AMALAN MAULID DAN KITAB BANTAHAN YANG MEMBID’AHKAN MAULID NABI SAW.

Amalan untuk Merayakan Maulid Nabi

Bulan Rabiul Awwal adalah salah satu bulan istimewa bagi umat Islam. Hal ini disebabkan karena bulan ini merupakan bulan dilahirkannya Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, bulan ini disebut juga dengan bulan maulud atau maulid (kelahiran).

Dalam rangka menyambut bulan maulid Nabi saw., sebagian besar umat muslim khususnya di Indonesia akan mengadakan perayaan dengan mengadakan pengajian atau cukup dengan pembacaan dibaan, berzanji dan shalawat kepada Nabi saw. Lalu apa saja amalan lain yang dianjurkan dilakukan di bulan maulid?

Imam Suyuthi di dalam kitabnya Husnul Muqshid Fi Amalil Maulid mengutip pendapat imam Ibnu Hajar terkait hal ini.

واما ما يعمل فيه فينبغي أن يقتصر فيه على ما يفهم الشكر لله تعالى من نحو ما تقدم ذكره من التلاوة والاطعام والصدقة وانشاد شيئ من المدائح النبوية والزهدية المحركة للقلوب الى فعل الخير والعمل للاخرة.

Adapun amalan yang dapat dilakukan di dalam maulid Nabi saw. maka disunnahkan melakukan sebatas amalan yang dapat dipahami sebagai rasa syukur kepada Allah swt. seperti contohnya sebagaimana telah disebutkan yakni membaca Al-Qur’an, memberikan makanan, shadaqah, dan menyanyikan pujian-pujian tentang kenabian dan kezuhudan yang dapat menggerakkan hati untuk melakukan kebaikan dan amalan untuk akhirat.

Dengan demikian, perayaan maulid yang notebenenya adalah ekspresi rasa syukur kita atas lahirnya Nabi Muhammad saw. dapat dirayakan dengan amalan kebaikan apapun. Bisa dengan khataman Al-Qur’an bersama-sama, mengadakan santunan anak yatim piatu dan dhuafa’, atau memberikan makanan untuk orang-orang, dan membaca syiiran shalawatan bersama-sama.

Imam Ibnu Hajar memberikan keterangan lanjutan bahwa mengekspresikan kegembiraan dalam merayakan maulid Nabi saw. itu boleh dan bisa dilakukan dengan hal-hal yang mubah dalam bentuk apapun. Namun jika ada hal yang diharamkan atau dimakruhkan, maka dilarang/tidak boleh.

Lebih lanjut, imam Suyuthi juga memberikan keterangannya bahwa imam Al-Baihaqi meriwayatkan hadis dari Anas bin Malik. Yakni Nabi saw. mengakikahi dirinya sendiri setelah masa kenabian, padahal beliau telah diakikahi oleh kakeknya di hari ketujuh setelah kelahirannya.

Hal ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi saw. tersebut sebagai wujud ekspresi syukur beliau kepada Allah yang telah menjadikannya sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Oleh karena itu, menurut imam Suyuthi disunnahkan juga bagi umat Islam untuk menampakkan rasa syukur atas kelahiran Nabi saw. dengan berkumpul bersama, memberikan makanan serta aktifitas-aktifitas yang dapat mendekatkan diri kepada Allah dan menampakkan keceriaan/kegembiraan atas kelahiran nabi saw.

 

Kitab Bantahan Imam Suyuthi Tentang Maulid itu Bid’ah

Imam Suyuthi adalah salah satu imam terkemuka pada abad 9-10 Hijriyyah. Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat alim dalam semua bidang ilmu keislaman. Mulai dari tafsir, ilmu tafsir, hadis, ilmu hadis, hingga fikih dan ushul fikih telah beliau kuasai. Bahkan beliau memiliki buah karya dari masing-masing ilmu tersebut.

Disamping itu, beliau juga memiliki karya yang ditulis untuk membantah ulama lain yang berbeda pendapat dengannya. Salah satunya adalah Husnul Muqshid Fi Amalil Maulid. Kitab ini membahas  tentang dalil disyariatkannya maulid Nabi saw. sekaligus sebagai bantahan terhadap kalangan yang membid’ah-bid’ahkan perayaan maulid Nabi saw.

Kitab yang berisi duapuluh satu halaman ini juga ditulisnya khusus untuk membantah kitab karya Syekh Tajuddin Umar bin Ali Al-Lakhami As-Sakandari yang lebih dikenal dengan Al-Fakihani. Ulama dari kalangan madzhab Maliki tersebut mengarang kitab Al-Maurid Fil Kalam Ala amalil Maulid.

Imam Al-Fakihani mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi saw. belum ia ketahui dalilnya sama sekali baik di dalam Al-Qur’an maupun sunnah. Imam Suyuthi melalui karyanya tersebut memberikan bantahannya dengan mengatakan bahwa tidak adanya pengetahuan (tidak tahu) itu bukan berarti selalu berimplikasi pada tidak adanya dalil.

Padahal Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani telah mengeluarkan hadis tentang dalil maulid Nabi saw. Hadis tersebut terdapat di dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Muslim yang berisi tentang Nabi saw. yang menanyai alasan orang Yahudi yang berpuasa di hari Asyura. Jawaban Yahudi adalah karena sebagai bentuk syukur atas ditenggelamkannya Firaun pada hari itu sehingga Nabi Musa a.s. pun selamat dari kejarannya.

Oleh karena itu, Nabi saw. juga menyuruh umatnya agar juga berpuasa di hari Asyura’ dan sekaligus hari tasu’a (hari kesembilan bulan Muharram) sebagai pembeda dengan kaum Yahudi. Hadis ini menjadi dalil bahwa bentuk syukur itu bisa dikarenakan atas anugrah Allah berupa diberikannya nikmat atau dihindarkan dari bencana. Selain itu hadis ini juga menjadi dalil bahwa bentuk syukur itu bisa diekspresikan dalam berbagai bentuk ibadah, bisa sujud, puasa, shadaqah dan membaca Al-Qur’an.

Sementara nikmat yang sangat besar yang patut kita syukuri adalah lahirnya Nabi Muhammad saw. Maka, orang yang tidak mau memperhatikan hal ini, pasti ia tidak akan memperdulikan perayaan maulid Nabi saw.

Selain itu, imam Al-Fakihani juga mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi saw. hanyalah dibuat-buat oleh orang-orang yang bodoh/dungu saja. Imam Suyuthi pun membantahnya bahwa ulama-ulama telah mengatakan dahulu raja-raja yang adil dan alim telah merayakan maulid Nabi saw. sebagai bentuk taqarrub kepada Allah. Bahkan acaranya pun dihadiri oleh ulama dan orang-orang shalih tanpa ada yang mengingkarinya. Hal ini pun telah diterangkan oleh imam Ibnu Dahiyyah di dalam karyanya bahwa ulama ridha dan mengakui peringatan maulid Nabi saw., mereka tidak ada yang mengingkarinya.

Pendapat Al-Fakihani berikutnya adalah bahwa perayaan maulid Nabi saw. tidak disunnahkan, karena pada hakikatnya hal yang disunnahkan adalah yang dituntut oleh syariat. Tanggapan Imam Suyuthi terkait ini adalah bahwa tuntutan syariat itu kadang berasal dari teks (Al-Qur’an dan hadis), kadang pula berupa qiyas. Oleh karena itu, jika tidak ada dalilnya di dalam Al-Qur’an dan hadis secara jelas, maka dalilnya adalah diqiyaskan kepada teks yang ada di dalam Al-Qur’an dan hadis (seperti argumen imam Ibnu Hajar di atas).

Selain kitab Husnul Muqsid fi Amalil Maulid berisi bantahan imam Suyuthi kepada imam Al-Fakihani, imam Suyuthi juga memaparkan argumen-argumen dan pendapat para ulama lain seputar disyariatkannya maulid.  Di antaranya ulama yang beliau kutip pendapatnya adalah imam Ibnu Hajar, Ibnul Jazari di dalam kitabnya Arfut ta’rif bil maulidis Syarif dan imam Syamsuddin Ad Dimasyqi di dalam kitabnya Maurids shadi fi maulidil hadi.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

PERINGATAN NABI SAW UNTUK WANITA DAN LAKI LAKI YANG TERGODA WANITA LAIN

Nasihat Nabi untuk Suami yang Tergoda Wanita Lain

Menjalani bahtera rumah tangga tidak luput dari ganasnya badai yang menerpa. Entah dari pihak istri atau suami ada saja yang hadir menjadi pihak ketiga. Namun, biasanya godaan yang datang adalah dari pihak suami, khususnya yang kaya raya. Berikut adalah sabda Nabi saw. untuk suami yang tergoda wanita lain.

قَالَ جَابِرٌ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِذَا أَحَدُكُمْ أَعْجَبَتْهُ الْمَرْأَةُ فَوَقَعَتْ فِى قَلْبِهِ فَلْيَعْمِدْ إِلَى امْرَأَتِهِ فَلْيُوَاقِعْهَا فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِى نَفْسِهِ ». رواه مسلم.

Jabir berkata, saya pernah mendengar Nabi saw. bersabda, “Jika salah satu dari kalian dibuat heran oleh seorang wanita, lalu wanita itu jatuh di dalam hatinya (membangkitkan syahwatnya), maka hendaklah ia bermaksud menuju istrinya, lalu berhubungan badanlah dengannya, karena sungguh hal itu dapat menolak apa yang ada di dalam dirinya (mengendalikan nafsunya). (H.R. Muslim).

Berdasarkan hadis tersebut, Nabi saw. mengajarkan kepada para suami agar ketika melihat seorang wanita hingga menimbulkan rasa syahwat di dalam dirinya, maka segeralah ia menemui istrinya. Dialah yang hanya berhak mendapatkan pelampiasan syahwat dengan cara yang sah. Jika memang istrinya berada di tempat yang jauh darinya. Maka, zaman sekarang sangatlah mudah mencari solusinya. Bisa langsung menelponnya via suara atau video. Artinya, Nabi saw. mengingatkan kepada para suami agar selalu ingat istrinya saat ia tergoda dengan wanita lain.

Bahkan di dalam riwayat Jabir r.a. lainnya disebutkan bahwa Nabi saw. pernah melihat seorang wanita, namun beliau langsung mendatangi istrinya, yakni Zainab. Lalu beliau bersabda,

إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِى نَفْسِهِ ». رواه مسلم.

“Sungguh wanita dilihat dari depan dalam bentuk setan, begitu pula di arah belakang dalam bentuk setan. Jika salah satu dari kalian melihat seorang wanita, maka datangilah istrinya. Sungguh hal itu dapat menolak apa yang ada di dalam dirinya.” (H.R. Muslim).

Sungguh Nabi saw. tidaklah menghina wanita yang menyamakan dengan setan. Karena banyak sekali bukti lain yang justru Nabi saw. memuliakan wanita (baca di sini). Menurut para ulama sebagaimana yang dikutip oleh Imam Nawawi di dalam kitab Syarah Shahih Muslim, hadis ini hanyalah suatu isyarat saja. Bahwa hawa nafsu serta undangan fitnah itu (salah satunya) datang dari seorang wanita. Adapun Allah Swt. sudah menjadikan hati para laki-laki itu condong kepada  seorang wanita. Mereka akan merasakan nikmat dengan memandang wanita dan apapun yang berhubungan dengan syahwat. Oleh karena itu, wanita diserupakan dengan setan yang mengundang kejelekan.

Hal tersebut pun dapat kita mubadalahkan. Yakni sama saja dengan laki-laki yang dapat menggoda wanita. Karena banyak pula wanita yang tergoda dengan bujuk rayuan laki-laki, sehingga bagi wanita yang sudah bersuami pun harus segera melawan syahwat dan nafsunya dengan cara bergegas menuju suaminya.

Demikianlah sabda Nabi untuk suami yang tergoda wanita idaman lain. Yakni ajaran beliau adalah dengan cara menemui istrinya yang dapat menampung syahwatnya dengan halal. Begitu pula dengan seorang wanita yang tergoda laki-laki idaman lain. Dengan begitu jika masing-masing dari pihak istri maupun suami dapat mengendalikan nafsunya dan langsung menghubungi satu sama lain, maka insya Allah pernikahan akan langgeng. Allah Swt. pun telah mengingatkan di dalam firmanNya surat An-Nur ayat 30-31 agar baik laki-laki maupun wanita agar selalu menjaga pandangan dan kemaluannya.

Peringatan Nabi Untuk Para Wanita

Nabi saw. di dalam salah satu sabdanya telah memberi suatu peringatan untuk para wanita bahwa banyak di antara mereka yang menjadi penghuni neraka. Lantas apa penyebab dan solusi bagi kaum wanita agar tidak menjadi penghuni neraka sebagaimana yang dimaksud Nabi saw.?

Sabda Nabi saw. tersebut merupakan riwayat Abdullah bin Umar r.a.

 عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الاِسْتِغْفَارَ، فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ جَزْلَةٌ: وَمَا لَنَا يَا رَسُولَ اللهِ ، أَكْثَرُ أَهْلِ النَّارِ؟ قَالَ : تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَمَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَغْلَبَ لِذِي لُبٍّ مِنْكُنَّ قَالَتْ : يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ وَالدِّينِ؟ قَالَ: أَمَّا نُقْصَانُ الْعَقْلِ: فَشَهَادَةُ امْرَأَتَيْنِ تَعْدِلُ شَهَادَةَ رَجُلٍ فَهَذَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ، وَتَمْكُثُ اللَّيَالِيَ مَا تُصَلِّي، وَتُفْطِرُ فِي رَمَضَانَ فَهَذَا نُقْصَانُ الدِّينِ. (رواه مسلم).

Rasulullah saw. bersabda, “Wahai wanita, bersedekahlah kalian, dan perbanyaklah istighfar (mohon ampunan kepada Allah) karena sungguh aku melihat kalian menjadi penghuni neraka yang paling banyak.” Lalu seorang wanita yang cerdas di antara mereka angkat bicara, “Mengapa kami menjadi penghuni neraka yang paling banyak wahai Rasulullah?” Beliau pun menjawab, “Kalian sering melaknat dan mengingkari kebaikan suami. Aku belum pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya lebih mampu mengalahkan laki-laki yang berakal dibanding kalian.” Wanita tersebut kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, apa (yang dimaksud dengan) kurang akal dan agama?”. Beliau menjawab, “Kurang akal karena persaksian dua orang wanita setara dengan persaksian satu orang laki-laki, inilah makna kekurangan akal.” Dan seorang wanita berdiam diri selama beberapa malam dengan tidak shalat dan tidak berpuasa pada bulan Ramadhan (karena haid), inilah makna kekurangan dalam agama.” (HR. Muslim).

Berdasarkan hadis tersebut, Nabi saw. telah memberi peringatan kepada para wanita agar memperbanyak amal saleh. Seperti bersedekah dan memperbanyak meminta ampunan Allah atau dengan beristighfar.

Betapa Nabi saw. sangat perhatian dengan kaum wanita agar mereka tidak terjerumus ke dalam panasnya api neraka. Di mana Nabi saw. sendiri langsung melihat gambaran penghuni neraka yang banyak dihuni oleh kaum wanita.

Nabi saw. pun memberikan alasan mengapa hal tersebut sampai terjadi. Yakni banyak di antara kaum wanita itu belum dapat menjaga mulutnya dengan mengumbar laknat (mendoakan kejelekan orang lain agar dijauhkan dari rahmat Allah). Memang tidak dapat dipungkiri dibanding laki-laki wanita itu lebih suka berbicara. Sebagaimana dikutip dari laman www.magforwomen.com.  Salah satu alasannya adalah karena otak wanita memiliki lebih banyak protein pidato. Oleh karena itu, agar tidak termasuk ke dalam penghuni neraka, maka Nabi saw. memperingatkan wanita agar menjaga mulut dan lidahnya.

Selain itu, Nabi saw. juga memberi peringatan bahwa banyak dari kaum wanita itu kufur terhadap pemberian suaminya. Suaminya telah memberikan nafkah dengan semestinya, namun ketika suaminya melakukan sedikit saja kesalahan, kejelekanlah yang hadir di depan mata istrinya menutupi semua kebaikan yang telah dilakukan suaminya. Istri yang kufur terhadap pemberian suaminya inilah yang bakal banyak menghuni neraka sebagaimana digambarkan Nabi saw.

Teks hadis tersebut juga menggambarkan betapa Nabi saw. memberikan kesempatan belajar kepada para sahabat perempuan pada masa itu. Bahkan mereka pun dapat mengajukan pertanyaan atas apa yang tidak mereka ketahui. Sehingga proses pembelajarannya pun terlihat sangat kondusif dengan adanya proses tanya jawab tanpa ada rasa malu dan kaku.

Demikianlah peringatan Nabi saw. untuk para wanita. Yakni Nabi saw. memperingatkan bahwa neraka itu banyak dihuni kaum wanita yang tidak mampu menjaga mulutnya dengan ucapan yang penuh laknat. Serta wanita yang tidak mensyukuri pemberian suaminya.

Namun, Nabi saw. tidak hanya memberikan nasihat untuk para wanita agar menghindari sifat tercela tersebut, Nabi saw. juga memberikan solusi agar para wanita tidak menjadi penghuni neraka. Yakni dengan memperbanyak sedekah dan meminta ampun kepada Allah swt. atau beristighfar.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

BERHATI-HATILAH DENGAN SYAITAN DAN BERDO’ALAH AGAR DI BERI PETUNJUK

Hati-Hati Bila Setan Membisikan Ini

Allah memang maha Adil, menciptakan makhluknya berjodoh-jodoh, ada yang baik juga ada yang kurang menarik, ada yang pintar ada yang masih butuh belajar, ada yang kaya materi juga ada yang miskin Ruhani, semuanya saling melengkapi.

Begitu juga Allah menciptakan Setan agar manusia selalu hati-hati dari godaan maupun tipu dayanya, karena bila manusia sudah masuk perangkapnya akan merasakan kerugian yang mendalam di dunia dan akhirat.

Salah satu bisikannya seperti dalam sebuah Hadist yang tertuang dalam Shahih al-Bukhari:

ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: ” ﻳﺄﺗﻲ اﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻓﻴﻘﻮﻝ: ﻣﻦ ﺧﻠﻖ ﻛﺬا، ﻣﻦ ﺧﻠﻖ ﻛﺬا، ﺣﺘﻰ ﻳﻘﻮﻝ: ﻣﻦ ﺧﻠﻖ ﺭﺑﻚ؟ ﻓﺈﺫا ﺑﻠﻐﻪ ﻓﻠﻴﺴﺘﻌﺬ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﻟﻴﻨﺘﻪ. رواه البخاري

Artinya: Diriwayatkan dari Abi Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda, setan akan mendatangi salah satu dari kalian, kemudian akan memberi bisikan tentang: siapa yang menciptakan ini, siapa yang menciptakan itu, ketika membisikan tentang siapa yang menciptakan Tuhanmu? Maka minta perlindungan kepada Allah dan berhentilah. (H.R. Bukhari).

Menurut Imam al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir menjelaskan bahwa setan menggoda manusia dengan langkah yang sistematis. Hal ini bertujuan agar manusia ragu kepada Allah sebagai penciptanya.

Dalam hadis ini juga berisi larangan untuk tidak berfikir tentang Dzat Allah, karena manusia tak akan mampu menjalaninya. Namun dianjurkan untuk berfikir akan ciptaan-Nya karena hal itu akan menambah keimanan serta akan lebih mengenal kebesaran-Nya.

Yang dikhawatirkan adalah bila seseorang meyakini Allah seperti makhluknya, butuh tempat, waktu. Keyakinan seperti ini sungguh salah, karena bila Allah membutuhkan tempat maka Allah seperti makhluknya, bila Ia seperti makhluk-Nya maka akan terjadi Daur( Putaran), dan Tasalsul(mata rantai), maka hal ini Mustahil (tak mungkin terjadi) bagi Allah.

Maka dari itu jaga keimanan kita dengan meyakini bahwa Allah tak seperti makhluk-Nya, tidak beranak, juga tak diperanakkan, dialah yang maha sempurna, serta disucikan dari segala kekurangan.

Baca Doa Ini Agar Selalu Mendapat Petunjuk

Hakikat doa adalah pengakuan diri kepada Tuhan bahwasanya ia tak mampu untuk melakukan suatu kecuali atas izin-Nya, serta untuk meminta agar mendapatkan sesuatu yang ia harapkan, terutama agar selalu mendapatkan petunjuk dalam mengarungi kehidupan di dunia ini.

Salah satu doa yang tertuang di dalam Al-Qur’an adalah doa agar selalu diberikan petunjuk dalam segala hal, terutama selalu dibimbing dalam memutuskan suatu hal, yaitu yang tertuang dalam Surat al-Kahfi ayat 10 yang berbunyi:

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

Artinya: (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa, “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.

Menurut Imam Baidhawi dalam Tafsirnya doa ini berisi tentang permintaan rahmat Allah agar selalu turun, karena akan mendatangkan ampunan, serta mempermudah datangnya rizki, dan membawa kesentosaan serta keamanan dari musuh. Syaikh Nawawi al-Bantani dalam Tafsirnya menambahkan bahwa dia ini berisi agar dimudahkan dalam segala urusan terutama agar tercapai keinginan yang diharapkan.

Doa ini selalu dibaca oleh Ashabul Kahfi (penghuni gua) ketika dikejar, serta diintimidasi oleh raja kejam dari Romawi yang bernama Dikyanus sebagai penyembah berhala. Raja ini mempunyai kebiasaan membantai orang yang selalu menentangnya, serta selalu menyembelih hewan ternak yang dipersembahkan untuk berhala. Hal ini seperti keterangan dalam Tafsir al-Baghawi.

Maka dari itu, sebagai orang mukmin sebaiknya selalu berdoa agar selalu mendapatkan petunjuk, agar hidupnya selalu mendapatkan Rahmat dari Allah SWT, serta dimudahkan dalam segala urusan, seperti dalam kandungan doa di atas.

Ini Dua Doa yang Paling Sering Dibaca Rasulullah Saw

Rasulullah Saw selalu menyertai doa dalam setiap aktifitasnya. Diantara doa-doa yang pernah dibaca, ada dua doa yang paling sering dipanjatkan Nabi Saw, yaitu:

اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Allahumma rabbanaa aatina fid dun-ya hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qina ‘adzaban naar

“Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa api neraka”

Doa ini sebagaimana tercantum dalam hadis riwayat Bukhari, Anas Ra berkata “Doa yang paling banyak dipanjatkan Nabi Saw adalah “Rabbana aatina fid dun-yaa hasanah wa fil aakhirati hasanah waqinaa ‘adzaban naar”

Doa lain yang paling sering dipanjatkan Rasulullah Saw adalah doa memohon keteguhan iman, yaitu:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيَ عَلَى دِينِكَ

Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbi ‘ala dinika

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu”

Imam Abu Daud meriwayatkan dalam sunannya, dari Syahr bin Hausyab berkata “Aku mendatangi Ummu Salamah dan bertanya “Beritahu aku doa yang paling sering diucapkan Nabi Saw”, Ummu Salamah pun menjawab “Doa yang paling sering dibaca Nabi Saw adalah “Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbi ‘ala dinika”.

Lalu Rasulullah Saw ditanya mengenai hal ini “Ya Rasulullah, mengapa engkau sering membaca doa ini?” “Sesungguhnya hati anak Adam berada di antara dua ujung jari Ar-Rahman, apabila Ia berkehendak maka akan diteguhkan (imannya) dan jika Ia berkehendak maka Ia akan mencabutnya”.

Mengapa Berdoa itu Penting? Begini Alasannya

Doa dalam pandangan Quraish Shihab adalah permohonan dari seseorang yang mempunyai kedudukan dan kemampuan lebih rendah (manusia) kepada Dzat yang lebih tinggi (Allah Swt).

Adapun doa dalam pandangan Wahbah Zuhaily adalah meminta kemanfaatan dan menolak kemadaratan. Akan tetapi, dalam pandangan Toshihiko Izutsu doa bukanlah sekedar permohonan atau permintaan dari manusia terhadap Tuhannya.

Lebih dari itu, doa adalah bentuk komunikasi verbal yang terjadi antara Tuhan dan manusia. Hubungan antara keduanya pun tidak bersifat sepihak, walaupun terkadang manusia akan mengambil inisiatif dan berusaha melakukan komunikasi dengan Tuhan melalui isyarat bahasa.

