendak berhubungan dengan istrinya (Ibu Hawwa’) maka Beliau bersuci terlebih dahulu dan memakai wewangian dan memerintahkan Ibu Hawwa’ untuk melakukan hal yang sedemikian rupa, dengan mengatakan..”Hai istriku Hawwa’..Bersucilah, dan pakailah olehmu wangi-wangian..sesungguhnya sudah dekat saatnya, Nur Nabi Muhammad SAW yang berada dalam diriku akan berpindah dalam dirimu…” Maka Nabi Adam AS dan Ibunda Hawwa senantiasa menjaga kesucian demi memuliakan Nur Baginda Nabi Muhammad SAW. Sampai suatu hari Nur Baginda Nabi Muhammad SAW benar-benar telah berpindah dari diri Nabi Adam AS ke dalam diri Ibunda Hawwa’. Sehingga berkat Nur Agung tersebut, Ibunda Hawwa’ semakin tambah kecantikannya setiap hari. Wajahnya semakin bersinar dan berseri-seri.. Sejak saat itulah Nabi Adam AS tidak berani berhubungan dengan Ibu Hawwa’ demi menjaga kesucian dan memuliakan Nur Baginda Nabi Muhammad SAW yang berada dalam dirinya. Dan para malaikat senantiasa berduyun-duyun turun ke bumi setiap hari semata-mata hanya untuk menghaturkan salam sejahtera dari Allah SWT kepada Nur Baginda Nabi Muhammad SAW yang telah bersemayam dalam diri Ibunda Hawwa’.. Tidak lama kemudian Beliau melahirkan anak laki-laki dan diberinya nama Syits. Dan Nur tersebut telah pindah dalam diri Nabi Syits AS.

          Dengan adanya Nur yang terlihat oleh Nabi Adam AS di muka Nabi Syits AS, maka  Nabi Adam AS selalu memperhatikan  dan menjaga Nabi Syits AS, demi memuliakan dan mengagungkan Nur Nabi Muhammad SAW yang ada dalam diri Nabi Syits AS tersebut.

Setelah Nabi Syits AS dewasa dan Nabi Adam AS merasa telah dekat ajalnya untuk menghadap kepada Allah SWT, maka Beliau Nabi Adam AS memanggil putranya (Nabiyyullah Syits AS) dan memberikan wasiat/amanat  kepadanya; “

يا بني إن الله أخذ عليك عهدا وميثاقا من أجل هذا النور المستودع في ظهرك ووجهك أن لا تضعه إلا في أطهر نساء العالمين

Yang artinya kurang lebih;

“Wahai Anakku (Syits), Sesungguhnya Allah SWT telah mengambil perjanjian kepadamu untuk senantiasa menjaga “Nur Agung Nabi Muhammad SAW’, janganlah engkau letakkan kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya”.

Dan Nabi Adam AS juga telah mewasiatkan kepada Nabi Syits AS (putranya) agar senantiasa membesarkan kemuliaan dan keagungan Baginda Nabi Muhammad SAW di jiwanya, serta senantiasa menyebut-nyebutnya dengan berdzikir kalimat Laailaaha illallaah Muhammadur Rasulullah SAW. Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Hawi Lil Fatawi Juz 2  hal 174;

قال الإمام جلال الدين عبد الرحمن السيوطي في الحاوي للفتاوي الجزء الثاني ص 174

وقد أخرج ابن عساكر عن كعب الأخبار أن آدم أوصى ابنه شيث فقال كلما ذكرت الله فاذكر إلى جنبه اسم محمد فإني رأيت اسمه مكتوبا على ساق العرش وأنا بين الروح والتين  ثم إني طرفت فلم أرى في السماء موضعا إلا رأيت اسم محمد مكتوبا عليه ولم أرى في الجنة قصرا ولا غرفة إلا اسم محمد مكتوبا عليه ولقد رأيت اسم محمد مكتوبا على نحورالحور العين وعلى ورق قصب آجام الجنة وعلى ورق شجرة طوبى وعلى ورق سدرة المنتهى وعلى أطراف الحجب وبين أعين الملائكة فأكثرذكره فإن الملائكة تذكره في كل ساعا تها

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa sesungguhnya Nabi Adam AS berwasiat kepada putranya (Nabi Syits AS);”(Hai Syits), setiap kamu berdzikir(menyebut) Asma Allah SWT hendaklah kamu sertakan pula berdzikir (menyebut) nama Baginda Nabi Muhammad SAW. Karena sesungguhnya aku (Nabi Adam AS), telah melihat namanya selalu berdampingan dengan Asma Allah SWT (Laailaaha illallaah Muhammadur Rasulullah) tertulis meliputi Arasy’, tertulis di seluruh tempat-tempat di langit, tertulis di gedung-gedung sorga, di kamar-kamar sorga, di leher para bidadari sorga, di seluruh dedaunan pohon-pohon sorga, di seluruh dedaunan pohon Thuba, di seluruh dedaunan pohon Sidratil Muntaha, di seluruh sudut benteng dan di setiap dahi (antara kedua mata) para malaikat. Maka perbanyakilah selalu berdzikir (menyebut-nyebut) namanya, karena seluruh malaikat di alam malakut senantiasa berdzikir (menyebut-nyebut) namanya”.

Dan sesungguhnya Allah SWT telah mewasiatkan pula kepada Para Nabi & Rasul terutama Para Nabi yang diberikan kitab agar benar-benar beriman dan selalu membesarkan kemuliaan Baginda Nabi SAW di sisi Allah SWT dengan senantiasa berdzikir  mengucapkan kalimat Laailaaha illallaah Muhammadur Rasulullah SAW. Dan diwajibkan pula untuk mewasiatkan kepada umatnya masing-masing agar sungguh-sungguh beriman, tunduk, patuh dan senantiasa membesarkan kemuliaan Junjungan kita Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW dan menjadi pembela setianya apabila suatu saat bertemu dengan Baginda Nabi Muhammad SAW.

Sebagaimana yang telah Allah SWT Firmankan dalam Surat Aali Imraan ayat 81;

وإذ أخذ الله ميثاق النبيين لما آتيتكم من كتاب وحكمة ثم جاءكم رسول مصدق لما معكم لتؤمنن به ولتنصرنه قال أأقررتم وأخذتم على ذلكم إصري قالوا أقررنا قال فاشهدوا وأنا معكم من الشاهدين. )آل عمران      81) 

Yang artinya kurang lebih;

“Dan (ingatlah), ketika Allah SWT mengambil perjanjian dari para Nabi; “Sungguh apa saja yang Aku berikan kepada kalian semua berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepada kalian semua seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada pada kalian semua, niscaya kalian semua akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan senantiasa mengagungkannya”. Allah SWT Berfirman;”Apakah kalian semua mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?”. Mereka serentak menjawab; “Kami mengakui”. Allah SWT Berfirman; “Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku  menjadi saksi (pula) bersama kalian semua.”. (Q.S. Ali Imraan ayat 81).

Dan disebutkan pula dalam Firman Suci Allah SWT, Surat Ash-Shaff ayat 6;

وإذ قال عيسى بن مريم يا بني إسرائيل إني رسول الله إليكم مصدقا لما بين يدي من التوراة  ومبشرا برسول يأتي من بعدي اسمه أحمد

     الصف 6

Yang artinya kurang lebih;

“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata; “Hai bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah SWT kepada kalian semua, membenarkan kitab(yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku yang namanya Ahmad (Muhammad)”.(Q.S. Ash-Shaff ayat 6).

          Dan sesungguhnya demi belas kasih sayang Allah SWT kepada Baginda Nabi Muhammad SAW yang sangat luar biasa, sampai-sampai umatnya dimuliakan oleh Allah SWT dan diberi keutamaan-keutamaan yang tidak pernah diberikan oleh Allah SWT kepada umat siapapun pada masa terdahulu,  sebagaimana yang telah disebutkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an dan Kitab-kitab Para Nabi terdahulu.

          Diantara Firman-firman Allah SWT tentang keutamaan-keutamaan umat Baginda Nabi Muhammad SAW dalam kitab suci Al-Qur’an adalah;

Firman Allah SWT dalam Surat Aali Imraan ayat 10:

كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر  ) آل عمران  110

Yang artinya kurang lebih;

“(Sesungguhnya) kamu semua (umat Nabi Muhammad SAW) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf (baik) dan mencegah dari yang munkar (jelek)”.

(Q.S.Aali Imraan 110).

Dan berita tentang keutamaan-keutamaan umat Baginda Nabi Muhammad SAW telah diberitahukan Allah SWT kepada para Nabi dan Rasul.

Diantaranya adalah sebagaimana hal itu telah disebutkan Sayyiduna Al-Imam Al-Habib Abdullah bin ‘Alawiy Al-Haddad dalam kitab Beliau Sabilul Iddikar hal 22 – 26 dan juga disebutkan oleh Imam Abu Na’im Al-Ashfahaniy di kitabnya Dalailun Nubuwwah juz 1 hal 77 bahwa;

Sesungguhnya tatkala Nabi Musa AS membaca Kitab Suci Taurat, Beliau menemukan di dalamnya keutamaan-keutamaan umat Baginda Nabi Muhammad SAW, sehingga Beliau sangat kagum dan menginginkan sebagian dari keutamaan-keutamaan umat Baginda Nabi Muhammad SAW agar diberikan kepada umatnya dengan berkata;

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah membaca Kitab Suci Taurat dan aku temukan di dalamnya keutamaan-keutaman umat yang kelak dikumpulkan di padang mahsyar dalam keadaan bercahaya mukanya laksana bulan purnama dan anggota badannya berkemilauan memancarkan cahaya bekas wudlu dan sujud tatkala masih di dunia. Ya Allah, jadikanlah keutamaan itu untuk umatku”. Namun Allah SWT menjawab;

“Tidak Musa, sesungguhnya keutamaan itu hanya Aku khususkan bagi umat Kekasih-Ku Nabi Muhammad SAW”. Nabi Musa AS berkata lagi;

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah membaca Kitab Suci Taurat dan aku temukan keutamaan umat yang Engkau anugerahi ibadah sholat lima waktu dan Engkau bukakan pintu langit sehingga turun Rahmat (Belas Kasih Sayang)Mu kepada mereka pada saat mereka melakukannya sehingga para bidadari sorga rindu kepada mereka. Dan Engkau anugerahi pula mereka Bulan Suci Ramadlan sehingga mereka berpuasa sebulan penuh. Dan Engkau anugerahi pula mereka Firman-firman Suci-Mu (Kitab Suci Al-Qur’an) yang senantiasa terjaga/hafal di hati mereka. Dan Engkau anugerahi pula mereka ibadah haji ke Baitullah Ka’bah yang mana pahala haji mabrur adalah sorga-Mu, serta Engkau anugerahi pula mereka ibadah zakat dan sedekah yang Engkau lipat gandakan pahalanya sampai 700 kali. Ya Allah, jadikanlah keutamaan itu untuk umatku”. Namun, Allah SWT menjawab;

“Tidak Musa, sesungguhnya keutamaan itu hanya Aku khususkan bagi umat Kekasih-Ku Nabi Muhammad SAW”. Nabi Musa AS berkata lagi;

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah membaca Kitab Suci Taurat dan aku temukan keutamaan umat yang kelak tatkala Engkau bangkitkan di padang mahsyar, sepertiga dari mereka Engkau masukkan ke sorga tanpa hisab (pertanyaan/ pertanggungjawaban atas amal perbuatannya di dunia), yang sepertiga lagi Engkau masukkan ke sorga dengan hisab yang ringan, dan sepertiga lagi juga Engkau masukkan ke sorga setelah Engkau bersihkan mereka dari kotoran dosa. Ya Allah jadikanlah keutamaan itu untuk umatku”. Namun Allah SWT menjawab;

“Tidak Musa, sesungguhnya keutamaan itu hanya Aku khususkan bagi umat Kekasih-Ku Nabi Muhammad SAW”. Akhirnya Nabi Musa AS berkata lagi;

“Ya Allah, jika demikian, jadikanlah saja aku sebagai umat Kekasih-Mu Nabi Muhammad SAW”. Maka Allah SWT kemudian Berfirman kepada Nabi Musa AS;

يا موسى إني اصطفيتك على الناس برسالاتي وبكلامي فخذ ما آتيتك وكن من الشاكرين

Yang artinya kurang lebih;

“Hai Musa, sesungguhnya Aku telah memilihmu dari seluruh umat manusia (saat ini) untuk menjadi Rasul (utusan)Ku yang menyampaikan Firman Suci-Ku (kepada  hamba-hamba-Ku). Maka, laksanakanlah apa yang Aku tugaskan kepadamu. Dan hendaklah kamu senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah Aku limpahkan kepadamu”

 يا موسى أما علمت أن محمدا أكرم علي من جميع خلقي

Yang artinya kurang lebih;

“Hai Musa, sesungguhnya Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang paling Aku cintai dari seluruh makhluk-makhluk-Ku.”

وإني نظرت في قلوب عبادي فلم أجد قلبا أشد تواضعا من قلبك فلذلك اصطفيتك على الناس برسالاتي وبكلامي فمت على التوحيد وعلى حب محمد

Yang artinya kurang lebih;

“ Dan (saat ini) tidak Aku lihat dari seluruh hati hamba-hamba-Ku yang lebih tawadlu’ (merendahkan diri) dari hatimu. Maka, sebab itulah Aku pilih dirimu sebagai Rasul-Ku. Laksanakanlah semua perintahKu sampai kamu meninggal dalam keadaan meng-EsakanKu dan dalam keadaan cinta kepada Kekasih-Ku Nabi Muhammad SAW”.

          Maka, oleh sebab itulah, Nabi Musa AS senantiasa berdzikir/ menyebut-nyebut Baginda Nabi Muhammad SAW dan membanggakannya. Beliau selalu memuji-muji dan menceritakan keagungan dan kemuliaan Baginda Nabi Muhammad SAW kepada umatnya.

