MENJADIKAN BULAN ROJAB UNTUK MENELADANI KEAGUNGAN AKHLAK NABI MUHAMMAD SAW.

Bulan rojab merupakan salah satu bulan yang mulia di sisi Alloh swt, oleh karenanya, menjadi sangat penting bagi umat islam untuk bisa memanfaatkan momen yang penuh berkah dan bersejarah di bulan tersebut, guna memantapkan hati kita dalam mencintai dan meneladani makhluk termulia di muka bumi, agar kita semakin bertaqwa di sisi Alloh swt dan semakin bisa memperbaiki diri.

Beberapa hal yang bisa kita teladani dari akhlak Rosululloh saw di salah satu bulan yang mulia ini adalah :

Nabi Muhammad Saw, Tidak Mendo’akan yang Buruk Meski Dimusuhi

 “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” Sabda Nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadits.

Nabi Muhammad saw. adalah sosok manusia paripurna. Beliau telah memberikan teladan terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Bagaimana menjadi seorang pemuda, menjadi sahabat, menjadi suami, menjadi pemimpin agama, bahkan menjadi pemimpin negara dengan landasan akhlak yang luhur.

Hal ini ditegaskan Allah di dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 21; “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswah hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Salah satu teladan yang diajarkan Nabi Muhammad saw. adalah bagaimana menjaga lisan dari tutur kata yang buruk. Dalam sejarah hidupnya, Nabi Muhammad saw. tidak pernah berkata kotor, mengumpat, ataupun mengeluarkan cercaan bahkan kepada musuhnya –kaum musyrik yang memusuhi dakwah Islam- sekalipun. Sebaliknya, Nabi Muhammad saw. malah mendoakan mereka yang baik-baik.

Ada banyak cerita terkait dengan hal ini sebagaimana tertera dalam Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018). Diantaranya adalah ketika pasukan Islam menang dalam Perang Badar. Nabi Muhammad saw. melarang umat Islam mengumpat korban Perang Badar dari kalangan kaum musyrik. Kata Nabi Muhammad saw., umpatan akan menyakiti hati orang-orang yang masih hidup. Nabi Muhammad saw. juga mengingatkan bahwa kekejian adalah sesuatu yang hina.

Begitu pun ketika Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya melewati kaum Tsaqif. Ada seorang sahabat yang meminta Nabi Muhammad saw. berdoa agar kaum Tsaqif mendapatkan laknat dari Allah. Namun Nabi Muhammad saw. malah melakukan hal yang sebaliknya. Beliau mendoakan agar kaumTsaqif mendapatkan hidayah dari Allah saw. Nabi Muhammad saw. juga mendoakan kaum Dus agar mendapatkan hidayah ketika beliau diminta salah seorang sahabat untuk melaknatnya.

Sebagaimana diketahui, kaum Tsaqif adalah penguasa wilayah Thaif pada saat itu. Tiga tahun sebelum hijrah ke Yatsrib (Madinah), Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya hijrah ke Thaif. Mereka hendak meminta perlindungan dan pertolongan kepada masyarakat Thaif dari penindasan kaum musyrik Quraisy. Namun apa dikata, Nabi Muhammad saw. dan sahabatnya malah mendapatkan perlakuan buruk dari penduduk Thaif. Kaum Tsaqif melempari Nabi Muhammad saw. dengan batu hingga kakinya terluka.

Hal yang sama juga dilakukan Nabi Muhammad saw. ketika Perang Uhud selesai. Sebuah peperangan yang berat bagi pasukan umat Islam karena mereka kalah. Akibatnya, sebagian sahabat meminta agar Nabi Muhammad saw. melaknat kaum Quraisy. Namun permintaan itu dijawab sebaliknya oleh  Nabi Muhammad saw.

“Sesungguhnya saya diutus dengan membawa kasih sayang. Saya tidak diutus sebagai tukang melaknat. Ya Allah ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui,” jawab Nabi Muhammad saw.

Demikianlah teladan yang ditunjukkan Nabi Muhammad saw. Beliau tidak pernah mendoakan yang jelek, mengumpat, berkata kotor, atau mengeluarkan cercaan bahkan kepada musuhnya sekalipun. Tidak hanya itu, Nabi Muhammad saw. juga menegur Sayyidina Abu Bakar ketika mendoakan Sa’id bin ‘Ash yang sudah meninggal dengan sesuatu yang buruk. Nabi Muhammad saw. baru akan ‘berdoa yang keras’ kepada musuh ketika mereka mengancam eksistensi komunitas umat Islam sebagaimana yang terjadi ketika Perang Ahzab.

 

Kejadian Ini yang Sebabkan Nabi Muhammad Saw Marah

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus menceritakan, Nabi Muhammad saw. marah besar ketika mengetahui ada sahabat membunuh seseorang yang mengucapkan kalimat syahadat dalam sebuah peperangan.

Ceritanya, orang yang dibunuh tersebut adalah dari kelompok kafir yang sedang berperang melawan umat Islam. Ketika sudah tersudut, orang kafir tersebut mengucapkan kalimat syahadat. Sahabat tersebut tidak bergeming dan tetap membunuh ‘orang kafir’ tersebut meski sudah melafalkan kalimat syahadat.

“Karena pengertiannya (sahabat tersebut) ini syahadat nya, syahadat politis,” kata Gus Mus menirukan sahabat tersebut dalam sebuah video yang diunggah akun @GusMus Channel di Youtube, Senin (2/4).

Melihat kejadian itu, lanjut Gus Mus, sahabat-sahabat Nabi Muhammad yang lainnya menegur dan marah kepada sahabat yang membunuh tersebut karena bagaimanapun juga orang kafir tersebut sudah membaca kalimat syahadat sehingga darahnya haram dibunuh.

Sahabat yang membunuh tersebut bersikukuh bahwa apa yang dilakukan itu benar. Sahabat tersebut juga menganggap bahwa orang kafir tersebut hanya membaca dan menjadikan kalimat syahadat sebagai alat untuk menyelamatkan diri.

Gus Mus menambahkan, kejadian pembunuhan itu lalu dilaporkan kepada Nabi Muhammad saw. Kepada Nabi Muhammad saw., sang sahabat tersebut kekeh berpendapat bahwa orang yang dibunuhnya tersebut hanya berpura-pura mengucapkan kalimat syahadat agar tidak dibunuh.

“Rasulullah kalau marah kelihatan hanya merah mukanya,” terangnya.

“Kenapa kamu tidak bedah dadanya supaya kamu tahu bahwa di dalamnya juga apa,” cerita Gus Mus menirukan respons Nabi Muhammad saw. kepada sahabatnya itu.

Penulis buku Fikih Keseharian Gus Mus ini menegaskan, siapapun yang sudah mengucapkan kalimat syahadat maka orang tersebut secara otomatis sudah menjadi seorang Muslim.

“Muslim belum shalat ada, Muslim belum haji banyak, Muslim belum zakat lebih banyak lagi,” jelasnya.

Dia mengkritik mereka yang mengafirkan Muslim lain yang tidak satu pemahaman dengan mereka. Bagi Gus Mus, mereka melakukan hal demikian berdasarkan nafsu bukan semangat beragama.

“Semangat beragama itu adalah semangat mengajak semua orang untuk berbahagia di dunia maupun di akhirat,” ungkapnya.

 

Mereka yang Diampuni Rasulullah Saw Usai Fathu Makkah

Pembebasan kota Makkah atau dikenal dengan Fathu Makkah menjadi kemenangan yang nyata bagi umat Islam. Bagaimana tidak, tanpa peperangan, tanpa pertumpahan darah, dan tanpa ada yang menghunus pedang, umat Islam berhasil menduduki kota Makkah dari kaum musyrik Quraisy.

Sebaliknya, bagi kaum musyrik Quraisy peristiwa yang terjadi pada 10 Ramadhan abad ke-8 Hijriyah atau bertepatan dengan 8 Juni 632 M itu adalah hari yang sangat mencekam. Mereka resah karena selama ini mereka kerap kali memusuhi dan menindas umat Islam. Takut kalau-kalau umat Islam membalas balik.

Akan tetapi apa yang mereka kira salah. Rasulullah, sang panglima umat Islam, pada saat berpidato  menegaskan bahwa Fathu Makkah adalah hari kasih sayang (yaumul marhamah), bukan hari balas dendam (yaumul malhamah). Seketika itu masyarakat musyrik Quraisy menjadi cukup tenang. Namun tidak dengan musuh-musuh yang sangat kejam dan terkenal memusuhi umat Islam.

Mulanya, Rasulullah menjatuhi mereka hukuman mati atas perbuatan mereka terhadap umat Islam. Tetapi mereka kemudian meminta ampun atau dimintakan ampun. Rasulullah pun mengampuni dan tidak jadi menghukum mati mereka.

Merujuk buku Muhammad: Nabi Untuk Semua (Maulana Wahiddudin Khan, 2005), berikut musuh-musuh Islam yang diampuni Rasulullah dari hukuman mati ketika atau usai peristiwa Fathu Makkah.

Pertama, Quraibah. Quraibah adalah budak dari Abdullah bin Khatal. Ia menghadap Rasulullah dan meminta suaka manakala ia dijatuhi hukuman mati. Rasulullah mengabulkan permintaannya. Quraibah pun akhirnya memeluk Islam.

Kedua, Sarah. Ia adalah budak Ikrimah bin Abu Jahal. Sebelumnya ia senang sekali memperolok-olok dan mencemooh Rasulullah dan pengikutnya. Pada saat Fathu Makkah ia dijatuhi hukuman mati, tapi ia mendapatkan ampunan setelah meminta suaka kepada Rasulullah. Akhirnya ia masuk Islam dan hidup hingga masa kekhalifahan Umar bin Khattab.

Ketiga, Harits bin Hisyam dan Zubair bin Abu Umayyah. Keduanya lari dan sembunyi di rumah  saudaranya, Ummi Hani binti Abi Jahal, manakala hendak dihukum mati. Ummi Hani kemudian menghadap Rasulullah untuk memintakan mereka ampunan.

“Siapapun yang mendapat perlindunganmu, juga mendapat perlindungan kami,” kata Rasulullah kepada Ummi Hani. Harits dan Hisyam lolos dari hukuman mati.

Keempat, Ikrimah bin Abu Jahal. Ia adalah putra dari salah satu musuh Islam paling berbahaya dan kejam, Abu Jahal. Sama seperti bapaknya, Ikrimah juga sangat memusuhi Islam dan Rasulullah. Pada saat Fathu Makkah, Ikrimah dijatuhi hukuman mati. Ia kemudian mengungsi ke Yaman. Istri Ikrimah, Ummi Hakim binti Harits yang telah masuk Islam, mendatangi Rasulullah untuk mengampuni suaminya. Permintaan Ummi Hakim dikabulkan.

Ikrimah lantas balik ke Makkah dan juga memeluk Islam. Setelah menyatakan diri menjadi umat Rasulullah, Ikrimah betul-betul berjuang untuk Islam –baik dengan harta atau pun tenaga. Ia juga kerap kali ikut berperang melawan musuh-musuh Islam.

Kelima, Habbar bin Aswad. Ia juga merupakan musuh Islam yang keji. Diceritakan suatu ketika Zainab, putri Rasulullah, dalam sebuah perjalanan dari Makkah ke Madinah. Di tengah jalan,  Habbar bin Aswad menusuk unta yang ditunggangi Zaibah. Akibat kejadian itu, Zainab yang tengah hamil terjatuh dari untanya dan mengalami keguguran. Habbar juga disebut-sebut sebagai orang yang bertanggung jawab atas pembantaian dan penindasan umat Islam yang menyebabkan banyak korban.

Saat Fathu Makkah, Habbar disanksi hukuman mati. Ia kemudian menghadap Rasulullah untuk meminta ampun. Rasulullah mengabulkan permintaannya sehingga Habbar bebas dari hukuman mati.

Keenam,  Wahsyi bin Harb. Ia adalah pembunuh paman Rasulullah, Hamzah, pada saat Perang Uhud. Ketika Fathu Makkah, Wahsyi melarikan diri ke Thaif untuk mencari tempat aman. Wahsyi semakin ‘terjepit’ manakala penduduk Thaif juga masuk Islam sesaat setelah peristiwa Fathu Makkah.