Di dalam komunikasi di antara keduanya, tercermin bukti ketundukan manusia kepada Tuhan serta pengakuan atas kelemahan dan juga ketidakberdayaan manusia di hadapan Tuhan. Selain itu, terdapat juga suatu keharuan, rasa penyesalan, harapan, keinginan, serta kepasrahan yang dilakukan secara totalitas dari orang yang berdoa kepada Tuhan. Allah swt memerintahkan kepada manusia untuk senantiasa berdoa, sebagaimana firman-Nya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (٦٠)

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina“. (Q.S Al-Mu’min [40]: 60).

Secara tidak langsung, ayat tersebut mengisyaratkan betapa pentingnya berdoa. Pertanyaannya kemudian, mengapa berdoa itu menjadi penting? Karena doa merupakan salah satu perintah Allah SWT, sekaligus ancaman bagi orang-orang yang sombong, termasuk di dalamnya adalah orang-orang yang tidak mau berdoa kepada Allah SWT.

Dengan kata lain, orang yang banyak berdoa maka akan mulia, sebaliknya orang yang enggan berdoa maka akan menjadi hina dina. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim:

ليس شيئ اكرم على الله عز وجل من الدعاء في الرخاء

“Tidak ada sesuatu yang paling mulia dalam pandangan Allah Swt, selain dari “berdoa” kepada-Nya, sedang kita dalam keadaan lapang”

Hal senada juga diungkapkan oleh Alexis Carell, seorang ilmuan Prancis, pemenang dua hadiah Nobel dalam bidang kedokteran. Menurutnya, doa adalah pusaka yang selalu menyertai orang yang berdoa di manapun ia berada.

Di samping itu, mengabaikan doa adalah pertanda kehancuran suatu bangsa. Masyarakat yang mengabaikan doa adalah masyarakat yang berada di ambang kemunduran dan kehancuran. Masyarakat Roma misalnya, adalah bangsa yang agung namun secepat mereka mengabaikan doa maka secepat itu pula kehinaan dan kelemahan menimpa mereka.

Alasan lain tentang mengapa berdoa itu menjadi penting adalah karena doa mempunyai faidah yang sangat banyak, sebagaimana ungkapan Imam Al-Ghazali. Menurutnya, walaupun doa tidak dapat menolak qadha namun doa dapat melahirkan sikap khudhu’ dan hajat kepada Allah Swt. Apalagi jika diingat bahwa menolak bala dengan doa termasuk qadha Allah SWT juga.

Bahkan, doa menjadi salah satu sebab bagi tertolaknya suatu bencana. Laksana perisai yang menjadi sebab untuk menangkis senjata dan laksana air yang menjadi sebab keluarnya tumbuh-tumbuhan dari bumi. Maka sebagaimana perisai menangkis senjata, demikianlah doa menangkis bencana yang telah ditakdirkan.

Dengan kata lain, doa bisa diibaratkan sebagai senjata yang digunakan untuk menolak berbagai macam bencana sekaligus sebagai alat untuk mendatangkan berbagai macam kebaikan. Sebab, pada dasarnya hanya Allah Swt lah yang mampu menolak berbagi macam bencana dan mendatangkan berbagai macam kebaikan. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la:

ينجيكم من اعدائكم ويدر لكم ارزاكم

“Tuhan yang melepaskan kamu dari bencana-bencana yang disebabkan oleh musuh-musuhmu dan Dia pulalah yang mencurahkan rezeki kepada kamu sekalian”.

Hasbie As-Shiddiqie juga menjelaskan tentang beberapa faidah doa, sebagaimana berikut:

  • Pertama, doa sebagai sarana menghadapkan diri kepada Allah SWT dengan tadharru’.
  • Kedua, doa sebagai sarana menyampaikan permohonan kepada Allah SWT yang memberikan nikmat yang tiada habis-habisnya.
  • Ketiga, doa sebagai sarana untuk memperoleh naungan rahmat Allah SWT.
  • Keempat, doa sebagai wujud dari menunaikan kewajiban taat dan menjauhi maksiat.
  • Kelima, doa sebagai wujud dari membendaharakan sesuatu yang diperlukan untuk masa susah dan sempit.
  • Keenam, doa menjadikan orang yang berdoa memperoleh hasil yang pasti, karena setiap doa itu dipelihara dengan baik di sisi Allah SWT. Maka adakalanya permohonan itu dipenuhi dengan cepat, adakalanya ditunda, ada juga yang ditunda sampai di akhirat.
  • Ketujuh, doa dapat menolak tipu daya musuh, menghilangkan kegundahan, menghasilkan hajat serta memudahkan kesukaran.

Wallahu A’lam

ALLOH SWT YANG MENDIDIK NABI MUHAMMAD SAW DARI KECIL

Sayid Abdullah, ayahanda Nabi Muhammad, mengikat janji setia dengan Sayidah Aminah sebagai suami dan istri. Usai akad nikah, satu minggu lamanya mereka tinggal di rumah orang tua Sayidah Aminah. Lalu mereka pindah ke rumah yang disediakan Sayid Abdul Muthalib. Rumah yang lumayan luas, sembilan kali dua belas meter persegi. Tak lama berada di rumah itu. Mungkin hanya seminggu.

Karena keadaan yang memaksa, Sayid Abdullah harus berangkat ke Syam untuk kepentingan bisnis keluarga besar. Perjalanan jauh yang sangat melelahkan. Ribuan kilometer jarak antara Mekah dan Syam ditempuh dengan kendaran unta.

Dalam perjalanan pulang menuju Mekah, Sayid Abdullah meninggal dunia ketika sang istri (Sayidah Aminah) sedang mengandung janin yang baru berumur dua bulan. Beberapa bulan kemudian, Sayidah Aminah melahirkan. Bayi laki-laki itu diberi nama Muhammad SAW.

Namun, Sayidah Aminah tak ditakdirkan mengasuh sang anak hingga dewasa. Sebagaimana sang suami, Sayidah Aminah juga meninggal dunia dalam perjalanan pulang bersama Muhammad SAW. dari Madinah ke Mekah. Hanya ditemani seorang budak bernama Barakah, Muhammad SAW. kecil pulang ke Mekah.

Muhammad SAW. kecil menjadi yatim piatu. Ia tak pernah menyaksikan ketampanan wajah ayahnya dan hanya sebentar diasuh ibundanya, Sayidah Aminah. Selanjutnya ia diasuh kakeknya hingga sang kakek meninggal dunia, ketika Muhammad SAW. berumur 8 tahun. Ia kemudian diasuh pamannya (Sayid Abu Thalib), hingga Muhammad SAW. menikah dengan Khadijah. Ketika Nabi SAW banyak mengalami intimidasi dari orang-orang musyrik Mekah, sang paman dan sang istri meninggal dunia.

Ketika ditanya soal perjalanan hidupnya yang berpindah-pindah pengasuhan ini, Nabi Muhammad SAW. menjawab, “begitulah cara Allah mendidikku”, sehingga tak ada satu orang pun yang sangat berpengaruh dalam hidupku termasuk orang tuaku sendiri. Ketergantungan Nabi SAW memang hanya pada Allah, bukan pada selain-Nya.

Sayid Abdullah dan Sayidah Aminah datang ke dunia hanya sebagai sebab bagi lahirnya sang manusia sempurna, Nabi Muhammad SAW. Tak ada yang mendidik Nabi SAW selain Allah SWT.

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَلْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِى إِلى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَعَلى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ.

         “Ya Alah, berilah keagungan (sebagai pemberian rahmat-Mu) atas pemimpin kami, yaitu Nabi Muhammad SAW. yang membuka sesuatu yang dikunci (dunia dikunci dalam kandungan adam/tiada, lalu ia membukanya maka wujudlah dunia ini), dan yang menjadi pamungkas martabat (Hamba Allah) yang telah terdahulu (baik martabat para Malaikat maupun martabat para Nabi), penolong kebenaran dengan kebenaran/dengan pertolongan Allah SWT. dan yang memberi petunjuk pada jalan-Mu yang lurus (yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat atas mereka), dan atas keluarga-nya sesuai dengan martabat Nabi Muhammad SAW (di dunia), dan martabatnya yang agung di akhirat.”

EMPAT HIKMAH NABI SAW DI LAHIRKAN DI HARI SENIN BULAN ROBI’IL AWWAL

Setiap tahun pada bulan Rabiul Awal atau bulan Maulud selalu diperingati Kelahiran Nabi SAW, sebagai sosok manusia terbaik di muka bumi ini, juga sebagai pemberi Rahmat kepada seluruh alam. Beliau sosok yang menginspirasi semua makhluk dalam segala lini kehidupan, baik akhlaknya dalam segi perkataan maupun perbuatan sangat dipuji oleh setiap orang, juga sebagai pembawa perubahan dari zaman jahiliah menuju zaman ilmiah.

Imam as-Suyuti dalam kitab al-Hawi Lil Fatawa mengutip perkataan Ibnu al-Hajj yang mengupas tentang hikmah kelahiran Nabi di hari Senin bulan Rabiul Awal, tidak di bulan lainnya seperti Ramadhan atau bulan lainnya, alasannya yaitu:

Pertama, ada sebuah hadis yang menjelaskan bahwa di hari Senin Allah menciptakan as-Syajar(pohon). Hal ini sebagai pertanda bahwa Allah menciptakan bahan makanan, Rizki, buah-buahan dan segala kebaikan yang diberikan kepada manusia sebagai sumber kehidupan mereka.

Kedua, arti Rabi‘ berarti musim semi. Hal ini sebagai Tafaul (mengambil inspirasi kebaikan) seperti pendapat Abdurrahman As-Shaqli yang menyatakan bahwa setiap nama membawa arti membawa arti filosofi tersendiri.

Ketiga, bulan Rabi’ul Awal sebagai musim yang paling tenang dan paling nyaman cuacanya, begitu juga Syariat Nabi Muhammad sebagai Syariat yang paling moderat dan sesuai dengan kondisi apapun.

Keempat, Allah Sebagai Dzat yang Maha bijaksana atau al-Hakim hendak memuliakan bulan kelahiran Baginda Nabi, seumpama Nabi dilahirkan pada bulan mulia yang lain seperti Ramadhan maka orang akan menganggap Nabi mulia disebabkan bertepatan dengan bulan yang mulia.

Keempat hal itu ternyata menjadi rahasia tersendiri bagi beliau dan umatnya agar selalu bersemi, selalu bangkit dari keterpurukan, juga mampu berubah menjadi yang lebih baik.

Semoga kita tercatat sebagai Umat yang taat kepadanya. AMIN……

YA ALLOH CURAHKANLAH SALAM KEPADA ROSULILLAH MUHAMMAD SAW.

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Alawy al-Maliki, menukil salah satu riwayat sahabat bahwa : Allah SWT. tidak menampakkan keindahan wajah Rasulullah secara keseluruhan di muka bumi, hanya 1 keindahan dari 10 bagian yang diperlihatkan, seandainya yang 9 bagian itu ditampakkan juga, maka orang-orang akan mengiris hatinya tanpa terasa karena indahnya wajah Sayyidina Muhammad, dan itu kelak akan diperlihatkan di telaga Haudh.

Semoga kita bisa memandang wajah yang indah itu, aamiin….

 

يارسول الله سلام عليك ، يارفيع الشان والدرج

Ya Rosulallah salamun ‘alaik, ya rofî’asy-syani waddaroji

Wahai utusan Allah, semoga keselamatan tetap padamu, Wahai yang berbudi luhur dan bermartabat tinggi.

عطفة ياجيرة العلم ، ياأهيل الجود والگرم

‘Athfatan ya jirotal ‘alami, ya uhailal judi wal karomi

Rasa kasihmu wahai pemimpin tetangga, Wahai ahli dermawan dan pemurah hati.

نحن جيران بذا الحرم ، حرم الإحسان والحسن

Nahnu jîronu bidzal haromi, haromil ihsani wal hasani

Kami tetangga di tanah haram ini. Tanah haram tempat berbuat baik dan memberi kebaikan.

نحن من قوم به سگنوا ، وبه من خوفهم امنوا

Nahnu min qoumin bihî sakanu, wa bihî min khoufihim aminu

Kami dari kaum yang tinggal di tempat itu. Tempat yang mereka merasa aman dari ketakutan.

وبأيات القرآن عنوا ، فاتئد فينا أخا الوهن

Wa bi ayatil qur-ani ‘unu, fatta-id fîna akhol wahani

Dengan ayat-ayat Al-Qur’an mereka mendapat inayah.

Renungkanlah di hati kita, wahai yang berjiwa lemah.

نعرف البطحا وتعرفنا ، والصفا والبيت يألفنا

Na’riful bath-ha wa ta’rifuna, wash-shofa wal baitu ya,lafuna

Kami mengenal padang pasir dan ia mengenal kami,

Bukit Shafa dan Baitil-Haram menawan hati kami.

ولنا المعلی وخيف منا ، فاعلمن هذا وکن زکن

Wa lanal Ma’la wa khoifu mina, fa’laman hadza wakun zakini

Kami punya Ma’la dan masjid Kha’if di kota Mina.

Ketahuilah ini, beradalah dan beribadahlah di sana.

ولنا خير الأنام أب ، وعلي المرتضی حسب

Wa lana khoirul anami abu, wa ‘Aliyyul murtadlo hasabu

Kami mempunyai ayah sebaik-baik makhluk.

Dan adalah keturunan Ali yang diridhai.

وإلی السبطين ننتسب ، نسبا ما فيه من دخن

Wa ilas-sibthoini nantasibu, nasabân ma fîhi min dakhuni

Kepada kedua cucunya kami berketurunan,

Keturunan suci bersih dari kotoran.

گم إمام بعده خلفوا ، منه سادات بذا عرفوا

Kam imamin ba’dahu kholafu, minhu Sadatun bidza ‘urifu

Banyak Imam yang menggantikan sesudahnya,

dengan gelar Sayyid mereka dikenal.

وبهذا الوصف قد وصفوا ، من قديم الدهر والزمن

Wa bihadzal washfi qod wushifu, min qodîmid-dahri wazzamani

Dengan gelar itu benar-benar mereka disebut.

Dari sepanjang tahun dan zaman.

مثل زين العابدين علی ، وابنه الباقر خير ولی

Mitslu Zainil ‘Abidîna ‘Alî, wabnihil-Baqiri khoiri walî

Seperti Zainal Abidin yakni Ali, dan putranya Baqir itu sebaik-baiknya wali.

والإمام الصادق الحفل ، وعلي ذی العلا اليقن

Wal imamish-Shodiqil hafili, wa ‘Aliyyin dzîl ‘ulal yaqini

Dan Imam Ja’far Ash-Shodiq yang penuh keberkahan. Dan Ali yang mempunyai ketinggian dan keyakinan.

فهم القوم الذين هدوا ، وبفضل الله قد سعدوا

Fahumul qoumulladzîna hudu, wa bifadl-lillahi qod sa’idu

Merekalah kaum yang memperoleh hidayah. Dan dengan karunia Allah mereka benar-benar bahagia.

ولغير الله ما قصدوا ، ومع القران فی قرن

Wa lighoirillahi ma qoshodu, wa ma’al qur-ani fî qoroni

Kepada selain Allah mereka tak bertujuan. Dan beserta Al-Qur’an mereka berpegangan.

أهل بيت المصطفی الطهر ، هم أمان الأرض فالدکر

Ahlu baitil Mushthofath-thuhuri, hum amanul ardli faddakiri

Ahli rumah nabi pilihan yang disucikan. Mereka itu pengaman bumi, maka ingatlah

شبهوا بالأنجم الزهر ، مثل ماقد جاء فی السنن

Syubbihu bil anjumiz-zuhuri, mitsla ma qod ja,a fîs-sunani

Mereka itu bagaikan bintang gemerlapan.

Perumpamaan itu telah benar-benar datang di dalam hadits Nabi.

و سفين للنجاة إذا ، خفت من طوفان کل أذی

Wa safînun linnajati idza khifta min thufani kulli adza

Dan bagaikan bahtera penyelamat ketika engkau takut dari topan badai segala duka.

فانج فيها لاتکون گذا ، واعتصم بالله واستعن

Fanju fîha la takunu kadza, wa’tashim billahi wasta’ini

Maka selamatlah engkau di dalamnya tiada khawatir lagi. Dan berpegang teguhlah kepada Allah serta mohonlah pertolongan.

رب فانفعنا ببرگتهم ، واهدناالحسنی بحرمتهم

Robbi fanfa’na bibarkatihim wahdinal husna bi hurmatihim

Ya Allah, dengan barokah mereka, berilah kami kemanfaatan. Dan dengan kehormatan mereka, tunjukkan kami kepada kebaikan.

وأمتنا فی طريقتهم ، ومعافاة من الفتن

Wa amitna fî thoriqotihim, wa mu’afatin minal fitani

Dan wafatkanlah kami di jalan mereka, dan selamat dari segala fitnah.

KEAGUNGAN KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAW DALAM NURUL MUSTHOFA

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين  

          Dengan menyebut Nama Allah Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang..

          Segala Puji Bagi Allah SWT Tuhan semesta alam. Sholawat (Rahmat Ta’dhim) dan Salam Sejahtera Allah SWT senantiasa melimpah kepada Junjungan kita Baginda Nabi Muhammad SAW beserta seluruh keluarga dan sahabatnya

Sungguh Maha Suci Engkau Ya Allah, Engkaulah Dzat yang telah menciptakan alam semesta yang penuh dengan segala macam rahasia-rahasia keajaiban yang menunjukkan atas keagungan kekuasaan-Mu.

          Sungguh Maha Suci Engkau Ya Allah, Engkaulah Dzat yang telah menentukan segala sesuatu dengan qodlo’ dan qodar-Mu tanpa ada seorangpun yang berhak untuk menggugat atau mempertanyakan terhadap segala sesuatu yang  Engkau Kehendaki.

          Sungguh Maha Suci Engkau Ya Allah, Engkaulah Dzat yang memiliki kehendak untuk menciptakan makhluk yang sangat agung dan paling Engkau sayangi, yang Engkau limpahkan kepadanya segala kesempurnaan sifat-sifat yang mulia nan terpuji, dan Engkau jadikan sebagai sumber Rahmat (Belas Kasih Sayang)-Mu kepada semua hamba-hamba-Mu yang telah Engkau pilih sebagai penghuni sorga-Mu yang dipenuhi dengan segala macam keindahan, kenikmatan dan kebahagiaan yang kekal abadi selama-lamanya.

          Dialah sesungguhnya yang telah Engkau jadikan sebagai junjungan kami Baginda Nabi Besar Muhammad SAW.

          Dan sesungguhnya yang pertama kali Allah SWT ciptakan adalah “Nur”nya Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadis yang tercantum dalam kitab maulid Simtud Durar Lil Imam Al-‘Arif Billah Al-Habib Ali Bin Muhammad Al-Habsyi hal 19 ;

أخرج عبد الرزاق بسنده عن جابر بن عبد الله الأنصاري رضي الله عنهما قال – قلت يا رسول الله بأبي وأمي أخبرني عن أول شيء خلقه الله قبل الأشياء. قال يا جابر إن الله خلق قبل الأشياء نور نبيك محمد صلى الله عليه وسلم من نوره

Yang artinya kurang lebih:

Bahwa sesungguhnya shahabat Jabir bin Abdullah RA bertanya kepada Junjungan kita Baginda Nabi Besar Muhammad SAW; Wahai Rasulullah, (Ayah ibuku sebagai tebusan Engkau), beritahukanlah kepadaku tentang pertama kali makhluk yang Allah SWT ciptakan sebelum segala sesuatu. Maka Baginda Nabi  Muhammad SAW menjawab; Hai Jabir, sesungguhnya yang Allah SWT ciptakan sebelum segala sesuatu adalah NUR (cahaya) Nabimu  (Baginda Nabi Besar Muhammad SAW)”.

          Dan sesungguhnya Nur Baginda Nabi Muhammad SAW senantiasa bertasbih kepada Allah SWT dengan diikuti oleh para malaikat dan para arwah di alam malakut, jauh puluhan ribu tahun sebelum Nabi Adam AS diciptakan oleh Allah SWT. Sebagaimana hal itu telah disebutkan oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi di Kitab Ad-Durarul Hisaan Fil Ba’tsi Wa Na’iimil Jinan Haamisy Daqa’iqul Akhbaar hal 2 & 3.

Dan sesungguhnya kalau bukan demi Baginda Nabi Muhammad SAW maka Allah SWT tidak akan menciptakan segala sesuatu. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis qudsiy;

لولاك لولاك لما خلقت الأفلاك

Yang artinya kurang lebih;

“Seandainya tidak ada Engkau (wahai Nabi Muhammad SAW, sungguh Aku (Allah SWT) tidak akan menciptakan alam semesta”

Maka segala anugerah yang telah melimpah kepada makhluk-makhluk Allah SWT, semata-mata adalah dengan berkatnya Baginda Nabi Muhammad SAW. Bahkan segala kemuliaan  para Malaikat dan Para Nabi  adalah semata-mata berkat Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang telah diterangkan oleh Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani di kitabnya Hujjatullah ‘Alal ‘Alamin hal 53 & 54 ;

قال الشيخ يوسف بن إسماعيل النبهاني في حجة الله على العالمين   ص53 -54

إنما ظهر الخير لأهله ببركة سيدنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وأهل الخير هم الملائكة والأنبياء والأولياء وعامة المؤمنين

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa sesungguhnya segala kebaikan yang melimpah kepada makhluk-makhluk Allah SWT yang mulia adalah semata-mata berkat Baginda Nabi  Muhammad SAW, mereka itu adalah para Malaikat, para Nabi dan semua orang-orang mukmin”.

Dan sesungguhnya manakala Allah SWT telah  menciptakan Nabi Adam AS, Allah SWT senantiasa memanggilnya dengan julukan Abu Muhammad, sehingga Nabi Adam AS bertanya kepada Allah SWT tentang rahasia panggilan tersebut, sebagaimana hal itu telah diriwayatkan oleh Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Hasaniy dalam kitabnya As-Sirah An-Nabawiyyah juz 1 hal 15 ;

قال الشيخ أحمد بن زيني دحلان الحسني في السيرة النبوية الجزء الأول ص 15

ويروى من طرق شتى أن الله تعالى لما خلق آدم عليه السلام ألهمه الله أن قال : يا رب لم كنيتني أبا محمد ؟ قال الله تعالى : يا آدم إرفع رأسك فرفع رأسه فرأى نور محمد صلى الله عليه وسلم في سرادق العرش فقال : يا رب ما هذاالنور ؟ قال : هذا نور نبي من ذريتك إسمه في السماء أحمد وفي الأرض محمد  لولاه ما خلقتك ولا خلقت سماء ولا أرضا

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa sesungguhnya Allah SWT sesudah menciptakan Nabi Adam AS maka Allah SWT memberi ilham kepada Nabi Adam AS untuk bertanya kepada-Nya; Ya Allah, kenapa Engkau juluki aku dengan “Abu Muhammad” (Ayahnya/bapaknya  Muhammad)? Maka Allah SWT Berfirman kepada Nabi Adam AS; Hai Adam, Angkat kepalamu. Maka Nabi Adam AS kemudian mengangkat kepalanya. Seketika itu Beliau melihat Nur (cahaya) Baginda Nabi Muhammad SAW meliputi di sekitar ‘Arasy. Nabi Adam AS bertanya; Ya Allah, Nur siapa ini ? Allah SWT Berfirman; Ini adalah Nur seorang Nabi dari keturunanmu, di langit namanya Ahmad, di bumi namanya Muhammad. Kalau bukan karena Dia niscaya Aku tidak akan menciptakan kamu, langit dan bumi.”

          Kemudian Allah SWT meletakkan Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dalam punggung Nabi Adam AS, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Kitabnya Ad-Durarul Hisan Hamisy Daqo’iqul Akhbar hal 5;

قال الامام جلال الدين السيوطي في الدرر الحسان هامش دقائق الأخبار ص 5:

ثم ان الله تعالى استودع نور محمد صلى الله عليه وسلم في ظهره وأسجد له الملائكة وأسكنه الجنة فكانت الملائكة تقف خلف آدم صفوفا صفوفا يسلمون على نور محمد صلى الله عليه وسلم

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa sesungguhya Allah SWT telah meletakkan Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dalam punggung Nabi Adam AS. Sehingga para malaikat sujud dan berbaris rapi di belakang Nabi Adam AS untuk menghaturkan salam kepada Nur Baginda Nabi Muhammad SAW”.

Dan pada saat itu pula Allah SWT memerintahkan kepada Iblis agar sujud kepada Nabi Adam AS, namun dia membangkang dan sombong. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah SWT Surat Al-Baqarah ayat 34 ;

وإذ قلنا للملائكة اسجدوا لآدم فسجدوا إلا إبليس أبى واستكبر وكان من الكافرين)   البقرة  34  )

Yang artinya kurang lebih;

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat; “Sujudlah kalian semua kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan sesungguhnya ia (Iblis) termasuk golongan orang-orang yang kafir”. (Q.S.Al-Baqarah 34).

