HADITS SHOHIH : SYAFA’AT NABI MUHAMMAD UNTUK SEMUA UMATNYA WALAUPUN AHLI DOSA BESAR

Besarnya perhatian Rasulullah ﷺ kepada umatnya benar-benar tiada tara dan tak terkira. Sampai-sampai beliau menangguhkan sebagian doanya hingga hari kiamat demi membela dan menyelamatkan mereka, sebagimana sabdanya, “Setiap nabi pasti memiliki doa mustajab. Hanya saja mereka menyegerakan doa mereka di dunia. Namun, aku menunda doa itu demi menolong umatku pada hari kiamat. Insyaallah, doa itu akan terwujud,” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Besarnya kasih sayang beliau kepada umatnya juga tak tergantikan dengan tawaran masuknya separuh mereka ke surga. Beliau lebih memilih tawaran syafaat karena ingin membela umatnya lebih banyak, sebagaimana tergambar dalam salah satu haditsnya, “Aku diberi pilihan antara syafaat dengan masuknya separuh umatku ke surga. Namun, aku memilih syafaat. Sebab, syafaat lebih menyeluruh dan lebih banyak. Mungkin saja kalian mengira sayafaatku hanya untuk orang-orang bertakwa? Tidak. Tetapi juga untuk orang-orang yang berdosa,” (HR Al-Tirmidzi).

Berdasar hadits di atas, syafaat Rasulullah ﷺ tak hanya bagi orang-orang yang bertakwa, tetapi juga bagi orang-orang mukmin yang berlumuran dosa, termasuk pelaku dosa besar, sebagaimana yang ditandaskan hadits riwayat al-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad, “Syafaatku juga untuk umatku yang melakukan dosa besar.”

Tentu saja, ini bukan berarti kelonggaran untuk berbuat dosa karena kelak akan mendapat pembelaaan dari Rasulullah. Sebab, walau hanya sebentar, siksa Allah tidak boleh diremehkannya. Sekalinya dicelupkan ke dalam neraka Jahanam, seorang hamba bisa lupa terhadap seluruh kesempurnaan nikmat dunia yang pernah didapatnya, sebagaimana yang diingatkan Rasulullah ﷺ “Pada hari kiamat akan dihadirkan penghuni neraka yang paling bahagia semasa di dunia lalu coba dimasukkan ke dalam neraka dan ditanyakan kepadanya, ‘Wahai Ibnu Adam, bukankah engkau hanya melihat kebaikan? Bukankah hanya kenikmatan yang engkau rasakan?’ Dia menjawab, ‘Wahai Rabb, demi Allah, tidak pernah.’

Maka dari itu, tetaplah takut kepada Allah. Takut melanggengkan dosa, terlebih dosa besar, takut meninggal dalam kemaksiatan, dan seterusnya. Sebab, dosa walaupun kecil—tetapi bila dilakukan dengan kesombongan—bisa mengundang murka Allah dan mengeluarkan pelakunya dari barisan umat Rasulullah ﷺ yang luput mendapatkan syafaatnya.

Sekali lagi, yang dimaksud syafaat bagi para pelaku dosa besar bukan berarti ia bebas melakukan kemungkaran, melainkan pertanda besarnya kasih sayang, sepak terjang, dan kelembutan Rasulullah ﷺ kepada umatnya. Barangkali kasih sayang Nabi ﷺ paling indah pada hari kiamat adalah syafaatnya kepada seluruh makhluk saat mereka memohon ingin segera dihisab.

Para ulama sepakat menyebut syafaat itu dengan “syafaat uzhma” atau syafaat paling agung. Disebut paling agung karena meliputi seluruh makhluk mulai dari generasi pertama hingga generasi terakhir. Tak terkecuali orang-orang kufur dan ingkar kepada Allah. Berkat syafaat itu mereka pun lekas dihisab.

Beliau telah menggambarkan dengan jelas bagaimana beratnya penderitaan umat manusia mencari-cari yang bisa menyelamatkan dirinya dari kegetiran hari kiamat, sebagaimana ringkasan hadits shahih panjang berikut ini:

Dikumpulkanlah seluruh manusia dalam sebuah pelataran luas, mulai manusia pertama hingga yang terakhir. Mereka terdengar oleh siapa pun yang memanggil dan terlihat oleh siapa pun yang memandang. Matahari begitu dekat hingga mereka tak sanggup lagi menanggung penderitaan dan kepedihan. Mereka bertanya, “Apakah kalian tidak melihat apa yang tengah kalian alami? Apakah kalian tidak melihat sosok yang bisa meminta syafaat (pertolongan) kepada Tuhan untuk kalian?” Sebagian menjawab, “Kalian harus mendatangi Adam.” Mereka pun berbondong-bondong menuju Adam as. Kepadanya mereka memohon, “Engkau adalah Abu al-Basyar. Diciptakan Allah langsung dengan tangan-Nya. Ruh-Nya ditiupkan kepadamu. Malaikat diperintah sujud kepadamu. Maka mintalah syafaat kepada Tuhan untuk kami. Apakah engkau tidak melihat keadaan kami? Apakah engkau tidak melihat apa yang tengah kami alami?” Adam menjawab, “Hari ini, Tuhanku pun murka kepadaku, murka yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tak akan pernah murka setelahnya. Dia melarangku mendekati pohon tapi aku melanggarnya. Diriku, diriku, diriku, pergilah kalian kepada selainku. Coba temuilah Nuh ‘alaihissalam.”

Akhirnya, mereka berbondong-bondong menuju Nabi Nuh tapi beliau pun angkat tangan. Tidak bisa memintakan pertolongan kepada Allah. Demikian pula saat menemui Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa. Hingga terakhir mereka diarahkan kepada nabi terakhir, Rasulullah ﷺ. Kali ini, mereka menemui Rasulullah ﷺ dan menyampaikan, “Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah telah mengampuni dosamu yang akan datang dan yang telah lalu. Mohonlah pertolongan kepada Tuhan untuk kami. Tidakkah engkau melihat apa yang tengah menimpa kami?”

Nabi ﷺ bersabda, “Aku pun pergi menuju bawah ‘Arasy. Di sana aku bersujud pada Tuhanku. Lalu Allah membukakan kebaikan-kebaikan-Nya kepadaku, yang belum pernah dibukakan kepada seorang pun sebelumku.

Setelah itu, terdengarlah seruan, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah engkau, niscaya diberi. Mintalah pertolongan, niscaya dipenuhi.’ Aku mengangkat kepala dan berkata, ‘Umatku, ya Tuhan. Umatku, ya Tuhan. Umatku, ya Tuhan.’ Terdengar lagi ada yang bicara, ‘Wahai Muhamad, masukkanlah umatmu dari golongan hamba yang tidak dihisab ke dalam surga melalui pintu sebelah kanan. Namun sekelompok mereka masuk dari selain puntu itu” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hisab pun berlangsung berkat syafaat Rasulullah ﷺ, sebagian manusia masuk surga, sebagian lagi neraka. Di antara yang masuk neraka adalah umat Rasulullah ﷺ yang keburukannya lebih besar ketimbang kebaikannya. Mereka digiring ke dalam neraka sebagai balasan atas segala dosa dan perbuatannya.

Namun, apakah mereka yang telah masuk neraka beliau lupakan?

 Tidak! Tak berhenti sampai di situ, umatnya yang sudah masuk neraka, masih terus beliau perjuangkan, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Ahmad, “Saat itu aku kembali bersujud pada-Nya. Kemudian Allah berfirman, ‘Angkatlah kepalamu, Muhammad. Memohon pertolongan apa pun, engkau akan diberi.’ Aku pun mengangkat kepala lantas memohon, ‘Umatku, umatku, ya Rabb.’ Dia kembali berfirman, ‘Temuilah umatmu. Siapa saja yang engkau temukan di hatinya keimanan walau seberat biji sawi, maka masukkanlah ke dalam surga.’ Maka siapa pun yang aku temukan dalam hatinya keimanan walau seberat biji gandum, aku masukkan ke dalam surga.”

Dalam riwayat al-Bukhari, golongan umatnya yang dikeluarkan dari neraka Jahannam berkat syafaat Rasulullah ﷺ, dikenal dengan golongan “Jahannamiyyun.” Hal ini sejalan dengan hadits lain yang menyatakan bahwa penghuni neraka Jahanam adalah umat Nabi ﷺ yang berdosa, dan kemudian neraka itu akan kosong dari penghuninya seiring dengan berakhirnya masa siksa mereka dan besarnya perhatian serta syafaat Rasulullah ﷺ.

 Itulah sekilas gambaran tentang besarnya kasih sayang, kelembutan, dan sepak terjang Rasulullah ﷺ dalam menyelamatkan umatnya. Semoga kita termasuk golongan yang senantiasa mencintainya, menjalankan ajarannya, dan kelak mendapatkan syafaat darinya. Amîn.

HIKMAH DAN DALIL MERAYAKAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW.

Ketika cahaya tauhid padam di muka bumi, maka kegelapan yang tebal hampir saja menyelimuti akal. Di sana tidak tersisa orang-orang yang bertauhid kecuali sedikit dari orang-orang yang masih mempertahankan nilai-nilai ajaran tauhid. Maka Allah SWT berkehendak dengan rahmat-Nya yang mulia untuk mengutus seorang rasul yang membawa ajaran langit untuk mengakhiri penderitaan di tengah-tengah kehidupan. Dan ketika malam mencekam, datanglah matahari para nabi. Kedatangan Nabi tersebut sebagai bukti terkabulnya doa Nabi Ibrahim as kekasih Allah SWT, dan sebagai bukti kebenaran berita gembira yang disampaikan oleh Nabi Isa as.

Allah SWT menyampaikan shalawatnya kepada Nabi itu, sebagai bentuk rahmat dan keberkahan. Para malaikat pun menyampaikan shalawat kepadanya sebagai bentuk pujian dan permintaan ampunan, sedangkan orang-orang mukmin bershalawat kepadanya sebagai bentuk penghormatan. Allah SWT berfirman:

إنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. al-Azhab: 56)

Di bulan Rabi’ul Awal yang penuh dengan rahmat dan berkah ini seluruh masyarakat muslim di dunia dengan penuh cinta menyambut maulid Nabi Muhammad SAW, yakni tanggal 12 Rabi’ul Awal. Seluruh umat Islam dunia berlomba-lomba untuk mengapresiasikan kecintaan Nabi Muhammad dengan melakukan amalan-amalan yang tidak bertentangan dengan syariat Islam seperti halnya di dusun-dusun membaca shalawat nabi yang dimulai pada malam pertama bulan Rabiu’l Awal sampai malam tanggal 12 Rabiu’ul Awal, dengan bertujuan untuk mendapatkan syafa’at di dunia akhirat kelak nanti.

Keutamaan Maulid

Banyak keutamaan-keutamaan yang dapat diperoleh bagi seorang muslim yang mau mengangungkan baginda Nabi Muhammad.

Ungkapan Kecintaan Kepada Nabi Muhammad

Peringatan maulid Nabi Muhammad adalah sebuah ungkapan kecintaan dan kegembiraan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiran itu.

فقد جاء في البخاري أنه يخفف عن أبي لهب كل يوم الإثنين بسبب عتقه لثويبة جاريته لما بشّرته بولادة المصطفى صلى الله عليه وسلم. وهذا الخبر رواه البخاري في الصحيح في كتاب النكاح معلقا ونقله الحافظ ابن حجر في الفتح. ورواه الإمام عبد الرزاق الصنعاني في المصنف ج ٧ ص ٤٧٨

Dalam hadits di atas yang diriwayatkan Imam al-Bukhori dikisahkan ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu lahab, paman nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang jabang bayi yang sangat mulia, Abu Lahab pun memerdekan Tsuwaibah sebagai tanda cinta dan kasih. Dan karena kegembiraannya, kelak di hari kiamat siksa atas dirinya diringankan setiap hari Senin tiba.