          Sampai ada sebuah riwayat yang kami dapatkan di kitab Hujjatullah ‘Alal ‘Alamin hal 124 Lis Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhaniy, bahwa sesungguhnya ada seseorang dari umatnya Nabi Musa AS yang senantiasa berbuat kemunkaran selama 200 tahun. Setelah dia meninggal, umat Bani Israil membuangnya di tempat sampah. Lantas Allah SWT Berfirman kepada Nabi Musa AS;

          “Wahai Musa (Nabi-Ku), uruslah jenazah hamba-Ku (yang terbuang di tempat sampah). Mandikan, kafani, sholati dan kuburkanlah dengan cara yang terhormat”

Nabi Musa AS kemudian berkata kepada Allah SWT; “Ya Allah Ya Robbi, sesungguhnya banyak sekali dari umatku (Bani Israil) yang telah menyaksikan prilakunya yang tidak terpuji selama 200 tahun, sehingga mereka membuangnya di tempat sampah…”

Allah SWT kemudian Berfirman kepada Nabi Musa AS;

          “Wahai Musa, memang benar apa yang disaksikan oleh umatmu (Bani Israil), akan tetapi, yang telah Aku ketahui (sendiri) bahwa sesungguhnya, di akhir hayatnya, dia setiap membuka Kitab Suci Taurat dan melihat nama kekasih-Ku (Nabi Muhammad SAW) dia sangat mengagumi dan mencintainya sampai-sampai dia mencium nama tersebut dan menaruhnya di kedua matanya, dengan senantiasa bersholawat kepadanya (Nabi Muhammad SAW). Oleh sebab itulah Aku (Allah SWT) telah mengampuni seluruh dosa-dosanya dan akan Aku masukkan dia ke sorga dengan memberinya istri 70 bidadari yang cantik jelita..”

          Maka, kecintaan Nabi Musa AS kepada Baginda Nabi Muhammad SAW semakin memuncak, sampai Beliau rindu ingin bertemu dengan Baginda Nabi Muhammad SAW.

          Begitu pula Allah SWT telah memerintahkan kepada Nabi Dawud AS untuk mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW dan senantiasa mengagungkannya, dan Allah SWT telah menetapkannya dalam Kitab Zabur yang telah diwahyukannya kepada Nabi Dawud AS yang menerangkan tentang kemuliaan kekasih-Nya (Nabi Muhammad SAW) beserta umatnya.

Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah Wan Nihayah Juz I hal 326;

قال الإمام ابن كثير في البداية والنهاية الجزء الأول ص 326

ذكر وهب بن منبه أن الله تعالى أوحى إلى داود في الزبور يا داود إنه سيأتي من بعدك نبي اسمه أحمد ومحمد صادقا سيدا لا أغضب عليه أبدا ولا يغضبني أبدا وقد غفرت له قبل أن يعصيني ما تقدم من ذنبه وما تأخر وأمته مرحومة أعطيتهم من النوافل مثل ما أعطيت الأنبياء وفرضت عليهم الفرائض التي افترضت على الأنبياء والرسل حتى ياتوني يوم القيامة ونورهم مثل نور الأنبياء

Yang artinya kurang lebih;

“Sesungguhnya Allah SWT Berfirman kepada Nabi Dawud AS; “Hai Dawud, sesungguhnya akan datang sesudahmu seorang Nabi Agung bernama Ahmad (di langit) dan Muhammad(di bumi). Dia adalah seorang Nabi yang jujur dan sebagai Tuan/Junjungan (bagi semua makhluk). Sungguh Aku (Allah SWT) tidak akan murka kepadanya selama-lamanya dan dia juga tidak akan pernah melakukan sesuatu yang membuat Aku murka. Sungguh akan Aku pelihara/jaga Dia dari segala dosa/kesalahan. Dan umatnya adalah umat yang Aku limpahkan Belas Kasih Sayang kepada mereka.  Aku anugerahkan kepada mereka amalan ibadah sunah dan wajib sebagaimana yang Aku anugerahkan kepada para Nabi dan Rasul. Dan kelak pada hari kiamat mereka akan datang menghadap kepadaKu dengan diliputi cahaya terang benderang sebagaimana cahayanya para Nabi”.

          Segala puji dan syukur hanya bagi Allah SWT semata, yang telah melimpahkan anugerah agung-Nya yang  tidak terbatas dengan menjadikan kita sebagai umat Baginda Nabi Muhammad SAW yang senantiasa meneladani prilakunya dan mengikuti jejak-jejaknya.

          Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa memuliakan dan mengagungkan Baginda Nabi Muhammad SAW sejak dahulu kala dengan menekankan kepada Nabi Adam AS dan semua para Nabi dan Rasul sesudahnya untuk benar-benar selalu memuliakan, mengagungkan dan mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW. Bahkan diriwayatkan di kitab Al-Haawi Lil Fatawi juz 2 hal 176 Lil Imam Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi yang menerangkan tentang rahasia yang terkandung dalam cincin Nabi Sulaiman AS;

قال الإمام جلال الدين عبد الرحمن السيوطي في الحاوي للفتاوي الجزء الثاني  ص 176

ورد عن عبادة بن الصامت وجابر بن عبد الله مرفوعا كان نقش خاتم سليمان بن داود لا إله إلا الله محمد رسول الله

Yang artinya kurang lebih;

“Imam Jalaluddin As-Suyuthi Rahimahullah berkata; Bahwa telah diriwayatkan dari shahabat ‘Ubadah bin Shamit dan shahabat Jabir bin Abdullah; sesungguhnya pada cincin Nabi Sulaiman AS tertulis kalimat Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur Rasuulullaah.”

          Dan demikian pula tersebutkan dalam Kitab Injil yang Allah SWT wahyukan kepada Nabi Isa AS untuk memberitahukan kepada seluruh umatnya agar mempersiapkan diri demi menyambut kekasih Allah SWT (Baginda Nabi Muhammad SAW) dengan beriman kepadanya dan menjadi pembela setianya. Sebagaimana yang  telah diriwayatkan Imam Jalaluddin As-Suyuthi di kitabnya Al-Hawi Lil Fatawi juz 2 hal 175 beliau berkata;

أخرج الحاكم عن ابن عباس قال أوحى الله إلى عيسى آمن بمحمد ومر من أدركه من أمتك أن يؤمنوا به فلولا محمد ما خلقت آدم ولا الجنة و لا النار

Yang artinya kurang lebih;

“Imam Hakim telah meriwayatkan dari shahabat Abdullah bin Abbas Radliyallaahu ‘Anhu, beliau  berkata; Bahwa sesungguhnya Allah SWT Berfirman kepada Nabi Isa AS dalam Kitab Injil; “Hai Isa, berimanlah kamu kepada Nabi Muhammad SAW, dan perintahlah umatmu yang bertemu dengannya (Nabi Muhammad SAW) agar beriman kepadanya (Nabi Muhammad SAW). Sebab, seandainya tidak ada Dia (Nabi Muhammad  SAW) maka Aku (Allah SWT) tidak akan menciptakan Adam, sorga dan neraka”.

          Segala puji bagi Allah SWT yang telah memuliakan dan melimpahkan Belas Kasih Sayang-Nya kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Dan banyak sekali dari kaum Yahudi dan Nashrani yang telah mendapati taufiq dan hidayah dari Allah SWT, berbondong-bondong datang ke kota Madinah  untuk menyambut kedatangan Nabi agung akhir zaman Baginda Rasulullah Muhammad SAW, sesuai dengan amanat yang telah mereka dapati dalam kitab Taurat dan Injil yang masih asli. Dan meraka lakukan itu semata-mata untuk beriman kepada Baginda Nabi Muhammad SAW dan menjadi pembela setianya. Diantaranya adalah Abdullah bin Salam, Ibnul Hayyaban, Taba’ Al-humairiy, Salman Al-Farisiy, dan lain-lain, sebagaimana hal itu disebutkan oleh Syekh Yusuf Bin Ismail An-Nabhaniy di Kitab Hujjatullah ‘Alal ‘Aalamin hal 133 – 166. Dan mulai dari situlah, maka umat Islam mendapati kemenangan demi kemenangan dalam menegakkan dan memperjuangkan ajaran-ajaran Baginda Nabi Muhammad SAW.

          Dan di sini kami ingin melanjutkan tentang riwayat  Nur Baginda Nabi Muhammad SAW, dimulai dari diletakkannya Nur Baginda Nabi Muhammad SAW di punggungnya Nabi Adam AS hingga lahirnya Baginda Nabi Muhammad SAW, dan tentang betapa agungnya penghormatan Nabi Adam AS kepada Nur Baginda Nabi Muhammad SAW.

          Sebagaimana telah kita ketahui bahwa Nabi Adam AS telah mendapati keistimewaan-keistimewan berkat Nur Baginda Nabi Muhammad SAW. Diantaranya disahkannya pernikahan Beliau dengan Ibu Hawwa’ dengan mahar mengucapkan sholawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Dan diterimanya taubat Beliau oleh Allah SWT berkat tawassul kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.

Oleh sebab itulah demi memuliakan Nur agung Baginda Nabi Muhammad SAW yang ada dalam dirinya, maka setiap Nabi Adam AS akan berhubungan dengan Ibu Hawwa’ maka Beliau bersuci terlebih dahulu, memakai wangi-wangian dan memerintahkan Ibu Hawwa’ untuk melakukan hal yang sedemikian rupa .

          Dan suatu saat Nur tersebut benar-benar telah pindah dalam diri Ibu Hawwa’, sehingga kecantikan Ibu Hawwa’ tambah bersinar luar biasa. Tidak lama kemudian Beliau melahirkan anak laki-laki dan diberinya nama Syits. Dan Nur tersebut telah pindah dalam diri Nabi Syits AS.

          Dengan adanya Nur yang terlihat oleh Nabi Adam AS di muka Nabi Syits, maka  Nabi Adam AS selalu memperhatikan  dan menjaga Nabi Syits AS, demi memuliakan dan mengagungkan Nur Nabi Muhammad SAW yang ada dalam diri Nabi Syits AS tersebut.

Setelah Nabi Syits AS dewasa dan Nabi Adam AS merasa telah dekat ajalnya untuk menghadap kepada Allah SWT, maka Beliau Nabi Adam AS memanggil putranya (Nabiyyullah Syits AS) dan memberikan wasiat/amanat  kepadanya; “

 “Wahai Anakku (Syits), Sesungguhnya Allah SWT telah mengambil perjanjian kepadamu untuk senantiasa menjaga “Nur Agung Nabi Muhammad SAW’, janganlah engkau letakkan kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya”.

Maka Nabi Syits AS menjaga teguh amanat tersebut dengan menikah dengan seorang wanita yang paling suci saat itu yang bernama Baidlo’. Dan setelah dianugerahi putra, maka Beliau Nabi Syits AS memberikan wasiat kepada putranya agar jangan meletakkan Nur Agung tersebut kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya. Demikian pula putranya melakukan hal yang sama hingga Nur Agung tersebut sampai pada Nabi Idris AS. Dan Nabi Idris AS juga melakukan hal yang sama, Beliau AS mewasiatkan kepada putranya agar jangan meletakkan Nur Agung tersebut kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya. Hingga sampailah Nur Agung tersebut pada Nabi Nuh AS.. Begitu  pula Nabi Nuh AS, Beliau juga melakukan hal yang sama. Beliau berwasiat kepada putra Beliau (Sam) untuk menjaga Nur tersebut, dan jangan diletakkan kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya. Dan Sayyidina Sam putra Nabi Nuh AS juga mewasiatkan kepada putranya sebagaimana wasiat tersebut di atas, hingga sampailah silsilah mata rantai Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW kepada Nabi Ibrahim AS.. Dan kemudian dari Nabi Ibrahim AS, Nur tersebut turun kepada Nabi Ismail AS.. Dan Nabi Ismail AS juga telah menjaga teguh Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW tersebut, Beliau telah mewasiatkan kepada putranya agar jangan meletakkan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya. Maka, wasiat tersebut senantiasa terpelihara secara berkesinambungan. Dan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW senantiasa berpindah dari seorang ayah yang suci nan agung, ke ibu yang paling suci nan mulia nasabnya,  dengan ikatan pernikahan islami yang diridloi Allah SWT. Hingga sampailah perjalanan Nur Agung tersebut kepada Sayyidina ‘Adnan. Dari Sayidina ‘Adnan ke Sayyidina Ma’ad. Dari Sayyidina Ma’ad ke Sayyidina Nizar.

Dan telah diriwayatkan dalam kitab Hujjatullah ‘Alal ‘Alamin hal 218 bahwa tatkala Sayyidina Nizar mengetahui bahwa dalam dirinya bersemayam Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW, maka Beliau Sayyidina Nizar  sangat bahagia sekali, sehingga beliau menyembelih hewan kurban yang sangat banyak untuk disedekahkan kepada umat pada masa itu. Dan begitu pula Sayyidina Nizar telah berwasiat kepada Sayyidina Mudlor (putranya). Dan Sayyidina  Mudlor juga berwasiat kepada putranya hingga sampailah Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW tersebut kepada Sayyidina Hasyim.