          Selanjutnya Allah SWT menciptakan ibunda Hawwa’ yang sangat cantik jelita dan sempurna kecantikannya dari tulang rusuk kiri Nabi Adam AS. Dan mengijinkan kepada Nabi Adam AS (yang merupakan bapak dari seluruh umat manusia) untuk menikahinya setelah memberikan maharnya berupa  bersholawat sebanyak tiga kali kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana hal itu telah disebutkan oleh Imam Abdur Rahman bin Abdus Salam Ash-Shafuri Asy-Syafi’i di kitabnya Nuzhatul Majaalis juz 2 hal 169 yang menukil perkataan Imam Al-Kisa’i dan juga disebutkan pula oleh Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Hasaniy di kitabnya As-Sirah An-Nabawiyyah juz 1 hal 17 ;

قال الإمام عبد الرحمن بن عبد السلام الصفوري الشافعي في نزهة المجالس الجزء الثاني ص 169

قال الكسائي وغيره- لما خلق الله آدم خلق حواء من ضلعه الأيسر وهو في الجنة وأودعها حسن سبعين حوراء فصارت حواء بين الحور العين كالقمر بين الكواكب وكان آدم نائما فلما استيقظ مد يده إليها فقيل له مه يا آدم حتى تؤدي مهرها قال وما هو ؟ قال أن تصلي على محمد صلى الله عليه وسلم ثلاث مرات

Yang artinya kurang lebih;

“Ketika Allah SWT sudah menciptakan Nabi Adam AS di sorga, Allah SWT kemudian menciptakan Ibu Hawwa’ dari tulang rusuk Nabi Adam AS sebelah kirinya dan menganugerahinya kecantikan luar biasa melebihi  kecantikan 70 bidadari sehingga dibanding kecantikan para bidadari sorga, Ibu Hawwa’ laksana bulan purnama dikelilingi bintang-bintang yang gemerlapan. Begitu Nabi Adam AS bangun dari tidurnya dan melihat Ibu Hawwa’, Beliau AS hendak menyentuhnya. Namun terdengar seruan kepadanya; “Hai Nabi Adam AS, Engkau tidak diijinkan untuk menyentuhnya sebelum Engkau memberikan maharnya”. Beliau Nabi Adam AS bertanya; “Apa maharnya?” Kemudian terdengar seruan menjawab; “Hai Nabi Adam AS, maharnya adalah Engkau mengucapkan sholawat sebanyak tiga kali kepada  Baginda Nabi  Muhammad SAW”.

Sungguh alangkah mulianya derajat Junjungan kita Baginda Nabi Muhammad SAW,  sampai ditetapkan/disahkan oleh Allah SWT pernikahannya Nabi Adam AS dengan Ibu Hawwa’ dengan bacaan sholawat sebanyak tiga kali kepada Baginda Nabi Muhammad SAW dan dipersilahkan kepada mereka (Nabi Adam AS dan Ibu Hawwa’) untuk  bersenang-senang di sorga yang sangat indah dan nikmat sekali. Maka di situlah Nabi Adam AS dan ibunda Hawwa’ senantiasa melihat Asma Nabi Muhammad SAW terukir indah di mana-mana senantiasa berdampingan dengan Asma Allah SWT, Sebagaimana yang  telah disebutkan oleh Imam Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi Asy-Syaafi’i dalam kitabnya Al-Hawi Lil-Fatawi Juz 2  hal 174; dan disebutkan pula oleh Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Hasaniy dalam kitabnya As-Sirah An-Nabawiyyah juz 1 hal 15;

قال الإمام جلال الدين عبد الرحمن السيوطي في الحاوي للفتاوي الجزء الثاني ص 174 و الشيخ أحمد بن زيني دحلان الحسني في السيرة النبوية الجزء الأول ص 15

أن آدم عليه السلام رأى مكتوبا على ساق العرش وعلى كل موضع في الجنة  من قصر وغرفة  ونحورالحور العين  وورق شجرة طوبى وورق سدرة المنتهى وأطراف الحجب وبين أعين الملائكة إسم محمد صلى الله عليه وسلم مقرونا باسم الله تعالى وهو لاإله إلا الله محمد رسول الله

Yang artinya kurang lebih;

“Sesungguhnya Nabi Adam AS telah melihat Nama Baginda Nabi  Muhammad SAW senantiasa berdampingan dengan Asma Allah SWT tertulis Laailaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah di setiap tempat di sorga, di setiap gedung-gedung sorga, di kamar-kamar sorga, di leher-leher bidadari, di daun-daun pohon Thuba, di daun-daun pohon Sidratil Muntaha, di ujung-ujung benteng dan di setiap dahi para malaikat (antara kedua matanya)” .

Kemudian akibat gangguan Iblis terkutuk kepada Ibu Hawwa’, maka Allah SWT menurunkan keduanya di muka bumi ini. Dan dalam jangka waktu yang lama, mereka mengalami berbagai macam kesedihan dan penyesalan yang luar biasa. Berulang kali Nabi Adam AS memohon ampunan dan meratap kepada Allah SWT, namun belum ada jawaban dan tidak diperdulikan sama sekali. Hingga akhirnya Beliau Nabi Adam AS teringat kemuliaan dan keagungan derajat Baginda Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT. Sehingga timbullah harapan Beliau untuk memohon ampunan kepada Allah SWT dengan berwasilah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Dan berkat kemuliaan Baginda Nabi Muhammad SAW di sisi-Nya, maka Allah SWT mengabulkan permohonan ampun Nabi Adam AS dan menerima taubatnya.

Sebagaimana disebutkan oleh Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Hasaniy dalam kitabnya As-Sirah An-Nabawiyyah juz 1 hal 15 ;

قال الشيخ أحمد بن زيني دحلان الحسني في السيرة النبوية الجزء الأول ص 15

وعن عمر بن الخطاب  رضي الله عنه قال; قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  لما اقترف آدم الخطيئة قال يا رب أسالك بحق محمد صلى الله عليه وسلم إلا ما غفرت لي فقال الله تعالى يا آدم كيف عرفت محمدا ولم أخلقه قال يا رب لأنك لما خلقتني بيدك أي من غير واسطة أم وأب  ونفخت في من روحك أي من الروح المبتدأة منك المتشرفة بالإضافة إليك رفعت رأسي فرأيت على قوائم العرش مكتوبا لا إله إلا الله محمد رسول الله فعلمت أنك لم تضف إلى إسمك إلا أحب الخلق إليك فقال الله تعالى صدقت يا آدم إنه لأحب الخلق إلي وإذ سألتني بحقه فقد غفرت لك ولولا محمد ما خلقتك . رواه البيهقي في دلائله.

Yang artinya kurang lebih;

“Diriwayatkan dari Sayyidina Umar Ibnul Khaththab Radliyallahu ‘Anhu, bahwa Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda; Manakala Nabi Adam AS bermunajat kepada Allah SWT memohon ampunan dengan berwasilah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW Beliau berkata; Ya Allah, demi kemuliaan/keagungan derajat Baginda Nabi Muhammad SAW di sisi-Mu limpahkanlah ampunan-Mu kepadaku. Seketika Allah SWT Berfirman; Hai Adam, bagaimana engkau bisa mengenal Nabi Muhammad SAW padahal Aku belum menciptakannya. Nabi Adam AS menjawab; Ya Allah, sesungguhnya Engkau tatkala telah menciptakanku dan memberiku nyawa, aku lihat di sekitar Arasy diliputi kalimat Laailaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah. Aku yakin bahwa sesungguhnya Engkau tidak mendampingkan Asma-Mu kecuali kepada  makhluk yang paling Engkau cintai. Allah SWT Berfirman; Kamu benar hai Adam. Sungguh dia (Nabi Muhammad SAW) adalah makhluk yang paling Aku cintai. Dan karena kamu telah memohon ampunan kepadaKu dengan berwasilah kepadanya, Maka Aku kabulkan permohonanmu. Dan kalau bukan karena dia maka Aku tidak akan menciptakan kamu”

Dan sebagaimana yang disebutkan oleh Syekh Yusuf Bin Ismail An-Nabhani di kitabnya Hujjatullah ‘Alal ‘Aalamin hal 217 bahwa; Sesungguhnya Nabi Adam AS mendengar suara dari dalam dahinya seperti suara kicauan burung. Beliau merasa heran dan lantas berkata; “Subhanallah..Maha Suci Allah…sungguh sangat agung sekali kekuasan-Mu..suara apakah ini yang telah Engkau ciptakan  berada dalam dahiku ya Allah..?. Seketika Allah SWT menjawab ketakjuban Nabi Adam AS tersebut dengan Firman-Nya;

يا آدم هذا تسبيح خاتم النبيين وسيد ولدك من المرسلين صلى الله عليه وسلم

Yang artinya kurang lebih;

“Hai Adam, (ketahuilah olehmu, sesungguhnya suara tersebut adalah tasbih kekasih-Ku Nabi akhir zaman, yang kelak menjadi junjungan (pimpinan) seluruh umat manusia (keturunanmu). Baginyalah senantiasa Kulimpahkan sholawat dan salam sejahtera dari-Ku..”

Dan sesungguhnya Nur Baginda Nabi Muhammad SAW senantiasa terlihat bersinar kemilauan di muka Nabi Adam AS, laksana matahari yang bersinar terang benderang di siang hari. Maka, Allah SWT mengambil sumpah (perjanjian) kepada Nabi Adam AS agar senantiasa menjaga Nur tersebut dengan Berfirman :

يا آدم خذه)  يعني النور النبوي( بعهدي وميثاقي على ان لا تودعه إلا في الأصلاب الطاهرة والمحصنات الزاهرة

Yang artinya kurang lebih;

“Hai Adam, bejanjilah (kepada-Ku) untuk senantiasa benar-benar menjaga Nur Nabi Muhammad SAW (yang telah Kuletakkan dalam dirimu). Janganlah sekali-kali kamu letakkan kecuali kepada orang-orang yang suci mulia..”.

Maka Nabi Adam AS menerima dengan senang hati bahkan Beliau sangat bangga  untuk melaksanakan tugas tersebut dengan menjaganya dan mewasiatkan amanat tersebut kepada anak cucunya kelak.

          Dan sesungguhnya para malaikat senantiasa berbaris rapi di belakang punggung Nabi Adam AS. Beliau heran dengan amalan perbuatan  malaikat tersebut, lantas Beliau bertanya kepada Allah SWT; “Ya Allah, kenapa para malaikat selalu berbaris rapi di belakangku…?” . Allah SWT kemudian menjawab dengan Berfirman..: “Hai Adam..ketahuilah olehmu…bahwa para malaikat-Ku tersebut..senantiasa berdiri di belakangmu untuk memandang kepada Nur Kekasih-Ku Nabi akhir zaman Rasulullah Muhammad SAW…”

Maka Nabi Adam AS memohon kepada Allah SWT agar diijinkan untuk melihat Nur tersebut. Dan Allah SWT mengabulkannya sehingga Nabi Adam AS bisa melihat keagungan Nur Nabi Muhammad SAW. Maka Beliau Nabi Adam semakin tambah cintanya dan kebanggaannya kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau benar-benar sangat menjaga kemuliaan dan keagungan Nur tersebut. Oleh sebab itulah, setiap beliau hendak berhubungan dengan istrinya (Ibu Hawwa’) maka Beliau bersuci terlebih dahulu dan memakai wewangian dan memerintahkan Ibu Hawwa’ untuk melakukan hal yang sedemikian rupa, dengan mengatakan..”Hai istriku Hawwa’..Bersucilah, dan pakailah olehmu wangi-wangian..sesungguhnya sudah dekat saatnya, Nur Nabi Muhammad SAW yang berada dalam diriku akan berpindah dalam dirimu…” Maka Nabi Adam AS dan Ibunda Hawwa senantiasa menjaga kesucian demi memuliakan Nur Baginda Nabi Muhammad SAW. Sampai suatu hari Nur Baginda Nabi Muhammad SAW benar-benar telah berpindah dari diri Nabi Adam AS ke dalam diri Ibunda Hawwa’. Sehingga berkat Nur Agung tersebut, Ibunda Hawwa’ semakin tambah kecantikannya setiap hari. Wajahnya semakin bersinar dan berseri-seri.. Sejak saat itulah Nabi Adam AS tidak berani berhubungan dengan Ibu Hawwa’ demi menjaga kesucian dan memuliakan Nur Baginda Nabi Muhammad SAW yang berada dalam dirinya. Dan para malaikat senantiasa berduyun-duyun turun ke bumi setiap hari semata-mata hanya untuk menghaturkan salam sejahtera dari Allah SWT kepada Nur Baginda Nabi Muhammad SAW yang telah bersemayam dalam diri Ibunda Hawwa’.. Tidak lama kemudian Beliau melahirkan anak laki-laki dan diberinya nama Syits. Dan Nur tersebut telah pindah dalam diri Nabi Syits AS.

          Dengan adanya Nur yang terlihat oleh Nabi Adam AS di muka Nabi Syits AS, maka  Nabi Adam AS selalu memperhatikan  dan menjaga Nabi Syits AS, demi memuliakan dan mengagungkan Nur Nabi Muhammad SAW yang ada dalam diri Nabi Syits AS tersebut.

Setelah Nabi Syits AS dewasa dan Nabi Adam AS merasa telah dekat ajalnya untuk menghadap kepada Allah SWT, maka Beliau Nabi Adam AS memanggil putranya (Nabiyyullah Syits AS) dan memberikan wasiat/amanat  kepadanya; “

يا بني إن الله أخذ عليك عهدا وميثاقا من أجل هذا النور المستودع في ظهرك ووجهك أن لا تضعه إلا في أطهر نساء العالمين

Yang artinya kurang lebih;

“Wahai Anakku (Syits), Sesungguhnya Allah SWT telah mengambil perjanjian kepadamu untuk senantiasa menjaga “Nur Agung Nabi Muhammad SAW’, janganlah engkau letakkan kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya”.

Dan Nabi Adam AS juga telah mewasiatkan kepada Nabi Syits AS (putranya) agar senantiasa membesarkan kemuliaan dan keagungan Baginda Nabi Muhammad SAW di jiwanya, serta senantiasa menyebut-nyebutnya dengan berdzikir kalimat Laailaaha illallaah Muhammadur Rasulullah SAW. Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Hawi Lil Fatawi Juz 2  hal 174;

قال الإمام جلال الدين عبد الرحمن السيوطي في الحاوي للفتاوي الجزء الثاني ص 174

وقد أخرج ابن عساكر عن كعب الأخبار أن آدم أوصى ابنه شيث فقال كلما ذكرت الله فاذكر إلى جنبه اسم محمد فإني رأيت اسمه مكتوبا على ساق العرش وأنا بين الروح والتين  ثم إني طرفت فلم أرى في السماء موضعا إلا رأيت اسم محمد مكتوبا عليه ولم أرى في الجنة قصرا ولا غرفة إلا اسم محمد مكتوبا عليه ولقد رأيت اسم محمد مكتوبا على نحورالحور العين وعلى ورق قصب آجام الجنة وعلى ورق شجرة طوبى وعلى ورق سدرة المنتهى وعلى أطراف الحجب وبين أعين الملائكة فأكثرذكره فإن الملائكة تذكره في كل ساعا تها .

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa sesungguhnya Nabi Adam AS berwasiat kepada putranya (Nabi Syits AS);”(Hai Syits), setiap kamu berdzikir(menyebut) Asma Allah SWT hendaklah kamu sertakan pula berdzikir (menyebut) nama Baginda Nabi Muhammad SAW. Karena sesungguhnya aku (Nabi Adam AS), telah melihat namanya selalu berdampingan dengan Asma Allah SWT (Laailaaha illallaah Muhammadur Rasulullah) tertulis meliputi Arasy’, tertulis di seluruh tempat-tempat di langit, tertulis di gedung-gedung sorga, di kamar-kamar sorga, di leher para bidadari sorga, di seluruh dedaunan pohon-pohon sorga, di seluruh dedaunan pohon Thuba, di seluruh dedaunan pohon Sidratil Muntaha, di seluruh sudut benteng dan di setiap dahi (antara kedua mata) para malaikat. Maka perbanyakilah selalu berdzikir (menyebut-nyebut) namanya, karena seluruh malaikat di alam malakut senantiasa berdzikir (menyebut-nyebut) namanya”.

Dan sesungguhnya Allah SWT telah mewasiatkan pula kepada Para Nabi & Rasul terutama Para Nabi yang diberikan kitab agar benar-benar beriman dan selalu membesarkan kemuliaan Baginda Nabi SAW di sisi Allah SWT dengan senantiasa berdzikir  mengucapkan kalimat Laailaaha illallaah Muhammadur Rasulullah SAW. Dan diwajibkan pula untuk mewasiatkan kepada umatnya masing-masing agar sungguh-sungguh beriman, tunduk, patuh dan senantiasa membesarkan kemuliaan Junjungan kita Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW dan menjadi pembela setianya apabila suatu saat bertemu dengan Baginda Nabi Muhammad SAW.

Sebagaimana yang telah Allah SWT Firmankan dalam Surat Aali Imraan ayat 81;

وإذ أخذ الله ميثاق النبيين لما آتيتكم من كتاب وحكمة ثم جاءكم رسول مصدق لما معكم لتؤمنن به ولتنصرنه قال أأقررتم وأخذتم على ذلكم إصري قالوا أقررنا قال فاشهدوا وأنا معكم من الشاهدين. )آل عمران      81)

Yang artinya kurang lebih;

“Dan (ingatlah), ketika Allah SWT mengambil perjanjian dari para Nabi; “Sungguh apa saja yang Aku berikan kepada kalian semua berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepada kalian semua seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada pada kalian semua, niscaya kalian semua akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan senantiasa mengagungkannya”. Allah SWT Berfirman;”Apakah kalian semua mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?”. Mereka serentak menjawab; “Kami mengakui”. Allah SWT Berfirman; “Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku  menjadi saksi (pula) bersama kalian semua.”. (Q.S. Ali Imraan ayat 81).

Dan disebutkan pula dalam Firman Suci Allah SWT, Surat Ash-Shaff ayat 6;

وإذ قال عيسى بن مريم يا بني إسرائيل إني رسول الله إليكم مصدقا لما بين يدي من التوراة  ومبشرا برسول يأتي من بعدي اسمه أحمد

 )     الصف 6(

Yang artinya kurang lebih;

“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata; “Hai bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah SWT kepada kalian semua, membenarkan kitab(yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku yang namanya Ahmad (Muhammad)”.(Q.S. Ash-Shaff ayat 6).

          Dan sesungguhnya demi belas kasih sayang Allah SWT kepada Baginda Nabi Muhammad SAW yang sangat luar biasa, sampai-sampai umatnya dimuliakan oleh Allah SWT dan diberi keutamaan-keutamaan yang tidak pernah diberikan oleh Allah SWT kepada umat siapapun pada masa terdahulu,  sebagaimana yang telah disebutkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an dan Kitab-kitab Para Nabi terdahulu.

          Diantara Firman-firman Allah SWT tentang keutamaan-keutamaan umat Baginda Nabi Muhammad SAW dalam kitab suci Al-Qur’an adalah;

Firman Allah SWT dalam Surat Aali Imraan ayat 10:

كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر  ) آل عمران  110(

Yang artinya kurang lebih;

“(Sesungguhnya) kamu semua (umat Nabi Muhammad SAW) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf (baik) dan mencegah dari yang munkar (jelek)”.

(Q.S.Aali Imraan 110).

Dan berita tentang keutamaan-keutamaan umat Baginda Nabi Muhammad SAW telah diberitahukan Allah SWT kepada para Nabi dan Rasul.

Diantaranya adalah sebagaimana hal itu telah disebutkan Sayyiduna Al-Imam Al-Habib Abdullah bin ‘Alawiy Al-Haddad dalam kitab Beliau Sabilul Iddikar hal 22 – 26 dan juga disebutkan oleh Imam Abu Na’im Al-Ashfahaniy di kitabnya Dalailun Nubuwwah juz 1 hal 77 bahwa;

Sesungguhnya tatkala Nabi Musa AS membaca Kitab Suci Taurat, Beliau menemukan di dalamnya keutamaan-keutamaan umat Baginda Nabi Muhammad SAW, sehingga Beliau sangat kagum dan menginginkan sebagian dari keutamaan-keutamaan umat Baginda Nabi Muhammad SAW agar diberikan kepada umatnya dengan berkata;

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah membaca Kitab Suci Taurat dan aku temukan di dalamnya keutamaan-keutaman umat yang kelak dikumpulkan di padang mahsyar dalam keadaan bercahaya mukanya laksana bulan purnama dan anggota badannya berkemilauan memancarkan cahaya bekas wudlu dan sujud tatkala masih di dunia. Ya Allah, jadikanlah keutamaan itu untuk umatku”. Namun Allah SWT menjawab;

“Tidak Musa, sesungguhnya keutamaan itu hanya Aku khususkan bagi umat Kekasih-Ku Nabi Muhammad SAW”. Nabi Musa AS berkata lagi;

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah membaca Kitab Suci Taurat dan aku temukan keutamaan umat yang Engkau anugerahi ibadah sholat lima waktu dan Engkau bukakan pintu langit sehingga turun Rahmat (Belas Kasih Sayang)Mu kepada mereka pada saat mereka melakukannya sehingga para bidadari sorga rindu kepada mereka. Dan Engkau anugerahi pula mereka Bulan Suci Ramadlan sehingga mereka berpuasa sebulan penuh. Dan Engkau anugerahi pula mereka Firman-firman Suci-Mu (Kitab Suci Al-Qur’an) yang senantiasa terjaga/hafal di hati mereka. Dan Engkau anugerahi pula mereka ibadah haji ke Baitullah Ka’bah yang mana pahala haji mabrur adalah sorga-Mu, serta Engkau anugerahi pula mereka ibadah zakat dan sedekah yang Engkau lipat gandakan pahalanya sampai 700 kali. Ya Allah, jadikanlah keutamaan itu untuk umatku”. Namun, Allah SWT menjawab;

“Tidak Musa, sesungguhnya keutamaan itu hanya Aku khususkan bagi umat Kekasih-Ku Nabi Muhammad SAW”. Nabi Musa AS berkata lagi;

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah membaca Kitab Suci Taurat dan aku temukan keutamaan umat yang kelak tatkala Engkau bangkitkan di padang mahsyar, sepertiga dari mereka Engkau masukkan ke sorga tanpa hisab (pertanyaan/ pertanggungjawaban atas amal perbuatannya di dunia), yang sepertiga lagi Engkau masukkan ke sorga dengan hisab yang ringan, dan sepertiga lagi juga Engkau masukkan ke sorga setelah Engkau bersihkan mereka dari kotoran dosa. Ya Allah jadikanlah keutamaan itu untuk umatku”. Namun Allah SWT menjawab;

“Tidak Musa, sesungguhnya keutamaan itu hanya Aku khususkan bagi umat Kekasih-Ku Nabi Muhammad SAW”. Akhirnya Nabi Musa AS berkata lagi;

“Ya Allah, jika demikian, jadikanlah saja aku sebagai umat Kekasih-Mu Nabi Muhammad SAW”. Maka Allah SWT kemudian Berfirman kepada Nabi Musa AS;

يا موسى إني اصطفيتك على الناس برسالاتي وبكلامي فخذ ما آتيتك وكن من الشاكرين

Yang artinya kurang lebih;

“Hai Musa, sesungguhnya Aku telah memilihmu dari seluruh umat manusia (saat ini) untuk menjadi Rasul (utusan)Ku yang menyampaikan Firman Suci-Ku (kepada  hamba-hamba-Ku). Maka, laksanakanlah apa yang Aku tugaskan kepadamu. Dan hendaklah kamu senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah Aku limpahkan kepadamu”

 يا موسى أما علمت أن محمدا أكرم علي من جميع خلقي

Yang artinya kurang lebih;

“Hai Musa, sesungguhnya Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang paling Aku cintai dari seluruh makhluk-makhluk-Ku.”

وإني نظرت في قلوب عبادي فلم أجد قلبا أشد تواضعا من قلبك فلذلك اصطفيتك على الناس برسالاتي وبكلامي فمت على التوحيد وعلى حب محمد

Yang artinya kurang lebih;

“ Dan (saat ini) tidak Aku lihat dari seluruh hati hamba-hamba-Ku yang lebih tawadlu’ (merendahkan diri) dari hatimu. Maka, sebab itulah Aku pilih dirimu sebagai Rasul-Ku. Laksanakanlah semua perintahKu sampai kamu meninggal dalam keadaan meng-EsakanKu dan dalam keadaan cinta kepada Kekasih-Ku Nabi Muhammad SAW”.