Meneguhkan Kembali Kecintaan kepada Beliau

Meneguhkan kembali kecintaan kepada Nabi Muhammad. Bagi seorang mukmin, kecintaan kepada Nabi adalah sebuah keharusan, salah satu untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Kecintaan kepada nabi harus berada di atas segalanya, bahkan melebihi kecintaan kepada istri, anaknya, bahkan  kecintaan diri sendiri.

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحبّ إليه من ولده ووالده والناس أجمعين

Artinya: “Tidak sempurna iman salah satu diantara kamu sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada anaknya, orang tuanya dan seluruh manusia.” (HR. Bukhori Muslim).

Mendapatkan Rahmat Allah SWT

Mendapatkan rahmat Allah berupa taman surga dan dibangkitkan bersama-sama golongan orang yang jujur, orang yang mati syahid dan orang yang sholeh.

Imam Sirri Saqathi Rahimahullah  berkata:

من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد قصد روضة من رياض الجنة لأنه ما قصد ذلك الموضع إلا لمحبة النبي صلى الله عليه وسلم : وقد قال صلى الله عليه وسلم: من أحبني كان معي في الجنة

Artinya: “Barang siapa menyengaja (pergi) ke suatu tempat yang dalamnya terdapat pembacaan maulid nabi, maka sungguh ia telah menyengaja (pergi) ke sebuah taman dari taman-taman Surga, karena ia menuju tempat tersebut melainkan kecintaannya kepada baginda rasul. Rasulullah bersabda:  barang siapa mencintaku, maka ia akan bersamaku di Surga.

Sedangkan Imam Syafi’i Rahimahullah berkata:

من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءته بعثه الله يوم القيامة مع الصادقين والشهداء والصالحين ، ويكون في جنات النعيم

Artinya: “Barang siapa yang mengumpulkan saudara-saudara untuk memperingati Maulid nabi, kemudian menyediakan makanan, tempat, dan berbuat kebaikan untuk mereka serta ia menjadi sebab untuk atas dibacakannya maulid nabi, maka Allah akan membangkitkan dia bersama-sama orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan dia akan dimasukkan dalam Surga na’im.”

Dalil-dalil tentang Maulid Nabi Muhammad SAW

Banyak dalil-dalil, baik Al Quran, al-Sunnah, maupun perkataan ulama, yang menunjukkan dianjurkannnya memperingati Maulid Nabi. Diantaranya dalam Al Quran surat Yunus ayat 58 dan surat al-Abiya’ ayat 107.

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَخَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ. (يونس: ٨٥

Artinya: Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS. Yunus: 58)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ. الأنبياء: ١٠٧

Artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS al-Anbiya: 107)

Kelahiran Nabi Muhammad digambarkan oleh Al Quran sebagai keutamaan dan rahmat yang universal dan agung, memberikan kebahagiaan dan kebaikan bagi seluruh manusia. Dalam dua ayat di atas Allah SWT dengan lahirnya beliau dan diutusnya beliau sebagai rasul adalah sebuah rahmat yang tidak terkira bagi seluruh alam semesta ini, rahmatan lil ‘alamin. Merayakan tahun kelahiran raja, negara, atau hanya orang biasa saja bermegah-megahan, kenapa kita sebagai muslim merayakan kelahiran  Nabi yang disanjung-sanjung, cukup dengan shalawat, salam, zikir, doa, dan berbuat kebaikan seperti sedekah dan membahagiakan orang ogah-ogahan?

عن أبي قتادة رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سُئل عنصوم يوم الإثنين؟ فقال “فيه ولدت، وفيه أنزل علي” رواه الإمام مسلم في الصحيح فيكتاب الصيام

Artinya: Dari Abi Qotadah Ra, bahwa Rasulullah SAW ditanya mengenai puasa hari Senin. Maka beliau , “Di hari itu aku dilahirkan, dan di hari itu diturunkan padaku (Al Quran).” (HR. Imam Muslim dalam Shohih-nya pembahasan tentang puasa)

Hari  Senin, hari kelahiran Nabi, oleh beliau dianjurkan untuk melakukan puasa. Hal tersebut menunjukkan keutamaan hari itu, dimana cayaha kebenaran terbentang di negeri padang pasir yang jahiliyyah. Pantas jika kelahiran beliau adalah sebuah hari yang patut untuk diperingati dan diisi dengan kegiatan yang baik dan tidak bertentangan dengan syariat. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibn Asyakir, Ibn Warrahawi, dan al-Dhiya’ dari shahabat Abu Sa’id al-Khurdi disebutkan:

أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ إِنَّ رَبِّيْ وَرَبَّكَ يَقُوْلُ لَكَ: تَدْرِى كَيْفَ رَفَعْتُ ذِكْرَكَ؟ قُلْتُ: اَللهُ أَعْلَمُ. قَالَ: لاَ أَذْكُرُ إِلاَّ ذُكِرْتَ مَعِيْ (ع حب) وابن عساكر وابن والرهاوي في الأربعين، والضياء في المختارة عن أبى سعيد الخدري

(فيض القدير جزء ١ ص:١٢٨

Artinya: “Jibril datang kepadaku, lalu berkata, ‘Sesungguhnya Tuhanku dan Tuhanmu berkata kepadamu: Kamu tahu, bagaimana aku mengangkat sebutanmu? Lalu aku menjawab: Allahu a’lam. Jibril berkata: Aku tidak akan menyebut, kecuali engkau disebut bersamaku.”(HR. Ibnu ‘Asyakir, Ibnu Warrohawi dalam kitab al-‘Arbain, dan al-Dhiya’ dalam kitab al-Mukhtarah dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudri)

Bahkan Ibnu Taimiyah yang menjadi kiblat pemikiran para tokoh Islam kanan, dan digambarkan sangat menolak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW malah menganjurkan untuk melakukannya, bahkan dikatakan memiliki faedah pahala. Hal tersebut tidak dijelaskan oleh siapapun, tapi oleh beliau sendiri dalam kitab beliau Iqtidla’u al-Shirati al-Mustaqim, Mukholafatu Ashhabi al-Jahim halaman 297. Berikut stetemen beliau dalam kitab tersebut:

فَتَعْظِيْمُ الْمَوْلِدِ وَاتِّخَاذُهُ مَوْسِمًا قَدْ يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ عَظِيْمٌ لِحُسْنِ قَصْدِهِ وَتَعْظِيْمِهِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَدَّمْتُهُ لَكَ

(الشيخ ابن تيمية، اقتضاء الصراط المستقيم، مخالفة أصحاب الجحيم: ص/٢٩٧

Artinya: Mengagungkan maulid (Nabi Muhammad) dan melakukannya rutin (setiap tahun), yang kadang dilakukan oleh sebagian orang. Dan baginya dalam merayakan maulid tersebut, pahala yang agung/besar karena tujuan yang baik dan mengagungkan Rasulullah SAW dan keluarga beliau. Sebagaimana yang telah aku sampaikan padamu. (Syaikh Ibn Taimiyah, Iqtidla’u al-Shirati al-Mustaqim, Mukholafatu Ashhabi al-Jahim: 297)

فقام عند ذلك السبكي، وجميع من عنده فحصل أنس كبير في ذلك المجلس ، وعمل المولد واجتماع الناس له كذلك مستحسن. قال الإمام أبو شامة شيخ النووي: من أحسن ما إبتدع في زماننا ما يفعل كل عام في اليوم الموافق ليوم مولده صلى الله عليه وسلم من الصدقة والمعروف وإظهار الزينة والسرور فإن فيه مع الإحسان للفقراء إشعارا بمحبته صلى الله عليه وسلم وتعظيمه وشكر على ما من به علينا.  قال السخاوي وحدوث عمل المولد بعد القرون الثلاثة ، ثم لا زال المسلمون يفعلونه. وقال إبن الجوزي من خواصه أنه أمان في ذلك العام وبشري عاجلة، واول من أحدثه من الملوك المظفر. قال سبط إبن الجوزي في مرأة الزمان: حكي لي من حضر سماط المظفر في بعض المولد أنه عد فيه خمسة الاف رأس غنم شواء وعشرة ألاف دجاجة ومائة ألف زبدية وثلاثين الف صحن حلواء ، وكان يحضره أعيان العلماء والصوفية ، ويصرف عليه ثلاثمائة الف دينار. 

  (إسعاد الرفيق جزء 1 ص 26)

Imam Subkhi dan para pengikutnya juga menganggap baik peringatan maulid dan berkumpulnya manusia untuk merayakannya. Imam Abu Syammah Syaikh al-Nawawi mengatakan bahwa barang siapa yang melakukan kebaikan seperti hal-hal baik yang terjadi di zaman kami yang dilakukan oleh masyarakat umum di hari yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, diantarnya sedekah, berbuat baik, memperlihatkan hiasan dan kebahagiaan. Maka sesungguhnya dalam hari tersebut beliau menganjurkan agar umat muslim berbuat baik kepada para fakir sebagai syiar kecintaan terhadap baginda rasul, mengangungkan beliau, dan sebagai ungkapan rasa syukur.

Menurut Imam al-Sakhawi, adanya peringatan itu sejak abad ketiga hijriyah. Sejak itu, orang-orang Islam terus mengerjakannya. Bahkan, Ibnu al-Jauzi, yang biasanya dijadikan hujjah oleh para kaum ekstrimis kanan mengharamkan perayaan maulid, sama seperti Ibn Taimiyah, malah menukil sejarah maulid itu sendiri. Ibn al-Jauzi mengatakan bahwa perayaan maulid dimulai pada masa Raja al-Mudhafar. Beliau menceritakan parayaan tersebut sangat besar, megah, dan penuh dengan kebahagiaan yang tidak terkira. Disediakan 5.000 kambing, 10.000 ayam, 100.000 porsi, dan 30.000 piring manisan. Dihadiri oleh para ulama dan para sufi, yang oleh Raja al-Mudhaffar diberikan setiap orang 300.000 dinar. (Is’adur Rofiq:1:26)

Kalau saja rasul masih hidup, apa yang hendak kita banggakan di hadapan beliau? Kemaksiatan, dosa, dan tidak menjalankan ajaran beliau, apa itu yang bisa kita sampaikan? Hanya sekadar merayakan dengan sederhana namun bermakna dan penuh rahmat dan berkah, kita merasa enggan dan justru secara buta mengharamkannnya, umat Islam lain dikafirkan dan dianggap melenceng dari ajaran Nabi? Kalau Maulid Nabi dilarang, bagimana dengan perayaan Maulid Raja?

Allahumma sholli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali wa shohbihi ajma’in.

MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SAW. SEBAGAI REALISASI SYUKUR ATAS PALING BESARNYA ROHMAT ALLOH SWT.

Beberapa waktu yang lalu, saya terkejut ketika memeriksa hasil ujian agama anak saya yang saat itu duduk di kelas 2 SD. Ada satu pertanyaan sederhana yang semestinya bisa dia jawab, tapi ternyata salah: Siapa nama kakek Nabi Muhammad SAW? Di lembar jawaban, ditulisnya Abu Thalib.

Saya lalu bertanya, “Kak, masa nama kakek Nabi Muhammad saja tidak tahu?”

Anak saya hanya terdiam tidak menjawab.

“Coba diingat-ingat lagi, siapa nama kakek Nabi Muhammad?”

Si kecil masih juga terdiam, keningnya berkerut seolah sedang berpikir keras.

Saya kemudian berkata, “Kalau masih tidak ingat, nyanyikan lagu Kisah Sang Rasul.”

Dengan lirih, anak saya lalu bersenandung.

“Abdullah nama Bapaknya, Aminah Ibundanya, Abdul Muthalib kakeknya….”

Tepat di lirik tersebut, saya menyela nyanyiannya.

“Nah, sudah ingat siapa nama kakek Nabi Muhammad?”

“Abdul Muthalib pak,” kata anak saya dengan senyum puas.

Begitulah, mungkin tak hanya anak saya saja yang kesulitan mengingat riwayat hidup Rasulullah SAW. Orang tua pun kadangkala tak bisa mengingat bagaimana cerita tentang masa kecil Nabi Muhammad, siapa saja keluarga atau sahabat dekatnya.