Ia lantas pergi ke Madinah untuk meminta ampun Rasulullah dan menyatakan diri masuk Islam. Rasulullah mengampuninya. Setelah memeluk Islam, Wahsyi menunggu kesempatan untuk menebus segala kesalahannya. Wahsyi berhasil memenggal kepala nabi palsu Musailamah pada saat Perang Yamamah dengan menggunakan lembing yang sama ketika ia menghabisi Hamzah.

Ketujuh, Ka’ab bin Zuhair. Ia merupakan seorang pujangga terkenal lihai membuat puisi. Sayangnya, ia membuat puisi untuk menghina dan mencemooh Rasulullah. Ia lari dari Makkah pada saat peristiwa Fathu Makkah. Ia kemudian menghadap Rasulullah di Madinah untuk meminta ampun dari hukuman mati. Tidak hanya itu, Rasulullah memberikan hadiah kain setelah Ka’ab menyatakan diri masuk Islam.

Kedelapan, Abdullah bin Zib’ari. Sama hal nya dengan Ka’ab bin Zuhair, Abdullah bin Zib’ari juga menghina Rasulullah melalui puisi-puisi yang dibuatnya. Ia melarikan diri ke Najran ketika umat Islam berhasil menduduki Makkah. Ia merupakan salah satu musuh Islam yang yang masuk daftar hitam atau dihukum mati. Namun sebelum dihukum ia mendatangi Rasulullah dan meminta ampunan. Rasulullah mengampuninya. Abdullah bin Zib’ari lantas bertobat dan memeluk Islam.

Kesembilan, Hindun binti Utbah. Ia merupakan istri dari Abu Sufyan. Sama seperti Abu Sufyan sebelum memeluk Islam, Hindun sangat benci terhadap Islam. Bahkan, ia sampai memakan jantung Hamzah pada saat Perang Uhud setelah Hamzah berhasil dipenggal Wahsyi. Atas segala perbuatannya terhadap umat Islam, Hindun dijatuhi hukuman mati. Namun kemudian Rasulullah mengampuninya setelah Hindun memohon ampun dan memeluk Islam.

Meski demikian, musuh-musuh Islam yang tidak minta ampun atau dimintakan ampun tetap dieksekusi mati atas segala kejahatan mereka kepada umat Islam. Mereka diantarannya adalah Abdullah bin Khatal, Fartana, Huwairits bin Nafidz bin Wahab, Miyas bin Subabah, dan Harits bin Talatil.

Ada juga musuh Islam yang melarikan diri dari Makkah dan tidak pernah kembali sampai akhir hayatnya. Ia meninggal di negeri nan jauh dari Makkah. Dialah Hubairah bin abu Wahab Makhzumi yang melarikan diri ke Najran dan meninggal di sana.

KEBERKAHAN NABI MUHAMMAD SAW SEMASA MASIH KECIL

Meski dewasanya diangkat menjadi seorang utusan Allah (Rasulullah) dan nabi terakhir, kegiatan dan aktivitas Muhammad saat kecil tidak jauh berbeda dengan anak-anak lain seuisianya. Ia bergaul dan bermain bersama teman-temannya yang lain. Bahkan ia tidak segan menggembala kambing agar mendapatkan upah untuk mencukupi kebutuhan sehari-sehari yang notabennya yatim-piatu.

Akan tetapi, sejak kecil di dalam diri Muhammad ada sesuatu ‘yang berbeda’ dengan yang lainnya. Ada hal-hal istimewa yang terjadi hanya pada Muhammad kecil, tapi tidak pada anak-anak lainnya. Diantaranya adalah keberkahan atau penambahan kebaikan dan kecukupan.

Sejak kecil, Muhammad sudah diliputi keberkahan. Tidak hanya itu, orang-orang yang ada di sekelilingnya pun ‘kecipratan’ keberkahannya. Sebagaimana yang diceritakan Nizar Abazhah dalam bukunya Sahabat-sahabat Cilik Rasulullah, setidaknya ada dua cerita keberkahan Nabi Muhammad saw. saat beliau masih kecil.

Pertama, cerita Halimah as-Sa’diyah. Suatu ketika Halimah bersama suaminya ikut rombongan untuk menawarkan jasa menyusui. pada saat itu sedang musim paceklik. Tidak ada hujan. Tidak ada makanan. Bahkan, unta yang ada bersama mereka juga tidak mengeluarkan susu. Sesampai di Makkah, mereka yang ada di rombongan sudah mendapatkan anak untuk disusui, kecuali Halimah.

Halimah akhirnya mendapatkan tawaran untuk menyusui Muhammad. Tapi, awalnya ia menolak karena mengetahui kalau Muhammad yatim. Halimah membatin siapa yang akan menjamin upah menyusui kalau Muhammad tidak memiliki bapak. Lalu, akhirnya ia menerima Muhammad karena tidak mendapatkan anak yang lainnya. Ia hanya berharap akan mendapatkan berkah manakala mengasuh anak yatim.

Benar saja, anak kecil Muhammad memang betul-betul membawa berkah bagi Halimah. Payudara Halimah kembali mengeluarkan susu. Muhammad kecil mulai menyusu hingga tertidur nyenyak. Unta betina Halimah juga mendadak penuh dengan susu. Keledai yang dinaiki Halimah dan Muhammad juga berlari sangat kencang hingga akhirnya mereka menjadi yang pertama yang sampai di Bani Sa’d, daerah Halimah.

Orang-orang juga mulai mempercayai Halimah untuk menggembalakan kambingnya. Anehnya, kambing-kambing gembalaan Halimah selalu penuh susunya, tidak seperti kambing yang digembala yang lainnya. Sejak ada Muhammad, kehidupan Halimah menjadi sejahtera. Maka tidak heran jika Halimah selalu meminta Aminah agar bisa mengasuh Muhammad kecil lebih lama lagi.

Kedua, cerita Abu Thalib. Hal sama juga dialami Abu Thalib. Setelah sang kakek Abdul Mutholib wafat, Muhammad kecil diasuh Abu Thalib –seorang paman yang hidupnya begitu sederhana bahkan tak berkecukupan. Bahkan, untuk memberi makan anak-anakanya kadang kurang. Namun anehnya, jika Muhammad kecil ikut makan maka makanannya menjadi cukup. Oleh sebab itu, Abu Thalib kerap kali menunggu Muhammad manakala ia, istri, dan anak-anaknya hendak makan.

Begitu pun dengan urusan minuman. Abu Thalib juga akan meminta Muhammad untuk minum susu terlebih dahulu sebelum anak-anaknya. Alasannya, jika Muhammad yang minum dulu maka susu tersebut akan cukup diminum anak-anaknya hingga puas.

DI ANJURKANYA MENGUCAPKAN SUBHANALLOH DAN MA SYA ALLOH

PENGGUNAAN KALIMAT MASYA ALLOH

Selama ini kaum Muslim sering “salah kaprah” dalam mengucapkan Subhanalloh (Maha Suci Alloh), tertukar dengan ungkapan Masya Alloh (Itu terjadi atas kehendak Alloh). Kalau kita takjub, kagum, atau mendengar hal baik dan melihat hal indah, biasanya kita mengatakan Subhanalloh. Padahal, seharusnya kita mengucapkan Masya Alloh yang bermakna “Hal itu terjadi atas kehendak Alloh”.

Ungkapan Subhanalloh tepatnya digunakan untuk mengungkapkan “ketidaksetujuan atas sesuatu”. Misalnya, begitu mendengar ada keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan, kita katakan Subhanalloh (Maha Suci Alloh dari keburukan yang demikian).

Ucapan Masya Alloh

Masya Alloh  artinya “Alloh telah berkehendak akan hal itu”. Ungkapan kekaguman kepada Alloh dan ciptaan-Nya yg indah lagi baik. Menyatakan “semua itu terjadi atas kehendak Alloh”.

Masya Alloh  diucapkan bila seseorang melihat hal yang baik dan indah. Ekspresi penghargaan sekaligus pengingat bahwa semua itu bisa terjadi hanya karena kehendak-Nya. Sebagaimana firman Alloh Subhanahu wa Ta”ala sbb:

وَلَوْلا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالا وَوَلَدًا

“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, ‘Maasya Allah laa quwwata illa billah‘ (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan?” (QS. Al-Kahfi: 39).

Penggunaan kalimat tersebut dikarenakan kalimat “Masya Alloh” (ما شاء الله) bisa di-i’robkan dengan dua cara di dalam bahasa Arab:

I’rob yg pertama dari “Masya Alloh” (ما شاء الله) adalah dengan menjadikan kata “maa” (ما) sebagai isim maushul (kata sambung) dan kata tersebut berstatus sebagai khobar (predikat). Mubtada’ (subjek) dari kalimat tersebut adalah mubtada’ yg disembunyikan, yaitu “hadza” (هذا). Dengan demikian, bentuk seutuhnya dari kalimat “Masya Alloh” adalah :

هذا ما شاء الله

(Hadza Masya Allah)

Jika demikian, maka artinya dalam bahasa Indonesia adalah: “inilah yg dikehendaki oleh Alloh”.

Adapun i’rob yg kedua, kata “maa” (ما) pada “Masya Alloh” merupakan maa syarthiyyah (kata benda yg mengindikasikan sebab) dan frase “syaa Alloh” (شاء الله) berstatus sebagai fi’il syarat (kata kerja yng mengindikasikan sebab). Sedangkan jawab syarat (kata benda yang mengindikasikan akibat dari sebab) dari kalimat tersebut tersembunyi, yaitu “kana” (كان). Dengan demikian, bentuk seutuhnya dari kalimat “Masya Alloh” adalah:

ما شاء الله كان

(Masya Allohu kana)

Jika demikian maka artinya dalam bahasa Indonesia adalah: “apa yang dikehendaki oleh Alloh, maka itulah yg akan terjadi”.

Ringkasnya, “Masya Alloh” bisa diterjemahkan dengan dua terjemahan, “inilah yg diinginkan oleh Alloh apa yang dikehendaki oleh Alloh, maka itulah yg akan terjadi”. Maka ketika melihat hal yang menakjubkan, lalu kita ucapkan “Masya Alloh” (ما شاء الله), artinya kita menyadari dan menetapkan bahwa hal yang menakjubkan tersebut semata-mata terjadi karena kuasa Alloh.

PENGGUNAAN KALIMAT SUBHANALLOH

Dari Abdillah bin Amir bin Rabiah, bahwa Nabi  Shollallohu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ أَوْ مِنْ نَفْسِهِ أَوْ مِنْ مَالِهِ مَا يُعْجِبُهُ فَلْيُبَرِّكْهُ فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ

Apabila kalian melihat ada sesuatu yg mengagumkan pada saudaranya atau dirinya atau hartanya, hendaknya dia mendoakan keberkahan untuknya. Karena serangan ain itu benar. (HR. Ahmad 15700, Bukhari dalam at-Tarikh 2/9).

Kapan Dianjurkan Mengucapkan Subhanalloh?

Terdapat beberapa keadaan, dimana kita dianjurkan mengucapkan Subhanallah. Diantaranya,

Pertama, ketika kita keheranan terhadap sikap.

Tidak ada kaitannya dengan keheranan terhadap harta atau fisik atau apa yg dimiliki orang lain. Tapi keheranan terhadap sikap.

Misalnya, terlalu bodoh, terlalu kaku, terlalu aneh, dst.

Kita lihat beberapa kasus berikut,

Kasus pertama, Abu Hurairoh pernah ketemu Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam  dalam kondisi junub. Lalu Abu Hurairoh pergi mandi tanpa pamit. Setelah balik, Nabi  Shollallohu ‘alaihi wa sallam  bertanya, mengapa tadi dia pergi. Kata Abu Hurairoh, “Aku junub, dan aku tidak suka duduk bersama engkau dalam keadaan tidak suci.” Kemudian Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

سُبْحَانَ اللَّهِ إِنَّ الْمُسْلِمَ لاَ يَنْجُسُ

Subhanalloh, sesungguhnya muslim itu tidak najis. (HR. Bukhari 279)

Kasus kedua, ada seorang wanita yg datang kepada Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam  menanyakan bagaimana cara membersihkan bekas haid setelah suci. Beliau menyarankan, “Ambillah kapas yg diberi minyak wangi dan bersihkan.”

Wanita ini tetap bertanya, “Lalu bagaimana cara membersihkannya.”

Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam merasa malu untuk menjawab dengan detail, sehingga beliau hanya mengatakan,

سُبْحَانَ اللَّهِ تَطَهَّرِى بِهَا

“Subhanalloh.., ya kamu bersihkan pakai kapas itu.”

Aisyah paham maksud Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, beliau pun langsung menarik wanita ini dan mengajarinya cara membersihkan darah ketika haid. (HR. Bukhari 314 & Muslim 774)

Kasus ketiga, Aisyah pernah ditanya seseorang,

“Apakah Nabi  Shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah melihat Allah?”

Aisyah langsung mengatakan,

سُبْحَانَ اللَّهِ لَقَدْ قَفَّ شَعْرِى لِمَا قُلْت

Subhanalloh, merinding bulu romaku mendengar yg kamu ucapkan. (HR. Muslim 459).

An-Nawawi mengatakan,

أن سبحان الله في هذا الموضع وأمثاله يراد بها التعجب وكذا لااله إلا الله ومعنى التعجب هنا كيف يخفى مثل هذا الظاهر الذي لايحتاج الإنسان في فهمه إلى فكر وفي هذا جواز التسبيح عند التعجب من الشيء واستعظامه

Bahwa ucapan Subhanalloh dalam kondisi semacam ini maksudnya adalah keheranan. Demikian pula kalimat LA ILAHA ILLALLOH. Makna keheranan di sini, bagaimana mungkin sesuatu yang sangat jelas semacam ini tidak diketahui. Padahal seseorang bisa memahaminya tanpa harus serius memikirkannya. Dan dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya membaca tasbih ketika keheranan terhadap sesuatu atau menganggap penting kasus tertentu. (Syarh Shahih Muslim, 4/14).

Kedua, Keheranan ketika ada sesuatu yang besar terjadi

Misalnya melihat kejadian yang luar biasa.

Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam terkadang tersentak bangun di malam hari, karena keheranan melihat sesuatu yang turun dari langit.

Dari Ummu Salamah Rodhiyallahu ‘anha, bahwa pernah suatu malam, Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam terbangun dari tidurnya.

سُبْحَانَ اللَّهِ مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنَ الْفِتَنِ

“Subhanalloh, betapa banyak fitnah yang turun di malam ini.” (HR. Bukhari 115).

Dalam kasus lain, beliau juga pernah merasa terheran ketika melihat ancaman besar dari langit. Terutama bagi orang yang memiliki utang,

Dari Muhammad bin Jahsy rodhiallohu ‘anhu, “Suatu ketika, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam melihat ke arah langit, kemudian beliau bersabda,

سُبْحَانَ اللَّهِ مَاذَا نُزِّلَ مِنَ التَّشْدِيدِ

“Subhanalloh, betapa berat ancaman yang diturunkan ….”

Kemudian, keesokan harinya, hal itu saya tanyakan kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Risululloh, ancaman berat apakah yang diturunkan?’

Beliau menjawab,

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ رَجُلاً قُتِلَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيِىَ ثُمَّ قُتِلَ ثُمَّ أُحْيِىَ ثُمَّ قُتِلَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ دَيْنُهُ

‘Demi Allah, yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya ada seseorang yang terbunuh di jalan Alloh, lalu dia dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi (di jalan Allah), lalu dia dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi (di jalan Allah), sementara dia masih memiliki utang, dia tidak masuk surga sampai utangnya dilunasi.’” (HR. Nasa’i 4701 dan Ahmad 22493).

Kata Ali Qori, Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam  mengucapkan Subhanalloh karena takjub (keheranan) melihat peristiwa besar yang turun dari langit. (Mirqah al-Mafatih, 5/1964).

Wallohu a’lam bis-Showab

KISAH SUFI DAN ANJURAN MENUTUP MAJLIS DENGAN SHOLAWAT

Ada banyak tokoh sufi klasik yang kisah tentangnya jarang terekspos. Salah satunya ialah Syaqiq Al-Balkhi rahimahullahu ta’ala. Beliau putra seorang hartawan yang memutuskan beralih melakoni perjalanan ruhani menjadi seorang zāhid.

Pada mulanya, dalam suatu perjalanan niaga ke Turki, Syaqiq sempat singgah masuk ke sebuah rumah penyembahan berhala. Di dalamnya terdapat banyak sekali berhala dan dilihatnya juga banyak rahib-rahib yang berkepala gundul dan tidak berjenggot.

Lantas Syaqiq Al-Balkhi berjumpa dengan salah seorang pelayan berhala, lalu berkata: “Kamu diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Hidup dan Menghidupimu, Maha Mengetahui dan Maha Kuasa. Maka menyembahlah kepada-Nya, tidak usah lagi menyembah berhala-berhala yang tidak memberikan mudarat maupun manfaat kepadamu!”

Kemudian dengan diplomatis pelayan itu menjawab enteng, “Jika benar apa yang kamu katakan, bahwa Tuhan Maha Kuasa memberi rezeki kepadamu di negerimu sendiri, kenapa Tuan dengan susah payah datang kemari untuk berniaga?”

Syaqiq melongo. Tercengang. Kena skak. Maka terketuklah hati Syaqiq dan untuk selanjutnya menempuh kehidupan zuhud.

Sementara satu kisah lainnya tentang Syaqiq Al-Balkhi, terjadi saat permulaan menempuh perjalanan zuhud. Ia menuju ke suatu daerah. Di sana ia melihat seorang budak sedang asyik bersenang-senang ria di tengah kehidupan perekonomian yang dilanda paceklik dan krisis secara merata—termasuk tuan si budak sendiri.

Kepada si budak itu Syaqiq bertanya, “Apa yang kamu kerjakan? Bukankah kamu tahu orang-orang sedang menderita karena paceklik?”

Budak itu menjawab polos, “Saya tidak mengalami paceklik, Tuan, karena majikanku memiliki perkampungan subur yang hasilnya sanggup mencukupi keperluan kami.” Di fase setelah mendengar rentetan kalimat si budak inilah, Syaqiq mendengar ketukan hati dan bisikan dalam dirinya, “Jika budak tersebut tidak memikirkan rezeki karena majikannya memiliki perkampungan yang subur—toh, padahal si majikan sendiri adalah masih tergolong makhluk yang melarat—maka bagaimana bisa disebut ‘patut’ saat seorang Muslim memikirkan rezekinya dengan berkalang keraguan, sedangkan ia punya Tuhan yang Maha Kaya dan Dermawan?”

Nilai yang tersirat di antaranya bahwa Syaqiq terlalu fokus ke luar dirinya, tapi jarang menengok ke dalam diri sendiri. Kebanyakan “ekstrospeksi”, kurang “retrospeksi” (mengenang kembali, atau wal tandhur nafsun ma qaddamat lighad) dan minim “introspeksi” (muhasabah).

Juga kenyataan implisit yang dirancang oleh Allah, tentang Syaqiq yang tidak akan menjadi seorang zāhid dan tidak akan dikenang sebagai sufi terpandang bila ia tidak bertemu dengan pelayan-berhala dan hamba sahaya dalam kisah. Suatu hal yang perlu ditelusuri kenapa sering kali Allah memperjalankan dan mempertemukan tokoh masyhur di masa kini dengan orang-orang yang seolah kurang penting, seakan-akan figuran, picisan, un-popular, dan bukan tokoh masyhur yang kebak make up, political-camuflage dan pencitraan artifisial. Namun Allah menjadikan ia atau mereka (tokoh cerita yang kita anggap “tak penting” itu) sebagai pemicu kejadian besar penting dan menentukan setelahnya. Sebuah titik balik kehidupan yang tidak main-main hikmahnya.

Sama halnya kisah Nabi Ya’qub dan pertemuannya dengan gelandangan gembel yang sempat ditolaknya di pintu rumah—sehingga seketika itu menuai teguran keras dari Allah.

Kisah Pemabuk Ditinggikan Derajatnya Berkah Shalawat.

Membaca shalawat memiliki keutamaan yang tidak diragukan lagi. Banyak kisah menakjubkan yang dialami oleh ahli shalawat. Nabi menjelaskan bahwa bacaan shalawat yang dibacakan oleh umatnya akan dibalas sepuluh kali lipat. Sebagian ulama bahkan menegaskan shalawat dapat menuntun seseorang menempuh jalan suluk. Shalawat sebagaimana ayat suci Al-Qur’an bernilai pahala dengan membacanya, meski tidak mengerti kandungan artinya, berbeda dengan dzikir-dzikir yang lain.

Ada satu kisah menarik berkaitan dengan keutamaan membaca shalawat. Kisah ini disampaikan oleh Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani dalam kitabnya Tanqih al-Qaul. Syekh Nawawi mengutip cerita ini dari sebagian kaum sufi.

Diceritakan bahwa salah seorang tokoh sufi memiliki  tetangga yang pemabuk. Kegemarannya menenggak minuman keras berada dalam taraf di luar kewajaran, melebihi batas, hingga ia tidak bisa membedakan hari, sekarang, besok atau kemarin. Ia hanyut dalam minuman keras. Pemabuk ini berulang kali diberi nasihat oleh sang sufi agar bertobat, namun ia tidak menerimanya, ia masih tetap dengan kebiasaan mabuknya.

Yang menakjubkan adalah saat pemabuk tersebut meninggal dunia, dijumpainya oleh sang sufi dalam sebuah mimpi, ia berada dalam derajat yang luar biasa mulia, ia memakai perhiasan berwarna hijau, lambang kebesaran dan kemegahan di surga.

Sang sufi terheran-heran, ada apa gerangan? Mengapa tetangganya yang seorang pemabuk mendapat kedudukan semulia itu. Sang sufi bertanya:

بِمَا نِلْتَ هَذِهِ الْمَرْتَبَةَ الْعَلِيَّةَ

Artinya: “Dengan sebab apa engkau memperoleh derajat yang mulia ini?”

Kemudian pemabuk menjelaskan ihwal kenikmatan yang dirasakannya:

حَضَرْتُ يَوْمًا مَجْلِسَ الذِّكْرِ فَسَمِعْتُ الْعَالِمَ يَقُوْلُ مَنْ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَفَعَ صَوْتَهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ ثُمَّ رَفَعَ الْعَالِمُ صَوْتَهُ بِالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَفَعْتُ صَوْتِيْ وَرَفَعَ الْقَوْمُ أَصْوَاتَهُمْ فَغَفَرَ لَنَا جَمِيْعًا فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ فَكَانَ نَصِيْبِيْ مِنَ الْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ  أَنْ جَادَ عَلَيَّ بِهَذِهِ النِّعْمَةِ.

Artinya: “Aku suatu hari menghadiri majelis dzikir, lalu aku mendengar orang alim berkata, barangsiapa bershalawat kepada Nabi dan mengeraskan suaranya, surga wajib baginya. Lalu orang alim tadi mengeraskan suaranya dengan bershalawat kepada Nabi, aku dan jamaah juga menegeraskan suara seperti yang dilakukan orang alim itu. Kemudian Allah mengampuni kita semuanya pada hari itu, maka jatahku dari ampunan dan kasih sayang-Nya adalah Allah menganugerahkan kepadaku nikmat ini.”

                Demikian keagungan dan kehebatan membaca shalawat, hingga dirasakan manfaatnya oleh seorang pemabuk. Kisah tersebut terang saja bukan hendak membenarkan praktik mabuk-mabukan yang memang diharamkan dalam Islam. Cerita itu sekadar merefleksikan keistimewaan shalawat yang bisa mengantarkan seseorang pada samudera kasih sayang dan pengampunan Allah ﷻ. Semoga kita senantiasa diberikan pertolongan oleh Allah untuk istiqamah membaca shalawat dan diakui sebagai umat baginda Nabi MUHAMMAD .                                                                     

Anjuran Menutup Majelis dengan Bershalawat

Sekumpulan orang berkumul di sebuah rumah. Mereka baru saja bersama-sama melakukan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dan beberapa kalimat thayibah. Setelah itu mereka menyantap hidangan yang disiapkan tuan rumah. Usai santap bersama pembaca acara menyampaikan beberapa kalimat sebelum akhirnya menyatakan selesainya acara pada malam itu, lalu memungkasinya dengan salam.