Sampai di sinilah akhirnya berkumandang kabar gembira di seluruh penjuru dunia, bahwa sudah dekat saat datangnya Nabi akhir zaman, Seorang Nabi yang diutus Allah SWT untuk seluruh umat manusia, seorang Nabi yang Agung nan mulia yang sempurna kepribadiannya dan agung budi pekertinya, yang sangat santun dan menyayangi umatnya dan yang paling dimuliakan dan disayangi Allah SWT, yakni Baginda Nabi Muhammad SAW. Maka berita tersebut telah menyebar ke seluruh penjuru dunia dan menggemparkan jagad. Hingga para ahli kitab dari kaum Yahudi dan Nashrani berebut ingin mendapati silsilah mata rantai Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW tersebut. Mereka berbondong-bondong mendatangi Sayyidina Hasyim dan berebut untuk menawarkan anak gadis mereka yang sangat cantik jelita agar dipersuntingnya. Namun Sayyidina Hasyim tidak menerima mereka semua karena teguh memegang amanat wasiat nenek moyangnya agar jangan meletakkan Nur Agung Baginda Nabi Besar Muhammad SAW kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya. Hingga sampailah berita tersebut ke Kaisar Romawi. Maka Kaisar tersebut mengutus delegasi untuk memanggil Sayyidina Hasyim dengan tujuan untuk dinikahkan dengan putrinya yang sangat cantik jelita. Tidak ada tujuan lain kecuali dia ingin mendapati Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW, karena data-data yang akurat dan otentik tentang Nur Nabi akhir zaman telah mereka ketahui dari ulama ahli kitab yahudi dan nashrani bahwa Nur Agung tersebut telah berada dalam diri dan kepribadian Sayyidina Hasyim. Akan tetapi Sayyidina Hasyim dengan tegas menolaknya dan berkata;

والذي فضلني على أهل الزمان لا أتزوج إلا بأطهر نساء العالمين

Yang artinya kurang lebih;

“Demi Allah, Dzat yang telah melimpahkan kemuliaan kepadaku melebihi seluruh penghuni alam semesta. Sungguh aku tidak akan menikah kecuali dengan seorang wanita yang paling suci nan mulia nasabnya (sebagaimana wasiat  nenek moyangku terdahulu)”

Maka, sesuai petunjuk amanat yang Beliau dapati, akhirnya Beliau menikah dengan seorang wanita yang paling suci nan mulia nasabnya pada masa itu. Dari pernikahan tersebut lahirlah Sayyidina Abdul Muthalib. Maka pindahlah Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidina Abdul Muthalib. Dan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW sangat terlihat bercahaya terang benderang dari dahi Sayyidina Abdul Muthalib. Dan bau harum semerbak senantiasa keluar menyebar dari diri beliau. Semua itu adalah berkat Nur Baginda Nabi Muhammad SAW.

          Dan sesungguhnya berkat Nur Baginda Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Abdul Muthalib senantiasa dikabulkan doanya oleh Allah SWT. Maka orang-orang Quraisy, setiap mereka ditimpa kemarau panjang (paceklik) mereka berduyun-duyun mendatangi Sayyidina Abdul Muthalib. Akhirnya dengan dipimpin Sayyidina Abdul Muthalib mereka naik ke gunung Tsabir. Disitulah mereka bermunajat memohon Belas Kasih Sayang Allah SWT agar melimpahkan hujan kepada mereka. Akhirnya Allah SWT mengabulkan permohonan mereka dengan menurunkan hujan yang deras berkat Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW yang berada pada diri Sayyidina Abdul Muthalib.

Beliau Sayyidina Abdul Muthalib juga sebagai hakim di kalangan kaum Quraisy. Keputusan-keputusan beliau sangat diterima dan dihormati oleh mereka. Setiap ada masalah, rujukan utama mereka adalah Sayyidina Abdul Muthalib agar memberikan petunjuk dan keputusan untuk menyelesaikan segala urusan mereka. Beliau juga dikenal sebagai pemuda yang tekun beribadah. Berulang kali Beliau senantiasa khalwat (menetap sendirian) di Gua Hira’. Di situ Beliau selalu bersyukur kepada Allah SWT yang telah menganugerahinya Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dalam dirinya dan Beliau juga selalu bermunajat kepada Allah SWT dan memuncakkan tafakkur tentang kemuliaan dan keagungan Dzat Pencipta alam semesta Allah Rabbul ‘Alamin. Beliau juga senantiasa beramar ma’ruf nahi munkar kepada kaumnya sesuai dengan ajaran Nabi Ibrahim AS.. Sehingga mereka senantiasa memuliakan dan mengagungkannya. Hingga suatu ketika Beliau Sayyidina Abdul Muthalib mendapati petunjuk dari Allah SWT (lewat mimpi) agar Beliau menikah dengan Sayyidatina Fatimah binti Amr seorang wanita yang paling suci nan mulia nasabnya pada masa itu. Dari pernikahan tersebut, maka  lahirlah Sayyidina Abdullah ayahanda Baginda Nabi Muhammad SAW.

Sebagaimana yang telah diterangkan di kitab Madarijush Shu’ud hal 10 bahwa sesungguhnya Sayyiduna Abdullah Ayahanda Baginda Nabi Muhammad SAW adalah sangat cepat perkembangannya. Dalam jangka waktu sehari sudah seperti bayi usia satu bulan. Dan dalam jangka sebulan sudah seperti bayi berusia setahun. Sehingga hal itu menakjubkan semua orang, baik yang ada di perkotaan ataupun di pelosok desa yang paling dalam. Setiap orang yang memandang kepada Beliau, selalu berdecak kagum melihat kemilau cahaya yang anggun berwibawa dari mukanya dan keajaiban-keajaiban yang melimpah kepada Beliau. Postur tubuhnya yang sempurna, ketampanan mukannya  yang mempesona, dan kesantunannya yang penuh wibawa, telah menjadikan para gadis terpikat hatinya. Laksana Nabi Yusuf AS pada zamannya dahulu yang digandrungi oleh semua wanita karena ketampanannya yang mempesona dan sempurna. Maka Beliau Sayyiduna Abdullah adalah seorang lelaki yang paling sempurna diri dan kepribadiannya pada masa itu. Sebagaimana dikatakan oleh Syeikh Ahmad Bin Zaini Dahlan di kitabnya As-Sirah An-Nabawiyyah juz 2 hal 42;

قال الشيخ أحمد بن زيني دحلان الحسني في السيرة النبوية الجزء الأول ص42

وكان أي عبد الله أحسن رجل في قريش خلقا وخلقا وكان نور النبي صلى الله عليه وسلم بينا في وجهه وكان أجملهم فشغفت به نساء قريش وكدن أن تذهل عقولهن

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa Sesunguhnya Sayyiduna Abdullah adalah insan yang paling sempurna diri dan pribadinya(pada masa itu). Dari muka Beliau nampak jelas berkemilau cahaya “Nur” Baginda Nabi Muhammad SAW. Dan tidak sedikit para wanita yang terpikat hatinya kepada Beliau”

          Dahsyatnya pesona dan kesempurnaan pribadi Sayyiduna Abdullah  ayahanda Baginda Nabi Muhammad SAW, bukan hanya terkenal di kalangan suku Quraisy saja. Bahkan para ulama ahli kitab di Syam Palestina juga mengakuinya. Sehingga setiap ada orang dari suku Quraisy bersinggah di tempat mereka, selalu diberi wasiat bahwa Nur yang ada pada diri Sayyiduna Abdullah, sesungguhnya adalah Nur Nabi akhir zaman, yakni Baginda Nabi Muhammad SAW. Tujuan utama dari wasiat tersebut adalah agar senantiasa dijaga Nur Baginda Nabi Muhammad SAW yang ada pada diri Sayyiduna Abdullah tersebut dan dilindungi dari orang-orang yang hasud dan orang-orang yang ingin mencelakakannya. Sebagaimana telah diterangkan oleh Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani di kitabnya Hujjatullah ‘Alal ‘Alamin hal 220 ;

قال الشيخ يوسف بن إسماعيل النبهاني في حجة الله على العالمين   ص 219

لم يبق حبر من أحبار الشام إلا علم بمولده ثم كان لا يقدم عليهم رجل من أهل الحرام إلا سألوه عن عبد الله كيف تركوه فيقول تركناه يتلألأ حسنا وجمالا وكمالا فتقول الأحبار يا معشر قريش إن ذلك النور ليس لعبد الله بن عبد المطلب وإنما هو لمحمد صلى الله عليه وسلم يخرج من ظهره في آخر الزمان يغير عبادة الأصنام

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa sesungguhnya para ulama ahli kitab di Syam (Palestina) telah mengetahui Nur Baginda Nabi Muhammad SAW pada diri Sayyiduna Abdullah. Setiap ada penduduk Makkah bersinggah di tempat mereka selalu diberi wasiat olehnya dengan berkata ;

……….Ketahuilah oleh kalian semua wahai kaum Quraisy, kemilau cahaya yang ada pada diri Abdullah sesungguhnya adalah Nur Nabi akhir Zaman Baginda Nabi Muhammad SAW yang akan datang membawa agama tauhid untuk meng-Esakan Allah Rabbul ‘Alamin”.

          Maka, tatkala Beliau Sayyiduna Abdullah genap berusia 18 tahun, Beliau diajak oleh ayahandanya (Sayyiduna Abdul Muthalib) untuk dinikahkan dengan Sayyidatuna Aminah binti Wahab seorang wanita yang paling suci dan paling mulia nasabnya pada saat itu. Namun di tengah perjalanan mereka berdua bertemu dengan serombongan wanita yang cantik jelita. Serentak semuanya berebutan untuk menawarkan dirinya kepada Sayyiduna Abdullah. Namun Sayyiduna Abdullah tidak bersedia, karena Beliau teguh memegang amanah untuk tidak menikah kecuali pada wanita yang paling suci dan mulia nasabnya. Dan bahkan ada juga seorang wanita ahli kitab yang bersedia untuk mempersembahkan 100 onta asal Sayyiduna Abdullah mau pada wanita tersebut. Tetapi dengan tegas Sayyiduna Abdullah tetap menolak semua ajakan dan tawaran tersebut. Beliau tetap teguh untuk menjaga kesucian dan kemuliaan yang ada pada dirinya, dan akhirnya Beliau menikah dengan Sayyidatuna Aminah binti Wahab, seorang gadis yang paling suci nan mulia nasabnya pada masa itu. Maka, pindahlah Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dari ayahanda tercinta Sayyiduna Abdullah ke dalam kandungan ibundanya tercinta Sayyidatuna Aminah Binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah.

Kesucian nasab yang telah Allah SWT jaga sejak Nabi Adam AS hingga Sayyiduna Abdullah tersebut, semata-mata adalah suatu penghormatan besar dari Allah SWT dan Belas Kasih Sayang-Nya kepada kekasih-Nya Baginda Nabi Muhammad SAW. Semuanya melalui proses pernikahan islami yang diridloi Allah SWT. Sebagaimana yang disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir juz 2 hal 403;

ذكر الإمام أبو الفداء إسماعيل ابن كثيرفي تفسير إبن كثير الجزء الثاني ص 403

عن علي بن أبي طالب كرم الله وجهه قال النبي صلى الله عليه وسلم خرجت من نكاح ولم أخرج من سفاح من لدن آدم إلى أن ولدني أبي وأمي ولم يمسني من سفاح الجاهلية شيء

Yang artinya kurang lebih;

“Diriwayatkan dari Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah, bahwa sesungguhnya Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda; “Sesungguhnya aku (Nabi Muhammad SAW,) adalah terlahir dari orang-orang suci nan mulia nasabnya melalui pernikahan yang sah (diridloi Allah SWT). Sejak Nabi Adam AS hingga kedua orang tuaku (Sayyid Abdullah dan Sayyidah Aminah), semuanya melalui pernikahan yang sah (diridloi Allah SWT), tidak ada sedikitpun yang menyimpang”.

          Dan sesungguhnya dengan adanya berbagai macam peristiwa luar biasa yang dialami oleh Sayyiduna Abdullah tersebut, semata-mata adalah sebagai tanda yang sangat jelas terang-benderang atas dekatnya waktu kedatangan Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Hafidh Abu Na’im Al-Ashfahani di kitabnya Dala’ilun Nubuwwah Juz 1 hal 167 ;

قال الإمام الحافظ الكبير أبو نعيم الأصفهاني في دلائل النبوة الجزء الأول ص 167 :

ففي ابتغاء اليهود واليهودية وضع هذا النور الذي انتقل إلى آمنة بنت وهب فيها وذكرهم بني زهرة وأن هذالأمر لا يكون فيهم دلالة واضحة على تقديم الخبر والبشارة بذلك في الكتب السالفة وما يكون من أمر النبي صلى الله عليه وسلم وبعثته كل ذلك آيات واضحة وبراهين صحيحة لائحة على نبوته وبعثته صلى الله عليه وسلم.

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa sesungguhnya segala keajaiban yang ada pada diri Sayyiduna Abdullah sampai para ahli kitab menginginkan Nur yang ada pada diri beliau, serta tersohornya kabar berita Nur tersebut di kitab-kitab terdahulu, semata-mata hanyalah sebagai tanda-tanda yang jelas dan bukti yang konkrit atas Kenabian Baginda Nabi Muhammad SAW”.

          Bahwa sesungguhnya, manakala Sayyidatuna Aminah Binti Wahab mengandung Baginda Nabi Muhammad SAW. Seketika itu pula terjadilah berbagai macam keajaiban-keajaiban dunia yang menggemparkan jagad. Segala peristiwa tersebut, bukan hanya di daratan dan lautan saja. Bahkan di alam malakut lebih dahsyat dan menakjubkan. Konkritnya adalah pada malam Jumu’ah bulan Rajab, detik itulah momen yang paling bersejarah bagi seluruh umat manusia. Saat itulah terjadi perpindahan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW dari Sayyiduna Abdullah ke dalam kandungan Sayyidatuna Aminah. Maka, pada malam itulah datang perintah dari Allah SWT kepada malaikat Ridlwan agar membuka seluruh pintu sorga dan Allah SWT perintahkan kepada malaikat-Nya untuk mengumandangkan seruan telah tiba saat datangnya Nabi Akhir zaman Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang diterangkan oleh Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani di kitabnya Hujjatullah ‘Alal-‘Alamin hal 226 dan 223;

قال الشيخ يوسف بن إسماعيل النبهاني في حجة الله على العالمين   ص 226 :

قال سهل بن عبد الله التستري لما أراد الله تعالى خلق محمد صلى الله عليه وسلم في بطن أمه آمنة ليلة رجب وكانت ليلة الجمعة أمر الله تعالى في تلك الليلة رضوان خازن الجنان أن يفتح الفردوس وينادي مناد في السموات والأرض ألا إن النور المخزون المكنون الذي يكون منه النبي الهادي في هذه الليلة يستقر في بطن أمه الذي يتم خلقه ويخرج للناس بشيرا ونذيرا.