Dalam ilmu psikologi pendidikan, kita mengenal istilah mnemonic, yakni perangkat untuk membantu mengingat fakta atau sejumlah besar informasi. Ini bisa berupa lagu, rima, akronim, gambar, atau frasa untuk membantu mengingat daftar fakta dalam urutan tertentu.

Dewasa ini, industri musik kita didominasi oleh lagu-lagu dewasa. Tak ada lagi lagu anak-anak yang mendidik, dan bisa dijadikan alat pembelajaran bagi mereka. Apalagi lagu anak yang bertemakan agama. Dulu, ada Dhe Ananda yang mengajarkan anak-anak kita cara mengingat nama-nama Nabi lewat lagu 25 Nabi.

Tiga tahun yang lalu, sebuah lagu yang berjudul Kisah Sang Rasul menjadi viral. Lagu ini diciptakan oleh Habib Syech Abdul Qadir Assegaf. Meski di awal berisi kalimat berbahasa arab, lirik lagu selanjutnya mudah dihafalkan. Lagu tersebut menceritakan kisah hidup Nabi Muhammad sejak dilahirkan hingga meninggal.

Dikemas dalam kata-kata yang singkat dan padat, tapi berisi fakta dan informasi yang disusun secara kronologis. Menurut saya, inilah lagu yang benar-benar informatif, enak di dengarkan dan layak untuk dijadikan alat belajar dan yang bisa mengingatkan kita akan kisah hidup Rasulullah SAW.

Peringatan Maulid Nabi Sebagai Sarana Belajar Riwayat Hidup Rasulullah

Begitu pula dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang tahun ini jatuh pada tanggal 20 Nopember 2018. Memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah salah satu upaya kita untuk bisa terus mengingat riwayat hidup beliau, mengingat kebesaran beliau sebagai sebuah pelajaran suri tauladan. Lebih jauh lagi, Perayaan Maulid yang berarti kelahiran adalah bentuk ekspresif untuk mengungkapkan kebahagiaan dan wujud rasa syukur umat Islam atas kelahiran pujaan hati ke dunia.

Sungguhpun di luar sana, masih ada sekelompok umat Islam yang masih menganggap Peringatan Maulid Nabi adalah bid’ah. Bahkan sebagian lagi menganggapnya termasuk dalam hal yang diharamkan karena tidak pernah dicontohkan oleh para sahabat dan imam madzhab yang empat.

Saya tidak akan berpanjang lebar membahas perdebatan dan perbedaan kecil semacam ini. Mengutip perkataan Ustad Abdul Somad, untuk menghadapi perbedaan yang kecil ini sebenarnya sangat mudah. Jika kita setuju maka laksanakan akan tetapi jika tidak setuju maka jangan kita menghina dan mencaci orang yang berbeda pendapatnya. Karena masing masing pendapat sudah tentu memiliki dalil dan hujjah nya masing masing.

Sebagai umat Islam, kita diperintahkan untuk selalu memuliakan Rasulullah SAW.

    Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim, no. 408).

Hakekat dari hadist tersebut adalah kita dianjurkan untuk memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW sebagai bentuk pemuliaan terhadap pribadi beliau. Tak hanya dikhususkan pada satu hari saja. Setiap hari, setiap saat senantiasa lidah kita dianjurkan untuk menyenandungkan dzikir kepada Allah dan shalawat kepada Rasulullah SAW.

Dengan demikian, kita memperingati Maulid Nabi SAW sebagai salah satu cara untuk memuliakan beliau bukan hanya tepat pada hari kelahirannya saja. Melainkan selalu dan selamanya, di setiap waktu dan setiap kesempatan ketika kita mendapatkan kegembiraan.

Perayaan Maulid Nabi Sebagai Wujud Syukur atas Kelahiran Rasulullah SAW

Tanggal kelahiran Nabi Muhammad, yang pada masa kini selalu kita peringati dalam perayaan Maulid Nabi SAW, tidak ada kaitannya dengan ibadah tertentu. Dan tidak pula kita disyariatkan untuk melakukan ibadah tertentu. Tanggal tersebut hanyalah sebagai penanda untuk mengingatkan kita bahwa pada tanggal 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah, telah dilahirkan sosok mulia bernama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Yang kemudian dalam perjalanan hidupnya membawakan cahaya Iman dan Islam bagi seluruh penduduk dunia.  Salahkah jika kita mengingat-ingat kembali hari yang penuh kenikmatan tersebut?

Bukankah Rasulullah sendiri juga selalu mengingat hari kelahiran beliau?

    Dari Abu Qatadah Al-Anshari r.a, Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab,

     “Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim, no. 1162).

Habib As-Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki Al-Hasani Al-Makki mengatakan, “Tidak layak seorang yang berakal bertanya, ‘Mengapa kalian memperingatinya?’ Karena, seolah-olah ia bertanya, ‘Mengapa kalian bergembira dengan adanya Nabi SAW?”

Dengan kata lain, jika kita bahagia dengan kelahiran Nabi Muhammad, maka kita sudah merayakan Maulid Nabi tersebut. Tidakkah kita bergembira dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW?

Ekspresi kegembiraan dan rasa syukur kita atas kelahiran beliau memang tidak boleh dirupakan dalam bentuk perayaan yang hingar bingar. Rasa syukur tersebut seyogyanya kita wujudkan dalam bentuk amal perbuatan yang mencontoh setiap tindak-tanduk dan budi pekerti Rasulullah SAW.

Meski begitu, dari segi dakwah berkumpulnya orang banyak saat memperingati Maulid Nabi juga menjadi kesempatan yang berharga untuk mengingatkan kembali kepada mereka tentang Nabi, baik akhlaqnya, hal ihwalnya, sirahnya, muamalahnya, maupun ibadahnya sehingga menjadikan beliau sebagai suri tauladan dalam kehidupan di dunia ini. Terlebih di era globalisasi seperti sekarang, dimana ajaran-ajaran agama sudah mulai banyak ditinggalkan. Anak-anak muda sudah banyak yang tidak bisa mengingat kembali kisah hidup Rasulullah SAW. Sebuah pelajaran yang semestinya mereka dapatkan sejak kecil dahulu.

SELAMAT MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SAW. 12 ROBIUL AWAL 1440 H. 9 NOVEMBER 2019 M.

SELAMAT MAULID NABI MUHAMMAD SAW.

SEMOGA KITA SEMUA SEMAKIN CINTA KEPADA NABI AGUNG MUHAMMAD SAW. DAN SEMAKIN BISA MEMPERBANYAK SHOLAWAT KEPADA BELIAU DENGAN TA’DZIMAN DAN IKROMAN DEMI MENDAPATKAN SYAFA’AT YANG AGUNG DI HARI KIAMAT. AMIN…..

BEBERAPA TANDA AHLI SURGA BAGI ORANG YANG MASIH HIDUP

Dari beberapa firman Allah dan riwayat hadits bisa disimpulkan bahwa ciri-ciri calon orang yang masuk surga, bahkan ada yang bisa masuk tanpa dihisab adalah :

1. Orang bewajah putih berseri-seri (ahlussunnah waljama’ah dan pengikutnya)

2. Orang yang selalu berwudu’

3. Orang yang tidak minta diruqyah

4. Orang yang tidak memperaktekkan ka’I (Terapi besi panas dengan di tempel pada luka)

5. Orang yang tidak pernah bertathayur

6. Orang yang bertawakkal kepada Allah dari segala ujian, cobaan dan musibah

7. Tidak menjadi orang kafir dan orang munafiq

8. Orang yang selalu bertaqwa kepada Allah.

9. Orang yang memelihara dan menanggung anak yatim ”

Berikut beberapa hadits dan ayat yang menunjukkan hal tersebut :

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam syurga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dan merenggangkan antara keduanya itu.” (Riwayat Bukhari).

Dalam Kitab Sunan Ad Darimi 1/45, maktabah syamilah :

أخبرنا يعقوب بن إبراهيم ثنا عمر بن أبي خليفة قال سمعت زياد بن مخراق ذكر عن عبد الله بن عمر قال * أرسل رسول الله صلى الله عليه وسلم معاذ بن جبل وأبا موسى إلى اليمن قال تساندا وتطاوعا ويسرا ولا تنفرا فقدما اليمن فخطب الناس معاذ فحضهم على الإسلام وأمرهم بالتفقه في القرآن وقال إذا فعلتم ذلك فاسألوني أخبركم عن أهل الجنة من أهل النار فمكثوا ما شاء الله أن يمكثوا فقالوا لمعاذ قد كنت أمرتنا إذا نحن تفقهنا وقرأنا أن نسألك فتخبرنا بأهل الجنة من أهل النار فقال لهم معاذ إذا ذكر الرجل بخير فهو من أهل الجنة وإذا ذكر بشر فهو من أهل النار

Fokus :

إذا ذكر الرجل بخير فهو من أهل الجنة

Hadits Darimi 224 :

أَخْبَرَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ أَبِي خَلِيفَةَ قَالَ سَمِعْتُ زِيَادَ بْنَ مِخْرَاقٍ ذَكَرَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ وَأَبَا مُوسَى إِلَى الْيَمَنِ قَالَ تَسَانَدَا وَتَطَاوَعَا وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا فَقَدِمَا الْيَمَنَ فَخَطَبَ النَّاسَ مُعَاذٌ فَحَضَّهُمْ عَلَى الْإِسْلَامِ وَأَمَرَهُمْ بِالتَّفَقُّهِ وَالْقُرْآنِ وَقَالَ إِذَا فَعَلْتُمْ ذَلِكَ فَاسْأَلُونِي أُخْبِرْكُمْ عَنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمَكَثُوا مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَمْكُثُوا فَقَالُوا لِمُعَاذٍ قَدْ كُنْتَ أَمَرْتَنَا إِذَا نَحْنُ تَفَقَّهْنَا وَقَرَأْنَا أَنْ نَسْأَلَكَ فَتُخْبِرَنَا بِأَهْلِ الْجَنَّةِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ لَهُمْ مُعَاذٌ إِذَا ذُكِرَ الرَّجُلُ بِخَيْرٍ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِذَا ذُكِرَ بِشَرٍّ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ

Hendaknya kalian saling bersandar, & saling membantu, & hendaknya kalian berdua memberikan (kepada mereka) kabar gembira & janganlah kalian berdua membuat (mereka) lari (dari ajaran islam), kemudian keduanya datang ke Yaman, lalu Mu’adz memberikan khutbah kepada orang-orang, mengajak mereka untuk masuk islam, & memerintahkan kepada mereka untuk memperdalam isi Al Qur`an, & ia juga berkata:’Jika kalian sudah lakukan itu semua maka tanyalah kepadaku, akan kukabarkan kepada kalian tentang penghuni surga & penghuni neraka, mereka (para penghuni surga & neraka) berada di dalamnya tergantung seberapa lama Allah menghendaki, kemudian mereka berkata kepada Mu’adz: ‘Sungguh kamu telah memerintahkan kami, jika kami sudah memperdalam islam & telah membaca (mempelajari) Al Qur`an agar kami menanyakanmu (tentang penghuni surga & neraka), maka kabarkanlah kepada kami tentang penghuni surga & neraka’,kemudian Mu’adz berkata kepada mereka: ‘Jika seorang dikenal baik, ia penghuni surga, & jika seorang dikenal jelek, ia penghuni neraka’ . [HR. Darimi No.224]

Al-Qur’an Surat Al-Imran ayat 106 :

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

Artinya : Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”.

Lihat Kitab Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 Halaman 92 :

وقوله تعالى: { يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ } يعني: يوم القيامة، حين تبيض وجوه أهل السنة والجماعة، وتسودّ وجوه أهل البِدْعَة والفرقة، قاله ابن عباس، رضي الله عنهما.{ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ } قال الحسن البصري: وهم المنافقون: { فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ } وهذا الوصف يَعُمّ كل كافر.

Penjelasannya : Allah berfirman : “pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri, dan ada pula muka yang menjadi hitam muram”. (QS. Al-Imran : 106). Yakni kelak di hari kiamat, di waktu berseri putih wajah ahli sunnah wal jama’ah dan tampak hitam muram wajah ahli bid’ah dan perpecahan. Demikianlah menurut penafsiran Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma.