Namun demikian meski acara telah resmi ditutup namun mereka yang hadir tak kunjung bangun dan meninggalkan majelis. Beberapa di antaranya malah saling pandang, seperti ada yang ganjil bagi mereka. Hingga ketika salah seorang di antara mereka menyuarakan dengan lantang kalimat shallû ‘alan Nabiy Muhammad semuanya menjawab dengan lantang pula kalimat Allâhumma shalli wa sallim wa bârik ‘alaih, lalu serempak bangun dan meninggalkan majelis untuk pulang ke rumah masing-masing.

Ya, pemandangan seperti itu jamak dijumpai di masyarakat muslim di Indonesia. Bahwa dalam sebuah perkumpulan acara kenduri atau selamatan mereka yang hadir baru akan bubar ketika dikomando untuk membaca shalawat. Tanpa dishalawati mereka belum mau membubarkan diri atau kalaupun bubar seperti ada yang kurang yang mengganjal di dalam hati. Itulah sebabnya ada yang berkelakar mengatakan bahwa shalawat yang dibaca untuk menutup sebuah majelis disebut dengan “shalawat bubar” atau “shalawat ngusir”.

Apa yang dilakukan oleh masyarakat dan telah menjadi adat kebiasaan ini bukan tanpa sebab dan dasar. Tentunya mereka yang awam melakukan itu mengikuti apa yang diajarkan oleh para ulama atau tokoh masyarakat yang ada. Dan tentunya pula para tokoh masyarakat itu mengajarkan demikian dengan berdasar pada ilmu yang mereka pelajaran dari para gurunya terus berantai hingga Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Imam Sirajudin Al-Husaini di dalam kitabnya As-Shalâtu ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam mengutip beberapa hadits yang berkenaan dengan hal ini. Di antaranya hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi:

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ، وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ، إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً، فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ

Artinya: “Tidaklah suatu kaum duduk di suatu majelis di mana merea tidak berdzikir kepada Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi di dalam majelis itu kecuali majelis itu akan menjadi penyesalan bagi mereka. Bila Allah mau maka akan menyiksa mereka, dan bila Allah mau maka akan mengampuni mereka.” (Sirajudin Al-Husaini, As-Shalâtun ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam, [Damaskus: Maktabah Darul Falah, 1990], hal. 106)

Juga sebuah hadits dari Abu Hurairah:

أيُّما قَوْمٍ جَلَسُوا فأَطالُوا الجُلوسَ ثمَّ تَفَرَّقُوا قَبْلَ أنْ يَذْكرُوا الله تَعَالَى أوْ يُصَلُّوا على نَبِيِّهِ كانَتْ عَلَيْهِمْ تِرَةً مِنَ الله إنْ شاءَ عَذَّبَهُمْ وَإنْ شاءَ غَفَرَ لَهُمْ

Artinya: “Suatu kaum yang duduk-duduk dan melamakan duduknya kemudian mereka berpisah sebelum berdzikir kepada Allah atau bershalawat kepada Nabi-Nya maka duduknya mereka itu akan menjadi kerugian bagi mereka dari Allah. Bila Allah mau maka akan menyiksa mereka dan bila Allah mau maka akan mengampuni mereka.” (Abdur Rauf Al-Munawi, Faidlul Qadîr, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2012], Jil. III, hal. 194)

Dari kedua hadits di atas dapat diambil pelajaran bahwa ketika sekumpulan orang berkumpul dalam sebuah majelis namun mereka tidak berdzikir kepada Allah dan tidak bershalawat kepada Baginda Rasulullah maka majelis itu akan menjadi kerugian dan penyesalan bagi setiap orang yang ada di dalamnya. Mereka merugi dan menyesal karena telah meninggalkan dzikir dan shalawat di dalam majelis sehingga tidak mendapatkan pahalanya. Kelak di hari kiamat Allah bisa saja menyiksa mereka karena perbuatan dosa yang mereka lakukan selama berada di majelis seperti menggunjing dan lainnya. Atau Allah juga bisa saja mengampuni mereka sebagai anugerah dan rahmat dari-Nya.

Sirajudin Al-Husaini menyatakan bahwa disunahkan bagi setiap orang yang ikut duduk di majelis itu untuk berdzikir kepada Allah dengan kalimat tahmid, tasbih, takbir, istighfar dan lainnya, juga untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa Sallam. Kesunahan berdzikir dan bershalawat ini menguat manakala mereka hendak bangun bubar dari majelis.

Kiranya inilah dasar mengapa dalam berbagai acara yang digelar oleh masyarakat muslim Indonesia—terlebih oleh kalangan Nahdliyin—selalu dibacakan shalawat terlebih dahulu sebelum para hadirin bangun membubarkan diri. Ini juga yang menjadi dasar dalam berbagai kegiatan Nahdliyin di dalam susunan acaranya selalu diadakan secara khusus acara pembacaan shalawat setelah dibacakannya ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Wallahu a’lam.

CARA BERSISIR DAN RAMBUT UBAN ROSULULLOH SAW.

CARA BERSISIR RASULULLOH

عن أنس بن مالك قال: «كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يكثر دهن رأسه وتسريح لحيته، ويكثر القناع حتى كأن ثوبه ثوب زيات».

“Rasulullah shollallohu alaihi wasallam. sering meminyaki rambutnya, menyisir janggutnya dan sering waktu menyisir rambutnya beliau menutupi (bahunya) dengan kain kerudung. Kain kerudung itu demikian berminyak seakan-akan kain tukang minyak.”

(Diriwayatkan oleh Yusuf bin’Isa, dari Rabi’ bin Shabih, dari Yazid bin aban ar Raqasyi*, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

* Aban ar Raqasyi dikenal sebagai orang yang dinilai munkar periwayatannya. Hadist ini sangat berlawanan dengan kebanyakan hadist shahih, yang menerangkan tentang kebersihan dan penampilan terpuji dari Rasulullah saw. (Muhammad `Afif az Za’bi).

عن عبد الله بن مغفل، قال: «نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الترجل إلا غبا».

“Rasulullah shollallohu alaihi wasallam melarang bersisir kecuali sekali-kali. “

(Diriwayatkan oleh Muhammad Basyar, dari Yahya bin Sa’id,dari Hisyam bin Hasan, dari al Hasan Bashri, yang bersumber dari `Abdullah bin Mughaffal r.a.*)

* Yang dilarang ialah bersisir layaknya wanita pesolek.• ‘Abdullah bin Mughaffal r.a. dalah sahabat Rasulullah saw. Yang masyhur, ia adalah salah seorang peserta “Bai’tusSyajarah”, wafat pada tahun 60 H ada pula yang mengatakan tahun 57 H.

Uban Rosululloh saw.

عن قتادة قال: قلت لأنس بن مالك: هل خضب رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: «لم يبلغ ذلك، إنما كان شيبا في صدغيه» «ولكن أبو بكر، خضب بالحناء والكتم».

Qatadah bertanya kepada Anas bin Malik r.a.: “Pernahkah Rasulullah shollallohu alaihi wasallam menyemir rambutnya yang telah beruban?” Anas bin Malik menjawab:”Tidak sampai demikian. Hanya beberapa lembar uban saja di pelipisnya. Namun Abu Bakar r.a. pernah mewarnai (rambutnya yang memutih) dengan daun pacar dan katam.”

(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abu Daud, dari Hamman yang bersumber dari Qatadah)

– Katam adalah sejenis tumbuh-tumbuhan yang biasa digunakan untuk memerahi rambut sedangkan warnanya merah tua.

عن أنس قال: «ما عددت في رأس رسول الله صلى الله عليه وسلم ولحيته إلا أربع ع شرة شعرة بيضاء».

Anas berkata : ” tiadalah aku menghitung di kepala Rasululloh shollallohu alaihi wasallam dan jg jenggotnya kecuali ada 14 rambut berwarna putih.”

(diriwayatkan oleh ishaq bin mansur, dari yahya bin musa, keduanya dari abdurrazzak, dari ma’mar, dari tsabit bersumber dari anas binmalik )

عن ابن عباس قال: قال أبو بكر: يا رسول الله، قد شبت، قال: «شيبتني هود، والواقعة، والمرسلات، وعم يتساءلون، وإذا الشمس كورت».

Dalam suatu riwayat Ibnu `Abbas r.a. mengemukakan: Abu Bakar r.a. berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh Anda telah beruban!” Rasulullah shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Surah Hud, Surah al Waqi’ah, Surah al Mursalat, Surah Amma Yatasa’alun dan Surah Idzasy-Syamsu kuwwirat, menyebabkan aku beruban.” (Diriwayatkan oleh Abu Kuraib Muhammad bin al A’la, dari Mu’awiyah bin Hisyam, dari Syaiban, dari Ishaq, dari Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)

Apakah Rasululloh SAW mempunyai uban di rambutnya ?

عن قتادة قال: قلت لأنس بن مالك: هل خضب رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: «لم يبلغ ذلك، إنما كان شيبا في صدغيه» «ولكن أبو بكر، خضب بالحناء والكتم».

Qatadah bertanya kepada Anas bin Malik r.a.: “Pernahkah Rasulullah shollallohu alaihi wasallam menyemir rambutnya yang telah beruban?” Anas bin Malik menjawab:”Tidak sampai demikian. Hanya beberapa lembar uban saja di pelipisnya. Namun Abu Bakar r.a. pernah mewarnai (rambutnya yang memutih) dengan daun pacar dan katam.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abu Daud, dari Hamman yang bersumber dari Qatadah)- Katam adalah sejenis tumbuh-tumbuhan yang biasa digunakan untuk memerahi rambut sedangkan warnanya merah tua.

عن أنس قال: «ما عددت في رأس رسول الله صلى الله عليه وسلم ولحيته إلا أربع ع شرة شعرة بيضاء».

Anas berkata : ” tiadalah aku menghitung di kepala Rasululloh shollallohu alaihi wasallam dan jg jenggotnya kecuali ada 14 rambut berwarna putih.”(diriwayatkan oleh ishaq bin mansur, dari yahya bin musa, keduanya dari abdurrazzak, dari ma’mar, dari tsabit bersumber dari anas binmalik )

عن ابن عباس قال: قال أبو بكر: يا رسول الله، قد شبت، قال: «شيبتني هود، والواقعة، والمرسلات، وعم يتساءلون، وإذا الشمس كورت».

Dalam suatu riwayat Ibnu `Abbas r.a. mengemukakan: Abu Bakar r.a. berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh Anda telah beruban!” Rasulullah shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Surah Hud, Surah al Waqi’ah, Surah al Mursalat, Surah Amma Yatasa’alun dan Surah Idzasy-Syamsu kuwwirat, menyebabkan aku beruban.” (Diriwayatkan oleh Abu Kuraib Muhammad bin al A’la, dari Mu’awiyah bin Hisyam, dari Syaiban, dari Ishaq, dari Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)

-Kitab Fathul Qodir (1/645)

وأخرج الترمذي وحسنه وابن المنذر والحاكم وصححه وابن مردويه والبيهقي في البعث والنشور من طريق عكرمة عن ابن عباس قال : قال أبو بكريا رسول الله قد شبت ، قال : شيبتني هود ، والواقعة ، والمرسلات ، وعم يتساءلون ، وإذا الشمس كورت .

Dari ibnu abbas berkata :” abu bakar berkata :’ wahai Rasululloh, engkau telah beruban ‘Rasululloh bersabda : ‘ surat hud, al waqi’ah, al mursalat, amma yatasa auln dan idzas syamsu kuwwirot telah membuatku beruban .”

Hadis riwayat imam tirmidzi dan beliau menghasankannya, ibnu mundzir dan al hakim menshohihkannya,ibnu murdawaih dan al baihaqy dalam al ba’ts wan nusyur dari jalannya ikrimah.

Rasululloh shollallohu alaihi wasallam mempunyai uban kurang dari 20 helai rambut sebagaimana keterangan dalam banyak hadis, padahal orang2 yg lebih muda dari beliau seperti abu bakar telah banyak ubannya.para ulama’ berkata tentang hikmah sedikitnya uban Rasululloh adalah karena sifat kasih sayangnya Allah kepada istri2 Nabi shollallohu alaihi wasallam, karena umumnya perempuan itu tabiatnya lari dari uban, dan orang yg tabi’atnya lari dari Rasululloh maka di khawatirkan atasnya.