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa sesungguhnya manakala Allah SWT menghendaki untuk mewujudkan Baginda Nabi Muhammad SAW dalam kandungan ibundanya pada malam Jumu’ah bulan Rajab, maka Allah SWT perintahkan kepada malaikat Ridlwan (penjaga sorga) agar membuka seluruh pintu sorga dan berkumandanglah seruan di langit dan di bumi;

……….(Wahai seluruh makhluk, perhatikanlah oleh kalian semua)..Sesungguhnya Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW sekarang telah berada dalam kandungan ibundanya. Kelak, Beliaulah yang akan muncul sebagai Nabi yang membawa petunjuk dan pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan kepada umat manusia”.

          Maka, seketika itu juga seluruh binatang yang ada di laut, di daratan, dan di angkasa saling memberi kabar gembira kepada temannya masing-masing. Yang di barat lari ke timur, yang di timur lari ke barat, yang di utara lari ke selatan dan yang di selatan lari ke utara untuk saling membawa berita gembira. Yang lebih menakjubkan lagi adalah binatang-binatang yang ada di sekitar Makkah, seperti kuda, onta, rusa dan lain sebagainya bisa mengucapkan dengan bahasa arab yang fasih, sehingga orang-orang pada masa itu sangat takjub melihat peristiwa langka tersebut. Perkataan hewan-hewan tersebut adalah ;

حمل برسول الله صلى الله عليه وسلم ورب الكعبة وهو أمان الدنيا وسراج أهلها

“Sungguh demi Allah SWT Dzat yang menguasai Ka’bah, saat ini Baginda Rasulullah SAW telah berada dalam kandungan ibundanya. Beliaulah yang kelak akan membawa kedamaian di muka bumi ini dan Beliaulah yang akan menerangi umat dengan ajaran-ajarannya…”

Dan saat itu pula, serentak seluruh singgasana para penguasa, raja dan kaisar sedunia, semuanya jatuh dan terjungkal ke bawah, sehingga para penguasa tersebut tercekat kebingungan, diam seribu bahasa dan tidak bisa berkata apa-apa seharian penuh.  Begitu pula seluruh patung-patung sedunia terjungkal jatuh berantakan. Para dukun-dukun seketika lenyap ilmu mereka, tak bisa menebak/ meramal sesuatu dengan benar. Dan dari bulan ke bulan senantiasa terdengar seruan malikat yang berkumandang di langit dan di bumi untuk memberi berita gembira kepada seluruh makhluk-makhluk Allah SWT……….

أن أبشروا فقد آن لإبي القاسم أن يخرج إلى الأرض ميمونا مباركا

…….Berbahagialah kalian semua wahai seluruh makhluk Allah SWT…Sungguh Baginda Nabi Muhammad SAW sebentar lagi akan datang ke dunia untuk membawa keberkahan dan Rahmat dari Allah SWT bagi semesta alam…..

Dan sebagaimana yang disebutkan oleh Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan dalam kitabnya As-Sirah An-Nabawiyyah juz 1 hal 45 bahwa pada masa dikandungnya Baginda Nabi Muhammad SAW oleh ibundanya adalah masa keemasan bagi suku Quraisy saat itu. Sebelumnya mereka dalam masa paceklik dan kesulitan bahan makanan yang luar biasa. Namun begitu Baginda Nabi Muhammad SAW sudah berada dalam kandungan ibundanya, seketika kondisi perekonomian berubah total 180 derajat. Rakyat Quraisy mengalami kemakmuran dan kemudahan yang menakjubkan. Mega-mega putih yang berarak-arakan dan menurunkan rintik-rintik air hujan yang membawa kesuburan, angin sepoi-sepoi basah yang membawa kesejukan, dan lukisan cahaya kilat yang berkilauan menyinari dan menghiasi  angkasa raya. Sehingga pepohonan dan tanam-tanaman tumbuh subur di mana-mana, sungai-sungai dipenuhi air yang mengalir, dan hewan-hewan piaraan menjadi gemuk dan deras air susunya. Maka, semakin lengkaplah kemakmuran, kesejahteraan, dan kebahagiaan penduduk Makkah saat itu. Bahkan serentak dengan ijin Allah SWT, pada tahun itu, tidak ada wanita yang hamil anak perempuan, semuanya dianugerahi Allah SWT hamil anak laki-laki, sebagai perhormatan Allah SWT kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.

          Dan sebagaimana disebutkan oleh Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami di kitabnya An-Ni’matul Kubra ‘Alal-‘Aalam hal 44 bahwa;

…….”Ibunda Rasulullah Muhammad SAW berkata; Sesungguhnya tatkala aku mengandung putraku tercinta (Rasulullah Muhammad SAW), pada bulan pertama tepatnya pada Bulan Rajab Al-Asham, suatu malam di saat aku terlelap tidur, tiba-tiba datang kepadaku seorang laki-laki yang indah wajahnya, semerbak harum baunya dan diliputi cahaya yang berkemilauan. Dan dia berkata; “Selamat datang wahai Baginda Nabi Muhammad SAW. Salam sejahtera Allah SWT senantiasa melimpah kepadamu”. Aku lantas bertanya; “Siapakah engkau wahai tuan”. Dia menjawab; “Sesungguhnya aku adalah Nabi Adam AS bapaknya seluruh umat manusia”. Dan dia memberi berita gembira kepadaku  dengan berkata;

أبشري يا آمنة فقد حملت بسيد البشر

          Sungguh beruntung Engkau wahai Aminah, berbahagialah, sungguh engkau telah mengandung Nabi Agung Junjungan seluruh umat manusia ……

Pada bulan yang kedua, datang pula seorang laki-laki yang sedemikian rupa dan berkata; “Selamat datang wahai Baginda Nabi Muhammad SAW wahai Utusan Allah SWT. Salam sejahtera Allah SWT senantiasa melimpah kepadamu”. Aku lantas bertanya; “Siapakah engkau wahai tuan”. Dia menjawab; “Sesungguhnya aku adalah Nabi Syits AS”  Dan dia memberi berita gembira kepadaku dengan berkata;

أبشري يا آمنة فقد حملت بصاحب التأويل والحديث

          Sungguh beruntung Engkau wahai Aminah, berbahagialah, sungguh engkau telah mengandung Nabi Agung yang kelak dianugerahi Allah SWT ilmu ta’wil dan Al-Hadis…

Sesungguhnya, sebagaimana yang disebutkan dalam Kitab Madarijush-Shu’uud hal 12 bahwa; manakala Sayyidah Aminah sudah genap hamil 2 bulan, ayahanda tercinta Baginda Nabi Muhammad SAW Sayyiduna Abdullah wafat di Madinah. Seketika para malaikat berkata kepada Allah SWT; “Ya Allah Tuhan dan Sesembahan kami, Nabi terkasih-Mu sekarang telah yatim, tidak punya ayah”. Maka, Allah SWT Berfirman menjawab para malaikat tersebut;

أنا وليه وحافظه وحاميه وربه وعونه ورازقه وكافيه فصلوا عليه وتبركوا بإسمه

          “Ketahuilah olehmu wahai para malikat. Sesungguhnya Aku (Allah SWT) sendiri yang akan menjaga, melindungi dan merawatnya, Serta akan Aku limpahkan bantuan /pertolongan dan rezeki kepadanya. Dan Aku sendiri pula yang akan mencukupi( segala urusannya). Maka, panjatkanlah selalu oleh kalian sholawat kepadanya dan dapatkanlah keberkahan bagi kalian dengan berwasilah  menyebut namanya”

Pada bulan kehamilan yang ketiga datang pula seorang laki-laki yang sedemikian rupa dan berkata; “Selamat datang wahai Baginda Nabi Muhammad wahai Nabi Allah SWT. Salam sejahtera Allah SWT senantiasa melimpah kepadamu”. Aku lantas bertanya; “Siapakah engkau wahai tuan”. Dia menjawab; “Sesungguhnya aku adalah Nabi Idris AS”  Dan dia memberi berita gembira kepadaku dengan berkata;

أبشري يا آمنة فقد حملت بالنبي الرئيس

          Sungguh beruntung Engkau wahai Aminah, berbahagialah, sungguh engkau telah mengandung Nabi Agung yang kelak menjadi pemimpin yang sangat agung.

Pada bulan yang keempat datang pula seorang laki-laki yang sedemikian rupa dan berkata; “Selamat datang wahai Baginda Nabi Muhammad wahai Kekasih Allah SWT. Salam sejahtera Allah SWT senantiasa melimpah kepadamu”. Aku lantas bertanya; “Siapakah engkau wahai tuan”. Dia menjawab; “Sesungguhnya aku adalah Nabi Nuh AS”  Dan dia memberi berita gembira kepadaku dengan berkata;

أبشري يا آمنة فقد حملت بصاحب النصر والفتوح

          Sungguh beruntung Engkau wahai Aminah, berbahagialah, sungguh engkau telah mengandung Nabi Agung yang kelak dianugerahi Allah SWT pertolongan dan kemenangan besar.

Pada bulan yang kelima datang pula seorang laki-laki yang sedemikian rupa dan berkata; “Selamat datang wahai Baginda Nabi Muhammad wahai Pilihan Allah SWT. Salam sejahtera Allah SWT senantiasa melimpah kepadamu”. Aku lantas bertanya; “Siapakah engkau wahai tuan”. Dia menjawab; “Sesungguhnya aku adalah Nabi Hud AS”  Dan dia memberi berita gembira kepadaku dengan berkata;

أبشري يا آمنة فقد حملت بصاحب الشفاعة العظمى في اليوم الموعود

          Sungguh beruntung Engkau wahai Aminah, berbahagialah, sungguh engkau telah mengandung Nabi Agung yang kelak dianugerahi Allah SWT syafa’at yang agung pada hari kiamat.

Pada bulan yang keenam datang pula seorang laki-laki yang sedemikian rupa dan berkata; “Selamat datang wahai Baginda Nabi Muhammad wahai Rahmat Allah SWT. Salam sejahtera Allah SWT senantiasa melimpah kepadamu”. Aku lantas bertanya; “Siapakah engkau wahai tuan”. Dia menjawab; “Sesungguhnya aku adalah Nabi Ibrahim AS”  Dan dia memberi berita gembira kepadaku dengan berkata;

أبشري يا آمنة فقد حملت بالنبي الجليل

          Sungguh beruntung Engkau wahai Aminah, berbahagialah, sungguh engkau telah mengandung Nabi yang diagungkan Allah SWT…

Pada bulan yang ketujuh datang pula seorang laki-laki yang sedemikian rupa dan berkata; “Selamat datang wahai Baginda Nabi Muhammad wahai Nabi yang dipilih Allah SWT. Salam sejahtera Allah SWT senantiasa melimpah kepadamu”. Aku lantas bertanya; “Siapakah engkau wahai tuan”. Dia menjawab; “Sesungguhnya aku adalah Nabi Ismail AS”  Dan dia memberi berita gembira kepadaku dengan berkata;

أبشري يا آمنة فقد حملت بالنبي  الرجيح المليح

          Sungguh beruntung Engkau wahai Aminah, berbahagialah, sungguh engkau telah mengandung Nabi Agung yang kelak dianugerahi Allah SWT keunggulan dan kesantunan yang sangat luar biasa……..

Pada bulan yang kedelapan datang pula seorang laki-laki yang sedemikian rupa dan berkata; “Selamat datang wahai Baginda Nabi Muhammad wahai Pilihan Allah SWT. Salam sejahtera Allah SWT senantiasa melimpah kepadamu”. Aku lantas bertanya; “Siapakah engkau wahai tuan”. Dia menjawab; “Sesungguhnya aku adalah Nabi Musa putra Imran AS”  Dan dia memberi berita gembira kepadaku dengan berkata;

أبشري يا آمنة فقد حملت بمن ينزل عليه القرآن

          Sungguh beruntung Engkau wahai Aminah, berbahagialah, sungguh engkau telah mengandung Nabi Agung yang kelak dianugerahi Allah SWT kitab suci Al-Qur’an.

Pada bulan yang kesembilan datang pula seorang laki-laki yang sedemikian rupa dan berkata; “Selamat datang wahai Baginda Nabi Muhammad SAW, telah dekat waktu kedatanganmu wahai Rasulullah. Salam sejahtera Allah SWT senantiasa melimpah kepadamu”. Aku lantas bertanya; “Siapakah engkau wahai tuan”. Dia menjawab; “Sesungguhnya aku adalah Nabi Isa putra Maryam AS”  Dan dia memberi berita gembira kepadaku dengan berkata;

أبشري يا آمنة فقد حملت بالنبي المكرم والرسول المعظم صلى الله عليه وسلم وزال عنك البؤس والعنا والسقم والألم

          Sungguh beruntung Engkau wahai Aminah, berbahagialah, sungguh engkau telah mengandung Nabi  yang sangat mulia dan Utusan Allah yang sangat agung. Rahmat Belas Kasih Sayang Allah SWT dan Salam Sejahtera-Nya senantiasa melimpah kepadanya. Sungguh, Allah SWT akan menjauhkan darimu segala kesengsaraan, kepayahan dan juga akan memberimu segala kemudahan.

