MERENUNGI KEMEGAHAN KOTA DUBAI DAN KEBENARAN SABDA NABI MUHAMMAD SAW.

Kehidupan ini adalah nyata. Lebih nyata dari pendapat siapa pun tentang kenyataan. Ia terus bergerak, mengalir, dan berubah. Hari ini, seseorang miskin bertelanjang kaki. Esok hari, tiba-tiba ia menjadi miliyuner yang membangun gedung pencakar langit yang tinggi. Nabi ﷺ pernah bersabda menggambarkan situasi kehidupan akhir zaman,

“Dan bila engkau menyaksikan mereka yang berjalan tanpa alas kaki, tidak berpakaian, fakir, dan penggembala kambing, (kemudian) berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi.”

Sabda beliau ini nyata! Lebih nyata dari pendapat siapapun tentang kenyataan.

Kali ini kita bercerita tentang Dubai, sebuah emirat (propinsi) di negara Uni Emirat Arab yang menjadi bukti dari sekian banyak kebenaran sabda Nabi.

Sabda Nabi ﷺ

Suatu hari, bumi menjadi saksi pertemuan dua makhluk agung dan mulia. Malaikat yang terbaik berjumpa dengan manusia termulia. Malaikat Jibril datang menjumpai Nabi kita Muhammad ﷺ. Jibril datang dengan wujud manusia. Ia datang dengan penampilan indah. Mengenakan baju yang teramat putih ditimpali warna rambut yang hitam kelam. Ia datang berdialog dengan Nabi Muhammad ﷺ untuk memberikan pengajaran kepada para sahabat. Jibril bertanya tentang Islam, iman, dan ihsan. Kemudian ia bertanya tentang tanda kiamat. Di antara jawaban Nabi ﷺ adalah,

 

وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ.

 

“Dan bila engkau menyaksikan mereka yang berjalan tanpa alas kaki, tidak berpakaian, fakir, dan penggembala kambing, (kemudian) berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi.” (HR. Muslim).

Inilah di antara tanda-tanda hari kiamat. Tanda hari kiamat ada yang sifatnya baik. Ada pula yang buruk. Ada pula hanya sekedar kabar atau tanda yang aslinya tidak bersifat baik ataupun buruk. Hanya sekadar tanda dan kabar agar manusia sadar bahwa kiamat pasti terjadi. Contohnya seperti berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi ini.

Dalam hadits lain, yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ada keterangan tambahan. Ibnu Abbas bertanya kepada Nabi ﷺ:

يَا رَسُـولَ اللهِ، وَمَنْ أَصْحَابُ الشَّاءِ وَالْحُفَاةُ الْجِيَـاعُ الْعَالَةُ قَالَ: اَلْعَرَبُ.

 

“Wahai Rasulullah, dan siapakah para pengembala, orang yang tidak memakai sandal, dalam keadaan lapar dan yang miskin itu?” Beliau menjawab, “Orang Arab.” (Musnad Ahmad, IV/332-334, no. 2926).

 

Emirat Dubai

Dubai adalah salah satu emirat di wilayah Uni Emirat Arab (UAE). UAE sendiri merupakan sebuah negara federasi yang terdiri dari tujuh emirat yang kaya akan minyak bumi. Tujuh emirat ini adalah: Abu Dhabi, Ajman, Dubai, Fujairah, Ras al-Khaimah, Sharjah, dan Umm al-Qaiwain. Pada tahun 1971, enam dari emirat ini – Abu Dhabi, Ajman, Fujairah, Sharjah, Dubai, dan Umm al-Qaiwain – bergabung untuk mendirikan Uni Emirat Arab. Setahun berikutnya, Ras al-Khaimah menyertai mereka. Dubai adalah ke-emiran yang paling populer.

Ada yang mengatakan, nama kota ini berasal dari bahasa Persia. Karena dulu wilayah ini berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Sasaniyah Persia. Ada pula yang mengatakan kata Dubai berasal dari bahasa Arab dabba (Arab: دَبَّ – يَدُبُّ) yang artinya menjalar atau mengalir. Karena di Dubai terdapat aliran sebuah sungai air garam yang sekarang dikenal dengan Khor Dubai atau Dubai Creek.

Dubai terletak di sepanjang pantai Teluk Arab dipimpin oleh keluarga al-Maktoum sejak 1883. Pemimpinnya saat ini adalah Mohammed bin Rashid al-Maktoum yang juga menjabat sebagai Perdana Menteri dan Wakil Presiden UEA.

Dalam wawancara dengan BBC, Syaikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum menunjukkan rumah kakeknya, tempat bermain di masa kecilnya. Ia mengatakan, “Inilah tempat ayahku, ibuku, dan kami tinggal. Saat aku lahir tidak ada listrik di sini. Hanya bagian itu dan itu (ia menunjuk dua titik tempat lampu menyala di rumah besar itu) dan tidak ada air”.

Pernyataan singkat ini, menggambarkan bagaimana keadaan Dubai sebelum bertransofmasi menjadi kota metropolis. Rumah keluarga al-Maktoum, keluarga Emir Dubai, adalah rumah yang gelap dan kesulitan air. Apalagi rumah rakyat biasa.

Meskipun minyak sudah ditemukan sejak tahun 1966, tahun 1973, hanya ada satu hotel berkelas di sana, Hotel Sheraton. Kalau sekarang malah sangat sulit menemukan hotel yang tidak berbintang lima di Dubai, bahkan ada hotel berbintang tujuh di sana.

Islam adalah agama yang tidak menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Inovasi dalam hal dunia dibuka selebar-lebarnya selama tidak melanggar syariat. Di zaman dahulu umat Islam terkenal dengan kemajuan arsitekturnya. Oleh karena itu, tanda hari kiamat berupa berlomba-lombanya manusia dalam meninggikan bangunan tidak dikategorikan sebagai permasalahan yang nilai dasarnya jelek. Bahkan bisa jadi pembangunan ini bermanfaat dan maslahat.

Sekarang di Dubai, semuanya serba besar, luas, dan tinggi. Megah, mewah, sampai membuat mulut ternganga. Dubai adalah kota dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Gurun yang kosong telah berubah menjadi gedung-gedung pencakar langit. Onta-onta telah berubah menjadi Ferrari, Mercedes, Hummer, dll. Di antara bangunan tinggi di Dubai adalah:

Pertama: Burj Dubai atau yang dikenal Burj Khalifa, Merupakan bangunan tertinggi di dunia. Tingginya 818 m, kurang 182 m lagi jadi 1 Km. di dalamnya ada 30.000 rumah dan 9 hotel mewah.

Kedua: 10 Hotel tertinggi di dunia, 7 di antaranya ada di Dubai. Lima hotel tertinggi; JW Marriott Marquis Dubai (355 m), Rose Rayhaan (333 m), Burj Al Arab (321 m) hotel termewah di dunia, Jumeirah Emirates Towers Hotel (309 m), The Address Downtown Dubai (306 m), semuanya ada di Dubai.

Ketiga: Shopping Mall terbesar di dunia adalah Dubai Mall dengan luas 50 kali luas lapangan sepak bola dan terdapat 1.200 toko. Di dalamnya ada akuarium terbesar di dunia yang isinya 33.000 hewan laut.

Keempat: al-Maktoum International Airport atau Dubai International Airport merupakan bandara terluas ke-3 di dunia.

Kelima: Dubailand. Sekarang Walt Disney World Resort di Orlando memegang rekor taman bermain terluas di dunia. Kalau pembangunan Dubailand rampung, maka taman yang luasnya dua kali lipat Walt Disney ini akan memegang rekor baru.

Masih banyak lagi gedung-gedung tinggi dan bangunan-bangunan yang ‘wah’ di Dubai. Ada menara kembar Emirates Tower yang bentuknya seperti dua batang cokelat Toblerone. Hotel bawah laut di kedalam 33 m. Gedung 68 lantai, yang tiap lantainya bisa berputar 360°. Belum lagi pulau buatannya seperti The World terdapat 300 pulau buatan membentuk peta dunia. Kemudian juga Palm Island yang terdapat 2000 vila dan 40 hotel mewah. Belum lagi kendaraan super mewah. Anda masih berpikir orang Arab identik mengendarai onta? Ubah segera perspektif lama itu. Di Dubai, mobil mewah berlapis perak dan emas pun ada. Sampai-sampai polisi Dubai layak disebut World’s Fastest Police karena kendaraan mereka McLaren MP4-12C, Lamborghini, Aston Martin, Bentley, dan Ferrari.

Mereka yang dulu miskin, telanjang kaki, tak berbaju itu telah membuktikan kebenaran sabda Nabi ﷺ.

Pelajaran:

Kita tidak menginginkan pembaca hanya terpaku dan terhenti dalam khayalan, membayangkan kemegahan Dubai. Bukan itu pesan yang ingin disampaikan.

Cobalah renungkan Sabda Nabi ﷺ. Benarlah apa yang beliau kabarkan. Hal itu pula menunjukkan mukjizat beliau. Beliau mengabarkan tentang sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Orang yang hidup di masa tersebut akan menyaksikannya.

Beliau mengabarkan tentang orang-orang miskin berlomba-lomba meninggikan bangunan. Hal itu telah terjadi. Dan kita telah menjadi saksinya. Beliau mengabarkan tentang turunnya Nabi Isa, keluarnya Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj, hal ini pun pasti terjadi. Orang yang hidup di zamannya akan menjadi saksinya.

