TAFSIR SURAT AL-KAFIRUN DAN ALASAN KENAPA IMAM SHOLAT SERING MEMBACANYA

Tafsir Surah Al-Kafirun

Surah al-Kafirun merupakan wahyu ke-18 yang diterima oleh Kanjeng Nabi Muhammad di Mekkah (Makiyyah). Ada ulama lain yang mengatakan bahwa surah al-Kafirun adalah wahyu yang ke-19. Nama lain dari surah al-Kafirun adalah al-Munaabadzah, al-Mu’abadah, Ikhlasul Ibadah, al-Musyaqsyaqah dan lainnya. Surah ini terdiri atas 6 ayat, 26 kata dan 74 huruf.

Ada peristiwa yang mengiringi turunnya surah ini sebagaimana tertulis dalam kitab Tafsir Marah Labid karya Syekh Nawawi Al-Bantani. Setelah Rasulullah menyampaikan ajaran Islam, beberapa tokoh musyrik merasa bahwa ajaran Muhammad mengancam ajaran mereka. Untuk itu, tokoh-tokohnya datang kepada Rasulullah. Mereka adalah al-Walid bin Mughirah, Ash bin Wail, Aswad bin Abdul Muthalib dan Umayyah bin Khalaf.

Mereka datang ke hadapan Rasulullah dan mengusulkan untuk berkomporomi dan berdamai di antara dua belah pihak. Mereka mengatakan:

“Hei Muhammad, bagaimana kalau beberapa waktu (selama setahun) engkau mengikuti agama kami. Sembahlah berhala dan tuhan-tuhan kami. Dan sebaliknya selama beberapa lama (setahun) kami akan mengikuti agamamu dan menyembah Tuhanmu. Kita menyembah tuhan-tuhan dengan bergantian. Kalau ajaranmu benar, maka kami bisa selamat. Begitu juga sebaliknya. Kalau ajaranmu yang benar, kami bisa selamat.”

Nabi Muhammad saw menolak dengan tegas tawaran ini sebab tidak mungkin Rasulullah menerima ajaran yang bertolak belakang dengan wahyu yang sudah diterima dari Allah. Tidak mungkin Rasulullah menyembah sesembahan orang kafir Mekkah. Untuk menjawab tawaran orang musyrik tersebut, turunlah surah al-Kafirun.

    Katakanlah, “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah men]adi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku.”

Di dalam Tafsir at-Thabari, disebutkan sebuah riwayat lain yang berasal dari Ibnu Abbas. Ibnu Abbas menyebutkan bahwa orang kafir Quraisy menjanjikan Rasulullah dengan harta agar beliau bisa menjadi orang yang paling kaya di negeri Mekkah. Selain itu juga beliau dijanjikan untuk menikah dengan wanita yang diinginkannya. Bahkan beliau dijanjikan akan diberi tahta kerajaan.

Mereka berkata, “Wahai Muhammad ini untukmu semua. Berhentilah untuk mencaci maki tuhan-tuhan kami. Jangan menyebut mereka dengan hal-hal yang buruk. Jika kamu tidak mau melakukannya, maka kami akan memaparkan satu permintaan yang lain, yang mana hal ini akan memberikan kebaikan kepada kita bersama,”

“Apa itu?” tanya Kanjeng Nabi.

Mereka menjawab, “Engkau sembah tuhan-tuhan kami Lata, `Uzza setahun dan kami sembah Tuhanmu selama setahun pula.” Lalu Nabi menjawab dengan surah Al-Kafirun.

Riwayat dari Ibnu Abbas ini merupakan atsar sahabat. Ibnu Abbas menjelaskan tentang Asbabun nuzul surah ini, sedangkan riwayat pertama yang bersumber dari Sa`id Mina adalah merupakan hadis. Hadis ini juga merupakan Asbabun nuzul tentang surah ini.

Inti dari kedua riwayat tersebut adalah bahwa orang kafir Qurays memberikan penawaran dengan mengajak Rasulullah agar Rasul mau menyembah Tuhan mereka. Akan tetapi semua ajakan dan bujukan kafir Qurays tidak mampu mempengaruhi ketegaran Rasul untuk tetap menyampaikan dakwah Islam.

Peristiwa kedatangan tokoh-tokoh kafir ini membuktikan bahwa sebenarnya tantangan dakwah Rasulullah bukan hanya berupa tantangan fisik. Kedatangan mereka sebenarnya ingin mengajak diskusi agar menemukan titik temu antar ajaran agar tidak terjadi perselisihan. Sehingga bisa dikatakan bahwa ini merupakan salah satu ujian intelektual kepada Rasulullah di hadapan umatnya.

Karena bimbingan Allah, Rasulullah bisa mengalahkan argumen tokoh-tokoh kafir yang mendatanginya. Untuk itu jika para ulama sekarang mendapatkan tantangan intelektual dalam dakwahnya, maka tantangan itu juga harus dijawab dengan jawaban yang cerdas pula.

Di dalam ayat yang pertama disebutkan “Katakanlah, Hai orang-orang yang kafir,” jika melihat asbabun nuzul surah ini, maka kata orang-orang kafir (al-kafirun) yang disebutkan adalah tokoh-tokoh yang mendatangi Kanjeng Nabi. Bukan semua orang kafir. Mengapa?

Sebab ayat berikutnya disebutkan aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Jika orang-orang kafir yang disebut di dalam surah ini adalah semua orang kafir baik yang ada sejak zaman Kanjeng Nabi sampai sekarang, maka ini tidak sesuai dengan kenyataan. Sebab ada beberapa orang kafir yang kemudian masuk Islam dan menyembah Allah.

Sedangkan tokoh-tokoh kafir yang mendatangi Rasulullah tidak akan beriman selama-lamanya. Buktinya mereka mati di dalam kekafiran.

Quraish Shihab menjelaskan bahwa Nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah untuk mengatakan kepada orang-orang yang membencinya untuk menjelaskan keyakinannya secara jelas dan konsisten kepada orang-orang kafir. Bahwa tidak ada kompromi dalam hal akidah dan beliau tidak akan menyembah dengan apa yang disembah oleh orang-orang kafir. Sampai kapan pun. Sebab orang-orang kafir menyembah berhala yang berbeda-beda tergantung tempat, situasi dan kondisi.

Ayat kedua dalam surah Al-Kafirun menyebutkan, “Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah.” Ayat ini merupakan penegasan bahwa di masa ini dan di sampai kapan pun Kanjeng Nabi tidak akan menyembah sesembahan orang-orang kafir yang mendatangi Nabi. Rasulullah juga  tidak akan menempuh dan tidak pula meniru cara penyembahan kepada patung-patung tersebut.

Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Maksudnya, kalian tidak usah mengikuti perintah-perintah Allah di dalam beribadah. Dua ayat ini sangat berhubungan dengan ajakan orang kafir agar Kanjeng Nabi Muhammad mau menyembah sesembahan pembesar kaum musyrik di satu waktu. Begitu pula sebaliknya.

Menurut Muhammad Abduh dalam tafsir Al-Manaar bahwa ayat kedua dan ketiga menegaskan tentang perbedaan subtansial mengenai al-ma’bud (yang disembah). Sedangkan ayat keempat dan kelima menegaskan tentang perbedaan subtansial mengenai ibadah yang dilakukan oleh masing-masing pemeluk agama. Dengan demikian, ma’bud antara orang musyrik dan orang Islam tidak sama, dan ibadah pun tidak sama.

Yang disembah oleh umat Islam adalah Tuhan Yang Maha Esa, Yang tidak ada tandingan atau perantara bagi-Nya; Yang Maha Agung sehingga mustahil Ia akan menampakkan diri-Nya dalam diri seseorang tertentu; Yang Maha Pelimpah karunia-Nya kepada siapa pun yang mengikhlaskan diri kepada-Nya; Yang dengan keperkasaan-Nya menghukum siapa pun yang memusuhi hamba-hamba-Nya: yang menyampaikan ajaran-ajaran-Nya dengan penuh ketulusan.

Sedangkan yang disembah oleh orang kafir Makkah berlawanan sifatnya secara diametral dengan Tuhan orang Islam. Demikian pula ibadah umat Islam benar-benar murni untuk Dia saja; sedangkan ibadah orang-orang kafir makkah bercampur dengan kemusyrikan, dan disertai dengan kelalaian akan Allah Swt., maka pada hakikatnya, ia dapat disebut ibadah.

Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.

Menurut Imam al-Qurthubi, perbedaan ayat ketiga dan kelima yang redaksinya persis sama (keduanya berbunyi: wa laa antum aabiduuna maa a’bud), bahwa sementara ulama membedakannya dengan memberi arti yang berbeda terhadap makna maa tersebut. Huruf maa antara lain berarti “apa yang”, dan ketika itu dalam istilah kebahasaan dinamai maa maushuulah dan bisa juga berfungsi mengubah kata yang ketika itu dinamai dengan masdariyah.

Menurut ulama, maa pada ayat ketiga (demikian pula pada ayat kedua) berarti “apa yang”, sehingga wa laa antum ‘aabiduuna maa a’bud berarti “kamu tidak akan menjadi penyembah apa yang yang sedang dan akan aku sembah.” Sedangkan, maa pada ayat kelima (demikian ayat keempat) adalah masdariyah, sehingga kedua ayat ini berbicara tentang cara beribadah: Aku tidak pernah menjadi penyembah dengan (cara) penyembahan kalian; kalian pun tidak akan menjadi penyembah-penyembah dengan cara penyembahanku.

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Kitab Marah Labid menyebutkan Rasulullah selain tidak akan menyembah berhala, beliau juga sebelumnya tidak pernah menyembah apa yang disembah oleh orang kafir. Begitu pula dengan tokoh-tokoh musyrik yang mendatangi Nabi. Sebelum Rasulullah menerima wahyu dan setelah menerima wahyu, mereka tetap menyembah sesembahannya.

Quraish Shihab mengatakan dalam ketiga ayat paling awal dari surah al-Kafirun disimpulkan bahwa Allah berpesan kepada Nabi-Nya, Muhammad Saw., untuk menolak secara tegas usul yang mereka ajukan sekarang tetapi juga menegaskan bahwa tidak mungkin ada titik temu antara Nabi Saw., dengan tokoh-tokoh tersebut. Karena, kekufuran sudah demikian mantap dan mendarah daging dalam jiwa mereka, serta kekerasan kepala mereka telah mencapai puncaknya sehingga tidak ada sedikit harapan atau kemungkinan, baik masa kini maupun masa mendatang, untuk bekerja sama dengan tokoh-tokoh tersebut.

Kemudian dilanjutkan dengan ayat keenam, Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku. At-Thabari (tahun 838-923 M/ 310 H) memberi penjelasan bahwa keseluruhan isi surah al-Kafirun ini dimaksudkan untuk menyembah Allah. Dan Ayat terakhir menjadi sikap tegas Rasulullah untuk mengatakan berbeda dengan mereka. Agama Rasulullah berbeda dengan ajaran orang Kafir. Biarkan itu berbeda tapi perlu dicampur adukkan. Syekh Nawawi menyebutkan bahwa lakum diinukum waliyadin ditafsirkan oleh ulama lain dengan lakum hisaabukum waly hisaaby. Artinya Kamu akan mendapatkan balasan dari apa yang kamu lakukan dan aku akan mendapatkan balasan atas apa yang aku kerjakan.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa surah ini menjadi kekuatan Nabi Saw., untuk menyatakan berlepas diri dari perbuatan yang dikerjakan oleh orang-orang musyrik dan perintah kepada umat muslim pula untuk selalu berbuat ikhlas kepada Allah. Tidak ada jalan untuk mengabdi kepada Allah kecuali dengan mengikuti risalah yang dibawa oleh Nabi Saw.

Diantara waktu yang dianjurkan untuk membaca surat ini adalah ketika ingin tidur, sebagaimana dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

“Bacalah ketika engkau hendak tidur: qul yaa ayyuhal kaafiruun, Kemudian tidurlah setelah engkau selesai membacanya. Sesungguhnya surat tersebut sebagai pelepas dari kesyirikan”. HR Ahmad 39/224 no: 23807.

Salah satu keutamaan dari surah ini adalah Kanjeng Nabi Muhammad biasa meruqyah dirinya dengan membaca surah ini. Seperti dijelaskan oleh at-Thabarani didalam Mu’jam al-Shaghir dari hadisnya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Bahwa Nabi Muhammad pernah mengatakan, “Semoga Allah melaknat kalajengking yang tidak membiarakan seseorang mengerjakan sholat tidak pula yang lainnya.” Kemudian beliau meminta diambilkan air dan garam, lalu beliau mengusapkan pada bekas sengatannya sambil membaca surah Al-Kafirun, surah Al-Falaq dan surah An-Naas.

 

Mengapa Imam Salat di Kampung Suka Baca Surah al-Kafirun?

Para imam di masjid-masjid kampung umumnya punya surat andalan sewaktu memimpin salat berjamaah: Magrib. Untuk rakaat pertama bacaannya surah al-Kafirun dan rakaat kedua bacaannya surah al-Ikhlas.

Kebiasaan membaca surah andalan ini ternyata bukan karena mereka tidak punya hapalan surat lain. Bahkan tak sedikit mereka yang hafal Alquran, tapi yang mereka baca hanya surat-surat itu. Kenapa mereka membaca dua surah itu?

Ada dua jawaban. Pertama, mengamalkan hadis Rasulullah: “Jika salah satu di antara kalian menjadi imam maka hendaknya meringankan bacaan dan gerakan karena dalam jamaahnya ada anak kecil, orang tua, orang yang memiliki keperluan. Namun jika salat sendirian maka lakukan sekuasa kalian” (Mutafaq alaihi). Membaca surah al-Kafirun dan al-Ikhlas bertujuan meringankan bacaan salat berjamaah.

Kedua, untuk merekonstruksi iman dan Islam. Seseorang ketika membaca surah al-Kafirun hakekatnya sedang melakukan evaluasi diri, bukan melaknat orang lain yang tak seakidah. Dari evaluasi diri ini diharapkan sifat-sifat tertutup, congkak, ingkar, dan lain-lain. yang menunjukkan sifat kufur (ingkar) dapat diperbaiki secara bertahap. Cara memperbaikinya dengan cara mengingatkan diri melalui bacaan surah al-Ikhlas.

    Bacaan surah al-Kafirun dan surah al-Ikhlas dapat diibaratkan seperti pembaruan sistem aplikasi seorang muslim. Imam spesialis bacaan surah al-Kafirun dan surah al-Ikhlas berperan sebagai aplikator yang bekerja memperbaiki perangkat khusus orang Islam yang tak berfungsi maksimal.

Apa perangkat khusus orang Islam itu?