Allah berfirman : ”Adapun orang-orang yang menjadi hitam muram mukanya (kepada mereka di katakan), mengapa kalian kafir sesudah kalian beriman”. (QS. Al-Imran : 106). Menurut Al-Hasan Al-Basri mereka adalah orang-orang munafiq.

Allah berfirman : “Karena itu, Rasakanlah adzab di sebabkan kekafiran kalian itu”. (QS. Al-Imran : 106). Gambaran ini bersifat umum menyangkut semua orang kafir.

وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya : Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Imran : 107).

Lihat Kitab Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 Halaman 92 :

{ وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ } يعني: الجنة، ماكثون فيها أبدا لا يبغون عنها حوَلا. وقد قال أبو عيسى الترمذي عند تفسير هذه الآية: حدثنا أبو كُرَيْب، حدثنا وَكِيع، عن رَبِيع -وهو ابن صَبِيح وحَمَّاد بن سلمة، عن أبي غالب قال: رأى أبو أمامة رءوسا منصوبة على دَرَج دمشق، فقال أبو أمامة: كلاب النار، شر قتلى تحت أديم السماء، خَيْرُ قتلى من قتلوه، ثم قرأ: { يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ } إلى آخر الآية. قلت لأبي أمامة: أنت سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: لو لم أسمعه إلا مرة أو مرتين أو ثلاثا أو أربعا -حتى عَدّ سبعا-ما حَدّثتكموه.ثم قال: هذا حديث حسن: وقد رواه ابن ماجة من حديث سفيان بن عيينة عن أبي غالب، وأخرجه أحمد في مسنده، عن عبد الرزاق، عن مَعْمَر، عن أبي غالب، بنحوه. وقد روى ابن مَرْدُويَه عند تفسير هذه الآية، عن أبي ذر، حديثًا مطولا غريبا عجيبا جدا.

Penjelasannya : Allah berfirman : “Adapun orang-orang yang menjadi putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam Rahmat (surga) Allah, mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Imran : 107). Maksudnya, mereka tinggal di dalam surga untuk selama-lamanya dan mereka tidak mau pindah darinya.

Abu Isa At-Tirmidzi dalam tafsir ayat ini mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Ar-Rabi’ ibnu Sabih, dan Hammad ibnu Salamah, dari Abu Galib yang menceritakan bahwa Abu Umamah melihat banyak kepala di pancangkan di atas tangga masuk masjid di masyqi, maka abu umamah mengatakan, Anjing-anjing neraka adalah seburuk-buruk orang yang terbunuh di kolong langit ini, sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang-orang yang di bunuhnya. Kemudian Abu Umamah membacakan firman-Nya :”Pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri, dan ada pula muka yang menjadi hitam muram”. (QS. Al-Imran : 106). Hingga akhir ayat.

Kemudian aku bertanya kepada Abu Umamah, apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah saw? Abu umamah menjawab, seandainya aku bukan mendengarnya melainkan sekali atau dua kali atau tiga kali atau empat kali dan bahkan sampai tujuh kali, niscaya aku tidak akan menceritakannya kepada kalian. Kemudian imam tirmiszi mengatakan bahwa hadist ini hasan.

Ibnu Majah meriwayatkan melalui hadist sufyan ibnu ayaynah, dari Abu Galib, dan imam ahmad mengetengahkan, di dalam kitab musnadnya, dari Abdur- Razzaq, dari Ma’mar, dari Abu Galib dengan lafasz yang semisal.

Ibnu murdawaih meriwayatkan dalam tafsir ayat ini dari abu dzar, sebuah hadist yang panjang tapi isinya sangat aneh dan mengherankan.

وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ لاَ نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا أُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.( QS Al A’raf ; 42 )

حدثنا عمران بن ميسرة حدثنا ابن فضيل حدثنا حصين عن عامر عن عمران بن حصين رضي الله عنهما قال : لا رقية إلا من عين أو حمة . فذكرته لسعيد بن جبير فقال حدثنا ابن عباس قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( عرضت علي الأمم فجعل النبي والنبيان يمرون معهم الرهط والنبي ليس معه أحد حتى رفع لي سواد عظيم قلت ما هذا ؟ أمتي هذه ؟ قيل هذا موسى وقومه قيل انظر إلى الأفق فإذا سواد يملأ الأفق ثم قيل لي انظر ها هنا وها هنا في آفاق السماء فإذا سواد قد ملأ الأفق قيل هذه أمتك ويدخل الجنة من هؤلاء سبعون ألفا بغير حساب ) . ثم دخل ولم يبين لهم فأفاض القوم وقالوا نحن الذين آمنا بالله واتبعنا رسوله فنحن هم أو أولادنا الذين ولدوا في الإسلام فإنا ولدنا في الجاهلية فبلغ النبي صلى الله عليه و سلم فخرج فقال ( هم الذين لا يسترقون ولا يتطيرون ولا يكتوون وعلى ربهم يتوكلون ) . فقال عكاشة بن محصن أمنهم أنا يا رسول الله ؟ قال ( نعم ) . فقام آخر فقال أمنهم أنا ؟ قال ( سبقك بها عكاشة )

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Imran bin Maisarah telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Fudlail telah menceritakan kepada kami Hushain dari ‘Amir dari Imran bin Hushain radliallahu ‘anhuma dia berkata; Tidak ada ruqyah (jampi-jampi dari Qur’an dan Sunnah) kecuali dari penyakit ‘Ain atau demam, lalu hal itu kusampaikan kepada Sa’id bin Jubair, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Abbas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Beberapa ummat pernah ditampakkan kepadaku, maka nampaklah seorang nabi dan dua orang nabi lain lewat bersama dengan beberapa orang saja, dan seorang nabi lagi yang tidak bersama seorang pun, hingga tampak olehku segerombolan manusia yang sangat banyak, aku pun bertanya; Apakah segerombolan manusia itu adalah ummatku? di beritahukan; Ini adalah Musa dan kaumnya. Lalu diberitahukan pula kepadaku; Lihatlah ke ufuk. Ternyata di sana terdapat segerombolan manusia yang memenuhi ufuk, kemduian di beritahukan kepadaku; Lihatlah di sebelah sini dan di sebelah sana, yaitu di ufuk langit. Ternyata di sana telah di padati dengan segerombolan manusia yang sangat banyak, di beritahukan kepadaku; Ini adalah ummatmu, dan di antara mereka terdapat tujuh puluh ribu yang masuk surga tanpa hisab. Setelah itu beliau masuk ke rumah dan belum sempat memberi penjelasan kepada mereka (para sahabat), maka orang-orang menjadi ribut, mereka berkata; Kita adalah orang-orang yang telah beriman kepada Allah dan mengikuti jejak Rasul-Nya, mungkinkah kelompok tersebut adalah kita ataukah anak-anak kita yang dilahirkan dalam keadaan Islam sementara kita dilahirkan di zaman Jahiliyah. Maka hal itu sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas beliau keluar dan bersabda: Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah minta untuk di ruqyah, tidak pernah bertathayur (menganggap sial pada binatang) dan tidak pula melakukan terapi dengan kay (terapi dengan menempelkan besi panas pada daerah yang sakit), sedangkan kepada Rabb mereka bertawakkal. Lalu Ukasah bin Mihshan berkata; Apakah aku termasuk di antara mereka ya Rasulullah? beliau menjawab; Ya. Selanjutnya sahabat yang lain berdiri dan berkata; Apakah aku termasuk dari mereka? beliau bersabda: Ukasah telah mendahuluimu. (HR. Bukhori No. 5378 Juz 5 Halaman 2157).

وَحَدَّثَنِى هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الأَيْلِىُّ حَدَّثَنِى ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِى عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى هِلاَلٍ عَنْ نُعَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ رَأَى أَبَا هُرَيْرَةَ يَتَوَضَّأُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ حَتَّىكَادَ يَبْلُغُ الْمَنْكِبَيْنِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ حَتَّى رَفَعَ إِلَى السَّاقَيْنِ ثُمَّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ ».

Artinya : Dan telah menceritakan kepadaku Harun bin Sa’id al-Aili telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepada kami Amru bin al-Harits dari Sa’id bin Abu Hilal dari Nu’aim bin Abdullah bahwa dia melihat Abu Hurairah berwudlu, lalu membasuh wajahnya dan kedua tangannya hingga hampir mencapai lengan, kemudian membasuh kedua kakinya hingga meninggi sampai pada kedua betisnya, kemudian dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya umatku datang pada hari kiamat dalam keadaan putih bercahaya disebabkan bekas wudlu. Maka barangsiapa di antara kalian mampu untuk memanjangkan putih pada wajahnya maka hendaklah dia melakukannya’. (HR. Muslim No. 603 Juz 1 Halaman 149). Wallaahu A’lam.

BAHWA SHOLAWAT SUDAH DI BACA SEBELUM LAHIRNYA NABI MUHAMMAD SAW. DAN MAKNA SHOLAWATNYA ALLOH SWT JUGA PARA MALAIKAT

Makna sholawatnya Alloh swt dan para Malaikat

Ma’na sholawat yang datangnya dari Allah adalah Rohmat dan keridhoanNya’ Jika dari malaikat ma’nanya do’a dan istighfar. Jika dari dari umat ma’nanya do’a dan mengagungkan baginda nabi Muhammad SAW

– Tafsir Qurthuby

قوله تعالى : إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما .

هذه الآية شرف الله بها رسوله عليه السلام حياته وموته ، وذكر منزلته منه ، وطهر بها سوء فعل من استصحب في جهته فكرة سوء ، أو في أمر زوجاته ونحو ذلك . والصلاة من الله رحمته ورضوانه ، ومن الملائكة الدعاء والاستغفار ، ومن الأمة الدعاء والتعظيم لأمره .

– Tafsir Thobary

القول في تأويل قوله تعالى ( إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما ( 56 ) )

يقول – تعالى ذكره – : إن الله وملائكته يبركون على النبي محمد – صلى الله عليه وسلم – .

كما حدثني علي قال : ثنا أبو صالح قال : ثني معاوية ، عن علي ، عن ابن عباس ، قوله ( إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه ) يقول : يباركون على النبي . وقد يحتمل أن يقال : إن معنى ذلك : أن الله يرحم النبي ، وتدعو له ملائكته ويستغفرون ، وذلك أن الصلاة في كلام العرب من غير الله إنما هو دعاء . وقد بينا ذلك فيما مضى من كتابنا هذا بشواهده ، فأغنى ذلك عن إعادته .

Di dalam kitab Washiyatul Mushtafa, Rasulullah saw. memberikan nasehat yang berharga kepada menantunya yakni Ali bin Abi Thalib r.a.

يَا عَلِىُّ! تَمَنَّى جِبْرِيْلُ اَنْ يَكُوْنَ مِنْ بَنِى اَدَمَ لِسَبْعِ خِصَالٍ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ مَعَ الْاِمَامِ وَ مُجَالَسَةِ الْعُلَمَاءِ وَعِيَادَةِ المَرِيْضِ وَتَشْيِيْعِ الجَنَازَةِ وَسَقْىِ الْماءِ وَالصُّلْحِ بَيْنَ الْاِثْنَيْنِ وَاِكْرَامِ الْجَارِ وَالْيَتِيْمِ

Wahai Ali! Malaikat Jibril memiliki obsesi untuk menjadi Manusia disebabkan 7 hal:

1. Shalat 5 waktu dengan berjamaah

2. Duduk bersama ulama

3. Menjenguk orang sakit

4. Mengiring jenazah

5. Memberi minum kepada orang lain

6. Mendamaikan dua orang

7. Memuliakan tetangga dan anak yatim

Dari uraian tersebut, mungkin tertanam sebuah pertanyaan: Kok bisa-bisanya Malaikat Jibril memiliki keinginan tersebut? Bukankah malaikat itu makhluk yang tidak memiliki nafsu?