          Dan Imam Al-Hafidh Abul Fida’ Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah Wan-Nihayah juz  1 hal 263 menyebutkan tentang ilham yang diberikan Allah SWT kepada Ibunda tercinta Baginda Rasulullah SAW Sayyidah Aminah Binti Wahab;

قال الإمام ابن كثير في البداية والنهاية الجزء الأول ص163

قال محمد بن إسحق فكانت آمنة أم رسول الله صلى الله عليه وسلم تحدثت أنها أتيت حين حملت برسول الله صلى الله عليه وسلم فقيل لها إنك قد حملت بسيد هذه الأمة  -فإذا وقع فسميه محمدا فإن إسمه في التوراة أحمد يحمده أهل السماء و أهل الأرض واسمه في الإنجيل أحمد يحمده أهل السماء وأهل الأرض واسمه في القرآن محمد

Yang artinya kurang lebih;

“Sesungguhnya Ibunda tercinta Baginda Rasulullah Muhammad SAW berkata; Tatkala aku mengandung putraku tercinta (Baginda Rasulullah SAW), datang seorang utusan Allah SWT (malaikat) kepadaku, Dia berkata; Wahai Aminah, (beruntunglah Engkau). Engkau telah mengandung Nabi Agung yang kelak menjadi Junjungan dan Pemimpin seluruh umat manusia. Maka, apabila telah lahir kelak, berilah Beliau nama “Muhammad”. Karena di Kitab Suci Taurat dan Injil Beliau adalah bernama Ahmad, insan sempurna yang dipuji oleh seluruh penghuni langit dan bumi. Dan di Kitab Suci Al-Qur’an Beliau bernama Muhammad.”

          Al-Imam Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitami Asy-Syafi’i di kitabnya An-Ni’matul Kubraa ‘Alal ‘Aalam hal. 61 telah menyebutkan ;

Bahwa sesungguhnya pada bulan kesembilan kehamilan Sayyidah Aminah (bulan Rabi’ul Awwal), saat hari-hari kelahiran Baginda Nabi Muhammad sudah semakin dekat, Allah SWT semakin melimpahkan berbagai macam anugerahnya kepada Sayyidah Aminah, mulai malam tanggal satu hingga malam tanggal 12 Bulan Rabi’ul Awwal malam kelahiran Baginda Rasulullah Muhammad SAW;

    Pada malam tanggal 1 Allah SWT melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa kepada Sayyidah Aminah, sehingga Beliau merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

    Pada malam tanggal 2 datang seruan berita gembira kepadanya bahwa sebentar lagi dirinya akan mendapati anugerah agung yang luar biasa dari Allah SWT.

    Pada malam tanggal 3 datang seruan memanggil kepadanya…”Wahai Aminah, sudah dekat saatnya Engkau akan melahirkan Nabi Agung Rasulullah Muhammad SAW yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah SWT”.

    Pada malam tanggal 4 Sayyidah Aminah mendengar beraneka ragam tasbih para malaikat secara nyata dan sangat jelas sekali.

    Pada malam tanggal 5 Sayyidah Aminah mimpi bertemu dengan Nabiyyullah Ibrahim AS Khalilullah.

    Pada malam tanggal 6 Sayyidah Aminah melihat cahaya Rasulullah SAW memenuhi segala penjuru alam semesta.

    Pada malam tanggal 7 Sayyidah Aminah melihat  para malaikat silih berganti saling berdatangan mengunjungi kediamannya membawa kabar gembira, sehingga kebahagiaan dan kedamaiannya semakin memuncak.

    Pada malam tanggal 8 Sayyidah Aminah mendengar seruan memanggil dimana-mana, suara tersebut sangat jelas mengumandangkan….”Berbahagialah wahai seluruh penghuni alam semesta, telah dekat saat kelahiran Nabi Agung Kekasih Allah SWT Pencipta alam semesta..”

    Pada malam tanggal 9  Allah SWT semakin mengucurkan limpahan Belas Kasih Sayangnya kepada Sayyidah Aminah, sehingga tidak ada sedikitpun rasa sedih, susah atau sakit dalam diri dan jiwa Sayyidah Aminah.

    Pada malam tanggal 10 Sayyidah Aminah melihat tanah Khoif dan Mina ikut bergembira ria menyambut kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW .

    Pada malam tanggal 11 Sayyidah Aminah melihat seluruh penghuni langit dan bumi ikut bersuka cita menyongsong kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW.

Maka, pada malam 12 Bulan Rabi’ul Awwal, langit dalam keadaan cerah tanpa ada mendung sedikitpun, saat itu Sayyid Abdul Muthalib sedang bermunajat kepada Allah SWT di sekitar Ka’bah, dan Sayyidah Aminah sendirian di rumah, tanpa ada seorangpun yang menemaninya, tiba-tiba Beliau Sayyidah Aminah melihat tiang rumahnya terbelah, dan perlahanan-lahan muncul empat wanita yang sangat anggun nan cantik jelita dan diliputi cahaya yang memancar berkemilauan serta semerbak harum wewangian memenuhi seluruh ruangan. Tiba-tiba wanita pertama datang dan berkata kepada Sayyidah Aminah;

………”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung junjungan alam semesta Baginda Nabi Muhammad SAW. Kenalilah olehmu sesungguhnya aku ini adalah Hawwa’ Ibunda seluruh umat manusia. Aku diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu….

Kemudian Ibu Hawwa’ duduk di samping kanan Sayyidah Aminah. Dan mendekat lagi wanita yang kedua kepada Sayyidah Aminah untuk menyampaikan kabar gembira kepadanya;

………”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Baginda Nabi Muhammad SAW, seorang Nabi Agung yang dianugerahi Allah SWT kesucian yang sempurna pada diri dan kepribadiannya. Nabi Agung yang ilmunya sebagai sumber seluruh ilmunya para Nabi dan para kekasihnya Allah SWT. Nabi Agung yang cahayanya meliputi seluruh alam. Dan ketahuilah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku ini adalah Sarah istri Nabiyyullah Ibrahim As, aku diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu.”

Kemudian Sayyidah Sarah duduk di sebelah kiri Sayyidah Aminah. Maka, wanita ketigapun kemudian mendekat dan menyampaikan berita gembira kepadanya;

………”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung Baginda Nabi Muhammad SAW Kekasih Allah SWT yang paling agung, dan insan sempurna yang paling utama mendapati pujian dari Allah SWT dan dari seluruh makhuk-Nya. Perlu engkau ketahui sesungguhnya aku adalah Asiyah binti Muzahim yang diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu”.

Kemudian sayyidah Asiyah binti Muzahim tersebut duduk di belakang Sayyidah Aminah. Sejenak Sayyidah Aminah semakin kagum, karena wanita yang ke empat adalah lebih anggun berwibawa dan memiliki kecantikan luar biasa. Kemudian mendekat kepada Sayyidah Aminah untuk menyampaikan kabar gembira;

………”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung Baginda Nabi Muhammad SAW yang dianugerahi Allah SWT berbagai macam mukjizat yang sangat agung dan sangat luar biasa, Beliaulah junjungan seluruh penghuni langit dan bumi, hanya untuk Beliau semata segala bentuk Sholawat (Rahmat Ta’dhim) Allah SWT dan Salam Sejahtera-Nya yang sempurna. Ketahuilah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku adalah Maryam Ibunda  Nabiyyullah Isa AS. Kami semua ditugaskan Allah SWT untuk menemanimu demi menyambut kehadiran Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Kemudian Sayyidah Maryam Ibunda Nabiyyullah Isa AS duduk mendekatkan diri di depan Sayyidah Aminah. Maka, keempat wanita suci mulia nan agung di sisi Allah SWT tersebut kemudian merapat dan mengelilingi diri Ibunda Rasulullah Muhammad SAW Sayyidah Aminah Binti Wahab, sehingga Ibunda Rasulullah SAW semakin memuncak rasa kedamaian dan kebahagiaan dalam jiwanya. Kebahagiaan dan keindahan yang dialami oleh Ibunda Rasulullah SAW saat itu, tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata. Dan peristiwa demi peristiwa yang sangat agung, semakin Allah SWT limpahkan demi penghormatan besar kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Keajaiban berikutnya adalah Sayyidah Aminah melihat sekelompok demi sekelompok manusia bercahaya saling berdatangan  silih berganti memasuki ruangan Sayyidah Aminah dan mereka memanjatkan puja puji dan tasbih kepada Allah SWT dengan berbagai macam bahasa yang berbeda-beda.

Detik berikutnya adalah Sayyidah Aminah melihat atap rumahnya terbuka dan terlihat oleh Beliau berbagai macam bintang-bintang di angkasa raya yang sangat indah berkilauan yang saling berterbangan di langit ke segenap penjuru angkasa yang sangat cerah dipenuhi cahaya.

Maka, detik berikutnya adalah Allah SWT perintahkan kepada Malaikat Ridlwan penjaga sorga agar mengomando semua bidadari sorga supaya berdandan rapi cantik jelita dan memakai segala macam bentuk perhiasan kain sutera dengan bermahkotakan emas, intan permata yang gemerlapan  dan menebarkan wewangian sorga yang harum semerbak ke segala arah demi menyambut kedatangan Baginda Nabi Muhammad SAW.

Selanjutnya, Allah SWT limpahkan mandat khusus kepada Malaikat Jibril AS untuk mengemban tugas agung dalam momen yang paling agung dan bersejarah bagi seluruh makhluk Allah SWT, Firman Allah SWT kepadanya;

يا جبريل صف راح الأرواح في أقداح الشراب يا جبربل انشر سجادات القرب والوصال لصاحب النور والرفعة والإتصال يا جبريل مر مالكا أن يغلق أبواب النيران يا جبريل قل لرضوان أن يفتح أبواب الجنان يا جبريل البس حلة الرضوان يا جبريل اهبط إلى الأرض بالملائكة الصافين والمقربين والكروبيين والحافين يا جبريل ناد في السموات والأرض في طولها والعرض قد آن أوان اجتماع المحب بالمحبوب والطالب بالمطلوب

Yang artinya kurang lebih;

“Hai Jibril, serukanlah kepada seluruh arwah suci para Nabi, para Rasul dan para Wali agar berkumpul berbaris rapi menyambut kedatangan Nabi Agung Muhammad SAW. Hai Jibril, bentangkanlah hamparan kemuliaan dan keagungan derajat Al-Qurb dan Al-Wishal kepada Nabi Agung Muhammad SAW yang memiliki Nur dan Maqam luhur di Sisi-Ku. Hai Jibril, perintahkanlah kepada Malik agar menutup semua pintu neraka. Hai Jibril, perintahkanlah kepada Ridlwan agar membuka seluruh pintu sorga. Hai Jibril, pakailah olehmu Hullah Ar-Ridlwan (pakaian khusus yang diliputi Keridloan-Ku) demi menyambut Kekasih-Ku Nabi Agung Muhammad SAW. Hai Jibril, turunlah ke bumi dengan membawa seluruh pasukan malaikat, para Malaikat Muqarrabin, para Malaikat Karubiyyin, para Malaikat yang selalu mengelilingi ‘Arasy, suruh mereka semua turun ke bumi dan berbaris rapi demi memuliakan dan  mengagungkan kedatangan Kekasih-Ku Nabi Agung Muhammad SAW.  Hai Jibril, kumandangkanlah seruan di seluruh penjuru langit hingga lapis ke tujuh dan di segenap penjuru bumi hingga lapisan paling dalam, beritakan kepada seluruh makhluk-Ku bahwa sesungguhnya …Sekarang telah tiba saatnya kedatangan Nabi akhir zaman, Nabi Agung kekasih Allah SWT, Baginda Nabi Muhammad SAW ………….

          Kemudian seketika itu pula Malaikat Jibril AS secepat kilat langsung melaksanakan seluruh mandat khusus dan agung dari Allah SWT tersebut. Serentak Beliau bawa seluruh pasukan malaikat turun ke bumi hingga memenuhi seluruh gunung-gunung  Makkah dan berbaris rapi meliputi seluruh tanah suci Makkah. Sayap-sayap mereka terlihat laksana mega-mega putih berkilauan memenuhi angkasa. Dan saat itu pula seluruh hewan-hewan yang ada di segenap penjuru di bumi, di lautan dan di angkasa bersuka cita demi menyambut kedatangan Baginda Nabi Muhammad SAW.

          Ibunda Rasulullah SAW Sayyidah Aminah berkata; Saat itu pula, dengan ijin Allah SWT, bisa terlihat jelas olehku gedung-gedung yang ada di Syiria dan Palestina. Aku juga melihat tiga pilar bendera yang dibawa oleh para malaikat. Yang satu ditancapkan di jagad timur, yang satu ditancapkan di jagad barat dan yang satunya lagi di atas Ka’bah Baitullah. Dalam keadaan yang dipenuhi oleh misteri segala keajaiban yang sedemikian rupa, seketika pula datang serombongan burung-burung bercahaya yang indah memenuhi ruanganku, datang silih berganti.  Paruh dan sayapnya adalah berupa mutiara zamrud dan yaqut yang indah sekali. Burung-burung tersebut menebarkan berbagai macam mutiara dan permata yang beraneka ragam indahnya di ruanganku. Setelah itu mereka serentak memanjatkan puja puji dan tasbih kepada Allah SWT. Dan aku lihat pula para malaikat datang bergerombolan dan silih berganti sambil membawa mabkharah (tempat dupa) berupa emas merah dan emas putih yang berisikan dupa-dupa wewangian sorga yang semerbak harum baunya memenuhi seluruh  jagad raya, sambil bergemuruh suara mereka mengucapkan sholawat dan salam kepada Nabi Agung Rasulullah Muhammad SAW. Seketika itu pula aku lihat bulan terbelah di atasku laksana qubah, dan bintang-bintang gemerlapan berjajar rapi di atas kepalaku laksana mata rantai emas intan permata. Dan tiba-tiba telah ada di sisiku secangkir minuman putih bening melebihi susu. Seketika aku meminumnya, dan terasa nikmat sekali, kelezatan manisnya melebihi gula dan madu, dan kesejukkannya melebihi salju (es). Maka seketika lepaslah segala dahagaku. Sangat terasa nikmat, segar dan lezat sekali yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Seketika cahaya yang luar biasa meliputi diriku. Kemudian, datanglah burung putih berkilauan cahaya mendekati dan mengusapkan sayapnya pada diriku. Saat itulah tanda-tanda kelahiran mulai aku rasakan dan aku bersandar pada para wanita yang ada di sekelilingku. Seketika lahirlah Nabi Agung akhir zaman, Kekasih Allah SWT yang sempurna, Rasulullah Muhammad SAW, dan saya tidak melihat kecuali hanya sinar cahaya yang sangat agung. Tidak lama kemudian, aku melihat putraku (Rasulullah Muhammad SAW) telah berada di sampingku terselimuti dengan sutera putih di atas hamparan sutera hijau dalam keadaan sujud mengiba ke hadirat Allah SWT dengan mengangkat jari telunjuknya. Dan saya mendengar Beliau Rasulullah SAW mengucapkan ;

ألله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا

……….”Allah Maha Besar dengan segala Keagungan-Nya, Segala Puji bagi Allah atas segala anugerah-Nya, Maha Suci Allah kekal abadi selama-lamanya………”

          Pada saat itulah semakin memuncak kegembiraan seluruh penghuni alam semesta. Para Malaikat, Para Nabi, Para Wali, Para bidadari sorga, seluruh makhluk-makhluk Allah SWT yang ada di daratan, di lautan di angkasa dan bahkan bumi, laut, udara, bintang-bintang, bulan, matahari, langit, kursiy dan Arasy, seluruhnya benar-benar meluapkan kegembiraan dan memuncakkan Sholawat Ta’dhim kepada Kekasih Allah SWT, Nabi Akhir Zaman, Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Dan bahkan Ka’bah Baitullah ikut bergetar selama 3 hari berturut-turut karena bahagia dan bangga menyambut kelahiran  Baginda Nabi Muhammad SAW.

          Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Maulid Ad-diba’iy Lil Imam Abdur Rahman Ad-Diba’iy hal 192 dan 193 ;

فاهتز العرش طربا واستبشارا وازداد الكرسي هيبة ووقارا وامتلأت السموات أنوارا وضجت الملائكة تهليلا وتمجيدا واستغفارا

Yang artinya kurang lebih;

“Sesungguhnya (pada saat kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW), ‘Arasy seketika gentar hebat luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, dan Kursiy juga semakin tambah kewibawaan dan keagungannya, dan seluruh langit dipenuhi cahaya yang bersinar terang dan para malaikat seluruhnya serentak bergemuruh memanjatkan tahlil, tamjid dan istighfar kepada Allah SWT dengan mengucapkan;

سبحان الله  والحمد لله  ولا إله إلا الله  والله أكبر أستغفر الله

Yang artinya kurang lebih;

“Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, Tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, saya beristighfar (memohon ampun) kepada Allah SWT..”

          Sesungguhnya dengan keagungan Beliau Baginda Rasulullah Muhammad SAW di sisi Allah SWT, maka Allah SWT telah memerintahkan kepada para malaikat-Nya yang agung yakni Malaikat Jibril, Malaikat Muqarrabin, Malaikat Karubiyyin, Malaikat yang selalu mengelilingi Arasy dan lainnya agar serentak berdiri pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW dengan memanjatkan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, dan Istighfar kepada Allah SWT.

          Semua fenomena keajaiban-keajaiban agung yang terjadi pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW yang diwujudkan oleh  Allah SWT, semata-mata hanya menunjukkan kepada semua makhluk-makhluknya Allah SWT bahwa Baginda Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang paling dicintai-Nya, makhluk yang paling agung dan mulia derajatnya di sisi-Nya.

          Dan riwayat-riwayat semua yang tersebutkan di atas, bukan sekedar cerita belaka, namun telah kami nukil data-datanya dari kitab-kitab para ulama ahlussunnah waljama’ah yang sangat akurat dan otentik. Diantaranya adalah Kitab Al-Hawi Lil Fatawi yang dikarang oleh Al-Imam Asy-Syaikh Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi yang telah mengarang tidak kurang dari 600 kitab yang dijadikan marja’ (pedoman) bagi para ulama ahlussunnah waljama’ah dalam penetapan hukum-hukum syariat Islam. Bahkan para ulama ahlussunnah waljama’ah telah sepakat menjuluki Beliau dengan gelar ‘Jalaaluddiin’ yakni sebagai pilar keagungan agama Islam.

          Bukan hanya dari kitab Beliau saja kami menukil, namun juga dari kitab-kitab para ulama ahlussunnah waljama’ah lainnya yang juga telah disepakati dan dijadikan sebagai sumber pedoman oleh para ulama. Diantaranya adalah Kitab Dalailun Nubuwwah Lil Imam Al-Baihaqi, Kitab Dalailun Nubuwwah Lil Imam Abu Na’im Al-Ashfahaniy, Kitab An-Ni’matul Kubra ‘Alal ‘Aalam Lil Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami, Kitab Sabiilul Iddikar Lil Imam Quthbul Ghouts Wad-Da’wah Wal-Irsyad Al-Habib Abdullah bin ‘Alawi Al-Haddad, Kitab Al-Ghurar Lil Imam Al-Habib Muhammad bin Ali bin Alawiy Khird Ba Alawiy Al-Husainiy, Kitab Asy-Syifa’ Lil Imam Al-Qadli ‘Iyadl Abul Faidl Al-Yahshabiy, Kitab As-Siirah An-Nabawiyyah Lil Imam As-Sayyid Asy-Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Hasaniy, Kitab Hujjatullah ‘Alal ‘Aalamin Lis Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhaniy…dan kitab-kitab lainya yang mu’tamad dan mu’tabar (diakui dan dijadikan pedoman oleh para ulama).

          Bagi para Ulama sholihin Ahlussunnah Waljama’ah telah sepakat untuk berdiri pada saat bacaan Maulid Nabi Muhammad SAW telah tiba pada Mahallul Qiyam (detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW). Mereka serentak berdiri demi mengikuti jejak para Malaikat, jejak arwah para Nabi dan jejak arwah para Wali untuk ta’dhim (mengagungkan) dan memuncakkan rasa cinta yang agung kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Mereka luapkan rasa syukur yang memuncak ke hadlirat Allah SWT atas nikmat/anugerah paling agung yang telah Allah SWT limpahkan dengan mengutus Kekasih-Nya sebagai Rahmat (Belas Kasih Sayang-Nya) untuk seluruh alam semesta. Mereka panjatkan puji-pujian yang agung kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW dengan bahasa sastra yang indah dan suara merdu yang dipenuhi dengan rasa rindu dan cinta yang tulus mulia kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

          Maka, sungguh sangat mulia sekali bagi kita sebagai umat yang sangat dicintainya untuk mengikuti jejak para ulama sholihin dengan serentak berdiri pada saat Mahallul Qiyam demi menyambut kedatangan Kekasih Allah SWT yang sangat mulia, Junjungan kita Baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Sebagai wujud ta’dhim dan kecintaan yang sangat tulus dari kita kepada Beliau Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Bukankah Beliau adalah Nabi kita yang sangat kita cintai…? Bukankah Beliau adalah yang kelak akan memberi pertolongan kepada kita sehingga selamat dari siksaan Allah SWT yang sangat pedih..? Bukankah Beliau adalah yang akan memberi syafaat kepada kita sehingga kita bisa memperoleh keridloan Allah SWT yang agung dan masuk ke dalam sorga-Nya yang dipenuhi dengan segala kenikmatan, keindahan dan kebahagiaan yang kekal abadi selama-lamanya….? Karena Beliau Rasulullah Muhammad SAW adalah Kekasih Allah SWT yang mana Allah SWT telah berjanji untuk tidak menolak segala  permintaan Beliau dan akan mengabulkan segala permohonannya. Dan janji ini telah ditetapkan Allah SWT dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Surat Adh-Dhuha ayat  5     ;

ولسوف يعطيك ربك فترضى ) الضحى 5   )

Yang artinya kurang lebih;

“Dan (sesungguhny) kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu (Nabi Muhammad SAW), lalu (hati) kamu menjadi puas”.

(Q.S. Adl-Dluha 5)

Sungguh sangat beruntung kita sebagai umat Islam yang benar-benar mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW dengan setulusnya. Maka, pada saat tiba ajal kita nanti, Baginda Nabi Muhammad SAW yang sangat kita cintai akan menolong kita dengan memohon kepada Allah SWT agar ditetapkan iman kita, diampuni segala dosa-dosa kita yang pernah kita lakukan dan diberi kemudahan menghadapi sakaratul maut. Bukan sekedar itu saja, bahkan pada saat menghadapi pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam barzakh, Beliau akan menolong kita. Dan berkat pertolongannya, seketika Allah SWT akan menjadikan kuburan kita sebagai “Raudlatun Min Riyaadlil Jinaan”, yakni sebagai taman diantara taman-taman sorga. Begitu pula pada saat di padang Mahsyar, kita akan dipersilahkan untuk meminum air telaganya dan bertemu dengan Beliau Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW beserta para ahli baitnya, para sahabatnya, dan juga bersama para wali Allah SWT, para orang-orang sholihin  dan bersama pula dengan orang-orang mukmin yang mencintainya. Dan seketika itu kita mendapati rasa aman. Tinggal menunggu saat tiba waktunya untuk masuk sorga bersama Rasulullah SAW, secara berbondong-bondong memasuki sorga Allah SWT yang dipenuhi dengan segala kenikmatan, keindahan, kedamaian, dan kebahagiaan yang kekal abadi selama-lamanya.

Bahwa sesungguhnya, besarnya perhatian Baginda Rasulullah Muhammad SAW kepada kita, dan agungnya ketulusan mahabbah (Belas Kasih Sayang)nya yang sempurna kepada kita, sehingga kita bisa mendapati limpahan Rahmat (Belas Kasih Sayang) Allah SWT dan ampunan-Nya, adalah  sangat banyak sekali data-data / dalilnya disebutkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Al-Hadis serta kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah. Sebagian diantara dalil-dalil tersebut adalah Firman Suci Allah SWT dalam Kitab Suci Al-Qur’anul Kariim Surat At-Taubah  ayat 128 ;

لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رءوف رحيم ( التوبة  128 )

Yang artinya kurang lebih;

“Sesungguhnya telah datang kepada kalian Seorang Rasul (Nabi Muhammad SAW), dari kaum kalian sendiri, (sungguh sangat) berat terasa olehnya (segala) penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin..” (Q.S. At-Taubah 128).

Dan sebagaimana juga yang telah disebutkan oleh Syeikh Ibrahim Al-Bajuri dalam kitabnya Syarah Nadlom Burdah lil-Imam Abu Said Al-Bushiri hal 62 yang menerangkan Firman Qudsiy Allah SWT kepada Baginda Nabi Muhammad SAW sebagai bisyarah (berita gembira) agung untuk umatnya……..

أنا لهم ما عاشوا وأنا لهم إذا ماتوا وأنا لهم في القبوروأنا لهم في النشور

Yang artinya kurang lebih;

“(Berbahagialah engkau wahai Nabi Muhammad SAW, Demi permohonan engkau kepada-Ku), Sesungguhnya Aku (Allah SWT) sendiri yang akan senantiasa mencukupi umatmu pada saat mereka masih hidup di dunia, dan pada saat mereka meninggal dunia, dan pada saat mereka di alam barzakh, dan pada saat mereka dibangkitkan di padang mahsyar..”

Dan juga telah disebutkan oleh Al-Imam Al-Habib Muhammad bin Ali bin Alawiy Khird  Ba Alawiy Al-Husainiy dalam kitabnya Al-Ghurar hal  473 bahwa ;

قال الإمام الحبيب محمد بن علي بن علوي خرد باعلوي الحسيني في الغرر ص 473

 قال النبي صلى الله عليه وسلم حبي وحب أهل بيتي نافع في سبعة مواطن أهوالهن عظيمة عند الوفاة وعند القبر وعند النشر وعند الكتاب وعند الحساب وعند الميزان وعند الصراط

Yang artinya kurang lebih;

“Baginda Rasulullah Muhammad SAW bersabda; Bahwa sesungguhnya orang yang sungguh-sungguh mencintaiku dan keluargaku dengan tulus, akan mendapati limpahan Belas Kasih Sayang Allah SWT pada tujuh tempat yang situasi dan kondisinya penuh dengan segala petaka yang dahsyat menakutkan, yaitu pada saat menjelang ajal, pada saat di alam barzakh, pada saat bangkit dari kubur, pada saat pembagian kitab catatan amal, pada saat hisab (pertanggung jawaban amal perbuatan), pada saat mizan (ditimbangnya segala amal perbuatan), dan pada saat shirat (melewati titian/ jembatan) di atas neraka menuju sorga”.

Semua keutamaan ini, semata-mata adalah berkat permohonan Baginda Nabi Muhammad SAW untuk umatnya yang benar-benar tulus mencintainya dan juga cinta kepada ahli bait dan shahabatnya. Dan begitu pula disebutkan dalam kitab dan halaman yang sama;

قال النبي صلى الله عليه وسلم يرد الحوض أهل بيتي ومن أحبهم من أمتي كهاتين السبابتين

Yang artinya kurang lebih;

“(Baginda Rasulullah Muhammad SAW bersabda; (Sesungguhnya kelak pada hari kiamat), ahli bait (keluarga)ku dan umatku yang tulus mencintai mereka akan selalu berdampingan menuju telagaku bagaikan kedua jari ini (jari telunjuk dan tengah)”.

Begitu pula yang telah disebutkan oleh Al-Imam Al-Hafidh Abul Fadll ‘Iyadl bin Musa Al-Yahshabiy dalam kitabnya Asy-Syifaa Bi Ta’riifi Huquuqil Mushthafa hal 157;

قال الحافظ أبو الفضل عياض بن موسى اليحصبي في الشفا بتعريف حقوق المصطفى ص 150

عن أنس رضي الله عنه أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال متى الساعة يا رسول الله  ؟ قال ما أعددت لها ؟ قال ما أعددت لها من كثير صلاة ولا صوم ولا صدقة  ولكني أحب الله ورسوله قال أنت مع من أحببت

Yang artinya kurang lebih;

“Shahabat Anas bin Malik Radliyallahu ‘Anhu berkata; Bahwa sesungguhnya ada seorang sahabat yang datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya; “Ya Rasulullah, kapankah kiamat akan tiba?”.Baginda Nabi SAW balik bertanya; “Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapi hari kiamat?”.Shahabat tersebut berkata lagi; “Ya  Rasulullah, aku tidak (mengandalkan) dengan banyaknya sholatku, banyaknya puasaku, banyaknya shodaqahku, namun (yang aku andalkan adalah) aku sungguh-sungguh mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya”. Maka Baginda Rasulullah SAW lantas menjawab; “(Ketahuilah olehmu wahai shahabat), sesungguhnya kamu kelak akan senantiasa bersama orang yang benar-benar kamu cintai “.