-Kitab Syarah Madhumatul Adab (1/427)

مطلب : في عدد ما شاب من شعر رسول الله صلى الله عليه وسلم . ( الرابعة ) : كان الشيب الذي في شعر رسول الله صلى الله عيه وسلم أقل من عشرين شعرة كما ثبت ذلك في عدة أخبار ، مع أن الذين كانوا أصغر منه سنا كالصديق قد شابوا . قالوا والحكمة في ذلك لطف الباري جل شأنه بنسائه صلى الله عليه وسلم ورضي عنهن ; لأن من عادة النساء أن تنفر طباعهن من الشيب ، ومن نفر طبعه من الرسول خشي عليه ، فلطف الله بهن فلم يشب شيبا تعافه النساء . مع أن الشيب في حد ذاته غير منفر ولكن جلت حكمة الباري .

– Kitab Jam’ul Wasail Syarah Syamail (1/110-111)

عن ثابت بن أنس قال : ما عددت في رأس رسول الله صلى الله عليه وسلم ولحيته إلا أربع عشرة ) : بفتح الجزأين للتركيب ، والشين ساكنة وبنو تميم يكسرونها ، وقوله : ( شعرة بيضاء ) إما تمييز أو مستثنى منه ، قال الحنفي : وهذا القول من أنس لا ينافي ما صدر عنه في صدر الكتاب ، فليس في رأسه ولحيته عشرون شعرة بيضاء ; لأن هذا السلب عام وإن كان مشعرا بأن يكون قريبا منه . قال العصام : يستدعي كونه قريبا من عشرين أكثر من أربع عشرة بحسب متفاهم العرف ، ورده ابن حجر حيث قال : لا ينافي هذا الحديث رواية ابن عمر الآتية ، إنما كان شيبه صلى الله عليه وسلم نحوا من عشرين شعرة بيضاء ; لأن الأربع عشرة نحو العشرين لأنها أكثر من نصفها ، ومن زعم أنه لا دلالة لنحو الشيء على القرب منه فقد وهم ، نعم روى البيهقي عن أنس : ما شانه الله بالشيب ، ما كان في رأسه ولحيته إلا سبع عشرة أو ثمان عشرة بيضاء . وقد يجمع بينهما بأن إخباره اختلف لاختلاف الأوقات ، أو بأن الأول إخبار عن عده والثاني إخبار عن الواقع ، فهو لم يعد إلا أربع عشرة ، وأما في الواقع فكان سبع عشرة أو ثمان عشرة ، انتهى .

س: كيف كان شيب النبي صلى الله عليه وسلم وهل شابت لحيته كلها..؟

ج: جاء في صحيح البخاري: (أن الشعر الأبيض كان في عنفقته، وهي ما بين الذقن والشفة السفلى)وعن ثابت بن أنس رضي الله عنهما، قال: (ما عددت في رأس رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم ولحيته إلا أربع عشرة شعرة بيضاء) رواه الترمذي،وسئل جابر بن سمرة عن شيب رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم فقال: (كان إذا دهن رأسه لم ير منه شيب، فإذا لم يدهن رئي منه) رواه مسلم،

وعن أبي جحيفة قال: قالوا يا رسول الله الآن شبت قال: (شيبتني هود وأخواتها) رواه أبو يعلى الموصلي، وعن أبي رمثة التميمي قال: أتيت رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم ومعي إبن لي قال: فأريته، فقلت لما رأيته:هذا نبي الله وعليه ثوبان أخضران، وله شعر قد علاه الشيب وشيبه أحمر.. رواه الترمذي، وعن قتادة قال: قلت لأنس بن مالك رضي الله عنه: (هل خضب رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: لم يبلغ ذلك، إنما كان شيئا في صدغيه ولكن أبا بكر رضي الله عنه خضب بالحناء والكتم) رواه البخاري.

BACA JUGA : HAL-HAL YANG MENGHALANGI TURUNYA ADZAB KE BUMI KITA

RAMBUT UBAN ITU UTUSAN MALAIKAT MAUT ?

  • Benarkah uban itu salah satu utusan malaikat maut ?
  • Jika benar apa saja utusan malaikat maut dalam memperingati manusia supaya ingat hari akhir ?

Dijelaskan dalam kitab Tadzkirotul Qurthuby (1/198-199) :

بالب ما جاء في رسل ملك الموت قبل الوفاة

ورد في الخبر: أن بعض الأنبياء عليهم السلام قال لملك الموت عليه السلام: أمالك رسول تقدمه بين يديك ليكون الناس على حذر منك؟ قال: نعم لي والله رسل كثيرة من الإعلال والأمراض والشيب والهموم وتغير السمع والبصر، فإذا لم يتذكر من نزل به ولم يتب، فإذا قبضته ناديته: ألم أقدم إليك رسولاً بعد رسول ونذيراً بعد نذير؟ فأنا الرسول الذي ليس بعدي رسول، وأنا النذير الذي ليس بعدي نذير

فما من يوم تطلع فيه شمس ولا تغرب إلا وملك الموت ينادي: يا أبناء الأربعين، هذا وقت أخذ الزاد، أذهانكم حاضرة وأعضاؤكم قوية شداد

يا أبناء الخمسين قد دنا وقت الأخذ والحصاد

با ابناء الستين نسيتم العقاب وغفلتم عن رد الجواب فما لكم من نصير {أولم نعمركم ما يتذكر فيه من تذكر وجاءكم النذير}

ذكره أبو الفرج ابن الجوزي في كتاب روضة المشتاق والطريق إلى الملك الخلاق

Bab datangnya utusan malaikat maut sebelum kematian. Diceritakan bahwa sebagian para Nabi bertanya kepada Malaikat maut, “Apakah kamu mempunyai utusan yang memberi peringatan kepada manusia agar mereka bersiap-siap menerima kedatanganmu?”. Malaikat Maut menjawab, “ya , demi Allah aku mengirim utusan yang sangat banyak,diantaranya penyakit, uban, kesedihan, dan berubahnya pendengaran dan penglihatan. Apabila orang itu belum juga bertaubat, padahal aku telah mengirim utusan-utusan yang banyak kepadanya. Maka ketika aku mencabut nyawanya, akan kukatakan kepadanya : “Bukankah aku telah mengirimkan kepadamu utusan setelah datang para utusan dan memberikan peringatan kepadamu setelah datang pemberi peringatan? Aku adalah utusan dan pemberi peringatan terakhir”.

Selama matahari tetap terbit dan terbenam maka malaikat maut selalu berseru,”Wahai orang-orang yang berumur empat puluh tahun, ini saatnya bagi kalian untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya, karena pikiran serta kekuatanmu masih kuat. Wahai orang-orang yang telah berumur lima puluh tahun,waktu menuai telah dekat. Wahai orang-orang yang telah berumur enam puluh tahun,engkau telah lupa dengan siksaan dan tidak mengindahkan panggilan maka tidak seorangpun yang akan menjadi penolongmu. “Dan apakah kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir dan apakah tidak datang kepadamu pemberi peringatan”. (QS.Fathir:37). Dituturkan oleh abul faroj ibnul jauzy dalam kitab roudhotul mustaq.

وروي أن ملك الموت دخل على داود عليه السلام فقال من أنت؟ فقال من لا يهاب الملوك ولاتمنع منه القصور ولا يقبل الرشا، قال: فإذا أنت ملك الموت قال: نعم.

قال: أتيتني ولم أستعد بعد؟ قال يا دواد أين فلان قريبك؟ أين فلان جارك؟ قال: مات، قال أما كان لك في هؤلاء عبرة لتستعد.

وقيل: النذير الحمى. ومنه قوله صلى الله عليه وسلم «الحمى نذير الموت» أي رائد الموت.

قال الأزهري معناه أن الحمى رسول الموت أي كأنها تشعر بقدومه وتنذر بمجيئه وقيل: موت الأهل والأقارب والأصحاب والإخوان، وذلك إنذار الرحيل في كل وقت وأوان وحين وزمان

Diceritakan bahwa malaikat maut datang menemui Nabi Daud alaihis salaam ,dan ketika bertemu Nabi Daud bertanya, “Siapakah engkau”? Malaikat maut berkata,”Tidak ada seorang pembesar yang aku takuti, tidak ada satu benteng yang sanggup mencegahku dan tidak ada seorangpun yang bisa menyuapku”. Daud kemudian berkata,”Jadi engkau adalah malaikat maut” ? Malaikat maut menjawab,”Benar”. Daud kemudian berkata,”kenapa engkau mendatangiku sedangkan aku masih belum siap”. Malaikat maut lalu bertanya,”dimana si fulan temanmu itu? Dimana tetanggamu si fulan?”. Daud menjawab, “Dia telah meninggal”. Malaikat maut berkata, “mereka merupakan peringatan bagimu agar kmau siap menghadap mati”.

Dikatakan bahwa demam adalah peringatan datangnya kematian,dalilnya adalah sabda Rasululloh shollallohu alaihi wasallam : ” demam adalah peringatan dari maut “. Al-Azhari berkata, “makna hadis adalah Demam merupakan utusan kematian, maksudnya seolah-olah maut bisa dirasakan dengan kedatangan demam dan mengingatkan kita tentang adanya kematian dengan kedatnagn demam”. Ada juga yang berkata, ” kematian keluarga, sahabat, karib-kerabat serta keluarga merupakan peringatan untuk kita di setiap waktu”.

APA UBAN NON MUSLIM JUGA CAHAYA ISLAM ?

Ada hadist yang menyebutkan melarang mencabut uban karena uban adalah tanda cahaya islami dan non muslim tidak mendapatkan cahayanya karena yang mendapatkan hanya orang islam. Lihat Kitab Majmu’ (1/344) :

” يُكْرَهُ نَتْفُ الشَّيْبِ ، لِحَدِيثِ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ ، فَإِنَّهُ نُورُ الْمُسْلِمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ) حَدِيثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَغَيْرُهُمْ بِأَسَانِيدَ حَسَنَةٍ . هَكَذَا قَالَ أَصْحَابُنَا يُكْرَهُ , صَرَّحَ بِهِ الْغَزَالِيُّ وَالْبَغَوِيُّ وَآخَرُونَ , وَلَوْ قِيلَ : يَحْرُمُ لِلنَّهْيِ الصَّرِيحِ الصَّحِيحِ لَمْ يَبْعُدْ , وَلَا فَرْقَ بَيْنَ نَتْفِهِ مِنْ اللِّحْيَةِ وَالرَّأْسِ ” انتهى .

Mencabut uban dimakruhkan berdasarkan hadits dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya Dari Nabi shollallohu alaihi wasallam : ” Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahayanya orang islam pada hari kiamat nanti”. Hadits hasan riwayat abu dawud, at tirmidzi, an nasa’i dan selain mereka dengan sanad hasan.

Para ulama Syafi’iyah mengatakan bahwa mencabut uban adalah makruh dan hal ini ditegaskan oleh Al Ghozali , Al Baghowi dan selainnya. Seandainya mau dikatakan haram karena adanya larangan tegas mengenai hal ini, maka ini juga benar dan tidak mustahil.

Dan tidak ada bedanya antara mencabut uban yang ada di jenggot dan kepala (yaitu sama-sama terlarang).

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الشيب نور المؤمن لا يشيب رجل شيبة في الإسلام إلا كانت له بكل شيبة حسنة و رفع بها درجة

“Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban dalam Islam melainkan setiap ubannya akan dihitung sebagai suatu kebaikan dan akan meninggikan derajatnya”. (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman.)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, :

لا تنتفوا الشيب فإنه نور يوم القيامة ومن شاب شيبة في الإسلام كتب له بها حسنة وحط عنه بها خطيئة ورفع له بها درجة

“Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat nanti. Siapa saja yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat”. (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Apa hukumnya Mencabut uban ?

MAKRUH hukumnya mencabut uban dari tempat yang tidak dianjurkan oleh syar’i untuk menghilangkan rambutnya berdasarkan hadits “Janganlah kalian mencabut uban karena uban itu cahaya orang muslim di hari Qiyamat” (HR. Tirmidzi dan hadisnya di anggap hasan), meskipun Ibnu Rifah berpendapat sesuai nash kitab Al-Umm haramnya mencabut uban. Imam Nawawy dalam Kitab AlMajmu’ berkata “seandainya mau dikatakan haram karena adanya larangan tegas mengenai hal ini, maka ini juga benar dan tidak mustahil”. Mencabut jenggot dan kumis bagi wanita hukumnya sunnat karena jenggot dan kumis bagi wanita adalah siksaan. (Mughni alMuhtaaj I/191, Al-Majmu’ ‘ala syarh alMuhadzdzab I/292).