Lafadz تمنى pada redaksi wasiat tersebut, bukanlah bentuk nafsu atau syahwat dari Malaikat Jibril, Akan tetapi itu hanyalah bentuk motivasi supaya anak turun Nabi Adam lebih mensyukuri keberadaanya, bahwasanya kedudukan anak adam itu bisa jauh melebihi malaikat jikalau mereka benar-benar mengamalkan apa yg disyariatkan.

SHOLAWAT TELAH DIBACA OLEH NABI SEBELUM NABI MUHAMMAD SAW

“Shollallaahu ‘alaa Muhammadin “. sholawat tersebut di baca oleh Nabi Samuel dan tentaranya. Sebagaimana keterangan dalam Kitab Afdholus Sholawat, halaman 63-65 :

الصلاة العاشرة: صَلَّى الله عَلَى مُحَمَّدٍ

قال الإمام الشعراني كان صلى الله عليه وسلم يقول: مَنْ قَالَ هَذِهِ الصَّلاَةَ فَقَدْ فَتَحَ عَلَى نَفْسِهِ سِبْعِينَ بَاباً مِنَ الرَّحْمَةِ وَأَلْقَى الله مَحَبَّتَهُ فِي قُلُوبِ النًّاسِ فَلاَ يَبْغُضُهُ إلاَّ مَنْ فِي قَلْبِهِ نِفَاقٌ.

Sholawat ke 10 “SHOLLALLOHU ‘ALAA MUHAMMAD“ (Semoga Allah melimpahkan solawat pada Nabi  Muhammad)

“Telah berkata Al-Imam Asy-Sya’rani : Telah bersabda Nabi shollallohu alaihi wasallam : “Barang siapa yang membaca solawat ini, akan dibukakan ke atas dirinya tujuh puluh pintu dari rahmat, dan Allah akan meletakkan kecintaanNya pada kalbu-kalbu manusia. Tiada yang menjadi marah kepadanya melainkan orang yang memiliki kemunafikan di dalam kalbunya.”

قال شيخنا يعني علياً الخواص رضي الله عنهما هذا الحديث والذي قبله وهو قوله صلى الله عليه وسلم أَقْرَبُ مَا يَكُونُ أَحَدُكُمْ مِنِّ إِذَا ذَكَرَنِي وَصَلَّى عَلَيَّ رويناهما عن بعض العارفين عن الخضر عليه السلام عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وهما عندنا صحيحان في أعلى درجات الصحة وإن لم يثبتهما المحدثون على مقتضى اصطلاحهم والله أعلم ا.ه.

Telah berkata guru kami, yakni ‘Ali Al-Khawwas: “Hadits ini dan yang sebelumnya, yakni sabda Nabi : “Keadaan paling dekat denganku bagi seseorang daripada kalian ialah apabila aku disebut, dia bersolawat ke atasku”. Kami meriwayatkannya dari sebahagian Al-‘Arifin,dari Al-Khidir , dari Rasululloh shollallohu alaihi wasallam, dan keduanya di sisi kami adalah sohih, pada setinggi-tinggi derajat kesohihan, walaupun tiada ditetapkan oleh para ahli ilmu hadits, kerana kesulitan istilah-istilah mereka. Wallohu a’lam. Selesai kutipan dari Al-Imam Asy-Sya’rani.

ويؤيد ذلك ما نقله الحافظ السخاوي عن مجد الدين الفيروزبادي صاحب القاموس بسنده إلى الإمام السمرقندي قال سمعت الخضر وإلياس على نبينا وعليهما السلام يقولان سمعنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ما من مؤمن يقول صلى الله على محمد إلا أحبه الناس وإن كانوا أبغضوه ووالله لا يحبونه حتى يحبه الله عز وجل وسمعناه صلى الله عليه وسلم يقول على المنبر من قال صلى الله على محمد فقد فتح على نفسه سبعين باباً من الرحمة.

Perkara ini dikuatkan lagi oleh apa yang telah dinukil oleh Al-Hafiz As-Sakhawi dari Majduddin Al-Fairuzabadi, pemilik Al-Qamus,dengan sanadnya yang sampai kepada Al-Imam As Samarqandi.

Beliau telah berkata. “Aku telah mendengar Al-Khidir dan Ilyas , dan mereka berdua telah berkata, “Kami telah mendengar Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda:“Tiadalah seorang yang beriman mengucapkan, “Semoga Allah melimpahkan solawat ke atas Muhammad”, melainkan akan dijadikan manusia mencintainya, walaupun mereka sedang membencinya. Demi Allah, tiadalah mereka mencintainya sehingga Allah mencintainya.”

Dan kami juga telah mendengar Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda dari atas mimbar : “Barangsiapa yang mengucapkan, “Semoga Allah melimpahkan sholawat atas Muhammad”, akan dibukakan ke atas dirinya tujuh puluh pintu dari rahmat.”

ونقل الحافظ المذكور بالسند المتقدم أن الإمام السمرقندي سمع الخضر وإلياس أيضاً يقولان كان في بني إسرائيل نبيّ يقال له إسمويل قد رزقه الله النصر على الأعداء وأنه خرج في طلب عدو فقالوا هذا ساحر جاء ليسحر أعيننا ويفسد عساكرنا فنجعله في ناحية البحر ونهزمه فخرج في أربعين رجلاً فجعلوه في ناحية البحر فقال أصحابه كيف نفعل فقال احملوا وقولوا صلى الله على محمد فحملوا وقالوا فصار أعداؤهم في ناحية البحر فغرقوا أجمعهم.

Dan telah dinukil oleh Al-Hafiz yang tersebut (As-Sakhawi ) dengan sanad yang terdahulu bahawa Al-Imam As-Samarqandi telah mendengar Al-Khidir dan Ilyas , mereka berdua juga telah bercerita : “Pada Bani Israil , ada seorang Nabi, telah dikatakan bahwa dia bernama Samuel, yang telah diberikan kemenangan di atas para musuhnya. (Pada suatu hari), dia telah keluar mencari musuh dan mereka (musuh) telah berkata: “Inilah adalah seorang ahli sihir. Dia telah datang untuk menyihir mata kita dan menghancurkan askar-askar kita. Maka haruslah kita bawa dia ke tepi laut dan kita musnahkan dia.”

Maka dia pun keluar disertai empat puluh orang lelaki dan pergilah mereka ke tepi laut. Telah bertanya sahabat-sahabatnya: “Apakah yang mesti kita lakukan?” Dia menjawab : “Majulah engkau sekalian dan ucapkanlah, “Semoga Allah melimpahkan sholawat atas Muhammad!” Mereka pun maju ke hadapan dan mereka telah mengucapkan (solawat itu), lalu musuh-musuh mereka pun terdesak ke tepi laut lalu telah menjadi hanyut kesemuanya.”

وروى الحافظ أيضاً أنه جاء رجل من الشام إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله أبي شيخ كبير وهو يحب أن يراك فقال ائتني به فقال إنه ضرير البصر فقال قل له ليقل في سبع أسبوع يعني في سبع ليال صلى الله على محمد فإنه يراني في المنام حتى يروي عني الحديث ففعل فرآه في المنام فكان يروي عنه.

Dan telah diriwayatkan juga oleh Al-Hafiz bahwa telah datang seorang lelaki dari Asy-Syam bertemu dengan Nabi shollallohu alaihi wasallam, dia telah berkata:“Wahai Utusan Allah! Bapaku adalah seorang yang sudah tua, dan dia ingin melihatmu”. Nabi berkata: “Bawalah dia bertemu denganku”. Dia menjawab: “Sesungguhnya, penglihatannya sudah rusak!” Nabi berkata: “Katakanlah kepadanya,

Ucapkanlah pada tujuh malam “Semoga Allah melimpahkan solawat ke atas Muhammad.” Maka, dia akan melihatku di dalam mimpi, sehingga dia dapat meriwayatkan hadits daripadaku.” Maka dia (bapaknya lelaki itu) pun melakukannya, dan telah melihat Nabi di dalam mimpi, dan dia telah dapat meriwayatkan(hadits) daripada Nabi shollallohu alaihi wasallam.

KISAH KEUTAMAAN & KEISTIMEWAAN MEMBACA SHOLAWAT ATAS NABI MUHAMMAD SAW.

وذكر أبو نعيم في الحلية

 «أنَّ رَجُلاً مرّ بالنَّبي وَمَعَهُ ظَبْيٌ قَدِ اصْطَادَهُ

، فَأَنْطَقَ الله سُبْحَانَهُ الَّذِي أنْطَقَ كُلَّ شَيْء الظَّبيَ، فَقَالَ يَا رَسُولَ الله: إنّ لي أوْلاداً وأنَا أُرْضِعُهُمْ، وَإِنَّهُمُ الآن جِيَاعٌ، فَأْمُرْ هاذا أنْ يُخْلِينِي حَتَّى أذْهَبَ فَأُرْضِع أَوْلادِي وَأَعُود. قَالَ: فَإِنْ لَمْ تَعُودِي؟ قَالَتْ: إنْ لَمْ أَعُدْ فَلَعَنَنِي الله كَمَنْ تُذْكَر بَيْن يَدَيْهِ فَلا يُصَلِّي عَلَيْكَ. فَقَالَ النَّبيُّ أطَلِقْها وَأَنَا ضَامِنُها فَذَهَبَت الظَّبيَةُ ثُمَّ عَادَتْ، فَنَزِلَ جِبْريلُ عَلَيْهِ السَّلامُ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ الله يُقْرِئُكَ السَّلامَ وَيَقُولُ: وَعِزَّتِي وَجَلالِي لأنَا أَرْحَمُ بِأُمّتِكَ مِنْ هاذِهِ الظَّبِيَةِ بِأَوْلادِهَا وَأَنَا أَرَدُّهُمْ إليْكَ كَمَا رَجعَتِ الظَّبْيَة إليك» الحمد لله الذي جعلنا من أمّة محمد وسلم تسليماً.

Dalam kitab Alhilyah, Abu Nu’aim meriwayatkan bahwa ada seorang berjalan di depan Nabi dengan membawa rusa yang baru di dapatkan dari berburu, tiba-tiba rusa itu berkata: “Ya Rasulallah, sesungguhnya aku mempunyai beberapa anak yang masih menyusu kepadaku dan mereka kini lapar, karena itu suruhlah orang ini melepaskan aku untuk menyusui anakku, kemudian aku akan kembali lagi.” Rasulullah kemudian bertanya kepada rusa tersebut, “Wahai rusa, jika engkau tidak kembali bagaimana?” jawab sang rusa, “Jika aku tidak kembali maka Allah akan mengutukku bagaikan orang yang mendengat namamu disebut padanya tiba-tiba ia tidak membaca shalawat kepadamu.” Lalu Rasulullah menyuruh kepada orang pemburu rusa tersebut, “Lepaskan rusamu ini, dan aku yang akan menjamin akan kembalinya rusamu ini.” Kemudian pergilah rusa tersebut (untuk menyusui anak-anaknya), kemudian setelah itu ia kembali kepada sang pemburu. Maka turunlah Malaikat Jibril dan berkata: “Ya Muhammad, Allah menyampaikan salam padamu dan berfirman: “Demi kemulyaan dan kebesaranKU, sungguh AKU lebih menyayangi pada ummatmu lebih dari rahmat rusa itu terhadap anak-anaknya, dan AKU akan mengembalikan mereka kepadamu sebagaimana kembalinya rusa itu kepadamu

 وابن أبي عاصم: «ألا أُخْبِرُكُمْ بِأَبْخَل النَّاسِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ الله. قَالَ: مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ فَذالِكَ أَبْخَلُ النَّاسِ»

Ibn Abi ‘Ashim berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Sukakah kuberitakan kepada kalian (ashhab) manusia yang paling bakhil? Jawab sahabat: “Iya ya Rasulallah.” Maka Rasulullah berkata, “Yaitu orang yang mendengar namaku disebut orang di depannya, kemudian ia tidak membaca shalawat untukku, maka ia adalah manusia yang paling bakhil (pelit).

أبي بكر رضي الله عنه قال: الصلاة على رسول الله أمحق للخطايا من الماء للنار، والسلام على النبي أفضل من عتق الرقاب، وحب رسول الله أفضل من مهج الأنفس، أو من ضرب السيف في سبيل الله.