          Maka, oleh sebab itulah, Nabi Musa AS senantiasa berdzikir/ menyebut-nyebut Baginda Nabi Muhammad SAW dan membanggakannya. Beliau selalu memuji-muji dan menceritakan keagungan dan kemuliaan Baginda Nabi Muhammad SAW kepada umatnya.

          Sampai ada sebuah riwayat yang kami dapatkan di kitab Hujjatullah ‘Alal ‘Alamin hal 124 Lis Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhaniy, bahwa sesungguhnya ada seseorang dari umatnya Nabi Musa AS yang senantiasa berbuat kemunkaran selama 200 tahun. Setelah dia meninggal, umat Bani Israil membuangnya di tempat sampah. Lantas Allah SWT Berfirman kepada Nabi Musa AS;

          “Wahai Musa (Nabi-Ku), uruslah jenazah hamba-Ku (yang terbuang di tempat sampah). Mandikan, kafani, sholati dan kuburkanlah dengan cara yang terhormat”

Nabi Musa AS kemudian berkata kepada Allah SWT; “Ya Allah Ya Robbi, sesungguhnya banyak sekali dari umatku (Bani Israil) yang telah menyaksikan prilakunya yang tidak terpuji selama 200 tahun, sehingga mereka membuangnya di tempat sampah…”

Allah SWT kemudian Berfirman kepada Nabi Musa AS;

          “Wahai Musa, memang benar apa yang disaksikan oleh umatmu (Bani Israil), akan tetapi, yang telah Aku ketahui (sendiri) bahwa sesungguhnya, di akhir hayatnya, dia setiap membuka Kitab Suci Taurat dan melihat nama kekasih-Ku (Nabi Muhammad SAW) dia sangat mengagumi dan mencintainya sampai-sampai dia mencium nama tersebut dan menaruhnya di kedua matanya, dengan senantiasa bersholawat kepadanya (Nabi Muhammad SAW). Oleh sebab itulah Aku (Allah SWT) telah mengampuni seluruh dosa-dosanya dan akan Aku masukkan dia ke sorga dengan memberinya istri 70 bidadari yang cantik jelita..”

          Maka, kecintaan Nabi Musa AS kepada Baginda Nabi Muhammad SAW semakin memuncak, sampai Beliau rindu ingin bertemu dengan Baginda Nabi Muhammad SAW.

          Begitu pula Allah SWT telah memerintahkan kepada Nabi Dawud AS untuk mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW dan senantiasa mengagungkannya, dan Allah SWT telah menetapkannya dalam Kitab Zabur yang telah diwahyukannya kepada Nabi Dawud AS yang menerangkan tentang kemuliaan kekasih-Nya (Nabi Muhammad SAW) beserta umatnya.

Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah Wan Nihayah Juz I hal 326;

قال الإمام ابن كثير في البداية والنهاية الجزء الأول ص 326 :

ذكر وهب بن منبه أن الله تعالى أوحى إلى داود في الزبور يا داود إنه سيأتي من بعدك نبي اسمه أحمد ومحمد صادقا سيدا لا أغضب عليه أبدا ولا يغضبني أبدا وقد غفرت له قبل أن يعصيني ما تقدم من ذنبه وما تأخر وأمته مرحومة أعطيتهم من النوافل مثل ما أعطيت الأنبياء وفرضت عليهم الفرائض التي افترضت على الأنبياء والرسل حتى ياتوني يوم القيامة ونورهم مثل نور الأنبياء

Yang artinya kurang lebih;

“Sesungguhnya Allah SWT Berfirman kepada Nabi Dawud AS; “Hai Dawud, sesungguhnya akan datang sesudahmu seorang Nabi Agung bernama Ahmad (di langit) dan Muhammad(di bumi). Dia adalah seorang Nabi yang jujur dan sebagai Tuan/Junjungan (bagi semua makhluk). Sungguh Aku (Allah SWT) tidak akan murka kepadanya selama-lamanya dan dia juga tidak akan pernah melakukan sesuatu yang membuat Aku murka. Sungguh akan Aku pelihara/jaga Dia dari segala dosa/kesalahan. Dan umatnya adalah umat yang Aku limpahkan Belas Kasih Sayang kepada mereka.  Aku anugerahkan kepada mereka amalan ibadah sunah dan wajib sebagaimana yang Aku anugerahkan kepada para Nabi dan Rasul. Dan kelak pada hari kiamat mereka akan datang menghadap kepadaKu dengan diliputi cahaya terang benderang sebagaimana cahayanya para Nabi”.

          Segala puji dan syukur hanya bagi Allah SWT semata, yang telah melimpahkan anugerah agung-Nya yang  tidak terbatas dengan menjadikan kita sebagai umat Baginda Nabi Muhammad SAW yang senantiasa meneladani prilakunya dan mengikuti jejak-jejaknya.

          Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa memuliakan dan mengagungkan Baginda Nabi Muhammad SAW sejak dahulu kala dengan menekankan kepada Nabi Adam AS dan semua para Nabi dan Rasul sesudahnya untuk benar-benar selalu memuliakan, mengagungkan dan mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW. Bahkan diriwayatkan di kitab Al-Haawi Lil Fatawi juz 2 hal 176 Lil Imam Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi yang menerangkan tentang rahasia yang terkandung dalam cincin Nabi Sulaiman AS;

قال الإمام جلال الدين عبد الرحمن السيوطي في الحاوي للفتاوي الجزء الثاني  ص 176 :

ورد عن عبادة بن الصامت وجابر بن عبد الله مرفوعا كان نقش خاتم سليمان بن داود لا إله إلا الله محمد رسول الله

Yang artinya kurang lebih;

“Imam Jalaluddin As-Suyuthi Rahimahullah berkata; Bahwa telah diriwayatkan dari shahabat ‘Ubadah bin Shamit dan shahabat Jabir bin Abdullah; sesungguhnya pada cincin Nabi Sulaiman AS tertulis kalimat Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur Rasuulullaah.”

          Dan demikian pula tersebutkan dalam Kitab Injil yang Allah SWT wahyukan kepada Nabi Isa AS untuk memberitahukan kepada seluruh umatnya agar mempersiapkan diri demi menyambut kekasih Allah SWT (Baginda Nabi Muhammad SAW) dengan beriman kepadanya dan menjadi pembela setianya. Sebagaimana yang  telah diriwayatkan Imam Jalaluddin As-Suyuthi di kitabnya Al-Hawi Lil Fatawi juz 2 hal 175 beliau berkata;

أخرج الحاكم عن ابن عباس قال أوحى الله إلى عيسى آمن بمحمد ومر من أدركه من أمتك أن يؤمنوا به فلولا محمد ما خلقت آدم ولا الجنة و لا النار

Yang artinya kurang lebih;

“Imam Hakim telah meriwayatkan dari shahabat Abdullah bin Abbas Radliyallaahu ‘Anhu, beliau  berkata; Bahwa sesungguhnya Allah SWT Berfirman kepada Nabi Isa AS dalam Kitab Injil; “Hai Isa, berimanlah kamu kepada Nabi Muhammad SAW, dan perintahlah umatmu yang bertemu dengannya (Nabi Muhammad SAW) agar beriman kepadanya (Nabi Muhammad SAW). Sebab, seandainya tidak ada Dia (Nabi Muhammad  SAW) maka Aku (Allah SWT) tidak akan menciptakan Adam, sorga dan neraka”.

          Segala puji bagi Allah SWT yang telah memuliakan dan melimpahkan Belas Kasih Sayang-Nya kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Dan banyak sekali dari kaum Yahudi dan Nashrani yang telah mendapati taufiq dan hidayah dari Allah SWT, berbondong-bondong datang ke kota Madinah  untuk menyambut kedatangan Nabi agung akhir zaman Baginda Rasulullah Muhammad SAW, sesuai dengan amanat yang telah mereka dapati dalam kitab Taurat dan Injil yang masih asli. Dan meraka lakukan itu semata-mata untuk beriman kepada Baginda Nabi Muhammad SAW dan menjadi pembela setianya. Diantaranya adalah Abdullah bin Salam, Ibnul Hayyaban, Taba’ Al-humairiy, Salman Al-Farisiy, dan lain-lain, sebagaimana hal itu disebutkan oleh Syekh Yusuf Bin Ismail An-Nabhaniy di Kitab Hujjatullah ‘Alal ‘Aalamin hal 133 – 166. Dan mulai dari situlah, maka umat Islam mendapati kemenangan demi kemenangan dalam menegakkan dan memperjuangkan ajaran-ajaran Baginda Nabi Muhammad SAW.

          Dan di sini kami ingin melanjutkan tentang riwayat  Nur Baginda Nabi Muhammad SAW, dimulai dari diletakkannya Nur Baginda Nabi Muhammad SAW di punggungnya Nabi Adam AS hingga lahirnya Baginda Nabi Muhammad SAW, dan tentang betapa agungnya penghormatan Nabi Adam AS kepada Nur Baginda Nabi Muhammad SAW.

          Sebagaimana telah kita ketahui bahwa Nabi Adam AS telah mendapati keistimewaan-keistimewan berkat Nur Baginda Nabi Muhammad SAW. Diantaranya disahkannya pernikahan Beliau dengan Ibu Hawwa’ dengan mahar mengucapkan sholawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Dan diterimanya taubat Beliau oleh Allah SWT berkat tawassul kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.

Oleh sebab itulah demi memuliakan Nur agung Baginda Nabi Muhammad SAW yang ada dalam dirinya, maka setiap Nabi Adam AS akan berhubungan dengan Ibu Hawwa’ maka Beliau bersuci terlebih dahulu, memakai wangi-wangian dan memerintahkan Ibu Hawwa’ untuk melakukan hal yang sedemikian rupa .

          Dan suatu saat Nur tersebut benar-benar telah pindah dalam diri Ibu Hawwa’, sehingga kecantikan Ibu Hawwa’ tambah bersinar luar biasa. Tidak lama kemudian Beliau melahirkan anak laki-laki dan diberinya nama Syits. Dan Nur tersebut telah pindah dalam diri Nabi Syits AS.

          Dengan adanya Nur yang terlihat oleh Nabi Adam AS di muka Nabi Syits, maka  Nabi Adam AS selalu memperhatikan  dan menjaga Nabi Syits AS, demi memuliakan dan mengagungkan Nur Nabi Muhammad SAW yang ada dalam diri Nabi Syits AS tersebut.

Setelah Nabi Syits AS dewasa dan Nabi Adam AS merasa telah dekat ajalnya untuk menghadap kepada Allah SWT, maka Beliau Nabi Adam AS memanggil putranya (Nabiyyullah Syits AS) dan memberikan wasiat/amanat  kepadanya; “

 “Wahai Anakku (Syits), Sesungguhnya Allah SWT telah mengambil perjanjian kepadamu untuk senantiasa menjaga “Nur Agung Nabi Muhammad SAW’, janganlah engkau letakkan kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya”.

Maka Nabi Syits AS menjaga teguh amanat tersebut dengan menikah dengan seorang wanita yang paling suci saat itu yang bernama Baidlo’. Dan setelah dianugerahi putra, maka Beliau Nabi Syits AS memberikan wasiat kepada putranya agar jangan meletakkan Nur Agung tersebut kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya. Demikian pula putranya melakukan hal yang sama hingga Nur Agung tersebut sampai pada Nabi Idris AS. Dan Nabi Idris AS juga melakukan hal yang sama, Beliau AS mewasiatkan kepada putranya agar jangan meletakkan Nur Agung tersebut kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya. Hingga sampailah Nur Agung tersebut pada Nabi Nuh AS.. Begitu  pula Nabi Nuh AS, Beliau juga melakukan hal yang sama. Beliau berwasiat kepada putra Beliau (Sam) untuk menjaga Nur tersebut, dan jangan diletakkan kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya. Dan Sayyidina Sam putra Nabi Nuh AS juga mewasiatkan kepada putranya sebagaimana wasiat tersebut di atas, hingga sampailah silsilah mata rantai Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW kepada Nabi Ibrahim AS.. Dan kemudian dari Nabi Ibrahim AS, Nur tersebut turun kepada Nabi Ismail AS.. Dan Nabi Ismail AS juga telah menjaga teguh Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW tersebut, Beliau telah mewasiatkan kepada putranya agar jangan meletakkan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya. Maka, wasiat tersebut senantiasa terpelihara secara berkesinambungan. Dan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW senantiasa berpindah dari seorang ayah yang suci nan agung, ke ibu yang paling suci nan mulia nasabnya,  dengan ikatan pernikahan islami yang diridloi Allah SWT. Hingga sampailah perjalanan Nur Agung tersebut kepada Sayyidina ‘Adnan. Dari Sayidina ‘Adnan ke Sayyidina Ma’ad. Dari Sayyidina Ma’ad ke Sayyidina Nizar.

Dan telah diriwayatkan dalam kitab Hujjatullah ‘Alal ‘Alamin hal 218 bahwa tatkala Sayyidina Nizar mengetahui bahwa dalam dirinya bersemayam Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW, maka Beliau Sayyidina Nizar  sangat bahagia sekali, sehingga beliau menyembelih hewan kurban yang sangat banyak untuk disedekahkan kepada umat pada masa itu. Dan begitu pula Sayyidina Nizar telah berwasiat kepada Sayyidina Mudlor (putranya). Dan Sayyidina  Mudlor juga berwasiat kepada putranya hingga sampailah Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW tersebut kepada Sayyidina Hasyim.

Sampai di sinilah akhirnya berkumandang kabar gembira di seluruh penjuru dunia, bahwa sudah dekat saat datangnya Nabi akhir zaman, Seorang Nabi yang diutus Allah SWT untuk seluruh umat manusia, seorang Nabi yang Agung nan mulia yang sempurna kepribadiannya dan agung budi pekertinya, yang sangat santun dan menyayangi umatnya dan yang paling dimuliakan dan disayangi Allah SWT, yakni Baginda Nabi Muhammad SAW. Maka berita tersebut telah menyebar ke seluruh penjuru dunia dan menggemparkan jagad. Hingga para ahli kitab dari kaum Yahudi dan Nashrani berebut ingin mendapati silsilah mata rantai Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW tersebut. Mereka berbondong-bondong mendatangi Sayyidina Hasyim dan berebut untuk menawarkan anak gadis mereka yang sangat cantik jelita agar dipersuntingnya. Namun Sayyidina Hasyim tidak menerima mereka semua karena teguh memegang amanat wasiat nenek moyangnya agar jangan meletakkan Nur Agung Baginda Nabi Besar Muhammad SAW kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya. Hingga sampailah berita tersebut ke Kaisar Romawi. Maka Kaisar tersebut mengutus delegasi untuk memanggil Sayyidina Hasyim dengan tujuan untuk dinikahkan dengan putrinya yang sangat cantik jelita. Tidak ada tujuan lain kecuali dia ingin mendapati Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW, karena data-data yang akurat dan otentik tentang Nur Nabi akhir zaman telah mereka ketahui dari ulama ahli kitab yahudi dan nashrani bahwa Nur Agung tersebut telah berada dalam diri dan kepribadian Sayyidina Hasyim. Akan tetapi Sayyidina Hasyim dengan tegas menolaknya dan berkata;

والذي فضلني على أهل الزمان لا أتزوج إلا بأطهر نساء العالمين

Yang artinya kurang lebih;

“Demi Allah, Dzat yang telah melimpahkan kemuliaan kepadaku melebihi seluruh penghuni alam semesta. Sungguh aku tidak akan menikah kecuali dengan seorang wanita yang paling suci nan mulia nasabnya (sebagaimana wasiat  nenek moyangku terdahulu)”

Maka, sesuai petunjuk amanat yang Beliau dapati, akhirnya Beliau menikah dengan seorang wanita yang paling suci nan mulia nasabnya pada masa itu. Dari pernikahan tersebut lahirlah Sayyidina Abdul Muthalib. Maka pindahlah Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidina Abdul Muthalib. Dan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW sangat terlihat bercahaya terang benderang dari dahi Sayyidina Abdul Muthalib. Dan bau harum semerbak senantiasa keluar menyebar dari diri beliau. Semua itu adalah berkat Nur Baginda Nabi Muhammad SAW.

          Dan sesungguhnya berkat Nur Baginda Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Abdul Muthalib senantiasa dikabulkan doanya oleh Allah SWT. Maka orang-orang Quraisy, setiap mereka ditimpa kemarau panjang (paceklik) mereka berduyun-duyun mendatangi Sayyidina Abdul Muthalib. Akhirnya dengan dipimpin Sayyidina Abdul Muthalib mereka naik ke gunung Tsabir. Disitulah mereka bermunajat memohon Belas Kasih Sayang Allah SWT agar melimpahkan hujan kepada mereka. Akhirnya Allah SWT mengabulkan permohonan mereka dengan menurunkan hujan yang deras berkat Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW yang berada pada diri Sayyidina Abdul Muthalib.

Beliau Sayyidina Abdul Muthalib juga sebagai hakim di kalangan kaum Quraisy. Keputusan-keputusan beliau sangat diterima dan dihormati oleh mereka. Setiap ada masalah, rujukan utama mereka adalah Sayyidina Abdul Muthalib agar memberikan petunjuk dan keputusan untuk menyelesaikan segala urusan mereka. Beliau juga dikenal sebagai pemuda yang tekun beribadah. Berulang kali Beliau senantiasa khalwat (menetap sendirian) di Gua Hira’. Di situ Beliau selalu bersyukur kepada Allah SWT yang telah menganugerahinya Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dalam dirinya dan Beliau juga selalu bermunajat kepada Allah SWT dan memuncakkan tafakkur tentang kemuliaan dan keagungan Dzat Pencipta alam semesta Allah Rabbul ‘Alamin. Beliau juga senantiasa beramar ma’ruf nahi munkar kepada kaumnya sesuai dengan ajaran Nabi Ibrahim AS.. Sehingga mereka senantiasa memuliakan dan mengagungkannya. Hingga suatu ketika Beliau Sayyidina Abdul Muthalib mendapati petunjuk dari Allah SWT (lewat mimpi) agar Beliau menikah dengan Sayyidatina Fatimah binti Amr seorang wanita yang paling suci nan mulia nasabnya pada masa itu. Dari pernikahan tersebut, maka  lahirlah Sayyidina Abdullah ayahanda Baginda Nabi Muhammad SAW.

Sebagaimana yang telah diterangkan di kitab Madarijush Shu’ud hal 10 bahwa sesungguhnya Sayyiduna Abdullah Ayahanda Baginda Nabi Muhammad SAW adalah sangat cepat perkembangannya. Dalam jangka waktu sehari sudah seperti bayi usia satu bulan. Dan dalam jangka sebulan sudah seperti bayi berusia setahun. Sehingga hal itu menakjubkan semua orang, baik yang ada di perkotaan ataupun di pelosok desa yang paling dalam. Setiap orang yang memandang kepada Beliau, selalu berdecak kagum melihat kemilau cahaya yang anggun berwibawa dari mukanya dan keajaiban-keajaiban yang melimpah kepada Beliau. Postur tubuhnya yang sempurna, ketampanan mukannya  yang mempesona, dan kesantunannya yang penuh wibawa, telah menjadikan para gadis terpikat hatinya. Laksana Nabi Yusuf AS pada zamannya dahulu yang digandrungi oleh semua wanita karena ketampanannya yang mempesona dan sempurna. Maka Beliau Sayyiduna Abdullah adalah seorang lelaki yang paling sempurna diri dan kepribadiannya pada masa itu. Sebagaimana dikatakan oleh Syeikh Ahmad Bin Zaini Dahlan di kitabnya As-Sirah An-Nabawiyyah juz 2 hal 42;

قال الشيخ أحمد بن زيني دحلان الحسني في السيرة النبوية الجزء الأول ص42 :

وكان أي عبد الله أحسن رجل في قريش خلقا وخلقا وكان نور النبي صلى الله عليه وسلم بينا في وجهه وكان أجملهم فشغفت به نساء قريش وكدن أن تذهل عقولهن

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa Sesunguhnya Sayyiduna Abdullah adalah insan yang paling sempurna diri dan pribadinya(pada masa itu). Dari muka Beliau nampak jelas berkemilau cahaya “Nur” Baginda Nabi Muhammad SAW. Dan tidak sedikit para wanita yang terpikat hatinya kepada Beliau”

          Dahsyatnya pesona dan kesempurnaan pribadi Sayyiduna Abdullah  ayahanda Baginda Nabi Muhammad SAW, bukan hanya terkenal di kalangan suku Quraisy saja. Bahkan para ulama ahli kitab di Syam Palestina juga mengakuinya. Sehingga setiap ada orang dari suku Quraisy bersinggah di tempat mereka, selalu diberi wasiat bahwa Nur yang ada pada diri Sayyiduna Abdullah, sesungguhnya adalah Nur Nabi akhir zaman, yakni Baginda Nabi Muhammad SAW. Tujuan utama dari wasiat tersebut adalah agar senantiasa dijaga Nur Baginda Nabi Muhammad SAW yang ada pada diri Sayyiduna Abdullah tersebut dan dilindungi dari orang-orang yang hasud dan orang-orang yang ingin mencelakakannya. Sebagaimana telah diterangkan oleh Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani di kitabnya Hujjatullah ‘Alal ‘Alamin hal 220 ;

قال الشيخ يوسف بن إسماعيل النبهاني في حجة الله على العالمين   ص 219 :

لم يبق حبر من أحبار الشام إلا علم بمولده ثم كان لا يقدم عليهم رجل من أهل الحرام إلا سألوه عن عبد الله كيف تركوه فيقول تركناه يتلألأ حسنا وجمالا وكمالا فتقول الأحبار يا معشر قريش إن ذلك النور ليس لعبد الله بن عبد المطلب وإنما هو لمحمد صلى الله عليه وسلم يخرج من ظهره في آخر الزمان يغير عبادة الأصنام

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa sesungguhnya para ulama ahli kitab di Syam (Palestina) telah mengetahui Nur Baginda Nabi Muhammad SAW pada diri Sayyiduna Abdullah. Setiap ada penduduk Makkah bersinggah di tempat mereka selalu diberi wasiat olehnya dengan berkata ;

……….Ketahuilah oleh kalian semua wahai kaum Quraisy, kemilau cahaya yang ada pada diri Abdullah sesungguhnya adalah Nur Nabi akhir Zaman Baginda Nabi Muhammad SAW yang akan datang membawa agama tauhid untuk meng-Esakan Allah Rabbul ‘Alamin”.

          Maka, tatkala Beliau Sayyiduna Abdullah genap berusia 18 tahun, Beliau diajak oleh ayahandanya (Sayyiduna Abdul Muthalib) untuk dinikahkan dengan Sayyidatuna Aminah binti Wahab seorang wanita yang paling suci dan paling mulia nasabnya pada saat itu. Namun di tengah perjalanan mereka berdua bertemu dengan serombongan wanita yang cantik jelita. Serentak semuanya berebutan untuk menawarkan dirinya kepada Sayyiduna Abdullah. Namun Sayyiduna Abdullah tidak bersedia, karena Beliau teguh memegang amanah untuk tidak menikah kecuali pada wanita yang paling suci dan mulia nasabnya. Dan bahkan ada juga seorang wanita ahli kitab yang bersedia untuk mempersembahkan 100 onta asal Sayyiduna Abdullah mau pada wanita tersebut. Tetapi dengan tegas Sayyiduna Abdullah tetap menolak semua ajakan dan tawaran tersebut. Beliau tetap teguh untuk menjaga kesucian dan kemuliaan yang ada pada dirinya, dan akhirnya Beliau menikah dengan Sayyidatuna Aminah binti Wahab, seorang gadis yang paling suci nan mulia nasabnya pada masa itu. Maka, pindahlah Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dari ayahanda tercinta Sayyiduna Abdullah ke dalam kandungan ibundanya tercinta Sayyidatuna Aminah Binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah.

Kesucian nasab yang telah Allah SWT jaga sejak Nabi Adam AS hingga Sayyiduna Abdullah tersebut, semata-mata adalah suatu penghormatan besar dari Allah SWT dan Belas Kasih Sayang-Nya kepada kekasih-Nya Baginda Nabi Muhammad SAW. Semuanya melalui proses pernikahan islami yang diridloi Allah SWT. Sebagaimana yang disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir juz 2 hal 403;

ذكر الإمام أبو الفداء إسماعيل ابن كثيرفي تفسير إبن كثير الجزء الثاني ص 403

عن علي بن أبي طالب كرم الله وجهه قال النبي صلى الله عليه وسلم خرجت من نكاح ولم أخرج من سفاح من لدن آدم إلى أن ولدني أبي وأمي ولم يمسني من سفاح الجاهلية شيء

Yang artinya kurang lebih;

“Diriwayatkan dari Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah, bahwa sesungguhnya Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda; “Sesungguhnya aku (Nabi Muhammad SAW,) adalah terlahir dari orang-orang suci nan mulia nasabnya melalui pernikahan yang sah (diridloi Allah SWT). Sejak Nabi Adam AS hingga kedua orang tuaku (Sayyid Abdullah dan Sayyidah Aminah), semuanya melalui pernikahan yang sah (diridloi Allah SWT), tidak ada sedikitpun yang menyimpang”. 