Dan beliau ﷺ mengabarkan tentang kenikmatan surga dan kengerian neraka, orang yang percaya sebelum mereka menyaksikannya, merekalah orang yang beruntung dan berbahagia. Orang yang baru percaya ketika menyaksikannya, mereka benar-benar dalam penyesalan dan duka cita yang mendalam.

“Saat ini, dunia itu nyata dan neraka hanyalah berita. Akan tetapi ketika di akhirat, Neraka adalah nyata dan dunia hanyalah cerita.”

ANJING PUN MARAH KETIKA NABI SAW DI HINA ORANG KAFIR. BAGAIMANA DENGAN KITA?

Al Hafidz Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqolany didalam kitab “Ad Durarul Kaminah Fi A’ayanil Miati Tsaminah” Jilid 4 Halaman 153.”

قصة الكلاب الذى انقض على النصراني الذى شتم النبي

ابن حجر العسقلاني

أَن بعض أُمَرَاء الْمغل تنصر فَحَضَرَ عِنْده جمَاعَة من كبار النَّصَارَى والمغل فَجعل وَاحِد مِنْهُم ينتقص النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم وَهُنَاكَ كلب صيد مربوط فَلَمَّا أَكثر من ذَلِك وثب عَلَيْهِ الْكَلْب فخمشه فخلصوه مِنْهُ وَقَالَ بعض من حضر هَذَا بكلامك فِي مُحَمَّد صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فَقَالَ كلا بل هَذَا الْكَلْب عَزِيز النَّفس وَآل أُشير بيَدي فَظن أَنِّي أُرِيد أَن أضربه ثمَّ عَاد إِلَى مَا كَانَ فِيهِ فَأطَال فَوَثَبَ الْكَلْب مرّة أُخْرَى فَقبض على زردمته فقلعها فَمَاتَ من حِينه فَأسلم بِسَبَب ذَلِك نَحْو أَرْبَعِينَ ألفا من الْمغل

ابن حجر العسقلاني، الدرر الكامنة في أعيان المائة الثامنة، ت محمد عبد المعيد ضان، مجلس دائرة المعارف العثمانية، صيدر اباد – الهند، الطبعة الثانية 1392هـ/ 1972م ج 4 ص 153.

Al Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah bercerita Dalam Kitabnya :

Pernah suatu hari ada sekelompok orang dari kalangan pembesar Nashrani menghadiri sebuah perayaan seorang pemimpin Mongol yang telah murtad (menjadi Nashrani).

Dan pada perayaan itu ada seorang pendeta yang menghina Nabi SAW, sedangkan di sana ada seekor anjing pemburu yang terikat.

Maka saat si penyembah salib yang dengki ini mulai mencela Nabi SAW anjing tersebut menggonggong dengan keras lalu kemudian menerkam si Nashrani itu dan mencakar wajahnya.

Maka orang-orang yang melihatnya terkejut dan segera berusaha menyelamatkannya. Lantas sebagian orang yang hadir berkata:

    Itu diakibatkan hinaanmu kepada Muhammad SAW.

Lantas si Nashrani berkata:

    Tidak, Anjing ini hanya spontanitas karena melihat isyarat tanganku dan disangkanya aku ingin memukulnya.

Namun kemudian Si Nashrani ini mengulang kembali celaannya terhadap Nabi SAW dengan perkataannya yang sangat keji. Maka si anjing pun berhasil lepas dari ikatannya dan langsung saja menyambar leher si Nashrani itu dan merobek hingga bagian dadanya yang paling atas. Orang itu pun mati seketika.

Karena kejadian ini, ada sekitar 40.000 orang Mongol masuk Islam.

    Di zaman kita, apakah anjing lebih mulia dan lebih pemberani daripada manusia? Jangan Sampai Seekor Anjing Masih Lebih Mulia Karena Membela Kehormatan Nabi SAW, Dibanding Yang Mengaku Muslim Tapi Membela Penghina Al Qur’an.

Imam Ibnu Al-Mundzir berkata, “Para ulama telah berijma’ (bersepakat) bahwa orang yang mencaci maki Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam harus dibunuh. Di antara yang berpendapat demikian adalah imam Malik (bin Anas), Laits (bin Sa’ad), Ahmad (bin Hambal) dan Ishaq (bin Rahawaih). Hal itu juga menjadi pendapat imam Syafi’i.”

(Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an, 8/82)

KETERANGAN MEMBACA SURAT BARA’AH AT TAUBAH TANPA BASMALAH

Apakah  benar bila membaca surat “atTaubah” itu tidak boleh membaca ta’awudz atau basmalah?

        Kalau membaca ta’awwudz dalam mengawali pembacaan surah tersebut maka diperbolehkan, sedangkan kalau membaca BASMALAH itu  terjadi perbedaan pendapat diantara Ulama tentang hukum membaca BASMALAH pada awal surat “BARAA’AH” (surat at Taubah)

        قوله: (ومن ثم حرمت الخ) عليه منع ظاهر وفي الجعبري ما يدل على خلافه فراجعه سم عبارة ع ش قوله م ر: سورة براءة أي فلو أتى بها في أولها كان مكروها خلافا لحج حيث قال بالحرمة اه عبارة شيخنا فتكره البسملة في أولها وتسن في أثنائها كما قاله الرملي، وقيل: تحرم في أولها وتكره في أثنائها كما قال%

DO’A YANG DI AJARKAN NABI SAW KEPADA SHABATNYA AGAR MENJADI KAYA RAYA

Diriwayatkan bahwa seorang Sahabat mengeluh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata:

“Ya Rasulallah, kenapa dunia seolah-olah tidak menginginkanku, semua usahaku bangkrut, peternakan dan pertaniankupun selalu gagal panen.? Sambil tersenyum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan tentang tasbihnya para Malaikat serta tasbihnya penghuni alam semesta yaitu kalimat:

سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم واستغفر الله

SUBHANALLAH WA BIHAMDIHI SUBHANALLAHIL ‘AZHIM WASTAGHFIRULLAH

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah 100 kali sebelum terbit Fajar.

Maka dunia akan memohon kepada Allah agar dunia engkau miliki (mengejarmu tanpa kau mengejarnya)”

Selang beberapa bulan kemudian, sahabat tadi kembali lagi dan bercerita:

“Ya Rasulallah sekarang aku bingung dengan hartaku kemana harus aku letakkan hasil usaha dan peternakanku karena banyaknya.”

(Diriwayatkan oleh Al Khatib Al Baghdadi dari Imam Malik Rahimahullah. Dikutip dari Kitab أبواب الفرج oleh Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki)

KEDUSTAAN YANG DI TUDUHKAN KEPADA ISTRI ISTRI NABI SAW.

180_B.TIF

Dewi Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan, “Biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak keluar untuk melakukan suatu perjalanan, maka beliau mengundi di antara istri-istrinya. Maka, siapa saja di antara mereka yang keluar undiannya, maka dialah yang keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan undian di antara kami di dalam suatu peperangan yang beliau ikuti. Ternyata namaku-lah yang keluar. Aku pun berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kejadian ini sesudah ayat tentang hijab diturunkan. Aku dibawa di dalam sekedup (tandu di atas punggung onta) lalu berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga kembali dari perang tersebut.

Ketika telah dekat dengan Madinah, maka pada suatu malam beliau memberi aba-aba agar berangkat. Saat itu aku keluar dari tandu melewati para tentara untuk menunaikan keperluanku. Ketika telah usai,  aku kembali ke rombongan. Saat aku meraba dadaku, ternyata kalungku dari merjan zhifar terputus. Lalu aku kembali lagi untuk mencari kalungku, sementara rombongan yang tadi membawaku telah siap berangkat. Mereka pun membawa sekedupku dan memberangkatkannya di atas ontaku yang tadinya aku tunggangi. Mereka beranggapan bahwa aku berada di dalamnya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

“Pada masa itu perempuan-perempuan rata-rata ringan, tidak berat, dan tidak banyak daging. Mereka hanya sedikit makan. Makanya, mereka tidak curiga dengan sekedup yang ringan ketika mereka mengangkat dan membawanya. Di samping itu, usiaku masih sangat belia. Mereka membawa onta dan berjalan. Aku pun menemukan kalungku setelah para tentara berlalu. Lantas aku datang ke tempat mereka. Ternyata di tempat itu tidak ada orang yang memanggil dan menjawab. Lalu aku bermaksud ke tempatku tadi di waktu berhenti. Aku beranggapan bahwa mereka akan merasa kehilangan diriku lalu kembali lagi untuk mencariku.”

“Ketika sedang duduk, kedua mataku merasakan kantuk yang tak tertahan. Aku pun tertidur. Shafwan bin al-Mu’aththal as-Sullami adz-Dzakwani tertinggal di belakang para tentara. Ia berjalan semalam suntuk sehingga ia sampai ke tempatku, lalu ia melihat hitam-hitam sosok seseorang, lantas ia menghampiriku. Ia pun mengenaliku ketika melihatku. Sungguh, ia pernah melihatku sebelum ayat hijab turun, Aku terbangun mendengar bacaan istirja’-nya (bacaan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) ketika ia melihatku. Kututupi wajahku dengan jilbab. Demi Allah, dia tidak mengajakku bicara dan aku tidak mendengar sepatah kata pun dari mulutnya selain ucapan istirja sehingga ia menderumkan kendaraannya, lalu ia memijak kaki depan onta, kemudian aku menungganginya. Selanjutnya ia berkata dengan menuntun kendaraanu sehingga kami dapat menyusul para tentara setelah mereka berhenti sejenak seraya kepanasan di tengah hari. Maka, binasalah orang yang memanfaatkan kejadian ini (menuduh berzina). Orang yang memperbesar masalah ini ialah Abdullah bin Ubay bin Salul.”