Sayyidina Abu Bakar berkata: “Membaca shalawat kepada Rasulullah lebih kuat untuk menghapus dosa dari pada air terhadap api, dan mengucapkan salam kepada Rasulullah lebih afdhal dari memerdekakan budak, dan cinta kepada Rasulullah lebih afdhal daripada mengorbankan jiwa, dan dari pada mengangkat pedang fii sabilillah. (An Numari, dan Ibn Basykual).

وحكي أن رجلاً حج وكان يكثر الصلاة على النبي في مواقف الحج وأعماله،فقيل له: لمَ لمْ تشتغل بالدعاء المأثور؟ فاعتذر بأنه خرج للحج هو ووالده، فمات والده بالبصرة، فكشف عن وجهه، فإذا هو صورة حمار فحزن حزناً شديداً، ثم أخذته سنة فرآه ، وتعلق به وأقسم ليخبرنه بقصة والده. فقال: إنه كان يأكل الربا وآكله يقع له ذلك دنيا وأخرى، ولكنه كان يصلي عليّ كل ليلة عند نومه مائة مرة، فلما عرض له ذلك أخبرني به الملك الذي يعرض عليّ أعمال أمتي، فسألت الله فشفعني فيه فاستيقظ فرأى وجه والده كالبدر، ثم لما دفنه سمع هاتفاً يقول له: سبب العناية التي حفت والدك الصلاة والسلام على رسول الله فآليت أن لا أتركها على أيّ حال كنت في أي مكان كنت.

Hikayat:

Ada seorang ketika berhaji selalu mebaca shalawat Nabi dalam segala tempat yang mustahab, dan ketika ditanya: Mengapa kamu tidak membaca do’a-do’a yang ma’tsur dari Nabi di tempat-tempat yang tertentu ini? Maka ia lebih dahulu meminta ma’af kemudian menjawab dan menerangkan bahwa ia keluar bersama ayahnya menuju hajji, dan ketika sampai di Bashrah, tiba-tiba ayahnya meninggal dunia, sedangkan mukanya berubah menjadi bagaikan khimar, maka aku sangat sedih akan hal tersebut yang sangat mempengaruhi perasaanku, dan ketika aku tertidur dalam keadaan yang sedih tiba-tiba mimpi bertemu dengan Rasulullah maka langsung saya pegang tangan beliau dan saya beritahukan keadaan ayahku, maka Rasulullah bersabda, “Ayahmu makan dari perkara riba, sedang pemakan riba itu memang demikian keadaannya (akan menjadi khimar), tetapi ia membaca shalawat untukku tiap malam 100 x, karena itu ketika disampaikan oleh Malaikat keadaan ayahmu (berubah menjadi khimar), maka segera aku meminta izin (kepada Allah) memberikan syafa’ah untuk ayahmu, dan Allah mengizinkannya.”

Tiba-tiba aku bangun tidur dan wajah ayahku telah berubah bagaikan bulan purnama, dan setelah kukuburkan jasad ayahku, terdengar suara, “Keselamatan ayahmu karena ia suka dan sering membaca shalawat atas Nabi Muhammad.”

Karena itulah aku bersumpah untuk diriku, tidak akan aku tinggalkan shalawat atas Rasul dalam segala hal dan dimanapun aku berada.”

(Dinukil dan disarikan dari kitab irsyadul ‘ibad ilaa sabili al-rasyad, dalam bab fadhalu al-shalawat ‘ala al-Nabiy)

KEUTAMAAN & KEISTIMEWAAN MEMBACA SHOLAWAT ATAS NABI MUHAMMAD SAW.

Shalawat untuk Nabi Tercinta shallallahu’alaihi wasallam memiliki banyak manfaat dan keistimewaan baik didunia maupun diakhirat.Diantara manfaat/keistimewaan shalawat yang dapat didapatkan didunia adalah sebagai berikut:

1.Sebagai implementasi/perwujudan perintah Allah ta’ala untuk banyak-banyak bershalawat dan bertaslim untuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Allah ta’ala berfirman :

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين ءامنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

Artinya :   “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi,Hai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS.Al Ahzab : 56)

2.Shalawat merupakan salah satu sebab terkabulnya doa seorang hamba jika ia mengawali doanya dengan shalawat.

Dalam sebuah atsar disebutkan :

الدعاء موقوف بين السماء والأرض لا يصعد منه شيء حتى تصلي على نبيك

Artinya : “Doa seorang hamba tertahan diantara langit dan bumi ,tidak terangkat kelangit sampai engkau bershalawat untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam”. 1

Setiap orang yang mengawali doanya dengan shalawat dan taslim untuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,dan juga mengakhiri doanya dengannya,maka doa tersebut sangatlah mustajab/dikabulkan oleh Allah dikarenakan banyaknya keberkahan shalawat tersebut. 2

3.Dengan shalawat,lisan senantiasa basah dengan menyebut sang kekasih tercinta,Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

4.Shalawat mendatangkan ketenangan jiwa dan pikiran serta kelezatan iman dan ketaatan/ibadah.

Hal ini kami merasakannya sendiri ketika banyak-banyak mengucapkan shalawat dan taslim untuk Nabi dan penyejuk hati kita,Muhammad shallallahu’alaihi wasallam.

5.Shalawat memenuhi majelis/perkumpulan dengan cahaya rahmat,dan keberkahan.

Setiap majelis yang didalamnya disebutkan nama Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,maka majelis itu akan dipenuhi oleh cahaya (iman),akan dihadiri dan diliputi oleh para malaikat,cahaya (rahmat) akan terus menerus turun didalamnya,serta semua amalan baik didalamnya langsung akan diangkat kepada Allah ta’ala. 3

6.Shalawat selalu mengingatkan diri kita terhadap Rasulullah yang tercinta,sehingga dapat meninggikan semangat beribadah,dan berakhlak dengan akhlak yang mulia,serta berjihad/bersungguh-sungguh dalam hidup ini dengan setinggi-tingginya jihad sebagaimana jihadnya Nabi kita shallallahu’alaihi wasallam.

KEUTAMAAN SHALAWAT YANG DISEBUTKAN IBNUL QAYIM rahimahullah

Diantara manfaat dan keistimewaan shalawat lain yang disebutkan oleh Ibnul Qoyim rahimahullah adalah sebagai berikut :

1.Shalawat merupakan salah satu sebab terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dunia serta mensucikan hati seorang muslim.

2.Shalawat adalah salah satu sebab ditambahkannya cahaya bagi seorang muslim ketika ia melintasi shirat diatas neraka jahannam yang gelap gulita diakhirat kelak.

3.Shalawat dapat menyebabkan adanya pujian dan sanjungan dari penduduk langit dan bumi terhadap orang yang mengucapkannya.

4.Shalawat adalah penyebab adanya berkah dalam diri orang yang mengucapkannya,juga adanya berkah dalam amal perbuatan dan umurnya.

Ini disebabkan,karena orang yang bershalawat untuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pada hakikatnya adalah orang yang berdoa kepada Allah subhaanahu wa ta’ala agar Dia memberikan keberkahan dan rahmat kepada beliau dan keluarganya.Doa yang seperti ini adalah doa yang sangat mustajab.Dan balasan Allah untuk orang yang mengucapkannya adalah sesuai dengan apa yang ia telah lakukan (yaitu bershalawat untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam –pent-).

Diantara keistimewaan-keistimewaan lainnya adalah :

5.Dengan bershalawat berarti anda telah memperdengarkan kepada para malaikat dan hamba-hamba Allah yang shalih perkataan yang membahagiakan jiwa dan menyenangkan pendengaran mereka,dan barangsiapa yang memasukkan kebahagiaan dan kegembiraan kedalam hati manusia dengan ucapan shalawat untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam,Allah akan memberikan kebahagiaan baginya didunia ataupun diakhirat,karena balasan/ganjaran suatu amalan sesuai dengan jenis amalan perbuatan yang telah dilakukan.

6.Bershalawat dapat menambah keimanan,semakin seorang hamba memperbanyak shalawat maka semangat dan derajatnya semakin terangkat,sebaliknya semakin lisan seorang hamba malas mengucapkan shalawat dan taslim untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam,maka ia akan merasakan adanya kurangnya iman dan kelalaian dalam dirinya,sebab itu hendaknya ia banyak-banyak berzikir mengingat Allah ta’ala dan bershalawat untuk Nabi tercinta shallallahu’alaihi wasallam.

7.Dengan memperbanyak shalawat berarti seorang hamba telah menyiapkan amalan-amalan shalih sebagai bekalnya pada hari dimana saat itu ia akan bahagia dengan apa yang telah ia kerjakan berupa amal kebaikan dan ketaatan/ibadah.

Seorang hamba tidaklah memahami hakikat masalah ini kecuali jika ia telah melihat semua amal baiknya terpampang didepan kedua matanya dihari kiamat kelak.Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia agar menganugerahkan keutamaan tersebut kepada kita semua.

8.Shalawat merupakan salah satu sebab untuk mendapatkan rahmat Allah ta’ala.Siapa saja yang bershalawat memuji Nabi shallallahu’alaihi wasallam didunia niscaya Allah dan para malaikatNya akan memujinya pula,serta akan mendapatkan rahmat dan berkah Allah jalla wa’ala.

9.Ucapan shalawat dan salam untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam merupakan sebab kekalnya dan bertambahnya cinta seorang muslim terhadap Nabinya,karena semakin seseorang sering menyebut-nyebut orang yang ia cintai beserta kebaikan-kebaikannya,akan semakin bertambah pula kecintaan dan kerinduannya terhadapnya,sebaliknya jika ia enggan menyebut-nyebut beliau shallallahu’alaihi wasallam atau hanya sedikit menyebut beliau maka tentu imannya berkurang ,namun apabila ia kembali memperbanyak shalawat maka imannya akan kembali bertambah.

Semua yang telah disebutkan,hanyalah beberapa manfaat/keistimewaan yang dapat kita petik (dari memperbanyak shalawat) ,seandainya manfaat dan keistimewaan shalawat ini ditulis dalam sebuah buku yang berjilid-jilid,mungkin hal tersebut hanya dapat memenuhi sedikit saja kesempurnaan dalam menyebutkan hak-hak Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan kemuliannya.Kita memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar menganugerahkan kepada kita semua semua manfaat shalawat tersebut baik didunia maupun diakhirat kelak.

1[1] . HR.AtTirmidzy dari hadis Umar bin AlKhaththab radhiyallahu’anhu (386).AlAlbany berkata : “shahih lighairihi” (hadisnya shahih karena ada jalur hadis lain yang menguatkannya).lihat : Shahih Targhib wa tarhib (1676)

2[1] . Pent. : Dalam hadis lain,dari Fadhaalah bin ‘Ubaid radhiyallahu’anhu berkata : bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mendengar seseorang berdoa dalam shalatnya namun tidak memuji Allah dan tidak pula bershalawat untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam,maka beliaupun bersabda :

عجل هذا -ثم دعاه فقال له أو لغيره-: إذا صلى أحدكم فليبدأ بتمجيد ربه عز وجل  والثناء عليه ثم يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم, ثم يدعو بعد بما شاء .

Artinya : “Orang ini terlalu tergesa-gesa” – lalu beliau memanggil orang tersebut,dan bersabda kepadanya atau kepada orang lain disampingnya-  : “Jika salah seorang diantara kalian berdoa maka hendaknya memulainya dengan pujian dan sanjungan terhadap Rabbnya subhaanahu wa ta’aala,lalu mengucapkan shalawat untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam,kemudian baru berdoa dengan apa yang ia kehendaki”. (HR.Abu Daud : 1481 dan AtTirmidzy : 3476 dengan sanad shahih)

3[1] . Pent. : Sebaliknya kalau dalam suatu majelis tidak disebutkan shalawat untuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam maka tidak akan ada rahmat didalamnya.Dalam suatu hadis, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

 ما جلس قوم مجلسا ثم تفرقوا ولم يذكروا الله و لم يصلوا على النبي صلى الله عليه وسلم إلا كان عليهم من الله تره إن شاء عذبهم وإن شاء غفر لهم

Artinya : “Tidaklah suatu kaum bermajelis,lalu mereka bubar dalam keadaan belum berzikir mengingat Allah dan bershalawat untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam melainkan mereka akan mendapatkan  kerugian dan penyesalan dari Allah ta’ala,jika Dia berkehendak,Dia akan mengazab mereka,atau memberikan ampunan untuk mereka”  (HR.AtTirmidzy (3380),dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu ,dan ia berkata : hasan shahih,,juga diriwayatkan Ahmad dalam Musnadnya (9842) dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya (2) serta dinilai shahih oleh Al Albany dalam Silsilah Shahihah (73),dan Shahih Tirmidzy (629).