          Dan sesungguhnya dengan adanya berbagai macam peristiwa luar biasa yang dialami oleh Sayyiduna Abdullah tersebut, semata-mata adalah sebagai tanda yang sangat jelas terang-benderang atas dekatnya waktu kedatangan Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Hafidh Abu Na’im Al-Ashfahani di kitabnya Dala’ilun Nubuwwah Juz 1 hal 167 ;

قال الإمام الحافظ الكبير أبو نعيم الأصفهاني في دلائل النبوة الجزء الأول ص 167 :

ففي ابتغاء اليهود واليهودية وضع هذا النور الذي انتقل إلى آمنة بنت وهب فيها وذكرهم بني زهرة وأن هذالأمر لا يكون فيهم دلالة واضحة على تقديم الخبر والبشارة بذلك في الكتب السالفة وما يكون من أمر النبي صلى الله عليه وسلم وبعثته كل ذلك آيات واضحة وبراهين صحيحة لائحة على نبوته وبعثته صلى الله عليه وسلم.

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa sesungguhnya segala keajaiban yang ada pada diri Sayyiduna Abdullah sampai para ahli kitab menginginkan Nur yang ada pada diri beliau, serta tersohornya kabar berita Nur tersebut di kitab-kitab terdahulu, semata-mata hanyalah sebagai tanda-tanda yang jelas dan bukti yang konkrit atas Kenabian Baginda Nabi Muhammad SAW”.

          Bahwa sesungguhnya, manakala Sayyidatuna Aminah Binti Wahab mengandung Baginda Nabi Muhammad SAW. Seketika itu pula terjadilah berbagai macam keajaiban-keajaiban dunia yang menggemparkan jagad. Segala peristiwa tersebut, bukan hanya di daratan dan lautan saja. Bahkan di alam malakut lebih dahsyat dan menakjubkan. Konkritnya adalah pada malam Jumu’ah bulan Rajab, detik itulah momen yang paling bersejarah bagi seluruh umat manusia. Saat itulah terjadi perpindahan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW dari Sayyiduna Abdullah ke dalam kandungan Sayyidatuna Aminah. Maka, pada malam itulah datang perintah dari Allah SWT kepada malaikat Ridlwan agar membuka seluruh pintu sorga dan Allah SWT perintahkan kepada malaikat-Nya untuk mengumandangkan seruan telah tiba saat datangnya Nabi Akhir zaman Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang diterangkan oleh Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani di kitabnya Hujjatullah ‘Alal-‘Alamin hal 226 dan 223;

قال الشيخ يوسف بن إسماعيل النبهاني في حجة الله على العالمين   ص 226 :

قال سهل بن عبد الله التستري لما أراد الله تعالى خلق محمد صلى الله عليه وسلم في بطن أمه آمنة ليلة رجب وكانت ليلة الجمعة أمر الله تعالى في تلك الليلة رضوان خازن الجنان أن يفتح الفردوس وينادي مناد في السموات والأرض ألا إن النور المخزون المكنون الذي يكون منه النبي الهادي في هذه الليلة يستقر في بطن أمه الذي يتم خلقه ويخرج للناس بشيرا ونذيرا.

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa sesungguhnya manakala Allah SWT menghendaki untuk mewujudkan Baginda Nabi Muhammad SAW dalam kandungan ibundanya pada malam Jumu’ah bulan Rajab, maka Allah SWT perintahkan kepada malaikat Ridlwan (penjaga sorga) agar membuka seluruh pintu sorga dan berkumandanglah seruan di langit dan di bumi;

……….(Wahai seluruh makhluk, perhatikanlah oleh kalian semua)..Sesungguhnya Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW sekarang telah berada dalam kandungan ibundanya. Kelak, Beliaulah yang akan muncul sebagai Nabi yang membawa petunjuk dan pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan kepada umat manusia”.

          Maka, seketika itu juga seluruh binatang yang ada di laut, di daratan, dan di angkasa saling memberi kabar gembira kepada temannya masing-masing. Yang di barat lari ke timur, yang di timur lari ke barat, yang di utara lari ke selatan dan yang di selatan lari ke utara untuk saling membawa berita gembira. Yang lebih menakjubkan lagi adalah binatang-binatang yang ada di sekitar Makkah, seperti kuda, onta, rusa dan lain sebagainya bisa mengucapkan dengan bahasa arab yang fasih, sehingga orang-orang pada masa itu sangat takjub melihat peristiwa langka tersebut. Perkataan hewan-hewan tersebut adalah ;

حمل برسول الله صلى الله عليه وسلم ورب الكعبة وهو أمان الدنيا وسراج أهلها

“Sungguh demi Allah SWT Dzat yang menguasai Ka’bah, saat ini Baginda Rasulullah SAW telah berada dalam kandungan ibundanya. Beliaulah yang kelak akan membawa kedamaian di muka bumi ini dan Beliaulah yang akan menerangi umat dengan ajaran-ajarannya…”

Dan saat itu pula, serentak seluruh singgasana para penguasa, raja dan kaisar sedunia, semuanya jatuh dan terjungkal ke bawah, sehingga para penguasa tersebut tercekat kebingungan, diam seribu bahasa dan tidak bisa berkata apa-apa seharian penuh.  Begitu pula seluruh patung-patung sedunia terjungkal jatuh berantakan. Para dukun-dukun seketika lenyap ilmu mereka, tak bisa menebak/ meramal sesuatu dengan benar. Dan dari bulan ke bulan senantiasa terdengar seruan malikat yang berkumandang di langit dan di bumi untuk memberi berita gembira kepada seluruh makhluk-makhluk Allah SWT……….

أن أبشروا فقد آن لإبي القاسم أن يخرج إلى الأرض ميمونا مباركا

…….Berbahagialah kalian semua wahai seluruh makhluk Allah SWT…Sungguh Baginda Nabi Muhammad SAW sebentar lagi akan datang ke dunia untuk membawa keberkahan dan Rahmat dari Allah SWT bagi semesta alam…..

Dan sebagaimana yang disebutkan oleh Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan dalam kitabnya As-Sirah An-Nabawiyyah juz 1 hal 45 bahwa pada masa dikandungnya Baginda Nabi Muhammad SAW oleh ibundanya adalah masa keemasan bagi suku Quraisy saat itu. Sebelumnya mereka dalam masa paceklik dan kesulitan bahan makanan yang luar biasa. Namun begitu Baginda Nabi Muhammad SAW sudah berada dalam kandungan ibundanya, seketika kondisi perekonomian berubah total 180 derajat. Rakyat Quraisy mengalami kemakmuran dan kemudahan yang menakjubkan. Mega-mega putih yang berarak-arakan dan menurunkan rintik-rintik air hujan yang membawa kesuburan, angin sepoi-sepoi basah yang membawa kesejukan, dan lukisan cahaya kilat yang berkilauan menyinari dan menghiasi  angkasa raya. Sehingga pepohonan dan tanam-tanaman tumbuh subur di mana-mana, sungai-sungai dipenuhi air yang mengalir, dan hewan-hewan piaraan menjadi gemuk dan deras air susunya. Maka, semakin lengkaplah kemakmuran, kesejahteraan, dan kebahagiaan penduduk Makkah saat itu. Bahkan serentak dengan ijin Allah SWT, pada tahun itu, tidak ada wanita yang hamil anak perempuan, semuanya dianugerahi Allah SWT hamil anak laki-laki, sebagai perhormatan Allah SWT kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.

          Dan sebagaimana disebutkan oleh Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami di kitabnya An-Ni’matul Kubra ‘Alal-‘Aalam hal 44 bahwa;

…….”Ibunda Rasulullah Muhammad SAW berkata; Sesungguhnya tatkala aku mengandung putraku tercinta (Rasulullah Muhammad SAW), pada bulan pertama tepatnya pada Bulan Rajab Al-Asham, suatu malam di saat aku terlelap tidur, tiba-tiba datang kepadaku seorang laki-laki yang indah wajahnya, semerbak harum baunya dan diliputi cahaya yang berkemilauan. Dan dia berkata; “Selamat datang wahai Baginda Nabi Muhammad SAW. Salam sejahtera Allah SWT senantiasa melimpah kepadamu”. Aku lantas bertanya; “Siapakah engkau wahai tuan”. Dia menjawab; “Sesungguhnya aku adalah Nabi Adam AS bapaknya seluruh umat manusia”. Dan dia memberi berita gembira kepadaku  dengan berkata;

أبشري يا آمنة فقد حملت بسيد البشر

          Sungguh beruntung Engkau wahai Aminah, berbahagialah, sungguh engkau telah mengandung Nabi Agung Junjungan seluruh umat manusia ……

Pada bulan yang kedua, datang pula seorang laki-laki yang sedemikian rupa dan berkata; “Selamat datang wahai Baginda Nabi Muhammad SAW wahai Utusan Allah SWT. Salam sejahtera Allah SWT senantiasa melimpah kepadamu”. Aku lantas bertanya; “Siapakah engkau wahai tuan”. Dia menjawab; “Sesungguhnya aku adalah Nabi Syits AS”  Dan dia memberi berita gembira kepadaku dengan berkata;

أبشري يا آمنة فقد حملت بصاحب التأويل والحديث

          Sungguh beruntung Engkau wahai Aminah, berbahagialah, sungguh engkau telah mengandung Nabi Agung yang kelak dianugerahi Allah SWT ilmu ta’wil dan Al-Hadis…

Sesungguhnya, sebagaimana yang disebutkan dalam Kitab Madarijush-Shu’uud hal 12 bahwa; manakala Sayyidah Aminah sudah genap hamil 2 bulan, ayahanda tercinta Baginda Nabi Muhammad SAW Sayyiduna Abdullah wafat di Madinah. Seketika para malaikat berkata kepada Allah SWT; “Ya Allah Tuhan dan Sesembahan kami, Nabi terkasih-Mu sekarang telah yatim, tidak punya ayah”. Maka, Allah SWT Berfirman menjawab para malaikat tersebut;

أنا وليه وحافظه وحاميه وربه وعونه ورازقه وكافيه فصلوا عليه وتبركوا بإسمه

          “Ketahuilah olehmu wahai para malikat. Sesungguhnya Aku (Allah SWT) sendiri yang akan menjaga, melindungi dan merawatnya, Serta akan Aku limpahkan bantuan /pertolongan dan rezeki kepadanya. Dan Aku sendiri pula yang akan mencukupi( segala urusannya). Maka, panjatkanlah selalu oleh kalian sholawat kepadanya dan dapatkanlah keberkahan bagi kalian dengan berwasilah  menyebut namanya”

Pada bulan kehamilan yang ketiga datang pula seorang laki-laki yang sedemikian rupa dan berkata; “Selamat datang wahai Baginda Nabi Muhammad wahai Nabi Allah SWT. Salam sejahtera Allah SWT senantiasa melimpah kepadamu”. Aku lantas bertanya; “Siapakah engkau wahai tuan”. Dia menjawab; “Sesungguhnya aku adalah Nabi Idris AS”  Dan dia memberi berita gembira kepadaku dengan berkata;

أبشري يا آمنة فقد حملت بالنبي الرئيس

          Sungguh beruntung Engkau wahai Aminah, berbahagialah, sungguh engkau telah mengandung Nabi Agung yang kelak menjadi pemimpin yang sangat agung.

Pada bulan yang keempat datang pula seorang laki-laki yang sedemikian rupa dan berkata; “Selamat datang wahai Baginda Nabi Muhammad wahai Kekasih Allah SWT. Salam sejahtera Allah SWT senantiasa melimpah kepadamu”. Aku lantas bertanya; “Siapakah engkau wahai tuan”. Dia menjawab; “Sesungguhnya aku adalah Nabi Nuh AS”  Dan dia memberi berita gembira kepadaku dengan berkata;

أبشري يا آمنة فقد حملت بصاحب النصر والفتوح

          Sungguh beruntung Engkau wahai Aminah, berbahagialah, sungguh engkau telah mengandung Nabi Agung yang kelak dianugerahi Allah SWT pertolongan dan kemenangan besar.

Pada bulan yang kelima datang pula seorang laki-laki yang sedemikian rupa dan berkata; “Selamat datang wahai Baginda Nabi Muhammad wahai Pilihan Allah SWT. Salam sejahtera Allah SWT senantiasa melimpah kepadamu”. Aku lantas bertanya; “Siapakah engkau wahai tuan”. Dia menjawab; “Sesungguhnya aku adalah Nabi Hud AS”  Dan dia memberi berita gembira kepadaku dengan berkata;

أبشري يا آمنة فقد حملت بصاحب الشفاعة العظمى في اليوم الموعود

          Sungguh beruntung Engkau wahai Aminah, berbahagialah, sungguh engkau telah mengandung Nabi Agung yang kelak dianugerahi Allah SWT syafa’at yang agung pada hari kiamat.

Pada bulan yang keenam datang pula seorang laki-laki yang sedemikian rupa dan berkata; “Selamat datang wahai Baginda Nabi Muhammad wahai Rahmat Allah SWT. Salam sejahtera Allah SWT senantiasa melimpah kepadamu”. Aku lantas bertanya; “Siapakah engkau wahai tuan”. Dia menjawab; “Sesungguhnya aku adalah Nabi Ibrahim AS”  Dan dia memberi berita gembira kepadaku dengan berkata;

أبشري يا آمنة فقد حملت بالنبي الجليل

          Sungguh beruntung Engkau wahai Aminah, berbahagialah, sungguh engkau telah mengandung Nabi yang diagungkan Allah SWT…

Pada bulan yang ketujuh datang pula seorang laki-laki yang sedemikian rupa dan berkata; “Selamat datang wahai Baginda Nabi Muhammad wahai Nabi yang dipilih Allah SWT. Salam sejahtera Allah SWT senantiasa melimpah kepadamu”. Aku lantas bertanya; “Siapakah engkau wahai tuan”. Dia menjawab; “Sesungguhnya aku adalah Nabi Ismail AS”  Dan dia memberi berita gembira kepadaku dengan berkata;

أبشري يا آمنة فقد حملت بالنبي  الرجيح المليح

          Sungguh beruntung Engkau wahai Aminah, berbahagialah, sungguh engkau telah mengandung Nabi Agung yang kelak dianugerahi Allah SWT keunggulan dan kesantunan yang sangat luar biasa……..

Pada bulan yang kedelapan datang pula seorang laki-laki yang sedemikian rupa dan berkata; “Selamat datang wahai Baginda Nabi Muhammad wahai Pilihan Allah SWT. Salam sejahtera Allah SWT senantiasa melimpah kepadamu”. Aku lantas bertanya; “Siapakah engkau wahai tuan”. Dia menjawab; “Sesungguhnya aku adalah Nabi Musa putra Imran AS”  Dan dia memberi berita gembira kepadaku dengan berkata;

أبشري يا آمنة فقد حملت بمن ينزل عليه القرآن

          Sungguh beruntung Engkau wahai Aminah, berbahagialah, sungguh engkau telah mengandung Nabi Agung yang kelak dianugerahi Allah SWT kitab suci Al-Qur’an.

Pada bulan yang kesembilan datang pula seorang laki-laki yang sedemikian rupa dan berkata; “Selamat datang wahai Baginda Nabi Muhammad SAW, telah dekat waktu kedatanganmu wahai Rasulullah. Salam sejahtera Allah SWT senantiasa melimpah kepadamu”. Aku lantas bertanya; “Siapakah engkau wahai tuan”. Dia menjawab; “Sesungguhnya aku adalah Nabi Isa putra Maryam AS”  Dan dia memberi berita gembira kepadaku dengan berkata;

أبشري يا آمنة فقد حملت بالنبي المكرم والرسول المعظم صلى الله عليه وسلم وزال عنك البؤس والعنا والسقم والألم

          Sungguh beruntung Engkau wahai Aminah, berbahagialah, sungguh engkau telah mengandung Nabi  yang sangat mulia dan Utusan Allah yang sangat agung. Rahmat Belas Kasih Sayang Allah SWT dan Salam Sejahtera-Nya senantiasa melimpah kepadanya. Sungguh, Allah SWT akan menjauhkan darimu segala kesengsaraan, kepayahan dan juga akan memberimu segala kemudahan.

          Dan Imam Al-Hafidh Abul Fida’ Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah Wan-Nihayah juz  1 hal 263 menyebutkan tentang ilham yang diberikan Allah SWT kepada Ibunda tercinta Baginda Rasulullah SAW Sayyidah Aminah Binti Wahab;

قال الإمام ابن كثير في البداية والنهاية الجزء الأول ص163

قال محمد بن إسحق فكانت آمنة أم رسول الله صلى الله عليه وسلم تحدثت أنها أتيت حين حملت برسول الله صلى الله عليه وسلم فقيل لها إنك قد حملت بسيد هذه الأمة  -فإذا وقع فسميه محمدا فإن إسمه في التوراة أحمد يحمده أهل السماء و أهل الأرض واسمه في الإنجيل أحمد يحمده أهل السماء وأهل الأرض واسمه في القرآن محمد .

Yang artinya kurang lebih;

“Sesungguhnya Ibunda tercinta Baginda Rasulullah Muhammad SAW berkata; Tatkala aku mengandung putraku tercinta (Baginda Rasulullah SAW), datang seorang utusan Allah SWT (malaikat) kepadaku, Dia berkata; Wahai Aminah, (beruntunglah Engkau). Engkau telah mengandung Nabi Agung yang kelak menjadi Junjungan dan Pemimpin seluruh umat manusia. Maka, apabila telah lahir kelak, berilah Beliau nama “Muhammad”. Karena di Kitab Suci Taurat dan Injil Beliau adalah bernama Ahmad, insan sempurna yang dipuji oleh seluruh penghuni langit dan bumi. Dan di Kitab Suci Al-Qur’an Beliau bernama Muhammad.”

          Al-Imam Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitami Asy-Syafi’i di kitabnya An-Ni’matul Kubraa ‘Alal ‘Aalam hal. 61 telah menyebutkan ;

Bahwa sesungguhnya pada bulan kesembilan kehamilan Sayyidah Aminah (bulan Rabi’ul Awwal), saat hari-hari kelahiran Baginda Nabi Muhammad sudah semakin dekat, Allah SWT semakin melimpahkan berbagai macam anugerahnya kepada Sayyidah Aminah, mulai malam tanggal satu hingga malam tanggal 12 Bulan Rabi’ul Awwal malam kelahiran Baginda Rasulullah Muhammad SAW;

    Pada malam tanggal 1 Allah SWT melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa kepada Sayyidah Aminah, sehingga Beliau merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

    Pada malam tanggal 2 datang seruan berita gembira kepadanya bahwa sebentar lagi dirinya akan mendapati anugerah agung yang luar biasa dari Allah SWT.

    Pada malam tanggal 3 datang seruan memanggil kepadanya…”Wahai Aminah, sudah dekat saatnya Engkau akan melahirkan Nabi Agung Rasulullah Muhammad SAW yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah SWT”.

    Pada malam tanggal 4 Sayyidah Aminah mendengar beraneka ragam tasbih para malaikat secara nyata dan sangat jelas sekali.

    Pada malam tanggal 5 Sayyidah Aminah mimpi bertemu dengan Nabiyyullah Ibrahim AS Khalilullah.

    Pada malam tanggal 6 Sayyidah Aminah melihat cahaya Rasulullah SAW memenuhi segala penjuru alam semesta.

    Pada malam tanggal 7 Sayyidah Aminah melihat  para malaikat silih berganti saling berdatangan mengunjungi kediamannya membawa kabar gembira, sehingga kebahagiaan dan kedamaiannya semakin memuncak.

    Pada malam tanggal 8 Sayyidah Aminah mendengar seruan memanggil dimana-mana, suara tersebut sangat jelas mengumandangkan….”Berbahagialah wahai seluruh penghuni alam semesta, telah dekat saat kelahiran Nabi Agung Kekasih Allah SWT Pencipta alam semesta..”

    Pada malam tanggal 9  Allah SWT semakin mengucurkan limpahan Belas Kasih Sayangnya kepada Sayyidah Aminah, sehingga tidak ada sedikitpun rasa sedih, susah atau sakit dalam diri dan jiwa Sayyidah Aminah.

    Pada malam tanggal 10 Sayyidah Aminah melihat tanah Khoif dan Mina ikut bergembira ria menyambut kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW .

    Pada malam tanggal 11 Sayyidah Aminah melihat seluruh penghuni langit dan bumi ikut bersuka cita menyongsong kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW.

Maka, pada malam 12 Bulan Rabi’ul Awwal, langit dalam keadaan cerah tanpa ada mendung sedikitpun, saat itu Sayyid Abdul Muthalib sedang bermunajat kepada Allah SWT di sekitar Ka’bah, dan Sayyidah Aminah sendirian di rumah, tanpa ada seorangpun yang menemaninya, tiba-tiba Beliau Sayyidah Aminah melihat tiang rumahnya terbelah, dan perlahanan-lahan muncul empat wanita yang sangat anggun nan cantik jelita dan diliputi cahaya yang memancar berkemilauan serta semerbak harum wewangian memenuhi seluruh ruangan. Tiba-tiba wanita pertama datang dan berkata kepada Sayyidah Aminah;

………”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung junjungan alam semesta Baginda Nabi Muhammad SAW. Kenalilah olehmu sesungguhnya aku ini adalah Hawwa’ Ibunda seluruh umat manusia. Aku diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu….

Kemudian Ibu Hawwa’ duduk di samping kanan Sayyidah Aminah. Dan mendekat lagi wanita yang kedua kepada Sayyidah Aminah untuk menyampaikan kabar gembira kepadanya;

………”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Baginda Nabi Muhammad SAW, seorang Nabi Agung yang dianugerahi Allah SWT kesucian yang sempurna pada diri dan kepribadiannya. Nabi Agung yang ilmunya sebagai sumber seluruh ilmunya para Nabi dan para kekasihnya Allah SWT. Nabi Agung yang cahayanya meliputi seluruh alam. Dan ketahuilah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku ini adalah Sarah istri Nabiyyullah Ibrahim As, aku diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu.”

Kemudian Sayyidah Sarah duduk di sebelah kiri Sayyidah Aminah. Maka, wanita ketigapun kemudian mendekat dan menyampaikan berita gembira kepadanya;

………”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung Baginda Nabi Muhammad SAW Kekasih Allah SWT yang paling agung, dan insan sempurna yang paling utama mendapati pujian dari Allah SWT dan dari seluruh makhuk-Nya. Perlu engkau ketahui sesungguhnya aku adalah Asiyah binti Muzahim yang diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu”.

Kemudian sayyidah Asiyah binti Muzahim tersebut duduk di belakang Sayyidah Aminah. Sejenak Sayyidah Aminah semakin kagum, karena wanita yang ke empat adalah lebih anggun berwibawa dan memiliki kecantikan luar biasa. Kemudian mendekat kepada Sayyidah Aminah untuk menyampaikan kabar gembira;

………”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung Baginda Nabi Muhammad SAW yang dianugerahi Allah SWT berbagai macam mukjizat yang sangat agung dan sangat luar biasa, Beliaulah junjungan seluruh penghuni langit dan bumi, hanya untuk Beliau semata segala bentuk Sholawat (Rahmat Ta’dhim) Allah SWT dan Salam Sejahtera-Nya yang sempurna. Ketahuilah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku adalah Maryam Ibunda  Nabiyyullah Isa AS. Kami semua ditugaskan Allah SWT untuk menemanimu demi menyambut kehadiran Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Kemudian Sayyidah Maryam Ibunda Nabiyyullah Isa AS duduk mendekatkan diri di depan Sayyidah Aminah. Maka, keempat wanita suci mulia nan agung di sisi Allah SWT tersebut kemudian merapat dan mengelilingi diri Ibunda Rasulullah Muhammad SAW Sayyidah Aminah Binti Wahab, sehingga Ibunda Rasulullah SAW semakin memuncak rasa kedamaian dan kebahagiaan dalam jiwanya. Kebahagiaan dan keindahan yang dialami oleh Ibunda Rasulullah SAW saat itu, tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata. Dan peristiwa demi peristiwa yang sangat agung, semakin Allah SWT limpahkan demi penghormatan besar kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Keajaiban berikutnya adalah Sayyidah Aminah melihat sekelompok demi sekelompok manusia bercahaya saling berdatangan  silih berganti memasuki ruangan Sayyidah Aminah dan mereka memanjatkan puja puji dan tasbih kepada Allah SWT dengan berbagai macam bahasa yang berbeda-beda.