Namun seyogyanya dihindari karena ada ulama yang mengharamkannya ALKHURUUJ MINAL KHILAF MUSTAHAB “keluar dari perselisihan ulama adalah sunat” semisal ulama A bilang makruh sedang ulama B berpendapat haram, disunnatkan bagi kita untuk keluar dari perbedaan pendapat tersebut dengan TIDAK MELAKUKAN MASALAH YANG DI PERSELISIHKAN.

– Al-Majmu’ ‘ala syarh alMuhadzdzab I/292 :

فرع) يكره نتف الشيب لحديث عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده عن النبي صلى الله عليه وسلم قال لا تنتفوا الشيب فانه نور المسلم يوم القيامة حديث حسن رواه أبو داود والترمذي والنسائي وغيرهم بأسانيد حسنة قال الترمذي حديث حسن هكذا: قال أصحابنا يكره صرح به الغزالي كما سبق والبغوي وآخرون: ولو قيل يحرم للنهي الصريح الصحيح لم يبعد: ولا فرق بين نتفه من اللحية والرأس

– Mughni al-Muhtaaj I/191 :

ويكره نتف الشيب من المحل الذي لا يطلب منه إزالة شعره لخبر : لا تنتفوا الشيب فإنه نور المسلم يوم القيامة رواه الترمذي وحسنه وإن نقل ابن الرفعة تحريمه عن نص الأم وقال في المجموع : ولو قيل بتحريمه لم يبعد ونتف لحية المرأة وشاربها مستحب لأن ذلك مثلة في حقها

Lihat juga :

MELAKSANAKAN CUKUR SETELAH UMROH

INILAH PARA SAHABAT NABI SAW YANG BANYAK MERIWAYATKAN HADITS

Nabi Muhammad bersabda bahwa sebaik-baik generasi adalah generasi yang hidup bersama Nabi, dan diikuti generasi setelahnya. Generasi yang dinyatakan oleh Nabi ini tentu kalangan sahabat, yang berjumpa Nabi dalam kondisi Muslim dan wafat dalam kondisi beragama Islam pula. Mereka menyaksikan dan meriwayatkan banyak hadits Nabi Muhammad SAW.

Disebabkan kedekatan para sahabat ini dengan Nabi, sahabat meriwayatkan banyak hal tentang Nabi secara langsung. Sahabat adalah periwayat hadits di tingkat pertama dan orang-orang yang dianggap paling mengerti tentang Nabi Muhammad SAW.

Peran sahabat dalam periwayatan hadits ini sangat penting, sehingga tanpa mereka, para generasi setelahnya akan kesulitan untuk mengenal pribadi dan ajaran Nabi. Di antara sekian banyak sahabat Nabi, ada enam sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Berikut nama sahabat Nabi tersebut:

  1. Abu Hurairah (wafat 57 H)

Nama aslinya yang populer di kalangan ulama adalah Abdurrahman bin Shakhr. Hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah mencapai jumlah 5374 hadits. Di balik banyaknya riwayat hadits ini, Abu Hurairah justru baru masuk Islam dan kerap turut serta dalam majelis Nabi sebagai Ahlus Shuffah sejak tahun ketujuh Hijriah. Dalam waktu sekitar tiga tahun, begitu banyak ajaran Nabi yang diriwayatkannya.

Disebutkan dalam Kitab Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, suatu ketika Abu Hurairah pernah berdoa agar diberikan ilmu yang tidak mudah terlupa. Doa ini diamini oleh Rasulullah SAW, dan menjadi salah satu sebab betapa istimewanya kemampuan hafalan Abu Hurairah.

  1. Abdullah bin Umar bin Al-Khattab (wafat 72 H)

Hadits yang diriwayatkan oleh putra dari Umar bin Al-Khattab ini mencapai 2630 hadits. Abdullah bin Umar di masa itu adalah salah satu pemuda yang sangat gemar mengikuti Nabi dan meneladaninya secara seksama. Hal-hal yang dilakukan Nabi dan diketahui oleh Ibnu Umar, pasti diikuti dengan persis, bahkan mulai dari hal-hal terkecil.

  1. Anas bin Malik (wafat 91 H)

Disebutkan bahwa hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik mencapai 2286 hadits. Anas bin Malik ini adalah asisten Nabi, dan tentu mengetahui banyak hal yang dilakukan Nabi di rumah dan dalam berbagai kesempatan. Sebagaimana diakui oleh Anas bin Malik, bahwa ia membantu Nabi tak kurang dari sepuluh tahun sejak masa awal kedatangan Nabi di Madinah.

  1. Aisyah binti Abu Bakar (wafat 58 H)

Dari sekian istri Nabi, Aisyah inilah yang paling banyak meriwayatkan hadits yang jumlahnya mencapai 2210 hadits. Kisah-kisah mengenai kehidupan pribadi Nabi, terkait rumah tangga serta peran Nabi di rumah sebagai suami, banyak diriwayatkan oleh Aisyah. Usia yang masih muda disebutkan menjadi salah satu sebab Sayyidah Aisyah meriwayatkan hadits tentang urusan pribadi Nabi dan keluarga beliau secara gamblang.

  1. Abdullah bin Abbas (wafat 78 H)

Putra dari paman Nabi, Al-Abbas bin Abdul Muthalib ini adalah seorang yang pernah didoakan Nabi “Allahumma ‘allimhul hikmah” (Ya Allah, ajarkanlah kepadanya–yaitu Abdullah bin Abbas–hikmah). Hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas mencapai 1660 hadits, dan fatwa-fatwa darinya paling banyak diriwayatkan generasi setelahnya.

  1. Jabir bin Abdullah (wafat 78 H)

Hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah ini mencapai 1540 hadits. Sosok ini adalah seorang pemuda di masa Anshar yang bersama bapaknya mengikuti bai’at Aqabah. Jabir ini menurut para sejarawan dicatat sebagai sahabat yang paling akhir meninggal di Madinah.

Demikianlah para sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi. Sahabat sebagai generasi yang berjumpa langsung dengan Nabi menjadikan peran mereka begitu istimewa dalam sejarah Islam. Banyaknya hadits yang diriwayatkan ini juga menunjukkan kesungguhan sahabat dalam mengikuti dan menyebarkan ajaran Nabi Muhammad SAW. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Ini Sahabat yang Paling Banyak Meriwayatkan Hadits

Nabi Muhammad bersabda bahwa sebaik-baik generasi adalah generasi yang hidup bersama Nabi, dan diikuti generasi setelahnya. Generasi yang dinyatakan oleh Nabi ini tentu kalangan sahabat, yang berjumpa Nabi dalam kondisi Muslim dan wafat dalam kondisi beragama Islam pula. Mereka menyaksikan dan meriwayatkan banyak hadits Nabi Muhammad SAW.

Disebabkan kedekatan para sahabat ini dengan Nabi, sahabat meriwayatkan banyak hal tentang Nabi secara langsung. Sahabat adalah periwayat hadits di tingkat pertama dan orang-orang yang dianggap paling mengerti tentang Nabi Muhammad SAW.

Peran sahabat dalam periwayatan hadits ini sangat penting, sehingga tanpa mereka, para generasi setelahnya akan kesulitan untuk mengenal pribadi dan ajaran Nabi. Di antara sekian banyak sahabat Nabi, ada enam sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Berikut nama sahabat Nabi tersebut:

  1. Abu Hurairah (wafat 57 H)

Nama aslinya yang populer di kalangan ulama adalah Abdurrahman bin Shakhr. Hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah mencapai jumlah 5374 hadits. Di balik banyaknya riwayat hadits ini, Abu Hurairah justru baru masuk Islam dan kerap turut serta dalam majelis Nabi sebagai Ahlus Shuffah sejak tahun ketujuh Hijriah. Dalam waktu sekitar tiga tahun, begitu banyak ajaran Nabi yang diriwayatkannya.

Disebutkan dalam Kitab Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, suatu ketika Abu Hurairah pernah berdoa agar diberikan ilmu yang tidak mudah terlupa. Doa ini diamini oleh Rasulullah SAW, dan menjadi salah satu sebab betapa istimewanya kemampuan hafalan Abu Hurairah.

  1. Abdullah bin Umar bin Al-Khattab (wafat 72 H)

Hadits yang diriwayatkan oleh putra dari Umar bin Al-Khattab ini mencapai 2630 hadits. Abdullah bin Umar di masa itu adalah salah satu pemuda yang sangat gemar mengikuti Nabi dan meneladaninya secara seksama. Hal-hal yang dilakukan Nabi dan diketahui oleh Ibnu Umar, pasti diikuti dengan persis, bahkan mulai dari hal-hal terkecil.

  1. Anas bin Malik (wafat 91 H)

Disebutkan bahwa hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik mencapai 2286 hadits. Anas bin Malik ini adalah asisten Nabi, dan tentu mengetahui banyak hal yang dilakukan Nabi di rumah dan dalam berbagai kesempatan. Sebagaimana diakui oleh Anas bin Malik, bahwa ia membantu Nabi tak kurang dari sepuluh tahun sejak masa awal kedatangan Nabi di Madinah.

  1. Aisyah binti Abu Bakar (wafat 58 H)

Dari sekian istri Nabi, Aisyah inilah yang paling banyak meriwayatkan hadits yang jumlahnya mencapai 2210 hadits. Kisah-kisah mengenai kehidupan pribadi Nabi, terkait rumah tangga serta peran Nabi di rumah sebagai suami, banyak diriwayatkan oleh Aisyah. Usia yang masih muda disebutkan menjadi salah satu sebab Sayyidah Aisyah meriwayatkan hadits tentang urusan pribadi Nabi dan keluarga beliau secara gamblang.

  1. Abdullah bin Abbas (wafat 78 H)

Putra dari paman Nabi, Al-Abbas bin Abdul Muthalib ini adalah seorang yang pernah didoakan Nabi “Allahumma ‘allimhul hikmah” (Ya Allah, ajarkanlah kepadanya–yaitu Abdullah bin Abbas–hikmah). Hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas mencapai 1660 hadits, dan fatwa-fatwa darinya paling banyak diriwayatkan generasi setelahnya.

  1. Jabir bin Abdullah (wafat 78 H)

Hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah ini mencapai 1540 hadits. Sosok ini adalah seorang pemuda di masa Anshar yang bersama bapaknya mengikuti bai’at Aqabah. Jabir ini menurut para sejarawan dicatat sebagai sahabat yang paling akhir meninggal di Madinah.

Demikianlah para sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi. Sahabat sebagai generasi yang berjumpa langsung dengan Nabi menjadikan peran mereka begitu istimewa dalam sejarah Islam. Banyaknya hadits yang diriwayatkan ini juga menunjukkan kesungguhan sahabat dalam mengikuti dan menyebarkan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Wallahu a’lam.

PENGERTIAN HADITS BAHWA SETIAP ANAK MELAKUKAN ZINA

Kita pernah mendengar hadits Rasulullah SAW bahwa Allah SWT menakdirkan setiap manusia terjatuh dalam dosa zina. Bagaimana memahami hadits ini? Karena dikhawatirkan orang yang mengikuti hawa nafsu menjadikan hadits ini sebagai pembenaran atas zina yang mereka lakukan atau rencanakan.

Sebelum melihat pandangan ulama perihal ini, ada baiknya kita mengutip hadits Rasulullah SAW yang dimaksud. Sejumlah perawi meriwayatkan hadits ini, yaitu Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud:

الحديث الأول عن عبد الله بن عباس قال ما رأيت شيئاً أشبه باللمم مما قال أبو هريرة إن النبي {صلى الله عليه وسلم} قال إن الله كتب على ابن آدم حظه من الزنا أدرك ذلك لا محالة فزنا العينين النظر وزنا اللسان النطق والنفس تمنى وتشتهي والفرج يصدق ذلك أو يكذبه

Artinya, “Hadits pertama dari Abdullah bin Abbas RA, ia berkata bahwa aku tidak melihat sesuatu yang lebih mirip dengan ‘kesalahan kecil’ daripada hadits riwayat Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Allah telah menakdirkan anak Adam sebagian dari zina yang akan dialaminya, bukan mustahil. Zina kedua mata adalah melihat. Zina mulut adalah berkata. Zina hati adalah berharap dan berkeinginan. Sedangkan alat kelamin itu membuktikannya atau mendustakannya,’” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud).