Dan disebutkan pula dalam kitab tersebut di atas (Asy-Syifa) hal. 176

وروي أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله لأنت أحب إلي من أهلي ومالي وأني لأذكرك فما أصبر حتى أجيء فأنظر إليك وإني ذكرت موتي وموتك فعرفت أنك إذا دخلت الحنة رفعت مع النبيين وإن دخلتها لا أراك فأنزل الله تعالى- ومن يطع الله والرسول فأولئك مع الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا – النساء 69

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa sesungguhnya telah datang seorang shahabat kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW dan berkata; “Ya Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala-galanya. Di manapun aku berada, aku senantiasa rindu kepadamu dan ingin bertemu denganmu Ya Rasulullah. Namun setelah engkau wafat (kelak) dan aku juga meninggal dunia, sementara engkau telah berada di puncak sorga Firdaus yang tinggi bersama para Nabi, sedangkan aku, walaupun masuk sorga, apakah aku masih bisa menjumpaimu Ya Rasulullah..?…Maka turunlah Firman Allah SWT……… Surat An-Nisaa’ ayat 69.

ومن يطع الله والرسول فأولئك مع الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا – النساء 69

Yang artinya kurang lebih;

……….”Dan barang siapa yang menta’ati Allah SWT dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah SWT, yaitu, Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya..”(Q.S. An-Nisa’ 69).

          Demikianlah anugerah-anugerah agung yang dilimpahkan Allah SWT kepada umat Islam yang benar-benar cinta kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Namun, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Qodli ‘Iyadl dalam kitabnya Asy-Syifa hal 158 Bahwa orang yang benar-benar tulus mencintai Baginda Rasulullah Muhammad SAW, syaratnya harus mengikuti jejaknya, meneladani prilakunya, menghidupkan sunah ajaran dan syiarnya, mencintai ahli baitnya dan menghormati seluruh shahabatnya. Semoga kita semua termasuk orang yang benar-benar cinta sejati dengan tulus kepada Baginda Nabi Muhammad SAW beserta seluruh ahli bait dan shahabatnya serta bisa meneladani prilaku dan jejak-jejak mereka…

أللهم اجعلنا من الصادقين في حبك وحب نبيك سيدنا وحبيبنا وقرة أعيننا محمد صلى الله عليه وسلم وحب آل بيته الطيبين المطهرين وحب أصحابه أجمعين واحشرنا معهم تحت لواء سيد الأولين والآخرين وأدخلنا الجنة مع النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا وصلى الله على سيدنا محمد النبي الآمي وعلى آله وصحبه أجمعين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

……..Ya Allah Tuhan kami, anugerahilah kami semua untuk bisa mencintai dengan sesungguh-sungguhnya kepada Junjungan kami Baginda Nabi Besar Muhammad SAW, dan kepada seluruh ahli baitnya yang suci nan mulia, dan kepada seluruh sahabatnya. Ya Allah, anugerahilah kami kelak pada hari kiamat berada di bawah naungan bendera Junjungan kami Baginda Nabi Muhammad SAW, dan masukkanlah kami ke sorga-Mu beserta rombongan para Nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan shalihin. Karena, merekalah teman-teman sejati yang sesungguhnya. Ya Allah…Limpahkanlah Sholawat dan Salam-Mu kepada Junjungan kami Baginda Nabi Muhammad SAW beserta seluruh keluarga dan shahabatnya. Ya Allah… Sungguh segala puji hanya bagi-Mu semata Ya Allah Tuhan alam semesta…..”

KEUTAMAAN MAULID BAGINDA NABI MUHAMMAD SAW DAN HIMBAUAN BAGI UMAT ISLAM UNTUK  MERAYAKANNYA

Dengan adanya seluruh data-data yang konkrit dan akurat tersebut di atas, maka perlu diketahui, bahwa  sesungguhnya kelahiran Beliau Baginda Rasulullah SAW adalah suatu nikmat yang paling agung yang Allah SWT anugerahkan khusus untuk kita semua umat Islam. Berkat jasa-jasa Beliau semata, kita telah dipilih oleh Allah SWT untuk mendapati berbagai limpahan Rahmat Belas Kasih Sayang Allah SWT di dunia, di alam barzakh, di padang makhsyar dan di akhirat kelak. Sungguh hanya karena syafaat Beliau semata, kita kelak bisa mendapati segala kebahagiaan, kenikmatan, kedamaian, kelezatan, kesenangan yang abadi dan kedudukan yang tinggi di sorga Allah SWT yang kekal abadi selama-lamanya. Intinya, segala anugerah dan kenikmatan yang kita dapati, baik di dunia maupun di akhirat, semata-mata adalah berkat permohonan Junjungan Kita Baginda Nabi Muhammad SAW kepada Allah SWT.

Maka, sungguh benar-benar sangat pantas dan wajar sekali, serta alangkah mulianya apabila kita yang sebagai umat yang sangat dicintainya dengan bangga dan senang hati setulus-tulusnya mengagungkan dan merayakan Maulid Junjungan kita Baginda Nabi Muhammad SAW. Dan juga saling berlomba dalam kebajikan ( dengan mengorbankan waktu, tenaga, fikiran dan materi) dengan tulus ikhlas untuk menyelenggarakan dan mensyiarkan  maulid Baginda Nabi Muhammad SAW  serta menyambut, menghormati dan menjamu tamu-tamu agung Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Adakah kebajikan yang lebih utama dan lebih mulia dari pada menjamu dan menghormati tamu-tamu Rasulullah Muhammad SAW …?

          Maka, sungguh sangat mulia dan indah sekali bila perayaan maulid tersebut benar-benar dilaksanakan dengan tulus ikhlas demi mengikuti anjuran dan prilaku para ulama sholihin, sebagai wujud ungkapan rasa syukur yang agung kepada Allah SWT serta sebagai ta’dhim (penghormatan) dan cinta yang tulus sejati kepada junjungan dan pemimpin agung kita Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Dan sungguh sangat indah sekali apabila seorang ayah/orang tua senantiasa memperhatikan anak-anaknya dengan memahamkan kepada anak-anaknya tentang keutamaan-keutamaan Baginda Nabi Muhammad SAW serta keutamaan-keutamaan wali-wali Allah SWT agar anak-anaknya mencintainya serta senantiasa condong untuk meneladaninya. Dan juga mengajak mereka untuk menghadiri perayaan  Haul seorang Waliyyullah, serta menghadiri perayaan Isra’ Mi’raj dan Maulidnya Junjungan kita Baginda Nabi Muhammad SAW, agar terlimpahkan Rahmat (Belas Kasih Sayang) Allah SWT kepada mereka sehingga kelak menjadi anak-anak yang sholeh yang taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya serta berbakti kepada kedua orangtuanya.

Dan bagi ibu-ibu rumah tangga hendaklah senantiasa mempelajari sirah/ sejarah Baginda Nabi Muhammad SAW serta sirah/sejarah istri-istrinya dan putri-putrinya Baginda Rasulullah Muhammad SAW yang sangat suci mulia, dan mengajarkan semua itu kepada putri-putrinya sehingga benar-benar  mengenal Baginda Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya  dan mencintainya sampai dijadikan idolanya serta  ketagihan untuk selalu bersholawat kepada Beliau Baginda Nabi Muhammad SAW. Karena sesungguhnya orang yang bersholawat satu kali saja kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, maka Allah SWT akan melimpahkan sepuluh Rahmat-Nya kepada orang tersebut. Dan jika Rahmat Allah SWT terus menerus melimpah, maka bisa dipastikan bahwa si anak gadis tersebut   akan mendapati taufiq dan hidayah dari Allah SWT sehingga tumbuh menjadi ‘mar’ah sholihah’ (wanita sholihah) yang senantiasa taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, patuh pada orang tuanya dan selalu berbakti kepada suaminya.

Oleh sebab itulah, setelah kita mengetahui keutaman-keutaman Baginda Nabi Muhammad SAW di Sisi Allah SWT, maka demi untuk mengungkapkan ketulusan cinta kita yang sesungguhnya kepada Baginda Nabi Muhamnmad SAW, serta kebanggaan kita sebagai umat yang dikasihinya, dan sebagai wujud rasa syukur kita kepada Allah SWT atas anugerahnya yang paling agung ini., maka kita panggil  saudara-saudara muslim kita untuk berkumpul di suatu majlis suci nan terhormat yang disitu dibacakan maulid agung Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Kita bacakan sirah/ sejarah perjalanan kehidupannya yang indah laksana mutiara yang tiada duanya. Kita lantunkan qashidah-qashidah dan puji-pujian yang mulia untuknya dengan hati dan jiwa yang meluap penuh dengan kegembiraan dan rindu  yang mendalam kepadanya. Kita lepaskan segala pikiran duniawi. Yang ada saat itu adalah kita maksimalkan hati dan pikiran kita penuh dengan pengagungan dan kerinduan yang memuncak kepada Junjungan kita Baginda Nabi Muhammad SAW  dengan suasana yang penuh khidmat, ta’dhim, berpakaian sopan nan rapi serta memakai minyak wangi, bukhur atau wangi-wangian yang semerbak harum baunya, sehingga kita benar-benar bisa hudlur merasakan bahwa kita benar-benar  telah bersimpuh dan menghadap di depannya. Dan Alhamdulillah, para habaib dan ulama kita telah menghadiahkan kepada kita rangkuman karangan mereka berupa kitab-kitab maulid yang sangat indah dan agung sekali yang didalamnya tercantum berbagai macam kemuliaan dan keagungan Baginda Nabi Muhammad SAW di Sisi Allah SWT yang disertai dengan data-data dari Ayat-ayat Kitab Suci Al-Qur’an dan hadis-hadis Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Diantaranya adalah:

Ø     شرف الأنام مولد Maulid Syaraful Anam,

Ø     مولد الديبعي Maulid Diba’ Lil-Imam Abdur Rahman Ad-Diba’i,

Ø     مولد سمط الدرر Maulid Simtud Duror Lil-Habib Al-‘Arif Billah Ali bin Muhammad Al-Habsyi

Ø     مولد الضياء اللامع Maulid Adl-Dliyaa’ul Laami’ Lil-Habib Ad’Da’i Ilallah Umar bin Hafidz, dan kitab-kitab maulid lainnya. Yang mana apabila kita baca salah satu saja dari kitab-kitab maulid tersebut, insyaAllah kita akan mendapati keberkahan dan limpahan Rahmat Belas Kasih Sayang Allah SWT berkat Junjungan kita Baginda Nabi Muhammad SAW.

Sesungguhnya para auliya’ dan ulama sholihin telah menganjurkan kepada kita agar melestarikan bacaan Kitab Maulid tersebut pada acara-acara pengantin (saat akan dilaksanakan akad nikah), pada acara khitan, pada saat mau perpindahan rumah, dan pada acara ‘Walimatut Tasmiyah’ yakni memberi nama pada seorang bayi yang telah lahir, agar acara tersebut dilimpahi keberkahan oleh Allah SWT.

Dan seyogyanya pula kita jangan tergesa-gesa untuk berprasangka buruk kepada saudara-saudara kita kaum muslimin yang tidak menghadiri acara maulid Nabi Muhammad SAW , justru hendaknya kita berprasangka baik kepada mereka. Mungkin mereka ada kesibukan lain yang menghalangi untuk menghadirinya, atau ada kemungkinan mereka belum mengetahui keutamaannya. Maka di sinilah tugas kita untuk memberitahu tentang keutamaannya agar mereka bisa mendapati apa yang kita dapati dari keutamaan-keutamaan maulid tersebut.

 Kecuali bagi orang-orang yang terang-terangan ingkar dengan acara maulid Nabi Muhammad SAW, maka hal itu sangat berbahaya sekali baginya, dikhawatirkan dia tidak mendapatkan Rahmat dari Allah SWT. Karena Rahmat Allah SWT semua di alam semesta, datangnya adalah semata-mata melalui Baginda Nabi Muhammad SAW sebagaimana Firman Allah SWT;

وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين )  الأنبياء 107 (

Yang artinya kurang lebih

“Sesungguhnya, tidaklah Kami (Allah SWT) mengutusmu (wahai Nabi Muhammad SAW) melainkan untuk (menjadi) Rahmat (Belas Kasih Sayang) bagi alam semesta”

(Q.S. Al-Anbiya’ 107)

Dan bagi para panitia yang bertugas mulia untuk menyelenggarakan acara Maulid Nabi Muhammad SAW, maka demi untuk membahagiakan Baginda Rasulullah Muhammad SAW, sungguh sangat mulia sekali apabila mereka menyediakan juga tempat yang khusus bagi kaum wanita, sehingga mereka (para wanita) tidak berkumpul/berdesakan dengan laki-laki serta tidak dipandang oleh laki-laki yang bukan muhrimnya. Karena hal ini (kumpulnya laki-laki dan wanita yang bukan muhrimnya) adalah sangat mengecewakan Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Dan hendaknya pula panitia tersebut tidak menerima sumbangan selain yang jelas-jelas diberikan dengan sukarela. Karena sumbangan yang diberikan dengan ikhlas maka akan menjadi barokah dan obat. Sebaliknya jika sumbangan tersebut datangnya dari orang yang terpaksa maka akan menjadi racun dan penyakit, apalagi kalau sumbangan tersebut dari uang haram.