Detik berikutnya adalah Sayyidah Aminah melihat atap rumahnya terbuka dan terlihat oleh Beliau berbagai macam bintang-bintang di angkasa raya yang sangat indah berkilauan yang saling berterbangan di langit ke segenap penjuru angkasa yang sangat cerah dipenuhi cahaya.

Maka, detik berikutnya adalah Allah SWT perintahkan kepada Malaikat Ridlwan penjaga sorga agar mengomando semua bidadari sorga supaya berdandan rapi cantik jelita dan memakai segala macam bentuk perhiasan kain sutera dengan bermahkotakan emas, intan permata yang gemerlapan  dan menebarkan wewangian sorga yang harum semerbak ke segala arah demi menyambut kedatangan Baginda Nabi Muhammad SAW.

Selanjutnya, Allah SWT limpahkan mandat khusus kepada Malaikat Jibril AS untuk mengemban tugas agung dalam momen yang paling agung dan bersejarah bagi seluruh makhluk Allah SWT, Firman Allah SWT kepadanya;

يا جبريل صف راح الأرواح في أقداح الشراب يا جبربل انشر سجادات القرب والوصال لصاحب النور والرفعة والإتصال يا جبريل مر مالكا أن يغلق أبواب النيران يا جبريل قل لرضوان أن يفتح أبواب الجنان يا جبريل البس حلة الرضوان يا جبريل اهبط إلى الأرض بالملائكة الصافين والمقربين والكروبيين والحافين يا جبريل ناد في السموات والأرض في طولها والعرض قد آن أوان اجتماع المحب بالمحبوب والطالب بالمطلوب

Yang artinya kurang lebih;

“Hai Jibril, serukanlah kepada seluruh arwah suci para Nabi, para Rasul dan para Wali agar berkumpul berbaris rapi menyambut kedatangan Nabi Agung Muhammad SAW. Hai Jibril, bentangkanlah hamparan kemuliaan dan keagungan derajat Al-Qurb dan Al-Wishal kepada Nabi Agung Muhammad SAW yang memiliki Nur dan Maqam luhur di Sisi-Ku. Hai Jibril, perintahkanlah kepada Malik agar menutup semua pintu neraka. Hai Jibril, perintahkanlah kepada Ridlwan agar membuka seluruh pintu sorga. Hai Jibril, pakailah olehmu Hullah Ar-Ridlwan (pakaian khusus yang diliputi Keridloan-Ku) demi menyambut Kekasih-Ku Nabi Agung Muhammad SAW. Hai Jibril, turunlah ke bumi dengan membawa seluruh pasukan malaikat, para Malaikat Muqarrabin, para Malaikat Karubiyyin, para Malaikat yang selalu mengelilingi ‘Arasy, suruh mereka semua turun ke bumi dan berbaris rapi demi memuliakan dan  mengagungkan kedatangan Kekasih-Ku Nabi Agung Muhammad SAW.  Hai Jibril, kumandangkanlah seruan di seluruh penjuru langit hingga lapis ke tujuh dan di segenap penjuru bumi hingga lapisan paling dalam, beritakan kepada seluruh makhluk-Ku bahwa sesungguhnya …Sekarang telah tiba saatnya kedatangan Nabi akhir zaman, Nabi Agung kekasih Allah SWT, Baginda Nabi Muhammad SAW ………….

          Kemudian seketika itu pula Malaikat Jibril AS secepat kilat langsung melaksanakan seluruh mandat khusus dan agung dari Allah SWT tersebut. Serentak Beliau bawa seluruh pasukan malaikat turun ke bumi hingga memenuhi seluruh gunung-gunung  Makkah dan berbaris rapi meliputi seluruh tanah suci Makkah. Sayap-sayap mereka terlihat laksana mega-mega putih berkilauan memenuhi angkasa. Dan saat itu pula seluruh hewan-hewan yang ada di segenap penjuru di bumi, di lautan dan di angkasa bersuka cita demi menyambut kedatangan Baginda Nabi Muhammad SAW.

          Ibunda Rasulullah SAW Sayyidah Aminah berkata; Saat itu pula, dengan ijin Allah SWT, bisa terlihat jelas olehku gedung-gedung yang ada di Syiria dan Palestina. Aku juga melihat tiga pilar bendera yang dibawa oleh para malaikat. Yang satu ditancapkan di jagad timur, yang satu ditancapkan di jagad barat dan yang satunya lagi di atas Ka’bah Baitullah. Dalam keadaan yang dipenuhi oleh misteri segala keajaiban yang sedemikian rupa, seketika pula datang serombongan burung-burung bercahaya yang indah memenuhi ruanganku, datang silih berganti.  Paruh dan sayapnya adalah berupa mutiara zamrud dan yaqut yang indah sekali. Burung-burung tersebut menebarkan berbagai macam mutiara dan permata yang beraneka ragam indahnya di ruanganku. Setelah itu mereka serentak memanjatkan puja puji dan tasbih kepada Allah SWT. Dan aku lihat pula para malaikat datang bergerombolan dan silih berganti sambil membawa mabkharah (tempat dupa) berupa emas merah dan emas putih yang berisikan dupa-dupa wewangian sorga yang semerbak harum baunya memenuhi seluruh  jagad raya, sambil bergemuruh suara mereka mengucapkan sholawat dan salam kepada Nabi Agung Rasulullah Muhammad SAW. Seketika itu pula aku lihat bulan terbelah di atasku laksana qubah, dan bintang-bintang gemerlapan berjajar rapi di atas kepalaku laksana mata rantai emas intan permata. Dan tiba-tiba telah ada di sisiku secangkir minuman putih bening melebihi susu. Seketika aku meminumnya, dan terasa nikmat sekali, kelezatan manisnya melebihi gula dan madu, dan kesejukkannya melebihi salju (es). Maka seketika lepaslah segala dahagaku. Sangat terasa nikmat, segar dan lezat sekali yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Seketika cahaya yang luar biasa meliputi diriku. Kemudian, datanglah burung putih berkilauan cahaya mendekati dan mengusapkan sayapnya pada diriku. Saat itulah tanda-tanda kelahiran mulai aku rasakan dan aku bersandar pada para wanita yang ada di sekelilingku. Seketika lahirlah Nabi Agung akhir zaman, Kekasih Allah SWT yang sempurna, Rasulullah Muhammad SAW, dan saya tidak melihat kecuali hanya sinar cahaya yang sangat agung. Tidak lama kemudian, aku melihat putraku (Rasulullah Muhammad SAW) telah berada di sampingku terselimuti dengan sutera putih di atas hamparan sutera hijau dalam keadaan sujud mengiba ke hadirat Allah SWT dengan mengangkat jari telunjuknya. Dan saya mendengar Beliau Rasulullah SAW mengucapkan ;

ألله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا

……….”Allah Maha Besar dengan segala Keagungan-Nya, Segala Puji bagi Allah atas segala anugerah-Nya, Maha Suci Allah kekal abadi selama-lamanya………”

          Pada saat itulah semakin memuncak kegembiraan seluruh penghuni alam semesta. Para Malaikat, Para Nabi, Para Wali, Para bidadari sorga, seluruh makhluk-makhluk Allah SWT yang ada di daratan, di lautan di angkasa dan bahkan bumi, laut, udara, bintang-bintang, bulan, matahari, langit, kursiy dan Arasy, seluruhnya benar-benar meluapkan kegembiraan dan memuncakkan Sholawat Ta’dhim kepada Kekasih Allah SWT, Nabi Akhir Zaman, Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Dan bahkan Ka’bah Baitullah ikut bergetar selama 3 hari berturut-turut karena bahagia dan bangga menyambut kelahiran  Baginda Nabi Muhammad SAW.

          Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Maulid Ad-diba’iy Lil Imam Abdur Rahman Ad-Diba’iy hal 192 dan 193 ;

فاهتز العرش طربا واستبشارا وازداد الكرسي هيبة ووقارا وامتلأت السموات أنوارا وضجت الملائكة تهليلا وتمجيدا واستغفارا

Yang artinya kurang lebih;

“Sesungguhnya (pada saat kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW), ‘Arasy seketika gentar hebat luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, dan Kursiy juga semakin tambah kewibawaan dan keagungannya, dan seluruh langit dipenuhi cahaya yang bersinar terang dan para malaikat seluruhnya serentak bergemuruh memanjatkan tahlil, tamjid dan istighfar kepada Allah SWT dengan mengucapkan;

سبحان الله  والحمد لله  ولا إله إلا الله  والله أكبر أستغفر الله

Yang artinya kurang lebih;

“Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, Tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, saya beristighfar (memohon ampun) kepada Allah SWT..”

          Sesungguhnya dengan keagungan Beliau Baginda Rasulullah Muhammad SAW di sisi Allah SWT, maka Allah SWT telah memerintahkan kepada para malaikat-Nya yang agung yakni Malaikat Jibril, Malaikat Muqarrabin, Malaikat Karubiyyin, Malaikat yang selalu mengelilingi Arasy dan lainnya agar serentak berdiri pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW dengan memanjatkan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, dan Istighfar kepada Allah SWT.

          Semua fenomena keajaiban-keajaiban agung yang terjadi pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW yang diwujudkan oleh  Allah SWT, semata-mata hanya menunjukkan kepada semua makhluk-makhluknya Allah SWT bahwa Baginda Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang paling dicintai-Nya, makhluk yang paling agung dan mulia derajatnya di sisi-Nya.

          Dan riwayat-riwayat semua yang tersebutkan di atas, bukan sekedar cerita belaka, namun telah kami nukil data-datanya dari kitab-kitab para ulama ahlussunnah waljama’ah yang sangat akurat dan otentik. Diantaranya adalah Kitab Al-Hawi Lil Fatawi yang dikarang oleh Al-Imam Asy-Syaikh Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi yang telah mengarang tidak kurang dari 600 kitab yang dijadikan marja’ (pedoman) bagi para ulama ahlussunnah waljama’ah dalam penetapan hukum-hukum syariat Islam. Bahkan para ulama ahlussunnah waljama’ah telah sepakat menjuluki Beliau dengan gelar ‘Jalaaluddiin’ yakni sebagai pilar keagungan agama Islam.

          Bukan hanya dari kitab Beliau saja kami menukil, namun juga dari kitab-kitab para ulama ahlussunnah waljama’ah lainnya yang juga telah disepakati dan dijadikan sebagai sumber pedoman oleh para ulama. Diantaranya adalah Kitab Dalailun Nubuwwah Lil Imam Al-Baihaqi, Kitab Dalailun Nubuwwah Lil Imam Abu Na’im Al-Ashfahaniy, Kitab An-Ni’matul Kubra ‘Alal ‘Aalam Lil Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami, Kitab Sabiilul Iddikar Lil Imam Quthbul Ghouts Wad-Da’wah Wal-Irsyad Al-Habib Abdullah bin ‘Alawi Al-Haddad, Kitab Al-Ghurar Lil Imam Al-Habib Muhammad bin Ali bin Alawiy Khird Ba Alawiy Al-Husainiy, Kitab Asy-Syifa’ Lil Imam Al-Qadli ‘Iyadl Abul Faidl Al-Yahshabiy, Kitab As-Siirah An-Nabawiyyah Lil Imam As-Sayyid Asy-Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Hasaniy, Kitab Hujjatullah ‘Alal ‘Aalamin Lis Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhaniy…dan kitab-kitab lainya yang mu’tamad dan mu’tabar (diakui dan dijadikan pedoman oleh para ulama).

          Bagi para Ulama sholihin Ahlussunnah Waljama’ah telah sepakat untuk berdiri pada saat bacaan Maulid Nabi Muhammad SAW telah tiba pada Mahallul Qiyam (detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW). Mereka serentak berdiri demi mengikuti jejak para Malaikat, jejak arwah para Nabi dan jejak arwah para Wali untuk ta’dhim (mengagungkan) dan memuncakkan rasa cinta yang agung kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Mereka luapkan rasa syukur yang memuncak ke hadlirat Allah SWT atas nikmat/anugerah paling agung yang telah Allah SWT limpahkan dengan mengutus Kekasih-Nya sebagai Rahmat (Belas Kasih Sayang-Nya) untuk seluruh alam semesta. Mereka panjatkan puji-pujian yang agung kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW dengan bahasa sastra yang indah dan suara merdu yang dipenuhi dengan rasa rindu dan cinta yang tulus mulia kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

          Maka, sungguh sangat mulia sekali bagi kita sebagai umat yang sangat dicintainya untuk mengikuti jejak para ulama sholihin dengan serentak berdiri pada saat Mahallul Qiyam demi menyambut kedatangan Kekasih Allah SWT yang sangat mulia, Junjungan kita Baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Sebagai wujud ta’dhim dan kecintaan yang sangat tulus dari kita kepada Beliau Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Bukankah Beliau adalah Nabi kita yang sangat kita cintai…? Bukankah Beliau adalah yang kelak akan memberi pertolongan kepada kita sehingga selamat dari siksaan Allah SWT yang sangat pedih..? Bukankah Beliau adalah yang akan memberi syafaat kepada kita sehingga kita bisa memperoleh keridloan Allah SWT yang agung dan masuk ke dalam sorga-Nya yang dipenuhi dengan segala kenikmatan, keindahan dan kebahagiaan yang kekal abadi selama-lamanya….? Karena Beliau Rasulullah Muhammad SAW adalah Kekasih Allah SWT yang mana Allah SWT telah berjanji untuk tidak menolak segala  permintaan Beliau dan akan mengabulkan segala permohonannya. Dan janji ini telah ditetapkan Allah SWT dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Surat Adh-Dhuha ayat  5     ;

ولسوف يعطيك ربك فترضى ) الضحى 5   )

Yang artinya kurang lebih;

“Dan (sesungguhny) kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu (Nabi Muhammad SAW), lalu (hati) kamu menjadi puas”.

(Q.S. Adl-Dluha 5)

Sungguh sangat beruntung kita sebagai umat Islam yang benar-benar mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW dengan setulusnya. Maka, pada saat tiba ajal kita nanti, Baginda Nabi Muhammad SAW yang sangat kita cintai akan menolong kita dengan memohon kepada Allah SWT agar ditetapkan iman kita, diampuni segala dosa-dosa kita yang pernah kita lakukan dan diberi kemudahan menghadapi sakaratul maut. Bukan sekedar itu saja, bahkan pada saat menghadapi pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam barzakh, Beliau akan menolong kita. Dan berkat pertolongannya, seketika Allah SWT akan menjadikan kuburan kita sebagai “Raudlatun Min Riyaadlil Jinaan”, yakni sebagai taman diantara taman-taman sorga. Begitu pula pada saat di padang Mahsyar, kita akan dipersilahkan untuk meminum air telaganya dan bertemu dengan Beliau Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW beserta para ahli baitnya, para sahabatnya, dan juga bersama para wali Allah SWT, para orang-orang sholihin  dan bersama pula dengan orang-orang mukmin yang mencintainya. Dan seketika itu kita mendapati rasa aman. Tinggal menunggu saat tiba waktunya untuk masuk sorga bersama Rasulullah SAW, secara berbondong-bondong memasuki sorga Allah SWT yang dipenuhi dengan segala kenikmatan, keindahan, kedamaian, dan kebahagiaan yang kekal abadi selama-lamanya.

Bahwa sesungguhnya, besarnya perhatian Baginda Rasulullah Muhammad SAW kepada kita, dan agungnya ketulusan mahabbah (Belas Kasih Sayang)nya yang sempurna kepada kita, sehingga kita bisa mendapati limpahan Rahmat (Belas Kasih Sayang) Allah SWT dan ampunan-Nya, adalah  sangat banyak sekali data-data / dalilnya disebutkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Al-Hadis serta kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah. Sebagian diantara dalil-dalil tersebut adalah Firman Suci Allah SWT dalam Kitab Suci Al-Qur’anul Kariim Surat At-Taubah  ayat 128 ;

لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رءوف رحيم ( التوبة  128 )

Yang artinya kurang lebih;

“Sesungguhnya telah datang kepada kalian Seorang Rasul (Nabi Muhammad SAW), dari kaum kalian sendiri, (sungguh sangat) berat terasa olehnya (segala) penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin..” (Q.S. At-Taubah 128).

Dan sebagaimana juga yang telah disebutkan oleh Syeikh Ibrahim Al-Bajuri dalam kitabnya Syarah Nadlom Burdah lil-Imam Abu Said Al-Bushiri hal 62 yang menerangkan Firman Qudsiy Allah SWT kepada Baginda Nabi Muhammad SAW sebagai bisyarah (berita gembira) agung untuk umatnya……..

أنا لهم ما عاشوا وأنا لهم إذا ماتوا وأنا لهم في القبوروأنا لهم في النشور

Yang artinya kurang lebih;

“(Berbahagialah engkau wahai Nabi Muhammad SAW, Demi permohonan engkau kepada-Ku), Sesungguhnya Aku (Allah SWT) sendiri yang akan senantiasa mencukupi umatmu pada saat mereka masih hidup di dunia, dan pada saat mereka meninggal dunia, dan pada saat mereka di alam barzakh, dan pada saat mereka dibangkitkan di padang mahsyar..”

Dan juga telah disebutkan oleh Al-Imam Al-Habib Muhammad bin Ali bin Alawiy Khird  Ba Alawiy Al-Husainiy dalam kitabnya Al-Ghurar hal  473 bahwa ;

قال الإمام الحبيب محمد بن علي بن علوي خرد باعلوي الحسيني في الغرر ص 473

 قال النبي صلى الله عليه وسلم حبي وحب أهل بيتي نافع في سبعة مواطن أهوالهن عظيمة عند الوفاة وعند القبر وعند النشر وعند الكتاب وعند الحساب وعند الميزان وعند الصراط

Yang artinya kurang lebih;

“Baginda Rasulullah Muhammad SAW bersabda; Bahwa sesungguhnya orang yang sungguh-sungguh mencintaiku dan keluargaku dengan tulus, akan mendapati limpahan Belas Kasih Sayang Allah SWT pada tujuh tempat yang situasi dan kondisinya penuh dengan segala petaka yang dahsyat menakutkan, yaitu pada saat menjelang ajal, pada saat di alam barzakh, pada saat bangkit dari kubur, pada saat pembagian kitab catatan amal, pada saat hisab (pertanggung jawaban amal perbuatan), pada saat mizan (ditimbangnya segala amal perbuatan), dan pada saat shirat (melewati titian/ jembatan) di atas neraka menuju sorga”.

Semua keutamaan ini, semata-mata adalah berkat permohonan Baginda Nabi Muhammad SAW untuk umatnya yang benar-benar tulus mencintainya dan juga cinta kepada ahli bait dan shahabatnya. Dan begitu pula disebutkan dalam kitab dan halaman yang sama;

قال النبي صلى الله عليه وسلم يرد الحوض أهل بيتي ومن أحبهم من أمتي كهاتين السبابتين

Yang artinya kurang lebih;

“(Baginda Rasulullah Muhammad SAW bersabda; (Sesungguhnya kelak pada hari kiamat), ahli bait (keluarga)ku dan umatku yang tulus mencintai mereka akan selalu berdampingan menuju telagaku bagaikan kedua jari ini (jari telunjuk dan tengah)”.

Begitu pula yang telah disebutkan oleh Al-Imam Al-Hafidh Abul Fadll ‘Iyadl bin Musa Al-Yahshabiy dalam kitabnya Asy-Syifaa Bi Ta’riifi Huquuqil Mushthafa hal 157;

قال الحافظ أبو الفضل عياض بن موسى اليحصبي في الشفا بتعريف حقوق المصطفى ص 150

عن أنس رضي الله عنه أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال متى الساعة يا رسول الله  ؟ قال ما أعددت لها ؟ قال ما أعددت لها من كثير صلاة ولا صوم ولا صدقة  ولكني أحب الله ورسوله قال أنت مع من أحببت

Yang artinya kurang lebih;

“Shahabat Anas bin Malik Radliyallahu ‘Anhu berkata; Bahwa sesungguhnya ada seorang sahabat yang datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya; “Ya Rasulullah, kapankah kiamat akan tiba?”.Baginda Nabi SAW balik bertanya; “Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapi hari kiamat?”.Shahabat tersebut berkata lagi; “Ya  Rasulullah, aku tidak (mengandalkan) dengan banyaknya sholatku, banyaknya puasaku, banyaknya shodaqahku, namun (yang aku andalkan adalah) aku sungguh-sungguh mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya”. Maka Baginda Rasulullah SAW lantas menjawab; “(Ketahuilah olehmu wahai shahabat), sesungguhnya kamu kelak akan senantiasa bersama orang yang benar-benar kamu cintai “.

Dan disebutkan pula dalam kitab tersebut di atas (Asy-Syifa) hal. 176

وروي أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله لأنت أحب إلي من أهلي ومالي وأني لأذكرك فما أصبر حتى أجيء فأنظر إليك وإني ذكرت موتي وموتك فعرفت أنك إذا دخلت الحنة رفعت مع النبيين وإن دخلتها لا أراك فأنزل الله تعالى- ومن يطع الله والرسول فأولئك مع الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا – النساء 69

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa sesungguhnya telah datang seorang shahabat kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW dan berkata; “Ya Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala-galanya. Di manapun aku berada, aku senantiasa rindu kepadamu dan ingin bertemu denganmu Ya Rasulullah. Namun setelah engkau wafat (kelak) dan aku juga meninggal dunia, sementara engkau telah berada di puncak sorga Firdaus yang tinggi bersama para Nabi, sedangkan aku, walaupun masuk sorga, apakah aku masih bisa menjumpaimu Ya Rasulullah..?…Maka turunlah Firman Allah SWT……… Surat An-Nisaa’ ayat 69.

ومن يطع الله والرسول فأولئك مع الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا – النساء 69

Yang artinya kurang lebih;

……….”Dan barang siapa yang menta’ati Allah SWT dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah SWT, yaitu, Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya..”(Q.S. An-Nisa’ 69).

          Demikianlah anugerah-anugerah agung yang dilimpahkan Allah SWT kepada umat Islam yang benar-benar cinta kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Namun, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Qodli ‘Iyadl dalam kitabnya Asy-Syifa hal 158 Bahwa orang yang benar-benar tulus mencintai Baginda Rasulullah Muhammad SAW, syaratnya harus mengikuti jejaknya, meneladani prilakunya, menghidupkan sunah ajaran dan syiarnya, mencintai ahli baitnya dan menghormati seluruh shahabatnya. Semoga kita semua termasuk orang yang benar-benar cinta sejati dengan tulus kepada Baginda Nabi Muhammad SAW beserta seluruh ahli bait dan shahabatnya serta bisa meneladani prilaku dan jejak-jejak mereka…

أللهم اجعلنا من الصادقين في حبك وحب نبيك سيدنا وحبيبنا وقرة أعيننا محمد صلى الله عليه وسلم وحب آل بيته الطيبين المطهرين وحب أصحابه أجمعين واحشرنا معهم تحت لواء سيد الأولين والآخرين وأدخلنا الجنة مع النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا وصلى الله على سيدنا محمد النبي الآمي وعلى آله وصحبه أجمعين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

……..Ya Allah Tuhan kami, anugerahilah kami semua untuk bisa mencintai dengan sesungguh-sungguhnya kepada Junjungan kami Baginda Nabi Besar Muhammad SAW, dan kepada seluruh ahli baitnya yang suci nan mulia, dan kepada seluruh sahabatnya. Ya Allah, anugerahilah kami kelak pada hari kiamat berada di bawah naungan bendera Junjungan kami Baginda Nabi Muhammad SAW, dan masukkanlah kami ke sorga-Mu beserta rombongan para Nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan shalihin. Karena, merekalah teman-teman sejati yang sesungguhnya. Ya Allah…Limpahkanlah Sholawat dan Salam-Mu kepada Junjungan kami Baginda Nabi Muhammad SAW beserta seluruh keluarga dan shahabatnya. Ya Allah… Sungguh segala puji hanya bagi-Mu semata Ya Allah Tuhan alam semesta…..”

KEUTAMAAN MAULID BAGINDA NABI MUHAMMAD SAW DAN HIMBAUAN BAGI UMAT ISLAM UNTUK  MERAYAKANNYA

Dengan adanya seluruh data-data yang konkrit dan akurat tersebut di atas, maka perlu diketahui, bahwa  sesungguhnya kelahiran Beliau Baginda Rasulullah SAW adalah suatu nikmat yang paling agung yang Allah SWT anugerahkan khusus untuk kita semua umat Islam. Berkat jasa-jasa Beliau semata, kita telah dipilih oleh Allah SWT untuk mendapati berbagai limpahan Rahmat Belas Kasih Sayang Allah SWT di dunia, di alam barzakh, di padang makhsyar dan di akhirat kelak. Sungguh hanya karena syafaat Beliau semata, kita kelak bisa mendapati segala kebahagiaan, kenikmatan, kedamaian, kelezatan, kesenangan yang abadi dan kedudukan yang tinggi di sorga Allah SWT yang kekal abadi selama-lamanya. Intinya, segala anugerah dan kenikmatan yang kita dapati, baik di dunia maupun di akhirat, semata-mata adalah berkat permohonan Junjungan Kita Baginda Nabi Muhammad SAW kepada Allah SWT.

Maka, sungguh benar-benar sangat pantas dan wajar sekali, serta alangkah mulianya apabila kita yang sebagai umat yang sangat dicintainya dengan bangga dan senang hati setulus-tulusnya mengagungkan dan merayakan Maulid Junjungan kita Baginda Nabi Muhammad SAW. Dan juga saling berlomba dalam kebajikan ( dengan mengorbankan waktu, tenaga, fikiran dan materi) dengan tulus ikhlas untuk menyelenggarakan dan mensyiarkan  maulid Baginda Nabi Muhammad SAW  serta menyambut, menghormati dan menjamu tamu-tamu agung Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Adakah kebajikan yang lebih utama dan lebih mulia dari pada menjamu dan menghormati tamu-tamu Rasulullah Muhammad SAW …?

          Maka, sungguh sangat mulia dan indah sekali bila perayaan maulid tersebut benar-benar dilaksanakan dengan tulus ikhlas demi mengikuti anjuran dan prilaku para ulama sholihin, sebagai wujud ungkapan rasa syukur yang agung kepada Allah SWT serta sebagai ta’dhim (penghormatan) dan cinta yang tulus sejati kepada junjungan dan pemimpin agung kita Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Dan sungguh sangat indah sekali apabila seorang ayah/orang tua senantiasa memperhatikan anak-anaknya dengan memahamkan kepada anak-anaknya tentang keutamaan-keutamaan Baginda Nabi Muhammad SAW serta keutamaan-keutamaan wali-wali Allah SWT agar anak-anaknya mencintainya serta senantiasa condong untuk meneladaninya. Dan juga mengajak mereka untuk menghadiri perayaan  Haul seorang Waliyyullah, serta menghadiri perayaan Isra’ Mi’raj dan Maulidnya Junjungan kita Baginda Nabi Muhammad SAW, agar terlimpahkan Rahmat (Belas Kasih Sayang) Allah SWT kepada mereka sehingga kelak menjadi anak-anak yang sholeh yang taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya serta berbakti kepada kedua orangtuanya.

Dan bagi ibu-ibu rumah tangga hendaklah senantiasa mempelajari sirah/ sejarah Baginda Nabi Muhammad SAW serta sirah/sejarah istri-istrinya dan putri-putrinya Baginda Rasulullah Muhammad SAW yang sangat suci mulia, dan mengajarkan semua itu kepada putri-putrinya sehingga benar-benar  mengenal Baginda Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya  dan mencintainya sampai dijadikan idolanya serta  ketagihan untuk selalu bersholawat kepada Beliau Baginda Nabi Muhammad SAW. Karena sesungguhnya orang yang bersholawat satu kali saja kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, maka Allah SWT akan melimpahkan sepuluh Rahmat-Nya kepada orang tersebut. Dan jika Rahmat Allah SWT terus menerus melimpah, maka bisa dipastikan bahwa si anak gadis tersebut   akan mendapati taufiq dan hidayah dari Allah SWT sehingga tumbuh menjadi ‘mar’ah sholihah’ (wanita sholihah) yang senantiasa taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, patuh pada orang tuanya dan selalu berbakti kepada suaminya.

Oleh sebab itulah, setelah kita mengetahui keutaman-keutaman Baginda Nabi Muhammad SAW di Sisi Allah SWT, maka demi untuk mengungkapkan ketulusan cinta kita yang sesungguhnya kepada Baginda Nabi Muhamnmad SAW, serta kebanggaan kita sebagai umat yang dikasihinya, dan sebagai wujud rasa syukur kita kepada Allah SWT atas anugerahnya yang paling agung ini., maka kita panggil  saudara-saudara muslim kita untuk berkumpul di suatu majlis suci nan terhormat yang disitu dibacakan maulid agung Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Kita bacakan sirah/ sejarah perjalanan kehidupannya yang indah laksana mutiara yang tiada duanya. Kita lantunkan qashidah-qashidah dan puji-pujian yang mulia untuknya dengan hati dan jiwa yang meluap penuh dengan kegembiraan dan rindu  yang mendalam kepadanya. Kita lepaskan segala pikiran duniawi. Yang ada saat itu adalah kita maksimalkan hati dan pikiran kita penuh dengan pengagungan dan kerinduan yang memuncak kepada Junjungan kita Baginda Nabi Muhammad SAW  dengan suasana yang penuh khidmat, ta’dhim, berpakaian sopan nan rapi serta memakai minyak wangi, bukhur atau wangi-wangian yang semerbak harum baunya, sehingga kita benar-benar bisa hudlur merasakan bahwa kita benar-benar  telah bersimpuh dan menghadap di depannya. Dan Alhamdulillah, para habaib dan ulama kita telah menghadiahkan kepada kita rangkuman karangan mereka berupa kitab-kitab maulid yang sangat indah dan agung sekali yang didalamnya tercantum berbagai macam kemuliaan dan keagungan Baginda Nabi Muhammad SAW di Sisi Allah SWT yang disertai dengan data-data dari Ayat-ayat Kitab Suci Al-Qur’an dan hadis-hadis Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Diantaranya adalah:

Ø     شرف الأنام مولد Maulid Syaraful Anam,

Ø     مولد الديبعي Maulid Diba’ Lil-Imam Abdur Rahman Ad-Diba’i,

Ø     مولد سمط الدرر Maulid Simtud Duror Lil-Habib Al-‘Arif Billah Ali bin Muhammad Al-Habsyi

Ø     مولد الضياء اللامع Maulid Adl-Dliyaa’ul Laami’ Lil-Habib Ad’Da’i Ilallah Umar bin Hafidz, dan kitab-kitab maulid lainnya. Yang mana apabila kita baca salah satu saja dari kitab-kitab maulid tersebut, insyaAllah kita akan mendapati keberkahan dan limpahan Rahmat Belas Kasih Sayang Allah SWT berkat Junjungan kita Baginda Nabi Muhammad SAW.

Sesungguhnya para auliya’ dan ulama sholihin telah menganjurkan kepada kita agar melestarikan bacaan Kitab Maulid tersebut pada acara-acara pengantin (saat akan dilaksanakan akad nikah), pada acara khitan, pada saat mau perpindahan rumah, dan pada acara ‘Walimatut Tasmiyah’ yakni memberi nama pada seorang bayi yang telah lahir, agar acara tersebut dilimpahi keberkahan oleh Allah SWT.

Dan seyogyanya pula kita jangan tergesa-gesa untuk berprasangka buruk kepada saudara-saudara kita kaum muslimin yang tidak menghadiri acara maulid Nabi Muhammad SAW , justru hendaknya kita berprasangka baik kepada mereka. Mungkin mereka ada kesibukan lain yang menghalangi untuk menghadirinya, atau ada kemungkinan mereka belum mengetahui keutamaannya. Maka di sinilah tugas kita untuk memberitahu tentang keutamaannya agar mereka bisa mendapati apa yang kita dapati dari keutamaan-keutamaan maulid tersebut.

 Kecuali bagi orang-orang yang terang-terangan ingkar dengan acara maulid Nabi Muhammad SAW, maka hal itu sangat berbahaya sekali baginya, dikhawatirkan dia tidak mendapatkan Rahmat dari Allah SWT. Karena Rahmat Allah SWT semua di alam semesta, datangnya adalah semata-mata melalui Baginda Nabi Muhammad SAW sebagaimana Firman Allah SWT;

وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين )  الأنبياء 107 (

Yang artinya kurang lebih

“Sesungguhnya, tidaklah Kami (Allah SWT) mengutusmu (wahai Nabi Muhammad SAW) melainkan untuk (menjadi) Rahmat (Belas Kasih Sayang) bagi alam semesta”

(Q.S. Al-Anbiya’ 107)

Dan bagi para panitia yang bertugas mulia untuk menyelenggarakan acara Maulid Nabi Muhammad SAW, maka demi untuk membahagiakan Baginda Rasulullah Muhammad SAW, sungguh sangat mulia sekali apabila mereka menyediakan juga tempat yang khusus bagi kaum wanita, sehingga mereka (para wanita) tidak berkumpul/berdesakan dengan laki-laki serta tidak dipandang oleh laki-laki yang bukan muhrimnya. Karena hal ini (kumpulnya laki-laki dan wanita yang bukan muhrimnya) adalah sangat mengecewakan Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Dan hendaknya pula panitia tersebut tidak menerima sumbangan selain yang jelas-jelas diberikan dengan sukarela. Karena sumbangan yang diberikan dengan ikhlas maka akan menjadi barokah dan obat. Sebaliknya jika sumbangan tersebut datangnya dari orang yang terpaksa maka akan menjadi racun dan penyakit, apalagi kalau sumbangan tersebut dari uang haram.

Sementara bagi para kaum wanita yang berhalangan hadir, juga bisa ikut andil dan ambil bagian dalam acara maulid tersebut, dengan membikin berbagai macam makanan, kue-kue dan minuman yang sekedarnya (tidak berlebihan/memaksakan di luar batas kemampuannya), dan diniati untuk menjamu kepada tamu-tamunya Rasulullah SAW . Karena mereka tidak hadir pada perayaan maulid, kecuali demi untuk mengagungkan dan cinta kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Dan bagi panitia yang betul-betul mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW dengan setulus-tulusnya, hendaknya menyempurnakan acara tersebut dengan memanggil seorang alim yang sholih agar memberikan penjelasan khusus tentang keagungan dan kemuliaan Rasulullah Muhammad SAW, sehingga mauidloh-mauidlohnya bisa benar-benar bermanfaat bagi umat, khususnya pada generasi muda Islam agar mereka bisa benar-benar mengenal dengan sesungguhnya kepada keagungan pribadi Rasulullah Muhammad SAW, sampai kepribadian Baginda Rasululllah Muhammad SAW melekat di hati mereka dan mereka hanya mengidolakan Baginda Rasululllah Muhammad SAW dalam kehidupannya, sampai tergerak hatinya untuk bersemangat dan tulus meneladani serta mengikuti prilaku Baginda Rasulullah Muhammad SAW dalam menuju kepada keridloan Allah SWT. Maka, apabila hal itu tidak dilakukan oleh Da’i (penceramah) tersebut, apalagi kalau pidatonya dipenuhi dengan senda gurau yang bisa menghilangkan kharisma keagungan maulid Nabi Besar Muhammad SAW, sungguh hal itu akan mengecewakan baginda Nabi Muhammad SAW dan  para hadirin (tamu-tamu Rasulullah maSAW), yang jauh-jauh hadir semata-mata hanya ingin mengenal sirah/sejarah Baginda Nabi Muhammad SAW.

Maka mereka semua, baik panitia yang bekerja keras untuk menyukseskan acara maulid, atau para donator yang memberi infaq dengan ikhlas sukarela, ataupun yang datang meninggalkan segala urusan duniawinya, ataupun para panitia dan ibu-ibu/ wanita yang membuat makanan/minuman di dalam rumahnya untuk menjamu tamu-tamu Rasulullah Muhammad SAW, semuanya tanpa terkecuali akan mendapati segala keistimewaan-keistimewaan dan keberkahan-keberkahan Maulid Agung Baginda Nabi Muhammad SAW. Sabda Baginda Nabi Muhammad SAW;

من عظم مولدي كنت شفيعا له يوم القيامة

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa sesungguhnya, barang siapa yang mengagungkan maulidku, maka kelak (pada hari kiamat) aku (Nabi Muhammad SAW, tidak akan mengecewakan mahabbahnya, namun aku) akan memberi syafaat kepadanya pada hari kiamat (agar diampuni dosa-dosanya sampai masuk sorganya Allah SWT)”.

Sebagaimana pula yang disebutkan pula oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy di kitabnya An-Ni’matul Kubra ‘Alal-‘Aalam hal  9 :

قال الإمام شهاب الدين أحمد بن حجر الهيتمي الشافعي في النعمة الكبري على العالم ص 9

قال الإمام محمد بن إدريس الشافعي رحمه الله : من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءته بعثه الله يوم القيامة مع الصديقين والشهداء والصالحين ويكون في جنات النعيم

Yang artinya kurang lebih;

“Imam Syafi’i Rahimahullah. berkata; barang siapa yang mengundang saudara-saudaranya untuk mengadakan Maulid Nabi Muhammad SAW, menyuguhkan makanan dan menyediakan tempat untuk mereka dengan ikhlas. Dan disitu dilaksanakan amalan-amalan/ bacaan-bacaan untuk mengagungkan Nabi Muhammad SAW. Maka orang tersebut (yang menjadi sebab untuk diadakannya Maulid Nabi Muhammad SAW), kelak pada hari kiamat akan dikumpulkan oleh Allah SWT beserta para shiddiqin, syuhada’ dan sholihin dan akan dimasukkan ke sorga Allah SWT yang dipenuhi dengan  segala kenikmatan yang abadi”. 

Dalam kitab yang sama hal 10 disebutkan;

قال الإمام السري السقطي قدس الله سره : من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد قصد روضة من رياض الجنة لأنه ما قصد ذلك الموضع إلا لمحبة النبي صلى الله عليه وسلم وقد قال صلى الله عليه وسلم من أحبني كان معي في الجنة

Yang artinya kurang lebih:

“Imam Sirri As-Siqthiy Rahimahullah. berkata; barang siapa yang mendatangi tempat untuk merayakan Maulid Baginda Nabi Muhammad SAW, maka sesungguhnya dia telah menuju tempat yang merupakan taman diantara taman-taman sorga. Karena dia tidak menuju tempat tersebut kecuali karena cinta kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Karena sesungguhnya Baginda Nabi Muhammad SAW telah bersabda;

من أحبني كان معي في الجنة

“Sesungguhnya, barang siapa yang benar-benar tulus mencintaiku (Baginda Nabi Muhammad SAW), maka kelak dia akan di sorga bersamaku”.

Dalam kitab yang sama hal 10 disebutkan;

قال الإمام جلال الدين السيوطي قدس الله سره ونور ضريحه :ما من بيت أو مسجد أو محلة قرئ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم إلا حفت الملائكة ذلك البيت أوالمسجد أو المحلة وصلت الملائكة على أهل ذلك المكان وعمهم الله تعالى بالرحمة والرضوان

Yang artinya kurang lebih:

“Imam Jalaluddin As-Suyuthi Rahimahullah. Berkata; Sesungguhnya tempat mana saja, baik itu masjid, rumah ataupun tempat lainnya, di situ dibacakan maulid Baginda Nabi Muhammad SAW, maka seketika para malaikat akan datang mengelilingi tempat tersebut untuk  mendoakan kepada seluruh orang yang hadir, sehingga Allah SWT melimpahkan Rahmat (Belas Kasih Sayang) dan Keridloan-Nya kepada mereka semua”.

Dan diantara tanda-tanda cinta kepada Baginda Nabi Muhammad SAW adalah sering menyebut namanya dengan selalu bersholawat kepadanya. Sebagaimana yang disebutkan oleh  Seorang Waliyyullah Besar Al-‘Alim Al-‘Allamah Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Hasaniy di kitabnya As-Sirah Nabawiyyah juz 3 hal 106;

قال الشيخ أحمد بن زيني دحلان الحسني في السيرة النبوية الجزء الثالث ص 106

ومن علامة محبته  صلى الله عليه وسلم كثرة ذكره وكثرة الصلاة عليه فمن أحب شيئا أكثر من ذكره 

Yang artinya kurang lebih;

“Bahwa sesungguhnya diantara tanda orang yang benar-benar mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW, adalah dia akan senantiasa menyebut namanya dan selalu bersholawat kepadanya. Karena orang yang mencintai sesuatu pasti dia akan selalu menyebut dan mengingatnya”.

Maka, marilah kita perbanyaki mengingat dan menyebut-nyebut sirah atau sejarah prilaku Junjungan kita Baginda Nabi Muhammad SAW sebagai keteladanan utama kehidupan kita serta kita perbanyaki membaca sholawat dengan hudlur dan ta’dhim (mengagungkan) kepada Baginda Nabi Muhammad SAW…Karena banyak sekali hadis-hadis yang menerangkan bahwa sesungguhnya tidak ada penawar untuk membersihkan hati yang kotor sehingga menjadi baik kecuali dengan  memperbanyaki bersholawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW dari hati yang penuh dengan cinta dan mengagungkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Syeikh Abdullah Sirajuddin di kitabnya Ash-Sholat ‘Alan-Nabiy SAW hal 110;

قال الشيخ عبد الله سراج الدين في الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ص 110

روى ابن أبي شيبة وأبو الشيخ وغيرهما عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” صلوا علي فإن الصلاة علي زكاة لكم “

Yang artinya kurang lebih;

“Baginda Rasulullah Muhammad `SAW bersabda; Perbanyakilah oleh kalian (hai umatku) membaca sholawat kepadaku. Karena sesungguhnya sholawat kalian kepadaku adalah untuk membersihkan diri kalian  (dari sifat-sifat yang keji (sombong, ujub, riya, dengki, hasud dll..), bahkan bisa melebur dosa-dosa kalian.)”.

بالله التوفيق والهداية . من يهد الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له  . وحسبنا الله ونعم الوكيل ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

Yang artinya kurang;

“Hanya Allah SWT yang memberi taufiq dan hidayah. (Sesungguhnya) barang siapa yang telah diberi petunjuk oleh Allah SWT, maka tidak ada seorangpun yang bisa menyesatkan, dan barang siapa yang ditaqdirkan tersesat oleh Allah SWT, maka tidak ada seorangpun yang bisa memberinya hidayah. (Sungguh) kami hanya pasrah kepada Allah SWT Dzat yang mencukupi kita semua, dan Dia-lah sebaik-baiknya Dzat yang mewakili.Dan tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan izin Allah SWT..”  

Dan apabila dalam rangkuman kami ini ada kesalahan dalam penulisan kata-kata ataupun kekhilafan dalam menerjemahkan lafadz, maka kami memohon maaf yang sebesar-besarnya.

Semoga Allah SWT memberikan Taufiq, Hidayah serta kemudahan-Nya kepada kami agar bisa melanjutkan sebagian dari sejarah Baginda Rasulullah Muhammad SAW sebagai pelengkap kitab ini, dari lahirnya sampai akhir hayat Beliau Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Dan akan kami fokus dalam menceritakan agungnya peristiwa Isra’ Mi’raj Baginda Nabi Muhammad SAW.

Dan kami tutup rangkuman kitab ini dengan sholawat kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW;

أللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد بقدر حبك فيه وزدنا يا مولانا حبا فيه وبجاهه عندك فرج عنا ما نحن فيه إلهنا لا نسألك رد القضاء بل نسألك اللطف فيه وعلى آله وصحبه عدد خلق الله بدوام ملك الله

Ya Allah, limpahkanlah selalu Sholawat (Rahmat Ta’dhim), Salam Sejahtera dan Keberkahan-Mu kepada Junjungan kami Baginda Nabi Muhammad SAW sebanyak Keagungan Cinta-Mu padanya. Dan anugerahilah kami untuk semakin meningkat kecintaan kami padanya. Ya Allah Sesembahan kami. Demi keagungan derajatnya di Sisi-Mu, lapangkanlah segala kesulitan yang menimpa kami. Ya Allah Tuhan kami. Sungguh kami tidak memohon untuk menolak Qodlo’ Qodar-Mu. Namun  limpahkanlah keringanan dan Belas Kasih Sayang-Mu terhadap segala ketentuan/ketetapan-Mu kepada kami. Ya Allah limpahkanlah pula Sholawat, Salam dan Keberkahan-Mu kepada seluruh keluarga dan shahabat Baginda Nabi Muhammad SAW sebanyak bilangan makhluk-makhluk-Mu dan sekekal keabadian Kekuasaan-Mu……….

اللهم صل على نورالأنوار وسر الأسرار وترياق الأغيار ومفتاح باب اليسار سيدنا محمد المختار  وآله الأطهار وأصحابه الأخيار عدد نعم الله وإفضاله 

“Ya Allah, limpahkanlah selalu Sholawat (Rahmat Ta’dhim)-Mu kepada Junjungan kami Baginda Nabi Muhammad SAW, Nabi Agung yang  sebagai sumber segala cahaya dan sebagai sumber segala rahasia alam malakut dan Nabi Agung yang sebagai obat/penyejuk hati dari sagala-galanya, dan sebagai kunci atas segala kemudahan. Beliaulah Baginda Nabi Muhammad SAW Kekasih-Mu yang telah Engkau pilih dari seluruh makhluk-Mu. Dan limpahkanlah pula Sholawat-Mu kepada para keluarganya yang suci nan mulia dan seluruh shahabatnya yang sangat jujur dan setia sebanyak anugerah yang Engkau limpahkan kepada semua makhluk-makhluk-Mu”.

نور المصطفى

نور المصطفى  ملأ الاكـوان     j    حبيبي محمد  خير المرسلين

الله  الجلال أعطاك  الجـمــال    j    يا شمس الكمال يا نور العين

نورك الوضاح مالك الأرواح    j    كم محب راح إلى الحرميــن

كفاك فضلا في العلى الأعلـى    j   دنـا  فتـدلى  قـاب  قـوسـيــن

يا ألله  يا بديـع  بلغنـا  جميـع     j   حضرة الشـفيع خير الثـقلــين

يا خير معطي أوصل صـلاتي  j     للسر  الذاتي  نـور الكـونــين

Duhai Baginda Rasulullah SAW…..

Sungguh…. cahayamu telah meliputi seluruh alam semesta

Engkaulah Junjungan dan Pujaan hati kami

Engkau Rasul Pilihan Kekasih Allah SWT

Duhai Baginda Rasulullah SAW…..

Allah SAW Dzat Yang Maha Agung

Telah melimpahkan keindahan dan kemuliaan yang sempurna kepadamu

Engkaulah mataharinya semesta  alam yang sesungguhnya

Hanya Engkaulah yang membawa kedamaian sejati kepada kami..

Duhai Baginda Rasulullah SAW…

Cahayamu yang terang benderang

Telah meliputi seluruh alam ‘Arwah’

Betapa banyak kafilah datang berbondong-bondong

Membawa cinta suci nan mulia menuju tanah suci Makkah dan Madinahmu…

Duhai Baginda Rasulullah… SAW

Telah cukup sebagai kemulian dan keagunganmu

Hanya Engkaulah  yang paling dekat di sisi Allah SWT di maqom yang paling tinggi

Ya Allah Dzat Yang Maha Menciptakan segala sesuatu

Anugerahilah kami untuk bisa sampai di sisinya dan mendapati syafaat darinya

Nabi Agung yang paling mulia dari seluruh makhluk –makhluk Allah SWT

Ya Allah Dzat Yang Maha Memberi…sampaikanlah pujaan sholawat dan salamku

Kepada Pemimpin Agung Junjungan Kami

Yang memiliki segala sumber rahasia-rahasia dan segala cahaya  alam semesta

Baginda Rasulullah Muhammad SAW……………

TELADANILAH KEINDAHAN BUDI PEKERTI NABI MUHAMMAD SAW.

Berikut ini adalah sebagian dari indahnya akhlak dan sifat Nabi shollallohu alaihi wasallam, dinukil dari kitab Mukhtashor Minhajul Qoshidin.

كان رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم أحلم الناس، واسخي الناس، وأعطف الناس.

Rasullloh shollallohu alaihi wasallam adalah manusia paling dermawan, paling pemurah, dan paling pengasih.

وكان يخصف النعل، ويرقع الثوب، ويخدم في مهنة أهله.

Beliau memperbaiki sandalnya sendiri, menjahit bajunya dan membantu pekerjaan rumah keluarganya.

وكان أشد حياء من العذراء في خدرها.

Beliau sangat pemalu, lebih pemalu daripada seorang gadis yang berada dalam biliknya.

وكان يجيب دعوة المملوك، ويعود المرضى، ويمشى وحده، ويردف خلفه، ويقبل الهدية، ويأكلها، ويكافئ عليها، ولا يأكل الصدقة، ولا يجد من الدقل ما يملأ بطنه، ولم يشبع من خبز بر ثلاثة أيام تباعاً.