Imam As-Suyuthi dalam Syarah Shahih Muslim-nya mencoba menjelaskan hadits ini dengan kesepakatan bahwa setiap anak Adam tidak mengelak dari takdir zina. Tetapi zina seperti apa?

Imam As-Suyuthi melihat dua kategori zina dari pemahamannya atas hadits tersebut. Menurutnya, hadits ini membagi zina menjadi dua, yaitu zina hakiki dan zina majazi.

Zina hakiki adalah praktik zina sebagaimana yang dipahami secara umum, yaitu pertemuan kelamin seseorang dan kelamin lawan jenisnya yang dilakukan bukan dengan haknya (secara batil). Sedangkan zina majazi adalah dosa yang dilakukan oleh anggota badan anak Adam selain kelamin, yaitu mata, hati, mulut, tangan, dan kaki.

Setiap anak Adam, menurut Imam As-Suyuthi, sulit terhindar dari zina majazi dan zina hakiki. Tetapi setiap manusia mempunyai takdirnya masing-masing. Tidak semua orang ditakdirkan melakukan zina hakiki. Tidak semua orang ditakdirkan melakukan zina majazi sebagaimana keterangan berikut ini:

إن الله سبحانه تعالى كتب على بن آدم حظه من الزنى الحديث معناه أن بن آدم قدر عليه نصيب من الزنى فمنهم من يكون زناه حقيقيا بإدخال الفرج في الفرج الحرام ومنهم من يكون زناه مجازا) بالنظر الحرام ونحوه من المذكورات فكلها أنواع من الزنى المجازي والفرج يصدق ذلك أو يكذبه أي إما أن يحقق الزنى بالفرج أو لا يحققه بأن لا يولج وإن قارب ذلك وجعل بن عباس هذه الأمور وهي الصغائر تفسيرا للمم فإن في قوله تعالى الذين يجتنبون كبائر الإثم والفواحش إلا اللمم النجم عمر فتغفر باجتناب الكبائر

Artinya, “Maksud hadits ‘Allah telah menakdirkan anak Adam sebagian dari zina’ adalah bahwa setiap anak Adam ditakdirkan melakukan sebagian dari zina. Sebagian dari mereka ada yang berzina hakiki dengan memasukkan alat kelamin ke dalam kelamin yang diharamkan. Sebagian lainnya berzina secara majazi, yaitu memandang yang diharamkan atau semisalnya yang tersebut dalam hadits. Semua yang tersebut itu merupakan zina majazi. Sedangkan alat kelamin membuktikan (membenarkannya) atau mendustakannya, bisa jadi dengan merealisasikan zina dengan alat kelamin atau tidak merealisasikannya dengan tidak memasukkan alat kelaminnya meskipun hanya mendekati. Ibnu Abbas memahami tindakan itu semua sebagai dosa kecil sebagai tafsiran atas kata ‘al-lamam’ atau kesalahan kecil. Allah berfirman, ‘Orang yang menjauhi dosa besar dan perbuatan keji selain kesalahan kecil,’ pada surat An-Najm. Kesalahan kecil itu dapat diampuni dengan menjauhi dosa besar,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Ad-Dibaj, [Saudi, Daru Ibni Affan: 1996 M/1416 H], juz VI, halaman 20).

Setiap orang memiliki takdir dan jalan hidup yang digariskan oleh Allah SWT. setiap dari mereka tidak akan bisa mengelak dari garis takdir tersebut. Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah bahwa kita tidak mengetahui takdir kita yang mana.

Oleh karena itu, seseorang tidak bisa menjadikan hadits ini sebagai alat pembenaran bagi praktik zina yang mana pun, hakiki maupun majazi. Seyogianya kita menjaga kesadaran untuk menjauh dari hal-hal yang mendekati zina. Semoga Allah melindungi kita dan masyarakat dari dosa besar zina. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Pengertian Hadits Setiap Anak Manusia Ditakdirkan Berzina

(Foto: wejdan.org)

Kita pernah mendengar hadits Rasulullah SAW bahwa Allah SWT menakdirkan setiap manusia terjatuh dalam dosa zina. Bagaimana memahami hadits ini? Karena dikhawatirkan orang yang mengikuti hawa nafsu menjadikan hadits ini sebagai pembenaran atas zina yang mereka lakukan atau rencanakan.

Sebelum melihat pandangan ulama perihal ini, ada baiknya kita mengutip hadits Rasulullah SAW yang dimaksud. Sejumlah perawi meriwayatkan hadits ini, yaitu Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud:

الحديث الأول عن عبد الله بن عباس قال ما رأيت شيئاً أشبه باللمم مما قال أبو هريرة إن النبي {صلى الله عليه وسلم} قال إن الله كتب على ابن آدم حظه من الزنا أدرك ذلك لا محالة فزنا العينين النظر وزنا اللسان النطق والنفس تمنى وتشتهي والفرج يصدق ذلك أو يكذبه

Artinya, “Hadits pertama dari Abdullah bin Abbas RA, ia berkata bahwa aku tidak melihat sesuatu yang lebih mirip dengan ‘kesalahan kecil’ daripada hadits riwayat Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Allah telah menakdirkan anak Adam sebagian dari zina yang akan dialaminya, bukan mustahil. Zina kedua mata adalah melihat. Zina mulut adalah berkata. Zina hati adalah berharap dan berkeinginan. Sedangkan alat kelamin itu membuktikannya atau mendustakannya,’” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud).

Imam As-Suyuthi dalam Syarah Shahih Muslim-nya mencoba menjelaskan hadits ini dengan kesepakatan bahwa setiap anak Adam tidak mengelak dari takdir zina. Tetapi zina seperti apa?

Imam As-Suyuthi melihat dua kategori zina dari pemahamannya atas hadits tersebut. Menurutnya, hadits ini membagi zina menjadi dua, yaitu zina hakiki dan zina majazi.

Zina hakiki adalah praktik zina sebagaimana yang dipahami secara umum, yaitu pertemuan kelamin seseorang dan kelamin lawan jenisnya yang dilakukan bukan dengan haknya (secara batil). Sedangkan zina majazi adalah dosa yang dilakukan oleh anggota badan anak Adam selain kelamin, yaitu mata, hati, mulut, tangan, dan kaki.

Setiap anak Adam, menurut Imam As-Suyuthi, sulit terhindar dari zina majazi dan zina hakiki. Tetapi setiap manusia mempunyai takdirnya masing-masing. Tidak semua orang ditakdirkan melakukan zina hakiki. Tidak semua orang ditakdirkan melakukan zina majazi sebagaimana keterangan berikut ini:

إن الله سبحانه تعالى كتب على بن آدم حظه من الزنى الحديث معناه أن بن آدم قدر عليه نصيب من الزنى فمنهم من يكون زناه حقيقيا بإدخال الفرج في الفرج الحرام ومنهم من يكون زناه مجازا) بالنظر الحرام ونحوه من المذكورات فكلها أنواع من الزنى المجازي والفرج يصدق ذلك أو يكذبه أي إما أن يحقق الزنى بالفرج أو لا يحققه بأن لا يولج وإن قارب ذلك وجعل بن عباس هذه الأمور وهي الصغائر تفسيرا للمم فإن في قوله تعالى الذين يجتنبون كبائر الإثم والفواحش إلا اللمم النجم عمر فتغفر باجتناب الكبائر

Artinya, “Maksud hadits ‘Allah telah menakdirkan anak Adam sebagian dari zina’ adalah bahwa setiap anak Adam ditakdirkan melakukan sebagian dari zina. Sebagian dari mereka ada yang berzina hakiki dengan memasukkan alat kelamin ke dalam kelamin yang diharamkan. Sebagian lainnya berzina secara majazi, yaitu memandang yang diharamkan atau semisalnya yang tersebut dalam hadits. Semua yang tersebut itu merupakan zina majazi. Sedangkan alat kelamin membuktikan (membenarkannya) atau mendustakannya, bisa jadi dengan merealisasikan zina dengan alat kelamin atau tidak merealisasikannya dengan tidak memasukkan alat kelaminnya meskipun hanya mendekati. Ibnu Abbas memahami tindakan itu semua sebagai dosa kecil sebagai tafsiran atas kata ‘al-lamam’ atau kesalahan kecil. Allah berfirman, ‘Orang yang menjauhi dosa besar dan perbuatan keji selain kesalahan kecil,’ pada surat An-Najm. Kesalahan kecil itu dapat diampuni dengan menjauhi dosa besar,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Ad-Dibaj, [Saudi, Daru Ibni Affan: 1996 M/1416 H], juz VI, halaman 20).

Setiap orang memiliki takdir dan jalan hidup yang digariskan oleh Allah SWT. setiap dari mereka tidak akan bisa mengelak dari garis takdir tersebut. Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah bahwa kita tidak mengetahui takdir kita yang mana.

Oleh karena itu, seseorang tidak bisa menjadikan hadits ini sebagai alat pembenaran bagi praktik zina yang mana pun, hakiki maupun majazi. Seyogianya kita menjaga kesadaran untuk menjauh dari hal-hal yang mendekati zina. Semoga Allah melindungi kita dan masyarakat dari dosa besar zina.

Wallahu a‘lam.

MENGETAHUI HAKIKAT SHOLAT YANG SEBENARNYA

Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf adalah salah satu ulama dengan kapasitas ilmu pengetahuan dhohir dan bathin yang diakui oleh ulama-ulama sezamanya. Al Arif Billah Habib Abdullah bin Idrus Al Aydrus menyebut beliau sebagai kholifah di masanya.

Pada satu kesempatan di masjid Thoha, Hadramaut, pada tanggal 20 Syawal 1353 Hijriyah, beliau memberikan ceramah ilmiah bertemakan shalat. Beliau berkata, shalat merupakan sarana paling utama bagi manusia untuk dapat selalu berinteraksi dengan Penciptanya. Dahulu  Nabi  Zakariya a.s. menjadikan shalat sebagai fasilitas  ketika beliau meminta kepada Allah untuk diberikan keturunan. Doa beliau dikabulkan dan mendapatkan seorang putra yaitu Nabi Yahya yang merupakan anugerah terbesar dalam hidupnya. Rasul SAW bersabda, ‘Hal yang paling membuatku senang adalah shalat’. Dengan shalat beliau merasakan suatu kenikmatan yang tiada banding, berdialog dengan Allah SWT.

Dalam kitab Nashoih Dinniyah Habib Abdullah Alhaddad mengibaratkan shalat sebagaimana kepala pada manusia. Manusia mustahil dapat hidup tanpa kepala. Demikian halnya semua perbuatan baik manusia akan sia-sia jika tanpa disertai shalat. Shalat merupakan parameter diterima atau tidaknya amal perbuatan manusia. Rasul SAW bersabda, ‘Pertama yang diperhitungkan pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya diterima, maka seluruh amal sholehnya diterima, namun jika shalatnya ditolak, maka seluruh amal solehnya ditolak pula.’

Habib Ahmad kemudian bercerita, “Al-walid Sayid Alwi bin Abdurrahman Assegaf berkata, ‘Sesungguhnya pamanku Abdurrahman bin Ali berkata, jika kamu mempunyai hajat baik urusan dunia ataupun akhirat, maka memintalah pertolongan kepada Allah SWT dengan melaksanakan shalat. Bacalah  akhir surat Thoha  seusai shalat, Insya Allah dengan segala kebesaran-Nya akan dikabulkan hajat dan keinginanmu.’

Namun shalat kita pada masa sekarang ini tidaklah seperti shalat para salaf terdahulu yang penuh khusyu’ dan khidmat. Shalat kita merupakan shalat yang selalu dipenuhi kelalaian dan kealpaan, sehingga sangatlah kecil prosentase diterimanya. Orang-orang sufi terdahulu yang tidak diragukan lagi kedalaman ilmu pengetahuannya, menambahkan tiga rukun pada rukun-rukun  shalat  yang dikemukakan para ulama fiqih yaitu, khusuk atau tadabbur (hadirnya hati), khudu’(merendahkan diri kepada Allah) dan ikhlas. Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.”

Penafsiran mereka dalam ayat ini adalah, ‘Janganlah kalian mendekati (mengerjakan) shalat sedangkan kalian dalam keadaan mabuk oleh kesenangan dunia hingga pikiran kalian kosong dari dari segala urusan dunia.’