Sementara bagi para kaum wanita yang berhalangan hadir, juga bisa ikut andil dan ambil bagian dalam acara maulid tersebut, dengan membikin berbagai macam makanan, kue-kue dan minuman yang sekedarnya (tidak berlebihan/memaksakan di luar batas kemampuannya), dan diniati untuk menjamu kepada tamu-tamunya Rasulullah SAW . Karena mereka tidak hadir pada perayaan maulid, kecuali demi untuk mengagungkan dan cinta kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Dan bagi panitia yang betul-betul mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW dengan setulus-tulusnya, hendaknya menyempurnakan acara tersebut dengan memanggil seorang alim yang sholih agar memberikan penjelasan khusus tentang keagungan dan kemuliaan Rasulullah Muhammad SAW, sehingga mauidloh-mauidlohnya bisa benar-benar bermanfaat bagi umat, khususnya pada generasi muda Islam agar mereka bisa benar-benar mengenal dengan sesungguhnya kepada keagungan pribadi Rasulullah Muhammad SAW, sampai kepribadian Baginda Rasululllah Muhammad SAW melekat di hati mereka dan mereka hanya mengidolakan Baginda Rasululllah Muhammad SAW dalam kehidupannya, sampai tergerak hatinya untuk bersemangat dan tulus meneladani serta mengikuti prilaku Baginda Rasulullah Muhammad SAW dalam menuju kepada keridloan Allah SWT. Maka, apabila hal itu tidak dilakukan oleh Da’i (penceramah) tersebut, apalagi kalau pidatonya dipenuhi dengan senda gurau yang bisa menghilangkan kharisma keagungan maulid Nabi Besar Muhammad SAW, sungguh hal itu akan mengecewakan baginda Nabi Muhammad SAW dan  para hadirin (tamu-tamu Rasulullah maSAW), yang jauh-jauh hadir semata-mata hanya ingin mengenal sirah/sejarah Baginda Nabi Muhammad SAW.

Maka mereka semua, baik panitia yang bekerja keras untuk menyukseskan acara maulid, atau para donator yang memberi infaq dengan ikhlas sukarela, ataupun yang datang meninggalkan segala urusan duniawinya, ataupun para panitia dan ibu-ibu/ wanita yang membuat makanan/minuman di dalam rumahnya untuk menjamu tamu-tamu Rasulullah Muhammad SAW, semuanya tanpa terkecuali akan mendapati segala keistimewaan-keistimewaan dan keberkahan-keberkahan Maulid Agung Baginda Nabi Muhammad SAW. Sabda Baginda Nabi Muhammad SAW;

من عظم مولدي كنت شفيعا له يوم القيامة

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa sesungguhnya, barang siapa yang mengagungkan maulidku, maka kelak (pada hari kiamat) aku (Nabi Muhammad SAW, tidak akan mengecewakan mahabbahnya, namun aku) akan memberi syafaat kepadanya pada hari kiamat (agar diampuni dosa-dosanya sampai masuk sorganya Allah SWT)”.

Sebagaimana pula yang disebutkan pula oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy di kitabnya An-Ni’matul Kubra ‘Alal-‘Aalam hal  9 :

قال الإمام شهاب الدين أحمد بن حجر الهيتمي الشافعي في النعمة الكبري على العالم ص 9

قال الإمام محمد بن إدريس الشافعي رحمه الله : من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءته بعثه الله يوم القيامة مع الصديقين والشهداء والصالحين ويكون في جنات النعيم

Yang artinya kurang lebih;

“Imam Syafi’i Rahimahullah. berkata; barang siapa yang mengundang saudara-saudaranya untuk mengadakan Maulid Nabi Muhammad SAW, menyuguhkan makanan dan menyediakan tempat untuk mereka dengan ikhlas. Dan disitu dilaksanakan amalan-amalan/ bacaan-bacaan untuk mengagungkan Nabi Muhammad SAW. Maka orang tersebut (yang menjadi sebab untuk diadakannya Maulid Nabi Muhammad SAW), kelak pada hari kiamat akan dikumpulkan oleh Allah SWT beserta para shiddiqin, syuhada’ dan sholihin dan akan dimasukkan ke sorga Allah SWT yang dipenuhi dengan  segala kenikmatan yang abadi”.

Dalam kitab yang sama hal 10 disebutkan;

قال الإمام السري السقطي قدس الله سره : من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد قصد روضة من رياض الجنة لأنه ما قصد ذلك الموضع إلا لمحبة النبي صلى الله عليه وسلم وقد قال صلى الله عليه وسلم من أحبني كان معي في الجنة

Yang artinya kurang lebih:

“Imam Sirri As-Siqthiy Rahimahullah. berkata; barang siapa yang mendatangi tempat untuk merayakan Maulid Baginda Nabi Muhammad SAW, maka sesungguhnya dia telah menuju tempat yang merupakan taman diantara taman-taman sorga. Karena dia tidak menuju tempat tersebut kecuali karena cinta kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Karena sesungguhnya Baginda Nabi Muhammad SAW telah bersabda;

من أحبني كان معي في الجنة

“Sesungguhnya, barang siapa yang benar-benar tulus mencintaiku (Baginda Nabi Muhammad SAW), maka kelak dia akan di sorga bersamaku”.

Dalam kitab yang sama hal 10 disebutkan;

قال الإمام جلال الدين السيوطي قدس الله سره ونور ضريحه :ما من بيت أو مسجد أو محلة قرئ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم إلا حفت الملائكة ذلك البيت أوالمسجد أو المحلة وصلت الملائكة على أهل ذلك المكان وعمهم الله تعالى بالرحمة والرضوان

Yang artinya kurang lebih:

“Imam Jalaluddin As-Suyuthi Rahimahullah. Berkata; Sesungguhnya tempat mana saja, baik itu masjid, rumah ataupun tempat lainnya, di situ dibacakan maulid Baginda Nabi Muhammad SAW, maka seketika para malaikat akan datang mengelilingi tempat tersebut untuk  mendoakan kepada seluruh orang yang hadir, sehingga Allah SWT melimpahkan Rahmat (Belas Kasih Sayang) dan Keridloan-Nya kepada mereka semua”.

Dan diantara tanda-tanda cinta kepada Baginda Nabi Muhammad SAW adalah sering menyebut namanya dengan selalu bersholawat kepadanya. Sebagaimana yang disebutkan oleh  Seorang Waliyyullah Besar Al-‘Alim Al-‘Allamah Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Hasaniy di kitabnya As-Sirah Nabawiyyah juz 3 hal 106;

قال الشيخ أحمد بن زيني دحلان الحسني في السيرة النبوية الجزء الثالث ص 106

ومن علامة محبته  صلى الله عليه وسلم كثرة ذكره وكثرة الصلاة عليه فمن أحب شيئا أكثر من ذكره

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa sesungguhnya diantara tanda orang yang benar-benar mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW, adalah dia akan senantiasa menyebut namanya dan selalu bersholawat kepadanya. Karena orang yang mencintai sesuatu pasti dia akan selalu menyebut dan mengingatnya”.

Maka, marilah kita perbanyaki mengingat dan menyebut-nyebut sirah atau sejarah prilaku Junjungan kita Baginda Nabi Muhammad SAW sebagai keteladanan utama kehidupan kita serta kita perbanyaki membaca sholawat dengan hudlur dan ta’dhim (mengagungkan) kepada Baginda Nabi Muhammad SAW…Karena banyak sekali hadis-hadis yang menerangkan bahwa sesungguhnya tidak ada penawar untuk membersihkan hati yang kotor sehingga menjadi baik kecuali dengan  memperbanyaki bersholawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW dari hati yang penuh dengan cinta dan mengagungkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Syeikh Abdullah Sirajuddin di kitabnya Ash-Sholat ‘Alan-Nabiy SAW hal 110;

قال الشيخ عبد الله سراج الدين في الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ص 110

روى ابن أبي شيبة وأبو الشيخ وغيرهما عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” صلوا علي فإن الصلاة علي زكاة لكم “

Yang artinya kurang lebih;

“Baginda Rasulullah Muhammad `SAW bersabda; Perbanyakilah oleh kalian (hai umatku) membaca sholawat kepadaku. Karena sesungguhnya sholawat kalian kepadaku adalah untuk membersihkan diri kalian  (dari sifat-sifat yang keji (sombong, ujub, riya, dengki, hasud dll..), bahkan bisa melebur dosa-dosa kalian.)”.

بالله التوفيق والهداية . من يهد الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له  . وحسبنا الله ونعم الوكيل ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

Yang artinya kurang;

“Hanya Allah SWT yang memberi taufiq dan hidayah. (Sesungguhnya) barang siapa yang telah diberi petunjuk oleh Allah SWT, maka tidak ada seorangpun yang bisa menyesatkan, dan barang siapa yang ditaqdirkan tersesat oleh Allah SWT, maka tidak ada seorangpun yang bisa memberinya hidayah. (Sungguh) kami hanya pasrah kepada Allah SWT Dzat yang mencukupi kita semua, dan Dia-lah sebaik-baiknya Dzat yang mewakili.Dan tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan izin Allah SWT..” 

Dan apabila dalam rangkuman kami ini ada kesalahan dalam penulisan kata-kata ataupun kekhilafan dalam menerjemahkan lafadz, maka kami memohon maaf yang sebesar-besarnya.

Semoga Allah SWT memberikan Taufiq, Hidayah serta kemudahan-Nya kepada kami agar bisa melanjutkan sebagian dari sejarah Baginda Rasulullah Muhammad SAW sebagai pelengkap kitab ini, dari lahirnya sampai akhir hayat Beliau Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Dan akan kami fokus dalam menceritakan agungnya peristiwa Isra’ Mi’raj Baginda Nabi Muhammad SAW.

Dan kami tutup rangkuman kitab ini dengan sholawat kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW;

أللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد بقدر حبك فيه وزدنا يا مولانا حبا فيه وبجاهه عندك فرج عنا ما نحن فيه إلهنا لا نسألك رد القضاء بل نسألك اللطف فيه وعلى آله وصحبه عدد خلق الله بدوام ملك الله

Ya Allah, limpahkanlah selalu Sholawat (Rahmat Ta’dhim), Salam Sejahtera dan Keberkahan-Mu kepada Junjungan kami Baginda Nabi Muhammad SAW sebanyak Keagungan Cinta-Mu padanya. Dan anugerahilah kami untuk semakin meningkat kecintaan kami padanya. Ya Allah Sesembahan kami. Demi keagungan derajatnya di Sisi-Mu, lapangkanlah segala kesulitan yang menimpa kami. Ya Allah Tuhan kami. Sungguh kami tidak memohon untuk menolak Qodlo’ Qodar-Mu. Namun  limpahkanlah keringanan dan Belas Kasih Sayang-Mu terhadap segala ketentuan/ketetapan-Mu kepada kami. Ya Allah limpahkanlah pula Sholawat, Salam dan Keberkahan-Mu kepada seluruh keluarga dan shahabat Baginda Nabi Muhammad SAW sebanyak bilangan makhluk-makhluk-Mu dan sekekal keabadian Kekuasaan-Mu……….

اللهم صل على نورالأنوار وسر الأسرار وترياق الأغيار ومفتاح باب اليسار سيدنا محمد المختار  وآله الأطهار وأصحابه الأخيار عدد نعم الله وإفضاله

“Ya Allah, limpahkanlah selalu Sholawat (Rahmat Ta’dhim)-Mu kepada Junjungan kami Baginda Nabi Muhammad SAW, Nabi Agung yang  sebagai sumber segala cahaya dan sebagai sumber segala rahasia alam malakut dan Nabi Agung yang sebagai obat/penyejuk hati dari sagala-galanya, dan sebagai kunci atas segala kemudahan. Beliaulah Baginda Nabi Muhammad SAW Kekasih-Mu yang telah Engkau pilih dari seluruh makhluk-Mu. Dan limpahkanlah pula Sholawat-Mu kepada para keluarganya yang suci nan mulia dan seluruh shahabatnya yang sangat jujur dan setia sebanyak anugerah yang Engkau limpahkan kepada semua makhluk-makhluk-Mu”.

نور المصطفى

نور المصطفى  ملأ الاكـوان     j    حبيبي محمد  خير المرسلين

الله  الجلال أعطاك  الجـمــال    j    يا شمس الكمال يا نور العين

نورك الوضاح مالك الأرواح    j    كم محب راح إلى الحرميــن

كفاك فضلا في العلى الأعلـى    j   دنـا  فتـدلى  قـاب  قـوسـيــن

يا ألله  يا بديـع  بلغنـا  جميـع     j   حضرة الشـفيع خير الثـقلــين

يا خير معطي أوصل صـلاتي  j     للسر  الذاتي  نـور الكـونــين

Duhai Baginda Rasulullah SAW…..

Sungguh…. cahayamu telah meliputi seluruh alam semesta

Engkaulah Junjungan dan Pujaan hati kami

Engkau Rasul Pilihan Kekasih Allah SWT 

Duhai Baginda Rasulullah SAW…..

Allah SAW Dzat Yang Maha Agung

Telah melimpahkan keindahan dan kemuliaan yang sempurna kepadamu

Engkaulah mataharinya semesta  alam yang sesungguhnya

Hanya Engkaulah yang membawa kedamaian sejati kepada kami.. (2)

Duhai Baginda Rasulullah SAW…

Cahayamu yang terang benderang

Telah meliputi seluruh alam ‘Arwah’

Betapa banyak kafilah datang berbondong-bondong

Membawa cinta suci nan mulia menuju tanah suci Makkah dan Madinahmu…

Duhai Baginda Rasulullah… SAW

Telah cukup sebagai kemulian dan keagunganmu

Hanya Engkaulah  yang paling dekat di sisi Allah SWT di maqom yang paling tinggi

Ya Allah Dzat Yang Maha Menciptakan segala sesuatu

Anugerahilah kami untuk bisa sampai di sisinya dan mendapati syafaat darinya

Nabi Agung yang paling mulia dari seluruh makhluk –makhluk Allah SWT

Ya Allah Dzat Yang Maha Memberi…sampaikanlah pujaan sholawat dan salamku

Kepada Pemimpin Agung Junjungan Kami

Yang memiliki segala sumber rahasia-rahasia dan segala cahaya  alam semesta

Baginda Rasulullah Muhammad SAW……………