Beliau memenuhi undangan dari seorang budak, mengunjungi orang2 sakit, berjalan sendirian, memboncengkan di belakangnya, menerima hadiah, memakannya dan membalasnya. akan tetapi beliau tidak memakan harta zakat, tidak pernah ada kurma paling jelek yang memenuhi perutnya dan tidak pernah kenyang dengan sepotong roti selama 3 hari berturut-turut.

وكان يعصب على بطنه الحجر من الجوع.

Beliau memasang batu di perutnya untuk menahan rasa lapar.

وكان يأكل ما حضر، وما عاب طعاماً قط.

Beliau memakan apa yang ada dan tidak pernah mencela makanan.

وكان لا يأكل متكئاً، ويأكل مما يليه.

Beliau tidak pernah makan dengan bersandar dan makan sesuatu yang ada di dekatnya.

وكان أحب الطعام إليه اللحم، ومن الشاة الكتف، ومن البقول الدباء، ومن الصبغ الخل، ومن التمر العجوة.

Makanan yang paling di sukai beliau adalah daging, bagian dari kambing yang disukai adalah punggungnya, sayuran yang paling beliau sukai adalah labu, lauk pauk yang beliau sukai adalah cuka dan kurma yang paling beliau sukai adalah ‘ajwah.

وكان يلبس ما وجد، مرة برد حبرة، ومرة جبة صوف.

Beliau mengenakan pakaian yang ada, terkadang mengenakan baju bertudung dan terkadang pula mengenakan jubah dari wol.

ويركب تارة بعيراً وتارة بغلة، وتارة حماراً، ويمشى مرة راجلاً حافياً.

Terkadang beliau menegndarai unta, terkadang kuda peranakan, terkadang keledai dan terkadang berjalan dengan telanjang kaki.

وكان يحب الطيب، ويكره الريح الخبيثة.

Beliau menyukai wewangian dan membenci bau tak sedap.

ويكرم أهل الفضل، ويتألف أهل الشرف.

Beliau menghormati orang yang mempunyai keutamaan dan berlemah lembut terhadap orang2 yang mulia.

ولا يجفو على أحد، ويقبل معذرة المعتذر إليه.

Beliau tidak pernah berbuat kasar kepada seorangpun dan menerima alasan orang yang meminta izin kepadanya.

يمزح ولا يقول إلا حقاً، يضحك في غير قهقهة، لا يمضى عليه وقت في غير عمل لله تعالى، أو فيما لابد منه من صلاح نفسه.

Beliau bercanda dan tidak pernah berkata kecuali kebenaran. Beliau tertawa tanpa terbahak-bahak dan tidak pernah menyisihkan waktu selain untuk beramal karena Allah ta’ala, atau perbuatan untuk mencukupi kebutuhannya.

وما لعن امرأة ولا خادماً قط.

Beliau tidak pernah menghardik wanita dan pembantu sama sekali.

وما ضرب أحداً بيده قط، إلا أن يجاهد في سبيل الله.

Beliau tidak pernah memukul seorangpun dengan tangannya sama sekali, kecuali dalam urusan jihad fisabilillah.

وما انتقم لنفسه إلا أن تنتهك حرمات الله.

Beliau tidak pernah menghukum karena alasan pribadi kecuali jika aturan Allah di langgar.

وما خير بين شيئين إلا اختار أيسرهما، إلا أن يكون مأثماً أو قطيعة رحم، فيكون أبعد الناس منه.

Beliau tidak pernah diberi dua pilihan kecuali beliau akan memilih yang lebih ringan, kecuali jika hal itu berhubungan dengan dosa atau memutus silaturrahmi, maka beliau adalah orang yang paling menjauhinya

وقال أنس رضى الله عنه: خدمته عشر سنين، فما قال لى: أف قط، ولا قال لشىء فعلته: لم فعلته، ولا لشىء لم أفعله: لا فعلت كذا؟

Anas –semoga Allah meridloinya– berkata : ” Aku melayani Rasululloh selama 10 tahun, dan beliau tidak pernah berkata padaku “ah”sama sekali. beliau juga tidak mengomentari apa yang aku kerjakan, ” mengapa engkau lakukan ini “. dan tidak pernah mengomentari sesuatu yang tidak aku perbuat, ” mengapa engkau tidk berbuat begini ? ”

ومن صفته في التوراة: محمد رسول الله، عبدى المختار، ليس بفظ، ولا غليظ، ولا صخاب في الأسواق، ولا يجزى بالسيئة السيئة، ولكن يعفو ويصفح.

Termasuk sifat Nabi dalam kitab Taurat : Muhamamd adalah utusan Allah, hamba-Ku yang terpilih, dia bukanlah orang yang keras, bukan pula orang yang kasar,bukan orang yang gaduh di pasar-pasar dan bukan orang yang suka membalas keburukan , akan tetapi beliau mengampuni dan mema’afkan.

وكان من خلقه أنه يبدأ بالسلام من لقيه، ومن فاره بحاجة صابره حتى يكون هو المنصرف. وما أخذ أحد يده فأرسل يده حتى يرسلها الآخذ.

Termasuk dari akhlak beliau adalah memulai mengucapkan salam kepada orang yang di temui, dan siapa yang berpisah darinya karena suatu kebutuhan maka beliau bersabar hingga orang itu pergi. tidak seorangpun yang mengambil tangannya sehingga beliau memberikannya dan orang tersebut menerimanya.

وكان يجلس حيث ينتهى به المجلس مختلطاً بأصحابه كأنه أحدهم، فيأتى الغريب فلا يدرى أيهم هو حتى يسأل عنه.

Beliau duduk di akhir majlis sambil berkumpul bersama sahabat2nya seakan-akan beliau salah satu dari mereka, kemudian jika ada orang asing datang maka ia tidak tahu dimanakah Nabi diantara mereka hingga ia menanyakan perihal beliau.

وكان طويل السكوت، فإذا تلكم لم يسرد كلامه، بل يتثبت فيه ويكرره ليفهم. وكان يعفو مع القدرة، ولا يواجه أحداً بما يكره.

Beliau adalah orang yang pendiam, jika berbicara tidak bertele-tele, tak jarang beliau memantapkannya dan mengulanginya agar dapat di fahami. Beliau mengampuni dikala mampu membalas dan tidak menghadapi seseorang dengan membawa sesuatu yang tidak disukainya.

وكان أصدق الناس لهجة، وأوفاهم ذمة، وألينهم عريكة، وأكرمهم عشرة، ومن رآه بديهة هابة، ومن خالطه معرفة أحبه،

Beliau adalah orang yang paling fasih dalam berkata2, paling menjaga jaminannya, paling lemah lembut wataknya dan paling mulia pergaulannya. barang siapa melihatnya secara sepontan maka ia akan segan, dan barang siapa mengenalnya maka ia akan mencintainya.

وكان أصحابه إذا تكلموا في أمر الدنيا تحدث معهم، وكانوا يتذاكرون أمر الجاهلية فيضحكون ويبتسم.

Jika para sahabat2nya berbicara mengenai urusan dunia maka beliau bercengkrama dengan mereka, mereka mengingat-ingat masa jahiliyah sehingga mereka tertawa-tawa dan Nabipun tersenyum.

وكان أشجع الناس. قال بعض أصحابه: البأس اتقينا برسول الله صلى الله عليه وآله وسلم، ولم يكن بالطويل البائن ولا بالقصير، كان ربعه من القوم. وكان أزهر اللون ولم يكن بالآدم.

Beliau manusia yang paling pemberani, sebagian sahabatnya berkata : “sesungguhnya kami -jika dalam keadaan ketakutan yang sangat mencekam- kami akan berlindung kepada Rasululloh shollallohu alaihi wasallam

Postur beliau tidaklah terlalu tinggi dan tidak pula terlalu rendah namun sedang2 saja. warna kulitnya laksana bunga yang indah dan tidak pucat.

وكان رجل الشعر، ليس بالبسط ولا الجعد القطط، وكان شعره إلى شحمة أذنه.

Beliau rambutnya bergelombang , tidak lurus tidak pula berkeriting, dan rambut beliau terurai sampai daun telinga.

وكان واسع الجبهة، أزج الحواجب، أدعج العينين، أهدب الأشفار، أقنى العرنين، سهل الخدين، كث اللحية، كأن عنقه جيد دمية، عريض الصدر، سواء البطن والصدر، رحب الراحة، طويل الزندين، كفه ألين من الحرير صلى الله عليه وآله وسلم.

Beliau dahinya lebar, alisnya tebal, hitam bola matanya, bulu matanya panjang, hidungnya mancung, pipinya sejajar, jenggotnya lebat, seolah-olah lehernya seperti boneka yang indah, dadanya bidang, perut sama rata dengan dada, telapak tangannya lebar dan lebih lembut daripada sutera.

Semoga Allah selalu mencurahkan sholawat dan salam kesejahteraan baginya dan bagi keluarganya.

INILAH KISAH CINTA SEJATI MANUSIA PILIHAN DAN MULIA

Sekian ratus tahun yang lalu…

Di malam yang sunyi, di dalam rumah sederhana yang tidak seberapa luasnya… seorang istri tengah menunggu kepulangan suaminya. Tak biasanya sang suami pulang larut malam. Sang istri bingung…. hari sudah larut dan ia sudah sangat kelelahan dan mengantuk. Namun, tak terlintas sedikitpun dalam benaknya untuk segera tidur dan terlelap di tempat tidur suaminya. Dengan setia ia ingin tetap menunggu… namun, rasa ngantuk semakin menjadi-jadi dan Sang suami tercinta belum juga datang.

Tak berapa lama kemudian….

seorang laki-laki yang sangat berwibawa lagi luhur budinya tiba di rumahnya yang sederhana.

Laki-laki ini adalah suami dari sang istri tersebut.

Malam ini beliau pulang lebih lambat dari biasanya, kelelahan dan penat sangat terasa.

Namun, ketika akan mengetuk pintu… terpikir olehnya Sang istri yang tengah terlelap tidur…. ah, sungguh ia tak ingin membangunkannya.

Tanpa pikir panjang, ia tak jadi mengetuk pintu dan seketika itu juga menggelar sorbannya di depan pintu dan berbaring diatasnya.

Dengan kelembutan hati yang tak ingin membangunkan istri terkasihnya, Sang suami lebih memilih tidur di luar rumah..

di depan pintu…

dengan udara malam yang dingin melilit…

hanya beralaskan selembar sorban tipis.

Penat dan lelah beraktifitas seharian, dingin malam yang menggigit tulang ia hadapi..

karena tak ingin membangunkan istri tercinta. Subhanallah…

Dan ternyata, di dalam rumah..

persis dibalik pintu tempat sang suami menggelar sorban dan berbaring diatasnya..

Sang istri masih menunggu, hingga terlelap dan bersandar sang istri di balik pintu.

Tak terlintas sedikitpun dalam pikirinnya tuk berbaring di tempat tidur, sementara suaminya belum juga pulang.

Namun, karena khawatir rasa kantuknya tak tertahan dan tidak mendengar ketukan pintu Sang suami ketika pulang, ia memutuskan tuk menunggu Sang suami di depan pintu dari dalam rumahnya.

malam itu… tanpa saling mengetahui, sepasang suami istri tersebut tertidur berdampingan di kedua sisi pintu rumah mereka yang sederhana… karena kasih dan rasa hormat terhadap pasangan.. Sang Istri rela mengorbankan diri terlelap di pintu demi kesetiaan serta hormat pada Sang suami dan Sang suami mengorbankan diri tidur di pintu demi rasa kasih dan kelembutan pada Sang istri.

dan Nun jauh di langit….

ratusan ribu malaikat pun bertasbih….

menyaksikan kedua sejoli tersebut…

SUBHANALLAH WABIHAMDIH

betapa suci dan mulia rasa cinta kasih yang mereka bina

terlukis indah dalam ukiran akhlak yang begitu mempesona…

saling mengasihi, saling mencintai, saling menyayangi dan saling menghormati…

Tahukah Anda… siapa mereka..?

Sang suami adalah Muhammad bin Abdullah, Rasulullah SAW dan Sang istri adalah Sayyidatuna Aisyah RA binti Abu Bakar As-Sidiq.

Merekalah sepasang kekasih teladan, suami istri dambaan, dan merekalah pemimpin para manusia, laki-laki dan perempuan di dunia dan akhirat.

Semoga rahmat ALLAH senantiasa tercurah bagi keduanya, dan mengumpulkan jiwa kita bersama Rasulullah SAW dan Sayyidatuna Aisyah RA dalam surgaNYA kelak.

dan Semoga ALLAH SWT memberi kita taufiq dan hidayah tuk bisa meneladani kedua manusia mulia tersebut.

Amiin…amiin ya rabbal’alamiin….

KEUTAMAAN UMAT NABI MUHAMMAD SAW ATAS UMAT LAIN

Dicintai dan dimuliakannya Rasulullah Muhammad ﷺ oleh Allah berdampak pada ikut dimuliakannya umat beliau. Dalam syariat Islam banyak ajaran yang menunjukkan betapa Allah begitu memuliakan umat ini dibanding dengan umat-umat sebelumnya, termasuk Bani Israil.

Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki di dalam kitabnya Syaraful Ummah Al-Muhammadiyyah menuturkan berbagai kemulian yang diberikan oleh Allah kepada umat Nabi Muhammad di mana kemuliaan-kemuliaan itu tidak diberikan kepada umat Bani Israil.

Di antara perlakuan Allah yang mengistimewakan umat akhir zaman ini adalah:

Pertama, bila pakaian seorang Bani Israil terkena najis maka satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk mensucikan kembali pakaian tersebut adalah dengan memotong bagian yang terkena najis. Bahkan menurut sebagaian ulama bahwa bila anggota badan seorang Bani Israil terkena najis maka ia mesti memotong bagian anggota badan yang terkena najis tersebut untuk mensucikannya.

Imam Abu Dawud meriwayatkan:

كَانُوا إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَوْلُ قَطَعُوا مَا أَصَابَهُ الْبَوْلُ مِنْهُمْ

Artinya: “Adalah Bani Israil bila mereka terkena air kencing maka mereka memotong apa yang terkena air kencing itu.” (Abu Dawud As-Sijistani, Sunan Abi Dâwûd [Beirut: Muassasah Ar-Rayan], 1998, juz I, hal. 159)

Ini berbeda dari umat Nabi Muhammad di mana untuk mensucikan apa saja yang terkena najis Allah memerintahkan pensuciannya cukup dengan air dan dengan debu untuk najis tertentu.

Kedua, bila seorang perempuan Bani Israil sedang mengalami haid atau menstruasi maka ia akan ditinggal sendirian di rumah. Mereka tidak diperbolehkan berhubungan, tinggal, dan makan bersamanya

Berbeda dari umat Nabi Muhammad yang diperbolehkan bergaul, makan bersama, tinggal serumah, dan juga tidur sekasur dengan istri yang sedang haid. Hanya saja mereka tidak diperbolehkan berhubungan intim dengannya.

Ketiga, ketika seorang Bani Israil melakukan tindak pidana pembunuhan maka satu-satunya hukuman yang diterapkan baginya adalah hukuman mati, baik pembunuhan yang dilakukan itu berupa pembunuhan yang disengaja ataupun pembunuhan yang tidak disengaja. Di dalam hukum Bani Israil juga tidak diberlakukan diyat dalam kasus pembunuhan ataupun pencederaan terhadap anggota badan.

Berbeda dari umat Rasulullah Muhammad ﷺ di mana Allah memberikan keringanan bagi umat ini dalam hal pembunuhan. Dalam syari’at Islam diberlakukan diyat sebagai pengganti qishash apabila keluarga orang yang dibunuh memberika maaf bagi orang yang membunuh.

Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Allah di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 178:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَى بِالْأُنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, dan perempuan dengan perempuan. Maka barang siapa yang mendapat suatu permaafan dari saudaranya hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula. Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kalian dan suatu rahmat.”

Keempat, ketika Bani Israil melakukan kesalahan berupa penyembahan terhadap sapi maka satu-satunya jalan untuk bertaubat adalah dengan cara membunuh diri mereka sendiri. Orang yang menyembah sapi menyerahkan diri kepada orang yang tak menyembahnya untuk dibunuh. Dengan jalan seperti itu Bani Israil melakukan pertaubatan.

Tidak hanya itu. Ketika mereka melakukan sejumlah tindakan dosa tertentu pun cara taubatnya dengan memotong anggota badan yang melakukan kesalahan tersebut. Lidah harus dipotong ketika mengucapkan kebohongan, kemaluan mesti dipotong manakala melakukan perzinahan, dan biji mata dicukil ketika melihat perempuan yang bukan mahramnya.

Berbeda dari umat Nabi Muhammad, di mana Allah memberikan jalan yang mudah bagi mereka untuk melakukan pertaubatan atas dosa-dosa yang dilakukan. Bahkan Allah mengabarkan bahwa Ia akan menerima taubat dan memaafkan setiap kesalahan.

Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 110:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya: “Barang siapa yang melakukan kejelekan atau berbuat aniaya pada diri sendiri kemudian ia meminta ampun kepada Allah maka ia akan mendapati Allah sebagai Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kelima, bila salah seorang Bani Israil melakukan satu perbuatan dosa atau kemaksiatan maka di pagi hari akan ia temui di pintu rumahnya satu tulisan “Si Fulan telah melakukan perbuatan dosa ini dan itu. Sebagai tebusannya adalah ini dan itu.” Tulisan ini dapat dibaca oleh siapapun secara umum.

Sedangkan umat Nabi Muhammad selalu ditutup-tutupi oleh Allah manakala melakukan perbuatan dosa. Allah tidak membuka dan mengumbar kesalahan mereka kepada orang lain. Ia selalu menutup rapat kesalahan tersebut hingga terkadang justru pelakunya sendiri yang membuka aib dirinya.

Keenam, Allah tetap akan menyiksa Bani Israil yang melakukan perbuatan salah meskipun itu hanya merupakan kata hati mereka dan tidak dilakukan oleh anggota badannya. Dahulu mereka pernah mendatangi para nabi dan rasul yang diutus kepada mereka. Kepada para nabi dan utusan itu mereka memprotes atas syari’at yang tetap akan menyiksa mereka atas apa yang dibatinkan oleh hati mereka meskipun tidak sampai dilakukan oleh anggota badan. Maka mereka mengkufuri syari’at tersebut dengan mengatakan sami’nâ wa ‘ashainâ (kami dengar namun kami membangkangnya).

Berbeda dari umat ini, ketika mereka mengetahui bahwa Allah akan menghisab setiap perilaku baik yang berupa perbuatan anggota badan maupun yang berupan bisikan hati, umat Nabi Muhammad mengucapkan kami mendengar, kami mematuhi, kami berserah diri dan percaya kepada Allah, malaikat, dan para rasul-Nya. Maka kemudian Allah mengkhabarkan bahwa Ia mengampuni (tidak akan menghisab) apa-apa yang dibatinkan di dalam hati. Allah hanya akan menghisab perbuatan yang secara nyata dilakukan oleh anggota badan.

Ketujuh, dosa yang dihasilkan oleh Bani Israil karena salah dalam berbuat atau karena lupa tetap beresiko dengan disegerakannya hukuman atas dosa tersebut. Sebagaimana Allah telah mengharamkan suatu makanan dan minuman atas mereka sebagai hukuman atas suatu dosa yang mereka lakukan.

Berbeda dari umat Nabi Muhammad di mana Allah tidak menjatuhkan hukuman kepada mereka atas kesalahan, kelupaan, dan apa saja yang dilakukan karena terpaksa. Ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah:

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ، وَالنِّسْيَانَ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

Artinya: “Sesunguhnya Allah memaafkan karena aku dari umatku kesalahan, lupa, dan apapun yang mereka dipaksa untuk melakukannya.” (HR. Ibnu Majah, Baihaki, dan lainnya).

Kedelapan, Allah mengharamkan Bani Israil melakukan kegiatan-kegiatan duniawi di hari Sabtu sebagai hari raya mereka. Pada hari itu Bani Israil hanya diperbolehkan melakukan peribadatan kepada Allah saja. Maka ketika mereka melanggarnya dengan tetap berburu ikan di lautan Allah mengubah wujud menjadi seekor kera.

Sedangkan umat Nabi Muhammad tidak diperlakukan seperti itu oleh Allah. Mereka diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan apapun meskipun di hari Jum’at sebagai hari raya umat Islam. Baik sebelum maupun sesudah shalat Jum’at umat Nabi Muhammad diperkenankan melakukan aktifitas duniawi tanpa ada ancaman hukuman apapun dari Allah.

Kesembilan, bagi Bani Israil dan kaum yang lain penyakit thâ’ûn merupakan kotoran dan siksaan. Sedangkan bagi umat Nabi Muhammad penyakit thâ’ûn dijadikan oleh Allah sebagai rahmat dan kesyahidan bagi mereka.

Kesepuluh, ada beberapa makanan yang diharamkan oleh Allah bagi Bani Israil. Beberapa makan itu di antaranya adalah setiap binatang yang memiliki kuku dan lemak yang ada pada binatang, kedua haram bagi Bani Israil. Keduanya diharamkan oleh Allah sebagai hukuman bagi mereka karena perilaku mereka yang berbuat dzalim, menentang dan mempermainkan syariat Allah.

Hal ini direkam oleh Allah dalam firman-Nya pada surat An-Nisa ayat 160:

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا

Artinya: “Maka disebabkan perbuatan aniaya dari orang-orang yahudi Kami haramkan atas mereka beberapa makanan yang baik-baik yang sebelumnya dihalalkan bagi mereka, dan juga dikarenakan mereka serig menghalang-halangi jalan Allah.“

Adapun umat Nabi Muhammad Allah menghalalkan bagi mereka segala yang baik, tanpa kecuali, dan mengharamkan atas mereka setiap yang jelek. Ini ditegaskan-Nya dalam ayat 5 surat Al-Maidah:

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ

Artinya: “Pada hari ini telah Aku halalkan bagi kalian yang baik-baik.”

Kesebelas, ketika Bani Israil mendapatkan barang rampasan perang (ghanimah) mereka diharamkan untuk mengambil dan membagikannya. Yang diperintahkan kepada mereka adalah mengumpulkan barang rampasan itu, lalu akan turun api dari langit yang menyambar dan membakarnya sebagai tanda bahwa diterimanya peperangan yang mereka lakukan.

Sedangkan umat Nabi Muhammad diperbolehkan mengambil dan memanfaatkan barang rampasan perang, bahkan dijadikannya sebagai sesatu yang halal dan penuh berkah.

Allah berfirman dalam Surat Al-Anfal ayat 69:

فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا

Artinya: “maka makanlah dari apa yang kalian rampas sebagai sesuatu yang halal dan baik.”

Kedua belas, umat-umat terdahulu tidak diperbolehkan melakukan shalat kecuali di tempat-tempat yang telah ditentukan seperti gereja dan pagoda. Bila mereka tidak datang bersembahyang di tempat yang telah ditentukan itu maka mereka tidak bisa menggantinya di sembarang tempat. Mereka mesti datang ke tempat peribadatan yang ada untuk mengganti shalat yang ditinggalkannya itu.

Al-Bazar dalam satu hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abas mengatakan bahwa tak ada seorang nabi pun yang melakukan shalat hingga ia berada di mihrabnya.

Sementara umat Nabi Muhammad tidak demikian. Allah menjadikan setiap jengkal tanah di bumi ini sebagai tempat shalat mereka. Kapanpun dan di manapun mereka hendak melakukan shalat bisa dilakukan di tempat manapun asalkan bersih dan suci dari najis. Tak ada tempat yang dikhususkan untuk shalat bagi umat Baginda Muhammad ﷺ.

Ketiga belas, dalam syariat umat-umat sebelum umat Nabi Muhammad mereka hanya bisa bersuci dengan air saja. Tak ada aturan yang membolehkan mereka bersuci dengan menggunakan media selain air. Maka ketika mereka hendak shalat dan tidak menemukan air, mereka tidak bisa melakukannya sampai menemukan air untuk bersuci dan kemudian mengqadla shalat yang telah ditingalkannya.

Berbeda dari umat Nabi Muhammad, ketika mereka hendak melakukan shalat dan tidak menemukan air maka mereka bisa bersuci dengan menggunakan debu yang suci.

Demikian Allah—melalui syari’at-Nya—memperlakukan umat Nabi Muhammad ﷺ secara istimewa bila dibandingkan dengan perlakukan Allah kepada umat-umat terdahulu. Ada kemudahan dan keringanan dalam syari’at Islam yang dibawa oleh Rasulullah.

Atas semua itu maka selayaknya bila umat Nabi Muhammad bersyukur kepada Allah dengan melakukan ketaatan dan ketakwaan yang semestinya dan berterima kasih kepada Rasulullah dengan mengikuti akhlak mulianya.

Wallâhu a’lam.