Sekarang kita saksikan orang-orang melaksanakan shalat  namun hati mereka masih selalu tertuju pada urusan dunia, baik urusan jual beli maupun pekerjaan mereka. Akibatnya mereka lupa berapa rokaat yang telah mereka kerjakan, tidak mengetahui surat apa yang telah dibacakan imam. Mereka sama sekali tidak menghayati bacaan Alfatihah dan ayat-ayat yang lain dalam shalat, mereka tidak menyadari bahwa mereka berdiri di depan Maha Penguasa dan sedang berdialog dengan Maha Pencipta. Urusan-urusan duniawi benar-benar telah menguasai hati manusia.

Orang yang memikirkan urusan dunia dalam shalat sama halnya dengan orang yang melumuri Al-Qur’an yang suci dengan khomer. Shalat  yang seharusnya menjadi wadah yang suci  telah mereka penuhi dengan kotoran-kotoran yang menjijikkan. Tanpa ada niat ikhlas yang merupakan ruh dari shalat, orang yang demikian diibaratkan oleh Imam Ghozali seperti seseorang yang  menghadiahkan seonggok bangkai dengan kemasan rapi kepada seorang raja. Tentunya perbuatan tersebut bukannya menyenangkan hati raja melainkan membuat dia marah dan murka karena dianggap telah melecehkan kehormatan dan kebesarannya.

Para salaf terdahulu memandang shalat sebagai hal yang sangat sakral dan agung. Mereka selalu berusaha melaksanakan dengan sesempurna mungkin. Hingga diantara mereka acapkali dihinggapi burung saat shalat karena sangat khusyuk dan tenangnya. Ada pula yang sampai tidak merasakan dahsyatnya gempa bumi yang meluluh lantakkan bangunan-bangunan di sekitarnya. Bahkan Imam Ali bin Husein sama sekali tak merasakan  panasnya kobaran api yang membumi hanguskan rumah beliau saat beliau tenggelam dalam shalatnya. Saat ditanya beliau hanya berujar, ‘Panasnya api yang lain (api neraka) telah membuatku tak merasakan panasnya api dunia.’

Habib Ahmad kemudian memberikan tausiyah, ‘Rasul SAW bersabda, ‘Ada seorang lelaki di antara kamu, rambut di kedua pipinya telah memutih namun tidak diterima satu pun shalatnya.’ Ini menunjukkan bahwa tak ada satu shalat pun yang dia kerjakan dengan khusyuk. Padahal, mulai usia 15 tahun hingga enam puluh tahun sudah berapa kali dia mengerjakan shalat. Jika tidak ada satu shalat pun yang dia kerjakan dengan khusyuk, itu berarti hatinya benar-benar dikuasai urusan keduniaan.

Ini adalah masalah kompleks di tengah masyarakat Islam yang harus disikapi dengan serius, terutama bagi para ulama dan penuntut ilmu. Adapun orang awam pada zaman sekarang sudah merasa cukup dengan shalat serba praktis seperti yang biasa mereka kerjakan. Bahkan di antara mereka ada yang mengeluh jika mendapati seorang imam shalat terlalu lama. Mereka lebih memilih imam yang lebih cepat dan ringkas sembari mengesampingkan unsur kekhusyukan yang sebenarnya esensial dalam shalat. Bagaimana dengan shalat kita?

SEMUA MANUSIA DAN HEWAN BISA MENDAPATKAN HIDAYAH ALLOH SWT.

Setiap orang dan setiap jiwa telah diberi hidayah/ petunjuk dan juga ilham, bukan orang islam saja, semuanya tanpa terkecuali mendapat hidayah dan juga ilham berupa dua jalan, yaitu jalan kebaikan dan jalan keburukan atau jalan kefasikan dan ketaqwaan, jadi terserah manusianya sendiri mau pilih yg mana.

Dalam surat al Balad ayat 10 Allah berfirman :

وَهَدَيْنَٰهُ ٱلنَّجْدَيْنِ

” Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”

Maksud dua jalan tsb adalah jalan kebaikan dan keburukan sbagaimana penjelasan Rasululloh shollallohu alaihi wasallam.

Kitab Tafsir Ibnu Katsir

( وهديناه النجدين ) قال سفيان الثوري ، عن عاصم ، عن زر ، عن عبد الله – هو ابن مسعود – : ( وهديناه النجدين ) قال : الخير والشر . وكذا روي عن علي ، وابن عباس ، ومجاهد ، وعكرمة ، وأبي وائل ، وأبي صالح ، ومحمد بن كعب ، والضحاك ، وعطاء الخراساني في آخرين . وقال عبد الله بن وهب : أخبرني ابن لهيعة ، عن يزيد بن أبي حبيب ، عن سنان بن سعد ، عن أنس بن مالك قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : ” هما نجدان ، فما جعل نجد الشر أحب إليكم من نجد الخير ” . تفرد به سنان بن سعد – ويقال : سعد بن سنان – وقد وثقه ابن معين . وقال الإمام أحمد والنسائي والجوزجاني : منكر الحديث . وقال أحمد : تركت حديثه لاضطرابه . وروى خمسة عشر حديثا منكرة كلها ، ما أعرف منها حديثا واحدا . يشبه حديثه حديث الحسن – يعني البصري – لا يشبه حديث أنس . وقال ابن جرير : حدثني يعقوب ، حدثنا ابن علية ، عن أبي رجاء قال : سمعت الحسن يقول : ( وهديناه النجدين ) قال : ذكر لنا أن نبي الله – صلى الله عليه وسلم – كان يقول : ” يا أيها الناس ، إنهما النجدان ، نجد الخير ونجد الشر ، فما جعل نجد الشر أحب إليكم من نجد الخير ” .

Dalam surat as Syams ayat 8 Allah berfirman :

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”

Kitab Tafsir Ibnu Katsir

وقوله : ( فألهمها فجورها وتقواها ) أي : فأرشدها إلى فجورها وتقواها ، أي : بين لها ذلك ، وهداها إلى ما قدر لها .

قال ابن عباس : ( فألهمها فجورها وتقواها ) بين لها الخير والشر . وكذا قال مجاهد ، وقتادة ، والضحاك ، والثوري .

وقال سعيد بن جبير : ألهمها الخير والشر . وقال ابن زيد : جعل فيها فجورها وتقواها .

 

Apakah hewan juga bisa mendapat hiayah?

Benar,  hewan pun mendapat hidayah / petunjuk, yaitu hidayah untuk  berpasangan / menikah agar berketurunan dan berkembang biak, hidayah yang  bermanfaat untuk mereka dari masalah makanan dan minuman dan hidayah-hidayah lainnya seperti hewan-hewan yang membuat sarang dan anak-anak yang menyusu pada induknya.

Dalilnya adalah firman Allah  :

رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْء خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى

Musa  berkata: “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada  tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” [Q.S Thaha ayat 50].

– Tafsir Adwa’ul Bayan (4/19) :

أن  معنى أعطى كل شيء خلقه ثم هدى أنه أعطى كل شيء نظير خلقه في الصورة ،  والهيئة ، كالذكور من بني آدم أعطاهم نظير خلقهم من الإناث أزواجا .  وكالذكور من البهائم أعطاها نظير خلقها في صورتها وهيئتها من الإناث أزواجا  . فلم يعط الإنسان خلاف خلقه فيزوجه بالإناث من البهائم ، ولا البهائم  بالإناث من الإنس ،

ثم هدى الجميع لطريق المنكح الذي منه النسل ، والنماء ، كيف يأتيه ، وهدى الجميع لسائر منافعهم من المطاعم ، والمشارب ، وغير ذلك .  وهذا  القول مروي عن ابن عباس رضي الله عنهما من طريق علي بن أبي طلحة ، وعن  السدي وسعيد بن جبير ، وعن ابن عباس أيضا : ثم هدى أي هداه إلى الألفة ،  والاجتماع ، والمناكحة .

– Tafsir al Kabir :

وثانيها  : أنك إذا نظرت إلى عجائب النحل في تركيب البيوت المسدسة وعجائب أحوال  البق والبعوض في اهتدائها إلى مصالح أنفسها لعرفت أن ذلك لا يمكن إلا  بإلهام مدبر عالم بجميع المعلومات .

وثالثها : أنه  تعالى هو الذي أنعم على الخلائق بما به قوامهم من المطعوم والمشروب  والملبوس والمنكوح ، ثم هداهم إلى كيفية الانتفاع بها ويستخرجون الحديد من  الجبال اللآلي من البحار ويركبون الأدوية والدرياقات النافعة ويجمعون بين  الأشياء المختلفة فيستخرجون لذات الأطعمة فثبت أنه سبحانه هو الذي خلق كل  الأشياء ، ثم أعطاهم العقول التي بها يتوصلون إلى كيفية الانتفاع بها ،   وهذا غير مختص بالإنسان بل عام في جميع الحيوانات ، فأعطى الإنسان إنسانة  والحمار حمارة والبعير ناقة ، ثم هداه لها ليدوم التناسل وهدى الأولاد لثدي  الأمهات

Wallohu a’lam bis showab

PENGERTIAN ANTARA HIDAYAH DAN TAUFIQ SERTA BARAKAH

HIDAYAH

Hidayah ialah Jalan lurus yang dapat mencapaikan seseorang pada tujuan kehidupan bahagia di akherat.

الهداية: هي إبانة الطريق الموصل إلى السعادة والكمال.

Aysir at-Tafasir Li Kalam al’Aly II/263

الهداية هي الطريق المستقيم الموصل إلى الغاية وهو أقصر الطرق ، وغاية هذه الحياة هي أن تصل إلى نعيم الآخرة

Tafsir as-Sya’rawy I/383

الهداية هى الدلالة على ما يوصل الى البغية لا الدلالة الموصلة اليها قطعا

Tafsir al-Haqqy XVII/298

TAUFIQ

Taufiq adalah sesuatu yang diciptakan oleh Allah Ta’ala yang mendorong dan mempermudah seseorang untuk melakukan ketaatan dalam beribadah

قال أصحابنا المتكلمون التوفيق خلق قدرة الطاعة والخذلان خلق قدرة المعصية

Syarh an-Nawawy ala Muslim I/173

والتوفيق لغة: جعل الأسباب موافقة للمسببات. وشرعاً خلق قدرة الطاعة في العبد، وقيل خلقها فيه بالفعل

Dalil al-Falihiin V/138

وَمَا تَوْفِيقِي إِلا بِاللَّهِ } والتوفيق: تسهيل سبيل الخير والطاعة

Tafsir al-Baghowy IV/196

وَقَالَ غِذَاء : التَّوْفِيقُ مِنْ اللَّهِ خَلْقُ قُدْرَةِ الطَّاعَةِ وَتَسْهِيلُ سَبِيلِ الْخَيْرِ , وَعَكْسُهُ الْخِذْلانُ .

Ghidza’ al-Bab II/370

Dengan demikian semua manusia yang menganut agama Islam artinya telah mendapatkan hidayah dari Allah Ta’ala (Jalan lurus yang dapat mencapaikan seseorang pada tujuan kehidupan bahagia di akherat) tetapi tidak semua dari mereka mendapat taufiq untuk mengerjakan amal shaleh.

BARAKAH

Barakah artinya kian bertambah dan langgengnya suatu kebaikan

477 – (إذا أكل أحدكم) أي أراد أن يأكل ويحتمل جعله على ظاهره (طعاما) غير لبن (فليقل) ندبا (اللهم بارك لنا فيه) من البركة وهي زيادة الخير ودوامه (وأبدلنا) بفتح الهمزة (خيرا) اسم تفضيل وأصله أخير فلا يراد أنها ليست على وزن أفعل (منه)

رواه أبو داود والترمذي وحسنه وابن ماجه من حديث ابن عباس

Jika salah seorang diantara kalian makan, hendaklah dia mengucapkan: “ Ya Allah, berkahi-lah kepada kami apa yang ada didalamnya dan berilah kami rizki berupa makanan yang lebih baik darinya “ ….

(HR. Abu Daud, at-Turmudzi dan Ibn Majah)

(Keterangan berkahi-lah kepada kami apa yang ada didalamnya) Baarik diambil dari kata berkah, yang artinya kian bertambah dan langgengnya suatu kebaikan

Faidh al-Qadir I/138

Wallahu A’lamu Bis Showab