KHUSYU’ DALAM SHALAT DAN CARA MELAKUKANYA

KHUSYU’ ialah yang hadir dalam hatinya hanyalah apa-apa yang dibaca atau yang ada dalam shalat tersebut serta anggota badannya tidak bermain-main.

.وسن فيها خشوع بقلبه بأن لا يحضر فيه غير ما هو فيه وإن تعلق بالآخرة وبجوارحه بأن لا يعبث بأحدها. إعانة الطالبين ١/١٨١

وكره صلاة بمدافعة حدث كبول وغائط وريح للخبر الآتي ولأنها تخل الخشوع بل قال جمع إن ذهب بها خشوع بطلت

Maksud ibarot di atas adalah : Apabila menahan hadats tersebut menghilangkan kekhusyu’an maka menurut segolongan ulama shalatnya tidak sah / batal, sebagaimana segolongan ulama’ yang mengatakan bahwa khusyu’ itu menjadi syarat sahnya shalat.

.ولانتفاء ثواب الصلاة بانتفائه كما دلت عليه الأحاديث الصحيحة ولأن لنا وجها اختاره جمع أنه شرط للصحة. إعانة الطالبين ١/١٨١

Mengenai posisi “KHUSYU'” dalam shalat ulama’ berbeda pendapat :

1. Seorang yang dalam shalatnya tidak khusyu’ maka shalat tersebut tidak berpahala.

2. Khusyu’ adalah syarat sahnya shalat. Maka tidak sah shalatnya seseorang yang tidak khusyu’ dalam shalatnya.

.ولانتفاء ثواب الصلاة بانتفائه كما دلت عليه الأحاديث الصحيحة ولأن لنا وجها اختاره جمع أنه شرط للصحة. إعانة الطالبين ١/١٨١

3. Shalat sudah dikatakan khusyu’ bila saat takbir menghadirkan hatinya.

.فإن قلت ان حكمت ببطلان الصلاة وجعلت حضور القلب شرطا في صحتها خالفت إجماع الفقهاء فإنهم لم يشترطوا الا حضور القلب عند التكبير. إعانة الطالبين ١/١٨٢

Berarti tak dapat pahala kalau tak khusyu’ hanya gugur kwajibannya ya ?

وفي الإحياء واعلم أن من مكايده أى الشيطان أن يشغلك في صلاتك بذكر الآخزة وتدبير فعل الخيرات

Sulam taufiq hal 29 :

وان يحضر قلبه فيها فليس له من صلاته الا ما عقل منها وان لايعجب بها

Kemakruhan tersebut terjadi apabila menahan hadats ketika mau (sebelum) masuk sholat, dan apa bila di dalam sholat maka hukumnya wajib menahan hadats. Kemakruhan pada situasi tersebut disebabkan karena bisa berpotensi menghilangkan kekhusyu’an, dimana Khusyu’ dlm sholat hukumnya sunnah.

Qola ”Jam’un”. Lafadz Jam’un di sini berisi ulama yang berpendapat bahwa khusyu’ merupakan syarat sah sholat, oleh karenanya ketika khusyu’ itu hilang maka  menurut mereka sholatnya batal.

Maksudnya tidak khusyu’ sholat jadi batal bagaimana? Yang dimaksud dengan batal atau tidak sah adalah Nihil / tidak dapat pahala nya shalat, hanya menggugurkan kewajibannya.

Imam nawawi berkata : Paling rendahnya ukuran khusu’ untuk orang awam yaitu ketika takbir ia ingat Alloh. Namun ini bukan berarti hanya mengingat di saat itu-itu saja. Namun harus tetep berusaha untuk terus mengingat-Nya.

Bahkan juga ada seorang ‘ulama’ mengatakan, cara untuk khusu’ itu ada 2 di antaranya:

1. Berusaha untuk selalu ingat Allah

2. Usahakan ngerti sama apa yang dibaca.

TIPS AGAR BISA SHOLAT DENGAN KHUSYU’

 SIFAT-SIFAT SHALAT KHUSYU’ sebagaimana Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hilali menuturkan bahwa sifat shalat khusyu di antaranya:

1) Meletakkan tangan kanan pada tangan kiri saat berdiri sebelum rukuk.

Sikap seperti itu menunjukkan bahwa shalat orang khusyu’. Tindakan seperti itu menunjukkan ketundukan dihadapan Allah.

2) Seluruh anggota tubuh (fisik) thuma’ninah (tenang) dalam setiap gerakan.

Sikap yang tenang dalam shalat mengandung arti bahwa setiap gerakan shalat dilakukan dengan tidak terburu-buru. Semua gerakan shalat dilakukan dengan sempurna. Karena dengan ketenangan akan mudah untuk mendapatkan rasa khusyu’.

3) Hati menghadap hanya pada Allah tidak kepada selain-Nya Hal ini dapat dipahami dengan dua keadaan :

Pertama, hati tidak berpaling pada Allah, dan men-kosongkan hati dari semua hal selain aktivitas shalat.

Kedua, hati dan penglihatan mata tidak berpaling ke kanan dan ke kiri. Pandangan mata tertuju ketempat sujud, sedang hati menghadap kepada Allah.

4) Rukuk, dengan menunjukkan ketundukan dan kepatuhan disertai dengan ketundukan hati kepada Allah.

5) Sujud dengan menundukkan kepala sejajar dengan bumi sebagai bukti ketaatan dan kepatuhan.

Ketika seseorang yang shalat merendahkan kepala yang menjadi anggota badan paling mulia dan sejajar dengan kaki serta muka mencium bumi, pada saat itulah manusia harus menyadari bahwa ia sangat hina dan tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kekuasaan dan keagungan Allah Swt. Lebih dalam lagi, manusia harus menyadari juga bahwa dulu ia diciptakan Allah dari tanah, maka ia pun akan kembali dikubur dalam tanah.

6) Mensifati Allah dengan sifat yang agung.

Selain dengan sikap rukuk dan sujud, kekhusyu’an seorang hamba kepada Allah disempurnakan dengan ungkapan pujian yang menunjukkan kemuliaan, kebesaran, keagungan, dan ketinggian sifat-sifat-Nya.

Dengan demikian, segala aktivitas yang dilakukan dalam shalat tidak ada yang sia-sia. Namun, mengandung makna dan manfaat terhadap jasmani dan rohani untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt.

TAFSIR SURAT AL-KAFIRUN DAN ALASAN KENAPA IMAM SHOLAT SERING MEMBACANYA

Tafsir Surah Al-Kafirun

Surah al-Kafirun merupakan wahyu ke-18 yang diterima oleh Kanjeng Nabi Muhammad di Mekkah (Makiyyah). Ada ulama lain yang mengatakan bahwa surah al-Kafirun adalah wahyu yang ke-19. Nama lain dari surah al-Kafirun adalah al-Munaabadzah, al-Mu’abadah, Ikhlasul Ibadah, al-Musyaqsyaqah dan lainnya. Surah ini terdiri atas 6 ayat, 26 kata dan 74 huruf.

Ada peristiwa yang mengiringi turunnya surah ini sebagaimana tertulis dalam kitab Tafsir Marah Labid karya Syekh Nawawi Al-Bantani. Setelah Rasulullah menyampaikan ajaran Islam, beberapa tokoh musyrik merasa bahwa ajaran Muhammad mengancam ajaran mereka. Untuk itu, tokoh-tokohnya datang kepada Rasulullah. Mereka adalah al-Walid bin Mughirah, Ash bin Wail, Aswad bin Abdul Muthalib dan Umayyah bin Khalaf.

Mereka datang ke hadapan Rasulullah dan mengusulkan untuk berkomporomi dan berdamai di antara dua belah pihak. Mereka mengatakan:

“Hei Muhammad, bagaimana kalau beberapa waktu (selama setahun) engkau mengikuti agama kami. Sembahlah berhala dan tuhan-tuhan kami. Dan sebaliknya selama beberapa lama (setahun) kami akan mengikuti agamamu dan menyembah Tuhanmu. Kita menyembah tuhan-tuhan dengan bergantian. Kalau ajaranmu benar, maka kami bisa selamat. Begitu juga sebaliknya. Kalau ajaranmu yang benar, kami bisa selamat.”

Nabi Muhammad saw menolak dengan tegas tawaran ini sebab tidak mungkin Rasulullah menerima ajaran yang bertolak belakang dengan wahyu yang sudah diterima dari Allah. Tidak mungkin Rasulullah menyembah sesembahan orang kafir Mekkah. Untuk menjawab tawaran orang musyrik tersebut, turunlah surah al-Kafirun.

    Katakanlah, “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah men]adi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku.”

Di dalam Tafsir at-Thabari, disebutkan sebuah riwayat lain yang berasal dari Ibnu Abbas. Ibnu Abbas menyebutkan bahwa orang kafir Quraisy menjanjikan Rasulullah dengan harta agar beliau bisa menjadi orang yang paling kaya di negeri Mekkah. Selain itu juga beliau dijanjikan untuk menikah dengan wanita yang diinginkannya. Bahkan beliau dijanjikan akan diberi tahta kerajaan.

Mereka berkata, “Wahai Muhammad ini untukmu semua. Berhentilah untuk mencaci maki tuhan-tuhan kami. Jangan menyebut mereka dengan hal-hal yang buruk. Jika kamu tidak mau melakukannya, maka kami akan memaparkan satu permintaan yang lain, yang mana hal ini akan memberikan kebaikan kepada kita bersama,”

“Apa itu?” tanya Kanjeng Nabi.

Mereka menjawab, “Engkau sembah tuhan-tuhan kami Lata, `Uzza setahun dan kami sembah Tuhanmu selama setahun pula.” Lalu Nabi menjawab dengan surah Al-Kafirun.

Riwayat dari Ibnu Abbas ini merupakan atsar sahabat. Ibnu Abbas menjelaskan tentang Asbabun nuzul surah ini, sedangkan riwayat pertama yang bersumber dari Sa`id Mina adalah merupakan hadis. Hadis ini juga merupakan Asbabun nuzul tentang surah ini.

Inti dari kedua riwayat tersebut adalah bahwa orang kafir Qurays memberikan penawaran dengan mengajak Rasulullah agar Rasul mau menyembah Tuhan mereka. Akan tetapi semua ajakan dan bujukan kafir Qurays tidak mampu mempengaruhi ketegaran Rasul untuk tetap menyampaikan dakwah Islam.

Peristiwa kedatangan tokoh-tokoh kafir ini membuktikan bahwa sebenarnya tantangan dakwah Rasulullah bukan hanya berupa tantangan fisik. Kedatangan mereka sebenarnya ingin mengajak diskusi agar menemukan titik temu antar ajaran agar tidak terjadi perselisihan. Sehingga bisa dikatakan bahwa ini merupakan salah satu ujian intelektual kepada Rasulullah di hadapan umatnya.

Karena bimbingan Allah, Rasulullah bisa mengalahkan argumen tokoh-tokoh kafir yang mendatanginya. Untuk itu jika para ulama sekarang mendapatkan tantangan intelektual dalam dakwahnya, maka tantangan itu juga harus dijawab dengan jawaban yang cerdas pula.

Di dalam ayat yang pertama disebutkan “Katakanlah, Hai orang-orang yang kafir,” jika melihat asbabun nuzul surah ini, maka kata orang-orang kafir (al-kafirun) yang disebutkan adalah tokoh-tokoh yang mendatangi Kanjeng Nabi. Bukan semua orang kafir. Mengapa?