“Islam” yang disebut dalam Alquran sebanyak delapan kali dalam arti agama identik dengan komunitas khusus. Yakni komunitas muslim yang memiliki perangkat dan sistem khusus pula yang dibangun lewat jejaring “salam” yang berarti penghormatan dan keselamatan.

Untuk membuktikan hal itu, perhatikan ayat-ayat berikut ini: Q.S. Yunus: 9-10, salam adalah penghormatan buat orang-orang yang saleh;

Alquran surah al-Ahzab ayat 56: salam merupakan bentuk penghormatan ummat kepada nabi yang dijunjungnya. Alquran surah an-Nuur ayat 61: salam adalah penghormatan antara seseorang kepada sahabatnya. Alquran surah an-Nuur ayat 27: salam merupakan penghormatan kepada tuan rumahnya. Dalam Alquran surah as-Shaffat: salam diulang beberapa kali sebagai penghormatan kepada para rasul.

Dengan demikian, perangkat Islam adalah model jejaring yang menginduksikan rasa hormat dan menyebarluarkan keselamatan kepada umat manusia.

Imam di masjid-masjid kampung spesialis bacaan surah al-Kafirun ketika membaca qul ya ayyuhal kafirun bukanlah bertujuan menyinggung non-muslim. Toh yang berjamaah semuanya orang Islam. Tetapi surah al-Kafirun selalu dibaca tiap rakaat pertama sekedar untuk mengingatkan; apa di antara yang salat sudah tertanam rasa hormat-menghormati?

Jika belum, imam di masjid kampung itu mengingatkan dengan bacaan surah al-Ikhlas, agar semua menyadari bahwa hidup tidak boleh egois. Manusia tidak bisa hidup sendiri sebab manusia bukan Tuhan.

Sebagai umat beragama manusia harus hormat kepada Tuhannya dan para rasul perantara-Nya. Sebagai makhluk sosial manusia harus saling menghormati antar sesama umat manusia.

Imam di mesjid kampung itu telah menggugah kesadaran kaumnya agar semua yang mengaku muslim dapat menjadi pribadi yang salim. Yaitu pribadi yang selalu melakukan penghematan kepada Tuhan dan siapa saja agar terajut rasa aman, nyaman, dan sentosa sesuai ajaran Islam rahmatan lil alamin.

Imam masjid di kampung berperan laksana orangtua yang mengajarkan kepada anak-anaknya: Ayooo Nak! Saliiim… (Salami orang-orang yang ditemui). Bukankah kita juga begitu ngajari anak-anak sewaktu ketemu orang?

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

PENGERTIAN MACAM DAN BENTUK AYAT PEMBUKA SURAT (MAFATIHUS SUWAR)

Fawatih al-Suwar (pembuka surah-surah)

Kata Fawatih al-Suwar  berasal dari bahasa Arab, sebuah kalimat yang terdiri dari susunan dua kata, fawatih dan al-Suwar. Memahami ungkapan ini, sebaiknya kita urai terlebih dahulu kepada pencarian makna kata perkata.

Kata فواتح yang berarti pembuka adalah jamak Taksir dari (فاتحة), yang mempunyai arti permulaan, pembukaan, dan pendahuluan. Sedangkan السور adalah jamak dari سورة yang secara etimologi mempunyai banyak arti, yaitu: tingkatan atau martabat, tanda atau alamat, gedung yang tinggi nan indah, susunan sesuatu atas lainnya yang bertingkat tingkat.

Secara terminologi surah dimaknai secara berbeda, menurut Manna’ al-Qaththan bahwa surah adalah sekumpulan ayat ayat al-Quran yang mempunyai tempat bermula dan sekaligus tempat berhenti. Sebaliknya al-Ja’barimengatakan bahwa surah adalah sebagian al-Qur’an yang mencakup beberapa ayat yang memiliki permulaan dan penghabisan (penutup), paling sedikit tiga ayat.

Dari pengertian diatas maka dapat dipahami dari segi makna fawatih al-suwar berarti pembuka-pembuka surah karena posisinya yang mengawali perjalanaan teks-teks setiap surah. Sebahagian Ulama ada yang mengidentikkan fawatih al-suwar dengan huruf al-muqatta’ah atau huruf-huruf yang terpisah dalam al-Quran. Seperti misalnya, Manna’ Khalil al-Qaththan dalam bukunya”Mabahis Fi Ulum al-Quran”. Namun bila diteliti lebih jauh, sesungguhnya keduanya sama sekali berbeda. Sebab huruf al-muqatta’ah ini tidak terdapat pada semua awal surah yang jumlahnya 114 dalam al-Qur’an. Ia tak lebih hanya merupakan salah satu bagian dari beberapa bentuk “fawatih al-Suwar ” yang ada dalam al-Qur’an.

Menurut Ibn Abi al-Ishba`, istilah fawatih adalah jenis-jenis perkataan yang membuka surah-surah dalam al-Qur’an. Jenis jenis perkataan itu dibagi menjadi sepuluh, yaitu: Jumlah khabariyyah, Qasam, Syarat, Perintah, Pertanyaan, Doa, Ta’lil,  Pujian kepada Allah, Nida’, dan yang terakhir huruf huruf tahajji (huruf-huruf muqatta’ah), atau yang biasa disebut al- fawatih.

Macam-macam Bentuk dan Redaksi Fawatih al-Suwar

Menurut kajian yang dilakukan oleh Imam al-Qasthalany, bahwa terdapat sepuluh macam bentuk fawatih al-suwar dalam al-Qur’an. Kesepuluh macam bentuk fawatih al-suwar tersebut sebagai berikut:

  1. Istiftah bi al-Sana’ (Pembukaan dengan memakai pujian kepada Allah). Terdapat pada 14 surah, yang terbagi menjadi dua yaitu:

Isbat li sifat al-Madh (penetapan untuk sifat-sifat terpuji) seperti lafadz tahmid terdapat pada 5 surah (surah ke- (1), (6), (18), (34), dan (35). dan

Lafadz tabarak, terdapat pada dua surah (surah ke- (25) dan (67).

  1. Istiftah bi al-Huruf al-Muqatta’ah (Pembukaan dengan memakai huruf huruf hijaiyyah yang terputus-putus). Pembukaan seperti ini terdapat di 29 surat dalam al-Qur’an, yang disusun dalam 14 rangkaian huruf sebagai berikut:

Terdiri dari satu huruf (Sad, Qaf, dan Nun), terdapat pada tiga surah, yaitu: surah ke- 38, 60, dan 68.

Terdiri dari dua huruf, terdapat pada sepuluh surah. Tujuh surah diantaranya dinamakan haamim, karena surah-surah ini dimulai dengan huruf ha dan mim. yaitu surah ke (40), (41), (42), (43), (44), (45), (46). Tiga surah yang lainnya adalah surah ke- (20) yang diawali dengan (طه), surah ke-27 yang diawali dengan طس dan surah ke-28. (يس) Terdiri dari tiga huruf yang berjumlah tiga belas surah., yaitu surah ke- (2), (3), (29), (30), (31), dan (32). Adapun lima surah. Yaitu surah ke- (10), (11), (12), (14), (15).  Dua buah surah lainnya yang diawali dengan tiga huruf adalah surah ke-(26) dan (28).

Terdiri dari empat huruf, yaitu surah al-A’raf , dan surah al- Ra’ad Terdiri dari lima huruf, yaitu surah Maryam (19).

  1. Istiftah bi al-Nida’ (Pembukaan dengan memakai kata-kata panggilan atau seruan) yang terdapat pada 10 surah. Panggilan ini ada dua macam, yaitu:

Panggilan untuk Nabi terdapat pada surah ke-(33), (65), (66), (73), (74).

Panggilan untuk umat manusia terdapat pada surah ke-(4), (5), (22), (49), (60).

  1. Istiftah bi al-Jumal al-Khabariyyah (Pembukaan dengan memakai kalimat berita). Adapun struktur kalimat berita yang dipakai pada awal surat ada dua macam:

Struktur Jumlah Ismiyah, yang menjadi pembukaan 11 surah, yaitu surah ke- (9), (24), (39), (47), (48), (55), (69), (71), (97), (101), (108).

Jumlah Fi’liyah, yang menjadi pembuka 12 surah sebagai berikut: surah ke-(8), (16), (21), (23), (54), (58), (70), (75), (80), (90), (98), (102).

  1. Istiftah bi al-Qasam (Pembukaan dengan memakai kata-kata sumpah). Sumpah yang digunakan dalam al-Qur’an ada tiga macam, yaitu:

Sumpah dengan benda-benda angkasa, terdapat pada 8 surah, yaitu: surah ke-(37), (53), (77), (79), (85), (86), (89), dan (91).

Sumpah dengan benda-benda yang ada di bumi, terdapat pada 4 surah yaitu: surah ke- (51), (52), (95), (100).

Sumpah dengan waktu, terdapat pada tiga surah, yaitu surah ke- (92), (93), (103).

  1. Istiftah bi al-Syart (Pembukaan dengan memakai kata-kata syarat)

Pembukaan surat dengan menggunakan kata syarat dapat dijumpai di 7 surat dalam al-Qur’an, yaitu surah ke- (56), (63), (81), (82), (84), (99), (110)

  1. Istiftah bi al-Amr (Pembukaan dengan menggunakan kata kerja perintah)

Menurut penelitian para ahli, ada enam kata kerja perintah yang dipakai dalam pembukaan al-Qur’an, yaitu: Qul, dan Iqra’. Terdapat pada 6 surah, yaitu: surah ke- (72), (96), (109), (112), (113), (114).

  1. Istiftah bi al-Istifham (Pembukaan dengan pertanyaan). Bentuk pertanyaan ini ada dua macam, yaitu:

Pertanyaan positif, bentuk pertanyaan dengan kalimat positif, terdapat  pada 4 surah yaitu surah ke- (76), (78), (88), (107).

Pertanyaan negatif, bentuk pertanyaan dengan kalimat negatif, terdapat pada dua surah yaitu surah ke-( 94), dan surah ke- (105),

  1. Istiftah bi al-Du’a’ (Pembukaan dengan doa)

Pembukaan dengan doa ini terdapat dalam tiga surah, yaitu: surah ke-(83), (104), (111)

  1. Istiftah bi al-Ta’lil (Pembukaan dengan alasan)

Pembukaan dengan alasan ini hanya terdapat dalam satu surat saja, yaitu surah ke-(106).

TAFSIR SURAT AL-IKHLAS DAN KEISTIMEWAAN MEMBACANYA

Surah al-Ikhlas memiliki banyak nama. Ada hampir 20 nama. Surah al-Muqasqisah, surah an-Najaah, al-Jamaal, al-Amaan, an-Nisbah dan lain-lain. Surah ini merupakan wahyu yang ke-19.

Pada wahyu-wahyu pertama, tidak disebut kata Allah tapi memakai kata rabb yang berarti Tuhan. Misalnya dalam surah al-Alaq 1-5, surah al-Mudatsir 1-7, dan seterusnya. Ini menjadi tanda tanya, mengapa pada wahyu pertama tidak disebut nama Allah?

Jawabnya sederhana, yakni karena kaum musyrik (penyekutu Tuhan) juga percaya Allah. Akan tetapi kepercayaan mereka tentang Allah berbeda dengan orang Islam. Orang Islam misalnya percaya bahwa Allah Maha Esa, Maha Suci, tidak memiliki anak dan tidak ada yang sama dengannya.

Karena ayat-ayat pertama turun hanya memakai lafal “rabb”, maka orang-orang Yahudi bertanya,

“Hai Muhammad, Kau selalu menyebut ‘rabb’, selalu menyebut nama ‘Tuhan’. Seperti apa sebetulnya Tuhan yang Kau maksud? Terbuat dari emaskah? Terbuat dari kayukah atau terbuat dari perak? Bagaimana Sifatnya?”

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah dan menyampaikan wahyu surah al-Ikhlas. Demikian sebagaimana disebutkan dalam kitab Tafsir at-Tabari.

    Kata “Ikhlas” di dalam Tafsir al-Mishbah dimaknai dengan suatu upaya menyingkirkan segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan Tuhan sehingga yang tersisa hanya gambaran tentang Tuhan. Misalnya anggapan manusia pada waktu itu yang menganggap Tuhan lebih dari satu, bahwa Tuhan memiliki anak dan lain sebagainya.

Surah al-Ikhlas bila diterjemahkan seperti demikian:

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.

Allah adalah zat yang Maha Esa. Kata Esa merupakan terjemahan dari kata ahad. Di dalam bahasa Arab, ada kata ahad, ada kata wahid. Keduanya bermakna satu. Apa bedanya? Ahad dalam zatnya, dalam sifatnya dan dalam perbuatannya. Misalnya jam tangan yang dipakai seseorang ada satu. Jam tangan tersebut satu namun terdiri atas beberapa unsur. Jam tangan membutuhkan jarum dan beberapa bahan. Satu yang terdiri atas beberapa unsur seabagaimana contoh jam tangan menggunakan kata wahid. Sedangkan Tuhan yang Maha Esa tidak membutuhkan unsur yang lain untuk keesaannya. Inilah yang disebut dengan ahad.

Suatu riwayat disandarkan kepada Ibnu ‘Abbas ra, menyatakan bahwa ash-shamad berarti: “tokoh yang telah sempurna ketokohannya, mulia dan mencapai puncak kemuliaan, yang agung dan mencapai puncak keagungan, yang penyantun dan tiada yang melebihi santunannya, yang mengetahui lagi sempurna pengetahuannya, yang bijaksana dan tiada cacat dalam kebijaksanaannya.”

Al-Allamah Ismail Haqqy dalam Tafsir Ruhul Bayan menyebutkan bahwa kata ash-shamad yang berpola Fa’al maknanya berpola maf’ul. Maknanya yang dituju oleh siapa saja yang memohon pertolongan. Yakni, Allah adalah Tuan yang dituju, tempat bergantung segala sesuatu dan tempat memohon segala jenis permohonan. Selain Allah pasti membutuhkan Allah dalam seluruh aspeknya. Di alam raya ini tidak ada yang pantas dituju selain Allah.

Adapun makna dari firman Allah lam yalid wa lam yuulad, Ibnu ‘Abbas menafsirkan, bahwa makna dari firman Allah (لَمْ يَلِدْ) “Dia tiada beranak.” Adalah: Allah tidak beranak seperti halnya Maryam. (وَ لَمْ يُوْلَدْ) “dan tiada pula diperanakkan.” Yakni: Allah tidak diperanakkan seperti halnya ‘Isa dan ‘Uzair.

Ayat ini sekaligus menjadi sindiran terhadap orang-orang Nashrani dan Yahudi yang menganggap ‘Isa dan ‘Uzair adalah Anak Allah. Setiap yang terlahirkan pasti akan mati, dan setiap yang mati pasti akan mewariskan, sedangkan Allah tidak akan pernah mati dan tidak pula mewariskan.

(وَ لَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ) “Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” Yakni: tidak ada yang menyerupai-Nya. “Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” Adalah: Allah tidak serupa atau setara dengan siapapun, dan tidak ada yang dapat menyerupai atau menyetarakan-Nya.

Pada ayat yang terakhir ini terdapat taqdim dan ta’khir (kata yang “dimajukan” dan kata yang “diakhirkan”), di mana khabar kana (yaitu kata (كُفُوًا)) dimajukan terhadap isim kana (أَحَدٌ). Biasanya kalimat yang menyebutkan kata kana seperti ini, maka yang disebutkan setelahnya adalah isim-nya dahulu baru setelah itu khabar-nya. Namun untuk menyesuaikan irama akhir-akhirnya ayat agar terbentuk menjadi satu, maka khabar kana pada ayat ini diakhirkan, dan bentuk kalimat seperti ini merupakan bentuk bahasa yang sangat tinggi.

Demikianlah penjelasan singkat mengenai surah al-Ikhlas. Tujuan utama kehadiran Alquran adalah memperkenalkan Allah dan mengajak manusia untuk mengesakan-Nya serta patuh kepada-Nya. Surah ini memperkenalkan Allah dengan memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyampaikan sekaligus menjawab pertanyaan sementara orang tentang Tuhan yang beliau sembah.

Surah al-Ikhlas memiliki beberapa khasiat. berikut adalah khasiat Surah al-Ikhlas. Pertama, orang yang membaca Surah al-Ikhlas lima puluh kali, ia akan mendapatkan panggilan masuk surga di hari kiamat. Jabir bin Abdullah  meriwayatkan bahwa Kanjeng Nabi Muhammad bersabda,

“Siapa yang membaca Surah al-ikhlas setiap hari 50 kali, maka pada hari kiamat, ia akan dipanggil dari kuburnya ‘Bangkitlah, wahai orang yang memuji Allah, dan masuklah ke dalam surga!” (HR. Thabrani).

Kedua, orang yang membaca surah al-Ikhlas sebanyak tujuh kali sesudah salat Jumat bersama-sama surah al-Falaq dan an-Nas, maka dirinya akan dijaga oleh Allah Swt, dari berbagai kejahatan sampai hari Jumat berikutnya.

Ketiga, surah al-Ikhlas, dikenal pula sebagai sepertiga Alquran, disebutkan dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari, Kanjeng Nabi Muhammad kepada para sahabatnya, “Apakah tidak ada yang mampu di antara kalian untuk membaca sepertiga Alquran dalam satu malam?”

Karena hal itu dirasa sulit bagi mereka, maka mereka menjawab, “Mana mungkin di antara kami ada yang mampu melakukannya, wahai Kanjeng Nabi?”

Rasulullah pun menjawab, “Qul huwa Allahu aḥad, Allahussamad adalah sepertiga Alquran.”

Keempat, keutamaan membaca surah al-Ikhlas adalah terhindar dari kefakiran. Cara pengamalannya adalah dengan membacanya setiap kali masuk rumah. Hal ini berdasarkan riwayat berikut, Rasulullah bersabda.

“Barang siapa membaca ‘Qul Huwallahu Ahad’ ketika akan masuk rumah, maka akan dijauhkan dari kefakiran dalam rumah dan tetangganya.” (HR. Ath-Thabrani dari Jarir ra).

Tentu saja masih ada banyak sekali khasiat membaca surah Al-Ikhlas yang tidak tertulis di sini. Wa ila-Allahi turja’ul umuur.

Referensi:

Tafsir Al-Mishbah Karya M. Quraish Shihab

Al Jaami’ liahkamil Qur’an karya Imam al-Qurtubhy

Jami’ al-Bayan ’an ta’wil al-Qur’an karya Imam Al-Tabari

Tafsir Ruhul Bayan karya Al-Alamah Ismail Haqqy

TAFSIR SURAT AL-MA’UN AYAT KE TIGA

Tafsir Surah Al-Ma’un

Ayat ketiga dalam surah al-Maun berkaitan dengan orang-orang yang miskin.

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

Ayat ini masih berkaitan dengan ayat sebelumnya yakni berkaitan dengan sikap Al-‘Ash bin Wail dan Al-Walid bin Al-Mughirah sebagaimana yang disebutkan dalam Tafsir Jalalain.

Dalam Kamus Lisanul Arab, Miskin diartikan dengan seseoang yang tidak memiliki sesuatu, dan dikatakan juga, orang yang tidak memiliki sesuatu cukup untuk menafkahinya, Abu Ishaq berpendapat: miskin adalah orang yang diselimuti kefakiran yaitu orang yang membatasi ruang geraknya (karena tidak memiliki sesuatu ia tidak dapat berbuat apa-apa). Dan makna ini sangat tidak tepat, karena kata miskỉn itu adalah subjek, dan perkatan Abu Ishaq yang mengatakan bahwasannya miskỉn itu adalah yang diselimuti kefakiran mengubah maknanya menjadi objek.

Adapun perbedaan antara miskin dan fakir disebutkan pada tempatnya masing-masing, dan kami akan menyebutkan sebagian penjelasan dari kata tersebut. Salah satunya adalah mif’ỉlun dari kata assukun seperti al-mintỉq dari annutqi.

Menurut Ibnu Al-Anbari, Yunus berkata, fakir itu lebih baik keadaannya daripada miskin, dan fakir adalah orang yang memiliki sesuatu atau sebagian yang membuatnya bertahan hidup. Sedangkan miskin merupakan keadaan yang lebih buruk daripada fakir. Dan ini juga merupakan perkataan dari Ibnu Sukait.

Asep Usman Ismail dalam Al-Qur‘an dan Kesejahteraan Sosial mengartikan kata نيكسم bahwa “ istilah miskin menggambarkan dari keadaan diri seseorang atau sekelompok orang yang lemah.”

Dalam ayat ini Allah menegaskan lebih lanjut bagaimana sifat pendusta itu, menurut Prof. H. Zaini Dahlan, MA. Dkk “yaitu dia tidak mengajak orang lain untuk membantu dan memberi makan orang miskin. Berdasarkan keterangan ini, bila seseorang tidak sanggup membantu orang-orang miskin, maka hendaklah ia menganjurkan orang lain untuk usaha yang mulia itu.”

Orang yang tidak mau berbagi dan membenci orang lain yang berbagi, mereka memiliki sifat kikir, buka orang-orang yang tidak dapat berbagi karena memang mereka tidak mampu, tetapi karena pendustaannya terhadap balasan dan ganjaran di akhirat nanti.

Mereka yang tidak mau mengajak orang lain supaya memberi makan orang miskin, ia melahap dan menikmatinya sendiri tanpa memikirkan orang miskin atau tidak dididiknya anak istrinya supaya menyediakan makanan bagi orang miskin itu jika mereka datang meminta bantuan. Orang seperti ini pun disebut sebagai pendusta agama.

Quraish Shihab menekankan bahwa “ayat di atas bukannya menyatakan tidak memberi makan, tetapi tidak menganjurkan memberi makan (harta). Dengan demikian tidak ada alasan bagi siapa pun, kendati miskin, untuk tidak mengamalkan kebaikan.”

Abu Ja’far maksud “tidak menganjurkan memberikan makan orang miskin” ialah tidak mendorong orang lain untuk memberi makan kepada orang yang membutuhkan.

Imam Zamakhsyari dalam a-Kasysyaaf menyebutkan seseorang disebut sebagai pendusta agama “Karena dalam sikap dan perangainya. Tidak mau menolong sesamanya yang lemah padahal Allah telah menjanjikan pahala dan balasan, tentu dia akan takut dengan azab Allah. Kalau sudah ditolaknya anak yatim dan didiamkannya orang miskin minta makan, jelaslah bahwa agama itu didustakannya.”

Muhammad Abduh menyebutkan bahwa ayat ini merpakan kiasan tentag manusia yang tidak biasa mendermakan seabgian dari hartanya kepada orang-orang miskin yang tidak cukup penghasilannya untuk membeli makan untuk dirinya dan keluarganya. Namun perlu diingat, kata Abduh, seseorang yang disebut miskin bukanlah orang yang meminta Anda memberi sesuatu sementara ia memiliki kemampuan untuk memperoleh makanannya. Orang-orang seperti ini disebut dengan mulhif, yaitu orang meminta-minta sambil mendesak orang lain agar memberinya, sementara ia masih memiliki cukup uang untuk keperluan hariannya. Karena tidak ada salahnya apabila seseorang memalingkan diri dari orang mulhif seperti itu dan menolak memberinya apa yang ia minta.

Perlu diketahui bahwa orang-orang yang rajin melaksanakan ibadah salat dan puasa sekalipun, namun ia suka menghina, pelit dan tidak mau menghimbau orang lain untuk berbuat kebajikan, mereka tetap dikelompokkan sebagai orang yang tidak percaya kepada agama. Orang yang benar-benar percaya pada agama, pasti ia akan menjadi orang yang tawadhu, tidak takabbur terhadap fakir miskin, tidak mengusir dan tidak mengahrdik mereka.

Dapat dipahami bahwa para mufassir sepakat menjelaskan tentang lanjutan ciri-ciri orang yang mendustakan agama, yakni mereka yang tetap melakukan salat terlebih bagi yang tidak melakukannya sedangkan mereka tidak mau memberi makan (harta) pada orang miskin, padahal itu adalah salah satu amal shalih yang paling penting dia tahu akan adanya pahala atau balasan dari Allah untuk setiap perbuatan kita, sehingga kalaupun kita tidak bisa memberi makan (harta) seorang miskin, kita harus menganjurkan orang lain untuk berbuat demikian. Mereka yang kikir biasanya akan selalu mencari alasan untuk tidak mengeluarkan hartanya, maka orang yang berperangai demikian lemah imannya dan keyakinannya tidak kokoh. (RM)

Referensi

Tafsir Al-Kasysyaf karya Imam Zamakhsyari

Lisanul ‘Arab karya Jamaluddin Abi Al-Fadhli Muhammad

Tafsir Marah Labid karya Syekh Nawawi Al-Bantani

Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab

Tafsir al-Qurtubi Karya Imam Al-Qurthuby

Tafsir Juz Amma karya Muhammad Abduh

Tafsir Al-Jalalain karya Jalaluddin al-Mahalli Jalaluddin as-Suyuthi

MANFAAT AIR HUJAN SEBAGAI RAJANYA OBAT SEGALA PENYAKIT

Diriwayatkan bahwasanya Nabi Muhammad SAW bersabda: Jibril mengajariku sebuah obat yang dengannya saya tidak lagi butuh pada obat lain dan dokter.

Kemudian Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, bertanya Apa itu wahai Rasulullah? Sesungguhnya kami membutuhkan obat tersebut.

Lalu Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Ambillah air hujan secukupnya, dan bacakanlah atasnya surat Al-Fatihah, Al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Naas, dan ayat Al-Kursiy. Masing-masing dibaca sebanyak 70 kali dan diminum pada waktu pagi dan sore selama 7 hari.”Demi Dzat yang telah mengutusku dengan hak sebagai seorang Nabi, sungguh Jibril telah berkata kepadaku.

” Sesungguhnya, barang siapa minum air tersebut, maka Allah akan menghilangkan segala penyakit dari tubuhnya. Dan Allah akan menyembuhkannya dari segala macam sakit. Dan barang siapa meminumkan air tersebut pada istrinya, lalu tidur bersama (bersenggama), maka istrinya akan bisa hamil dengan izin Allah SWT. Dan air tersebut juga bisa menyembuhkan mata yang sakit, menghilangkan sihir, menghilangkan dahak, menyembuhkan sakit dada, sakit gigi, gangguan pencernaan, dahaga, dan kecing tidak lancar. Sehingga tidak perlu lagi membekam. Dan manfaat-manfaat lain sangat banyak jumlahnya namun hanya Allah yang mengetahui.

Referensi

An-Nawadir hal : 194

فائدة   روي أنه صلى الله عليه وسلم قال علمني جبريل دواء لا أحتاج معه إلى دواء ولا طبيب  فقال أبو بكر وعمر وعثمان وعلي رضي الله عنهم   وما هو يا رسول الله ؟ إن بنا حاجة إلى هذا الدواء  فقال   يؤخذ شيئ من ماء المطر وتتلى عليه فاتحة الكتاب  وسورة الإخلاص  والفلق  والناس  وآية الكرسي  كل واحدة سبعين مرة ويشرب غدوة وعشية سبعة أيام  فو الذي بعثني بالحق نبيا  لقد قال لي جبريل   إنه من شرب من هذا الماء رفع الله عن جسده كل داء وعافاه من جميع الأمراض والأوجاع  ومن سقي منه امرأته ونام معها حملت بإذن الله تعالى

ويشفي العينين  ويزيل السحر  يقطع البلغم  ويزيل وجع الصدر والأسنان والتخم العطش وحصر البول  ولا يحتاج إلى حجامة ولا يحصى ما فيه من المنافع إلا الله تعالى  وله ترجمة كبيرة اختصرناها  والله أعلم

SELURUH ROSUL TERNYATA TERKANDUNG DALAM LAFADZ MUHAMMAD

Nabi Muhammad SAW adalah Rasul terakhir yang diutus Allah sebagai Rahmatan lil’alamin. Keistimewaan yang Allah anugerahkan kepada Beliau tidak akan pernah habis kita ungkapkan lewat tulisan maupun kata-kata. Beliau adalah figur yang patut diteladani oleh segenap umat manusia sebagai jalan menuju kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Ternyata keistimewaan bukan hanya terdapat pada diri Beliau semata. Bahkan nama beliau yaitu “Muhammad” juga tersimpan rahasia tersendiri seperti yang telah diuraikan di dalam beberapa kitab mu’tabarah yaitu jumlah para rasul yang diutuskan Allah yang berjumlah 314 orang terkandung dalam lafadh “Muhammad” tersebut.

Namun sebelum kita menghitung jumlahnya, terlebih dahulu kita harus mempelajari tentang simbol-simbol angka dari abjad arab. Sebelum ada angka-angka 1,2,3,4 dan seterusnya, manusia kala itu menggunakan simbol untuk jumlah tertentu. Seperti angka Romawi V untuk melambangkan angka 5, atau X untuk melambangkan 10. Begitu pula dengan huruf-huruf arab juga mempunyai simbol dari angka tertentu. Berikut daftar dari simbol-simbol angka tersebut :

ﺃ = 1     ح = 8   س = 60     ت= 400

ب= 2    ط= 9      ع=  70     ث = 500

ج = 3   ي = 10    ف = 80    خ = 600

د = 4    ك = 20     ص = 90    ذ = 700

ﻫ = 5    ل = 30    ق = 100    ض = 800

و = 6    م = 40    ر = 200    ظ = 900

ز = 7    ن = 50    ش = 300    غ = 1000

Selanjutnya mari kita hitung jumlah angka yang terkandung dalam lafadh Muhamad (محمد)

Huruf Mim bila diuraikan maka terdapat tiga huruf yaitu huruf Mim,Yaa dan Mim (ميم) sehingga bila dijumlahkan berdasarkan simbol diatas maka jumlahnya 90 karena huruf Mim = 40 dan huruf Yaa = 10. Pada lafadh Muhammad terdapat tiga huruf Mim sehingga jumlah keseluruhan dari semua huruf Mim adalah 90×3= 270.

Huruf Ha’ bila diuraikan akan tersusun dari huruf Ha’ dan Alif (حأ) , maka dalam huruf Ha’ bernilai 8+1=9.

Dan huruf “Dal” bila diuraikan maka tersusun dari huruf Dal, Alif dan Lam (دال), maka jumlahnya 4+1+30=35. Sehingga jumlah keseluruhan dari susunan lafadh Muhammad tersebut adalah 270+9+35=314. Sesuai dengan jumlah para rasul yaitu 314 orang. Maka pada nama Beliau tersebut punya isyarat bahwa kesempurnaan yang terdapat pada para rasul, semuanya terdapat pada diri beliau.

Referensi

Hasyiyah Syarwani ‘ala Tuhfatul Muhtaj 1 : 29 cet. Darl Fikr

استنبط بعض العلماء من محمد ثلثمائة وأربعة عشر رسولا فقال فيه ثلاث ميمات وإذا بسطت كلا منها قلت فيه م ي م وعدتها بحساب الجمل الكبير تسعون فيحصل منها مائتان وسبعون وإذا بسطت الحاء والدال قلت دال بخمسة وثلاثين وحاء بتسعة فالجملة ما ذكر

Hasyiyah Bujairimi ‘ala Syarh Manhaj 1 : 19 Cet. Darl Kutub Ilmiyyah

استنبط بعض العلماء من محمد ثلاثمائة وأربعة عشر رسولا فقال: فيه ثلاث ميمات وإذا بسطت كلا منها قلت م وم وم عدتها بحساب الجمل الكبير تسعون فيحصل منها مائتان وسبعون وإذا بسطت الحاء والدال قلت دال بخمسة وثلاثين وحاء بتسعة فالجملة ما ذكر ففي اسمه الكريم إشارة إلى أن جميع الكمالات الموجودة في المرسلين موجودة فيه شيخنا ملوي

Kifayatul ‘awam hal. 17

ﺇن شئت عدة رسل كلها جمعا *

محمد سيد الكونين من فضلا

خذ لفظ ميم ثلاثا ثم حا و كذا *

دال تجد عددا للمرسلين علا

Tuhfatul Muhtaj bi syarh Al Minhaj 1 : 29 cet. Darl Fikr

وصح خبر أن عدد الأنبياء مائة وألف وأربعة وعشرون ألفا وخبر أن عدد الرسل ثلثمائة وخمسة عشر

قوله وخمسة عشر) أو وأربعة عشر أو وثلاثة عشر أقوال شيخنا

SALAH SATU SIFAT KEPEMIMPINAN ROSULULLOH SAW.

Pengarang kitab “Akhbarul Madinah” (Sejarah Kota Madinah), yaitu Ibnu Syabbah, seorang perawi hadis dan ahli sejarah yang hidup pada abad ke-3 Hijriah, menuturkan kisah yang menarik tentang Kanjeng Nabi Muhammad saw. Kisah ini, penting sekali karena bisa menjadi teladan bagi orang-orang yang hendak menjadi pemimpin.

 

Berikut kisah yang dituturkan Ibnu Syabbah:

Tahun-tahun pertama ketika Nabi SAW. baru datang di Madinah dan secara fisik masih cukup kuat, beliau punya kebiasaan menjenguk orang-orang yang sedang sakit keras dan menjelang maut — “ukhtudlira”, “dying”. Nabi akan menunggui, membacakan istighfar, memintakan ampunan bagi sang pasien, hingga yang terakhir ini meninggal. Kadang-kadang Nabi menunggu berjam-jam.

Kebiasaan semacam ini menimbulkan rasa kasihan pada sebagian sahabat. Mereka tidak tega melihat Nabi menunggu berjam-jam. Urusan beliau, sebagai kepala proto-negara Madinah dan pemimpin agama, tentulah banyak.

Akhirnya mereka bersepakat untuk tidak memberi-tahu Nabi jika ada seorang yang sedang sekarat. Mereka akan memberi tahu Nabi setelah yang bersangkutan meninggal.

Ketika Nabi diberitahu, beliau akan “cekat-ceket”, segera datang, menunggui jenazah hingga selesai di-“pulasara”, dikafani, lalu menyalatinya, dan kerap juga mengantarnya hingga ke pemakaman.

Melihat hal ini pun, para sahabat merasa kasihan. Nabi kadang harus menempuh jarak yang jauh untuk melayat seseorang. Ketika Nabi sudah mulai sepuh, dan badannya tak sekuat ketika masih muda, kebiasaan ini tentu memberatkan Kanjeng Nabi dan menimbulkan rasa kasihan pada sahabat-sahabatnya.

Lalu, sahabat membuat kesepakatan baru. Mereka tak akan memberi tahu Kanjeng Nabi jika ada orang meninggal. Merekalah yang akan membawa jenazah itu ke Madinah, ke sebuah tempat di dekat “ndalem” beliau. Di sana ada dua pohon kurma. Di sanalah biasanya Nabi manyalatkan jenazah-jenazah yang dibawa untuk “di-sowan-kan” kepada beliau.

Dengan demikian, Kanjeng Nabi tak perlu repot-repot untuk mendatangi rumah jenazah yang kadang letaknya jauh dari Madinah.

Saat membaca kisah ini, langsung teringat, Kiai Abdullah Salam, paman Kiai Sahal Mahfudh, dari Kajen, Pati. Beliau punya kebiasaan unik pada saat masih muda, yaitu mendatangi “walimah” atau resepsi pernikahan siapa pun yang mengundang beliau. Beliau tak sekedar datang, tetapi juga menikahkan.

Memang itulah tujuan orang-orang mengundang  “rawuh”, datang, yaitu “tabarrukan”, ngalap berkah  agar pernikahan putra-putri mereka mendapatkan keberkahan.

Saat beliau sudah sepuh dan tak mungkin lagi mendatangi walimah, orang-orang yang menginginkan agar putra-putri mereka dinikahkan oleh Kyai, untuk “tabarrukan”, membawa sepasang penganten ke “ndalem”, rumah beliau, dan beliau akan menikahkan di ruang-tamu yang tak cukup besar. Para tamu biasanya akan berjubel di ruang itu.

Yang unik: Kerap kali beliau lah yang menanggung seluruh kebutuhan konsumsi untuk para tamu yang datang menghadiri akad-nikah. Dan hal ini bukan berlangsung satu-dua kali saja, melainkan amat sering terjadi. Ruang tamu Mbah Dullah sering menjadi tempat pernikahan para pasangan yang hendak “tabarrukan”, ngalap berkah tadi.

Anda mungkin mengira bahwa kekuarga-keluarga yang membawa anak-anak mereka untuk dinikahkan hanya sebatas mereka yang pernah menjadi santri atau kerabat dekat.

Sama sekali tidak. Yang minta dinikahkan  ini datang dari semua kalangan, baik yang dikenal atau tidak, baik orang besar atau kecil, baik orang berpunya atau miskin. Semua dilayani oleh beliau, tanpa pilih kasih.

Teladan ini, mengharukan sekali. Ini contoh “a caring leader”, pemimpin yang peduli pada mereka yang menjadi pengikutnya. Apa yang dilakukan oleh Kanjeng Nabi dan diteladani walau tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat luar biasa. Teladan ini menciptakan perasaan “adem” pada para pengikut: bahwa pemimpin mereka peduli, bahwa mereka diperhatikan.

Dengan tindakan sederhana ini, Kanjeng Nabi,  Menciptakan ikatan yang erat dengan umat yang menjadi pengikut, juga “trust”, kepercayaan. Ikatan ini tak bisa lahir karena ceramah saja, melainkan teladan yang langsung dilakukan oleh sang pemimpin.

“Eloquent speeches about common values, however, are not nearly enough,” kata James Kouzes dalam buku klasik mereka tentang bagaimana menjadi pemimpin, “The Leadership Challenge”. Artinya: khotbah yang berjela-jela tentang nilai yang baik, bagaimana pun, tak memadai. Tindakan seorang pemimpin jauh lebih “makjleb” dan menembus perasaan para pengikut.

Prinsip pertama tentang memimpin, menurut Kouzesz, adalah “model the way,” memberi contoh. Ki Hajar Dewantara merumuskannya dalam kalimat yang indah: ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Empat belas abad yang lampau, Kanjeng Nabi telah meneladankan prinsip yang sekarang menjadi tampak “keren” karena ditulis dalam kitab dan buku manajemen yang kerap kita lihat di rak-rak toko buku.

DI BALIK KESEDERHANAAN ROSULULLOH SAW ADA HIKMAH YANG LUAR BIASA

Diriwayatkan dari Sayyidina Abdullah Ibn ‘Abbas رضي الله تعالى عنهما , beliau berkata, Sayyidina Umar رضي الله تعالى عنه telah menceritakan, ketika beliau masuk kerumah Rasulullah صلى الله عليه وسلم beliau menceritakan, “Ketika aku masuk ke rumah Rasulullah صلى الله عليه وسلم maka aku melihat bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم berada di atas tikarnya (yang terbuat dari pelepah kurma) maka aku duduk diatas hamparan sarung Rasulullah صلى الله عليه وسلم , tiada apapun di bawahnya, hanya tanah dibalik sarung tersebut, maka aku lihat lambung Rasulullah صلى الله عليه وسلم terdapat bekas hamparan tikar tempat beliau tidur, maka tiba2 aku pun terkejut, aku melihat ada segenggam/sekitar 1 sho’ gandum (tidak lebih) kemudian aku pun terkejut, hanya terdapat 1 kulit tempat mimum air Rasulullah yang digantungkan (teramat sangat sederhana). Maka tanpa kusadari kedua air mataku pun mengalir…”

Rasulullah pun melihatnya kemudian beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Ibn Khottob?”

Maka saya pun menjawab,“ Wahai Rasulallah, bagaimana aku tidak menangis, tikar ini telah memberikan bekas pada lambungmu wahai Rasulallah, Engkau tidak mempunyai harta apa-apa kecuali yang saya lihat. Sedangkan kita melihat bagaimana raja-raja, kaisar-kaisar yang hidup di istana mereka dikelilingi buah2an segar dan sungai2 jernih yang menyegarkan, sedangkan Engkau Nabi Allah, orang yang disucikan oleh Allah Ta’ala, hanya ini saja yang engkau miliki wahai Nabi Allah?”

Rasulullah pun berkata, “Wahai Ibn Khottob, tidakkah engkau ridha, jika nanti kita mendapat keni’matan di akhirat, sedangkan bagi mereka hanya di dunia saja. Mereka itulah kaum yang disegerakan oleh Allah Ta’ala keni’matannya hanya di dunia, keni’matan sementara, sedangkan kita adalah kaum yang ditunda keni’matan yang didapatkan kelak di akhirat.”

(Dinukil dari kitab wa saaili a-wushul ilaa syamaail al-rasul, fashl yang ke dua)

وعن ابن عباس رضي الله تعالى عنهما قال حدثني عمر ابن الخطاب رضي الله عنه قال دخلت رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو على حصير قال فجلست فاذا عليه ازارو ليس عليه غيره واذا الحصير قداثر في جنبه واذا بقبضة من الشعير نحو الصاع واذا هاب معلق فابتدرت عيناي فقال ما يبكيك يا ابن الخطاب فقلت يا نبي الله ومالي لا ابكى وهذا الحصير قداثر في جنبك وهذه خزائنك لا ارى فيها الا ما ارى وذاك كسرى وقصير في الثمار والانهار وانت نبي الله وصفوته وهذه خزائنه قال يا ابن الخطاب اما ترضى ان تكون لنا الاخرة ولهم الدنيا اولئك قوم عجلت لهم طيباتهم وهي وشيكة الانقطاع وانا قوم اخرت لنا طيبتنا في اخرتنا

(وسائل الوصول الى شمائل الرسول، الفصل الثاني في صفة فراشه صلى الله عليه وسلم وما يناسبه، ص ٤٨ )

PREDIKSI ULAMA DAN BEBERAPA TANDA MALAM LAILATUL QODAR

PREDIKSI LAILATUL QADAR

Pertama:

Dalam kitab I’anatuththalibiin juz II halaman 257 :

قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر،

فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء: فهي ليلة تسع وعشرين.

أو يوم الاثنين: فهي ليلة إحدى وعشرين.

أو يوم الثلاثاء أو الجمعة: فهي ليلة سبع وعشرين.

أو الخميس: فهي ليلة خمس وعشرين.

أو يوم السبت: فهي ليلة ثلاث وعشرين.

Jika awal Ramadhan hari Ahad atau Rabu maka lailatul qodar malam 29

Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam 21

Jika awal Ramadhan hari Selasa atau Jumat maka lailatul qodar malam 27

Jika awal Ramadhan hari Kamis maka lailatul qodar malam 25

Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka lailatul qodar malam 23

Kedua:

Dalam kitab Hasyiyah ash Shaawi ‘alal Jalaalain juz IV halaman 337 :

فعن أبي الحسن الشاذلي إن كان أوله الأحد فليلة تسع وعشرين ، أو الإثنين فإحدي وعشري أو الثلاثاء فسبع وعشرين أو الأربعاء فتسعة عشر أو الخميس فخمس وعشرين أو الجمعة فسبعة عشر أوالسبت فثلاث وعشرين

Jika awal Ramadhan hari Ahad maka lailatul qodar malam 29

Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam 21

Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qodar malam 27

Jika awal Ramadhan hari Rabu maka lailatul qodar malam 19

Jika awal Ramadhan hari Kamis maka lailatul qodar malam 25

Jika awal Raamadhan hari Jumat maka lailatul qadar malam 17

Jika awal Raamadhan hari Sabtu maka lailatul qadar malam 23

Ketiga:

Dalam kitab Hasyiyah al Bajuri ‘ala Ibni Qaasim al Ghaazi juz I halaman 304 :

وذكرو لذلك ضابطا وقد نظمه بعضهم بقوله

: وإنا جميعا إن نصم يوم جمعة ¤ ففي تاسع العشرين خذ ليلة القدر .

وإن كان يوم السبت أول صومنا ¤ فحادي وعشرين اعتمده بلا عذر

. وإن هل يوم الصوم في أحد ففي ¤ سابع العشرين ما رمت فاستقر

. وإن هل بالأثنين فاعلم بأنه ¤ يوافيك نيل الوصل في تاسع العشري

. ويوم الثلاثا إن بدا الشهر فاعتمد ¤ علي خامس العشرين تحظي بها فادر .

وفي الإربعا إن هل يا من يرومها ¤ فدونك فاطلب وصلها سابع العشري .

ويوم الخميس إن بدا الشهر فاجتهد ¤ توافيك بعد العشر

في ليلة الوتر .

Jika awal Ramadhan hari Jumat maka lailatul qodar malam 29

Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka lailatul qodar malam 21

Jika awal Ramadhan hari Ahad maka lailatul qodar malam 27

Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam 29

Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qodar malam 25

Jika awal Raamadhan hari Rabu maka lailatul qadar malam 27

Jika awal Raamadhan hari Kamis maka malam ganjil setelah malam 20

Tanda-tanda Lailatul Qadar:

Imam Muslim dalam kitab Shahihnya juz I halaman 306,cetakan al Ma’arif Bandung Indonesia:

Sanad dan matannya sebagai berikut:

حدثنا محمد بن مهران الرازي حدثنا الوليد بن مسلم حدثنا الأوزاعي حدثني عبدة عن زر قال س

معت أبي بن كعب يقول وقيل له إن عبد الله بن مسعود يقول من قام السنة أصاب ليلة القدر فقال أبي والله الذي لا إله إلا هو إنها لفي رمضان {يحلف ما يستثني] ووالله إني لأعلم أي ليلة هي هي الليلة التي أمرنا بها رسول الله صلي الله عليه وآله وسلم بقيامها هي ليلة صبيحة سبع وعشرين وأمارتها أن تطلع الشمس في صبيحة يومها بيضاء لا شعاع لها .

”…….Ubay ibn Ka’b,dia berkata: “… demi Dzat yang tiada tuhan kecuali Dia, sungguh malam (Lailatul Qadar) itu ada dalam bulan Ramadhan. Demi A llah aku sungguh tahu kapan malam itu, yaitu malam yang kita diperintah oleh Rasulullah SAW untuk beribadah didalamnya, yaitu malam 27 yang bersinar. Adapun tanda-tandanya adalah matahari terbit pagi harinya dengan cahaya putih namun tidak ada sorotnya

Al Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya juz IV halaman 846:

ذكر أثر غريب ونبأ عجيب، يتعلق بليلة القدر، رواه الإمام أبو محمد بن أبي حاتم، عند تفسير هذه السورة الكريمة فقال:

حدثنا أبي، حدثنا عبد الله بن أبي زياد القَطواني، حدثنا سيار بن حاتم،

حدثنا موسى بن سعيد – يعني الراسبي- عن هلال أبي جبلة، عن أبي عبد السلام، عن أبيه، عن كعب أنه قال:إن سدرة المنتهى على حد السماء السابعة، مما يلي الجنة، فهي على حَدّ هواء الدنيا وهواء الآخرة، عُلوها في الجنة، وعروقها وأغصانها من تحت الكرسي، فيها ملائكة لا يعلم عدّتهم إلا الله، عز وجل، يعبدون الله، عز وجل، على أغصانها في كل موضع شعرة منها ملك. ومقام جبريل، عليه السلام، في وسطها، فينادي الله جبريل أن ينـزل في كل ليلة قَدْر مع الملائكة الذين يسكنون سدرة المنتهى، وليس فيهم ملك إلا قد أعطى الرأفة والرحمة للمؤمنين، فينـزلون على جبريل في ليلة القدر، حين تغرب الشمس، فلا تبقى بقعة في ليلة القدر إلا وعليها ملك، إما ساجد وإما قائم، يدعو للمؤمنين والمؤمنات، إلا أن تكون كنيسة أو بيعة، أو بيت نار أو وثن، أو بعض أماكنكم التي تطرحون فيها الخبَث، أو بيت فيه سكران، أو بيت فيه مُسكر، أو بيت فيه وثن منصوب، أو بيت فيه جرس مُعَلّق، أو مبولة، أو مكان فيه كساحة البيت، فلا يزالون ليلتهم تلك يدعون للمؤمنين والمؤمنات، وجبريل لا يدع أحدًا من المؤمنين إلا صافحه، وعلامة ذلك مَن اقشعر جلدهُ ورقّ قلبه ودَمعَت عيناه، فإن ذلك من مصافحة جبريل.

Menuturkan atsar yang gharib yang berkaitan dengan lailatul Qadar yang diriwayatkan oleh Imam Abu Muhammad ibn Abi Hatim ketika memberi tafsir surat ini (“INNAA ANZALNAAHU”)

……….. dari KA’AB, bahwasanya di malam Lailatul Qadar, Malaikat Jibril tidak menyisakan satupun dari orang-orang mukmin kecuali dia menjabat tangannya. Adapun tanda-tandanya ialah gemetar kulitnya (mrinding.Jw), lembut hatinya dan air matanya mengalir. Itu adalah karena jabat tangan malaikat Jibril

Imam Ibn Khuzaimah meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab shahihnya juz VIII halaman 106,

Sanad dan matannya sebagai berikut:

حدثنا بندار ، حدثني أبو عامر ، حدثنا زمعة ، عن سلمة هو ابن وهرام ، عن عكرمة ، عن ابن عباس ، عن النبي صلى الله عل

يه وسلم في ليلة القدر : « ليلة طلقة ، لا حارة ولا باردة ، تصبح الشمس يومها حمراء ضعيفة »

“…dari Ibn Abbas,dari Nabi Shollallaahu ‘alaihi wasallam, tentang Lailatul Qadar :”Malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan”

Ath Thabarani meriwayatkan dalam Musnad Syamiyyin juz IV halaman 309 nomor urut 3389 meriwayatkan:

Sanad dan matannya sebagai berikut:

حدثنا الوليد بن حماد الرملي ثنا سليمان بن

عبد الرحمن ثنا بشر بن عون ثنا بكار بن تميم عن مكحول عن واثلة بن الأسقع عن رسول اللهA قال ( ليلة القدر ( ليلة ) بلجة لا حارة ولا باردة ولا سحاب فيها ولا مطر ولا ريح ولا يرمى فيها بنجم ومن علامة يومها تطلع الشمس لا شعاع لها )

“…Dari Watsilah ibn al Asqa’ dari Rasulillah Shollallaahu ‘alaihi wasallam:

(Lailatul Qadar itu adalah) “Malam yang terang bercahaya, tidak panas, tidak dingin, tiada awan, tiada hujan, tiada angin, dan dimalam itu tiada dilempar dengan bintang. Tanda dipagi harinya adalah matahari terbit tanpa ada cahaya yang bersinar”.

WALLOHU’ALAM BIS SHOWAB

SHOLAWAT BAHRIYAH AL-KAMILATID DA-IMAH (SHOLAWAT MULTIFUNGSI)


صلواة بحرية الكاملة الدائمة
SHOLAWAT BAHRIYAH AL-KAAMILATID DAA-IMAH (SHOLAWAT MULTIFUNGSI)
.
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً دَائِمَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نُوْرِ الْأَجْوَدِ ، وَبَحْرِ أَنْوَارِكَ ، وَمَعْدَنِ أَسْرَارِكَ ، وَلِسَانِ حُجَّتِكَ ، وَعَرُوْسِ مَمْلَكَتِكَ ، وَإِمَامِ حَضْرَتِكَ ، وَطِرَازِ مُلْكِكَ ، وَخَزَائِنِ رَحْمَتِكَ ، وَطَرِيْقِ شَرِيْعَتِكَ ، الْمُتَلَذِّذِ بِمُشَاهَدَتِكَ ، إِنْسَانِ عَيْنِ الْوُجُوْدِ ، وَسَبَابِ كُلِّ مَوْجُوْدٍ ، عَيْنِ أَعْيَانِ خَلْقِكَ ، الْمُتَقَدِّمِ مِنْ نُوْرِ ضِيَائِكَ ، وَعَلٰى آلِهٖ وَصَحْبِهٖ أَجْمَعِيْنَ• فِى كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ وَسَاعَةٍ ، فِى لَيْلٍ وَنَهَارٍ ، وَقِيَامٍ وَقَعُوْدٍ ، وَنَوْمٍ وَيَقْظَةٍ ، تَدُوْمُ بِدَوَامِ مُلْكِكَ يَاأَللّٰهُ ، عَدَدَ مَا وَسِعَهُ عِلْمُكَ ، وَعَدَدَ خَلْقِكَ ، وَرِضٰى نَفْسِكَ ، وَزِنَةَ عَرْشِكَ ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ ، وَعَدَدَ مَا أَحَاطَ بِهٖ عِلْمُكَ ، وَأَحْصَاهُ كِتَابُكَ ، وَجَرٰى بِهٖ قَلَمُكَ . وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لاَ مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ •
صَلَاةً تُرْضِيْكَ وَتُرْضِيْهِ وَتَرْضَ بِهَا عَنِّيْ • ﺭَﺏِّ ﺃَﻭْﺯِعْنِىٓ ﺃَﻥْ ﺃَﺷْﻜُﺮَ ﻧِﻌْﻤَﺘَﻚَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﺃَﻧْﻌَﻤْﺖَ ﻋَﻠَﻲَّ ﻭَﻋَﻠَﻰٰ ﻭَﺍﻟِﺪَﻱَّ ﻭَﺃَﻥْ ﺃَﻋْﻤَﻞَ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﺗَﺮْﺿَﺎﻩُ ﻭَﺃَﺩْﺧِﻠْﻨِﻲ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﻓِﻲ ﻋِﺒَﺎﺩِﻙَ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴْﻦَ • ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺭَﺿُﻮﺍ ﻋَﻨْﻪُ ۚ ﺃُﻭلٰٓئِكَ ﺣِﺰْﺏُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﺃَﻻَ ﺇِﻥَّ ﺣِﺰْﺏَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ • ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺭَﺿُﻮﺍ ﻋَﻨْﻪُ ۚ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻟِﻤَﻦْ ﺧَﺸِﻲَ ﺭَﺑَّﻪُ • ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺭَﺿُﻮﺍ ﻋَﻨْﻪُ ۚ ﺫَٰﻟِﻚَ ﺍﻟْﻔَﻮْﺯُ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴﻢُ • ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺃَﻛْﻤَﻠْﺖُ ﻟَﻜُﻢْ ﺩِﻳﻨَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺗْﻤَﻤْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻧِﻌْﻤَﺘِﻲ ﻭَﺭَﺿِﻴﺖُ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡَ ﺩِﻳﻨًﺎ ۚ • ﻳَﺎ ﺃَﻳَّﺘُﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲُ ﺍﻟْﻤُﻄْﻤَﺌِﻨَّﺔُ • ﺍﺭْﺟِﻌِﻲ ﺇِﻟَﻰٰ ﺭَﺑِّﻚِ ﺭَﺍﺿِﻴَﺔً ﻣَّﺮْﺿِﻴَّﺔً • ﻓَﺎﺩْﺧُﻠِﻲ ﻓِﻲ ﻋِﺒَﺎﺩِﻱ • ﻭَﺍﺩْﺧُﻠِﻲ ﺟَﻨَّﺘِﻲْ •
صَلَاةً تُطْمَئِنُّ وَتُخَلِّصُ وَتُنَوِّرُ بِهَا قَلْبِيْ وَعَقْلِيْ وَفِكْرِيْ • ﺑَﻠٰﻰ ﺇِﻥْ ﺗَﺼْﺒِﺮُﻭﺍ ﻭَﺗَﺘَّﻘُﻮﺍ ﻭَﻳَﺄْﺗُﻮﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﻓَﻮْﺭِﻫِﻢْ ﻫٰﺬَﺍ ﻳُﻤْﺪِﺩْﻛُﻢْ ﺭَﺑُّﻜُﻢْ ﺑِﺨَﻤْﺴَﺔِ ﺁﻻَﻑٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﻼَٓﺋِﻜَﺔِ ﻣُﺴَﻮِّﻣِﻴْﻦَ • ﻭَﻣَﺎ ﺟَﻌَﻠَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺇِﻟَّﺎ ﺑُﺸْﺮَﻯٰ ﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻟِﺘَﻄْﻤَﺌِﻦَّ ﻗُﻠُﻮﺑُﻜُﻢْ ﺑِﻪِ ۗ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟﻨَّﺼْﺮُ ﺇِﻟَّﺎ ﻣِﻦْ ﻋِﻨْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟْﻌَﺰِﻳﺰِ ﺍﻟْﺤَﻜِﻴْﻢِ • ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻗُﺮِﺉَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻓَﺎﺳْﺘَﻤِﻌُﻮْﺍ ﻟَﻪُ ﻭَﺃَﻧﺼِﺘُﻮْﺍ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﺮْﺣَﻤُﻮْﻥَ • ﻭَﺍﺫْﻛُﺮْ ﺭَّﺑَّﻚَ ﻓِﻲْ ﻧَﻔْﺴِﻚَ ﺗَﻀَﺮُّﻋﺎً ﻭَﺧِﻴْﻔَﺔً ﻭَﺩُﻭْﻥَ ﺍﻟْﺠَﻬْﺮِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘَﻮْﻝِ ﺑِﺎﻟْﻐُﺪُﻭِّ ﻭَﺍﻵﺻَﺎﻝِ ﻭَﻻَ ﺗَﻜُﻦْ ﻣِّﻦَ ﺍﻟْﻐَﺎﻓِﻠِﻴﻦَ • ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻧَﺰَّﻝَ ﺃَﺣْﺴَﻦَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺑًﺎۢ مُتَشَاﺑِﻬًﺎ ﻣَﺜَﺎﻧِﻲَ ﺗَﻘْﺸَﻌِﺮُّ ﻣِﻨْﻪُ ﺟُﻠُﻮﺩُ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻳَﺨْﺸَﻮْﻥَ ﺭَﺑَّﻬُﻢْ ﺛُﻢَّ ﺗَﻠِﻴْﻦُ ﺟُﻠُﻮْﺩُﻫُﻢْ ﻭَﻗُﻠُﻮْﺑُﻬُﻢْ ﺇِﻟَﻰٰ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻫُﺪَﻯ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﻬْﺪِﻱ ﺑِﻪٖ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎءُ •
ُ
صَلَاةً تُشْرِحُ بِهَا صَدْرِيْ ، وَتَكْشِفُ بِهَا فُؤَادِيْ وَبَصَرِيْ وَنَظَرِيْ ، وَتُنْجِى بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْأٓفَاتِ • ﺭَﺏِّ ﺍﺷْﺮَﺡْ ﻟِﻲْ ﺻَﺪْﺭِﻱْ • ﻭَﻳَﺴِّﺮْ ﻟِﻲْ ﺃَﻣْﺮِﻱْ • ﻭَﺍﺣْﻠُﻞْ ﻋُﻘْﺪَﺓً ﻣِﻦْ ﻟِﺴَﺎﻧِﻲْ • ﻳَﻔْﻘَﻬُﻮْﺍ ﻗَﻮْﻟِﻲْ • ﺃَﻓَﻤَﻦْ ﺷَﺮَﺡَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺻَﺪْﺭَﻩُ ﻟِﻠْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻓَﻬُﻮَ ﻋَﻠَﻰٰ ﻧُﻮﺭٍ ﻣِّﻦْ ﺭَّﺑِّﻪِۦ • ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﺧْﺮَﺟَﻜُﻢْ ﻣِّﻦْ ﺑُﻄُﻮْﻥِ ﺃُﻣَّﻬَﺎﺗِﻜُﻢْ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﺟَﻌَﻞَ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻭَﺍﻟْﺄَﺑْﺼَﺎﺭَ ﻭَﺍﻟْﺄَﻓْﺌِﺪَﺓَ ۙ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺸْﻜُﺮُﻭﻥَ •
صَلَاةً تَفْتَحُ لِيْ بِهَا جَمِيْعَ الْعَالَمِ وَالْحِجَابِ وَالسِّتْرِ ، وَتَنْزِعُ الْحِجَابَ وَالسِّتْرَ مِنِّيْ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا ، بَيْنِيْ وَبَيْنَكَ ، وَبَيْنِيْ وَبَيْنَ خَلْقِكَ أَجْمَعِيْنَ ، حَتَّى أُشَاهِدَ بِهَا عَجَائِبَ الْمَلَكُوْتِ ، وَأَسْتَجْلِيَ بِهَا عَرَائِسَ الْجَبَرُوْتِ ، وَأَسْتَمْطِرَ بِهَا غُيُوْثَ الرَّحَمُوْتِ ، وَأَرْتَضِ بِهَا عَنْ عِلَاقَةِ نَاسُوْتِ الْبَهَمُوْتِ ، يَالَهُوْتَ كُلِّ نَاسُوْتِ يَاأَللّٰهُ • ﺃَﻟَﻢْ ﻧَﺸْﺮَﺡْ ﻟَﻚَ ﺻَﺪْﺭَﻙَ • ﻭَﻭَﺿَﻌْﻨَﺎ ﻋَﻨْﻚَ ﻭِﺯْﺭَﻙَ • ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃَﻧْﻘَﺾَ ﻇَﻬْﺮَﻙَ • ﻭَﺭَﻓَﻌْﻨَﺎ ﻟَﻚَ ﺫِﻛْﺮَﻙَ • ﻓَﺈِﻥَّ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻌُﺴْﺮِ ﻳُﺴْﺮًﺍ • ﺇِﻥَّ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻌُﺴْﺮِ ﻳُﺴْﺮًﺍ • وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ إِلَّا بُشْرٰى وَ لِتَطْمَئِنَّ بِهٖ قُلُوْبُكُمْۚ وَ مَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِۚ إِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ • ﺇِﺫْ ﻳُﻐَﺸِّﻴْﻜُﻢُ ﺍﻟﻨُّﻌَﺎﺱَ ﺃَﻣَﻨَﺔً ﻣِﻨْﻪُ ﻭَﻳُﻨَﺰِّﻝُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎٓﺀِ ﻣَﺎٓﺀً ﻟِﻴُﻄَﻬِّﺮَﻛُﻢْ بِهِۦ ﻭَﻳُﺬْﻫِﺐَ ﻋَﻨْﻜُﻢْ ﺭِﺟْﺰَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﻭَﻟِﻴَﺮْﺑِﻂَ ﻋَﻠٰﻰ ﻗُﻠُﻮﺑِﻜُﻢْ ﻭَﻳُﺜَﺒِّﺖَ ﺑِﻪِ ﺍﻷﻗْﺪَﺍﻡَ • إِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّيْ مَعَكُمْ فَثَبِّتُوْا الَّذِيْنَ آمَنُوْاۚ •
صَلَاةً تَجْتَمِعُ لِيْ وَتُعْطِى بِهَا جَمِيْعَ الْخَيْرِ وَ الْفَضَائِلِ وَالْكَمَالِ ، وَتَرْزُقَنِيْ مِنْ حَيْثُ لاَ أَحْتَسِبُ ، وَأَنْ تَجْعَلَنِيْ بِهَا كَبِيْرًا بِالْعِلْمِ وَالْعِرْفَانِ ، بِأَسْرَارِ وَحْدَتِكَ فِى جَمِيْعِ الْأَزْمَانِ ، وَارْزُقْنِيْ فَتْحًا جَامِعًا وَنُوْرًا لَامِعًا وَسَمْعًا سَامِعًا ، حَتَّى لَا أَسْمَعَ إِِلَّا مِنْكَ ، وَلَا أَقُوْلُ إِِلَّا عَنْكَ ، وَلَا أَسْكُنُ إِِلَّا إِِلَيْكَ ، فَأَنْتَ الْمَوْجُوْدُ بِكُلِّ مَكَانٍ ، وَالْمَعْبُوْدُ بِكُلِّ لِسَانٍ فِى كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ • ﻭَﻳُﺮِﻳْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﻳُﺤِﻖَّ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﺑِﻜَﻠِﻤَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻳَﻘْﻄَﻊَ ﺩَﺍﺑِﺮَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮِﻳْﻦَ • ﻟِﻴُﺤِﻖَّ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﻭَﻳُﺒْﻄِﻞَ ﺍﻟْﺒَﺎﻃِﻞَ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺮِﻩَ ﺍﻟْﻤُﺠْﺮِﻣُﻮﻥَ • ﺇِﺫْ ﺗَﺴْﺘَﻐِﻴْﺜُﻮْﻥَ ﺭَﺑَّﻜُﻢْ ﻓَﺎﺳْﺘَﺠَﺎﺏَ ﻟَﻜُﻢْ ﺃَﻧِّﻲْ ﻣُﻤِﺪُّﻛُﻢْ ﺑِﺄَﻟْﻒٍ ﻣِﻦَ ﺍلْمَلَآﺋِﻜَﺔِ ﻣُﺮْﺩِﻓِﻴْﻦَ • ۚ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻟَّﻪُ ﻣَﺨْﺮَﺟًﺎ • ﻭَﻳَﺮْﺯُﻗْﻪُ ﻣِﻦْ ﺣَﻴْﺚُ ﻟَﺎ ﻳَﺤْﺘَﺴِﺐُ ۚ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَﻮَﻛَّﻞْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻬُﻮَ ﺣَﺴْﺒُﻪُ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺑَﺎﻟِﻎُ ﺃَﻣْﺮِﻩِ ۚ ﻗَﺪْ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻜُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪْﺭًﺍ • ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻟَّﻪُ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِﻩِۦﻳُﺴْﺮًﺍ •
صَلَاةً تَغْفِرُ بِهَا خَطِيْأَتِ وَذُنُوْبِيْ ، وَتَدْفَعُ لِيْ بِهَا السِّحْرَ وَالْأَعْدَاءَ ، وَتُسَلِّمُنِيْ بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَمْرَاضِ وَالْغَلَاءِ وَالْبَلَاءِ • ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻲْ ﻭَﻟِﻮَﺍﻟِﺪَﻱَّ ﻭَﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﻳَﻮْﻡَ ﻳَﻘُﻮْﻡُ ﺍﻟْﺤِﺴَﺎﺏُ • ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟَﺎ ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧَﺎٓ ﺇِﻥْ ﻧَّﺴِﻴْﻨَﺎٓ ﺃَﻭْ ﺃَﺧْﻄَﺄْﻧَﺎ ۚ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺤْﻤِﻞْ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎٓ ﺇِﺻْﺮًﺍ ﻛَﻤَﺎ ﺣَﻤَﻠْﺘَﻪُۥ ﻋَﻠَﻰ ﭐﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻨَﺎ ۚ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﻟَﺎ ﺗُﺤَﻤِّﻠْﻨَﺎ ﻣَﺎ ﻟَﺎ ﻃَﺎﻗَﺔَ ﻟَﻨَﺎ ﺑِﻪِۦ ۖ ﻭَﭐﻋْﻒُ ﻋَﻨَّﺎ ﻭَﭐﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ ﻭَﭐﺭْﺣَﻤْﻨَﺎٓ ۚ ﺃَﻧﺖَ ﻣَﻮْلٰنَا ﻓَﭑﻧﺼُﺮْﻧَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﭐﻟْﻘَﻮْﻡِ ﭐﻟْﻜَٰﻔِﺮِﻳْﻦَ • ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ ﺫُﻧُﻮْﺑَﻨَﺎ ﻭَﺇِﺳْﺮَﺍﻓَﻨَﺎ فِىٓ ﺃَﻣْﺮِﻧَﺎ ﻭَﺛَﺒِّﺖْ ﺃَﻗْﺪَﺍﻣَﻨَﺎ ﻭَﺍﻧْﺼُﺮْﻧَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡِ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ • ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ ﻭَﻹﺧْﻮَﺍﻧِﻨَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺳَﺒَﻘُﻮْﻧَﺎ ﺑِﺎْﻹﻳْﻤَﺎﻥِ ﻭَﻻَ ﺗَﺠْﻌَﻞْ ﻓِﻲْ ﻗُﻠُﻮْﺑِﻨَﺎ ﻏِﻼًّ ﻟِﻠَّﺬِﻳْﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮْﺍ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺇِﻧَّﻚَ ﺭَﺀُﻭْﻑٌ ﺭَﺣِﻴْﻢٌ • ﺭَﺏِّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻭَﺍﺭْﺣَﻢْ ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤِﻴْﻦَ • ﺫَٰﻟِﻚَ ﺃَﻣْﺮُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻧْﺰَﻟَﻪُ ﺇِﻟَﻴْﻜُﻢْ ۚ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﻜَﻔِّﺮْ ﻋَﻨْﻪُ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺗِﻪِۦﻭَﻳُﻌْﻈِﻢْ ﻟَﻪُ ﺃَﺟْﺮًﺍ • رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَ هَبْ لِيْ مُلْكًا لَا يَنْبَغِيْ لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِيْ ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ • ﺳَﻠَٰﻢٌ ﻗَﻮْﻟًﺎ ﻣِّﻦْ ﺭَّﺏٍّ ﺭَّﺣِﻴْﻢٍ •
صَلَاةً تَحُلُّ بِهَا عُقْدَتِيْ ، وَتُفَرِّجُ بِهَا كُرْبَتِيْ ، وَتُنَالُ بِهَا رَغَائِبِيْ ، وَحُسْنُ خَوَاتِمِيْ ، وَتَنْفَعُ بِهَا عُلُوْمِيْ ، وَتَقْضِ بِهَا حَوَائِجِيْ ، وَتَرْفَعُ بِهَا دَرَجَتِيْ ، وَتَهْدِيْ بِهَا قَوْمِيْ ، وَتُلْهِمُنِيْ بِهَا عُلُوْمًا لَدُنِّيًا ، وَتُقَوِّ بِهَا جَنَانِيْ وَعَزْمِيْ ، وَتُسْرِعُ بِهَا فَهْمِيْ • ِ ﺃَلَا ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖُ ﻭَﺍﻷَﻣْﺮُ ۗ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴْﻦَ • ﺍﺩْﻋُﻮﺍْ ﺭَﺑَّﻜُﻢْ ﺗَﻀَﺮُّﻋًﺎ ﻭَﺧُﻔْﻴَﺔًۚ ﺇِﻧَّﻪُ ﻻَ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﻌْﺘَﺪِﻳﻦَ • ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ۖ ﻭَﻳُﻌَﻠِّﻤُﻜُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ۗ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻜُﻞِّ شَيْئٍ ﻋَﻠِﻴﻢٌ •
صَلَاةً تَجْعَلُنِيْ بِهَا الْإِسْتِقَامَةَ ، وَتُكْرِمُنِيْ بِهَا بِالسَّعَادَةِ وَالْكَرَامَةِ مَعَ ذُرِّيَتِيْ ، وَتُكْثِرُ بِهَا أَمْوَالِيْ وَأَصْحَابِيْ وَتَلَامِذِيْ وَأَتْبَاعِيْ وَأَضْيَافِيْ ، وَتَسْتَقِيْمُ بِهَا حَالِيْ ، وَتَرْزُقُنِيْ يَاأَللّٰهُ بِهَا تَمَامَ رِضْوَنِكَ وَرَحْمَتِكَ وَنِعْمَتِكَ وَعِنَايَتِكَ فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْأٓخِرَةِ • ﺇِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَﺇِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻦُ • ﺍﻫْﺪِﻧَــــﺎ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁَ ﺍﻟﻤُﺴْﺘَﻘِﻴْﻢَ • ﺻِﺮَﺍﻁَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺃَﻧْﻌَﻤْﺖَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻏَﻴْﺮِ ﺍْﻟﻤَﻐْﻀُﻮْﺏِ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻭَلَآ ﺍﻟﻀَّﺎٓﻟِّﻴْﻦَ • ﻭَﺃْﻣُﺮْ ﺃَﻫْﻠَﻚَ ﺑِﺎﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻭَﺍﺻْﻄَﺒِﺮْ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ۖ ﻟَﺎ ﻧَﺴْﺄَﻟُﻚَ ﺭِﺯْﻗًﺎ ۖ ﻧَّﺤْﻦُ ﻧَﺮْﺯُﻗُﻚَ ۗ ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﻗِﺒَﺔُ ﻟِﻠﺘَّﻘْﻮَﻯٰ •
صَلَاةً تَجُرُّ بِهَا الْأَمْوَالَ وَالْفُلُوْسَ وَالْمَطْعُوْمَةَ وَالْمَلْبُوْسَ وَالْمَرْكُوْبَ ، مِنْ كُلِّ جِهَّةٍ فِى أَيِّ وَقْتٍ وَسَاعَةٍ بِعَدَادِ النَّفَسِ وَالنُّفُوْسِ ، وَبَارِكْ لِيْ فِى رِزْقِيْ وَعُمْرِيْ وَحَيَاتِيْ • ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﻥَّ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟْﻘُﺮَﻯٰ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﺍﺗَّﻘَﻮْﺍ ﻟَﻔَﺘَﺤْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺑَﺮَﻛَﺎﺕٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ • ﻟِﻴُﻨْﻔِﻖْ ﺫُﻭْ ﺳَﻌَﺔٍ ﻣِّﻦْ ﺳَﻌَﺘِﻪِ ۖ ﻭَﻣَﻦْ ﻗُﺪِﺭَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺭِﺯْﻗُﻪُ ﻓَﻠْﻴُﻨْﻔِﻖْ ﻣِﻤَّﺎ ﺁﺗَﺎﻩُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ۚ ﻟَﺎ ﻳُﻜَﻠِّﻒُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻧَﻔْﺴًﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺎ ﺁﺗَﺎﻫَﺎ ۚ ﺳَﻴَﺠْﻌَﻞُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑَﻌْﺪَ ﻋُﺴْﺮٍ ﻳُﺴْﺮًﺍ • ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺃَﺗْﻤِﻢْ ﻟَﻨَﺎ ﻧُﻮْﺭَﻧَﺎ ﻭَﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ ۖ ﺇِﻧَّﻚَ ﻋَﻠَﻰٰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪِﻳﺮٌ • ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺗَﻘَﺒَّﻞْ ﻣِﻨَّﺎٓ ۖ ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻧﺖَ ﭐﻟﺴَّﻤِﻴﻊُ ﭐﻟْﻌَﻠِﻴﻢُ • ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﭐﺟْﻌَﻠْﻨَﺎ ﻣُﺴْﻠِﻤَﻴْﻦِ ﻟَﻚَ ﻭَﻣِﻦْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘِﻨَﺎٓ ﺃُﻣَّﺔً ﻣُّﺴْﻠِﻤَﺔً ﻟَّﻚَ ﻭَﺃَﺭِﻧَﺎ ﻣَﻨَﺎﺳِﻜَﻨَﺎ ﻭَﺗُﺐْ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎٓ ۖ ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻧْﺖَ ﭐﻟﺘَّﻮَّﺍﺏُ ﭐﻟﺮَّﺣِﻴْﻢُ • بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ • آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ • ﺇِﻧَّﻤَﺎٓ ﺃَﻣْﺮُﻩُۥٓ ﺇِﺫَﺍٓ ﺃَﺭَﺍﺩَ شَيْئًاﺃَﻥْ ﻳَﻘُﻮْﻝَ ﻟَﻪُۥ ﻛُﻦْ ﻓَﻴَﻜُﻮْﻥُ • ﻓَﺴُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺑِﻴَﺪِﻩٖ ﻣَﻠَﻜُﻮْﺕُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻭَﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮْﻥَ •
************************************************

BISMILLAAHIR-ROHMAANIR-ROHIIM.
Allohumma sholli sholaatan kaamilatan da-imatan, wa sallim salaaman taamman, wa baarik ‘alaa sayyidinaa Muhammadin, nuuril-ajwadi, wa bahri anwaarika, wa ma’dani asroorika, wa lisaani hujjatika, wa ‘aruusi mamlakatika, wa imaami hadrotika, wa thiroozi mulkika, wa khozaa-ini rohmatika, wa thoriiqi syarii’atika, al-mutaladz-dzidzi bi musyaahadatika, insaani ‘ainil-wujuudi, wa sabaabi kulli maujuudin, ‘aini a’yani kholqika, al-mutaqoddimi min nuuri dliyaa-ika (dibaca: diyaa-ika), wa ‘alaa aalihi wa shohbihii ajma’iin. Fii kulli lamhatin wa nafasin wa saa’atin, fii lailin wa nahaarin, wa qiyaamin wa qu’uudin, wa naumin wa yaqdzotin, taduumu bi dawaami mulkika yaa Allah, ‘adada maa wasi’ahu ‘ilmuka, wa ‘adada kholqika, wa ridloo nafsika, wa zinata ‘arsyika, wa midaada kalimaatika, wa ‘adada maa ahaatho bihii ‘ilmuka, wa ahshoohu kitaabuka, wa jaroo bihii qolamuka. Watammat kalimatu Robbika shidqow wa ‘ad-laa, laa mubaddila likalimaatihi, wahuwas-samii’ul-‘aliim.
1- Sholaatan turdliika (dibaca: turdika) wa turdliihi (dibaca: wa turdiihi) wa tardlo bihaa ‘annii.
Robbi auzi’nii an asykuro ni’matakal-latii an’amta ‘alayya wa’alaa waalidayya wa an a’mala shoolihan tardloohu wa adkhilnii BIROHMATIKA fii ‘ibaadikas-shoolihiin. Rodliyallaahu ‘anhum wa rodlu ‘anhu, ulaa-ika hizbullooh, alaa inna hizballoohi humul-muflihuun. Rodliyallaahu ‘anhum wa rodlu ‘anhu, dzalika liman khosyiya Robbah. Rodliyallaahu ‘anhum wa rodlu ‘anhu, dzaalikal-fauzul ‘adhiim. Al-yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’matii wa rodliitu lakumul-islaama diina. Yaa ayyatuhan-nafsul-muthmainnah, irji’ii ilaa Robbiki rodliyatam-mardliyyah. Fadkhulii fii ‘ibaadii, wadkhulii jannatii.
2- Sholaatan tuthmainnu wa-tukhollishu wa-tunawwiru bihaa qolbii, wa-‘aqlii, wa-fikrii. Balaa intashbiruu wa-tattaquu wa-ya’tuukum mim-faurihim haadzaa yumdidkum Robbukum bi-khomsati aalaafim-minal-Malaaikati musawwimiin. Wamaa ja’alahul-loohu illaa busyroo lakum wa litathmainna quluubukum bih,wa man nashru illaa min ‘indillaahil-‘aziizil-hakiim. Wa idzaa quri-al-qur,aanu fastami’uu lahuu wa anshituu la’allakum turhamuun. Wadzkur-Robbaka fii nafsika tadlorru’aw – wakhiifataw – waduunal-jahri minal-qouli bil-ghuduwwi wal-aashooli walaa takum – minal – ghoofiliin. Alloohu nazzala ahsanal-hadiitsi kitaabam – mutasyaabiham matsaaniya taqsya’irru minhu juluudul-ladziina yakhsyauna Robbahum tsumma taliinu juluuduhum wa quluubuhum ilaa dzikrillaah, dzaalika hudalloohi yahdii bihii may-yasya-u.
3- Sholaatan tusyrihu bihaa shodrii, wa taksyifu bihaa fu-aadii wa bashorii wa nadzorii, wa tunji bihaa min jamii’il-ahwaali wal-aafaati. Robbisy-rohlii shodrii. Wa yassirlii amrii. Wahlul – ‘uqdatam – min lasaanii. Yafqohuu qoulii. Afaman syarohal-loohu shodrohuu lil-islaami fahuwa ‘alaa nuurim – mir-Robbihi. Walloohu akhrojakum mim-buthuuni ummahaatikum laa ta’lamuuna syai-aw – wa ja’ala lakumus-sam’a wal-abshooro wal-af-idata la’allakum tasykuruun.
4- Sholaatan taftahulii bihaa jamii’al-‘aalami wal-hijaabi was-sitri, wa tanzi’ul-hijaaba was-sitro minnii dhoohiron wa baathina, bainii wa bainaka, wa bainii wa baina kholqika ajma’iin, hatta usyaahida bihaa ‘ajaa-ibal – Malakuut, wa astajliya bihaa ‘aroo-isal – jabaruut, wa astamthiro bihaa ghuyuutsar-rohamuut, wa artadli bihaa ‘an ‘ilaaqoti naasuutil bahamuut, yaa lahuuta kulli naasuuti yaa Allah. Alam nasyroh laka shodrok. Wa wadlo’naa ‘angka wizrok. Alladzii angqodlo dzohrok. Wa rofa’naa laka dzikrok. Fa-inna ma’al-‘usri yusroo. Inna ma’al-‘usri yusroo. Wamaa ja’alahul-loohu illaa busyroo wa litathma-inna bihii quluubukum, wa man nashru illaa min ‘indillaah, innal-looha ‘aziizun hakiim. Idz yughosysyiikumun – nu’aasa amanatam-minhu wa yunazzilu ‘alaikum minas-samaa-i maa-al -liyuthohhirokum bihii wa yudz_hiba ‘angkum rijzasy-syaitooni wa liyarbitho ‘alaa quluubikum wa yutsabbita bihil-aqdaam. Idz yuuhii Robbuka ilal-Malaa_ikati annii ma’akum fatsabbitul – ladziina aamanuu.
5- Sholaatan tajtami’u lii wa tu’thii bihaa jamii’al-khoiri wal-fadllo_ili wal-kamaal, wa tarzuqonii min haitsu laa ahtasib, wa antaj’alanii bihaa kabiirom bil’ilmi wal-‘irfaan, bi_asroori wahdatika fii jamii’il-azmaan, warzuqnii fat_han jaami’aw – wa nuurol -laami’aw – wa sam’an saami’a. Hattaa laa asma’a illaa mingka, walaa aquulu illaa ‘angka, walaa askuunu illaa ilaika, fa_antal – maujuudu bikulli makaan, wal-ma’buudu bikulli lisaanin fii kulli makaaniw – wazamaan. Wa yuriidul-loohu ay-yuhiqqol-haqqo bikalimaatihi wa yaqtho’a daabirol-kaafiriin. Liyuhiqqol – haqqo wa yubthilal – baathila walau karihal-mujrimuun. Idz tastaghiitsuuna Robbakum fas-tajaaba lakum annii mumiddukum bi alfim minal-Malaa_ikati murdifiin. Wa may-yattaqil-laaha yaj’al-lahuu makhrojaa. Wa yarzuq-hu min haitsu laa yahtasib, wa may-yatawakkal ‘alalloohi fahuwa hasbuhu, innal-looha baalighu amrih, qod ja’alal-loohu likulli syay_ing qodroo. Wa may-yattaqillaaha yaj’al-lahuu min amrihii yusroo.
6- Sholaatan taghfiru bihaa khothii_ati wa dzunuubi, wa tadfa’ulii bihas-sihro wal-a’daa_a, wa tusallimunii bihaa min jamii’il-amroodli wal-gholaa_i wal-balaa_i. Robbanagh_firlii wa liwaalidayya wa lilmu’miniina yauma yaquumul-hisaab. Robbanaa laa tu_aakhidznaa in-nasiinaa au akhtho’naa, Robbanaa walaa tahmil ‘alainaa ishrong kamaa hamaltahuu ‘alal-ladziina ming qoblinaa, Robbanaa walaa tuhammilnaa maa-laa thooqota lanaa bih, wa’fu ‘annaa waghfir-lanaa war-hamnaa, anta maulaanaa fanshurnaa ‘alal-qoumil-kaafiriin. Robbanagh_fir lanaa dzunuubanaa wa isroofanaa fii amrinaa wa tsabbit aqdaamanaa wanshurnaa ‘alal-qoumil-kaafiriin. Robbanagh_fir lanaa wa li-ikhwaaninaal-ladziina sabaquuna bil-iimaani walaa taj’al fii quluubinaa ghillal-lilladziina aamanuu Robbanaa innaka Rouufur-Rohiim. Robbigh_fir warham wa anta khoirur-roohimiin. Dzaalika amrul-loohi anzalahuu ilaikum, wa may-yattaqil-laaha yukaffir ‘anhu sayyi_aatihii wa yu’dzim lahuu ajroo. Robbighfirlii wa hablii mulkal – laa yambaghii li-ahadim mim-ba’dii innaka antal-wahhaab. Salaamung qoulam mir-Robbir-Rohiim.
7- Sholaatan tahullu bihaa ‘uqdatii, wa tufarriju bihaa kurbatii, wa tunaalu bihaa roghoo_ibii, wa husnu khowaatimii, wa tamfa’u bihaa ‘uluumii, wa taqdli bihaa hawaa_ijii, wa tarfa’u bihaa darojatii, wa tahdii bihaa qoumii, wa tul_himunii bihaa ‘uluumal-ladunniyaa, wa tuqowwi bihaa janaanii wa ‘azmii, wa tusri’u bihaa fahmii. ALAA lahul-kholqu wal-amru, tabaarokal-loohu Robbul ‘aalamiin. Ud_’uu Robbakum tadlorru’aw wa-khufyatan innahuu laa yuhibbul-mu’tadiin. Wattaqul-looha wa yu’allimukumul-looh, wal-loohu bikulli syay-in ‘aliim.
8- Sholaatan taj’alunii bihal-istiqoomah, wa tukrimunii bihaa bis-sa’aadati wal-karoomati ma’a dzurriyatii, wa tuktsiru bihaa amwaalii wa ash_haabii wa talaamidzii wa atbaa’ii wa adl_yaafii, wa tastaqiimu bihaa haalii, wa tarzuqunii yaa Allah bihaa tamaama Ridl_waanika wa Rohmatika wa ni’matika wa ‘inaayatika fid-diini wad-dun_yaa wal-aakhiroh. Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin. Ihdinash-shiroothol-mustaqiim. Shiroothol-ladziina an’amta ‘alaihim ghoiril-maghdluubi ‘alaihim waladl-dloolliin. Wa’mur ahlaka bish-sholaati wash-thobir ‘alaihaa, laa nas_aluka rizqoo, nahnu narzuquk, wal-‘aaqibatu lit-taqwaa.
9- Sholaatan tajurru bihal-amwaala wal-fuluusa wal-math_’uumat wal-malbuusa wal-markuuba, ming-kulli jihhatin fii ayyi waqtin wa saa’atin bi_’adaadin-nafasi wan-nufuusi, wa baarik-lii fii rizqii wa ‘umrii wa hayaatii. Walau anna ahlal-qoroo aamanuu wat-taqou lafatahnaa ‘alaihim barokaatim minas-samaa_i wal-ardli. Liyumfiq dzuu sa’atim min sa_’atih, wa mang_qudiro ‘alaihi rizquhuu fal-yumfiq mimmaa aataahul-looh, laa yakalliful-loohu nafsan illaa maa aataahaa, sayaj’alul-loohu ba’da ‘usriy – yusroo. Robbanaa atmim lanaa nuuronaa waghfir lanaa, innaka ‘alaa kulli syay-ing qodiir. Robbanaa taqobbal-minnaa, innaka antas-samii’ul-‘aliim. Robbanaa waj’alnaa muslimaini laka wa min dzurriyyatinaa ummatam muslimatal-laka wa arinaa manaasikanaa watub ‘alainaa, innaka antat-tawwaabur-rohiim. Birohmatika yaa ar_hamar-roohimiin. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin. Innamaa amruhuu idzaa arooda syaian ay-yaquula lahuu kumfayakuun. Fasub_haanal-ladzii biyadihii malakuutu kulli syay-iw wa ilaihi turja’uun
.
Artinya:
Ya Allah, semoga sholawat dan salam yang sempurna serta keberkahan yang abadi selalu dilimpahkan kepada MUHAMMAD junjungan kami, yang menjadi cahaya terbaik, samudera cahaya-Mu, tambang rahasia-Mu, penyampai hujjah-Mu, singgasana kerajaan-Mu, imam hadrat-Mu, bingkai kerajaan-Mu, perbendaharaan rahmat-Mu, dan jalan syariat-Mu, yang diberi kelezatan menyaksikan-Mu, manusia yang dituankan, penyebab segala yang ada, penghulu para makhluk-Mu, yang memperoleh pancaran sinar cahaya-Mu. Semoga (Sholawat, salam dan keberkahan) juga tercurah kepada seluruh keluarga dan sahabat nya, dalam setiap kedipan mata, nafas dan waktu, pada waktu malam dan siang, ketika berdiri dan duduk, ketika tidur dan jaga, yang kekal seperti kekalnya Kerajaan-Mu yaa Allah, seperti jumlah luasnya ilmu-Mu, dan jumlah makhluk-Mu, dan keridloan-Mu, dan perhiasan ‘Arasy-Mu, dan jumlah kalimat-Mu, dan segala sesuatu yang meliputi ilmu-Mu, dan hitungan kitab-Mu, dan mengalirnya tinta-Mu.
Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui. (Qs. Al-An’am: 115)
1- Sholawat yang Engkau ridloi dan ridlo nabi Muhammad serta menjadikan Engkau meridloiku. “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (Qs. An-Naml:19)
Allah ridlo terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (Qs. Al-Mujaadilah: 22)
Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (Qs. Al-Bayyinah: 8)
Allah ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar”. (Qs. Al-Maaidah: 119)
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Qs. al-maaidah: 3)
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku. (Qs. Al-Fajr: 27-30)
2- Sholawat yang menjadi penyebab tenang dan bersih serta bercahaya nya hati, akal dan fikiran.
Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs. Aali-Imron:125-126).
Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (Qs. Al-A’roof: 204-205)
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. (Qs. Az-Zumar: 23)
3- Sholawat yang menjadi penyebab lapangnya dadaku, tersingkap hatiku, mata bathinku dan penglihatanku, dan menjadi penyebab selamat dari segala kengerian dan penyakit.
“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, (Qs. Thoha: 25-28)
Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? (Qs. Az-Zumar: 22)
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Qs. An-Nahl:78)
4- Sholawat yang menjadi penyebab terbuka untukku seluruh Alam, penutup dan penghalang, dan Engkau (Allah) cabut/lepas penutup dan penghalang dari dhohir dan bathinku, yang jadi penghalang antara diriku dan diri-Mu, antara diriku dan semua Makhluk-Mu, hingga aku (bisa) menyaksikan keajaiban kerajaan-(Mu), menyaksikan singgasana keagungan-(Mu), dan Engkau hujani aku dengan rahmat, serta Engkau meridloi nafsu kebinatanganku, wahai Allah Tuhan seluruh manusia.
Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama) mu, Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Qs. Al-Insyiroh: 1-6)
Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs. Ali-Imroon: 126)
(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu). (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. (Qs. Al-Anfaal: 11-12)
5- Sholawat yang menjadi penyebab di kumpulkan dan diberikan kepadaku seluruh kebaikan, keutamaan dan kesempurnaan, memberiku rezeki dari arah yang tidak di sangka-sangka, menjadikan aku besar dengan ilmu dan pengetahuan dengan rahasia-rahasia ke Esa-an-Mu di setiap zaman. Berilah aku rezeki terbukanya semua (rahasia), cahaya yang berkilau, dan pendengaran yang mendengar, sehingga aku tidak mendengar kecuali dari-Mu, tidak berbicara kecuali dari-Mu, dan tidak berdiam kecuali kepada-Mu. Sungguh Engkau ada di setiap tempat, dan di sembah oleh setiap lisan di setiap tempat di zaman.
Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya. (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”.
(Qs. Al-Anfaal: 8-9)
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (Qs. Ath-Tholaaq: 2-4)
6- Sholawat yang menjadi penyebab Engkau ampuni kesalahan dan dosaku, Engkau tolak sihir dan musuhku, dan Engkau selamatkan aku dari setiap penyakit, perampok dan bencana.
“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. (Qs. Ibrahim: 41)
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (Qs. Al-Baqoroh: 286)
“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (Qs. Ali-Imroon: 147)
“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Al-Hasyr: 10)
“Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik”. (Qs. Al-Mu’minuun: 118)
Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. (Qs. Ath-Tholaaq: 5)
“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”. (Qs. Shod: 35)
(Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. (Qs. Yaasiin: 58)
7- Sholawat yang menjadi penyebab Engkau lepaskan ikatanku, di hilangkan kesusahanku, sukses cita-citaku, baik kesudahanku, manfa’at ilmuku, terpenuhi hajatku, Engkau angkat derajatku, Engkau tunjukkan kaumku, Engkau mengilhamiku ilmu Ladunni, Engkau kuatkan hati dan cita-citaku, di luaskan pemahamanku.
Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
(Qs. Al-A’roof: 54-55)
Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Qs. Al-Baqoroh: 282)
8- Sholawat yang menjadi penyebab Engkau jadikan aku istiqomah, Engkau muliyakan aku dengan kesenangan dan martabat bersama keluargaku, banyak harta, teman, murid, pengikut, tetangga, xan Engkau luruskan hal ihwalku. Ya Allah berilah aku rezeki keridloan-Mu, rahmat-Mu, nikmat dan pertolongan-Mu yang sempurna, di dalam agama, dunia dan akhirat.
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Qs. Al-Faatihah: 5-7)
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (Qs. Thoha: 132)
9- Sholawat yang menjadi penyebab mengalirnya harta-benda, uang, makanan, pakaian dan kendaraan dari segala arah, di setiap waktu dan masa, sejumlah hitungan nafas dan nyawa. (Ya Allah) berkahilah rezekiku, umur dan hidupku.
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, (Qs. Al-A’roof: 96)
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (Qs. Ath-Tholaaq: 7).
“Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Qs. At-Tahriim: 8)
“Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Baqoroh: 127-128)
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (Qs. Yaasin: 82-83)

Yang ingin baca banyak cukup baca inti sholawat nya saja, yaitu:

اَللّٰهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً دَائِمَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نُوْرِ الْأَجْوَدِ ، وَبَحْرِ أَنْوَارِكَ ، وَمَعْدَنِ أَسْرَارِكَ ، وَلِسَانِ حُجَّتِكَ ، وَعَرُوْسِ مَمْلَكَتِكَ ، وَإِمَامِ حَضْرَتِكَ ، وَطِرَازِ مُلْكِكَ ، وَخَزَائِنِ رَحْمَتِكَ ، وَطَرِيْقِ شَرِيْعَتِكَ ، الْمُتَلَذِّذِ بِمُشَاهَدَتِكَ ، إِنْسَانِ عَيْنِ الْوُجُوْدِ ، وَسَبَابِ كُلِّ مَوْجُوْدٍ ، عَيْنِ أَعْيَانِ خَلْقِكَ ، الْمُتَقَدِّمِ مِنْ نُوْرِ ضِيَائِكَ ، وَعَلٰى آلِهٖ وَصَحْبِهٖ أَجْمَعِيْنَ• فِى كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ وَسَاعَةٍ ، فِى لَيْلٍ وَنَهَارٍ ، وَقِيَامٍ وَقَعُوْدٍ ، وَنَوْمٍ وَيَقْظَةٍ ، تَدُوْمُ بِدَوَامِ مُلْكِكَ يَاأَللّٰهُ ، عَدَدَ مَا وَسِعَهُ عِلْمُكَ ، وَعَدَدَ خَلْقِكَ ، وَرِضٰى نَفْسِكَ ، وَزِنَةَ عَرْشِكَ ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ ، وَعَدَدَ مَا أَحَاطَ بِهٖ عِلْمُكَ ، وَأَحْصَاهُ كِتَابُكَ ، وَجَرٰى بِهٖ قَلَمُكَ . صَلَاةً تُرْضِيْكَ وَتُرْضِيْهِ وَتَرْضَ بِهَا عَنِّيْ صَلَاةً تُطْمَئِنُّ وَتُخَلِّصُ وَتُنَوِّرُ بِهَا قَلْبِيْ وَعَقْلِيْ وَفِكْرِيْ

Bismillaahir-rohmaanir-rohiim.
Allohumma sholli sholaatan kaamilatan da-imatan, wa sallim salaaman taamman, wa baarik ‘alaa sayyidinaa Muhammadin, nuuril-ajwadi, wa bahri anwaarika, wa ma’dani asroorika, wa lisaani hujjatika, wa ‘aruusi mamlakatika, wa imaami hadrotika, wa thiroozi mulkika, wa khozaa-ini rohmatika, wa thoriiqi syarii’atika, al-mutaladz-dzidzi bi musyaahadatika, insaani ‘ainil-wujuudi, wa sabaabi kulli maujuudin, ‘aini a’yani kholqika, al-mutaqoddimi min nuuri dliyaa-ika (dibaca: diyaa-ika), wa ‘alaa aalihi wa shohbihii ajma’iin. Fii kulli lamhatin wa nafasin wa saa’atin, fii lailin wa nahaarin, wa qiyaamin wa qu’uudin, wa naumin wa yaqdzotin, taduumu bi dawaami mulkika yaa Allah, ‘adada maa wasi’ahu ‘ilmuka, wa ‘adada kholqika, wa ridloo nafsika, wa zinata ‘arsyika, wa midaada kalimaatika, wa ‘adada maa ahaatho bihii ‘ilmuka, wa ahshoohu kitaabuka, wa jaroo bihii qolamuka, sholaatan turdliika (dibaca: turdika) wa turdliihi (dibaca: wa turdiihi) wa tardlo bihaa ‘annii, sholaatan tuthma-innu wa tukhollishu wa tunawwiru bihaa qolbii wa ‘aqlii wa fikri
.
Artinya:
Ya Allah, semoga sholawat dan salam yang sempurna serta keberkahan yang abadi selalu dilimpahkan kepada MUHAMMAD junjungan kami, yang menjadi cahaya terbaik dan lautan cahaya-Mu (ya Allah), dan tempat rahasia-Mu, dan penyampai hujjah-Mu, dan pengantin milik-Mu, dan imam hadirat-Mu, dan penyulam kekuasaan-Mu, dan perbendaharaan rahmat-Mu, dan jalan syari’at-Mu, yang diberi kelezatan menyaksikan-Mu, manusia yang dituankan, dan penyebab segala yang ada, pemimpin yang memimpin makhluk-Mu, yang (diciptakan) terdahulu dari cahaya-Mu. Semoga (Sholawat, salam dan keberkahan) juga tercurah kepada seluruh keluarga dan sahabat nya, dalam setiap kedipan mata, nafas dan waktu, pada waktu malam dan siang, ketika berdiri dan duduk, ketika tidur dan jaga, yang abadi seperti langgengnya Kerajaan-Mu yaa Allah, seperti jumlah luasnya ilmu-Mu, dan jumlah makhluk-Mu, dan keridloan-Mu, dan perhiasan ‘Arasy-Mu, dan jumlah kalimat-Mu, dan segala sesuatu yang meliputi ilmu-Mu, dan hitungan kitab-Mu, dan mengalirnya tinta-Mu. Sholawat ridlo dan di ridloi-Mu serta Sholawat yang menjadi penyebab ridlo-Mu kepada saya. Sholawat yang menjadi penyebab tenang dan bersih serta bercahaya nya hati, akal dan fikiran

1- Mengharap (agar mendapat) RIDLO Allah swt dunia akhirat,
2- Agar mendapat SYAFA’AT Rosulullah saw dhohir dan bathin,
3- Agar mendapat KETENANGAN dhohir dan bathin,
4- Agar mendapat KECERDASAN,
5- Agar mendapatkan ilmu LADUNNI,
6- Agar mudah MENDAPATKAN RIZQI,
7- Agar Agar mendapat KEBERKAHAN dhohir dan bathin,
8- Agar menjadi KAYA RAYA dhohir dan bathin,
8- Agar terkabul (tercapai) semua CITA-CITANYA,
10- Agar mendapat KESELAMATAN dhohir bathin, dunia dan akhirat,
11- Agar menjadi orang yang SUKSES,
12- Agar menjadi KASYAF dengan izin Allah,
13- Agar di AMPUNI segala dosa dan kesalahan diri sendiri,
14- Agar mendapat ROHMAT Allah,
15- Agar mendapat BANTUAN dan PERTOLONGAN Allah,
16- Agar menjadi orang yang SHOLIH
17- Agar mendapat KESENANGAN dunia akhirat,
18- Agar KUAT INGATAN,
19- Agar DI MUDAH KAN segala urusan,
20- Agar DI PERLIHATKAN KEAJAIBAN-KEAJAIBAN,
21- Agar di beri IMAN yang kuat,
22- Agar mendapatkan KEBAIKAN dan KEUTAMAAN yang banyak,
23- Agar menjadi orang yang BERTAQWA,
24- Agar do’anya ISTIJABAH (mustajab),
25- Agar TERHINDAR dari SIHIR, BENCANA dan MUSUH,
26- Agar terhindar dari PENYAKIT (parah) dan PERAMPOK (penodong),
27- Agar DI AMPUNI dosa-dosa KEDUA ORANG TUA dan seluruh MU’MININ,
28- Agar DIDAMPINGI para Malaikat,
29- Agar menjadi orang yang ISTIQOMAH,
30- Agar HUSNUL-KHOTIMAH (mati dalam keadaan baik),
31- Agar mendapatkan DERAJAT yang tinggi,
32- Agar di beri ILMU YANG BERMANFA’AT,
33- Agar masyarakat (rakyat) nya MENDAPAT HIDAYAH (petunjuk dari Allah),
34- Agar DI HILANGKAN kesusahannya,
35- Agar DI SENANGI semua orang,
36- Agar banyak SANTRI dan PENGIKUT (bagi para guru dan pemimpin),
37- Agar banyak TEMAN, dan TETANGGA,
38- Agar FASHIH (lancar) dalam membaca dan bicara,
39- Agar MA’RIFAT
40- Agar di beri KEMULYAAN hingga anak cucunya,
41- Satu kali bacaan SHOLAWAT ini, Insya Allah melebihi berbagai macam Sholawat, baik dalam Fadlilah nya, jumlah bacaan nya maupun keagungannya, dll