“Kemudian kami sampai ke Madinah. Ketika kami telah sampai di Madinah aku sakit selama sebulan. Sedangkan orang-orang menyebarluaskan ucapan para pembohong. Aku tidak tahu mengenai  hal tersebut sama sekali. Itulah yang membuatku penasaran, bahwa sesungguhnya aku tidak melihat kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasanya aku lihat dari beliau ketika aku sakit. Beliau hanya masuk, lalu mengucap salam dan berkata, ‘Bagaimana keadaanmu?’ Itulah yang membuatku penasaran, tetapi aku tidak mengetahui ada sesuatu yang buruk sebelum aku keluar rumah.”

“Lalu aku dan Ummu Misthah berangkat. Dia adalah putri Abi Ruhm bin Abdul Muththalib bin Abdi Manaf. Ibunya adalah puteri Shakhr bin Amr, bibi Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anha. Anaknya bernama Misthah bin Utsatsah bin Ubbad bin Abdul Muththalib bin Abdu Manaf. Lantas aku dan putri Abu Ruhm, Ummu Misthah terpeleset dengan pakaian wol yang dikenakannya. Kontan ia berujar, ‘Celakalah Misthah.’ Lantas aku berkata kepadanya, ‘Alangkah buruknya ucapanmu. Kamu mencela seorang lelaki yang ikut serta dalam perang Badr.’ Ia berkata, ‘Apakah engkau belum mendengar apa yang telah ia katakan?’ Aku bertanya, ‘Memang apa yang ia katakan?’ Ia pun menceritakan kepadaku mengenai ucapan para pembuat berita bohong (bahwa Aisyah telah berzina). Aku pun bertambah sakit.”

“Ketika aku pulang ke rumah, aku berkata, ‘Bawalah aku keapda kedua orang tuaku!”

Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,

“Ketika itu aku ingin mengetahui secara pasti berita tersebut dari kedua orang tuaku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkanku datang kepada kedua orang tuaku. Lantas aku bertanya kepada ibuku, ‘Wahai Ibu! Apa yang sedang hangat dibicarakan oleh orang-orang?’ Ibuku menjawab, ‘Wahai putriku! Tidak ada apa-apa. Demi Allah, jarang sekali seorang perempuan cantik yang dicintai oleh suaminya sementara ia mempunyai banyak madu melainkan para madu tersebut sering menyebut-nyebut aibnya.’ Lantas aku berkata, ‘Maha Suci Allah! Berarti orang-orang telah memperbincangkan hal ini.’ Maka, aku menangis pada malam tersebut sampai pagi. Air mataku tiada henti dan aku tidak tidur sama sekali. Kemudian di pagi hari pun aku masih menangis.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,

“Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu ketika wahyu tidak segera turun. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada keduanya dan meminta pendapat kepada keduanya perihal menceraikan istrinya.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan,

“Sedangkan Usamah radhiyallahu ‘anhu memberi pendapat keapda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan apa yang ia ketahui akan jauhnya istri beliau dari perbuatan tersebut dan dengan apa yang ia ketahui tentang kecintaannya kepada beliau. Usamah mengatakan, ‘Wahai Rasulullah! Mereka adalah istri-istrimu, menurut pengetahuan kami mereka hanyalah orang-orang yang baik.”

“Sedangkan Ali bin Abi Thalib berpendapat, ‘Wahai Rasulullah! Allah tidak akan memberikan kesempitan kepadamu. Perempuan selain Aisyah masih banyak. Jika engkau bertanya kepada seorang budak perempuan, pasti ia akan berkata jujur kepadamu.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan,

“Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Barirah radhiyallahu ‘anhu. Beliau bertanya, ‘Hai Barirah! Apakah kamu melihat ada sesuatu yang mengutusmu dengan kebenaran. Aku tidak melihat sesuatu pun pada dirinya yang dianggap cela lebih dari bahwa dia adalah perempuan yang masih belia yang terkadang tertidur membiarkan adonan roti keluarganya, sehingga binatang piarannya datang, lalu memakan adonan rotinya.”

“Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar seraya bersabda, ‘Wahai kaum muslimin! Siapakah yang sudi membelaku dari tuduhan laki-laki yang telah menyakiti keluargaku? Demi Allah, aku tidak mengetahui tentang keluargaku kecuali kebaikan. Dan mereka juga menuduh seorang laki-laki yang sepanjang pengetahuanku adalah orang baik-baik, ia tidaklah datang menemui keluargaku kecuali bersamaku.”

“Selanjutnya Sa’ad bin Mu’adz al-Anshari radhiyallahu ‘anhu berdiri lalu berkata, ‘Aku akan membelamu wahai Rasulullah! Jika ia dari kabilah Aus, maka akan kami tebas batang lehernya. Jika ia dari kalangan saudara-saudara kami kalangan Khazraj, maka apa yang engkau perintahkan kepada kami, pastilah kami melaksanakan perintahmu.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,

“Kemudian Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anha berdiri. Ia adalah pemimpin kabilah Khazraj, maka apa yang engkau perintahkan kepada kami, pastilah kami melaksanakan perintahmu.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,

“Kemudian Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anha berdiri. Ia adalah pemimpin kabilah Khazraj. Ia adalah lelaki yang shalih tetapi ia tersulut emosi. Lalu ia berkata kepada Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, ‘Kamu bohong! Demi Allah! Kamu tidak akan membunuhnya dan tidak akan mampu membunuhnya. Jika ia berasal dari kabilahmu pasti kamu tidak ingin membunuhnya.”

“Lalu Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu berdiri. Ia adalah sepupu Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata kepada Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu, ‘Kamu bohong! Demi Allah. Sungguh kami akan membunuhnya. Kamu ini munafik dan berdebat untuk membela orang-orang munafik. Lantas terjadi keributan antara kedua kabilah, yakni Aus dan Khazraj sehingga hampir saja mereka saling membunuh padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di atas mimbar. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menenangkan mereka sampai mereka diam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri juga terdiam.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,

“Pada hari itu aku menangis. Air mataku terus menetes tiada henti dan aku tidak tidur sama sekali. Kedua orang tuaku beranggapan bahwa tangisan dapat membelah hatiku.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan,

“Ketika keduanya sedang duduk di sampingku sedangkan aku sedang menangis, tiba-tiba seorang perempuan dari kalangan Anshar meminta izin kepadaku, lalu aku pun memberi izin kepadanya sehingga ia duduk seraya menangis di sampingku. Ketika kami masih dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kemudian duduk. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah duduk di sampingku sejak beredarnya isu tersebut. Dan telah sebulan penuh tidak ada wahyu turun mengenai perkaraku ini. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kesaksian pada saat beliau duduk seraya berkata, ‘Amma ba’du, hai Aisyah! Sungguh, telah sampai kepadaku isu demikian dan demikian mengenai dirimu. Jika engkau memang bersih dari tuduhan tersebut, pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membebaskanmu. Dan jika engkau melakukan dosa, maka memohonlah ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubatlah kepada-Nya, karena sesungguhnya seorang hamba yang mau mengakui dosanya dan bertaubat, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima taubat-Nya.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,

“Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai menyampaikan sabdanya ini, maka derai air mataku mulai menyusut, sehingga aku tidak merasakan satu tetes pun. Lalu aku berkata kepada ayahku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas nama aku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Selanjutnya aku berkata kepada ibuku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku juga tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu aku berkata, ‘Aku adalah seorang perempuan yang masih belia. Demi Allah, aku tahu bahwa kalian telah mendengar berita ini sehingga kalian simpan di dalam hati dan kalian membenarkannya. Makanya, jika kuktakan kepada kalian bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut Allah Maha Mengetahui bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut, maka kalian tidak mempercayaiku. Dan jika aku mengakui sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bahwa aku terbebas darinya, malah kalian sungguh-sungguh mempercayaiku. Demi Allah, aku tidak menjumpai pada diriku dan diri kalian suatu perumpamaan selain sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Yusuf Alaihi Salam:

“Maka hanya sabar yang baik itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18)

“Kemudian aku berpaling, aku berbaring di atas tempat tidurku.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,

“Aku wallahu a’lam ketika itu terbebas dan Allah-lah yang melepaskanku dari isu tersebut. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah menyangka akan diturunkan suatu wahyu yang akan selalu dibaca perihal persoalanku ini. Sungguh persoalanku ini terlalu remeh untuk difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi sesuatu yang akan selalu dibaca. Sebenarnya yang aku harapkan ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermimpi di dalam tidurnya yang di dalam mimpi tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala membebaskanku dari tuduhan tersebut.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan,

“Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum sempat beranjak dari tempat duduknya dan belum ada seorang pun dari anggota keluargaku yang keluar sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa berat ketika menerima wahyu. Sampai-sampai beliau bercucuran keringat bagaikan mutiara padahal ketika itu sedang musim penghujan. Hal ini lantaran beratnya wahyu yang diturunkan kepada beliau.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan,

“Kontan, kesusahan telah lenyap dari hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tersenyum bahagia. Kalimat yang kali pertama beliau katakan ialah, ‘Bergembiralah Aisyah! Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membebaskanmu.’ Lalu ibuku berkata kepadaku, ‘Berdirilah kepada Nabi.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan berdiri kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku tidak akan memuji kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang menurunkan wahyu yang membebaskan diriku. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut:

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (pula).” (QS. An-Nur: 11)

Sampai sepuluh ayat secara keseluruhan.”

“Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan ayat ini yang menjelaskan tentang kebebasanku, maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anha –beliau adalah orang yang memberikan nafkah kepada Misthah bin Utsatsah radhiyallahu ‘anha karena masih ada hubungan kerabat dan karena ia orang fakir- berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah kepadanya lagi untuk selamanya setelah apa yang ia katakan kepada Aisyah.’ Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut:

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)

“Lantas Abu Bakar radhiyallahu ‘anha berkata, ‘Baiklah. Demi Allah, sungguh aku suka bila Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuniku.’ Kemudian beliau kembali memberi nafkah kepada Misthah yang memang sejak dahulu ia selalu memberinya nafkah. Bahkan ia berkata, ‘Aku tidak akan berhenti memberi nafkah kepadanya untuk selamanya.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai persoalanku. Beliau berkata, ‘Wahai Zainab, apa yang kamu ketahui atau yang kamu lihat?’ Ia menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Aku menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, yang aku tahu dia hanyalah baik.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, ‘Dialah di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyaingiku dalam hal kecantikan, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala melindunginya dengan sifat wara’. Sedangkan saudara perempuannya, Hamnah binti Jahsy radhiyallahu ‘anha bertentangan dengannya. Maka, binasalah orang-orang yang binasa.”

“Ketahulah bahwa di dalam hadis tentang cerita bohong ini terkandung beberapa faedah, yaitu:

Pertama, kewajiban mengundi di antara beberapa istri ketika hendak mengajak pergi sebagian di antara mereka.

Kedua, bolehnya seorang suami bepergian dengan istrinya, mengajak istri safar berperang, kaum perempuan menaiki sekedup, dan laki-laki melayani perempuan ketika dalam perjalanan.

Ketiga, boleh bagi kaum perempuan keluar untuk memenuhi kebutuhannya tanpa izin suami. Ini termasuk hal-hal pengecualian.

Keempat, seseorang yang menaikkan perempuan ke atas onta dan kendaraan lainnya tidak boleh mengajak bicara perempuan tersebut jika bukan mahramnya kecuali karena suatu kebutuhan. Sebab, para sahabat hanya membawa sekedup. Mereka tidak mengajak bicara orang yang mereka duga ada di dalam sekedup.

Kelima, menolong orang yang butuh pertolongan, membantu orang yang terpisah dari rombongannya, menyelamatkan orang hilang, dan memuliakan orang yang mempunyai kedudukan sebagaimana yang dilakukan oleh Shafwan radhiyallahu ‘anhu.

Keenam, menjaga tatakrama yang baik bersama perempuan bukan mahram, terutama ketika di tempat sepi bersamanya dalam kondisi darurat, baik di tanah lapang atau di tempat lain sebagaimana yang dilakukan oleh Shafwan radhiyallahu ‘anha, yaitu menderumkan onta tanpa berbicara dan tanpa bertanya. Di samping itu, seyogyanya ia berjalan di depan perempuan tersebut, tidak di sampingnya, dan tidak pula di belakangnya.

Ketujuh, sunnah membaca istirja, yaitu bacaan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un ketika tertimpa musibah, baik dalam bidang agama atau dunia, baik menimpa pada diri sendiri maupun orang lain.

Kesembilan, disunnahkan menutupi desas-desus mengenai seseorang dari orang yang bersangkutan jika tidak ada gunanya menuturkan isu tersebut, sebagaimana mereka menyembunyikan isu tersebut dari Aisyah radhiyallahu ‘anha selama sebulan. Setelah itu, Aisyah radhiyallahu ‘anha baru mendengarnya lantaran ada suatu kejadian, yaitu pernyataan Ummi Misthah yang mencela Misthah.

Kesepuluh, sunnah bagi seorang suami bersikap lemah lembut dan berinteraksi dengan baik terhadap istrinya. Dan apabila ada sesuatu yang dapat menghalangi hubungannya dengan istri dan lain sebagainya, maka suami mengurangi sikap lemah lembutnya dan sebagainya agar istrinya paham bahwa ada sesuatu yang terjadi, sehingga si istri menanyakan penyebabnya, lalu ia dapat melenyapkannya.

Kesebelas, apabila seorang perempuan hendak keluar untuk memenuhi kebutuhannya, maka disunnahkan baginya ditemani oleh perempuan lain yang dapat membuatnya nyaman dan tidak diganggu oleh orang lain.

Kedua belas, seorang istri tidak diperkenankan pergi ke rumah orang tuanya kecuali dengan izin suaminya.

Ketiga belas, sunnah bagi suami meminta pendapat kepada orang terdekatnya, keluarganya, dan teman-temannya mengenai persoalan yan gdihadapinya.

Keempat belas, terbebasnya Aisyah radhiyallahu ‘anha dari cerita bohong yang dituduhkan kepadanya. Ia telah terbebas secara pasti berdasarkan nash Alquran. Jadi, seandainya ada seseorang yang meragukannya, wal-iyadzu billah, maka ia menjadi kafir dan murtad berdasarkan ijma kaum muslimin.

Kelima belas, keutamaan-keutamaan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu sebagaimana tercantum dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala;

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)

Keenam belas, sunnah bersilaturrahim meskipun kepada orang-orang yang buruk serta sunnah memberi maaf kepada orang yang berbuat buruk.

Ketujuh belas, orang yang telah mengucapkan suatu sumpah dan memandang ada sesuatu lain yang lebih baik daripada mengikuti sumpahnya, maka disunnahkan baginya melakukan sesuatu yang lebih baik dan mebayar kaffarat atas sumpahnya tersebut.”

(Syarh Muslim karya Imam An-Nawawi dengan perubahan).

DALAM ISRA MI’RAJ ADA TIGA PERINTAH ALLOH SWT. YANG SELAIN SHALAT 5 WAKTU

Karunia dan anugerah yang besar dari Allah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya dalam perjalanan isra’ dan mi’raj tidak hanya berhenti pada syariat shalat saja. Karunia itu terus berlanjut dengan tiga wahyu lainnya. Pertama, adanya aturan baru dalam perhitungan kebaikan dan keburukan. Kedua, penutup surat Al-Baqarah. Ketiga, ampunan yang besar bagi mereka yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.

Pertama: Aturan baru dalam perhitungan kebaikan dan keburukan.

Allah Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam

يَا مُحَمَّدُ، إِنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، لِكُلِّ صَلاَةٍ عَشْرٌ، فَذَلِكَ خَمْسُونَ صَلاَةً، وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ شَيْئًا، فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

“Hai Muhammad, sungguh shalat yang lima waktu sehari semalam itu, setiap shalatnya dilipat-gandakan sepuluh. Sehingga setara lima puluh kali shalat. Siapa yang berkeinginan kuat melakukan kebaikan, tapi tak jadi melakukannya, dicatat untuknya satu kebaikan. Kalau dia mengamalkannya, dicatat untuknya sepuluh. Siapa yang berkeinginan kuat melakukan keburukan, tapi tak jadi melakukannya, tak dicatat apapun padanya. Kalau ia melakukannya, barulah dicatatkan satu keburukan.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman, 162).

Aturan ini sangat luar biasa. Allah Ta’ala tidak mencukupkan diri dengan keadilan (membalas dengan balasan serupa), tapi ia memberikan kelebihan.

Kedua: Penutup Surat Al-Baqarah.

Tentang poin kedua dan ketiga terdapat penjelasannya dalam sebuah hadits. Penyebutannya berbarengan dengan penyebutan shalat lima waktu. Diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

لَمَّا أُسْرِيَ بِرَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، انْتُهِيَ بِهِ إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى، وَهِيَ فِي السَّمَاءِ السَّادِسَةِ، إِلَيْهَا يَنْتَهِي مَا يُعْرَجُ بِهِ مِنَ الأَرْضِ فَيُقْبَضُ مِنْهَا، وَإِلَيْهَا يَنْتَهِي مَا يُهْبَطُ بِهِ مِنْ فَوْقِهَا فَيُقْبَضُ مِنْهَا”، قَالَ: {إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى} [النجم: 16]، قَالَ: “فَرَاشٌ مِنْ ذَهَبٍ”. قَالَ: “فَأُعْطِيَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ثَلاَثًا: أُعْطِيَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ، وَأُعْطِيَ خَوَاتِيمَ سُورَةِ الْبَقَرَةِ، وَغُفِرَ لِمَنْ لَمْ يُشْرِكْ بِاللهِ مِنْ أُمَّتِهِ شَيْئًا، الْمُقْحِمَاتُ [2]”[3]. وفي رواية الترمذي بسند صحيح زاد: “فَأَعْطَاهُ اللهُ عِنْدَهَا ثَلاَثًا لَمْ يُعْطِهِنَّ نَبِيًّا كَانَ قَبْلَهُ..

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diisra’kan, Beliau dihentikan di Sidrah al-Muntaha, yang terletak di langit keenam. Sesuatu yang naik dari bumi akan bermuara di sana dan ditahan di sana. Dan sesuatu dari atasnya berhenti padanya, lalu ditahan di tempat tersebut.

Allah berfirman: ‘(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya).’ (QS. An Najm: 16).

Abdullah bin Mas’ud berkata lagi, “Yaitu hamparan dari emas.” Ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan tiga hal. Dianugerahkan kewajiban shalat lima waktu. Penutup Surat Al-Baqarah. Dan diampuni orang-orang yang tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatu, al-muqhimat.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman, 173).

Dalam riwayat at-Turmudzi dengan sanad yang shahih terdapat tambahan:

فَأَعْطَاهُ اللهُ عِنْدَهَا ثَلاَثًا لَمْ يُعْطِهِنَّ نَبِيًّا كَانَ قَبْلَهُ

“Allah menganugerahkan tiga hal yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelum beliau.”

Imam an-Nawawi menjelaskan makna muqhimat. Maknanya adalah dosa-dosa yang besar. Dosa-dosa besar yang membinasakan pelakunya yang menyebabkan masuk neraka. Sebagai balasan untuk mereka. Orang-orang yang dibalas dosa-dosanya adalah orang yang binasa. Dan yang dimaksud siapa yang wafat dari kalangan umat ini tanpa menyekutukan Allah, ia diberikan ampunan al-muqhamat. Maksud ampunan -Allahu a’lam- adalah tidak membuatnya kekal di neraka. Berbeda dengan orang-orang musyrik. Artinya, bukan berarti dia tidak diadzab sama sekali (al-Minhaj, 3/3).

Dalam kesempatan agung ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi wahyu penutup Surat al-Baqarah. Yaitu dua ayat terakhir dari surat terpanjang dalam Alquran itu.

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.” [Quran Al-Baqarah: 285-286].

Dua ayat ini adalah ayat yang agung dalam Alquran. Diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

: « إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِأَلْفَيْ عَامٍ ، وَأَنْزَلَ مِنْهُ آيَتَيْنِ خَتَمَ بِهِمَا سُوْرَةَ الْبَقَرَةِ ، وَلَا تُقْرَآنِ فِيْ دَارٍ فَيَقْرَبُهَا الشَّيْطَانُ ثَلَاثَ لَيَالٍ » هذا حديث صحيح الإسناد ، ولم يخرجاه

Dari Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala menulis sebuah kitab dua ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Dia menurunkan padanya dua ayat yang menutup Surat Al-Baqarah. Tidaklah dibaca dua ayat itu dalam rumah, kecuali setan tak berani mendekatinya selama tiga malam.”

Diriwayatkan oleh Hudzaifah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فُضِّلْنَا عَلَى النَّاسِ بِثَلاَثٍ: جُعِلَتِ الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدًا، وَجُعِلَ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا، وَجُعِلَتْ صُفُوفُنَا كَصُفُوفِ الْمَلاَئِكَةِ، وَأُوتِيتُ هَؤُلاَءِ الآيَاتِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ مِنْ كَنْزٍ تَحْتَ الْعَرْشِ، لَمْ يُعْطَهُ أَحَدٌ قَبْلِي، وَلاَ يُعْطَى أَحَدٌ بَعْدِي

“Kita diberi keutamaan dari umat lainnya dengan tiga hal. (1) Dijadikan semua bagian bumi sebagai masjid (tempat shalat) dan tanahnya suci. (2) Dijadikan shaf-shaf seperti shafnya para malaikat. Dan (3) Diberikan padaku ayat-ayat akhir Surat Al-Baqarah yang merupakan bagian dari perbendaharaan Arasy. Tidak pernah diberikan kepada nabi sebelumku juga setelahku.” (HR. an-Nasai dalam Kitab Fadhail Alquran 8022, Ahmad 23299, dan Ibnu Hibban 1697. Lafadz ini adalah riwayat Ibnu Hibban).

Diriwayatkan dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُعْطِيتُ خَوَاتِيمَ سُورَةِ الْبَقَرَةِ مِنْ بَيْتِ كَنْزٍ مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ، لَمْ يُعْطَهُنَّ نَبِيٌّ قَبْلِي”

“Aku diberikan penutup Surat Al-Baqarah yang merupakan perbendaharaan arasy. Sesuatu yang tak pernah diberikan kepada nabi sebelumku.” (HR. Ahmad 21382)

Diriwayatkan dari Abu Mas’ur radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ بِالآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ البَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

“Siapa yang dalam satu malam membaca dua ayat akhir dari Surat Al-Baqarah, hal itu cukup untuknya.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab Fadhail Alquran 4722 dan Muslim dalam Kitab Shalatul Musafirin wa Qashriha 808. Lafadz ini adalah riwayat al-Bukhari).

Lalu, kapan dua ayat ini diturunkan? Kalau yang kita tangkap dari pembahasan di atas, ayat ini turun di malam mi’raj. Sedangkan apabila dilihat dari sisi riwayat-riwayat asbab an-nuzulnya, ayat ini turun di Madinah.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

ما نَزَلَتْ على رسول الله صلى الله عليه وسلم: {لِلهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ} [البقرة: 284]، قَالَ: فَاشْتَدَّ ذَلِكَ عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَأَتَوْا رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ بَرَكُوا عَلَى الرُّكَبِ، فَقَالُوا: أَيْ رَسُولَ اللهِ، كُلِّفْنَا مِنَ الأَعْمَالِ مَا نُطِيقُ، الصَّلاَةَ وَالصِّيَامَ وَالْجِهَادَ وَالصَّدَقَةَ، وَقَدْ أُنْزِلَتْ عَلَيْكَ هَذِهِ الآيَةُ وَلاَ نُطِيقُهَا. قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: “أَتُرِيدُونَ أَنْ تَقُولُوا كَمَا قَالَ أَهْلُ الْكِتَابَيْنِ مِنْ قَبْلِكُمْ: سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا؟ بَلْ قُولُوا: سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ”. قَالُوا: سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ. فَلَمَّا اقْتَرَأَهَا الْقَوْمُ، ذَلَّتْ بِهَا أَلْسِنَتُهُمْ، فَأَنْزَلَ اللهُ فِي إِثْرِهَا: {آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ} [البقرة: 285]. فَلَمَّا فَعَلُوا ذَلِكَ نَسَخَهَا اللهُ تَعَالَى، فَأَنْزَلَ اللهُ عز وجل: {لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا} [البقرة: 286]. قَالَ: “نَعَمْ”. {رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا}. قَالَ: “نَعَمْ”. {رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ}. قَالَ: “نَعَمْ”. {وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ} [البقرة: 286]. قَالَ: “نَعَمْ

“Saat turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ayat:

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [Quran Al-Baqarah: 284].

Terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersegera dengan kendaraan mereka. Mereka berkata, ‘Rasulullah, kami diperintahkan dengan sesuatu yang kami mampui. Shalat, puasa, jihad, dan sedekah. Kemudian turun kepada Anda ayat ini. Kami tak mampu’.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apakah kalian ingin mengatakan seperti dua kelompok ahlul kitab sebelum kalian: kami mendengar, tapi kami memaksiatinya? Ucapkanlah, kami mendengar dan kami menaatinya. Kami berharap ampunan-Mu wahai Rab kami. Dan kepadamulah kami dikembalikan’.

Para sahabat pun mengatakan, ‘Kami mendengar dan kami menaatinya. Kami berharap ampunan-Mu wahai Rab kami. Dan kepadamulah kami dikembalikan’.

Ketika mereka membacanya, lisan-lisan mereka tunduk dengan ayat itu. Lalu Allah menurunkan sesudah ayat selanjutnya, ‘Rasul telah beriman kepada Aquran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya’, dan mereka mengatakan, ‘Kami dengar dan kami taat’. (Mereka berdoa), ‘Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali’. (Quran Al-Baqarah: 285).

Ketika mereka melakukan hal tersebut, maka Allah menghapusnya, lalu menurunkan: ‘(Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah) ‘ Allah menjawab: “Ya.” ‘(Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami) ‘ Allah menjawab: “Ya.” ‘(Wahai Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya) ‘ Allah menjawab: “Ya.” ‘(Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir’. (Quran Al-Baqarah: 286). Allah menjawab: “Ya.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman, 179).

Jadi, ayat ini Allah berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam mi’raj. Tapi, diturunkan di Madinah saat kondisinya tepat. Sehingga dalam keadaan tersebut kaum muslimin benar-benar merasakan rahmat dan keutamaan dari Allah.

Ketiga: Ampunan bagi mereka yang tak pernah menyekutukan Allah.

Al-muqhimat adalah dosa-dosa besar. Sehingga pelakunya mendapat hukuman dengan dimasukkan ke dalam neraka. Orang-orang yang melakukan dosa besar, hukum asalnya mereka pantas mendapat hukuman dari Allah. Seperti mereka yang durhaka kepada dua orang tua, bermuamalah ribawi, meminum khamr, membunuh, dan lain-lain. Namun, dalam malam isra’ mi’raj ini, Allah memberikan peluang pada mereka untuk terbebas dari siksa. Syaratnya adalah mereka bertaubat kepada Allah dengan taubat yang benar. Jika mereka tidak bertaubat, mereka akan diadzab di neraka walaupun tidak kekal di dalamnya jika tidak melakukan kesyirikan.

Misalnya, dosa pembunuhan. Sebuah dosa yang pantas mendapatkan adzab di neraka. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” [Quran An-Nisa: 93].

Dalam ayat ini, seorang pembunuh berhak mendapatkan adzab. Bahkan teks ayat menunjukkan ia kekal di neraka. Tapi, dengan rahmat Allah dan kasih sayang-Nya terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya, Dia ampuni dosa besar ini. Kalau si pembunuh benar dalam taubatnya. Sebagaimana kisah seorang pembunuh 100 nyawa:

كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ، فَأَتَاهُ فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: لاَ. فَقَتَلَهُ، فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً، ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ، فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ، فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ، فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ؟ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا، فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللهَ فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ، وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ، فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ. فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ، فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ، فَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ: جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلاً بِقَلْبِهِ إِلَى اللهِ. وَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ: إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ. فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ، فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ، فَقَالَ: قِيسُوا مَا بَيْنَ الأَرْضَيْنِ، فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ. فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ، فَقَبَضَتْهُ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ

“Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Namun ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas ia pun mendatanginya dan berkata, ”Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah taubatnya diterima?” Rahib pun menjawabnya, ”Orang seperti itu tidak diterima taubatnya.” Lalu orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya.

Kemudian ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia pun ditunjuki kepada seorang ‘alim. Lantas ia bertanya pada ‘alim tersebut, ”Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa, apakah taubatnya masih diterima?” Orang alim itu pun menjawab, ”Ya masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan taubat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu(yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.”

Laki-laki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut). Ketika sampai di tengah perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat adzab. Malaikat rahmat berkata, ”Orang ini datang dalam keadaan bertaubat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah”. Namun malaikat adzab berkata, ”Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun”. Lalu datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia, mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai pemutus perselisihan mereka. Malaikat ini berkata, ”Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju -pen). Jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak atas orang ini.” Lalu mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya,ruhnya pun dicabut oleh malaikat rahmat.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Anbiya 3283 dan Muslim dalam Kitab at-Taubah 2766).

Si pembunuh ini, awalnya ia adalah seorang yang terhukum. Tapi kemudian ia bertaubat dengan sungguh-sungguh. Allah terima taubatnya dan mengampuninya. Untuk umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal ini merupakan bagian dari keberkahan malam al-mi’raj.

Contoh lainnya, tentang seorang pezina dan pencuri. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim bahwasanya Abu Dzar radhiallahu ‘anhu berkata,

أَتَيْتُ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم وعليه ثوبٌ أبيض، وهو نائمٌ، ثمَّ أتيته وقد استيقظ، فقال: “مَا مِنْ عَبْدٍ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، ثُمَّ مَاتَ عَلَى ذَلِكَ إِلاَّ دَخَلَ الجَنَّةَ”. قُلْتُ: وإن زنى وإن سرق؟ قال: “وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ”. قُلْتُ: وإن زنى وإن سرق؟ قال: “وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ”. قُلْتُ: وإن زنى وإن سرق؟ قال: “وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ عَلَى رَغْمِ أَنْفِ أَبِي ذَرٍّ”. وكان أبو ذرٍّ إذا حدَّث بهذا قال: وَإِنْ رَغِمَ أَنْفُ أَبِي ذَرٍّ.

قال أبو عبد الله: هذا عند الموت، أو قبله إذا تاب وندم، وقال: لا إله إلا الله. غُفِرَ لَهُ

“Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sedang tidur. Saat itu beliau memakai baju berwana putih. Kemudian saat aku mendatanginya (lagi), beliau masih tidur. Kemudian ketika aku mendatanginya lagi beliau telah terjaga. Aku lantas duduk dengan menghadap ke arahnya. Lalu beliau bersabda, “Tidaklah seorang hamba mengatakan, ‘Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah’, kemudian dia meninggal dengan berpegang teguh pada hal tersebut. Melainkan dia pasti masuk surga.’ Aku bertanya, ‘Walaupun dia berzina dan mencuri.’ Beliau menjawab, ‘Walaupun dia berzina dan mencuri.’ Aku bertanya, ‘Walaupun dia berzina dan mencuri.’ Beliau menjawab, ‘Walaupun dia berzina dan mencuri.’ Tiga kali. Kemudian pada kali keempatnya beliau berkata, ‘Meskipun Abu Dzar kurang setuju.’ Perawi berkata, “Abu Dzar pun keluar, sedangkan dia berkata, ‘Meskipun Abu Dzar kurang setuju.”

Abu Abdullah (Imam al-Bukhari) berkata, “Perkataan ini ia ucapkan menjelang wafat. Atau sebelumnya. Apabila ia bertaubat dan menyesal. Ia berkata, ‘Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah’. Diampuni dosa-dosanya.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Libas 5489 dan Muslim dalam Kitab al-Iman 94).

Inilah tiga wahyu lainnya yang diterima Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat malam isra’ mi’raj, selain dari wahyu shalat.

MENCONTOH CARA MAKAN DAN MINUM ROSULULLOH SAW.

Sebagai umat islam yang baik, tentunya kita semua ingin sekali bisa mencontoh apa yang di lakukan oleh beliau junjungan umat manusia Rosulillah Saw.  Berikut ini adalah hikmah hikmah dari cara Rosululloh Saw. dalam melakukan makan dan minum. Semoga kita semua bisa mencontoh Beliau, sehingga bisa mendapatkan hikmah yang terkandung di dalamnya, amin.

  1. Berdoalah sebelum makan dan minum, agar makanan dan minuman kita mengandung berkah. “Bismillaahirrahmaanirrahiim, Allahumma baariklanaa fiimaa rozaqtanaa waqinaa adzaabannaar”. “Ya Allah berilah keberkahan dalam rizki (makanan) kami, dan selamatkanlah kami dari siksa neraka”.
  2. Makan dan minum sambil duduk , sebagaimana HR. Muslim dan Turmudzi dari Anas dan Qatadah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnyabeliau melarang seseorang minum sambil berdiri, Qotadah berkata:”Bagaimanadengan makan?” beliau menjawab: “Itu kebih buruk lagi”. (HR. Muslim dan Turmidzi)

Bersabda Nabi SAW dari Abu Hurairah,“Jangan kalian minum sambil berdiri !Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan !” (HR. Muslim). Hikmah yang diperoleh dari makan dan minum sambil duduk menurut Dr. Abdurrazaq Al-Kailani¹, ahwa minum dan makan sambil duduk, lebih sehat, lebih selamat, dan lebih sopan, karena apa yang diminum  atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lembut. Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar, yang kemudian menyebabkan disfungsi pencernaan.

Dr. Ibrahim Al-Rawi² menegaskan bahwa manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna. Ini merupkan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat tepenting pada saat makan dan minum. Ketenangan ini bisa dihasilkan pada saat duduk, dimana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat.

Dr. Al-rawi menekankan bahwa makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus. Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf(Vagal Inhibition)yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak. Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus –menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung. Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa bebenturan dengan makanan atau minuman yang masuk. Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh spinchter

Spinchter adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Spinchter lebih seperti gate/gerbang/seal windpipe yang berkontraksi,(menutup) dan relaxing (membuka) dan jumlah otot ini ada sekitar 50 otot tersebar di berbagai saluran lubang manusia.Berfungsi sebagai otot yang membuka dan menutup, sekresi, controlling substance in & out, semua sesuai fitrah manusia. Contoh ketika minum, sphincter di tenggorokan akan menutup agar tidak masuk ke saluran udara dan paru-paru. saat menerima fluid yang asam akan menutup hingga tidak kelebihan acid dalam lambung, ketika saluran kemih penuh, membuka sehingga bisa keluar urin,dll. Jika kita minum berdiri air yang kita minum tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan disaluran ureter. Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter.

Inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang berbahaya. Susah kencing itu penyebabnya. Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum. Adapun Rasulullah berdiri, maka itu dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, bukan merupakan kebiasaan. Ingat hanya sekali karena darurat!  Begitu pula makan sambil berjalan, sama sekali tidak sehat, tidak sopan, tidak etis dan tidak pernah dikenal dalam Islam.

  1. Ketika minum jangan sambil menghembuskan nafas dalam gelas, cangkir atau tempat minuman lainnya dan jangan meneguk air lebih dari 3 kali. Hikmah yang diperoleh adalah agar proses penyaringan oleh spinchter berjalan seimbang karena tidak melebihi kapasitas juga dapat menimbulkan spinchter berfungsi dengan baik dalam penyaringan.

  1. Makanlah dengan tiga jari (ibu jari, telunjuk dan jari tengah), sesuai yang diajarkan Rasul SAW: Dari Anas: “Bahwasanya Rasul SAW, sewaktu makan menggunakan tiga jari”.

  1. Usahakan makanan jangan sampai jatuh dan sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Ketika suapan seseorang dari kamu jatuh, hendaklah diambil, dibersihkan dari kotorannya, lalu dimakan, jangan dibiarkan syetan yang makan.

  1. Makanlah sampai habis, karena mungkin berkahnya ada pada yang Anda sisakan. Dan Beliau Rasulullah SAW, menyuruh membersihkan sisa makanan di piring dengan sabdanya: “Kalian tiada mengetahui secara pasti di mana letak berkah pada makanan”(HR. Muslim).
  2. Makanlah dengan menggunakan tangan kanan, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW yang artinya: Makanlah dengan tangan kanan, karena syetan makan/minum dengan tangan kiri (HR Bukhari),

  1. Jangan meniup makanan/minuman (HR Tirmidzi). Hikmah yang dipetik dari hal ini adalah: a. Mencegah penyebaran kuman (penyakit) ke makanan yang berasal dari mulut.Menjaga kesehatan gigi, karena berti tidak boleh makan terlalu panas atau terlalu dingin.
  2. Setelah selesai makan, baca doa “Alhamdulillahi lladzii ath’amanaa wasaqoonaa wa ja’alanaa minal muslimiin”. Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum dan menjadikanku muslim.

Inilah cara makan terbaik. Bukankah Rasul adalah teladan terbaik?

 

MUTIARA HIKMAH DARI AL-QUR’AN DAN HADITS TENTANG IBADAH DAN BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

180_B.TIF

 Perintah ibadah kepada Allah dan berbuat baik kepada kedua orang tua (ibu dan bapak):

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia¹. (Q.S. Al-Isra’: 23).

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil. (Q.S. Al-Isra’: 24).

    Q.S. 31: 14 dan 15 Perintah bersyukur kepada Allah dan kedua orang tua:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Artinya:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun². Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Q.S. Luqman: 14).

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S. Luqman: 15).

    Fadhilah berbuat baik kepada ibu dan bapak:

Artinya:

“Barangsiapa yang berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya, maka berbahagialah baginya, semoga Allah memperpanjang umurnya” (H.R. Bukhari).

Artinya: “Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu”. (H.R. Imam Ahmad).

Artinya: “Berbuat baiklah kalian kepada dua orang ibu-bapakmu”. (H.R. Ath-Thabrany).

Dari Abdil-Rahman Abdullah bin Mas’ud, r.a. berkata: Saya pernah bertanya kepada Nabi SAW: “’Amal perbuatan apakah yang lebih dicintai oleh Allah?”. Beliau menjawab: “Shalat pada waktunya”. Saya bertanya lagi: “Kemudian apa lagi?”. Beliau menjawab: “Berbuat baik kepada kedua orang tua”. Saya bertanya lagi:”Kemudian apa lagi?”.Beliau menjawab: “Jihad pada jalan Allah”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

    4 (empat) macam dosa besar menurut hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abdillah bin Amr bin Al-‘Ash r.a.

“Dari ‘Abdillah bin Amr bin Al-’Ash r.a. dari Nabi SAW telah bersabda: Dosa-dosa besar ialah: menyekutukan Allah, berani (durhaka) kepada kedua orang tua, membunuh orang dan sumpah palsu”. (H.R. Bukhari).

    Pelaksanaan sanksi perbuatan dosa yang langsung diterima pelakunya ketika masih hidup di dunia, di samping menerima sanksi di akhirat  menurut hadits yang diriwayatkan Ath-Thabrani:

Artinya:

Semua dosa pelaksanaannya ditangguhkan Allah Ta’ala menurut apa yang Ia kehendaki sampai hari qiyamat, kecuali dosa terhadap kedua orang tua. Sesungguhnya Allah Ta’ala mempercepat balasan dosa terhadap kedua orang tua bagi pelakunya pada masa hidup di dunia sebelum mati. (H.R. Ath-Thabrani).

 

    Tiga ciri akhlak utama penghuni dunia dan penghuni akhirat menurut hadits yang diriwayatkan Al-Hakim:

Nabi SAW pernah bersabda kepada ‘Uqbah: “Wahai ‘Uqbah, maukah engkau kuberitahukan tentang akhlaq penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Yaitu: menghubungi orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberi orang yang pernah menahan pemberiannya kepadamu, mema’afkan orang yang pernah menganiaya kamu”. (H.R. Al-Hakim, dari ‘Uqbah bin Al-Juhany).

 

    Deskripsi hadits mengenai jasa orang tua

Artinya:

Dari Abi Hurairah r.a. berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: “Tidak dapat seorang anak membalas budi baik orang tuanya, kecuali jika ia mendapatkan orang tuanya itu tertawan menjadi budak, kemudian ia membelinya, lalu ia merdekakan. (H.R. Muslim).

 

    Prioritas yang berhak dilayani dengan baik

Artinya:

Dari Abi Hurairah r.a. berkata: Ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah SAW lalu ia bertanya: “Siapakah yang berhak aku layani dengan sebaik-baiknya?” Beliau menjawab: “Ibumu”. Ia berkata: “Kemudian siapa?” Beliau brsabda: “Ibumu”. Ia berkata lagi: “Kemudian siapa?” Beliau bersabda pula: “Ibumu”.Ia berkata lagi:”Kemudian siapa?” Beliau bersabda: “Bapakmu”. (Muttafaqun’alaih). Dalam riwayat lain disebutkan: “Ya Rasulullah, siapakah yang lebih berhak kulayani dengan sebaik-baiknya?” Nabi menjawab: “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian bapakmu, kemudian yang terdekat dan yang terdekat”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

 

    Orang yang kecewa karena tidak berbuat baik kepada kedua orang tuanya

Dari Abi Hurairah r.a. dari Nabi SAW telah bersabda: “Sungguh kecewa, sungguh kecewa dan hina, sungguh kecewa, siapa yang mendapatkan kedua ibu-bapaknya atau salah satunya ketika tua, kemudian ia tidak masuk surga”. (H.R. Muslim).

    Q.S. 31: 14 Perintah bersyukur kepada Allah dan kedua orang tua:

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Artinya:

“… Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (Q.S. Luqman: 14).

 

    Tentang Silaturrahm dan Hubungan Sesama Manusia

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Artinya:

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah pada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnus-sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (Q.S. An-Nisa’ (5): 36).

Dari Abi Muhammad, Jubair bin Muth’im r.a., bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus”. Sufyan berkata dalam sebuah riwayatnya: yakni memutuskan hubungan famili. (H.R. Bukhary dan Muslim).

Artinya:

Dari Ibnu ‘Umar dan ‘Aisyah r.a. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:”Jibril selalu berpesan kepadaku supaya baik terhadap tetangga, hingga aku mengira kalau-kalau akan diberi hak waris”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

Artinya:

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Hai wanita-wanita muslimat! Janganlah menganggap remeh memberi hadiah kepada tetangga, walau sekedar kikil (ujung kaki) kambing”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

Artinya:

Sebaik-baik teman menurut pandangan Allah, ialah orang yang paling baik kepada temannya, dan sebaik-baik tetangga menurut pandangan Allah, ialah orang yang paling baik kepada tetangganya. (H.R. At-Tirmidzi).

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berbuat baik kepada tetangganya”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

<<<<<<<<<<<<

    ¹Mengucapkan kata “Ah” kepada orang tua tidak dibolehkanoleh agama, apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.

    ²Maksudnya: Selambat-lambatnya waktu menyapih ialah setelah anak berumur 2 tahun.

MENGETAHUI DAN MENGAMALKAN KESUKSESAN STRATEGI BISNIS NABI MUHAMMAD SAW.

Nabi Muhammad SAW adalah seorang pendakwah tapi  juga seorang bisnisman yang sukses. Nabi Muhammad SAW merupakan sosok yang unik. Beliau seorang pebisnis yang berbeda dengan kebanyakan pedagang. Walaupun Nabi Muhammad tidak diutus sebagai pedagang, namun beliau telah mewariskan nilai-nilai luhur berupa keteladanan dalam menjalankan usaha.

Maka Kalau kita mau mengkaji secara mendalam atas strategi sukses bisnis  Nabi, paling tidak ada dua hal yang bias kita ambil pelajaran. Pertama, Keberhasilan Nabi dalam membnagun kepercayaan, sehingga beliau sangat dipercaya (Al Amiin). Dengan citra dirinya sebagai Al Amin, sehingga orang-orang senang melakukan transaksi bisnis dengan beliau, dan tidak segan-segan menginvestasikan modal mereka kepadanya. Kedua,  Kompetensi dan kemampuan teknis. Nabi Muhammad SAW sangat lihai benar  cara berinteraksi  dengan calon pembeli atau mitra bisnis. Beliau sangat mengenal pasar-pasar dan tempat perdagangan di jazirah Arab. Beliau juga sangat memahami seluk beluk aktivitas perdagangan, perekonomian, keuntungan suatu perdagangan serta bebrbagai transaksi  perdagangan yang menyalahi nilai-nilai syar’i.

 

Memaknai Bisnis Cara Nabi SAW.

Tatkala berdagang, Nabi Muhammad SAW tidak sekedar menjual produk. Beliaupun menjual nilai-nilai (Selling Values ) ketika bertransaksi dengan mitra bisnis dan para pelanggannya. Maksud dari menjual nilai-nilai ini adalah senantiasa menegedepankan etika bisnis yang dijiwai dengan nilai-nilai syar’i.

Dalam Islam, hakekat seorang pedagang mengandung  makna yang luas dan mendalam. Bahkan, ketika Allah menawarkan suatu solusi agar kita selamat dari azab neraka, Allah SWT menegaskan bahwa “perniagaan dengan Allah” adalah jawabannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (10) تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (11)

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan pada suatu perniagaan yang dapat menyelamtkanmu dari azab yang pedih, Yaitu kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (QS. As Saff : 10-11)

Dalam perwujudannya perniagaan dengan Allah “mencakup segala aktivitas yang dilandasi semangat untuk meraih ridhoNya, termasuk aktivitas yang menyertai kegiatan bisnis atau perdagangan yang sesuai dengan nilai-nilai syar’i. Dan Nabi Muhammad SAW adalah merupakan Model Ideal dari seorang pedagang yang senantiasa “melibatkan Allah” dalam perniagaanya itu.

Diantara  persyaratan utama yang mesti dipenuhi seorang pedagang agar “perniagaanya dengan Allah” menyertai setiap usaha/ bisnis yang dijalankan adalah tidak berlebihan dalam memandang harta dn keuntungan materi. Nabi mengingatkan “ Cintamu pada sesuatu akan membuatmu buta dan tuli”

Umar bin Khottob memberikan nasehat, “Taruhlah kehidupan dunia dalam genggaman tangan anda, jangan taruh dunia dalam hati anda” maksudnya, janganlah hal-hal keduniawian menempati hati sehingga membuat kita begitu mencintainya. Apabila hal itu terjadi, maka kita akan dikuasainya. Tapi cukuplah ia berada dalam genggaman, supaya kita yang menguasai harta.

Nabi telah membuktikan bahwa sukses bisnis yang digapainya, banyaknya kekayaan yang diraihnya, sama sekali tidak membuat beliau lupa diri dan hidup dalam kemewahan. Sebaliknya beliau memilih pola hidup yang sederhana dan membelanjakan semua harta kekayaan di jalan Allah.

Sejalan dengan memaknai bisnis secara islami maka keberkahan adalah intinya. Berkah adalah Ziyadatul Khoir dalam kata lain yaitu bertambahnya kebaikan yang menyangkut Nilai (value) dan Kualitas (quality) bukan sekadar kuantitas. Sedangkan  keberkahan kata kuncinya adalah “syukur”  yang diuraikan dalam tiga prinsip :

Pertama, Tidak hanya berorientasi ingin mendapatkan uang saja, tetapi lebih dari itu yaitu berorientasi pada misi sebagai pengabdian kepada Allah SWT,Pebisnis  seperti ini akan senantiasa berpijak pada dua sikap terpuji yang menguntungkan dirinya : bersyukur jika berhasil, bersabar jika gagal. Seandainya pedagang/ pebisnis hanya berorientasi pada uang, maka bila berhasil menjadi sombong dan jika mengalami kegagalan akan kecewa dan frustrasi, bahkan berburuk sangka kepada Allah SWT.

Kedua, Mengutamakan tujuan jangka panjang (ukhrowi) ketimbang hanya mencari keuntungan jangka pendek yang bersifat duniawi.

Ketiga, Memandang sumber daya manusia sebagai asset, bukan sebagi alat. Sebagai sumber asset, sumber daya manusia bukanlah mesin yang harus di eksploitasi. Ia mestinya diperlakukan secara manusiawi dengan cara dikembangkan potensinya, diberdayakan kemampuannya , dan dilayani hak-haknya, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh rasulullah SAW dengan akhlak mulianya.

Maka pedagang yang senantiasa menerapkan etika bisnis syar’I seperti dicontohkan nabi, tidak akan pernah merugi dalam menjalankan usahanya. Sebab , dalam islam, keuntungan tidaklah semata-mata ditinjau berdsarkan materi semata. Karena hakekat keuntungan perniagaan dlam islam yaitu bila kegiatan usahanya menambah amal sholeh, dapat membantu atau menolong orang lain, bertambahnya ilmu dan pengalaman dan bias membangun silaturahmi.

TANGGUNG JAWAB KELUARGA DALAM KAJIAN AYAT AL QUR’AN

Pada zaman Rasulullah Saw, pernah terjadi pertikaian dalam sebuah keluarga dari sahabat Anshor. Pertikaian tersebut berujung pada penamparan seorang suami kepada istrinya. Setelah kejadian itu, sang istri bersama orang tuanya hendak melaporkan kejadian yang menimpanya kepada baginda Rasulullah Saw.

Mendengar pengaduan itu, Rasulullah Saw memutuskan hukuman Qishas (balasan) untuk sang suami. Ketika sang istri dan ayahnya hendaknya pulang, Rasulullah Saw mencegahnya seraya berkata, “Kembalilah, malaikat Jibril As membawakan ayat ini”. Kemudian Rasulullah Saw membacakan Surah An-Nisa’ ayat 34. (Lihat: Tafsir Ar-Razi, X/70)

Menghayati Ayat

Dalam awal penggalan ayat ke 34 surah An-Nisa’, Allah Swt berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka (pria) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”, (QS. An-Nisa’: 34).

Mayoritas ulama Ahli Tafsir memberi penjelasan yang senada atas kandungan ayat tersebut. Yakni menitikberatkan terhadap aspek kepemimpinan dan tanggung jawab seorang laki-laki atas perempuan. Dengan bermodal kelebihan yang dimiliki, baik secara fisik maupun daya intelektual, kaum laki-laki sudah sepatutnya memegang tanggung jawab atas kaum perempuan.

Menurut sebagian kelompok, ayat ini menjadi alasan sebagai argumen untuk memarginalkan golongan perempuan. Dengan bertendensi terhadap realita dan kelebihan yang dianugerahkan oleh Allah terhadap kaum laki-laki, mereka seakan memposisikan perempuan sebagai strata kedua yang berada di bawah level kaum laki-laki. Dengan dalih kelebihan yang dimiliki kaum laki-laki dalam ayat itu, kelompok ini sangat menentang adanya upaya yang sering disebut emansipasi wanita.

Sebenarnya asumsi serampangan seperti ini telah terjawab dalam kitab tafsir Al-Bahr Al-Muhith. Syech Muhammad Yusuf Hayyan Al-Andalusi menjelaskan bahwa tidak sepenuhnya benar apabila dikatakan laki-laki lebih utama daripada perempuan. Karena dalam konteks ayat ini, yang berlaku adalah hukum keumuman jenis laki-laki yang lebih utama daripada jenis perempuan, bukan memandang setiap individunya. Dengan kata lain, tidak menutup kemungkinan ada individu perempuan yang justru lebih baik daripada laki-laki, contoh adalah Sayyidah ‘Aisyah Ra, Rabiah Al-Adawiyah, dan lain-lain. (Lihat: Al-Bahr Al-Muhith, III/622, Maktabah Syamilah)

Implementasi Penafsiran

Penggalan ayat di atas, mengemukakan ragam penafsiran yang begitu banyak dari golongan ulama Ahli Tafsir. Namun, mayoritas dari mereka (Jumhur Al-Mufassirin) mengambil kesimpulan bahwa ayat ini menjadi landasan tanggung jawab seorang laki-laki atas keluarganya.

Ada dua alasan yang menjadikan laki-laki sebagai pemimpin yang memiliki tanggung jawab atas keluarganya, yaitu karena Wahbiyun (Pemberian) dan Kasbiyun (Pekerjaan). Yang dimaksud Wahbiyun (Pemberian) adalah segala kelebihan yang diberikan atas kaum laki-laki demi melancarkan tanggung jawabnya atas perempuan, seperti kecerdasan intelektual dan kekuatan fisik. Sedangkan yang dimaksud Kasbiyun (Pekerjaan) adalah kelebihan yang diusahakan oleh kaum laki-laki dalam menunjang tanggunh jawabnya atas kaum perempuan, seperti kewajiban membayar mas kawin dan nafkah keluarga. (Lihat: Al-Bahr Al-Madid fii Tafsir Al-Qur’an Al-Majid, I/498, Maktabah Syamilah)

Oleh karena itu, dalam ayat itu Allah menggunakan kata “Qowwamun” yang memiiliki arti “Pemimpin” merupakan bentuk metafora dari kata “Qoimun”. Sehingga sangat tepat sekali bahwa kamu laki-laki lah yang mengemban amanah untuk memimpin, mendidik, dan menjaga keluarganya. Begitu juga bagi perempuan, dia mengemban amanah sebuah kehormatan dan wajib untuk selalu mentaati perintah yang diberikan, selama hal itu tidak bertentangan dengan syariat. (Lihat: Tafsir Al-baghowi, II/206, dan Tafsir Ar-Razi, X/70)

Dengan pemahaman yang komprehensif dengan bukti referensi yang dapat dipertanggungjawabkan, diharapkan tidak ada lagi diskriminasi terhadap golongan perempuan dengan bertendensi pada ayat ini. Karena pada dasarnya, ayat ini justru menjelaskan masalah keseimbangan hak dan kewajiban antara seorang suami dan istri demi terciptanya nuansa keluarga yang sakinah dan harmonis.

Wallahu a’lam

Referensi:

Tafsir Ar-Razi

Al-Bahr Al-Muhith fii  Al-Tafsir

Tafsir Al-Baghowi

Tafsir Al-Qurtubhi

Al-Bahr Al-Madid fii Tafsir Al-Qur’an Al-Majid