Sebab ayat berikutnya disebutkan aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Jika orang-orang kafir yang disebut di dalam surah ini adalah semua orang kafir baik yang ada sejak zaman Kanjeng Nabi sampai sekarang, maka ini tidak sesuai dengan kenyataan. Sebab ada beberapa orang kafir yang kemudian masuk Islam dan menyembah Allah.

Sedangkan tokoh-tokoh kafir yang mendatangi Rasulullah tidak akan beriman selama-lamanya. Buktinya mereka mati di dalam kekafiran.

Quraish Shihab menjelaskan bahwa Nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah untuk mengatakan kepada orang-orang yang membencinya untuk menjelaskan keyakinannya secara jelas dan konsisten kepada orang-orang kafir. Bahwa tidak ada kompromi dalam hal akidah dan beliau tidak akan menyembah dengan apa yang disembah oleh orang-orang kafir. Sampai kapan pun. Sebab orang-orang kafir menyembah berhala yang berbeda-beda tergantung tempat, situasi dan kondisi.

Ayat kedua dalam surah Al-Kafirun menyebutkan, “Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah.” Ayat ini merupakan penegasan bahwa di masa ini dan di sampai kapan pun Kanjeng Nabi tidak akan menyembah sesembahan orang-orang kafir yang mendatangi Nabi. Rasulullah juga  tidak akan menempuh dan tidak pula meniru cara penyembahan kepada patung-patung tersebut.

Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Maksudnya, kalian tidak usah mengikuti perintah-perintah Allah di dalam beribadah. Dua ayat ini sangat berhubungan dengan ajakan orang kafir agar Kanjeng Nabi Muhammad mau menyembah sesembahan pembesar kaum musyrik di satu waktu. Begitu pula sebaliknya.

Menurut Muhammad Abduh dalam tafsir Al-Manaar bahwa ayat kedua dan ketiga menegaskan tentang perbedaan subtansial mengenai al-ma’bud (yang disembah). Sedangkan ayat keempat dan kelima menegaskan tentang perbedaan subtansial mengenai ibadah yang dilakukan oleh masing-masing pemeluk agama. Dengan demikian, ma’bud antara orang musyrik dan orang Islam tidak sama, dan ibadah pun tidak sama.

Yang disembah oleh umat Islam adalah Tuhan Yang Maha Esa, Yang tidak ada tandingan atau perantara bagi-Nya; Yang Maha Agung sehingga mustahil Ia akan menampakkan diri-Nya dalam diri seseorang tertentu; Yang Maha Pelimpah karunia-Nya kepada siapa pun yang mengikhlaskan diri kepada-Nya; Yang dengan keperkasaan-Nya menghukum siapa pun yang memusuhi hamba-hamba-Nya: yang menyampaikan ajaran-ajaran-Nya dengan penuh ketulusan.

Sedangkan yang disembah oleh orang kafir Makkah berlawanan sifatnya secara diametral dengan Tuhan orang Islam. Demikian pula ibadah umat Islam benar-benar murni untuk Dia saja; sedangkan ibadah orang-orang kafir makkah bercampur dengan kemusyrikan, dan disertai dengan kelalaian akan Allah Swt., maka pada hakikatnya, ia dapat disebut ibadah.

Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.

Menurut Imam al-Qurthubi, perbedaan ayat ketiga dan kelima yang redaksinya persis sama (keduanya berbunyi: wa laa antum aabiduuna maa a’bud), bahwa sementara ulama membedakannya dengan memberi arti yang berbeda terhadap makna maa tersebut. Huruf maa antara lain berarti “apa yang”, dan ketika itu dalam istilah kebahasaan dinamai maa maushuulah dan bisa juga berfungsi mengubah kata yang ketika itu dinamai dengan masdariyah.

Menurut ulama, maa pada ayat ketiga (demikian pula pada ayat kedua) berarti “apa yang”, sehingga wa laa antum ‘aabiduuna maa a’bud berarti “kamu tidak akan menjadi penyembah apa yang yang sedang dan akan aku sembah.” Sedangkan, maa pada ayat kelima (demikian ayat keempat) adalah masdariyah, sehingga kedua ayat ini berbicara tentang cara beribadah: Aku tidak pernah menjadi penyembah dengan (cara) penyembahan kalian; kalian pun tidak akan menjadi penyembah-penyembah dengan cara penyembahanku.

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Kitab Marah Labid menyebutkan Rasulullah selain tidak akan menyembah berhala, beliau juga sebelumnya tidak pernah menyembah apa yang disembah oleh orang kafir. Begitu pula dengan tokoh-tokoh musyrik yang mendatangi Nabi. Sebelum Rasulullah menerima wahyu dan setelah menerima wahyu, mereka tetap menyembah sesembahannya.

Quraish Shihab mengatakan dalam ketiga ayat paling awal dari surah al-Kafirun disimpulkan bahwa Allah berpesan kepada Nabi-Nya, Muhammad Saw., untuk menolak secara tegas usul yang mereka ajukan sekarang tetapi juga menegaskan bahwa tidak mungkin ada titik temu antara Nabi Saw., dengan tokoh-tokoh tersebut. Karena, kekufuran sudah demikian mantap dan mendarah daging dalam jiwa mereka, serta kekerasan kepala mereka telah mencapai puncaknya sehingga tidak ada sedikit harapan atau kemungkinan, baik masa kini maupun masa mendatang, untuk bekerja sama dengan tokoh-tokoh tersebut.

Kemudian dilanjutkan dengan ayat keenam, Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku. At-Thabari (tahun 838-923 M/ 310 H) memberi penjelasan bahwa keseluruhan isi surah al-Kafirun ini dimaksudkan untuk menyembah Allah. Dan Ayat terakhir menjadi sikap tegas Rasulullah untuk mengatakan berbeda dengan mereka. Agama Rasulullah berbeda dengan ajaran orang Kafir. Biarkan itu berbeda tapi perlu dicampur adukkan. Syekh Nawawi menyebutkan bahwa lakum diinukum waliyadin ditafsirkan oleh ulama lain dengan lakum hisaabukum waly hisaaby. Artinya Kamu akan mendapatkan balasan dari apa yang kamu lakukan dan aku akan mendapatkan balasan atas apa yang aku kerjakan.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa surah ini menjadi kekuatan Nabi Saw., untuk menyatakan berlepas diri dari perbuatan yang dikerjakan oleh orang-orang musyrik dan perintah kepada umat muslim pula untuk selalu berbuat ikhlas kepada Allah. Tidak ada jalan untuk mengabdi kepada Allah kecuali dengan mengikuti risalah yang dibawa oleh Nabi Saw.

Diantara waktu yang dianjurkan untuk membaca surat ini adalah ketika ingin tidur, sebagaimana dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

“Bacalah ketika engkau hendak tidur: qul yaa ayyuhal kaafiruun, Kemudian tidurlah setelah engkau selesai membacanya. Sesungguhnya surat tersebut sebagai pelepas dari kesyirikan”. HR Ahmad 39/224 no: 23807.

Salah satu keutamaan dari surah ini adalah Kanjeng Nabi Muhammad biasa meruqyah dirinya dengan membaca surah ini. Seperti dijelaskan oleh at-Thabarani didalam Mu’jam al-Shaghir dari hadisnya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Bahwa Nabi Muhammad pernah mengatakan, “Semoga Allah melaknat kalajengking yang tidak membiarakan seseorang mengerjakan sholat tidak pula yang lainnya.” Kemudian beliau meminta diambilkan air dan garam, lalu beliau mengusapkan pada bekas sengatannya sambil membaca surah Al-Kafirun, surah Al-Falaq dan surah An-Naas.

 

Mengapa Imam Salat di Kampung Suka Baca Surah al-Kafirun?

Para imam di masjid-masjid kampung umumnya punya surat andalan sewaktu memimpin salat berjamaah: Magrib. Untuk rakaat pertama bacaannya surah al-Kafirun dan rakaat kedua bacaannya surah al-Ikhlas.

Kebiasaan membaca surah andalan ini ternyata bukan karena mereka tidak punya hapalan surat lain. Bahkan tak sedikit mereka yang hafal Alquran, tapi yang mereka baca hanya surat-surat itu. Kenapa mereka membaca dua surah itu?

Ada dua jawaban. Pertama, mengamalkan hadis Rasulullah: “Jika salah satu di antara kalian menjadi imam maka hendaknya meringankan bacaan dan gerakan karena dalam jamaahnya ada anak kecil, orang tua, orang yang memiliki keperluan. Namun jika salat sendirian maka lakukan sekuasa kalian” (Mutafaq alaihi). Membaca surah al-Kafirun dan al-Ikhlas bertujuan meringankan bacaan salat berjamaah.

Kedua, untuk merekonstruksi iman dan Islam. Seseorang ketika membaca surah al-Kafirun hakekatnya sedang melakukan evaluasi diri, bukan melaknat orang lain yang tak seakidah. Dari evaluasi diri ini diharapkan sifat-sifat tertutup, congkak, ingkar, dan lain-lain. yang menunjukkan sifat kufur (ingkar) dapat diperbaiki secara bertahap. Cara memperbaikinya dengan cara mengingatkan diri melalui bacaan surah al-Ikhlas.

    Bacaan surah al-Kafirun dan surah al-Ikhlas dapat diibaratkan seperti pembaruan sistem aplikasi seorang muslim. Imam spesialis bacaan surah al-Kafirun dan surah al-Ikhlas berperan sebagai aplikator yang bekerja memperbaiki perangkat khusus orang Islam yang tak berfungsi maksimal.

Apa perangkat khusus orang Islam itu?

“Islam” yang disebut dalam Alquran sebanyak delapan kali dalam arti agama identik dengan komunitas khusus. Yakni komunitas muslim yang memiliki perangkat dan sistem khusus pula yang dibangun lewat jejaring “salam” yang berarti penghormatan dan keselamatan.

Untuk membuktikan hal itu, perhatikan ayat-ayat berikut ini: Q.S. Yunus: 9-10, salam adalah penghormatan buat orang-orang yang saleh;

Alquran surah al-Ahzab ayat 56: salam merupakan bentuk penghormatan ummat kepada nabi yang dijunjungnya. Alquran surah an-Nuur ayat 61: salam adalah penghormatan antara seseorang kepada sahabatnya. Alquran surah an-Nuur ayat 27: salam merupakan penghormatan kepada tuan rumahnya. Dalam Alquran surah as-Shaffat: salam diulang beberapa kali sebagai penghormatan kepada para rasul.

Dengan demikian, perangkat Islam adalah model jejaring yang menginduksikan rasa hormat dan menyebarluarkan keselamatan kepada umat manusia.

Imam di masjid-masjid kampung spesialis bacaan surah al-Kafirun ketika membaca qul ya ayyuhal kafirun bukanlah bertujuan menyinggung non-muslim. Toh yang berjamaah semuanya orang Islam. Tetapi surah al-Kafirun selalu dibaca tiap rakaat pertama sekedar untuk mengingatkan; apa di antara yang salat sudah tertanam rasa hormat-menghormati?

Jika belum, imam di masjid kampung itu mengingatkan dengan bacaan surah al-Ikhlas, agar semua menyadari bahwa hidup tidak boleh egois. Manusia tidak bisa hidup sendiri sebab manusia bukan Tuhan.

Sebagai umat beragama manusia harus hormat kepada Tuhannya dan para rasul perantara-Nya. Sebagai makhluk sosial manusia harus saling menghormati antar sesama umat manusia.

Imam di mesjid kampung itu telah menggugah kesadaran kaumnya agar semua yang mengaku muslim dapat menjadi pribadi yang salim. Yaitu pribadi yang selalu melakukan penghematan kepada Tuhan dan siapa saja agar terajut rasa aman, nyaman, dan sentosa sesuai ajaran Islam rahmatan lil alamin.

Imam masjid di kampung berperan laksana orangtua yang mengajarkan kepada anak-anaknya: Ayooo Nak! Saliiim… (Salami orang-orang yang ditemui). Bukankah kita juga begitu ngajari anak-anak sewaktu ketemu orang?

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB